BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1 ARAH KEBIJAKAN EKONOMI DAERAH - BAB 3

Gratis

0
0
19
1 year ago
Preview
Full text

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

  3.1 ARAH KEBIJAKAN EKONOMI DAERAH

  Kerangka keuangan daerah merupakan estimasi kemampuan atau kapasitas keuangan daerah untuk dijadikan dasar dalam menetapkan pagu indikatif anggaran untuk membiayai program dan kegiatan pembangunan pada Tahun Anggaran 2015.

  Kerangka keuangan daerah dalam Revisi RKPD Kabupaten Bekasi Tahun 2015 memberikan gambaran kemampuan keuangan daerah untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan. Keuangan daerah dimaksud bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah.

  Dalam penyusunan APBD sesuai ketentuan yang berlaku, strukturnya disusun secara berurutan yaitu dimulai dengan rencana penerimaan pendapatan, kemudian belanja dan yang terakhir pembiayaan. Namun dalam menganalisis kapasitas keuangan daerah, terlebih dahulu dilakukan analisis seberapa besar estimasi penerimaan pendapatan daerah dan dilakukan analisis seberapa besar estimasi penerimaan pembiayaan. Apabila kedua jenis penerimaan ini dijumlahkan akan menggambarkan kapasitas keuangan daerah atau volume APBD yang akan digunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan belanja daerah, baik belanja langsung maupun belanja tidak langsung.

  3.2 PERKEMBANGAN INDIKATOR EKONOMI MAKRO TAHUN 2012-2015

  Kerangka Ekonomi Daerah adalah gambaran kondisi ekonomi makro daerah yang merumuskan perkiraaan anggaran dan pembiayaan pembangunan Kabupaten Bekasi pada Tahun 2015. Sebagai rumusan dasar kebijakan anggaran dan pembiayaan pembangunan, maka perkiraan ekonomi makro merupakan acuan dalam penyusunan berbagai kebijakan dan prioritas pembangunan daerah. Kondisi ini diharapkan mampu mendorong dan menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi dalam rangka menanggulangi permasalahan ekonomi yang mendasar seperti aspek kemiskinan dan pengangguran.

  Membaiknya kondisi ekonomi pasca krisis global menjadikan pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat pada tahun 2013 sebesar 6,21% dan Kabupaten Bekasi sebesar 6,37%, kinerja ekonomi ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2012.

  Tingginya kontribusi sektor industri di Kabupaten Bekasi pada tahun 2013 sangat mempengaruhi total laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat. Oleh karena itu, peranan pemerintah daerah sangat diharapkan dalam membantu menciptakan iklim investasi yang kondusif, infrastruktur yang memadai serta pelayanan publik terhadap dunia investasi yang prima. Semakin membaiknya perekonomian pada tahun 2013 dan 2014 diharapkan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 mencapai lebih dari 6,52%.

  Berikut ini digambarkan Capaian Indikator Ekonomi Makro Kabupaten Bekasi selama kurun waktu tahun 2012-2015 :

Tabel 3.1 Capaian Indikator Ekonomi Makro Kabupaten Bekasi Tahun 2010 – 2015 Perkiraan Perkiraan No Indikator 2010 2011 2012 2013 2014 2015

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  1. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku 96.156 106.773 116,470 124,84 133,22 141,59 (trilyun rupiah)

  2. PDRB Atas Dasar Harga Konstan 41.183 58.433

  62,068 65,260 68,451 71,643 2000 (trilyun rupiah)

  3. Laju Pertumbuhan 6,18 6,31 6,22 6,37 6,52 6,66

  Ekonomi (%)

  4. PDRB Perkapita ADH Berlaku (Juta 37.076 39.200 42,242 43,879 45,964 48,048 Rp)

  5. Investasi /PMTB 22,704 25,550 28,400 31,250

  (dalam Trilyun Rp)

  Sumber : BPS Kabupaten Bekasi, 2014 perhitungan berdasarkan trend data 4 tahun terakhir

  Berdasarkan hasil perhitungan BPS pada tahun 2013, nilai PDRB Kabupaten Bekasi atas dasar harga berlaku mencapai Rp. 124,84 trilyun, mengalami kenaikan bila dibandingkan tahun 2012 sebesar Rp. 116,47 trilyun. Diperkirakan pada tahun 2014 ini nilai PDRB harga berlaku mencapai Rp. 133,22 trilyun. Sementara nilai PDRB atas dasar harga konstan 2000 pada tahun 2013 mencapai Rp. 65,260 trilyun yang berarti mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2012 sebesar Rp. 62,068 trilyun. Semakin membaiknya kondisi ekonomi pada tahun 2013 diperkirakan nilai PDRB per kapita pada tahun 2014 mencapai Rp. 45,964 trilyun dan diproyeksikan tahun 2015 mencapai Rp. 48,048 trilyun.

