Persepsi siswa, guru, dan kepala sekolah mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu - USD Repository

Gratis

0
0
145
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEPSI SISWA, GURU DAN KEPALA SEKOLAH MENGENAI PENERAPAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Christina Wahyu Cahyani NIM: 101134020 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEPSI SISWA, GURU DAN KEPALA SEKOLAH MENGENAI PENERAPAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Christina Wahyu Cahyani NIM: 101134020 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan untuk :  Tuhan Yesus Kristus, yang selalu memberikan berkat luar biasa.  Bunda Maria, yang selalu mendampingi dan mendoakanku.  Almamaterku Universitas Sanata Dharma. Alm. Eyang Suitbertus Pardi Dirjo Pranoto Alm. Eyang Stepanus Sarimin iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO Dream, believe, make it happen (Agnes Monica) Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya (Yoh 14:14) Keep smile and full spirit v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 13 Juni 2014 Penulis, Christina Wahyu Cahyani vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Christina Wahyu Cahyani NIM : 101134020 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul : Persepsi Siswa, Guru dan Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu, beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 13 Juni 2014 Yang menyatakan Christina Wahyu Cahyani vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PERSEPSI SISWA, GURU DAN KEPALA SEKOLAH MENGENAI PENERAPAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU Christina Wahyu Cahyani Universitas Sanata Dharma 2014 SD Kanisius Kadirojo merupakan sekolah adiwiyata yang telah menerapkan model pembelajaran terpadu. Melalui penelitian ini, maka dapat terlihat evaluasi dari berbagai pihak mengenai penerapan pembelajaran terpadu di SD Kanisius Kadirojo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) persepsi siswa kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu, (2) persepsi guru kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu, (3) persepsi kepala SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Responden dari penelitian ini adalah siswa kelas IV, guru IPA dan kepala sekolah SD Kanisius Kadirojo. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang disusun oleh peneliti sendiri yang terdiri dari 20 item. Teknik analisis data dalam penelitian ini dengan mencari mean dari skor kuesioner yang diperoleh. Validasi instrumen diperiksa dengan pendekatan validasi isi dan validasi konstruk oleh ahli. Hasil penelitian ini adalah (1) persepsi siswa kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu tergolong positif. Kesimpulan ini didukung dari hasil penghitungan mean siswa 3,41 > 3,406 yang merupakan mean keseluruhan, (2) persepsi guru kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu tergolong positif. Kesimpulan ini didukung dari hasil penghitungan mean guru 3,4 = 3,4 yang merupakan mean keseluruhan, (3) persepsi kepala SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu tergolong negatif. Kesimpulan ini didukung dari hasil penghitungan mean kepala sekolah 3,3 < 3,406 yang merupakan mean keseluruhan. Kesimpulannya siswa dan guru memiliki persepsi yang positif terhadap penerapan pembelajaran IPA terpadu, sedangkan kepala sekolah memiliki persepsi yang negatif. Kata kunci: persepsi, pembelajaran IPA Terpadu, siswa, guru, kepala sekolah viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE PERCEPTIONS OF STUDENTS, TEACHER AND PRINCIPAL REGARDED THE APPLICATION OF INTEGRATED SCIENCE LEARNING Christina Wahyu Cahyani Sanata Dharma University 2014 The Kanisius Kadirojo Elementary school is caring school environment which has implemented integrated learning model. Through this research, it can be seen from various parties regarding the evaluation of the application of integrated learning in Kanisius Kadirojo Elementary school. This study is aimed to determine: (1) fourth grade students' perceptions Kanisius Kadirojo concerning the application of integrated science teaching, (2) fourth grade teacher perceptions Kanisius Kadirojo school concerning the application of integrated science teaching, (3) the perception of Kanisius Kadirojo Elementary school principal concerning the application of learning science integrated. This research is a descriptive quantitative survey methods. Respondents of this study were fourth graders, a science teacher and Kanisius Kadirojo Elementary school principal. The instrument research was questionnaire that composed of 20 items. The questionnare was prepared by researcher. The questionnare was validated by expert judgement. The results of this research were (1) the perception of fourth grade students Kanisius Kadirojo concerning the application of integrated science teaching relatively positive. This conclusion was supported by the results mean students tally of 3.41 > 3.406 which is the positive perception, (2) fourth grade teacher perception Kanisius Kadirojo concerning the application of integrated science teaching relatively positive. This conclusion was supported from the results of the calculation of the mean teacher 3.4 = 3.4 which is the positive perception, (3) the perception of Kanisius Kadirojo Elementary school principal concerning the application of integrated science teaching relatively negative. This conclusion was supported from the results of the calculation of the mean headmaster 3.3 < 3.406 which is the negative perception. Keywords: perception, integrated science learning, student, teacher, principal ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan, yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak yang telah mendukung dan mendampingi penulis. Oleh karena itu, secara khusus penulis mengucapkan terima kasih secara tulus kepada : 1. Rohandi., Ph.D, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2. Gregorius Ari Nugrahanta, SJ., S.S., B.S.T., M.A., selaku Ketua Program Studi PGSD Universitas Sanata Dharma. 3. Drs. Y.B. Adimassana, M.A. dan Wahyu Wido Sari, S.Si., M. Biotech selaku dosen pembimbing skripsi, yang telah dengan sabar membimbing, memberikan banyak saran dan dukungan, serta meluangkan waktu untuk mendampingi penulis selama penyusunan skripsi. 4. Para dosen, karyawan dan staf PGSD yang telah memberikan kontribusi sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. 5. Seluruh pegawai perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah memberi layanan kepada penulis dalam mendapat referensi. 6. Th. Supartinah, selaku Kepala SD Kanisius Kadirojo yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian dan bersedia menjadi responden kepada penulis. 7. Parmo, selaku guru IPA kelas 4 SD Kanisius Kadirojo yang telah bersedia meluangkan waktu dan kesediaannya sebagai responden dalam penelitian ini. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Seluruh peserta didik kelas 4 SD Kanisius Kadirojo yang telah bersedia meluangkan waktu dan kesediaannya sebagai responden dalam penelitian. 9. Kedua orang tua, Ignatius Bowo Hariyanto dan Emiliana Yuniasih yang dengan setia memberi kasih sayang, semangat, nasehat, doa dan mengusahakan dana untuk penulis selama ini. Kakak penulis, Yulius Wahyu Putranto dan adik penulis, Agustinus Wahyu Wijayanto yang selalu memberikan dukungan. 10. Nenek dan seluruh keluarga besar yang selalu mendukung dan memberikan doa bagi penulis. Pakdhe Ngadikin dan Budhe Tutik, kak Nana, kak Astri, dan semuanya. 11. Teman-teman Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar angkatan 2010 kelas E (Danik, Tira, Vivi, Yenny, Risma, Tri, Dita, Yunita, Yuni, Shinta, Astri, Desta, Winda, dan semua teman yang tidak bisa disebutkan satu persatu), Kurni yang saling berbagi suka dan duka selama duduk di bangku kuliah, kebersamaan dan motivasi dalam mengerjakan skripsi. 12. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sumbang saran dari pembaca. Walaupun demikian, semoga karya ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Penulis xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... iv MOTTO ............................................................................................................. v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................ vi HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ......................... viii ABSTRAK ......................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................ ix KATA PENGANTAR ........................................................................................ x DAFTAR ISI ...................................................................................................... xii DAFTAR TABEL .............................................................................................. xiv DAFTAR DIAGRAM ........................................................................................ xv DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................................... 5 C. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 5 D. Manfaat Penelitian ................................................................................... 6 E. Definisi Istilah.......................................................................................... 7 BAB II LANDASAN TEORI............................................................................. 8 A. Kajian Pustaka ......................................................................................... 8 1. Teori Konstruktivisme ........................................................................ 8 2. Pembelajaran ...................................................................................... 10 3. Pembelajaran Terpadu ........................................................................ 14 4. Tinjauan Tentang Karakteriktik Anak kelas IV ................................... 20 5. Persepsi .............................................................................................. 21 B. Hasil Penelitian yang Relevan .................................................................. 24 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C. Skema ...................................................................................................... 27 D. Kerangka Berpikir .................................................................................... 28 E. Hipotesis .................................................................................................. 28 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ......................................................... 29 A. Jenis Penelitian......................................................................................... 29 B. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................................... 29 C. Subjek dan Objek Penelitian ..................................................................... 29 D. Variabel Penelitian ................................................................................... 30 E. Teknik Pengumpulan Data ....................................................................... 31 F. Sumber Data Penelitian ............................................................................ 32 G. Instrumen Penelitian ................................................................................. 32 H. Teknik Pengujian Instrumen ..................................................................... 33 I. Teknik Analisis Data ................................................................................ 34 J. Jadwal Penelitian...................................................................................... 36 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................................... 37 A. Hasil Penelitian ........................................................................................ 37 B. Pembahasan ............................................................................................. 38 1. Persepsi Siswa Mengenai Penerapan Pembelajaran Terpadu ............... 39 2. Persepsi Guru Mengenai Penerapan Pembelajaran Terpadu ................ 45 3. Persepsi Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran 46 Terpadu .............................................................................................. BAB V PENUTUP ............................................................................................. 74 A. Kesimpulan .............................................................................................. 74 B. Keterbatasan Penelitian ............................................................................ 75 C. Saran ........................................................................................................ 75 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 76 LAMPIRAN ....................................................................................................... 78 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1: Kisi-kisi Kuesioner untuk Siswa............................................................. 30 Tabel 2: Kisi-kisi Kuesioner untuk Guru .............................................................. 31 Tabel 3: Kisi-kisi Kuesioner untuk Kepala Sekolah ............................................. 31 Tabel 4: Rata-rata Keseluruhan ............................................................................ 38 Tabel 5: Persepsi Siswa Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Pernyataan Positif ................................................................................................ 39 Tabel 6: Persepsi Siswa Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Pernyataan Negatif............................................................................................... 40 Tabel 7: Persepsi Siswa Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu ........... ..43 Tabel 8: Persepsi Guru Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Pernyataan Positif ................................................................................................ 45 Tabel 9: Persepsi Guru Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Pernyataan Negatif............................................................................................... 45 Tabel 10: Persepsi Guru Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu ........... 45 Tabel 11: Persepsi Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Pernyataan Positif .................................................................................. 46 Tabel 12: Persepsi Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Pernyataan Negatif ................................................................................. 46 Tabel 13: Persepsi Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu ............................................................................................................... 46 Tabel 14: Rata-rata Setiap Subjek ........................................................................ 48 Tabel 15: Grand Mean Setiap Responden ............................................................ 49 Tabel 16: Aspek yang Perlu Ditingkatkan ............................................................ 50 Tabel 17: Aspek yang Sudah Baik ....................................................................... 56 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR DIAGRAM Diagram 1 : Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Evaluasi ..................................... 50 Diagram 2 : Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Pembelajaran ............................. 54 Diagram 3 : Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Penerimaan I .............................. 56 Diagram 4 : Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Penerimaan II ............................. 57 Diagram 5 : Hasil Kuesioner Item 1 ..................................................................... 61 Diagram 6 : Hasil Kuesioner Item 2 ..................................................................... 62 Diagram 7 : Hasil Kuesioner Item 3 ..................................................................... 62 Diagram 8 : Hasil Kuesioner Item 4 ..................................................................... 63 Diagram 9 : Hasil Kuesioner Item 5 ..................................................................... 64 Diagram 10 : Hasil Kuesioner Item 6 ................................................................... 64 Diagram 11 : Hasil Kuesioner Item 7 ................................................................... 65 Diagram 12 : Hasil Kuesioner Item 8 ................................................................... 66 Diagram 13 : Hasil Kuesioner Item 9 ................................................................... 66 Diagram 14 : Hasil Kuesioner Item 10 ................................................................. 67 Diagram 15 : Hasil Kuesioner Item 11 ................................................................. 68 Diagram 16 : Hasil Kuesioner Item 12 ................................................................. 68 Diagram 17 : Hasil Kuesioner Item 13 ................................................................. 69 Diagram 18 : Hasil Kuesioner Item 14 ................................................................. 70 Diagram 19 : Hasil Kuesioner Item 15 ................................................................. 70 Diagram 20 : Hasil Kuesioner Item 16 ................................................................. 71 Diagram 21 : Hasil Kuesioner Item 17 ................................................................. 71 Diagram 22 : Hasil Kuesioner Item 18 ................................................................. 72 Diagram 23 : Hasil Kuesioner Item 19 ................................................................. 73 Diagram 24 : Hasil Kuesioner Item 20 ................................................................. 73 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Foto ..................................................................................................... 78 Lampiran Kuesioner ............................................................................................ 79 Lampiran Lembar Validasi .................................................................................. 83 Lampiran Hasil Kuesioner ................................................................................... 94 Lampiran Surat Permohonan Ijin Penelitian ......................................................... 126 Lampiran Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ..................................... 127 Lampiran Biodata Mahasiswa .............................................................................. 128 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sarana untuk mengembangkan pola pikir manusia. Sekolah adalah salah satu lembaga yang berperan penting dalam proses pendidikan tersebut. Hal itu tidak terlepas dengan adanya kerjasama antar warga sekolah. Pada saat proses pembelajaran, guru dan siswa saling berinteraksi. Dalam mengelola kelas, guru diharapkan memiliki berbagai kompetensi yang dapat mendukung terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif. Berdasarkan SK Mendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru tercantum bahwa setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional (pasal 1 ayat 1). Guru diharapkan memiliki beberapa kompetensi untuk menunjang profesinya. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru adalah kompetensi pedagogik. Dalam kompetensi ini, guru dituntut untuk mampu merancang, melaksanakan serta melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran. Guru kelas berperan dalam mewujudkan kebijakan penyelenggaraan pembelajaran di Sekolah Dasar. Guru memiliki kebebasan untuk mengelola kelas dan mengemas pembelajaran sedemikian rupa sehingga anak merasa senang dan memiliki motivasi untuk belajar. Dalam hal ini, model pembelajaran merupakan salah satu cara untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 menyenangkan. Salah satu model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran terpadu. Dalam model tersebut, guru memiliki kebebasan untuk mengaitkan materi yang relevan dari berbagai bidang sehingga anak memperoleh keutuhan pengetahuan. Pembelajaran terpadu merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Model pembelajaran terpadu lebih luas daripada pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik merupakan salah satu bentuk dari model pembelajaran terpadu. Melalui model tersebut, diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuannya baik secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Model ini sesuai dengan karakteristik anak SD yang masih berpikir secara holistik. Anak dapat belajar banyak hal, meskipun mereka hanya merasa bermain. Pembelajaran terpadu diperlukan dalam proses pembelajaran di SD karena model ini memberikan pengalaman totalitas dalam pribadi anak. Eksplorasi suatu topik mendukung pelaksanaan pembelajaran terpadu. Dalam eksplorasi topik diangkat suatu tema tertentu. Kegiatan pembelajaran berlangsung di seputar tema kemudian membahas konsep-konsep pokok yang terkait dengan tema. Pengajaran terpadu memilih materi-materi yang dapat dikaitkan sehingga materi-materi tersebut dapat mengungkapkan tema secara bermakna. Pada anak SD, kecerdasan mereka berkembang sangat pesat. Namun, mereka masih bergantung pada benda-benda nyata di sekitarnya. Pandangan tentang hubungan antar konsep masih sederhana. Sedangkan pembelajaran yang terpisah-pisah membuat anak tidak melihat hubungan antar konsep. Hal ini menjadikan konsep-konsep menjadi abstrak. Sehingga anak dapat

