PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA PD. BPR BANK PASAR KABUPATEN BANGLI.

71 

Full text

(1)

BANK

DEWA

i

ANK PASAR KABUPATEN BANG

WA AYU DWI INDAH CAHYANTI BADUN NIM. 1203005102

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2016

NGLI

(2)

ii

Skripsi ini dibuat untuk memperoleh Gelar Sarjana Hukum

pada Fakultas Hukum Universitas Udayana

DEWA AYU DWI INDAH CAHYANTI BADUNG NIM. 1203005102

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS UDAYANA

(3)
(4)
(5)

v

Pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli” dapat diselesaikan tepat pada

waktunya. Skripsi ini disusun dalam rangka untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Udayana.

Penulisan skripsi ini tidak akan terselesaikan dengan baik tanpa adanya

dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Penulis tak lupa mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu

dalam proses penyelesaian skripsi ini baik berupa bimbingan, arahan, saran, dan dukungan teknis maupun moril. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih setulus-tulusnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. I Gusti Ngurah Wairocana, SH.,MH. Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana

2. Bapak I Ketut Sudiarta, SH.,M.H. Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Udayana

3. Bapak I Wayan Bela Siki Layang, SH,.M.H. Pembantu Dekan II

Fakultas Hukum Universitas Udayana

4. Bapak I Wayan Suardana, SH.,MH. Pembantu Dekan III Fakultas

Hukum Universitas Udayana

(6)

vi

baik.

7. Bapak Dr. Dewa Gde Rudy, SH,.M.Hum., Dosen pembimbing II yang telah membimbing, memberikan saran dan petunjuk sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

8. Ibu Dr. Ni Nyoman Sukerti, SH,.MH., Pembimbing Akademik yang telah memberikan waktu dan petunjuk selama mengikuti perkuliahan

9. Bapak dan Ibu Dosen baik yang pernah mengajar penulis ataupun tidak, penulis ucapkan terima kasih atas limpahan pengetahuannya hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dan mengakhiri studi S1

10. Bapak atau Ibu Pegawai Administrasi, Tata Usaha dan Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Udayana yang telah membantu penulis

selama menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Udayana 11. Para Informan yang telah banyak member informasi guna melengkapi

penulisan skripsi ini dan atas masukan yang telah menambah

pengetahuan penulis

12. Seluruh keluarga besar terutama kepada kedua orang tua penulis, Dewa

(7)

vii

Ika, Ayu, Ayu Oka, Beby, Deby dan segenap pihak yang tidak dapat

penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu, memberi semangat, dan dukungan dalam penulisan skripsi ini

Semoga segala bantuan dan budi baik yang telah diberikan kepada penulis

dapat bermanfaat dan berguna serta Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu melimpahkan dan menganugrahkan rahmat-Nya.

Akhir kata, penulis memohon maaf jika terdapat kekeliruan atau kesalahan dalam penyusunan skripsi ini.Penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan skripsi ini.Semoga skripsi ini dapat

berguna dan bermanfaat bagi semua pihak pada umumnya dan bagi perkembangan ilmu hukum pada khususnya.

Denpasar, 19 Januari 2016

(8)
(9)

ix

HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM...ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iii

HALAMAN PENETAPAN PANITIA PENGUJI...iv

KATA PENGANTAR ...v

SURAT PERSYARATAN KEASLIAN ...viii

DAFTAR ISI ...ix

ABSTRAK ...xiii

ABSTRACT ...xiv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ...1

1.2 Rumusan Masalah ...7

1.3 Ruang Lingkup Masalah ...7

1.4 Orisinalitas Penelitian ...7

1.5 Tujuan Penelitian ...9

1.5.1 Tujuan umum ...9

1.5.2 Tujuan khusus ...9

1.6 Manfaat Penelitian ...9

1.6.1 Manfaat teoritis ...9

1.6.2 Manfaat praktis ...10

1.7 Landasan Teoritis...10

(10)

x

1.8.4 Sumber data ...21

1.8.5 Teknik pengumpulan data ...23

1.8.6 Teknik pengolahan dan analisis data ...23

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KREDIT, PERJANJIAN KREDIT, DAN BANK PERKREDITAN RAKYAT 2.1 Kredit ...25

2.1.1 Pengertian kredit ...25

2.1.2 Unsur-unsur kredit ...28

2.1.3 Fungsi kredit ...28

2.1.4 Prinsip-prinsip pemberian kredit ...31

2.2 Perjanjian kredit...39

2.2.1 Pengertian perjanjian kredit...39

2.2.2 Syarat-syarat sahnya perjanjian kredit ...43

2.2.3 Fungsi perjanjian kredit ...46

2.2.4 Asas-asas perjanjian kredit ...46

2.3 Bank Perkreditan Rakyat ...49

2.3.1 Pengertian Bank Perkreditan Rakyat ...49

(11)

xi

3.2 Kredit Macet pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli..62

3.3 Penyebab Terjadinya Kredit Macet pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli ...63

3.1.1 Faktor internal ...63

3.1.2 Faktor eksternal...66

BAB IV CARA PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA PD. BPR BANK PASAR KABUPATEN BANGLI 4.1 Upaya Pencegahan Kredit Macet ...70

4.2 Penyelesaian Non Litigasi ...71

4.2.1 8 (delapan) langkah pembinaan ...72

4.2.2 Restrukturisasi Kredit ...73

1. Pengurangan suku bunga kredit ...74

2. Pengurangan tunggakan bunga kredit ...75

3. Perpanjangan jangka waktu kredit ...76

4. Penambahan fasilitas kredit ...76

4.3 Penyelesaian melalui Jalur Litigasi ...77

4.3.1 Somasi...77

4.3.2 Gugatan kepada debitur ...78

(12)

xii

DAFTAR PUSTAKA ...92 DAFTAR INFORMAN

(13)

xiii

sangat penting dalam kegiatan perekonomian yaitu menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dalam penyaluran kredit kepada debitur, PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli banyak mengalami permasalahan, salah satunya adalah kredit macet.Kredit macet yang tidak ditangani dengan baik akan mengganggu kondisi keuangan bank bahkan dapat menyebabkan bank menjadi bermasalah atau bangkrut. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut 1) Faktor- faktor apa yang menyebabkan terjadinya kredit macet padaPD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli, 2) Bagaimanakah upaya penyelesaian kredit macet padaPD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli.

Dalam penulisan skripsi ini metode yang digunakan adalah metode penelitian hukum empiris yaitu dengan melakukan penelitian secara langsung ke lapangan dengan mendatangi objek penelitian.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara untuk memperoleh informasi terkait kredit macet dan teknik studi dokumen dilakukan atas bahan-bahan hukum yang relevan.

Hasil dari penelitian ini adalah faktor –faktor yang mempengaruhi terjadinya kredit macet pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Dalam menangani permasalahan kredit macet, PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli, menempuh penyelesaian non litigasi yang berupa 8(delapan) langkah pembinaan dan restrukturisasi kredit.Apabila segala upaya pencegahan dan penyelesaian non litigasi tidak berhasil.Pihak PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli akan melakukan penyelesaian kredit macet melalui jalur litigasi yaitu dengan somasi, gugatan kepada debitur dan eksekusi jaminan melalui Kantor PelayananKekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Saran yang dapat disampaikan penulis yaitu untuk mengurangi terjadinya kredit macet, pihak bank harus lebih cermat dalam melakukan analisis pemberian kredit.

(14)

xiv

distribute them back to the community in the form of credit or other forms in order to improve standard living of the people. In lending to debtors, PD. BPR Bank Pasar Bangli regency experienced many problems and one of them is bad credit. Bad credit are not handled properly will disrupt the bank's financial condition may even lead to be troubled or insolvent bank. Based on the description above problems it can be formulated as follows 1)What factors cause bad credit at PD. BPR Bank Pasar Bangli Regency? 2) How is the settlement bad credit on the PD. BPR Bank Pasar Bangli regency?

In writing this thesis method used is the method of empirical legal research is to conduct research directly into the field by visiting the object of research. Data collection techniques used in this research is interview techniques to obtain information related to bad credit and technical studies carried documents on materials relevant law.

