Belajar dari deklarasi nostra aetate sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran berdialog dengan umat beriman lain melalui katekese - USD Repository

Gratis

0
1
136
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BELAJAR DARI DEKLARASI NOSTRA AETATE SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN BERDIALOG DENGAN UMAT BERIMAN LAIN MELALUI KATEKESE SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh: Dominikus Dance NIM: 091124003 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan untuk kedua orang tua, kakak, adik, dan semua keluargaku serta sahabat-sahabatku yang telah memberikan dukungan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”. (Yohanes 13: 34-35) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Skripsi ini berjudul “BELAJAR DARI DEKLARASI NOSTRA AETATE SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN BERDIALOG DENGAN UMAT BERIMAN LAIN MELALUI KATEKESE”. Judul skripsi ini dipilih berdasarkan keprihatinan penulis terhadap situasi masyarakat dunia dewasa ini yang sangat rentan terjadi konflik karena adanya pluralitas. Kenyataan menunjukkan bahwa pluralitas itu sering menimbulkan berbagai ketegangan dan kekerasan jika tidak ditangani secara bijak. Berbagai ketegangan dan kekerasan yang terjadi selama ini hanya dapat diredam jika semua orang mau bergandengan tangan untuk terlibat aktif dalam berdialog dan berkerjasama guna memperjuangkan terwujudnya suatu dunia baru di mana nilai-nilai Kerajaan Allah ada di dalamnya. Bertitik tolak dari kenyataan itu, maka skripsi ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan pemahaman dan kesadaran umat supaya semakin terlibat aktif dalam membangun dialog dan kerjasama dengan umat beriman lain. Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah bagaimana meningkatkan kesadaran umat untuk berdialog dengan umat beriman lain. Permasalahan tersebut diolah dengan menggunakan studi pustaka guna memperoleh pemikiranpemikiran untuk dipahami dan direfleksikan, sehingga diperoleh gagasan-gagasan pokok yang dapat dipergunakan sebagai dasar bagi umat dalam memahami dan menghayati pentingnya membangun dialog dengan umat beriman lain. Dokumen deklarasi Nostra Aetate merupakan salah satu dokumen Konsili Vatikan II yang menjadi tonggak sejarah dan dasar bagi Gereja Katolik dalam langkahnya membangun dialog dengan umat beriman lain. Dialog dengan umat beriman lain ini ditegaskan dalam deklarasi Nostra Aetate bahwa Gereja secara resmi mengakui adanya tata keselamatan dan rahmat pada agama dan kepercayaan lain. Oleh karena itu, Gereja mendorong seluruh umatnya untuk menjalin kerjasama dan dialog dengan umat beriman lain. Pandangan positif Gereja terhadap umat beriman lain ini bukan tanpa persoalan karena di satu pihak Gereja harus mewartakan Kerajaan Allah kepada semua orang, tetapi di lain pihak Gereja juga harus membangun dialog dengan umat beriman lain. Bertitik tolak dari persoalan tersebut maka dijelaskan juga mengenai peranan dialog dengan umat beriman lain sebagai tugas perutusan Gereja untuk mewujudkan imannya. Dialog dengan umat beriman lain merupakan suatu gerakan atau aksi bersama untuk memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah bagi kehidupan bersama. Katekese merupakan proses pembinaan iman umat secara terus menerus untuk membantu umat agar semakin memahami, menghayati dan mewujudnyatakan imannya dalam kehidupan konkret sehari-hari. Oleh karena itu, penulis menawarkan suatu program katekese umat model Shared Christian Praxis sebagai upaya untuk membantu meningkatkan kesadaran umat dalam berdialog dengan umat beriman lain, sekaligus dengan penjabarannya. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT This thesis entitled "LEARNING FROM THE DECLARATION OF NOSTRA AETATE AS AN EFFORT TO INCREASE AWARENESS ON DIALOGUE WITH OTHER BELIEVERS THROUGH CATECHESIS”. The title of this thesis selected was based on the concerns with the situation of the world today that is very vulnerable to conflict because of the plurality. The fact is that it often creates a plurality of tensions and violence if not being handled wisely. The tensions and violence that can only be eliminated if everyone would join hands to have dialogue and cooperation in the fight for the creation of a new world in which the values of the Kingdom of God are in it. Based on that fact, this thesis is intended to help to increase the understanding and awareness of the people to be more actively involved in a dialogue and a cooperation with other believers through catechesis. A key issue in this thesis is how to increase the awareness of the people to promote dialogue with other believers. Those problems were analyzed by the use of library study to obtain ideas to be understood and reflected, and also to obtain the main ideas that can be used as a basis for the people to understand and appreciate the importance of establishing a dialogue with other believers. Nostra Aetate Declaration is one of the documents of Vatican II Council that became a milestone and the basis for the Catholic Church in a stride to establish a dialogue with other believers. The dialogue with other believers is emphasized in the declaration Nostra Aetate that the Church officially recognizes the existence of salvation and graces found in other religions and beliefs. Therefore, the Church encourages the whole community to build a network and a dialogue with other believers. This positive view of the Church towards other believers is not without problems because on the one hand the Church must proclaim the Kingdom of God to all people, but on the other hand the Church should establish a dialogue with other believers. Based on these issues as well as it needs to explain the role of dialogue with other believers as the Church's mission to bring faith. Dialogues with other believers is a movement or collective action to fight for the values of the Kingdom of God to the common life. Catechesis is of the faith formation process continuously focused in order to help people better understand, appreciate and make real faith in concrete everyday life. Therefore, the author offers a program of catechesis by making use of Christian Shared Praxis model in an effort to help to raise awareness of the people in a dialogue with other believers, as well as the elaboration. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul BELAJAR DARI DEKLARASI NOSTRA AETATE SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN BERDIALOG DENGAN UMAT BERIMAN LAIN MELALUI KATEKESE. Skripsi ini lahir dari pengalaman dan refleksi penulis atas berbagai konflik dan kekerasan yang terjadi di tengah bangsa Indonesia yang majemuk ini. Berbagai konflik dan kekerasan yang terjadi selama ini menimbulkan berbagai persoalan dan kesenjangan dalam kehidupan bersama antar umat beriman. Konflik dan kekerasan yang semakin merajalela ini hanya dapat diredam apabila semua umat beriman mau bergandengan tangan untuk berjuang bersama dalam mengusahakan terwujudnya kerukunan dalam hidup bersama. Oleh karena itu, penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan pemahaman dan kesadaran umat agar semakin lebih terbuka dan terlibat aktif lagi dalam menjalin dialog dengan umat beriman lain di tengah kehidupan bersama. Selain itu, skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Tersusunnya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Menyadari itu, pada x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kesempatan ini penulis dengan tulus hati menghaturkan banyak terima kasih kepada: 1. Drs. F. X. Heryatno Wono Wulung, SJ., M.Ed. selaku Kaprodi IPPAK dan sekaligus dosen pembimbing utama yang selalu memberikan perhatian, meluangkan waktu untuk mendampingi dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran, memberi masukan-masukan dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 2. Dr. C. Putranta, SJ. Selaku dosen penguji II yang telah bersedia membaca, memberikan kritik dan masukan serta mendampingi penulis dalam mempertanggungjawabkan skripsi ini. 3. Drs. L. Bambang Hendarto Y., M.Hum. selaku dosen penguji III yang telah bersedia membaca, memberikan kritik dan masukan, serta mendampingi penulis dalam mempertanggungjawabkan skripsi ini. 4. Seluruh staff dosen dan karyawan Prodi IPPAK yang telah mendidik, dan membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan studi di Prodi IPPAKUSD dengan baik. 5. Bapak, mama, kakak, adik dan semua keluarga yang selalu memberikan semangat, dukungan moral dan material serta doa bagi penulis dalam menyelesaikan perkuliahan. 6. Seluruh staff perpustakaan Kolose St. Ignatius Kotabaru yang begitu bermurah hati untuk meminjakan buku-buku yang penulis perlukan dalam penulisan skripsi ini sampai selesai. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... iv MOTTO .......................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ....................................................... vii ABSTRAK ...................................................................................................... viii ABSTRACT ...................................................................................................... ix KATA PENGANTAR .................................................................................... x DAFTAR ISI ................................................................................................... xiii DAFTAR SINGKATAN ................................................................................ xvii BAB I. PENDAHULUAN .......................................................................... 1 A. Latar Belakang ................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah .......................................................................... 7 C. Tujuan Penulisan ............................................................................ 7 D. Manfaat Penulisan .......................................................................... 8 E. Metode Penulisan ........................................................................... 8 F. Sistematika penulisan ..................................................................... 9 BAB II. DEKLARASI NOSTRA AETATE TENTANG HUBUNGAN GEREJA DENGAN UMAT BERIMAN LAIN ............................. 11 A. Sejarah Deklarasi Nostra Aetate ..................................................... 12 1. Latar Belakang Lahirnya Deklarasi Nostra Aetate .................. 13 2. Naskah A: Deklarasi Tentang Orang Yahudi .......................... 14 3. Naskah B: Sikap Gereja Katolik Terhadap Orang-Orang Bukan Kristiani, Terutama Yahudi ................... 15 Naskah C: Deklarasi Tentang Orang Yahudi dan Orang Bukan Yahudi ........................................................ 16 4. 5. Naskah D: Deklarasi Tentang Sikap Gereja xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Terhadap Agama-Agama Non-Kristiani ................................. 18 Naskah E: Deklarasi Tentang Sikap Gereja Terhadap Agama-Agama Bukan Kristiani .............................. 20 B. Tujuan Deklarasi Nostra Aetate ..................................................... 20 C. Struktur dan Isi Deklarasi Nostra Aetate ........................................ 24 6. 1. Struktur Deklarasi Nostra Aetate ............................................. 25 2. Isi Deklarasi Nostra Aetate ...................................................... 26 a. Gereja Katolik Menghargai Segala Yang Baik dan Suci dalam Agama-Agama ........................................................ 27 b. Sikap Gereja Terhadap Islam ............................................ 28 c. Dialog Dengan Umat Yahudi ............................................ 30 D. Tanggapan Atas Sikap Gereja Terhadap Umat Beriman Lain dalam Deklarasi Nostra Aetate ....................................................... 31 BAB III. GEREJA YANG BERDIALOG DENGAN UMAT BERIMAN LAIN .............................................................. 37 A. Hakikat Dialog dalam Tugas Perutusan Gereja .............................. 38 1. Dialog sebagai Wujud Kesaksian Perutusan Gereja ............... 38 2. Dialog sebagai Bagian Evangelisasi ........................................ 40 3. Dialog sebagai Usaha Bersama Mewujudkan Kerajaan Allah 41 B. Pengertian Dialog Antar Umat Beriman ........................................ 42 C. Tujuan Dialog Antara Gereja dengan Umat Beriman Lain ............ 45 D. Syarat-Syarat Dialog dengan Umat Beriman Lain ......................... 51 E. Hambatan-Hambatan Dialog dengan Umat Beriman Lain ............. 58 F. Bentuk-Bentuk Dialog dengan Umat Beriman Lain ...................... 60 1. Dialog Kehidupan .................................................................... 60 2. Dialog Karya ........................................................................... 62 3. Dialog Pandangan Teologis ..................................................... 63 4. Dialog Pengalaman Keagamaan (Dialog Pengalaman Iman) . 64 BAB IV. KATEKESE SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MENINGKATKAN DIALOG ANTAR UMAT BERIMAN ........ 65 A. Gambaran Umum Katekese ............................................................ 66 1. Pengertian Katekese ................................................................ xiv 66

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Tujuan Katekese ...................................................................... 68 B. Katekese Model Shared Christian Praxis Sebagai Salah Satu Upaya Meningkatkan Dialog Antar Umat Beriman ..... 70 1. Tiga Elemen Model Shared Christian Praxis ........................ 71 a. Shared ................................................................................ 71 b. Christian ............................................................................ 71 c. Praxis ................................................................................. 72 2. Tujuan Katekese Model Shared Christian Praxis .................. 72 3. Langkah-Langkah Katekese Model Shared Christian Praxis . 73 a. Langkah I (Pertama) : Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual ............................................................................... 73 b. Langkah II (Kedua) : Refleksi Kritis atau Sharing Pengalaman Hidup Faktual ................................................ 73 c. Langkah III (Ketiga) : Mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau ..................... 74 d. Langkah IV (Keempat) : Interpretasi/Tafsir Dialektis antara Tradisi dan Visi Kristiani dengan Tradisi dan Visi Peserta ........................................ 75 e. Langkah V (Kelima) : Keterlibatan Baru demi Terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia Ini ........................ 75 C. Usulan Program Katekese Model Shared Christian Praxis Untuk Meningkatkan Dialog Antar Umat Beriman ....................... 76 1. Latar Belakang ......................................................................... 76 2. Alasan Diadakannya Kegiatan Katekese Model Shared Christian Praxis .......................................................... 79 3. Tujuan Kegiatan Pendampingan .............................................. 80 4. Pemilihan Materi ..................................................................... 81 5. Matriks Usulan Program Katekese .......................................... 84 6. Contoh Persiapan Program Katekese bagi Umat di Lingkungan Warung Pring Ganjuran dengan Menggunakan Katekese Model Shared Christian Praxis ............................... 90 BAB V. PENUTUP ...................................................................................... 108 A. Kesimpulan ..................................................................................... 108 B. Saran ............................................................................................... 110 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 112 LAMPIRAN .................................................................................................... 115 Lampiran 1: Teks Lagu Pembukaan ...................................................... (1) Lampiran 2: Teks Cerita “Cinta dan Persahabatan” ............................... (2) Lampiran 3: Teks Lagu Penutup ............................................................ (3) xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 8. B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja CT: Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada para uskup, klerus dan segenap umat beriman tentang katekese masa kini, 16 Oktober 1979. DCG: Directorium Catechisticum Generale, Direktorium Kateketik Umum yang dikeluarkan oleh Kongregasi Suci para Klerus, 11 April 1971 DP: Dialogue and Proclamation, Dokumen Kongregasi Evangelisasi Bangsa-Bangsa dan Sekretariat untuk Dialog Antar Umat Beriman, 19 Mei 1991. NA: Nostra Aetate, Deklarasi Konsili Vatikan II tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama Bukan Kristen, 28 Oktober 1965. xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI RM: Redemptoris Missio, Ensiklik Paus Yohanes Paulus II tentang Amanat Misioner Gereja, 7 Desember 1990. AG: Ad Gentes, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kegiatan Misioner Gereja, 7 Desember 1965 LG: Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja di Dunia Dewasa ini, 21 November 1964. C. Singkatan Lain Art : Artikel FABC : Federation of Asian Bishop’s Conferences Hal. : Halaman KU : Katekese Umat KWI : Konferensi Waligereja Indonesia MAWI : Majelis Agung Waligereja PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia Prodi : Program Studi PUSPAS : Pusat Pastoral PUSKAT : Pusat Kateketik SJ : Societas Jesus, Serikat Yesus UUD : Undang-Undang Dasar SCP : Shared Christian Praxis xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Indonesia merupakan Negara yang majemuk. Dikatakan majemuk karena Negara Indonesia memiliki berbagai suku bangsa, bahasa, budaya, ras, termasuk juga keanekaragaman agama. Kemajemukan Bangsa Indonesia ini merupakan suatu sumber kekayaan yang patut dibanggakan oleh seluruh masyarakat Indonesia sebagai warga negara yang satu yaitu negara Republik Indonesia. Dengan keanekaragaman suku, budaya dan agama, orang dapat saling belajar satu dengan yang lainnya, dengan demikian dapat saling memperkaya. Namun di balik itu juga, kemajemukan merupakan suatu tantangan karena rentan terjadi konflik apabila ditangani secara tidak arif. Kekhawatiran bahwa kemajemukan sangat rentan terjadinya konflik, maka sejak mempersiapkan proklamasi kemerdekaan bangsa, para founding fathers merumuskan dalam suatu landasan dasar ideologi dan falsafah bangsa yaitu Pancasila dan UUD 1945, sebagai landasan dasar pemersatu seluruh bangsa Indonesia. Selain itu juga telah dicanangkan Tri Kerukunan, yaitu Kerukunan Antar Umat Beragama, Kerukunan Intern Umat Beragama dan Kerukunan Antar Umat Beragama dengan Pemerintah (Yewangoe, 2002: 26-28). Meskipun telah dicanangkannya rumusan-rumusan sebagai dasar pemersatu bangsa, tetapi pada kenyataannya bahwa kemajemukan bangsa ini terutama keanekaragaman agama menjadi sumber konflik dan perpecahan.

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Perbedaan ajaran, tidak saja dengan mereka yang beriman lain tetapi juga dengan mereka yang seiman, mudah menjadi alasan kekerasan dan konflik antar umat beriman seperti yang terjadi di Ambon dan Poso, penyerangan terhadap kelompok Ahmadyiah, Sunni dan Syiah di Situbondo dan beberapa daerah lainnya (Yewangoe, 2002: 28). Selain beberapa konflik tersebut, masih ada konflik lainnya yaitu munculnya perda-perda tentang syariat Islam di beberapa daerah seperti Tasikmalaya dan Cianjur dan juga fundamentalis-fundamentalis baru dalam suatu agama yang sangat fanatik dan radikal. Dalam semua peristiwa kekerasan dan konflik antar umat beriman itu, anehnya tidak ada tindakan yang tegas dari pemerintah sebagai lembaga tertinggi, tetapi malahan kelompok-kelompok pelaku kekerasan itu sengaja dibiarkan ataupun didiamkan saja sehingga dengan demikian kelompok-kelompok ini semakin berani dan gencar untuk melakukan kekerasan dalam memaksakan kehendaknya (FPUB, 2008: 12-18). Konflik-konflik antar umat beriman maupun antar internal umat beriman yang merebak ini mengakibatkan hilangnya rasa persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana terdapat dalam rumusan dasar ideologi bangsa yaitu Pancasila dan UUD 1945 yang merupakan landasan pemersatu bangsa. Dalam hal ini juga, Krispurwana Cahyadi (2011: 69) menegaskan pandangan Paus Yohanes Paulus II sebagai berikut: Realitas keterpecahan relasi, baik antarpribadi, kelompok maupun bangsa. Persoalan ketidakadilan, pertentangan ideologi, baik pertarungan politik maupun ekonomi, baik konflik etnis maupun suku, juga pengalaman diskriminasi agama diungkapkannya sebagai pemicu adanya konflik dan perpecahan. Realitas tersebut tidak semakin dipulihkan, malahan tidak jarang semakin parah dan panas karena kesediaan untuk berdialog tidak

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 semakin tumbuh. Oleh karena itu, dialog baginya merupakan langkah penting agar rekonsiliasi dan pemulihan kehidupan bersama dapat dibangun. Pernyataan ini menggambarkan bahwa pluralitas masyarakat dapat mengakibatkan terjadinya konflik dan perpecahan yang sulit untuk dihindarkan dalam hidup bersama di tengah masyarakat. Konflik dan perpecahan ini hanya dapat terhindarkan, jika semua orang memiliki keinginan dan kesediaan yang sama dari dalam dirinya untuk menjalin kerjasama dan dialog guna mengusahakan terwujudnya suatu dunia baru yang lebih baik di mana nilai-nilai Kerajaan Allah semakin ditegakkan di tengah hidup bersama. Untuk menyikapi adanya berbagai konflik antar umat beriman yang terjadi selama ini maka salah satu cara untuk dapat membangun kembali kerukunan dan perdamaian antar umat beriman yaitu, perlunya kesediaan dan keterbukaan dari semua orang untuk membangun dialog dan kerjasama antar umat beriman. Namun, dialog macam apakah yang perlu dilaksanakan? Dialog yang dimaksud dalam hal ini bukan semata-mata dalam arti komunikasi dalam hidup sehari-hari tetapi merupakan dialog yang mampu mendukung dan memperkembangkan iman setiap pribadi manusia. Suatu dialog yang menjadi cara hidup dalam membangun hidup bersama di tengah masyarakat yang plural, di mana para pelaku atau subyek dari dialog harus mampu menghargai nilai-nilai kebenaran yang dihormati agama lain tanpa meninggalkan nilai-nilai agamanya yang telah dihayatinya. Oleh karena itu, dalam dialog, para peserta dialog perlu merumuskan atau membahasakan sedemikian rupa akan apa yang diimaninya sehingga dapat dipahami oleh partner dialognya (Laku, 2011: 140).

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Pluralitas agama di Indonesia yang ditandai dengan munculnya berbagai ketegangan dan konflik antar umat beriman ini juga menjadi tantangan dan keprihatinan Gereja Katolik di Indonesia untuk membuka diri dalam membangun sikap dialog dan kerjasama dengan umat beriman lain. Gereja dipanggil dan diutus untuk memberikan sumbangan dan peranannya di tengah kehidupan bersama di dunia. Oleh karena itu, Gereja perlu membangun dialog dan kerjasama dengan umat beriman lain dalam memerangi berbagai tindakan diskriminasi dan kekerasan yang terjadi di dunia demi terciptanya kesatuan dan kerukunan dalam hidup bersama di dunia. Usaha Gereja Katolik dalam membangun dialog dengan umat beriman lain ini ditegaskan dalam Konsili Vatikan II terutama dalam deklarasi Nostra Aetate. Deklarasi Nostra Aetate dalam Konsili Vatikan II merupakan tonggak sejarah bagi Gereja Katolik dalam langkahnya membangun dialog dengan umat beriman lain. Dialog dengan umat beriman lain ini ditegaskan dalam deklarasi Nostra Aetate bahwa Gereja mulai mengakui adanya tata keselamatan dan rahmat, baik dalam agama maupun kepercayaan lain, oleh karena itu Gereja Katolik tidak menolak segala apa yang benar dan suci dalam agama-agama lain betapapun tidak jarang hal itu merupakan sesuatu yang berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkan Gereja, akan tetapi toh tidak jarang memantulkan sinar kebenaran yang menerangi semua orang (NA, art. 2). Oleh karena itu, Gereja mendorong para puteranya untuk mewartakan Injil melalui dialog dan kerjasama dengan saudarasaudara beriman lain dengan sikap terbuka, bijaksana, kasih dan menghargai nilainilai yang ada pada saudara-saudara beriman lain.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 Deklarasi Nostra Aetate merupakan pertanggungjawaban historis dan teologis sikap dialogis Gereja terhadap agama-agama lain, sebab dokumen ini semacam evaluasi tentang sikap Gereja di masa lampau terhadap agama-agama lain. Melalui deklarasi Nostra Aetate, Konsili Vatikan II tanpa ragu memandang positif agama-agama lain guna menjalin kerjasama dan dialog dengan umat beriman lain. Sedangkan pertanggungjawaban teologis yang dimaksudkan adalah pandangan positif Gereja mengenai kehendak Allah untuk menyelamatkan semua orang tanpa kecuali. Karena itu Gereja merasa terpanggil untuk berdialog dan bekerjasama dengan umat beriman lain untuk memajukan persatuan dan kasih di antara umat manusia (Armada Riyanto, 1995: 53). Konsili Vatikan II menegaskan bahwa dialog dengan umat beriman lain pada dasarnya merupakan aktualisasi dari tugas perutusan Gereja untuk memajukan kasih, kesatuan antarumat manusia dan mewartakan kabar gembira dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa (Krispurwana Cahyadi, 2011: 31). Maksud dari tugas perutusan Gereja ini bukan sebagai sarana untuk penyebaran agama atau mengkristenkan orang tetapi membantu umat untuk mengenal, memahami dan menghayati imannya serta mampu mewujudkan imannya secara nyata di tengah hidup bermasyarakat melalui kesaksian iman dan hidup Kristiani. Tugas perutusan Gereja ini dapat dilaksanakan dengan semangat dialogis melalui sikap terbuka, saling menghargai, toleransi, dan penuh persahabatan dengan umat beriman lain. Melalui dialog dengan umat beriman lain, Gereja merealisasikan karya Kristus agar semua orang mendapat keselamatan.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 Mewujudkan dialog dengan umat beriman lain dalam hidup bersama di tengah masyarakat plural seperti sekarang ini merupakan salah satu bagian dari tugas perutusan Gereja dalam menciptakan masyarakat yang rukun, damai, adil dan sejahtera. Maka sehubungan dengan itu, penulis mengupayakan suatu bentuk pendekatan reflektif kritis guna memberi harapan baru, sehingga dapat membantu meningkatkan kesadaran umat Kristiani supaya semakin terbuka dan terlibat aktif untuk berdialog dengan umat beriman lain dalam hidup bersama di tengah masyarakat. Untuk itu penulis memberi gambaran bagaimana pentingnya membangun sikap dialog dan kerjasama dengan umat beriman lain melalui katekese bagi umat beriman. Katekese yang merupakan bagian utuh pastoral Gereja memiliki hubungan erat dengan Evangelisasi baru. Menurut Catechesi Tradendae, art.18, katekese merupakan salah satu momen penting dari evangelisasi. Arah utama seluruh kegiatan pastoral Gereja adalah pembangunan jemaat. Sebagai bagian pastoral Gereja, salah satu tujuan utama katekese adalah pengembangan hidup jemaat agar secara bersama-sama ikut berjuang mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah-tengah hidup manusia. Oleh karena itu, katekese hendaknya dapat membantu menciptakan dialog sejati dengan umat beriman lain dalam hidup bersama di tengah masyarakat plural. Fokus katekese adalah pengalaman iman umat akan keterlibatannya dalam berdialog dengan umat beriman lain. Dalam katekese, pengalaman umat akan diperkaya dengan pandangan Gereja dalam deklarasi Nostra Aetate. Deklarasi Nostra Aetate digunakan sebagai sumber atau tonggak sejarah berdialog dalam tubuh Gereja Katolik sehingga mendorong umat

