RYA ANDR DALAM A F PIERRE si uhi Salah Sa ana Sastra In stra Indones

Gratis

0
0
95
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI NOVEL SANG S PEM MIMPI KAR RYA ANDR REA HIRA ATA : ANALISIS HABIITUS DAN N MODAL DALAM ARENA A PE ENDIDIKA AN MENU URUT PER RSPEKTIF F PIERRE BOURDIE EU Skripssi Diajukan untuuk Memenu uhi Salah Saatu Syarat Memperoleh M Gelar Sarjaana Sastra In ndonesia m Studi Sasstra Indonessia Program Oleh h Harpindo Syah Putra Hilarion Giinting NIM: 154114030 PR ROGRAM S STUDI SAS STRA INDO ONESIA FA AKULTAS SASTRA UNIVERS SITAS SAN NATA DHA ARMA YOGYAKA ARTA Januari 2019 2 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYAT P TAAN KEA ASLIAN KA ARYA Saya mennyatakan dengan sesunngguhnya bahwa tugass skripsi yan ang saya tullis ini tidak mem muat karya atau bagiann karya oraang lain, keccuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daaftar pustakaa sebagaimaana layakny ya karya ilm miah. Yog gyakarta, 100 Januari 2019 Penuulis Harp pindo Syah Putra Gintiing iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yataan Perssetujuan Publikasi Ka arya Ilmiahh Perny untuk K Kepentinga an Akadem misi n di bawah iini, saya maahasiswa Un niversitas SSanata Dharma: Yang bertanda tangan pindo Syah P Putra Hilariion Ginting Naama : Harp Nim : 154114030 Demi penngembangan n ilmu penggetahuan, saya membeerikan kepaada perpustaakaan Universitaas Sanata Dharma kaarya ilmiah h saya yan ng berjuduul “Novel Sang Pemimpi Karya And drea Hirataa: Analisis Habitus dan d Modaal dalam Arena A Pendidikaan Menurut Perspektif P Pierre Bourdieu”. Dengan demikian, d saya s membberikan kep pada Universitas Sanaata Dharmaa hak menyimpaan, mengallihkan dalaam bentuk k lain, meengelolanyaa dalam bentuk pangkalann data, mend distribusikaannya secara terbatas dan d mempub ublikasikann nya di internet attau media yang y lain uuntuk kepen ntingan akad demis tanpaa perlu mem minta izin dari saya maaupun mem mberikan royalty keepada sayaa selama tetap mencantum mkan namaa saya sebaggai penulis. Demikian pernyataan n ini saya buuat dengan sebenarnya. s . Dib buat di Yogy gyakarta Pad da tanggal 110 Januari 2019 2 Yan ng menyataakan, Harrpindo Syahh Putra Gintting v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan untuk Bapak (Marhen Ginting, S.Pd.) dan Mamak (Raskita Br. Tarigan, S.Pd.) serta keluarga vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik” -Pandji Pragiwaksono- vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala berkat, karunia, dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat meyelesaikan skripsi yang berjudul “Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata: Analisis Habitus dan Modal dalam Arena Pendidikan Menurut Perspektif Pierre Bourdieu” ini dengan baik. Penyusunan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana (S-1) Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Penulis menyadari bahwa proses penyusunan skripsi ini tidak dapat berjalan lancar tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, izinkan penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak tersebut. Yang pertama, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. dan Susilawati Endah Peni Adji S.S., M.Hum. selaku dosen pembimbing yang selalu dengan sabar dan ikhlas memberikan bimbingan, pengarahan, masukan, dan saran dari awal penulisan hingga selesainya skipsi ini. Yang kedua, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu dosen Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma (USD), yaitu Susilawati Endah Peni Andji S.S., M.Hum. selaku Ketua Program Studi Sastra Indonesia USD sekaligus selaku dosen pembimbing akademik mahasiswa Sastra Indonesia 2015, Sony Christian Sudarsono, S.S., M.Hum., selaku Wakil Ketua Progaram Studi Sastra Indosia USD, Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., Drs. B. Rahmanto, M.Hum., Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., Maria Magdalena Sinta Wardani, S.S., M.A., Drs. Hery Antono, M.Hum. (alm), dan Dr. Paulus Ari Subagyo, M.Hum. (alm), yang telah bersedia memberikan ilmunya selama penulis berkuliah di Progam Studi Sastra Indonesia; juga kepada Staf Sekretariat Fakultas Sastra khususnya Jurusan Sastra Indonesia atas pelayanannya selama ini. Yang ketiga, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Marhen Ginting S.Pd. dan Ibu Raskita br Tarigan S.Pd. tercinta yang selalu memberikan doa, cinta, dukungan, motivasi, dan hal lainnya kepada penulis. Penulis mengucapkan terima kasih juga kepada kak Mira Cansri br Ginting, S.Pd, bang Dika Tarigan, bang Pujand Plato Benhard Ginting, S.Sn, dan Regia Clara br Tarigan, yang selalu memberikan cinta, dukungan, dan motivasi kepada penulis. Yang keempat, penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Sastra Indonesia 2015, CMVE DIY & Jateng, Keluarga Karo Katolik Yogyakarta, yang berkenan menerima penulis untuk berdinamika bersama dalam menjalani viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kehidupann di Yogyak karta. Terim ma kasih jug ga kepada Ella E Irmina bbr Surbakti yang senantiasaa mengingaatkan, mem motivasi, dan membaantu penuli s dalam proses p penyusunaan skripsi in ni. Ucapan terima kasiih juga penulis ucapkaan kepada semua s pihak yangg tidak dapat disebutkaan satu perssatu, yang telah membeerikan duku ungan dan bantuaan dalam beentuk apapuun kepada penulis. p Akkhir kata, seperti s kataa pepatah “Tak Ada Gading yaang Tak Retak” R demikian pula hal ny ya dengan skripsi ini yang masih h jauh darii kata semp purna. ng terdapat di dalam tulisan t ini merupakan m tanggung jawab j Segala kesalahan yan penulis senndiri. Yo ogyakarta, 110 Januari 2019 2 Pen enulis Haarpindo Syaah Putra Gin nting ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Ginting, Harpindo. 2019. “Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata: Analisis Habitus dan Modal dalam Arena Pendidikan Menurut Perspektif Pierre Bourdieu”. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini mengkaji habitus dan modal dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Tujuan penelitian ini (1) mendeskripsikan hasil analisis struktur prosa dalam novel Sang Pemimpi yang terbatas pada tokoh dan latar, dan (2) mendeskripsikan habitus dan modal dalam novel Sang Pemimpi. Paradigma penelitian ini menggunakan paradigma M. H. Abrams dengan pendekatan objektif dan pendekatan diskursif. Pendekatan objektif menggunakan teori struktural, sedangkan pendekatan diskursif menggunakan teori Pierre Bourdieu. Metode dan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode studi pustaka. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan dua metode yakni metode formal dan metode analisis isi. Metode formal digunakan untuk menganalisis unsur-unsur novel Sang Pemimpi, yang terbatas pada unsur tokoh dan latar, sedangkan metode analisis isi digunakan untuk menemukan dan memahami habitus dan modal yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi. Hasil analisis struktur prosa dalam novel Sang Pemimpi adalah sebagai berikut. Terdapat tiga tokoh utama dalam novel tersebut yakni: Ikal, Arai, dan Jimbron. Ketiga tokoh utama tersebut berasal dari kalangan masyarakat miskin yang ingin mewujudkan mimpi-mimpinya melalui arena pendidikan. Analisis latar dalam novel Sang Pemimpi menunjukkan bahwa latar tempat meliputi: sekolah, pasar Magai, rumah Ikal, gudang Nyonya Lam Nyet Pho, toko A Siong, rumah Mak Cik Maryamah, masjid, pabrik cincau, kontrakan, bioskop, dermaga, rumah Bang Jaitun, rumah Nurmala, kapal Bintang Laut Selatan, Tanjung Periok, Bogor, tempat foto copy, kantor Pos, kereta, dan sebuah gedung di Jakarta. Latar waktu pada novel tersebut terjadi sekitar tahun 1980-an, dan latar sosial dalam novel tersebut menggambarkan masyarakat Melayu.Hasil analisis habitus dan modal yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata adalah sebagai berikut. Ikal memiliki 6 habitus yakni: kerja keras, pantang menyerah, suka berolah raga, melawan pesimistis, suka menabung, dan agamais. Sedangkan Arai juga memiliki 6 habitus yakni: kerja keras, pantang meyerah, optimis, selalu ingin tahu, suka menabung, dan murah hati. Sedangkan Jimbron memiliki 4 habitus, yakni: habitus kerja keras, habitus obsesi terhadap kuda, habitus suka menabung, dan habitus lugu.Analisis modal meliputi modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Analisis modal ekonomi menunjukkah bahwa Ikal, Arai, dan Jimbron tidak memiliki modal ekonomi. Analsis modal budaya menunjukkan bahwa Ikal memiliki modal budaya lebih dominan dibanding Arai dan Jimbron. Analisis modal sosial menunjukkan bahwa modal sosial dimiliki oleh Ikal, Arai, dan Jimbron. Analisis modal simbolik menunjukkan bahwa Ikal, Arai, dan Jimbron tidak memiliki modal simbolik. Kata Kunci : Pierre Bourdieu, Habitus, Modal x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Ginting, Harpindo. 2019. “Andrea Hirata’s Novel Sang Pemimpi: Habits and Capital Analysis in the Education Arena According to Pierre Bourdieu Perspective”. An Undergraduate Thesis (S-1). Yogyakarta: Indonesia Literature Study Program, Faculty of Letters, Sanata Dharma University. This research examines the habits and capital in Andrea Hirata’s novel Sang Pemimpi. The purposes of this research are (1) describing the analysis on prose structure, limited to the character and setting, and (2) describing the habits and capital in Sang Pemimpi novels. This research paradigm uses M. H. Abrams paradigm with objective and discursive approach. Objective approach uses structural theory, and discursive approach uses Pierre Bourdieu theory. Method and data collecting technique which are employed in this research is library research. Data analysis method in this research uses two methods: formal methods and content analysis method. Formal method is used to analyze the elements of Sang Pemimpi novel, limited to the character and setting, while content analysis method is used to discover and understand the habits and capital in Sang Pemimpi novel. The result of prose structural analysis in Sang Pemimpi novel is: there are three main characters in Sang Pemimpi novel namely: Ikal, Arai, and Jimbron. The three main characters came from the poor who wanted to make their dreams come true through the education arena. Setting analysis in Sang Pemimpi novel shows that the place setting includes : school , Magai market, Ikal’s house, Madam Lam Nyet Pho’s warehouse, A Siong’ store, Mak Cik Maryamah’ house, the mosque, cincau factory, boarding house, cinema, dock, Bang Jaitun’s house, Nurmala’s house, Bintang Laut Selatan ship, Tanjung Periok, Bogor, foto copy store, Post office, train, and a building in Jakarta. The time setting of the novel took place around the 1980s, and the social setting describe Malay society.The results of habits and capital analysis in Sang Pemimpi novel are: Ikal has 6 habitus, namely: hard worker, never give up, like to exercise, fight pessimism, save money, and religious. While Arai has 6 habits, namely: hard worker, never give up, optimistic, always curious, save money, and generous. Jimbron has 4 habits, namely: hard worker, obsession with horses, save money, and innocent. Analysis of capital includes economic, culture, social, and symbolic. Analysis of economic capital shows that Ikal, Arai, and Jimbron do not have economic capital. Analysis of culture capital shows that Ikal has more dominant cultural capital than Arai and Jimbron. Analysis of social capital shows that Ikal, Arai, and Jimbron have social capital. Analysis of symbolic capital shows that Ikal, Arai, and Jimbron do not have symbolic capital. Key Words: Pierre Bourdieu, Habits, Capita xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN............................................................................ iii HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ....................................... iv HALAMAN PERBYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ......................... v HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................ vi MOTTO ............................................................................................................. vii KATA PENGANTAR ....................................................................................... viii ABSTRAK ......................................................................................................... x ABSTRACT ....................................................................................................... xi DAFTAR ISI ...................................................................................................... xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................ 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................. 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................... 1.4.1 Manfaat Teoretis ..................................................................... 1.4.2 Manfaat Praktis ....................................................................... 1.5 Tinjauan Pustaka .............................................................................. 1.6 Landasan Teori ................................................................................. 1.6.1 Struktur Prosa .......................................................................... 1.6.1.1 Tokoh ........................................................................ 1.6.1.1.1 Tokoh Utama................................................ 1.6.1.1.2 Tokoh Tambahan ......................................... 1.6.1.2 Latar ............................................................................ 1.6.1.2.1 Latar Tempat ................................................ 1.6.1.2.2 Latar Waktu.................................................. 1.6.1.2.3 Latar Sosial .................................................. 1.6.2 Habitus, Modal, dan Arena: Pierre Bourdieu .......................... xii 1 5 5 5 6 6 6 9 9 10 10 11 11 11 12 12 13

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.6.2.1 Habitus ........................................................................ 1.6.2.2 Modal .......................................................................... 1.6.2.3 Arena ........................................................................... 1.7 Metode Penelitian ............................................................................ 1.7.1 Jenis Penelitian ........................................................................ 1.7.2 Metode dan Teknik Pengumpulan Data .................................. 1.7.3 Metode dan Teknik Analisis Data ........................................... 1.7.4 Metode Penyajian Analisis Data ............................................. 1.7.5 Sumber Data ............................................................................ 1.8 Sistematika Penyajian ...................................................................... 13 15 17 17 18 19 19 20 20 21 BAB II STRUKTUR PROSA NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA 2.1 Tokoh .............................................................................................. 2.1.1 Ikal .......................................................................................... 2.1.2 Arai.......................................................................................... 2.1.3 Jimbron.................................................................................... 2.2 Latar ................................................................................................ 2.2.1 Latar Tempat ........................................................................... 2.2.2 Latar Waktu............................................................................. 2.3 Latar Sosial ...................................................................................... 2.4 Rangkuman ...................................................................................... 22 23 31 36 41 41 50 51 52 BAB III HABITUS DAN MODAL DALAM NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA 3.1 Habitus ............................................................................................ 3.1.1 Habitus Ikal ............................................................................. 3.1.1.1 Habitus Pekerja Keras ................................................. 3.1.1.2 Habitus Pantang Menyerah ......................................... 3.1.1.3 Habitus Suka Berolah Raga ........................................ 3.1.1.4 Habitus Melawan Pesimistis ....................................... 3.1.1.5 Habitus Suka Menabung ............................................. 3.1.1.6 Habitus Agamais/Agamis ........................................... 3.1.2 Habitus Arai ............................................................................ 3.1.2.1 Habitus Pekerja Keras ................................................. 3.1.2.2 Habitus Pantang Meyerah ........................................... 3.1.2.3 Habitus Optimis .......................................................... 3.1.2.4 Habitus Selalu Ingin Tahu........................................... 3.1.2.5 Habitus Suka Menabung ............................................. 3.1.2.6 Habitus Murah Hati ..................................................... xiii 54 55 55 57 57 58 60 61 62 62 63 63 64 64 65

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.1.3 Habitus Jimbron ...................................................................... 3.1.3.1 Habitus Pekerja Keras ................................................ 3.1.3.2 Habitus Obsesi Terhadap Kuda................................... 3.1.3.3 Habitus Suka Menabung ............................................. 3.1.3.4 Habitus Lugu ............................................................... 3.2 Modal ............................................................................................... 3.2.1 Modal Ekonomi....................................................................... 3.2.2 Modal Budaya ......................................................................... 3.2.3 Modal Sosial ........................................................................... 3.2.4 Modal Simbolik....................................................................... 3.3 Arena ................................................................................................ 3.4 Rangkuman ...................................................................................... 65 66 66 67 67 68 68 69 70 71 72 72 BAB IV PENUTUP .......................................................................................... 74 4.1 Kesimpulan ...................................................................................... 74 4.2 Saran................................................................................................. 78 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 79 BIOGRAFI PENULIS ..................................................................................... 80 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bourdieu mengelompokkan masyarakat ke dalam tiga kelas, yaitu kelas dominan, kelas borjuasi kecil, dan kelas popular. Pembagian kelas ini didasari pada kepemilikan modal. Pembagian kelas ini dapat kita terapkan untuk melihat masyarakat di sekitar kita, karena secara umum, berdasarkan kepemilikan modal, ada yang dominan, ada yang tidak dominan, dan ada yang posisinya berada di antara keduanya. Hubungan ketiga kelas tersebut adalah kelas dominan hampir selalu memaksakan budayanya, sementara kelas terdominasi tentu saja akan cenderung menerima budaya kelas dominan (Martono, 2012: 36). Novel Sang Pemimpi yang menjadi objek kajian dalam penelitian ini menggambarkan kisah tokoh utama yakni : Ikal, Arai, dan Jimbron yang merupakan masyarakat miskin, berjuangan menaikkan kelas sosialnya melalui dunia pendidikan. Dalam pandangan Bourdieu, tokoh utama dalam novel tersebut tergolong ke dalam kelas borjuasi kecil, karena sifat mereka sama dengan kaum borjuasi yaitu mereka memiliki keinginan untuk menaiki tangga sosial. Pendidikan diyakini sebagian besar orang sebagai jalan yang paling menjanjikan untuk menaikkan kelas sosial. Dalam pandangan Bourdieu, pendidikan merupakan salah satu arena perebutan kekuasaan. Masyarakat dalam pandangan Pierre Bourdieu digambarkan sebagai sebuah arena yang saling berkaitan. Arena tersebut merupakan tempat 1

