Efek hepatoprotektif pemberian infusa herba mimosa pigra l. selama enam hari pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository

Gratis

0
0
136
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI EFEK HEPATOPROTEKTIF PEMBERIAN INFUSA HERBA Mimosa pigra L. SELAMA ENAM HARI PADA TIKUS JANTAN TERINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi Diajukan Oleh: Cornelia Melinda NIM: 108114109 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI EFEK HEPATOPROTEKTIF PEMBERIAN INFUSA HERBA Mimosa pigra L. SELAMA ENAM HARI PADA TIKUS JANTAN TERINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi Diajukan Oleh: Cornelia Melinda NIM: 108114109 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Kupersembahkan Skripsi ini untuk : Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberi berkat luar biasa dalam hidupku, menopangku ketika terjatuh, dan memberikan pengharapan tanpa henti. Bapak Rio Nugroho, Ibu Maria Mulyani Sri Suprapti, keluarga besar S.Y. Moelyono, dan Sastro Soemardjo yang telah memberikan motivasi, perhatian, kasih sayang, serta doa. Ignatius Bagas Rumekso, ST., dan teman-teman yang selalu memberikan semangat, Almamaterku yang tercinta. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “EFEK HEPATOPROTEKTIF PEMBERIAN INFUSA HERBA Mimosa pigra L. SELAMA ENAM HARI PADA TIKUS JANTAN TERINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA” yang disusun untuk memenuhi persyaratan memeperoleh gelar Sarjana Strata Satu Program Studi Farmasi (S.Farm) Universitas Sanara Dharma Yogyakarta yang dapat diselesaikan dengan baik dan lancar. Skripsi ini dapat diselesaikan oleh penulis karena bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis hendak mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Bapak Ipang Djunarko M. Sc., Apt., selaku Dosen Pembimbing skripsi, atas segala kesabaran untuk selalu membimbing, memberi motivasi, dan memberi masukan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. 3. Bapak Dr. Prof. Dr. C. J. Soegihardjo, Apt. selaku Dosen Penguji Skripsi atas masukannya demi kemajuan skripsi ini. 4. Ibu Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt. selaku Dosen Penguji Skripsi atas masukannya demi kemajuan skripsi ini. 5. Ibu Rini Dwiastuti, M.Si., Apt., selaku Kepala Laboratorium Fakultas Farmasi terdahulu dan Ibu Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt., selaku Kepala Laboratorium Fakultas Farmasi saat ini yang telah memberikan izin dalam vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penggunaan fasilitas laboratorium Farmakologi-Toksikologi, FarmakognosiFitokimia,dan Kimia Analisis sehingga skripsi ini dapat selesai. 6. Bapak Supardjiman selaku laboran Laboratorium Farmakologi-Toksikologi, Bapak Heru selaku laboran Laboratorium Biofarmasetika-Farmakokinetika, Bapak Kayatno selaku laboran Laboratorium Biokimia, Bapak Wagiran selaku laboran Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia, Bapak Andri selaku laboran Kebun Obat, Bapak Suparlan selaku laboran Laboratorium Kimia Organik, dan Bapak Kunto selaku laboran Laboratorium Kimia Analisis atas segala bantuan serta kerjasamanya selama di laboratorium. 7. Tim Skripsi Mimosa pigra L. yaitu Lukas Surya Wijaya, S.Farm. dan Kelvin Nugroho yang senantiasa membantu, memberikan masukan, mengalami suka duka bersama selama pengerjaan skripsi ini. 8. Sahabat-sahabat penulis, Juana Merianti Simanjuntak, Brigitta Lynda Rakasiwi, Maria Malida Vernandes Sasadara, Hans Gani, Clara Niken Dwi Haryani, Theresia Tri Hastuti, anggota kelas FKK B 2010, mahasiswamahasiswi Fakultas Farmasi angkatan 2010 yang membantu penulis dalam penelitian serta penyusunan skripsi ini. 9. Tim PKM-P 2013 (Solar Friends), Restu Indra Gumelar, ST., Kristoforus Ade Yulianta, ST., Ida Bagus Murdhi, ST., Permana Panji, ST., yang selalu memberikan motivasi kepada penulis agar segera menyelesaikan skripsi ini. 10. Kelompok 34 KKN Dliring periode 22 Desember 2013 – 29 Januari 2014, Citra Ayu Wulandari, Cassanova M. Muwa, Kartika Violita, Nia Christie N. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lie, Teresia S. Astri Bandur, Georgius Rocky Agasi, Margareta Ajeng K., B. Gracia Chandra, Yulius Dony yang memberikan semangat kepada penulis. 11. Mudika Santo Markus wilayah Mlati Utara, Paroki St.Aloysius Gonzaga Mlati atas doa dan semangatnya untuk penulis. 12. Seluruh dosen, dan laboran Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta selama proses perkuliahan hingga diselesaikannya skripsi ini. 13. Pihak-pihak lain yang turut membantu penulis namun tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna sehingga penulis menerima kritik dan saran dari banyak pihak agar skripsi ini lebih baik. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan memberikan informasi yang berarti bagi pembaca. Yogyakarta, Penulis ix 2014

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL............................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................. iv LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .............................................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................. vi PRAKATA .............................................................................................. vii DAFTAR ISI ........................................................................................... viii DAFTAR TABEL ................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xvi DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... xvii INTISARI .............................................................................................. xviii ABSTRACT .............................................................................................. xix BAB I. Pengantar .................................................................................... 1 A. Latar Belakang ............................................................................ 1 1. Perumusan masalah ............................................................... 4 2. Keaslian penelitian ................................................................ 4 3. Manfaat penelitian ................................................................. 5 B. Tujuan Penelitian ........................................................................ 5 1. Tujuan umum ........................................................................ 5 2. Tujuan khusus ....................................................................... 5 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II. Penelaahan Pustaka ................................................................... 6 A. Anatomi dan Fisiologi Hati ......................................................... 6 B. Kerusakan Hati ............................................................................ 9 C. Hepatotoksisitas .......................................................................... 12 D. Karbon Tetraklorida .................................................................... 13 E. Mimosa pigra L. .......................................................................... 15 1. Morfologi .............................................................................. 15 2. Klasifikasi tanaman ............................................................... 16 3. Nama lain .............................................................................. 16 4. Habitat ................................................................................... 16 5. Kandungan kimia .................................................................. 17 6. Kegunaan............................................................................... 17 F. Silybum marianum ...................................................................... 18 G. Infundasi ...................................................................................... 19 H. Metode Uji Hepatotoksik ............................................................ 20 I. Landasan Teori ............................................................................ 21 J. Hipotesis...................................................................................... 22 BAB III. METODE PENELITIAN......................................................... 23 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ............................................ 23 B. Variabel Penelitian ................................................................ 23 C. Definisi Operasional.............................................................. 24 D. Bahan Penelitian.................................................................... 24 E. Alat Penelitian ....................................................................... 26 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI F. Tata Cara Penelitian .............................................................. 26 1. Determinasi tanaman ....................................................... 26 2. Pengumpulan bahan uji ................................................... 27 a. Hewan uji .................................................................. 27 b. Herba Mimosa pigra L. ............................................. 27 3. Pembuatan larutan karbon tetraklorida dalam olive oil... 27 4. Pembuatan infusa herba Mimosa pigra L. ...................... 27 5. Penetapan dosis infusa herba Mimosa pigra L. .............. 28 6. Pembuatan suspensi ekstrak Silimarin ............................ 28 7. Uji pendahuluan .............................................................. 28 a. Penetapan dosis hepatotoksin.................................... 28 b. Penetapan waktu cuplikan darah ............................... 29 c. Penetapan waktu pemberian infusa herba Mimosa pigra L. ........................................................ 29 8. Pengelompokan dan perlakuan hewan uji ....................... 29 9. Pembuatan serum ............................................................ 30 10. Penetapan aktifitas ALT dan AST .................................. 30 11. Analisis hasil ................................................................... 31 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................... 33 A. Penyiapan Bahan ......................................................................... 33 1. Hasil determinasi tanaman .................................................... 33 2. Pembuatan infusa herba Mimosa pigra L. ............................ 34 B. Uji Pendahuluan .......................................................................... 35 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Penetapan dosis hepatotoksin................................................ 35 2. Penetapan dosis infusa herba Mimosa pigra L. .................... 36 3. Penentuan dosis kontrol positif silimarin .............................. 36 4. Penentuan waktu pencuplikan darah ..................................... 37 C. Efek Hepatoprotektif Infusa Herba Mimosa pigra L. Terhadap Tikus Jantan ................................................................ 42 1. Kontrol negatif ...................................................................... 45 2. Kontrol hepatotoksin ............................................................. 46 3. Kontrol infusa Mimosa pigra L. ........................................... 47 4. Efek hepatoprotektor berdasarkan perhitungan % hepatoprotektif ................................................................. 48 D. Rangkuman Pembahasan ............................................................ 54 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................. 57 A. Kesimpulan ................................................................................. 57 B. Saran ............................................................................................ 57 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 58 LAMPIRAN ............................................................................................ 62 BIOGRAFI PENULIS ............................................................................ 116 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Kadar serum ALT setelah dilakukan pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 2 mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam ........................................ Tabel II. 37 Perbedaan peningkatan kadar serum ALT setelah pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 2 mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam ........... 39 Tabel III. Kadar serum AST setelah dilakukan pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 2 mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam ................................ 39 Tabel IV. Perbedaan peningkatan kadar serum ALT setelah pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 2 mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam ................................ Tabel V. 41 Pengaruh perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. dilihat dari aktifitas serum ALT dan AST pada berbagai peringkat dosis terhadap hepatotoksin karbon tetraklorida .................. 42 Tabel VI. Hasil uji statistik aktifitas serum ALT tikus jantan pada perlakuan berbagai peringkat dosis infusa herba Mimosa pigra L. ......................................................... 43 Tabel VII. Hasil uji statistik aktifitas serum AST tikus jantan pada perlakuan berbagai peringkat dosis infusa herba Mimosa pigra L. ......................................................... Tabel VIII. Aktifitas kadar serum ALT pada jam ke-0 dibandingkan xiv 44

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI jam ke-24 .............................................................................. 45 Tabel IX. Aktifitas kadar serum AST pada jam ke-0 dibandingkan Jam ke-24 ............................................................................. xv 45

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Metabolit karbon tetraklorida dan formasi metabolit reaktif ................................................................................... 14 Gambar 2. Tumbuhan putri malu ........................................................... 15 Gambar 3. 1. Tritofan; 2. Mirisitrin; 3. Kuersetin 3-O-heksosa; 4. Kuersetin 3-O-heksosa; 5. Kuersetin 3-O-pentosa; 6. Kuersitrin; 7. Kamferol 3-O-desoksiheksosa .................... 17 Gambar 4. Diagram batang rata-rata kadar serum ALT setelah dilakukan pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 2 mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam ............................................................................ 38 Gambar 5. Diagram batang rata-rata kadar serum AST setelah dilakukan pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 2 mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam ............................................................................ 40 Gambar 6. Diagram batang aktifitas serum ALT tikus jantan pada perlakuan berbagai peringkat dosis infusa herba Mimosa pigra L. ................................................................... 43 Gambar 7. Diagram batang aktifitas serum AST tikus jantan pada perlakuan berbagai peringkat dosis infusa herba Mimosa pigra L. ................................................................... xvi 44

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Foto infusa herba Mimosa pigra L. ............................... 63 Lampiran 2. Foto suspensi silimarin dalam CMC-Na 1% ................. 63 Lampiran 3. Surat tanaman Mimosa pigra L. .................................... 64 Lampiran 4. Surat ethical clearence .................................................. 65 Lampiran 5. Hasil analisis statistik data ALT dan AST pada uji pendahuluan waktu pencuplikan darah hewan uji setelah induksi karbon tetraklorida (2 mL/KgBB) ... Lampiran 6. Hasil statistik data ALT dan AST pada kelompok kontrol olive oil dosis 2 mL/KgBB ............................... Lampiran 7. 66 76 Hasil statistik data serum ALT kontrol hepatotoksin (CCl4), kontrol negatif (olive oil), kontrol infusa herba Mimosa pigra L., kontrol positif Silimarin, perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. (dosis 1,26; 1,89; 2,835 g/KgBB) .................................. Lampiran 8. 80 Hasil statistik data serum AST kontrol hepatotoksin (CCl4), kontrol negatif (olive oil), kontrol infusa herba Mimosa pigra L., kontrol positif Silimarin, perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. Lampiran 9. (dosis 1,26; 1,89; 2,835 g/KgBB) .................................. 97 Perhitungan % hepatoprotektif ...................................... 114 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hepatoprotektif infusa herba Mimosa pigra L. selama enam hari dan dosis optimum sebagai hepatoprotektor pada tikus yang terinduksi karbon tetraklorida. Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola searah yang dilakukan dengan membagi 35 ekor tikus umur 2-3 bulan dan berat 130-200 gram. Kelompok I diberikan CCl4 dosis 2 mL/kg BB secara intraperitoneal sebagai kontrol hepatotoksin. Kelompok II diberi olive oil selama 6 hari berturut-turut secara intraperitoneal sebagai kontrol negatif. Kelompok III diberi infusa herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/kg BB sebagai kontrol infusa selama 6 hari berturut-turut secara per oral. Kelompok IV diberikan suspensi ekstrak silimarin dosis 25 mg/kg BB secara per oral selama 6 hari berturut-turut kemudian pada hari ke-7 diberikan 2 mL/kgBB CCl4 dalam olive oil dengan perbandingan 1:1 secara intra peritonial. Setelah 24 jam perlakuan, tikus kelompok I-IV diukur aktivitas serum ALT dan AST. Kelompok V-VII diberi infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,260; 1,890; 2,835 g/kg BB secara per oral selama 6 hari berturut-turut kemudian hari ke-7 diberikan 2 mL/kgBB karbon tetraklorida dalam olive oil dengan perbandingan 1:1 secara intraperitoneal. Hari ke-8 diambil darahnya melalui vena orbitalis lalu diukur aktivitas serum ALT dan AST. Analisis data serum ALT dan AST menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk melihat distribusi data, dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan kadar serum ALT dan AST antar kelompok. Hasil persentase hepatoprotektif dari kadar ALT dosis V-VII secara berturut-turut adalah 29,14; 6,38; dan 80,84% sedangkan hasil kadar AST berturut-turut 30,79; 16,67; dan 104,25%. Dosis optimum infusa herba Mimosa pigra L. adalah 2,835 g/kgBB. Kata kunci : Mimosa pigra L., hepatoprotektif, infusa, karbon tetraklorida. xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT This study aimed to determine the ability of administration infundation Mimosa pigra L. herb as hepatoprotector for six days and optimum dose in male rats induced carbon tetrachloride. This research was experimental pure with complete randomized design conducted in the same direction by dividing 35 rats aged 2-3 months and weighed 130 – 200 grams. The first group was given CCl4 2 mL/KgBW intraperitoneally as hepatotoxin control. Group II was given olive oil for 6 consecutive days intraperitoneally as negative control. Group III was given infundation of Mimosa pigra L. herb dose 2.835 g/kgBW as infundation control for 6 consecutive days orally. Group IV was given a suspension of Silymarin extract dose 25 mg/KgBW p.o. for 6 consecutive days and then on 7th day rats was given 2 mL/ kgBW CCl4 diluted in olive oil with 1:1 ratio intraperitonially. Twenty-four hours later, the ALT and AST serum activity from groups I-IV were measured. Group V-VII were given infundation of Mimosa pigra L. herb dose 1.260; 1.890; 2.835 g/kgBW p.o. for 6 consecutive days and then on 7th day given 2 mL/KgBW of carbon tetrachloride diluted in olive oil intraperitoneally with 1:1 ratio. The blood was collected from orbital sinus eye on the 8th day and then ALT and AST serum activity were measured. Analysis of ALT and AST serum activity used Kolmogorov-Smirnov test to look at the distribution of the data, followed by the Mann-Whitney test to determine differences in ALT and AST serum activity between groups. After calculating percentage of hepatoprotective effect, the hepatoprotective effect percentages of ALT activity from group V – VII were 29.14; 6.38; and 80.84% respectively. The results of the hepatoprotective effect precentages for AST activity were 30.79; 16.67; and 104.25% respectively. The optimum dose of infusion of Mimosa pigra L. herb was 2.835 g/KgBB. Keywords: Mimosa pigra L., hepatoprotective, infusion,carbon tetrachloride. xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Organ intestinal paling besar dalam tubuh manusia adalah hati. Hati sangat berperan dalam proses metabolisme tubuh, karena dapat menyediakan secara tetap metabolit dan bahan-bahan pembentuk yang kaya energi bagi organisme seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Selain itu dapat melakukan biosintesis senyawa-senyawa dalam tubuh agar dapat diekskresikan, serta detoksifikasi senyawa-senyawa toksik melalui biotransformasi. Obat dan toksin dimodifikasi oleh hati menjadi inaktif atau larut air dengan dikonjugasikan dengan senyawa kimia lain sehingga dapat diekskresikan melalui ginjal. Mengingat pentingnya organ hati dalam tubuh, maka kita harus memberikan perhatian yang besar terhadap penanggulangan penyakit pada hati. Dewasa ini, banyak muncul kejadian hepatotoksisitas yang dikarenakan oleh reaksi obat yang tidak dikehendaki. Hasil penelitian periode 2006 – Februari 2009 pada pasien terapi antituberkulosis di RSUD Tangerang tahun 2010 ditemukan kejadian hepatotoksisitas sebesar 38,2% dari 55 pasien berdasarkan adanya peningkatan kadar AST/ALT serum. Kemudian penelitian di Rumah Sakit London Inggris, seseorang yang mengalami hepatotoksisitas apabila mengalami peningkatan kadar ALT/AST sebanyak tiga kali lipat dari batas normal. Pada 103 pasien (24 orang Asia, 46 orang hitam Afrika, 22 orang Eropa, dan 11 orang yang lain) yang menjalani pengobatan anti-tuberkolosis selama 1 tahun 1

