KEPEMIMPINAN KEGEMBALAAN YESUS DALAM INJIL YOHANES 10:11-15 SEBAGAI MODEL KEPEMIMPINAN PARA FRATER KONGREGASI FRATER BUNDA HATI KUDUS DI INDONESIA DALAM KEHIDUPAN DI ZAMAN SEKARANG

Gratis

0
1
206
4 months ago
Preview
Full text

  

KEPEMIMPINAN KEGEMBALAAN YESUS

DALAM INJIL YOHANES 10:11-15 SEBAGAI MODEL

KEPEMIMPINAN PARA FRATER KONGREGASI FRATER BUNDA

HATI KUDUS DI INDONESIA DALAM KEHIDUPAN

DI ZAMAN SEKARANG

  Oleh : Vinsensius Tnopo NIM: 031124001

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2009

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik i

  

KEPEMIMPINAN KEGEMBALAAN YESUS

DALAM INJIL YOHANES 10:11-15 SEBAGAI MODEL

KEPEMIMPINAN PARA FRATER KONGREGASI FRATER BUNDA

HATI KUDUS DI INDONESIA DALAM KEHIDUPAN

DI ZAMAN SEKARANG

  Oleh : Vinsensius Tnopo NIM: 031124001

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2009

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik ii

iii

iv

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini saya persembahkan kepada: Bapak dan Ibu saya sebagai teladan kepemimpinan dalam hidup saya,

  Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia sebagai komunitas religius yang membentuk saya menjadi religius Frater Bunda Hati Kudus,

  Para konfraterku sekongregasi di Indonesia yang selalu mendukung Perjalanan panggilan dan perutusan studi saya. v

vi

  

MOTTO

  “Hidup ini tak semudah apa yang kita harapkan, namun tak sesulit apa yang kita takutkan. Hidup ini adalah perjuangan menuju titik akhir yang membahagiakan.” (Vinsensius, 10 Juli 1999)

  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”.

  (Filipi 4 : 13) “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku”.

  (Mzmr. 23: 4 ) vii

  ABSTRAK

  Judul skripsi ini adalah “KEPEMIMPINAN KEGEMBALAAN YESUS

DALAM INJIL YOHANES 10: 11-15 SEBAGAI MODEL KEPEMIMPINAN PARA FRATER KONGREGASI FRATER BUNDA HATI KUDUS DI

  INDONESIA DALAM KEHIDUPAN DI ZAMAN SEKARANG”. Judul ini

  dipilih penulis berdasarkan realitas yang terjadi dalam ranah kepemimpinan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia saat ini. Penulis mempunyai kesan bahwa para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia saat ini kurang berkomitmen dengan nilai-nilai panggilan mereka, baik sebagai religius Frater Bunda Hati Kudus maupun sebagai pemimpin dalam kongregasi. Dalam kaitan dengan hal kepemimpinan, para pemimpin kongregasi di satu sisi telah memahami tentang arti kepemimpinan Kristiani dan kepemimpinan religius, namun di lain sisi mereka belum maksimal menghayati dan mengaktualisasikannya dalam praksis kepemimpinan mereka sehari-hari. Realitas ini diperkuat dengan hasil penelitian yang diperoleh, yang pada umumnya para responden yang notabenenya adalah para Frater Bunda Hati Kudus mengungkapkan begitu banyak keprihatinan yang dirasakan dalam kehidupan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus sebagai suatu lembaga religius laikal yang hidup dan berkarya di Indonesia.

  Persoalan mendasar yang menjadi keprihatinan penulisan skripsi ini adalah bagaimana meningkatkan kualitas kepemimpinan para Frater Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia. Penulis berpendapat, perlu adanya suatu upaya yang efektif bagi peningkatan kualitas kepemimpinan ini, sebab apabila suatu lembaga religius memiliki kualitas kepemimpinan yang baik hal itu akan sangat membantu pertumbuhan dan perkembangan kongregasi dan juga akan sangat membantu pertumbuhan dan kesuburan panggilan hidup para anggotanya.

  Dalam menanggapi persoalan tersebut, penulis menilai perlu adanya suatu proses transformasi diri dari para pemimpin kongregasi dan seluruh anggotanya untuk mendalami, membatinkan dan berusaha menghayati serta mengaktualisasikan nilai-nilai kepemimpinan Kristiani dan religius yang bersumber dan berpusat pada kepemimpinan kegembalaan Yesus Kristus Sang pemimpin sejati. Kepemimpinan kegembalaan Yesus sebagaimana di kisahkan dalam Injil Yohanes 10: 11-15 hendaknya menjadi model kepemimpinan para Frater Bunda Hati Kudus dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia. Dalam skripsi ini penulis akan memaparkan nilai-nalai kepemimpinan transformatif yang akan menghantar pada penghayatan nilai-nilai kepemimpinan kegembalaan Yesus sendiri sebagai sumber inspirasi dan sekaligus sebagai spiritualitas kepemimpinan para Frater Bunda Hati Kudus di zaman sekarang yang penuh tantangan dan kesulitan ini.

  Pada bagian akhir, penulis mengusulkan sebuah model pembinaan kerohanian sebagai salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk memperdalam spiritualitas kepemimpinan para Frater Bunda Hati Kudus sebagai seorang pemimpin yang handal di zaman sekarang. Model pembinaan yang penulis maksudkan adalah katekese dengan model pengalaman hidup. Harapan penulis, viii semoga para pemimpin dan para anggota Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia dapat mentransformasikan diri untuk menjadikan kepemimpinan kegembalaan Yesus sebagai model kepemimpinannya dalam mengarungi zaman yang arus negatifnya semakin deras dan tak terelakkan. ix

  

ABSTRACT

  The title of this thesis is” The Shepherd Leadership of Jesus in John 10:11- 15 as a Leadership Model of Holy Heart Mother Fratres in Indonesia Nowadays.” This topic is taken according to the reality which happens inside the Holy Mother Fraters Congregation in the matter of leadership. The writer has an impression that the leaders of congregation in this era are lack of commitment for their mission, whether as fraters or as leaders in congregation. The leaders of the congregation do understand about the core values and the meaning of the christianity leadership and the religious leadership. But in fact, they have not been able to deeply realize and actualize the values that they are believed in into their practical act of leadership in their daily life. This reality is strongly supported by the result of the research. Generally the respondents, who are the members of the congregation, express much of their concern about the life of Holy Heart Mother Fraters Congregation as a religious constitution which lives and act in Indonesia.

  The basic problem of this thesis which becomes the concern of the author is how to improve the leadership quality among the fraters of Holy Heart Mother Congregation in Indonesia. The writer has an opinion that the effective effort to facilitate the improvement is really needed. It is very important because if a religious constitution has its high quality leaders, the growth and the development of the constitution also become better and it means the growth and the development of the members become greater also.

  Concerning this situation, the writer assums that the self transformation from the leaders and the members of the congregation is needed in order to deepen, comprehend, and apply the basic values of christianity and religious leadership which are concentrated and centered to the Jesus Christ’s Shepherd Leadership. The shepherd leadership of jesus as it is written in John 10:11-15 should become the model of leadership to the fraters so that it can improve and develop the skill of the Holy Heart Mother Fraters in Indonesia in doing their mission. In this thesis, the writer will describe the transformative leadership basic values that will lead to deeper comprehension about Jesus’s Shepherd Leadership values as the main inspiration and also as a leadership spirituality for the Holy Heart Mother Fraters in this difficult and full of challenges era.

  In the last part of this thesis, the writer proposes a model of spirituality guidance as an effort to deepen a leadership spirit to the Holy Heart Mother Fraters, so that they can be come reliable leaders. The writer’s guidance is made according to life experiences cathechise. The writer hopes tha the leaders and the members of Holy Heart Mother Fraters will be able to transform themselves into Jesus’s Shepherd Leadership model in facing the life which is full of negative influences that cannot be avoided. x

KATA PENGANTAR

  Puji dan Syukur yang selimpah-limpahnya penulis haturkan ke hadirat Allah Tritunggal Maha Kudus atas berkat, rahmat, dan cinta-Nya yang selalu setia membimbing, menuntun dan menaungi penulis dalam saat-saat yang amat sulit sekalipun, sehingga dapat bangkit dari keterpurukan dan memulai proses penyusunan skripsi ini, yang pada akhirnya dapat terselesaikan dengan baik.

  Skripsi berjudul: “KEPEMIMPINAN KEGEMBALAAN YESUS DALAM

  

INJIL YOHANES 10: 11-15 SEBAGAI MODEL KEPEMIMPINAN PARA

FRATER KONGREGASI FRATER BUNDA HATI KUDUS DI INDONESIA

DALAM KEHIDUPAN DI ZAMAN SEKARANG”. Dalam skripsi ini penulis

  mengangkat keprihatinan yang berkaitan dengan kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia saat ini dan berusaha memaparkan suatu model kepemimpinan Kristiani, yakni kepemimpinan kegembalaan Yesus, yang kiranya dapat dijadikan oleh para Frater Bunda Hati Kudus sebagai model kepemimpinannya dalam kehidupan di zaman sekarang yang penuh tantangan dan kesulitan.

  Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini berkat bantuan dan dukungan dari banyak pihak yang telah memberikan perhatian, dorongan, motivasi dan inspirasi. Maka pada kesempatan ini penulis patut mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Drs. H. J. Suhardiyanto, SJ. selaku Kaprodi sekaligus pembimbing utama yang senantiasa dengan sabar, setia, perhatian dan penuh kasih seorang bapak dalam xi membimbing, mengarahkan, memotivasi dan memberikan masukan serta inspirasi bagi penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

  2. Y. Kristianto, SFK selaku dosen pembimbing akademik dan sekaligus sebagai dosen penguji II yang penuh perhatian dan cinta memotivasi, mendukung serta menyemangati di saat jatuh dalam keterpurukan, sehingga kini boleh berkenan memeriksa dan sekaligus menguji penulisan ini.

  3. Dra. J. Sri Murtini,M.Si., selaku dosen penguji III yang telah berkenan mendampingi dan membimbing penulis dengan penuh perhatian dan cinta yang sekaligus memeriksa skripsi dan menguji penulis.

  4. Bapak-Ibu dosen dan staf prodi IPPAK Universitas Sanata Dharma yang telah mendampingi dengan setia serta menjadi rekan selama penulis melaksanakan studi di IPPAK-FKIP-USD Yogyakarta.

  5. Frater Provinsial Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus beserta dewannya yang telah memberikan kesempatan, dukungan dan motivasi kepada penulis untuk memperkembangkan pengetahuan, kepribadian dan kerohanian selama studi di IPPAK-FKIP-USD Yogyakarta.

  6. Para konfrater komunitas St. Gregorius yang telah memberikan dukungan, perhatian, doa dan motivasi bagi penulis dalam menyelesaikan tugas studi ini.

  7. Para konfrater, Fr. Amatus, Fr. Clemens, Fr. Anton, Fr. Norbertus, Fr. Renatus, Fr. Marselinus, Fr. Maximus, Fr. Roberto, Fr. Arnoldus, Fr. Gilbertus, Fr.

  Asterius dan Fr. Bonavantura yang telah sudi berkenan meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman serta membantu penulis selama menyelesaikan penulisan skripsi ini. xii

  8. Bruder Provinsial MTB dan para Bruder Komunitas Ngadikan Kotabaru serta Komunitas Novisiat Banguntapan Yogyakarta yang telah berkenan memberikan tumpangan, perhatian, dorongan, motivasi, doa dan kasih persaudaraan yang begitu tulus sehingga penulis terbantu untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini.

  9. Konfraterku seperjuangan: Fr. Wiliam, Fr. Kardinus dan Fr. Paskalis yang senantiasa memberikan dukungan, motivasi, doa, perhatian dan kasih persaudaraan yang tulus selama ini sehingga pada akhirnya bisa menyelesaikan perjuangan studi di Yogyakarta.

  10. Semua rekan-rekan seangkatan 2003 yang walaupun sudah berpisah, namun selalu dengan caranya masing-masing, mendukung, memotivasi, mendoakan dan menguatkan penulis sehingga pada akhirnya berhasil menyelesaikan studi di IPPAK tercinta ini.

  11. Adikku Magdalena Mada Hede yang selalu setia menemani dan memberikan semangat, motivasi, doa, perhatian dan kasih yang tulus bagi penulis dalam menyelesaikan penulisan ini.

  12. Semua pihak yang penulis tidak sebut pada tulisan ini yang dengan caranya sendiri telah membantu penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

  Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Karena itu, dengan senang hati dan terbuka penulis menerima segala kritik dan saran demi penyempurnaan dan pengembangan lebih lanjut. Penulis berharap semoga skripsi ini menjadi sumbangan pemikiran bagi siapa saja yang belajar xiii menjadi seorang pemimpin yang handal dan berspiritualitas sebagai gembala bagi dirinya maupun bagi orang lain.

  Yogyakarta, 25 Agustus 2009 Penulis,

  Vinsensius Tnopo xiv

DAFTAR ISI

  

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………. i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………………. ii

HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………….. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………………………………….. v

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ………………………... vi

MOTTO …………………………………………………………………….. vii

ABSTRAK …………………………………………………………………. Viii

ABSTRACT ……………………………………………………………….. x

KATA PENGANTAR …………………………………………………….. xi

DAFTAR ISI ………………………………………………………………. xvi

DAFTAR SINGKATAN ………………………………………………….. xxi

BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………………

  1 A. Latar Belakang ………………………………………………………

  1 B. Rumusan Permasalahan ……………………………………………..

  6 C. Tujuan Penulisan ……………………………………………………

  6 D. Manfaat Penulisan …………………………………………………..

  7 E. Metode Penulisan …………………………………………………….

  7 F. Sistematika Penulisan ………………………………………………..

  7 BAB II. SEKILAS TENTANG KONGREGASI FRATER BUNDA

   HATI KUDUS DAN SITUASI UMUM KEPEMIMPINAN RELIGIUS DI INDONESIA DI ZAMAN SEKARANG ……….

  9 A. Sejarah Berdirinya Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus …………..

  9 1. Mengapa di sebut Frater, bukan Bruder? ………………………....

  15 2. Mengapa Bunda Hati Kudus ……………………………………...

  15 B. Spiritualitas Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus …………………

  17 C. Pengertian Kepemimpinan …………………………………………..

  19 1. Kepemimpinan Menurut Para Ahli ……………………………….

  19 2. Kepemimpinan Religius …………………………………………..

  20 xv

  xvi

  36

  32 6. Menyesuaikan Unsur-unsur Positif ……………………………...

  32 7. Memberi Inspirasi ……………………………………………….

  33 8. Orang yang Memperbaharui Diri Terus-menerus …………….....

  33 F. Gaya Kepemimpinan ……………………………………………….

  35 1. Kepemimpinan Otoriter ………………………………………….

  36 2. Kepemimpinan Paternalistik ……………………………………..

  36 3. Kepemimpinan Demokratis ……………………………………...

  4. Kepemimpinan Bebas ……………………………………………

  31

  36 5. Kepemimpinan Birokratis ……………………………………….

  37

  6. Kepemimpinan Permisif …………………………………………

  37

  7. Kepemimpinan Partisipatif ………………………………………

  37 G. Situasi dan tantangan Kepemimpinan Religius ……………………

  38 1. Tidak terjadinya proses inkorporasi ……………………………...

  5. Menafsir Tanda-tanda Zaman ……………………………………

  31 4. Kasih dan Percaya ………………………………………………..

  a. Kepemimpinan Religius menurut Kitab Hukum Kanonik ……

  2. Memberikan Bimbingan …………………………………………

  20 b. Kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus ..

  24 1). Kepemimpinan Mgr. A. I. Schaepman ………………….

  24 2). Kepemimpinan menurut Konstitusi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus ………………………………………

  28 D. Fungsi Kepemimpinan ……………………………………………...

  28

  1. Fungsi Mengambil Inisiatif ………………………………………

  29

  29

  30 3. Hormat terhadap Pribadi ………………………………………....

  3. Mengatur …………………………………………………………

  29 4. Memberikan Informasi …………………………………………..

  29 5. Memberi Motivasi ………………………………………………..

  29 6. Memberikan Penilaian …………………………………………...

  29 E. Karakteristik Kepemimpinan Religius ……………………………...

  29

  1. Melindungi Kharisma Pendiri ……………………………………

  30 2. Memajukan Kesatuan dan Persatuan …………………………….

  38

  2. Adanya kelekatan yang tak teratur ………………………….........

  38 3. Adanya hukum senang …………………………………………...

  38 4. Adanya kebutuhan psikologis tertentu …………………………...

  39

  5. Adanya sistem senioritas …………………………………………

  39 6. Adanya segi fisik dan kemampuan yang semakin menurun ……..

  40 7. Adanya nafsu duniawi dan nafsu kedagingan …………………....

  40 BAB III. TAFSIRAN INJIL YOHANES 10: 11-15 SEBAGAI INSPIRASI KEPEMIMPINAN KRISTIANI ………………...

  42 A. Konteks Injil Yohanes ……………………………………………...

  43 B. Struktur injil Yohanes ……………………………………………....

  43 C. Tafsir Injil Yohanes ………………………………………………...

  44 D. Pesan injil Yohanes ………………………………………………...

  45 1. Fokus utama pemimpin gembala ………………………………...

  50 2. Karakteristik pemimpin gembala ………………………………..

  51 3. Gembala yang mengenal domba-dombanya ………………….....

  51 4. Kehadiran dan kesiapsediaan gembala …………………………..

  53

  5. Gembala memimpin di depan ……………………………………

  54 6. Gembala itu harus berani ………………………………………...

  54 7. Gembala itu menuntun dan membimbing ……………………......

  56

  8. Gembala itu peduli pada domba yang hilang atau tersesat ………

  56 BAB IV. KEBERADAAN KONGREGASI FRATER BUNDA HATI KUDUS DI INDONESIA ………………………………..

  58 A. Latar Belakang Sejarah Masuknya Kongregasi Frater Bunda Hati

  Kudus di Indonesia …………………………………………………

  58 1. Tujuan misi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia ...

  60 2. Keanggotaan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia ..

  63 B. Persiapan Penelitian ………………………………………………...

  65 1. Permasalahan Penelitian ………………………………………….

  65 2. Tujuan Penelitian ………………………………………………....

  65 3. Manfaat Penelitian ………………………………………………..

  66

  4. Metodologi Penelitian ……………………………………………

  66 a. Pendekatan penelitian ………………………………………....

  67

  b. Tempat dan waktu penelitian …………………………………

  67 xvii

  c. Responden penelitian ………………………………………….

  67

  d. Teknik pengumpulan data dan instrument penelitian …………

  68 e. Teknik analisa data …………………………………………....

  68 f. Keabsahan data ………………………………………………..

  69

  5. Laporan Hasil Penelitian …………………………………………

  69

  a. Temuan Umum : Komunitas para frater yang ada di Surabaya, Kediri dan Malang Jawa Timur .……………………………...

  69 b. Temuan Khusus: Hasil wawancara …………………………...

  75 c. Pembahasan Penelitian ………………………………………..

  81 d. Kesimpulsan Penelitian ……………………………………….

  86 BAB V. USULAN KATEKESE BAGI PARA FRATER BUNDA

   HATI KUDUS SEBAGAI UPAYA MENGEMBANGKAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF ……………………..

  88 A. Kepemimpinan Transformatif sebagai Model Kepemimpinan yang

  diharapkan Kongregasi Frater Bunda hati Kudus di Indonesia di Zaman Sekarang …………………………………………………….

  90

  1. Kepemimpinan Transformatif ……………………………………

  90 a. Pengertian transformasi ……………………………………….

  90 b. Pengertian kepemimpinan transformatif ……………………...

  90 2. Kemampuan Dasar Kepemimpinan Transformatif ……………...

  93 3. Spiritualitas Kepemimpinan Transformatif ……………………...

  95 a. Kepemimpinan sebagai gembala ……………………………...

  96

  b. Kepemimpinan sebagai pelayan ………………………………

  98 c. Kepemimpinan sebagai pengurus rumah tangga ……………...

  99 B. Kepemimpinan Transformatif dalam praksis di Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia ……………………………………. 102

  1. Transformasi dalam diri sang pemimpin ………………………... 102

  2. Transformasi dalam komunitas …………………………………. 103

  3. Transformasi dalam karya kerasulan ……………………………. 104

  C. Katekese Sebagai Salah Satu Upaya Mewujudkan Pola Kepemimpinan Yang Transformatif Bagi Para Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia………………………………………………… 105 xviii

  1. Pokok-pokok Katekese …………………………………………. 105

  a. Arti/ pengertian katekese ……………………………………... 105

  b. Tujuan pokok katekese ……………………………………….. 106

  c. Isi pokok katekese ……………………………………………. 108

  d. Model-model katekese ……………………………………….. 109

  2. Pemilihan Katekese Model Pengalaman Hidup ………………… 110

  a. Alasan pemilihan katekese model pengalaman hidup ……….. 110

  b. Langkah-langkah model katekese pengalaman hidup ……….. 112

  D. Program Katekese ………………………………………………….. 114

  1. Pengertian Program ……………………………………………... 114

  2. Pemikiran Dasar Program Katekese ...…………………………… 115

  3. Usulan Tema Katekese …………………………………………... 117

  4. Matriks Program Katekese ………………………………………. 119

  5. Contoh Persiapan Katekese I …………………………………….. 124

  a. Identitas katekese ……………………………………………... 124

  b. Pemikiran dasar ………………………………………………. 125

  c. Pelaksanaan pertemuan katekese ……………………………... 128

  6. Contoh Persiapan Katekese II …………………………………… 140

  a. Identitas katekese …………………………………………….. 140

  b. Pemikiran dasar ………………………………………………. 141

  c. Pelaksanaan pertemuan katekese …………………………….. 144

  

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………... 157

A. Kesimpulan ………………………………………………………… 157 B. Saran ……………………………………………………………….. 159

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………. 162

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat permohonan wawancara kepada para Frater ………

  (1) Lampiran 2 : Daftar nama subyek yang diwawancara ………………… (2) Lampiran 3 : Daftar pertanyaan wawancara …………………………… (3) Lampiran 4 : Pokok-pokok jawaban subyek wawancara ……………… (4) Lampiran 5 : Cerita “Kebijaksanaan Sang Abdis Tua”. ……………….. (17) xix

  Lampiran 6 : Grafik Jumlah Frater Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus ………………………………………………. (19) xx xxi

  DAFTAR SINGKATAN Berikut ini adalah daftar singkatan berdasarkan urutan alfabetik.

  AC Art.

  : :

  Angelus Custos Artikel

  Ay : Ayat Bdk. : Bandingkan BHK : Bunda Hati Kudus CMM : Congregatio Matris Misericordiae CT : Catechesi Tradendae Dsb. : Dan sebagainya Flp Fr.

  : :

  Seruan Rasul Paulus kepada kepada jemaat di Filipi Frater

  Gal : Surat rasul Paulus kepada jemaat di Galatia Kel : Kitab Keluaran KHK : Kitab Hukum Kanonik Kis : Kisah para rasul KKN : Korupsi, Kolusi dan Nepotisme Kor : Surat Rasul Paulus kepada umat di Korintus Konst. : Konstitusi Para Frater Bunda Hati Kudus yang disyahkan oleh pemimpin umum Fr. Wilfried van der

  Poll, 31 Mei 1997. KWI : Konferensi Waligereja Indonesia Luk Mat

  : :

  Injil Lukas Injil Mateus

  MB : Madah Bakti Mgr. : Monseigneur MSC : Micionari Sacro Corde Mzm : Kitab Mazmur No. : Nomor xxii NTT : Nusa Tenggara Timur PAK : Pendidikan Agama Katolik PIA : Pendampingan Iman Anak PIR : Pendampingan Iman Remaja PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia Pr Ptr SCP

  : : :

  Projo Surat Rasul Petrus

  

Shared Christian Praxis

  SDK : Sekolah Dasar Katolik SMPK : Sekolah Menengah Pertama Katolik SMUK : Sekolah Menengah Umum Katolik SPG SJ Ul

  : : :

  Sekolah Pendidikan Guru Serikat Jesus Kitab Ulangan

  USD : Universitas Sanata Dharma Yer : Kitab Yeremia Yoh : Injil Yohanes

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kepemimpinan merupakan suatu topik yang sangat hangat dan menarik untuk

  diperbincangkan, didiskusikan dan diperdebatkan. Salah satu peristiwa yang sempat menyedot perhatian sebagian besar masyarakat di planet bumi ini adalah peristiwa pesta demokrasi di Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara adidaya (negara super

  

power ). Dalam pesta demokrasi yang sangat fantastis dan penuh persaingan yang amat

  ketat tersebut terpilihlah Barak Hussein Obama, putera keturunan Afrika-Amerika sebagai presiden Amerika Serikat yang ke-44. Terpilihnya Presiden Barak Obama ini telah menorehkan dalam lembaran sejarah panjang Amerika Serikat sebagai orang non kulit putih pertama yang berhasil mendiami Gedung Putih sebagai lambang kekuasan negara Pamansam. Selain itu Pesiden Obama pun telah mencatatkan diri sebagai presiden Amerika Serikat yang pelantikannya dihadiri dan disaksikan oleh undangan dan penonton terbanyak (+ 2 juta orang) dengan pengamanan super ketat, (Kompas Selasa, 21/01/2009).

  Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Presiden Barak Obama sebagai orang non kulit putih yang notabene merupakan kelompok minoritas berhasil meraih sukses sebagai orang nomor satu di negara super power tersebut? Tentu saja ada banyak hal yang mendukung kesuksesan Presiden Obama ini. Salah satunya karena ia tampil pada saat yang tepat yakni saat rakyat Amerika dan dunia terjerumus dalam krisis dimensional yang sangat mengkhawatirkan, yang merupakan dampak dari krisis kepemimpinan yang muncul selama resim pemerintahan Presiden George W. Bush berkuasa. Dalam situasi krisis yang sedemikian parah tersebut tampillah Presiden Barak Obama sebagai orang muda yang punya idealisme untuk menjadikan Amerika Serikat mengalami lahir baru dengan mengusung tema kempanye “Perubahan” (Change We

  Can Believe In ).

  Dengan tema kampanye “Perubahan” ini, Presiden Barak Obama yang didukung oleh kepiaweannya sebagai seorang orator ulung dan dengan persona yang penuh pesona dan karisma telah berhasil meyakinkan dan membangkitkan pengharapan dan kerinduan rakyat Amerika serta masyarakat di seluruh belahan dunia akan suatu peradaban kehidupan yang penuh harmoni, damai, tenteram dan sejahtera. Dan bukan sebaliknya peradaban kehidupan yang penuh ketakutan, permusuhan, penderitaan, dan kesengsaraan sebagaimana telah diwariskan oleh resim pemerintahan sebelumnya melalui paham imperialismenya.

  Idealisme Presiden Barak Obama ini terungkap melalui pidato yang disampaikannya ketika ia mengumumkan diri sebagai calon presiden Amerika Serikat.

  Dalam pidatonya itu ia mengatakan bahwa : “Jika anda ingin bergabung dalam pencarian mustahil ini, merasa takdir telah memanggil, melihat sebagaimana saya melihat masa depan yang membentang di depan kita, merasakan sebagaimana saya merasakan bahwa sekarang telah tiba saatnya kita bangun dari tidur panjang, menanggalkan ketakutan, berbuat yang terbaik untuk melunasi hutang kita kepada generasi yang telah lewat dan generasi yang akan datang, maka saya siap menerima tugas itu dan berjalan serta bekerja bersama Anda semua. Mulai hari ini, kita akan bersama-sama menyelesaikan pekerjaan yang sangat dibutuhkan untuk mengantarkan kelahiran kebebasan baru di bumi ini” (Abdilah Toha, 2008: 129). Dalam kepemimpinan bangsa dan negara kita sebagaimana kita saksikan setiap saat, baik melalui media cetak maupun media elektronik, di mana para pemimpin kita mulai dari tataran paling atas sampai tataran paling bawah satu persatu mulai terseret ke pengadilan akibat terjerat kasus korupsi. Hal ini sangat bertentangan dengan harkat dan martabat bangsa kita sebagai bangsa yang berke-Tuhanan dan berbudaya.

  Bangsa kita ini dengan pemimpin-pemimpinnya mengalami krisis integritas yang begitu parah yang patut mendapatkan perhatian serius dari berbagai elemen masyarakat untuk memperbaiki situasi ini dengan memilih pemimpin yang berintegritas baik, berkualitas, berani melakukan perubahan dan mau mengabdi serta melayani demi terwujudnya masyarakat yang makmur, tenteram, damai dan sejahtera. Oleh karena itu sangat diharapkan agar para pemimpin kita yang telah terpilih dalam pemilu tanggal, 9 April 2009 yang lalu, kiranya dapat sungguh-sungguh menunjukkan integritas dirinya sebagai pemimpin yang amanah demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

  Ranah kehidupan menggereja di era post-modern saat ini pun tidak terluput dari krisis-krisis serupa terutama krisis kepemimpinan yang hampir dialami dan dirasakan di setiap lembaga Gereja konkritnya lembaga religius. Dalam hal ini tidak bisa dipungkiri, bahwa lembaga-lembaga Gereja pada umumnya dan lembaga religius pada khususnya bersama para pemimpinnya, berada pada lembaga yang berpegang teguh pada hirarki nilai transenden dan sekaligus menempatkan diri sebagai pejuang dalam usaha menegakkan dan mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan bermasyarakat dan menggereja pun toh mengalami jatuh bangun.

  Dalam menghadapi situasi jatuh bangun tersebut para pemimpin dan warga perlu berdiam sejenak dan bertanya dalam hati, apa sesungguhnya penyebab terjadinya semuanya itu? Jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa dilepaskan dari manusia sebagai subyek pos-modern itu sendiri. Dalam hal ini Prasetyo (2003: 5-6) berkata:

  Situasi negatif yang timbul dari era post-modern ini mengakibatkan juga adanya kelemahan dan kerapuhan pribadi, termasuk para pemimpin religius: dalam tataran kognitif berupa kekaburan sistim nilai, dalam tataran penghendakan berupa kelesuan (burn-out) dan dalam tataran afektif berupa kemenduaan hati, perang batin, keretakan yang membuat gelisah dan tidak tenang. Ini semua pada gilirannya mempengaruhi sistim motivasi seseorang, karena membentuk kekuatan batin (inner power) pada taraf yang tidak dewasa. Dari situlah mulai hilangnya segi misteri manusia, terhukum oleh budaya post-modern, atau hanya tinggal implisit. Manusia kehilangan aspek ketinggian, kedalaman dan keluasan kepribadian dan misterinya, dan inilah sesuatu yang perlu dikembalikan melalui gerak kepemimpinan religius, yakni panggilan untuk mengambil bagian dalam kepemimpinan Yesus.

  Mengambil bagian dalam kepemimpinan Yesus berarti, dalam keadaan apapun ia harus selalu berusaha memimpin “bersama dan seperti Yesus”. Dalam hal ini ia harus menjadikan pola kepemimpinan Yesus sebagai model kepemimpinannya. Namun kenyataan sekarang menunjukkan, bahwa pola kepemimpinan para pemimpin Gereja, khususnya para pemimpin religius di zaman ini amat jauh dari apa yang diharapkan oleh orang-orang yang dipimpinnya, karena seringkali mereka memimpin berdasarkan apa yang menjadi obsesi pribadinya. Hal ini seringkali disebabkan oleh pemahaman para pemimpin akan arti dan makna terdalam dari kepemimpinan itu sendiri, di mana kepemimpinan bukan dipahami dan diterima sebagai sebuah fungsi untuk mengabdi dan melayani demi terwujudnya kedamaian, kerukunan, ketenteraman, kesejahteraan dan keharmonisan para anggotanya, melainkan dijadikan sebagai status, kekuasaan dan jenjang karier yang harus dipertahankan dengan menghalalkan berbagai macam cara demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Berkaitan dengan hal ini rasul Petrus berkata:

  Aku menasihatkan para penatua di antara kamu ......: Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu (1 Ptr. 5:1-3).

  Salah satu model kepemimpinan sejati yang patut dijadikan model kepemimpinan dalam Gereja dan tarekat religius di zaman sekarang adalah model kepemimpinan kegembalaan Yesus. Dalam hal ini teladan kepemimpinan kegembalaan Yesus harus menjadi “roh” yang menggerakkan setiap pemimpin dalam membantu para anggotanya mencapai kedewasaan iman dan cinta serta baktinya kepada Tuhan yang mewujud dalam pemberian diri kepada sesama di sekitarnya. Dalam kepemimpinannya pemimpin tidak boleh mengukur dan menilai semata-mata berdasarkan perspektifnya sendiri, tetapi harus dengan penuh kerendahan hati dan dalam keheningan batin mau mendengarkan dalam hatinya apa yang dikehendaki Tuhan dan dari diri sesama anggotanya sebagai satu kesatuan yang integral. Berkaitan dengan hal ini para anggota pun dituntut agar mau terbuka untuk membantu dan mendukung pemimpinnya dalam menjalankan tugas kepemimpinannya dengan menciptakan komunikasi timbal- balik yang sehat dan jujur antar satu sama lain, sehingga dengan demikian apa yang menjadi cita-cita tarekat dapat tercapai dan dapat membahagiakan semua.

  Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus sebagai salah satu lembaga religius laikal yang berpusat di Indonesia (Malang Jawa Timur) dalam perkembangannya hingga saat ini sebagai anak zaman tidak terlepas dari tantangan dan pengaruh-pengaruh yang dilahirkan oleh zaman pos-modern saat ini, sebagaimana telah dipaparkan di atas.

  Dalam hal ini para Frater Bunda Hati Kudus dalam menjalankan tugas perutusan sehari-hari baik sebagai pemimpin maupun sebagai yang dipimpin kerap mengalami krisis, baik krisis kepemimpinan maupun krisis identitas serta kualitas diri sebagai orang terpanggil sebagaimana digambarkan di atas.

  Sejalan dengan krisis kepemimpinan yang terjadi di zaman sekarang dan bagaimana upaya para Frater Bunda Hati Kudus menjawab persoalan-persoalan yang muncul dalam kepemimpinan tarekat, maka penulis memilih judul skripsi

  

“Kepemimpinan Kegembalaan Yesus dalam Injil Yohanes 10:11-15 sebagai

Model Kepemimpinan para Frater Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di

Indonesia dalam Kehidupan di Zaman Sekarang”.

  B. RUMUSAN PERMASALAHAN

  Berdasarkan latar belakang pemilihan tema di atas maka penulis merumuskan pokok permasalahan sebagai berikut :

  1. Kepemimpinan Kristiani yang bagaimanakah yang kiranya dapat dijadikan model kepemimpinan para Frater Bunda Hati Kudus di zaman sekarang?

  2. Gambaran kepemimpinan yang bagaimanakah yang didambakan oleh para Frater Bunda Hati Kudus di zaman sekarang?

  3. Usaha macam apakah yang dapat membantu para Frater Bunda Hati Kudus dalam upaya menghayati Kepemimpinan Transformatif untuk zaman sekarang?

  C. TUJUAN PENULISAN

  Tujuan penulisan skripsi ini adalah :

  1. Membantu para Frater Bunda Hati Kudus untuk semakin memahami secara benar serta mendalam arti dan makna kepemimpinan kegembalaan Yesus dalam Injil Yohanes 10:11-15 dan relevansinya bagi kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di zaman sekarang.

  2. Memotivasi para Frater Bunda Hati Kudus untuk semakin memahami, memaknai dan mengaktualisasikan nilai-nilai Kepemimpinan Kegembalaan Yesus dalam kepemimpinannya sehari-hari.

  3. Memberikan sumbangan pendampingan melalui katekese agar dapat membantu para Frater Bunda Hati Kudus dalam upaya menghayati, mengaktualisasikan dan mengembangkan kepemimpinan transformatif dalam kehidupan di zaman sekarang.

  4. Untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan Sarjana Strata 1 Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Pendidikan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  D. MANFAAT PENULISAN

  Adapun manfaat penulisan skripsi ini sebagai berikut :

  1. Memperkaya dan memperdalam pemahaman serta penghayatan penulis akan teladan Kepemimpinan Kegembalaan Yesus.

  2. Memberikan sumbangan pemikiran bagi para pembaca teristimewa bagi para pemimpin dan segenap anggota Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus agar dapat menjadikan Kepemimpinan Kegembalaan Yesus sebagai model dan sumber inspirasi dalam menjalankan tugas perutusan sebagai pemimpin dalam kehidupan sehari-hari.

  3. Membangun kesadaran dan perspektif baru bagi para pembaca teristimewa para Frater Bunda Hati Kudus akan pentingnya nilai-nilai keutamaan Yesus sebagai teladan kepemimpinan sejati dalam mengahadapi tantangan hidup di era pos- modern saat ini.

  E. METODE PENULISAN

  Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif-analisis atas sebuah studi pustaka dari berbagai buku referensi karangan ilmiah yang berkaitan dengan tema yang diangkat penulis. Selain itu, penulis juga berusaha menggali konteks permasalahan, yakni pemahaman, pengalaman dan harapan-harapan para Frater Bunda Hati Kudus akan situasi konkrit kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia di zaman sekarang dengan menggunakan metode wawancara.

  F. SISTEMATIKA PENULISAN

  Skripsi ini, akan dijabarkan menjadi lima bab, sebagai berikut:

  Bab I merupakan bagian pendahuluan yang meliputi latar belakang penulisan, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

  Bab II membahas sejarah singkat berdirinya Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, spiritualitas Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus. Selanjutnya bab ini akan menggali pengertian kepemimpinan menurut para ahli, kepemimpinan religius menurut Kitab Hukum Kanonik, kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, yakni kepemimpinan Mgr. A. I. Schaepman dan kepemimpinan menurut Konstitusi Frater Bunda Hati Kudus, karakteristik kepemimpinan religius, situasi dan tantangan kepemimpinan religius di zaman sekarang.

  Bab III membahas konteks Injil Yohanes 10:11-15, sebagai sumber ispirasi kepemimpinan kristiani, yang akan mencakup: struktur Injil Yohanes 10:11-15, tafsir Injil Yohanes 10:11-15 dan pesan Injil Yohanes 10:11-15

  Bab IV tentang keberadaan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia yang meliputi latar belakang sejarah masuknya Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia dan persiapan penelitian yang mencakup permasalahan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian dan laporan hasil penelitian.

  Bab V berisi usulan model kepemimpinan yang seharusnya diupayakan oleh Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di zaman sekarang, yang akan dicapai lewat pertemuan katekese terprogram dengan model katekese pengalaman hidup. Bab VI adalah bagian penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II SEKILAS TENTANG KONGREGASI FRATER BUNDA HATI KUDUS DAN SITUASI UMUM KEPEMIMPINAN RELIGIUS DI INDONESIA DI ZAMAN SEKARANG A. Sejarah Berdirinya Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus Congregatie van de Fraters van Onze Lieve van het Heilig Hart atau Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus adalah suatu kongregasi bruder Belanda, yang

  merupakan komunitas pria religius yang bukan imam. Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus didirikan pada tanggal, 13 Aguatus 1873 oleh Mgr. Andreas Ignatius Schaepman (1815-1882), Uskup Agung Utrecht, di kota Utrecht Belanda. Maksud dari Mgr. A. I. Schaepman mendirikan kongregasi ini adalah untuk menyediakan guru-guru bagi sekolah-sekolah Katolik yang baru didirikannya (van Vugt, 2005: 31).

  Penambahan sekolah Katolik di kota Utrecht ini merupakan wujud tanggapan Mgr. Schaepman terhadap himbauan Surat Gembala tentang pendidikan yang dikeluarkan oleh para uskup Belanda yang turut ditandatanganinya. Dalam Surat Gembala, yang diterbitkan pada tahun 1868, para uskup Belanda menolak secara tegas pendidikan sekolah negeri yang netral dan tak berdasarkan agama. Melalui Surat Gembala tersebut para uskup mau menjelaskan kepada umat Katolik bahwa hanya sekolah Katoliklah yang cocok dan aman bagi pendidikan anak-anak mereka.

  Walaupun di kota Utrecht pada waktu itu tidak mengalami kekurangan guru, namun pada tahun 1870 Mgr. Schaepman tetap berusaha untuk menarik beberapa bruder dari kongregasi bruder yang sudah ada di Belanda untuk sekolah-sekolah yang didirikannya. Pertimbangan utamanya ialah kehadiran para religius guru ini akan semakin memperkuat sifat keagamaan sekolah-sekolah Katolik tersebut. Selain maksud tersebut, Mgr. Schaepman juga memiliki motivasi lain yang lebih mendasar yakni agar para religius rela bekerja dengan gaji yang lebih kecil bila dibandingkan dengan gaji tenaga awam. Pertimbangan ini memang sangat penting berhubung pada waktu itu sekolah-sekolah swasta (Katolik dan Protestan) belum diperbolehkan untuk mendapatkan subsidi dari pemerintah. Dengan melihat situasi yang amat berat ini, Mgr. Johanes Zwijsen, seorang rekannya di Den Bosch, menulis surat kepadanya bahwa “Rupanya keadaan di kota Utrecht menjadi sungguh kacau; keinginan besar untuk menambah sekolah Katolik kini menimbulkan kesulitan besar bagi Monsenyiur sehingga mungkin sekolah-sekolah itu akhirnya tak bisa dipertahankan…” (van Vugt, 2005: 32).

  Ketika Mgr. A. I. Schaepman tidak berhasil membujuk salah satu kongregasi bruder yang telah ada di Belanda untuk datang ke kota Utrech, akhirnya beliau memutuskan untuk mendirikan sendiri suatu kongregasi bruder menurut model yang telah berhasil yakni Kongregasi Fraters van Onze Lieve Vrouw, Moeder van Barmhartigheid, yang lebih dikenal dengan sebutan “Fraters van Tilburg” atau yang kita kenal di kota Yogyakarta dengan nama “Frater CMM”, yang didirikan oleh Mgr. J.

  Swijsen pada tahun 1844. Melalui suatu surat edaran yang dikirim kepada semua dekenat di keuskupannya, Mgr. Schaepman memohon agar mereka mengajukan calon- calon yang cocok bagi kongregasi baru yang dirintisnya.

  Pada tahun 1871 Mgr. Schaepman bertemu dengan seorang pemuda bernama Antonius Vonk (1847-1914) dari Amsterdam. Kemudian dengan Bernard Hollak (1841- 1915) dari Zwolle kota asal Monsenyiur, dan Gerbrandus de Leeuw (1845- 1880) dari Groningen. Kepada ketiga pemuda itu Mgr. Schaepman meyakinkan mereka bahwa masa depan mereka berada dalam kongregasi baru yang didirikannya itu.

  Akhirnya pada tahun 1871 Antonius Vonk dan Bernard Hollak, diperkenankan menerima busana biara dengan nama Fr. Bonifacius Vonk dan Fr. Wililbrordus Hollak. Pada tahun 1872 Gerbrardus de Leeuw menyusul mereka dengan nama Fr. Gregorius de Leeuw. Tiga orang frater ini merupakan pioner bagi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus yang pada ulang tahunnya ke 127 telah memiliki anggota sekitar 1200 orang frater (van Vugt, 2005: 32).

  Sesudah menerima busana biara, ketiga frater pioner ini harus mengikuti tahun novisiat yang diwajibkan menurut hukum Gereja dan mengenal praktek sehari-hari hidup membiara. Maka langkah selanjutnya adalah ketiga frater ini dikirim ke rumah induk Kongregasi Frater CMM di kota Tilburg untuk menjalani masa pembinaannya.

  Pada tahun 1873 ketiga frater menyelesaikan masa pembinaannya dan mereka kembali ke kota Utreht. Mereka bertiga tinggal dan hidup bersama di sebuah gedung di Ganzenmarkt (terletak di belakang balai kota Utrecht), yang beberapa tahun kemudian mereka pindah ke Herenstraat, tempat rumah induk Provinsi Belanda sampai sekarang.

  Pada taggal 13 Agustus 1873 dalam suatu upacara misa yang sederhana diangkatlah Frater Bonifacius Vonk oleh Mgr. Schaepman sebagai pemimpin/ Overste bagi anggota kongregasi yang baru dibentuknya itu. Peristiwa ini dianggap sebagai hari kelahiran kongregasi, di bawah perlindungan “Bunda Hati Kudus” sebagai pelindung utama kongregasi. Dengan demikian tanggal 13 Agustus 1873 ini selalu diperingati sebagai hari lahirnya Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus sampai sekarang (van Vugt, 2005: 55).

  Mgr. Schaepman dalam mendirikan kongregasi ini, memiliki gambaran bentuk yang khas yang akan diterapkan dalam tarekat barunya itu. Ia hanya ingin mengikuti contoh kongregasi yang sudah ada yakni Kongregasi Frater CMM di Tilburg. Di mana dalam Kongregasi Frater CMM ini diterapkan bentuk campuran yakni ada Frater yang dithabiskan menjadi imam dan ada Frater seumur hidup/ bruder. Maka dalam benak Mgr. Schaepman pun ingin menerapkan bentuk yang sama bagi kongregasinya. Demi terwujudnya maksud tersebut, ia berusaha agar Fr. Bonifacius Vonk dithabiskan menjadi imam dengan terlebih dahulu mengikuti kursus secara kilat untuk mempersiapkan diri sebagai imam. Juga dalam penyusunan Peraturan kongregasi, Mgr.

  Schaepman hanya mengikuti contoh Kongregasi Frater CMM dari Tilburg. Ketiga frater pioner ini diberi suatu versi peraturan Kongregasi Frater CMM yang sudah disesuaikan (van Vugt, 2005: 33).

  Kongregasi-kongregasi yang didirikan pada abad XIX ternyata berkembang dengan baik dan cepat karena mereka memenuhi kebutuhan sosial dan religius yang besar yang sedang bergejolak pada waktu itu. Namun lain halnya dengan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus/ kongregasi van Utrecht. Dalam dua puluh lima tahun pertama kongregasi ini kurang berkembang, penyebab utama adalah karena pribadi dan kepemimpinan Pater Bonifacius Vonk, yang ternyata tidak sanggup menjabat sebagai

  

overste / pemimpin kongregasi. Dampak dari kelemahan ini adalah jumlah frater hampir

  tidak bertambah dan karya pendidikan yang merupakan tujuan pendirian kongregasi tidak banyak berkembang, baik dalam jumlahnya maupun mutunya. Tahun 1891 Pater Vonk pergi dengan diam-diam dan meninggalkan konfrater lainnya dalam kebingungan besar. Akibatnya pada tahun-tahun berikut kongregasi beberapa kali terancam bubar.

  Namun pada permulaan abad XX keadaan kongregasi tiba-tiba sangat membaik. Hal itu antara lain kerena beberapa kali para frater berhasil memilih seorang pemimpin umum yang sangat mampu dalam bidang kepemimpinan. Khususnya Fr. Stephanus Buil (1906-1914) yang merupakan pemimpin yang paling baik di mata para frater.

  Dampak positif dari kepemimpinan Fr. Stephanus Buil ini adalah, jumlah novis semakin meningkat dan mutu pendidikan para frater pun semakin baik. Begitu pula sekolah-sekolah yang ditangani para frater pun semakin meningkat baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Bagi Kongregasi van Utrecht seperti juga bagi kongregasi lainnya, tahun-tahun sesudah Perang Dunia I merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat.

