PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PERKAWINAN USIA MUDA YANG ADA DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR SKRIPSI

Gratis

0
0
186
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PERKAWINAN USIA MUDA YANG ADA DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Agama Katolik Oleh: Maria Dolorosa Tonis NIM: 121124031 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini dipersembahkan kepada Mama Adelina Tonis dan bapak Welson Lawing (Alm), bapak Nikolas Laki (Alm) dan mama Yuliana Taek, mama Teriana dan bapak Murdian Tului, kakak Elpidus Laki dan Emiliana Noi, adik Norce Sali dan Joni, kakak Nofri dan Mega, Adik Ririn Maidiana dan Junaidi, semua keluarga yang mendukung dan mendoakanku, teman-teman angkatan 2012 dan Pemerintah Kutai Barat dan Dinas Pendidikan Kutai Barat Kalimantan Timur iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO Kebahagiaan adalah ketika apa yang anda pikirkan Apa yang anda katakan dan apa yang anda lakukan, Semua itu di dalam keharmonisan (Mahatma Gandhi) Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah kasih. (1Korintus, 13:13) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha kasih dan penyayang, atas segala rahmat dan kasih-Nya yang berlimpah penulis mampu menyelesaikan sripsi yang berjudul PERMASALAHAN-PERMASALAHAN PERKAWINAN USIA MUDA YANG ADA DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR, skripsi ini diajukan guna memberikan sumbangan pemikiran, gagasan dan ispirasi bagi siapapun yang memiliki kerinduan dalam mengembangkan Gereja Katolik dimanapun berada. Proses penyusunan skripsi ini, berjalan dengan lancar karena atas dukungan dan kebaikan dari banyak orang, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini meskipun mengalami banyak kesulitan. Penulis mengalami pendampingan, dukungan, motivasi dan perhatian yang diyakini sebagai perpanjangan kasih dan karya Tuhan dalam membimbing serta memampukan penulis menyelesaikan skripsi pada kesempatan ini, penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Dr. CB. Kusmaryanto, SCJ, selaku dosen pembimbing utama dan dosen penelitian yang dengan setia meluagkan waktu untuk membimbing dan mendampingi penulis dengan penuh perhatian dan kesabaran, memberi masukan dan kritikan, sehingga penulis termotivasi dalam menyelesaikan skripsi ini. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Drs. L. Bambang Hendarto. Y., M. Hum, selaku dosen pembimbing akademik dan dosen penguji II yang telah meluangkan waktu untuk mempelajari dan memberi masukan sehubungan dengan skripsi ini. 3. Martinus Ariya, S.Pd., Mag. Theo selaku dosen penguji III yang telah meluangkan waktu untuk mempelajari dan memberikan masukan demi semakin baiknya skripsi ini. 4. Para dosen Program Studi Pendidikan Agama Katolik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang telah mendidik dan membimbing penulis selama belajar hingga selesainya skripsi ini dengan penuh kasih. 5. Staf dan karyawan Program Studi Pendidikan Agama Katolik yang turut memberi perhatian dan dukungan bagi penulis. 6. Dinas Pendidikan Daerah Kutai Barat, Kalimantan Timur yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk mengembangkan diri melalui studi hingga selesai. 7. Kepada Bapak, Ibu, kakak, adik dan seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan baik moral maupun materiil yang tiada hentinya dengan memberi cinta dan perhatian serta doa kepada penulis hingga dapat menyelesaikan studi. 8. Sahabat dan teman-teman angkatan 2012 yang telah memberi dukungan selama bersama dalam studi. 9. Romo Thomas Lukas Atsui Wiyatngow, MSF, selaku pemimpin Paroki Keluarga Suci Tering yang telah memberikan kesempatan kepada penulis xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL......................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................... iv MOTTO ............................................................................................................ v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ................................................ vii ABSTRAK ........................................................................................................ viii ABSTRACT ....................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ...................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................... xiii DAFTAR SINGKATAN ................................................................................ xvi BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................ 1 A. LATAR BELAKANG ......................................................................... B. RUMUSAN PERMASALAHAN ........................................................ C. TUJUAN PENULISAN ....................................................................... D. MANFAAT PENULISAN .................................................................. E. METODE PENULISAN ................................................................… F. SISTEMATIKA PENULISAN ............................................................ 1 8 8 9 10 10 BAB II. PERKAWINAN USIA MUDA DAN USIA PERKAWINAN............ 13 A. PENGERTIAN PERKAWINAN PADA UMUMNYA DAN PERKAWINAN MENURUT GEREJA .............................................. 1. Perkawinan pada umumnya ............................................................ 13 13 2. Perkawinan Katolik ......................................................................... 16 B. PENGERTIAN PERKAWINAN USIA MUDA ................................. 1. Perkawinan Usia Muda ................................................................... 27 27 2. Usia yang Cukup untuk Menikah .................................................... 28 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkawinan di usia muda .......... 33 C. PENGERTIAN KEHARMONISAN KELUARGA ............................. 41 1. Keharmonisan keluarga .................................................................... 41 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Faktor-faktor yang mendukung keharmonisan keluarga .................. 43 BAB III. PENELITIAN PERKAWINAN USIA MUDA DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR ................................................................................................. 46 A. PAROKI KELUARGA SUCI TERING ............................................... 46 1. Sejarah Singkat Paroki Keluarga Suci Tering .................................. 46 2. Letak Geografis Wilayah Paroki Keluarga Suci Tering................... 47 3. Gambaran Umum Paroki Keluarga Suci Tering .............................. 49 4. Keadaan Perkawinan Usia Muda di Paroki Keluarga Suci Tering .. 53 B. PENELITIAN PERKAWINAN USIA MUDA DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR .................................................................................................. 55 1. Metodologi Penelitian ....................................................................... 55 BAB IV. HASIL PENELITIAN TENTANG PERMASALAHANPERMASALAH PERKAWINAN USIA MUDA DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR ................................................................................................. 61 A. Hasil Penelitian .................................................................................... 61 1. Laporan Hasil Penelitian .................................................................. 61 BAB V. PERSOALAN PERKAWINAN USIA MUDA BERDASARKAN HASIL PENELITIAN DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR......................................... 102 A. KETERBATASAN PENELITIAN ..................................................... 102 B. PENGOLAHAN HASIL PENELITIAN ............................................. 103 1. Faktor pendukung............................................................................ 105 2. Faktor penghambat .......................................................................... 110 BAB VI. USULAN PROGRAM DENGAN MODEL REKOLEKSI BAGI PASANGAN SUAMI ISTRI YANG MENIKAH USIA MUDA DALAM KURUN WAKTU 1 SAMPAI DENGAN 5 TAHUN DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR.................................................................... 117 A. LATAR BELAKANG PEMILIHAN PROGRAM DALAM BENTUK REKOLEKSI ................................................................... 118 B. USULAN PROGRAM DALAM BENTUK REKOLEKSI BAGI PASANGAN SUAMI ISTRI YANG USIA PERKAWINAN 1-5 TAHUN DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KALIMANTAN TIMUR ..................................................................... 120 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C. TEMA DAN TUJUAN PROGRAM REKOLEKSI ............................ D. MATRIKS PROGRAM....................................................................... E. GAMBARAN PELAKSANAAN PROGRAM ................................... A. Contoh salah satu Pelaksanaan Program Pengantar dan Tema I “Hakikat Perkawinan Kristiani” ...................................................... 121 126 130 132 BAB VII. PENUTUP ......................................................................................... 146 A. B. KESIMPULAN ................................................................................ 146 SARAN ............................................................................................ 147 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 150 1. 2. KITAB SUCI DAN DOKUMEN GEREJA .................................... 150 BUKU-BUKU ................................................................................. 150 LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Permohonan Izin Penelitian ............................................... (1) Lampiran 2 : Surat telah Melakukan Penelitian ................................................ (2) Lampiran 3 : Kuesioner Penelitian .................................................................... (3) Lampiran 4 : Salah Satu Contoh Jawaban Kuesioner dan Wawancara ............ (6) Lampiran 5 : Rekap Hasil Kuesioner Penelitian ................................................ (17) xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti singkatan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, LAI, (2012). Kej : Kejadian Im : Imamat Sir : Yesus Bin Sirakh Mat : Matius Mrk : Markus 1Kor : 1 Korintus Ef : Efesus B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici), diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II, 25 Januari 1983. KWI : Konverensi Waligereja Indonesia GS : Gaudium Et Spes (Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja Dewasa ini, 21 November 1965) AA : Apostolicam Actuositatem (Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam, 18 November 1965) C. Singkatan Lain Art : Artikel Bdk : Bandingkan Kan : Kanonik UU : Undang-Undang RI : Republik Indonesia No : Nomor Th : Tahun xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KK : Kepala Keluarga IRT : Ibu Rumah Tangga SD : Sekolah Dasar SMP : Sekolah Menengah Pertama SMA : Sekolah Menengah Atas D3 : Diploma Tiga S1 : Strata Satu Alm : Almarhum Dll : Dan lain-lain Jl : Jalan Kec : Kecamatan Kab : Kabupaten RT : Rukun Tetangga LCD : Liquid Crystal Display SJ : Serikat Yesus SCJ : Serikat Cinta Yesus Pr : Projo MSF : Missionarium a Sacra Familia (Misionaris Keluarga Kudus) Dkk : Dan kawan-kawan NTT : Nusa Tenggara Timur Km : Kilometer \ xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkawinan merupakan salah satu anugerah paling besar karena dihidupi di dalam keharmonisan tetapi anugerah itu dapat menjadi suatu kekecewaan berat bagi mereka yang menghampirinya secara tidak hormat atau mempersiapkannya secara salah. Karena perkawinan yang berhasil dapat menjadikan suami-istri bersemangat dan bertahan dalam menghadapi segala situasi yang masing-masing anggota keluarga mampu menyikapi, membangun, menumbuhkan, merawat dan memeliharanya. Perkawinan menghadapi tantangan dan cobaan dari zaman ke zaman. Di zaman modern ini, tantangan dan cobaan terhadap keutuhan perkawinan semakin berat karena sikap individualisme, hedonisme, konsumerisme, sekuarisme, dan pendewaaan nilai kebebasan yang dapat melunturkan nilai-nilai dalam hidup perkawinan seperti kesatuan, kerukunan, kesabaran dan lain sebaginya (Purnomo, 2015: 10). Perkawinan usia muda sering mendapat tantangan dalam kehidupan rumah tangga yang dapat berakibat terhadap pasangan suami-istri, anak-anak yang dilahirkan dan orang tua masing-masing keluarga. Hal ini dapat disebabkan karena baik fisik dan psikis pasangan suami-istri belum dewasa atau belum siap untuk membina rumah tangga sehingga sering terjadi kesalahpahaman, kecemburuan, komunikasi yang tidak lancar, marah, takut, khawatir dan saling membenci, apabila keduanya berada dalam situasi perkawinan yang tidak bahagia

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 maka perkembangan mereka akan terhambat baik individu maupun sosialnya. Emosi yang tidak stabil memungkinkan banyak pertengkaran dan mereka yang bertengkar cenderung masih kekanak-kanakan artinya mereka belum mampu mengendalikan emosi dengan baik, emosi yang tidak stabil biasanya ada pada masa anak remaja atau orang muda. Masa remaja adalah masa transisi ke taraf kedewasaan, masa remaja berlangsung antara usia 11/12 tahun sampai dengan 18/19 tahun, dalam usia tersebut mereka mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun perkembangan psikis. Mereka bukan lagi anak-anak baik bentuk badan atau cara berpikir dan bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang (Supriyati, 2013: 12). Perkawinan zaman ini kebanyakan dimulai dengan tingginya daya romantisme, tetapi dalam kehidupan perkawinan romantisme saja tidak cukup harus ada sebuah komitmen dan komitmen itulah selalu tidak ada pada orang muda, sehingga menjelang perkawinan biasanya masing-masing dari mereka hanya memiliki kesadaran yang dangkal mengenai keinginan, kebutuhan dan pengharapan yang dimiliki pasangannya selama masa itu (setelah menikah) justru kebutuhan yang tidak pentinglah yang mendapat perhatian (Wright, 2013: 116). Cara berpikir yang romantisme sering kali membuat mereka buta. Artinya perbedaan pengharapan tentang perkawinan karena orang muda sering mengalami emosi yang tidak stabil dalam hal berkomitmen, hal ini akan membuat perkawinan hanya sebatas pada romantisme. Komitmen adalah ikrar atau janji yang mengikat, ikrar yang harus diwujudkan, bagaimanapun halangannya ini adalah penyerahan total diri seseorang kepada orang lain (Wright, 2013: 10).

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 Perkawinan bukan hanya sekedar menyatukan diri sebagai jawaban atas permasalahan yang sedang dihadapi, seperti memenuhi kebutuh lahiriah semata tetapi lebih dari itu perkawinan merupakan sebuah ikatan lahir-batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga, melahirkan anak, membangun hidup kekerabatan yang bahagia dan sejahtera (PPK, 7). Dengan demikian perkawinan hendaknya dipandang sebagai pintu menuju pengembangan diri pengembangan yang dimaksud adalah pertama-tama dimensi spiritual, karena tujuan dasar perkawinan bukanlah untuk memasukkan dua ego ke dalam “perkumpulan orang-orang yang saling mengagumi” dan bukan sekedar untuk memperbanyak keturunan, tetapi perkawinan diarahkan untuk pencapaian tujuan hidup yang mendasar bagi setiap pribadi, yaitu memperluas kesadaran manusia yang terbatas menuju kesadaran universal (Walters, 2006: 35). Kesadaran universal yang dimaksud adalah masing-masing pribadi diarahkan untuk memahami makna tujuan perkawinan yaitu demi kesejahteran suami-istri, anak-anak dan pendidikan anak, serta membangun kerukunan dalam hidup bermasyarakat. Hidup perkawinan Kristiani tidak terlepas dari persoalan hidup berumah tangga, baik itu perkelahian, kesalahpahaman, perbedaan pendapat dan lain sebagainya, hal tersebut berdampak pada penurunan nilai kesadaran suami-istri akan tujuan perkawinan. Pada intinya tujuan perkawinan diarahkan untuk mengembangkan dan memurnikan cinta kasih suami-istri menuju kesejahteraan dan kebahagian hidup bersama (GS, 49). Setiap orang ingin hidup bahagia begitu

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 pula dalam hidup perkawinan orang yang ingin membangun hidup rumah tangga harus tahu tujuan dari perkawinan itu sendiri, karena mengambil keputusan untuk menikah adalah sebuah tanggung jawab yang sangat besar, tanggung jawabnya yaitu pemberian seluruh diri untuk mensejahterakan keluarganya bagaimanapun halangannya. Melalui pengalaman emprik peneliti pernah hidup dalam sebuah keluarga dan dekat dengan sejumlah keluarga, mendengarkan cerita hidup perkawinan mereka terutama hidup perkawinan keluarga muda, mulai dari yang menyenangkan sampai dengan cerita yang menyedihkan seperti merasa putus asa dan tidak mampu mempertahankan hidup rumah tangganya hingga ada niat untuk berpisah, selain itu peneliti juga mengalami sendiri bagaimana hidup perkawinan orang tua mengalami kehancuran yang berujung pada ambang perceraian. Ungkapan untuk menyejahterakan mudah dikatakan, tetapi kenyataan dalam menjalankannya sangat sulit hal ini yang menjadi persoalan bahwa hidup perkawinan itu tidak mudah hal tersebut bisa dapat terjadi karena ketidak mampuan pasangan suami-istri untuk keluar dari masa krisis dan tidak mampu mengatasi kekecewaan, kejengkelan, keputusasaan dalam menghadapi pasangan mereka sehingga akhirnya mereka memilih untuk berpisah. Tahun 1974 di Indonesia telah merumuskan Undang-Undang perkawinan yang dikenal dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang berbunyi: “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 Artinya tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia, kekal dan sejahtera dengan demikian kesejahteraan dalam perkawinan tidak dapat diharapkan dari mereka yang kurang matang baik fisik, emosional, kedewasaan dan tanggung jawab, syarat perkawinan dalam Undang-Undang perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tentang kematang bagi calon suami-istri tercantum dalam pasal 7 ayat (1), bahwa pekawinan hanya diizinkan jika pihak laki-laki telah mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita berusia 16 tahun (Asmin 1986: 18-22). Dalam Kanon 1083:§1 ditetapkan bahwa laki-laki sebelum berumur genap 16 tahun dan perempuan sebelum berumur genap 14 tahun tidak dapat melangsungkan perkawinan yang sah. Meskipun batas perkawinan telah ditetapkan dalam pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan dalam Kanon 1083:§1. Tetapi dalam prakteknya masih banyak dijumpai perkawinan pada usia muda masih sangat tinggi. Perkawinan usia muda dapat didefinisikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami istri yang masih remaja, orang yang digolongkan sebagai remaja adalah mereka yang berusia 11 sampai dengan 24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia (Sarlito, 2015: 18). Paroki Keluarga Suci Tering merupakan salah satu paroki tertua di Kalimantan Timur, di sini tonggak sejarah perkembangan misi Gereja Katolik oleh para misionaris MSF. Awal mulanya pusat misi berada di Paroki Hati Kudus Yesus, Laham dan karena mempertimbangkan keadaan geografis untuk akses keluar sangat sulit, maka pada tahun 1932 Paroki Keluarga Suci Tering menjadi

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 pusat misi para misionaris MSF hingga saat ini. Pusat paroki terletak di tepi sungai Mahakam, jaraknya ±50 meter dari tepi sungai Mahakam. Paroki Keluarga Suci Tering memiliki ±1.898 kepala keluarga dan secara keseluruhan umat berjumlah ±7.823 jiwa termasuk anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua dari sekian banyaknya umat di Paroki Keluarga Suci Tering yang telah menikah di tahun 2016 ini ±63 pasang dan yang menikah di usia muda berjumlah ±10 pasang. Berdasarkan data yang diperoleh dari paroki, umat Paroki Keluarga Suci Tering sangat pasif, dimana umat mempercayakan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan gereja diserahkan kepada pastor atau pelayan pastoral yang lain. Umat kurang semangat untuk aktif dalam kehidupan menggereja dan tidak peduli dengan kebutuhan rohani, dapat disimpulkan bahwa pemahaman umat tentang perkawinan masih sangat minim, hal tersebut membuktikan bahwa perkawinan usia muda masih saja terjadi. Mereka yang cendrung menikah di usia muda banyak terdapat di daerah pedalaman yang sulit dijangkau hal ini bisa saja terjadi karena keadaan ekonomi keluarga, pergaulan bebas dan lain-lain. Dalam hal ini umat diharapkan sadar, terutama orang-orang muda untuk memahami tentang resiko-resiko dari perkawinan usia muda, kesadaran umat sangat penting karena kesadaran dapat merubah hidup seseorang menjadi lebih baik terutama dalam memperkembangkan masa sepan bangsa dan Gereja. Beberapa fenomena perkawinan usia muda menunjukkan bahwa keluarga-keluarga Kristiani belum menghayati secara utuh hidup perkawinan dalam menyejahterakan dan membahagiakan keluarga. Kesadaran dan penghayatan janji perkawinan adalah mutlak perlu sebagai syarat demi keutuhan

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 sebuah ikatan perkawinan keluarga Kristiani, kesejahteraan suami istri memang bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan dan dihidupi, tetapi kesejahteraan itu tetap merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan perkawinan di mana kesejahteraan itu menjadi tolak ukur kehidupan perkawinan yang bahagia dan sejahtera. Dari latar belakang di atas mengenai beberapa permasalahan perkawinan usia muda dan kesejahteraan suami istri adalah sangat perlu dan penting. Mengingat perkawinan usia muda sering mengalami ketidakbahagiaan dan kesejahteraan dalam rumah tangga, maka bisa dikatakan hal ini menjadi salah satu persoalan umat di Paroki Keluarga Suci Tering. Mereka yang menikah di usia muda cenderung mengalami ketidakharmonisan dalam keluarga di mana keduanya masih memiliki ego yang tidak stabil dalam memaknai sebuah persoalan, maka penulis memutuskan untuk mengangkat topik perkawinan usia muda sebagai topik utama dalam seluruh pembahasan skripsi, berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut di atas, maka penulis menyusun skripsi ini dengan judul “Permasalahan-Permasalahan Perkawinan Usia Muda yang ada di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur”.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 B. RUMUSAN PERMASALAHAN Bedasarkan uraian latar belakang permasalahan di atas, maka penulis dapat mengemukakan beberapa rumusan permasalahan penelitian sebagai berikut: 1. Apa itu perkawinan usia muda ? 2. Apa permasalahan perkawinan usia muda yang mendukung dan yang tidak mendukung yang ada di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kaliamantan Timur? 3. Upaya apa yang dilakukan untuk membantu keluarga muda Katolik dalam menyelesaikan problematika rumah tangga di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur? C. TUJUAN PENULISAN Dalam skripsi ini ada beberapa tujuan yang ingin dicapai diantarnya adalah sebagai berikut: 1. Memperdalam pemahaman tentang perkawinan usia muda. 2. Mengetahui dan memahami apa saja permasalahan perkawinan usia muda di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur. 3. Mengetahui dan menemukan cara dalam mengatasi problematika rumah tangga keluarga muda dalam terang Injil demi tercipta keluarga Kristiani yang baik di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 D. MANFAAT PENULISAN 1. Bagi umat Menambah pengetahuan empirik tentang permasalah-permasalahan perkawinan usia muda dan pengaruhnya terhadap keluarga Kristiani. Selain itu juga diharapkan umat dapat menanamkan sikap sosialis untuk mencegah terjadinya perkawinan usia muda. 2. Bagi Paroki Keluarga Suci Tering Membantu paroki untuk berpastoral bagi orang muda atau anak-anak remaja agar menghindari perkawinan usia muda. Membantu paroki dan pasanganpasangan yang akan menikah untuk memahami arti perkawinan dan tujuan perkawinan Kristiani. 3. Bagi peneliti Dapat mengetahui secara lebih mendalam tentang permasalahan- permasalahan perkawinan usia muda dalam keluarga Kristiani yang berpengaruh terhadap keluarga Kristiani, dengan mengetahui dan memahami peneliti dapat mencegah perkawinan usia muda dan membantu meringankan problematika rumah tangga keluarga muda dengan berpastoral atau berkatekese. 4. Bagi Universitas Sanata Dharma Sebagai tambahan sumber bacaan bagi perpustakaan Universitas Sanata Dharma dan menjadi acuan bagi peneliti lebih lanjut.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 E. METODE PENULISAN Metode penulisan yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan memanfaatkan studi pustaka dan penelitian lapangan. Penelitian kualitatif yaitu sebagai prosedur penelitian yang mengjhasilkan data deskriptif berupa katakata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Moleong, 1989: 3). Sedangkan studi pustaka dan penelitian lapangan yaitu dengan menggunakan kuesioner dan instrumen wawancara yang topiknya bersumber dari rumusan masalah, penulis membahas hasil penelitian dan menarik kesimpulan terhadap penelitian tersebut, penulis memanfaatkan studi pustaka untuk mendukung pembahasannya untuk memperkuat teori. F. SISTEMATIKA PENULISAN Judul skripsi ini adalah permasalahan-permasalahan perkawinan usia muda yang ada di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur. Berikut penulis menguraikan gambaran umum mengenai sistematika penulisan yang hendak dibahas dalam penulisan skripsi: Bab I menguraikan pendahuluan, meliputi: latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode dan sistematika penulisan. Bab II penulis menguraikan kajian pustaka tentang perkawinan usia muda dan usia perkawinan, meliputi: deskripsi perkawinan pada umumnya, perkawinan Katolik, perkawinan usia muda, tujuan perkawinan, ciri-ciri perkawinan, usia yang cukup untuk menikah, kemudian diuraikan pula faktor

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 pendukung dan faktor penghambat yang memperngaruhi perkawinan usia muda dalam mewujudkan perkawinan yang harmonis, antara lain: faktor kepribadian, internal keluarga, ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, alat komunikasi, iman, dan sosial. Bab III berisikan penelitian perkawinan usia muda di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur terhadap pasangan suami-isri Katolik yang usia perkawinan 1 sampai dengan 5 tahun, meliputi: sejarah singkat Paroki Keluarga Suci Tering, gambaran umum paroki, keadaan perkawinan usia muda di Paroki Keluarga Suci Tering, jenis penelitian, variabel penelitian, instrumen penelitian, waktu dan tempat, populasi dan sampel, teknik analisis serta hasil penelitian. Bab IV berisikan keterbatasan penelitian dan pengolahan hasil penelitian tentang permasalahan-permasalahan perkawinan usia muda yang ada di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur dengan mendeskripsikan penelitian dan mungulasnya secara mendalam. Bab V berisikan usulan program katekese dengan model rekoleksi bagi pasangan suami-istri yang menikah di usia muda dalam kurun waktu 1 sampai dengan 5 tahun di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur, meliputi: latar belakang pemilihan program, usulan program dalam bentuk rekoleksi, tema dan tujuan program rekoleksi, matriks program, gambaran pelasanaan program, contoh pelaksanaan program. Bab VI adalah penutup berisikan kesimpulan dan saran.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Demikian proses berpikir penulis yang dituangkan dalam skripsi ini. Penulis berharap penulisan mengenai permasalahan-permasalahan perkawinan usia muda berguna bagi pasangan keluarga muda khususnya Gereja dan pada umumnya.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II PERKAWINAN USIA MUDA DAN USIA PERKAWINAN A. PENGERTIAN PERKAWINAN PADA UMUMNYA DAN PERKAWINAN MENURUT GEREJA 1. Perkawinan pada umumnya Di Indonesia sejak tahun 1974 telah dirumuskan undang-undang perkawinan yang dikenal dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang berbunyi: “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” Menurut Sadjono dalam Asmin (1986: 19) “ikatan lahir” berarti berarti dalam batin suami-istri yang bersangkutan terkandung niat yang sungguh-sungguh untuk hidup bersama sebagai suami istri dengan tujuan membentuk dan membina keluarga yang bahagia dan kekal, ikatan tersebut prinsipnya mengandung asas monogam. Artinya perkawinan sah terjadi apabila yang melangsungkan perkawinan itu ialah seorang laki-laki dan seorang perempuan dan perkawinan sah dilakukan menurut hukum masing-masing agama atau kepercayaan diluar itu tidak sah (PPK 2011: 7). Perkawinan bersifat monogam memiliki arti bahwa perkawinan itu hanya sah apabila dilaksanakan oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan dan yang bersifat kekal artinya tak terceraikan bahwa perkawinan yang telah dilangsungkan secara sah tidak dapat diceraikan atau diputuskan oleh kuasa manapun kecuali oleh kematian.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 Perkawinan adalah sebuah ikatan lahir-batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga, melahirkan anak, membangun hidup kekerabatan yang bahagia dan sejahtera (PPK, 7), perkawinan dipandang sebagai ikatan lahir-batin dengan tujuan membentuk keluarga dan melahirkan anak serta hidup bahagia, maka perkawinan layaknya diartikan sebagai lembaga yang suci dengan memiliki tujuan yang jauh lebih tinggi daripada sekedar pemenuhan kepentingan diri (Walters, 2006: 159). Jika perkawinan tidak dipandang sebagai lembaga yang suci demi perkembangan diri yang jauh lebih tinggi, hal ini bisa menjadi rintangan untuk terwujudnya kebahagiaan sejati (harmonis), pasangan yang menikah hanya demi pemuasan diri sendiri akan lebih mengikat dan membatasi diri sendiri serta memperkuat ego dengan demikian perkawinan yang dibangun tidak akan bertahan. a. Tujuan Perkawinan pada Umumnya Setiap orang memiliki tujuan hidupnya masing-masing, demikian juga hidup perkawinan perlu ada tujuan hidup yang jelas, karena setiap orang memiliki tujuan hidupnya masing-masing tentu seorang laki-laki dan seorang perempuan memiliki tujuan hidup yang berbeda-beda tetapi karena telah disatukan dalam sebuah perkawinan selayaknya tujuan yang berbeda itu harus dibulatkan agar menjadi satu tujuan yang sama untuk membentuk hidup rumah tangga yang bahagia. Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, pasal 1 pada anak kalimat kedua berbunyi: “….dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Rumusan tersebut mengandung harapan bahwa dengan melangsungkan perkawinan akan diperoleh suatu kebahagia artinya kebahagiaan yang ingin dicapai bukanlah kebahagiaan yang sifatnya sementara saja, tetapi kebahagiaan kekal membangun hidup rumah tangga yang bahagia dan kekal harus didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, pandangan ini sejalan dengan sifat religious dari bangsa Indonesia yang mendapat realisasinya di dalam kehidupan beragama dan bernegara (Asmin, 1986: 20). Tujuan yang tidak sama antara pasangan suami-istri akan menjadi sumber permasalahan dalam keluarga, karena jika salah satunya ingin hidup bahagia dengan melahirkan, menjalin kekerabatan dan membentuk keluarga yang bahagia sedangkan salah satunya hanya ingin hidup bersama untuk memenuhi kebutuhan biologisnya semata, maka akan sangat sulit bagi pasangan tersebut untuk mencapai tujuan perkawinan yang bahagia dan kekal. Tidak mudah tetapi tidak berarti tidak dapat dilaksanakan, karena itu perlu ditekankan bahwa antara suami dan istri demi untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal selamanya perlu mempersatukan tujuan yang ingin dicapai dalam perkawinan dan harus sungguh-sunghuh diresapi dan disadari bahwa tujuan itu akan dicapai secara bersama-sama, bukan hanya oleh suami atau istri saja. Karena tanpa ada kesatuan tujuan dan tanpa adanya kesadaran bahwa tujuan harus dicapai bersama-sama, maka dapat kita bayangkan bahwa keluarga itu akan mudah mengalami hambatan-hambatan yang akhirnya membawa mereka jauh dari kebahagiaan, karena tujuan perkawinan merupakan titik tujuan bersama yang akan diusahakan dan untuk dicapai bersama-sama (Walgito, 1984: 11).