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 pertarungan atau perjuangan memperebutkan kekuasaan atau kekuatan-kekuatan yang ada. Arena tersebut bermacam-macam, yakni arena pendidikan, arena ekonomi, arena budaya, arena agama, arena seni, arena politik, dll. Jika suatu individu maupun kolektif ingin memperoleh ataupun memperjuangakan suatu dominasi dalam kelompok sosial, ia harus memiliki modal dan habitus yang tepat dalam arena perjuangannya. Menurut Bourdieu dalam (Haryatmoko 2016: 41), habitus merupakan hasil keterampilan yang menjadi tindakan praktis, baik secara sadar maupun tidak, yang dipandang sebagai suatu kemampuan yang kelihatannya alamiah dan berkembang dalam lingkungan sosial tertentu. Seseorang yang terampil menulis, sudah pasti memiliki habitus membaca, sehingga keterampilan menulis tidak diperoleh secara alami melainkan terbentuk oleh kebiasaan membaca dan merumuskan hasil pemikiran dari membaca tersebut sehingga mampu menghasilkan sebuah tulisan. Menurut Martono (2012: 36) habitus juga merupakan gaya hidup, nilai-nilai, watak, dan harapan kelompok sosial tertentu. Kelas dominan, kelas borjuasi kecil, dan kelas populer memiliki habitusnya masing-masing. Jika suatu individu atau kolektif ingin menaikkan kelasnya, hal pertama yang dapat dikakukannya adalah meniru habitus kelas di atasnya. Modal dalam pandangan Bourdieu hampir sama maknanya dengan modal dalam bidang ekonomi. Dalam bidang ekonomi, modal cenderung dimaknai sebagai kepemilikan materi (uang), namun Bourdieu mengartikan modal secara lebih luas. Modal menurut Bourdieu dalam (Martono, 2012: 32) diartikan

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 sebagai sebuah hasil kerja yang terakumulasi (dalam bentuk yang “terbendakan” atau bersifat “menubuh” –terjiwai dalam diri seseorang). Martono (2012: 32) mengartikan modal tersebut sebagai sekumpulan sumber daya (baik materi maupun nonmateri) yang dimiliki seseorang atau kelompok tertentu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Bourdieu membedakan empat macam modal yaitu modal ekonomi , modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik. Modal merupakan faktor utama yang harus dimiliki untuk memperoleh atau mempertahankan kekuasaan. Dalam penelitian ini, novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dijadikan sebagai objek penelitian. Menurut Ratna (2012: 336) novel merupakan genre yang paling sosiologis dan responsif sebab sangat peka terhadap fluktuasi sosiohistoris. Kisah-kisah yang dimuat dalam karya sastra umumnya cerminan dari kehidupan masyarakat. Novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, merupakan cerminan dari masyarakat Melayu Kampung yang tinggal di pulau Belitong. Secara ringkas novel ini mengisahkan perjuangan tokoh utama yakni: Ikal, Arai, dan Jimbron berjuang untuk mewujudkan mimpinya yaitu berkeliling dunia, menjelajahi benua Eropa hingga Afrika dan kuliah di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis. Mimpi tersebut tak mudah terwujudkan karena mereka hanyalah masyarakat miskin yang tinggal di daerah terpencil. Oleh karena itu, mereka memilih pendidikan sebagai satu-satunya jalur yang mereka yakini dapat mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Dunia pendidikan dipilih sebagai arena.

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Untuk dapat sukses dalam arena pendidikan, Ikal, Arai, dan Jimbron harus memiliki modal dan habitus. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dianalisis habitus dan modal yang dimiliki tokoh utama untuk meraih sukses dalam arena pendidikan. Alasan peneliti mengambil topik ini adalah sebagai berikut. Pertama, novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata merupakan salah satu novel mega best seller Indonesia, dan pada tahun 2009, novel ini diaptasi menjadi film dengan jumlah penonton 1,9 juta orang dan meraih beberapa penghargaan. Kedua, novel Sang Pemimpi menggambarkan perjuangan masyarakat miskin menaikkan kelasnya melalui arena pendidikan, sebagaimana Andrea Hirata sendiri selaku penulis novel Sang Pemimpi. Teori Pierre Bourdieu cocok digunakan untuk melihat bagaimana habitus dan modal yang dimiliki oleh tokoh utama dalam novel ini, untuk bertarung dalam arena pendidikan sehingga mampu menaikkan kelas mereka. Ketiga, penelitian dalam bidang sastra Indonesia yang menggunakan perspektif Pierre Bourdieu masih sangat minim dilakukan. Sepengetahuan penulis penelitian terhadap novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dengan perspektif Pierre Bourdieu belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan memberikan sumbangsih khususnya sebagai refrensi tentang kajian habitus dan modal tokoh-tokoh karya sastra.

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 1.2 Rumusan Masalah Dalam penelitian ini, yang menjadi rumusan permasalahan adalah sebagai berikut. 1.2.1 Bagaimanakah struktur prosa dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata? 1.2.2 Bagimanakah habitus dan modal tokoh utama dalam arena pendidikan yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1.3.1 Mendeskripsikan struktur prosa dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Hal ini akan dikemukakan dalam Bab II. 1.3.2 Mendeskripsikan habitus dan modal tokoh utama dalam arena pendidikan yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Hal ini akan dikemukakan dalam Bab III. 1.4 Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan memberi manfaat khususnya manfaat secara teoretis dan manfaat secara praktis.

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 1.4.1 Manfaat Teoretis Manfaat teoretis dapat diartikan sebagai manfaat penelitian terhadap perkembangan bidang disiplin ilmu terkait (sastra,bahasa,dan budaya), dalam hal ini khususnya bidang sastra. Adapun manfaat teoretis penelitian ini adalah sebagai berikut. 1.4.1.1 Menambah pengetahuan terkait pengkajian karya sastra, khususnya novel menggunakan perspektif Pierre Bourdieu; 1.4.1.2 Menambah referensi penelitian karya sastra Indonesia, dan menjadi acuan pustaka terhadap penelitian terkait. 1.4.2 Manfaat Praktis Manfaat Praktis berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan profesi tertentu di luar bidang penelitan ini (Sastra,bahasa,dan budaya). Secara praktis penelitian ini diharapkan menambah wawasan pembaca terkait konsep Pierre Bourdieu tentang habitus, modal, dan arena khususnya pada novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Selain itu penelitian ini diharapkan memberikan pandangan/pemahaman baru bagi pembaca novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. 1.5 Tinjauan Pustaka Tinjauan pustaka dilakukan untuk melihat posisi penelitian yang dilakukan apakah memiliki kebaruan atau tidak. Tinjauan pustaka dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Triantoro, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dahrma Yogyakarta (2011), melakukan penelitan dalam bentuk skripsi dengan judul Kritik Sosial dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata. Penelitian tersebut memfokuskan permasalahan pada deskripsi tokoh dan penokohan serta deskripsi kritik sosial yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi. Dalam penelitiannya, Triantoro menggunakan pendekatan sosiologi sastra Damono, sedangkan dalam penelitian ini, yang digunakan ialah teori Pierre Bourdieu. Selain itu, tujuan penelitan Triantoro adalah mendeskripsikan kritik sosial dalam novel Sang Pemimpi yang disampaikan melalui tokoh-tokohnya, sedangkan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan habitus dan modal yang dimiliki tokoh utama dalam perjuangannya di arena pendidikan. Untuk memahami habitus dan modal tersebut akan dianalisis terlebih dahulu tokoh dan penokohan yang terbatas pada tokoh utama, lalu analisis latar. Soewarno, mahasiswa pasca sarjana Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta (2016), melakukan penelitian dalam bentuk makalah dengan judul Habitus dan Kekerasan Simbolik dalam Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan Pierre Bourdieu. Penelitian tersebut bertujuan mendeskripsikan habitus dan kekerasan simbolik yang terdapat dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer. Karnata, mahasiswa program studi S2 Kajian Budaya dan Media UGM, melakukan penelitian dalam bentuk tesis dengan judul Novel Sang Pemimpi: Trajektori Andrea Hirata dalam Arena Sastra Indonesia. Penelitian tersebut

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 menggunakan teori arena produksi kultural Pierre Bourdieu yang memadukan analisis tekstual, biografi pengarang, dan ruang sosial. Penelitian tersebut bertujuan untuk menjelaskan: pertama, kondisi arena kekuasaan dan arena sastra Indonesia pasca Orde Baru; kedua, strategi Andrea Hirata dalam arena sastra Indonesia demi meraih posisi tertentu; ketiga, pandangan Andrea Hirata yang dimobilisasi melalui karya sastra dan praktik sosialnya. Penelitian Karnata berbeda dengan penelitian ini karena fokus penelitian Karnata adalah Andrea Hirata, sedangkan fokus penelitian ini adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Barata, mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma, pada tahun 2017 melakukan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul Strukturasi Kekuasaan dan Kekerasan Simbolik dalam Cerpen “Ayam”, “Suatu Malam Suatu Warung”, dan “Tahi” dalam Kumpulan Cerpen Hujan Menulis Ayam Karya Sutardji Calzoum Bachri: Sebuah Perspektif Pierre Bourdieu. Teori yang digunakan Barata sama dengan teori dalam penelitian ini yaitu teori Pierre Bourdieu, perbedaannya terletak pada objek meterialnya. Objek material Barata adalah cerpen, sedangkan objek material penelitian ini adalah novel. Tujuan penelitian Barata adalah mendeskripsikan strukturasi kekuasaan dan kekerasan simbolik dalam kumpulan cerpen Hujan Menulis Ayam karya Sutardji Calzoum Bachri. Dari tinjauan pustaka di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian tentang novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata: analisis habitus dan modal dalam

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 arena pendidikan menurut perspektif Pierre Bourdieu belum pernah dilakukan. Keempat penelitian di atas dapat dijadikan sebagai rujukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terkait objek penelitian. 1.6 Landasan Teori Menurut Ratna (2012: 2), teori berfungsi untuk mengubah dan membangun pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Karya sastra yang merupakan hasil dari proses imajinatif bila dikaji dengan teori dan metode tertentu akan menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan. Secara lebih jelas, Ratna (2012: 9) mendefenisikan teori sastra sebagai seperangkat konsep yang saling berkaitan secara ilmiah, yang disajikan secara sistematis, yang berfungsi untuk menjelaskan sejumlah gejala sastra. Dalam penelitian ini, kerangka teori yang digunakan adalah analisis struktur dan konsep habitus dan modal dari Pierre Bourdieu. 1.6.1 Struktur Prosa Sturktur prosa yang dianalisis dalam penelitian ini hanya terbatas pada tokoh dan latar. Pembatasan ini dilakukan karena fokus utama penelitian ini adalah habitus dan modal yang dimiliki tokoh utama. Untuk memahami bagaimana habitus dan modal tokoh utama dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata perlu lebih dahulu diketahui bagaimana karakter tokoh dan latar dalam novel tersebut.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 1.6.1.1 Tokoh Tokoh dan penokohan merupakan suatu kepaduan yang utuh dalam suatu cerita. Tokoh dapat diartikan sebagai pelaku cerita, sedangkan penokohan merupakan watak dari pelaku cerita. Secara lebih spesifik, tokoh cerita menurut Abrams dalam (Nurgiyantoro, 1995: 165), adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya (naratif,drama) yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti yang diekspresikan (melalui ucapan maupun tindakan). Tokoh cerita dapat digunakan pengarang sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, moral, pikiran, atau hal lain kepada pembaca. Dalam suatu cerita pada umumnya terdapat lebih dari satu tokoh. Fungsi dari tokoh-tokoh tersebut bermacam-macam. Tokoh-tokoh cerita dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan. Berdasarkan kadar keutamaan tokoh dalam suatu cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua, yakni tokoh utama dan tokoh tambahan. 1.6.1.1.1 Tokoh Utama Tokoh utama merupakan tokoh yang diutamakan prosanya dalam cerita yang bersangkutan. Tokoh utama dalam suatu cerita dapat dilihat dari keseringannya muncul dalam cerita, karena tokoh utama selalu mendominasi cerita. Tokoh utama adalah tokoh yang paling banyak disinggung dalam suatu cerita, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh utama

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 dalam suatu novel dapat lebih dari satu orang, walaupun kadar keutamannya tak selalu sama. 1.6.1.1.2 Tokoh Tambahan Tokoh tambahan adalah tokoh yang pemunculannya dalam suatu cerita lebih sedikit, dan kehadirnya hanya jika ada keterkaitan secara langsung atau tidak langsung dengan tokoh utama. Tokoh tambahan merupakan tokoh yang berfungsi sebagai pendukung cerita. Walaupun sebagai tambahan kehadirannya tetap penting dan diperlukan dalam sebuah cerita. 1.6.1.2 Latar Latar menurut Abrams dalam (Nurgiyantoro, 1995: 216) disebut sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Latar diperlukan untuk memberikan gambaran yang realistis kepada pembaca. Nurgiyantoro (1995: 217) memandang pembaca dapat merasakan kedekatan dirinya dengan cerita jika latar mampu mengangkat suasana setempat, warna lokal, lengkap dengan perwatakan ke dalam cerita. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial. 1.6.2.1 Latar Tempat Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa yang terdapat dalam sebuah cerita. Unsur tempat dalam sebuah cerita dapat berupa tempat-

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 tempat yang memiliki nama, inisial, atau bahkan tanpa nama. Yang terpenting menurut Nurgiyantoro (1995: 227) penggunaan nama-nama tertentu sebagai latar haruslah mencerminkan sifat dan keadaan geografis tempat yang bersangkutan, atau paling tidak tak bertentangan dengan sifat dan keadaan geografis aslinya. 1.6.2.2 Latar Waktu Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar waktu umumnya harus dikaitan dengan latar tempat karena pada kenyataannya kedua hal tersebut saling berkaitan. Latar waktu dapat dalam sebuah cerita dapat menggambarkan keadaan suatu zaman. 1.6.2.3 Latar Sosial Latar sosial merupakan bagian latar secara keseluruhan. Latar sosial berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat dalam kurun waktu tertentu di suatu tempat dalam cerita. Latar sosial juga dapat berhubungan dengan status sosial tokoh dalam cerita. Kehidupan sosial masyarakat seperti kebiasaan, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir, cara bersikap, dan lain-lain dalam cerita tergolong ke dalam kajian latar sosial. Menurut Nurgiyantoro (1995: 235) masalah penamaan tokoh dalam banyak hal berhubungan dengan latar sosial. Latar waktu, latar tempat, dan latar sosial merupakan suatu kepaduan yang menyaran pada makna yang khas dan meyakinkan.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 1.6.2 Habitus, Modal, dan Arena : Pierre Bourdieu Pierre Bourdieu adalah seorang sosiolog Prancis, yang perjalanan intelektualnya dipengaruhi oleh keprihatinan mendasar terhadap lingkungan sosial dan hasrat terhadap perubahan. Teori habitus yang dicetuskannya bukan disebabkan oleh perubahan sosial besar melainkan berdasarkan pada studi yang mendalam dan penelitian-penelitian yang dilakukan Bourdieu di daerah Kabylie dan Collo, Aljazair. Teori-teori yang dikemukakan Bourdieu dimaksudkan untuk melewati batas-batas oposisi yang telah terstruktur dalam teori-teori ilmu sosial. Gagasan dasar Bourdieu mengkristal dalam beberapa konsep utama, yakni habitus, modal, arena,distinction, kekuasaan simbolik, dan kekerasan simbolik (Haryatmoko 2016: 35). Dalam penelitian ini, konsep yang digunakan terbatas pada habitus, modal, dan arena. 1.6.2.1 Habitus Habitus menurut Bourdieu dalam (Haryatmoko 2016: 41), merupakan hasil keterampilan yang menjadi tindakan praktis, baik secara sadar maupun tidak, yang dipandang sebagai suatu kemampuan yang kelihatannya alamiah dan berkembang dalam lingkungan sosial tertentu. Keseragaman habitus dalam suatu kelompok menjadi dasar perbedaan gaya hidup dalam suatu masyarakat. Gaya hidup merupakan keseluruhan selera, kepercayaan, dan praktik sistematis yang

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 menjadi ciri suatu kelas. Habitus kelas dominan berbeda dengan habitus kelas borjuasi kecil, demikian juga dengan habitus kelas populer. Habitus terbentuk tidak secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari proses yang panjang berupa pengalaman-pengalaman individu saat berinteraksi dengan lingkungan sosial. Pengertian lain dari habitus dalam Martono (2012: 36) mengartikan habitus sebagai sebuah sistem disposisi-disposisi (skema-skema persepsi, pikiran, dan tindakan yang diperoleh dan bertahan lama). Habitus dapat dikembangkan melalui pengalaman, dan habitus tersebut dapat menjadi dasar keperibadian individu. Dalam (Martono, 2012: 36), konsep habitus dapat dimaknai dalam beberapa hal. Pertama, habitus sebagai sebuah pengondisian yang dikaitkan dengan syarat-syarat keberadaan suatu kelas. Kedua, habitus merupakan hasil keterampilan yang menjadi tindakan praktis (tidak harus disadari) yang kemudian diterjemahkan menjadi suatu kemampuan yang dipandang alamiah dan berkembang dalam lingkungan sosial tertentu. Dalam penguasaan bahasa atau penulisan, penulis dikatakan mampu menciptakan karya-karya mereka berkat kebebasan kreatif mereka. Mereka tidak lagi menyadari gaya yang sudah mereka integrasikan ke dalam dirinya.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Ketiga, habitus adalah kerangka penafsiran untuk memahami dan menilai realitas sekaligus sebagai penghasil praktik-praktik kehidupan yang sesuai dengan struktur objektif. Habitus menjadi dasar kepribadian individu. Keempat, habitus berupa etos, yaitu prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang dipraktikkan, bentuk moral yang tidak mengemuka dalam kesadaran, namun mengatur perilaku sehari-hari. Misalnya seperti sifat orang yang rajin, jujur, cerdas, murah hati, licik, dll. Bentuk habitus yang berhubungan dengan sikap atau posisi khas tubuh, seperti cara berjalan, mata selalu memandang ke bawah, disebut sebagai hexis badaniah. Kelima, habitus merupakan struktur intern yang selalu dalam proses restrukturisasi (penataan kembali). Artinya praktik-praktik dalam kehidupan tidak sepenuhnya bersifat deterministik ( keharusan), melainkan pelaku dapat memilih, namun juga tidak sepenuhnya bebas (pilihannya ditentukan oleh habitus). Dengan tidak perlu lagi mencari maknanya atau menyadarinya, habitus mampu menggerakkan, dan bertindak sesuai dengan posisi yang ditempati pelaku dalam lingkup sosial, menurut arena pertarungan (Haryatmoko, 2016: 42) 1.6.2.2 Modal Modal menurut Bourdieu dalam (Martono, 2012: 32) diartikan sebagai sebuah hasil kerja yang terakumulasi (dalam bentuk yang “terbendakan” atau bersifat “menubuh” –terjiwai dalam diri seseorang). Martono (2012: 32)