  Pertumbuhan dan perkembangan pesat kongregasi-kongregasi sesudah Perang Dunia I ini disebabkan antara lain oleh “penyamaan finansial” antara pendidikan sekolah swasta (berdasarkan agama) dengan pendidikan sekolah negeri (netral).

  Penyamaan itu adalah hasil perjuangan politik yang panjang oleh kalangan Katolik dan Protestan, yang mencapai hasilnya pada tahun 1917. Maka mulai tahun 1920 sekolah Katolik dan Protestan dibiayai oleh pemerintah sama seperti sekolah negeri. Dengan demikian, masalah keuangan pendidikan sekolah Katolik teratasi. Dengan adanya jaminan subsidi pemerintah ini, sekolah-sekolah Katolik mulai berkembang sehingga hampir semua anak Katolik di Belanda masuk sekolah Katolik.

  Penyamaan finansial yang dilakukan pemerintah itu sangat menguntungkan kongregasi-kongregasi yang menangani karya pendidikan sebagaimana Kongregasi van

  

Utrecht. Kini gaji para frater yang mengajar di sekolahpun sama dengan guru awam

lainnya dan tidak lagi jauh lebih rendah dari seperti dulu lazim untuk kaum religius.

  Keadaan finansial kongregasi-kongregasi pun mulai membaik. Lagi pula antara tahun 1918 - 1940 mereka memperoleh jumlah anggota yang luar biasa besar. Hal ini juga berlaku bagi Kongregasi van Utrecht. Dengan adanya perubahan dan perkembangan positif ini, Kongregasi van Utrecht pun semakin mampu memperluas karyanya dengan semakin meningkatnya jumlah frater yang menjadi guru atau memiliki ketrampilan tertentu yang dapat dijadikan sebagai modal dalam menjalankan tugas perutusan tarekat yang dipercayakan kepada mereka. Perkembangan Kongregasi van Utrecht ini juga dapat dilihat dari penanganan karyanya yang dulu belum begitu profesional, kini menjadi tarekat guru dan pengasuh yang ahli dan profesional (van Vugt, 2005: 35).

  Pada tahun 1928 perkembangan yang baik dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus juga nyata melalui keputusan pimpinan pusat untuk mengutus para frater ke tanah misi Hindia Belanda dengan maksud menangani pendidikan Katolik di sana. Bagi Kongregasi van Utrecht usaha misi yang baru ini memberi kesempatan untuk memakai kemungkinan finansial dan ketenagaan yang baru itu dalam bidang yang sangat baru dan sekaligus merupakan tantangan yang amat besar. Kekhawatiran para frater ini wajar karena memang keadaan dan situasi di Hindia Belanda sangat berbeda dengan situasi dan keadaan di Belanda. Tetapi bidang karya yang akan ditangani para frater di Hindia Belanda sama dengan apa yang telah mereka tangani sebelumnya di negeri Belanda yakni di bidang pendidikan dan pengasuhan/ asrama. Dengan keyakinan dan semangat yang mereka miliki dan dibawa ke tanah misi, berdampak sangat positif yakni hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja jumlah frater di Hindia Belanda dan sekolah serta lembaga yang mereka kelola berkembang dengan pesat. Lagi pula para frater Belanda berhasil menarik beberapa pemuda pribumi (Jawa) untuk menjadi novis yang akan menjadi penerus mereka di tanah misi suatu saat nanti. Inilah suatu permulaan yang sederhana dari perkembangan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan kongregasi selanjutnya.

  Dalam peziarahan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus bersama dan di tengah umat selama ini selalu memunculkan pertanyaan “Mengapa para anggota kongregasi ini disebut Frater dan bukan Bruder?” dan “Mengapa Bunda Hati Kudus dan bukan gelar Bunda yang lain?”. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, di sini akan diuraikan alasan sebutan “Frater” dan gelar “Bunda Hati Kudus” yang di pakai dalam Kongregasi

  van Utrecht ini.

  1. Mengapa disebut Frater, bukan Bruder ?

  Kata Frater berasal dari bahasa Latin yang berarti “Saudara laki-laki” (K. Prent, 1969: 351). Sedangkan kata Buder/ Brother berasal dari bahasa Inggris yang mangandung arti yang sama pula yakni “Saudara laki-laki” (Desy Anwar, 2001: 43).

  Tetapi mengapa Kongregasi van Utrecht memilih sebutan Frater? Hal ini disebabkan karena sebelum Kongregasi Frater Bunda Kerahiman (Frater CMM) dan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (Frater BHK) didirikan di negeri Belanda telah terdapat suatu lembaga religius yang bernama “Para Bruder kehidupan Bersama-sama”. Para anggota dari lembaga religius ini kadang di sebut “Frater”. Lembaga ini berkembang amat pesat dalam abad 14 dan 15 serta sangat berjasa di bidang pendidikan Katolik.

  Kongregasi Kehidupan Bersama-sama ini kemudian lenyap selama badai-badai reformasi Protestan. Biaranya yang terakhir terdapat di Emmerik, perbatasan Jerman dan Belanda, yang akhirnya juga dibubarkan oleh Napoleon pada tahun 1812. Anggotanya yang paling akhir hidup adalah Frater Gerardus Mulder (Informasi Panggilan Kongregasi Frater BHK, hal. 2).

  Mgr. J. Swijsen pendiri kongregasi Frater CMM dari Tilburg dan Mgr. Andreas

  I. Schaepman pendiri Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (BHK) ingin melanjutkan tradisi historis yang telah dimulai oleh Para Bruder/ Frater Kehidupan Bersama-sama tersebut. Dengan demikian kedua uskup agung itu bersepakat dan memutuskan bahwa para anggota dari kedua kongregasi yang didirikannya disebut “Frater” (Informasi Panggilan Kongregasi Frater BHK, hal. 2).

  2. Mengapa “Bunda Hati Kudus?”

  Ketika Mgr. Andreas. I. Schaepman mencari nama pelindung untuk kongregasi yang baru didirikannya, Pater Salesius de Beer pemimpin umum Kongregasi Frater CMM, menganjurkan agar Mgr. Schaepman mencari inspirasi pada devosi “Bunda Hati Kudus”. Tepat pada waktu itu devosi kepada Bunda Hati Kudus sangat populer dan sangat di dukukung oleh Mgr. De Beer. Sejak tahun lima puluhan dalam abad XX devosi Bunda Hati Kudus ini disebarkan oleh seorang Pastor dari Prancis, yakni Pater Jules Chevalier pendiri Kongregasi para Misionaris Hati Kudus (MSC) dan Kongregasi Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) di Issoudun, Prancis Tengah. Pater Chevalier ingin mengaitkan penghormatan tradisional kepada Maria dengan devosi Hati Kudus Yesus, yang pada waktu itu merupakan devosi yang paling penting dan paling tersebar luas di Eropa.

  Pada tahun enam puluhan spiritualitas ini juga muncul di Belanda Selatan, khususnya di propinsi Limburg. Hal ini terbukti dengan didirikannya persaudaraan

  

Broederschap van Onze Lieve van het Heilig Hart (persaudaraan Bunda Hati Kudus) di

  Sittard pada tahun 1867. Pada tahun 1870 Pater Chevalier sendiri berkunjung ke Belanda dan berkotbah di kota Sittard, Roemond dan Tilburg. Devosi Bunda Hati Kudus ini menarik banyak perhatian positif. Sekitar tahun 1870 Mgr. Schaepman bersama para uskup lainnya bergabung menjadi anggota persaudaraan Bunda Hati Kudus tersebut. Berdasarkan anjuran dari pater Pemimpin Umum Kongregasi Frater CMM tersebut, Mgr. Andreas. I. Schaepman melalui suatu permenungan yang mendalam memutuskan dan menetapkan untuk mempersembahkan kongregasi yang didirikannya ke dalam perlindungan Maria Bunda Hati Kudus sebagai penyalur segala rahmat dan karunia dari Hati Kudus Yesus kepada para anggota tarekat dan siapa saja yang akan mereka jumpai dan layani. Dalam hal ini Mgr. Schaepman secara tidak langsung ingin memberikan kepada kongregasinya dasar spiritual yang kuat demi kehidupan selanjutnya (van Vugt, 2005: 33-34).

B. Spiritualitas Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus Spiritualitas Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus lahir dari hati pendiri Mgr. A.

  I. Schaepman yang hatinya tergerak dan tersentuh ketika melihat kebobrokan zamannya yakni terjadinya ketidakadilan dalam bidang pendidikan. Hal ini tersirat dalam motonya yang berbunyi: “In Sollicitudine et Simplicitate” (Dalam Keprihatinan dan Kesederhanaan). Berdasarkan ketergerakan hatinya akan situasi yang memprihatinkan tersebut, ia berusaha untuk menanggapi dengan mendirikan sebuah tarekat religius laki- laki yang akan mengemban misi pendidikan untuk menjawabi kebutuhan zamannya. Mgr. Andreas.I. Schaepman menaruh harapan penuh optimisme akan suatu profil dan kualifikasi yang harus dimiliki oleh para anggota kongregasinya, yang terungkap demikian: “Saya membutuhkan frater-frater yang secara mendalam meresapi

  

pentingnya pendidikan dan pengajaran kaum muda. Saya membutuhkan biarawan yang

rajin dan berbudi luhur dalam kebajikan. Saya membutuhkan orang laki-laki yang

sungguh mampu menanamkan nilai-nilai Kristiani pada murid-muridnya yang

dipercayakan kepada mereka” (Sekretariat Dewan Umum Kongregasi frater Bunda

  hati Kudus, 2006: 30).

  Proses inkorporasi ke dalam tubuh kongregasi sendiri pada intinya mengandaikan terjadinya internalisasi atau pembatinan inti jiwa hidup Kongregasi yang sering dikenal dengan istilah Spiritualitas. Dengan demikian inti jiwa tersebut betul-betul menjadi bagian integral dari hidup kongregasi, menjadi bagian dari inti kebatinan kongregasi, dan sekaligus menjadi api atau obornya kongregasi. Inti jiwa hidup atau spiritualitas kongregasi yang merupakan suatu gerakan kharisma itu dapat diidentifikasi melalui empat unsur pokok yakni: “Mistik Kongregasi yakni “Hati yang membebaskan” (Konst. 6). Kharisma Kongregasi yakni “Kasih pelayanan yang membebaskan sesama, khususnya kaum muda” (Konst. 7). Apostolat Kongregasi yakni “Ikut serta membebaskan sesama yang miskin dan menderita, khususnya kaum muda agar mereka dapat berkembang serupa citra-Nya” (Konst. 1-3 & 6-9). Cara

  

Hidup Kongregasi yakni “Kepedulian, kesederhanaan dan ugahari” (Moto Pendiri,

Konst. 6b, 24, 34) (Sekretariat Dewan Umum Kongregasi Frater BHK, 2006: 1).

  Keempat unsure pokok di ataslah yang kemudian membentuk atau menjadi tonggak dalam memberi warna dasar bagi spiritualitas.

  Proses pengidentifikasian empat unsur pokok ini hanya dapat digali dan ditemukan dalam Konstitusi dan Sejarah Awal Kongregasi, karena spiritualitas meresapi cara hidup para anggota sepanjang sejarahnya. Dengan demikian keempat unsur pokok atau empat pilar utama pendukung teridentifikasinya Spiritualitas Kongregasi tersebut perlu dikenal. Dari keempat pilar utama tersebut, kita dapat melihat baik secara eksplisit penekanannya pada “Hati” yang membebaskan dan “Pelayanan” yang membebaskan” (Mistik dan Kharisma). Sedangkan secara implisit kita dapat menemukan aplikasi dari kasih atau hati yang membebaskan itu melalui sikap dasar “Kepedulian, Kesederhanaan dan Ugahari” (Apostolat dan Cara Hidup Kongregasi). Dalam hal ini kasih menjadi sentral, yang tertuju pada : Teosentris, Trinitaris dan Kristosentris, yakni kasih Allah yang diwujudkan dalam relasi personal Mgr Andreas I. Schaepman dengan pribadi Yesus Kristus. Kasih itu diwujudkan oleh Allah melalui Roh-Nya sendiri yang merasuk dalam diri pendiri dan para anggota tarekat yang harus diperjuangkan dan diperbaharui terus-menerus agar kasih Allah itupun mewujud dalam relasi dengan sesama dan alam ciptaan lainnya.

  Berdasarkan pendasaran di atas, maka dapat dirumuskan Spiritualitas Kongregasi yakni : “Spiritualitas Hati” . Spiritualitas Hati inilah yang senantiasa menjadi pegangan, obor dan api yang selalu membakar semangat, menuntun, mengarahkan serta menjadi sumber inpirasi bagi kongregasi dalam mengemban tugas perutusannya di tengah dunia kapan dan di manapun diutus (Sekretariat Dewan Umum Kongregasi Frater BHK, 2006: 31).

C. Pengertian Kepemimpinan

  1. Kepemimpinan Menurut Para Ahli Kata pemimpin dalam bahasa Inggris disebut leader . Akar katanya to lead.

  Dalam kata itu terkandung beberapa arti yang saling erat berhubungan yakni : bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil langkah pertama, mengarahkan pikiran dan pendapat orang lain, membimbing, menuntun, menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya. Dengan demikian arti pemimpin adalah: ”orang yang bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil langkah pertama, memelopori, mengarahkan pikiran- pendapat orang lain, membimbing, menuntun, menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya” (Mangun Hardjana, 1991: 11).

  Pemimpin dan kepemimpinan merupakan dua hal yang tak terpisahkan, karena kedua istilah tersebut menunjuk pada seseorang yang memiliki wewenang untuk mempengaruhi, mengarahkan, membimbing dan menuntun orang lain atau sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan. Berikut ini akan dipaparkan beberapa pengertian tentang kepemimpinan menurut tiga orang ahli yang dikutip oleh Sudomo (2005: 21- 22) sebagai berikut : menurut George R. Terry, ”Kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela”.

  Sementara itu Walter C. Wright berpendapat bahwa ”Kepemimpinan adalah Suatu hubungan di mana seseorang berusaha untuk mempengaruhi pikiran, kebiasaan, keyakinan atau nilai-nilai dari orang lain”. Sedangkan menurut Louis A.

  

Allen ”Kepemimpinan adalah bimbingan dan pengarahan yang diberikan kepada orang lain dalam usahanya untuk mencapai tujuan. Kepemimpinan adalah proses untuk mendapatkan hasil melalui atau bersama orang lain”.

  Dari berbagai pengertian tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya inti dari kepemimpinan adalah ”Pengaruh”. Dalam hal ini secara arti kata antara kata pemimpin dan kepemimpinan tetap ada perbedaan yakni Pemimpin adalah orang yang dapat mempengaruhi anggota kelompoknya untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama, sedangkan kepemimpinan adalah seni dan ilmu yang dimiliki oleh seorang pemimpin untuk mempengaruhi anggota kelompoknya agar mereka mau bekerja sama dalam mencapai tujuan tersebut.

  Father Anthony D’Souza dalam bukunya Developing The Leader Within You,

  

Strategies for Effective Leadership yang dikutip oleh Sudomo (2005: 13)

  mengatakan ”Kepemimpinan adalah salah satu faktor yang sangat mempengaruhui kinerja suatu organisasi. Pemimpin adalah seseorang yang tahu jalannya, menunjukkan jalannya dan berjalan di jalan tersebut”.

  2. Kepemimpinan Religius

  a. Kepemimpinan religius menurut Kitab Hukum Kanonik (KHK) Kepemimpinan dalam hidup religius pada hakikatnya mengacu pada tujuan hidup religius itu sendiri, yakni mencapai kesempurnaan hidup Injili. Seorang pemimpin religius dalam menjalankan fungsi dan peranannya hanya semata-mata demi menghadirkan kabar gembira Kerajaan Allah di tengah-tengah komunitas yang dipimpinnya sekaligus berjuang untuk mengejawantahkan nilai-nilai Injili itu di dalam kehidupan sehari-hari. Apabila hal ini yang dipegang teguh dan dihayatinya maka bukan lagi ambisi dan obsesi pribadi yang berjalan malainkan kehendak Allah dan tarekatlah yang diperjuangkannya. Hal ini sesuai dengan apa yang digambarkan oleh para Bapa Gereja tentang kepemimpinan religius sebagaimana termaktub dalam Kitab Hukum Kanonik, Bab II khususnya dalam kanon 618 :

  Para pemimpin hendaknya menjalankan kuasa yang diterima dari Allah lewat pelayanan Gereja dalam semangat pengabdian. Maka dalam melaksanakan tugasnya hendaklah peka terhadap kehendak Allah, serta mengusahakan ketaatan sukarela mereka dengan menghargai kepribadian manusiawi mereka, dengan senang hati mendengarkan mereka serta mengajukan peran serta mereka demi kebaikan tarekat dan gereja, tetapi dengan tetap memelihara wewenang mereka sendiri untuk memutuskan serta memerintahkan apa-apa yang harus dilaksanakan (KHK, no. 618, 1999: 193).

  Dalam hal ini anjuran para Bapa Gereja di atas mau menegaskan kepada para pemimpin religius bahwa mereka pertama-tama harus menyadari bahwa tugas kepemimpinan yang mereka emban adalah melulu merupakan kepercayaan yang dianugerahkan Allah bagi mereka. Oleh karena itu dalam melaksanakan tugas kepemimpinan, mereka harus peka, tanggap dan taat terhadap kehendak Allah yang mewujud dalam pengabdian dan pelayanannya terhadap para anggotanya dan juga orang-orang yang mereka layani, dengan mendengarkan, menghargai dan melibatkan mereka secara aktif demi perkembangan tarekat dan misi-misinya.

  Selain itu, dalam KHK kanon 619 para Bapa Gereja menegaskan sekali lagi tentang bagaimana caranya para pemimpin Gereja khususnya para pemimpin religius menjalankan fungsi kepemimpinannya sebagai wujud pelayanan mereka kepada para anggotanya, yakni :

  Para pemimpin hendaknya menunaikan tugas mereka dengan tekun dan bersama dengan anggota yang dipercayakan kepada dirinya berusaha membentuk komunitas persaudaraan dalam kristus, di mana Allah dicari dan dicintai melebihi segala sesuatu. Maka mereka hendaknya kerapkali memberi santapan rohani kepada para anggota dengan sabda Allah dan mengajak mereka merayakan ibadat suci. Hendaknya memberi teladan kepada mereka dalam membina keutamaan-keutamaan serta dalam menaati peraturan-peraturan dan tradisi tarekatnya sendiri; membantu secara layak dalam hal kebutuhan- kebutuhan pribadi mereka, memperhatikan dan mengunjungi yang sakit, menegur yang rewel, menghibur yang kecil hati, sabar terhadap semuanya (KHK, no. 619, 1991: 194).

  Pemimpin religius adalah orang yang dipercaya oleh tarekat untuk menerima dan melaksanakan tugas suci dari Allah. Oleh karena itu pemimpin hendaknya menerima tugas itu dengan tulus dan rendah hati serta berusaha menjalankannya dengan tekun dan penuh tanggung jawab. Pemimpin juga harus menyadari bahwa dalam mengemban tugas kepemimpinan itu tidak sendirian melainkan, bersama para anggota tarekat atau anggota komunitas yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Maka dari itu ia harus menerima, menghargai, mengarahkan serta membimbing mereka untuk membangun suatu komunitas kristiani dalam Kristus, di mana Allah dicari, dicintai dan diabdi melebihi segala sesuatu. Dalam hal ini tugas seorang pemimpin adalah memberikan perhatian yang tulus dan secara holistik yakni perhatian dan pelayanan yang mencakup unsur rohani dan jasmani para anggotanya sesuai dengan tradisi serta semangat tarekat yang dihayatinya. Berkaitan dengan hal itu, Soenarja (1984: 26) berkata:

  Kepemimpinan harus didasarkan pada hidup religius sejati: santo-santa pemimpin religius suci di dalam Gereja, para pendiri biara yang diakui agung, menjadi sumber terang bagi umat Allah. Maka tuntutan pertama dalam pembentukan pemimpin adalah pendidikan dasar dalam kehidupan membiara yang kuat, murni dan lengkap. Hidup membiara tidak akan bertumbuh kuat, kalau tidak didasarkan pada motivasi-motivasi murni dan menjadi semakin murni dengan bertambahnya usia. Untuk perkembangan hidup membiara di dalam rahmat Tuhan, dari pihak manusia perlu diusahakan pengetahuan yang lengkap. Penghayatan panggilan secara murni dan utuh memungkinkan pertumbuhan kuat, dan tahan menghadapi segala tantangan. Ketahanan dan kekuatan ini sangat perlu agar tidak mendua dalam bersikap dan mengambil keputusan, yakni maju mundur, menjadi takut atau acuh, melainkan tetap berjuang dan justru berkembang, dalam menghadapi tantangan dan tuntutan zaman yang semakin tinggi.

  Dengan melihat realitas kehidupan para religius dewasa ini, baik para pemimpin maupun para anggotanya, tanpa kecuali para Frater Bunda Hati Kudus, dalam menghayati hidup sehari-hari khususnya dalam mengemban tugas perutusan tarekat, orang mulai memisahkan antara tuntutan karir dan kehidupan rohani. Dampaknya adalah kerap kali kehidupan rohani dan penghayatan nilai-nilai hidup berkomunitas terabaikan atau dinomorduakan, akhirnya orang lebih mengejar prestasi dan prestise dari pada makna dan nilai hidup religius dibalik perutusan itu sendiri. Berkaitan dengan situasi ini, Soenarja (1984: 27) berkata:

  Seorang pemimpin religius dalam memberikan penugasan bagi para anggotanya, ia harus menyadari bahwa penugasan itu harus dibagi dan ditujukan demi kesejahteraan anggota, dan bukan anggota ditekan demi kelangsungan dan kesuksesan peraturan. Oleh karena itu, kerohanian harus tetap diutamakan melabihi ”kesibukan tugas”, pribadi anggota lebih berharga daripada prestasi kerja. Keberesan dituntut dan diandaikan, tetapi keberesan menyeluruh tetap mengutamakan unsur-unsur rohani dan nilai-nilai kebiaraan; berani mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak selesai seperti yang diharapkan, kalau dirasa ada nilai-nilai rohani atau nilai-nilai lain yang perlu dipreoritaskan. Dalam penugasan ada pembicaraan, dialog, pertanggungjawaban penuh. Dan di sini kiranya terbuka kesempatan bagi pembimbing rohani untuk meletakkan dasar doa dan karya, pekerjaan yang dilihat, direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi dalam suasana doa. Di sini dapat dilatih pengabdian dalam kerja, menjadi penghayatan cinta kasih dalam pelayanan kepada sesama, betapa pun kecil dan sederhana bentuknya. Di sini orang bisa mengintrospeksi diri sendiri, apakah dalam pekerjaan ia lebih cenderung pada dominasi dan penguasaan, atau menempuh jalan pelayanan dan cinta kasih, di mana bukan diri sendiri menjadi pokok kepentingan, melainkan sesama yang dilayanilah yang menjadi pusat perhatiannya.

  Sesungguhnya inilah nilai dan makna terdalam dari hidup religius yang harus ditanamkan dan dihayati oleh para pemimpin religius dan para anggotanya termasuk para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus dan para anggotanya. Dengan demikian kehadiran hidup para religius sungguh-sungguh menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah di tengah-tengah kehidupan di dunia ini dan sekaligus menjadi sumber kabar suka cita bagi sesama, atau dengan kata lain para religius dapat berperan sebagai garam dan terang dunia di tengah kehidupan dunia yang semakin memprihatinkan ini. Berkaitan dengan hal ini, Timothy Radcliffe, (2009: 11) berkata ”Panggilan kita sebagai biarawan- biarawati berperan untuk menyinari panggilan umat manusia. Kalau tidak, kita hanya menghambur-hamburkan waktu.” b. Kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus sebagai salah satu lembaga religius laikal keuskupan, secara institusional tentu saja tidak terlepas dari struktur kepemimpinan yang harus dimiliki sebagai istrumen yang dapat merencanakan, merumuskan, melaksanakan dan mengontrol serta mengevaluasi hidup dan perkembangan dari tarekat berdasarkan visi-misi dan spiritualitas yang dikembangkan dan dihayatinya. Semangat kepemimpinan yang dihayati dalam kepemimpinan para Frater Bunda Hati Kudus pun tidak terlepas dari semangat kepemimpinan yang telah diwariskan oleh sang pendiri Mgr. Andreas I. Schaepman, yang termaktub dalam mottonya: “In Sollicitudine

  et Simplicitate ” (Dalam Keprihatinan dan Kesederhanaan).

  1). Kepemimpinan Mgr. A. I. Schaepman Mgr. A.I. Schaepman lahir di kota Zwolle, Belanda, pada tanggal 04 September 1815 dan pada hari yang sama kanak-kanak ini dibaptis dalam gereja yang disebut

  “Borger”. Ia merupakan anak kelima dari Sembilan bersaudara. Ayahnya bernama P.H. Schaepman dan ibunya Elisabet I.B. Kistemaker. Mengenai masa kecilnya tidak diketahui secara pasti kecuali sebuah peristiwa yang sangat mengagumkan yang sempat terekam yakni bahwa ia secara istmewa dilindungi dan diselamatkan oleh penyelenggaraan Ilahi dari suatu kematian yang menyedihkan yang mengincarnya setelah ia terapung selama beberapa jam di atas air sungai yang menghanyutkannya.

  Dalam usia 10 tahun Mgr. Schaepman menempuh pendidikan ilmiahnya yang pertama di sebuah sekolah berasrama yang dipimpin Tuan van den Heuvel di Ravensteyn, Belanda. Karena ia merasa diri dipanggil untuk menjadi imam, maka studi selanjutnya untuk mempelajari bahasa Latin yang ditempuhnya di Gymnasium di Oldenzaal, Belanda. Sedangkan pendidikan teologinya ditempuhnya di seminari di kota

  ‘s Heerenberg, Belanda. Ia memiliki semangat belajar yang tinggi. Selain itu ia juga memiliki bakat seni yakni menggambar, yang di kemudian hari ia tunjukkan dan salurkan lewat dukungan dan usahanya demi pelestarian dan pengembangan karya- karya seni serta kesenian gerejani (Fransiskus, 1998: 17).

  Schaepman dithabiskan imam pada tanggal 09 Maret 1838 oleh Mgr. van Wijckerslooth, Uskup i.p.i. (in partibus infidelium) Corium, dan ia mempersembahkan misa perdananya di Gereja Sta. Maria di Zwolle. Setelah penthabisannya ia ditugaskan sebagai pastor paroki di Gereja Sta. Maria di Zwolle kota kelahirannya. Pada tahun 1843 Pastor Schaepman diutus lagi ke Ommerschans. Di sana ia bersuaha untuk selalu berada bersama para kaum pekerja yang setiap hari bekerja menggali tanah liat untuk kemudian dijadikan batu merah/ bata. Di tengah-tengah mereka, Schaepman belajar untuk menjaga dan mencintai orang-orang yang paling ditinggalkan/ disingkirkan dalam masyarakat. Ia selalu menunjukkan sifat kebapaannya yang penuh kelembutan dan kesederhanaan. Namun tiga tahun kemudian yakni tahun 1846 ia diangkat menjadi pastor paroki di Assen, dan di tempat inipun ia selalu diterima dan dicintai oleh umatnya yang pada umumnya orang-orang kecil dan sederhana (Fransiskus, 1998: 1).

  Pada tahun 1857 Pastor Schaepman dipindahtugaskan kembali di kota asalnya, kota Zwolle dan bertugas sebagai pastor paroki di Paroki St. Mikhael. Selanjutnya tepatnya taggal 29 September 1857 oleh Mgr. J. Zwijsen (uskup agung Utrecht) Pastor Schaepman diangkat menjadi rektor seminari tinggi di Rijsenburg dan pada tanggal 08 Mei 1858 ia diangkat lagi menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Utrecht untuk membantu Mgr. J. Zwijsen yang wilayah penggembalaannya sangat luas. Namun tidak hanya sampai di sini, sebab pada taggal 08 Desember 1858 ia diangkat oleh Paus Pius

  IX menjadi Proost (Ketua) Kepitel Gereja metropolitan Utrecht dan sekaligus sebagai penasihat pertama Mgr. J. Zwijsen. Dalam menjalankan tugas pelayanannya sebagai pastor dan vikjen, ia sangat dikenal rendah hati dan bijaksana sehingga ia selalu diterima oleh semua kalangan (Fransiskus, 1998: 20).

  Pada tanggal 08 Juli 1860 Pastor Schaepman diangkat oleh Bapa Suci Paus Pius

  IX menjadi uskup Esebon, dalam kedudukan ini ia sekaligus menjadi uskup co-ajutor bagi Mgr. J. Zwijsen di Keuskupan Agung Utrecht. Misa thabisan uskupnya diterimakan oleh Mgr. van Vree di kapela seminari tempat ia bekerja dulu pada taggal

  26 Agustus 1860. Dalam menerima thabisan uskupnya, ia memilih motto:

“INSOLLICITUDINE ET SIMPLICITATE” (Dalam Keprihatinan dan Kesederhanaan).

  Dengan moto ini ia bersumpah di depan uskup agungnya, bahwa ia ingin menjadi seorang gembala yang penuh perhatian bagi orang-orang yang dipercayakan kepadanya, yakni kaum beriman yang digembalakannya, bahwa dalam kesederhanaan hati ia ingin menjadi seorang bapak yang penuh cinta kasih bagi mereka. Janjinya ini secara simbolik ditampilkannya dalam gambar perisainya sebagai uskup: “seorang gembala dengan beberapa ekor domba”. Perhatian dan pelayanan yang tulus dari kegembalaan Mgr. Schaepman ini pun akhirnya mendapatkan perhatian dari pihak penguasa yakni Kerajaan Belanda yang pada tanggal 12 Ferbruari 1867 menganugerahkan kepada Mgr.

  Schaepman bintang/ lencana jasa “Bangsawan dalam Ordo Singa Belanda” (Fransiskus, 1998: 23).

  Pada tanggal 07 Februari 1868 Mgr. A.I. Schaepman oleh Bapa Suci Paus Pius

  IX diangkat sebagai uskup agung Utrecht, sedangkan Mgr. J. Zwijsen tetap menjadi uskup di keuskupan Den Bosch. Thabisannya sebagai uskup agung Utrecht diselenggarakan pada tanggal 09 Maret 1868 di Gereja Sta. Katarina (Fransiskus, 1998: 24).

  Dalam menjalankan tugas penggembalaannya sebagai uskup agung Utrecht, tantangan demi tantangan ia hadapi, sampailah pada suatu saat yang boleh dikatakan sebagai tantangan dan peluang yakni pada tanggal 13 Agustus 1873 dalam situasi sulit ia memutuskan untuk mendirikan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus yang merupakan kongregasi bruder Belanda dengan mengemban misi di bidang pendidikan untuk mengatasi kebobrokan di bidang pendidikan yang terjadi saat itu. Akhirnya ia meninggal dunia pada taggal 19 September 1882. Namun sebelum meninggal yakni dalam masa-masa kritisnya, ia masih menyempatkan diri menulis dan mengirim sebuah surat kepada yang mulia Paus Pius IX. Dalam surat itu ia menyatakan imannya, dan sekaligus memohon berkat khusus dari Bapa Suci bagi dirinya. Selain itu ia juga berjuang dalam ketidakberdayaannya itu untuk menyempatkan diri memberikan berkatnya sebagai uskup kepada semua imam dan umat beriman dalam keuskupannya, dan akhirnya sesuai dengan motto thabisan uskupnya “In Sollicitudine et Simplicitate” (Dalam Keprihatinan dan Kesederhanaan), ia memahkotai detik-detik terakhir hidupnya dengan sebuah ucapan yang sangat mengharukan, penuh kerendahan hati, ia meminta ampun atas segala sesuatu yang kurang baik yang mungkin pernah dilakukannya terhadap umat kesayangannya di keuskupan agung maupun bagi siapapun yang pernah berjumpa dengannya dan juga atas kekurangan-kekurangan dalam penunaian kewajibannya sebagai uskup agung (Fransiskus, 1998: 29).

  Dari seluruh perjalanan hidup dan kepemimpinan Mgr. A.I. Schaepman ini dapat disimpulkan, bahwa ia merupakan seorang pemimpin dan gembala umat yang penuh dedikasi, berbakat dan bertalenta melimpah. Satu hal yang paling istimewa adalah bahwa ia memiliki kekayaan cinta yang luar biasa dalam hati dan hidupnya yang selalu ia salurkan bagi domba-domba penggembalaannya, terutama bagi mereka yang menderita miskin, sakit dan tersingkirkan. Selain itu dalam menunaikan tugas penggembalaannya, ia terkenal sangat bijaksana dan penuh wibawa serta penuh kesederhanaan dan kerendahan hati sebagaimana digambarkan dalam gambar moto thabisan uskupnya yang tertera dalam perisai keuskupannya. Semua kekayaan ini telah menghiasi seluruh perjalanan hidup dan kepemimpinannya sampai akhir hidupnya.

  2). Kepemimpinan menurut Konstitusi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus Kepemimpinan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus secara yuridis termaktub dalam konstitusi BHK no. 25 (Kapitel Umum, 1994: 49) yang berbunyi:

  Melaksanakan kewenangan adalah sesuatu tindakan cinta kasih terhadap persekutuan. Ia mendukung dan memperkuat kerukunan. Mereka yang diserahi jabatan kepemimpinan memikul tanggung jawab tertentu. Namun semua anggota ikut memikul tanggung jawab untuk seluruh persekutuan. Hal itu menuntut adanya dialog. Dengan demikian mau ditegaskan bahwa tugas kepemimpinan religius harus dilihat sebagai perwujudan cinta kasih kita kepada Allah melalui persekutuan yang memberikan kepercayaan itu. Dengan demikian tugas kepemimpinan religius adalah untuk menyatukan segenap anggotanya dalam ikatan cinta kasih Kristus sendiri sebagai pemimpin utama. Selain itu dalam menjalankan perannya, seorang pemimpin juga harus mengusahakan terciptanya komunikasi dan dialog yang sehat dan jujur di antara satu sama lain, baik antar pemimpin, pemimpin dengan anggota, maupun antar anggota, sehingga dengan demikian tampaklah kehidupan persekutuan yang rukun , damai, bersatu dan sejahtera.

D. Fungsi Kepemimpinan

  Seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya ia harus sungguh-sungguh memperhatikan apa yang menjadi fungsi dan wewenang kepemimpinannya, sehingga kepemimpinannya dapat berjalan secara baik dan efektif. Berkaitan dengan fungsi kepemimpinan ini, Niko Hayon (1988: 294-295) mengemukakan beberapa fungsi kepemimpinan antara lain :

  

1. Fungsi mengambil Inisiatif (acting or initiating), yakni memulai sesuatu kegiatan,

menyarankan langkah-langkah dan mengusulkan tata cara.

  

2. Memberikan bimbingan (leading or supporting), yakni Memberikan bantuan moral,

  menjadi contoh bagi anggota, membawa anggota ke jalan yang benar, membantu mengurangi ketegangan-ketegangan yang ada dan menciptakan suasana yang mempersatukan kelompok.

  

3. Mengatur (directing or regulating), yakni memberi petunjuk dan instruksi, memberi

arah dan tujuan, mengatur dan mempengaruhi kecepatan kerja.

  

4. Memberikan informasi (informing), yakni memberikan penjelasan yang perlu, dan

menyelesaikan usul-usul yang konkret.

  

5. Memberi motivasi (motivating), yakni Memberikan alasan-alasan dan dorongan-

dorongan, serta mengemukakan suatu latar belakang dari suatu tindakan.

  

6. Memberikan penilaian (Evaluating), yakni Membantu kelompok menilai keputusan,

tujuan dan tata kerja, partisipasi kelompok, hasil kerja dan sebagainya.

E. Karakteristik Kepemimpinan Religius

  Tuntutan-tuntutan dalam kepemimpinan religius dalam banyak hal sama dengan apa yang menjadi tuntutan kepemimpinan profan, namun ada tuntutan-tuntutan lain yang lebih mendasar dan sekaligus merupakan kekhasan bagi kepemimpinan religius. Keunikan karakteristik atau ciri-ciri pelayanan yang harus dimiliki dan diberikan oleh seorang pemimpin religius kepada para anggotanya sebagaimana dikemukakan oleh Darminta (2005: 28-34) adalah sebagai berikut :

  1. Melindungi Kharisma Pendiri Pemimpin religius adalah orang yang bertanggungjawab atas perkembangan tarekat religius khususnya dan Gereja pada umumnya. Tidak dapat disangkal bahwa zaman telah berubah dan kemajuan teknologi telah menguasai segala aspek kehidupan manusia dari saat ke saat. Kenyataan ini di satu sisi telah membawakan sesuatu yang positif namun di sisi lain juga ada dampak-dampak negatif bagi pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia terutama hidup para religius. Oleh karena itu dalam menghadapi situasi ini, para pemimpin religius sebagai penanggungjawab kelangsungan hidup tarekat dan para anggotanya tidak boleh melupakan atau meninggalkan apa yang menjadi “Kharisma dan semangat pendiri”. Dalam hal ini mereka harus berpegang teguh padanya sebagai “api” dan “roh” yang senantiasa memberikan semangat serta inspirasi dalam memaknai perjalanan panggilan hidup mereka sehari-hari sesuai dengan situasi dan perkembangan zaman.

  2. Memajukan Kesatuan dan Persatuan Persaudaraan dan ikatan kasih merupakan sesuatu yang mendesak untuk dibangun dalam penghayatan hidup bersama sebagai komunitas religius. Persaudaraan yang dibangun hendaknya berdasar pada “kesadaran yang tinggi akan nilai pribadi, nilai perbedaan aspirasi dan gerak-gerak batin yang hidup”. Dalam membangun persaudaraan ini pemimpin hendaknya mendorong dan mengarahkan anggotanya untuk menciptakan suatu komunitas yang harmonis dan memberi kesempatan kepada anggotanya untuk saling berbagi dan melengkapi satu sama lain dari segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

  3. Hormat Terhadap Pribadi Seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya harus selalu mengedepankan sikap hormat terhadap masing-masing pribadi para anggotanya. Ia juga harus selalu menyadari bahwa ia memiliki tanggung jawab penuh untuk mengembangkan kepribadian masing-masing anggotanya sesuai dengan bakat dan talenta yang dimilikinya. Hormat terhadap pribadi didasarkan pada pemahaman bahwa hak-hak pribadi merupakan sesuatu yang luhur dan mulia. Hormat terhadap pribadi juga berarti berusaha menghargai ide-ide dan perasaan-perasaan sesama anggotanya, berusaha menemukan dan mengembangkan kualitas-kualitas atau sifat-sifat positif yang ada dalam pribadi para anggota yang dipimpinnya.

  4. Kasih dan Percaya Salah satu ciri dari kepemimpinan religius adalah menyatakan dan menunjukkan kasih Allah dalam hidupnya kepada para anggota. Kasih dan kepercayaan merupakan tanda untuk membuktikan bahwa apakah relasi pribadi yang terbangun antara pemimpin dan para anggotanya benar-benar otentik atau tidak. Bila tidak ada kasih dan kepercayaan di antara kedua belah pihak, maka dalam hubungan di antara keduanya akan muncul ketakutan, hambar, kaku, penuh ketegangan dan penuh curiga.

  Hubungan seperti ini akan membekukan relasi antar pribadi dan bahkan bisa mematikan daya rasuli yang hendak dibangun dan dihayati. Sebaliknya apabila relasi yang dibangun di antara pemimpin dengan para anggotanya didasari oleh nilai kasih dan kepercayaan satu sama lain, maka akan nampak keharmonisan, saling menghargai dan saling percaya satu sama lain, yang dengan sendirinya akan turut meningkatkan semangat kerasulan mereka bagi sesama.

  5. Menafsir Tanda-tanda Zaman Hidup di zaman sekarang ini harus disadari bahwa tidak hanya Roh Kudus yang berkarya dalam diri manusia dan dunia tetapi kejahatan pun berjuang lebih giat dengan segala tipu muslihatnya untuk merusak manusia dan dunia ini. Karena itu seorang pemimpin religius perlu mengembangkan kemampuan pembedaan roh dan meningkatkan kualitas relasinya dengan yang Ilahi. Sangat penting diketahui bagaimana seorang pemimpin menemukan gejala-gejala atau kecenderungan yang terjadi dalam hidup sehingga dapat membawa dia ke suatu pengarahan yang bijaksana dan seturut kehendak Allah. Tanda-tanda zaman memang selalu bersifat mendua dan misteri, maka itu perlu diteliti dan dicermati sehingga tidak merusak kehidupan bersama dalam tarekat. Cara yang tepat dan efektif untuk membaca tanda-tanda zaman adalah selalu mengarahkan hidupnya kepada Kristus dan melihat sesuai dengan “mata” Kristus, tanda-tanda zaman tersebut, kemudian berusaha menemukan nilai positif di baliknya untuk kemudian dikembangkan dalam hidup sehari-harinya.

  6. Menyesuaikan Unsur-unsur Positif Tidak perlu diragukan lagi bahwa tanda-tanda zaman selalu mengandung nilai- nilai positif atau mengandung janji serta undangan Allah untuk hidup secara baru dan bernilai. Semuanya itu perlu diterjemahkan ke dalam hidup sehari-hari dan dalam hidup kelembagaan. Dialog, tanggung jawab, prinsip subsidiaritas, komunikasi antar pribadi, dan sebagainya memberi kesempatan kepada komunitas dan pribadi-pribadi untuk memperoleh inspirasi serta cara-cara baru dalam menghayati panggilan dan perutusannya.

  7. Memberi Inspirasi Pemimpin yang hidup di tengah-tengah situasi yang penuh ketakutan, keraguan, ketidakpastian, dan ketidakberdayaan yang sering membawa kerapuhan, dalam situasi yang memunculkan sikap pesimistis dan putus asa, perlu memberikan inspirasi dan daya hidup bagi orang-orang di sekitarnya terutama para anggotanya. Untuk itu seorang pemimpin perlu memiliki iman yang mendalam akan cinta kasih Allah. Ia juga perlu memiliki kebesaran jiwa dan kedewasaan yang menjadikannya benar-benar siap dan tulus menerima anggota-anggotanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya.

  Pemimpin hendaknya juga memiliki kepekaan dan keterbukaan hati terhadap Roh Kudus. Dengan demikian ia akan memiliki keberanian untuk maju, memiliki visi yang luas dan membangun, semangat dan keteguhan untuk berjuang tanpa henti melawan berbagai macam ketakutan ketidakpastian, kemapanan palsu, kecemasan ataupun kesuraman hidup.

  8. Orang Yang Memperbaharui Diri Terus-menerus Hal ini menjadi tuntutan dasar untuk menjadi pemimpin sejati di zaman sekarang. Pada dasarnya gambaran seorang pemimpin religius adalah orang yang selalu sadar akan terjadinya perubahan terus-menerus dalam lingkungannya. Dia mau menerima kenyataan apapun bentuknya, bukannya merasa mapan dan puas dengan apa yang dicapainya saat ini. Pemimpin religius adalah orang yang terbuka dan bersedia melakukan pembaharuan terus-menerus dalam hidupnya.

  Berikut ini beberapa hal yang menunjukkan pembaharuan diri seorang pemimpin religius menurut, Darminta (2005: 36-44) adalah sebagai berikut: a). Mengatasi rutinitas Rutinitas sering membawa kejenuhan dalam hidup maupun karya. Karena itu pemimpin perlu berjuang untuk tidak terikat dengan kebiasaan-kebiasaannya sendiri. Ia perlu memupuk semangat untuk mempersembahkan pelayanan yang lebih dan terbuka mendengarkan pendapat orang lain ataupun koreksi persaudaraan untuk memperbaharui dan membangun diri terus-menerus.

  b). Berani mengambil resiko berbuat salah Seorang pemimpin harus berani melakukan percobaan-percobaan atau terobosan-terobosan baru dalam kepemimpinannya. Tetapi ia juga harus berani dan siap untuk menghadapi dan menanggung segala resikonya. Bila itu terjadi maka pemimpin tidak takut akan adanya penilaian dan kritikan yang dilontarkan kepadanya. Ia tidak menjadi orang yang keras kepala atau keras hati namun sebaliknya menjadi semakin terbuka dan rendah hati mengakui segala kelemahannya. Ia juga akan memiliki daya tahan untuk tidak menyerah dan berani memulai lagi. Seorang pemimpin yang selalu merasa diri benar tidak akan mampu mendorong dan mengundang kepercayaan dari anggotanya.

  c). Terus-menerus mempelajari sasaran rasuli Pembaharuan yang memiliki dasar kuat memerlukan analisis-refleksi yang mendalam dan terus-menerus atas tujuan-tujuan apostolis serta tujuan yang mau dicapai dalam kerasulan. Menentukan prioritas disertai kreativitas yang tinggi sangat diperlukan oleh pemimpin di zaman sekarang. d). Menyesuaikan cara memimpin Pembaharuan struktur organisasi yang ada dalam konstitusi harus sungguh dipahami dan dimengerti oleh seorang pemimpin. Sebagai gerakan, jiwa dan semangat, hidup seorang religius hendaknya membentuk struktur-struktur baru yang lebih manusiawi yang menopang penghayatan hidup religius dan perkembangan tarekat.

  Unsur-unsur baru seperti dialog, komunikasi, prinsip subsidiaritas, dicermen dan sebagainya merupakan unsur-unsur penting yang perlu dalam mengembangkan relasi horisontal antara pemimpin dengan anggotanya, sehingga nampak bahwa relasinya tidak melulu bersifat vertikal atau atasan-bawahan, namun sebaliknya membangun suatu relasi horisontal yang mengutamakan kesederajatan dan menjunjung tinggi martabat manusia sebagai makhluk yang diciptakan secitra dengan Allah.

  e). Memajukan komunikasi yang sehat Pemimpin yang sadar akan perlunya pembaharuan diri terus-menerus juga akan tahu pentingnya nilai komunikasi. Komunikasi bukan sekedar saling menyampaikan gagasan serta perasaan emosi. Lebih dalam lagi komunikasi berarti pemberian diri dalam cinta. Tugas seorang pemimpin adalah mempermudah komunikasi antar anggotanya, ia berusaha mengikis sekat-sekat yang menghalangi perkembangan jasmani dan rohani para anggotanya. Hubungan dan komunikasi yang sehat antara pemimpin dan anggota akan menumbuhkan rasa saling pengertian, pengakuan dan hormat satu sama lain.

F. Gaya Kepemimpinan

  Berbicara soal gaya kepemimpinan telah banyak ahli mengemukakan berbagai teori tentang gaya-gaya kepemimpinan, yang kesemuanya tentu saja memiliki makna kehidupam manusia, baik itu menyangkut pribadi maupun organisasi. Berkaitan dengan gaya-gaya kepemimpinan ini, Sudomo (2005: 44-46) mengetengahkan beberapa gaya kepemimpinan di antaranya adalah :

  1. Kepemimpinan otoriter, yakni kepemimpinan yang cenderung menganggap organisasi atau tarekat sebagai miliknya sendiri. Ia selalu bertindak diktator dan menganggap anggota yang lain hanya sebagai obyek atau alat belaka. Dengan demikian ia memerintah dengan tangan besi dan ia hanya memberi perintah atau instruksi, tanpa memberi kesempatan kepada anggota untuk menyampaikan aspirasi dan pendapatnya.