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 2. Perkawinan Katolik Perkawinan memurut Kitab Suci, menjadi suami-istri berarti suatu kebutuhan total dalam kehidupan seseorang dimana keduanya saling membutuhkan satu sama lain, Kitab Kejadian mengatakan: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej. 2:24)”. Perikop ini menceritakan kesatuan antara dua pribadi yang mana seorang laki-laki dan seorang perempuan memulai hidup baru sebagai suami-istri, demikian hendak ingin diungkapkan bahwa perkawinan Katolik adalah perkawinan yang sifatnya satu atau monogam (Iman Katolik, 2012: 435). Menjadi satu daging merupakan unsur utama dalam sebuah perkawinan, kesatuan tersebut bukan soal “kontrak” atau janji semata, lebih dari itu keduanya menjadi manusia baru yang bersatu meliputi seluruh hidup jiwa dan badan. Perkawinan adalah ikatan yang mempersatukan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan ikatan tersebut menyatukan keduanya dalam hal fisik, emosi, rohani, kekuatan, kelemahan dan lain sebagainya. Karena itu mereka sungguh-sungguh menjadi satu manusia baru dan dalam kesatuan tersebut mereka harus menyadari bahwa Kristus sendiri yang telah mempersatukan mereka dalam ikatan perkawinan. Dengan demikian kesatuan mereka adalah menjadi wakil Allah di dunia yang melaksanakan mandat dari Allah, yaitu berkembang dan beranak cucu, perempuan menjadi patner bagi laki-laki untuk melahirkan keturunan yang akan mengisi muka bumi (Purnomo, 2015: 38).

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Hakikat perkawinan adalah sebuah perjanjian (foedus, consensus, convenant) merupakan tindakan kemauan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk kebersamaan seluruh hidup Kitab Hukum Kanonik menjelaskan: “Perjanjian (foedus) perkawinan, dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan (consortium) seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak, antara orang-orang yang dibabtis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen (Kanon No 1055-§1)”. Arti perjanjian nikah adalah tindakan kemauan untuk saling memberi dan menerima dalam Kitab Hukum Kanononik 1057-§1-2 menjelaskan: “Kesepakatan pihak-pihak yang dinyatakan secara legitim antara orangorang yang menurut hukum mampu, membuat perkawinan: kesepakatan itu tidak dapat diganti oleh kuasa manusia manapun §2 Kesepakatan perkawinan adalah tindakan kehendak dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan saling menyerahkan diri dan saling menerima untuk membentuk perkawinan dengan perjanjian yang tidak dapat ditarik kembali”. Kanon-kanon ini hendak menjelaskan bahwa perjanjian tersebut adalah tindakan kemauan untuk saling memberi dan menerima sejauh laki-laki dan perempuan yang hendak menikah membuat kesepakatan yang muncul dari keinginan sendiri dan bukan dari kehendak orang lain, karena kesepakatan tersebut tidak dapat digantikan oleh kuasa manapun. Tuhan yang telah menciptakan manusia karena cinta dan memanggil manusia untuk mencinta, merupakan suatu panggilan kodrati dan mendasar dari setiap manusia (KGK 1604, 7) Gereja mengajarkan bahwa perkawinan adalah persekutuan hidup dan kasih mesra antara suami-istri, yang diadakan oleh Sang

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukum-Nya dan Allah sendirilah pencipta Perkawinan (GS, 48). Dengan demikian perkawinan dipandang sebagai suatu ikatan suci demi kesejahtraan suami-istri dan kelahiran anak serta pendidikan anak dan tidak hanya tergantung pada kemauan manusiawi sematamata, tetapi juga kehendak Allah (PPK, 8 b) yang artinya mereka hendaknya memandang perkawinan itu sebagai cinta kasih Allah kepada umat-Nya. Kekhasan perkawinan Katolik berbeda dengan perkawinan pada umumnya (formacanonica) contohnya pada Kanon 1108-§1: “Perkawinan hanyalah sah bila dilangsungkan dihadapan Ordinaris wilayah atau Pastor-pastor atau imam atau diakon yang diberi delegasi oleh salah satu dari mereka itu, yang meneguhkannya, serta dengan tetap berlaku kekecualian-kekecualian yang disebutkan dalam kanon-kanon 144, 1112, §1, 1116 dan 1127 §1-2”. Kanon No 1108-§1 memberikan prinsip umum untuk sahnya tata peneguhan nikah orang Katolik, yaitu perkawinan harus dilangsungkan dihadapan: ordinaris wilayah atau pastor paroki atau seorang imam atau diakon yang mendapatkan delegasi atau dari ordinaris wilayah atau dari pastor paroki. Mereka ini adalah saksi resmi (testis qualificatus) yang bertugas untuk meneguhkan perkawinan, sebab tanpa mereka perkawinan itu tidak akan terlaksana dan tidak dapat dikatakan sah dalam Gereja. Perkawinan adalah kesepakatan nikah antara masing-masing pribadi yaitu antara seorang laki-laki dan perempuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan serta bakat yang dimiliki, juga dipandang sebagai salah satu sekolah Allah yang terbaik, dapat menjadi tempat suami-istri dimurnikan, sisi-sisi yang kasar secara bertahap dihaluskan, saling bekerja sama

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 berpadu semakin mendalam, halus, penuh kasih sayang dan memuaskan keduabelah pihak. Perkawinan dapat diartikan sebagai sebuah komitmen yang mencakup tiga pribadi, yakni suami, istri dan Yesus Kristus, karena perkawinan adalah ikrar untuk saling setia dan tunduk satu sama lain (Wright, 2013:11-12). Firman Allah menunjukkan bahwa komitmen perkawinan itu kudus sekaligus praktis dimana Allah menggunakan hubungan perkawinan untuk menggambarkan hubungan-Nya dengan Gereja sebagai mempelai wanita-Nya dan berkomitmen untuk mencintai tanpa syarat. a. Tujuan Perkawinan Katolik Tujuan perkawinan Katolik kurang lebih sama dengan tujuan perkawinan pada umumnya yaitu demi kesejahteraan keluarga, tetapi lebih dari itu tujuan perkawinan Katolik lebih dirincikan lagi seperti yang tertulis di dalam Kitab Hukum Kanonik: “Menurut ciri kondratinya terarah pada kesejahteraan suami istri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak (KHK 1055-§1)”. Tujuan pertama yaitu kesejahteraan suami-istri artinya kesejahteraan lahiriah berupa (pangan, sandang, papan) dan kesejahteraan batiniah berupa (mapan, harmoni, kecocokan hati) suami-istri adalah pasangan atau patner hidup yang diberikan oleh Tuhan sendiri sebagai tanda cinta-Nya, maka sebagai wujud syukur suami-istri diharapkan saling mencintai satu sama lain dengan sepenuh hati sampai akhir hidup artinya cinta dan kesetiaan masing-masing adalah sebagai wujud cinta dan kesetiaan pada Tuhan. Tujuan yang kedua ialah kesejahteraan

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 anak artinya dengan perkawinan keduanya terbuka terhadap keturunan, mendidik, membersarkan anak, dengan demikian tujuan perkawinan diarahkan untuk mengembangkan dan memurnikan cinta kasih suami-istri menuju kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bersama (GS, 49). Tujuan perkawinan berarti suami-istri tidak hanya sekedar membentuk sebuah persekutuan hidup dalam ikatan perkawinan, tetapi demi kebahagiaan dan kesejahteraan keduanya serta terbuka pada kelahiran anak dan pendidikan anak (Rubiayatmoko, 2015: 19), secara singkat tujuan perkawinan dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Demi Kebahagiaan atau Kesejahteraan Suami-Istri Kristianto dalam Rukiyanto (2013: 92) merumuskan perkawinan bertujuan untuk mengembangkan dan memurnikan cinta kasih suami-istri, kebahagiaan, kesejahteraan, kedamaian, keharmonisan, kesetiaan, serta keutuhan adalah tanda otentik cinta suami-istri yang sungguh hidup dan berkembang semakin murni, cinta yang demikian mampu memperkaya dan mempersatukan keakraban suami-istri, untuk terciptanya suasana yang dengan demikian dapat diupayakan melalui tujuan yang sekunder dalam perkawinan, bersifat sekunder artinya memperoleh keturunan, pemenuhan kebutuhan seksual, serta mencapai kesejahteraan hidup baik sosial, ekonomi, material, rohani dan lain-lain. Perkawinan adalah jalan kepenuhan hidup kasih dan hidup Kristiani yang menggambarkan hubungan Kristus dan Gereja. Agar cinta kasih suami-istri semakin berkembang hendaklah mereka menanamkan nilai-nilai hidup dari

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 masing-masing orang tua dan Gereja, supaya menjadikan hidup perkawinan lebih berarti dan bermakna bagi keduanya juga diharapkan sebuah sikap yang dewasa. Kepenuhan hidup Kristiani berarti keduanya memiliki komitmen untuk disatukan dalam perayaan Ekaristi. Kedepannya hidup perkawinan tidak terlepas dari tantangan, untuk menyikapi setiap problematika kehidupan rumah tangga, tetapi yakinlah bahwa ada keluarga, teman dan Gereja yang siap untuk mendampingi sehingga kehidupan perkawinan yang dibangun itu tumbuh menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera dengan segala isinya menjadi sempurna. Kesejahteraan suami-istri adalah kesejahteraan keluarga dimana keluarga adalah tempat pembentukan manusia atau lebih tepatnya memanusiakan manusia. Di dalam lingkungan keluarga semua anggota mulai dari anak-anak sampai dengan kakek-nenek diharapkan tumbuh dan berkembang dengan saling membantu demi terciptanya cinta kasih dan memiliki relasi yang erat satu dengan yang lain (GS, 52). Kesejahteraan keluarga dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya sangat erat hubungannya yang artinya nilai yang diterima dari dalam keluarga akan terpantul di dalam masyarakat, pengalaman yang baik dan buruk dalam keluarga akan sangat mempengaruhi tindakan seseorang dalam masyarakat. Keluarga adalah pendidik utama, tetapi pendidikan yang perlu ditanamkan oleh orang tua bukan pertama-tama pengetahuan dan perintahperintah malainkan teladan dan sikap termasuk cara berpikir, cara berbicara, sopan santun, devosi, iman dan sebagainya. Sebab anak adalah peniru yang handal mereka akan merasakan bahwa pendidikan yang baik justru hanya dengan melihat

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 bahwa orang tuanya hidup rukun, saling memperhatikan, ramah, sopan, hangat dan penuh kasih, karena itu sangat pentinglah keluarga sebagai sekolah, harus memiliki suasana yang dapat membuat para anggotanya itu merasa nyaman (sweet home) (Budyapranata, 1979: 7). 2) Keterbukaan pada Kelahiran Anak (Bonum Prolis) Tujuan ini secara spontan disadari oleh setiap orang yang hendak menikah pada umumnya mereka yang hendak menikah bertujuan untuk memperoleh keturunan (anak) tujuan ini dianggap sebagai tujuan hakiki dari perkawinan oleh masyarakat umumnya, tetapi perlu diketahui bahwa dengan menekankan hubungan pribadi antara suami-istri, Konsili Vatikan II mengoreksi pandangan dari masa lampau, yang menganggap bahwa perkawinan bukan hanya untuk melahirkan keturunan sebagai tujuan dalam perkawinan “Perkawinan diadakan bukan hanya demi adanya keturunan saja” (GS, 50). Hubungan seksual antara suami-istri mempunyai nilai yang tidak hanya berkaitan dengan prokreasi (untuk menurunkan anak) tetapi dalam status hidup dan kedudukannya suami-istri mempunyai karunia yang khas di tengah umat Allah (LG, 11), sebagai orang tua ayah dan ibu bagi anak-anak yang dilahirkan diajak untuk bersedia penuh keberanian bekerjasama dengan cinta kasih Sang Pencipta dan Penyelamat yang melalui mereka makin memperluas dan memperkaya keluarga-Nya dalam hidup saling berdampingan dan penuh kasih. Prokreasi bukan tujuan tunggal atau utama perkawinan tetapi tetap merupakan suatu tugas luhur dan prokreasi bukan peristiwa alam melainkan

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 peristiwa pribadi yang dijalankan oleh pasangan suami-itri dengan penuh hormat yang telah direncanakan oleh keduanyaa dengan tanggung jawab penuh demikian hendaknya suami-istri mempertimbangkan kesejahteraan dan kerukunan keluarga, masyarakat dan Gereja (GS, 50). 3) Pendidikan Anak Kristianto dalam Rukiyanto (2013: 19) mendefinisikan anak adalah buah cinta kasih suami-istri yang hidup yang harus dirawat dan dididik agar dapat tumbuh dan berkembang mencapai kedewasaannya. Artinya orang tua memiliki hak sekaligus kewajiban, untuk mendidik anak-anak mereka khususnya dalam masalah iman dan moral karena orang tua merupakan pendidik pertama bagi anak-anak, maka sebagai tugas dasariah dari hidup perkawinan dan hidup berkeluarga orang tua harus mampu memberi contoh dan teladan yang baik bagi anak-anak yang dilahirkan, dengan memberi perhatian pada pendidikan anak-anak yang sesuai dengan keyakinan mereka. Artinya orang tua tidak mengabaikan hak anak untuk memilih apa yang anak inginkan sejauh tidak melanggar nilai-nilai iman dan moral. Peran utama orang tua adalah memberi contoh yang baik kepada anakanak sehingga apa yang anak-anak dapatkan dalam keluarga itu juga yang mereka pancarkan dalam kehidupan mereka di sekolah dan masyarakat. Dengan kata lain karakter anak ditentukan oleh bagaimana karakter orang tuanya. Dalam tahuntahun terakhir mutu moral pendidikan umum dan pendidikan perindividu merosot, anak-anak remaja mengganggu ketertiban umum seperti halnya geng motor,

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 pergaulan yang tidak sehat, tauran dan masih banyak hal lainnya, menjadi orang tua yang bertanggung jawab juga mencakup kewajiban untuk menempatkan anakanak dalam lingkungan intelektual yang sehat dan selaras dengan kemampuan mereka. Anak-anak perlu mendapat pendidikan yang tepat dalam keutamaankeutamaan Kristiani seperti kejujuran dan kemurnian (Marks, 2009: 93). b. Ciri-ciri Perkawinan Katolik Menurut (Hadiwardoyo, 2011: 26) menyimpulkan pandangan Paulus dalam 1 Korintus 7 tentang hakikat perkawinan dapat dirumuskan sebagai berikut: “Perkawinan merupakan kesatuan erat antara seorang pria dan seorang wanita, yang memberikan kepada keduanya hak prerogativ atas hubungan seksual dengan patnernya dan menjauhkan keduanya dari bahaya pencabulan; suami istri menikah karena karisma yang mereka terima dari Allah sendiri; dengan perkawinan, orang Kristen toh tidak mampu lagi mencurahkan perhatiannya pada Allah karena itu Paulus lebih senang kalau orang Kristen tidak menikah demi Kerajaan-Nya”. Artinya, Paulus mau menegaskan bahwa suami-istri harus menghindarkan diri dari godaan untuk hubungan seksual dengan orang lain karena tubuh suami adalah milik istri dan tubuh istri adalah milik suami, ditekankan bahwa perkawinan merupakan kesatuan yang amat erat antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dan perkawinan berperan sebagai jalan keluar yang baik dari bahaya pencabulan karena perkawinan Katolik sifatnya satu dan tak terceraikan. Ciri-ciri hakiki perkawinan Kristiani ialah (Unitas) kesatuan dan (Indissolubilitas) tak dapat diputuskan yang dalam perkawinan Kristiani memperoleh kekukuhan khusus atas dasar sakramen (KHK 1056). Artinya ikatan perkawinan diperkuat dengan rahmat yang istimewa yang diturunkan dari Allah

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 sendiri kepada suami-istri untuk hidup berdampingan di dalam kasih mesra. Karena Kristus adalah sumber rahmat kekuatan bagi suami-istri untuk melangkah maju menuju kepenuhan kasih dan kepenuhan hidup Kristiani dengan saling mengampuni dan menanggung beban, merendahkan diri seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus (Ef. 5: 21) serta saling mengasihi dalam cinta yang mesra, subur dan adikodrati (PPK, 9) secara singkat ciri-ciri perkawinan kristiani dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Unitas (kesatuan) Ciri unitas menunjukkan unsur unitif dan monogam unsur unitif ini dimaksudkan sebagai unsur yang menyatukan suami-istri secara lahir batin karena tujuan dari perkawinan ialah kesatuan hidup yang tidak terpisahkan dari suamiistri (Hadiwaryono, 2011: 61) Allah menetapkan bahwa ikatan suami-istri tunggal secara mutlak. Karena perkawinan Kristiani menandakan misteri kesatuan antara Kristus dan Gereja-Nya yang dinyatakan dalam ciri tunggal, tak terceraikan dan subur, perkawinan Kristiani berciri tunggal merupakan tanda kasih yang total dimana keduanya saling memberikan diri secara utuh dengan kata lain tubuh suami adalah milik istri dan tubuh istri adalah milik suami, keduanya bukan lagi dua melainkan satu dalam cinta kasih.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 2) Indissolubilitas (tak-terputuskan) Perkawinan mempunyai ciri tak-terceraikan berdasarkan hukum kodratnya, karena menampakkan persatuan sempurna antara Kristus dan Gereja seperti yang tertulis dalam (Ef 5: 32) yang berbunyi: “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksud ialah hubungan Kristus dan jemaat”; perkawinan Kristiani melambangkan kasih Allah kepada manusia maka cinta kasih suami-istri hendak menampakkan cinta kasih yang setia yang dinyatakan dengan ciri tak terceraikan karena Allah kita adalah Allah yang setia (Hadiwaryono, 2011: 61). Kitab Suci Perjanjian Baru juga berbicara mengenai pekawinan yang berbunyi “Bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan istrinya” (Mat. 19: 5) menunjukkan bahwa kesetiaan kepada pasangan harus diutamakan di atas keluarga asalnya (Maureen & Lanny, 2008: 94); penulis maksudkan bahwa bila seorang bersedia untuk menikah hendaknya ia telah siap dalam tugas dan tangung jawabnya dengan berani meninggalkan ayah dan ibunya untuk tinggal bersama pasangan hidup yang telah ia pilih untuk hidup bersatu membina rumah tangga yang sejahtera, hidup bersatu berarti segala yang ada pada diri suami adalah milik istri dan segala kepunyaan yang ada pada diri istri adalah milik suami sehingga keduanya menjadi kesatuan yang utuh dalam cinta kasih.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 B. PENGERTIAN PERKAWINAN USIA MUDA 1. Perkawinan Usia Muda Dalam perkawinan usia dan kedewasaan menjadi hal yang hendak diperhatikan bagi para calon pasangan suami-istri yang ingin melangsungkan perkawinan. Hal ini menjadi pertimbangan karena kualitas akal dan mental yang relatif tidak stabil memungkinkan salah satunya atau keduanya tidak dapat mengontrol diri sendiri, kedewasaan dalam bidang fisik, biologis, sosial, ekonomi, emosi, tanggung jawab dan keyakinan agama merupakan modal yang besar dan berarti dalam upaya membangun rumah tangga yang sejahtera. Perkawinan merupakan salah satu bagian penting di dalam kehidupan masyarakat, umumnya seseorang yang sudah menikah pada usia berapapun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga. Dalam kenyataannya orang yang secara umur berusia 24 tahun belum berarti dewasa baik secara sosial, ekonomi yang berarti hidupnya masih ketergantungan dengan orang tua umumnya belum memiliki pekerjaan dan belum memiliki hak penuh sebagai orang dewasa secara adat atau tradisi serta belum bisa memberikan pendapatnya sendiri. Dengan kata lain, orang-orang yang dengan batas usia 24 tahun belum dapat memenuhi persyaratan kedewasaan secara sosial maupun psikolgis mereka masih dapat digolongkan sebagai remaja (Sarlito, 2015: 19). Perkawinan usia muda dapat didefinisikan sebagai ikatan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami istri yang masih muda atau remaja, orang yang digolongkan sebagai remaja adalah mereka yang berusia 11-

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia (Sarlito, 2015: 18). Perkawinan usia muda adalah perkawinan yang melanggar syarat dan ketentuan perkawinan yang menurut Undang-Undang Perkawinan pasal 7 ayat (1) No. 1 Tahun 1974 menyatakan, jika perempuan yang usianya kurang dari 16 tahun dan laki-laki kurang dari 19 tahun tidak dapat melangsungkan perkawinan. Perkawinan pada usia muda merupakan bentuk kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat dengan dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah faktor keluarga dan kehendak bebas dari anak yang memutuskan untuk menikah di usia muda, akan tetapi secara psikologis mereka yang berusia 16 tahun dan 19 tahun belum bisa dikatakan dewasa. Karena orang-orang yang belum sampai batas usia 24 tahun belum dapat memenuhi persyaratan kedewasaan secara sosial maupun psikologis mereka masih dapat digolongkan sebagai remaja (Sarlito, 2015: 19). Dengan demikian perkawinan usia muda dapat diartikan sebagai perkawinan yang dilaksanakan pada usia remaja yang belum memiliki kesiapan atau kematangan fisik baik psikologis maupun sosialnya untuk membangun hidup rumah tangga. Perkawinan usia muda adalah perkawinan remaja dilihat dari segi usia belum cukup matang untuk membentuk sebuah kelurga. 2. Usia yang Cukup untuk Menikah Menurut definisi Organisasi Kesehatan Sedunia atau WHO (World Health Organization) mangungkapkan bahwa, remaja adalah suatu masa di mana individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 sekundernya seperti tumbuh kumis, suara berubah (putra), menstruasi (putri) dan lain-lain sampai ia mencapai kematangan seksual, dengan demikian remaja juga dapat diartikan sebagai suatu masa di mana individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa (Sarlito, 2015: 12). Masa remaja adalah masa transisi ke taraf kedewasaan yang merupakan suatu periode transisi menuju perluasan dari masa individu menjadi matang secara seksual dan untuk sampai pada kematangan sacara legal masa ini dimulai dari masa pra-remaja (pueral; pra-puber) pada usia antara 10/11 tahun untuk putri dan 11/12 tahun untuk putra. Masa remaja berlangsung antara usia 11/12 tahun sampai dengan18/19 tahun, dalam masa pubertas tersebut dari seluruh fase yang ada kematangan ini adalah puncaknya. Remaja disebut dengan adolescent sedangkan masanya disebut adolescence, puncak masa remaja disebut masa pubertas (Supriyati, 2013: 12); dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisik maupun psikis, mereka bukan lagi disebut anak-anak baik bentuk badan atau cara berpikir dan bertindak tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Menurut Hurlock dalam Ali & Asrori (2015: 9) tentang psikologi remaja, secara psikologis remaja adalah suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Artinya remaja dikenal dengan masa pencarian jati diri, mereka juga tidak lagi anak-anak bukan juga orang dewasa, apabila mereka

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 diperlakukan sebagai orang dewasa ternyata mereka belum dapat menunjukkan sikap dewasa. Masa remaja adalah masa pencarian jati diri dengan ego yang relatif belum stabil, dengan rasa ingin tahu yang tinggi mereka sering memiliki keinginan untuk mencoba-coba sesuatu yang baru untuk menjelajah dan bertualang tetapi tidak semuanya tersalurkan, sehingga mereka mengalami kegelisahan yang ditandai dengan angan-angan dan mengakibatkan diri mereka diliputi perasaan gelisah, mereka juga berani melakukan pertentangan jika dirinya merasa disepelekan dengan demikian mereka sangat memerlukan keteladanan, konsisten, serta komunikasi yang tulus dan empatik dari orang dewasa (Ali & Asrori, 2015: 16-17). Perkawinan mengandaikan kedewasaan baik jasmani maupun psikologis kedewasaan tersebut mulai nampak pada batas umur tertentu, telah ditetapkan di dalam undang-undang perkawinan bahwa batas umur boleh menikah bagi perempuan adalah 16 tahun sedangkakan bagi laki-laki ialah 19 tahun dan hukum perkawinan Gereja memutuskan batas umur bagi seorang perempuan adalah 14 tahun dan bagi laki-laki 16 tahun, dengan alasan mereka hanya bertunangan dan menunggu hingga baik laki-laki maupun perempuan sudah dewasa baik fisik dan psikologinya baru bisa melangsungkan perkawinan. Tetapi di dalam masyarakat umumnya perkawinan di usia muda masih banyak terjadi di desa-desa. Karena itu batas umur 21 tahun mengartikan bahwa orang tua masih bertangungjawab atas hidup dan perkembangan serta tindakan anak dari lahir sampai dengan mencapai umur 21 tahun, tanpa membatasi hak anak untuk boleh bertindak atas namanya

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 sendiri dan bertangung jawab penuh atas pilihan dan tindakan perbuatannya. Oleh karena itu apabila anak laki-laki atau anak perempuan, meski telah boleh menikah secara hukum bila belum mencapai umur 21 tahun, perlu mendapat izin atau restu dari orang tua dan jika tidak mungkin pengadilan negeri setempat dapat memberikan dispensasi (Soekanto & Soerjono, 1990: 15). Setiap orang memiliki hak untuk melangsungkan perkawinan, tetapi orang tersebut perlu dan wajib memenuhi syarat perkawinan sejauh tidak dilarang hukum (KHK, 1058); kanon tersebut hendak menegaskan hak seseorang untuk menikah (ius connubii) sebagai hak asasi dan fundamental manusia, hak ini meliputi hak untuk melangsungkan perkawinan dan memilih calon pasangan hidupnya secara bebas baik laki-laki dan perempuan, mempunyai hak dasariah untuk menikah. Halangan nikah adalah semua halangan nikah yang sudah ditentukan oleh hukum Gereja larangan nikah tersebut tidak bertujuan untuk menghapus hak kodrati seseorang untuk menikah, tetapi untuk mengatur pelaksanaannya dengan alasan supaya yang bersangkutan dapat menikah dan menghidupi perkawinan sesuai dengan paham dan ajaran Gereja Katolik. Para gembala jiwa-jiwa hendaknya berusaha menjauhkkan kaum muda dari perayaan perkawinan sebelum usia yang lazim untuk melangsungkan perkawinan menurut kebiasaan daerah yang diterima Kanon 1072 (PPK, 290). Perkawinan anak-anak remaja atau mereka yang belum mencapai usia nikah, pada umumnya harus terlebih dahulu meminta nasehat dan persetujuan orangtuanya. Selain karena rasa hormat, juga karena nasehat orang tua akan sangat berguna bagi mereka yang akan melangsungkan perkawinan untuk memasuki dunia hidup

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 berkeluarga. Kewajiban ini merupakan suatu keharusan, jika orang tua tidak mengizinkan sebaiknya pastor melihat alasan larangan itu, kalau memang masuk akal, pastor semestinya mengingatkan kedua calon agar mengikuti nasehat orangtuanya sebelum mendapat izin dari ordinaris wilayah, sebagaimana dinormakan dalam Kanon 1071-§1.6°; sehubungan dengan kanon tersebut perlu juga untuk memperhatikan Undang-undang Republik Indonesia No. 1 tentang Perkawinan Sipil, pasal 6 (Rubiyatmoko, 2015: 55-56). Dalam Kanon No. 1083-§1 ditetapkan bahwa laki-laki sebelum berumur genap 16 tahun dan perempuan sebelum berumur genap 14 tahun tidak dapat melangsungkan perkawinan yang sah, dengan alasan bahwa ini adalah halangan nikah kodrati yaitu sejauh belum mencapai kematangan fisik dan psikis mereka belum bisa melangsungkan perkawinan, syaratnya mereka hanya akan bertunangan saja hingga keduanya dewasa secara fisik maupun psikis. Kematangan fisik ditandai dengan alat reproduksi sudah bisa berfungsi untuk melahirkan, kematangan psikis artinya mampu bertangungjawab atas perbuatan dan hukumnya. Sedangkan menurut Undang-Undang Perkawinan Republik Indonesia Tahun 1974 ayat (7) No. 1 ditetapkan batas umur untuk sahnya perkawinan adalah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan. Sesesorang yang belum mencapai usia 18 tahun masih terhitung sebagai anak dan masih berada dalam bimbingan dan perlindungan orang tua, keluarga, wali, orang tua asuh, warga masyarakat dan pemerintah (UU RI No. 23 Pasal 1 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak). Dalam UU RI No. 23 Pasal 26 (1) c, ditegaskan bahwa orang tua memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mencegah

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 terjadinya perkawinan pada usia anak-anak, untuk melangsungkan perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dibutuhkan izin dari kedua orang tuanya (UU RI No. 23 pasal 6 (2)). Kristianto dalam Rukiyanto (2013: 106) membatasi usia perkawinan dengan didasarkan pada alasan bahwa perkawinan menuntut kematangan secara biologis-seksual, psikologis dan dimaksudkan agar yang bersangkutan siap dan mampu menurut kodratnya terarah kepada kelahiran anak (tujuan prokreatif). Menurut Undang-undang tahun 1974 mengatakan bahwa perkawinan itu sah apabila telah disahkan oleh agama masing-masing, tetapi apabila perkawinan tersebut hanya perkawinan adat, maka perkawinan itu tidak dapat dikatakan sah sebab perkawinan tersebut belum di sahkan di dalam Gereja atau dalam agama. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkawinan di usia muda a. Faktor Kepribadian Kepribadian adalah keseluruhan pola (bentuk) tingkah laku, sifat-sifat, kebiasan, kecakapan, bentuk tubuh serta unsur-unsur psiko-fisik lainnya yang selalu menampakkan diri dalam kehidupan seseorang (Ahmadi & Munawar, 2005: 158); Gereja mengajarkan bahwa perkawinan adalah persekutuan seluruh hidup dan kasih mesra antara suami-istri (PPK, 8) yang terjadi dalam perkawinan adalah persatuan dua insan (laki-laki dan perempuan) yang memiliki sikap dan karakter yang berbeda-beda keduanya menjadi satu dalam prosesnya antara suami-istri ada yang sudah matang dan siap untuk membangun sebuah rumah tangga dan ada yang belum, baik istri maupun suami.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Dengan demikian pasangan suami-istri diharapakan mampu memahami sifat dan karakter masing-masing dan memaknai arti perkawinan itu sendiri, terkadang karena kepribadian yang belum dewasa setiap pasangan tidak akan mampu menerima keunikan pasangannya apabila ketidakmampuan dalam memahami keunikan pasangan masih terus berlangsung, maka persoalan dapat muncul dalam kehidupan rumah tangga yang telah dibangun. Untuk itu, suamiistri harus mempersiapkan segalanya dengan matang untuk saling percaya dan rela mempertanggungjawabkan kekurangan dari masing-masing pribadi, saling melengkapi satu sama lain sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dan hidup sejahtera. b. Faktor Internal Keluarga Sebagai komunitas mini, setiap anggota di dalam keluarga terjalin oleh relasi yang bersifat personal dan fungsional, relasi personal adalah relasi antar pribadi yang tidak didasarkan pada kedudukan atau fungsi seseorang, artinya setiap orang dalam keluarga adalah setara, sedangkan relasi fungsional adalah relasi yang muncul dari kedudukan atau fungsi seseorang dalam keluarga. Dalam keluarga kedua relasi tersebut tidak dapat dipisahkan, sebab dalam hubungan keluarga harus selalu ada dalam semangat menerima pribadi yang bermartabat sama karena setiap pribadi memiliki hak asasi yang sama pula. Suami-istri dipanggil untuk hidup dalam persekutuan yang bersifat eksklusif dan tak terputuskan kecuali oleh kematian, dalam persekutuan tersebut suami-istri diajak untuk saling melengkapi dan menjadikan perkawinan mereka

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 sebagai sakramen cinta kasih Allah yaitu sebagai tanda dan sarana kehadiran cinta kasih Allah yang menyelamatkan. Tetapi perkembangan teknologi di zaman ini dapat menghasilkan nilai positif dan negatif seperti kemudahan, kenyamanan dan kecepatan dampak negatif dari teknologi adalah gaya hidup instan “sekali pakai lalu buang” tidak berkesinambungan dengan munculnya hal-hal tersebut dapat menimbulkan persoalan besar yang dapat mempengaruhi relasi suami istri seperti ketidaknyamanan relasi mendorong mereka untuk melakukan perceraian (PPK, 20- 22). Bila dianalisis dengan lebih saksama lagi faktor interen keluarga adalah konflik secara verbal yang artinya kurangnya perhatian terhadap pasangan dan anak-anak karena berbagai kesibukan pekerjaan yang tidak dibarengi dengan komunikasi sehingga terjadi konflik verbal, perlu diketahui bahwa melalui konflik ini dapat pula membuka sebuah pintu komunikasi antara suami-istri sehingga keduanya dapat memaknainya sebagai suatu cara yang dipakai Allah untuk mengajarkan kepada mereka tentang kerendahan hati untuk mau terbuka satu dengan yang lain melalui komunikasi (Wright, 2013: 209). c. Faktor Ekonomi Manusia tidak dapat terlepas dari kehidupan dan pengolahan ekonomi, karena manusia membutuhkan pangan, sandang dan papan, kesehatan pendidikan serta fasilitas-fasilitas lainnya yang menunjang kehidupannya untuk hidup dan berkembang, begitu juga dalam kehidupan rumah tangga ketika membagun sebuah rumah tangga hal ekonomilah yang sering menjadi persoalan di dalam

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 keluarga hal ini tidak dapat dipungkiri sebab masalah ekonomi kerap menjadi masalah yang serius dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat dan dunia. Ekonomi adalah salah satu cara untuk mencapai kesejahteraan dengan menyediakan produk barang dan jasa yang dilaksanakan berdasarkan prinsip bahwa Allah menciptakan segala sesuatu untuk kesejahteraan semua orang, akan tetapi sistem perekonomian dewasa ini belum mendukung tercapainya kesejahteraan pada semua orang, semakin meluasnya kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin menjadi bukti bahwa kekayaan yang kita miliki belum sepenuhnya memenuhi kepentingan masyarakat luas secara merata, sehingga menimbulkan penderitaan pada banyak keluarga dan gejolak sosial lainnya. Dengan semua masalah tersebut Gereja mengajak keluarga-keluarga untuk merencanakan memprioritaskan dan pemenuhan mengelola kebutuhan ekonomi dasar rumah-tangganya bagi semua dengan anggotanya, mengembangkan pendidikan yang menekankan sikap hemat, sederhana, menabung, menghindari sikap aji mumpung, sehingga biaya-biaya yang tak terduga dapat tertangani; menjauhi sikap minimalis dengan membangun semangat kerajinan dan kerja keras; membangun sikap solider dan semangat berbagi; mengembangkan sikap jujur dan terbuka dalam hal keuangan rumah tangga. Apabila hal ini dijalankan dengan baik yakinlah bahwa kehidupan ekonomi rumah tangga keluarga akan selalu tercukupi (PPK, 39- 40).

