Hubungan antara pola pikir negatif dan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa Psikologi USD - USD Repository

Gratis

0
0
127
10 months ago
Preview
Full text

  

HUBUNGAN ANTARA POLA PIKIR NEGATIF DAN KECEMASAN

BERBICARA DI DEPAN UMUM PADA MAHASISWA PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

Skripsi

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

  Disusun oleh : Andina Prilajeng Nugraheni

  NIM : 069114085

  

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010

  

HUBUNGAN ANTARA POLA PIKIR NEGATIF DAN

KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM PADA

MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA

DHARMA YOGYAKARTA

Skripsi

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

  Disusun oleh : Andina Prilajeng Nugraheni

  NIM : 069114085

  

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

MOTTO

  “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang

  

kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah

  menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”

  (Markus 11:224) Saat ku merasa tak berdaya. Saat ku merasa tak

ada jalan keluar. Namun Tuhan tetap memberikan

secercah cahaya kasih Nya untuk ku. Sehingga aku tak

merasa sendirian memanggul salib kehidupan ini. (Andina Prilajeng Nugraheni) Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan

kecemasan adalah kemampuan memilih pikiran yang

tepat. Orang akan menjadi lebih damai bila yang

dipikirkan adalah jalan keluar masalah. (Mario Teguh) Tugas kita bukanlahh untuk berhasil. Tugas kita

adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba

itulah kita menemukan dan belajar membangun

kesempatan untuk berhasil. (Mario Teguh)

  

Kupersembahkan karya ini untuk:

  ♫ The only one my luvly Jesus Christ Bunda Maria yang menjadi pengantara ku dalam

  doa, sehingga terkabulnya permohonan ini

  ♫ Almarhum Papi ku tercinta FX. Suwandi yang selalu

  mendoakan ku di surga

  ♫ Mami ku tercinta Enny Sugiarti yang dengan sabar

  selalu mendoakan dan mendukung setiap langkahku

  ♫ Kakak ku tersayang yang selalu mensupport aku Luvly Abie (Yah) yang selalu mendorongku agar cepet

  lulus ^_^

  ♫ Semua orang yang mengasihi dan mendukung ku selama ini. Love you all.

  

HUBUNGAN ANTARA POLA PIKIR NEGATIF DAN KECEMASAN

BERBICARA DI DEPAN UMUM PADA MAHASISWA PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

Andina Prilajeng Nugraheni

  

ABSTRAK

Andina Prilajeng Nugraheni (2010). Hubungan antara Pola Pikir Negatif dan

Kecemasan Berbicara di Depan Umum. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Sanata

  

Dharma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pola pikir negatif

dan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa psikologi universitas Sanata Dharma

Yogyakarta. Pola pikir negatif diidentifikasikan sebagai variabel bebas, sedangkan kecemasan

berbicara di depan umum diidentifikasikan sebagai variabel tergantung. Subjek dalam penelitian

ini adalah 100 mahasiswa psikologi universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Metode pengumpulan

data dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan dua skala pengukuran

model Likert: yaitu skala pola pikir negatif dan skala kecemasan berbicara di depan umum yang

disusun sendiri oleh penulis berdasarkan negative cognitive triad Beck (1985) dan aspek-aspek

kecemasan berbicara di depan umum Rogers (2004). Koefisien reliabilitas pada skala pola pikir

negatif sebesar 0.943 dan pada skala kecemasan berbicara di depan umum sebesar 0.932. Data

penelitian ini dianalisis dengan teknik korelasi Product Moment dari Pearson. Koefisien korelasi

yang diperoleh sebesar 0,776 dengan probabilitas 0,000 (p< 0,01). Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa hipotesis diterima. Ini berarti ada hubungan positif yang signifikan antara

pola pikir negatif dan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa psikologi universitas

Sanata Dharma Yogyakarta. Kata kunci : pola pikir negatif, kecemasan berbicara di depan umum.

  

THE RELATION BETWEEN MINDSET AND PUBLIC SPEAKING

ANXIETY ON COLLEGE STUDENTS FACULTY OF PSYCHOLOGY

SANATA DHARMA UNIVERSITY

Andina Prilajeng Nugraheni

  

ABSTRACT

Prilajeng, Andina (2010). Relation between Mindset with Public Speaking Anxiety.

  

Yogyakarta : Faculty of Psychology Sanata Dharma University. This research is to find out the

relation between mindset and public speaking anxiety on college students faculty of psychology

Sanata Dharma university. Mindset as independent variable. Public speaking anxiety was

dependent variable. The subject of this research were one hundred college students faculty of

Psychology Sanata Dharma university. This research use purposive sampling technique and two

measuring instrument that are scale of mindset from Beck’s theory (1985) and scale of public

speaking from Roger’s theory (2004). This result of reliability scale test for mindset are 0,943 and

for public speaking anxiety are 0,932 This research data is analysed with the technique of Product

Moment from Pearson. Obtained correlation coefficient 0,776 with probability 0,000 (p< 0,01).

  

This research result indicate that the hypothesis accepted. This means there is significant positivity

relation between mindset with public speaking anxiety on college students faculty of psychology

Sanata Dharma university. Keywords : mindset, public speaking anxiety

KATA PENGANTAR

  Puji Syukur atas rahmat dan berkat Tuhan Yesus Kristus yang diberikan pada penulis dalam penyelesaian tugas akhir ini. Di saat penulis sudah menyerah dan merasa semua yang dilakukan itu sia-sia, namun kuasa dan kasih Tuhan tetap mengalir, sehingga penulis berhasil menyelesaikan skiripsi ini

  Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Psikologi dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa selesainya skripsi ini karena adanya bimbingan, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak. Atas semuanya itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

  1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu melimpahkan cinta kasihNya kepada penulis, serta berkat terkabulnya doa ini atas perantara Bunda Maria.

  2. Ibu Dr. Christina Siwi Handayani, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma 3. Ibu Dr. Tjipto Susana selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak membantu dan memberikan saran serta kritik kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  4. Bapak Minto Istono, S.Psi., M. Si., selaku dosen pembimbing akademik 5.

  Bapak Y. Agung Santoso, S.Psi yang telah banyak memberikan pengetahuan dan saran tentang persoalan statistik

  6. Bapak V. Didik Suryo H, S.Psi., M.Si yang banyak membantu penulis dalam

  7. Seluruh Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang belum disebut. Terima kasih atas bimbingannya dalam proses belajar psikologi selama 4 tahun ini. Tak lupa khususnya Bu Ari, Bu Tanti, dan Bu Silvy terimakasih ya bu karena sudah mengijinkan penulis masuk kelas untuk ambil data penelitian.

8. Seluruh staf non akademik Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma :

  Pak Gie yang selalu ceria memberikan senyum yang hangat dan ramah kepada kami. Penulis pasti akan selalu merindukan senyum pak Gie yang dapat menentramkan hati (^_^). Mas Gandung yang selalu ramah memberikan pelayanan di sekretariat, Mas Mujai yang selalu bersedia membantu kami semua dalam mata kuliah tes-tes psikologi. Tetap ceria ya mas. Penulis pasti kangen mendengar suaranya Mas Muj yang aduhai saat nyayi, hehehehe…. Mas Doni yang setia menjaga ruang baca dan membantu ngurus-ngurus viewer.

  Terimakasih ya mas….

  9. Almarhum Bapak yang terkasih. Terimakasih ya pak atas cintanya yang selalu diberikan kepada penulis. Akhirnya putrimu ini bisa mendapat gelar sarjana psikologi, sesuai dengan harapan bapak. Penulis sangat merindukanmu Pak. Love you so much….. Terimakasih juga buat Mami atas cintanya, pengorbanannya dan dukungannya, sehingga penulis dapat menyelesaikan kuliah dan mendapat gelar sarjana yang sangat dimimpikan selama ini. Maaf ya Mi kalau putrimu ini selalu menyusahkan Mami. Love you so much.

  10. My only one brother, Mas Wowok. Terimakasih ya mas atas cintanya, dukungan dan bimbingannya selama ini. Love you…. Hayuks mas segera menyusul lulus (^_^).

  11. My luvly, Abie (Yah)…Terimakasih atas cintanya selama setahun ini dan dorongannya agar penulis cepat lulus. Nah sekarang giliran Yah ya yang

   )

  harus kerja keras biar cepet lulus. I’ll waiting for u. Love you ( 12. Mbak Nia luvlynya mas Tenang. Makasih ya mbak atas doa dan dorongannya kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Ayuks mbak kapan kita ke pantai, rencana buat double date (^_^) 13. Spicy girl yang bola bali pecah. Kapan niy rekrut lagi..? Hehehehe…..

  Trimakasih ya atas keceriaan kalian. Thiya, Cece Mee, Didi, Nita, Thea dan dua pembokat (Bekti & Inem) yang selalu kompak melayani kami, Xixixixii… Buat Nita Kentir makasih ya dah jadi partner penelitian, suka duka kita jalani bersama, walaupun badai menghadang tetap kita terjang terus sampai titik darah penghabisan (alay mode on, hahahahaha…) Buat Thea tumpah ruah, makasih ya atas supportnya selama ini. Semangat ya nyelesein skripswiitnya, sampai ketemu di panggung bulan April 2011, hahahahaha…… Buat Bekti makasih ya dah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Makasih juga buat tumpangan tidurnya ya, ditunggu lowh kontrak di Casa Grande, pasti tiap hari aku nginep disana sekalian nemenin kamu, so swiit kan (^_^). Buat Didi semangat cari kerja di Jakarta ya, jangan lupain kita lowh kalo ada lowongan kerja yang mapan hehehehe…Buat Thiya, Cece Mee, n Inem ayukz smangat ngerjain skripswitna. Kalian pasti bisa..!! Merdeka…!! (alay again…Hihihihi…)

  14. Keluarga Semarang mbah kokang, budhe, bulek-bulek, om-om, dan saudara- saudara lainnya terimakasih ya atas cinta, doa, dan dorongannya kepada penulis selama ini. Love you all…..

  15. Keluarga Jogja dan Bandung makasih ya atas doa dan supportnya selama ini.

  16. Temen-temen deketku Dinda, Resti, dan Indra makasih ya dah kasih semangat, dan menjadi sahabat yang baik bagi penulis. Moga kita selalu bisa menjaga hubungan baik ya. Amin 17. Buat Sisri dan Megot yang selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih juga atas kebersamaan kalian selama

  2 tahun di mantan kos kita yang tercinta. Suka duka kita jalani bersama sampai-sampai digosipin tetangga-tetangga depan dan sebelah. Susah siy ya

  

  jadi artis, sering digosipin, hahahaha…. Pokoknya lope you all 18. Keluarga Solo yang gaul (ada budhe gaul, om n tante Toto, dan si pintar) terimakasih atas dukungan dan kekompakan kalian ya. Kapan-kapan maen ke satu titik Solo lagi dey….Tunggu kedatangan Andin + Nita ya…. Hehehehehe…..

  19. Mahasiswa universitas Sanata Dharma Yogyakarta terimakasih atas bantuan dan partisipasi kalian semua dalam pengambilan data ini.

  20. Mahasiswa psikologi angkatan 2006, terimakasih ya atas supportnya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

  DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL

  ……………………………………………………………. i

  HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING

  ……………………..ii

  HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI

  ……………………………………...iii

  HALAMAN MOTTO

  …………………………………………………………..iv

  HALAMAN PERSEMBAHAN

  ………………………………………………...v

  HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  ………………………...vi

  ABSTRAK

  ……………………………………………………………………...vii

  ABSTRACT

  ……………...…………………………………………………… viii

  HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

  …...………. ix

  KATA PENGANTAR

  ………………………………………………………….. x

  DAFTAR ISI

  ………………………………………………………………….. xv

  DAFTAR TABEL

  ……..……………………………………………………. xviii

  BAB I PENDAHULUAN

  ………………………………………………………. 1 A. Latar Belakang Masalah……………………………………………... 1 B. Rumusan Masalah……………………………………………………. 6 C. Tujuan Penelitian…………………………………………………….. 6 D.

  Manfaat Penelitian…………………………………………………… 6 1.

  Manfaat Teoritis……………………………………………… 6 2. Manfaat Praktis………………………………………………. 7

  BAB II TINJAUAN TEORITIS

  ……………………………………………… 8

1. Kecemasan………………………………………………………. 8 2.

  Kecemasan Berbicara di Depan Umum………………………….10 3. Komponen Berbicara di Depan Umum…………………………. 12 4. Faktor –faktor Kecemasan Berbicara di Depan Umum………….13 B. Pola Pikir Negatif…………………………………………………… 16 1.

  Pengertian Pola Pikir Negatif…………………………………… 16 2. Komponen Pola Pikir Negatif…………………………………... 19 C. Hubungan Pola Pikir Negatif dengan Kecemasan Berbicara di Depan Umum…………………………………………………….. 21

  D.

  Hipotesis……………………………………………………………. 25

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

  …………………………………… 26 A. Jenis Penelitian……………………………………………………… 26 B. Variabel Penelitian………………………………………………….. 26 C. Definisi Operasional Variabel Penelitian…………………………… 26 D.

  Subjek Penelitian……………………………………………………. 28 E. Metode dan Alat Pengumpulan Data……………………………….. 32 1.

  Skala Kecemasan Berbicara di Depan Umum………………….. 35 2. Skala Pola Pikir Negatif………………………………………… 36 F. Validitas, Seleksi Item, dan Reliabilitas…………………………….. 38 1.

  Validitas Alat Tes……………………………………………….. 38 2. Seleksi Item……………………………………………………... 40 a.

  Kecemasan Berbicara di Depan Umum…………………….. 41

3. Reliabilitas………………………………………………………. 45 G.

  Metode Analisis Data……………………………………………….. 46 H. Prosedur Penelitian………………………………………………….. 46

  BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  …………………… 48 A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian………………………………. 48 B. Deskripsi Subjek ……………………………………………………. 49 C. Deskripsi Data Penelitian…………………………………………… 50 D.

  Analisis Data Penelitian…………………………………………….. 54 1.

  Uji Asumsi………………………………………………………. 54 a.

