VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA YANG ORANG TUANYA GURU DAN NON GURU PADA SEPULUH SMP DI INDONESIA SKRIPSI

Gratis

0
0
183
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA YANG ORANG TUANYA GURU DAN NON GURU PADA SEPULUH SMP DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh : Ika Rinika Sogalrey NIM : 151114009 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA YANG ORANG TUANYA GURU DAN NON GURU PADA SEPULUH SMP DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh : Ika Rinika Sogalrey NIM : 151114009 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN —’‡”•‡„ƒŠƒƒ”›ƒ•‡†‡”Šƒƒ‹‹ ‡’ƒ†ƒ‡†—ƒ‘”ƒ‰–—ƒ›ƒ‹–—ƒ’ƒ–‘˜‹ƒ—•‘‰ƒŽ”‡›†ƒ

(6) „—  ƒ–‡‹Ž‹‰‘Ž‹ǡƒ†‹’‡”‡’—ƒ——–‹ƒ”ƒ‡„‹†”‹ƒƒǤ†ƒƒ†‹Žƒ‹Ǧ Žƒ‹—‹‹‰‡Ǥ  ”ƒ‰–—ƒ—›ƒ‰•‡ŽƒŽ—‡‰‹”‹ƒ†‘ƒ†ƒ•‡ƒ‰ƒ–—–—— •‡Š‹‰‰ƒ‡„—ƒ–—–‡–ƒ’•‡ƒ‰ƒ–†ƒŽƒ‡‰‡Œƒ” ‹–ƒǦ ‹–ƒ  ‡”‹ƒƒ•‹Š‡’ƒ†ƒ•ƒŠƒ„ƒ–Ǧ•ƒŠƒ„ƒ–•ƒ›ƒ›ƒ‹–—ƒ”‹ǡ—–”‹ǡ”‰‹ƒǡ ”‹•ƒǡ’”‹Žǡ

(7) ƒ•ƒŠƒ„ƒ–Ǧ•ƒŠƒ„ƒ–•ƒ›ƒ›ƒ‰‡„‡”‹ƒ‡ ‡”‹ƒƒ†ƒ ‡†ƒ’‹‰‹•ƒ›ƒ†‡‰ƒ•ƒ‰ƒ––—Ž—•†ƒŽƒ‡‰‹‰ƒ–ƒǡ ‡‘–‹˜ƒ•‹†ƒ‡†‘ƒƒ•ƒ›ƒ—–—†ƒ’ƒ–‡›‡Ž‡•ƒ‹ƒƒ”›ƒ‹‹ •‡ ‡’ƒ–›ƒ  ‡”‹ƒƒ•‹Š‡’ƒ†ƒ•‡Ž—”—Šƒ‰‰‘–ƒ–‹’‡‡Ž‹–‹ƒ›ƒ‰•‡ƒ–‹ƒ•ƒ ‡„ƒ‰‹’‡‹‹”ƒǡƒ•‡Šƒ–†ƒ‘–‹˜ƒ•‹ iv

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO Berdoa dan Bekerja You Can Have Whatever You are Willing Too Struggle For (Peneliti) v

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA YANG ORANG TUANYA GURU DAN NON GURU PADA SEPULUH SMP DI INDONESIA Ika Rinika Sogalrey Universitas Sanata Dharma 2019 Penelitian ini bertujuan: 1) menghasilkan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter; 2) mengukur seberapa baik kualitas soal yang dihasilkan; 3) memperoleh informasi mengenai nilai-nilai efektifitas penggunaan soal tes 10 SMP di Indonesia; 4) mengukur capaian hasil pendidikan karakter menggunakan soal tes tersebut di 10 SMP di Indonesia; 5) menganalisis perbedaan perbedaan penilaian siswa yang orang tuanya guru dan non guru terhadap efektifitas penggunaan soal tes tersebut; 6) memperoleh informasi mengenai adanya capaian hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya guru dan non guru dengan menggunakan soal tes asesmen tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development). Subjek penelitian adalah siswa kelas VII dan VIII yang berjumlah 660 siswa. Soal tes ini berbasis film karakter berbentuk pilihan ganda dengan respon bergradasi berjumlah 88 item dan skala penilaian validasi efektifitas model oleh siswa. Teknik uji kualitas butir soal tes menggunakan pendekatan faktor analisis konfirmatori. Capaian hasil karakter siswa dianalisis dengan teknik deskriptif kategori, sedangkan validasi efektifitas model dianalisis dengan teknik deskriptif persentase. Hasil penelitian: 1) Ditemukan 88 item hasil pendidik karakter berbasis telah diujicobakan di 10 SMP di Indonesia. 2) Produk soal tes asesmen berbasis film karakter teruji valid dan reliable untuk digunakan. 3) berdasarkan hasil penilaian dari siswa diperoleh data bahwa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter ini sangat efektif. 4) capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes tersebut adalah terdapat 338 siswa dalam kategori karakter tinggi dan 322 siswa masuk dalam kategori karakter sedang. 5) tidak ada perbedaan penilaian siswa kedua golongan tersebut terhadap efektifitas penggunaan soal tes yang dikembangkan. 6) tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap hasil pendidikan karakter siswa dalam menggunakan soal tes tersebut. Kata kunci: validasi efektifitas, capaian hasil pendidikan karakter, siswa yang orang tuanya guru dan non guru viii

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECTIVENESS VALIDATION OF THE ASSESSMENT TEST OF CHARACTER MOVIE BASED CHARACTER EDUCATION RESULT ON STUDENTS WITH TEACHERS AND NON TEACHERS PARENTS IN TEN SMP (JUNIOR HIGH) IN INDONESIA Ika Rinika Sogalrey Sanata Dharma University 2019 This study was aimed to: 1) produce an assessment test about the character movie-based character education results; 2) measure the quality of the assessment test of the movie-based character education results that developed including the values of validity, reliability, power difference and level of difficulty; 3) obtain information about the effectiveness of the test usage in 10 junior high schools in Indonesia; 4) obtain information about the achievement of character education results measured using the assessment test; 5) obtain information about the differences of the students assessment whose parents are teachers and nonteachers towards the effectiveness of the test usage; 6) obtain information regarding the students achievement on the character education results whose parents are teachers and non-teachers. The type of this study is research and development study. The research subjects were students of class VII and VIII at 10 schools with total subject were 660 students. The item quality test technique about the test uses a confirmatory analysis factor approach. Achievement of student character was analyzed using category descriptive techniques, while validation of the model effectiveness was analyzed using percentage descriptive techniques. The research results show that: 1) 88 items movie based character education test have been tested in 10 junior high schools in Indonesia. 2) the assessment test for character movie based character education is valid and reliable to use. 3) based on the results of the assessments from students shows that the data obtained said that the test about the character education results are very effective. 4) the achievement of character education measured using the test questions shows that students were in the high and medium character category. 5) the product of assessment results developed can be used by students whose parents are teachers and non-teachers, because there is no differences. 6) there is no significant difference in the results of student character education in using the test produced. Keywords: effectiveness validation, achievement of character education, students whose parents are teachers and non-teachers ix

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat yang telah diberikan dan bimbingan-Nya, peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul Analisis Validasi Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Berbasis Film Karakter di Beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia (Uji Validasi Pengembangan Model Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Pada Siswa yang Orang Tuanya Guru dan Non Guru pada Beberapa SMP di DIY dan Jawa Tengah) Selama penulisan tugas akhir ini, peneliti mendapatkan bantuan dari banyak pihak, maka peneliti ingin menyampaikan mengucapkan terima kasih kepada : 1. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Dr. Gendon Barus, M. Si. Selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling serta Dosen Pembimbing Skripsi Peneliti yang selalu membimbing dengan penuh kesabaran dan selalu memotivasi peneliti untuk segera menyelesaikan penelitian ini. 3. Juster Donal Sinaga, M. Pd. Selaku Wakil Ketua Program Studi Bimbingandan Konseling. 4. Para Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling: Ibu Indah, Ibu Hayu, Bapak Sinurat, Ibu Retno, Ibu Reta, Bapak Agus dan Bapak Budi. x

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN.................................................................................. iv HALAMANMOTTO ..................................................................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................ vi HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PIBLIKASI ............................ vii ABSTRAK ....................................................................................................................viii ABSTRACT .................................................................................................................... ix KATA PENGANTAR. .................................................................................................. x DAFTAR ISI. ................................................................................................................ xii DAFRAT TABEL ....................................................................................................... xvi DAFRAT GAMBAR .................................................................................................. xix DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................... xx BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah ..................................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ............................................................................................ 9 C. Pembatasan Masalah ......................................................................................... 11 D. Rumusan Masalah ............................................................................................. 11 E. Tujuan Penelitian............................................................................................... 12 F. Manfaat Penelitian ............................................................................................ 13 G. Definisi Oprasional Variabel ........................................................................... 15 BAB II KAJIAN PUSTAKA ..................................................................................... 17 A. Hakikat Pendidikan Karakter di Sekolah ....................................................... 17 1. Pengertian Karakter ................................................................................ 18 2. Pengertian Pendidikan Karakter ............................................................ 21 3. Tujuan, Fungsi dan Prinsip-Prinsip Pendidikan Karakter ................. 22 4. Nilai-Nilai Karakter Utama yang dikembangkan .............................. 21 5. Nilai Karakter di Sekolah ....................................................................... 24 xii

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B. Hakikat Evaluasi, Asesmen dan Tes .......................................................... 27 1. Pengertian Evaluasi Asesmen dan Tes ................................................. 27 2. Tujuan dan Fungsi Asesmen .................................................................. 29 3. Ruang Lingkup Asesmen ....................................................................... 31 4. Prinsip-Prinsip Asesmen ............................................................................ 31 5. Jenis-Jenis Asesmen .................................................................................. 33 6. Teknik-Teknik Asesmen ............................................................................ 36 7. Tes Sebagai Teknik Asesmen .................................................................... 38 C. Hakikat Asesmen Pendidikan Karakter di Sekolah................................ 39 1. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter ............................................... 39 2. Teknik-Teknik Asesmen Pendidikan Karakter ................................... 39 3. Kekuatan dan Kelemahan Tes ............................................................... 41 4. Prinsip-Prinsip Pengembangan dan Penggunaan Tes dalam Pendidikan Karakter ............................................................................... 44 5. Hambatan-Hambatan dan Kesulitan-Kesulitan Asasmen Pendidikan Karakter Beberapa Sekolah di Indonesia ............................................. 51 D. Media Film dalam Pendidikan Karakter ............................................... 56 1. Karakteristik Media Film Karakter ....................................................... 56 2. Kekuatan-Kekuatan Media Film dalam Pendidikan Karakter ................... 57 3. Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Film dalam Pendidikan Karakter… ................................................................................................ 58 4. Film Sebagai Media Asesmen ............................................................... 59 E. Hakikat Guru dan Non Guru ...................................................................... 60 1. Pengertian Guru dan Non Guru ............................................................. 60 2. Pengertian Kompetensi Guru................................................................. 61 3. Komponen Kompetensi Guru ................................................................ 61 4. Aspek-Aspek dan Indokator Kompetensi Kepribadian Guru ............ 62 F. Kajian Penelitian yang Relevan ................................................................... 71 G. Kerangka Pikir ................................................................................................... 72 BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................... 73 A. Model Penelitian dan Pengembangan ........................................................ 73 xiii

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan .................................................. 74 1. Revisi Produk Oprasional ...................................................................... 78 2. Uji Lapangan Produk .............................................................................. 79 C. Uji Coba Produk .............................................................................................. 80 1. Desain Produk ........................................................................................... 80 2. Tempat Penelitian dan Subjek Uji Coba Produk ........................................ 80 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ............................................... 82 1. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... 82 2. Instrumen Pengumpulan Data ............................................................... 83 E. Teknik Analisis Data ...................................................................................... 86 1. Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Dianalisis dengan Teknik Deskriptif Kualitatif ............ 86 2. Teknik Analisis Kuliatas soal-soal tes asesmen hasil penelitian pendidikan karakter berbasis film karakter yang diuji cobakan pada beberapa SMP di Indonesia....................................................................... 87 3. Teknik Analisis Nilai Efektifitas Menurut Penilaian Siswa Pada Beberapa SMP di Indonesia dalam Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter ............................... 92 4. Teknik Analisis Data Capaian Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Dianalisis dengan Teknik Deskriptif Kuantitatif .......................... 93 5. Teknik Analisis Data Perbedaan Penilaian Siswa dari Tingkat Pendidikan Orangtua Terhadap Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter ............. 94 6. Teknik Analisis Data Apakah terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa SMP di Indonesia berdasarkan pekerjaan orang tua guru dan non guru ............................. 95 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..................................... 98 A. Hasil Analisis Data .......................................................................................... 98 xiv

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diujikembangkan Pada 10 SMP di Indonesia .......................................................................................................... 100 2. Kualitas Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diujikembangkan Pada 10 SMP di Indonesia ................................................................................ 106 3. Nilai Validasi Efektivitas Penggunaan Produk Menurut Penilaian Siswa ............................................................................................. 116 4. Capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil karakter berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia ............................................... 122 5. Perbedaan penilaian siswa berdasarkan perkerjaan orang tua guru dan non guru terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter di Indonesia......... 125 6. Perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film berdasarkan pekerjaan orang tua guru dan non guru .............................. 125 B. Pembahasan .................................................................................................... 126 1. Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diujikembangkan Pada 10 SMP di Indonesia .......................................................................................................... 133 2. Kualitas Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diujikembangkan Pada 10 SMP di Indonesia ................................................................................ 134 3. Nilai Validasi Efektivitas Penggunaan Produk Menurut Penilaian Siswa ............................................................................................. 134 4. Capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil karakter berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia ............................................... 135 5. Perbedaan penilaian siswa berdasarkan perkerjaan orang tua guru dan non guru terhadap efektivitas penggunaan soal tes xv

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter di Indonesia......... 135 6. Perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film berdasarkan pekerjaan orang tua guru dan non guru .............................. 134 BAB V PENUTUP..................................................................................................... 134 A. Kesimpulan ...................................................................................................... 140 B. Keterbatasan Penelitian .................................................................................. 141 C. Sasaran .............................................................................................................. 142 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 144 LAMPIRAN................................................................................................................. 147 xvi

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Tabel Daftar Sekolah .............................................................................80 Tabel 3.2 Jumlah Subjek Uji Coba Penelitian .......................................................81 Tabel 3.3 Waktu Penelitian ....................................................................................82 Tabel 3.4 Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter .......................................85 Tabel 3.5 Ukuran KMO .........................................................................................90 Tabel 3.6 Nilai Koefisien Alpha ............................................................................92 Tabel 3.7 Kategori PAP Tipe 1 ..............................................................................93 Tabel 3.8 Norma Kategorisasi Karakter Subjek Penelitian ..................................94 Tabel 4.1 Hasil Analisis Faktor 1 .........................................................................101 Tabel 4.2 Rotated Componen Matrix ...................................................................102 Tabel 4.3 Hasil Analisis Faktor Variabel 2 dan variabel 3 ..................................102 Tabel 4.4 Rotated Componen Matrix ..................................................................103 Tabel 4.5 Hasil Analisis Faktor Variabel 4 ..........................................................105 Tabel 4.6 Rotated Componen Matrix ..................................................................105 Tabel 4.7 Hasil Analisis Faktor Variabel 5 ..........................................................106 Tabel 4.8 Rotated Componen Matrix ..................................................................107 Tabel 4.9 Reliability Statistics .............................................................................108 Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada Beberapa SMP di Indonesia ........................................................109 Tabel 4.11 Rekaptulasi Hasil Efektifitas Penggunaan Soal Tes ..........................110 Tabel 4.12 Kategori Efektifitas Model yang Digunakan .....................................112 Tabel 4.13 Rumus Norma Tiga Kategorisasi .......................................................114 Tabel 4.14 Pengkategorisasian .............................................................................151 xvii

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.15 Deskriptif Statistics ............................................................................115 Tabel 4.16 Ordinal ...............................................................................................116 Tabel 4.17 Grup Statistics ...................................................................................117 Tabel 4.18 Independent T test ..............................................................................117 Tabel 4.19 Independent T test ..............................................................................118 Tabel 4.20 Grup Statistics ...................................................................................120 Tabel 4.21 Independent T test ..............................................................................121 xviii

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1 Bagan Kerangka Pikir ........................................................................60 Gambar 2.1 Prosedur Pengembangan Penelitian ..................................................62 Gambar 3.1 Alur Pembuatan Soal Tes Karakter Peduli Lingkungan dan Soal Tes Karakter Karakter Peduli Sosial ...................................87 Gambar 3.2 Print Out Hasil Uji Fit Model Soal Tes Karakter Peduli Lingkungan ..............................................................89 Gambar 3.3 Print Out Hasil Uji Fit Model Soal Tes Karakter Peduli Sosial .......................................................................91 Gambar 3.4 Grafik Profile Capaian Hasil Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan .........................................107 Gambar 3.5 Komposisi Kategorisasi Capaian Karakter Peduli Lingkungan Siswa Kelas VII B dan VIII A ...........108 Gambar 3.6 Grafik Profile Capaian Hasil Pendidikan Karakter Peduli Sosial ...................................................110 Gambar 3.7 Komposisi Kategorisasi Capaian Karakter Peduli Sosial Siswa Kelas VII B dan VIII A ....................111 xix

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lembar Penilaian Siswa .............................................................................137 Lampiran 2 Lembar Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter ............................138 Lampiran 3 Lembar Validasi Siswa ..............................................................................139 Lampiran 4 Surat Pernyataan Kesediaan Mitra ............................................................140 Lampiran 5 Surat Keterangan .......................................................................................141 Lampiran Dokumentasi ................................................................................................153 xx

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dipaparkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian spesifikasi profuk yang dikembangkan, manfaat penelitian, dan definisi istilah yang digunakan dalam penelitian. A. Latar Belakang Masalah Keberlangsungan pendidikan karakter di sekolah telah lama dilakukan dan semakin didukung dengan adanya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter (PPK). Meskipun demikian, belum diketahui efektivitas hasilnya. Oleh sebab itu, untuk memaksimalkan kualitas pendidikan karakter perlu adanya evaluasi mengenai keterlaksanaan pendidikan karakter di setiap sekolah di Indonesia. Barus (2016) mengatakan bahwa “perlu dilakukan evaluasi komprehensif tentang keterlaksanaan, hambatan-hambatan, dan efektivitas pendidikan karakter yang telah berlangsung.” Pelaksanaan pendidikan karakter harus diikuti dengan penilaian hasilnya untuk mengetahui tingkat keberhasilan program yang dilaksanakan. Integrasi pendidikan karakter di Sekolah Menegah Pertama (SMP) telah direncanakan dan dibangun sejak tahun 2010, artinya hampir satu dekade keberlangsungan pendidikan karakter telah berlangsung, namun hingga saat ini belum ada evaluasi komprehensif tentang keterlaksanaan dan efektivitas pendidikan karakter yang 1

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 dilaksanakan. Pendidikan karakter yang diberikan di sekolah harus diikuti dengan penilaian (evaluation), pengukuran (measurement) dan refleksi (reflection/value internalization) yang akan digunakan untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi program pendidikan karakter. Meskipun pendidikan karakter sudah dijalankan tetapi sampai saat ini di Indonesia belum ada alat ukur atau asesmen yang menjadi standar untuk mengukur karakter peserta didik tingkat Sekolah Mengengah Pertama (SMP). Berdasarkan hasil wawancara peneliti dan tim yang tersebar di sepuluh sekolah yang ada di Indonesia antara lain: SMP Fransiskus Tanjungkarang, Lampung; SMP St. Aloysius Turi, Yogyakarta SMP N 1 Yogyakarta; SMP Raden Fatah Cimanggu; SMP N 3 Wates; SMP N 31 Purworejo; SMP N 2 Barusjahe, Medan; SMP Maria Padang; SMP Pangudi Luhur Wedi, Klaten; SMP N 2 Playen Gunungkidul, Yogyakarta diketahui bahwa sekolah tersebut telah melaksanakan pengembangan program pendidikan karakter untuk mendukung pendidikan karakter diantaranya adalah upacara bendera, sabtu bersih, literasi membaca setiap pagi, rekoleksi/retret, achievement motivation training, dan senyum-salam-sapa setiap pagi yang telah diikuti dengan baik oleh seluruh. Para guru mengupayakan untuk meningkatkan secara optimal pendidikan karakter melalui penilaian hasil pendidikan karakter dengan metode observasi, wawancara, penulisan buku harian, sistem poin, skala sikap dan hasil lomba/penjurian, namun setelah ditelaah satu persatu metode evaluasi tersebut kurang efektif dan tidak dapat diukur validitasnya. Metode observasi dianggap kurang efektif dalam menjangkau keseluruhan siswa, di

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 nilai kurang objektif dan bertumpu pada like or dislike. Setyawan, 2014) dalam Barus (2016) mengungkapkan bahwa : Assessment issues arise when school is preparing reports on student learning outcomes. In both numerical and words evaluations scale, the reports are generally less accurate in describing scale, the fact. For example, if it is stated that the Character Building value is 80%, what character qualities are implied by the number, and what is difference with the 70%? If declared in the report the learning result value is B or good? That sometimes makes Character Building lessons less meaningful to students. Artinya bahwa sekolah membutuhkan asesmen untuk menilai keberhasilan pendidikan karakter, namun berdasarkan penelitian Setyawan ditemukam adanya ketidakobjektivan skala penilaian dan ketidaksesuaian hasil penilaian karakter siswa dengan karakter siswa yang sebenarnya. Beberapa sekolah menggunakan skala presentase 1-100% untuk melakukan penilaian seberapa baik karakter siswa. Spesifikasi perbedaan karakter seperti apa yang membedakan siswa yang mendapatkan nilai 80% dan siswa yang mendapatkan 70%? Dari hasil observasi dan wawancara beberapa guru BK di beberapa sekolah di Indonesia diketahui bahwa sistem skala presentase ini masih mengandalkan observasi/pengamatan sebagai media utama. Tidak ada klasifikasi yang valid atau pemetaan presentase yang jelas untuk menilai hasil pendidikan penilaian karakter siswa. Skala presentasi tersebut ternyata kurang valid, adil, efektif dan menyeluruh. Metode lain yang sering digunakan di sekolah adalah penerapan sistem poin. Siswa yang menunjukan sikap yang melanggar aturan sekolah atau hal-hal yang

