PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER, PENILAIAN DAN HAMBATAN-HAMBATANNYA PADA 10 SMP DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan Dan Konseling

Gratis

0
0
134
3 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER, PENILAIAN DAN HAMBATAN-HAMBATANNYA PADA 10 SMP DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan Dan Konseling Oleh: Cicilia Salaisek NIM: 151114067 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER, PENILAIAN DAN HAMBATAN-HAMBATANNYA PADA 10 SMP DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan Dan Konseling Oleh: Cicilia Salaisek NIM: 151114067 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PE LA KSA IT AA N FE ITI} fi}Tlt+ iT KA tr*d KTE R, P g IT ILATAN I}AH HAMSATAN-HA*ISATANIT{}A FAI}A 1{} SS{F $T XT{*OTTESIA *leh: Cicilia S*l*isek Ninn: 151114067 Tetrak disefujui otreh: Dosen Pernbimbins on Barus, lvl.$i Yogyakarta, 21 Januari ZArc

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PELAKSANAAN PENT}I$I KAN KARAKTERO PHNILAIAhI I}A1\ HA1}TSATAN-HATIBATANF{YA FADA TS S&{P t}T TITN$NESTA Ilipersiapkan dan llisnsun sleh: Cicilia Salaisek Ir{1M: I51t 14067 Telah Dipertahankan di sepan panitia penguji P*ds 3{} Januari ?*19 Susunan Psnifia trcnguji F{ama Lengkap Tanda T Kefua [}r- Gendrn B*rnse M.Si. Sekretaris Jusfer S*rral Sin&S&, FI.Pd Anggota Sr. G**dsn Barus' M.Si. 1 .{nggota 2 Ag. Krisna Ind*h Msrheni* S.pd", FI Anggota 3 Pri*s H*yu Furbs*ing T-v*as, *I,Fd. Ysgynkart* 3S Janunri 20lg FakHltas Kegurilan dan llmu Pendidikan Dekan, iii

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO Motto hidup adalah: • Di saat merasa sendirian, ingatlah bahwa ada Tuhan yang selalu menemani. • Cintailah kedua orangtuamu seperti engkau mencintai diri sendiri. Orangtua adalah hidup dan mati, kasih sayang, cinta dan anugerah yang diterima dari Tuhan. • Jangan mengucap janji di saat senang. Jangan menjawab di saat sedih. Jangan mengambil keputusan disaat marah. Berpikirlah dua kali, bersikaplah hati-hati. iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini saya persembahkan kepada: Dia yang telah memberikanku hembusan nafas kehidupan dan segala keajaiban dalam hidupku yaitu Tuhan. Cinta abadi dalam hidupku Tuhan Yesus, wanita yang menjadi teladan yakni Bunda Maria, dan penggerak dalam hidupku yaitu Roh Kudus. Kepercayaan Tuhan yang menjadi teladan, semangat dan tempat belajarku di dunia, orang tuaku tercinta Bapak Markus Salaisek dan Ibu Marta Sapeai (Alma) Mereka yang menjadi semangat dan pendorong diriku agar menjadi orang sukses dan berhasil yakni Adik Rosa Rohanita Salaisek, Marsalina Salaisek, Juan Viani Salaisek dan Bernadus Albertus Salaisek. v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PNRI\TYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini : dak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan :i'rm daftar sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Yogyak arta, 30 Januari 20 t I Peneliti", UM Cicitria Salaisek vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPB,NTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma htrama : Cicilia Salaisek Nomcr Induk Mahasiswa : 151 1 14057 Dngan pengembangan ilmu pengetahuan, saya mernberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul: PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER, PENILAIAN DAN HAMBATAN-HAMBATANNYA PADA IO SMP DI INDONESIA Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain" mengolahnya di internet atau media lain untlk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Dengan demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Yngyakarta Pada tanggal 30 Januari 2S t I Yang ffienyataka- Cicilia Salais*k vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER, PENILAIAN DAN HAMBATAN-HAMBATANNYA PADA 10 SMP DI INDONESIA Cicilia Salaisek Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2019 Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan karakter, penilaian dan hambatan-hambatanya pada 10 SMP yang meliputi; 1) pelaksanaan pendidikan karakter, 2) ragam kegiatan pendidikan karakter, 3) keberhasilan pendidikan karakter, 4) keterlaksanaan penilaian pendidikan karakter, 5) hambatan atau kesulitan guru, 6) harapan guru dalam penilaian pendidikan karakter. Penelitian ini menggunakan metode campuran deskriptif kuantitatif dan kualitatatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket terbuka dan tertutup yang disebar di 10 SMP kepada 39 guru. Data dianalisis secara deskriptif dengan teknis persentase dan hasilnya disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) pelaksanaan pendidikan karakter pada 10 SMP sudah baik. 2)Kebanyakan guru memilih ragam kegiatan seperti kegiatan pramuka, live-in, doa pagi, upacara bendera, refleksi retret, menyanyikan lagu Indonesia Raya. 3) tingkat keberhasilan pendidikan karakter yang telah dilaksanakan guru berdasarkan ragam kegiatan sudah cukup memuaskan. 4) keterlaksanaan penilaian pendidikan karakter di sekolah sudah berjalan dengan baik. 5) hambatan-hambatan dalam pemberian penilaian yang dialami oleh guru adalah belum ada alat ukur yang baik dalam menilai pendidikan karakter peserta didik, ada alat yang sudah tersedia namun keterbatasan waktu guru dalam menilai pendidikan karakter peserta didik, belum memahami cara penilaian yang tepat, jumlah siswa yang banyak, belum adanya format khusus penilaian yang standar untuk siswa SMP, pemantauan siswa yang membutuhkan waktu karena terlalu banyak siswa yg harus diobservasi. 6) harapan yang diungkapkan guru adalah guru membutuhkan instrumen atau alat untuk menilai hasil pendidikan karakter peserta didik, kerjasama antar pihak sekolah dan pihak orangtua supaya terjalin komunikasi, memiliki buku referensi tentang karakter yang berhubungan dengan mata pelajaran Sains/IPA dan mata pelajaran lainnya. Kata kunci: pendidikan karakter di SMP, bentuk pendidikan karakter, penilaian pendidikan karakter viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE CHARACTER EDUCATION IMPLEMENTATION, ASSESSMENT AND OBSTACLES IN 10 SMP (JUNIOR HIGH) IN INDONESIA Cicilia Salaisek Sanata Dharma University Yogyakarta 2019 The purpose of this study was to find out the character education implementation, assessment and obstacles in 10 junior high schools which include; 1) implementation of character education, 2) variety of character education activities, 3) success in character education, 4) implementation of character education assessment, 5) obstacles or difficulties that faced by teachers, 6) teachers’ expectation of character education assessment. This study used descriptive quantitative and qualitative method. Data was collected using open and closed questionnaires that distributed in 10 junior high schools in a national scale to 39 teachers. Data were analyzed descriptively using technical percentages and the results were presented in the form of table. The results of this study indicate that 1) the implementation of character education in 10 junior high schools is good. 2) Most teachers choose various activities in conducting the education such as scout activities, live-in, morning prayers, flag ceremonies, retreat reflections, singing the Indonesia Raya songs. 3) the level of character education success that has been carried out by teachers based on a variety of activities is quite satisfying. 4) the implementation of the character education assessment in schools is already practiced in a good way 5) obstacles in doing the assessment that teacher experienced was there was no proper measurement tool in assessing students character education, there were some tools that already available but the limited time that teacher had in assessing the character education of students, not yet understanding the appropriate assessment method, a lot of students, there was no specific format for junior high school students, monitoring students need more time because there were too many students that must be observed. 6) the expectation expressed by the teacher was that the teachers need instruments or tools to assess the students character, collaboration between the school and parents in order to establish good communication, has a reference book about characters related to Science / Natural Science subjects and other subjects. Keywords: character education in junior high school, character education, character education assessment. ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur peneliti hanturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya selalu memberikan kekuatan, kesehatan, semangat, serta pendampingan yang luar biasa dalam penyelesaian penulisan skripsi ini, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar tanpa hambatan. Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada bantuan, dukungan, dan dampingan dari banyak pihak. Oleh karena itu, dengan ketulusan hati penulis menyempaikan banyak terima kasih khususnya kepada: 1. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo,S.Pd.,M.Si, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma 2. Bapak Dr. Gendon Barus, M.Si., selaku Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma, yang bersedia memberi ijin untuk melakukan penelitian, dan selaku dosen pembimbing yang selalu sabar meluangkan waktu, memberi motivasi, mendampingi dan memberikan ide-ide kepada penulis dalam proses penulisan skripsi. 3. Para dosen Program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis selama menempuh studi. 4. Bapak Markus Salaisek dan Mama Marta Sapeai (Alma) yang selalu memberikan doa, dukungan, dan motivasi kepada penulis selama menempuh studi. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Adikku, Rosa Rohanita Salaisek, Marsarina Salaisek, Juan viany salaisek, Bernadus Albertus salaisek yang selalu memberikan dukungan dan semangat. 7. Kekasihku Tarianus Takkui salago yang selalu menemani, memberi semangat, dan dukungan doa. 8. Sahabatku Maria I.v.A, Lucia K, dan teman-teman angkatan 2015 yang selalu memberikan dukungan dan semangat dalam menempuh studi dan penulisan skripsi. 9. Tim PSHP (Agustin, Prisna, Ika, Ina, Kristali, Danang, Tania, Christian, dan Tera) yang selalu mendukung dan saling bekerja sama penelitian dan penulisan skripsi 10. selarna . Mas Moko, yang selalu setia memberikan pelayanan administrasi si Sekretariat Program studi Bimbingan dan Konseling. I 1. Kepala sekolah, Bapak dan Ibu Guru, para siswa-siswi sMp Fransiskus Tanjungkarang, SMP St. Aloysius Turi, SMp N I yogyakarta, SMp Raden Fatah cimanggu, sMp N 3 wates, sMp N 3l purworejo, sMp N 2 Barusjahe, sMP Maria Padang, sMp pangudi Luhur wedi Klaten, dan SMPN 2 Playen Gunung Kidul. - I Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang telah rnerneberikan bantuan, dukungan dan semangat sehingga tugas akhir ini selesai dengan lancar. Peneliti meyadari bahwa penelitian ini masih banyak kekurangan, mohon :'.enskoreksi. Peneliti berharap semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi ::rrbaca. Ycgyakarta, 3* Januari 201? Penuli Cicilia Salaisek XI

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................... ... ................. i HALAMAN PERSETUJUAN.................................................................... ... ................ ii HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI .................................................... ... ............... iii HALAMAN MOTTO ................................................................................. ... ............... iv HALAMAN PERSEMBAHAN.................................................................. ... ................ v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................... ... ............... vi HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI................ ... .............. vii ABSTRAK ................................................................................................... ... ............. viii ABSTRACT ..................................................................................................... ............... ix KATA PENGANTAR ................................................................................ ... ................ x DAFTAR ISI ................................................................................................ ... .............. xii DAFTAR TABEL........................................................................................ ... .............. xv DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... ............. xvi DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... ... ............ xvii BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... ... ................ 1 A. Latar Belakang Masalah .................................................................... ... ................ 1 B. Identifikasi Masalah .......................................................................... ... ................ 4 C. Pembatasan Masalah ........................................................................ .... ................ 5 D. Rumusan Masalah ............................................................................. ... ................ 5 E. Tujuan Penelitian .............................................................................. ... ................ 6 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI F. Manfaat Penelitian ............................................................................ ... ................ 6 G. Batasan Istilah ................................................................................... ... ................ 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakekat pendidikan Karakter di sekolah........................................... ... .............. 10 1. Pengertian Karakter ................................................................. ... .............. 10 2. Pengertian Pendidikan Karakter .............................................. ... .............. 13 3. Tujuan, Fungsi, Prinsip Pendidikan Karakter .......................... ... .............. 14 4. Nilai Karakter yang Ditanamkan ............................................. ... .............. 16 5. Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter ........................... ... .............. 17 B. Hakikat Evaluasi, Asesmen, dan Tes ................................................ ... .............. 17 1. Pengertian Evaluasi, Asesmen, dan Tes .................................. ... .............. 17 2. Tujuan dan Fungsi Asesmen ................................................... .... .............. 20 3. Prinsip-prinsip Asesmen ......................................................... ... .............. 21 4. Jenis-jenis Asesmen ................................................................ .... ............. 24 5. Teknik - teknik Asesmen ......................................................... ... .............. 27 6. Tes Sebagai Teknik Asesmen .................................................. ... .............. 29 C. Hakikat Asesmen Pendidikan Karakter............................................ ... .............. 30 1. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter .................................. ... .............. 30 2. Teknik Asesmen Pendidikan Karakter ................................... ... .............. 30 D. Peran Guru dalam Pendidikan Karakter .......................................... ... .............. 31 E. Hambatan dan Kesulitan Pelaksanaan dan Penilaian Pendidikan Karakter ........................................................................ … .............. 39 F. Kajian Penelitian yang Relevan ....................................................... … .............. 45 BAB III METODE PENELITIA ... ……….……………………………….. ............ . 47 A. Jenis Penelitian ................................................................................. … .............. 47 B. Tempat Penelitian dan Subjek .......................................................... … .............. 48 C. Waktu Penelitian ............................................................................. … .............. 50 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ....................................... … .............. 51 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI E. Validitas Instrumen .......................................................................... … .............. 53 F. Teknik Analisis Data ....................................................................... …. .............. 54 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................... … .............. 57 A. Hasil Penelitian ............................................................................... … .............. 57 B. Pembahasan ..................................................................................... … .............. 66 BAB V PENUTUP ...................................................................................... … ............. 73 A. Kesimpulan ..................................................................................... … .............. 73 B. Saran- Saran ..................................................................................... … .............. 74 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... .. ............... 77 LAMPIRAN-LAMPIRAN .......................................................................... .. .............. 80 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Tempat Penelitian ....................................................................... … .............. 48 Tabel 3.2 Subjek Penelitian.......................................................................... … .............. 50 Tabel 3.3 Jadwal Pengambilan Data .......................................................... …. .............. 51 Tabel 4.1 Pelaksanaan Pendidikan Karakter ................................................ … .............. 57 Tabel 4.2 Ragam Kegiatan Pendidikan Karakter ......................................... … ............. 58 Tabel 4.3 Penilaian Hasil Pendidikan karakter ........................................... … .............. 59 Tabel 4.4 Pihak yang Terlibat dalam Penilaian Pendidikan Karakter ......... … .............. 60 Tabel 4.5 Jenis Instrument Pendidikan Karakter ......................................... … .............. 61 Tabel 4.6 Penilaian Pendidikan karakter .................................................... …. .............. 61 Tabel 4.7 Keterlaksanaan Pendidikan Karakter .......................................... … .............. 62 Tabel 4.8 Kesulitan atau Hambatan Guru dalam Pelaksanaan Pendidikan Karakter …63 Tabel 4.9 Harapan yang Dibutuhkan Guru ................................................. … .............. 65 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Komponen Karakter ........................................................................ .............. 12 xvi

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Angket Penelitian ..................................................................... … .............. 81 Lampiran 2 Tabel Data Hasil Angket .......................................................... … .............. 92 Lampiran 3 Salah Satu Surat Ijin Penelitian dari 10 SMP ........................... … ............ 112 Lampiran 4 Dokumentasi ............................................................................ … ............ 113 xvii

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dipaparkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan batasan istilah. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sekarang boleh dikatakan masih mengutamakan soal keunggulan kognitif. Seorang anak dikatakan berprestasi jika mendapat nilai yang tinggi dalam hal akademik. Capaian intelektual jika tidak dibarengi dengan pembentukan karakter yang memartabat dapat membentuk pribadi anak. Anak akan memiliki karakter (watak) yang baik, sopan dalam tatanan etika dan estetika, maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari, bila sekolah menyentuh siswa untuk internalisasi dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di sekolah dan di masyarakat. Pendidikan sesungguhnya merupakan suatu usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor. 20 tahun 2003 pasal 3 tentang Pendidikan Nasional yang menyatakan “Pendidikan nasional berfungsi mengemban gkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Kemendiknas, 2010). 1

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus diselenggarakan secara sistematis agar mencapai fungsi dan tujuan yang diharapkan yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa dan mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan karakter sangat penting bagi peserta didik di Indonesia, sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan secara utuh. Kementrian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur dan jenjang pendidikan. Grand design tersebut menjadi rujukan konseptual dan pengembangan, pelaksanaan, serta penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan yang meliputi: “Olah Hati (spiritual and development) Olah Pikir (intellectual development) Olah Raga dan Kinestetik (Physical and cinestetic development) dan Olah Rasa dan karsa (Affective and Creativity development)”. (Kemendiknas, 2010) Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut, yang selama ini telah diimplementasikan melalui materi pelajaran agama, budi pekerti dan juga kewarganegaraan, pendidikan jasmani dan pelajaran lainnya yang berkaitan erat dengan pendidikan karakter. Permasalahannya adalah, pendidikan karakter di sekolah, khususnya di SMP di seluruh tanah air selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari (Suyanto, 2010: 8). Benih-benih kegagalan implementasi pendidikan karakter di SMP dapat

