Pengaruh Tween 80 sebagai emulsifying agent dan sorbitol sebagai humektan dalam sediaan krim ekstrak daun Jambu Biji (Psidium Guajava L.) dengan aplikasi desain faktoria.

Gratis

3
23
118
2 years ago
Preview
Full text

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Papa Antonius Charlin Susilo, mama Lina Inawati, kakak Yosephine PricellaErvinka dan adik Ferdinandus Hugo Susilo yang dengan penuh kasih sayang mendampingi dan mendukung penulis dari awal hingga akhir naskah ini dibuat. Si., Apt., selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan masukan, kritik dan saran yang membangun kepadapenulis dari awal hingga akhir penelitian dan penyusunan naskah.

14. Yudist Latubayesian, Christina Putri Mahardika, Theresia Eviani, Maria

  Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh Tween 80 sebagai emulsifying agent, sorbitolsebagai humektan atau interaksi kedua faktor tersebut terhadap respon sifat fisis dan stabilitas fisik krim ekstrak daun jambu biji, serta mengetahui area optimumkedua faktor tersebut. Tween 80, sorbitol dan interaksikedua faktor tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap respon daya sebar dan pergeseran daya sebar krim.

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Istilah kembali ke alam akhir-akhir ini sering terdengar seiring dengan

  Beberapa penelitian yang telah dilakukan terhadap ekstrak daun jambu biji menunjukkan bahwa ekstrak daun jambu biji dapat digunakan sebagaialternatif pengobatan gingivitis, keputihan, diabetes, sariawan, luka berdarah dan juga memiliki aktivitas antibakteri. Kandungan senyawa kimia daun jambu biji yang paling berpengaruh terhadap Krim merupakan suatu sediaan semisolid yang mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.

1. Permasalahan

  Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah dijabarkan, maka permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini yaitu :a. Bagaimanakah pengaruh Tween 80, sorbitol, atau interaksi kedua faktor tersebut pada level yang diteliti terhadap sifat fisis dan stabilitas fisik krimekstrak daun jambu biji?

2. Keaslian Penelitian

  Penelitian ini dilakukan untuk membuat formulasi gel ekstrak etanol daun jambu bij dan uji efektivitasnya terhadap kelinci yang terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus dengan variasi konsentrasi ekstrak etanol daun jambu biji. Berdasarkan penelusuran pustaka yang telah dilakukan, pengaruhTween 80 sebagai emulsifying agent dan sorbitol sebagai humektan dalam sediaan krim ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) dengan aplikasidesain faktorial belum pernah dilakukan.

3. Manfaat a

  Manfaat teoritisMenyumbangkan ilmu pengetahuan terutama di bidang kefarmasian mengenai formulasi krim ekstrak daun jambu biji dengan Tween 80 sebagai emulsifying agent dan sorbitol sebagai humektan. Manfaat praktisMenghasilkan sebuah krim ekstrak daun jambu biji dengan sifat fisis dan stabilitas fisik yang baik sehingga dapat mengoptimalkanpenggunaan daun jambu biji kepada masyarakat.

B. Tujuan 1. Tujuan umum

Membuat krim ekstrak daun jambu biji dengan sifat fisis dan stabilitas fisik yang memenuhi kriteria.

2. Tujuan khusus a

  Mengetahui pengaruh Tween 80 sebagai emulsifying agent, sorbitol sebagai humektan, atau interaksi kedua faktor tersebut pada level yang ditelititerhadap sifat fisis dan stabilitas fisik krim ekstrak daun jambu biji. Pemberian oral ekstrak daun jambu biji terbukti dapat menurunkan permeabilitas pembuluh darah dan dapat meningkatkan jumlah megakariositdalam sumsum tulang, sehingga dapat meningkatkan jumlah trombosit dalam darah (Suharmiati and Handayani, 2007).

B. Kulit Kulit merupakan suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh

  Kulit merupakan organ terbesar dan terluar yang terdapat pada tubuh. Kulit 2 menyelimuti sekitar 1,7 m dan memiliki massa sebesar 10% dari massa total tubuh manusia rata-rata.