  Kabupaten Bekasi sebagai daerah yang berbasis industri, merupakan daya tarik tersendiri bagi para investor dari dalam negeri dan luar negeri. Hal ini dapat dilihat dari nilai investasi (Pendapatan Modal Tetap Bruto/PMTB) pada tahun 2013 yang mencapai Rp. 25,55 trilyun meningkat dari tahun 2012 yang mencapai Rp. 22,704 trilyun. Sementara ditahun 2014 dan 2015 diperkirakan mencapai Rp. 28,400 trilyun dan 31,250 trilyun. Data tersebut menunjukkan bahwa komponen investasi memiliki peranan penting terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi. Iklim investasi dan perkembangan sosial politik yang kondusif, diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor asing untuk tetap menanamkan modalnya, tanpa mengabaikan kepentingan ekonomi dalam skala usaha kecil dan menengah yang berbasis pada ekonomi kerakyatan.

  Sektor industri memberikan kontribusi yang tinggi terhadap nilai PDRB Kabupaten Bekasi, walaupun memiliki laju pertumbuhan dibawah sektor lainnya terutama sektor konstruksi dan perdagangan, artinya tidak lagi menjadi sektor yang memiliki laju pertumbuhan paling tinggi dalam kegiatan perekonomian Kabupaten Bekasi namun memberikan andil terbesar terhadap total pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut dapat dilihat dari laju pertumbuhan persektor tahun 2012-2013 serta perkiraan tahun 2014-2015. Seperti disajikan dalam Tabel

  3.2. Pada Tahun 2012 sektor yang paling besar laju pertumbuhan ekonominya adalah sektor jasa-jasa dan bangunan/konstruksi. Sedangkan untuk perkiraan tahun 2013, sektor unggulan dalam perekonomian Kabupaten Bekasi adalah sektor pertambangan dan penggalian dan sektor jasa-jasa tetap memiliki laju pertumbuhan yang cukup tinggi. Untuk perkiraan tahun 2014-2015 sektor pertambangan dan penggalian maupun sektor jasa-jasa tetap memiliki nilai laju pertumbuhan yang paling tinggi. Hal ini menunjukan bahwa sektor selain industri semakin menunjukan peningkatan kinerja ekonomi yang signifikan dari tahun ketahun.

  Sementara sektor pertanian memiliki laju pertumbuhan rata-rata dibawah 5%, ketergantungan terhadap curah hujan, sistem irigasi, pencemaran air serta berkurangnya lahan pertanian di Kabupaten Bekasi menjadikan sektor ini cenderung sulit mengalami kenaikan. Sektor lain seperti sektor listrik, gas dan air bersih juga memberikan kenaikannya cukup signifikan sampai dengan perkiraan tahun 2015.

  Perkiraan tahun 2013 dan 2014 kondisi perekonomian Kabupaten Bekasi diharapkan semakin meningkat dengan capaian pertumbuhan diatas 6,2% bahkan pada tahun 2015 laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bekasi mencapai 6,6%. Dengan demikian laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bekasi menunjukan nilai positif, dan dapat mengurangi tingginya angka pengangguran serta semakin memperkecil angka kemiskinan.

Tabel 3.2 Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Bekasi Tahun 2010-2014

  

Atas Dasar Harga Konstan 2000

Perkiraan Perkiraan 2012 2013 No Kelompok Sektor 2014 2015

  4,25 3,68 3,12 2,55

  1. Pertanian 6,55

  Pertambangan dan 7,60 8,66 9,71 2.

  Penggalian 6,00

  6,65 7,29 7,94

  3. Industri Pengolahan 4,47

  3,55 2,64 3,55

  4. Listrik, Gas dan Air Bersih 7,81

  5,74 3,67 1,60

  5. Bangunan/Konstruksi 7,63

  Perdagangan, Hotel dan 6,89 6,16 5,42 6.

  Restoran 7,30

  Pengangkutan dan 6,80 6,31 5,81 7.

  Komunikasi 6,30

  8. Keuangan, Persewaan dan 5,45 4,59 3,74 Jasa Perusahaan.

  8,06 7,98 7,89 7,81

  9. Jasa-Jasa

   Sumber : BPS Kabupaten Bekasi , 2014

  Menurunnya kontribusi sektor industri di Kabupaten Bekasi memberikan pengaruh terhadap dinamika laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bekasi, ini terlihat dari laju pertumbuhan ekonomi ditahun 2012 yang sebesar 6,22%, kemudian di tahun 2013 meningkat menjadi 6,37%, serta diperkirakan pada tahun 2013 – 2014 menjadi 6,52% - 6,66%.