  2. Kepemimpinan paternalistik, yakni kepemimpinan yang lebih bersifat kebapaan/ keibuan. Gaya pemimpin ini cenderung menganggap anggotanya sebagai anak-anak yang belum dewasa dan masih membutuhkan bantuan dan perlindungan. Gaya pemimpin seperti ini jarang memberi kesempatan kepada anggotanya untuk mengambil keputusan dan bertindak serta berinisiatf sendiri yang dampaknya para anggotanya menjadi bergantung pada pemimpinnya.

  3. Kepemimpinan demokratis, yakni kepemimpinan yang lebih bersifat kerakyatan dan mengutamakan persaudaraan. Ia memberikan kesempatan kepada anggota untuk menyampaikan gagasan dan pendapatnya. Ia juga memberi kepercayaan kepada anggotanya untuk mengambil keputusan dan bertindak serta berinisiatif secara bersama sebagai suatu tim, Pemimpin cukup memberi arahan-arahan yang perlu.

  4. Kepemimpinan bebas (Free Reign Leadership), yakni kepemimpinan yang memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada anggotanya untuk mengambil keputusan, tindakan dan inisiatif sendiri. Pemimpin hanya bertugas untuk memfasilitasi. Dalam gaya kepemimpinan seperti ini, pengarahan, bimbingan, dan pengendalian tidak ada atau sangat kurang.

  5. Kepemimpinan birokratis, yakni kepemimpinan yang selalu merujuk pada peraturan organisasi. Pemimpin meyakini bahwa segala sesuatu akan berjalan lancar apabila semua orang patuh pada peraturan. Pengambilan keputusan oleh pemimpin selalu diambil menurut prosedur rapat atau persidangan.

  6. Kepemimpinan permisif, yakni kepemimpinan yang selalu menjaga agar seluruh anggota selalu merasa puas dan gembira. Ia meyakini bila orang merasa baik dan tidak bermasalah dengan dirinya, oranganisasi akan dengan sendirinya berfungsi dan pekerjaan pun akan cepat selesai.

  7. Kepemimpinan partisipasif, yakni kepemimpinan yang selalu memotivasi anggota dengan cara melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, anggotanya akan merasa turut memiliki dan bertanggungjawab terhadap tujuan lembaga/ kongregasi.

  Dari semua gaya kepemimpinan di atas menurut Myron Rush, “Tidak ada satu gaya kepemimpinan yang paling baik”. Sedangkan Tet W. Engstrom dan Edward R.

  Dayton berpendapat bahwa “Para pemimpin memerlukan gaya yang berbeda pada saat yang berlainan”. Artinya, para pemimpin perlu dapat menerapkan semua gaya sesuai dengan situasi dan kondisi orang-orang yang dipimpinnya.

  Keberhasilan seorang pemimpin bergantung pada kecakapannya menerapkan gaya kepemimpinannya pada saat yang tepat. Inilah yang disebut sebagai gaya kepemimpinan situasional.

G. Situasi dan Tantangan Kepemimpinan Religius

  Tantangan-tantangan yang dihadapi dan dirasakan oleh para pemimpin religius di era post-modern saat ini boleh dikatakan sangat rumit dan sekaligus semakin mengaburkan prospek kepemimpinan religius di masa yang akan datang. Dalam hal ini Prasetyo (2003: 10-12) secara rinci mengemukakan 7 jenis tantangan yang sedang dan yang akan dihadapi dan dirasakan, baik oleh para pemimpin religius maupun oleh para anggotanya sebagai anak zaman sebagai berikut:

  1. Tidak terjadinya proses inkorporasi, akibatnya orang melihat kedudukan, peranan, fungsi, dan tugas perutusan sebagai status dan jejang karier yang sulit untuk dilepaskan. Ia berjuang sekuat tenaga dan dengan berbagai cara untuk mempertahankannya, dan akibatnya ia cenderung menjadi tidak taat pada institusi.

  2. Adanya kelekatan yang tak teratur terhadap barang, jabatan maupun pekerjaan yang dimilikinya, sampai ia merasa bahwa semuanya itu merupakan segalanya baginya.

  Terlebih lagi kalau semuanya itu sempat menciptakan popularitas dan penghargaan yang tinggi baginya.

  3. Adanya hukum senang, yakni ia menjadi tertutup dan kurang mendengarkan karena kerohanian dangkal dan cenderung mengikuti apa yang lebih disenanginya dari pada apa yang dikehendaki dan berkenan kepada Tuhan, maka terjadilah sistem nilai subyektif yang membuatnya tidak terbuka terhadap situasi yang nyata dan sekaligus tidak mau mendengar lagi pengarahan dari pimpinan. Hal seperti ini membuat orang menjadi tidak realistis dalam bersikap, mempunyai idealisme sendiri atau bahkan utopi yang sulit diintegrasikan dengan apa yang menjadi visi- misi tarekat.

  4. Adanya kebutuhan-kebutuhan psikologis tertentu yang lebih dominan dalam dirinya sampai membuatnya menjadi fanatik dan tidak terbuka pada kenyataan obyektif dari tarekat. Hal ini terkait dengan kelemahannya seperti haus popularitas dan prestasi sebagai akibat adanya kelekatan terhadap kedudukan dan status yang disandangnya. Kalau ia pernah menjadi pemimpin dan dengan pencapaian beberapa prestasi, maka ia akan terus merasa berjasa dan merasa sebagai anggota tarekat yang paling penting dan ia akan selalu menuntut dan mengatur padahal ia sudah bukan pimpinan lagi.

  5. Adanya sistem senioritas yang cenderung feodal yang kadang-kadang masih menyelinap dalam diri para religius. Mereka ini diam-diam menuntut haknya sebagai senior dan menjadi mudah tersinggung bila tidak diperhitungkan, ingin memegang pos-pos penting dalam tarekat dan enggan menyerahkannya kepada yang muda. Regenerasi membuat mereka merasa terancam kedudukannya. Mereka juga menjadi tidak percaya dengan yang muda karena mereka takut jangan-jangan apa yang telah mereka perjuangkan dan menuai hasil akan menjadi gagal di tangan para generasi penerus. Selain itu, mereka juga ada yang mendasarkan kebanggaannya pada keberhasilan dan kejayaan masa lalu. Maka setelah yang muda memegang pimpinan, yang tua justru menjadi rewel, banyak melontarkan kritik yang tidak membangun dan tidak menunjukkan adanya dukungan yang tulus.

  6. Adanya segi fisik dan kemampuan yang semakin menurun dan tidak diimbangi dengan kerohanian yang makin mendalam, berakibat kurang bisa menerima pertumbuhan secara realistis, dan kurang mampu menerima kenyataan dirinya yang mulai kurang mampu. Ia tidak menyadari bahwa Yesus pun menyerahkan kepemimpinan-Nya kepada para murid dan pengganti-pengganti-Nya dalam Gereja sampai sekarang.

  7. Adanya nafsu duniawi termasuk nafsu kedagingan yang sering berkuasa secara bawah sadar, terutama yang terkait dengan kebutuhan psikologis yang sentral pada hal tidak mendukung panggilan religiusnya sendiri. Akibatnya hidupnya menjadi kacau karena dikuasai oleh nafsu seksual dan libido yang tak pernah diolah tetapi malah dinikmati”. Orang yang dikuasai oleh nafsu seksual dan libido seringkali dipengaruhi oleh kecenderungan untuk secara terus-menerus mengakses dan menikmati sajian-sajian pornografi apapun cara dan bentuknya. Berkaitan dengan hal ini Jofizal Janis, (Kepala Pusat Pemeliharaan, Peningkatan, dan Penanggulangan Inteligensia Kesehatan Departemen Kesehatan) berkata:

  Kecanduan pornografi dan narkoba akan mengakibatkan kegagalan adaptasi sosial. Sebab kecanduan pornografi dan narkoba tersebut akan merusak fungsi otak dan struktur otak dengan pola yang sama dengan gejala-gejala adiksi fisiologis karena obat-obatan dan alkohol (Kompas Sabtu, 24/01- 2009: 12).

  Menurut Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan, Sjafi’I Ahmad dalam seminar bertema: “Memahami Dasyatnya Kerusakan Otak Anak akibat Kecanduan Pornografi dan Narkoba”, Senin (2/3-’08) di Jakarta, berpendapat bahwa “pornogari memicu kekerasan seksual dan menurunkan mutu sumber daya manusia”.

  Lebih lanjut Donald L. Hilton Jr. (Ahli bedah syaraf Rumah Sakit San Antonio, AS) berkata: Kecanduan pornografi akan mengakibatkan otak bagian tengah depan (ventral tegmentalarca) mengecil. Penyusutan sel otak yang memproduksi

  dopamine , zat kimia pemicu rasa senang, itu mengacaukan cara kerja neorottransmitter , pengirim pesan. Selain itu, paparan pornografi juga

  menyebabkan perubahan konstan pada neurotransmitter dan melemahkan fungsi kontrol, sehingga orang yang kecanduan pornografi tersebut tak bisa mengontrol perilaku seksnya dan mengalami gangguan memori (Kompas,Sabtu, 24/01-2009: 12).

  Hilton lebih lanjut menganjurkan agar orang-orang yang kecanduan ini perlu menjalani terapi. Maka di sini Hilton mengusulkan empat langkah metode yang dapat digunakan antara lain “Memotivasi pecandu sehingga mau berupaya terbebas dari kecanduan, menciptakan situasi aman dengan menghambat akses pada pornografi, membentuk grup konselor sebaya, dan memperkuat spiritualitas/ kehidupan rohaninya” (Kompas,Sabtu, 24/01-2009: 12).

  Apabila penghayatan hidup rohani seorang religius semakin dangkal akibat krisis-krisis tertentu yang dialaminya, ia akan mudah jatuh dalam kecendrungan seksual yang tidak sehat, sebagaimana digambarkan di atas.

BAB III TAFSIRAN INJIL YOHANES 10: 11-15 SEBAGAI INSPIRASI KEPEMIMPINAN KRISTIANI Dalam perikop Injil Yohanes 10: 11-15, Yesus secara istimewa ingin

  menunjukkan kedalaman relasi kasih-Nya dengan umat beriman dengan menempatkan diri sebagai seorang gembala yang baik yang senantiasa hadir, tinggal dan hidup bersama para kawanannya untuk merawat, memperhatikan dan merasakan apa yang menjadi suka dan duka mereka. Dengan demikian Ia ingin menunjukkan kepada para pemimpin Yahudi dan tak terkecuali para pemimpin Kristiani dan religius kapan, dan di mana pun, serta siapa pun dia, tentang siapa sesungguhnya pemimpin sejati itu. Oleh karena itu untuk lebih memahami hal ini, maka dalam Bab III ini akan dibahas mengenai konteks, struktur, tafsir dan pesan Injil Yohanes 10: 11-15. Berikut dikutipkan kisah lengkap tentang “Yesus Gembala Yang Baik” (Yohanes 10: 11-15) yang dikutip dari Kitab Suci Perjanjian Baru, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, tahun 2000. Tekas Injil Yohanes 10: 11-15 sebagai berikut:

  

Gembala yang Baik (Yohanes 10: 11-15)

11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi

  domba-dombanya;

  12

  sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

  13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.

  14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.

  15 Sama

  seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

  A. Konteks Injil Yohanes 10: 11-15

  Perikop Injil Yohanes 10: 11-15 merupakan kelanjutan dari situasi kontroversi yang terjadi antara Yesus dengan para pemimpin agama Yahudi yang menekankan hubungan khusus antara Yesus dan umat beriman. Kontroversi ini menggunakan jenis sastra “alegori”, yaitu analogi (persamaan) yang membandingkan suatu realitas dengan realitas lain dalam berbagai seginya. Bedanya dengan perumpamaan adalah bahwa dalam perumpamaan satu realitas dijelaskan dengan realitas lain, sedangkan dalam alegori, masing-masing unsur dalam perumpamaan diberi makna.

  Penggunaan kiasan domba dan gembala cukup dikenal dalam Perjanjian Lama, di mana Daud (2Sam 7:8) dan Allah (mis. Yer 31:10) dikiaskan dengan gembala, sedangkan Israel sebagai domba-dombanya. Kemudian, perkerjaan gembala terhadap domba digunakan untuk menggambarkan karya eskatologis Allah dalam kehidupan umat (Yes 40:11; Yeh 34). Yeh 34 berperanan bagus sebagai latar belakang perbedaan antara pemimpin yang palsu dan gembala yang baik, yang adalah Daud (Yeh 34: 23) dan Allah dalam karya penebusan- Nya (Hadiwiyata, 2008: 143).

  Dengan demikian tema gembala sendiri diperkembangkan dalam dua bagian yang berbeda: Yohanes 10:1-18 termasuk dalam situasi yang lebih dekat dengan Yoh 9 yaitu pesta pondok daun, sedangkan Yoh 10:22-39 nampaknya termasuk dalam situasi pemberkatan kenisah yang merupakan pintu masuk bagi Yesus menuju jalan penderitaan-Nya sebagai puncak karya keselamatan-Nya di dunia ini.

  B. Struktur Injil Yohanes 10: 11-15

  Injil Yohanes 10: 11-15 dibagi dalam susunan sebagai berikut: Ayat 11-13 : Yesus menegaskan diri sebagai gembala yang baik dengan berkata “Akulah gembala yang baik”.

  Ayat 14-15 : Mengulang lagi rumusan ilahi “Akulah gembala yang baik”.

C. Tafsiran Injil Yohanes 10: 11-15

  Penulis Injil Yohanes melukiskan pribadi Yesus sebagai pembimbing kelompok-Nya dengan gambaran yang amat lazim di kenal oleh lingkungan serta para murid-Nya, yakni Yesus digambarkan sebagai gembala dan pembimbing bagi kawanan-Nya. Dalam hal ini Perjanjian Lama kerap kali melukiskan kehadiran Allah di tengah umat pilihan-Nya sebagai Gembala dan umat Israel sebagai kawanan domba- Nya (Mzm 23 & 78). Dalam Perjanjian Baru Yesus digambarkan sebagai Gembala yang membawa keluar kawanan-Nya dan menemukan tempat yang aman bagi penggembalaan, (Yoh 10:4-5 bdk Ul 1:30; Kel 1:10). Dengan demikian Darmawijaya (1988: 161) berkata: “gambaran yang demikian mau menunjukkan tiga hal yang sering kali ditekankan dalam Perjanjian Lama yakni bimbingan, penyelenggaraan dan keterlibatan Allah dalam seluruh perjalanan hidup umat pilihan-Nya.”

  Ay. 11-13 Akulah gembala yang baik. Pernyataan Yesus ini sekali lagi mau menunjukkan kontras antara diri-Nya dengan orang-orang upahan yang bukan gembala (ay 12). Kata “Baik” diterjemahkan dengan berbagai cara: yang ideal, yang layak diteladani, dan yang penuh dedikasi, yang semuanya merujuk pada pribadi Yesus.

  Namun sebenarnya penekanan kata “Baik” itu dimaksudkan untuk memperlawankan pribadi Yesus sebagai gembala yang baik yang rela menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya dan demi kebahagiaan serta keselamatan domba-domba itu sendiri. Lain sama sekali dengan orang-orang upahan yang bukan pemilik domba, di mana mereka memiliki tanggung jawab yang sangat terbatas, bahkan mereka tidak segan- segan meninggalkan domba-domba apabila mereka berada dalam keadaan bahaya, (ay. 12-13). Orang-orang upahan ini mengacu kepada para pemimpin agama Yahudi dan juga siapa pun yang mengemban tugas kepemimpinan yang selalu menyalahgunakan kepemimpinannya dengan tidak bertanggungjawab, tidak peka dan peduli terhadap komunitas/ orang-orang yang dipimpinnya (Hadiwiyata, 2008: 146).

  Ay. 14-15 Penginjil menampilkan lagi rumusan ilahi “Akulah gembala yang

  baik”, namun kali ini fokusnya menjadi lain yakni fokusnya pada hubungan timbal balik saling pengenalan antara Yesus dan kawanan/ kaum beriman. Di sini, hubungan akrab yang ditandai saling kenal mencakup komitmen dan kasih antara kedua pihak. Hubungan antara Yesus dan umat beriman lebih mencerminkan hubungan kasih antara Yesus dengan Bapa-Nya (ay 15 seperti juga dalam 17:11). Perlu disadari bahwa keakraban seperti ini tidak perlu dipikirkan secara mistik, dalam arti yang satu terserap ke dalam yang lain karena ini tetap merupakan suatu hubungan personal di mana integritas pribadi-pribadi tetap utuh (Hadiwiyata, 2008: 146).

  Berkaitan dengan hal ini Darmawijaya (1988: 162) berkata: Penginjil menyebut Yesus sebagai gembala yang baik, pertama-tama karena Ia mempertaruhkan hidup-Nya bagi kawanan, dan yang kedua karena Ia memberikan hidup itu secara melimpah-limpah, sehingga kawanan itu mampu mengenali gembalanya secara mendalam. Namun pengenalan itu bukan sekedar pengenalan yang rasional sifatnya, melainkan lebih-lebih sebagai suatu sambung-rasa, dan saling pemahaman dalam kasih yang sejati. Oleh karena itu, hubungan itu menjadi hubungan yang mengembangkan kehidupan sepenuhnya. Seperti halnya sang Gembala memiliki kehidupan dari Allah, Bapa-Nya, demikian juga sang Gembala mau menyalurkan kehidupan itu pula kepada kawanan-Nya, sehingga seluruh kawanan mendapatkan kebahagiaan sejati dari Bapa. Dengan menyampaikan hidup itu bagi seluruh kawanan, maka Yesus pantas menerima julukan sebagai Gembala yang sungguh baik. Gembala yang rela menyediakan sepenuhnya diri-Nya bagi perkembangan dan keselamatan seluruh kawanan. Gembala itu lalu juga menjadi pengikat dan pemersatu seluruh kawanan dalam mencapai kepenuhannya.

D. Pesan Injil Yohanes 10: 11-15 bagi Para Frater Bunda Hati Kudus

  Kisah dalam Yoh 10: 11-15 ini merupakan suatu kisah wejangan yang sangat menarik, mendalam, penuh makna dan sekaligus menantang para pendengarnya saat itu dan juga bagi para pendengar sepanjang masa, khususnya bagi para pemimpin. Sebab dalam wejangan ini Yesus mau mengkritik pola dan keteladanan kepemimpinan para pemimpin agama Yahudi dan para kaum Farisi pada saat itu yang sarat dengan kepentingan pribadi dan kelompoknya yang kerap kali menimbulkan ketidakadilan, kemiskinan, penderitaan bagi umat pilihan Allah. Namun selain itu dalam wejangan ini, Yesus sebagai Mesias ingin menunjukkan dan sekaligus mewariskan suatu pola dan keteladanan kepemimpinan yang sesungguhnya bagi para pengikut-Nya, yang digambarkan dengan alegori sebagai “Gembala yang baik”. Kiranya pola dan keteladanan kepemimpinan Yesus sebagai Gembala yang baik ini, senantiasa menjadi pola dan keteladanan kepemimpinan Kristiani dan religius dalam setiap tataran sepanjang masa sebagai ahli waris dari Yesus sang Guru dan gembala sejati.

  Kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang seharusnya senantiasa bersumber dan bermuara pada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuan yang empunya segalanya. Karena itu setiap orang yang diserahi tugas kepemimpinan harus selalu berusaha hidup dan memimpin seturut sabda, cara hidup dan gaya kepemimpinan Yesus sebagai guru dan teladan kepemimpinannya. Dengan kata lain pribadi dan pola serta keteladanan kepemimpinan Yesus sebagai Gembala yang baik harus menjadi satu- satunya model kepemimpinan bagi para pemimpin Kristen sepanjang masa. Hal ini tak terkecuali juga para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus dewasa ini.

  Apa bila hal ini yang menjadi pegangan dan obsesi seorang pemimpin Kristen/ religius, maka ia akan berusaha untuk selalu menuntun, membimbing, mengarahkan dan bekerja bersama orang-orang yang dipimpinnya menuju apa yang dicita-citakan bersama dan sekaligus selaras dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

  Pertanyaan yang kemudian muncul ialah apa perbedaan kepemimpinan Kristiani dengan kepemimpinan pada umumnya? Berkaitan dengan pertanyaan ini, Ted W.

  Engstron dan Edward R. Dayton dalam bukunya Sudomo mengatakan: “Hal paling mendasar yang membedakan kepemimpinan Kristen dan kepemimpinan pada umumnya adalah “motivasinya”. Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang dimotivasi oleh kasih, ditujukan untuk pelayanan, dan dikendalikan oleh Kristus dan keteladanan-Nya. Pemimpin-pemimpin Kristen yang terbaik mencerminkan sepenuhnya sifat pengabdian yang tanpa pamrih (tidak mementingkan diri sendiri), teguh hati, berani, tegas, berbelas kasih, dan mencerminkan tanda pemimpin-pemimpin besar” ( Sudomo, 2005: 56).

  Dalam hal ini Yesus dengan jelas memberikan gambaran perbedaan antara kepemimpinan sejati atau Kristen dan kepemimpinan duniawi dalam Injil Matius sebagai berikut:

  Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:25-28).

  Dari perikop di atas jelas sekali bahwa Tuhan Yesus memberikan gambaran tentang kontras antara falsafah kepemimpinan pada umumnya dengan kepemimpinan Kristiani. Dalam hal ini kepemimpinan pada umumnya melaksanakan kepemimpnannya dengan tangan besi atau kekerasan, sementara itu dalam kepemimpinan Kristiani, pemimpin lebih mau melayani, berkorban, dan mengutamakan kepentingan anak buah dari pada kepentingan sendiri.

  Berkaitan dengan hal ini, Myron Rush berkata, “Bukanlah besarnya kekuasaan yang anda miliki, melainkan bagaimana anda menggunakan kekuasaan tersebut yang menentukan kebesaran anda sebagai pemimpin” (Sudomo, 2005: 59).

  Gambaran tentang kepemimpinan Kristiani ini secara jelas dan mendalam hanya dapat ditemukan, digali dan dimaknai dari Injil Yesus Kristus sendiri sebagai harta warisan nan agung yang ditinggalkan-Nya bagi kita umat-Nya. D’Souza mengatakan bahwa, “Injil memberikan tiga gambaran kepemimpinan yang sungguh menarik dan senantiasa diulang-ulang dalam Perjanjian Baru, yang semuanya dimulai dengan huruf ‘S’: Servan (Pelayan), Shepherd (Gembala), dan Steward

  

(pengurus). Masing-masing merupakan gambaran yang kaya dengan berbagai

  pengertian serta perlu dipelajari dan diterapkan secara cermat. Kepemimpinan Kristiani yang sejati berarti mengikuti Yesus Kristus sebagai Pelayan, Gembala, dan Pengurus seperti digambarkan dalam Injil” (D’Souza, 2007: xxiii).

  Dari ketiga gambaran kepemimpinan Kristiani di atas, penulis mencoba mendalami gambaran kepemimpinan Yesus sebagai Gembala sebagaimana dilukiskan dengan begitu indah dalam Injil Yohanes 10:11-15 untuk menggali, menemukan dan memaknai nilai-nilai kepemimpinan yang terkandung di dalamnya untuk kemudian dijadikan sebagai model kepemimpinan bagi para Frater Bunda Hati Kudus sebagai salah satu lembaga religius di era post-modern saat ini.

  Kepemimpinan sebagai gembala adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kasih yang tulus dan murni sebagai landasan dan modal utama bagi seorang pemimpin dalam menggembalakan kawanan domba yang dipercayakan kepadanya. Dalam hal ini kita dapat mengacu pada tiga pertanyaan Yesus yang dilontarkan-Nya kepada Petrus:

  “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”. Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba- Ku”. Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”. Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”. Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “ Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedihlah hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”. Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yohanes 21:15-19).

  Yesus melalui peristiwa ini, Ia mau menegaskan kepada Petrus yang pernah menyangkal-Nya tiga kali bahwa modal utama baginya untuk menerima tugas kegembalaan yang dipercayakan Yesus kepadanya adalah “kasih yang murni dan suci atau kasih agape kepada Yesus, sebagaimana digambarkan rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada umat di Korintus, yang mengatakan:

  Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1 Kor 13:4-7).

  Unsur-unsur kasih yang digambarkan rasul Paulus di atas merupakan unsur yang paling penting dan hakiki yang Yesus inginkan untuk Petrus miliki. Pada waktu itu, Yesus dapat saja menanyai Petrus dengan banyak pertanyaan, namun mungkin karena terbatasnya waktu yang tersisa sebelum Dia diangkat kembali ke Allah Bapa, maka Yesus hanya mau menyampaikan satu pertanyaan mendasar dan amat penting yakni, “Apakah engkau sungguh-sungguh mengasihi Aku? Itulah pertanyaan yang mendalam dan sekaligus menantang yang Ia tinggalkan kepada Petrus untuk dipertimbangkan dengan seksama dan penuh tanggung jawab. Mengapa demikian? Sebab tanpa kasih yang demikian Petrus tidak dapat menanggapi ketika Yesus berkata, “Ikutlah Aku.” Demikian pula halnya bahwa hanya dengan kasih agape itu ia dapat mampu menerima dan melaksanakan tugas yang dipercayakan Yesus kepadanya sebagai seorang gembala dengan tugas mengasihi domba-domba dan memelihara mereka sebagaimana diharapkan Sang Gembala Utama kepadanya (Wofford, 2001: 130).

  Petrus sebagai rasul yang mendapat kepercayaan penuh dari Yesus, harus memiliki relasi kasih yang intim dan mendalam dengan Yesus sebagai Sang Gembala Utama, sebagai pemberi kuasa dan pemilik kawanan domba. Kasih yang sama pula harus dia arahkan dan bagikan bagi kawanan domba yang dipercayakan kepadanya sebagai perwujudan cintanya kepada Yesus sebagai Sang Gembala Agung.

  Persyaratan “Kasih dan cinta agape” ini pula yang dituntut Yesus dari para pemimpin Kristiani pada umumnya dan para pemimpin religius (para Frater Bunda Hati Kudus) pada khususnya sepanjang masa sebagai modal utama dalam menerima dan menjalankan tugas kepemimpinannya di tengah dunia ini.

  Mengambil bagian dalam kepemimpinan kegembalaan Yesus berarti para pemimpin itu harus memiliki beberapa kualifikasi sebagaimana dikemukakan D'souza (2002: 28-39) di antaranya adalah :

  1. Fokus utama pemimpin gembala Fokus utama seorang pemimpin gembala adalah para pengikut atau para anggotanya sebagai orientasinya. Para anggota itu sendiri yang menjadi tujuan dan buah dari upaya kepemimpinannya. Karena itu, ketika anggotanya tetap hidup menghadapi berbagai bahaya dalam perjalanan, ataupun ketika mereka bertambah kuat, gembala harus tetap setia menunaikan tugas kegembalaannya. Domba memang harus dibimbing, didorong dan dimotivasi untuk mencapai yang terbaik dalam hidupnya.

  Oleh karena itu para pemimpin Kristen dan termasuk para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus dituntut untuk senantiasa bertindak sebagai gembala sejati atas anggotanya. Dalam hal ini para pemimpin pertama-tama harus melihat dan menempatkan komunitasnya sebagai komunitas manusia yang kaya dan dinamis, yang harus dihargai dan diperhatikan dengan penuh kasih sayang dan cinta sebagaimana Yesus sendiri yang selalu menempatkan diri sebagai gembala yang baik, yang selalu menyediakan diri-Nya, bahkan sampai Ia mengorbankan diri-Nya bagi domba-domba- Nya, (bdk.Yoh 10:11).

  Yesus sendiri pernah berbicara tentang berbagai ciri atau karakteristik kepemimpinan gembala yang baik. Dalam hal ini Sudomo (2005: 81-92) menguraikan beberapa karakteristik kepemimpinan yang berhati gembala antara lain: a). Pemimpin yang benar-benar mengasihi Tuhan. b). Mengutamakan kepentingan orang-orang yang dipimpinnya sebagai wujud nyata kasihnya kepada Tuhan. c). Mempunyai hubungan yang akrab dan harmonis dengan orang-orang yang dipimpinnya. d). Memberi pengayoman dan rasa aman kepada orang-orang yang dipimpinnya. e). Menjadi teladan bagi anak buahnya. f). Memiliki visi yang jelas.

  Atas dasar poin-poin di atas, diharapkan para pemimpin Kristen termasuk para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus selalu berusaha untuk menghayati dan mengaktualisasikan nilai-nilai kepemimpinan gembala ini dalam kehidupan tarekat mereka. Hanya dengan jalan demikianlah jalinan kesatuan antara Yesus sebagai Gembala Utama dengan para pemimpin dan para anggotanya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dan penuh daya, memiliki kekuatan serta senantiasa saling memberdayakan menuju kesatuan dan kesempurnaan hidup dalam dunia eskatologis.

  3. Gembala yang mengenal domba-dombanya.

  Seorang pemimpin gembala diharapkan mengenal nama domba-dombanya dan secara pribadi memanggil mereka masing-masing menurut namanya. Bagi Yesus, kepemimpinan itu bersifat pribadi: gembala mengenal dan dikenal dombanya, sebagaimana dilukiskan dengan indah dalam Injil Yohanes 10:14. Yang terpenting adalah di antara kedua belah pihak harus ada relasi pribadi yang diikat oleh kehangatan kasih dan saling pengertian timbal balik. Sebab hanya dengan cara demikian keduanya akan selalu bersama dan bersatu serta saling menguatkan dan mendukung. Hal ini pula Frater Bunda Hati Kudus tanpa kecuali. Sebab akan menjadi sesuatu yang mustahil kalau seorang pemimpin tidak mengenal siapa anggotanya. Dalam hal ini seorang pemimpin harus memahami dengan benar apa yang menjadi kebutuhan, keprihatinan, kesedihan, kegelisahan, kegagalan, kebahagian dan kesuksesan para anggotanya. Di sini dituntut suatu kepekaan dan kepedulian yang tinggi dari sang pemimpin.

  Salah satu contoh yang bisa diterapkan sorang pemimpin tarekat terhadap para anggotanya dalam menunaikan tugas kepemimpinannya sebagaimana diharapkan di atas misalnya: ketika seorang anggotanya mendapatkan masalah, dia tidak akan hanya sekedar mendengar dari orang lain lalu mengajukan vonis untuk mempersalahkan anggotanya itu, tetapi sebaliknya sebagai seorang pemimpin yang berhati gembala, ia akan berusaha mendekati dan berbicara dari hati ke hati sebagai saudara serta berusaha mendengarkan secara langsung apa sesungguhnya yang menjadi dasar permasalahan itu, lalu selanjutnya ia akan berusaha mendampingi anggotanya dalam usaha mencari penyelesaian yang benar dan adil tanpa menghakiminya. Contoh lain adalah ketika seorang anggotanya mengalami kegagalan dalam menjalankan tugas yang dipercayakan tarekat kepadanya, sebagai pemimpin yang baik ia tidak akan langsung mempersalahkan, mencemooh, bahkan mengucilkan anggotanya yang gagal itu, melainkan ia akan mendekatinya dan berdialog dari hati ke hati untuk mengetahui apa penyebab terjadinya kegagalan itu. Dari sana sang pemimpin berusaha untuk menghibur, membesarkan hati dan mensuport serta berusaha meyakinkannya bahwa kegagalan itu bisa dilihat sebagai sukses yang tertunda, sehingga dengan demikian ia tetap semangat dan siap untuk melanjutkan tugas perutusannya.

  Proses pengenalan yang mendalam dan menyeluruh inipun kalau dilihat dari pihak domba/ kawanan kiranya mengandung konsekuensi yang harus diterima dan dijalankan. Konsekuensi yang dimaksud adalah, bahwa setiap domba/ kawanan yang mengaku diri mengenal siapa gembalanya, tentu juga harus senantiasa menunjukkan cinta, perhatian, sikap hormat, ketaatan, pengabdian yang total dan tulus, dedikasi serta loyalitas yang tinggi terhadap pemimpin/gembalanya. Sedangkan dari pihak pemimpin/gembala, ia harus rela meninggalkan keegoannya untuk secara total memperhatikan, mengabdi dan melayani para kawanannya dengan penuh cinta dan perhatian yang tulus, sekalipun nyawanya menjadi taruhan. Sedangkan dalam tataran relasi antara manusia dengan Tuhan sebagai Sang Gembala Utama, seorang pemimpin Kristen/ religius yang mengaku diri mengenal Tuhan, diharapkan ia selalu menyadari konsekuensi bahwa dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya ia harus selalu berusaha untuk menyelaraskan diri dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Dalam hal ini sekecil apapun yang dibuatnya harus melulu demi kebesaran dan kemuliaan nama Tuhan serta demi kebahagiaan para anggotanya. Begitupun sebaliknya seorang pemimpin yang merasa dikenal dan dicintai oleh Tuhan akan memiliki keberanian yang besar karena merasa dicintai dan dilindungi oleh yang Maha Kuasa, (bdk. Yoh 10 :15; 1 Sam 17:34-37).

  4. Kehadiran dan kesiapsediaan gembala Gembala atau pemimpin perlu bersama-sama domba atau anggotanya dan senantiasa siap apabila mereka membutuhkan dirinya. Dengan kata lain seorang pemimpin gembala harus mudah ditemui oleh para anggotanya, khususnya ketika anggotanya membutuhkannya. Dalam Mzr 23 digambarkan dengan jelas betapa pentingnya kehadiran seorang pemimpin dalam seluruh perjalanan dan aktivitas para anggotanya yakni : “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; Gada-Mu dan Tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku”, (Mzr 23: 4).

  Dalam hal ini kehadiran seorang pemimpin di tengah-tengah anggotanya sangat diperlukan, untuk memberikan ketenteraman, ketenangan, kedamaian, dan membuat anak buahnya itu terus melangkah karena percaya bahwa ia hadir bersama mereka.

  5. Gembala memimpin di depan Yesus bersabda: “Ia memanggil domba-Nya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya keluar, Ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti

  Dia…” (Yoh 10: 3-4). Seorang pemimpin gembala hendaknya selalu melangkah di depan. Ia selalu menuntun mereka ke padang rumput yang hijau dan ke sumber air yang tenang yang dapat menghilangkan rasa lapar dan rasa haus para dombanya/anggotanya. Dengan demikian para pemimpin Kristen, tak terkecuali para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus dianjurkan agar dalam kepemimpinannya selalu berusaha untuk menuntun dan mengarahkan para anggotanya untuk keluar dari keterkungkungan diri mereka menuju bentangan realitas hidup mereka secara pribadi dan juga realitas kehidupan kongregasi yang dihidupinya. Untuk itu pentinglah bahwa mereka bisa memberi teladan.

  6. Gembala itu harus berani Pemimpin gembala selalu melindungi domba-dombanya dan bahkan siap mempertaruhkan hidupnya demi domba-dombanya. Dengan demikian ia dapat memberikan rasa aman dan tenteram bagi para domba atau para pengikutnya. Dalam hal ini seorang pemimpin gembala harus menunjukkan kontras antara dirinya dengan seorang pemimpin palsu sebagaimana digambarkan dalam Injil Yoh 10: 12 dengan istilah orang-orang upahan yang bukan pemilik domba, yang hanya mencari keuntungan sendiri, bahkan kalau perlu merugikan para anggotanya. Menjadi seorang pemimpin gembala dituntut adanya kemauan dan keberanian besar untuk mengambil resiko.

  Keberanian besar semacam ini dapat kita temukan dalam diri seorang tokoh dalam Kitab Suci Perjanjian Lama yakni Daud. Di mana karena ia sangat ingin meyakinkan Raja Saul bahwa ia mampu bertarung melawan Goliath yang bertubuh raksasa itu, maka ia menceritakan beberapa pengalamannya sebagai anak gembala.

  “Tuanku,” kata Daud, “"Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup." Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (1 Sam 17:34-37).

  Pengalaman Daud di atas merupakan contoh bagi semua pemimpin Kristen dan khususnya bagi para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus untuk menyadari bahwa tugas kepemimpinan yang diembannya merupakan kepercayaan yang dianugerahkan Tuhan baginya. Oleh karena itu dalam mengemban tugas kepemimpinannya para pemimpin harus selalu menjadikan hidup doa sebagai dasar kepemimpinannya. Dengan demikian ia akan sungguh mengenal Tuhan dan melaksanakan kehendak-Nya dan sebaliknya ia pun akan dikenal dan dicintai oleh Tuhan, serta Tuhan akan menganugerahkan kepadanya rahmat-rahmat yang dibutuhkannya, yakni rahmat keberanian, kebijaksanaan, kekuatan, kesehatan, kesetiaan dan cinta dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.

  7. Gembala itu menuntun dan membimbing Pemimpin gembala selain melindungi domba-dombanya, ia juga harus siap mengendalikan mereka supaya ia dapat menuntun dan membimbing mereka agar mereka tidak terjerumus ke dalam bahaya. Dengan demikian dalam diri seorang pemimpin gembala dituntut bisa bersikap lemah-lembut dan rendah hati dalam menuntun dan membimbing kawanannya/ anggotanya. Dengan demikian dalam diri seorang pemimpin diharapkan ia sungguh memiliki perhatian yang tulus dan penuh cinta dan kasih sayang bagi para anggotanya.

  8. Gembala itu peduli pada domba yang hilang atau tersesat Dalam Injil Lukas Yesus memaparkan sebuah perumpamaan yang sederhana namun sungguh menarik dan mendalam maknanya tentang domba yang hilang.

  Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor diantaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan (Luk 15:4-5).

  Para pemimpin Kristiani yang tidak memiliki hati seorang gembala mungkin berkata. “Apa artinya segelintir domba yang hilang? Atau segelintir anggotanya yang tersesat bahkan hilang? Untuk apa membuang-buang waktu untuk mencari dan membujuk mereka kembali? Biarkan saja supaya mereka menyadari kebodohannya sendiri karena meninggalkan kandang.”

  Namun, Yesus menunjukkan model kepemimpinan yang sangat kontras yakni, Ia bergaul dengan pemungut cukai, pelacur, para pendosa, para penderita dan orang- di mata Tuhan adalah domba-domba yang hilang akibat kesombongan, keangkuhan dan sikap sok suci dari para pemimpin Yahudi. Oleh karena itu bagi Yesus, orang-orang seperti itu perlu dicari, ditemukan dan dijadikan satu kawanan dalam kasih persaudaraan sebagai sahabat-sahabat Yesus yang sejati.

  Demikian pula para pemimpin Kristen pada umumnya dan para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, hendaknya mereka juga selalu peka dan tanggap apabila ada dari anggotanya yang tersesat atau hilang akibat dosa dan kesalahan, baik itu kesalahan pribadi maupun kesalahan komunitas yang ditimpakan kepadanya. Sang pemimpin harus berusaha untuk mencari dan membawanya kembali ke dalam persekutuan yang penuh kehangatan kasih, pengampunan dan cinta persaudaraan sejati. Demikianlah terwujudnya peran pemimpin sebagai pemersatu, pengayom dan sekaligus sebagai seorang bapak yang penuh perhatian dan kasih bagi para anggotanya.

  Inilah figur seorang pemimpin gembala yang sebenarnya didambakan dan dirindukan oleh para anggotanya setiap saat. Kiranya ini juga yang menjadi figur para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda hati Kudus dewasa ini.

BAB IV KEBERADAAN KONGREGASI FRATER BUNDA HATI KUDUS DI INDONESIA A. Latar Belakang Sejarah Masuknya Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia Pada tahun seribu sembilan ratus dua puluhan dan tiga puluhan, pendidikan Katolik di Hindia Belanda/ Indonesia sangat berkembang. Seiring dengan

  perkembangan ini, muncullah persoalan yakni para misionaris mengalami kekurangan tenaga guru bagi penanganan sekolah-sekolah yang ada. Untuk mengatasi masalah ini, para uskup di tanah misi mengirim banyak surat permohonan ke kongregasi-kongregasi yang ada di negeri Belanda yang nota bene berkarya di bidang pendidikan untuk mengutus para anggotanya sebagai misionaris ke Hindia Belanda, demi membantu karya pendidikan di tanah misi.

  Undangan dari para uskup di Hindia Belanda ini ternyata mendapat tanggapan positif dari kongregasi-kongregasi yang ada di negeri Belanda, baik itu kongregasi suster maupun kongregasi bruder dan tak ketinggalan pula kongregasi Frater Bunda Hati Kudus yang pada saat itu kehidupan dan perkembangannya di Belanda cukup baik, baik dari sisi jumlah anggota maupun finansialnya yang pada tahun-tahun sebelumnya sangat memprihatinkan (van Vugt, 2005: 206).

  Pada tahun 1927 dewan kongregasi mulai menindaklanjuti rencana dan niat untuk bermisi ke Hindia Belanda dengan mengadakan koresponden dengan para imam Karmelit di Malang, Jawa Timur, yang telah menngundang mereka. Sebagai jawabannya, para imam Karmelit menawarkan bukan hanya sebuah sekolah yang menangani para siswa putera Belanda malainkan juga sebuah sekolah untuk anak-anak pribumi, dan juga panti asuhan untuk anak-anak Indo. Semuanya ini merupakan suatu perencanaan awal yang sangat baik bagi kongregasi. Tetapi ternyata situasi berbicara lain dari apa yang telah direncanakan dewan kongregasi. Hal ini disebabkan oleh kesulitan yang dialami pemimpin umum, Fr. Stanislaus Glaudemans (1875-1944), untuk meyakinkan Uskup Agung Van de Wetering sebagai pemimpin tertinggi kongregasi untuk memberi izin bagi karya misi di Hindia Belanda. Mgr. Van de Wetering agak skeptis terhadap semangat misi waktu itu. Sebab menurutnya, semangat misi itu hanya merupakan angan-agan yang tidak akan bertahan lama, dan bahwa terlalu banyak kongregasi pergi ke luar negeri tanpa menyadari bahwa tugas utamanya ada di dalam negeri. Lagi pula di negeri Belanda masih ada begitu banyak pekerjaan yang tersedia dan harus ditangani oleh para Frater Bunda Hati Kudus. Namun walaupun demikian, toh Mgr. Van de Wetering tetap memberi lampu hijau bagi karya misi itu dengan syarat para frater harus terlebih dahulu membuka sebuah sekolah luar biasa di kota Utrecht. Akhirnya Fr. Stanislaus Glaudemans berjanji untuk menindaklanjuti apa yang diprasyaratkan Mgr. Van de Wetering tersebut, sebab memang sekolah itu sangat dibutuhkan di sana (van Vugt, 2005: 207).

  Pada tahun 1928 Kongregasi mendapat persetujuan dari Mgr. van de Wetering untuk memulai misi ke Hinda Belanda/ Indonesia. Pada tahun yang sama pula kongregasi mencapai suatu persetujuan dengan para misionari O’Carm di Malang, Jawa Timur, yang membutuhkan guru-guru untuk sekolah anak laki-laki Eropa/Belanda.

  Tepatnya pada tanggal 2 Februari 1928 para frater misionaris pertama yang diutus dewan kongregasi atas restu pemimpin tertinggi kongregasi, Mgr. Van de Wetering tiba di Indonesia. Frater-frater itu antara lain: Fr. M. Wilfridus, BHK, Fr. M. Gregorius, BHK, dan Fr. M. Agustinus, BHK. Setibanya di Indonesia ketiga frater ini lagsung menuju ke kota Malang sebagai pusat misi para imam Karmelit, yang pada waktu itu berada di bawah kekuasaan Mgr. Van Albers, O’Carm (van Vugt, 2005: 99).

  1. Tujuan Misi Kongregasi Frater Bunda hati Kudus di Indonesia.

  Tujuan misi Kongregasi Frater Bunda hati Kudus di Hindia Belanda/ Indonesia tidak bisa dilepaspisahkan dari misi awal kongregasi, yakni melayani di bidang pendidikan kaum muda, baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Misi yang sama pula yang ingin dikembangkan di daerah misi sebagaimana ditawarkan dan disepakati antara para imam Karmelit di Hindia Belanda dengan Dewan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Utrecht Belanda.

  Di Hindia Belanda, kota Malang menjadi pusat misi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus. Tak lama setelah para frater misionaris pertama tiba, mereka berusaha membangun sebuah biara dengan kompleks sekolah yang luas. Kompleks ini sampai sekarang dikenal dengan nama Komunitas Bunda Hati Kudus Celaket 21 Malang, yang beralamat di Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 21 Malang, Jawa Timur.

  Para frater misionaris pertama ini menangani dua buah sekolah yakni,

  

Hollands- Inslandse Scholen (sekolah bagi anak-anak Indo) dan Hollands-Chinese

Scholen (sekolah bagi anak-anak keturunan Cina). Pada tahun-tahun sesudahnya

  kongregasi di Hindia Belanda mulai mengembangkan diri dengan mendirikan komunitas dan unit karya yang lebih sederhana di tempat-tempat lain misalnya: Komunitas, asrama anak-anak yatim piatu Erasia dan anak-anak terlantar dan sekolah pendidikan grafis di Probolinggo (Jawa Timur, 1934), Komunitas dan SD dan SMP di Palembang (Sumatra, 1936), Komunitas dan sekolah SPG di Kediri (Jawa Timur, 1939), Komunitas, SMP, SMA dan asrama di Surabaya (Jawa Timur, 1940). Karya misi kongregasi di Hindia Belanda/ Indonesia ini dari tahun ke tahun semakin berkembang, ke daerah misi, akhirnya menjadi 50 orang frater. Kongregasi sampai mengutus banyak frater ke daerah misi karena pada tahun seribu sembilan ratus tiga puluhan di Belanda setiap tahun sejumlah besar calon baru masuk kongregasi. Perkembangan misi di Indonesia ini didukung pula oleh syarat subsidi yang baik yang berlaku di Hindia Belanda bagi sekolah-sekolah yang diakui oleh pemerintah (van Vugt, 2005:209-210).

  Dalam melaksanakan tugas-tugasnya di Hindia Belanda, para frater selalu menganggap tugas mereka sebagai kelanjutan atau kesinambungan karya mereka di Negeri Belanda, dengan demikian pola pendidikan yang diterapkan adalah pola pendidikan ala Belanda dan juga bahasa Belanda digunakan sebagai bahasa pengantar.

  Namun satu hal yang membedakan adalah bahwa kalau di Belanda para frater hanya mengajar dan mendidik anak-anak laki-laki Katolik sedangkan di Hindia Belanda para frater mengajar dan mendidik baik anak-anak laki-laki Katolik maupun yang bukan katolik. Maka di Hindia Belanda sekolah-sekolah frater dengan sadar dan eksplisit, lebih terarah keluar/ terbuka daripada ke dalam. Dalam hal ini para frater melalui sekolah-sekolah yang mereka kelola ingin mendobrak kebiasaan-kebiasaan

  

eksklusivisme di Belanda yang terkenal begitu kuat antara yang Katolik dengan kaum

Protestan.

  Bagi para frater yang diutus ke Hindia Belanda, mereka menyadari sepenuhnya, bahwa tujuan misi mereka adalah “penyebarluasan Gereja dalam dunia, harus dikonkretkan dalam karya nyata, yakni terwujudnya kesejahteraan dan kemajuan sosial para siswa serta semua orang yang dipercayakan kepada mereka yang menjadi preoritas utama” (van Vugt, 2005: 211).