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 ditunjukkan antara lain, meningkatnya kenakalan, tindakan kriminalitas maupun kemerosotan nilai moral yang terjadi di kalangan remaja. Lalu bagaimana selama ini guru-guru melaksanakan pendidikan karakter di sekolah? Apakah ada penilaian yang sudah adil dan menyeluruh? Apakah pelaksanaan pendidikan karakter sudah berhasil dilakukan oleh guruguru? Apakah ada hambatan-hambatan yang dialami oleh guru dalam melakukan penilaian pendidikan karakter? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus ada dibenak peneliti. Kenyataannya pemerintah belum mengembangkan alat ukur standar yang dapat mendukung dalam penilaian pendidikan karakter. Maka tidak heran masih ada perilaku yang menyimpang yang dilakukan oleh peserta didik sehingga menyulitkan bagi guru dalam mengembangkan pendidikan karakter yang sudah ada. Oleh sebab itu, perlu dilihat apa saja kesulitan dan hambatan yang dialami oleh guru dalam penilaian pendidikan karakter agar mudah dalam memberikan solusi yang baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK di SMPN 1 Yogyakarta, mereka merasa masih ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi saat memberikan penilaian pendidikan karakter kepada siswa seperti, tidak adanya alat atau instrumen yang baik untuk mengukur karakter siswa, kurangnya waktu yang dimiliki beberapa guru dalam melaksanakan pendidikan karakter. Kebanyakan guru menilai karakter siswa melalui penampilan peserta didik bukan perilaku yang mendalam. Itupun hanya menyentuh siswa tertentu yang umumnya dinilai nakal.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Menurut Barus, dkk (2017: 47) Hambatan-hambatan dan kesulitan-kesulitan Asesmen Pendidikan Karakter di Indonesia, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Guru memiliki kesadaran pentingnya asesmen pendidikan, namun belum ada langkah konkrit dalam pelaksanaannya, kebanyakan guru terhenti pada merencanakan tetapi tidak sampai pada tahap implementasi dan analisis hasil, sebagian besar mereka mengaku bahwa nilai karakter terpilih hanya sekedar tertempel pada RPP, namun sulit dilaksanakan dan dinilai, guru mengaku dilibatkan dalam membuat perencanaan, namun hanya sedikit sekali guru yang merasa mampu melaksanakan rencana ini, kantin kejujuran sebagai sebuah gerakan yang menggelegar pada tahun 2010 bersamaan dengan masa pencanangan pendidikan karakter di sekolah, kini kehilangan momen, mulai terlupakan, sebagian besar guru mengaku telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin, namun pelasanaannya sebagian besar masih sebatas perencanaan, anganangan. Hanya sedikit guru yang mengakui telah sampai pada tahap menghimpun, mengolah, dan menginterpretasi hasil penilaian tersebut. Berdasarkan kebutuhan di atas, peneliti sebagai mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma bersama pada kesempatan ini tertarik dengan kesulitan atau hambatan-hambatan yang dialami oleh guru di sekolah. Maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul “Pelaksanaan Pendidikan Karakter, penilaian dan Hambatan- Hambatannya pada 10 SMP di Indonesia”. B. Identifikasi Masalah Berangkat dari latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi berbagai masalah sebagai berikut: 1. Guru-guru dalam melakukan penilaian pendidikan karakter peserta didik melalui penampilan dan tidak mendalam berdasarkan perilaku peserta didik.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 2. Keterbatasan guru untuk melakukan penilaian pendidikan karakter dan penilaian yang dirasa masih subyektif. 3. Keterbatasan guru untuk melaksanakan dan memberikan penilaian pendidikan karakter di sekolah. 4. Adanya hambatan-hambatan yang dialami oleh guru dalam melaksanakan pendidikan karakter. C. Pembatasan Masalah Dalam penelitian ini, mengingat adanya keterbatasan penelitian maka fokus kajian diarahkan pada 3 dan 4 yang teridentifikasi yang berkaitann dengan hambatan-hambatan dalam pelaksanaan dan penilaian pendidikan karakter di sekolah Menengah Pertama dalam skala nasional. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian ini, pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: 1. Seberapa baik keterlaksanaan pendidikan karakter di sekolah? 2. Bentuk-bentuk kegiatan pendidikan karakter apa saja yang dilakukan guru di sekolah? 3. Seberapa baik pelaksanaan penilaian dari berbagai bentuk pendidikan karakter di sekolah? 4. Sejauh mana keterlaksanaan penilaian pendidikan karakter peserta didik di sekolah? 5. Hambatan-hambatan atau kesulitan apa yang ditemukan guru dalam penilaian pendidikan karakter peserta didik di sekolah?

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 6. Harapan apa yang dibutuhkan guru dalam melaksanakan dan menilai pendidikan karakter peserta didik di sekolah? E. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini yaitu: 1. Memperoleh gambaran pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah. 2. Memperoleh gambaran ragam kegiatan pendidikan karakter di sekolah. 3. Memperoleh gambaran keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah. 4. Memperoleh gambaran keterlaksanaan penilaian pendidikan karakter di sekolah. 5. Mengidentifikasi kesulitan atau hambatan guru dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah. 6. Mengidentifikasi harapan yang dibutuhan guru dalam melaksanakan pendidikan karakter di sekolah. F. Manfaat Penelitian Dengan adanya penelitian ini, peneliti berharap muncul beberapa manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini dapat memberikan sumbangan informasi bidang ilmu pendidikan untuk memperluas pemahaman tentang pelaksaan pendidikan karakter dan hambatan- hambatannya.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 2. Manfaat Praktis a. Bagi Pemerintah Penelitian ini memberikan sumbangan dalam mengukur hasil pendidikan karakter dan memetakan upaya perbaikan atau optimalisasi pelaksanaan pendidikan karakter di SMP pada skala nasional di Indonesia. b. Bagi sekolah dan guru Penelitian ini memberikan sumbangan yang baik dalam penilaian pendidikan karakter. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi tolak ukur yang dapat digunakan sekolah untuk mengevaluasi program pendidikan karakter melalui soal tes asesmen berbasis media film. c. Bagi peserta didik Penelitian ini dapat meningkatkan karakter peserta didik untuk mampu mengaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. d. Bagi peneliti Peneliti dapat mengetahui hambatan- hambatan guru dalam melaksanakan pendidikan karakter melalui angket yang disebar ke beberapa guru yang mewakili 10 sekolah. e. Bagi peneliti lain Prosedur penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti lain sebagai refrensi dalam mengembangkan penelitian dengan model pendidikan karakter di sekolah.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 G. Batasan Istilah 1. Asesmen merupakan suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun non tes. Penilaian pendidikan karakter adalah evaluasi atas proses pembelajaran secara terus-menerus bagi individu untuk menghayati peran dan kebebasannya bersama dengan orang lain dalam sebuah lingkungan sekolah dan pertumbuhan integritas moralnya sebagai manusia. 2. Peserta didik SMP merupakan seseorang yang belum mencapai dewasa yang membutuhkan usaha, bantuan bimbingan dari orang lain yang telah dewasa guna melaksanakan tugas sebagai salah satu makhluk Tuhan, sebagai umat manusia sebagai warga negara yang baik dan sebagai salah satu masyarakat serta sebagai suatu pribadi atau individu. 3. Pendidikan merupakan upaya menolong peserta didik untuk dapat melakukan tugas hidupnya secara mandiri supaya dapat bertanggung jawab secara susila. Pendidikan merupakan usaha manusia dewasa dalam membimbing manusia yang belum dewasa menuju kedewasaan. 4. Keterlaksanaan dan penilaian pendidikan karakter yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pelaksanaan dan penilaian karakter yang dilakukan oleh pendidik karakter yaitu guru kepada peserta didik di sekolah terutama SMP. 5. Hambatan-hambatan pelaksanan pendidikan karater yang dilaksanakan oleh guru dalam usahanya dalam membentuk jasmani dan rohani, atau

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 melalui proses pengubahan cara berfikir atau tata laku secara intelektual dan emosional yang sejalan dengan perilaku peserta didik

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini berisi landasan teori yang dijadikan dasar untuk membangun kerangka konseptual. Berdasarkan judul penelitian, maka dalam bab ini peneliti mengemukakan beberapa konsep yang berhubungan dengan variabel penelitian, yaitu hakikat pendidikan karakter di sekolah; hakikat evaluasi, asesmen dan tes; hakikat asesmen pendidikan karakter di sekolah; peran guru dalam pendidikan karakter; hambatan-hambatan pelaksanaan dan penilaian pendidikan karakter dan kajian penelitian yang relevan dan kerangka pikir. A. Hakikat Pendidikan Karakter di Sekolah 1. Pengertian Karakter Berkowitz (Doni Koesoema, 2012: 25) mendefinisikan karakter sebagai sekumpulan karakter psikologis yang memengaruhi kemampuan dan kecondongan pribadi agar dapat berfungsi secara moral. Menurut Pritchard (Doni Koesoema, 2012: 27) karakter adalah “a compex set of relatively persistent qualities of the individual person, and the term has a definite positive connotation when it is used in discussions of moral education.” Artinya, karakter merupakan sekumpulan kualitas moral yang relative stabil dalam diri seseorang. Karakter memiliki konotasi positif ketika diterapkan dalam diskusi moral. Samani & Hariyanto (2011: 41) mengungkapkan: 10

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, adat istiadat, dan estetika. Lickona (Akhwan, 2014: 61) mengatakan bahwa karakter berkaitan dengan ketiga komponen, yaitu konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Ia juga mengatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Berkaitan dengan hal tersebut, Yaumi (2014: 7) mengatakan bahwa komponen karakter adalah moralitas, kebenaran, kebaikan, kekuatan, dan sikap seseorang yang ditunjukkan kepada orang lain melalui tindakan. Ia juga mengatakan, karakter seseorang terpisah dari moralitasnya, baik buruknya karakter tergambar dalam moralitas yang dimiliki. Begitu pula dengan kebenaran yang merupakan perwujudan dari karakter. Kebenaran tidak terbangun dengan sendirinya tanpa adanya karakter. Moralitas dan kebenaran yang telah terbentuk merupakan perwujudan dari perbuatan baik. Kebaikan ini yang mendorong suatu kekuatan dalam diri seseorang untuk menegakkan keadilan. Kebenaran, kebaikan, dan kekuatan sikap adalah bagian integral yang menyatu dengan karakter.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Moralitas Kebenaran Sikap KARAKTER Kekuatan Kebaikan Gambar 1. Komponen Karakter Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa moral dan karakter adalah dua hal yang berbeda. Moral berarti pengetahuan seseorang terhadap hal baik atau buruk, sedangkan karakter adalah tabiat, tindakan/kebiasaan seseorang yang langsung ditentukan oleh otak. Kedua hal ini memiliki arti yang berbeda, namun moral dan karakter memiliki keterkaitan. Karakter memiliki makna lebih tinggi dari pada moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Moral merupakan salah satu komponen yang membentuk karakter individu ketika moral behavior dapat dilakukan secara berulang. Maka, dapat dikatakan karakter adalah suatu kebiasaan (habituation) untuk melakukan yang baik berdasarkan pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 2. Pengertian Pendidikan Karakter Burke (Samani & Hariyanto, 2011: 43) mengatakan bahwa “pendidikan karakter semata-mata merupakan bagian dari pembelajaran yang baik dan merupakan bagian yang fundamental dari pendidikan yang baik.” Sementara itu, menurut Samani & Hariyanto (2011: 44) “pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa.” Mereka juga menyampaikan bahwa pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Character Education Partnership (CEP) (Doni Koesoema, 2012: 57) sebuah program nasional pendidikan karakter di Amerika Serikat, mendefinisikan pendidikan karakter sebagai berikut: Sebuah gerakan nasional untuk mengembangkan sekolah-sekolah agar dapat menumbuhkan dan memelihara nilai-nilai etis, tanggung jawab dan kemauan untuk merawat satu sama lain dalam diri anakanak muda, melalui keteladanan dan pengajaran tentang karakter baik, dengan cara memberikan penekanan pada nilai-nilai universal yang diterima oleh semua. Gerakan ini merupakan usaha-usaha dari sekolah, distrik, dan Negara bagian yang sifatnya intensional dan proaktif untuk menanamkan dalam diri para peserta didik nilainilai moral inti, seperti perhatian dan perawatan (caring), kejujuran, keadilan (fairness), tanggung jawab dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa pendidikan karakter adalah proses pemberian bekal/penanaman nilai moral mengenai karakter pribadi yang baik, sopan, bertanggungjawab, memiliki rasa hormat, jujur, adil, menghargai dan memahami satu sama lain yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui program pemerintah yang ditujukan kepada sekolah. 3. Tujuan, Fungsi dan Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter a. Tujuan pendidikan karakter Menurut Kemendiknas (2010) Peraturan pemerintah nomor 17 tahun 2010 tentang pengelolaan penyelenggaraan pendidikan pada pasal 17 ayat (3) “Pendidikan dasar, termasuk sekolah menengah pertama (SMP) bertujuan membangun landasan bagi berkembangnnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang (a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b) berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; (c) berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; (d) sehat, mandiri dan percaya diri; (e) toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.” Melalui penjelasan pada pasal tersebut jelas bahwa tujuan dari pendidikan sangat berkaitan dengan pendidikan karakter. Dapat disimpulkan bahwa melalui pendidikan di sekolah nilai-nilai karakter dapat diterapkan agar membawa perubahan bagi peserta didik dalam hal; beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; memiliki ilmu, cakap, kritis, kreatif,

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 dan inovatif; selain itu juga mampu membantu peserta didik menjadi pribadi yang sehat, mandiri dan percaya diri; serta memiliki rasa toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. b. Fungsi pendidikan karakter Menurut Fathurrohman, dkk (2013: 97) fungsi pendidikan karakter adalah: 1) Pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi prilaku yang baik bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter dan karakter bangsa. 2) Perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat. 3) Penyaring: untuk menyaring karakter-karakter bangsa sendiri dan karakter bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter dan karakter bangsa. c. Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan karakter Menurut Direktorat pembinaan SMP (Fathurrohman, 2013: 145146) pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter. 2) Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 3) Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter. 4) Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian. 5) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik. 6) Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang, yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses. 7) Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri para peserta didik. 8) Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama. 9) Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter. 10) Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter. 11) Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter 4. Nilai-Nilai Karakter yang Ditanamkan dalam Pendidikan di Sekolah Nilai-nilai karakter yang ditanamkan dalam pendidikan adalah karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif,

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, nasionalisme, inovatif, daya juang, rendah hati, memaafkan, kepemimpinan, dan kerja keras. Beberapa karakter tersebut yang peneliti jadikan landasan untuk mengukur karakter beberapa anak SMP di Indonesia. 5. Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter di SMP Suyanto (2010: 9), menegaskan bahwa keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui terutama melalui pencapaian butirbutir Standar Kompetensi Lulusan peserta didik yang meliputi sebagai berikut: a. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja. b. Memahami kekurangan dan kelebihan diri. c. Menunjukkan sikap percaya diri. d. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas. e. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional. f. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial. g. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggungjawab. h. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. i. Menghargai karya seni dalam budaya nasional.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 j. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya. k. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik. l. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun. m. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat, menghargai adanya perbedaan pendapat. n. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana. o. Menunjukkan ketrampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam Bahasa Indonesi dan Bahasa Inggris sederhana. p. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah. B. Hakikat Evaluasi, Asesmen, dan Tes 1. Pengertian Evaluasi, Asesmen, dan Tes a. Pengertian Evaluasi Gay (Sukardi, 2014: 8) berpendapat bahwa evaluasi adalah sebuah proses sistematis pengumpulan dan penganalisisan data untuk pengambilan keputusan. Jadi, evaluasi adalah proses penilaian, pengumpulan, dan menganalisis data atau suatu kejadian pada kenyataan dengan program atau tujuan yang sudah ditetapkan.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Suwandi (2010: 8) berpendapat bahwa evaluasi sebagai sebuah penilaian keseluruhan program pendidikan termasuk perencanaan atau program subtansi pendidikan, termasuk kurikulum beserta penilain, dan pelaksanaannya, pengadaan, serta reformasi pendidikan secara keseluruhan. b. Pengertian Asesmen (Penilaian) Linn dan Grounlund (Uno dan Koni, 2012: 1) menegaskan “asesemen (penilaian) adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang belajar peserta didik (observasi, ratarata pelaksanaan tes tertulis) dan format penilaian kemajuan belajar.” Sarwiji Suwandi (2009: 7) mengatakan bahwa “penilaian adalah suatu proses untuk mengetahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditetapkan.” Penilaian merupakan kegiatan yang dilakukan guru untuk memperoleh informasi secara objektif, berkelanjutan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang dicapai peserta didik, yang hasilnya digunakan sebagai dasar untuk menentukan perlakuan selanjutnya (Depdiknas, 2010). Jadi, penilaian adalah suatu kegiatan mengumpulkan dan menganalisis data tentang suatu proses dan hasil belajar peserta didik untuk mendapatkan informasi, apakah hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan tujuan atau standar yang ditetapkan atau belum.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 c. Pengertian Tes Asep Jihad dan Abdul Haris (2008: 67) mengatakan bahwa “tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi, atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites.” Arikunto (2012) menegaskan “tes adalah suatu cara untuk melakukan penilaian yang berbentuk tugas-tugas yang harus dikerjakan peserta didik.” 2. Tujuan dan Fungsi Asesmen a. Tujuan Asesmen Menurut pedoman penilaian Depdikbud (Jihad & Haris. 2008: 63), tujuan penilaian adalah “untuk mengetahui kemajuan belajar peserta didik, untuk perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar peserta didik serta sekaligus memberi umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan belajar.” Jihad & Haris (2008: 63) mengatakan bahwa “tujuan penilaian untuk mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan atau kesulitan belajar peserta didik, dan sekaligus memberi umpan balik yang tepat.” Suwandi, Sarwiji (2009: 14) mengatakan bahwa “secara umum semua jenis penilaian berbasis kelas bertujuan untuk menilai hasil belajar peserta penyelenggaraan didik di pendidikan sekolah, kepada mempertanggungjawabkan masyarakat, mengetahui ketercapaian mutu pendidikan secara umum.” dan untuk

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 b. Fungsi Asesmen Menurut Supranata & Hatta (Suwandi, Sarwiji. 2009: 15) mengatakan bahwa penilaian berbasis kelas memiliki sejumlah fungsi, yaitu sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas, umpan balik dalam perbaikan program pengajaran, alat pendorong dalam meningkatkan kemampuan peserta didik, dan sebagai alat untuk peserta didik melakukan evaluasi terhadap kinerjanya serta bercermin diri (instropeksi) misalnya melalui portofolio. Menurut Nana Sudjana (Jihad & Haris. 2008: 56) penilaian (asesmen) berfungsi sebagai: 1) Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional. Dengan fungsi ini maka penilaian (asesmen) harus mengacu kepada tujuan-tujuan intruksional. 2) Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengjar. Perbaikan mungkin dapat dilakukan dalam hal tujuan instruksional, kegiatan belajar peserta didik, strategi mengajar guru. 3) Dasar dalam menyusun laporan kemajuan peserta didik kepada orangtuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan dan kecakapan belajar peserta didik dalam bentuk-bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya. 3. Prinsip-prinsip Asesmen Depdiknas (Suwandi, Sarwiji. 2009: 21) mengatakan bahwa prinsip umum penilaian (asesmen) meliputi:

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 a. Valid, artinya penilaian harus mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan alat yang dapat dipercaya dan sahih. b. Mendidik, artinya penilaian harus memberi sumbangan yang positif terhadap pencapaian hasil belajar peserta didik, seperti memotivasi peserta didik yang berhasil dan memberikan semangat untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. c. Berorientasi pada kompetensi, artinya mampu menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum. d. Adil dan objektif, artinya penilaian harus adil terhadap semua peserta didik dan tidak membeda-bedakan latar belakang peserta didik. e. Terbuka, artinya kriteria penilaian hendaknya terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan tentang keberhasilan peserta didik jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan. f. Berkesinambungan, artinya penilaian dilakukan secara berencana, bertahap teratur, terus menerus, dan berkesinambungan untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan kemajuan belajar peserta didik. g. Menyeluruh, artinya penilaian dilaksanakan secara menyeluruh, utuh, dan tuntas yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berlandaskan berbagai teknik dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar peserta didik.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 h. Bermakna, artinya penilaian hendaknya mudah dipahami dan mudah ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Menurut Jihad & Haris (2008: 63) sistem penilaian dalam pembelajaran, baik pada penilaian berkelanjutan maupun penilaian akhir, hendaknya dikembangkan berdasarkan sejumlah prinsip sebagai berikut: a. Menyeluruh, artinya penguasaan kompetensi dalam mata pelajaran hendaknya menyeluruh, baik menyangkut standar kompetensi, kemampuan dasar serta keseluruhan indikator ketercapaian, baik menyangkut dominan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap, perilaku, dan nilai), serta psikomotor (keterampilan), maupun menyangkut evaluasi proses dan hasil belajar. b. Berkelanjutan, artinya penilaian seharusnya direncanakan dan dilakukan secara terus menerus guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar peserta didik sebagai dampak langsung (dampak instruksional/pembelajaran) maupun dampak tidak langsung (dampak pengiring/nurturan effect) dari proses pembelajaran. c. Berorientasi pada indikator ketercapaian, artinya sistem penilaian dalam pembelajaran harus mengacu pada indikator ketercapaian yang sudah ditetapkan berdasarkan kemampuan dasar/kemampuan minimal dan standar kompetensinya.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 d. Sesuai dengan pengalaman belajar, artinya sistem penilaian dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan pengalaman belajarnya. 4. Jenis-jenis Asesmen Menurut Uno dan Koni (2012) jenis-jenis asesmen dilaksanakan dalam berbagai teknik, seperti: penilaian kinerja (performance), penilaian sikap, dan penilaian tertulis (paper and pencil test, penilaian proyek, dan penilaian diri/self assessment). Menurut Subali (2016) berdasarkan ragam jenis asesmen dibedakan menjadi empat, yaitu: a. Asesmen penempatan. Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap masing-masing peserta didik sebelum menempuh program pengajaran. Tujuannya yaitu untuk mengetahui penguasaan kemampuan prasyarat masing-masing peserta didik yang diperlukan dalam proses pembelajaran yang akan diselenggarakan bila diperlukan adanya kemampuan yang ditargetkan. b. Asesmen formatif Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap masing-masing peserta didik selama menempuh kegiatan pembelajaran. Tujuannya untuk mengetahui apakah setiap peserta didik melaju dengan baik selama proses pembelajarannya sampai akhir program sehingga kegiatan belajar selanjutnya menjadi lebih efektif dan efisien.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 c. Asesmen sumatif Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing peserta didik setelah selesai menempuh suatu program pembelajaran. Tujuannya untuk menentukan nilai akhir masing-masing peserta didik yang menempuh suatu program pembelajaran untuk selanjutnya dapat ditetapkan apakah seorang peserta didik dinyatakan berhasil atau gagal. Jika berhasil peserta didik tersebut akan diberi sertifikat karena telah menguasai kecakapan atau keterampilan tertentu yang ditargetkan dalam program pembelajaran yang dirancang. d. Asesmen konfirmatori Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing orang yang ingin dinilai pembelajaran yang dilaksanakan melalui tanpa dilakukan ditempuh. dengan Asesmen pengukuran yang kegiatan konfirmatori menggunakan instrument yang sahih dan handal. Dalam hal kegiatan pembelajaran, asesmen konfirmatori dapat dilakukan oleh pihak eksternal. Pemerintah menerapkan ujian nasional untuk menetapkan setiap peserta didik untuk dinyatakan lulus dan tidak lulus dalam menguasai kompetensi yang diterapkan. Menurut Prijowuntato (2016: 60-66) alat yang dapat digunakan untuk menilai ketercapaian konpetensi peserta didik dapat dibedakan menjadi dua yaitu tes dan non tes.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 a. Tes Bentuk tes yang digunakan untuk mengevaluasi peserta didik dapat berupa; pilihan ganda, uraian objektif, uraian non objektif/uraian bebas, jawaban singkat/isian singkat, menjodohkan, performans/unjuk kinerja, portofolio. Bentuk tes digunakan apabila sifat suatu objek yang diukur menyangkut tingkah laku yang berhubungan dengan apa yang diketahui, dipahami atau proses psikis lainnya yang tidak dipahami dengan indera. Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan tes harus mencakup mulai dari yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding sesuai jenjang pendidikan. Bentuk tes yang digunakan di sekolah dapat dikategorikan menjadi dua yaitu tes objektif dan tes non objektif. Objektif di sini dilihat dari sistem penskorannya, yaitu siapa yang memeriksa lembar jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama. Tes non objektif adalah tes yang sistem penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tes objektif adalah tes yang sistem penskorannya objektif sedangkan non objektif sistem penskorannya dipengaruhi oleh subjektifitas pemberi skor. b. Non tes Bentuk non tes yang digunakan untuk mengevaluasi peserta didik dapat berupa; observasi, catatan anekdot, daftar cek, skala nilai, kuesioner, wawancara. Bentuk non tes digunakan apabila perubahan tingkah laku yang dapat diamati dengan indera dan bersifat konkret.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Konsekuensi dari pengukuran menggunakan bentuk non tes sangat bergantung pada situasi di mana perubahan tingkah laku individu itu muncul atau menggejala. Oleh karenanya, situasi pengukuran yang seragam sukar dipersiapkan. Suatu pengukuran dengan alat pengukuran non tes terjadi dalam situasi yang kurang distandarisasi, seperti waktu pengukuran yang dapat tidak sama atau seragam bagi semua peserta didik. 5. Teknik-teknik Asesmen Teknik yang biasanya digunakan untuk mengukur/mengevaluasi hasil ketercapaian peserta didik adalah menggunakan teknik tes dan teknik non-tes. Menurut Jihad & Haris (2008: 68) alat penilaian teknik tes yaitu: a. Tes tertulis, merupakan tes atau soal yang diselesaikan peserta didik secara tertulis. Tes tertulis ini terdiri atas bentuk objektif dan bentuk uraian. Bentuk objektif meliputi pilihan ganda, isian, benar salah, menjodohkan, serta jawaban singkat. Sedangkan bentuk uraian meliputi uraian terbatas dan uraian singkat. b. Tes lisan, yang merupakan sekumpulan tes atau soal atau tugas pertanyaan yang diberikan kepada dilaksanakan dengan cara Tanya jawab. peserta didik dan

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 c. Tes perbuatan, merupakan tugas yang pada umumnya berupa kegiatan praktek atau melakukan kegiatan yang mengukur ketrampilan. Mereka juga mengungkapkan secara rinci mengenai teknis penilaian peserta didik dapat dilakukan dengan cara ulangan harian, tugas kelompok, kuis, ulangan blok, pertanyaan lisan, dan juga tugas individu. Depdiknas, 2001 (Jihad & Haris, 2008: 69) mengatakan bahwa penilaian non-tes merupakan prosedur yang dilalui untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat, sifat, dan kepribadian melalui: a. Pengamatan, yakni alat penilaian yang pengisiannya dilakukan oleh guru atas dasar pengamatan terhadap perilaku peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, di kelas maupun di luar kelas; b. Skala sikap, yaitu alat penilaian yang digunakan untuk mengungkap sikap peserta didik melalui pengerjaan tugas tertulis dengan soal-soal yang lebih mengukur daya nalar atau pendapat peserta didik; c. Angket, yaitu alat penilaian yang meyajikan tugas-tugas atau mengerjakan dengan cara tertulis; d. Catatan harian, yaitu suatu catatan mengenai perilaku peserta didik yang dipandang perkembangan pribadinya; mempunyai kaitan dengan

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 e. Daftar cek, yaitu suatu daftar yang dipergunakan untuk mengecek terhadap perilaku peserta didik telah sesuai dengan yang diharapkan atau belum. Sukardi (2014: 104) mengatakan bahwa tes dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tes normative dan tes kriterion. Suatu tes dikatakan sebagai tes normative apabila evaluator dalam mengevaluasi bisa membandingkan hasil penilaian individu antara satu individu dengan individu lainnya dalam penyelenggaraan tes yang sama. Suatu tes dikatakan Kriterion jika para evaluator dalam pengukuran terhadap subjek atau objek yang dievaluasi atas dasar apa yang telah dia perbuat sesuai dengan kapasitasnya tanpa membandingkan dengan orang lain. 6. Tes Sebagai Teknik Asesmen Sukardi (2014: 92) mengatakan bahwa tes atau testing merupakan prosedur sistematis yang direncanakan oleh evaluator guna membandingkan antar perilaku yang dievaluasi. Tes atau testing berisi item atau butir soal yang akan diberikan kepada peserta yang mengikuti tes. Ia juga mengatakan bahwa item atau butir soal, yaitu bagian terkecil dari suatu tes yang memuat satu fakta atau konsep yang diungkapkan melalui pertanyaan atau pernyataan yang dapat diisolasi untuk pengamatan dan pengambilan keputusan. Tes sebagai teknik asesmen dapat meyediakan informasi-informasi objektif yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penentuan keputusan yang harus diambil pendidik terhadap proses dan hasil belajar.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 Tes ini dilakukan sebelum, saat, dan akhir pembelajaran, sehingga bergulir tanpa henti (dynamic assesment). C. Hakikat Asesmen Pendidikan Karakter di Sekolah 1. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter Evaluasi pendidikan karakter di SMP sangat relevan dilakukan dalam upaya untuk melihat secara jujur dan objektif apakah pendidikan karakter di SMP sungguh ada dan terlaksana sesuai dengan tujuan, prinsip, asas, dan mekanisme penyelenggaraan pelayanan bimbingan secara konseptual. Apabila itu terlaksana, apakah program itu menguntungkan, berfungsi dan bermanfaat menunjang perkembangan peserta didik? Jika dalam pelaksanaan program ditemukan faktor-faktor kendala atau hambatan, lalu apa yang perlu diperbaiki? Semua ini membutuhkan data dan analisis yang sistemis melalui program yang diharapkan dapat dilakukan sendiri oleh penyelenggara program. 2. Teknik-teknik Asesmen Pendidikan Karakter Akhlak mulia atau karakter adalah suatu hal yang bersifat abstrak. Meskipun absrak, karakter seseorang dapat diketahui melalui asesmen. Pendidikan karakter saat ini dimasukan dalam pembelajaran di sekolah melalui mata pelajaran yang memiliki kaitan dengan moral seperti; pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, budi pekerti. Sebagai sebuah pelajaran maka guru harus membuat definisi-definisi operasional dan indikator untuk mengukur dan menilai kemudian mengevaluasi karakter peserta didik.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Menurut Zainul & Nasution (2005: 5-8) sebagai sebuah pelajaran pendidikan karakter harus dikenakan pengukuran dan penilaian. Pengukuran adalah pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu, sedangkan penilaian adalah proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran baik melalui instrumen tes maupun non tes. Pengukuran dan penilaian melalui instrumen tes seperti (pilihan ganda, uraian objektif, uraian non objektif/uraian bebas, jawaban singkat, atau isisan singgkat, menjodohkan, performans, benar-salah, tes lisan, portofolio. Melalui intrumen non tes (observasi, catatan anekdota, daftar cek, skal nilai, angket atau kuesioner, wawancara dan rangkuman, (Prijowuntato 2016: 60). Maka guru perlu mengukur dan menilai berdasarkan indikatorindikator yang jelas sebagai landasan dalam melakukan pengukuran dan penilaian pendidikan karakter dengan menggunakan istumen asesmen yang ada. D. Peran Guru dalam Pendidikan Karakter Terciptanya kelas berkarakter tentunya tidak akan dapat terlepas dari peran seorang guru untuk mewujudkannya. Guru merupakan pihak yang memiliki peran paling banyak dalam melakukan pengelolaan ruang kelas secara keseluruhan. Lickona (2012) menjelaskan bahwa untuk menciptakan kelas berkarakter ada beberapa hal ang dapat dilakukan guru, yaitu:

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 1. Membangun ikatan dan model karakter, 2. Mengajarkan akademik dan karakter secara bersama-sama, 3. Mempraktikan disiplin berbasis karakter, 4. Mengajarkan tata cara yang baik, 5. Mencegah kenakalan teman sebaya dan mengedepankan kebaikan, dan 6. Membantu anak-anak bertanggng jawab untuk membangun karakter mereka sendiri. Membangun ikatan model karakter interaksi antara guru dengan peserta didik merupakan yang dominan terjadi di sekolah. Paling banyak waktu peserta didik di sekolah dan dihabiskan bersama guru kelasnya. Oleh karena itu ikatan hubungan antara guru dengan peserta didik menjadi sesuatu yang menarik untuk dibangun. Bayangkan saja jika hubungan antara guru dan peserta didik tidak baik, maka yang dirasakan adalah kebosanan yang berkepanjangan. Jika kebosanan sudah menghampiri, maka dampak selanjutnya adalah muncul kurang bersemangat untuk belajar. Oleh karena itu interaksi hubungan antara guru dan peserta didik perlu dibangun secara baik. Hubungan yang baik antara guru dengan peserta didik adalah dasar utama yang perlu diperhatikan untuk keterlaksanaan proses pembelajaran berikutnya. Beberapa hal yang perlu dilakukan guru adalah: 1. Membantu peserta didik untuk merasa dicintai. Guru merupakan orang tua kedua yang berinteraksi dengan peserta didik di sekolah. Agar peserta didik merasa nyaman. Guru dapat memposisikan dirinya untuk

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 dapat memberikan cinta kepada peserta didiknya, sehingga peserta didik tidak merasakan sedang berhadapan dengan oran asing ketika di sekolah. Guru perlu melakukan hak-hal yang biasa orang tua lakukan di rumah, misalnya memperhatikan peserta didik, menanggapi pertanyaan, memperhatikan keluh kesahnya. Pada intinya guru perlu melakukan beberapa peran orang tua di rumah kepada peserta didiknya. Pianta (dalam Lickona, 2012: 180) menjelaskan bahwa peran guru sebagai agen pertumbuhan moral yang harus mirip dengan peran orang tua. 2. Memotivasi peserta didik untuk melakukan yang terbaik. Agar peserta didik mau berperilaku yang baik sesuai dengan nilai-nilai karakter yang akan dibangun, maka salah satu yang harus dilakukan guru adalah memberikan motivasi yang baik, salah satu yang dapat dilakukan yaitu dengan menerapkan reward dan punishment. Kehadiran reward (hadiah) dan punishment (hukuman) perlu untuk memotivasi peserta didik berperilaku yang baik. Akan tetapi dalam menggunakan hukuman dan hadiah untuk memotivasi peserta didik agar berperilaku baik, guru perlu diperhatikan agar tidak selalu mengedepankan kedua hal dalam bentuk fisik dan non fisik. Hadiah dalam bentuk fisik misalnya permen, cokelat, dan sebagainya. sedangkan yang berwujud non fisik adalah pujian, acungan jempol, dan sebagainya. Sementara untuk hukuman fisik, misalnya dijewer, dipukul, dan sebagainya. 3. Komunikasi antara guru dan peserta didik menjadi lebih mudah. Komunikasi antara guru dan peserta didik merupakan salah satu unsur

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 terjadinya interaksi antara guru dengan peserta didik yang baik. komunikasi antara guru dan peserta didik dapat dilakukan melalui cara apapun agar menjadi lebih mudah. Guru perlu membangun suasana agar peserta didik dengan mudah mengemukakan pendapatnya jika ada hal yang ingin disampaikan. Penting kiranya guru perlu menciptakan suasanya yang menyenangkan agar peserta didik tidak merasa takut berbicara tentang berbagai hal yang akan disampaikan kepada guru. 4. Memberikan contoh yang baik untuk peserta didik. Sebagai orang yang diidolakan peserta didiknya di sekolah, guru harus dapat memberikan teladan yang baik bagi peserta didiknya. Guru merupakan model yang akan diperhatikan peserta didik setiap gerak geriknya, dan kemudian peserta didik akan menirunya. Contoh yang dapat diberikan guru untuk menciptakan ruang kelas yang berkarakter, misalnya berbicara dengan kata-kata yang sopan, tidak menggunakan kekerasan, taat terhadap aturan, dan tidak membuang sampah sembarangan. 5. Mengajarkan akademik dan karakter secara bersama-sama. Guru dalam membangun nilai-nilai karakter di dalam kelas tidak harus diajarkan secara terpisah dengan aspek pengetahuan peserta didik. Nilai-nilai karakter dapat dibelajarkan kepada peserta didik bersamaan dengan guru mengajarkan pengetahuan. Nilai karater dapat saja menjadi efek positif dari proses pembelajaran yang dilakukan guru, entah itu dari sisi metode pembelajarannya, media yang digunakan, sumber belajar yang digunakan, ataupun bahan ajar yang diberikan, bahkan aktivitas untuk

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 peserta didik pun dapat memberikan dampak positif dalam pengembangan karakter peserta didik. Menurut Nucci & Narvaez (Dilla Novi. TT) jika ditinjau dari perspektif filosofis, pendidik moral dan karakter memiliki peran utama dalam perkembangan moral peserta didik melalui "hiden curriculum" yang dimanifestasikan dalam lingkungan interpersonal sekolah dan ruang kelas. Kurikulum pendidikan karakter tidak harus secara eksplisit tertulis, tetapi dapat diinternalisasikan melalui kegiatan-kegiatan di dalam kelas. Peserta didik akan mengembangkan konsepsi mereka tentang perilaku yang baik dengan mengamati perilaku yang dilakukan guru di dalam kelas, dan melalui pembiasaan-pembiasaan yang mereka lakukan di kelas. 6. Mempraktikkan disiplin berbasis karakter. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan guru dalam menciptakan ruang kelas yang berkarakter untuk menginternalisasikan mempraktikan disiplin nilai-nilai berbasis karakter karakter. adalah Lickona dengan (2012: 175) menjelaskan bahwa kebanyakan sekolah menganggap bahwa disiplin adalah titik masuk bagi pendidikan karakter. Dengan berbekal nilai-nilai disiplin, maka akan menyebabkan nilai-nilai karakter lain berkembang dalam diri anak. Dalam upaya menciptakan kelas yang berkarakter, guru dapat melakukan tindakan dengan meminta anak-anak bertanggung jawab untuk membangun karakternya masing-masing. Masing-masing diupayakan untuk dapat selalu berbuat untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Nilai-nilai karakter itu tidak