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 periode 1 Juni 2006 – 31 Mei 2007. Dari 79% pasien yang melakukan test Hepatitis B diperoleh hasil 9% pasien positif, lalu 77% pasien melakukan test Hepatitis C diperoleh hasil 9% pasien positif. Kemudian dari 94 orang terdapat 15% (14 orang) kejadian hepatotoksisitas, 10% (9 orang) mengalami peningkatan kadar ALT/AST sebanyak 5 kali lipat dari batas normal (Walker et al., 2009). Melihat banyaknya kasus hepatotoksisitas, dibutuhkan senyawa yang dapat berperan sebagai hepatoprotektor. Masyarakat kurang percaya dengan obat jadi melainkan lebih banyak mengkonsumsi obat herbal atau yang berasal dari tanaman karena mudah didapat. Dalam penelitian ini penulis memilih tanaman Mimosa pigra L. sebagai tanaman yang diyakini memiliki senyawa sebagai hepatoprotektor karena mengandung mimosin dan asam pipekolinat (Apriyanto, Susanti, dan Linawati, 2000). Namun penelitian terbaru oleh Syamsudin, Rizikiyan, dan Darmono (2006) mengatakan bahwa mimosin dapat menghambat biosintesis protein dengan melakukan antagonis dengan tirosin, sehingga kemungkinan efek hepatoprotektif bukan berasal dari mimosin. Efek hepatoprotektif mengacu dari penelitian Rakatomalala et al. (2013), ekstrak hidrometanolik Mimosa pigra L. mengandung flavonoid yaitu mirisitrin dan kuersetin yang bertindak sebagai antioksidan untuk membersihkan radikal bebas dalam tubuh, menurunkan tekanan arteri pulmonari, dan sebagai antiinflamasi. Selain itu ekstrak etanol herba Mimosa pigra L. memiliki kemampuan sebagai antibakteri (Mbatchou, Ayebila, dan Apea, 2011). Pada penelitian ini digunakan infusa herba Mimosa pigra L. karena pada penelitian Apriyanto, dkk., (2000) dan Wijaya (2013) mengenai efek

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 antihepatotoksik juga menggunakan infusa herba Mimosa pigra L.. Selain itu, infusa lebih mudah diaplikasikan ke masyarakat luas karena pembuatannya hampir sama seperti merebus dan meskipun cara pengolahannya sederhana tetapi dapat mengambil banyak senyawa aktif di dalamnya. Pada penelitian Apriyanto, dkk. (2000) digunakan paracetamol sebagai senyawa model yang mengakibatkan kerusakan hati pada tikus yaitu nekrosis, namun dalam penelitian ini digunakan CCl4 sebagai senyawa model. Penggunaan CCl4 ini dipilih karena CCl4 memberikan kerusakan sel hati yaitu perlemakan hati. Perlemakan hati terjadi akibat metabolisme CCl4 oleh sitokrom P450 yang menghasilkan radikal triklorometil. Trikolorometil dengan oksigen akan membentuk radikal triklorometil peroksi (CCl3O2) yang dapat menyerang lipid membran endoplasmik retikulum dengan kecepatan yang melebihi radikal bebas triklorometil. Selanjutnya, triklorometil peroksi akan menyebabkan peroksidasi lipid, sehingga mengganggu homeostasis Ca2+ dan akhirnya menyebabkan kematian sel. Asam lemak penyusun membran sel khusunya asam lemak rantai panjang tak jenuh sangat rentan terhadap radikal bebas, jumlahnya akan berkurang dalam fosfolipid membran retikulum endoplasmik, sebanding dengan jumlah CCl4 yang diinduksikan. Pemberian CCl4 dalam dosis tinggi dapat merusak retikulum endoplasmik, mengakumulasi lipid, mengurangi sintesis protein, mengacaukan proses oksidasi, menurunkan berat badan, dan menyebabkan pembengkakan hati. Pemberian jangka panjang dapat menyebabkan nekrosis sentrilobular dan degenerasi lemak hati.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Tikus jantan diberi praperlakuan infusa herba Mimosa pigra L. kemudian diinduksi CCl4 untuk dilihat kerusakan hati dan seberapa besar infusa herba Mimosa pigra L. dapat menekan kerusakan sel hati tersebut berdasarkan kadar AST dan ALT dari serum darah tikus jantan. 1. Perumusan masalah a. Apakah infusa herba Mimosa pigra L. memiliki kemampuan sebagai senyawa hepatoprotektif terhadap tikus jantan yang terinduksi CCl4? b. Berapakah dosis optimum agar infusa herba Mimosa pigra L. memberikan efek hepatoprotektif paling baik? 2. Keaslian penelitian Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan Mimosa pigra L. yaitu Efek Hepatoprotektif Rebusan Herba Putri Malu (Mimosa pigra L.) pada Tikus Terangsang Parasetamol oleh Apriyanto, dkk. (2000). Dari penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa infusa herba Mimosa pigra L. memiliki kemampuan sebagai hepatoprotektif pada tikus jantan yang terinduksi oleh paracetamol. Penelitian yang dilakukan oleh Rakatomalala, et al. (2013) mendapatkan hasil bahwa ekstrak hidrometanolik daun Mimosa pigra L. dapat menurunkan tekanan arteri pulmonari, sebagai antioksidan serta antiinflamasi. Ekstrak etanol herba Mimosa pigra L. juga memiliki kemampuan sebagai antibakteri pada penelitian yang dilakukan oleh Mbatchou, et al. (2011) dan aktivitas infusa Mimosa pigra L. sebagai antihepatotoksik juga sudah diteliti oleh Wijaya (2013) dengan hasil terbukti memiliki kemampuan sebagai antihepatotoksik pada tikus jantan terinduksi CCl4 dengan dosis optimum sebesar 1,26 g/KgBB.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Sejauh pengamatan penulis, penelitian dengan judul “Efek Hepatoprotektif Infusa Herba Mimosa pigra L. Selama Enam Hari pada Tikus Jantan Terinduksi Karbon Tetraklorida” belum pernah dilakukan. 3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritis Memberikan pengetahuan dalam bidang farmasi mengenai obat herbal sebagai hepatoprotektif dalam mencegah perlemakan hati akibat induksi CCl4. b. Manfaat praktis Memberikan informasi mengenai dosis optimum infusa herba Mimosa pigra L. sebagai hepatoprotektif. B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Mengetahui tanaman sebagai senyawa hepatoprotektif pada tikus jantan yang terinduksi CCl4. 2. Tujuan khusus a. Mengetahui kemampuan infusa herba Mimosa pigra L. sebagai senyawa hepatoprotektif terhadap tikus jantan yang terinduksi karbon tetraklorida. b. Mengetahui dosis optimum infusa herba Mimosa pigra L. sebagai hepatoprotektif terhadap tikus jantan yang terinduksi karbon tetraklorida.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Anatomi dan Fisiologi Hati Hati adalah organ terbesar, mencapai 2% - 3% dari berat badan. Hati terletak di kuadran kanan atas dari rongga perut bawah hemidiafragma, dilindungi oleh tulang rusuk (Sherif, Misih, dan Bloomston, 2010). Hati memiliki berat sekitar 1400 g pada orang dewasa dan dibungkus oleh suatu fibrosa. Secara anatomis hati terdiri dari lobus kanan yang besar, dan lobus kiri yang kecil. Keduanya dipisahkan di antero-superior oleh ligamentum falsiforme dan di postero-inferior oleh fisura untuk ligamentum venosum dan ligamentum teres. Pada klasifikasi anatomis, lobus kanan terdiri dari lobus kaudatus dan lobus kuadratus. Akan tetapi secara fungsional lobus kaudatus dan sebagian besar lobus kuadratus merupakan bagian dari lobus kiri karena mendapat darah dari arteri hepatika sinistra dan aliran empedunya menuju duktus hepatika sinistra. Oleh karenanya, klasifikasi fungsional hepar menyatakan bahwa batas antara lobus kanan dan kiri terletak pada bidang vertikal yang berjalan ke posterior dari kandung empedu menuju vena kava inferior (Faiz dan Moffat, 2002). Setiap lobus dibagi oleh jaringan penghubung menjadi kurang lebih 100.000 lobulus sebagai unit dasar fungsional hati. Diameter lobulus sebesar 1 mm, jajaran lobulus dipisahkan satu sama lain oleh septum interlobuler. Hepatosit pada lobulus hati membentuk jajaran piringan tidak merata yang tersusun seperti jari-jari pada roda, diantara hepatosit terdapat kapiler yang menjulur ke vena sentral disebut sinusoid 6

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 (Martini, 2004). Di bagian dalam sinusoid ini terdapat sel yang berfungsi untuk menghancurkan sel darah merah dan bakteri yang melewatinya dalam darah. Sel ini disebut sel Kupffer (Sherwood, 2007). Hati menerima hampir sekitar 1500 ml darah per menit melalui vena portal dan arteri hepatica (McPhee dan Ganong, 2005). Sel-sel hepar yang disebut hepatosit mendapat suplai darah dari vena porta hepatica yang kaya akan makanan dan tidak mengandung oksigen, namun terkadang bersifat toksik; serta dari arteria hepatica yang mengandung oksigen (Wibowo dan Paryana, 2009). Produk dari pencernaan yang diabsorbsi ke dalam kapiler darah di intestinal tidak secara langsung masuk ke sirkulasi seluruh tubuh melainkan dihantarkan terlebih dahulu ke dalam hati. Pembuluh kapiler pada saluran pencernaan mengalir ke dalam vena porta hepatica dengan membawa darah menuju kapiler di hati. Untuk menerima darah vena dari intestinal, hati juga menerima darah arteri melalui arteri hepatica (Fox, 2004). Fungsi utama hati adalah metabolisme (Wibowo dan Paryana, 2009), aktifitas hati dalam fungsinya dalam regulasi metabolisme adalah sebagai berikut: 1. Metabolisme karbohidrat Hati dapat menstabilkan kadar gula darah kurang lebih sebesar 90 mg/dL. Jika kadar gula darah menurun, hepatosit dapat memecah glikogen cadangan dan mengeluarkan glukosa ke aliran darah, serta dapat mensintesis glukosa dari karbohidrat lain dari asam amino yang tersedia. Sintesis glukosa dari komponen lain disebut glukoneogenesis. Jika kadar gula darah meningkat, hepatosit menghilangkan glukosa dari aliran darah ataupun tempat penyimpanan yang lain

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 sebagai glikogen, atau menggunakannya untuk mensintesis lipid yang dapat disimpan di jaringan yang lain atau hati (Martini, 2004). 2. Metabolisme lipid Mengatur regulasi sirkulasi kadar trigliserida, asam lemak, dan kolestrol. Apabila kadarnya menurun, hati akan memecah cadangan lipid dan dikeluarkan ke aliran darah. Jika kadarnya meningkat, lipid akan dihilangkan dari penyimpanannya, karena sebagian besar lipid diabsorbsi melalui saluran pencernaan yang melewati sirkulasi portal hepatika, maka regulasi hanya dapat terjadi setelah kadar lipid meningkat pada seluruh sirkulasi (Martini, 2004). 3. Metabolisme asam amino Hati dapat menurunkan peningkatan jumlah asam amino dalam sirkulasi darah. Asam amino dapat digunakan untuk mensintesis protein atau dapat diubah menjadi glukosa ataupun lipid untuk cadangan energi (Martini, 2004). 4. Detoksifikasi Menghilangkan substansi yang merugikan bagi tubuh seperti alkohol dan obat (Cohen dan Wood, 2000). 5. Penyimpanan vitamin Vitamin yang dapat larut dalam lemak (A, D, E, dan K) dan vitamin B12 dapat diabsorbsi dari darah dan disimpan di dalam hati (Martini, 2004). 6. Penyimpanan mineral Hati dapat mengubah cadangan besi menjadi ferritin dan menyimpan protein ion kompleks tersebut (Martini, 2004).

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 7. Inaktivasi obat Hati dapat menghilangkan dan memecah sirkulasi obat tanpa menurunkan durasi dari efeknya (Martini, 2004). Seperti banyak organ di tubuh, hati normalnya memiliki kapasitas cadangan yang besar untuk berbagai reaksi kimia yang dijalankannya dan kemampuan untuk membentuk kembali sel dengan tingkat deferensiasi sempurna sehingga dapat pulih total setelah cedera akut (McPhee dan Ganong, 2005). B. Kerusakan Hati Hepatotoksik merupakan kerusakan hati yang berhubungan dengan rusaknya fungsi hati karena paparan obat atau agen non-infeksi lainnya (Navarro, Senior, 2006). Agen hepatotoksik dapt bereaksi dengan komponen seluler dasar dan dapat menyebabkan induksi hampir seluruh tipe lesi (luka) pada hati (Grattaglino, Bonfrate, Wang, dan Portincasa, 2009). Macam-macam kerusakan hati bergantung pada agen toksik, kekerasan intoksikasi, dan apakah jenis pejanan akut atau kronis. Hepatotoksisitas terjadi akibat kerusakan fungsi hepatosit, kerusakan hati tersebut antara lain steatosis (perlemakan hati), kolestasis, fibrosis, dan nekrosis/apoptosis. Ketika sel hati rusak maka enzim hati yang spesifik dikeluarkan, yaitu alanin aminotransferase (ALT), aspartat aminotransferase (AST), dan alkalin fosfatase (ALP) ke dalam darah (Hodgson, 2010).

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Secara morfologi, hati merupakan organ sederhana dengan respon yang terbatas terhadap suatu cedera. Berikut adalah respon umum hati pada cedera tersebut: 1. Degenerasi dan akumulasi intraseluler Kerusakan akibat gangguan toksik atau imunologik dapat menyebabkan pembengkakan hepatosit. Pembengkakan derajat sedang, masih bersifat reversibel. Untuk kerusakan yang lebih parah (degenerasi balon), hepatosit membengkak disertai penggumpalan organel sitoplasma dan terbentuknya ruangruang jerni yang besar. Akumulasi butir lemak trigliserida di dalam hepatosit dikenal sebagai steatosis. Butir-butir kecil yang tidak mendesak nukleus disebut steatosis mikrovisikel, sedangkan butiran besar yang mendesak nukleus dikenal dengan steatosis makrovisikel. Kedua steatosis baik steatosis mikrovisikel maupun makrovisikel dapat dijumpai pada perlemakan hati alkoholik. Di kelainan tersebut, steatosis menyerang hampir seluruh hepatosit (Kumar, Abbas, dan Fausto, 2009). 2. Nekrosis dan apoptosis Gangguan signifikan pada hati dapat menyebabkan nekrosis hepatosit. Pada nekrosis koagulatif iskemik, sel hati menjadi kurang terwarnai dan inti sel umumnya lisis (Kumar, et al., 2009). Nekrosis merupakan hilangnya viabilitas sel yang bersifat irreversible, hal ini dapat ditunjukkan dengan hilangnya fungsi sel yang normal. Nekrosis adalah kerusakan hati akut yang terjadi pada sebagian hepatosit ataupun seluruh lobus (massive necrosis). Pada bagian yang terjadi nekrosis, terjadi peningkatan eosinofil di sitoplasma dan terjadi respon imun

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 berupa infiltrasi neutrofil pada bagian yang rusak (Hodgson, 2010). Pada kematian sel apoptotik, hepatosi-hepatosit berkumpul dan menjadi sel-sel yang mengkerut, piknotik, dan sangat eusinofilik disertai nukleus yang terfragmentasi. 3. Inflamasi Cedera hati yang menyebabkan influks sel radang akut atau kronik disebut hepatitis. Nekrosis hepatosit kronik atau iskemik akan memebangkitkan reaksi peradangan. Untuk cedera akibat toksik, peradangan dapat mendahului terjadinya inflamasi. Kerusakan sel hati penyaji antigen akibat limfosit sitotoksik merupakan mekanisme umum kerusakan hati, terutama pada infeksi virus. Hepatosit yang telah mati tidak memicu peradangan secara sendiri. Sel Kupffer dan monosit darah yang direkrut ke hati akan menelan fragmen-fragmen sel apoptotik dalam beberapa jam, dan membentuk gumpalan sel radang (Kumar, et al., 2009). 4. Regenerasi Regenerasi terjadi pada semua penyakit hati, kecuali penyakit hati yang paling parah. Proliferasi hepatoseluler ditandai mitosis, menebalnya korda hepatosit, dan juga disorganisasi struktur parenkim. Unit kanalis Hering-duktulus empedu merupakan suatu kompartemen cadangan pengganti pada cedera parenkin yang parah. Jika unit ini diaktifkan, muncul struktur mirip duktulus empedu dalam jumlah besar (reaksi duktulus). Kompartemen ini juga berproliferasi jika terjadi suatu obstruksi saluran empedu besar. Jika terjadi nekrosis hepatoseluler yang meninggalkan kerangka jaringan ikat yang masih utuh, struktur hati dapat pulih hampir sempurna meskipun nekrosisnya masif atau sub-masif (Kumar, Abbas, dan Fausto, 2009).