3. Berperan sebagai homeostasis, mengatur suhu tubuh serta tekanan darah 4

  Kulit manusia terdiri atas tiga bagian, mulai dari yang paling terluar yaitu epidermis, dermis, dan jaringan subkutan. Pada stratum basal terdapat sel langerhans yang menyebabkan alergi, sel melanosit yang memproduksi melanin (pigmentasi) dan sel merkel yangsensitif terhadap rangsang (Benson and Watkinson, 2012).

C. Krim

  Krim merupakan sediaan semisolid yang mengandung satu atau lebih bahan aktif yang terdisolusi atau terdispersi dalam sistem emulsi air dalamminyak (A/M) maupun minyak dalam air (M/A). Vanishing krim yang telah diaplikasikan pada kulit akan menyebabkan krim tertahan pada kulit, terjadipenguapan air dan meninggalkan lapisan tipis asam stearat.

D. Bahan-bahan dalam Formulasi 1. Surfaktan

  Tween 80 dapat larut dalam etanol dan air.merupakan senyawa yang stabil terhadap elektrolit, asam lemah dan Polysorbate basa lemah. Polysorbate merupakan suatu emulsifying agent yang sering digunakan dalam berbagai kosmetik yang tidak memiliki sifat toksik maupunmengiritasi (Rowe et al., 2009).

2. Humektan

  Struktur kimia sorbitol (Florence and Attwood, 2011) Sorbitol (gambar 3) merupakan suatu humektan yang secara kimia inert dan kompatibel dengan eksipien. Trietanolamin akan membentuk sabun anionik apabila dicampur dengan asam lemak seperti asam stearat atau asam oleat yang berfungsi sebagai emulgator danmembentuk emulsi dengan tipe minyak dalam air yang stabil.

5. Metil paraben

  Struktur kimia metil paraben (Rowe et al., 2009) Metil paraben (gambar 6) merupakan suatu agen antibakteri atau pengawet yang telah luas digunakan dalam sediaan kosmetik dan sediaan farmasi. Paraben efektif dalam range pH yang luas serta aktivitas antibakteri yang luas, walaupun paraben paling aktif dalam menghambat aktivitas yeast dan fungi.

6. Butylated hydroxytoluene (BHT)

  Struktur kimia butylated hydroxytoluene (Rowe et al., 2009)Butylated hydroxytoluene (gambar 7) merupakan suatu antioksidan yang telah luas digunakan dalam berbagai produk kosmetik dan sediaan farmasi. BHT tidak dapat larut dalam air, gliserin, propilenglikol dan hidroksida alkali.

E. Desain Faktorial

  Desain faktorial merupakan aplikasi persamaan regresi, di mana teknik ini dapat digunakan untuk memberikan model hubungan antara variabel respon Desain faktorial dua level berarti ada dua faktor (misal A dan B) yang masing-masing faktor diuji pada dua level yang berbeda, yaitu level rendah danlevel tinggi. Faktor yang berpengaruh dominan dan adanya interaksi yang berpengaruh secara bermakna terhadap respon dapat diketahui melalui desainfaktorial (Bolton and Bon, 2010).

12 Persamaan (1) dan hasil data yang diperoleh dari percobaan dapat

  digunakan untuk membuat contour plot dan superimposed contour plot suatu respon tertentu. Contour plot dan superimposed contour plot digunakan untukmengetahui komposisi campuran yang optimum pada level yang diteliti (Bolton and Bon, 2010).

F. Landasan Teori

  Kemampuan antibakteri daun jambu biji Krim M/A merupakan salah satu jenis krim yang banyak disukai oleh masyarakat karena memiliki beberapa keunggulan yaitu tidak lengket ketikadiaplikasi pada kulit, lembut dan mudah dicuci. Sorbitol merupakan suatu humektan yang bersifat inert dan kompatibel dengan banyak eksipien Metode desain faktorial dengan dua faktor dan dua level digunakan untuk mengetahui komposisi optimum dari emulsifying agent dan humektan yangmempengaruhi sifat fisis krim.