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 untuk semakin terbuka dan terlibat aktif dalam membangun dialog dengan umat beriman lain. Sehubungan dengan itu, penulis mengambil judul dari skripsi ini, sebagai berikut: BELAJAR DARI DEKLARASI SEBAGAI UPAYA UNTUK NOSTRA AETATE MENINGKATKAN KESADARAN BERDIALOG DENGAN UMAT BERIMAN LAIN MELALUI KATEKESE. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini sebagai berikut : 1. Menurut deklarasi Nostra Aetate bagaimana hubungan Gereja dengan umat beriman lain? 2. Bagaimana pandangan Gereja tentang dialog dengan umat beriman lain? 3. Bagaimana katekese dapat membantu meningkatkan kesadaran berdialog dengan umat beriman lain? C. Tujuan Penulisan Adapun beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan skripsi ini sebagai berikut : 1. Menggambarkan pandangan Gereja dalam deklarasi Nostra Aetate tentang hubungan Gereja dengan umat beriman lain. 2. Menjelaskan pandangan Gereja tentang hakikat dan tujuan dialog antar umat beriman lain sebagai tugas perutusan Gereja sehingga dapat membantu

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 pemahaman umat agar semakin lebih terbuka dan terlibat aktif dalam membangun dialog dengan umat beriman lain. 3. Memaparkan gambaran katekese yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran umat dalam berdialog dengan umat beriman lain. D. Manfaat Penulisan 1. Menambah pengetahuan dan wawasan baru bagi umat Kristiani mengenai pandangan Gereja dalam deklarasi Nostra Aetate tentang hubungan Gereja dengan umat beriman lain. 2. Memberikan pemahaman baru bagi umat Kristiani bahwa dialog dengan umat beriman lain merupakan tugas perutusan Gereja, misi pewartaan Injil dan sebagai usaha membangun Kerajaan Allah. 3. Memberikan inspirasi bagi para katekis dan guru agama dalam mengembangkan program katekese yang membangun dialog sehingga dapat meningkatkan kesadaran umat untuk semakin terbuka dan terlibat aktif dalam berdialog dengan umat beriman lain. E. Metode Penulisan Metode penulisan yang akan digunakan dalam skripsi ini adalah deskriptif analitis melalui studi pustaka terhadap dokumen deklarasi Nostra Aetate. Yang dimaksud dengan metode analitis deskriptif adalah suatu cara penulisan yang dilakukan dengan landasan pengalaman dan kajian teori yang disertai dengan analisis permasalahan.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 F. Sistematika Penulisan Judul skripsi yang penulis pilih adalah “Belajar dari Deklarasi Nostra Aetate Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kesadaran Berdialog Dengan Umat Beriman Lain Melalui Katekese”. Skripsi ini dibagi dalam lima bab yang akan diuraikan sebagai berikut: Bab I menguraikan mengenai pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II membahas deklarasi Nostra Aetate tentang hubungan Gereja dengan umat beriman lain yang meliputi: sejarah lahirnya deklarasi Nostra Aetate, tujuan deklarasi Nostra Aetate, struktur dan isi deklarasi Nostra Aetate serta tanggapan atas sikap Gereja terhadap umat beriman lain dalam deklarasi Nostra Aetate. Bab III menggambarkan mengenai hakikat dialog dalam tugas perutusan Gereja, pengertian dialog, tujuan dialog, syarat-syarat dialog, hambatan-hambatan dialog dan bentuk-bentuk dialog dengan umat beriman lain. Bab IV menggambarkan secara umum mengenai katekese yang meliputi pengertian katekese, tujuan katekese dan katekese model Shared Christian Praxis sebagai usaha meningkatkan kesadaran berdialog dengan umat beriman yang meliputi: pengertian katekese model Shared Christian Praxis, tujuan katekese model Shared Christian Praxis, langkah-langkah katekese model Shared Christian Praxis. Bagian ini ditutup dengan usulan program katekese model Shared Christian Praxis untuk meningkatkan kesadaran umat dalam berdialog

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 dengan umat beriman lain. Bagian ini meliputi latar belakang, alasan diadakannya kegiatan katekese model Shared Christian Praxis, tujuan kegiatan pendampingan, pemilihan materi, matriks program katekese dan contoh persiapan katekese dengan mengunakan model Shared Christian Praxis. Bab V berisi tentang kesimpulan dan saran. Dalam kesimpulan, penulis akan mengungkapkan inti pokok dari seluruh rangkaian pembahasan karya tulis ini. Saran diberikan guna mengadakan pendampingan bagi umat demi peningkatan pemahaman dan keterlibatan umat dalam menjalin dialog dan kerjasama dengan umat beriman lain.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 BAB II DEKLARASI NOSTRA AETATE TENTANG HUBUNGAN GEREJA DENGAN UMAT BERIMAN LAIN Deklarasi Nostra Aetate merupakan salah satu dokumen resmi Konsili Vatikan II yang secara khusus membahas mengenai hubungan Gereja Katolik dengan umat beriman lain. Deklarasi Nostra Aetate ini lahir melalui perjuangan dan pergulatan Gereja yang sangat panjang dan berat untuk sampai pada pengakuan adanya nilai-nilai positif yang terdapat pada agama dan kepercayaan lain. Pengakuan adanya nilai-nilai positif yang terdapat pada agama dan kepercayaan lain tersebut menuntut Gereja perlu untuk memperbaharui hubungannya dengan umat beriman lain. Pembaharuan hubungan Gereja dengan umat beriman lain ini di dalam deklarasi Nostra Aetate dikatakan sebagai pertanggungjawaban historis dan teologis sikap dialogal Gereja terhadap agama-agama lain. Dikatakan sebagai pertanggungjawaban karena deklarasi Nostra Aetate ini semacam suatu evaluasi tentang sikap Gereja terhadap agama-agama lain karena sebelum Konsili Vatikan II, Gereja kurang menampilkan sikap positif dan dialogal dengan umat beriman lain. Oleh karena itu, dalam deklarasi Nostra Aetate, Konsili Vatikan II tanpa keraguan untuk memandang positif agama-agama lain seraya mencari segi-segi yang dapat mengantar ke dialog dan rekonsiliasi. Sedangkan pertanggungjawaban teologis dimaksudkan pandangan positif Gereja mengenai kehendak Allah untuk menyelamatkan semua orang tanpa kecuali. Oleh Karena itu Gereja merasa

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 terpanggil untuk memajukan persatuan dan kasih di antara umat manusia dengan menjalin kerjasama dan dialog bersama umat beriman lain (Armada Riyanto, 1995: 53). Berdasarkan deklarasi Nostra Aetate kita akan melihat bagaimana pandangan Gereja mengenai hubungannya dengan umat beriman lain. Untuk itu dalam bab II ini penulis menjelaskan beberapa hal yaitu antara lain: sejarah lahirnya deklarasi Nostra Aetate, tujuan deklarasi Nostra Aetate, struktur dan isi deklarasi Nostra Aetate serta tanggapan atas sikap Gereja terhadap umat beriman lain dalam deklarasi Nostra Aetate. A. Sejarah Deklarasi Nostra Aetate Deklarasi Nostra Aetate merupakan salah satu dokumen yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II. Dokumen deklarasi Nostra Aetate ini lahir melalui sejarah yang panjang dan perjuangan yang sangat berat dalam Konsili Vatikan II untuk sampai pada pengakuan adanya nilai-nilai positif yang terdapat pada agama dan kepercayaan lain. Oleh karena itu untuk memudahkan kita dalam memahami sejarah lahirnya deklarasi Nostra Aetate, maka pembahasannya meliputi: Sejarah lahirnya deklarasi Nostra Aetate dan kelima naskah deklarasi Nostra Aetate tersebut yang terdiri dari: pertama, Naskah A yang berisi deklarasi tentang orang Yahudi, kedua, Naskah B berisi deklarasi tentang sikap Gereja Katolik terhadap orang-orang bukan Kristiani terutama Yahudi, ketiga, Naskah C berisi deklarasi tentang orang Yahudi dan bukan Yahudi, keempat, Naskah D berisi deklarasi

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 tentang sikap Gereja terhadap agama-agama non Kristiani dan kelima, Naskah E yang berisi deklarasi tentang sikap Gereja terhadap agama-agama bukan Kristiani. 1. Latar Belakang Lahirnya Deklarasi Nostra Aetate Pada masa Adolf Hitler menjabat sebagai pemimpin Partai Nazi di Jerman, bangsa Yahudi mengalami penganiayaan yang sangat kejam (1933-1945). Kenangan buruk atas gelombang anti-semitisme tersebut mendesak bangsa Yahudi untuk memohon kepada Sri Paus Yohanes XXIII agar Gereja berusaha memperbaiki pendapat umum mengenai deicidium (pembunuh Tuhan) yang dituduhkan kepada bangsa Yahudi (Ratzinger, 1970: 95). Untuk mencapai cita-cita mengenai adanya perbaikan dari Gereja terhadap pendapat umum tentang deicidium tersebut, beberapa delegasi Yahudi mengunjungi Paus Yohanes XXIII, di antaranya “Bani B’rith (Putera-Putera Perjanjian) dari Prancis pada tanggal 3 Juli 1960, United Jewish Appeal sebanyak 300 orang pada tanggal 17 Oktober 1960 dan American Jewish Committee pada tahun 1961. Mereka membawa dokumen tentang penilaian negatif Gereja mengenai bangsa Yahudi sebagaimana tersebar dalam buku pelajaran agama dan dalam liturgi, seperti pemakaian kata-kata deicidium yang artinya pembunuh Tuhan dan perfidi Judaei yang artinya Yahudi berkhianat. Kata-kata ini sangat disesalkan oleh bangsa Yahudi, maka bangsa Yahudi memohon pihak Gereja untuk menghilangkan penilaian-penilaian negatif tersebut. Pihak Yahudi juga mengakui bahwa dalam buku-buku Yahudi juga tidak bersih dari ungkapan-

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 ungkapan anti Kristen. Oleh karena itu, baik Gereja maupun bangsa Yahudi saling berjanji untuk mengakhiri intoleransi dan memperbaiki tulisan masing-masing. Menanggapi permohonan delegasi Yahudi tersebut, pada tahun 1960 Paus Yohanes XXIII memberi perintah kepada Kardinal Bea selaku ketua sekretariat Ekumenisme yang didirikan pada tanggal 5 Januari 1960 untuk menyusun suatu pernyataan tentang sikap Gereja terhadap Yahudi (Bakker, 1972: 12). 2. Naskah A: Deklarasi Tentang Orang Yahudi Pada tahun 1962, rancangan pernyataan tentang Yahudi (Naskah A) selesai disusun oleh sekretariat Ekumene. Dalam Naskah A ditegaskan bahwa bangsa Yahudi tidak boleh dituduh telah melakukan deicidium (Pembunuh Tuhan). Pernyataan dalam Naskah A ini mengundang berbagai reaksi hebat yang muncul untuk melawan pernyataan Naskah A. Reaksi itu berasal dari pihak Arab Muslim yang khawatir kalau-kalau pernyataan Naskah A mengandung pengakuan negara Israel oleh Vatikan. Reaksi menghebat ketika diketahui bahwa Dr. Chaim Wardi, yang dipilih oleh Kongres Yahudi untuk menjadi observer dalam sidang Konsili, adalah petugas dari Kementerian Agama Israel. Meskipun Kardinal Bea menjelaskan bahwa pernyataannya tidak mengandung maksud politik, namun pihak Arab Muslim yang tidak memisahkan agama dari politik, tetap tidak mau percaya. Oleh karena itu naskah A tidak jadi dibahas dan didistribusikan (Bakker, 1972: 12-13).

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 3. Naskah B : Sikap Gereja Katolik Terhadap Orang-Orang Bukan Kristiani, Terutama Yahudi Pada sidang umum bulan November tahun 1963, Naskah A direvisi dan menjadi bab IV dari Unitatis Redintegratio. Soal deicidium tidak dimuat lagi. Atas usul beberapa Kardinal bahwa agama-agama lain juga perlu diperhatikan, dengan demikian keluarlah Naskah B dengan judul “Sikap Gereja Katolik terhadap orang bukan Kristiani, terutama Yahudi”. Naskah B juga menimbulkan reaksi perlawanan dari para uskup Arab. Mereka tidak menyetujui Yahudi dimasukkan dalam dekrit tentang Ekumenisme, karena bagi mereka bahwa ekumenisme merupakan rekonsiliasi antara orangorang yang sudah dibaptis dalam nama Kristus. Hal ini berarti orang Yahudi tidak perlu diikutsertakan dalam ekumenisme, karena kalau orang Yahudi diikutsertakan tentunya dapat menyinggung umat dari Gereja Protestan dan Ortodoks, karena penggabungan itu berarti mereka setingkat dengan orang Yahudi, padahal Yahudi menolak Kristus sebagai Al-Masih. Selain itu juga, akan menghambat usaha ekumenis. Dengan demikian, kelompok yang tidak menyetujui penggabungan tersebut menyarankan agar Naskah B dimasukkan ke dalam konstitusi Gaudium et Spes, di mana rasialisme dan diskriminasi agama dicela, atau digabung dengan Konstitusi tentang Gereja (Lumen Gentium) atau digabung dengan deklarasi tentang Kebebasan Agama (Dignitatis Humanae). Karena perdebatan-perdebatan tersebut tidak menemui kesepakatan, maka Naskah B tersebut ditarik kembali supaya dapat berjalan lancar dalam penyusunan Unitatis Redintegratio.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Selama penundaan pembahasan Naskah B, pada tanggal 6 Januari 1964, Paus Paulus VI berkunjung ke daerah Palestina dan mengadakan pertemuan dengan para pemuka umat Islam di sana. Kemudian di dalam amanat Paskahnya tanggal 29 Maret 1964, beliau memuji nilai rohani semua agama. Pada tanggal 19 Mei 1964 didirikan Sekretariat bagi umat non Kristen serta pada tanggal 6 Agustus 1964 Paus Paulus VI mengeluarkan Ensiklik Ecclesiam Suam yang isinya antara lain mengatakan bahwa Gereja mempunyai kerinduan yang besar untuk berdialog dengan agama-agama lain, terutama Islam. Semua itu dilakukan demi memperlancar persoalan Naskah B serta menetralisir persoalan yang terjadi di Timur Tengah (Bakker, 1972: 13). 4. Naskah C : Deklarasi Tentang Orang Yahudi dan Orang Bukan Yahudi Meskipun tekanan dari pemerintah Islam Arab yang dialamatkan ke Vatikan semakin besar, namun Sekretariat Ekumenisme tidak mau mengendurkan semangatnya. Pada tanggal 24 Februari sampai 4 Maret 1964, diadakan sidang pleno yang menghasilkan naskah baru. Naskah baru itu disebut Naskah C dengan judul “ Deklarasi tentang Orang Yahudi dan Orang Bukan Yahudi”. Naskah ini ditempatkan sebagai lampiran II dari skema Ekumenisme yang kelak menjadi Unitatis Redintegratio. Meskipun soal orang Yahudi lebih diutamakan, namun suatu pembahasan tentang orang Islam dan agama non Kristen lainnya juga sudah dimuat dalam naskah tersebut. Naskah C merupakan suatu naskah singkat yang mencatat suatu kemajuan.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Pada tanggal 25 September 1964, Kardinal Bea memperkenalkan Naskah C kepada sidang. Ia menjelaskan bahwa Gereja tidak selayaknya hanya berdiam diri terhadap bangsa Yahudi karena Yesus dan para rasul sendiri mencintai bangsa Yahudi. Komisi Koordinasi memberi beberapa catatan atas Naskah C. Catatan itu antara lain, meminta agar di dalam Naskah C dimuat suatu ajakan kepada umat Katolik untuk tidak menyebut bangsa Yahudi sebagai bangsa yang terkutuk, serta harapan eskatologis Gereja akan kesatuaannya dengan Israel hendaknya ditampilkan dalam naskah itu. Catatan tersebut disalahmengerti oleh Rabbi Yoshua Hecsel. Ia menilai pernyataan tersebut sebagai paksaan halus terhadap bangsa Israel untuk menerima iman Katolik. Uskup Agung Heeman dari Westminster memberikan suatu penjelasan. Namun bagi dia sendiri munculnya kesalahpahaman dari pihak Yahudi merupakan alasan yang memadai untuk melepaskan catatan dari Komisi Koordinasi atas Naskah C. Protes tidak hanya muncul dari pihak Yahudi, tetapi juga dari pihak Gereja. pada bulan Oktober 1964, Batrik Taffuni mencap Naskah C sebagai sesuatu yang tidak berguna. Batrik Maximus menilai Naskah C sebagai rumusan yang dijual oleh Uskup-Uskup kepada bangsa Yahudi. Menurut mereka, kemajuan konsili di dalam menanggapi Naskah C merupakan hasil dari propaganda Yahudi. Mereka juga menganggap intervensi para Uskup Amerika yang gigih mempertahankan Naskah C merupakan konsekuensi dari minat komersial bangsa Amerika yang memiliki hubungan bisnis dengan orang-orang Yahudi.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Sementara itu, pihak Islam Arab semakin mencurigai Konsili. Komisi Tinggi Arab untuk masalah Palestina mengutus delegasinya ke Vatikan untuk menyampaikan protes melawan usaha yang sedang dikerjakan konsili. Mereka mendesak konsili agar segera menentukan sikapnya terhadap konflik IsraelPalestina. Karena gelombang protes banyak bermunculan, maka Sekretariat Ekumenisme mengadakan sidang pada 9 Oktober 1964. Pada kesempatan itu, Kardinal Bea membacakan sepucuk surat dari Uskup Felici, sekretariat konsili yang isinya meminta agar Naskah C ditinjau kembali dan mengusulkan agar dimasukkan ke dalam skema tentang Gereja. Komisi Teologis yang menangani dokumen tentang Gereja tidak menerima anjuran tersebut (Bakker, 1976: 14). 5. Naskah D : Deklarasi Tentang Sikap Gereja Terhadap Agama-Agama Non-Kristiani Akhirnya diusulkan supaya Naskah C dijadikan naskah yang berdiri sendiri. Usul tersebut diterima oleh sidang dan sejak saat itu Naskah C tidak lagi ditangani oleh Sekretariat Ekumenisme, melainkan oleh panitia khusus. Mereka mengolah Naskah C menjadi suatu naskah baru, yaitu naskah D dengan nama: “ Deklarasi Tentang Sikap Gereja Terhadap Agama-Agama Non-Kristiani ”. Soal bangsa Yahudi tidak lagi mendapat penekanan khusus. Pernyataan sikap Gereja terhadap bangsa Yahudi dipersatukan dengan teologi yang luas tentang agamaagama di dunia pada umumnya. Naskah D kemudian diajukan kepada Sekretariat Ekumenisme. Setelah mempelajari naskah tersebut, Sekretariat Ekumenisme segera menyerahkan

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 kepada sidang konsili pada tanggal 18 November 1964. Pemunggutan suara secara perorangan dilaksanakan pada tanggal 20 November 1964. Sebagian besar bapa konsili menerima naskah itu. Kendati deklarasi tentang sikap Gereja terhadap bangsa Yahudi mendapat kerangka baru, namun pihak Islam-Arab tetap menampakkan reaksi-reaksi yang tidak bersahabat. Majelis ‘Ala Shu’un Arrabyyatum (berpusat di Cairo) mengutus delegasinya ke Roma untuk memprotes pembebasan bangsa Yahudi dari tuduhan deicidium. Radio Damaskus pada tanggal 18 November 1964 memaklumkan jihad melawan Naskah D. Surat kabar-surat kabar Arab menuliskan bahwa Konsili Vatikan II sama dengan Yudas II yang telah menjual Yesus, bukan dengan 30 keping perak melainkan dengan dolar-dolar Amerika. Demonstrasi melawan Gereja terjadi di Damaskus. Sejumlah perkampungan Kristen di Allepo dilempari granat oleh kelompok “Persahabatan Islam”. Muncul juga ancaman untuk menutup sekolah-sekolah Katolik di Timur Tengah. Setelah mengetahui kejadian tersebut Mgr. Willebrans, berkunjung ke Timur Tengah dan menyimpulkan bahwa umat Katolik di sana sungguh-sungguh berada dalam bahaya. Di Roma sendiri beredar buku-buku dan pamflet-pamflet anti Yahudi. Sebuah buku berjudul Complotta Contra Ia Chiesa (Komplotan melawan Gereja) disampaikan kepada bapa-bapa konsili. Beberapa Uskup menafsirkan Kisah Rasul 3:15 dan Roma 11 :28-29 secara anti semitisme. Seorang Uskup ortodoks mencap bahwa Gereja telah jatuh ke dalam Nestorianisme bila menolak penggunaan tuduhan deicidium terhadap bangsa Yahudi, karena itu di dalam kasus ini gelar

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Theotokos (Bunda Allah) bagi Maria tidak dapat dibenarkan lagi (Bakker, 1976: 14). 6. Naskah E : Deklarasi Tentang Sikap Gereja Terhadap Agama-Agama Bukan Kristiani Sesuai dengan hasil sidang tanggal 20 Mei 1964 bahwa Naskah D diterima namun masih perlu penyempurnaan, maka dalam sidang keempat konsili, Naskah D mengalami beberapa perubahan. Pada saat berlangsungnya sidang ke IV, aksi protes terhadap konsili yang terjadi di luar sidang sudah mereda. Rumusan terakhir yaitu Naskah E diajukan pada tanggal 15 Oktober 1965 dengan judul: “Deklarasi Tentang Sikap Gereja Terhadap Agama-Agama Bukan Kristiani”. Deklarasi ini berdiri sendiri, tidak dimuat atau dilampirkan pada naskah-naskah lain seperti diusulkan terdahulu. Dari hasil pemungutan suara diperoleh data, ada 2221 orang menyatakan setuju, 38 orang menyatakan tidak setuju sedangkan hanya 2 orang menyatakan abstain. Pada tanggal 28 Oktober 1965, deklarasi itu ditetapkan secara resmi dengan diberi nama Nostra Aetate, yang diambil dari dua kata pertama dari deklarasi tersebut yaitu dari kata nostra dan aetate yang artinya “Zaman Kita” (Bakker, 1976: 15). B. Tujuan Deklarasi Nostra Aetate Deklarasi Nostra Aetate merupakan salah satu dokumen hasil dari Konsili Vatikan II, maka tujuan deklarasi Nostra Aetate juga merupakan bagian dari keseluruhan tujuan yang ingin dicapai oleh Konsili Vatikan II. Maka sebelum kita

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 mengenal tujuan dari deklarasi Nostra Aetate itu sendiri, kita perlu mengenali terlebih dahulu tujuan pokok diadakannya Konsili Vatikan II. Tujuan pokok dari Konsili Vatikan II adalah Aggiornamento. Maksud dari Aggiornamento adalah suatu usaha pembaharuan Gereja sesuai dengan perkembangan zaman agar Gereja mampu memberikan kesaksian secara otentik mengenai kasih dan kebenaran Allah. Oleh karena itu, pembaharuan Gereja harus didasari oleh semangat yang berasal dari sumber kasih dan kebenaran sejati yaitu Yesus Kristus. Secara implisit, tujuan tersebut dirumuskan oleh dekrit Presbyterorum Ordinis artikel 12: “Untuk mencapai tujuan pastoral: pembaharuan intern Gereja, pewartaan Injil di seluruh bumi, serta dialog dengan dunia dewasa ini” (Jacobs, 1987: 11). Berdasarkan rumusan dari dekrit mengenai kehidupan dan pelayanan iman di atas, ada tiga bidang pembaharuan yang akan dilaksanakan Konsili Vatikan II. Bidang pertama adalah pembaharuan Gereja. Maksud Konsili Vatikan II tentang pembaharuan itu tidak hanya berarti meningkatkan semangat, tetapi sungguhsungguh merupakan perubahan, demi perbaikan maupun pengembangan. Pembaharuan Gereja, pertama-tama menekankan perubahan paham tentang Gereja. Sebagai contoh pembaharuan paham Gereja terasa paling konkret antara lain dalam hubungan Gereja dengan agama-agama bukan Kristen, atau juga dalam hubungan Gereja dengan Gereja-Gereja Kristen bukan Katolik. Berhadapan dengan mereka, Gereja Katolik tidak hanya memahami diri secara lain, tetapi juga menampilkan diri secara berbeda (Jacobs, 1987: 11-12).