  Dengan menguatnya rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Indonesia atau Zona Internasional di Kabupaten Bekasi, diperlukan strategi yang tepat menyangkut modal produksi, SDM dan meningkatkan kepercayaan investor melalui kebijakan yang lebih konkrit, antara lain penanganan masalah keamanan dan ketenagakerjaan serta penyediaan infrastruktur yang memadai.

  Dengan kebijakan yang dapat mengakomodir kepentingan dunia usaha, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2014 dan tahun 2015 diperkirakan akan lebih meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan masih berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi regional Jawa Barat dan nasional. Perekonomian Kabupaten Bekasi dicirikan dalam bentuk investasi yang berfokus pada sektor industri berorientasi ekspor, tanpa mengabaikan potensi ekonomi lainnya yang mampu memberikan sumbangan terhadap PDRB, misalnya sektor perdagangan yang memperlihatkan peranannya walaupun tidak setinggi sektor industri.

3.2.1 Anggaran Pendapatan Daerah

  Sumber penerimaan pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah. Sedangkan penerimaan daerah dari pembiayaan bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA), Penerimaan Pinjaman Daerah, Dana Cadangan Daerah dan hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan.

a. Kebijakan Anggaran Pendapatan Daerah

  1) Pendapatan Asli Daerah (PAD) Upaya peningkatan penerimaan PAD dari hasil pungutan pajak daerah, retribusi daerah, laba usaha daerah dan lain-lain PAD yang sah dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

  a) Peningkatan sistem operasional, intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan pajak dan retribusi daerah; b)

  Peningkatan kinerja Badan Usaha Milik Daerah agar memberikan kontribusi terhadap PAD; c) Peningkatan pengawasan dan pengendalian pengelolaan PAD. 2) Dana Perimbangan

  Upaya peningkatkan penerimaan Dana Perimbangan, dilakukan melalui langkah- langkah sebagai berikut : a)

  Peningkatan kerjasama kegiatan penyuluhan dan pendataan objek bagi hasil pajak;

  b) Peningkatan koordinasi penerimaan Dana Perimbangan dengan Pemerintah Pusat. 3) Lain-lain Pendapatan Yang Sah

  Upaya peningkatan penerimaan Lain-lain Pendapatan Yang Sah, dilakukan melalui Peningkatan koordinasi penerimaan bagi hasil pajak daerah Provinsi, bantuan keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan koordinasi penerimaan Dana Penyesuaian dari Pemerintah Pusat.

  b. Perkiraan Anggaran Pendapatan Daerah

  a) Pendapatan Asli Daerah

  PAD terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain PAD Yang Sah. Perkembangan PAD Kabupaten Bekasi selama 5 (lima) tahun terakhir, pertumbuhan per tahun mengalami peningkatan rata-rata sebesar 51,60 persen yang dapat dilihat pada tabel 3.3 di bawah ini.

  Tabel 3.3

  Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah Tahun Anggaran 2010 – 2014

  Tahun Anggaran PAD Pertumbuhan (Rp.) (%)

  1

  2

  3

  • 2010 258,773,032,129.00 2011 597,175,194,735.00

  130.77 2012 801,852,905,867.00 34.27 2013 1,154,525,309,151.00 43.98 2014 1,325,077,667,800.00 15,00

   rata-rata

  51.60 Sumber : Hasil Analisa DPPKA Kabupaten Bekasi, 2014

  Realisasi PAD tahun 2010-2012 merupakan hasil audit BPK berdasarkan aliran kas masuk atau uang riil yang masuk ke kas daerah, sedangkan untuk tahun anggaran 2014 sesuai dengan target yang ditetapkan dalam APBD.

  Melihat prosentase pertumbuhan pendapatan Asli Daerah yang rata-rata sebesar 51,60 persen, tidak secara mutlak dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan perkiraan kenaikan penerimaan pada tahun berikutnya, mengingat telah dikeluarkannya Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah terutama pada pajak daerah yang menambah 2 (dua) jenis pajak di tahun 2011, Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah serta Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BHTB), serta mulai tahun anggaran 2013 untuk Pajak Bumi dan Bangunan sektor pedesaan dan perkotaan yang selama ini menjadi sumber penerimaan pemerintah pusat menjadi penerimaan pajak daerah. Kondisi ini tentu saja memberikan dampak kenaikan yang cukup signifikan selama 3 tahun terakhir sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan rata rata selama 5 (lima) tahun terakhir.

