BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian - MOCHAMAD IQBAL P, BAB II

Gratis

0
2
40
6 months ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Gastroenteritis akut adalah suatu peradangan permukaan mukosa lambung

  yang akut dengan kerusakan erosi pada bagian superficial (Mattaqin & Kumala, 2011). Gastroenteristis akut yang ditandai dengan diare dan pada beberapa kasus muntah-muntah yang berakibat kehilangan cairan elektrolit yang menimbulkan dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit (Betz & Linda, 2009). Gastroenteristis akut merupakan perwujudan infeksi

  campylobacter yang paling lazim, biasanya disebabkan oleh C.jejuni , C.coli

  dan C.laridis, masa inkubasi adalah 1-7 hari, diare terjadi dari cairan tinja encer atau tinja berdarah dan mengandung lendir (Berhman, Kliegman, & Arvin, 2000).

  Gastroenteristis akut ialah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat (Noerasid, Suratmaadja & Asnil 1998, dalam Sodikin, 2011).

  Dari beberapa pengertian diatas jadi dapat disimpulkan bahwa gastroenteristis akut adalah suatu peradangan pada mukosa lambung yang ditandai dengan muntah-muntah yang berakibat dengan kehilangan elektrolit yang menimbulkan dehidrasi yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan biasanya terjadi pada bayi atau anak.

  8

B. Etiologi Hampir sekitar 70%-90% penyebab dari diare sudah dapat dipastikan.

  Secara garis besar penyebab diare dikelompokkan menjadi penyebab langsung atau faktor-faktor yang dapat mempermudah atau mempercepat terjadinya diare. Penyebab diare akut dapat dibagi menjadi dua golongan, diare sekresi (secretory diarrhoea) dan diare osmotis (osmotic diarrhea).

  Diare sekresi dapat disebabkan oleh faktor-faktor antara lain (Sodikin, 2011) : 1.

  Infeksi virus, kuman-kuman pathogen, atau penyebab lainnya (seperti keadaan gizi/gizi buruk, hygiene atau sanitasi yang buruk, kepadatan penduduk, sosial budaya, dan sosial ekonomi).

  2. Hiperperistaltik usus halus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia, makanan (seperti keracunan makanan, makanan yang pedas atau terlalu asam), gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin atau alergi, dan sebagainya.

  3. Defisiensi imun terutama SigA (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan berlipatgandanya bakteri atau flora usus dan jamur (terutama Candida). Diare osmotik (osmotic diarrhea) disebabkan oleh malabsorpsi makanan, kekurangan kalori protein (KKP), bayi berat badan lahir rendah (BBLR), dan bayi baru lahir.

C. Anatomi Fisiologi

  Menurut Sodikin (2012), sistem pencernaan terdiri atas sebuah saluran panjang yang dimulai dari mulut sampai anus (rectum). Struktur dinding saluran cerna berbeda antara satu bagian dengan bagian yang lainnya, tetapi secara umum tersusun atas empat lapisan, yaitu : lapisan mukosa, lapisan submukosa, tunika muskularis, dan lapisan serosa (adventisia).

1. Mulut

  Mulut merupakan bagia pertama saluran cerna. Bagian atas mulut dibatasi oleh palatum, sedangkan pada bagian bawah dibatasi oleh mandibula, lidah, dan struktur lain dari dasar mulut. Bagian lateral mulut dibatasi oleh pipi. Sementara itu, bagian depan mulut dibatasi oleh bibir dan bagian belakang oleh lubang yang menuju faring.

  Pada mulut terdapat tiga pasang kelenjar liur, yaitu kelenjar

  parotis, submandibular, dan sublingual. Kelenjar liur dipersarafi oleh

  serabut parasimpatis dan simpatis. Kelenjar liur bertanggung jawab, terutama dalam proses mekanis, membantu dalam proses bicara, mastikasi, dan menelan, serta mempunyai aksi antiseptik. Kelenjar liur menyekresi saliva melalui duktus ke dalam mulut. Saliva mengandung air,

  musin (berfungsi dalam pelumasan dan perlindungan permukaan) dan ptialin (฀-amilase yang merupakan enzim mencerna karbohidrat). Enzim

  ptyalin terbentuk setelah tiga bulan, sehingga makanan berupa tepung hanya boleh diberikan setelah usia tiga bulan. pH saliva dibawah 7 pada tingkat sekresi yang rendah. pH naik seiring pembentukkan saliva. Sekresi saliva dirangsang oleh rasa atau pikiran tantang makanan. Sekresi saliva menurun saat demam, sakit, dan pada pasien yang mengalami penyakit kelenjar liur.

  2. Lidah Lidah tersusun atas otot yang dilapisi, pada bagian atas dan samping oleh membrane mukosa. Lidah menempati rongga mulut dan melekat secara langsung pada epiglotis dalam faring. Lidah diinervasi oleh berbagai saraf. Bagian sensorik diinervasi oleh nevrus lingualis, yang merupakan cabang saraf kranial V (trigeminal). Nevrus ini menginervasi dua pertiga anterior lidah untuk pengecapan. Saraf kranial

  VII (fasialis) meninervasi dua pertiga anterior untuk rasa kecap. Saraf kranial IX (glosofaringeal) meginervasi sepertiga posterior untuk raba dan rasa kecap. Sementara itu, inervasi motorik dilakukan oleh saraf kranial XII (hipoglosus).

  3. Gigi Pertumbuhan gigi merupakan proses fisiologis dan dapat menyebabkan salvias yang berlebihan serta rasa tidak nyaman (nyeri).

  Manusia mempunyai dua set gigi yang tumbuh sepanjang masa kehidupan mereka. Set pertama adalah gigi primer (gigi susu atau desisua) yang bersifat sementara dan tumbuh melalui gusi selama tahun pertama serta kedua kehidupan. Gigi susu berjumlah 5 buah pada setiap setengah rahang (jumlah seluruhnya 20), muncul (erupsi) pada sekitar 6 bulan sampai 2 tahun.gigi susu berangsur tanggal pada usia 6 sampai 12-

  13 tahun, kemudian diganti secara bertahap oleh gigi tetap (gigi permanen) pada orang dewasa.