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 dinilai negatif akan mendapatkan catatan poin yang berdampak pada penilaian akhir siswa. Sistem poin tidak jauh berbeda dengan skala penilaian di atas yang mengunakan observasi dalam pelaksanaannya. Bila menghadapi kondisi siswa yang berperilaku baik di rumah tetapi bertindak lebih agresif selama di sekolah dan siswa yang sangat penurut di sekolah tetapi sangat sulit diatur selama di rumah sistem poin tidak dapat digunakan untuk menunjukan sejauh mana nilai karakter tertanam dalam hati nurani siswa yang tercermin dalam tindakannya. Barus (2016) mengungkapkan bahwa: Penerapan sistem poin yang berasumsi bahwa pelanggaran pelanggaran ‘kejahatan’ siswa harus dihitung, dicatat, dan ditakar sangat tidak berakar dan tidak memanusiakan.Mengambil pandangan yang sepenuhnya negatif pada anak dengan menganggap bahwa anak dilahirkan berdosa dan jahat dan bahwa adalah tugas pendidikan untuk memperbaiki ini melalui hukuman dan melatih ketaatan, merupakan langkah awal kekeliruan dalam penerapan sistem poin. Hasil yang tidak akurat dapat menimbulkan ketidakpercayaan dan pengabaian hasil penilaian karakter dan siswa terfokus hanya pada pengembangan kognitif dan berlomba-lomba meningkatkan nilai untuk menunjukkan dirinya menjadi juara kelas, nilai semester yang tinggi dan pemenang olimpiade. Sering ditemukan siswa yang mencontek ketika ujian nasional dan siswa yang stress menjelang ujian. Padahal pendidikan karakter sangat terintregrasi pada seluruh aspek pendidikan termasuk dalam pengembangan kognitif siswa di sekolah. Bila sekolah hanya menggunakan metode observasi untuk menilai kompetensi karakter siswa maka menurut Jhonson and Jhonson, (2002:276) dalam Barus (2016) “However,

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 observation has a problem; high subjectivity. The main problem with observation is the lack of observer objectivity.” Observasi memiliki kekurangan keakuratan objektivitasnya karena penilaian dari hasil observasi sangat bergantung pada pemikiran objektivitas pengobservasi yang akan cenderung subjektif. Ternyata hasil wawancara menyatakan bahwa menentukan metode yang akurat dan tepat dalam menilai perkembangan karakter siswa bukanlah hal yang mudah, bila melihat beberapa metode yang telah digunakan masih memiliki kekurangan-kekurangan. Banyak tantangan dan aspek-aspek yang perlu untuk diperhitungan dan dipertimbangan dalam menilai karakter siswa. Aspek-aspek seperti latar belakang keluarga, lokasi tempat tinggal, pekerjaan, perekonomian tersebut kemungkinan besar dapat mempengaruhi penyerapan pendidikan karakter yang diberikan oleh keluarga, sekolah bahkan lingkungan sekitar anak bertumbuh. Saat melihat seorang siswa memiliki orang tua yang berprofesi sebagai seorang guru mungkin saja kita akan berfikir tingkat penyerapan pendidikan karakternya menjadi lebih tinggi bila dibandingkan dengan siswa yang orangtuanya bukan guru. Keluarga merupakan tempat pembentukan karakter anak yang utama, terlebih pada masa-masa awal pertumbuhan mereka sebagai manusia. Dalam hal ini keluarga memiliki investasi afeksi yang paling utama. Anak yang memiliki ikatan emosional yang tinggi terhadap ayah dan ibunya akan menjadikan orangtuanya sebagai model mulai dari cara bertindak, cara berfikir dan cara bertutur kata. Singkatnya orangtualah yang menjadi tempat pertama pembentukan karakter anak. Pandangan masyarakat bahwa anak yang orangtuanya berprofesi sebagai seorang

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 guru maka sang anak akan memiliki karakter yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang orangtuanya non guru. Guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam dunia pendidikan. Ruh pendidikan sesungguhnya terletak dipundak guru. Bahkan, baik buruknya atau berhasil tidaknya pendidikan hakikatnya ada di tangan guru. Sebab, sosok guru memiliki peranan yang strategis dalam mengukir peserta didik menjadi pandai, cerdas, terampil, bermoral dan berpengetahuan luas. Sebagai tenaga edukatif dalam lingkup sekolah, guru harus memiliki kompetensi-kompetensi dasar kependidikan. Sebab dalam interaksi pembelajaran peserta didik, seorang guru harus bisa melakukan demonstrasi yang hidup dan menyenangkan bagi peserta didik. Kemampuan dasar yang harus dimiliki guru adalah yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Misalnya, berkepribadian dewasa, mandiri dan bertanggung jawab terutama secara moral sehingga dapat dijadikan teladan bagi peserta didiknya. Kompetensi yang dimaksud adalah kompetensi kepribadian. Pandangan ini muncul dikarenakan seorang guru haruslah memiliki kualitas moral sebagai seorang pendidik di sekolah yang kemungkinan besar akanterintegrasi juga dalam mengasuh anaknya sendiri di rumah. Hal tersebutlah yang membuat peneliti menjadi tertarik untuk mengetahui bagaimana hasil penilaian karakter dari siswa yang orangtuanya guru dan non guru dan berdasarkan kegelisahan yang dialami oleh guru-guru serta permasalahan ketidakakuratan penilaian karakter peserta didik di SMP maka melalui penelitian yang panjang Tim Peneliti Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (PSHP) Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Barus (2017) merancang suatu model

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 evaluasi dalam bentuk tes berbasis film. Barus (2017) menegaskan model pendidikan Karakter di SMP Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning telah dikembangkan melalui penelitian Stranas tahun 2014-2016, namun metode penelitiannya belum dikembangkan untuk itu tim pengembang telah berhasil menyusun 440 soal karakter di uji ternyata valid, reliabilitasnya sangat bagus, memiliki daya beda yang baik, dan memiliki tingkat kesukaran yang berdiferensiasi. Soal-soal yang dikembangkan sudah memberikan bukti cukup baik, namun pengujian kualitas dan efektivitasnya perlu dilanjutkan dan diuji plementasikan pada wilayah yang lebih luas.Barus (2017) model pendidikan karakter hasil pengembangan tahun 2014-2016 tersebut perlu diinternalisasikan pada skala nasional. Untuk itu, diterbitkan Buku Pendidikan Karakter di SMP jilid 1, 2, dan 3 (ber-ISBN) dan dipublikasikan secara nasional. Sembari membangun legitimasi dan gerakan habitualisasi produk penelitian tersebut pada sekolah mitra secara nasional, sustanabilitas proses penelitian pengembangan ini perlu dilanjutkan dengan penguatan sistem penilaiannya dan ditargetkan dapat menghasilkan produk berupa model asesmen hasil pendidikan karakter di SMP berbasis media film karakter. Diharapkan produk ini dapat digunakan guru mata pelajaran dan khususnya guru BK ( Bimbingan dan Konseling) dalam melaksanakan asesmen hasil pendidikan karakter yang lebih efektif, objektif, valid, praktis, dan berkeadilan di SMP. Media film ini dipilih karena film lebih menggambarkan aspek sikap, afeksi, akomodasi, dan perilaku berkarakter yang dapat menginternalisasi dibandingkan

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 dengan pengukuran metode lainnya. Sesuai dengan kekuatan film menurut Kustandi & Sutjipto (2013) bahwa film dapat menyajikan suatu proses dengan lebih efektif dibandingkan dengan media lain, film dapat melengkapi pengalamanpengalaman dasar dari peserta didik ketika membaca, berdiskusi, dan praktik. Film ini berdurasi 1-2 menit yang memvisualisasikan dilema moral, berdasarkan film tersebut siswa diminta untuk menjawab soal-soal yang menyertainya. Penggunaan evaluasi berbasis film dirasa efektif karena langsung menyentuh pada dilema-dilema moral remaja. Film-film yang ditampilkan sesuai dengan karakter peserta didik di SMP yaitu karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial,tanggung jawab, daya juang, memaafkan, rendah hati dan rasa ingin tahu untuk lebih secara nyata merasakan dan memahami dilema moral yang terjadi. Sehingga yang dinilai bukan hanya perilaku anak yang bermasalah saja, namun semua peserta didik yang ada di sekolah. Tidak ada lagi penilaian objektivitas (like and dislike) dan kelemahan-kelemahan observasi yang dapat ditutupi oleh guru. Berdasarkan telah kebutuhan di atas, peneliti sebagai mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma bersama tim pada kesempatan ini peneliti ingin melanjutkan tahapan penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang sudah terlebih dahulu dilakukan oleh Tim Penelitian Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (PSHP) Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma (2017) sampai pada tahap ke

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 6. Oleh sebab itu, peneliti ingin melanjutkan pengujian produk tahap ke 7 dan 8, yaitu Revisi Produk dan Uji Coba Pemakaian dengan mengangkat topik tentang Analisis Validasi Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter di SMP. Maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul “VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA YANG ORANG TUANYA GURU DAN NON GURU PADA SEPULUH SMP DI INDONESIA” B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah antara lain sebagai berikut : 1. Pada metode penilaian karakter siswa yang digunakan masih ditemukan banyak ketidakjujuran dan ketidakberkeadilan, karena menerapkan sistem mengirangira saja dan besar kemungkinan mengandung unsur subjektifitas yang tinggi atau like and dislike. 2. Penilaian karakter siswa karakter siswa masih mengandalkan metode observasi yang kurang efektif. 3. Guru-guru belum mengenal cara lain yang lebih akurat dan objektif untuk mengukur karakter peserta didik dan belum pernah ada model pengukuran berbasis tes film karakter.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 4. Sampai sekarang pelaksanaan pendidikan karakter, terutama di SMP masih berada dalam tahap pengetahuan/kognitif dan belum sampai pada tahap internalisasi kehidupan sehari-hari dan pengukuran hasilnya belum terbangun. 5. Tidak tersedia alat dan cara evaluasi yang efektif digunakan dalam mengevaluasi pendidikan karakter di SMP. 6. Pemerintah belum menetapkan model penilaian/evaluasi standar yang dapat mengukur tentang seberapa dalam peserta didik dapat menginternalisasikan penerapan pendidikan karakter yang ada di sekolah. 7. Model evaluasi yang dilakukan selama ini hanyalah menggunakan paper based test, wawancara/tanya jawab, cerita, observasi, penilaian diri, dan pengamatan yang dinilai kurang optimal, sehingga peserta didik belum menghayati/menginternalisasi dalam kehidupan siswa 8. Hasil penilaian pendidikan karakter pada peserta didik di SMP belum akurat 9. Sistem dan teknik penilain pendidikan karakter di SMP belum efektif dalam mengkaji karakter peserta didik 10. Pada kesepuluh sekolah yang diteliti belum pernah melaksanakan model pengukuran karakter menggunakan soal tes asesmen penelitian pendidikan karakter berbasis film. 11. Penggunaan soal tes asesmen berbasis film karakter dirasa cukup efektif dalam memperkenalkan kasus-kasus degradasi moral yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari pada siswa SMP dibandingkan hanya dengan menyebar kuesioner, wawancara, ataupun cerita kepada peserta didik.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 12. Belum diketahui secara pasti soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film yang dihasilkan oleh peneliti sebelumya efektif atau tidak diterapkan di sekolah dengan sampel yang lebih luas. 13. Penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter belum diketahui efektivitasannya dalam memperlihatkan penilaian karakter siswa dengan latar kehidupan keluarga yaitu siswa yang orangtuanya guru dan non guru. C. Pembatasan Masalah atau Fokus Penelitian Masalah Berdasarkan identifikasi masalah dan mengingat adanya keterbatasan penelitian maka fokus kajian diarahkan untuk menjawab masalah-masalah pada butir 5 ,12 dan 13. Fokus penelitian ini diarahkan pada tahapan pengembangan dan uji penggunaan alat tes dan evaluasi efektivitas soal tes pendidikan karakter siswa berbasis film pada wilayah yang lebih luas dengan karakteristik sampel (siswa/i yang orangtuanya guru dan non guru). D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah antara lain sebagai berikut 1. Seperti apa revisi produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujicobakan pada 10 SMP di Indonesia ? 2. Seberapa baik kualitas soal-soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujicobakan pada 10 SMP di Indonesia ?

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 3. Apa saja efektivitas yang terpenuhi dalam penggunaan soal tes yang diujikembangkan tersebut menurut penilaian siswa ? 4. Seperti apa capaian hasil pendidikan karakter siswa yang diukur dengan menggunakan soal yang diujikembangkan tersebut pada 10 SMP di Indonesia ? 5. Apakah terdapat perbedaan penilaian hasil asesmen pendidikan karakter pada siswa yang orang tuanya guru dan non guru? 6. Apakah terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya guru dan non guru? E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Peneliti mengetahui hasil revisi produk soal tes asesmen pendidikan karakter. 2. Peneliti mengetahui seberapa baik kualitas soal-soal tes asesmen hasil penelitian pendidikan karakter berbasis film yang dikembangkan berdasarkan nilai validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesulitan. 3. Peneliti menganalisis dan mendeskripsikan capaian hasil pendidikan karakter berdasarkan evaluasi efektivitas soal tes pendidikan karakter berbasis film. 4. Peneliti mengukur efektivitas penggunaan soal-soal tes asesmen hasil penelitian pendidikan karakter berbasis film. 5. Peneliti memperoleh informasi mengenai adanya perbedaan nilai efektivitas model asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film berdasarkan penilaian siswa dengan orang tua guru dan non guru

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 6. Peneliti memperoleh informasi apakah terdapat perbedaan capaian hasil belajar siswa yang orang tuanya guru dan non guru F. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat untuk semua pihak, baik itu manfaat secara teoritis maupun secara praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan bahan kajian tentang efektivitas penilaian karakter siswa di SMP serta diharapkan menambah wawasan dan pengembangan penelitian serupa terutama pada ranah pendidikan karakter. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Pemerintah Penelitian ini memberikan sumbangan mengenai evaluasi/penilaian pengukuran pendidikan karakter menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Selain itu penelitian ini juga dilaksanakan dalam rangka untuk menemukan model alternatif sistem penilaian dan pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia. b. Bagi Kepala Sekolah dan Guru Penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan bagi kepala sekolah dalam mengambil keputusan dan kebijakan dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah. Bagi guru pendidik karakter (konselor sekolah/guru BK

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 dan guru mata pelajaran) di SMP, proses dan produk penelitian pengembangan ini diharapkan dapat memberikan suatu model asesmen pendidikan karakter berbasis media film yang lebih efektif (fisibel, realistik, ekonomis, relatif praktis dan mudah digunakan) untuk mengukur hasil pendidikan karakter di sekolah. c. Bagi lembaga pendidikan Prosedur dan hasil penelitian pengembangan ini dapat digunakan sebagai bahan referensi alternatif untuk pengembangan konsep bimbingan dan konseling pendidikan karakter di sekolah, khususnya di SMP. d. Bagi Peneliti Peneliti dapat mengetahui, memahami efektivitas model penilaian pendidikan karakter melalui soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film. Selain itu peneliti juga berkesempatan untuk membuat dan mengaplikasikan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis media film di sekolah. e. Bagi peneliti lain Prosedur penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti lain sebagai refrensi dalam mengembangkan penelitian dengan topik pendidikan karakter di sekolah. Selain itu penelitian ini juga dapat digunakan peneliti lain sebagai sumber pengetahuan tambahan bagi peneliti yang berminat meneliti pengembangan soal tes hasil pendidikan karakter berbasis media film guna meningkatkan karakter positif peserta didik.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 G. Definisi Operasional Variabel Adapun definisi operasional variabel dalam penelitian ini, yaitu: 1. Efektivitas adalah suatu keadaan/kondisi untuk mengukur kegiatan tertentu apakah dapat berhasil sesuai dengan target yang telah ditentukan atau tidak. Target tersebut dapat dilihat melalui kuantitas, kualitas, dan waktu pelaksanaan kegiataan, dimana ketika semakin tinggi presentase target yang dicapai maka efektivitasnya juga akan semakin tinggi. 2. Soal tes adalah seperangkat pernyataan atau pertanyaan yang berbentuk pilihan ganda yang berkaitan dengan dilema moral dan memuat beberapa pertanyaan seputar pendidikan karakter untuk mengukur perilaku secara objektif. 3. Asesmen hasil adalah merupakan proses untuk mengetahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang ditetapkan. 4. Pendidikan karakter adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh lembaga sekolah melalui guru yang memiliki tujuan untuk membentuk karakter pribadi siswa secara otentik dan mengarah pada perilaku/karakter yang baik demi kemajuan penerus bangsa. 5. Penggunaan film sebagai media film adalahpotongan-potongan video yang berkaitan dengan dilema moral pada kebanyakan anak SMP dan dapat mengukur tentang sejauh kehidupannya. mana siswa/i menginternalisasi video tersebut dalam

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 6. Siswa dengan orang tua guru dan non guru adalah sebagai variabel yang menjadi tolok ukur dalam penggunaan soal tes asesmen berbasis film karakter.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini berisi landasan teori yang dijadikan dasar untuk membangun kerangka konseptual. Berdasarkan judul penelitian, maka dalam bab ini peneliti mengemukakan beberapa konsep yang berhubungan dengan variabel penelitian, yaitu hakikat pendidikan karakter di sekolah; hakikat evaluasi, asesmen dan tes; hakikat asesmen pendidikan karakter di sekolah; media film dalam pendidikan karakter; hakikat siswa yang bertempat tinggal di kota dan desa; hakikat media film dalam pendidikan karakter, dan kajian penelitian yang relevan dan kerangka pikir. A. Hakikat Pendidikan Karakter di Sekolah 1. Pengertian Karakter Berkowitz (Koesoema, 2012: 25) mendefinisikan karakter sebagai sekumpulan karakter psikologis yang memengaruhi kemampuan dan kecondongan pribadi agar dapat berfungsi secara moral. Sedangkan menurut Pritchard (Koesoema, 2012: 27) karakter adalah “a compex set of relatively persistent qualities of the individual person, and the term has a definite positive connotation when it is used in discussions of moral education.” Artinya, karakter merupakan sekumpulan kualitas moral yang relative stabil dalam diri seseorang. Karakter ini memiliki konotasi positif ketika diterapkan dalam diskusi moral. Dalam buku yang ditulis oleh Samani & Hariyanto (2011: 41) mengungkapkan bahwa: 17

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, adat istiadat, dan estetika. Sedangkan Lickona (Akhwan, 2014: 61) mengatakan bahwa karakter berkaitan dengan ketiga komponen, yaitu konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Ia juga mengatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Berkaitan dengan hal tersebut, Yaumi (2014: 7) mengatakan bahwa komponen karakter adalah moralitas, kebenaran, kebaikan, kekuatan, kekuatan, dan sikap seseorang yang ditunjukkan kepada orang lain melalui tindakan. Ia juga mengatakan, karakter seseorang terpisah dari moralitasnya, baik buruknya karakter tergambar dalam moralitas yang dimiliki. Begitu pula dengan kebenaran yang merupakan perwujudan dari karakter. Kebenaran tidak akan terbangun dengan sendirinya tanpa adanya karakter. Moralitas dan kebenaran yang telah terbentuk merupakan perwujudan dari perbuatan baik. Kebaikan inilah yang mendorong suatu kekuatan dalam diri seseorang untuk menegakkan keadilan. Kebenaran, kebaikan, dan kekuatan sikap adalah bagian integral yang menyatu dengan karakter.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Moralitas Sikap KARAKTER Kekuatan Kebenara n Kebaikan Gambar 2.1 Komponen Karakter Beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa moral dan karakter adalah dua hal yang berbeda. Moral berarti pengetahuan seseorang terhadap hal baik atau buruk, sedangkan karakter adalah tabiat, tindakan/kebiasaan seseorang yang langsung ditentukan oleh otak. Meskipun keduanya memiliki arti yang berbeda, namun moral dan karakter memiliki keterkaitan. Karakter memiliki makna lebih tinggi dari pada moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Moral merupakan salah satu komponen yang membentuk karakter individu ketika moral behavior dapat dilakukan secara berulang. Maka, dapat dikatakan karakter adalah suatu kebiasaan (habituation) untuk melakukan yang baik berdasarkan pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 2. Pengertian Pendidikan Karakter Burke (Samani & Hariyanto, 2011: 43) juga mengatakan bahwa “pendidikan karakter semata-mata merupakan bagian dari pembelajaran yang baik dan merupakan bagian yang fundamental dari pendidikan yang baik.” Sedangkan, menurut Samani & Hariyanto (2011: 44) “pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa.” Mereka juga menyampaikan bahwa pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Character Education Partnership (CEP) (Doni Koesoema, 2012: 57) sebuah program nasional pendidikan karakter di Amerika Serikat, mendefinisikan pendidikan karakter adalah sebagai berikut: Sebuah gerakan nasional untuk mengembangkan sekolah-sekolah agar dapat menumbuhkan dan memelihara nilai-nilai etis, tanggung jawab dan kemauan untuk merawat satu sama lain dalam diri anak-anak muda, melalui keteladanan dan pengajaran tentang karakter baik, dengan cara memberikan penekanan pada nilai-nilai universal yang diterima oleh semua. Gerakan ini merupakan usaha-usaha dari sekolah, distrik, dan Negara bagian yang sifatnya intensional dan proaktif untuk menanamkan dalam diri para siswa nilai-nilai moral inti, seperti perhatian dan perawatan (caring), kejujuran, keadilan (fairness), tanggung jawab dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain. Beberapa definisi di atas dapat diartikan bahwa pendidikan karakter adalah proses pemberian bekal/penanaman nilai moral mengenai karakter

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 pribadi yang baik, sopan, bertanggungjawab, memiliki rasa hormat, jujur, adil, menghargai dan memahami satu sama lain yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui program pemerintah yang ditujukan kepada sekolah. 3. Tujuan, Fungsi dan Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter a. Tujuan pendidikan karakter Menurut Kemendiknas (2010) Peraturan pemerintah nomor 17 tahun 2010 tentang pengelolaan penyelenggaraan pendidikan pada pasal 17 ayat (3) “Pendidikan dasar, termasuk sekolah menengah pertama (SMP) bertujuan membangun landasan bagi berkembangnnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang (a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b) berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; (c) berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; (d) sehat, mandiri dan percaya diri; (e) toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.” Melalui penjelasan pada pasal tersebut jelas bahwa tujuan dari pendidikan sangat berkaitan dengan pendidikan karakter. Dapat disimpulkan bahwa melalui pendidikan di sekolah nilai-nilai karakter dapat diterapkan agar membawa perubahan bagi peserta didik dalam hal; beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; memiliki ilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; selain itu juga mampu membantu peserta didik menjadi pribadi yang sehat, mandiri dan percaya diri; serta memiliki rasa toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 b. Fungsi pendidikan karakter Menurut Fathurrohman, dkk (2013: 97) fungsi pendidikan karakter adalah: 1) Pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi prilaku yang baik bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter dan karakter bangsa. 2) Perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat. 3) Penyaring: untuk menyaring karakter-karakter bangsa sendiri dan karakter bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter dan karakter bangsa. c. Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan karakter Menurut Direktorat pembinaan SMP (Fathurrohman, 2013: 145-146). Pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter. 2) Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku. 3) Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter. 4) Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 5) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik. 6) Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang, yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses. 7) Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri para peserta didik. 8) Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama. 9) Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter. 10) Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter. 11) Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guruguru karakter, dan manifestasi karakter. 4. Nilai-Nilai Karakter Utama yang Dikembangkan dalam Pendidikan Nilai-nilai karakter yang ditanamkan dalam pendidikan adalah karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, nasionalisme, inovatif, daya juang, rendah hati, memaafkan, kepemimpinan, dan kerja keras. Beberapa karakter tersebut yang peneliti jadikan landasan untuk mengukur karakter beberapa anak