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 mengembangkan keterampilannya dalam berpikir. Berbagai permasalahan muncul akibat pembelajaran yang terpisah-pisah. PISA (Program for International Assessment of Student) tahun 2009 memberikan hasil yang kurang memuaskan bagi Indonesia. Ada tiga aspek yang diteliti PISA, yakni kemampuan membaca, matematika, dan sains. Indonesia menduduki 10 besar terbawah dari 65 negara. Kemampuan membaca mendapat nilai 57, kemampuan matematika mendapat nilai 61 dan kemampuan sains mendapat nilai 60. Hal ini mencerminkan sistem pendidikan Indonesia yang sedang berjalan saat ini. Maka perlu adanya pembaharuan pendidikan di Indonesia, salah satunya dari model pembelajaran yang digunakan. Hasil tersebut dapat disebabkan oleh pelaksanaan model pembelajaran terpadu yang kurang maksimal. Pemerintah yang telah menerapkan kurikulum 2013 berupaya untuk memaksimalkan pelaksanaan model pembelajaran terpadu. Guru sebagai ujung tombak pendidikan memberikan dampak yang besar bagi siswa. Realitas yang ada adalah guru belum memahami tugas pokok guru kelas. Sebagian besar guru masih menggunakan model pembelajaran yang konvensional. Namun seiring berjalannya waktu, ada perubahan paradigma pembelajaran dari behaviorisme menjadi konstruktivisme. Hal ini memerlukan kesadaran dari guru untuk mengubah model pembelajaran yang konvensional menjadi model pembelajaran yang lebih inovatif. Menurut pengamatan sementara pada bulan September 2013, peneliti melihat bahwa SD Kanisius Kadirojo merupakan sekolah adiwiyata yang telah menerapkan model pembelajaran terpadu. Peneliti mendengarkan seminar dengan narasumber kepala sekolah SD Kanisius Kadirojo mengenai pelaksanaan model

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 pembelajaran terpadu di sekolah tersebut. Selain itu, peneliti juga menyaksikan wawancara yang dilakukan di sebuah televisi dengan narasumber kepala sekolah SD Kanisius Kadirojo. Berdasarkan pengamatan tersebut maka SD Kanisius Kadirojo termasuk dalam sekolah adiwiyata. Sekolah adiwiyata merupakan sekolah yang peduli terhadap lingkungan sehat, bersih serta indah. Melalui penelitian ini, maka dapat dilihat kualitas penerapan pembelajaran terpadu di SD Kanisius Kadirojo. Kegiatan yang dilakukan oleh siswa sarat akan nilai-nilai dan pengetahuan. Secara konkrit, sekolah tersebut telah menyelenggarakan penanaman pohon di lereng Merapi, peringatan hari sampah yang dimeriahkan dengan lomba dan pameran, peringatan hari bumi, peringatan hari air, serta berbagai kegiatan berbasis lingkungan. Pembelajaran juga tidak selalu dilakukan di dalam kelas. Guru dapat mengajak anak untuk melakukan aktivitas di luar kelas. Model pembelajaran yang seperti itu dapat mengembangkan kreatifitasnya dalam merancang kegiatan pembelajaran. Peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian berjudul Persepsi Siswa, Guru, dan Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu dengan alasan untuk mengevaluasi pelaksanaan model pembelajaran terpadu di SD Kanisius Kadirojo. SD Kanisius Kadirojo merupakan salah satu sekolah yang telah menerapkan model pembelajaran terpadu dengan baik. Hal ini dapat terlihat dari berbagai kriteria yang telah terpenuhi. Beberapa kriteria penerapan pembelajaran terpadu adalah adanya fase: pendahuluan, presensi materi, membimbing pelatihan, menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik, mengembangkan dengan memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan, serta menganalisis dan mengevaluasi (Trianto, 2010: 68).

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 Peneliti memilih kelas IV dengan alasan tingkat tersebut merupakan tahap awal dari kelas tinggi sehingga dapat terlihat jelas kualitas penerapan pembelajaran IPA terpadu. Selain itu, dalam kurikulum 2013 pemerintah melakukan uji coba pembelajaran terpadu pada kelas IV. Peneliti memilih pelajaran IPA dengan alasan sekolah tersebut merupakan sekolah yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka permasalahan yang akan diteliti dalam studi ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana persepsi siswa kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu ? 2. Bagaimana persepsi guru kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu ? 3. Bagaimana persepsi kepala SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu ? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan judul dan rumusan masalah yang peneliti kemukakan, maka penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui persepsi siswa kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu. 2. Untuk mengetahui persepsi guru kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu.

(23) 6 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Untuk mengetahui persepsi kepala SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Guru Penelitian ini menjadi alat evaluasi dalam menerapkan model pembelajaran terpadu dan untuk merancang pembelajaran selanjutnya 2. Bagi Kepala Sekolah Penelitian ini dapat menjadi alat evaluasi dalam pelaksanaan pembelajaran IPA terpadu di sekolah ini. Selain itu juga sebagai alat evaluasi dalam pelaksanaan kurikulum 2013. 3. Bagi IPTEK Penelitian ini berguna bagi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai referensi yang dapat digunakan untuk penelitian lain. 4. Bagi Pembaca Penelitian ini memberikan pengetahuan khususnya tentang persepsi guru, siswa, dan kepala sekolah mengenai pembelajaran terpadu. 5. Bagi Peneliti Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dalam menerapkan model pembelajaran terpadu. Peneliti juga dapat mengetahui implementasi pembelajaran terpadu dari perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi yang dilakukan.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 E. Definisi Istilah 1. Persepsi Persepsi adalah cara pandang terhadap sesuatu atau mengutarakan pemahaman hasil olah daya pikir, artinya persepsi berkaitan dengan faktor-faktor eksternal yang di respons melalui panca indra, daya ingat, dan jiwa (Rosleny Marliani, 2010: 187-195). 2. Pembelajaran IPA terpadu adalah suatu kerangka model dalam proses pembelajaran yang meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran, meningkatkan minat dan motivasi, serta dapat mencapai beberapa kompetensi dasar sekaligus (Puskur, 2007: 7).

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka 1. Teori Konstruktivisme a. Pengertian Konstruktivisme Pandangan belajar menurut teori konstruktivisme adalah guru tidak hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tapi peserta didik harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Ini berarti guru harus membantu dengan cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi peserta didik untuk menerapkan sendiri ide-ide dan menggunakan sendiri strategi mereka untuk belajar (Mohammad, 2004: 2). Pembelajaran yang mendasarkan pada teori konstruktivisme ini bersifat membangun. Peserta didik berusaha untuk mengaitkan pengetahuan yang ada dalam dirinya dengan pengetahuan dari hasil pembelajaran secara mandiri. Dalam hal ini, guru bertugas untuk menjadi fasilitator yang merencanakan, mendampingi dan membimbing proses pembelajaran. Belajar akan menjadi lebih kaya jika anak dapat belajar dengan orang lain. Maka interaksi sosial menjadi hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Dari aktivitas pembelajaran bersama dengan teman lainnya maka anak dapat membangun pengetahuannya sendiri. Dalam mencapai tujuan tersebut, perlu adanya bimbingan dari orang lain. 8

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 b. Ciri-ciri Konstruktivisme Ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori konstuktivisme, yaitu: a. menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar; b. mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajar pada siswa; c. memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin dicapai; d. berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekankan pada hasil; e. mendorong siswa untuk mampu melakukan penyelidikan; f. menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar; g. mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada siswa; h. penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa; i. mendasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip teori kognitif; j. banyak menggunakan terminologi kognitif untuk menjelaskan proses pembelajaran, seperti: prediksi, inferensi, kreasi, dan analisis; k. menekankan pentingnya “bagaimana siswa belajar”; l. mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi dengan siswa lain dan guru; m. sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif; n. melibatkan siswa dalam situasi dunia nyata; o. menekankan pentingnya konteks dalam belajar; p. memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar; q. memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuan dan pemahaman baru yang didasarkan pada pengalaman nyata (Asrori, 2007: 6). Secara keseluruhan, konstruktivisme dapat diterapkan secara optimal jika siswa juga aktif dalam mengolah pengetahuan baru dari proses pembelajaran. Hal ini dapat melalui berbagai cara, misalnya tanya

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 jawab, diskusi, penugasan dan berbagai hal yang mendorong anak untuk membangun informasi dari pengalamannya. 2. Pembelajaran a. Pengertian Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. Tujuan pembelajaran adalah membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, ketrampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. Tujuan pembelajaran menggambarkan kemampuan atau tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai oleh siswa setelah mereka mengikuti suatu proses pembelajaran (Sugandi, 2000: 25). Pembelajaran ialah suatu kombinasi yang tersusun dari unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran (Hamalik, dalam Rizema, 2013: 17). Pembelajaran tidak semata-mata menyampaikan materi sesuai dengan target kurikulum, tanpa memperhatikan kondisi siswa. Pembelajaran adalah interaksi dua arah antara guru dan siswa, serta teori dan praktik (Rizema, 2013: 17). Pembelajaran adalah perpaduan dari dua aktivitas, yaitu aktivitas mengajar dan aktivitas belajar. Aktivitas mengajar menyangkut peranan seorang guru dalam menjalin komunikasi dengan siswa sebagai pembelajar. Dalam sudut pandang kognitif, belajar merupakan peristiwa

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 mental yang diatur oleh otak. Belajar adalah proses mental yang aktif untuk mencapai, mengingat, dan menggunakan pengetahuan. b. Prinsip-prinsip Pembelajaran Prinsip-prinsip pembelajaran adalah pertama, kesiapan belajar. Faktor kesiapan baik fisik maupun psikologis merupakan kondisi awal suatu kegiatan belajar. Kondisi fisik dan psikologis ini biasanya sudah terjadi pada diri siswa sebelum ia masuk kelas. Oleh karena itu, guru tidak dapat terlalu banyak berbuat. Namun, guru diharapkan dapat mengurangi akibat dari kondisi tersebut dengan berbagai upaya pada saat membelajarkan siswa (Sugandi, 2000: 27). Kedua, perhatian. Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu obyek. Belajar sebagai suatu aktifitas yang kompleks membutuhkan perhatian dari siswa yang belajar. Oleh karena itu, guru perlu mengetahui barbagai kiat untuk menarik perhatian siswa pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung. Ketiga, motivasi. Motif adalah kekuatan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorong orang tersebut melakukan kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan. Motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif, saat orang melakukan aktifitas. Motivasi dapat menjadi aktif dan tidak aktif. Jika tidak aktif, maka siswa tidak bersemangat belajar. Dalam hal seperti ini, guru harus dapat memotivasi siswa agar siswa dapat mencapai tujuan belajar dengan baik.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Keempat, keaktifan siswa. Kegiatan belajar dilakukan oleh siswa sehingga siswa harus aktif. Dengan bantuan guru, siswa harus mampu mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Kelima, mengalami sendiri. Prinsip pengalaman ini sangat penting dalam belajar dan erat kaitannya dengan prinsip keaktifan. Siswa yang belajar dengan melakukan sendiri, akan memberikan hasil belajar yang lebih cepat dan pemahaman yang lebih mendalam. Keenam, pengulangan. Untuk mempelajari materi sampai pada taraf memahami, siswa perlu membaca, berpikir, mengingat, dan latihan. Dengan latihan berarti siswa mengulang-ulang materi yang dipelajari sehingga materi tersebut mudah diingat. Guru dapat mendorong siswa melakukan pengulangan, misalnya dengan memberikan pekerjaan rumah, membuat laporan dan mengadakan ulangan harian. Ketujuh, materi pelajaran yang menantang. Keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh rasa ingin tahu. Dengan sikap seperti ini motivasi anak akan meningkat. Rasa ingin tahu timbul saat guru memberikan pelajaran yang bersifat menantang atau problematis. Dengan pemberian materi yang problematis, akan membuat anak aktif belajar. Kedelapan, balikan dan penguatan. Balikan atau feedback adalah masukan penting bagi siswa maupun bagi guru. Dengan balikan, siswa dapat mengetahui sejauh mana kemmpuannya dalam suatu hal, dimana letak kekuatan dan kelemahannya. Balikan juga berharga bagi guru untuk menentukan perlakuan selanjutnya dalam pembelajaran. Penguatan atau reinforcement adalah suatu tindakan yang menyenangkan dari guru kepada

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 siswa yang telah berhasil melakukan suatu perbuatan belajar. Dengan penguatan diharapkan siswa mengulangi perbuatan baiknya tersebut. Prinsip pembelajaran yang terakhir adalah perbedaan individual. Masing-masing siswa mempunyai karakteristik baik dari segi fisik maupun psikis. Dengan adanya perbedaan ini, tentu minat serta kemampuan belajar mereka tidak sama. Guru harus memperhatikan siswa-siswa tertentu secara individual dan memikirkan model pengajaran yang berbeda bagi anak didik yang berbakat dengan yang kurang berbakat. c. Manfaat Pembelajaran Secara Umum Ada 4 (empat) manfaat pembelajaran, yaitu: memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri, memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar, membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran, serta memudahkan guru mengadakan penilaian (Sukmadinata, 2002). Ada 2 manfaat dari praktik pembelajaran. Pertama, pembelajaran sebagai perubahan perilaku. Salah satu contoh perubahannya adalah ketika seorang pembelajar yang awalnya tidak begitu perhatian dalam kelas ternyata berubah menjadi sangat perhatian. Kedua, pembelajaran sebagai perubahan kapasitas. Salah satu perubahannya adalah ketika seorang pembelajar yang awalnya takut pada pelajaran tertentu ternyata berubah menjadi seseorang yang sangat percaya diri dalam menyelesaikan pelajaran tersebut (Huda, 2013: 5).