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Bidang kedua adalah pewartaan Injil ke seluruh dunia. Inipun dimaksudkan tidak hanya suatu peningkatan semangat untuk mewartakan Injil, melainkan juga suatu perubahan yang cukup radikal atas paham tentang misi. Misi merupakan sifat hakiki Gereja, maka kegiatan misi dilihat seluruhnya dalam kerangka pandangan baru terhadap Gereja. Unsur-unsur pokok kegiatan misi adalah pewartaan Injil dan pembentukan Gereja setempat. Kedua unsur itu berhubungan langsung, sebab tanggapan terhadap pewartaan Injil adalah iman dan iman membangkitkan komunikasi iman, itu berarti pembentukan Gereja (Jacobs, 1987: 11-12). Bidang ketiga adalah dialog dengan dunia modern. Gereja menampilkan diri secara berbeda tidak hanya di hadapan agama-agama lain, melainkan juga di hadapan dunia modern dewasa ini. Bertolak pada perubahan pandangan terhadap dirinya sendiri, Gereja juga mempunyai pandangan yang lain terhadap dunia, baik yang bersifat sakral maupun sekuler (Jacobs, 1987: 11-12). Dengan demikian, bidang pertama dan kedua dalam pembaharuan paham tentang Gereja dan pewartaan Injil di seluruh dunia yang merupakan cita-cita dan tujuan dari Konsili Vatikan II ini sesungguhnya berkaitan erat dengan tujuan dari Nostra Aetate. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh NA art. 1 bahwa: “Gereja dengan lebih cermat meninjau kembali mengenai hubungannya dengan agamaagama bukan Kristen dalam mewujudkan tugas panggilannya untuk memajukan kesatuan dan cinta kasih antar manusia, maupun antar bangsa di seluruh dunia”. Pernyataan dari deklarasi Nostra Aetate merupakan pembaharuan yang akan menentukan tempat Gereja yang sebenarnya di tengah umat beriman lain dan juga

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 peranan apa yang harus dilakukan oleh Gereja jika di sekitarnya hidup dan berkembang umat beriman lain yang menjanjikan keselamatan bagi para pemeluknya. Pemahaman atas tempat dan peranan Gereja di tengah umat beriman lain akan memperbaharui pemahaman Gereja sendiri mengenai bagaimana tugasnya dalam mewartakan Injil di tengah umat beriman lain? NA art. 2 memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar, yang ada dalam agama-agama lain walaupun sungguh berbeda dengan apa yang diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang juga dapat memantulkan sinar kebenaran yang menerangi semua orang. Namun Gereja juga tidak hentihentinya untuk tetap mewartakan dan wajib mewartakan Kristus yakni jalan kebenaran dan hidup (Yoh 14: 6). Oleh karena itu, Nostra Aetate menganjurkan supaya tugas mewartakan Injil ini dilakukan melalui dialog dan kerjasama dengan umat beriman lain secara lebih bijaksana dan penuh kasih dengan mengakui, memelihara dan mengembangkan harta kekayaan rohani dan nilai-nilai sosio budaya yang terdapat dalam agama lain demi mewujudkan persatuan dan kasih antar semua manusia dan antar bangsa (Hardawiryana, 1991: 26). Demikian juga bidang ketiga, dialog dengan dunia modern, berhubungan erat dengan tujuan Nostra Aetate. Dalam meninjau sikapnya terhadap ajaranajaran bukan Kristen (Bdk. NA art.1), Gereja bercita-cita mewujudkan dialog dengan umat beriman lain (Bdk. NA art.2). Dalam dialog inilah, Gereja bersama umat beriman lain berdialog dengan dunia modern. Gereja maupun umat beriman lain tidak hanya sendirian membangun dunia. Namun Gereja bersama umat beriman lain berjuang dalam membela kebenaran, keadilan, dan perdamaian

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 dalam hidup bersama di tengah dunia demi kepentingan seluruh umat manusia tanpa terkecuali yang merupakan cita-cita dan tujuan dari semua umat beragama. Berdasarkan uraian di atas tersebut maka secara eksplisit tujuan dari deklarasi Nostra Aetate adalah memajukan kesatuan dan cinta kasih antar manusia, maupun antar bangsa di seluruh dunia yang merupakan tugas panggilan Gereja. Kesadaran akan tugas panggilannya tersebut, Gereja secara lebih cermat meninjau kembali mengenai sikapnya terhadap umat lain. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam artikel kedua Nostra Aetate bahwa Gereja Katolik tidak menolak segala apapun yang baik dan benar yang terdapat pada agama-agama lain. Gereja juga menghargai nilai-nilai keselamatan yang terdapat pada agamaagama lain. Oleh karena itu Gereja perlu menjalin kerjasama dan dialog dengan umat beriman lain, untuk bersama-sama berjuang dalam membangun dunia demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bagi antar manusia maupun antar bangsa dalam hidup bersama di dunia (Hardawiryana, 1991: 26). C. Struktur dan Isi Deklarasi Nostra Aetate Deklarasi Nostra Aetate. merupakan pertanggungjawaban historis dan teologis sikap dialogis Gereja terhadap agama-agama bukan Kristen. Dokumen ini menjadi bahan evaluasi tentang sikap Gereja masa lampau terhadap agama-agama lain. Melalui deklarasi Nostra Aetate ini, Konsili Vatikan II tanpa ragu-ragu memandang positif agama-agama lain, seraya mencari segi-segi yang dapat mengantar ke dialog dan rekonsiliasi. Nostra Aetate merupakan pertanggungjawaban teologis atas pandangan positif Gereja mengenai kehendak

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 Allah untuk menyelamatkan semua orang tanpa terkecuali. Karena itu, Gereja merasa terpanggil untuk memajukan persatuan dan kasih di antara umat manusia. Gereja melihat bahwa bangsa-bangsa telah menyadari diri sebagai suatu masyarakat yang sedang bergerak dan mempunyai tujuan akhir sama dan satu, yakni Allah (Armada Riyanto, 1995: 53). Deklarasi Nostra Aetate yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II ini tidak panjang seperti dokumen yang lainnya, melainkan dokumen ini sangat pendek karena hanya terdiri dari lima artikel saja. Oleh karena itu untuk memudahkan kita dalam memahami dokumen deklarasi Nostra Aetate ini, maka penulis akan menggambarkan terlebih dahulu mengenai struktur dan isi dokumen deklarasi Nostra Aetate tersebut. 1. Struktur Deklarasi Nostra Aetate Struktur berarti susunan yang memberi petunjuk bagi kita untuk dapat mempelajari sesuatu. Dalam hal ini kita akan melihat struktur yang terdapat dalam deklarasi Nostra Aetate. Telah dikatakan bahwa dokumen deklarasi Nostra Aetate ini tidak panjang karena hanya terdiri dari lima artikel saja yaitu sebagai berikut: a. Artikel pertama ini mengungkapan alasan historis dan teologis pembaharuan pandangan Gereja terhadap situasi dewasa ini yang menonjolkan pluralisme agama di satu pihak dan persatuan bangsa dan manusia menjadi satu masyarakat di lain pihak. b. Artikel kedua mengungkapkan penghargaan Gereja Katolik akan segala apapun yang benar dan suci yang terdapat pada agama-agama lain.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 c. Artikel ketiga menegaskan pernyataan sikap Gereja terhadap Islam d. Artikel keempat menegaskan pernyataan dialog dengan umat Yahudi. e. Artikel kelima merupakan artikel penutup dari dokumen Nostra Aetate. Artikel kelima ini menutup dengan menegaskan semacam kriteria perihal menjalani hidup beragama. Dalam artikel kelima dikatakan bahwa “yang tidak mengasihi, tidak mengenal Allah” (1 Yoh 4: 8). Dengan demikian kriteria menjalankan hidup beragama menemukan kesempurnaannya dalam kesaksian hidup nyata, yaitu mengasihi sesamanya. Artikel satu dan lima menjadi semacam bingkai atas pandangan atau suatu penghargaan terhadap nilai-nilai keselamatan yang ditampilkan oleh umat beriman lain, baik itu kepercayaan atas kekuasaan gaib dari bangsa-bangsa, Hinduisme, dan Buddhisme (art 2), Islam (art 3), dan Yahudi (art 4). Ketiga artikel ini dapat dikatakan sebagai dasar dialog Gereja dengan agama-agama bukan Kristen. Ketiga artikel ini juga menjadi isi pokok deklarasi Nostra Aetate mengenai sikap dialogis Gereja dengan agama-agama bukan Kristen. Untuk itu ketiga artikel tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam bagian berikutnya yaitu isi deklarasi Nostra Aetate (Armada Riyanto, 2010: 109-110). 2. Isi Deklarasi Nostra Aetate Sudah disebutkan sebelumnya bahwa ketiga artikel (art. 2, 3, 4) tersebut merupakan isi pokok dan dasar sikap dialogis Gereja dengan agama-agama bukan Kristen. Dengan demikian akan dijabarkan sikap dialogis Gereja dengan agamaagama bukan Kristen yakni sebagai berikut:

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 a. Gereja Katolik Menghargai Segala Yang Baik dan Suci Dalam AgamaAgama Sebutan agama-agama yang dimaksud Nostra Aetate artikel 2 sekurang- kurangnya ada tiga yaitu, Pengakuan terhadap yang Maha Tinggi, Hinduisme dan Budhisme. Nostra Aetate artikel 2 juga menyebut agama-agama lain di seluruh dunia. Artikel ini hendak menyapa semua agama, kecuali Islam dan Yahudi yang disebut sendiri dalam artikel berikutnya. Gereja memandang dengan penghargaan yang tulus cara bertindak dan cara hidup, peraturan dan ajaran mereka yang kendati dalam banyak hal berbeda dengan apa yang dipahami dan dianjurkan Gereja, namun tidak jarang memantulkan cahaya kebenaran, yang menerangi semua orang. Kepercayaan terhadap yang Mahatinggi (semacam Aliran Kepercayaan atau Kebatinan) menanamkan ke dalam hidup penganutnya perasaan keagamaan yang mendalam. Mereka berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar atas rahasia yang tersembunyi dalam hidup manusia, sebagaimana juga dicari oleh semua agama. Hinduisme diakui memantulkan cahaya kebenaran. Mereka berusaha mencari pembebasan dari kecemasan hidup melalui bentuk-bentuk matiraga atau meditasi yang mendalam atau dengan berpaling kepada Allah dan melakukan perbuatan cinta kasih. Budhisme mengakui bahwa secara mendasar dunia yang fana ini tidak memadai. Karena itu, mereka berusaha meraih pencerahan yang lebih tinggi. Sementara itu agama-agama lain di seluruh dunia memberikan ajaran, peraturan hidup dan ibadat suci. Betapa agung dan mulia harta kekayaan rohani dan nilai-nilai sosiobudaya yang dimiliki oleh agama-agama lain. Karena itu, Gereja mengusahakan

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 kerjasama dan dialog dengan saudara-saudara beriman lain demi mengembangkan dan memajukan harta kekayaan rohani, moral dan nilai-nilai sosial-budaya yang terdapat pada mereka tersebut (Armada Riyanto, 2010: 111-112) Konsili Vatikan II dalam Deklarasi Nostra Aetate menambahkan bahwa Gereja tiada henti-hentinya untuk terus mendorong para putera puterinya tetap mewartakan dan wajib mewartakan Kristus yang adalah “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14: 6). Sebab dalam Kristus, manusia medapatkan kepenuhan hidup dan iman, serta di dalam Kristus pula, Allah mendamaikan semua manusia dengan diri-Nya (bdk 2 Korintus 5: 18-19). b. Sikap Gereja Terhadap Islam Nostra Aetate artikel 3 menegaskan pernyataan bahwa Gereja Katolik secara resmi mengungkapkan penghargaannya kepada umat Islam “yang menyembah Allah yang Maha Esa, yang hidup dan berdiri pada zat-Nya sendiri, yang Mahamurah dan Mahakuasa, Pencipta langit dan yang berfirman kepada manusia”. Dengan demikian, sikap dialogis Gereja terhadap Islam bertumpu di atas iman akan Allah yang sama, karena itu Gereja mengajak umat Islam untuk berkembang dalam mencari Allah dan belajar melihat tanda-tanda kehadiran Allah yang penuh rahasia dalam sesama (Armada Riyanto, 1995: 55). Pernyataan deklarasi Nostra Aetate tentang sikap dialogis Gereja terhadap Islam merupakan pernyataan besar, sebab mencakup sekurang-kurangnya enam hal. Keenam hal tersebut dapat disingkat menjadi dua bagian yaitu, bagian pertama mengenai pernyataan tentang sikap Gereja terhadap beberapa pokok iman

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 Islam (bagian 1-5). Sedangkan bagian kedua mengenai himbauan untuk berdialog yang menyangkut dua dimensi yaitu sejarah dan masa depan (bagian 6). Keenam hal tersebut yaitu pertama, Nostra Aetate mengangkat faham ketuhanan dalam Islam. Terhadap umat Islam Gereja memandang dengan penghargaan besar bahwa umat Islam sebagai yang menyembah Allah satu-satunya, yang mahamurah dan mahakuasa, pencipta langit dan bumi, yang berfirman kepada manusia. Kedua, Nostra Aetate memuat tentang konsepsi iman Islam. Umat Islam berusaha untuk menyerahkan diri dengan ikhlas dan sepenuh hati kepada hukum-hukum Allah yang tersembunyi, seperti Ibrahim, iman Islam yang secara suka rela menggabungkan dirinya, menyerahkan diri kepada Allah. Ketiga, Nostra Aetate menyajikan Kristologi Islam. Memang mereka tidak mengakui Yesus sebagai Allah, namun menghormatiNya sebagai Nabi. Keempat, Nostra Aetate menggambarkan Eskatologi Islam. Umat Islam juga menantikan hari pengadilan yaitu Allah akan membangkitkan semua orang serta memberikan pembalasan kepada tiap orang sesuai dengan amal perbuatan masing-masing. Kelima, Nostra Aetate menyoroti ahlak dan ibadat Islam. Mereka juga menghargai kehidupan yang berlandaskan moral, dan mengabdi Allah terutama dalam doa, memberikan sedekah dan berpuasa. Keenam, Nostra Aetate berisi ajakan untuk berdialog dengan kaum Muslim (Bakker, 1976: 58-79). Ada dua pernyataan pokok sebagai ajakan untuk berdialog dengan Islam. Pertama, Konsili Suci mengajak semua pihak untuk melupakan masa lampau dengan mengusahakan secara tulus sikap saling pengertian. Kedua, Konsili Suci mengajak semua pihak untuk bersama-sama berusaha membela dan memajukan

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 keadilan sosial, nilai-nilai moral, perdamaian dan kemerdekaan bagi seluruh umat manusia. Kedua pernyaataan ini dapat dipandang sebagai evaluasi Gereja mengenai hubungannya dengan Islam. Hal ini bertitik tolak pada sejarah masa lampau yang diwarnai dengan timbulnya pertikaian dan permusuhan antara orang Kristen dengan Islam. Selain evaluasi, pernyataan Konsili menampilkan sikap maju. Konsili mengajak umat beriman lain secara bersama-sama membina saling pengertian secara tulus, serta berusaha untuk berjuang bersama-sama memajukan keadilan sosial, nilai-nilai moral, kebebasan, dan perdamaian. Dalam artikel 3 ini, Konsili tidak menandaskan secara jelas tentang perlunya pewartaan kabar gembira sebagaimana dibawa oleh Yesus Kristus. Barangkali ini sudah diandaikan dalam dialog dan kerjasama dengan umat Islam. Melalui dialog dan kerjasama, Gereja telah mewartakan kabar gembira Yesus Kristus kepada uamt beriman lain (Armada Riyanto, 1995: 55-56). c. Dialog Dengan Umat Yahudi Nostra Aetate artikel 4 menjelaskan pandangan positif terhadap umat Yahudi, yang intinya ingin menghapus ungkapan bahwa seakan-akan umat Yahudi ditolak oleh Allah. “Meskipun Gereja merupakan umat Allah yang baru, namun jangan kiranya orang Yahudi dianggap sebagai orang yang ditolak Tuhan atau yang terkutuk, seolah-olah itu disimpulkan dari Kitab Suci”. Gereja menyadari kebersamaan dalam warisan sejarah dengan orang Yahudi dan terdorong oleh semangat cinta kasih bukan motivasi-motivasi lain. Gereja sangat

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 menyesalkan kebencian, penganiayaan, penindasan dan segala bentuk ungkapanungkapan anti semitisme yang diarahkan kepada orang Yahudi. Biarpun pemimpin umat Yahudi dengan para penganutnya telah terlibat dalam kematian Yesus (Bdk. Yoh 19: 6). Umat Yahudi merupakan umat yang menjadi perantaraan Gereja dalam menerima wahyu Perjanjian Lama. Umat Yahudi dan Gereja telah menyimpan warisan spiritual yang kaya. Oleh karena itu, Konsili ingin memupuk dan menganjurkan saling pengertian dan saling penghargaan satu sama lain dalam dialog persaudaraan. Wujud dialog persaudaraan itu ditampilkan dalam wujud studi Kitab Suci dan Teologi. Terhadap umat Yahudi, Gereja menekankan bahwa Kristus rela menderita, menjalani kematian dengan cinta kasih yang sangat besar, agar semua orang diselamatkan. Gereja berkewajiban mewartakan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus sebagai tanda cinta kasih Allah yang universal. Pandangan Nostra Aetate terhadap umat Yahudi dalam artikel 4 ini menandakan bahwa Gereja membuka pintu selebar-lebarnya menuju hubungan dialogis yang lebih mendalam dengan umat Yahudi (Armada Riyanto, 1995: 5657). D. Tanggapan Atas Sikap Gerja Terhadap Umat Beriman Lain Dalam Deklarasi Nostra Aetate Kita ketahui bahwa dunia ini sangat beranekaragam baik itu keanekaragaman agama, suku, budaya, bahasa, dan sebagainya. Keanekaragaman ini membawa konsekuensi bagi Gereja untuk berjumpa dan berdialog dengan umat beragama lain karena Gereja merupakan bagian yang tak terpisahkan dari

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 masyarakat dunia yang hidup di tengah dunia. Kesadaran akan keberadaannya di tengah dunia yang terus berkembang, mendorong Gereja agar memperbaharui diri sesuai dengan perkembangan zaman tersebut. Oleh karena itu, salah satu pembaharuan Gereja yaitu mengenai hubungan Gereja Katolik dengan umat beriman lain yang tercetus dalam dokumen Konsili Vatikan II tentang Nostra Aetate. Berikut ini adalah tanggapan penulis atas dokumen deklarasi Nostra Aetate mengenai pembaharuan sikap Gereja terhadap umat beriman lain. Pertama-tama harus diakui bahwa deklarasi Nostra Aetate dalam Konsili Vatikan II ini telah menghembuskan angin segar mengenai pembaharuan sikap Gereja terhadap umat beriman lain di mana dalam Konsili Vatikan II itu, Gereja tanpa ragu memandang nilai-nilai positif yang terdapat pada umat beriman lain. Pandangan positif Gereja terhadap umat beriman lain ini bertolak dari prinsip bahwa semua orang diselamatkan. Oleh karena itu Gereja telah memberikan suatu penafsiran baru yang sangat radikal atas ajaran extra ecclesiam nulla salus. Ungkapan extra ecclesiam nulla salus berasal dari Santo Cyprianus (200258). Ungkapan ini bersifat apologetis, hendak mengatakan bahwa baptisan yang diberikan oleh para bidaah (yang memisahkan diri dari Gereja yang benar) tidak membawa kepada keselamatan. Hanya baptisan dalam Gereja Katolik yang membawa keselamatan. Ungkapan extra ecclesiam nulla salus ini dimaksudkan untuk mencegah keluarnya umat Kristen dari ajaran yang benar di satu pihak dan juga ingin meyakinkan kesesatan pandangan-pandangan para bidaah dan kaum gnostis (semacam penganut sinkretisme) di lain pihak. Ungkapan ini tidak dimaksudkan untuk orang yang beragama lain atau berkebudayaan lain,

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 melainkan ungkapan ini hanya bersifat internal bagi kalangan umat Kristen itu sendiri yang menjadi semacam pagar bagi kesatuan dan kesatuan umat Kristen yang pada masa itu sangat memprihatikan. Namun pada perkembangan selanjutnya, penafsiran atas ungkapan tersebut meluas, yakni bahwa di luar iman kepada Kristus atau di luar Gereja tidak ada keselamatan, sehingga Gereja tenggelam dalam salah penafsiran akan ungkapan tersebut yang menjerumuskan Gereja pada sikap eksklusif selama berabad-abad sebelum menjelang Konsili Vatikan II (Armada Riyanto, 1995: 25-26). Setelah Konsili Vatikan II, pandangan mengenai keselamatan partikularis (keselamatan hanya untuk Gereja Katolik) dihapus oleh Gereja. Selanjutnya Gereja memperbaharui diri dengan menampilkan ajaran baru yang mengatakan bahwa Allah memanggil semua orang untuk diselamatkan. Hal ini menjadi nyata dalam deklarasi Nostra Aetate, di mana dalam dokumen Nostra Aetate ini Gereja secara resmi mengakui dan menghormati nilai-nilai keselamatan yang disajikan oleh setiap agama dan kepercayaan lain. Gereja juga mengagumi pengalaman religius umat beriman lain. Deklarasi Nostra Aetate tidak berpangkal pada suatu teologi universal tentang agama-agama bukan Kristen di dalam membahas sikapnya terhadap agama-agama lain, melainkan berpangkal pada kenyataan empiris, pada situasi manusia zaman sekarang. Baru dalam artikel-artikelnya, Nostra Aetate menyinggung teologi yang utuh tentang agama-agama bukan Kristen. Pendekatan yang dilakukan oleh Konsili ini boleh dikatakan pragmatis. Tetapi hal itu

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 diilhamkan oleh urgensi yang besar, yaitu demi membela kesatuan umat manusia sebagai tanggung jawab semua agama. Pernyataan Gereja dalam Konsili Vatikan II tentang relasinya dengan umat beriman lain merupakan tugas perutusan Gereja dalam mewartakan kerajaan Allah, yakni demi memajukan kesatuan, kasih, kerukunan dan perdamaian antar umat manusia dan antar semua bangsa. Oleh karena itu Gereja dengan tindakan dialog dan kerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik untuk bersamasama berjuang melawan berbagai tindakan diskriminasi dan kekerasan yang dapat merusak persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama di dunia. Kesadaran akan tugas perutusan dalam memajukan kesatuan dan kasih antar semua manusia dan antar bangsa tersebut ditegaskan oleh Konsili Vatikan II dalam deklarasi Nostra aetate bahwa Gereja Katolik tidak menolak akan segala apapun yang benar dan suci dalam agama-agama dan kepercayaan lain. Gereja memandang dengan penghargaan yang tulus cara hidup dan cara bertindak, peraturan dan ajaran agama-agama itu, yang biarpun dalam banyak hal berbeda dengan apa yang dipahami dan dianjurkan Gereja, namun kerap kali memantulkan cahaya kebenaran yang menerangi semua manusia (NA 2). Pernyataan ini juga ditegaskan oleh Bakker mengenai pandangan Neuner yang merupakan salah satu perumus naskah deklarasi Nostra Aetate yang mengatakan bahwa pernyataan Gereja dalam dokumen deklarasi Nostra Aetate artikel kedua ini merupakan “the heart of the declaration”. Pernyataan Gereja inilah merupakan satu-satunya ketetapan Konsili Vatikan II tentang sikapnya terhadap agama-agama lain. Pernyataan Nostra Aetate artikel kedua ini juga merupakan pedoman pokok bagi

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 Gereja untuk menjalin dialog dan kerjasama dengan umat beriman lain demi terjalinnya kerjasama antar semua orang untuk membangun dunia yang adil, rukun dan damai (Bakker, 1976: 80-81). Dalam Konsili Vatikan II, Gereja untuk pertama kalinya dalam sejarah mengakui peran agama-agama lain juga sebagai jalan keselamatan. Gereja mengakui bahwa dalam agama-agama lain juga terjalin relasi antara manusia dengan Allah. Namun persoalan mengenai keselamatan umat beriman lain ini, Konsili belum menyinggung secara lebih mendalam. Persoalan ini akhirnya berkisar pada pertanyaan-pertanyaan apakah peranan agama-agama lain dalam keselamatan manusia? Apakah kedudukan agama-agama lain dalam rencana keselamatan ilahi? Sejauh mana agama-agama lain merupakan jalan keselamatan? Bagaimana pelaksanaan konkrit dari rencana Tuhan mengenai keselamatan universal (1Tim 2:4). Atas pertanyaan-pertanyaan itu belum ada jawaban yang jelas dan pasti dari Konsili Vatikan II sehingga persoalan keselamatan mengenai agama-agama lain itu dibiarkan tetap terbuka oleh Konsili Vatikan II. Selain itu ada masalah lain yang oleh Konsili dibiarkan tetap terbuka, yakni masalah hubungan antara dialog dengan misi yang harus dilaksanakan oleh Gereja yang mempunyai konsekuensi akan pembaptisan dan keterikatan akan tubuh Gereja sebagaimana dinyatakan dalam deklarasi Nostra Aetate bahwa Gereja wajib mewartakan Kristus sebagai satu-satunya jalan kebenaran dan hidup kepada semua bangsa sebab hanya dalam Kristus umat manusia menemukan kepenuhan hidup dan menemukan keselamatan tetapi dilain pihak juga Gereja

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 perlu berdialog dengan umat beriman lain bukan untuk mempertobatkannya mereka (Bakker, 1976: 86). Terlepas dari persoalan tersebut, deklarasi Nostra Aetate dapat dikatakan sebagai fundamen paling jelas bagi Gereja Katolik untuk menjalin kerjasama dan dialog dengan umat beriman lain dalam kehidupan bersama di tengah dunia untuk memajukan kasih, perdamian dan kesatuan antar semua umat manusia dan juga antar semua bangsa. Dari deklarasi Nostra Aetate mengalir usaha-usaha konkret tindakan dialogis Gereja dengan umat beriman lain. Karena merupakan fundamen, maka ungkapan-ungkapannya sangat mendasar dan belum menyentuh problem yang rinci mengenai dialog dengan umat beriman lain. Oleh karena itu, deklarasi Nostra Aetate perlu didalami dan disesuaikan dengan konteks dialog yang akan dilaksanakan oleh Gereja setempat (Gereja partikular), termasuk juga Gereja Indonesia. Sikap Gereja terhadap umat beriman lain yang ditegaskan dalam deklarasi Nostra Aetate yang merupakan pertanggungjawaban historis dan teologis Gereja mengarah kepada terwujudnya kerjasama dan dialog antara Gereja Katolik dengan umat beriman lain. Deklarasi Nostra Aetate ini merupakan dasar yang secara eksplisit menekankan pentingnya Gereja berdialog dengan umat beriman lain. Namun permasalahannya apa hubungan antara dialog dengan tugas perutusan Gereja dalam mewartakan keselamatan? Permasalahan ini yang akan menjadi titik tolak pembahasan penulis dalam bab berikutnya.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 BAB III GEREJA YANG BERDIALOG DENGAN UMAT BERIMAN LAIN Dunia dewasa ini semakin menampakkan kemajemukan. Kemajemukan dunia ini merupakan suatu peluang bagi seluruh umat manusia untuk saling memperkaya dan saling belajar satu sama lainnya. Namun dalam kenyataan kemajemukan ini justru menimbulkan konflik yang dapat merusak persatuan dan kesatuan umat manusia dalam hidup bersama di tengah dunia. Oleh karena itu, salah satu cara untuk dapat memupuk persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama di tengah dunia, umat manusia perlu menjalin dialog dan kerjasama secara bersama-sama untuk memperjuangkan persatuan dan kesatuan antar umat manusia dan antar bangsa. Untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan seluruh umat manusia ini, Gereja perlu membangun kerjasama dengan umat beriman lain karena Gereja tidak bisa bekerja sendirian. Kesadarannya bahwa Gereja tidak dapat bekerja sendirian ini mendorong Gereja memperbaharui sikapnya terhadap umat beriman lain. Pembaharuan sikap Gereja ini dalam Konsili Vatikan II dinyatakan bahwa Gereja mengakui dan menghargai nilai-nilai positif yang terdapat pada umat beriman lain, sebagaimana telah dipaparkan dalam bab II sebelumnya. Pandangan positif Gereja akan umat beriman lain itu tidak berarti tanpa membawa persoalan, yang langsung kelihatan yaitu persoalan berkaitan dengan tugas perutusan Gereja dalam tata keselamatan manusia. Pandangan Gereja mengenai dunia, manusia dan agama-agama lain yang sedemikian positif itu sepintas bahwa Gereja tampak

