Ekaristi sebagai upaya meningkatkan motivasi pelayanan para katekis di Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
2
156
1 month ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI EKARISTI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI PELAYANAN PARA KATEKIS DI PAROKI SANTO YUSUP BINTARAN, YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Agama Katolik Oleh: Benedikta Ganda Anggraeni NIM: 131124040 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, kepada yang terkasih kedua orang tuaku, Bapak Valentinus Budi Santosa dan Ibu Skolastika Sujiati, kepada Saudara-saudariku tercinta kakak Yosefina Septi Madah Kurnia, abang Gamaliel Wisnu Trimandaru dan abang Andreas Fajar Nugroho, yang setia memberi doa, dukungan dan motivasi kepada penulis, serta teman-teman yang selalu membantu dan mendukung hingga terselesaikannya skripsi ini. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dan permohonan dengan ucapan syukur” (Flp 4:6) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Skripsi ini berjudul “EKARISTI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI PELAYANAN PARA KATEKIS DI PAROKI ST. YUSUP BINTARAN, YOGYAKARTA”. Penulis memilih judul ini berdasarkan pengamatan dan pengalaman katekis terlibat di dalam kegiatan katekese di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Penulis mendapatkan kesan bahwa katekis perlu untuk lebih bersemangat di dalam melayani umat. Kenyataan ini menunjukkan motivasi pelayanan katekis belum sungguh-sungguh menjiwai karya pelayanannya. Katekis masih mengalami semangat yang pasang-surut terlebih dalam kehadiran, keterlibatan dan keaktifan di dalam kegiatan berkatekese. Bertitik tolak dari persoalan ini, maka skripsi ini dimaksudkan sebagai sumbangan pemikiran bagi peningkatan semangat pelayanan katekis di Bintaran. Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah bagaimana meningkatkan motivasi pelayanan katekis dengan menghayati dan memperdalam makna Ekaristi di dalam karya pelayanan mereka. Menanggapi hal tersebut, penulis menggunakan studi pustaka guna membantu para katekis untuk lebih memperdalam makna Ekaristi dan jati diri seorang katekis. Di samping itu, penulis juga melakukan penelitian berupa penyebaran kuesioner dan wawancara terhadap para katekis guna memperoleh gambaran sejauhmana Ekaristi telah memotivasi katekis di paroki St Yusup Bintaran. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa para katekis ternyata telah memaknai dan termotivasi oleh makna Ekaristi di dalam karya pelayanannya. Namun penulis meragukan hal tersebut sebab bertolak dari pengalaman, penulis mendapatkan kesan bahwa para katekis menjawab menurut pemahaman mengenai makna Ekaristi bukan berdasarkan fakta. Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian tersebut, penulis mengusulkan kegiatan rekoleksi pengayaan (enrichment) dan pemberdayaan (empowerment) makna Ekaristi dengan metode berbagi pengalaman, sebagai upaya meningkatkan semangat pelayanan katekis. Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi proses saling belajar dan saling memberdayakan satu sama lain (empowerment). Katekis diharapkan memiliki semangat baru yang menggerakkan, menginspirasi dan mendorongnya untuk melayani umat. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT This thesis is entitled "EUCHARISTI AS AN EFFORTS TO IMPROVE THE MOTIVATION OF THE SERVICES OF CATECHISTS IN THE PARISH OF SAINT YUSUP OF BINTARAN, YOGYAKARTA". The author chose this title based on observations and experiences of catechists involved in catechetical activities in the parish of Saint Yusup Bintaran, Yogyakarta. The author gets the impression that catechists need to be more enthusiastic in serving the people. This fact shows that the motivation of catechist services has not really inspired their ministry. Catechists still experience the ups and downs of enthusiasm, especially in the presence, involvement and catechetical activities. Starting from this problem, this thesis is intended as a contribution to the thought of increasing the spirit of catechist service in the Bintaran. The main problem in this thesis is how increase the motivation of catechist services by living and deepening the meaning of the Eucharist in their ministry. In response to this, the author uses a literature study to help catechists to further deepen the meaning of the Eucharist and the identity of a catechist. In addition, the author also conducted research in the form of questionnaires and interviews with catechists in order to get an idea of the extent to which the Eucharist had motivated catechists in the parish of Saint Yusup Bintaran. The results of the study revealed that catechists turned out to have interpreted and motivated the meaning of the Eucharist in their ministry. However, the author doubts this because based on experience, the author gets the impression that the catechists answered by expressing an understanding of the meaning of the Eucharist not based on the facts. As a follow up to the results of the study, the authors propose enrichment and empowerment recollection about the meaning of the Eucharist by sharing experiences, in an effort to increase the spirit of catechist service. Through this activity, it is expected that a process of mutual learning and mutual empowerment will occur. Catechists are expected to have a new spirit that moves, inspires and encourages them to serve the people. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat kasih dan penyertaan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul EKARISTI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI PELAYANAN PARA KATEKIS DI PAROKI ST. YUSUP BINTARAN, YOGYAKARTA. Skripsi ini ditulis sebagai bentuk perhatian penulis sebagai calon katekis terhadap perkembangan karya pelayanan katekis di paroki di masa mendatang. Sebagai calon katekis dan anggota karya pewartaan di paroki St Yusup Bintaran, penulis melihat semangat pelayanan katekis masih mengalami pasang-surut. Hal ini mengakibatkan pelayanan katekis kurang maksimal dan tidak mengalami perkembangan. Oleh karena itu, penulisan skripsi ini dimaksudkan sebagai sumbangan pemikiran bagi paroki St Yusup Bintaran untuk lebih memperdalam makna Ekaristi sebagai upaya meningkatkan motivasi karya pelayanan katekis. Penulis menyadari dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis dengan sepenuh hati mengucapkan banyak terimakasih kepada: 1. Dr. B.Agus Rukiyanto S. J, selaku Ketua Program Studi PAK, yang telah memberikan izin bagi penulis untuk mengerjakan tugas akhir ini mulai dari awal penyusunan hingga selesai. 2. Drs. FX Heryatno Wono Wulung, SJ. M.Ed, selaku dosen pembimbing utama yang telah memberikan perhatian, memberikan semangat, meluangkan waktu x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran, memberi masukanmasukan dan kritikan-kritikan sehingga penulis dapat semakin termotivasi dalam menuangkan gagasan-gagasan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini. 3. Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd selaku dosen penguji II sekaligus dosen pembimbing akademik yang penuh kesabaran dan perhatian memberikan dukungan dan motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini 4. Cecilia Paulina Sianipar, S.Pd., M.Si., MM.Ed selaku dosen penguji III yang telah bersedia meluangkan waktu dan bersedia menjadi dosen penguji pada pertanggungjawaban skripsi ini. 5. Segenap dosen dan staf karyawan Prodi PAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam studi maupun penulisan skripsi ini. 6. Rm Stefanus Heruyanto Dwiatmojo, Pr selaku Pastor Paroki St Yusup Bintaran Yogyakarta yang telah memberi ijin untuk melakukan penelitian terhadap para katekis di paroki ini. 7. Bapak Yosaphat Sudarmo Karyadi, selaku DPP bidang Pewartaan, Bapak FX. Ari Raharta, selaku katekis Bintaran dan Bapak Prisnanto Aribowo selaku seksi LitBang paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta, yang telah membantu penulis mendapatkan informasi dan data paroki guna penulisan skripsi ini. 8. Seluruh katekis di paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta yang telah meluangkan waktu menjadi responden penelitian. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... iv MOTTO .............................................................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS .......................................................................... vii ABSTRAK ..........................................................................................................viii ABSTRACT .......................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................ x DAFTAR ISI ....................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ..............................................................................................xvii DAFTAR SINGKATAN ................................................................................. ..xviii BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penulisan Skripsi ........................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................................... 5 C. Tujuan Penulisan ..................................................................................... 5 D. Manfaat Penulisan................................................................................... 5 E. Metode Penulisan .................................................................................... 6 F. Sistematika Penulisan .................................................................................... 7 BAB II EKARISTI MENJADI MOTIVASI KATEKIS DALAM MENGEMBAN TUGAS PELAYANANNYA A. Makna Perayaan Ekaristi bagi Umat Beriman Kristiani ......................... 8 1. Pokok-pokok Perayaan Ekaristi .......................................................... 9 a. Kenangan akan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus ... 10 b. Perayaan perjamuan syukur ........................................................... 12 c. Kesatuan dengan Allah dan Gereja ................................................ 13 3. Makna Ekaristi bagi Umat dalam Kehidupan Sehari-hari .................. 16 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani ......... 16 b. Ekaristi sebagai Sakramen Cinta: undangan untuk tinggal di dalam Kristus................................................................. 19 c. Ekaristi sebagai kekuatan berbagi .................................................. 21 B. Sosok Katekis ......................................................................................... 23 1. Identitas Katekis.................................................................................. 24 2. Panggilan Menjadi Katekis ................................................................. 27 2. Spiritualitas Katekis ............................................................................ 29 a. Keterbukaan terhadap Allah Tritunggal ......................................... 29 b. Keterbukaan terhadap Gereja ......................................................... 30 c. Keterbukaan terhadap dunia ........................................................... 32 d. Keutuhan dan keaslian hidup ......................................................... 33 e. Semangat misioner ......................................................................... 33 f. Devosi kepada Bunda Maria ........................................................... 34 3. Karya Pelayanan Katekis .................................................................... 35 a. Karya pelayanan katekis dalam tugas pewartaan (Kerygma) ......... 35 b. Karya pelayanan katekis dalam bidang liturgi (Liturgia) .............. 36 c. Karya pelayanan katekis dalam persaudaraan (Koinonia) ............. 37 d. Karya pelayanan katekis dalam bidang pelayanan (Diakonia) ...... 38 C. Ekaristi Menjadi Motivasi Katekis dalam Karya Pelayanan .................. 39 BAB III PENELITIAN TENTANG SEJAUHMANA EKARISTI MEMOTIVASI PELAYANAN PARA KATEKIS DI PAROKI ST. YUSUP BINTARAN, YOGYAKARTA A. Gambaran Umum Paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta ..................... 44 1. Sejarah Gereja Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta ............................ 44 2. Visi dan Misi Paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta ........................ 48 a. Visi Paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta ................................... 48 b. Misi Paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta .................................. 48 3. Letak dan Batas Geografis Paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta ...................................................................................... 50 4. Jumlah dan Pembagian Lingkungan, Wilayah dalam Paroki Santo Yusup Bintaran......................................................................... 50 5. Situasi Umat Paroki Santo Yusup Bintaran Yogyakarta .................... 52 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. Jumlah umat di paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta ................. 52 b. Suku umat di paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta .................... 52 c. Kekhasan paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta ......................... 53 6. Gambaran Singkat Kehidupan Katekis di Bintaran ............................ 53 B. Penelitian tentang Sejauhmana Ekaristi Meningkatkan Motivasi Karya Pelayanan Katekis di Paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta ..... 54 1. Persiapan Penelitian ............................................................................ 55 a. Latar belakang penelitian ............................................................... 55 b. Tujuan penelitian ............................................................................ 56 c. Jenis penelitian ............................................................................... 57 d. Instrument pengumpulan data ........................................................ 57 e. Responden penelitian...................................................................... 58 f. Tempat dan alokasi waktu .............................................................. 58 g. Variabel penelitian ......................................................................... 58 h. Tabel kisi-kisi ................................................................................. 59 2. Laporan Hasil Penelitian ..................................................................... 59 a. Laporan hasil kuesioner.................................................................. 60 b. Laporan hasil wawancara ............................................................... 71 3. Pembahasan Hasil Penelitian tentang Penghayatan Ekaristi Para Katekis ................................................................................................ 73 a. Identitas responden ......................................................................... 73 b. Hasil kuesioner tentang penghayatan Ekaristi para katekis .......... 75 c. Hasil wawancara mengenai harapan katekis untuk dapat menghayati Ekaristi ....................................................................... 78 C. Kesimpulan Hasil Penelitian ................................................................... 80 BAB IV REKOLEKSI PENGAYAAN (ENRICHMENT) DAN PEMBERDAYAAN (ENPOWERMENT) MAKNA EKARISTI DENGAN MODEL BERBAGI PENGALAMAN SEBAGAI USAHA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI PELAYANAN PARA KATEKIS DI PAROKI SANTO YUSUP BINTARAN, YOGYAKARTA A Rekoleksi Pengayaan (enrichment) dan Pemberdayaan (empowerment) Makna Ekaristi dengan Model Berbagi Pengalaman ........................................................................................... 82 1. Latar Belakang Rekoleksi ................................................................... 82 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Tujuan Katekese Rekoleksi................................................................. 84 3. Waktu, Tempat, dan Peserta ............................................................... 84 B. Rekoleksi Pengayaan (enrichment) dan Pemberdayaan (empowerment) Makna Ekaristi dengan Model Berbagi Pengalaman sebagai Usaha untuk Meningkatkan Motivasi Pelayanan Para Katekis di Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta .............................................................................................. 85 1. Latar Belakang Kegiatan ................................................................ 85 2. Rumusan Tema dan Tujuan Kegiatan ............................................ 86 3. Gambaran Kegiatan ........................................................................ 86 4. Sarana ............................................................................................. 87 5. Metode ............................................................................................ 88 6. Sumber Bahan ................................................................................ 88 4. Matriks Program Rekoleksi............................................................ 89 5. Contoh Satuan Pertemuan .............................................................. 93 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ........................................................................................... 104 B. Saran...................................................................................................... 105 LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Permohonan Ijin Penelitian (1) Lampiran 2 : Surat Keterangan Selesai Penelitian (2) Lampiran 3 : Data Paroki (3) Lampiran 4 : Struktur Jumlah Jiwa di Keluarga (4) Lampiran 5 : Suku Bangsa (6) Lampiran 6 : Keterlibatan Sosial Umat (8) Lampiran 7 : Jenis Kelamin Umat Berdasarkan Usia (9) Lampiran 8 : Kuesioner Tertutup (11) Lampiran 9 : Contoh Jawaban Responden (14) Lampiran 10 : Panduan Pertanyaan Wawancara (23) Lampiran 11 : Transkrip Hasil Wawancara (24) Lampiran 12 : Cerita “Ingin Jadi Katekis, Tapi Ingin Hidup” (26) xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1 Kisi-kisi ................................................................................................... 59 Tabel 2 Identitas Responden ................................................................................. 60 Tabel 3 Makna Ekaristi untuk Para Katekis .......................................................... 62 Tabel 4 Faktor Pendukung yang Mempengaruhi Penghayatan Ekaristi dalam Karya Pelayan Para Katekis di Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta .............................................................................................. 67 Tabel 5 Faktor Penghambat yang Mempengaruhi Penghayatan Ekaristi dalam Karya Pelayan Para Katekis di Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta .............................................................................................. 69 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR SINGKATAN Singkatan Kitab Suci Kis : Kisah Para Rasul Kor : Korintus Mat : Matius Mrk : Markus Ptr : Petrus Yoh : Yohanes Singkatan Dokumen Resmi Gereja EG : Evangelii Gaudium, Anjuran Apostolik Paus Fransiskus tentang Pewartaan Injil di Dunia Dewasa ini, 24 November 2013 EN : Evangelii Nuntiandi, Anjuran Apostolik Paus Paulus VI tentang Pewartaan Injil di Dunia Modern, 8 Desember 1975 SC : Sacrosanctum Concillium, Konstitusi tentang Liturgo Suci Konsili Vatikan II. 4 Desember 1963 KGK : Katekismus Gereja Katolik, uraian tentang ajaran iman dan moral Gereja Katolik, 22 Juni 1992 KHK : Kitab Hukum Kanonik, susunan atau kodifikasi peraturan kanonik dalam Gereja Katolik, 25 Januari 1983 LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964 Singkatan Lain CEP : The Congregation for the Evangelization of Peoples, Kongregasi Evangelisasi untuk Bangsa-bangsa, menerbitkan buku Pedoman Untuk Katekis, 5 Juni 1997 DPP : Dewan Pastoral Paroki KAS : Keuskupan Agung Semarang KomKat : Komisi Kateketik KWI : Konferensi Waligereja Indonesia LitBang : Bidang Penelitian dan Pengembangan xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Komisi Kateketik KAS (2016: 33) Gereja Katolik itu bersifat kerygmatis dan missioner. Sejak semula Tuhan Yesus memanggil mereka yang dikehendaki-Nya serta untuk diutus-Nya mewartakan Injil (Mrk 3:13). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pewartaan memiliki peranan penting dalam perkembangan kehidupan Gereja. Kehidupan Gereja tidak dapat dipisahkan dari pewartaan karena keduanya ada untuk saling melengkapi dan memiliki keterkaitan erat satu dengan yang lain. Gereja hadir untuk mewartakan Injil dan melalui kegiatan pewartaan Injil ini, Gereja lahir dan tetap hidup, tumbuh dan berkembang hingga sampai saat ini. Pewarta berarti seseorang yang mewartakan, mengkomunikasikan, membagikan informasi, atau mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan iman yang secara teknis disebut katekis (Indra Sanjaya, 2011: 16). Panggilan menjadi katekis merupakan panggilan yang khusus dan luhur sebab katekis ikut ambil bagian dalam tugas pengajaran Kristus di dunia. Dengan kata lain, katekis menjadi batu penjuru bagi umat yang ingin mengenal Kristus dan mengikuti-Nya. Selain itu, menjadi katekis juga merupakan panggilan dari tri tugas Gereja yaitu Imam, Raja dan Nabi, yang berpangkal dari tugas kaum beriman Kristiani yaitu dalam sakramen Baptis.

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Berkat Sakramen Baptis yang telah diterima, setiap anggota umat Allah menjadi murid yang missioner (EG, 120). Setiap pribadi yang telah dibaptis, apapun kedudukannya dalam Gereja, dipanggil dan diutus menjadi subjek pewartaan yang memiliki tugas untuk membawa orang lain kepada Kristus, supaya orang-orang terlahir kembali berkat sabda Allah (1 Ptr 1:23). Hal tersebut disampaikan Yesus dalam amanat Agung-Nya sebelum Ia terangkat ke sorga, “Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20). Akan tetapi, tidak semua hal dalam pewartaan dapat dilaksanakan oleh semua awam. Katekis adalah awam yang terpanggil untuk secara khusus mengambil tugas dalam berkatekese. Peristiwa Pentakosta menjadi jejak para rasul dalam menjalankan amanat Agung Yesus untuk mewartakan Injil. Berkat karya Roh Kudus, karya pewartaan para rasul membuahkan hasil yang melimpah; banyak orang dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Setelah dibaptis, mereka menunjukkan sikap-sikap iman dengan tetap bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka juga selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (Kis 2:41-47). Dengan demikian, tentunya mereka membutuhkan orang-orang (pewarta) yang mampu menjadi penerus pelayanan para rasul sehingga umat mendapatkan penyegaran iman dan semakin diperteguh. Bertolak dari cara hidup para rasul, yang hidup bersama Yesus mereka mengenal Yesus, memahami ajaran-Nya dan mengalami kasih-Nya sampai akhirnya mereka menyediakan diri untuk mengambil bagian dalam tugas

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 perutusan-Nya (Komisi Kateketik KAS, 2016: 33). Seorang katekis juga dipanggil untuk tinggal bersama Yesus sebagai Sang Sumber yang hendak diwartakan. Ekaristi menjadi saat dimana kita diundang oleh Yesus sendiri untuk tinggal bersama Dia dan membangun kualitas relasi dengan-Nya. Dengan demikian karya pewartaan yang dikerjakan para katekis merupakan ekspresi atas pengalaman hidupnya bersama dengan-Nya bukan sekedar teori mengenai pengetahuan akan sosok Yesus Kristus. Indra Sanjaya (2011: 54) menegaskan seorang katekis : membagikan pengalaman pribadi akan Allah yang mencintai manusia dengan segala dinamikanya merupakan unsur penting yang harus mendapat perhatian oleh siapa pun yang mau menjadi pewarta Kabar Sukacita dengan demikian, membina relasi dengan pribadi Tuhan menjadi kewajiban bagi kita semua (katekis) Penegasan tersebut menekankan pentingnya relasi seorang katekis dengan pribadi Allah, sebab yang hendak ditawarkan dalam pewartaan adalah pribadi Yesus, wujud cinta Allah kepada manusia. Pengenalan katekis akan pribadi Yesus adalah pengalaman yang dibagikan dalam pewartaan. Ekaristi merupakan cara bagi katekis untuk mengenal Sang Pribadi itu sekaligus Ekaristi menjadi tempat untuk menimba kekuatan dari Allah Sang Sumber pewartaan itu sendiri. Melaluinya, kekuatan Gereja sebagai sakramen penyelamatan sangat besar. Dimana kita disatukan dengan Tritunggal Maha Kudus. Tubuh dan Darah-Nya menjadi jaminan kekal bagi kita yang mengambil bagian pada perjamuan Paskah Kristus, yang dihadirkan dalam Ekaristi Kudus. Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup Kristiani (SC, 10), yang menjadi pusat iman umat Katolik. Ekaristi adalah nafas hidup orang beriman, yang meskipun bukan dari dunia tetapi berada di dalam dunia (Prasetya, 2008: 14).

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Menyatunya seorang katekis dengan Ekaristi menunjukkan seorang katekis tersebut siap untuk dibentuk. Dibentuk yang berarti mau diperkembangkan dan dijiwai oleh Ekaristi sehingga sungguh menjadi hidupnya, yang menantangnya untuk berbagi hidup dan memberikan diri dalam pelayanan di dunia. Paroki St. Yusup Bintaran Yogyakarta merupakan Gereja Jawa pertama yang diperuntukkan bagi orang-orang pribumi di Yogyakarta. Salah satu pelopor pembangunan Gereja ini adalah seorang katekis pribumi yaitu bapak Dawoed (Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran, hlm 4). Maka dapat dikatakan bahwa semangat pelayanan katekis awam untuk ambil bagian di dalam memperkembangkan Gereja telah tampak sejak awal pembangunan Gereja Bintaran. Hal ini bertolak belakang dengan semangat pelayanan katekis saat ini yang mengalami pasang surut. Dalam sebuah wawancara bapak Ari Raharta (23 September 2017), salah satu katekis di paroki ini mengatakan paroki ini memiliki 15 orang katekis yang aktif baik dalam kegiatan menggereja maupun berpastoral. Keaktifan mereka juga sering kali naik-turun, membuat beberapa katekis merangkap tugas dalam memberikan pelayanan yang bersifat rutin seperti menjadi pendamping para calon penerima sakramen inisiasi. Sebagai seorang pewarta, keterlibatan mereka juga masih dirasa kurang dalam kegiatan persiapan pembekalan Adven, pra Paskah, BKSN dsb. Maka perlu adanya regenerasi terutama dari kaum muda dalam karya pelayanan ini Keberadaan katekis yang mayoritas adalah kaum tua, mendampingi umat dengan segala karakter dan persoalan yang kompleks terkadang menurunkan semangat pelayanan para katekis. Maka penulis tertarik untuk merumuskan judul

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 “Ekaristi sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi Para Katekis dalam Karya Pelayanannya di Paroki St. Yusup Bintaran, Yogyakarta”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Apa makna Ekaristi bagi pelayanan para katekis? 2. Seberapa besar Ekaristi telah memotivasi pelayanan para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta? 3. Usaha apa yang perlu dilakukan agar Ekaristi dapat meningkatkan motivasi pelayanan para katekis di paroki St. Yusup Bintaran? C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Menjelaskan makna Ekaristi bagi pelayanan para katekis 2. Mengetahui seberapa besar Ekaristi telah memotivasi pelayanan para katekis di paroki St. Yusup Bintaran, Yogyakarta 3. Menguraikan usaha yang perlu dilakukan agar Ekaristi dapat meningkatkan motivasi pelayanan para katekis di paroki St. Yusup Bintaran D. Manfaat Penulisan Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Katekis : Para Katekis semakin memaknai Ekaristi lebih mendalam sehingga mendorong

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 Mereka untuk semakin bersemangat dalam melaksanakan pelayanan mereka secara total. 2. Bagi Paroki Penulisan ini dapat menjadi masukan bagi paroki untuk memberikan pendampingan bagi katekis agar mampu menyadari dan menghayati makna Ekaristi dalam karya pelayanannya 3. Bagi Penulis Sebagai calon katekis, penulis semakin menyadari makna Ekaristi sebagai sumber kekuatan dalam melaksanakan tugas pewartaan sehingga penulis semakin dimantapkan untuk menjadi seorang katekis E. Metode Penulisan Dalam penyusunan Skripsi ini, penulis menggunakan metode deskripsi yang analitis. Dalam metode ini, penulis akan memusatkan perhatian kepada masalah sebagaimana ditemukan di dalam penelitian, kemudian diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulan. Penulis akan menjelaskan makna Ekaristi dan sosok katekis dengan menggunakan studi pustaka. Selanjutnya, penulis menggunakan penelitian kualitatif yang terdiri dari kuesioner tertutup dan wawancara terstruktur bersama para katekis dengan panduan beberapa pertanyaan penuntun yang bertujuan untuk memperoleh gambaran nyata tentang “Ekaristi sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi Pelayanan Para Katekis di Paroki St. Yusup Bintaran, Yogyakarta”.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 F. Sistematika Penulisan Judul skripsi yang dipilih adalah Ekaristi sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi Pelayanan Para Katekis di Paroki St. Yusup Bintaran, Yogyakarta. Secara keseluruhan skripsi ini dibagi ke dalam empat bab. Adapun perinciannya sebagai berikut: Bab I merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab II memaparkan secara umum pengertian dan makna Ekaristi bagi umat Kristiani, yang terdiri dari pokok-pokok perayaan Ekaristi dan makna Ekaristi bagi umat dalam kehidupan sehari-hari, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mengenai sosok katekis yang terdiri dari identitas katekis, panggilan katekis, spiritualitas katekis dan karya pelayanan katekis. Bab III berisi gambaran umum mengenai paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta dan pembahasan hasil penelitian tentang sejauhmana Ekaristi memotivasi pelayanan para katekis di paroki St. Yusup Bintaran, Yogyakarta. Bab IV menyampaikan rekoleksi pengayaan (enrichment) dan pemberdayaan (empowerment) tentang makna Ekaristi dengan model berbagi pengalaman sebagai usaha untuk meningkatkan motivasi pelayanan para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Bab V merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 BAB II EKARISTI MENJADI MOTIVASI KATEKIS DALAM MENGEMBAN TUGAS PELAYANANNYA Pada Bab II ini, penulis akan memaparkan tentang Ekaristi secara umum dan pelayanan para katekis. Bab ini akan dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian pertama akan menjelaskan tentang makna Ekaristi yang meliputi pokok-pokok Ekaristi dan makna Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Bagian kedua menjelaskan sosok katekis yang meliputi identitas katekis, panggilan menjadi Katekis, Spiritualitas Katekis dan Karya Pelayanan Katekis. Bagian ketiga menjelaskan bagaimana Ekaristi menjadi Motivasi dalam Karya Pelayanan Katekis. A. Makna Ekaristi bagi Umat Beriman Kristiani Secara kodrati manusia memiliki kerinduan yang selalu melekat yaitu keterbukaan batin pada pengalaman akan Allah (Martasudjita, 2012: 14). Dapat dikatakan bahwa hidup manusia adalah sebuah pencarian untuk dapat berjumpa dan tinggal bersama Allah. Namun demikian, untuk dapat mencapainya diperlukan tindakan aktif dari manusia yaitu pengalaman dan perjuangan di dalam hidupnya. Seperti diungkapkan dalam Injil Yohanes “Marilah, dan kamu akan melihat” (Yoh 1:39). Allah berkehendak agar manusia dengan akal budi mempertangungjawabkan seluruh hidupnya dengan bekerja dan berdoa agar dapat tinggal bersama Dia.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 Tujuan hidup manusia adalah Allah, namun manusia tidak boleh lupa bahwa kehidupan merupakan anugerah yang patut disyukuri. Salah satu bentuk syukur manusia adalah dengan berdoa. Doa merupakan ungkapan syukur sekaligus memberikan kekuatan bagi aktivitas hidup sehari-harinya. Doa-doa tersebut pantaslah dihunjukkan ke hadapan Allah melalui Ekaristi. Sebab, Ekaristi menjadi sumber kehidupan yang menjanjikan pemenuhan atas kehausan dan dambaan hati setiap umat beriman Kristiani (Martasudjita, 2000: 36). Pada bagian ini penulis akan menjelaskan mengenai makna Ekaristi secara umum yaitu bagi umat beriman Kristiani. Selanjutnya penulis akan membahas mengenai sosok katekis secara khusus. Meskipun katekis merupakan bagian dari umat beriman namun makna Ekaristi di sini ditempatkan di dalam konteks untuk meningkatkan spiritualitas katekis. 1. Pokok-pokok Perayaan Ekaristi Istilah Ekaristi berasal dari bahasa Yunani eucharistia yang berarti puji syukur. Kata eucharistia adalah sebuah kata benda yang berasal dari kata kerja bahasa Yunani eucharitein yang berarti memuji dan mengucap syukur (Martasudjita, 2005: 28). Istilah Ekaristi ini menekankan aspek isi yang mau dirayakan yaitu makna Ekaristi sebagai puji syukur. Ungkapan syukur atas karya penyelamatan Allah yang dikerjakan oleh Yesus Kristus. Istilah Ekaristi dikenal juga dengan istilah “Misa”. Misa berasal dari rumus pembubaran “Ite missa est” (Pergilah, kalian diutus) untuk menunjukkan seluruh aspek Ekaristi yang menekankan pada perutusan untuk melayani Tuhan dan sesama, serta mewartakan kabar baik kepada sesama (Sumarno, 2015: 33).