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 5. Fibrosis Jaringan fibrosa terbentuk sebgai respon terhadap peradangan atau kerusakan toksik langsung pada hati. Apabila terjadi fibrosis, hati akan terbagi menjadi nodul-nodul hepatosit proliferatif yang dikelilingi oleh jaringan parut yang disebut sirosis (Kumar, et al., 2009). Steatosis merupakan akumulasi lemak terutama trigliserid yang tidak normal pada hepatosit akibat uptake ekstra hepatik tsigliserid dengan sekresi hepatik pada trigliserid yang berisi lipopretein dan katabolisme asam lemak yang tidak seimbang (Hodgson, 2010). Steatosis atau perlemakan hati dapat dianggap sebagai jenis cedera sitotoksik, tetapi juga dapat menjadi kerusakan hati kronis (Davis dan William, 2003). Penyakit hati dapat bersifat reversibel atau ireversibel. Penyakit hati yang bersifat reversibel berasal langsung dari kerusakan akut sel fungsional hati, terutama hepatosit, tanpa gangguan kemampuan hati untuk melakukan regenerasi. Penyakit hati yang bersifat ireversibel adalah sirosis, akibat alkohol atau pejanan obat. Massa hepatosit dan kapasitas cadangan fungsional hati yang berkurang, mengakibatkan hati lebih peka terhadap cedera hati akut (McPhee dan Ganong, 2005). C. Hepatotoksisitas Klasifikasi hepatotoksisitas secara primer didasarkan pada pola kejadian dan morfologi histopatologi. Hepatotoksisitas intrinsik merupakan hepatotoksisitas yang umum terjadi, bergantung pada dosis, dan dapat dilihat pada

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 manusia serta hewan uji. Hepatotoksisitas idiosinkratik ditunjukkan pada perubahan metabolisme yang ditemukan pada gen pemetabolisme obat (Hodgson, 2010). Pada hepatotoksik intrinsik bergantung pada dosis sublethal (Roth dan Ganey, 2010). Hepatotoksisitas idiosinkratik dibagi menjadi dua yaitu alergi dan nonalergi. Reaksi idiosinkratik alergi melibatkan partisipasi sistem imun adaptif, sedangkan reaksi idiosinkratik non alergi dibedakan berdasarkan ada tidaknya reaksi hipersensitivitas. Hepatotoksik idiosinkratik hanya dapat terjadi pada sebagian kecil individu yang terpapar suatu obat, faktor lingkungan dan genetik sangat mempengaruhi (Kaplowitz, 2005). D. Karbon Tetraklorida Kerusakan sel dapat diinisiasi oleh beberapa mekanisme antara lain penghambatan enzim, pengurangan metabolit atau kofaktor, pengurangan ATP, interaksi dengan reseptor, peningkatan intraseluler kalsium, pembentukan metabolit aktif, dan perubahan membran sel. Banyak faktor, termasuk obat dapat menyebabkan kerusakan sel melalui mekanisme aktifasi metabolit pada tingkatan yang lebih tinggi seperti radikal bebas, karbon, dan nitro akibat stres oksidatif (Hodgson, 2010). Karbon tetraklorida (Gambar 1) cepat diabsorbsi melalui rute apa saja pada manusia dan hewan. Setelah diabsorbsi, karbon tetraklorida didistribusikan diantara jaringan terutama yang memiliki banyak timbunan lipid. CCl4 dimetabolisme di hati, paru-paru, dan jaringan lain yang terdapat CYP450.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 Metabolisme CCl4 secara luas dilakukan penelitian in vivo dan in vitro pada mamalia. Tahap awal biotransformasi dari karbon tetraklorida adalah reduksi dehalogenisasi: pembelahan ikatan klorida karbon menjadi ion klorida dan radikal triklorometil (EPA, 2010). Triklorometil radikal (CCl3*) dapat berikatan kovalen dengan protein atupun lipid menyebabkan kerusakan membran (Klaassen, 2001). Gambar 1. Metabolit karbon tetraklorida dan formasi metabolit reaktif (Hodgson, 2010). Karbon tetraklorida (CCl4) sudah diteliti secara luas mengenai biokimia, patologi, dan hepatotoksin. CCl4 dirubah menjadi radikal bebas triklorometil (CCl3*) oleh sitokrom P450 2E1 (CYP2E1). Triklorometil dengan oksigen akan membentuk radikal triklorometilperoxi yang dapat menyerang lipid membran retikulum endoplasmik dengan kecepatan yang melebihi radikal bebas triklorometil. Selanjutnya triklorometilperoxi menyebabkan proksidasi lipid sehingga mengganggu homeostasis Ca2+, dan akhirnya menyebabkan kematian sel. Nekrosis yang terjadi karena CCl4 paling parah terjadi pada centrilobular sel hati yang banyak mengandung isozim CYP dalam konsentrasi tinggi yang bertanggung jawab mengaktifkan CCl4 (Hodgson, 2010). Pada umumnya peroksidasi lipid disebabkan oleh metabolit reaktif radikal bebas melalui tiga tahap reaksi, yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi (Donatus, 2001).

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 E. Mimosa pigra L. Gambar 2. Tumbuhan putri malu. 1. Morfologi Mimosa pigra L. (Gambar 2) memiliki tangkai yang bercabang-cabang dan dapat tumbuh hingga mencapai dua meter, terkadang juga dapat mencapai enam meter dengan umur maksimal lima tahun. Mimosa pigra L. merupakan tanaman yang berwarna hijau, daunnya sensitif dan berbentuk menyirip dua bertingkat, memiliki duri berukuran tujuh milimeter yang terdapat di bagian bawah tangkai, batang, dan petiolet (tangkai daun). Mimosa pigra L. memiliki 100 bunga yang berbentuk bulat berwarna merah muda. Mimosa pigra L. bersifat androdioecious, yaitu ada yang memiliki bunga jantan saja dan ada yang memiliki bunga hermafrodit. Setiap bunga memiliki delapan benangsari yang panjang dan pendek. Polong Mimosa pigra L. berukuran lima belas sentimeter, berbentuk datar dan berbulu, tumbuh berkelompok di ujung batang. Setiap polong berisi delapan sampai dua puluh empat biji yang berukuran 5 x 2,4 mm dan berat 0,09 mg. Buahnya matang dalam waktu tiga bulan kemudia akan pecah (Binggeli, 2005).

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 2. Klasifikasi tanaman Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Fabales Familia : Fabaceae Sub Familia : Mimosoideae Genus : Mimosa Spesies : Mimosa pigra Linn (CABI, 2014). Author : Carolus Linnaeus 3. Nama lain Mimosa asperata L., Mimosa asperata (Wild) Humb. Et Bonpl., Mimosa hispida Willd, Mimosa pallida Humb. & Bonpl. Ex Willd, Mimosa pellita Humb. & Bonpl. Ex Willd., Mimosa pigra var. Pigra (A. Gray ex Torr); B. L. Turner, Mimosa polycantha Willd (CABI, 2014). 4. Habitat Di Costa Rica Mimosa pigra L. banyak ditemukan di tepi sungai besar, di tepi danau, dan di pinggir jalan. Di Australia Mimosa pigra L. tersebar di padang rumput, sawah kosong, dan kebun (Binggeli, 2005). Mimosa pigra L. ditemukan di daerah tropis dengan curah hujan > 750 mm per tahun. Di Sri Lanka Mimosa pigra L. ditemukan di dataran tinggi, 500 m diatas permukaan laut (CABI, 2014).

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 5. Kandungan kimia Pada penelitian yang dilakukan oleh Mbatchou, et al. (2011) kandungan kimia yang terdapat pada Mimosa pigra L. antara lain adalah alkaloid, asam amino, antrakuinon, flavonoid, glikosida, saponin, steroid, tanin, dan terpenoid. Penelitian yang dilakukan oleh Rakatomalala, et al. (2013) dilaporkan ekstrak hidrometanolik daun Mimosa pigra L. mengandung senyawa seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3. Gambar 3. 1. Triptofan; 2. Mirisitrin; 3. Kuersetin 3-O-heksosa; 4. Kuersetin 3-O-heksosa; 5. Kuarsetin 3-O-pentosa; 6. Kuersitrin; 7. Kaempferol 3-O-desoksiheksosa. 6. Kegunaan Di Afrika, Mimosa pigra L. digunakan sebagai obat tradisional seperti tonik, obat diare, gonorrhoea, dan keracunan. Orang-orang di Zambia, serbuk akar Mimosa pigra L. ditaburkan pada luka penderita lepra. Akarnya dapat dimanfaatkan sebagai afrodisiak (obat kuat) oleh beberapa orang, namun dapat juga sebagai penenang. Biji Mimosa pigra L. digunakan untuk emetik,

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 ekspektoran, dan untuk gangguan pada gigi sedangkan daunnya sebagai pencahar dan tonic. Di Malaysia Mimosa pigra L. untuk mengobati gigitan ular, kemudian digunakan juga sebagai pupuk hijau, pagar hidup, dan bahan bakar (CABI, 2014). Pada penelitian yang dilakukan oleh Apriyanto, dkk. (2001) infusa herba Mimosa pigra L. memiliki potensi sebagai hepatoprotektif pada tikus jantan. Ekstrak metanol herba Mimosa pigra L. juga memiliki kemampuan sebagai antibakteri pada penelitian yang dilakukan oleh Mbatchou, et al. (2011) menggunakan Salmonella typhi. Selanjutnya, ekstrak hidrometanolik daun Mimosa pigra L. dapat menurunkan tekanan arteri pulmonari, sebagai antioksidan serta antiinflamasi (Rakatomalala, et al., 2013). Selain itu, infusa herba Mimosa pigra L. dengan dosis 1,26 g/KgBB juga memiliki aktivitas antihepatotoksik pada tikus jantan (Wijaya, 2013). F. Silybum marianum Silybum marianum atau yang biasa disebut milk thistle merupakan obat tradisional untuk penyakit hati yang sudah dipakai sejak ratusan tahun yang lalu. Milk thistle adalah tanaman asli Eropa namun juga ditemukan di Amerika Serikat, dapat tumbuh pada tanah berbatu dan berpasir serta mampu berkembang hingga 3-10meter dengan batang yang tegak dan besar. Tepi daunnya berduri, bila daunnya rusak akan mengeluarkan getah berwarna putih susu. Musim berbunganya pada bulan Juni hingga Agustus, setiap batang terdapat bunga berwarna ungu dan besar. Buahnya berwarna coklat mengkilap dan berwarna keabu-abuan (Kumar, et al., 2009).

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Silybum marianum mengandung silimarin yang terdiri dari flavanolignan silibin, silidianin, dan silikristin. Silibin merupakan kandungan yang paling aktif secara biologis. Silimarin ditemukan dalam konsentrasi tinggi pada buah Silybum marianum, namun juga ditemukan pada bagian daun dan biji. Bijinya mengandung betain, trimetil glisin, dan asam lemak essensial yang bermanfaat sebagai hepatoprotektif dan anti inflamasi (Kumar, et al., 2009). Mekanisme utama dari silimarin sebagai hepatoprotektif adalah antioksidatif, imunomodulator, anti inflamasi, dan anti fibrosis (Domitrovic, Jakovac, dan Blagojevic, 2011). G. Infundasi Metode infundasi digunakan untuk menyari kandungan aktif dari simplisia yang larut dalam air panas. Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh bakteri dan jamur sehingga sari yang diperoleh dengan cara ini harus segera diproses sebelum 24 jam. Cara ini sangat sederhana dan sering digunakan oleh perusahaan obat tradisional. Pada umumnya proses dimulai dengan membasahi simplisia dengan air dua kali bobot bahan, untuk bunga empat kali bobot bahan dan untuk karagen sepuluh kali bobot bahan. Bahan baku ditambah dengan air, pada umumnya jika tidak dinyatakan lain diperlukan 100 bagian air untuk 10 bagian bahan kemudian dipanaskan selama 1 menit pada suhu 0 untuk infusa atau 0 menit untuk dekokta. en arian dilakukan pada saat cairan masih panas kecuali bahan yang mengandung minyak atsiri (BPOM RI, 2013).

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Untuk memudahkan penyarian kadang-kadang perlu ditambah bahan kimia misalnya: a. Asam sitrat untuk infusa kimia b. Kalium atau natrium karbonat untuk infusa kelembak (Depkes RI, 1986). H. Metode Uji Hepatotoksik Ada dua teknik utama dikembangkan untuk pengukuran aktivitas serum aminotransferase. Terhadap GOT, diukur perubahan asam aspartat dan asam αketoglutarat menjadi asam glutamat dan asam oksaloasetat; terhadap GPT, diukur perubahan alanin dan asam α-ketoglutarat menjadi asam glutamat dan asam piruvat. Digunakan metode analisis UV, proses ubahan enzim tadi dilanjutkan dengan reaksi nicotinamide adenine dinucleotide (NAD) dikonversikan dari bentuk tereduksinya (NADH) menjadi bentuk teroksidasi (NAD). Akibat reaksi ini diikuti oleh penurunan resapan pada panjang gelombang 340 nm oleh proses oksidasi NADH (Plaa dan Charbonneau, 2001). Prosedur kolorimetrik dikembangkan atas dasar reaksi antar produk (oksaloasetat dan asam piruvat) dengan dinitrophenylhidrazine membentuk hidrason berwarna. Produk ini dapat diketahui oleh resapannya pada panjang gelombang visible. Keuntungan metode kolorimetrik adalah spektrofotometer UV tidak dibutuhkan dan kontrol suhu untuk reaksi enzimatik lebih mudah dicapai (Plaa dan Charbonneau, 2001).

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 I. Landasan Teori Fungsi utama hati adalah metabolisme. Hati memiliki struktur seragam yang memiliki klompok sel yang dipersatukan oleh sinusoid. Semua darah vena dari systemadigestorium akan mengalir ke dalam sinusoid ini. Sel-sel hepar mendapat suplai darah dari vena portae hepatis yang kaya akan makanan dan tidak mengandung oksigen, namun terkadang bersifat toksik; serta dari arteria hepatica yang mengandung oksigen (Wibowo dan Paryana, 2009). Senyawa model yang digunakan sebagai hepatotoksin adalah karbon tetraklorida. CCl4 diubah menjadi radikal bebas triklorometil (CCl3*) oleh sitokrom P450 2E1 (CYP2E1). Triklorometil dengan oksigen akan membentuk radikal triklorometilperoxi yang dapat menyerang lipid membran endoplasmik retikulum dengan kecepatan yang melebihi radikal bebas triklorometil. Selanjutnya, triklorometilperoxi menyebabkan proksidasi lipid sehingga mengganggu homeostasis Ca2+, dan akhirnya menyebabkan kematian sel. Nekrosis yang terjadi karena CCl4 paling parah terjadi pada centrilobular sel hati yang banyak mengandung isozim CYP dalam konsentrasi tinggi yang bertanggung jawab mengaktifkan CCl4 (Hodgons, 2010). Mimosa pigra L. diketahui memiliki kemampuan sebagai hepetoprotektif pada tikus terinduksi paracetamol (Apriyanto, dkk., 2000). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah infusa Mimosa pigra L. dapat menekan peningkatan kadar ALT dan AST pada tikus yang terinduksi karbon tetraklorida. Dalam penelitian ini dilakukan pemberian infusa Mimosa pigra L. selama enam hari berturut-turut. Pemilihan waktu enam hari merupakan suatu

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 model perlakuan untuk memproteksi hati dari radikal bebas karbon tetraklorida. Waktu konversi enam hari pada tikus akan menjadi ± 21 minggu (Sengupta, 2011). J. Hipotesis Pemberian infusa herba Mimosa pigra L. selama enam hari memiliki efek hepatoprotektif terhadap induksi karbon tetraklorida dilihat dari kadar ALT dan AST.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian eksperimental murni dengan menggunakan rancangan penelitian acak lengkap pola searah. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Laboratorium Biokimia, dan Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. B. Variabel Penelitian a. Variabel utama 1) Variabel bebas: peringkat dosis infusa herba Mimosa pigra L. 2) Variabel tergantung: aktivitas serum ALT dan AST pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida. b. Variabel pengacau terkendali 1) Subyek uji: tikus putih jantan a) Galur Wistar b) Berat badan 130 – 200 gram c) Umur 2 – 3 bulan 2) Bahan uji: herba Mimosa pigra L. dari tanah lapang di depan Student Resident Sanata Dharma, Paingan, Krodan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, D. I. Yogyakarta. Herba Mimosa pigra L. merupakan bagian tumbuhan yang terdapat di atas tanah, tidak termasuk batang utama tetapi merupakan 23

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 percabangan muda berwarna hijau pada tanaman yang masih terdapat daun, bunga, dan polong. c. Variabel pengacau tak terkendali Keadaan patologis tikus jantan sebelum perlakuan. C. Definisi Operasional 1. Infusa herba Mimosa pigra L. adalah infusa yang diperoleh dengan mengekstraksi herba segar Mimosa pigra L. dengan berat 11,34 g yang direbus dalam 50 mL aquadest selama 1 menit pada suhu 0 . 2. Efek hepatoprotektif adalah kemampuan suatu senyawa dalam melindungi sel hati dari kerusakan yang diinduksi oleh karbon tetraklorida sebagai senyawa model. 3. Herba Mimosa pigra L. adalah bagian tumbuhan di atas tanah, tidak termasuk batang utama dan merupakan percabangan muda berwarna hijau pada tanaman yang masih terdapat daun, bunga, dan polong. 4. Dosis optimum adalah dosis yang mampu mengembalikan fungsi hati paling besar yang paling mendekati fungsi normal ditinjau dari aktivitas serum ALT dan AST. D. Bahan Penelitian 1. Hewan uji: tikus jantan galur wistar dengan umur 2 – 3 bulan, berat badan 130 – 200 g yang diperoleh dari Laboratorium Imono Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 2. Bahan uji: infusa herba Mimosa pigra L. yang diperoleh dari tanah lapang di depan Student Resident Sanata Dharma, Paingan, Krodan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, D. I. Yogyakarta pada pagi hari pukul 07.00 WIB. 3. Senyawa hepatotoksin adalah karbon tetraklorida Merck® berbentuk cair yang diperoleh dari Laboratorium Kimia Analisis Fakultas Farmasi Universitas Yogyakarta. 4. Kontrol negatif dan pelarut karbon tetraklorida: olive oil (minyak zaitun) Filippo Berio® berbentuk cair yang dibeli dari swalayan Indogrosir jalan Parangtritis Yoryakarta. 5. Kontrol positif: Silimarin berbentuk serbuk yang diperoleh dari Naturex France distributor PT. Megasetia Agung Kimia. 6. Pensuspensi Silimarin: CMC Na berbentuk serbuk yang diperoleh dari Laboratorium Farmakologi-Toksikologi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 7. Pelarut infusa herba Mimosa pigra L.: Aquadest yang diperoleh dari Laboratorium Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 8. Blanko untuk pengujian kadar GOT dan GPT: Aqua Bidestilata PT. Ikapharmindo Putramas Jakarta. 9. Pereaksi siap pakai untuk mengukur kadar ALT dan AST: reagen ALT dan AST DiaSys® yang dibeli dari Alfa Kimia Yogyakarta. a. Komposisi reagen ALT adalah: R1: TRIS pH 7,15 140 mmol/L L-Alanine 700 mmol/L