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 akan dapat terinternalisasi dalam diri masing-masing orang secara tiba-tiba, tetapi membutuhkan proses yang idealnya dikembangkan dari waktu ke waktu untuk menjadi lebih baik. Pada hakikatnya mengajar tidak hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, tetapi dimaknai sebagi proses pembentukan karakter. Konsep Ki Hajar Dewantara tentang “Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”, yang artinya di awal memberi teladan di tengah memberi semangat dan di akhir memberi dorongan dapat diaktualisasikan dalam pembelajaran untuk membentuk karakter peserta didik (Ki Hajar Dewantara, dalam Jurnal Arrifudiin, IS. (2017). Aktualisasi konsep Ki Hajar Dewantara tersebut dapat diaplikasikan dalam jenjang-jenjang pendidikan. Pada jenjang pendidikan menengah pertama dan atas (SMP/ MTs dan SMA/ MA), konsep yang relevan untuk membentuk peserta didik adalah “Ing Madya Mangun Karsa”. Artinya, pada jenjang ini guru merupakan fasilitator bagi peserta didik untuk memberi semangat belajar. Guru tidak mendikte atau menekan peserta didik, melainkan membakar semangat belajar keras para peserta didik. Ketika guru memfasilitasi atau mendampingi peserta didik dalam proses pembelajaran, maka peserta didik akan menginternalisasikan nilai-nilai karakter seperti rasa ingin tahu, belajar keras, disiplin, mandiri, dan sebagainya. Dalam konteks pendidikan karakter, guru merupakan fasilitator dalam proses pembelajaran. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, karena perkembangan sains dan teknologi memungkinkan peserta didik memperoleh ilmu

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 dari berbagai sumber seperti internet (e-journal & e-book), program televisi, gambar, audio, dan sebagainya. Semua sumber belajar tersebut berimplikasi pada perubahan peranan guru dalam mengelola proses belajar mengajar, dari guru sebagai sumber belajar menjadi guru sebagai fasilitator. Fungsi guru sebagai fasilitator lebih memungkinkan peserta didik untuk membentuk karakternya sebagai generasi yang “melek media”. Terdapat beberapa peran guru dalam pembelajaran yang dikemukakan oleh Moon (Arrifudiin, IS. (2017), yaitu sebagai berikut. 1. Guru sebagai Perancang Pembelajaran (Designer Of Instruction) Sesuai dengan program yang diajukan oleh pihak Dapertemen Pendidikan Nasional dituntut untuk berperan aktif dalam merencanakan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dengan memerhatikan berbegai komponen dalam sistem pembelajaran. Jadi, dengan yang waktu yang sedikit atau terbatas guru dapat merancang dan mempersiapkan semua komponen agar berjalan dengan efektif dan efesien. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan yang cukup memadai tentang prinsip belajar, sebagai landasan dari perencanaan. 2. Guru sebagai Pengelola Pembelajaran (Manager Of Instruction) Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan peserta didik bekerja dan belajar, serta membantu peserta

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 didik untuk memperoleh hasil yang diharapakan. Selain itu guru juga berperan dalam membimbing pengalaman sehari-hari ke arah pengenalan tingkah laku dan kepribadiannya sendiri 3. Guru sebagai pengarah pembelajaran Disini hendaknya guru senantiasa berusaha menimbulkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar. Dalam hubungan ini, guru mempunyai fungsi sebagai motivator dalam keseluruhan kegiatan belajar mengajar. Pendekatan yang dipergunakan oleh guru dalam hal ini adalah pendekatan pribadi, dimana guru dapat mengenal dan memahami peserta didik secara lebih mendalam hingga dapat membantu dalam keseluruhan PBM, atau dengan kata lain, guru berfungsi sebgai pembimbing. 4. Guru sebagai Evaluator (Evaluator Of Student Learning) Tujuan utama penilaian adalah untuk melihat tingkat keberhasilan, efektivitas, dan efisiensi dalam proses pembelajaran. Selain itu, untuk mengetahui kedudukan peserta dalam kelas atau kelompoknya. Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar peserta didik, guru hendaknya secara terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai peserta didik dari waktu ke waktu untuk memperoleh hasil yang optimal. 5. Guru sebagai Pembimbing Sesuai dengan peran guru sebagai konselor adalah guru diharapkan akan dapat merespon segala masalah tingkah laku yang terjadi dalam proses pembelajaran. Serta pada akhirnya, guru akan memerlukan pengertian

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 tentang dirinya sendiri, baik itu motivasi, harapan, prasangka, ataupun keinginannya. Semua hal itu memberikan pengaruh pada kemampuan guru dalam berhubungan dengan orang lain, terutama peserta didik. E. Hambatan-hambatan dan Kesulitan-kesulitan Pelaksanaan pendidikan Karakter dan Penilaiannya di Sekolah Menurut Barus, dkk (2017: 47) hambatan-hambatan dan kesulitan-kesulitan pelaksanaan pendidikan karakter dan asesmenya di Indonesia, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Kesadaran para guru tentang pentingnya asesmen pendidikan sangat tinggi, namun kesadaran tersebut belum diikuti dengan langkah konkrit dalam perencanaan dan pelaksanaannya. 2. Para guru mengaku ada perencanaan dan pelaksanaan yang rutin dari pihak sekolah tentang asesmen pendidikan karakter, namun sebagian besar tidak sampai pada tahapan pelaksanaan asesmen yang prosedural. Kebanyakan mereka terhenti pada merencanakan tetapi tidak sampai pada tahap implementasi dan analisis hasil. 3. Sedikit sekali guru yang membaca dan memahami isi Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMP (Direktur Pembinaan SMP, Kemendiknas, 2010) yang disosialisasikan pemerintah. Sebagian besar mereka mengaku bahwa nilai karakter terpilih hanya sekedar tertempel pada RPP, namun sulit dilaksanakan dan dinilai. 4. Sebagian besar guru mengandalkan teknik observasi dalam mengakses karakter peserta didik, namun pelasanaannya belum mengikuti prosedur

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 yang benar, misalnya tanpa pencatatan data, sporadic, tidak rutin, berbasis perilaku negatife (pelanggaran tata tertib). 5. Meski sebagian besar guru mengandalkan observasi sebagai cara penilaian karakter peserta didik yang paling sering digunakan, meski mereka mengakui banyak kelemahan dari penggunaan observasi itu. 6. Sebagian besar guru pada 11 SMP dari berbagai kota di Indonesia mengaku di sekolah mereka ada perencanaan pendidikan karakter yang operasional. Mereka juga mengaku dilibatkan dalam membuat perencanaan itu, namun hanya sedikit sekali guru yang merasa mampu melaksanakan rencana ini. 7. Sebagian besar (hampir 71%) guru mengaku kurang berhasil atau “gagal” mendaratkan perencanaan itu dengan hasil yang baik. 8. Sekolah-sekolah swasta memiliki keragaman dan lebih kaya dalam variasi kegiatan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah ketimbang sekolah-sekolah negeri. 9. Kehadiran Guru BK di sekolah-sekolah negeri belum difungsikan secara optimal sebagai saluran pendidikan karakter, sementara itu pada sekolahsekolah swasta guru BK diberi jam bimbingan masuk kelas yang dapat digunakan sebagai sarana dan kesempatan memberikan “Bimbingan Karakter” bagi semua peserta didik di kelas. 10. Banyak guru di SMP negeri maupun swasta memilih kegiatan keagamaan sebagai muatan kegiatan pendidikan karakter, namun sedikit sekali (hanya 6 orang) guru yang merasakan adanya peningkatan kesadaran

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 peserta didik bertaqwa, berdoa, dan beribadah sebagai indikasi keberhasilan pendidikan karakter. 11. Sementara itu, kantin kejujuran sebagai sebuah gerakan yang menggelegar pada tahun 2010 bersamaan dengan masa pencanangan pendidikan karakter di sekolah, kini kehilangan momen, mulai terlupakan. 12. Banyak indikasi keberhasilan karakter yang dapat ditunjukkan para guru dalam survey ini, namun lebih banyak lagi noda hitam keprihatinan yang menandai ketidakberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Masih banyak peserta didik berperilaku buruk, kurang sopan, melanggar peraturan/tata tertib, kurang jujur, tidak disiplin, masih ada peserta didik yang suka bolos, bersikap brutal dan menentang guru, putus sekolah karena kawin di usia dini, bahkan ada yang melakukan klitih merupakan sinyal ketidakberhasilan pendidikan karakter di SMP. 13. Jadi, maraknya perkelahian antar peserta didik, mengganasnya perilaku bullying dan “klitih”, makin menggilanya perilaku seks bebas dan aborsi di kalangan remaja, bisa jadi merupakan sinyal “gagalnya” pendidikan karakter di sekolah dan keluarga. 14. Sebagian besar guru mengaku telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin, namun pelaksanaannya sebagian besar masih sebatas perencanaan, angan-angan. Hanya sedikit guru yang mengakui telah sampai pada tahap menghimpun, mengolah, dan menginterpretasi hasil penilaian tersebut.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 15. Pengakuan mereka telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin ternyata terbantahkan ketika pada bagian lain mereka mengakui bahwa frekuensi pelaksanaannya tidak menentu, tergantung kebijakan sekolah. Ditemukan inkonsistensi responsi mereka. Artinya, pelaksanaan asesmen hasil pendidikan karakter pada 11 SMP yang diteliti belum seperti yang diharapkan, masih terabaikan, belum dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip asesmen afektif yang benar. 16. Hanya sedikit guru yang dapat merumuskan secara tepat tujuan asesmen pendidikan karakter, sementara sisanya (70%) merumuskan tujuan asesmen campur aduk dengan tujuan pendidikan karakter itu sendiri. 17. Sabagian guru menjelaskan bahwa perancangan asesmen pendidikan karakter diserahkan kepada satu tim kerja, sementara sisanya mengaku tanggung jawab itu diserahkan kepada masing-masing guru dan sebagian besar guru mengakui tiada hasil/sulit melakukannya. 18. Fakta di atas menunjukkan bahwa asesmen pendidikan karakter di SMP belum terlaksana secara baik dan masih menemukan banyak kendala. Meskipun demikian, penilaian karakter peserta didik yang diperoleh dengan cara-cara seadanya dan belum teruji kehandalan serta diragukan validitas/objektivitasnya seperti itu diakui oleh 76,5% reponden hasilnya digunakan sebagai penentu keputusan kenaikan kelas peserta didik. Jangan-jangan cara kerja semacam ini tidak mendidik, mengorbankan peserta didik, dan mengaburkan visi-misi serta tujuan pendidikan karakter yang sesungguhnya.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Yoga (Dilla Novi. TT) mengungkapkan beberapa kekeliruan dalam melaksanakan pendidikan karakter yaitu: 1. Banyak guru yang beranggapan bahwa pendidikan karakter merupakan mata pelajaran baru dan berdiri sendiri sehingga banyak menanyakan kurikulum, silabus dan buku. Padahal pendidikan karakter bukan mata pelajaran karena sesungguhnya sudah ada di dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan saat ini. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak membutuhkan kurikulum, silabus atau buku yang khusus. 2. Banyak guru yang beranggapan bahwa pendidikan karakter merupakan pengganti mata pelajaran PMP atau Budi Pekerti. Akibatnya banyak yang mencoba menyamakan metode pembelajaran seperti yang banyak dipakai yaitu metode ceramah dan catat. Padahal pendidikan karakter bukanlah mata pelajaran pengganti dan proses pembelajarannya bukan lebih ceramah tapi harus digali secara bersama sama oleh guru dan peserta didik. 3. Banyak guru yang beranggapan bahwa pendidikan karakter adalah tugas dari guru mata pelajaran Agama dan PKn saja, serta melibatkan guru BK apabila terjadi masalah yang terkait dengan karakter peserta didik. Padahal pendidikan karakter adalah tugas semua guru dari seluruh mata pelajaran, karena setiap mata pelajaran yang diajarkan pasti memiliki nilai-nilai moral yang akan memberi dampak pada kehidupan orang banyak

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 4. Banyak guru yang beranggapan bahwa pendidikan karakter hanyalah pelengkap atau tambahan saja sehingga tidak perlu diprioritaskan seperti halnya dengan materi akademis. Padahal pendidikan karakter adalah inti dari suatu kegiatan pendidikan karena alangkah berbahayanya seorang peserta didik yang hanya berkembang dalam hal akademis tapi tidak dalam hal karakter 5. Banyak yang beranggapan bahwa pendidikan karakter hanyalah sebuah pengetahuan semata (kognitif) sehingga tidak perlu usaha yang khusus dan terencana. Padahal pendidikan karakter adalah sebuah usaha yang holistik sehingga tidak hanya melibatkan sisi kognitif tapi juga sisi afektif dan psikomotor. Dengan demikian, seorang peserta didik dapat memahami lalu bisa merasakan dan pada akhirnya mau melakukan nilainilai yang dianggap baik. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi para guru untuk menerapkan pendidikan karakter di seluruh mata pelajaran, diantaranya: (a) Guru mata pelajaran tidak dilibatkan seluruhnya (bergantian) ke dalam workshop pendidikan karakter, sehingga hanya sebagian guru mata pelajaran yang memahaminya, (b) Format tertulis mengenai standar penilaian karakter siswa dari sekolah tidak ada tersedia. Guru yang pernah mengikuti workshop hanya membuat dan menyusun sistem penilaian sendiri sesuai dengan materi yang didapatkan dari membaca. Kedua faktor tersebut mengkondisikan guru untuk menentang formalisasi pendidikan karakter dengan pandangan bahwa sebenarnya pendidikan karakter tidak bisa diajarkan tetapi hanya bisa

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 ditanamkan dan dibiasakan. Pendidikan karakter hanya dapat diselipkan dalam mata pelajaran Satuan pendidikan merupakan wahana pembinaan dan pengembangan karakter yang dilakukan dengan menggunakan (a) pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran, (b) pengembangan budaya satuan pendidikan, (c) pelaksanaan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, serta (d) pembiasaan perilaku dalam kehidupan di lingkungan satuan pendidikan. Pembangunan karakter melalui satuan pendidikan dilakukan mulai dari pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi (Kemendiknas, 2010: 5). Triatmanto (2010) menjelaskan bahwa pendidkan karakter di sekolah sudah cukup mapan, namun dalam pelaksanaannya guru masih mengalami tantangan. Tantangan tersebut dapat berasal dari lingkungan pendidikan itu sendiri maupun dari luar. Tantangan dari dalam dapat berasal dari personal pendidikan maupun perangkat lunak pendidikan (mind set, kebijakan pendidikan dan kurikulum). Tantangan dari luar berupa perubahan lingkungan sosial secara global yang mengubah tata nilai, norma, dan budaya suatu bangsa, menjadi sangat terbuka. Perubahan itu tidak dapat dikendalikan dan dibatasi karena berkembangnya teknologi informasi. F. Kajian Penelitian yang Relevan Penelitian yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan karakter, penilaian dan hambatan-hambatannya, masih sedikit untuk dijadikan sebagai sumber hasil peneltian yang relevan. Berikut merupakan hasil penelitian yang relevan yang bersangkutan dengan pendidikan karakter. Penelitian yang dilakukan

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Maria Titian Moi Lay (2017) dengan judul “ Keterlaksanaan Dan Hambatan-Hambatan Asesmen Pendidikan Karakter. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang adanya potensi masalah yang terkait pelaksanaan pendidikan karakter, serta masalah penilaian karakter dan hasil penerapan pendidikan karakter di sekolah. Relevansi dari penelitian ini dengan penelitian yang dikembangkan oleh peneliti ialah memiliki kesamaan dalam prosedur pengembangnya yaitu menggunakan deskriptif gabungan antara kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan angket terbuka dan tertutup

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini dijelaskan jenis penelitian, prosedur penelitian deskriptif, tempat, subjek, dan objek penelitian, instrumen A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini bersifat campuran deskriftif kuantitatif dan kualitatif. Nazir (Prastowo, 2014: 157), mendefinisikan penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek penelitian sesuai dengan apa adanya. Mengenai penelitian kuantitatif. Sugiyono (2013: 14) berpendapat bahwa Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis dan bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Metode kualitatif digunakan karena beberapa pertimbangan yang menjadi karateristik penelitian ini. Menurut Bogdan dan Biklen (Sugiyono, 2013: 21) pertama metode ini dilakukan pada kondisi alamiah, langsung ke sumber data dan penelitian yang meneliti adalah instrumen kunci. Kedua, penelitian kualitatif yang digunakan ini lebih bersifat deskriptif dan data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka. Ketiga, metode ini lebih menekannkan pada proses daripada produk atau outcome. 47

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Keempat, analisis data dilakukan secara induktif. Kelima, metode penelitian kualitatif ini lebih menekankan pada makna yakni data dibalik yang teramati. B. Tempat dan Subjek Penelitian 1. Tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan di 10 SMP yang terdiri dari 5 SMP Negeri dan 5 SMP Swasta yang yang telah menjadi mitra Tim Peneliti PSHP (Barus, Widanarto, & Sinaga 2018). Sekolah-sekolah ini tersebar di beberapa wilayah baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa. Sebelum melakukan penelitian, peneliti yang dibantu oleh dosen pembimbing telah mengantongi MoU (Memorandum of Understanding), sebagai bukti kesepakatan dan mitra ketersediaan sekolah menjadi tempat dilakukannya penelitian. Berikut tempat penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti: Tabel 3.1 Tempat Penelitian No Nama Sekolah Alamat 1 SMP FransiskusTanjungkarang JalanMangga 1, Pasirgintung, TanjungkarangPusat, Lampung, 35113 2 SMP St. Aloysius Turi Donokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta, 55551 3 SMP N 1 Yogyakarta Cik Di Tiro, no. 29, Yogyakarta, 55225 4 SMP Raden Fatah Cimanggu Jalan Raya Genteng, Kec. Cimanggu, Kab. Cilacap, 53256