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 3. Pembelajaran Terpadu a. Pengertian Pembelajaran Terpadu Pembelajaran terpadu adalah pendekatan holistik (a holistic approach) yang mengkombinasikan aspek epistemologi, sosial, psikologi dan pendekatan pedagogi. Dengan kata lain, pembelajaran terpadu dapat menghubungkan antara otak dan otot, antara individu dan individu, antara individu dan komunitas, dan antara domain-domain pengetahuan. Pembelajaran terpadu berasal dari kata integrated teaching and learning atau integrated curriculum approach sebagai usaha mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa dengan kemampuannya (Syaefudin, 2006: 4). Dalam pembelajaran terpadu, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain baik dalam satu bidang studi atau lebih dengan beragam pengalaman belajar anak. Guru dapat melakukannya secara spontan maupun melalui proses perencanaan. Menurut Collins (dalam Trianto, 2010 : 56), integrated learning occurs when an authentic event or exploration of a topics the driving force in the curriculum. By participating in the event/topic exploration, student learn both the processes and the content relating, to more then curriculum area at the same time. Maksudnya adalah pembelajaran terpadu akan terjadi apabila eksplorasi topik menjadi pengendali dalam kegiatan pembelajaran. Dengan berpartisipasi dalam eksplorasi topik tersebut siswa akan mempelajari materi ajar dan proses belajar beberapa mata pelajaran secara serempak. Siswa dapat lebih memahami materi secara menyeluruh dengan melihat keterkaitan dari beberapa pelajaran tersebut.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Pembelajaran terpadu dapat terjadi ketika siswa mengikuti kegiatan pembelajaran serta aktif dalam proses tersebut. Siswa dapat mempelajari proses aktivitas dan juga materi yang relevan dengan pembelajaran saat itu. Maka, materi yang dipelajari siswa lebih luas dan utuh. Apabila pembelajaran dikaitkan terpadu dengan merupakan tingkat pendekatan perkembangan pembelajaran anak, yang memperhatikan dan menyesuaikan pemberian konsep sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Pendekatan ini menolak drill-system sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. (Depdiknas, 1996 dalam Trianto, 2010: 56). Pembelajaran terpadu pada dasarnya dimaksudkan sebagai kegiatan mengajar dengan memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan cara ini dapat dilakukan dengan mengajarkan beberapa materi pelajaran disajikan tiap pertemuan (Sukandi, 2001: 3). b. Karakteristik Model Pembelajaran Terpadu Beberapa karakteristik pembelajaran terpadu, pertama holistik, yaitu suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi. Kedua, bermakna. Keterkaitan antara konsepkonsep lain akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari dan diharapkan anak mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah nyata di dalam kehidupannya. Ketiga,

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 aktif. Pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan penemuan maupun penemuan terbimbing. Peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran yang secara tidak langsung dapat memotivasi anak untuk belajar (Karli dan Margaretha, 2002: 15). Karakteristik pembelajaran terpadu meliputi: pertama, berpusat pada anak. Pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memberikan keleluasaan pada siswa seperti aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasai dan dibutuhkan sesuai perkembangannya. Dalam pembelajaran terpadu peran guru lebih banyak sebagai fasilitator dan siswa sebagai aktor (Tim Pengembang PGSD, 2001: 8). Kedua, otentik. Pembelajaran terpadu diprogramkan untuk melibatkan siswa secara langsung pada konsep dan prisip yang dipelajari sehinggan dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.Pemisahan antarbidang studi tidak begitu jelas. Ketiga, pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas. Pembelajaran terpadu memusatkan perhatian pada pengamatan suatu peristiwa dari beberapa mata pelajaran sekaligus. Pemisahan antara bidang studi tidak ditonjolkan sehingga memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena pembelajaran dari segala sisi. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Keempat, menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran. Pembelajaran terpadu mengkaji suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang membentuk semacam jalinan antarskema yang dimiliki oleh siswa, keterkaitan antara konsep-konsep lain akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari secara utuh dan diharapkan anak mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah nyata di dalam kehidupannya. Kelima, bersikap luwes. Pembelajaran terpadu bersifat luwes, sebab guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu bahan ajar dengan mata pelajaran lainnya, bahkan dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada. Keenam, hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya. c. Tahap-tahap Penerapan Model Pembelajaran Terpadu Pembelajaran terpadu menuntut guru untuk bekerja secara professional mulai tahap perencanaan, pelaksanaan hingga tahap penilaian. Agar pembelajaran terpadu dapat mencapai tujuan yang diharapkan guru harus menempuh prosedur-prosedur sebagai berikut: Pertama, memilih tema. Memilih tema terpadu dapat bersumber dari: minat anak, peristiwa khusus, kejadian yang tidak diduga, materi yang dimandatkan oleh lembaga, orang tua dan guru. Kriteria pemilihan tema adalah: relevansi topik dengan anak, pengalaman langsung, keragaman dan keseimbangan

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 dalam area kurikulum, ketersediaan alat-alat, potensi proyek (Trianto 2010: 58). Kedua, penjabaran tema. Tema yang sudah dipilih harus dijabarkan ke dalam sub tema dan konsep-konsep yang di dalamnya terkandung istilah, fakta dan prinsip, kemudian jabarkan kedalam, bidang-bidang pengembangan dan kegiatan belajar yang lebih operasional. Ketiga, perencanaan. Perencanaan harus dibuat secara tertulis sehingga memudahkan guru untuk mengetahui langkah-langkah apa yang harus ditempuh. Tentukan tujuan pembelajaran, kegiatan belajar, waktu, pengorganisasian anak, sumber rujukan, alat-alat permainan yang diperlukan, dan penilaian yang akan dilakukan. Keempat, pelaksanaan. Pada tahap pelaksanaan lakukan dan kembangkanlah kegiatan belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Lakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran dan kegiatan-kegiatan yang ditunjukkan anak. Kelima, penilaian. Penilaian dilakukan pada pelaksanaan dan akhir kegiatan pembelajaran dengan tujuan untuk mengamati proses dan kemajuan yang dicapai anak melalui kegiatan pembelajaran terpadu. d. Model-model Pembelajaran Terpadu yang Disarankan di SD Ada 3 model yang dipandang layak untuk dikembangkan dan mudah dilaksanakan pada pendidikan dasar (Prabowo dalam Trianto, 20010: 39-45). Ketiga model tersebut adalah :

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. 19 Model Connected (keterhubungan) adalah model yang mengintegrasikan satu konsep, keterampilan, atau kemampuan yang ditumbuhkembangkan dalam suatu pokok bahasan yang dikaitkan dengan konsep, keterampilan, atau kemampuan pada pokok bahasan lain, dalam satu bidang studi. 2. Model Webbed (jaring laba-laba) adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru dan siswa, tetapi dapat pula dengan cara diskusi sesama guru. Setelah tema disepakati, dikembangkan sub-sub temanya dengan memerhatikan kaitannya dengan bidang-bidang studi. Dari sub-sub tema ini dikembangkan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa. 3. Model Integrated merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi. Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan bidang studi dengan cara menemukan keterampilan, konsep, dan sikap yang saling tumpang tindih di dalam beberapa bidang studi Model pembelajaran yang dilaksanakan di SD Kanisius Kadirojo hanya 2, yakni model keterhubungan dan model tematik yang dilaksanakan pada mata pelajaran IPA.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 4. Tinjauan Tentang Karakteristik Anak Kelas IV SD Anak kelas IV berada pada tahap operasional kongkrit usia 7-11 atau 12 tahun (Piaget dalam Trianto, 2010 : 71). Pada periode ini anak dapat menggunakan operasi-operasi kongkretnya untuk membentuk operasi yang lebih kompleks. Kemajuan utama pada anak periode ini ialah bahwa ia tidak perlu berpikir dengan pertolongan benda-benda atau peristiwa-peristiwa konkret. Pada tahap operasional kongkrit, ada beberapa hal kemampuankemampuan utama, yakni perbaikan dalam kemampuan untuk berpikir secara logis, serta pemecahan masalah tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan. Siswa mulai untuk memandang “dunia” secara objektif dan berorientasi secara konseptual. Berpikir secara operasional kongkrit dapat dipandang sebagai tipe awal berpikir ilmiah. Dengan memberikan kesempatan melalui benda-benda konkret, siswa memulai untuk mengorganisasi penyelidikan dalam bentuk kelas-kelas dan variabel, mengukur variabel secara bermakna, dapat memahami dan mencatat data pada tabel, membentuk dan memahami hubungan sederhana, dan memprediksi serta menggeneralisasi suatu gejala dari pengalaman yang sering mereka jumpai (Depdiknas, 2002 : 11). Piaget yakin bahwa pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan. Selain itu, ia juga berkeyakinan bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi, berdiskusi, membantu memperjelas pemikiran, yang pada akhirnya membuat pemikiran itu menjadi lebih logis (Mohammad dalam Trianto, 2010 : 73).

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 5. Persepsi a. Pengertian Persepsi Pengertian persepsi yang dirumuskan para tokoh bermacammacam. Beberapa pendapat tentang pengertian persepsi diuraikan sebagai berikut : 1. Persepsi adalah tanggapan atau temuan gambaran langsung dari suatu atau temuan gambaran langsung dari suatu serapan seseorang dalam mengetahui beberapa hal melalui panca indera (Depdiknas, 2001: 259). 2. Persepsi adalah proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra, yaitu indra penglihatan, indra pendengaran, indra pembauan, indra pengecapan dan indra perabaan (Walgito, 2010: 99). 3. Persepsi adalah menggabungkan proses data-data yang indera mengorganisir (pengindraan) dan untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga individu dapat menyadari apa yang ada di sekelilingnya, termasuk sadar akan keadaan dirinya sendiri (Davidoff, 1988: 232). Berdasarkan definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah kesan gambaran atau tanggapan, pendapat dan penilaian yang dimiliki seseorang setelah orang tersebut menyerap untuk mengetahui beberapa hal (obyek), baik itu orang, benda, peristiwa, tingkah laku atau hal lain yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari melalui panca indera.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Indikator-indikator persepsi ada 2 macam (Robbin, 2003: 124130), yaitu: 1. Penerimaan Proses penerimaan merupakan indikator terjadinya persepsi dalam tahap fisiologis, yaitu berfungsinya indera untuk menangkap rangsang dari luar. 2. Evaluasi Rangsang-rangsang dari luar yang telah ditangkap indera, kemudian dievaluasi oleh individu. Evaluasi ini sangat subjektif. Individu yang satu menilai suatu rangsang sebagai sesuatu yang sulit dan membosankan. Tetapi individu yang lain menilai rangsang yang sama tersebut sebagai sesuatu yang bagus dan menyenangkan. b. Proses Terjadinya Persepsi Proses terjadinya persepsi melalui tahap-tahap sebagai berikut (Hamka, 2002: 81) : 1. Tahap pertama, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses kealaman atau proses fisik, yaitu proses ditangkapnya suatu stimulus (objek) oleh panca indera. 2. Tahap kedua, merupakan tahap yang dikenal dengan proses fisiologis, yaitu proses diteruskannya stimulus atau objek yang telah diterima alat indera melalui syaraf-syaraf sensoris ke otak.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 3. Tahap ketiga, merupakan proses yang dikenal dengan nama proses psikologis, yaitu proses dalam otak, sehingga individu mengerti, menyadari, menafsirkan dan menilai objek tersebut. 4. Tahap keempat, merupakan hasil yang diperoleh dari proses persepsi yaitu berupa tanggapan, gambaran atau kesan. c. Sifat Persepsi Telah dijelaskan bahwa terjadinya persepsi ditangkap melalui panca indera. Padahal panca indera individu yang satu dengan yang lain, berbeda keadaannya misalnya ketajaman dan normalitasnya. Selain itu, pengalaman-pengalaman tiap individu berbeda-beda, maka akn menyebabkan persepsi itu bersifat subjektif, berbeda-beda persepsi tiap individu, meskipun benda atau peristiwa yang dipersepsi sama. Ada beberapa sifat yang menyertai proses persepsi (New Comb dalam Arindita, 2003: 64), yaitu: 1. Konstanti (menetap), bahwa individu mempersepsikan kubus kayu itu sebagai kubus, meskipun warnanya berubah-ubah, atau besar kecilnya berbeda-beda. Demikian pula meskipun bahannya dari selain kayu. Seperti itu pula individu akan mempersepsikan seseorang sebagai orang itu sendiri (tetap), meskipun gerak-gerik, sifat dan tingkah lakunya berubah. 2. Selektif, bahwa tidak semua objek yang diterima dalam waktu yang sama akan dipersepsi, namun individu akan memilih tergantung keadaan psikologis individu. Misalnya objek mana yang menarik,

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 menyenangkan, berguna, kesesuaiannya dengan tingkat kemampuan individu dan sebagainya. 3. Bahwa objek-objek persepsi yang berupa informasi-informasi yang sama, dapat diorganisir, ditafsirkan dan dinilai secara berbeda oleh orang yang berbeda, maupun orang yang sama. B. Hasil Penelitian yang Relevan 1. Priscilla Van Rossum (2013) berjudul Persepsi Siswa Tentang Kemampuan Manajemen Waktu Belajar. Hasil dari penelitian tersebut adalah persepsi siswa kelas VIII SMP Pangudi Luhur I Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013 terhadap kemampuan manajemen waktu belajar menunjukkan sebagian siswa memiliki persepsi yang positif (48,68%) tentang kemampuan manajemen waktu belajar dan sebagian lagi negatif (51,31%) 2. Margaretha Hesti Hamdayani (2012) berjudul Persepsi Siswa Tentang Pelaksanaan Layanan Konseling Individual Kelas VII dan Kelas VIII di SMP Taman Dewasa Jetis Yogyakarta. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah pertama, sebagian besar siswa kelas VII dan VIII SMP Taman Dewasa Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2010/2011 memiliki persepsi yang cukup tentang pelaksanaan layanan konseling individual. Kedua, sebagian besar item siswa kelas VII dan kelas VIII tentang pelaksanaan layanan konseling individual terindikasi kategori sedang. 3. Huminata Eka Widya Sulistyowati (2013) berjudul Persepsi Siswa Kelas VIII SMP Stella Duce 1 Yogyakarta Mengenai Keberhasilannya