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 menambahkan pengertian modal tersebut sebagai sekumpulan sumber daya (baik materi maupun non-materi) yang dimiliki seseorang atau kelompok tertentu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Dalam suatu arena, seseorang akan menempatkan dirinya berdasarkan fungsi dan jumlah modal yang dimiliknya serta berdasarkan relatif kepentingan modal tersebut. Bourdieu membedakan empat macam modal yaitu modal ekonomi , modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik. Modal ekonomi mengukur semua sumber daya ekonomi individu, termasuk pendapatan dan warisannya. Modal budaya mengukur semua sumber daya (budaya) yang dapat menempatkan kedudukan seorang individu. Modal budaya terdiri dari tiga bentuk : pertama, dalam kondisi ‘menubuh’(meliputi pengetahuan umum, keterampilan, nilai budaya, agama, norma, bakat turunan, dll); kedua, dalam kondisi terobjektifikasi (meliputi kepemilikan benda-benda budaya); ketiga, dalam kondisi terlambangkan (meliputi gelar, tingkat pendidikan) Modal sosial mengukur semua sumber daya yang berkaitan dengan kepemilikan jaringan sosial berkelanjutan dari semua relasi dan semua orang yang dikenal. Dan modal simbolik menunjukkan segala bentuk kapital (budaya, sosial, atau ekonomi) yang mendapat pengakuan khusus dalam masyarakat. Modal simbolik misalnya seperti pemilihan tempat tinggal, apakah di daerah elit atau lingkungan kumuh, atau contoh lain seperti pemilihan tempat wisata untuk

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 mengisi liburan, hobi, tempat makan, dan lain-lain. Modal merupakan faktor utama yang harus dimiliki untuk memperoleh atau mempertahankan kekuasaan. 1.6.2.3 Arena Masyarakat dalam pandangan Pierre Bourdieu digambarkan sebagai sebuah arena yang saling berkaitan. Arena tersebut merupakan tempat pertarungan atau perjuangan memperebutkan kekuasaan atau kekuatan-kekuatan yang ada. Arena tersebut bermacam-macam, yakni arena pendidikan, arena ekonomi, arena budaya, arena agama, arena seni, arena politik, dll. Pelaku yang masuk dalam suatu lingkugan (pendidikan, polik, seni, dll.) harus menguasai kode-kode dan aturan-aturan permainannya. Tanpa penguasaan kode tersebut, orang dengan mudah terlempar keluar dari permainan. 1.7 Metode Penelitian Metode menurut Ratna (2004: 34) metode merupakan cara-cara, strategi untuk memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab-akibat berikutnya. Metode digunakan sebagai alat, seperti teori, yang berfungsi untuk menyederhanakan masalah, sehingga lebih mudah dipecahkan dan dipahami. Metode dalam penelitian ini meliputi metode dan teknik pengumpulan data, metode dan teknik analisis data, dan metode penyajian analisis data.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 1.7.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan paradigma penelitian M. H. Abrams. Paradigma Abrams memiliki empat pendekatan yaitu: pendekatan ekspresif, pendekatan objektif, pendekatan mimetik, dan pendekatan pragmatik. Dalam (Taum, 2017:4) paradigma Abrams direposisikan sehingga memperoleh dua tambahan pendekatan, pendekatan tersebut adalah pendekatan eklektik dan pendekatan diskursif. Pendekatan elektif menurut (Taum,2017:4) adalah pendekatan yang menggabungkan secara selektif beberapa pendekatan untuk memahami sebuah fenomena. Sedangkan pendekatan diskursif (Taum,2017:4) adalah pendekatan yang menitik beratkan pada diskursus (wacana sastra) sebagai sebuah praktik diskursif. Penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan objektif dan pendekatan diskursif. Pendekatan objektif menggunakan teori struktural digunakan untuk memperoleh hasil analisis terkait tokoh, penokohan, dan latar. Sedangkan pendekatan diskursif dengan menggunakan teori Pierre Bourdieu digunakan untuk memperoleh hasil analisis terkait habitus dan modal. Objek Material dalam penelitian ini adalah novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, sedangkan objek formal dalam penelitian ini adalah kajian habitus dan modal teori Pierre Bourdieu.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 1.7.2 Metode dan Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan. Dalam studi kepustakaan, data – data dicari dari sumber – sumber tertulis. Teknik yang digunakan adalah teknik baca dan catat. Teks sastra, dalam hal ini novel, dibaca terlebih dahulu secara keseluruhan untuk memperoleh pemahaman awal, kemudian dicatat hal – hal yang dianggap penting dan sesuai dengan permasalahan dalam penelitian. 1.7.3 Metode dan Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini, analisis data menggunakan dua metode yaitu metode formal dan metode analisis isi. Menurut Ratna (2004 : 49), metode formal adalah metode analisis yang mempertimbangkan aspek-aspek formal, aspek-aspek bentuk, yaitu unsur-unsur karya sastra. Metode formal bertugas menganalisis unsur-unsur, sesuai dengan peralatan yang terkandung dalam karya sastra. Dalam penelitian ini, metode formal digunakan untuk menganalis unsurunsur novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, yang terbatas pada unsur tokoh, penokohan, dan latar. Metode analisis isi menurut Ratna (2004: 48), analisis isi mencakup isi komunikasi, baik secara verbal (dalam bentuk bahasa), maupun nonverbal ( seperti arsitektur, pakaian, alat rumah tangga, dan media elektronik).

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Ratna (2004: 48) membagi isi menjadi dua macam, yaitu isi laten dan isi komunikasi. Analisis terhadap isi laten akan menghasilkan arti, sedangkan analisis terhadap isi komunikasi menghasilkan makna. Dalam penelitian ini, analisis isi laten dan analisis isi komunikasi digunakan untuk menemukan dan memahami habitus dan modal yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. 1.7.4 Metode Penyajian Analisis Data Hasil analisis disajikan dalam penelitian ini dengan metode deskriptif analisis. Secara epistimologis, deskripsi dan analisis artinya menguraikan. Hal pertama yang dilakukan adalah mendeskripsikan fakta – fakta yang terdapat dalam karya sastra yang diteliti, lalu disusul dengan analisis. Dalam penelitian ini, fakta-fakta terkait tokoh, penokohan, latar, habitus, modal, dan arena diklasifikasikan kemudian diberi penjelasannya. 1.7.5 Sumber Data Dalam penelitian ini novel dijadikan sebagai obejek penelitian, dengan identitas sebagai berikut : Judul Buku : Sang Pemimpi Pengarang : Andrea Hirata

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 Tahun Terbit : 2018 Cetakan : Keempat puluh dua Penerbit : Penerbit Bentang Halaman : 247 1.8 Sistematika Penyajian Hasil penelitian dilaporkan secara lengkap dan sistematis. Sistematika penyajian dalam penelitian ini dirinci sebagai berikut. Bab I berisi pendahuluan meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian, kerangka teori, metode penelitian, metode dan teknik pengumpulan data, metode dan teknik analisis data, dan metode penyajian hasil analisis data. Bab II berisi tentang deskiripsi struktur tokoh, penokohan, dan latar dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata Bab III berisi uraian deskripsi tentang habitus dan modal tokoh utama dalam arena pendidikan yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata Bab IV merupakan penutup dalam penelitian ini, yang meliputi kesimpulan dan saran. Kesimpulan diperoleh dari hasil pembahasan bab II dan bab III. Saran merupakan usulan atau anjuran peneliti terhadap perkembangan penelitian terkati. Dibagian akhir adalah daftar pustaka.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II STRUKTUR PROSA NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA Dalam bab ini, akan dideskripsikan hasil analisis struktur prosa dalam novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata. Analisis struktur prosa dalam penelitian ini memiliki pembatasan, tujuannya agar pembahasan tidak melebar dan hasil analisis lebih mendalam. Pembatasan struktur prosa dalam novel ini terbatas pada analisis tokoh dan latar, alasannya analisis tokoh dan latar digunakan untuk mempermudah pemahaman terkait habitus dan modal yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata. 2.1 Tokoh Dalam penelitian ini, tokoh yang dianalis dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata terbatas pada tokoh utama. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan prosanya dalam cerita yang bersangkutan. Pembatasan analisis pada tokoh utama karena tokoh utama dalam novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata merupakan tokoh-tokoh yang dikisahkan berjuang dalam arena pendidikan untuk mewujudkan cita-cita mereka. Ikal, Arai, dan Jimbron merupakan tokoh utama dalam novel tersebut. Mereka adalah tiga orang sahabat yang berasal dari keluarga miskin yang memiliki cita-cita besar yakni berkeliling Eropa sampai ke Afrika. 22

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 2.1.1 Ikal Ikal merupakan tokoh yang keutamaannya paling dominan dalam cerita. Ikal adalah si aku dalam cerita. Ikal merupakan sosok pekerja keras dan pantang menyerah. Ia berasal dari keluarga miskin. Ayahnya yang hanya bekerja sebagai kuli tetap di PN Timah Belitong, tak mampu membiayai kebutuhan Ikal untuk bersekolah, oleh karena itu Ikal bersama kedua sahabatnya terpaksa membanting tulang untuk tetap bersekolah. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan (1) sampai (4). (1)“Aku, Arai, dan Jimbron, memilih sebuah pekerjaan yang sangat bergengsi sebagai tukang pikul ikan di dermaga. Profesi yang sangat elite itu disebut kuli ngambat. Kami dengan sengaja memilih profesi itu karena memungkinkan utuk dikerjakan sambil sekolah. (Hirata, 2018: 56) (2)“Sebelum menjadi kuli ngambat, kami pernah punya pekerjaan lain yang juga memungkinkan untuk tetap sekolah, yaitu sebagai penyelam di padang golf. (Hirata, 2018: 57) (3)“Lalu, kami beralaih menjadi part time office boy di kompleks kantor pemerintah. Mantap sekali judul jabatan kami itu dan hebat sekali job description-nya: masuk kerja subuh-subuh dan menyiapkan ratusan gelas teh dan kopi untuk para abdi negara. Masalahnya, lebih sadis daripada ancaman reptil berkaki empat tadi, yaitu berbulan-bulan tak digaji. (Hirata, 2018: 57) (4)“Setiap pukul dua pagi, berbekal sebatang bambu, kami sempoyongan memikul berbagai jenis makhluk laut yang sudah harus tersaji di meja pualam stanplat pasar ikan pada pukul lima sehingga pukul enam sudah bisa diserbu ibu-ibu. Artinya, setelah itu, kami leluasa untuk sekolah” (Hirata, 2018: 58) Kutipan (1) sampai kutipan (4) menggambarkan Ikal bersama sahabatnya sebagai sosok pekerja keras. Sikap pekerja keras tersebut muncul dari keinginannya yang kuat untuk bersekolah. Pekerjaan yang Ikal pilih bersama kedua sahabatnya

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 adalah pekerjaan yang tidak menghambat kegiatan sekolah mereka seperti yang tampak pada kutipan (1) dan (2). Sikap pekerja kerasnya juga tampak dari kerelaannya bagun subuh-subuh untuk menyempatkan diri bekerja seperti tampak pada kutipan (3) dan (4) sebelum berangkat kesekolah. Kutipan tersebut juga membuktikan bahwa mereka rela melakukan pekerjaan berat agar dapat tetap bersekolah. Sikap pekerja keras Ikal dibarengi juga dengan sikap pantang menyerah. Sikap pantang menyerah tersebut dapat dilihat dalam (Hirata,2018: 37-41). Pada suatu kejadian, Ikal dan Arai bersikukuh berebut mempertahankan uang koin tabungan mereka. Arai hendak membelanjakan seluruh uang koin tersebut untuk membeli bahan-bahan membuat kue seperti : terigu, gandum, dan gula di toko A Siong. Tujuan Arai membeli bahan-bahan tersebut untuk diberikan kepada Mak Cik Maryamah, agar Mak Cik Maryamah memiliki penghasilan. Ikal yang tidak paham tujuan Arai langsung menolak, dan merebut uang koin yang ada pada genggaman Arai. Arai tak mau melepas uang koin tersebut sehingga perebutan uang koin pun terjadi. Ikal dan Arai sampai bergulat meperebutkan uang koin tersebut dan menimbulkan kekacaun di toko A Siong. Tak satu pun yang mau mengalah, Ikal dan Arai sama-sama kuat bergulat, hingga pergulatan tersebut berakhir dengan tumbangnya lemari raksasa tempat karung-karung kertas yang berisi kapuk. Sikap pantang menyerah Ikal tampat pada kejadian tersebut bagaimana ia dengan gigih berusaha merebut uang Koin yang ada pada genggaman Arai. Perebutan

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 uang koin tersebut sampai-sampai menimbulkan kekacauan di toko A Siong, tempat perebutan uang koin terjadi. Sikap pantang menyerah tersebut juga dapat dilihat pada saat Ikal bersama sahabatnya hendak menonton di bioskop. Status mereka sebagai anak sekolah membuat mereka tidak diperbolehkan menonton film di bioskop karena Pak Mustar melarang seluruh siswannya menonton di bioskop. Pak Mustar menganggap film yang diputar di bioskop tidak mendidik. Ikal dan kedua sahabatnya sangat ingin menonton film di bioskop, oleh karena itu mereka mencoba berbagai cara mulai dari membujuk A Kiun si penjual tiket biokop, menghasut Pak Cik Basman si tukang sobek karcis, bahkan sampai rela membayar dua kali lipat tiket bioskop tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (5), (6), dan (7). (5) “Meskipu telah seiya sekata, berhari-hari kemudian, ternyata perjuangan kami menuju dua carik merah itu tak mudah. Kami gagal membujuk A Kiun, gadis Hokian penjual tiket. (Hirata,2018: 91) (6) “Kami juga gagal menghasut Pak Cik Basman, tukang sobek karcis, agar menyelundupkan kami ke dalam bioskop. Kami bersedia membayar karcis dua kali lipat, tunai untuknya, tapi kami malah kena damprat.” (Hirata,2018: 92) (7) “.... Kami rayu A Kiun berulang-ulang, dia bergeming. Karena dia takut kepada Pak Mustar dan berulang-ulang diingatkap capo agar tak menjual karcis kepada anak kecil.” (Hirata,2018: 93) Demi memperoleh tiket bioskop Ikal dan sahabatnya mencoba berbagai cara. Walau gagal seperti tampak pada kutipan (5), (6), dan (7) mereka tak langsung menyerah. Sikap mereka yang pantang menyerah tersebut akhirnya membuahkan hasil. Mereka akhinya menemukan cara yang dapat membawa mereka ke dalam

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 bioskop, yaitu dengan menggunakan sarung yang dijadikan sebagai kerudung. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (8) dan (9). (8)”Kami akan masuk bioskop dengan menyamar sebagai orang berkerudung!” (Hirata,2018: 94) (9) “Tak percaya rasanya, sekejap kemudian, kami telah berada di dalam bioskop. Kami girang seperti orang berhasil melewati tembok Berlin.” (Hirata, 2018: 96) Walau hanya sebatas menonton di bioskop Ikal tak lantas menyerah dengan larangan dan kegagalan perjuangan mereka memperoleh tiket bioskop. Barbagai cara mereka coba hingga akhirnya mereka berhasil menyusup masuk ke dalam biokop. Sosok Ikal merupakan sosok yang sangat peduli terhadap sahabatnya, hal ini terlihat ketika Ikal, Arai, dan Jimbron dikejar oleh Pak Mustar (guru mereka) pada suatu pagi. Ikal yang merupakan seorang pelari cepat dengan mudah meninggalkan Pak Mustar jauh dibelakang, namun karena Arai dan Jimbron masih di belakang, Ikal pun membantu mereka menghindar dari kejaran Pak Mustar. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (10) dan (11). (10)”.... Sebenarnya aku bisa langsung lolos jika tak memedulikan panggilan sial ini “Tolong, Kal, tolong.... “Aku kasihan bercampur kesal ” Aku berbalik dan di sana, lima belas meter dariku, baru saja berbelok, Jimbron dan Arai terengah-engah sambil berpegangan. Jika berlari, Jimbron harus dibopong. Mereka yang tadi semburat tak menyadari arah pelariannya melintasi jalur perburuan Pak Mustar. (Hirata,2018: 9) (11)“.... Aku dan Arai membopong Jimbron.” (Hirata, 2018: 10)