  Uji Normalitas………………………………………………. 54 b. Uji Linearitas………………………………………………... 55 2. Uji Hipotesis Hubungan………………………………………… 56 E. Pembahasan…………………………………………………………. 58

  BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

  ……………………………………… 62 A. Kesimpulan ……………………...…………………………………..62 B. Saran ………………………………………………………………...62

DAFTAR PUSTAKA

  ……………………………………………………….....64

  LAMPIRAN-LAMPIRAN

  

DAFTAR TABEL

  Tabel 7 : Blue Print Skala Pola Pikir Negatif Setelah Uji Coba (Proporsional Jumlah)

  ……………………………………...55 Tabel 13 : Hasil Uji Linearitas

  Umum……………………………………………………………...53 Tabel 12 : Hasil Uji Normalitas Sebaran

  Distribusi Skor Pola Pikir Negatif………………......52 Tabel 11 : Kategori dan Distribusi Skor Kecemasan Berbicara di Depan

  …………………………………………...50 Tabel 10 : Kategori dan

  ……………………………………………..49 Tabel 9 : Hasil Analisis Deskriptif

  ……………………………………………...46 Tabel 8 : Data Subjek Penelitian

  Pola Pikir Negatif …………………………………………………..45

  Tabel 1 : Pemberian Skor Skala ………………………………………………35

  …………………………...44 Tabel 6 : Distribusi Aitem Proporsional Sahih dan Gugur pada Skala

  Tabel 5 : Blue Print Skala Kecemasan Berbicara di Depan Umum Setelah Uji Coba Proporsional Jumlah)

  Skala Kecemasan Berbicara di Depan ……………………………..43

  …………....38 Tabel 4 : Distribusi Aitem Proporsional Sahih dan Gugur pada

  ………………………………………………….36 Tabel 3 : Blue Print Skala Pola Pikir Negatif Sebelum Uji Coba

  Tabel 2 : Blue Print Skala Kecemasan Berbicara di Depan Umum Sebelum Uji Coba

  ………………………………………………...56 Tabel 14 : Hasil Uji Korelasi Kecemasan Berbicara di Depan Umum

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Dunia pendidikan sangat erat kaitannya dengan komunikasi. Elliot, Kratochwill, Littlefield, Cook, dan Trevers, (2000) menyatakan bahwa

  komunikasi memegang peranan dalam pemantapan pembelajaran dan perilaku yang diharapkan, hubungan interpersonal antara guru dengan siswa, penyampaian instruksi, bertanya, memuji dan umpan balik individu. Selanjutnya Arismunandar (dalam Fransiska 2007) mengemukakan bahwa komunikasi dan interaksi di dalam kelas sangat menentukan efektivitas dan mutu pendidikan.

  Bentuk-bentuk komunikasi yang dilakukan oleh mahasiswa pada saat proses belajar di kelas antara lain bertanya pada dosen, presentasi tugas, dan diskusi kelompok. Semua kegiatan tersebut menuntut mahasiswa untuk berbicara dan mengemukakan pendapat atau ide-ide secara lisan di depan orang banyak. Begitu juga pada mahasiswa psikologi Sanata Dharma, dimana sebagai calon psikolog, mahasiswa harus memiliki kemampuan yang baik untuk berbicara di depan umum. Hal ini dikarenakan para lulusan psikologi dalam dunia kerjanya seringkali berhadapan dengan banyak orang. Bidang pekerjaan yang dapat digeluti oleh para lulusan psikologi antara lain sebagai

  trainer , konsultan, staf pengajar, maupun pembicara dalam suatu program peneliti, dan Human Resource Development (HRD) pun membutuhkan ketrampilan berbicara di depan umum. Misalnya seorang HRD juga memiliki tugas mempresentasikan hasil kerjanya ketika rapat perusahaan berlangsung. Maka dari itu sebagai seorang HRD harus memiliki ketrampilan untuk berbicara di depan umum.

  Metode pembelajaran yang seringkali diterapkan pada Fakultas Psikologi Sanata Dharma adalah diskusi kelompok dan presentasi di depan kelas, baik secara kelompok maupun perorangan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk melatih para mahasiswa berbicara di depan orang banyak, sehingga dapat menjadi bekal untuk menggeluti bidang kerja yang nanti digelutinya setelah lulus kuliah. Akan tetapi tak jarang mahasiswa mengalami kecemasan berbicara di depan umum baik pada saat diskusi kelompok, bertanya pada dosen, maupun presentasi di depan kelas (hasil pengamatan dari penulis pada bulan Februari 2010). Hal ini juga didukung dari hasil wawancara terhadap beberapa mahasiswa Fakultas Psikologi Sanata Dharma. Mereka mengungkapkan bahwa mereka merasa grogi dan takut ketika melakukan presentasi di kelas. Ciri-ciri kecemasan yang mereka alami ini antara lain denyut jantung yang berdetak kencang, tangan terasa dingin, dan merasa deg-

  degan .

  Kecemasan yang dialami oleh mahasiswa saat berbicara di depan umum merupakan salah satu hambatan komunikasi (communication

  apprehension ). Burgoon dan Ruffner (1978) dalam bu

  ku “Human yang tepat untuk menggambarkan reaksi negatif dalam bentuk kecemasan yang dialami seseorang dalam pengalaman komunikasinya, misalnya kecemasan berbicara di muka umum.

  Demam panggung dan kecemasan berbicara di depan umum merupakan tipe kecemasan sosial yang umum (Nevid, Rathus, & Greene, 2003). Buss (dalam Mark, 1983) mengklasifikasikan empat tipe dalam kecemasan sosial antara lain perasaan malu karena tidak mampu menghasilkan perilaku yang diharapkan, kecemasan berbicara, keadaan memalukan terhadap pelanggaran sosial yang dilakukan, dan rasa malu karena rendah diri dan menganggap diri negatif. Kecemasan berbicara merupakan ketakutan, ketegangan untuk berbicara di depan para pendengar. Suatu survey acak terhadap 500 penduduk Winnipeg, Manitoba ditemukan bahwa 1 diantara 3 orang mengalami kecemasan yang berlebihan ketika berbicara di depan umum, yang mempunyai pengaruh buruk yang cukup signifikan terhadap hidup mereka (Nevid, Rathus, & Greene, 2003).

  Kecemasan berbicara di depan umum bersifat subjektif biasanya ditandai dengan gejala fisik dan psikologis. Gejala fisik yaitu tangan berkeringat, jantung berdetak lebih cepat, dan kaki gemetaran. Gejala psikologis adalah takut akan melakukan kesalahan, tingkah laku yang tidak tenang, dan tidak dapat berkonsentrasi dengan baik (Matindas, 2003). Individu yang merasa cemas, dalam dirinya akan terjadi gangguan antisipasi atau harapan pada masa yang akan datang. Keadaan ini ditandai dengan adanya rasa khawatir, gelisah, dan individu menjadi tidak mampu menemukan penyelesaian terhadap masalahnya (Hurlock, 1997).

  Pola pikir seseorang sangat membantu dalam mengatasi masalah yang berhubungan dengan suasana hati (mood) seperti depresi, kecemasan, kemarahan, kepanikan, kecemburuan, rasa bersalah, dan rasa malu. Apabila seseorang memiliki pola pikir yang positif maka individu tersebut dapat mengatasi masalah yang berhubungan dengan suasana hati. Sebaliknya apabila seseorang mempunyai pola pikir yang negatif, maka individu tersebut cenderung menjadi depresi, cemas, panik, dan muncul perasaan bersalah yang pada akhirnya akan mengganggu interaksi sosialnya. Meskipun berpikir positif bukanlah solusi terhadap berbagai masalah kehidupan, tetapi pemikiran akan membantu menentukan suasana hati yang dialami dalam situasi tertentu.

  Begitu individu mengalami suasana hati tertentu, suasana hati tersebut akan disertai dengan pemikiran lain yang mendukung dan memperkuat suasana hati (Kuncoro, 2004).

  Kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa mayoritas disebabkan oleh pola pikir negatif mereka. Hal ini didukung oleh pernyataan- pernyataan para ahli tentang faktor yang berperan dalam munculnya kecemasan berbicara di depan umum. Guest (dalam Dewi & Andrianto, 2006) mengungkapkan bahwa kecemasan tersebut dapat bersumber dari pola berpikir, dan persepsi negatif terhadap situasi atau diri sendiri. Nevid et al.

  (2003) dalam bukunya menjelaskan bahwa salah satu faktor yang negatif. Pola pikir yang biasa muncul ketika individu mengalami kecemasan antara lain prediksi berlebihan terhadap rasa takut, keyakinan yang irasional, sensitivitas berlebihan terhadap ancaman, sensitivitas kecemasan, salah mengatribusi sinyal-sinyal tubuh, dan self efficacy yang rendah. Williams, Watts, Macleod & Mathews (1990) mengungkapkan bahwa pada umumnya kecemasan berbicara di depan umum lebih sering disebabkan oleh pikiran individu tersebut yang negatif dan tidak rasional. Adapun penelitian yang telah dilakukan oleh Dewi dan Andrianto (2006) yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara pola pikir negatif dengan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan untuk populasi lain karena subjek penelitian yang diambil hanya dari mahasiswa FKIP angkatan 2003 Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Hadi (2000) yang menyatakan bahwa sampel merupakan subset atau bagian dari populasi yang akan diamati, sehingga kesimpulan dari populasi diambil dari kesimpulan yang diperoleh dari sampel.

  Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti permasalahan ini di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Osborne (2004) mengungkapkan bahwa kecemasan berbicara muncul karena takut terhadap pendengar yaitu takut ditertawakan orang, takut bahwa dirinya akan menjadi tontonan orang, takut bahwa apa yang akan dikemukakan mungkin tidak pantas untuk dikemukakan, dan takut bahwa perasaan ini muncul karena melemahnya rasa percaya diri sehingga dalam pikiran seseorang muncul pikiran-pikiran negatif mengenai dirinya. Basuki (2003) menyatakan bahwa setiap orang memiliki pola-pola pikiran tertentu dan secara sadar atau tidak sadar mereka berusaha berperilaku untuk mewujudkan apa yang dalam pikirannya itu. Pikiran yang kerdil akan membuat seseorang menjadi kerdil. Seseorang yang sering mengalami musibah, selalu cemas atau selalu memikirkan kecelakaan.

  Kecemasan yang biasa terjadi lebih banyak dipengaruhi oleh pola pikir seseorang yang menganggap dirinya tidak seperti orang lain, menilai diri sendiri begitu tajam sehingga sekilas seseorang tidak berani mencoba sesuatu yang tidak dikuasai dengan sangat sempurna. Bahkan beberapa orang selalu mengingat terus menerus sesuatu yang menakutkan sehingga mereka sering menteror diri mereka sendiri. Sebenarnya semua dapat berjalan dengan lancar apabila seseorang tidak merasa putus asa dan tidak terlalu memikirkan hal-hal menakutkan yang belum terjadi atau memikirkan bahwa dirinya akan gagal (Williams, 2004).

  Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk meneliti tentang pola pikir negatif dengan kecemasan berbicara di depan umum. Hal ini disebabkan karena kecemasan berbicara di depan umum cenderung dipengaruhi oleh pola pikir negatif orang tersebut. Beck (dalam Santosa, 1988) melalui tesisnya mengemukakan bahwa jika seseorang mengalami kecemasan, maka orang tersebut memiliki pikiran yang tidak logis dan itu sendiri. Maka mahasiswa dapat mengubah pola pikir yang negatif menjadi pola pikir yang rasional, sehingga dapat mencegah terjadinya kecemasan berbicara di depan umum.

B. RUMUSAN MASALAH

  Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara pola pikir negatif dengan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa psikologi Sanata Dharma? C.

TUJUAN PENELITIAN

  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara pola pikir negatif dengan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa psikologi Sanata Dharma.

D. MANFAAT PENELITIAN a. Manfaat teoretis

  Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan psikologi yang dapat dijadikan sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya.

b. Manfaat praktis

  Penelitian ini diharapkan dapat membantu mahasiswa melakukan refleksi yang berkaitan dengan hubungan antara pola pikir negatif dengan kecemasan berbicara di depan umum.

BAB II LANDASAN TEORI A. Kecemasan Berbicara di Depan Umum 1. Kecemasan Kecemasan adalah suatu keadaan khawatir yang mengeluhkan

  bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Kecemasan juga dapat diartikan sebagai respons yang tepat terhadap ancaman, tetapi kecemasan bisa menjadi abnormal bila tingkatannya tidak sesuai dengan proporsi ancaman atau jika kecemasan itu datang tanpa ada penyebabnya (Nevid, et

  al , 2003).

  Dalam kamus istilah (Caplin dalam Kartini Kartono, 2002) kecemasan merupakan perasaan campuran antara ketakutan dan keprihatinan mengenai rasa-rasa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut. Daradjat (1969) menjelaskan kecemasan sebagai manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur, yang terjadi ketika seseorang sedang mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan tekanan batin (konflik).

  Istilah kecemasan mengacu pada perasaan tidak nyaman atau ketakutan, ditambah dengan beberapa gejala fisik yang tidak menyenangkan (Frorggatt dalam Amir, 2004). Sementara itu Lazarus (dalam Amir, 2004) mendefinisikan kecemasan menjadi 2 arti antara lain: a.

  Kecemasan sebagai respon, digambarkan sebagai suatu pengalaman yang dirasakan tidak menyenangkan serta diikuti dengan perasaan gelisah, bingung, khawatir, dan takut.

  b.

  Kecemasan sebagai intervening variable yaitu kecemasan sebagai

  motivating solution , artinya situasi kecemasan tersebut dapat mendorong individu agar dapat mengatasi masalah.

  Secara umum, kecemasan dapat dibagi dalam dua kategori, yakni state

  

anxiety dan trait anxiety. Ketakutan yang tidak proporsional terhadap

  situasi tertentu disebut dengan state anxiety. Jenis kecemasan ini merupakan kondisi emosi yang bersifat sementara dan berlangsung untuk situasi tertentu saja. Jenis kecemasan berikutnya adalah trait anxiety. Trait

  

anxiety merupakan jenis kecemasan yang lebih menetap dan menyebar ke

  berbagai aspek kehidupan individu. Individu merasa cemas, kapan dan dimana saja, jika dia menganggap sesuatu yang berbahaya akan menimpa dirinya (Bender, Anastasi & Urbina dalam Amir, 2004). State anxiety tinggi adalah respon individu ketika dihadapkan dengan situasi mengancam. Trait

  

anxiety tinggi merujuk pada kecenderungan umum individu untuk

merespon berbagai situasi (Spielberger dalam Amir, 2004).

  Berdasarkan uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah suatu respon berupa perasaan takut, khawatir, gelisah, bingung, dan tidak nyaman yang ditandai dengan gejala fisik dan

2. Kecemasan berbicara di depan umum

  Kecemasan berbicara di depan umum merupakan perasaan takut ketika berbicara di depan sekelompok orang, dan hal ini merupakan sesuatu yang wajar bagi setiap individu (dalam arti semua orang memilikinya), hanya saja satu permasalahan yang harus diselesaikan yaitu bagaimana cara mengontrol kecemasan tersebut (Lucas dalam Anwar, 2009). Kecemasan berbicara di muka umum diistilahkan Devito (dalam Matindas, 2003) dengan speaker apprehension yaitu fenomena berbicara yang berpusat pada pembicara. Menurut APA Dictionary Psychology (2006), kecemasan berbicara di depan umum adalah ketakutan berbicara atau memberikan presentasi di depan umum dan seseorang menganggap bahwa orang lain menilai dirinya negatif dan memalukan.

  Beaty (dalam Opt & Loffredo, 2000) menyebut kecemasan berbicara di depan umum dengan istilah “communication apprehension”.