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 dalam Melaksanakan Tugas Perkembangan dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-Topik Bimbingan Klasikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 32 siswa (14%) berpendapat bahwa sangat berhasil dalam melaksanakan tugas perkembangannya, 129 siswa (56%) berpendapat bahwa berhasil dalam melaksanakan tugas perkembangannya, 63 siswa (28%) berpendapat bahwa cukup berhasil dalam melaksanakan tugas perkembangannya, 6 siswa (3%) berpendapat bahwa kurang berhasil dalam melaksanakan tugas perkembangannya, dan 1 siswa (0,4%) berpendapat bahwa tidak berhasil dalam melaksanakan tugas perkembangannya. 4. Budi Tri Utami (2012) tentang Persepsi Siswa Terhadap Pelaksanaan Proses Pembelajaran di SMP Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, tidak ada perbedaan persepsi siswa terhadap pelaksanaan proses pembelajaran di SMP RSBI ditinjau dari jenis kelamin. Kedua, tidak ada perbedaan persepsi siswa terhadap pelaksanaan proses pembelajaran di SMP RSBI ditinjau dari pekerjaan orang tua. Ketiga, tidak ada perbedaan persepsi siswa terhadap pelaksanaan proses pembelajaran di SMP RSBI ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua. 5. Disertasi Vicki Carpenter Kirk (2003) tentang Investigation of the Impact of Integrated Learning System Use on Mathematics Achievement of Elementary Students. East Tennessee State University menghasilkan kesimpulan bahwa penggunaan model pembelajaran terpadu dapat memberikan dampak positif, dampak negatif, serta tidak memberikan

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 dampak. Dampak negatifnya ketika model tersebut diterapkan secara tidak maksimal atau penggunaan keseluruhannya rendah. Tidak adanya dampak, dapat ditemukan dalam beberapa hal. Hal ini dapat dilihat bahwa tidak adanya dampak yang berbeda terhadap perbedaan jenis kelamin maupun perbedaan kemampuan kelas. Dampak positif model pembelajaran terpadu, pada penggunaan konsep dan keterampilan matematika. Secara keseluruhan, ada dua hal yang dapat diambil dari penelitian yang relevan, yakni adanya persepsi dan proses pembelajaran terpadu. Peneliti berusaha mengaitkan kedua hal tersebut dengan melihat persepsi dari siswa, guru dan kepala sekolah. Penelitian ini berjudul Persepsi Siswa, Guru dan Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu. Penelitian lainnya menggunakan subjek pada tingkatan sekolah menengah, sedangkan penelitian ini menggunakan subjek pada tingkatan sekolah dasar. Selain itu, subjek yang digunakan tidak hanya siswa, namun juga guru dan kepala sekolah.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 C. Skema Persepsi Pembelajaran Terpadu Priscilla Van Rossum (2013) berjudul Persepsi Siswa Tentang Kemampuan Manajemen Waktu Belajar 1. Vicki Carpenter Kirk (2003), Investigation of the Impact of Integrated Learning System Use on Mathematics Achievement of Elementary Students. Margaretha Hesti Hamdayani (2012) berjudul Persepsi Siswa Tentang Pelaksanaan Layanan Konseling Individual Kelas VII dan Kelas VIII di SMP Taman Dewasa Jetis Yogyakarta. Huminata Eka Widya Sulistyowati (2013) berjudul Persepsi Siswa Kelas VIII SMP Stella Duce 1 Yogyakarta Mengenai Keberhasilannya dalam Melaksanakan Tugas Perkembangan dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-Topik Bimbingan Klasikal. Budi Tri Utami (2012) tentang Persepsi Siswa Terhadap Pelaksanaan Proses Pembelajaran di SMP Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Persepsi Siswa, Guru, dan Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 D. Kerangka Berpikir Pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Dalam pendidikan, terdapat unsur pembelajaran yang membangun. Untuk mencapai pembelajaran yang baik maka diperlukan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menggunakan model pembelajaran. Namun terkadang model pembelajaran tersebut kurang sesuai dengan perkembangan anak. Salah satu model pembelajaran yang mendasarkan pada proses perkembangan anak adalah model pembelajaran terpadu. Berkaitan dengan pembelajaran terpadu maka peneliti akan melakukan penelitian mengenai pembelajaran IPA terpadu di kelas IV SD. SD Kanisius Kadirojo merupakan sekolah yang telah menerapkan pembelajaran terpadu. Penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan model pembelajaran terpadu. Evaluasi tersebut dapat dilihat dari persepsi siswa, guru dan kepala sekolah. Dengan demikian, peneliti ingin melakukan penelitian tentang persepsi penerapan pembelajaran IPA terpadu. E. Hipotesis Hipotesis ini merupakan jawaban sementara peneliti dan tidak diuji sebelumnya. 1. Persepsi siswa kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu adalah positif. 2. Persepsi guru kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu adalah positif. 3. Persepsi kepala SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu adalah positif.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Survei adalah suatu kegiatan penelitian yang meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai faktorfaktor, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diteliti (Nazir, 2009: 63). Penelitian survei mempunyai tujuan untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik dari satu fenomena tertentu dari keadaan sekarang dan atas dasar itu dapat ditarik kesimpulan tentang fenomena tersebut. B. Waktu dan Tempat Penelitian Waktu pelaksanaan penelitian dimulai pada tanggal 2 - 16 November 2013. Penelitian ini dilakukan di SD Kanisius Kadirojo yang beralamatkan di Kadirojo, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. C. Subjek dan Objek Penelitian Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas 4, guru IPA kelas 4 dan juga kepala sekolah. Kepala Sekolah, sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap sekolah yang dijadikan objek penelitian. Guru, sebagai orang yang menerapkan pembelajaran IPA terpadu. Siswa, yang memperoleh pembelajaran dengan model 29

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 pembelajaran terpadu. Adapun objek penelitian ini adalah persepsi mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu kelas IV. D. Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah suatu sifat aspek dari orang maupun objek yang menjadi variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari serta ditarik kesimpulan (Sugiono, 2010: 60). Variabel dalam penelitian ini bersifat tunggal yaitu persepsi siswa, guru dan kepala sekolah mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu. Dasar yang digunakan untuk mengetahui persepsi tersebut adalah sesuai dengan dimensi penerapan pembelajaran IPA terpadu. Sub variabel tersebut kemudian dijabarkan menjadi indikator-indikator yang nantinya digunakan sebagai pertanyaan dalam kuesioner. Untuk mengembangkan instrumen perlu dibuat kisi-kisi sebagai berikut: Tabel 1 Kisi-kisi Kuesioner untuk Siswa No Aspek Positif Negatif 11 6 1 Penerimaan 2 Evaluasi 9, 12 3, 20 3 Kesiapan 1, 14 16, 18 4 Motivasi 8 2 5 Keaktifan 4 10 6 Pembelajaran 7, 15, 19 5, 13, 17

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Tabel 2 Kisi-kisi Kuesioner untuk Guru No Aspek Positif Negatif 1 Penerimaan 4 6 2 Evaluasi 20 14 3 Keterampilan 2 8 4 Perencanaan 1, 5, 19 3, 10, 17 5 Pelaksanaan 7, 13 9, 16, 18 6 Penilaian 11 12, 15 Tabel 3 Kisi-kisi Kuesioner untuk Kepala Sekolah No Aspek Positif Negatif 2, 10 4, 12 7 20 1 Penerimaan 2 Evaluasi 3 Perencanaan 1, 8, 14 6, 16, 18 4 Pelaksanaan 3, 5, 13, 15, 19 9, 11, 17 E. Teknik Pengumpulan Data Berdasarkan jenis penelitian kuantitatif survei, maka peneliti menggunakan metode pengumpulan data kuesioner. Kuesioner merupakan sejumlah pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. Berdasarkan bentuknya, maka ada 4 bentuk kuesioner, yakni kuesioner pilihan ganda, kuesioner isian, check list, dan rating-scale (skala bertingkat). Penelitian ini menggunakan kuesioner berbentuk rating-scale (skala bertingkat). Kuesioner berbentuk rating-scale (skala bertingkat) adalah sebuah pernyataan diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan (Arikunto, 2010:195).

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah siswa kelas IV, guru IPA, dan kepala sekolah. F. Sumber Data Penelitian Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2010: 172). Penelitian ini menggunakan kuesioner dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti. Responden dari penelitian ini adalah siswa kelas IV, guru IPA, dan kepala SD Kanisius Kadirojo. Sehubungan dengan wilayah sumber data yang dijadikan subjek penelitian, maka dikenal 3 jenis penelitian, yakni penelitian populasi, penelitian sampel, dan penelitian kasus (Arikunto, 2010: 173). Penelitian ini termasuk penelitian kasus. Penelitian kasus adalah suatu penelitian yang dilakukan secara intensif terinci dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu. Ditinjau dari wilayahnya, maka penelitian kasus hanya meliputi daerah atau subjek yang sangat sempit. Kesimpulan yang diambil ini hanya berlaku di tempat penelitian. Sehingga kesimpulan dari penelitian ini hanya berlaku di SD Kanisius Kadirojo. G. Instrumen Penelitian Instumen dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner yang berbentuk skala bertingkat dari 1-4 dengan ketentuan sangat setuju, setuju, sangat tidak setuju, dan tidak setuju. Kuesioner berbentuk skala bertingkat adalah sebuah pernyataan diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan (Arikunto, 2010:195).

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 H. Teknik Pengujian Instrumen 1. Uji Validitas Suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen yang digunakan tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur (Arikunto, 2010: 211). a. Uji Validitas Isi (Content Validity) Validitas isi yaitu derajat dimana sebuah tes evaluasi mengukur cakupan substansi yang ingin diukur. Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara indikator-indikator dengan item-item pernyataan dalam kuesioner. b. Uji Validitas Konstruk (Construct Validity) Validitas konstruk merupakan derajat yang menunjukkan suatu tes mengukur sebuah konstruk sementara atau hypotetical construct. Untuk menguji validitas konstruk, dapat digunakan pendapat dari ahli (judgment dikonstruksi experts). tentang Dalam penelitian aspek-aspek yang ini, setelah akan instrumen diukur dengan berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli. Ahli diminta pendapatnya tentang istrumen yang telah disusun. Ahli dalam pengujian instrumen ini adalah Drs. Adimassana, M.A. 2. Uji Reliabilitas Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Reliabilitas menunjukpada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel artinya dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan (Arikunto, 2010: 221). Dalam penelitian ini tidak ada uji reliabilitas dikarenakan validitas yang dilakukan adalah validitas pada expert judgement. I. Teknik Analisis Data Langkah-langkah analisis data (Arikunto, 2002: 209) ialah : a. Persiapan. Langkah persiapan dilakukan untuk mengecek identitas responden, pengecekan kelengkapan pengisian dan pengecekan lain yang bertujuan supaya data yang dikumpulkan dapat maksimal. b. Tabulasi. Dalam tabulasi ini adalah kegiatan mengelompokkan data ke dalam tabel frekuensi untuk mempermudah dalam menganalisa. Kegiatan tabulasi cording dan scoring. Cording adalah memberi kode pada setiap data. Scoring adalah pemberian skor pada jawaban responden untuk memperoleh data kuantitatif dalam penelitian ini untuk penentuan skor, penelitian menggunakan skala Likert. Ada 4 alternatif jawaban yang diberi tanda () yaitu sangat setuju, setuju, sangat tidak setuju, tidak setuju. Bobot yang diberikan untuk alternatif jawaban adalah: 1. Pernyataan positif Sangat Setuju (SS) :4 Setuju (S) :3 Tidak Setuju (TS) :2 Sangat Tidak Setuju (STS) :1

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 2. Pernyataan negatif Sangat Setuju (SS) :1 Setuju (S) :2 Tidak Setuju (TS) :3 Sangat Tidak Setuju (STS) :4 c. Penerapan data disesuaikan dengan pendekatan penelitian Alat analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencari mean dari skor kuesioner yang diperoleh. Mean digunakan untuk mengetahui atau menghitung nilai rata-rata. Pengitungan mean tersebut ditentukan dengan cara mengombinasikan bobot nilai tiap jawaban responden tersebut. Berdasarkan nilai maksimum dan nilai minimum, dapat diketahui persepsi responden. Ada 4 kategori persepsi responden yakni sangat negatif, negatif, positif, dan sangat positif. Rumus mean (Arikunto, 2005: 284) adalah sebagai berikut: 1. X = ∑X N Keterangan: X = Rata-rata hitung ∑X = Jumlah semua nilai kuesioner N = Jumlah responden Total Rata-rata hitung 2. Grand Mean (X) = Jumlah pertanyaan Langkah selanjutnya data dijabarkan dalam bentuk kalimat yang mengandung kesimpulan.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Persiapan Tabulasi Penerapan data disesuaikan dengan pendekatan penelitian Gambar 1 Diagram tahap analisis data J. Jadwal Penelitian No 1 Tahap Waktu 23 September Revisi Bab I Pembuatan 27 September Revisi Bab II Proposal 3 Oktober Revisi Bab III Penelitian 7 Oktober Revisi dan Validasi Instrumen 25-31 Oktober 2 Kegiatan Pengurusan Ijin Penelitian Penelitian November Penyebaran kuesioner Penulisan Hasil Januari-April Penulisan Bab IV Penelitian Mei-Juni Penulisan Bab V 3 36

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian dilakukan di SD Kanisius Kadirojo yang beralamat di Kadirojo, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 2-16 November 2013 tahun ajaran 2013/2014. Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, guru, dan siswa. Objek dari penelitian ini adalah persepsi mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu kelas 4 SD. Berdasarkan hasil kuesioner yang dikembalikan maka selanjutnya akan diolah dengan cara memberi nomor 1 sampai 29 sesuai jumlah responden. Kemudian peneliti memberi skor jawaban responden pada masing-masing butir pernyataan. Lalu kuesioner diolah dengan cara memasukkan jawaban responden ke dalam tabulasi data yang telah disiapkan. Ada 4 alternatif jawaban yang diberi tanda () yaitu sangat setuju, setuju, sangat tidak setuju, tidak setuju. Apabila pernyataan positif, jawaban responden Sangat Setuju (SS) skor 4, Setuju (S) skor 3, Tidak Setuju (TS) skor 2, Sangat Tidak Setuju (STS) skor 1. Sebaliknya jika pernyataan negatif, jawaban responden Sangat Setuju (SS) skor 1, Setuju (S) skor 2, Tidak Setuju (TS) skor 3, Sangat Tidak Setuju (STS) skor 4. Alat analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan mencari mean dari skor kuesioner yang diperoleh. Mean digunakan untuk mengetahui atau menghitung nilai rata-rata. Pengitungan mean tersebut ditentukan dengan cara mengombinasikan bobot nilai tiap jawaban responden tersebut berdasarkan nilai 37

