PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA PD. BPR BANK PASAR KABUPATEN BANGLI.

Gratis

0
3
71
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Penulis tak lupa mengucapkanterimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini baik berupa bimbingan, arahan, saran, dandukungan teknis maupun moril. Para Informan yang telah banyak member informasi guna melengkapi penulisan skripsi ini dan atas masukan yang telah menambahpengetahuan penulis 12.

BAB V PENUTUP

  BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli dilatarbelakangi oleh bankmemiliki peran yang sangat penting dalam kegiatan perekonomian yaitu menghimpun dana darimasyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangkameningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara untuk memperolehinformasi terkait kredit macet dan teknik studi dokumen dilakukan atas bahan- bahan hukum yang relevan.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

  Salah satu dasarkuat dan jelas bank mengenai keharusan adanya suatu perjanjian kredit adalah ketentuan dalam Pasal 1 angka 11 UU Perbankan, yang menyatakan bahwa kreditdiartikan sebagai penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bankdengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya 6 setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Dimana di tahun 2013 jumlah nasabah atau debitur yang mengalami kredit macet adalah sebanyak 86 orang, tahun 2014 jumlah nasabah yang mengalamikredit macet sebanyak 104 orang dan terakhir di tahun 2015 jumlah nasabah yang mengalami kredit macet adalah sebanyak 112 orang.

1.5 Tujuan penelitian

  Untuk mengetahui dan mengkaji apa saja faktor-faktor yang dapat menimbulkan kredit macet padaPD. Untuk mengetahui bagaimana proses penyelesaian kredi macet dan upaya yang dilakukan oleh Pihak PD.

1.6 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dari skripsi ini dibedakan atas manfaat teoritis dan manfaat praktis, yaitu sebagai berikut:

1.6.1 Manfaat Teoritis

  Untuk menambah wawasan dan pengetahuan sekaligus sebagai sumbangan ilmu khususnya dalam materi mengenai kredit macet sehingga dapatmembantu mempersiapkan diri sebagai generasi penerus bangsa yang berwawasan dan bercita-cita tinggi. Untuk memperluas pengetahuan mengenai penyelesaian kredit macet melalui teori-teori hukum perbankan sebagai dasar hukumnya yang tentunyaberkaitan dengan kebijakan penyelesaian kredit macet oleh pihak bank yang yang bersangkutan.

1.6.2 Manfaat Praktis

  Memperluas pengetahuan dalam hal mekanisme penyelesaian kredit macet dan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kredit macetpada PD. Kiranya dapat membantu jika suatu saat dihadapkan pada penyelesaian kasus serupa yang berkaitan dengan penyelesaian kredit macet dalamperbankan yang dalam hal ini dikhususkan pada PD.

1.7 Landasan teoritis

  Sehubungan dengan permasalahan yang diajukan maka dipandang perlu untuk membahas atau mengajukan kerangka teoritis. Kerangka teoritis yangdimaksudkan tiada lain untuk dapat memberikan landasan-landasan teori terhadap pembahasan atas permasalahan yang diajukan.

1. Teori Efektifitas Hukum

  Hukum menentukan peranan apa yang sebaiknya dilakukan oleh para subyek hukum maka, hukum yang berlakutersebut berjalan secara efektif dan semakin mendekati apa yang telah ditentukan 11 dalam kaidah hukum. Teori efektivitas hukum yang dikemukakan Soerjono Soekanto tersebut 12 relevan dengan teori yang dikemukakan oleh Romli Atmasasmita yaitu bahwa faktor-faktor yang menghambat efektivitas penegakan hukum tidak hanya terletakpada sikap mental aparatur penegak hukum (hakim, jaksa, polisi dan penasihat hukum) akan tetapi juga terletak pada faktor sosialisasi hukum yang seringdiabaikan.

13 Soerjono Soekanto, 1983,Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum, Rajawali Pers

  14 nyata. Hakikatnya penegakkan hukum bukan hanya menjadi tugas dari para penegak hukum yang sudah dikenal secara konvensional, tetapi menjadi tugas darisetiap orang.

2. Teori Kepastian Hukum

  Kaum Positivisme lebih menekankan pada kepastian hukum,sedangkan Kaum Fungsionalis mengutamakan kemanfaatan hukum, dan sekiranya dapat dikemukakan bahwa “summum ius, summa injuria, summa lex, summa crux” yang artinya adalah hukum yang keras dapat melukai, kecuali keadilan yang dapat menolongnya, dengan demikian kendatipun keadilan bukan merupakan tujuan hukum satu-satunya akan tetapi tujuan hukum yang paling 16 substantif adalah keadilan. Menurut Utrecht, kepastian hukum mengandung dua pengertian, yaitu pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahuiperbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena denganadanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang 17 boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.