G. Hipotesis 1

Tween 80, sorbitol, atau interaksi kedua faktor berpengaruh signifikan terhadap respon (sifat fisis dan stabilitas fisik krim) pada level yang diteliti.

2. Area komposisi optimum Tween 80 dengan sorbitol pada level yang diteliti dapat ditemukan

BAB II I METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimental menggunakan

B. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas

  Variabel tergantung Sifat fisis krim ekstrak daun jambu biji yang meliputi pH, tipe emulsi krim, viskositas dan daya sebar serta stabilitas fisik krim yang meliputipergeseran viskositas dan daya sebar. Variabel pengacau terkendali Lama pengadukan, kecepatan putar mixer, kondisi bahan dan daun jambu biji yang digunakan dan lama penyimpanan krim 4.

C. Definisi Operasional 1

  Ekstrak daun jambu biji merupakan ekstrak yang diperoleh dari daun jambu biji dengan metode maserasi, di mana ekstrak tersebut mengandung senyawa-senyawa antibakteri yang larut pada penyari etanol 70%. Potensi antibakteri krim merupakan kemampuan krim ekstrak daun jambu biji untuk menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, dilihat dari luaszona hambat yang dihasilkan dan dibandingkan dengan kontrol basis krim 15.

D. Bahan Penelitian

E. Alat Penelitian

  Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu glasswares (PYREX-GERMANY), pipet tetes, mikroskop (merk Olympus CH2-Japan), kertas pH universal, cawan petri, labu erlenmeyer, maserator, shaker, vacuum rotary evaporator, mixer (modifikasi USD), waterbath, stopwatch, timbangan analitik (Mettler Toledo GB 3002), alat uji daya sebar (modifikasi USD) dan viscotester seri VT 04 (Rion™-Japan). Pelarut ekstrak yang sudah diuapkan dengan vacuum rotary kemudian diuapkan kembali menggunakan waterbath hingga bobot evaporator dari ekstrak daun jambu biji mengalami penurunan bobot sebesar 10%.

2. Uji kualitatif tanin dalam ekstrak daun jambu biji Ekstrak daun jambu biji diambil sebanyak ± 2 ml ke dalam tabung reaksi

3. Uji daya antibakteri ekstrak daun jambu biji a

  Pembuatan suspensi bakteri Staphylococcus aureusSebanyak satu ose koloni bakteri Staphylococcus aureus diambil dari stok bakteri yang telah dibuat pada agar miring kemudian dimasukkan kedalamtabung reaksi yang telah berisi NaCl 0,9% steril secara aseptis. Pengujian potensi antibakteri ekstrak daun jambu bijiMedia MHA steril dituang kedalam cawan petri dan ditunggu hingga memadat.

4. Formula krim ekstrak daun jambu biji

  corniculata extract 0,1 gAquadest 7 ml Formula krim yang akan digunakan dalam penelitian sebanyak 100 g, sehingga komposisi formula dimodifikasi sebagai berikut :R/ Asam stearat 20 g Tween 80 4-6 g Butylated hydroxytoluene 0,02 g Sorbitol 6-9 g Trietanolamin 2 gMetil paraben 0,03 gEkstrak daun jambu biji 5 g Aquadest 60 ml Optimasi formula krim dilakukan dalam penelitian ini. Optimasi formula dilakukan pada penggunaan Tween 80 sebagai emulsifying agent dengan levelrendah sebesar 4 gram dan level tinggi sebesar 6 gram serta sorbitol sebagai humektan dengan level rendah sebesar 6 gram dan level tinggi sebesar 9 gram.