  Beaty menjelaskan bahwa kecemasan berbicara di depan umum merupakan bentuk dari perasaan takut atau cemas secara nyata ketika berbicara di depan orang-orang sebagai hasil dari proses belajar sosial. McCroskey (1984) menyebutkan ada empat jenis Communication Apprehension (CA) yaitu CA as a trait, CA in generalized context, CA with generalized people,

  . Kecemasan berbicara di depan umum termasuk dalam jenis

  CA as a state CA in generalized context . Beberapa individu mengalami kecemasan hanya

  pada kondisi tertentu yang menimbulkan kecemasan dalam berkomunikasi. umum berpusat pada pembicara. Konteks yang paling banyak ditemui adalah berbicara di depan umum (public speaking), misalnya memberikan pidato, presentasi di depan kelas, pada saat pertemuan. Individu akan mulai mengalami kecemasan ketika mulai membayangkan sampai berlangsungnya pengalaman berbicara di depan umum. Kecemasan berbicara di depan umum juga termasuk dalam kategori state anxiety. Hal ini disebabkan kecemasan ini bersifat sementara dan berlangsung untuk situasi tertentu saja yaitu ketika seseorang berbicara depan umum.

  Berbicara di depan umum dengan pembicaraan biasa memiliki perbedaan konteks. Konteks pembicaraan biasa, individu merasa aman untuk menyampaikan pikiran-pikirannya. Bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembicaraan biasa adalah adanya proses memberi dan menerima, proses komunikasi dua arah (dialog). Pada saat berbicara di depan umum, individu tersebut menjadi pemimpin dan memegang kendali penuh dari banyak orang. Proses komunikasi dalam berbicara di depan umum adalah satu arah (monolog). Ketakutan dan kecemasan berbicara di depan umum ditandai dengan perasaan gelisah dan tertekan (Rogers dalam Anwar, 2009).

  Berdasarkan APA Dictionary Psychology (2006) kecemasan berbicara di depan umum merupakan salah satu bentuk kecemasan sosial.

  Kecemasan sosial adalah ketakutan situasi sosial (antara lain: kecemasan dalam komunikasi interpersonal, melakukan meeting atau berkencan) yang padanya atau berpikiran bahwa orang lain selalu menilai dirinya secara negatif (misalnya: seseorang yang berpikiran bahwa dirinya bodoh).

  Kecemasan berbicara di depan umum bersifat subjektif biasanya ditandai dengan gejala fisik dan psikologis. Gejala fisik yaitu tangan berkeringat, jantung berdetak lebih cepat, dan kaki gemetaran. Gejala psikologis adalah takut akan melakukan kesalahan, tingkah laku yang tidak tenang, dan tidak dapat berkonsentrasi dengan baik (Matindas, 2003).

  Berdasarkan uraian sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa kecemasan berbicara di depan umum adalah kecemasan yang dialami seseorang ketika dihadapkan pada situasi tertentu (saat berbicara di depan umum) dan beranggapan bahwa orang lain menilai dirinya negatif.

  Kecemasan ini biasanya ditandai dengan gejala fisik dan psikologis.

3. Komponen kecemasan berbicara di depan umum

  Rogers (2004) membagi komponen kecemasan berbicara di depan umum menjadi tiga yaitu: a.

  Komponen fisik yang biasanya dirasakan jauh sebelum memulai pembicaraan. Komponen fisik ini meliputi perilaku yang tampak ketika seseorang mengalami kecemasan berbicara di depan umum. Gejala fisik tersebut dapat berbeda tiap orangnya. Beberapa contoh gejala fisik yang dimaksud adalah berbicara terbata-bata, suara yang bergetar, kaki gemetar, berkeringat, sulit untuk bernafas, dan hidung berlendir.

  b.

  Komponen proses mental misalnya: sering mengulang kata atau fakta secara tepat dan melupakan hal-hal yang sangat penting. Selain itu juga tersumbatnya pikiran sehingga membuat individu yang sedang berbicara tidak tahu apa yang harus diucapkan selanjutnya.

  c.

  Komponen emosional meliputi adanya perasaan tidak mampu, rasa takut yang biasa muncul sebelum individu tampil dan rasa kehilangan kendali. Biasanya secara mendadak muncul rasa tidak berdaya seperti anak yang tidak mampu mengatasi masalah, munculnya rasa panik dan rasa malu setelah berakhirnya pembicaraan.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan berbicara di depan umum

  Kecemasan berbicara di depan umum dipengaruhi oleh beberapa faktor. McIntyre dan Thivierge (dalam Roarch, 1999) menemukan bahwa ciri umum ektraversi, kestabilan emosi, dan intelektualitas secara signifikan berhubungan dengan kecemasan berbicara di depan umum. Faktor lain yang mempengaruhi kecemasan berbicara di depan umum adalah citra raga individu (Triana, 2005). Hasil penelitian yang dilakukan pada mahasiswa Universitas Islam Indonesia menunjukkan bahwa semakin positif citra raga individu maka semakin rendah kecemasannya dalam berbicara di depan umum. Sebaliknya semakin negatif citra raga individu, maka kecemasan berbicara di depan umum semakin tinggi.

  Matindas (2003) mengungkapkan bahwa keyakinan atau kepercayaan diri seseorang sangat berpengaruh terhadap kecemasannya di cemas menandakan adanya ketegangan yang sangat besar dalam dirinya. Ketegangan inilah yang menyebabkan tersumbatnya memori atau terganggunya kemampuan mengingat, keluar keringat dingin dan jantung berdebar.

  Rogers (2004) mengungkapkan bahwa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kecemasan berbicara di depan umum adalah pola pikir yang keliru. Seseorang yang hendak berbicara di depan umum berpikir bahwa di rinya sedang “diadili”, merasa bahwa penampilan dan gerak-gerik serta ucapannya sedang menjadi perhatian banyak orang. Hal yang senada juga diungkapkan oleh Dewi dan Andrianto (2006) melalui penelitiannya yang menunjukkan adanya hubungan antara pola pikir dengan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Muhamadiyah Purwokerto.

  Burgoon & Ruffner (1978) dalam bukunya yang berjudul “Human

  Communication

  ” mengungkapkan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kecemasan berbicara di depan umum adalah kurangnya pengalaman atau adanya pengalaman yang tidak menyenangkan yang dirasakan individu. Hal ini mengakibatkan individu cenderung mempunyai pola pikir negatif dan kemudian menghindari bicara di depan umum. Individu meyakini bahwa kejadian yang buruk akan terjadi. Meskipun pada kenyataannya tidak semuanya pikirannya akan menjadi kenyataan (McCroskey, 1984). Selain itu Opt dan Loffredo (2000) melakukan penelitian yang menunjukkan adanya tiga faktor kecemasan berbicara di depan umum, antara lain: a.

  Individu ekstravert dan introvert Individu yang ekstravert mempunyai kecemasan berbicara di depan umum yang lebih rendah daripada individu yang introvert. Alasannya, individu yang ekstravert lebih senang bergaul dengan siapa saja, mereka lebih menyukai komunikasi face to face dan juga mengambil kesempatan dalam sebuah kelompok. Individu yang introvert tidak banyak berkomunikasi dengan orang-orang apalagi jika harus berbicara di depan banyak orang.

  b.

  Individu yang melihat sesuatu dengan intuisi (intuitors) atau dengan panca indra (sensors).

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa intuitors mempunyai kecemasan yang rendah daripada sensors ketika berbicara di depan umum. Intuitors sangat mentolerir adanya perbedaan pendapat. Sedangkan sensors memandang sesuatu seperti yang dilihatnya, tanpa memikirkannya lebih jauh. Hal ini yang akan menghasilkan kecemasan.

  c.

  Individu yang menggunakan pola pikir positif mempunyai kecemasan yang lebih rendah daripada individu yang berpola pikir negatif.

  Individu yang berpola pikir positif akan melihat segala hal dari sisi berbicara di depan umum. Individu dengan pola pikir negatif lebih menggunakan perasaannya, lebih mudah stress, dan mengekspresikan kecemasan karena selalu focus pada pendapatnya sendiri.

B. Pola Pikir Negatif 1. Pengertian pola pikir negatif ketika berbicara di depan umum

  Pola adalah suatu urutan aktivitas netral yang dapat diulang. Dalam praktik. Pola adalah setiap konsepsi, gagasan, buah pikiran atau kesan yang senantiasa dapat diulang-ulang. Suatu pola dapat menyatu pada urutan konsepsi dan gagasan yang dapat diulang-ulang. Suatu pola dapat pula menyatu pada susunan pola yang lain, yang secara bersama-sama membentuk suatu pendekatan terhadap suatu masalah, segi pandangan dan cara untuk mengamati sesuatu. Pola selalu merupakan pola buatan yang diciptakan oleh pikiran. Pikiran adalah suatu sistem pembuat pola (Bono, dalam Sutoyo, 1987).

  Berpikir dapat didefinisikan sebagai proses menghasilkan representasi mental yang baru melalui transformasi informasi yang melibatkan interaksi secara komplek antara atribut-atribut mental seperti penilaian, abstraksi, penalaran, imajinasi, dan pemecahan masalah (Glass, Holyoak & Solso dalam Suharnan, 2005).

  Berpikir merupakan eksplorasi pengalaman yang dilakukan secara sadar dalam mencapai suatu tujuan (Bono dalam Sutoyo, 1987). Menurut informasi secara kognitif dengan memanfaatkan persepsi, konsep-konsep, simbol-simbol, dan gambar.

  Definisi berpikir menurut APA Dictionary Psychology (2006) yaitu aktivitas kognitif berupa gagasan, gambaran, proses mental atau pengolahan informasi dari pengalaman dan manipulasi. Aktivitas berpikir ini meliputi membayangkan sesuatu, mengingat, pemecahan masalah, mimpi, asosiasi bebas, pembentukan skema dan proses lainnya. Pikiran memiliki dua karakteristik yaitu: 1)

  Berpikir merupakan aktivitas yang tidak tampak dan tidak dapat diamati secara langsung tetapi dapat diduga melalui perilaku atau penilaian diri 2)

  Berpikir merupakan proses simbolis yang meliputi proses symbol mental atau gambaran alami yang tidak jelas dan kontroversial Komponen dasar di dalam berpikir (Mayer dalam Solso, 1988) antara lain: a.

  Berpikir adalah aktivitas kognitif yang terjadi di dalam mental atau pikiran seseorang, tidak tampak tetapi dapat disimpulkan berdasarkan perilaku yang tampak.

  b.

  Berpikir merupakan suatu proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan di dalam sistem kognitif. Pengetahuan yang pernah dimiliki (tersimpan di dalam ingatan) digabungkan dengan informasi sekarang sehingga mengubah pengetahuan seeorang mengenai situasi yang sedang dihadapi c. Aktivitas berpikir diarahkan untuk menghasilkan pemecahan masalah.

  Pola pikir menurut Williams (2004) merupakan kecenderungan manusiawi yang dinamis sehingga dapat berpengaruh terhadap kehidupan.

  Pola pikir seseorang dapat membantu dalam menyelesaikan masalahnya, dapat pula merugikannya. Pola pikir tersebut dibagi menjadi dua antara lain: a.

  Pola pikir positif yaitu kecenderungan individu untuk memandang segala sesuatu dari segi positifnya dan selalu berpikir optimis terhadap lingkungan serta dirinya sendiri. Pola pikir inilah yang dapat membantu individu dalam mengatasi masalahnya.

  b.

  Pola pikir negatif yaitu kecenderungan individu untuk memandang segala sesuatu dari sisi negatif. Individu dengan pola pikir negatif selalu menilai bahwa dirinya tidak mampu, terus-menerus mengingat hal-hal yang menakutkan. Pola pikir negatif lebih memberikan dampak yang merugikan bagi kehidupan individu. Reaksi emosional diakibatkan oleh cara berpikir seseorang. Pada saat seseorang mempunyai pemikiran tertentu dan meyakininya, maka orang itu akan mengalami respon emosional seketika. Jadi pemikiran seseorang dapat menciptakan suatu emosi (Burns, dalam Wong, 1993)). Hal senada juga diungkapkan oleh Beck (1979 dalam Santosa 1988) melalui tesisnya yaitu jika seseorang mengalami depresi atau kecemasan, maka orang tersebut memiliki pikiran yang tidak logis dan negatif.

  Beck (1985) menjelaskan bahwa gangguan pikiran dapat takut akan kegagalan, maka pemikirannya selalu dipenuhi ketakutan terhadap kegagalan. Mereka memandang masa depannya dengan rasa pesimis, yang dilihat hanya adanya kemungkinan untuk gagal. Interpretasi terhadap dirinya negatif, pesimis, takut akan kegagalan, dan kurang memiliki keinginan untuk meraih sukses. Pikiran-pikiran akan kemungkinan kegagalan, adanya rasa pesimis dapat menimbulkan gangguan emosi.

  Menurut Leary (1983) pola pikir negatif ketika berbicara di depan umum merupakan pikiran atau keyakinan irasional yang menyebabkan individu mengalami kecemasan sosial (kecemasan berbicara di depan umum). Pernyataan ini didukung oleh Rogers (2004) yang mengungkapkan bahwa pola pikir yang keliru mempengaruhi kecemasan berbicara di depan umum. Seseorang yang hendak berbicara di depan umum berpikir bahwa dirinya sedang “diadili”, merasa bahwa penampilan dan gerak-gerik serta ucapannya sedang menjadi perhatian banyak orang.

  Berdasarkan uraian sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa pola pikir negatif ketika berbicara di depan umum adalah buah pikiran individu yang memandang dirinya dari sudut pandang negatif dan tidak logis ketika berbicara di depan umum sehingga dapat menimbulkan kecemasan.

2. Komponen pola pikir negatif

  Menurut Beck (1967) terdapat tiga pola pikir negatif yang biasa disebut tritunggal tata kognitif negatif (negatif cognitive triad). Komponen pola pikir negatif tersebut antara lain: a.

  Pandangan negatif terhadap diri adalah menginterpretasi atau memandang dirinya secara negatif.

  Misalnya: Saya bodoh, tidak berguna, tidak berharga, gagal b.

  Pandangan negatif terhadap dunia dan kejadian yang menimpa dirinya berisi penolakan-penolakan dan kegagalan-kegagalan Contohnya: tidak ada harapan yang bagus, kehidupan hanya berupa rangkaian percobaan c.

  Pandangan negatif terhadap masa depannya merupakan anggapan dan pandangan negatif akan masa depannya Misalnya: Saya tidak mampu membuat suatu perubahan dan akan selalu seperti ini.

C. Hubungan antara pola pikir negatif dengan kecemasan berbicara di depan umum

  Kecemasan adalah perasaan yang dialami seseorang ketika berpikiran tentang sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi atau akan timbul karena berbagai alas an dan situasi. Kecemasan menimbulkan rasa tidak enak, sehingga membuat seseorang ingin lari dari kenyataan dan enggan untuk berbuat sesuatu. Kecemasan ditandai dengan gejala-gejala fisik yang tidak menyenangkan (Priest, 1991).

  Kecemasan terdiri dari beberapa macam, salah satu bentuk kecemasan adalah kecemasan sosial. Berdasarkan APA Dictionary Psychology (2006) komunikasi interpersonal, melakukan meeting atau berkencan) dan seseorang selalu menganggap hal yang memalukan selalu terjadi padanya atau berpikiran bahwa orang lain selalu menilai dirinya secara negatif (misalnya: seseorang yang berpikiran bahwa dirinya bodoh). Kecemasan berbicara di depan umum merupakan salah satu bentuk kecemasan sosial.