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 Pokok-pokok utama di dalam perayaan Ekaristi adalah umat mengenangkan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus dan merayakan perjamuan syukur atas anugerah dan cinta Allah kepada manusia, serta sebagai sarana yang menyatukan umat dengan Allah dan Gereja. a. Kenangan umat akan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus Kenangan merupakan suatu peristiwa penting di masa lalu yang mempunyai daya memurnikan dan menyembuhkan serta mengerakkan kehidupan saat ini. Seringkali manusia cenderung untuk melupakan kenangan pahit karena dinilai menyakitkan dan mengganggu aktivitas saat ini dan hanya mengingat kenangankenangan manis saja. Tetapi, Ekaristi justru ingin mengajarkan kepada umat-Nya untuk berani menghadapi kegelapan masa lampau dengan harapan yang dilandaskan pada kemenangan kasih Allah yang nyata dalam diri Yesus yang wafat dan bangkit (Martasudjita, 2011: 69-70). Memoria (kenangan- Bahasa Latin) atau anamnese (Bahasa Yunani) dalam tradisi biblis menunjuk pada tindakan penyelamatan Allah di masa lampau. Tetapi tindakan itu dihadirkan secara nyata dan sedemikian rupa sehingga sebenarnya yang menjadi objek pengenangan tetaplah tindakan penyelamatan Allah pada hari dan di tempat ini, atau hic et nunc (di sini dan kini) (Martasudjita, 2005: 296). Tindakan Allah di masa lampau bukan hanya menjadi kenangan yang hanya sekedar untuk diingat secara intelektual tetapi aktualisasi tindakan di masa lampau ke masa sekarang, sebab karya penyelamatan Allah tidak hanya berhenti di masa lampau melainkan tetap berlangsung dan akan dipenuhi pada akhir zaman. Yang berarti kurban salib Kristus yang terjadi sekali dan untuk selamanya dalam

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 perayaan Ekaristi dikenang atau dihadirkan dalam rangka Gereja, melalui dan bersama dengan Gereja-Nya dalam rupa lambang, yaitu roti dan anggur. Ekaristi merupakan kenangan akan sengsara dan wafat Kristus yang merupakan pengurbanan dan persembahan diri Yesus Kristus kepada Bapa dan demi umat-Nya. Yesus berkurban dan mempersembahkan seluruh hidup-Nya karena Ia mencintai Bapa-Nya dan kita manusia. Namun demikian, cinta yang ditunjukkan oleh Yesus melebihi kualitas cinta pada manusia. Yesus rela sengsara dan wafat di kayu salib tidak hanya untuk orang-orang tertentu tetapi juga musuhmusuh yang membenci-Nya agar mereka selamat dan berdamai kembali dengan Allah (Martasudjita, 2000: 26). Darah Kristus mendamaikan Allah dan umat manusia sehingga terciptalah tata relasi yang baru antara Allah dan umat manusia (Martasudjita, 2005: 232). Kenangan akan sengsara dan wafat Kristus dapat membantu kita untuk memberi makna kepada pengalaman hidup kita di dunia saat ini. Dunia ini penuh dengan kesengsaraan karena berbagai pengkhianatan yang dilakukan manusia. Pengkhianatan tersebut berupa nafsu akan kuasa dan harta yang menjadikan orang melupakan Allah dalam hidupnya. Kebahagiaan semu itu menjadikan manusia saling membenci dan menganggap satu dengan lainnya sebagai saingan dan musuh. Dalam perjamuan terakhir, Yesus mengubah pengkhianatan yang Ia alami menjadi pemberian diri yang membarui kehidupan. Pengkhianatan menghancurkan kehidupan namun pemberian diri-Nya memberikan kehidupan (Martasudjita, 2011: 70-72). Ekaristi juga merupakan kenangan akan kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus menghantar umat kepada kehidupan berlimpah. Kematian mengambarkan

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 segala hal yang membelenggu manusia: keinginan dan kebutuhan yang menjauhkan umat dari Allah dan orang-orang di sekitarnya (Grun, 1998: 81). Kebangkitan berarti suatu kemenangan akan kematian yang menjauhkan umat dari Allah. Namun, kebangkitan Yesus memberikan umat harapan baru bahwa Allah senantiasa menyertai dan menunggu mereka kembali pada-Nya. Kristus mengundang umat-Nya untuk menanggalkan hidup lama dan melepas topeng dari wajahnya: segala keinginan diri sendiri, ambisi, sikap iri hati, dendam, kebencian, curiga, serta segala hal yang menghambat kemerdekaan batin umat agar memperoleh kedamaian hati. b. Perayaan perjamuan syukur Sifat dan bentuk dasar Ekaristi adalah perayaan puji syukur. Kata puji syukur berasal dari tradisi biblis yakni kata berakah (dari kata kerja barekh-Ibrani atau eucharistein-Yunani), yang menunjuk doa pujian kepada Allah Bapa sebagai ungkapan syukur atas tindakan-Nya dalam diri Yesus Kristus yang mengagumkan bagi umat-Nya terutama wafat dan kebangkitan-Nya. Tindakan penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus di masa lampau, oleh doa pujian dihadirkan sebagai karya penyelamatan-Nya saat ini sehingga umat ikut mengalami karya Allah ini sekaligus memohonkan pemenuhannya di masa yang akan datang (Martasudjita, 2005: 343). Martasudjita (2000: 54) menegaskan dalam iman manusia ditebus dan diselamatkan oleh penumpahan darah Kristus. Merayakan Ekaristi berarti juga bersyukur kepada Allah yang lebih dahulu bertindak mengasihi umat-Nya. Maka, motivasi mengikuti Ekaristi bertolak dari keinginan untuk mengucap syukur.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 Bersyukur sekaligus mengenang karya penebusan Tuhan yang kini hadir dalam hidup kita serta membawanya kepada pengharapan dan penyerahan diri kepada Allah yang mahabaik Wibowo Ardhi (1993: 11) mengatakan Ekaristi sebagai perayaan syukur tidak berarti Ekaristi sebagai ungkapan terimakasih atas apa yang kita terima tetapi lebih kepada pernyataan kagum sekaligus hormat penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Ungkapan ini meliputi syukur atas karunia dari Allah bagi manusia yang tidak terkatakan (2Kor 9:15) dan syukur atas sikap dasariah manusia di hadapan Allah yaitu bergantung pada kebaikan Allah (Rm 1:21). Jacobs (1996: 30) menjelaskan syukur sebagai sikap dasariah manusia berarti kita mengakui bahwa segala sesuatu yang kita miliki dan yang membuat kita hidup berasal dari Allah dan ditopang oleh Allah. c. Kesatuan dengan Allah dan Gereja Gereja adalah sebuah komunitas iman dan sebagai konsekuensinya tindakan merayakan Ekaristi merupakan perayaan komunitas yang keberadaannya bergantung pada komunitas Kristiani yang ada (Osborne, 2008: 170). Maka, kesatuan Gereja terletak pada sikap saling mengasihi antar umat di dalam komunitas tersebut. Sebab tidak ada Ekaristi dalam komunitas yang anggotanya tidak saling mengasihi. Perpecahan di dalam komunitas menyelewengkan realitas Ekaristi sesungguhnya (Osborne, 2008: 39). Jacobs (1996: 140) mengungkapkan bahwa kesatuan Gereja di dalam perayaan Ekaristi merupakan kesatuan iman yang dibangun lewat kebersamaan dalam menghayati perayaan Ekaristi. Dalam mengikuti perayaan Ekaristi, tiap

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 orang tidak mempunyai hubungan dengan orang yang berada di sampingnya, akan tetapi bersama-sama mencoba saling mengenal dan membentuk persatuan umat yang mengarah kepada pujian dan kebaktian terhadap Allah. Kesatuan iman yang dimaksud adalah kesatuan yang diwujudkan dalam persekutuan persaudaraan antara umat beriman yang hidup bersama dalam daerah atau negara yang sama. Kesatuan tidak sama dengan keseragaman. Lebih tepatnya kesatuan dalam perbedaan seperti yang diungkapkan dalam semboyan bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tetap satu jua). Kesatuan Gereja dalam bentuk persekutuan (communio) terarah kepada kesatuan semua orang yang “berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni”. Tuntutan zaman dan tantangan-tantangan di dalam hidup bermasyarakat menjadi dorongan kuat untuk menggalang kesatuan iman dalam menghadapi tugas bersama (Iman Katolik, 1996: 346). Madya Utama (Jurnal Teologi, Vol 03, No 1, hal 76) mengungkapkan kesatuan Gereja dalam persekutuan persaudaraan (communion) adalah cara hidup jemaat Kristiani yang diwarnai oleh semangat cinta kasih, kesediaan untuk berbagi, saling mendukung dan memberikan kesempatan untuk berkembang, serta saling menerima keunikan masing-masing anggota. Setiap anggota saling memperhatikan sehingga tidak ada anggota yang berkekurangan merupakan ciri persatuan Gereja yang ditunjukkan dengan persekutuan persaudaraan. Kesatuan Gereja bukan berarti Ekaristi berefek atau berdaya otomatis pada persaudaraan umat yang merayakan. Gereja merupakan buah dari karya kasih Allah yang menyelenggarakan kehidupan: komunitas atau persekutuan yang terdiri dari pribadi-pribadi yang bermartabat sebagai anak-anak Allah

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 (Martasudjita, 2011: 17). Ekaristi menjadikan setiap pribadi menjadi manusia baru yaitu transformasi dalam Yesus Kristus, di mana manusia diubah oleh Yesus Kristus menyerupai diri-Nya. Kemanusiaan baru inilah yang membentuk persaudaraan di antara umat beriman. Persaudaraan yang mengesampingkan perbedaan-perbedaan sosial dan berhimpun sebagai sesama saudara yang mempunyai jati diri sebagai anak-anak Allah yang menantikan perjumpaan dengan Allah. Kesatuan dengan Allah menunjukkan bahwa di dalam Ekaristi kita berjumpa dan berkomunikasi dengan Allah. Komunikasi yang terjadi antara Allah dan umat-Nya adalah komunikasi secara dialogal (Martasudjita, 2000: 46). Allah berbicara kepada umat-Nya lewat sabda-Nya pada saat Kitab Suci dibacakan sedangkan umat mendengarkan dan menanggapi sabda-Nya. Ekaristi mengundang kita untuk mendengarkan Allah, menerima dan membiarkan sabda membarui hidup kita dan membuka diri akan rencana dan kehendak-Nya sehingga kita dapat membawanya dalam keseharian kita. Sebagaimana perjamuan mengakrabkan satu dengan yang lainnya, demikian perjamuan Ekaristi mengakrabkan kita dengan Allah. Ekaristi adalah persatuan dengan Kristus dan melalui Kristus, kita disatukan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Persatuan kita dengan Kristus ditandai dengan Komuni kudus. Di mana di dalam komuni kudus: Allah hadir menjadi santapan bagi umat-Nya dan membentuk satu Tubuh dengan-Nya. Kesatuan mesra inilah yang dikehendaki oleh Allah (KGK 1331). Yakob Papo (1982: 253) mengatakan dasar dari kesatuan Kristiani adalah iman kepada Kristus. Kristus telah wafat dan bangkit. Dengan demikian manusia

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 berada dalam hubungan dengan Allah. Hubungan dengan Allah diungkapkan dalam relasi dengan sesama. Hal tersebut menyatakan bahwa keduanya adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Panggilan Kristen adalah hidup menurut hubungan tersebut, sehingga semua umat beriman berada dalam satu persekutuan dan persaudaraan dengan sesama, semua menjadi satu tubuh (1 Yoh 1:3). Kita perlu berada di antara orang-orang yang telah mengalami kasih Allah untuk dapat berjumpa dengan Allah. Sebab, di dalam kesendirian, kita tidak akan pernah mengalami perjumpaan dengan Allah. Lingkungan dimana kita berada sangatlah berpengaruh dalam hidup kita. Ketika kita berada di tengah-tengah umat beriman yang mengucap syukur, berbagi pengalaman iman dan saling menguatkan, di sanalah kita mengalami karya Allah yang memberi kedamaian lewat Gereja, maka persatuan kita dengan Gereja menjadi wujud persatuan kita dengan Allah. 2. Makna Ekaristi bagi Umat dalam Kehidupan Sehari-hari a. Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani Ekaristi sebagai sumber seluruh hidup Kristiani sebab Ekaristi menjadi dasar seluruh hidup kita yang merupakan persembahan dan kebaktian kepada Allah (Jacobs, 1996: 31-32). Sebagai umat beriman, kita selalu menginginkan iman kita diungkapkan dengan cara yang resmi dan mengundang kebersamaan dengan orang lain. Doa yang resmi adalah doa yang memakai rumus yang berlaku di seluruh Gereja dan dipimpin oleh pemimpin resmi yaitu pemimpin tertahbis dan Ekaristi merupakan pengungkapan iman Gereja secara bersama-sama dan yang paling resmi (Jacobs, 1996: 30).

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Madya Utama (Jurnal Teologi, Vol 03, No 1, hal. 78) mengungkapkan Ekaristi sebagai sumber seluruh hidup Kristiani sebab Ekaristi menjadi sumber kekuatan untuk melaksanakan iman yang telah dirayakan dalam Ekaristi ke dalam hidup sehari-hari. Ekaristi sebagai puncak bukan berarti Ekaristi sebagai tujuan akhir melainkan langkah awal untuk bertindak lebih lanjut. Dengan demikian, Ekaristi menjadi dasar yang menggerakkan umat untuk bertindak merealisasikan Ekaristi dalam hidup sehari-hari. Ekaristi sesungguhnya adalah Ekaristi yang hidup di tengah kehidupan sehari-hari umat beriman yang ditunjukkan dengan terwujudnya nilai-nilai Ekaristi yakni iman yang teguh, persaudaraan dengan umat dan masyarakat serta jiwa pelayanannya. Tujuan dari kehidupan Gereja adalah diwujudkannya Kerajaan Allah, yang oleh Yesus Kristus telah dimulai di dunia, untuk selanjutnya disebarluaskan, hingga akhirnya disempurnakan oleh-Nya pula pada akhir zaman (LG 9). Sebagai sumber, Ekaristi juga menjadi medan untuk pengungkapan iman kita masing-masing yang mengambil bagian dalam iman Gereja. Ekaristi memberi daya dorong kepada komunitas untuk membuat sebuah komitmen yang akan benar-benar dilaksanakan guna membangun masyarakat yang adil dan penuh semangat persaudaraan (Jurnal Teologi 03, No 1, hlm. 78). Komitmen yang dibangun menghantarkan umat untuk senantiasa memberikan perhatian dan kepeduliannya kepada mereka yang membutuhkan. Sebagai sumber, Ekaristi menjadi daya gerak umat untuk bertindak sesuatu yang tentunya menjadi tolok ukur untuk menilai otentisitas Ekaristi yang kita rayakan. Ekaristi sebagai puncak seluruh hidup Kristiani sebab Ekaristi merupakan kepenuhan pengungkapan iman yang menjadi inti hidup Gereja. Sebagai puncak,

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Ekaristi merupakan rangkuman seluruh pengungkapan iman Gereja sebab Ekaristi merupakan sakramen paling pokok dan penting sedangkan sakramen lainnya menjadi persiapan atau konsekuensi dari perayaan Ekaristi. Sakramen baptis, sakramen penguatan dan sakramen tobat menjadi persiapan bagi mereka yang berkehendak untuk disatukan menjadi anggota umat Allah dan akhirnya layak untuk ikut serta merayakan Ekaristi. Sedangkan, sakramen imamat, sakramen perkawinan maupun sakramen pengurapan orang sakit menjadi konsekuensi dari perayaan Ekaristi. Melalui Ekaristi relasi umat dengan Allah dapat terus diperbarui dan perubahan hidup yang dialaminya (berkeluarga atau ditahbiskan) semakin dikuatkan dan tetap dalam kebersamaan dengan-Nya, sedangkan untuk pengurapan orang sakit sebagai penyerahan diri umat agar dapat disatukan dengan Allah dalam kematiannya (Jacobs, 1996: 31-33). Konsili Vatikan II dalam konstitusi tentang liturgi suci “Sacrosanctum Concilium” (SC 9) menyatakan bahwa liturgi Gereja khususnya perayaan Ekaristi merupakan puncak kehidupan Gereja “sebab tujuan dari semua usaha kerasulan adalah supaya semua orang yang melalui iman dan pembaptisan menjadi anakanak Allah, berhimpun menjadi satu, meluhurkan Allah di tengah Gereja, ikut serta dalam korban dan menyantap perjamuan Tuhan”. Kesatuan Gereja berpola pada kehidupan Allah Tritunggal, Allah yang selalu mengalirkan kehidupan-Nya sendiri secara berlimpah-limpah dengan cinta (Jurnal Teologi 03, No 1, hlm. 76). Ekaristi sebagai sumber dan puncak menunjukkan bahwa Ekaristi tidak dapat terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ekaristi akan bermakna apabila memberi dampak bagi kehidupan mereka yang merayakan serta orang-orang yang

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 mereka jumpai dalam perjalanan hidupnya. Setiap umat yang merayakan Ekaristi terdorong untuk selalu mengusahakan nilai-nilai Injil di dalam hidupnya baik di dalam keluarga, masyarakat, maupun di tengah dunia. Dengan begitu, Ekaristi bukan sekedar perayaan melainkan hidup di dalam keseharian yang kongkret sehingga layak dipersembahkan kepada Allah (Jurnal Teologi, Vol 03, No 1, hal. 79). Ekaristi sungguh menjadi sumber dan puncak dapat dilihat dari buah-buah mereka yang merayakan Ekaristi. Mereka yang merayakan sungguh mengupayakan agar hidup mereka sungguh sebuah persekutuan (communion). Sebagai sebuah communio mereka sungguh mengupayakan terwujudnya Ekaristi sebagai sakramen cinta kasih, lambang kesatuan dan ikatan cintakasih (SC 47). Di samping itu, mereka juga mengusahakan kedewasaan iman mereka yang ditunjukkan dengan keterlibatan aktif mereka dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, menjunjung tinggi hukum serta hak-hak asasi manusia (Jurnal Teologi, Vol 03, No 01, hal. 79). b. Ekaristi sebagai sakramen cinta: undangan untuk tinggal di dalam Kristus Yang paling utama dalam perayaan Ekaristi adalah umat merayakan cinta Allah pada manusia. Ekaristi menyatakan cinta yang begitu mengagumkan yakni pemberian diri Kristus Yesus dalam peristiwa sengsara dan wafat bagi umat manusia. Peristiwa tersebut dihadirkan dan dilaksanakan oleh Gereja secara sakramental dalam perayaan Ekaristi (Martasudjita, 2016: 30). Ekaristi adalah sakramen yang menunjukkan hakikat kasih Allah yang paling dalam melalui Yesus yang memberi hidup bagi manusia. Inilah wujud cinta Allah yang

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 menjelma menjadi manusia dan sekaligus menjadi sumber dan pemenuhan cinta manusia. Cinta pada hakikatnya selalu mengarah pada pertemuan, perjumpaan, kebersamaan (Martasudjita, 2000: 32). Cinta Allah menginginkan adanya perjumpaan dengan manusia ciptaan-Nya. Hal tersebut diwujudkan dengan kehadiran Kristus yang nyata, Allah yang hadir dalam hidup manusia dalam rupa roti dan anggur yang menjadi santapan rohani umat-Nya (Martasudjita, 2000: 30). Allah menghendaki lebih dari sekedar perjumpaan yaitu mengundang kesatuan dengan manusia “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6: 56). Dalam perayaan Ekaristi, kita diundang Allah untuk tinggal di dalamNya: saat Allah mengumpulkan umat-Nya (Ritus Pembuka), saat Dia bersabda dan mengobarkan hati kita (Liturgi Sabda), saat Dia memberikan diri dan hidup-Nya agar bersatu dan tinggal dengan kita (Liturgi Ekaristi), dan saat Dia mengutus kita untuk kembali ke perjuangan hidup sehari-hari dalam berkat-Nya (Martasudjita, 2012: 16) Tinggal di dalam Kristus berarti umat menanggapi undangan Allah yang menginginkan setiap pribadi untuk dapat berpikir, merasakan dan menghidupi serta mengalami sendiri apa yang menjadi misteri pribadi dan hidup Kristus sendiri (Martasudjita, 2012: 21). Dengan menyelami hidup Kristus Yesus, umat semakin mengenal dan mencintai-Nya sehingga membawanya pada perutusan untuk berbuat sesuatu secara konkret bagi orang lain, menghadirkan apa yang dialami dalam perayaan Ekaristi. Sebagai sakramen cinta, berarti di dalam Ekaristi, setiap pribadi juga diundang untuk berani memberi ruang gerak bagi Allah, agar Allah lebih leluasa bergerak dalam dirinya untuk melaksanakan rencana dan kehendak-Nya sehingga

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 umat hidup dengan membawa Kristus dan menjadi wajah Kristus bagi orang lain (Martasudjita, 2000: 30). Ekaristi memberi ruang bagi umat untuk membiarkan Allah berbincang-bincang dengannya sehingga kehidupan sehari-hari menjadi tempat bagi umat untuk mengaktualisasikan Kristus yang penuh cinta. Hal tersebut dapat dilakukan umat dengan senantiasa berpihak pada kaum lemah, mengunjungi orang sakit dan terutama peka dan peduli akan kebutuhan orang lain. Musakabe (2009: 12) mengungkapkan kembali pandangan Thomas Aquinas mengenai perayaan Ekaristi sebagai sakramen cinta, “Ia menyatakan cinta, ia menghasilkan cinta”. Dalam perayaan Ekaristi tergambar cinta Allah bagi manusia. Dengan tinggal di dalam-Nya, cinta Allah menyatu dalam dirinya. Hati dan pikiran umat menjadi hati dan pikiran Allah, yang menggerakkan untuk melaksanakan kehendak Allah. Ekaristi menjadi semangat yang memotivasi umat untuk dapat melakukan perbuatan cinta dengan hati gembira. c. Ekaristi sebagai kekuatan berbagi Hidup ini berkembang karena adanya semangat berbagi dari semua unsur di alam semesta ini. Namun di balik semua hukum kehidupan yang bertumpu pada semangat berbagi ada satu sutradaranya yang memberikan dan membagikan semua itu. Dialah Tuhan Allah kita (Martasudjita, 2016: 121). Seluruh alam ciptaan dan manusia saling memberi satu dengan yang lain merupakan hasil dari karya Allah yang membagikan kasih-Nya. Peristiwa berbagi yang paling agung dari Allah adalah peristiwa dimana Allah Bapa memberikan Putra-Nya Yesus Kristus ke dunia demi menebus dan menyelamatkan manusia. Pemberian diri dan seluruh hidup Yesus merupakan ungkapan hidup Allah yang dibagikan. Melalui

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 wafat dan kebangkitan-Nya manusia yang berdosa ditebus dan beroleh jalan masuk ke Allah sendiri. Dengan kata lain, wafat dan kebangkitan Kristus berarti peristiwa dimana kita boleh ambil bagian dalam hidup Allah sendiri dan memperoleh hidup Ilahi yang dibagikan-Nya (Martasudjita, 2016: 122-123). Yesus membagikan diri-Nya sebagai roti hidup agar orang bisa mengalami hidup dalam Allah yang adalah kasih seperti diri-Nya. Kehadiran Yesus ke dunia adalah agar manusia hidup dalam kelimpahan. Namun, kenyataannya tidak semua orang mengalami hidup berkelimpahan. Sebagaimana Yesus yang adalah roti hidup yang berpihak pada kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD) yang memberikan diri-Nya, setiap orang dipanggil untuk menjadi jembatan bagi mereka untuk mencapai hidup berkelimpahan (Edi Mulyono, 2012: 66). Secara teologis, menyantap Tubuh Kristus berarti disatukan dengan hidup Yesus sendiri dari hari-ke hari, memajukan apa yang sudah dimulai dalam Baptis dan Krisma menuju kesempurnaan, yang ditempuh dalam keseharian (Putranto, 2011: 25). Disatukan berarti setiap pribadi membawa Kristus dalam segala hal baik perkataan maupun tindakan. Dari kesatuan dengan Allah dalam Ekaristi itulah tumbuh rasa tanggungjawab yang baru dan mendalam akan solidaritas dan komitmen pelayanan bagi mereka yang miskin, lemah dan tersingkir. Ekaristi tidak hanya memuat ritus akan tetapi mengandung secara mendasar dimensi dan aspek relasi kehidupan, di mana nilai kasih merupakan sesuatu yang melekat di dalamnya (Krispurwana Cahyadi, 2012: 44).