1 F a F b F ab

Ekstrak daun jambu biji 5 5 5 5 Asam stearat 20 20 20 20 Tween 80 4 6 4 6 0,02 0,02 0,02 0,02 Butylated hydroxytoluene Sorbitol 6 6 9 9 Trietanolamin 2 2 2 2 Metil paraben 0,03 0,03 0,03 0,03 Aquadest 60 60 60 60 5. Pembuatan krim ekstrak daun jambu biji Masing-masing fase dipanaskan pada suhu yang sama (70 C), yaitu asam stearat dan butylated hydroxytoluene sebagai fase minyak, serta Tween 80,

6. Evaluasi sediaan krim ekstrak daun jambu biji a

  Pengujian organoleptis dan pH krim ekstrak daun jambu bijiUji organoleptis dilakukan dengan mengamati warna dan bau dari krim setelah 48 jam pembuatan. Viskositas krim ditentukan dengan cara mengambil 100 g krim pada masing-masing formula dan viskositas diukur menggunakan viscotester VT-04 pada suhu 37 C.

G. Analisis Hasil

  Uji ANOVA dilakukan untuk melihat pengaruh yang dominan antaraTween 80, sorbitol atau interaksi keduanya dalam menentukan respon sifat fisis krim dan stabilitas fisik krim ekstrak daun jambu biji. Data yang didapat selain data utama berupa hasil uji organoleptis, uji pH, uji tipe krim, uji ukuran droplet, uji iritasi menggunakan metode HET-CAM sertauji antibakteri ekstrak daun jambu biji dapat digunakan sebagai data pendukung.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pembuatan Ekstrak Daun Jambu Biji Daun jambu biji segar diperoleh dari Merapi Farma. Daun jambu biji

  Etanol digunakan untuk dapat menembus sel-sel dari serbuk daun jambu biji sehingga tanin yang terperangkap dalam sel-sel serbuk daun jambu biji dapatdidapatkan dengan bantuan air yang terkandung dalam etanol 70%. Ekstrak kental dengan konsistensi cair lebih mudah ditambahkan ke dalam krim dan dapatmenghasilkan suatu krim yang homogen apabila dibandingkan dengan ekstrak kental dengan konsistensi yang kental atau kering.

B. Uji Kadar Air Serbuk Daun Jambu Biji dan Uji Kualitatif Tanin dalam Ekstrak Daun Jambu Biji

  Uji kadar air terhadap serbuk daun jambu biji dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak air yang masih terkandung dalam serbuk daun jambubiji yang akan digunakan dalam penelitian. Uji kualitatif ekstrak daun jambu biji (a) sebelum ditambahkan FeCl dan (b)3 setelah ditambahkan FeCl3 Gambar 8a merupakan ekstrak daun jambu biji yang belum diberi penambahan FeCl 3 , sedangkan gambar 8b merupakan ekstrak daun jambu biji yang telah ditambahkan 1-2 tetes FeCl Pada gambar 8a dan 8b dapat dilihat 3.bahwa terjadi perubahan warna terhadap ekstrak cair daun jambu biji.

C. Uji Daya Antibakteri Ekstrak Daun Jambu Biji

  Uji antibakteri ekstrak daun jambu biji dilakukan beserta dengan kontrol negatif (aquadest) untukmemastikan bahwa tidak ada pengaruh dari kontrol negatif yang berperan sebagai pelarut dari 5% ekstrak daun jambu biji terhadap hasil pengujian kualitatif dayaantibakteri ekstrak daun jambu biji. Berdasarkan hasil pengujian daya antibakteri ekstrak daun jambu biji (gambar 9a), terdapat zona jernih disekitar lubangsumuran yang menandakan bahwa ekstrak daun jambu biji memiliki daya Berdasarkan hasil pengujian kontrol negatif (gambar 9b), aquadest daun jambu biji.yang digunakan sebagai pelarut dari ekstrak daun jambu biji tidak memberikan zona jernih disekitar lubang sumuran.

D. Pembuatan Krim Ekstrak Daun Jambu Biji

  Sebelum dilakukan optimasi formula, dilakukan orientasi untuk mengetahui apakah faktor yang diteliti memberikan perubahan yang linearterhadap respon serta untuk menentukan level rendah dan level tinggi dari faktor yang akan dioptimasi dalam penelitian. Grafik orientasi pengaruh Tween 80 terhadap daya sebar Berdasarkan grafik yang ditunjukkan pada gambar 10 dan gambar 11,Tween 80 berpengaruh terhadap respon viskositas maupun daya sebar krim daun jambu biji.