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 LDH (lactatedehydrogenase) 2300 U/L R2: 2-Oxoglutarate 85 mmol/L NADH 1 mmol/L Pyridoxal-5-phosphate FS: Good’s buffer pH ,6 100 mmol/L Pyridoxal-5-phosphate 13 mmol/L b. Komposisi reagen AST adalah: R1: TRIS pH 7,65 110 mmol/L L-Aspartate 320 mmol/L MDH(malatedehydrogenase) 800 U/L LDH(lactatedehydrogenase) 1200 U/L R2: 2-Oxoglutarate 65 mmol/L NADH 1mmol/L Pyridoxal-5-phosphate FS: Good’s buffer pH 9,6 100 mmol/L Pyridoxal-5-phosphate 13mmol/L E. Alat Penelitian Alat yang digunakan pada perlakuan hewan uji adalah jarum tuberkulin dan spuit injeksi, pada saat pengambilan darah digunakan pipa kapiler dan Eppendorff. Penetapan aktivitas GPT-serum dan GOT-serum digunakan alat gelas, tabung reaksi, mikropipet, sentrifuge, dan micro-Vitalab. F. Tata Cara Penelitian 1. Determinasi tanaman Determinasi herba Mimosa pigra L. dilakukan untuk memastikan validitas tanaman yang digunakan. Determinasi tanaman Mimosa pigra L.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 dilakukan di Laboratorium Farmakognosi dan Fitokimia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menggunakan buku karangan Backer (1963). 2. Pengumpulan bahan uji a. Hewan uji Tikus jantan yang digunakan berasal dari Laboratorium Imono Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan umur 2 – 3 bulan dan berat 130 – 200 g. b. Herba Mimosa pigra L. Tanaman yang digunakan adalah herba Mimosa pigra L. yang masih segar, berwarna hijau terdapat daun, bunga, dan polong. Diperoleh dari tanah lapang di depan Student Resident Sanata Dharma, Paingan, Krodan, Depok, Sleman, D. I. Yogyakarta 3. Pembuatan larutan karbon tetraklorida dalam olive oil Dengan perbandingan karbon tetraklorida dengan olive oil 1:1, keduanya diambil dengan seksama dan dicampur hingga homogen di dalam gelas kimia. 4. Pembuatan infusa herba Mimosa pigra L. Herba Mimosa pigra L. ditimbang sebanyak 11,34 g kemudian direndam dengan 50 mL aquadest dalam gelas stainless steel. Gelas direndam dalam panci berisi aquadest kemudian dipanaskan hingga suhu di gelas stainless steel mencapai 0 , lalu pada suhu tersebut dipertahankan hingga 15 menit dan diangkat. Air rebusan herba Mimosa pigra L. disaring menggunakan kertas saring ke labu ukur 50 mL kemudian di add

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 menggunakan aquadest panas hingga tanda batas pada labu ukur tersebut melalui herba yang tertahan di kertas saring, untuk mengganti aquadest yang hilang selama infundasi. 5. Penetapan dosis infusa herba Mimosa pigra L. Penetapan dosis berdasarkan bobot tertinggi tikus dan setengah dari volume pemberian maksimum tikus, yaitu 2,5 mL. Perhitungan dosis menggunakan rumus sebagai berikut D x BB (bobot tertinggi tikus) = Dosis x Bobot tertinggi tikus C (g/mL) x = Konsentrasi Ekstrak (g/mL) x V(mL) 2,5 mL Hasil dari perhitungan tersebut dibagi 1,5 untuk sebagai dosis II, kemudian dibagi 2,25 sebagai dosis I. 6. Pembuatan suspensi ekstrak Silimarin Terlebih dahulu membuat larutan CMC-Na 1% dengan cara melarutkan 1 g CM-Na yang telah ditimbang seksama ke dalam 100 mL aquadest pada labu ukur. Kemudian 50 mL CMC-Na 1% disuspensikan dengan serbuk ekstrak kering silimarin lalu dilakukan penggojogan agar serbuk ekstrak kering silimarin dapat tersuspensi dengan baik. 7. Uji pendahuluan a. Penetapan dosis hepatotoksin Dosis hepatotoksin ditetapkan berdasarkan Murugesan, Satishkumar, Jayabalan, Binupriya, Swaminathan, dan Yun (2009) sebesar 2 mL/KgBB karbon tetraklorida dosis tunggal injeksi intra peritonial, perbandingan karbon tetraklorida dengan olive oil 1:1. Dengan dosis

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 tersebut terjadi kenaikan ALT dan AST pada tikus jantan galur wistar namun tidak mengalami kematian. b. Penetapan waktu cuplikan darah Sebanyak 2 mL/KgBB karbon tetraklorida dipejankan pada tikus jantan pada 0, 24, 48, 72 jam kemudian dilihat waktu yang menyebabkan kenaikan kadar ALT dan AST yang paling tinggi atau 3 kali dari batas normal (Walker et al., 2009) maka waktu tersebut ditetapkan sebagai waktu pencuplikan dalam penelitian ini. c. Penetapan waktu pemberian infusa herba Mimosa pigra L. Pemberian infusa dilakukan 6 hari berturut-turut dengan jam yang sama disetiap harinya kemudian pada hari ke tujuh dilakukan pemejanan dengan karbon tetraklorida (Apriyanto, dkk., 2000). 8. Pengelompokan dan perlakuan hewan uji Sebanyak 35 ekor tikus jantan dibagi menjadi 7 kelompok, masingmasing 5 ekor tikus. Kelompok I diberikan CCl4 dosis 2 mL/kg BB secara intraperitoneal sebagai kontrol hepatotoksin. Kelompok II diberi olive oil selama 6 hari berturut-turut secara intraperitoneal sebagai kontrol negatif. Kelompok III diberi infusa herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/kg BB sebagai kontrol infusa selama enam hari berturut-turut secara per oral. Kelompok IV diberikan suspensi ekstrak silimarin dosis 25 mg/kg BB secara per oral selama 6 hari berturut-turut kemudian pada hari ke-7 diberikan 2 mL/kgBB CCl4 dalam olive oil dengan perbandingan 1:1 secara intra peritonial. Setelah 24 jam

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 perlakuan, tikus kelompok I-IV diambil darahnya melalui vena orbitalis untuk mendapatkan serumnya kemudian diukur aktivitas serum ALT dan AST. Tikus kelompok V diberi infusa herba Mimosa pigra L. peringkat dosis terendah, yaitu 1,260 g/KgBB secara per oral. Tikus kelompok VI diberi infusa herba Mimosa pigra L. peringkat dosis kedua, yaitu 1,890 g/KgBB secara per oral. Tikus kelompok VII diberi infusa herba Mimosa pigra L. peringkat dosis tertinggi, yaitu 2,835 g/KgBB secara per oral. Tikus kelompok V, VI, dan VII diberikan infusa herba Mimosa pigra L. selama enam hari berturut-turut kemudian hari ke-7 dipejan dengan 2 mL/KgBB karbon tetra klorida dalam olive oil dengan perbandingan 1:1 secara intraperitoneal. Pada hari ke-8 diambil darahnya melalui vena orbitalis untuk mendapatkan serumnya. Masing-masing cuplikan ditentukan aktivitas ALT dan AST serumnya secara spektrofotometer. 9. Pembuatan serum Tikus jantan galur Wistar diambil darahnya melalui vena orbitalis mata kemudian darah ditampung ke dalam Eppendorff melalui dinding untuk menghindari lisis, kemudian disentrifuge selama 10 menit dengan kecepatan 5000 rpm dan diambil supernatannya (serum). 10. Penetapan aktifitas ALT dan AST Pengukuran ALT dilakukan dengan mengambil serum sebanyak 100µL, ditambahkan reagen I (TRIS pH 7.65, L-Alanin, dan Laktat Dehidrogenase) sebanyak 1000 µL kemudian ditambah reagen II (2-oksoglutarat dan NADH) sebanyak 250 µL, divortex dalam tabung

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 reaksi. Diamkan selama Operating Time (OT), yaitu 1 menit kemudian diukur aktifitas serum ALT. Pengukuran AST dilakukan dengan mengambil serum sebanyak 100 µL, ditambahkan reagen I (TRIS pH 7.65, L-Alanin, dan Laktat Dehidrogenase) sebanyak 1000 µL kemudian ditambah reagen II (2-oksoglutarat dan NADH) sebanyak 250 µL, divortex dalam tabung reaksi. Diamkan selama OT, yaitu 1 menit kemudian diukur aktifitas serum AST. Pengukuran kadar ALT dan AST dilakukan di Laboratorium Biokimia dan Fisiologi Manusia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma menggunakan Mikro Vitalab-2000 pada panjang gelombang 340 nm, dan dinyatakan dengan satuan U/L. Perhitungan persen efek hepatoprotektif terhadap hepatotoksin karbon tetraklorida diperoleh dengan rumus: [ ] [ ] (Wakchaure, Jain, Singhai, dan Somani, 2013). 11. Analisis hasil Data aktivitas ALT dan AST dianalisis secara statistik, untuk melihat distribusi data dan menganalisis variansi apakah homogen atau tidak digunakan metode Kolmogorov-Smirnov. Apabila data normal maka digunakan analisis pola searah, yaitu oneway ANOVA dengan taraf kepercayaan 95%. Setelah itu, untuk melihat perbedaan antar kelompok digunakan uji Scheffe. Jika diperoleh hasil p<0,05, artinya terdapat kelompok

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 yang berbeda bermakna, sedangkan jika diperoleh hasil p>0,05 artinya terdapat kelompok yang berbeda tidak bermakna. Apabila distribusi data tidak normal digunakan analisis data non paramatrik Kruskal Wallis H. yang berfungsi untuk melihat perbedaan aktivitas ALT dan AST serum antara satu kelompok dengan kelompok yang lain dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney untuk melihat perbedaan pada tiap kelompok. Perbedaan aktivitas serum ALT dan AST dinyatakan bermakna apabila p<0,05.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek hepatoprotektif infusa herba Mimosa pigra L. pada tikus jantan yang terinduksi suatu senyawa model yaitu karbon tetraklorida. Penelitian yang dilakukan merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya mengenai infusa herba Mimosa pigra L. dengan senyawa penginduksi paracetamol. Pada penelitian ini akan diukur secara kuantitatif aktivitas serum ALT dan AST sebagai indikator kerusakan hati yang terjadi pada tikus jantan. A. Penyiapan Bahan 1. Hasil determinasi tanaman Untuk menjamin kebenaran tanaman yang digunakan untuk penelitian mengenai efek hepatoprotektif infusa herba Mimosa pigra L., maka perlu dilakukan determinasi (Lampiran 3). Herba Mimosa pigra L. yang diperoleh dari tanah lapang di depan Student Resident Sanata Dharma, Paingan, Krodan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, D. I. Yogyakarta kemudian dilakukan determinasi sampai ke tingkat spesies di Laboratorium Fakmakognosi Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Bagian-bagian tanaman yang dideterminasi meliputi batang, daun, bunga, dan polong menggunakan buku karangan Backer (1963). Hasil determinasi tersebut menunjukkan bahwa tanaman yang digunakan untuk penelitian benar Mimosa pigra L. 33

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 2. Pembuatan infusa herba Mimosa pigra L. Dalam penelitian ini, pembuatan infusa herba Mimosa pigra L. menggunakan metode infundasi. Pemilihan metode infundasi dikarenakan metode ini secara empiris sama seperti yang dilakukan oleh masyarakat yaitu merebus tanaman segar, sehingga mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Xu, Chen, Xhang, Jiang, dan Ye (2008) menunjukkan bahwa senyawa fenolik dan flavonoid dapat terekstrak dengan baik menggunakan pelarut air panas, yaitu menggunakan metode infundasi. Selain itu pada penelitian Apriyanto, dkk. (2001) juga menggunakan metode infusa. Proses infundasi yang pertama dilakukan adalah menimbang herba segar Mimosa pigra L. sebanyak 11,34 g kemudian direndam dengan 50 mL aquadest pada gelas stainless steel, pastikan bahwa seluruh herba terendam oleh aquadest agar seluruh metabolit sekunder dapat terekstrak dengan baik. Gelas stainless steel digunakan agar kandungan flavonoid pada herba Mimosa pigra L. tidak rusak apabila menggunakan gelas dari bahan aluminium. Bahan herba Mimosa pigra L. diambil setiap pagi hari jam 07.00 WIB. Tanaman segar juga memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang sudah melewati pengeringan karena pada fase pengeringan banyak sekali mendegradasi kandungan senyawa kimia yang terkandung di dalam tanaman tersebut. Kemudian tanaman Mimosa pigra L. yang digunakan adalah seluruh tanaman atau herba agar kandungan kimia yang didapat dari tanaman Mimosa pigra L. banyak. aktu ang dibutuhkan selama proses infundasi adalah 1 terhitung dari suhu mencapai 0 menit, . Setelah 15 menit, panci infusa diangkat dari

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 penangas kemudian dilakukan penyaringan menggunakan corong dan kertas saring ke dalam labu ukur 50 mL. Kemudian untuk mengganti pelarut yang hilang selama pemanasan maka ditambahkan aquadest panas melewati ampas herba Mimosa pigra L. hingga batas tanda. Penambahan aquadest harus melewati ampas herba Mimosa pigra L. yang tertahan di kertas saring bertujuan agar dapat mengekstrak herba yang masih tersisa. Metode infundasi juga memiliki kelemahan yaitu tidak dapat digunakan jika sudah melebihi waktu 24 jam. Hal ini disebabkan oleh kandungan air yang tinggi pada infusa sehingga memungkinkan mikroorganisme terutama kapang dan khamir untuk berkembang. Pada penelitian ini pembuatan infusa dilakukan setiap hari sebelum melakukan pemejanan. B. Uji Pendahuluan 1. Penetapan dosis hepatotoksin Pada penelitian Apriyanto,dkk. (2000) hepatotoksin yang digunakan adalah paracetamol yang dapat mengakibatkan nekrosis hati, ditandai dengan kenaikan serum ALT dan AST sebanyak 10 – 20 kali dari normal. Senyawa model atau hepatotoksin yang digunakan adalah karbon tetraklorida. Karbon tetraklorida dapat menyebabkan perlemakan hati yang ditandai dengan peningkatan serum ALT dan AST sebanyak tiga atau empat kali dari normal (Pachos dan Paletas, 2009). Dalam penelitian ini, dosis hepatotoksin mengacu penelitian yang dilakukan oleh Yadav, et al. (2008), yaitu karbon tetraklorida 2 mL/KgBB dalam olive oil dengan perbandingan 1:1 secara intraperitonial.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Pemberian secara intraperitoneal dimaksudkan agar karbon tetraklorida dapat bereaksi lebih cepat jika dibandingkan dengan pemberian per oral, karena pada pemberian per oral dimungkinkan senyawa tersebut rusak oleh enzim pencernaan. 2. Penetapan dosis infusa Mimosa pigra L. Pada penelitian ini dosis infusa herba Mimosa pigra L. yang digunakan mengacu penelitian Apriyanto, dkk. (2000). Namun pada penelitian Apriyanto, dkk. (2000) menggunakan 4 peringkat dosis dengan dosis terendah sebesar 0,84 g/KgBB, dosis tersebut tidak digunakan dalam penelitian ini karena hasil penelitian dari dosis 0,84 g/KgBB tidak lebih baik dari dosis 1,26 g/KgBB sehingga hanya digunakan 3 peringkat dosis, yaitu 1,26 g/KgBB, 1,89 g/KgBB, dan 2,835g/KgBB. 3. Penentuan dosis kontrol positif Silimarin Tujuan penggunaan kontrol positif dalam penelitian ini adalah untuk membandingkan infusa herba Mimosa pigra L. sebagai tanaman yang diyakini memiliki kemampuan hepatoprotektif dengan suspensi ekstrak Silimarin yang sudah terbukti dapat menyembuhkan penyakit pada hati. Kontrol positif yang digunakan adalah ekstrak Silimarin dengan kemurnian 80% produksi Naturex (Lampiran 5). Silimarin terbukti memiliki kemampuan hepatoprotektif dari beberapa penelitian, selain itu juga mengandung senyawa flavonoid, isosilibin, dan silichristin (Kumar, et al., 2011). Silimarin dibuat dengan cara terlebih dahulu membuat CMC-Na 1% untuk mendispersikan ekstrak Silimarin tersebut, kemudian Silimarin dengan konsentrasi 2 mg/mL ditimbang dan didispersikan ke

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 dalamnya. Digunakan CMC-Na karena ekstrak Silimarin sulit larut oleh air karena kelarutannya dalam air hanya 0,04 mg/mL (Javed, Kohli, dan Ali, 2011). 4. Penentuan waktu pencuplikan darah Untuk menentukan waktu pencuplikan dilakukan orientasi dengan memberikan hepatotoksin karbon tetraklorida dosis 2 mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam, pada masing-masing waktu tersebut tikus diambil darahnya lalu diukur kadar serum ALT dan AST. Sebelum dilakukan pemejanan karbon tetraklorida, tikus diambil darahnya untuk melihat kadar serum ALT dan AST pada jam ke-0 atau keadaan normal, sehingga daapt diketahui peningkatan kadar serum ALT dan AST setelah pemejanan karbon tetraklorida. Tujuan penentuan waktu pencuplikan darah adalah untuk mengetahui waktu terjadinya peningkatan kadar serum ALT dan AST yang paling tinggi sebagai indikator kerusakan hati paling parah. Kemudian waktu tersebut digunakan sebgai acuan untuk pencuplikan darah tikus dalam penelitian ini. Berikut adalah hasil orientasi untuk kadar serum ALT. Tabel I. Kadar serum ALT setelah dilakukan pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 2mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam Selang Waktu (jam) 0 24 48 Purata Kadar Serum ALT ± SE (U/L) 43,8 ± 1,4 141,6 ± 12,4 56,0 ± 8,3 72 40,6 ± 5,1 Keterangan: SE=Standard Error

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Gambar 4. Diagram batang rata-rata kadar serum ALT setelah dilakukan pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 2 mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam Berdasarkan pada tabel I dan gambar 4, kadar serum ALT pada jam ke0, 48 dan 72 hampir sama, artinya kadar serum ALT pada jam tersebut normal, hati dengan mekanisme fisiologinya mampu menggantikan sel-sel hati yang rusak akibat karbon tetraklorida dan metabolitnya sudah diekskresikan. Kadar serum ALT pada jam ke-24 (141,6 ± 12,35 U/l) mengalami peningkatan sebesar 3 – 4 kali dibandingkan dengan jam ke-0. Hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar serum ALT antara jam ke-24 dengan jam ke-0, 48, dan 72 (p=0.009). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian hepatotoksin karbon tetraklorida jam ke-24 terbukti menyebabkan kerusakan hati paling parah yang sesuai dengan penelitian oleh Thapa dan Walia (2007) bahwa kerusakan hati yang ditandai peningkatan aktivitas serum ALT dan AST sebanyak

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 tiga kali dari normal adalah perlemakan hati. Kerusakan hati juga dapat diinduksi menggunakan senyawa model lain seperti Galaktosamin. Galaktosamin memiliki mekanisme seperti virus hepatitis dan mengakibatkan nekrosis pada hati. Galaktosamin akan membentuk metabolit galaktosamin-1-pospat yang akan menghambat pembentukan polisakarida, glikogen, dan glukoronat ( Keppler dan Decker, 1969). Berikut adalah hasil uji statistik kadar serum ALT pada waktu pencuplikan jam ke-24, 48, dan 72 (Tabel 2). Tabel II. Perbedaan peningkatan kadar serum ALT setelah pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 2 mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam Jam 0 Jam 0 Jam 24 Jam 48 Jam 72 BB BTB BTB BB BB Jam 24 BB Jam 48 BTB BB Jam 72 BTB BB BTB BTB Keterangan: BB= Berbeda bermakna (p<0.05); BTB= Berbeda tidak bermakna (p>0,05). Pada kadar serum AST juga dilakukan orientasi, berikut adalah hasil orientasinya. Tabel III. Kadar serum AST setelah dilakukan pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 2mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam Selang Waktu (jam) Purata Kadar Serum AST ± SE (U/L) 0 116,2 ± 2,2 24 489,8 ± 41,2 48 179,0 ± 22,7 72 95,4 ± 3,8 Keterangan: SE=Standard Error