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 B. Sosok Katekis Konsili Vatikan II mengeluarkan dekrit penting tentang kerasulan awam (Apostolicam Actuositatem), yang menjadi tonggak sejarah bagi Gereja dalam memahami dunia secara baru. Dekrit ini memberikan penyegaran dan pembaharuan bagi Gereja dan menjadi langkah awal keterlibatan kaum awam dalam kehidupan Gereja. Gereja tak lagi dipahami sebagai kesatuan organisatoris dan bersifat yuridis, tetapi Gereja sebagai paguyuban umat beriman akan Yesus Kristus (Prasetya, 2007: 15). Sebagai paguyuban umat beriman, panggilan kaum awam dalam mengambil tugas imamat Kristus sebagai imam, raja dan nabi dapat diaktualisasikan secara kongkret dalam hidup menggereja saat ini. Salah satu upaya untuk mengambil bagian dalam tugas ini yaitu dengan menanggapi panggilannya sebagai katekis. Kata katekis berasal dari kata dasar katechein yang mempunyai arti: mnegkomunikasikan, membagikan informasi, mengajarkan hal-hal berkaitan dengan iman (Indra Sanjaya, 2011: 16). Katekis ialah kaum awam yang terlibat dalam kegiatan membagikan atau mewartakan Kabar Gembira, sebagai wujud partisipasi mereka dalam tugas Gereja dengan membagikan dan mendampingi serta memperkembangkan atau mendewasakan iman umat baik di dalam lingkup sekolah maupun di dalam lingkup paroki. Seorang katekis seharusnya adalah umat beriman Kristiani awam yang dibina dengan semestinya dan unggul dalam kehidupan Kristiani, di bawah bimbingan seorang misionaris yaitu pastor atau awam yang dianggap mampu mendampingi, mereka itu membaktikan diri untuk menyampaikan ajaran Injil serta mengatur pelaksanaan-pelaksanaan liturgi dan karya amal kasih (KHK. Kan 785). Seorang katekis memiliki kehidupan Kristiani yang unggul sebagai awam. Unggul

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 berarti lebih mengenal kehidupan Kristiani lebih dalam atau kehidupannya sungguh mencerminkan sosok orang Kristiani. Sosok Kristiani yang ditunjukkan seorang katekis di antaranya kualitas positif yang tampak dalam kesalehannya dan kehidupannya sehari-hari, mempunyai jiwa merasul dan semangat missioner, memiliki jiwa pelayanan, dan relasi yang baik dengan orang lain (CEP 1997: 42). Katekis adalah mereka yang berada di tengah-tengah umat beriman berhadapan langsung dengan segala problematika yang sedang dihadapi oleh umat beriman. Merekalah yang langsung mengajar dan mendengar keluh-kesah umat. Katekis hadir sebagai perpanjangan diri Allah yang hadir dalam setiap pribadi yang merindukan hidup Ilahi. Umat membutuhkan pewarta agar setiap hati semakin tersapa oleh bisikan Allah yang murah hati. Maka dapat dikatakan bahwa mereka adalah ujung tombak/ di posisi terdepan dalam Gereja (Indra Sanjaya, 2011: 11). 1. Identitas Katekis Hasil Pertemuan Nasional Katekis se-Indonesia (2005) yang diadakan di Wisma Samadi Klender-Jakarta mengkategorikan identitas katekis sebagai berikut: a. Dari segi waktu untuk berkarya, dapat kita jumpai katekis full time, katekis part time, katekis kontrak, dan katekis sukarelawan (Kotan, 2005: 143). 1) Katekis full time Katekis full time merupakan kaum awam yang mengabdikan dirinya dalam profesi atau pekerjaan sebagai katekis. Katekis fulltime adalah mereka yang menjadikan profesi katekis sebagai pekerjaan tetap dan sumber penghasilan

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 utamanya (Kotan, 2005: 14). Biasanya katekis fulltime adalah mereka yang berkarya dalam bidang pewartaan atau katekese secara total dan diangkat secara resmi baik oleh pemerintah atau keuskupan menjadi katekis di sekolah, paroki, LSM, atau di Komisi Keuskupan. 2) Katekis part time Katekis part time merupakan kaum awam yang sebagian waktunya digunakan untuk berkarya sebagai katekis. Mereka adalah para katekis yang memiliki pekerjaan lain namun terpanggil untuk mengambil bagian dalam karya pewartaan ini. Maka, sumber penghasilannya tidak sepenuhnya berasal dari profesinya sebagai katekis. Biasanya katekis ini dikenal sebagai tenaga honorer (Kotan, 2005: 143). 3) Katekis kontrak Katekis kontrak ialah kaum awam yang mengabdikan dirinya menjadi katekis dalam kontrak kurun waktu tertentu. Setelah masa kontraknya habis, katekis dapat memperbarui atau tidaknya bergantung pada kebijakan instansi terkait (Kotan, 2005: 143). Katekis ini biasanya diangkat oleh instansi tertentu baik keuskupan, paroki atau pemeritah daerah dikarenakan kekurangan tenaga atau menjadi guru bantu (guru agama) dalam batas waktu tertentu. 4) Katekis sukarelawan Katekis Sukarelawan adalah kaum awam yang merelakan dirinya mengambil bagian dalam karya pewartaan Injili sebagai katekis tanpa batasan

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 waktu. Mereka biasanya merupakan kaum awam yang aktif dalam kegiatan Gereja dan memiliki pengetahuan lebih seputar hal-hal yang berkaitan dengan iman Katolik. Sebagai sukarelawan, mereka berkarya atas niat sendiri tanpa mengharapkan pamrih dan diakomodir oleh lembaga terkait (Kotan, 2005: 143). b. Dari segi pendidikan, katekis di Gereja Indonesia dikategorikan ke dalam dua bentuk yaitu: akademis dan non akademis. 1) Katekis akademis Katekis akademis ialah katekis yang berbasis pada pendidikan formal kateketik, pastoral, filsafat/teologi (Kotan, 2005: 143). Mereka adalah kaum awam yang mengkhususkan diri mendalami katekese dan memiliki pengetahuan yang luas mengenai agama lewat dunia pendidikan . 2) Katekis non-akademis Katekis non akademis adalah katekis yang tidak memiliki dasar pendidikan formal kateketik, pastoral, filsafat/teologi (Kotan, 2005: 143). Biasanya, mereka di sebut katekis sukarela yang membantu tugas pelayanan pastoral di sekolah atau paroki yang kekurangan tenaga pastoral. Meskipun demikian, ada dari mereka yang memiliki sertifikat dari kursus atau pelatihan menjadi katekis. Identitas katekis jaman sekarang ini dapat dirumuskan dalam bentuk kehadiran dirinya membangun dan mengembangkan communion baik kategorial maupun territorial. Katekis yang dimaksud bukan berdasarkan waktu maupun latar belakang pendidikan, sebab yang dibutuhkan adalah katekis yang mampu peka terhadap masalah sosial namun juga memahami tradisi iman, berdedikasi dalam pelayanan, mampu menggerakkan umat yang dinamis dan memberdayakan

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 potensinya serta menjadi seorang kolabolator yang mau bekerjasama dengan berbagai pihak berkaitan (Kotan, 2005: 152). 2. Panggilan Katekis Kitab Hukum Kanonik (KHK 776) menyebutkan katekis utama adalah Pastor Paroki yang dibantu oleh para klerus, tarekat hidup bakti dan serikat hidup kerasulan, serta orang beriman awam Kristiani. Konferensi Waligereja Indonesia (1996: 390) menggambarkan para katekis ialah mereka baik pria maupun wanita, yang dijiwai semangat merasul dan dengan banyak jerih payah memberi bantuan istimewa dan sungguh perlu demi penyebarluasan iman Gereja. Dari gambaran katekis tersebut dapat dinyatakan bahwa katekis adalah mereka yang mau ambil bagian dalam karya pewartaan Kristus baik awam maupun religius, namun demikian religius merupakan mereka yang secara khusus memberikan dirinya dalam karya misinya. Panggilan kaum awam bukan sekedar sebagai penganti imam, melainkan mendapat legitimasi langsung berupa surat izin secara resmi yang diberikan oleh pastor menjadi saksi Kristus dalam komunitas tersebut (CEP, 1997: 17) Penulis akan membahas mengenai panggilan menjadi katekis awam. Sebagaimana diungkapkan dalam CEP bahwa katekis awam memiliki panggilan yang bersifat khusus yaitu untuk tugas berkatekese, dan umum, untuk bekerja sama dalam pelayanan kerasulan apa saja yang berguna untuk membangun Gereja (CEP, 1997: 15). Sidang pleno CEP tahun 1997 menjelaskan katekis awam ialah seorang awam yang ditunjuk secara khusus oleh Gereja, sesuai dengan kebutuhan

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 setempat, untuk memperkenalkan Kristus, dicintai dan diikuti oleh mereka yang belum mengenal-Nya dan oleh kaum beriman itu sendiri (CEP, 1997: 17). Ditegaskan kembali bahwa Katekis merupakan panggilan khusus dan istimewa karena diutus oleh Allah sendiri serta mendapat penugasan dari Gereja, terutama dalam mission canonica dari Gereja, terlebih dalam karya pewartaan Gereja untuk memperkenalkan, menumbuhkan, dan mengembangkan iman umat baik di sekolah dan dalam komunitas basis, baik secara territorial maupun kategorial. Kaum awam melaksanakan tugasnya sebagai nabi juga melalui penginjilan, yakni pewartaan Kristus, yang disampaikan dengan kesaksian hidup dan kata-kata. Pewartaan yang dijalankan oleh kaum awam ini memperoleh ciri yang khas dan daya guna yang istimewa justru karena dijalankan dalam keadaan-keadaan biasa dunia ini (LG 35). Keistimewaan kaum awam dalam panggilan menjadi katekis terletak pada karya pewartaannya, dimana seluruh hidupnya menjadi sarana pewartaan, mulai dari kepribadiannya sehari-hari, kehidupan berrumahtangga, kehidupan sosialbermasyarakat maupun hidup menggerejanya menjadi cermin wajah Kristus bagi orang lain. Seorang katekis mewartakan Kabar Gembira lewat kata-kata dan katakata yang baik menghasilkan berkat. Namun demikian, apabila seorang katekis mewartakan Injil hanya dengan kata-kata, tetapi bertolakbelakang atau tak diwujudkan dalam tindakan, iman akan kering dan mati. Sebab, iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:26). Mereka tinggal di tengah umat dan dipanggil oleh Allah, untuk dijiwai semangat Kristiani menjadi terang dan garam di tengah dunia. Peranan katekis sangat dibutuhkan dalam Gereja sebagaimana diungkapkan Paus Fransiskus yang menggagas Yubelium katekis menegaskan bahwa Gereja membutuhkan pewarta agar suara Allah terus menggema dan kehidupan Gereja

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 makin dewasa. Katekis menjadi perpanjangan diri Allah yang hendak hadir dalam setiap pribadi yang merindukan hidup Ilahi (Komisi Kateketik KAS, 2016: 45). 3. Spiritualitas Katekis Seorang katekis harus memiliki spiritualitas yang mendalam yakni mereka harus hidup di dalam Roh agar kegiatan yang dilakukannya dapat berjalan dengan lancar dan penuh dedikasi. Spiritualitas tersebut yang akan membantu mereka untuk memperbaharui diri terus-menerus dalam identitas khusus mereka (CEP, 1997: 22). Adapun spiritualitas yang perlu dimiliki seorang katekis adalah: a. Keterbukaan terhadap Allah Tritunggal Dalam mewartakan Kabar Gembira, katekis diharapkan menyadari sepenuhnya bahwa dasar pertama dan utama kegiatan ini adalah Roh Kudus. Dia hadir dan berkarya tidak hanya dalam diri katekis tetapi juga pendengar yang hadir (Prasetya, 2007: 44). Roh Kudus yang menerangi pikiran untuk membantunya memahami sabda Tuhan dan membuka hati menerima sabda dengan cinta dan mampu untuk mempraktekkannya (CEP, 1997: 24). Oleh karena itu, seorang katekis harus memiliki sikap rendah hati dalam mewartakan Sabda Tuhan sebab karya Roh Kuduslah yang bekerja dalam dirinya dan yang diwartakan adalah Pribadi Yesus Kristus bukan dirinya sendiri. Tugas katekis adalah mewartakan Kabar Gembira, maka sudah sepantasnya ia mampu mengenal pribadi Allah dan Yesus Kristus secara personal (Prasetya, 2007: 44). Spiritualitas katekis harus berakar dari dalam sabda Tuhan yang hidup, yaitu Yesus Kristus sendiri. Dimana Yesus mengejawantahkan Sabda, yang

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 berbicara hanya tentang sabda yang didengarnya dari Bapa. Melalui keterbukaan katekis akan Allah Tritunggal berarti katekis membiarkan dirinya digerakkan oleh sikap batin yang membiarkan dirinya dibentuk dan diubah oleh karya Roh Kudus menjadi saksi Kristus yang berani serta menjadi pewarta sabda ynag cemerlang (CEP, 1997: 24). Spiritualitas yang bersumber pada Allah Tritunggal menghantarkan katekis kepada sikap tanggungjawab dan dedikasi terhadap tugas dan panggilannya. Sebab katekis dijiwai oleh sikap batin untuk selalu membangun persekutuan dengan Kristus, sehingga menghantarkan katekis menjadi wajah kasih Kristus yang nyata bagi orang lain. Intimitas tersebut dapat dibangun lewat doa, penerimaan sakramen-sakramen (khususnya sakramen Ekaristi), membaca dan merenungkan Kitab Suci, menghidupi devosi yang telah disediakan Gereja, dan sebagainya (Prasetya, 2007: 44). b. Keterbukaan terhadap Gereja Katekis juga merupakan anggota Gereja. Tugas dan panggilan katekis berasal dari tugas Gereja. Gereja hadir untuk mewartakan Injil dan katekis berperan membantu memperkembangkan kehidupan Gereja. Maka, segala kegiatan para katekis tidak lepas dari kegiatan gerejawi. Keterbukaan katekis terhadap Gereja dibutuhkan agar Gereja sebagai sakramen keselamatan universal, mampu menghidupi misterinya dan rahmatnya yang berlipat ganda agar diperkaya dan menjadi tanda yang kelihatan bagi masyarakat (CEP, 1997: 24). Wujud keterbukaan katekis adalah dengan mengembangkan sikap dan semangat kerjasama dengan berbagai pihak. Hal ini sangat penting dan perlu,

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 sebab keberadaan katekis tidak dapat dilepaskan dari seluruh reksa pastoral paroki yakni seluruh pihak yang berkaitan dengan bidang katekese: pastor paroki, dewan pastoral paroki dan antar katekisnya sendiri (Prasetya, 2007: 49). Katekis perlu membangun sikap komitmen dan kerjasama dengan semua pihak untuk mewartakan dan memperjuangkan Kabar Gembira. Agar Sabda yang telah dipercayakan kepada Gereja dipelihara dengan setia, dan dengan bantuan Roh Kudus, pemahaman Gereja diperdalam dan kemudian dapat diwartakan kepada seluruh dunia (CEP, 1997: 24). Melalui keterbukaan ini, katekis sungguh dapat merealisasikan Kabar Gembira yang datang untuk semua orang, hal tersebut tampak dari kegembiraan katekis dan seluruh reksa pastoral dalam bekerjasama menghadirkan Kabar Gembira di tengah umat. Keterbukaan katekis terhadap Gereja didasari oleh tanggungjawab yang sama dalam tugas perutusannya sehingga segalanya perlu dipikul bersama. Keterbukaan katekis terungkap dalam ketaatannya dan keterikatannya dengan Paus, sebagai pusat persatuan universal umat beriman Katolik, juga dengan uskup serta pimpinan Gereja lokal, dan tentunya antar katekis sendiri (CEP, 1997: 24). Hal tersebut dilakukan agar tercipta sinergi antarmereka, demi hidup dan perkembangan paroki. Selain itu, ungkapan keterbukaan para katekis terhadap Gereja juga tampak dalam cinta yang tulus kepada Gereja lewat pelayanan tanpa pamrih, pengabdian terhadap pelayanannya, serta kesediaan untuk menderita demi mewartakan karya keselamatan Allah kepada dunia (CEP, 1997: 24). Penderitaan katekis yang dimaksud adalah kerelaan berkorban bagi orang lain yang mencakup waktu, tenaga, pikiran, harta, kepentingan pribadi dan keluarga.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 c. Keterbukaan terhadap dunia Para katekis dipanggil untuk bekerja di dunia dan untuk dunia, tanpa sepenuhnya menjadi milik dunia (Yoh 17:14-21). Katekis adalah bagian dari dunia dan bersentuhan langsung dengannya, maka seorang katekis tidak terlepas dari segala problematika yang dihadapi dunia, sebab mereka bersentuhan langsung dengan dunia. Oleh karena itu katekis dipanggil untuk menjadi saksi Kristus bagi dunia. Bersama Yesus, kita dipanggil untuk menjadi roti yang dibagibagi bagi kehidupan dunia. Sebagaimana Yesus berkata “kamu harus memberi mereka makan” (Mat 14:16), Katekis diajak untuk senantiasa memperhatikan kebutuhan dunia. Pewartaan yang sesungguhnya adalah kesaksian hidup katekis itu sendiri bagi dunia. Melalui keterbukaan katekis terhadap dunia, diharapkan katekis mampu membawa pengharapan kepada dunia. Pewartaan katekis tidak melulu tentang sabda Tuhan melainkan sabda Tuhan yang relevan dan konstektual terhadap kebutuhan hidup saat ini. Kualitas hidup seseorang mempengaruhi kualitas hidup orang lain. Maka, setiap orang dituntut untuk dapat bertanggungjawab pada hidupnya. Hal ini mengandaikan kita tidak hanya terfokus pada kepentingan diri sendiri dan kesadaran diri bahwa kita tidak pernah hidup bagi diri kita sendiri (Magnis Suseno, 2009: 9). Hidup kita tak terlepas dari tanggungjawab atas kesejahteraan dan kedamaian hidup bersama serta lestarinya lingkungan hidup. Kita juga dihadapkan dengan banyak perkara dunia yang banyak dan luas. Namun demikian, Allah berkehendak kita terlibat dalam tugas Kristus membarui cara hidup manusia di dunia, membarui dunia dan alam semesta menjadi langit baru dan bumi baru (Why 21:1).

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 Keterbukaan terhadap dunia ingin menekankan seorang katekis harus terlibat penuh di dalam kehidupan bermasyarakat termasuk persoalan-persoalan yang ada di sekitarnya. Tantangan inilah yang menuntut katekis untuk dapat bersikap kritis dan kreatif. Di sinilah peranan katekis untuk dapat mengaktualisasikan dari apa yang ia wartakan atau menjadi saksi iman. Katekis berperan untuk memberi harapan baru dan bersama kaum hierakhi Gereja menemukan jawaban atas kebutuhan umat tersebut sehingga nilai-nilai Kristiani yaitu keadilan, kejujuran, kedamaian dapat hidup di tengah masyarakat. d. Keutuhan dan keaslian hidup Keutuhan dan keaslian hidup katekis terkait dengan keselarasan antara ajarannya dan tindakannya. Karya katekis melibatkan seluruh hidupnya. Maka, seorang katekis dituntut sebelum ia mewartakan sabda, ia harus menjadikan sabda itu miliknya sendiri dan menghayatinya (CEP, 1997: 26). Sebab Pengalaman pribadinya akan Allah menjadi unsur utama menentukan kualitas pewartaannya. Seorang katekis mampu mewartakan kasih Allah dikarenakan ia sendiri pernah mengalami kasih Allah itu sendiri yaitu dibimbing dan diselamatkan. Dengan demikian, keutuhan dan keaslian hidup dibutuhkan bagi seorang katekis agar mampu meneguhkan pesan yang telah ia sampaikan. e. Semangat misioner “Mari ikutlah Aku dan kamu akan kujadikan penjala manusia” (Mrk, 1:17). Sebagaimana Yesus yang setia melaksanakan karya penyelamatan-Nya, seorang katekis dalam tugas perutusannya mewartakan Injil dituntut juga ikut

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 berkomitmen yang sama untuk ikut serta terlibat dalam mewujudnyatakan rencana keselamatan Allah (Indra Sanjaya, 2011: 30). Oleh karena itu, seorang katekis harus mempunyai semangat kerasulan yang tinggi, berani dan semangat mewartakan Injil (CEP, 1997: 28), sekalipun resikonya mengalami penolakan dan diabaikan. Walaupun demikian, seorang katekis mempunyai keyakinan bahwa Kristus senantiasa menyertainya. f. Devosi kepada Bunda Maria Spiritualitas katekis akan diperkaya oleh devosi yang mendalam kepada Bunda Tuhan. Mereka harus merasakan kehadiran dan kesaksian akan kesucian yang tulus dari Bunda Maria. Mereka akan menemukan model sederhana dan efektif bagi dirinya dan orang lain. Sosok ibu sekaligus murid pertama Yesus yang memberikan keteladanan mengenai kasih ibu yang harus membangkitkan semangat semua orang yang ikut ambil bagian dalam karya kerasulan Gereja demi membawa umat manusia pada hidup yang baru (CEP, 1997: 30). Keteladanan dari bunda Maria dapat menjadi sikap dasar katekis dalam membentuk spiritualitas yang mendalam. Bunda Maria membiarkan dirinya dibimbing Roh Kudus dalam peziarahan iman yang ditentukan untuk melayani dan menghasilkan buah (EG, art 287). Ketaatan iman dan kekudusan Maria sampai di kaki salib Kristus inilah menjadi semangat yang mendorong para katekis untuk taat sampai akhirnya, bahkan ketika “tidak ada dasar untuk berharap” (Rm 4:18). Di dalam mewartakan kabar baik tentu kita akan menemukan saat-saat kita mengalami kelelahan dan penderitaan yang melukai hati kita. Namun demikian, sebagai katekis kita dapat belajar dari Bunda Maria

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 yang sanggup mengenali jejak-jejak Roh Kudus dalam peristiwa-peristiwa besar maupun kecil (EG, art 288) dengan senantiasa menjawab “sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu” (Luk 1:38). 4. Karya Pelayanan Katekis Katekis harus memahami karya-karya pelayanannya terlebih dahulu agar mampu mewartakan Yesus Kristus dengan baik terutama bagi orang yang belum beriman maupun orang yang sudah beriman kepada-Nya. Berikut akan dijelaskan karya pelayanan katekis tersebut: a. Karya pelayanan katekis dalam tugas pewartaan (Kerygma) Salah satu bentuk keterlibatan katekis dalam karya tugas pewartaan dan penginjilan membawa kabar baik kepada semua orang dan melalui pengaruh injil merubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru (EN, 18). Keikutsertaan katekis dalam bidang pewartaan ini berarti ikut ambil bagian dalam kenabian Kristus. Mewartakan Yesus Kristus yang berarti mewartakan kabar gembira bagi semua orang secara berkesinambungan dari tahap pengajaran sampai tahap pendewasaan sehingga mereka merasa terbantu untuk semakin mengenal, mencintai dan mengimani Yesus Kristus (Prasetya, 2007: 33). Kegiatan pewartaan lebih dipahami sebagai pewartaan Injil kepada orang lain yang belum mengenal Yesus Kristus dengan tujuan agar orang tersebut bertobat dan menyatakan iman kepada-Nya, sebagai anggota Gereja (Prasetya, 2007: 34). Melalui karya ini, diharapkan katekis dapat membantu umat Allah untuk dapat berjumpa dan mengenal Allah dengan mendalami kebenaran firman

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Allah, menumbuhkan semangat menghayati hidup berdasarkan semangat Injili, dan semakin mengenal Yesus lebih mendalam. Tugas pewartaan adalah mengaktualisasi apa yang disampaikan oleh Allah dalam Kristus yang diwartakan para rasul. Pewartaan bukan hanya sekedar menyampaikan informasi namun sungguh-sungguh menghadirkan Allah yang penuh kasih. Kesungguhan dalam menghadirkan Allah tampak dalam seluruh hidup katekis mulai dari kehidupannya, tutur katanya hingga tingkah lakunya, semuanya itu juga bagian dalam pewartaan. Namun secara khusus, pewartaan dapat dilakukan seorang katekis dengan menjadi fasilitator dalam tugas pendalaman iman, pendalaman Kitab Suci, menjadi pengajar agama dengan mendampingi para siswa dalam menemukan makna hidupnya dalam terang Injil, dan mendampingi para calon inisiasi agar siap menjadi anggota Gereja secara penuh. b. Karya pelayanan katekis dalam bidang liturgi (Liturgia) Karya pelayanan katekis berperan pula dalam bidang liturgi, karena di dalam liturgi katekis membantu kaum beriman untuk menghayati sekaligus mengungkapkan misteri Kristus serta hakekat asli Gereja yang sejati, serta mengungkapkan Gereja bersifat manusiawi sekaligus Ilahi (SC 2). Katekis dalam menjalankan tugas perutusan ini diharapkan melakukannya dengan sepenuh hati sehingga dapat membantu umat beriman Katolik lainnya untuk mengalami relasi yang akrab dengan Allah atau mewujudkan kebersamaan dengan sesamanya dalam paguyuban (Prasetya, 2003: 50).