  Dalam bidang karya, para frater juga melihat bahwa hubungan tak setara antara guru dan para siswa bukan merupakan situasi yang cocok untuk penerimaan iman.

  Maka dalam pelayanan mereka, para frater selalu berusaha menempatkan para siswanya atau siapa pun yang mereka layani sebagai pribadi yang berharga dan terhomat. Namun dalam pengembangan misi ini para frater tidak termotivasi untuk mengkatolikkan para sisiwanya yang non katolik, namun sebaliknya para frater selalu berusaha membimbing mereka sesuai dengam agama yang mereka anut. Dalam hal ini van Vugt (2005:211) berkata:

  Sampai sekarang para mantan frater misionaris yang masih hidup bangga bahwa dulu mereka tidak berusaha “menjaring jiwa” dan tak mendesak siswa-siswanya untuk menjadi Katolik. Suasana Katolik di sekolah-sekolah frater, perhatian pribadi para frater akan kemajuan siswa-siswanya dan teladan yang seimbang serta spiritualitas yang bisa mereka beri sebagai religius, semestinya cukup untuk menyalakan iman dalam hati beberapa siswanya.

  Ketika Kongregasi mulai berkarya di Hindia Belanda, dewan kongregasi di Utrecht berharap agar suatu kelak bisa menyambut putra-putra pribumi sebagai konfrater dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus dan sekaligus sebagai penerus karya misi tarekat di Indonesia. Dan akhirnya kerinduan itupun terjawab, di mana setelah beberapa tahun kemudian sudah ada beberapa pemuda Jawa yang hatinya tergerak untuk menjadi frater, maka diputuskan untuk memberi tanggapan positif bagi para simpatisan tersebut.

  Pada tahun 1936 di Probolinggo Jawa Timur dibukalah Komunitas Postulat-novisiat untuk para calon dari Hindia Belanda dan diangkatnya Fr. M. Theodorus van der Geijn (1894-1982) menjadi magisternya. Beberapa tahun kemudian kongregasi mempunyai sebelas orang frater yang berasal dari Hindia Belanda ( van Vugt, 2005: 212).

  Pada tahun seribu sembilan ratus tiga puluhan nampaknya misi kongregasi di Hindia Belanda akan mempunyai masa depan yang cerah. Namun pada tahun 1942 Hindia Belanda mulai jatuh ke tangan Jepang sehingga segala angan-agan, dan harapan serta perjuangan dari seluruh misionaris tanpa kecuali misi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus mulai terhenti. Para frater sebagaimana orang-orang Belanda lainnya, mulai ditangkap, disiksa dan bahkan mereka di bawa ke Bandung dan Cimahi untuk dimasukkan ke dalam kamp-kamp tawanan Jepang. Akibatnya ada beberapa frater yang mulai jatuh sakit dan pada akhirnya meninggal, namun ada juga yang masih bertahan sampai lewatnya masa-masa sulit itu.

  2. Keanggotaan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia.

  Keanggotaan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia pada mulanya hanya terdiri dari empat orang frater Jawa, yakni pada tahun 1937 masuknya Fr. Patrick Schieveld, Fr. Borgias Tekaprajitna, Fr. Redemtus Raden Hardjamoeljo, Fr, Flavianus Saisi Martasoewignja. Namun dalam perkembangan selanjutnya ternyata keanggotaan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia semakin bertambah banyak dan tidak hanya dari Jawa, namun mulai heterogen yakni ada yang dari Ambon, Flores, Timor dan Palembang, yang di dalamnya juga terdapat frater yang keturunan cina. Dalam hal ini jumlah anggota tarekat di Indonesia dari tahun ketahun semakin meningkat, namun sejak tahun 2006 sampai sekarang dari tahun ke tahun jumlah anggota semakin berkurang seiring perkembangan zaman yang secara perlahan namun pasti semakin menghantar orang hidup dalam sekularisasi di mana orang mulai memisahkan antara hidup duniawi dengan hal-hal yang berbau rohani/ religius dan orang lebih terarah pada kehidupan duniawi dengan segala kenikmatan yang ditawarkannya. Hal ini terlihat dari grafik jumlah frater yang dikeluarkan oleh bagian Kesekretariatan Dewan Provinsi Indonesia, di mana mulai tahun 2006 jumlah anggota Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia berjumlah 112 orang frater (Frater novis 13 orang, frater yunior 40 orang, dan yang berkaul kekal 59 orang). Pada tahun 2007 berjumlah 112 orang frater (Frater novis 12 orang, frater yunior 40 orang dan yang berkaul kekal 60 orang). Tahun 2008 berjumlah 107 orang frater (Frater novis 7 orang, frater yunior 43 orang dan yang berkaul kekal 57 orang). Sedangkan tahun 2009 yang berkaul kekal 61 orang). Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat dalam grafik jumlah frater yang tertera pada bagian lampiran (hal 19) (Sekretariat Dewan Provinsi Indonesia, 2009: 15).

  Dari total jumlah anggota Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia mayoritas berasal dari Indonesia Timur yakni, Flores, Manggarai, Timor, sedangkan yang berasal dari Jawa merupakan minoritas. Namun walaupun demikian, dalam kehidupan sehari-hari, baik di komunitas maupun di unit karya atau dimanapun para frater selalu menekankan kebersamaan dalam persaudaraan kasih sebagai konfrater sekongregasi tanpa memandang perbedaan suku, budaya atau apapun di antara mereka.

  Berkaitan dengan kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, memang sejak tahun 1983 orang Indonesia mulai diberi kepercayaan untuk memegang jabatan overste misi yang pada waktu itu dijabat oleh Fr. M. Rumoldus Moedjija (orang Jawa/Solo) dan dalam kapitel umum 1994 orang Indonesia juga mulai diberi kesempatan untuk duduk dalam Dewan Umum di Utrech Belanda yakni Fr. M. Paulino B.C. da Silva (orang Flores Timur/ Larantuka) sebagai Anggota Dewan Umum dan dalam kapitel umum tahun 2000 Fr. M. Clemen BHK (Orang Flores Timur/ Solor) terpilih lagi sebagai wakil pemimpin Umum di Belanda. Akhirnya pada Tahun 2003 kedudukan Dewan Umum berpindah kedudukan dari kota Utrech Belanda menuju Indonesia, tepatnya di Komunitas St. Wilibrordus Jl. Brigjen Slamet Riyadi 58 Malang Jawa Timur Indonesia. Dalam Kapitel Umum Kongregasi tahun 2006 terpilihlah tiga Anggota Dewan Umum Kongregasi yang baru, yang ketiganya merupakan orang Indonesia yakni Fr. M. Simon Lele Ruing, BHK (Pemimpin Umum Kongregasi), Fr. M.

  Kanisius Sara, BHK (Wakil Pemimpin Umum) dan Fr. M. Venansius Edi Budi Santosa (Anggota Dewan Umum) dengan Mgr. Herman Joseph Pandoyo Putro, O’Carm sebagai pemimpin tertinggi kongregasi dan uskup keuskupan Malang sebagai tempat

  Kedudukan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (Sekretariat Dewan provinsi Indonesia, 2009 : 4).

  Perpindahan kedudukan Dewan Umum Kongregasi ke Indonesia dan pengambilalihan kepemimpinan Dewan Umum dari frater Belanda kepada frater Indonesia merupakan suatu peluang dan sekaligus sebagai sutau tantangan yang sangat berat bagi perkembangan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus ke depan. Namun dengan selalu berusaha berguru kepada Daud hamba Yahwe yang selalu meletakkan kepemimpinannya dalam tangan Tuhan, maka para Frater Bunda Hati Kudus perlu meyakini bahwa Tuhan akan menjadikan semuanya indah pada waktunya.

B. Persiapan Penelitian

  1. Permasalahan Penelitian

  a. Sejauh mana pemahaman para Frater Bunda Hati Kudus tentang kepemimpinan Kristiani?

  b. Sejauh mana pemahaman para Frater Bunda Hati Kudus tentang kepemimpinan religius/ biara? c. Bagaimana pengalaman para Frater Bunda Hati Kudus atas kepemimpinan para pemimpin mereka dalam kongregasi selama ini? d. Gambaran pemimpin yang bagaimanakah yang didambakan para Frater Bunda

  Hati Kudus untuk zaman sekarang?

  2. Tujuan Penelitian

  Tujuan penelitian adalah :

  a. Untuk mengetahui pemahaman para Frater Bunda Hati Kudus tentang kepemimpinan Kristiani. b. Untuk mengetahui pemahaman para Frater Bunda Hati Kudus tentang kepemimpinan religius/ biara.

  c. Untuk mengetahui pengalaman para Frater Bunda Hati Kudus atas kepemimpinan para pemimpin mereka dalam kongregasi selama ini.

  d. Untuk mengetahui gambaran pemimpin yang didambakan para Frater Bunda Hati Kudus untuk zaman sekarang.

  3. Manfaat Penelitian

  Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperdalam dan meningkatkan pemahaman para Frater Bunda Hati Kudus tentang kepemimpinan Kristiani dan religius juga dapat semakin meningkatkan semangat, ketabahan, keuletan, ketangguhan, keberanian, dan kesetiaan para frater dalam menjalankan tugas pelayanan dan pengabdiannya sebagai pemimpin dalam bentuk dan dalam tataran apapun yang dipercayakan tarekat kepadanya, demi lebih besarnya kemuliaan Allah dan kebahagiaan serta keselamatan sesama. Selain itu juga diharapkan agar melalui penelitian ini, penulis dapat menemukan gambaran pemimpin yang didambakan oleh para frater bagi perkembangan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus ke depan, sebagai bahan masukan untuk pembuatan usulan katekese bagi para Frater Bunda Hati Kudus sebagai upaya mengembangkan kepemimpinan transformatif, demi perkembangan kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus ke depan.

  4. Metodologi Penelitian

  Pada bagian ini, penulis akan menguraikan metodologi penelitian yang meliputi: pendekatan penelitian, tempat dan waktu penelitian, responden penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik analisa data, dan keabsahan data.

  a. Pendekatan Penelitian

  Pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Berkaitan dengan pendekatan kulitatif ini, Moleong (2007: 6) berkata: “Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata/ lisan, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah .” Dalam pendekatan kualitatif ini penulis menggunakan metode wawancara terstruktur dengan format protokol wawancara terbuka, yakni penulis menetapkan sendiri masalah dan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada responden dengan didasarkan atas masalah dalam rancangan penelitian. Hal ini sesuai dengan pendapat, Moleong (2007: 190) yang mengatakan: Metode wawancara terstruktur adalah metode wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan yang didasarkan atas masalah dalam rancangan penelitian.

  b. Tempat dan Waktu Penelitian

  Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2009. Penelitian diadakan di komunitas Frateran St. Vinsensius a Paulo Karang Pilang Surabaya, Komunitas St. Paulus Kepanjen Surabaya, Komunitas St. Yohanes Berchmans Kediri dan Komunitas St.

  Gregorius Malang Jawa Timur.

  c. Responden Penelitian

  Responden penelitian adalah para Frater Bunda Hati Kudus, baik yang sudah berkaul kekal maupun yang masih berkaul sementara, yang berjumlah 15 orang frater.

  Penulis melakukan wawancara terhadap para frater, baik frater yang berkaul kekal maupun fratrer yunior dengan maksud agar penulis mendapatkan informasi yang lebih menyeluruh, merata dan seobyektif mungkin berkaitan dengan pemahaman, pengalaman dan harapan-harapan para Frater BHK akan kepemimpinan para pemimpinnya di zaman sekarang. Sedangkan menyangkut jumlah responden, penulis menetapkan 15 orang frater mengingat keterbatasan jumlah frater dan juga tingkat kesibukan dari masing-masing frater yang ada di komunitas-komunitas sebagaimana telah penulis sebutkan di atas.

  d. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian

  Moleong (2007: 9) berkata: “Dalam penelitian kualitatf, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama/ instrument utama.” Pendapat Moleong di atas sangat tepat karena, jika memanfaatkan alat pengumpul data yang bukan manusia, maka sangat tidak mungkin untuk mengadakan penyesuaian terhadap kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan. Oleh karena itu, hanya manusia sebagai alat sajalah yang dapat berhubungan dengan responden atau obyek lainnya, dan hanya manusialah yang mampu memahami kaitan kenyataan-kenyataan di lapangan. Selain itu hanya manusia sebagai instrument pulalah yang dapat menilai apakah kehadirannya menjadi faktor pengganggu, sehingga apabila terjadi hal yang demikian ia pasti dapat menyadarinya serta dapat mengatasinya.

  e. Teknik Analisa Data Teknik analisa data merupakan suatu langkah penting yang harus dilalui.

  Dalam hal ini, Moleong (2007:247) berkata, Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia yang diperoleh melalui wawancara. Setelah dibaca dan dipelajari, langkah selanjutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan melakukan abstraksi yaitu membuat rangkuman lalu kemudian menyusunnya dalam satuan-satuan. Satuan-satuan itu kemudian dikategorisasikan dan mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Langkah terakhir adalah memasuki tahap penafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori substantif. Berkaitan dengan teknik analisa data yang dikemukakan Moleong di atas, penulis tidak menerapkan semua langkah proses analisa data yang ada, namun penulis berusaha menerapakan hampir semua langkah yang ada kecuali langkah penafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori substantif/ teori baru, sebab memang penulis tidak bermaksud untuk sampai ke penemuan teori baru yang dimaksud.

f. Keabsahan Data

  Keabsahan data diusahakan dengan validitas (cross chek), atau obyektifitas yaitu mengusahakan agar data yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh pihak lain.

  Adapun reliabilitas data diupayakan dengan menggunakan member chek, dengan memberikan laporan tertulis mengenai wawancara yang telah dilakukan penulis. Tujuan

  

member chek adalah sebagai peneguh informasi yang diperoleh untuk digunakan dalam

penulisan sesuai dengan apa yang dimaksud oleh informan (Moleong, 2007: 148).

5. Laporan Hasil Penelitian

a. Temuan Umum: Komunitas para frater yang ada di Surabaya, Kediri dan Malang Jawa Timur.

  1). Komunitas Frateran St. Vinsensius a Paulo Surabaya.

  Komunitas Frateran St. Vinsensius a Paulo termasuk salah satu komunitas religius yang berada dalam wilayah teritorial Paroki St. Yoseph Karangpilang Keuskupan Surabaya. Komunitas Frateran St. Vinsensius a Paulo ini terletak di pinggiran kota Surabaya bagian barat, yang tingkat kehidupan ekonomi masyarakatnya rata-rata menengah ke bawah, dan populasi penduduknyapun sangat heterogen baik dari sisi suku, budaya, agama maupun ras. Komunitas ini letaknya masih agak jauh dari keramaian dan kebisingan kota metropolitan Surabaya sehingga suasana keheningan dan kesejukan masih terasa.

  Anggota Komunitas St. Vinsensius a Paulo ini terdiri dari empat orang frater, yakni Fr. M. Amatus, BHK (Pimpinan komunitas), Fr. M. Maximus, BHK (Mahasiswa di Universitas Widya Mandala Surabaya jurusan Pendidikan Bahasa Inggrish), Fr. M. Donatus, BHK (Ekonom rumah dan calon misionaris ke Kenya Afrika), dan Fr. M. Roberto, BHK (Tata Usaha di SMPK Angelos Custos II). Keempat frater ini berasal dari Flores.

  Tugas pokok yang diemban oleh masing-masing anggota komunitas ini berdasarkan tugas perutusan kongregasi yang dipercayakan kepada mereka sebagaimana tertera di atas. Namun selain tugas-tugas pokok itu, para frater juga melaksanakan tatacara kehidupan religius yang disepakati dan diputuskan bersama dalam komunitas yang mewujud dalam acara harian komunitas. Sedangkan kegiatan- kegiatan lain yang bersifat insidental adalah membantu pelayanan di paroki, memimpin ibadat di lingkungan, melayani tamu yang mau menginap di komunitas, mengunjungi umat yang sakit, mengikuti kegiatan yang diadakan oleh perkumpulan para religius sekeuskupan Surabaya, doa lingkungan, dan koor di paroki dan lingkungan.

  Komunitas Frateran St. Vinsensius a Paulo ini pun membawahi sebuah unit karya kongregasi sebagai perwujudan misi kongregasi yakni sebuah unit Sekolah Menengah Pertama Katolik Angelos Custos II (SMPK AC II) yang para muridnya rata- rata orang-orang pribumi yang tingkat ekonominya rata-rata menengah ke bawah. Unit karya ini berada di bawah naungan Yayasan Mardi Wiyata Sub Perwakilan Surabaya yang berkedudukan di Komunitas St. Paulus Jl. Kepanjen 14 Surabaya.

   2). Komunitas Frateran St. Paulus Surabaya

  Komunitas Frateran St. Paulus Surabaya terletak di kota Surabaya bagian utara yang juga termasuk pusat kota Surabaya. Komunitas ini termasuk wilayah teritorial Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria Keuskupan Surabaya. Paroki Kelsapa ini termasuk salah satu paroki tertua di kota Surabaya yang dikelola oleh para Romo Kongregasi Misi (CM), yang umatnya rata-rata berusia lanjut dan tingkat kehidupan ekonomi umatnyapun rata-rata menengah ke bawah.

  Jumlah frater yang mendiami Komunitas St. Paulus ini sejumlah 6 orang frater yakni: Fr. M. Normbertus, BHK (Pimpinan komunitas, Kepala Yayasan Mardi Wiyata Sub Perwakilan Surabaya dan Kepala Sekolah SMUK Frateran Surabaya), Fr. M. Herman Yoseph, BHK ( Wakil pimpinan komunitas, Kepala Sekolah SMPK Angelos

  

Custos I, dan Pengurus Yayasan Mardi Wiyata Pusat), Fr. M. Gaudensius, BHK

  (Mantan Kepala Sekolah SDK Xaverius I-II Surabaya), Fr. M. Gonsalis, BHK (Guru SDK Xaverius I-II Surabaya), Fr. M. Arnoldus, BHK (Bendahara Yayasan Sub Perwakilan Surabaya), dan Fr. M. Gilbertus, BHK (Ekonom rumah).

  Tugas utama para frater di komunitas ini adalah menjalankan tugas perutusan kongregasi sebagaimana dijelaskan di atas. Oleh karena itu untuk lebih jelasnya bahwa Komunitas Frateran St. Paulus ini membawahi beberapa unit karya yakni: Kantor Yayasan Mardi Wiyata Sub Perwakilan Surabaya, SMUK Frateran Surabaya, SMPK

  

Angelos Custos I, SMPK Angelos Custos II dan SDK Xaverius I-II Surabaya. Murid

  dari unit-unit karya ini mayoritas anak-anak cina yang tingkat ekonominya menengah ke atas terkecuali SMPK Angelos Custos II. Unit-unit karya Sub Perwakilan Surabaya ini sekaligus merupakan pendonor utama bagi kelangsungan unit-unit karya lain yang menyebar di Jawa dan NTT. Selain para frater melaksanakan tugas perutusan utama tersebut, mereka juga masih membantu di bidang pelayanan lain yang sifatnya insidental misalnya: tanggung koor di paroki, membantu sebagai prodiakon di paroki, memimpin ibadat/ pendalaman iman di lingkungan, dan membantu mendampingi kelompok-kelompok kategorial di paroki (Legio Maria, mengajar katekumen, dan kelompok misdinar). Selain itu, berhubung letak komunitas ini yang sangat strategis dengan jalur transportasi baik udara maupun laut, maka komunitas inipun berperan aktif sebagai komunitas transit untuk melayani para tamu yang datang, baik itu tamu para frater maupun tamu lainnya yang membutuhkan bantuan.

  3). Komunitas Frateran St. Yohanes Berchmans Kediri

  Komunitas Frateran St. Yohanes Berchmans terletak di tepi barat Sungai Brantas, yang juga berada di tengah kota Kabupaten Kediri. Komunitas ini termasuk dalam wilayah teritorial Paroki St. Yoseph Kediri Keuskupan Surabaya yang dikelola oleh seorang Romo Projo (Rm. Gonsalis, Pr) dan seorang Romo Kongregasi Misi (Rm. Thomas, CM). Tingkat kehidupan ekonomi umatnyapun rata-rata menengah ke bawah.

  Komunitas Frateran St. Yohanes Berchmans ini memiliki dua peran, yakni selain sebagai komunitas karya juga merupakan komunitas bagi para frater yang telah memasuki usia lanjut (Komunitas Lansia). Para frater yang mendiami komunitas ini berjumlah 6 orang frater antara lain: Fr. M. Renatus, BHK (Pimpinan Komunitas dan Kepala Yayasan Mardi Wiyata Sub Perwakilan Kediri), Fr. M. Marselinus, BHK (Wakil pimpinan komunitas dan Guru SMPK Frateran Kediri), Fr. M. Asterius, BHK (Perawat para frater lansia dan guru SDK Mardiwiyata Kediri), Fr. M. Bonavantura, BHK (Ekonom rumah), Fr. M. Paulus, BHK (Lansia) dan Fr. M. Marianus, BHK (Lansia). Asal usul keenam frater ini yakni satu orang dari Kediri Jawa Timur (Fr. M.

  Renatus, BHK), satu lagi dari Palembang yang juga keturunan Jawa (Fr. M. Bonaventura, BHK) sedangkan keempat frater lainnya berasal dari Flores- NTT.

  Kantor Yayasaan Sub Perwakilan Kediri, SMPK Mardi Wiyata Kediri dan SDK Mardi Wiyata Kediri. Kedua unit karya ini memiliki jumlah murid yang relatif sedikit dan pada umumnya merupakan anak-anak pribumi yang rata-rata memiliki tingkat kehidupan ekonomi menengah ke bawah.

  Tugas pokok yang diemban oleh para frater di komunitas Frateran St. Yohanes Berchmans ini, terkecuali kedua frater lansia adalah menunaikan tugas perutusan kongregasi yang dipercayakan kepada mereka sebagaimana termaktub di atas. Selain itu para frater juga ambil bagian dalam karya pelayanan di paroki dan di tengah umat misalnya: membantu di paroki sebagai prodiakon, lektor dalam misa harian, melayani komuni bagi umat yang sakit di RS. Baptis, mengikuti kegiatan rohani lingkungan dan mendampingi kelompok-kelompok kategorial (mudika dan perkumpulan para mahasiswa mahasiswi Katolik).

  4). Komunitas Frateran St. Gregorius Karang Widoro Malang

  Komunitas Frateran St. Gregorius ini terletak di Kabupaten Malang, Kecamatan Dau, Desa Karang Widoro, yang posisinya berada di bagian barat kota Malang arah menuju Gunung Kawi, yang merupakan daerah perumahan. Komunitas Frateran St.

  Gregorius ini termasuk wilayah territorial Paroki St. Andreas Tidar Keuskupan Malang, yang dikelola oleh para Imam Karmelit, yang nota benenya tingkat kehidupan ekonomi umatnya menengah ke atas.

  Komunitas ini merupakan komunitas Provinsialat di mana para Frater Dewan Provinsi Indonesia tinggal. Komunitas ini selain didiami oleh para Dewan Kongregasi Provinsi Indonesia juga ada beberapa frater muda yang sedang menjalani tugas studi di kota Yogyakarta. Para penghuni Komunitas St. Gregorius ini antara lain: Fr. M.

  Melkhior, BHK (Pimpinan Komunitas dan Ketua Komisi Pembangunan Kongregasi),

  Fr. M. Polikarpus, BHK (Anggota Dewan Komunitas dan Bendahara Yayasan Mardi Wiyata Pusat), Fr. M. Clemens, BHK (Mantan Provinsial, mantan Anggota Dewan Pusat di Belanda, dan sekarang sebagai Pengelola sekaligus Direktur Museum Zoologi Frater Vianney, BHK), Fr. M. Damianus, BHK (Provinsial), Fr. M. Kristoforus, BHK (Wakil Provinsial), Fr. M. Ferdinandus, BHK (Ekonom Komunitas, Administratur Pengawai Yayasan Santo Yoseph, Pengurus Arsip DPI, dan Ketua Komisi Penasihat Keuangan Yayasan Mardi Wiyata), Fr. M. Monffort, BHK (Anggota Dewan Provinsi Indonesia, Ketua Yayasan Mardi Wiyata, Wakil Ketua Komisi Penasihat Keuangan Dewan Pimpinan Umum, dan Anggota Komisi Penanaman Modal Kongregasi), Fr. M.

  Florianus, BHK (Mahasiswa IPPAK-USD Yogyakarta dan Anggota Tim Formasio), Fr. M. Silvester, BHK (Sekretaris Dewan Provinsi Indonesia, Anggota Kelompok Kerja Buku Tahunan Kongregasi, dan Staf Pengajar Novisiat), Fr. M. Wiliam, BHK (Mahasiswa FKIP jurusan Ekonomi – USD Yogyakarta), Fr. M. Paskalis, BHK ( Mahasiswa IPPAK-USD Yogyakarta), dan Fr. M. Kardinus, BHK (Mahasiswa FKIP jurusan Akuntansi – USD Yogyakarta). Anggota Komunitas ini semuanya berasal dari NTT ( Flores dan Timor).

  Tugas-tugas pokok yang ditangani oleh para Frater di Komunitas St. Gregorius ini adalah sesuai dengan tugas perutusan yang dipercayakan kongregasi kepada masing- masing frater sebagaimana termaktub di atas. Namun selain tugas-tugas pokok di atas, para frater di komunitas ini pun ambil bagian dalam pelayanan umat di paroki dan lingkungan misalnya: membantu sebagai prodiakon di paroki, tugas koor di paroki, melatih koor di lingkungan, mengikuti kegiatan rohani di lingkungan, dan membawakan komuni bagi umat yang sudah lanjut usia dan yang sakit, baik di rumah sakit maupun di rumahnya masing-masing, mendampingi PIA, PIR, Mudika, Misdinar dan kelompok katekumen di paroki.

b. Temuan Khusus: Hasil Wawancara

  Pada bagian ini, penulis akan memaparkan temuan khusus hasil wawancara enam (6) responden, dari lima belas (15) responden yang telah diwawancarai, yang sekiranya dapat memberikan gambaran yang agak lengkap tentang situasi kepemimpinan para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus saat ini.

  Hasil wawancara ini disusun berdasarkam permasalahan penelitian yakni: Pemahaman para Frater Bunda Hati Kudus tentang kepemimpinan Kristiani, pemahaman para Frater Bunda Hati Kudus tentang kepemimpinan religius, pengalaman para Frater Bunda Hati Kudus atas kepemimpinan para pemimpinnya dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus selama ini, dan gambaran pemimpin yang para Frater Bunda Hati Kudus dambakan. Menyangkut hasil wawancara secara detailnya dari masing-masing responden dapat dilihat pada bagian lampiran 4, hal. (5) – (16).

  1). Pemahaman para Frater Bunda Hati Kudus tentang Kepemimpinan Kristiani

  ¾ Menurut pemahaman frater, apa itu kepemimpinan Kristiani?

  R1: “… kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang berpola pada sabda

  dan kehidupan Yesus sendiri.”

  

R4: “… kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang mengacu pada Yesus

  sebagai tokoh utama yang mengajarkan dan meneladankan tentang kepemimpinan sejati.”

  R8: “… kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang bertolak dari

  kepemimpinan Yesus dan seluruh ajaran-Nya, yang bukan berlagak sebagai bos, tetapi sebaliknya sebagai pelayan dan pengabdi yang penuh cinta kasih dan kerendahan hati.”

  R12: “… kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang melandaskan diri

  pada Yesus Kristus sebagai pemimpin utama dan sekaligus peletak dasar kepemimpinan sejati sepanjang masa. Dalam hal ini seorang pemimpin harus terbuka untuk belajar dari Yesus, bagaimana Ia memimpin para rasul-Nya, yakni Ia memimpin mereka dengan penuh ketulusan hati, bebas dan iklas.

  R14: “… Kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang mengacu pada

  kepemimpinan Yesus sebagai Gembala utama, di mana Ia selalu melihat dan untuk menanggapinya. Dalam hal ini kepemimpinan Yesus selalu membawakan pembebasan, kebahagiaan dan keselamatan sejati bagi manusia.”

  R15: “… kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang berpola dan

  bersumber pada Yesus Kristus sebagai pemimpin utama dan sumber inspirasi.” Apa yang diungkapkan oleh ke enam responden di atas didukung oleh Sembilan responden lainnya, yang pada intinya mereka mengungkapkan bahwa kepemimpinan

  Kristiani adalah kepemimpinan yang berpola/bersumber pada ajaran Yesus Kristus dan keteladanan hidup-Nya.

  2). Pemahaman para Frater Bunda Hati Kudus Tentang Kepemimpinn Religius

  ¾ Menurut pemahaman frater, apa itu kepemimpinan religius?

  R4 : “… kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang selalu melandaskan

  diri pada ajaran Yesus Kristus (Kitab Suci), nilai-nilai ajaran Gereja (Kitab Hukum Kanonik), Konstitusi, anggaran dasar, regula, adat kebiasaan, dan spiritualitas yang dihidupi oleh setiap kongregasi/ lembaga hidup bakti.

  R5 : “… kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang bertolak dari ajaran

  Yesus Kristus dan ajaran Gereja, untuk mewujudkan visi Kristiani dan visi- misi kongregasi demi pelayanan yang penuh kasih dan perhatian bagi pertumbuhan, perkembangan serta kesejahteraan hidup jasmani dan rohani para anggotanya.”

  R6 : “… kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang berpola pada Yesus

  Kristus dan berusaha menyelaraskan kepemimpinannya dengan visi-misi serta spiritualitas yang dihidupi oleh kongregasi.”

  R9 : “… kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang diemban oleh

  seseorang dalam suatu kongregasi, yang selalu berusaha mengarahkan para anggotanya untuk hidup lebih terarah dan menghayati secara benar nilai-nilai Kristiani dan nilai-nilai hidup religius dalam kehidupan sehari-hari.”

  R14 : “… kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang bersifat struktural

  yang dipercayakan Kristus kepada Gereja-Nya, yang dalam pelaksanaannya tetap berpola pada Yesus Kristus sebagai pemimpin utama untuk menghantar para anggotanya menuju kesejahteraan jasmani dan rohani.”

  R15 : “… kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang tetap berpola pada

  Yesus Kristus dan berusaha menyelaraskan diri dengan spiritualitas, konstitusi dan adat kebiasaan serta amanah yang diputuskan dalam kapitel umum dan kapitel provinsi, yang mencakup tiga hal pokok yakni hidup rohani/doa, hidup berkomunitas/persaudaraan, dan hidup karya/kerasulan.” Selain apa yang diungkapkan oleh ke enam responden di atas juga didukung oleh ke sembilan responden lainnya dengan asumsi yang pada dasarnya memiliki esensi yang sama bahwa kepemimpinan religius merupakan kepemimpinan yang tak terpisahkan dari kepemimpinan Kristiani yang bersifat hirarkis dan selalu melandaskan diri pada ajaran Yesus, ajaran Gereja dan khasanah kongregasi, demi menuntun dan memperkembangkan para anggota dan kongregasi sesuai apa yang dicita-citakan bersama.

  3). Pengalaman para Frater Bunda Hati Kudus berkaitan dengan kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia selama ini.

  ¾ Bagaimana pengalaman frater berkaitan dengan kepemimpinan dalam

  kongregasi kita khususnya dalam Provinsi Indonesia selama ini?

R1 : “… situasi kongregasi kita khususnya dalam provinsi Indonesia saat ini sedang

  mengalami krisis kepemimpinan yang luar biasa. Hal ini pada umumnya disebabkan oleh faktor kepribadian dan pola kepemimpinan dari para pemimpin kita, yakni para pemimpin kita tidak memiliki program kerja yang jelas sehingga kerap kali program yang dijalankan hanya bersifat spontan belaka, tidak mendalam dan bahkan tidak menjawabi kebutuhan kongregasi dan para anggotanya. Program pengembangan sumber daya manusia para frater yang diamanatkan kapitel provinsi dijalankan namun tidak berjalan maksimal karena kurang adanya pengontrolan dan evaluasi serta karena kacau-balaunya manajeman kepemimpinan yang ada. Selain itu mereka juga kurang memiliki kemampuan untuk mendengarkan orang lain, tidak membangun dialog dari hati ke hati/ pemibicaraan pribadi khususnya dalam vsitasi. Pola pendekatan yang mereka bangun dengan para anggota pun lebih bersifat otoriter, kurang memberikan kepercayaan kepada para anggota atau memberipun hanya setengah hati, tidak memiliki kepedulian dan perhatian terhadap pendampingan dan pembinaan lanjutan bagi para frater yunior maupun frater senior. Beberapa hal lain yang menjadi penyebab terjadinya ketidakefektifan kepemimpinan kita saat ini adalah kurang adanya sikap rendah hati untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan/ kekeliruan yang dibuat, kerap kali banyak persoalan yang timbul dalam kongregasi tidak diselesaikan dengan baik dan tuntas, lambat dalam menanggapi persoalan yang muncul dan sekaligus lambat membaca peluang demi dan penghayatan konstitusi dan spiritualitas kongregasi, serta dangkalnya hidup doa dan keheningan hati dan kebeningan pikiran”.

  

R3 : “… kepemimpinan para pemimpin kita khususnya Dewan Provinsi Indonesia

  saat ini telah menimbulkan banyak keprihatinan dan masalah dalam kongregasi kita, yang pada umumnya disebabkan oleh pola kepemimpinan dan juga faktor kepribadian mereka sendiri, misalnya: pertama-tama mereka kurang memiliki kehidupan rohani yang mendalam, kurang mendalami dan menghayati konstitusi dan spiritualitas kongregasi sehingga kelihatannya mengambang dan tidak memiliki pegangan yang kuat, kurang adanya keseimbangan antara perkataan dan perbuatan, tidak mau mendengarkan orang lain khususnya para anggota kongregasi. Selain itu, pola pendekatan yang mereka terapkan juga sering bersifat otoriter sehingga dampaknya banyak frater meninggalkan kongregasi. Selain itu, mereka juga lambat membaca peluang dan tidak mengikuti perkembangan jaman, sehingga perkembangan kongregasi mengalami stagnasi atau bersifat statis. Hal ini terjadi karena mereka memimpin tanpa suatu visi-misi pribadi dan program kerja yang jelas”.

  

R7 : “… menurut saya ada beberapa titik lemah yang menjadi penyebab terjadinya

  banyak keprihatinan dalam kongregasi kita khususnya di Provinsi Indonesia saat ini antara lain: kurangnya sikap mengayomi oleh para pemimpin kita terhadap semua anggota, kurang jujur dan terbuka, kurang memilki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang kepemimpinan dan hal-hal yang berkaitan dengan hal ikhwal kongregasi. Selain itu mereka juga perilakunya masih infantile/ kekanak-kanakan, kurang berwibawa, sehingga kesannya mereka ada atau tidak ada sama saja”.

  

R10 : “… pengalaman saya berkaitan dengan kepemimpinan para pemimpin kita

  khususnya dalam Provinsi Indonesia saat ini, yakni kini kita masuk dalam suatu situasi yang sangat memprihatinkan dan sekaligus mengkhawatirkan untuk keberadaan dan perkembangan kongregasi kita ke depan. Hal ini menurut pengamatan saya disebabkan oleh faktor kepribadian para pemimpin dan juga pola kepemimpinan mereka yang kurang pas misalnya: saya sangat tidak setuju soal komposisi Dewan Provinsi Indonesia saat ini yang hanya berjumlah tiga orang dengan kapasitas yang tidak seimbang, yang kerap kali menjadi penyebab terjadinya ketidakberesan dalam menangani masalah- masalah yang timbul dalam kongregasi. Selain itu hidup doa sebagai fondasi hidup seorang religius dan bagi seorang pemimpin religius pada khususnya sangat terabaikan oleh pribadi para pemimpin kita sehingga mereka tidak memiliki power dan spirit serta kebijaksanaan dalam memimpin. Dalam hal ini kelihatan bahwa mereka terlalu sibuk dengan urusan-urusan dan kesibukan-kesibukan pribadi yang tidak penting bagi kongregasi dan akhirnya mereka dengan begitu mudah mengabaikan tugas pokoknya sebagai pemimpin dalam kongregasi. Selain itu, mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk membangun komunikasi dan dialog dari hati ke hati dengan para anggota kongregasi khususnya dalam visitasi untuk mendengarkan apa yang menjadi pergulatan, keluhan, problem, kesuksesan, kegagalan, dan kegembiraan mereka, sehingga dari sana sebagai seorang pemimpin dapat memberikan apresiasi, dukungan, dan motivasi bagi para anggotanya”.

  

R11 : “… dalam kepemimpinan Dewan Provinsi Indonesia saat ini saya

  mengalami, merasakan dan menemukan bahwa kepemimpinan mereka berjalan namun boleh saya katakan kepemimpinan yang mereka jalani adalah kepemimpinan tanpa roh dan tanpa arah serta tujuan yang jelas. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain : sebagai pemimpin religius mereka kurang mendalami dan menghayati spiritualitas, konstitusi dan visi-misi kongregasi sehingga kelihatannya mereka sangat labil dan tanpa pegangan. Selain itu mereka juga kurang terbuka terhadap Tuhan melalui hidup doa yang mendalam dan juga terhadap sesama konfrater, mereka juga kurang rendah hati untuk mengolah diri agar dari sana mereka dapat menemukan apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan mereka sebagai dasar pijakan untuk mengemban tugas kepemimpinan dengan baik dalam membimbing dan menuntun para anggotanya ke jalan yang baik dan benar sebagaimana dicita- citakan bersama. Mereka juga tidak mampu membangun pendekatan yang baik dengan para anggota yakni melalui komunikasi dan dialog dari hati ke hati untuk mengenal dengan jelas apa yang menjadi kelebihan, kekurangan, dan kerinduan terdalam dari masing-masing anggota untuk kemudian dijadikan sebagai dasar pijakan dalam mendampingi dan memberikan kepercayaan kepada masing-masing anggota. Hal lain yang menjadi penyebab melemahnya kepemimpinan mereka adalah mereka memimpin tanpa suatu program kerja yang jelas dan kurang adanya kerja sama yang solit di antara mereka sebagai pemimpin”.

  

R15 : “… pengalaman dan kesan saya terhadap kepemimpinan Dewan Provinsi

  Indonesia saat ini adalah pertama-tama secara pribadi saya mengatakan bahwa, saya sangat kecewa dengan pola kepemimpinan mereka selama ini, di mana pola kepemimpinan mereka tidak konsisten dengan apa yang telah diamanatkan oleh kongregasi melalui kepitel umum dan kapitel provinsi, sehingga kita bisa melihat, mengalami dan merasakan bersama bahwa kongregasi saat ini sungguh ditelantarkan dan tidak diurus dengan baik. Mereka memimpin tanpa pegangan dan arah yang jelas karena mereka tidak memiliki program kerja yag jelas, kehidupan rohani sangat lemah dan dangkal, dan mereka hanya sibuk dengan urusan dan kesibukan pribadi dan tidak mau duduk tenang untuk mempelajari, mendalami dan memaknai konstitusi dan spiritualitas kongregasi sebagai dasar setiap kebijakan mereka. Di satu sisi mereka tidak memiliki kerendahan hati untuk mengintrospeksi diri dan menyadari apa yang menjadi kekurangan dan kelemahan mereka, untuk kemudiaan berusaha membenahi diri, malah sebaliknya mereka hidup dan berjalan seolah-olah tanpa beban. Dalam hal ini mereka tidak mampu memberikan kesaksian hidup sebagai orang terpanggil baik dari sisi hidup rohani, hidup bersama/persaudaraan dan hidup karya. Dampak dari semua ini dapat kita lihat bersama yakni secara kualitas dan kuantitas hidup dan karya kita semakin menurun bahkan merosot tajam. Bertolak dari semua ini saya sebagai orang tua/ frater senior yang juga pernah menjadi pemimpin baik di provinsi maupun di pusat, sering kali merenung dan bertanya “ apakah dengan realitas seperti ini, ke depan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus masih bertahan hidup?” Selain pengalaman dan realitas yang diungkapkan keenam responden di atas, sembilan reponden lain juga mengukapkan realitas-realitas yang hampir sama, yang pada umumnya mengarah pada satu pendapat bahwa keberadaan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus khususnya di Porvinsi Indonesia saat ini sedang mengalami krisis kepemimpinan yang cukup parah yang perlu mendapatkan perhatian secara serius dari seluruh anggotanya untuk menyadari dan membenahinya kembali.

  

4). Gambaran Pemimpin yang didambakan oleh para Frater Bunda Hati Kudus

bagi kelangsungan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di zaman sekarang.

  ¾ Menurut frater gambaran pemimpin yang bagaimanakah yang frater

  dambakan bagi kelangsungan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di zaman sekarang? R3 : “… gambaran pemimpin yang saya dambakan adalah pemimpin yang

  memiliki keseimbangan antara perkataan dan perbuatan, yang dialogis, mampu mendengarkan, tidak otoriter, mampu mengikuti perkembangan jaman, berspiritualitas mendalam, dan mampu memberikan teladan hidup bagi para anggota dan orang lain”.

  R4 : “… gambaran pemimpin yang saya dambakan adalah : Pemimpin yang

  dialogis, partisipatif, yang dipercaya dan mempercayai anggota, berkemampuan mengontrol/mengevaluasi, rendah hati, mendengarkan, berani melakukan terobosan dan berani mengambil resiko, yang fleksibel dan situasional, memiliki visi-misi yang jelas, yang tegas dalam prinsip namun lembut dalam bersikap”.

  R8 : “… gambaran pemimpin yang saya dambakan adalah pemimpin yang

  mampu membimbing, mengarahkan dan menuntun para anggota untuk melangkah dan menghayati hidup sesuai dengan khasanah Gereja dan kongregasi yakni Kitab Suci, tradisi Gereja, konstitusi, adat kebiasaan, spiritualitas, kehidupan doa dan keheningan batin. Selain itu juga pemimpin yang rendah hati, yang mampu memberikan teladan hidup, terbuka dan jujur, tidak konsumeris dan hedonis, yang dialogis, partisipatif dan mampu mendengarkan orang lain”.

  R13 : “… gambaran pemimpin yang saya dambakan adalah pemimpin yang

  memiliki kemampuan manajerial, memiliki kematangan rohani, komunikatif, mampu mendengarkan, menghargai orang lain, jujur, terbuka, rendah hati, berwibawa dan bijaksana”.

  R14 : “… gambaran pemimpin yang saya dambakan adalah pemimpin yang

  memiliki relasi intim dengan Yesus sebagai pemimpin utama dalam hidupnya, mampu mengangkat harkat dan martabat setiap anggotanya, dialogis, peka, mampu mendengarkan, memiliki keseimbangan antara pikiran dan hatinya, tahu menempatkan diri, mampu mengolah diri dan dapat memberikan kesaksian hidup bagi para anggota dan orang lain, rendah hati, bijaksana, berwibawa, dan yang mau mengabdi dan melayani penuh cinta”.

  R15 : “… gambaran pemimpin yang saya dambakan adalah pemimpin yang

  mampu membimbing, menuntun, memotivasi dan menggerakkan para anggota agar secara pribadi maupun bersama-sama bertanggungjawab terhadap panggilannya dan juga bertanggungjawab terhadap vivi-misi dan spiritualitas kongregasi, terutama dalam meningkatkan dan memperdalam hidup doa, hidup bersama/persaudaraan, dan hidup karya. Selain itu juga pemimpin yang rendah hati, dapat dipercaya dan memberikan kepercayaan kepada para anggota, memiliki kemampuan mengontrol dan mengevaluasi, dan yang paling mendasar adalah pemimpin yang memiliki kematangan diri, baik secara jasmani maupun rohani/spiritual”.

  Gambaran pemimpin yang diungkapkan oleh enam responden di atas didukung dan dilengkapi oleh pendapat sembilan responden lainnya yang pada intinya sama-sama mendambakan seorang pemimpin yang patut diteladani dalam kehidupan sebuah lembaga religus di zaman sekarang.

c. Pembahasan Penelitian

  Pada bagian ini akan disampaikan pembahasan penelitian, berdasarkan hasil penelitian mengenai kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di zaman sekarang. Dalam pembahasan ini penulis memaparkannya dalam 4 (empat) bagian. Pertama, mengenai pemahaman para frater tentang kepemimpinan Kristiani.

  Kedua, mengenai pemahaman para frater tentang kepemimpinan religius. Ketiga, mengenai pengalaman para frater berkaitan dengan kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus selama ini. Keempat, mengenai gambaran pemimpin yang

  1). Pemahaman para Frater Tentang Kepemimpinan Kristiani

  Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa para Frater Bunda Hati Kudus, telah memahami arti kepemimpinan Kristiani. Menurut mereka, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang mengacu dan berpola serta berpusat pada ajaran dan keteladanan hidup Yesus Kristus. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh rasul Petrus dalam suratnya yang pertama yang mengatakan bahwa: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1 Ptr 2:21).

  Dari ungkapan pemahaman para frater tentang kepemimpinan Kristiani ini, menunjukkan bahwa betapa mutlaknya ajaran dan keteladanan hidup Yesus bagi seorang Kristen dalam mengemban tugas kepemimpinan yang dipercayakan kepadanya.

  Pemahaman akan arti kepemimpinan Kristiani ini tidak secara otomatis dapat dihayati dan dilaksanakan secara baik oleh seorang pemimpin dalam ranah kepemimpinannya. Begitupun halnya para Frater Bunda hati Kudus yang secara pemahaman mereka telah cukup memahami tentang kepemimpinan Kristiani namun dalam penghayatan masih terdapat kekurangan dan kelemahan. Hal ini terungkap dari para frater bahwa betapa indahnya ajaran dan keteladanan hidup Yesus yang diwariskan-Nya kepada kita, namun betapa sulitnya setiap orang Kristen khususnya setiap pemimpin Kristen untuk menghayati dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun bagaimanapun juga ajaran dan keteladanan hidup Yesus inilah yang menjadi satu-satunya tolok ukur bagi kepemimpinan Kristiani sepanjang masa. Inilah yang harus dihayati, dimaknai, diaktualisasikan dan diperjuangkan oleh setiap pengikut-Nya khususnya oleh setiap pemimpin Kristen.

  2). Pemahaman para Frater Tentang Kepemimpinan Religius

  Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa pada umumnya para frater sudah cukup memahami arti kepemimpinan religius. Pada intinya mereka berpendapat bahwa, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang bersifat struktural yang dipercayakan Kristus kepada Gereja-Nya / pengikut-Nya yang dalam pelaksanaannya tetap berpola pada Yesus Kristus sebagai pemimpin utama, ajaran Gereja, Konstitusi, adat kebiasaan dan spiritualitas kongregasi untuk menghantar para anggotanya menuju kesejahteraan jasmani dan rohani secara utuh. Hal ini sesuai dengan apa yang digambarkan oleh para Bapa Gereja tentang Kepemimpinan Religius sebagaimana termaktub dalam Kitab Hukum Kanonik, Bab II khususnya dalam kanon 618, yang mengungkapkan bahwa ”Para pemimpin hendaknya menjalankan kuasa yang diterima dari Allah lewat pelayanan Gereja dalam semangat pengabdian,...” (KHK, no. 618, 1999: 193).