  Dengan asumsi tersebut di atas, pertumbuhan pendapatan sektor PAD pada Tahun 2015 diprediksikan akan mengalami pertumbuhan sebesar 15,00 persen dari tahun 2014, sehingga PAD tahun 2015 diproyeksikan akan mencapai Rp. 1.179.745.666.120,- Sebagaimana dapat dilihat pada tabel 3.4.

   Tabel 3.4

  Proyeksi Pendapatan Asli Daerah Tahun Anggaran 2015

  TA. 2014 Pertumbuhan TA. 2015 (Rp.) (%) (Rp.)

  1

  2

  3

  1,325,077,667,800 15,00 1,390,536,504,589

   Sumber : Hasil Analisa DPPKA Kabupaten Bekasi,2014

b) Dana Perimbangan

  Dalam rangka pelaksanaan desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan daerah, kepada Daerah diberikan dana perimbangan melalui APBN yang bersifat transfer, dengan prinsip money follows function. Salah satu tujuan pemberian dana perimbangan tersebut adalah untuk mengurangi kesenjangan fiskal antar daerah dan meningkatkan kapasitas daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah.

  Dana Perimbangan selama 5 (lima) tahun terakhir, pertumbuhan per- tahun mengalami peningkatan rata-rata sebesar 7,99 persen yang dapat dilihat pada tabel 3.5. di bawah ini.

Tabel 3.5 Pertumbuhan Dana Perimbangan Tahun Anggaran 2010 – 2014 Tahun Anggaran Dana Perimbangan Pertumbuhan (Rp.) (%)

  1

  2

  3

  2010 1,146,905,165,039.00 2011 1,157,037,049,474.00 0.88 2012 1,450,931,890,835.00

  25.40 2013 1,426,356,629,550.00 (1.69) 2014 1,693,546,595,000.00

  7.37

   rata-rata

   7.99 Sumber : Hasil Analisa DPPKA Kabupaten Bekasi, 2014

  Realisasi Dana Perimbangan tahun 2010-2012 merupakan hasil audit BPK berdasarkan aliran kas masuk atau uang riil yang masuk ke kas daerah, sedangkan untuk tahun anggaran 2014 sesuai dengan target yang ditetapkan dalam APBD.

  Melihat prosentase pertumbuhan pendapatan Dana Perimbangan yang mengalami fluktuatif dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 7,99 persen, tidak secara mutlak dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan perkiraan kenaikan penerimaan pada tahun berikutnya karena sumber penerimaan ini sangat tergantung dari kebijakan pemerintah pusat. Selain hal tersebut, sesuai dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dua sumber penerimaan Bagi Hasil Pajak yaitu Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) mulai tahun 2011, dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di tahun 2014 telah menjadi pajak daerah, sehingga mengurangi potensi penerimaan dana perimbangan dari sektor Bagi Hasil Pajak, kemudian dalam target pendapatan 2010 s.d 2013 telah memasukkan penerimaan yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus, sedangkan dalam penyusunan target 2014 belum memasukkan proyeksi penerimaan yang bersumber dari dana dimaksud, mengingat penggunaan DAK telah diarahkan dan sangat tergantung kepada kebijakan pemerintah pusat dalam pengalokasiannya.

  Atas dasar pertimbangan tersebut di atas, maka penerimaan Dana Perimbangan pada tahun 2015 diproyeksikan mencapai Rp. 1.534.014.832.108,- atau mengalami kenaikan sebesar 0,17 persen dari target penerimaan pada TA.

  2014, sebagaimana dapat dilihat pada tabel 3.6.

Tabel 3.6 Proyeksi Dana Perimbangan Tahun Anggaran 2015 TA. 2014 Pertumbuhan TA. 2015 (Rp.) (%) (Rp.)

  1

  2

  3 1,693,546,595,000.

  00 0.17 1,696,425,624,211

  Sumber : Hasil Analisa DPPKA Kab. Bekasi, 2014

c) Lain-lain Pendapatan Yang Sah

  Realisasi pendapatan Lain-lain Pendapatan Yang Sah selama 5 (lima) tahun terakhir, secara rata rata mengalami penurunan sebesar 18,64, yang dapat dilihat pada tabel 3.7. di bawah ini.