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 maksimum dan nilai minimum, dapat diketahui persepsi responden. Menurut Arikunto (2005:284) rumus mean adalah sebagai berikut: X= ∑X N Keterangan: X = Rata-rata hitung ∑X = Jumlah semua nilai kuesioner N = Jumlah responden Total Rata-rata hitung Grand Mean (X) = Jumlah pertanyaan Dari ketiga subjek penelitian maka peneliti membuat rata-rata keseluruhan. Tabel 4 Rata-Rata Keseluruhan Jumlah skor No Subjek Rata-Rata Grand Keseluruhan Mean 68,12 3,406 Total kuesioner 1 Siswa 1978 2 Guru 68 3 Kepala Sekolah 66 2112 B. Pembahasan Peneliti membagi persepsi responden menjadi 4 kategori, yakni persepsi sangat negatif, negatif, positif, dan sangat positif. Hal itu dapat terlihat pada garis bilangan yang menunjukkan rentang 0 sampai 4.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Garis bilangan kategori persepsi responden ini terbagi menjadi 4 bagian. Nilai tengahnya adalah rata-rata keseluruhan. Lalu masing-masing bagian dibagi lagi menjadi 2 bagian sama besar. Persepsi sangat negatif jika grand mean 0 sampai 1,7. Persepsi negatif jika grand mean 1,78 sampai 3,4. Persepsi positif jika grand mean 3,45 sampai 3,7. Persepsi sangat positif jika grand mean 3,78 sampai 4. Pemilihan kategori persepsi ini berdasarkan grand mean. Garis bilangan persepsi responden ditunjukkan seperti gambar berikut. 0 1,7 3,4 Sangat negatif Negatif 3,7 Positif 4 Sangat Positif Gambar 2 Garis bilangan persepsi responden 1. Persepsi Siswa Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Tabel 5 Persepsi Siswa Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu No Pernyataan Positif No Item Pernyataan 9 11 12 14 3 4 3 3 1 1 3 4 3 7 3 8 3 15 4 19 3 2 3 4 3 4 4 4 4 4 3 4 3 3 4 3 4 3 2 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 3 3 2 5 3 4 3 4 4 3 3 4 4 3 6 3 3 4 4 3 4 3 4 3 3 7 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 8 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 9 4 4 4 4 3 3 4 4 3 4 10 3 4 4 4 4 3 3 3 4 3 11 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 ∑ 32 37 33 33 35 34 36 32 37 35 31

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No No Item Pernyataan 9 11 12 14 4 4 4 4 12 1 4 4 4 7 3 8 4 15 4 19 3 13 3 3 4 4 3 3 3 3 4 3 14 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 15 4 4 3 3 3 4 3 4 3 2 16 3 1 3 3 3 4 3 4 3 3 17 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 18 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 19 4 4 3 4 3 4 3 4 3 1 20 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 21 4 4 4 3 4 4 3 4 3 4 22 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 23 3 4 3 4 4 4 3 4 3 3 24 4 4 3 4 3 4 4 3 4 2 25 3 4 3 3 3 4 4 4 4 4 26 4 4 4 2 4 3 3 4 1 1 27 3 4 3 4 4 3 4 4 3 3 28 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 29 3 4 3 3 1 4 4 3 1 4 99 108 97 103 98 104 95 105 94 89 ∑ 40 ∑ 38 33 39 33 30 32 39 33 39 37 32 35 35 36 30 35 31 30 Tabel 6 Persepsi Siswa Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu No Pernyataan Negatif No Item Pernyataan 10 13 16 17 3 3 3 2 1 2 4 3 3 5 2 6 3 2 4 2 1 4 1 4 4 3 4 4 3 4 1 2 4 4 4 4 4 4 5 4 3 4 4 6 4 4 3 3 ∑ 18 3 20 3 29 3 4 4 31 3 3 2 3 29 4 4 4 4 3 39 4 4 4 4 4 3 3 3 4 3 3 4 38 34

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 41 No Item Pernyataan ∑ 2 3 5 6 10 13 16 17 18 20 7 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 36 8 4 4 4 4 3 3 3 4 3 4 36 9 3 3 4 4 4 1 4 4 4 4 10 4 3 3 4 2 4 4 3 3 4 35 34 11 4 3 4 3 3 3 3 2 2 3 30 12 4 3 4 4 4 4 4 3 1 4 35 13 4 3 3 4 4 3 3 3 4 3 34 14 4 3 4 4 4 1 4 4 4 4 36 15 4 3 2 4 4 3 4 3 4 3 34 16 4 3 4 3 4 4 4 4 3 3 36 17 4 3 2 3 3 3 3 2 3 3 29 18 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 37 19 4 3 3 4 4 2 3 3 3 4 33 20 4 2 3 4 4 4 4 3 4 4 36 21 4 3 4 4 4 3 4 3 4 4 37 22 3 3 2 4 2 3 3 2 3 4 29 23 4 3 3 4 4 4 4 3 4 4 37 24 3 3 4 3 4 4 4 3 4 3 35 25 4 2 4 4 4 4 3 3 4 4 36 26 3 3 3 4 3 2 1 3 2 4 28 27 4 3 2 4 2 4 3 2 4 4 32 28 4 3 2 3 4 4 3 3 4 4 34 29 3 3 4 4 4 4 4 3 4 4 37 111 88 92 108 98 95 102 88 98 106 ∑ Berdasarkan tabel 5 tersebut, terbatas pada pernyataan positif. Item yang mendapat nilai terendah adalah no 19 dengan nilai 89. Item tersebut berkaitan dengan tahap pembelajaran yakni penggunaan media dalam pelajaran IPA

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Terpadu. Sedangkan item yang mendapat nilai tertinggi adalah no 4 dengan nilai 108. Item tersebut berkaitan dengan keaktifan siswa. Berdasarkan tabel 6 tersebut, terbatas pada pernyataan negatif. Item yang mendapat nilai terendah adalah no 3 dan 17 dengan nilai 88. Item no 3 berkaitan dengan evaluasi yakni tingkat kesulitan siswa dalam pelajaran IPA Terpadu. Item no 17 berkaitan dengan pembelajaran mengenai kehadiran siswa ketika pembelajaran IPA Terpadu. Sedangkan item yang mendapat nilai tertinggi adalah no 6 dengan nilai 108. Item tersebut berkaitan dengan penerimaan. Kedua tabel tersebut menunjukkan persepsi siswa mengenai penerapan pembelajaran IPA Terpadu. Secara keseluruhan, dapat terlihat bahwa item yang mendapat nilai terendah adalah no 3 dan no 17 dengan nilai 88. Pada no 3, ada 4 siswa menjawab sangat tidak setuju, 22 siswa menjawab tidak setuju, 3 siswa menjawab setuju dan tidak ada siswa yang menjawab sangat setuju. Pada no 17, ada 6 siswa menjawab sangat tidak setuju, 18 siswa menjawab tidak setuju, 5 siswa menjawab setuju dan tidak ada siswa yang menjawab sangat setuju. Item tersebut berkaitan dengan tahap evaluasi dan tahap pembelajaran. Sedangkan item yang mendapat nilai tertinggi adalah no 4 dan no 6 dengan nilai 108. Pada no 4, ada 1 siswa menjawab sangat tidak setuju, tidak ada siswa menjawab tidak setuju, 5 siswa menjawab setuju dan 23 siswa yang menjawab sangat setuju. Pada no 6, tidak ada siswa menjawab sangat tidak setuju, tidak ada siswa menjawab tidak setuju, 3 siswa menjawab setuju dan 21 siswa yang menjawab sangat setuju. Item tersebut berkaitan dengan penerimaan.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 7 Persepsi Siswa Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 ∑ Skor Pernyataan Total 32 29 61 37 31 68 33 29 62 33 39 72 35 38 73 34 34 68 36 36 72 32 36 68 37 35 72 35 34 69 31 30 61 38 35 73 33 34 67 39 36 75 33 34 67 30 36 66 32 29 61 39 37 76 33 33 66 39 36 75 37 37 74 32 29 61 35 37 72 35 35 70 36 36 72 30 35 28 32 58 67 ∑ Skor Pernyataan Positif Negatif 43

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ∑ Skor Pernyataan Total 28 ∑ Skor Pernyataan Positif 31 34 65 29 30 37 67 No Negatif Jumlah semua nilai kuesioner X= ∑X N Keterangan: X = Rata-rata hitung ∑X = Jumlah semua nilai kuesioner N X= = Jumlah responden ∑X N = 1978 29 = 68,20 Total Rata-rata hitung Grand Mean (X) = Jumlah pertanyaan = 68,20 20 = 3,41 1978 44

(62) 45 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Persepsi Guru Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Tabel 8 Persepsi Guru Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Pernyataan Positif No Item Pernyataan No 1 2 4 5 7 11 13 19 20 4 4 4 4 3 4 4 4 4 1 ∑ 35 Tabel 9 Persepsi Guru Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Pernyataan Negatif No Item Pernyataan No 3 6 8 9 10 12 14 15 16 17 18 4 2 3 3 3 3 3 3 4 1 4 1 ∑ 33 Tabel 10 Persepsi Guru Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu ∑ Skor Pernyataan ∑ Skor Pernyataan Positif Total No Negatif 35 33 68 1 Berdasarkan tabel 8 tersebut, terbatas pada pernyataan positif. Item yang mendapat nilai terendah adalah no 7 dengan nilai 3. Item tersebut berkaitan dengan tahap pelaksanaan yakni mengenai pemilihan tema dalam pelajaran IPA Terpadu. Sedangkan item yang mendapat nilai tertinggi hampir semua item. Berdasarkan tabel 9 tersebut, terbatas pada pernyataan negatif. Item yang mendapat nilai terendah adalah no 17 dengan nilai 1. Item tersebut berkaitan dengan tahap perencanaan yakni mengenai penggunaan buku teks dalam pelajaran IPA Terpadu. Sedangkan item yang mendapat nilai tertinggi adalah no 3, 16 dan 18. Pada no 3, berkaitan dengan perencanaan. Sedangkan no 16 dan 18 berkaitan dengan pelaksanaan. X= ∑X N

(63) 46 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI = 68 1 = 68 Total Rata-rata hitung Grand Mean (X) = Jumlah pertanyaan = 68 20 = 3,4 3. Persepsi Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Tabel 11 Persepsi Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Pernyataan Positif No 1 1 4 2 3 3 4 5 4 No Item Pernyataan 7 8 10 13 4 4 4 3 14 4 15 19 3 3 ∑ 40 Tabel 12 Persepsi Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Pernyataan Negatif No 1 4 3 6 3 9 3 No Item Pernyataan 11 12 16 17 4 3 2 3 18 2 ∑ 20 3 26 Tabel 13 Persepsi Kepala Sekolah Mengenai Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu No 1 ∑ Skor Pernyataan Positif 40 ∑ Skor Pernyataan Total 26 66 Negatif

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 Berdasarkan tabel 11 tersebut, terbatas pada pernyataan positif. Item yang mendapat skor 3 adalah no 2, no 13, no 15, dan no 19. Item tersebut berkaitan dengan tahap penerimaan dan pelaksanaan. Sedangkan item yang mendapat skor 4 ada 16 item lainnya. Berdasarkan tabel 12 tersebut, terbatas pada pernyataan negatif. Item yang mendapat nilai terendah adalah no 16 dan 18 dengan nilai 2. Item tersebut berkaitan dengan tahap perencanaan. Sedangkan item yang mendapat nilai tertinggi adalah no 11. Pada no 11, berkaitan dengan pelaksanaan. X= ∑X N = 66 1 = 66 Total Rata-rata hitung Grand Mean (X) = Jumlah pertanyaan = 66 20 = 3,3 Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata setiap subjek dapat terlihat dari tabel berikut.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Tabel 14 Rata-Rata Setiap Subjek No Subjek 1 Siswa 2 Guru 3 Kepala Sekolah Mean Keseluruhan 3, 406 Mean Keterangan 3,41 Positif 3,4 Positif 3,3 Negatif Selain kuesioner, hal ini juga diperkuat dari hasil cross check dengan beberapa siswa. Peneliti bertanya secara informal kepada siswa tersebut mengenai pembelajaran IPA Terpadu. Mereka mengatakan bahwa dalam pembelajaran IPA terpadu sering melakukan berbagai kegiatan di kelas maupun di kebun sekolah. Peneliti juga melakukan cross check dengan guru. Peneliti bertanya secara informal kepada guru mengenai pembelajaran IPA Terpadu. Guru tersebut menjelaskan bahwa dalam kegiatan pembelajaran, siswa tidak hanya menghafal namun juga memahami. Guru juga melakukan kegiatan proyek selama 1 semester. Biasanya kegiatan proyek ini dilakukan di kebun sekolah. Selain siswa dan guru, peneliti juga melakukan cross check dengan kepala sekolah. Peneliti bertanya secara informal kepada kepala sekolah mengenai pembelajaran IPA Terpadu. Kepala sekolah menjelaskan bahwa awalnya SDK Kadirojo merupakan sekolah adiwiyata kabupaten tahun 2010. Lalu sampai tingkat provinsi, nasional, dan tahun 2013 merupakan sekolah adiwiyata mandiri yang mempunyai 10 SD binaan. Hal itu tidak terlepas dari pembelajaran IPA terpadu yang dilaksanakan di SDK Kadirojo. Pada tanggal 5 Juni 2013, Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memberikan

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 penghargaan kepada SDK Kadirojo sebagai sekolah peduli dan berbudaya lingkungan. Peneliti mengolah kuesioner yang telah diisi oleh responden. Dari kuesioner tersebut, peneliti mencari grand mean dari setiap responden. Hasilnya dapat terlihat dari tabel berikut. Tabel 15 Grand Mean Setiap Responden No Total Grand Mean 1 61 3,05 2 68 3,4 3 62 3,1 4 72 3,6 5 73 3,65 6 68 3,4 7 72 3,6 8 68 3,4 9 72 3,6 10 69 3,45 11 61 3,05 12 73 3,65 13 67 3,35 14 75 3,75 15 67 3,35 16 66 3,3 17 61 3,05 18 76 3,8 19 66 3,3 20 75 3,75 21 74 3,7 22 61 3,05 23 72 3,6 24 70 3,5 25 72 3,6 26 58 2,9 27 67 3,35 28 65 3,25 29 67 3,35 Berdasarkan tabel tersebut, maka ada 16 siswa yang memiliki rata-rata lebih dari sama dengan 3,4. Sedangkan 13 siswa lainnya memiliki rata-rata kurang

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 dari 3,4. Peneliti mencoba memetakan aspek-aspek yang perlu menjadi perhatian untuk ditingkatkan dan juga aspek-aspek yang sudah berjalan dengan baik. Tabel 16 Aspek yang Perlu Ditingkatkan No Aspek Subjek 1 Siswa Evaluasi dan Pembelajaran 2 Guru Perencanaan 3 Kepala Sekolah Perencanaan dan Pelaksanaan Peneliti menggambarkan jawaban responden dalam bentuk diagram. Aspek evaluasi dengan rumusan item saya merasa kesulitan menerima pelajaran IPA Terpadu. Diagram 1 Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Evaluasi Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Evaluasi Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Pandangan belajar menurut teori konstruktivisme adalah guru tidak hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tapi peserta didik harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Ini berarti guru harus membantu dengan cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi peserta didik untuk menerapkan sendiri ide-ide dan menggunakan sendiri strategi mereka untuk belajar (Mohammad, 2004: 2).