  Oleh karena itu setiap pemimpin religius dalam mengemban tugas kepemimpinannya, ia harus selalu menyadari bahwa tugas kepemimpinan yang diembannya melulu merupakan kepercayaan dari Allah sendiri, sehingga dengan demikian seorang pemimpin religius harus senantiasa menyelaraskan kepemimpinannya dengan apa yang menjadi kehendak dan rencana Allah baginya demi pertumbuhan dan perkembangan kongregasi, serta demi kesejahteraan jasmani dan rohani para anggotanya. Namun para frater pun menyadari penuh bahwa ternyata pengertian kepemimpinan religius ini tidak cukup hanya sebatas dipahami tetapi juga harus dihayati, dimaknai dan diaktualisasikan oleh setiap pemimpin religius, khususnya dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus.

  

3). Pengalaman para Frater berkaitan dengan kepemimpinan dalam Kongregasi

Frater Bunda Hati Kudus selama ini.

  Berdasarkan hasil penelitian yang ada, terungkap oleh masing-masing frater bahwa ternyata kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus selama ini, tidak secara sepenuhnya para pemimpin menghayati dan mengaktualisasikan apa yang dicita-citakan dalam kepemimpinan Kristiani dan kepemimpinan religius sebagaimana termaktub di atas. Hal ini terlihat dari begitu banyaknya ungkapan keprihatinan dan krisis kepemimpinan yang sedang terjadi dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus saat ini. Hal ini telah menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan bagi banyak frater tentang masa depan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus.

  Dalam penelitian ini, pada umumnya para frater mengungkapkan bahwa Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus saat ini sedang mengalami krisis kepemimpinan yang sangat parah. Hal ini disebabkan oleh faktor kepribadian yakni kelemahan- kelemahan manusiawi dari para pemimpin yang tidak disadari dan diolah. Selain itu juga faktor manajerial kepemimpinan yang sangat rapuh, sebagaimana terungkap dalam hasil wawancara yang telah penulis paparkan di atas. Dari hasil wawancara itu pada umumnya responden (para frater) berpendapat bahwa kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, khususnya dalam Dewan Provinsi Indonesia saat ini diibaratkan seperti robot yakni berjalan tanpa roh dan kekuatan serta pegangan.

  Situasi keprihatinan ini tak dapat dipungkiri, dan ini menjadi keprihatinan dan tanggung jawab bersama seluruh anggota kongregasi untuk bersama-sama berusaha mencari solusi terbaik untuk menyelamatkan masa depan kongregasi dari situasi dan keadaan yang sangat mencemaskan ini.

  

4). Gambaran pemimpin yang didambakan oleh para Frater dalam kehidupan di

zaman sekarang.

  Dari hasil penelitian yang ada, dengan bertolak dari realitas yang sedang terjadi dalam kongregasi saat ini, yakni krisis kepemimpinan yang telah menimbulkan keprihatinan serta kecemasan yang mendalam, para frater mendambakan dan merindukan suatu perubahan dan pembaharuan / transformasi kepemimpinan dalam kongregasi saat ini. Hal ini terungkap dari setiap responden yang pada umumnya mendambakan pemimpin yang memiliki relasi intim dengan Yesus sebagai pemimpin utama dalam hidupnya, mampu mengangkat harkat dan martabat setiap anggotanya, dialogis, peka, mampu mendengarkan, memiliki keseimbangan antara pikiran dan hatinya, tahu menempatkan diri, mampu mengolah diri dan dapat memberikan kesaksian hidup bagi para anggota dan orang lain, rendah hati, bijaksana, berwibawa, dan yang mau mengabdi dan melayani penuh cinta dengan meneladan pola kepemimpinan Yesus sendiri sebagai pemimpin utama dan pemimpin sejati sepanjang masa.

  Kiranya inilah yang menjadi kerinduan terdalam dari setiap frater dalam menyikapi realitas kepemimpinan yang sedang berlagsung selama ini. Oleh karena itu hanya melalui suatu kesadaran mendalam dan pengolahan diri yang baik serta suatu proses transformasi diri yang utuh dan menyeluruhlah, suatu keterpurukan, kelemahan dan kekurangan dapat teratasi dan diperbaharui menuju suatu ranah yang lebih baik dan berkualitas yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan suatu lembaga religius serta semakin terjaminnya kesejahteraan jasmani dan rohani para anggotanya. Dalam hal ini seorang pemimpin dituntut untuk senantiasa menyadari keberadaannya dari sisi kelebihan dan terutama apa yang menjadi kelemahannya, sehingga dari sana ia berusaha untuk mentransformasikan dirinya menuju suatu kepemimpinan yang lebih baik dan efektif bagi pertumbuhan dan perkembangan kongregasinya.

d. Kesimpulan Penelitian

  Berdasarkan hasil penelitian di atas, penulis menyimpulkan bahwa setiap pemimpin Kristiani pada umumnya dan pemimpin religius khususnya mutlak harus memahami arti dan makna kepemimpinan Kristiani dan kepemimpinan religius, sehingga ia tahu dan secara sadar, mau berusaha mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam seluruh ranah kepemimpinannya demi kesejahteraan jasmani dan rohani para anggotanya serta demi perkembangan dan kemajuan karya kerasulan kongregasi yang dipimpinnya. Kiranya hal inilah yang patut dipahami dan dihayati serta diwujudkan oleh para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di zaman sekarang.

  Berkaitan dengan pengalaman para frater sehubungan dengan pola kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus saat ini, ternyata realitas berbicara lain. Kenyataannya dalam kepemimpinan saat ini tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan bersama atau boleh dikatakan kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus khususnya dalam Provinsi Indonesia saat ini sangat melenceng jauh dari apa yang menjadi idealisme kepemimpinan Kristiani dan kepemimpinan religius yang dicita-citakan bersama. Hal ini terungkap dari keprihatinan yang diungkapkan oleh setiap responden yang kesemuanya menunjukkan keprihatinan yang mendalam berkaitan dengan kepemimpinan Kongregasi frater Bunda Hati Kudus di Indonesia saat ini.

  Bertolak dari realitas kepemimpinan kongregasi yang sangat memprihatinkan tersebut, maka para responden merindukan perubahan dan pembaharuan/transformasi kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus demi semakin bertumbuh dan berkembangnya kongregasi.

  Untuk mencapai semuanya ini, setiap anggota kongregasi dituntut untuk menyadari keberadaan dirinya (kelebihan dan kelemahannya) sehingga dari sana dapat timbul suatu kesadaran untuk mentransformasikan diri baik secara pribadi maupun secara bersama-sama menuju kehidupan bersama yang lebih baik. Dalam hal ini para anggota kongregasi juga dituntut untuk membantu para pemimpinnya dalam mengupayakan proses transformasi ini tanpa menuding, mempersalahkan bahkan melukai satu sama lain.

  Berdasarkan realitas ini, maka pada Bab V dalam penulisan ini, penulis akan mengusulkan sebuah katekese bagi para Frater Bunda Hati Kudus sebagai upaya mengembangkan kepemimpinan transformatif, demi terwujudnya kesejahteraan hidup jasmani dan rohani para frater dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di zaman sekarang.

BAB V USULAN KATEKESE BAGI PARA FRATER BUNDA HATI KUDUS SEBAGAI UPAYA MENGEMBANGKAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMATIF Hakekat kepemimpinan Kristiani adalah kegembalaan yang melayani,

  merupakan gambaran pemimpin Kristiani yang ideal. Dengan demikian pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bersikap seperti ”gembala” yang baik terhadap ”domba-dombanya”, atau para anggota yang harus dilayaninya. Oleh karena itu sikap utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin gembala adalah ia harus rela berkorban/ mau direpotkan oleh para anggotanya, mengusahakan dirinya bermanfaat bagi para anggotanya, siap melindungi/ memberi rasa nyaman bagi para anggotanya, dekat dan mengenal secara mendalam para anggotanya, sehingga ia dapat dicintai dan dipercaya oleh mereka, dan yang paling mendasar adalah ia harus memiliki relasi yang intim dan mendalam dengan Allah, sehingga segala tidakan dan kebijakkannya selalu selaras dengan rencana dan kehendak Allah. Selain itu karena ia dekat dan merasa dikenal Allah, maka ia amat berani karena merasa selalu disertai Allah dalam membimbing, menuntun dan melayani para anggotanya. Kiranya kualifikasi kepemimpinan gembala ini sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan transformatif, di mana sang pemimpin berusaha untuk senantiasa mentransormasikan dirinya dan juga hidup para anggotanya. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Wofford (2001:154) yang mengatakan bahwa “Para pemimpin Kristen yang transformatif adalah pemimpin yang peka terhadap kebutuhan para pengikut/ para anggotanya sebagai individu-individu”. Lebih lanjut Wofford mengatakan bahwa:

  Perhatian pemimpin terhadap domba-dombanya/ para anggotanya juga tampak dalam banyak bentuk: rela mengorbankan minat-minat pribadi, memberikan waktu dan tenaga, memperlakukan mereka dengan adil, memberikan perhatian terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi, dan mengasihi mereka sebagai orang Kristen (Wofford, 2001: 154).

  Seorang pemimpin gembala yang transformatif adalah seorang pemimpin yang menyediakan dirinya bagi pelayanan terhadap para anggotanya dan menjadikan para anggotanya sebagai orientasi utama kepemimpinannya dan bukan kepentingan dan opsesi pribadinya. Dalam hal ini pemimpin selalu berusaha untuk mentransformasikan dirinya dan juga para anggotanya untuk bersama-sama hidup terarah pada apa yang dicita-citakan bersama dalam lembaga atau kongregasi yang dihidupinya dan sekaligus mempersiapkan para anggotanya untuk menjadi calon-calon pemimpin yang handal dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kongregasi. Oleh karena itu bertolak dari hasil penelitian yang telah penulis paparkan dalam Bab IV khususnya berkaitan dengan keberadaan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia saat ini dan adanya harapan-harapan akan suatu perubahan dalam kepemimpinan kongregasi saat ini dan ke depan, maka penulis merasa perlu adanya suatu proses transformasi diri yang menyeluruh bagi para Pemimpin Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus maupun bagi para anggotanya.

  Pada Bab V ini penulis mengusulkan sebuah model kepemimpinan yang tak terpisahkan dari model kepemimpinan Kristiani yang penulis anggap masih sangat relevan dan inspiratif untuk dapat dihayati dan dikembangkan oleh para pemimpin maupun para anggota Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus demi meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kongregasi. Model kepemimpinan yang dimaksud adalah “Model kepemimpinan Transformatif”. Model kepemimpinan transformatif ini akan disosialisasikan dan diperdalam melalui suatu bentuk katekese yang penulis usulkan dalam bab ini juga.

  Model kepemimpinan transformatif ini merupakan bagian tak terpisahkan dari model kepemimpinan Yesus sebagai gembala yang baik yang selalu berjuang bahkan memberikan nyawa-Nya sendiri sebagai tebusan dan sekaligus demi memberikan rasa nyaman, sukacita dan kegembiraan bagi yang sedih dan kesepian, kelimpahan bagi yang berkekurangan, kesembuhan bagi yang sakit, menunjukkan jalan bagi yang tersesat dan kemerdekaan dan keselamatan sejati bagi yang terbelenggu.

  

A. Kepemimpinan Transformatif sebagai Model Kepemimpinan yang

diharapkan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Zaman Sekarang

1. Kepemimpinan Transformatif

  a. Pengertian Transformasi Isitilah transformasi berasal dari bahasa Latin trans (= di seberang/ menyeberang/ melintasi) dan formatio (dari forma = bentuk, rupa, wujud) yang berkaitan dengan kata kerja formare yang berarti ‘memberi bentuk kepada’, ‘membentuk’. Maka istilah transformasi memuat makna “suatu perubahan bentuk yang selalu terjadi dalam proses” (Martasudjita, 2001:50).

  b. Pengertian Kepemimpinan Transformatif Kepemimpinan transformatif menurut Darminta (2005:50) adalah

  “kepemimpinan yang mampu memotivasi untuk mengadakan pembaharuan atau perubahan hidup secara positif”. Dalam ranah kepemimpinan religius sebagai wujud konkret dari struktur pelayanan dalam suatu lembaga hidup bakti atau suatu kongregasi, dalam perkembangannya hingga saat ini belum mencapai titik kesempurnaannya.

  Dalam hal ini kepemimpinan dalam lembaga Gereja khususnya lembaga hidup religius masih sangat labil, yang dari saat ke saat masih membutuhkan suatu transformasi sebagai suatu proses menuju suatu pola kepemimpinan yang ideal yang tentu saja berpusat dan bersumber pada Kristus sebagai pusat dan sumber keteladanan kepemimpinan sejati. Oleh karena itu dalam suatu lembaga religius harus selalu berusaha menyadari keberadaannya, baik dari sisi positif maupun sisi negatifnya dalam kaitannya dengan kepemimpinannya sebagai barometer kehidupan lembaga itu sendiri. Dengan demikian pemimpin dan seluruh anggota lembaga itu secara sadar, tahu dan mau mengadakan suatu proses transformasi diri menuju suatu taraf kehidupan yang lebih berkualitas baik dari sisi kepemimpinannya maupun aspek-aspek kehidupan lain dari lembaga itu. Sebab apabila hal ini tidak disadari dan dilakukan maka, lembaga hidup religius itu entah cepat atau lambat akan mengalami stagnasi bahkan mati.

  Transformasi atau pembaharuan menurut Darminta (2005:47) adalah “kelahiran cara hidup baru dengan menerima gagasan serta pandangan baru, cara kerja dan kerasulan baru ataupun juga yang dapat tumbuh dan berkembang dalam hidup religius secara positif”. Lebih lanjut Darminta mengatakan tumbuh menjadi baru berarti bahwa “hidup religius tetap bermakna baik bagi kaum religius itu sendiri maupun bagi orang lain yang menerima pelayanan kaum mereka”. Dalam hal ini seorang pemimpin dalam menjalankan perannya ia harus berusaha untuk menanggalkan egonya dan menempatkan kehidupan para anggota serta visi-misi lembaga yang dipimpinnya sebagai hal tertinggi yang harus ia perjuangkannya. Untuk mencapai hal ini, pemimpin harus mampu mengosongkan dirinya untuk dengan segala kerendahan hati dan penuh cinta mendekati, membangun baik secara bersama-sama maupun dari hati ke hati, mengayomi, mendengarkan apa yang menjadi pergulatan, kegagalan, kesuksesan, kesedihan, kegembiraan yang dialami oleh para annggotanya, sehingga dari sana ia berusaha memotivasi dan mendukung mereka untuk bersama-sama berjuang mewujudkan, memajukan dan memperkembangkan apa yang menjadi tujuan hidup mereka dan sekaligus visi-misi lembanganya. Oleh karena itu seorang pemimpin dalam menjalankan fungsinya ia perlu memperhatikan beberapa hal penting sebagaimana dikemukakan oleh Darminta (2005:50) sebagai berikut: 1). Seorang pemimpin harus mengusahakan terjadinya kepemimpinan yang mendukung. Hal ini dicapai melalui dialog dan keterlibatan semua anggota baik secara prbadi maupun bersama, demi menemukan kekuatan yang ada dalam kelompok untuk masuk ke dalam suatu proses pembaharuan serta perubahan dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama. 2). Pemimpin harus membantu atau mengajak anggotanya untuk menemukan sarana- sarana yang mau dicapai bersama demi suatu perubahan cara hidup, atau cara kerja, atau penciptaan karya-karya baru yang tepat guna atau yang sesuai dengan kebutuhan bahkan peningkatan karya yang sudah ada.

  3). Pemimpin harus menumbuhkan keyakinan dan kemampuan anggota untuk bertindak dan mengambil langkah yang tepat dan bijaksana. Pemimpin mengajak seluruh anggotanya untuk mengusahakan suatu kemajuan meskipun dalam prosesnya ada ketidakberdayaan, tantangan atau penderitaan tetapi pemimpin dan para anggotanya perlu memiliki keyakinan yang teguh bahwa penderitaan dalam mencapai suatu pembaharuan itu berharga dan bermakna, oleh karena itu pemimpin dituntut untuk memiliki kesabaran dan ketegaran. 4). Pemimpin perlu menempatkan bakat dan ketrampilan seseorang menurut kebutuhan sehingga mereka dapat memberikan pengaruh positif bagi pertumbuhan dan perkembangan kongregasi ke arah yang lebih baik lagi. 5). Seorang pemimpin perlu mengembangkan team work dan kerjasama dengan orang suatu tanggung jawab sehingga kepemimpinannya dapat lebih efektif dan efisien.

  Kepemimpinan kegembalaan yang transformatif dapat dikatakan sebagai kepemimpinan yang efektif dan efisien apabila kepemimpinan itu mampu membawa para anggotanya untuk memasuki suatu proses transfomasi diri tahap demi tahap menuju suatu kehidupan yang lebih baik yang diidealkan bersama dengan tidak meninggalkan dunia sebagai tempat pijakkannya dengan segala tuntutan dan tantangannya. Proses semacam ini merupakan suatu proses metanoia/ proses pembaharuan hidup secara terus-menerus baik bagi pemimpinnya maupun bagi para anggotanya demi pencapaian kesempurnaan hidup bersama sebagai suatu lembaga religius.

2. Kemampuan Dasar Kepemimpinan Transformatif

  Menjadi seorang pemimpin yang transformatif merupakan sesuatu hal yang tidak gampang seperti membalikkan telapak tangan. Sebab untuk menjadi seorang pemimpin yang transfomrmatif perlu adanya suatu keberanian dan kemampuan dasar dalam diri sang pemimpin itu sendiri sebagai kekuatan yang dapat memampukan dia dalam melakukan suatu transformasi baik bagi dirinya maupun bagi para anggotanya demi pertumbuhan dan perkembangan lembaga/ kongregasi yang dipimpinnya. Kemampuan-kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin itu menurut Martasudjita (2001: 36-40) adalah: a. Menjadi seorang pemimpin yang mampu terus belajar, yakni mampu untuk mendengarkan, membaca, menangkap masalah, menganalisa, mempertimbangkan macam-macam hal dan faktor, berwawasan luas, mampu berdialog, peka pada tanda-tanda zaman dan mau berkembang serta mengubah diri. b. Menjadi komunikator yang baik, yang mampu menyampaikan sesuatu dengan jelas, tegas tatapi bijaksana dan lembut, mampu mengungkapkan perasaan secara seimbang, mampu merumuskan sesuatu dengan tepat dan inspiratif, mampu menghubungkan yang sekarang dengan yang lampau, dan mampu membangkitkan semangat para anggota untuk bekerja giat dan hidup baik.

  c. Menjadi pemersatu, seperti seorang dirigen dalam orkestra, yang mampu memadukan aneka kekayaan dan kekhasan masing-masing anggota, bagi kebaikan keseluruhan. Ia juga harus mampu membuat para anggotanya merasa at home dan merasa dirinya berharga dan penting bagi komunitas/ persekutuan.

  d. Menjadi orang yang mampu dan berani membuat keputusan yang tepat dan bijaksana bagi kebaikan bagi seluruh anggota kongregasi dan pihak-pihak lain yang berhubungan dengan keputusan itu. Ia pun harus berani mengambil resiko dan menanggungnya.

  e. Menjadi orang yang bersemangat dalam melayani proses transformasi kongregasi, bagi kemajuan dan kebaikan kongregasi, Gereja, dan masyarakat. Proses transformasi yang harus ia buat juga meliputi kemampuan untuk mangadakan kaderisasi atau regenerasi kepemimpinan yang baik. Pemimpin yang membuat segalanya terpusat pada dirinya dan tidak memungkinkan orang lain berkembang dan menggantikan dirinya tentulah bukan pemimpin yang berjiwa transformatif.

  Kepemimpinan transformatif di sini berarti kepemimpinan yang mampu mengubah hidup dari hidup yang terpusat pada diri atau kepentingan sendiri ke hidup altruis, yakni hidup untuk orang lain dan makin terbuka terhadap suka-duka kehidupan masyarakat sekitarnya, terutama bagi mereka yang lemah, kecil, miskin, dan tersingkir. f. Menjadi orang yang bisa mengerjakan seperti yang dikerjakan Yesus dalam perjalanan-Nya ke Emaus bersama kedua murid itu. Di situ seperti Yesus, pemimpin harus memiliki visi dan arah yang jelas yang mau dituju, mendorong, mendengarkan, mengajak refleksi dan bertanya bagi penemuan kehendak Allah, memberi informasi, menarik implikasi-implikasi, mampu menghubung-hubungkan dan membagikan roti kepada teman perjalanan.

  g. Menjadi pendoa. Seorang pemimpin yang baik dan transformatif tentu ia rajin berdoa untuk kawanannya/ para anggotanya, teman-teman sekomunitasnya, umatnya atau orang-orang yang dipercayakan kepadanya. Ia juga perlu menjadi seorang yang hidup rohani dan doanya mendalam, sebagaimana terungkap dalam kata dan tindakan sedemikian rupa sehingga para anggotanya dan orang lain di sekitarnya merasa damai dan tenang.

3. Spiritulitas Kepemimpinan Transformatif

  Memahami dan menguasai teori-teori dan ketrampilan kepemimpinan transformatif belumlah cukup bagi seorang pemimpin untuk menjadi seorang pemimpin transformatif yang sesungguhnya. Oleh karena itu seorang pemimpin khususnya para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus sangat perlu memperdalam spiritualitas kepemimpinan transformatif yang menyangkut inti jiwa atau roh yang senantiasa mendorong, menguatkan dan menyemangati sang pemimpin dalam menghayati dan mengaktualisasikan kepemimpinannya dengan menempatkan Kristus sebagai pusat/ titik sentral kepemimpinannya yang terejawantah dalam diri para anggota yang dipimpinnya. Dalam hal ini seorang pemimpin harus selalu menjadikan Kristus sebagai sumber dan pusat kekuatan dan inspirasi kepemimpinannya. Dalam hal ini, Martasudjita (2001: 45) mengatakan:

  …. makna terdalam kepemimpinan transformatif dalam semangat Injil, adalah suatu kepemimpinan yang tidak pernah mengganti posisi sentral Tuhan dengan dirinya. Ia rela untuk tidak menjadi pusat perhatian, dan biarlah para anggota tetap hanya memiliki satu fokus perhatian, yakni Tuhan sendiri. Seorang pemimpin tranformatif menurut semangat Injil akan rela untuk dilupakan, diabaikan dan dianggap tidak penting. Yang penting baginya adalah bahwa Tuhanlah yang diabdi dan dilayaninya, sebagaimana semangat Yohanes Pemandi sendiri yang berkata: “Ia (Yesus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

  Menurut Martasudjita (2001: 46-56) ada tiga spiritualitas kepemimpinan transformatif Injili yang kiranya sangat perlu didalami, dimilki dan dihayati oleh seorang pemimpin Kristiani/ pemimpin religius khususnya para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda hati Kudus di Indonesia di zaman sekarang, di antaranya adalah : a. Kepemimpinan Sebagai Gembala Yesus dalam perumpamaan-Nya menyampaikan ciri-ciri gembala yang baik.

  Gembala yang baik berani dan rela menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya (Yoh 10:11). Gembala yang baik selalu mengenal domba-dombanya dan domba-domba mengenalnya (Yoh 10:14). Seorang gembala yang baik juga harus memiliki pengenalan dan relasi yang intim dengan Bapa (Yoh 10: 15) Dan akhirnya gembala yang baik selalu berusaha mencari domba yang tersesat di mana ia rela meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor untuk pergi mencari dan menemukan satu ekor domba yang tersesat (bdk. Luk 15:4-7).

  Seorang pemimpin yang sekedar kehilangan harta benda, materi, nama, kehormatan atau martabat belumlah cukup. Pemimpin harus berani kehilangan yang paling berharga dari dirinya, yakni hidupnya sendiri. Dalam hal ini seorang pemimpin (Frater BHK) harus rela merepotkan diri dan direpotkan oleh para anggota serta berani memberikan seluruh totalitas hidupnya, yakni hati, pikiran, bakat dan kemampuan bahkan hidupnya sendiri untuk melayani dan menumbuhkan serta memperkembangkan hidup para anggotanya teristimewa bagi mereka yang dianggap lemah dan tak berdaya agar mereka dapat menemukan kepenuhan hidup dalam Kristus sang Gembala utama mereka.

  Mengenal dalam arti biblis bukan hanya sekedar tahu nama, hobi, alamat entah alamat surat, telepon, email atau facebooknya, keluarga atau pekerjaannya. Mengenal bersangkut-paut dengan soal ”mempunyai relasi atau hubungan personal dan mendalam”. Dalam hal ini semangat kegembalaan seorang pemimpin (Frater BHK) tampak dalam bagaimana ia memiliki hubungan yang mendalam, personal dan saling meneguhkan dengan para anggotanya. Segala suka-duka para anggotanya ada dalam doa dan pelayanannya setiap waktu.

  Suatu hal pokok yang harus dibangun dan dimiliki oleh seorang pemimpin (Frater BHK) adalah ia harus memiliki relasi yang personal dan intim dengan Allah Bapanya, dalam arti ia harus sungguh mengenal, mencintai dan setia serta taat melaksanakan apa yang dikehendaki Allah baginya dan selalu menempatkan Allah sebagai segala-galanya dalam seluruh ranah kepemimpinannya dan sebaliknya Allah pun akan selalu mengenal, mencintai, membimbing, menuntun dan memberikan kekuatan, kebijaksanaan dan keberanian dalam menjalankan kepemimpinannya, sehingga bukan lagi ia yang memimpin berdasarkan kemanusiaannya melainkan Allah atau Kristuslah yang selalu hidup, hadir dan memimpin dalam dirinya. Hidup dan cara memimpin yang demikian sangat sesuai dengan apa yang dihayati oleh Santo Paulus “…namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup. Melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri- Nya untuk aku” (Gal 2:20).

  Gembala atau pemimpin yang berani meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba dan mencari satu ekor domba yang hilang ialah pemimpin yang selalu mencintai setiap anggotanya, sekalipun anggotanya itu ada yang selalu rewel, bermasalah, menyebalkan, membosankan, suka berontak dan menentang. Sebab bagi seorang gembala/ pemimpin yang baik (Frater BHK), setiap domba/ setiap anggota, entah bagaimanapun keadaannya, ia tetap bernilai dan berharga baginya, yang akan dijaganya seperti biji mata, sebagaimana disampaikan oleh Nabi Musa ”Tetapi bagian Tuhan adalah umat-Nya, Yakup ialah milik yang ditetapkan bagi-Nya. Didapati-nya di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya” (Ul 32: 9-10).

  b. Kepemimpinan Sebagai Pelayan Dalam kehidupan di zaman sekarang gambaran hamba atau budak semakin samar dan bahkan boleh dikatakan tidak relevan lagi. Hamba dalam pengertian biblis ialah mereka yang menjadi budak. Menjadi seorang budak berarti hidup tanpa hak apapun dan secara ekstrim hak atas hidupnya pun tidak dimilikinya. Seorang budak hanya memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan setiap saat, karena ia harus melayani tuannya/ majikannya kapan dan di manapun ia dibutuhkan. Dengan kata lain budak itu total hanyalah seorang pelayan, di mana ia hanya melaksanakan perintah tuannya. Inti spiritualitas hamba ada pada hidup dan pribadi Yesus sang hamba sejati: yang mengosongkan diri, menjadi hamba dan bahkan mati di salib sebagaimana dikatakan Santo paulus “ Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu, sebagai milik yang harus dalam arus gerakan menurun ialah yang paling penting dalam spiritualitas kepemimpinan seorang pelayan.

  Setiap pemimpin memiliki tuan atau majikan yang utama, yakni Tuhan sendiri. Namun dalam praksis kepemimpinan sehari-hari majikan utama, yakni Tuhan itu hadir melalui dan dalam diri para anggota kongregasi ataupun orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepadanya untuk diperhatikan, dibimbing, diarahkan, dituntun dan dilayani. Oleh karena itu agenda kerja seorang pemimpin (Frater BHK) harus bersumber dan tertuju pada kebutuhan dan kepentingan kongregasi yang di dalamnya Tuhan hadir melalui dan dalam diri pribadi-pribadi para anggota yang harus dilayani dengan penuh totalitas, kerendahan hati atau pengosongan diri serta penuh kelembutan kasih. Dengan demikian bagi seorang pemimpin (Frater BHK) hidup adalah pengabdian kepada mereka yang dilayani. Dalam hal ini orientasi kepemimpinan seorang Frater Bunda Hati Kudus adalah para anggota dan mereka yang dipercayakan Tuhan kepada mereka lewat misi dan karya kerasulan kongregasi yang diemban. Maka Seorang Frater Bunda Hati Kudus dalam menjalankan tugas kepemimpinannya harus selalu menyadari bahwa bukan obsesi, kepentingan,dan popularitas diri atau kelompok tertentu yang diperjuangkan, dikejar dan dilayaninya, malainkan Kristus sendirilah sebagai sang majikan sejati yang harus dilayani dalam diri para anggotanya dengan segala keberadaan mereka.

  c. Kepemimpinan sebagai Pengurus Rumah Tangga Spiritualitas kepemimpinan sebagai pengurus rumah tangga ini sangat inspiratif.

  Pengurus rumah tangga itu memadukan beberapa kualifikasi yakni kekuasaan dan pelayanan, wewenang dan ketergantungan. Dalam Perjanjian Baru, kata “pengurus rumah tangga” merupakan terjemahan kata Yunani: oikonomos (seseorang yang mengawasi tata aturan/ nomos dalam rumah tangga/ oikos). Pengurus rumah tangga adalah orang yang mengawasi tata tertib rumah tangga, adat istiadat, aturan dan kesepakatan yang dihayati seluruh anggota komunitas/ kongregasi. Kata pengurus rumah tangga hanya muncul dua kali dalam Perjanjian baru, yakni Luk 12:42 dan Luk 16:1.

  Dari teks Luk 12:42 dan Luk 16:1 ditampilkan tiga ciri atau sifat pengurus rumah tangga: 1). Seorang pengurus rumah tangga bertindak sebagai seorang pelayan dan bukannya sebagai pemilik atau majikan.

  Seorang pemimpin sebagai pengurus rumah tangga akan menyadari bahwa dirinya bukanlah pemilik kongregasi dan karya kerasulan kongregasi, sebab semua itu semata-mata milik dan karya Tuhan. Pemimpin itu juga harus menyadari bahwa tugas ini adalah pinjaman dan karunia yang dipercayakan Tuhan kepadanya, yang harus ia pertanggungjawabkan kepada Tuhan pula. Ia harus menyadari pula bahwa tugas dan wewenang sebagai pemimpin itu hanya sementara sifatnya, sebab suatu saat tugas dan wewenang itu akan diambil lagi darinya, dan pada akhirnya ia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah dilakukannya selama masa kepemimpinannya kepada sesama anggota dan kepada Tuhan sebagai pemberi wewenang. Seorang pemimpin sebagai pengurus rumah tangga akan senantiasa berusaha memelihara hidup para anggota dan orang-orang yang dipercayakan kepadanya tanpa berusaha menguasainya. Ia sadar bahwa para anggota dan orang-orang yang dipercayakan kepadanya bukanlah miliknya, maka ia pun tidak berkuasa atas hidup mereka.

  2). Kekuatan dan keutamaan pengurus rumah tangga ada pada perpaduan antara sifat bijaksana dan bisa dipercaya, antara bisa diandalkan dan berpengalaman.

  Seorang pemimpin sebagai pengurus rumah tangga memiliki kemampuan atau kompetensi dan sekaligus bisa dipercaya karena kepribadian dan komitmennya.

  Seorang pemimpin yang baik tentu mengamini bahwa yang paling perlu dan penting adalah kepercayaan. Sebab apabila seorang pemimpin tidak lagi dipercaya oleh para anggotanya, ia sudah kehilangan legitimasi dan perannya. Dan Komitmen haruslah dimilikinya, sebab komitmen itu merupakan api dan penggerak seluruh aktivitas hidupnya. Komitmen itu diletakkan pertama-tama pada dorongan Roh Kudus dan kemudian pada kejujurannya untuk melayani kemuliaan Allah dan kebahagiaan serta keselamatan sesama/ para anggotanya. 3). Konteks kepemimpinan rumah tangga adalah ketidakhadiran majikan.

  Ciri khas dari kepemimpinan rumah tangga ialah tidak adanya sang majikan (paling tidak secara fisik) di tengah komunitas/ persekutuan itu. Dalan situasi seperti ini pengurus rumah tangga harus berani mengambil keputusan-keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan pada saat majikan tidak berada di rumah. Jadi wewenang pengurus rumah tangga bersifat pinjaman, sebab wewenangnya ada sejauh majikannya tidak berada di rumah. Dalam hal ini ketidakhadiran majikan bisa dimaksudkan:

  a). Tuhan kini memberi wewenang kepada pemimpin untuk ambil bagian dalam wewenang-Nya atas diri para anggotanya. Tetapi wewenang itu hanya bersifat pinjaman dan pemberian dari Tuhan semata.

  b). Wewenang itu menuntut tanggung jawab kepada si majikan yakni Tuhan yang memberi wewenang. Oleh karena itu pemimpin harus mempertanggungjawabkan semua yang dilakukannya selama majikan tidak berada di tempat.

  

B. Kepemimpinan Transformatif dalam Praksis di Kongregasi Frater Bunda

Hati Kudus di Indonesia

  1. Transformasi dalam diri sang pemimpin Seorang pemimpin dapat dikatakan sebagai pemimpin yang transformatif apabila ia dalam mengemban tugas kepemimpinannya menghasilkan perubahan dalam diri dan hidup para anggotanya menuju hidup yang dibaharui dan dikuasai oleh Roh Allah sendiri, dan dari sana mereka dapat memperjuangkan dan mewujudkan apa yang menjadi cita-cita atau visi-misi kongregasi. Perlu disadari pula bahwa proses transformasi diri seorang pemimpin bukanlah seperti membalikkan telapak tangan, namun merupakan suatu proses yang panjang dan melelahkan yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, keuletan dan kesetiaan dalam mengusahakannya, dan itu perlu didahului perbaikan dalam diri sang pemimpin sendiri.

  Dalam mengusahakan proses transformasi diri ini, seorang pemimpin harus merenung dan merefleksikan diri untuk menggali dan menemukan apa sesungguhnya yang menjadi kekurangan atau kelemahannya, sehingga dari sana ia berusaha dengan segala kerendahan hati membuka dirinya terhadap karya rahmat Allah, agar Roh Allah membantunya dalam proses transformasi diri dari kekurangan dan kelemahan- kelemahannya menuju suatu pembaharuan hidup yang lebih baik. Apabila sang pemimpin berhasil mentransformasikan dirinya maka dampaknya adalah ia akan semakin kuat, bijaksana, tulus dan rendah hati serta semakin terdorong untuk melayani dengan lebih sungguh-sungguh dan berani melakukan terobosan-terobosan serta berani mengambil resiko terhadap setiap situasi yang dihadapinya, sebab dia percaya bahwa bukan lagi kekuatan dirinya yang berkarya, namun kekuatan Tuhan sendirilah yang berkarya dalam dirinya.

  2. Transformasi dalam komunitas Tugas dan tanggung jawab seorang pemimpin yang transformatif adalah ia mengusahakan untuk menciptakan suasana transformasi juga dalam diri para anggotanya, baik dalam lingkup komunitas maupun dalam lingkup kongregasi secara keseluruhan, sehingga suasana dan nilai-nilai transformasi yang telah ia alami dan miliki bisa terbagikan kepada para anggotanya. Apabila hal ini terjadi maka transformasi itu bukan lagi menjadi milik pemimpin melainkan menjadi milik bersama yang bisa berdampak positif bagi pertumbuhan dan perkembangan hidup dan panggilan seluruh anggota serta semakin bertumbuh dan berkembangnya kongregasi.

  Proses transformasi yang dibangun dalam komunitas ataupun dalam kongregasi ini tidak bisa dilepaspisahkan dari proses pengolahan hidup rohani yang senantiasa diusahakan oleh pemimpin, agar para anggota sungguh-sungguh mengalami kepenuhan dan kebaharuan hidup dalam Roh Allah. Hal ini sesuai dengan apa yang dianjurkan Konstitusi Frater Bunda Hati Kudus (1997: art. 59-60) yang mengatakan:

  Pembaharuan hidup yang terus-menerus haruslah menjadi ciri khas persekutuan, dalam suatu semangat seperti yang dikemukakan oleh Paulus kepada jemaat di Kolose: “tanggalkan manusia lama dan kelakuannya dan kenakanlah manusia baru untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar khalik-Nya. Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain dan ampunilah seorang akan yang lain, apabila seorang menaruh dendam terhadap yang lain. Sama sepeti Tuhan yang telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan dia atas semuanya itu kenakanlah kasih sebagai pengikat yang menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus berkuasa dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh…” (Kol 3:9-17) Pembaharuan hidup yang terus-menerus meminta agar kita setiap hari menyediakan waktu untuk latihan rohani, doa, dan perayaan Ekaristi bersama. Kita berkumpul sebagai suatu persekutuan iman; kita saling berbagi dalam hidup keimanan kita dan bersama-sama memberi kesaksian tentang iman akan Tuhan yang tunggal… Dari kutipan konstitusi di atas sudah sangat jelas bahwa proses transformasi dalam hidup komunitas atau hidup persekutuan mutlak dibutuhkan demi pertumbuhan dan perkembangan iman, panggilan dan kelangsungan hidup kongregasi. Hanya melalui dan dalam proses transformasi itulah setiap pribadi baik pemimpin maupun para anggota Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus dapat menemukan dirinya serta menemukan kehendak Allah bagi masing-masing pribadi dan kongregasi.

  3. Transformasi dalam karya kerasulan Seorang pemimpin yang transformatif adalah pribadi yang penuh dedikasi dan inspiratif serta tidak capat puas dengan apa yang dicapainya, namun ia selalu berusaha mencari dan mencari yang labih agar sedapat mungkin banyak orang turut menikmati keselamatan. Dalam kaitan dengan karya kerasulan kongregasi, hendaknya pemimpin selalu proaktif serta pandai membaca tanda-tanda zaman dan peluang-peluang yang ada dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan Gereja dan masyarakat luas agar karya yang diemban tetap berkembang, relevan dan kontekstual serta dapat membawakan kesejahteraan hidup bagi mereka yang dilayani. Dalam hal ini bentuk karya bisa berubah namun tujuan dan spiritualitas kongregasi tetap dipertahankan serta tetap tersampaikan, sehingga dengan demikian kongregasi tidak hanya berkutat dengan karya kerasulan yang sudah diwariskan akhirnya mengalami stagnasi. Berkaitan dan transformasi karya kerasulan ini dalam Konstitusi Frater Bunda Hati Kudus (1997: art.

  67) dikatakan: Karena adanya perubahan-perubahan keadaan, baik di dalam maupun di luar kongregasi maka isi dan bentuk perutusan kita dapat mengalami penyesuaian jika hal itu dikehendaki atau diperlukan. Kepentingan-kepentingan yang bertalian dengan penyesuaian itu haruslah dipertimbangkan secara seksama. Dalam pada itu kesetiaan pada inspirasi awal kongregasi harus menjadi dasar pertimbangan yang menentukan. Hal itu antara lain berarti bahwa kita mengutamakan pelayanan kepada orang-orang yang paling membutuhkan bantuan.

  Konstitusi secara jelas telah menggariskan adanya peluang transformasi diri manusia dan dunia di mana kongregasi hidup dan berkarya.

C. Katekese Sebagai Salah Satu Upaya Mewujudkan Pola Kepemimpinan Yang Transformatif Bagi Para Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia.

1. Pokok-pokok Katekese

  a. Arti/ pengertian katekese Istilah katekese berasal dari bahasa Yunani “Katechein”, yang merupakan bentukan dari kata “Kat” yang berarti pergi atau meluas, dan “echo” yang artinya menggemakan atau menyuarakan ke luar. Berdasarkan bentukan kata tersebut kata “Katechein” berarti menggemakan atau menyuarakan ke luar. Kata “Katechein” digunakan oleh orang Kristen (Katolik) untuk menyuarakan/ menggemakan seluruh harta kekayaan Gereja misalnya Sabda Tuhan, Tradisi Gereja, dan keadaan hidup manusia dengan seluruh pengalaman hidupnya yang konkret dalam kehidupan sehari- hari. Namun istilah Katechein ini dalam perkembangan Gereja selanjutnya dikenal dengan istilah/ sebutan Katekese hingga saat ini (Papo, 1988: 11).

  Dalam Kitab Suci terdapat bermacam-macam Pengertian katekese secara tersirat termaktub dalam beberapa perikop Kitab Suci, antara lain: dalam Injil Luk 1:4 Katekese berarti “diajarkan”, Kis 18:25 (pengajaran dalam jalan Tuhan); Kis 21:21 (mengajar); Rom 2:18 (diajar); I Kor 14:19 (mengajar) dan Gal 6:6 (pengajaran).

  Dalam konteks ini, katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman agar seorang dewasa semakin dewasa dalam imannya.

  Menurut Telaumbanua (1999: 5) Katekese adalah “Usaha-usaha dari pihak Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari”.

  Dalam Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia (PKKI) kedua di Klender-Jakarta tahun 1980, para peserta berhasil merumuskan pengertian katekese sebagai berikut: “Katekese adalah Komunikasi iman atau tukar pengalaman iman antar anggota jemaat atau kelompok. Melalui kesaksian para peserta saling membantu sedemikian rupa sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati dengan semakin sempurna” (Yosep Lalu, 2007: 12). Sedangkan Paus Yohanes Paulus II dalam Catechesi Tradendae berkata:

  Katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud menghantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen (CT, art. 18).

  Betolak dari pengertian-pengertian tentang katekese di atas boleh dikatakan bahwa karya katekese mutlak diperlukan dalam usaha mengembangkan, memperdalam dan meningkatkan daya refleksi jemaat akan segala pengalaman hidupnya yang dipertemukan dengan harta kekayaan Gereja khususnya sabda Tuhan, sehingga dari sana mereka dapat semakin meghayati iman mereka secara lebih dewasa dan mendalam, serta mereka semakin menyatu dengan Kristus sebagai sumber dan tujuan kesaksian hidup mereka sehari-hari, baik dalam lingkup Gereja maupun dalam dunia/ masyarakat di mana mereka hidup dan berada. Hidup dalam kesatuan dengan Kristus akan menghantar umat untuk hidup dalam kelimpahan serta hidup dalam kemerdekaan sebagai anak-anak Allah.

  b. Tujuan Pokok Katekese Pengembangan suatu karya katekese yang baik hendaknya memiliki suatu tujuan/ cita-cita yang hendak dicapai, sehingga dengan demikian karya katekese itu menemukan makna evangelisasinya di tengah Gereja dan dunia sebagai medannya. Dalam hal ini Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia (PKKI) kedua yang berikut: Supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-hari, dan kita dapat membangun sikap metanoia kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup kita sehari-hari. Dengan demikian kita semakin sempurna dalam beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan makin dikukuhkan hidup Kristiani kita; pun pula kita semakin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan semakin mengokohkan Gereja semesta, sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat (Yoseph Lalu, 2007: 13).

  Paus Yohanes Paulus II dalam Anjuran Apostoliknya tentang keberadaan dan perkembangan katekese di jaman sekarang, berkata: Tujuan khas katekese ialah berkat bantuan Allah mengembangkan iman yang baru mulai tumbuh, dan dari hari ke hari memekarkan diri menuju kepenuhannya serta semakin memantapkan perihidup Kristen umat beriman, baik muda maupun tua. Kenyataan itu berarti: merangsang, pada taraf pengetahuan maupun penghayatan, pertumbuhan iman yang ditaburkan oleh Roh Kudus melalui pewartaan awal, dan yang dikurniakan secara efektif melalui babptis. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa dalam seluruh proses evangelisasi tujuan katekese ialah: menjadi tahap pengajaran dan pendewasaan, artinya: masa orang Kristen, sesudah dalam iman menerima Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan, dan sesudah menyerahkan diri seutuh-utunya kepada-Nya melalui pertobatan hati yang jujur, berusaha makin mengenal Yesus, yang menjadi tumpuan kepercayaannya: mengerti misteri-Nya, Kerajaan Allah yang diwartakan oleh-Nya, tuntutan-tuntutan maupun janji-janji yang tercantum dalam amanat Injil-Nya, dan jalan yang telah digariskan-Nya bagi siapa pun yang ingin mengikuti-Nya (CT, art. 20). Dalam hal ini katekese bermaksud mengembangkan pengertian tentang misteri

  Kristus dalam cahaya firman Allah, sehingga seluruh pribadi manusia diresapi oleh firman itu. Begitulah orang Kristen, yang berkat karya penebusan Kristus diubah menjadi ciptaan baru, memutuskan secara bebas untuk mengikuti Kristus, dan dalam Gereja makin banyak belajar berpikir seperti Dia, menilai segalanya seperti Dia, bertindak seturut dengan perintah-perintah-Nya dan berharap sesuai dengan ajakan- Nya. Dengan kata lain melalui katekese jemaat dapat hidup menyatu dengan sang sumber hidupnya yakni Kristus dan bahkan mereka dapat berperan sebagai alter-alter Kristus di tengah kehidupan mereka sehari-hari.

  Demi tercapainya tujuan katekese, maka proses katekese yang dibangun harus mengutamakan unsur dialog partisipatif dan didukung oleh suasana yang nyaman dan penuh persaudaraan. Pola komunikasi yang dibangun bukan hanya antara pendamping dengan jemaat dan antar jemaat, namun komunikasi itu juga harus terjadi antara peserta/ jemaat dengan sabda Tuhan yakni Yesus Kristus sendiri yang hadir dan menyapa lewat sabda Kitab Suci yang didengarkan, direfleksikan dan dimaknai melalui pengalaman hidup serta dibagikan di antara jemaat dalam iman. Katekese juga harus disadari sebagai komunikasi iman antar peserta sebagai saudara seiman yang sederajat.

  Dalam hal ini proses katekese yang terjadi harus tercipta suasana di mana setiap jemaat menjadi “katekis” bagi jemaat yang lain, untuk saling membantu sehingga pada akhirnya terjadi perjumpaan dengan Kristus sendiri sebagai sumber dan pusat katekese yang dapat memperkembangkan dan mengokohkan iman mereka untuk semakin yakin dan berani mewartakan dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia dan sesama di sekitarnya (Heryatno, 2007: 8).

  c. Isi Pokok Katekese Isi pokok katekese adalah seluruh hidup Yesus Kristus yang mencakup peristiwa inkarnasi, hidup dan karya, penderitaan, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai satu kesatuan karya keselamatan Allah bagi manusia dalam diri dan melalui Yesus sang Putra tunggal-Nya. Katekese hendaknya bersifat Kristosentris dalam arti Kristulah yang harus menjadi pusat dan sumber pewartaan itu sendiri. Gagasan di atas sangat sesuai dengan apa yang dicetuskan oleh Paus Yohanes paulus II dalam Ensikliknya yang berbunyi:

  Sifat Kristosentris katekese juga mencakup maksud: bukan untuk menyampaikan ajaranya sendiri, atau entah ajaran seorang guru lain, melainkan ajaran Yesus Kristus, Kebenaran yang diajarakan-Nya, atau lebih cermat lagi: Kebenaran yang tak lain ialah Dia sendiri. Maka harus dikatakan, bahwa dalam diajarkan; segala sesuatu yang diajarkan harus mengacu kepada-Nya. Lagi pula hanya Kristuslah yang mengajar; siapa saja selain Dia mengajar sejauh ia menyadari dan selalu menempatkan diri sebagai jurubicara kristus, dan memungkinkan Kristus mengajar melalui mulutnya,….(CT, art. 6).