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 d. Faktor Kekerasan dalam Rumah Tangga Kekerasan dalam segala bentuk merupakan tindakan yang tidak selaras dengan harkat dan martabat manusia demikian juga dalam kehidupan rumah tangga kekerasan bisa saja terjadi, karena relasi dalam keluarga yang seharusnya bersifat personal dan fungsional berubah menjadi relasi yang diwarnai konflik kekerasan tersebut dapat berupa kekerasan fisik maupun psikis, seksual maupun finansial, verbal maupun non-verbal hal tersebut dapat menyebabkan kehidupan perkawinan yang dibangun atas dasar cinta kasih antara suami-istri menjadi berantarakan sehingga mengakibatkan perkelahian yang berujuang pada perceraian serta rasa trauma yang mendalam. Dalam menghadapi masalah rumah tangga tersebut Gereja menasehati keluarga-keluarga agar menghindari tindakan kekerasan terutama ketika terjadi konflik atau persoalan yang sulit dan berat hendaknya suami-istri menyelesaikan konflik dan pertentangan itu dalam semangat saling mengasihi dan menghargai, ikut ambil bagaian dalam kegiatan Gereja dan masyarakat dalam upaya menaggulangi budaya kekerasan dengan membantu korban kekerasan rumah tangga dan menjadi teladan bagi hidup beriman Kristiani di tengah keluarga, masayarakat dan Gereja (PPK, 47). e. Alat komunikasi Setiap makhluk adalah individu dan sebagai subjek yang saling berkomunikasi, karena dengan berkomunikasi manusia dapat menciptakan komunitas dalam membangun partisipasi dengan membebaskan diri dari segala

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 keterbelengguan, melestarikan kebudayaan sebagai identitasnya dan mengkritisi dunia sekitarnya, supaya manusia hidup bahagia, untuk menghasilkan komunikasi yang berdayaguna, manusia yang adalah makhluk individu dan bersubjek itu membutuhkan media yang sesuai. Yaitu kesediaan dari masingmasing individu untuk membuka diri menjalin interaksi dengan individu yang lain supaya tercipta komunikasi yang berdayaguna dan menghasilkan keharmonisan di dalam diri masing-masing individu, kelompok maupun masyarakat. Perkembangan teknologi komunikasi sepertinya tidak bisa dibendung lagi itu adalah salah satu proyek terbesar dunia yang dapat mempersatukan bahkan dapat menjadi permusuhan dan persaingan yang besar hal itu tidak dapat dipungkiri bahwa banyaknya teknologi komunikasi modern yang bermunculan membawa dampak positif dan negatif, dampak negatif yang dapat dirasakan dari teknologi komunikasi modern adalah tumbuhnya budaya individualisme, konsumarisme dan budaya kekerasan, karena itu kita perlu mengembangkan sikap kritis agar bisa memilah-milah antara dampak positif dan negatif, dengan demikian melalui segala macam dan bentuk media semestinya manusia semakin mencapai keinginan dasariah manusia yang sesungguhnya yaitu persaudaraan, rekonsiliasi, keadilan kebebasan, harmoni, kesejahteraan damai dan cinta (Iswarahadi, 2014: 9). Komunikasi merupakan inti perkawinan, karena memberikan sebuah pengalaman kesatuan yaitu keintiman suami-istri, kesatuan tersebut membuat suami-istri semakin dekat satu sama lain dalam cinta dan kehangatan, karena itu

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 komunikasi merupakan tindakan kasih yang menciptakan kasih yang semakin mendalam antara suami-istri (Tim Publikasi Pastoral Redemptorist, 2006: 27). f. Sosial Manusia sebagai individu pada hakikatnya adalah makhluk sosial karena manusia harus bertangung jawab untuk bekerjasama dengan sesamanya dan saling bergantung satu sama lain, bersosial berarti mau berinteraksi atau saling berhubungan dengan manusia yang lainnya, sebab manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia sebagai individu selalu membutuhkan bantuan orang lain untuk mendorong dan memperkembangkan kelangsungan hidupnya (Sugiyana, 2013: 67). Gereja menegaskan dalam kehidupan bersama, manusia tidak dapat memajukan martabat pribadi tanpa menunjukkan kepedulian kepada keluarga, kelompok, paguyuban, komunitas baik kategorial maupun teritorial di dalam masyarakat (Sugiyana, 2013: 74), sebab relasi-relasi tersebut di atas dapat membantu setiap pribadi untuk tumbuh dan memperkokoh persekutuan antar setiap pribadi, demikian dianjurkan dalam kehidupan bersama perlu dikembangkan sikap saling mendukung, memajukan dan memperkembangkan setiap pribadi di dalam keluarga, kelompok, dan paguyuban-paguyuban yang ada di dalam masyarakat. Begitu juga dalam hidup perkawinan suami-istri membutuhkan tujuan hidup yang sama untuk mencapai kesejahteraan hidup di dalam keluarga dan lingkup masyarkat maupun kelompok, karena setiap pribadi manusia tidak dapat

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 menemukan kepenuhannya dalam dirinya sendiri, melainkan dalam hidup bersama (Sugiyana, 2013: 70). g. Iman Iman adalah penyerahan diri secara total kepada Allah, bukan karena terpaksa tetapi dengan keseluruhan hidupnya dan dengan kehendak bebas, yang berarti manusia dengan kebebasaan mengikuti suara hati untuk menentukan arah hidupnya sendiri, bebas dari segala rasa takut dan merasa aman di dalam perlindungan Tuhan. Dalam iman manusia menyadari dan mengakui bahwa Allah tak-terbatas berkenan memasuki hidup manusia yang serba terbatas, menyapa dan memanggil manusia, karena iman adalah jawaban atas panggilan Allah penyerahan pribadi kepada Allah yang menjumpai manusia secara pribadi (Iman Katolik, 2012: 129). Orang yang beriman, tahu mendalam mengenai Allah dalam penyerahan iman (Iman Katolik, 2012: 130) artinya manusia tidak mungkin menyerahkan diri atau percaya kepada Allah tanpa mengenal siapa Allah yang ia imani, maka untuk mengetahui siapa Allah yang ia imani, manusia harus mengetahui dan mengikuti ajaran-Nya dan harus tahu kepada siapa manusia menyerahkan dirinya dengan begitu manusia dapat megimani Allah dengan lebih mendalam. Umat Kristiani mengimani bahwa suami-istri disatukan oleh Allah dan di hadapan Allah suami-istri mengucapkan janji perkawinan untuk hidup bersama seumur hidup, karena iman adalah penyerahan pribadi secara utuh diharapkan

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 pula bahwa cinta suami-istri mampu memberikan diri secara utuh kepada masingmasing pribadi suami-istri, tanpa ada paksaan. C. PENGERTIAN KEHARMONISAN KELUARGA 1. Keharmonisan keluarga Keharmonisan berasal dari kata “harmonis” yang mempunyai arti sepadan atau serasi, keharmonisan lebih menekankan pada suatu keadaan tertentu dimana keharmonisan adalah keadaan untuk mencapai keselarasan dalam rumah tangga dengan dijaga supaya tercipta rumah tangga yang bahagia dan sejahtera; keluarga yang harmonis adalah keluarga yang hidup bahagia dalam ikatan cinta kasih suami isti yang didasari dalam sikap saling memberi dan menerima. Dengan kata lain suami istri hidup dalam ketenangan karena jauh dari berbagai persoalan baik itu yang menyangkut kebutuhan sehari-hari maupun hubungan antara anggota keluarga. Masa penyesuaian diri dalam perkawinan yang biasanya disebut sebagai tiga tahun pertama dari suatu perkawinan secara lazim akan menimbulkan konflik yang disebabkan oleh keinginan yang berbeda-beda. Selama 20 tahun pertama atau lebih dari kehidupannya, suami-istri berfungsi sebagai orang yang berdiri sendiri mereka membuat semua keputusan semata-mata berdasarkan apa yang mereka inginkan ataupun apa yang baik buat keduanya. Jika suami atau istri bersifat egois dan tidak dewasa, maka tahun pertama dari perkawinan mereka akan dipenuhi dengan berbagai problematika, dengan demikian sebaliknya apabila

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 suami-istri bersama-sama dalam sifat tidak egois maka akan mempermudah usaha mereka untuk saling menyesuaikan dan hidup bahagia (Tim LaHaye, 1989: 100). Keharmonisan selalu menekankan sikap suami-istri untuk saling memberikan diri demi kebahagiaan pasangan tanpa mengaharapkan adanya suatu imbalan dengan begitu kebahagiaan akan tercipta yaitu tujuan untuk membahagiakan pasangan, sebagimana yang telah dituliskan dalam tujuan perkawinan yaitu perkawinan diarahkan demi kesejahteraan suami istri. Keharmonisan dapat diartikan sebagai kesejahteraan suami istri, kesejahteraan suami istri adalah kesejahteraan keluarga dimana keluarga adalah tempat pembentukan manusia atau lebih tepatnya adalah tempat memanusiakan manusia, di dalam lingkungan keluarga semua anggota mulai dari anak-anak sampai kakek nenek hidup bersama dan berkembang dengan saling membantu setiap anggota tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan dalam keluarga tersebut tercipta relasi yang mendalam satu dengan yang lain (GS, 52). Kesejahteraan keluarga dan kesejahteraan tiap-tiap orang di dalam masyarakat pada umumnya sangat erat hubungannya bahkan keselamatan keluarga merupakan keselamatan masyarakat, artinya nilai yang ditimba dari keluarga akan terpantul dalam masyarakat pengalaman yang baik dan buruk dalam keluarga akan sangat mempengaruhi tindakan seseorang dalam masyarakat. Keluarga adalah pendidik utama, tetapi pendidikan yang bisa dilaksanakan oleh orang tua bukan pertama-tama pengetahuan dan perintah-perintah melainkan teladan dan sikap, termasuk cara berpikir, berbicara, sopan santun, devosi, iman dan sebagainya dengan demikian anak akan merasakan bahwa pendidikan yang

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 baik justru hanya dengan melihat bahwa bapak dan ibunya baik, hidup rukun, saling memperhatikan, ramah, hangat, penuh cinta maka sangat pentinglah keluarga sebagai sekolah harus memiliki suasana yang dapat membuat para anggotanya itu merasa nyaman (sweet home) (budyapranata, 1979: 7). 2. Faktor-faktor yang mendukung keharmonisan keluarga a. Kedewasaan Kunci pertama yang menjamin kebahagiaan dalam perkawinan adalah kedewasaan dan cara yang terbaik untuk mendefinisikan kunci ini dalam bidang perasaan adalah ketidakegoisan. Perkawinan merupakan suatu rentetan yang terdiri dari aksi-aksi dan reaksi yang didorong oleh pikiran baik dengan sadar maupun tidak sadar (Tim LaHaye, 1989: 100), orang dewasa tahu sikap yang egois akan membawa pada ketidak bahagiaan, untuk itu suami-istri dituntut untuk dewasa baik secara fisik maupun sosialnya sehingga mereka mampu menghadapi problema-problema dalam kehidupan berkeluarga dengan sikap yang dewasa karena sikap yang dewasa menuntun seseorang untuk mau berkorban demi kebahagiaan pasangannya dengan penuh tangung jawab. b. Kasih Kasih menjadi kunci yang menjamin perkawinan yang bahagia kebanyakan orang tidak mengetahui apa itu kasih pada umumnya sering kali orang mengacaukan daya tarik jasmani, hawa nafsu, keinginan pribadi, simpati atau belas kasihan dengan kasih. Kasih adalah salah satu dari pengalaman-

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 pengalaman manusia yang paling umum dan salah satu yang paling sulit untuk didefinisikan. Di dalam kamusnya Webster kasih didefinisikan sebagai sebuah perasaan terhadap ikatan pribadi yang kuat yang disebabkan oleh pengertian yang simpatik atau oleh perhatian keluarga; kasih adalah rasa sayang yang berkobar (Tim Lahaye, 1989: 113). Salah satu dari ciri dasar kasih adalah kebaikan hati untuk mau memberi dan menerima pasangannya tanpa menuntut lebih bila dilukiskan dalam syair kasih itu luhur dan mulia tak ada benci dan dendam, kasih itu suci luhur dan mulia demikian jika digambarkan sebagai perkawinan yang luhur dan mulia maka kehidupan keluarga akan senantiasa bahagia dan sejahtera karena rahmat perkawinan itu adalah kasih yang berasal dari Tuhan dan semua dipanggil untuk mengasihi dengan cara saling mengampuni. Demikiann keluarga-keluarga Kristiani yang hidupnya selaras dengan Injil dan memberi teladan hidup perkawinan yang baik, menyampaikan kesaksian yang sangat berharga tentang Kristus kepada masyarakat (AA, 11). c. Komunikasi Alkitab mengajarkan bahwa kita harus “menyatakan kebenaran dengan hati penuh kasih” (Ef. 4:15), tetapi harus diketahui bahwa semakin banyak kebenaran yang diucapkan maka semakin banyak kasih yang harus digunakan untuk menyampaikan kebenaran itu kebenaran adalah sebuah pedang yang bermata dua, sebab itu gunakan kebenaran dengan hati-hati (Tim laHaye, 1989: 125); artinya dalam hubungan suami-istri harus ada komunikasi dimana

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 komunikasi itu menjadi sarana yang intim dalam membangun hubungan yang bahagia, tanpa komunikasi bagaimana orang dapat bertahan dalam situasi yang sedang diombang ambingkan oleh berbagai persoalan. Jika tidak dengan komunikasi persoalan itu tak akan ada habisnya. Terkadang apa yang kita lihat tidak benar maka, perlu ada keterbukaan dan mau mendengarkan sehingga keduanya menjadi jelas bahwa apa yang dilihat itu benar-benar tidak sesuai dengan yang dipikirkan.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III PENELITIAN PERKAWINAN USIA MUDA DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR A. PAROKI KELUARGA SUCI TERING 1. Sejarah Singkat Paroki Keluarga Suci Tering Kehadiran Paroki Keluarga Suci mempunyai arti yang sangat penting bagi penyebaran iman Katolik di bumi Kalimantan Timur, Tengah dan Selatan Paroki Keluarga Suci Tering merupakan salah satu paroki tertua dan sebagai tonggak sejarah perkembangan misi Gereja Katolik oleh para misionaris MSF di bumi Kalimantan bermula di daerah ini. Mgr. W Demarteau, MSF., menulis bahwa Paroki Keluarga Suci Tering menjadi pusat misi Gereja Katolik setelah para misionaris pertama MSF mempertimbangkan geografis Paroki Hati Kudus Laham (tempat pertama penyebaran iman Katolik di Kalimantan) sangat sulit untuk akses keluar, maka pusat misi dan logistik akhirnya dipindahkan ke Paroki Keluarga Suci Tering (Demarteau, 1997). Pada tahun 1932, Paroki Keluarga Suci Tering resmi menjadi pusat misi para misionaris MSF, hingga pada tahun 1933 dibangunlah dua sekolah rakyat, dua asrama, susteran, politeknik dan didirikan sebuah kelas probatorium (kelas persiapan bagi pemuda dayak yang berminat untuk bergabung dengan MSF) yang di dampingi oleh Pater A. Gielens, MSF.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 Paroki ini telah berhasil mempersembahkan putera terbaik mereka menjadi seorang Uskup yaitu (Alm) Mgr. Florentinus Sului, MSF., selain (Alm) Mgr. Sului, MSF., ada pula imam MSF yaitu Pastor F.X. Huvang Hurang, MSF., Pastor Andi Safio, MSF., dan Pastor Yan Mangun, MSF. Serta, Frater Heri, Pr (studi di Pastor Bonus Pontianak) dan Frater Ronalius Bilung, MSF., yang tengah menjalani studi di komunitas biara Sacra Familia, Malang dan ada dua seminaris di seminari Don Bosco, Samarinda. Paroki Keluarga Suci Tering masih dibawah asuhan para misionaris Keluarga Kudus MSF hingga sekarang dan pastor yang kini berkarya di Paroki Keluarga Suci Tering adalah Pastor Thomas Lukas Atsui Wiyantngow, MSF., berasal dari Kalimantan Tengah sebagai pastor kepala dan pastor pembantu adalah Pastor Ambrosius Labaruing, MSF., berasal dari Flores Lambata, kedua Pastor ini selalu berupaya agar kehidupan iman umat di Paroki Keluarga Suci ini semakin berkembang sebagaimana yang telah diharapkan oleh Gereja dan visi-misi misionaris MSF untuk berada di bumi Kalimantan Timur. 2. Letak Geografis Wilayah Paroki Keluarga Suci Tering Berdasarkan data paroki tahun 2013 jumlah umat Paroki Keluarga Suci Tering ±7.597 jiwa yang mencakup tiga kecamatan dari keseluruhannya Paroki Keluarga Suci Tering memiliki 17 stasi diantanya, yaitu Kecamatan Long Iram memiliki enam stasi yaitu stasi Anah, Long Iram, Keliwai, Long Daliq, Long Kelian dan Ujoh Halang, sedangkan Kecamatan Tering terbagi dalam sembilan stasi diantaranya stasi Gabung, Jelemuq, Kelubaq, Muara Batuq, Muara Leban,

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Muyut Aket, Mujan, Tering Seberang, Tukul dan Kecamatan Manaart Bulant memiliki dua stasi yaitu stasi Marimun dan Muara Kalaq. Berdasarkan data yang diperoleh, secara geografis Kecamatan Tering terletak di 1150 50’ 51” BT, 1160 14’ 11” BT dan 00 01’ LS, 00 27 LS adapun batas wilayahnya yaitu: a) Bagian Timur berbatasan dengan Kecamatan Manart Bulant b) Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Long Iram c) Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Long Iram d) Bagian Selatannya berbatasan dengan Kecamatan Barong Tongkok. Luas Wilayah Kecamatan Tering yaitu 496,68 Km2. Dengan keadaan wilayah berupa dataran rendah sepanjang sungai Mahakam, dan dengan luas wilayah tersebut, Kecamatan Tering membawahi 13 desa dengan komposisi penduduknya mayoritas suku dayak Tujung. Dengan luas wilayah Kecamatan Tering dengan komposisi penduduknya adalah sebagai berikut: Tabel 1. Jumlah Penduduk dan Suku Mayoritas 1. Tering Baru Jumlah Penduduk L P L+P 188 179 367 2. Tering Lama 711 639 3. Tering Seberang 1073 4. Tukul 5. No Nama Desa KK Suku Mayoritas 72 Dayak Bahau 1350 403 Dayak Bahau 1044 2117 549 Jawa 432 377 809 189 Dayak bahau Kelubaq 365 275 640 156 Dayak Tunjung 6. Purworejo 528 487 1015 287 Jawa 7. Jelemuq 413 390 803 228 Dayak Tunjung 8. Kalian Dalam 666 651 1317 389 Jawa 9. Muara Mujan 506 445 951 300 Dayak Tunjung 138 126 264 73 Dayak Tunjung 10. Muyub Ulu

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 11. Muyub Ilir 12. Muyut Aket 13. Gabung Baru 349 108 114 318 85 106 667 193 220 195 56 64 Dayak Tunjung Dayak Bahau Dayak Tunjung dan Jawa Jumlah 5591 5122 10713 2961 (File Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur, perbandingan data 2012 dan 2014: 2) Berikut adalah komposisi pemeluk agama di Kecamatan Tering dalam bentuk tabel adalah sebagai berikut: Tabel 2. Jumlah Pemeluk Agama No Nama Desa Islam 1. Tering Baru 21 2. Tering Lama 80 3. Tering Seberang 1449 4. Tukul 131 5. Kelubaq 45 6. Purworejo 989 7. Jelemuq 174 8. Kalian Dalam 1195 9. Muara Mujan 72 10. Muyub Ulu 267 11. Muyub Ilir 274 12. Muyut Aket 20 13. Gabung Baru 220 Jumlah 4937 (File Profil Paroki Keluarga Suci Tering Jumlah Pemeluk Agama Kristen Katolik Protestan 345 1 1261 6 322 367 612 64 466 128 6 20 531 86 62 57 400 470 282 112 162 11 4449 1322 Kutai Barat Kalimantan Timur, perbandingan data 2012 dan 2014: 3) 3. Gambaran Umum Paroki Keluarga Suci Tering Berdasarkan perbandingan data perkembangan umat Katolik Paroki Keluarga Suci Tering selama 4 tahun dari tahun 2010-2013 prosentase perkembangan umat Katolik di Paroki Tering berjalan di tempat dapat di lihat

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 bahwa jumlah umat di tahun 2010 adalah ±7264 jiwa, tahun 2011 adalah ±7272 jiwa, tahun 2012 berjumlah ±7421 jiwa, dan tahun 2013 berjumlah ±7264 jiwa. Perubahan jumlah umat tahun 2012 ke tahun 2013 penurunannya ±157 jiwa jika di persenkan 2,1%. Kehidupan sosial, politik dan budaya masyarakat berjalan dengan baik dimana posisi politik sangat membantu Gereja dalam pembangunan gereja di delapan stasi dan memberi bantuan kepada anak-anak untuk melanjutkan pendidikan dengan memberikan bea siswa bagi siswa yang tidak mampu. Masyarakat Tering masih sangat kuat berpegang pada tradisi dan adat istiadat, masyarakat masih memiliki tradisi melakukan ritual-ritual seperti Belian (untuk menyembuhkan orang sakit), pemberian makan nenek moyang dan tatacara perkawinan adat yang lebih didahulukan ketimbang perkawinan sakral Gereja. Pada umumnya masyarakat melangsungkan perkawinan adat dan menganggap pasangan suami-istri tersebut sudah hidup bersama dalam satu rumah sebagaima suami-istri, setelah itu beberapa bulan kemudian atau bahkan tahun baru keduanya melangsungkan perkawinan secara Gereja. Gereja memberi perhatian pada perkawinan yang seperti ini dengan memberikan masukan bahwa baik jika pasangan suami-istri yang akan melangsungkan perkawinan adat terlebih dahulu tetapi setelah itu keduanya langsung melangsungkan perkawinan secara Gereja agar hidup perkawinan mereka menjadi kepenuhan hidup Kristiani dan di anggap sah oleh Gereja dan negara.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Di satu sisi masyarakat memiliki kebudayaan ketika orang luar memasuki wilayah mereka dan tinggal bersama seperti pastor maka pastor tersebut akan diterima secara adat dengan mengenakan gelang pada tangan dan diberi nama baru dan nama baru itu adalah nama dayak seperti (Bayau, Tului, Bulan, dll). Tujuan pemberian nama baru supaya tamu atau pastor tersebut tidak dianggap sebagai orang asing lagi, melainkan telah menjadi bagian dari kelompok masyarakat setempat. Masyarakat di Kecamatan Tering terdiri dari berbagai suku budaya, yaitu suku dayak (Bahau, Tunjung, Benuaq), suku Jawa, Bali, Madura dan Timor (NTT). Dalam keberagaman suku masyarakat tetap hidup rukun satu sama lain, sebagaiman yang disemboyankan dalam Bhineka Tunggal Ika yang artinya walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Segi sosial ekonomi masyarakat di Paroki Keluarga Suci Tering mata pencahariannyabervariasi yaitu petani, Pegawai Negeri Sipil, pensiunan, nelayan, guru, pelajar dan lain-lain, kelompok petani pada umumnya menanam karet dan komoditas lainnya seperti palawija, bercocok tanam padi dan sayuran. Kebutuhan ekomoni umat di Proki Keluarga Suci Tering mayoritas mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena kekayaan alamnya begitu menjanjikan yaitu kesuburan tanahnya yang dapat menghasilkan panen yang berlimpah, sehingga data kesehatan di Kecamatan Tering menunjukkan tidak terdapat anak yang bergizi buruk. Karena semua kebutuhan sehari-hari terpenuhi dengan baik, berkat sumber daya alam dan potensi fisik serta kerja keras dan usaha dari seluruh masyarakat untuk mensejahterakan kehidupan, tetapi yang menjadi persoalan

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 adalah upaya meningkatkan kehidupan ekonomi yang baik dan sejahtera, ialah minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlatih dan berwawasan tinggi serta infrastruktur yang tidak memadai dalam mengelolah ekonomi rumah tangganya karena harga barang pokok mahal, sebab biaya hidup di wilayah Kalimantan dapat dikatakan sangat tinggi bila dibandingkan dengan pulau Jawa. Dalam kaitannya dengan kehidupan rohani, masalah ekonomi sangat mempengaruhi, ada paradigma yang sering kali muncul bahwa “Bila ekonominya baik, maka kehidupan rohaninya meningkat” artinya bahwa ada kesadaran umat untuk pergi ke gereja, tetapi apabila ekonominya mulai menurun maka kegiatan menggereja juga menjadi pasang surut karena umat lebih mengutamakan kebutuhan ekonomi dari pada kebutuhan rohaninya dan hal ini menjadi tantangan terbesar bagi Paroki Keluarga Suci Tering untuk meningkatkan kerinduan umat akan kebutuhan rohani. Pendidikan adalah solusi untuk meningkatkan sumber daya manusia yang lebih baik dan sejahtera, jika pendidikan rendah maka mutu kualitas penduduk pun menjadi rendah pendidikan di wilayah ini mendapat perhatian yang serius dari pemerintah daerah, karena masyarakat kurang memiliki pengetahuan yang luas akan masa yang akan datang artinya mereka lebih mengutamakan dan bergantung pada potensi alam yang kaya akan emas, kayu dan lain-lain sedangkan pemikiran untuk dunia pendidikan masih rendah. Karena paham dunia pendidikan masih rendah, gadis-gadis yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Menengah Pertama sebagian besar tidak melanjutkan pendidikan ke

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 jenjang yang lebih tinggi dan mereka lebih memilih untuk membangun hidup berumah tangga, demikian juga muda-mudinya. 4. Keadaan Perkawinan Usia Muda di Paroki Keluarga Suci Tering Paroki Keluarga Suci Tering mencakup 3 kecamatan yang masing- masing kecamatan memiliki stasi yang sulit dijangkau dengan kendaran roda dua maupun roda empat sehingga kunjungan pastoral dilakukan satu hari sebelum hari pelayanan karena harus menempuh satu hari perjalanan untuk sampai pada tempat pelayanan, jika menggunakan kendaraaan roda dua atau roda empat medan jalan sangat rawan di satu sisi masih hutan di sisi lain medan jalan berlubang dan belum ada pengaspalan jalan. Hal ini pula yang menjadi salah satu kendala dalam pelayanan pastor ke stasi-stasi karena jarak stasi satu ke stasi yang lain jauh pastor hanya bisa berkunjung satu kali dalam satu bulan. Umat di Paroki Keluarga Suci Tering sangat kuat berpegang pada tradisi budaya mereka salah satu yang tampak adalah upacara perkawinan secara adat lebih didahulukan ketimbang perkawinan yang sah dalam Gereja, baik pula bahwa perkawinan adat didahulukan dengan harapan bahwa setelah itu kedua mempelai dapat melangsungkan perkawinan secara Gereja, tetapi umumnya perkawinan adat didahulukan dan kedua pasangan tersebut sudah hidup sebagaimana suami-istri dalam hal itu perkawinan tidak bisa di katakan sah menurut Gereja dan negara, melihat hal itu masyarakat sekitar masih kurang peka dalam mengatasi hal ini. Sehingga ini menjadi persoalan bagi Paroki Keluarga Suci Tering untuk menyadarkan umat agar menghidupi perkawinan Kristiani seperti yang dituliskan