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 SMP di Indonesia. Karakter-karakter tersebut diciptakan dalam bentuk potongan film pendek yang diikuti dengan soal-soal karakter yang sesuai dengan potongan film tersebut. Soal yang berjumlah 88 tersebut digunakan sebagai produk asesmen pendidikan karakter bagi beberapa siswa SMP di Indonesia. 5. Nilai karakter di sekolah Berdasarkan peraturan/hukum, kajian etika nilai-nilai akademik, dan agama, norma-norma prinsip-prinsip HAM, sosial, yang dikelompokkan menjadi lima, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan (1) Tuhan Yang Maha Esa, (2) diri sendiri, (3) sesama manusia, dan (4) lingkungan, serta (5) kebangsaan. Butir-butir SKL SMP (Permen Diknas nomor 23 tahun 2006) dan SK/KD (Permen Diknas nomor 22 tahun 2006). Berikut adalah daftar 20 nilai utama yang dimaksud dan diskripsi ringkasnya. 1. Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan (Religius) Pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya. 2. Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri: a. Jujur, Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. b. Bertanggung jawab, Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan,

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME. c. Bergaya hidup sehat, Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. d. Disiplin, Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. e. Kerja keras, Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya. f. Percaya diri, Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya. g. Berjiwa wirausaha, Sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya. h. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki. i. Mandiri, sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 j. Ingin tahu, sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. k. Cinta ilmu Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan. 3. Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama. a. Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain, Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain. b. Patuh pada aturan-aturan sosial, sikap menurut dan taat terhadap aturanaturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum. c. Menghargai karya dan prestasi orang lain, Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain. d. Santun Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang. e. Demokratis Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. 4. Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. 5. Nilai kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. a. Nasionalis, Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 b. Menghargai keberagaman, Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama. B. Hakikat Evaluasi, Asesmen dan Tes 1. Pengertian Evaluasi, Asesmen, dan Tes a. Pengertian Evaluasi Wringston (Purwanto, 1992) mengemukakan bahwa “evaluasi adalah penafsiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan atau nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum.” Sedangkan, Lessingner (Gibson, 1981: 374) mendefinisikan bahwa “evaluasi adalah sebagai proses penilaian dengan jalan membandingkan antara tujuan yang diharapkan dengan kemajuan/prestasi nyata yang dicapai.” Sementara itu Gay (Sukardi, 2014: 8) berpendapat bahwa evaluasi adalah sebuah proses sistematis pengumpulan dan penganalisisan data untuk pengambilan keputusan. Jadi, evaluasi adalah proses penilaian, pengumpulan, dan menganalisis data atau suatu kejadian pada kenyataan dengan program atau tujuan yang sudah ditetapkan. b. Pengertian Asesmen (Penilaian) Linn dan Grounlund (Uno dan Koni, 2012: 1) menegaskan “asesemen (penilaian) adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang belajar siswa (observasi, rata-rata pelaksanaan tes tertulis) dan format penilaian kemajuan belajar.” Sedangkan, Sarwiji Suwandi (2009: 7) mengatakan bahwa “penilaian adalah suatu proses untuk mengetahui apakah

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditetapkan.” Penilaian merupakan kegiatan yang dilakukan guru untuk memperoleh informasi secara objektif, berkelanjutan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang dicapai siswa, yang hasilnya digunakan sebagai dasar untuk menentukan perlakuan selanjutnya (Depdiknas, 2001). Jadi, penilaian adalah suatu kegiatan mengumpulkan dan menganalisis data tentang suatu proses dan hasil belajar siswa untuk mendapatkan informasi, apakah hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan tujuan atau standar yang ditetapkan atau belum. c. Pengertian Tes Asep Jihad dan Abdul Haris (2008: 67) mengatakan bahwa “tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi, atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites.” Arikunto (2012) menegaskan “tes adalah suatu cara untuk melakukan penilaian yang berbentuk tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa.” Menurut Brown (Elis Ratnawulan dan Rusdiana, 2015: 128), “a test as a systematic procedure for measure a sample of behavior”, yang menjelaskan bahwa pada prinsipnya suatu tes merupakan suatu prosedur sistematis untuk mengukur sampel tingkah laku seseorang. Jadi, tes adalah

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 suatu ukuran penilaian yang dijadikan patokan oleh individu (guru) untuk mengukur kemampuan individu yang diberikan tes (siswa). 2. Tujuan dan Fungsi Asesmen a. Tujuan Asesmen Menurut pedoman penilaian Depdikbud (Jihad & Haris. 2008: 63), tujuan penilaian adalah “untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, untuk perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar siswa serta sekaligus memberi umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan belajar.” Sementara Jihad & Haris (2008: 63) mengatakan bahwa “tujuan penilaian untuk mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan atau kesulitan belajar siswa, dan sekaligus memberi umpan balik yang tepat.” Menurut Suwandi, Sarwiji (2009: 14) mengatakan bahwa “secara umum semua jenis penilaian berbasis kelas bertujuan untuk menilai hasil belajar peserta didik di sekolah, mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat, dan untuk mengetahui ketercapaian mutu pendidikan secara umum.” b. Fungsi Asesmen Menurut Supranata & Hatta (Suwandi, Sarwiji. 2009: 15) mengatakan bahwa penilaian berbasis kelas memiliki sejumlah fungsi, yaitu sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas, umpan balik dalam perbaikan program pengajaran, alat pendorong dalam meningkatkan kemampuan peserta didik, dan sebagai alat untuk peserta didik melakukan

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 evaluasi terhadap kinerjanya serta bercermin diri (instrospeksi) misalnya melalui portofolio. Menurut Nana Sudjana (Jihad & Haris. 2008: 56) penilaian (asesmen) berfungsi sebagai: a. Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional. Dengan fungsi ini maka penilaian (asesmen) harus mengacu kepada tujuantujuan intruksional. b. Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengjar. Perbaikan mungkin dapat dilakukan dalam hal tujuan instruksional, kegiatan belajar siswa, strategi mengajar guru. c. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan siswa kepada orangtuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan dan kecakapan belajar siswa dalam bentuk-bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya. 3. Ruang Lingkup Asesmen Uno, Hamzah, dan Satria Koni (2012:17) menjelaskan isi model penilaian kelas meliputi konsep dasar penilaian kelas, teknik penilaian, langkahlangkah pelaksanaan penilaian, pengolahan hasil penilaian serta pemanfaatan dan pelaporan hasil penilaian. Dalam konsep penilaian, dijelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian, manfaat penilaian, fungsi penilaian, dan ramburambu penilaian. Teknik penilaian akan menjelaskan berbagai cara dan alat penilaian.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 4. Prinsip-prinsip Asesmen Depdiknas tahun 2002 (Suwandi, Sarwiji. 2009: 21) mengatakan bahwa prinsip umum penilaian (asesmen) meliputi: a. Valid, artinya penilaian harus mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan alat yang dapat dipercaya dan sahih. b. Mendidik, artinya penilaian harus memberi sumbangan yang positif terhadap pencapaian hasil belajar siswa, seperti memotivasi siswa yang berhasil dan memberikan semangat untuk meningkatkan hasil belajar siswa. c. Berorientasi pada kompetensi, artinya mampu menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum. d. Adil dan objektif, artinya penilaian harus adil terhadap semua siswa dan tidak membeda-bedakan latar belakang siswa. e. Terbuka, artinya kriteria penilaian hendaknya terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan. f. Berkesinambungan, artinya penilaian dilakukan secara berencana, bertahap teratur, terus menerus, dan berkesinambungan untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan kemajuan belajar siswa. g. Menyeluruh, artinya penilaian dilaksanakan secara menyeluruh, utuh, dan tuntas yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 serta berlandaskan berbagai teknik dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa. h. Bermakna, artinya penilaian hendaknya mudah dipahami dan mudah ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Sedangkan menurut Jihad & Haris (2008: 63) sistem penilaian dalam pembelajaran, baik pada penilaian berkelanjutan maupun penilaian akhir, hendaknya dikembangkan berdasarkan sejumlah prinsip sebagai berikut: a. Menyeluruh, artinya penguasaan kompetensi dalam mata pelajaran hendaknya menyeluruh, baik menyangkut standar kompetensi, kemampuan dasar serta keseluruhan indikator ketercapaian, baik menyangkut dominan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap, perilaku, dan nilai), serta psikomotor (keterampilan), maupun menyangkut evaluasi proses dan hasil belajar. b. Berkelanjutan, artinya penilaian seharusnya direncanakan dan dilakukan secara terus menerus guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar siswa sebagai dampak langsung (dampak instruksional/pembelajaran) maupun dampak tindak langsung (dampak pengiring/nurturan effect) dari proses pembelajaran. c. Berorientasi pada indikator ketercapaian, artinya sistem penilaian dalam pembelajaran harus mengacu pada indikator ketercapaian yang sudah ditetapkan berdasarkan kemampuan dasar/kemampuan minimal dan standar kompetensinya.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 d. Sesuai dengan pengalaman belajar, artinya sistem penilaian dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan pengalaman belajarnya. 5. Jenis-jenis Asesmen Menurut Uno dan Koni (2012) jenis-jenis asesmen dilaksanakan dalam berbagai teknik, seperti: penilaian kinerja (performance), penilaian sikap, dan penilaian tertulis (paper and pencil test, penilaian proyek, dan penilaian diri/self assessment). Sedangkan menurut Subali (2016) berdasarkan ragam jenis asesmen dibedakan menjadi empat, yaitu: a. Asesmen penempatan. Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap masing-masing pengajaran. peserta Tujuannya didik yaitu sebelum untuk menem[uh mengetahui program penguasaan kemampuan prasyarat masing-masing peserta didik yang diperlukan dalam proses pembelajaran yang akan diselenggarakan bila diperlukan adanya kemampuan yang ditargetkan. b. Asesmen formatif Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap masing-masing peserta didik selama menempuh kegiatan pembelajaran. Tujuannya untuk mengetahui apakah setiap peserta didik melaju dengan baik selama proses pembelajarannya sampai akhir program sehingga kegiatan belajar selanjutnya menjadi lebih efektif dan efisien.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 c. Asesmen sumatif Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing peserta didik setelah selesai menempuh suatu program pembelajaran. Tujuannya untuk menentukan nilai akhir masing-masing peserta didik yang menempuh suatu program pembelajaran untuk selanjutnya dapat ditetapkan apakah seorang peserta didik dinyatakan berhasil atau gagal. Jika berhasil peserta didik tersebut akan diberi sertifikat karena telah menguasai kecakapan atau keterampilan tertentu yang ditargetkan dalam program pembelajaran yang dirancang. d. Asesmen konfirmatori Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing orang yang ingin dinilai tanpa dilakukan dengan kegiatan pembelajaran yang ditempuh. Asesmen konfirmatori dilaksanakan melalui pengukuran yang menggunakan instrument yang sahih dan handal. Dalam hal kegiatan pembelajaran, asesmen konfirmatori dapat dilakukan oleh pihak eksternal. Pemerintah menerapkan ujian nasional untuk menetapkan setiap peserta didik untuk dinyatakan lulus dan tidak lulus dalam menguasai kompetensi yang diterapkan. Sedangkan, menurut Prijowuntato (2016: 60-66) alat yang dapat digunakan untuk menilai ketercapaian konpetensi siswa dapat dibedakan menjadi dua yaitu tes dan non tes. a. Tes

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 Bentuk tes yang digunakan untuk mengevaluasi peserta didik dapat berupa; pilihan ganda, uraian objektif, uraian non objektif/uraian bebas, jawaban singkat/isian singkat, menjodohkan, performans/unjuk kinerja, portofolio. Bentuk tes digunakan apabila sifat suatu objek yang diukur menyangkut tingkah laku yang berhubungan dengan apa yang diketahui, dipahami atau proses psikis lainnya yang tidak dipahami dengan indera. Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan tes harus mencakup mulai dari yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding sesuai jenjang pendidikan. Bentuk tes yang digunakan di sekolah dapat dikategorikan menjadi dua yaitu tes objektif dan tes non objektif. Objektif di sini dilihat dari sistem penskorannya, yaitu siapa yang memeriksa lembar jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama. Tes non objektif adalah tes yang sistem penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tes objektif adalah tes yang sistem penskorannya objektif sedangkan non objektif sistem penskorannya dipengaruhi oleh subjektifitas pemberi skor. b. Non tes Bentuk non tes yang digunakan untuk mengevaluasi peserta didik dapat berupa; observwasi, catatan anekdot, daftar cek, skala nilai, kuesioner, wawancara. Bentuk non tes digunakan apabila perubahan tingkah laku yang dapat diamati dengan indera dan bersifat konkret. Konsekuensi dari

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 pengukuran menggunakan bentuk non tes sangat bergantung pada situasi di mana perubahan tingkah laku individu itu muncul atau menggejala. Oleh karenanya, situasi pengukuran yang seragam sukar dipersiapkan. Suatu pengukuran dengan alat pengukuran non tes terjadi dalam situasi yang kurang distandarisasi, seperti waktu pengukuran yang dapat tidak sama atau seragam bagi semua siswa. 6. Teknik-teknik Asesmen Teknik yang biasanya digunakan untuk mengukur/mengevaluasi hasil ketercapaian siswa adalah menggunakan teknik tes dan teknik non-tes. Menurut Jihad & Haris (2008: 68) alat penilaian teknik tes yaitu: a. Tes tertulis, merupakan tes atau soal yang diselesaikan siswa secara tertulis. Tes tertulis ini terdiri atas bentuk objektif dan bentuk uraian. Bentuk objektif meliputi pilihan ganda, isian, benar salah, menjodohkan, serta jawaban singkat.sedangkan bentuk uraian meliputi uraian terbatas dan uraian singkat. b. Tes lisan, yang merupakan sekumpulan tes atau soal atau tugas pertanyaan yang diberikan kepada siswa dan dilaksanakan dengan cara Tanya jawab. c. Tes perbuatan, merupakan tugas yang pada umumnya berupa kegiatan praktek atau melakukan kegiatan yang mengukur ketrampilan. Mereka juga mengungkapkan secara rinci mengenai teknis penilaian siswa dapat dilakukan dengan cara ulangan harian, tugas kelompok, kuis,

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 ulangan blok, pertanyaan lisan, dan juga tugas individu. Sedangkan Depdiknas, 2001 (Jihad & Haris, 2008: 69) juga mengatakan bahwa penilaian non-tes merupakan prosedur yang dilalui untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat, sifat, dan kepribadian. Melalui: a. Pengamatan, yakni alat penilaian yang pengisiannya dilakukan oleh guru atas dasar pengamatan terhadap perilaku siswa, baik secara perorangan maupun kelompok, di kelas maupun di luar kelas; b. Skala sikap, yaitu alat penilaian yang digunakan untuk mengungkap sikap siswa melalui pengerjaan tugas tertulis dengan soal-soal yang lebih mengukur daya nalar atau pendapat siswa; c. Angket, yaitu alat penilaian yang meyajikan tugas-tugas atau mengerjakan dengan cara tertulis; d. Catatan harian, yaitu suatu catatan mengenai perilaku siswa yang dipandang mempunyai kaitan dengan perkembangan pribadinya; e. Daftar cek, yaitu suatu daftar yang dipergunakan untuk mengecek terhadap perilaku siswa telah sesuai dengan yang diharapkan atau belum. Namun, Sukardi (2014: 104) mengatakan bahwa tes dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tes normative dan tes kriterion. Suatu tes dikatakan sebagai tes normative apabila evaluator dalam mengevaluasi bisa membandingkan hasil penilaian individu antara satu individu dengan individu lainnya dalam penyelenggaraan tes yang sama. Suatu tes dikatakan Kriterion jika para

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 evaluator dalam pengukuran terhadap subjek atau objek yang dievaluasi atas dasar apa yang telah dia perbuat sesuai dengan kapasitasnya tanpa membandingkan dengan orang lain. 7. Tes sebagai Teknik Asesmen Sukardi (2014: 92) mengatakan bahwa tes atau testing merupakan prosedur sistematis yang direncanakan oleh evaluator guna membandingkan antar perilaku yang dievaluasi. Tes atau testing berisi item atau butir soal yang akan diberikan kepada peserta yang mengikuti tes. Ia juga mengatakan bahwa item atau butir soal, yaitu bagian terkecil dari suatu tes yang memuat satu fakta atau konsep yang diungkapkan melalui pertanyaan atau pernyataan yang dapat diisolasi untuk pengamatan dan pengambilan keputusan. Tes sebagai teknik asesmen dapat meyediakan informasi-informasi objektif yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penentuan keputusan yang harus diambil pendidik terhadap proses dan hasil belajar. Tes ini dilakukan sebelum, saat, dan akhir pembelajaran, sehingga bergulir tanpa henti (dynamic assesment). C. Hakikat Asesmen Pendidikan Karakter di Sekolah 1. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter Evaluasi pendidikan karakter di SMP sangat relevan dilakukan dalam upaya untuk melihat secara jujur dan objektif apakah pendidikan karakter di SMP sungguh ada dan terlaksana sesuai dengan tujuan, prinsip,

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 asas, dan mekanisme penyelenggaraan pelayanan bimbingan secara konseptual. Apabila itu terlaksana, apakah program itu menguntungkan, berfungsi dan bermanfaat menunjang perkembangan peserta didik? Jika dalam pelaksanaan program ditemukan faktor-faktor kendala atau hambatan, lalu apa yang perlu diperbaiki? Semua ini membutuhkan data dan analisis yang sistemis melalui program yang diharapkan dapat dilakukan sendiri oleh penyelenggara program. 2. Teknik-Teknik Asesmen Pendidikan Karakter Akhlak mulia atau karakter adalah suatu hal yang bersifat abstrak. Meskipun absrak, karakter seseorang dapat diketahui melalui asesmen. Pendidikan karakter saat ini dimasukan dalam pembelajaran di sekolah melalui mata pelajaran yang memiliki kaitan dengan moral seperti; pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, budi pekerti. Sebagai sebuah pelajaran maka guru harus membuat definisi-definisi operasional dan indikator untuk mengukur dan menilai kemudian mengevaluasi karakter siswa. Menurut Zainul & Nasution (2005: 5-8) sebagai sebuah pelajaran pendidikan karakter harus dikenakan pengukuran dan penilaian. Pengukuran adalah pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu, sedangkan penilaian adalah proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran baik melalui instrumen tes maupun non tes. Pengukuran dan

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 penilaian melalui instrumen tes seperti (pilihan ganda, uraian objektif, uraian non objektif/uraian bebas, jawaban singkat, atau isisan singgkat, menjodohkan, performans, benar-salah, tes lisan, portofolio. Melalui intrumen non tes (observasi, catatan anekdota, daftar cek, skal nilai, angket atau kuesioner, wawancara dan rangkuman, Prijowuntato (2016: 60). Maka guru perlu mengukur dan menilai berdasarkan indikator-indikator yang jelas sebagai landasan dalam melakukan pengukuran dan penilaian pendidikan karakter dengan menggunakan istumen asesmen yang ada. 3. Kekuatan dan Kelemahan Tes Banyak bentuk tes yang digunakan untuk mengukur perkembangan belajar terutama pendidikan karakter dari peserta didik di sekolah. Permasalahan yang ditemukan adalah bahwa guru mengalami kesulitan karena pengamatan didasarkan pada prinsip-prinsip yang masih abstrak dan belum diuraikan dalam definisi-definisi operasional dan indikatorindikator. Guru mengatakan bahwa yang dinilai adalah keterlibatan di kelas, kepedulian kepada teman. Dalam bahasa sehari-hari, apa yang dilakukan guru adalah nilai kira-kira sesuai dengan apa yang dilihat ketika di dalam kelas. Besar kemungkinan guru salah menilai atau menilai dengan subjektivitas yang sangat tinggi berdasarkan like and dislike, hal itu sangat merugikan siswa. Dalam pelajaran Character Building, hal terpenting untuk dilakukan adalah observasi. Namun, observasi memiliki problem, yaitu subjektivitas yang tinggi.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 Menurut Prijowuntato, (2016: 66) kekuatan observasi adalah pemunculan gejala dan pengamatannya dapat dilakukan sekaligus oleh pengamat, dapat merekam atau mencatat berbagai tingkah laku peserta didik, hasil observasi dapat dipakai sebagai alat kontrol. Tetapi kelemahan dari observasi ialah banyak tergantung pada faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol sebelumnya sehingga hasilnya kurang reliabel, tingkah laku tidak asli lagi, apabila yang diamati mengetahui bahwa tingkah lakunya sedang diamati. Arikunto (2003) menegaskan tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Tes objektif terdapat kelemahan dan kelebihan, sebagai berikut: a. Kelebihan tes objektif, yaitu. 1) Lebih respektif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat di hindari campur tangan unsur-unsur subjektif baik dari segi peserta didik maupun segi guru yang memeriksa. 2) Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi. 3) Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain. 4) Dalam pemeriksaan tidak ada unsur subjektif mempengaruhi. 5) Untuk menjawab tes objektif tidak banyak memakai waktu yang

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 6) Reliabilitinya lebih tinggi kalau dibandingkan dengan tes essay, karena penilainya bersifat objektif. 7) Validitas tes objektif lebih tinggi dari tes essay, karena samplingnya lebih luas. 8) Pemberian nilai dan cara menilai tes objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus. 9) Tes objektif tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan. b. Kelemahan tes objektif 1) Persiapan untuk menyusun jauh lebih sulit dari pada tes essay karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain. 2) Soal-soal cenderung untuk mengungkapkan kemampuan kognitif dan afeksi dan mengukur proses mental yang tinggi artinya bukan merupakan tes psikologi. 3) Banyak kesempatan untuk main untung-untungan. 4) Kerjasama antar peserta didik pada waktu mengerjakan sol tes lebih terbuka. 5) Peserta didik sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban, karena belum menguasai bahan pelajaran tersebut.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 6) Tes sampling yang diajukan kepada peserta didik cukup banyak dan hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk menjawabnya. 7) Tidak memiliki tingkatan kesulitan soal karena tidak ada jawaban benar dan salah 8) Banyak memakan biaya, karena lembaran item-item tes harus sebanyak jumlah pengikut tes. Beberapa bentuk tes objektif yaitu salah-benar (true-false), pilihan ganda (multiple choise), isian (completion), jawaban singkat (short answer), dan menjodohkan (matching). Masing-masing bentuk tes objektif mempunyai kelebihan dan kelemahan. Salah satu bentuk tes objektif yaitu pilihan ganda mempunya kelebihan dan kelemahan sebagai berikut: a. Kelebihan 1) Hasil belajar yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur. 2) Terstruktur dan petunjuknya jelas. 3) Alternatif jawaban yang salah dapat memberikan informasi diagnostik 4) Tidak dimungkinkan untuk menerka jawaban 5) Penilaian mudah, objektif, dan dapat dipercaya. b. Kelemahan 1) Proses penyusunanya membutuhkan waktu yang lama