  Misteri hidup Yesus menjadi sumber dan pusat katekese, maka katekese dipahami sebagai usaha bersama untuk saling mengenal, memahami, dan percaya pada- Nya sebagai sumber keselamatan satu-satunya, dan sekaligus sebagai guru agung/ pengajar utama bagi setiap jemaat. Di sinilah letak sifat khas ktekese yakni “Kristosentris”.

  d. Model-model katekese Dalam dunia katekese ada begitu banyak model katekese yang ditawarkan untuk dapat digunakan dalam proses pengembangan katekese umat demi terbangun dan berkembangnya iman umat untuk mencapai kesempurnaan dan kepenuhan hidup dalam Kristus sebagai sumber dan tujuan hidup beriman jemaat. Berkaitan dengan model- model katekese ini, Sumarno (2007: 11-15) memaparkan beberapa model katekese antara lain: 1). Model Shared Christian Praxis (SCP):

  Model SCP ini lebih menekankan pada proses berkatekese yang bersifat dialogal dan partisipasif, dengan maksud mendorong peserta, antara konfrontasi antara “tradisi” dan “visi” hidup mereka dengan “tradisi” dan “visi” Kristiani, agar baik secara pribadi maupun bersama, mampu mengadakan penegasan dan mengambil keputusan demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam kehidupan manusia yang terlibat di dalam dunia. Model ini bermula dari pengalaman hidup peserta, yang direfleksi secara kritis dan dikonfrontasikan dengan pengalaman iman dan visi Kristiani supaya muncul sikap dan kesadaran baru yang memberi motivasi pada keterlibatan baru dalam hidup sehari-hari. Maka sejak awal orientasi pendekatan dari model SCP ini adalah pada “praxis” peserta (Sumarno, 2007: 14-15).

  2). Model Pengalaman Hidup Katekese model pengalaman hidup ini bertitiktolak dari pengalaman hidup sehari-hari yang akan direfleksikan dalam terang iman dan dipertemukan dengan harta kekayan Gereja khususnya Sabda Tuhan.

  3). Model Biblis Katekese model biblis ini lebih bertitiktolak dari harta kekayaan gereja yakni

  Sabda Tuhan (Kitab Suci), dokumen-dokumen Gereja dan tradisi, yang kemudiaan dipertemukan dikaitkan dengan pengalaman hidup konkret sehari-hari yang direfleksikan dalam terang iman. 4). Model Campuran: Pengalaman Hidup dan Biblis.

  Katekese model campuran ini merupakan gabungan dari model biblis dan model pengalaman hidup. Dalam hal ini bisa bertitiktolak dari Kitab Suci/ tradisi Gereja lalu dihubungkan dengan pengalaman hidup sehari dan bisa juga sebaliknya. Semuanya tergantung pada situasi dan kebijakan serta kreatifitas pemandu katekese/ fasilitatornya.

2. Pemilihan Katekese Model pengalaman Hidup

  a. Alasan Pemilihan Katekese Model Pengalaman Hidup Bertolak dari hasil penelitian yang ada, sangat diharapkan adanya transfomasi kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus menuju suatu kepemimpinan yang dapat memotivasi para anggota agar hidup lebih berkembang sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh kongregasi. Oleh karena itu perlu adanya suatu pendampingan dalam bentuk katekese yang dapat membantu terwujudnya kepemimpinan transformatif dalam kongregasi sebagaimana diharapkan oleh para Frater BHK tersebut.

  Diharapkan melalui katekese ini dapat membantu para Frater BHK untuk merefleksikan, mengolah, dan mengkomunikasian segala pengalaman dan realitas hidup yang terjadi dalam kehidupan mereka selama ini khususnya yang berkaitan dengan kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, sehingga dari sana mereka dapat saling membantu dalam terang iman melalui Sabda Kitab Suci/ tradisi Gereja yang akan menghantar mereka mengalami kelahiran baru, yang oleh Darminta (2005: 47) dikatakan sebagai “pembaharuan dalam menerima dan menanggapi gagasan atau pandangan baru, cara kerja dan kerasulan yang baru, serta cara hidup dan cara bertindak yang baru pula atau apapun juga yang dapat tumbuh dan berkembang dalam hidup religius secara positif.” Dalam hal ini diharapkan agar melalui katekese ini para Frater BHK dapat mengalami suatu transformasi dalam kepemimpinannya yang lebih mengayomi, partisipatif, dialogis, inovatif dan berspiritual mendalam.

  Berkaitan dengan upaya transformasi tersebut maka, dalam usulan program katekese penulis memilih katekese model pengalaman hidup sebagai model berkatekese. Alasan pemilihan katekese model pengalaman hidup ini adalah karena model katekese ini sederhana dan bertolak dari pengalaman hidup konkret yang direfleksikan dalam terang iman, yang kemudian dikomunikasikan/ disharingkan dan selanjutnya dihubungkan atau dikonfrontasikan dengan Sabda Tuhan dalam Kitab Suci, sehingga dari sana mereka dapat menemukan nilai hidup baru yang akan digunakan dalam proses tranformasi diri dengan cara saling menyadarkan, meneguhkan, menguatkan dan mendukung untuk mencapai suatu kehidupan yang lebih baik dan lebih mendukung tumbuh-kembangnya kehidupan para anggota dan kongregasi secara keseluruhan sebagaimana diharpkan bersama.

  b. Langkah-langkah Katekese Model Pengalaman Hidup Berkaitan dengan katekese model pengalaman hidup ini, Sumarno (2007: 11-

  12) menguraikan tentang langkah-langkah yang ditempuh dalam proses berkatekese antara lain: 1) Introduksi

  Introduksi ini berisikan lagu dan doa pembukaan yang sesuai dengan tema yang diambil dalam katekese itu. Katekis mengingatkan dan menghubungkan dengan tema- tema yang sudah dibahas dalam kesempatan katekese yang lalu, bila pernah diadakan sebelumnya.

  2) Penyajian suatu pengalaman hidup Pengalaman hidup biasanya diambil dari suatu peristiwa konkret sesuai dengan tema dan situasi peserta. Pengalaman ini bisa diambil dari surat kabar, cerita yang relevan bagi para peserta, dan juga bisa berupa film yang sesuai.

  3) Pendalaman pengalaman hidup Dalam langkah ini fasilitator mengajak para peserta untuk mengaktualisasikan pengalaman itu dalam situasi hidup mereka yang nyata. Biasanya terjadi dalam kelompok kecil dengan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang peserta yang mengambil perhatian dalam sikap hidup moral konkret sesuai dengan tema untuk hidup sehari-hari.

  4) Rangkuman pendalaman pengalaman hidup yang dapat diambil oleh para peserta berkaitan dengan tema dalam penyajian pengalaman hidup dan dengan teks Kitab Suci atau tradisi yang hendak dipakai dalam langkah berikutnya. 5) Pembacaan Kitab Suci atau Tradisi Gereja

  Fasilitator mengusahakan agar setiap peserta memiliki teks Kitab Suci (Fotocopy) beserta daftar pertanyaan pendalaman di sekitar tema menyangkut hal-hal yang mengesan dan pesan inti dari teks tersebut. Teks dibaca oleh salah seorang peserta, kemudian saat hening sejenak untuk merefleksi teks yang baru dibacakan dengan bantuan pertayaan-pertanyaan.

  6) Pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi Peserta mencoba menjawab bersama pertanyaan-pertanyaan yang telah direnungkan secara pribadi setelah pembacaan teks. Baik pula apabila teks dibaca sekali lagi oleh fasilitator/ katekis. Pada kesempatan ini fasilitator membantu peserta untuk mencari dan mengungkapkan pesan inti menurut mereka sendiri sehubungan dengan tema. Peranan katekis/ fasilitator di sini ialah menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga peserta tidak merasa takut, malu dan canggung mengungkapkan tafsiran mereka sehubungan dengan tema yang dapat dipetik dan digali dari pembacaan teks Kitab Suci.

  7) Rangkuman pendalaman teks Kitab Suci atau Tradisi.

  Fasilitator/ katekis mencoba menghubungkan pesan inti yang diungkapkan oleh peserta dengan pesan inti yang telah disiapkan oleh katekis berdasarkan sumber-sumber yang telah diolahnya yang berkaitan dengan tema. Pada kesempatan ini katekis memberi input (masukan) dari apa yang sudah dipersiapkannya dengan bantuan buku- buku tafsir atau buku komentar atau buku-buku lain yang berkaitan dengan tekas Kitab Suci. Yang penting digarisbawahi di sini bahwa tafsiran katekis diharapkan membatasi pada pesan pokok yang dapat dimengerti oleh peserta sehubungan dengan tema dan tujuan pertemuan.

  8) Penerapan dalam hidup konkret Dalam langkah ini hendaknya fasilitator/ katekis mengajak peserta untuk mengambil beberapa kesimpulan praktis di sekitar tema untuk hidup sehari dalam situasi nyata mereka dalam Gereja, masyarakat, lingkungan, wilayah, paroki, keluarga, dsb. Kemudian dalam saat hening sejenak, peserta diajak untuk merenungkan serta mengumpulkan buah-buah pribadi dari katekese ini untuk diterapkan/ dihayati dalam kehidupan sehari-hari, yang dapat berupa niat, atau tindakan apa yang akan diambil untuk hidup selanjutnya.

  9) Penutup Penutup ini dimulai dengan mengungkapkan doa-doa spontan hasil buah katekese, dan bisa pula doa-doa lainnya secara bebas. Bilamana perlu katekis mengakhiri katekese dengan doa penutup yang merangkum keseluruhan tema dan tujuan katekese. Kemudian diakhiri dengan sebuah doa bersama atau nyanyian yang disesuaikan dengan tema.

D. Program Katekese

1. Pengertian Program

  Menurut kamus ilmiah populer program dimengerti sebagai “ketentuan rencana dari pemerintah; acara; rencana; rancangan kegiatan” (Partanto, 1994: 628). Dengan demikian program dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang direncanakan, dipersiapkan, dirancang dan dirumuskan secara sistematis dan teratur serta terarah untuk membantu memperlancar tercapainya suatu tujuan. Penyusunan program biasanya meliputi tema, tujuan tema, sub tema, tujuan sub tema, uraiam materi, metode, sarana dan sumber bahan.

2. Pemikiran Dasar Program katekese

  Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa para responden (para Frater BHK) telah memahami arti kepemimpinan Kristiani dan kepemimpinan religius, di mana dari masing-masing responden pada intinya merumuskan arti kepemimpinan kristiani sebagai suatu kepemimpinan yang berpola/ berguru pada Yesus Kristus (hidup, sabda dan karya-Nya) dan sekaligus menempatkan Kristus sebagai pemimpin utama dalam hidupnya. Sedangkan kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang berpola pada Yesus Kristus dan selalu menyelaraskan diri dengan konstitusi, visi-misi dan amanat dari kapitel. Namun dari pemahaman ini belum cukup, karena ternyata dalam kenyataannya para pemimpin atau masing-masing frater belum sanggup untuk menghayati dan mengaktualisasikan apa yang telah mereka pahami tersebut dalam kehidupan konkret sehari-hari. Hal ini masih menjadi suatu kesulitan tersendiri dalam kepemimpinan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus saat ini.

  Bertolak dari pengalaman masing-masing responden berkaitan dengan kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus saat ini, ditemukan bahwa ternyata dari hampir semua responden mengungkapkan suatu keprihatinan yang mendalam, yang boleh dikatakan bahwa Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia saat ini mengalami suatu krisis kepemimpinan yang cukup memprihatinkan sebagaimana terungkap dalam hasil penelitian, yang ikut mempengaruhi terjadinya kemerosotan di berbagai segi kehidupan baik secara pribadi maupun secara kongregasional. Namun suatu hal yang lebih memprihatinkan lagi adalah bahwa, ternyata para Frater Bunda Hati Kudus baik para anggotanya terlebih para pemimpinnya tidak menyadari atau mungkin secara sengaja tidak mau menyadari situasi ini sebagai sesuatu yang salah dan tidak baik untuk selanjutnya berusaha memperbaikinya, tetapi justru sebaliknya kelihatannya semuanya adem ayem. Di sini tidak ada yang memiliki keberanian dan ketulusan hati untuk mengkritisi dan menyuarakan kebenaran yang sesungguhnya yang seharusnya diperjuangkan dalam kehidupan sebagai suatu lembaga hidup religius.

  Para responden (para Frater BHK) sesungguhnya menyadari dan merasakan dampak negatif dari krisis kepemimpinan dalam kongregasi ini dan mereka mengharapkan suatu pembaharuan/ transformasi kepemimpinan menuju suatu kepemimpinan yang lebih melayani, mendengarkan, partisipatif, dialogis, penuh perhatian dan cinta, inovatif dan berspiritualitas mendalam sebagai api/ roh yang membakar dan menyemangati, mendorong para anggota menuju suatu kehidupan yang lebih baik sesuai dengan cita-cita kongregasi.

  Oleh karena itu perlu adanya suatu pembinaan dan pendampingan yang teratur dan berkesinambungan bagi para Frater BHK berkaitan dengan kepemimpinan yang berpola pada kepemimpinan Yesus sendiri sebagai pemimpin utama dan sejati.

  Program katekese umat yang penulis usulkan ini, bertujuan untuk membantu peserta (para Frater BHK), agar dengan suasana yang mendukung mereka dapat merefleksikan, mengolah, menyadari, mengkritisi dan menemukan sebuah kesadaran baru berkaitan dengan kepemimpinan untuk hidup mereka sebagai kaum religius dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, sehingga dari sana mereka dapat secara bersama- sama membangun dan mengembangkan persekutuan mereka menuju suatu hidup persekutuan sebagai anggota Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus yang lebih profetis dan penuh kasih persaudaraan. Program katekese umat ini disusun bagi para Frater Bunda Hati Kudus, khususnya yang ada di Provinsi Indonesia.

3. Usulan Tema Katekese

  Bertolak dari hasil penelitian yang penulis lakukan, penulis menemukan bahwa para Frater BHK sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang kepemimpinan baik itu kepemimpinan Kristiani maupun kepemimpinan religius, namun dari sisi penghayatan masih sangat minim di mana masih terjadi banyak keprihatinan dan ketidaksesuaian antara pemahaman dan praktek sebagaimana diungkapkan para responden berkaitan dengan pengalaman mereka akan kepemimpinan para pemimpin Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia saat ini. Oleh karena itu para Frater Bunda Hati Kudus mengharapkan adanya suatu transformasi kepemimpinan dengan bertitiktolak dari kepemimpinan Yesus sebagai gembala yang baik.

  Berdasarkan realitas tersebut, penulis dalam usulan program katekese ini mengusulkan sebuah tema umum yang lebih terarah pada segi penghayatan nilai-nilai kepemimpinan/ spiritualitas kepemimpinan. Usulan tema umum yang penulis sajikan dalam program katekese ini adalah: “Menghayati spiritualitas kepemimpinan kegembalaan Yesus demi terwujudnya kepemimpinan yang transformatif”. Adapun tujuannya adalah: “membantu peserta (para Frater BHK) untuk semakin bertumbuh dan berkembang dalam pemahaman serta penghayatan akan spiritualitas kepemimpinan kegembalaan Yesus, dan mampu mengusahakan terwujudnya suatu kepemimpinan yang transformatif dalam kehidupan mereka sehari-hari dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus”. Tema ini akan dijabarkan dalam 4 sub tema yang antara lain: Pertama, Belajar dari pola kepemimpinan kegembalaan Yesus, yang dijabarkan dalam satu judul pertemuan, yakni Yesus sang pemimpin utama yang melayani dengan penuh cinta dan pengorbanan diri. Kedua, Kepemimpinan Yesus yang dibangun atas dasar kesatuan dengan Bapa. Sub tema ini dijabarkan dalam tiga judul pertemuan antara lain: 1). Menjadi pemimpin yang berani karena merasa dicintai dan mencintai Allah. 2). Menjadi pemimpin yang mengayomi. 3). Menjadi pemimpin yang mampu mendengarkan. Ketiga, Menghayati semangat kepemimpinan Yesus yang peduli terhadap domba yang hilang; yang dijabarkan dalam satu judul pertemuan, yakni Menjadi pemimpin yang peduli terhadap anggota yang bermasalah/ membutuhkan perhatian. Keempat, Memahami pola kepemimpinan transformatif; yang dijabarkan dalam satu judul pertemuan, yakni Usaha transformasi dari diri sendiri.

  Program katekese sebagaimana terpaparkan di atas selengkapnya, dapat dilihat dalam matriks/ tabel program berikut ini:

4. Matrik Program Katekese

  Bersama peserta menghayati makna kepemimpi- nan kegembalaan Yesus yang melayani dengan penuh cinta dan pengorbanan diri demi kebahagiaan dan

  48) Kepemimpi-nan transformatif. Yogyakarta: Kanisius • Pengalaman peserta.

  38-40) Proactive Visionary Leadership. Jakarta: PT. Trisewu Nagawarsa

  LCD

  Uskup Romero

  “Gembala yang baik”.

  Injl Yoh 10:11-13

  Yesus sang pemimpin utama yang melayani dengan penuh cinta &an pengorbanan diri.

  119

  Agar para peserta mengenal dan memahami pola kepemimpi- nan kegembalaan Yesus sebagai teladan dan sumber inspirasi kepemimpi- nannya.

  01. Belajar dari pola kepemimpi- nan kegembala- an Yesus.

  MATERI METODE SARANA SUMBER BAHAN

  PERTEMUAN

  No. SUB TEMA TUJUAN SUB TEMA JUDUL PERTEMUAN TUJUAN

  

MATRIKS KEGIATAN KATEKESE BAGI

PARA FRATER BUNDA HATI KUDUS

Tema Umum : Menghayati spiritualitas kepemimpinan kegembalaan Yesus demi terwujudnya kepemimpinan yang transformatif

Tujuan : Agar pendamping dan peserta semakin bertumbuh dan berkembang dalam pemahaman serta penghayatan akan

spiritualitas kepemimpinan kegembalaan Yesus, dan mampu mengusahakan terwujudnya suatu kepemimpinan yang transformatif dalam kehidupan sehari-hari.

  • Nonton Filem • Diskusi kelompok
  • pleno
  • Sharing • Refleksi pribadi
  • Informasi • Tanya j
  • VCD
  • Hadiwiyata, 2008, Tafsiran Injil Yohanes. Yogyakarta: Kanisius.
  • VCD Uskup Romero.
  • Antony D’Souza, (2002:
  • Laptop &
  • >Teks Yoh 10:11-13
  • Teks lagu
  • Kertas flap & spidol.
  • Tape recorder & kaset instru
  • Martasudjita, (2001: 46-

  120

  keselamatan sesamanya.

  02 Kepemimpi Bersama

  a. Menjadi Bersama Yoh 10:14-

  • Lagu & • Teks lagu • Hadiwiyata, (2008: nan Yesus peserta pemimpin peserta

  15 gerak Tafsiran Injil Yohanes.

  • VCD Daud yang menghayati yang berani berusaha “Gembala & Goleat Yogyakarta: Kanisius.
  • Nonton dibangun kepemimpi- karena menghayati yang baik”.

  Filem

  • Laptop & • VCD Pertempuran Daud atas dasar nan Yesus merasa semangat melawan Goleat.
  • Refleksi LCD kesatuan yang memiliki dicintai dan kepemi
  • Martsudjita, (2001: 38 &
  • Diskusi • Teks KS dengan relasi yang mencintai nan yang kelompok Yoh 10:15 48). Kepemimpi-nan

  Bapa. intim dengan Allah memiliki

  transformatif

  • Sharing • Kertas Flap Bapa keberanian

  Yogyakarta: kanisius kelompok/ & spidol dalam

  • Konstitusi Frater BHK, pleno menghadapi

  1997, Hidup Doa

  • Tanya segala situasi jawab dalam
  • Rangku- kehidupan man/ sehari-hari

  Informasi Mzmr 23: 1-6

  b. Menjadi

  • Dianne Bergant, CSA & Bersama • VCD Not • Lagu &

  “Tuhan

  pemimpin Robert J. Karris, OFM,

  One Lost peserta gerak

  gembalaku

  yang 2002, Tafsir Akitab berusaha • Laptop

  • Nonton yang baik”.

  mengayomi/ Perjanjian Lama. menghayati

  Filem • LCD memberi

  • Refleksi • Sharing kelompok
  • pleno
  • Ceramah/ informasi
  • Lagu & gerak
  • Dinamika kelompok dengan judul:
  • VCD Not One Lost.
  • Sudomo, (2005: 87-89)
  • D’Souza, (2002: 34-35)
  • Martasudjita, 2001,
  • Pengalaman peserta • Dianne Bergant & Rbert J.
  • Teks rumusan kalimat berantai
  • Laptop • LCD
  • Tesk KS:

  Ciri utama kepemimpi-nan sejati. Yogyakarta: Andi

  • Phillip L. Hunsaker &

  Komunikasi bagi para Pemimpin.

  Anthony J. Alessandra, (1986: 15-26) Seni

  Karris, 2002, Tafsir Kitab Suci Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius

  Yogyakarta: Kanisius

  Kepemimpi-nan transformatif

  Jakarta: PT. Trsewu Nagawarsa

  Proactive Visionary Leadership.

  Offset

  Yoh 4:1-26 Spidol & kertas flap

  Yogyakarta: Kanisius.

  & spidol

  “Kalimat berantai”.

  “Percakapan dengan perempuan Samaria”.

  Yoh 4:1-26

  Bersama perserta berusaha menghayati semangat kepemimpi- nan yang mampu mendengar- kan orang

  c. Menjadi pemimpin yang mendengar- kan semangat kepemimpi- nan yang mengayomi/ memberi rasa nyaman bagi seluruh anggota kongregasi.

  rasa nyaman

  121

  Yogyakarta: Kanisius.

  • Diskusi • Teks Mzmr 23:1-6
  • Teks lagu
  • Kertas flap
  • J. Darminta, (2005: 56-

  122

  lain/para 59). Kepemimpinan

  • Sharing/ple anggota.

  Religius dalam

  • no Peziarahan Hidup.

  Informasi Yogyakarta: Kanisius.

  • Kitab Suci Perjanjian

  Baru. Jakarta, 2000,

  Lembaga Alkitab Indonesia.

  • Pengalaman hidup peserta.
  • Soenardja, (1984: 55-56),

  Kepemimpi-nan Biara dari hari ke hari.

  Yogyakarta: Kanisius.

  03. Menghayati Bersama para Menjadi Bersama Luk 15:1-7

  • Nonton • VCD: • VCD Sinema Asyik semangat perserta pemimpin peserta “Perumpama- Filem “Sinema Bollywood.

  kepemimpi- menghayati yang peduli Menghayati an tentang Asyik

  • Diskusi • Stifen Leks, 2002, Tafsir nan Yesus kepemimpi- terhadap semangat domba yang

  Bollywood kelompok Alkitab Perjanjian baru. yang peduli nan Yesus anggota yang kepedulian hilang”.

  ”.

  • Sharing & • Martasudjita, (2001:48) terhadap yang peduli bermasalah/ antar satu pleno • Laptop Kepemimpi-nan domba yang terhadap membutuhkan sama lain
  • LCD Transforma-tif
  • Tanya hilang. sesama. perhatian dalam jawab • Teks Kitab • Soenarja, (1984: 37), kehidupan

  Suci Luk Kepemimpi-nan Biara

  • Informasi sehari-hari.

  15:1-7 dari hari ke hari.

  Yogyakarta: Kanisius.

  • Kertas Flap & spidol. • D’Souza, (2002: 35-36),

  Proactive Visionary Leadership. Jakarta:

  123 PT. Trisewu Nagawarsa.

  • Pengalaman para peserta.

  04. Memahami Bersama Upaya Bersama

  • Luk 4:1-20 • Nonton • VCD • Dianne Bergant & Robert pola peserta transformasi peserta

  Kisah Filem “Sister X”. J, Karris, 2002, Tafsir

  kepemimpi- semakin dari diri sendiri semakin pencobaan Alkitab Perjanjian Baru .

  • Diskusi • Laptop nan memahami menyadari di Padang kelompok Yogyakarta: Kanisius.
  • LCD transforma- makna diri dan Gurun.
  • Martasudjita, (2001: 3>Refleksi • Teks Kitab tif kepemimpi- semakin
  • Kemampuan & 46-48). Yogyaka
  • Sharing/ Suci Luk nan yang terbuka untuk dasar Kanisius.

  pleno 4:1-20 transformatif mentransfor- kepemimpi-

  • Wofford, (2001: 86-89),
  • Tanya • Guitar masi diri nan

  Yogyakarta: Andi Offset jawab

  • Kertas flap mulai dari transforma-
  • Konstitusi Kongregasi • Informasi & spidol hal-hal kecil tif

  Frater Bunda Hati Kudus dalam

  • Spiritualitas (1997, art. 59-60). kehidupan kepemimpi- sehari-hari nan sampai hal- transforma- hal yang tif berkaitan
  • Pemimpin dengan sebagai agen pertumbuhan perubahan.

  dan perkemba- ngan panggilan serta kongregasi.

5. Contoh Persiapan Katekese I

a. Identitas Katekese

  1). Judul Pertemuan : Yesus sang pemimpin utama yang melayani dengan penuh cinta. dan pengorbanan diri. 2). Tujuan : Membantu peserta untuk semakin menghayati makna kepemimpinan Yesus yang melayani dengan penuh cinta dan pengorbanan diri demi kebahagiaan dan keselamatan sesamanya.

  3). Peserta : Para Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia 4). Tempat : Provinsialat Frater BHK 5). Hari/ Tgl : Sabtu, 21 – Minggu, 22 November 2009 6). Waktu : pkl. 19.30-21.30 WIB & pkl. 08.00 – 10.00 WIB 7). Metode : - Nonton Film

  • Diskusi kelompok
  • Pleno - Sharing - Refleksi pribadi
  • Informasi - Tanya jawab

  8). Sarana : - VCD Uskup Romero

  • Laptop & LCD
  • Teks Yoh 10:11-13
  • Kertas flap & spidol
  • Tape recorder & kaset instrument

  9). Sumber bahan : - Hadiwiyata, 2008, Tafsiran Injil Yohanes. Yogyakarta: Kanisius.

  • VCD : Uskup Romero.
  • Antony D’Souza, (2002: 38-40) Proactive Visionary

   Leadership Jakarta: PT. Trisewu Nagawarsa - Martasudjita, (2001: 46-48) Kepemimpinan transformatif.

  Yogyakarta: Kanisius - Sudomo, (2005: 83-84), Ciri utama kepemimpinan.

  Yogyakarta: Andi Offset - Pengalaman peserta.

b. Pemikiran dasar

  Kehidupan manusia, baik sebagai makluk sosial maupun sebagai individu tak pernah terpisahkan dari pemimpin dan kepemimpinan. Manusia senantiasa membutuhkan pemimpin dalam hidupnya untuk membantu mengarahkan, membimbing, menuntun serta menghantarkannya pada suatu hidup yang lebih baik, penuh makna, menyelamatkan dan membahagiakannya dan pemimpin itu bisa dirinya sendiri maupun orang lain.

  Dalam kehidupan sebuah organisasi atau lembaga, pemimpin dan kepemimpinan ini sangat vital peranannya, sebab sang pemimpin dengan segala kemampuan manajerial kepemimpinannya itulah yang akan membimbing, menuntun, mengarahkan dan menghantar organisasi itu dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan bersama. Maka dengan demikian seorang pemimpin diandaikan memiliki kemampuan intelektual (kognitif), kemampuan menghayati nilai-nilai kodrati maupun nilai-nilai transenden/ spiritulitas (avektif) dan ketrampilan (psikomotorik) dalam menjalankan kepemimpinannya. Hal ini mencakup baik pemimpin profan maupun pemimpin rohani/ religius. Namun realitas menunjukkan bahwa betapa sulitnya untuk menemukan pemimpin yang ideal dalam dunia dewasa ini.

  Perkembangan dunia yang semakin pesat, di satu sisi telah berhasil mengangkat manusia pada suatu taraf tertentu, namun di sisi lain tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan dunia dengan segala kekuatannya, secara perlahan namun pasti telah menggerogoti nilai-nilai dasar hidup manusia sebagai makluk sosial dan makluk religius. Hal ini terlihat jelas di mana manusia dewasa ini lebih dikuasai oleh individualisme, egoisme, fanatisme, ekstrimisme, konsumerisme, hedonisme, dan terorisme/ kanibalisme. Semuanya ini telah menjerumuskan manusia dalam lembah kehampaan hidup, kesepian dan ketakbermaknaan hidup. Salah satunya adalah krisis kepemimpinan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Karena entah disadari atau tidak, justru karena manusia tidak lagi sanggup untuk memimpin dirinya sendiri, maupun sesamanyalah yang menjadi penyebab utama terjadinya krisis multi dimensional sebagaimana dikemukakan di atas. Di samping itu boleh dikatakan bahwa dalam dunia dewasa ini amatlah sulit untuk menemukan pemimpin-pemimpin yang mau melayani dengan segala totalitas dirinya apa lagi harus menjadikan nyawanya sebagai taruhan bagi orang-orang yang dipimpin dan dilayaninya.

  Krisis kepemimpinan ini pun telah merengsek masuk dalam tataran kehidupan Gereja pada umumnya dan dalam kehidupan lembaga hidup religius pada khususnya.

  Di mana nilai-nilai kepemimpinan Kristiani dan religius dalam tataran kehidupan Gereja dan lembaga religius zaman sekarang secara perlahan namun pasti mulai terkikis. Kepemimpinan bukan lagi diterima sebagai fungsi dan tugas perutusan Kristus untuk mengabdi dan melayani Kristus dalam diri umat atau para anggota yang dipimpinnya, namun justru kepemimpinan dilihat sebagai jabatan kekuasaan dan peluang untuk menindas dan sekaligus dijadikan sebagai sarana untuk mengejar serta mencapai apa yang menjadi kepentingan dan obsesi pribadi atau kelompoknya. Oleh karena itu tidak heran bahwa jabatan dan kekuasaan ini kerap kali diperjuangan mati- matian dengan menghalalkan segala cara yang sebenarnya sangat bertentangan dengan nilai-nilai kepemimpinan Kristiani maupun nilai-nilai kepemimpinan religius.

  Kongregasi Farter Bunda Hati Kudus sebagai salah satu lembaga religius laikal keuskupan yang berkedudukan di Keuskupan Malang Jawa Timur Indonesia, khususnya propinsi Indonesia pun tidak terlepas dari krisis kepemimpinan ini. Hal ini terlihat dari hasil penelitian/ wawancara yang penulis lakukan terhadap para frater. Di sana terungkap realitas dan pengalaman yang cukup memprihatinkan berkaitan dengan pola serta keteladanan kepemimpinan para pemimpin Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, khususnya Provinsi Indonesia saat ini. Hal ini mengindikasikan bahwa ternyata perkembangan dunia dengan segala kekuatannya telah turut mengikis dan merongrong penghayatan nilai-nilai kepemimpinan Kristiani dan religius dalam diri para Frater BHK khususnya para pemimpinnya yang secara struktural telah diberi kepercayaan oleh tarekat untuk memimpin, mengarahkan, membimbing, menuntun para anggota tarekat untuk bersama-sama berjuang mencapai apa yang dicita-citakan tarekat melalui visi-misi tarekat.

  Nilai-nilai cinta kasih, kerendahan hati, pengabdian dan pengorbanan diri bagi sesama anggota tarekat maupun bagi orang-orang yang menjadi sasaran pelayanan dan pengabdian tarekat menjadi semakin kabur. Dalam menghadapi situasi krisis ini memang tidak harus mempersalahkan para pemimpin semata namun ini merupakan sumbangsih seluruh anggota tarekat, namun para pemimpin sebagai motor dari kongregasi memiliki tanggung jawab yang lebih dalam mengatur kelangsungan hidup tarekat secara keseluruhan. Oleh karena itu para pemimpin harus mampu membangun suatu kesadaran yang mendalam akan situasi yang memprihatinkan ini untuk selanjutnya berusaha membantu membangkitkan kesadaran para anggota tarekat akan situasi yang sama untuk kemudian bersama-sama berefleksi dan mencarikan solusi bersama, agar karya perutusan Tuhan yang dipercayakan Tuhan bagi tarekat ini dapat berperan lebih efektif dan efisien sebagai obat penawar bagi dunia yang sedang sakit ini, yakni untuk lebih melayani dengan penuh cinta dan pengorbanan diri bagi mereka yang dilayani.

  Bertolak dari realitas ini, maka pada kesempatan ini penulis mencoba menawarkan sebuah pertemuan katekese dengan tema: “Yesus sang pemimpin utama yang melayani dengan penuh cinta dan pengorbanan diri”, dengan bertitiktolak dari sabda Tuhan sendiri dalam Injil Yohanes 10:11-13 “Gembala yang baik”. Dengan judul pertemuan katekese ini dan juga bertolak dari sabda Tuhan tersebut diharapkan agar para frater semakin mampu berguru dan meneladan serta menghayati pola dan semangat kepemimpinan Yesus sang pemimpin utama yang melayani dengan penuh cinta dan pengorbanan diri. Hal ini diandaikan pula bahwa hendaknya para frater dalam melaksanakan karya pelayanan mereka masing-masing sekecil apapun harus senantiasa menempatkan Yesus sebagai pusat dan dasar pelayanannya. Sehingga dengan demikian mereka secara bebas, tulus, penuh kerelaan dan pengorbanan diri mau melayani Kristus yang hadir dalam diri orang-orang yang diabdi dan dilayaninya. Dengan hidup meneladan pola kepemimpinan Yesus sebagai pemimpin utama berarti para frater harus hidup, bekerja, mencintai dan melayani seperti Yesus.

c. Pelaksanaan Pertemuan Katekese 1). Pembukaan

  a). Kata pengantar

  Para konfraterku yang dikasihi Tuhan, selamat datang dalam pertemuan katekese kita kali ini. Pertama-tama saya menghaturkan limpah terima kasih atas kesediaan dan kerelaan para frater yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk bersama-sama berkumpul pada kesempatan ini. Dalam pertemuan ini kita akan bersama-sama mencoba masuk dalam ke kedalaman hati dan hidup kita masing-masing, untuk melihat kembali seluruh perjalanan hidup kita selama ini sebagai seorang religius Frater Bunda Hati Kudus. Kita akan mencoba untuk menggali dan merefleksikan sudah sejauh mana kita masing-masing menghayati panggilan dan tugas perutusan kita sebagai seorang pemimpin baik pemimpin bagi diri sendiri maupun yang secara struktural oleh kongregasi telah diberi kepercayaan untuk menjadi pemimpin dalam tataran apapun dalam menjalankan misi perutusan kita, entah sebagai Dewan Provinsi Indonesia, sebagai kepala sekolah, pimpinan komunitas atau sebagai pempinan apapun. Kita masing-masing bertanya sudah sejauh manakah saya menghayati semangat pelayanan yang penuh cinta dan pengorbanan dalam melayani sesama yang dipercayakan Tuhan dan tarekat kepadaku? Oleh karena pada kesempatan ini kita akan saling berbagi kekuatan dan pengalaman agar kita semakin mendukung, meneguhkan dan menguatkan dalam melanjutkan tugas perutusan tarekat untuk lebih melayani sesama dengan penuh cinta dan pengorbanan bagaikan untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

  b). Lagu pembukaan: Yesus Raja Damai (MB. No. 743) Syukur pada-Mu Yesus Tuhan, Dikau bawa terang bagi dunia.

  Kau damaikan Surga dengan bumi, bahagia umat manusia. Dikau yang membebaskan kami, Dikau hapus noda dan dosa kami. Kau penuhi janji para nabi, raja damai yang lama dinanti. c). Doa pembukaan: Ya Allah Bapa yang maha cinta, puji dan syukur kami haturkan ke hadirat-Mu atas segala kelimpahan rahmat dan cinta yang telah Engkau anugerahkan secara cuma-cuma kepada kami hingga saat ini. Kami bersyukur pula bahwa berkat kelimpahan kasih-Mulah kami telah kau kumpulkan di tempat ini untuk bersama- sama menggali, merefleksikan dan berusaha menghayati serta meneladan Yesus Kristus sang pemimpin utama kami yang telah Kau utus untuk melayani dan menyelamatkan kami manusia dengan penuh cinta dan bahkan mengorbankan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi kami. Oleh karena itu kami mohon datanglah kerajaan-Mu dan penuhilah hati, pikiran dan seluruh diri kami dengan terang Roh Kudus-Mu, agar kami semakin terbuka akan sabda dan rahmat-Mu yang senantiasa Engkau alirkan demi kebahagiaan dan keselamatan hidup kami manusia yang lemah dan tak berdaya ini, sehingga kami dapat menjadi pemimpin-pemimpin masa kini yang penuh cinta dan pengorbanan diri demi kemuliaan nama Allah yang lebih besar. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

  2). Penyajian pengalaman hidup (penayangan film).

  Para frater yang terkasih, pada kesempatan ini marilah kita bersama-sama menyaksikan tayangan sebuah film yang berjudul: “USKUP ROMERO”. Filem ini mengisahkan seorang imam bernama Pastor Oscar Romero yang lahir Ciudad Borrios, San Miguel, di bagian Timur El Salvador pada tanggal 15 Agustus 1917 (Denis, 2008: 28).

  Oscar Romero setelah belajar di San Miguel dan San Salvador, ditabiskan di Roma pada taggal 4 April 1942, dan selanjutnya Perang Dunia II memaksa Pastor Oscar meninggalkan studi doktoralnya di Roma dan kembali ke El Salvador tanah kelahirannya. Segera ia terbenam dalam tugas karya Gereja . Di samping melakukan tugas, ia bekerja juga untuk keuskupan San Miguel sebagai sekretaris, kapelan sekolah menengah atas, dan sebagai wartawan. Pastor Romero merupakan seorang pengkhotbah yang sangat bagus dan menarik yang selalu menyemangati dan membangkitkan iman umatnya. Dalam khotbah-khotbahnya, ia selalu memerhatikan pengaitan pesan Injil dengan pengalaman hidup sehari-hari umatnya yang dengan setia mendengarkannya.

  Dalam suatu khotbah ia pernah mengatakan “Kerajaan surga sudah mulai dan kita alami serta rasakan sekarang dan di sini ini” ( Dennis, 2008: 28).

  Pastor Romero selama mengemban tugas penggembalaannya, ia selalu bersinggungan dengan situasi yang amat tidak menguntungkan akibat situasi politik dan ekonomi yang tidak kondusif, di mana ia bersama teman-temannya selalu dihadapkan dengan realitas yang sangat memprihatinkan. Realitas yang dimaksud adalah di mana masyarakat El Salvador yang boleh dikatakan 99 % beragama Katolik ini hidup di bawah garis kemiskinan, akibat lahan-lahan pertanian pada umumnya dikuasai oleh pemerintah yang diktator dan koruptor atau yang kita kenal dengan istilah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Pastor Romero bersama teman-teman misionarisnya selalu berusaha melayani dan mendampingi umat penggembalaannya dengan penuh perhatian dan kelembutan kasih. Namun di satu sisi mereka juga tidak tahan melihat penderitaan umatnya yang semakin meningkat. Situasi inilah yang mendorong Pastor Romero bersama teman-temannya berjuang menuntut keadilan lewat kotbah-kotbahnya dan juga lewat pendekatannya dengan para pejabat pemerintah dan para tuan tanah agar mereka bisa bersikap lebih adil. Namun usaha itu terasa sia-sia, dan justru mereka dimusuhi oleh pemerintah. Situasi ini tidak pernah menyulutkan semangat perjuangan Pastor Romero dan teman-temannya dalam menyuarakan keadilan di tanah El Salvador. Perjuangan ini semakin meningkat ketika Pastor Romero, yang oleh Bapa Paus Yohanes Paulus II diangkatnya menjadi Uskup di El Salvador. Beliau semakin gencar memperjuangkan keadilan bagi umatnya, walaupun ia semakin dimusuhi dan dibenci oleh para penguasa negeri itu. Perjuangan sang uskup ini berpuncak ketika terjadi peristiwa penembakan membabibuta oleh pasukan pemerintah terhadap umat yang sedang mengikuti perayaan Ekaristi di halaman sebuah plasa. Suatu peristiwa yang sangat menyulut kemarahan sang uskup adalah ketika pasukan pemerintah menembak mati seorang sahabat karibnya bernama Pastor Rutillo Grande, SJ dengan dua orang campesino pada tanggal 12 Maret 1977.

  Uskup Romero tidak pernah mau menyerah dalam menghadapi situasi ini. Justru ia semakin berani berjuang menegakkan keadilan bagi umat kesayangannya dengan sebuah semboyan “Jika mereka membunuh saya, saya akan bangkit lagi dalam diri rakyat El Salvador” (Dennis, 2008: 28). Semboyan inilah yang sampai sekarang sangat terkenal di seluruh dunia. Semangat, kegigihan dan keberanian inilah yang pernah membuat dia ditangkap dan dipenjarakan walaupun setelah itu ia dibebaskan kembali. Namun pada akhirnya, ketika beliau sementara memimpin perayaan Ekaristi, tiba-tiba ia ditembak oleh seorang penembak bayaran pemerintah yang berkuasa yang sangat membencinya. Peristiwa penembakan ini terjadi dalam konsekrasi, yakni ketika sang uskup sementara mengangkat piala berisi darah Kristus. Inilah puncak perjuangan Uskup Romero di tanah misi El Salvador. Sebagaimana Kristus telah menumpahkan darahnya sebagai tebusan bagi dosa umat manusia, begitupun Uskup Romero telah rela menumpahkan darahnya sebagai ungkapan cinta dan pengabdiannya yang total demi mewujudkan cinta kasih dan keadilan di tanah El Salvador pada umumnya dan bagi umat Katolik El Salvador pada khususnya.

  Para konfraterku yang terkasih, untuk lebih rincinya dari kisah ini, marilah kita dengan seksama menyaksikan tayangan filmnya. Selamat menyaksikan.

  3). Pendalaman film

  Para konfraterku yang terkasih, setelah kita menyaksikan tayangan film Uskup Romero dan merenungkannya, marilah selanjutnya kita masuk dalam kelompok kecil yang sudah dibagi untuk saling berbagi dari pangalaman Film tadi dan sekaligus kita juga mencoba merekam kembali pengalaman hidup kita sebagai kaum terpanggil dalam menunaikan tugas perutusan kita masing-masing dan sekaligus membagikannya di antara kita dengan beberapa pertanyaan panduan berikut:

  a). Apa reaksi spontan para frater terhadap kisah Uskup Romero tadi?

  b). Sikap-sikap pelayanan macam apakah yang ditunjukkan Uskup Romero dalam melayani umat penggembalaannya di El Salvador? c). Mengapa Uskup Romero rela mengorbankan nyawanya bagi umat dan masyarakat

  El Salvador?

  d). Sejauh mana para frater berusaha menghayati sikap pelayanan yang penuh kasih dan penuh pengorbanan diri dalam menunaikan tugas perutusan sehari-hari?

  4). Rangkuman dari sharing pendalaman film dan pengalaman hidup para frater

  Setelah menyaksikan film tadi, dari kita masing-masing tentu muncul berbagai macam reaksi spontan di mana ada yang merasa prihatin dan sedih melihat situasi masyarakat El Salvador yang sangat memprihatinkan, takut, jengkel, cemas, protes, ibah ketika melihat sikap brutal dari pemerintah dan tentara, terkesan dengan sikap pengorbanan diri Uskup Romero yang rela menumpahkan darahnya demi memperjuangkan dan mewujudkan nilai cinta kasih dan keadilan di tanah El Salvador.

  Sikap pelayanan yang ditunjukkan Uskup Romero bersama teman-teman seperjuangannya adalah di mana dengan melihat situasi masyarakat yang sangat memprihatinkan itu, mereka berusaha untuk senantiasa menjadi teman, sahabat, gembala, bapak dan pemimpin serta pejuang yang tangguh dengan dibalut selimut cinta kasih dan pengorbanan diri yang total untuk mengangkat harkat dan martabat kaum miskin El Salvador dan sekaligus demi kemuliaan nama Allah yang lebih besar bagi tanah misi El Salvador yang sangat ia cintai. Kiranya motivasi inilah yang mendorong Uskup Romero untuk rela mati di tengah kaum miskin dan penderita yang sangat ia cintai.

  Kisah Uskup Romero ini diharapkan dapat menggugah, menyadarkan kita semua untuk melihat kembali sudah sejauh mana kita menghayati sikap pelayanan yang penuh kasih dan pengorbanan yang tulus dari kita dalam menunaikan tugas panggilan dan pelayanan kita terhadap sesam konfrater, karyawan- karyawati, para guru, para anak didik umat dan siapa saja yang kita jumpai dan kita layani. Saya yakin bahwa para frater masing-masing telah berjuang maksimal untuk menghayati dan mewujdkan nilai- nulai cinta kasih, keadilan, kejujuran, kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu marilah kita tetap semangat dengan saling mendukung, memperhatikan satu sama lain untuk melangkah bersama dalam menata dan menatap masa depan kita yang masih terbentang luas ini, agar kemuliaan nama Allah dan Hati Kudus Yesus semakin dipuja dan disembah dimana-mana.

  5). Pembacaan Kitab Suci, Yoh 10 11-13

  Pendamping mengajak para peserta untuk membacakan secara bersama dan perlahan-lahan teks Kitab Suci Yoh 10:11-13, kemudian selanjutnya pendamping membacakan sekali lagi dengan lebih pelan dilanjutkan dengan saat hening dan refleksi pribadi sejenak diiringi musik intrumen.

  6). Pendalaman teks Kitab Suci Yoh 10:11-13

  Setelah peserta merefleksikan bacaan yang baru saja dibacakan, selanjutnya pendamping mengajak peserta untuk mendalami teks Kitab Suci dan saling berbagi dengan beberapa pertanyaan tuntunan:

  a). Dalam bacaan tadi, nilai-nilai apa sajakah yang dituntut Yesus dari kita sebagai pemimpin? b). Sharingkanlah pengalaman para frater berkaitan dengan nilai-nilai kepemimpinan yang para frater miliki dan hayati dalam kehidupan sehari-hari!

  7). Gagasan untuk Rangkuman teks Kitab Suci, Yoh 10:11-13

  Pernyataan Yesus “Akulah gembala yang baik” dalam ay. 11-13 mau menunjukkan kontras antara diri-Nya dengan orang-orang upahan yang bukan gembala (ay 12). Kata “Baik” diterjemahkan dengan berbagai cara: yang ideal, yang layak diteladani, dan yang penuh dedikasi, yang semuanya merujuk pada pribadi Yesus.

