Full text

(1)

SPs-USAHID JAKARTA

Strategi dan Taktik Humas dalam Mensosialisasikan Rencana Strategis 2010-2011 Kementerian Pekerjaan Umum terkait Bencana Banjir DKI Jakarta

Rifqi Muflih dan Harsono Suwardi *)

ABSTRAK

Strategi merupakan rencana keseluruhan tindakan yang akan mengikat keseluruhan setiap tindakan yang diambil untuk melaksanakan program-program humas. Taktik merupakan implementasi dari strategi, kemudian melalui strategi dan taktik humas pemerintah, maka pemerintah dapat menyampaikan informasinya atau menjelaskan mengenai kebijakan tertentu kepada publik, khususnya mengenai rencana strategis Kementerian Pekerjaan Umum periode 2010-2011.

Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan pendekatan kualitatif, kemudian menggunakan metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus, dengan perspektif post-positivisme, analisis data mengacu pads penelitian kualitatif, dan teknik wawancara langsung dengan subjek penelitian dan dokumentasi.

Hasil penelitian Strategi komunikasi yang di lakukan oleh PusKomPu dari hasil penelitan tesis ini adalah melakukan tugas pelayanan informasi tentang kebijaksanaan, program, dan kegiatan pimpinan kementerian dalam hal ini Sumber Daya Air mengenai bencana banjir DKI jakarta melalui strategi dengan meningkatkan hubungan dengan media (Cetak maupun Elektronik tentang terra Banjir di DKI Jakarta), dan meningkatkan pelayanan informasi bagi publik (menanggapi saran suara dari masyarakat, LSM, maupun laporan dari pihak publik lainnya mengenai banjir di DKI Jakarta) dan ketiga melakukan kordinasi hubungan yang baik antar semua lembaga (dalam hal banjir melakukan mitra dengan komisi V DPR RI dan Pemerintah Provinsi/daerah)

Taktik komunikasi yang dilakukan oleh PusKomPu dari hasil penelitian tesis ini adalah Taktik komunikasi yang di lakukan bidang hubungan media dengan memilih media yang efektif agar sosialisasi berhasil misalnya hubungan dengan media elektronik tahun 2010 - 2011 kami lebih sering melakukan Talk Show (narasumber SDA dengan Gubernur DKI Jakarta dan Menteri Pekerjaan Umum) di TVRI dan MetroTV melalui lelang slot selama kurun waktu yang ditetapkan, digunakan sesuai dengan momentum peristiwa tertentu.

(2)

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Berkembangnya daerah

pemukiman dan industri telah menurunkan area resapan air dan mengancam kapasitas lingkungan dalam menyediaan air. Potensi daya rusak air menyebabkan terjadi perluasan dampak kerusakan akibat banjir, seperti banjir di wilayah Jabotabek. Selain itu juga juga terdapat fenomena meluasnya kerusakan pantai akibat abrasi yang mengancam keberadaan pemukiman dan pusat-pusat perekonomian di sekitarnya.

Ketersediaan infrastruktur yang berkualitas merupakan salah satu faktor penentu daya tarik suatu kawasan/wilayah, disamping faktor kualitas lingkungan hidup, citra, dan masyarakat (budaya). Kinerja infrastruktur merupakan faktor kunci dalam menentukan daya tarik saing global. Tantangan pembangunan insfrastruktur ke depan adalah bagaimana untuk meningkatkan ketersediaan infrastruktur yang berkualitas dan kinerja semakin dapat diandalkan agar daya tarik dan daya saing Indonesia dalam konteks global dapat membaik.

Salah satu isu strategis yang dihadapi adalah bagaimana pembangunan infrastruktur dapat mengatasi masalah banjir, khususnya di wilayah DKI jakarta yang sudah menjadi "langganan" tiap tahun, sehingga berkembangnya opini publik terhadap usaha pemerintah dalam merespon terhadap pengelolahan infrastruktur untuk mengantisipasi bencana banjir.

Tidak mudah menangani bencana banjir di Ibukota Jakarta. Meski ancaman banjir yang melanda Kota Jakarta periodenya 5 tahunan. Namun banjir 2006 lalu sempat memandegkan hampir seluruh aktivitas warga di kota ini. Selain kegiatan perekonomian lumpuh total, kerugian material yang ditimbulkan akibat banjir nilainya mencapai triliunan. Penyebabnya, selain geografi DKI Jakarta 40% berada pada dataran rendah juga 13 sungai yang melintasi kota Jakarta ini tidak mampu

menampung limpasan air hujan akibat sedimentasi.

Pemimpin Induk Pelaksana Kegiatan Wilayah Sungai CiliwungCisadane dalam penanganan masalah banjir di Jakarta harus komprehensif dan integral. Penanganannya pun meliputi kegiatan struktural dan kegiatan yang terkait dengan budaya masyarakat bantaran sungai. Kementerian Pekerjaan Umum memiliki master plan termasuk menangani kali

pasangrahan. Kemudian untuk mengendalikan bencana banjir Kota Jakarta dibutuhkan dana Rp 9,5 triliun dimana 3,5 triliun diantaranya berasal dari partisipasi swasta.

Terkait strategi dan taktik humas meliputi berbagai aspek manajemen yang tujuan utamanya adalah menciptakan

'mutual understending' antara organisasi

dengan publik. (Prayudi, 2007: 2).