The results from this study are the factors that influence the occurrence of bad credit on the PD. BPR Bank Pasar Bangli regency that are from internal factors and external factors. In handle the problem bad credit, PD. BPR Bank Pasar Bangli regency takes non-litigation settlement in the form of 8 (eight) step coaching and credit restructuring. If all necessary precaution and non litigation

settlement didn’t succeed, PD. BPR Bank Pasar Bangli regency will conduct the settlement bad credit through litigation is by legal notice, lawsuit against the debtor and execution of collateral through the service office and auction of state assets (KPKNL). Suggestions can be submitted writer is to reduce the occurrence of bad credit, the banks should be more careful in analyzing credit.

(15)

1

1.1 Latar Belakang Masalah

Bagi perkembangan ekonomi suatu Negara, uang merupakan suatu

kebutuhan bahkan bagi Negara maju yang sudah kuat pun, uang sangat berperan dalam perkembangan ekonomi di negaranya.Hal ini disebabkan karena dalam mengisi kebutuhan pembangunan, uang ini masih dianggap sektor yang paling

vital ditinjau menurut tinjauan ekonomi. Dalam kehidupan sehari-hari keperluan akan dana untuk menggerakan roda perekonomian dirasakan semakin meningkat.

Disatu sisi ada masyarakat yang kelebihan dana, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mengusahakannya, dan di sisi lain ada kelompok masyarakat lain yang memiliki kemampuan untuk berusaha namun terhambat pada kendala oleh karena

hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak sama sekali.

Berkaitan dengan upaya peningkatan perekonomian masyarakat, pemberian kredit melalui perjanjian kredit kepada masyarakat dapat memperkuat permodalan

yang nantinya diharapkan meningkatkan taraf hidup masyarakat pada umumnya. Peranan bank sangat penting selaku lembaga keuangan dengan tugas pokok yaitu

menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat, pengusaha untuk membiayai sektor riil melalui pemberian kredit.1Bank menurut pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998

tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan 1

(16)

( selanjutnya disebut UU Perbankan) menyatakan Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya

kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk- bentuklainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Peranan bank sebagai perantara keuangan didasarkan pada dua unsur yang

terkait yaitu hukum dan kepercayaan. Suatu bank akan dapat melakukan kegiatan apabila masyarakat percaya untuk menempatkan uangnya dalam produk-produk

perbankan yang ada di bank tersebut. Bank memiliki peranan penting dalam kegiatan perekonomian, yaitu menghimpun dan menyalurkan dana ke masyarakat secara efektif dan efisien dalam rangka peningkatan dan percepatan perekonomian

salah satu wujud bank peranan bank sebagai lembaga keuangan yang dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional yaitu dalam menyalurkan

dana kepada mayarakat berupa pemberian kredit.

Kredit yang diberikan oleh bank berdasarkan atas kepercayaan sehingga pemberian kredit merupakan pemberian kepercayaan kepada nasabah.Pemberian

kredit oleh pihak bank harus memperhatikan asas-asas pemberian kredit yang sehat.2Kredit yang diberikan oleh bank sebagian besar tidak dapat dikembalikan

secara utuh oleh nasabah debiturnya, yang membawa resiko bagi bank yang bersangkutan akhirnya menimbulkan kredit-kredit macet.Kredit macet terjadi jika pihak bank mengalami kesulitan untuk meminta angsuran dari pihak debitur

karena suatu hal.Kredit- kredit macet ini merupakan suatu fenomena sosial bagi

2

(17)

dunia perbankan. Apabila kredit yang diberikan suatu bank mengalami kemacetan, sudah barang tentu akan mengakibatkan kemampuan bank dalam

melaksanakan kewajibannya terhadap para penyimpan dananya akan lumpuh. Kemampuan bank untuk dapat membayar kembali simpanan dana masyarakat

banyak tergantung pula dari kemampuan bank untuk memperoleh pembayaran kembali kredit yang diberikan oleh bank kepada para nasabah debiturnya.

Begitu besarnya kredit macet yang dihadapi oleh perbankan, sehingga

membawa pengaruh terhadap perekonomian nasional. Apabila kredit macet dalam perbankan tidak dapat ditangani secara tuntas maka dikhawatirkan akan menjadi salah satu penghambat pertumbuhan perkreditan dalam perbankan yang pada

akhirnya dapat mengganggu efektifitas kebijaksanaan dalam upaya memantapkan suku bunga kredit.3Penyelesaian kredit macet yang belum jelas akan mengganggu

terciptanya sistem perbankan yang sehat oleh karena itu, upaya penanganan kredit bermasalah (macet) selayaknya dilakukan dari berbagai segi antara lain faktor intern bank itu sendiri, faktor intern debitur dan faktor-faktor lainnya.

Kredit yang dikelola dengan prinsip kehati-hatian dan prinsip kepercayaan akan menempatkan pada kualitas kredit yang Performing Loan sehingga dapat

memberikan pendapatan yang besar bagi bank. Pendapatan yang diperoleh dari perkreditan berupa selisih antara biaya dana dengan bunga yang dibayar oleh para pemohon kredit. Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan kredit yang sehat dan

menguntungkan maka sejak awal permohonan kredit harus dilakukan analisa

3

(18)

yangakurat dan mendalam oleh seorang analisis dan pejabat-pejabat yang bertugas di unit kerja pengelolaan kredit guna mengurangi kredit macet.

Pemberian kredit oleh suatu bank dapat mempengaruhi kesehatan bank karena bagaimanapun juga mengandung resiko kegagalan atau kemacetan dalam

pelunasannya. Mengingat bahwa kredit tersebut bersumber dari dana masyarakat yang disimpan di bank, maka resiko yang dihadapi bank dapat berpengaruh pada keamanan dana masyarakat tersebut. Oleh karena itu, untuk memelihara kesehatan

dan meningkatkankan daya tahannya, bank diwajibkan menyebar resiko dengan mengatur proses penyaluran kredit, pemberian jaminan, maupun fasilitas lain

sehingga tidak hanya terfokus pada debitur atau kelompok debitur tertentu. Tahap analisis pemberian kredit merupakan tahapan yang paling penting sebelum menandatangani isi perjanjian kredit antara pihak bank dengan nasabah.Tahap ini

bertujuan untuk memperoleh keyakinan bagi pihak bank bahwa calon nasabah debitur mempunyai kemampuan untuk melunasi kredit yang diberikan. Secara

tradisional, analisis bank terhadap calon nasabah debitur dilakukan terhadap aspek yang dikenal dalam dunia perbankan sebagai “the five C’s Of Credit” yaitu

character, capacity, capital, conditions, dan collateral” sebagaimana

diisyaratkan pasal 8 UU Perbankan.4

Berpegang teguh pada prinsip yang dianut tersebut maka akan semakin ketatnya persyaratan yang ditawarkan pihak bank untuk memberikan kredit. Hal

ini menyebabkan nasabah akan semakin sulit untuk memperoleh kredit sehingga pembangunan perekonomian dan peningkatan taraf hidup akan terhambat. Bila

4

(19)

dalam proses atau tahap analisis kredit terjadi kekurang telitian atau kesalahan yang menyebabkan terjadinya kemacetan pengembalian kredit di kemudian hari,

maka yang bertanggung jawab atas hal ini adalah bank sebagai badan hukum dan pengurus serta pemegang saham atau pemilik bank secara bersama-sama.5

Berdasarkan Instruksi Presidium Nomor 15/IN/ 10/66 tentang Pedoman

kebijakan di Bidang Perkreditan tanggal 3 Oktober 1996 juncto Surat Edaran Bank Negara Indonesia Unit I Nomor 2/539/UPK/Pemb Tanggal 8 Oktober 1966,

Surat Edaran Bank Negara Indonesia Unit I Nomor 2/649/UPK/Pemb Tanggal 20 Oktober 1966 dan Instruksi Presidium Kabinet Nomor 10/EK/2/1967 tanggal 6 Februari 1967 menyatakan bahwa bank dilarang melakukan pemberian kredit

dalam berbagai bentuk tanpa adanya perjanjian kredit yang jelas antara bank dan nasabah atau Bank Sentral dan bank-bank lainnya. Dari sini jelaslah bahwa

pemberian kredit bank wajib dituangkan dalam perjanjian kredit. Salah satu dasar kuat dan jelas bank mengenai keharusan adanya suatu perjanjian kredit adalah ketentuan dalam Pasal 1 angka 11 UU Perbankan, yang menyatakan bahwa kredit

diartikan sebagai penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank

dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.6

Berdasarkan ketentuan tersebut, Nasabah sebagai pihak peminjam dana

berkewajiban untuk mengembalikan kredit beserta bunganya sesuai dengan

5

M. Bahsan,op.cit, h. 40.

6

(20)

jangka waktu yang telah ditentukan dalam perjanjian kredit antara bank dan nasabah sebagai peminjam dana. Namun dalam kenyataannya salah satu masalah

yang sering terjadi pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli adalah adanya kredit bermasalah bahkan hingga kredit macet dimana nasabah sebagai debitur

tidak dapat mengembalikan kredit tepat pada waktunya akibat adanya faktor-faktor atau unsur kesengajaan atau karena kondisi di luar kemampuan debitur.Ini dibuktikan dengan adanya pertambahan jumlah debitur yang mengalami kredit

macet pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli dari tahun 2013 sampai tahun 2015. Dimana di tahun 2013 jumlah nasabah atau debitur yang mengalami kredit

macet adalah sebanyak 86 orang, tahun 2014 jumlah nasabah yang mengalami kredit macet sebanyak 104 orang dan terakhir di tahun 2015 jumlah nasabah yang mengalami kredit macet adalah sebanyak 112 orang.