  Set kedua atau set gigi permanen berjumlah 8 buah pada setiap setengah rahang (jumlahnya seluruhnya 32) dan mulai tumbuh pada usia sekitar 6 tahun. Pada usia 25 tahun ditemukan semua gigi permanen, dengan kemungkinan pengecualian dari gigi molar ketiga atau gigi sulung.

  Bagian fungsional gigi yang utama meliputi enamel, dentin,

  sementum, dan pulpa. Enamel mengelilingi mahkota, dan jika utuh menahan aksi bakteri. Dentin merupakan struktur tulang yang kuat.

  Sementum melapisi leher dan akar gigi serta mengelilingi lapisan dentin. Bagian dalam gigi adalah ruang pulpa yang mengandung saraf dan pembuluh darah.

4. Esophagus

  Meruapakan saluran otot yang membentang dari kartilago krikoid sampai kardia lambung. Esophagus dimulai di leher sebagai sambungan faring, berjalan ke bawah leher dan toraks, kemudian melalui crus sinistra diagfragma memasuki lambung. Secara anatomis bagian depan esophagus berbatasan dengan trachea dan kelenjar tiroid, jantung, dan diafragma. Dibagian belakang esophagus berbatasan dengan kolumne vertebra, sementara dietiap sisi berbatasan dengan paru-paru dan pleura. Bagian tersempit esophagus bersatu dengan faring. Area ini mudah mengalami cidera akibat instrument, seperti bougi, yang dimasukkan ke dalam esophagus.

  Dinding esophagus terdiri dari empat lapisan, yaitu mukosa,

  submukosa, muscular, dan serosa. Lapisan mukosa merupakan lapisan

  paling dalam. Lapisan submukosa tebal dan mengandung sel sekretori yang mensekresi mukus. Lapisan muscular terdiri atas serat otot longitudinal dan sirkular. Lapisan serosa, yang merupakan lapisan terluar, terdiri atas fibrosa.

  5. Lambung Lambung terletak dikuardan kiri atas abdomen , lebar, dan merupakan bagian saluran cerna yang dilatasi. Bentuk lambung bervariasi, bergantung pada jumlah makanan di dalamnya, gelombang peristaltik, tekanan dari organ lain, pernafasan, dan postur tubuh.

  Lambung biasanya berbentuk J.

  Fungsi utama lambung adalah menyimpan makanan untuk pencernaan didalam lambung, deudenum, dan saluran cerna bawah, mencampur makanan dengan sekresi lambung hingga membentuk campuran setengah cair (kimus) dan meneruskan kimus ke deudenum.

  6. Usus Halus Usus halus terbagi menjadi duodenum, jejunum, dan ileum.

  Panjang usus halus saat lahir 300-350 cm, meningkat sekitar 50% selama tahun pertama kehidupan. Saat dewasa panjang usus halus mencapai ± 6 meter.

  Dinding usus halus terbagi menjadi empat lapisan yaitu mukosa,

  submukosa, muscular, dan serosa. Lapisan tersusun atas vili usus dan

  lipatan sirkular. Lipatan sirkular meningkatkan area permukaan absorpsi usus.

  Duodenum merupakan bagian terpendek usus, sekitar 7,5-10 cm, dengan diameter 1-1,5 cm. Jejenum terletak diantara duodenum dan ileum. Panjang jejunum 2,4 m. panjang ileum sekitar sekitar 3,6 m. Ileum masuk sisi pada lubang ileosekal, celah oval yang dikontrol oleh sfinker otot.

7. Usus Besar

  Usus besar berfungsi mengeluarkan fraksi zat yang tidak diserap, seperti zat besi, kalium, fosfat yang ditelan, serta mensekresi mukus, yang mempermudah perjalanan feses. Usus besar berjalan dari katup ileosekal ke anus. Panjang usus besar bervariasi, sekitar ± 180 cm. Usus besar dibagi menjadi bagian sekum, kolon asenden, kolon transvesum, kolon desensen, dan kolon sigmoid. Sekum adalah kantong besar yang terletak pada fosa iliaka kanan. Sekum berlanjut ke atas sebagai kolon asenden. Dibawah lubang ileosekal, apendiks membuka ke dalam sekum.

  Di dalam usus besar terjadi variasi ritmis yang tidak mendorong isi maju, tetapi mencampurnya dan dengan demikian membantu absorpsi air. Setelah setiap kali makan, terbentuk reflex gastrokolik yang merupakan peristalsis kuat, singkat, yang mendorong isi maju. Beberapa bukti menunjukkan bahwa reflex ini terjadi akibat kerja gastrin terhadap kolon dan tidak diperantai secara ilmiah. Oleh karena itu, defeksi setelah makan sering terjadi pada anak-anak.

  8. Hati Hati merupakan kelenjar paling besar dalam tubuh dengan berat

  ±1300-1550 g. hati merah cokelat, sangat vascular, dan lunak. Hati terletak pada kuadran atas kanan abdomen dan dilindungi oleh tulang rawan kosta. Bagian tepi bawah mencapai garis tulang rawan kosta. Tepi hati yang sehat tidak teraba. Hati dipertahankan posisinya oleh tekanan organ laindi dalam abdomen dan ligamentum peritoneum.

  Fungsi hati banyak dan bervariasi diantaranya ; memodifikasi dan mengubah zat kimia menjadi materi yang tidak berbahaya guan mencegah penumpukkan efek racun pada tubuh, mensintesis glikogen jika kadar glukosa menurun, mensekresi empedu, merupakan sumber satunya plasma yang menurun pada pasien dengan gangguan hati, membentuk dan merusak eritrosit, dan hati merupakan organ terpenting bagi metabolisme tubuh, hati juga berfungsi dalam menyimpang dan pelepasan karbohidrat serta pembuatan protein plasma dan pembentukkan urea.