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 5 SMP N 3 Wates JalanPurworejo Km.07, Sogan, Wates, KulonProgo 6 SMP N 31 Purworejo JalanBrigjendKatamso 24, Purworejo, 54114 7 SMP N 2 Barusjahe DesaSinaman, Kec. Barusjahe, Kab. Karo, Medan, Sumatra Utara, 22172 8 SMP Maria JalanGereja, no. 39, Padang, Sumatra Barat 9 SMP Pangudi Luhur Wedi DesaKarangrejo, Pandes, Wedi, Glodogan, Klaten Sel., KabupatenKlaten, Jawa Tengah 57426 10 SMP N 2 Playen Gading II, Gading, Playen, GunungKidul, Yogyakarta 55861 2. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah bapak atau ibu guru yang ada pada 10 SMP, diantaranya adalah kepala sekolah, guru mata pelajaran, dan guru Bimbingan dan Konseling di SMP. Subjek dipilih sebagai perwakilan dari sekolah yang menerapkan pendidikan karakter yang ada sehingga diperolehnya informasi melalui angket yang disebar. Jumlah subjek ada 39 orang guru. Berikut adalah daftar jumlah subjek yang menjadi sumber informasi.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 No 1 Sekolah 4 SMP Fransiskus Tanjungkarang SMP Raden Fatah Cimanggu SMP Santo Aloyius Turi SMP N 3 Wates 5 SMP N 31 Purworejo 6 SMP Negeri 1 Yogyakarta SMP Negeri 2 Barusjahe SMP Maria Padang 2 3 7 8 9 10 SMP Pangudi Luhur Wedi SMP N 2 Playen Tabel 3.2 Subjek Penelitian Subjek Penelitian Kepala Sekolah (1), Guru BK (1), Guru Mata Pelajaran (3) Kepala Sekolah(1), Guru BK(1), Guru Mata Pelajaran(2) Kepala Sekolah (1), Guru BK (1), Guru Mata Pelajaran (1) Wakil kurikulum (1), Guru BK (1), Guru Mata Pelajaran (2) Guru BK (1), Guru Mata Pelajaran (3) Guru BK (3) Guru BK (1), Guru Mata Pelajaran (3) Kepala Sekolah (1), Guru BK (1), Guru Mata Pelajaran (2) Kepala Sekolah (1), Guru BK (1), Guru Mata Pelajaran (2) Guru B(2), Guru Mata Pelajaran (2) Jumlah 5 4 3 4 4 3 4 4 4 4 C. Waktu Penelitian Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan April sampai Mei 2018 dengan waktu pengambilan data 17 April- 8 Mei berdasarkan kesepakatan dengan pihak sekolah. Pada penelitian ini, peneliti menyebarkan instrumen di sekolah sekitar Yogyakarta, sedangkan di luar Pulau jawa disebarkan oleh Tim Peneliti PSHP 2018. Berikut jadwal dan tempat penelitian yang dilaksanakan oleh Tim Peneliti PSHP

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Tabel 3.3 Jadwal Pengambilan Data No Sekolah Waktu Penelitian 1 SMP Fransiskus Tanjungkarang 24 April 2018 2 SMP Raden Fatah Cimanggu 17 April 2018 3 SMP Santo Aloyius Turi 21 April 2018 4 SMP N 3 Wates 20 April 2018 5 SMP N 31 Purworejo 6 SMP Negeri 1 Yogyakarta 8 Mei 2018 18 April 2018 dan 19 April 2018 7 SMP Negeri 2 Barusjahe 8 SMP Maria 9 SMP Pangudi Luhur Wedi 10 SMP N 2 Playen 28 April 2018 23 April 2018 dan 24 April 19 April 2018 8 Mei 2018 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data Menurut Arikunto (2002: 197) yang dimaksudkan dengan teknik pengumpulan data adalah “cara yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan dan penelitiannya”. Berdasarkan penegertian tersebut dapat

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 dikatakan bahwa penelitian merupakan cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data dalam penelitian. Siregar (2013:17) menjelaskan bahwa proses pengumpulan data primer dan sekunder dalam suatu penelitian merupakan langkah yang sangat penting, karena data yang telah dikumpulkan tersebut akan digunakan dalam pemecahan masalah yang sedang diteliti. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan angket. Menurut Sudaryono, Margono, & Rahayu (2013:30) angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung yakni peneliti tidak lagsung bertanya-jawab dengan koresponden. Angket (questionmatre) merupakan suatu daftar pertanyaan tentang topik tertentu kepada subyek, baik secara individu atau kelompok, untuk mendapatkan informasi tertentu, seperti preferensi, keyakinan, minat, dan perilaku. 2. Instrumen Pengumpulan Data Pada penelitian ini, peneliti menggunakan instrumen penelitian yaitu angket terbuka dan trtutup. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang mengharapkan respon untuk menuliskan jawaban berbentuk uraian tentang sesuatu hal. Sedangkan angket tertutup adalah pertenyaan yang mengaharapkan jawaban singkat atau mengaharapkan resposden menjawab salah satu alternatif jawaban dari setiap pertanyaan yang telah tersedia (sugiyono, 2010: 201)

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 a. Angket terbuka Pada instrumen ini, angket disajikan dengan petanyaan di mana responden sebebas-bebasnya dengan uraian yang lengkap berdasarkan kehendak, dan keadaan secara terbuka. Responden dapat menuliskan jawaban dengan kata-kata sendiri. b. Angket tertutup Pada instrumen ini, angket disajikan dalam bentuk pertanyaan yang telah mendapat pengarahan dari penyusun angket. Responden tinggal memilih jawaban-jawaban yang telah disediakan dalam kuesioner itu. Jadi jawabannya telah terikat, responden tidak dapat memberikan jawabannya secara bebas. E. Validitas Instrumen Azwar (2009) berpendapat bahwa validitas memiliki arti ketepatan atau kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu instrumen atau tes atau instrumen pengukuran dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila alat yang digunakan dalam penelitian menjalankan fungsi ukurannya. Azwar (2009: 45) menyebutkan bahwa, validitas isi tidak dapat dinyatakan dalam angka, namun pengesahannya perlu melalui berbagai tahap pengujian terhadap alat ukur tersebut dengan kesepakatan penilaian dari penilai yang berkopenten (expert judgement). Validitas kuisioner keterlaksanaan dan hambatan-hambatan pelaksanaan pendidikan karakter di SMP dilakukan melalui expert judgement, dengan yang berperan sebagai expert judgement

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 adalah ahli Bimbingan dan Konseling yaitu Dr. Gendon Barus, M. Si., dan tim dosen Penelitian PSHP 2018. F. Teknik Analisis Data Menurut Siregar (2013: 221) “analisis deskriptif merupakan bentuk analisis data penelitian untuk menguji generalisasi hasil penelitian berdasarkan satu sampel”. Analisis deskriftif ini menggunakan satu variabel sehingga tidak berbentuk perbandingan atau hubungan. Metode ini digunakan untuk mengkaji variabel yang ada pada peneltian yaitu pelaksanaan pendidikan karakter dan hambatan-hambatannya. Rumus dasar yang di pakai adalah: Keterangan P : Persentase F : Frekuensi data N : Jumlah sampel yang diolah 100% : Bilangan tetap (Waristo, 1992: 59) Perhitungan deskriptif presentase dalam penelitian ini mempunyai langkahlangkah sebagai berikut: 1. Melakukan skoring data angket Setiap jawaban yang diberikan oleh responden pada angket diberi skor dengan angka 1

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 2. Memasukkan skor ke dalam tabel Hasil jawaban dari responden, kemudian disajikan ke dalam tabel. Tabel yang digunakan dapat mengelompokkan data berdasarkan satu informasi atau satu kriteria tertentu (Siregar, 2013: 90) 3. Membuat tabulasi data Tabulasi data adalah proses penempatan data ke dalam tabel yang telah diberi kode sesuai dengan kebutuhan analisis. Salah satu cara menghitung tabulasi data yang digunakan oleh peneliti di sini adalah dengan menggunakan tally. 4. Menghitung persentase jawaban responden dalam bentuk tabel tunggal melalui distribusi frekuensi dan presentase. Dengan mengunakan rumus: P=F/N x 100% 5. Membuat keseimpulan Berdasarkan interpretasi dan analisis data, kemudian dapat ditarik kesimpulan berdasarkan aspek-aspek pertanyaan/pertanyaan yang terdapat dalam penelitian ini. Secara umum, langkah-langkah yang diambil peneliti dalam menganalisis data adalah: 1. Reduksi data Menurut Sugiyono (2013: 338) mereduksi data berarti merangkum, memilah hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan dan selanjutnya. reduksi data dilakukan dengan menggunakan komputer, yang kemudian akan diberikan kode-kode (coding) pada aspek tetentu 2. Model data (Data Display) Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah men-display data. Penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami (Sugiyono, 2013: 341) 3. Penarikan kesimpulan Penarikan kesimpulan adalah proses atau sebuah kegiatan pengambaran yang utuh dari proyek yang utuh konfigurasi yang utuh dari obyek penelitian. Proses pengambilan kesimpulan ini merupakan proses pengambilan inti dari peneltian yang kemudian disajikan dalam bentuk pernyataan kalimat. Penelitian menggunakan trianggulasi dengan cara membandingkan data diperoleh dari beberapa sumber sehingga data yang absah. Dalam hal ini, peneliti memakai dua langkah, yakni membandingkan data hasil angket dan membandingkan perspektif seseorang dalam berbagai pendapat. Dua langkah ini lebih praktis dan objektif. Dalam melakukan analisis data di atas menggunakan pola pikir yang bersifat induktif, yaitu metode berpikir yang berangkat dari fakta-fakta/peristiwa khusus yang kemudian akan ditarik generalisasi yang memiliki sifat umum

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini diuraikan hasil penelitian dan pembahasan dari hasil penelitian A. Hasil Penelitian 1. Keterlaksaanan Pendidikan Karakter a. Keterlaksanaan pendidikan karakter terintegrasi (terpadu dalam pembelajaran) Tabel 4.1 Pelaksanaan Pendidikan Karakter Respon Partisipan F % Ya, terlaksana dengan baik dan memuaskan (sebagian besar guru melaksanakan) Ya, terlaksana dengan cukup baik(sekitar separuh guru melaksanakan) Ya, namun pelaksanannya belum baik (baru beberapa guru yang melaksanakannya) 19 48,7 12 30,7 6 15,38 Berdasarkan data di atas, tampak bahwa sebanyak 48,7% guru menjawab pendidikan karakter di sekolah sudah terlaksana dengan baik dan memuaskan. Lalu 30,7% mengatakan pendidikan karakter sudah terlaksana dengan cukup baik dalam arti separuh guru telah melaksanakannya. Sisanya 15,38% dari 39 orang guru mengakui bahwa pendidikan karakter sudah dilaksanakan namun pelaksanaannya belum baik. 57

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 2. Ragam dan Nilai Pendidikan Karakter a. Bentuk-bentuk dan nilai-nilai pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah. Tabel 4.2 Ragam Kegiatan Pendidikan Karakter yang Dilaksanakan di SMP Menurut 34 Guru SMP Negeri ( 5 Sekolah) SMP Swasta (5 Sekolah) N= 21 N= 18 1. Pramuka 1. Baca AL’Quran 2. Tadarus di pagi 2. Ekskul BTQ hari 3. Eks. Pramuka 3. Sholat Duhur 4. Eks. PBB 4. Non muslim 5. Sikap santun pada guru berdoa sebelum 6. Sikap santun pada kegiatan lingkungan 5. Kedisiplinan 7. Sikap kegiatan upacara. 6. Ketertiban 8. Shalat berjamaah 7. Ucap salam kelas 9. Kegiatan ekstrakulikuler dan terimakasih 10. Upacara bendera 8. Diskusi dengan 11. Piket kelas cara baik 12. Home visit 9. Pengajian/doa 13. Misa dan doa harian bersama 14. Pembekalan OSIS 10. Kerja bakti 15. Pertandingan/ Baksos sekolah 16. Memberikan senyum, salam, 11. Kegiatan literasi sapa 12. Religious 17. Berdoa sebelum & sesudah 13. Toleransi pelajaran 14. Senyum, salam, 18. Berpakaian rapi dan sesuai sapa. aturan 15. Kerja keras 19. Berbiacara santun 16. Semangat 20. Kegiatan sabtu membaca kebangsaan 21. Menyanyikan lagu Indonesia 17. Gemar membaca raya setiap hari. 18. Berdoa di awal 22. Menyambut kehadiran siswa dan akhir pelajaran 23. Berbaris di depan kelas 19. Menyanyikan lagu 24. Gotong royong Indonesia raya 25. Literasi membaca setiap pagi 20. Hormat bendera sebelum KMB 21. Upacara bendera 26. Doa Angelus tiap jam 12.00 tiap senin 27. Achievement motivation 22. Peduli training

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 23. Teliti 24. Cermat 25. Hormat dan patuh serta melaksanakan ajaran agama 26. Mengikuti lombalombah antar sekolah (Kognitif) 27. Outbont 28. Kegiatan sosial 28. Sabtu bersih 29. Apel pagi 30. Retret atau rekoleksi 31. Live in 32. Olahraga 33. Jurnalistik 34. Outbon 35. Pembentukan OSIS 36. MARTA(menampilkan bakat perkelas) 37. Membuang sampah 38. Jujur 39. Menghargai waktu 40. Tanggungjawab 41. Menghargai sesama 42. Kerja keras 43. Jumat bersih 44. Bazar 45. Weekend 46. Salam fransiskus Tabel 4.2 menunjukkan fakta bahwa kegiatan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah-sekolah swasta lebih beragam dibandingkan sekolah negeri. Kegiatan pramuka, doa pagi, senyum salam sapa, live in, menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap hari dan upacara bendera merupakan kegiatan yang paling sering dipilih oleh guru sebagai sarana pendidikan karakter. 3. Keberhasilan Pendidikan Karakter di Sekolah a. Hasil penilaian guru terhadap keterlaksanaan pendidikan karakter di sekolah. Tabel 4.3 Penilain Hasil Pendidikan Karakter yang Dilaksanakan Respon Partisipan F % Berhasil sangat memuaskan 10 25,64

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Berhasil cukup memuaskan 19 48,7 Ada hasil, tetapi kurang signifikan 9 23,07 Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan bahwa 48,7% mengatakan ragam kegiatan yang dilaksanakan mendapat penilain cukup memuaskan, 25,64% mengatakan bahwa penilaian ragam pendidikan karakter berhasil dilaksanakan dan sangat memuaskan. Sisanya 23, 07% mengatakan bahwa hasil penilaian ragam pendidikan karakter yang dilaksanakan kurang signifikan. Maka dari itu penilaian ragam kegiatan pendidikan karakter yang telah dilakukan berhasil cukup memuasakan. b. Pihak –pihak mana yang terlibat dalam penilaian pendidikan karakter siswa di sekolah Bapak/Ibu? Tabel 4.4 Pihak yang Terlibat dalam Penilaian Pendidikan Karakter Respon Partisipan F % Kepala Sekolah 34 87,17 Wakaur Kurikulum 26 66,66 Wakaur Kesiswaan 36 92,3 Guru BK 37 94,87 Wali Kelas 37 94,87 Penilaian Ahli/Profesional/Psikotester 7 17,94 Tim Khusus (gabungan Guru&Ortu 15 38,46 Pembina Pramuka 26 66,66 Penilaian Sesama Teman Sebaya Siswa 27 69,23

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Berdasarkan 4.4 menunjukkan hasil bahwa 94,87% mengatakan bahwa pihak yang paling banyak terlibat adalah guru BK, lalu disusul oleh wakaur kesiswaan sebanyak 92,3%. Pihak yang paling sedikit terdapat pada penilaian Ahli/ Profesional/Psikotester sebanyak 17,94%. c. Jenis alat/instrumen apa yang tersedia dan Bapak/Ibu gunakan untuk melakukan penilaian hasil pendidikan karakter siswa di sekolah Tabel 4.5 Jenis Instrument Pendidikan Karakter di Sekolah Respon Partisipan F % Tes 19 48,71 Non tes 37 94,87 Tidak tersedia alat/instrument apapun 2 5,12 Berdasarkan tabel 4.5 yang menunjukkan bahwa sebanyak 94,87% guru menggunakan alat non tes sebagai penilaian pendidikan karakter di sekolah. 48,71% guru yang menggunakan soal tes sebagai alat dalam mengukur capain hasil pendidikan karakter siswa. Sisanya 5,12% guru tidak menggunakan alat atau tidak tersedianya instrument apapun sehingga tidak melakukan penilaian karakter peserta didik 4. Penilaian Pendidikan Karakter a. Penilaian karakter diberlakukan kepada seluruh siswa. Tabel 4. 6 Penilaian Pendidikan Karakter Bagi Siswa Respon Partisipan F % Seluruh siswa yang bermasalah dan tidak bermasalah 100 39

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Siswa yang bermasalah dengan perilaku buruk 0 0 diiobservasi, siswa lain diabaikan Hanya siswa yang nakal /berprilaku buruk/melanggar 0 0 peraturan sekolah Siswa yang baik-baik diberi nilai karakter baik meski 0 0 tanpa data tes Tabel 4.6 tampak bahwa di 10 sekolah guru telah melaksanakan pendidikan karakter merata kepada seluruh peserta didik. Hal ini terbukti bahwa 39 guru memilih pendidikan karakter diberikan kepada peserta didik yang bermasalah dan tidak bermasalah. b. Bapak/ibu guru melaksanakan penilaian pendidikan karakter siswa di sekolah dengan baik Tabel 4.7 Keterlaksanaan Pendidikan Karakter Respon Partisipan F % Ya, tentu saja 21 53,84 Belum terlaksana dengan baik 11 28,2 Tidak paham cara terbaik memberi penilaian karakter siswa Terlaksana, namun ragu validitas/objektivitas 6 15,38 0 0 Terlaksana asal ada saja, sekedar memenuhi kewajiban 0 0 Saya sulit melakukannya mestinya sekolah mengusahakan cara yang lebih mudah, objektif, dan efektif 0 0 Berdasarkan tabel 4.7 menunjukkan bahwa 53,84% mengatakan bahwa beberapa guru telah melaksanakan kegiatan pendidikan karakter, ada 28,2% ada beberapa guru belum melaksanakan dengan baik pendidikan karakter di sekolah. Sisanya ada 15,38% ada beberapa guru