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Gambar 5. Diagram batang rata-rata kadar serum AST setelah dilakukan pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 2mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam. Berdasarkan pada tabel III dan gambar 5, kadar serum AST pada jam ke24 (489,8 ± 41,2 U/l) mengalami peningkatan sebesar 3 – 4 kali dibandingkan dengan jam ke-0. Dari hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar serum AST antara jam ke-24 dengan jam ke-0 (p=0,009), 48 (p=0,009), dan 72 (p=0.009). Hal ini sesuai dengan Thapa dan Walia (2007) bahwa kerusakan hati yang ditandai peningkatan aktivitas serum ALT dan AST sebanyak tiga kali dari normal adalah perlemakan hati. Namun juga terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar serum AST antara jam ke-0 dengan jam ke-48 (p=0,016) dan jam ke-72 (p=0,009), artinya aktivitas serum AST pada jam ke-48 sudah turun namun belum dapat turun menjadi normal. Hal ini disebabkan oleh aktivitas serum AST tidak hanya ada di organ hati melainkan

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 terdapat juga di organ lainnya seperti otot rangka dan jantung (Fancher, Kamboj, dan Onate, 2007). Stres oksidatif tidak hanya terjadi pada hati namun pada otot rangka dan jantung. Selain itu, organ yang memiliki kemampuan untuk melakukan regenerasi sel hanya hati. Pada uji statistik jam ke-72 kadar serum AST juga memberikan hasil yang berbeda bermakna dengan jam ke-0, namun sebenarnya kadar serum AST sudah turun ke batas normal dengan kata lain peningkatan paling besar hanya pada jam ke-24. Digunakannya data kadar serum AST meskipun aktivitasnya tidak secara spesifik di hati ini bertujuan untuk digunakan sebagai data pendukung terjadinya kerusakan hati. Tabel IV. Perbedaan peningkatan kadar serum AST setelah pemberian karbon tetraklorida dengan dosis 2mL/KgBB pada rentang waktu 24, 48, dan 72 jam Jam 0 Jam 0 Jam 24 Jam 48 Jam 72 BB BB BB Jam 24 BB Jam 48 BB BB BB BB Jam 72 BB BB BB BB Keterangan: BB= Berbeda bermakna (p<0.05); BTB= Berbeda tidak bermakna (p>0,05). Berdasarkan hasil di atas, waktu terjadinya peningkatan kadar serum ALT dan AST paling tinggi adalah pada jam ke-24 jika dibandingkan dengan jam ke-0, 48, dan 72. Waktu pencuplikan darah yang dipilih untuk penelitian uji efek hepatoprotektif infusa herba Mimosa pigra L. setelah dilakukan pemejanan karbon tetraklorida dosis 2 mL/KgBB adalah jam ke-24.

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 C. Efek Hepatoprotektif Infusa Herba Mimosa pigra L. terhadap Tikus Jantan Kelompok perlakuan pada penelitian ini akan diberikan infusa herba Mimosa pigra L. dengan 3 peringkat dosis yaitu dosis 2,835, 1,89, dan 1,26 g/KgBB secara per oral selama 6 hari berturut-turut pada jam yang sama. Setelah itu pada hari ke-7 diberikan hepatotoksin karbon tetraklorida secara intraperitoneal, kemudian setelah 24 jam hewan uji diambil darahnya dan diukur kadar serum ALT dan AST. Waktu pencuplikan darah 24 jam didasarkan pada orientasi yang sudah dilakukan sebelumnya. Tabel V. Pengaruh perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. dilihat dari aktivitas serum ALT dan AST pada berbagai peringkat dosis terhadap hepatotoksin karbon tetraklorida Kelompok Rerata Rerata % % Aktivitas Aktivitas Hepatoprotektif Hepatoprotektif serum ALT serum AST ALT AST (U/l) (U/l) I 141,6 ± 12,4 489,8 ± 41,2 II 41,4 ± 3,0 113,0 ± 4,6 III 75,6 ± 1,2 104,2 ± 1,99 65,86 % 102,33% IV 103,2 ± 12,0 203,6 ± 38,2 38,32 % 75,95% V 112,4 ± 11,05 380,0 ± 37,76 29,14% 29,14% VI 135,2 ± 11,3 427,0 ± 11,44 6,38 % 16,67% VII 60,6 ± 2,92 97,0 ± 6,79 80,84 % 104,25% Keterangan: Kelompok I : Kontrol Hepatotoksin (Karbon tetraklorida) 2 mL/KgBB Kelompok II : Kontrol Negatif (olive oil) 2 mL/KgBB Kelompok III : Kontrol Infusa Herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB Kelompok IV :Kontrol Positif Silimarin 25 mg/KgBB + CCl4 2 mL/KgBB Kelompok V :Perlakuan Infusa Herba Mimosa pigra L. dosis 1,26 g/KgBB + CCl4 2 mL/KgBB Kelompok VI :Perlakuan Infusa Herba Mimosa pigra L. dosis 1,89 g/KgBB + CCl4 2 mL/KgBB Kelompik VII :Perlakuan Infusa Herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB + CCl4 2 mL/KgBB

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Gambar 6. Diagram batang aktivitas serum ALT tikus jantan pada perlakuan berbagai peringkat dosis infusa herba Mimosa pigra L. Tabel VI. Hasil uji statistik aktivitas serum ALT tikus jantan pada perlakuan berbagai peringkat dosis infusa herba Mimosa pigra L Kelompok I I II BB III BB IV BB V BTB VI BTB VII BB Keterangan Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V II BB BB BB BB BB BB III BB BB BTB BB BB BB IV BB BB BTB BTB BTB BB V BTB BB BB BTB BTB BB VI BTB BB BB BTB BTB VII BB BB BB BB BB BB BB : BB= Berbeda bermakna; BTB = Berbeda tidak bermakna : Kontrol Hepatotoksin (Karbon tetraklorida) 2 mL/KgBB : Kontrol Negatif (olive oil) 2 mL/KgBB : Kontrol Infusa Herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB :Kontrol Positif Silimarin 25 mg/KgBB + CCl4 2 mL/KgBB :Perlakuan Infusa Herba Mimosa pigra L. dosis 1,26 g/KgBB + CCl4 2 mL/KgBB Kelompok VI :Perlakuan Infusa Herba Mimosa pigra L. dosis 1,89 g/KgBB + CCl4 2 mL/KgBB Kelompik VII :Perlakuan Infusa Herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB + CCl4 2 mL/KgBB

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 Gambar 7. Diagram batang aktivitas serum AST tikus jantan pada perlakuan berbagai peringkat dosis infusa herba Mimosa pigra L. Tabel VII. Hasil uji statistik aktivitas serum AST tikus jantan pada perlakuan berbagai peringkat dosis infusa herba Mimosa pigra L. Kelompok I II III IV V VI VII Keterangan Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V I II BB III BB BTB BB BB BB BTB BTB BB BTB BTB BB BB BB BTB BB BB BTB IV BB BTB BB BTB BB BB V BTB BB BB BTB BTB BB VI BTB BB BB BB VII BB BTB BTB BB BTB BB BB BB : BB= Berbeda bermakna; BTB = Berbeda tidak bermakna : Kontrol Hepatotoksin (Karbon tetraklorida) 2 mL/KgBB : Kontrol Negatif (olive oil) 2 mL/KgBB : Perlakuan Infusa Herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB :Kontrol Positif Silimarin 25 mg/KgBB + CCl4 2 mL/KgBB :Perlakuan Infusa Herba Mimosa pigra L. dosis 1,26 g/KgBB + CCl4 2 mL/KgBB Kelompok VI :Perlakuan Infusa Herba Mimosa pigra L. dosis 1,89 g/KgBB + CCl4 2 mL/KgBB Kelompik VII :Perlakuan Infusa Herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB + CCl4 2 mL/KgBB

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 1. Kontrol negatif Penggunaan kontrol negatif memiliki tujuan untuk melihat apakah pelarut dari hepatotoksin karbon tetraklorida dapat mempengaruhi peningkatan kadar serum ALT dan AST jam ke-24 tikus jantan pada penelitian ini. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa waktu pencuplikan darah yaitu jam ke24. Kontrol negatif yang digunakan adalah olive oil dengan dosis seperti dosis hepatotoksin yaitu 2 mL/KgBB, pemberian dilakukan secara intraperitoneal. Kadar serum ALT yang diperoleh pada jam ke-24 adalah 41,40 ± 3,0 U/l, kemudian dengan uji statistik menggunakan uji T berpasangan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang tidak bermakna kadar serum ALT pada jam ke-24 dengan jam ke-0 (p=0,312) (Tabel VIII). Kadar serum AST pada jam ke-24 diperoleh hasil 113 ± 4,6 U/l, uji statistik menggunakan uji T berpasangan juga menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna dengan jam ke-0 (p=0.096) (tabel IX). Hasil uji statistik kadar serum ALT dan AST antara jam ke-24 dengan jam ke-0 dapat dilihat pada Tabel VIII dan Tabel IX. Tabel VIII. Aktivitas kadar serum ALT pada jam ke-0 dibandingkan dengan jam ke-24 Jam ke-0 Jam ke-0 Jam ke-24 Jam ke-24 BTB BTB Keterangan: BTB = Berbeda tidak bermakna Tabel IX. Aktivitas kadar serum AST pada jam ke-0 dibandingkan dengan jam ke-24 Jam ke-0 Jam ke-0 Jam ke-24 BTB Jam ke-24 BTB

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Berdasarkan hasil tersebut, kadar serum ALT dan AST setelah diberikan olive oil 2 mL/KgBB terdapat perbedaan yang tidak bermakna dengan sebelum dilakukan pemejanan. Hal ini dapat dikatakan bahwa pelarut hepatotoksin karbon tetraklorida yaitu olive oil tidak mempengaruhi peningkatan kadar serum ALT dan AST pada tikus jantan galur Wistar pada penelitian ini. 2. Kontrol hepatotoksin Kelompok kontrol hepatotoksin merupakan kelompok tikus jantan yang dipejan dengan hepatotoksin karbon tetraklorida dosis 2 mL/KgBB secara intraperitoneal. Tujuan dilakukannya kontrol hepatotoksin adalah untuk melihat sejauh mana kerusakan hati akibat pemejanan hepatotoksin karbon tetraklorida dosis 2 mL/KgBB yang dikaji dari peningkatan kadar serum ALT dan AST pada jam ke-24. Hasil pengukuran pada jam ke-24 menunjukkan kadar serum ALT sebesar 141,6 ± 12,4 U/l dengan peningkatan 3 kali dibanding kontrol negatif olive oil (41,4 ± 3,0 U/l) sedangkan kadar serum AST sebesar 489,8 ± 41,2 U/l dengan peningkatan lebih dari empat kali dibanding kontrol negatif olive oil. Berdasarkan peningkatan kadar serum ALT dan AST sebanyak 3 kali dari normal, dapat disimpulkan bahwa pada jam ke-24, tikus putih jantan yang dipejan oleh hepatotoksin karbon tetraklorida 2 mL/KgBB secara intraperitoneal mengalami steatosis/perlemakan hati. Mengacu pada penelitian Thapa dan Walia (2007) mengenai salah satu kerusakan hati ditandai dengan peningkatan kadar serum ALT dan AST sebanyak tiga kali dari normal adalah perlemakan hati. Hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa peningkatan kadar serum ALT dan AST kontrol hepatotoksin berbeda bermakna dengan peningkatan kadar serum ALT

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 dan AST kontrol negatif (p=0,009). Selanjutnya, peningkatan kadar serum ALT dan AST akibat hepatotoksin karbon tetraklorida 2 mL/KgBB secara intraperitoneal digunakan untuk menghitung seberapa besar infusa herba Mimosa pigra L. pada penelitian ini dapat melindungi hati dari kerusakan hati akut yaitu perlemakan hati. 3. Kontrol infusa Mimosa pigra L. Dosis infusa herba Mimosa pigra L. yang digunakan sebagai kontrol infusa adalah 2,835 g/KgBB secara per oral, dosis tersebut adalah peringkat dosis tertinggi pada penelitian ini. Penggunaan dosis tertinggi bertujuan agar dosis tersebut dapat mewakili dosis I dan II, apabila pada pemberian dosis III tidak menyebabkan peningkatan kadar serum ALT dan AST, maka dapat dipastikan bahwa pada pemberian dosis I dan II juga tidak mengakibatkan peningkatan kadar serum ALT dan AST. Perlakuan kontrol infusa Mimosa pigra L. dilakukan untuk melihat apakah infusa yang digunakan dalam penelitian ini memberikan pengaruh terhadap peningkatan kadar serum ALT dan AST tikus jantan pada jam ke-24. Kadar serum ALT kontrol infusa Mimosa pigra L. adalah 75,6 ± 1,20 U/l. Jika dibandingkan dengan kontrol negatif olive oil jam ke-24 menggunakan uji statistik diperoleh hasil berbeda bermakna (p=0,009), hasil tersebut menunjukkan bahwa infusa herba Mimosa pigra L. dapat meningkatkan kadar serum ALT sebanyak 2 kali dari normal. Hal ini dapat disebabkan oleh senyawa kimia yang terkandung dalam herba Mimosa pigra L., yaitu mimosin dari golongan alkaloid yang bersifat toksik dan dapat menghambat pembelahan sel terutama pada fase S yaitu fase sintesis DNA sehingga menyebabkan kerusakan pada sel hati akan lebih lama

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 (Hughes dan Cook, 1996). Untuk penelitian selanjutnya dapat digunakan ekstrak etanol atau metanol agar senyawa kimia yang tersari lebih spesifik, atau dengan kata lain mengandung lebih banyak flavonoid karena flavonoid dalam herba Mimosa pigra L. merupakan senyawa kimia yang diyakini memiliki kemampuan sebagai hepatoprotektif sehingga dosis yang diberikan dapat lebih kecil untuk mencapai efek yang sama. Aktivitas serum AST pada jam ke-24 juga dilakukan pengukuran dan diperoleh hasil 104,2 ± 1,99 U/l. Hasil uji statistik pada aktivitas serum AST kontrol infusa herba Mimosa pigra L. dengan kontrol minyak adalah berbeda tidak bermakna (p=0,094). Berdasarkan hasil yang diperoleh diatas, dapat disimpulkan bahwa infusa herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB dapat meningkatkan kadar serum ALT namun tidak meningkatkan kadar AST tikus jantan. 4. Efek hepatoprotektor berdasarkan perhitungan % hepatoprotektif Untuk mengetahui % hepatoprotektif infusa herba Mimosa pigra L. dari penelitian ini terlebih dahulu dilakukan perhitungan menggunakan rumus. Pada penelitian ini seharusnya CMC-Na 1% dosis 25 mg/KgBB digunakan sebagai kontrol positif pemberian Silimarin 25 mg/KgBB, sedangkan aquadest 2,5 mL (volume pemberian maksimal) sebagai kontrol negatif perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. Namun CMC-Na 1% dan aquadest digantikan dengan olive oile 2 mL/KgBB, karena pada penelitan Surendran, Eswaran, Vijayakumar, dan Rao, (2011) CMC-Na 1% tidak menyebabkan peningkatan aktivitas serum ALT dan AST pada hewan uji. Pada penelitian Sujono dan Widiatmoko (2012) menyatakan bahwa aquadest juga tidak meningkatkan

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 aktivitas serum ALT dan AST. Dari hasil uji statistik kadar serum ALT dan AST pada tikus yang diberikan olive oil dengan kadar serum ALTdan AST pada tikus jam ke-0 memberikan perbedaan yang tidak bermakna sehingga dapat digunakan dalam perhitungan % hepatoprotektif. Kontrol positif pada penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan suspensi ekstrak Silimarin 25 mg/KgBB dalam CMC-Na 1% selama 6 hari berturut-turut lalu pada hari ke-7 diberikan hepatotoksin karbon tetraklorida 2 mL/KgBB, setelah 24 jam diambil darahnya dan diukur kadar serum ALT yang diperoleh sebesar 103,2 ± 12,0 U/l, serum ASTnya sebesar 203,6 ± 38,2 U/l. Hasil uji statistik jika dibandingkan dengan kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida, aktivitas serum ALT (p=0,047) dan AST (p=0,009) menunjukkan perbedaan yang bermakna, kemudian jika dibandingkan dengan kontrol minyak olive oil menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar serum ALT (p=0,09), namun terdapat perbedaan yang tidak bermakna pada kadar AST (0,465). Dengan hasil yang diperoleh tersebut dapat disimpulkan bahwa Silimarin memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar ALT dengan % hepatoprotektif 38,2 % dan tidak dapat menurunkan kadar AST hingga batas normal. Dalam penelitian ini kontrol positif Silimarin merupakan kontrol potensi di pasaran, sehingga dapat diketahui apakah infusa herba Mimosa pigra L. memiliki kemampuan yang lebih buruk, lebih baik, atapun sama dengan Silimarin yang sudah dikonsumsi oleh masyarakat luas. Kelompok V merupakan kelompok hewan uji yang diberikan perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,26 g/KgBB secara per oral selama 6 hari