  9. Pankreas Merupakan organ panjang pada bagian belakang abdomen atas, memiliki struktur yang terdiri atas kaput (didalam lengkungan duodenum), leher pankreas, dan kauda (yang mencapai limpa). Pancreas merupakan organ ganda yang terdiri atas dua tipe jaringan, yaitu jarinagan sekresi interna dan eksterna.

10. Peritoneum

  Merupakan membrane serosa yang tipis, licin, dan lembab, yang melapisi rongga peritoneum dan melapisi banyak organ perut seperti kavum abdomen dan pelvis. Fisiologis saluran pencernaan terdiri atas rangkaian proses memakan atau ingesti makanan, serta sekresi getah pencernaan ke dalam sistem pencernaan.

D. Patofisiologi

  Secara patofisiologi, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kerusakan mukosa lambung, meliputi : (1) kerusakan mukosa barrier, yang

  • menyebabkan difusi balik ion H meningkat; (2) perfusi mukosa lambung yang terganggu; dan (3) jumlah asam lambung yang tinggi (Wehbi, 2009 dalam Muttaqin dan Kumala 2011). Faktor- faktor tersebut biasanya tidak berdiri sendiri, contohnya, stress fisik akan menyebabkan perfusi mukosa lambung terganggu sehingga timbuk daerah-daerah infark kecil; selain itu sekresi asam lambung juga terpacu. Mucosal barrier pada pasien strees fisik biasanya tidak terganggu (Muttaqin & Kumala, 2009).

  Gastroenteristis Akut akibat infeksi H.pylori biasanya bersifat asimtomatik. Bakteri yang masuk akan memproteksi dirinya dengan lapisan mukus. Proteksi lapisan ini akan menutupi mukosa lambung dan melindungi dari asam lambung. Penetrasi atau daya tembus bakteri ke lapisan mukosa yang menyebabkan terjadinya kontak dengan sel-sel epithelial lambung dan terjadi adhesi (pelengketan) sehingga menghasilkan respons peradangan melalui pengaktifan enzim untuk mengaktifkan IL-8. Hal tersebut menyebabkan fungsi barier lambung terganggu dan terjadilah gastroenteristis

  akut (Santacroce, 2008 dalam Muttaqin & Kumala, 2009).

  Widagdo (2011) menjelaskan bahwa virus tersebar dengan cara fekal-oral bersama makanan dan minuman, dari beberapa ditularkan secara airborne yaitu norovirus, Virus penyebab diare secara selektif menginfeksi dan merusak sel-sel di ujung jonjot yang rata disertai adanya sebukan sel radang mononuclear pada lamina propania sedang pada mukosa lambung tidak terdapat perubahan walaupun penyakit dikenal sebagai gastroenteristis.

  Gambaran patologi tidak berkorelasi dengan gejala klinik, dan terlihat perbaikan proses sebelum gejala klinik hilang. Kerusakan akibat virus tersebut mengakibatkan adanya adanya absorpsi air dan garam berkurang dan terjadi perubahan keseimbangan rasio sekresi dan absorpsi dari cairan usus, serta aktivitas disakaridase menjadi berkurang dan terjadilah malabsorpsi karbohidrat terutama laktosa. Faktor penyebab gastroenteristis virus lebih banyak mengenai bayi dibandingkan dengan anak besar adalah fungsi usus berkurang, imunitas spesifik kurang, serta menurunnya mekanisme pertahanan spesifik seperti asam lambung dan mukus. Enteritis virus juga meningkatkan permiabilitas terhadap makromolekul di dalam usus dan ini diperkirakan sebagai penyebab meningkatnya resiko terjadinya alergi makanan.

  Menurut Mansjoer (2000), patofisiologi diare dibagi menjadi 2 yaitu : 1.

  Diare sekresi, yang dapat disebabkan oleh infeksi virus, kuman pathogen dan apatogen, hiperperistaltik usus halus akibat bahan kimia atau makanan, gangguan psikis, gangguan saraf, hawa dingin, alergi, dan defisiensi imun terutama IgA secretorik.

  2. Diare osmotik, yang dapat disebabkan oleh malabsorpsi makanan, kekurangan kalori protein (KKP), atau bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir. Pada diare akan terjadi kekurangan air (dehidrasi), gangguan keseimbangan asam-basa (asidosis metabolik), yang secara klinis berupa pernafasan kuusmaul, hipoglikemia, gangguan gizi, gangguan sirkulasi.

  Menurut Hidayat (2008), proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan faktor diantaranya: a.

  Faktor infeksi Faktor ini dapat diawali adanya mikroorganisme (kuman) yang masuk dalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorbs cairan dan elektrolit.

  Atau juga dikatakan adanya toksin bakteri akan menyebabkan system transport aktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit akan meningkat. b.

  Faktor malabsorbsi Merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadilah diare.

  c.

  Faktor makanan Dapat terjadi apabila toksin yang ada tidak mampu diserap dengan baik.

  Sehingga terjadi peningkatan peristaltik usus yang mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap makanan yang kemudian menyebabkan diare.

  d.

  Faktor psikologis Dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan pristaltik usus yang akhirnya mempengaruhi proses penyerapan makanan yang dapat menyebabkan diare.

  E. Gambaran klinis

  Gambaran awal dimulai dengan bayi atau anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Feses makin cair, mungkin mengandung darah atau lendir, dan warna feses berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu. Akibat seringnya defekasi, anus, dan area semakin lecet karena sifat feses makin lama makin menjadi asam, hal ini terjadi akibat banyaknya asam laktat yang dihasilkan dari pemecahan laktosa yang tidak dapat diabsopsi oleh usus (Sodikin, 2011).

  Berdasarkan kehilangan berat badan, dehidrasi terbagi menjadi empat kategori yaitu tidak ada dehidrasi (bila terjadi penurunan berat badan 2,5%), dehidrasi ringan (bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%), dehidrasi sedang (bila terjadi penurunan berat badan 5-10%), dan dehidrasi berat (bila terjadi penurunan berat badan 10%), sedangkan menurut skor Maurice King dapat dijelaskan dalam tabel 1.1 sebagai berikut.