3. Teori Penyelesaian Sengketa

  Namun, Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa ( selanjutnya disebut UUArbitrase dan APS) menyebutkan bahwa Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa yangdidasarkan pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri. Frans Hendra Winarta mengatakan bahwa secara konvensional, penyelesaian sengketa dalam dunia bisnis, seperti dalam perdagangan, perbankan,proyek pertambangan, minyak dan gas, energi, infrastruktur, dan sebagainya dilakukan melalui proses litigasi.

18 Achmad Ali, 2002, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), PT

19 sengketa lain tidak membuahkan hasil. Hal serupa juga dikatakan olehRachmadi Usman, bahwa selain melalui pengadilan (litigasi), penyelesaian sengketa juga dapat diselesaikan di luar pengadilan (non litigasi), yang lazimdinamakan dengan Alternative Dispute Resolution (ADR) atau Alternatif

20 Penyelesaian Sengketa

  Jalur non litigasi adalah kebalikan dari litigasi sebagian besar tugasnya adalah untuk penyelesaiaan sengketa di luar pengadilan dengan melaluiperdamaian. Menurut Pasal 1 angka 10 UU Arbitrase dan APS, Alternatif PenyelesaianSengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilandengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.

1.8 Metode penelitian

  1.8.1 Jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah penelitian hukum empiris, yakni hukum dikonsepkan sebagai suatu gejala empiris yang 23 dapat diamati dalam kehidupan nyata. Hukum sebagai gejala sosio empirik dapat dipelajari di satu sisi sebagai suatu independent variable yang menimbulkan efek-efek pada pelbagai kehidupan sosial, dan di lain sisi sebagai suatu dependent variable yang muncul sebagaiakibat berbagai ragam kekuatan dalam proses sosial (studi mengenai law in 24 process).

1.8.3 Sifat penelitian

  Dalam penelitian ini teori-teori, ketentuan peraturan, norma-norma hukum, karya tulis yang dimuat dalam literature maupun jurnal, doktrin, sertalaporan penelitian yang terdahulusudah mulai ada dan bahkan jumlahnya cukup memadai sehingga dalam penelitian ini hipotesis boleh ada atau boleh juga 26 tidak. Penelitian deskriptif dapat membentuk teori-teori baru yang dapat 27 memperkuat teori yang sudah ada.

1.8.4 Sumber data

  Data ini diperoleh dengan mengadakan penelitian secara langsung di lapangan yang akan dilakukan dengan pihak terkaitseperti dengan beberapa nasabah (debitur) dan pihak PD. Teknik studi dokumenStudi dokumen merupakan teknik awal yang digunakan dalam setiap penelitian ilmu hukum, baik dalam penelitian normatif maupun penelitian hukumempiris, karena meskipun aspeknya berbeda namun keduanya adalah penelitian ilmu hukum yang selalu bertolak dari premis normatif.

BAB II TINJAUAN UMUM KREDIT, PERJANJIAN KREDIT DAN BANK PERKREDITAN RAKYAT

2.1 Kredit

2.1.1 Pengertian kredit

  Prestasi dan kontraprestasi yaitu adanya objek tertentu berupa prestasi dan kontraprestasi pada saat tercapainya persetujuan kesepakatan pemberiankredit yang dituangkan dalam perjanjian kredit antara bank dan nasabah peminjam dana yaitu berupa uang atau tagihan yang diukur dengan uang danbunga atau imbalan, atau bahkan tanpa imbalan bagi bank syariah. Meningkatkan peredaran uangKredit juga dapat menambah atau memperlancar arus barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya, sehingga jumlah barang yang beredar tersebutbertambah atau kredit dapat pula meningkatkan jumlah barang yang beredar yang biasanya untuk kredit atau kredit ekspor impor.

2.1.4 Prinsip-prinsip pemberian kredit

  Pasal 8 ayat (1) UU Perbankan menyebutkan bahwa dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, bankumum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasiutangnya atau mengembalikan pembiayaan yang dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan. Berkaitan dengan itu menurut penjelasan pasal 8 ayat (2) UU Perbankan dikemukakan bahwa pedoman perkreditan dan pembiayaan berdasarkan prinsipsyariah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yang wajib dimiliki dan diterapkan 35 oleh bank dalam pemberian kredit dan pembiayaan adalah sebagai berikut : a.