Keberhasilan menciptakan 'mutual

understending', maka sangat jelas

tergantung pada bagaimana tujuan-tujuan yang dibuat dengan mengkonstruksi makna dalam pesan yang disosialisasikan kepada publik. Keberhasilan yang sebenarnya tergantung pada kemampuan menggunaan strategi yang tepat. Strategi adalah pernyataan dari tema komunikasi atau alat yang akan digunakan untuk mencapai tujuan.

Strategi merupakan rencana keseluruhan tindakan yang akan mengikat keseluruhan setiap tindakan yang diambil untuk melaksanakan program-program humas. Taktik merupakan implementasi dari strategi, kemudian melalui strategi dan taktik humas pemerintah, maka

(3)

SPs-USAHID JAKARTA

pengelolahan infrastruktur untuk mengantisipasi bencana banjir.

Peneliti meletakkan lokus penelitian tesis di Pusat Komunikasi Publik, Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya mengenai Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum menilai perlunya singkronisasi antara penanggulangan banjir di DKI Jakarta dengan UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air (SDA). Pasalnya, UU ini telah mengamanatkan kegiatan penanganan banjir disesuaikan dengan konservasi dan pendayagunaan SDA.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana strategi humas dalam mensosialisasikan rencana strategis Kementerian Pekerjaan Umum khususnya tahun 2010-2011, sub bidang sumber daya air terkait bencana banjir di DKI Jakarta?

2. Bagaimana taktik humas Kementerian Pekerjaan Umum mengkonstruksi makna dalam pesan yang

disosialisasikan kepada publik? 3. Bagaimana menciptakan 'mutual

understending' antara kebijakan

pemerintah dengan publik?

1.3. Pembatasan Masalah

Penulis hanya memfokuskan pada strategi dan taktik humas dalam mensosialisasikan rencana strategis oleh Kementerian Pekerjaan Umum dibawah Pemerintah Pusat, periode 2010-2011, sub bidang sumber daya air terkait bencana banjir di DKI Jakarta, bukan pada suku dinas (sudin) PU karena berbeda kewenangan, kalau Kementerian PU DKI Jakarta (pemerintah pusat) sedangkan sudin PU (pemerintah provinsi).

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui dan menggambarkan strategi humas dalam mensosialisasikan /penyuluhan rencana strategis

Kementerian

Pekerjaan Umum 2010-2011, sub bidang sumber daya air terkait bencana banjir di DKI Jakarta.

2. Mengetahui dan menggambarkan taktik humas Kementerian Pekerjaan Umum mengkonstruksi makna dalam pesan yang disosialisasikan kepada publik.

3. Mengetahui dan menggambarkan strategi dan taktik humas pemerintah dalam menciptakan "mutual

understandning" antara pemerintah

dan masyarakat/publik.

2.Kerangka Pemikiran 2.1. Paradigma Penelitian

Paradigma merupakan cara pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Menurut Patton dalam Mulyana (2008, hal 9) menyatakan bahwa paradigma menunjukan suatu yang penting, ansah, dan masuk akal. Sedangkan menurut Anderson (ibid, hal 9) makna paradigma adalah ideologi dan praktek suatu komunitas ilmuan yang menganut suatu pandangan yang sama atas sebuah realitas, memiliki kriteria yang sama untuk menilai aktifitas penelitian dan menggunakan metode yang serupa.

Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma post-positivisme, Menurut Agus Salim (2001:40) menyatakan bahwa paradigma post-positivisme menyatakan bahwa suatu hal tidak mungkin mencapai atau melihat suatu kebenaran apabila pengamat berdiri dibelakang layar tanpa ikut terlibat dengan objek secara langsung.

(4)

interaktif, dengan catatan bahwa pengamat harus bersifat senetral mungkin, sehingga tingkat subjektivitas dapat dikurangi secara mininmal.

Dari segi hakikat suatu yang diangkap realitas (Ontologi) dalam bingkai Guba dan Lincoln dalam buku Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln (2009, hal 137), paradigma post-positivisme berdasarkan ontologi

Post-positivisme memandang kenyataan itu ada, tetapi karena keterbatasan manusia dan sifat degil dari gejala, maka kenyataan itu tidak dapat dimengerti secara sempurna. Kenyataan harus diperiksa agar dipahami secara sempurna tetapi tidak pernah bisa sempurna.

Dari segi bagaimana cara mendapatkan pengetahuan (Epistemologi) dalam bingkai Guba dan Lincoln dalam buku Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln (2009, hal 137), paradigma post-positivisme berdasarkan epistemologi Post-positivisme memodifikasi sifat dualistik dan objektif. Dualisme ditinggalkan karena dianggap tidak mungkin, namun objektifitas tetap dicoba untuk di pertahankan.

Dari segi yang menyangkut tujuan atau untuk apa mempelajari sesuatu (Aksiologi), masih dalam bingkai Guba dan Lincoln dalam buku Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln, "nilai" dan etika serta pilihan moral harus berada di luar proses penelitian. Peneliti harus dapat membebaskan diri dari objek yang di kaji, karena sikap ilmiah menghendaki adanya jarak yang menetralisir kedudukan peneliti. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha membangun pengetahuan tentang strategi dan taktik humas dalam mensosialisasikan rencana strategis Kementerian Pekerjaan Umum 2010-2011, sub bidang sumber daya air terkait bencana banjir di DKI Jakarta.