Tabel 1.1 Skor Maurice King (Sodikin, 2011)

  Bagian yang diperiksa Nilai untuk Gejala yang Ditemukan

  1

  2 Keadaan umum Sehat Gelisah, cengeng, apatis, ngantuk Mengigau, koma, atau syok

  Kekenyalan kulit Normal Sedikit kurang Sangat kurang Mata Normal Sedikit kurang Sangat kurang Ubun-ubun besar Normal Sedikit kurang Sangat kurang Mulut Normal Kering Kering dan sianosis Denyut nadi/menit Kuat < 120 x/menit Sedang (120-140)

x/menit

  Lemah > 140 x/menit

  Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan derajat dehidrasi dengan menggunakan Skor Maurce King,

  1. Menentukan kekenyalan kulit, kulit perut “dijepit” antara ibu jari dan telunjuk selama 30-60 detik, kemudian dilepas kembali. Apabila kulit kembali normal dalam waktu 1 detik (turgor agak kurang/dehidrasi ringan), 1-2 detik (turgor kurang/dehidrasi sedang), dan 2 detik (turgor sangat kurang/dehidrasi berat).

  2. Berdasarkan skor yang terdapat pada seorang penderita maka dapat ditentukan derajat dehidrasinya, bila mendapat nilai 0-2 (dehidrasi ringan), 3-6 (dehidrasi sedang), dan 7-12 (dehidrasi berat). Nilai atau gejala tersebut adalah nilai atau gejala yang terlihat pada dehidrasi isotonic dan hipotonik, yang keadaan dehidrasinya paling banyak masing-masing77,8% atau 9,5%.

3. Pada anak dengan ubun-ubun besar sudah menutup, nilai untuk ubun- ubun besar diganti dengan banyaknya atau frekuensi buang air kecil.

Tabel 1.2 Gejala Klinis (Sodikin, 2011)

  Gejala Klinis Gejala Klinis Ringan Sedang Berat

  Keadaan umum

Kesadaran Baik/compos Gelisah Apatis-koma

mentis

  • +++ ++ + Rasa haus

  Sirkulasi

Nadi (x/menit) Normal (120) Cepat Cepat sekali

Respirasi Pernafasan Biasa Agak cepat Kusmaull (cepat & dalam) Kulit

Ubun-ubun besar Agak cekung Cekung Cekung sekali

Mata Agak cekung Cekung Cekung sekali

Turgor dan tonus Biasa Agak Kurang Kurang sekali

Diuresis Normal Oliguria Anuri Selaput Lendir Normal Agak kering Kering/asidosis

  Menurut tonisitas darah, dehidrasi dapat dibagi atas tiga macam, yaitu dehidrasi isotonic ( bila kadar Na dalam plasma antara 131-150 mEq/L), dehidrasi hipotonik (bila kadar Na plasma < 131 mEq/L), dan dehidrasi hipertonik (bila kadar Na plasma > 150 mEq/L).

Tabel 1.3 Gejala-gejala Dehidrasi

  Gejala Hipotonik Isotonik Hipertonik

  • Rasa haus
  • Berat badan Menurun sekali Menurun Menurun Turgor kulit Menurun sekali Menurun Tidak jelas Kulit/selaput Lendir Basah Kering Kering sekali

    Gejala SSP Apatis Koma Irritable, kejang-

    kejang, hiperfleksi

    Sirkulasi Jelek sekali Jelek Relative masih baik

    Nadi Sangat lemah Cepat & lemah Cepat dan keras

  Tekanan darah Sangat rendah Rendah Rendah Banyaknya kasus 20-30 % 70% 10-20 %

F. Nutrisi pada Bayi dan Anak 1.

  Kebutuhan Nutrisi pada Bayi dan Anak Nutrisi didefiniskan sebagai makanan yang berguna bagi kesehatan komposisi makanan terdiri dari beberapa nutrient yang mempunyai efek metabolik yang spesifik dalam tubuh manusia. Nutrien dapat merupakan zat esensial maupun non-esensial. Nutrien yang termasuk nutrien esensial adalah vitamin, mineral, beberapa asam amino, asam lemak dan karbohidrat. Secara garis besar, nutrisi terdiri atas makronutrien (karbohidrat, protein, dan lemak), mikronutrien (vitamin dan mineral) dan air. Makronutrien merupakan zat utama yang terdapat dalam diet dan berfungsi sebagai sumber energy bagi tubuh yang digunakan untuk pertumbuhan, pemeliharaan, dan aktifitas (IDAI, 2011).

  Kebutuhan nutrisi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan anak, mengingat manfaat nutrisi dalam tubuh dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak, serta mencegah terjadinya penyakit akibat kurang nutrisi dalam tubuh seperti kekurangan energy dan protein, anemia, defisiensi yodium, defisiensi seng (Zn), defisiensi vitamin A, defisiensi thiamin, defisiensi kalium dan lain-lain yang dapat menghambat proses tumbuh kembang anak (Hidayat, 2008).

  Dalam proses pemenuhan tersebut akan dipengaruhi beberapa faktor di antara usia, status nutrisi itu sendiri dan keadaan penyakit yang diderita anak sehingga faktor tersebut harus mendapat perhatian dalam pemenuhan nutrisi pada bayi dan anak (Pudjiadi, 2001 dalam Hidayat 2008). Ada beberapa komponen gizi yang dibutuhkan pada nutrisi bayi dan anak yang jumlahnya sangat berbeda untuk setiap umur, secara umum zat gizi dibagi menjadi dua golongan makro dan golongan mikro : untuk golongan makro terdiri dari kalori dan H2O (air), untuk kalori berasal dari karbohidrat, protein, dan lemak, H2O (air) sedangkan kelompok mikro terdiri dari vitamin dan mineral (Berhman, RE dkk, 1996 dalam Hidayat, 2008).

  a) Karbohidrat

  Merupakan sumber energy yang tersedia dengan mudah tersedia di setiap makan, karbohidrat harus tersedia dalam jumlah yang cukup sebab kekurangan karbohidrat sekitar 15% dari kalori yang ada maka dapat menyebabkan terjadinya kelaparan dan berat badan menurun demikian sebaliknya apabila jumlah kalori yang tersedia atau berasal dari karbohidrat dengan jumlah yang tinggi dapat menyebabkan terjadi peningkatan berat badan (obesitas).