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Liturgi di dalam Ekaristi menjadi kekuatan dan dorongan bagi perjuangan dan kegiatan sehari-hari serta karya pelayanan katekis. Kekuatan dan jiwa kehidupan yang mereka alami dalam doa dan liturgi memancar pada perjuangan hidup mereka, yang tampak dalam sikap pasrah dan tenang dalam menghadapi aneka kesulitan hidup sehari-hari. Sebab, katekis senantiasa mempersembahkan dan mempercayakan segala suka-duka kehidupan dan karyanya kepada Allah. Keterlibatan aktif katekis dalam pelayanan di bidang liturgi menjadi perwujudan dari keterlibatan katekis dalam tugas imamat Kristus. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan dengan memimpin ibadat sabda/doa bersama dengan ujub doa tertentu atau menjadi prodiakon pada perayaan Ekaristi serta dapat pula bekerjasama dengan tim liturgi dalam menciptakan kelancaran pelaksanaan perayaan Ekaristi seperti menyusun panduan misa, membantu memilih lagu sesuai dengan tahun liturgi, mengenalkan simbol-simbol dalam perayaan Ekaristi dan tata cara mengikuti perayaan Ekaristi kepada umat sehingga umat dapat memahami dan menghayati perayaan Ekaristi dengan khusuk dan khidmat. c. Karya pelayanan katekis dalam bidang persaudaraan (Koinonia) Pada dasarnya kata koinonia berarti persaudaraan. Koinonia mempunyai pola dasar yaitu pengalaman jemaat Kristiani perdana yang menanamkan hidup sehati -sejiwa, mengutamakan kepentingan bersama dan hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah (Ardhisubagyo, 1987: 24). Bidang karya ini dapat menjadi sarana untuk membentuk jemaat yang berpusat dan menampakkan kehadiran Kristus. Melalui koinonia, katekis bersama umat mampu membangun relasi dengan Allah dan diungkapkan dengan relasi dengan sesama manusia

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 sebagai saudara. Oleh karena itu, hubungan dengan Allah tidak dapat dipisahkan dengan hubungan antar pribadi manusia yaitu satu persekutuan dan persaudaraan dengan sesama, semua menjadi satu tubuh (1Kor 12:12-13). d. Karya pelayanan katekis dalam bidang pelayanan (Diakonia) Dasar pelayanan dalam Gereja adalah semangat pelayanan Kristus sendiri. Barang siapa menyatakan diri murid, ia wajib hidup sama seperti hidup Kristus. Yesus, sang kepala Gereja memberikan teladan dengan menyembuhkan, memperhatikan orang-orang kecil dan mengampuni dosa, “Ia datang bukan untuk dilayani melainkan melayani” (Mrk 10:45). Dan kematian-Nya di kayu salib merupakan puncak pelayanannya yang total demi keselamatan manusia (Ardhysubagyo, 1987:30). Yesus menghendaki seorang katekis selalu bersikap sebagai pelayan. Yesus menyuruh para murid-Nya selalu bersikap “yang paling rendah dari semua dan sebagai pelayan dari semua” (Mrk 9:35). Yesus sendiri memberi teladan dan menerangkan bahwa demikianlah kehendak Bapa. Menjadi pelayan adalah sikap iman yang radikal. Sebab hukum kedua yaitu cinta kepada sesama oleh Yesus disebut sama dengan hukum pertama yaitu cinta kepada Allah (Mat 12:37) (Iman Katolik, 1996: 451). Pelayanan ini tidak terbatas pada lingkup Gereja saja melainkan terbuka terhadap masyarakat luas. Gereja tidak meneruskan ajaran yang kaku, melainkan atas dasar iman dan sikap pelayanan, senantiasa ikut mencari jalan hidup bersama orang lain (Iman Katolik, 1996: 455). Gereja bukanlah sebuah lingkungan tertutup dan kuatir akan pengaruh luar dan mengasingkan diri dari masalah-masalah yang

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 terjadi di sekitarnya. Kalau demikian Gereja tidak dapat menampilkan dirinya sebagai “garam dan terang dunia” (Mat 5:13-16). Bentuk pelayanan katekis mengutamakan keberpihakan kepada kaum miskin dan tertindas. Hal ini menunjukkan kita mengambil bagian dalam sengsara dan penderitaan Kristus, yang tetap senasib dengan semua orang yang menderita. Dalam usaha pelayanan katekis kepada kaum miskin yang menjadi pokok pelayanan adalah harkat, martabat dan harga diri, bukan kemajuan-kemajuan dan bantuan spiritual/sosial yang hanya sarana (Iman Katolik, 1996: 451). C. Ekaristi Meningkatkan Motivasi Katekis dalam Karya Pelayanannya Motivasi adalah suatu tenaga atau faktor yang terdapat di dalam diri manusia, yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya (Handoko, 1992: 9). Motivasi memiliki kekuatan menggerakkan seseorang untuk bertindak secara total terhadap apa yang menjadi tujuannya. Kekuatan motivasi pada setiap orang berbeda-beda, yang berdampak pada kinerja atau totalitas pelayanannya. Maka, seorang katekis perlu memiliki motivasi yang kuat agar semangat pelayanannya sungguh menunjukkan sukacita Injil yang diwartakannya. Mengali motivasi lewat Ekaristi agar Ekaristi jauh dimaknai lebih mendalam dari sekedar kewajiban sebagai umat katolik. Dengan demikian, Ekaristi sebagai sumber dan puncak dihayati sebagai bagian dari hidup dan pelayanan katekis. Sebab yang menjadi tujuan utama seorang katekis adalah mewartakan Yesus Kristus. Sumber motivasi katekis dalam karya pelayanan adalah tinggal bersama dengan Kristus. Tinggal bersama dengan Kristus menjadi

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 jalan katekis supaya mau membuka diri dan bertumbuh di dalam Kristus serta mengandalkan Kistus turut serta berkarya dalam karya pelayanan. Katekis merupakan perpanjangan tangan Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah di dunia. Mengandalkan berarti katekis menjadikan Kristus sebagai sumber dan pusat karya pelayanannya. Dengan demikian, karya pelayanan katekis semakin bertumbuh dan berbuah banyak, yang artinya meneguhkan imannya sendiri dan meneguhkan iman umat, seperti yang dikatakan Yesus dalam sabdaNya “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan aku di dalam dia, ia akan berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuah apa-apa” (Yoh 15:4-5). Karya pelayanan dan kegiatan pribadi katekis merupakan kualitas kedalaman relasinya dengan Allah. Katekis merupakan saksi iman dimana segala sukacita dan dukacita yang ia terima selama menjalani karya pelayanannya, baik dalam Gereja maupun masyarakat, sebagai perutusan katekis adalah buah dari dalam, yaitu buah dari perjumpaan dan kesatuan katekis dengan Kristus teristimewa yang dialami dalam Ekaristi (Martasudjita, 2012: 149). Para katekis diharapkan mempunyai semangat missioner yaitu menanggapi panggilan Allah untuk bertolak ke tempat yang dalam (duc in altum) (Luk 5:4). Bertolak ke tempat yang dalam berarti seorang katekis harus memiliki kedalaman hati yaitu katekis yang memiliki hati yang kokoh, tidak mudah tergoda dengan kenikmatan dunia dan mengakar kuat pada Yesus sang Guru. Di dalam perjalanan pelayanannya, mungkin seorang katekis mengalami kelelahan, kebosanan dan pemberontakan-pemberontakan batin namun demikian Allah tetap memanggil kita sebagai murid untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala. Dengan kata lain, Yesus memanggil katekis untuk hidup dan berkarya bersama-

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 Nya dalam arah yang ditunjukkan-Nya agar menghasilkan tangkapan yang berlimpah ruah (Mintara Sufiyanta, 2009: 4-7). Dalam menebarkan jalanya, katekis perlu memiliki sikap dan semangat melayani seperti Yesus Kristus (Prasetya, 2007: 47). Di dalam perjamuan terakhir, Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Ia sebagai Tuhan dan Guru mengambil peran seperti seorang hamba yang mau membasuh kaki mereka (Yoh 13:13-15). Yesus mewujudnyatakan di dalam diri-Nya apa yang diharapkan tumbuh di dalam diri para murid, yaitu kerendahan hati dan pelayanan. Tujuan Yesus memberi teladan kepada para murid-Nya agar para murid juga berbuat demikian. Namun, Yesus menghendaki para murid memiliki spriritualitas pelayanan yang sama dengan melakukan apa yang Yesus lakukan bukan soal meniru tindakan-Nya sebagaimana Ia membasuh kaki para murid (Eko Riyadi, 2011: 306). Motivasi seseorang tidak selalu timbul sendirinya. Motivasi dapat ditimbulkan, diperkembangan dan diperkuat. Makin kuat motivasi seseorang, makin kuat pula usahanya untuk mencapai tujuan (Handoko, 1992: 59). Motivasi seseorang dapat berubah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Motivasi berkembang semakin kuat sesuai taraf kesadaran seseorang akan tujuan yang hendak dicapai. Begitu juga, seorang katekis yang mewartakan hidup Yesus Kristus menyadari pentingnya komunikasi yang terus dibangun dengan-Nya. Komunikasi katekis yang dibangun dengan merayakan Ekaristi sesering mungkin memberikan pengaruh terhadap pengenalan katekis terhadap Yesus Kristus, dimana semakin katekis mengenal Yesus semakin besar pula cintanya kepada Yesus sehingga katekis termotivasi dan tergerak untuk mewartakan pribadi Yesus yang ia kenal dan cintai. Pengaruh Ekaristi dalam meningkatkan motivasi karya

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 pelayanan katekis tampak dalam kuatnya kemauan untuk mewartakan sabda-Nya, kerelaannya untuk menyediakan waktu, tenaga dan biaya untuk kepentingan karya pelayanannya tanpa memperhitungkan pamrih serta dedikasi yang tinggi terhadap karya-Nya ini.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 BAB III PENELITIAN TENTANG SEJAUHMANA EKARISTI MEMOTIVASI PELAYANAN PARA KATEKIS DI PAROKI SANTO YUSUP BINTARAN YOGYAKARTA Ekaristi bagi katekis dimaksudkan supaya menjadi daya penggerak yang memotivasi karya pelayanannya di tengah umat. Dengan memahami dan menghayati Ekaristi, katekis digerakkan dan dituntun oleh Roh Kudus untuk menemukan kehendak Tuhan dalam karya dan hidupnya, membantu memperkembangan kualitas hidupnya ke arah yang lebih baik, dan juga memotivasi dalam karya pelayanannya. Kualitas hidup katekis yang diperkembangkan dan disuburkan oleh Ekaristi menghantarkannya untuk semakin hidup dalam kehendak Allah. Efek dari hidup dalam kehendak Allah dan Ekaristi menghasilkan kesatuan, kegembiraan yang mendalam, sikap penuh semangat dan membuat katekis terdorong untuk menyebarkan dan memperluas cinta yang dialami dalam karya pelayanannya. Dalam bab III ini, penulis akan memaparkan dua pokok bahasan. Pokok bahasan pertama mengenai situasi umum paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Situasi umum paroki yang penulis paparkan berdasarkan manuscript Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta dan wawancara dengan bapak Yosaphat Sudarmo Karyadi, DPP bidang pewartaan pada tanggal 19 April 2018. Adapun situasi umum yang penulis uraikan antara lain: gambaran umum paroki berupa situasi geografis, sejarah, gambaran singkat kehidupan katekis, serta visi

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 dan misi paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Pokok bahasan kedua mengenai penelitian tentang sejauhmana Ekaristi meningkatkan motivasi pelayanan para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta, meliputi persiapan penelitan, laporan dan pembahasan hasil penelitian menurut masingmasing variabel dan kesimpulan penelitian. A. Gambaran Umum Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta 1. Sejarah Gereja Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta Pada tahun 1930-an, jumlah umat Katolik Jawa di Yogyakarta semakin banyak. Namun demikian, mereka mengalami ketidaknyamanan dalam mengikuti upacara perayaan keagamaan di bangunan model baru (asing). Mereka tidak terbiasa dan merasa tidak nyaman duduk di bangku karena masih mengenakan kain tradisional baik pria maupun wanita, sehingga jauh lebih sreg (nyaman) jika bisa duduk bersimpuh di lantai (Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran, hlm 3). Ketidaknyamanan tersebut membuat umat Katolik Jawa memilih untuk mengikuti perayaan Ekaristi di sebuah bangunan di belakang Bruderan FIC (Timur gereja Kidul Loji atau sekarang aula Kidul Loji). Suasana tersebut ditangkap oleh romo H. Van Driessche, SJ, bapak Dawoed (katekis pribumi), dan juga romo A. Van Kalken, SJ (Reguiler Overste Misi Jawa saat itu) yang kemudian memunculkan gagasan untuk mendirikan sebuah gereja baru di Yogyakarta yang sesuai dengan kelengkapan, dan suasana citarasa masyarakat setempat. Maka, dibangunlah gereja yang mengambil tempat di kampung Bintaran yang ditujukan untuk umat Katolik Jawa. Jumlah umat Katolik Jawa antara bulan Juli 1934 sampai dengan Juni 1936 yaitu 4.695 orang Jawa

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 sedangkan 26 orang lainnya merupakan warga Eropa. Hal ini menggambarkan bahwa gereja Bintaran sungguh menjadi “Gereja Katolik Jawa dan pertama di Yogyakarta” (Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran, hlm 4-5). Gereja Bintaran ini mempunyai bentuk bangunan yang unik, khas dan langka yaitu satu-satunya di Indonesia dan hanya memiliki induk di Belanda. Bangunan ini dirancang oleh seorang Belanda bernama J.H. Van Oten B.N.A dan dilaksanakan pembuatannya oleh Holandsche Beton Maatschappij, kemudian diresmikan pada 8 April 1934 oleh Yang Mulia Provicaris Romo A. Th. Van Hoof, SJ. Sebelumnya telah ditunjuk Pastor Paroki pertama, yaitu A.A.C.M. de Kuyper SJ (1933-1936) dibantu romo Albertus Soegijapranata, SJ (1933-1940). Mereka berdua sudah dipercaya memegang paroki Bintaran sejak tanggal 12 Oktober 1933, satu tahun sebelum bangunan gereja diresmikan penggunaannya (Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran, hlm 4). Tahun 1936 romo de Kuyper pindah ke Magelang, secara otomatis romo Soegijapranata menjadi Pastor Paroki. Hal ini langsung dikukuhkan setahun kemudian didampingi oleh romo B.Th. Hagdorn. SJ. Salah satu karya monumental romo Albertus Soegijapranata, SJ di Bintaran adalah memunculkan pengelompokan umat dalam model Kring (sekarang lingkungan). kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu sarana keterlibatan sosial Gereja. Selain itu, kegiatan media masa berupa majalah berbahasa Jawa Swaratama juga dipelopori olehnya (Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran, hlm 4 dan 7). Sebelum perang dunia II (PD II), banyak kegiatan-kegiatan kewanitaan bermunculan. Namun demikian pada periode perjuangan bersenjata (1942-1949) Gereja Katolik Bintaran mengalami cobaan yang cukup besar. Banyak Pastoryang

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 masuk dalam kamp tawanan bahkan dilarang melakukan aktivitasnya. Tetapi berkat kegigihan para katekis awam yang amat tangguh, bagaimanapun keadaannya kegiatan Gereja Bintaran tetap berjalan. Dalam situasi ini pula, aula paroki Bintaran sering dijadikan sebagai tempat berlangsungnya kongres dan berbagai rapat, bahkan juga sebagai markas darurat. Tahun 1948 terselenggara Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) dan Kongres Partai Katolik. Sebagian besar pengurus Wanita Katolik Bintaran terlibat aktif dalam pertemuanpertemuan tersebut. Kelak, kegiatan-kegiatan tersebut menjadi salah satu pertimbangan untuk menjadikan gereja Bintaran sebagai cagar budaya (Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran, hlm 7-8) Mgr. Soegijapranata, SJ sesudah ditahbiskan menjadi Uskup Semarang juga sempat berkantor dan tinggal di Bintaran (1947-1949). Hal ini dilakukan sebagai dukungan moral kepada bung Karno dan para petinggi NKRI pada Aksi Militer I dan II yang dilakukan oleh Belanda (saat itu ibukota RI dipindahkan ke Yogyakarta). Beliau juga ikut mendorong gerakan-gerakan kemasyarakatan yang mulai tumbuh serta berkembang di Bintaran, antara lain: gerakan Tani/Buruh Pancasila yang dirintis oleh romo Dijkstra, SJ dan Bapak Sarman, majalah “Praba” sebagai majalah paroki dan media komunikasi umat Katolik Jawa, dengan bimbingan romo S. Danuwidjaya, Pr, terbit pula majalah untuk kaum muda bernama “semangat”, dan kegiatan sosial yang cukup fenomenal di Bintaran adalah berhasilnya umat menghimpun pemberangkatan transmigran menuju Lampung (Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran, hlm 9-10) Selain itu, Gereja juga turut berpartisipasi dalam membangun masyarakat. Hal tersebut tampak dalam keikutsertaan umat Bintaran dalam Partai Katolik di

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 pimpin oleh Bapak C.O. Tjiptosumarta. Gereja ini juga menampilkan diri sebagai Youth Centre dengan menjadi markas Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKI) dan Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) pada saat pergolakan G30S’PKI. Selanjutnya, aula gereja digunakan sebagai ruang belajar dan perpustakaan bagi masyarakat umum, selain digunakan sebagai kegiatan pastoral dalam lingkup kota maupun kevikepan (Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran, hlm 10). Keistimewaan Gereja Bintaran dan peran serta Gereja Bintaran dalam membangun masyarakat menjadikannya sebagai salah satu cagar budaya yang dilindungi oleh Negara Indonesia berdasarkan: Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 tentang PENETAPAN SITUS DAN BANGUNAN TINGGALAN SEJARAH DAN PURBAKALA YANG BERLOKASI DI WILAYAH PROPINSI DIY SEBAGAI BENDA CAGAR BUDAYA ATAU KAWASAN CAGAR BUDAYA (Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran, hlm 12) Sebagai cagar budaya, gereja Bintaran merupakan peninggalan sejarah yang masih relatif utuh dan terpelihara dibandingkan dengan cagar budaya lainnya yang pada umumnya telah rusak atau berubah fungsi dan bentuknya (Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran, hlm 12). Di samping itu, Gereja Bintaran juga mampu menunjukkan iman yang hidup yaitu iman yang tidak sekedar dirayakan melainkan juga diwujudkan lewat keterlibatan mereka dalam kehidupan masyarakat. Mgr Soegijapranata, SJ menegaskan sosok umat beriman Katolik Indonesia yang sejati adalah 100% Katolik dan 100% Indonesia”, yang berarti setia sebagai murid Kristus sekaligus setia sebagai warga masyarakat.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 2. Visi dan Misi Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta Rumusan Visi dan misi yang penulis sampaikan di bawah ini berdasarkan manuscript yang diperoleh dari bapak Prisnanto Aribowo, seksi Litbang Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Visi dan Misi paroki ini dibuat berdasarkan spiritualitas Santo Yusuf, yang menjadi santo pelindung paroki Bintaran. a. Visi Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta Visi paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta adalah umat Allah Paroki Bintaran sebagai persekutuan paguyuban murid Kristus yang meneladan iman, kesetiaan dan kesederhanaan Santo Yusuf menjadi “Ratnaning rat, nayakaning bawana” yang memiliki arti “menjadi permata di tengah dunia”. Menjadi permata berarti umat Bintaran mampu menghadirkan nilai-nilai hidup umat beriman Kristiani, yakni: cinta kasih, kejujuran, persaudaraan sejati, kerendahan hati, dan gotongroyong (manuscript yang diperoleh dari bapak Prisnanto Aribowo, seksi Litbang Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta). b. Misi Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta Rumusan misi paroki Bintaran bertujuan untuk membangun pribadi dan hidup Kristiani yang tangguh, sebagaimana Santo Yusup yang menjadi pelindung paroki ini, dengan kesederhanaannya tetap taat dan setia pada kehendak Allah. Berikut merupakan rumusan misi paroki Santo Yusup Bintaran berdasarkan manuscript yang diperoleh dari bapak Prisnanto Aribowo, seksi Litbang Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. 1) Menyelenggarakan liturgi dan devosi yang menggerakkan umat untuk mengungkapkan iman, meneladan kesetiaan dan kesederhanaan Santo Yusup.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 2) Menyelenggarakan pewartaan untuk menyadarkan umat akan tugas kehidupan sosial perutusannya sebagai “ratnaning rat, nayakaning bawana”. 3) Menggerakkan umat untuk ambil bagian dalam kemasyarakatan sebagai perwujudan iman seturut teladan Santo Yusup 4) Meneguhkan dan meningkatkan signifikansi, relevansi dan sinergi persekutuan paguyuban umat beriman. 5) Menyelenggarakan manajemen paroki dan tata kelola sarana-prasarana yang kredibel dan sinergis untuk mendukung karya pastoral. 6) Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan untuk mendukung karya pastoral yang efektif dan efisien bagi umat. Rumusan visi paroki St Yusup Bintaran memiliki dua sasaran yaitu umat yang berspiritualitas santo Yusup dan terselenggaranya karya pastoral yang mendukung perkembangan Gereja. Visi pertama mengungkapkan paroki Bintaran menginginkan terselenggaranya kegiatan-kegiatan liturgi dan devosi yang dapat membantu umat Bintaran agar mampu untuk menghayati dan mengungkapkan imannya, dengan meneladan kesetiaan dan kesederhanaan santo Yusup. Visi kedua dan ketiga, bertujuan agar umat mampu mewujudkan imannya tidak hanya dalam lingkup umat Kristiani saja melainkan juga di dalam masyarakat. Dimana paroki menginginkan umat tidak hanya sekedar turut andil dalam kehidupan bermasyarakat tetapi hadir dan menjadi permata bagi masyarakat. Disamping itu, visi kelima mengungkapkan bahwa paroki mengupayakan bagaimana kehadiran persekutuan paguyuban umat sungguh signifikan, relevan dan bersinergi. Visi kelima dan keenam menyangkut hal-hal yang dapat mendukung terselenggaranya karya pastoral yang efektif dan efisien bagi umat di paroki

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 Bintaran yaitu berkaitan dengan manajemen dan tata kelola sarana-prasarana paroki juga penelitian demi perkembangan paroki. 3. Letak dan Batas Geografis Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta Secara Geografis wilayah paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta berada di kampung Bintaran, di sebelah Timur sungai Code, terletak di sudut jalan pertemuan jalan Bintaran Kulon dan Bintaran Tengah (Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran, hlm 5). Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta terletak di wilayah administratif kelurahan Mergangsan dari kecamatan Wirogunan, yaitu 200m di sebelah timur pusat kota Yogyakarta. Paroki ini berada di wilayah yang strategis sebab mencakup pertokoan dan swalayan, Asrama-asrama Mahasiswa, Sekolah Menengah yaitu SMK Marsudi Luhur dan SMK Bopkri Dua, serta Akademi Pariwisata Dharma Nusantara Sakti (AKPARDA). Berdasarkan wawancara penulis dengan bapak Yosaphat Sudarmo Karyadi, DPP bidang pewartaan di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta diperoleh data mengenai batas-batas geografisnya sebagai berikut: a. Utara : Paroki Santo Antonius Kotabaru dan Paroki Kristus Raja Baciro. b. Selatan : Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran. c. Barat : Paroki Santo Fransiskus Xaverius Kidul Loji. d. Timur : Paroki Santo Paulus Pringgolayan. 4. Jumlah dan Pembagian Lingkungan, Wilayah dalam Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Berdasarkan manuscript dari bapak Prisnanto Aribowo, seksi Litbang paroki (Lampiran 4: Struktur Jumlah Jiwa di Keluarga) Santo Yusup Bintaran diperoleh

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 data jumlah dan pembagian lingkungan, wilayah dalam paroki Santo Yusup Bintaran Yogyakarta yaitu 32 lingkungan yang menyebar di 9 Wilayah. Masingmasing wilayah terdiri dari 3-6 lingkungan di antaranya: a. Wilayah Yerikho terdiri dari lingkungan Agustinus, lingkungan Albertus, dan lingkungan Antonius. b. Wilayah Yerusalem terdiri dari lingkungan Benediktus, lingkungan Nikolas dan Lingkungan Dominikus. c. Wilayah Kana terdiri dari lingkungan Lukas, lingkungan Brigita, dan lingkungan Mikael. d. Wilayah Yudea terdiri dari lingkungan Yusup, lingkungan Maria, lingkungan Theresia, lingkungan Paulus, lingkungan Fransiskus Asisi, dan lingkungan Brayat Minulya e. Wilayah Bethania terdiri dari lingkungan Hati Kudus Tuhan Yesus, lingkungan Maria Ratu Rosari, dan lingkungan Maria Bintang Timur. f. Wilayah Bethlehem terdiri dari lingkungan Santa Anna, lingkungan Petrus Kanisius, lingkungan Yohanes De Britto, dan lingkungan Fransiskus Xaverius. g. Wilayah Nazareth terdiri dari lingkungan Santo Petrus, lingkungan Yohanes Maria Vianey, dan lingkungan Gabriel Possenti. h. Wilayah Galilea terdiri dari lingkungan Stefanus, lingkungan Maria Dominika, lingkungan Maria Gorreti, dan lingkungan Yohanes Don Bosco. i. Wilayah Kapernaum terdiri dari lingkungan Georgius, lingkungan Margaretha, dan lingkungan Markus

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 5. Situasi Umat Paroki Santo Yusup Bintaran Yogyakarta Bagian ini akan menjelaskan secara singkat mengenai situasi umat di paroki St Yusup Bintaran berdasarkan manuscript dari bapak Prisnanto Wibowo, seksi Litbang paroki berupa jumlah umat, suku umat dan kekhasan dari paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta. a. Jumlah umat di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta Jumlah umat berdasarkan data yang ada di paroki Bintaran (Lampiran 4: Struktur Jumlah Jiwa di keluarga) berjumlah 1.400 KK atau 3.647 jiwa. Jumlah umat menurut jenis kelamin berjumlah 1.623 laki-laki dan 2.024 perempuan. Jikalau dilihat dari jumlah tersebut dapat dikatakan bahwa umat berjenis kelamin perempuan lebih banyak daripada jumlah umat berjenis kelamin laki-laki. b. Suku Umat di Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta Kemajemukan suku umat di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta (Lampiran 5: Suku Bangsa) diketahui 90,2% adalah suku Jawa yaitu 3.082 jiwa, ditambah 6,3% Tionghoa, 3,1% NTT, dan sebagian kecil merupakan orang Sunda/Bali, Sulawesi, Papua, Kalimantan, dan Sumatera Sebagai Gereja Katolik Jawa, mayoritas umat paroki di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta adalah orang Jawa dan menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Maka untuk mempertahankan keistimewaan paroki ini diabdakan misa berbahasa Jawa setiap hari minggu pukul 05.30 WIB.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 b. Kekhasan Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta Paroki Santo Yusup Bintaran merupakan Gereja yang memiliki empat keistimewaan. Pertama, Gereja ini merupakan gereja Jawa pertama, bukan dikarenakan bentuk atau arsitekturnya melainkan sejak semula memang diperuntukkan bagi umat Katolik Jawa atau pribumi. Kedua, Paroki ini memiliki bentuk bangunan yang khas dan langka. Kekhasan bangunan gereja Bintaran terdapat pada arsitektur bangunan yang merupakan perpaduan antara arsitektur Basilika, arsitektur modern dan arsitektur Jawa. Gereja Bintaran disebut langka karena satu-satunya di Indonesia. Ketiga, Gereja ini menjadi bagian dalam sejarah Indonesia dan menjadi cagar budaya yang dilindungi Negara Indonesia. Dan keempat, gereja ini merupakan cagar budaya yang masih relatif utuh dan terpelihara dibandingkan peninggalan sejarah dan cagar budaya lainnya yang hancur atau berubah fungsi dan bentuknya. 6. Gambaran Singkat Kehidupan Katekis di Bintaran Katekis di paroki Bintaran mayoritas merupakan katekis volunteer atau katekis sukarelawan yaitu kaum awam yang merelakan dirinya mengambil bagian dalam karya pewartaan Injili sebagai katekis tanpa batasan waktu (Kotan, 2005: 143). Dengan demikian, para katekis ini memiliki profesi lain yang menjadi prioritas utama sehingga jumlah katekis di paroki ini mengalami naik-turun (tidak tetap). Berdasarkan wawancara dengan bapak Yosaphat Sudarmo Karyadi, DPP bidang pewartaan diketahui terdapat 2 katekis Bintaran yang sungguh berprofesi sebagai katekis fulltime dan berlatarbelakang pendidikan katekese