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 dalam nama paroki yaitu Keluarga Kudus yang utuh diharapkan keluarga Kristiani yang ada di Paroki Keluarga Suci Tering dapat mendahulukan perkawinan yang sakramen. Aspek pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat kurang mendapat perhatian, konsekuensinya masyarakat kurang memiliki pengetahuan yang luas akan masa depan anak-anak. Karena wawasan yang sempit sering kali, paroki menemukan gadis-gadis setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan pemudanya menikah di usia yang masih muda. Hal menjadi keprihatinan sendiri bagi Gereja karena pemuda-pemudi baik yang sudah bekerja maupun yang belum memiliki pekerjaan karena baru lulus sekolah memutuskan untuk membangun rumah tangga, diketahui ekonomi keluarga tercukupi tetapi niat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi masih kurang. Secara garis besar pelajar di Paroki Keluarga suci Tering berjumlah ±2500 jiwa, belum di jabarkaan lagi di dalam data Paroki Keluarga Suci Tering belum ada pengelompokkan pelajar SD, SMP mau pun SMA. Adapun jumlah orang muda yang menikah di usia muda dalam lima tahun terakhir ±100 orang yang berada pada rentang usia 15-25 tahun. Rata-rata yang menikah di usia muda adalah perempuan yang lulus Sekolah Menengah Atas, sedangkan pasangan mereka adalah laki-laki yang sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri dan jauh lebih tua dari mereka. Berikut akan di uraikan dalam tabel perkawinan di Paroki Keluarga Suci Tering dari tahun 20112016, tabel ini tidak menguraikan secara rinci perkawinan usia muda ini adalah gambaran umum yang diperoleh dari buku catatan nikah Paroki Keluarga Suci

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Tering Kutai Barat Kalimantan Timur dan telah didokumentasikan oleh peneliti adalah sebagai berikut: Tabel 3. Status Perkawinan Tahun 2011-2016 No Jumlah yang menikah Tahun 1. 23 pasangan 2011 2. 83 pasangan 2012 3. 40 pasangan 2013 4. 45 pasangan 2014 5. 15 pasangan 2015 6. 20 pasangan 2016 (Arsip Data Paroki Keluarga Suci tering Kutai Barat Kalimantan Timur catatan tangan, no 1163-1429) Paroki Keluarga Suci Tering merupakan paroki sejarah tertua di Keuskupan Agung Samarinda, tetapi semangat iman umat beberapa tahun terakhir menurun, dalam arti umat kurang terlibat dalam kehidupan menggereja padahal Gereja sangat mengharapkan orang muda yang akan menjadi tonggak masa depan untuk membawa perubahan besar bagi bangsa dan Gereja dengan menjadi pribadi yang berpendidikan dan bermartabat luhur memiliki visi dan misi kedepan untuk memberi sumbangan yang bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa terutama bagi Paroki Keluarga Suci Tering demi kesejahteraan semua orang. Bukan pertamatama memikirkan diri sendiri, melainkan demi kebahagiaan dan kesejahteraan bersama, maka dari itu Gereja membutuhkan sebuah animasi iman entah melalui rekatekese atau strategi pastoral yang jitu, Gereja juga mengaharapkan pemerintah turut ikut bagian dalam memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi pendidikan agar masyarakat membuka diri untuk menyadari betapa pentingnya menjadi pribadi yang berpendidikan dan memiliki masa depan yang lebih baik.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 B. PENELITIAN PERKAWINAN USIA MUDA DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR 1. Metodologi Penelitian a. Latar Belakang Penelitian Perkawinan usia muda adalah perkawinan yang dilaksanakan pada usia muda, yaitu bagi wanita berumur kurang dari 19 tahun dan bagi pria kurang dari 25 tahun. Perkawinan pada usia muda merupakan salah satu faktor penyebab pertumbuhan penduduk yang lebih cepat, atau mempercepat pertumbuhan penduduk (Suparlan, 1990: 90). Peneliti akan meneliti tentang Permasalahan-Permasalahan Perkawinan Usia Muda di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di Paroki Keluarga Suci Tering masih terdapat perkawinan usia muda di mana anakanak atau remaja yang baru menyelesaikan pendidikannya dari Sekolah Menengah Atas langsung melangsungkan perkawinan bahkan mereka yang masih duduk dibangku sekolah berhenti untuk membina rumah tangga daripada melanjutkan pendidikannya. Salah satu faktornya adalah pergaulan, pendampingan dan bimbingan dari dalam keluarga kurang mendapat perhatian terhadap pendidikan, hal ini benar terjadi karena salah satu dari keluarga peneliti adalah mereka yang telah melaksanakan perkawinan di usia muda. Oleh karena itu, untuk mengetahui secara nyata permasalahanpermasalahan yang terjadi pada perkawinan usia muda, maka penulis melakukan penelitian. Penelitian ini menyangkut tentang permasalahan-permasalahan yang

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 terjadi dalam perkawinan usia muda di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat, Kalimantan Timur. b. Jenis Penelitian Metode penulisan yang digunakan adalah metode kualitatif dengan memanfaatkan studi pustaka dan penelitian lapangan. Penelitian kualitatif yaitu sebagai prosedur penelitian yang mengjhasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Moleong, 1989: 3). Penelitian lapangan yaitu dengan menggunakan kuesioner dan instrumen wawancara yang topiknya bersumber dari rumusan masalah, penulis membahas hasil penelitian dan menarik kesimpulan terhadap penelitian tersebut, penulis memanfaatkan studi pustaka untuk mendukung pembahasannya dan memperkuat teori. c. Desain Penelitian Desain penelitian ini masih bersifat “ex post facto” yang artinya proses- proses yang dilakukan untuk meneliti suatu peristiwa yang telah ada dengan melihat kembali faktor-faktor yang dapat menimbulkan terjadinya peristiwa tersebut (Sugiyono, 1999: 7).

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 d. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 19 Desember31 Desember 2016. e. Populasi dan Sampel Populasi adalah suatu kumpulan menyeluruh dari suatu obyek yang merupakan perhatian peneliti. Obyek penelitian dapat berupa makhluk hidup, benda-benda, sistem prosedur, fenomena dan lain-lain (Kountur, 2003: 137). Populasi dalam penelitian ini ialah umat di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur, yang melakukan perkawinan di usia muda selama lima tahun terakhir yaitu tahun 2012-2016 dengan jumlah populasi ±100 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode non-random sampling yaitu proses pemilihan sampel dimana tidak semua anggota populasi memiliki kesempatan untuk dipilih. Sehingga dalam penelitian ini, sampel dipilih dengan cara membuat daftar dari anggota populasi dengan jumlah anggota ±100 orang kemudian dari daftar tersebut akan diambil sebagai sampel sebanyak ±80 orang, hal ini diperhitungkan sesuai data jumlah umat yang menikah usia muda tahun 2016 ±10 orang sehingga kemungkinan akan ada 100 orang yang menikah muda di tahun 2012-2016 (File Profil Paroki Keluarga Suci Tering data per-April 2016: 15). Peneliti melakukan penelitian dengan cara menyebarkan kuesioner melakukan wawancara terbuka. dan

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 f. Tekni dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah dengan penyebaran kuesioner berbentuk skla likert yang dilakukan dengan cara mendistribusikan kepada pasangan suami-istri yang melaksanakan perkawinan diusia muda dalam kurun waktu 5 tahun terakhi (2012-2016) di Paroki Keluarga Suci Tering, Kutai Barat, Kalimantan Timur. 2. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan skala likert skala ini digunakan untuk mengukur pendapat berupa sikap maupun persepsi seseorang atau kelompok terhadap suatu pertanyaan maupun pernyataan dengan demikian instrumen ini bersifat tertutup, artinya jawaban untuk masing-masing pertanyaan sudah disediakan di kolom jawaban, responden tinggal memilih salah satu alternatif jawaban yang sesuai dengan keadaan maupun kecenderungan hatinya. Sedangkan terbuka akan diajukan kepada 5 responden yang usia perkawinannya 1 sampai dengan 5 tahun. 3. Kisi-kisi Tabel 4. Kisi-kisi kuesioner penelitian No 1. 2. Variablel Pemahaman perkawinan usia muda Kesadaran yang mendalam tentang perkawinan usia muda No Item Kuesioner tertutup 1, 2 Kuesioner terbuka 1 Kuesioner tertutup 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11 Kuesioner terbuka 2 Jumlah 2 1 9 1

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 3. Kuesioner tertutup 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, Permasalahan perkawinan usia 24, 25, 26, 27, 28, 29, muda 30, 31, 32, 33, 34 Kuesioner terbuka 3, 4 Jumlah item pertanyaan tertutup Jumlah item pertanyaan terbuka Total 23 2 34 4 38

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN TENTANG PERMASALAHAN-PERMASALAH PERKAWINAN USIA MUDA DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR A. Hasil Penelitian Penulis akan menjabarkan hasil dari penelitian tentang permasalahan perkawinan usia muda yang ada di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan metode penyebaran kuesioner kepada responden sebanyak 75 ke paroki, lalu stasi Tering, Marimun, Muyup Ilir yang dibantu oleh pastor untuk menyebarkan dan stasi Keluabaq yang menyebarkan adalah peneliti sendiri. Penelitian tersebut dilaksanakan pada tanggal 22 Desember sampai dengan tanggal 30 Desember 2016 dan yang berhasil dikumpulkan adalah 52 lembar kuesioner. 1. Laporan Hasil Penelitian Pada bagian ini peneliti akan memaparkan hasil penelitian yang diperoleh dari data kuesioner yang diisi oleh responden yang menikah diusia muda dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2012-2016. Adapun hasil pengumpulan data dari kuesioner yang telah diperoleh adalah sebangai berikut:

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 a. Laporan Hasil Penelitian Kuesioner 1) Identitas Responden Keterangan: N : Jumlah Responden Tabel 5. Identitas Responden (N = 52) No 1. 2. Pernyataan Usia Perkawinan Sekarang: 2 Bulan 4 Bulan 10 Bulan 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 4.5 Tahun 5 Tahun Pernyataan Usia saat Menikah: 15 Tahun 16 Tahun 17 Tahun 18 Tahun 19 Tahun 20 Tahun 21 Tahun 22 Tahun 23 Tahun 24 Tahun 25 Tahun 26 Tahun 27 Tahun 28 Tahun 29 Tahun 30 Tahun 33 Tahun 35 Tahun Jumlah 1 1 1 14 12 7 8 1 7 Jumlah 1 2 4 12 9 16 15 12 9 6 6 1 5 2 0 1 2 1 Jumlah Prosentase (%) 1,9 1,9 1,9 26,9 23,1 13,5 15,4 1,9 13,5 % % % % % % % % % Jumlah prosentase (%) 1,9 % 3,8 % 7,7 % 23,1 % 17,3 % 30,8 % 28,8 % 23,1 % 17,3 % 11,5 % 11,5 % 1,9 % 9,6 % 3,8 % 0 % 1,9 % 3,8 % 1,9 %

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 3. 4. 5. 6. 7. Pernyataan Jumlah Anak: Tidak punya anak 1 Anak 2 Anak Pernyataan Suku: Timor Timor Timor Jawa Timor Dayak Dayak Dayak Jawa Dayak Jawa Jawa Pernyataan Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga Swasta Tani Wiraswasta Mahasiswa Tidak bekerja Tidak diketahui Pernyataan Tempat Tinggal: Kos-kosan Kontrakan Rumah Orang Tua Rumah Sendiri Mes Pernyataan Pendidikan Terakhir SD (Sekolah Dasar) SMP (Sekolah Menengah Pertama) SMA (Sekolah Menengah Atas) SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) D3(Diploma Tiga) S1 (Sarjana Satu) Jumlah 18 28 6 Jumlah 17 1 14 17 3 Jumlah 38 41 14 2 4 2 3 Jumlah 2 9 24 15 2 Jumlah 7 26 53 10 4 4 Jumlah prosentase (%) 34,6 % 53,8 % 11,5 % Jumlah prosentase (%) 32,7 % 1,9 % 26,9 % 32,7 % 5,8 % 0 % Jumlah prosentase (%) 73,1 % 78,8 % 26,9 % 3,8 % 7,7 % 3,8 % 5,8 % Jumlah prosentase (%) 3,8 % 17,3 % 46,1 % 28,8 % 3,8 % Jumlah Prosentase (%) 13,5 % 50 % 101,9 % 19,2 % 7,7 % 7,7 % Identitas responden pada tabel 4 memiliki 7 poin diantaranya; pertama, usia perkawinan sekarang artinya usia awal perkawinan hingga tahun 2016 dalam kurun waktu tahun 2012-2016. Usia perkawinan yang diperoleh bermacam-

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 macam ada yang baru berusia 2, 4 dan 10 bulan dengan jumlah prosentase masing masing 1,9%, sedangkan usia perkawinan 1-5 tahun prosentase yang lebih besar adalah usia perkawinan 1 tahun yaitu berjumlah 14 orang dengan prosentase 26,9% disusul dengan usia perkawinan 2 tahun berjumlah 12 orang dengan prosentase 23,1%, lalu disusul lagi dengan usia perkawinan 4 tahun berjumlah 8 responden dengan prosentase 15,4%, lalu yang 3 dan 5 tahun jumlah prosentasenya sama yaitu masing masing 7 orang dengan prosentase 13,5%. Dengan jumlah responden tersebut dapat diketahui bahwa jumlah responden yang usia perkawinannya 1 tahun dan 2 tahun lebih besar dimana jumlah respondennya berkisar 12-14 responden. Kedua, usia responden saat menikah. Peneliti menggabungkan usia responden dan pasangannya sehingga ada usia yang jauh lebih tua. Responden yang menikah diusia 15-24 tahun paling besar prosentasenya adalah usia 20 tahun dimana jumlah 16 orang dan prosentasenya menjadi 30,8% di susul usia 21 tahun berjumlah 15 orang dengan prosentase 28,8% lalu usia 18 dan 22 tahun samasama berjumlah 12 orang dengan prosentase yang sama pula yaitu 23,1%. Sedangkan usia diatas 25-35 tahun paling besar prosentasenya adalah usia 25 tahun pada tabel tercantum 6 orang dengan prosentase 11,5% dan disusul usia 27 tahun yaitu 5 orang dengan prosentase 9,6%. Kesimpulannya, usia responden saat menikah yang paling banyak adalah usia 18-22 tahun. Ketiga, jumlah anak dalam kurun waktu 1 sampai dengan 5 tahun responden paling banyak memiliki satu anak dan separuhnya belum memiliki keturunan. Jumlah responden yang memiliki satu anak ada 28 orang dengan

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 prosentase 53,8% dan pasangan yang belum memiliki keturunan berjumlah 18 orang dengan prosentase 34,6% sedangkan yang memiliki dua anak jauh lebih sedikit yaitu berjumlah 6 orang dengan prosentase 11,5% saja. Artinya paling banyak responden memiliki satu anak ketimbang dua anak dengan kata lain mereka memiliki program yang baik dalam melahirkan, tetapi di satu sisi ada juga masih belum memiliki keturunan dengan harapan besar segera memiliki keturunan. Keempat, suku untuk mengetahui suku apa saja yang paling banyak menikah dapat dilihat pada tabel no 5 disana dicantumkan jumlah responden yang bersuku Timor-Timor dan suku Dayak-Dayak sama-sama memiliki jumlah responden 17 orang dengan prosentase yang sama pula yaitu 32,7% dan suku Timor-Dayak berjumlah 14 orang dengan prosentase 26,9%, dan yang paling besar prosentasenya adalah suku Timor-Timor dan Dayak-Dayak. Sedangkan suku Jawa-Dayak hanya berjumlah 3 orang dengan jumlah prosentase sedikit yaitu 5,8% dan Timor-Jawa 1 orang dengan jumlah prosentase 1,9% sedangkan suku Jawa-Jawa tidak ada 0%. Artinya yang paling mendominasi suku yang paling banyak menikah adalah suku Timor-Timor dan Dayak-Dayak dengan jumlah prosentase 32,7% dan 26,9%. Kelima, pekerjaan karena merupakan hal penting bagi kelangsungan hidup berumah tangga, sebab dengan adanya pekerjaan yang tetap kebutuhan rumah tanggapun terjamin, pekerjaan yang paling mendominasi terlihat pada tabel 3 no 5 adalah pekerja swasta yaitu berjumlah 41 orang dengan prosentase 78,8% lalu di susul dengan Ibu Rumah Tangga dengan jumlah 38 orang dan

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 prosentasenya 73,1%, lalu pekerjaan tani berjumlah 14 orang dengan prosentase 26,9%. Mahasiswa berjumlah 4 orang dengan prosentase 7,7%, dan yang tidak mengisi berjumlah 3 orang dengan prosentase 5,8% lalu yang terakhir adalah pekerjaan wiraswasta dan yang tidak bekerja ini berjumlah 2 orang dengan masing-masing prosentasenya 3,8%. Kesimpulannya pekerjaan yang paling mendominasi adalah pekerjaan swasta, ibu rumah tangga (IRT) dan tani, artinya pekerjaan swasta ini bisa dikatakan dapat menjamin kelangsungan hidup dalam keluarga di mana pekerjaan swasta adalah pekerjaan yang diketuai oleh seorang bos, dijamin kehidupan rumah tangga terjamin dengan baik. Keenam adalah tempat tinggal rata-rata yang mendominasi di sini adalah tinggal di rumah orang tua berjumlah 24 orang dengan prosentase 46,1%, lalu yang tinggal di rumah sendiri berjumlah 15 orang dengan prosentase 28,8% dan prosentase paling sedikit adalah mereka yang tinggal di kos-kosan dan mes berjumlah 2 orang dengan masing-masing prosentase 3,8%. Sedangkan yang mengontrak berjumlah 9 orang dengan prosentase 17,3%. Dengan begitu jelas bahwa mereka yang menikah di usia muda rata-rata belum memiliki rumah sendiri, rata-rata mereka tinggal bersama orang tua atau pun bersama mertua. Ketujuh pendidikan terakhir, saat memutuskan untuk menikah yang paling mendominan pada item no 7 adalah SMA dengan jumlah responen 53 prosentasenya 101,9% sangat jelas bahwa kebanyakan yang menikah di usia muda adalah mereka yang telah lulus SMA lalu diikuti dengan jumlah responden 26 SMP dengan prosentase 50% dan 19,2% lulusan SMK dengan responden sejumlah 10. Kemudian 13,5% lainnya adalah lulusan SD dengan responen

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 sejumlah 10 dan lulusan D3 dan S1 yang masing-masing responden sejumlah 4 dengan prosentasenya jauh lebih sedikit yaitu 7,7% dibandingkan dengan lulusan sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas maupun kejuruan. 2) Hasil Penelitian Kuesioner Penelitian terhadap pasangan suami-istri yang usia perkawinan 1 sampai dengan 5 tahun sebagai responden. Adapun hasil penelitian sebagai berikut: Keteterangan: SS : (Sangat Setuju), S : (Setuju), KS : (Kurang Setuju), TS : (Tidak Setuju), STS : (Sangat Tidak Setuju 1. Saya mengetahui apa itu perkawinan usia muda Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 9 34 5 1 3 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 82% dari 43 responden yang masingmasing prosentasenya 17% dan 34%, 5 responden diantaranya menyatakan kurangsetuju sebanyak 10%, dan 4 lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju 8% yang masing-masing prosentasenya 2% dan 6%.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Hasil penelitian membuktikan bahwa responden sangat memahami tentang perkawinan usia muda, dan hasil ini membuktikan sangat baik. Tetapi, dalam kuesioner terbuka sebagian besar pasangan tidak memahami apa itu perkawinan usia muda hal itu terbukti memalui hasil wawancara (Lihat lampiran 3 no. 12) hal itu membuktikan bahwa ada permasalahan dan mereka butuh pendampingan khusus dalam memahami arti perkawinan itu sendiri. 2. Saya mengetahui apa itu tujuan perkawinan Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 14 29 6 2 0 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 84% dari 43 pasangan yang masingmasing prosentasenya 27% dan 57%, 6 responden menyatakan kurang setuju sebanyak 12% dan 2 responden lainnya menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju sebanyak 4% yang masing-masing prosentasenya 4% dan 0%. Hasil penelitian membuktikan bahwa responden sangat memahami tentang tujuan perkawinan, sebagian responden menyatakan kurang setuju bahkan

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 responden menyatakan sangat tidak setuju jika mereka tidak mengetahui tujuan perkawinan dan hasil ini membuktikan prosentase yang sangat baik, tetapi jika dilihat dalam hasil wawancara pada nomor 1 di atas tentang arti perkawinan usia muda ternyata sebagian besar masih belum memahami arti dari perkawinan itu sendiri dengan demikian bagaimana mereka dapat memahami tujuan dari perkawinan, demikian juga yang dikeluhkan dalam pertemuan singkat dengan pastor pembantu yaitu Pastor Ambros MSF (23/12/2016), ia mengatakan bahwa ketika pasangan yang akan menikah diuji dalam ruang kanonik, masing-masing diminta untuk menjawab apa itu tujuan perkawinan mereka tidak dapat menjawabnya dengan benar ungkap pastor. Demikian mereka sehungguhnya belum mengetahui apa itu tujuan perkawinan, dalam hal ini pernyataan yang terdapat dalam hasil kuesioner tertutup berbeda dengan hasil kuesioner terbuka. 3. Saya menikah diusia muda karena saya dan pasangan telah saling mencintai, merasa takut kehilangan dan merasa kami sudah siap untuk menikah. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 22 22 6 1 1

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat repon sangat setuju dan setuju sebanyak 84% dari 44 pasangan yang masingmasing dengan prosentase 42% dan 42%, 6 responden menyatakan kurang setuju sebanyak 12% dan 2 diantaranya menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju sebanyak 4% dengan masing-masing prosentase 2% dan 2%. Hasil penelitian membuktikan bahwa responden menyatakan setuju menikah diusia muda karena mereka telah saling mencintai, merasa takut kehilangan dan merasa sudah siap untuk menikah, dan sangat kecil yang menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju jika mereka menikah diusia muda karena mereka telah saling mencintai, merasa takut kehilangan dan merasa belum siap untuk menikah, sehingga dalam kasus ini membuktikan tidak ada permasalahan. 4. Karena pergaulan yang bebas mendorong saya untuk menikah muda. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 11 10 13 9 9

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 40% dari 21 responden yang masingmasing prosentasenya 21% dan 19%, 13 responden diantaranya menyatakan kurang setuju sebanyak 25% dan 18 lainya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 34% dengan masing-masing prosentasenya 17% dan 17%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pergaulan yang bebas tidak mendorong mereka untuk menikah di usia muda dan sebagian kecil mengatakan setuju bahwa mereka menikah usia muda, karena pergaulan bebas. Walaupun hasil ini menunjukkan pergaulan bebas tidak menjadi alasan untuk menikah di usia muda, tetapi hal ini perlu diperhatikan. 5. Saya menikah muda karena saya telah hamil atau menghamili kekasih saya. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 15 5 10 9 13 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 39% dari 20 responden yang masingmasing prosentasenya 29% dan 10%, 10 responden diantaranya menyatakan

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 kurang setuju sebanyak 19% dan 22 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 42% dengan masing-masing prosentase 25% dan 17%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menikah di usia muda bukan karena telah hamil atau menghamili kekasihnya dan sebagian kecil menyatakan responden menikah karena telah hamil atau menghamili kekasihnya melalui hasil tersebut dapat dikatakan bahwa hal ini baik. 6. Teman sebaya saya sudah banyak yang menikah maka saya pun terdorong untuk menikah Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 0 3 15 25 9 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 6% dari 3 responden yang masingmasing prosentasenya 0% dan 3%, 15 responden diantaranya menyatakan kurang setuju sebanyak 29% dan 34 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 65% dengan masing-masing prosentase 17% dan 48%.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menikah di usia muda bukan karena dipengaruhi oleh teman sebayanya yang sudah banyak menikah, dalam hal ini tidak ada masalah karena mereka menikah atas dasar kemauan dari masing-masing pribadi dan sudah siap membangun rumah tangga. 7. Teknologi yang semakin canggih memudahkan saya untuk mengekspose seks di media masa dan membuat saya terbuka terhadap seks dan mendorong saya untuk memilih menikah muda. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 2 5 16 16 13 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 13% dari 7 responden yang masingmasing prosentase 4% dan 9%, 16 responden diantaranya menyatakan kurang setuju sebanyak 31% dan 29 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 56% dengan masing-masing prosentase 31% dan 25%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa teknologi bukan menjadi sarana untuk mengekspose seks dengan bebas yang mendorong supaya menikah muda,

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 tetapi sebagian kecil lainnya menyatakan setuju bahwa teknologi mempermudah bagi mereka untuk mengekspose seks dan mendorong mereka menikah muda melalui hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa alat komunikasi seperti telepon genggam untuk mengakses internet belum memadai di desa meski mereka memiliki perangkat yang canggih, sebab jaringan di desa memang sangat sulit untuk dijangkau. 8. Saya lebih baik menikah diusia muda daripada melanjutkan pendidikan. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 4 14 11 15 8 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 35% dari 18 responden yang masingmasing prosentasenya 8% dan 17%, 11 responden diantaranya menyatakan kurang setuju sebanyak 21% dan 23 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 44% dengan masing-masing prosentase 27% dan 19%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan tidak setuju jika lebih baik menikah di usia muda daripada melanjutkan pendidikan,

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 sebagian kecil menyatak setuju jika lebih baik menikah di usia muda daripada melanjutkan pendidikan. Hal ini membuktikan bahwa mereka sadar bahwa pendidikan itu sangat penting bagi masa depan, tetapi yang menjadi pertanyaan mengapa mereka menikah muda, sedangkan mereka sadar bahwa pendidikan itu sangat penting. 9. Orang tua mendukung saya dan pasangan menikah muda. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 12 25 9 2 3 Tabel dan diagram diatas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 72% dari 37 responden yang masingmasing prosentasenya 23% dan 49%, 9 responden diantaranya menyatakan kurang setuju sebanyak 18% dan 5 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 10% dengan masing-masing prosentase 6% dan 4%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa orang tua sangat mendukung responden menikah muda, sebagian kecil menyatakan tidak setuju jika menikah di

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 usia muda. Hasil ini membuktikan bahwa tidak ada masalah sebab orang tua kedua mempelai sama-sama mendukung mereka dan tidak ada masalah di sana. 10. Saya menikah karena keluarga saya tidak memiliki penghasilan lebih untuk menyekolahkan saya ke tingkat yang lebih tinggi. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 9 13 10 15 5 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 61% dari 32 responden yang masingmasing prosentasenya 17%, 25% dan 19% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini kurang setuju masuk dalam lingkaran setuju sebab prosentase dari setuju dan tidak setuju lebih besar prosentase setuju dan 20 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 39% dengan masing-masing prosentase 10% dan 29%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan setuju menikah di usia muda karena keluarga tidak memiliki penghasilan lebih untuk menyekolahkan ke tingkat yang lebih tinggi dan sebagian kecil menyatakan tidak

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 setuju. Dengan hasil ini dapat dilihat bahwa ternyata mereka mikah muda karena ada alasan tidak memiliki penghasilan yang lebih untuk melanjutkan pendidikan karena faktor ekonomi, jika dilihat dari hasil survei paroki mereka sesungguhnya memiliki penghasilan lebih dari biasanya jika mereka mau berusaha dan pemerintahpun telah menyediakan dana beasiswa bagi mereka yang tidak mampu salah satunya, dinas pendidikan bekerjasama dengan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 11. Pasangan saya sudah memiliki pekerjaan yang baik dan memiliki penghasilan yang lebih sehingga ada anggapan bahwa kebutuhan hidup saya akan selalu terpenuhi. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 3 13 22 9 5 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 73% dari 38 responden yang masingmasing prosentasenya 6%, 25% dan 42% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkaran setuju sebab prosentase dari

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 setuju dan tidak setuju lebih besar setuju dan 14 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 27% dengan masing-masing prosentase 10% dan 17%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan setuju menikah usia muda karena salah satu pasangannya sudah memiliki pekerjaan yang baik dan memiliki penghasilan yang lebih sehingga ada angapan bahwa kebutuhan hidupnya akan terpenuhi dan sebagian kecil menyatakan tidak setuju jika mereka menikah karena salah satu pasangannya telah memiliki pekerjaan dan penghasilan lebih. Dengan hasil ini dapat dikatakan bahwa mereka menikah karena salah satu pasangan telah memiliki pekerjaan dan berpenghasilan lebih, data paroki menunjukkan kebanyakan yang menikah usia muda adalah perempuan lulusan SMA atau SMP, hasil ini menunjukkan bahwa pergaulan anak-anak SMA dan SMP memiliki unsur pergaulan bebas. 12. Pilihan saya menikah dengan pasangan saya adalah pilihan yang tepat. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 18 24 7 3 0

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 94% dari 48 responden yang masingmasing prosentasenya 35%, 46% dan 13% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini kurang setuju masuk dalam lingkaran setuju sebab prosentase setuju dan tidak setuju lebih besar prosentase setuju dan 3 responden diantaranya menyatakan sangat tidak setuju dan setuju sebanyak 6% dengan masing-masing prosentase 6% dan 0%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan setuju menikah dengan pasangannya merupakan pilihan yang tepat dan sebagian kecil menyatakan tidak setuju jika pilihannya menikah dengan pasangan adalah pilihan yang tepat, dengan demikian dapat dikatakan hasil penelitian ini menunjukkan prosentase yang sangat baik. 13. Hidup perkawinan saya sangat harmonis (2 responden tidak memilih) Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 8 21 14 5 4

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 82% dari 43 responden yang masingmasing prosentasenya 15%, 40% dan 27% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini kurang setuju masuk dalam lingkaran setuju sebab prosentase dari setuju dan tidak setuju lebih besar prosentase setuju dan 7 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 13% dengan masing-masing prosentase 6% dan 8% 2 responden diantaranya tidak memilih sehingga 5% tidak terhitung di dalamnya. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan setuju hidup perkawinan mereka sangat harmonis dan sangat kecil menyatakan hidup perkawinan mereka tidak harmonis dua di antaranya tidak ada yang memilih penyataan hidup perkawinan harmonis, hasil ini menjunjukkan prosentase yang sangat baik. 14. Saya selalu bersama pasangan saya dalam untung, malang, sehat, sakit, dan dalam suka maupun duka. Keterangan SS S KS TS Suami/Istri 24 18 8 1 STS 1