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 kehilangan atau kekurangan alasan yang mendesak untuk melakukan tugas perutusan dalam mewartakan keselamatan. Apabila Gereja terlibat dalam dialog, bagaimana konsekuensinya dalam tugas perutusannya untuk mewartakan kerajaan Allah kepada semua manusia dan semua bangsa? Apa hubungan dialog dan tugas perutusan? Atau bagaimana tempat dialog dalam keseluruhan tugas perutusan Gereja? Berkaitan dengan hal itu, uraian berikut ini mencoba menjelaskan secara sistematis mengenai persoalan tersebut. Selain itu, dalam bab III ini juga akan diuraikan mengenai hakikat dialog dalam tugas perutusan Gereja, pengertian dialog, tujuan dialog, syarat-syarat dialog, hambatan-hambatan dialog dan bentukbentuk dialog dengan umat beriman lain. A. Hakikat Dialog dalam Tugas Perutusan Gereja Untuk memahami hakikat dialog, penulis terinspirasi oleh tulisan A. Ligoy dalam majalah rohani mengenai Gereja Indonesia dan Dialog Antaragama. Ligoy (1997: 131-132) menyatakan bahwa hakikat dialog dalam tugas perutusan Gereja dipandang sebagai wujud kesaksian perutusan Gereja, sebagai bagian Evangelisasi dan sebagai usaha bersama umat beriman lain dalam membangun Kerajaan Allah. Hakikat dialog dalam tugas perutusan Gereja ini akan diuraikan satu persatu. 1. Dialog sebagai Wujud Kesaksian Perutusan Gereja Tugas perutusan Gereja merupakan perwujudan rencana Allah dan pemenuhannya di dalam dunia. Melalui tugas perutusan, Allah menyelesaikan

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 sejarah keselamatan manusia (bdk. AG 9). Bentuk pertama dari tugas perutusan adalah kesaksian. Kesaksian hidup merupakan suatu jalan utama dalam merealisasikan karya perutusan Gereja. Kesaksian hidup Gereja ini perlu dilaksanakan melalui tindakan berdialog dan bekerjasama dengan umat beragama lain dalam hidup bersama yang didasari oleh semangat cinta kasih dan persaudaraan, agar karya keselamatan dari Allah itu dapat diterima oleh semua orang. Untuk itu, Gereja perlu hadir dan bersatu dengan semua penganut agama dan kepercayaan lain dengan penuh penghargaan dan cinta kasih. Gereja juga harus menghormati tradisi-tradisi keagamaan umat beriman lain dan menggali benih-benih sabda yang terpendam dalam umat beriman lain melalui dialog dan kerjasama yang tulus. Dengan demikian dialog dengan umat beragama lain ini tidak dimaksudkan sebagai strategi kristenisasi, tetapi sebagai wujud konkret dalam meneladan Yesus Kristus yang sebagaimana telah memberikan cintaNya kepada semua orang sampai wafat disalib. Oleh karena itu, lewat dialog dengan umat beriman lain, Gereja memujudkan kesaksian perutusan Gereja sebagai murid Kristus agar semua manusia semakin mencintai Tuhan dan sesamanya. Melalui dialog pula, Gereja membantu umat manusia untuk dapat bertobat dengan mengusahakan kemajuan umat manusia dengan aktif dalam memperjuangkan keadilan, perdamaian, pendidikan, perawatan orang sakit, serta bantuan terhadap orang miskin, menderita dan anak-anak.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 2. Dialog sebagai bagian Evangelisasi Armada Riyanto (2010: 195) menegaskan kembali pandangan Redemptoris Missio, art. 55 mengatakan bahwa dialog antaragama merupakan bagian dari misi penginjilan Gereja serta menjadi salah satu pengungkapan misi penginjilan Gereja. Dialog sebagai misi penginjilan Gereja ini tidak bertentangan dengan tugas perutusan Gereja apabila dialog dipahami sebagai sarana dan metode untuk saling memperkaya dan saling mengenal di antara umat beriman satu sama lainnya. Penegasan Redemptoris Missio di atas ini tidak dapat dikatakan bahwa telah menganjurkan untuk memanfaatkan dialog sebagai sarana dan metode dari misi penginjilan Gereja, melainkan penegasan Redemptoris Missio ini hendak mengatakan bahwa meskipun di dalam dialog tersebut adanya unsur misioner, namun dialog itu tidak bertentangan dengan tugas perutusan Gereja karena dialog dengan umat beriman itu sebagai metode dan saran untuk saling memperkaya dan saling mengenal satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu Gereja tidak melihat adanya suatu pertentangan antara pemberitaan Injil dan keterlibatan dialog antar umat beriman. Gereja melihat bahwa antara dialog dan pewartaan saling berhubungan dalam konteks tugas perutusannya dalam mewartakan tata keselamatan kepada para bangsa dan semua umat beriman. Keduanya saling berhubungan, namun itu tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang identik. Antara dialog dan pewartaan itu juga dapat dipisahkan secara tegas karena keduanya memiliki teologi masing-masing yaitu teologi dialog dan teologi misi.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 3. Dialog sebagai Usaha Bersama Mewujudkan Kerajaan Allah Dialog merupakan salah satu wujud konkret partisipasi Gereja dalam membangun Kerajaan Allah. Maksud Kerajaan Allah ini dijelaskan secara rinci dalam Redemptoris Missio art. 12 yaitu bahwa Kerajaan Allah merupakan wujud keselamatan yang sudah dipersiapkan oleh Allah dalam Perjanjian Lama, dilaksanakan oleh Kristus dan di dalam Kristus, serta diberikan kepada semua orang oleh Gereja, yang berkarya dan berdoa demi perwujudannya secara sempurna dan pasti. Kerajaan Allah itu sudah dimulai oleh Kristus dalam sejarah hidup manusia. Kerajaan Allah bukanlah realitas eksklusif yang hanya merangkul orangorang tertentu saja melainkan Kerajaan Allah itu diperuntukkan bagi semua manusia. Semua orang dipanggil untuk menjadi anggota Kerajaan Allah. Keselamatan yang dihadirkan oleh Kerajaan Allah merangkum sekaligus dimensidimensi rohani dan jasmani kehidupan manusia. Kenyataan yang demikian ini juga telah ditunjukkan oleh Yesus Kristus sendiri selama Ia dalam berkarya, mengampuni dan menyembuhkan semua manusia di dunia. Kerajaan Allah juga telah mengubah hubungan antar manusia. Apabila orang mulai saling mencintai, mengampuni, dan melayani satu sama lain, maka Kerajaan Allah tumbuh di antara mereka. Karena itu, hakekat dari Kerajaan Allah adalah suatu persekutuan di antara semua umat manusia satu dengan lain dan persekutuan antara manusia dengan Allah. Semuanya itu akan diraih apabila semua orang hidup berdampingan dan menjalin hubungan yang dialogis antara satu sama lain.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Dengan demikian Kerajaan Allah menjadi wawasan misioner Gereja. Eksistensi Gereja pertama-tama untuk mengabdi Kerajaan Allah dan melayani manusia. Atas dasar inilah Gereja perlu menjalin kerjasama dan dialog dengan umat beriman lain dan dengan siapapun yang beritikad baik untuk senantiasa memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, kebebasan, keadilan, kasih, perdamaian, pengabdian dan sebagainya dalam hidup bersama (Gal 5:22-23). Dalam dialog tema-tema Kerajaan Allah telah membangkitkan pemikiran-pemikiran yang baru bahwa arti keselamatan tidak lagi disempitkan pada peranan Gereja dengan segala kebijakan pastoralnya, tetapi lebih pada partisipasi seluruh umat manusia untuk secara bersama-sama berjuang membangun Kerajaan Allah yang dapat membawa keselamatan bagi semua manusia. B. Pengertian Dialog Antar Umat Beriman Hendropuspito (1983: 172) menegaskan bahwa kata dialog berasal dari kata Yunani dia-logos yang berarti bicara antara dua pihak atau dwiwicara. Hendropuspito juga mendefenisikan dialog adalah percakapan antara dua orang atau lebih dalam mana diadakan pertukaran nilai yang dimiliki masing-masing pihak. Lebih lanjut dialog berarti pula pergaulan antar pribadi-pribadi yang saling memberikan diri dan berusaha mengenal pihak lain sebagaimana adanya. Florent K. Pake (1989: 34) berpendapat bahwa dialog adalah percakapan. Percakapan terjadi antara dua orang atau lebih yang ikut ambil bagian di dalamnya. Dikatakan dalam dialog itu hadir beberapa orang, hadir pribadi-pribadi manusia yang berlandasakan keterbukaan, saling menghargai, saling menerima satu sama lain.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Muhammad Wahyuni Nafis (1998: 96) menekankan kembali pemikiran Swidler yang mengartikan dialog sebagai perbincangan dua orang atau lebih yang masing-masing memiliki pandangan yang berbeda, yang tujuan utamanya adalah saling belajar antar peserta sehingga masing-masing peserta dapat mengubah pandangannya dan mengikat pengalaman religiusnya. Kemampuan untuk belajar sesuatu yang baru merupakan kunci dialog. Dialog yang menjembatani jurang di antara umat beriman tidak tergantung kepada persetujuan berdasarkan pemikiran yang umum, melainkan kesadaran bahwa perbedaan-perbedaan adalah hal yang dapat dipelajari. Mega Hidayati (2008: 54) menegaskan kembali pandangan Gadamer bahwa dialog merupakan percakapan yang dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk saling memahami. Dalam dialog itu bukan sesuatu yang kita ciptakan tetapi kita terlibat di dalamnya, dan merupakan percakapan fundamental di mana tidak ada yang memimpin atau dipimpin. Pemimpin di sini berarti mereka yang mengontrol percakapan, sehingga memungkinkan percakapan direkayasa dan hasilnya dapat diketahui sebelum percakapan berlangsung. Freire (1985: 73) mendefinisikan dialog sebagai suatu bentuk perjumpaan di antara sesama manusia dengan perantaraan dunia, dalam rangka menamai dunia. Manusia yang hadir dalam dialog adalah sesama manusia, yang mengakui orang lain sebagai sesamanya dan sama dengan dirinya. Dengan demikian perjumpaan antara sesama manusia harus berdasarkan cinta yang mendalam kepada kehidupan, kepada dunia, dan manusia. Dialog juga menuntut adanya kerendahan hati dan keyakinan yang mendalam terhadap diri manusia yang secara

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 manusiawi mampu menciptakan sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi manusia dan dunia. Dialog yang sejati juga perlu adanya pemikiran yang kritis atau refleksi mendalam tentang kelanjutan dan perubahan realitas yang dihadapi manusia menuju humanisasinya. Dialog itu tidak hanya menggunakan pemikiran kritis tetapi juga harus mampu melahirkan dan menghasilkan pemikiran kritis dan efektif. Armada Riyanto (2010: 194) menegaskan kembali pengertian dialog menurut dokumen Dialogue Proclamation art. 9 yang mendefenisikan dialog terdiri dari tiga macam arti dialog. Yang pertama, dalam tingkat manusia seharihari, sebagai komunikasi timbal balik. Tujuan komunikasi ini dapat berupa sekedar saling tukar informasi, atau untuk meraih kesepakatan, atau menjalin persatuan. Yang kedua, lebih berkaitan dengan tugas evangelisasi yang harus dijalankan dalam semangat dialogis. Dialog dalam arti ini dipahami sebagai sikap hormat, penuh persahabatan, ramah, terbuka, suka mendengarkan orang lain. Yang ketiga, merupakan arti khusus, sekaligus yang dimaksudkan dalam pembahasan ini. Dialog merupakan hubungan antar agama yang positif dan konstruktif. Hubungan ini dilangsungkan dalam relasi dengan pribadi-pribadi dan umat dari agama-agama lain, yang diarahkan untuk saling memahami dan saling memperkaya, dalam ketaatan kepada kebenaran dan hormat terhadap kebebasan, juga termasuk di dalamnya kesaksian dan pendalaman keyakinan keagamaan masing-masing. Armada Riyanto (2010: 191) juga menekankan pemikiran Paus Yohanes Paulus II bahwa dialog dalam level paling mendalam yang pada prinsipnya adalah

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 dialog keselamatan. Dialog keselamatan ialah dialog yang terus menerus berusaha menemukan, memperjelas, dan memahami tanda-tanda Allah dalam persatuan manusia sepanjang masa. Dialog keselamatan merupakan sharing keselamatan. Dalam dialog ini, mereka yang terlibat di dalamnya diajak untuk saling membagikan pengalaman keselamatannya. Setelah membaca pandangan para ahli dan pandangan Gereja tentang dialog, maka penulis memahami bahwa dialog adalah suatu percakapan atau komunikasi antara dua orang atau lebih di mana tidak hanya diadakan pertukaran pikiran, nilai dan pengalaman iman yang dimiliki oleh masing-masing peserta dialog, melainkan lebih dari itu di mana dalam dialog diharapkan adanya suatu perubahan dalam diri peserta dialog yang dilandasi oleh semangat cinta kasih dan persaudaraan sejati untuk berjuang bersama sesamanya dalam rangka mengubah dunia ke arah yang lebih baik dan bermanfaat di mana Allah meraja di dalamnya, sehingga semua orang dapat mengalami cinta kasih dan keselamatan dari Allah tanpa terkecuali. C. Tujuan Dialog Antara Gereja Dengan Umat Beriman Lain Untuk mendalami tujuan dari dialog antar umat beriman, penulis terinspirasi oleh tulisan Reuel L. Howe dalam bukunya “The Miracle of Dialogue” seperti yang disadur oleh Tom Wignyanta. Tujuan dialog yang dimaksud oleh Reuel L. Howe ini pertama-tama bukan merupakan tujuan dialog antar umat beriman tetapi lebih merupakan tujuan dialog pada umumnya. Namun tujuan dialog ini juga penting untuk dipahami dan dihayati oleh umat beriman

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 dalam melakukan dialog. Untuk itu, berikut ini penulis akan menjabarkan secara satu persatu mengenai tujuan dialog dari Reuel L. Howe sebagaimana disadur oleh Tom Wignyanta tersebut. Menurut Reuel L. Howe seperti yang disadur oleh Tom Wignyanta (1972: 68-78) menegaskan bahwa sekurang-kurangnya ada empat tujuan dialog yang sesungguhnya. Pertama, dialog bertujuan untuk menyalurkan informasi dan nilai-nilai di antara individu-individu atau kelompok; kedua, dialog membantu orang untuk mengambil suatu keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam hubungannya dengan kebenaran yang dikemukakan; ketiga, dialog mengembalikan bentuk-bentuk kehidupan kepada vitalitas yang mula-mula melahirkannya; dan keempat, dialog membawa pribadipribadi kepada perwujudan diri sendiri. Pertama, dialog bertujuan untuk menyalurkan informasi dan nilai-nilai di antara individu-individu atau kelompok. Dengan kata lain, yang utama dalam dialog adalah memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan yang telah terkumpul sebagai hasil studi dan pengalaman dari generasi-generasi manusia di masa lalu. Informasi dan nilai-nilai kehidupan manusia dapat diperoleh tidak hanya dari masa depan tetapi juga dapat diperoleh dari masa lalu sebab manusia selalu berjalan dalam sejarah kehidupan. Melalui dialog inilah segala informasi dapat berupa pengalaman, nilai-nilai dan ajaran iman dari tradisi atau agama tertentu disampaikan kepada generasi manusia masa kini. Nilai-nilai tradisi atau ajaran iman agama tertentu yang seharusnya digunakan sebagai pedoman hidup secara fleksibel sesuai dengan situasi jaman yang berkembang tetapi dalam kenyataan nilai-nilai atau ajaran iman itu dipandang sebagai sesuatu yang mutlak dan baku

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 sehingga tidak dapat diubah. Pola pikir yang demikian sangat dekat dengan pola pikir kaum fundamentalis radikal. Pola pikir seperti ini tentu sangat berbahaya karena manusia dituntut untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan situasi jaman dulu sehingga situasi masa kini dilihat sebagai suatu ancaman yang perlu dihindari atau jika mungkin dilawan dengan sekuat tenaga. Maka tidak heran jika dewasa ini sering terjadi berbagai tindakan kekerasan dan perpecahan yang mengatasnamakan agama. Melalui dialog, diharapkan segala informasi dan nilainilai dari masing-masing individu atau kelompok agama yang diterima itu dapat disalurkan dan diperkembangkan berdasarkan kaidah-kaidah yang ada, dengan demikian semua orang dapat saling belajar dan saling memperkaya demi perkembangan hidupnya di dunia. Kedua, tujuan dialog ialah membantu orang untuk mengambil suatu keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam hubungannya dengan kebenaran yang dikemukakan. Dalam dialog ini tujuan utamanya bukan untuk mencapai kesepakatan atau memaksakan pihak lain untuk mengikuti keinginan kita tetapi melainkan tujuan dari dialog ini adalah memberikan informasi dan nilai-nilai yang dimiliki dan membantu orang lain untuk berpikir secara bebas dalam mengambil suatu keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan hati nuraninya. Tidak peduli apakah keputusan pihak lain itu ya atau tidak karena keduanya sama pentingnya. Dalam dialog ini sikap yang berbeda-beda dari peserta dialog dihargai. Dialog seperti ini tidak ada soal kalah dan menang namun yang terpenting itu adalah tumbuhnya sikap saling pengertian yang obyektif dan kritis serta menumbuhkan kembali kesadaran dari dalam diri yang semula tertutup

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 oleh jurang pemisah karena tiadanya saling pengertian kepada bentuk kejiwaan yang otentik bagi kedua belah pihak untuk mengembangkan diri sendiri sebagai pribadi yang sejati sesuai dengan kebebasan hati nuraninya. Meskipun demikian dalam kenyataannya bahwa dialog yang demikian sangat tidak mudah untuk dilaksanakannya, meskipun masih ada sedikit orang yang dapat melakukannya. Ketiga, tujuan dialog adalah mengembalikan bentuk-bentuk kehidupan kepada vitalitas yang mula-mula melahirkannya. Hidup selalu menyatakan diri dalam bentuk tertentu. Dan tiap-tiap bentuk itu menjelaskan vitalitas yang telah melahirkannya. Vitalitas keyakinan, kepercayaan kepada Tuhan dalam diri manusia menghantar mereka pada suatu bentuk kehidupan yang dikenal dengan cinta kasih dalam kehidupan bersama. Dan agama, merupakan suatu lembaga atau organisasi yang dapat mengorganisir seluruh umat beriman untuk dapat hidup dan mengembangkan hidup imannya dengan baik dan tertib sesuai dengan kaidahkaidah dalam agamanya. Eksistensi agama pada hakikatnya adalah baik karena mencita-citakan manusia yang bertaqwa, beriman dan hidup dalam kedamaian. Namun dalam kenyataan bahwa agama yang sebenarnya mengajarakan kebaikan bagi semua umatnya itu seringkali dijadikan alat oleh segelintir orang demi kepentingan pribadi atau golongan sehingga mengakibatkan berbagai ketegangan atau konflik atas nama agama sehingga telah menghancurkan segala bentuk kehidupan bersama yang penuh dengan kedamaian, persaudaraan, kekeluargaan dan cinta kasih di antara umat beriman. Melalui dialog agama diharapkan bentuk kehidupan yang telah hancur akibat kekerasan dan berbagai konflik atas nama agama itu dapat dikembalikan kepada vitalitasnya semula.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 Keempat, tujuan dialog adalah membawa pribadi-pribadi kepada perwujudan diri sendiri secara otentik. Manusia satu dengan yang lainnya adalah sama dan sederajat. Tidak ada manusia yang boleh berkuasa atas manusia yang lain meskipun manusia itu mempunyai kekuasaan atas dunia ciptaan, dan tidak ada batasan yang mengikatnya. Manusia ada karena adanya manusia lain. Ini adalah hakikat hidup manusia. Dalam kodratnya, manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain, itulah sebabnya manusia dikatakan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan orang lain dan berharap disapa dan direspon. Lewat penyapaan dan respon di antara pribadi manusia dapat melahirkan kerjasama demi kepentingan hidup bersama. Dalam konteks kehidupan umat beriman hal inipun terjadi. Banyak kelompok yang mengatasnamakan dirinya sebagai kelompok beragama yang memiliki identitas yang nampak, misalnya agama Islam, Katolik, Hindu, Budha dan lain-lain. Ini adalah sebuah realitas di mana manusia membutuhkan identitas di tengah-tengah situasi hidup bersama. Sapaan dan respon menjadi cara berkomunikasi yang dapat dilakukan manusia. Sapaan dan respon disebut juga sebagai bentuk dialog. Melalui dialog umat yang satu dengan yang lain meskipun berbeda disapa dan direspon maka dengan demikian kehadiran mereka menjadi lebih dihargai dan dipandang sebagai sesama yang sederajat dengan dirinya. Dengan demikian, dialog sampai pada hakikatnya yang sejati yakni memanusiakan manusia dengan penuh cinta kasih. Jika hal ini terjadi dalam kehidupan bersama dalam dunia jaman ini, penulis yakin bahwa dunia ini akan menjadi lebih damai dan tidak mungkin lagi ada peperangan

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 yang menelan banyak korban jiwa. Akhirnya penulis sangat setuju dengan pandangan Howe yang disadur oleh Tom Wignyanta bahwa yang menjadi tujuan dialog antar umat beriman adalah mengembalikan bentuk-bentuk kehidupan yang telah dirusak kepada vitalitasnya semula yaitu perdamaian, kesejahteraan, persaudaraan, kerukunan dan sebagainya. Melalui dialog yang sejati masing-masing pribadi yang beriman dapat mengalami sebuah peristiwa religius yang mengindikasikan secara tidak langsung bahwa mereka mengalami suatu perubahan yang disertai sikap respek terhadap agama lain. Hal ini juga ditegaskan kembali oleh Muhamad Wahyuni Nafis (1998: 96) mengenai pandangan Swidler bahwa tujuan dari dialog adalah untuk belajar dan dengan demikian menjadi berubah. Dalam proses dialog itu, peserta dialog belajar lebih dan lebih lagi sehingga dapat meningkatkan pemahaman intelektual dan pandangannya tentang partnernya, dengan demikian dapat menghilangkan pemahaman keliru yang sebelumnya dimiliki tentang partnernya. Dalam dialog, peserta dialog saling belajar mengenai apa yang dimiliki oleh partnernya, perbedaan-perbedaannya, menjembatani antipati dan kesalahpahaman, agar dalam hidup bersama kita menjadi lebih dekat, merasakan dan bertindak dalam basis hidup bersama. Dalam konteks penulisan skripsi ini, tujuan dialog antar umat beriman adalah membina kesadaran umat Katolik untuk meningkatkan dialog dengan umat beriman lain dalam masyarakat plural. Untuk itu, berdasarkan uraian mengenai tujuan dialog dengan umat beriman lain di atas tersebut, akhirnya penulis dapat menyimpulkan bahwa tujuan dialog antar umat beriman dalam masyarakat plural adalah kesediaan dan keterbukaan dari dalam diri umat Katolik

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 untuk terus belajar dalam meningkatkan pemahaman intelektual dan pandangannya melalui kerjasama dan dialog dengan umat beriman lain, dengan demikian dapat membawa suatu perubahan sikap dan pemahaman yang baru dalam diri secara utuh dan mendalam akan umat beriman lain, yang kemudian mendorong mereka untuk melakukan suatu tindakan atau aksi demi terwujudnya kerukunan, perdamaian, persaudaraan, persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama di tengah dunia. Hal ini dapat terwujud jika adanya keterbukaan dalam diri setiap orang untuk berdialog dan bekerjasama dengan orang lain. Untuk itu salah satu cara yang dapat dilakukan Gereja adalah terus meningkatkan kesadaran bagi umat Katolik untuk menjalin kerjasama dan dialog dengan umat beriman lain dalam kehidupan bersama. D. Syarat-Syarat Dialog dengan Umat Beriman Lain Menurut Armada Riyanto ( 1995: 114-115) dialog dengan umat beriman lain bukanlah suatu komunikasi yang tanpa syarat. Tidak dapat dipungkiri bahwa dialog dengan umat beriman lain merupakan kenyataan yang tidak gampang diwujudkan. Dialog dengan umat beriman lain menuntut syarat khusus. Maka berikut ini akan diuraikan syarat-syarat dialog dengan umat beragama lain: 1. Dialog Meminta Keseimbangan Sikap Dialog menuntut keseimbangan sikap dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Mereka harus bersikap jujur, terbuka, mau mendengarkan, saling menghargai, tidak egois dan tidak berprasangka perihal perbedaan-perbedaan yang muncul. Dialog dengan umat beragama lain juga hendaknya dihindarkan