E. Uji Sifat Fisis dan Stabilitas Fisik Krim

  Uji fisis dan stabilitas fisik krim sangat penting dilakukan untuk mengetahui apakah krim yang dihasilkan memenuhi kriteria krim yang baik danstabil selama penyimpanan. Krim yang telah memenuhi kriteria krim yang baik serta stabil dalam penyimpanan akan berpengaruh pada kualitas krim yangberhubungan dengankeamanan dan akseptabilitas pasien ketika mengaplikasikan krim tersebut.

1. Uji organoleptis dan pH krim ekstrak daun jambu biji

  Hasil Pengujian organoleptis krim ekstrak daun jambu bijiKriteria Formula F1 Formula Fa Formula Fb Formula Fab Warna Coklat Coklat Coklat CoklatKeemasan Keemasan Keemasan Keemasan Bau Khas Khas Khas KhasPH 6 6 6 6 Homogenitas Homogen Homogen Homogen HomogenBerdasarkan hasil pengujian, dapat dilihat pada tabel V bahwa seluruh formula krim ekstrak daun jambu biji memiliki warna coklat keemasan, bau yangkhas, homogen serta memiliki pH 6. Berdasarkan hasilpengujian organoleptis, krim ekstrak daun jambu biji diharapkan memenuhi aspek akseptabilitas.

2. Uji tipe emulsi krim dengan metode pewarnaan

  Pengamatan mikroskopik krim formula (a) F1, (b) Fa, (c) Fb dan (d) Fab Berdasarkan Tabel VI, dapat dilihat bahwa seluruh formula krim memiliki tipe emulsi M/A. Berdasarkan gambar 14a hingga gambar 14d, dapat dilihat bahwa pada bagian luar droplet krim berwarna biru, sedangkan bagiandalam droplet tidak berwarna biru sebagaimana warna biru yang terdapat pada bagian luar droplet.

3. Uji ukuran droplet

  Pengujian ukuran droplet (uji mikromeritik) dilakukan untuk mengetahui ukuran partikel-partikel droplet yang terdapat dalam krim ekstrak daun jambu biji. Uji viskositas Pengujian viskositas dilakukan untuk mengetahui seberapa besar viskositas yang dihasilkan oleh krim ekstrak daun jambu biji dan seberapa besar viscotester seri VT 04 Rion Japan.

40 Vis

  Perhitungan % pergeseran viskositas ( x̅± SD) krim ekstrak daun jambu biji Formula Viskositas krim Viskositas krim Persentase setelah 48 jam setelah 28 hari pergeseran penyimpanan penyimpanan viskositas (d. % pergeseran viskositas yang diharapkanyaitu kurang dari 10% karena pergeseran viskositas kurang dari 10% menandakan bahwa krim memiliki stabilitas yang baik (Wiranata, 2011).

5. Uji daya sebar

  Pengujian daya sebar dilakukan untuk mengetahui seberapa besar daya sebar yang dihasilkan oleh krim ekstrak daun jambu biji dan seberapa besarpergeseran daya sebar yang dihasilkan selama 7 hari, 14 hari, 21 hari dan 28 hari penyimpanan. Range ini didapatkan dari hasil orientasi, di mana pada rentang daya sebar sebesar 5-7 cm, krim mudahdiaplikasikan pada kulit tanpa memerlukan tekanan yang besar dan dapat tinggal dengan lama pada kulit.

F. Pengaruh Penambahan Tween 80 dan Sorbitol terhadap Sifat Fisis Krim Ekstrak Daun Jambu Biji

  Masing-masing pengaruh dariTween 80 serta sorbitol terhadap sifat fisis dan stabilitas fisik krim dengan respon viskositas dan daya sebar dapat dianalisis menggunakan software R-3.1.1. Seluruh bahan memiliki jumlah yang sama kecuali kedua faktor yang ingin diteliti (Tween 80 dan sorbitol) untuk melihatpengaruh dari kedua faktor tersebut terhadap respon (viskositas dan daya sebar).