2.2. Teori Propaganda

Menurut Max Weber (didalam buku Pace & Faules, 1998: 45) ciri-ciri suatu

organisasi terbirokrasikan dengan ideal terdapat sepuluh ciri sebagai berikut : 1. Suatu organisasi terdiri dari

hubungan-hubungan yang ditetapkan antara jabatan-jabatan. Blok-blok bangunan dasar dari organisasi formal adalah jabatan-jabatan. Jabatan-jabatan hampir selalu ditunjukkan dengan gelar-gelar seperti penyelia, letnan, dosen, analis senior, pelatih.

2. Tujuan atau rencana organisasi terbagi ke dalam tugas-tugas; tugastugas organisasi disalurkan diantara berbagai jabatan sebagai kewajiban resmi. 3. Kewenangan untuk melaksanakan

kewajiban diberikan kepada jabatan ketika secara sah menduduki jabatannya

4. Garis-garis kewenangan dan jabatan diatur menurut suatu tatanan hierarkis. 5. Suatu sistem aturan dan regulasi yang umum tetapi tegas, yang ditetapkan secara formal, mengatur tindakan-tindakan dan fungsifungsi jabatan dalam organisasi.

6. Prosedur dalam organisasi bersifat formal dan impersonal- yakni peraturan-peraturan organisasi berlaku bagi setiap orang

7. Suatu sikap dan prosedur untuk menerapkan suatu sistem disiplin merupakan bagian dari organisasi.

8. Anggota organisasi harus memisahkan kehidupan pribadi dan kehidupan organisasi

9. Pegawai dipilih untuk bekerja dalam organisasi berdasarkan kualifikasi teknis, alih-alih koneksi politis, koneksi keluarga, atau koneksi lainnya.

10. Meskipun pekerjaan dalam birokrasi berdasarkan kecakapan teknis, kenaikan jabatan dilakukan berasarkan senioritas dan prestasi kerja

(5)

SPs-USAHID JAKARTA

Teori propaganda dari Harold Lasswell yang terkenal yaitu Who, Says what, In which channel, To whom and With what effect. Teori tersebut merupakan landasan dasar para praktisi humas dalam melakukan suatu persuasi kepada publik ekternal maupun ekternal.

2.3. Model Sembilan Tahap Rencana Strategis Humas

Menurut Smith, (2005, 17), menyatakan bahwa ada sembilan tahap rencana strategis untuk public relations, yaitu:

A. Fase satu adalah melakukan penelitian awal

1. Analisis situasi yaitu dengan

menganalisa peluang dan hambatan 2. Analisis organisasi yaitu dengan

menganalisa lingkungan internal dan ekternal

3. Analisis publik yaitu dengan mengidentifikasi, seleksi, dan analisis public

B. Fase kedua adalah melakukan strategi komunikasi

4. Membuat tujuan yang objektif 5. Formula strategi aksi dan respon 6. Menggunakan komunikasi efektif

C. Fase ketiga adalah melakukan taktik komunikasi

7. Memilih taktik komunikasi yaitu dengan interaksi interpersonal, produk/kebijakan organisasi, berita media massa, media iklan dan promosi 8. Pelaksanaan program-program yaitu

yaitu dengan menentukan tema, isi program, jadwal, anggaran, mengawasi keefektifan program

D.Fase keempat adalah melakukan penelitian evaluasi

9. Evaluasi Renacana Strategis yaitu dengan melakukan evaluasi laporan pertanggung jawaban, evaluasi data,

2.4. Strategi dan Taktik Komunikasi 2.4.1. Strategi Komunikasi

Keberhasilan humas jelas tergantung pada bagaimana tujuantujuan yang dibuat. Keberhasilan yang sebenarnya tergantung pada kemampuan menggunaan strategi yang tepat.

Menurut Smith, (2005:82) menyatakan bahwa strategis komunikasi dalam humas ada dua:

1. Strategi Proaktif adalah pendekatan yang memungkinkan sebuah organisasi untuk meluncurkan program komunikasi di bawah kondisi tertentu dan sesuai dengan batas waktu tertentu yang tampaknya paling sesuai dengan kepentingan organisasi, seperti

a. Strategi Aksi

Tindakan nyata yang dilakukan oleh organisasi dalam upaya mencapai tujuannya

Special Event

 Sponsor

 Partisipasi Audien • Performa Organisasi b. Komunikasi Strategi

Fokus melakukan penawaran lebih atau kesepakan antara perusahaan dengan kelompok lain, dengan tiga strategi komunikasi

 Publisitas 

 Informasi yang bernilai berita 

 Komunikasi transparan 

2. Strategi Reaktif adalah sebaliknya, merupakan tindakan yang merespon pengaruh dan peluang dari kepentingan organisasi, seperti

(6)

2.4.2. Taktik Komunikasi

Taktik adalah spesifikasi rumusan anda. Taktik antara lain, tugas, pihak bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas tersebut, batas waktu untuk menyelesaikan tugas. Taktik mengacu pada level oprasional ; kejadian aktual, media, dan metode yang dipakai untuk mengimplementasikan strategi.