Tabel 3.7 Pertumbuhan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Tahun Anggaran 2010-2014 Lain-lain Pendapatan Yang Sah Pertumbuhan

  

Tahun Anggaran (Rp.) (%)

  1

  2

  3

  • 2010 329,581,235,577.00 2011 607,148,548,685.00

  84.22 2012 535,990,568,230.00 (11.72) 2013 782,559,220,366.00

  46.00 2014 897,939,804,613.00

  15.00

   rata-rata

   18.64 Sumber : Hasil Analisa DPPKA Kab. Bekasi, 2014

  Realisasi Pendapatan Lain-lain Daerah Yang Sah tahun 2010-2013 merupakan hasil audit BPK berdasarkan aliran kas masuk atau uang riil yang masuk ke kas daerah, sedangkan untuk tahun anggaran 2014 sesuai dengan target yang ditetapkan dalam APBD.

  Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah selama 5 (lima) tahun terakhir mengalami perkembangan yang fluktuatif, apabila diambil rata rata selama 5 tahun tersebut mengalami kenaikan sebesar 18,64 persen, akan tetapi tidak secara mutlak dapat dijadikan dasar untuk menentukan perkiraan kenaikan penerimaan pada tahun berikutnya karena untuk realisasi dan target dari 2010–2014 telah memasukkan bantuan dari pemerintah provinsi, kemudian di tahun 2011 dana BOS masuk APBD sedangkan untuk tahun selanjutnya tidak, hal ini tentunya dalam penganggaran atau prediksi tidak dapat dilakukan untuk kelompok pendapatan ini sangat tergantung dari kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah propinsi.

  Atas dasar hal tersebut, penerimaan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Diproyeksikan pada tahun 2015 diperkirakan sebesar Rp. 459.818.167.644,-atau mengalami kenaikan sebesar 7,00 persen dari target yang ditetapkan dalam APBD 2014, sebagaimana tercantum dalam tabel 3.8.

Tabel 3.8 Proyeksi Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Tahun Anggaran 2015 TA. 2014 Pertumbuhan TA. 2015 (Rp.) (%) (Rp.)

  1

  2

  3

  897,939,804,613.00 7,00 960,795,590,936,00

  

Sumber : Hasil Analisa DPPKA Kab. Bekasi, 2014

  Berdasarkan uraian PAD, Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah, tersebut di atas, berikut disajikan tabel 3.9. mengenai jumlah perkiraan pendapatan daerah Tahun 2014 dan 2015 sebagai berikut :

  Tabel. 3.9 Perkiraan Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2014 – 2015 No Kelompok Perkiraan Perkiraan

Pendapatan TA. 2014 TA. 2015

(Rp.) (Rp.)

  1

  2

  3

  4

  1 Pendapatan Asli Daerah 1,325,077,667,800.00 1,390,536,504,589.00

  2 Dana Perimbangan 1,693,546,595,000.00 1,696,425,624,211.00

  3 Lain-lain Pendapatan 897,939,804,613.00 960,795,590,936,00 yang sah

  J u m l a h 3,916,564,067,413.00 4,047,757,719,736.00 Sumber : Hasil Analisa DPPKA Kab. Bekasi, 2014

  Berdasarkan tabel 3.9 tersebut di atas, menunjukkan bahwa pada Tahun Anggaran 2015 diperkirakan penerimaan pendapatan daerah mencapai Rp. 4,047,757,719,736.00 atau mengalami kenaikan 3,00 persen dibandingkan rencana pendapatan daerah dalam APBD Tahun Anggaran 2014 yang sebesar Rp. 3,916,564,067,413.00.

  Secara rinci target pendapatan Kabupaten Bekasi Tahun 2015 adalah sebagai berikut :

Tabel 3.10 Target Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2015 TARGET TAHUN ANGGARAN NO PENDAPATAN DAERAH 2015

  1 Pendapatan Asli Daerah 1,390,536,504,589.00

  1 1 Pajak Daerah 1.002.302.000.000,00 1 2 Retribusi Daerah 167.053.082.600,00 1 3 Hasil Pegelolaan Kekayaan 54.830.975.200,00

  Daerah yang dipisahkan 1 4 Lain-lain Pendapatan Asli 100.891.610.000,00 Daerah yang sah

  2 Dana Perimbangan 1,696,425,624,211.00

  2 1 Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi 437.442.820.000,00 Hasil Bukan Pajak 2 2 Dana Alokasi Umum 1.256.103.775.000,00

  2 3 Dana Alokasi Khusus

  • 3 Lain-lain Pendapatan Daerah 960,795,590,936,00 yang sah

  3 1 Hibah

  • 3 2 Dana Darurat - 3 3 Dana Bagi Hasil Pajak dari 511.402.789.100,00

  Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya 3 4 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus