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 kecenderungan untuk mengkritik, sekalipun itu didukung dengan kutipan-kutipan dari Kitab Sucinya atau berdasar wahyu tertulis. Kehendak dan cita-cita bersama untuk terlibat dalam pencapaian kebenaran dan kesediaan untuk membiarkan diri dibentuk dan dikembangkan dalam perjumpaan, merupakan syarat dalam dialog. Aneka kecenderungan yang menganggap diri paling benar haruslah dicegah dan ditinggalkan dengan penuh kerendahan hati. 2. Dialog Meminta Kemantapan Iman dan Menolak Indiferentisme Dialog dengan umat beriman lain tidak mungkin dijalankan dalam kerapuhan dan keragu-raguan mengenai imannya. Dialog sejati tidak memperlemahkan iman, melainkan memperdalam iman para peserta dialog. Peserta dialog akan semakin menyadari identitasnya sebagai penganut agama yang telah diimaninya. Bagi orang Katolik, memupuk keterbukaan dan membiarkan diri mereka diuji, mereka akan dapat mengumpulkan buah-buah dari dialog dengan umat beragama lain. Mereka akan menemukan karya Allah melalui Yesus Kristus di dalam RohNya yang terus dilaksanakan bagi seluruh umat manusia di dunia. Iman mereka akan mendapatkan dimensi baru pada saat mereka menemukan kehadiran yang aktif dari misteri Yesus Kristus di luar batas-batas Gereja yang kelihatan dari diri umat beragama lain. Dialog dengan umat beriman lain yang perlu diusahakan selain pandangan terbuka dan positif terhadap umat beriman lain tetapi juga harus menghindarkan dan membuang sikap-sikap indiferentisme. Indiferentisme harus dicegah, sebab pandangan ini selain mengantar kepada sikap acuh tak acuh mengenai tuntutan-

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 tuntutan imannya, juga menampilkan sikap menggampangkan sekaligus menyederhanakan pandangan tentang agama-agama sebagai sama saja semuanya. Sikap acuh tak acuh dan memandang semua agama sebagai sama saja merupakan sikap yang naif dan justru sangat merugikan iman orang yang bersangkutan. 3. Dialog Tidak Menghendaki Teologi Universal Gereja tidak menghendaki usaha-usaha menguniversalkan teologi dari agama-agama yang terlibat dalam dialog. Gereja justru menilai bahwa keunikan teologi setiap agama yang terlibat dalam dialog (dialog Teologi), bila dipertahankan dan diperkembangkan akan sangat memperkaya satu sama lain. Gereja tidak menghendaki teologi universal tentang agama-agama, sebab itu dapat membawa pada kecenderungan sikap indiferent karena sikap indiferent pada prinsipnya adalah sikap memandang semua agama saja, biarpun dikatakan dalam pemahaman teologis yang kompleks. Namun di lain pihak, Gereja juga tidak menghendaki keanekaragaman pandangan teologis dari agama-agama menjadi sumber pemecah belah kesatuan umat manusia. Kesatuan umat manusia tidak bisa dikorbankan demi alasan kepentingan agama. Freire (1985: 74-80) juga memamparkan bahwa suatu dialog yang ideal haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Adanya rasa cinta Dialog tidak dapat berlangsung tanpa adanya rasa cinta yang mendalam terhadap dunia dan terhadap sesama manusia. Cinta sekaligus menjadi dasar dari dialog, serta dialog itu sendiri (Freire, 1985: 74). Karena cinta merupakan suatu

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 laku keberanian, bukan ketakutan, maka cinta adalah pemihakan kepada orang lain. Dalam hal dialog antar umat beriman ini diharapkan cinta yang dapat membawa pemihakan kepada kepentingan bersama semua orang tanpa terkecuali. Cinta harus membawa pada kebahagian bersama bukan membawa pada kematian dan perusakan. Cinta tidak sentimental dan tidak boleh dijadikan sebagai alat manipulasi. Cinta harus melahirkan tindakan-tindakan pembebasan berikutnya. Jika saya tidak mencinta dunia, saya tidak mencintai kehidupan, jika saya tidak mencintai sesama manusia, saya tidak dapat memasuki dialog. Laku (2011: 140-141) menekan kembali pemikiran Pannikar menyatakan bahwa suatu dialog akan menjadi dialog sesungguhnya bila peserta dialog memahami sesamanya sebagaimana dia memahami dirinya sendiri, mengenal partner dialog bukan sebagai obyek, melainkan sebagai aku (alter ego), yaitu diriku sendiri yang lain. Dialog bisa terjadi bila para peserta dialog saling terbuka, tulus dan jujur dalam berkomunikasi, berusaha untuk saling mengenal dan mencintai partner dialognya sebagai dirinya sendiri. Dialog dapat berjalan dengan baik bila melihat yang lainnya bukan sebagai yang ekstrinsik, atau yang kebetulan semata, tetapi melainkan sebagai partner yang sungguh-sungguh dibutuhkan untuk secara bersama-sama berusaha menemukan kebenaran karena kita bukanlah sebuah pribadi yang dapat berdiri sendiri atau individu yang otonom. Dialog antar umat beriman bukan semata-mata suatu kegiatan akademis atau intelektual, tetapi suatu tindakan rohani yang melibatkan iman, harapan dan kasih. Oleh karena itu, dialog harus dimaknai sebagai suatu sikap religius yaitu mencintai Allah

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 melampaui segala hal dan mencintai sesama sebagaimana kita mencintai diri sendiri. 2. Adanya Kerendahan Hati Dialog sebagai perjumpaan antar sesama manusia yang dibebani tugas bersama untuk belajar dan berbuat. Dialog antar umat beriman yang sejati tidak akan terwujud bila para pelaku dialog tidak memiliki sikap kerendahan hati untuk mau belajar dari orang lain. Dalam dialog antar umat beriman, peserta dialog harus memandang lawan bicaranya sama dan sederajat dengannya, sebagai teman yang memiliki hak yang sama untuk ikut menyumbangkan pandangannya demi perkembangan hidup bersama bukan memandang partner dialognya sebagai lawan yang harus dikalahkan atau memandang partnernya sebagai musuh yang ingin menyerang pandangannya sehingga berusaha dengan sekuat tenaga untuk menunjukkan bahwa dirinyalah yang memiliki pandangan yang lebih bernilai atau paling benar dari orang lain. Sebab dalam dialog agama itu yang terpenting bukan soal kalah dan menang dan juga tidak ada soal orang-orang yang paling bijak dan orang-orang yang bodoh tetapi yang terpenting dan utama adalah orang-orang yang mau terus mencoba dan terus belajar lebih dan lebih lagi dari apa yang sudah dimiliki dan diketahuinya. 3. Adanya kepercayaan Dialog harus mendasarkan diri pada cinta, kerendahan hati dan keyakinan maka dialog akan menjadi sebuah bentuk hubungan horizontal di mana sikap

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 saling mempercayai di antara pelaku dialog merupakan suatu konsekuensi yang dapat masuk akal. Dialog antar umat beriman menuntut adanya keyakinan yang mendalam terhadap diri manusia, keyakinan pada kemampuan manusia untuk membuat dan membuat kembali, untuk mencipta dan mencipta kembali, keyakinan pada fitrahnya untuk menjadi manusia seutuhnya. Keyakinan terhadap diri manusia adalah sebuah prasyarat a priori bagi dialog. Manusia dialogis percaya pada orang lain bahkan sebelum ia bertatap muka dengannya. Tanpa adanya kepercayaan terhadap sesama manusia, dialog hanyalah sebuah omong kosong semata. Cinta palsu, kerendahan hati palsu dan keyakinan yang lemah terhadap diri manusia tidak akan membuahkan rasa saling percaya. Kepercayaan bergantung kepada kenyataan di mana suatu pihak menunjukkan kepada pihak lain tujuannya yang murni dan konkret. Hal ini tidak akan terjadi bila kata-kata peserta dialog tidak sejalan dengan tindakannya. 4. Adanya Harapan Harapan berakar pada ketidaksempurnaan manusia, di mana mereka secara terus menerus melakukan usaha pencarian. Pencarian hanya dapat dilakukan dalam kebersamaan dengan orang lain. Adanya dehumanisasi sebagai akibat tatanan tidak adil bukan merupakan sebab untuk berputus asa, tetapi justru untuk berharap, yang menumbuhkan usaha terus menerus untuk mencapai kemanusiaan sejati. Jika para peserta dialog tidak mengharapkan apa-apa sebagai hasil dialog mereka, maka perjumpaan itu akan menjadi sesuatu yang kosong, hampa, birokratis dan menjemukan.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 5. Melibatkan Pemikiran Kritis Dialog sejati akan terwujud jika melibatkan pemikiran-pemikiran kritis yang melihat suatu hubungan yang tidak terpisahkan antara manusia dan dunia, yang memandang realitas sebagai proses perubahan, tidak memisahkan dirinya dari tindakan, tetapi senantiasa bergumul dengan masalah-masalah keduniawian, dan tanpa gentar untuk menghadapi resiko. Pemikiran kritis yang dimaksudkan di sini adalah cara pandang dari peserta dialog untuk kritis melihat realitas yang terjadi dalam masyarakat dan berani untuk secara bersama-sama berjuang memperbaharui realitas kehidupan ke arah yang lebih baik untuk kehidupan bersama. Laku (2011: 138-141) menegaskan kembali pemikiran Panikkar yang mengatakan bahwa agar dialog antar umat beriman dapat menjadi suatu dialog yang berhasil dan sungguh menjadi suatu dialog yang sejati apabila dialog itu dimulai dengan mempertanyakan ajaran atau agama diri sendiri dan relativitas kepercayaan-kepercayaannya, dengan bersedia menerima berbagai tantangan perubahan, pertobatan dan berbagai resiko tergugatnya pola-pola tradisional yang menjadi dasar keyakinannya. Dalam dialog antar umat beriman, peserta dialog diharapkan untuk masuk ke kedalaman dirinya sendiri, merefleksikan, dan mengoreksi serta mengkritik ajaran dan tradisi agamanya sendiri sekaligus menyiapkan tempat yang semestinya bagi yang lainnya untuk masuk dan menyelam ke dasar dirinya secara terbuka untuk dapat mengetahui dan menemukan suatu kebenaran bagi dirinya baik itu kebenaran akan agamanya yang masih tersembunyi maupun agama yang lainnya. Dialog antar umat beriman mengajak kita untuk merefleksikan secara mendalam akan agama dan

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 kepercayaan diri sendiri, dan menjumpai sesama dalam diri kita sendiri sehingga kita semakin mengenal diri kita sendiri melalui yang lainnya, dan melihat yang lainnya bukan lagi sebagai orang lain tetapi melainkan sebagai sesama, dengan demikian secara bersama-sama untuk saling bergandengan tangan dalam mengupayakan suatu perubahan dan pembaharuan bagi manusia dan dunia ke arah yang lebih baik bagi kesejahteraan hidup bersama. E. Hambatan-hambatan Dialog dengan Umat Beriman Lain Kita ketahui bahwa dialog sebagai komunikasi dalam tingkat manusiawi atau sebagai tukar menukar informasi saja sangat tidak mudah, apalagi dalam dialog antar umat beriman. Armada Riyanto (1995: 116-117) menegaskan kembali pandangan dokumen Dialogue and Proclamation (DP), artikel 53 mengenai hambatan-hambatan dialog antar umat beriman, umumnya menyentuh faktor-faktor manusiawi, yaitu sebagai berikut: 1. Kurang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang agama-agama lain secara benar dan seimbang akan menyebabkan kurangnya penghargaan dan sekaligus akan mudah muncul sikap-sikap curiga yang berlebihan. 2. Perbedaan kebudayaan karena tingkat pendidikan yang tidak sama, juga masalah bahasa yang sangat peka dalam kelompok-kelompok tertentu. 3. Foktor-faktor sosial politik dan trauma akan konflik-konflik dalam sejarah 4. Pemahaman yang salah mengenai beberapa istilah yang biasa muncul dalam dialog, misalnya pertobatan, pembaptisan, dialog dan seterusnya 5. Merasa diri paling sempurna, sehingga memunculkan sikap-sikap defensif dan agresif 6. Kurang yakin terhadap nilai-nilai dialog antar umat beriman; sejumlah orang menganggapnya sebagai suatu tugas khusus para ahli, atau melihat dialog sebagai salah satu tanda kelemahan atau malah pengkhianatan iman

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 7. Kecenderungan untuk berpolemik bila mengungkapkan keyakinan gagasannya 8. Permasalahan zaman sekarang ini, misalnya bertumbuhnya materialisme, sekularisme, sikap acuh tak acuh, dan munculnya banyak sekte-sekte keagamaan fundamentalis yang menimbulkan persoalanpersoalan tertentu. 9. Kurangnya sikap toleran yang kerap kali diperparah oleh faktor-faktor politik, ekonomi, sosial, ras, etnis, dan aneka kesenjangan lainnya. Hambatan-hamabatan untuk melakukan dialog antar umat beriman seperti yang telah ditekankan oleh Dialogue and Proclamation art. 53 di atas tersebut disebabkan karena kurangnya pemahaman mengenai hakikat dialog dan tujuan hakiki dialog. Selain itu hambatan untuk diadakannya dialog antar umat beriman juga dikarenakan umat manusia masih terkungkung pada ajaran dan tradisi agamanya masing-masing bahwa ajaran dan kebenaran agamanya yang paling absolut sehingga jatuh pada sikap eksklusivisme, fanatisme, fundamentalisme, indiferentisme dan relativisme. Sikap-sikap seperti itu sangat bahaya untuk ditegakkannya kebersamaan dalam hidup bersama. Untuk itu, perlunya usaha yang terus menerus dari semua pihak dalam penyadaran akan pentingnya dialog antar umat beriman guna menanggalkan segala sikap eksklusif, fanatisme dan sebagainya untuk mengarahkan diri mereka pada kepentingan hidup bersama di tengah dunia yang berwajah majemuk ini demi menegakan keadilan dan perdamaian bagi kehidupan bersama sebagai satu keluarga umat manusia ciptaan Allah yang satu dan sama sehingga perbedaan bukanlah alasan untuk terjadinya perpecahan atau permusuhan melainkan perbedaan-perbedan itu menjadi sumber kekayaan untuk saling memperkembangkan demi kesejahteraan bersama.

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 F. Bentuk-Bentuk Dialog dengan Umat Beriman Lain Bentuk dialog yang dimaksud ialah cara atau model di mana dialog itu diungkapkan. Cara atau model di sini tidak hanya menunjuk pada arti metode atau aturan prinsip-prinsip, melainkan juga mencakup obyek atau tema dialog. Karena dalam kenyataan, obyek atau tema yang didialogkan bermacam ragam bobotnya, maka subyek yang melibatkan diri dalam dialog itu juga perlu pembedaanpembedaan (Armada Riyanto, 2010: 210). Ada berbagai bentuk dialog dengan saudara-saudara beriman lain. Dialogue and Mission seperti yang disadur oleh Armada Riyanto ( 2010: 212215) memberikan empat bentuk dialog yaitu dialog kehidupan, dialog karya, dialog para ahli untuk tukar menukar pandangan teologis, dan dialog mengenai pengalaman keagamaan. Keempat bentuk dialog dengan saudara-saudara beriman lain akan dijabarkan secara jelas satu persatu dalam pembahasan ini. 1. Dialog Kehidupan Dialog kehidupan ditujukan kepada semua orang dan sekaligus merupakan level dialog yang paling sederhana (bukan paling rendah nilainya!). Sebab ciri kehidupan bersama sehari-hari dalam masyarakat majemuk yang paling umum dan mendasar ialah ciri dialogis. Mgr. Ignatius Suharyo (2009: 83) mendefenisikan dialog kehidupan sebagai cara bertindak, suatu sikap, semangat yang membimbing perilaku seseorang. Di dalam dialog kehidupan terkandung perhatian, peka, solider dan keterbukaan untuk menerima orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai aneka pengalaman baik yang

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 menyusahkan maupun yang menyenangkan dapat dirasakan oleh semua orang. Aneka pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing orang di dalam kehidupannya mendorong mereka untuk saling membantu, saling memperkaya dan membagikan pengalamannya kepada orang lain sebab itu merupakan salah satu ciri manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian. Dikatakan sebagai makhluk sosial karena secara kodrati manusia membutuhkan orang lain di dalam kehidupan guna membagikan segala pengalaman yang dialami kepada orang lain. Hubungan antara manusia satu dengan yang lain di dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat merupakan suatu wujud kehidupan yang dialogis. Dialog kehidupan tidak langsung menyentuh perspektif agama atau iman. Dialog kehidupan lebih digerakkan oleh sikap solider dan kebersamaan yang melekat. Dikatakan demikian, namun sebagai orang beriman, sikap solidaritas dan kebersamaan yang lahir dalam kehidupan sehari-hari itu tidak mungkin terlepas dari kehidupan dan penghayatan iman mereka. Oleh karena itu, setiap pengikut Kristus diajak untuk semakin menghayati dialog kehidupan dalam semangat dan terang Injil. Artinya, setiap pengikut Kristus harus mengungkapkan dan memberikan kesaksian akan nilai-nilai Injil dalam tugas dan karyanya sehari-hari dalam situasi apapun di mana mereka berada, serta memperjuangkan terciptanya keadilan, kerukunan, perdamaian, kesatuan dan kesejateraan bagi kehidupan bersama di tengah masyarakat, bangsa dan bernegara. Bagi penulis sendiri, dialog kehidupan ini sangatlah penting karena sarat akan makna. Dialog kehidupan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari baik antar tetangga, mitra kerja, masyarakat

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 dan lain sebagainya ini merupakan bentuk dialog yang paling sederhana karena dapat dilakukan oleh semua orang. Oleh karena itu, dialog kehidupan ini merupakan suatu aksi atau gerakan bersama untuk menumbuhkan sikap kepedulian dan solidaritas bagi sesama dalam kehidupan bersama dalam memperjuangkan kesatuan, keadilan dan perdamaian di tengah dunia dewasa ini yang penuh dengan berbagai tantangan. Dalam dialog kehidupan, semua orang dipanggil tanpa terkecuali untuk ambil bagian dan terlibat aktif dalam memperjuangkan sebuah dunia baru yang penuh dengan kedamaian, kesejahteraan dan kerukunan bagi hidup bersama yang didasari oleh semangat cinta kasih dan persaudaraan dalam hidup bersama di tengah dunia. 2. Dialog Karya Dialog karya yang dimaksudkan adalah kerjasama yang lebih intens dan mendalam dengan para pengikut agama-agama lain (Armada Riyanto, 1995: 111). Sasaran yang hendak diraih jelas dan tegas, yakni pembangunan manusia dan peningkatan martabat manusia. Masalah-masalah besar yang dihadapi umat manusia sekarang ini menjadi pendorong bagi diadakannya dialog karya antar umat beriman. Bentuk dialog semacam ini biasanya berlangsung dalam kerangka kerjasama organisasi-organisasi baik itu organisasi lokal, nasional maupun internasional. Sejak Konsili Vatikan II, Gereja secara konkret dan resmi terlibat dalam dialog karya. Usaha konkret dalam membangun dialog karya ini, Gereja sekurang-kurangnya telah mendirikan dua sekretariat yang menangani masalahmasalah dunia. Sekretariat-sekretariat itu tidak menggeluti dialog agama-agama,

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 namun pelaksanaan kerjanya meminta kerjasama dengan para penganut agamaagama lain. Dua sekretariat itu adalah The Pontifical Commission for Justice and Peace (1967) dan Dewan Kepausan Cor Unum (1971). Sekretariat yang pertama bertugas mempromosikan perdamaian internasional dan pengembangan umat manusia yang lebih manusiawi. Sedangkan Cor Unum memberikan pelayanan kepada dunia, antara lain dengan memperhatikan para pengungsi, korban perang, dan bencana kelaparan. 3. Dialog Pandangan Teologis Dialog pandangan teologis ini biasanya dilakukan oleh para ahli. sebenarnya dialog pandangan teologis ini tidak hanya dikhususkan untuk para ahli melainkan juga untuk siapa saja yang memiliki kemampuan untuk itu. Tetapi karena menyangkut soal-soal teologis yang sering rumit, dialog semacam ini lebih tepatnya dilakukan oleh para ahli. Dalam dialog teologis, orang diajak untuk menggumuli, memperdalam dan memperkaya warisan-warisan keagamaan masing-masing, serta sekaligus diajak untuk mengetrapkan pandangan-pandangan teologis dalam menyikapi persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia pada umumnya (Armada Riyanto, 1995: 112-113). Dialog teologis semacam ini biasanya membutuhkan suatu visi yang mantap. Dialog pandangan teologis tidak berpretensi apa-apa, kecuali untuk saling memahami pandangan teologis agama masing-masing dan penghargaan terhadap nilai-nilai rohani masing-masing. Dengan demikian dialog teologis tidak dimaksudkan untuk menyerang pandangan sesama peserta dialog melainkan dialog teologis meminta adanya sikap

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 keterbukaan dari masing-masing peserta dialog untuk saling menerima dan mengadakan pembaharuan-pembaharuan yang sesuai dengan nilai-nilai rohaninya. 4. Dialog Pengalaman Keagamaan (Dialog Pengalaman Iman). Dialog pengalaman keagamaan atau dialog pengalaman iman merupakan dialog tingkat tinggi. Dialog pengalaman iman dimaksudkan untuk saling memperkaya dan memajukan penghayatan nilai-nilai rohani yang mendalam (Armada Riyanto, 1995: 113). Dalam dialog ini, pribadi-pribadi yang berakar dalam tradisi keagamaan masing-masing berbagi pengalaman doa, kontemplasi, meditasi, bahkan pengalaman iman dalam arti yang lebih mendalam misalnya pengalaman mistik. Mereka juga saling membagikan kewajiban serta ungkapanungkapan dan cara-cara mereka dalam mencari yang absolut. Dalam dialog pengalaman iman ini, terlihat bahwa sebenarnya setiap agama memiliki perbedaan-perbedaaan yang sangat mencolok baik seperti ritusnya, cara ibadatnya dan sebagainya, namun semua itu tidak menjadi halangan untuk berdialog, sejauh orang mengembalikan perbedaan-perbedaan itu kepada Tuhan “yang lebih besar dari pertimbangan hati dan pemahamannya untuk bersatu bersama untuk membangun kehidupan yang lebih baik” (1 Yoh 3:20). Oleh karena itu, dialog pengalaman keagamaan sangat mengandaikan iman yang mantap dan mendalam. Bentuk dialog yang semacam ini dapat saling memperkaya dan menghasilkan kerjasama yang bermanfaat untuk memajukan dan memelihara nilai-nilai tertinggi dan cita-cita rohani manusia.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 BAB IV KATEKESE SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MENINGKATKAN DIALOG ANTAR UMAT BERIMAN Dalam bab IV ini, penulis memaparkan katekese umat sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran umat agar terlibat dalam dialog dengan umat beriman lain di tengah situasi dunia yang majemuk. Program katekese ini bertujuan agar umat Kristiani semakin menghayati dan memperdalam imannya sehingga terbuka untuk terlibat aktif dalam dialog dengan umat beriman lain guna mengusahakan terwujudnya dunia yang penuh dengan keadilan, kerukunan, perdamaian, kesejahteraan, persaudaraan bagi kehidupan bersamasama di tengah dunia. Penulis membagi pembahasan bab IV ke dalam dua bagian besar yaitu; pada bagian pertama penulis menggambarkan secara umum mengenai katekese yang meliputi pengertian katekese, tujuan katekese dan katekese model Shared Christian Praxis sebagai usaha meningkatkan kesadaran berdialog dengan umat beriman. Bagian kedua berisikan usulan program katekese model Shared Christian Praxis untuk meningkatkan kesadaran umat dalam berdialog dengan umat beriman lain. Bagian ini meliputi latar belakang, alasan diadakannya kegiatan katekese model Shared Christian Praxis, tujuan kegiatan pendampingan, pemilihan materi, matriks program katekese dan contoh persiapan katekese model Shared Christian Praxis untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam berdialog

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 dengan umat beriman lain. Dalam penulisan selanjutnya akan digunakan singkatan SCP sebagai penganti dari istilah Shared Christian Praxis. A. Gambaran Umum Katekese Katekese dalam gambaran umum yang dimaksudkan di sini adalah gambaran yang dibatasi pada pengertian katekese, tujuan katekese dan katekese model Shared Christian Praxis. 1. Pengertian Katekese Dalam Kitab Suci terdapat sejumlah kata katekese yang berarti membuat bergema, menyebabkan sesuatu yang bergaung. Kata katekese ini ditemukan dalam Luk 1: 4 (diajarkan), Kis 18: 25 (pengajaran dalam Jalan Tuhan), Kis 21: 21 (mengajar), Rm 2: 18 (diajar), 1 Kor 14: 19 (mengajar), Gal 6: 6 (pengajaran). Dalam konteks ini, katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman agar seorang Kristen semakin dewasa dalam iman (Telaumbanua, 1999: 4). Telaumbanua juga menegaskan pandangan Paus Yohanes Paulus II dalam Catechesi Tradendae art. 18 yang mendefenisikan katekese sebagai: ... pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya menyakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara sistematik dan organis dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen. Pembinaan iman umat ini menurut Telaumbanua (1999: 5) adalah usahausaha dari pihak Gereja untuk membantu umat agar semakin memahami,