Kredit macet pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli yangdari tahun ke tahun semakin meningkat inilah sangat dikhawatirkan karena akan mengganggu kondisi keuangan bank, bahkan dapat mengakibatkan berhentinya

kegiatan usaha bank dan juga adanya kredit macet akan menjadi beban bagi bank karena kredit macet menjadi salah satu faktor dan indikator penentu baik

buruknya kinerja sebuah bank. Oleh karena itu diperlukan upaya pencegahan dan penyelesaian yang cepat, tepat dan akurat oleh PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli agar tidak terjadi kerugian yang menyebabkan bank menjadi bermasalah

atau bangkrut. Penyelesaian kredit macet sangat tergantung pada nasabah, apabila nasabah tidak kooperatif dan tidak memiliki itikad baik maka prospek untuk

(21)

1.2 Rumusan Masalah

Dalam uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan dikaji

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Faktor- faktor apa yang menyebabkan terjadinya kredit macet pada PD.

BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli Kabupaten Bangli?

2. Bagaimanakah upaya penyelesaian kredit macet padaPD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli?

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Untuk menghindari dalam penafsiran dan untuk mengarahkan tujuan serta memperoleh gambaran yang jelas dari penelitian ini, maka penulis merasa perlu

memberikan batasan-batasan yang jelas dari judul penelitian ini yaitu mengenai faktor penyebab terjadinya kredit macet dan bagaimana upaya PD. BPR Bank

Pasar Kabupaten Bangli untuk menyelesaikan masalah kredit macet tersebut.

1.4 Orisinalitas Penelitian

Penulis menyatakan bahwa sesungguhnya penelitian yang berjudul “ Penyelesaian Kredit Macet PadaPD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli” ini merupakan hasil pemikiran asli penulis. Beberapa Penelitian terdahulu dengan

(22)

No Penulis Judul Rumusan masalah

(23)

1.5 Tujuan penelitian 1.5.1 Tujuan umum

1. Untuk mengetahui dan mengerti penyelesaian permasalahan kredit macet. 2. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang ilmu hukum khususnya

hukum perbankan mengenai kredit macet. 1.5.2 Tujuan khusus

1. Untuk mengetahui dan mengkaji apa saja faktor-faktor yang dapat

menimbulkan kredit macet padaPD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli. 2. Untuk mengetahui bagaimana proses penyelesaian kredi macet dan upaya

yang dilakukan oleh Pihak PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli untuk mencegah terjadinya kredit macet tersebut.

1.6 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dari skripsi ini dibedakan atas manfaat teoritis dan manfaat praktis, yaitu sebagai berikut:

1.6.1 Manfaat Teoritis

1. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan sekaligus sebagai sumbangan ilmu khususnya dalam materi mengenai kredit macet sehingga dapat

membantu mempersiapkan diri sebagai generasi penerus bangsa yang berwawasan dan bercita-cita tinggi.

2. Untuk memperluas pengetahuan mengenai penyelesaian kredit macet

melalui teori-teori hukum perbankan sebagai dasar hukumnya yang tentunya berkaitan dengan kebijakan penyelesaian kredit macet oleh pihak bank yang

(24)

1.6.2 Manfaat Praktis

1. Memperluas pengetahuan dalam hal mekanisme penyelesaian kredit macet

dan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kredit macet pada PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli.

2. Kiranya dapat membantu jika suatu saat dihadapkan pada penyelesaian kasus serupa yang berkaitan dengan penyelesaian kredit macet dalam perbankan yang dalam hal ini dikhususkan pada PD. BPR Bank Pasar

Kabupaten Bangli.

1.7 Landasan teoritis

Sehubungan dengan permasalahan yang diajukan maka dipandang perlu

untuk membahas atau mengajukan kerangka teoritis. Kerangka teoritis yang dimaksudkan tiada lain untuk dapat memberikan landasan-landasan teori terhadap

pembahasan atas permasalahan yang diajukan. Adapun beberapa teori, asas-asas hukum serta pandangan sarjana sebagai pembenaran teoritis adalah sebagai

berikut :

1. Teori Efektifitas Hukum

Efektifitas merupakan suatu fakta bahwa kaidah hukum secara aktual

diterapkan dan dipatuhi, sehingga warga masyarakat bertingkah laku sesuai dengan kaidah hukum tersebut.Dengan demikian, maka efektifitas merupakan

(25)

menyertai suatu kaidah agar sahnya tidak hilang.7 Namun, suatu kaidah tidak identik dengan kenyataan yang berwujud suatu prilaku dan hal tersebut sama

dengan ketidaksamaan antara sahnya suatu kaidah dengan efektifitasnya. Efektifitas suatu tertib hukum dan efektifitas suatu kaidah hukum tertentu,

merupakan suatu kondisi bagi sahnya kaidah tersebut.Efektifitas merupakan suatu kondisi dalam arti bahwa tertib hukum tertentu tidak dapat dianggap sah lagi apabila efektifitasnya hilang atau pudar.Kaidah dasar adalah dasar sahnya suatu

kaidah hukum tersebut.

Suatu tertib hukum tidak akan kehilangan efektifitasnya apabila salah satu diantara kaidah-kaidah tersebut kehilangan efektifitasnya. Kaidah hukum berjalan

secara umum efektif dengan cara diterapkan dan dipatuhi, maka suatu tertib hukum tersebut dapat dikatakan sah. Suatu kaidah juga tidak kehilangan

efektifitasnya apabila pelaksanaannya tidak efektif dalam beberapa kasus tertentu.Namun, suatu kaidah tidak dapat dianggap sah jika kaidah tersebut tidak

pernah diterapkan atau tidak pernah dipatuhi oleh siapapun juga.8

Membicarakan tentang efektivitas hukum berarti membicarakan daya kerja hukum itu dalam mengatur dan atau memaksa masyarakat untuk taat terhadap

hukum.Hukum dapat efektif jikalau faktor-faktor yang mempengaruhi hukum tersebut dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya.Ukuran efektif atau tidaknya suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat dilihat dari perilaku

masyarakat. Suatu hukum atau peraturan perundang-undangan akan efektif

7

Soerjono Soekanto, 1983,Penegakan Hukum, Bina Cipta, Jakarta, (selanjutnya disingkat Soerjono Soekanto I), h. 20.

8

(26)

apabila warga masyarakat berperilaku sesuai dengan yang diharapkan atau dikehendaki oleh atau peraturan perundang-undangan tersebut mencapai tujuan

yang dikehendaki, maka efektivitas hukum atau peraturan perundang-undangan tersebut telah dicapai.

Teori efektivitas hukum menurut Soerjono Soekanto9 adalah bahwa efektif

atau tidaknya suatu hukum ditentukan oleh 5 (lima) faktor, yaitu :

1. Faktor hukumnya sendiri (undang-undang).

2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.

3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.

4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.