  Namun sebenarnya penekanan kata “Baik” itu dimaksudkan untuk memperlawankan pribadi Yesus sebagai gembala yang baik, yang rela menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya dan demi kebahagiaan serta keselamatan domba-domba itu sendiri, yang lain sama sekali dengan orang-orang upahan yang bukan pemilik domba, di mana mereka memiliki tanggung jawab yang sangat terbatas, bahkan mereka tidak segan- segan meninggalkan domba-domba apabila mereka berada dalam keadaan bahaya, (ay 12-13). Orang-orang upahan ini menunjuk kepada para pemimpin dan juga siapa pun yang mengemban tugas kepemimpinan yang selalu menyalahgunakan kepemimpinannya dengan tidak bertanggungjawab, tidak komit, tidak peka dan peduli terhadap komunitas/ orang-orang yang dipimpinnya.

  Yesus sudah secara jelas menunjukkan diri-Nya sebagai gembala yang baik, yang telah menggembalakan kawanan domba-Nya dengan penuh perhatian dan kehangatan kasih, bahkan Ia pada akhirnya menyerahkan nyawa-Nya sendiri sebagai taruhan demi keselamatan dan kebahagiaan kawanan dombanya. Di sini Yesus mau mengajak dan mengajari kita sebagai gembala domba dalam konteks kita sebagai seorang pemimpin, entah pemimpin apa saja yang dipercayakan kongregasi kepada kita, agar kita hendaknya senantiasa berpedoman dan melandaskan kepemimpinan kita pada pola kepemimpinan Yesus sebagai gembala yang baik. Menjadi pemimpin gembala yang baik berarti dalam mengemban tugas kepemimpinan itu kita harus mimiliki dan menghayati nilai-nilai cinta kasih, penghargaan, rasa hormat, perhatian yang tulus terhadap anggota atau siapa saja yang kita pimpin, bahkan kita harus rela untuk direpotkan khususnya ketika ada anggota yang bermasalah dan membutuhkan perhatian khusus. Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin kita harus memliki sikap lepas bebas dan totalitas diri bahkan sampai nyawa kita sendiri yang menjadi taruhan sekalipun sebagaimana telah kita saksikan bersama kisah kepemimpinan Uskup Romero yang telah mengakhiri karya penggembalaannya di tanah misi El Salvador dengan menjadikan nyawanya sebagai taruhan demi memperjuangkan dan menegakkan nilai cinta kasih, kejujuran dan keadilan serta demi kebahagiaan dan keselamatan masyarakat El Salvador yang ia cintai.

  8). Penerapan dalam hidup secara konkret

  Para konfraterku yang dikasihi Tuhan. Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah seperti yang kita bayangkan. Menjadi seorang pemimpin kita harus siap secara mental maupun fisik. Seorang pemimpin harus siap untuk menjadi contoh dan tokoh panutan bagi para anggotanya. Menjadi seorang pemimpin harus siap disalah pahami, di mana apabila ia melakukan sesuatu yang baik kadang dinilai dia mencari popularitas diri, namun kalau ia melakukan suatu kekeliruan ia akan dinilai dan dicap sebagai pemimpin yang tidak baik, tidak becus, tidak mampu, dsb. Namun bagaimana pun juga, demi kelangsungan hidup sebuah lembaga sangatlah penting kehadiran dan peran seorang pemimpin.

  Dalam kehidupan kita sehari-hari, entah kita sadari atau tidak, kita semua ini adalah pemimpin, yakni pemimpin bagi diri kita sendiri sebelum kita memimpin orang lain. Namun kerap kali hal ini kita lupakan, sehingga yang terjadi adalah bahwa karena ia tidak mampu memimpin dirinya sendiri, akhirnya menjadi orang sulit dalam persaudaraan, yang bahkan ikut mempersulit para pemimpin yang secara formal dipercayai kongregasi untuk membantu seluruh anggota untuk hidup dan berjalan serta berjuang bersama untuk mencapai kebahagiaan, keselamatan dan kesempurnaan hidup sebagaimana dicita-citakan bersama. Namun di sisi lain, kadang-kadang orang-orang yang diserahi kepercayaan untuk memimpin, kerap tidak cukup merefleksi diri untuk menemukan di mana titik kelemahan dan kelebihannya, padahal dari sana ia sebenarnya dapat meletakkan tugas kepemimpinannya dalam diri Kristus sebagai pemimpin pertama dan utama dalam hidupnya. Dampak dari kekurangan ini, ia akan mudah menjadi pemimpin yang otoriter, yang tidak mau mendengarkan, tidak mampu berdialog, tidak mengayomi dan menghargai serta memperhatikan apa yang menjadi jeritan dan kerinduan para anggotanya, bahkan mudah ia menjadikan kepemimpinan sebagai ajang kekuasaan dan kesempatan untuk memenuhi segala kepentingan dan keinginan pribadi serta kelompoknya sendiri, yang kemudian menghalalkan segala macam cara untuk mempertahankan kekuasaannya itu. Bila hal ini yang terjadi, bagaimana dengan tarekat kita?

  Oleh karena itu, marilah para konfraterku, kita bersama-sama belajar dari pola kepemimpinan kegembalaan Yesus, untuk bersama-sama berjuang menata dan mengisi hidup panggilan dan perutusan kita untuk semakin bermakna bagi persekutuan kita dan bagi kebahagiaan serta keselamatan banyak orang yang senantiasa mendambakan dan merindukan kehadiran dan uluran tangan serta sapaan kita yang penuh kehangatan kasih, sehingga Kerajaan Allah semakin meraja dalam kehidupan dunia di mana kita diutus.

  9). Penutup a). Doa permohonan.

  Pendamping mengajak para peserta untuk masuk dalam keheningan batin untuk mengendapkan apa yang telah diolah dan dibagikan bersama sambil diiringi musik instrument. Selanjutnya pendamping mengajak para peserta untuk menyampaikan doa- doa permohonannya secara spontan.

  Para konfraterku yang dikasihi Tuhan, setelah kita berbagi pengalaman lewat penyajian filem dan disempurnakan dengan sabda Tuhan lewat Injil Yoh 10:11-13 tadi, sekarang marilah kita mengungkapkan segala niat dan harapan kita masing-masing kepada Tuhan lewat doa-doa permohonan kita kepada Tuhan.

  Peserta diberi waktu 2 menit untuk merenung sambil mempersiapkan doa permohonan masing-masing yang akan disampaikan secara spontan.

  b). Doa Bapa Kami.

  Para frater yang terkasih, marilah kita satukan segala niat dan harapan serta rasa syukur kita kepada Tuhan dengan bersama-sama mendoakan doa yang diajarkan Kristus kepada kita: Bapa Kami……. c). Doa penutup Allah Bapa yang maha bijaksana dan maha cinta, kami menghaturkan syukur dan terima kasih kepada-Mu karena Engkau telah melimpahkan rahmat kasih-Mu bagi kami dari awal hingga akhir pertemuan ini. Dalam pertemuan ini, Engkau telah mengajari dan menunjukkan kepada kami Yesus Putra-Mu sebagai teladan kepemimpnan bagi kami. Semoga dalam mejalankan tugas kepemimpinan kami sehari- hari kami dapat meneladan pola kepemimpinan-Nya untuk memimpin dengan penuh perhatian dan kehangatan kasih serta berani mengorbankan diri demi kebahagiaan dan keselamatan banyak orang. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus Allah kini dan sepanjang masa. Amin.

  d). Lagu Penutup: “Raja Agung” (MB. No. 510).

  Raja agung meraja di bumi, penuh darma, Tuhan maha kasih. Tahta-Nya abadi selama-lamanya, alam musnah, Kristus tetap jaya. Hyang maluhur Kristus raja abadi, Hyang maluhur Kristus raja abadi.

  Alam raya menyembah pada-Nya, mengakui maha kuasa-Nya. Yesus Kristus raja penebus dunia, nusa bangsa menjunjung upeti, Bagi raja kuasa semesta alam, bagi raja kuasa semesta alam.

  Surga bumi bermadah bagi-Nya, meluhurkan Kristus maha raja. Rebana dan dawai menghias angkasa, Seluruh bangsa memuji sang Kristus, Raja agung sumber kemuliaan, raja agung sumber kemuliaan.

6. Contoh Persiapan Katekese II

a. Identitas Katekese 1). Judul Pertemuan : Upaya transformasi dari diri sendiri.

  2). Tujuan : Bersama peserta semakin menyadari diri dan semakin terbuka untuk mentransformasi diri mulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari sampai hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan panggilan serta kongregasi.

  3). Peserta : Para Frater Bunda Hati Kudus 4). Tempat : Novisiat Frater Bunda Hati Kudus (Malang) 5). Hari/ tgl : Disesuaikan dengan jadual kegiatan refresing tahunan para frater Se-Jawa dan Palembang. 6). Waktu : Pkl. 16-30 – 19.00 WIB 7). Metode : - Cerita

  • Refleksi - Sharing pengalaman
  • Informasi - Tanya jawab 8) Sarana : - Madah Bakti - Kitab Suci Perjanjian Baru Luk 4:1-13 - Teks cerita “Kebijaksanaan Sang Abdis Tua”.
  • Laptop &>Tape recorder & VCD musik instrumen
  • Guitar 9). Sumber Bahan : - Stifen Leks, 2002, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.
Yogyakarta: Kanisius.

  • Martasudjita, (2001: 36-40 & 46-48). Yogyakarta: Kanisius.
  • Wofford, (2001: 86-89), Yogyakarta: Andi Offset - Konstitusi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (1997, art.

  59-60).

  • Cerita “Kebijakasanaan Sang Abdis Tua”.
  • Injil Luk 4:1-13 “ Pencobaan di Padang Gurun”.

b. Pemikiran Dasar

  Dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat kerap kita menyaksikan dan bahkan mengalami bahwa ada pemimpin yang tidak sukses atau bahkan dikatakan gagal dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya. Hal ini tentu saja disebabkan oleh banyak faktor, namun yang kerap nampak adalah faktor kerapuhan pribadi lebih mendominasi suatu ketidaksuksesan seorang pemimpin. Hal ini kalau kita refleksi dan telaah lebih jauh kita dapat mengatakan bahwa ini disebabkan karena sang pemimpin itu kurang mengenal kedalaman hidupnya, yakni kekuatan dan kerapuhan dirinya untuk selanjutnya belajar membenahi diri. Sebagai seorang pemimpin Kristiani yang baik, hendaknya ia meletakkan semuanya di hadapan Allah sehingga dari sana hanya kekuatan dan kekuasaan Allahlah yang menguasai dan melimpah dalam hidup dan kepemimpinannya.

  Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus sebagai suatu lembaga religius laikal keuskupan yang tentu saja memiliki struktur kepemimpinan di dalamnya pun tidak terlepas dari situasi dan pengalaman ketidaksuksesan para pemimpinnya dalam mengemban amanat yang dipercayakan kongregasi kepada mereka. Ketidaksuksesan ini tentu saja secara obyektif tidak bisa langsung dipakai untuk memfonis, bahwa yang menjadi penyebab adalah semata-mata para pemimpinnya sebagai individu, karena seringkali hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Namun di satu sisi perlu disadari, bahwa bagaimanapun juga ketidaksuksesan atau kegagalan dan keberhasilan suatu organisasi umumnya ditentukan oleh pemimpinnya sebagai pengarah, penuntun dan pembimbing bagi segenap anggotanya dalam berjuang mewujudkan apa yang menjadi cita-cita dan harapan yang mau dicapai bersama.

  Dengan melihat realitas yang terjadi dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus saat ini, dirasa sangat perlu adanya suatu proses transformasi diri baik bagi para pemimpin maupun seluruh anggota kongregasi. Proses transformasi yang dimaksud di sini pertama-tama adalah untuk membantu para frater agar mereka dapat menemukan apa yang menjadi titik kerapuhan dan kelemahan dalam diri masing-masing, sehingga dari sana mereka dapat merefleksi dan menata diri dalam terang kebijaksanaan Tuhan untuk membangun kembali hidup panggilan dan perutusannya sesuai dengan nilai-nilai Injili, nilai-nilai tradisi dan kekayaan rohani kongregasi untuk semakin memaknai hidup panggilan dan perutusannya demi kebesaran dan kemuliaan nama Allah yang lebih besar dan sekaligus melalui spiritualitas Hati Kudus sebagai obat bagi penyakit zaman ini, semakin dirasakan dan dinikmati oleh semakin banyak orang yang mereka jumpai dan layani.

  Dalam Injil Luk 4:1-13 Santo Lukas mengetengahkan kisah hidup Yesus yang sangat menakjubkan. Dalam perikop ini dikisahkan bagaimana Yesus dihadapkan dengan godaan si iblis justru saat Dia dalam keadaan amat rawan di mana Yesus dalam keadaan sungguh amat lapar setelah empat puluh hari Ia berpuasa. Saat itu Yesus disuruh untuk menggunakan kuasa-Nya sebagai anak Allah mengubah batu menjadi roti (kenikmatan/ hedonism). Kedua, Yesus digoda untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah (popularitas/ ketenaran). Ketiga, Yesus diminta untuk menyembah kepada si iblis, dan sebagai imbalannya si iblis berkata kepada-Nya ia akan menyerahkan segala kuasa serta kemuliaan dunia yang ada di bumi ini kepada-Nya.

  Namun dari ketiga godaan yang ditawarka si iblis ini tak satupun yang diterima oleh Yesus dan Ia mematahkan tipuan muslihat iblis itu dengan jawaban yang penuh kuasa dan hikmat Allah. Tiga godaan tersebut di atas merupakan tiga godaan mendasar yang senantiasa menyelimuti hidup manusia hingga saat ini. Dalam dunia kita saat ini, terkesan si iblis cukup berhasil mempengaruhi hidup manusia sehingga manusia- manusia modern saat ini takluk di bawah kekuasaannya.

  Para Frater Bunda Hati Kudus sebagai anak zaman pun dalam kehidupan sehari- hari tidak luput dari ketiga godaan tersebut. Hal ini terlihat dari fenomena dan situasi hidup saat ini yang menimbulkan banyak keprihatinan, karena ternyata banyak dari kita sudah hidup menyimpang dari cita-cita Injili dan cita-cita luhur kongregasi. Oleh karena itu sangat diharapkan semoga melalui proses transformasi diri ini, masing- masing frater dapat belajar dari Yesus sang pemimpin dan gembala kita untuk dapat dengan iman yang berani menolak segala godaan yang mengancam kelangsungan hidup panggilan dan perutusannya.

  Demi proses transformasi diri ini diandaikan dari masing-masing frater mau dengan segala kerendahan hati mengosongkan diri dan mempersilakan Allah dengan segala daya ilahi-Nya berkarya di dalamnya, sehingga dari sana bisa terpancar kesahajaan hidup yang merupakan pantulan kasih dan cinta Allah bagi sesama dan dunia di mana kita hidup dan berkarya. Apabila hal ini yang terjadi maka eksistensi dirinya sebagai seorang Frater Bunda Hati Kudus akan sungguh-sungguh nampak dengan senantiasa berusaha menjadi garam dan terang dunia.

c. Pelaksanaan Pertemuan 1). Pembukaan

  a). Kata Pengantar Para Konfraterku yang dikasihi Tuhan, hidup di tengah arus globalisasi yang semakin deras dan keras saat ini bukanlah merupakan hal mudah. Dalam kehidupan kita sehari-hari tentu kita masing-masing mengalami dan merasakan apa yang menjadi dampak positif dan negatif dari arus besar globalisasi saat ini. Kalau kita mau secara jujur merefleksi dan menelaah lebih dalam penghayatan hidup panggilan dan perutusan kita saat ini, di situ kita akan menemukan begitu banyak nilai keutamaan yang mulai tergerus bahkan menjadi sama-samar. Hidup kerohanian kita baik secara kongregasional maupun secara individu mulai melemah termasuk nilai-nilai humanis dalam menunaikan karya perutusan kita. Berkaitan dengan hal ini kita sebagai anak zaman entah kita sadari atau tidak, secara perlahan namun pasti kita mulai tergiring masuk dalam arus besar era globalisasi saat ini. Kita bagaikan tak berdaya untuk melawan arus zaman yang semakin deras. Kita bagaikan kehilangan pegangan dan kekuatan untuk melawan. Oleh karena itu pada pertemuan ini kita diajak untuk belajar dari Yesus yang dengan tegas dan berani menghadapi dan melawan/ menolak godaan- godaan si iblis yang kelihatan baik dan menggiurkan. Kita berusaha belajar dan menimba kekuatan dari Yesus sang junjungan dan gembala utama hidup kita untuk mentransformasikan diri kita menjadi manusia-manusia baru di dalam Kristus, sehingga dengan demikian kita tidak lagi hidup sebagai anak-anak kegelapan melainkan menjadi anak-anak terang, terutama dalam menata dan menatap masa depan hidup panggilan serta kongregasi kita. b). Lagu Pembukaan: “Tuhan Sumber Hidupku” (MB. No. 453).

  Datanglah bila hampa hatiku, hiburlah bila hambar cintaku, Cairkan bila beku hatiku, segarkan bila layu jiwaku. Bangkitkan bila jatuh imanku, hidupkan bila mati smangatku, Hapuskan dari noda dosaku, singkirkan dari sgala yang palsu. Hilangkan dengki dari hatiku, rendahkan bila tinggi hatiku, Lemaskan bila kaku lidahku, wartakan karya keselamatan-Mu. Taburkan benih hidup yang baru, suburkan sawah lading hatiku, Himpunkan umat menjadi satu, turunkan damai atas umat-Mu.

  

Reff. Tuhan sumber hidupku, hanya Dikau daya hidupku,

Hanya Dikaulah arah hidupku.

  c). Doa pembukaan: Ya Allah sumber pembaharu hidup kami, kami menghaturkan syukur dan terima kasih atas kelimpahan kasih-Mu yang telah menyatukan kami semua pada kesempatan ini untuk bersama-sama mendengarkan, merenungkan dan menemukan diri kami dalam Dikau lewat sabda Putra-Mu Tuhan dan Gembala kami. Kami mohon penyertaan Roh Kudus-Mu agar kami dapat saling terbuka satu sama lain dan juga dapat terbuka terhadap kehendak dan rencana-Mu untuk membaharui dan mengangkat kami dari segala kerapuhan dan keterbatasan kami masing-masing, sehingga dengan kekuatan rahmat kasih-Mu itu kami dapat membangun hidup baru dalam Dikau. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus kini dan sepanjang segala masa. Amin.

  2). Penyajian Pengalaman Hidup

  Para Saudaraku tang terkasih pada kesempatan ini saya mengajak kita untuk mencoba belajar dari sebuah kisah yang akan kita bacakan bersama. Kisah yang saya

  

“KEBIJAKSANAAN SANG ABDIS TUA”.

  haturkan ini berjudul: Mari kita bacakan bersama dan selanjutnya saya akan memberikan kesempatan kepada para frater untuk sejenak membacakan kembali secara pribadi dalam hati sambil merenungkannya. Saya pun akan mempersilakan salah satu frater yang bersedia menceritakan kembali secara singkat isi pokok dari kisah tersebut bagi kita semua.

  3). Pendalaman Pengalaman Hidup

  Setelah membaca dan merenungkan kisah “Kebijakasanaan Sang Abdis Tua” , pendamping mengajak para peserta untuk bersama-sama mendalami kisah tersebut dengan beberapa pertanyaan panduan berikut:

  a). Apa tanggapan para frater terhadap kisah tadi?

  b). Mengapa sang Abdis Tua itu tidak langsung mengutus suster mudanya untuk menjadi pengkotbah sebagaimana diminta oleh sang Uskup, tetapi sang Abdis masih membiarkan suster mudanya itu melewati suatu proses panjang?

  c). Makna apa yang para frater petik dari kisah sang Abdis Tua tersebut? Sharingkanlah dengan sesama konfratermu!

  4). Rangkuman dari Pengalaman hidup

  Dalam kisah tadi, tentu saja di antara kita ada yang secara spontan merasa aneh dan jengkel dengan sikap sang Abdis Tua itu karena dia tidak langsung saja mengutus susternya ke tempat perutusan yang ditawarkan oleh uskup namun ia masih menyuruh Sr. Clara untuk melewati begitu banyak percobaan, latihan dan persiapan yang sangat melelahkan. Di sini dapat kita melihat bahwa ternyata sang Abdis Tua itu dengan mata hatinya ia dapat melihat dengan tajam kedalaman pribadi Sr. Clara yang masih muda dan masih novis lagi. Sang Abdis itu ingin memproses dan mempersiapkan Sr. Clara secara matang dan mendalam dengan nilai-nilai kepribadian, nilai-nilai rohani dan nilai-nilai humanis dalam diri dan hidupnya sebagai bekal dalam perutusannya nanti. Lewat proses yang ditempuh, akhirnya Sr. Clara dapat mengenal dan menemukan dirinya yang terdalam dengan segala kekuatan dan kerapuhannya, sehingga dari sana ia dengan segala kerendahan hati, setia, jujur membuka diri lebar-lebar untuk dibentuk dan ditransformasi yang bukan lagi oleh sang Abdis tetapi ia sadar penuh bahwa yang membentuk dan mentransformasi dirinya adalah Tuhan yang telah mencintai dan memanggilnya. Sikap kepasrahan diri Sr. Clara ini pada akhirnya menghasilkan buah yang melimpah dalam tugas perutusannya yang sekaligus membawakan kegembiraan, suka cita dan keselamatan bagi banyak orang yang ia jumpai dan layani serta menjadi tanda suka cita dan pembaharuan bagi segenap anggota tarekatnya.

  Para Frater yang dikasihi Tuhan, dari kisah ini kita telah belajar banyak hal, di mana kita sebagai seorang yang mengalami panggilan istimewa sebagai Frater Bunda Hati Kudus, hendaknya kita juga memiliki sikap dan disposisi batin seperti Sr. Clara. Di mana kerendahan hati, ketulusan, kejujuran dan kesediaan membuka diri terhadap segala proses transformasi yang ditawarkan Tuhan lewat kongregasi, konfrater, atau siapa saja serta seluruh peristiwa hidup kita yang dipakai Tuhan untuk memproses dan mentransformasi hidup kita menuju suatu kehidupan yang lebih utuh, murni dan bermakna bagi diri, kongregasi dan sesama yang kita jumpai dan layani, sehingga dengan demikian Kerajaan Allah semakin meluas dan dinikmati oleh semakin banyak orang.

  Dari pengalaman pengolahan dan proses transformasi Sr. Clara tadi, kita dapat memetik begitu banyak nilai yang ditawarkan yang dapat kita gunakan dan hayati sebagai sumber kekuatan dan pegangan dalam hidup panggilan serta perutusan kita sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: Nilai pembedaan Roh, tanggung jawab, ketulusan hati, kerendahan hati, keseimbangan antara hati dan pikiran serta sikap dan perbuatan, nilai pengosongan diri, kemampuan mendengarkan, semangat doa, dan rasa empati dan perhatian yang tulus terhadap sesama anggota yang lemah dan juga dengan sesama yang miskin, menderita dan tak berdaya (Option for the poor).

  5). Pembacaan teks Kitab Suci, Luk 4:1-13

  Pendamping mengajak para peserta untuk mebacakan teks Kitab Suci Luk 4:1- 13 secara bergiliran ayat per ayat, selanjutnya pendamping mempersilakan peserta untuk masuk dalam keheningan untuk merenungkan kembalai isi teks Kitab Suci sambil diiringi dengan musik instrumental.

  6). Pendalaman teks Kitab Suci, Luk 4:1-13

  Setelah teks Kitab Suci dibaca dan direnungkan, selanjutnya pendamping mengajak perserta untuk bersama-sama merefleksikan isi teks kitab Suci dengan beberapa pertanyaan panduan berikut:

  a). Dari teks Kitab Suci yang telah kita baca dan renungkan bersama tadi, ayat manakah yang berkesan bagi anda? b). Sharingkanlah pengalaman para frater tentang proses transformasi yang bagaimanakah yang dikehendaki Tuhan bagimu?

  7). Gagasan untuk rangkuman teks Kitab Suci.

  Dari teks Kitab Suci yang telah kita renungkan dan kita bagikan, memang masing-masing kita memiliki keunikan dan justru keunikan itu menambah kekayaan iman kita. Namun dari keunikan-keunikan tersebut ada sebuah benang merah yang kiranya dapat menghantar kita semua untuk dapat memahami sabda Tuhan secara lebih utuh dan mendalam bahwa penginjil Lukas mau mengajak kita untuk melihat tiga jenis godaan yang khas yang dialami oleh Yesus sebelum Ia memulai tugas perutusan Bapa untuk mengajar dan mengadakan banyak mukjizat yang pada akhirnya akan berpuncak pada penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya sebagai puncak karya keselamatan-Nya bagi umat manusia.

  Dalam godaan yang pertama dan ketiga si iblis menyebut Yesus sebagai Anak Allah, tetapi mencoba menghindarkan Yesus terhadap ketaatan-Nya kepada Bapa yang telah mengutus-Nya. Yesus tidak pernah menyerah kalah dan jatuh pada ketiga godaan si iblis itu, yakni pertama si iblis meminta Yesus untuk mengubah batu menjadi roti, kedua meminta Yesus untuk mengkhianati Bapa yang mengutus-Nya dan menyembah kepada si iblis dan dengan itu akan diserahkan kepada-Nya segala kerajaan dan kemuliaan duniawi, dan ketiga adalah Yesus diminta untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah dan malaikat-malaikat akan menatang-Nya sehingga kaki-Nya tidak akan terantuk kepada batu. Yesus dalam menghadapi godaan si iblis itu, Ia berhasil membuat si iblis kalang kabut dengan jawaban-jawaban yang penuh kuasa dan kebenaran. Yesus dalam godaan pertama Ia hanya menjawab dengan tegas bahwa “ada tertulis: manusia hidup bukan dari roti saja”. Kedua Yesus menjawab “ada tertulis: engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti”. Ketiga, Yesus menjawab: “Ada firman: jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu”. Ketiga jawaban Yesus ini telah membuat si iblis tidak berdaya dan bahkan pergi meninggalkan-Nya seorang diri, namun ia akan datang lagi pada saat yang tepat.

  Para frater yang dicintai Tuhan, dalam kehidupan kita sehari-hari, entah kita sadari atau tidak, setan selalu bekerja 24 jam untuk mengodai kita manusia, dan tiga jenis godaan yang dialami Yesus itulah yang selalu menjadi andalan dan senjata ampuh baginya untuk menghasut dan mengalahkan kita dan pada akhirnya kita bisa bersujud padanya. Hal ini tidak bisa kita pungkiri bahwa godaan pertama yang merujuk pada godaan dan tawaran kenikmatan dunia saat ini begitu kuatnya dan telah membuat manusia termasuk kita sering tak berdaya. Godaan kedua yang merujuk pada kekuasaan telah terbukti di mana begitu banyak orang terobsesi bahkan telah berjuang dengan menghalalkan segala macam cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan dalam hidupnya. Godaan ketiga adalah godaan yang merujuk pada pencarian popularitas diri, pujian, dan sanjungan palsu yang kadang membuat kita lupa akan eksistensi diri kita sebagai seorang hamba Allah. Oleh karena itu pentinglah kita bisa terbuka untuk belajar dari Yesus sang guru sejati kita untuk berani bersikap dan menolak dengan tegas segala godaan dan cobaan hidup yang kerap sangat menyenangkan dan menggiurkan kita. Mari kita mengenakan dan menghayati cara hidup dan sikap Yesus ini untuk mentransformasikan hidup kita masing-masing dan juga kehidupan kongregasi kita ke jalan yang lebih baik sebagaimana kita harapkan dan cinta-citakan bersama. Dengan demikian kita dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh Santo Paulus yang berkata: “Tetapi kita yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuziarakan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan.

  Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus kristus Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia” (1 Tes 5:8-10).

  8). Penerapan dalam hidup secara konkret.

  Proses transformasi diri merupakan suatu proses yang membutuhkan waktu, tenaga, pikiran dan juga biaya. Oleh karena itu janganlah kita membayangkan bahwa transformasi diri itu akan berlangsung dalam waktu singkat dan mudah. Proses transformasi diri juga menuntut adanya kerendahan hati, ketulusan, kejujuran dan keterbukaan diri serta kepasrahan diri secara total pada kehendak dan rencana Tuhan untuk membiarkan Dia berkarya dalam diri kita dengan segala kekuatan dan cinta Ilahi- Nya. Apabila kita mampu membangun sikap-sikap hidup yang demikian, maka kita

  Kita akan berhasil menjadi seorang pribadi dan pemimpin yang transformatif apabila kita memahami dan berani mengupayakan kemampuan-kemampuan dasar berikut:

  a) Menjadi seorang pemimpin yang mampu terus belajar, yakni mampu untuk mendengarkan, membaca, menangkap masalah, menganalisa, mempertimbangkan macam-macam hal dan faktor, berwawasan luas, mampu berdialog, peka pada tanda-tanda zaman dan mau berkembang serta mengubah diri.

  b). Menjadi komunikator yang baik, yang mampu menyampaikan sesuatu dengan jelas, tegas tatapi bijaksana dan lembut, mampu mengungkapkan perasaan secara seimbang, mampu merumuskan sesuatu dengan tepat dan inspiratif, mampu menghubungkan yang sekarang dengan yang lampau, dan mampu membangkitkan semangat para anggota untuk bekerja giat dan hidup baik.

  b) Menjadi koordinator yang baik, seperti seorang dirigen dalam orkestra, yang mampu memadukan aneka kekayaan dan kekhasan masing-masing anggota, bagi kebaikan keseluruhan. Ia juga harus mampu membuat para anggotanya merasa at home dan merasa dirinya berharga dan penting bagi komunitas/ persekutuan.

  c) Menjadi orang yang mampu dan berani membuat keputusan yang tepat dan bijaksana bagi kebaikan bagi seluruh anggota kongregasi dan pihak-pihak lain yang berhubungan dengan keputusan itu. Ia pun harus berani mengambil resiko dan menanggungnya.

  e). Menjadi orang yang bersemangat dalam melayani proses transformasi kongregasi, bagi kemajuan dan kebaikan kongregasi, Gereja, dan masyarakat. Proses transformasi yang harus ia buat juga meliputi kemampuan untuk mangadakan kaderisasi atau regenerasi kepemimpinan yang baik. Pemimpin yang membuat segalanya terpusat pada dirinya dan tidak memungkinkan orang lain berkembang dan menggantikan dirinya tentulah bukan pemimpin yang berjiwa transformatif.

  Kepemimpinan transformatif di sini berarti kepemimpinan yang mampu mengubah hidup dari hidup yang terpusat pada diri atau kepentingan sendiri ke hidup altruis, yakni hidup untuk orang lain dan makin terbuka terhadap suka-duka kehidupan masyarakat sekitarnya, terutama bagi mereka yang lemah, kecil, miskin, dan tersingkir.

  f). Menjadi orang yang bisa mengerjakan seperti yang dikerjakan Yesus dalam perjalanan-Nya ke Emaus bersama kedua murid itu. Di situ seperti Yesus, pemimpin harus memiliki visi dan arah yang jelas yang mau dituju, mendorong, mendengarkan, mengajak refleksi dan bertanya bagi penemuan kehendak Allah, memberi informasi, menarik implikasi-implikasi, mampu menghubung-hubungkan dan membagikan roti kepada teman perjalanan.

  g). Menjadi pendoa. Ini merupakan hal penting dan utama bagi seorang pemimpin dalam tarekat. Seorang pemimpin yang baik dan transformatif perlu rajin berdoa untuk kawanannya/ para anggotanya, teman-teman sekomunitasnya, umatnya atau oarang-orang yang dipercayakan kepadanya. Ia juga perlu menjadi seorang yang hidup rohani dan doanya mendalam, sebagaimana terungkap dalam kata dan tindakan sedemikian rupa sehingga para anggotanya dan orang lain di sekitarnya merasa damai dan tenang.

  Kemampuan-kemampuan dasar tersebut di atas tidak akan bisa terhayati kalau kita sendiri tidak memiliki dasar spiritualitas yang kuat dan mendalam. Oleh karena itu sebagai seorang pemimpin Kristiani sejati hendaklah kita membangun sebuah fondasi rohani yang kokoh dalam hidup dan kepemimpinan kita yakni kita harus menjadikan Yesus dengan segala daya dan gaya kepemimpinan-Nya sebagai dasar spiritualitas kita. Berkaitan dengan spiritualitas kepemimpinan ini, Marta Sudjita (2001: 46-56) mengemukakan tiga model spiritualitas kepemimpinan, yakni Pertama, Spiritualitas kepemimpinan sebagai Gembala. Kedua, Spiritualitas kepemimpinan sebagai Pelayan. Ketiga, Spiritualitas kepemimpinan sebagai pengurus rumah tangga. Namun dari ketiga spiritualitas kepemimpinan ini kita mencoba untuk memahami dan mendalami serta berusaha menghayati spiritualitas kepemimpinan sebagai gembala.

  Yesus dalam perumpamaan-Nya menyampaikan ciri-ciri gembala yang baik. Gembala yang baik berani dan rela menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya (Yoh 10:11). Gembala yang baik selalu mengenal domba-dombanya dan domba-domba mengenalnya (Yoh 10:14). Seorang gembala yang baik juga harus memiliki pengenalan dan relasi yang intim dengan Bapa (Yoh 10: 15) Dan akhirnya gembala yang baik selalu berusaha mencari domba yang tersesat di mana ia rela meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor untuk pergi mencari dan menemukan satu ekor domba yang tersesat sebagaimana di gambarkan dengan begitu indah oleh Santo Lukas:

  “…Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jika ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan” (Luk 15:4-6).

  Seorang pemimpin yang sekedar kehilangan harta benda, materi, nama, kehormatan atau martabat belumlah cukup. Dalam hal ini seorang pemimpin (Frater BHK) harus rela merepotkan diri dan direpotkan oleh para anggota serta berani memberikan seluruh totalitas hidupnya, yakni hati, pikiran, bakat dan kemampuan bahkan hidupnya sendiri untuk melayani dan menumbuhkan serta memperkembangkan hidup para anggotanya teristimewa bagi mereka yang dianggap lemah dan tak berdaya agar mereka dapat menemukan kepenuhan hidup dalam Kristus sang Gembala utama mereka.

  Mengenal dalam arti biblis bukan hanya sekedar tahu nama, hobi, alamat entah alamat surat, telepon, email atau facebooknya, keluarga atau pekerjaannya. Mengenal bersangku-paut dengan soal ”mempunyai relasi atau hubungan personal dan mendalam”. Dalam hal ini semangat kegembalaan seorang pemimpin (Frater BHK) tampak dalam bagaimana ia memiliki hubungan yang mendalam, personal dan saling meneguhkan dengan para anggotanya. Segala suka-duka para anggotanya ada dalam doa dan pelayanannya setiap waktu.

  Suatu hal pakok yang harus dibangun dan dimiliki oleh seorang pemimpin (Frater BHK) adalah ia harus memiliki relasi yang personal dan intim dengan Allah Bapa, dalam arti ia harus sungguh mengenal, mencintai, setia dan taat melaksanakan apa yang dikehendaki Allah baginya dan selalu menempatkan Allah sebagai segala- galanya dalam seluruh ranah kepemimpinannya dan sebaliknya Allah pun akan selalu mengenal, mencintai, membimbing, menuntun dan memberikan kekuatan, kebijaksanaan dan keberanian dalam menjalankan kepemimpinannya, sehingga bukan lagi ia yang memimpin berdasarkan kemanusiaannya melainkan Allah atau Kristuslah yang selalu hidup, hadir dan memimpin dalam dirinya.

  Gembala atau pemimpin yang berani meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba dan mencari satu ekor domba yang hilang ialah pemimpin yang selalu mencintai setiap anggotanya, sekalipun anggotanya itu ada yang selalu rewel dan, bermasalah, menyebalkan, membosankan, suka memberontak dan menentang, sebab bagi seorang pemimpin gembala (Frater BHK), setiap domba/ setiap anggota, entah bagaimanapun keadaannya, tetap bernilai dan berharga, yang akan dijaganya seperti biji mata.

  Bertolak dari dasar spiritualitas kepemimpinan sebagai gembala ini, kita harus menyadari, bahwa Tuhan tidak pernah menghendaki kita untuk merubah hal-hal yang luar biasa, namun Ia hanya menghendaki agar kita mampu merubah hal-hal yang kecil dan sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari, baik sebagai pemimpin atas diri kita sendiri maupun sebagai pemimpin yang secara struktural diberi kepercayaan oleh kongregasi untuk memimpin suatu unit karya atau pemimpin apa pun.

  9). Penutup

  a). Doa permohonan Pendamping mengajak para peserta untuk masuk dalam keheningan batin untuk mengendapkan apa yang telah diolah dan dibagikan bersama sambil diiringi musik instrument. Selanjutnya pendamping mengajak para peserta untuk menyampaikan doa- doa permohonannya secara spontan.

  Para konfraterku yang dikasihi Tuhan, setelah kita berbagi pengalaman lewat kisah Kebijaksanaan Sang Abdis Tua dan disempurnakan dengan sabda Tuhan lewat Injil Luk 4:1-13 tadi, sekarang marilah kita mengungkapkan segala niat dan harapan kita masing-masing kepada Tuhan lewat doa-doa permohonan kita kepada Tuhan.

  Peserta diberi waktu 2 menit untuk merenung sambil mempersiapkan doa permohonan masing-masing yang akan disampaikan secara spontan.

  b). Doa Bapa kami Para konfraterku yang dikasihi Tuhan, marilah kita menyatukan segala harapan, niat dan rasa syukur kita kepada Tuhan dengan menyanyikan lagu Bapa Kami sambil bergandengan tangan. c). Doa Penutup Ya Allah sumber segala pembaharuan, kembali kami menghaturkan limpah terima kasih kepada-Mu atas kelimpahan kasih dan cinta-Mu yang telah menyertai kami dalam seluruh proses katekese ini. Kami telah saling terbuka dan berbagi, saling memberi masukan dan saling meneguhkan satu sama lain. Bantulah kami dengan rahmat kasih-Mu agar kami boleh mulai memproses diri kami dalam terang iman dan sabda serta teladan hidup Putera-Mu sebagai pemimpin sejati kami. Mampukanlah kami agar dari hari ke hari kami dapat mentransformasikan diri kami dari sisi gelap hidup kami menuju hidup baru sebagai anak-anak terang yang selalu berbajuziarakan iman dan kasih serta berketopongkan pengharapan. Jadikanlah kami pemimpin- pemimpin-Mu yang handal dan bijaksana dalam hidup kami maupun dalam hidup persaudaraan kami sebagai anggota Kongregasi Frater Bunda Hati. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

  d). Lagu Penutup

  

I Have A Dream

  I have a dream, a song to sing To help me cope, with anything

  If you see the wonder of a fairy tale You can take the future

  Even if you fail I have a dream a fantasy

  To help me through reality and my destination makes it worth the while pushing through the darkness

  Still a nother mile I believe in angels something good in everything

  I see

  BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab VI yang merupakan bagian terakhir skripsi ini, penulis menegaskan

  kembali beberapa pokok pikiran berkaitan dengan katekese tentang menghayati spiritualitas kepemimpinan kegembalaan Yesus demi terwujudnya kepemimpinan transformatif, sehingga melalui pemahaman dan penghayatan spiritualitas kepemimpinan kegembalaan Yesus ini dapat tercipta suatu transformasi kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus demi pertumbuhan dan perkembangannya yang lebih baik. Pokok-pokok pikiran tersebut merupakan kesimpulan yang dirumuskan oleh penulis yang menjadi inti dari keseluruhan skripsi ini. Selain kesimpulan, penulis juga mengetengahkan beberapa saran yang ditujukan kepada para pemimpin Kristen dan religius, khususnya para pemimpin dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia yang merupakan subyek penulisan skripsi ini. Saran- saran tersebut diharapkan dapat menjadi masukan bagi para Frater Bunda Hati Kudus dalam upaya meningkatkan dan memperkembangkan kongregasi dan para anggotanya.

A. Kesimpulan

  Dalam ranah kehidupan manusia baik secara individu maupun sosial kepemimpinan mutlak diperlukan. Kepemimpinan merupakan suatu sarana yang dapat memberi arah, petunjuk, dan tuntunan bagi hidup manusia. Manusia harus sungguh bijaksana dalam memimpin hidupnya atau hidup kelompok/ lembaganya ke arah yang lebih baik dan benar, sebab apabila ia salah mengarahkan/ memimpin maka manusia itu bisa saja menghancurkan hidupnya sendiri atau hidup kelompok/ lembaganya. Oleh karena itu manusia dalam memimpin hidupnya atau kelompoknya membutuhkan suatu pola tertentu yang bisa saja secara alamiah dimiliki seseorang ataupun yang bisa dipelajari dari orang lain yang kiranya dapat membantu seseorang atau lembaga dalam menata hidupnya menuju hidup yang lebih baik. Demikian pula halnya dalam kehidupan menggereja, kepemimpinan ini sangat diperlukan. Hal ini telah terjadi sejak zaman Perjanjian Lama di mana Allah menuntun dan memimpin umat-Nya lewat perantaraan para nabi-Nya, hingga dalam Perjanjian Baru Allah melanjutkan kepemimpinan-Nya dalam dan melalui Putera tunggal-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam diri Yesus Kristus, Allah telah mewariskan suatu pola kepemimpinan yang sangat menakjubkan yang kita kenal dengan istilah kepemimpinan Kristiani.

  Kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang berpola dan berguru pada ajaran dan seluruh kehidupan Yesus yang kemudian dalam lembaga hidup religius dikenal dengan istilah kepemimpinan religius. Salah satu nilai kepemimpinan yang diwariskan Yesus adalah kepemimpinan Kristiani sebagai gembala yang baik sebagaimana termaktub dalam Injil Yohanes 10: 11-15.

  Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus sebagai suatu lembaga hidup religius dalam seluruh gerak kehidupannya tidak bisa dilepaspisahkan dari gerakan kepemimpinan. Dalam gerakan kepemimpinan ini sangat dibutuhkan seorang tokoh dengan model kepemimpinan tertentu yang khas. Oleh karena itu dalam Gereja, tiada tokoh dan model kepemimpinan yang labih istimewa selain Yesus Kristus Sang pemimpin dan Gembala utama kita.

  Bertolak dari situasi kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus yang cukup memprihatinkan saat ini, penulis menyadari penuh, bahwa dalam menghadapi dan mengatasi situasi ini sangat diperlukan suatu proses transformasi dalam diri para Frater Bunda Hati Kudus dengan pertama-tama menyadari keberadaannya, sehingga dari sana mereka dapat berjuang dalam proses pembaharuan diri dari sisi-sisi kekurangan dan kelemahannya menuju hidup dan kepemimpinan yang dirahmati, dijiwai dan disemangati oleh spiritualitas kepemimpinan kegembalaan Yesus sendiri sebagai pemimpin dan gembala sejati. Diharapkan agar para Frater Bunda Hati Kudus dalam seluruh gerak kehidupan dan kepemimpinannya, sedapat mungkin mereka menghadirkan diri sebagai garam dan terang dunia, sebagaimana ditegaskan oleh Timothy (2009: 11) yang mengatakan “Panggilan kita sebagai biarawan-biarawati hendaknya berperan untuk menyinari panggilan umat manusia. Kalau tidak, kita hanya menghambur-hamburkan waktu”.

  Demi tercapainya upaya transformasi kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus tersebut, maka diperlukan adanya suatu sarana yang dapat membantu proses transformasi ini. Oleh karena itu katekese yang merupakan suatu karya Gereja dapat digunakan untuk membantu para frater dalam proses tersebut. Model katekese yang penulis usulkan adalah model pengalaman hidup sebagai salah satu bentuk pendampingan untuk membantu para Frater BHK, dalam upaya menghayati spiritualitas kepemimpinan kegembalaan Yesus demi terwujudnya kepemimpinan yang transformatif.

B. Saran

  Bertitiktolak dari keseluruhan pembahasan yang telah diuraikan dalam setiap bab dalam skripsi ini, akhirnya penulis mencoba menyampaikan beberapa saran, yang dapat digunakan untuk meningkatkan penghayatan spiritualitas kepemimpinan kegembalaan Yesus sebagai upaya mewujudkan kepemimpinan transformatif dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus, menuju suatu kepemimpinan yang lebih mengabdi, melayani, mau direpotkan/ berkorban, mengayomi, mendengarkan, mampu berdialog, partisipatif, penuh perhatian dan kasih persaudaraan, penuh ketulusan dan kerendahan hati. Untuk mencapai semuanya itu perlu adanya suatu usaha konkret dari para Frater Bunda Hati Kudus, yang harus dibangun secara terus-menerus dan berkesinambungan antara lain:

  1. Sebagai seorang pemimpin, perlu membangun hidup rohani pribadi yang mendalam dan personal dengan Allah/ Kristus sebagai pemimpin utamanya.

  2. Membangun komunikasi dari hati ke hati, baik antar pemimpin maupun antara pemimpin dengan para anggota serta antar para anggota kongregasi.

  3. Para pemimpin bersama para anggota berusaha menggali dan memperdalam harta kekayaan rohani yang terkandung dalam seluruh khasanah kongregasi (Kitab Suci, konstitusi, adat kebiasaan, semangat pendiri, spiritualitas kongregasi, visi-misi kongregasi dan amanat-amanat kapitel).

  4. Meningkatkan pembinaan dan pendampingan yang terstruktur dan berkesinambungan bagi para anggota kongregasi, baik yang berkaitan dengan kepemimpinan, kehidupan rohani/ spiritual, manajemen maupun hal-hal lain yang mendukung panggilan dan karya kerasulan kongregasi.

  5. Menciptakan kesempatan evaluasi terpadu dengan seluruh komponen yang terkait dalam kongregasi sekurang-kurangnya sekali dalam satu periode kepemimpinan, untuk mengetahui hal-hal yang sudah baik maupun yang belum baik untuk selanjutnya meningkatkan apa yang sudah baik serta menata kembali apa yang belum atau kurang baik.

  6. Membangun kerja sama yang baik, solit, transparan dan produktif, baik antar para pemimpin, pemimpin dengan para anggota, antar anggota maupun dengan pihak- pihak lain yang terkait.

  Hendaknya program katekese yang sudah tersusun dalam skripsi ini benar-benar digunakan pihak Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus dalam usaha meningkatkan penghayatan spiritualitas kepemimpinan kegembalaan Yesus sebagai upaya mewujudkan kepemimpinan transformatif, sehingga terbangunlah suatu kepemimpinan yang lebih efektif dan menjawabi kebutuhan zaman dan kebutuhan para anggotanya. Oleh karena itu agar katekese ini dapat berjalan efektif, dalam pelaksanaannya perlu adanya pengenalan dan pemahaman yang menyeluruh dan mendalam menyangkut seluk-beluk kehidupan kongregasi, baik sisi kelebihan maupun kelemahannya oleh pemandu katekese, sehingga dapat memprosesnya secara kreatif sesuai dengan situasi dan kebutuhan. Program katekese ini juga dapat diproses lewat rekoleksi atau dengan pertemuan katekese biasa sesuai dengan situasi yang ada.