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Ikal sebenarnya dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari kejaran Pak Mustar dengan kemampuannya yang dapat berlari cepat. Namun karena ia peduli dengan sahabatnya, ia lebih memilih membatu sahabatnya, yaitu dengan membopong Jimbron yang kesusahan berlari. Kepedulian Ikal terhadap sahabatnya juga terlihat saat Ikal hendak membantu Arai mendapatkan cinta Nurmala. Arai sangat mencintai Nurmala, namun cintanya tak berbalas. Oleh karena itu, Ikal hendak membahagiakan Arai dengan membantunya mendapatkan cinta Nurmala. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan (12) berikut. (12)”Aku ingin membuat Arai gembira. Aku ingin berbuat sesuatu seperti yang dia selalu lakukan kepadaku dan Jimbron. “Aku senang karena aku tahu persis bagaimana cara membuat Arai gembira. Aku paham bahwa kebahagiaan Simpai Keramat itu sesungguhnya terperangah dalam sebuah peti, dan pemegang kunci peti itu tak lain seorang wanita indah bernama Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum. “ (Hirata,2018: 160) Ikal peduli dengan nasib Arai yang tak pernah mendapat cinta Nurmala. Ikal berniat membahagiakan Arai seperti tampak pada kutipan (12), yaitu membantu Arai mendapatkan cinta Nurmala. Kepedulian Ikal terhadap sahabatnya juga terlihat jelas saat ia merasa bahagia jikalau dapat membahagiakan sahabatnya Arai seperti tampak pada kutipan (12). Namun dibalik sosoknya yang pekerja keras, dan pantang menyerah, Ikal merupakan seorang yang kurang percaya diri. Hal tersebut tampak ketika Arai berhasil menghasut Ikal untuk menyisir rambutnya dengan gaya belah tengah. Saat rambut nya yang ikal telah disisir belah tengah ia tak berani keluar rumah karena

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 tidak percaya diri dengan sisiran rambut belah tengahnya. Rasa percaya dirinya makin hancur ketika menerima ejekan dari abang-abang Ikal. Nyalinya semakin ciut untuk keluar rumah dengan gaya rambut belah tengah tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (13) dan (14) berikut. (13) ”Ketika bercermin, aku sempat tak kenal pada diriku sendiri. Aku gugup bukan main saat pertama kali keluar kamar dengan gaya baru itu. Aku berdiri mematung di ambang pintu karena abang-abangku menertawakan aku sampai berguling-guling. (Hirata,2018: 28) (14) “Rasanya aku ingin kabur masuk kembali ke kamar. Aku tak menyalahkan mereka karena aku memang mirip orang-orangan ladang. Rambutku yang ikal, panjang, dan tipis ketika dibelah tengah, lepek di atasnya, namun ujung-ujunganya jatuh melengkung lentik di atas pundakku. Persis ekor angsa. Aku menyesal telah mengubah sisiranku. Di ambang pintu kamar itu aku demam panggung sebelum memperlihatkan penampilan baruku pada dunia.” (Hirata,2018: 28) Kekurangpercayaan diri Ikal sering kali menimbulkan sikap pesimis pada dirinya. Sikap pesimis tersebut mempengaruhi pola pikirnya bahkan mempengaruhi semangatnya untuk sekolah. Kutipan (15) dan (16) menunjukkan sikap pesimis tersebut. (15) “Aku sangat mafhum bahwa tabunganku itu tak akan pernah mampu membawaku keluar dari pulau kecil Belitong yang bau karat ini. Bagi kami, harapan sekolah ke Prancis tak ubahnya pungguk merindukan dipeluk purnama, serupa kodok ingin dicium putri agar berubah jadi pangeran. (Hirata,2018: 133) (16) “Kini, aku telah menjadi pribadi yang pesimistis. Malas belajar. Berangkat dan pulang sekolah, lariku tak lagi deras. Hawa positif dalam tubuhku menguap dibawa hasutan-hasutan yang melemahkan diriku sendiri.” (Hirata,2018: 134) Sikap pesimis yang muncul berasal dari dirinya sendiri, yang merasa bahwa perjuangannya tak akan membuahkan hasil. Semangat Ikal menggapai mimpinya

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 mulai surut akibat sikap pesimisnya. Hal tesebut juga berpengaruh terhadap cara pendangnya terhadap sahabatnya Jimbron. Saat ia melihat Jimbron memesan dua buah celengan kuda kepada mualim Kapal Mahligai Samudra, ia langsung mecibir dalam hati dengan sikap pesimisnya. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan (17) dan (18) berikut. (17) “Meskipun kaupenuhi celengan sebesar kuda sungguhan, sahabatku Jimbron, tak kan pernah uang-uang receh itu mampu membiayaimu sekolah ke Prancis..., demikian kata hatiku” (Hirata,2018: 136) (18) “Dengarlah itu, Kawan, kalimat sinis dari orang yang pesimis.” (Hirata,2018: 136) Sikap pesimisnya terlalu mempengaruhi Ikal, membuat dia malas belajar dan bekerja hingga akhinya peringkatnya di sekolah turun drastis. Saat pembagian raport semester sebelumnya Ikal berada pada urutan ke-3 terbaik, namun akibat sikap pesimisnya semester berikutnya ia berada di urutan ke-75. Ikal merupakan seseorang yang cepat berubah. Ia tak mau hal negatif merasuki dirinya berlama-lama. Orang-orang terdekatnya selalu berhasil memotivasinya untuk kembali bermimpi, salah satunya adalah ayahnya dan Arai. Ayahnya menjadi idola sekaligus panutan bagi dirinya selalu berhasil memberi metovasi pada dirinya sendiri, bahkan saat mendengar nama ayahnya saja pun ia langsung menemukan semangat kembali. Pada kutipan (19) berikut digambarkan Ikal tersadar akan sikap pesimisnya.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 (19) “Waktu nama ayahku disebut. Aku sontak sadar bahwa sikap pesimis telah mengkhianatiku bulat-bulat.” (Hirata,2018: 137) Ikal sadar akan sikap buruknya selama ini. kesadaran tersebut ditambah lagi oleh ocehan Arai yang meyadarkannya. Arai yang melihat penurunan prestasi Ikal menyeramahi sekaligus mengingatkan Ikal bahwa hanya mimpi yang dapat mereka perjuangkan untuk mengubah hidup seperti dalam kutipan (20), (21), dan (22), dan pada kutipan (23) Ikal tersadar dan sikap pesimisnya. (20)“Biar kau tahu, Ikal, orang seperti kita tak punya apa-apa, kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!” (Hirata,2018: 143) (21) “Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati....” (Hirata,2018: 143) (22) “Mungkin, setelah tamat SMA, kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli. Tapi di sini, Ikal, di sekolah ini, kita tak akan pernah mendahului nasib kita!” (Hirata,2018: 143) (23) “Mendahului nasib! Dua kata yang menjawab kekeliruanku melihat arah hidupku. Pesimistis tak lebih dari sikap takabur mendahului nasib.” (Hirata,2018: 143) Walau sikap kurang percaya dirinya dan sikap pesimis sering mempengaruhi Ikal, ia tetap berjuang dan bekerja keras mewujudkan mimpi-mimpinya, karena ia sadar akan dirinya sendiri dan ada orang-orang terdekatnya yang selalu memberi motivasi untuknya.Arai merupakan orang yang selalu ada untuk memberi semangat kepada Ikal untuk terus mengejar mimpi-mimpi seperti tergambar dalam kutipan (20), (21), dan (23). Sering kali pula, kata-kata yang dilontarkan Arai sangat mengena ke dalam hati Ikal, sehingga ia menemukan kembali semangatnya mengejar mimpimimpi seperti tergambar dalam kutipan (23).

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 2.1.2 Arai Arai adalah sahabat Ikal yang selalu ada untuk Ikal. Arai selalu optimis dalam segala hal. Sikap optimisme Arai lah yang meyakinkan Ikal berani bermimpi besar. Arai masih bertalian darah dengan Ikal. Saat usianya masih kecil, ia sudah menjadi anak yatim-piatu karena ibunya meninggal saat hendak melahirkan adiknya, dan ayahnya ikut meninggal tak lama setelah kematian ibunya. Sejak saat itu Arai tinggal bersama Ikal, diasuh oleh orang tua Ikal. Hal ini dapat dilihat pada kutipan (23) berikut. (23) “Sesungguhnya, aku dan Arai masih bertalian darah. Neneknya adalah adik kandung kakekku dari pihak Ibu. Namun, sungguh malang nasibnya, ketika dia kelas satu SD, ibunya wafat saat melahirkan adiknya. Arai – baru enam tahun waktu itu – dan ayahnya gemetar di samping jasad sang Ibu yang memeluk bayi merah bersimbah darah. Anak-beranak itu meninggal bersamaan. Lalu, Arai tinggal berdua dengan ayahnya.Namun, kepedihan belum mau menjauhi Arai. Menginjak kelas tiga SD, ayahnya juga wafat. Arai menjadi yatim piatu, sebatangkara. Dia kemudian dipungut keluarga kami.’ (Hirata,2018: 18) Sejak kecil, Arai sudah belajar menjadi orang yang tabah. Walau baru ditinggal mati oleh sang ayah, dan harus meninggalkan tempat kelahirannya, Arai langsung menguatkan dirinya sendiri. Saat Ikal dan Ayahnya datang menjemput Arai di gubuknya yang berada di hutan, dia langsung menabahkan hatinya untuk meninggalkan gubuknya. Ia tak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan. Ia langsung bersemangat menjalani hidupnya yang baru. Ia bersemangat menghadapi tantangan yang baru. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (24), (25), dan (26).

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 (24) “.... Arai menengok ke belakang untuk melihat gubuknya terakhir kali. Wajahnya hampa. Lalu, dia berbalik cepat dan melangkah dengan tegap. Anak sekecil itu telah belajar menguatkan dirinya.” (Hirata, 2018 : 19) (25) “.... Dia tersenyum penuh semangat. Agaknya dia juga bertekad memerdekakan dirinya dari duka mengharu biru yang membelenggunya seumur hidup. Dia telah berdamai dengan kesedihan dan siap menantang nasibnya. (Hirata,2018: 23) (26) ““Dunia! Sambutlah aku...! Ini aku, Arai, datang untukmu...! ” pasti itu maksudnya” (Hirata,2018: 23) Masa kecil nya yang harus menghadapi kenyataan pahit dengan kematian orang tuanya tidak membuat Arai tumbuh menjadi pribadi yang pemurung, justru sebaliknya, sikapnya yang tabah dan selalu semangat membuat ia menjadi pribadi yang periang. Bahkan dalam situasi yang membahayakan pun ia masih bisa bersenang-senang. Sikap periangnya terlihat pada suatu kejadian ketika mereka bersembunyi di sebuah peti ikan, menghindar dari kejaran Pak Mustar. Saat peti tersebut diangkat dan melewati pengamen ia malah gembira dan menjentikkan jemarinya mengikuti kerincing tamborin sambil tersenyum. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan (27) berikut. (27) “Namun, aneh sekali tingkah Arai. Waktu peti melewati para pengamen, dia menjentikkan jemarinya mengikuti kerincing tamborin. Dia tersenyum. Aku mengerti bahwa baginya apa yang kami alami adalah sebuah petualangan yang asyik. Dia melirikku yang terjepit tak berdaya, senyumnya semakin girang” (Hirata,2018: 14) Arai merupakan seorang yang kreatif, dan selalu punya banyak ide, yang disebut Ikal sebagai ide gila. Idenya lah yang menyelamatkan mereka lolos dari kejaran Pak Mustar, yaitu bersembunyi pada peti ikan seperti terdapat dalam kutipan (27) sebelumnya. Saat melihat Mak Cik Maryamah datang meminta beras kepada ibu

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 Ikal, ide Arai juga lah yang membuat Mak Cik Maryamah tak meminta-minta beras lagi. Arai bersama Ikal membelikan seluruh uang tabungannya untuk membeli terigu, gandum, dan gula, untuk dibuatkan kue oleh Mak Cik Maryamah, dengan demikian Arai bertujuan agar Mak Cik Maryamah berjualan kue sehingga Mak Cik Maryamah punya usaha dan mampu membeli beras. Hal tersebut tergambat dalam (Hirata,2018: 35-44). Sikap kreatif Arai terkadang terwujud dalam kenakalannya. Saat Arai dan temannya mengaji, mereka sering dihukum Taikong Hamim dengan keras saat berbuat kesalahan. Arai yang tak terima dengan hukuman berniat membalas Taikong Hamim. Cara balas dendam yang dilakukannya kepada Taikong Hamim pun sangat kreatif, yaitu dengan cara mengucapkan amin dengan sangat tidak santun setiap kali Taikong Hamim yang menjadi imam shalat jamaah. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (28) berikut. (28) “Setiap Taikong Hamim menjadi imam shalat jamaah dan tiba pada bacaan akhir Al-Fatihah: “Whalad dhooliin....” “Arai langsung menyambut dengan lolongan seperti serigala mengundang kawin. “Aaamiiin... mmmiiin... mmmiiiiinnn...” (Hirata,2018: 52) Kutipan (28) tersebut menggambarkan bagaimana kreatifnya seorang Arai, bahkan dalam membuat keonaran sekalipun. Dengan mengucapkan kata amin seperti kutipan di atas, Arai dapat terhindar dari hukuman Taikong Hamim.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Sikap Arai yang penuh semangat dibarengi juga dengan sikapnya yang optimis. Sikap optimisnya terlihat saat ia menceramahi Ikal terkait semangat Ikal yang menurun untuk bersekolah dan bekerja seperti terdapat dalam kutipan (20),(21),dan (22) sebelumnya. Sikap optimisnya juga terlihat saat ia berjuang keras mendapatkan cinta Nurmala, walaupun Nurmala tetap menolak cintanya. Arai tetap berjuang dan mengungkapkan sikap optimisnya kepada Ikal seperti terdapat dalam kutipan (29) berikut. (29) ‘Tapi, bukan Arai namanya kalau tak berjiwa positif.’ “Nurmala ibarat melemparkan lumpur ke tembok itu” sambungnya optimis” “Kau sangka tembok itu akan roboh dengan lemparan lumpur?” Tanyanya retoris” “Tak akan! Lumpur itu akan membekas di sana, apa pun kulakukan, walaupun ditolaknya mentah-mentah akan membekas di hatinya,” kesimpulannya filosofis.” (Hirata,2018: 163) Arai meyakini bahwa segala usaha yang dia lakukan untuk Nurmala pasti membekas di hati Nurmala, oleh karena itu ia tetap optimis dan berhasrat. Sikap penuh semangat dan optimisnya dibarengi juga dengan sikap ingin tahu yang tinggi sehingga Arai tumbuh menjadi seorang anak yang pintar. Kepintarannya terbukti karena setiap pembagian raport dia berada pada urutan ke-5 terbaik. Sifat ingin tahunya dapat dilihat dalam kutipan (30) dan (31) berikut. (30) “Karena selalu ingin tahu dan terus bertanya, Arai berkembang menjadi anak yang pintar. Dia selalu ingin mencoba sesuatu yang baru” (Hirata,2018: 27)

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 (31) “Arai adalah orang yang selalu ingin tahu, ingin mencoba hal-hal baru, dia pembosan dan anti kemapanan.” (Hirata,2018: 232) Arai adalah seoarang yang suka menolong, dan suka membuat kejutan. Ia merasa bahagia jika membahagiakan orang lain. Sikap suka menolongnya terlihat pada saat ia membantu Mak Cik Maryamah seperti dijelaskan sebelumnya. Arai suka membuat kejutan kepada Ikal dan Jimbron dengan kebaikan-kebaikan yang dia rahasiakan, seperti menaruh kuaci, permen gula merah, dan mainan di saku baju Ikal sewaktu kecil, menjahitkan sepatu Ikal yang sudah menganga, dan menjahit kancing baju Ikal yang lepas. Semua itu dia lakukan secara diam-diam, berharap tak ada yang tahu. Arai sangat suka menolong sahabat-sahabatnya terutama Ikal. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan (32) dan (33) berikut. (32) “.... Dia mengejar layangan untukku, mengajariku berenang, menyelam, dan menjalin pukat. Sering ketika bagun tidur, aku menemukan kuaci, permen gula merah, dan mainan kecil dari tanah liat sudah ada di saku bajuku. Arai diam-diam membuatnya untukku.” (Hirata, 2018:26) (33) “…. Aku sering melihat sepatuku menganga seperti buaya berjemur, tahu-tahu sudah rekat kembali, Arai diam-diam memakunya. Kancing bajuku yang lepas tiba-tiba lengkap lagi, tanpa banyak cincong, Arai menjahitnya. Jika terbangun malam-malam, aku sering mendapatiku telah berselimut, Arai menyelimutiku.” (Hirata,2018:160) Sikapnya yang suka menolong dan membantu dibarengi juga dengan sikap setia kawannya. Arai bahkan sampai rela berkorban apa pun selama dia mampu demi sahabatnya. Hal ini diungkapkan oleh Ikal pada kutipan (34) berikut. (34) “ Selama aku mengenal Arai, sejak kami masih sangat kecil dulu, satu hal utama dalam kepribadiannya adalah dia sangat setia kawan dan rela berkorban apa pun selama dia mampu demi kawan.” (Hirata, 2018: 182)