5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

Kelima faktor di atas saling berkaitan dengan eratnya, oleh karena

merupakan esensi dari penegakan hukum, juga merupakan tolak ukur daripada efektivitas penegakan hukum.Pada elemen pertama, yang menentukan dapat

berfungsinya hukum tertulis tersebut dengan baik atau tidak adalah tergantung dari aturan hukum itu sendiri.Pada elemen kedua yang menentukan efektif atau

9

(27)

tidaknya kinerja hukum tertulis adalah aparat penegak hukum.Dalam hubungan ini dikehendaki adanya aparatur yang handal sehingga aparat tersebut dapat

melakukan tugasnya dengan baik.Kehandalan dalam kaitannya disini adalah meliputi keterampilan profesional dan mempunyai mental yang baik.Pada elemen

ketiga, tersedianya fasilitas yang berwujud sarana dan prasarana bagi aparat pelaksana di dalam melakukan tugasnya.Sarana dan prasarana yang dimaksud adalah prasarana atau fasilitas yang digunakan sebagai alat untuk mencapai

efektivitas hukum.Berfungsinya hukum tersebut sangat tergantung pada usaha menanamkan ketentuan hukum itu sendiri.10 Hukum menentukan peranan apa

yang sebaiknya dilakukan oleh para subyek hukum maka, hukum yang berlaku tersebut berjalan secara efektif dan semakin mendekati apa yang telah ditentukan dalam kaidah hukum.11

Teori efektivitas hukum yang dikemukakan Soerjono Soekanto tersebut relevan dengan teori yang dikemukakan oleh Romli Atmasasmita12 yaitu bahwa faktor-faktor yang menghambat efektivitas penegakan hukum tidak hanya terletak

pada sikap mental aparatur penegak hukum (hakim, jaksa, polisi dan penasihat hukum) akan tetapi juga terletak pada faktor sosialisasi hukum yang sering

diabaikan.

Soekanto mengemukakan, bahwa secara konseptual, arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan dalam

10

Soerjono Soekanto I,op.cit,h.77.

11

Soerjono Soekanto I,op.cit, h. 79.

12

(28)

didalam kaidah-kaidah yang mantap dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan

kedamaian pergaulan hidup.Penegakan hukum (rule of law) baik dalam arti formal maupun material atau ideologis mendapat pengakuan. Selanjutnya Friedman

berpendapat,13bahwa penegakkan hukum (rule of law) dalam arti material berarti :

a Penegakkan hukum yang sesuai dengan ukuran-ukuran tentang hukum yang

baik atau hukum yang buruk.

b Kepatuhan dari warga-warga masyarakat terhadap kaidah-kaidah hukum yang dibuat serta diterapkan oleh badan-badan legislatif, eksekutif dan

yudikatif.

c Kaidah-kaidah hukum harus selaras dengan hak-hak asasi manusia.

d Negara mempunyai kewajiban untuk menciptakan kondisi-kondisi sosial yang memungkinkan terwujudnya aspirasi-aspirasi manusia dan penghargaan yang wajar terhadap martabat manusia.

e Adanya badan yudikatif yang bebas dan merdeka yang akan dapat memeriksa serta memperbaiki setiap tindakan yang sewenang-wenang dari

badan-badan eksekutif dan legislatif.

Dengan demikian, sistem penegakan hukum yang baik menyangkut penyerasian antara nilai dengan kaidah serta dengan prilaku manusia yang

13

(29)

nyata.14Hakikatnya penegakkan hukum bukan hanya menjadi tugas dari para penegak hukum yang sudah dikenal secara konvensional, tetapi menjadi tugas dari

setiap orang.

2. Teori Kepastian Hukum

Menurut Kelsen, hukum adalah sebuah sistem norma. Norma adalah pernyataan yang menekankan aspek “seharusnya” atau das sollen, dengan menyertakan beberapa peraturan tentang apa yang harus dilakukan. Norma-norma

adalah produk dan aksi manusia yang deliberatif.Undang-Undang yang berisi aturan-aturan yang bersifat umum menjadi pedoman bagi individu bertingkah laku dalam bermasyarakat, baik dalam hubungan dengan sesama individu maupun

dalam hubungannya dengan masyarakat.Aturan-aturan itu menjadi batasan bagi masyarakat dalam membebani atau melakukan tindakan terhadap individu.Adanya

aturan itu dan pelaksanaan aturan tersebut menimbulkan kepastian hukum.15

Menurut Gustav Radbruch, hukum harus mengandung 3 (tiga) nilai

identitas, yaitu sebagai berikut :

1. Asas kepastian hukum(rechtmatigheid). Asas ini meninjau dari sudut yuridis.

2. Asas keadilan hukum(gerectigheit). Asas ini meninjau dari sudut filosofis, dimana keadilan adalah kesamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan.

14

Soerjono Soekanto I,op.cit, h. 13.

15

(30)

3. Asas kemanfaatan hukum(zwechmatigheidataudoelmatigheidatauutility).

Tujuan hukum yang mendekati realistis adalah kepastian hukum dan

kemanfaatan hukum.Kaum Positivisme lebih menekankan pada kepastian hukum, sedangkan Kaum Fungsionalis mengutamakan kemanfaatan hukum, dan sekiranya

dapat dikemukakan bahwa “summum ius, summa injuria, summa lex, summa

crux” yang artinya adalah hukum yang keras dapat melukai, kecuali keadilan yang dapat menolongnya, dengan demikian kendatipun keadilan bukan

merupakan tujuan hukum satu-satunya akan tetapi tujuan hukum yang paling substantif adalah keadilan.16

Menurut Utrecht, kepastian hukum mengandung dua pengertian, yaitu

pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa

keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.17

Ajaran kepastian hukum ini berasal dari ajaran Yuridis-Dogmatik yang didasarkan pada aliran pemikiran positivistis di dunia hukum, yang cenderung

melihat hukum sebagai sesuatu yang otonom, yang mandiri, karena bagi penganut pemikiran ini, hukum tak lain hanya kumpulan aturan. Bagi penganut aliran ini,

tujuan hukum tidak lain dari sekedar menjamin terwujudnya kepastian hukum.

16

Dominikus Rato, 2010,Filsafat Hukum Mencari: Memahami dan Memahami Hukum, Laksbang Pressindo, Yogyakarta, h.59.

17

(31)

Kepastian hukum itu diwujudkan oleh hukum dengan sifatnya yang hanya membuat suatu aturan hukum yang bersifat umum.Sifat umum dari aturan-aturan

hukum membuktikan bahwa hukum tidak bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kemanfaatan, melainkan semata-mata untuk kepastian.18

3. Teori Penyelesaian Sengketa

Tata cara penyelesaian konflik dapat di bagi 2 kategori, yaitu :

a. Penyelesaian sengketa yudisial, yang lazim di sebut dengan litigasi.

Litigasi adalah penyelesaian sengketa antara para pihak yang dilakukan di muka pengadilan.Definisi litigasi secara eksplisit di peraturan

perundang-undangan. Namun, Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa ( selanjutnya disebut UU Arbitrase dan APS) menyebutkan bahwa Sengketa atau beda pendapat perdata

dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi

di Pengadilan Negeri.

Frans Hendra Winarta mengatakan bahwa secara konvensional, penyelesaian sengketa dalam dunia bisnis, seperti dalam perdagangan, perbankan,

proyek pertambangan, minyak dan gas, energi, infrastruktur, dan sebagainya dilakukan melalui proses litigasi. Dalam proses litigasi menempatkan para pihak

saling berlawanan satu sama lain, selain itu penyelesaian sengketa secara litigasi merupakan sarana akhir (ultimum remidium) setelah alternatif penyelesaian

18

(32)

sengketa lain tidak membuahkan hasil.19 Hal serupa juga dikatakan oleh Rachmadi Usman, bahwa selain melalui pengadilan (litigasi), penyelesaian

sengketa juga dapat diselesaikan di luar pengadilan (non litigasi), yang lazim dinamakan dengan Alternative Dispute Resolution (ADR) atau Alternatif

Penyelesaian Sengketa.20

b. Penyelesaian sengketa non-yudisial atau alternative penyelesaian sengketa.21

Jalur non litigasi adalah kebalikan dari litigasi sebagian besar tugasnya

adalah untuk penyelesaiaan sengketa di luar pengadilan dengan melalui perdamaian. Asas-asas yang berlaku pada alternatif penyelesaian sengketa adalah

1. Asas kerahasiaan. 2. Asas itikad baik. 3. Asas mengikat. 4. Asas kontraktual. 5. Asas kebebasan.22

Menurut Pasal 1 angka 10 UU Arbitrase dan APS, Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui

prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.