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 menghayati dan mewujudnyatakan imannya dalam kehidupannya sehari-hari. Katekese itu terdapat unsur pewartaan, pengajaran, pendidikan, pendalaman, pembinaan, pengukuhan serta pendewasaan iman. Oleh karena itu metode katekese harus sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan hidup umat sehingga tujuan katekese mampu membantu peserta untuk mencapai kepenuhan dalam hidup Kristus dan berdasarkan imannya, umat dapat merealisasikan terwujudnya Kerajaan Allah di tengah hidup bersama. PKKI II (Lalu, 2007: 12) mendefenisikan katekese sebagai suatu komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antar anggota jemaat atau kelompok. Dengan komunikasi iman para peserta saling meneguhkan dan menguatkan menuju pada perkembangan hidup. Dalam katekese umat itu yang ditekankan terutama adalah penghayatan iman bukan pada pengetahuan, meskipun pengetahuan juga tidak dilupakan. Katekese umat berpusat pada hidup peserta yaitu dari umat, oleh umat dan untuk umat. Katekese juga merupakan salah satu tugas pastoral Gereja dalam bidang pewartaan yang selalu terarah pada pencapaian tujuan yakni membantu setiap orang beriman agar mereka semakin bersikap terbuka kepada Sabda Allah, mendengar, mengerti, memahami dan menghayati sabda itu dalam hati mereka (Papo, 1985: 6). Dalam DCG, art. 21 juga menyatakan bahwa katekese menjadi bentuk pelayanan Sabda yang dilakukan Gereja untuk membantu manusia untuk menghidupkan dan memperkembangkan imannya akan Yesus Kristus sehingga menjadi iman yang matang, sadar secara aktif dalam hidup menggereja dan memasyarakat melalui komunikasi iman antar pribadi dalam persekutuan. Adisusanto (2000: 1)

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 mengatakan bahwa katekese sebagai pendidikan iman merupakan salah satu bentuk pelayanan atau pewartaan Gereja yang bertujuan membantu orang beriman dalam memperkembangkan imannya agar semakin mendalam sehingga mendorong umat beriman untuk merealisasikan nilai-nilai Injili dalam dinamika hidup menggereja dan memasyarakat baik secara pribadi maupun kelompok dalam situasi konkret umat beriman. 2. Tujuan Katekese Pada prinsipnya tujuan katekese adalah membantu jemaat beriman Kristiani untuk semakin percaya kepada Kristus sehingga iman umat semakin diperteguh dan dikuatkan. Paus Yohanes Paulus II dalam Catechesi Tradendae art. 25 menjelaskan tentang tujuan katekese sebagai berikut: Pada intinya katekese sungguh perlu baik bagi pendewasaaan iman maupun kesaksian umat Kristen di tengah masyarakat. Tujuannya ialah mendampingi umat kristen, untuk meraih kesatuan iman serta pengertian akan Putera Allah, kedewasaan pribadi manusia, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Katekese bertujuan juga menyiapkan mereka untuk membela terhadap siapapun yang meminta pertanggungjawaban atas harapan yang ada pada mereka. Telaumbanua (1999: 88) menegaskan kembali hasil pertemuan PKKI II yang merumuskan bahwa tujuan katekese yaitu: 1. Supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman hidup sehari-hari 2. Kita bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiranNya dalam kenyataan hidup sehari-hari 3. Kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan semakin dikukuhkan hidup Kristiani kita. 4. Kita semakin bersatu dalam Kristus, semakin menjemaat, semakin tegas mewujudkan Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 5. Kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat (Komkat KWI, 1995: 12). Heryatno (2012: 3-6) menegaskan kembali pandangan Groome yang mengatakan bahwa hakikat dan tujuan katekese sebagai gerakan mengkomunikasikan harta kekayaan iman Gereja supaya dapat membentuk dan membantu jemaat memperkembangkan imannya pada Yesus Kristus baik secara personal maupun komunal demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah kenyataan dunia. Dalam mengkomunikasikan harta kekayaan iman Gereja, proses katekese bersifat komunikatif dan partisipatif yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan atau dalam bahasa Elizabeth Caldwell disebut dengan homemaking. Homemaking adalah suatu gerakan, sebuah realitas relasi, suatu tempat yang dicari orang untuk menjadi diri sendiri dan bertanggungjawab dalam membangun dunia. Di dalam proses semacam ini, umat diharapkan menyikapi komunikasi harta kekayaan iman Kristiani sebagai pegangan hidupnya dalam berrefleksi dan berdialog. Menurut DCG, art. 29 menegaskan bahwa proses katekese diharapkan ikut membentuk inti hidup dan jati diri jemaat sehingga iman mereka sungguhsungguh menjadi poros kehidupan. Melalui komunikasi harta kekayaan iman Kristiani, katekese berusaha mengarahkan dan menempa kedalaman hidup jemaat. Kedalaman hidup yang dimaksud adalah sikap dasar, kesadaran, keyakinan, dan pandangan atau nilai hidup. Usaha ini juga berarti mewujudkan proses pembentukan secara utuh dan menyeluruh yang mencakup dimensi kehidupan umat manusia secara terus menerus. Proses pembentukan ini dapat diwujudkan

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 melalui komunikasi dan partisipasi aktif antar umat beriman di dalam kehidupannya. B. Katekese Model Shared Christian Praxis Sebagai Salah Satu Upaya Meningkatkan Dialog Antar Umat Beriman Penyelenggaraan katekese dibutuhkan sebagai sarana bagi umat beriman untuk menghayati imannya. Salah satu model katekese yang membantu umat beriman dalam menghayati imannya adalah katekese model SCP. Katekese model SCP bertolak dari pengalaman hidup umat beriman. Pengalaman hidup umat digali dan diolah sehingga ditemukan maknanya. Di dalam katekese, pengalaman hidup umat dihayati dan direfleksikan berdasarkan tradisi dan visi Kristiani sehingga muncul pemahaman, sikap, dan kesadaran baru yang memberi motivasi pada keterlibatan baru. Salah satu pokok yang perlu digarisbawahi dalam katekese model SCP adalah sifatnya yang dialogis partisipatif. Katekese model SCP menekankan kemitraan di dalam proses penyelenggaraannya. Di dalam proses pelaksanaannya peran peserta sebagai subyek yang bebas dan bertanggungjawab. Komunikasi yang terjadi dalam katekese model SCP ini bersifat multi arah, yakni dialog tidak hanya terjadi antara peserta dan pendamping tetapi juga terjadi antar sesama peserta dan dialog antara peserta dengan teks serta keadaan hidup peserta setempat (Heryatno Wono Wulung, 1997: 1). Pergulatan, keprihatinan dan harapan peserta menjadi tema pokok dalam katekese model SCP. Katekese model SCP menjadi salah satu usaha membantu umat beriman dalam meningkatkan semangat untuk berdialog dan bekerjasama

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 dengan umat beragama lain demi mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidup bersama. 1. Tiga Elemen Model Shared Christian Praxis Heryatno Wono Wulung (1997:2-5) menegaskan kembali pandangan Thomas H. Groome bahwa terdapat tiga komponen pokok dalam berkatekese model SCP yaitu : a. Shared Istilah shared menunjuk pengertian komunikasi timbal balik antar peserta. peserta aktif, kritis, dan terbuka satu sama lain dalam sharing. Peserta siap mendengar dan berkomunikasi dengan kebebasan hati. Peserta mensharingkan pengalaman imannya. Pengalaman iman peserta dikonfrontasikan dengan tradisi dan visi hidup kristiani dan pada akhirnya peserta dapat membuat suatu penegasan dan mengambil keputusan yang mendorong pada suatu tindakan atau aksi baru. b. Christian Istilah Christian mengacu pada harta kekayaan iman Kristiani. Kekayaan iman terdiri dari tradisi dan visi Kristiani. Tradisi Kristiani mengungkapkan realitas iman umat yang dihidupi dalam konteks historis. Tradisi perlu dipahami sebagai perjumpaan antara rahmat Allah dalam Kristus dan tanggapan manusia. Tradisi yang dimaksudkan bukan berupa tradisi pengajaran Gereja tetapi juga mencakup Kitab Suci, spiritualitas, sakramen dan sebagainya. Visi Kristiani adalah terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam kehidupan manusia. Visi

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Kristiani menunjuk pada proses sejarah kehidupan umat Kristiani yang berkesinambungan dan bersifat dinamis, dan mengundang penilaian, penegasan, pilihan dan keputusan. c. Praxis Istilah Praxis mengacu pada tindakan manusia yang mempunyai tujuan untuk tercapainya suatu transformasi kehidupan yang di dalamnya terkandung proses dialektis antara praktek dan teori. Praxis mencakup tiga komponen penting yang saling berkaitan yaitu aktivitas, refleksi dan kreativitas. Komponenkomponen tersebut berfungsi untuk membangkitkan berkembangnya imajinasi, meneguhkan kehendak, dan mendorong praksis baru. Dalam hal ini dituntut adanya keterlibatan manusia dalam dunia menuju pada perubahan yang lebih baik. 2. Tujuan Katekese Model Shared Christian Praxis Heryatno Wono Wulung (1997: 1) menegaskan pandangan Groome bahwa tujuan katekese model SCP adalah terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah. Nilainilai Kerajaan Allah seperti kasih, perdamaian, dan keadilan yang tercipta di tengah-tengah umat pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, katekese diharapkan membantu dan membimbing setiap umat beriman untuk mencapai kedewasaan iman dan kepenuhan hidup dalam Yesus Kristus sehingga menghantar mereka untuk dapat merealisasikan terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah hidup bersama agar semua orang memperoleh keselamatan dari Allah.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 3. Langkah-Langkah Katekese Model Shared Christian Praxis Menurut Sumarno (2012: 19-22) langkah-langkah katekese model SCP sebagai berikut : a. Langkah I (pertama) : Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual Langkah ini dimaksudkan untuk membantu peserta mengungkapkan pengalaman hidup sesuai dengan kenyataan. Pada langkah ini terjadi komunikasi antar peserta melalui sharing pengalaman hidup yang sungguh-sungguh dialami, baik itu pengalaman pribadi maupun pengalaman akan situasi yang terjadi di masyarakat atau juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan. Langkah I ini peran dan tanggungjawab pendamping adalah sebagai fasilitator. Ia perlu menciptakan suasana pertemuan yang kondusif, hangat, menyenangkan dan terbuka sehingga dapat mendukung peserta untuk membagikan pengalaman hidupnya yang berkaitan dengan tema dasar. Selain itu pendamping juga harus merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang jelas, terarah, sesuai dengan latar belakang peserta dan bersifat terbuka serta obyektif. Pendamping perlu bersifat terbuka, ramah, sabar, hormat, bersahabat dan peka terhadap latar belakang keadaan dan permasalahan peserta. b. Langkah II (kedua) : Refleksi Kritis atau Sharing Pengalaman Hidup Faktual Langkah kedau ini bertujuan memperdalam refleksi dan menghantar peserta pada kesadaran kritis akan pengalaman hidup dan tindakannya yang meliputi : pemahaman kritis dan sosial, kenangan analitis sosial dan imajinatif kreatif. Fasilitator perlu menciptakan suasana pertemuan yang menghormati dan

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 mendukung setiap gagasan serta sumbang saran peserta. Fasilitator hendaknya menghargai semua hasil pengolahan pengalaman peserta. pada langkah ini peserta didorong untuk mengadakan dialog yang didukung dengan pertanyaan-pertanyaan penuntun yang bersifat menggali pengalaman faktual dari peserta sendiri agar peserta dapat sampai pada refleksi kritis atas pengalaman faktual yang telah dialami atau yang telah disharingkan namun dalam refleksi kritis ini fasilitator tidak boleh memaksa. Artinya bahwa fasilitator harus menyadari kondisi peserta, lebih-lebih mereka yang tidak terbiasa melakukan refleksi kritis terhadap pengalaman hidupnya. c. Langkah III (ketiga) : Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau Langkah ini bertujuan mengkomunikasikan nilai-nilai tradisi dan visi kristiani agar lebih mengena, terjangkau, lebih dekat, dan relevan dengan kehidupan peserta dalam konteks dan latar belakang kebudayaan masing-masing peserta. Pada langkah ini peranan pendamping mendapatkan tempat utama. Sebagai pendamping, ia diharapkan dapat membuka jalan selebar-lebarnya, menghilangkan segala macam hambatan sehingga semua peserta mempunyai peluang besar untuk menemukan nilai-nilai dari tradisi dan visi kristiani. Tradisi dan visi Kristiani mengungkapkan pewahyuan diri dan kehendak Allah yang memuncak dalam misteri hidup dan karya Yesus Kristus serta mengungkapkan tanggapan manusia atas pewahyuan tersebut. Sifat pewahyuan Ilahi ialah dialogal, mensejarah, dan normatif seperti yang terungkap dalam Kitab Suci, dogma, pengajaran Gereja, liturgi, spiritualitas, devosi, seni dalam Gereja,

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 kepemimpinan, dan kehidupan jemaat beriman. Visi merefleksikan harapan dan janji, mandat dan tanggungjawab yang muncul dari tradisi suci yang bertujuan untuk mendorong dan meneguhkan iman jemaat dalam keterlibatannya untuk mewujudkan kehadiran nilai-nilai Kerajaan Allah. Tradisi dan Visi Kristiani itu meskipun bersifat normatif, namun perlu dijelaskan dan diinterpretasikan agar dapat memudahkan peserta menangkap, memahami dan menemukan nilai-nilai bagi kehidupan peserta. d. Langkah IV (keempat) : Interpretasi/Tafsir Dialektis antara Tradisi dan Visi Kristiani dengan Tradisi dan Visi Peserta. Langkah keempat ini bertujuan mengajak peserta untuk melihat berdasarkan nilai tradisi dan visi kristiani untuk dapat menemukan bagi dirinya sendiri nilai-nilai hidup yang hendak digarisbawahi, sikap-sikap picik yang hendak dihilangkan, dan nilai-nilai baru yang hendak dikembangkan. Pada langkah ini juga peserta mendialogkan hasil pengolahan mereka pada langkah pertama dan kedua dengan isi pokok langkah ketiga. Harapannya agar peserta mampu melangkah pada kehidupan yang lebih baik dengan semangat, nilai dan iman yang baru demi terwujudnya Kerajaan Allah. e. Langkah V (kelima) : Keterlibatan Baru demi Terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia ini Langkah kelima ini bertujuan mengajak peserta agar sampai pada keputusan praktis yang dipahami sebagai tanggapan umat terhadap pewahyuan Allah yang terus berlangsung di dalam sejarah kehidupan manusia dalam

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 kontinuitasnya dengan tradisi Gereja sepanjang sejarah dan visi Kristiani. Keprihatinannya adalah praktis yakni mendorong keterlibatan baru dengan jalan mengusahakan pertobatan sejati baik secara pribadi dan sosial secara terus menerus. C. Usulan Program Katekese Model Shared Christian Praxis untuk Meningkatkan Dialog Antar Umat Beriman 1. Latar Belakang Sebagaimana kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk. Dikatakan majemuk karena bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa, adat, budaya, dan agamanya. Kemajemukan tersebut merupakan suatu sumber kekayaan yang dapat dibanggakan untuk saling memperkaya satu sama lain, namun di balik itu juga kemajemukan tersebut dapat menjadi biang konflik dan kekerasan jika tidak ditangani secara arif. Dalam kenyataannya bahwa kemajemukan bangsa ini masih menjadi penyebab konflik dan kekerasan sehingga masyarakat tidak lagi merasakan hidup secara adil, damai, sejahtera dan demokratis. Masyarakat Indonesia yang awalnya terkenal sebagai masyarakat yang ramah dan toleran kini mudah sekali bertikai dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan. Hampir setiap hari kita menyaksikan maupun mendengar melalui berbagai media yang memberitakan aksi-aksi kekerasan dan tindakan anarkis yang terjadi di negeri ini, baik itu kekerasan fisik dan psikis maupun kekerasan yang terjadi dalam bidang ekonomi, sosial, dan politik bahkan kekerasan dan tindakan anarkis yang berkedok agama.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Agama yang seharusnya dihayati sebagai penuntun kehidupan dan bisa digunakan sebagai pendorong untuk menghancurkan struktur-truktur yang tidak adil justru seringkali dijadikan sebagai alat oleh segelintir orang yang sangat fanatik untuk mempertahankan struktur yang tidak adil tersebut demi mencari keuntungan pribadi maupun golongannya. Agama juga seringkali digunakan sebagai alat untuk menindas sesama dan melakukan tindakan-tindakan anarkis. Tindakan-tindakan kekerasan dan konflik yang terjadi dalam masyarakat negeri ini semakin hari semakin merajalela, budaya kematian semakin kuat dengan berkembangnya peradaban yang mengutamakan kuantitas penganut agama tertentu, golongan tertentu memenangkan mereka yang bersuara keras dengan memberangus mereka yang tidak memiliki kesempatan bersuara serta memenangkan mereka yang hidup mapan atas mereka yang terpinggirkan, penegakan hukum yang tidak adil dan lain sebagainya, selama ini melahirkan perselisihan, kebencian, balas dendam dan kesenjangan sosial di tengah masyarakat. Situasi-situasi yang sangat memprihatikan ini bukan hanya merupakan permasalahan bagi agama atau golongan semata tetapi merupakan permasalahan bagi seluruh masyarakat dunia dewasa ini. Untuk itu semua umat beriman dipanggil dan didorong untuk bersama-sama meretas lingkaran kekerasan dengan secara terus menerus mengusahakan suatu habitus dan budaya baru yaitu budaya cinta kasih dalam mewujudkan persatuan, perdamian, keadilan, kerukunan dan kesejahteraan dalam hidup bersama di tengah negeri ini.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Usaha mewujudkan kerukunan dan kesejahteraan dalam hidup bersama ini merupakan panggilan semua umat beriman. Gereja juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat dan menjadi teman seperjalanan dalam mengusahakan terwujudnya kerukunan dan kesejahteraan bersama. Dengan demikian Gereja juga dipanggil untuk ikut ambil bagian secara aktif dengan menjadi pemarkasa dan penggerak dalam mewujudkan kerukunan dalam kesejahteraan dalam hidup bersama di tengah masyarakat negeri yang plural ini. Keterlibatan aktif ini dapat diwujudkan melalui kesediaan untuk menjalin kerjasama dan dialog dengan umat beriman lain dan siapapun yang berkehendak baik dalam menyuarakan gagasan dan inspirasi, serta berinisiatif dan bertindak nyata di tengah masyarakat demi terselenggaranya kesejahteraan dan kerukunan dalam hidup bersama menuju dunia baru yang lebih baik di mana Allah meraja di dalamnya. Gereja dipanggil untuk menjadi garam dan ragi Kristus yang membawa kebaikan dalam kehidupan bersama di tengah pluralitas masyarakat Indonesia. Bertitik tolak dari latar belakang di atas, upaya pendampingan iman umat dalam meningkatkan semangat membangun dialog dan kerjasama dengan umat beriman lain demi mewujudkan Kerajaan Allah di tengah realitas kehidupan masyarakat yang majemuk perlu digiatkan. Demi kepentingan pendampingan, penulis mengupayakan suatu program katekese umat model SCP agar dengan pendampingan ini umat beriman semakin terbuka dan terlibat aktif dalam membangun dialog dan kerjasama dengan umat beriman lain dan semua orang yang berkehendak baik untuk bersama-sama mewujudkan suatu dunia baru yang

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 penuh perdamaian, kesejahteraan, kerukunan, cinta kasih, persaudaraan dan aneka nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan bersama. 2. Alasan Diadakannya Kegiatan Katekese Model Shared Christian Praxis Katekese merupakan komunikasi iman umat maka katekese senantiasa menempatkan umat sebagai yang utama karena umat merupakan pelaku utama katekese itu sendiri. Oleh karena itu katekese tidak hanya tanggungjawab kaum berjubah atau tokoh-tokoh seperti katekis, guru agama, prodiakon saja. Katekese umat merupakan komunikasi iman umat yang sungguh-sungguh berusaha membantu umat untuk merefleksikan pengalaman hidup konkretnya dan menemukan makna di dalamnya. Katekese mengundang dan mempermudah umat untuk saling bertemu dan berdialog. Katekese juga membantu mereka untuk saling memperkaya pengalaman imannya satu dengan yang lain melalui sharing pengalaman imannya sehingga iman mereka semakin dewasa, dengan demikian umat semakin terbuka, peka dan peduli untuk terlibat aktif dalam menghadapi setiap permasalahan yang terjadi di tengah kehidupan bersama guna mewujudkan suatu kehidupan yang lebih baik. Katekese juga membantu umat untuk menimba pengalaman imannya lewat harta kekayaan iman Gereja sepanjang sejarah. Hal ini menjadi jelas bahwa katekese sungguh-sungguh dari umat oleh umat dan untuk umat karena katekese sungguh terjadi di tengah umat dan umatlah pelaku utama katekese. Pengalaman iman umat antara satu dengan lainnya di tengah masyarakat majemuk ini sungguh beraneka ragam ketika digali dengan menggunakan

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 katekese model SCP. Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk mengajukan suatu program katekese model SCP dengan tema dialog antar umat beriman sebagai upaya konkret mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidup bersama di tengah masyarakat plural. Tema dialog antar umat beriman ini menjadi menarik dan relevan karena dirasa dapat membangun sikap iman umat untuk bergerak dan terlibat aktif dalam menanggapi permasalahan dalam hidup bersama guna mengusahakan terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah. Umat beriman merasa penting mewujudkan nilai-nilai Kerajaaan Allah dalam hidup bersama di tengah masyarakat plural dengan berbagai permasalahan yang ada. Oleh sebab itu katekese ini bertujuan untuk membantu umat beriman semakin menghayati imannya sehingga mendorong umat untuk terlibat aktif dalam membangun dialog dan kerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik guna merealisasikan terwujudnya persatuan, cinta kasih, kerukunan, keadilan, persaudaraan dan kesejahteraan dalam hidup bersama. 3. Tujuan Kegiatan Pendampingan Berdasarkan latar belakang situasi, alasan diadakannya kegiatan pendampingan, maka tujuan kegiatan pendampingan katekese model SCP ini adalah membantu umat beriman untuk memperkembangkan imannya dan menghayati iman dengan cara terlibat aktif dalam masyarakat, peka, peduli dan terbuka untuk menjalin kerjasama dan dialog dengan semua orang yang berkehendak baik guna bersama-sama mewujudkan terciptanya keadilan,

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 persaudaraan, solidaritas, perdamaian, cinta kasih dan kerukunan dalam kehidupan bersama sehari-hari di tengah situasi masyarakat yang plural. 4. Pemilihan Materi Dalam mempersiapkan suatu kegiatan pendampingan, perlu diketahui keadaan awal, situasi konkret serta kebutuhan dan keprihatian hidup umat. Berdasarkan hal-hal tersebut penulis merancang suatu kegiatan pendampingan katekese model SCP untuk menjawab kebutuhan hidup umat beriman tersebut. Katekese model SCP ini disusun sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran berdialog dengan umat beriman lain dalam mewujudkan Kerajaan Allah di tengah masyarakat plural. Berikut materi-materi sebagai usulan program pendampingan katekese model SCP: Tema Umum : Dialog Antar Umat Beriman dalam Mewujudkan Kerajaan Allah di tengah Masyarakat Plural. Tujuan umum : Membantu umat untuk semakin menghayati imannya akan Yesus Kristus sehingga umat dapat bersikap terbuka dan terlibat aktif dalam masyarakat untuk menjalin kerjasama dan dialog dengan semua orang yang berkehendak baik untuk bersama-sama mengusahakan terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah kehidupan bersama. Tema 1 : Menghayati Panggilannya Sebagai Umat Beriman Kristiani

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 Tujuan 1 : Bersama pendamping, peserta semakin mengenal, mengerti dan memahami panggilannya sebagai jemaat Kristiani sehingga mereka semakin teguh dalam panggilannya sebagai seorang pengikut Kristus dan terdorong untuk mewujudkan tugas perutusannya dalam mengusahakan terciptanya Kerajaan Allah di tengah hidup bersama. Tema 2 : Membangun Kasih Persaudaraan Sejati dengan Umat Beriman Lain dalam Hidup Bersama. Tujuan 2 : Bersama pendamping, peserta semakin menyadari pentingnya arti kasih sebagai dasar untuk menjalin persaudaraan sejati dengan umat beriman lain dalam hidup bersama sehingga dapat mendorong peserta untuk semakin terbuka dan terlibat aktif dalam mengusahakan terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah kehidupan bersama. Tema 3 : Membangun Toleransi dalam Hidup Bersama Umat Beriman Lain. Tujuan 3 : Agar bersama pendamping, peserta semakin menyadari pentingnya membangun sikap toleransi dalam hidup bersama di tengah masyarakat plural, sehingga dapat mengusahakan terciptanya suatu dunia baru yang penuh

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 dengan kerukunan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi kehidupan bersama. Tema 4 : Memperjuangkan Keadilan dalam Hidup Bersama Umat Beriman Lain. Tujuan 4 : Agar bersama pendamping, peserta semakin peka dan terbuka terhadap situasi sosial yang tidak adil dan bertekad untuk memperjuangkan kehidupan bersama. keadilan dalam