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Sikapnya yang rela berkorban tersebut juga terlihat saat ia mewujudkan keinginan Jimbron yang sangat terbobsesi kepada kuda capo saat pertama kali melihatnya. Obesi tersebut sampai merubah Jimbron menjadi pribadi yang murung dan malas bekerja serta sekolah. Arai pun diam-diam membantu Jimbron mewujudkan obsesinya tersebut secara diam-diam. Arai rela membanting tulang bekerja di peternakan capo, tujuannya hanya satu agar bisa meminjam kuda dan membawanya kepada sahabatnya Jimbron, seperti terlihat dalam kutipan (35) berikut. (35) “LUASNYA SAMUDRA dapat diukur, tapi luasnya hati siap sangka. Itulah hati Arai. Dua bulan, dia menyerahkan diri pada penindasan capo yang terkenal keras, semuanya demi Jimbron. Kerja di peternakan capo seperti kerja rodi. Karena itu, setiap pulang malam, dia langsung tertidur sebab dia remuk redam. Waktu dia mengatakan ingin jadi kuli bangunan di Gedong tempo hari, sebenarnya diam-diam dia melamar kerja pada capo dengan satu tujuan agar Jombron dapat mendekati Pangeran.” (Hirata, 2018: 193) 2.1.3 Jimbron Jimbron adalah sahabat Ikal dan Arai. Pertemuan pertama mereka dengan Jimbron terjadi di tempat pengajian. Sejak saat itu mereka berteman akrab. Jimbron memiliki bentuk fisik yang gemuk dan terkadang tak lancar berbicara. Jimbron sebenarnya dapat berbicara seperti orang normal pada umumnya, namun pada saatsaat tertentu,bicaranya dapat gagap seketika jika terpengaruh oleh suasana hatinya. Dia gagap jika ia sedang panik terhadap sesuatu, atau sedang bersemangat untuk melakukan atau mengatakan sesuatu yang sangat disukainya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (36) berikut.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 (36) “.... Salah satu kawan sepengajianku adalah Jimbron. Dia tak lancar berbicara. Dia gagap, tapi tak selalu gagap. Jika panik atau sedang semangat, dia gagap. Jika suasana hatinya sedang nyaman, dia berbicara senormal orang biasa.” (Hirata,2018: 48) Jimbron sama halnya dengan Arai, yatium piatu sejak kecil. Ibunya meninggal saat dia kelas empat SD, dan ayahnya juga meninggal empat puluh hari setelah kematian ibunya. Peristiwa kematian ayahnya lah yang membuat Jimbron gagap berbicara. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (37) berikut. (37) “Suatu hari, belum empat puluh hari ibunya wafat, Jimbron bepergian naik sepeda dibonceng ayahnya. Masih berkendara, ayahnya terkena serangan jantung. Konon, Jimbron pontang-panting dengan sepeda itu membawa ayahnya ke Puskesmas. Dia berusaha sekuat tenaga,panik, dan jatuh bangun membonceng ayahnya yang sesak napas sambil kesusahan memeganginya. Sampai di Puskesmas, Jimbron pucat pasi ketakutan. Dia kalut, tak sanggup menjelaskan situasinya kepada orang-orang. Lagi pula sudah terlambat. Beberapa menit di Puskesmas, ayahnya meninggal. Sejak saat itu Jimbron gagap.” (Hirata,2018: 49) Kepanikan sekaligus ketakutan yang dialaminya saat melihat ayahnya terkena serangan jantung berdampak negatif terhadap dirinya sendiri. Ia gagap karena terkejut dengan peristiwa yang tiba-tiba terjadi seperti terdapat dalam kutipan (37). Jimbron sangat menyukai kuda, bahkan kecintaannya terhadap kuda sangat fanatik.. Walau dikampung mereka tak ada kuda, ia sangat memahami hal-hal terkait kuda seperti teknik mengendarai kuda, asal muasal kuda, dan mengerti makna ringkikan kuda. Ia sangat terobsesi terhadap kuda-kuda, sampai-sampai hanya kuda lah yang menurutnya menarik di dunia ini. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (38) berikut.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 (38) “Di kampung kami tak ada seekor pun kuda, tapi Jimbron mengenal kuda seperti dia pernah melihatnya langsung. Jimbron adalah pemuda yang mudah mengantuk, tapi jika sedikit saja dia mendengar tentang kuda, telinga layunya sontak berdiri. Jimbron segera menjadi pecinta kuda yang fanatik. Dia tahu teknik mengendarai kuda, asal muasal kuda, dan mengerti makna ringkikan kuda. Dia hafal nama kuda Abraham Lincoln, nama kuda Napoleon, bahkan nama kuda syaidina Umar bin Khaththab. Dengan melihat gambar wajah kuda, dia langsung tahu jenis kelaminnya. Tak ada satu pun hal lain yang menarik di dunia ini bagi Jimbron selain kuda.” (Hirata,2018: 50) Kecintaan Jimbron yang begitu besar terhadap kuda lah yang membuat ia paham betul segala sesuatu tentang kuda. Bahkan kecintaannya terhadap kuda dapat digolongkan berlebihan karena ia menganggap bahwa hanya kuda lah paling menarik di dunia, seperti terdapat dalam kutipan (38). Jimbron merupakan seorang yang lugu, dan polos. Ia selalu menganggap sesuatu dengan serius. Keluguan dan kepolosannya terkadang dimanfaatkan oleh orang lain untuk mempermalukan Jimbron. Jimbron tak marah dengan hal tersebut, karena ia tak merasa dipermalukan oleh orang lain. Hal tersebut terlihat saat ia dengan senang hati menjalankan hukuman dari Taikong Hamim yang terlihat pada kutipan (39) dan menjalankan hukuman dengan sungguh dari Pak Mustar yang terlihat pada kutipan (40) berikut. (39) “.... Jimbron disuruh maju ke tengah madrasah. Dia dipertontonkan pada ratusan santri dan dipaksa meringkik. Matanya yang lugu, tubuhnya yang gemuk, dan bahunya yang lunsur tampak lucu ketika tangannya menekuk di dadanya seperti bajing. Namun, bukan malu, Jimbron malah senang bukan main dengan hukuman itu.” (Hirata, 2018: 52) (40) “ Maka menerima hukuman apa pun dari Pak Mustar, Jimbron ikhlas saja. Disuruh berakting, ya, dia berakting sebaik mungkin, tak ada alasan untuk main-main. Disuruh membersihkan WC yang lubangnya dibanjiri

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 bakteri ekoli, dia juga senang-senang saja. Semuanya dia jalani dengan sepenuh jiwa sebab hukuman itu baginya merupakan bagian dari mata rantai nasib yang dianugrahkan sang Maha Pencipta di langit untuknya, dan lantaran, hukuman itu memang telah tercatat dalam buku-Nya.” (Hirata,2018: 118) Kepolosan Jimbron pada kutipan (39) sangat tampak, bahwa ia tak merasa keberatan dengan hukuman apa pun yang diberikan. Tujuan Taikong Hamim menghukum Jimbron sebenarnya memberikan efek jera dengan membuat malu Jimbron di depan banyak orang, namun Jimbron terlalu lugu hingga tak menyadari hal itu. Pada kutipan (40) juga tampak bahwa Jimbron tak keberatan menjalankan hukuman yang diberikan Pak Mustar kepadanya. Keluguannya berasal dari keyakinanya bahwa segala sesuatu terjadi karena sudah seharusnya terjadi, seperti terdapat dalam kutipan (40) tersebut. Keyakinan tersebut berlaku juga dengan hukuman yang dialaminya bahwa hukuman tersebut memang sudah seharusnya terjadi. Kepolosan Jimbron dibarengi denga sikapnya yang suka membantu temantemannya, terutama terhadap Laksmi. Laksmi merupakan seorang anak yatim-piatu seperti halnya Jimbron. Keseharian Laksmi bekerja di pabrik Cincau,dan tidak bersekolah. Jimbron sangat bersimpati kepada Laksmi, karena dia merasa nasib mereka sama-sama memilukan. Rasa simpati Jimbron terhadap Laksmi terlihat dalam kutipan (41), (42) dan (43) berikut. (41) “Setiap Minggu pagi, Jimbron menghambur ke pabrik cincau. Dengan senang hati, dia menjadi relawan membantu Laksmi. Tanpa diminta, dia mencuci kaleng-kaleng mentega Palmboom, wadah cincau

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 jika isinya telah kosong. Dia ikut pula menjemur daun-daun cincau.” (Hirata,2018: 69) (42) “.... Sering Jimbron datang ke pabrik membawakan Laksmi buah kweni dan pita-pita rambut. Jimbron ingin sekali, bagaimanapun caranya, meringankan beban Laksmi meskipun hanya sekadar membantunya mencuci baskom” (Hirata,2018: 69) (43) “Jika pembeli sepi, Jimbron beraksi. Bukan untuk merayu atau menyatakan cinta, bukan , sama sekali bukan, melainkan untuk menghibur Laksmi.” (Hirata,2018: 69) Walaupun Jimbron memiliki kehidupan yang pahit, dan setiap hari harus bekerja keras, ia tetap mau membantu Laksmi meringankan pekerjaan Laksmi dengan tulus. Tak ada alasan lain bagi Jimbron selain ingin menyenangkan Laksmi. Jimbron juga seorang yang rela berkorban demi sahabatnya. Sifat relaberkorbannya terlihat saat ia memberikan uang tabungan yang dimilikinya kepada sahabatnya Ikal dan Arai. Uang tabungan yang ia kumpulkan dengan bekerja keras ia berikan kepada Ikal dan Arai untuk melanjutkan sekolah. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan (44) berikut. (44) “.... Jimbron yang berhati lunak dan putih. Dulu, dengan penuh semangat, dia memesan dua celengan kuda agar dibelikan mualim di Jakarta, dan sempat kami tertawakan ketika celengan kuda itu datang. Ditabungnya upah bekerja keras, paling tidak, selama dua tahun. Diisinya kedua celengan itu denga rata. Tak sepatah kata pun sempat dia ucapkan maksudnya. Kini, diberikannya masing-masing untuk kami. Itulah pengorbanan Jimbron untuk kami.” (Hirata, 2018: 205) Jimbron memang sudah merencanakan untuk menabung demi kedua sahabatnya. Ia rela bekerja keras mencari uang agar dapat membantu kedua sahabatnya dengan uang yang dikumpulkannya. Ia rela mengorbankan dirinya sendiri demi menolong orang lain seperti terdapat dalam kutipan (44).

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 2.2 Latar Analisis terhadap latar dalam penelitian ini digunakan untuk memahami tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. 2.2.1 Latar Tempat Latar menurut Abrams dalam (Nurgiyantoro, 1995: 216) disebut sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, terdapat beberapa latar tempat yakni : sekolah (lapangan sekolah, kelas, aula sekolah, WC sekolah), pasar Magai, rumah Ikal, gudang Nyonya Lam Nyet Pho, toko A Siong, rumah Mak Cik Maryamah, Masjid, Pabrik Cincau, kontrakan, bioskop, dermaga, rumah Bang Jaitun, rumah Nurmala, Kapal Bintang Laut Selatan, Tanjung Periok, Bogor, tempat Foto Copy, Kantor Pos, kereta, dan sebuah gedung di Jakarta. Deskripsi latar tempat tersebut sebagai berikut. 2.2.1.1 Sekolah Sekolah dalam novel ini adalah SMA negeri Magai, tempat Ikal, Arai, dan Jimbron menempuh pendidikan. Lapangan sekolah merupakan tempat Ikal, Arai, dan Jimbron dipermalukan oleh Pak Mustar dengan hukuman yang diberikannya yaitu berakting. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (45) berikut.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 (45) “ Di tengah lapangan sekolah, Pak Mustar dan para penjaga sekolah telah menyiapkan lokasi shooting.” (Hirata,2018: 111) Selain lapangan sekolah, WC sekolah juga merupakan latar tempat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. WC sekolah merupakan tempat Ikal, Arai, dan Jimbron menjalankan hukumunnya, seperti terdapat dalam kutipan (46) berikut. (46) “ Setiap menunduk untuk menyikat lantai WC, aku menahan napas.” (Hirata,2018:119) Aula sekolah juga merupakan latar tempat dalam novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata. Pembagian raport setiap semesternya diadakan di aula sekolah. Para orang tua diberi kursi dengan nomor urut sesuai urutan ranking anaknya di aula sekolah. Hal tersebut tampak pada kutipan (47) berikut. (47) “Di bawah rindang pohong bungur, di depan aula tempat pembagian rapor, sejak pagi, aku dan Arai menunggu Ayah.” (Hirata,2018: 79) Selain aula sekolah, kelas juga merupakan latar tempat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Di kelas lah awal mula munculnya mimpi Ikal, Arai, dan Jimbron. Di kelas mereka bertemu kepala sekolah, sekaligus guru sastra mereka, yaitu Pak Balia, yang memberi motivasi kepada mereka untuk berani bermimpi. Kutipan (48) menunjukkan hal tersebut. (48) “.... Setiap representasi dirinya, dia perhitungkan dengan teliti sebab dia juga paham bahwa di depan kelas dia adalah center of universe, dan dia sadar bahwa yang diajarkannya sastra, muara segala keindaha.” (Hirata, 2018: 59)

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 2.2.1.2 Pasar Magai Pasar Magai letaknya tak jauh dari pelabuhan Magai. Di pasar itu lah Ikal, Arai, dan Jimbron bekerja sebagai kuli ngambat, yaitu mengantar ikan hasil tangkapan nelayan dari pelabuhan ke pasar. Hal tersebut tampak dalam kutipan (49) berikut. (49) “ ..., kami sempoyongan memikul berbagai jenis makhluk laut yang sudah harus tersaji di meja pualam stanplat pasar ikan....” (Hirata,2018: 58) 2.2.1.3 Rumah Ikal Dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, rumah Ikal menjadi tempat beberapa peristiwa salah satunya adalah ketika Mak Cik Maryamah datang meminta beras kepada Ibu Ikal. Peristiwa yang lain di rumah Ikal adalah ketika Ikal dihasut Arai untuk membuat sisiran rambutnya belah tengah. Dan peristiwa selanjutnya yang terjadi di rumah Ikal adalah ketika Ikal dan Arai menerima dan membuka amplop yang isinya tentang kelolosan mereka memperoleh beasiswa ke Eropa. Hal ini tampak pada kutipan (50) berikut. (50) “.... kami memutuskan untuk pulang kampung menunggu surat keputusan dari sekretaris program beasiswa itu. Padanya kami memberikan alamat rumah orangtuaku di Belitong.” (Hirata,2018: 239)

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 2.2.1.4 Gudang Nyonya Lam Nyet Pho Gudang Nyonya Pho letaknya berada dekat pasar Magai. Sewaktu Pak Mustar mengejar Ikal, Arai, dan Jimbron, mereka bersembunyi di sebuah peti ikan yang berada di gudang Nyonya Pho. Hal tersebut tampak dalam kutipan (51) berikut. (51) “.... Karena kami telah memyelinap ke gudangnya, pasti dia akan menuduh kami mencuri” (Hirata,2018: 11) 2.2.1.5 Toko A Siong Toko A Siong merupakan tempat Ikal dan Arai berselisihpaham tentang uang tabungan mereka. Di toko ini mereka bergulat memperebutkan uang koin tabungan mereka, sampai-sampai pergulatan mereka mengacaukan barang-barang yang ada di toko A Siong. Bukti toko tersebut terdapat dalam kutipan (52) berikut. (52) “.... Langkanya pasti memasuki toko A Siong.” (Hirata,2018: 35) 2.2.1.6 Rumah Mak Cik Maryamah Ikal dan Arai membawa gula dan terigu yang mereka beli di toko A Siong ke rumah Mak Cik Maryamah. Tujuannya agar Mak Cik Maryamah memiliki usaha yaitu membuat kue agar tidak meminta-minta beras lagi. Rumah tersebut tampak dalam kutipan (53) berikut. (53) “.... Di perempatan, Arai belok kiri. Dia menuju rumah Mak Cik Maryamah.” (Hirata,2018: 42)

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 2.2.1.7 Masjid Masjid merupakan tempat Ikal, Arai, dan Jimbron sering mengaji. Di masjid jugalah Arai sering berbuat nakal, yaitu membalas dendam kepada Taikong Hamim dengan lolongan amin yang panjang setiap kali Taikong Hamim menjadi imam shalat jamaah, seperti terdapat dalam kutipan (28) sebelumnya. 2.2.1.8 Pabrik Cincau Pabrik Cincau terletak di dekat pasar Magai. Di sini lah Laksmi bekerja. Di pabrik ini pula Jimbron sering membantu Laksmi mencuci baskom sekaligus menghibur Laksmi. Saat Jimbron mengendarai Kuda, ia membawa kuda tersebut ke pabrik Cincau untuk diperlihatkan kepada Laksmi. Hal tersebut tampak pada kutipan (41) dan (42) pada bagian sebelumnya. 2.2.1.9 Kontrakan Kontrakan adalah tempat tinggal Ikal, Arai, dan Jimbron di Magai. Kontrakan tersebut dekat dengan pasar dan letaknya berada di depan bioskop. Di kontrakan tersebut juga lah Arai bercerita tentang film yang mereka tonton di bioskop kepada teman teman mereka. Hal tersebut tampak dalam kutipan (54) dan (55) berikut. (54) “Aku, Jimbron, dan Arai baru pulang sekolah dan sedang duduk santai di beranda los kontrakan kami waktu melihat para petugas bioskop mengurai gulungan terpal....” (Hirata,2018: 87) (55) “.... Para monyet sirkus ini bertumpuk-tumpuk menyesaki kamar kontrakan kami.” (Hirata,2018: 107)

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Monyet sirkus yang dimaksud dalam kutiapan (55) adalah teman sekolah mereka. 2.2.1.10 Bioskop Bioskop letaknya berada tepat di depan kontrakan Ikal, Arai, dan Jimbron seperti di jelaskan pada kutipan (54) sebelumnya. Di bioskop Ikal, Arai, dan Jimbron menonton film yang dilarang oleh Pak Mustar, dan di tempat ini juga lah mereka tertangkap basah oleh Pak Mustar. Kutipan (56) menunjukkan hal tersebut. (56) “Seisi gedung bioskop terhenyak membisu. Jangankan kami, bahkan seluruh penonton tak berkutik dibuatnya.” (Hirata,2018: 103) Dia yang dimaksud pada kutipan (56) adalah Pak Mustar. 2.2.1.11 Dermaga Dermaga merupakan tempat seluruh penduduk Magai pertama kali menyaksikan kuda. Di dermaga ini pula Jimbron memberikan celengan kudanya kepada Ikal dan Arai. Perpisahan Ikal dan Arai dengan orang-orang terdekatnya juga terjadi di dermaga. Kutipan (57) dan (58) menunjukkan hal tersebut. (57) “.... Namun, sejak pukul dua dermaga telah dipadati orang Melayu yang ingin melihat langsung hewan yang hanya pernah mereka lihat dalam gambar.” (Hirata, 2018: 153) (58) “ Ketika berpisah di dermaga, Ayah memeluk Arai dan mendekakpu kuat sekali” (Hirata,2018: 205)