  Kecemasan berbicara di depan umum merupakan perasaan takut ketika berbicara di depan sekelompok orang, dan hal ini merupakan sesuatu yang wajar bagi setiap individu (dalam arti semua orang memilikinya), hanya saja satu permasalahan yang harus diselesaikan yaitu bagaimana cara mengontrol kecemasan tersebut (Lucas, 1989). Kecemasan berbicara di depan umum bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Rogers (2004) mengungkapkan bahwa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kecemasan berbicara di depan umum adalah pola pikir yang negatif. Seseorang yang hendak berbicara di depan umum berpikir bahwa dirinya sedang “diadili”, merasa bahwa penampilan dan gerak-gerik serta ucapannya sedang menjadi perhatian banyak orang.

  Ellis (1970) mengungkapkan teori rasional-emotif yang berasumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah. Pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih, dan dalam praktiknya kedua hal itu saling terkait. Banyak perilaku emosional individu yang berpangkal pada selftalk yaitu seseorang yang mengatakan kepada diri sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Teori rasional-emotif ini stimulant. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan-perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intrinsik. Pikiran-pikiran dapat menjadi emosi bagi seseorang. Emosi-emosi adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk dan dapat menimbulkan suatu tindakan yang buruk pula.

  Beck (1967) juga mengungkapkan bahwa seseorang yang mengalami depresi atau kecemasan, disebabkan orang tersebut memiliki pikiran yang tidak logis dan negatif. Beck (1967) menjelaskan bahwa gangguan pikiran dapat menimbulkan gangguan emosional. Gangguan emosi seperti depresi dan kecemasan dapat bersumber dari tri tunggal yang negatif yaitu konsep negatif mengenai pengalaman hidupnya, interpretasi negatif mengenai dirinya dan interpretasi negatif mengenai masa depannya. Pola pikir yang negatif dapat mempengaruhi mood seseorang menjadi negatif dan menimbulkan perilaku seseorang sesuai dengan pikiran dan perasaan yang dialami orang itu. Jadi individu yang memiliki kecemasan yang tinggi saat berbicara di depan umum, pikirannya akan selalu dipenuhi oleh ketakutan- ketakutan untuk gagal. Mereka memandang masa depannya tidak dengan rasa optimis, yang dilihat hanya adanya kemungkinan untuk gagal. Interpretasi terhadap dirinya negatif, mereka memandang dirinya dengan rasa pesimis, adanya rasa pesimis dapat mengganggu emosi mereka dan dapat menimbulkan gangguan emosi seperti kecemasan berbicara di depan umum.

  Gangguan emosi tersebut menghasilkan perilaku yang mencerminkan kecemasan berbicara di depan umum.

  Mahasiswa Psikologi

  Saat Berbicara di Depan Umum

  Pola Pikir Negatif Tinggi Pola Pikir Negatif Rendah

  • Saya yakin presentasi yang akan
  • Saya yakin presentasi yang akan saya saya lakukan pasti gagal lakukan pasti berh
  • Saya tidak kompeten untuk berbicara
  • Saya cukup kompeten dalam berbicara di depan umum di depan umum

  Perasaan Cemas Tinggi Perasaan Cemas Rendah

  • Saya merasa takut melakukan
  • Saya merasa tenang saat melakukan presentasi di depan kelas presen
  • Saya merasa tidak mampu
  • Saya merasa mampu menjawab menjawab pertanyaan dari teman- pertanyaan dari teman-teman teman

  Perilaku Cemas Tinggi Perilaku Cemas Rendah

  • Tangan gemetar ketika berbicara di
  • Saya tetap bersikap tenang ketika depan umum berbicara di depan
  • Saya terbata-bata dalam
  • Saya dapat menyampaikan materi menyampaikan materi presentasi presentasi dengan lancar

  Gambar 1. Skema Hubungan Antara Pola Pikir Negatif dan Kecemasan Berbicara di Depan Umum D.

   Hipotesis Penelitian

  Ada hubungan positif antara pola pikir negatif dan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Semakin tinggi tingkat pola pikir negatif, semakin tinggi pula tingkat kecemasan berbicara di depan umum.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional. Penelitian

  korelasional merupakan penelitian yang berbentuk hubungan antara dua variabel. Penelitian korelasional bertujuan untuk menyelidiki variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain berdasarkan koefisien korelasi (Azwar, 2009).

B. Variabel Penelitian

  Variabel merupakan symbol yang nilainya dapat bervariasi, yaitu angkanya dapat berbeda-beda dari satu subjek ke subjek yang lain atau dari objek ke objek yang lainnya (Azwar, 2009). Menurut Arikunto (1998) variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Pada penelitian ini, variabel yang akan diteliti yaitu: 1. : Pola pikir negatif

  Variabel bebas 2. : Kecemasan berbicara di depan umum

  Variabel tergantung C.

   Definisi Operasional Variabel

  Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan dan dapat diamati. Penyusunan definisi ini penting karena sebagai acuan untuk merujuk data yang akan digunakan dalam penelitian (Suryabrata, 2000).

  1. Kecemasan berbicara di depan umum Kecemasan berbicara di depan umum adalah kecemasan yang dialami seseorang ketika dihadapkan pada situasi tertentu (saat berbicara di depan umum) dan beranggapan bahwa orang lain menilai dirinya negatif. Kecemasan ini biasanya ditandai dengan gejala fisik dan psikologis.

  Kecemasan berbicara di depan umum diukur dengan menggunakan skala kecemasan berbicara di depan umum yang disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan komponen-komponen kecemasan berbicara di depan umum yang dikemukakan oleh Rogers (2004). Komponen- kompenen kecemasan berbicara di depan umum tersebut antara lain: komponen fisik, komponen proses mental, dan komponen emosional.

  Semakin tinggi nilai yang diperoleh dari skala kecemasan berbicara di depan umum berarti semakin tinggi pula kecemasan berbicara yang dimiliki dan sebaliknya semakin rendah nilai yang diperoleh dari skala kecemasan berbicara di depan umum menunjukkan semakin rendah pula kecemasan berbicara yang dimiliki.

  2. Pola pikir negatif ketika berbicara di depan umum Pola pikir negatif ketika berbicara di depan umum adalah buah dan tidak logis ketika berbicara di depan umum sehingga dapat menimbulkan kecemasan.

  Pola pikir negatif diukur dengan menggunakan skala yang disusun sendiri oleh peneliti yang mengacu pada negative cognitive triad yang dikemukakan oleh Beck (1967). Negative cognitive triad adalah pandangan negatif terhadap diri sendiri, pandangan negatif terhadap dunia dan kejadian yang menimpa dirinya, pandangan negatif terhadap masa depannya. Semakin tinggi nilai yang diperoleh dari skala pola pikir negatif berarti semakin tinggi pula pola pikir negatif yang dimiliki. Semakin rendah nilai yang diperoleh dari skala pola pikir negatif menunjukkan semakin rendah pula pola pikir negatif yang dimiliki.

D. Subjek Penelitian 1.

  Populasi dan Sampel Masalah populasi dan sampel yang dipakai dalam penelitian merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan. Populasi adalah sejumlah individu yang paling sedikit memiliki sifat yang sama (Hadi, 2000). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  Subjek penelitian yang dipilih adalah sebagian dari keseluruhan populasi yang dinamai sampel. Sampel merupakan sebagian dari populasi atau sebagian penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi. Syarat utama agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan maka sebaiknya sampel penelitian harus benar-benar mencerminkan keadaan populasinya atau dengan kata lain harus benar-benar representataif (Hadi, 2000).

2. Metode Pengambilan Sampel

  Metode pengambilan sampel adalah cara yang digunakan untuk mengambil sampel dari populasi dengan menggunakan prosedur tertentu, dalam jumlah yang sesuai dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang benar-benar dapat mewakili populasi (Hadi, 2000).

  Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik nonprobability sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2007).

  Teknik nonprobability sampling yang digunakan adalah teknik sampling purposive, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2007). Teknik purposive sampling merupakan suatu teknik pencarian sampel penelitian yang didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Hadi, 1996).

  Karakteristik sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: a.

  Mahasiswa Fakultas Psikologi yang masih terdaftar di Universitas Sanata Dharma angkatan 2001 s/d 2009 b. Tidak sedang dalam masa Penundaan Kegiatan Akademik (PKA).

3. Jumlah Sampel Penelitian

  Secara tradisional, statistik menganggap jumlah sampel yang lebih dari 60 orang sudah cukup banyak (Azwar, 2007). Penentuan jumlah sampel pada penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan proporsional. Proportional sample adalah sampel yang terdiri dari sub- sub sampel yang perimbangannya mengikuti perimbangan sub-sub populasi (Hadi, 2004). Menurut Azwar (1997), penggunaan pendekatan proporsional ini, subjek dalam setiap subkelompok atau strata harus diketahui perbandingannya lebih dahulu. Kemudian ditentukan presentase besarnya sampel dari keseluruhan populasi. Presentase atau proporsi ini lalu diterapkan dalam pengambilan sampel bagi setiap subkelompok atau stratanya. Pada penelitian ini, masing-masing angkatan (2001-2009) dihitung menjadi bentuk persen berdasarkan jumlah total mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hasil data persen tiap-tiap angkatan tersebut diolah lagi dan ditentukan jumlah mahasiswa yang akan dijadikan subjek penelitian dari masing-masing angkatan. Hal ini bertujuan agar hasil penelitian memberi landasan generalisasi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada apabila tanpa memperhitungkan besar kecilnya sub populasi dan tiap-tiap sub populasi (Narbuko & Achmadi, 2004). Berikut ini cara perhitungan proporsional jumlah sampel:

  jumlah mahasiswa per angkatan

= 100 %

jumlah seluruh mahasiswa

  ℎ = Persentase Penentuan jumlah subjek per angkatan mahasiswa psikologi Sanata Dharma antara lain: a.

  Angkatan 2001

8 Persentase =

  100 % = 1.1 %

  678

  Jumlah subjek = 1.1 % = 1 orang 100 b.

  Angkatan 2002

  23 Persentase =

  100 % = 3.4 %

  678

  Jumlah subjek = 3.4 % = 3.4 = 3 orang 100 c.

  Angkatan 2003

  35 Persentase =

  100 % = 5.2 %

  678

  Jumlah subjek = 5.2 % = 5.2 = 5 orang 100 d.

  Angkatan 2004

  42 Persentase =

  100 % = 6.2 %

  678 e.

  Angkatan 2005

57 Persentase =

  100 % = 8.4 %

  678

  Jumlah subjek = 8.4 %

  = 8.4 = 8 orang

  100 f. Angkatan 2006

91 Persentase =

  100 % = 13.4 %

  678

  Jumlah subjek = 13.4 % 13.4 = 14 orang

  =

  100 g. Angkatan 2007

  139

  Persentase = 100 % = 20.5 %

  678

  Jumlah subjek = 20.5 % 20.5 = 21 orang

  =

  100 h. Angkatan 2008

  148

  Persentase = 100 % = 21.8 %

  678

  Jumlah subjek = 21.8 % = 21.8 = 22 orang 100 i.

  Angkatan 2009

  135

  Persentase = 100 % = 19.9 %

  678

  Jumlah subjek = 19.9 % = 19.9 = 20 orang 100 E.

   Metode dan Alat Pengumpulan Data

  Penelitian ini melakukan metode pengumpulan data dengan menggunakan skala. Metode skala digunakan mengingat data yang ingin diukur berupa konsep psikologis yang dapat diungkap secara tidak langsung melalui indikator-indikator perilaku yang diterjemahkan dalam bentuk aitem-aitem pernyataan (Azwar, 2000).

  Menurut Hadi (2002), skala psikologis mendasarkan diri pada laporan-laporan pribadi (self report). Selain itu skala psikologis memiliki kelebihan dengan asumsi sebagai berikut:

  1) Subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya

  2) Apa yang dikatakan subjek tentangnya kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya

  3) Interpretasi subyek tentang pernyataan-pernyataan yang diajukan sama dengan apa yang dimaksud dengan peneliti

  Selain itu metode skala psikologis digunakan dalam penelitian atas dasar pertimbangan: 1)

  Metode skala psikologis merupakan metode yang praktis 2)

  Dalam waktu yang relatif singkat dapat dikumpulkan data yang banyak 3)

  Metode skala psikologis merupakan metode yang dapat menghemat tenaga dan ekonomis Penelitian ini menggunakan model skala Likert. Penskalaan ini merupakan model penskalaan pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respons sebagai dasar penentuan nilai sikap (Azwar, 2000). Prosedur penskalaan dengan metode Likert didasari oleh dua asumsi yaitu:

  a) Setiap pernyataan sikap yang disepakati sebagai pernyataan yang b) Jawaban dari individu yang mempunyai sikap positif harus diberi bobot yang lebih tinggi dari jawaban yang diberikan oleh responden yang mempunyai sikap negatif

  Skala-skala dalam penelitian ini tidak menyediakan alternative jawaban tengah atau netral, tujuannya antara lain (Azwar, 2004a):

  1. Untuk menghindari adanya responden yang ragu-ragu dalam menjawab, sebab ada kemungkinan terjadi bahwa responden belu dapat memutuskan jawaban, sehingga untuk mendapatkan posisi yang aman kemudian memilih jawaban tengah atau netral

  Keadaan ragu-ragu (undecided) itu memiliki arti adanya jawaban ganda, yaitu dapat diartikan belum memutuskan atau member jawaban yang sesuai dengan kondisi yang dirasakan atau dapat juga diartikan memihak pada kondisi netral, yaitu tidak mampu membedakan munculnya kondisi-kondisi yang tertulis dalam masing-masing butir pertanyaan, sehingga memberikan jawaban kearah ragu-ragu. Alternative jawaban ganda arti (multi

  interpretable ) ini tentu saja tidak diharapkan dalam suatu

  instrumen 2. Agar responden lebih tegas dalam memilih dan menentukan jawaban. Hak tersebut dimaksudkan karena tersedianya alternative jawaban tengah dapat menggiring kebebasan subyek dalam menjawab kecenderungan ke arah jawaban tengah (central

  tendency effect ), terutama bagi subyek yang ragu-ragu untuk menentukan arah kecenderungan jawabannya.

  Alternative jawaban serta nilai atau skor dalam pernyataan favorable atau non favorable dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 1 Skor Jawaban untuk Skala

  Pernyataan Jawaban

  Favorabel Unfavorabel Sangat Tidak Setuju (STS)

  1

  4 Tidak Setuju (TS)

  2

  3 Setuju (S)

  3

  2 Sangat Setuju (SS)

  4

  1 Jawaban pada tiap item diskor berdasarkan nilai kategori jawaban yang telah ditentukan pada tabel di atas. Kemudian seluruh skor tersebut dijumlahkan dan didapat nilai skor total subyek pada skala.

  Skala yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua buah skala, antara lain:

1. Skala kecemasan berbicara di depan umum

  Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kecemasan berbicara di depan umum adalah skala kecemasan berbicara di depan umum yang dirancang sendiri oleh peneliti dengan berdasarkan pada komponen- komponen kecemasan berbicara di depan umum yang dikemukakan oleh Rogers (2004), meliputi: c.