  b) Lemak

  Lemak merupakan zat gizi yang berperan dalam pengangkatan vitamin

  A, D, E, K yang larut dalam lemak. Komponen lemak terdiri dari lemak alamiah sekitar 98% di antaranya trigliserida, dan gliserol sedangkan 2%-nya adalah asam lemak bebas di antaranya monogliserida, digliserida, kolesterol dan fosfolipid termasuk lesitin, sefalin, sfingomielin dan serebrosid. Lemak merupakan sumber energy, sebagai pelindung organ tubuh, membantu rasa kenyang, kekurangan lemak dalam tubuh dapat menyebabkan terjadinya perubahan kulit, apabila jumlah lemak yang banyak pada anak akan menyebabkan hiperlipidemia, hiperkolesterol, atau menyebabkan penyumbatan pembuluh darah dan lain-lain.

Tabel 1.4 Kebutuhan Energi Per Hari

  Tinggi Badan Umur Barat Badan (kg) Energi (Kkal) (cm) 0-6 bulan 5,5 60 560 7-12 bulan 8,5

  71 800 1-3 tahun 12 89 1220 4-6 tahun 18 108 1720 7-9 tahun 23,5 120 1860

  Pria 10-12 tahun 30 135 1950 13-15 tahun

  40 152 2200 16-19 tahun 53 160 2360

  Perempuan 10-12 tahun 32 139 1750 13-15 tahun

  42 153 1900 16-19 tahun 46 154 1850

  (Sumber : Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, 1988, dikutip dari Solihin Pudjiadi, 2001)

  c) Protein

  Merupakan zat gizi dasar yang berguna dalam pembentukan protoplasma sel, selain itu tersedia protein dalam jumlah yang cukup penting untuk pertumbuhan dan perbaikan sel jaringan dan sebagai larutan untuk keseimbangan osmotik. Protein terdiri dari 24 asam amino, jumlah protein dalam tubuh harus cukup apabila jumlahnya berlebih atau tinggi dapat memperburuk insufisiensi ginjal demikian juga apabila jumlanya kurang maka menyebabkan kelemahan dan lainnya.

Tabel 1.5 Kebutuhan Protein Per Hari

  45 13-15 tahun 40 152

  d) Air

  (Sumber : Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, 1988, dikutip dari Solihin Pudjiadi, 2001)

  47

  47 16-19 tahun 46 154

  49 13-15 tahun 42 153

  62 Perempuan 10-12 tahun 32 139

  57 16-19 tahun 53 160

  36 Pria 10-12 tahun 30 135

  Umur Barat Badan (kg) Tinggi Badan (cm) Protein (gr) 0-6 bulan 5,5

  32 7-9 tahun 23,5 120

  23 4-6 tahun 18 108

  89

  12

  15 1-3 tahun

  71

  12 7-12 bulan 8,5

  60

  Merupakan kebutuhan nutrisi yang sangat penting, mengingat kebutuhan air pada bayi relative tinggi 75-80% dari berat badn dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 55-60%. Air bagi tubuh dapat berfungsi sebagai pelarut untuk pertukaran selular, sebagai medium untuk ion, transport nutrient dan produk buangan dan pengaruran suhu tubuh. Sumber air dapat diperoleh dari air dan semua makanan.

Tabel 1.6 Kebutuhan Cairan Bayi dan Anak

  Umur Rata-rata Barat Badan Jumlah Air dalam 24 jam (ml) Jumlah Air Per kilogram Berat Badan/24 jam (ml) 3 hari 3,0 250-300 80-100 10 hari 3,2 400-500 125-150

  3 bulan 5,4 750-850 140-160 6 bulan 7,3 950-1100 130-155 9 bulan 8,6 1100-1250 125-145 1 tahun 9,5 1150-1300 120-135 2 tahun 11,8 1350-1500 115-125 4 tahun 16,2 1600-1800 100-100 6 tahun 20,0 1800-2000 90-100 10 tahun 28,7 2000-2500 70-80

  14 tahun 45,0 2200-2700 50-60 18 tahun 54,0 2200-2700 40-50

  (Sumber : Berhman, RE dkk, 1996)

  e) Vitamin

  Merupakan senyawa organik yang digunakan untuk mengkatalisator metabolisme sel yang dapat berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan serta mempertahankan organism, vitamin yang dibutuhkan adalah vitamin A (retinol), B kompleks (thiamin), B2 (riboflavin), B12 (sianokobalamin), Vit C (asam ascorbat), vitamin D, vitamin E, dan vitamin K, yang masing-masing mempunyai fungsi dan kelemahan.

Tabel 1.7 Kebutuhan Vitamin Per Hari

  30 13-15 tahun 40 152 600 0,9 1,1 9,7 1,0

  f) Mineral

  30 (Sumber : Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, 1988, dikutip dari Solihin Pudjiadi, 2001)

  30 16-19 tahun 46 154 500 0,8 0,9 8,1 1,0

  30 13-15 tahun 42 153 500 0,8 1,0 8,4 1,0

  40 Perempuan 10-12 tahun 32 139 500 0,7 0,9 7,7 1,0

  40 16-19 tahun 53 160 600 1,0 1,2 10,0 1,0

  25 Pria 10-12 tahun 30 135 450 0,8 1,0 8,6 1,0

  Umur Barat Badan (kg) Tinggi Badan (cm) Vit A (Re) Thiamin (mg) Riboflavin (mg) Niasin (mg) B12 Vit C (mg) 0-6 bulan

  25 7-9 tahun 23,5 120 407 0,7 0,9 8,1 0,9

  25 4-6 tahun 18 108 360 0,7 0,9 7,6 0,7

  12 89 350 0,5 0,6 5,4 0,5

  25 1-3 tahun

  71 350 0,4 0,4 3,8 0,1

  25 7-12 bulan 8,5

  5,5 60 350 0,3 0,3 2,5 0,1

  Merupakan komponen zat gizi yang tersedia dalam kelompok makro, yang terdiri dari kalsium, klorida, chromium, kobalt, tembaga, flourin, jodium, besi, magnesium, mangan, fosfor, kalium, natriun, sulfur,dan seng.