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Sebagai katekis volunteer, katekis di paroki ini memiliki motivasi awal yang beragam. Naik-turunnya jumlah katekis di paroki ini menunjukkan bahwa para katekis kurang memupuk motivasi yang ada. Hal tersebut berpengaruh pada kurangnya kesungguhan para katekis dalam melayani umat. Mereka kurang menyadari peranan penting katekis bagi umat, yang berdampak pada kurangnya rasa tanggungjawab mereka terhadap tugas dan panggilannya sebagai katekis. Hal tersebut tampak dari karya pelayanan para katekis di paroki ini yang seringkali absen dan datang terlambat dalam kegiatan-kegiatan pendampingan bagi katekis. Kurangnya antusiasme katekis dalam karya pelayananya berakibat pada tidak adanya perkembangan dalam kegiatan katekese di paroki ini. Paroki ini hanya mengutamakan pelayanan-pelayanan yang bersifat rutin seperti pendamping para calon penerima sakramen inisiasi (Baptis, Komuni I dan Krisma). Sedangkan kegiatan katekese lainnya seperti persiapan pembekalan Adven, pra Paskah serta BKSN dan sebagainya, kurang mendapat perhatian dari para katekis. B. Penelitian Tentang Sejauhmana Ekaristi Meningkatkan Motivasi Karya Pelayanan Katekis di Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta Pada bagian ini, penulis akan membahas penelitian deskriptif kualitatif mengenai Ekaristi sebagai upaya meningkatkan motivasi karya pelayanan katekis di Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Sebelum masuk ke dalam pembahasan mengenai penelitian, penulis akan menguraikan terlebih dahulu tentang persiapan penelitian, laporan penelitian, tujuan penelitian, jenis instrument

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 pengumpulan data, responden, tempat dan alokasi waktu, serta variabel yang akan diteliti dan kisi-kisi. 1. Persiapan Penelitian Penulis akan menguraikan gambaran penelitian yang akan dilaksanakan. Gambaran tersebut meliputi latarbelakang penelitian, tujuan, jenis penelitian, instrumen pengumpulan data, responden, tempat dan alokasi waktu, variable yang akan diteliti dan kisi-kisi. a. Latar belakang penelitian Semangat katekis menjadi sukacita Gereja, semangat katekis dalam melayani berbuah pada semangat umat yang tampak dalam keterlibatan umat dalam hidup menggereja. Katekis adalah saksi iman dan berperan membawa umat kepada kedewasaan iman. Maka, kehidupan seorang katekis menjadi teladan hidup kaum umat beriman Kristiani. Katekis tidak dapat dipisahkan dari Ekaristi. Seorang katekis harus mampu menghidupi Ekaristi di dalam hidup dan karya pelayanannya. Ekaristi merupakan perayaan dari peristiwa Allah yang berbagi hidup bagi keselamatan umat-Nya, maka katekis hendaknya menangkap keagungan makna Ekaristi tersebut dengan baik, sehingga para katekis terdorong dalam perutusan hidup Ekaristis yaitu untuk berbagi hidup bagi sesama (Martasudjita, 2012: 23). Berdasarkan wawancara dengan bapak Fransiskus Ari Raharta, salah satu Katekis Santo Yusup Bintaran Yogyakarta (23 September 2017), persentase kehadiran katekis dalam pembekalan untuk pembinaan iman umat yaitu 30%, terutama keterlibatan mereka dalam kegiatan persiapan pembekalan Adven, pra Paskah, BKSN dsb. Hal ini menunjukkan bahwa katekis di paroki Santo Yusup

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 Bintaran, kurang memiliki daya dorong atau motivasi yang menggerakkan katekis untuk memberikan diri secara total dalam tugas pelayanannya di Paroki ini. Kurangnya motivasi dalam melayani menyebabkan katekis kurang bergairah dan hanya sekedarnya saja dalam melaksanakannya. Mereka kurang menyadari peranan penting katekis bagi umat, yang berdampak pada kurangnya rasa tanggungjawab mereka terhadap tugas dan panggilannya sebagai katekis. Dengan demikian, penulis terinspirasi untuk menggali sejauhmana Ekaristi mampu memotivasi katekis dalam karya pelayanannya di paroki ini. Oleh karena itu, untuk mengetahui hal tersebut perlu dilakukan sebuah penelitian. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tingkat pemahaman katekis terhadap makna Ekaristi dalam tugas perutusannya sebagai katekis, faktor-faktor yang menghambat dan mendukung dalam penghayatan Ekaristi dalam karya pelayanan nya. Melalui hasil penelitian tersebut, penulis ingin mencoba memahami dan membantu persoalan-persoalan yang dialami para katekis dalam menghidupkan motivasi katekis dalam karya pelayanannya lewat Ekaristi (yang bersumber pada Ekaristi). b. Tujuan penelitian Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Mendapatkan gambaran mengenai makna Ekaristi untuk para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta 2) Mengetahui gambaran tentang faktor pendukung dan penghambat untuk memaknai Ekaristi dalam pelayanan para katekis di paroki Santo Yusup

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Bintaran, Yogyakarta 3) Harapan katekis untuk lebih memaknai Ekaristi c. Jenis penelitian Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian deskriptifkualitatif yang didukung oleh data-data kuantitatif. Penelitian kualitatif sebagaimana yang diungkapkan Bogan dan Taylor (Moleong, 2008: 4) sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata lisan maupun tertulis. Penulis akan mengungkapkan hasil penelitian berupa angka ke dalam bentuk tabel. Data yang diperoleh merupakan gambaran mengenai sejauhmana Ekaristi memotivasi katekis dalam karya pelayanannya. d. Instrumen pengumpulan data Pada penelitian ini, penulis menggunakan kuesioner sebagai metode pengumpulan data. Metode kuesioner ini dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis berkaitan dengan rumusan masalah dalam penelitian kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2018: 193). Bentuk kuesioner yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Kuesioner tertutup merupakan serangkaian pertanyaan yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih (Arikunto, 2006: 152). Pada variabel penelitian mengenai harapan katekis, penulis menggunakan metode wawancara. Bentuk wawancara yang akan penulis gunakan adalah wawancara terstruktur yakni wawancara yang pewawancaranya menetapkan

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan (Moelong, 2008: 190). Metode wawancara ini dipilih oleh penulis guna memperoleh informasi mengenai harapan dari beberapa responden secara lebih jelas dan lengkap. e. Responden penelitian Dalam penelitian ini, yang menjadi responden adalah para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Berdasarkan data katekis di paroki Santo Yusup Bintaran terdapat 15 orang katekis (hasil wawancara dengan pak Ari Raharta, katekis Bintaran). Teknik pengambilan data yang dipakai adalah teknik sampling total. Sampling total adalah teknik pengambilan data di mana jumlah seluruh anggota populasi dijadikan sampel semua yaitu semua katekis di paroki ini (Sugiyono, 2018: 126) f. Tempat dan alokasi waktu Penelitian ini dilaksanakan di paroki Santo Yusup Bintaran sesuai dengan judul skripsi, waktu penelitian dilaksanakan pada 6 Agustus 2018 sampai dengan akhir Agustus 2018. Penetapan penelitian ini dibuat berdasarkan pertimbangan penulisan bahwa data-data yang diperoleh sudah mencapai validitas. g. Variabel penelitian Variabel penelitian adalah suatu atribut atau suatu sifat atau nilai dari orang, objek, organisasi atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 2018: 63). Variabel yang diungkapkan dalam penelitian mengenai Ekaristi meningkatkan motivasi pelayanan katekis adalah: 1) Mendapatkan gambaran mengenai makna Ekaristi untuk para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta 2) Mengetahui gambaran tentang faktor pendukung dan penghambat untuk memaknai Ekaristi dalam pelayanan para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta 3) Harapan katekis untuk lebih memaknai Ekaristi h. Tabel kisi-kisi Tabel 1. Kisi-kisi No Variabel No Item Jumlah 1 Identitas Responden 2 Makna Ekaristi untuk para katekis 1 – 10 10 3 faktor pendukung dan penghambat untuk 11-17 7 18-20 3 memaknai Ekaristi dalam pelayanan para katekis 4 Harapan katekis untuk lebih memaknai Ekaristi Jumlah 20 2. Laporan Hasil Penelitian Pada bagian ini penulis akan menyampaikan laporan hasil penelitian berkaitan dengan makna Ekaristi dalam meningkatkan motivasi pelayanan para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran. Penulis akan melaporkan hasil penelitian

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 dalam bentuk tabel dan mendeskripsikannya secara verbal. Tabel tersebut terdiri dari identitas kateksi, makna Ekaristi untuk para katekis, faktor pendukung dan penghambat untuk memaknai Ekaristi dalam pelayanan para katekis dan wawancara mengenai harapan katekis untuk lebih memaknai Ekaristi. a. Laporan hasil kuesioner 1) Identitas responden Tabel 2 Identitas Responden N= 15 No Pernyataan item 1 2 3 4 Jumlah Dalam persen Usia sekarang a. Di bawah 35 tahun 0 0 b. 36 tahun – 45 tahun 3 20% c. 46 tahun - 45 tahun 4 27% d. Di atas 50 tahun 8 53% a. SD 0 0 b. SMP 0 0 c. SMA 7 47% d. D3/S1 8 53% a. Kursus 13 87% b. Otodidak 0 0% c. Perguruan Tinggi 2 13% a. Petani 0 0 b. Pedagang 0 0 c. Pegawai negeri 2 13% Pendidikan terakhir Latar belakang katekese Profesi

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 5 d. Guru 6 40% e. Lainnya 7 47% a. Fulltime 1 7% b. Partime/volunteer 14 93% c. Kontrak 0 0 Profesi katekis Item nomor 1 (tabel 2) mengungkapkan usia responden. Berdasarkan tabel di atas, diketahui 3 responden (20%) berusia 36 tahun - 45 tahun, 4 responden (27%) berusia 46 tahun - 50 tahun, dan 8 responden (53%) berusia di atas 50 tahun. Maka, penulis menegaskan bahwa para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran sebagai responden penelitian ini tergolong kelompok usia tua. Item nomor 2 (tabel 2) mengungkapkan tingkat pendidikan responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 responden (47%) berpendidikan terakhir SMA dan 8 responden (53%) berpendidikan terakhir D3/S1. Sedangkan item nomor 3 (tabel 2) mengungkapkan latar belakang pendidikan katekese responden. Diketahui 13 responden (87%) mengikuti kursus katekese dan 2 responden (13%) menempuh pendidikan di perguruan tinggi bidang katekese. Berdasarkan data tersebut dapat dinyatakan bahwa mayoritas responden penelitian menempuh pendidikan terakhir di perguruan tinggi dan mengikuti kursus katekese. Maka, penulis menegaskan bahwa hanya terdapat 2 katekis di paroki Bintaran yang sungguh berlatarbelakang pendidikan kateketik, sedangkan sebagian besar katekis lainnya memperdalam wawasannya dengan mengambil kursus di bidang katekese. Item no 4 (tabel 2) mengungkapkan profesi katekis. Hasil penelitian menunjukkan 2 responden (13%) merupakan pegawai negeri, 6 responden (40%)

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 merupakan guru, dan 7 responden (47%) memilih profesi lainnya. Sedangkan item nomor 5 (tabel 2) mengungkapkan profesi responden sebagai katekis, diketahui 1 responden (7%) merupakan katekis fulltime dan 14 responden (93%) merupakan katekis parttime/volunteer. Maka dapat dikatakan bahwa profesi sebagian besar katekis adalah guru dan lainnya serta mayoritas responden merupakan katekis parttime/volunteer. 2) Hasil penelitian kuesioner Pada bagian ini, penulis akan memaparkan hasil penelitian dalam bentuk tabel yang terdiri dari makna Ekaristi menurut para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, dan faktor pendukung serta penghambat untuk memaknai Ekaristi dalam pelayanan para katekis. Dalam penelitian kuesioner ini, penulis menggunakan kode untuk alternatif jawaban sebagai berikut: jika responden memilih SS (Sangat Setuju) berarti mereka sangat menyetujui pernyataan dan bersifat positif, S (Setuju) berarti responden menyetujui pernyataan dan bersifat positif, sedangkan N (Netral) jika responden ragu-ragu, TS (Tidak Setuju) berarti responden tidak menyetujui pernyataan dan bersifat negatif, STS (Sangat Tidak Setuju) berarti sangat tidak menyetujui pernyataan dan bersifat negatif. Tabel 3 Makna Ekaristi untuk Para Katekis N=15 No Pernyataan 1 Ekaristi menjadi sumber a. Sangat Setuju 13 Dalam Persen (%) 87% kekuatan para katekis b. Setuju 2 37% Alternatif Jawaban Jumlah

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 2 dalam melaksanakan c. Netral 0 0 karya pelayanannya d. Tidak Setuju 0 0 e. Sangat Tidak Setuju 0 0 Dengan menyelami a. Sangat Setuju 6 40% hidup Yesus Kristus b. Setuju 9 60% melalui Ekaristi, para c. Netral 0 0 katekis semakin d. Tidak Setuju 0 0 mengenal dan e. Sangat Tidak Setuju 0 0 Ekaristi membuat para a. Sangat Setuju 7 47% katekis semakin tangguh b. Setuju 8 53% dan setia menghadapi c. Netral 0 0 setiap tantangan di d. Tidak Setuju 0 0 zaman sekarang e. Sangat Tidak Setuju 0 0 Ekaristi membantu a. Sangat Setuju 7 47% meningkatkan kualitas b. Setuju 8 53% hidup beriman para c. Netral 0 0 katekis agar lebih d. Tidak Setuju 0 0 mencintai Yesus Kristus e. Sangat Tidak Setuju 0 0 Dengan setia mengikuti a. Sangat Setuju 7 47% perayaan Ekaristi, para b. Setuju 8 53% katekis memperoleh c. Netral 0 0 kegembiraan yang d. Tidak Setuju 0 0 mendalam dan semangat e. Sangat Tidak Setuju 0 0 mencintai-Nya sehingga menjadi inspirasi bagi mereka untuk membangun persaudaraan dengan umat beriman 3 4 5 yang menyala untuk

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 mewartakan Kerajaan Allah di tengah umat 6 Ekaristi menjadi jalan a. Sangat Setuju 7 47% bagi para katekis untuk b. Setuju 8 53% semakin beriman pada c. Netral 0 0 Yesus Kristus dan d. Tidak Setuju 0 0 bersemangat e. Sangat Tidak Setuju 0 0 Melalui Ekaristi, para a. Sangat Setuju 8 53% katekis semakin terbuka b. Setuju 7 47% untuk berkerjasama c. Netral 0 0 dengan semua pihak d. Tidak Setuju 0 0 untuk mewartakan e. Sangat Tidak Setuju 0 0 Melalui Ekaristi, para a. Sangat Setuju 4 27% katekis rela berkorban b. Setuju 11 73% baik berupa tenaga, c. Netral 0 0 waktu, pikiran maupun d. Tidak Setuju 0 0 materi demi kelancaran e. Sangat Tidak Setuju 0 0 mewartakan Kabar Gembira 7 Kabar Gembira Yesus Kristus 8 pelayanan mereka 9 Ekaristi memotivasi para a. Sangat Setuju 8 53% katekis supaya lebih b. Setuju 7 47% kreatif dalam karya c. Netral 0 0 pelayanan mereka di era d. Tidak Setuju 0 0 modern e. Sangat Tidak Setuju 0 0

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 10 Melalui Ekaristi, para a. Sangat Setuju 6 40% katekis terdorong untuk b. Setuju 9 60% lebih peka dan peduli c. Netral 0 0 terhadap sesama yang d. Tidak Setuju 0 0 membutuhkan e. Sangat Tidak Setuju 0 0 pertolongan Pada bagian ini penulis akan melaporkan hasil penelitian tentang makna Ekaristi untuk para katekis di paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta. Dari data yang diperoleh data yang menyatakan bahwa makna Ekaristi menjadi motivasi pelayanan katekis, meningkatkan kualitas katekis dan membentuk sikap kritis katekis. Berkaitan dengan makna Ekaristi sebagai motivasi pelayanan katekis yaitu menjadi sumber kekuatan, inspirasi dan ketangguhan diperoleh data sebagai berikut: Item nomor 1 (tabel 3) melaporkan bahwa terdapat 13 responden (87%) menyatakan sangat setuju dan 2 responden (37%) menyatakan setuju. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa para katekis Bintaran telah memaknai Ekaristi sebagai sumber kekuatan mereka dalam menjalankan tugas perutusannya sebagai katekis dan jawaban bersifat positif. Item nomor 2 (tabel 3) melaporkan bahwa terdapat 6 responden (40%) menyatakan sangat setuju dan 9 responden (60%) menyatakan setuju. Hal tersebut mengungkapkan bahwa para katekis Bintaran telah memaknai Ekaristi sebagai sarana untuk lebih mengenal dan mencintai Yesus Kristus sebagai inspirasi sehingga mendorongnya untuk membangun persaudaraan dengan umat beriman dan jawaban bersifat positif. Item nomor 3 (tabel 3) melaporkan bahwa terdapat 7 responden (47%) menyatakan sangat setuju dan 8 responden (53%) menyatakan setuju. Data ini mengungkapkan bahwa para

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 katekis Bintaran telah memaknai Ekaristi sebagai kekuatan menghadapi tantangan sehingga menjadi katekis yang tangguh dan setia dalam pelayanan dan jawaban bersifat positif. Ekaristi meningkatkan kualitas diri katekis diantaranya semakin beriman dan bersemangat dalam melayani umat. Item nomor 4 (tabel 3) melaporkan bahwa sejumlah 7 responden (47%) menyatakan sangat setuju dan 8 responden (53%) menyatakan setuju. Hal ini menjelaskan bahwa Ekaristi membentuk dan menjiwai kualitas hidup para katekis di Bintaran dan jawaban bersifat positif. Item nomor 5 (tabel 3) diperoleh data sebanyak 7 responden (47%) menyatakan sangat setuju dan 8 responden menyatakan setuju. Dengan demikian menerangkan bahwa para katekis Bintaran merasakan kegembiraan yang mendalam serta semangat yang menyala untuk mewartakan Kerajaan Allah setelah merayakan Ekaristi dan jawaban bersifat positif. Item nomor 6 (tabel 3) menyatakan para katekis di Bintaran merasakan bahwa Ekaristi memupuk iman mereka sehingga semakin beriman akan Yesus Kristus dan bersemangat mewartakan-Nya dan jawaban bersifat positif. Data yang diperoleh adalah 7 responden (47%) menyatakan sangat setuju dan 8 responden (53%) menyatakan setuju. Ekaristi juga mengundang katekis untuk bersikap Kritis terhadap kebutuhan umat diantaranya: mau bekerjasama, rela berkorban, kreatif, dan peka serta peduli terhadap orang lain. Item nomor 7 (tabel 3) mengemukakan bahwa Ekaristi mendorong katekis Bintaran semakin terbuka untuk bekerjasama dengan semua pihak untuk mewartakan Kabar Gembira Yesus Kristus dan jawaban bersifat positif, data yang diperoleh 8 responden (53%) menyatakan sangat setuju dan 7 responden menyatakan setuju. Item nomor 8 (tabel 3) menjelaskan Ekaristi

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 menjadi penggerak katekis Bintaran untuk rela berkorban baik berupa tenaga, waktu, pikiran maupun materi demi kelancaran pelayanan para katekis dan jawaban bersifat positif. data yang dilaporkan 4 responden (27%) menyatakan sangat setuju dan 11 responden (73%) menyatakan setuju. Item nomor 9 (tabel 3) menerangkan bahwa Ekaristi menginspirasi katekis Bintaran untuk lebih kreatif dalam karya pelayanannya dan jawaban bersifat positif. Data penelitian mengungkapkan terdapat 8 responden (53%) menyatakan sangat setuju dan 7 responden (47%) menyatakan setuju. Ekaristi juga semakin mengasah kepekaan serta kepedulian para katekis Bintaran terhadap umat yang membutuhkan pertolongan dan jawaban bersifat positif, data penelitian melaporkan terdapat 6 responden (40%) menyatakan sangat setuju dan 9 responden (60%) menyatakan setuju. Tabel 4 Faktor Pendukung yang Mempengaruhi Penghayatan Ekaristi dalam Karya Pelayan Para Katekis di Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta N=15 Pernyataan 11 Para katekis sungguh a. Sangat Setuju 5 33% menyadari makna b. Setuju 10 67% Ekaristi sebagai c. Netral 0 0 sumber semangat d. Tidak Setuju 0 0 pelayanan mereka e. Sangat Tidak Setuju 0 0 Sebelum perayaan a. Sangat Setuju 7 47% Ekaristi, para katekis b. Setuju 8 53% berdoa, membaca dan c. Netral 0 0 merenungkan Kitab d. Tidak Setuju 0 0 12 Alternatif Jawaban Jumlah Dalam No Persen (%)

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Suci terlebih dahulu e. Sangat Tidak Setuju 0 0 Para katekis datang a. Sangat Setuju 3 20% mengikuti perayaan b. Setuju 12 80% Ekaristi untuk c. Netral 0 0 menjawab kerinduan d. Tidak Setuju 0 0 akan perjumpaan e. Sangat Tidak Setuju 0 0 Para katekis setia a. Sangat Setuju 6 40% mengikuti perayaan b. Setuju 9 60% Ekaristi dikarenakan c. Netral 0 0 kesadaran akan d. Tidak Setuju 0 0 pentingnya makanan e. Sangat Tidak Setuju 0 0 untuk menyiapkan hati menanggapi undangan Allah 13 dengan Allah dan umat Katolik lainnya 14 rohani dan rahmat Allah dalam kehidupan Pada bagian ini, penulis akan melaporkan hasil penelitian berkaitan dengan faktor pendukung yang mempengaruhi penghayatan Ekaristi dalam karya pelayanan para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Data yang diperoleh dari item nomor 10 (tabel 4) yaitu 5 responden (33%) menyatakan sangat setuju dan 10 responden (67%) menyatakan setuju. Hal ini menjelaskan katekis Bintaran menyadari makna Ekaristi sebagai sumber semangat pelayanan mereka sehingga terdorong untuk menghayati Ekaristi dengan baik. Item nomor 12 (tabel 4) melaporkan sebanyak 7 responden (47%) menyatakan sangat setuju dan 8 responden (53%) menyatakan setuju. Hal ini menjelaskan bahwa para

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 katekis Bintaran mempersiapkan hati sebelum merayakan Ekaristi yakni; dengan berdoa, membaca dan merenungkan Kitab Suci terlebih dahulu. Item nomor 13 (tabel 4) melaporkan sejumlah 3 responden (20%) menyatakan sangat setuju dan 12 responden (80%) menyatakan setuju. Maka dapat dikatakan bahwa para katekis mengikuti perayaan Ekaristi digerakkan oleh keinginan untuk menjawab kerinduan akan perjumpaan dengan Allah dan umat Katolik lainnya. Item nomor 14 (tabel 4) menyatakan terdapat 6 responden (40%) menyatakan sangat setuju dan 9 responden (60%) menyatakan setuju. Dengan demikian para katekis Bintaran merayakan Ekaristi dikarenakan kesadaran akan pentingnya makanan rohani dan rahmat Allah dalam kehidupan. Tabel 5 Faktor Penghambat yang Mempengaruhi Penghayatan Ekaristi dalam Karya Pelayan Para Katekis di Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta N=15 No Pernyataan Alternatif Jawaban Jumlah Dalam Persen (%) 15 Para katekis a. Sangat Setuju 1 7% 16 mengikuti perayaan b. Setuju 1 7% Ekaristi sebagai c. Netral 6 40% kewajiban (rutinitas) d. Tidak Setuju 6 40% umat beriman Katolik e. Sangat Tidak Setuju 1 7% Para katekis a. Sangat Setuju 1 7% mengikuti perayaan b. Setuju 1 7% Ekaristi sebagai c. Netral 0 0 pencitraan seorang d. Tidak Setuju 8 53% katekis yang baik e. Sangat Tidak Setuju 5 33%

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 17 Sebagai anggota a. Sangat Setuju 0 0 Gereja, para katekis b. Setuju 1 7% kurang menyadari c. Netral 0 0 perlunya terlibat d. Tidak Setuju 10 67% dalam kehidupan e. Sangat Tidak Setuju 4 27% menggereja terutama Ekaristi Pada bagian ini, penulis akan melaporkan hasil penelitian berkaitan dengan faktor penghambat yang mempengaruhi penghayatan Ekaristi dalam karya pelayan para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Item nomor 15 (tabel 5) mengungkapkan motivasi merayakan Ekaristi adalah sebagai rutinitas umat beriman Katolik. Data yang diperoleh 1 responden (7%) menyatakan sangat setuju dan 1 responden (7%) menyatakan setuju. Sebanyak 6 responden (40%) menyatakan netral, hal ini mengungkapkan bahwa responden masih ragu-ragu, dalam arti bisa mengarah ke pernyataan positif ataupun pernyatan negatif. dan terdapat 6 responden (40%) menyatakan tidak setuju dan 1 responden (7%) menyatakan tidak setuju, yang berarti bahwa responden tidak merayakan Ekaristi sebagai rutinitas. Item nomor 16 (tabel 5) berkaitan dengan tujuan mengikuti perayaan Ekaristi sebagai pencitraan diri. Data yang diperoleh adalah 1 responden (7%) sangat setuju dan 1 responden (7%) setuju, yang berarti responden merayakan Ekaristi agar terlihat sebagai katekis yang baik. Sebanyak 8 responden (53%) tidak setuju dan 5 responden (33%) sangat tidak setuju, hal ini menjelaskan bahwa responden mengikuti Ekaristi bukan dengan tujuan untuk pencitraan diri sebagai katekis yang baik.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Item 17 (tabel 5) merupakan faktor penghambat dengan menggunakan pernyataan negatif yaitu berkaitan dengan kesadaran mengikuti perayaan Ekaristi sebagai anggota Gereja. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa katekis sungguh menyadari peran sertanya dalam kegiatan Gereja terutama perayaan Ekaristi yaitu 10 responden (67%) tidak setuju dan 4 responden (27%) sangat tidak setuju. namun masih terdapat 1 responden (7%) memilih setuju, yang berarti responden kurang menyadari diri akan tugas anggota Gereja. Dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa mayoritas responden memberikan jawaban positif terhadap pernyataan yang telah disediakan. Dengan demikian menunjukkan bahwa katekis Bintaran telah memaknai dan menghidupi Ekaristi di dalam karya pelayanannya. Ekaristi semakin menjiwai pelayanan, memupuk persaudaraan dan meneguhkan iman para katekis. Namun, terdapat beberapa katekis yang masih ragu-ragu terhadap faktor yang menjadi penghambat di dalam menghayati Ekaristi atau dapat dikatakan bahwa jawaban katekis dapat mengarah ke pernyataan positif namun dapat pula ke pernyatan negatif. Bertolak dari hasil tersebut, penulis berharap penelitian ini bisa menjadi usaha bagi para katekis untuk dapat mempertahankan sekaligus memperdalam makna Ekaristi sehingga para katekis semakin bersemangat dan totalitas di dalam pelayanannya. b. Laporan hasil wawancara Selain pertanyaan kuisioner, penulis juga menggunakan metode wawancara pada variable ke 3 guna mempertegas jawaban peserta mengenai harapan untuk dapat menghayati Ekaristi. Penulis melakukan wawancara dengan 2 katekis yang dilaksanakan pada tanggal 6 Agustus 2018 bertempat di SMKN 1 Yogyakarta dan