  Komponen emosional Skala ini bertujuan untuk mengungkap tingkat kecemasan pada saat berbicara di depan umum. Semakin tinggi skor total yang dicapai subyek berarti semakin tinggi tingkat kecemasan yang dimiliki subyek ketika harus berbicara di depan umum. Sebaliknya semakin rendah skor yang dicapai subyek maka semakin rendah pula tingkat kecemasan yang dimiliki subyek pada saat berbicara di depan umum.

  Penyusunan alat ukur tersebut dijabarkan dalam bentuk Blueprint pada tabel berikut ini: Tabel 2 Blue Print Skala Kecemasan Berbicara di Depan Umum Sebelum Uji Coba

  Aitem No. Aspek Jumlah

  No Aitem No. Aitem Favorable Unfavorable

  1. Komponen 1,5,7,14,17,22 11,16,25,31,35

  15 fisik ,26,34 ,37,39

  2. Komponen 4,9,12,15,32,3 6,19,21,23,27,

  15 proses mental 3,40,41 38,42

  3. Komponen 2,3,18,24,28,3 8,10,13,20,29,

  15 emosional 6,43,44 30,45 TOTAL

  45 2. Skala pola pikir negatif

  Alat ukur yang digunakan untuk mengukur pola pikir negatif adalah skala pola pikir negatif yang dirancang sendiri oleh peneliti dengan berdasarkan pada komponen-komponen pola pikir negatif yang dikemukakan oleh Beck (1967), meliputi: a.

  Pandangan negatif terhadap diri adalah menginterpretasi atau memandang dirinya secara negatif.

  b.

  Pandangan negatif terhadap dunia dan kejadian yang menimpa dirinya berisi penolakan-penolakan dan kegagalan-kegagalan c.

  Pandangan negatif terhadap masa depannya merupakan anggapan dan pandangan negatif akan masa depannya Skala ini bertujuan untuk mengungkap tingkat pola pikir negatif. Semakin tinggi skor total yang dicapai subyek berarti semakin tinggi tingkat pola pikir negatif yang dimiliki subyek ketika harus berbicara di depan umum. Sebaliknya semakin rendah skor yang dicapai subyek maka semakin rendah pula tingkat pola pikir negatif yang dimiliki subyek pada saat berbicara di depan umum.

  Penyusunan alat ukur tersebut dijabarkan dalam bentuk Blueprint pada tabel berikut ini: Sebelum kedua alat ukur ini digunakan dalam pengambilan data penelitian, peneliti melakukan uji coba terlebih dahulu. Pelaksanaan uji coba ini bertujuan untuk mengetahui kualitas item dan pengujian reliabilitas alat ukur. Uji coba alat ukur ini dilaksanakan pada tanggal 19

  45 Skala-skala tersebut termasuk skala langsung karena subyek yang diselidiki mengisi sendiri jawaban-jawaban dari pertanyaan dalam skala ini. Skala ini juga termasuk skala tertutup karena jawaban skala telah dibatasi dan ditentukan oleh peneliti. Subyek penelitian tidak diberi kesempatan untuk memberi jawaban lain dari jawaban yang tersedia (Nawawi, 2001).

  2. Pandangan negatif terhadap dunia dan kejadian yang menimpa dirinya

  15 TOTAL

  4 4,23,25,45

  2,7,8,18,24,31 ,32,33,35,43,4

  3. Pandangan negatif terhadap masa depan

  15

  6,13,15,21,2 8,37,42

  5,10,12,14,17, 19,40,41

  15

  Tabel 3 Blue Print Skala Pola Pikir Negatif Sebelum Uji Coba

  38

  3,9,16,29,34,

  1,11,20,22,26, 27,30,36,39

  1. Pandangan negatif terhadap diri sendiri

  No. Aitem Unfavorable

  Jumlah No Aitem Favorable

  No. Aspek Aitem

  • – 22 Juli 2010 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta kampus Paingan.
karakteristik subjek untuk data penelitian yaitu mahasiswa Sanata Dharma. Subjek dalam uji coba alat ukur ini sebanyak 65 mahasiswa.

  Prosedur pelaksanaan penelitian ini yaitu peneliti membagikan skala kepada mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Kemudian peneliti meminta subjek untuk menandatangani persetujuan keterlibatan subjek dalam penelitian ini. Penandatangan tersebut bertujuan untuk memenuhi kode etik penelitian bahwa keterlibatan subjek bersifat sukarela tanpa paksaan. Subjek juga diminta untuk mengisi identitas dan mengisi jawaban atas pernyataan-pernyataan dalam skala. Proses pengisian skala ini tidak ada batasan waktunya.

F. Validitas, Seleksi Item dan Reliabilitas

  1) Validitas alat tes

  Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrument pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud pengukuran tersebut (Azwar, 2001). Jika suatu tes memiliki validitas yang tinggi berarti tes tersebut juga memiliki kecermatan yang tinggi pula yaitu kecermatan dalam mendeteksi perbedaan- perbedaan yang kecil pada atribut yang diukur (Azwar, 2004b). Pada penelitian ini pengukuran validitas tes menggunakan jenis validitas isi

  Validitas isi adalah validitas yang dipandang dari segi isi skala, yaitu sejauh mana skala tersebut isinya telah dianggap dapat mengukur hal-hal yang mewakili keseluruhan tentang hal-hal yang hendak diukur. Validitas isi diukur melalui estimasi dari pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau professional judgement yang bersifat subyektif dan validitas ini disebut validitas non-empirik.

  Pengujian validitas isi bertujuan hendak melihat sejauh mana pernyataan dalam skala telah mewakili komponen variable yang hendak diukur (Azwar, 2004b). Teknik professional judgement melalui dosen pembimbing yaitu dengan cara melihat apakah item- item yang telah disusun peneliti tersebut sudah sesuai dengan blueprint yang telah ditetapkan. Selain itu melakukan pemeriksaan apakah item-item dalam alat ukur sudah sesuai dengan indikator- indikator yang akan diteliti.

  2) Seleksi item

  Kualitas skala pengukuran psikologis sangat ditentukan oleh kualitas item-item yang ada di dalamnya. Maka perlu dilakukan seleksi terhadap item-item skala yang telah dibuat. Pelaksanaan seleksi item bertujuan untuk memilih item-item yang baik dan berkualitas. Item yang baik dan berkualitas tersebut mampu mengukur hal-hal yang akan diukur dalam penelitian. Seleksi item pada skala yang akan digunakan dalam penelitian ini menggunakan parameter membedakan antara individu atau kelompok yang memiliki atribut atau tidak memiliki atribut yang diukur (Azwar, 2006).

  Pengujian daya beda item dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi antara distribusi skor item dengan skor total skala itu sendiri. Korelasi antara skor item dengan skor item total akan menghasilkan koefisien korelasi item total (r ). Jenis korelasi yang

  ix

  digunakan adalah korelasi Product Moment Pearson, karena setiap item diberi skor pada level interval. Perhitungannya akan menggunakan corrected item-total correlation melalui sub menu scale pada pilihan Reliability Analysis Statistical Product and Service

  Solution (SPSS) for Wondow version

  18.0. Koefisien korelasi item yang baik adalah ≥ 0.3 sehingga item yang memiliki koefisien korelasi kurang dari 0.3 dinyatakan gugur (Azwar, 2004b).

  Selain itu peneliti juga melakukan analisis item berdasarkan koefisien alpha chronbach yang digunakan untuk menetapkan konsistensi internal skala secara keseluruhan. Pelaksanaan pemilihan item dengan menggunakan SPSS versi 18 for windows. Item-item ini dipilih dengan melihat kolom Corrected Item Total Correlation dan

  

Chronbach’s Alpha if Item Deleted. Jika item tersebut memiliki

  koefisien lebih besar daripada alpha secara keseluruhan, maka jika item tersebut akan digugurkan koefisen alpha secara keseluruhan akan meningkat. Item yang gugur tersebut menunjukkan bahwa kurangnya konsistensi subjek dalam memberikan jawaban skala yang hendak diukur.

  Berikut ini adalah distribusi item skala setelah uji coba: a.

  Kecemasan Berbicara di Depan Umum Hasil pengujian terhadap 45 item skala kecemasan berbicara di depan umum menunjukkan bahwa 37 item yang lolos seleksi. Sedangkan item-item yang gugur berjumlah 8 item. Adapun item-item yang gugur itu adalah item nomer 2, 6, 7, 8, 16, 19, 27, 43. Sedangkan item-item yang sahih antara lain 1,5,11,14,17,22,25,26,31,34,35,37,39,4,9,12,15,21,23,32,33,38,40 ,41,42,3,10,13,18,20,24,28,29,30,36,44,45. Rentangan koefisien korelasi skala kecemasan tersebut adalah 0.310

  • – 0.681 Meskipun dalam suatu komponen terdapat item yang daya diskriminasinya tinggi dalam jumlah lebih daripada yang direncanakan, maka item yang dipilih adalah item-item yang memiliki daya diskriminasi tertinggi diantara yang ada sedangkan yang lain yang akan disisihkan walaupun indeksnya di atas 0,30. Dengan cara ini proporsionalitas jumlah item yang direncanakan akan tercapai, komposisi aspek-aspek yang mendasari konstrak pengukuran tetap terpelihara dan kualitas item juga terjaga (Azwar, 1999). Bobot aspek dalam kedua skala final ini akan dibuat sama, karena tidak ada dasar teori atau hasil analisis faktor yang
lainnya. Berikut ini adalah tabel distribusi item skala kecemasan berbicara di depan umum setelah melakukan proposional jumlah item: Tabel 4 Distribusi Aitem Proporsional Sahih dan Gugur Pada Skala Kecemasan Berbicara di Depan Umum

  Nomor Aitem Nomor Aitem Aspek

  Gugur Jumlah Sahih Jumlah 1.

  1 1 5,11,14,17,22,

  12 Komponen fisik 25,26,31,34,3 5,37,39

  2. 4,9,12,15,21,2

  • proses mental 3,32,33,38,40,

  12 Komponen

  41,42 3. 3,10,13,18,20,

  • emosional 24,28,29,30,3

  12 Komponen

  6,44,45 TOTAL

  1

  36 Tabel 5 Blue Print Skala Kecemasan Berbicara di Depan Umum Setelah Uji Coba (Proporsional Jumlah)

  No Aspek Aitem

  Jumlah No Aitem Favorable

  No. Aitem Unfavorable

  1. Komponen fisik 5(2),14(7),17 (32),22(10),2 6(14), 34(21)

  11(31),25(13), 31(18),35(22), 37(24),39(26)

  12

  2. Komponen proses mental

  4(1), 9(3),12(5),15 (8),32 (19),33(20),4 0(27),41(34)

  21(33),23(11), 38(25),42(28)

  12

  3. Komponen emosional 3(35),24(12), 28(15),36(32 ),44(29)

  10(4),13(6),18( 36),20(9),29(1 6),30(17),45 (30)

  12 TOTAL 36 b. Pola Pikir Negatif

  Pada skala pola pikir negatif terdapat 45 item. Berdasarkan analisis data yang dilakukan bahwa item-item yang lolos berjumlah 42 item. Sedangkan item-item yang gugur berjumlah 3 item. Adapun item-item yang gugur tersebut antara lain item 8, 16, dan 23. Sedangkan item-item yang sahih antara lain 1,3,9,11,20,22,26,27,29,30,34,36,38,39,5,6,10,12,13,14,15,17,19, 21,28,37,40,41,42,2,4,7,18,24,25,31,32,33,35,43,44,45.

  Rentangan koefisien korelasi skala pola pikir negatif ini adalah 0.352 Tabel 6 Distribusi Aitem Proporsional Sahih dan Gugur Pada Skala Pola Pikir Negatif

  Nomor Aitem Nomor Aitem Aspek

  Gugur Jumlah Sahih Jumlah 1.

  9 1 1,3,11,20,22,

  13 Pandangan negatif terhadap 26,27,29,30, dirinya sendiri 34,36,38,39

  2. 5,17 2 6,10,12,13,1

  13 Pandangan negatif terhadap 4,15,19,21,2 dunia dan 8,37,40,41,4 kejadian yang

  2 menimpa dirinya 3. 2,4,7,18,24,2 -

  13 Pandangan negatif terhadap 5,31,32,33,3 masa depan 5,43,44,45

  TOTAL

  3

  39 Tabel 7 Blue Print Skala Pola Pikir Negatif Setelah Uji Coba (Proporsional Jumlah)

  Aitem No Aspek Jumlah

  No Aitem No. Aitem Favorable Unfavorable

  1. Komponen 1(1),11(8),20 3(6),29(23),34

  13 fisik (15),22(17), (28), 38(32) 26(20),27(21 ),30(24),36(3 0),39(33)

  2. Komponen 10(7), 6(4),13(10),15

  13 proses 12(9),14(11), (12),21(16),28 mental 19(14),40(34 (22),37(31),42

  ),41(35) (36)

  3. Komponen 2(2),7(5),18( 4(3),25(19),45

  13 emosional 13),24(18),3 (39) 1(25),32(26), 33(27),35(29 ),43(37),44(3 8)

  TOTAL

  39 3)

  Reliabilitas Reliabilitas menunjukkan derajat keajegan atau konsistensi alat yang bersangkutan, bila diterapkan beberapa kali pada kesempatan yang berbeda (Hadi, 2000). Reliabilitas alat ukur yang dapat dilihat dari koefisien reliabilitas merupakan indikator konsistensi atau alat kepercayaan hasil ukur yang mengandung makna kecermatan pengukur (Azwar, 2000).

  Reliabilitas adalah konsistensi atau sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah (Azwar, 2001).

  Uji reliabilitas alat ukur dalam penelitian ini menggunakan pendekatan internal consistency (

  Cronbach’s alpha coefficient) yang

  hanya memerlukan satu kali pengenaan tes tunggal pada sekelompok individu sebagai subyek yang bertujuan untuk melihat konsistensi di dalam tes itu sendiri. Teknik ini dipandang ekonomis, praktis dan berefisien tinggi sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada populasi (Azwar, 2000). Pada umumnya reliabilitas telah dianggap memuaskan jika koefisiennya mencapai r = 0. 900. Akan

  xx

  tetapi koefisien yang tidak setinggi itu biasanya sudah dianggap cukup baik (Azwar, 2001). Skala kecemasan berbicara di depan umum memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0.932. koefisien reliabilitas pada skala pola pikir negatif adalah sebesar 0.943

G. Metode Analisis Data

  Metode analisis data yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara pola pikir negatif dengan kecemasan berbicara di depan umum adalah dengan menggunakan korelasi Product Moment dari Pearson. Cara perhitungan korelasi Pearson Product Moment dibantu dengan menggunakan program SPSS 18.00 for Windows. Namun sebelumnya terlebih dahulu dilakukan uji asumsi, yaitu pengujian normalitas dan

H. Prosedur Penelitian

  Prosedur atau langkah-langkah penelitian ditempuh melalui dua tahap. Langkah-langkah penelitian yang dilakukan antara lain:

1. Tahap Persiapan: a.

  Mempersiapkan alat ukur Alat ukur yang digunakan adalah skala untuk mengukur kecemasan berbicara di depan umum dan pola pikir negatif b.

  Melakukan uji coba skala kepada subjek penelitian Subjek penelitian harus sesuai dengan kriteria subjek penelitian yaitu mahasiswa universitas Sanata Dharma.

  c.