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 2.2.1.12 Rumah Bang Jaitun Rumah Bang Jaitun merupakan tempat Arai belajar bermain gitar dan bernyanyi. Ikal dan Arai berkunjung ke rumah Bang Jaitun untuk memperoleh tips memikat hati wanita, dalam hal ini yang dimaksud adalah memikat hati Nurmala, gadis yang diidamkan Arai. Kutipan (59) menunjukkan tempat tersebut. (59) “ KAMI memasuki ruang tamu Bang Zaitun yang dipenuhi beragam pernak-pernik,...” (Hirata,2018: 171) 2.2.1.13 Rumah Nurmala Setelah merasa mahir bermain gitar dan mampu menyanyikan sebuah lagu, Arai ditemani Ikal dan Jimbron menyelinap ke halaman rumah Nurmala, tepat di dekat jendela kamar Nurmala. Arai hendak bernyanyi dekat jendela kamar Nurmala, berharap Nurmala terpikat oleh rayuannya. Tempat tersebut tampak dalam kutipan (60) tersebut. (60) “ Arai melangkah. Di tengah lapangang, antara kami dan kamar Nurmala, dia berhenti.” (Hirata,2018: 197) (61) “ Arai bersiap-siap di dekat jendela, lalu dia memetik gitar dan memulai lagunya.” (Hirata,2018: 197) 2.2.1.14 Kapal Bintang Laut Selatan Ikal dan Arai menumpang disebuah kapal muatan barang dan ternak, untuk berlayar ke Pulau Jawa. Selama lima hari perjalanan mereka untuk sampai ke pelabuhan Tanjung Priok. Dalam kapal tersebut mereka ditugasi memasak dan membersihkan kapal. Kutipan (62) menunjukkan kapal tersebut.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 (62) “Kami akan berangkat dari Dermaga Olivir ke Tanjong Priok, naik Kapal Bintang Laut Selatan. Kapal itu bukan kapal penumpang, tapi kapal barang kelontong dan ternak.” (Hirata,2018: 202) 2.2.1.15 Tanjung Periok Ikal dan Arai berlabuh di pelabuhan Tanjung Periok, dan berpisah dengan kenalan mereka mualim kapal. Di tanjung Periok pula mereka menaiki sebuah bus yang tak mereka tahu tujuannya ke mana. Kutipan (63) menunjukkan tempat tersebut. (63) “Aku dan Arai gemetar melihat demikian banyaknya manusia di Tanjung Priok.” (Hirata,2018: 213) 2.2.1.16 Bogor Bus yang ditumpangi oleh Ikal dan Arai ternyata membawa mereka ke Bogor. Ikal dan Arai yang sama sekali buta dengan Bogor terpaksa mencari tempat untuk menginap. Mereka kemudian menemukan sebuah masjid yang berada di kawasan IPB. Esok harinya mereka kemudian menyewa kamar kos di kampung di belakang IPB. Hal tersebut tampak dalam kutipan (64) berikut. (64) “Esoknya, dengan mudah kami menemukan kamar kos di kampung di belakang IPB.” (Hirata,2018: 223) 2.2.1.17 Tempat Foto Copy Untuk menyambung hidup, Ikal dan Arai mencari beberapa pekerjaan hingga akhirnya mereka diterima bekerja di sebuah tempat foto copy. Di tempat ini juga lah mereka menemukan brosur lowongan pekerjaan sebagai karyawan di kantor pos. Kutipan (65) menunjukkan hal tersebut.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 (65) “..., seorang tetangga kos mengajak kami bekerja di kios fotokopinya di IPB.” (Hirata,2018: 226) 2.2.1.18 Kantor Pos Ikal dan Arai melamar ke kantor pos, namun yang diterima hanya Ikal karena Arai gagal pada tes kesehatan. Ikal kemudian bekerja di Kantor Pos sampai ia menyelesaikan kuliahnya, sedangkan Arai kembali bekerja di tempat foto copy sampai kemudian pindah ke Kalimantan. Kutipan (66) menunjukkan Kantor Pos tersebut. (66) “SELAMA PENGALAMANKU bekerja, sejak kelas dua SMP, menjadi pegawai Pos adalah puncak karierku.” (Hirata,2018: 229) 2.2.1.19 Kereta Ikal berangkat kuliah menaiki kreta setiap harinya. Banyak kisah-kisah yang dia temui di kereta tersebut. Dia sudah kenal betul dengan konderkturnya dan beberapa penumpang lain. Ikal memiliki kesan tersendiri dengan kereta tersebut. Kutipan (67) dan (68) menunjukkan kereta tersebut. (67) “Aku naik kereta penumpang yang bercampur dengan barang, dagangan, pedagang, dan juga penumpang yang berdagang.” (Hirata,2018: 233) (68) “Begitu banyak kenangan kereta itu.” (Hirata,2018: 235) 2.2.1.20 Sebuah Gedung di Jakarta Setelah menyelesaikan kuliahnya, Ikal mengikuti tes beasiswa pendidikan strata dua yang dibuka oleh Uni Eropa. Tes akhir penentuan beasiswa tersebut dilakukan dalam bentuk wawancara si sebuah gedung di Jakarta. Di sana lah Ikal

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 mengikuti tes dan di sana pula ia kembali bertemu dengan Arai yang juga mengikuti tes tersebut. Kutipan (69) menunjukkan hal tersebut. (69) “Tes terakhir itu dilaksanakan di sebuah gedung di Jakarta” (Hirata,2018: 237) 2.2.2 Latar Waktu Latar waktu dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata diperkirakan terjadi pada tahun 1980-an. Latar waktu tersebut dapat dipahami melalui penggambaran peristiwa-peristiwa nyata dalam novel tersebut seperti mulai lumpuhnya PN Timah di Belitong dan peristiwa berhasilnya Mujahidin Afganistan mengusir Uni soviet dari Afganistan. Dalam kutipan (70) digambarkan PN Timah lumpuh. Wikipedia menyebutkan PN Timah di Belitong mulai lumpuh akibat anjloknya harga timah dunia pada tahun 1985. (70) “Namun, kesenangan ini pun tak berlangsung lama sebab PN Timah kemudian lumpuh.” (Hirata,2018: 231) Kutipan (71) berikut menggambarkan seorang Mujahidin muda menumbangkan komandan resiman utara tentara merah rusia. Hal itu menjadi pemicu hengkangnya Rusia dari Afganistan seperti terdapat dalam kutipan (72). Dalam Wikipedia digambarkan pasukan Mujadihin (kelompok pemberontak Afganistan) mulai memerangi Uni Soviet, dan pada tahun 1987 Uni Soviet secara resmi menarik pasukannya dari Afganistan. (71) “DI TELEVIS balai desa, kami menonton Ibu Toeti Adhitama memberitakan kisah seorang patriot muda mujahidin yang baru saja

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 menumbangkan komandan (Hirata,2018: 73) resimen utara tentara merah Rusia. (72) “Terbunuhnya komandan resimen tentara merah itu menjadi tonggak penting direbutnya kembali zona utara, sekaligus pemicu hengkangnya Rusia dari Afganistan pada tahun berikutnya.” (Hirata,2018: 74) 2.2.3 Latar Sosial Latar sosial dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata menggambarkan masyarakat Melayu. Masyarakat Melayu di Magai digambarkan sangat tertarik dengan hal-hal yang baru. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (73) yang menggambarkan antusias masyarakat Melayu melihat kuda. (73) “.... Namun, Sejak pukul dua dermaga telah dipadati orang Melayu yang ingin melihat langsung hewan yang hanya pernah meraka lihat dalam gambar. Seisi kampung tumpah ruah ke dermaga, ribuan jumlahnya; di antara mereka tampak bupati, camat, lurah, kepala desa, dan para dukun berbagai spesialisasi lengkap dengan baju dinasnya masing-masing.” (Hirata,2018: 153) Selain itu, masyarakat Melayu juga digambarkan senang menyapa orang lain, walaupun orang tersebut tak dikenal. Kutipan (74) menunjukkan hal tersebut. (74) “.... Orang Melayu senang menyapa orang meskipun tak dikenal.” (Hirata,2018: 79) Masyarakat Melayu digambarkan memiliki Peregasan di setiap rumah mereka. Tujuannya agar stok padi tetap ada di rumah. Kutipan (75) berkikut menunjukkan hal tersebut. (75) “Peregasan adalah peti papan besar tempat menyimpan padi. Orangtuaku dan sebagian orang Melayu seangkatan mereka demikian trauma pada pendudukan Jepang, maka di setiap rumah pasti ada peregasan.” (Hirata,2018: 29)

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 Kepemilikan Peregasan di setiap rumah menunjukkan bahwa orang melayu sangat memikirkan hari yang akan datang. Padi yang disimpan dalam Peregasan biasanya berjumlah banyak, untuk menghindari kemungkinan kekurangan makanan di masa depan. 2.3 Rangkuman Analisis terhadap tokoh dan penokohan dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata menunjukkan bahwa tokoh utama yakni: Ikal, Arai, dan Jimbron memiliki keinginan yang kuat untuk bersekolah. Kondisi ekonomi yang kurang mendukung membuat mereka harus bekerja sebelum dan sepulang sekolah untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus biaya yang diperlukan untuk sekolah. Tokoh Arai, Ikal, dan Jimbron merupakan sosok pekerja keras, meraka rela melakukan pekerjaan apapun yang dapat dilakukan sambil bersekolah. Meraka juga meliki semangat juang yang tinggi, dan selalu mau membantu satu sama lain. Analisis terhadap tokoh Ikal menunjukkan bahwa Ikal merupakan anak dari seorang buruh PN Timah, memiliki predikat akademik yang baik di sekolah, suka menolong, kurang percaya diri, dan pesimis. Analisis terhadap tokoh Arai menunjukkan bahwa Arai merupakan anak yatim-piatu, masih kerabat dengan Ikal, tabah, kreatif, berampati tinggi, optimis, dan suka membantu. Analisis terhadap tokoh Jimbron menunjukkan bahwa Jimbron merupakan anak yatim-piatu, terkadang gagap berbicara, menyukai kuda, lugu, suka membatu, dan rela berkorban.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Analisis terhadap latar dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata menunjukkan bahwa terdapat latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat meliputi: sekolah, pasar Magai, rumah Ikal, gudah Nyonya Lam Nyet Pho, toko A Siong, rumah Mak Cik Maryamah, masjid, pabrik cincau, kontrakan, bioskop, dermaga, rumah Bang Jaitun, rumah Nurmala, kapal Bintang Laut Selatan, Tanjung Periok, Bogor, tempat foto copy, kantor Pos, kereta, dan sebuah gedung di Jakarta. Latar waktu dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata diperkirakan terjadi pada tahun 1980-an. Latar sosial dalam novel tersebut menggambarkan masyarakat Melayu. Masyarakat Melayu di Magai digambarkan sangat tertarik dengan hal-hal yang baru, senang menyapa orang lain (walaupun tak dikenal), dan memiliki Peregasan di setiap rumah.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III HABITUS DAN MODAL DALAM NOVEL SANG PEMIMPI KARYA ANDREA HIRATA Dalam bab ini, akan dideskripsikan hasil analisis habitus dan modal yang dimiliki oleh tokoh utama dalam perjuangannya meraih sukses di arena pendidikan. Ikal, Arai, dan Jimbron memiliki habitusnya masing-masing. Dalam bab ini, akan dideskripsikan habitus yang dimiliki Ikal, Arai, dan Jimbron, serta modal apa saja yang mereka miliki. 3.1 Habitus Habitus menurut Bourdieu (Haryatmoko 2016: 41), merupakan hasil keterampilan yang menjadi tindakan praktis, baik secara sadar maupun tidak, yang dipandang sebagai suatu kemampuan yang kelihatannya alamiah dan berkembang dalam lingkungan sosial tertentu. Habitus terbentuk tidak secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari proses yang panjang berupa pengalaman-pengalaman individu saat berinteraksi dengan lingkungan sosial. Martono (2012: 36) mengartikan habitus sebagai sebuah sistem disposisi-disposisi (skema-skema persepsi, pikiran, dan tindakan yang diperoleh dan bertahan lama). Habitus dapat dikembangkan melalui pengalaman, dan habitus tersebut dapat menjadi dasar keperibadian individu. 54

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 3.1.1 Habitus Ikal Berdasarkan analisis struktur pada bab sebelumnya, ditemukan bahwa Ikal memiliki 6 habitus yang paling dominan dalam perjuangannya meraih kesuksesan di arena pendidikan. Habitus tersebut yakni: pekerja keras, pantang menyerah, olah raga, melawan pesimistis, suka menabung, dan agamais. 3.1.1.1 Habitus Pekerja Keras Habitus pekerja keras terbentuk sebagai sebuah pengondisian agar Ikal mampu berjuang dalam arena pertarungannya. Ikal yang tak memiliki modal ekonomi terpaksa bekerja keras membanting tulang agar mampu bertahan hidup sekaligus memperoleh biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Makna habitus sebagai sebuah pengondisian yang dikaitkan dengan sayarat-syarat keberadaan suatu kelas tampak dalam hal tersebut. Agar dapat bersekolah Ikal harus bekerja. Oleh karena itu, segala pekerjaan yang memungkinkan dilakukan sambil bersekolah dilakukan oleh Ikal. Sewaktu SMA sebelum berangkat dan sepulang sekolah, Ikal menyempatkan diri untuk bekerja demi memperoleh uang. Pekerjaan seperti kuli ngambat, pengambil bola di lapang golf, part time office boy, dll, dilakukan oleh Ikal bersama sahabatnya demi mengumpulkan uang. Kutipan (76), (77), dan (78) menunjukkan hal tersebut. (76)“Aku, Arai, dan Jimbron, memilih sebuah pekerjaan yang sangat bergengsi sebagai tukang pikul ikan di dermaga. Profesi yang sangat elite itu disebut kuli ngambat. Kami dengan sengaja memilih profesi itu karena memungkinkan utuk dikerjakan sambil sekolah. (Hirata, 2018: 56)

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 (77)“Lalu, kami beralaih menjadi part time office boy di kompleks kantor pemerintah. Mantap sekali judul jabatan kami itu dan hebat sekali job description-nya: masuk kerja subuh-subuh dan menyiapkan ratusan gelas teh dan kopi untuk para abdi negara. Masalahnya, lebih sadis daripada ancaman reptil berkaki empat tadi, yaitu berbulan-bulan tak digaji. (Hirata, 2018: 57) (78)“Setiap pukul dua pagi, berbekal sebatang bambu, kami sempoyongan memikul berbagai jenis makhluk laut yang sudah harus tersaji di meja pualam stanplat pasar ikan pada pukul lima sehingga pukul enam sudah bisa diserbu ibu-ibu. Artinya, setelah itu, kami leluasa untuk sekolah” (Hirata, 2018: 58) Ikal dan sahabat-sahabatnya terpaksa harus bangun subuh-subuh untuk menyempatkan diri bekerja. Kutipan (76), (77), dan (78) menggambarkan bagaimana mereka bangun pagi hari untuk menjadi kuli ngambat atau tukang pikul ikan, yang mengharuskan mereka menyajikan ikan-ikan hasil tangkapan nelayan dari laut di pasar Magai. Habitus pekerja keras juga ditampakkan oleh Ikal saat ia berkuliah. Saat Ikal dan Arai sudah tinggal di Bogor, hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari pekerjaan, agar dapat menyambung hidup. Sebelum kuliah Ikal telah melakukani berbagai pekerjaan seperti menjadi salesmen, bekerja di pabrik tali, bekerja di fotocopy dan terakhir bekerja sebagai pegawai pos yang memungkinkannya bekerja sambil kuliah karena telah memiliki penghasilan tetap. Kutipan (79) menunjukkan hal tersebut. (79) “Meskipun sibuk bekerja menyortir surat, aku tak lupa akan cita-cita awalku dan Arai untuk kuliah. Sambil bekerja, aku mempersiapkan diri untuk tes masuk ke Universitas Indonesia. Tahun berikutnya, aku diterima di sana. Aku mengatur jadwal shift menyortir surat sesuai dengan kesibukan kuliah....” (Hirata, 2018: 231)

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Habitus pekerja keras yang dimiliki Ikal membawa dia meraih kesuksesan yaitu mampu menyelesaikan kuliahnya dan memperoleh beasiswa melanjutkan kuliah di Eropa. 3.1.1.2 Habitus Pantang Meyerah Habitus pantang menyerah yang dimiliki Ikal menggambarkan kegigihannya berjuang mengejar mimpi-mimpinya. Sikap pantang menyerah Ikal dapat dilihat dalam (Hirata,2018: 37-41). Sikap pantang menyerah Ikal juga tampak pada kutipan (5), (6), (7), (8), dan (9) pada bab II. Habitus tersebut merupakan prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang dipraktikkan oleh Ikal agar tetap bertahan atau mampu berjuang dalam arena pendidikan. Kondisi ekonomi keluarga yang kurung mendukung untuk bersekolah membuat Ikal untuk berjuang, tidak langsung meyerah dengan keadaan yang dihadapinya. Ia mencari solusi, yaitu dengan bekerja mengumpulkan uang. Pekerjaan yang dipilih adalah pekerjaan yang memungkinkan dilakukan sambil bersekolah. Habitus pantang menyerah tersebut sangat berpengaruh terhadap hasil yang diperolehnya. 3.1.1.3 Habitus Suka Berolah Raga Ikal memiliki habitus suka berolah raga. Sejak kecil ia suka berlari, sehingga ia memiliki kemampuan berlari cepat. Keterampilan berlari cepat yang dimiliki Ikal merupakan sebuah habitus. Kemampuan tersebut tidak diperoleh secara alamiah melainkan terbentuk melalui proses atas kesukaannya berlari, dan hal tersebut sering