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 yang belum memahami cara yang terbaik dalam pemberian penilaian pendidikan karakter. Maka dapat disimpulkan bahwa guru-guru telah melaksanakan dengan baik pendidikan karakter. 5. Hambatan-Hambatan atau Kesulitan yang Dihadapi Para Guru dalam Proses Penilaian Pendidikan Karakater a. Hambatan-hambatan atau kesulitan apa yang Bapak/Ibu temui dalam menilai pendidikan karakter siswa di sekolah. Tabel 4.8 Kesulitan atau Hambatan Guru dalam Penilaian Pendidikan Karakter SMP Negeri SMP Swasta 1. Siswa terlalu banyak 2. Tidak bisa mengetahui karakter anak secara menyeluruh 3. Melihat kondisi siswa di luar sekolah menjadi keterbatasan dan hambatan 4. Tidak menemukan cara yang tepat untuk menilai pendidikan karakter siswa dan tidak ada alat untuk menilai pendidikan karakter siswa 5. Sarana/ prasarana masih perlu penyempurnaan kemampuan sumber daya manusia yg masih terbatas 6. Siswa memberikan responden yang hanya meniru teman 7. kurangnya fasilitas kurangnya waktu 8. Waktu yg tersedia untuk bersosialisasi dengan 1. Terkadang ucapan, sikap, dan tingkah laku siswa sering lebih, artinya ucapan dan tingkah laku tidak sesuai dengan fakta. 2. Dari segi asal geografis siswa dan tingkat kehidupan yang berbeda serta kemampuan berfikir yang berbeda berdasarkan nilai dasar . 3. Kurangnya komunikasi antara siswa dan guru dan terkadang anak ada yang kurang aktif dalam berkomunikasi (pemalu) 4. Belum memahami cara penilaian yang tepat 5. Belum menemukan cara terbaik & valid bagi siswa berdasar jenjang usia dan latarbelakang 6. Belum memahami cara yg paling sesuai untuk menilai pendidikan karakter siswa 7. Ketika karakter dinilai dg bentuk lembaran berisi soal

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 siswa kurang 9. Pembuatan penilaiannya, administrasinya, instrumennya 10. Belum adanya format khusus utk siswa SMP 11. Belum ada aturan baku 12. Tidak mengajar di semua kelas Berdasarkan tabel 4.8 yg harus dijawab, jawaban anak lebih sering mencari aman dengan jawabanjawaban yang baik bukan yang sebenarnya 8. Terkadang anak bersikap sopan ketika berhadapan dengan guru saja 9. Keterbatasan waktu 10. Adanya siswa yang bermasalah dan itu juga orangnya 11. Penilaian yang saya lakukan tidak didukung oleh semua pihak, karena peserta didik saya berperilaku berdasarkan teladan guru dan pengaruh teman yang kuat dan kebanyakan mereka masih labil 12. anak masih belum disiplin masih terjadi pelanggaran ada beragam hambatan yang ditemukan oleh Bapak/Ibu guru di sekolah. Guru SMP Swasta lebih banyak menemukan hambatan dan kesulitan dalam melaksanakan pendidikan karakter di sekolah dari pada guru yang ada di sekolah Negeri. Hambatan yang paling banyak dipilih oleh guru adalah kurangnya waktu guru dalam pemberian penilaian pendidikan karakter dan informasi yang diberikan oleh siswa tidak sesuai fakta dan fasilitas dalam pemberian penilaian pendidikan karakter tidak mencukupi atau memandai.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 6. Harapan Para Guru dalam Pelaksanaan dan Penilaian Pendidikan Karakter di Sekolah a. Harapan Bapak/Ibu guru agar penilaian hasil pendidikan karakter siswa di sekolah ini dapat terlaksanan dengan baik dan hasilnya dapat lebih dipertanggungjawabkan kebenarannya. SMP Negeri 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tabel 4.9 Harapan yang Dibutuhkan Guru SMP Swasta Membutuhkan instrumen/ tes untuk menilai karakter siswa. Instrumen yang mudah dikerjakan oleh guru Pendekatan dari lingkungan rumah juga menjadi hal utama Memperoleh panduan tentang penilaian pendidikan karakter siswa Peningkatan kemampuan SDM-tersedianya sarana/prasarana yg memadai (alat peraga, media, dll) Buku angket yang diisi oleh petugas pendidikan karakter secara jujur dan jelas Buku-buku referensi tentang karakter yg berhubungan dengan mata pelajaran Sains/IPA Sarana dan prasarana yg memadai seperti buku, buku bacaan yangg dapat membentuk karakter siswa Adanya pembiasaan karakter yg berkelanjutan, ada evaluasi dan tindak lanjut Adanya format baku dari pemerintah sehingga BK 1. Kondusifnya kelas disaat ada keterangan yg sangat sulit dicerna siswa 2. Kerjasama antara pihak sekolah dan pihak orangtua supaya terjadi komunikasi di dalam dan di luar sekolah agar terkendali 3. Pelatihan bagi guru tentang pendidikan karakter 4. Modul/ instrumen yang bisa dipelajari oleh guru 5. Adanya alat ukur yg lebih valid dan objektif 6. Harapan dengan penilaian karakter melalui banyak cara dapat menanamkan karakter 7. Adanya teladan yg baik dari setiap guru, sehingga apabila semua anggota/warga sekolah melakukan, hal itu akan menjadi suatu pembiasaan yang baik dan positif 8. Guru tetap konsisten memberi contoh berperilaku yang baik dan berintegritas guru telaten mendampingi siswa dalam berproses 9. Guru konsisten menjadi role model yang baik bagi siswa serta berintegritas, serta

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 dapat mengaplikasikan di lapangan. 10. Belum adanya kesamaan panduan untuk guru BK 11. Ada kerjasama antara guru dengan BK, kesiswaan dan semua warga sekolah setia dalam proses pendampingan anak. 10. Belum adanya kesamaan panduan untuk guru BK 11. Sarana dan prasarana yg memadai seperti buku, buku bacaan yangg dapat membentuk karakter siswa Berdasarkan tabel 4.9 harapan yang umum yang dibutuhkan guru adalah sekolah harus memiliki soal atau tes yang mendukung dalam menilai capaian hasil pendidikan karakter, harus adanya format baku dari Pemerintah sehingga guru BK dapat mengaplikasikan di lapangan karena selama ini belum ada kesamaan dalam penilaian dan pelaksanaan pendidikan karakter di setiap sekolah. B. Pembahasan 1. Keterlaksanaan pendidikan karakter Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 sekolah Menengah Pertama dalam skala nasional, terdapat sekitar 49% sekolah telah melaksanakan pendidikan karakter di sekolah dengan baik dan memuaskan dan sebagian besar guru melaksanakan pendidikan karakter di sekolah. 2. Ragam kegiatan dan nilai pendidikan karakter Peneliti juga menemukan berbagai ragam kegiatan dan nilai pendidikan karakter yang telah dilaksanakan guru mengembangkan karakter peserta didik di sekolah seperti dalam kegiatan pramuka, doa pagi, salam sapa, refleksi retret, live-in, menyanyikan lagu

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Indonesia Raya setiap hari dan upacara bendera. Kegiatan ini pada umumnya banyak dipilih oleh 39 guru pada 10 sekolah. Namun ragam kegiatan yang paling banyak ada pada sekolah Swasta dibandingkan Negeri. Ragam kegiatan tersebut ada persamaan dan perbedaan antara sekolah negeri dan swasta. Persamaan ragam kegiatan pendidikan karakter seperti pramuka, tadarus di pagi hari, kegiatan literasi, berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, menyanyikan lagu Indonesia Raya, upacara bendera, dan outbont. Lalu hal yang berbeda dari ragam kegiatan pendidikan karakter adalah diskusi dengan cara baik, berpakaian rapi sesuai peraturan, ekstrakulikuler PBB, live-in, olahraga, sabtu bersih, jumat bersih. Hal ini sependapat dengan teori yang dikemukan oleh Kemendiknas (2010) Peraturan pemerintah nomor 17 tahun 2010 tentang pengelolaan penyelenggaraan pendidikan pada pasal 17 ayat (3) “Pendidikan dasar, termasuk sekolah menengah pertama (SMP) bertujuan membangun landasan bagi berkembangnnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang (a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b) berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; (c) berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; (d) sehat, mandiri dan percaya diri; (e) toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.” 3. Keberhasilan pendidikan karakter Pendidikan karakter yang telah diterapkan tentunya menunjukkan adanya indikasi keberhasilan dan ketidakberhasilan. Ada 26 % guru

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 mengatakan bahwa ragam kegiatan pendidikan karakter yang telah dilaksankan dapat berhasil sangat memuasakan, 49 % guru mengatakan bahwa pendidikan karakter berhasil cukup memuaskan dilakukan di sekolah, namun masih ada 24% guru mengatakan bawah ragam kegiatan tersebut ada hasilnya namun belum signifikan. Hal ini dapat didukung dengan teori yang dikemukakan oleh Suyanto (2010: 9), bahwa keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui terutama melalui pencapaian butir-butir Standar Kompetensi Lulusan peserta didik. Penilaian pendidikan karakter di sekolah tentunya tidak berjalan mulus yang diharapkan semenstinya. Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah menggunakan alat atau instrumen. Ada dua jenis alat yang digunakan oleh guru. Dua alat ini dapat dimanfaatkan, namun hampir 95% guru lebih memilih menggunakan non tes dalam penilaian pendidikan karakter yang ada di sekolah. Hal ini sependapat dengan Prijowuntato (2016: 60-66) alat yang dapat digunakan untuk menilai ketercapaian konpetensi siswa dapat dibedakan menjadi dua yaitu tes dan non tes. Kegiatan pendidikan karakter. Kegiatan pendidikan karakter tidak lepas dari tanggungjawab guru dalam pelaksanaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95% guru BK dan wali kelas yang paling berperan dalam melaksanakan pendidikan karakter peserta didik. Senada dengan hasil ini, Nucci & Narvaez (2008: 175) mengatakan bahwa siswa mengembangkan konsepsi mereka tentang bagaimana menjadi orang yang baik melalui penegakkan

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 aturan sekolah, pembiasaan yang terjadi di kelas, prosedur yang harus dilakukan sehari-hari di kelas, dan konsekuensi-konsekuensi yang harus diterima atas tindakan yang dilakukannya. Pendapat selanjutnya disampaikan juga Wynne (1991: 139) bahwa untuk di sekolah dasar pengembangan karakter lebih banyak didasarkan aktivitas kelas. Oleh karena itu penciptaan lingkungan kelas yang kondusif untuk pengembangan karakter siswa perlu mendapat perhatian yang lebih. Terciptanya kelas berkarakter tentunya tidak akan dapat terlepas dari peran seorang guru untuk mewujudkannya. Guru merupakan pihak yang memiliki peran paling banyak dalam melakukan pengelolaa ruang kelas secara keseluruhan. 4. Penilaian Pendidikan Karakter Pendidikan karakter dapat diterima oleh siapa saja, hasil penelitian menunjukkan bahwa 39 guru memilih pendidikan karakter dapat diberikan kepada seluruh peserta didik. Artinya baik peserta didik yang bermasalah maupun tidak bermasalah dapat menerima pendidikan karakter di sekolah. Hal ini senada dengan pendapat Samani & Hariyanto (2011: 44) “pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa.” Mereka juga menyampaikan bahwa pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter sangat penting untuk semua peserta didik yang ada di sekolah. Pelaksanaan penilaian pendidikan karakter di sekolah sudah hampir 54% guru dari 39 telah melaksanakannya. Namun ada 16% guru yang belum paham cara terbaik untuk memberikan penilaian pendidikan karakter di sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa penilaian pendidikan karakter di sekolah tidak selalu berjalan dengan baik. Namun dalam hal ini, ada ketidaksimbangan atau kontra diktif antara guru yang mengatakan bahwa pendidikan karakter dapat diberikan kepada seluruh siswa dengan hasil penelitian tabel 4.7 yang menunjukkan bahwa masih ada guru yang belum paham cara terbaik dalam pemberian penilaian pendidikan karakter. Artinya bagaimana guru bisa memberikan pendidikan karakter kepada seluruh siswa baik yang bermasalah maupun tidak bermasalah sedangkan guru sendiri belum paham cara terbaik dalam menilai pendidikan karakter setiap peserta didik?. Hal ini bertolak belakang antara hasil penelitian 4.6 dengan 4.7. 5. Hambatan atau Kesulitan Peneliti juga menemukan ada hambatan atau kesulitan yang dialami oleh guru dalam mengimplementasian pendidikan karakter di sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah Swasta lebih banyak menemukan kesulitan dalam pelaksanaan pendidikan karakter

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 dikarenakan ragam pendidikan karakterpun lebih banyak sekolah Swasta. Guru mengalami kesulitan pada informasi yang diberikan oleh siswa tidak sesuai fakta dan gurupun masih kekeurangan waktu dalam pemberian penilaian pendidikan karakter di sekolah dan fasilitas dalam pemeberian penilaian pendidikan karakter tidak mencukupi. Ada banyaknya hambatan yang dialami oleh guru, maka tim PSHP menawarkan tes sebagai alat dalam menilai pendidikan karakter. Sukardi (2014: 92) mengatakan bahwa tes atau testing merupakan prosedur sistematis yang direncanakan oleh evaluator guna membandingkan antar perilaku yang dievaluasi. Tes atau testing berisi item atau butir soal yang akan diberikan kepada peserta yang mengikuti tes. Ia juga mengatakan bahwa item atau butir soal, yaitu bagian terkecil dari suatu tes yang memuat satu fakta atau konsep yang diungkapkan melalui pertanyaan atau pernyataan yang dapat diisolasi untuk pengamatan dan pengambilan keputusan. 6. Harapan Guru Dari berbabagai macam masalah atau hambatan yang dialami oleh guru, maka para guru memiliki beberapa harapan yang sangat mereka butuhkan untuk mendukung pelaksanaan dan penilaian capaian hasil pendidikan karakter yang ada di sekolah. Harapan yang paling banyak dipilih oleh guru sebagai berikut: memiliki pedoman/panduan penilaian pendidikan karakter yang sah. Memiliki buku pendidikan karakter yang cukup dalam memberikan pelayanan pendidikan karakter yang lebih baik. Hal yang paling umum yang diinginkan oleh guru dan merupakan pilihan

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 yang sama antara guru di sekolah Negeri dan Swasta adalah soal tes atau instrumen pendidikan karakter capaian hasil pendidikan yang dapat membantu dalam penilaian karakter peserta didik di sekolah.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, dan analisis yang telah dilakukan tentang keterlaksanaan pendidikan karakter, penilaian dan hambatanhambatannya pada 10 SMP di Indonesia, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Pelaksanaan pendidikan karakter di 10 SMP pada beberapa kota di Indonesia memiliki pelaksanaan yang baik. Sudah ada 48,7% guru dapat melaksanakan pendidikan karakter di sekolah dengan memuaskan, namun ada juga 15,38% guru mengaku kurang berhasil dalam melaksanakan pendidikan karakter. Hal ini dikarenakan guru belum paham cara yang baik dalam pemberian penilaian pendidikan karakter peserta didik. 2. Banyak ragam kegiatan pendidikan karakter di sekolah yang telah dilaksanakan oleh guru. Namun kebanyakan guru memilih ragam kegiatan pendidikan karakter seperti kegiatan pramuka, live-in, doa pagi, upacara bendera, refleksi retret, menyanyikan lagu Indonesia Raya. 3. Berdasarkan hasil penelitian tingkat keberhasilan pendidikan karakter yang telah dilaksanakan guru berdasarkan ragam kegiatan sudah cukup memuaskan. 4. Keterlaksanaan penilaian pendidikan karakter di sekolah sudah berjalan dengan baik. Guru sudah melakukan penilaian pendidikan karakter, namun masih ada 6 guru yang belum paham cara terbaik dalam pemberian penilaian pendidikan karakter. 73

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 5. Hambatan-hambatan dalam pemberian penilaian yang dialami oleh guru adalah 1) belum ada alat ukur yang baik dalam menilai pendidikan karakter peserta didik, 2) ada alat yang sudah tersedia namun keterbatasan waktu guru dalam menilai pendidikan peserta didik, 3) belum memahami cara penilaian yang tepat, 4) jumlah siswa yang banyak, 5) belum adanya format khusus untuk siswa SMP (penilaian dari BK), 6) pemantauan siswa yang membutuhkan waktu. 6. Ada beberapa harapan yang diungkapkan guru seperti: 1) guru membutuhkan instrumen atau alat untuk menilai karakter peserta didik, 2) kerjasama antara pihak sekolah dan pihak orang tua supaya terjalin komunikasi yang efektif, 3) memiliki buku referensi atau panduan tentang pendidikan karakter yang berhubungan dengan mata pelajaran Sains/IPA dan mata pelajaran lainnya. B. Saran-Saran 1. Bagi Pemerintah a. Hendaknya pemerintah lebih menilik kembali pentingnya pendidikan karakter dan mencetak buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan karakter, mempertimbangkan usulan dan hambatan yang disampaikan oleh guru mengenai keterlaksanaan dan penilaian pendidikan karakter yang ada di sekolah SMP dan mengusahakan alat atau instrumen sebagai pendukung dalam pelaksanaan dan penilaian pendidikan karakter. 2. Bagi Sekolah