  Menganalisis item-item skala d. Mengolah data hasil ujicoba e. Menganalisis data dan menentukan item-item yang gugur 2. Tahap Pelaksanaan a.

  Mempersiapkan alat ukur yang akan digunakan untuk penelitian b. Melakukan penelitian data c.

   Menganalisis data penelitian dengan menggunakan korelasi Product Moment Pearson

  d.

  Membuat pembahasan berdasarkan analisis data yang telah dilakukan e.

  Membuat kesimpulan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilakukan pada tanggal 11 sampai 18 Agustus 2010 dengan menyebar skala secara langsung kepada subjek penelitan dalam kelas. Sebelumnya, peneliti memohon ijin kepada dosen mata kuliah agar peneliti

  diperbolehkan masuk kelas untuk menyebar skala. Selain itu, penyebaran skala juga dilakukan dengan mendatangi subjek di sekitar kampus, dan meminta mereka untuk mengisi kuesioner yang dibagikan. Subjek yang dituju dalam penelitian ini adalah mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma dari angkatan 2001-2009.

  Adapun prosedur pengambilan data ini tidak berbeda dengan proses pengumpulan data saat tahap uji coba. Peneliti memohon kesediaan subjek untuk ikut serta dalam penelitian ini. Kemudian, peneliti menjelaskan kepada subjek tentang petunjuk-petunjuk pengisian skala. Dalam skala tertera informed consent dan nota kesepahaman yang harus ditandatangani oleh subjek. Hal ini dimaksudkan bahwa subjek bersedia secara sukarela berpartisipasi dalam penelitian. Setelah itu, subjek diminta untuk mengisi identitas dan mengisi jawaban atas pernyataan-pernyataan skala. Proses pengisian skala ini tidak ada batas waktunya.

  Skala penelitian terdiri dari 36 item yang sahih pada skala kecemasan berbicara di depan umum, sedangkan skala pola pikir negatif terdapat 39 item sahih. Subjek yang berhasil didapat dari penelitian ini berjumlah 100 orang.

B. Deskripsi Subjek

  Angkatan Jenis Kelamin

  4

  Pembagian mahasiswanya antara lain mahasiswa angkatan 2001 berjumlah 1 orang (berjenis kelamin laki-laki), angkatan 2002 berjumlah 3 orang (2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan, angkatan 2003 berjumlah 5 orang (4 orang laki- laki dan 1 orang perempuan), angkatan 2004 (3 orang laki-laki dan 3 orang

  20 TOTAL 100 Pada tabel 6 diketahui bahwa subjek penelitian berjumlah 100 orang.

  16

  4

  22 2009

  20

  2

  21 2008

  16

  5

  14 2007

  10

  8 2006

  Jumlah Laki-laki Perempuan

  Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma dari angkatan 2001-2009. Berdasarkan hasil penyebaran skala didapatkan data-data mengenai identitas subjek penelitian sebagai berikut: Tabel 8 Data Subjek Penelitian

  6

  6 2005

  3

  3

  5 2004

  1

  4

  3 2003

  1

  2

  1 2002

  2001 1 -

  2 perempuan), angkatan 2005 (6 orang laki-laki dan 2 orang perempuan), angkatan 2006 (4 orang laki-laki dan 10 orang perempuan), angkatan 2007 (5 orang laki- laki dan 16 orang perempuan), angkatan 2008 (2 orang laki-laki dan 20 orang perempuan), dan angkatan 2009 (4 orang laki-laki dan 16 orang perempuan).

C. Deskripsi Data Penelitian

  Analisis deskriptif merupakan prosedur statistik untuk menguji generalisasi hasil penelitian yang didasarkan atas satu variabel (Hasan, 2002). Berdasarkan hasil analisis deskriptif, diperoleh nilai mean teoritik dan mean empiris. Mean teoritik adalah rata-rata skor skala penelitian yang diperoleh dari angka yang menjadi titik tengah dari skala tersebut. Sementara mean empiris adalah rata-rata skor data yang diperoleh dari angka yang merupakan rata-rata skor hasil penelitian. Hasil analisa data tersebut disajikan dalam tabel berikut ini: Tabel 9 Hasil Analisis Deskriptif

  N Mean Std. Deviation Minimum Maximum Kecemasan berbicara 100 83.34 12.749 43 128 Pola pikir negatif 100 81.09 13.126 49 121

  Mean teoritik = titik tengah skor skala x jumlah item

  Kecemasan berbicara = 2.5 x 36 = 90

  Pola pikir negatif = 2.5 x 39 = 97.5

  Azwar (1999) mengemukakan bahwa untuk mengetahui skor penelitian pada subjek termasuk tinggi rendah dapat dilakukan dengan menetapkan kriteria- kriteria kategorisasi. Tujuan kategorisasi ini adalah menempatkan subjek penelitian ke dalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum berdasar atribut yang diukur. Kategori ini didasarkan pada asumsi bahwa skor populasi terdistribusi normal. Kriteria kategorisasi yang digunakan dalam penelitian ini dibagi dalam tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi.

  1. Gambaran skor pola pikir negatif Skala pola pikir negatif terdiri dari 39 item dengan empat pilihan jawaban yang bergerak dari 1 sampai 4. Skor teoretik minimal yang diperoleh subjek adalah 39 dan skor teoretik maksimal yang diperoleh subjek adalah 156. Jarak sebaran teoretiknya 156

  • – 39 = 117 dan standar deviasi bernilai 117 : 6 = 19.5. Pembagian angka 6 ini berasal dari suatu distribusi normal. Sebagaimana diketahui, suatu distribusi normal terbagi atas enam bagian atau enam satuan
deviasi standar. Tiga bagian berada di sebelah kiri mean bertanda negatif dan tiga bagian berada di sebelah kanan mean bertanda positif (Azwar, 1999).

  Rangkuman data penelitian tersebut selanjutnya digunakan oleh peneliti untuk mengkategorisasikan pola pikir negatif pada mahasiswa Fakultas Psikologi USD dalam tingkatan-tingkatan untuk kemudian disusun norma. Subjek dikategorikan menjadi tiga kategori dengan rumus:

  Rendah = X < Mean

  • – 1 (SD) Sedang = Mean – 1 (SD) ≤ X < Mean + 1 (SD)

  Tinggi = Mean + 1 (SD) ≤ X

  Kategori dan distribusi skor dapat pada tabel berikut ini: Tabel 10 Kategorisasai dan Distribusi Skor Pola Pikir Negatif

  Pedoman Skor Kategori Frekuensi % X < M X < 78 Rendah

  34

  34

  • – 1 (SD) M

  64

  • – 1 (SD) ≤ X < M + 1 (SD) 78 ≤ X < 117 Sedang 64 M + 1 (SD) 117 Tinggi

  2

  2 ≤ X ≤ X

  Keterangan : X : Skor pola pikir negatif M : Mean teoretik SD : Standar deviasi N : 100

  Hasil kategori skor skala pola pikir negatif tersebut menunjukkan bahwa subjek yang memiliki tingkat pola pikir negatif pada kategorisasi rendah sebanyak 34 orang (34%), yang berada pada kategori sedang sebanyak 64 orang (64%), dan yang berada pada kategori tinggi sebanyak 2 orang (2%).

  Hasil kategori tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki tingkat pola pikir negatif dalam kategori sedang.

2. Kecemasan Berbicara di Depan Umum

  Skala kecemasan berbicara di depan umum terdiri dari 36 item sehingga skor teoretik minimal yang diperoleh subjek adalah 36 dan skor teoretik

  • – maksimal yang diperoleh subjek adalah 144. Jarak sebaran teoretiknya 114 36 = 108 dan standar deviasi bernilai 108 : 6 = 18. Seperti pada skor pola pikir negatif, skor kecemasan berbicara di depan umum juga dikategorisasikan ke dalam 3 kategori, yaitu rendah, sedang, tinggi. Kategori dan distribusi skor dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 11 Kategori dan Distribusi Skor Kecemasan Berbicara di Depan Umum Pedoman Skor Kategori Frekuensi % X < M X < 72 Rendah

  11

  11

  • – 1 (SD) M

  Sedang

  57

  57

  • – 1 (SD) ≤ X < M + 1 (SD) 72 ≤ X < 90 M + 1 (SD)

  90 Tinggi

  32

  32 ≤ X ≤ X

  Keterangan : X : Skor pola pikir negatif M : Mean teoretik

  SD : Standar deviasi N : 100

  Tabel di atas dapat dilihat bahwa secara keseluruhan subjek yang memiliki kecemasan berbicara di depan umum rendah sebanyak 11 orang (11%), subjek yang memiliki kecemasan berbicara kategori sedang sebanyak 57 orang (57%), dan subjek yang berada dalam kategori tinggi sebanyak 32 orang (32%). Maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar subjek dalam penelitian ini memiliki tingkat kecemasan berbicara di depan umum dalam kategori yang sedang.

D. Analisis Data Penelitian 1.

  Uji Asumsi Sebelum melakukan analisis data, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi untuk melihat apakah data yang diperoleh memenuhi syarata untuk dianalisis.

  Uji asumsi dalam penelitian meliputi uji normalitas dan uji linearitas.

  a.

  Uji Normalitas Tujuan dari uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah data penelitian mengikuti sebaran data dengan distribusi normal. Metode yng digunakan dalam uji normalitas ini One sampel Kolmogorov-Smirnov dari program SPSS for Windows versi 18.0. pengambilan keputusan didasarkan pada besaran probabilitas (p). Jika p > 0,05 maka sebaran dinyatakan normal. Sebaliknya p < 0,05 maka sebaran dinyatakan tidak normal. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel :

  Tabel 12 Hasil Uji Normalitas Sebaran

  Kecemasan Berbicara Pola pikir Negatif Kolmogorov-Smirnov Z 1,106 1,042 Asymp. Sig. (2-tailed) 0,173 0,228

  Berdasarkan tabel tersebut, hasil uji normalitas menghasilkan probabilitas (p) data kecemasan berbicara di depan umum sebesar 0,173 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa distribusi data kecemasan berbicara di depan umum dinyatakan normal. Probabilitas (p) data pola pikir negatif sebesar 0,228 (p > 0,05) yang menunjukkan bahwa data sampel adalah normal.

  b.

  Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara skor variabel kecemasan berbicara di depan umum dengan variabel pola pikir negatif merupakan garis lurus atau tidak.

  Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS for Windows versi 18.0. Hasil uji linearitas yang dilakukan menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel yaitu kecemasan berbicara di depan umum dan pola pikir negatif adalah linear. Hal ini berarti setiap kenaikan pada variabel pola pikir negatif juga diikuti oleh kenaikan variabel kecemasan berbicara di depan umum. Hasil uji linearitas ini ditunjukkan dengan taraf signifikasi untuk linearitas lebih kecil daripada 0,05 (p < 0,05) yaitu F = 169,693; p = 0,000 atau p < 0,05. hasil dari pengujian tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 13 Hasil Uji Linearitas

  Uji Linearitas F Sig Kecemasan Berbicara di Depan Umum Combined 5,459 0,000

  • Pola Pikir Negatif Linearity 169,693 0,000 Deviation of 1,353 0,145 linearity 2.

  Uji Hipotesis Hubungan Hipotesis pada penelitian ini adalah ada hubungan positif antara pola pikir negatif dengan kecemasan berbicara di depan umum. Hal ini mengandung pengertian bahwa semakin tinggi pola pikir negatif, maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan berbicara di depan umum dalam diri individu. Sebaliknya semakin rendah pola pikir negatif maka semakin rendah tingkat kecemasan yang dialami.

  Berdasarkan tujuan penelitian, maka dilakukan analisa statistic dengan menggunakan uji Pearson Correlation berdasarkan SPSS 18.0 for windows Hasil uji hipotesis dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 14 Hasil Uji Korelasi Kecemasan Berbicara di Depan Umum dengan Pola Pikir Negatif kecemasan polapikir

  • Pearson kecemasan Pearson Correlation 1 .776 Correlation Sig. (1-tailed) . .000 N 100 100
  • Pola pikir Pearson Correlation .776

  1 Sig. (1-tailed) .000 . N 100 100

  Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi untuk variabel kecemasan berbicara di depan umum dan variabel pola pikir negatif adalah 0,776 dengan taraf signifikasi 0,000 (p < 0.01). analisis data ini membuktikan bahwa ada hubungan signifikan dan positif antara kecemasan berbicara di depan umum dengan pola pikir negatif.

  Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi yang ditemukan tersebut besar atau kecil, maka dapat dilihat dalam analisis korelasi dimana terdapat suatu angka yang disebut dengan koefisien determinasi yang

  2

  besarnya adalah kuadrat dari koefisien korelasi ( ). Sumbangan pola pikir negatif terhadap kecemasan berbicara di depan umum dapat dilihat dari

  2

  koefisien determinasinya ( ), yaitu sebesar 0,602. hal ini menunjukkan bahwa adanya sumbangan efektif variabel pola pikir negatif sebesar 60,2 % terhadap kecemasan berbicara di depan umum.

E. Pembahasan

  Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment Pearson dalam program SPSS for Windows versi 18.0, diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,776. Korelasi tersebut signifikan dengan taraf signifikasi 0,00 (p < 0,01). Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara pola pikir negatif dengan kecemasan berbicara di depan umum. Semakin tinggi kecenderungan subjek memiliki pola pikir negatif, maka semakin tinggi pula kecemasan berbicara di depan umum yang dialami subjek. Sebaliknya semakin rendah kecenderungan subjek memiliki pola pikir yang negatif, maka semakin rendah pula kecemasannya dalam berbicara di depan umum. Ada catatan kecil yang perlu diperhatikan bahwa beberapa aitem yang overlapping antara skala pola pikir negatif dan kecemasan berbicara di depan umum kemungkinan member kontribusi pada tingginya korelasi yang diperoleh.

  Hasil penelitian ini mendukung teori dari Guest (dalam Gunarsa, 2000) yang mengungkapkan bahwa kecemasan berbicara di depan umum dapat bersumber dari pola berpikir, dan persepsi negatif terhadap situasi atau diri sendiri. Hal senada juga diungkapkan oleh Nevid et al. (2003) dalam bukunya yang menjelaskan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kecemasan pada individu adalah pola pikir yang negatif. Individu dengan pola pikir negatif lebih menggunakan perasaannya, dan lebih mudah mengekspresikan kecemasannya karena selalu fokus pada pendapatnya sendiri (Opt & Loffredo, 2000).

  Hasil penelitian ini juga mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dewi dan Andrianto (2006). Dalam penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan positif antara pola pikir dengan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Muhamadiyah Purwokerto. Hal senada juga dikemukakan oleh Rahayu (2004), bahwa pada umumnya kecemasan berbicara di depan umum lebih sering disebabkan oleh pikiran individu yang negatif dan tidak rasional. Individu membayangkan sesuatu yang negatif akan terjadi, sebagai keterlibatannya dalam situasi berbicara di depan umum.