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 2) 3) Sulit menemukan pengacau Kurang efektif mengukur beberapa tipe pemecahan masalah, kemampuan untuk mengorganisir dan mengekspresikan ide 4. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Penggunaan Tes dalam Pendidikan Karakter Untuk mendapatkan instrumen tes baik diperlukan sejumlah langkah pengembangan atau langkah umum konstruksi tes. Menurut Azwar (2014: 1420) awal kerja penyusunan atau pengembangan suatu alat tes dimulai dari: a. Identifikasi tujuan ukur Yaitu memilih suatu definisi, mengenali dan memahami dengan seksama teori yang mendasari konstruk atribut yang hendak diukur. b. Pembatasan domain ukur Pembatasan domain dilakukan dengan cara menguraikan konstruk teoritik atribut yang diukur menjadi beberapa rumusan dimensi atau aspek yang lebih jelas, agar menunjang validitas isi skala. c. Oprasionalisasi aspek Operasionalisasi aspek diperlukan agar membentuk keperilakuan yang hendak diukur dapat lebih konkret sehingga penulis item akan lebih memahami benar arah respon yang harus diungkap dari subjek. Operasionalisasi dirumuskan dalam bentuk indikator keperilakuan.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 Himpunan indikator-indikator kemudian dituangkan dalam kisi-kisi atau blue print dan dilengkapi dengan spesifikasi skala, sebagai acuan bagi penulisan item. Sebelum penulisan item perancang perlu menetapkan format stimulus yang hendak digunakan, format ini erat kaitanya dengan metode penskalaannya. d. Penulisan item Pada tahap awal penulisan item, item dibuat dalam jumlah yang lebih banyak daripada jumlah yang direncanakan dalam spesifikasi skala, yaitu sekitar tiga kali lipat dari jumlah item yang digunakan dalam bentuk final. Tujuannya agar nantinya penyusun skala tidak kehabisan item akibat gugurnya item-iten yang tidak memenuhi syarat. e. Review penulisan item Review pertama harus dilakukan oleh penulis item sendiri, yaitu dengan mengecek ulang setiap item sendiri, apakah telah sesuai dengan indikator prilaku yang hendak diungkap. Setelah itu review dapat dilakukan oleh orang yang berkompeten atau ahli. Semua item yang tidak sesuai dengan kaidah atau spesifikasi blue print harus diperbaiki, dan hanya itemitem yang diyakini berfungsi dengan baik oleh ahli (expert judgmen), yang dapat diloloskan untuk uji empirik. f. Uji coba bahasa (evaluasi kualitatif) Kumpulan item yang telah direview kemudian dievaluasi secara kualitatif, dengan mengujicobakan pada sekelompok kecil responden untuk

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 mengetahui apakah kalimat yang digunakan sudah tepat dan mudah dipahami oleh responden sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis item. pertanyaan-pertanyaan dari responden mengenai kata-kata dalam item menandakan bahwa kalimat dalam item masih kurang komunikatif dan memerlukan perbaikan. g. Field tes (evaluasi kuantitatif) Evaluasi terhadap fungsi item biasa dikenal dengan analisis item. Analisis item merupakan proses pengujian item secara kuantitatif guna mengetahui apakah item memenuhi syarat psikometrik untuk disertakan sebagai bagian dari skala. Parameter item yang diuji adalah daya beda item atau daya diskriminasi item. h. Seleksi item Pada tahap ini item-item yang tidak memenuhi syarat psikometrik tidak akan digunakan atau akan diperbaiki lebih dahulu sebelum dapat digunakan. Sebaliknya item-item yang memenuhi syarat psikometrik dengan sendirinya akan digunakan dalam skala. i. Validasi konstruk Validasi skala merupakan proses yang berkelanjutan, tetapi pada skala yang digunakan secara terbatas umumnya hanya melalui validasi isi yang dilakukan oleh ahli (expert judgment) namun sebenarnya semua skala harus teruji konstruknya. Skala yang sudah sesuai secara isi tetap perlu diuji

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 secara empirik apakah konstruk yang digunakan dari teori sudah didukung dengan data. j. Kompilasi final Format final skala dirakit dalam tampilan yang menarik namun tetap memudahkan responden untuk membaca dan menjawabnya. Dalam bentuk final, skala dilengkapi dengan petunjuk soal dan lembar jawab. Ukuran tulisan pada skala perlu disesuaikan agar tidak ada kata yang tertinggal atau tidak terbaca. Sedangkan menurut Fernandes dan Soeharto (Suwandi, 2010: 57) ada sembilan langkah dalam pengembangan insrumen tes antara lain: a. Membuat spesifikasi tujuan (penjelasan tentang pengetahuan, keterampilan, atau tingkah laku yang akan diditeksi). b. Menerjemahkan tujuan-tujuan tes dalam istilah-istilah yang operasional (tes harus mencerminkan isi dan tujuan dalam keadaan operasional dan sesuai dengan kepentingannya. c. Merumuskan tujuan dalam kata-taka yang mengambarkan tingkah laku (observable dan measurable). d. Merencanakan tes (berapa jumlah butir tes, bagaimana bentuk tes, dsb). e. Menulis butir-butir tes dengan format yang dikehendaki. f. Melakukan uji coba butir-butir tes dan menganalisisnya. g. Menyetel tes yang sudah final.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 h. Standarisasi (proses pengembangan alat kontrol: petunjuk pengerjaan, waktu pengerjaan, prosedur dan standar penilaian). i. Memberi atribut pada skor-skor tes (menjelaskan indeks validitas dan reliabilitas). Sementara itu, menurut Surapranata (Suwandi, 2010: 59-64) prinsipprinsip pengambangan dan penggunaan tes meliputi: a. Penentuan tujuan Tahap awal yang sangat penting dalam pengembangan tes adalah menentukan tujuan. Secara umum tes antara lain dikembangkan untuk kepentingan penempatan yang terdiri atas pre tes kesiapan dan pre tes penempatan, formatif, diagnostik, dan sumatif. b. Pemilihan soal Pemilihan soal merupakan salah satu langkah penting untuk dapat menghasilkan tes yang baik. Pemilihan soal dari 190 butir soal yang valid akan dipilih 80 butir untuk dikembangkan. c. Review dan revisi soal Riview dan refisi soal pada prinsipnya adalah upaya untuk memperoleh informasi mengenai sejauh mana suatu soal telah berfungsi secara efektif dan telah memenuhi kaidah yang telah ditetapkan, misalnya kaidah konstruksi, bahasa, dan penulisan soal. Review dan revisi idealnya dilakukan oleh orang lain (bukan si penulis soal) yang terdiri atas suatu tim penelaah yang terdiri atas ahli-ahli materi, pengukuran dan bahasa.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 d. Uji coba dan analisis Uji coba soal pada prinsipnya adalah upaya untuk mendapatkan informasi yang empirik mengenai seberapa baik sebuah soal dapat mengukur apa yang hendak diukur. Informasi empirik tersebut pada umumnya menyangkut segala hal yang dapat mempengaruhi validitas soal seperti aspek-aspek keterbacaan soal, tingkat kesulitan soal, pola jawaban, tingkat daya pembeda, pengaruh budaya, dan sebagainya. Dari hasil uji coba akan diketahui apakah suatu soal “lebih berfungsi”. Hasil uji coba tersebut selanjutnya dianalisis dengan teknik yang telah ditentukan. e. Praktikan soal Soal-soal yang baik hasil dari uji coba dapat dirakit sesuai dengan kebutuhan tes. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perakitan antara lain; penyebaran soal, penyebaran tingkat kesulitan soal, daya pembeda atau validitas soal penyebaran jawaban, dan lay out tes. f. Penyajian tes Hal yang perlu diperhatikan dalam penyajian tes ini adalah administrasi penyajian tes yang antara lain meliputi: petunjuk pengerjaan, cara menjawab, alokasi waktu yang disediakan, ruangan, tempat duduk peserta didik, dan pengawasan. g. Penskoran Penskoran atau pemeriksaan atas jawaban peserta didik dan pemberian angka dilakukan dalam rangka mendapatkan informasi

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 kuantitatif dari masing-masing peserta didik. Peskoran harus dilakukan secara objektif. h. Pelaporan hasil tes Setelah tes digunakan dan dilakukan penskoran, hasilnya dilaporkan. Pelaporan dapat diberikan kepada peserta didik yang bersangkutan, orang tua peserta didik, kepala sekolah, dan pihak-pihak yang berkepentingan. i. Pemanfaatan hasil tes Hasil pengukuran yang diperoleh melalui tes berguna sesuai dengan tujuan dilakukanya tes. Informasi hasil pengukuran dapat dimanfaatkan untuk perbaikan atau penyempurnaan sistem, proses atau kegiatan belajar mengajar, maupun sebagai data untuk mengambil keputusan atau menentukan kebijakan selanjutnya. Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pengembangan dan penggunaan tes harus memiliki langkah-langkah; seperti menentukan tujuan dari alat tes yang akan dibuat, merancang tes (membuat kisi-kisi, merancang butir-butir tes, format tes, menulis soal tes), mereview dan merevisi soal tes yang akan digunakan, setelah itu melakukan uji coba dan analisis, soal tes hasil analisis selanjutnya dirakit menjadi soal-soal tes yang memiliki kriteria baik, dan diberikan kepada peserta didik. Setelah itu dilakukan penskoran dari hasil jawaban peserta didik, hasil penskoran lalu diberikan kepada peserta didik

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 dan pihak-pihak yang berkepentingan agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dan menentukan kebijakan. 5. Hambatan-Hambatan dan Kesulitan-Kesulitan Asesmen Pendidikan Karakter Beberapa Sekolah di Indonesia Menurut Barus, dkk (2017: 47) Hambatan-hambatan dan kesulitankesulitan Asesmen Pendidikan Karakter di Indonesia, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: a. Kesadaran para guru tentang pentingnya asesmen pendidikan sangat tinggi, namun kesadaran tersebut belum diikuti dengan langkah konkrit dalam perencanaan dan pelaksanaannya. b. Para guru mengaku ada perencanaan dan pelaksanaan yang rutin dari pihak sekolah tentang asesmen pendidikan karakter, namun sebagain besar tidak sampai pada tahapan pelaksanaan asesmen yang prosedural. Kebanyakan mereka terhenti pada merencanakan tetapi tidak sampai pada tahap implementasi dan analisis hasil. c. Sedikit sekali guru yang membaca dan memahami isi Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMP (Direktur Pembinaan SMP, Kemendiknas, 2010) yang disosialisasikan pemerintah. Sebagian besar mereka mengaku bahwa nilai karakter terpilih hanya sekedar tertempel pada RPP, namun sulit dilaksanakan dan dinilai.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 d. Sebagaian besar guru mengandalkan teknik observasi dalam mengakes karakter siswa, namun pelasanaannya belum mengikuti prosedur yang benar, misalnya tanpa pencatatan data, sporadic, tidak rutin, berbasis perilaku negative (pelanggaran tata tertib). e. Meski sebagaian besar guru mengandalkan observasi sebagai cara penilaian karakter siswa yang paling sering digunakan,meski mereka mengakui banyak kelemahan dari penggunaan observasi itu. f. Sebagain besar guru pada 11 SMP dari berbagai kota di Indonesia mengaku di sekolah mereka ada perencanaan pendidikan karakter yang operasional. Mereka juga mengaku dilibatkan dalam membuat perencanaan itu, namun hanya sedikit sekali guru yang merasa mampu melaksanakan rencana ini. g. Sebagaian besar (hampir 71%) guru mengaku kurang berhasil atau “gagal” mendaratkan perencanaan itu dengan hasil yang baik. h. Sekolah-sekolah swasta memiliki keragaman dan lebih kaya dalam variasi kegiatan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah ketimbang sekolah-sekolah negeri. i. Kehadiran Guru BK di sekolah-sekolah negeribelum difungsikan secara optimal sebagai saluran pendidikan karakter, sementara itu pada sekolahsekolah swasta guru BK diberi jam bimbingan masuk kelas yang dapat digunakan sebagai sarana dan kesempatan memberikan “Bimbingan Karakter” bagi semua siswa di kelas.

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 j. Banyak guru di SMP negeri maupun swasta memilih kegiatan keagamaan sebagai muatan kegiatan pendidikan karakter, namun sedikit sekali (hanya 6 orang) guru yang merasakan adanya peningkatan kesadaran siswa bertaqwa, berdoa, dan beribadah sebagai indikasi keberhasilan pendidikan karakter. k. Sementara itu, kantin kejujuran sebagai sebuah gerakan yang menggelegar pada tahun 2010 bersamaan dengan masa pencanangan pendidikan karakter di sekolah, kini kehilangan momen, mulai terlupakan. l. Banyak indikasi keberhasilan karakter yang dapat ditunjukkan para guru dalam survey ini, namun lebih banyak lagi noda hitam keprihatinan yang menandai ketidakberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Masih banyak siswa berperilaku buruk, kurang sopan, melanggar peraturan/tata tertib, kurang jujur, tidak disiplin, masih ada siswa yang suka bolos, bersikap brutal dan menentang guru, putus sekolah karena kawin di usia dini, bahkan ada yang melakukan klitih merupakan sinyal ketidakberhasilan pendidikan karakter di SMP. m. Jadi, maraknya perkelahian antarsiswa, mengganasnya perilaku bullying dan “klitih”, makin menggilanya perilaku sex bebas dan aborsi di kalangan remaja, bisa jadi merupakan sinyal “gagalnya” pendidikan karakter di sekolah dan keluarga. n. Sebagian besar guru mengaku telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin, namun pelasanaannya sebagian besar masih sebatas perencanaan, angan-angan. Hanya sedikit guru yang mengakui telah sampai

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 pada tahap menghimpun, mengolah, dan menginterpretasi hasil penilaian tersebut. o. Pengakuan mereka telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin ternyata terbantahkan ketika pada bagian lain mereka mengakui bahwa frekuensi pelaksanaannya tidak menentu, tergantung kebijakan sekolah. Ditemukan inkonsistensi responsi mereka. Artinya, pelaksanaan asesmen hasil pendidikan karakter pada 11 SMP yang diteliti belum seperti yang diharapkan, masih terabaikan, belum dilaksanakan berdasarkan prinsipprinsip asesmen afektif yang benar. p. Hanya sedikit guru yang dapat merumuskan secara tepat tujuan asesmen pendidikan karakter, sementara sisanya (70%) merumuskan tujuan asesmen campur aduk dengan tujuan pendidikan karakter itu sendiri. q. Sabagian guru menjelaskan bahwa perancangan asesmen pendidikan karakter diserahkan kepada satu tim kerja, sementara sisanya mengaku tanggung jawab itu diserahkan kepada masing-masing guru dan sebagian besar guru mengakui tiada hasil/sulit melakukannya. r. Fakta di atas menunjukkan bahwa asesmen pendidikan karakter di SMP belum terlaksana secara baik dan masih menemukan banyak kendala. Meskipun demikian, penilaian karakter siswa yang diperoleh dengan caracara seadanya dan belum teruji kehandalan serta diragukan validitas/objektivitasnya seperti itu diakui oleh 76,5% reponden hasilnya digunakan sebagai penentu keputusan kenaikan kelas siswa. Jangan-jangan

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 cara kerja semacam ini tidak mendidik, mengorbankan siswa, dan mengaburkan visi-misi serta tujuan pendidikan karakter yang sesungguhnya. D. Media Film Dalam Pendidikan Karakter 1. Karakteristik Media Film Karakter Menurut Kustandi dan Sutjipto (2016: 64) film atau gambar merupakan kumpulan gambar-gambar dalam frame. Sedangkan Susilana (Desma Yulia dan Muhammad Arifin, 2016: 35) mengatakan bahwa media film merupakan media yang menyajikan pesan audio visual dan gerak. Sama halnya menurut Trianton (Desma Yulia dan Muhammad Arifin, 2016: 35) media film adalah alat penghubung yang berupa film, media masa alat komunikasi seperti radio, televise, surat kabar, majalah yang memberikan penerangan kepada orang banyak dan mempengaruhi pikiran mereka. Dalam media ini, setiap frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup. Film bergerak dengan capat dan bergantian sehingga memberikan visualisasi yang kontinu. Sama halnya dengan film, video dapat menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara alamiah atau suara yang sesuai. Film dan video dapat menyajikan informasi, memaparkan mengajarkan proses, keterampilan, mempengaruhi sikap. menjelaskan menyingkat atau konsep-konsep yang memperpanjang waktu, rumit, dan

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 2. Kekuatan-kekuatan Media Film dalam Pendidikan Karakter Kustandi dan Sutjipto (2016: 64-65) mengungkapkan bahwa keefektifan dari media film sebagai media pendidikan karakter adalah sebagai berikut: a. Film dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari siswa ketika mereka membaca, berdiskusi, praktik, dan lain-lain. Film merupakan pengganti alam sekitar, dan bahkan dapat menunjukan objek secara normal yang tidak dapat dilihat. b. Film dapat menggambarkan suatu proses secara tepat dan dapat disaksikan secara berulang jika diperlukan. Disamping mendorong dan meningkatkan motivasi, melalui media film dapat menanamkan sikap dan segi-segi afektif lainnya. c. Film yang mengandung nilai-nilai positif dapat mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok siswa. Bahkan, film seperti selogan yang sering didengar, dapat membawa dunia ke dalam kelas. d. Film dapat menyajikan peristiwa kepada kelompok besar atau kelompok kecil, kelompok yang heterogen maupun perorangan. e. Dengan kemampuan dan teknik penggambilan gambar frame demi frame, film yang dalam kecepatan normal memakan waktu satu minggu dapat ditampilkan dalam satu atau dua menit. Misalnya, bagaimana kejadian

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 mekarnya kembang, mulai dari lahirnya kuncup bunga hingga kuncup itu mekar. Sedangkan keterbatasan dalam menggunakan media film sebagai berikut: a. Pengadaan film umumnya memerlukan biaya mahal dan waktu yang banyak. b. Pada saat film dipertunjukan, gambar-gambar bergerak terus sehingga tidak semua siswa mampu mengikuti informasi yang ingin disampaikan melalui film tersebut. c. Film yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan dan tujuan belajar yan diinginkan, kecuali film itu dirancan dan diproduksi khusus untuk kebutuhan sendiri. 3. Prinsip-Prinsip Penggunaan Media Film dalam Pendidikan Karakter Guna mengetahui keberhasilan dalam pembelajaran penanaman nilai-nilai karakter diperlukan instrumen penilaian yang sesuai dengan tujuannya, dengan cara membandingkan perilaku anak dengan standar (indikator) karakter yang ditetapkan. Sebelum itu, perlu diketahui langkah pengembangan instrumen penilaian tersebut. Menurut Gronlund (Suwandi, 2010) ada enam langkah pengembangan instrumen tes sebagai berikut : a. Menemukan tujuan tes b. Mengidentifikasi hasil belajar yang dimaksudkan c. Merumuskan hasil belajar yang umum dengan istilah yang khusus d. Menetapkan garis-garis besar isi mata pelajaran

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 e. Mempersiapkan tabel spesifikasi f. Menggunakan tabel spesifikasi dalam mempersiapkan tes 4. Film Sebagai Media Asesmen Morris (Hayyun Lathifaty Yasri & Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa kreativitas dalam pembelajaran menjadi hal utama yang harus diperhatikan guru. Oleh sebab itu, gaya pembelajaran yang monoton akan membosankan bagi siswa, karena siswa tidak diperkenalkan dengan halhal yang baru. Otte (Hayyun Lathifaty Yasri & Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa kreativitas dalam pembelajaran dapat diwujudkan dengan menghadirkan pengalaman-pengalam belajar bagi siswa. Sedangkan, Edgar Dale (Hayyun Lathifaty Yasri & Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa terdapat 11 macam pengalaman belajar siswa yaitu (1) pengalaman verbal, (2) pengalaman lambang visual, (3) pengalaman melalui radio, (4) pengalaman melalui film, (5) pengalaman melalui televisi, (6) pengalaman melalui pameran, (7) pengalaman karyawisata, (8) pengalaman demonstrasi, (9) pengalaman melalui drama, (10) pengalaman melalui benda tiruan, dan (11) pengalaman langsung. Dalam uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu metode dalam pembelajaran yang dapat digunakan yaitu dengan menggunakan media film. Masterpiece (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa siswa cenderung lebih banyak memahami hal-hal yang terinterpretasikan dalam film dari pada dalam buku teks.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Bukan hanya sebagai media pembelajaran saja, film juga dapat digunakan sebagai media asesmen yang mungkin jarang atau bahkan belum pernah dilakukan. Jika dalam pembelajaran media film sudah sering digunakan dan sudah teruji efektifitasnya, maka peneliti ingin mengangkat film sebagai media tes untuk mengukur karakter siswa. Film juga mampu mengasah kemampuan analisis siswa dalam menjawab soal-soal yang sudah disiapkan dan berkaitan dengan film tersebut. Berhubungan dengan itu, Champoux (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) mengatakan bahwa film mampu mencapai ranah kognitif dan afektif siswa secara bersamaan. E. Hakikat Guru dan Non Guru 1. Pengertian Guru dan Non Guru Menurut KBBI Guru/gu-ru/n orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya profesinya) mengajar. Kelakuan murid ( orang bawahan) selalu mencontoh gurunya (orang atasan). peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru pasal 1 ayat 1 yang berbunyi guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menegah. Surya (2002:5) Guru sebagai pendidik profesional selayaknya mempunyai citra baik di masyarakat, guru itu ditiru dan dicontoh. Non Guru adalah profesi/pekerjaan lain yang tidak meliputi dunia pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 2. Pengertian Kompetensi Guru Kamus Besar Bahasa Indonesia, “kompetensi” (competence) diartikan dengan cakap atau kemampuan (KBBI 2002: 584. W. Robert Houston dalam Reostiyah memberikan definisi, competence ordinary is defined as “adequacy for task or as “possession” of require knowledge, skill and abilities. Kompetensi dirumuskan sebagai suatu tugas yang memadai, atau pemilikan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang (Roestiyah 1986:4). 3. Komponen Kompetensi Guru Empat kompetensi standar yang harus dikuasai oleh semua guru. Guru yang memiliki kompetensi standar dianggap mampu mengembangkan proses pembelajaran pada satuan pendidikan. Keempat kompetensi yang telah dirumuskan dalam UU No. 14 Tahun 2005 merupakan kompetensi standar yang harus dikuasai pendidik. Keempat kompetensi tersebut menjadi standar dan indikator penilaian kompetensi guru. Dengan kata lain, kompetensi standar minimal guru adalah kompetensi pedagogis, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Keempat kompetensi tersebut dapat digambarkan sebagai beriku :