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Sekolah sebaiknya mendukung sarana dan prasarana dalam pelaksanaan dan penilaian pendidikan karakter dan meninjau kembali kebijakan sekolah mengenai pendidikan karakter. Sekolah sebaiknya bekerja sama dengan orang tua dalam menjalan pendidikan karakter agar tetap terjaga kebiasaan dalam diri peserta didik. 3. Bagi Guru Hendaknya guru memberikan penilaian pendidikan karakter pada peserta didik tidak hanya berdasarkan penampilan saja melainkan mendalam dari perilaku peserta didik dan guru dapat mencari solusi dari hambatan atau kesulitan yang dialami selama melaksanakan pendidikan karakter. 4. Guru BK Sebagai guru yang sangat berperan penting dalam pendidikan karakter, tentunya lebih memahami peserta didik dari berbagai latar belakang dan guru BK dapat bekerja sama dengan guru-guru mata pelajaran lainnya agar memudahkan dalam penilaian pendidikan karakter. 5. Bagi Peneliti lain Bagi peneliti lain yang berminat pada pelaksanaan dan penilaian pendidikan karakter, dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk melakukan penelitian lanjutan pada semua guru di 10 SMP dalam skala nasional ini, demi keterlaksanaan pendidikan karakter yang lebih baik di sekolah, objektif, terukur dan adil bagi peserta didik.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 DAFTAR PUSTAKA Akhwan, Muzhoffar. (2014). Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasinya dalam Pembelajaran di Sekolah/Madrasah. El-Tarbawi. Arikunto, Suharsimi. (2011). Prosedur PenelitianmSuatu Pendektan Praktik. Edisi Revisi VII. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. (2012). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara Arrifudiin, IS. .(2017). Peranan Guru Terhadap Pendidikan Karakter Siswa http://ejournal.upi.edu/index.php/pedadidaktika/article/download/5844/3951 Diunduh pada tanggal 06 November 2018. Azwar, saifuddin. (2009). Relliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Barus, Gendon. (2017). The Implementation of Assessment Character Education Result in Secondary School. Advances in Social Science, Education, and Humanities Research, Volume 188 Dilla Novi. (Tanpa Tahun). Pendidikan Karakter Siswa. Tersedia dalam https://www.academia.edu/5662071/1/pendidikan karakter_siswa.pdf. Diakses 20 November 2018. Fathurrohman, Pupuh., AA Suryana., Fenny Fitriani. (2013). Pengembangan pendidikan karakter. Bandung: PT Refika Aditama. Jihad, Asep & Haris, Abdul. (2008). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Buku Induk Pengembangan Karakter. Jakarat: Kementrian Pendidikan Nasional Koesoema, Doni. (2012). Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Yogyakarta: Kanisius. Lickona, T. (2012). Character matters: Persoalan Karakter, Bagaimana Membantu Anak Mengembangkan Penilaian Yang Baik, Integritas, Dan Kebajikan Penting Lainnya (Terjemahan). Jakarta: Bumi Aksara. Prastowo, Adi. (2014). Memahami Metode-Metode Penelitian: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Prijowuntato, Widanarto. S. (2016). Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Sanata Dharma university Press.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Samani, Muchlas & Hariyanto. (2011). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. Siregar, Syofian. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif. Dilengkapi Perbandingan Perhitungan Manual & SPSS. Jakarta: Kencana. Subali, Bambang. (2016). Prinsip Asesmen dan Evaluasi Pembelajaran Edisi Kedua. Yogyakarta: UNY Press. Sudaryono, Margono, Gaguk, & Rahayu, Wardani. (2013). Penegembangn Instrument Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sugiyono. (2010). Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif Kualitati dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukardi. (2014). Evaluasi Program Pendidikan Dan Kepelatihan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Suwandi, Sarwiji. (2009). Model Assesmen dalam Pemberlajaran. Surakarta: Yuma Pustaka bekerja sama dengan FKIP UNS. Suwandi, Sarwiji. (2010). Model Assesmen dalam Pemberlajaran. Surakarta: Yuma Pustaka. Suyadi. (2013). Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Suyanto. (2010). Panduan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Direktorat Pembinaan SMP, Ditjenmandikdasmen. Triatmanto. (2010). Tantangan Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Http://eprints.uny.ac.id/3792/1/14Triatmanto_EDIT.pdf. Diunduh pada tanggal 5 Januari 2018. Uno, Hamzah B. & Koni, Satria. (2012). Assessment Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Waristo, Hermawan. (1992). Pengantar Metodologi Penelitian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Yaumi, M. (2014). Pendidikan Karakter Landasan, Pilar & Implementasi. Jakarta: Prenadamedia Grup. Zainul & Nasution. (2005). Penilaian hasil belajar. Cetakan ke-5. Jakarta: PPAUPPAI Universitas Terbuka.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 LAMPIRAN

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 ANGKET PELAKSANAAN PENILAIAN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) Angket Penelitian Disusun Oleh: Tim Peneliti STRANAS Institusi KERJASAMA PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS SANATA DHARMA & DIREKTORAT RISET DAN PENGABDIAN MASYARAKAT KEMENRISTEKDIKTI 2018

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 ANGKET PELAKSANAAN PENILAIAN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) A. Pengantar Bapak/Ibu Guru yang baik, angket ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang keberlangsungan dan kesulitan/hambatan-hambatan pelaksanaan penilaian hasil pendidikan karakter yang Bapak/Ibu alami di sekolah ini. Informasi atau data tersebut diharapkan dapat membantu memahami permasalahan dan kesulitan yang Bapak/Ibu hadapi dalam menilai hasil pendidikan karakter para siswa sehingga dapat dipikirkan solusi pemecahannya dan menemukan model penilaian hasil pendidikan karakter yang lebih baik. Penelitian ini difasilitasi oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Kemristekdikti tahun 2018 dengan sampel skala nasional. Sekolah ini dipilih menjadi salah satu tempat penelitian ini. Untuk itu, dengan kerendahan hati, perkenankanlah kami memohon bantuan kesediaan Bapak/Ibu untuk mengisi angket ini, sesuai dengan pemahaman, pengalaman, pemikiran, dan penilaian Bapak/Ibu terkait dengan masalah-masalah pelaksanaan sistem penilaian pendidikan karakter di sekolah ini. Pada bagian akhir angket ini, Bapak/Ibu dimohon menilai kualitas dan efektivitas model tes hasil pendidikan karakter berbasis film yang dilaksanakan pada dua kelas di sekolah ini. Keikhlasan dan bantuan Bapak/Ibu sangat bermanfaat bagi kami dalam memvalidasi efektivitas model penilaian hasil pendidikan karakter di SMP yang diujikembangkan oleh tim penelitian kami. Kami menyadari pekerjaan ini sangat melelahkan Bapak/Ibu, hanya Tuhanlah Yang Maha Murah membalas kebaikan Bapak/Ibu. Kami hanya dapat menghaturkan rasa hormat dan terima kasih sebesar-besarnya. Yogyakarta, 10 April 2018 Tim Peneliti Dr. Gendon Barus, M. Si. Koordinator Peneliti

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 B. Petunjuk Pengisian 1. Terdapat berbagai format pertanyaan dalam angket ini. Bapak/Ibu dimohon membaca secara cermat sebelum memberi respon. 2. Untuk pertanyaan yang disediakan alternatif jawabannya, lingkarilah huruf di depan setiap jawaban yang sesuai dengan penilaian/pengalaman/pendapat/pemikiran Bapak/Ibu. Dimungkinkan pilihan jawaban Bapak/Ibu lebih dari satu pilihan jawaban. Kami menyediakan space kosong (_______) untuk menampung respon Bapak/Ibu yang belum terwakili pada alternatif pilihan yang tersedia, maka jika dipandang perlu berkenanlah Bapak/Ibu untuk mengisinya. 3. Untuk pertanyaan tertentu yang mengandung kemungkinan jawaban terbuka, kami menyediakan tempat isian berupa garis kosong atau kotak. Berkenanlah Bapak/Ibu mengisinya dengan jawaban yang sesuai. 4. Informasi yang Bapak/Ibu berikan tidak akan punya konsekuensi/dampak buruk pada tugas dan karier Bapak/Ibu, Tim peneliti akan merahasiakan data. Terima kasih. C. Identitas Nama sekolah :_________________________________ Nama lengkap responden :_________________________________ Umur : _____tahun Jabatan stuktural :_________________________________ Guru mata pelajaran :_________________________________ Pelaksanaan & Penilaian Pendidikan Karakter Di sekolah 1. Apakah sekolah ini melaksanakan pendidikan karakter terintegrasi (terpadu dalam pembelajaran) ? A. Ya, terlaksana dengan baik dan memuaskan (sebagian besar guru melaksanakan) B. Ya, terlaksana dengan cukup baik (sekitar separuh jumlah guru melaksanakan) C. Ya, namun pelaksanaannya belum baik (baru beberapa guru yang melaksanakan) D. Belum terlaksana (hampir semua guru kurang paham teknis pelaksanaannya) E. Sekolah ini belum memikirkan implementasi pendidikan karakter terintegrasi F. Antara ada dan tiada

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 2. Apa saja bentuk-bentuk atau kegiatan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah Bapak/Ibu ini. Mohon menuliskannya: A. ______________________ D. ___________________ B. ______________________ E. ___________________ C. ______________________ F. ___________________ 3. Dari berbagai bentuk kegiatan pendidikan karakter yang telah Bapak/Ibu sebutkan, menurut penilaian Bapak/Ibu bagaimana hasilnya? A. Berhasil sangat memuaskan D. Belum tampak hasilnya B. Berhasil cukup memuaskan E. Tidak serius, maka tak ada hasil C. Ada hasil, tetapi kurang signifikan F. Gagal, sekedar rencana tanpa aksi 4. Bentuk atau cara apa yang Bapak/Ibu gunakan untuk menilai berhasiltidaknya pendidikan karakter di sekolah ini ? A. Tes D. Skala Sikap G. Laporan diri B. Observasi E. Wawancara H. Buku Refleksi Harian C. Sistem poin F. Laporan Proyek I. Lomba/Penjurian J. _______________ 5. Bentuk atau cara penilaian yang Bapak/Ibu sebutkan pada poin 4 di atas apa saja keunggulannya ? ____________________________________________________________ __________________________________________ 6. Apa pula kelemahan cara tersebut ? ____________________________________________________________ _______________________________________ 7. Hasil penelitian kami sebelumnya menunjukkan, hampir semua guru mengandalkan observasi sebagai bentuk atau cara menilai karakter siswa. Apakah Bapak/Ibu setuju observasi sebagai cara terbaik untuk menilai hasil pendidikan karakter siswa ? A. Tidak setuju B. Sedikit setuju C. Cukup setuju D. Setuju 8. Mohon pendapat/penilaian Bapak/Ibu lebih lanjut tentang penggunaan observasi sebagai teknik/cara yang digunakan sekolah dalam penilaian

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 karakter siswa dengan memberi tanda centang (√) pada skala ya atau tidak berikut ini: No Sebagai teknik/cara penilaian hasil pendidikan karakter siswa di SMP 1 Observasi merupakan cara paling tepat 2 Observasi merupakan cara paling baik 3 Observasi merupakan cara paling objektif 4 Observasi merupakan cara paling mudah 5 Observasi merupakan cara paling praktis 6 Observasi merupakan cara paling terpercaya 7 Observasi merupakan cara paling jujur 8 Observasi merupakan cara paling adil 9 Observasi merupakan cara paling rentan 10 Observasi merupakan cara paling tak beresiko 11 Observasi merupakan cara paling murah 12 Observasi merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan 13 Observasi kurang memungkinkan menilai semua siswa 14 Observasi sukar dipertanggungjawabkan hasilnya 15 Observasi mengandung bahaya bias (menyimpang) 16 Observasi menyita banyak waktu, tenaga, dan biaya 17 Observasi mengandung bahaya like and dislike 18 Observasi harus disertai pencatatan yang teratur dan rapi 19 Observasi mengandung kebohongan (hallo effect) 20 Observasi memiliki banyak kelemahan ya tidak

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 9. Apakah Bapak/Ibu juga menggunakan cara/teknik observasi lebih banyak/lebih sering dibanding cara lainnya untuk menilai karakter siswa? A. Ya, paling sering karena ____________________________________________ B. Ya, sekali-sekali karena ____________________________________________ C. Jarang, karena ___________________________________________________ D. Hampir tidak pernah, karena _________________________________________ 10. Pihak-pihak mana yang terlibat dalam penilaian pendidikan karakter siswa di sekolah Bapak/Ibu ini? A. Kepala Sekolah F. Penilai Ahli/Profesional/Psikotester B. Wakaur Kurikulum G. Tim Khusus (Gabungan Guru & Ortu) C. Wakaur Kesiswaan H. Pembina Pramuka D. Guru BK I. Penilaian Sesama Teman Sebaya Siswa E. Wali Kelas J. ___________________ 11. Apakah penilaian karakter diberlakukan kepada seluruh siswa? A. Seluruh siswa yang bermasalah dan tidak bermasalah B. Siswa yang bermasalah dengan perilaku buruk diobservasi, siswa lain diabaikan C. Hanya untuk siswa yang nakal/berperilaku buruk/melanggar peraturan sekolah D. Siswa yang baik-baik diberi nilai karakter baik meski tanpa data tes E. ______________________________________________________ 12. Apakah Bapak/Ibu selama ini telah melaksanakan penilaian pendidikan karakter siswa di sekolah dengan baik? A. Ya, tentu saja. B. Belum terlaksana dengan baik C. Tidak paham cara terbaik memberi penilaian karakter siswa D. Terlaksana, namun ragu validitas/objektivitasnya E. Terlaksana asal ada saja, sekedar memenuhi kewajiban F. Saya sulit melakukannya, mestinya sekolah mengusahakan cara yang lebih mudah, objektif, dan efektif.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 13. Hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan apa yang Bapak/Ibu temui dalam menilai pendidikan karakter siswa di sekolah? Tuliskan jawaban di kotak ini: 14. Saat ini, jenis alat/instrumen apa yang tersedia dan Bapak/Ibu gunakan untuk melakukan penilaian hasil pendidikan karakter siswa di sekolah? A. Tes; sebutkan ___________________________ B. Non- tes; sebutkan _______________________ C. Tidak tersedia alat/instrumen apapun 15. Apakah yang Bapak/Ibu butuhkan dan harapkan agar penilaian hasil pendidikan karakter siswa di sekolah ini dapat terlaksana dengan baik dan hasilnya dapat lebih dipertanggungjawabkan kebenarannya? Mohon tuliskan kebutuhan/harapan di kotak: Sistem Poin (sebagai sistem/cara Penilaian Karakter Siswa) 1. Apakah sekolah Bapak/Ibu menggunakan sistem poin dalam pelaksanaan pendidikan karakter? A. Ya, karena _______________________________________________________ B. Tidak, karena ____________________________________________________ C. Kadang ya, kadang tidak, pelaksanaannya masih suka-suka, tidak konsisten

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 2. Apakah Bapak/Ibu paham betul konsep, kekuatan, kelemahan, dampak, dan bahaya dari penerapan sistem poin sebagai cara penilaian pendidikan karakter siswa? Jelaskan pemahaman Bapak/Ibu dalam kotak ini: 3. Apakah Bapak/Ibu mendukung penerapan sistem poin untuk menilai karakter siswa? A. Sangat setuju, karena _____________________________________________ B. Cukup setuju, karena _____________________________________________ C. Kurang setuju, karena ____________________________________________ D. Menentang, karena _______________________________________________ 4. Dapatkah dipertanggungjawabkan sistem poin yang berasumsi bahwa baik-buruknya karakter siswa ditakar dari banyak sedikitnya kesalahan, keburukan, dosa-dosa, kelalaian, ketidakpatuhan, ketidakpatutan, penyimpangan, pelanggaran, kebobrokan, kemalasan, dan maksiat-maksiat buruk lainnya yang dilakukan siswa? Sementara kebaikan-kebaikannya tidak dihiraukan atau diabaikan oleh sistem poin itu, bukan? Bagaimana pendapat Bapak/Ibu? Tuliskan dalam kotak ini: 5. Kesulitan apa saja yang Bapak/Ibu temukan dalam menerapkan sistem poin?

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Penilaian terhadap model tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter Setelah mengamati implementasi penggunaan model tes hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang dikerjakan para siswa di kelas tadi, mohon Bapak/Ibu memberikan respon validasi untuk menilai efektivitas model ini. 1. Menurut Bapak/Ibu, apakah model penilaian hasil pendidikan karakter dengan cara menggunakan test berbasis film karakter seperti yang telah diujicobakan di kelas tadi dapat dijadikan sebagai model/cara menilai pendidikan karakter siswa di sekolah? A. Ya, sangat efektif dan bagus, semua siswa dapat dinilai secara objektif B. Saya masih ragu apakah model ini efektif/baik atau tidak C. Bisa dan praktis/mudah dilakukan, namun kurang bermanfaat D. Model atau cara ini tidak efektif/tidak baik untuk menilai hasil pendidikan karakter siswa E. Saya tetap mengunggulkan dan mengandalkan cara observasi dibanding tes ini F. ________________________________________________________ 2. Adakah usul (dukungan atau penolakan) atau saran perbaikan untuk penggunaan soal test asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter ini? 3. Pada saat para siswa mengerjakan soal tes, suasana apa yang tercipta? A. Kondusif, siswa bersemangat dan mengerjakan tes dengan tenang B. Kurang kondusif, banyak siswa gaduh, tidak tenang menjawab soal tes C. Banyak siswa tampak bosan, letih, tak bersemangat, kehilangan antusias D. ________________________________________________________

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 4. Menurut Bapak/Ibu, kelemahan apa saja yang ditemukan dalam model penilaian hasil pendidikan karakter menggunakan tes berbasis film ini? Mohon masukan untuk bahan perbaikan: ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________ 5. Menurut Bapak/Ibu, keunggulan apa saja yang ditemukan dalam penggunaan model penilaian hasil pendidikan karakter dengan cara tes berbasis film ini? Mohon masukan ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________ Penilaian terhadap Model Asesmen yang kami ujikembangkan Bapak/Ibu telah mengamati implementasi penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis potongan film/video yang baru saja kami uji cobakan di kelas. Kami mohon Bapak/Ibu memberikan feedback/masukan dengan merespon pernyataan berikut. No Pernyataan kualitas/efektivitas model 1. Tes ini sangat kami perlukan untuk menilai hasil pend karakter siswa 2. Tes ini sangat bermanfaat untuk mengukur hasil pend karakter siswa 3. Tes ini valid/tepat/cermat untuk mengukur hasil pend karakter siswa 4. Tes ini lebih baik/berkualitas dibanding cara lain yang sudah ada 5. Ketika mengerjakan Tes ini siswa tertarik, antusias, dan semangat 6. Tes ini bagus sekali dan perlu disebarluaskan ke sekolah lainnya 7. Tes ini terlalu sulit dikerjakan siswa dan banyak peserta mengeluh 8. Tes ini buang-buang waktu, kurang efiktif, dan kurang bermanfaat 9. Tes ini kurang meyakinkan untuk mengukur karakter siswa 10. Tes ini terlalu panjang dan melelahkan siswa 11. Tes ini tidak objektif menggambarkan karakter siswa 12. Tes ini baik digunakan semua siswa setiap menjelang akhir semester 13. Tes ini sangat menginspirasi siswa untuk memperbaiki karakternya 14. Tes ini mampu menggugah siswa untuk bertobat memperbaiki diri Ya Tidak Ragu

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Tes ini sangat inspiratif bagi siswa untuk berefleksi terhadap 15. kekurangan atau kesalahannya 16. Aspek penilaian karakter yang dinilai dengan Tes ini lebih komprehensif/menyeluruh dibandingkan hanya dengan cara observasi 17. Tes ini memberikan penilaian hasil pendidikan karakter bagi semua siswa secara lebih adil dan bertanggungjawab 18. Tes ini menolong guru untuk melakukan penilaian hasil pendidikan karakter semua siswa (tidak hanya siswa tertentu) 19. Penggunaan model penilaian hasil pendidikan karakter dengan cara tes berbasis film karakter ini dapat mengatasi kelemahan cara observasi 20. Tes ini sangat bermanfaat bagi siswa untuk menyadari kualitas diri dan mendorong tekad/keberanian siswa berbuat lebih baik Terima kasih