Taktik bisa melalui situs web, news release, tur, dan billboard dan me ng lainnya. Teknik dapat dikembangkan secara luas dengan dukung, teknologi yang mendukung. Kontrol media memungkinkan lembaga / institusi menentukan atribut-atribut pesan yang terpenting adalah isinya, dan juga waktu, presentasi, kemasan, irama dan distribusi. Taktik bisa menggunakan media internal seperli house jurnal majalah perusahaan dan ekternal media meliputi koran, siaran berita televisi, dan juga billboard.

Menurut Smith (2005:159), menyatakan bahwa ada empat kategori taktik komunikasi, yaitu:

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian tesis ini adalah kualitatif yang melibatkan pendekatan Post-positivisme. Menurut Kriyantono (2010, hal 51-52) metodologi penelitian kualitatif berasal dari perspektif Post-positivisme (subjektif). Sedangkan menurut Shank dalam Ospina (2004, hal 1) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai format penyelidikan empiris yang sistematis terhadap sebuah pemahaman yang berlaku secara umum dalam

masyarakat. Sistematis maksudnya adalah terencana, teratur dan bersifat publik. Empiris yang dimaksud disini adalah jenis penelitian ini pengeksplorasi pengalaman dunia. Dimana peneliti berusaha untuk menyelidiki bagaimana sebuah pengalaman adalah sesuatu yang masuk akal.

Penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalamdalamnya. Dalam penelitian ini, peneliti adalah bagian integral dari data, dan ikut aktif dalam menentukan jenis data yang diinginkan dengan demikian peneliti menjadi instrumen penelitian yang terjun langsung kelapangan. Oleh karena itu, penelititan ini bersifat subjektif dan hasilnya lebih kasuistik bukan untuk digeneralisasikan.

Secara umum dalam penelitian ini memiliki karakteristik seperti intensif, perekaman yang berhati-hati terhadap apa yang terjadi dengan catatan-catatan di lapangan serta dilengkapi oleh bukti-bukti dokumenter, analisis data lapangan, melaporkan hasill.

Berdasarkan sesuai dengan paradigma post-positivisme yang berorientasi pada nilai, peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif untuk memberikan interpretasi deskriptif tentang strategi dan taktik humasdalam mensosialisasikan rencana strategis Kementerian Pekerjaan Umum 2010-2011, sub bidang sumber daya air terkait bencana banjir di DKI Jakarta.

3.2. Metode Penelitian

(7)

SPs-USAHID JAKARTA

Menurut Robert K yin (2004, 1), studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkaitan dengan bagaimana atau mengapa, bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang diselidiki dan bila fokus penelitian terletak pada fenomena kontemporer di dalam konteks kehidupan nyata.

Sedangkan menurut Stake ( Denzin & Lincoln, 2009: 301) menyatakan bahwa studi kasus meng rkan perhatian pada pertanyaan tentang apa yang dipelajari secara dari suatu kasus. Secara umum dapat dikategorikan dalam tiga konsep, yaitu :

1.Intrinsic case study

Jenis pertama ini ditempuh oleh peneliti yang ingin memahami sebuah kasus tertentu. Jenis ini ditempuh bukan karena suatu kasus mewakili kasus-kasus yang lain atau menggambarkan sifat atau problem tertantu. Peneliti mengabaikan rasa keingintahuan yang lain agar kasusnya dapat memunculkan kisah uniknya sendiri.

2. Instrumetal case study

Jenis ini digunakan untuk meneliti sebuah kasus tertentu agar tersaji sebuah perspektif tentang isu atau memperbaiki suatu teori. Pemilihan sebuah kasus lebih disebabkan karena keinginan kita untuk meningkatkan pemahaman tentang minat-minat yang lain tersebut.

3. Collective case study

Jenis ini mengkaji sejumlah kasus secara bersamaan dia bisa meneliti fenomena, populasi, atau kondisi umum. Jenis in kan berarti melakukan studi tentang kasus kolektif, namun lebih gai pengembangan dari instrumental kedalam beberapa kasus.

3.3. Unit Analisis penelitian

Unit analisis mengacu pada tingkat agresi atau kebutuhan data yang

dikumpulkan pada tahap analisis data. Menurut Sekaran (2000:135) atau tipe satuan yang digunakan peneliti dalam mengukur variabel. Dalam ilmu sosial berupa perorangan, kelompok, masyarakat, organisasi, insitusi, negara, budaya, dan lain-lain maka perlu bagi peneliti menentukan unit analisis yang bisa digunakan.

Unit analisis dalam penelitian ini adalah strategi dan taktik humas dalam mensosialisasikan rencana strategis Kementerian Pekerjaan Umum periode 2010-2011, sub bidang sumber daya air terkait bencana banjir di DKI Jakarta

3.4.1 Data Primer a. Wawancara

Data dikumpulkan melalui wawancara yang mendalam pada setiap lokus penelitian. Wawancara ini merupakan wawancara tatap muka antara peneliti dan responden, dengan teknik wawancara mendalam, Maka penelitian ini peneliti adalah intrumen utama penelitian.

b. Observasi Partisipan

Mengamati dan mendengarkan perilaku selama beberapa waktu tanpa

melakukan manipulasi atau

mengendalikan, serta mencatat penemuan yang memungkinkan atau memenuhi syarat untuk digunakan kedalam tingkatan penafsiran analisis.