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 96% dari 50 responden yang masingmasing prosentasenya 46%, 35% dan 15% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini kurang setuju masuk dalam lingkaran setuju sebab prosentase dari setuju dan tidak setuju lebih besar prosentase setuju dan 2 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 4% dengan masing-masing prosentase 2% dan 2%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan setuju akan selalu besama pasangan dalam untung, malang, sakit, sehat dan dalam suka maupun duka dan sangat kecil sekali yang menyatakan tidak setuju terhadap pernyataan tersebut ini menunjukkan prosentase yang sangat baik. 15. Saya belum mengenal lebih dalam sifat dan karakter pasangan saya dengan baik. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 1 18 13 17 3

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 37% dari 19 responden yang masingmasing prosentasenya 2% dan 35% dan 33 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 64% dengan masing-masing prosentase 6%, 33% dan 25% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini kurang setuju masuk dalam lingkarang tidak setuju sebab prosentase tidak setuju dan setuju lebih besar prosentase tidak setuju. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan tidak setuju jika mereka belum mengenal lebih dalam sifat dan karakter pasangan, artinya responden telah saling mengenal satu sama lain baik sifat maupun karakternya dengan baik dan hasil ini membuktikan prosentase yang baik. 16. Saya dan pasangan belum terbuka satu sama lain dalam hal berbagi rasa suka maupun duka. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 6 17 16 13 0

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 75% dari 39 responden yang masingmasing prosentasenya 11%, 33% dan 31% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini kurang setuju masuk dalam lingkaran setuju sebab prosentase tidak setuju dan setuju lebih besar prosentase setuju, 13 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 25% dan 0%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan mereka belum terbuka satu sama lain dalam hal berbagi rasa cinta berbagi rasa suka maupun duka, yang artinya mereka yang menikah muda belum saling terbuka satu sama lain. 17. Saya menyesal karena menikah di usia muda. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 10 6 12 17 7 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 31% dari 16 responden yang masingmasing prosentasenya 19% dan 12%, 36 responden lainnya menyatakan sangat

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 69% dengan masing-masing prosentase 33%, 13% dan 33% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkaran tidak setuju sebab prosentase tidak setuju lebih besar dari prosentase setuju. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan mereka tidak menyesal karena menikah diusia muda, yang artinya hidup perkawinan mereka tidak ada masalah berbeda dengan hasil wawancara terhadap salah satu responden yang usia perkawinannya 5 tahun ia mengungkapkan bahwa menikah di usia muda tidak ada hal yang menguntungkan (Lihat Lampiran 3 no. 15-16). 18. Saya merasa menyesal atau rugi karena tidak melanjutkan pendidikan. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 8 18 14 8 4 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 77% dari 40 responden yang masingmasing prosentasenya 15%, 35% dan 27% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkaran setuju sebab prosentase setuju

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 lebih besar dari prosentase tidak setuju, 12 responden diantaranya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 23% dengan masing-masing prosentase 15% dan 8%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan setuju karena merasa menyesal karena tidak melanjutkan pendidikan artinya responden sadar bahwa pendidikan sangat penting bagi kehidupan selanjutnya dan memiliki keinginan dan harapan kelak anak-anak yang dilahirkan akan mendapat pendidikan yang lebih baik. 19. Saya kadang-kadang mendapat kata-kata kasar dari pasangan ketika kami mengalami masalah. Keterangan Suami/Istri SS S KS TS STS 7 20 9 8 8 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 70% dari 36 responden yang masingmasing prosentasenya 14%, 39% dan 17% menyatakan kurang setuju dalam hal

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 ini prosentase kurang setuju masuk lingkaran setuju karena prosentase setuju lebih besar dari prosentase tidak setuju. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan setuju sebab kadang-kadang mendapat kata-kata kasar dari pasangan ketika mengalami masalah, yang artinya terkadang ada kekerasan secara verbal di dalam rumah tangga, hal ini membuktikan bahwa orang muda terkadang memang sulit mengendalikan emosi sehingga secara sadar maupun tidak sadar mereka telah melakukan kekerasan secara verbal. 20. Karena kesibukan pekerjaan, saya dan anak-anak kurang mendapat perhatian lebih dari pasangan. (satu responden tidak memilih) Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 1 11 11 20 8 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat repon sangat setuju dan setuju sebanyak 23% dari 12 responden yang masingmasing prosentasenya 2% dan 21%, 39 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 76% dengan masing-masing prosentase

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 39%, 16% dan 21% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkaran prosentase tidak setuju sebab prosentase tidak setuju lebih besar dari prosentase setuju. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan tidak setuju karena kesibukan pekerjaan pasangan dan anak-anak kurang mendapat perhatian lebih, artinya anggota keluarga adalah hal terpenting sehingga selalu mendapat perhatian meski pasangan suami atau istri memiliki kesibukan pekerjaan hasil penelitian ini menunjukkan prosentase yang sangat baik. 21. Saya atau pasangan tidak pernah ada waktu untuk berkumpul bersama anakanak dan keluarga. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 1 6 11 25 9 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 24% dari 7 responden yang masingmasing prosentasenya 2% dan 12%, 45 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 86% dengan masing-masing prosentase

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 48%, 17% dan 21% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkaran tidak setuju sebab prosentase tidak setuju lebih besar dari prosentase setuju. Hasil penelitian ini membuktikan responden menyatakan tidak setuju jika pasangannya tidak pernah memiliki waktu maupun kesempatan untuk berkumpul bersama anak-anak dan keluarga yang artinya bahwa mereka selalu memiliki waktu khusus untuk berkumpul bersama anak-anak maupun keluarga dan hasil ini menunjukkan prosentase yang sangat baik. 22. Saya dan pasangan sehari-hari berkomunikasi menggunakan telepon genggam atau internet. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 6 6 11 20 9 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 24% dari 12 responden yang masingmasing prosentasenya 12% dan 12%, 40 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 76% dengan masing-masing prosentase

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 17%, 38% dan 21% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkaran tidak setuju sebab prosentase tidak setuju lebih besar dari prosentase setuju. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan tidak setuju jika dalam sehari-hari mereka berkomunikasi menggunakan telepon genggam atau internet artinya dalam sehari-hari mereka berkomunikasi tidak menggunakan telepon genggam atau pun internet dan prosentase di atas menunjukkan prosentase yang sangat baik. 23. Kumunikasi dalam keluarga saya kurang baik dan tidak lancar. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 2 12 8 19 11 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 27% dari 14 responden yang masingmasing prosentasenya 4% dan 23%, 38 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 73% dengan masing-masing prosentase sebanyak 21%, 37% dan 15% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 kurang setuju masuk dalam lingkaran tidak setuju sebab prosentase tidak setuju lebih besar dari prosentase setuju. Hasil penelitian ini membuktikan responden menyatakan komunikasi di dalam keluarga baik dan lancar, dengan demikian prosentase ini menunjukkan prosentase yang sangat baik. 24. Saya dan pasangan belum ada relasi yang mendalam karena kurang komunikasi secara personal. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 2 10 12 21 7 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat responden sangat setuju dan setuju sebanyak 23% dari 12 responden yang masingmasing prosentasenya 4% dan 19%, 40 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 14%, 40% dan 23% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkaran tidak setuju sebab prosentase tidak setuju lebih besar dari prosentase setuju.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Hasil penelitian ini membuktikan responden menyatakan tidak setuju jika dalam hubungan suami-istri belum ada relasi yang mendalam karena kurang komunikasi secara personal, yang artinya dalam hubungan suami-istri mereka sudah memiliki relasi yang mendalam dalam hal komunikasi secara personal, artinya keduanya tidak saling menutupi satu sama lain. 25. Saya mendapat perlakuan kasar dari pasangan saya seperti di pukul (kekerasan fisik), kekerasan psikis, kekerasan seksual, kekerasan verbal (katakata) maupun non-verbal. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 3 15 8 15 11 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 35% dari 18 responden yang masingmasing prosentasenya 6% dan 29%, 34 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 65% dengan masing-masing prosentase 21%, 29% dan 15% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 setuju masuk dalam prosentase tidak setuju sebab prosentase tidak setuju lebih besar dari prosentase setuju. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan tidak setuju jika mereka mendapat perlakuan kasar dari pasangan seperti di pukul (kekerasan fisik, psikis, seksual maupun kekerasan secara verbal atau non-verbal), yang artinya mereka tidak mendapat perlakukan seperti yang disebutkan di atas tetapi hasil penelitian pada pertanyaan nomor 19 di atas menyatakan terkadang mendapat perlakuan kasar dari pasangan ketika mengalami masalah, hasil ini menunjukkan bahwa kekerasan secara verbal terkadang menjadi permasalahan mereka dan bisa jadi kekerasan non-verbal muncul ketika kekerasan verbal itu terjadi. 26. Dalam keluarga saya sering mengalami krisis ekonomi. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 13 21 7 9 2 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 89% dari 41 responden yang masing-

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 masing prosentase 25%, 40% dan 14% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkaran setuju sebab prosentase setuju lebih besar dari prosentase tidak setuju, selain itu 11 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 21% dengan masingmasing prosentase 4% dan 17%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan setuju jika dalam keluarga sering mengalami krisis ekonomi, prosentase ini memiliki nilai yang sangat tinggi artinya mereka yang menikah di usia muda memiliki permasalahan ekonomi keluarga hal ini juga terbuki dalam hasil wawancara pada nomor 4 (R5) menyatakan faktor utama yang mempengaruhi keharmonisan rumah tangga adalah faktor ekonomi (Lihat lampiran 3 no. 16). 27. Penghasilan dalam sebulan belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya (1 responden tidak memilih). Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 13 19 8 8 3

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 78% dari 40 responden yang masingmasing prosentasenya 25%, 37% dan 16% menyatakan tidak setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkaran setuju sebab prosentase setuju lebih besar dari prosentase tidak setuju, selain itu 12 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan setuju sebanyak 22% dengan masing-masing prosentase 16% dan 6%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan setuju karena penghasilan dalam sebulan belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga, prosentase ini sangat tinggi artinya mereka memiliki masalah dalam hidup rumah tangganya dengan masalah ekonomi dan dari hasil penelitian terbuka terhadap (R1 dan R5) menyatakan faktor utama yang mempengaruhi keharmonisan adalah faktor ekonomi, dimana kebutuhan sehari-hari dalam keluarga kadang kurang (Lihat lampiran 3 no. 11 dan 15). 28. Saya dan pasangan belum memiliki tabungan masa depan. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 5 22 13 6 6

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 77% dari 40 responden yang masingmasing prosentase 10%, 43% dan 25% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini kurang setuju masuk dalam lingkaran setuju sebab prosentase setuju lebih besar dari prosentase tidak setuju, selain itu 12 responden diantaranya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 23% dengan masing-masing prosentase 11% dan 12%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan setuju karena responden belum memiliki tabungan masa depan. Hasil prosentase ini mendapat nilai sangat tinggi, dan menjadi masalah bagi mereka yang menikah di usia muda sebab belum memiliki tabungan masa depan, sebab umumnya orang muda belum bisa mengelola keuangan dengan baik. 29. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya dan pasangan belum bisa menanamkan sikap hemat dalam pengeluaran. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 7 23 9 11 2

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 75% dari 39 responden yang masingmasing prosentase 14%, 44% dan 17% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkaran setuju sebab prosentase setuju lebih besar dari prosentase tidak setuju, selain itu 13 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 25% dengan masingmasing prosentase 21% dan 4%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan setuju karena dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari belum bisa menanamkan sikap hemat, prosentase ini tinggi artinya mereka belum bisa menanamkan sikap hemat dalam pengeluargan sehari-hari, sehingga sering mengalami krisis ekonomi keluarga, dalam kenyataanya orang muda memang sulit mengatur keuagan dengan baik. 30. Saya dan pasangan belum memiliki pekerjaan tetap Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 12 19 9 8 4

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 77% dari 40 responden yang masingmasing prosentase 23%, 37% dan 17% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkaran setuju sebab prosentase setuju lebih besar dari prosentase tidak setuju, selain itu 12 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 23% dengan masingmasing prosentase 15% dan 8%. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan setuju karena mereka belum memiliki pekerjaan tetap, hal ini menjadi masalah bagi mereka yang menikah di usia muda, sebab keduanya sama-sama belum memiliki pekerjaan tetap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apa lagi ditambah keduanya belum bisa menanamkan sikap hemat dan belum memiliki tabungan, terkadang itu bisa menjadi sumber masalah bagi pasangan dan menjadikan hubungan keduanya tidak harmonis. 31. Saya dan pasangan tidak jujur atau terbuka dalam hal keuangan rumah tangga Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 2 5 10 20 15

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 14% dari 7 responden yang masingmasing prosentase 4% dan 10%, 45 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 86% dengan masing-masing prosentase 38%, 29% dan 19% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam prosentase tidak setuju sebab prosentase tidak setuju lebih besar dari prosentase setuju. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan tidak setuju, sebab keduanya saling terbuka dalam hal keuangan rumah tangga ini menunjukkan bahwa mereka telah saling terbuka satu sama lain dalam hal keuangan rumah tangga, hasil ini menunjukkan prosentase yang baik. 32. Saya dan pasangan belum memiliki momongan. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 9 4 3 12 24 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 25% dari 13 responden yang masing-

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 masing prosentasenya 17% dan 8%, 39 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 75% dengan masing-masing prosentase 23%, 46% dan 6% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam prosentase tidak setuju sebab prosentase tidak setuju lebih besar dari prosentase setuju. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan tidak setuju jika mereka belum memiliki momongan, hal ini terbukti benar dapat dilihat pada tabel 5 identitas responden no. 3 menunjukkan bahwa mereka telah memiliki momongan. 33. Setelah menikah pasangan saya tidak mau berdoa bersama lagi. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 1 11 15 17 8 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 23% dari 12 responden yang masingmasing prosentasenya 2% dan 21%, 35 responden lainnya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 77% dengan masing-masing prosentase

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 33%, 15% dan 29% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkarang tidak setuju sebab prosentase tidak setuju lebih besar dari prosentase setuju. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa, responden menyatakan tidak setuju jika, setelah menikah mereka tidak ingin berdoa bersama lagi yang artinya setelah mereka menikah pasangan suami-istri muda ada waktu untuk berdoa bersama prosentase ini menunjukkan nilai yang sangat baik. 34. Saya dan pasangan menikah beda gereja atau beda agama. Keterangan SS S KS TS STS Suami/Istri 7 3 2 16 24 Tabel dan diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sangat setuju dan setuju sebanyak 19% dari 10 responden yang masingmasing prosentasenya 13% dan 6%, 42 responden lainya menyatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju sebanyak 81% dengan masing-masing prosentase 31%, 46% dan 4% menyatakan kurang setuju, dalam hal ini prosentase kurang setuju masuk dalam lingkaran tidak setuju sebab prosentase tidak setuju lebih besar dari prosentase setuju.

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden menyatakan tidak setuju, jika menikah beda gereja atau beda agama. Artinya mereka menikah dengan pasangan yang seiman, sebab pasangan yang seiman akan menjadikan kehidupan rumah tangga menjadi aman dan tidak menjadi beban jika keduanya telah memiliki anak, bukan berarti pasangan yang tidak seiman tidak aman rumahtangganya tetapi akan sangat sulit jika keduanya memiliki anak dan hal ini menunjukkan nilai positif. Demikian hasil perolehan data penelitian di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur, kepada pasangan keluarga muda Katolik yang usia perkawinannya 1 sampai dengan 5 tahun. Adapun faktor-faktor yang mendukung dan yang tidak mendukung dalam upaya mengetahui permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam perkawinan usia muda dapat dilihat pada diagram berikut:

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PERSOALAN PALING URGEN BERDASARKAN PENELITIAN TENTANG PERMASALAHAN PERKAWINAN USIA MUDA DI PAROKI KELUARGA SUCI TERINGKUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR A. KETERBATASAN PENELITIAN Peneliti menyadari adanya keterbatasan pada hasil penelitian ini, keterbatasan ini berawal dari pengumpulan data responden, yaitu kurangnya kelengkapan data paroki, sehingga menjadi kendala tersendiri bagi peneliti untuk melangsungkan penelitian dalam melengkapi data, penelitian ini juga terdapat beberapa responden yang tidak menjawab beberapa pertanyaan kuesioner, sehingga akan ada sedikit perbedaan prosentase, selain itu pertanyaan kuesioner penelitian ini masih memiliki keterbatasan yaitu kemungkinan memiliki kesalahan dalam hal pembuatan kuesioner yang tidak tepat sehingga pertanyaan kuesioner belum mengena pada responden untuk itu kuesioner ini dapat dikembangkan lagi agar semakin menemukan faktor pendukung dan penghambat lainnya dalam upaya mengetahui permasalahan-permasalahan perkawinan pada usia muda. Pertanyaannya apakah ada permasalahan yang terjadi dalam perkawinan usia muda di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur, tentu pertanyaan inilah yang menjadi permasalahannya. Tetapi dari hasil penelitian ini tidak menunjukkan hasil yang negatif, memang ditemukan beberapa hal negatif tetapi hasil itu tidak besar pengaruhnya untuk bisa dikatakan bahwa perkawinan di

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 Paroki Keluarga Suci Tering memiliki tingkat permasalahan yang sangat signifikan, karena itu peneliti melakukan pengolahan hasil penelitian dengan melihat kembali hasil kuesioner dan hasil wawancara yang mungkin bisa menjadi tolok ukur untuk mengetahui permasalahan-permasalahan perkawinan usia muda di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Baarat Kalimantan Timur. B. PENGOLAHAN HASIL PENELITIAN Perkawinan merupakan sebuah persekutuan hidup suami istri, artinya keduanya yaitu laki-laki dan perempuan disatukan sebagai suami-istri untuk hidup bersama dalam satu rumah dan menjadi “satu daging” (Kej 2: 24; Mrk 10: 8; Mat 19: 5) “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Tiga hal yang disukai jiwaku, Allah, dan manusia, yakni: kerukunan di antara saudara dan persahabatan di antara kawanan, dan suami istri yang hidup bahagia bersama (bdk. Sir 25:1). Kitab Kejadian sejak awal bicara tentang keluarga yang harmonis, yang hidup dalam keselarasan yaitu ada relasi timbal balik yang saling mendukung dan memperkanbangkan adalah sebuah syarat hidup keluarga yang harmonis, laki-laki dan perempuan keduanya disatukan dalam sebuah “taman firdaus” (rumah) keduanya menikmati kebahagiannya layaknya suami-istri yang saling memberi dengan berpadu kasih satu sama lain, jika dijelaskan lebih dalam dari perikop di atas mengartikan bahwa keduanya yaitu laki-laki dan perempuan meninggalkan masa hidup mereka sebagai anak dan mulai hidup sebagai suami-istri dan hasil

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 dari kesatuan mereka itu adalah mereka membentuk keluarga yang di dalamnya ada ayah, ibu dan anak untuk hidup bahagia. Perkawinan usia muda umumnya menjadi salah satu permasalahan bagi mereka yang menikah di usia muda. Perkawinan usia muda adalah perkawinan yang dilaksanakan pada usia remaja yang belum memiliki kesiapan atau kematangan fisik maupun psikologis, sosialnya dalam membangun hidup berkeluarga dan jika dilihat dari segi umur masih belum cukup atau belum matang untuk membentuk keluarga. Oleh sebab itu mereka yang melangsungkan perkawinan di usia muda adalah mereka yang masih muda atau remaja dan orang yang digolongkan sebagai remaja adalah mereka yang berusia 11-24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia (Sarlito, 2015; 18). Hasil pengolahan data dalam upaya mengetahui permasalahanpermasalahan perkawinan usia muda yang ada di Paroki Keluarga Suci Tering sebagai berikut:

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 Diagram di atas adalah garis besar faktor yang mendukung dan yang tidak mendukung perkawinan di usia muda. Faktor-faktor yang mendukung dan yang tidak mendukung dalam perkawinan usia muda dibahas secara rinci di bawah ini: 1. Faktor pendukung Hasil penelitian di Paroki Keluarga Suci Tering, terdapat 52 pasangan suami-istri Katolik usia perkawinan 15-35 tahun diperoleh melalui data dengan beberapa faktor pendukung dalam upaya mengetahui permasalahan-permasalahan perkawinan usia muda antara lain: faktor pemahaman atau pengetahuan, kepribadian, keluarga, harmonis, religius/iman. a. Faktor Pengetahuan Keterangan: SS (Sangat Setuju), S (Setuju), KS (Kurang Setuju), TS (Tidak Setuju), STS (Sangat Tidak Setuju) Diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sebanyak 34 responden (65%) menyatakan setuju mengetahui apa itu perkawinan

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 usia muda. Hasil penelitian membuktikan bahwa responden memahami tentang perkawinan usia muda, dan hasil ini membuktikan sangat baik. Namun, dalam kuesioner terbuka peneliti menyimpulkan bahwa paham mereka tentang perkawinan usia muda masih kurang. Dari hasil tes kuesioner membuktikan bahwa responden menyatakan mereka mengetahui apa itu perkawinan usia muda. Sedangkan melalui tes wawancara secara terbuka terhadap 5 responden ditemukan dari 5 responden tersebut terdapat 3 diantaranya mengatakan perkawinan usia muda adalah relatifnya usia menikah. Hasil wawancara ditujukan kepada responden yang lulusan SMA dan S1 (lihat lampiran, 3 no. 15-16), menyatakan perkawinan usia muda adalah perkawinan di bawah umur yang artinya masih duduk di bangku sekolah. Sangat pas yang diungkapkan oleh salah satu responden melalui hasil wawancara, bahwa perkawinan usia muda adalah perkawinan yang menghambat masa depan sealin itu juga melalui tatap muka dengan pastor pembantu yaitu pastor Ambros MSF, mengatakan bahwa ketika mereka ditanya di dalam ruang kanonik apa tujuan perkawinan Katolik para calon suami-istri tidak dapat menjawab dengan benar. Karena itu peneliti menyatakan sebagian besar pasangan suami-istri Katolik tidak memahami apa itu perkawinan usia muda dan tujuan perkawinan, hal ini membuktikan bahwa ada permasalahan tentang paham perkawinan Katolik dan tujuan perkawinan sehingga mereka butuh pendampingan khusus untuk memahami arti hakikat perkawinan Katolik dan tujuan perkawinan Katolik. Dalam hal ini Gereja selalu memberi bimbingan bagi para calon pasangan suami-istri untuk mengikuti kursus-kursus perkawinan sebelum

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 mengucapkan janji perkawinan yang bertujuan untuk mengetahaui arti dari perkawinan Katolik itu sendiri, tetapi pada umumnya pemberian kursus hanya sebatas pada jangka waktu tertentu sehingga pemahaman hanya bersifat hafalan, dan sementara padalah tujuannya dalah agar yang bersangkutan dapat menikah dan menghidupi perkawinan secara penuh sebagai hidup Kristiani yang sesuai dengan paham dan ajaran Gereja Katolik. b. Faktor kepribadian Diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sebanyak sebanyak 24 responden (46%) menyatakan setuju pilihan menikah dengan pasangan adalah pilihan yang tepat, umumnya mereka yang menikah di usia muda adalah mereka yang berpacaran dan merasa mereka sudah siap untuk melangsungkan perkawinan, tetapi pada prosesnya ada yang sudah matang dalam hal dewasa dan siap untuk membangun sebuah rumah tangga sedangkan yang satunya belum matang, baik laki-laki maupun perempuan. Hakikat perkawinan Kriatiani adalah sebuah perjanjian (foedus, consensus, convenant) merupakan tindakan kemauan antara seorang laki-laki dan perempuan untuk membentuk kebersamaan seluruh hidup (Kanon No. 1055-§1), sesorang yang ingin

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 melangsunngkan perkawinan tidak dibatasi hak kodratinya untuk menikah dan memilih calon pasangan hidupnya secara bebas. c. Faktor keluarga No. 9. Keterangan Orang tua mendukung saya pasangan untuk menikah muda Pasangan/ Responden dan S: 25 Persen (%) 49% Table di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sebanyak 25 responden (49%) menyatakan setuju orang tua mendukung saya dan pasangan untuk menikah muda di dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 23 Pasal 26 (1) c, menegaskan bahwa orang tua memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mencegah pekawinan pada usia anak-anak dan pada ayat (2) ditegaskan untuk melangsungkan perkawinan seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun, dibutuhkan izin dari kedua orang tuanya. Dalam hal ini orang tua mendukung menyetujui perkawinan di usia muda. d. Faktor harmonis

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sebanyak 24 responden (46%) menyatakan sangat setuju mereka selalu bersama dalam untung, malang, sehat, sakit, dan dalam suka maupun duka. Ciri hakiki perkawinan perkawinan Kristiani adalah unitas (kesatuan) da indissolubilitas (sifat tak dapat diputuskan) (KHK 1056). Oleh karena itu mereka akan tetap setia pada pasangannya seumur hidup baik dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, dan dalam sehat maupun sakit. e. Faktor religius Diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sebanyak 24 responden (46%) menyatakan sangat tidak setuju mereka menikah beda gereja atau beda agama, dalam hal ini perkawinan mereka adalah perkawinan sakramen di mana perkawinan itu dilaksanakan secara sah antara dua orang yang dibaptis, ini menunjukan hasil yang positif dan baik.

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 2. Faktor penghambat Dalam upaya mengetahui permasalahan-permsalahan perkawinan usia muda, tentu akan ditemukan berbagai tantangan dan kesulitan. Berdasarkan hasil penelitian peneliti mengumpulkan beberapa permasalahan pokok diantaranya: a. Faktor ekonomi Diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sebanyak sebanyak 23 responden (44%) menyatakan setuju untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka belum bisa menanamkan sikap hemat dalam pengeluaran, diketahui dalam perkawinan usia dan kedewasaan memang menjadi hal yang harus diperhatikan bagi laki-laki dan perempuan yang ingin melangsungkan pekawinan, karena banyak hal yang perlu di perhatikan terutama tentang ekonomi rumah tangga. Seseorang yang sudah menikah pada usia berapapun dianggap sebagai orang dewasa penuh. Namun, dalam kenyataannya usia 24 tahun belum berarti dewasa baik secara sosial-ekonomi dalam arti hidupnya masih ketergantungan dengan orang tua, belum memiliki pekerjaan, belum memiliki hak penuh sebagai orang dewasa, mereka masih digolongkan sebagai remaja (Sarlito, 2015: 19). Belum bisa menanamkan sikap hemat dalam

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 pengeluaran adalah sifat remaja artinya belum dewasa dalam mengelolah keuangan, sifat remajanya masih melekat sehingga tanpa disadari keungan mengalir begitu saja, sehingga kebutuhan dasar rumah tangga terabaikan. b. Faktor kekerasan verbal No. 19. Pasangan/ Responden Saya kadang-kadang mendapat kata- S: 20 kata kasar dari pasangan ketika kami mengalami masalah Keterangan Persen (%) 39% Table di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sebanyak 20 reponden (39%) menyatakan setuju kadang-kadang mendapat kata-kata kasar dari pasangan ketika mengalami masalah, diketahui bahwa mereka yang menikah diusia remaja adalah mereka belum mencapai usia untuk menikah, karena berbagai alasan yaitu secara kepribadian mereka belum dewasa secara fisikpsikologi, sosial-ekonomi. Karena alasan tersebut kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi salah satunya adalah kekerasan secara verbal dimana pasangan suami istri ini ketika mengalami permasalahan salah satunya mendapat kekerasan verbal dari pasangannya, dalam menanggapi masalah itu Gereja senantiasa menasehati keluarga-keluarga Katolik agar menghindari kekerasan dalam rumah tangga, terutama ketika terjadi konflik atau persoalan sulit dan berat, Gereja mengajak pasangaan suami istri untuk menyelaikan persoalan rumah tangganya dalam semangat saling mengasihi dan menghargai satu sama lain sebagai suami ataupun istri (PPK, 47).

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 c. Faktor pekerjaan No. 30. Pasangan/ Responden Saya dan pasangan belum memiliki S: 19 pekerjaan tetap Keterangan Persen (%) 37% Table di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sebanyak 19 responden (37%) menyatakan setuju belum memiliki pekerjaan tetap, pernikahan adalah kesatuan antara dua pribadi yang unik yaitu laki-laki dan perempuan untuk membentuk keluarga yang bahagia, karena ada dua pribadi maka, perbedaan dan ketidak sesuaian pemikiran merupakan satu hal yang pasti terjadi dan tidak ada perkecualian, pada suatu saat setiap pasangan akan selalu marah, berargumentasi dan mengeluh ketika keluarga mereka mengalami suatu konflik; perkawinan melewati berbagai tahap perkembangan atau konflik yang mungkin muncul salah satunya adalah belum memiliki pekerjaan tetap sehingga terjadi pertengkaran yang didefinisikan sebagai adu mulut yang dikuasai oleh emosi kemarahan sehingga pasangan tersebut tidak lagi membahas masalahnya, tetapi cenderung menyerang pasangannya (Wright, 2013:208). Dalam menganggapi hal ini Gereja mengajak pasangan suami istri untuk membangun semangat kerajinan dan kerja keras, membangun sikap solider dan semangat berbagi, mengembangkan sikap terbuka dan jujur dalam hal pekerjaan dan keuangan rumah tangga (PPK, 40) Setelah mengetahui beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam upaya mengetahui permasalahan-permasalahan perkawinan usia muda, dapat ditemukan beberapa hal pokok yang baik dan buruk antara lain:

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 Hal pokok yang mendukung pasangan muda Katolik dalam perkawinan mereka adalah: 1. Hidup harmonis dengan pasangan Diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sebanyak 24 responden (46%) menyatakan sanga setuju selalu bersama pasangan dalam untung, malang, sehat, sakit dan dalam suka maupun duka. Ini adalah sikap dan tindakan yang sangat positif dan yang diharapkan oleh Gereja bahwa perkawinan Kristiani adalah perkawinan yang bercirikan unitas dan indissolubilitas di mana mereka tetap pada satu kesatuan dan tak terputuskan meski dalam kehidupan rumah tangganya mengalami konflik yang cenderung untuk meninggalkan pasangan, namun mereka tetap setia pada pasangannya dalam untung, malang, sehat, sakit, dan dalam suka maupun duka itulah janji perkawinan Kristiani.