  Penulis berharap, agar melalui katekese yang akan diadakan bersama dapat membantu para Frater Bunda Hati Kudus khususnya di Provinsi Indonesia untuk semakin mengupayakan dan meningkatkan penghayatan spiritualitas kepemimpinan kegembalaan Yesus sebagai upaya mewujudkan kepemimpinan transformatif demi pertumbuhan dan perkembangan kongregasi serta kesejahteraan jasmani dan rohani para anggota Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di zaman sekarang.

  

DAFTAR PUSTAKA

Bergan, Dianne, CSA & Karris, Robert J. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru.

  Yogyakarta: Kanisius. Darmawijaya, ST., Pr. (1988). Menikmati Injil Yohanes. Yogyakarta. Darminta, J., SJ. (2005). Kepemimpinan Religius dalam Peziarahan Hidup.

  Yogyakarta: Kanisius. Dennis, Marie A. (2008). Oscar Romero dan Dorothy Day Berjalan Bersama Kaum Miskin. Yogyakarta: Kanisius.

  Dewan Umum Kongregasi Frater BHK. (2006). Inti Jiwa Hidup Kongregasi Frater BHK. Malang. ________________________________. (2009). Buku Tahunan Kongregasi Frater BHK . Malang. D’Souza, Anthony. (2007). Proactive Visionary Leadership. Jakarta: PT. Trisewu Nagawarsa. Hardjosetiko, Fransiskus. (1995). Diktat Sejarah Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus.

  Malang. Hunsaker, Philip L. (1986). Seni Komunikasi Bagi Para Pemimpin. Yogyakarta: Kanisius.

  Hayon, Niko SVD. (1988). Cinta Yang Mengabdi. Ende Flores: Nusa Indah. Heryatno, F.X. (2007). Manuskrip PAK III, Katekese Umat, “Dari, Oleh dan Untuk Umat . IPPAK – USD, Yogyaakarta.

  Hadiwiyata A., S. (2008). Tafsir Injil Yohanes. Yogyakarta: Kanisius. Kitab Hukum Kanonik. (1991). Sekretariat KWI. Jakarta: Obor Komisi Kateketik KWI. (2000). Petunjuk Umum Katekese. Jakarta: Dokpen KWI.

  Kapitel Umum Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus. (1997). Konstitusi Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus . Debild Belanda. Lowney Chris. (2005). Heroic Leadership. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Lalu, Yosef, Pr. (2007). Katekese Umat. Yogyakarta: Kanisius. Martasudjita, E., Pr. (2001). Kepemimpinan Transformatif. Yogyakarta: Kanisius. Mardi, Prasetyo, SJ. (2003). Kepemimpinan Religius di Era Pos-Modern (Seri pastoral 350). Yogyakarta: Pusat Pastoral. Min, Sudomo, D. (2005). Ciri Utama Kepemimpinan Sejati. Yogyakarta: Adi Offset. Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi revisi). Bandung: PT.

  Remaja Rosdakarya. Paus Yohanes Paulus II. (1979). Catechesi Tradendae. (R. Hardawiryana, SJ., Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI.

  Partanto, Pius, A. (1994). Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: ARKOLA. Rodcliffe, Timothy, OP. (2009). Nyanyikanlah Lagu Baru (Sing a new song). Malang: Dioma.

  Soenarja A., SJ. (1984). Kepemimpinan Biara Dari Hari Ke Hari. Yogyakarta: Kanisius. Sumarno DS., M., SJ. (2007). Diktat mata Kuliah Program Pengalaman Lapangan

  Pendidikan Agama Katolik Paroki Untuk Semester VI , Program Studi IPPAK, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Telaumbanua, Marinus OFMCap. (1999). Ilmu Kateketik, Hakikat, Metode dan Peserta Katekese Gerejawi. Jakarta: Obor. Toha, Abdilah. (2008). OBAMA Tentang Israel, Islam dan Amerika, (edisi revisi).

  Jakarta: Hikmah (PT. Misan Publika). Van Vugt, Joos P., A. (2000). Bapak, Anak, Saudara. Belanda: KDSC Scripta. __________________. (2005). Bruder-bruder dan Karya Mereka. Yogyakarta: Kanisius.

  __________________. (2005). Dengan Kepedulian dan Kesederhanaan. Yogyakarta: Kanisius. Woffort, Jerry C. (2001). Kepemimpinan Kristen Yang mengubahkan. Yogyakarta: Andi Offset.

  Lampiran 1 : Surat permohonan wawancara kepada para Frater

  Perihal : Permohonan Berbagi Yogyakarta, 21 Mei 2009 Pengalaman

  Kepada,

  Yth. Para Frater

  Di tempat Salam Damai dalam Kasih Tuhan, Bersama ini saya sampaikan, bahwa pada saat ini saya sedang mengerjakan tugas akhir (Skripsi) sebagai salah satu prasyarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta jurusan Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik (IPPAK). Adapun judul skripsi yang saya ambil adalah “KEPEMIMPINAN KEGEMBALAAN YESUS DALAM INJIL YOHANES,10:11-15 SEBAGAI MODEL KEPEMIMPINAN PARA FRATER KONGREGASI FRATER BUNDA HATI KUDUS DI INDONESIA DALAM KEHIDUPAN DI ZAMAN SEKARANG.” Berkaitan dengan perihal di atas maka, pada kesempatan ini saya dengan segala kerendahan hati memohon bantuan para frater untuk membagikan pengalamannya berkaitan dengan kepemimpinan dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di Indonesia selama ini.

  Demikianlah permohonan saya, atas bantuan dan kebaikan hati para frater, tak lupa saya haturkan limpah terima kasih. Berkah Dalem.

  Salam Bunda Hati Kudus, Vinsensius Tnopo

  (1)

  Lampiran 2 : Daftar Nama Subyek Yang Diwawancara DAFTAR NAMA SUBYEK YANG DIWAWANCARA

NO. NAMA HARI/TANGGAL WAKTU

  Fr. M. Amatus, BHK Kamis, Pkl.08.00-09.00 WIB Pimpinan Komunitas St.

  28 Mei 2009

  1 Vinsensius a Paulo Surabaya, dan mantan anggota Dewan Provinsi Indonesia.

Fr. M. Roberto, BHK Kamis, Pkl. 11.00 – 12.00 WIB

Tata Usaha SMPK AC II

  

28 Mei 2009

  2 Surabaya (Anggota Kom. St.

  Vinsensius a Paulo Surabaya).

  Kamis, Pkl. 17.00 – 18.00 WIB Fr. M. Maximus, BHK

  28 Mei 2009 Mahasiswa Universitas Windya Mandala Surabaya. (Mantan

  3

  misionaris di Kenya Afrika dan anggota Kom. St. Vinsensius a Paulo Surabaya).

  Fr. M. NOrbertus, BHK Jumat, Pkl. 20.00 – 21.00 WIB Pimpinan Komunitas St.

  29 Mei 2009 Paulus Surabaya, Kepala Yayasan Mardi Wiyata Sub

  4 Perwakilan Surabaya, Kepala sekolah SMUK Frateran Surabaya, dan mantan anggota Dewan Provinsi Indonesia. Fr. M. Antonius, BHK Sabtu, Pkl 08.00 – 09.00 WIB

  Ekonom Komunitas St. Borgias

  30 Mei 2009

  Kupang, Mantan Kepala sekolah SMPK Ndao Ende dan SMPK

  5 Frateran Maumere, Mantan

  Magister Postulan serta mantan pimpinan komunitas St. Borgias Kupang. Fr. M.Gilbertus, BHK

  Sabtu, Pkl.14.30 – 15.30 WIB Ekonom Komunitas St. Paulus

  30 Mei 2009

  6 Surabaya

Fr. M. Arnoldus, BHK Sabtu, Pkl.17.00 – 18.00 WIB

  7 Bendahara Yayasan Mardi

  30 Mei 2009

  Wiyata Sub Perwakilan Surabaya

Fr. M. Renatus, BHK Senin, Pkl.09.00 – 10.00 WIB

Pimpinan Komunitas St. Y.

  01 Juni 2009

  8 Berchmans Kediri dan Kepala Yayasan Mardi Wiyata Sub Perwakilan Kediri Jawa Timur

  9 Fr. M. Marselinus, BHK Senin, Pkl.20.00 – 21.00 WIB

  (2) Guru SMPK Frateran Kediri

  01 Juni 2009 dan Mantan Sekretaris Dewan Provinsi Indonesia.

  Selasa, Pkl.20.00 – 21.00 WIB

  Fr. M. Bonaventura, BHK 10.

  02 Juni 2009 Ekonom Komunitas St. Y. Berchmans Kediri.

  Fr. M. Asterius, BHK Selasa, Pkl.21.15 – 22.45 WIB

  Perawat para frater lanjut usia

  02 Juni 2009 11. dan guru SDK Mardi Wiyata Kediri.

  Fr. M. William, BHK Jumat, Pkl.19.30 – 21.00 WIB

  Anggota Komunitas Frateran

  05 Juni 2009 St. Gregorius Malang, 12. Mahasiswa FKIP (Ekonomi) USD Yogyakarta, dan mantan bapak asrama SMUK Frateran Ndao Ende Flores.

  Fr. M. Kardinus, BHK Jumat, Pkl.21.30 – 23.00 WIB

  Anggota Komunitas Frateran

  05 Juni 2009 St. Gregorius malang, Mahasiswa FKIP (Akuntansi) 13. USD Yogyakarta, dan mantan bapak asrama SMUK Frateran Podor Larantuka Flores Timur.

  Fr. M. Paskalis, BHK Minggu, Pkl.10.30 – 11.30 WIB

  Anggota Komunitas Frateran

  07 Juni 2009 St. Gregorius Malang, Mahasiswa FKIP (IPPAK) 14. USD Yogyakarta dan mantan bendahara Yayasan Mardi Wiyata Sub Perwakilan Surabaya.

  Fr. M. Clemens, BHK Rabu, Pkl.09.30 – 10.30 WIB

  Anggota Komunitas Frateran

  17 Juni 2009 St. Gregorius Malang, mantan magister, Mantan Provinsial, mantan anggota Dewan Pusat 15. di Belanda dan sekarang menjadi pendiri, pengelola dan sekaligus direktur Museum Zoologi Frater Vianney, BHK di Malang.

  (3)

  Lampiran 3 : Daftar Pertanyaan Wawancara

DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA

  1. Sejauh mana pemahaman para Frater Bunda Hati Kudus tentang kepemimpinan Kristiani?

  2. Sejauh mana pemahaman para Frater Bunda Hati Kudus tentang kepemimpinan religius?

  3. Bagaimana pengalaman para Frater Bunda Hati Kudus atas kepemimpinan para pemimpin mereka dalam Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus selama ini?

  4. Gambaran pemimpin yang bagaimanakah yang didambakan para Frater Bunda Hati Kudus bagi kelangsungan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus di zaman sekarang?

  (4)

  Lampiran 4 : Pokok-pokok Jawaban Subyek Wawancara

POKOK – POKOK JAWABAN SUBYEK WAWANCARA

1. Pemahaman Tentang Arti Kepemimpinan Kristiani.

  Responden I :

  Menurut saya, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang berpola pada sabda dan kehidupan Yesus sendiri.

  Responden II :

  Menurut saya, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang mau belajar dari keteladanan hidup Yesus sebagai pemimpin utama.

  Responden III :

  Menurut hemat saya, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang berguru pada Yesus Kristus.

  Responden IV :

  Menurut saya, Kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang mengacu pada Yesus sebagai tokoh utama yang mengajarkan dan meneladankan tentang kepemimpinan sejati.

  Responden V :

  Menurut hemat saya, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang memiliki iman kristiani yang utuh dan mendalam dengan berpola pada Yesus Kristus dengan segala ajaran, keteladanan hidup dan visi-misi-Nya.

  Responden VI :

  Menurut saya, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang berpola pada Yesus sendiri.

  Responden VII :

  Menurut saya, kepemimpinan kristiani adalah kepemimpinan yang berpola pada Yesusu Kristus dan seluruh ajaran-Nya.

  Responden VIII :

  Menurut yang saya ketahui, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang bertolak dari kepemimpinan Yesus sendiri dan ajaran-Nya, yang bukan berlagak sebagai bos tetapi sebaliknya sebagai pelayan dan pengabdi yang penuh cinta kasih dan kerendahan hati.

  (5)

  Responden IX : Menurut saya, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang bersumber pada Yesus yang selalu mampu mengarahkan orang-orang yang dipimpin-Nya kepada nilai-nilai surgawi.

  Responden X :

  Menurut pengetahuan saya, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang mau belajar dari Yesus sebagai pemimpin utama.

  Responden XI :

  Menurut saya, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang terbuka terhadap Tuhan untuk belajar dari ajaran dan cara hidup-Nya.

  Responden XII :

  Menurut saya, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang melandaskan diri pada Yesus Kristus sebagai pemimpin utama dan sekaligus peletak dasar kepemimpinan sejati sepanjang masa. Dalam hal ini seorang pemimpin harus terbuka untuk belajar dari Yesus, bagaimana Ia memimpin para rasul-Nya, yakni Ia memimpin sebagai pelayan yang penuh ketulusan hati, bebas dan iklas.

  Responden XIII :

  Menurut saya, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang berguru pada Yesus Kristus, sebagai jalan, kebenaran dan hidup.

  Responden XIV :

  Menurut pengetahuan saya, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang mengacu pada kepemimpinan Yesus sebagai Gembala utama, di mana Ia selalu melihat dan merasakan apa yang dirasakan oleh manusia dan dari sana ia selalu berusaha untuk menanggapinya. Dalalm hal ini kepemimpinan Yesus yang selalu membawakan kebebasan, kebahagiaan dan keselamatan sejati bagi manusia.

  Responden XV :

  Menurut pemahaman saya, kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan yang berpola dan bersumber pada Yesus Kristus sebagai pemimpin utama dan sumber inspirasi kita.

2. Pemahaman Tentang Arti Kepemimpinan Religius Responden I :

  Menurut saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang selalu menyelaraskan diri dengan kaidah-kaidah dan khasanah yang dalam lembaga hidup bakti.

  (6)

  Responden II :

  Menurut saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang sesuai dengan ketiga nasihat Injil/ ketiga kaul.

  Responden III :

  Menurut pengetahuan saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang mengacu pada nilai-nilai hidup religius yang tidak bisa dilepaspisahkan dari ajaran Yesus sebagai teladan hidup dan sumber inspirasi kita.

  Responden IV :

  Menurut hemat saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang selalu melandaskan diri pada ajaran Yesus Kristus (Kitab Suci), nilai-nilai ajaran Gereja (Kitab Hukum Kanonik) Konstitusi, anggaran dasar, regula, adat kebiasaan, dan spiritualitas yang dihidupi oleh kongregasi/ lembaga hidup bakti.

  Responden V :

  Menurut saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang bertolak dari ajaran Yesus Kristus dan ajaran Gereja, untuk mewujudkan visi Kristiani dan visi- misi kongregasi demi pelayanan yang penuh kasih dan perhatian bagi pertumbuhan dan perkembangan kongregasi serta kesejahteraan hidup jasmani dan rohani para anggotanya.

  Responden VI :

  Menurut saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang berpola pada Yesusu Kristus dan berusaha menyelaraskan kepemimpinannya dengan visi-misi serta spiritualitas yang dihidupi oleh kongregasi.

  Responden VII :

  Menurut pengetahuan saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang mau terbuka terhadap khasanah kongregasi.

  Responden VIII :

  Menurut saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang harus selalu menyadari diri sebagai seorang yang mendapat anugerah panggilan khusus untuk menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah di tengah dunia dengan cara memberikan keteladanan hidup berdasarkan ajaran Kristiani, baik dalam sikap, tutur kata maupun perbuatan sehari-hari.

  Responden IX :

  Menurut saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang diemban oleh seseorang dalam suatu lembaga religius yang selalu berusaha untuk mengarahkan para anggotanya untuk hidup lebih terarah dan menghayati secara benar nilai-nilai Kristiani dan nilai-nilai hidup religus dalam kehidupan sehari-hari.

  (7)

  Responden X :

  Menurut pengetahuan saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang selalu melandaskan diri pada ajaran kristus, konstitusi dan spiritualitas kongregasi.

  Responden XI :

  Menurut saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang selalu menyelaraskan diri dengan spiritualitas kongregasi.

  Responden XII :

  Menurut pemahaman saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang bersifat hirarkis dalam lembaga Gereja, yang bertujuan untuk melayani Gereja berdasarkan ajaran Kristus.

  Responden XIII :

  Bagi saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang harus selalu berusaha menghayati dan mewujudkan ketiga nasihat Injil.

  Responden XIV :

  Menurut pendapat saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang bersifat structural yang dipercayakan Kristus kepada Gereja-Nya, yang dalam pelaksanaannya tetap berpola pada Yesus sebagai pemimpin utama untuk menghantar para anggotanya menuju kesejahteraan jasmani dan rohaninya.

  Responden XV :

  Menurut pemahaman saya, kepemimpinan religius adalah kepemimpinan yang tetap berpola pada Yesus Kristus dan berusaha menyelaraskan diri dengan spritualitas, Konstitusi, dan adat kebiasaan serta amanah yang putuskan dalam kepitel umum dan kapitel porvinsi, yang mencakup tiga hal pokok yakni hidup rohani/doa, hidup komunitas/persaudaraan dan hidup karya/kerasulan.

3. Pengalaman para Frater Berkaitan dengan Kepemimpinan dalam Kongregasi Responden I :

  Menurut saya, situasi kongregasi kita khususnya dalam Provinsi Indonesia saat ini sedang mengalami krisis kepemimpinan yang luar biasa. Hal ini pada umumnya disebabkan oleh faktor kepribadian dan pola kepemimpinan dari para pemimpin kita, yakni para pemimpin kita tidak memiliki program kerja yang jelas sehingga sering kali program yang dijalankan hanya bersifat spontan belaka, tidak mendalam dan bahkan tidak menjawabi kebutuhan kongregasi dan para anggotanya. Program pengembangan sumber daya manusia para frater yang diamanatkan Kapitel Provinsi Indonesia dijalankan namun tidak berjalan maksimal karena kurang adanya pengontrolan dan evaluasi, serta karena kacau balaunya manajeman kepemimpinan yang ada. Selain itu mereka juga kurang memiliki kemampuan untuk mendengarkan orang lain, tidak membangun dialog dari hati ke hati/ pembicaraan pribadi khususnya

  (8) dalam visitasi, pola pendekatan mereka terhadap para anggota lebih bersifat otoriter, kurang memberikan kepercayaan kepada para anggota atau memberikan namun hanya setengah hati, tidak memiliki kepedulian dan perhatian terhadap pendampingan dan pembinaan lanjutan bagi para frater yunior maupun frater senior. Beberapa hal lain yang menjadi penyebab terjadinya ketidakefektifan kepemimpinan kita saat ini adalah kurang adanya sikap rendah hati untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan/ kekeliruan yang dibuat, kerap kali banyak persoalan yang timbul dalam kongregasi tidak diselasaikan dengan baik dan tuntas, lambat dalam menanggapi persoalan yang muncul dan sekaligus lambat membaca peluang demi memperkembangkan kongregasi dan para anggota, kurangnya pendalaman dan penghayatan konstitusi dan spiritualitas kongregasi, serta dangkalnya hidup doa dan keheningan hati serta kebeningan pikiran.

  Responden II :

  Pengalaman saya bersama para pemimpin kongregasi selama ini, ya saya sebagai frater muda, saya menemukan beberapa hal yang menurut saya ini perlu disadari untuk kemudian harus diperbaiki, yakni kurang adanya komunikasi yang efektif antar para pemimpin dan antara pemimpin dengan para anggotanya, kurang adanya dialog/ pembicaraan pribadi dengan pera anggotanya. Selain itu, pola pendekatan dan penyelesaian suatu masalah masih bersifat otoriter, sumber daya manusia para frater terutama para frater muda masih sangat kurang mendapatkan perhatian yang serius.Akhirnya dampak dari sifat otoriter mereka telah membuat banyak frater meninggalkan kongregasi.

  Responden III :

  Saya mengalami dan merasakan bahwa para pemimpin kita khususnya Dewan Provinsi Indonesia saat ini telah menimbulkan banyak keprihatinan dan masalah yangpada umumnya disebabkan oleh factor kepribadian dan pola kepemimpinan mereka,antara lain : pertama-tama mereka kurang memiliki kehidupan rohani yang mendalam, kurang mendalami dan menghayati konstitusi dan spiritualitas kongregasi sehingga kelihatannya mengambang dan tidak memiliki pegangan yang kuat, kurang adanya keseimbangan antara perkataan dan perbuatan, tidak mau mendengarkan orang lain khususnya para anggota kongregasi. Selain itu, pola pendekatan yang mereka terapkan juga sering bersifat otoriter sehingga dampaknya banyak frater meninggalkan kongregasi. Mereka juga lambat membaca peluang dan tidak mengikuti perkembangan jaman sehingga perkembangan kongregasi mengalami stagnasi/ statis. Hal ini juga disebabkan oleh kepemimpinan mereka yang tanpa visi- misi pribadi dan program kerja yang jelas.

  Responden IV :

  Menurut hemat saya, situasi kongregasi kita saat ini mangalami krisisis kepemimpinan yang dampaknya hampir di semua lini. Hal ini terjadi karena para pemimpin kita khususnya Dewan Provinsi Indonesia kurang adanya koordinasi yang baik dalam melaksanakan tugas-tugasnya, kurangnya komunikasi, tidak adanya sikap saling mendengarkan dan menghargai satu sama lain, baik antar para pemimpin

  (9) maupun antara pemimpin dengan para anggotanya, kurang adanya kepercayaan terhadap anggota, kurang adanya sikap rendah hati dan keterbukaan, pola pendekatanny masih otoriter dan kaku serta dangkalnya kehidupan rohani.

  Responden V :

  Menurut saya, sebenarnya pola dasar kepemimpinan dalam kongregasi kita sudah baik, hanya dalam pelaksanaannya akhir-akhir ini timbul banyak keprihatinan yang sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh faktor kepribadian dari para pemimpin kita khususnya Dewan Provinsi Indonesia, misalnya tidak adanya dialog dan komunikasi dengan para anggota kongregasi, kurang terbuka, tidak berani melakukan terobosan dan tidak berani menerima resiko atau tantangan, kurang memiliki komitmen terhadap apa yang mereka katakan. Selain itu mereka juga tidak memiliki kehidupan rohani yang kuat dan mendalam, terlalu individualis, dan cenderung hedonis dan konsumeris, tidak mampu membangun pola pendekatan dari hati ke hati dengan para anggota, dan mereka selalu menghadapi setiap persoalan yang muncul dengan emosional.

  Responden VI :

  Menurut pengalaman dan pengamatan saya sebagai orang muda terhadap kepemimpinan para pemimpin kita saat ini, khususnya Dewan Provinsi Indonesia, saya melihat sangat lemah. Hal ini saya lihat dari beberapa hal antara lain: pemimpin kita saat ini khususnya provincial tidak berwibawa sama sekali, selalu merasa puas dengan apa yang ada, kurang komunikatif, tidak ada pendenkatan pribadi/ dialog dari hati kehati, mereka terlalu sibuk dengan urusan pribadi mereka yang sebenarnya tidak penting. Selain itu, mereka juga tidak mampu menyeleseaikan masalah-masalah yang timbul dalam kongregasi dengan baik dan tuntas, tidak adanya keseimbangan antara perkataan dan perbuatan, tidak memberikan keteladanan hidup bagi para anggota.

  Responden VII :

  Menurut pengalaman saya selama ini, ada beberapa titik lemah yang menjadi penyebab terjadinya banyak keprihatinan dalam kongregasi kita khususnya di provinsi Indonesia yakni : kurangnya sikap mengayomi dari para pemimpin kita terhadap semua anggota, kurang jujur, kurang terbuka, kurang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang kepemimpinan dan hal ikhwal kongregasi. Selain itu perilaku mereka juga masih bersifat infantile/ kekanak-kanakan, kurang berwibawa, sehingga kesannya mereka ada atau tidak ada sama saja.

  Responden VIII :

  Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya terhadap kepemimpinan para pemimpin kita khususnya Dewan Provinsi Indonesia selama ini, saya menemukan beberapa hal yang menjadi titik lemah yang sangat kuat pengaruhnya bagi kongregasi, antara lain : saya secara pribadi menyadari sungguh bahwa kongregasi kita saat ini sedang mengalami krisis kepemimpinan khususnya dalam Provinsi Indonesia, dalam hal ini kita mengalami krisis keteladanan. Selain itu juga karena

  (10) tidak adanya kesinambungan antara perkataan dan perbuatan. Kurang jujur dan terbuka, kehidupan rohani mereka dangkal dan tidak mendalam, kehidupan mereka lebih dikuasai oleh perkembangan teknologi tanpa melihat apa manfaatnya bagi kepentingan panggilan dan masa depan kongregasi, kurangnya keheningan batin untuk melihat segala sesuatu dengan hati bening dan pikiran jernih, kurang dialogis dan bersifat otoriter.

  Responden IX :

  Pengalaman yang saya alami dan rasakan dalam masa kepemimpinan Dewan Provinsi Indonesia sampai saat ini adalah: Pertama-tama saya merasakan bahwa kepemimpinan para pemimpin kita saat ini dengan segala kebijakkan dan pola mendekatan mereka yang otoriter kerapkali sangat mengecewakan dan menyakiti banyak frater, sehingga tidak heran bahwa dalam periode kepemimpinan mereka saat ini banyak frater yang meninggalkan kongregasi. Selain itu, satu hal yang menjadi kelemahan mendasar mereka adalah, mereka bekerja tanpa suatu program kerja yang jelas sebagai dasar kebijakkan dan sekaligus sebagai tolok ukur kepemimpinan mereka. Sebagai seorang pemimpin yang baik, seharusnya mereka memiliki keseimbangan antara hidup kerohanian dan urusan duniawi, sehingga mereka dapat mampu menciptakan suasana yang mendukung kehidupan rohani dan jasmani para anggotanya. Namun kenyataan berbicara lain bahwa mereka memiliki kehidupan rohani yang dangkal, sehingga kebijakkan-kebijakkan yang mereka ambil kebanyakkan bersifat subyektif.Dalam hal ini mereka tidak mampu mendengarkan dan rendah hati.

  Responden X :

  Sejauh yang saya alami dan rasakan berkaitan dengan kepemimpinan para pemimpin kita khususnya Dewan Propvinsi Indonesia saat ini, yakni kini kita masuk dalam suatu situasi yang sangat memprihatinkan dan sekaligus mengkhawatirkan untuk keberadaan dan perkembangan kongregasi kita ke depan. Hal ini menurut pengamatan saya lebih banyak disebabkan oleh faktor kepribadian dan juga pola kepemimpinan mereka yang kurang tepat yakni Saya secara pribadi sangat tidak setuju dengan komposisi Dewan Provinsi Indonesia saat ini yang hanya berjumlah tiga orang dengan kapasitas yang tidak seimbang yang kerap kali menjadi penyebab terjadinya ketidakberesan dalam menangani masalah-masalah yang timbul dalam kongregasi. Selain itu hidup doa sebagai fondasi hidup seorang religius dan bagi seorang pemimpin religius pada khususnya terabaikan sehingga ,mereka tidak memiliki power dan kebijaksanaan yang cukup dam memimpin. Dalm hal ini kelihatan bahwa mereka lebih banyak sibuk dengan urusan dan kesibukan pribadi mereka yang tidak penting dan bermanfaat bagi kongregasi dan akhirmya mereka dengan begitu mudah mengabaikan tugas pokoknya sebagai pemimpin dalam kongregasi. Selain itu, mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk membagun komunikasi dan dialog dari hati ke hati dengan para anggota kongregasi, untuk mendengarkan apa yang menjadi pergulatan, keluhan, problem, kesuksesan, kegagalan, dan kegembiraan mereka, sehingga mereka sebagai pemimpin dapat memberikan apresiasi, dukungan dan motivasi bagi para anggota kongregasi.

  (11)

  Responden XI :

  Dalam kepemimpinan Dewan Provinsi Indonesia saat ini, saya mengalami dan merasakan bahwa, kepemimpinan mereka berjalan namun boleh saya katakana bahwa kepemimpinan yang mereka jalankan adalah kepemimpinan yang berjalan tanpa roh, arah, dan tujuan yang jelas yang mau di capai bersama seluruh komponen kongregasi. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain: sebagai pemimpin religius mereka kurang mendalami dan menghayati spiritualitas, konstitusi, dan visi- misi kongregasi, sehingga kelihatan mereka sangat labil dan tanpa pegangan. Selain itu mereka juga kurang terbuka terhadap Tuhan melalui hidup doa dan refleksi yang mendalam, mereka juga kurang terbuka terhadap para anggota kongregasi, kurang rendah hati sehingga dari sana mereka dapat menemukan apa yang menjadi kekuatan dan kelemahannya, yang dapat berfungsi sebagai dasar pijakkan dalam mengemban tugas kepemimpinan untuk membimbing, dan menuntun para anggotanya ke jalan yang baik dan benar sebagaimana dicita-citakan kongregasi. Mereka juga tidak mampu membangun pendekatan yang baik dengan para anggota melalui komunikasi dan dialog dari hati ke hati untuk mengenal dengan jelas apa yang menjadi kelebihan, kekurangan dan kerinduan terdalam dari masing-masing anggotanya, untuk kemudian dapat dijadikan sebagai dasar pijakkan dalam pendampingan. Selain itu mereka juga kurang memberikan kepercaaan bagi para anggotanya. Hal lain yang menjadi penyebab melemahnya kepemimpinan mereka adalah mereka memipin tanpa suatu program kerja yang jelas dan kurangnya kerja sama yang solit di antara mereka sebagai pemimpin.

  Responden XII :

  Saya menemukan beberapa hal yang menurut saya sangat penting untuk diperhatikan dan dibenahi berkaitan dengan kepemimpinan Dewan Propvinsi Indonesia saat ini, antara lain : Pertama-tama yang menjadi titik lemah mereka adalah mereka tidak memiliki program kerja selama periode kepemimpinan mereka berjalan hingga saat ini, sehingga semuanya hanya bersifat spontan atau menunggu kalau ada masalah baru mereka mulai bergerak. Selain itu juga, manajemen kepemimpinan mereka harus dibenahi, sebab kalau manajemennya tetap seperti sekarang, kongregasi kita cepat atau lambat akan hancur.Mereka juga kurang tanggap, peduli, empati dan bertanggungjawab dengan apa yang menjadi kepentingan kongregasi dan para anggotanya, kurang komunikatif/ dialogis, kurang memberikan kepercayaan dan penghargaan terhadap para anggotanya/ konfraternya, mereka kelihatan tertutup dan minder, mereka tidak mampu membangun pendekatan pribadi dari hati ke hati. Baik antar mereka sebagai pemimpin maupun antara mereka sebagai pemimpin dengan para anggotanya, sulit untuk mendengarkan orang lain, dan hidup rohani sangat dangkal dan lebih mengejar hal-hal yang bersifat material/ duniawi.

  Responden XIII :

  Sesuai dengan apa yang saya alami dan rasakan serta amati selama ini berkaitan dengan kepemimpinan para pemimpin kita khususnya Dewan Provinsi Indonesia, saya menemukan beberapa hal yang menjadi titik kelemahan yang harus disadari dan dibenahi, antara lain : Manajemen kepemimpinan yang dibangun oleh para pemimpin

  (12) kita saat ini, boleh saya katakana sebagai manajemen paling buruk. Dalam hal ini mereka sendiri tidak menyadari atau mungkin menyadari tetapi mereka enggan/ malu untuk mengakuinya untu kemudian memperbaikinya. Mereka juga kurang memberikan kesaksian hidup yang baik berkaitan dengan tiga hal yakni, hidup doa, hidup komunitas dan hidup karya, sebab kebanyakan ambisi dan opsesi prbadi yang mereka kejar. Mereka kurang memberikan motivasi dan dukungan bagi para konfrater, juga sulit sekali untuk mendengarkan orang lain/ konfrater, dan mereka terlalu sibuk dengan urusan pribadi yang tidak penting.

  Responden XIV :

  Berdasarkan pengalaman saya, kalau saya bandingkan antara periode kepemimpinan saat ini dengan dua periode kepemimpinan sebelumnya saya menemukan beberapa hal yang menjadi titik lemah yang harus disadari dan dibenahi antara lain : Kepemimpinan para pemimpin kita saat ini khususnya Dewan Provinsi Indonesia, dalam menjalankan roda kepemimpinannya mereka tidak memiliki program kerja sebagai arah kebijakkan dan sekaligus sebagai barometernya. Mereka juga tertutup, tidak komunikatif, tidak mendengarkan.Selain itu mereka juga tidak mampu membangun pola pendekatan yang manusiawi yakni pendekatan pribadi dari hati ke hati, tidak memiliki hidup rohani yang mendalam sebagai kekuatan/ roh kepemimpinannya, tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah-msalah yang timbul dalam tarekat, sehingga masalah semakin hari semakin tertumpuk, dan mereka juga kurang memberikan kesaksian hidup yang baik kepada anggotanya/ konfraternya (hidup doa, kerja dan bersama) dalam kongregasi.

  Responden XV : Berkaitan dengan pengalaman dan kesan saya terhadap kepemimpinan kita saat ini khususnya Dewan Provinsi Indonesia saat ini adalah: Pertama-tama saya secara pribadi mengatakan bahwa saya sangat kecewa dengan pola kepemimpinan mereka saat ini, di mana pola kepemimpinan mereka tidak konsisten dengan apa yang telah diamanatkan oleh kongregasi melalui kapitel umum dan kapitel provinsi, sehingga kita bisa melihat, mengalami dan merasakan bersama bahwa dalam periode kepemimpinan mereka saat ini kongregasi sungguh-sungguh ditelantarkan/ tidak diurus dengan baik. Mereka memimpin tanpa pegangan dan arah yang jelas karena mereka tidak memiliki program kerja yang jelas, kehidupan rohani sangat lemah dan dangkal, dan mereka hanya sibuk dengan segala urusan pribadinya dan tidak mau duduk tenang untuk mempelajari, mendalami dan memaknai kekayaan-kekayaan rohani kongregasi yakni konstitusi dan spiritualitas kongregasi sebagai dasar bagi setiap kebijakkan mereka. Di satu sisi mereka kurang memiliki kerendahan hati untuk menginstrokpeksi diri dan menyadari apa yang menjadi kekurangan dan kelemahan mereka, untuk kemudian berusaha membenahi diri, tetapi justru sebalik mereka hidup dan berjalan seolah-olah tanpa beban. Dalam hal ini mereka kurang memberikan kesaksian hidup sebagai orang terpanggil, baik dari sisi hidup rohani, hidup bersama/persaudaraan, dan hidup karya/ kerasulan. Dampak dari semuanya ini dapat kita lihat dan rasakan bersama yakni secara kualitas dan kuantitas jumlah hidup dan karya kita dari hari ke hari semakin menurun dan bahkan merosot tajam.

  (13) Bertolak dari semua ini saya sebagai orang tua/ frater senior, yang juga pernah menjadi pemimpin, baik di provinsi maupun di dewan pusat, sering kali merenung dan bertanya “apakah dengan realitas seperti ini, ke depan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus masih bertahan hidup dan tetap eksis menghadapi tantangan arus jaman yang semakin keras dan deras ini?”

  5. Gambaran Pemimpin yang didambakan oleh para Frater Bunda hati Kudus. Responden I :

  Gambaran pemimpin yang saya dambakan adalah: Pemimpin yang rendah hati, gialogis/komunikatif, yang bisa mendengarkan orang lain, yanbg bijaksana, yang mau melayani dan mengabdi.

  Responen II :

  Gambaran pemimpin yang saya dambakan adalah: Pemimpin yang berwibawa, komunikatif, mmampu mendengarkan, yang dedikatif, rendah hati, yang mampu memberikan perhatian yang tulus, yang motifator, dan memiliki visi-misi yang jelas.

  Responden III :

  Gambaran pemimpin yang saya dambakan adalah pemimpin yang memiliki keseimbangan antara perkataan dan perbuatan, yang dialogis, mampu mendengarkan, tidak otoriter, yang mampu mengukuti perkembangan jaman, berspiritualitas mendalam, dan pemimpin yang mampu memberikan teladan hidup bagi para anggota dan orang lain.

  Responden IV :

  Gambaran pemimpin yang saya dambakan adalah: Pemimpin yang dialogis, partisipatif, yang dipercaya dan mempercayai anggota, berkemampuan mengontrol/evaluasi, rendah hati, mendengarkan, berani melakukan terobosan dan berani mengambil resiko, yang fleksibel dan situasional, yang memiliki visi-misi yang jelas, yang tegas dalam prinsip namun lembut dalam bersikap.

  Responden V :

  Gambaran pemimpin yang saya dambakan adalah : Pemimpin yang dialogal/komunikatif, terbuka, berani membuat terobosan dan berani menerima resiko, setia dan konsten, yang tidak individualis, tidak konsumeris, dan tidak hedonis, memiliki kehidupan rohani yang mendalam, jujur, sabar, fleksibel, disiplin, dan mampu bekerja sama.

  Responden VI :

  Gambaran yang saya harapkan adalah : Pemimpin yang partisipatif, yang tidak konserfatif, yang mampu mengemban visi-misi kongregasi, yang mampu mendengarkan, komunikatif, dan rendah hati.

  (14)

  Responden VII :

  Gambaran pemimpin yang saya harapkan adalah : Pemimpin yang komunikatif, inivatif, yang terbuka/transparan, berwibawa, bijaksana dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, dan yang rendah hati.

  Responden VIII :

  Gambaran pemimpin yang saya harapkan adalah: Pemimpin yang mampu membimbing, mengarahkan dan menuntun para anggota untuk melangkah dan menghayati hidup sesuai dengan khazanah Gereja dan kongregasi yakni Kitab Suci, tradisi gereja, konstotusi, adat kebiasaan, spiritualitas dan kehidupan doa serta keheningan batin. Selain itu juga saya mendambakan pemimpin yang rendah hati, yang mampu memberikan teladan hidup, yang terbuka dan jujur, yang tidak konsumeris, dialogis, partisipatif, dan mendengarkan orang lain.

  Responden IX :

  Gammbaran pemimpin yang saya harapkan adalah: Pemimpin yang memiliki kematangan rohani dan spiritual, rendah hati, mendengarkan, bijaksana, dialogis, dan partisipatif.

  Responden X :

  Gambaran pemimpin yang saya harapkan adalah: Pemimpin yang dialogis, mendengarkan, rendah hati, memiliki visi-misi yang jelas, memiliki kematangan hidup rohani dan spiritual, serta bijaksana.

  Responden XI :

  Gambaran pemimpin yang saya harapkan adalah: Pemimpin yang rendah hati, dialogis, mendengarkan, mampu bekerja sama, terbuka terhadap Tuhan dan sesame anggota, yang memiliki kematangan rohani dan spiritual, jujur, yang mampu menghargai orang lain, dan bijaksana.

  Responden XII :

  Gambaran pemimpin yang saya harapkan adalah: Pemimpin yang mampu membangun dialog dari hati ke hati dangan apara anggotanya, yang terbuka, yang peka dan tanggap dengan situasi dan perkembangan, cepat membaca peluang untuk memperkembangkan kongregasi, yang dipercaya dan mampu memberikan kepercayaan kepada anggota, mampu mendengarkan dan yang memiliki kematangan hidup doa dan spiritual.

  Responden XIII :

  Gambaran pemimpin yang saya harapkan adalah: Pemimpin yang memiliki kemampuan manajerial, yang memiliki kematangan hidup rohani, komunikatif, mendengarkan, menghargai orang lain, jujur, terbuka, rendah hati, berwibawa dan bijaksana.

  (15)

  Responden XIV :

  Gambaran pemimpin yang saya harapkan adalah: Pemimpin yang memiliki relasi intim dengan Yesus sebagai pemimpin utama dalam hidupnya, pemimpin yang mampu mengangkat harkat dan martabat setiap anggotanya, yang dialogis, peka, mendengarkan, yang memiliki keseimbangan antara pikiran dan hati, tahu menempatkan diri, mampu mengolah diri dan dapat memberikan kesaksian hidup bagi para anggota dan orang lain, rendah hati, bijaksana dan berwibawa, yang mau melayani dan mengabdi penuh cinta.

  Responden XV :

  Gambaran pemimpin yang saya dambakan adalah: Pemimpin yang mampu membimbing, menuntun, memotivasi dan memnggerakkan para anggota yang bersama-sama bertanggungjawab terhadap panggilannya masing-masing dan juga bertanggungjawab terhadap apa yang menjadi visi-misi, dan spiritualitas kongregasi, terutama dalam meningkatkan penghayatan terhadap hidup doa, hidup bersama/berkomunitas, dan hidup karya. Selain itu juga pemimpin yang rendah hati, yang dapat dipercaya dan mempu memberikan kepercayaan kepada anggota, yang mampu mengontrol/mengevaluasi, dan yang paling mendasar menurut saya adalah pemimpin itu harus memiliki kematangan diri, baik secara jasmani maupun rohani/ spiritual.

  (16)

  Lampiran 5: Cerita “Kebijaksanaan Sang Abdis Tua”. KEBIJAKSANAAN SANG ABDIS TUA

  Kronik sebuah biara clausura di Normandia menceritakan bahwa di zaman Perang Salib ada sebuah pertapaan yang dipimpin oleh seorang abdis tua yang bijaksana. Di tempat itu terdapat seratus rubiah yang berdoa, bekerja dan melayani Allah dengan serius, hening dan setia pada peraturan kerahiban.

  Suatu haru Uskup di tempat itu datang ke pertapaan meminta kepada Abdis tua itu agar mengirim seorang rubiahnya untuk menjadi pengkotbah di daerah itu. Abdis itu mengumpulkan semua suster Dewab Penasehatnya, dan sesudah refleksi yang panjang akhirnya diputuskan untuk mempersiapkan Sr. Clara untuk tugas ini. Sr. Clara adalah seorang novis muda yang baik, pandai dan memiliki banyak talenta. Ibu Abdis mengirimnya untuk studi, dan Sr. Clara melewatkan banyak waktunya di perpustakaan biara dan mempelajari banyak pengetahuan yang belum pernah diketahuinya. Dia menjadi murid dari banyak rahib dan rubiah yang bijak dari berbagai biara yang tersohor dengan pengetahuannya. Ketika telah usai studinya, Sr. Clara telah mengetahui banyak tokoh klasik, dapat membaca Kitab Suci dalam bahasa aslinya, dan telah mengenal para Bapa Gereja dan menbguasai tradisi teologi abad pertengahan.

  Di ruang makan biara, Sr. Clara mengkotbahkan dogma tentang Tritunggal Mahakudus, dan para rubiah yang lain memuji Allah karena pengetahuan dan kemahirannya dalam berkata-kata. Sesudah selesai berkotbah, Sr. Clara berlutut di hadapan Abdis dan berkata: “Bolehkah saya pergi sekarang, Ibu Abdis?” Abdis tua itu memandangnya dengan tajam seolah dapat membaca apa yang ada dalam batim Sr. Clara: di pikiran suster muda ini ada terlalu banyak jawaban, “Belum, belum waktunya, anakku, belum….” Dikirimnya suster muda ini kek kebun dan hari demi hari dia bekerja dengan menahan dinginnya musim dingin dan teriknya musim panas, didongkelnya batu-batu dan semak- semak, dipeliharanya pohon anggur satu persatu. Semakin lama Sr. Clara makin arif menanti pertumbuhan benih dan mengenali musim memangkas Castanos… Diperolehnya kebijaksanaan yang lain; tetapi ini belumlah cukup. Ibu Abdis kemudian mengirimnya menjadi penerima tamu. Setiap hari Sr, Clara mendengarkan masalah-masalah para petani dan jeritan penderitaan mereka akibat perlakukan kejam para tuan tanah. Didengarnya aneka gossip dan dihiburnya mereka yang mebgalami ketidakadilan itu. Abdis memanggilnya: Sr. Clara begitu semangat dan matanya penuh pertanyaan. Namun kata Ibu Abdis kepadanya “belum waktunya, anakku….”

  (17) Kemudian dikirimnya Sr. Clara menyusuri jalan-jalan kota bersama sebuah keluarga pemain sirkus. Dia tinggal dalam sebuah kereta, dibantunya keluarga ini menyusun papan akrobatik di alun-alun kota. Makanannya buah-buahan hutan dan kadang-kadang Sr. Clara harus tidur di alam terbuka di bawah sinar rembulan. Sr. Clara belajar berteka- teki, bercerita lucu dan menyanyikan lagu-lagu romans sebagaimana seorang penyanyi balada. Ketika Sr. Clara kembali ke biara, lagu-lagu itu dinyanyikan kembali dan dia tertawa seperti kanak-kanak. Dia berkata: “Dapatkah saya sekarang pergi merasul, Ibu?”. Jawab Ibu Abdis: “Masih belum, anakku. Pergilah berdoa”. Lama Sr. Clara menyepih di sebuah eremit di atas gunung. Ketika ia kembali, jiwanya telah berubah dan dipenuhi keheningan. Ia bertanya lagi kepada Ibu Abdis: “Apakah telah tiba waktunya, Ibu?”. Jawab Ibu Abdis: “Belum, belum tiba saatnya”. Sementara itu pemerintah telah mengumumkan bahwa dinegeri itu telah terjangkit wabah pes dan Sr. Clara dikirim ke sana untuk merawat para korban bencana. Dijaganya orang- orang sakit itu semalam-malaman. Suster muda ini menangis pedih saat ia mengubur banyak korban wabah dan ia tenggelam dalam misteri hidup dan kematian itu. Ketika wabah telah berakhir, Sr. Clara sendiri jatuh sakit, dalam kesedihan dan kecapaian ia dirawat di sebuah keluarga di kampong itu. Dia belajar menjadi rapuh dan merasa kecil, dan membiarkan diri dicintai dan digapainya rasa damai dalam hidupnya.

  Ketika Sr. Clara kembali ke biara, Ibu Abdis menatapnya dengan tajam. Dilihatnya Sr. Clara tampak lebih manusiawi dan lebih rapuh. Matanya terlihat lebih tenang dan hatinya penuh dengan banyak nama.

  Dipanggilnya Sr. Clara oleh Ibu Abdis , sambil berlutut dan merebahkan diri dalam pelukan kasih sang Abdis, lalu berkata kepadanya: “Sekarang saatnya, anakku, sekaranglah waktunya”. Dengan dtemani Ibu Abdis, Sr, Clara melangkah menuju gerbang biara lalu berlutut di hadapan Ibu Abdis dan diberinya berkat perngutusan. Setlah itu ia meninggalkan sang Abdis dan biara tercintanya lalu menyusuri lereng gunung menuju tempat perutusannya. Sementara itu lonsceng berdentang untuk Doa Angelus, dan Sr. Clara terus melangkah dalam kedamaian menuju lembah untuk mewartakan kabar sukacita Kerajaan Allah dan Injil Tuhan yang ia cintai bagi orang- orang yang telah menantinya.

  

Pujian bagi keTiga-Nya…!!

(Merteresa)

  (18)

  (19)

  

Lampiran 6: Grafik Jumlah Frater Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus

GRAFIK JUMLAH FRATER

Dokumen baru