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Gambar 2.1 Kompetensi Pendidik Pedagogis Kepribadian Profesional Sosial Pemahaman peserta didik perancangan, pelaksanaan dan Mantap dan stabil, dewasa, arief beribawa, akhlak Menguasai keilmuan bidang studi; dan langkah kajian kritis pendalaman isi bidang studi 1) Norma hukum & sosial, rasa bangga Konsisten dgn norma; (2) Mandiri & etos kerja (3) berpengaruh positif dan disegani, (4) norma religius & diteladani (5) jujur Komunikasi dan bergaul dengan peserta didik, kolega 4. Aspek-aspek dan Indikator Kompetensi Kepribadian Guru a. Berakhlak mulia, arif bijaksana dan berperilaku santun Imam Gazali menyebutkan ciri-ciri orang yang berakhlak mulia adalah: Beberapa ciri akhlak mulia, diantaranya merasa malu untuk melakukan keburukan, tidak senang menyakiti, berkelakuan baik, dan berkata jujur. Selain itu, tidak banyak bicara, banyak berkarya, sedikit melakukan kesalahan (yang berulang), tidak banyak melakukan intervensi, tenang, sabar, suka bersyukur, ridha akan realitas kehidupan (pahit maupun manis), bijaksana, lemah-lembut, pandai menjaga kesucian dan

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 harga diri, penyayang, tidak senang melaknati sesuatu atau orang lain (Republika:2012). b. Berkepribadian stabil, mantap dan disiplin Salah satu poin penting yang menjadi ciri kepribadian stabil adalah mampu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan dan pola kehidupan.Selain itu, perilakunya selalu positif, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosialnya.Tak heran jika guru mudah diterima di lingkungan mana pun. Guru merupakan sosok penegak disiplin, yang memiliki keluwesan dan kebijaksanaan, tidak kaku dan tidak konservatif. Dengan penuh kesadaran dan tulus ikhlas guru senantiasa patuh terhadap aturan yang ada, ketentuan yang berlaku, kesepakatan yang telah dibuat bersama dan prosedur serta instruksi kerja yang merupakan bentuk penghargaan kepada orang lain.Guru ideal adalah yang berkepribadian stabil.Salah satu poin penting yang menjadi ciri kepribadian stabil adalah mampu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan dan pola kehidupan, selain itu perilakunya selalu positif baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosialnya. Tak heran jika guru mudah diterima di lingkungan manapun, kepercayaan selalu dijaga yang c. Jujur, objektif dan bertanggungjawab Integritas seorang guru profesional memiliki kemampuan menilai secara obyektif, memiliki sifat jujur dan tanggungjawab terhadap pekerjaannya, ucapan dan perilakunya dan memiliki tanggungjawab

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 sosial.Sifat konsistensi guru perlu dijaga yang berarti sanggup mengatakan sesuatu itu benar, dan yang salah itu salah walaupun menyakitkan. Guru harus dapat mengutamakan kebenaran di atas kepentingan pribadi. Informasi yang diberikan hendaknya yang jujur karena akan menentukan keberhasilan siswa. Informasi yang dibutuhkan siswa harus diberikan secara benar karena informasi itu merupakan stimulus yang berguna bagi siswa. Informasi yang disampaikan guru apabila tidak benar akan membuat siswa terjebak dalam informasi yang tidak bermanfaat, oleh karena itu kejujuran guru dalam menyampaikan informasi sangat diperlukan bagi siswa, seperti yang diungkapkan oleh Tilaar (2000:41) ”Kesalahan dalam mengerti bahan akan menyebabkan peserta didik mengerti secara salah atau terjadi salah konsep.” d. Berwibawa dan patut diteladani Guru profesional harus memiliki semua sisi kehidupan yang patut diteladani (Ing ngarso sung tulodo), yaitu teladan bagi peserta didik, orang tua murid, keluarga dan masyarakat sekelilingnya. Kewibawaan yang dimiliki guru bukanlah kekuasaan, pancaran kepribadiannya mampu mempengaruhi masyarakat sekelilingnya secara positif.Seorang guru harus mampu untuk menjadi teladan tidak hanya bagi muridnya tetapi keluarga, lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Menurut Manurung (2008:511), ”guru yang berwibawa berarti guru yang dapat membuat siswanya terpengaruh oleh tutur katanya, pengajarannya, patuh kepada nasehatnya,

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 dan mampu menjadi magnet bagi siswanya sehingga siswanya akan terkesima dan tekun menyimak pengajarannya.”Jam kerja yang harus dilakukan guru adalah 24 jam. Tanggungjawab moral dan hati nurani sangat didambakan oleh masyarakat agar aktif dalam setiap kegiatan sosial, budaya dan ekonomi di lingkungannya. Guru dituntut sebagai sosok yang berperan utama dalam mewujudkan kemajuan pendidikan dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Faktor penting dalam kompetensi ini adalah memiliki akhlak mulia, bertindak secara arif dan bijaksana,berkepribadian mantap, memiliki kewibawaan, keteladanan, mampu mengembangkan diri secara terus menerus, pandai bergaul, santun dalam bertindak dan memiliki sifat kooperatif. e. Empati Empati berperan penting dalam pembelajaran.Seorang guru perlu memiliki rasa empati yang tinggi terhadap muridnya karena dapat meningkatkan kualitas hubungan antara guru dan murid.Melalui empati seorang guru dapat memahami kondisi muridnya sehingga dapat membantunya belajar dan memperoleh pengetahuan.Guru yang empati dapat membayangan pikiran dan perasaan siswa menurut persepsi murid bukan menurut persepsi guru. Contohnya dalam kegiatan pembelajaran, guru yang empati merancang dan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, bukan sesuai dengan situasi dan

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 kondisi guru. Hal ini dapat dilihat dari bahasa yang digunakan dan cara guru memperlakukan siswa. f. Menarik Penampilan memainkan peranan penting dalam membentuk kepribadian guru, Guru perlu menampilkan diri dengan ciri-ciri yang dapat diteladani seperti: pemilihan pakaian, hendaknya memilih warna yang menarik dan tidak menyolok, make upyang sederhana bagi wanita, kebersihan tubuh, perhiasan, kerapian, penggunaan minyak wangi, dan gaya rambut, semua itu menjadi contoh model bagi para pelajar.Cara berpakaian guru dalam penampilann menunjukkan sikap dan kepribadiannya. Setiap guru mengajarkan tentang cara berpakaian, di saat itulah guru harus berpenampilan sebagaimana layaknya seorang guru. Mulai dari ujung rambut dan ujung kaki siswa selalu memperhatikan penampilan guru.Apakah rambutnya tersisir rapi atau berantakan, baju dan celana kusut, dan sepatu kusam semua ini menjadi perhatian murid. g. Fungsi Guru sebagai Pelopor Pembaharuan Guru sebagai figur masa kini dituntut memiliki visi dan misi yang berwawasan masa depan. Upaya untuk mengimplementasikan pendidikan yang berwawasan masa depan, peran guru tidak boleh dipandang sebelah mata, guru harus diberi keleluasaan, dan kebebasan untuk mengelola secara kreatif, liar, dan mencerdaskan sehingga proses belajar mengajar berlangsung menarik, aktif, efektif, dan menyenangkan. Profesi guru

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 sangat penting dan menentukan bagi masa depan bangsa, oleh karenanya guru harus memiliki jati diri yang kuat, menjadi teladan, merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar dengan penuh gairah dan hati yang tulus. Peserta didik juga harus memiliki cara pandang baru, bahwa sekolah bukan merupakan keharusan tetapi merupakan kebutuhan. h. Berakhlak mulia, arif bijaksana dan berperilaku santun Imam Gazali menyebutkan ciri-ciri orang yang berakhlak mulia adalah: Beberapa ciri akhlak mulia, diantaranya merasa malu untuk melakukan keburukan, tidak senang menyakiti, berkelakuan baik, dan berkata jujur. Selain itu, tidak banyak bicara, banyak berkarya, sedikit melakukan kesalahan (yang berulang), tidak banyak melakukan intervensi, tenang, sabar, suka bersyukur, ridha akan realitas kehidupan (pahit maupun manis), bijaksana, lemah-lembut, pandai menjaga kesucian dan harga diri, penyayang, tidak senang melaknati sesuatu atau orang lain (Republika:2012). i. Berkepribadian stabil, mantap dan disiplin Salah satu poin penting yang menjadi ciri kepribadian stabil adalah mampu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan dan pola kehidupan.Selain itu, perilakunya selalu positif, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosialnya.Tak heran jika guru mudah diterima di lingkungan mana pun. Guru merupakan sosok penegak disiplin, yang

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 memiliki keluwesan dan kebijaksanaan, tidak kaku dan tidak konservatif. Dengan penuh kesadaran dan tulus ikhlas guru senantiasa patuh terhadap aturan yang ada, ketentuan yang berlaku, kesepakatan yang telah dibuat bersama dan prosedur serta instruksi kerja yang merupakan bentuk penghargaan kepada orang lain.Guru ideal adalah yang berkepribadian stabil.Salah satu poin penting yang menjadi ciri kepribadian stabil adalah mampu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan dan pola kehidupan, selain itu perilakunya selalu positif baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosialnya. Tak heran jika guru mudah diterima di lingkungan manapun dan kepercayaan selalu dijaga. j. Jujur, objektif dan bertanggungjawab Integritas seorang guru profesional memiliki kemampuan menilai secara obyektif, memiliki sifat jujur dan tanggungjawab terhadap pekerjaannya, ucapan dan perilakunya dan memiliki tanggungjawab sosial.Sifat konsistensi guru perlu dijaga yang berarti sanggup mengatakan sesuatu itu benar, dan yang salah itu salah walaupun menyakitkan. Guru harus dapat mengutamakan kebenaran di atas kepentingan pribadi. Informasi yang diberikan hendaknya yang jujur karena akan menentukan keberhasilan siswa. Informasi yang dibutuhkan siswa harus diberikan secara benar karena informasi itu merupakan stimulus yang berguna bagi siswa. Informasi yang disampaikan guru apabila tidak benar akan membuat siswa terjebak dalam informasi yang tidak bermanfaat, oleh

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 karena itu kejujuran guru dalam menyampaikan informasi sangat diperlukan bagi siswa, seperti yang diungkapkan oleh Tilaar (2000:41) ”Kesalahan dalam mengerti bahan akan menyebabkan peserta didik mengerti secara salah atau terjadi salah konsep.” k. Berwibawa dan patut diteladani Guru profesional harus memiliki semua sisi kehidupan yang patut diteladani (Ing ngarso sung tulodo), yaitu teladan bagi peserta didik, orang tua murid, keluarga dan masyarakat sekelilingnya. Kewibawaan yang dimiliki guru bukanlah kekuasaan, pancaran kepribadiannya mampu mempengaruhi masyarakat sekelilingnya secara positif.Seorang guru harus mampu untuk menjadi teladan tidak hanya bagi muridnya tetapi keluarga, lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Menurut Manurung (2008:511), ”guru yang berwibawa berarti guru yang dapat membuat siswanya terpengaruh oleh tutur katanya, pengajarannya, patuh kepada nasehatnya, dan mampu menjadi magnet bagi siswanya sehingga siswanya akan terkesima dan tekun menyimak pengajarannya.”Jam kerja yang harus dilakukan guru adalah 24 jam. Tanggungjawab moral dan hati nurani sangat didambakan oleh masyarakat agar aktif dalam setiap kegiatan sosial, budaya dan ekonomi di lingkungannya. Guru dituntut sebagai sosok yang berperan utama dalam mewujudkan kemajuan pendidikan dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. Faktor penting dalam kompetensi ini adalah memiliki akhlak mulia, bertindak secara arif dan

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 bijaksana,berkepribadian mantap, memiliki kewibawaan, keteladanan, mampu mengembangkan diri secara terus menerus, pandai bergaul, santun dalam bertindak dan memiliki sifat kooperatif. l. Empati Empati berperan penting dalam pembelajaran.Seorang guru perlu memiliki rasa empati yang tinggi terhadap muridnya karena dapat meningkatkan kualitas hubungan antara guru dan murid.Melalui empati seorang guru dapat memahami kondisi muridnya sehingga dapat membantunya belajar dan memperoleh pengetahuan.Guru yang empati dapat membayangan pikiran dan perasaan siswa menurut persepsi murid bukan menurut persepsi guru. Contohnya dalam kegiatan pembelajaran, guru yang empati merancang dan melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, bukan sesuai dengan situasi dan kondisi guru. Hal ini dapat dilihat dari bahasa yang digunakan dan cara guru memperlakukan siswa. m. Menarik Penampilan memainkan peranan penting dalam membentuk kepribadian guru, Guru perlu menampilkan diri dengan ciri-ciri yang dapat diteladani seperti: pemilihan pakaian, hendaknya memilih warna yang menarik dan tidak menyolok, make upyang sederhana bagi wanita, kebersihan tubuh, perhiasan, kerapian, penggunaan minyak wangi, dan gaya rambut, semua itu menjadi contoh model bagi para pelajar.Cara

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 berpakaian guru dalam penampilann menunjukkan sikap dan kepribadiannya. Setiap guru mengajarkan tentang cara berpakaian, di saat itulah guru harus berpenampilan sebagaimana layaknya seorang guru. Mulai dari ujung rambut dan ujung kaki siswa selalu memperhatikan penampilan guru.Apakah rambutnya tersisir rapi atau berantakan, baju dan celana kusut, dan sepatu kusam semua ini menjadi perhatian murid. F. Kajian Penelitian yang Relevan Penelitian yang terkait dengan analisa validasi efektifitas pendidikan karakter penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter siswa SMP berdasarkan latar belakang tempat tinggal siswa di desa atau kota, masih sedikit untuk dijadikan sebagai sumber hasil penelitian yang relevan. Berikut merupakan hasil penelitian yang relevan yang bersangkutan dengan pendidikan karakter berbasis film. Penelitian yang dilakukan oleh Ni Nyoman Diastrimarina (2017) dengan judul “Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Daya Juang dan Karakter Kerja Keras Berbasis Film Karakter.” Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang berawal dari adanya potensi dan masalah yang terkait dengan program pendidikan karakter, serta masalah penilaian karakter dari hasil penerapan pendidikan karakter di sekolah. Relevansi dari penelitian ini dengan penelitian yang dikembangkan oleh peneliti ialah memiliki kesamaan dalam prosedur pengembangannya yaitu menggunakan (R&D) dan memiliki media penilaian karakter yaitu menggunakan film karakter.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 G. Kerangka Pikir Model soal tes asesmen hasil pendidikan karakter yang efektif belum banyak tersedia di SMP. Kalaupun ada, pendidikan karakter yang terintegrasi dari kurikulum dan implementasi pada sekolah secara khusus pada jenjang SMP, dimana sekolah hanya mampu menilai secara kognitif saja dan belum sampai pada tahap afeksinya. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan soal tes dari 20 karakter yang ada melalui media film yang didalamnya berisi dilema moral yang berkaitan dengan ke-20 karakter tersebut. Melalui media film yang bermuatan dilema moral tersebut, peserta didik dapat membayangkan kebiasaan yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari, ketika mereka menghadapi situasi seperti apa yang terlihat dalam film tersebut. Produk ini juga dapat mempermudah guru untuk menilai hasil pendidikan karakter yang telah diaplikasikan kepada peserta didik. Guru hanya hanya perlu menayangkan film karakter tersebut, dimana didalamnya sudah terdapat potongan film pendek berupa dilema moral beserta pilihan jawaban yang tersusun secara degradasi.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Gambar 2.2 Skema Penelitian SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER Dianalisis Kualitatif Kuantitatif Kesesuaian Karakter Validitas Bahasa Reliabilitas Konstruksi Tingkat Kesukaran Distribusi Jenjang Ranah Kognitif dan Efektif Keefektifitas Soal Test Capaian Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab ini menjelaskan model penelitian dan pengembangan, prosedur penelitian dan pengembangan, dan uji coba produk, teknik dan instrumen pengumpulan data, dan teknik analisis data. A. Model Penelitian dan Pengembangan Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (research and development). Sebagaimana telah dipaparkan, Borg and Gall (Silalahi, 2018: 9) R & D merupakan proses untuk memvalidasi dan mengembangkan produkproduk penelitian. Menurut Sugiyono (2013: 297) penelitian R & D adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Menurut Syaodih (Putra, 2008: 66) penelitian R & D adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh Putra (2015: 67) penelitian R & D didefinisikan sebagai metode penelitian yang secara sengaja, sistemis, bertujuan untuk mencaritemukan, merumuskan, memperbaiki, mengembangkan, menghasilkan, menguji keefektifan produk, model, metode, dan jasa, prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif, efisien, produktif, dan bermakna. Dapat disimpulkan dari penjelasan para ahli tersebut bahwa Research and Development merupakan jenis penelitian yang menghasilkan dan mengembangkan suatu produk tertentu dengan cara yang sistematis. Penelitian ini disebut penelitian 73

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 pengembangan, karena peneliti mengembangkan suatu produk berupa Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter di Beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia. B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan Prosedur pengembangan ini menggunakan tahapan penelitian (Research and Development) model Borg & Gall. Langkah-langkah R & D oleh Borg & Gall (Silalahi, 2018: 10) terdapat 10 langkah, yaitu: 1. Research and information collection (melakukan penelitian dan pengumpulan informasi). Sebagai penelitian awal terkait dengan produk pendidikan yang akan dikembangkan, yang termasuk dalam langkah ini antara lain: studi literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, pengukuran kebutuhan, penelitian dalam skala kecil, dan persiapan untuk merumuskan kerangka kerja penelitian. 2. Planning (membuat perencanaan). Pada tahap ini hal yang perlu dilakukan adalah menyusun rencana penelitian yang meliputi merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan, menentukan tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapan, desain atau langkah-langkah penelitian dan jika mungkin/diperlukan melaksanakan studi kelayakan secara terbatas. 3. Develop Preliminary form of Product (mengembangkan bentuk awal produk).Pada tahap ini yang perlu dilakukan adalah mengembangkan bentuk permulaan dari produk yang akan dihasilkan, termasuk dalam langkah ini

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 persiapan komponen pendukung, menyiapkan pedoman dan buku petunjuk, dan melakukan evaluasi terhadap kelayakan alat-alat pendukung (misalnya pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran, dan instrumen evaluasi). 4. Preliminary Field Testing (melakukan uji lapangan awal). Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan uji coba lapangan awal dalam skala terbatas, dengan melibatkan 1 sampai dengan 3 sekolah, dengan jumlah 6-12 subyek. Pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi, atau angket. 5. Main Product Revision (melakukan revisi produk utama). Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan terhadap produk awal yang dihasilkan uji coba awal. Perbaikan ini sangat mungkin dilakukan lebih dari satu kali sesuai dengan hasil yang ditunjukkan dalam uji coba terbatas sampai diperoleh draft produk utama yang siap diuji coba lebih luas. 6. Main Field Testing (melakukan uji lapangan untuk produk utama). Biasanya disebut uji coba utama yang melibatkan khalayak lebih luas, yaitu 5 sampai 15 sekolah, dengan jumlah subyek 30 sampai dengan 100 orang. Pengumpulan data dilakukan sebelum dan sesudah penerapan uji coba. Hasil yang diperoleh dari uji coba ini adalah sebagai hasil evaluasi terhadap pencapaian hasil uji coba produk yang dibandingkan terhadap pencapaian

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 kelompok control. Pada umumnya, langkah ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen. 7. Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional). Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan/penyempurnaan terhadap hasil uji coba lebih luas, sehingga produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi. 8. Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk) Langkah uji validasi terhadap model operasional yang telah dihasilkan, dilaksanakan pada 10 sampai dengan 30 sekolah, melibatkan 40 sampai dengan 200 subyek. Pengujian ini dilakukan melalui angket, wawancara, observasi dan analisis hasilnya. Tujuan langkah ini adalah untuk menentukan apakah desain model yang dikembangkan sudah dapat dipakai di sekolah tanpa harus dilakukan pengarahan atau pendampingan oleh peneliti/pengembang model. 9. Final Product Revision (melakukan revisi produk final) Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan akhir terhadap model yang dikembangkan agar menghasilkan produk akhir. 10. Disemination and Implementation (diseminasi dan implementasi) Tahap ini merupakan langkah menyebarluaskan produk/model yang dikembangkan kepada khalayak/masyarakat luas. Pada tahap ini bertujuan untuk mengkomunikasikan dan mensosialisasikan produk, baik dalam bentuk

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 seminar hasil penelitian, publikasi pada jurnal, maupun pemaparan kepada skakeholders yang terkait dengan produk tersebut. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan menurut Borg and Gall ditunjukkan pada bagan berikut: Penelitian dan pengumpulan informasi Uji Lapangan Produk Revisi Produk Final Perencanaan Revisi Produk Operasional Mengembangk an bentuk awal produk Uji Lapangan Produk Utama Uji Lapangan Awal Revisi Produk Utama Diseminasi dan Implementasi Gambar 3.1 Bagan Prosedur Penelitian Pengembangan (Borg and Gall) Tim penelitian sebelumnya pada tahun 2017 telah melaksanakan penelitian yang sama dan sampai telah memasuki pada tahap ke 6. Langkah-langkah yang sudah ditempuh adalah seperti potensi dan masalah, pengumpulan informasi, desain produk, validasi desain, revisi desain, dan uji coba. Maka dari itu telah dihasilkan 440 butir soal tes yang diuji secara parsial. Sehingga, tim peneliti pada tahun 2018 melanjutkan langkah-langkah selanjutnya yaitu tahap 7 dan 8 pada revisi produk dan uji lapangan produk pada populasi sampel yang lebih luas. 1. Revisi Produk Operasional Revisi produk dilakukan, terhadap soal-soal tes hasil uji pemakaian produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada tahap awal penerapan memiliki kekurangan maupun kelemahan. Pada