3.4.2. Data Sekunder

Library Research (studi

dokumentasi) juga digunakan dalam penelitian ini dengan mempelajari buku-buku, jurnal penelitian sebagai literatur.

3.5. Teknik Analisis Data

(8)

3.5.1. Kompetensi Subjek Riset

Subjek riset harus kredibel, caranya dengan menguji jawabanjawaban pertanyaan terkait dengan pengalaman subjek. Dalam riset ini mengenai strategi dan taktik humas dalam mensosialisasikan rencana strategis Kementerian Pekerjaan Umum periode 2010-2011 yang menjadi subjek penelitian

3.5.2. Trustworthiness

Menguji kebenaran dan kejujuran subjek dalam mengungkap realitas menurut apa yang dialami, dirasakan, atau dibayangkan. Trustworthiness mencakup dua hal:

1. Autenticity

Memperluas konstruksi personal yang dia ungkapkan. Periset memberikan kesempatan dan memfasilitasi pengungkapan konstruksi personal yang lebih detail, sehingga mempengaruhi mudahnya pemahaman yang lebih mendalam, misalnya memberikan peluang subjek untuk bercerita panjang lebar tentang apa yang dialaminya dalam konteks wawancara informal atau santai.

2. Analisis Triagulasi

Menganalisa jawaban subjek dengan meneliti kebenarannya dengan data empiris (sumber data lain yang tersedia). Disini jawaban di Cross-Check dengan dokumen yang ada. Menurut Dwijowinoto (2009:9) dalam buku Kriyantono ada lima macam triagulasi antara lain:

a. Triagulasi Sumber

Membandingkanhasil pengamatan dengan wawancara

b. Triagulasi Waktu

Melakukan observasi tidak hanya satu kali

c. Triagulasi Teori

Memanfaatkan dua atau lebih teori untuk dipadu, oleh karena itu

diperlukan rancangan riset, pengumpulan data, dan analisis data

yang lengkap supaya hasilnya komprehensif

d. Triagulasi Periset

Mengunakan lebih dari satu periset dalam mengadakan observasi atau wawancara. Pengamatan dan

wawancara dengan dengan

menggunakan dua periset akan membuat data lebih absah.

e. Triagulasi Metode

Usaha mengecek keabsahan data atau mengecek keabsahan temuan riset.

3. Intersubjektif Agreement

Semua pandangan, pendapat, atau data dari suatu subjek didialogkan dengan pendapat, pandangan, atau data dari subjek lain. Tujuannya untuk menghasilkan titik temu antar data (Intersubjektivity Agreement)

4. Conscientization

Kegiatan berteori, ukurannya :dapat melakukan "blocking interpretation", mempunyai basis teoritis yang mendalam dan kritik , harus tajam. Kegiatan berteori ini harus bisa memaparkan dua hal, yaitu

a. Historical situatedness (Ideographic)

Sesuaikan analisis dengan konteks sosial dan budaya serta konteks waktu dan historis yang spesifik sesuai kondisi dimana riset terjadi

b. Unity theory and praxis

Memadukan teori dengan contoh praktis

Berdasarkan penjelasan menurut Kriantono diatas, maka disimpulkan analisis data dalam pendekatan kualitatif-

(9)

SPs-USAHID JAKARTA

Kedua adalah menguji authenticity yaitu peneliti memberi kesempatan dan memfasilitasi pengungkapan konstruksi personal yang lebih detail. Kemudian ketiga melakukan triagulations analysis yaitu menganalisis jawaban subjek penelitian dengan meneliti autensitasnya berdasarkan data empiris yang ada. Peneliti menjadi fasilitator untuk menguji keabsahan setiap jawaban berdasarkan dokumen atau data lain, serta reasoning yang logis.

Tahap ke empat adalah melakukan

intersubjectivity analysis yaitu semua

pandangan, pendapat atau data dari suatu subjek penelitian, didialogkan dengan pendapat pandangan, atau data dari subjek lainnya.

4. Pembahasan

4..1. Rencana Strategis Sumber Daya Air Hasil wawancara dengan bapak Ardi selaku humas Sumberdaya Air (SDA) menyatakan bahwa:

"penyelesaian pembangunan fisik Kanal Banjir Timur sudah rampung akhir tahun 2011. Kanal Banjir Timur yang dibangun untuk mengurangi dampak resiko banjir ini jugs akan dijadikan show case percontohan green infrastructure. Hal tersebut jugs disampaikan oleh Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Hermanto Dardak, dalam kunjungan lapangan menelusuri Kanal Banjir Timur dari Weir I Malaka Sari hingga ke Weir III Marunda, di Jakarta"

Kemudian beliau jugs mengatakan bahwa "dalam kunjungan lapangan, Wakil Menteri Pekerjaan Umum didampingi Staf Ahli Menteri PU Bidang Ekonomi dan Investasi Pusat Penelitian Sumber Daya Air, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung - Cisadane".

"Melalui penelusuran ini, kita dapat melihat bahwa Kanal Banjir Timur berfungsi dengan baik, dan rencana ke depannya menjaga kualitas dan kuantitas air melalui eco-technology. Selain itu pada kawasan di sekitar Kanal

Banjir Timur akan disayembarakan landscape ruang terbuka hijau," jelas Hermanto Dardak selaku Wakil Menteri Pekerjaan Umum.