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 berturut-turut lalu pada hari ke-7 diberikan hepatotoksin karbon tetraklorida 2 mL/KgBB secara intraperitonial, setelah 24 jam dilakukan pengukuran kadar ALT dan AST. Diperoleh kadar ALT sebesar 112,4 ± 11,05 U/l dengan % hepatoprotektif sebesar 29,14%, jika dibandingkan dengan kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida berdasarkan uji statistik menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p=0,076), kemudian dengan kontrol minyak olive oil memberikan hasil berbeda bermakna (p=0,009), sehingga berdasarkan uji statistik infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,26 g/KgBB tidak dapat menurunkan kadar serum ALT, namun ketika dibandingkan dengan kontrol positif Silimarin memberikan hasil berbeda tidak bermakna (p=0,675) atau dengan kata lain infusa herba Mimosa pigra L. memiliki efek hepatoprotektif yang sama dengan suspensi ekstrak Silimarin 25 mg/KgBB. Hasil pengukuran kadar AST sebesar 380 ± 37,76 U/l dengan % hepatoprotektif 29,14 %, kemudian dilakukan uji statistik dan dibandingkan dengan kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida memberikan hasil berbeda tidak bermakna (p=0,117), lalu dengan kontrol minyak olive oil memberikan hasil berbeda bermakna (p=0,029). Berdasarkan uji statistik infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,26 g/KgBB tidak dapat menurunkan kadar serum AST, namun ketika dibandingkan dengan kontrol positif Silimarin memberikan hasil berbeda tidak bermakna (p=0,076) atau dengan kata lain infusa herba Mimosa pigra L. memiliki efek hepatoprotektif yang sama dengan suspensi ekstrak Silimarin 25 mg/KgBB. Dapat disimpulkan bahwa infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,26 g/KgBB tidak dapat menurunkan kadar ALT dan AST tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Kelompok VI pada penelitian ini merupakan kelompok tikus yang diberikan perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,89 g/KgBB secara per oral selama 6 hari berturut-turut lalu pada hari ke-7 diberikan hepatotoksin karbon tetraklorida 2 mL/KgBB secara intraperitonial, setelah 24 jam dilakukan pengukuran kadar ALT dan AST. Diproleh kadar ALT sebesar 135,2 ± 11,3 U/l dengan % hepatoprotektif 6,38%, ketika dibandingkan dengan kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida menggunakan uji statistik diperoleh hasil terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p=0,465), kemudian jika dibandingkan dengan kontrol minyak olive oil memberikan hasil berbeda bermakna (p=0,009). Artinya infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,89 g/KgBB tidak dapat menurunkan kadar serum ALT. Selanjutnya, kadar serum ALT infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,89 g/KgBB dibandingkan dengan kontrol positif Silimarin 25 mg/KgBB memberikan hasil berbeda tidak bermakna (p=0,076), infusa herba Mimosa pirga L. memiliki kemampuan yang sama dengan suspensi ekstrak Silimarin 25 mg/KgBB. Hasil pengukuran kadar AST yang diperoleh yaitu 427 ± 11,44 U/l dengan % hepatoprotektif 16,67%. Hasil uji statistik kadar serum AST perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,89 g/KgBB dibandingkan dengan kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida 2 mL/KgB memberikan hasil berbeda tidak bermakna (p=0,175), dan ketika dibandingkan dengan kontrol minyak olive oil menunjukkan perbedaan yang bermakna (p=0,009) sehingga infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,89 g/KgBB tidak dapat menurun kadar AST pada tikus jantan galur Wistar. Hasil uji statistik ketika infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,89 g/KgBB dibandingkan dengan kontrol positif Silimarin 25 mg/KgBB memberikan

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 hasil berbeda bermakna (p=0,009), hal ini menunjukkan bahwa infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,89 g/KgBB tidak memiliki efek hepatoprotektif yang sama dengan suspensi ekstrak Silimarin. Dapat disimpulkan bahwa infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,89 g/KgBB memiliki kemampuan menurunkan kadar ALT dan AST pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida. Kelompok VII merupakan kelompok hewan uji pada penelitian ini yang diberikan peringkat dosis paling tinggi yaitu 2,835 g/KgBB selama 6 hari selama 6 hari berturut-turut lalu pada hari ke-7 diberikan hepatotoksin karbon tetraklorida 2 mL/KgBB secara intraperitonial, setelah 24 jam dilakukan pengukuran kadar ALT dan AST. Diperoleh kadar ALT sebesar 60,6 ± 2,92 U/l dengan % hepatoprotektif 80,84 %. Uji statistik dilakukan untuk membandingkan dengan kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida 2 mL/KgBB, hasilnya terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,009) dengan kata lain infusa herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB dapat menurunkan kadar ALT. Jika dibandingkan dengan kontrol minyak olive oil menunjukkan hasil yang berbeda bermakna juga (p=0,009), artinya infusa herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB dapat menurunkan kadar ALT namun belum mencapai batas normal. Kemudian dibandingkan juga dengan kontrol positif Silimarin 25 mg/KgBB memberikan hasil berbeda bermakna (p=0,012), maka dapat disimpulkan bahwa infusa herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB memiliki efek hepatoprotektif yang lebih besar dibandingkan dengan suspensi ekstrak Silimarin 25 mg/KgBB, dilihat dari perhitungan % hepatoprotektif infusa herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB memiliki persentase lebih tinggi daripada kontrol positif Silimarin 25 mg/KgBB.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Aktivitas serum AST juga dilakukan pengukuran, hasilnya sebesar 97 ± 6,79 U/l dengan % hepatoprotektif 104,25%. Berdasarkan hasil uji statistik dibandingkan dengan kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida 2 mL/KgBB diperoleh hasil berbeda bermakna (p=0,009) sedangkan ketika dibandingkan dengan kontrol minyak olive oil diperoleh hasil berbeda tidak bermakna (p=0,075), maka dapat dikatakan bahwa infusa herba Mimosa pigra L. memiliki kemampuan menurunkan kadar serum AST sampai ke batas normal. Meskipun parameter aktivitas serum AST bukan yang utama namun dilihat dari hasil penelitian ini dicurigai infusa herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB memiliki kemampuan sebagai kardioprotektor dan neuroprotektor karena dapat menurunkan kadar AST sampai batas normal, dimana AST tidak hanya diproduksi di hati saja namun juga diproduksi di otot rangka dan otot jantung. Uji statistik juga dilakukan untuk membandingkan dengan kontrol positif Silimarin 25 mg/KgBB, diperoleh hasil berbeda bermakna (p=0,047). Hal ini menunjukkan bahwa infusa herba Mimosa pigra L. memiliki kemampuan sebagai hepatoprotektif yang lebih baik dalam menurunkan kadar AST jika dibandingkan Silimarin 25 mg/KgBB. Dapat disimpulkan bahwa infusa herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB memiliki kemampuan menurunkan kadar ALT dan AST dengan prosentase yang cukup besar dan lebih baik dari kontrol positif Silimarin 25 mg/KgBB. Dibandingkan dengan dosis 1,26 g/KgBB dan 1,89 g/KgBB, dosis 2,835 g/KgBB merupakan dosis optimum dalam menurunkan kadar ALT dan AST yang meningkat akibat radikal bebas triklorometil peroxi dari karbon tetraklorida yang menyebabkan peroksidasi lipid. Kandungan kimia Mimosa pigra

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 L. yang bertindak sebagai hepatoprotektif adalah golongan flavonoid mirisitrin dan kuersetin, untuk mengetahui seberapa besar kandungan flavonoid dalam infusa herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB yang dapat menurunkan kada ALT dan AST maka dapat dilakukan uji flavonoid total. D. Rangkuman Pembahasan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek hepatoprotektif infusa herba Mimosa pigra L. pada tikus jantan yang terinduksi suatu senyawa model yaitu karbon tetraklorida. Dalam penelitian ini digunakan tiga peringkat dosis infusa herba Mimosa pigra L. yaitu 1,26; 1,89; 2,835 g/KgBB untuk melihat kemampuan hepatoprotektif berdasarkan perhitungan % hepatoprotektif. Secara berturut-turut hasil perhitungan % hepatoprotektif kadar ALT dari peringkat dosis 1,26; 1,89; 2,835 g/KgBB adalah 29,14%; 6,38%; dan 80,84% sedangkan hasil perhitungan % hepatoprotektif kadar AST berturut-turut 29,14%; 16,67%; dan 104,25%. Hasil ini sesuai dengan hipotesis penelitian ini bahwa infusa herba Mimosa pigra L. memiliki kemampuan sebagai senyawa hepatoprotektif terhadap induksi karbon tetraklorida yang dilihat dari kadar ALT dan AST. Berdasarkan uji statistik antara kontrol minyak olive oil dengan kontrol infusa herba Mimosa pigra L. pada kadar ALT menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,009) sedangkan pada kadar AST terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p=0,094). Dari hasil statistik mnunjukkan bahwa infusa herba Mimosa pigra L. tidak meningkatkan kadar ALT dan AST meskipun terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar ALT, hal ini dikarenakan waktu paruh enzim ALT yang lebih lama daripada enzim AST sehingga ketika diukur

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 hasilnya lebih tinggi dari normal (kontrol minyak olive oil). Dapat disimpulkan bahwa peningkatan kadar serum ALT dan AST pada tikus jantan disebabkan oleh senyawa model karbon tetraklorida saja. Dosis optimum infusa herba Mimosa pigra L. adalah pada peringkat dosis tertinggi yaitu 2,835 g/KgBB. Hal ini didasarkan pada uji statistik yang dilakukan ketika dibandingkan dengan kontrol negatif (olive oil) pada kadar ALT memberikan hasil berbeda tidak bermakna (p=0,009) dan pada kadar AST memberikan hasil berbeda bermakna (p=0,075). Dosis infusa herba Mimosa pigra L. 2,835 g/KgBB paling baik hasilnya karena selain % hepatoprotektif paling tinggi, pada dosis 1,26 dan 1,89 g/KgBB terdapat perbedaan yang tidak bermakna dengan kontrol hepatotoksin karbon tetraklorida 2 mL/KgBB. Kemudian dilihat dari presentase hepatoprotektif yang diperoleh pada dosis optimum 2,835 g/KgBB, % hepatoprotektif pada aktivitas AST lebih baik daripada % hepatoprotektif aktivitas AST sehingga dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai uji efek kardioprotektor dan neuroprotektor karena enzim AST tidak hanya diproduksi di hati namun juga diproduksi di otot rangka dan otot jantung. Senyawa model sebagai agen hepatotoksisitas pada penelitian Apriyanto, dkk. (2000) adalah paracetamol. Paracetamol merupakan obat yang dapat menyebabkan kerusakan hati, yaitu nekrosis sel sentrilobuler hati, sedangkan karbon tetraklorida merupakan zat kimia yang juga dapat menyebabkan kerusakan hati yaitu perlemakan hati atau steatosis. Agen hepatotoksisitas lain yang juga dapat menyebabkan kerusakan hati adalah galaktosamin. Galaktosamin bekerja seperti virus hepatitis dan menyebabkan nekrosis hati.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Hepatotoksisitas karbon tetraklorida dapat terjadi akibat karbon tetraklorida yang dimetabolisme di retikulum endoplasma hati oleh sitokrom P450 2E1 (CYP2E1) menjadi radikal bebas triklorometil (CCl3*). Triklorometil dengan oksigen akan membentuk radikal triklorometilperoxi yang dapat menyerang membran lipid retikulum endoplasma dengan kecepatan melebihi radikal bebas triklorometil, selanjutnya triklorometilperoxi dapat menyebabkan peroksidasi lipid (Panjaitan, et al., 2007). Mimosa pigra L. memiliki kandungan senyawa kuersetin dan mirisitrin sebagai antioksidan yang dapat melindungi sel hati dari radikal bebas. Kemudian terdapat juga asam amino, yaitu triptofan yang berguna dalam regenerasi sel, serta flavonoid untuk menangkal radikal bebas dalam tubuh.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini serta hasil dari uji statistik yang dilakukan maka dapat disimpulkan: 1. Infusa herba Mimosa pigra L. memiliki efek hepatoprotektif terhadap tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida. 2. Dosis optimum infusa herba Mimosa pigra L. yang memiliki efek hepatoprotektif terhadap karbon tetraklorida pada tikus jantan adalah 2,835 g/KgBB. B. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai: 1. Uji efek hepatoprotektif infusa herba Mimosa pigra L. menggunakan senyawa hepatotoksin galaktosamin. 2. Uji efek hepatoprotektif menggunakan tanaman Mimosa pigra L. dengan jenis esktrak yang lain seperti ekstrak etanol atau metanol. 3. Uji efek kardioprotektor dan neuroprotektor menggunakan infusa herba Mimosa pigra L. 4. Penentuan jumlah flavonoid total infusa herba Mimosa pigra L. 57

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Daftar Pustaka Apriyanto, A., Susanti, E., Wijayanti, I., Linawati, Y., 2000, Efek Hepatoprotektif Rebusan Herba Putri Malu (Mimosa pigra L.) Pada Tikus Terangsang Parasetamol, Laporan Penelitian, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Backer, C. A., 1963, Flora of Java, vol 1, N. V. P., Noordhoff, Groningen, The Netherland, pp. 547-564. BPOM RI, 2013, Pedoman Teknologi Formulasi Sediaan Berbasis Ekstrak, Volume 2, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta, hal. 910. Binggeli, 2005, Crop Protection Compendium–Mimosa pigra L., http://members.mulmatimania.co.uk/woodyplantecology/docs/CPCMimosa _pigra.pdf., diakses tanggal: 10 Maret 2014. CABI, 2014, Mimosa pigra, http://www.cabi.org/isc/datasheet/34199, diakses tanggal: 10 Maret 2014. Cohen, B. J., Wood, D. L., 2000, Memmler’s: The Structure & Function of The Human Body, 7th Edition, Lippincot Williams & Wilkins, Philadelphia, pp.271. Davis, M., William, R., 2003, Hepatic Disorder, Textbook of Adeverse Drug Reaction, Oxford University Press, Oxford, pp.58. Domitrovic, R., Jakovac, H., Blagojevic, G., 2011, Toxicology, Hepatoprotective Activity of Berberine is Mediated by Inhibition of TNF-α, OX-2, and iNOS Expression in CCl4 -intoxicated Mice, Toxicology, 280, 33-43. Depkes RI, 1986, Sediaan Galenik, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta, hal.8. Donatus, I. A., 2001, Toksikologi Dasar, Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hal. 152. EPA, 2010, Toxicological Review of Carbon Tetrachloride, US. Enviromental Protection Agency, Washington D. C., pp. 6, 16, 137, 138. Faiz, O., Moffat, D., 2002, At Glance Anatomi, Erlangga, Jakarta, hal. 41. Fancher, T. L., Kamboj, A., Onate, J., 2007, Interpreting Liver Function Tests, Current Psychiatry, 6 (5), 61-68.

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Fox, S. I., 2004, Human Physiology Eight Edition, McGraw-Hill Hinger Education, New York, pp. 575. Grattaglino, I., Bonfrate, L., Diogo, C. V., Wang, C.H, Portincasa, 2009, Biochemical Mechanisms in Drug Induced Liver Injury: Certaities and Doubts, Journal of Gastroenterology, 15(39), 4865-4876. Hodgson, E., 2010, A Textbook of Modern Toxicology, John Wiley & Sons Inc., Canada, pp.279-286. Hughes, T., Cook, P., 1996, A Text Book of Modern Toxicology Method, John Wiley & Sons, Canada, pp. 277-289. Javed, S., Kohli, K., Ali, M., 2011, Reassessing Bioavailability of Silimarin, Alternative Medicine Review, 16 (3), 239-249. Kaplowitz, N., 2005, Idiosyncratic Drug Hepatotoxicity, Nature Publishing Group, 4, 489-499. Keppler, D., Decker, K., 1969, Studies of the Mechanism of Galactosamine Hepatitis : Accumulation of Galactosamine-1-Phosphate and its Inhibition of Pyrophosporylase, European J. Biochem, 10 (1969), 219-225. Klaassen, C. D., 2001, Casarett and Doull’s Toxicology: The Basic Science of Poison, Mc-Graw Hill, USA, pp. 887. Kumar, V., Abbas, A. K., Fausto, N., 2009, Dasar Patologis Penyakit, Penerbit EGC, Jakarta, hal. 902-903. Martini, F. H., 2004, Fundamentals of Anatomy and Physiology, 8th edition, Pearson Education inc, San Fransisco, pp. 903-907. Mbatchou, V. C., Ayebila A. J., Apea, O. B., 2011, Antibacterial Activity of Phytochemical from Acacia nolitica, Entada africana, and Mimosa pigra L. on Salmonella thphi, Journal of Animal & Plant Science, 10 (1), 1248-1258. McPhee, S. J., Ganong, W. F., 2005, Patofisiologi Penyakit: Pengantar Menuju Kedokteran Klinis, Penerbit EGC, Jakarta, hal. 429-430. Murugesan, G. S., Sathiskumar, M., Jayabalan, R., Binupriya, A. R., Swaminantan, K., Yun, S. E., 2009, Hepatoprotective and Curative Properties of Kombuchea Tea Against Carbon Tetrachloride-Induced Toxicity, Journal of Microbiology and Biotechnology, 19 (4), 397-402.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Navarro, V. J., Senior, J. R., 2006, Drug Related Hepatotoxicity, The New England Journal of Medicine, 354, 731. Pachos, P., Paletas, K., 2009, Non Alcoholic Fatty Liver Disease and Metabolic Syndrome, Hipokratia, 13 (1), 9-19. Plaa G., Charbonnneau, M., 2001, Detection and Evaluation of Chemicallly Induced Liver Injury, in Haye, A. W.(Ed), Principles and Methods of Toxicology, 4th ed, Taylor & Francis, Philadelphia, pp. 1151. Panjaitan, R. G. P., Handharyani, E., Chairul, Masriani, Zakiah, Z., Manalu, W., 2007, Pengaruh Pemberian Karbon Tetraklorida terhadap Fungsi Hati dan Ginjal Tikus, Makara Kesehatan, 11 (1), 11-16. Rakatomalala, G., Agard, C., Tonnerre, P., Tesse, A., Derbre, S., Michalet, S., Hamzaoui, J., Rio, M., Toumaniamz, C., Richomme, P., Charreau, B., Loirand, G., Pacaud, P., 2013, Extract from Mimosa pigra Attenuates Chronic Experimental Pulmonary Hypertension, Journal of Ethnopharmacology, 148, 106-116. Roth, R. A., Ganey, P. E., 2010, Intrinsic versus Idiosincratic Drug – Induced Hepatotoxicity – Two Villains or One?, The Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics, 32(3), 692-697. Sari, S. P., Azizahwati, Ariani, R., 2008, Efek Hepatoprotektif Rebusan Akar Tapak Liman pada Tikus Putih yang Diinduksi denga Karbon Tetraklorida, Jurnal Farmasi Indonesia, 4 (2), 75-81. Sengupta, P., 2011, A Scientific Review of Age Determination for a Laboratory Rat: How Old is it in Comparison with Human Age?, Biomedicine International, 2, 81-89. Sherif, R. Z., Misih, A., Bloomston, M., 2010, Liver Anatomy, Surgical of North America, 10(4) USA, 643-653. Sherwood, L., 2007, Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem, Edisi Keenam, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, hal. 669-671. Sujono, T. A., Widiatmoko, Y. W., 2012, Influence Dried Flower of Hibiscus sabdariffa Linn. Infusion on Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (ALT) Level Againts Paracetamol Induced Liver Injury in Rats, Research and Application on Traditional Complementary and Alternative Medicine in Health Care, International Conference, Surakarta, Indonesia. Surendran, S., Eswaran, M. B., Vijayakumar, M., Rao, Ch. V., 2011, In vitro and In vivo Hepatopretective Activity of Cissampelos pariera Againts Carbon-