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 tahap revisi produk, digunakan beberapa kriteria atau syarat yang harus dipenuhi dari produk yang dihasilkan pada tahap awal dan diperbaiki, seperti: a. Dilakukan filterisasi soal dari 440 item menjadi 88 item b. Potongan film pendek harus menampilkan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai karakter Kepmendiknas (2010). c. Potongan film harus didukung oleh pemain film yang notabene anak SMP, karena subjek merupakan siswa di beberapa SMP di Indonesia. d. Film merupakan film Indonesia dan berbahasa Indonesia. Hal tersebut dipilih karena notabene subjek adalah WNI (Warga Negara Indonesia). Oleh sebab itu, pemilihan jenis film dan bahasa sangat diperhatikan untuk membantu pemahaman siswa ketika mengerjakan soal tes asesmen. a. Kalimat dan tanda baca dalam soal harus sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan). EYD juga sangat membantu siswa dalam mengerjakan dan memahami soal beserta jawaban yang ada di dalam film tersebut. b. Durasi yang dipilih pada setiap soal -+ 2 menit. Durasi tersebut dirasa cukup dengan bentuk soal yang sederhana dan jawaban yang bergradasi, sehingga siswa tidak terlalu lama dalam mengerjakan sebanyak 88 soal. c. Kecocokan soal dengan potongan video. Setiap soal harus cocok dengan potongan video pendek yang ditayangkan, karena hal tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat mengukur apakah soal tersebut efektif atau tidak.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 d. Kejelasan suara dan kejernihan film. Suara dan kejernihan film menjadi salah satu faktor utama dalam proses menjawab soal dan memilih jawaban. 2. Uji Lapangan Produk Pada tahap ini peneliti melakukan uji lapangan terhadap produk yang sudah direvisi dan dihasilkan dari tahapan filtarisasi dan revisi kepada peserta didik dilakukan dengan eksperimen lapangan pada 10 SMP pada beberapa kota di Indonesia. Hal ini diperlukan karena terkadang apa yang telah dikonsepkan belum tentu sesuai dengan kenyataan dilapangan. Pengujian dilakukan dengan mengimplementasikan produk 88 soal tes kepada peserta kepada peserta didik sebagai analisis validasi efektivitas pengunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film pada siswa. Pengujian diberikan kepada peserta didik sebagai analisis validasi efektivitas pengunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film pada 10 SMP di Indonesia, antara lain: 1) SMP Fransiskus Tanjungkarang, Lampung;2) SMP St. Aloysius Turi, Yogyakarta, 3) SMP N 1 Yogyakarta; 4) SMP Raden Fatah Cimanggu; 5) SMP N 3 Wates; 6) SMP N 31 Purworejo; 7) SMP N 2 Barusjahe, Medan; 8) SMP Maria Padang; 9) SMP Pangudi Luhur Wedi, Klaten; 10) SMP N 2 Playen Gunungkidul, Yogyakarta. Tujuan dari uji coba produk ini adalah untuk mengetahui apakah Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang sudah melalui tahap revisi,

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 memiliki kualitas yang baik dan efektif digunakan sebagai alat tes untuk mengukur karakter siswa di beberapa SMP tersebut. C. Uji Coba Produk 1. Desain Uji Coba Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data, mengetahui kualitas dan efektivitas soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter yang telah dibuat oleh tim peneliti. Data dari hasil uji coba produk digunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan produk soal tes asesmen berbasis film karakter. Uji coba produk juga melihat sejauh mana produk yang dibuat dapat mencapai sasaran dan tujuan. 2. Tempat Penelitian dan Subjek Uji Coba Produk a. Tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan di 10 SMP diantaranya : Tabel 3.1 Daftar sekolah No 1 Nama Sekolah SMP FransiskusTanjungkarang 2 SMP St. Aloysius Turi 3 SMP N 1 Yogyakarta 4 SMP Raden Fatah Cimanggu 5 SMP N 3 Wates 6 SMP N 31 Purworejo Alamat JalanMangga 1, Pasirgintung, TanjungkarangPusat, Lampung, 35113 Donokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta, 55551 Cik Di Tiro, no. 29, Yogyakarta, 55225 Jalan Raya Genteng, Kec. Cimanggu, Kab. Cilacap, 53256 Jalan Purworejo Km.07, Sogan, Wates, Kulon Progo Jalan Brigjend Katamso 24, Purworejo, 54114

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 7 SMP N 2 Barusjahe 8 SMP Maria 9 SMP Pangudi Luhur Wedi 10 SMP N 2 Playen DesaSinaman, Kec. Barusjahe, Kab. Karo, Medan, Sumatra Utara, 22172 JalanGereja, no. 39, Padang, Sumatra Barat DesaKarangrejo, Pandes, Wedi, Glodogan, Klaten Sel., KabupatenKlaten, Jawa Tengah 57426 Gading II, Gading, Playen, GunungKidul, Yogyakarta 55861 a. Subjek Penelitian Subjek uji coba penggunaan produk penelitian yang telah diteliti adalah peserta didik kelas VII dan VIII tahun ajaran 2017/2018. Tabel 3. 2 Jumlah Subjek Uji Coba Penelitian Sekolah Kelas Kelas No VII VIII Jumlah 1 SMP Fransiskus Tanjungkarang 31 siswa 34 siswa 65 siswa 2 SMP Raden Fatah Cimanggu 35 siswa 31 siswa 66 siswa 3 SMP Santo Aloyius Turi 20 siswa 43 siswa 63 siswa 4 SMP N 3 Wates 35 siswa 35 siswa 70 siswa 5 SMP N 31 Purworejo 30 siswa 31 siswa 61 siswa 6 SMP Negeri 1 Yogyakarta 31 siswa 32 siswa 63 siswa 7 SMP Negeri 2 Barusjahe 37 siswa 32 siswa 69 siswa 8 SMP Maria 35 siswa 35 siswa 70 siswa 9 SMP Pangudi Luhur Wedi 35 siswa 35 siswa 70 siswa

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 10 32 siswa SMP N 2 Playen 31 siswa 63 siswa 660 b. Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter untuk peserta didik SMP di sepuluh sekolah di Indonesia. c. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di sekolah April s.d. Mei 2018 di sepuluh sekolah. Tabel 3.3 Waktu Penelitian No Sekolah Waktu Penelitian 1 SMP Fransiskus Tanjungkarang 24 April 2018 2 SMP Raden Fatah Cimanggu 17 April 2018 3 SMP Santo Aloyius Turi 21 April 2018 4 SMP N 3 Wates 20 April 2018 5 SMP N 31 Purworejo 6 SMP Negeri 1 Yogyakarta 7 SMP Negeri 2 Barusjahe 8 SMP Maria 9 SMP Pangudi Luhur Wedi 10 SMP N 2 Playen 8 Mei 2018 18 April 2018 dan 19 April 2018 28 April 2018 23 April 2018 dan 24 April 19 April 2018 8 Mei 2018

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data Menurut Zuriah (2007: 171) penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan ialah angket penilaian (validasi) siswa terhadap efektivitas model asesmen yang dikembangkan dan soal-soal tes menggambarkan dilema moral yang menggunakan potongan-potongan film karakter berdurasi 1-2 menit. Angket keterlaksanaan dan hambatan asesmen pendidikan karakter di sekolah menengah pertama, diberikan kepada para guru yang memiliki kaitan erat dengan pendidikan karakter di sekolah. Angket penilaian terhadap model asesmen yang dikembangkan oleh tim peneliti, bertujuan agar mengetahui masukan dari para guru mata pelajaran yang memiliki kaitan erat dengan pendidikan karakter di sekolah. Angket keterlaksanaan dan hambatan asesmen pendidikan katakter diberikan bersamaan dengan angket penilaian terhadap model asesmen kepada guru saat tes diberikan kepada para siswa.Validasi siswa digunakan untuk menilai efektvitas dari pengembangan soal tes, dapat diberikan pada akhir sesi pengerjaan soal tes. 2. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data hasil penelitian (Zuriah, 2007: 168). Ada dua macam Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah “ANALISIS VALIDASI

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER DI BEBERAPA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) DI INDONESIA (Uji Validasi Model Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film pada beberapa SMP di Indonesia Berdasarkan Siswa yang Orang Tuanya Guru dan Non Guru pada) yang diujikembangkan dalam penelitian berupa soal tes yang berupa pilihan berganda (multiple choice) dengan menggunakan skala jenjang dan kuesioner validasi siswa terhadap efektivitas model asesmen yang dikembangkan, kuesioner validasi efektifitas produk penelitian berbentuk pernyataan checklist menggunakan skala Guttman. Pada sub bab ini menjelaskan karakteristik kedua instrumen yang digunakan : a. Kuesioner Validasi Efektivitas Kuisioner validasi efektivitas soal tes menurut penelitian siswa berbentuk pernyataan checklist menggunakan skala Guttman. Sugiyono, (2016: 111) menjelaskan bahwa skala pengukuran dengan tipe ini, akan mendapatkan jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak”; “benar-salah”; “pernah-tidak pernah”; positif-negatif”; dan setuju-tidak setuju”. Data yang diperoleh dapat berupa data interval dan data rasio. Skala Guttman yang digunakan dalam validasi model pengembangan prototipe soal tes karakter, tujuannya dalam validasi penggunaan efektivitas dari model pengembangan yang dibuat berdasarkan penilaian siswa.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 b. Soal Tes Hasil Pendidikan Karakter Menurut Sudjana (2010: 35) alat penilaian hasil belajar dapat digolongkan dalam dua jenis yaitu tes uraian dan tes objektif. Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes objektif. Tes objektif berupa pilihan berganda (multiple choice) dengan menggunakan skala ke jenjang. Tes diberikan kepada siswa yang berbeda tingkatan (kelas VII dan kelas VIII), dalam waktu yang sama, bertujuan untuk melihat perbedaan antara keduanya dan mendapatkan data yang diperlukan. Model soal yang diujikembangkan dalam penelitian ini disusun berdasarkan cuplikan video yang menggambarkan prilaku karakter. Karakterkarakter yang dimunculkan berlandaskan pada nilai-nilai karakter untuk anak SMP berdasarkan SKL SMP (Permen Diknas nomor 23 tahun 2006) dan dikelompokan menjadi lima faktor. Selanjutnya soal tes dibuat berdasarkan karakter-karakter yang telah ditentaugkan. Soal ini dikemas dalam bentuk video dengan tampilan pertanyaan dan pilihan jawabab, sehingga siswa tidak lagi membaca dalam bentuk lembaran. Tes dalam penelitian ini bersifat tertutup ( pilihan ganda), karena potongan film yang diisi dengan pernyataan soal pertanyaan dan empat alternatif jawaban yang bergradasi. Siswa dapat memilih jawaban yang menurut mereka paling tepat dan tersedia dengan kebiasaan yang mereka lakukan. Jawaban pada pilihan ganda memiliki nilai.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Nilai yang dapat pada jawaban pilihan ganda tersebut mulai dari angka 1 sampai 4 dan tidak ada jawaban salah/nol. Tabel 3.4 Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Golongan Faktor Karakter Faktor 1: Nilai karakter dalam hubungannya Religius Nomor soal 65-68 dengan Tuhan Faktor 2: Karakter dalam hubungannya dengan Jujur 17-20 diri sendiri 21-24 Tanggung jawab Kreatif 25-28 Inovatif 29-32 Daya juang 37-40 Kerja keras 33-36 Disiplin 41-44 Mandiri 45-48 Rasa ingin tahu 1-4 Faktor 3: Nilai karakter dalam hubungannya Menghargai dengan sesama. 5-8 prestasi Demokratis 57-60 Rendah hati 49-52 Kepemimpinan 61-64 Memaafkan 53-56 Peduli sosial 9-12 Bersahabat 81-84 Cinta damai 85-88

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Faktor 4: Nilai karakter dalam hubungannya Peduli 13-16 dengan lingkungan. lingkungan Faktor 5: Nilai kebangsaan Nasionalisme 77-80 Toleransi 69-72 Cinta tanah air 73-76 E. Tek nik Analisis Data Sugiyono (2010) mengatakan bahwa teknik analisis data diarahkan untuk menjawab rumusan masalah. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada rumusan masalah. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian disesuaikan dengan poin-poin ntujuan penelitian: 1. Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Dianalisis dengan Teknik Deskriptif Kualitatif. Produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter ini dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif kualitatif Produk soal tes ini telah melalui proses perevisian yang begitu ketat, antara lain: revisi kalimat dan tata bahasa menurut EYD pada soal tes asesmen, revisi waktu pemutaran potongan film dan soal supaya lebih efektif dan efisien, pemilihan potongan film berdasarkan pemain utama anak Indonesia dan ber-setting tempat di Indonesia, pemilihan potongan film yang dimainkan oleh anak SMP, mengedit kejernihan film, mengedit kejelasan suara, memilih dan mengedit kecocokan soal tes dengan potongan film. Beberapa revisian pada produk ini, menghasilkan produk yang layak diujicobakan pada beberapa anak SMP di Indonesia.

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Produk ini mencakup potongan film pendek yang menampilkan karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Produk ini memakan waktu -+ 4 jam yang dibagi menjadi 2 sesi. Alurnya, siswa SMP diminta untuk melihat potongan film -+ 2 menit. Setelah film selesai diputar, maka akan muncul soal tes dan pilihan jawaban yang bergradasi yang akan dipilih oleh siswa/i. 2. Teknik Analisis Kuliatas soal-soal tes asesmen hasil penelitian pendidikan karakter berbasis film karakter yang diuji cobakan pada beberapa SMP di Indonesia. Guna melihat kualitas soal-soal tes asesmen hasil penilaian pendidikan karakter berbasis film karakter yang di uji cobakan pada beberapa SMP di Indonesia maka, peneliti menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Teknik ini digunakan untuk menganalisis validitas dan reliabilitas pada soal tes asesmen hasil penilaian pendidikan karakter berbasis film karakter. Tujuannya adalah untuk mengetahui gambaran kualitas soal tes asesmen hasil penilaian pendidikan karakter berbasis film karakter dengan melihat validitas dan reliabilitas soal tes asesmen hasil penilaian pendidikan karakter berbasis film karakter yang di uji cobakan pada siswa kelas VII dan VIII di SMP Fransiskus Tanjungkarang, SMP St. Aloysius Turi, SMP N 1 Yogyakarta, SMP Raden Fatah Cimanggu, SMP N 3 Wates, SMP N

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 31 Purworejo, SMP N 2 Barusjahe, SMP Maria Padang, SMP Pangudi Luhur Wedi Klaten, dan SMP N 2 Playen Gunung Kidul. a. Validitas Sugiyono (2016) mengatakan bahwa validatas merupakan derajad ketepatan antara dua data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Validitas akan menunjukkan data yang valid atau tidak. Data yang valid adalah data “yang tidak berbeda” antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian. Bila peneliti membuat laporan yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi pada obyek, maka data itu dinyatakan tidak valid. Validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity) dan validitas konstruk. 1) Validitas Isi Validasi isi (content validity) isi ditentukan dengan melihat apakah soal-soal yang digunakan telah menunjukkan sample atribut yang diukur. Menurut Guion dalam (Mulyasa, 2004), validitas sangat bergantung kepada dua hal yaitu tes itu sendiri dan proses yang mempengaruhi dalam merespon tes. Salah satu cara untuk memperoleh validitas isi adalah dengan melihat soal-soal yang membentuk tes itu. Jika keseluruhan keseluruhan soal nampak

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 mengukur apa yang seharusnya tes itu digunakan, tidak diragukan lagi bahwa validitas isi sudah terpenuhi. 2) Validitas Konstruk Mulyasa (2004) validitas konstruk berarti bahwa suatu alat ukur dikatakan valid apabila telah cocok dengan konstruksi teoritis dimana tes tersebut dibuat. Dengan kata lain sebuah tes dikatakan memiliki validasi konstruksi apabila soal-soalnya mengukur setiap aspek berpikir yang sudah diuraikan faktor-faktor yang sudah ditetapkan. Oleh sebab itu uji validitas ini menggunakan analisis faktor. Yamin & Kurniawan (2009) analisis faktor adalah suatu analisis multivarian yang bertujuan untuk meringkas atau mereduksi variabel amatan secara keseluruhan menjadi beberapa variabel atau dimensi baru akan tetapi variabel atau dimensi baru yang terbentuk tetap merepresentasikan variabel utama. tersebut dapat menggambarkan faktor utama. Analisi faktor mempunyai dua pendekatan utama, yaitu exporatory factor analysis dan confirmatory factor analysis. Analisis faktor pada penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan confirmatory factor analysis. Confirmatory factor analysis (Yamin & Kurniawan, 2009) digunakan apabila faktor

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 yang akan terbentuk telah ditetapkan terlebih dahulu. Pendekatan confirmatory factor analysis merupakan teknik pengujian yang validasi yang lebih canggih (sophisticated) untuk mengguji apakah faktor-faktor teretis peneliti telah terbukti direfleksikan oleh indikator-indikator yang ada. ‫ ܱܯܭ‬ൌ σ ‫ݎ‬௜௝ଶ σ ‫ݎ‬௜௝ଶ ൅ σ ‫ן‬ଶ௜௝ Keterangan: ‫ =݆݅ʹݎ‬koefisien korelasi ‫ = ݆݅ʹן‬koefisien korelasi parsial Tabel 3. 5 Ukuran KMO Ukuran KMO ≥ 0,90 Rekomendasi Sangat baik (Marvelous) 0,80 – 0,89 Berguna (Meritorious) 0,70 – 0,79 Biasa (Middling) 0,60 -0,69 Cukup (Mediocre)

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 0,50 -0,59 ≤ 0,50 Buruk (Miserable) Tidak diterima (Unacceptable) b. Reliabilitas Priyatno (2014) uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui keajegan atau konsistensi alat ukur yang biasannya menggunakan kuesioner. Sedangkan (Harrison, dalam Zulganef, 2006) reliabilitas adalah ukuran yang menujukkan bahwa alat ukur yang digunakan dalam penelitian keperilakukan mempunyai keandalan sebagai alat ukur, diantaranya di ukur melalui konsistensi hasil pengukuran dari waktu ke waktu jika fenomena yang diukur tidak berubah. Dimana akan dihasilkan alat ukur penelitian yang akan tetap konsisten walaupun pengukuran diulangi kembali.

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Patton (Budiastuti & Bandur, 2018) menegaskan bahwa reliabilitas merupakan faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan para peneliti kualititif dalam mendesain, menganalisis, dan melaporkan hasil penelitian kuantitatif. Dia juga menjelaskan bahwa reliabilitas tidak dapat dipisahkan dari validitas karena validitas penelitian akan melahirkan reliabilitas penelitian. Validitas yang baik dapat menghasilkan reliabilitas penelitian yang baik. Pengujian reliabilitas soal tes pada penelitian ini dibantu dengan meggunakan program SPSS. Suharsimi, Arikunto (2012: 122) mengatakan bahwa uji reliabilitas tes berbentuk esai menggunakan rumus Alpha cronbach. Berikut rumus Alpha Cronbach yang digunakan untuk mengukur reliabilitas soal tes: ݊ ݇݁‫݊ܽ݃݊ܽݎ݁ݐ‬ǣ ʹ σ ߙ݅ ቇ ൮ͳ െ  ൲ ‫ ͳͳݎ‬ൌ ቆ ʹ ሺ݊ െ ͳሻ ߙ݅ ‫ ͳͳݎ‬ൌ ‫݅ݎܽܿ݅݀݃݊ܽݕݏܽݐ݈ܾ݈݅݅ܽ݅݁ݎ‬ ʹ ߙ݅ ൌ ‫݈ܽݐ݋ݐݏ݊ܽ݅ݎܽݒ‬ ʹ ෍ ߙ݅ ൌ ݆‫ ݌ܽ݅ݐݎ݋݇ݏݏ݊ܽ݅ݎܽݒ݄݈ܽ݉ݑ‬െ ‫݉݁ݐ݅݌ܽ݅ݐ‬ ݊ ൌ ܾܽ݊‫݈ܽ݋ݏݎ݅ݐݑܾܽݕ݊݇ܽݕ‬ Rentangan nilai koefisien Alpha’s Cronbach antara 0 (tanpa reliabilitas) sampai 1 (reliabilitas sempurna). Berikut tabel nilai koefiesien alpha: Tabel 3.6

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Nilai Koefisien Alpha Nilai Koefisien 0 > .70 > .80 > .90 1 Reliabilitas Tidak memiliki reliabilitas Reliabilitas yang dapat diterima Reliabilitas yang baik Reliabilitas yang sangat baik Reliabilitas sempurna 3. Teknik Analisis Nilai Efektifitas Menurut Penilaian Siswa Pada Beberapa SMP di Indonesia dalam Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter. Untuk mengukur nilai-nilai efektivitas, maka siswa diberikan selembar kertas Uji Penilaian Siswa yang berisikan 7 pernyataan negatif dan 28 pernyataan positif. Siswa diminta untuk memilih jawaban “ya” atau “tidak” sesuai dengan hati nuraninya. Oleh sebab itu, untuk mengukur apakah poin-poin pernyataan memiliki nilai efektifitas yang bergradasi, maka peneliti menentukan skor kriteria yang berpatokan dengan kategori PAP (Penilaian Acuan Patokan) Tipe I (Masidjo, 1995: 153). Penilaian responden dikatakan efektif apabila mencapai 80%. Hal ini dilakukan peneliti karena bentuk jawaban yang disajikan dalam kuesioner Penilaian Efektifitas Model Soal Tes Asesmen menurut siswa sebagai penilai menuntut jawaban tegas yaitu Ya atau Tidak dengan rumus di bawah ini dan berikut disajikan table Kkategori PAP Tipe I. σ ݂ Pem = Keterangan: Pem = Persentase capaian skor ܰ ͳͲͲ

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 σ ݂ ൌJumlah jawaban setiap item N = Jumlah responden Tabel 3.7 Kategori PAP Tipe 1 Kategori Persentase (%) Sangat Efektif 90%-100% Efektif 80%-89% Cukup Efektif <80% Kurang efektif 55%-64% Tidak efektif <55% 4. Teknik Analisis Data Capaian Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Dianalisis dengan Teknik Deskriptif Kuantitatif Kontinum jenjang pada penelitian ini adalah dari yang sangat rendah sampai yang sangat tinggi. Norma kategorisasi pada penelitian ini berdasarkan pada PAN (Penilaian Acuan Norma). PAN bertujuan untuk membedakan individu kelompokkelompok mulai dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi.

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Tabel 3.8 Norma Kategorisasi Karakter Subjek Penelitian Skor Kategorisasi μ+1σ
(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 a. Ho ditolak: ada perbedaan nilai efektifitas pada model asesmen hasil penelitian pendidikan karakter berbasis film menurut penilaian siswa yang orang tuanya guru dan non guru. b. Ho diterima: tidak ada ada perbedaan nilai efektifitas pada model asesmen hasil penelitian pendidikan karakter berbasis film menurut penilaian siswa yang orang tuanyanya guru dan non guru 6. Teknik Analisis Data Apakah terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa SMP di Indonesia berdasarkan pekerjaan orang tua guru dan non guru ? Untuk melihat adanya perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa SMP di Indonesia dilihat dari pekerjaan orang tua guru dan non guru, peneliti menggunakan perhitungan Independent Sample T-Test pada SPSS. Berikut hipotesis sementara dari peneliti adalah: Ho : Tidak terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa SMP di Indonesia di berbagai pekerjaan orang tua guru dan non guru Ha : Terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa SMP di Indonesia di berbagai pekerjaan orang tua guru dan non guru.