Untuk menyelesaikan pekerjaan fisik Kanal Banjir Timur, pihak Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung - Cisadane berupaya menyelesaikan dimensi saluran kanal, selain itu jugs membangun jetty sepanjang 400 m di kawasan Marunda. "Setelah pekerjaan fisik ini rampung, maka selanjutnya akan dibentuk badan pengelolanya," jelas Imam Santoso, Kepala BBWS Ciliwung - Cisadane.

Kanal Banjir Timur terbentang sepanjang 23,5 km, melintasi Jakarta Timur hingga Jakarta Utara dengan tujuan mengurangi resiko banjir akibat luapan Sungai Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat dan Cakung.

4.1.2. Strategi Komunikasi Humas dalam mensosialisasikan rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum

A. Wawancara Strategi Bidang Publikasi dan Dokumentasi

Menurut Lisniari Munthe, ST. M.Sc selaku Kepala Bidang Publikasi dan Dokumentasi, menyatakan bahwa

"strategi komunikasi yang dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, No.8/PRT/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum, pada pasal 965 menegaskan bidang

Dokumentasi dan Publikasi mempunyai strategi komunikasinya dengan mendokumentasikan penyelenggaraan pembangunan kementerian pekerjaan umum dalam bentuk audio visual dan koleksi pustaka serta mempublikasikan melalui media internal, media cetak dan media elektronik"

(10)

sosialisasi banjir di DKI Jakarta penanganan oleh Sumber Daya adalah dengan

mendokumentasikan produk-produk kementerian terkait kegiatan-kegiatan penanggulangan banjir serta program-program sub, SDA lalu didokumentasikan berupa grafis dan audio visual.

Menurut pak naldi selaku Sub. Bidang Publikasi, menyatakan bahwa :

"menyiapkan bahan terkait dengan temanya misalnya bencana banjir, maka narasumbernya pasti harus yang memiliki wewenang dterhadap penanganan banjir DKI Jakarta dan kordinasi penyelengagaraan penerbitan dan publikasi Kementerian meliputi majalah kementerian pekerjaan umum (Majalah "KIPRAH"), booklet, leaflet, advertorial dan pameran serta Man layanan masyarakat. Majalah Kiprah pada edisi 2011 ada yang membehas khusus masalah banjir, namun tidak semua edisi membahas banjir, karena Kementerian PU memiliki banyak Sub Bidang lain seperti Bina Marga, Cipta Karya dan sub bidang lainnya"

Sub. Dokumentasi dan Sub Bidang Publikasi serta Sub. Bidang Perpustakaan, bekerjasama dalam mengengemas isi pesan selalu berkordinasi satu sama lainnya. Saya yang mengawal supaya program-program tersebut berjalan dengan baik tiap tahunnya. Sehingga masyarakat dapat mengetahui hebijakan-kebijakan Kementerian PU dengan baik dari kemasan isi pesan yang mudah di pahami dari segi bahasa maupun estetika desain layout di majalah, brosur, booklet, maupun pameran yang rutin diadaka, serta dapat memenuhi kebutuhan informasi publik melalui layanan perpustakaan yang selalu menyimpan data-data mengenai kebijakan-kebijakan kementerian PU dengan rapi, Sehingga di harapkan tercipta "mutual

understanding" antara publik dengan

kementerian pekerjaan umum.

B. Wawancara Strategi Bidang Publikasi dan Dokumentasi

Menurut ibu etty lakukan selaku Kepala Bidang Hubungan Masyarakat dalam mensosialisasikan rencana strategis Kementerian Pekerjaan Umum dalam menanggulangi banjir DKI Jakarta, adalah

"Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, No.8/PRT/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum, pada pasal 961 menegaskan bidang hubungan masyarakat melakukan tugas pelayanan informasi tentang kebijaksanaan, program, dan kegiatan pimpinan kementerian dalam hal ini Sumber Daya Air mengenai bencana banjir DKI jakarta melalui strategi dengan meningkatkan hubungan dengan media (Cetak maupun Elektronik tentang tema Banjir di DKI Jakarta), dan meningkatkan pelayanan informasi bagi publik (menanggapi saran suara dari masyarakat, LSM, maupun laporan dari pihak publik lainnya mengenai banjir di DKI Jakarta) dan ketiga melakukan kordinasi hubungan yang baik antar semua lembaga (dalam hal banjir melakukan mitra dengan komisi V DPR RI dan Pemerintah Provinsi/daerah)" Proses sosialisasi rencana strategis Kementerian Pekerjaan Umum terkait banjir DKI Jakarta supaya pesan itu sampai ke Publik sehingga tercapai "mutual

understanding" maka Bidang Hubungan

Masyarakat terdapat Sub. Bidang Pelayanan Informasi Publik yang dipimpin oleh mba Putri beserta stafnya berhubungan langsung dengan masyarakat dan LSM serta publik ekternal lainnya.