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Tetrachloride Induced Hepatic Damage, Indian Jurnal of Experimental Biology, 49, 939-945. Syamsudin, Rizikiyan, Y., Darmono, 2006, Efek Teratogenik Ekstrak Metanol Biji Petai Cina (Leucaena leucocephala (Lmk) De Wit) pada Mencit Hamil, Jurnal Bahan Alam Indonesia, 6 (1), 33-35. Thapa, B. R., Walia, A., 2007, Hati Function Test and Their Interpretation, Indian Journal of Pediatrics, 74 (7), 663-671. Wakchaure, D., Jain, D., Singhai, A. K., Somani, R., 2013, Hepatoprotective Activity of Symplocos racemosa Bark on Tetrachloride-Induced Hepatic Damage in Rats, Journal Ayurveda & Integrative Medicine, 2 (3), 137-143. Walker, N. F., Kliner, M., Turner, D., Bhagani, S., Cropley, I., Hopkins, S., Lipman, M., 2009, Hepatotoxicity and Antituberculosis Therapy: Time to Revise UK Gudiance?, Thorax, 64 (10), 918. Wibowo, Paryana, 2009, Anatomi Tubuh Manusia, Graha Ilmu, Indonesia, hal. 347,348,351, 352. Wijaya, L. S., 2013, Efek Antihepatotoksik Infusa Herba Mimosa pigra L. Terhadap Tikus jantan Terinduksi Karbon Tetraklorida, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Xu, G. H., Chen, D. H., Xhang, Y. H., Jiang, P., Ye, X. Q., 2008, Minerals, Phenolics Compounds, and Antioxidant Capacity of Citrus Peel Extract by Hot Water, Journal of Food Science, 73 (1), c11-c18. Yadav, N. P., Pal, A., Shanker, K., Bawankule, D. U., Gupta, A. K., Darokar, M. P., Kanunja, S. P., 2008, Synergistic Effect of Silimarin and Standarized Extract of Phyllanthus amarus Againts CCl4-Induced Hepatotoxicity in Rattus norvegicus, Phytomedicine, 15, 1053-1061.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 LAMPIRAN

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 LAMPIRAN Lampiran 1. Foto infusa herba Mimosa pigra L. Lampiran 2. Foto suspensi silimarin dalam CMC-Na 1%

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Lampiran 3. Surat determinasi tanaman Mimosa pigra L.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Lampiran 4. Surat ethical clearence

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Lampiran 5. Hasil analisis statistik data ALT dan AST pada uji pendahuluan waktu pencuplikan darah hewan uji setelah induksi karbon tetraklorida (2 mL/KgBB). Descriptives Waktu aktivitas_GPT jam0 jam24 jam48 Statistic Std. Error Mean 43.8000 1.39284 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound 39.9329 5% Trimmed Mean 43.8889 Median 44.0000 Variance 9.700 Std. Deviation 3.11448 Minimum 39.00 Maximum 47.00 Range 8.00 Interquartile Range 5.50 Skewness -.933 .913 Kurtosis .762 2.000 Mean 1.4160E2 12.34747 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound 1.0732E2 5% Trimmed Mean 1.4078E2 Median 1.2600E2 Variance 762.300 Std. Deviation 2.76098E1 Minimum 117.00 Maximum 181.00 Range 64.00 Interquartile Range 50.00 Skewness .856 .913 Kurtosis -1.448 2.000 Mean 56.0000 8.26438 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound 33.0544 5% Trimmed Mean 55.6667 47.6671 1.7588E2 78.9456

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 jam72 Median 51.0000 Variance 341.500 Std. Deviation 1.84797E1 Minimum 36.00 Maximum 82.00 Range 46.00 Interquartile Range 34.50 Skewness .598 .913 Kurtosis -1.001 2.000 Mean 40.6000 5.14393 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound 26.3182 5% Trimmed Mean 39.8333 Median 35.0000 Variance 132.300 Std. Deviation 1.15022E1 Minimum 34.00 Maximum 61.00 Range 27.00 Interquartile Range 15.00 Skewness 2.145 .913 Kurtosis 4.648 2.000 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov waktu Statistic Df aktivitas_GP jam0 .199 T jam24 .314 Shapiro-Wilk Sig. 5 .200 5 .120 jam48 .207 5 .200 jam72 .389 5 .013 * * a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Statistic df Sig. .941 5 .670 .861 5 .230 .955 5 .775 .659 5 .003 54.8818

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Kruskal-Wallis Test a,b Test Statistics aktivitas_GPT Chi-Square Df Asymp. Sig. 13.274 3 .004 a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: waktu Mann-Whitney Test Ranks aktivitas_GPT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam0 5 3.00 15.00 jam24 5 8.00 40.00 Total 10 b Test Statistics aktivitas_GPT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .000 15.000 -2.611 .009 a .008 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: waktu Ranks aktivitas_GPT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam0 5 4.50 22.50 jam48 5 6.50 32.50 Total 10 b Test Statistics aktivitas_GPT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: waktu 7.500 22.500 -1.048 .295 a .310

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Ranks aktivitas_GPT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam0 5 7.00 35.00 jam72 5 4.00 20.00 Total 10 b Test Statistics aktivitas_GPT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] 5.000 20.000 -1.571 .116 a .151 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: waktu Ranks aktivitas_GPT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam24 5 8.00 40.00 jam48 5 3.00 15.00 Total 10 b Test Statistics aktivitas_GPT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .000 15.000 -2.611 .009 a .008 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: waktu Ranks aktivitas_GPT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam24 5 8.00 40.00 jam72 5 3.00 15.00 Total 10

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 b Test Statistics aktivitas_GPT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .000 15.000 -2.619 .009 a .008 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: waktu Ranks aktivitas_GPT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam48 5 7.20 36.00 jam72 5 3.80 19.00 Total 10 b Test Statistics aktivitas_GPT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: waktu 4.000 19.000 -1.781 .075 a .095

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Descriptives Waktu aktivitas_GOT jam0 jam24 Statistic Std. Error Mean 1.1620E2 2.17715 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound 1.1016E2 5% Trimmed Mean 1.1628E2 Median 1.1900E2 Variance 23.700 Std. Deviation 4.86826 Minimum 110.00 Maximum 121.00 Range 11.00 Interquartile Range 9.00 Skewness -.570 .913 Kurtosis -2.564 2.000 Mean 4.8980E2 41.19757 1.2224E2

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 jam48 jam72 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound 3.7542E2 5% Trimmed Mean 4.8683E2 Median 4.7000E2 Variance 8.486E3 Std. Deviation 9.21206E1 Minimum 400.00 Maximum 633.00 Range 233.00 Interquartile Range 163.50 Skewness 1.051 .913 Kurtosis .732 2.000 Mean 1.7900E2 22.71343 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound 1.1594E2 5% Trimmed Mean 1.7861E2 Median 1.6000E2 Variance 2.580E3 Std. Deviation 5.07888E1 Minimum 120.00 Maximum 245.00 Range 125.00 Interquartile Range 94.50 Skewness .358 .913 Kurtosis -1.657 2.000 Mean 95.4000 3.82884 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound 84.7694 5% Trimmed Mean 95.2778 Median 92.0000 Variance 73.300 Std. Deviation 8.56154 Minimum 87.00 Maximum 106.00 Range 19.00 6.0418E2 2.4206E2 1.0603E2

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Interquartile Range 16.50 Skewness .489 .913 Kurtosis -2.707 2.000 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov aktivitas_GOT Shapiro-Wilk waktu Statistic Df Sig. jam0 .317 5 .111 Statistic df Sig. .855 5 .209 jam24 .185 5 .200 * .929 5 .587 jam48 .246 5 .200 * .941 5 .672 .200 * .874 5 .283 jam72 .254 5 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Kruskal-Wallis Test Ranks aktivitas_GOT waktu N Mean Rank jam0 5 8.20 jam24 5 18.00 jam48 5 12.80 jam72 5 3.00 Total 20 a,b Test Statistics aktivitas_GOT Chi-Square Df Asymp. Sig. 17.596 3 .001 a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: waktu Mann-Whitney Test Ranks aktivitas_GOT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam0 5 3.00 15.00 jam24 5 8.00 40.00 Total 10

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 b Test Statistics aktivitas_GOT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .000 15.000 -2.619 .009 a .008 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: waktu Ranks aktivitas_GOT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam0 5 3.20 16.00 jam48 5 7.80 39.00 Total 10 b Test Statistics aktivitas_GOT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] 1.000 16.000 -2.410 .016 a .016 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: waktu Ranks aktivitas_GOT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam0 5 8.00 40.00 jam72 5 3.00 15.00 Total 10 b Test Statistics aktivitas_GOT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: waktu .000 15.000 -2.619 .009 a .008

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Ranks aktivitas_GOT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam24 5 8.00 40.00 jam48 5 3.00 15.00 Total 10 b Test Statistics aktivitas_GOT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .000 15.000 -2.611 .009 a .008 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: waktu Ranks aktivitas_GOT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam24 5 8.00 40.00 jam72 5 3.00 15.00 Total 10 b Test Statistics aktivitas_GOT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .000 15.000 -2.611 .009 a .008 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: waktu Ranks aktivitas_GOT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam48 5 8.00 40.00 jam72 5 3.00 15.00 Total 10 b Test Statistics aktivitas_GOT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. .000 15.000 -2.611 .009 a .008

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Ranks aktivitas_GOT waktu N Mean Rank Sum of Ranks jam48 5 8.00 40.00 jam72 5 3.00 15.00 b. Grouping Variable: waktu Lampiran 6. Hasil Statistik data ALT dan AST pada kelompok kontrol olive oil dosis 2 mL/KgBB Descriptives GPTminyak0 Statistic Std. Error Mean 46.6000 1.96469 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound 41.1452 5% Trimmed Mean 46.5000 Median 45.0000 Variance 19.300 Std. Deviation 4.39318 Minimum 42.00 Maximum 53.00 Range 11.00 52.0548

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Interquartile Range 8.00 Skewness .771 .913 Kurtosis -.581 2.000 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic GPTminyak0 Shapiro-Wilk df .242 Sig. 5 .200 * Statistic df Sig. .940 5 .665 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Descriptives GPTminyak24 Statistic Std. Error Mean 41.4000 2.99333 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound 33.0892 5% Trimmed Mean 41.5000 Median 42.0000 Variance 44.800 Std. Deviation 6.69328 Minimum 32.00 Maximum 49.00 Range 17.00 Interquartile Range 12.50 Skewness -.463 .913 Kurtosis -.697 2.000 49.7108 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic GPTminyak24 .154 Shapiro-Wilk df Sig. 5 .200 * Statistic Df Sig. .977 5 .916 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Paired Samples Statistics Pair 1 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean GPTminyak0 46.6000 5 4.39318 1.96469 GPTminyak24 41.4000 5 6.69328 2.99333

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Paired Samples Correlations Pair 1 GPTminyak0 GPTminyak24 & N Correlation Sig. 5 -.631 .254 Paired Samples Test Paired Differences Std. Std. Error Deviation Mean Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Pair GPTminyak0 1 GPTminyak24 5.20000 10.05982 4.49889 -7.29092 Upper t df 17.69092 1.156 4 Sig. (2tailed) .312 Descriptives GOTminyak0 Statistic Std. Error Mean 1.3260E2 7.65898 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound 1.1134E2 5% Trimmed Mean 1.3183E2 Median 1.2800E2 Variance 293.300 Std. Deviation 1.71260E1 Minimum 117.00 Maximum 162.00 Range 45.00 Interquartile Range 23.50 Skewness 1.767 .913 Kurtosis 3.740 2.000 1.5386E2 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov GOTminyak0 Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig. .383 5 .016 .787 5 .064 a. Lilliefors Significance Correction

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Descriptives GOTminya24 Statistic Std. Error Mean 1.1300E2 4.63681 95% Confidence Interval for Lower Bound Mean Upper Bound 1.0013E2 5% Trimmed Mean 1.1261E2 Median 1.1100E2 Variance 107.500 Std. Deviation 1.03682E1 Minimum 103.00 Maximum 130.00 Range 27.00 Interquartile Range 17.00 Skewness 1.379 .913 Kurtosis 2.258 2.000 1.2587E2 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic GOTminya24 Shapiro-Wilk df .262 Sig. 5 .200 * Statistic df Sig. .897 5 .391 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. Paired Samples Statistics Pair 1 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean GOTminyak0 1.3260E2 5 17.12600 7.65898 GOTminya24 1.1300E2 5 10.36822 4.63681 N Correlation Sig. 5 -.018 .977 Paired Samples Correlations Pair 1 GOTminyak0 GOTminya24 & Paired Samples Test Paired Differences Mean 95% Confidence Std. Std. Error Interval of the Deviation Mean Difference t df Sig. (2tailed)

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Lower Pair GOTminyak0 1 1.96000E1 20.18167 9.02552 GOTminya24 Upper -5.45886 44.65886 2.172 4 .096 Lampiran 7. Hasil statistik data serum ALT kontrol hepatotoksin (CCl4), kontrol negatif (olive oil), kontrol infusa herba Mimosa pigra L., kontrol positif Silimarin, perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. (dosis 1,26; 1,89; 2,835 g/KgBB). Aktivitas serum ALT Descriptives KategoriALT Kontrol CCl4 Statistic Std. Error Mean 95% Confidence Interval for Mean 1.4160E2 12.34747 Lower Bound 1.0732E2 Upper Bound 1.7588E2 5% Trimmed Mean 1.4078E2 Median 1.2600E2 Variance 762.300 Std. Deviation 2.76098E 1 Minimum 117.00 Maximum 181.00 Range 64.00 Interquartile Range 50.00 Skewness Kurtosis Kontrol Minyak Mean 95% Confidence Interval for Mean .856 .913 -1.448 2.000 41.4000 2.99333 Lower Bound 33.0892 Upper Bound 49.7108 5% Trimmed Mean 41.5000 Median 42.0000 Variance Std. Deviation 44.800 6.69328

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Kontrol infusa Mimosa pigra Minimum 32.00 Maximum 49.00 Range 17.00 Interquartile Range 12.50 Skewness -.463 .913 Kurtosis -.697 2.000 75.6000 1.20830 Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 72.2452 Upper Bound 78.9548 5% Trimmed Mean 75.7222 Median 76.0000 Variance 7.300 Std. Deviation 2.70185 Minimum 71.00 Maximum 78.00 Range 7.00 Interquartile Range 4.00 Skewness Kurtosis Kontrol Silimarin Mean 95% Confidence Interval for Mean -1.704 .913 3.372 2.000 1.0320E2 12.99769 Lower Bound 67.1126 Upper Bound 1.3929E2 5% Trimmed Mean 1.0283E2 Median 1.0400E2 Variance Std. Deviation 844.700 2.90637E 1 Minimum 68.00 Maximum 145.00 Range 77.00

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Interquartile Range Perlakuan dosis I (1,26g/KgBB) 52.00 Skewness .429 .913 Kurtosis .207 2.000 Mean 95% Confidence Interval for Mean 1.1240E2 11.05260 Lower Bound 81.7131 Upper Bound 1.4309E2 5% Trimmed Mean 1.1178E2 Median 1.0400E2 Variance Std. Deviation 610.800 2.47144E 1 Minimum 85.00 Maximum 151.00 Range 66.00 Interquartile Range 41.00 Skewness Kurtosis Perlakuan dosis II (1,89g/KgBB) Mean 95% Confidence Interval for Mean .988 .913 1.376 2.000 1.3520E2 11.30221 Lower Bound 1.0382E2 Upper Bound 1.6658E2 5% Trimmed Mean 1.3394E2 Median 1.2200E2 Variance Std. Deviation 638.700 2.52725E 1 Minimum 116.00 Maximum 177.00 Range 61.00 Interquartile Range 41.00 Skewness 1.558 .913 Kurtosis 2.031 2.000

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Perlakuan dosis III (2,835g/KgBB) Mean 60.6000 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 52.4768 Upper Bound 68.7232 5% Trimmed Mean 60.7778 Median 62.0000 Variance 2.92575 42.800 Std. Deviation 6.54217 Minimum 50.00 Maximum 68.00 Range 18.00 Interquartile Range 9.50 Skewness Kurtosis -1.161 .913 2.666 2.000 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov KategoriALT Statistic AktivitasAL Kontrol CCl4 .314 5 .120 .861 5 .230 .154 5 .200 * .977 5 .916 .359 5 .034 .820 5 .117 .168 5 .200 * .985 5 .960 .233 5 .200 * .932 5 .613 .299 5 .163 .814 5 .105 .324 5 .093 .870 5 .267 T Kontrol Minyak Kontrol infusa Mimosa pigra Kontrol Silimarin Perlakuan dosis I (1,26g/KgBB) Perlakuan dosis II (1,89g/KgBB) Perlakuan dosis III (2,835g/KgBB) a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig.