19

Frans Hendra Winarta, 2012, Hukum Penyelesaian Sengketa, Sinar Grafika, Jakarta, h.1-2.

20

Rachmadi Usman, 2012,Mediasi di Pengadilan. Sinar Grafika, Jakarta, h.8.

21

Widnyana, 2007, Alternative Penyelesaian Sengketa (ADR), Indonesia Business Law Center (IBLC), Jakarta, h. 60.

22

(33)

1.8 Metode penelitian

1.8.1 Jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah penelitian

hukum empiris, yakni hukum dikonsepkan sebagai suatu gejala empiris yang dapat diamati dalam kehidupan nyata.23Dalam konteks ini hukum tidak

semata-mata dikonsepkan sebagai sebagai suatu gejala normatif yang otonom , sebagai ius constituendum (law as what ought to be), dan tidak pula semata-mata sebagai ius constitutum (law as what it is in the book), akan tetapi secara empiris sebagai

ius operatum (law as what it is in society). Hukum sebagai “law as what it is in society”. Hukum sebagai gejala sosio empirik dapat dipelajari di satu sisi sebagai

suatu independent variable yang menimbulkan efek-efek pada pelbagai kehidupan sosial, dan di lain sisi sebagai suatu dependent variable yang muncul sebagai akibat berbagai ragam kekuatan dalam proses sosial (studi mengenai law in

process).24

1.8.2 Jenis pendekatan

Penelitian hukum umumnya mengenal 7 (tujuh) jenis pendekatan yakni :

1. Pendekatan kasus (The Case Approach).

2. Pendekatan Perundang-undangan (The Statute Approach).

23

____,2013,Pedoman pendidikan Fakultas Hukum Universitas Udayana,h.79.

24

(34)

3. Pendekatan Fakta (The Fact Approach).

4. Pendekatan Analisis Hukum (Analitical & Conseptual).

5. Pendekatan Frasa (Words& Phrase Approach). 6. Pendekatan Sejarah (Historical Approach).

7. Pendekatan Perbandingan (Comparative Approach).

Adapun jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan Perundang-undangan (The Statute Approach) , Pendekatan Fakta (

The Fact Approach) dan Pendekatan Analisis Konsep Hukum (Analitical & Conseptual Approach).

Pendekatan Perundang-undangan (The Statute Approach) yaitu pendekatan

berdasarkan pada teori-teori hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang ada kaitannya dengan permasalahan yang akan dibahas.

Pendekatan Fakta( The Fact Approach) yaitu pendekatan yang didasarkan pada fakta-fakta yang terjadi di lapangan yang ada kaitannya dengan

permasalahan yang akan dibahas.

Pendekatan Analisis Konsep Hukum (Analitical & Conseptual Approach)

adalah pendekatan beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang

berkembang di dalam ilmu hukum.Konsep itu bersifat universal.

1.8.3 Sifat penelitian

(35)

bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala, atau untuk

menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain di masyarakat.25Dalam penelitian ini teori-teori, ketentuan peraturan, norma-norma

hukum, karya tulis yang dimuat dalam literature maupun jurnal, doktrin, serta laporan penelitian yang terdahulusudah mulai ada dan bahkan jumlahnya cukup memadai sehingga dalam penelitian ini hipotesis boleh ada atau boleh juga

tidak.26 Penelitian deskriptif dapat membentuk teori-teori baru yang dapat memperkuat teori yang sudah ada.27

1.8.4 Sumber data

Data yang digunakan untuk menunjang pengkajian masalah dalam penelitian ini yaitu :

a. Data Primer

Data primer adalah data yang bersumber dari penelitian lapangan yaitu suatu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama di lapangan yaitu dari

wawancara dengan para informan.28 Data ini diperoleh dengan mengadakan penelitian secara langsung di lapangan yang akan dilakukan dengan pihak terkait

seperti dengan beberapa nasabah (debitur) dan pihak PD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli (kreditur).

(36)

b. Data sekunder

Data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan yang dilakukan untuk

menggali data-data yang didasarkan pada literatur-literatur dan data-data yang terkait dengan penyelesaian kredit macet, peraturan perundang-undangan, pendapat para sarjana, dan artikel atau berita yang diperoleh via internet.Sumber

data sekunder terdiri dari dua bahan hukum yaitu bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.

1. Bahan hukum primer

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mengikat dan memiliki kekuatan hukum, seperti peraturan perundang-undangan. Bahan hukum primer

yang digunakan dalam penelitian ini adalah

a. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

b. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan c. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif

Penyelesaian Sengketa 2. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari

(37)

yang dimuat dalam literatur hukum, hasil penulisan yang berupa hasil penelitian para ahli hukum yang dijadikan dokumen-dokumen hukum.

3. Bahan hukum tersier

Bahan hukum yang memberi petunjuk atau penjelas terhadap bahan hukum

primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum dan kamus besar Bahasa Indonesia.

1.8.5 Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara :

a. Teknik wawancara

Teknik wawancara ini dilakukan untuk memperoleh informasi-informasi terkait kredit macet padaPD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli.Wawancara

dilakukan dengan beberapa nasabah (debitur) dan DirekturPD. BPR Bank Pasar Kabupaten Bangli.

b. Teknik studi dokumen

Studi dokumen merupakan teknik awal yang digunakan dalam setiap penelitian ilmu hukum, baik dalam penelitian normatif maupun penelitian hukum

empiris, karena meskipun aspeknya berbeda namun keduanya adalah penelitian ilmu hukum yang selalu bertolak dari premis normatif.Studi dokumen dilakukan

atas bahan-bahan hukum yang relevan dengan permasalahan penelitian.

(38)

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif atau yang sering disebut dengan analisis deskriptif kualitatif

maka keseluruhan data yang terkumpul baik dari data primer maupun sekunder, akan diolah dengan cara menyusun data secara sistematis, digolongkan dalam pola

dan thema, diklasifikasikan, dihubungkan antara satu data dengan data yang lainnya, dilakukan interpretasi untuk memahami makna data dalam situasi sosial, dan dilakukan penafsiran dari perspektif peneliti setelah memahami keseluruhan

kualitas data. Proses analisis tersebut dilakukan secara terus menerus sejak pencarian data di lapangan dan berlanjut terus hingga pada tahap analisis. Setelah

(39)
(40)

25

PERKREDITAN RAKYAT

2.1 Kredit

2.1.1 Pengertian kredit

Secara etimologi istilah kredit berasal dari bahasa latin credere yang berarti kepercayaan. Misalnya, seorang nasabah debitur memperoleh kredit dari bank,

adalah tentu orang yang mendapat kepercayaan dari bank.29 Dalam masyarakat umum istilah kredit sudah tidak asing lagi dan bahkan dapat dikatakan populer, sehingga dalam kehidupan sehari-hari sudah dicampurkan begitu saja dengan

istilah utang bahkan dalam dunia pendidikan dengan sistem kredit semester yang baru, istilah kredit sudah memiliki konotasi khusus tersendiri dibanding asalnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kredit anatara lain diartikan pertama, pinjaman uang dengan pembayaran pengembalian secara berangsur, dan kedua, pinjaman sampai batas jumlah tertentu yang diizinkan oleh bank atau badan lain.

Adapun kata utang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia antara lain diartikan uang yang dipinjam oleh orang lain. Jadi istilah lain dari kredit adalah pinjaman

(uang) atau utang.30

Secara yuridis UU Perbankan menggunakan dua istilah yang berbeda, namun

mengandung makna yang sama untuk pengertian kredit. Kedua istilah itu yaitu

29

Suhariningsih, 2011, Analisis Yuridis Terhadap Perjanjian Kredit Dengan Jaminan “Barang Inventory” Dalam Bingkai Jaminan Fidusia, Wisnuwardhana Malang Press,Malang, h.11.

30

(41)

pertama, kata “kredit”, istilah yang digunakan pada bank konvensional dalam menjalankan kegiatan usahanya, dan kedua, kata “pembiayaan” berdasarkan

Prinsip Syariah, istilah yang digunakan pada bank Syariah. Penggunaan kedua istilah tersebut tergantung kepada kegiatan usaha yang dijalankan oleh bank,

apakah bank dalam menjalankan kegiatan usahanya secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah.