  385.484.565.513,00 3 5 Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah

  • Lainnya 3 6 Dana bagi Hasil Retribusi 1.052.450.000,00

  Provinsi

   JUMLAH PENDAPATAN DAERAH 4,047,757,719,736.00 Sumber : Hasil Analisa TAPD Kab. Bekasi, 2014

3.2.2 Anggaran Pembiayaan

  Dalam hal terjadi defisit anggaran, maka untuk menutup kekurangan/selisih antara pendapatan daerah dengan belanja daerah dapat dilakukan dengan cara mengalokasikan penerimaan pembiayaan yang bersumber dari : 1)

  Sisa Lebih Perhitungan Anggaran tahun lalu (SILPA); 2)

  Transfer dari Dana Cadangan Daerah; 3)

  Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan;

4) Penerimaan piutang daerah.

  Pembiayaan dari SILPA bersumber dari over target pendapatan dan sisa belanja daerah serta berasal dari penerimaan piutang daerah.

3.2.2.1. Kebijakan Anggaran Pembiayaan

  Dalam hal terdapat surplus anggaran antara penerimaan pembiayaan setelah dikurangi kebutuhan untuk menutup defisit anggaran, maka kebijakan pengeluaran pembiayaan dapat ditujukan untuk membentuk Dana Cadangan Daerah, penyertaan modal kepada BUMD dan investasi daerah lainnya dalam rangka menciptakan kemandirian usaha serta untuk pemenuhan kewajiban-kewajiban utang daerah sehingga pada akhirnya tetap diupayakan anggaran yang berimbang setelah pembiayaan.

  A.

   Kebijakan Penerimaan Pembiayaan

  Dalam hal terjadi defisit anggaran, maka untuk menutup kekurangan/selisih antara pendapatan daerah dengan belanja daerah dapat dilakukan dengan cara mengalokasikan penerimaan pembiayaan yang bersumber dari :

  1) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran tahun lalu (SILPA);

  2) Transfer dari Dana Cadangan Daerah;

  3) Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan;

4) Penerimaan piutang daerah.

  Kebijakan Penerimaan Daerah dari Pembiayaan tahun anggaran 2015 berasal dari SILPA yang bersumber dari over target pendapatan dan sisa belanja daerah serta berasal dari penerimaan piutang daerah.

B. Kebijakan Pengeluaran Pembiayaan

  Dalam hal terdapat surplus anggaran antara penerimaan pembiayaan setelah dikurangi kebutuhan untuk menutup defisit anggaran, maka kebijakan pengeluaran pembiayaan dapat ditujukan untuk membentuk Dana Cadangan Daerah, penyertaan modal kepada BUMD dan investasi daerah lainnya dalam rangka menciptakan kemandirian usaha serta untuk pemenuhan kewajiban-kewajiban utang daerah sehingga pada akhirnya tetap diupayakan anggaran yang berimbang setelah pembiayaan.

3.2.2.2 Perkiraan Anggaran Pembiayaan

  Anggaran Pembiayaan merupakan transaksi keuangan yang dimaksudkan untuk menutupi defisit anggaran, yaitu selisih antara pendapatan dan belanja daerah. Pada dasarnya penerimaan pembiayaan tidak dapat direncanakan sebelumnya karena menurut sifatnya sulit diprediksi dan sangat tergantung kondisi riil pada saat berakhirnya tahun anggaran, yang bersumber dari over target pendapatan daerah, sisa belanja daerah dan penerimaan piutang daerah. Berdasarkan hal tersebut, pada tahun 2015 ditargetkan sebesar Rp. 189.000.000.000,00.

Tabel 3.11 Perkiraan Pembiayaan Daerah Kabupaten Bekasi TAHUN 2014 TAHUN 2015

  Penerimaan Pengeluaran Penerimaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Pembiayaan Pembiayaan

  • - 500.000.000.000,00 921.605.600,00 428,544,334,400.00

3.2.3 Anggaran Belanja Daerah

   Belanja daerah Tahun 2015 disusun berdasarkan perkiraan beban pengeluaran

  daerah yang dialokasikan secara adil dan merata, agar relatif dapat dinikmati oleh masyarakat, khususnya dalam pemberian pelayanan umum. Pendekatan ini perlu didukung oleh suatu kebijakan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanan anggaran serta menjamin efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran kedalam program dan kegiatan.

a. Kebijakan Anggaran Belanja Daerah

  Dalam rangka sinkronisasi kebijakan pembangunan daerah dengan 11 (sebelas) prioritas pembangunan nasional dan 3 (tiga) prioritas pembangunan sesuai kebutuhan dan karakteristik, dengan memperhatikan isu-isu strategis, permasalahan dan tantangan yang dihadapi pada tahun 2015, maka kebijakan anggaran belanja daerah terutama belanja diarahkan kepada hal-hal sebagai berikut : 1)