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Berdasarkan diagram tersebut, masih ada sebagian peserta didik yang merasa kesulitan dalam menerima pembelajaran. Menurut Mohammad, kesulitan yang dialami peserta didik dalam menerima pembelajaran dapat disebabkan dari dalam maupun dari luar diri peserta didik. Faktor dari dalam yang menyebabkan peserta didik kesulitan menerima pembelajaran tersebut adalah peserta didik kurang dapat membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Faktor dari luar adalah dari cara mengajar guru yang belum membuat informasi menjadi bermakna dan relevan bagi peserta didik. Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja. Tujuan pembelajaran adalah membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, ketrampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. Tujuan pembelajaran menggambarkan kemampuan atau tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai oleh siswa setelah mereka mengikuti suatu proses pembelajaran (Sugandi, 2000: 25). Sebagian peserta didik yang merasa kesulitan menerima pembelajaran juga mengartikan bahwa tujuan dari pembelajaran belum tercapai sepenuhnya. Menurut Sugandi, tujuan pembelajaran adalah membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman. Jika peserta didik masih merasa kesulitan, artinya peserta didik kurang mengalami. Tujuan pembelajaran lainnya menggambarkan kemampuan atau tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai oleh siswa setelah mereka

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 mengikuti suatu proses pembelajaran. Peserta didik yang mengalami kesulitan dalam menerima pembelajaran maka kemampuan atau tingkat penguasaannya juga kurang maksimal. Pembelajaran adalah interaksi dua arah antara guru dan siswa, serta teori dan praktik (Rizema, 2013: 17). Berdasarkan teori tersebut, maka pembelajaran bukan saja kepentingan peserta didik. Namun juga guru mempunyai peran dalam proses pembelajaran. Kesulitan peserta didik dapat terjadi akibat dari kurangnya guru dalam mengakomodasi kebutuhan peserta didik yang beragam dan memiliki gaya belajarnya masing-masing. Tujuan pembelajaran dapat tercapai melalui interaksi antara guru dengan peserta didik. Selain itu, pembelajaran tidak hanya berisi teori-teori namun juga praktik. Teori dan praktik sangat penting demi tercapainya pembelajaran. Peserta didik dapat mengembangkan aspek kognitifnya dengan adanya teori. Lalu aspek afektif dan kognitif dapat terlihat dari praktik yang dilakukan oleh peserta didik. Faktor kesiapan baik fisik maupun psikologis merupakan kondisi awal suatu kegiatan belajar. Kondisi fisik dan psikologis ini biasanya sudah terjadi pada diri siswa sebelum ia masuk kelas. Oleh karena itu, guru tidak dapat terlalu banyak berbuat. Namun, guru diharapkan dapat mengurangi akibat dari kondisi tersebut dengan berbagai upaya pada saat membelajarkan siswa (Sugandi, 2000: 27). Berdasarkan teori tersebut, ada dua faktor yang mempengaruhi kegiatan pembelajaran yakni faktor fisik dan faktor psikologis. Kedua faktor itu sudah terjadi sebelum pembelajaran. Hal ini sangat

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mempengaruhi aktivitas peserta didik dalam mengikuti 53 proses pembelajaran. Dalam teori tersebut juga disebutkan bahwa guru juga dapat mengurangi akibat dari faktor tersebut. Kondisi awal ini sangat menentukan kondisi peserta didik selanjutnya. Guru dapat melakukan beberapa hal yang dapat memfokuskan peserta didik pada pembelajaran. Misalnya ketika peserta didik belum siap untuk belajar karena sebelumnya olahraga atau melakukan aktivitas fisik yang menguras tenaga, maka guru dapat memberikan waktu pada peserta didik untuk mempersiapkan dirinya dalam jangka waktu tertentu. Secara psikologis, apabila peserta didik kurang antusias dalam pembelajaran, maka guru dapat memilih aktivitas pembelajaran yang lebih mengaktifkan peserta didik. Sebaliknya apabila peserta didik terlalu bersemangat dalam proses pembelajaran atau sibuk sendiri maka guru dapat memilih aktivitas pembelajaran yang dapat menenangkan peserta didik. Pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan penemuan maupun penemuan terbimbing. Peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran yang secara tidak langsung dapat memotivasi anak untuk belajar (Karli dan Margaretha, 2002: 15). Berdasarkan teori tersebut, salah satu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran terpadu adalah pendekatan penemuan. Peserta didik yang mengalami kesulitan dalam menerima pembelajaran terpadu dapat disebabkan karena peserta didik kurang aktif dalam proses pembelajaran sehingga kurang memiliki motivasi untuk belajar.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Aspek pembelajaran dengan rumusan item saya pernah ijin ketika pembelajaran IPA Terpadu. Diagram 2 Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Pembelajaran Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Pembelajaran Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Karakteristik pembelajaran terpadu meliputi: pertama, berpusat pada anak. Pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memberikan keleluasaan pada siswa seperti aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasai dan dibutuhkan sesuai perkembangannya. Dalam pembelajaran terpadu peran guru lebih banyak sebagai fasilitator dan siswa sebagai aktor (Tim Pengembang PGSD, 2001: 8). Teori tersebut menunjukkan bahwa kehadiran anak sangat mutlak diperlukan. Sesuai dengan karakteristik pembelajaran terpadu, yakni berpusat pada anak maka jika anak tidak hadir dalam pembelajaran, anak tersebut tidak memiliki pengalaman yang dapat dijadikan sebagai pengetahuan untuk dikuasai. Diagram tersebut menunjukkan bahwa sebagian peserta didik masih ada yang ijin ketika proses pembelajaran terpadu. Dengan adanya hal tersebut, pembelajaran terpadu yang dialaminya kurang dapat maksimal. Peserta didik memiliki kebebasan untuk mencari dan menemukan konsep serta memperdalam

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 wawasannya sehingga peserta didik yang sangat mempengaruhi kemajuan kompetensinya. Dalam perencanaan, guru sangat setuju menggunakan buku teks dalam pembelajaran IPA terpadu. Penggunaan buku teks yang berlebihan dapat menghambat pengembangan materi pelajaran. Selain itu, pada aspek pelaksanaan guru setuju memilih tema tertentu dalam pelajaran IPA terpadu. Pada pembelajaran IPA terpadu, pemilihan tema merupakan hal yang pokok sebelum mempelajari suatu materi. Agar pembelajaran terpadu dapat mencapai tujuan yang diharapkan guru harus menempuh prosedur-prosedur sebagai berikut: Pertama, memilih tema. Memilih tema terpadu dapat bersumber dari: minat anak, peristiwa khusus, kejadian yang tidak diduga, materi yang dimandatkan oleh lembaga, orang tua dan guru. Kriteria pemilihan tema adalah: relevansi topik dengan anak, pengalaman langsung, keragaman dan keseimbangan dalam area kurikulum, ketersediaan alatalat, potensi proyek (Trianto 2010: 58). Teori tersebut menunjukkan bahwa hal yang pertama dilakukan adalah pemilihan tema. Dengan kata lain, penggunaan buku teks bukanlah yang utama. Buku teks hanya faktor pendukung setelah tema terpadu ditentukan. Kepala sekolah setuju jika sekolah menggunakan sumber belajar dari buku teks dalam pembelajaran IPA terpadu. Penggunaan sumber belajar dari buku teks yang berlebihan dapat menghambat pengembangan materi. Dalam item yang lainnya, kepala sekolah menyerahkan tanggung jawab kepada guru kelas untuk mengadakan kegiatan keluar sekolah berkaitan dengan pembelajaran IPA terpadu.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 Kepala sekolah dapat menunjukkan dukungan terhadap penerapan pembelajaran IPA terpadu dengan tetap bertanggung jawab jika ada kegiatan keluar sekolah. Tabel 17 Aspek yang Sudah Baik No Aspek Subjek 1 Siswa Penerimaan 2 Guru Perencanaan dan Pelaksanaan 3 Kepala Sekolah Pelaksanaan Aspek penerimaan dengan rumusan item saya segera mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru ketika pelajaran IPA terpadu. Diagram 3 Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Penerimaan I Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Penerimaan I Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Salah satu prinsip pembelajaran adalah motivasi. Motif adalah kekuatan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorong orang tersebut melakukan kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan. Motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif, saat orang melakukan aktifitas. Motivasi dapat menjadi aktif dan tidak aktif. Jika tidak aktif, maka siswa tidak bersemangat belajar. Dalam hal seperti ini, guru harus dapat memotivasi siswa agar siswa dapat mencapai tujuan belajar dengan baik (Sugandi, 2000: 27).

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Sebagian peserta didik segera mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Apabila data tersebut dikaitkan dengan teori dari Sugandi maka sebagian peserta didik memiliki motivasi yang tinggi terhadap pembelajaran IPA terpadu. Dalam hal ini, guru dapat membuat motivasi peserta didik menjadi aktif yakni dengan dibuktikan peserta didik segera mengerjakan tugas yang diberikan. Jika guru memberikan motivasi yang menjadikan motivasi tidak aktif lagi maka peserta didik tidak bersemangat dan tentunya tidak akan segera mengerjakan tugas dari guru. Aspek penerimaan lainnya dengan rumusan item saya sibuk sendiri ketika guru memberikan tugas. Diagram 4 Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Penerimaan II Tanggapan Siswa Terhadap Aspek Penerimaan II Sangat Setuju Setuju Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Prinsip pembelajaran lainnya adalah perhatian. Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu obyek. Belajar sebagai suatu aktifitas yang kompleks membutuhkan perhatian dari siswa yang belajar. Oleh karena itu, guru perlu mengetahui berbagai kiat untuk menarik perhatian siswa pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung (Sugandi, 2000: 27). Sebagian peserta didik tidak setuju jika mereka sibuk sendiri ketika guru memberikan tugas. Dalam hal ini adanya faktor lingkungan yang mempengaruhi sikap perhatian. Sebagian besar peserta didik menciptakan kondisi dan keadaan

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 yang nyaman sehingga dapat memiliki konsentrasi dan perhatian pada proses pembelajaran, khususnya ketika guru memberikan tugas. Guru mempunyai berbagai kiat untuk menarik perhatian peserta didik. Berdasarkan cross check dengan guru kelas IV, maka guru tersebut menggunakan berbagai model pembelajaran sehingga peserta didik tidak merasa jenuh. Selain itu dalam kelas terlihat ada beberapa tanaman yang dijadikan media pembelajaran. Pada aspek perencanaan, guru sangat tidak setuju jika langsung memberikan materi pelajaran IPA terpadu saat sudah di depan kelas, tanpa persiapan. Hal ini menunjukkan bahwa guru mempersiapkan dengan sebaikbaiknya kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pembelajaran yang mendasarkan pada teori konstruktivisme bersifat membangun. Peserta didik berusaha untuk mengaitkan pengetahuan yang ada dalam dirinya dengan pengetahuan dari hasil pembelajaran secara mandiri. Dalam hal ini, guru bertugas untuk menjadi fasilitator yang merencanakan, mendampingi dan membimbing proses pembelajaran (Mohammad, 2004: 2). Guru sudah melaksanakan pembelajaran yang berdasarkan konstruktivisme, yakni dengan adanya perencanaan, serta pendampingan proses pembelajaran. Data penelitian menunjukkan bahwa guru sangat tidak setuju mengajar tanpa persiapan. Hal ini tentunya sesuai dengan prinsip pembelajaran konstruktivisme yang mengedepankan persiapan guru sebelum pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dapat dilakukan beberapa hari sebelum pembelajaran sehingga guru dapat lebih mempersiapkan alat, bahan maupun media yang akan digunakan ketika mengajar.