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 Hal pokok yang tidak mendukung pasangan muda Katolik dalam perkawinan mereka adalah: 2. Faktor ekonomi keluarga Diagram di atas menunjukkan dari 52 responden mendapat respon sebanyak 23 responden (44%) menyatakan setuju dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari belum bisa menanamkan sikap hemat dalam pengeluaran, tetapi dengan semua masalah ini Gereja mengajak keluarga-keluarga untuk merencanakan dan mengelola ekonomi rumah-tangganya dengan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar bagi semua anggotanya; mengembangkan pendidikan yang menekankan sikap hemat, sederhana dengan kebiasaan menabung, menghindari sikap aji mumpung, sehingga biaya-biaya yang tak terduga dapat tertangani (PPK, 39), jika hal ini dijalankan dengan baik, niscaya kehidupan rumah tangga keluarga-keluarga muda Katolik selalu tercukupi. Hasil penelitian yang penulis laksanakan di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur, terhadap 52 responden suami-istri Katolik usia perkawinan 15-35 tahun diperoleh data sebanyak 24 responden (46%) merasa hidup perkawinannya harmonis dan sebanyak 23 pasangan (44%) mengalami

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 kekurangan ekonomi, walaupun mengalami kesulitan dan tantangan di dalam mewujudkan hidup perkawinan yang harmonis ditemukan hal pokok utama permasalahan-permasalahan perkawinan usia muda yang ada di Paroki Keluarga Suci Tering adalah faktor ekonomi. Pasangan suami-istri memang hidup harmonis namun di satu sisi mereka mengalami kekurangan ekonomi, pekerjaan tidak tetap, dan mengalami kekerasan verbal ketika mereka mengalami masalah, di sisi lain peneliti menyimpulkan pula bahwa ada permasalahan di dalam perkawian usia muda. Melalui hasil wawancara kepada 5 responden yang sama membuktikan bahwa responden menyatakan setuju jika ada permasalahan di dalam perkawinan usia muda, fakrot utamanya dalah kedewasaan masing-masing pribadi, faktor ekonomi, faktor pekerjaan dan sosial; faktor sosial yang dimaksudkan adalah mereka sering mendapat “gosip” atau dalam lingkungan sosial masyarakan mereka menjadi bahan pembicaraan. (lihat lampiran, 3 No. 11) Melalui analisi ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa ada permasalahan pokok di dalam perkawinan usia muda di antaranya faktor kepribadian, faktor pendidikan, faktor ekonomi dan faktor sosial. Faktor pendidikan yang dimaksud adalah paham masyarakat masih tradisional, belum menjadikan pendidikan sebagai prioritas untuk masa depan yang lebih cerah. Faktor ekonomi mejadi salah satu faktor utama dalam hidup perkawinan usia muda karena belum memiliki tabungan, belum memiliki sikap hemat dalam pengeluaran sehari-hari, banyak kebutuhan sedangkan ekonomi kurang. Faktor pekerjaan, dari hasil data Kecamatan Tering jumlah masyarakat yang belum bekerja berjumlah ±1581 jiwa,

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tingkat pengangguran di Paroki Keluarga Suci Tering sangat besar, faktor sosial, mereka menjadi bahan pembicaraan masyarakat sehingga mereka menjadi tertutup terhadap lingkungannya.

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB VI USULAN PROGRAM DENGAN MODEL REKOLEKSI BAGI PASANGAN SUAMI ISTRI YANG MENIKAH USIA MUDA DALAM KURUN WAKTU 1 SAMPAI DENGAN 5 TAHUN DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR Paroki Keluarga Suci Tering memiliki jumlah umat sebanyak 7.823 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 1.898 (KK) (data per-April 2016), sasaran program ini adalah bagi pasangan suami istri yang melaksanakan perkawinan usia muda di Paroki Keluarga Suci Tering dalam kurun waktu 1 sampai 5 tahun. Usia perkawinan 5 tahun sangat rentan terdap berbagai permasalahan, karena itu mereka di tawari pendampingan khusus yang disesuaikan dengan kondisi mereka, sebab pada masa itu suami dan istri berada dalam masa penyesuaian diri dalam hidup bersama dan dalam kurun waktu tersebut mereka baru belajar mendampingi anak-anak yang pada umumnya masih kecil (PPK, 7). Melihat kenyataan ini, maka perlu adanya peningkatan pendampingan bagi pasangan suami istri yang usia perkawinan mereka 1 sampai 5 tahun di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat, Kalimantan Timur. Hasil penelitian penulis terhadap permasalahan-permasalahan perkawinan usia muda yang ada di Paroki Keluarga Suci Tering, ditemukan beberapa permasalahan pokok yang ada dalam perkawinan usia muda. Maka sebagai tindak lanjut dari penelitian ini, penulis memberikan sumbangan atau usulan program pendampingan kepada tim

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 kerasulan keluarga Paroki Keluarga Suci Tering dalam bentuk rekoleksi untuk membantu pasangan suami istri di Paroki Keluarga Suci Tering Kuatai Barat, Kalimantan Timur dalam menghadapi problematika hidup perkawinan. Usulan program rekoleksi ini sebagai upaya untuk meningkatkan sikap kedewasaan dalam membagun hidup yang harmonis dan sejahtera lahir batin. Dengan kata lain upaya untuk meningkatkan keharmonisan bagi keluargakeluarga Katolik di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat, Kalimantan Timur, dengan tujuan menghindarkan diri dari segala bentuk penyelewengan. Rekoleksi ini akan dikemas semenarik mungkin yang sesuai dengan kondisi serta keadaan umat, diharapkan dengan adanya kegitan rekoleksi ini peserta semakin bertumbuh menjadi keluarga Katolik yang matang dalam iman dan cinta sehingga segala bentuk penyelewengan dapat terdindarkan atau diminimalisir. A. LATAR BELAKANG PEMILIHAN PROGRAM DALAM BENTUK REKOLEKSI Pendampingan bagi pasangan suami istri merupakan salah satu upaya dari Gereja untuk membantu pasangan suami istri dalam menghadapi problamatika rumah tangga dan sebagai bentuk pastoral keluarga untuk menghadapi perkembangan zaman, karena itu Paroki Keluarga Suci Tering perlu meningkatkan perhatian khusus bagi pasangan suami istri untuk bersikap dewasa dalam menghadapi problematika dalam rumah tangga, khususnya bagi keluarga muda yang usia perkawian mereka 1 sampai dengan 5 tahun.

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 Perolehan hasil penelitian tentang permasalahan-permasalahan perkawinan usia muda yang ada di Paroki Keluarga Suci Tering, menunjukkan hasil yang rendah. Tetapi setelah dianalisis kembali tentang hasil penelitian dengan menggunakan hasil wawancara terbuka terhadap 5 responden yang usia perkawinannya 1 sampai dengan 5 tahun menunjukkan hasil yang positif, bahwa memang dalam hidup perkawinan keluarga muda sering mengalami permasalahan terutama sikap kedewasaan dan faktor ekonomi. Rangkuman hasil kuisioner yang mengalami hambatan adalah sebagai berikut: sebanyak (44%) belum bisa menanamkan sikap hemat dalam pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari; sebanyak (39%) kadang mendapat kata-kata kasar dari pasangan ketika mengalami masalah; sebanyak (37%) belum memiliki pekerjaan tetap. Hasil perolehan data di atas adalah yang dialami oleh beberapa pasangan keluarga muda Katolik di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat, Kalimantan Timur yang mengakibatkan hidup perkawinan mereka kurang bahagia, untuk itu penulis mengusulkan salah satu model pengampingan keluarga dalam bentuk rekoleksi agar keluarga muda siap menghadapi problematika-problematika rumah tangga dengan sikap dewasa dan penuh iman. Model pendampingan dalam bentuk rekoleksi ini memiliki waktu yang efektif dan efisien yang dapat mengikutsertakan banyak orang. Selain itu mereka juga dapat saling memperkaya dalam pertemuan dan dapat saling meneguhkan satu dengan yang lain dalam pergulatan hidup perkawinan melalui sharing, Tanya jawab dan banyak hal lainnya.

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 Gereja senantiasa turus menerus berupaya membantu keluarga-keluarga muda Katolik dalam memperkembangkan hidup perkawinan mereka, artinya membantu mereka mengungkapkan secara dewasa dan kreatif dalam menghadapi problematika-problematika hidup perkawinan dan membantu mereka menyadari dan menghayati janji perkawinan yang yelah diikrarkan untuk setia seumur hidup, dalam suka maupun duka, dalam sakit dan sehat, dalam untung maupun malang, sehingga terciptalah “Keluarga Suci” keluarga yang bersatu dalam kasih dan kokoh dalam menghadapi problematika hidup perkawinan. B. USULAN PROGRAM DALAM BENTUK REKOLEKSI BAGI PASANGAN SUAMI ISTRI YANG USIA PERKAWINAN 1-5 TAHUN DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KALIMANTAN TIMUR Penulis memberikan sumbangan pemikiran berupa pembinaan katekese dengan model rekoleksi, program dalam bentuk rekoleksi ini dirasa cocok bagi pasangan suami istri, karena melalui rekoleksi ini peserta rekoleksi akan saling bertatap muka dengan banyak orang, sehingga suasana pertemuan akan sangat efektif bagi keluarga muda. Di satu sisi mereka adalah orang muda yang sedang tumbuh dan berkembang, namun dalam situasi hidup yang berbeda yaitu mereka sudah berkeluarga, maka dengan adanya rekoleksi ini keluarga muda Katolik akan merasa semakin di sapa dan diperhatikn oleh Gereja dan sesama, bahwa bukan mereka saja yang mengalami problematika hidup perkawinan tetapi yang lain

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 juga, sehingga diharapkan mereka semakin siap dan mantap dalam menghadapi problematika hidup perkawinan untuk menuju keluarga muda yang bahagia. Rekoleksi ini adalah tindak lanjut dari hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui problematika-problematika perkawinan usia muda di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat, Kalimantan Timur yang usia perkawinan 1 sampai dengan 5 tahun, dengan tujuan membantu pasangan keluarga muda untuk bersikap dewasa dalam menghadapi problematika hidup perkawinan. Sasaran dalam kegiatan rekoleksi ini adalah bagi pasangan suami istri Katolik yang usia perkawinan 1 sampai dengan 5 tahun di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat, Kalimantan Timur. C. TEMA DAN TUJUAN PROGRAM REKOLEKSI Berdasarkan permasalahan pokok yang telah ditemukan pada bab IV, penulis mengusulkan sebuah program katekese dengan model rekoleksi dengan membaginya dalam 3 tema, ketiga tema tersebut berbica mengenai problematikaproblematika hidup perkawinan. Tema-tema rekoleksi disusun sedemikiana rupa diantaranya: tema I mengenai hakikat perkawinan Katolik untuk menanggapi apa itu pekawinan usia muda berdasarkan pertanyaan nomor 1 dan pertanyaan wawancara nomor 1; tema II mengenai Ekonomi dan keuangan rumahtangga untuk menanggapi masalah sikap hemat dalam pengeluaran karena pekerjaan yang tidak tetap sehingga terkadang mengalami kekerasan verbal ketika mengalami masalah berdasarkan pertanyaan nomor 29, 30 dan 19; tema III mengenai keluarga adalah Gereja rumah

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 tangga untuk menanggapi faktor utama yang menghambat dalam perkawinan adalah pasangan yang belum dewasa pertanyaan wawancara nomor 3. Adapun tema umum rekoleksi ini adalah: “Membangun Keluarga Kristiani yang Sejati”. Rekoleksi ini akan diawali dengan pengantar singkat mengenai tema umum yaitu membangun keluarga Kristiani yang sejati dalam hidup keluarga muda pada saat mengalami hambatan menuju perkawinan yang harmonis. Dalam pertemuan ini penulis akan mepaparkan dalam dua tema yakni keluarga Kristiani yang didambakan. Peremuan kedua yang akan dipaparkan adalah masalah-masalah dalam hidup berkeluarga dan penyelesaiannya. Pada akhir rekoleksi ditutup dengan misa syukur bersama. Materi rekoleksi ini disusun sesuai dengan kebutuhan pasangan suami istri yang usia perkawinannya 1 sampai dengan 5 tahun. Tema umum dan tujuan umum serta tema-tema Tema umum: dalam usulan program rekoleksi sebagai berikut: Membangun Keluarga Kristiani yang Sejati Tujuan umum: Pasangan suami istri muda Katolik yang usia perkawinan 1 sampai dengan 5 tahun di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat, Kalimantan Timur semakin dewasa membangun keluarga Kristiani yang sejati, sehingga dapat mewujudkan perkawinan yang harmonis. Pengantar: Sebelum masuk materi, penulis akan memberi pengantar singkat mengenai tema umum “Membangun Keluarga Kristiani yang Sejati” dengan tujuan untuk menghangatkan suasana agar semakin bersahabat untuk siap menerima materi yang akan disampaikan mengenai keluarga Kristiani yang sejati.

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 Tema I: Hakikat Perkawinan Kristiani Penulis memilih materi hakikat perkawinan Kristiani sebagai tema I, untuk mengingatkan kembali pasangan keluarga muda Katolik dalam memahami hakikat perkawinan yang mencakup, perkawinan yang sakrmen, tujuan perkawinan serta sifat-sifat perkawinan Kristiani, ada pun tujuan dari tema ini adalah supaya pasangan keluarga muda dapat memahami dan mengetahui secara mendalam tentang perkawinan Katolik dan mereka dapat melihat perkawinan mereka sebagai perkawinan yang sakral, membawa mereka pada kesatuan untuk selalu hidup bahagia. Tema II: Ekonomi dan Keuangan Rumah Tangga Penulis memilih materi ekonomi dan keuangan rumah tangga sebagai tema kedua yang merupakan permasalahan pokok bagi keluarga muda Katolik di Paroki Keluarga Suci Tering, ekonomi dan keuangan rumah tangga adalah permasalahan pokok sekaligus sebagai permasalahan umum yang dirasa oleh setiap pasangan yang baru menikah atau pun yang sudah lama menikah, terlebih bagi mereka yang belum memiliki pekerjaan, tujuan dari tema ini adalah supaya pasangan keluarga muda Katolik dapat mengatasi dan mengelolah ekonomi dan keuangan rumah tangga mereka dengan baik dan dapat memprioritaskan yang utama atau hal mendasar. Tema III: Keluarga adalah Gereja Rumah Tangga Tema ketiga akan membahas tentang keluarga adalah Gereja rumah tangga, yang didalamnya berisi tentang 5 tugas Gereja yaitu persekutuan, liturgia,

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 pewartaan Injil, pelayanan dan kesaksian iman. Dengan tujuan keluarga muda Katolik dapat menjadi kerasulan keluarga di tengah masyarakat dan ditengah tantangan zaman dengan mengambil bagian dalam lima tugas Gereja dan semakin setia dalam hidup perkawinan, dapat menanamkan nilai moral dalam keluarga dan masyarakat untuk selalu hidup rukun dan damai. Penutup: Misa Syukur Penutupan kegiatan rekoleksi akan ditutup dangan misa syukur dengan tema “Pembaharuan Janji Perkawinan” dengan harapan keluarga muda Katolik semakin diteguhkan cinta mereka terhadap pasangan mereka dalam hidup berkeluarga, tujuannya supaya keluarga muda Katolik semakin dewasa dalam membangun bahterah rumah tangga untuk tetap satu hidup berdampingan seumur hidup.

(142) D. MATRIKS PROGRAM Tujuan Umum : Membangun Keluarga Kristiani yang Sejati Pasangan suami istri muda Katolik yang usia perkawinan 1 sampai dengan 5 tahun di : Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat, Kalimantan Timur semakin dewasa membangun keluarga Kristiani yang sejati, sehingga dapat mewujudkan perkawinan yang harmonis. NO Judul Pertemuan Tujuan Pertemuan 1. Pembuka Menghangatkan suasana agar semakin bersahabat untuk siap menerima materi yang akan disampaikan mengenai membangun keluarga Kristiani yang sejati. Materi -Pemanasan (Ice breaking) -Lagu pembuka -Doa pembuka -Perkenalan -Tema umum Tujuan Metode Waktu -Informasi - -30 menit Sarana PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tema Umum Rekoleksi Sumber Bahan -Laptop - Chicken deance -Speaker -Video ice -breaking -LCD - -15 menit 125

(143) 2. Supaya pasangan keluarga muda dapat memahami dan mengetahui secara mendalam tentang perkawinan Katolik dan mereka dapat melihat perkawinan mereka sebagai perkawinan yang sakral, membawa mereka pada kesatuan untuk selalu hidup bahagia. -Perkawinan umum -Perkawinan Katolik -Tujuan perkawinan -Sifat-sifat perkawinan -Sharing pengalaman -Informasi -Tanya jawab -25 menit -1 jam -45 menit -Laptop -Speaker -LCD -Buku dan alat tulis -Konferensi Waligereja Indonesia, 2011: 7-9 -Lerebulan Aloysius, MSC (Keluarga Kristiani antara Idealisme dan Tantangan), (2016) : 11-41 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tema I: Hakikat Perkawinan Kristiani 126

(144) 3. Supaya pasangan - Baca Kitab Suci Mrk. keluarga muda 10:29-30 - Rumah sebagai Katolik dapat tempat perlindungan mengatasi dan dan beristirahat mengelolah - Gereja mengajak ekonomi dan keuangan rumah keluarga untuk merencanakan dan tangga mereka mengelola ekonomi dengan baik dan rumah tangga dengan dapat memprioritaskan memperioritaskan kebutuhan dasar yang utama. semua anggotanya. -Diskusi -Sharing Pengalaman -Informasi -Tanya jawab -20 menit -30 menit -1 jam -40 menit -Laptop -Speaker -LCD -Kitab Suci -Buku dan alat tulis -Kitab Suci Mrk. 10:29-30 -Konferensi -Waligereja Indonesia (Pedoman Pastoral Keluarga), (2011) : 39-40 -Lerebulan Aloysius MSC (Keluarga kristiani antara Idealisme dan Tantangan), (2016) : 153162 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tema II: Ekonomi dan Keuangan Rumah Tangga 127

(145) 4. keluarga muda Materi tentang: Katolik dapat - 5 tugas Gereja yaitu: menjadi kerasulan persekutuan, keluarga di tengah liturgi, pewartaan masyarakat dan Injil, pelayanan dan ditengah tantangan kesaksian iman. zaman dengan mengambil bagian dalam lima tugas Gereja dan semakin setia dalam hidup perkawinan, dapat menanamkan nilai moral dalam keluarga dan masyarakat untuk selalu hidup rukun dan damai. -Sharing pengalaman -Informasi -Tanya jawab -20 menit -1 jam -30 menit -Laptop - Konferensi -Speaker Waligereja -LCD Indonesia -Buku dan (Pedoman alat tulis Patoral Keluarga), (2011) : 17 - Konferensi Waligereja Indonesia (Imsn Katolik buku Informasi dan Referensi), (2012) : 382-487 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tema III: Keluarga adalah Gereja Rumah Tangga 128

(146) 5. Penutup -1 jam -Mic -Speaker PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Keluarga muda - Misa Syukur dengan - Misa Syukur Katolik dapat tema mewujudkan cinta “Pembaharuan kasih suami istri Janji Perkawinan” untuk tetap setia - Sayonara dalam suka maupun duka, dalam sakit maupun sehat dan dalam untung maupun malang dalam membangun bahterah rumah tangga dengan tetap bersatu dan hidup berdampingan seumur hidup. 129

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 E. GAMBARAN PELAKSANAAN PROGRAM Proses pelaksanaan program rekoleksi ini diusulkan pada hari Minggu pertama dalam bulan dan dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan. Usulan ini dikemukakan mengingat awal bulan adalah awal yang baru bagi setiap individu untuk memberi suatu bentuk wujud baru dalam arti perubahan dari sikap yang tidak baik untuk menjadi baik, dengan demikian diharapkan akan ada suatu perubahan yang nyata dari setiap pasangan untuk tetap mempertahankan keharmonisan keluarga. Pertemuan selama 2 hari dimulai pada hari Sabtu sore sampai dengan malam hari dan dilanjutkan hari Minggu pagi sampai dengan siang hari, pada pertemuan pertama akan mendalami tema I dan tema II dan pertemuan kedua akan lanjut mendalami tema II dan III, tema II adalah permasalahan pokok bagi pasangan keluarga muda Katolik sehingga akan di didalami dua kali pertemuan. Setiap pertemuan akan mengajak pasangan suami istri untuk berefleksi mengingat kembali perjalanan hidup perkawinan mereka dengan memandang rekoleksi ini sebagai salah satu bentuk penyegaran rohani atau penyegaran hidup perkawinan yang akan disegarkan melalui setiap pertemuan dan setiap sharing pengalaman masing-masing peserta. Gambaran pertemuan rekoleksi sebagai berikut : pertemuan pertama akan diawali lagu pembukaan dan doa pembukaan sebagai awal pertemuan agar senantiasi diberkati Tuhan, kemudian pemanasan (Ice breaking) dengan melakukan gerakan senam agar suasana semakin akrab dan hangat, setelah itu dilanjutkan dengan perkenalan dari pendamping dan peserta ini kemungkinan akan menghabiskan waktu selama 30 menit. Setelah itu pendamping

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131 akan memberi gambaran umum tentang tema dan tujuan rekoleksi secara keseluruhan selama 15 menit. Setelah itu barulah masuk pada tema pertama dengan menyampaikan alasan mengapa memilih tema ini sebagai tema pertama dan apa tujuan dari tema itu, dilanjutkan sharing pengalaman peserta apa yang mereka ketahui tentang perkawinan katolik dan apa tujuannya waktu yang diberi selama 25 menit. Kemudian peserta dipersilahkan untuk istirahat menikmati makan malam selama 30 menit. Setelah santap malam dilanjutkan dengan penyampaian materi selama 90 menit dan 45 menit dipakai untuk saling tanya jawab pertemuan diakhiri dengan doa penutup dan pengumuman lain-lain selama 5 menit. Keesokan harinya dengan tema II “Ekonomi dan Keuangan Rumah Tangga”, diawali dengan doa dan pemanasan selama 5 menit, dilanjutkan dengan penyampaian tema dan tujuan selama 5 menit. Setelah itu membaca Kitab Suci dan berdiskusi apa yang mereka pahami tentang bacaan yang baru mereka baca dan mereka renungi ditambah beberapa pertanyaan dari pendamping mengenai ekonomi rumah tangga, waktu yang diberi selama 25 menit, kemudian sharing pengalaman peserta selama 40 menit, peserta dipersilahkan untuk istirahan menikmati makanan siang selama 30 menit. Kemudian masuk pada penyampaian materi selama 90 menit dan tanya jawab selama 40 menit. Pertemuan diakhiri dengan doa penutup dan pengumuman lain-lain selama 5 menit. Selanjutnya pertemuan kedua dengan melanjutkan tema II, karena tema II adalah masalah pokok dalam kehidupan rumah tangga keluarga muda, pertemuan diawali dengan doa dan pemanasan selama 5 menit, dilanjutkan

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 mengingatkan kemabali tema dan tujuan dengan mendalami lebih jauh tentang masalah ekonomi rumah tangga dan penyelesaiannya selama 5 menit dan peserta diberi waktu selama 30 menit untuk sharing pengalaman, dilanjutkan penyampaian materi selama 90 menit, setelah itu istirahat untuk menikmati makan malam selama 30 menit. Dilanjutkan diskusi selama 40 menit dan pertemuan diakhiri dengan doa penutup dan pengumuman selama 5 menit. Keesokan harinya dengan tema III, diawali doa dan lagu pembukaan dilanjutkan pemanasan selama 5 menit, seperti halnya pada pertemuan satu dan dua akan disampaikan tema dan tujuan selama 5 menit, setelah itu sharing pengalaman selama 20 menit, dilanjutkan penyampaian materi selama 60 menit, kemudian peserta dipersilahkan untuk istirahat makan siang selama 30 menit. tanya jawab selama 30 menit dan ditutup dengan misa syukur bersama. A. Contoh salah satu Pelaksanaan Program Pengantar dan Tema I “Hakikat Perkawinan Kristiani” 1. Salam pembuka dan pengantar singkat Selamat pagi ibu bapak dan saudara-saudari yang terkasih, marilah sebelum memulai kegiatan kita ini, saya mengajak anda sekalian bersama-sama terlebih dahulu berdoa untuk memohon berkat Tuhan, supaya kegiatan rekoleksi ini dapat berjalan lancar sesuai dengan kehendak-Nya, mari kita mulai dengan menyanyikan lagu pembukaan.

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133 a. Lalu Pembuka “Bagaikan Bejana” Bagaikan bejana siap dibentuk, demikian hidupku ditangan-Mu Dengan urapan kuasa Roh-Mu, kudibaharui selalu Jadikanku alat dalam rumah-Mu, inilah hidupku ditangan-Mu Bentuklah s’turut kehendak-Mu, pakailah sesuai rencana-Mu Ku mau s’perti-Mu Yesus, disempurnakan slalu Dalam seganap jalanku, memuliakan nama-Mu b. Doa Pembuka Allah Bapa yang Maha Kasih, kami yang berkumpul disini mengucap syukur dan berterima kasih kepada-Mu atas segala perlindungan-Mu hingga saat ini, terima kasih atas penyertaan-Mu dalam kehidupan kami, terutama dalam tugas dan perutusan kami sebagai umat-Mu yang Kau satukan sebagai pasangan suamiistri dalam keluarga yang bahagia. Pada kesempatan indah ini kami hendak mengendapkan sejenak segala pengalaman hidup kami selama ini, untuk memahami arti dari perkawinan yang menyatukan kami sebagai suami istri dalam satu ikatan suci, kami mohon utuslah Roh Kudus-Mu selama kegiatan rekoleksi ini dari awal, pertengahan, hingga akhir terselenggaranya rekoleksi ini. Semoga kami mampu memurnikan kembali cinta dan janji kami sebagai suami istri dalam mewujudkan keluarga yang bahagia, di tengah-tengah gejolak dunia modern semua doa dan harapan kami ini kami haturkan kepada-Mu melalui perantaraan Putra-Mu Tuhan Kami Yesus Kristus yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin.

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134 c. Pemanasan (Ice Breaking) Pendamping akan memutarkan sebuah video yang akan mengajak peserta untuk bergerak sesuai gerakan yang ada pada video, sebagai pemanasan agar suasana semakin hangat dan akrab dalam pertemuan rekoleksi. 2. Uraian Pengantar a. Perkenalan Pendamping memperkenalkan diri kepada peserta, kemudian memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperkenalkan diri, peserta diberikan kesempatan memperkenalkan diri dengan menyebut nama, usia perkawinan, jumlah anak, dan asal. b. Penjelasan latar belakang dan tujuan rekoleksi Bapak/Ibu pasangan suami istri yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, selamat malam, pertama-tama saya ucapkan banyak terima kasih atas kesediaan memenuhi undangan kami untuk hadir dalam rekoleksi keluarga pada saat ini pada kesempatan ini, kita akan bersama-sama mendalami rekoleksi dengan rumusan tema umum yaitu “Membangun Keluarga Kristiani yang Sejati” dengan tujuan semakin dewasa membangun keluarga Kristiani yang sejati, sehingga dapat mewujudkan perkawinan yang harmonis. Tema ini akan kita dalami bersama dalam 3 sub tema dengan 2 kali pertemuan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa ditemukan hambatanhambatan dalam hidup perkawinan terutama tentang faktor ekonomi, yang tentunya menjadi permasalahan dalam rumah tangga dan suasana rumah

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135 tangganya pun menjadi tidak bahagia dan salah satu faktornya adalah kedewasaan dimana salah satu pasangannya tidak dapat mengontrol emosi, oleh karena itu, saya harapkan ibu-bapak dapat mengikuti setiap proses dengan ambil bagian di dalam kegiatan ini sehingga kita semua semakin diperkaya. Dalam proses ini ibubapak akan diberi kesempatan untuk bertanya atau memberi pendapat pada setiap sesi, untuk itu marilah kita masuk dalam tema I yaitu “Hakikat Perkawinan Kristiani”. Tema I: Hakikat Perkawinan Kristiani 1. Pengantar Tema I Setiap orang berkehendak untuk hidup bahagia sebagai suami istri, tetapi persoalannya adalah mereka tidak dapat memahami dan tidak cukup memiliki pengetahuan yang bisa diandalkan, karena mereka umumnya adalah keluarga muda yang baru belajar menjadi orang tua, tentu mereka akan membutuhkan waktu untuk belajar menjadi orang tua dengan bersikap dewasa dan bertanggung jawab mengingat mereka adalah pasangan suami istri muda yang egonya masih mengalami siklus naik turun dan tidak memiliki pengalaman lebih tentang problematika rumah tangga. Persiapan perkawinan biasanya diberikan saat menjelang peneguhan nikah, tetapi selanjutnya orang hidup atas usahanya sendiri, katekese sendiri kurang mendapat tempat bagi keluarga, sehingga keluarga kurang mendapat pembinaan, karena itu peneliti memilih tema ini sebagai tema yang pertama untuk dapat memahami lebih dalam tentang perkawinan Katolik, tujuan perkawinan dan sifat-sifat perkawinan dalam mewujudkan keluarga yang bahagia.

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136 2. Sharing pengalaman Bapak ibu diberi waktu untuk mensyaringkan pemahaman mereka tentang apa arti perkawinan Katolik, tujuan perkawinan Katolik dan sifat perkawinan Katolik? 3. Penyampaian Materi a. Apa itu perkawinan Katolik? Perkawinan di pahami secara umum sebagai sebuah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri, dengan tujuan membentuk keluarga, melahirkan anak, membangun hidup kekrabatan yang bahagia dan sejahtera Dalam perkawinan ada relasi yang bersifat eksklusif dimana suami istri saling memberi diri yang diwujudkan melalui hubungan seksual yang intim, keduanya saling melengkapi satu sama lain untuk mencapai kesejahteraan lahir batin (PPK, 7). Negara Indonesia memiliki pemahaman bahwa perkawinan pada prinsipnya diteguhkan secara keagamaan kemudian dicatat di kantor yang ditunjuk oleh pemerintah. Artinya peneguhan perkawinan harus dilaksanakan terlebih dahulu secara agama, baru kemudian di catat sesuai peraturan negara, Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 menyatakan hakikat dan tujuan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan hanya akan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama atau kepercayaannya, jelaslah bahwa perkawinan sifatnya monogam dan bersifat kekal.

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137 Paham tentang perkawinan Katolik, Gereja mengajarkan bahwa perkawinan adalah persekutuan seluruh hidup dan kasih mesra antara suami istri yang diadakan oleh Sang Pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukum-Nya, dibangun oleh perjanjian perkawinan yang tak dapat di tarik kembali; perkawinan adalah ikatan suci demi kesejahteraan suami istri dan kelahiran anak serta pendidikannya itu tidak hanya tergantung pada kemauan manusiawi semata tetapi juga pada kehendak Allah. Hal yang membedakan perkawinan Katolik dan perkawinan pada umumnya dalah bahwa perkawinan itu diteguhkan dengan tata peneguhan kanonik (Forma Canonica). Sifat hakiki perkawinan Katolik adalah monogam (hanya memiliki satu pasangan) dan Indissolubilis (tak terputuskan) perkawinan Katolik adalah perkawinan yang sakramen, menurut Kitab Hukum Kanonik, perkawinan adalah sakramen apabila perkawinan itu dilaksanakan secara sah antara dua orang yang di baptis, disebut sakramen karena ikatan antara laki-laki dan perempuan itu menjadi gambaran dari persatuan kasih abadi antara Kristus dan Gereja, relasi Allah dan manusia, artinya gambaran Kristus mencintai umatnya dapat dilihat secara nyata dalam relasi cinta suami istri. Singkatnya suami istri yang saling mencintai menghadirkan cinta Kristus yang ada dalam hari masing-masing, karena itu cunta dan kesetianan penting dihayati agar kesatuan mereka tahan uji dan tetap bertahan seumur hidup, suami istri yang bertengkar dalam hidup bersama, menodai gambaran relasi Ilahi itu nahkan menodai wajah Kristus.