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Oneway Test of Homogeneity of Variances AktivitasALT Levene Statistic df1 3.525 df2 6 Sig. 28 .010 ANOVA AktivitasALT Sum of Squares df Mean Square Between Groups Within Groups 42933.543 6 7155.590 11805.600 28 421.629 Total 54739.143 34 F 16.971 Kruskal-Wallis Test Ranks KategoriALT AktivitasALT N Mean Rank Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) 5 22.70 Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) 5 28.00 Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) 5 8.10 Kontrol Minyak 5 3.00 Kontrol CCl4 5 29.80 Kontrol Infusa Mimosa pigra 5 14.00 Kontrol Silimarin 5 20.40 Total Test Statistics 35 a,b AktivitasALT Chi-Square Df Asymp. Sig. a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: KategoriALT 28.878 6 .000 Sig. .000

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Mann-Whitney Test Ranks KategoriALT AktivitasALT N Mean Rank Sum of Ranks Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) 5 4.00 20.00 Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) 5 7.00 35.00 Total 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] 5.000 20.000 -1.567 .117 a .151 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT N Mean Rank Sum of Ranks Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) 5 8.00 40.00 Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) 5 3.00 15.00 Total 10 Test Statistics b AktivitasALT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT .000 15.000 -2.619 .009 a .008

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Ranks KategoriALT AktivitasALT N Mean Rank Sum of Ranks Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) 5 8.00 40.00 Kontrol Minyak 5 3.00 15.00 Total 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .000 15.000 -2.611 .009 a .008 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT N Mean Rank Sum of Ranks Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) 5 3.80 19.00 Kontrol CCl4 5 7.20 36.00 Total 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] 4.000 19.000 -1.776 .076 a .095 a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) Kontrol Infusa Mimosa pigra Total N Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.619 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT N Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) Kontrol Silimarin Total Mean Rank Sum of Ranks 5 5.90 29.50 5 5.10 25.50 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U 10.500 Wilcoxon W 25.500 Z -.419 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .675 .690 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) N Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Ranks KategoriALT AktivitasALT N Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Total Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.619 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .009 .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) Kontrol Minyak Total N Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT N Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) Kontrol CCl4 Total Mean Rank Sum of Ranks 5 4.80 24.00 5 6.20 31.00 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U 9.000 Wilcoxon W 24.000 Z -.731 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .465 .548 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) Kontrol Infusa Mimosa pigra Total N Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.619 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT N Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) Kontrol Silimarin Total Mean Rank Sum of Ranks 5 7.20 36.00 5 3.80 19.00 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U 4.000 Wilcoxon W 19.000 Z -1.776 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .076 .095 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Kontrol Minyak Total N Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.619 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT N Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Kontrol CCl4 Total Mean Rank Sum of Ranks 5 3.00 15.00 5 8.00 40.00 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.619 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .009 .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Kontrol Infusa Mimosa pigra N Mean Rank Sum of Ranks 5 3.00 15.00 5 8.00 40.00

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Ranks KategoriALT AktivitasALT N Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Kontrol Infusa Mimosa pigra Total Mean Rank Sum of Ranks 5 3.00 15.00 5 8.00 40.00 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.627 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT N Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Kontrol Silimarin Total b AktivitasALT .500 Wilcoxon W 15.500 Z -2.522 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. .012 .008 a Sum of Ranks 5 3.10 15.50 5 7.90 39.50 10 Test Statistics Mann-Whitney U Mean Rank

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U .500 Wilcoxon W 15.500 Z -2.522 Asymp. Sig. (2-tailed) .012 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT N Mean Rank Sum of Ranks Kontrol Minyak 5 3.00 15.00 Kontrol CCl4 5 8.00 40.00 Total 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .009 .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT N Mean Rank Sum of Ranks Kontrol Minyak 5 3.00 15.00 Kontrol Infusa Mimosa pigra 5 8.00 40.00 Total 10

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.619 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT N Mean Rank Sum of Ranks Kontrol Minyak 5 3.00 15.00 Kontrol Silimarin 5 8.00 40.00 Total 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT .009 .008 a

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Ranks KategoriALT AktivitasALT N Mean Rank Sum of Ranks Kontrol CCl4 5 8.00 40.00 Kontrol Infusa Mimosa pigra 5 3.00 15.00 Total 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.619 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT Ranks KategoriALT AktivitasALT N Mean Rank Sum of Ranks Kontrol CCl4 5 7.40 37.00 Kontrol Silimarin 5 3.60 18.00 Total 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U 3.000 Wilcoxon W 18.000 Z -1.984 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT .047 .056 a

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Ranks KategoriALT AktivitasALT N Mean Rank Sum of Ranks Kontrol Infusa Mimosa pigra 5 4.00 20.00 Kontrol Silimarin 5 7.00 35.00 Total 10 b Test Statistics AktivitasALT Mann-Whitney U 5.000 Wilcoxon W 20.000 Z -1.571 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriALT .116 .151 a

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Lampiran 8. Hasil statistik data serum AST kontrol hepatotoksin (CCl4), kontrol negatif (olive oil), kontrol infusa herba Mimosa pigra L., kontrol positif Silimarin, perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. (dosis 1,26; 1,89; 2,835 g/KgBB). Aktivitas serum AST Descriptives KategoriAST Kontrol CCl4 Statistic Std. Error Mean 95% Confidence Interval for Mean 4.8980E2 41.19757 Lower Bound 3.7542E2 Upper Bound 6.0418E2 5% Trimmed Mean 4.8683E2 Median 4.7000E2 Variance 8.486E3 Std. Deviation 9.21206E 1 Minimum 400.00 Maximum 633.00 Range 233.00 Interquartile Range 163.50 Skewness Kurtosis Kontrol Minyak Mean 95% Confidence Interval for Mean 1.051 .913 .732 2.000 1.1300E2 4.63681 Lower Bound 1.0013E2 Upper Bound 1.2587E2 5% Trimmed Mean 1.1261E2 Median 1.1100E2 Variance Std. Deviation 107.500 1.03682E 1 Minimum 103.00 Maximum 130.00 Range 27.00

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Kontrol infusa Mimosa pigra Interquartile Range 17.00 Skewness 1.379 .913 Kurtosis 2.258 2.000 97.0000 6.79706 Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 78.1283 Upper Bound 1.1587E2 5% Trimmed Mean 96.0000 Median 92.0000 Variance 231.000 Std. Deviation 1.51987E 1 Kontrol Silimarin Minimum 88.00 Maximum 124.00 Range 36.00 Interquartile Range 19.50 Skewness 2.159 .913 Kurtosis 4.728 2.000 Mean 95% Confidence Interval for Mean 2.0360E2 58.20189 Lower Bound 42.0056 Upper Bound 3.6519E2 5% Trimmed Mean 2.0083E2 Median 1.2100E2 Variance Std. Deviation 1.694E4 1.30143E 2 Minimum 98.00 Maximum 359.00 Range 261.00 Interquartile Range 242.50 Skewness Kurtosis .615 .913 -3.166 2.000

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Perlakuan dosis I (1,26g/KgBB) Mean 95% Confidence Interval for Mean 3.8000E2 37.75579 Lower Bound 2.7517E2 Upper Bound 4.8483E2 5% Trimmed Mean 3.8228E2 Median 4.1600E2 Variance 7.128E3 Std. Deviation 8.44245E 1 Minimum 259.00 Maximum 460.00 Range 201.00 Interquartile Range 156.00 Skewness Kurtosis Perlakuan dosis II (1,89g/KgBB) Mean 95% Confidence Interval for Mean -.808 .913 -1.204 2.000 4.2700E2 11.44115 Lower Bound 3.9523E2 Upper Bound 4.5877E2 5% Trimmed Mean 4.2689E2 Median 4.2500E2 Variance 654.500 Std. Deviation 2.55832E 1 Perlakuan dosis III (2,835g/KgBB) Minimum 393.00 Maximum 463.00 Range 70.00 Interquartile Range 44.00 Skewness .183 .913 Kurtosis .839 2.000 97.0000 6.79706 Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 78.1283 Upper Bound 1.1587E2

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 5% Trimmed Mean 96.0000 Median 92.0000 Variance 231.000 Std. Deviation 1.51987E 1 Minimum 88.00 Maximum 124.00 Range 36.00 Interquartile Range 19.50 Skewness 2.159 .913 Kurtosis 4.728 2.000 Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov KategoriAST Statistic df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. .185 5 .200 * .929 5 .587 Kontrol Minyak .262 5 .200 * .897 5 .391 Kontrol infusa Mimosa pigra .429 5 .003 .658 5 .003 Kontrol Silimarin .337 5 .065 .764 5 .040 .265 5 .200 * .902 5 .422 .162 5 .200 * .988 5 .974 .429 5 .003 .658 5 .003 AktivitasAST Kontrol CCl4 Perlakuan dosis I (1,26g/KgBB) Perlakuan dosis II (1,89g/KgBB) Perlakuan dosis III (2,835g/KgBB) a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Kruskal-Wallis Test Ranks KategoriAST AktivitasAST N Mean Rank Kontrol CCl4 5 30.80 Kontrol Minyak 5 13.20 Kontrol infusa Mimosa pigra 5 6.90 Kontrol Silimarin 5 15.80 5 25.00 5 27.40 5 6.90 Perlakuan dosis I (1,26g/KgBB) Perlakuan dosis II (1,89g/KgBB) Perlakuan dosis III (2,835g/KgBB) Total 35 a,b Test Statistics Aktivitas AST Chi-Square 27.199 Df 6 Asymp. Sig. .000 a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: Kategori AST Mann-Whitney Test Ranks KategoriAST AktivitasAST Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) Total N Mean Rank Sum of Ranks 5 4.80 24.00 5 6.20 31.00 10

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Test Statistics b AktivitasAST Mann-Whitney U 9.000 Wilcoxon W 24.000 Z -.731 Asymp. Sig. (2-tailed) .465 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .548 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Total Test Statistics Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10 b AktivitasAST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.619 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .009 .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) Kontrol Minyak N Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Ranks KategoriAST AktivitasAST N Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) Kontrol Minyak Total Test Statistics Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10 b AktivitasAST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) Kontrol CCl4 Total Test Statistics b 5.000 Wilcoxon W 20.000 Z -1.567 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. .117 .151 a Sum of Ranks 5 4.00 20.00 5 7.00 35.00 10 AktivitasAST Mann-Whitney U Mean Rank

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Test Statistics b AktivitasAST Mann-Whitney U 5.000 Wilcoxon W 20.000 Z -1.567 Asymp. Sig. (2-tailed) .117 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .151 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) Kontrol Infusa Mimosa pigra Total Test Statistics Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10 b AktivitasAST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .009 .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST Perlakuan Dosis I (1,26g/KgBB) Kontrol Silimarin Total N Mean Rank Sum of Ranks 5 7.20 36.00 5 3.80 19.00 10

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 Test Statistics b AktivitasAST Mann-Whitney U 4.000 Wilcoxon W 19.000 Z -1.776 Asymp. Sig. (2-tailed) .076 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .095 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Total Test Statistics Mean Rank 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10 b AktivitasAST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.619 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST .009 .008 a Sum of Ranks

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 Ranks KategoriAST AktivitasAST N Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) Kontrol Minyak Total Test Statistics Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10 b AktivitasAST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) Kontrol CCl4 Total Test Statistics b 6.000 Wilcoxon W 21.000 Z -1.358 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. .175 .222 a Sum of Ranks 5 4.20 21.00 5 6.80 34.00 10 AktivitasAST Mann-Whitney U Mean Rank

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 Test Statistics b AktivitasAST Mann-Whitney U 6.000 Wilcoxon W 21.000 Z -1.358 Asymp. Sig. (2-tailed) .175 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .222 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) Kontrol Infusa Mimosa pigra Total Test Statistics Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10 b AktivitasAST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .009 .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST Perlakuan Dosis II (1,89g/KgBB) Kontrol Silimarin Total N Mean Rank Sum of Ranks 5 8.00 40.00 5 3.00 15.00 10

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 Test Statistics b AktivitasAST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Kontrol Minyak Total Test Statistics Mean Rank Sum of Ranks 5 3.80 19.00 5 7.20 36.00 10 b AktivitasAST Mann-Whitney U 4.000 Wilcoxon W 19.000 Z -1.781 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .075 .095 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Kontrol CCl4 N Mean Rank Sum of Ranks 5 3.00 15.00 5 8.00 40.00

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 Ranks KategoriAST AktivitasAST N Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Kontrol CCl4 Total Test Statistics Mean Rank Sum of Ranks 5 3.00 15.00 5 8.00 40.00 10 b AktivitasAST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.619 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Kontrol Infusa Mimosa pigra Total Test Statistics b 5.000 Wilcoxon W 20.000 Z -1.571 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. .116 .151 a Sum of Ranks 5 4.00 20.00 5 7.00 35.00 10 AktivitasAST Mann-Whitney U Mean Rank

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 Test Statistics b AktivitasAST Mann-Whitney U 5.000 Wilcoxon W 20.000 Z -1.571 Asymp. Sig. (2-tailed) .116 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .151 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Perlakuan Dosis III (2,835g/KgBB) Kontrol Silimarin Total Test Statistics Mean Rank Sum of Ranks 5 3.60 18.00 5 7.40 37.00 10 b AktivitasAST Mann-Whitney U 3.000 Wilcoxon W 18.000 Z -1.991 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .047 .056 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Mean Rank Sum of Ranks Kontrol Minyak 5 3.00 15.00 Kontrol CCl4 5 8.00 40.00 Total 10

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Test Statistics b AktivitasAST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Mean Rank Sum of Ranks Kontrol Minyak 5 7.10 35.50 Kontrol Infusa Mimosa pigra 5 3.90 19.50 Total Test Statistics 10 b AktivitasAST Mann-Whitney U 4.500 Wilcoxon W 19.500 Z -1.676 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .094 .095 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Mean Rank Sum of Ranks Kontrol Minyak 5 4.80 24.00 Kontrol Silimarin 5 6.20 31.00 Total 10

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 Test Statistics b AktivitasAST Mann-Whitney U 9.000 Wilcoxon W 24.000 Z -.731 Asymp. Sig. (2-tailed) .465 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .548 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Mean Rank Sum of Ranks Kontrol CCl4 5 8.00 40.00 Kontrol Infusa Mimosa pigra 5 3.00 15.00 Total Test Statistics 10 b AktivitasAST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .009 .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Mean Rank Sum of Ranks Kontrol CCl4 5 8.00 40.00 Kontrol Silimarin 5 3.00 15.00 Total 10

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Test Statistics b AktivitasAST Mann-Whitney U .000 Wilcoxon W 15.000 Z -2.611 Asymp. Sig. (2-tailed) .009 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .008 a a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST Ranks KategoriAST AktivitasAST N Mean Rank Sum of Ranks Kontrol Infusa Mimosa pigra 5 4.20 21.00 Kontrol Silimarin 5 6.80 34.00 Total Test Statistics 10 b AktivitasAST Mann-Whitney U 6.000 Wilcoxon W 21.000 Z -1.358 Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: KategoriAST .175 .222 a

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 Lampiran 9. Perhitungan % hepatoprotektif (1- ) x100% Kelompok Kontrol Silimarin dosis 25 mg/KgBB =(1- )x 100% = 38,32 % Kelompok perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,26 g/KgBB =(1- )x 100% = 29,14 % Kelompok perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,89 g/KgBB =(1- )x 100% = 6,38 % Kelompok perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. dosis 2,835 g/KgBB

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 )x 100% =(1= 80,84 % (1- S S S S ) x100% Kelompok kontrol Silimarin dosis 25 mg/KgBB =(1- )x 100% = 75,95 % Kelompok perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. dosis 1,26 g/KgBB =(1- )x 100% = 29,14 % Kelompok perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. 1,89 g/KgBB =(1- )x 100% = 16,67 % Kelompok perlakuan infusa herba Mimosa pigra L. 2,835g/KgBB =(1= 104,25 % )x 100%

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 BIOGRAFI PENULIS Penulis skripsi dengan judul “Efek Hepatoprotektif Pemberian Infusa Herba Mimosa Pigra L. Selama Enam Hari pada Tikus Jantan Terinduksi Karbon Tetraklorida” memiliki nama lengkap Cornelia Melinda. Penulis lahir di Jakarta, 13 Desember 1992 dan merupakan putri semata wayang dari pasangan Rio Nugroho dan Maria Mulyani Sri Suprapti. Awal masa pendidikan penulis adalah di TK Angkasa III Ngliyep, Malang (1997 – 1998). Kemudian melanjutkan pendidikan di SD Bopkri Palihan, Kulonprogo (1998 – 2004). Tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama ditempuh oleh penulis di SMP Stella Duce 1 Yogyakarta (2004 – 2007), dan melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMA Stella Duce 1 Yogyakarta (2007-2010). Penulis kemudian menempuh pendidikan sarjana strata satu di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2010. Semasa menempuh kuliah, penulis aktif dalam berbagai kegiatan antara lain anggota Divisi Kesekretariatan Photo-Exhibition Aksi Reaksi Farmasi (2012), anggota Redaksi Pharmaholic periode 2011 – 2012, Koordinator Divisi Dekorasi dan Dokumentasi Kegiatan Desa Mitra (2012), anggota Divisi Acara dalam Komisi Pemilihan Umum Gubernur BEMF dan Ketua DPMF Farmasi periode 2012 – 2013. Penulis juga merupakan anggota Tim Pelaksana Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian yang lolos didanai DIKTI periode 2013, selain itu penulis juga pernah menjadi Asisten Praktikum Farmakologi-Toksikologi periode tahun 2012.

(137)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Efek hepatoprotektif pemberian jangka pendek infusa herba Bidens pilosa L. terhadap aktivitas ALT-AST serum pada tikus betina terinduksi karbon tetraklorida.
1
4
113
Efek hepatoprotektif pemberian jangka panjang infusa herba Bidens pilosa L. terhadap aktivitas ALT-AST serum pada tikus betina terinduksi karbon tetraklorida.
1
1
94
Efek hepatoprotektif pemberian jangka pendek infusa herba Sonchus arvensis L. terhadap aktivitas AST-ALT pada tikus jantan Galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida.
0
5
100
Efek hepatoprotektif pemberian infusa kulit Persea americana Mill. terhadap ALT-AST tikus terinduksi karbon tetraklorida.
0
2
125
Efek hepatoprotektif jangka pendek infusa biji atung (Parinarium glaberimum Hassk) pada tikus jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida
0
2
66
Efek hepatoprotektif infusa daun macaranga tanarius L. pada tikus jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida.
0
0
108
Efek antihepatotoksik infusa herba mimosa pigra L. terhadap tikus putih jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida.
0
0
145
Pengaruh pemberian jangka panjang infusa kulit Persea americana Mill. terhadap aktivitas alkali fosfatase pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida
0
6
79
Efek hepatoprotektif jangka panjang infusa biji atung (Parinarum glaberimum Hassk.) pada tikus jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida
0
0
63
Efek hepatoprotektif jangka waktu enam jam ekstrak etanol daun macaranga tanarius L. terhadap ALT AST pada tikus jantan terinduksi karbon tetraklorida
0
1
109
Efek hepatoprotektif pemberian infusa kulit Persea americana Mill. terhadap ALT AST tikus terinduksi karbon tetraklorida
0
0
123
Efek hepatoprotektif infusa daun Macaranga tanarius L. pada tikus jantan galur wistar terinduksi parasetamol - USD Repository
0
0
86
Efek hepatoprotektif jangka pendek ekstrak metanol-air daun macaranga tanarius L. terhadap tikus terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
104
Efek antihepatotoksik infusa herba mimosa pigra L. terhadap tikus putih jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
143
Efek hepatoprotektif infusa daun macaranga tanarius L. pada tikus jantan galur wistar terinduksi karbon tetraklorida - USD Repository
0
0
106
Show more