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Guru juga menggunakan model pembelajaran proyek. Model pembelajaran ini memerlukan jangka waktu yang cukup lama, misalnya 1 semester. Dalam mempersiapkan model pembelajaran ini, maka guru harus mengatur waktu agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Model yang disarankan untuk sekolah dasar diantaranya Model mengintegrasikan Connected satu konsep, (keterhubungan) keterampilan, adalah atau model yang kemampuan yang ditumbuhkembangkan dalam suatu pokok bahasan yang dikaitkan dengan konsep, keterampilan, atau kemampuan pada pokok bahasan lain, dalam satu bidang studi (Prabowo dalam Trianto, 20010: 39-45). Guru kelas IV mengintegrasikan satu konsep, keterampilan, atau kemampuan dalam suatu kegiatan, misalnya menanam. Tanaman yang akan ditanam adalah berbagai jenis apotek hidup. Melalui kegiatan itu, peserta didik juga dapat mengenal berbagai macam perkembangbiakan tanaman. Peserta didik belajar beberapa konsep, keterampilan atau kemampuan dalam satu bidang studi pada pokok bahasan yang berbeda. Hal yang menjadi penghubung dari konsep, keterampilan atau kemampuan tersebut adalah adanya tema yang diaplikasikan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pada tahap pelaksanaan, ada 2 hal yang penting. Pertama, guru sangat tidak setuju jika kurang memberikan kesempatan bertanya. Kedua, guru sangat tidak setuju jika setelah pembelajaran IPA terpadu menjadi lelah. Salah satu prinsip pembelajaran adalah keaktifan siswa. Kegiatan belajar dilakukan oleh siswa sehingga siswa harus aktif. Dengan bantuan guru, siswa harus mampu mencari, menemukan dan menggunakan pengetahuan yang dimilikinya (Sugandi, 2000: 27). Berdasarkan data penelitian, guru sangat tidak

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 setuju jika kurang memberikan kesempatan bertanya. Jika guru kurang memberikan kesempatan untuk bertanya, maka peserta didik jika tidak mendapatkan kesempatan untuk aktif dalam bertanya. Melalui pertanyaan, peserta didik dapat mencari dan menemukan pengetahuan baru. Peserta didik yang memiliki sikap kritis dapat menggunakan kesempatan bertanya untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas. Berdasarkan data penelitian maka dapat diartikan bahwa guru cukup sering memberikan kesempatan bertanya untuk merangsang peserta didik untuk berpikir dan bersikap kritis. Pembelajaran terpadu berasal dari kata integrated teaching and learning atau integrated curriculum approach sebagai usaha mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa dengan kemampuannya (Syaefudin, 2006: 4). Guru tidak merasa lelah setelah melaksanakan pembelajaran IPA terpadu, hal ini menunjukkan guru tidak memaksakan pembelajaran IPA harus dikuasai oleh peserta didik. Guru sebagai fasilitator yang bertugas untuk mendampingi dan membimbing peserta didik sesuai dengan kemampuannya sehingga guru juga tidak merasa mengajar pembelajaran IPA terpadu adalah sebuah beban. Aspek yang sudah berjalan dengan baik yakni aspek pelaksanaan dengan item kepala sekolah sangat tidak setuju jika kepala sekolah membatasi kegiatan siswa di dalam kelas selama pembelajaran IPA terpadu. Menurut Collins (dalam Trianto, 2010 : 56), pembelajaran terpadu akan terjadi apabila eksplorasi topik menjadi pengendali dalam kegiatan pembelajaran. Siswa dapat lebih memahami materi secara menyeluruh dengan melihat keterkaitan dari beberapa pelajaran tersebut.

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Kepala sekolah tidak membatasi kegiatan siswa hanya di dalam kelas saja. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi topik tertentu sehingga dapat mempelajari materi ajar secara lebih luas. Hasil analisis setiap item kuesioner dari siswa digambarkan menggunakan diagram batang. 1. Item 1 dengan pernyataan saya mendiskusikan materi IPA sebelum pelajaran IPA terpadu. Diagram 5 Hasil Kuesioner Item 1 Hasil Kuesioner Item 1 17 12 0 0 Sangat Tidak Tidak Setuju Setuju Setuju Sangat Setuju Sebanyak 17 anak setuju terhadap pernyataan bahwa mereka mendiskusikan materi IPA sebelum pelajaran IPA terpadu. Sedangkan 12 anak lainnya sangat setuju untuk mendiskusikan materi IPA sebelum pelajaran IPA terpadu. 2. Item 2 dengan pernyataan saya merasa mengantuk saat pelajaran IPA terpadu.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Diagram 6 Hasil Kuesioner Item 2 Sebanyak 24 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa mereka merasa mengantuk saat pelajaran IPA terpadu. Sedangkan 5 anak lainnya tidak setuju jika mereka merasa mengantuk saat pelajaran IPA terpadu. 3. Item 3 dengan pernyataan saya merasa kesulitan menerima pelajaran IPA terpadu. Diagram 7 Hasil Kuesioner Item 3 Hasil Kuesioner Item 3 22 4 3 0 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Sebanyak 4 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa mereka kesulitan menerima pelajaran IPA terpadu. Sedangkan 22 anak

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 lainnya tidak setuju jika mereka kesulitan menerima pelajaran IPA terpadu. Sisanya ada 3 anak yang setuju bahwa mereka kesulitan dalam menerima pelajaran IPA terpadu. 4. Item 4 dengan pernyataan saya segera mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru ketika pelajaran IPA terpadu. Diagram 8 Hasil Kuesioner Item 4 Hasil Kuesioner Item 4 23 5 1 0 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Sebanyak 1 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa ia segera mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru ketika pelajaran IPA terpadu. Sedangkan 5 anak lainnya setuju jika mereka mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru ketika pelajaran IPA terpadu. Sisanya ada 23 anak yang sangat setuju jika mereka mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru ketika pelajaran IPA terpadu. 5. Item 5 dengan pernyataan saya meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan tugas pelajaran IPA terpadu.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 Diagram 9 Hasil Kuesioner Item 5 Hasil Kuesioner Item 5 13 9 6 1 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Sebanyak 13 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa ia meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan tugas pelajaran IPA terpadu. Sedangkan 9 anak lainnya tidak setuju. Sisanya ada 6 anak yang setuju meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan tugas pelajaran IPA terpadu, dan sisanya 1 anak sangat setuju. 6. Item 6 dengan pernyataan saya sibuk sendiri ketika guru memberikan tugas. Diagram 10 Hasil Kuesioner Item 6 Hasil Kuesioner Item 6 21 8 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju 0 0 Setuju Sangat Setuju

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Sebanyak 21 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa ia sibuk sendiri ketika guru memberikan tugas, sedangkan 8 anak lainnya tidak setuju. 7. Item 7 dengan pernyataan saya merasa tertarik dengan materi pelajaran IPA terpadu. Diagram 11 Hasil Kuesioner Item 7 Hasil Kuesioner Item 7 19 10 0 0 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Sebanyak 19 anak setuju terhadap pernyataan bahwa ia merasa tertarik dengan materi pelajaran IPA terpadu, sedangkan 10 anak lainnya sangat setuju. 8. Item 8 dengan pernyataan saya rajin mengerjakan tugas-tugas pelajaran IPA terpadu.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Diagram 12 Hasil Kuesioner Item 8 Hasil Kuesioner Item 8 17 11 0 1 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Sebanyak 1 anak tidak setuju terhadap pernyataan bahwa ia rajin mengerjakan tugas-tugas pelajaran IPA terpadu. Sedangkan 11 anak setuju jika mereka rajin mengerjakan tugas-tugas pelajaran IPA terpadu, sisanya ada 17 anak yang sangat setuju. 9. Item 9 dengan pernyataan saya merasa senang dengan pelajaran IPA terpadu. Diagram 13 Hasil Kuesioner Item 9 Hasil Kuesioner Item 9 15 13 1 0 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Sebanyak 1 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa merasa senang dengan pelajaran IPA terpadu. Sedangkan 15 anak

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 setuju jika mereka merasa senang dengan pelajaran IPA terpadu, sisanya ada 13 anak yang sangat setuju. 10. Item 10 dengan pernyataan saya mengabaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru ketika pelajaran IPA terpadu. Diagram 14 Hasil Kuesioner Item 10 Hasil Kuesioner Item 10 18 6 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju 3 2 Setuju Sangat Setuju Sebanyak 18 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa ia mengabaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru ketika pelajaran IPA terpadu. Sedangkan 6 anak lainnya tidak setuju. Sisanya ada 3 anak yang setuju mengabaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru ketika pelajaran IPA terpadu dan sisanya 2 anak sangat setuju. 11. Item 11 dengan pernyataan saya memperhatikan penjelasan dari guru.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Diagram 15 Hasil Kuesioner Item 11 Hasil Kuesioner Item 11 18 10 0 1 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Sebanyak 1 anak tidak setuju terhadap pernyataan bahwa ia saya memperhatikan penjelasan dari guru. Sisanya ada 10 anak yang setuju. 12. Item 12 dengan pernyataan saya bertanya mengenai materi dalam mata pelajaran IPA terpadu. Diagram 16 Hasil Kuesioner Item 12 Hasil Kuesioner Item 12 16 11 1 1 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Sebanyak 1 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa ia bertanya mengenai materi dalam mata pelajaran IPA terpadu. Sedangkan 1 anak lainnya tidak setuju. Sisanya ada 16 anak yang

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 setuju bertanya mengenai materi dalam mata pelajaran IPA terpadu dan sisanya 11 anak sangat setuju. 13. Item 13 dengan pernyataan saya jarang mencatat hal-hal penting saat pelajaran IPA terpadu. Diagram 17 Hasil Kuesioner Item 13 Hasil Kuesioner Item 13 15 9 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju 3 2 Setuju Sangat Setuju Sebanyak 15 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa ia jarang mencatat hal-hal penting saat pelajaran IPA terpadu. Sedangkan 9 anak lainnya tidak setuju. Sisanya ada 3 anak yang setuju jarang mencatat hal-hal penting saat pelajaran IPA terpadu dan sisanya 2 anak sangat setuju. 14. Item 14 dengan pernyataan saya menyiapkan buku yang akan digunakan dalam pelajaran IPA terpadu.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Diagram 18 Hasil Kuesioner Item 14 Hasil Kuesioner Item 14 18 11 0 0 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Sebanyak 11 anak setuju terhadap pernyataan bahwa ia menyiapkan buku yang akan digunakan dalam pelajaran IPA terpadu. Sedangkan 18 anak lainnya sangat setuju. 15. Item 15 dengan pernyataan saya mengulang pelajaran IPA terpadu di rumah. Diagram 19 Hasil Kuesioner Item 15 Hasil Kuesioner Item 15 16 11 2 Sangat Tidak Setuju 0 Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Sebanyak 2 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa ia mengulang pelajaran IPA terpadu di rumah. Sedangkan 16 anak lainnya mengulang pelajaran IPA terpadu di rumah. Sisanya ada 11 anak yang sangat setuju mengulang pelajaran IPA terpadu di rumah.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 16. Item 16 dengan pernyataan saya terlambat masuk kelas ketika pelajaran IPA terpadu dimulai. Diagram 20 Hasil Kuesioner Item 16 Hasil Kuesioner Item 16 17 11 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju 0 1 Setuju Sangat Setuju Sebanyak 17 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa ia terlambat masuk kelas ketika pelajaran IPA terpadu dimulai. Sedangkan 11 anak lainnya tidak setuju. Sisanya ada 1 anak yang sangat setuju jika terlambat masuk kelas ketika pelajaran IPA terpadu dimulai. 17. Item 17 dengan pernyataan saya pernah ijin ketika pembelajaran IPA terpadu. Diagram 21 Hasil Kuesioner Item 17 Hasil Kuesioner Item 17 18 6 5 0 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Sebanyak 6 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa ia pernah ijin ketika pembelajaran IPA terpadu. Sedangkan 18 anak lainnya tidak setuju. Sisanya ada 5 anak yang setuju jika mereka pernah ijin ketika pembelajaran IPA terpadu. 18. Item 18 dengan pernyataan saya lupa mengerjakan tugas pelajaran IPA terpadu dari guru. Diagram 22 Hasil Kuesioner Item 18 Hasil Kuesioner Item 18 16 9 3 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju 1 Sangat Setuju Sebanyak 16 anak sangat tidak setuju terhadap pernyataan bahwa ia lupa mengerjakan tugas pelajaran IPA terpadu dari guru. Sedangkan 9 anak lainnya tidak setuju. Sisanya ada 3 anak yang setuju jika mereka lupa mengerjakan tugas pelajaran IPA terpadu dari guru dan sisanya 1 anak sangat setuju. 19. Item 19 dengan pernyataan saya menggunakan berbagai media dalam pelajaran IPA terpadu.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Diagram 23 Hasil Kuesioner Item 19 Hasil Kuesioner Item 19 15 9 2 3 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Setuju Sangat Setuju Sebanyak 2 anak sangat tidak setuju mereka menggunakan berbagai media dalam pelajaran IPA terpadu. Sedangkan 3 anak lainnya tidak setuju. Ada 15 anak yang setuju dan sisanya 9 anak sangat setuju. 20. Item 20 dengan pernyataan saya merasa bosan dalam mata pelajaran IPA terpadu. Diagram 24 Hasil Kuesioner Item 20 Hasil Kuesioner Item 20 19 10 Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju 0 0 Setuju Sangat Setuju Sebanyak 19 anak sangat tidak setuju jika bosan dalam mata pelajaran IPA terpadu. Sedangkan sisanya ada 10 anak yang tidak merasa bosan dalam mata pelajaran IPA terpadu.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari analisis data yang telah dibahas pada bab IV, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Persepsi siswa kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu tergolong positif. Kesimpulan ini didukung dari hasil penghitungan mean siswa 3,41 > 3,406 yang merupakan mean keseluruhan. Aspek yang perlu ditingkatkan adalah aspek evaluasi dan pembelajaran. Penggunaan media perlu ditingkatkan sehingga dapat mengurangi kesulitan siswa dalam menerima pelajaran. 2. Persepsi guru kelas IV SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu tergolong positif. Kesimpulan ini didukung dari hasil penghitungan mean guru 3,4 = 3,4 yang merupakan mean keseluruhan. Aspek yang perlu ditingkatkan adalah aspek perencanaan. Guru dapat memberikan materi selain dari buku teks. Buku teks cukup sebagai pendukung pemberian materi. 3. Persepsi kepala sekolah SD Kanisius Kadirojo mengenai penerapan pembelajaran IPA terpadu tergolong negatif. Penyebabnya adalah aspek perencanaan dan pelaksanaan yang masih rendah. Kepala sekolah tetap bertanggung jawab dalam kegiatan di luar sekolah berkaitan dengan pembelajaran IPA Terpadu. Kesimpulan ini 74