  Belanja daerah disusun berdasarkan perkiraan beban pengeluaran daerah yang dialokasikan secara adil dan merata, agar relatif dapat dinikmati oleh masyarakat, khususnya dalam pemberian pelayanan umum. Oleh karena itu, proporsi yang direncanakan lebih mengutamakan pada pencapaian hasil melalui program dan kegiatan (Belanja Langsung) dibandingkan dengan Belanja Tidak Langsung. 2)

  Belanja daerah lebih mengutamakan kebutuhan penyelenggaraan urusan pemerintahan (urusan wajib dan pilihan) yang dibagi dalam program-program yang telah ditetapkan dalam RPJMD 2012-2017 dan disesuaikan dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. 3)

  Belanja daerah memperhatikan sinkronisasi dengan 11 (sebelas) prioritas nasional dan 3 (tiga) prioritas nasional yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik daerah, yang meliputi prioritas reformasi birokrasi dan tatakelola, pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan, infrastruktur, iklim investasi dan iklim usaha, energi, lingkungan hidup dan pengelolaan bencana, daerah tertinggal terluar terdepan dan pasca-konflik, kebudayaan kreatifitas dan inovasi teknologi serta prioritas bidang politik hukum dan keamanan, bidang perekonomian dan bidang kesejahteraan rakyat . 4)

  Belanja daerah memperhatikan prinsip-prinsip efisiensi, efektivitas, transparan dan akuntabel dalam pelaksanaannya, antara lain menghindari penyediaan anggaran yang terlalu besar untuk penyelenggaraan rapat, seminar, pertemuan, lokakarya atau kegiatan sejenis, pembangunan gedung yang tidak langsung menunjang tugas pokok dan fungsi SKPD, pengadaan kendaraan kecuali untuk operasional penunjang.

  Di samping hal tersebut di atas, belanja daerah harus memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah berdasarkan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, terdapat perubahan dalam struktur APBD, terutama yang berkaitan dengan Belanja Daerah. Kebijakan Belanja Daerah dapat diuraikan sebagai berikut :

  1) Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana, merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah;

  2) Belanja daerah dirinci menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, program, kegiatan, kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek belanja; 3) Belanja daerah dipergunakan untuk mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan serta urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang- undangan;

  4) Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial;

  5) Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat diwujudkan melalui prestasi kerja dalam pencapaian standar pelayanan minimal berdasarkan urusan wajib pemerintahan daerah.

  Belanja Daerah diklasifikasikan menurut urusan pemerintahan (Urusan Wajib dan Urusan Pilihan).

  Klasifikasi Belanja Menurut Urusan Wajib

  1. Urusan Pendidikan;

  2. Urusan Kesehatan;

  3. Urusan Pekerjaan umum;

  4. Urusan Perumahan;

  5. Urusan Penataan ruang;

  6. Urusan Perencanaan pembangunan;

  7. Urusan Perhubungan;

  8. Urusan Lingkungan hidup;

  9. Urusan Pertanahan; 10.

  Urusan Kependudukan dan catatan sipil;

  11. Urusan Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; 12.

  Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera; 13. Urusan Sosial; 14. Urusan Ketenagakerjaan; 15. Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah;

  16. Urusan Penanaman Modal; 17.

  Urusan Kebudayaan; 18. Urusan Kepemudaan dan olah raga; 19. Urusan Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri; 20. Urusan Otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian dan persandian;

21. Urusan Ketahanan pangan; 22.

  Urusan Pemberdayaan Masyarakat Desa; 23. Urusan Statistik; 24. Urusan Kearsipan;

  25. Urusan Komunikasi dan Informatika; dan 26.

  Urusan Perpustakaan.

  Klasifikasi Belanja Menurut Urusan Pilihan 1.

  Urusan Pertanian; 2. Urusan Kehutanan; 3. Urusan Energi dan Sumberdaya Mineral;

  4. Urusan Pariwisata;

5. Urusan Kelautan dan Perikanan; 6.

  Urusan Perdagangan; 7. Urusan Industri;

  Klasifikasi belanja menurut urusan wajib dan pilihan dijabarkan dalam bentuk program dan kegiatan. Disamping itu, Belanja Daerah juga diklasifikasikan menurut Fungsi Keuangan Negara. Klasifikasi ini digunakan untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara, terdiri dari : 1)

  Pelayanan umum; 2) Ketertiban dan ketentraman; 3) Ekonomi; 4)

  Lingkungan hidup; 5)

  Perumahan dan fasilitas umum; 6)

  Kesehatan; 7)

  Pariwisata dan budaya; 8)

  Pendidikan; serta

9) Perlindungan sosial.