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 di kediaman bapak Albertus Arsanto. Dalam melaporkan hasil wawancara, penulis menggunakan kode: R : responden 1-2 : menunjukkan jumlah responden Pertanyaan pertama mengenai harapan katekis di dalam perayaan Ekaristi. Berdasarkan data wawancara (Lampiran 11: Transkrip Hasil Wawancara) diperoleh bahwa R1 menyatakan harapannya dalam Ekaristi ada kesatuan antara pemahaman dan sikap-sikap liturgi di dalam Ekaristi. Kesatuan yang dimaksud agar umat tidak hanya sekedar memahami makna Ekaristi sebagai konsep melainkan juga mengungkapkannya dalam tata gerak di dalam perayaan Ekaristi, yang juga menunjang kekhidmatan umat dalam berdoa. Sedangkan, R2 (Lampiran 11: Transkrip Hasil Wawancara) lebih menekankan makna Ekaristi sebagai puji syukur telah mendapat anugerah. Sebagai puji syukur, beliau berharap Ekaristi sungguh memberikan ketenangan batin juga keselamatan bagi jasmani maupun rohani. Pertanyaan kedua mengenai hal-hal yang ingin dicapai yang belum terwujud lewat Ekaristi, bagi diri sendiri, katekis atau pelaksana Ekaristi. Berdasarkan data wawancara diperoleh jawaban bahwa R1 (Lampiran 11: Transkrip Hasil Wawancara) mengungkapkan hal yang belum tercapai untuk pelaksana Ekaristi belum relevan, dan belum menyentuh kehidupan umat. Sedangkan R2 (Lampiran 11: Transkrip Hasil Wawancara) mengungkapkan hal yang belum dicapai di dalam perayaan Ekaristi untuk diri sendiri adalah belum memperoleh kemantapan batin.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Pertanyaan ketiga mengenai program apa yang anda harapkan untuk memaknai Ekaristi. Berdasarkan data wawancara, R1 dan R2 (Lampiran 11: Transkrip Hasil Wawancara) mengusulkan adanya kegiatan penyegaran baik untuk para pelayan-pelayan Ekaristi maupun katekis dan juga umat mengenai Ekaristi. 3. Pembahasan Hasil Penelitian tentang makna Penghayatan Ekaristi para Katekis Pembahasan ini mengacu kepada hasil penelitian mengenai sejauh mana para katekis memaknai Ekaristi dalam pelayanannya di Paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Adapun pembahasan tersebut meliputi identitas responden, hasil kuisioner tentang penghayatan Ekaristi para katekis dan harapan, dan hasil wawancara mengenai harapan katekis untuk dapat menghayati Ekaristi. a. Identitas responden Responden penelitian adalah seluruh katekis paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta yaitu berjumlah 15 orang. Sebagian besar dari mereka berusia di atas 50 tahun (tabel 2). Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa katekis di paroki ini tergolong dalam usia pertengahan (middle age) yaitu usia menuju masa lansia. Melihat kesediaan para katekis mengambil bagian dalam karya pelayanan di usia tersebut, penulis berpendapat bahwa mereka melayani umat di paroki ini sangat tinggi. Jika dilihat dari segi usia, mereka sudah tergolong usia pertengahan tetapi tidak menghalangi mereka untuk tetap melayani. Menjadi katekis adalah panggilan luhur yakni mengambil bagian di dalam tugas pengajaran Yesus di

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 dunia. Oleh karena itu, usia bukanlah menjadi tolak ukur untuk menjadi seorang katekis, melainkan bagaimana katekis dapat menyampaikan kabar gembira Yesus agar sampai pada umat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar katekis menempuh pendidikan D3/S1 di Perguruan Tinggi (tabel 2). Namun demikian, para katekis bukanlah lulusan dari jurusan kateketik melainkan mengambil kursus di bidang katekese. Latar belakang pendidikan mempengaruhi seseorang dalam pengetahuan dan wawasan. Akan tetapi, hal tersebut tidak menutup kemungkinan bagi para katekis untuk dapat memberikan yang terbaik bagi umat. Latar belakang pendidikan katekis tidak menjamin kualitas hidup rohani, kepribadian, maupun semangat melayani seorang katekis. Meskipun demikian, berdasarkan data informasi mengenai biodata diri para katekis di paroki ini terlihat bahwa 87% (13 responden) mengambil kursus di bidang katekese. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa para katekis di paroki ini juga memiliki antusiasme untuk lebih memperdalam pengetahuan mereka mengenai katekese melalui kursus katekese. Kesediaan para katekis di Bintaran untuk berpartisipasi dalam karya pelayanan ini juga tampak dari jenis pekerjaan mereka. Sebagian besar katekis memilih pernyataan berprofesi lainnya dan sebagai katekis volunteer (tabel 2). Partisipasi para katekis ini menunjukkan sikap tanggap kaum awam terhadap pentingnya peranan katekis di dalam perkembangan hidup menggereja. Pewarta adalah barisan para katekis, baik pria maupun wanita, yang dijiwai semangat merasul dan dengan banyak jerih payah memberi bantuan istimewa dan sungguh perlu demi penyebarluasan iman Gereja (Iman Katolik, 1996: 390).

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 b. Hasil kuisioner tentang penghayatan Ekaristi para katekis Bertolak dari hasil penelitian melalui metode kuisioner, diperoleh data (tabel 3) mengenai makna Ekaristi menurut para katekis. Secara keseluruhan jawaban responden mengungkapkan jawaban yang positif yang berarti mereka telah memaknai Ekaristi dalam karya pelayanannya dengan baik. Responden telah memaknai Ekaristi sebagai motivasi pelayanan katekis, meningkatkan kualitas hidupnya dan membentuk sikap kritis katekis. Sebab, Ekaristi menyatukan pribadi dengan Kristus sendiri sehingga para katekis menjadi serupa dengan Allah. Serupa berarti menjadi cerminan apa yang telah diperbuat Allah kepada umat-Nya sebagaimana diteladankan Yesus Kristus. Dengan demikian, Ekarisi mendorong katekis untuk dapat mengekspresikan kesatuan iman dan cintanya kepada Yesus dalam keseluruhan hidup katekis baik secara pribadi maupun rohani yang terungkap dalam kata-kata, tindakan dan pelayanannya Hasil penelitian (tabel 3) juga mengungkapkan kesadaran para katekis Bintaran mengenai Ekaristi yang berdampak positif bagi peningkatkan kualitas hidup katekis. Kualitas hidup para katekis tampak dalam tindakan melayani saudara-saudarinya dengan ajaran dan karya mereka sebagai sosok pewarta sejati. Pewarta sejati adalah mereka yang selalu teguh dalam iman, tangguh dan gigih dalam menyuarakan kebenaran, setia dalam pelayanan dan tidak bersungut-sungut serta tidak ikut arus perubahan zaman (Pangestu, 2005: 70). Paus Fransiskus menegaskan bahwa menjadi katekis bukanlah pekerjaan melainkan panggilan untuk membantu umat supaya semakin mengenali, mencintai, dan mengikuti Yesus Kristus melalui kesaksian hidup bukan kata-kata yang indah (Heryatno, 2018: 227).

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Semakin katekis bersatu dengan Allah, cinta kasih Allah akan membawanya menjauh dari cinta kepada diri sendiri (Heryatno, 2018: 229). Cinta sejati Allah tumbuh dan berkembang dalam diri katekis yang menggerakkannya untuk bersikap kritis demi memberikan dirinya secara total untuk melayani umat. sikap kritis ini dapat berupa kesadaran tidak dapat bekerja sendiri dan perlunya bekerjasama dengan berbagai pihak terutama yang terlibat dalam reksa pastoral. Keterbukaan terhadap perkembangan zaman juga menuntut sikap kritis katekis dimana katekis dituntut untuk semakin kreatif dan konstektual. Sikap kritis ini juga mendorong kepekaan dan kepedulian katekis terhadap kaum lemah dan tersingkir, dan tentunya katekis harus memiliki sikap rela berkorban baik berupa waktu, tenaga, pikiran maupun materi demi kelancaran pelayanan para katekis. Ekaristi merupakan jiwa dari proses pembinaan iman bagi umat yang menghantarkan kepada kedewasaan iman. Namun demikian, beberapa alasan mampu mendorong maupun melemahkan semangat mengikuti Ekaristi. Tabel 3 mengungkapkan mayoritas responden memberikan jawaban positif untuk memaknai Ekaristi dalam pelayanan para katekis di paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta. Kedalaman makna Ekaristi sungguh luar biasa, apabila katekis dapat sungguh mendalaminya, kecintaan kita akan Ekaristi semakin membara dan hidup kita perlahan diubah secara menggagumkan (Martasudjita, 2016: 39) Citra seorang katekis terletak pada seluruh hidupnya. Kualifikasi katekis terletak kepada keutuhan dan keaslian hidupnya yaitu keselarasan antara pengajaran dengan kehidupan rohani dan kesehariannya (CEP, 1997: 26). Oleh karena itu, seorang katekis dituntut untuk memiliki kehidupan rohani yang unggul salah satunya rajin mengikuti perayaan Ekaristi. Namun, terkadang hal tersebut

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 justru menjadikan Ekaristi sebagai rutinitas dan pencitraan agar terlihat sebagai katekis yang baik. Demikian dengan katekis di Bintaran, hasil penelitian (tabel 5) mengungkapkan pada item nomor 15 terdapat katekis yang menganggap Ekaristi sebagai rutinitas (7%) dan ragu-ragu dengan memilih netral (40%). Sedangkan item nomor 16 terdapat 7% katekis di Bintaran menjadikan Ekaristi sebagai pencitraan diri agar dianggap sebagai katekis yang baik. Hasil penelitian kuesioner mengungkapkan makna Ekaristi telah dihidupi dengan baik oleh para katekis Bintaran. Maka, dapat dikatakan bahwa Ekaristi h telah berbuah di dalam seluruh hidup para katekis Bintaran terlebih di dalam karya pelayanannya. Ekaristi menjadi sumber kekuatan, inspirasi dan ketangguhan seorang katekis dalam menghadapi setiap persoalan di dalam pelayanannya karena di dalam Ekaristi katekis membangun komunikasi dengan sang inspirasi yaitu Yesus, Sang katekis sejati. Setiap perjumpaan dengan role model tentu menghasilkan kegembiraan yang mendalam. Demikian dengan katekis, Ekaristi memberikan kegembiraan yang mendalam sekaligus semangat yang menyala untuk mewartakan kabar sukacita yang diperolehnya kepada orang lain. Selain itu, Ekaristi juga membentuk dan meningkatkan kualitas hidup katekis. Kualitas hidup katekis tampak di dalam keutuhan dan keaslian hidup, dimana hidup katekis memiliki keselarasan antara hidupnya sehari-hari maupun kehidupan rohaninya, selain katekis memiliki iman yang tangguh mereka juga memiliki keterbukaan, kepekaan dan kepedulian terhadap orang lain.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 c. Hasil wawancara mengenai harapan katekis untuk dapat menghayati Ekaristi Wawancara yang dilakukan penulis memfokuskan pada variabel ketiga yaitu mengenai harapan para katekis dalam Ekaristi agar diperoleh jawaban yang lebih jelas dan lengkap. Untuk mendapatkan jawaban yang bersifat netral maka penulis mengambil subjek penelitian ini adalah pendamping sekaligus katekis yang aktif terlibat dalam kegiatan pelayanan. Responden I menegaskan akan pentingnya pemahaman dan sikap-sikap yang benar di dalam liturgi. Kurangnya pemahaman dan penghayatan sikap-sikap liturgi berpengaruh terhadap kurangnya penghayatan terhadap Ekaristi. Sikapsikap liturgi yang dimaksud adalah gerak-gerik di dalam perayaan Ekaristi. Beliau berharap di dalam perayaan Ekaristi terjadi kesatuan antara pemahaman dan penghayatannya. Dengan pengetahuan yang benar maka umat akan menaruh rasa hormat dan terbantu menciptakan suasana yang khidmat di dalam perayaan Ekaristi (Lampiran 11: Transkrip Hasil Wawancara). Jacobs (1996: 142) mengungkapkan bahwa kebersamaan di dalam perayaan Ekaristi adalah kesatuan iman bukan keseragaman, dan sebagai perayaan terdapat unsur variasi, yang tidak menghendaki keseragaman dan ketertiban secara kaku. Penulis berpendapat bahwa yang menjadi permasalahan di dalam perayaan Ekaristi bukanlah tata gerak dalam mengikuti perayaan Ekaristi melainkan sikap umat yang terkadang kurang menaruh rasa hormat atau bersikap santai di dalam perayaan Ekaristi yang terkadang membuat risih dan menggangu penghayatan umat yang lain. Responden II mengungkapkan harapannya terhadap Ekaristi berkaitan dengan pengaruh dari dalam diri sendiri. Beliau mengatakan bahwa Ekaristi menjadi tempat bersyukur atas segala anugerah yang diterimanya dan

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 mengharapkan Ekaristi mampu memberikan ketenangan batin dan keselamatan baik rohani maupun jasmani (Lampiran 11: Transkrip Hasil Wawancara). Ketenangan batin dapat diperoleh apabila seseorang sungguh meletakkan Ekaristi sebagai ungkapan syukur. Sebab ungkapan syukur lebih dari sekedar ungkapan terimakasih atas apa yang diterima secara pribadi. Akan tetapi, Ekaristi sebagai ungkapan kekaguman dan rasa hormat penuh kegembiraan dan kebahagiaan (Wibowo Ardhi, 1993: 11). Rasa syukur penuh kagum sekaligus hormat berarti seseorang memuji karya, kebaikan, dan kuasa Allah bagi dunia. Ungkapan syukur yang tidak berhenti pada pemberian-pemberian Allah di dalam hidupnya secara pribadi atau kelompok tertentu misal kesehatan, kesuksesan atau kesembuhan melainkan mengucap syukur secara menyeluruh yaitu segala penyertaan Allah di dalam hidup-Nya baik saat suka maupun duka. Hidup penuh syukur tidak memperhitungkan kebaikan tertentu sehingga membentuk kehidupan yang sehat baik jasmani maupun rohaninya termasuk ketenangan batin. Berkaitan dengan apa yang ingin dicapai di dalam perayaan Ekaristi. Responden I menginginkan Ekaristi yang relevan yaitu Ekaristi yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan umat (Lampiran 11: Transkrip Hasil Wawancara). Perayaan Ekaristi mempertemukan kita dengan Tuhan Yesus yang sungguh mengasihi umat-Nya semestinya senantiasa membawa kepada sukacita Injil. Sukacita Injil bukan hanya kegembiraan semu melainkan sukacita yang hanya tumbuh dan mengalir karena anugerah Allah (Martasudjita, 2016: 149). Ekaristi yang menyentuh kehidupan umat tidak hanya menumbuhkan sukacita batiniah namun juga menghantar kepada semangat bersaksi di dalam kehidupan sehari-

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 hari. Sebab, makna Ekaristi sesungguhnya terletak pada Ekaristi yang mampu menghantar umat pada tindakan nyata. Selain itu, Ekaristi juga seharusnya mampu menggugah hati setiap pribadi. Responden II mengungkapkan hal yang belum dicapai di dalam Ekaristi bagi dirinya adalah ketenangan hati di dalam perayaan Ekaristi (Lampiran 11: Transkrip Hasil Wawancara). Ketenangan hati selain menggerakkan umat untuk dapat menghayati Ekaristi dengan baik juga dapat mengubah kualitas hidup rohani yaitu semakin meningkatkan cinta kepada Allah dan umat beriman lainnya. Kedua responden mengusulkan adanya penyegaran iman baik bagi pelayan-pelayan Ekaristi, Katekis maupun bagi umat sendiri dalam kelompok-kelompok kategorial guna memperdalam makna Ekaristi bagi pelayanannya (Lampiran 11: Transkrip Hasil Wawancara). C. Kesimpulan Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa para katekis telah mendapatkan memaknai Ekaristi (tabel 3). Ekaristi menjadi penggerak, peneguh dan penguat di dalam pelaksanaan pelayanan mereka. Akan tetapi penulis masih meragukan hal tersebut. Penulis mengandaikan bahwa hasil penelitian masih sampai pada pemahaman responden, dikarenakan penelitian dalam bentuk kuesioner tertutup, responden cenderung akan memilih opsi pernyataan yang paling baik maka pertanyaan berkaitan tentang fakta belum tentu sepenuhnya menghasilkan jawaban yang bersifat faktual. Berdasarkan pengalaman pribadi penulis ikut ambil bagian di dalam kegiatan katekis di Bintaran, penulis mendapat kesan bahwa mereka lebih banyak

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 mengungkapkan pemahaman akan Ekaristi dan belum sampai kepada fakta yang ada. Ekaristi belum benar-benar menjadi makna yang hidup dalam pelayanan mereka. Katekis tampak kurang bersemangat dalam melayani umat, menggantungkan diri pada katekis lain, memilih tugas yang ringan di dalam pelayanan, hal tersebut berbanding terbalik dengan buah-buah Ekaristi yang di dapat dari katekis yang sungguh memaknai Ekaristi. Faktor pendukung untuk memaknai Ekaristi menjadi dorongan yang baik bagi para katekis di Bintaran. Di sini terungkap bahwa belum semua katekis menghayati Ekaristi dengan baik. Faktor penghambat mengungkapkan bahwa terdapat beberapa katekis yang masih ragu-ragu dalam memaknai keaktifannya mengikuti perayaan Ekaristi sebatas rutinitas atau tidak (tabel 4). Penulis berpendapat bahwa kecenderungan ini merupakan dampak dari kurangnya katekis memaknai Ekaristi sebagai bagian dari hidup dan pelayannya. Seorang katekis harus memiliki kualitas hidup rohani maupun pribadi yang unggul. Kualitas seorang katekis tidak sekedar memahami makna Ekaristi dengan baik, tetapi juga sejalan dengan pelaksanaan di dalam pelayanannya. Namun demikian, di dalam penelitian ini belum terungkap bahwa para katekis di Bintaran sungguh telah menghidupi makna Ekaristi di dalam pelayanannya. Berhubung penulis memiliki keraguan akan hal ini, maka sebagai tindak lanjut adalah pengayaan (enrichment) dan pemberdayaan (empowement) tentang makna Ekaristi dalam bentuk rekoleksi, sebagai usaha meningkatkan motivasi pelayanannya sebagai katekis.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 BAB IV REKOLEKSI PENGAYAAN (ENRICHMENT) DAN PEMBERDAYAAN (EMPOWERMENT) TENTANG MAKNA EKARISTI DENGAN MODEL BERBAGI PENGALAMAN SEBAGAI USAHA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI PELAYANAN PARA KATEKIS DI PAROKI SANTO YUSUP BINTARAN, YOGYAKARTA Pada bab sebelumnya, penulis telah menguraikan hasil penelitian tentang sejauhmana Ekaristi memotivasi pelayanan para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Bertolak dari hasil penelitian, penulis masih memiliki keraguan para katekis di paroki Bintaran sekedar memahami essensi Ekaristi dengan baik, akan tetapi penghayatan katekis akan makna Ekaristi belum tampak dalam pelaksanaanya. Oleh karena itu, sebagai tindak lanjut dari penelitian tersebut, penulis mengusulkan kegiatan rekoleksi pengayaan (enrichment) dan pemberdayaan (empowerment) makna Ekaristi dengan model berbagi pengalaman sebagai upaya yang dapat dilakukan guna meningkatkan motivasi pelayanan para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Kegiatan ini diusulkan dengan maksud agar Ekaristi sungguh dihidupi dan menjadi motivasi katekis dalam melayani sesama bukan sebatas persepsi. A. Rekoleksi Pengayaan (Enrichment) dan Pemberdayaan (Empowerment) tentang Makna Ekaristi dengan Model Berbagi Pengalaman 1. Latar Belakang Rekoleksi Ekaristi bukanlah hal asing bagi seorang katekis namun seringkali terabaikan maknanya di dalam tugas dan karyanya. Di dalam kejumpaan katekis

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 dengan Allah, katekis semakin mencintai Allah yang berarti juga mencintai Ekaristi (Martasudjta, 2010: 17). Dengan mencintai-Nya lewat Ekaristi, seorang katekis semakin dipupuk motivasi pelayanannya, yang mendorongnya untuk membagikan cinta yang ia alami dengan sukacita di dalam karya pelayanannya, tidak sekedar melaksanakan tugas melainkan sungguh gerakan cinta dari Allah di dalam dirinya. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, jikalau melihat Faktor pendukung, para katekis sudah menyadari akan hal-hal yang menunjang dalam memaknai Ekaristi. Namun berdasarkan pengalaman pribadi, penulis mencurigai bahwa para katekis hanya memahami essensi Ekaristi dengan baik dan mendalam, tetapi secara konkret belum tampak dalam pelaksanaannya. Hal ini didukung dengan hasil penelitian mengenai faktor penghambat, dimana terungkap katekis menyatakan ragu-ragu terhadap Ekaristi sebagai rutinitas. Hal ini mengungkapkan bahwa katekis belum sepenuhnya mampu menyangkal hal-hal yang menghambatnya untuk memaknai Ekaristi dengan baik. Bertolak dari hasil penelitian, penulis berpendapat bahwa penghayatan makna Ekaristi katekis perlu lebih diperdalam dan ditingkatkan agar para katekis semakin diperkaya dan sungguh-sungguh menghayatinya di dalam pelayanannya. Maka, penulis mengusulkan rekoleksi pengayaan (enrichment) dan pemberdayaan (empowerment) tentang makna Ekaristi dengan model berbagi pengalaman sebagai usaha meningkatkan motivasi pelayanan katekis. Penulis memilih kegiatan ini dikarenakan rekoleksi merupakan pengayaan yang dapat dilaksanakan dalam waktu jangka pendek. Rekoleksi ini dimaksudkan sebagai usulan kegiatan awal bagi katekis, kemudian bersama para katekis akan direfleksikan dan

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 dievaluasi guna menentukan kegiatan pengayaan selanjutnya. Para katekis dapat menentukan kegiatan lain atau menggunakan kembali rekoleksi sebagai kegiatan pengayaan. 2. Tujuan Rekoleksi Penulis memberikan sumbangan pemikiran yaitu berupa rekoleksi pengayaan (enrichment) dan pemberdayaan (empowerment) makna Ekaristi dengan model berbagi pengalaman. Penulis berpendapat bahwa kegiatan ini bisa menjadi usaha yang efektif dan efisien untuk meningkatkan semangat pelayanan para katekis di paroki Bintaran. Hal tersebut tampak dalam tujuan rekoleksi itu sendiri. Rekoleksi mengajak peserta untuk melihat kembali pengalamanpengalaman yang sudah dilalui agar menjadi lebih utuh dan terfokus untuk berjumpa dengan Allah (Mangunhardjana, 2017: 29). Rekoleksi ini menggunakan model berbagi pengalaman, dimana para peserta diajak untuk menemukan makna Ekaristi di dalam pengalaman-pengalaman mereka yang telah direfleksikan guna menemukan pengalaman yang baru. 3. Waktu, Tempat, dan Peserta Rekoleksi Rekoleksi pengayaan (enrichment) dan pemberdayaan (empowerment) tentang makna Ekaristi merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian tentang sejauhmana Ekaristi telah memotivasi karya pelayanan katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Sasaran dari kegiatan ini adalah seluruh katekis yang ada di paroki ini. Penulis mengusulkan kegiatan ini dilaksanakan setiap dua kali setahun dengan mengambil waktu liburan sebagai penyegaran motivasi bagi

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 para katekis untuk memulai pelayanannya yang baru, sedangkan tempat kegiatan menyesuaikan kesepakatan bersama. B. Rekoleksi Pengayaan (Enrichment) dan Pemberdayaan (Enpowerment) tentang Makna Ekaristi dengan Model Berbagi Pengalaman sebagai Usaha Meningkatkan Semangat Pelayanan 1. Latar Belakang Kegiatan Tugas seorang katekis adalah mengkomunikasikan pesan Injil. Panggilan menjadi katekis adalah panggilan khusus yang memiliki peran penting dalam misi Gereja yaitu melaksanakan tugas perutusan Yesus Kristus di dunia, sebagai guru yang mengajar dan bersaksi, juga membawa dan mendampingi umat sampai pada kedewasaan iman. Namun demikian, di dalam perjalanan karya pelayanannya, para katekis tidak luput dari berbagai masalah maupun tantangan yang menyurutkan semangat pelayanannya bahkan mengakibatkan kekecewaan, kejenuhan, frustasi dan putus asa, yang menguji panggilannya sebagai katekis. demikian juga dengan para katekis di Bintaran, dimana penulis menemukan bahwa semangat pelayanan mereka masih naik-turun. Pelayanan katekis tidak lepas dari kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Oleh karena itu, rekoleksi pengayaan dan pemberdayaan makna Ekaristi menjadi usaha yang relevan untuk meningkatkan motivasi para katekis di Bintaran. Melalui kegiatan pengayaan (enrichment) ini katekis diajak untuk memperdalam dan memperkaya diri melalui pengalaman-pengalaman berharga mereka dalam menghayati Ekaristi, yang saling dibagikan. Kemudian menemukan buah-buah refleksi yang dapat menjadi dorongan semangat pelayanan mereka. Dimana dalam kegiatan ini terjadi suatu proses saling belajar dan akhirnya saling

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 memberdayakan satu sama lain (empowerment). Kegiatan pengayaan (enrichment) dan pemberdayaan (empowerment) ini sebagai pengembangan karya pelayanan katekis untuk meningkatkan kualitas dan memberdayakan katekis yang ada agar ada pembaruan dalam semangat katekis guna meningkatkan pelayanannya baik personal maupun kelompok secara optimal. 2. Rumusan Tema dan Tujuan Kegiatan Adapun tema dan tujuan yang hendak dicapai adalah sebagai berikut: Tema : Ekaristi sebagai upaya meningkatkan motivasi pelayanan para katekis Tujuan : Membantu para katekis St Yusup Bintaran untuk dapat memaknai Ekaristi secara mendalam agar memiliki semangat yang menyala dalam melayani umat. 3. Gambaran Kegiatan Kegiatan Rekoleksi ini akan dilaksanakan dalam dua kali pertemuan dalam weekend. Pertemuan I akan diadakan pada hari Sabtu, pukul 16.00 - 20.45 WIB dan pertemuan II diadakan pada hari Minggu, pukul 09.00 - 11.45 WIB. Pertemuan ini bertempat di rumah rekoleksi atau sesuai kesepakatan bersama katekis paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta. Pemimpin jalannya kegiatan rekoleksi ini diusulkan kerjasama antara tim kerja pewartaan dengan pastor paroki Adapun kegiatan rekoleksi yang akan dilaksanakan dibagi dalam 5 sessi, yaitu: Tema Sessi I Sharing Tujuan Peserta dan pendamping mengetahui

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 pengalaman katekis sejauhmana peserta menghayati Ekaristi mengikuti perayaan (keprihatinan dan hal berharga) Ekaristi Sessi II Ekaristi sebagai Peserta menyadari diri perlunya mencintai jalan mencintai Ekaristi agar semakin mencintai profesinya profesinya Sessi III Katekis memaknai Peserta menyadari jati diri katekis dan Ekaristi untuk pentingnya mendalami makna Ekaristi pelayanannya untuk meningkatkan kualitas diri di dalam karya pelayanannya Sessi IV Sessi V Jiwa dan Semangat Peserta menemukan kesadaran dan harapan Ekaristi baru dalam melayani umat Pewarta yang Peserta mantap dalam tugas perutusannya melayani sebagai katekis 4. Sarana Sarana-prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan rekoleksi ini antara lain: Laptop, LCD dan sound system, hand out, Panduan pertanyaan sharing, Panduan pertanyaan refleksi, Panduan pertanyaan mengenai niat/aksi, Panduan evaluasi dan peserta diminta membawa buku tulis serta alat tulis.