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 dilakukan sehingga membentuknya menjadi seorang pelari yang cepat. Kutipan (80) menunjukkan hal tersebut.. (80) “AKU SELALU BERLARI. Aku suka berlari. Aku berlari berangkat sekolah. Aku senang berlari menerobos hujan, seperti selendang menembus tirai air berlapis-lapis. Aku tak pernah lelah berlari. Tubuhku ringan. Jika berlari, aku merasa seperti orang Indian, aku merasa menjadi layang-layang kertas kajang berwarna-warni, aku merasa seumpama anak panah yang meluncur deras menerabas angin.” (Hirata,2018: 131) Habitus suka berolah raga yang dimiliki Ikal jelas berpengaruh terhadap kehidupan sehari-harinya. Kemampuannya berlari cepat menunjukkan bahwa ia memiliki tubuh yang sehat. Tubuh yang sehat merupakan hasil dari habitus suka berolah raga yang dimiliki Ikal. Habitus tersebut membantu Ikal untuk lolos tes pada penerimaan pegawai pos seperti terdapat dalam kutipan (81) berikut. (81) “.... Sedangkan aku, ketika tes terakhir berupa tes fisik lomba lari, langsung yakin akan diterima.” (Hirata,2018: 227) Habitus suka berolah raga yang dimiliki Ikal memberi keuntungan bagi Ikal pada saat tes fisik pada seleksi penerimaan pegawai pos. Kemampuaannya berlari cepat membuatnya yakin akan diterima sebagai pegawai pos. 3.1.1.4 Habitus Melawan Pesimistis Ikal merupakan orang yang sangat kurang percaya diri. Rasa kurang percaya diri merupakan ciri dari masyarakat miskin.Ikal berusaha melawan rasa kurang percaya diri tersebut, untuk dapat berjuang menggapai mimpi-mimpinya.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Menurut Haryatmotko (2016: 42), tekanan pada nilai atau norma menggarisbawahi habitus yang berupa etos, yaitu prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang dipraktikkan, bentuk moral yang diinteriorisir dan tidak mengemuka dalam kesadaran, namun mengatur perilaku sehari-hari. Misalnya, sifat orang rajin, ulet, jujur, licik, cerdas, dll. Sifat pesimis yang dimiliki Ikal merupakan sebuah habitus yang dibentuk oleh rasa kurang percaya dirinya. Ikal merupakan seorang yang kurang percaya diri. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan (13) dan (14) pada bab sebelumnya. Saat Ikal tak percaya diri dengan gaya sisiran rambutnya yang baru, ditambah ejekan dari abang-abangnya, berkat motivasi dari Arai, Ikal melawan pesimistis tersebut, sehingga ia dengan percaya diri keluar rumah dengan rambut barunya. Hal tersebut tampak dalam kutipan (82) berikut. (82)“Dia menggenggam tangaku erat-erat dan menuntunku dengan gagah berani melewati ruangan tengah rumah. Dalam dukungan Arai, aku tak sedikit pun gentar menghadapi badai hinaan. Papan-papan panjang lantai rumah berderak-derak ketika kami berdua melangkah penuh gaya.” (Hirata,2018: 29) Kekurangpercayaan diri sering kali membuat Ikal menjadi pesimis. Sikap Ikal yang pesimis terdapat dalam kutipan (15) dan (16) pada bab sebelumnya yang menggambarkan Ikal mulai pesimis dengan mimpi-mimpinya, sehingga berpengaruh buruk terhadap prestasi belajarnya. Arai dan ayah Ikal lah yang membuat Ikal melawan pesimistis tersebut yang membuatnya kembali bersemangat menempuh mimpi-mimpinya. Pada kutipan (20), (21), dan (22) pada bab sebelumnya digambarkan bahwa Arai memarahi Ikal sekaligus memotivasi Ikal untuk melawan

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 pesimistis. Kutipan (83) dan (84) tersebut menggambarkan habitus Ikal yang melawan pesimistis. (83) “Waktu nama ayahku disebut. Aku sontak sadar bahwa sikap pesimis telah mengkhianatiku bulat-bulat.” (Hirata,2018: 137) (84) “Mendahului nasib! Dua kata yang menjawab kekeliruanku melihat arah hidupku. Pesimistis tak lebih dari sikap takabur mendahului nasib.” (Hirata,2018: 143) Pada kutipan (83) digambarkan bahwa Ikal tersadar akan sikap pesimis yang dimilikinya, dan saat itu juga ia melawan hal tersebut demi motivasinya membanggakan ayahnya. Kutipan (84) menggambarkan bahwa kata-kata yang dilontarkan Arai berhasil menyadarkan Ikal untuk selalu bersikap optimis, dan melawan sikap pesimis yang selama ini dimiliki oleh Ikal. 3.1.1.5 Habitus Suka Menabung Habitus merupakan sebuah pengodisian yang dikaitkan dengan sayarat-sayarat keberadaan suatu kelas. Ikal yang tak memiliki modal ekonomi terpaksa mencari uang dan mengumpulkannya untuk dapat tetap bersekolah. Keharusan memiliki modal ekonomi dalam arena pendidikan membentuk habitus suka menabung dalam diri Ikal. Sejak kecil Ikal sudah mulai bekerja dan menabung. Habitus tersebut merupakan faktor penting dalam perjuangannya di arena pendidikan. Hal tersebut tampak pada saat Ikal dan Arai dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah berkat adanya uang tabungan yang mereka miliki. Kutipan (85) dan (86) berikut menunjukkan bahwa Ikal suka menabung.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 (85) “Aku terpana melihat koin-koin tabunganku berhamburan. Baru kali ini aku memecahkan ayam jago dari tanah liat itu.’ (Hirata, 2018: 33-34). (86)“…., kami perkirakan uang tabungan hanya cukup untuk hidup enam bulan” (Hirata, 2018: 202). Pada kutipan (85), tampak bahwa Ikal memecahkan celengan ayam jagonya untuk suatu keperluan, sedangkang pada kutipan (86), uang tabungan yang mereka kumpulkan selama ini, menjadi modal bagi Ikal dan Arai untuk bertahan hidup di Bogor. 3.1.1.6 Habitus Agamais/ Agamis Pola pikir Ikal yang terkadang mengedepankan moral agamais merupakan habitus yang terbentuk dari latar belakang pendidikannya. Pada saat Ikal, Arai, dan Jimbron berniat menonton film yang berposterkan wanita seksi di Bioskop, Ikal mencoba melawan dirinya sendiri dengan menegaskan bahwa ia orang berpendidikan Islam. Bahkan pada saat Ikal memandang wanita berpakaian seksi di poster tersebut, ia berpikiran apakah wanita tersebut bisa mengaji. Hal tersebut tampak dalam kutipan (87) dan (88). (87) “.... Kututup lagi mukaku. Kuingatkan diriku sendiri bahwa aku berijazah Sekolah Dasar Laskar Pelangi Muhammadiyah, kawah candradimuka pendadaran Islam yang tangguh. Kututup kembali Jariku, tapi jari-jari itu kembali melawan tuannya. Aku malu dan merasa sangat bersalah kepada Buya Kiai Haji Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.” (Hirata, 2018: 88) (88) “.... Kemudian, kami pun menduga-duga: apa, ya, yang dikerjakan wanita itu kalau tidak sedang bermain film tolol? Anjing siapakah yang digendongnya? Apakah dia bisa mengaji?” (Hirata,2018: 89)

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Pola pikir Ikal yang selalu mengedepankan nilai-nilai agama tersebut mencerminkan habitus kelompok sosial yang taat beragama. 3.1.2 Habitus Arai Berdasarkan analisis struktur pada bab sebelumnya, ditemukan bahwa Arai memiliki 6 habitus yang paling dominan dalam perjuangannya pada arena pendidikan. Habitus tersebut yakni: Pekerja keras, pantang meyerah, optimis, selalu ingin tahu, suka menabung, dan murah hati. 3.1.2.1 Habitus Pekerja Keras Arai juga sama seperti Ikal, memiliki habitus kerja keras. Sama seperti Ikal, Arai tak memiliki modal ekonomi sehingga ia harus bekerja keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sekaligus memperoleh biaya untuk sekolah. Habitus tersebut juga terbentuk dari latar belakang Arai yang ditinggal mati oleh ayah ibunya sejak kecil seperti terdapat dalam kutipan (23) pada bab sebelumnya. Habitus pekerja keras tersebut tampak dalam kutipan (89) berikut. (89) “ Seperti kebanyakan anak-anak Melayu miskin di kampong kami yang mulai bekerja sejak remaja, Arai-lah yang mengajariku mencari akar banar untuk dijual di pasar….” (Hirata,2018: 26) (90) “…. Dia selalu tidur lupa, yaitu ketika duduk atau berbaring, dia tak menyadari tubuhnya dipeluk gelap karena tubuh itu remuk redam kelelahan membanting tulang,…” (Hirata,2018: 159) (91) “Arai tergeletak di atas selembar tikar purun, dengan seragam sekolah putih abu-abu yang dipakai untuk sekolah dan bekerja. Dia bangun pukul dua pagi untuk memikul ikan…..” (Hirata, 2018: 160)

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Habitus pekerja keras dimiliki Arai sejak kecil, seperti tampak pada kutiapn (89). Arai lah yang mengajari Ikal untuk berkerja mencari uang. Pada kutipan (90) digambarkan bahwa Arai sering tertitur saat ia duduk atau berbaring, karena kelelahan bekerja seharian. Kutipan (91) mempertegas hal tersebut bahwa Arai terkadang tertidur mengenakan seragam sekolahnya karena tak sempat mengganti serangam tersebut karena pekerjaan yang dilakoninya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Arai memiiki habitus pekerja keras. 3.1.2.2 Habitus Pantang Meyerah Sama halnya dengan Ikal, Arai tak pernah menyerah dengan keadaan yang dihadapinya. Situasi yang dihadapinya sedari kecil seperti menjadi yatim-piatu seperti tergambar dalam kutipan (23) pada bab sebelumnya, tak membuat Arai menyerah. Habitus pantang menyerah merupakan prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang dipraktikkan oleh Arai agar tetap bertahan atau mampu berjuang dalam arena pendidikan. Arai bersama sahabtya tidak menyerah dengan kondisi ekonomi yang dimilikinya. Ia berkerja sambil bersekolah, untuk memiliki modal dalam pertarungannya dalam arena pendidikan. 3.1.2.3 Habitus Optimis Sikap optimis yang dimilik Arai terbentuk oleh habitusnya, yakni sedari kecil Arai terbiasa melakukan sesuatu seorang diri seperti membuat mainan untuk dimainkan sendiri, seperti terdapat dalam kutipan (92) berikut. Rasa optimis tersebut

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 juga dipengaruhi oleh karakter Arai yang penuh semangat dan selalu ingin tahu seperti digambarkan dalam kutipan (30) dan (31) pada bab sebelumnya. (92) “ Dari dalam karung tadi, dia mengeluarkan sebuah benda mainan yang aneh. Aku melirik benda itu dan aku makin pedih membayangkan dia membuat mainan itu sendiri, memainkannya juga sendiri di tengahtengah ladang tebu.” (Hirata, 2018: 21) 3.1.2.4 Habitus Selalu Ingin Tahu Kekreatifan yang dimiliki Arai juga terbentuk dari sebuah habitus yang terbiasa melakukan sesuatu seorang diri dan sifatnya yang selalu ingin tahu. Kekreatifan tersebut tampak pada kutipan (28) pada bab sebelumnya. Selain sifatnya yang kreatif, kepintaran yang dimiliki Arai dalam bidang akademik juga dipengaruhi oleh habitusnya yang selalu ingin tahu tersebut. Kutipan (93) tersebut menunjukkan habitus Arai yang selalu ingin tahu. (93) “Karena selalu ingin tahu dan terus bertanya, Arai berkembang menjadi anak yang pintar. Dia selalu ingin mencoba sesuatu yang baru.” (Hirata,2018: 27) 3.1.2.5 Habitus Suka Menabung Arai sama halnya dengan Ikal, memiliki habitus suka menabung yang sudah dilakukannya sejak kecil. Arai tak memiliki modal ekonomi sehingga terpaksa mencari uang dan mengumpulkannya untuk dapat tetap bersekolah. Keharusan memiliki modal ekonomi dalam arena pendidikan membentuk habitus suka menabung dalam diri Arai. Habitus tersebut merupakan faktor penting dalam perjuangannya di arena pendidikan. Hal tersebut tampak pada saat Arai dan Ikal dapat

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah berkat adanya uang tabungan yang mereka miliki, seperti terdapan dalam kutipan (86) sebelumnya. Pada kutipan (94) berikut, tampak bahwa Arai memecahkan celengannya. (94) “Aku makin tak mengerti waktu Arai bergegas membuka tutup peregasan, mengambil celengan ayam jagonya, dan tanpa ragu menghempaskannya. Uang logam berserakan di lantai.” (Hirata, 2018: 33). 3.1.2.6 Habitus Murah Hati Habitus Arai yang lain yakni murah hati kepada orang lain. Kemurah-hatian Arai digambarkan dalam kutipan (32) sampai kutipan (35) pada bab sebelumnya. Kemurah-hatian tersebut terbentuk dari latar belakang Arai yang sedari kecil terpaksa kehilangan ayah dan ibunya, dan tak memiliki saudara kandung. Arai sangat mengasihi orang-orang di sekelilingnya terutama sahabatnya Ikal dan Jimbron, karena hanya orang-orang tersebut lah yang dimilikinya. 3.1.3 Habitus Jimbron Berdasarkan analisis struktur pada bab sebelumnya, ditemukan bahwa Jimbron memiliki 4 habitus yang paling dominan. Habitus tersebut yakni habitus pekerja keras, habitus obsesi terhadap kuda, habitus suka menabung, dan habitus lugu.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 3.1.3.1 Habitus Pekerja Keras Jimbron juga memiliki habitus pekerja keras seperti sahabatnya Ikal dan Arai. Habitus tersebut juga terbentuk karena latar belakang kehidupannya. Ayah dan ibunya telah meninggal sejak ia kecil seperti digambarkan dalam kutipan (37) pada bab sebelumnya. Jimbron sama halnya dengan Ikal, dan Arai tak memiliki modal ekonomi sehingga harus bekerja keras membanting tulang untuk dapat bertahan hidup dan melangsungkan pendidikannya. Habitus pekerja keras tersebut tampak dalam kutipan (1) sampai (9) pada bab sebelumnya. 3.1.3.2 Habitus Obsesi Terhadap Kuda Jimbron terampil menunggangi kuda, walaupun ia tak pernah melihat kuda sebelumnya. Keterampilan tersebut diperoleh Jimbron karena habitusnya yang sangat terobsesi dengan kuda sampai-sampai menghafal berbagai jenis serta karakter kuda. Hal tersebut tampak pada kutipan (38). Obsesinya terhadap kuda membentuk habitus nya mengusai hal-hal yang berkaitan dengan kuda. Kutipan (95) berikut menggambarkan kelihaian Jimbron menunggangi kuda. (95) “.... Tak canggung sedikit pun. Jimbron dan Pangeran seperti dua sahabat yang telah lama saling kenal. Jimbron langsung dapat menguasai kuda putih itu. Mungkin karena dalam khayalannya, dia telah berlatih ratusan kali menunggang kuda.” (Hirata, 2018: 188) Keterampilan Jimbron dalam menunggangi kuda tampak terjadi secara alamiah, padahal secara tidak disadari, Jimbron telah membentuk habitusnya melalui obsesinya yang sangat besar terhadap kuda tersebut. Obsesi tersebut menuntunnya

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 untuk mengetahui lebih dalam seluk-beluk tentang kuda, dan hal-hal yang berkaitan dengan kuda. 3.1.3.3 Habitus Suka Menabung Jimbron sama halnya dengan Ikal dan Arai, memiliki habitus suka menabung yang sudah dilakukannya sejak kecil. Jimbron tak memiliki modal ekonomi sehingga terpaksa mencari uang dan mengumpulkannya untuk dapat tetap bersekolah. Keharusan memiliki modal ekonomi dalam arena pendidikan membentuk habitus suka menabung dalam diri Jimbron. Habitus tersebut merupakan faktor penting dalam perjuangannya di arena pendidikan. Habitus suka menabung Jimbron tampak pada kutipan (96) berikut. (96) “…. Dulu, dengan penuh semangat, dia memesan dua celengan kuda agar dibelikan mualim di Jakarta, dan sempat kami tertawakan ketika celengan kuda itu dating. Ditabungnya upah bekerja keras, paling tidak, selama dua tahun. Diisinya kedua celengan itu dengan rata.” (Hirata, 2018: 205) 3.1.3.4 Habitus Lugu Sikap Jimbron yang lugu dan polos terbentuk dari habitusnya terkait cara pandangnya terhadap segala hal dalam hidup. Jimbron tak pernah mempermasalahkan hal-hal yang terjadi dalam hidupnya karena ia meyakini segala sesuatu terjadi karena sudah seharusnya terjadi. Hal tersebut digambarkan dalam kutipan (97) berikut. (97) “ Maka menerima hukuman apa pun dari Pak Mustar, Jimbron ikhlas saja. Disuruh berakting, ya, dia berakting sebaik mungkin, tak ada alasan untuk main-main. Disuruh membersihkan WC yang lubangnya dibanjiri bakteri ekoli, dia juga senang-senang saja. Semuanya dia jalani dengan