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138 b. Tujuan perkawinan Katolik Lerebulan dalam bukunya (Keluarga Kristiani antara Idealisme dan Tantangan) menuliskan, tujuan perkawinan Katolik menurut Piet Go ada 3 yaitu: Bonum Coiugum (membentuk persekutuan hidup demi kebahagiaan suami istri), Bonum Prolis (demi kelahiran anak-anak dan pendidikan anak-anak) dan Bonum Fidei (memelihara kesetian suami istri). Dalam GS, 47 dikatakan tujuan perkawinan adalah demi kesejahteraan suami istri (Bonum Coniugum), demi anak-anak (Bonum Prolis) dan demi masyarakat (Bonum Societatis). Semua tujuan ini menjadi bagian dari isi perjanjian yang disepakati bersama oleh calon suami istri sebelum melangsungkan perkawinan, melihat uraian di atas bisa disimpulkan bahwa ada empat tujuan perkawinan Kristiani yaitu: 1. Demi kesejahteraan suami istri (Bonum Coniugum) Kebahagaiaan satu keluarga sangat ditentukan oleh hubungan batin, relasi, cinta dan kerja sama yang harmonis antara suami istri. Relasi baik antara suami istri menentukan kelangsungan hidup berkeluarga, keretakan hubungan suami istri akan merusak persatuan. Karena itu yang semestinya dipirkan oleh suami istri adalah saling menyenangkan hati dan membahagiakan satu sama lain. Masa pacaran adalah masa yang menyenangkan dan membahagiakan setiap pribadi, dimana keduanya sudah saling mengetahui kesukaan, keinginan, kebutuhan dan harapan termasuk dengan yang tidak disukai oleh pasngannya, sikap ini diharapkan terbawa terus sampai maut memisahkan, tidak hanya sebatas pada masa pacaran saja. Berkat janji perkawinan suami istri “Bukan lagi dua

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139 melainkan satu daging (Mat. 19:6; Kej. 2:24)”. Mereka dipanggil untuk senantiasa menumbuhkem bangkan persatuan untuk selalu setia pada janji perkawinan, dengan saling memberikan diri secara untuh. 2. Demi kelahiran dan pendidikan anak ( Bonum Prolis) Kisah penciptaan manusia, yang tercantum dalam Kitab Kejadian, di dalamnya diceritakan, bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan menurut gambar-Nyalah diciptakan mereka laki-laki dan perempuan, penciptaan manusia oleh Allah dengan jenis kelamin berbeda bukan tanpa maksud. Dikatakan selanjutnya: “beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara (Kej. 1:28)”. Tanpa sengaja taks ini mau manunjukkan bahwa Allah menghendaki laki-laki dan perempuan mengadakan hubungan yang intim sebagai suami istri, karena itu, “laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging demikanlah mereka bukan lagi dua melainkan satu (Mat. 19:5-6)”. Perlu diketahui bahwa hubungan intim suami istri tidak dipandang sebagai pelempiasan nafsu, tetapi sebagai tanda dan bukti pemberian diri seorang suami terhadap istrinya dan istri terhadap suaminya yang dibangun atas dasar cinta, hasil dari hubungan intim suami istri adalah kelahiran anak; adapun konsekuensi dari tujuan yang kedua ini yaitu: pertama, suami istri kiranya menyadari bahwa hubungan seksual mengandung potensi bagi istri untuk mengandung dan melahirkan anak; kedua, kehadiran anak akan membawa status

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140 baru suami istri menjadi ayah dan ibu; ketiga, demi kebahagian keluarga, suami istri diminta untuk menyusun program yang bisa dilaksanakan bersama, salah satu program adalah mengatur jumlah anak. 3. Demi kesetian suami istri (Bonum Fidei) Salah satu unsur penting dalam hidup manusia adalah mencari dan memelihara kekudusan, kekudusan diperoleh dan dipertahankan bila manusia hidup dan taat pada perintah-perintah Tuhan, perintah Tuhan yang utama adalah hukum kasih yang bunyinya “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mar. 12:29-31)” jadi, orang hidup dalam kekudusan bila ia mengasihi Tuhan dan sesamanya. Perkawinan adalah wadah suci yang mengkodisikan manusia untuk tidak jatuh dalam pencabulan dan perzinahan, karena hubungan intim suami istri dilakukan dalam keluarga yang sudah dikuduskan Tuhan dan Allah sendiri hadir memberkati saat mereka diteguhkan dalam sakramen perkawinan, Allah membenarkan hubungan intim bermanfaat bagi kebahagian dan kelangsungan suami istri karena melalui tindakan manusiawi ini mereka ambil bagian dalam rencana Allah dan menghindarkan mereka dari tindak pencabulan (1Kor. 7:1-3). Dalam perkawinan suami istri terdorong untuk saling setia dan bertahan dalam hidup bersama sebab ada kepastian bahwa hanya maut yang bisa memisahkan mereka sesuai janji perkawinannya, karena perkawinan mereka

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141 harus saling mengontrol, mengevaluasi, dan memberi perhatian untuk memelihara kekudusan dan kesetian. 4. Demi masyarakat (Bonum Societatis) Hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang butuh relasi dengan orang lain. Tuhan menciptakan manusia menurut kemampuan dan talenta yang berbeda agar manusia mendapat kesempatan untuk saling membangun relasi demi pertumbuhan dan perkembangan dirinya kearah yang lebih sempurna atas dasar itu, kita melihat bahwa dalam realitas, setiap orang mengadakan kontak pribadi dengan sesaamanya, karena pelbagai maksud dan tujuan. Di atas telah diuraikan tiga tujuan perkawinan yaitu demi kebahagian suami istri, demi kelahiran anak dan demi kesetiaan suami istri berikut ini kita melihat tujuan keempat perkawinan yaitu demi masyarakat tujuan perkawinan demi masyarakat harus dimengerti dengan baik, tidak dimaksudkan bahwa keluarga dapat dikorbankan demi kepentingan masyarakat, justru keluarga harus mendapat prioritas dalam pelayanan dibandikan dengan masyaarakat dan Negara, perlu diketahui bahwa keluarga adalah sel masyarakat, karena itu kehidupan suatu masyarakat akan baik bila anggota keluarganya berkualitas. Berikut ada dua sumbangan keluarga bagi masyarakat diantaranya: 1. Keluarga adalah pembentuk dan peyumbang manusia berkualitas bagi masyarakat 2. Keluarga adalah penyumbang bahan material bagi kesejahteraan masyarakat

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142 c. Sifat-sifat Perkawinan Kristiani Sifat-sifat dasar perkawinan Kristiani dapat kita baca pada Kanon No. 1056, kanon ini mengatakan: “Ciri-ciri perkawinan adalah Unitas (monogam/kesatuan) dan Indissolubilitas (tak dapat diputuskan/diceraikan) yang dalam perkawinan Kristiani memperoleh kekukuhan khusus atas dasar sakramen”. Tidak ada seorang laki-laki dan seorang perempuan membangun hidup berkeluarga hanya untuk sementara waktu, karena itu setiap pasangan yang akan menikah semestinya mengoreksi secara benar hatinya sendiri dan belajar mengenal hati pasangan yang dipilih, seberapa mendalam, saling mencintai dan siap melangkah menuju perkawinan. Sehingga hidup perkawinan mereka terhindar dari berbagai macam penyelewengan, diketahui ada dua sifat dasar dari perkawinan Kristiani yaitu: 1. Unitas (monogam/kesatuan) Ciri unitas ini menunjukkan unsur unitif dan monogam perkawinan dengan unsur unitif dimaksudkan sebagai unsur yang menyatukan suami dan istri secara lahir dan batin sebab tujuan dari perkawinan ialah kesatuan hidup yang tak terpisahkan dari suami istri (Hadiwaryono. 2011: 61). Allah menetapkan bahwa ikatan suami istri itu tunggal secara mutlak (unitas), karena perkawinan Kristiani menandakan misteri kesatuan antara kristus dan Gereja-Nya yang dinyatakan dalam ciri tunggal, tak terceraikan dan subur; perkawinan Kristiani berciri tunggal artinya antara seorang pria dan seorang wanita. Ketunggalan perkawinan ini merupakan tanda kasih yang total. Dimana keduanya saling memberikan diri secara utuh atau total dengan kata lain tubuh

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143 suami adalah milik istri dan tubuh istri adalah milik suami keduanya bukan lagi dua melainkan satu dalam cinta kasih. 2. Indissolubilitas (tak terputuskan) Perkawinan mempunyai ciri tak-terceraikan berdasarkan hukum kodratnya (Hadiwaryono, 2011:61), perkawinan itu tak terceraikan, karena menampakkan persatuan sempurna antara Kristus dan Gereja, seperti ditulis oleh Santo Paulus (Ef. 5:32) “rahasia ini besar, tetapi yang aku maksud ialah hubungan Kristus dan jemaat”; perkawinan Kristiani melambangkan kasih Allah kepada manusia, padahal Allah adalah Allah yang setia, maka cinta kasih suami istri juga menjadi cintakasih yang setia, yang dinyatakan dengan ciri tak terceraikan. Penghormatan Yesus terhadap perkawinan sedemikian tinggi dimana, Ia menggambarkan Kerajaan-Nya ibarat suatu pesta perkawinan. Ia mampu menanamkan di benak para pengikut-Nya asas tak terceraikannya perkawinan, yang menyatakan bahwa “Yang telah dipersatukan oleh Allah” tidak boleh “diceraikan oleh manusia” (Marks, 2009: 111). Ungkapan dalam Kitab Suci mengenai perkawinan “Bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan istrinya” (Mat. 19:5” menunjukkan bahwa kesetiaan kepada pasangan harus diutamakan di atas keluarga asalnya (Maureen & Lanny, 2008: 94).

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144 4. Tanya Jawab Setelah menyampaikan materi, pendamping mempersiapkan peserta untuk bertanya dan menanggapi apa yang telah disampaikan pendamping agar semakin mendalami materi yang diberikan. 5. Doa Penutup Allah Bapa yang penuh kasih, puji dan syukur kami haturkan kepada-Mu atas rahmat dan penyertaan-Mu yang senantiasa melimpah dalam hidup kami dan keluarga kami masing-masin, kami bersyukur karena lewat perjumpaan ini kami disapa dan disadarkan bahwa Engkau telah menganugerahkan orang-orang yang sungguh menjadi penopang dalam hidup kami masing-masing lewat suami, istri, anak-anak, orang tua, dan sesama bahkan lewat alam semasta. Sungguh agung dan mulia, terima kasih Tuhan cinta-Mu sungguh tak berkesudahan kepada kami umat-Mu, tanamkanlah dalam hati kami cinta yang suci dan mulia dalam relasi kami sebagai suami istri, berkatilah kami sekeluarga agar semakin menyadari akan kehadiran-Mu yang senantiasa memberi pertolongan bagi kami yang dapat menghayati hidup kami. Doa ini kami haturkan kepada-Mu melalui perantaran Kristus Tuhan kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa. Amin. 6. Lagu Penutup (Datanglah Roh Maha Kudus, MB 448 ayat 1, 6, 7, 8) Datanglah Roh Maha kudus, masukilah hati umat-Mu; Sirami jiwa yang layu, dengan embun kurnia-Mu; Cinta yang laksana api, kobarkanlah semangat kami,

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145 agar musnah terbasmi, jiwa angkuh hati dengki; Sang penghibur umat Allah, kuatkalah iman yang lemah, agar hati bergembira, walau dilanda derita; Penggerak para rasul-Mu, lepaskanlah lidah yang kelu, supaya kami mewartakan, karya keselamatan Tuhan. Amin.

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB VII PENUTUP Dalam bab penutup, penulis akan memaparkan rangkuman isi bab-bab sebelumnya, yaitu gagasan penting yang menjadi kesimpulan dari skripsi ini. Pada bagian berikutnya akan diuraikan beberapa saran dan usulan dalam mewujudkan perkawinan yang harmonis bagi pihak-pihak yang bersangkutan selama penulis menyusun skripsi ini. A. KESIMPULAN Keluarga adalah tempat di mana setiap orang mengawali sebuah kehidupan baru dan bertumbuh, terbentuknya keluarga berawal dari kesatuan antara laki-laki dan perempuan untuk membentuk keluarga dan keduanya menjadi satu dan melahirkan anak dengan tujuan hidup bahagia tetapi tidak bisa dipungkiri keluarga juga bisa menjadi tempat munculnya persoalan hidup yang bila dibiarkan akan berujung pada perceraian dan kualitas hidup sebuah keluarga, tergantung dari bagaimana setiap anggota keluarga itu mampu menyikapi setiap problematika rumah tangganya dengan sikap dewasa dan penuh tanggung jawab, mampu merawat dan memelihara, membangun dan menumbuhkannya menjadi keluarga yang bahagia. Perkawinan dipandang sebagai relasi Kristus dan Gereja-Nya, bahwa hubungan antara suami dan istri adalah gambaran yang nyata di mana Kristus ingin menyucikan Gereja dan menghadirkan diri-Nya bagi Gereja, Allah itu penuh

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147 kasih yang mesra seperti yang digambarkan oleh suami-istri dalam rumah tangga yang harmonis. Hasil penelitian mengenai “Permasalahan-Permasalahan Perkawinan Usia Muda yang ada di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur” kepada 52 pasangan suami istri Katolik yang usia perkawinannya 1 sampai dengan 5 tahun, menunjukkan beberapa faktor pendukung dalam keluarga muda adalah: hidup perkawinan harmonis; selalu bersama pasangan dalam untung, malang, sehat, sakit dan dalam suka maupun duka; orang tua mendukung perkawinan mereka. Dalam penelitian ditemukan permasalahan dalam keluarga muda yakni: mereka belum memahami lebih dalam apa itu perkawinan serta tujuan perkawinan; belum memiliki tabungan masa depan; belum memiliki sikap hemat dalam pengeluaran sehari-hari; belum memiliki pekerjaan tetap; menjadi bahan pembicaraan orang. B. SARAN Bertolak dari hasil penelitian dan kesimpulan penelitian di atas, penulis melihat beberapa implikasi logis tentang beberapa hal dalam hidup perkawinan keluarga muda yang usia perkawinannya 1 sampai dengan 5 tahun di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat, Kalimantan Timur, penulis merumuskan beberapa saran sebagai bahan pertimbangan demi kebaikan di masa mendatang:

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148 1. Bagi keluarga muda Katolik a. Pasangan suami-istri agar semakin setia seumur hidup dalam untung, malang, sehat, sakit dan dalam suka maupun duka, dalam upaya mewujudkan perkawinan yang harmonis. b. Pasangan suami istri agar semakin menanamkan sikap mendahulukan kebutuhan dasar rumah tangga, dalam upaya mewujudkan kebutuhan ekonomi yang selalu terjaga dan stabil. 2. Bagi Romo Paroki Romo Paroki agar semakin memberi perhatian dan pendampingan, khusunya bagi keluarga muda Katolik, sehingga mereka merasa disapa dan diperhatikan memalui konsultasi keluarga, kunjungan keluarga, kegiatan rekoleksi dan memberi kepercayaan kepada keluarga muda untuk menjadi bagian dalam kepengurusan Gereja. 3. Bagi Tim Kerasulan Keluarga Tim kerasulan kelurga, agar semakin bekerja sama dalam pendempingan keluarga muda katolik secara berkala dan berkesinambungan, tidak hanya sebatas pada pemberian kursus perkawinan bagi calon pasangan suami istri, karena pendampingan bagi keluarga muda Katolik sangat dibutuhkan di zaman sekarang, agar semakin membantu keluarga muda Katolik dalam menghadapi berbagai problematika yang dapat menghancurkan hidup perkawinan mereka. Perlu mengadakan evaluasi dalam setiap kegiatan untuk mengukur tingkat keberhasilan

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149 proses pendampingan. Sehingga semuanya semakin diperkaya satu sama lain dalam hal pelayanan, pemahaman, perkembangan dan lain sebagainya. Demikian uraian kesimpulan dan saran yang diusulkan penulis terkait dengan pemaparan dan hasil penelitian dalam bab sebelumnya. Saran yang penulis usulkan di atas ditujukan kepada keluarga muda Katolik, Romo Paroki, dan Tim kerasulan keluarga dengan harapan semakin membantu keluarga muda Katolik dalam upaya menanggulangi permasalahan-permasalahan perkawinan usia muda yang ada di Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur. Penulis menyadari penelitian ini masil awal dan jauh dari sempurna, maka perlu penelitian lebih lanjut untuk selanjutnya. mengetahui masalah-masalah

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150 DAFTAR PUSTAKA 1. KITAB SUCI DAN DOKUMEN GEREJA LAI. (1992). Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia Konsili Vatikan II. (2013). Dokumen Konsili Vatikan II. (R. Hardawiryana, SJ., Penerjemah). Jakarta: Obor. Kebersamaan dengan: DepartemenDokumentasi dan penerangan KWI. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1966). Yohanes Paulus II. (2006). Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici). Bogor: Grafika Mardi Yuana. _______. (2011). Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern (Familiaris Concortio). Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II (Seri Dokumen Gerejawi No. 30). (A.Widyamartoyo, Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius. Kebersamaan dengan: Komisi Pendampingan Keluarga Keuskupan Agung Semarang. 2. BUKU-BUKU _______. (2012). Iman Katolik; buku informasi dan referensi. Yogyakarta: Kanisius. _______. (2014). File Profil Paroki Keluarga Suci Tering Kutai Barat Kalimantan Timur, Periode 2013-2014.___________ Ali, Mohammad dan Asrori, Mohammad. (2015). Psikologi Remaja. Jakarta Ahmadi, Abu H & Sholeh, Munawar. (2005). Psikologi Perkembangan: untuk Fakultas IKIP SGPLB serta pada Pendidik. Jakarta: PT Rineka Cipta. Asmin. (1986). Status Perkawinan Antar Agama: Ditinjau dari Undang-Undang Perkawinan No. 1/1974. Jakarta: Dian Rakyat. Budyapranata & Team Pembinaan Persiapan Berkeluarga Daerah Istimewa Yogyakarta. (1979). Pembinaan Persiapan Berkeluarga. Yogyakarta: ___ Dapiyanta, F.X. (2008). Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di Sekolah; Buku Ajar Mahasiswa IPPAK-USD. Yogyakarta: Program Studi IPPAK-USD. Dermarteau, W. J. (1997). Mereka itu Datang dari Jauh; Sejarah Misionaris Keluarga Kudus di Kalimantan. Banjar Baru-Barong Tongkok. Iswarahadi, Y. I. (2014). Media Memuliakan Kehidupan?; Sebuah Antologi Komunikasi. Yogyakarta: Kanisius. Konferensi Waligereja Indonesia. (2011). Pedoman Pastoral Keluarga KWI. Jakarta: Obor Kountur, Ronny, D.M.S. (2003). Metode penelitian; untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. Jakarta: PPM Law, Rogers, Maureen & Law Lanny. (2008). God Knows Marriage Isn’t Always Easy (Tuhan Tahu Perkawinan Tidak Selalu Mudah). Malang: Dioma.

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151 Lerebulan, Aloysius. (2016). Keluarga Kristiani antara Ideslisme dan Tantangan. Yogyakarta: Kanisius. Marks, Frederick, W. (2009). A Catholic Handbook for Engaged and Newly Married Couples (Buku Pegangan Katolik untuk Pasangan yang Bertunangan dan Baru Menikah). Malang: Dioma Moleong, L. J. (2007). Dasar Penelitian Kualitatif; Perbedaan antara Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta: Pusat Pastoral, Kampus PUSKAT. Nasutions, S.(1992). Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung: Tarsito. Pedoman Penulisan Skripsi. (2012). Yogyakarta: Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik. Purnomo, Albertus. (2015). Allah Menyertai Keluraga; Menggali Inspirasi dari Alkitab. Yogyakarta: Kanisius. Hadiwardoyo, Purwa. (2007). Perkawinan dalam Tradisi Katolik. Yogyakarta: Kanisius. Rukiyanto, Agus B. (2013). Teologi Moral Katolik, Buku Kuliah Teologi Moral Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Rubiyatmoko, Robertus. (2015). Perkawinan Katolik Menurut Kitab Hukum Kanonik. Yogyakarta: Kanisius Soekanto & Soerjono. (1990). Sosiologi Keluarga: tentang Ikhwal Keluarga, Remaja dan Anak. Jakarta: Rineka Cipta. Supriyati, Yulia. (2013). Diktat Kuliah: Psikologi Umum IPPAK-JIP-FKIP Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, FKIP USD. Suparlan, Y. B. & W, Rachmanto & Padirman, S. (1990). Kamus istirlah KKB; Kependudukan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Kanisius. Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Tim Publikasi Pastoral Redemptorist. (2016). Menjadi Keluarga Katolik Sejati. Yogyakarta: Kanisius. Wright, Norman. H. (2013). So You’re Getting Married, 14 Komitmen Dasar untuk Membangun Hubungan Menuju Jenjang Pernikahan. Yogyakarta: Gloria Graffa. Sarwono, Wirawan, Sarlito. (2015). Psikologi Remaja; Edisi Revisi. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Sugiyana, F.X ; Purwono N. A ; Riyanto, Y ; Kumbara, Prima, Bondan V. (2013). Peradaban Cinta Kasih;Pokok-pokok Pembelajaran Ajaran Sosial Gereja. Yogyakarta: Pohon Cahaya. Walters, Donal J. (2006). Expansive Marriage; 13 Kiat Menuju Pemenuhan Diri. Yogyakarta: Kanisius.

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1: Surat Permohonan Izin Penelitian (1)

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2: Surat Telah Melakukan Penelitian (2)

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3: Kuesioner Penelitian dan Wawancara KUESIONER PENELITIAN PERKAWINAN USIA MUDA YANG USIA PERKAWINAN 1-5 TAHUN DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KALIMANTAN TIMUR I. Petunjuk: Bacalah setiap pertanyaan dengan cermat sebelum menjawab, kemudian tuliskan jawaban yang anda rasa paling sesuai dengan keadaan diri anda pada lembar jawaban yang tersedia. a. Identitas Responden 1. Usia perkawinan saya dan pasangan sekarang: …. Tahun 2. Usia saya dan pasangan saat menikah: a. Usia saya : …. Tahun b. Usia pasangan : …. Tahun 3. Kami memiliki : …. Anak 4. Suku saya dan pasangan: a. Suku saya : …. b. Suku pasangan : …. 5. Pekerjaan saya dan pasangan: a. Pekerjaan saya : …. b. Pekerjaan pasangan : …. 6. Saya tinggal bersama pasangan di rumah: …. 7. Pendidikan terakhir saya dan pasangan: a. Pendidikan terakhir saya : …. b. Pendidikan terakhir pasangan : …. Keterangan: Contoh pemberian tanda ceklist (√) pada kolom yang tersedia sesuai dengan kecenderungan hati atau perasaan anda: No PERNYATAAN SS S N TS STS 1. Keluarga adalah sekolah utama √ bagi anak-anak. Keretangan: SS : Sangat setuju S : Setuju KS : Kurang Setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju No 1. 2. 3. 4. PERNYATAAN SS Motivasi Menikah Muda Saya mengetahui apa itu perkawinan usia muda Saya mengetahui apa itu tujuan perkawinan Saya menikah di usia muda karena saya dan pasangan telah saling mencintai, merasa takut kehilangan dan merasa kami sudah siap untuk menikah. Karena pergaulan yang bebas mendorong (3) S KS TS STS

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. 6. 7. 8. 9. saya untuk menikah muda. Saya menikah muda karena saya telah hamil/menghamili kekasih saya. Teman sebaya saya sudah banyak yang menikah maka saya pun terdorong untuk menikah. Teknologi yang semakin canggih memudahkan saya untuk mengekspose seks di media massa dan membuat saya terbuka terhadap seks dan mendorong saya untuk memilih menikah muda. Saya lebih baik menikah di usia muda dari pada melanjutkan pendidikan. Orang tua mendukung saya dan pasangan mendukung kami menikah muda. 10. Saya menikah karena keluarga saya tidak memiliki penghasilan lebih untuk menyekolahkan saya ke tingkat yang lebih tinggi. 11. Pasangan saya sudah memiliki pekerjaan yang baik dan memiliki penghasilan yang lebih sehingga ada anggapan bahwa kebutuhan hidup saya akan selalu terpenuhi. Permasalahan Perkawinan Usia Muda 12. Pilihan saya menikah dengan pasangan saya adalah pilihan yang tepat. 13. Hidup perkawinan saya sangat harmonis 14. Saya selalu bersama pasangan saya dalam untung, malang, sehat, sakit, dan dalam suka maupun duka. 15. Saya belum mengenal lebih dalam sifat dan karakter pasangan saya dengan baik. 16. Saya dan pasangan belum terbuka satu sama lain dalam hal berbagi rasa cinta, bebagi rasa suka maupun duka. 17. Saya menyesal karena menikah di usia muda 18. Saya merasa menyesal/rugi karena tidak melanjutkan pendidikan. 19. Saya kadang-kadang mendapat kata-kata kasar dari pasangan ketika kami mengalami masalah. 20. Karena kesibukan pekerjaan, saya dan anakanak kurang mendapat perhatian lebih dari pasangan. (4)

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. Saya/pasangan tidak pernah ada waktu untuk berkumpul bersama anak-anak dan keluarga. 22. saya dan pasangan sehari-hari berkomunikasi menggunakan hanphone atau internet. 23. Kumunikasi dalam keluarga saya kurang baik dan tidak lancar. 24. Saya dan pasangan belum ada relasi yang mendalam karena kurang komunikasi secara personal. 25. Saya mendapat perlakuan kasar dari pasangan saya seperti di pukul (kekerasan fisik), kekerasan psikis, kekerasan seksual, kekerasan verbal (kata-kata) maupun nonverbal. 26. Dalam keluarga saya sering mengalami krisis ekonomi. 27. Penghasilan dalam sebulan belum bisa mencukupi kebutuhan keluarga saya. 28. Saya dan pasangan belum memiliki tabungan masa depan. 29. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya dan pasangan belum bisa menanamkan sikap hemat dalam pengeluaran. 30. Saya dan pasangan belum memiliki pekerjaan tetap 31. Saya dan pasangan tidak jujur/terbuka dalam hal keuangan rumah tangga 32. Saya dan pasangan belum memiliki momongan. 33. Setelah menikah pasangan saya tidak mau berdoa bersama lagi. 34. Saya dan pasangan nikah beda gereja/beda agama. 1) 2) 3) 4) 5) Pertanyaan Wawancara Menurut pendapat anda apa itu perkawinan usia muda? Menurut pendapat anda apakah ada pengaruh perkawinan usia muda terhadap keharmonisan keluarga? Mohon penjelasannya! Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat dalam perkawinan anda untuk menjadi keluarga yang harmonis dan bagaimana cara anda mengatasinya? Mohon penjelasan! Faktor utama apa yang mempengaruhi keharmonisan keluarga anda selama anda hidup bersama sebagai suami/istri? Jelaskan! Bagaimana usaha atau upaya anda untuk menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga anda? Sebutkan dan jelaskan! (5)

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4: Salah Satu Contoh Jawaban Kuesioner dan wawancara Responden (6)

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (7)

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (8)

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (9)

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (10)

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HASIL TES WAWANCARA TERHADAP PASANGAN SUAMI-ISTRI YANG USIA PERKAWINAN 1 SAMPAI DENGAN 5 TAHUN DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING A. Wawancara terhadap pasangan suami-istri yang usia perkawinan 1 tahun (R1: Responden 1) Keterangan: a. Usia Perkawinan Sekarang : 1 tahun b. Usia Saat Menikah : 20 tahun usia pasangan 21 tahun c. Jumlah Anak : Belum memiliki momongan d. Suku : Timor dan Dayak Benuaq e. Pekerjaan: - Saya : Ibu Rumah Tangga - Pasangan : Buruh semenisasi/tani f. Tempat Tinggal : Di rumah sendiri g. Pendidikan terakhir : - Saya : SMK - Pasangan : SMK 1. Menurut pendapat anda apa itu perkawinan usia muda? Perkawinan usia muda jika dipandang secara negatif adalah untuk senang-senang. Sedangkan bagi yang sudah memahami arti dari perkawinan adalah untuk selamanya bukan untuk senang-senang maka batas untuk usia menikah itu bagi perembuan lebih bagus usianya 23 tahun ke atas, sedangkan untuk laki-laki jika yang ingin lebih matang usianya 25 tahun ke atas. 2. Menurut pendapat anda apakah ada pengaruh perkawinan usia muda terhadap keharmonisan keluarga? Mohon penjelasannya! Ya!!! Hal ini kembali lagi pada diri pribadi dan pasangan untuk saling kontrol, saling percaya satu sama lain, jika kita saling mengerti maka tidak akan terjadi kesalah pahaman dan kecurigaan yang nantinya membawa diri kita dan pasangan pada ketidak-harmonisan. Namun, namanya kehidupan rumah tangga pasti ada lika-likunya. 3. Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat dalam perkawinan anda untuk menjadi keluarga yang harmonis dan bagaimana cara anda mengatasinya? Mohon, penjelasan! Faktor yang menghambat, pertama-tama kita tidak dapat kontrol diri sendiri dalam arti emosi tinggi, contohnya suami ngobrol sama seorang perempuan lalu istri cemburu. Artinya kurang dewasa. Belum tahu apa saja yang perlu dikerjakan dalam rumah tangga, pikiran masih seperti anak-anak masih ingin senang-senang. Sedangkan faktor yang mendukung salah satunya adalah saling memahami satu sama lain. 4. Faktor utama apa yang mempengaruhi keharmonisan keluarga anda selama anda hidup bersama sebagai suami istri? Jelaskan! Faktor utama yang mempengaruhi keharmonisan khusus pribadi, banyaknya faktor ekonomi dimana kebutuhan sehari-hari di dalam rumah kadang mengurang. Sedangkan faktor sosial umumnya ada gosip-gosip (membicarakan (11)