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 didukung dari hasil penghitungan mean kepala sekolah 3,3 < 3,406 yang merupakan mean keseluruhan. B. Keterbatasan Penelitian 1. Peneliti hanya memfokuskan penelitian pada siswa dan guru kelas IV terhadap pelaksanaan pembelajaran IPA Terpadu. 2. Penelitian ini hanya dilakukan dalam lingkup sebuah sekolah. 3. Kuesioner yang digunakan terbatas pada kuesioner tertutup. C. Saran Saran yang dapat disampaikan oleh peneliti untuk penelitian selanjutnya adalah : 1. Sebaiknya subjek penelitian yang digunakan dapat lebih banyak. 2. Penelitian dapat dilakukan dalam lingkup wilayah yang lebih luas. 3. Alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kuesioner yang terdiri dari pernyataan-pernyataan tertutup, sehingga jawaban yang diperoleh belum mencukupi untuk memperoleh gambaran yang tepat mengenai penerapan pembelajaran IPA Terpadu. Sebaiknya ada pernyataan terbuka sehingga dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta. Arindita, S. 2003. Hubungan Antara Persepsi Kualitas Pelayanan dan Citra Bank dengan Loyalitas Nasabah.Surakarta: Fakultas Psikologi UMS. Asrori, Mohammad. 2007. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana Putra. Carpenter Kirk, Vicki. 2003. Disertasi Investigation of the Impact of Integrated Learning System Use on Mathematics Achievement of Elementary Students. Disertasi. East Tennessee State University. Davidoff, LL. 1988. Psikologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga. Depdiknas. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas. Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Depdiknas. 1996. Pembelajaran Terpadu D-II PGSD dan S-2 Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdiknas. Eka Widya Sulistyowati, Huminata. 2013. Persepsi Siswa Kelas VIII SMP Stella Duce 1 Yogyakarta Mengenai Keberhasilannya dalam Melaksanakan Tugas Perkembangan dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-Topik Bimbingan Klasikal. Skripsi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hamka, Muhammad. 2002. Hubungan antara Persepsi Terhadap Pengawasan Kerja dengan Motivasi Berprestasi Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Fakultas Psikologi. Hesti Hamdayani, Margaretha. 2012. Persepsi Siswa Tentang Pelaksanaan Layanan Konseling Individual Kelas VII dan Kelas VIII di SMP Taman Dewasa Jetis Yogyakarta. Skripsi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Hilda Karli dan Margaretha Sri Yuliariatiningsih. 2002. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi: Model-Model Pembelajaran. Bandung: Bina Media Informasi. Huda, Miftahul. 2013. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Marliani, Rosleny. 2010. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia. 76

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Nur, Mohammad. 2004. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstruktivisme dalam Pengajaran. Jakarta: Universitas Negeri Surabaya. Nur, Mohammad. 1998. Teori-Teori Perkembangan. Institut keguruan dan Ilmu Pendidikan Surabaya: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Nazir, Moh. 2009. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Puskur. 2007. Panduan Pengembangan Pembelajaran IPA Terpadu. Jakarta: Depdiknas. Rizema Putra, Sitiatava. 2013. Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains. Yogyakarta: Diva Press. Robbins, S.P. 2003. Perilaku Organisasi. Jilid I. Jakarta: PT INDEKS Kelompok Garmedia. SK Mendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Sugandi, Achmad, dkk. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP PRESS. Sukandi, Ujang. 2001. Belajar Aktif dan Terpadu: Apa, Mengapa dan Bagaimana. The British Council: Jakarta. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2002. Pengembangan kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Tim Pengembang PGSD. 2001. Pembelajaran Terpadu. Bandung: Maulana. Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara. Tri Utami, Budi. 2012. Persepsi Siswa Terhadap Pelaksanaan Proses Pembelajaran di SMP Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Skripsi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Udin Syaefudin. 2006. Perencanaan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Van Rossum, Priscilla. 2013. Persepsi Siswa Tentang Kemampuan Manajemen Waktu Belajar. Skripsi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Walgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN FOTO 78

(96) 79 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kuesioner Persepsi Siswa Terhadap Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Nama (boleh inisial) : No : Petunjuk: 1. Pada kuesioner ini terdapat 20 pernyataan. Pertimbangkan baik-baik setiap pernyataan lalu berilah jawaban yang benar-benar cocok dengan keadaan sebenarnya. 2. Jawabanmu jangan dipengaruhi oleh jawaban terhadap pernyataan lain. 3. Berilah tanda contreng () pada pilihan jawabanmu. Terima Kasih. 4. Keterangan pilihan jawaban : STS = Sangat Tidak Setuju TS = Tidak Setuju S = Setuju SS = Sangat Setuju No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Item Pernyataan STS Saya mendiskusikan materi IPA sebelum pelajaran IPA Terpadu. Saya merasa mengantuk saat pelajaran IPA Terpadu. Saya merasa kesulitan menerima pelajaran IPA Terpadu. Saya segera mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru ketika pelajaran IPA Terpadu. Saya meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan tugas pelajaran IPA Terpadu. Saya sibuk sendiri ketika guru memberikan tugas. Saya merasa tertarik dengan materi pelajaran IPA Terpadu. Saya rajin mengerjakan tugas-tugas pelajaran IPA Terpadu Saya merasa senang dengan pelajaran IPA Terpadu. Saya mengabaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru ketika pelajaran IPA Terpadu. Saya memperhatikan penjelasan dari guru. Saya bertanya mengenai materi dalam mata pelajaran IPA Terpadu. Saya jarang mencatat hal-hal penting saat pelajaran IPA Terpadu. Saya menyiapkan buku yang akan digunakan dalam pelajaran IPA Terpadu. Saya mengulang pelajaran IPA Terpadu di rumah. Saya terlambat masuk kelas ketika pelajaran IPA terpadu dimulai Saya pernah ijin ketika pembelajaran IPA Terpadu. Saya lupa mengerjakan tugas pelajaran IPA Terpadu dari guru Saya menggunakan berbagai media dalam pelajaran IPA Terpadu. Saya merasa bosan dalam mata pelajaran IPA Terpadu. TS S SS

(97) 80 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kuesioner Persepsi Guru Terhadap Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu 1. Pada kuesioner ini terdapat 20 pernyataan. Pertimbangkan baik-baik setiap pernyataan lalu berilah jawaban yang benar-benar cocok dengan keadaan sebenarnya. 2. Jawaban jangan dipengaruhi oleh jawaban terhadap pernyataan lain. 3. Berilah tanda contreng () pada pilihan jawaban. Terima Kasih. 4. Keterangan pilihan jawaban : STS = Sangat Tidak Setuju TS = Tidak Setuju S = Setuju SS = Sangat Setuju No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Item Pernyataan STS Guru datang tepat waktu untuk mengajar pelajaran IPA Terpadu. Guru melakukan tanya jawab dengan siswa ketika pelajaran IPA Terpadu. Guru langsung memberikan materi pelajaran IPA Terpadu saat sudah di dalam kelas, tanpa persiapan. Guru melihat RPP sebelum mengajar pelajaran IPA Terpadu. Guru membuat RPP untuk pelajaran IPA Terpadu. Guru jarang menggunakan musik dalam pelajaran IPA Terpadu. Guru memilih tema tertentu dalam pelajaran IPA Terpadu. Guru hanya menunjuk siswa yang pandai saja ketika pelajaran IPA Terpadu. Guru duduk di depan kelas selama pelajaran IPA Terpadu. Guru jarang menyiapkan media untuk pembelajaran IPA Terpadu Guru selalu melakukan evaluasi di akhir pelajaran IPA Terpadu. Guru jarang memberikan tugas lanjutan pada siswa di akhir pelajaran IPA Terpadu. Guru memberikan Lembar Kerja Siswa ketika pelajaran IPA Terpadu. Guru merasa repot dalam mempersiapkan pelajaran IPA Terpadu. Guru mengalami banyak hambatan dalam melakukan penilaian dalam pembelajaran IPA Terpadu. Guru kurang memberi kesempatan bertanya pada siswa ketika pelajaran IPA Terpadu. Guru menggunakan buku teks dalam pembelajaran IPA Terpadu. Guru merasa lelah setelah pelajaran IPA Terpadu. Guru menggunakan metode yang bervariasi dalam menerapkan pembelajaran IPA Terpadu. Guru senang mengajar mata pelajaran IPA Terpadu. TS S SS

(98) 81 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kuesioner Persepsi Kepala Sekolah Terhadap Penerapan Pembelajaran IPA Terpadu Petunjuk: 1. Pada kuesioner ini terdapat 20 pernyataan. Pertimbangkan baik-baik setiap pernyataan lalu berilah jawaban yang benar-benar cocok dengan keadaan sebenarnya. 2. Jawabanmu jangan dipengaruhi oleh jawaban terhadap pernyataan lain. 3. Berilah tanda contreng () pada pilihan jawabanmu. Terima Kasih. 4. Keterangan pilihan jawaban : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 STS = Sangat Tidak Setuju TS = Tidak Setuju S = Setuju SS = Sangat Setuju Item Pernyataan Kepala Sekolah memberikan ide-ide baru untuk program sekolah berkaitan dengan pembelajaran IPA Terpadu. Kepala Sekolah pernah mengikuti seminar mengenai pembelajaran IPA Terpadu. Jadwal pelajaran dirancang untuk mendukung pembelajaran IPA Terpadu. Kepala Sekolah jarang melakukan kegiatan supervisi pada pembelajaran IPA Terpadu. Kepala Sekolah mengembangkan pembelajaran IPA Terpadu melalui kerjasama dengan pihak lain. Kepala Sekolah jarang melakukan rapat pada awal semester untuk membahas pelaksanaan pembelajaran IPA Terpadu. Kepala Sekolah telah melakukan program-program sekolah yang berkaitan dengan pembelajaran IPA Terpadu. Sekolah menyediakan media khusus untuk pembelajaran IPA Terpadu. Kepala Sekolah merasa penerapan pembelajaran IPA Terpadu kurang maksimal Kepala Sekolah merasa senang terhadap penerapan pembelajaran IPA Terpadu. Kepala Sekolah membatasi kegiatan siswa di dalam kelas selama pembelajaran IPA Terpadu. Kepala Sekolah kurang menggunakan sumber audio visual sebagai referensi penerapan pembelajaran IPA Terpadu. Kepala Sekolah mendampingi sekolah-sekolah lain untuk mengembangkan pembelajaran IPA Terpadu. STS TS S SS

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 15 16 17 18 19 20 Sekolah menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dalam menerapkan pembelajaran IPA Terpadu. Kepala Sekolah pernah mengundang narasumber untuk mendukung pembelajaran IPA Terpadu Sekolah menggunakan sumber belajar dari buku teks dalam pembelajaran IPA Terpadu Kepala Sekolah merasa terbebani dengan adanya penerapan pembelajaran IPA Terpadu. Kepala Sekolah menyerahkan tanggung jawab kepada guru kelas untuk mengadakan kegiatan keluar sekolah berkaitan dengan pembelajaran IPA Terpadu. Kepala Sekolah memberikan pengumuman khusus mengenai kegiatan yang mendukung pembelajaran IPA Terpadu. Kepala Sekolah jarang mengadakan rapat untuk mengevaluasi pembelajaran IPA Terpadu 82

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI A 94

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI B 95

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C 96

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI D 97

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI E 98

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI F 99

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI G 100

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI H 101

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI I 102

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI J 103

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI K 104

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI L 105

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI M 106

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI N 107

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI O 108

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI P 109

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Q 110

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI R 111

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI S 112

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI T 113

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI U 114

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI V 115

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI W 116

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI X 117

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Y 118

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Z 119

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI AA 120

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BB 121

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CC 122

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SURAT PERMOHONAN IJIN PENELITIAN 126

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SURAT KETERANGAN TELAH MELAKUKAN PENELITIAN 127

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128 BIODATA MAHASISWA Penulis bernama lengkap Christina Wahyu Cahyani. Mahasiswa kelahiran Kebumen, 6 September 1992 ini memiliki hobi jalan-jalan, menonton film, membaca, dan berenang. Riwayat pendidikannya dari TK Santa Maria Purbalingga, lalu meneruskan ke SD Kanisius Jetis Depok, SMP N 1 Minggir, dan terakhir lulus dari SMA N 1 Godean. Anak dari pasangan Ignatius Bowo Hariyanto dan Emiliana Yuniasih, saat ini tinggal di Ngagul-agulan, RT 03/RW34, Sendang Rejo, Minggir, Sleman, Yogyakarta. Anak kedua dari tiga bersaudara ini merupakan satu-satunya anak perempuan. Kakaknya Yulius Wahyu Putranto dan adiknya Agustinus Wahyu Wijayanto. Pada tahun 2012 pernah membuat proposal kegiatan mahasiswa dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bersama teman-teman dari PGSD dan Pendidikan Biologi yang berjudul Pelatihan Dokter Kecil Melalui Pemanfaatan Binahong (bassela rubra linn) yang Berkualitas di SDN Jetak (CIBIHOLIK) pada tahun 2012. Mahasiswa yang pernah menjadi Co-Fas PPKM 1 dan juga Pendamping Kelompok (Dampok) Insadha 2012 ini juga mengikuti beberapa lomba. Ketika SMA pernah mengikuti lomba mading bersama teman satu kelompok di tingkat Kabupaten Sleman. Prestasi yang pernah diraihnya antara lain juara II lomba mading bersama teman satu kelompok dan juara II lomba penulisan proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada kegiatan Malam Kreativitas prodi PGSD tahun 2013.

(146)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Persepsi dan keyakinan guru IPA sekolah menengah terhadap pembelajaran di Kabupaten Nias Barat.
0
0
165
Persepsi siswa, guru, dan orang tua terhadap ujian nasional : studi kasus pada SMA-SMA di Kabupaten Kulon Progo.
0
0
220
Persepsi siswa, guru, dan orang tua terhadap pelaksanaan ujian nasional : studi kasus pada SMA-SMA di Kabupaten Bantul.
0
3
192
Implementasi sistem pembelajaran terpadu Di sekolah dasar islam terpadu (sdit) Ar-risalah Surakarta 80
2
24
97
Pengembangan laboratorium dan pembelajaran IPA terpadu
0
0
2
Persepsi guru terhadap undang-undang RI No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen ditinjau dari tingkat pendidikan, status guru, golongan jabatan dan kultur sekolah - USD Repository
0
0
207
Hubungan bimbingan orang tua, motivasi belajar siswa, dan status sosial ekonomi keluarga dengan prestasi belajar siswa di sekolah - USD Repository
0
0
174
Perbedaan proses pembelajaran matematika dan hasil belajar matematika di rintisan sekolah berstandar internasional dengan sekolah reguler - USD Repository
0
6
250
Persepsi siswa, guru, dan orang tua terhadap ujian nasional : studi kasus pada SMA-SMA di Kabupaten Kulon Progo - USD Repository
0
0
218
Persepsi siswa, guru dan orang tua terhadap ujian nasional ditinjau dari status sekolah : studi kasus pada SMA-SMA di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
219
Persepsi siswa, guru dan orang tua siswa terhadap kesiapan menghadapi ujian nasional - USD Repository
0
0
144
Persepsi guru sekolah dasar di Kecamatan Kebonarum Kabupaten Klaten terhadap sertifikasi guru berdasarkan tingkat pendidikan, status guru, dan lokasi penugasan - USD Repository
0
0
167
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I - USD Repository
0
2
250
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I - USD Repository
0
2
193
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II - USD Repository
0
5
260
Show more