Menurut mba Putri selaku Kasubid Pelayanan Informasi Publik, Publik atau masyarakat yang datang ke PusKomPu KemenPU akan dilayani dengan baik, terkait dengan Undang-Undang No. 14 tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik supaya tercipta "mutual

understanding", intinya memberikan

(11)

SPs-USAHID JAKARTA

Publik untuk membuka akses bagi setiap pemohon informasi publik untuk mendapatkan informasi publik contoh kasus terkait dengan Banjir DKI Jakarta. namun tetap ada tahap-tahap proses yang ada di PusKomPu"

Menurut Sub Bidang Program dan Evaluasi yang dipimpin oleh mas krisno beserta stafnya mengadakan tender proyek "riset" evaluasi untuk mengevaluasi program-program komunikasi yang telah dibuat dan dijalankan selama jangka waktu satu tahun. Jadi setiap tahun mas kris dan stafnya memberikan masukan yang penting terhadap kemajuan program-program yang akan dibuat tahun depan berikutnya.

4.1.3. Taktik Komunikasi Propaganda Humas dalam mensosialisasikan Rencana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum

Menurut ibu Etty selaku Kepala bidang Hubungan Masyarakat mengatakan bahwa taktik dalam mengimplementasikan strategi komunikasi ke dalam program-program Pusat Komunikasi Publik terkait dengan sosialisasi banjir di DKI Jakarta penanganan oleh Sumber Daya Air, yaitu

"Taktik komunikasi yang kami lakukan bidang hubungan media dengan memilih media yang efektif agar sosialisasi berhasil misalnya hubungan dengan media elektronik tahun 2010 - 2011 kami lebih sering melakukan Talk Show (narasumber SDA dengan Gubernur DKI Jakarta dan Menteri Pekerjaan Umum) di TVRI dan MetroTV melalui lelang slot selama kurun waktu yang ditetapkan, digunakan sesuai dengan momentum peristiwa seperti apabila mendekati musim penghujan maka kami mengusung isu masalah banjir"

Lebih lanjut bu Etty mnyatakan bahwa taktik komunikasi Bidang hubungan Masyarakat yang kedua dalam Bidang Hubungan Media yang

dipimpin oleh Pak Jon beserta stafnya yaitu dengan mengadakan Konfrensi Pers terkait

dengan kebijakan menteri dan sub bidang SDA terkait masalah banjir.

Menurut Mba Indah selaku Staf bidang hubungan media, Pusat Komunikasi Publik menyatakan bahwa

"dalam rangka membangun citra positif Kementerian Pekerjaan Umum dalam hal ini Pelayanan dan Informasi Publik menggunakan sarana informasi sebagai program dari implementasi strategi yaitu":

a. Website (berita terkini/PU news room) Kementerian Pekerjaan Umum memiliki website yaitu www.pu.go.id yang bias diakses oleh siapa saja termasuk wartawan. Selain berita, Pelayanan dan Informasi Publik juga menangani guntingan berita, tanggapan atas berita media massa serta saran dan pengaduan masyarakat. (contoh terlampir) b. Jumpa Pers dengan pejabat PU

Temu wartawan ini biasanya dilakukan setiap hari Kamis siang, tujuan temu wartawan ini adalah untuk memberikan waktu kepada wartawan

untuk memperoleh informasi mengenai Kementerian Pekerjaan Umum apabila ada informasi yang perlu dengan cepat atau segera disebarluaskan dan memerlukan penjelasan lebih mendalam. (contoh terlampir)

c. Siaran Pers

Siaran pers/keterangan resmi tertulis dari instansi/perusahaan mengenai suatu kebijakan, keadaan khusus atau langkah-langkah yang diambil oleh instansi/perusahaan yang sengaja dipersiapkan untuk siaran pers yang akan dimuat dalam surat kabar. (contoh terlampir)

d. Wawancara

(12)

wawancara dengan Pimpinan Kementerian Pekerjaan Umum. e. Dialog tv dan radio

Dalam hal ini dialog terbagi menjadi dua, yaitu: (1) membayar jam tayang, dan (2) diminta oleh stasiun tv dan atau radio. (contoh terlampir)

f. Press tour (kunjungan kerja)

Press tour dilakukan agar kegiatan kunjungan kerja Pimpinan Kementerian dapat diliput media massa sehingga masyarakat tahu bahwa Pejabat Kementerian Pekerjaan Umum juga turun ke lapangan.

5.1. Simpulan

Masyarakat menilai upaya yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dalam mengurangi masalah banjir di DKI Jakarta sudah maksimal. Bila saat ini hasilnya belum seperti yang diharapkan itu sematamata karena keterbatasan dana. Sementara itu, pemerintah baru akan mengalokasikan dana yang cukup besar pada anggaran tahun jamak (multy years) dan dimulai tahun 2008.

Sulit memang membebaskan Jakarta dari masalah banjir. Kementerian Pekerjaan Umum sudah memfasilitasi pejabat dan tenaga ahli yang berkompeten dibidangnya.

Pembebasan tanah dibantaran sungai untuk pekerjaan normalisasi dirasakan sangat melelahkan oleh dinas DKI Jakarta. Disamping belum ada kesadaran dari penghuni bantaran sungai, mereka juga sulit diarahkan untuk direlokasi ke rumah susun. Dirinya, pesimis warga bantaran sungai bersedia dipindahakan ke rusun yang telah disediakan Pemda DKI. Terkait dengan masalah itu, ke depan dirinya menghimbau kesadaran mereka agar bersedia dipindahkan.