Tabel 1.8 Kebutuhan Mineral Per Hari

  Barat Tinggi Kalsium Fosfor Besi Seng

Umur Badan Badan Iodium

(mg) (mg) (mg) (mg)

  (kg) (cm) 0-6 5,5

  60 600 200

  3

  3

  50 bulan 7-12 8,5

  71 400 250

  5

  5

  70 bulan 1-3

  12 89 500 250

  8

  10

  70 tahun 4-6 18 108 500 350

  9 10 100 tahun 7-9 23,5 120 500 400

  10 10 120 tahun Pria

  10-12 30 135 700 500 14 15 150 tahun

  13-15 40 152 700 500 17 15 150 tahun

  16-19 53 160 600 500 23 15 150 tahun

  Perempuan 10-12 32 139 700 450

  14 15 150 tahun 13-15 42 153 700 450

  19 15 150 tahun 16-19 46 154 600 450

  25 15 150 tahun (Sumber : Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, 1988, dikutip dari Solihin Pudjiadi, 2001)

2. Dampak Nutrisi pada Tumbuh Kembang Anak

  Tumbuh kembang merupakan proses penumbuhan (dimensi fisik) dan pengembangan (dimensi fungsi) potensi genetik menjadi potensi dewasa. Hal ini dipengaruhi oleh tiga faktor, ketiga faktor ini lazimnya mempunyai dampak buruk yang dapat menghambat proses tumbuh kembang. Misalnya dalam kecukupan gizi mempengaruhi prevalensi penyakit, tingkat rasa aman dan stabilitas emosi mempengaruhi nafsu dan kapasitas makan, dan penyakit tertentu dapat mengubah pola makan. Ketiga faktor penentu tersebut menurut IDAI (2011) adalah : a.

  Kecukupan dan keselarasan pasokan mutrien, sebagai bahan baku dan bahan bakar b.

  Stimulasi dan interaksi fisik dan psikososial sebagai pemicu dan pemacu spectrum dan arah tumbuh kembang.

  c.

  Penyakit yang dapat mengganggu dan merusak struktur dan fungsi, baik secara temporer maupun permanen.

  Jika intensitasnya mencapai kriteria tertentu, maka anak tersebut dinamakan gagal tumbuh. Gagal tumbuh merupakan kegagalan untuk tumbuh dimana sebenarnya anak tersebut lahir dengan cukup bulan akan tetapi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya mengalami kegagalan pertumbuhan fisik dengan malnutrisi dan retardasi perkembangan sosial atau motorik. Faktor yang mempengaruhi gagal tumbuh adalah gangguan psikososial, ciri gagal tumbuh yang lain adalah secara organic tidak ditemukan adanya kelainan dan secara anamnesa anak ditelantarkan dalam perawatannya (Hidayat, 2008).

  G.

  Komplikasi Menurut Suriyadi dan Yuliani (2005), akibat diare dan kehilangan cairan serta elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik, hipertonik), hipokalemia, hipokalsemia, cardiac dysrhythmias akibat hipokalemi dan hipokalsemi, hiponatremia, syok hipovolemik, dan asidosis. H.

  Penatalaksanaan Medis Menurut Mansjoer (2000), penalaksaan untuk gastroenteristis pada anak adalah sebagai berikut :

  1. Diare cair membutuhhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa melihat etiologinya. Tujuan terapi rehidrasi untuk mengoreksi kekurangan cairan dan elektrolit secara cepat kemudian mengganti cairan yang hilang sampai diarenya berhenti (terapi rumatan).

  Jumlah cairan yang diberi harus sama dengan jumlah cairan yang telah hilang melalui diare atau muntah (previous water losses =PWL) ; ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui keringat, urine, dan pernafasan (normal water losses=NWL) ; dan ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung (concomitant water losses=CWL). Jumlah ini tergantung pada derajat dehidrasi, berat badan anak, dan golongan umur.

  2. Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk menghindarkan efek buruk pada status gizi.

  3. Antibiotik dan antiparasit tidak boleh digunakan secara rutin, tidak ada manfaatnya untuk kebanyakan kasus, termasuk diare berat dan diare dengan panas, kecuali pada disentri, suspek kolera dengan dehidrasi berat, dan diare persisten.

  4. Obat-obatan antidiare meliputi anti motilitas (misal loperamid, difenoksilat, kodein, opium), adsorben (misal norit, kaolin, attapulgit).

  Antimuntah termasuk prometazim, klorpromazin. Tidak satupun obat- obat ini terbukti mempunyai efek yang nyata untuk diare akut dan beberapa malahan mempunyai efek yang membahayakan. Obat-obat ini tidak boleh diberikan pada anak < 5 tahun.

I. Pemeriksaan penunjang

  Pemeriksaan penunjang pada anak dengan gatroenteristis akut menurut IDAI (2011) : 1.

   Laboratorium

  Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut pada umumnya tidak diperlukan, hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat. Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan pada diare akut :

  a. : darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, kultur Darah dan tes kepekaan terhadap antibiotika.

  b. : urine lengkap, kultur dan tes kepekaan terhadap Urine antibiotika.

  c. : Tinja

  1) Pemeriksaan makroskopik : tinja perlu dilakukan pada semua penderita diare meskipun pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan. Tinja yang watery dan tanpa mukus atau darah biasanya disebabkan oleh enterotoksin virus, protozoa, atau disebabkan oleh infeksi diluar saluran gastrointestinal. Tinja yang mengandung darah atau mukus bisa disebabkan infeksi bakteri yang menghasilkan sitotoksin, bakteri enteroinvasif yang menyebabkan peradangan mukosa atau parasit usus. 2)

  Pemeriksaan mikroskopik : untuk mencari adanya lekosit dapat memberikan informasi tentang penyebab diare, letak anatomis serta adanya proses peradangan mukosa. Lekosit dalam tinja diproduksi sebagai respon terhadap bakteri yang menyerang mukosa kolon.