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 5. Metode Metode yang digunakan di dalam kegiatan rekoleksi ini sebagai berikut: a. Sharing pengalaman b. Refleksi pribadi c. Penyampaian Informasi d. Dialog 6. Sumber Bahan Sumber bahan yang akan digunakan kegiatan rekoleksi ini antara lain: a. Eko Riyadi. (2011). Matius: Sungguh Ia Ini Adalah Anak Allah. Kanisius: Yogyakarta. b. Indra Sanjaya, V. (2011). Belajar Dari Yesus “Sang Katekis”. Kanisius: Yogyakarta c. Kongregasi Evangelisasi untuk Bangsa-bangsa. CEP. (1997). Pedoman Untuk Katekis: Dokumen Mengenai Arah Panggilan, Pembinaan, Dan Promosi Katekis Di Wilayah-Wilayah Yang Berada Di Bawah Wewenang Cp. Kanisius: Yogyakarta d. Martasudjita, EDP. (2000). Mencintai Ekaristi. Kanisius: Yogyakarta. e. Musakabe, Herman. (2009). Menuju Hidup Yang Lebih Ekaristis. Yayasan Citra Insan Pembaru: Bogor

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Matriks Kegiatan Rekoleksi Tema : Ekaristi sebagai upaya meningkatkan motivasi pelayanan para katekis Tujuan Kegiatan : Membantu para katekis St Yusup Bintaran untuk dapat memaknai Ekaristi secara mendalam agar memiliki semangat yang menyala dalam melayani umat. No Waktu 1 16.00- Acara Tujuan Absensi dan snack - Uraian Materi - Metode - Sarana - 16.15 Sumber Bahan Indra Sanjaya, V. (2011). Belajar Dari Yesus “Sang 2 16.15 - Pembukaan 16.30 - ice breaking pertemuan agar latar belakang dan - doa pembuka terbangun relasi tujuan - pengantar yang baik selama pendampingan - Mencairkan suasana Penjelasan tema, Penyampaian - Mic Katekis”. informasi - LCD Kanisius: - Speaker Yogyakarta proses kegiatan Kongregasi - Membantu agar Evangelisasi peserta dapat untuk Bangsa- mengetahui arah bangsa. CEP. dan tujuan 89

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pertemuan (1997). Pedoman Untuk Pertemuan 1: Sabtu, 19 Januari 2019 3 4 16.30- Sessi I: Peserta dan - Refleksi dan - Mic Katekis: 17.00 Sharing pendamping berbagi - Speaker Dokumen pengalaman mengetahui pengalaman - Daftar panduan Mengenai katekis mengikuti sejauhmana peserta sharing perayaan Ekaristi menghayati Ekaristi - Alat Tulis Pembinaan, berharga) Dan Promosi 17.00- Sessi II: Peserta menyadari 18.30 Ekaristi sebagai diri perlunya katekis dalam jalan mencintai mencintai Ekaristi pelayanannya profesinya agar semakin 18.30- Makan malam Panggilan, (keprihatinan dan hal - Tantangan - Ekaristi sebagai mncintai profesinya 5 Arah - Mic Katekis Di - LCD Wilayah- - Dialog - Speaker Wilayah Yang - Penyampain - Hand Out Berada Di - Pendalaman Sharing jalan mencintai - Bawah Informasi Tuhan dan Wewenang profesinya Cp. Kanisius: - - Yogyakarta 19.00 90

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 19.00- Energizer 19.10 Membangkitkan - Mic Martasudjita, kembali semangat - LCD EDP. (2000). peserta - Speaker Mencintai - Sarana permainan Ekaristi. - Permainan 19.10- Sessi III: Peserta menyadari Penjelasan - Refleksi - Mic Kanisius: 20.40 Katekis jati diri katekis dan - Jati diri katekis - Sharing - LCD Yogyakarta. memaknai pentingnya - Makna Ekaristi Ekaristi untuk mendalami makna pelayanannya Ekaristi untuk Doa malam - Speaker sebagai katekis - Hand Out Musakabe, - Panduan sharing Herman. - Penyampaian meningkatkan 20.40- pengalaman (2009). Informasi kualitas diri di dalam Menuju Hidup karya pelayanannya Yang Lebih - - - - Kanisius: 20.50 Yogyakarta. Pertemuan II: Minggu, 20 Januari 2019 07.00- Doa pagi dan 08.00 sarapan 08.00- Energizer 08.15 Ekaristis. - - - - Membangkitkan - Gerak dan lagu - Mic kembali semangat - LCD peserta - Speaker 91

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 08.15- Sessi IV : Peserta menemukan Penjelasan 08.45 Jiwa dan kesadaran Semangat Ekaristi harapan baru dalam dan - Pengertian melayani umat motivasi - Refleksi - Mic - Sharing - LCD pengalaman - Speaker - Jiwa dan - Panduan Sharing semangat Ekaristi 08.45- Sessi V : Peserta 09.15 Pewarta yang bersemangat melayani melayani 09.15- Evaluasi 09.45 dan penutup semakin - Karya pelayanan katekis - Niat baru umum Mengevaluasi - kegiatan rekoleksi dan menyusun - Refleksi - Mic - Dialog - LCD - Penyampaian - Speaker informasi - Panduan Niat/aksi - Sharing - Mic - Diskusi - Speaker - Panduan evaluasi kegiatan pengayaan selanjutnya 10.00- Perayaan Ekaristi 11.30 Peserta disegarkan - - dan diteguhkan oleh - Teks lagu - Peralatan Misa perayaan Ekaristi 11.30- Makan siang dan - 12.00 sayonara - - - 92

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 5. Contoh Satuan Pertemuan SATUAN PERTEMUAN A. IDENTITAS PERTEMUAN 1. Judul Pertemuan : Katekis memaknai Ekaristi untuk pelayanannya 2. Tujuan : Peserta menyadari jati diri katekis dan pentingnya Mendalami makna Ekaristi untuk meningkatkan kualitas diri di dalam karya pelayanannya 3. Peserta : Katekis paroki St Yusup Bintaran 4. Tempat : Rumah rekoleksi 5. Pelaksana : Narasumber 6. Hari/Tanggal : Sabtu, 19 Januari 2019 7. Waktu : 19.10-20.40 wib B. PEMIKIRAN DASAR Dalam kehidupan dan tugas perutusan Gereja, katekis memiliki tempat dan peranan yang penting. Sebab katekis melaksanakan tugasnya karena diutus oleh dan atas nama Gereja yaitu menjadi pendidik yang menghantar umat pada kematangan iman. Tugas katekis berkaitan dengan iman, maka seorang katekis dituntut pula untuk memiliki kehidupan rohani yang matang dan mendalam. Kehidupan rohani katekis merupakan hasil relasi cinta dengan Yesus, yang memanggil dan mengutusnya. Oleh karena itu, seorang katekis perlu membina kehidupan rohaninya melalui kehidupan Sakramen terlebih Sakramen Ekaristi dan hidup doa serta kegiatan-kegiatan menunjang lainnya seperti retret dan rekoleksi. Rajin merayakan Ekaristi guna memperkembangkan hidup rohani katekis tidaklah cukup bila tanpa dibarengi dengan pemaknaan yang mendalam dan

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 aktualisasi dari makna Ekaristi secara nyata dalam kata maupun tindakan. Sebab hal tersebut menjadikan Ekaristi hanya sebagai rutinitas, yang tidak berdampak apapun bagi kehidupan maupun pelayanan katekis. Oleh karena itu, pada pertemuan ini katekis diajak untuk lebih mendalami makna Ekaristi yang diperkaya lewat sharing pengalaman para katekis. Dharapkan katekis mampu untuk menemukan inspirasi dan motivasi dari Yesus Kristus dalam Ekaristi, sehingga meningkatkan kualitas katekis melalui pembaruan karya dan hidup secara terus menerus. C. TUJUAN PERTEMUAN Peserta menyadari jati diri katekis dan pentingnya mendalami makna Ekaristi untuk meningkatkan kualitas diri di dalam karya pelayanannya D. MATERI Jati Diri Katekis dan Makna Ekaristi E. SUMBER BAHAN - Kongregasi Evangelisasi untuk Bangsa-bangsa (CEP). (1997). Pedoman Untuk Katekis: Dokumen Mengenai Arah Panggilan, Pembinaan, Dan Promosi Katekis Di Wilayah-Wilayah Yang Berada Di Bawah Wewenang CEP. Kanisius: Yogyakarta - Martasudjita, EPD. (2000). Mencintai Ekaristi. Kanisius: Yogyakarta - _______________. (2016). Ekaristi sebagai Sumber Peradaban Kasih. Kanisius: Yogyakarta. - Utusan. (2008). Cerita “Ingin Menjadi Katekis, Tapi Juga Ingin Hidup”. No. 08. Tahun ke-55, hal. 16

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 F. METODE - Refleksi - Sharing - Ceramah G. SARANA - Mic - LCD - Speaker - Hand Out C. PENGEMBANGAN LANGKAH-LANGKAH : 1. Pengantar Bapak Ibu yang terkasih, Selamat malam, Berkah Dalem. Pada pertemuan sessi I dan II kita telah bersama-sama menemukan pengalaman berharga yaitu buah dari penghayatan kita pada Ekaristi, sehingga kita semakin mencintai Ekaristi yang juga mendorong untuk mencintai profesi kita sebagai katekis. Seperti yang kita ketahui, menjadi katekis merupakan panggilan yang luhur dan mulia yaitu untuk tugas katekese. Selain itu, katekis juga memiliki peranan yang penting bagi Gereja agar tetap hidup, tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, seorang katekis perlu mengenal jati dirinya sebagai katekis dengan baik dan memaknai Ekaristi lebih mendalam agar Ekaristi sungguh hidup di dalam pelayanan kita di tengah umat.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 2. Sharing Pengalaman Peserta diajak menggali dan mendalami pengalaman hidup katekis di dalam karya pelayanannya, lewat cerita “Ingin Menjadi Katekis, Tapi Juga Ingin Hidup” dan dipandu beberapa pertanyaan:  Apa motivasi dan harapan bapak-ibu menjadi katekis?  Ceritakan pengalaman suka-duka bapak-ibu menjadi katekis? a. Intisari cerita: Kisah tadi menceritakan tentang pengalaman-pengalaman menjadi seorang katekis. Menjadi katekis adalah pekerjaan yang baik dan mulia namun demikian dianggap sebagai profesi yang tidak menjanjikan. Si aku dalam cerita diremehkan oleh calon mertua karena dianggap tidak memberi jaminan hidup bagi anaknya. Di Semarang, seorang katekis berusia senja masih mengabdikan diri sebagai katekis, sedangkan gaji honornya sebagai katekis tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. Namun, sang katekis tetap bersemangat untuk melayani umat. Di Ngawi, seorang katekis tua rela untuk mengayuh bahkan memanggul sepedanya demi melayani umat. Kedua katekis tersebut ingin mengungkapkan bahwa semangat melayani seseorang tidak akan luntur oleh situasi atau pun upah yang diperoleh, berbanding terbalik dengan kisah teman si aku yang memiliki kekhawatiran terhadap masa depannya sehingga memilih untuk mencari profesi lain sekalipun dirinya adalah seorang sarjana kateketik.

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 b. Rangkuman: Cerita tadi berkisah mengenai pengalaman katekis menghadapi situasi di lapangan. Jika motivasi seseorang didasari oleh semangat melayani, maka segala kekhawatiran dapat dikelola dengan baik sekalipun situasi dan upah yang diperoleh tidak mencukupi kebutuhan. Demikian dengan sharing pengalaman bapak-ibu motivasi menjadi katekis itu beraneka macam; ada dikarenakan meneladan semangat melayani Yesus, keprihatinan akan kebutuhan tenaga katekis, namun ada juga dikarenakan untuk mencari upah atau sekedar pekerjaan samping. Berbagai motivasi yang mendasari bapak-ibu bisa tersebut, seiring waktu tentu akan berubah sesuai tujuan yang hendak dicapai. Motivasi tersebut ada yang semakin menggerakkan dan menguatkan menjadi semangat melayani Yesus namun ada pula yang justru menurun melihat situasi dan tantangan yang dihadapi. Kurangnya motivasi dalam melayani menyebabkan katekis kurang bergairah dan hanya sekedarnya saja dalam melaksanakannya. Hal tersebut membuat katekis kurang berani menghadapi tantangan yang ada. Sedangkan katekis tidak lepas dari tantangan-tantangan tersebut yaitu berupa diremehkan, upah kecil, kurang perhatian dan penghargaan dari paroki, jarak tempuh dan sulitnya medan perjalanan menuju lokasi katekese. Kenyataan ini tentu membuat katekis menjadi kecewa, frustasi dan akhirnya patah semangat. Bagaimana seorang katekis bisa memberikan pengajaran mengenai kabar gembira dari Allah, jika dirinya sendiri tidak mengalami sukacita dan mudah putus asa. Seorang katekis hendaknya menyadari jati diri dan panggilan hidupnya. Dengan memahami siapa dan apa tujuannya menjadi katekis, motivasi seseorang

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 akan dimurnikan, sehingga seluruh hidupnya sungguh hanya tertuju pada karya pelayananya tanpa terbebani oleh segala tantangan ataupun pamrih yang diperolehnya. 3. Pembahasan Materi a. Jati diri katekis Katekis adalah pendidik yang dengan seluruh hidupnya mengajarkan segala hal yang dapat memperkembangkan iman umat sampai kepada kedewasaan iman. Sebagai pendidik, seorang katekis tidak hanya memberikan pengetahuan dan mengajarkan tentang Kerajaan Allah kepada umat, melainkan terus mengarahkan, membina dan mendampingi umat sehingga mampu menghadirkan Kerajaan Allah itu sendiri. Terlepas dari sakramen pembaptisan dan penguatan, menjadi katekis merupakan panggilan kekudusan dari Roh Kudus dan istimewa karena ditunjuk secara khusus oleh Gereja, sesuai kebutuhan umat, mengenalkan Kristus, menbawa umat yang belum mengenal Kristus sampai pada mencintai dan akhirnya mengikuti–Nya (CEP, 1997: 15-17). b. Spiritualitas katekis Mengingat betapa luhurnya panggilan katekis. katekis perlu menyadari perlunya pembaharuan semangat yang menjiwai pewartaannya, yang bersumber dari relasi intim dengan Yesus, sang Guru. Yesus merupakan pusat dari kehidupan dan pelayanan katekis, pewartaan bukan semata-mata mengenai pengajaran agama melainkan juga memberikan kesaksian hidup. Kesaksian yang berasal dari

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 kesatuannya dengan Allah tritunggal, dan memiliki keselarasan dengan kehidupannya di dalam keluarga, masyarakat dan Gereja. Keterlibatan katekis tidak hanya di dalam lingkup Gereja, sebagai anggota masyarakat, katekis pun harus turut ambil bagian di dalam hidup bermasyarakat. Melalui kehidupan masyarakat, katekis belajar untuk terbuka dan menyikapi persoalan dunia dan perkembangan jaman. Keterbukaan tersebut yang membantu katekis untuk bersikap kreatif menghadapi umat dengan segala macam karakter, usia dan kalangan sehingga dapat menjawab kebutuhan umat dan mewartakan Kristus secara lebih efektif. Kehadiran katekis baik di dalam Gereja maupun masyarakat dapat menjadi terang dan garam dunia, sebab mereka dipanggil untuk bekerja di dunia dan untuk dunia. Mengikuti jejak Kristus yang senantiasa memberitakan Injil kemana-mana, maka seorang katekis haruslah mempunyai semangat misionaris. Di dalam mewartakan Kabar Gembira ini, katekis lepas dari tantangan dan hambatan yang membuatnya kecewa dan putus asa. Maka, Spiritualitas katekis juga perlu diperkaya oleh devosi yang mendalam kepada Bunda Tuhan. Katekis dapat belajar dari Bunda Maria yang sanggup mengenali jejak-jejak Roh Kudus dalam peristiwa-peristiwa besar maupun kecil (EG, art 288). Sosok ibu sekaligus murid pertama Yesus (model sebagai katekis) yang memberikan keteladanan mengenai kasih ibu yang harus membangkitkan semangat semua orang yang ikut ambil bagian dalam karya kerasulan Gereja demi membawa umat manusia pada hidup yang baru (CEP, 1997: 30).

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 d. Makna Ekaristi di dalam karya pelayanan katekis Dalam konstitusi tentang liturgi suci (SC 10), dikatakan bahwa Ekaristi adalah puncak dan sumber hidup kristiani. Puncak sebab usaha-usaha kerasulan Gereja mempunyai tujuan agar semua orang melalui iman dan baptis berhimpun menjadi satu sebagai putera-puteri Allah, meluhurkan Allah, serta ikut dalam perjamuan Tuhan. Dimana Kurban salib diabadikan sepanjang masa adalah puncak seluruh ibadat dan kehidupan kristiani. Sumber karena liturgi, terutama Ekaristi, mengalirkan rahmat kepada kita dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus. Sumber yang menandakan serta menghasilkan kesatuan umat Allah dan menyempurnakan pembangunan tubuh Kristus Ekaristi menjadi perayaan pengurbanan dan persembahan hidup Yesus Kristus kepada Bapa-Nya. Kualitas cinta pada diri Yesus jauh melampaui kualitas kasih pada manusia. Dimana, Yesus wafat bukan hanya demi orang-orang yang dikasihi-Nya melainkan seluruh umat manusia yang berdosa (Martasudjita, 2000: 25-26). Hakikat cinta Yesus adalah memberi hidup bagi umat-Nya, Allah tetap setia dengan cinta-Nya, walaupun umat-Nya seringkali mengkhianati-Nya. Sebagai sakramen cinta, Ekaristi sebagai sakramen cinta kasih menyatakan cinta dan menghasilkan cinta (St. Thomas Aquinas). Merayakan Ekaristi berarti membiarkan cinta Allah tumbuh dan menggerakkan hidup kita untuk mengaktualisasikan Kristus yang penuh cinta dalam hidup yang kongkret. Cinta Allah yang hidup dalam diri katekis, akan menuntunnya untuk terus menjalin komunikasi dengan Allah dalam merayakan Ekaristi sesering mungkin. Hal ini memberikan pengaruh terhadap pengenalan katekis terhadap Yesus

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Kristus, dimana katekis akan semakin mengenal dan mencintai Yesus. Ekaristi akan menjadi motivasi dan daya yang menggerakkan untuk mewartakan pribadi Yesus yang ia kenal dan cintai. Buah dari Ekaristi dalam karya pelayanan katekis adalah kuatnya kemauan untuk mewartakan sabda-Nya, kerelaannya untuk menyediakan waktu, tenaga dan biaya untuk kepentingan karya pelayanannya tanpa memperhitungkan pamrih serta dedikasi yang tinggi terhadap karya-Nya ini. Sebab inti dari perayaan Ekaristi adalah dalam kondisi dan situasi yang seolah tidak mungkin bagi kita untuk menolong orang lain dan sekalipun modal dan kekuatan terbatas, kita tetapi bergerak dan berbuat sesuatu. Kristus adalah sumber kekuatan dan di dalam-Nya segala sesuatu tidak ada yang mustahil (Martasudjita, 2016: 28). 4. Refleksi dan Aksi Kongkret Bapak-Ibu yang terkasih dalam Kristus, di awal pertemuan tadi kita saling berbagi pengalaman dengan mendalami cerita “Ingin Menjadi Katekis Tapi Juga Ingin Hidup”. Kita menemukan bagaimana sosok katekis yang tulus – berdedikasi di dalam karya pelayanannya tanpa memperhitungkan pamrih yang diperolehnya. Kita juga berbagi pengalaman apa yang menjadi motivasi melayani umat di dalam suka- duka perjalanan menjadi katekis. Berbagai macam tantangan dan resiko yang harus diterima sebagai katekis tentu terkadang menyurutkan semangat pelayanan namun dengan mengingat dan menyadari kembali jati diri dan panggilan menjadi katekis, menggerakkan dan meningkatkan daya juang dan semangat melayani.

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Semangat seorang katekis harus didasari oleh semangat melayani seperti sikap yang dimiliki oleh Yesus sendiri. Sikap seperti apa? sikap tulus melayani tanpa pamrih sekaligus mencerminkan seorang pewarta yang bisa mengimplikasikan apa yang ia katakan ke dalam perbuatan konkrit. Keselarasan ini harus senantiasa kita wujudkan di dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan Gereja, sehingga tidak jatuh pada sikap kemunafikkan, misalnya, seorang katekis rajin mengikuti perayaan Ekaristi sebatas rutinitas agar terlihat sebagai katekis yang saleh. Sebagai bahan refleksi agar kita dapat semakin menyadari kasih Allah lewat panggilan-Nya menjadi katekis sebagai saksi Kristus dalam hidup kita melalui perkataan dan tindakan, maka kita akan melihat situasi konkrit yang ada disekitar kita dengan mencoba merenungkan pertanyaan – pertanyaan sebagai berikut:  Apakah perjumpaan saya dengan Allah lewat Ekaristi sungguh telah menyadarkan saya akan panggilan hidup sebagai katekis sehingga saya mencintai tugas dan panggilan ini serta terdorong untuk bersemangat dalam melayani umat?  Sikap dan tindakan seperti apa yang dapat diusahakan agar Ekaristi sungguh hidup di dalam karya pelayanan saya? Kualitas relasi dan perbuatan kita kepada sesama menunjukkan kualitas relasi kita dengan Allah. Ungkapan ini hendak menegaskan kepada kita bahwa iman kepada Yesus Kristus harus diwujudkan nyatakan dalam tindakan. Sehingga lewat pewartaan kita di tengah umat baik keluarga, Gereja dan masyarakat dapat menjadi berkat untuk semua orang. Maka, Ekaristi yang kita rayakan menjadi

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 semangat bagi kita untuk melayani umat dengan total, semakin mencintai Ekaristi semakin mencintai panggilan sebagai katekis. Seperti yang diungkapkan bapak-ibu mengenai berharganya Ekaristi bagi hidup dan karya kita sebagai katekis. Ekaristi merupakan bagian hidup dari umat beriman Kristiani terlebih seorang katekis. Oleh karena itu, katekis perlu lebih memaknai dan mendalami Ekaristi. Menjadikan Ekaristi sebagai sumber, cinta dan kekuatan katekis dalam melayani umat. Kesadaran ini mendorong katekis untuk dapat memperluas cinta yang ia alami dalam Ekaristi. sebab Ekaristi adalah sakramen cinta, ia menyatakan cinta dan menghasilkan cinta (St Thomas Aquinas). 5. Penutup Bapak Ibu yang terkasih, kita telah bersama-sama mendalami jati diri katekis dan makna Ekaristi. sebelumnya kita bersama-sama telah mendengarkan pengalaman bapak-ibu termotivasi menjadi katekis dan harapannya. Berbagai macam alasan yang mendorong kita menjadi katekis yaitu dikarenakan tugas/diutus, terdorong oleh keprihatinan kurangnya tenaga katekese, maupun panggilan diri untuk melayani Tuhan. Kita juga memiliki pengalaman masingmasing bagaimana Ekaristi menyentuh kehidupan dan karya kita dalam melayani umat yakni memberi kekuatan, motivasi, dan inspirasi. Melalui pengalaman itu pula, kita semakin diperkaya dan diperdalam mengenai makna Ekaristi. Semoga melalui pertemuan ini, kita semakin menyadari panggilan diri sebagai katekis, semakin mantap dan sungguh dapat menjadi katekis yang berkualitas di dalam karya pelayanannya.