  Bentuk kecemasan berbicara di depan umum yang dialami subjek penelitian ini antara lain tangan berkeringat, mengulang kata atau kalimat ketika menjelaskan materi presentasi, rasa gelisah, dan kebingungan dalam menjawab pertanyaan dari responden. Bentuk kecemasan yang dialami subjek tersebut mengacu pada komponen-komponen yang dikemukakan oleh Rogers (dalam Anwar, 2009) yaitu komponen fisik, proses mental, dan emosional. Sedangkan pola pikir negatif yang dimiliki subjek antara lain berpikir bahwa tidak mampu menyampaikan materi dengan jelas saat presentasi, berpikir bahwa teman-teman akan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sulit saat presentasi, dan berpikir bahwa dirinya tidak pandai. Bentuk pola pikir negatif yang dimiliki subjek tersebut berdasar pada komponen pola pikir negatif yang dikemukakan oleh Beck

  (1967) yaitu pandangan negatif terhadap diri sendiri, pandangan negatif terhadap dunia dan kejadian yang menimpa dirinya, serta pandangan negatif pada masa depannya.

  Hasil pengolahan kriteria kategorisasi menunjukkan bahwa dari 100 subjek penelitian terdapat skor pola pikir negatif dengan kategori sedang (78 ≤ X < 117), berjumlah 64 %. Sementara itu skor kecemasan berbicara di depan umum yang berada pada kategori sedang (72

  ≤ X < 90) mencapai 57 %. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian memiliki tingkat pola pikir negatif dan kecemasan berbicara di depan umum dalam kategori sedang.

  Berdasarkan data kategorisasi dari tabel 11 ditemukan fakta bahwa subjek yang berpola pikir negatif dengan kategori tinggi sebesar 2 %, dan kategori rendah sebesar 34 %. Sementara itu, data ketegorisasi pada tabel 12 menunjukkan bahwa subjek yang mengalami kecemasan berbicara di depan umum dengan kategori tinggi sebesar 32 %, dan ketegori rendah sebesar 11 %. Fenomena ini menunjukkan bahwa pola pikir negatif dengan kategori rendahpun ternyata dapat memunculkan kecemasan berbicara di depan umum walaupun dengan tingkat yang tidak terlalu tinggi. Berdasarkan teori menurut Leary (1983) orang yang memiliki pola pikir rendah dapat mengalami kecemasan. Kecemasan seseorang itu timbul ketika orang tersebut berhadapan dengan stimulus kecemasan, misalnya keadaan dimana dia harus berbicara di depan umum. Teori ini juga didukung oleh Bruskin; Bryant & Trower; Geer (dalam Leary, 1983) yang mengungkapkan bahwa kecemasan berbicara di depan umum merupakan kecemasan sosial yang lebih banyak terjadi pada mahasiswa.

  2 Dalam penelitian ini, ditemukan taraf koefisien determinasinya ( ) sebesar

  0,602. Hal ini menunjukkan bahwa adanya sumbangan efektif variabel pola pikir negatif sebesar 60,2 % terhadap kecemasan berbicara di depan umum. Maka dari itu masih ada sumbangan efektif dari variabel lain sebesar 39,8 %. Sumbangan efektif variabel lain antara lain citra raga, kestabilan emosi, intelektualitas, kepercayaan diri, dan pengalaman seseorang ketika berbicara di depan umum.

  Keterbatasan dari penelitian ini yaitu tidak mengukur kecemasan pada saat peristiwa berlangsung, sehingga dapat terjadi bias ingatan tentang pengalaman mahasiswa ketika berbicara di depan umum. Bias ingatan tersebut dapat berbentuk gejala kecemasan yang tidak sama dengan gejala kecemasan yang pernah dialami. Hal tersebut bisa dikarenakan persepsi individu terhadap pengalaman kecemasan berbicara di depan umum.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan

  dan positif antara pola pikir negatif dengan kecemasan berbicara di depan umum, yang ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar 0,702. korelasi tersebut signifikan dengan taraf signifikasi 0,000 (p < 0.01). Hal ini berarti Semakin tinggi kecenderungan subjek memiliki pola pikir negatif, maka semakin tinggi pula kecemasan berbicara di depan umum yang dialami subjek.

  Sebaliknya semakin rendah kecenderungan subjek memiliki pola pikir yang negatif, maka semakin rendah pula kecemasannya dalam berbicara di depan umum. Dalam penelitian ini, pola pikir negatif memberi sumbangan sebesar 60,2 % terhadap kecemasan berbicara di depan umum.

B. SARAN

  Berdasarkan kesimpulan yang telah disampaikan, perlu kiranya beberapa saran yang ditujukan kepada subjek penelitian, institusi pendidikan, dan peneliti selanjutnya.

1. Saran Praktis a.

  Bagi mahasiswa Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pola pikir negatif dengan kecemasan berbicara di negatifnya ketika berbicara di depan umum. Dengan pola pikir negatif yang semakin rendah, maka kecemasan yang dialami ketika berbicara di depan umum juga semakin rendah.

  b.

  Bagi institusi pendidikan Bagi institusi pendidikan untuk dapat mengurangi kecemasan berbicara di depan umum dan pola pikir negatif pada mahasiswa, misalnya dengan memberikan masukan positif terhadap mahasiswa, menciptakan suasana yang nyaman di kelas, serta membantu mahasiswa dalam menjawab pertanyaan di luar penguasaan materi mahasiswa tersebut. Cara lain yang dapat ditempuh untuk mengurangi kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa adalah melalui desensitisasi sistematis. Desensitisasi sistematis ini dilakukan dengan memberikan stimulus yang ditakutkan oleh mahasiswa (berbicara di depan umum) secara bertahap yaitu membentuk kelompok-kelompok kecil. Jika mahasiswa sudah dapat melewati tahap tersebut tanpa serangan cemas, maka lanjut ke tahap selanjutnya yaitu berbicara di depan orang banyak.

2. Saran Metodologis

  Untuk peneliti selanjutnya yang ingin membuat penelitian yang sejenis, maka disarankan agar: a.

  Menggunakan subjek penelitian yang cakupannya lebih luas untuk dibandingkan hasilnya, seperti fakultas psikologi dari universitas b.

  Menggunakan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi kecemasan berbicara di depan umum. Misalnya harga diri, ketrampilan atau pengalaman berbicara di depan umum.

  c.

  Memperhatikan penyusunan aitem-aitem skala untuk menghindari terjadinya overlapping.

  d.

  Mengukur kecemasan pada saat peristiwa berlangsung, sehingga tidak terjadi bias ingatan

DAFTAR PUSTAKA

  Aaron, T. B. (1967). Depression causes and treatment. Philadelphia: First University of Pennsylvania Press. Azwar, S. (1999). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (1997). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (1995). Sikap manusia teori dan pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Anwar, A. I. (2009). Hubungan antara self efficacy dengan kecemasan berbicara

  di depan umum pada mahasiswa fakultas psikologi. Diakses dari

   Ardani, T. A., Rahayu. I. T., Sholichatun, Y. (2007). Psikologi klinis. Yogyakarta: Graha Ilmu. Amir. (2004). Pengembangan instrumen kecemasan olahraga. Anima Indonesian

  Psychological Journal , 20(1), 55-69 Basuki, H. W. (2003). Pedoman lengkap cara berpikir. Surabaya: Ikon Teralitera.

  Budiyanto. (1993). Anda pasti bisa bila anda pikir bisa. Jakarta: Binarupa Aksara. Burgoon, M., Ruffner, M. (1978). Human communication. New York: Holt

  Rinehart Bruno, F. J. (1989). Kamus istilah kunci psikologi. Yogyakarta: Kanisisus Darajdat, Z. (1969). Kesehatan mental. Jakarta: Gunung Agung.

  Dewi, A. P., Andrinto, S. (2006). Hubungan antara pola pikir dengan kecemasan

  berbicara di depan umum pada mahasiswa fakultas keguruan . Diakses

  da Ellis, A. (1970). Reason and emotion in psychotherapy. New York: Lyle Stuart.

  Elliot, S. N., Kratochwill, T. R., Cook, J. L., & Travers, J. F. (ed.3). 2000.

  Educational Psychology: Effective Teaching, Effective Learning . United

  States of America: The McGraw-Hill Companies, Inc Fitri. (2010). Terapi kognitif behavioral. Diakses dari http://www.google.com Fransiska. (2007). Hubungan antara perilaku asertif dan kecemasan presentasi

  proposal skripsi pada mahasiswa . Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  Gasque, A. W. (Ed.6). 2010. APA style. Washington, DC: American Psychological Association. Hadi, S. (2004). Metodologi research. Yogyakarta: Andi. Hurlock, E. B. (1997). Psikologi perkembangan. Jakarta: Erlangga. Kartini., Kartono. (2002). Kamus lengkap psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Kuncoro, W. (2004). Metode ampuh menata pikiran. Diakses dari Mark, L. (1983). Understanding social anxiety, Beverly Hills. Sage Publication. Matindas, D. (2003). Menghilangkan grogi di depan umum. Diakses dari McCroskey, J. (1984). The communication apprehension perspective. Retrieved from Nevid, J. S., Rathus. S. A., Beverly Greene. (ed.3). 1997. Abnormal psychology in a changing world . Prentice Hall, Inc. Opt, S. K., & Loffredo, D. A. (2000). Rethingking communication apprehension: A Myers-Brigs Perspective. The Journal Psychology, 134(5), 556-570. Osborne, J. W. (2004). Kiat berbicara di depan umum untuk ekekutif jalan menuju keberhasilan . Jakarta: Bumi Aksara. Pandiangan, C. V. (2007). Hubungan kecemasan akan menghadapi ujian lisan

  dengan emotion focused coping . Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  Prabandari, Y. S. (1998). Hubungan antara stress dan motif berprestasi dengan depresi pada mahasiswa tingkat lanjut. Jurnal Psikologi, 1, 17-24. Rini, J. F. (2002). Memupuk rasa percaya diri. Diakses dari Roach, K. D. (1999). The influence of teaching assistant willingness to

  Rogers, N. (2004). Berani Bicara di Depan Publik. Bandung: Nuansa. Santosa. (1988). Terapi kognitif pendekatan baru bagi penanganan depresi.

  Jakarta: Erlangga. Solso, R. (1988). Cognitive psychology. Sydney: Library of Congress Cataloging. Sugiyono. (2007). Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta. Suharnan, (2005). Psikologi kognitif. Jakarta: Srikandi. Sutoyo. (1987). Berpikir lateral. Jakarta: Erlangga. Triana, R. (2005). Hubungan antara citra raga dengan kecemasan berbicara di

  muka umum. Diakses dar

  VandenBos, G. R. (Ed.1). (2006). APA dictionary of psychology. Washington, DC: American Psychological Association. Williams, J. M. G., Watts, F. N., Macleod, C., Mathews, A. (1990). Cognitive

  psychology and emotional disorders . New York: British Library Cataloguing.

  Wong, S. O. (1993). Personal reflections in using cognitive therapy in working with a depressed woman. Asian Journal of Counseling, 2(2), 87-95.

  

LAMPIRAN A

Skala Uji Coba

Variabel KECEMASAN BERBICARA DI

DEPAN UMUM dan

  

Variabel POLA PIKIR NEGATIF

  

INFORMED-CONSENT

  Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir/ skripsi, kami ingin meneliti mengenai pola pikir dengan kecemasan. Penelitian ini dilakukan melalui penyebaran kuesioner. Oleh karena itu, kami akan memberikan kuesioner yang berisi tentang pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan tema penelitian ini. Anda diminta untuk memberikan respon terhadap pernyataan-pernyataan dalam kuesioner dengan cara memilih beberapa pilihan jawaban yang telah disediakan.

  Kami menjamin kerahasiaan informasi yang Anda berikan. Kami tidak akan mengungkap identitas Anda kepada siapa pun. Informasi yang kami peroleh dari kuesioner ini akan kami laporkan dalam bentuk penghitungan statistik dan kesimpulan dalam format skripsi dan/ atau jurnal ilmiah tanpa mengungkap identitas Anda.

  Setelah Anda menandatangani kesepakatan ini maka artinya Anda telah memahami segala informasi yang diberikan dan memutuskan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

  Anda bebas untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini sebelum berpartisipasi. Anda juga bebas untuk tidak berpartisipasi dan mengundurkan diri dari penelitian ini. Keputusan Anda untuk tidak berpartisipasi tidak akan mempengaruhi apa pun dalam kehidupan anda.

  Kami, Andina Prilajeng Nugraheni, sebagai peneliti di bawah supervisi Dr. Tjipto Susana, M. Si. yang merupakan dosen pembimbing skripsi kami, akan bertanggung jawab dalam proses dan kelancaran penelitian ini sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat.

  

NOTA KESEPAHAMAN

PIHAK I : PENELITI

  Saya yang bertandatangan di bawah ini: Nama : Andina Prilajeng Nugraheni Status : Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  Angkatan 2006 NIM : 069114085 Menyatakan bahwa saya akan menjamin kerahasiaan identitas Anda sebagai responden penelitian. Saya bertanggung jawab atas proses dan kelancaran penelitian ini, termasuk menjaga kenyamanan Anda. Apabila dalam proses penelitian ini Anda mengalami suatu ketidaknyamanan, saya bersedia untuk bertanggung jawab membantu memulihkan ketidaknyamanan Anda.

  PIHAK II : RESPONDEN

  Saya yang bertandatangan di bawah ini: Nama : Umur : Setelah memahami semua informasi yang disampaikan oleh peneliti mengenai hak, kewajiban, dan prosedur penelitian, maka saya menyatakan bersedia untuk terlibat dalam penelitian ini. Saya juga menyatakan bahwa keterlibatan saya bersifat sukarela tanpa paksaan dari pihak mana pun.

  Yogyakarta, 2010 Pihak I,

  Pihak II, ( Andina Prilajeng. N ) ( )

  

SKALA

  Nama : Jenis kelamin : Fakultas : Angkatan :

  Petunjuk: 1.

  Anda dimohon untuk menjawab pernyataan-pernyataan berikut dengan memilih salah satu jawaban yang paling cocok dengan keadaan Anda.

  2. Berilah tanda silang (X) pada kolom jawaban yang tersedia dengan pilihan jawaban sebagai berikut: SS : Bila pernyataan tersebut Sangat Sesuai dengan yang Anda rasakan S : Bila pernyataan tersebut Sesuai dengan yang Anda rasakan TS : Bila pernyataan tersebut Tidak Sesuai dengan yang Anda rasakan STS : Bila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan yang Anda rasakan

  3. Mohon semua pernyataan diisi, usahakan agar jangan sampai ada pernyataan yang terlewat dan jangan lupa memeriksa kembali pernyataan tersebut sebelum dikumpulkan kembali.

4. Seluruh jawaban yang Anda berikan tidak ada yang salah, maka dari itu jawablah seluruh pernyataan sesuai dengan keadaan Anda yang sesungguhnya.

  SELAMAT MENGERJAKAN !

  SKALA - A

  No. Pernyataan SS S TS STS

  1 Pada saat melakukan presentasi di depan kelas, jantung saya seketika berdebar dengan cepat

  2 Sebelum maju presentasi, saya sudah merasa tegang

  3. Pada saat diskusi kelompok untuk membahas tugas kuliah, saya sering merasa takut untuk mengemukakan pendapat atau gagasan.