Strategi komunikasi yang di lakukan oleh PusKomPu dari hasil penelitan tesis ini adalah melakukan tugas pelayanan informasi tentang kebijaksanaan, program,

dan kegiatan pimpinan kementerian dalam hal ini Sumber Daya Air mengenai bencana banjir DKI jakarta melalui strategi dengan meningkatkan hubungan dengan media (Cetak maupun Elektronik tentang tema Banjir di DKI Jakarta), dan meningkatkan pelayanan informasi bagi publik (menanggapi saran suara dari masyarakat, LSM, maupun laporan dari pihak publik lainnya mengenai banjir di DKI Jakarta) dan ketiga melakukan kordinasi hubungan yang baik antar semua lembaga (dalam hal banjir melakukan mitra dengan komisi V DPR RI dan Pemerintah Provinsi/daerah)

Taktik komunikasi persuasi /propaganda yang dilakukan oleh PusKomPu dari hasil penelitian tesis ini adalah Taktik komunikasi yang di lakukan bidang hubungan media dengan memilih media yang efektif agar sosialisasi berhasil misalnya hubungan dengan media elektronik tahun 2010 - 2011 kami lebih sering melakukan Talk Show (narasumber SDA dengan Gubernur DKI Jakarta dan Menteri Pekerjaan Umum) di TVRI dan MetroTV melalui lelang slot selama kurun waktu yang ditetapkan, digunakan sesuai dengan momentum peristiwa tertentu.

Taktik komunikasi Persuasi /Propaganda Bidang Hubungan Masyarakat yang kedua dalam Bidang Hubungan Media yang dipimpin oleh Pak Jon beserta stafnya yaitu dengan mengadakan Konfrensi Pers terkait dengan kebijakan menteri dan sub bidang SDA terkait masalah banjir misalnya salah satunya mengenai solusi banjir dengan penyelesaian Banjir Kanal Timur (BKT).

5.2. Saran

5.2.1. Implikasi Teoritis

(13)

SPs-USAHID JAKARTA

penelitian selanjutnya terkait media baru di era globalisasi saat ini.

Penelitian ini di harapkan supaya teman-teman akademisi lainnya dapat melakukan penelitian lebih luas lagi tentang strategi dan taktik humas pemerintah dalam mensosialisasikan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kepada masyarakat/publik melalui media sosial.

5.2.2. Implikasi Praktis

Hasil penelitian ini tersedia bagi Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya Pusat Komunikasi Publik dalam membuat rencana strategis dan taktik humas dalam mensosialisasikan kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya. Sekaligus menjadi evaluasi terhadap kinerja humas Kementeria Pekerjaan Umum.

Semoga penelitian ini bisa bermanmaat bagi Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya Pusat Komunikasi Publik. Supaya bisa lebih meningkatkan taktik dalam program-program sosialisasi mengenai kebijakan kementerian pekerjaan umum.

Melihat dari hasil penelitian ini, maka saran praktis untuk kementerian pekerjaan umum dan para praktisi humas pada umumnya mengenai teknik dalam program yaitu dengan memaksimalkan jejaring media sosial seperti facebook, twetter dan media sosial lainnya supaya lebih menjangkau terutama kalangan anak mudanya agar lebih menghargai jasa konsruksi pemerintah pusat, kementerian pekerjaan umum yang sering kali mereka tidak ada perhatian dan tidak kepedulian dari kalangan generasi muda Indonesia saat ini.

Semoga saran-saran penelitian ini bermanfaat dan memberikan sumbangsih ide gagasan dari segi teoritis maupun praktis sehingga keterpaduan antara teori dan praktik.

DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, Elvinaro. 2009. Humas Practis. Bandung: Widya Padjadjaran. Argenti, Paul A., 2010. Komunikasi

Korporat. Graw - Hill, Jakarta: Salemba Humanika.

Cutlip, Scott M and Center, Alen H, and Broom, Glen M. 2006. Efective Humas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Irianto, Yosal. 2006. Humas Writer, Pendekatan Teori dan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis

Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Kriyantono, Rachmat. Humas Writing, Teknik Produksi Media Publikasi dan

Publisitas Korporat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Lattimore, Dan, and Baskin, Otis, and

Heiman, Sutte T, and Toth, Elizabeth L. 2010. Publik Relations Profesi dan Praktik. Jakarta: Salemba Humanika

Mulyana. Deddy. 2004. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung; Rosda Karya.

Manulang. 1981. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: Galia Indonesia

Miller, Katherine. 2009. Organizations Communication; Approaches and Processes. Boston, MA: Wadsword Cengage Learning

Morissan, 2006. Pengantar Humas, Strategi Menjadi Humas Profesional, Ramdina Prakarsa.

Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln. 2009. Handbook of Qualitative Research. Sage Publication. Pvt. Ltd. Edisi Bahasa Indonesia. Jogyakarta; Pustaka Belajar

Pace, R. Wyne dan Faules, Don. F. 1998. Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

(14)

Ruslan, Rosady. 2002. Manajemen Humas Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Suwardi, Harsono. 2010. Handbook It Humas. Manajemen Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi Program Pasca Sarjana. Universitas Indonesia.

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (14 pages)