1. Uji normalitas Uji normalitas merupakan salah satu syarat dalam pengujian ANOVA

  Hasil uji normalitas yang dilakukan menggunakan uji Respon yang diteliti Formula p-value F1 1 Fa 0,4633Viskositas Fb 0,3631Fab 0,6369 F1 0,8999Fa 0,7804 Daya SebarFb 2.2e-16 Fab 0,8841Berdasarkan data yang telah didapatkan dari uji normalitas, respon viskositas menunjukkan bahwa seluruh formulamemiliki p-value> 0,05. Uji ANOVA (respon viskositas) Uji ANOVA dilakukan untuk mengetahui apakah variasi yang diberikan terhadap faktor (Tween 80 dan sorbitol) memberikan pengaruh yang signifikanterhadap respon yang diteliti.

4. Uji Kruskal-Wallis dengan Post hoc Wilcoxon

  Pengujian dilanjutkan dengan uji wilcoxon yaitu dengan membandingkan antara dua formula yang memiliki level yang sama pada salahsatu faktor yang diteliti. Hasil uji Wilcoxon pada variasi Tween 80 sebagai emulsifying agent terhadap respon daya sebarFormula p-value Keterangan Kesimpulan F1 : Fa 0,2 Berbeda tidak bermakna Tidak ada pengaruhFb : Fab 1 Berbeda tidak bermakna Tidak ada pengaruhTabel XVI menunjukkan bahwa pada formula F1 : Fa maupun formula Fb:Fab tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap respon daya sebar.

5. Uji pergeseran viskositas

  Berdasarkan uji normalitas pergeseran viskositas yang dapat dilihat pada lampiran 7.3.a, dapat dilihat bahwa data pergeseran viskositas seluruh formulakrim ekstrak daun jambu biji memiliki p-value lebih dari 0,05. Hasil uji ANOVA pada uji pergeseran viskositasFaktor Df Sum of Mean F p-value Squares Square Tween 80 1 956,60 956,60 23,3016 0,001309Sorbitol 1 79,50 79,50 1,9365 0,201517 Interaksi 1 560,18 560,18 13,6454 0,006095Residual 8 328,42 41,05 Berdasarkan hasil ANOVA pergeseran viskositas, Tween 80 serta interaksi antara Tween 80 dan sorbitol memiliki pengaruh yang signifikanterhadap pergeseran viskositas.

6. Uji pergeseran daya sebar

  Data yang tersebar pada respon daya sebar memilikidistribusi tidak normal, sehingga persamaan desain faktorial tidak dapat ditemukan dan grafik contour plot yang digunakan untuk memprediksi areakomposisi optimum masing-masing respon yang diteliti tidak dapat dibuat dalam penelitian ini. Area komposisi optimum tidak dapat ditemukan karena pemilihan formula yang digunakan serta pemilihan level dari faktor yang diuji kurangoptimum, selain itu adanya faktor subjektivitas dalam melihat data yang dihasilkan juga menjadi salah satu faktor tidak ditemukannya area komposisioptimum krim ekstrak daun jambu biji.

H. Uji Iritasi Menggunakan Metode HET-CAM

  Uji ini dapat menganalisa kerusakan yang ditimbulkan pada membran akibat iritasi dari senyawa uji (dalam penelitian ini senyawa uji merupakan krim ekstrakdaun jambu biji). Kelemahan dari metode HET-CAM ini yaitu adanya subjektivitas peneliti yang sulit untuk menentukan waktu dari terjadinya perdarahan, lisis Tujuan dari penggunaan kontrol negatif yaitu untuk membandingkan secara jelas chorioallantoic membran (CAM) yang mengalami iritasi dengan chorioallantoic membran (CAM) yang tidak mengalami iritasi dari kontol negatif ini.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Interaksi dari Tween 80 dan sorbitol memberikan pengaruh yang signifikan

  terhadap sifat fisis yaitu viskositas, sedangkan Tween 80, sorbitol dan interaksinya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sifat fisisyaitu daya sebar. Tween 80 dan interaksinya memberikan pengaruh signifikan terhadap stabilitas fisik yaitu pergeseran viskositas.