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Nama Sekolah SMP Raden Fatah Nama Responden, Jabatan Struktural, Guru Mata Pelajaran Ali Rahman, S.Pd Kepala Sekolah OR Hasil Penilaian Angket Pelaksanaan dan Penilaian Pendidikan Karakter Di Sekolah 2 5 6 13 15 A. Baca AL’Quran Dapat membukt ikan secara langsung perubaha n sikap setelah diberikan pendidik an karakter Penilaian sikap bersifat relatif jadi kadang setiap guru memiliki penilaian yang berbeda dengan guru lain Terkad ang ucapan, sikap, dan tingkah laku siswa sering lebih, artinya ucapan dan tingkah laku tidak sesuai sikap jujur, ternuk a/tran sparan tutur kata yang sopan Terpanta u karaktern ya dari setiap B. harinya, menerapka sehingga n 5S lebih maksima C.Eksuk l BTQ Tingkat pemahama n siswa terhadap refleksi harian kurang (kurang disiplin) Terkad ang ucapan, sikap, dan tingkah laku siswa sering labil, artinya antara ucapan dan tingkah sikap jujur, ternuk a/tran sparan tutur kata yang sopan, tingka h laku yang baik yang patut B. Ekskul BTQ C. Membiasa kan 5S D. Eks. Pramuka E. Eks. PBB F. Jabat tangan dengan guru Widia Nur Zaman, S. Pd Guru Matematika / BK A.Baca Al’Quran sebelum KBM D. Ekskul pramuka E. Ekskul

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 PBB & BKC F. Jabat tangan dg guru Subur Guru IPS A. Tadarus Al’Quran B. Berdoa Sistem poin, laporan diri C. Sikap santun pada guru D. Sikap santun pada teman E. Sikap santun pada lingkunga n F. Sikap kegiatan upacara Linawati, S. Pd A. Baca Al Qur’an Dapat Penilaian membukt sikap ikan bersifat laku tidak sesuai ditiru, kerjas ama semua warga sekola h dalam mener apkan pendi dikan karakt er Dari segi asal geograf is siswa dan tingkat kehidup an yg berbeda serta kemam puan berfikir yg berbeda berdasa rkan nilai dasar Kond usifny a kelas disaat ada ketera ngan yg sangat sulit dicern a siswa Terkad ang ucapan, Sikap jujur, terbuk

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 B. Ekskul BTQ C. Membiasa kan 5 S D. Ekskul Pramuka. E. Ekskul PBB secara langsung perubaha n sikap setelah diberikan pendidik an karakter relatif jadi kadang setiap guru memiliki penilaian yang berbeda dengan guru lain sikap, dan tingkah laku siswa sering lebih artinya ucapan dan tingkah laku tidak sesuai a/tran sparan tutur kata yang sopan Anak kadang merasa bosan Kurang nya komuni kasi antara siswa dan guru dan terkada ng anak ada yang kurang aktif dalam berkom unikasi (pemal Kerjas ama antara pihak sekola h dan pihak orangt ua supay a terjadi komu nikasi didala m dan diluar sekola h F. Membiasa kan jabat tangan dengan guru datang dan pulang sekolah Muhlis Alfian Guru PJKR A. Shalat Anak Berjamaah bekerjasa ma B. Tadarus dengan Al Qur’an baik dan selalu berintera ksi satu dengan yang lainnya

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 SMP N 1 Dra. Tri Yogyakart Sakti, M.Si a Guru Pembina Yk 1 BK A. Pramuka B. Tadaruss Pagi hari Bisa dilihat langsung Kita tidak tahu saat tidak diobservas i C. Sholat duhur berjamaah D.Non muslim berdoa sebelum kegiatan u) terken dali Pemant auan siswa karena terlalu banyak siswany a yg harus diobser vasi Ya, kami memb utuhk an instru men/ tes untuk menil ai karakt er siswa. Instru men muda h dikerj akan oleh guru Endang Tri Z A. Pramuka Guru B. Kedisiplin an BK Bisa Tidak bisa segera menyeluru diketahui h hasilnya Tidak bisa menget ahui karakte r anak secara menyel uruh Memp unyai alat penila ian karakt er yg valid Cara langsung dg pengama Melihat kondisi siswa diluar adany a indika C. Ketertiban Arif Suhendarto Guru A. Kegiatan Selasar Pagi Tidak dapat mengukur dlm

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 BK B.Ucap salam kelas dan terimakasi h C.Diskusi dg cara baik D. Pengajian/ Doa bersama tan dan dapat langsung melihat respon siswa, serta memasti kan dengan keadaan sebenarn ya lingkup yg besar/ luas Bisa dilihat dan diamati secara langsung hasilnya Siswa terlihat baik kalau berhadapa n dengan guru, tapi kalau diluar atau masyaraka t kadang kurang baik sekolah menjadi keterbat asan dan hambat an Pende katan dari lingku ngan rumah juga menja di hal utama E.Kerja bakti sekolah F. Kegiatan literasi SMP Pagudi Luhur Wedi Br. Yohanis A. Ari Apelabi, Kegiatan FIC Pramuka B. Kegiatan ekstrakuri kuler C. Upacara Bendera D. Home Visit E. Piket Kelas F. Misa dan Doa tor yg jelas ttg pendi dikan karakt er Belum memah ami cara penilaia n yang tepat Pelati han pendi dikan karakt er

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 harian SMP Pangudi Luhur Wedi Sr. Agnes Syanti K, PMY Guru Bimbingan dan Konseling A. Upacara Bendera (Besar&N as) B. Home Visit C. Da, Misa, Rekoleksi, Retret Murni, Bisa dilihat scr langsung proses perubaha n dapat ditindakl anjuti -Tidak ada standart bagi semua anak -Semua tampak berkarakte r baik di sekolah D. Pembekala n OSIS Belum menem ukan cara terbaik & valid bagi siswa berdasa r jenjang usia dan latarbel akang E. Kepramuk aan, PBB Guru Bahasa Indonesia A. Memberik an salam, senyum, sapa B. Berdoa sblm & sesudah pelajaran C. Berpakaia n rapi dan sesuai Modu l/ instru men bisa dipela jari -alat tes F. Pertanding an/ Baksos Yohanes Yudhi Purwono Pelati han untuk tenaga pendi dik tak terkec uali Bisa langsung terlihat hasilnya Siswa terlihat baik karakterny a ketika mereka berhadapa n dengan Bapak/Ibu guru Belum memah ami cara yg paling sesuai untuk menilai pendidi kan karakte r siswa Pelati han dan penda mping an

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 aturan D. Berbicara santun E. Kegiatan sabtu membaca F. Upacara Bendera G. Menyanyi kan lagu Indonesia Raya setiap pagi SMPN 3 Wates Rr. Aida Manfiati, S.Pd Urusan Kurikulum IPA A.Menya mbut kehadirans iswa B. Berbasis di depan kelas C.Hormat bendera D.Menyan yikan lagu Indonesia Raya E. Gotong Royong F.Berdoa sebelum Mudah Kurang dilakuka objektif n, dapat dilakuka n terintegr asi pada saat mengajar mwnw mukan cara yg tepat utk menilai pendidi kan karakte r siswa menent ukan alat untuk menilai pendidi kan karakte Memp eroleh pandu an tentan g penila ian pendi dikan karakt er siswa

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 pembelaja ran r siswa Sukirno, S.Pd A. Religius -objektif Guru B. Disiplin BK C.Tolerans -terukur i -handal -reliabel D.Kerja keras E. semangat kebangsaa n -siswa sering merekareka jawaban -belum tersedia instrum en yg cukup -nilai dipengaru hi oleh kemampua n baca, menganali sis Sarana/ prasara na masih perlu penyem purnaan F. gemar membaca SMP N 3 Wates Etty Sulistyorini, S.Pd Guru Matematika A. Berdoa diawal/akh ir pelajaran B.Menyan yikan Lagu Indonesia Raya C.Hormat bendera D. kemam puan sumber daya manusi a yg masih terbatas Siswa menjawa b/mengis i dengan jujur Terlalu banyak Siswa membe rikan respond en yg hanya meniru teman penin gkata n kema mpua n SDM tersed ianya sarana /prasa rana yg mema dai (alat perag a, media , dll) Buku angke t yg diisi oleh petug as pendi dikan karakt er secara jujur

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 Tadarus/ igro diawal dan jelas E.kematar aman F. Upacara bendera tiap senin Fauzanuri, S.Pd Guru IPA/ SAINS A.Disiplin B. Toleransi C.peduli D. teliti E. Cermat F. Hormat dan patuh serta melaksana kan ajaran agama Penilaian dan perubaha n sikap terukur tetapi sulit diadmini strasikan serta memori guru kurang -sulit diadminist rasikan -ingatan/ memori guru terbatas Jumlah siswa yg banyak sehingg a tidak semua siswa tercove r Bukubuku refere nsi tentan g karakt er yg berhu bunga n dg mata pelaja ran Sains/ IPA Pende finisia n/ redefi nisi tentan g pendi dikan karakt er SMP Agnes A. Literasi -lebih -sering Kecend Adan

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 Santo Aloysius Turi Natalia Endry K Kepala Sekolah Bahasa Inggris membaca setiap pagi sblm KBM B. Doa Angelus tiap jam 12.00 C.Achieve ment Motivatio n Training D.Sabtu Bersih E. Senyum, Sapa, Salam/ Salaman tiap pagi F. Apel pagi Restituta Dwi Wahyu Handayani Kurikulum Seni Budaya valid dan onjektif khususny a pada sistem poin Dapat menilai B. Literasi anak Membaca lebih C.Pembina valid an/ apel -lebih pagi mudah E.Sabtu bersih F.retret/ -kurang valid -kurang -mudah objektif dalam pemetaa n anak utk melihat perkemb angan anak yg belum, mulai, atau sudah berkemb ang karaktern ya A.AMT D. 3S terjadi sikap normatif dalam pemetaa n siswa Terkadang sisw amenjawa b pertanyaan dg jawaban yg baik (scr teoritis) tidak sesuai dg kenyataan yg ada erungan siswa menjaw ab normati f namun belum tentu sesuai dg karakte r sesungg uhnya ya alat ukur yg lebih valid dan objekt if Ketika karakte r dinilai dg bentuk lembara n berisi soal yg harus dijawab , jawaba n anak lebih Adan ya alat tes pendi dikan karakt er yg lebih baik/ teruji validit asnya

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 rekoleksi Agustina Ambar Purbayanti Guru Matematika A.Apel Pagi B. Literasi membaca C.Doa Angelus, jam 12.00 D.Sabtu bersih E.Upacara bendera sering mencari aman dg jawaba njawaba n yg baik bukan yg sebenar nya -lebih objektif pada sistem poin Terkadang tdk teliti pada sistem poin Terkad ang anak bersika p sopan ketika berhada pan dengan guru saja Adan ya alat ukur yg lebih objekt if Kadang siswa menjawab normatif & adanya subjektifit as dr penilai serta bias (kadang) Kadang jawaba n siswa normati f ketika diminta isi angket Adan ya alat tes yg lebih teruji validit asnya -lebih mengem bangkan sikap toleransi pada wawanca ra F. Danu Mukti Guru BK A.budaya literasi B. budaya 3S C.budaya sabtu bersih (cinta lingkunga Lebih valid dan objektif/ faktual, mudah memetak an siswa adanya

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 n) D.perubah an iman dan spiritual efek bias ketika observa si E.AMT F.Rekolek si/ motivation training Linda A. Wakil Kepala sekolah B. IPS D. C. E. F. memb erikan angke t yang diisi oleh siswa tentan g halhal yg diperl ukan sehub ungan denga n karakt er siswa Harap an denga n

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 penila ian karakt er melal ui banya k cara dapat mena namk an karakt er yg baik bagi diri siswa Yulius Guru BK A. membuan g sampah B. mengharg ai waktu C. jujur D. tanggungj awab E.menghar gai sesama F. kerja keras Praktis, mudah, waktuny a panjang Siswa setiap saat tak dapat memperba iki diri Adanya siswa yg bermas alah itu2 juga orangn ya Kalau semua nya berjal an denga n baik, tentu semua berjal an baik, semua progra m sekola h tentun ya berjal

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 an lancar Saferida Februari A. PBM (diskusi, main peran) B. Outbound C. Pramuka, Pastoral Sekolah Kita bisa tahu secara langsung dan memberi penguata n supaya menjadi pembiasa an Belum semua siswa bisa terpantau secara langsung dan intensif Penilaia n yg saya lakukan tidak diduku ng oleh semua pihak, karena siswa didik saya berperil aku berdasa rkan teladan guru dan pengaru h teman yang kuat. Kebany akan mereka masih labil Adan ya telada n yg baik dari setiap guru, sehing ga apabil a semua anggo ta/war ga sekola h melak ukan, hal itu akan menja di suatu pembi asaan yg baik dan positif Dapat dilihat secara langsung perubaha n Padanya sikap yg bisa tidak dapat kita lihat kurang nya fasilitas Adan ya alat/ instru men penila D. Live In E. Kunjunga n ke panti F. Kegiatan sekolah, lombalomba SMP Negeri 2 barusjahe Asa Rehulina Br. Ginting Guru A. memberik an bimbingan B. berdoa -

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 BK sebelum pelajaran sikapnya kurang nya waktu C. mengadak an rubrik Drs. Bandar Surbakti Guru Seni Budaya A. berbaris sebelum masuk ian karakt er siswa Bisa dilihat hasilnya Hasilnya mungkin kurang signifikan Saran masala a h waktu prasar ana -sarana prasara na kebers amaan kurang nya kebersa maan Dapat diamati secara berkala dan Perlu terus pendampi ngan Waktu yg tersedia untuk bersosi B. memberik an bimbingan C. Doa sebelum memulai pelajaran D. memberik an penghorm atan kepada guru E. Doa menutup pelajaran F Malemta Ginting, S.Pd A. sikap Guru C. mental B. etika Saran a dan prasar ana yg mema

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 SMPN 2 barusjahe Pend. Jaskes D. kognitif hasilnya dapat E. dilihat psikomoto r Masta Sipayung, S.Pd A.member i bimbingan Guru B. berbaris sebelum masuk IPS alisasi dengan siswa kurang dai sepert i buku, buku bacaa n yg dapat memb entuk karakt er siswa Dapat dilihat hasilna Kurang signifikan Kurang nya waktu, kurang kebersa maan Saran a/pras arana Perubaha n karakter yg lebih baik, yang sangat mempen garuhi peningka menguran gi waktu, untuk kegiatan KBM Pemant auan siswa di luar sekolah Dibut uhkan instru men utk menil ai pendi dikan karakt C. berdoa sebelum pelajaran D. berdoa sebelum pulang SMPN 2 Playen Yuliana Sulastri, S.Pd A. kepramuk aan Guru B. salaman PPKN C. upacara bendera D. literasi -kurang detail

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 E. outbound jelang UN F. kegiatan sosial tan prestasi belajar siswa er G. Kegiatan keagamaa n Rohmad, S.Pd Guru BK A. keagamaa n Mudah Kurang dilaksana efektif kan Sulit Yang memant muda au h utk dilaks anaka n Lebih efektif dan mudah dilaksana kan Pemant auan diluar sekolah walaup un sudah kerjasa ma dengan orangtu a B.sosial C.outboun d D. literasi E. kepramuk aan F. upacara2 SMPN 2 Playen M. Lathifah, S.Pd Guru BK A. Kegiatan kepramuk aan B. upacaraupacara C. literasi D.outboun d jelang Kurang bisa mengatur secara detail, hanya menilai sebatas yg dapat dilihat Adan ya instru men utk menil ai pendi dikan karakt er yg lebih

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 UN simpe l dan muda h dilaks anaka n E. bersalama n pd bpk ibu guru/TU F. keg. sosial (jenguk siswa sakit, melayat G.Keg.kea gamaan SMPN 31 Purworejo Eni Nawang A.kejujuan Dengan Suryoningsi di kantin mengaa h sekolah mati perilaku Guru B. siswa, kepemimp bisa PPKN inan langsung memberi C. poin utk Religius, siswa yg sholat berjamaah perilakun ya D. menyimp Nasionalis ang me dg menyanyi kan lagu Indonesia Raya E. Literasi sebelum KBM Hanya tertuju ke anak-anak yg berkarakte r kurang baik Pembua tan penilaia nnya, adminis trasinya , instrum ennta Adan ya pembi asaan karakt er yg berkel anjutn , Ada evalua si dan tindak lanjut

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 F. F. Sugeng Subagyo Guru Bk A.kejujura n-kantin Observas monoton i dan wawanca B. ra sangat kedisiplina menduku n- tepat ng waktu dilakuka C.kepemi n, keunggul mpinanannya pramuka bisa &OSIS objektif D.Empati dlm -PMR memulai Belum adanya format khusus utk siswa SMP (penilai an dr BK) Adan ya forma t baku dari pemer intah sehing ga bk dapat meng aplika sikan di lapan gan. Karen a selam a ini BK belum ada kseny aman di antara sekola h yg ada Belum ada aturan baku Ada kerjas ama antara guru denga n BK, kesis E. Religiusita s/keagama an –shalat berjamaah F. Nasionalis me – upacara bendera G. Literasi (kebiasaan ) Sumarti A.Kejujur an B. kepemimp inan/ OSIS - siswa -tidak bisa lebih mengamat terpantau i secara menyeluur uh meningk atkan -terkadang kesadara siswa agak

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 C.Literasi sebelum KBM n siswa tertekan -memacu semangat pada siswa Pelaksana an hanya jangka waktu tertentu A.Pembias Menjadi aan kan siswa B. mandiri Upacara dan C. Literasi berkarakt er D.Shalah berjamaah Belum bisa terlaksana maksimal D. Religius/ Shalat berjamaah waan dan semua warga sekola h E. Upacara bendera/ nasionalis me F.5S SMPN 31 Purworejo Yuwandi Purwantoro Guru Prakarya Tidak mengaj ar di semua kelas Kerjas ama antar warga sekola h

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 Surat penelitian

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 Dokumentasi

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115

(135)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
26
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
0
147
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
165
SEBAGAI SUATU STUDI KASUS Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan Konseling
0
0
93
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
224
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
114
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
0
0
217
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi
0
0
190
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Program Studi Pendidikan Fisika
0
0
90
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Bimbingan dan Konseling Program Studi Bimbingan dan Konseling
0
0
88
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi
0
0
130
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
148
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
135
Show more