Pengertian kredit dalam pasal 1 butir 11 UU Perbankan adalah penyediaan

uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan

pemberian bunga. Kemudian dijelaskan pula menurut Black Law’s Dictionary, bahwa definisi kredit adalah31

“The Ability of business man to borrow money, or obtains goods on time, inconsequence of the favourable opinion held by the particular

lender, as to his solvency and reability.”

Berdasarkan definisi yang diuraikan dalam kamus Black Law’s tersebut,

maka kredit adalah kemampuan (ability) dari seseorang (debitur) untuk meminjam

uang maupun barang kepada si kreditur. Disini kemampuan dilihat berdasarkan uji kelayakan (standardisasi) si debitur, yang dilakukan oleh si kreditur. Hal itu, disebabkan kreditur juga menanggung resiko akan ketidakmampuan (inability)

membayar dari debitur. Dengan demikian pihak kreditur memberikan syarat-syarat tertentu ( sebagai pengurangan penanggungan risiko oleh si kreditur) pada

31

(42)

saat terjadinya pemberian pinjaman (perjanjian) uang atau barang tersebut, sesuai dengan kemampuan si debitur, sebagai balas jasa yang telah ditentukan itu.

Pembiayaan berdasarkan pasal 1 angka 12 UU Perbankan yaitu pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank

dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi

hasil.

Dari kedua rumusan tersebut perbedaannya terletak pada bentuk kontraprestasi yang akan diberikan nasabah peminjam dana ( debitur ) kepada

bank (kreditur) atas pemberian kredit atau pembiayaannya. Pada bank konvensional, kontraprestasinya berupa bunga sedangkan pada bank syariah

kontraprestasinya berupa imbalan atau bagi hasil sesuai dengan persetujuan atau kesepakatan bersama. Baik kredit maupun pembiayaan berdasarkan prinsip syariah sama-sama merupakan penyediaan dana atau tagihan yang nilainya diukur

dengan uang. Kemudian adanya persetujuan atas kesepakatan bersama antara pihak bank (kreditur) dan pihak lain nasabah peminjam dana (debitur), dengan

perjanjian yang dibuatnya. Dalam perjanjian kredit tersebut mencakup kewajiban nasabah peminjam dana atau pihak yang dibiayai melunasi utangnya atau mengembalikan pinjamannya beserta dengan bunga, imbalan, atau bagi hasil

(43)

2.1.2 Unsur -unsur kredit

Unsur-unsur yang terkandung dalam kredit adalah sebagai berikut:

a. Kepercayaan, yaitu adanya keyakinan dari pihak bank atas prestasi yang diberikannya kepada nasabah peminjam dana yang akan dilunasinya sesuai

dengan diperjanjikan pada waktu tertentu.

b. Waktu, yaitu adanya jangka waktu tertentu antara pemberian dan pelunasan kreditnya, jangka waktu tersebut sebelumnya terlebih dahulu disetujui atau

disepakati bersama antara pihak bank dan nasabah peminjam dana.

c. Prestasi dan kontraprestasi yaitu adanya objek tertentu berupa prestasi dan

kontraprestasi pada saat tercapainya persetujuan kesepakatan pemberian kredit yang dituangkan dalam perjanjian kredit antara bank dan nasabah peminjam dana yaitu berupa uang atau tagihan yang diukur dengan uang dan

bunga atau imbalan, atau bahkan tanpa imbalan bagi bank syariah.

d. Risiko, yaitu adanya risiko yang mungkin akan terjadi selama jangka waktu

antara pemberian dan pelunasan kredit tersebut, sehingga untuk mengamankan pemberian kredit dan menutup kemungkinan terjadinya wanprestasi dari nasabah peminjam dana, diadakanlah pengikat jaminan

(agunan).

2.1.3 Fungsi kredit

Suatu kredit mencapai fungsinya, apabila secara sosial ekonomis, baik bagi

debitur, kreditur, maupun masyarakat membawa pengaruh yang lebih baik. Bagi pihak kreditur dan debitur, mereka memperoleh keuntungan, juga mengalami

(44)

penerimaan negara dan pajak, juga kemajuan ekonomi yang bersifat mikro dan makro. Dari manfaat nyata dan manfaat yang diharapkan maka sekarang ini kredit

dalam kehidupan perekonomian dan perdagangan mempunyai fungsi.32Fungsi kredit tersebut adalah :33

1. Meningkatkan daya guna modal atau uang

Maksudnya jika uang hanya disimpan saja di rumah tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Dengan diberikannya kredit uang tersebut menjadi untuk

menghasilkan uang atau jasa oleh si penerima kredit. Kemungkinan juga dapat memberikan penghasilan tambahan kepada pemilik dana.

2. Meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang

Dalam hal uang yang diberikan dan disalurkan akan beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya sehingga suatu daerah yang kekurangan uang dengan

memperoleh kredit maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan uang dari daerah lainnya.

3. Meningkatkan daya guna barang

Kredit yang diberikan oleh bank akan dapat dipergunakan oleh si debitur untuk mengelola barang yang semula tidak berguna menjadi berguna. Sebagai

contoh seorang pengusaha memperoleh bantuan dana dari salah satu bank untuk mengelola limbah plastik yang sudah tidak dipakai menjadi barang-barang rumah tangga. Biaya pengelolahan barang tersebut diperoleh dari bank. Dengan demikian

32

Thomas suyatno, 1990,Dasar-Dasar Perbankan Cetakan Ketiga, Gramedia, Jakarta, h.14.

33

(45)

fungsi kredit dapat meningkatkan daya guna barang yang tidak berguna menjadi berguna.

4. Meningkatkan peredaran uang

Kredit juga dapat menambah atau memperlancar arus barang dari satu

wilayah ke wilayah lainnya, sehingga jumlah barang yang beredar tersebut bertambah atau kredit dapat pula meningkatkan jumlah barang yang beredar yang biasanya untuk kredit atau kredit ekspor impor.

5. Sebagai alat stabilitas ekonomi

Pemberian kredit dikatakan sebagai alat stabilitas ekonomi, karena dengan

adanya kredit yang diberikan akan menambah barang yang diperlukan masyarakat.

6. Meningkatkan kegairahan pengembangan usaha

Bagi si penerima kredit tentu akan dapat meningkatkan kegairahan berusaha apalagi bagi si nasabah yang memang modalnya pas-pasan. Nasabah akan

bergairah untuk memperbesar atau memperluas usahanya. 7. Meningkatkan pemerataan pendapatan

Semakin banyak kredit yang disalurkan maka akan semakin baik terutama

dalam hal meningkatkan pendapatan. Jika suatu kredit diberikan untuk membangun pabrik maka pabrik tersebut tentu membutuhkan tenaga kerja,

(46)

8. Meningkatkan hubungan internasional

Pinjaman internasional akan dapat mengikatkan saling membutuhkan antara

si penerima kredit dengan si pemberi kredit. Pemberian kredit oleh negara lain akan meningkatkan kerjasama di bidang lainnya, sehingga dapat pula tercipta

perdamaian dunia.

2.1.4 Prinsip-prinsip pemberian kredit

Dalam pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah bank wajib memperhatikan hal-hal sebagaimana ditentukan dalam pasal 8 ayat (1) dan

ayat (2) UU Perbankan. Pasal 8 ayat (1) UU Perbankan menyebutkan bahwa dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, bank

umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan yang dimaksud sesuai dengan yang

diperjanjikan. Selanjutnya dalam pasal 8 ayat (2) UU Perbankan menyebutkan bahwa bank umum wajib memiliki dan menerapkan pedoman perkreditan dan

pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Dalam pasal 8 UU Perbankan, dapat diketahui jabaran lebih lanjut dari

asas-asas perkreditan yang sehat dan prinsip-prinsip kehati-hatian dalam kaitannya dengan pemberian kredit, yaitu :34

34

(47)

a. Mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau

mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan. b. Memiliki menerapkan pedoman perkreditan dan pembiayaan berdasarkan

Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Berkaitan dengan itu menurut penjelasan pasal 8 ayat (2) UU Perbankan

dikemukakan bahwa pedoman perkreditan dan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yang wajib dimiliki dan diterapkan

oleh bank dalam pemberian kredit dan pembiayaan adalah sebagai berikut :35

a. Pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dibuat dalam bentuk perjanjian tertulis.

b. Bank harus memiliki keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan nasabah debitur yang antara lain diperoleh dari penilaian yang saksama terhadap watak, kemampuan, modal agunan, dan proyek usaha dari debitur.

c. Kewajiban bank untuk menyusun dan menerapkan prosedur pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.

d. Kewajiban bank untuk memberikan informasi yang jelas mengenai prosedur dan persyaratan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.

e. Larangan bank untuk memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan

prinsip syariah dengan persyaratan yang berbeda dengan nasabah debitur dan atau pihak-pihak terafiliasi.