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI keadaan orang lain yang tidak sesuai fakta). Walau begitu tak perlu di bawa emosi. 5. Bagaimana usaha/upaya anda untuk menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga anda? Sebutkan dan jelaskan! Berusaha sebaik mungkin agar rumah tangga tetap bahagia walaupun susah atau senang harus tetap bisa menghadapi apapun kekurangan dari suami harus bisa terima, begitu juga dari suami bisa menerima segala kekurangan dan kelibahan diri masing-masing dan pasangan. Saling menerima saling mengerti dan memahami. Karena hidup di dalam keluarga selalu ada kekurangan namun Tuhan tidak menutup mata. Kami juga punya rencana ingin segera memiliki momongan. B. Wawancara terhadap pasangan suami-istri yang usia perkawinan 2 tahun (R2: Responden 2) Keterangan: a. Usia Perkawinan Sekarang : 2 tahun b. Usia Saat Menikah : 18/19 tahun usia pasangan 26/27 tahun c. Jumlah Anak : 2 (1 Perempuan dan 1 Laki-laki) d. Suku : Timor dan Dayak Tunjung e. Pekerjaan: - Saya : Ibu rumah tangga - Pasangan : Belum memiliki pekerjaan f. Tempat Tinggal : Di rumah orang tua g. Pendidikan terakhir : - Saya : SMK - Pasangan : SMP 1. Menurut pendapat anda apa itu perkawinan usia muda? Kurang tahu, mungkin mereka yang menikah diusia muda, belum terlalu dewasa, belum cukup umur, untuk itu idealnya menikah itu bagi perempuan usia 20 tahun sedangkan laki-laki usia 25 tahun sudah dewasa. 2. Menurut pendapat anda apakah ada pengaruh perkawinan usia muda terhadap keharmonisan keluarga? Mohon penjelasannya! Kalau pada diri saya tidak ada. kalau secara umum tidak tahu. 3. Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat dalam perkawinan anda untuk menjadi keluarga yang harmonis dan bagaimana cara anda mengatasinya? Mohon, penjelasan! Faktor yang menghambat terkadang ada kesalahpahaman seperti disuruh bantu kerja atau bergantian menjaga anak. Sedangkan mendukung untuk hidup harmonis kebutuhan ekonomi selalu terpenuhi. 4. Faktor utama apa yang mempengaruhi keharmonisan keluarga anda selama anda hidup bersama sebagai suami istri? Jelaskan! Tidak ada karena kehidupan sehari-hari selalu terpenuhi. 5. Bagaimana usaha/upaya anda untuk menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga anda? Sebutkan dan jelaskan! (12)

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Saling mengerti, pengertian seperti jika istri atau suami sedang mengerjakan sesuatu yang membutuhkan bantuan segera salah satunya secara peka untuk membantu. Saling terbuka seperti jika ada sebuah kesalahpahaman segera dikomunikasikan dan bersama-sama menyelesaikannya dengan damain. C. Wawancara terhadap pasangan suami-istri yang usia perkawinan 3 tahun (R3: Responden 3) Keterangan: a. Usia Perkawinan Sekarang : 3 tahun b. Usia Saat Menikah : 25 tahun usia pasangan 19 tahun c. Jumlah Anak : 1 (1 Laki-laki) d. Suku : Timor dan Timor e. Pekerjaan: - Saya : Buruh sawit - Pasangan : Kuliah/Mahasiwa f. Tempat Tinggal : Di rumah orang tua g. Pendidikan terakhir : - Saya : SMK - Pasangan : SMA (Sedang kuliah) 1. Menurut pendapat anda apa itu perkawinan usia muda? Sebenarnya baik seseorang menikah diusia muda, karena ketika memiliki anak, anak masih bisa melihat orang tuanya sehat. Untuk itu usia yang pas untuk menikah minimal buat perempuan 22 dan laki-laki 25 tahun sedangkan maksimalnya buat perempuan 25 dan laki-laki 27 tahun sudah sangat matang. 2. Menurut pendapat anda apakah ada pengaruh perkawinan usia muda terhadap keharmonisan keluarga? Mohon penjelasannya! Ya! Banyak faktor yang bisa menjadi masalah, seperti rasa cemburu yang berlebihan, masih bersikap kekanakanakan, kurang percaya. Kurang percaya ini seperti ketika keluar malam dan pulang pasangan langsung ngomel-ngomel. Dan masih banyak lagi. 3. Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat dalam perkawinan anda untuk menjadi keluarga yang harmonis dan bagaimana cara anda mengatasinya? Mohon, penjelasan! Faktor yang menghambat itu, kepribadian yang kurang dewasa dalam menghadapi masalah. Faktor yang mendukung, saling memberikan cinta kasih, dengan saling terbuka satu sama lain. 4. Faktor utama apa yang mempengaruhi keharmonisan keluarga anda selama anda hidup bersama sebagai suami istri? Jelaskan! Belum memiliki perkerjaan yang tetap, sehingga kebutuhan sehari-hari terkadang masih kurang. 5. Bagaimana usaha/upaya anda untuk menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga anda? Sebutkan dan jelaskan! (13)

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tentu banyak upaya yang dilakukan agar keharmonisan keluarga tetap harmonis, salah satunya meluangkan waktu untuk keluarga dengan berlibur bersama, saling tebuka dengan mengungkapkan cinta kasih. D. Wawancara terhadap pasangan suami-istri yang usia perkawinan 4 tahun (R4: Responden 4) Keterangan: a. Usia Perkawinan Sekarang : 4 tahun b. Usia Saat Menikah : 19 tahun usia pasangan 26 tahun c. Jumlah Anak : 4 (2 Perempuan dan 2 Laki-laki) d. Suku : Dayak dan Dayak e. Pekerjaan: - Saya : Ibu rumah tangga - Pasangan : Kuli bangunan/tani f. Tempat Tinggal : Kos-kosan g. Pendidikan terakhir : - Saya : SMP - Pasangan : SMA 1. Menurut pendapat anda apa itu perkawinan usia muda? Saya kurang tahu, tapi saya menikah umur mau kepala tiga sudah jadi tidak dibilang masih muda kecuali masih umuran lima belas tujuh belas tahun begitu mungkin bisa dibilang masih muda. Tapi suami saya itu ya bisa dibilang menikah di usia muda karena masih usia belasan begitu. 2. Menurut pendapat anda apakah ada pengaruh perkawinan usia muda terhadap keharmonisan keluarga? Mohon penjelasannya! Tidak! Jika, kita saling mengerti tidak ada pengaruh apa-apa, yang penting saling mengerti, memahami satu sama lain itu saja. 3. Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat dalam perkawinan anda untuk menjadi keluarga yang harmonis dan bagaimana cara anda mengatasinya? Mohon, penjelasan! Faktor yang mendukung pertama kita harus saling menghargai, kedua saling menjaga satu sama lain, ketiga saling mengerti anak-anak maksudnya kebutuhan anak-anak terpenuhi. Sedangkan faktor yang menghambat, belum punya keturunan, kedua keluarga dan ketiga lingkungan. Keluarga maksudnya terdapat perbedaan pendapat di dalam keluarga besar antara orang tua dan anak, sedangkan lingkungan maksudnya omongan orang lain dengan kata lain gosipgosip 4. Faktor utama apa yang mempengaruhi keharmonisan keluarga anda selama anda hidup bersama sebagai suami istri? Jelaskan! Perbedaan pendapat. Seperti misalnya saya pagi harus nores karet sedangkan suami saya sering bagun siang itu yang jadi masalahnya. 5. Bagaimana usaha/upaya anda untuk menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga anda? Sebutkan dan jelaskan! (14)

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Saling mendukung satu sama lain, jika kita tidak saling mendukung apalah arti semua hubungan yang sudah di bangun dan lebih dari itu saling percaya satu sama lain. E. Wawancara terhadap pasangan suami-istri yang usia perkawinan 5 tahun (R5: Responden 5) Keterangan: a. Usia Perkawinan Sekarang : 5 tahun b. Usia Saat Menikah : 19 tahun usia pasangan 27 tahun c. Jumlah Anak : 2 (1 Perempuan dan 1 Laki-laki) d. Suku : Timor dan Timor e. Pekerjaan: - Saya : Guru - Pasangan : Kuliah f. Tempat Tinggal : Rumah sendiri g. Pendidikan terakhir : - Saya : SMK - Pasangan : SMK 1. Menurut pendapat anda apa itu perkawinan usia muda? Perkawinan usia muda menurut saya perkawinan yang menghambat masa depan. Karena pada masa muda itu adalah masa-masa masih harus di bangku sekolah dan itu menghambat masa depan dan itu bisa dibilang adalah perkawinan yang tergesa-gesa. 2. Menurut pendapat anda apakah ada pengaruh perkawinan usia muda terhadap keharmonisan keluarga? Mohon penjelasannya! Ya. Ada pengaruh, Seperti yang sudah saya katakan diawal bahwa itu adalah perkawinan yang tergesa-gesa dan yang menghambat masa depan. Kalau perkawinan diusia muda mereka akan menghadapi berbagai macam faktor yang pertama masalah ekonomi, mending kalau salah satu sudah mempunyai pekerjaan, kalau sama-sama belum punya pekerjaan akan menjadi kendala yang peling utama adalah ekonomi dan lainnya itu karena pergaulan bebas, maksudnya bukan karena niat mau menikah tetapi karena sudah “celaka” telah hamil atau menghamili. Faktor ekonomi tadi misalnya suaminya SD dan istrinya SMP usia mereka masih duabelas tahun, limabelas tahun, itukan bisa dibilang masa anakanak/remaja masih perlu banyak belajar, pengenalan dan tiba-tiba berkaluarga maka akan bingung saya ini nanti kerja apa untuk bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga saya. Ya, seperti yang saya alami seperti itu. 3. Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat dalam perkawinan anda untuk menjadi keluarga yang harmonis dan bagaimana cara anda mengatasinya? Mohon, penjelasan! Faktor yang mendukung salah satunya hanya anak saja yang membuat kita bertahan hidup mau bersama-sama. Kalau tidak ada anak ngapain mau bertahan hidup. Ada rasa bertangung jawab aja kalau sudah punya anak. Faktor yang menghambat ya itu tadi seperti yang saya bilang tadi faktor yang (15)

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menghambat itu ya faktor ekonomi jika ekonomi jadi sebuah kendala pikiran kita terbagi-bagi yang satu mau pergi bekerja. Mungkin yang satu kerja di pulau Bali contoh terus yang saatunya di Kalimanatan sini dan ujung-ujungnya diakan masih anak-anak belum puas dengan masa remajanya, ketika dia bertemu hal yang baru dia menikah lagi di sana dan sang di sini menikah itu jadi kendala jadi masalah. 4. Faktor utama apa yang mempengaruhi keharmonisan keluarga anda selama anda hidup bersama sebagai suami istri? Jelaskan! Yang utama itu kita masih selisih paham, sering berbeda pendapat masih belum terlalu saling memahami dan diantaranya bukan hanya itu yang menjadi kendala kembali lagi ke ekonomi menjadi masalah. Sudah tidak kompak ekonomi lagi tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Hal yang positif menikah diusia muda saya kira hampir tidak ada kecuali keduanya benarbenar niat hanya untuk mau melahirkan anak saja, jadi dia merasa untung, dia anggap anak itu sebagai deposit atau asset dan itu menguntungkan kalau ada yang berpikiran seperti itu, tapi saya tidak berpikiran seperti itu. seandainya orang tuanya tidak punya pekerjaan sehingga tidak punya biaya untuk sekolahnya dan keduanya punya masalah yang sama kemudian cerita-cerita keduanya saling jatuh cinta kemudia mereka punya pola pikir yang sama oh anak ini adalah aset masa depan akhirnya mereka hidupnya hanya makan minum-makan minum dan melahirkan. Itu menjadi pandangan orang masing-masing dan kalau menurut saya tidak ada yang menguntungkan perkawinan diusia muda tidak ada hal positifnya. 5. Bagaimana usaha/upaya anda untuk menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga anda? Sebutkan dan jelaskan! Berusaha untuk saling menerima dan saling mengerti, kemudian yang paling intinya banyak-banyak sembayang. Datang ke gereja supa dapat pencerahan dari pastor terus bergau dengan orang-orang yang bertanggung jawab dalam berkomunikasi atrinya dengan orang-orang yang mengerti dan cukup dewasa dalam membina rumah tangga. Yang bisa mendidik kita ketika kita sudah berrumahtangga ya Gereja datang ke gereja yang muslim dantang ke masjid supaya dapat pencerahan iman terus-menerus. Kemudia bergaul dengan orangorang yang mau berbagi pengalaman diluar dari itu saya kira lebih banyak buruknya. Kalau dia lari tinggal di hutan terus anak-anaknya lagi yang menderita tidak punya pendidikan (16)

(186) No P IRT/Sw irt/Buruh IRT/Kar.sw Tani/Tani IRT/Wiras IRT/Tani IRT/Tani IRT/Tani Tani/Tani _ swsta/swst IRT/Swasta IRT/Swasta Petani/IRT IRT/Swasta IRT/Swasta IRT/Guru IRT/Swasta TT Kos Mes sendiri Ortu kontrak Ortu sendiri Ortu Ortu Ortu kontrak Ortu ortu Ortu sendiri ortu sendiri sendiri _ sendiri Swasta/Maha Ortu IRT/Tani Ortu Guru/Swasta sendiri IRT/Swasta sendiri Swasta/IRT Ortu Tani/IRT Ortu IRT/Swasta Kontrakan IRT/Swasta Ortu IRT/Swasta Kos-Kosan Guru/Swasta sendiri IRT/Sales Ortu IRT/Swasta Ortu IRT/Tani Pribadi Swasta/IRT sendiri _/IRT Ortu Tani/IRT _ Mah/Swast Kontrakan IRT/Swasta Sendiri Mah/Swast Ortu Swasta/Swas sendiri Swasta/IRT sendiri Guru/IRT Ortu Swasta/IRT Ortu Swasta/IRT Ortu Swasta/Swas Kontrakan IRT/Swasta Kontrakan IRT/Swasta Ortu IRT/Swasta Kontrakan IRT/Swasta Kontrakan Tani/Tani sendiri IRT/ART/Swa Kontrakan Mah/Swast Ortu IRT/Swasta Ortu NO PT SMP/SMA SMP/SD SLTA/SLTP SD/SMP SD/SMA SMP/SMP SMP/SD SMP/SD SD/SMP SMA/STM SMA/SMA SMP/SMK SMA/SMK SMK/SMP SLTP/SLTP SMK/SMP SMA/S1 SMA/SMA SMP/SMA SMA/SMA SMP/SMA S1/SMA SMK/D3 SMP/SMK SMK/SMA SMP/SMA SMP/SMA SMA/SD SMK/SMA SMP/SMA SMA/SMP SMA/SMP SMK/SMA SMA/SMA SMP/SMP SMA/SMA SMA/SMA SMA/S1 SMA/S1 SMA/SMA SMA/SMA D3/SMA SMA/SMA D3/SMA SMA/SMA SMA/SMA SMA/SMK D3/SMA SMP/SMA SMA/SMP SMA/SMA SMA/SMA 1 2 3 4 4 5 5 5 3 4 3 4 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 4 5 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 1 5 4 4 3 2 5 4 5 4 5 4 5 2 4 4 5 3 4 4 3 4 3 3 2 3 3 4 2 3 1 2 3 3 2 2 2 3 3 3 3 4 5 5 3 4 3 4 5 5 3 5 5 5 4 4 5 3 5 4 5 4 5 5 5 4 4 3 5 3 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 4 5 4 4 5 4 5 4 4 4 5 5 3 4 5 5 3 2 3 4 4 4 4 5 5 5 4 4 5 3 5 4 4 4 5 5 1 3 4 3 5 3 4 4 4 4 3 4 4 5 5 5 3 5 4 4 4 5 4 4 4 5 4 4 5 4 5 5 4 3 4 4 5 5 4 5 5 5 5 4 5 4 5 5 5 4 5 4 5 4 4 5 5 4 4 5 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 4 5 5 5 6 4 5 5 3 3 4 4 4 5 4 5 5 5 5 4 5 4 5 5 5 4 5 5 5 4 4 5 5 4 4 5 5 4 4 4 4 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 4 4 5 5 5 7 4 5 1 3 3 3 3 4 4 4 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 4 3 4 5 5 4 4 5 4 4 4 4 4 5 5 5 4 5 4 5 5 5 5 4 4 5 5 5 8 5 5 1 3 4 3 2 2 1 3 5 5 5 4 3 4 3 5 3 4 4 5 4 4 2 4 3 5 2 2 5 2 4 3 4 4 5 5 5 5 5 3 4 4 4 4 4 1 5 4 4 9 10 11 5 5 5 3 5 4 4 5 5 5 1 4 4 4 4 5 4 5 1 3 1 3 3 2 4 5 1 5 5 4 5 4 5 3 5 5 5 5 4 4 5 5 5 3 4 5 3 4 4 4 4 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 4 5 5 5 4 5 5 5 4 3 5 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 4 3 5 5 4 4 5 3 5 4 5 4 5 4 5 2 4 5 5 2 3 4 3 4 3 3 3 5 3 4 4 2 2 2 4 3 3 4 2 4 4 4 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 3 4 4 1 3 4 5 3 4 4 4 5 1 5 4 4 4 4 5 4 3 4 4 4 1 2 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 4 4 3 4 4 5 4 4 4 4 4 3 2 4 2 3 4 3 4 3 5 4 5 3 2 5 1 3 3 3 4 4 5 4 5 5 5 5 3 4 4 5 4 5 5 5 4 5 4 4 5 4 3 4 4 4 4 4 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 4 5 4 5 3 5 2 4 4 5 5 4 4 1 4 1 1 1 2 2 3 4 5 2 1 2 1 2 1 4 3 5 2 2 3 4 3 5 3 5 3 1 3 1 3 5 5 5 2 3 4 3 5 4 3 3 4 5 3 3 3 5 5 3 4 1 3 5 1 5 2 2 2 3 1 3 1 2 1 1 5 3 2 2 2 1 5 2 4 1 4 5 5 1 5 1 1 3 5 5 1 3 4 2 5 1 5 5 4 1 3 2 3 2 3 3 4 1 3 2 1 1 2 2 1 2 2 3 2 2 1 2 1 3 2 2 2 2 2 3 2 3 3 2 3 2 1 2 3 4 3 3 2 1 2 2 2 2 3 2 2 5 3 2 1 5 2 2 1 1 3 1 1 1 2 2 1 4 2 2 1 2 1 2 1 4 2 2 1 2 3 2 3 1 4 3 3 1 3 2 3 3 4 3 2 3 3 3 4 3 3 3 4 1 3 1 4 1 3 4 4 1 3 2 2 1 4 2 2 3 4 2 4 2 1 3 4 2 2 1 3 4 3 3 2 5 4 4 4 3 2 4 1 5 4 5 2 3 3 2 5 2 2 2 3 1 4 2 5 1 2 3 4 5 4 4 5 5 4 4 4 4 4 5 4 5 5 5 5 4 4 4 5 3 4 5 4 3 4 4 4 5 4 4 5 5 4 4 4 4 4 5 5 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 3 4 4 4 4 5 4 4 1 5 3 5 4 3 3 5 3 4 4 3 3 5 3 2 4 4 4 1 3 4 4 5 4 1 1 1 3 2 2 3 2 2 5 2 2 2 2 4 3 1 2 4 5 2 2 4 3 2 3 5 5 5 4 5 5 3 5 3 4 4 2 2 3 4 2 1 3 2 3 1 2 2 4 3 3 3 1 5 4 2 4 3 5 3 3 3 4 4 4 3 3 2 3 3 4 4 2 4 3 3 1 3 1 3 5 2 3 3 3 3 4 4 2 4 3 4 3 2 4 4 3 3 3 3 4 4 4 5 5 5 4 4 4 4 5 5 5 5 4 4 5 4 4 2 4 4 5 4 4 4 4 4 2 5 5 5 3 5 3 5 4 5 4 5 4 5 4 5 3 1 4 1 3 1 2 2 4 4 3 4 5 5 4 4 3 5 4 5 5 4 5 4 4 2 4 4 4 5 3 4 3 3 1 5 4 4 3 4 3 4 3 4 3 3 3 3 4 4 3 2 4 4 3 3 3 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 5 5 4 5 4 4 5 5 4 4 3 3 4 4 3 1 5 5 5 4 5 3 4 5 5 5 4 5 5 5 5 Harmonis Kepribadian Sosial Intelektual Ekonomi Kominikasi Keluarga Pekerjaan Iman Kekerasan NB: Kuesioner yang diadakan kepada 52 pasangan keluarga muda Katolik, yang mengisi kuesioner adalah suami/istri (bisa kedua-duanya karena kuesioner dititipkan dan diambil pada hari yang ditentukan) Keterangan: 4 4 3 4 3 4 3 3 3 3 4 4 5 1 2 2 2 4 2 4 4 2 2 3 1 3 2 2 3 4 2 3 4 1 4 4 3 2 2 4 4 2 4 2 2 2 4 4 2 3 3 2 4 4 3 1 4 3 2 4 3 4 4 3 1 1 2 2 2 3 2 3 2 2 1 2 1 4 2 2 3 3 2 3 4 1 3 3 3 2 4 3 4 2 4 4 3 2 3 4 2 2 3 2 4 5 2 4 5 5 5 5 2 3 3 1 1 1 2 2 2 5 2 2 1 2 1 2 3 5 2 1 3 3 4 2 5 1 3 4 5 2 2 2 2 3 4 2 3 2 3 3 4 5 3 3 3 5 4 4 5 5 5 5 2 4 4 1 1 4 4 4 4 5 4 2 4 3 3 3 4 5 3 1 3 4 4 4 4 1 4 3 2 3 4 3 2 4 3 2 3 3 2 3 2 5 2 3 4 4 3 4 5 1 4 4 5 3 2 1 1 1 2 4 2 3 1 3 5 2 1 2 1 4 2 1 4 4 2 5 3 4 4 2 3 3 4 4 5 4 4 4 3 4 5 4 4 5 3 4 4 4 3 4 5 1 4 3 4 3 2 2 1 1 2 4 3 2 3 3 4 2 4 1 4 4 2 2 3 3 2 2 3 1 3 3 2 2 1 1 2 2 4 2 1 2 2 2 2 2 2 3 4 3 4 4 2 3 3 2 3 2 2 5 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 4 3 2 2 2 3 1 4 2 1 3 3 4 2 1 1 1 2 2 3 2 2 1 2 2 1 2 1 3 2 2 1 2 2 4 2 5 3 2 5 5 1 2 4 2 2 5 2 2 2 5 2 5 2 2 1 2 3 1 4 1 1 3 4 4 2 3 1 3 2 1 4 3 2 3 2 1 3 3 3 4 4 2 4 2 4 4 2 2 3 2 1 5 1 2 2 2 3 3 4 1 2 1 1 2 2 2 2 2 3 1 4 3 1 3 4 4 2 1 1 4 1 4 4 3 5 2 2 3 2 2 1 4 4 2 1 3 4 4 2 2 3 3 4 5 1 2 2 2 3 2 3 4 2 3 2 4 4 2 2 2 3 1 1 3 1 3 2 3 2 1 2 5 2 4 3 2 2 4 3 2 2 2 1 4 4 1 5 4 4 4 3 2 1 2 1 1 1 2 2 1 2 3 4 1 2 1 1 1 4 2 3 2 2 2 2 2 1 3 3 3 2 3 2 5 4 5 4 3 4 4 4 4 4 2 4 4 5 4 5 5 5 5 4 5 4 2 5 5 4 2 2 2 4 1 4 4 3 3 2 4 4 2 1 3 4 4 4 4 4 4 4 3 2 5 3 5 5 5 4 4 4 2 4 5 2 3 3 3 5 4 5 5 5 5 4 4 4 1 5 3 2 2 2 4 3 3 4 3 1 2 2 4 3 4 3 4 4 4 5 4 4 4 2 2 5 4 5 5 5 4 4 4 1 5 5 2 3 4 3 5 4 5 4 5 4 5 4 3 4 3 1 4 2 2 2 4 1 4 1 2 1 2 1 4 4 4 3 3 4 3 3 4 4 4 4 2 4 3 4 4 4 3 4 3 1 4 5 3 3 3 4 4 4 5 3 5 2 5 4 5 3 2 1 5 2 2 2 4 3 3 2 3 2 2 4 4 4 4 3 2 4 4 5 1 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 4 2 3 5 4 4 4 3 5 4 5 3 5 5 5 4 3 4 1 1 4 2 2 2 4 2 3 2 3 1 3 2 4 4 4 2 3 4 4 5 4 4 3 1 4 5 4 5 5 4 4 4 5 2 5 5 3 4 4 3 4 3 1 3 5 4 3 4 1 3 1 1 1 2 2 2 3 5 2 1 2 1 1 1 4 2 2 2 2 2 3 2 1 3 1 4 1 3 2 3 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 1 1 1 2 1 5 5 5 4 5 5 1 2 2 2 5 5 4 1 2 1 2 1 2 2 2 2 3 1 3 1 1 2 3 1 1 1 5 5 1 1 1 1 1 1 4 1 4 1 1 3 2 2 3 3 5 3 3 4 4 3 1 1 2 4 3 2 4 3 2 1 2 1 3 1 4 3 2 2 2 3 3 2 1 4 1 4 1 3 2 3 4 4 4 3 2 2 2 4 2 2 2 4 1 5 5 4 2 4 2 2 1 2 5 1 1 2 2 2 2 3 1 1 2 1 1 1 2 2 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 3 5 5 1 5 1 1 1 1 1 1 5 1 1 1 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (17) UP UM A SK 1 3 20/23 _ DT/DT 2 4 21/15 2 DT/DT 3 5 23/20 1 Ti/Ti 4 4 18/20 2 Ti/Dt 5 5 20/20 1 Jaw/Dt 6 5 20/18 1 D/D 7 3 19/19 1 Dk/Jaw 8 2 23/19 _ D/D 9 1 16/18 _ Db/Dt 10 5 20/33 _ Dt/Db 11 1 22/16 Ti/D 12 1 18/21 1 Dt/Db 13 4/b 21/21 D/D 14 1 20/19 1 D/D 15 5 25/35 1 Ti/Ti 16 2 23/27 1 Ti/Ti 17 4.5 30/22 2 Flo/Ku 18 4 19/21 D/D 19 4 17/23 _ D/Ti 20 2/b 21/21 _ D/Flores 21 2 18/20 1 Ti/Ti 22 5 25/20 2 D/Ti 23 1 18/24 _ D/Ti 24 2 27/18 1 D/Ti 25 5 18/18 1 D/D 26 3 17/22 1 D/Ti 27 4 18/23 1 D/D 28 2 17/23 1 Ti/Ti 29 4 21/21 1 Ti/Ti 30 3 19/22 _ Flo/Ende 31 3 17/21 1 Ti/Ti 32 10/b 21/22 1 Ti/Ti 33 2 24/22 1 D/Ti 34 2016 27/33 1 D/Jawa 35 2 23/20 1 Ti/Jawa 36 1 22/28 Ti/Ti 37 1 21/25 Ti/D 38 1 20/28 1 D/D 39 3 22/26 1 D/D 40 1 20/21 _ D/Ti 41 2 25/20 _ Ti/Ti 42 2 24/22 _ Ti/Ti 43 2 22/21 1 D/D 44 2 20/23 _ Ti/D 45 4 18/20 _ Ti/Flo 46 2 19/25 1 D/D 47 1 19/24 _ Ti/Ti 48 1 22/24 _ Ti/D 49 4 19/24 2 D/D 50 3 18/25 _ D/Ti 51 1 22/27 1 Ti/Ti 52 1 21/27 1 Ti/Ti Lampiran 5: Rekap Kuesioner REKAP NILAI IDENTITAS RESPONDEN

(187)

Dokumen baru

Download (186 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TAHAPAN USIA REMAJA WANITA YANG MELAKUKAN PERKAWINAN USIA MUDA DI KECAMATAN SUKOWONO KABUPATEN JEMBER
0
5
21
ASPEK HUKUM PERLINDUNGAN HUTAN DAN MASYARAKAT ADAT TERHADAP PERTAMBANGAN BATU BARA DI KAMPUNG TUKUL KECAMATAN TERING KABUPATEN KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR.
0
2
16
SKRIPSI ASPEK HUKUM PERLINDUNGAN HUTAN DAN MASYARAKAT ADAT TERHADAP PERTAMBANGAN BATU BARA DI KAMPUNG TUKUL KECAMATAN TERING KABUPATEN KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR.
0
4
13
PENUTUP ASPEK HUKUM PERLINDUNGAN HUTAN DAN MASYARAKAT ADAT TERHADAP PERTAMBANGAN BATU BARA DI KAMPUNG TUKUL KECAMATAN TERING KABUPATEN KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR.
0
2
13
FAKTOR PENGARUH PERKAWINAN USIA MUDA DAM
0
0
17
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKAWINAN USIA MUDA PADA REMAJA PUTRI USIA 10-19 TAHUN DI KECAMATAN SELAKAU KABUPATEN SAMBAS
0
0
13
KEBERAGAMAAN PEREMPUAN KEPALA KELUARGA DI PONTIANAK TIMUR KALIMANTAN BARAT
0
0
14
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKAWINAN USIA MUDA DI PROVINSI GORONTALO
0
0
9
PROFIL AGROEKONOMI KABUPATEN KUTAI DI KALIMANTAN TIMUR
0
0
17
PERKAWINAN USIA MUDA DAN DAMPAKNYA TERHADAP TINGKAT PERCERAIAN DI KECAMATAN KALIDAWIR TULUNGAGUNG SKRIPSI
0
0
49
PENYESUAIAN PERKAWINAN PADA PASANGAN PERKAWINAN BEDA USIA (SUAMI LEBIH MUDA DARI ISTRI) SKRIPSI
0
0
18
PEMBINAAN KELUARGA MUDA KATOLIK SECARA INTEGRAL DI PAROKI SANTO ANTONIUS KOTABARU YOGYAKARTA
0
0
130
PERANAN KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN DALAM RANGKA MEMBANGUN HIDUP IMAN KELUARGA MUDA DI PAROKI SANTO MARKUS MELAK KUTAI BARAT KALIMANTAN TIMUR
0
0
188
USAHA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERKATEKESE UMAT BAGI PARA KATEKIS SUKARELA DI PAROKI KELUARGA SUCI TERING KEUSKUPAN AGUNG SAMARINDA SKRIPSI
0
0
151
UPAYA MEMBANGUN KELUARGA KRISTIANI MELALUI PENDAMPINGAN KELUARGA DI PAROKI KUNJUNGAN SANTA MARIA PENIUNG, KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT
0
0
137
Show more