2. Tidak dapat ditemukan area komposisi optimum dari Tween 80 dan sorbitol

B. Saran 1

  Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai jumlah dan konsentrasi ekstrak serta eksipien yang ingin ditambahkan ke dalam krim. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor dan jumlah level yang digunakan dalam pembuatan krim.

DAFTAR PUSTAKA

  Hasil uji kadar air serbuk daun jambu biji dan uji kualitatif tanin yang dilakukan pada LPPT Universitas Gadjah Mada a. Hasil rendemen ekstrak kental daun jambu biji Ekstraksi Ekstrak kental (g)Serbuk daun jambu biji (g) Rendemen (%) 1 21,6 114,28 18,92 22,8 114,28 19,95 3 17,1 114,28 14,964 24,3 114,28 21,26 5 23,7 114,28 20,736 19,4 114,28 16,97 7 10,3 71,43 14,428 11,9 71,43 16,66 9 14,7 71,43 20,58 10 8,4 71,43 11,76 11 20,7 114,28 18,1112 21,9 114,28 19,16 13 18,8 114,28 16,4514 23,4 114,28 20,48 15 13,2 71,43 18,48 Rata 17,93 ± 2,72 Lampiran 4.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Efektivitas Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) sebagai Larvasida Nyamuk Aedes spp. pada Ovitrap
18
208
91
Pemanfaatan Ekstrak Daun Jambu Biji(Psidium guajava L.) Sebagai Pewarna Rambut
18
171
64
Pengaruh Perbandingan Yoghurt Dengan Ekstrak Buah Jambu Biji Merah Dan Perbandingan Zat Penstabil Terhadap Mutu Permen Jelly
2
48
96
Pemanfaatan Kulit Batang Jambu Biji (Psidium guajava) Untuk Menyerap Logam Krom Pada Air Limbah Industri Pelapisan Logam
1
36
53
Survei Nematoda Entomopatogen Pada Tanaman Jambu Biji (Psidium guajava L) Di Laboratorium
0
32
54
Pengaruh Pemberian Jus Jambu Biji Merah (Psidium guajava L.) Terhadap Kadar Kolesterol Mencit (Mus Musculus) Diabetik
1
60
55
Penggunaan Sari Buah Jambu Biji (Psidium guajava L.) Dalam Sediaan Krim Pelembab
14
87
66
Optimasi formula sediaan gel gigi yang mengandung ekstrak daun jambu biji (psidium guajaya L) dengan Na CMC sebagai gelling agent
4
16
71
Penggunaan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) Sebagai Pewarna Dalam Sediaan Maskara
27
177
79
Pengaruh Tween 80 sebagai emulsifying agent dan gliserin sebagai humektan dalam sediaan krim ekstrak batang Jarak Cina (Jatropha Multifida L.) dengan aplikasi desain faktorial.
2
9
111
Pengaruh Tween 80 sebagai emulsifying agent dan propilen glikol sebagai humektan dalam sediaan krim ekstrak daun Jambu Biji (Psidium Guajava L.) dengan aplikasi desain faktorial.
1
7
100
Pengaruh tween 80 sebagai emulsifying agent dan propilen glikol sebagai humektan dalam sediaan krim ekstrak batang Jarak Cina (Jatropha.
3
5
121
Pengaruh TWEEN 80 sebagai emulsifying agent dan sorbitol sebagai humektan dalam sediaan krim ekstrak etanol batang Jarak Cina (Jatropha multifida L.) dengan aplikasi desain faktorial.
7
26
109
Pengaruh span 80 sebagai emulsifying agent dan carbopol 940 sebagai gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik krim sunscreen fraksi etil asetat daun jambu biji (psidium guajava l.).
0
3
100
Optimasi parafin cair sebagai emolien dan gliserin sebagai humektan dalam krim sunscreen ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava L.) menggunakan aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
3
90
Show more