35

(48)

f. Penyelesaian sengketa

Ketentuan pasal 8 ayat (1) dan (2) diatas merupakan dasar atau landasan bagi

bank dalam menyalurkan kreditnya kepada nasabah debitur. Dalam ketentuan tersebut juga mengandung dan menerapkan prinsip kepercayaan dan kehati-hatian dalam pemberian kredit. Selain prinsip kepercayaan dan prinsip kehati-hatian.

Dalam perbankan juga dikenal beberapa prinsip-prinsip pemberian kredit oleh bank diantaranya :36

1. PRINSIP 5C

a. Penilaian watak atau kepribadian (Character)

Penilaian watak atau kepribadian calon debitur dimaksudkan untuk mengetahui kejujuran dan itikad baik calon debitur untuk melunasi atau mengembalikan pinjamannya, sehingga tidak akan menyulitkan bank di kemudian

hari. Hal ini dapat diperoleh terutama didasarkan kepada hubungan yang terjalin antara bank dan (calon) debitur atau informasi yang diperoleh dari pihak lain yang

mengetahui moral, kepribadian, dan perilaku calon debitur dalam kehidupan kesehariannya.

b. Penilaian kemampuan (capacity)

Bank harus meneliti tentang keahlian calon debitur dalam bidang usahanya dan kemampuan manajerialnya, sehingga bank yakin bahwa usaha yang akan dibiayainya dikelola oleh orang-orang yang tepat, sehingga calon debiturnya

dalam jangka waktu tertentu mampu melunasi atau mengembalikan 36

(49)

pinjamannya. Kalau kemampuan bisnisnya kecil, tentu tidak layak diberikan kredit dalam skala besar, demikian juga jika trend bisnisnya atau kinerja

bisnisnya menurun, maka kredit juga semestinya tidak diberikan. Kecuali jika penurunan itu karena kekurangan biaya, sehingga dapat diantisipasi bahwa

dengan tambahan biaya lewat peluncuran kredit, maka trend atau kinerja bisnisnya tersebut dipastikan akan semakin membaik.

c. Penilaian terhadap modal (capital)

Bank harus melakukan analisis terhadap posisi keuangan secara menyeluruh mengenai masa lalu dan yang akan datang, sehingga dapat diketahui kemampuan permodalan calon debitur dalam menunjang pembiayaan proyek atau usaha

calon debitur yang bersangkutan. Dalam praktik selama ini bank jarang sekali memberikan kredit untuk membiayai seluruh dana yang diperlukan nasabah.

Nasabah wajib menyediakan modal sendiri, sedangkan kekurangan itu dapat dibiayai dengan kredit bank. Bank fungsinya hanya menyediakan tambahan

modal dan biasanya lebih sedikit dari pokoknya.

d. Penilaian terhadap agunan (collateral)

Untuk menanggung pembayaran kredit macet dikarenakan debitur wanprestasi,

maka calon debitur umumnya wajib menyediakan jaminan berupa agunan yang berkualitas tinggi dan mudah dicairkan yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diberikan kepadanya. Untuk itu sudah seharusnya

(50)

dapat melunasi kreditnya, maka agunan tambahan tersebut dapat dicairkan guna menutupi pelunasan atau pengembalian kredit atau pembiayaan yang tersisa.

e. Penilaian terhadap prospek usaha nasabah debitur (condition of economy)

Bank harus menganalisis keadaan pasar di dalam dan di luar negeri, baik

masa lalu maupun masa sekarang, sehingga masa depan pemasaran dari hasil proyek atau usaha calon debitur yang dibiayai dapat pula diketahui.

2. PRINSIP 5P

Bank dalam memberikan kredit selain menerapkan prinsip 5C juga hendaknya menerapkan prinsip 5P yang terdiri atas :

a. Party(para pihak)

Para pihak merupakan titik sentral yang diperhatikan dalam setiap pemberian kredit. Untuk itu pihak pemberi kredit harus memperoleh sesuatu kepercayaan

terhadap para pihak , dalam hal ini debitur. Bagaimana watak atau karakter, kemampuannya dan sebagainya.

b. Purpose(Tujuan)

Tujuan dari pemberian kredit juga sangat penting diketahui oleh pihak kreditur. Harus dilihat apakah kredit akan digunakan untuk hal-hal positif yang

benar-benar dapat meningkatkan income perusahaan dan harus pula diawasi agar kredit tersebut benar-benar diperuntukan untuk tujuan seperti diperjanjikan dalam

(51)

c. Payment(Pembayaran)

Harus diperhatikan pula apakah sumber pembayaran kredit dari calon debitur

cukup tersedia dan cukup aman, sehingga dengan demikian diharapkan bahwa kredit yang akan diluncurkan tersebut dapat dibayar kembali oleh debitur yang bersangkutan. Dalam hal ini harus dilihat dan analisis apakah setelah pemberian

kredit nanti, debitur punya sumber pendapatan dan apakah pendapatan tersebut mencukupi untuk membayar kembali kreditnya.

d. Profitability(Perolehan Laba)

Unsur perolehan laba oleh debitur tidak kurang pentingnya dalam suatu

pemberian kredit. Untuk itu, kreditur harus berantisipasi apakah laba yang akan diperoleh oleh perusahaan lebih besar daripada bunga yang dipinjam dan apakah pendapatan perusahaan dapat menutupi pembayaran kembali kredit.

e. Protection( Perlindungan)

Diperlukan suatu perlindungan terhadap kredit oleh perusahaan debitur untuk itu perlindungan dari kelompok perusahaan atau jaminan dari holding atau

jaminan pribadi pemilik perusahaan penting diperhatikan terutama untuk berjaga-jaga sekiranya terjadi hal-hal di luar skenario atau di luar prediksi semula.

3. PRINSIP 3R

Disamping prinsip 5C dan 5P bank dalam memberikan kredit juga

(52)

a. Returns( Hasil yang Diperoleh)

Hasil yang diperoleh debitur, dalam hal ini ketika kredit telah dimanfaatkan

dan dapat diantisipasi oleh calon kreditur. Artinya perolehan tersebut mencukupi untuk membayar kembali kredit beserta bunga, ongkos-ongkos, disamping membayar keperluan perusahaaan yang lain seperti untuk cash flow, kredit lain

jika ada dan sebagainya.

b. Repayment(Pembayaran Kembali)

Kemampuan bayar dari pihak debitur tentu saja juga mesti dipertimbangkan, yaitu apakah kemampuan membayar tersebut match dengan schedule pembayaran

kembali dari kredit yang akan diberikan bank ini merupakan hal yang tidak boleh diabaikan.

c. Risk Bearing Ability( Kemampuan Mananggung Risiko)

Hal lain yang perlu diperhitungkan juga sejauh mana terdapatnya kemampuan debitur untuk menanggung resiko. Misalnya dalam hal terjadi hal-hal di luar antisipasi kedua belah pihak. Terutama jika dapat menyebabkan timbulnya kredit

(53)

Disamping prinsip-prinsip diatas beberapa prinsip lain dalam hal pemberian kredit yang berhubungan dengan debitur yang harus diperhatikan oleh suatu bank

yaitu:37

a. PrinsipMatching

Dalam hal ini harus match antara pinjaman dengan asset perseroan, jangan sekali-sekali memberikan suatu pinjaman berjangka wkatu pendek untuk kepentingan pembiayaan atau investasi yang berjangka panjang. Karena hal

tersebut akan mengakibatkan terjadimis-match

b. Prinsip Kesamaan Valuta

Maksudnya penggunaan dana yang didapatkan dari suatu kredit

sedapat-dapatnya haruslah digunakan untuk membiayai atau investasi dalam mata uang yang sama. Meskipun untuk itu tersedia apa yang disebutcurrency hedging.

c. Prinsip Perbandingan antara Pinjaman dan Modal

Maksudnya mestilah ada hubungan yang prudent antara jumlah pinjaman

dengan besarnya modal. Jika pinjamannya terlalu besar disebut perusahaan dengan high gearing, sebaliknya jika pinjamannya kecil dibandingkan dengan modalnya disebut low gearing. Post permodalan earning yang akan didapat oleh

perusahaan tidakfixed, yaitu dalam bentuk dividen, sementara costterhadap suatu pinjaman yaitu dalam bentuk bunga relatif tetap. Oleh karena itu, kelangsungan

37

(54)

suatu perusahaan akan terancam jika antara jumlah pinjaman dengan besarnya modal tidakreasonable.

d. Prinsip Perbandingan antara Pinjaman dan Aset

Alternatif lain untuk menekan risiko dari suatu pinjaman adalah dengan

memperbandingkan antara besarnya pinjaman dengan asset, juga dikenal dengan

gearing ratio. Biasanya klasifikasi dari gearing ratio terdiri atas rasio rendah

(6-20%), sedang (20-40), dan tinggi (diatas 40 %).