  J. Penatalaksanaan Keperawatan 1. Pengkajian a. Wawancara

  Anamnesa yang perlu diketahui pada pasien gastroenteritis sebagai berikut : 1)

  Umur Pada pasien muda dan anak- anak biasanya infeksi, intoleransi laktase, sindrom kolon iritatif.

  2) Frekuensi Diare biasanya frekuensi diare oleh infeksi bakteri biasanya dari hari ke hari makin sering, berbeda dengan diare akibat minum laksan atau akibat salah makan

  3) Lamanya Diare diare akut biasanya berlangsung cepat, diare kronik berlansung lama

  4) Nyeri Abdomen nyeri abdomen disertai diare terjadi pada infeksi bakterial pada usus, sedangkan nyeri sesudah diare yang tidak pernah puas pada infeksi maupun sindrom mauoun usus iritabel

  Data Subyektif 1.

  Keluhan utama : BAB cair , lemas, gwelisah, mual muntah, anoreksia, badan panas.

  2. Frekuensi BAB cair dalam sehari lebih dari 3x 3.

  Adanya riwayat reaksi alergi terhadap suatu zat, makanan/inuman, atau lingkungan.

  4. Pengobatan diare telah dilakukan dan efektifitasnya 5.

  Kebiasaan dan pola makan anak seperti makan makanan terbuka, suka makan makanan pedas.

  Data Obyektif 1.

  Mata cekung 2. Ubun – ubun besar dan cekung 3. Turgor kulit kurang dan kering 4. Lidah, bibir dan mukosa kering 5. Konsistensi feses cair 6. Peningkatann suhu tubuh

7. Penurunan BB 8.

  Pasien tampak lemah dan lemas b.

   Pemeriksaan fisik

  Kesadaran : composmentis, pada dehidrasi berat dapat terjadi apatis, somnolen, kadang sopokomateus.

  Keadaan umum : sedamg atau lemah Vital sign : pada dehidrasi berat dapat terjadi renjatan hupovolemik dengan : 1)

  Tekanan Darah menurun ( misal 90/40 mmHg ) 2)

  Nadi sepat sekali (tachikardi ) 3)

  Suhu terjadi peningkatan karena dehidrasi dan dapat juga karena adanya infeksi dalam usus 4)

  Respirasi cepat jika terjadi dehidrasi akut dam berat karena adanya kompensasi asam basa.

  Pemerisaan Fisik

  a) Kepala dan Muka

  Kepala : inspeksi ada tidaknya ubun – ubun yang besar dan agak cekung Rambut : terjadi rontok atau merah karena malnutrisi Mata : mata pada umumnya agak cekung Mulut : mukosa kering, bibir pecah – pecah , lidah kering, bibir sianosis.

  Pipi : pada tulang pipi biasanya menonjol

  Wajah : tampak lebih pucat

  b) Leher

  Umumnya tidak terjadi pembesaran kelenjar tiroid

  c) Jantung

  Menimbulkan aritmia jantung

  d) Abdomen

  Inspeksi : inspeksi umumnya kadang simetris, cembung terlihat pembesaran pada perut kanan bawah.

  Perkusi : tympani ( kembung). Palpasi : umumnya ada nyeri tekan bagian perut bawah yaitu bagian usus dan dapat terjadi kejang perut.

  Auskultasi : bising usus >30x / menit

  e) Anus

  Anus terjadi iritasi, kemerahan pada daerah sekitarnya

  f) Kulit

  Kekenyalan kulit sedikit kurang dan elastisitas kembali setelah 1 – 2 detik.

2. Diagnosa Keperawatan 1.

  Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.

2. Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit pada tubuh.

  3. Ansietas berhubungan dengan proses hospitalisasi.

  4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sering defekasi.

  5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi.

  6. Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik usus.

  Pathways

Faktor Infeksi Faktor Makanan

Faktor Malabsorpsi

  Tekanan Toksin tidak dapat Masuk dan osmotic diserap berkembang dalam usus hiperperistaltik Elektrolit ke rongga

  Hipersekresi air dan usus elektrolit Menurunnya kemampuan usus

  Kurang informasi menyerap makanan tentang penyakit

Diare

  Distensi Abdomen Kurang Pengetahuan Frekuensi BAB

  Nyeri akut Proses Hospitalisasi Mual, muntah Kehilangan cairan dan Iritasi Usus

  Cemas elektrolit Nutrisi/intake tidak berlebih adekuat Kulit kurang elastik,

  Gangguan mukosa kering Integritas

  BB menurun kulit Defisit Volume Cairan Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

  Gambar 1. 1 Pathways gastroenteristis akut adopsi dari Teori (Carpenito, 2000; Muttaqin & Kumala, 2011; NANDA, 2012)

3. Intervensi Keperawatan 1) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan nutrisi pasien terpenuhi.

  NOC : Nutritional status food and fluid intake Kriterian Hasil : 1.

  Adanya peningkatan BB sesuai tujuan (BB dan TB ideal).

  2. BB ideal sesuai dengan tinggi badan.

  3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi (pasien mengerti jadwal makanan dan jenis makanan).

  4. Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi (tanda-tanda malnutrisi dan jenis makanan bibir pecah-pecah kulit, rambut rontok, BB menurun dan rambut kemerahan).

  5. Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan menelan (pasien mau makan, porsi makan habis).

  6. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti (BB normal) Keterangan skala: 1.

  Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan

4. Sering menunjukkan 5.

  Selalu menunjukkan NIC : Nutrition management Intervensi : 1.

  Kolaborasi dengan gahli gizi untuk menentukan nurisi yang dibutuhkan pasien.

  2. Berikan makanan yang terpilih udah dikonsultasikan dengan ahli gizi.

  3. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kolaborasi.

  4. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. NIC : Nutrition monitoring Intervensi : 1.

  BB pasien dalam batas normal.

  2. Monitor adanya penurunan BB pasien.

  3. Monitor interaksi anak/orang tua selama makan.

  4. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi.