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 5. Matriks Usulan Program Katekese USULAN PROGRAM KATEKESE Tema Tujuan Umum : Dialog Antar Umat Beriman dalam Mewujudkan Kerajaan Allah di tengah Masyarakat Plural : Membantu umat untuk semakin menghayati imannya akan Yesus Kristus sehingga umat dapat bersikap terbuka dan terlibat aktif dalam masyarakat untuk menjalin kerjasama dan dialog dengan semua orang yang berkehendak baik untuk bersama-sama mengusahakan terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah kehidupan bersama. No Judul Pertemuan Tujuan Pertemuan 1. Menghayati Membantu umat untuk Panggilannya semakin mengenal, mengerti Sebagai Umat dan memahami panggilannya Beriman Kristiani sebagai jemaat Kristiani sehingga mereka semakin Uraian Materi 1. Pengertian iman Kristiani 2. Kekhasan iman Metode Sumber Bahan 1. Sianwarjaya, - Sharing - Cergam - Diskusi - Kitab suci Afra dan Th. - Tanya - Madah Huber, Sj. Bakti (1987). Lembar Mengenal pertanyaan Iman Katolik. Musik Jakarta: Obor jawab Kristiani 3. Perwujudan iman Sarana - Refleksi - Informasi - teguh dalam panggilannya Kristiani dalam sebagai seorang pengikut aksi-aksi konkret Kristus dan terdorong untuk di tengah mewujudkan tugas kehidupannya SJ. (1992). perutusannya dalam sehari-hari Iman dan - instrumen 2. Jacobs, Tom, mengusahakan terciptanya Agama: Kerajaan Allah di tengah Kekhasan

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 hidup bersama. Agama Kristiani Menurut Santo Paulus dalam Surat Galatia dan Roma. Yogyakarta: Kanisius 3. Komkat KWI. (1993). Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat. Jakarta: Obor 2. Membangun Kasih Peserta semakin menyadari Persaudaraan Sejati pentingnya arti kasih sebagai dengan Umat dasar untuk menjalin 1. Arti kasih - persaudaraan sejati 2. Sikap-sikap yang - Sharing - Teks Injil Kelompok Lukas 10: Tanya 25-37 1. Lukas 10: 2537 2. Dianne

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Beriman Lain dalam persaudaraan sejati dengan dapat mendukung Madah Bergant, Hidup Bersama umat beriman lain dalam hidup terwujudnya kasih - Informasi Bakti CSA, Robert bersama sehingga dapat persaudaraan sejati - Refleksi Teks cerita J. Karris, 3. Sikap-sikap yang “Cinta dan OFM. (2002). semakin terbuka dan terlibat menghambat Persahabat Tafsir Alkitab aktif dalam mengusahakan terwujudnya kasih an” Perjanjian terwujudnya nilai-nilai persaudaraan sejati Musik Baru. Instrumen Yogyakarta: Kanisius. mendorong peserta untuk Kerajaan Allah di tengah kehidupan bersama jawab - - - 4. Kesulitankesulitan untuk - Laptop membangun sikap - Speaker 3. Eko Riyadi. saling mengasihi - Lilin dan (2011). Salib Lukas: sebagai dasar menjalin “Sungguh, persaudaraan sejati Orang ini dengan umat adalah Orang beriman lain Benar!”. 5. Cara-cara yang Yogyakarta: dapat dilakukan Kanisius. untuk mengatasi 4. Leks, Stefan. kesulitan dalam (2003). Tafsir

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 membangun sikap Injil Lukas. saling mengasihi Yogyakarta: sebagai dasar Kanisius. 5. Lembaga untuk menjalin persaudaraan sejati Biblika dengan umat Indonesia. beriman lain (1981). Tafsir Perjanjian Baru 3: Injil Lukas. Yogyakarta: Kanisius. 3. Membangun Membantu peserta untuk 1. Sikap toleransi Toleransi dalam semakin menyadari pentingnya 2. Toleransi dalam Hidup Bersama membangun sikap toleransi hidup bersama Umat Beriman Lain dalam hidup bersama di tengah umat beriman lain masyarakat plural, sehingga 3. Kesulitan- - - Sharing Teks Injil Kelompok Markus 9: Diskusi 38-41 Kelompok - - - Tanya 1. Markus 9: 3841 2. Dianne Madah Bergant, Bakti CSA, Robert Cergam J. Karris, dapat mengusahakan kesulitan dalam terciptanya suatu dunia baru membangun - Informasi “Marieta OFM. (2002). yang penuh dengan kerukunan, toleransi - Refleksi dan Tafsir Alkitab jawab -

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 kedamaian, dan kesejahteraan bagi kehidupan bersama. 4. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk - membangun Fatimah” Perjanjian Musik Baru. Instrumen Yogyakarta: toleransi dalam - Laptop Kanisius hidup bersama - Speaker 3. Eko Riyadi. umat beriman lain. - Lilin dan (2011). Salib Markus: “Engkau adalah Mesias!”. Yogyakarta: Kanisius 4. Memperjuangkan Membantu umat untuk 1. Menyadari Keadilan dalam semakin peka dan terbuka masalah-masalah Hidup Bersama terhadap situasi sosial yang ketidakadilan yang Umat Beriman Lain tidak adil dan bertekad untuk terjadi dalam - Diskusi memperjuangkan keadilan masyarakat - dalam kehidupan bersama 2. Tanggungjawab sebagai anggota masyarakat dan - Sharing - Dinamika Tanah Bergant, kelompok Kami” CSA, Robert - Kertas flap J. Karris, Tanya - Isolasi OFM. (2002). jawab - Spidol Tafsir Alkitab Informasi - Kitab Suci Perjanjian - Madah Lama. - - Cergam “ 1. Dianne

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 warga Gereja 3. Aksi konkret untuk mewujudkan tegaknya keadilan di tengah kehidupan bersama. - Bakti Yogyakarta: Musik Kanisius Instrumen 2. Amos 5: 7-13

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 6. Contoh Persiapan Program Katekese Bagi Umat di Lingkungan Warung Pring Ganjuran dengan Menggunakan Katekese Model Shared Christian Praxis 1. Identitas Pertemuan a. Tema : Membangun Kasih Persaudaraan Sejati dengan Umat Beriman Lain dalam Hidup Bersama. b. Tujuan : Bersama pendamping, peserta semakin menyadari pentingnya arti kasih sebagai dasar untuk menjalin persaudaraan sejati dengan umat beriman lain dalam hidup bersama sehingga dapat mendorong peserta untuk semakin terbuka dan terlibat aktif dalam mengusahakan terwujudnya nilai-nilai Kerajaaan Allah di tengah kehidupan bersama. c. Peserta : ± 20 Orang d. : Salah satu rumah umat di Lingkungan Warung Pring, Tempat Ganjuran e. Metode : - Sharing Kelompok - Tanya Jawab - Informasi - Refleksi f. Sarana : - Teks Injil Lukas 10: 25-37 - Madah Bakti - Teks cerita “Cinta dan Persahabatan” - Musik Instrumen

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 - Laptop - Speaker - Lilin dan Salib g. Sumber Bahan : - Lukas 10: 25-37 - Dianne Bergant, CSA, Robert J. Karis, OFM. 2002. Tafsir Kitab Suci Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. - Eko Riyadi. 2011. Lukas: “Sungguh, Orang ini adalah Orang Benar”. Yogyakarta: Kanisius. - Stefan Leks. 2003. Tafsir Injil Lukas. Yogyakarta: Kanisius. - Lembaga Biblika Indonesia. 1981. Tafsir Perjanjian Baru 3: Injil Lukas. Yogyakarta: Kanisius. 2. Pemikiran Dasar Masyarakat Indonesia sangat majemuk baik secara budaya, etnis, bahasa maupun agama merupakan suatu realitas yang tidak dapat dipungkiri. Kemajemukan ini merupakan suatu kekayaan yang patut disyukuri oleh seluruh warga masyarakat jika dikelola dengan baik namun dibalik itu juga kemajemukan merupakan suatu tantangan karena rentan terjadi konflik dan perpecahan apabila dikelola secara tidak adil. Dalam kenyataan dewasa ini, kemajemukan bangsa ini terutama kemajemukan agama sering menjadi sumber konflik dan kekerasan sebagaimana terjadi di Ambon dan Poso, pembakaran gedung Gereja, pembatasan

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 gerak aliran dan penyerangan kelompok Ahmadyah, serta masih banyak konflik dan kekerasan lainnya yang berkedok agama. Agama yang sebenarnya mengajarkan kebaikan, kebenaran dan cinta kasih itu malah sering kali dijadikan alat oleh segelintir orang untuk melakukan tindakan kekerasan demi mencari keuntungan pribadi dan golongannya, bahkan agama juga sering digunakan untuk menindas orang lain. Berbagai konflik dan kekerasan yang terjadi selama ini mengakibatkan hilangnya kerukunan, persaudaraan dan cinta kasih dalam kehidupan bersama umat beriman. Situasi yang sangat memprihatikan tersebut bukan hanya merupakan permasalahan bagi suatu agama atau golongan semata tetapi merupakan permasalahan bagi seluruh umat beriman termasuk umat beriman Kristiani. Namun hal ini belum menjadi kesadaran semua umat beriman mengenai pentingnya membangun sikap saling mengasihi di tengah kehidupan bersama sehingga pada akhirnya membawa orang pada sikap masa bodoh, intoleransi, eksklusif, fanatisme, bahkan menilai umat beriman lain sebagai lawan yang harus ditaklukkan. Umat beriman lain tidak lagi dipandang sebagai saudara yang samasama berziarah di dunia dalam usaha membangun dunia menjadi lebih baik bagi kehidupan bersama di tengah masyarakat plural. Sikap kasih persaudaraan sejati ini ditunjukan dalam Injil Lukas 10: 25-37 yang menguraikan tentang ajaran Yesus untuk mengasihi sesama tanpa syarat melalui perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Dalam perumpamaan itu diceritakan tentang orang Samaria yang menolong seorang Yahudi yang berada dalam keadaan setengah mati karena dirampok dan dipukul. Tindakan belas kasih

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 dari orang Samaria tersebut sungguh ironis sebab di mata bangsa Yahudi orang Samaria bukan “sesama”. Orang Samaria dianggap kafir karena mereka telah hidup bersama dan menikah dengan bangsa-bangsa luar. Lewat tokoh orang Samaria dalam perumpamaan ini Yesus ingin mengajarkan kepada kita untuk tidak hanya mengasihi Allah tetapi juga memwujudnyatakan kasih Allah itu dengan mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Bila seseorang sungguh-sungguh mengasihi, ia tidak akan meminta definisi tentang siapa sesamanya. Ia tidak pernah bertanya-tanya siapa, bagaimana, kapan dan di mana seseorang harus dikasihinya Dari pertemuan ini kita berharap semakin mampu menyadari masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk sehingga dapat mengusahakan budaya cinta kasih dan semangat persaudaraan sejati di tengah kehidupan bersama dengan tidak lagi membeda-bedakan, sehingga dapat mendorong kita untuk mewujudkannya melalui tindakan konkret kita sehari-hari untuk mengusahakan terwujudnya suatu dunia baru yang penuh dengan kedamaian, kesejahteraan, kerukunan, keadilan dan cinta kasih bagi kehidupan bersama. . 3. Pengembangan Langkah-Langkah a. Pembukaan 1) Pengantar Bapak, Ibu yang terkasih dalam Yesus Kristus, pertama-tama marilah kita menyapa orang-orang yang ada di samping kanan dan kiri kita. Dalam pertemuan ini kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena telah diberi

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 kesempatan bagi kita untuk bertemu dan berkumpul, guna bersama-sama menghayati dan memaknai pentingnya sikap kasih persaudaraan sejati dalam hidup bersama di tengah masyarakat. Seperti kita ketahui bersama bahwa bangsa kita adalah bangsa yang majemuk karena terdiri dari berbagai suku, bahasa, budaya maupun agama. Kemajemukan bangsa ini merupakan suatu kekayaan yang patut kita syukuri karena dengan adanya kemajemukan ini kita dapat saling belajar dan saling memperkembangkan dalam kehidupan bersama kita di tengah masyarakat. Namun dalam kenyataan dewasa ini bahwa, kemajemukan ini sering menimbulkan berbagai perpecahan dan konflik sebagaimana terjadi di Ambon, Poso, Situbondo dan beberapa daerah lainnya. Selain itu, dalam kehidupan bersama juga seringkali kita bertemu dengan orang-orang yang masih bersikap eksklusif, intoleransi, fanatik, dan bersikap acuh tak acuh. Hal ini mengakibatkan hilangnya rasa persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama kita. Untuk itu, pada pertemuan ini kita akan bersama-sama mencoba untuk menghayati sikap iman kita atas kasih Allah dengan berbagi pengalaman satu sama lain dan berusaha untuk menerapkan ajaran Yesus mengenai hukum cinta kasih itu sebagai pokok pegangan kita dalam menjalin persaudaraan sejati dengan semua orang dalam kehidupan bersama kita sehari-hari di tengah masyarakat tanpa lagi melihat perbedaan-perbedaan yang ada di antara kita. Dengan demikian secara bersamasama, kita dapat menjalin kerjasama guna mengusahakan terciptanya kerukunan, kesejahteraan, perdamaian, dan cinta kasih dalam hidup bersama khususnya dalam kehidupan kita sehari-hari di tengah masyarakat.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 2) Lagu Pembukaan: Madah Bakti No. 786 “Kasih Persaudaraan” [Lampiran 1: (1)]. 3) Doa Pembukaan Allah Bapa Sumber Kasih, kami mengucap syukur dan berterima kasih atas segala berkat dan rahmat-Mu sehingga pada kesempatan ini, kami dapat berkumpul bersama di tempat ini. Kami juga mengucap syukur atas keanekaragaman suku, budaya, bahasa, adat, dan agama yang Engkau anugerahkan kepada kami. Keanekaragaman ini menjadi suatu sumber kekayaan bagi bangsa kami. Namun dalam hidup sehari-hari keanekaragaman yang indah ini kadang menjadi sumber konflik dan kekerasan. Oleh karena itu, bimbing dan tuntunlah kami selalu ya Bapa, agar kami dapat menyadari pentingnya membangun sikap saling mengasihi dalam hidup bersama di tengah masyarakat plural ini. Bapa, kami mohon tuntun dan bimbinglah kami selalu, agar kami semakin hari semakin mampu menyadari dan menghayati tugas dan panggilan kami sebagai umat Kristiani sehingga kami dapat memberikan kesaksian iman dalam kehidupan konkret sehari-hari kami di tengah masyarakat dan jadikan kami untuk semakin terbuka, peka dan menghargai orang lain di sekitar kami tanpa lagi membeda-bedakan sehingga secara bersama-sama kami mampu mengusahakan terwujudnya suatu dunia baru yang penuh dengan persaudaraan, kerukunan, kedamaian dan cinta kasih dalam hidup bersama kami di tengah masyarakat. Doa dan permohonan ini kami persembahkan kepada-Mu demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 b. Langkah I: Mengungkap Pengalaman Hidup Peserta 1) Membagikan teks cerita “Cinta dan Persahabatan” kepada peserta kemudian salah satu peserta diminta untuk membacakannya [Lampiran 2: (2)]. 2) Menceritakan kembali isi cerita : pendamping memberi kesempatan kepada dua orang peserta untuk menceritakan kembali dengan singkat isi pokok dari cerita “Cinta dan Persahabatan” tersebut. 3) Intisari cerita “Cinta dan Persahabatan”. Dalam cerita “Cinta dan Persahabatan” ini dikisahkan bahwa Cinta dan Persahabatan adalah dua sahabat yang akrab. Tetapi, keakraban yang sudah terjalin dengan baik itupun runtuh karena sikap iri dari Si Persahabatan dengan memusuhi, menjauhi dan meninggalkan Si Cinta tanpa alasan yang jelas dan Si Persahabatan pun mulai bergaul dengan Kecewa, Putus asa, Kemarahan dan Kebencian yang menyebabkan Si Persahabatan kehilangan sifat manis, lemah lembutnya, baik hati, dan sebagainya yang membuat banyak orang mulai tidak menyukainya. Si Persahabatan mulai menyesali keaadanya, dan saat itulah Kesedihan melihat Si Persahabatan dan menyampaikan kepada Si Cinta bahwa Si Persahabatan sedang dalam kedukaan. Mendengar hal itu, dengan segera Si Cinta berlari dan menjumpai Si Persahabatan. Si Persahabatan mengungkapkan penyesalannya meninggalkan Si Cinta dan dengan setia Si Cinta mendengarkan penyesalan Si Persahabatan. Si Persahabatan kembali kepada pribadinya yang menyenangkan dan penuh rendah hati yang membuat Si Persahabatan dan Si Cinta kembali bersama dan hidup dalam persaudaraan yang rukun dan damai.

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 4) Pengungkapan pengalaman: pendamping mengajak peserta untuk mendalami cerita “Cinta dan Persahabatan” dengan bantuan beberapa pertanyaan sebagai berikut: a) Kesulitan-kesulitan apa yang dialami Si Persahabatan dalam mengasihi Si Cinta? b) Ceritakanlah pengalaman bapak-ibu dalam menghadapi kesulitan-kesulitan untuk membangun kasih persaudaraan sejati dengan umat beriman lain dalam kehidupan bersama? 5) Contoh arah rangkuman Bapak, ibu yang terkasih dalam Yesus Kristus, dalam cerita tersebut, di mana kesulitan yang dihadapi Si Persahabatan dalam mengasihi Si Cinta yaitu ketika Si Persahabatan mulai meninggalkan dan menjauhi Si Cinta hanya karena sikap irinya. Si Persahabatan pun kehilangan sifat manisnya, rendah hati, terbuka, jujur dan sebagainya dan mulai bergaul dengan Kecewa, Putus Asa, Kemarahan dan kebencian sehingga membuat Si Persahabatan menjadi tidak disukai, dibenci, dikucilkan bahkan dijauhi oleh banyak orang atau sahabat-sahabatnya sehingga Si Persahabatan tidak lagi merasakan kedamaian, kebahagian, kerukunan dalam hidup bersama orang lain. Begitupun dalam pengalaman hidup bersama kita sehari-hari. Seringkali kita merasa kesulitan dalam mengasihi sesama kita terutama dengan mereka yang beriman lain karena kita masih cenderung mempertahankan sikap egois, minder, iri hati, merasa tidak aman, tertekan, dan kecil hati karena merasa sebagai kaum minoritas di tengah umat beriman lain. Selain itu, kita juga berusaha untuk

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 menutup diri dari kehadiran mereka yang beriman lain dengan membuat bentengbenteng untuk melindungi diri kita seperti tidak mau bergaul dengan mereka yang tidak seiman dengan kita dan sebagainya sehingga mengakibatkan kerukunan, persaudaraan dan cinta kasih dalam hidup bersama di tengah masyarakat semakin tidak dapat lagi dirasakan. c. Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta 1) Pendamping mengajak peserta untuk merefleksikan sharing pengalaman atau terhadap cerita “Cinta dan Persahabatan” yang telah dilakukan sebelumnya dengan dibantu pertanyaan sebagai berikut: a) Cara mana saja yang bapak-ibu gunakan dalam menghadapi kesulitankesulitan untuk membangun sikap saling mengasihi dengan umat beriman lain dalam kehidupan bersama? 2) Pendamping memberikan arah rangkuman singkat berdasarkan jawaban yang telah diungkapkan peserta. 3) Suatu contoh arah rangkuman: Dalam hidup bersama di tengah masyarakat yang majemuk ini seharusnya kita mampu mengusahakan kasih di dalam kebersamaan kita dengan demikian kerukunan itu dapat terjalin dengan baik. Maka setiap orang perlu menyadari bahwa dalam kehidupannya membutuhkan orang lain. Dengan demikian kita berusaha untuk menghadirkan sikap kasih di dalam hidup bersama-sama, dengan terus menumbuhkan sikap saling percaya, saling mendukung satu sama lain, saling menghormati, saling menghargai, saling peduli dan saling mendengarkan

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 satu sama lain, mau berusaha untuk meninggalkan ego masing-masing, mau menerima orang lain dengan apa adanya, peka dan tanggap dengan setiap persoalan yang dihadapi sesama di sekitar kita dengan begitu kebersamaan yang terbangun itu dapat terjalin dengan kokoh sehingga terciptalah persaudaraan sejati di tengah kehidupan bersama kita dalam masyarakat yang majemuk ini. d. Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani 1) Pendamping meminta bantuan pada salah satu peserta untuk membacakan perikope Injil Lukas 10: 25-37 dari Kitab Suci Perjanjian Baru. 2) Pendamping memberi waktu kepada peserta untuk hening sejenak agar peserta secara pribadi dapat merenungkan bacaan Kitab Suci tersebut dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut: a) Ayat-ayat mana sajakah yang menunjukkan perlunya membangun sikap kasih persaudaraan sejati dalam hidup bersama? b) Sikap-sikap iman mana yang ingin ditanamkan oleh Yesus kepada kita melalui perikope Injil Lukas tentang perumpamaan orang Samaria yang baik hati tersebut? 3) Setelah peserta mengungkapkan tanggapannya, pendamping memberi tafsir dari Injil Lukas 10: 25-37 dengan berusaha mengaitkannya dengan tema atau tujuan. Lukas 10: 25-37 menguraikan tentang ajaran Yesus untuk saling mengasihi tanpa syarat melalui perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Dalam perumpamaan tersebut diceritakan tentang orang Samaria yang menolong seorang Yahudi yang berada dalam keadaan setengah mati karena dipukul dan

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 dirampok. Tindakan belas kasih orang Samaria tersebut sungguh ironis karena di mata orang Yahudi, orang Samaria bukanlah sesama. Orang Samaria dianggap sebagai orang kafir karena orang Samaria telah hidup bersama dan menikah dengan bangsa-bangsa luar. Lewat tokoh orang Samaria dalam perumpamaan tersebut Yesus ingin mengajarkan kepada kita mengenai hukum cinta kasih. Yesus menegaskan kepada kita bahwa tidak cukup hanya mencintai Allah tetapi juga perlunya perwujudan cinta kasih akan Allah itu lewat mengasihi sesama kita seperti halnya kita mengasihi diri kita sendiri. Bila seseorang sunguh-sungguh mengasihi, ia tidak memerlukan dan tidak meminta definisi tentang siapa sesama. Ia tidak akan bertanya-tanya tentang siapa, di mana, kapan dan bagaimana seseorang harus dikasihinya. Sebagai suatu perumpamaan, cerita tentang orang Samaria yang baik hati dimaksudkan untuk menentang suatu pola pikir yang salah tetapi diterima, sehingga nilai-nilai Kerajaan Allah dapat masuk ke dalam sistem yang ketat. Hal ini dilakukan dengan menunjukkan seorang Samaria, anggota dari kelompok yang dihina dan dicemooh oleh orang-orang Yahudi, melakukan pelayanan kasih yang dihindari oleh para pemimpin agama Yahudi seperti tertuang dalam ayat 33 “lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan”. Dalam Injil sinoptik, kata kerja ini secara istimewa dikenakan untuk Yesus. Kata “tergeraklah” dalam kalimat tersebut menyatakan adanya perasaan yang mendalam sewaktu melihat kesusahan atau kesengsaraan hebat, suatu rasa simpati yang tidak tertahankan dan

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 memaksa orang untuk menolong atau melakukan suatu tindakan. Dengan mengasihi sesamanya orang mengalami kehidupan Allah itu sendiri. Cerita ini begitu diterima seperti apa adanya, juga memberikan suatu contoh yang hidup mengenai pemenuhan perintah kasih. Pertanyaan ahli Taurat meliputi orang yang bukan sesamaku. Cerita Yesus menjawab bahwa tidak ada orang yang bukan sesamanya. “Sesama” bukanlah soal darah atau kebangsaan, atau soal suku, bahasa, budaya ataupun persekutuan keagamaan; ini ditentukan oleh sikap yang dimiliki seseorang terhadap orang lain. Imam dan orang Lewi tahu benar mengenai perintah Allah, dan seperti ahli Taurat pasti dapat menafsirkannya bagi orang lain tetapi mereka tidak memiliki tujuan yang mendalam, sementara orang Samaria, dengan melaksanakan kasih, menunjukkan bahwa ia mengetahui hukum. Melalui perumpamaan ini, Yesus ingin mengajarkan kepada kita mengenai perwujudan cinta kasih sejati dengan berkaca pada tindakan orang Samaria yang baik hati tersebut. Orang Samaria yang melaksanakan perintah Allah dengan membantu sesamanya tanpa memandang siapa sesama yang ditolongnya tersebut merupakan wujud dari penghayatan akan cinta kasih Allah sehingga ia tergerak untuk membantu sesamanya yang sedang membutuhkan pertolongan tersebut. Sikap yang demikian tersebut hendaknya menjadi sikap dasar kita pula sebagai murid Kristus untuk tergerak membantu, peka, peduli dan solider terhadap sesama kita dalam kehidupan bermasyarakat kita sehari-hari dengan tanpa melihat perbedaan agama, suku, budaya, bahasa maupun adat istiadat kita yang ada sehingga kita dapat hidup berdampingan dengan penuh perdamaian, kerukunan,

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 persaudaraan dan persatuan sejati dalam hidup bersama di tengah masyarakat yang majemuk ini. e. Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani Dalam Situasi Peserta Konkret 1) Pengantar Bapak-ibu, yang terkasih dalam Kristus, dalam pembicaraan tadi kita telah menemukan sikap kasih persaudaraan sejati seperti apa yang ingin ditanamkan Yesus kepada kita melalui perumpamaan orang Samaria yang baik hati tersebut. Sebagai orang beriman Kristiani, kita juga dipanggil untuk mengikuti Kristus dengan meneladani dan menghayati kasih Allah tersebut dalam kehidupan konkret kita sehari-hari di dalam masyarakat dengan lebih mengutamakan persaudaraan sejati, terbuka, peka, peduli, dan solider untuk membantu sesama kita yang membutuhkan tanpa lagi melihat perbedaanperbedaan yang ada dari sesama kita tersebut. Dengan demikian lewat pertemuan ini merupakan saat berrahmat, di mana kita disadarkan kembali akan kehendak dan perintah Allah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan kekuatan, serta mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri yang sebagaimana telah diajarkan Yesus sendiri. Hal ini tidak hanya sebatas pengetahuan tetapi merupakan suatu rumusan yang perlu sungguh-sungguh kita hayati dalam hati kita sehingga dapat menjadi suatu kekuatan yang dapat mendorong kita untuk memwujudnyatakan lewat tindakan nyata kita sehari-hari di tengah kehidupan bersama dalam masyarakat yang majemuk ini sehingga dapat membawa kedamaian, kerukunan, dan kesejahteraan bagi hidup bersama.