2.2 Perjanjian Kredit

2.2.1 Pengertian perjanjian kredit

  Dengan bentuk tertulispara pihak tidak dapat mengingkari apa yang telah diperjanjikan dan ini akan merupakan bukti kuat dan jelas apabila terjadi sesuatu kepada kredit yang telahdisalurkan atau juga dalam hal ingkar janji oleh pihak bank. tersebut menyebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

2.2.2 Syarat- syarat sahnya perjanjian kredit

  2.2.3 Fungsi perjanjian kredit Perjanjian kredit ini memperoleh perhatian khusus baik oleh pihak bank sebagai kreditur maupun oleh nasabah sebagai debitur, karena perjanjian kredit inimempunyai fungsi yang sangat penting dalam pemberian, pengelolaan, dan penatalaksanaan kredit tersebut. Akibat dari asas pacta sunt servanda adalah perjanjian tidak dapat ditarik kembali tanpa persetujuan para pihak sesuaidengan ketentuan yang terdapat dalam pasal 1338 ayat (2) KUHPerdata yang berbunyi :suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan kata sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang48 dinyatakan cukup untuk itu49 Salim H.

2.3 Bank Perkreditan Rakyat

2.3.1 Pengertian Bank Perkreditan Rakyat

  Menurut Pasal 1 ayat (3) UUPerbankan Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannyamemberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sedangkan BPR menurut pasal Pasal 1 ayat (4) adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidakmemberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

2.3.2 PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli

  Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat “ Bank Pasar “ KabupatenBangli (PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli) adalah sebuah LembagaKeuangan yang bergerak dalam bidang perbankan dengan kegiatan penggalangan dan penyaluran dana, dari dan untuk masyarakat, dengan status Badan UsahaMilik Daerah Kabupaten Bangli berdasarkan Surat Keputusan dan Ijin MenteriKeuangan Republik Indonesia No. Bupati sebagai Kepala Daerah mewakili Pemerintah Kabupaten Bangli dimana Bupati ditunjuk sebagai pemilik dan pemegang saham BPR Daerahberdasarkan ketentuan pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam NegeriNomor 22 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Bank Perkreditan Rakyat MilikPemerintah Daerah (selanjutnya disebut Permendagri Nomor 22 Tahun 2006 tentang Pengelolaan BPR Milik Perusahaan Daerah) .

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KREDIT MACET PADA BANK “X” DI KABUPATEN JEMBER
3
31
100
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KREDIT MACET PADA BANK “X” DI KABUPATEN JEMBER
0
11
16
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KREDIT MACET PADA BANK “X” DI KABUPATEN JEMBER
0
5
16
STRATEGI MEMINIMALISIR TERJADINYA KREDIT MACET PADA PT. BPR MANDIRI ADIYATRA LAWANG
0
22
22
EVALUASI PENANGANAN KREDIT MACET PADA PT BANK RAKYAT INDONESIA ( BRI ) UNIT SUMBERMANJING KABUPATEN MALANG
1
28
23
PENYELESAIAN KREDIT MACET KEPEMILIKAN RUMAH PADA PT. BANK TABUNGAN NEGARA TBK. KANTOR CABANG ADE IRMA MALANG
0
8
23
MANAJEMEN KREDIT PADA PD. BPR MUSTAQIM SUKAMAKMUR
0
7
1
KETENTUAN JAMINAN KREDIT DEPOSITO BERJANGKA PADA PD. BPR MUSTAQIM SUKAMAKMUR
0
4
1
PROSEDUR PENGAWASAN KREDIT KELOMPOK PERTANIAN PADA PD. BPR MUSTAQIM SUKAMAKMUR
0
3
1
ANALISIS YURIDIS PENJUALAN OBJEK JAMlINAN FIDUCIA DENGAN CARA DI BAWAH TANGAN DALAM PENYELESAIAN KREDIT MACET DI PT. BPR BAPURI JEMBER
0
3
93
ANALISIS YURIDIS WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN PEMBERIAN KREDIT BAGI USAHA KECIL DI PD. BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR) BANK PASAR KABUPATEN LUMAJANG
0
4
9
ASPEK HUKUM TERHADAP PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) Tbk.
0
4
18
BANTAHAN EKSEKUSI LELANG DALAM PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA BANK PEMERINTAH
0
5
16
CARA PENYELESAIAN KREDIT MACET DALAM PERJANJIAN KREDIT DENGAN JAMINAN HAK ATAS TANAH PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) CABANG KEBAYORAN BARU JAKARTA SELATAN
1
6
91
KINERJA PD BPR BANK PASAR KABUPATEN BOYOLALI
0
0
171
Show more