  Belanja Daerah, terdiri dari Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung, dengan uraian sebagai berikut :

  Belanja Tidak Langsung :

  Merupakan belanja yang tidak dipengaruhi secara langsung oleh ada tidaknya program dan kegiatan SKPD, meliputi :

  1) Belanja Pegawai

  Belanja pegawai yang merupakan kompensasi dalam bentuk gaji dan tunjangan, serta penghasilan lainnya yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang diberikan kepada PNS, uang representasi dan tunjangan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. Pemerintah Daerah dapat memberikan tambahan penghasilan kepada PNS berdasarkan beban kerja, tempat bertugas, kondisi kerja, kelangkaan profesi, prestasi kerja, dan/atau pertimbangan yang obyektif lainnya dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah.

  2) Belanja Bunga

  Belanja bunga digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

  3) Belanja Subsidi

  Belanja subsidi digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat. Perusahaan/lembaga tertentu adalah perusahaan/lembaga yang menghasilkan produk/jasa di bidang pelayanan dasar masyarakat.

  4) Belanja Hibah

  Belanja hibah digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya, dan kelompok masyarakat/perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya. Pemberian hibah dalam bentuk uang dapat dilakukan apabila pemerintah daerah telah memiliki kemampuan untuk menutupi belanja urusan wajib yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Pemberian hibah dalam bentuk uang atau dalam bentuk barang atau jasa dapat diberikan kepada pemerintah daerah tertentu sepanjang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.

  5) Belanja Bantuan Sosial, Organisasi Profesi & Partai Politik

  Bantuan sosial dianggarkan untuk memberikan bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang diberikan tidak secara terus menerus/tidak berulang setiap tahunnya, selektif dan memiliki kejelasan penggunaannya. Belanja Bantuan kepada organisasi profesi dan Parpol disesuaikan ketentuan perundang-undangan. 6) Belanja Bagi Hasil & Bantuan Keuangan

  Belanja bagi hasil digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan kabupaten kepada pemerintah desa sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Bantuan keuangan digunakan untuk bantuan yang bersifat umum atau khusus dari pemerintah kabupaten kepada pemerintah desa dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan keuangan.

  7) Belanja Tak Terduga

  Belanja tidak terduga adalah belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak dapat diprediksi, diluar kendali dan pengaruh pemerintah daerah serta tidak biasa/tanggap darurat, seperti penanggulangan bencana alam/bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya dan bersifat tanggap darurat, termasuk pengembalian kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup.

   Belanja Langsung :

  Merupakan belanja yang dipengaruhi secara langsung adanya program dan kegiatan satuan kerja perangkat daerah yang kontribusinya terhadap pencapaian prestasi kerja dapat diukur, meliputi :

  1) Belanja Pegawai

  Belanja pegawai, berupa honorarium/upah dalam rangka melaksanakan kegiatan pemerintahan. Untuk penganggaran honorarium bagi PNSD dan Non PNSD dibatasi dan hanya didasarkan pada pertimbangan PNSD dan Non PNSD dalam kegiatan benar-benar memiliki peranan dan kontribusi langsung terhadap program dan kegiatan, termasuk narasumber/tenaga ahli dari luar instansi pelaksana kegiatan.

  2) Belanja Barang dan Jasa

  Belanja barang dan jasa, yaitu belanja yang digunakan untuk pembelian/pengadaan barang yang masa manfaatnya kurang dari 12 (dua belas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam kegiatan pemerintahan dan mengutamakan produksi dalam negeri dan melibatkan usaha mikro dan usaha kecil serta koperasi.

  3) Belanja Modal

  Belanja modal, yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan, seperti tanah, peralatan/mesin, gedung/ bangunan, jalan, irigasi dan aset tetap lainnya.

b. Perkiraan Anggaran Belanja Daerah

Tabel 3.12 Perkiraan Belanja Daerah Kabupaten Bekasi

  

Tahun 2014 Tahun 2015

  Belanja Langsung Belanja Langsung

  Belanja Tidak Belanja Tidak (Khusus Program

  Langsung Langsung (KhususProgram SKPD)

  SKPD) 1.561.367.626.616,00 2.031.899.835.330,00 2.126.358.161.513,00 2.118.750.240.300,00

Dokumen baru