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP Bab ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, penulis akan mengemukakan kesimpulan. Bagian kedua, penulis akan memberikan saran sebagai tindak lanjut dari kesimpulan. A. Kesimpulan Makna Ekaristi bagi katekis adalah pedoman hidup, menjadi sarana untuk semakin mencintai Kristus dan menjadi sumber kekuatan untuk berbagi (melayani). Ekaristi merupakan sumber dan puncak seluruh hidup umat beriman Kristiani. Katekis juga bagian dari umat beriman Kristiani, terlebih mengambil tugas khusus untuk berkatekese. Maka sebagai sumber, Ekaristi menjiwai seluruh hidup dan pelayanan katekis yang artinya bahwa Ekaristi menjadi daya gerak katekis untuk bertindak dan melayani umat yang menjadi tolok ukur untuk menilai otentisitas Ekaristi yang dirayakan. Sebagai puncak, katekis memandang pelayanannya bukan berdasarkan pribadinya melainkan sungguh untuk melayani Allah maka Ekaristi menjadi komitmen untuk sungguh-sungguh melaksanakan iman dengan melayani umat secara total yaitu merengkuh, membimbing dan menghantar umat kepada Allah tanpa memperhitungkan pamrih. Seluruh hidup katekis sungguh menjadi persembahan dan kebaktian kepada Allah. Ekaristi adalah sakramen cinta, yang menyatakan dan menghasilkan cinta (St Thomas Aquinas). Sebab, puncak dari Ekaristi adalah persembahan cinta Yesus dalam kurban salib-Nya. Melaluinya, katekis mengali inspirasi danmotivasi

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 yang menggerakkan katekis untuk membagikan cinta yang ia alami dalam tindakan kongkret baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun pelayanannya. Ekaristi membentuk katekis menjadi pribadi yang bersemangat, tangguh dan berjiwa missioner serta mendorongnya untuk lebih peka dan peduli terhadap kebutuhan umat terutama KLMTD (kecil, lemah, tersingkir dan difabel). Maka dapat dikatakan makna Ekaristi bagi katekis adalah pedoman seluruh hidup dan karya katekis. Berdasarkan kenyataan yang ada di paroki St Yusup Bintaran, penulis menemukan bahwa mereka belum sepenuhnya menghayati makna Ekaristi di dalam hidup dan karyanya. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penghayatan Ekaristi di dalam pelayanan mereka sudah mendalam, namun apabila bertolak dari pengalaman penulis ikut ambil bagian dalam karya pelayanan katekis di paroki ini, penulis menemukan situasi yang berbeda. Maka, penulis memiliki keraguan bahwa makna Ekaristi masih jatuh dalam persepsi atau konsep semata. Maka sebagai tindak lanjut, kegiatan rekoleksi pengayaan dan pemberdayaan makna Ekaristi dengan model berbagi pengalaman sebagai usaha untuk meningkatkan motivasi pelayanan para katekis di paroki Santo Yusup Bintaran, Yogyakarta. Melalui kegiatan ini katekis diharapkan saling diperkaya oleh pengalaman berharga mereka dalam menghayati Ekaristi dan pada akhirnya saling memberdayakan satu dengan yang lain. B. Saran Berdasarkan kenyataan yang ada, penulis ingin memberikan saran yang harapannya dapat membantu meningkatkan semangat pelayanan katekis. Berikut ini saran yang akan penulis berikan:

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 1. Bagi Pastor Paroki dan Tim Kerja Pewartaan Dalam mendampingi umat, katekis seringkali menghadapi berbagai macam tantangan yang menyurutkan semangat pelayanan mereka. Kualitas hidup dan keutuhannya merupakan hal utama dari seorang katekis karena mereka adalah teladan hidup bagi umat beriman Katolik lainnya. Maka penulis menyarankan kepada pastor paroki dan tim kerja pewartaan untuk menyusun pendalaman tentang makna Ekaristi dalam kegiatan kaderisasi yang diadakan untuk para katekis di paroki St Yusup Bintaran. Hal ini dimaksudkan agar Ekaristi hanya sebagai rutinitas semata, namun lebih mendalam bagi pelayanan mereka. 2. Bagi Katekis Untuk meningkatkan karya pelayanan katekis di paroki Bintaran, penulis menyarankan: 1. Para katekis perlu memperkaya diri dengan membaca buku-buku berkaitan dengan makna Ekaristi 2. Sebagai tindaklanjut dari kegiatan rekoleksi, para katekis dapat bekerjasama dengan tim kerja pewartaan atau tim kerja Liturgi mengadakan kegiatan pengayaan serupa misalnya seminar, retret, sarasehan atau dapat pula diadakan kembali rekoleksi untuk memperdalam makna Ekaristi dengan mengundang narasumber yang berkaitan. 3. Untuk pembaharuan pelayanan para katekis sendiri, para katekis dapat menyusun kegiatan secara berkala seperti mengadakan pendalaman iman dengan bertema makna Ekaristi di lingkungan-lingkungan.

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 4. Demi kelancaran pelayanan katekis di paroki, katekis perlu membentuk sebuah grup di media sosial seperti grup whatshap atau facebook selain membantu dalam menginformasikan berita, dapat menjadi wadah untuk sharing katekis yang saling menguatkan dan memotivasi.

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ardhisubagyo, Y. (1987). Menggereja Di Kota. Seri Pastoral ni 136: Pusat Pastoral Yogyakarta. Arikunto Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta: Jakarta Edi Mulyono, Y. (2012). “Dipersatukan Dalam Ekaristi, Diutus Untuk Berbagi”. dalam A. Wihyahadi Seputra, etc (Ed). Hidup Dalam Kelimpahan,. Konsorsium Pengembangan dan Pemberdayaan Pastoral Sosial Ekonomi: Jakarta. Eko Riyadi, St. (2011). Yohanes Firman Menjadi Manusia. Kanisius: Yogyakarta. Grun, Anselm. (1998). Ekaristi Dan Perwujudan Diri. Nusa Indah: Flores NTT. Handoko, Martin. (1992). Motivasi: Daya Penggerak Tingkah Laku. Kanisius: Yogyakarta. Heryatno Wono Wulung, FX. (2018). “Sosok Katekis di Zaman Sekarang: Belajar Mewartakan Kabar Gembira Dari Cara Sang Guru Sejati”. Dalam I. Madya Utama (Ed). Menjadi Katekis Handal Di Zaman Sekarang. Sanata Dharma University Press Anggota APPTI: Yogyakarta. Indra Sanjaya, V. (2011). Belajar Dari Yesus “Sang Katekis”. Kanisius:Yogyakarta. Jacobs, Tom. (1996). Misteri Perayaan Ekaristi: Umat Bertanya Tom Jacob Menjawab. Kanisius: Yogyakarta Katekismus Gereja Katolik, terj. G. Kirchberger (Malang: Dioma, 2004). Kitab Hukum Kanonik: Edisi Resmi Bahasa Indonesia. Grafika Mardi Yuana: Bogor, 2016. Komisi Kateketik KAS. (2016). I’m Catechist (Gelora Katekis Gelora Gereja). dalam Manuscript Yubelium Katekis Keuskupan Agung Semarang Di Seminari Mertoyudan. 25 September 2016. Komsos Paroki Santo Yusup Bintaran-Yogyakart. Sejarah Perjalanan Gereja St Yusup Bintaran Yogyakarta. Manuscript Gereja Santo Yusup Bintaran Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik. Kanisius: Yogyakarta. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik. Kanisius: Yogyakarta. Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa. (1997). Pedoman Untuk Katekis: Dokumen Mengenai Arah Panggilan, Pembinaan, Dan Promosi Katekis Di Wilayah-Wilayah Yang Berada Di Bawah Wewenang CEP. Kanisius: Yogyakarta. Konsili Vatikan II. (1990). Sacrosantum Consilium (Konsili Suci). (R. Hardawiryana, SJ., Penerjemah). Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI: Jakarta. Kotan, Daniel B. (2005). Menemukan Identitas Katekis Pada Jaman Yang Cepat Berubah (buah-buah dari Pertemuan Nasional Para Katekis Se-Indonesia) Di Wisma Klender- Jakarta. KomKat KWI: Jakarta.

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Krispurwanto Cahyadi, T. (2012). “Ekaristi: Allah berbagi agar kita pun berbagi”. dalam A. Wihyahadi Seputra, etc (Ed). Hidup dalam kelimpahan. Konsorsium Pengembangan dan Pemberdayaan Pastoral Sosial Ekonomi: Jakarta. Madya Utama, I.L. (2014). Menjadikan Ekaristi Sebagai Puncak Dan Sumber Kehidupan Gereja. Jurnal Teologi Vol. 03, No. 01, Mei 2014. Magnis Suseno, Franz. (2009). “Bertanggungjawab”. dalam A. Widyahadi Seputra dkk (Ed). Tanggungjawab Sosial Umat Beriman”. Sekretariat Komisi PSE/APP-KAJ bekerjasama dengan LDD-KAJ, Komisi PSE/KWI: Jakarta. Mangunhardjana, A.M. (2017). Membimbing Rekoleksi. Kanisius dan Nusa Indah: Yogyakarta. Martasudjita, EPD. (2000). Mencintai Ekaristi. Kanisius: Yogyakarta. ______. (2005). Ekaristi: Tinjauan teologis, liturgis, dan pastoral. Kanisius: Yogyakarta ______. (2012). Ekaristi: Makna Dan Kedalamanya Bagi Perutusan Di Tengah Dunia. Kanisius: Yogyakarta. ______. (2016). Ekaristi Sumber Peradaban Kasih. Kanisius:Yogyakarta Mintara Sufiyanta, A. (2014). Roh Sang Guru. Obor: Jakarta. Moelong, L.J. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya: Bandung. Musakabe, Herman. (2009). Menuju Hidup Yang Lebih Ekaristis. Citra Insan Pembaru: Bogor Osborne, Kenan B. (2008). Komunitas, Ekaristi Dan Spiritualitas. Kanisius: Yogyakarta Pangestu, Samuel. (2005). “Bagaimana Relasi Pastor Paroki dengan Para Katekis”. dalam Daniel Boli Kotan (ed). Identitas Katekis di Tengah Arus Perubahan Jaman. Komisi Kateketik KWI: Jakarta. Papo, Yakob. Majalah Rohani Tahun XXIX No 08, Agustus 1982. Paulus VI. (2008). Evangelii Nuntiandi (Mewartakan Injil). Seri Gerejani No 6. (J. Hadiwikarta, Pr., Penerjemah). Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI: Jakarta Prasetya, L. (2007). Menjadi Katekis, Siapa Takut?. Kanisius: Yogyakarta. Prasetyantha, YB. (2008). Ekaristi Dalam Hidup Kita. Kanisius: Yogyakarta. Prisnanto Wibowo, Seksi LitBang St Yusup Bintaran. (2017). Manuscript Data Paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta. Putranto, C. (2011). Handout Matakuliah Sakramentologi untuk semester Semester IV, Program Studi Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Alfabeta: Bandung. Sumarno, Ds. (2015). Handout Matakuliah PAK Paroki Untuk Mahasiswa Semester IV, Program Studi Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Wibowo Ardhi. FX. (1993). Sakramen Ekaristi. Kanisius: Yogyakarta.

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 Sumber Wawancara: Bapak Ary Raharta, Katekis St Yusup Bintaran, Yogyakarta, pada tanggal 23 September 2017 Bapak Prisnanto Aribowo, Seksi Litbang Paroki St Yusup Bintaran, Yogyakarta, pada tanggal 19 April 2018 Bapak Yosaphat Sudarmo Karyadi, DPP Bidang Pewartaan Di Paroki St. Yusup Bintaran, Yogyakarta pada tanggal 19 April dan 28 Juni 2018

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 LAMPIRAN

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1 : Surat Permohonan Ijin Penelitian (1)

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2 : Surat Keterangan Selesai Penelitian (2)

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3 : Data Paroki (3) (8)

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4 : Struktur Jumlah Jiwa di Keluarga TABEL 1B : STRUKTUR JUMLAH JIWA DI KELUARGA Paroki : St. Yusup - Bintaran No Wilayah-Lingkungan 1 Jumlah KK LakiLaki Perempuan Jumlah Umat 28 20 33 81 27 22 36 85 37 30 48 115 64 52 84 200 1 BENEDIKTUS 2 NIKOLAS 3 DOMINIKUS Total per Wilayah Wil : KANA 68 52 120 78 54 132 85 66 151 163 120 0 283 1 LUKAS 2 MIKHAEL 3 BRIGITTA Total per Wilayah Wil : YUDEA 76 38 54 168 67 53 74 194 105 61 97 263 172 114 171 457 1 YUSUP 2 MARIA 3 THERESIA 4 PAULUS 5 FRANSISCUS ASISI 6 BRAYAT MINULYA Total per Wilayah Wil : BETHANIA 44 55 19 61 179 51 74 17 57 199 62 87 31 73 253 113 161 48 130 0 0 452 1 41 55 75 130 26 28 41 69 40 50 60 110 107 133 176 309 Wil : YERIKHO 1 ALBERTUS 2 AGUSTINUS 3 ANTONIUS Total per Wilayah Wil : YERUSALEM HATI KUDUS TUHAN YESUS 2 MARIA RATU ROSARIO 3 MARIA BINTANG TIMUR Total per Wilayah (4)

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Paroki : St. Yusup - Bintaran No Wilayah-Lingkungan Jumlah KK Wil : BETLEHEM 1 SANTA ANNA 75 2 PETRUS KANISIUS 73 3 YOHANES DE 45 BRITTO 4 FRANSISCUS 55 XAVERIUS Total per Wilayah 248 Wil : NASARETH 1 2 LakiLaki Perempuan 2 Jumlah Umat 100 88 51 100 101 57 200 189 108 70 73 143 309 331 640 SANTO PETRUS YOHANES MARIA VIANNEY 3 GABRIEL POSSENTI Total per Wilayah Wil : GALILEA 49 53 49 62 60 80 109 142 46 54 68 122 148 165 208 373 1 2 STEFANUS MARIA DOMINIKA 3 MARIA GORRETI 4 YOHANES DON BOSCO Total per Wilayah Wil : KAPERNAUM 66 41 76 75 85 61 161 136 40 74 52 74 64 133 116 207 221 277 343 620 1 2 3 42 62 24 128 1,400 34 70 25 129 1,623 52 99 33 184 2,024 86 169 58 313 3,647 GEORGIUS MARGARETHA MARKUS Total per Wilayah Total per Paroki (5)

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5 : Suku Bangsa TABEL 6A.1 : SUKU BANGSA 1 Paroki : St. Yusup - Bintaran No Suku Bangsa Wilayah Jawa Tionghoa Sunda/Bali Sumatera Kalimantan 1 2 3 (6) 4 5 6 7 8 9 YERIKHO YERUSALEM 184 282 KANA 409 YUDEA 675 BETHANIA 220 BETLEHEM 551 NASARETH 260 GALILEA 491 KAPERNAUM 10 Total per Paroki 3,082 37 27 31 39 32 27 16 4 213 1 2 6 1 10 1 1 1 1 1 3 Jumlah Umat Ns Sulawesi Papua lainnya Tenggara 3 1 1 2 11 2 1 10 4 1 7 1 1 6 2 7 9 2 3 2 10 1 1 11 47 11 5 36 227 314 460 738 260 588 292 519 10 3,408

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TABEL 6A.2 : SUKU BANGSA (dalam%) 2 Paroki : St. Yusup - Bintaran No Wilayah Suku Bangsa (%) Jumlah Umat (7) Jawa Tionghoa Sunda/Bali Sumatera Kalimantan Ns Tenggara Sulawe Papua lainnya si 81.1 16.3 0.4 0.4 1.3 0.4 1 YERIKHO 227 8.6 0.6 0.3 0.6 2 YERUSALEM 89.8 314 88.9 6.7 1.3 2.4 0.4 0.2 3 KANA 460 91.5 5.3 0.1 0.1 1.4 0.5 0.1 0.9 4 YUDEA 738 84.6 12.3 0.4 0.4 2.3 5 BETHANIA 260 93.7 4.6 0.2 0.3 1.2 6 BETLEHEM 588 89.0 5.5 3.1 0.7 1.0 0.7 7 NASARETH 292 94.6 0.8 0.2 1.9 0.2 0.2 2.1 8 GALILEA 519 9 KAPERNAUM 100.0 10 Persentase 90.4 6.3 0.3 0.0 0.1 1.4 0.3 0.1 1.1 3,408 Terhadap Jumlah Umat

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 6 : Keterlibatan Sosial Umat TABEL 13C.1 : KETERLIBATAN SOSIAL Paroki : St. Yusup - Bintaran Keterlibatan Sosial No Wilayah RT/RW/Kel Peng. Peng. Warga LSM Ormas 1 YERUSALEM 7 1 239 2 KANA 28 1 9 313 3 YUDEA 23 2 8 538 4 BETHANIA 9 1 2 197 5 BETLEHEM 26 2 4 431 6 NASARETH 21 1 198 7 GALILEA 19 1 3 401 8 KAPERNAUM 9 Total per Paroki 133 8 27 2,326 TABEL 13C.2 : KETERLIBATAN SOSIAL (dalam %) Paroki : St. Yusup - Bintaran No Wilayah Keterlibatan Sosial (%) RT/RW/Kel Peng. Peng. LSM Ormas 1 YERUSALEM 2.8 0.4 2 KANA 8.0 0.3 2.6 3 YUDEA 4.0 0.4 1.4 4 BETHANIA 4.3 0.5 1.0 5 BETLEHEM 5.6 0.4 0.9 6 NASARETH 9.5 0.5 7 GALILEA 4.5 0.2 0.7 8 KAPERNAUM Persentase Terhadap Jumlah 5.3 0.3 1.1 Umat (8) Warga 1 Jumlah Umat 247 351 571 209 463 220 424 9 2,494 2 Jumlah Umat 96.8 89.2 94.2 94.3 93.1 90.0 94.6 100.0 247 351 571 209 463 220 424 9 93.3 2,494

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 7 : Jenis Kelamin Umat Berdasarkan Usia TABEL 2B.1 : JENIS KELAMIN BERDASARKAN USIA St. Yusup – Bintaran Nama No Wilayah 1 LakiLaki Perempuan Jumlah Umat 1 0-4 36 28 64 2 5-9 104 93 197 3 10 - 14 126 106 232 4 15 - 19 122 129 251 5 20 - 24 119 104 223 6 25 - 29 106 107 213 7 30 - 34 117 111 228 8 35 - 39 108 139 247 9 40 - 44 133 164 297 10 45 - 49 116 160 276 11 50 - 54 105 174 279 12 55 - 59 103 159 262 13 60 - 64 89 161 250 14 65 - 69 84 142 226 15 70 - 74 70 97 167 16 75 - 79 44 76 120 17 80 Total Per Paroki 48 1630 85 2035 (9) 133 3665

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TABEL 2B.2 : JENIS KELAMIN BERDASARKAN USIA (%) St. Yusup - Bintaran Nama No Wilayah 1 0–4 2 5–9 3 10 – 14 4 15 – 19 5 20 – 24 6 25 - 29 7 30 - 34 8 35 - 39 9 40 - 44 10 45 - 49 11 50 - 54 12 55 - 59 13 60 - 64 14 65 - 69 15 70 - 74 16 75 - 79 17 80 Total Per Keuskupan 2 LakiLaki 1.0 2.8 3.4 3.3 3.2 2.9 3.2 2.9 3.6 3.2 2.9 2.8 2.4 2.3 1.9 1.2 1.3 44.5 Perempuan 0.8 2.5 2.9 3.5 2.8 2.9 3.0 3.8 4.5 4.4 4.7 4.3 4.4 3.9 2.6 2.1 2.3 55.5 (10) Jumlah Umat 64 197 232 251 223 213 228 247 297 276 279 262 250 226 167 120 133 3665

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 8 : Kuesioner Tertutup Nama : Wilayah : Silahkan mengisi angket di bawah ini, dengan cara member tanda check (√), pada nomor yang telah tersedia…. Keterangan: SS : Sangat Setuju S : Setuju N : Netral TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju A. Identitas Responden 1. Berapakah usia anda sekarang? b. Otodidak/berdasarkan pengalaman a. < 35 tahun c. Keguruan tinggi bidang katekese b. 36 tahun-45 tahun c. 46 tahun- 50 tahun 4. Apa profesi anda? d. > 50 tahun a. Petani b. Pedagang 2. Apa pendidikan terakhir anda? c. Pegawai Negeri a. SD d. Guru b. SMP e. Lainnya ……………. c. SMA d. D3/S1 5. Profesi anda sebagai katekis? a. Fulltime 3. Latar belakang pendidikan katekese b. Parttime/volunteer anda? c. Kontrak a. Kursus (11)

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Pernyataan 1 SS S N TS STS Ekaristi merupakan sumber kekuatan saya dalam melaksanakan karya pelayanan sebagai katekis 2 Dengan menyelami hidup Yesus Kristus melalui Ekaristi, saya semakin mengenal dan mencintai-Nya sehingga menjadi inspirasi bagi saya untuk membangun persaudaraan dengan umat beriman 3 Ekaristi membuat saya semakin tangguh dan setia menghadapi setiap tantangan di zaman sekarang 4 Ekaristi membantu meningkatkan kualitas hidup beriman saya sebagai katekis agar lebih mencintai Yesus Kristus 5 Dengan setia mengikuti perayaan Ekaristi, saya memperoleh kegembiraan yang mendalam dan semangat yang menyala untuk mewartakan Kerajaan Allah di tengah umat 6 Ekaristi menjadi jalan bagi saya untuk semakin beriman pada Yesus Kristus dan bersemangat mewartakan Kabar Gembira 7 Melalui Ekaristi, saya semakin terbuka untuk berkerjasama dengan semua pihak untuk mewartakan Kabar Gembira Yesus Kristus 8 Melalui Ekaristi, saya rela berkorban baik berupa tenaga, waktu, pikiran maupun materi demi kelancaran pelayanan para katekis 9 Ekaristi memotivasi saya supaya lebih kreatif dalam karya pelayanan sebagai katekis di era modern 10 Melalui Ekaristi, saya terdorong untuk lebih peka dan peduli terhadap sesama yang membutuhkan pertolongan (12)

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Pernyataan 1 Saya sungguh menyadari makna Ekaristi sebagai SS S N TS SS TS STS sumber semangat pelayanan sebagai katekis 2 Sebelum perayaan Ekaristi, saya berdoa, membaca dan merenungkan Kitab Suci terlebih dahulu untuk menyiapkan hati menanggapi undangan Allah 3 Saya datang mengikuti perayaan Ekaristi untuk menjawab kerinduan akan perjumpaan dengan Allah dan umat Katolik lainnya 4 Saya setia mengikuti perayaan Ekaristi dikarenakan kesadaran akan pentingnya makanan rohani dan rahmat Allah dalam kehidupan No Pernyataan 1 Saya mengikuti perayaan Ekaristi sebagai kewajiban (rutinitas) umat beriman Katolik 2 Saya mengikuti perayaan Ekaristi sebagai pencitraan seorang katekis yang baik 3 Sebagai anggota Gereja, saya kurang menyadari perlunya terlibat dalam kehidupan menggereja terutama perayaan Ekaristi (13) S N STS

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 9 : Contoh Jawaban Responden (14)

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (15)

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (16)

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (17)

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (18)

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (19)

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (20)

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (21)

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (22)

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (23)

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 10 : Panduan Pertanyaan Wawancara 1. Apa yang anda harapkan dalam perayaan Ekaristi? 2. Apakah ada hal-hal yang ingin dicapai yang belum terwujud lewat Ekaristi? Untuk diri sendiri, katekis dan pelaksana Ekaristi 3. Untuk dapat menghayati Ekaristi, program apa yang anda harapkan? (24)

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 11: Transkrip Hasil Wawancara A. Biodata Responden: Responden I (R1) Responden II (R2) Nama Responden FX Ari Raharta Albertus Arsanto Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki Tanggal Wawancara Senin, 06 Agustus 2018 Senin, 06 Agustus 2018 Tempat Wawancara SMKN 1 Yogyakarta Jalan Bintaran Kidul B. Hasil Wawancara 1. Harapan di dalam perayaan Ekaristi? R1 : Adanya kesatuan antara pemahaman dan tata gerak dalam liturgi. Sebab, pemahaman tentang Ekaristi jadi kurang dihayati karna sikap-sikap liturgi yang kurang dipraktekan oleh umat. R2 : Ekaristi menjadi tempat bersyukur atas anugerah yang telah didapat dari Allah. Selain itu, melalui Ekaristi memberikan ketenangan batin atau rohani dan keselamatan jasmani-rohani. b. hal-hal yang ingin dicapai yang belum terwujud lewat Ekaristi? Untuk diri sendiri, katekis dan pelaksana Ekaristi R1 : Ekaristi yang bisa mempengaruhi hidup seseorang dalam segala hal, yaitu memberikan semangat dalam hidup, dalam mencari nafkah dan dalam memberikan pelayanan terhadap Gereja. Sehingga, pengalaman rohani kita (24)

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI tentang Ekaristi itu tidak hambar, jadi benar-benar Tubuh dan Darah Kristus yang dijiwai dalam hidup. R2 : Kemantapan iman dan ketenangan batin karena itu diperoleh melalui proses. Terkadang batin terasa goyah, meskipun kita sudah mengikuti Ekaristi. Sebagai 100% Katolik, kemantapan iman juga terkadang bergejolak, ketika menghadapi tantangan-tantangan terlebih di masyarakat yang mayoritas non-Katolik. c. Program yang diharapkan? R1 : Pelayan-pelayan Gereja harus diisi (pembinaan) dan diberi penyegaran rohani R2 : Melalui bidang pewartaan, diadakan penyegaran iman tidak hanya pelayanpelayannya saja melainkan juga umat dalam kelompok-kelompok kategorial. (25)

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 12: Cerita “Ingin Menjadi Katekis Tapi Juga Ingin Hidup” (25)

(157)

Dokumen baru

Download (156 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Penggunaan Bahasa Jawa dalam perayaan Ekaristi di Stasi Santo Fransiskus Xaverius Kemranggen, Paroki Santo Yohanes Rasul Kutoarjo.
4
67
183
Pengaruh keaktifan mengikuti perayaan Ekaristi terhadap keterlibatan tugas pelayanan (Diakonia) umat lingkungan Santo Xaverius Siyono Kuasi Paroki Santo Yusup Bandung Gunungkidul.
0
2
197
Menggali spiritualitas Santo Yohanes Paulus II sebagai sumber inspirasi bagi pelayanan katekis di zaman sekarang.
0
14
217
``Menanam Air`` sebagai satu bentuk kegiatan Pastoral Lingkungan Hidup di Paroki Santo Yusup Baturetno Wonogiri.
0
12
172
Usaha memahami pewartaan Santo Paulus Rasul untuk meningkatkan pelayanan para katekis zaman sekarang.
0
6
150
Usulan meningkatkan pemahaman tentang makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman putera altar Kuasi Paroki Santo Yusup Bandung, Gunung Kidul, Yogyakarta.
0
3
149
Pengaruh keaktifan mengikuti perayaan Ekaristi terhadap keterlibatan tugas pelayanan (Diakonia) umat lingkungan Santo Xaverius Siyono Kuasi Paroki Santo Yusup Bandung Gunungkidul
0
0
195
Gereja Paroki Santo Yusup Batang
0
1
5
Bimbingan orang tua terhadap perkembangan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki St. Yusup Bintaran Yogyakarta - USD Repository
0
1
132
Peranan spriritualitas persaudaraan Santo Fransiskus Asisi dalam semangat pelayanan para suster OSF Sibolga - USD Repository
0
0
145
Katekese ekologi sebagai upaya meningkatkan penghayatan spiritualitas ekologis bagi para Fransiskan di Yogyakarta dalam rangka gerakan pelestarian lingkungan hidup - USD Repository
0
0
252
Peranan kunjungan keluarga dalam upaya untuk meningkatkan iman keluarga Katolik di Stasi St. Paulus Pringgolayan Paroki St. Yusup Bintaran Yogyakarta - USD Repository
0
0
157
Rekoleksi sebagai upaya melibatkan remaja dalam pengembangan umat di lingkungan Santo Martinus Blendung, Paroki Santa Theresia Sedayu, DIY - USD Repository
0
0
137
Menggali spiritualitas Santo Vinsensius De Paul sebagai upaya meningkatkan pelayanan para suster SCMM kepada kaum miskin - USD Repository
0
0
167
Usaha meningkatkan spiritualitas kerasulan awam bagi prodiakon paroki di wilayah Santo Yusup Sendangsari-Sendangrejo, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Yogyakarta, melalui katekese model Shared Christian Praxis - USD Repository
0
0
121
Show more