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Analisis Data 7. Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diujikembangkan Pada 10 SMP di Indonesia Sebagaimana dipaparkan pada bab 3 dalam metodologi penelitian pendidikan mengenai prosedur model penelitian pengembangan Borg and Gall (Silalahi, 2018) mengungkapkan bahwa Educational Research and Development merupakan proses untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk pendidikan. Langkah-langkah Research and Development menurut Borg and Gall (Silalahi, 2018) meliputi 10 langkah, yaitu: (1) Research and information collection (melakukan penelitian dan pengumpulan informasi); (2) Planning (membuat perencanaan); (3) Develop Preliminary form of Product (mengembangkan bentuk awal produk); (4) Preliminary Field Testing (melakukan uji lapangan awal); (5) Main Product Revision (melakukan revisi produk utama); (6) Main Field Testing (melakukan uji lapangan untuk produk utama); (7) Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional); (8) Operational Field Testing (melakukan lapangan terhadap uji produk); (9) Final Product Revision (melakukan revisi produk final); (10) Disemination and Implementation (diseminasi dan implementasi). Sedangkan, penelitian ini telah memasuki pada tahap 98

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 (7) Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional); (8) Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk). Pada tahapan ini peneliti telah melakukan perevisian produk dan mengujicobakan produk tersebut ke 10 sekolah yang ada di Indonesia. Tahap revisi produk yang telah peneliti lakukan adalah memilih potongan film pendek yang menampilkan karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab; memilah potongan film yang notabene adalah anak SMP (sesuai dengan umur subjek); mensortir film yang berbahasa Indonesia dan berasal dari Indonesia; mengedit kalimat dan tanda baca dalam soal yang mana harus sesuai dengan EYD; mengedit durasi setiap soal yaitu kurang lebih 2 menit; mencocokan soal dengan potongan video; mengedit kejelasan suara: dan memilih kejernihan film. Setelah melewati proses yang panjang maka produk penelitian pengembangan pada tahap revisi produk ini terfilterisasi 88 soal tes asesmen yang terseleksi dari 440 butir soal tes yang telah dikembangan oleh tahun sebelumnya. Setelah itu, sebanyak 88 butir soal tes tersebut diujicobakan secara empirik di lapangan seperti yang telah disebutkan pada bab 3, sebagaimana yang telah dijelaskan bab 3. Bentuk fisik 88 soal itu telah didokumentasikan pada sebuah dvd (foto sampul dvd). Produk final soal tes

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 yang dikembangkan peneliti bersama tim merupakan hak otoritas pengembang. Oleh sebab itu, dari peneliti hanya mencantumkan 1 contoh soal. Bagi pihakpihak yang membutuhkan informasi lebih terkait contoh soal lainnya bisa menghubungi email: bardon.usd@gmail.com Jika kamu adalah siswa yang mampu menerima akibat dari perbuatanmu, bila kamu menjadi anak dalam film tadi. Apa yang kamu lakukan agar dapat memahami materi ujian besok? a. Saya melanjutkan belajar setelah tidur https://www.youtube. com/watch ?v=Gq0-QqW7eHU setengah jam b. Tidur sekitar dua jam dan bangun kembali untuk belajar yang lebih serius c. Tidur sampai subuh dan belajar sebelum berangkat ke sekolah d. Tidur sampai pagi dan belajar di sekolah 8. Kualitas Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diujikembangkan Pada 10 SMP di Indonesia a. Validitas

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Pengujikan kualitas meliputi uji validitas dan reabilitas produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujikembangkan pada beberapa SMP di Indonesia.Berdasarkan kajian nilainilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi 80 butir nilai karakter yang dikelompokkan menjadi lima, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan (1) Tuhan Yang Maha Esa, (2) diri sendiri, (3) sesama manusia, dan (4) lingkungan, serta (5) kebangsaan. Namun demikian, penanaman kedelapanpuluh nilai tersebut merupakan hal yang sangat sulit. Oleh karena itu, pada tingkat SMP dipilih 20 nilai karakter utama yang disarikan dari butir-butir SKL SMP (Permen Diknas nomor 23 tahun 2006) dan SK/KD (Permen Diknas nomor 22 tahun 2006). Berikut adalah daftar 20 nilai utama yang dimaksud dan diskripsi ringkasnya. a. Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan (Religius) Pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ke-Tuhanan dan/atau ajaran agamanya. b. Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri: 1) Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. 2) Bertanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan,

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME. 3) Bergaya hidup sehat Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. 4) Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. 5) Kerja keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya. 6) Percaya diri Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya. 7) Berjiwa wirausaha Sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya. 8) Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki. 9) Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 10) Ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. 11) Cinta ilmu Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan. c. Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama. 1) Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain. 2) Patuh pada aturan-aturan sosial Sikap menurut dan taat terhadap aturanaturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum. 3) Menghargai karya dan prestasi orang lain Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain. 4) Santun Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang. 5) Demokratis Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. d. Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. e. Nilai kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. 1. Nasionalis Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya. 2. Menghargai keberagaman Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama. Pengujian kualitas soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter dilakukan dengan metode analisis faktor konfirmatori CFA berdasarkan konsep dan teori yang sudah diketahui dan ditentukan sebelumnya Tabel 4.1 Hasil Analisis Faktor Variabel 1 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Approx. Chi-Square Sphericity df Sig. Tabel 4.2 Rotated Component Matrixa .502 36.020 6 .000

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 Component 1 2 .664 f1.65 f1.66 .823 f1.67 .662 f1.68 .784 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations. Nilai KMO yaitu 0,502 sehingga nilai KMO lebih besar dari 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga instrument penelitian ini layak digunakan. Table rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk factor. begitu pula pada factor selanjutnya, dimana nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam factor yang sama. Hasil diatas keempat item pada variable 1 memiliki factor loading diatas 0,5 sehingga seluruh item valid dan membentuk 2 faktor dimana factor pertama terdiri dari item 65 dan 68 sedangkan faktor kedua terdiri dari itr 66 dan 67. Hasil Analisis Faktor Variabel 2 dan Variabel 3 Factor Analysis Tabel 4.3 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. .954

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. Tabel 4.4 Rotated Component Matrixa Component 1 2 f2.1 .720 f2.2 .621 f2.3 .577 f2.4 .658 f2.17 .601 f2.18 .509 f2.19 .666 f2.20 .595 f2.21 .577 f2.22 .602 f2.23 .605 f2.24 .634 f2.25 .659 f2.26 .566 f2.27 .671 f2.28 .524 f2.29 .621 f2.30 .600 f2.31 .555 f2.32 .647 f2.33 .503 f2.34 f2.35 .586 f2.36 .560 f2.37 .556 f2.38 .584 f2.39 f2.40 .525 f2.41 .504 19133.516 2278 .000

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 f2.42 .551 f2.43 .556 f2.44 .520 f2.45 .542 f2.46 .531 f2.47 .654 f2.48 .590 f3.5 .819 f3.6 .545 f3.7 .639 f3.8 .710 f3.9 .716 f3.10 .632 f3.11 f3.12 .584 f3.49 .606 f3.50 .612 f3.51 .546 f3.52 .620 f3.53 .617 f3.54 .526 f3.55 .501 f3.56 .576 f3.57 .684 f3.58 .505 f3.59 .578 f3.60 .569 f3.61 .614 f3.62 .727 f3.63 .633 f3.64 .656 f3.81 .624 f3.82 .575 f3.83 .556 f3.84 f3.85 f3.86 .690 f3.87 .548 f3.88 .574 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 a. Rotation converged in 3 iterations. Nilai KMO-MSA yaitu 0,954 sehingga nilai KMO-MSA lebih besar dari 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga instrument penelitian ini layak digunakan. Table rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk factor. begitu pula pada factor selanjutnya, dimana nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam factor yang sama. Hasil diatas diperoleh banyaknya 2 item tidak valid pada variable 2 dan 3 item tidak valid variable 3. Tabel 4.16 Hasil Analisis Faktor Variabel 4 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Approx. Chi-Square Sphericity df Sig. .502 20.878 6 .002 Tabel 4.5 Hasil Analisis Faktor Variabel 4 Rotated Component Matrixa Component 1 2 f4.13 f4.14 f4.15 -.715 f4.16 .707 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations. .704 .731

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Nilai KMO-MSA yaitu 0,502 sehingga nilai KMO-MSA lebih besar dari 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga instrument penelitian ini layak digunakan. Table rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk factor. begitu pula pada factor selanjutnya, dimana nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam factor yang sama. Hasil diatas keempat item pada variable 4 memiliki factor loading diatas 0,5 sehingga seluruh item valid dan membentuk 2 faktor dimana factor pertama terdiri dari item 15 dan 16 sedangkan factor kedua terdiri dari item 13 dan 14. Tabel 4.6 Hasil Analisis Faktor Variabel 5 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Approx. Chi-Square Sphericity Df Sig. .758 693.702 66 .000 Tabel 4.7 Hasil Analisis Faktor Variabel 5 f5.69 f5.70 f5.71 Rotated Component Matrixa Component 1 2 .641 .635 .652 3

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 f5.72 .630 f5.73 .592 f5.74 .560 f5.75 f5.76 .553 f5.77 .533 f5.78 .580 f5.79 f5.80 .684 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 5 iterations. Nilai KMO-MSA yaitu 0,758 sehingga nilai KMO-MSA lebih besar dari 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga instrument penelitian ini layak digunakan. Table rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk factor. begitu pula pada factor selanjutnya, dimana nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam factor yang sama. Hasil diatas terdapat 7 item pada variable 5 memiliki factor loading diatas 0,5 sehingga ke 7 item valid dan membentuk 3 faktor dimana factor pertama terdiri dari item 69,70,71,72 sedangkan factor kedua terdiri dari itr 73,74,76 dan factor ketiga terdiri dari item 77,78,80. Pada variable 5 ini terdapat 2 item tidak valid. b. Reliabilitas Patton (Budiastuti & Bandur, 2018) menegaskan bahwa reliabilitas merupakan faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan para peneliti kualititif dalam mendesain, menganalisis, dan melaporkan hasil penelitian kuantitatif. Dia juga menjelaskan bahwa reliabilitas tidak dapat dipisahkan

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 dari validitas karena validitas penelitian akan melahirkan reliabilitas penelitian. Validitas yang baik dapat menghasilkan reliabilitas penelitian yang baik. Tabel 4.8 Reliability Statistics Cronbach's Alpha .933 N of Items 88 Pada hasil validitas di atas diketahu bahwa setiap variabel memiliki nilai Cronbach’s Alpha lebih dari >0.5 yaitu 0.933. Bila melihat pada tabel rentangan nilai koefisien alpha dapat dikatakan memiliki reliabilitas yang sangat baik 3. Nilai Validasi Efektivitas Penggunaan Produk Menurut Penilaian Siswa Untuk mengukur nilai-nilai efektifitas mana sajakah yang terdapat dalam soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter, kepada siswa diberikan skala perseptual terlampir pada lampiran.. Penggunaan inventori tersebut pada partisipan penelitian memberikan data sebagai berikut, dapat dilihat pada tabel 4.9.

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 Tabel 4.9 Rekapitulasi Hasil Validasi Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada 10 SMP di Indonesia (N=660) No Ya Tidak F F Pernyataan 1 Menarik dan asyik 631 29 2 Menyenangkan dan menghibur Sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri Menyadarkan saya untuk memperbaiki perilaku 617 43 652 8 652 8 Membuka mata hati/nuraniku Mendorong tekad/keberanian berbuat lebih baik Menyadarkanku bahwak ku pernah berbuat salah Membuatku merasa malu pada diri sendiri 637 23 642 18 636 24 444 216 Menumbuhkan rasa diri berharga Menyadarkan diriku bahwa aku punya kelemahan/kekurangan diri Membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku Sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik Menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan Menumbuhkan keinginan menolong orang lain 602 58 642 18 586 74 644 16 598 62 644 16 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 % 95.6% 93.5% 98.8% 98.8% 96.5% 97.3% 96.4% 67.3% 91.2% 97.3% 88.8% 97.6% 90.6% 97.6%

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 15 646 14 16 Menumbuhkan rasa bersyukur Menantang diri untuk bertobat dari perilaku buruk 589 71 17 Membosankan dan melelahkan 141 519 18 Soal-soalnya sangat berat dan sulit 92 568 19 Soalnya terlalu panjang dan rumit Mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab Membangkitkan kesadaran menghargai teman Menumbuhkan rasa kemanusiaan dan empati pada orang lain Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan Menumbuhkan ketaatan terhadap norma/peraturan Membangkitkan keinginan berusaha/gigih/berdaya juang Sangat baik/cocok/tepat untuk mengukur karakter siswa Beberapa potongan film tidak nyambung dengan pertanyaan & opsi jawaban Menumbuhkan keinginan berbagi/rela berkorban Mendorong siswa lebih disiplin/berperilaku baik/tertib pada aturan Waktu mengerjakan tes ini terburuburu dan terlalu singkat/kurang waktu Tes ini merupakan cara menilai karakterku (siswa) secara jujur dan adil Tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa Tes ini jika dilakukan secara berulang dapat menolong siswa untuk lebih sadar berperilaku dan membangun karakter yang lebih baik Tes ini kurang bermanfaat bahkan 174 486 635 25 649 11 643 17 640 20 645 15 646 14 629 31 1 659 625 35 633 27 211 449 640 20 595 65 617 65 43 595 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 97.9% 89.2% 78,3% 86,1% 73.7% 96.2% 98.3% 97.4% 97% 97.7% 97.9% 95.3% 99,85% 94.7% 95.9% 68.1% 97% 90.2% 93.5%

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 membuang-buang waktuku (siswa) 35 90.16% Dalam menjawab soal tes ini siswa mungkin kurang jujur sesuai nuraninya 316 344 52.2% Keterangan: pernyataan nomor 17,18,19,17,30,34,35 adalah item negatif. Berdasarkan tabel 4.9 Terdapat 35 nomor item yang mengandung 28 item positif dan 7 item negatif. Dari 35 nomor item tersebut yang masuk dalam kriteria sangat efektif (90%-100%) adalah 27 item, efektif (80%-89%) sebanyak 3 item, dan cukup efektif (< 80%) sebanyak 4 item. Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada Beberapa SMP di Indonesia (N=660) Kategori Sangat Efektif Efektif Cukup Efektif Kurang efektif Tidak efektif Persenta se (%) 90%100% Banyak Item 27 80%89% <80% 3 1, 2, 3, 4 ,5, 6, 7,9, 10, 12, 13, 14, 15, 20, 21, 22,23,24, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32,33,34 11, 16,18 4 8,30, 19,17 55%64% <55% 0 0 1 35 Nomor Pernyataan 1) Mencermati hasil data diatas sudah sangat meyakinkan bahwa sebagian besar siswa yang menjadi partisipan dalam penilaian efektifitas asesmen hasil pendidikan karakter adalah sangat efektif.

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 Dapat disimpulkan bahwa siswa menilai soal tes asesmen hasil pendidikan karakter ini sangat efektif karena asyik dan menarik. Siswa merasa senang dan terhibur, serta menyadari kualitas diri, memperbaiki perilaku, membuka mata hati/nurani siswa, mendorong tekad dan keberanian berbuat baik, menyadarkan siswa bahwa pernah berbuat salah, dan perasaan-perasaan positif lainnya. Akan tetapi, sebagaian dari mereka dalam menjawab soal tes ini kurang jujur dan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Artinya, ketika mereka melihat cuplikan video dan menjawab soal, disana ada dilema moral yang sedang mereka hadapi. Hal ini baik, karena produk ini benar-benar mampu menyadarkan siswa akan perbuatannya. Tabel 4.11 Kategori Efektivitas Model yang Dikembangkan Kriteria Sangat Efektif No Item 1 2 3 4 5 6 7 9 10 12 13 14 Pernyatan Menarik dan asyik Menyenangkan dan menghibur Sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri Menyadarkan saya untuk memperbaiki perilaku Membuka mata hati/nuraniku Mendorong tekad/keberanian berbuat lebih baik Menyadarkanku bahwa aku pernah berbuat salah Menumbuhkan rasa diri berharga Menyadarkan diriku bahwa aku punya kelemahan/kekurangan diri Sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik Menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan Menumbuhkan keinginan menolong orang lain

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 15 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 31 32 33 34 11 Efektif Cukup Efektif 16 18 8 17 19 30 35 Menumbuhkan rasa bersyukur Mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab Membangkitkan kesadaran menghargai teman Menumbuhkan rasa kemanusiaan dan empati pada orang lain Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan Menumbuhkan ketaatan terhadap norma/peraturan Membangkitkan keinginan berusaha/gigih/berdaya juang Sangat baik/cocok/tepat untuk mengukur karakter siswa Beberapa potongan film tidak nyambung dengan pertanyaan & opsi jawaban Menumbuhkan keinginan berbagi/rela berkorban Mendorong siswa lebih disiplin/berperilaku baik/tertib pada aturan Tes ini merupakan cara menilai karakterku (siswa) secara jujur dan adil Tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa Tes ini jika dilakukan secara berulang dapat menolong siswa untuk lebih sadar berperilaku dan membangun karakter yang lebih baik Tes ini kurang bermanfaat bahkan membuang-buang waktuku (siswa) Membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku Menantang diri untuk bertobat dari perilaku buruk Soal-soalnya sangat berat dan sulit Membuatku merasa malu pada diri sendiri Membosankan dan melelahkan Soalnya terlalu panjang dan rumit Waktu mengerjakan tes ini terburu-buru dan terlalu singkat/kurang waktu Dalam menjawab soal tes ini siswa mungkin kurang jujur sesuai nuraninya Keterangan: pernyataan nomor 17,18,19,17,30,34,35 adalah item negatif.

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 4. Capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil karakter berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia Untuk mengukur capaian hasil pendidikan karakter dengan menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 siswa SMP yang ada di Indonesia, sebanyak 660 siswa SMP diperlihatkan potongan film karakter pendek yang berdurasi -+ 1 sampai 2 menit beserta soal dengan waktu yang sudah ditentukan. Pilihan jawaban yang ada dalam soal tersebut bergradasi dan tidak ada jawaban benar dan salah, sehingga dalam hal ini siswa memilih jawaban yang menurutnya adalah paling sesuai dengan dirinya. Hasil pendidikan karakter tersebut dihitung menggunakan norma kategorisasi azwar, sebagai berikut: Tabel 4.12 Rumus Norma Tiga Kategorisasi Rendah Sedang Tinggi X < M – 1SD M – 1SD < X < M + 1SD M + 1SD < X Rumus norma tiga kategorisasi tersebut harus di cari skor-skor mana saja yang termasuk dalam kategori rendah, sedang, maupun tinggi. Oleh sebab itu, sebelum masuk ke SPSS, peneliti mencari skor-skor tersebut terlebih dahulu sebagai berikut: X maks = jumlah soal asesmen x nilai terbesar. = 88 x 4 = 352

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 X min = jumlah soal asesmen x nilai terkecil = 88 x 1 = 88 Simpangan baku/SD = Mean/X = ௑௠௔௞௦ା௑௠௜௡ ଶ ௑௠௔௞௦ି௑௠௜௡ ൌ ଺ ଷହଶା଼଼ ଶ ൌ ൌ ଷହଶି଼଼ ସସ଴ ଶ ଺ ൌ ଶ଺ସ ଺ ൌ ʹʹͲ ൌ ͶͶ Tabel 4.13 Pengkategorisasian Kategori Karakter cukup baik Karakter baik Karakter sangat baik Rumus M – 1SD < X Pengkategorisasian 176 < 220 M– 1SD < X < M + 1SD X
(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 Siswa 209.00 660 Valid N 300.00 263.4773 13.73048 -.297 .095 660 (listwise) Tabel 4.15 Ordinal Kategori Frequen Percent Valid Percent cy Cumulative Percent Karakter Sangat 338 51.2 51.2 51.2 322 48.8 48.8 100.0 660 100.0 100.0 Baik Kate gori Karakter Baik Total Pada hasil pengukuran pada tabel Descriptive Statistics diketahui nilai maximum (nilai tertinggi) = 300, Minimun (Nilai terendah)= 209, dan Mean (Nilai Rata-rata)= 263.47 dari hasil pendidikan karakter yang diukur menggunakan soal tes asesmen karakter berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia. Kategorisasi terhadap hasil pendidikan karakter terdapat pada tabel ordinal. Pada tabel tersebut diketahui bahwa kategori capaian hasil pendidikan karakter tinggi adalah 338 siswa dan hasil pendidikan karakter sedang adalah 322 siswa, pada hasil penilaian tidak terdapat siswa dengan capaian hasil pendidikan karakter sangat tinggi, rendah dan sangat rendah.