2.2 Perjanjian Kredit

2.2.1 Pengertian perjanjian kredit

Salah satu fungsi perbankan sebagai penyalur dana masyarakat dengan cara memberikan kredit melahirkan hubungan hukum antara bank (kreditur) dan nasabah peminjam dana (debitur). Jane P. Mallor dalam bukunya yang berjudul

Business Law : The Ethical And E-commerce Enviorment menyatakan “To minimize his credit risk, a creditor may contract for security”.38 Berdasarkan

pernyataan tersebut sebelum memberikan kredit kepada debitur, bank sebagai kreditur mengadakan suatu perjanjian atau kesepakatan untuk memperkecil resiko dan guna mengamankan pemberian kredit. Bentuk hubungan hukum antara bank

dan nasabah peminjam dana adalah kesepakatan pinjam meminjam yang dalam praktik perbankan dinamakan dengan perjanjian kredit (akad kredit). Perjanjian

kredit berisi suatu janji oleh kreditur untuk memberikan sejumlah dana dan suatu janji oleh debitur untuk membayar kembali dana tersebut pada tanggal tertentu.

38

(55)

Sebelum menguraikan mengenai pengertian perjanjian kredit, terlebuh dahulu dapat diuraikan mengenai pengertian perjanjian. Menurut pasal 1313 Kitab

Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disebut KUHPerdata) perjanjian adalah suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya

terhadap satu orang lain atau lebih. Perjanjian adalah peristiwa dimana dua orang atau dua pihak saling berjanji untuk melakukan suatu hal atau suatu persetujuan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing- masing bersepakat akan menaati

apa yang tersebut dalam persetujuan.39

Dilihat dari jenis perjanjian, perjanjian kredit bank merupakan perjanjian

timbal balik artinya jika pihak nasabah debitur tidak memenuhi isi perjanjian maka salah satu pihak dapat menuntut pihak lainnya sesuai dengan jenis prestasinya. Penyerahan uang dalam perjanjian kredit bank merupakan perjanjian

sepihak, artinya jika pihak tidak merealisasikan pinjaman uang, maka nasabah debitur tidak dapat menuntut bank dengan alasan ingkar janji, demikian juga

sebaliknya kalau nasabah debitur tidak mau mengambil pinjaman uang setelah diberitahukan oleh bank, maka bank tidak dapat menuntut nasabah debitur.40

Dalam praktik perbankan perjanjian kredit umumnya dibuat secara tertulis

baik dalam bentuk akta di bawah tangan dan akta autentik. Dengan bentuk tertulis para pihak tidak dapat mengingkari apa yang telah diperjanjikan dan ini akan

merupakan bukti kuat dan jelas apabila terjadi sesuatu kepada kredit yang telah disalurkan atau juga dalam hal ingkar janji oleh pihak bank. Dasar hukum perjanjian kredit dapat dilihat dalam pasal 1 butir 11 UU Perbankan. Dalam pasal

39

Hermansyah, 2008,Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana, Jakarta, h.71.

40

(56)

tersebut menyebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan

pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa pemberian kredit harus dibuat berdasarkan perjanjian. Perjanjian itu lahir berdasarkan kesepakatan pinjam- meminjam antara bank dengan peminjam dana. Perjanjian tersebut lazim disebut perjanjian kredit.

R. Subekti berpendapat bahwa :

“Dalam bentuk apapun juga pemberian kredit itu diadakan, dalam semuanya itu pada hakikatnya yang terjadi adalah suatu perjanjian pinjam- meminjam sebagaimana diatur dalam KUHPerdata Pasal 1754 sampai dengan Pasal 1769”.41

Kemudian Marhaenis Abdul Hay mengemukakan pendapat yang sama bahwa perjanjian kredit adalah identik dengan perjanjian pinjam meminjam dan dikuasai oleh ketentuan Bab XIII Buku III KUHPerdata. Kemudian pendapat

senada dikemukakan pula oleh Mariam Darus Badrulzaman yang menyatakan bahwa :

“ Dari rumusan yang terdapat di dalam UU Perbankan mengenai pengertian kredit, dapat disimpulkan dasar perjanjian kredit adalah perjanjian pinjam meminjam di dalam KUHPerdata pasal 1754. Perjanjian pinjam meminjam ini juga mengandung makna yang luas, yaitu objeknya adalah benda yang menghabis jika verbruiklening termasuk di dalamnya uang. Berdasarkan perjanjian pinjam-meminjam ini, pihak penerima pinjaman menjadi pemilik yang dipinjam dan kemudian harus dikembalikan dengan jenis yang sama kepada pihak yang meminjamkan. Karenanya perjanjian kredit ini merupakan perjanjian yang bersifat riil, yaitu bahwa perjanjian kredit ditentukan oleh “penyerahan” uang oleh bank kepada nasabah”42

41

Rachmad Usman, 2001, Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,h.261.

42

(57)

Djuhaendah Hasan mengemukakan pendapat yang berbeda, beliau berpendapat bahwa perjanjian kredit tidak tepat dikatakan dikuasai oleh ketentuan

Kitab Undang-Undang Hukum, karena antara perjanjian pinjam meminjam dengan perjanjian kredit terdapat beberapa hal berbeda. Perbedaan dimaksud

anatara lain :

1. Perjanjian kredit selalu bertujuan dan tujuan tersebut biasanya berkaitan dengan program pembangunan, biasanya dalam perjanjian kredit sudah ditentukan tujuan penggunaan uang yang akan diterima tersebut, sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam tidak ada ketentuan tersebut dan debitur dapat menggunakan uangnya secara bebas

2. Dalam perjanjian kredit sudah ditentukan bahwa pemberi kredit adalah bank atau lembaga pembiayaan dan tidak mungkin diberikan oleh individu, sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam pemberi pinjaman dapat oleh individu

3. Pengaturan yang berlaku bagi perjanjian kredit berbeda dengan pinjam- meminjam. Bagi perjanjian pinjam-meinjam berlaku ketentuan umum dari Buku III dan Bab XIII Buku III KUHPerdata, sedangkan bagi perjanjian kredit akan berlaku ketentuan dalam Undang- Undang 1945, ketentuan bidang ekonomi dalam GBHN, ketentuan umum KUHPerdata, Undang-Undang Perbankan, Paket Kebijaksanaan Pemerintah dalam Bidang Ekonomi, terutama bidang Perbankan, Surat Edaran Bank Indonesia dan sebagainya

4. Pada perjanjian kredit telah ditentukan bahwa pengembalian uang pinjaman harus disertai bunga, imbalan atau pembagian hasil, sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam hanya berupa bunga saja dan bunga inipun baru ada apabila diperjanjikan

5. Pada perjanjian kredit bank harus mempunyai keyakinan akan kemampuan debitur akan pengembalian kredit yang diformulasikan dalam bentuk jaminan, baik materiil maupun immateriil. Sedangkan dalam perjanjian pinjam- meminjam jaminan merupakan pengaman bagi kepastian pelunasan utang dan inipun baru ada apabila diperjanjikan, dan jaminan ini hanya merupakan jaminan secara fisik atau materiil saja.43

Perjanjian kredit bank tidak identik dengan perjanjian pinjam meminjam sebagaimana dimaksud dalam KUHPerdata baik ditilik dari segi pengertian,

43

Gambar

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Download now (71 pages)