  4 Saya seringkali mengulang kata atau kalimat ketika menjelaskan materi presentasi di depan kelas

  5 Tangan saya berkeringat ketika berbicara di depan umum

  6 Saya dapat berbicara lancar ketika mengemukakan ide dan gagasan saat diskusi kelompok tugas kuliah

  7 Sebelum mendapat giliran presentasi di depan kelas tiba- tiba perut saya mulas

  8 Saya merasa percaya diri ketika menjawab pertanyaan dari dosen

  9 Pada saat presentasi di depan kelas, saya seringkali lupa mengutarakan beberapa point materi yang sudah dipersiapkan sebelumnya

  10 Saya merasa mampu menjawab semua pertanyaan teman-teman dan dosen tiap kali saya presentasi di depan kelas

  11 Melakukan presentasi sendiri di depan kelas, tidak akan membuat saya merasa sesak nafas

  12 Ketika berbicara di depan umum, saya mengalami kebingungan dan tidak tahu apa yang harus diucapkan dosen di depan kelas, saat kuliah berlangsung.

  14 Kaki saya gemetar ketika berbicara di depan umum

  15 Saya terbata-bata dalam menyampaikan materi presentasi

  16 Saya merasa tenang dalam menjawab pertanyaan dari audiens

  17 Saya menggerak-gerakkan tangan secara otomatis ketika kesulitan menjawab pertanyaan dari peserta kuliah

  18 Saya merasa takut untuk memberikan komentar dalam diskusi kelompok

  19 Saya dapat mengingat semua materi presentasi sehingga dapat menjelaskannya dengan lengkap dan detail

  20 Saya berani mengemukakan pendapat secara lisan saat diskusi kelompok

  21 Saya dapat mengemukakan gagasan atau ide dengan jelas dalam diskusi kelompok

  22 Saya sering berkeringat saat berbicara di depan banyak orang

  23 Saya dapat menjelaskan materi secara runtun ketika presentasi

  24 Saya merasa takut untuk berbicara di depan umum

  25 Saya tetap tenang ketika berbicara di depan orang banyak

  26 Suara saya bergetar saat mempresentasikan makalah

  27 Saya dapat mengingat semua materi presentasi sehingga dapat menjelaskannya dengan lengkap

  28 Saya takut bertanya kepada dosen di depan kelas saat proses perkuliahan berlangsung tiap kali saya presentasi di depan kelas

  30 Saya tidak merasa gugup saat berbicara di depan umum

  31 Ketika berbicara di depan banyak orang, denyut jantung saya tetap normal

  32 Saya sering kehilangan kata-kata ketika ingin menjawab pertanyaan dari dosen

  33 Pada saat presentasi, saya menjadi lupa semua materi yang telah saya pelajari

  34 Tangan saya terasa dingin ketika saya melakukan presentasi di depan kelas

  35 Saya dapat menatap peserta kuliah ketika melakukan presentasi di depan kelas

  36 Saya merasa gelisah menunggu giliran presentasi di depan orang banyak

  37 Saya dapat berbicara di depan umum dengan suara yang cukup jelas

  38 Saya menjelaskan materi presentasi dengan kalimat yang jelas dan terstruktur

  39 Saya tetap tenang ketika mempresentasikan makalah di depan orang banyak

  40 Saya merasa bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dari para responden

  41 Bagi saya pertanyaan-pertanyaan yang sulit menjadi masalah, ketika saya tidak menguasai bahan presentasi

  42 Ucapan saya tetap lancar dan jelas dalam menjawab, walaupun saya tidak mengerti pertanyaan- pertanyaan yang diajukan oleh teman kelompok diskusi

  44 Saya merasa takut bila bentuk pertanyaan yang diajukan audiens, diluar dari bahan presentasi yang saya pelajari

  45 Saya tidak cepat gelisah ketika mendapat pertanyaan yang sulit dalam presentasi di depan kelas

  SKALA

  • –B

  No. Pernyataan SS S TS STS

  1 Saya adalah orang yang tidak mampu untuk mengutarakan ide atau gagasan dalam diskusi kelompok

  2 Dalam pelaksanaan diskusi kelompok besok, teman-teman pasti menertawakan ide dan gagasan saya

  3 Saya pasti mampu menjawab semua pertanyaan dari para audiens

  4 Saya yakin setiap presentasi yang saya lakukan pasti akan selalu berhasil

  5 Saat maju presentasi, saya merasa teman-teman tidak mau mendengarkannya dan sibuk melakukan aktivitas sendiri- sendiri

  6 Saat diskusi kelompok pasti teman-teman menghargai ide dan gagasan saya

  7 Saya gagal dalam presentasi ini berarti saya pasti juga gagal dalam presentasi berikutnya

  8 Dalam presentasi nanti, saya yakin para audiens akan memberikan pertanyaan- kompeten dalam hal berbicara di depan umum

  10 Saya yakin teman-teman tidak tertarik dengan materi presentasi makalah saya

  11 Saya memang bodoh sehingga tidak mampu menjawab pertanyaan ketika presentasi di depan kelas

  12 Saya berpikiran bahwa orang- orang menertawakan saya ketika saya berbicara di depan umum

  13 Saya yakin para audiens menganggap saya terampil dalam berbicara di depan umum

  14 Saya yakin teman-teman sekelas menertawakan pendapat saya saat diskusi kelompok

  15 Saya yakin para audiens puas dengan jawaban saya yang berkaitan dengan pertanyaan mereka

  16 Saya yakin mampu menyampaikan materi dengan jelas dan detail pada setiap presentasi

  17 Saya yakin teman-teman menganggap ide saya tidak menarik

  18 Materi makalah saya sangat sulit, saya pasti gagal dalam presentasi besok

  19 Ketika saya mulai bicara, saya merasa para audiens tidak menyukai presentasi saya

  20 Saya tidak kompeten untuk berbicara di depan banyak orang

  21 Saya merasa teman-teman menyukai gaya presentasi saya

  22 Saya adalah orang yang tidak berguna, sampai-sampai para tetapi presentasi berikutnya pasti akan lebih baik

  24 Ide saya pasti tidak disetujui lagi oleh teman-teman saat diskusi kelompok besok

  25 Saya mampu berbicara di depan umum dengan baik, maka suatu saat saya pasti dapat menjadi pembicara yang berkompeten

  26 Saya pasti tidak bisa menjawab pertanyaan dari para audiens

  27 Saya pasti tidak mampu menyampaikan materi dengan jelas dan detail pada setiap presentasi

  28 Saya yakin para audiens menganggap saya terampil dalam berbicara di depan umum

  29 Saya termasuk orang yang terampil dalam hal berbicara di depan umum

  30 Saya benar-benar gugup berbicara di depan umum

  31 Saya tidak mampu berbicara di depan umum dengan baik, maka suatu saat saya tidak bisa menjadi pembicara yang berkompeten

  32 Teman-teman akan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sulit jika saya presentasi di depan kelas

  33 Dalam diskusi kelompok selanjutnya, saya yakin saya tidak dapat memberikan ide yang baik dan bermutu

  34 Saya yakin dapat memberikan jawaban yang memuaskan saat sesi tanya jawab presentasi

  35 Saya gagal dalam presentasi ini berarti saya pasti juga gagal mampu menjawab pertanyaan dari para audiens

  37 Saya yakin para audiens tertarik dengan materi presentasi saya

  38 Saya yakin mampu memberikan jawaban yang memuaskan pada saat sesi tanya jawab presentasi

  39 Saya tidak sepandai orang lain sehingga saya gagal dalam presentasi ini

  40 Saya berpikir bahwa penonton tidak akan menikmati presentasi saya

  41 Saya berpikir bahwa presentasi yang saya bawakan tidak menarik

  42 Saya yakin bahwa dosen memberikan nilai yang bagus pada presentasi yang saya bawakan

  43 Saya akan gagal mempresentasikan makalah

  44 Saya berpikir bahwa dosen akan memberikan nilai yang jelek atas hasil presentasi yang saya bawakan besok

  45 Saya yakin penonton akan menikmati presentasi yang saya bawakan besok

  

  

Terima kasih atas partisipasi Anda

  

LAMPIRAN B

Uji Reliabilitas Butir

Skala KECEMASAN BERBICARA DI

DEPAN UMUM

  Case Processing Summary N % Cases Valid

  65 100.0 Excluded a .0 Total 65 100.0

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .900

  45 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-

  Total Correlation Cronbach's Alpha if Item

  Deleted

item1 100.34 181.790 .391 .898

item2 100.29 182.804 .309 .899

item3 100.95 182.545 .329 .899

item4 100.74 180.571 .512 .897

item5 100.72 178.922 .498 .897

item6 100.86 183.246 .314 .899

item7 101.25 184.313 .242 .900

item8 100.82 185.559 .190 .900

item9 100.52 182.097 .335 .899

item10 100.66 179.165 .533 .896

item11 101.12 181.985 .369 .898

item12 100.94 179.496 .551 .896

item13 100.83 178.487 .606 .896

item14 101.05 179.826 .486 .897

item15 101.00 180.719 .548 .897

item16 100.52 175.878 .095 .929

item17 100.40 181.088 .441 .898

item18 101.05 183.670 .341 .899

item19 100.46 183.002 .330 .899

item20 101.08 183.791 .390 .898

item21 100.94 184.684 .284 .899

item22 100.82 177.590 .524 .896

item23 100.74 183.540 .380 .898

item24 100.92 176.072 .627 .895

item25 100.86 177.465 .606 .895

item26 100.85 176.976 .628 .895

item27 100.58 185.028 .198 .900

item28 100.83 179.799 .578 .896

item29 100.74 179.509 .555 .896

  

item33 100.94 183.527 .375 .898

item34 100.68 177.722 .537 .896

item35 101.06 180.809 .508 .897

item36 100.38 180.428 .512 .897

item37 100.94 179.277 .668 .896

item38 100.74 180.727 .531 .897

item39 100.74 177.946 .658 .895

item40 100.55 180.438 .429 .898

item41 99.92 183.853 .281 .899

item42 100.78 181.953 .410 .898

item43 100.80 183.069 .260 .900

item44 100.66 176.040 .541 .896

item45 100.75 180.188 .451 .897

  Case Processing Summary N % Cases Valid

  65 100.0 Excluded a .0 Total 65 100.0

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .930

  41 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-

  Total Correlation Cronbach's Alpha if Item

  Deleted item1 91.32 159.097 .389 .929 item2 91.28 160.266 .293 .930 item3 91.94 159.652 .336 .930 item4 91.72 157.766 .524 .928 item5 91.71 156.085 .515 .928 item6 91.85 160.913 .280 .930 item9 91.51 158.941 .360 .930 item10 91.65 156.826 .519 .928 item11 92.11 159.660 .342 .930 item12 91.92 156.603 .573 .928 item13 91.82 155.465 .641 .927 item14 92.03 156.999 .501 .928 item15 91.98 157.859 .565 .928 item17 91.38 158.240 .453 .929 item18 92.03 160.187 .393 .929 item19 91.45 161.157 .264 .930 item20 92.06 160.215 .458 .929 item21 91.92 161.010 .349 .929 item22 91.80 154.756 .544 .928 item23 91.72 160.672 .383 .929 item24 91.91 153.710 .628 .927 item25 91.85 154.945 .611 .927 item26 91.83 154.018 .662 .927 item28 91.82 157.340 .569 .928 item29 91.72 157.047 .547 .928 item30 91.68 155.035 .552 .928 item31 91.68 154.035 .610 .927 item32 91.80 157.006 .585 .928 item35 92.05 158.138 .509 .928 item36 91.37 157.955 .500 .928 item37 91.92 156.603 .678 .927 item38 91.72 157.891 .545 .928 item39 91.72 155.485 .657 .927 item40 91.54 157.377 .455 .929 item41 90.91 160.616 .307 .930 item42 91.77 159.118 .417 .929 item43 91.78 160.453 .248 .931 item44 91.65 153.857 .532 .928 item45 91.74 157.509 .454 .929

  Case Processing Summary N % Cases Valid

  65 100.0 Excluded a .0 Total 65 100.0

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

  .932

  37 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-

  Total Correlation Cronbach's Alpha if Item

  Deleted item1 81.55 142.157 .343 .932 item3 82.17 142.080 .333 .932 item4 81.95 140.263 .523 .930 item5 81.94 138.434 .530 .930 item9 81.74 141.477 .352 .932 item10 81.88 139.016 .543 .930 item11 82.34 141.915 .350 .932 item12 82.15 139.257 .566 .930 item13 82.05 138.045 .644 .929 item14 82.26 139.009 .536 .930 item15 82.22 140.359 .564 .930 item17 81.62 140.428 .472 .931 item18 82.26 142.571 .390 .931 item20 82.29 142.648 .450 .931 item21 82.15 143.070 .371 .931 item22 82.03 137.249 .554 .930 item23 81.95 142.982 .385 .931 item24 82.14 136.559 .620 .929 item25 82.08 137.635 .609 .929 item26 82.06 136.434 .681 .928 item28 82.05 139.951 .561 .930 item29 81.95 139.295 .569 .930 item30 81.91 137.366 .571 .930 item31 81.91 136.960 .596 .929 item32 82.03 139.312 .603 .929 item33 82.15 142.663 .407 .931 item34 81.89 137.441 .564 .930 item35 82.28 140.735 .499 .930 item38 81.95 140.545 .531 .930 item39 81.95 138.013 .665 .929 item40 81.77 139.899 .454 .931 item41 81.14 142.902 .310 .932 item42 82.00 141.594 .412 .931 item44 81.88 137.172 .499 .931 item45 81.97 139.905 .461 .931

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara tipe kecemasan dengan prestasi belajar statistik mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Jakarta
9
26
78
Tingkat kecemasan mahasiswa berbicara di depan umum dan implikasinya terhadap pengembangan program bimbingan peningkatan kepercayaan diri berbicara di depan kelas
5
22
104
3perbedaan pola pikir antara seniman dan teknisi
0
0
8
Hubungan antara efikasi diri dan prestasi akademik - USD Repository
0
1
115
Hubungan antara perilaku asertif dan kecemasan presentasi proposal penelitian skripsi pada mahasiswa - USD Repository
0
0
134
Hubungan antara pola asuh orang tua otoritatif dan perkembangan kemandirian anak usia pra sekolah di kelompok bermain melati - USD Repository
0
2
111
Hubungan antara kepuasan kerja dengan komitmen organisasi - USD Repository
0
0
61
Hubungan antara dukungan sosial suami terhadap tingkat kecemasan istri dalam menghadapi masa menopause - USD Repository
0
0
120
Hubungan antara Self Regulated Learning dengan prestasi akademis mahasiswa - USD Repository
0
0
120
Deskripsi tingkat kecemasan berbicara di depan kelas siswa kelas X dan kelas XI SMA Fransiskus Bandar Lampung tahun ajaran 2009/2010 - USD Repository
0
1
157
Hubungan antara intensitas mengakses facebook dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa - USD Repository
0
0
135
Hubungan antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja - USD Repository
1
2
99
Hubungan antara adversity quotient dan stres pada mahasiswa yang bekerja - USD Repository
0
0
119
Hubungan antara citra toserba dan loyalitas pada toserba Mirota Kampus Yogyakarta - USD Repository
0
2
95
Regulasi emosi negatif anak indigo - USD Repository
0
0
118
Show more