  5. Monitor turgor kulit.

  6. Monitor makanan kesukaan.

  7. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jangan konjungtiva.

2) Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan dan elektrolit pada tubuh.

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi.

  NOC : Fluid balance Kriteria Hasil a. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia

  Umur O (ml) 1 – thn 3 – 5 thn 5 – 8 thn 8 – 14 thn 14 – 18 thn 500 – 600

  600 – 700 700 – 1000 800 – 1400 1500

  • Bj urine normal 20 – 40 mg/dl
  • HT normal

  : 40 – 48%

  • Pada laki-laki
  • Wanita : 37 – 43% b.

  Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal 1.

  Tekanan darah 1 thn 95/65 mmHg 6 thn 05/65 mmHg 10 – 13 thn 110/65 mmHg 14 – 17 thn 120/75 mmHg

2. Nadi

  Umur Bangun tidur 1 – 2 thn 80 – 150 70 – 120 2 thn – 10 thn 70 – 110 60 – 90 10 thn – 18 thn 55 – 90 50 – 90

  1. Tidak pernah menunjukkan

  Monitor vital sign 5. Monitor cairan/makanan dan hitung intake kalon harian

  Timbang pokok/pembalut jika diperlukan 2. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.

  5. Selalu menunjukkan NIC : Fluid manajement 1.

  4. Sering menunjukkan

  3. Kadang menunjukkan

  2. Jarang menunjukkan

  Keterangan skala :

  3. Suhu tubuh 1 thn 37,7

  C c. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik. Membran mukosa lembato, tidak ada rasa haus yang berlebihan.

  o

  37

  C 6 – 18 thn

  o

  C 2 – 5 thn 37,2

  o

3. Monitor status hidrasi (kelemahan membran mukosa, nadi adekuat) 4.

  6. Kolaborasikan pemberian cairan IV.

  3) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sering defekasi.

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proseskeperawatan diharapkan integritas kulit kembali normal. NOC : Tissue integrty: skind and mucous membranes. Kriteria Hasil : 1.

  Integritas kulit yang baik, bisa dipertahankan/kulit elastis, tidak.

2. Tidak ada luka (lesi pada kulit pada kemerahan, kulit tidak kering).

  3. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembahan kulit dan perawat alami (pemberian baby oil/lotioon, tidak diberikan bedak) Keterangan : 1.

  Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan 4. Sering menunjukkan 5. Selalu menunjukkan

  NIC : Pressure management Intervensi : 1.

  Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang normal.

  2. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering.

  3. Monitor kulit akan adanya kemerahan.

  4. Oleskan lotion/minyak/baby oil pada daerah yang tertekan.

  5. Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat

  4) Ansietas berhubungan dengan hospitalisasi

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan/selama proses keperawatan diharapkan kecemasan pada klien berkurang.

  NOC : Anxiety control, koping meningkat. Kriteria Hasil : 1.

  Klien dapat melaporkan dapat tidur nyenyak, merasa rileks.

  2. Klien mampu mempertahankan ADL meskipun ada kecemasan.

  3. Klien mampu menfokuskan/mempertahankan perhatian saat berinteraksi.

  4. Klien mampu menggunakan koping yang konstruktif.

  5. Klien menunjukkan ketrampilan interaksi sosial yang efektif.

  6. Klien mampu mengungkapkan perasaan negative secara tepat. Keterangan skala: 1.

  Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan

4. Sering menunjukkan 5.

  Selalu menunjukkan NIC : pengurangan kecemasan, peningkatan koping.

  Intervensi : 1.

  Indentifikasi tingkat dan faktor penyebab kecemasan.

  2. Bina hubungan saling percaya.

  3. Bantu dan damping klien untuk mengungkapakan perasaan dan masalah yang dialami.

  4. Ajarkan dan dorong klien dan keluarga untuk menggunakan teknik relaksasi.

  5. Ajarkan koping kontruktif pada klien dan keluarga tentang cara mengalihkan cemas.

  6. Berikan penguatan yang positif saat klien mampu melakukan aktivitas sehari-hari.

  7. Kolaborasi dengan tim medis untuk berikan informasi factual menyangkut diagnosis, prognosis, pengobatan, perawatan, prognosis penyakit, dan program terapi.

5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan/selama proses keperawatan diharapkan pengetahuan pasien betambah.

  NOC : Knowledge: disease proces Kriteria Hasil : 1.

  Pasien dan keluarga mengatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis, program pengobatan.

  2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar.

  3. Pasien dan keluarga ampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.

  Keterangan skala: 1.

  Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan 4. Sering menunjukkan 5. Selalu menunjukkan

  NIC : Teaching: disease process Intervensi : 1.

  Jelaskan patofisiologi, dan penyakit.

  2. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit dengan cari yang benar.

  3. Gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat.

  4. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi dengan cara yang tepat.

  5. Diskusikan perubahan gaya hidup yang baik dan tepat.

6) Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik usus.

  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan rasa nyeri berkurang NOC : Nyeri terkontrol Kriteria Hasil : 1. melaporkan adanya nyeri, frekuensi nyeri, kulitas nyeri, penyebab nyeri, luasnya nyeri.

2. Perubahan nadi 3.

  Perubahan ukuran pupil 4. Kehilangan selera makan 5. Keringat berlebih

  Keterangan skala: 1.

  Tidak pernah menunjukkan 2. Jarang menunjukkan 3. Kadang menunjukkan 4. Sering menunjukkan 5. Selalu menunjukkan

  NIC : Pain management Intervensi : 1.

  Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik dan durasi frekuensi, kualitas/ beratnya nyeri.

  2. Observasi, isyarat-isyarat non verbal dari ketidak-nyamanan, khususnya dalam ketidakmampuan, khususnya dalam ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif.

  3. Gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan nyeri.

  4. Evaluasi tentang keefektifan dan tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan.

  5. Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan.

  6. Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup.

  7. Ajarkan teknik non farmakologi 8.

  Berikan analgetik untuk menghilangkan nyeri.

  9. Kolaborasi dengan tim medis lain jika ada keluhan lain dan tindakan nyeri tidak berhasil.

Dokumen baru