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 2) Sebagai bahan permenungan kita agar kita semakin menyadari dan menghayati pentingnya membangun kasih persaudaraan sejati dengan sesama kita dalam hidup bersama di tengah masyarakat, maka marilah kita mencoba untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut: a) Apakah arti perumpamaan yang diungkapkan Yesus tersebut bagi kehidupan bersama kita di tengah masyarakat? b) Sikap-sikap mana yang bisa diperjuangkan agar dapat menghayati dan mewujudkan kasih persaudaraan sejati dengan umat beriman lain dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat? 3) Saat hening diiringi dengan lagu “Manisnya Negeriku” dari Pujiono untuk mengiringi renungan pribadi akan pesan Injil berdasarkan panduan pertanyaan di atas. Kemudian peserta diberi kesempatan secukupnya untuk mengungkapkan hasil-hasil renungan pribadinya. Pada akhirnya, pendamping memberi arah rangkuman singkat sesuai dengan hasil-hasil renungan pribadi mereka. 4) Contoh arah rangkuman Bapak-ibu, yang terkasih dalam Kristus, Yesus telah mengajarkan kepada kita untuk mengasihi tanpa syarat sebagaimana dilakukan oleh orang Samaria lewat perumpamaan tersebut. Untuk itu, marilah kita sebagai murid Kristus pun hendaknya menghayati kasih dalam kehidupan bersama kita di tengah masyarakat bersama umat beriman lain lewat tindakan nyata kita sehingga dapat membawa kedamaian dan terjalinnya persaudaraan sejati dalam hidup bersama. Meskipun hal ini memanglah tidak mudah untuk dapat melaksanakan semuanya itu dalam

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 kehidupan kita sehari-hari, namun dengan sungguh-sungguh dan berserah diri secara total serta memohon rahmat dan kekuatan dari Allah Bapa Sang Sumber Kasih Sejati untuk dapat memampukan kita dalam meneladani dan mewujudnyatakan kasih kepada sesama kita dengan tulus, ikhlas dan tanpa syarat dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat. f. Langkah V: Mengusahakan Suatu Aksi Konkret 1) Pengantar Bapak-ibu, yang terkasih dalam Kristus, setelah kita bersama-sama menggali pengalaman kita lewat cerita “Cinta dan Persahabatan” di mana dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa Cinta dan Persahabatan merupakan dua sahabat yang sangat akrab namun persahabatan mereka menjadi tidak harmonis karena sikap iri dari Si Persahabatan terhadap Si Cinta sehingga dia meninggalkan Si Cinta dan berteman dengan Kecewa, Putus Asa, Kemarahan dan Kebencian sehingga ia jadi dibenci banyak orang tetapi setelah menyadari kesalahannya dan kembali meminta maaf, Si Cinta pun mau memaafkannya dan menerima dia kembali sehingga mereka kembali hidup dalam persaudaraan sejati dan penuh kerukunan. Demikian pula dengan pengalaman hidup kita bersama di tengah masyarakat, kita sering kali kurang menyadari pentingnya membangun kasih persaudaraan sejati dalam hidup bersama sehingga hanya membawa kita pada sikap iri hati, egois, minder, eksklusif, intoleransi, fanatik dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menutup diri dari kehadiran orang lain.

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 Lewat bacaan dari Injil Lukas 10: 25-37, Yesus ingin mengajarkan kepada kita untuk mengasihi tanpa syarat dengan mengajak kita meneladani tindakan orang Samaria yang mengasihi sesamanya dengan tanpa syarat. Orang Samaria itu melaksanakan perintah kasih tanpa meminta definisi atau mempertanyakan siapa sesamanya melainkan ketulusan, keikhlasan dan rasa simpati yang mendalam terhadap orang yang membutuhkan bantuan. Berhadapan dengan realitas kemajemukan, kita diajak untuk semakin lebih menghayati semangat kasih dan persaudaraan sejati tersebut dalam hidup bersama kita di tengah masyarakat. Dengan semangat kasih, kita diajak untuk menjalin kerjasama dengan semua umat beriman dalam membangun suatu dunia baru yang lebih baik di mana terwujudnya kerukunan, perdamian, kesejahteran dan keadilan dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat. Kita juga hendaknya semakin peka, peduli, dan solider terhadap sesama di sekitar kita yang membutuhkan bantuan kita tanpa lagi memandang perbedaan-perbedaan ada. 2) Memikirkan aksi dan bentuk keterlibatan yang dapat kita lakukan sebagai niat bersama, dalam kehidupan sehari-hari, melalui pertanyaan sebagai berikut: a) Aksi apa yang hendak kita lakukan untuk dapat semakin menghayati kasih persaudaraan sejati dalam hidup bersama umat beriman lain? b) Hal-hal apa saja yang perlu kita perhatikan untuk mewujudkan aksi-aksi tersebut ? 3) Selanjutnya peserta diberi kesempatan dalam suasana hening memikirkan aksi pribadi/bersama yang akan dilakukan.

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 4) Aksi-aksi pribadi dan kelompok itu kemudian didiskusikan bersama guna menentukan satu aksi konkret bersama yang dapat diwujudkan. g. Penutup 1) Setelah selesai merumuskan aksi-aksi pribadi dan bersama, peserta diberi kesempatan untuk hening sejenak untuk merenungkan aksi yang telah dibuat tersebut. sementara itu, lilin dan salib dapat diletakkan di tengah umat. 2) Bapak-ibu, yang terkasih dalam Kristus, setelah kita membuat aksi-aksi pribadi dan kelompok, marilah bersama-sama memohon kekuatan dan rahmat dari Allah, agar segala bentuk aksi yang kita buat sungguh-sungguh dapat kita wujudkan secara nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Maka dengan hati yang terbuka, marilah kita menyampaikan doa permohonan kita masingmasing secara spontan. Doa permohonan dimulai dari pendamping dengan menghubungkan berdasarkan situasi peserta. Setelah itu baru pendamping mempersilahkan peserta untuk menyampaikan doa permohonannya. Setelah doa umat, pertemuan ditutup dengan doa penutup dari pendamping dengan merangkum keseluruhannya. 3) Doa penutup Allah Bapa sumber kasih, kami kembali bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu karena atas bimbingan dan penyertaanMu selama proses pertemuan ini sehingga dapat berjalan dengan lancar. Bapa, sungguh tidak terkira begitu besar belas kasih-Mu kepada kami. Engkau telah menganugerahkan kepada kami bangsa yang kaya raya dan beranekaragam

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 baik suku, budaya, bahasa, adat maupun agama agar kami dapat saling memperkaya satu dengan yang lain dalam kehidupan bersama kami. Untuk itu bantulah dan bimbinglah kami selalu ya Bapa, agar kami semakin menyadari dan menghayati keanekaragaman ini dengan semakin mengedepankan hidup dalam kasih persaudaraan sejati, saling membantu, saling melayani, saling pengertian, saling bekerjasama dan menjadi sesama bagi semua orang tanpa dibatasi oleh perbedaan-perbedaan yang ada dalam hidup bersama di tengah masyarakat guna mewujudkan suatu dunia baru yang penuh kedamaian, kerukunan, keadilan dan cinta kasih bagi kehidupan bersama kami. Doa dan permohonan ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin 4) Lagu penutup: Madah Bakti No. 530 “Hidup Rukun dan Damai” [Lampiran 3: (3)].

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 BAB V PENUTUP Pada bab V penulis akan mengemukakan kesimpulan dan saran yang diharapkan dapat bermanfaat demi meningkatkan kesadaran umat untuk semakin terbuka dan terlibat aktif dalam berdialog dengan umat beriman lain. A. Kesimpulan Berdasarkan hasil studi pustaka mengenai pandangan Konsili Vatikan II dalam deklarasi Nostra Aetate, penulis menarik kesimpulan bahwa dialog antar umat beriman dewasa ini sedang marak dilakukan oleh berbagai instansi dan lembaga yang memiliki perhatian terhadap terwujudnya kerukunan, persatuan, keadilan, kesejahteraan dan cinta kasih di tengah kehidupan bersama. Hal ini dilakukan karena melihat situasi masyarakat dunia dewasa ini rentan sekali terjadi konflik dan perpecahan, baik itu konflik antar suku, ras maupun konflik antar agama. Berbagai kegiatan dialog yang dilakukan oleh instansi dan lembaga tertentu memiliki tujuan untuk menciptakan terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah hidup bersama, namun kegiatan dialog yang dilakukan oleh lembaga atau instansi tersebut masih bersifat seminar, dialog pengetahuan dan dialog pandangan teologis semata sehingga hanya diikuti oleh orang-orang penting dalam organisasi keagamaan semata atau hanya kalangan akademis, sedangkan untuk masyarakat biasa atau umat jarang sekali diikutsertakan atau terlibat dalam kegiatan dialog semacam itu, sehingga tidak heran jika umat atau

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 masyarakat biasa sering kali terjebak dan terprovokasi untuk melakukan tindakan kekerasan dan anarkis. Deklarasi Nostra Aetate merupakan dasar bagi Gereja untuk membangun dialog dan kerjasama dengan umat beriman lain. Gagasan-gagasan pokok yang dikemukakan di dalamnya perlu terus menerus dipelajari, dipahami dan ditafsirkan kembali secara lebih konkret oleh umat Kristiani di jaman sekarang agar semakin lebih terbuka dan terlibat aktif dalam menjalin kerjasama dan dialog dengan umat beriman lain demi mewujudkan terciptanya nilai-nilai Kerajaan Allah. Usaha membangun dialog antar umat beriman diharapkan dapat melibatkan seluruh kalangan masyarakat. Oleh karena itu, dialog antar umat beriman perlu dipikirkan secara serius hal-hal yang dapat memperkembangkan terjadinya dialog antar seluruh umat beriman dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat. Berkaitan dengan itu, pada bab III penulis memaparkan bentukbentuk dialog yang dapat diperkembangkan, yaitu: dialog kehidupan, dialog karya, dialog pandangan teologis dan dialog pengalaman iman. Penulis merasa bahwa dialog yang dapat melibatkan seluruh umat beriman adalah dialog kehidupan karena dialog kehidupan merupakan dialog yang sederhana karena dialog ini terjadi di tengah kehidupan sehari-hari sehingga dapat dilakukan oleh semua orang. Dialog kehidupan merupakan suatu gerakan atau aksi bersama antar umat beriman dalam kehidupan bersama dalam mengusahakan terwujudnya kerukunan, persatuan, persaudaraan, perdamaian, keadilan dan cinta kasih.

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diupayakan penyadaran akan pentingnya membangun dialog dengan umat beriman tanpa hanyut dalam pengaruh iman yang lain. Penyadaran dialog mengandaikan pendirian yang teguh dan mantap serta usaha membebaskan diri dari keterasingan, melenyapkan kecanggungan karena merasa diri sebagai minoritas sehingga dapat menumbuhkan semangat persaudaraan untuk berpartisipasi secara wajar dalam kehidupan konkret sehari-hari dengan umat beriman lainnya. Sehubungan dengan proses penyadaran akan pentingnya membangun dialog dengan umat beriman lain tersebut, penulis mengusulkan katekese model Shared Christian Praxis (SCP) sebagai salah satu bentuk pendampingan untuk membantu meningkatkan kesadaran umat dalam berdialog dengan umat beriman lain. Katekese model SCP merupakan suatu model katekese yang bertolak dari pengalaman hidup umat dan bersifat dialogis partisipatif sehingga sangat cocok untuk membantu umat dalam menghayati imannya supaya semakin lebih terbuka dan terlibat aktif dalam membangun kerjasama dan dialog dengan umat beriman lain guna bersama-sama mengusahakan terwujudnya kerukunan, persaudaraan, persatuan, keadilan, kesejahteraan dan cinta kasih di tengah hidup bersama seharihari. B. Saran Mengingat kondisi bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk maka diperlukan proses pendampingan iman umat secara terus menerus agar dapat membantu pemahaman umat dalam menghayati tugas panggilannya sebagai

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 umat beriman Kristiani untuk menjadi garam dan ragi di tengah kehidupan bersama umat beriman lain dalam usaha mewujudkan Kerajaan Allah. Dengan demikian dapat mendorong mereka untuk lebih terbuka dan terlibat aktif dalam membangun kerjasama dan dialog dengan umat beriman lain dalam hidup konkret sehari-hari mereka tanpa lagi merasa canggung dan minder karena merasa diri hanya sebagai kaum minoritas di tengah umat beriman lain. Selain itu, Gereja juga perlu memperhatikan pembinaan terhadap kader-kader pendamping pendalaman iman agar memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang dialog agama sehingga para pendamping pendalaman iman semakin kreatif dalam menciptakan suatu katekese umat dengan tema- tema yang menarik untuk dapat membantu umat semakin memahami dan menghayati pentingnya dialog dengan umat beriman lain dalam usaha mewujudkan Kerajaan Allah. Program katekese dengan tema-tema yang ada diharapkan dapat digunakan dan dilaksanakan oleh para pendamping katekese dalam pertemuan-pertemuan katekese umat dalam usaha membantu meningkatkan pemahaman dan kesadaran umat untuk semakin terbuka dan terlibat aktif dalam membangun kerjasama dan dialog dengan umat beriman lain dalam mengusahakan terwujudnya Kerajaan Allah di tengah kehidupan bersama.

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 DAFTAR PUSTAKA Adisusanto, FX. (2000). Katekese dalam Tugas Perutusan Gereja. Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik PUSKAT. ________. (2000). Katekese pada Millenium III: Quo Vadis?. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Armada Riyanto, F. X. E. (1995). Dialog Agama Dalam Pandangan Gereja Katolik. Yogyakarta: Kanisius. _________. (2010). Dialog Interreligius. Yogyakarta: Kanisius. Bakker, J. (1972). Piagam Nostra Aetate Tafsiran Zaman Kita Zaman Dialog Antar Agama. Yogyakarta: Kanisius. _________. (1976). Umat Katolik Berdialog Dengan Umat Beragama Lain. Yogyakarta: Kanisius. _________. Dialog dengan Islam. Seri Puskat 32. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Kateketik Pradnyawidya. Bergant, Dianne & Kariis, Robert. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. Budiyono, HD. (1983). Membina Kerukunan Hidup Antar Umat Beriman. Yogyakarta: Kanisius. Dany Fender. http://dany-fender.blogspot.com/2012/06/perbedaan-sahabatdengan-cinta.html#.VG4CRYE1x0s. accessed on August 12, 2014. Departemen Agama. (1983). Pedoman Dasar Kerukunan Hidup Beragama. Jakarta: Proyek Pembinaan Kerukunan Hidup Beragama Departemen Agama. Eko Riyadi. (2011). Lukas: “Sungguh, Orang ini adalah Orang Benar!”. Yogyakarta: Kanisius. Forum Persaudaraan Umat Beriman. (2008). Spiritualitas Multikultur sebagai Landasan Gerakan Sosial Baru: Kisah Pengalaman Dialog dalam Masyarakat Multikultur. Yogyakarta: Kanisius. Freire, Paulo. (1985). Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: LP3S. Hardawiryana, R. ( 1991). Dignitatis Humanae (Martabat Pribadi Manusia) Pernyataan Tentang Kebebasan Beragama, Nostra Aetate (Pada Zaman Kita) Pernyataan Tentang Hubungan Gereja Dengan Agama-Agama Bukan Kristiani. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI. Hendropuspito, D. (1983). Sosiologi Agama. Yogyakarta: Kanisius. Heryatno Wono Wulung, FX. (1997). Shared Christian Praxis : Suatu Model Berkatekese (Seri Puskat No. 356). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat. (Buku Asli diterbitkan 1991). _________. (2012). Pokok-Pokok Pendidikan Agama Katolik Di Sekolah. Buku Ajar Mata Kuliah Pengantar Pendidikan Agama Katolik di Sekolah untuk Mahasiswa Semester III Prodi IPPAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 Jacobs, Tom. (1970). Konstitusi Dogmatik Lumen Gentium Mengenai Gereja; Terdjemahan. Yogyakarta: Kanisius. _________. (1987). Gagasan Gereja Menurut Konsili Vatikan II. Yogyakarta: Kanisius. Kewuel, Hipolitus K. (2011). Mengolah Pluralitas Agama. Malang: Serva Minora. Komisi Kateketik KWI. (1993). Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat: PKKI V. Jakarta: Obor. __________. (1995). Katekese Umat dan Evangelisasi Baru. Yogyakarta: Kanisius. Kongregasi Suci Untuk Para Klerus. (1995). Directorium Catechisticum Generale. (J. S. Setyakarjana, Penerjemah). Yogyakarta: Pusat Kateketik Indonesia. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1971). Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1966). Krispurwana Cahyadi. (2011). Yohanes Paulus II : Gereja Berdialog. Yogyakarta: Kanisius. Laku, Silvester Kanisius. (2011). Religi dan Jalan Menuju Perjumpaan Iman. Dalam Hipolitus K. Kewuel (ed.). Mengolah Pluralitas Agama. Malang: Serva Minora. Lalu, Yosef. (2005). Katekese Umat. Jakarta: Komkat KWI. Leks, Stefan. (2003). Tafsir Injil Lukas. Yogyakarta: Kanisius. Lembaga Biblika Indonesia. (1981). Tafsir Perjanjian Baru 3: Injil Lukas. Yogyakarta: Kanisius. Ligoy, A. (1997). Gereja Indonesia dan Dialog Antaragama. Rohani, hlm. 128136. Mega Hidayati. (2008). Jurang di antara Kita. Yogyakarta: Kanisius. Muhammad Wahyuni Nafis. (1998). Referensi Historis bagi Dialog Antaragama. Dalam Komarudin Hidayat dan Ahmad Gaus (ed.). Passing Over Melintas Batas Agama, hlm. 77-105. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Pake, Florent K. (1989). Dialogika: Jawaban Paulo Freire Terhadap Krisis Hak Asasi Manusia. Dalam seri buku VOX 34/1. Dialog, hlm 30-39. Ende: Offset Arnoldus. Papo, Jakob. (1987). Memahami Katekese. Ende: Nusa Indah. Ratzinger, J. (1970). Puntjak-Puntjak Teologis Dalam Konsili Vatikan II. Yogyakarta: Kanisius. Suharyo, Ignatius. (2009). The Catholic Way: Kekatolikan dan Keindonesiaan Kita. Yogyakarta: Kanisius. Sumarno, DS. (2012). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik. Diktat Mata Kuliah Pengantar Pendidikan Agama Katolik Paroki untuk Mahasiswa Semester V Prodi IPPAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 Telaumbanua, Marianus. (1997). Ilmu Kateketik: Identitas, Metode dan Peserta Katekese Gerejawi. Pematangsiantar: Fakultas Filsafat UNIKA St. Thomas. ___________. (1999). Ilmu Kateketik: Hakikat, Metode, dan Peserta Katekese Gerejawi. Jakarta: Obor. Wignyanta, Thom. (1972). Keajaiban Dialog. Ende: Nusa Indah Yewangoe, A. A. (2002). Agama dan Kerukunan. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Yohanes Paulus II. (1992). Catechesi Tradendae. (R. Hardawirjana, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1979). __________. (1992). Redemptoris Missio. (Marcel Beding, Penerjemah). Ende: Nusa Indah.

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 LAMPIRAN

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1: Teks Lagu Pembukaan Kasih Persaudaraan Refren: Marilah kita mengamalkan cinta agar hidup sejahtera. Hendaklah kita sehati sejiwa, berpadu menuju bahagia. Solo: 1. Hendaklah kasihmu tidak pura-pura...Refr 2. Hendaklah kasihmu sabar dan setia...Refr 3. Hendaklah kasihmu tulus serta ikhlas...Refr + Penutup Penutup: Hiduplah dalam kasih. (1)

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2: Teks Cerita “Cinta dan Persahabatan” Cinta dan Persahabatan Persahabatan dan Cinta adalah teman terbaik karena di mana ada Cinta, Persahabatan selalu berada disampingnya. Dan dimana Persahabatan berada, Cinta selalu tersenyum ceria dan tidak pernah meninggalkan Persahabatan. Pada suatu hari, Persahabatan mula berpikir bahwa Cinta telah membuat dirinya tidak mendapat perhatian lagi karena Persahabatan menganggap Cinta lebih menarik dari pada dirinya, sehingga dia berpikir : “Hemmmmm… Seandainya tidak ada Cinta, mungkin aku akan menjadi lebih terkenal, dan lebih banyak orang memberi perhatian kepadaku!”. Maka, sejak hari itu, Persahabatan memusuhi Cinta. Ketika Cinta bermain bersama Persahabatan, maka Persahabatan akan menjauhi Cinta. Apabila Cinta bertanya kenapa Persahabatan menjauhi dirinya, Persahabatan hanya memalingkan wajahnya dan beredar pergi meninggalkan Cinta. Melihat hal itu, Kesedihan pun menghampiri Cinta dan Cinta tidak sanggup menahan air matanya dan menangis. Kesedihan hanya dapat termangu memandang Cinta yang kehilangan teman baiknya. Beberapa hari tanpa Cinta, Persahabatan mulai bergaul rapat dengan Kecewa, Putus asa, Kemarahan dan Kebencian. Persahabatan mulai kehilangan sifat manisnya dan orang-orang mulai tidak menyukai Persahabatan. Persahabatan mulai dijauhi dan tidak lagi disukai orang. Walaupun Persahabatan cantik, tetapi sifatnya mulai memuakkan. Persahabatan menyadari bahwa dirinya tidak lagi disukai lantaran banyak orang yang menjauhinya. Persahabatan mulai menyesali keadaannya, dan saat itulah Kesedihan melihat Persahabatan, dan menyampaikan kepada Cinta bahwa Persahabatan sedang dalam kedukaan. Mendengar hal itu, dengan segera Cinta berlari dan menghampiri Persahabatan. Saat Persahabatan melihat Cinta menghampiri dirinya, dengan air mata yang berlinang Persahabatan pun meluapkan seribu penyesalannya meninggalkan Cinta. Cinta dengan setia mendengarkan Persahabatan. Singkat ceritanya, setelah kejadian itu dan samasama saling tahu, maka Persahabatan dan Cinta kembali menjadi teman baik. Persahabatan kembali kepada pribadi yang menyenangkan dan Cinta pun kembali tersenyum ceria. Semua orang melihat kembali kedua teman baik itu sebagai berkat dan anugerah dalam kehidupan. (2)

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3: Teks Lagu Penutup Hidup Rukun dan Damai Alangkah bahagianya hidup rukun dan damai di dalam persaudaraan, bagai minyak yang harum Ibarat embun yang segar pada pagi yang cerah, laksana anggur yang lezat, ‘kan pemuas dahaga Begitulah berkat Tuhan dengan berlimpah turun ke atas mereka, kini dan selamanya Refren: Alangkah bahagianya, hidup rukun dan damai (3)

(137)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Upaya meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas, Sokaraja, Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur, Jawa Tengah melalui katekese umat model shared christian praxis.
29
340
137
Sumbangan katekese umat sebagai upaya untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Mansalong Paroki Maria Bunda Karmel Mansalong Kabupaten Nunukan.
1
16
158
Upaya meningkatkan pendampingan iman kaum muda di Paroki Santa Maria Mater Dolorosa, Soe, Keuskupan Agung Kupang melalui katekese umat model shared christian praxis - USD Repository
0
0
138
Belajar dari kesetiaan iman Maria guna meningkatkan kualitas hidup beriman umat di lingkungan St. Ignatius Loyola Cokrodiningratan Paroki Jetis - Yogyakarta - USD Repository
0
1
144
Usaha meningkatkan efektivitas pelayanan para suster Puteri Kasih Indonesia terhadap orang miskin melalui katekese model Shared Christian Praxis - USD Repository
0
0
170
Peningkatan penghayatan spiritualitas Santa Theresia dari kanak-kanak Yesus bagi Suster Yunior Abdi Kristus melalui katekese dengan pendekatan transformasi - USD Repository
0
0
187
Upaya memajukan hidup doa bagi para suster Jesus, Maria, Joseph demi meningkatkan karya kerasulan melalui katekese - USD Repository
0
0
141
Upaya menumbuhkan hidup doa dalam keluarga-keluarga kristiani umat lingkungan Santa Maria stasi Majenang paroki Santo Stefanus Cilacap melalui katekese umat - USD Repository
0
0
137
Upaya meningkatkan dialog antar umat beriman dalam masyarakat yang plural di Stasi St. Maria Cikampek Paroki Kristus Raja Karawang Jawa Barat melalui katekese - USD Repository
0
0
180
Pengampunan dan kerjasama sebagai kekuatan dalam upaya membangun hidup berkomunitas suster-suster Amalkasih Darah Mulia melalui katekese - USD Repository
0
2
176
Kaderisasi pendamping katekese umat di Stasi Santo Yohanes Pembaptis Long Lunuk Kalimantan Timur - USD Repository
0
0
187
Musik pop sebagai sarana katekese kaum muda - USD Repository
0
4
120
Sumbangan katekese umat bagi prodiakon melalui model shared christian praxis di Paroki Roh Kudus Kebonarum, Klaten, Jawa Tengah - USD Repository
0
4
178
Upaya meningkatkan keterlibatan hidup menggereja bagi kaum muda Paroki Kristus Raja Sintang Kalimantan Barat melalui katekese - USD Repository
0
3
236
Upaya meningkatkan peranan orang tua sebagai pendidik iman anak melalui katekese di Stasi Santo Mikael Poncowati Paroki Santa Lidwina Bandar Jaya Lampung Tengah - USD Repository
0
4
141
Show more