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 sepenuh jiwa sebab hukuman itu baginya merupakan bagian dari mata rantai nasib yang dianugrahkan sang Maha Pencipta di langit untuknya, dan lantaran, hukuman itu memang telah tercatat dalam buku-Nya.” (Hirata,2018: 118) Cara pandang Jimbron seperti terdapat dalam kutipan (97) yaitu meyakani sesuatu hal terjadi karena memang seharusnya terjadi menggambarkan habitusnya yang lugu. Jimbron memandang hukuman yang diterminanya dari Pak Mustar merupakan sesuatu yang sudah seharusnya terjadi. Hal tersebut membentuk habitus Jimbron menjadi pribadi yang polos dan selalu tekun menjalankan sesuatu. 3.2 Modal Modal menurut Bourdieu dalam (Martono, 2012: 32) diartikan sebagai sebuah hasil kerja yang terakumulasi (dalam bentuk yang “terbendakan” atau bersifat “menubuh” –terjiwai dalam diri seseorang). Bourdieu membedakan empat macam modal yaitu modal ekonomi , modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Analisis modal tidak berupa keharusan menyangkut tokoh-tokoh di dalam novel ini. Alasannya adalah karena ketiga tokoh tersebut berasal dari kelompok sosial, ekonomi, dan budaya yang sama. Dengan demikian, modal mereka pada perinsipnya mirip satu sama lain. 3.2.1 Modal Ekonomi Modal ekonomi mengukur semua sumber daya ekonomi individu, termasuk pendapatan dan warisannya. Dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, tokoh utama yakni: Ikal, Arai, dan Jimborn tidak memiliki modal ekonomi. Mereka berasal

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 dari keluarga miskin. Oleh karena itu, sebelum berangkat sekolah dan sepulang sekolah mereka bekerja untuk memperoleh uang. Hal ini digambarkan dalam kutipan (1) sampai kutipan (4) pada bab sebelumnya. Uang yang mereka peroleh dari hasil bekerja mereka tabung sebagai baiaya melanjutkan pendidikan. 3.2.2 Modal Budaya Modal budaya mengukur semua sumber daya (budaya) yang dapat menempatkan kedudukan seorang individu. Modal budaya terdiri dari tiga bentuk : pertama, dalam kondisi ‘menubuh’(meliputi pengetahuan umum, keterampilan, nilai budaya, agama, norma, bakat turunan, dll); kedua, dalam kondisi terobjektifikasi (meliputi kepemilikan benda-benda budaya); ketiga, dalam kondisi terlambangkan (meliputi gelar, tingkat pendidikan). Ikal memiliki modal budaya yang dominan yang terwujud dalam ilmu pengetahuannya. Ikal tergolong pintar dalam bidang akademik. Saat pembagian raport akhir semester Ikal berada di uratan tiga terbaik. Modal budaya yang dimiliki Ikal membantu Ikal meraih kesuksesan dalam dunia pendidikan. Kutipan (98) menunjukkan hal tersebut. (98) “Beruntungnya, aku dan Arai selalu berada di garda depan. Aku di urutan ketiga, sedangkan Arai di urutan kelima. Adapun Jimbron, dengan penuh takzim, mempersembahkan nomor kursi 78 untuk pendeta Geo.” (Hirata,2018: 81) Arai sama halnya dengan Ikal memiliki modal budaya dalam bidang ilmu pengetahuan. Seperti tampak pada kutipan (98), Arai digambarkan selalu berada pada

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 urutan kelima. Modal tersebut juga membantu Arai mampu meraih kesuksesan dalam arena pendidikan. Sedangkan Jimbron tidak memiliki kecakapan ilmu pengetahuan layaknya Ikal dan Arai. Dalam pembagian raport semester ia berada pada urutan ke-78, seperti digambarkan dalam kutipan (98). Bahkan pada pembagian raport semester selanjutnya, Jimbron berada pada urutan ke-128. Setelah lulus SMA, Jimbron tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang Kuliah sebagaimana Ikal dan Arai. Hal ini tampak dalam kutipan (99) berikut. (99) “Kalian lebih pintar, lebih punya kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Kalian berangkat saja ke Jawa. Pakailah uang itu, kejarlah citacita.” (Hirata,2018: 204) Jimbron memiliki modal budaya dalam bidang keterampilan dan pemahamannya soal kuda. Hal ini membantu Jimbron untuk diterima bekerja di peternakan kuda. Hal ini tampak pada kutipan (100) berikut. (100) “Aku di Magai saja. Aku sudah diterima bekerja di peternakan capo. Aku akan mengurus kuda!” (Hirata,2018: 205) 3.2.3 Modal Sosial Modal sosial mengukur semua sumber daya yang berkaitan dengan kepemilikan jaringan sosial berkelanjutan dari semua relasi dan semua orang yang dikenal.Ikal dan Arai memiliki modal sosial yang membantu mereka meraih kesuksesan dalam arena pendidikan. Relasi yang mereka miliki dengan mualim Kapal Bintang Laut Selatan merupakan salah satu modal sosial tersebut. Relasi tersebut

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 membuat mereka diperbolehkan menumpang di kapal yang diperuntukkan mengangkut barang dan ternak tersebut. Modal sosial yang mereka miliki membawa mereka sampai ke pelabuhan Tanjung Periok Jakarta. Relasi tersebut tampak dalam kutipan (101) berikut. (101) “.... Kami bisa menumpang karena mualimnya kami kenal.” (Hirata,2018: 202) Modal sosial juga tampak dimiliki Ikal saat dia menempuh pendidikan kuliah di Universitas Indonesia. Ikal yang tinggal di Bogor sambil bekerja sebagi pegawai pos di sana terpaksa setiap hari pulang pergi Bogor-Jakarta untuk kuliah. Rutinitas Ikal naik kereta kelas ekonomi membuat dirinya menjalin relasi dengan para kondektur di kereta tersebut. Relasi tersebut merupakan modal sosial yang dimiliki Ikal untuk membantu kesuksesannya di arena pendidikan, karena relasi yang dimilikinya dengan para kondektur kereta membuat Ikal sering mendapat tumpangan gratis saat ia tak punya uang. Hal tersebut digambarkan dalam kutipan (102) berikut. (102) “.... Jika sedang benar-benar tak punya uang, sudah menjadi semacam konvensi tak resmi, tinggal bilang menumpang saja dan mengucapkan terima kasih, para kondektur itu sudah mahfum maksudnya. Situasi “benar-benar tak punya uang” amat sering kualami, dan para kondektur itu adalah penyelamatku menuju bangku kulaih.” (Hirata,2018: 234) 3.2.4 Modal Simbolik Modal simbolik menunjukkan segala bentuk kapital (budaya, sosial, atau ekonomi) yang mendapat pengakuan khusus dalam masyarakat. Ikal, Arai, dan Jimbron tidak memiliki modal simbolik layaknya kelas dominan. Mereka hanyalah

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 masyarakat miskin yang bapak-ibunya hanya orang biasa dan tinggal di sebuah rumah panggung. Modal simbolik seperti barang mewah, status tinggi, nama keluarga ternama, dll tak mereka miliki. 3.3 Arena Masyarakat dalam pandangan Pierre Bourdieu digambarkan sebagai sebuah arena yang saling berkaitan. Arena tersebut merupakan tempat pertarungan atau perjuangan memperebutkan kekuasaan atau kekuatan-kekuatan yang ada. Arena tersebut bermacam-macam, yakni arena pendidikan, arena ekonomi, arena budaya, arena agama, arena seni, arena politik, dll. Dalam novel Sang pemimpi karya Andrea Hirata, Ikal, Arai, dan Jimbron berusaha menaikkan kelas sosialnya melalui arena pendidikan. Mimpi yang ingin mereka wujudkan yakni berkeliling dunia, menjelajah Eropa sampai Afrika, dan kuliah di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis. Mimpi tersebut hanya mungkin terwujud melalui arena pendidikan, karena di arena pendidikan memungkinkan siapa saja dapat memperoleh kesuksesan asal memiliki habitus dan modal yang tepat. 3.4 Rangkuman Analisis terhadap habitus dan modal yang dimiliki tokoh utama dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata menunjukkan bahwa Ikal, Arai, dan Jimbron memiliki habitus yang berbeda-beda. Ikal memiliki 6 habitus yang membuat dirinya meraih kesuksesan dalam arena pendidikan. Keenam habitus tersebut adalah pekerja

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 keras, pantang menyerah, suka berolah raga, melawan pesimistis, suka menabung, dan agamais. Sedangkan Arai juga memiliki 6 habitus yang membuatnya meraih kesuksesan dalam arena pendidikan. Keenam habitus tersebut meliputi: pekerja keras, pantang meyerah, optimis, selalu ingin tahu, suka menabung, dan murah hati. Sedangkan Jimbron memiliki 4 habitus, yakni habitus pekerja keras, habitus obesei terhadap kuda, habitus suka menabung, dan habitus lugu. Jimbron hanya berhasil menyelesaikan pendidikan sekolahnya pada tingkat SMA. Hasil analisis modal ekonomi menunjukkah bahwa Ikal, Arai, dan Jimbron tidak memiliki modal ekonomi, sehingga mereka harus bekerja sambil sekolah. Analsis modal budaya menunjukkan bahwa Ikal memiliki modal budaya lebih dominan dibanding Arai dan Jimbron, yakni dalam bidang ilmu pengetahuan. Analisis modal sosial menunjukkan bahwa modal sosial dimiliki oleh Ikal, Arai, dan Jimbron lewat relasinya dengan mualim Kapal Bintang Laut Selatan, yang memungkinkan . Analisis modal simbolik menunjukkan bahwa Ikal, Arai, dan Jimbron tidak memiliki modal simbolik.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur prosa dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, serta mendeskripsikan habitus dan modal tokoh utama dalam arena pendidikan yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Analisis struktur prosa dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata terbatas pada tokoh utama dan latar yang terdapat dalam novel tersebut. Hasil analisis menunjukkan novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata memiliki tiga tokoh utama yakni: Ikal, Arai, dan Jimbron. Ikal digambarkan sebagai masyarakat miskin yang memiliki karakter pekerja keras, pantang menyerah, peduli terhadap sesama, kurang percaya diri, pesimis, dan mudah berubah. Arai merupakan anak yatim-piatu sejak kecil, dan ia memiliki karakter tabah, periang, pekerja keras, pantang menyerah, kreatif, penuh semangat, optimis, selalu ingin tahu, suka menolong dan rela berkorban. Sedangkan Jimbron merupakan anak yatim-piatu sejak kecil, bicaranya gagap, sangat terobsesi dengan kuda, lugu, polos, suka membantu, dan rela berkorban. Latar dalam novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata terdiri dari latar tempat, latar waktu dan latar sosial. Latar tempat dalam novel meliputi: sekolah, pasar Magai, 74

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 rumah Ikal, gudang Nyonya Lam Nyet Pho, toko A Siong, rumah Mak Cik Maryamah, masjid, pabrik cincau, kontrakan, bioskop, dermaga, rumah Bang Jaitun, rumah Nurmala, kapal Bintang Laut Selatan, Tanjung Periok, Bogor, tempat foto copy, kantor Pos, kereta, dan sebuah gedung di Jakarta. Latar waktu pada novel tersebut terjadi sekitar tahun 1980-an, dan latar sosial dalam novel tersebut menggambarkan masyarakat Melayu. Hasil analisis habitus dan modal tokoh utama dalam arena pendidikan yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata adalah sebagai berikut. Ikal memiliki 6 habitus yang membuat dirinya meraih kesuksesan dalam arena pendidikan. Keenam habitus tersebut adalah pekerja keras, pantang menyerah, suka berolah raga, melawan pesimistis, suka menabung, dan agamais. Sedangkan Arai juga memiliki 6 habitus yang membuatnya meraih kesuksesan dalam arena pendidikan. Keenam habitus tersebut meliputi: pekerja keras, pantang meyerah, optimis, selalu ingin tahu, suka menabung, dan murah hati. Sedangkan Jimbron memiliki 4 habitus, yakni habitus pekerja keras, habitus obsesi terhadap kuda, habitus suka menabung, dan habitus lugu. Jimbron hanya berhasil menyelesaikan pendidikan sekolahnya pada tingkat SMA. Analisis modal meliputi modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Hasil analisis modal ekonomi menunjukkah bahwa Ikal, Arai, dan Jimbron tidak memiliki modal ekonomi, sehingga mereka harus bekerja sambil sekolah. Analsis modal budaya menunjukkan bahwa Ikal memiliki modal budaya lebih

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 dominan dibanding Arai dan Jimbron, yakni dalam bidang ilmu pengetahuan. Hal tersebut ditunjukkan dengan prestasi raport semester Ikal yang berada di urutan ketiga, sedangkan Arai berada di urutan kelima, dan Jimbron berada di urutan ketujuh puluh lima. Analisis modal sosial menunjukkan bahwa modal sosial dimiliki oleh Ikal, Arai, dan Jimbron lewat relasinya dengan mualim Kapal Bintang Laut Selatan, yang memungkinkan Ikal dan Arai menumpang kapal tersebut ke Jakarta. Ikal memiliki modal sosial lain, yakni relasinya dengan kondektur kereta, yang memungkinnya memperoleh tumpangan gratis di kereta. Analisis modal simbolik menunjukkan bahwa Ikal, Arai, dan Jimbron tidak memiliki modal simbolik. Mereka hanyalah masyatakat miskin yang hanya memiliki rumah sederhana, dan tidak memiliki status apa pun dalam masyarakat. Berdasarkan kesimpulan di atas, hasil penelitian dirangkum ke dalam bentuk tabel agar lebih mudah dipahami. Tabel Habitus dan Modal Tokoh Utama dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata No . Tokoh 1 Ikal Habitus Modal Ekonomi 1. Pekerja keras 2. Pantang Tidak ada Budaya Sosial Memiliki ketrampila n dalam 1. Relasi dengan mualim Simbolik Tidak ada

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 3. 4. 5. 6. menyerah Suka berolah raga Melawan pesimistis Suka menabung Agamais bidang akademik yakni selalu meraih rangking tiga terbaik kapal 2. Relasi dengan kondekt ur kereta. 2 Arai 1. Pekerja keras 2. Pantang meyerah 3. Optimis 4. Selalu ingin tahu 5. Suka menabung 6. Murah hati Tidak ada Memiliki ketrampila n dalam bidang akademik, yakni meraih ranking lima terbaik Relasi dengan mualim kapal, Tidak ada 3 Jimbro n 1. Pekerja keras 2. Habitus obsesi terhadap kuda 3. Suka menabung 4. Lugu Tidak ada Kurang memiliki ketrampila ng akademik Relasi dengan mualim kapal Tidak ada

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 4.3 Saran Penelitian ini hanya memokuskan permasalah pada analisis habitus dan modal yang terdapat dalam Arena Pendidikan di dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Saran untuk penelitian selanjutnya terkait penerapan teori Pierre Bourdieu dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, dapat dikaji terkait habitus dalam arena-arena yang lain dalam novel tersebut selain arena pendidikan. Selain itu juga, teori kekerasan simbolik dari Pierre Bourdieu dapat diterapkan dalam mengkaji novel tersebut.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Barata, Ardina. 2017. “Strukturasi Kekuasaan dan Kekerasan Simbolik dalam Cerpen “Ayam”, “Suatu Malam Suatu Warung”, dan “Tahi” dalam Kumpulan Cerpen Hujan Menulis Ayam Karya Sutardji Calzoum Bachri: Sebuah Perspektif Pierre Bourdieu”. Skripsi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Haryatmoko. 2016. Membongkar Rezim Kepastian Pemikiran Kritis PostStrukturalis. Yogyakarta : Penerbit PT Kanisius. Hirata, Andrea. 2018. Sang Pemimpi. Yogyakarta : Penerbit Bentang. Karnata, Kukuh Yudha. 2015. “Sastra ‘Mungkin’: Kontestasi Simbol Andrea Hirata dalam Arena Sastra Indonesia”. Dalam jurnal Poetika, Vol. 3, No. 2. Krisdianton, Nanang. 2014. “Pierre Bourdieu, Sang Juru Damai”. Dalam jurnal Kanal, Vol.2, No, 2, maret 2014, hal. 107-206. Martono, Nanang. 2012. Kekeran Simbolik di Sekolah Sebuah Ide Sosiologi Pendidikan Pierre Bourdieu. Jakarta : PT Raja Graffindo Persada. Nurgiyantoro, Burhan.1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universiti Press. Ratna, Nyoman Kutha. 2012. Teori, Metode, dan Teknik Penelitan Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Solissa, Everhard Markiano. 2018. “Habitus dan Arena dalam Novel Taman Api Karya Yonathan Rahardjo”. Dalam Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran, Vol.6 No.1, Februari 2018. Taum, Yoseph Yapi. 1997. Kritik Sastra Diskursif: Sebuah Reposisi. Makalah Seminar Nasional Kritik Sastra “Kritik Sastra yang Memotivasi dan Mengispirasi” yang diselenggarakan Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, 15-16 Agustus 2017. Triantoro, Hendrikus. 2011. “Kritik Sosial dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata”. Skripsi pada Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. 79

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Daftar Pustaka Daring Soewarno, Sisca Olivie. 2016. “Habitus dan Kekerasan Simbolik dalam Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer”, Stable URL: https://marxismedansastra.wordpress.com/2016/06/24/habitus-dankekerasan-simbolik-dalam-novel-gadis-pantai-karya-pramoedya-anantatoer/. Diunduh: 22/09/2018, 21.00.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 BIO OGRAFI PENULIS P Harpindo H Syyah Putra Hilarion Ginting, G lahhir di Desa Suka paada tanggaal 10 Septeember 1996 6. Penulis m merupakan anak keetiga dari ppasangan Marhen M Gin nting S.Pd. dan Raskiita br pendidikann Sekolah Dasar Tarigan S.Pdd. Penulis menempuh m D (S SD) di SD D Inpres Desa Suka, kemudiian melanjutkan peendidikan ke jenjang g SMP di SMP Sannto Xaveriius 1 Kabanjahe. K Penulis keemudian melanjutkan m n pendidikaan di SMA Seminaari Meneng gah Christuss Sacerdos PPematangsiantar, seebelum padda tahun 20 015 tercatatt sebagai m mahasiswa Sastra S Indonesia di Universiitas Sanata D Dharma, Yo ogyakarta. Saat ini peenulis berdo omisili di Y Yogyakarta, dan kesehaarian penuliss adalah meencari dan memaahami mak kna dan tuj uan kehidu upan penuliis sendiri yyang sebenarnya tidak pernnah ada hasilnya.

(96)

Dokumen baru

Download (95 Halaman)
Gratis

Tags