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 Sehingga dapat disimpulkan bahwa capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen karakter berbasis film karakter tinggi dan sedang. 5. Perbedaan penilaian siswa berdasarkan perkerjaan orang tua guru dan non guru terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter di Indonesia Untuk melihat apakah terdapat perbedaan penilaian dari siswa yang orang tuanya guru dan non guru terhadap validitas efektifitas penggunaan soal tes asesmen, peneliti memberikan 1 lembar kertas penilaian. Lembar efektifitas siswa tersebut berisikan 35 pernyataan mengenai efektif atau tidaknya penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Hasil rumusan masalah nomor 5 ini, melihat lebih spesifik pada penilaian siswa yang orang tuanya guru dan non guru menunjukkan bahwa jumlah siswa yang orang tuanya guru sebanyak 35 siswa dan siswa yang orang tuanya non guru sebanyak 625 siswa. Tabel 4.16 Perbedaan Penilaian Siswa yang Orang Tuanya Guru dan Non Guru Terhadap Validasi Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Signifikan No 1 2 3 Pernyataan Menarik dan asyik Menyenangkan dan menghibur Sangat bermanfaat untuk menyadari Sig. Pv Tidak Tidak Tidak 0.215 0,215 0,85 Persentase Guru 91.42% 93.5% 93.4% Non Guru 95.84% 99 % 99 %

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 kualitas diri Menyadarkan saya untuk memperbaiki perilaku Membuka mata hati/nuraniku Mendorong tekad/keberanian berbuat lebih baik Menyadarkanku bahwak ku pernah berbuat salah Membuatku merasa malu pada diri sendiri Menumbuhkan rasa diri berharga Menyadarkan diriku bahwa aku punya kelemahan/kekurangan diri Membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku Sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik Menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan Menumbuhkan keinginan menolong orang lain Menumbuhkan rasa bersyukur Menantang diri untuk bertobat dari perilaku buruk Membosankan dan melelahkan Soal-soalnya sangat berat dan sulit Soalnya terlalu panjang dan rumit Mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab Membangkitkan kesadaran menghargai teman Menumbuhkan rasa kemanusiaan dan empati pada orang lain Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan Menumbuhkan ketaatan terhadap norma/peraturan Membangkitkan keinginan berusaha/gigih/berdaya juang Sangat baik/cocok/tepat untuk mengukur karakter siswa 99 % Tidak Tidak 0,77 0,498 98.5% 98.5% Tidak 0,50 97.3% Tidak 0,77 96.4% 97.71% Tidak Tidak 0,96 0,502 67.3% 68% 99% 54% Tidak 0,77 90.3% 94,2% Tidak 0,967 88.8% 97,1% 91,4% Tidak 0,853 97.6% 97,71% 99% 99% Tidak 0,631 90.6% Tidak Tidak 0,383 0,958 90.% 97% 97% 97% Tidak Tidak Tidak Tidak 0,927 0,100 0,309 0,536 89.2% 22% 21% 15,6% 99% 0% 32% 23% Tidak 0,930 96.2% 71% Tidak 0,806 98.3% 94% Tidak 0,829 97.4% 94% Tidak 0,967 97% 94% Tidak 0,967 97% 97% Tidak 0,970 97.6% 97% Tidak 0,650 97.6% 100%

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 29 Beberapa potongan film tidak nyambung dengan pertanyaan & opsi jawaban Menumbuhkan keinginan berbagi/rela berkorban Mendorong siswa lebih disiplin/berperilaku baik/tertib pada aturan Tidak 94,7% 94,29% 94% 30 Waktu mengerjakan tes ini terburu-buru dan terlalu singkat/kurang waktu Tidak 0.904 4,4% 2,9% 0,190 68,8% 0,372 96% 94,2% 0.233 90,4% 82% 0.946 5% 9% 0.963 47,6% 51% 27 28 31 P 32 a d 33 a 34 35 Tidak 0,932 0,15% 5% Tidak 0,961 94.7% 94% Tes ini merupakan cara menilai Tidak karakterku (siswa) secara jujur dan adil Tes ini bagus dilakukan di akhir tiap Tidak semester untuk menilai karakter siswa Tes ini jika dilakukan secara berulang dapat menolong siswa untuk lebih sadar berperilaku dan membangun karakter yang lebih baik Tidak Tes ini kurang bermanfaat bahkan membuang-buang waktuku (siswa) Tidak Dalam menjawab soal tes ini siswa mungkin kurang jujur sesuai nuraninya Tidak 54% tabel di atas dapat terlihat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan untuk ke 35 pernyataan yang mengukur validasi efektifitas penggunaan soal tes berbasis film karakter tersebut terhadap siswa yang orang tuanya guru dan non guru. Secara keseluruhan terlihat bahwa siswa yang orang tuanya guru dan non guru setuju bahwa soal tes ini mengandung banyak unsur-unsur positif karena pada setiap pernyataan yang mengandung nilai positif dari soal tes tersebut memiliki presentasi besar diatas 50 %. Dikarekan pada item-item pernyataan tersebut tidak terdapat perbedaan penilaian yang signifikan antara siswa yang orang tuanya guru dan non guru. Maka dari itu, soal tes ini dapat digunakan bagi siswa SMP yang berlatarbelakang pekerjaan orang tua sebagai guru dan non

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 guru. Dengan demikian, dilihat dari hipotesisnya dapat disimpulkan Ho diterima dan menolak Ha. 6. Perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film berdasarkan pekerjaan orang tua guru dan non guru Tabel 4.20 Group Statistics Profesi N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Hasil Penilaian Non Guru Guru 625 262.6608 13.88276 .55531 35 265.2571 15.73184 2.65917 L Tabel 4.21 e Independent Samples Test v Levene's Test for Equality of t-test for Equality of Variances Means e n F Sig. t df e ’ Hasil s Penilaian Equal variances assumed Equal variances not assumed .124 .724 -1.069 658 -.956 37.026

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 Tabel 4.11 Independent Samples Test t-test for Equality of Means Sig. (2-tailed) Mean Std. Error 95% Difference Difference Confidence Interval of the Difference Lower Equal variances assumed .286 -2.59634 2.42906 -7.36599 .345 -2.59634 2.71653 -8.10042 Hasil Penilaian Equal variances not assumed Langkah 1 test untuk uji homogenitas (perbedaan varians). Di sana tampak bahwa ada F=0.214 dan Sig (P)= 0.724 karena P diatas > 0.05, maka dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan pada data siswa yang orang tuanya guru dan non guru (data equal/homogen). Langkah 2 Diketahiui bahwa data siswa yang orang tuanya guru dan non guru bersifat homongen maka dapattabel yang diperhatikan adalah Equal Variances Assumed

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 Langkah 3 Terhitung bahwa nilai t =-1.069 dan Sig (P) =0.286 karena P>0.05, artinya tidak ada perbedaan antara antara siswa yang orang tuanya guru dan non guru. Dengan demikian dapat disimpulkan Ha ditolak dan Ho diterima. Meskipun dapat dilihat perbedaan nilai Mean yang nilai karakter siswa yang orang tuanya non guru = 262.660 dan siswa yang orang tuanya guru= 265.257 selisihnya adalah -2.65 (dua koma enam lima) yang artinya siswa yang orang tuanya guru memiliki hasil penilaian karakter yang lebih baik tetapi selisihnya tipis dan saat dilakukan uji t hasil menunjukan tidak signifikan antara siswa yang orang tuanya guru dan non guru. Hasil analisis data dari total keseluruhan koresponden/siswa xberjumlah 660 siswa diantaranya terdapat 35 jumlah siswa yang memiliki orang tua dengan profesi guru. Dari hasil t-test pada tabel di atas meskipun terdapat perbedaan pencapaian hasil dengan selish -2.65 (dua koma enam lima) namun, tidak signifikan sehingga dapat dikatakan tidak terdapat perbedaan hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya guru dan non guru yang diuji melalui soal asesmen karakter berbasis film karakter.

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 B. Pembahasan 1. Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diuji Kembangkan Pada Beberapa SMP di Indonesia Penelitian ini dirancang untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan yaitu soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter. Penelitian ini telah memasuki pada tahap (7) Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional); (8) Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk). Tahap revisi produk peneliti memilih potongan film pendek yang menampilkan karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab, daya juang, memaafkan, rendah hati dan rasa ingin tahu. Kemudian peneliti memila/mensortir potongan film untuk memenuhi beberapa kriteria antara lain usia pemeran dalam film diharuskan sesuai dengan usia siswa SMP, film yang ditayangkan harus dalam Indonesia dan berasal dari Indonesia; kalimat pertanyaan di dalam setiap soal merupakan bahasa indonesia yang baik dan benar sesuai dengan EYD; setiap soal memiliki durasi yaitu kurang lebih 2 menit; kecocokan alur potongan film dengan soal yang tertera; kualitas audio baik: dan kualitas gambar baik. Setelah melewati proses yang panjang maka produk penelitian pengembangan pada tahap revisi produk ini terfilterisasi 88 soal tes asesmen

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 yang terseleksi dari 440 butir soal tes yang telah dikembangan oleh tahun sebelumnya. Setelah itu, sebanyak 88 butir soal tes tersebut diujicobakan secara empirik di lapangan seperti yang telah disebutkan pada bab 3, sebagaimana yang telah dijelaskan bab 3. Bentuk fisik 88 soal itu telah didokumentasikan pada sebuah dvd (foto sampul dvd). 2. Kualitas Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diujikembangkan Pada 10 SMP di Indonesia Berdasarkan hasil uji validitas melalui teknik analisis faktor konfirmatori untuk masing-masing dari lima variabel diketahui terdapat 81 item soal yang valid dan 7 item soal yang tidak valid. Artinya, dari 100% jumlah item hanya terdapat 8.64% item yang tidak valid dan 91.36% item yang valid. Jumlah dari item yang valid menyimpulkan bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter film karakter ini layak untuk digunakan. Patton (Budiastuti & Bandur, 2018) menjelaskan bahwa reliabilitas tidak dapat dipisahkan dari validitas karena validitas penelitian akan melahirkan reliabilitas penelitian. Validitas yang baik dapat menghasilkan reliabilitas

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128 penelitian yang baik. pada tabel rentangan nilai koefisien alpha dapat dikatakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter memiliki reliabilitas yang sangat baik 3. Nilai-Nilai Efektivitas yang Sangat Efektif dan Efektif Menurut Penilaian Siswa dalam Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Menurut Penilaian Siswa Pada Beberapa SMP di Indonesia Terdapat 35 nomor item yang mengandung 28 item positif dan 7 item negatif. Dari 35 nomor item tersebut yang masuk dalam kriteria sangat efektif (90%-100%) adalah 27 item, efektif (80%-89%) sebanyak 3 item, dan cukup efektif (< 80%) sebanyak 4 item. Sehingga dapat dikatakan bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film sangat efektif, efektif dan cukup efektif. Hal ini selaras dengan pendapat Masterpiece (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) yang menyebutkan bahwa siswa cenderung lebih banyak memahami hal-hal yang terinterpretasikan dalam film dari pada dalam buku teks. Sedangkan, Champoux (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) juga mengatakan bahwa film mampu mencapai ranah kognitif dan afektif siswa secara bersamaan. Maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa produk ini diterima oleh siswa dan mampu mengukur

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129 tingkat internalisasi pendidikan karakter di sekolah sehingga membentuk suatu karakter siswa. 4. Capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil karakter berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia Kategorisasi terhadap hasil pendidikan karakter terdapat pada tabel ordinal. Pada tabel tersebut diketahui bahwa kategori capaian hasil pendidikan karakter tinggi adalah 338 siswa dan hasil pendidikan karakter sedang adalah 322 siswa, pada hasil penilaian tidak terdapat siswa dengan capaian hasil pendidikan karakter sangat tinggi, rendah dan sangat rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen karakter berbasis film karakter baik atau sedang. Hal tersebut sejalan dengan teori Samani & Hariyanto (2011: 44) yang mengatakan bahwa pendidikan karakter dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Hal yang sama juga disampaikan oleh Lickona (Akhwan, 2014: 61) yang mengatakan bahwa karakter berkaitan dengan ketiga komponen, yaitu konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Artinya, karakter yang

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. 5. Perbedaan penilaian siswa berdasarkan perkerjaan orang tua guru dan non guru terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter di Indonesia Pada hasil perhitungan menggunakan metode Uji Chi Square diketahui tidak ada perbedaan hasil penilaian siswa berdasarkan pekerjaan orang tua guru dan non guru terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter. Dengan begitu, artinya produk ini layak digunakan oleh siswa dengan profesi orang tua guru maupun non guru . Hasil perhitungan menyatakan bahwa siswa dengan profesi orang tua guru maupun non guru menganggap soal tes asesmen ini sangat efektif digunakan untuk mengukur karakter pada siswa jenjang SMP. Masterpiece (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) juga menyebutkan bahwa siswa cenderung lebih banyak memahami hal-hal yang terinterpretasikan dalam film dari pada dalam buku teks. Hal yang sama juga disampaikan oleh Champoux (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) yang mengatakan bahwa film mampu mencapai ranah kognitif dan afektif siswa secara bersamaan. Dari beberapa pernyataan tersebut mampu memperkuat hasil penilaian siswa yang mengatakan bahwa produk ini efektif digunakan oleh siswa yang orang tuanya guru dan non guru, karena

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131 film mampu mencapai ranah kognitif maupun afektif siswa dan siswa cenderung memahami hal-hal yang ada di film dari pada buku teks. 6. Perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film berdasarkan pekerjaan orang tua guru dan non guru . Pada hasil pengolahan data melalui teknik Independent test dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan tetapi tidak terlalu signifikan pada capaian hasil pendidikan karakter berbasis film berdasarkan pekerjaan orang tua guru dan non guru. Hasil tersebut dapat dikatakan sejalan dengan teori yang mengatakan bahwa guru sebagai pendidik yang biasanya dianggap sebagai teladan oleh murid dan lingkungan memiliki beberapa standar kompetensi kepribadian seperti berakhlak mulia, arif bijaksana dan berperilaku santun, berkepribadian stabil, mantap dan disiplin, jujur, objektif dan bertanggungjawab, berwibawa dan patut diteladani, empati. Menurut Manurung (2008:511) dalam Purwanti (2013), “guru yang beribawa berarti guru yang dapat membuat siswanya terpengaruh oleh tutur katanya, pengajarannya, patuh kepada nasehatnya, dan mampu menjadi magnet bagi siswanya sehingga siswanya akan terkesima dan tekun menyimak pengajarannya.” Guru sebagai teladan yang memimplementasikan kompetensi kepribadian yang baik dan menerapkan kompetensi tersebut dalam mendidik anak dirumah dapat menjadi salah satu penunjang untuk memperkuat pendidikan karakter anak hal tersebut terbukti bila melihat nilai

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 mean siswa yang orang tuanya guru memiliki hasil penilaian karakter yang lebih baik dengan selisih 2.65 dan meskipun perbedaan tersebut kurang signifikasi dan kita tidak dapat mengatakan bahwa semua anak yang orang tuanya guru akan memiliki karakter yang baik. Namun, nilai mean yang lebih tinggi pada siswa yang orang tuanya guru memberikan gambaran bahwa kita dapat cenderung menemukan siswa yang orang tuanya guru memiliki karakter yang baik. Terdapat banyak faktor lain yang mempengaruhi proses penyerapan pendidikan karakter selain profesi orang tua dalam penelitian ini yang adalah guru dan non guru. Anak bertumbuh dalam lingkungan tetapi terdapat faktor pendukung lainnya tempat anak bertumbuh seperti lingkungan tempat anak tinggal, sistem pendidikan anak di sekolah dll.

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP Pada bab ini akan dipaparkan kesimpulan tentang produk, keterbatasan penelitian, dan saran berdasarkan penelitian. A. Kesimpulan Tentang produk Beberapa kesimpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan penelitian adalah sebagai berikut 1. Telah tersusun 88 soal dalam soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter. Soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter mengandung ke-22 karakter yaitu karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab, daya juang, memaafkan, rendah hati dan rasa ingin tahu. Pada proses pemutaran film akan dibagi menjadi dua sesi dengan sesi pertama 44 soal karakter dan sesi kedua 44 soal karakter dengan durasi keseluruhan 4 jam. 2. Soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter layak untuk digunakan. Teruji melalui metode analisis faktor 91,36 % item dinyatakan valid dan secara keseluruhan memiliki nilai reabilitas yang sangat baik. 3. Soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film dapat dikatakan efektif untuk digunakan. 134

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135 4. Pada hasil penelitian diketahui tidak terdapat kesignifikanan sehingga dapat dikatakan tidak ada perbedaan terhadap hasil penilaian siswa berdasarkan pekerjaan orang tua guru dan non guru terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter di Indonesia. 5. pada item-item pernyataan tersebut tidak terdapat perbedaan penilaian yang signifikan antara siswa yang orang tuanya guru dan non guru. Maka dari itu, soal tes ini dapat digunakan bagi siswa SMP yang berlatarbelakang pekerjaan orang tua sebagai guru dan non guru. Secara keseluruhan terlihat bahwa siswa yang orang tuanya guru dan non guru setuju bahwa soal tes ini mengandung banyak unsurunsur positif karena pada setiap pernyataan yang mengandung nilai positif dari soal tes tersebut memiliki presentasi besar diatas 50 %. 6. Siswa dengan orang tua guru memiliki nilai rata-rata hasil yang lebih tinggi dari non guru namun tidak begitu signifikan, sehingga dapat dikatakan tidak terdapat perbedaan hasil pendidikan karakter siswa yang orang tuanya guru dan non guru yang diuji melalui soal asesmen karakter berbasis film karakter. B. Keterbatasan Penelitian Penelitian elaksanaan penelitian asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia, sudah dirancang secara konseptual, sistematik, dan telah mengikuti aturan procedural. Tim PSHP telah mengupayakan produk ini agar mendapatkan hasil yang optimal, sehingga menjadi sebuah produk soal tes hasil pendidikan karakter yang mumpuni. Akan tetapi penelitian ini masih

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136 banyak kekurangan dan perlu perbaikan oleh tim selanjutnya. Berikut beberapa catatan dari keterbatasan penelitian ini: 1. Kurangnya fasilitas pendukung seperti ruangan yang sempit dan LCD yang kurang memadai, sehingga dalam pengerjaan siswa merasa kurang nyaman dan mempengaruhi kinerja siswa dalam mengerjakan soal. 2. Durasi pemutaran produk asesmen yang cukup lama dan ada beberapa soal beserta jawaban yang ditampilkan terlalu panjang, sehingga membuat siswa mudah lelah. 3. Asesmen ini memakan waktu yang lama pada saat pengerjaan soal. 4. Peneliti merasa kesulitan pada saat perevisian produk soal tes, karena rumit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. 5. Pelaksanaan penelitian berbarengan denagn libur ujian nasional, sehingga banyak anak yang tidak masuk sekolah/absen. 6. Pada soal tes karakter Religius dan Peduli Lingkungan, hasil Kaiser-Meyer Olkin (KMO) buruk. Hal tersebut dikarenakan oleh indikator yang mewakili karakter pada faktor 1 dan faktor 4 hanya berjumlah 1. Agar KMO mengalami peningkatan, akan lebih baik apabila jumlah indikator karakter pada variabel tersebut ditambahkan. C. Saran Berikut ini merupakan beberapa saran yang dapat peneliti uraikan untuk pengembangan produk soal tes asesmen agar menjadi lebih baik. 1. Bagi Pemerintah

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137 Peneliti menyarankan kepada pemerintah untuk melanjutkan pengembangan produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter ini agar menjadi lebih baik. Pemerintah juga dapat menetapkan produk ini sebagai salah satu alat ukur untuk mengetahui hasil pendidikan karakter pada diri siswa. 2. Bagi Guru BK Produk ini dapat digunakan sebagai alat ukur/penilaian karakter yang lebih objektif, efektif, valid, praktis, dan berkeadilan pada jenjang SMP. Guru BK juga harus mempersiapkan game yang membuat anak kembali bersemangat setelah menyelesaikan soal tes ini. 3. Bagi Peneliti Lain Penelitian ini dapat digunakan sebagai patokan dalam membuat produk soal tes agar lebih baik lagi. Akan tetapi, produk ini perlu adanya pengembangan agar siswa tidak merasa lelah saat mengerjakan soal tes. Sehingga, produk asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film ini dapat menjadi lebih optimal sebagai alat ukur.

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138 Daftar pustaka Azwar, Saifuddin. (2014). Penyusunan skala psikologi (edisi 2). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. A. Koesoema Doni. (2010). Pendidikan Karakter, strategi mendidik anak zaman global. Jakarta : PT Grasindo. Barus, Gendon. (2017). The Implementation of Assessment Character Education Result in Secondary School. Advances in Social Science, Education, and Humanities Research, Volume 188 Blum, L. a. (1988). Gilligan and Kohlberg: Implications for Moral Theory. Ethics, 98(3), 472. Dwyanti Retno.2013. Peran Orang Tua Dalam Perkembangan Moral Anak(Kajian TeoriKohlberg) https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/ 11617/3983/A13.pdf?sequence=1 diunggah pada tanggal 22 maret 2018 Fathurrohman, Pupuh., AA Suryana., Fenny Fitriani. (2013). Pengembangan pendidikan karakter. Bandung: PT Refika Aditama. Koesoema, Doni. (2012). Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Yogyakarta: Kanisius. Kustandi, C & Sutjipto, B. (2016). Media pembelajaran; manual dan digital. Bogor: Ghalia Indonesia. Jawani. (2012). Kompetensi Guru (Citra Guru Profesional). Bandung : Alfabeta Jihad, Asep & Haris, Abdul.(2008). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. Purwanti.(2013). guru dan kompetensi kepribadian. http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jvip/article/view/2066 Diunggah pada tanggal 22 Maret 2018. Practice, T., & Apr, M. D. (2007). Moral Development : A Review of the Theory Lawrence Kohlberg ; Richard H . Hersh, 16(2), 53–59. Prijowuntato, Widanarto. S. (2016). Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Sanata Dharma university Press.

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139 Prihana, Rani. (2017). Peningkatan Karakter Ksatria Melalui Pendidikan Karakter Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Dengan Pendekatan Experiential Learning. https://repository.usd.ac.id/9159/2/131114007_full.pdf di unggah pada tanggal 17 Januari 2018. Ratnawulan, Elis & Rusdiana.(2015). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: CV Pustaka Setia. Samani, Muchlas & Hariyanto.(2011). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. Silalahi, Albinus. (2018). Development Research (Penelitian Pengembangan) dan Research & Development (Penelitian & Pengembangan) dalam Bidang Pendidikan/Pembelajaran. ResearchGate, 1-13. Subali, Bambang.(2016). Prinsip Asesmen dan Evaluasi Pembelajaran Edisi Kedua. Yogyakarta: UNY Press. Sudarma, Momon. (2014) Profesi Guru (dipuji, dikritisi, dan dicaci). Jakarta : PT RajaGrafindo persada. Sugiyono.(2015). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Sukardi.(2014). Evaluasi Program Pendidikan Dan Kepelatihan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Suwandi, Sarwiji. (2009). Model Assesmen dalam Pemberlajaran. Surakarta: Yuma Pustaka bekerja sama dengan FKIP UNS. Uno, Hamzah B. & Koni, Satria.(2012). Assessment Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Wardani, Silvia Yula. (2018). Peranan Konselor Dalam Penguatan Pendidikan Karakter. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, h.14 Yaumi, M. (2014). Pendidikan Karakter Landasan, Pilar & Implementasi. Jakarta: Prenadamedia Grup. Yulia, Desma & Arifin Muhammad. Pengaruh Penggunaan Media Film Animasi Dalam Pembelajaran IPS Terpadu Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII di SMP Kartini 1 Batam Tahun Pelajaran 2013/2014. Historia, 10, 31-45. Zainul & Nasution. (2005). Penilaian hasil belajar. Cetakan ke-5. Jakarta: PPAU-PPAI Universitas Terbuka.

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140 Zuriah Nurul. (2007). Metode penelitian sosial dan pendidikan. Jakarta : PT Bumi Aksara. Zhang, Q., & Zhao, H. (2017). An Analytical Overview of Kohlberg’s Theory of Moral Development in College Moral Education in Mainland China. Open Journal of Social Sciences, 05(08), 151–160.

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141 LAMPIRAN

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142 Lampiran 1 Lembar Penilaian Siswa

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143 Lampiran 2 Lembar Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144 Lampiran 3 Lembar Validasi Siswa

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145 Lampiran 4 Surat Pernyataan Kesedian Mitra

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146 Lampiran 5 Surat Keterangan

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(186)

Dokumen baru

Download (183 Halaman)
Gratis

Tags