Struktur Tegakan Dan Sebaran Spasial Jenis Pohon Torem (Manilkara Kanosiensis H.J. Lam & B.J.D. Meeuse) Di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat

Gratis

7
46
72
2 years ago
Preview
Full text
STRUKTUR TEGAKAN DAN SEBARAN SPASIAL JENIS POHON TOREM (Manilkara kanosiensis H.J. Lam & B.J.D. Meeuse) DI PULAU YAMDENA KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT ARYANTO BOREEL SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Struktur Tegakan dan Sebaran Spasial Jenis Pohon Torem (Manilkara kanosiensis, H.J. Lam & B.J.D. Meeuse) di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Oktober 2009 Aryanto Boreel NRP E151070041 ABSTRACT ARYANTO BOREEL. Stand Structure and Spatial Distribution of Torem (Manilkara kanosiensis, H.J. Lam & B.J.D. Meeuse) Tree Species in Yamdena Island, Regency of Maluku Tenggara Barat. Under direction of ENDANG SUHENDANG and ISTOMO Quantitative information concerning stand growth for preparing management plan can be obtained from stand structure or the spatial distribution. The objectives of this research were obtaining model of stand structure and spatial distribution pattern of torem (M. kanosiensis) tree species in Yamdena island, regency of Maluku Tenggara Barat. Distribution model for estimating stand structure of species group of torem and non torem, consisted of negative exponential, gamma, lognormal and weibull distribution. These four models of distribution were analyzed, besides using maximum likelihood function, also by observing the acceptance tendency of distribution family by other experimental units for obtaining the best distribution model. On the other hand, spatial distribution pattern of torem tree species was analyzed by using Morisita index (IG). Research results showed that family of lognormal distribution constituted the best distribution family for obtaining stand structure model of torem species group in sample plot A and B, whereas sample plot C was accepted by family of weibull distribution. For group of non torem species, family of lognormal distribution was accepted consistently without exception in all sample plots. Test of model validity explained that family of lognormal distribution was accepted consistently more than 60 % for torem species and 100 % for non torem species. It was found that spatial distribution pattern of torem tree species was random (IG = 0 ) and was due to the homogeneous environment and non selective behavior of the individuals. Keywords : stand structure, spatial distribution, maximum likelihood function, Morisita index RINGKASAN ARYANTO BOREEL. Struktur Tegakan dan Sebaran Spasial Jenis Pohon Torem (Manilkara kanosiensis, H.J. Lam & B.J.D. Meeuse) di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Dibimbing oleh ENDANG SUHENDANG dan ISTOMO. Informasi kuantitatif mengenai pertumbuhan tegakan dalam rangka penyusunan rencana pengelolaan hutan dapat diketahui dari struktur tegakan dan sebaran spasialnya. Data mengenai kondisi tegakan baik struktur maupun sebarannya sangat diperlukan dalam pendugaan dimensi tegakan, sehingga model struktur tegakan lebih menekankan pada keterandalan dan keakuratan. Dalam kaitannya dengan pemanfaatan jenis pohon torem (M. kanosiensis) maka data dan informasi mengenai komposisi dan struktur tegakannya mutlak diperlukan. Bertolak dari hal tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model struktur tegakan dan pola sebaran spasial jenis torem (M. kanosiensis) di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Data mengenai model struktur tegakan dan sebaran spasial diperoleh dari hasil pengukuran diameter dan kerapatan pohon dengan diameter •  FP Pengukuran dilakukan pada ketiga petak contoh yang ditentukan secara purposive sampling dengan mempertimbangkan tingkat kerapatan vegetasi dan adanya ketersebaran jenis torem yaitu (1) areal dengan tingkat kerapatan vegetasi tinggi, (2) areal dengan tingkat kerapatan vegetasi rendah dan (3) areal dengan tingkat kerapatan vegetasi rendah. Model sebaran untuk menduga struktur tegakan kelompok jenis torem dan non torem terdiri atas sebaran eksponensial negatif, gamma, lognormal dan weibull. Keempat model sebaran ini dianalisis selain menggunakan cara fungsi kemungkinan maksimum juga dilihat kecenderungan penerimaan famili sebaran oleh satuan percobaan lain untuk mendapatkan model sebaran terbaik. Sedangkan pola sebaran spasial jenis pohon torem dianalisis dengan menggunakan indeks Morisita (IG). Hasil analisis vegetasi pada berbagai tingkat kerapatan vegetasi menunjukkan komposisi jenis dan struktur tegakan yang berbeda-beda. Jumlah jenis mulai dari yang terendah sampai tertinggi adalah 22 sampai 25 jenis dengan kerapatan pohon 112 pohon/ha sampai 307 pohon/ha. Apabila dilihat dari besarnya indeks nilai penting (INP), maka pada areal dengan kerapatan vegetasi tinggi di dominasi oleh jenis Canarium vulgare (37,31%), areal dengan kerapatan vegetasi sedang di dominasi oleh jenis D. lolin (81,32%) dan areal dengan kerapatan vegetasi rendah di dominasi oleh jenis M. kanosiensis (58,56%). pada berbagai tingkat kerapatan vegetasi sebaran jumlah pohon untuk kelompok jenis torem bervariasi menurut kelas diameter. Total jumlah pohon per hektar mulai dari yang terendah sampai tertinggi adalah 7 pohon/ha sampai 13 pohon/ha. Selanjutnya untuk kelompok jenis non torem secara keseluruhan jumlah pohon terbesar berada pada kelas diameter yang kecil dan menurun pada kelas diameter besar. Total jumlah pohon per hektar mulai dari yang terendah sampai terttinggi adalah 99 pohon/ha sampai 296 pohon/ha. Adanya variasi jenis dan struktur dalam suatu komunitas dipengaruhi oleh lingkungan tempat tumbuhnya, yaitu semua keadaan yang secara efektif berpengaruh terhadap pertumbuhan masyarakat tumbuhan dalam suatu komunitas. Hasil penentuan fungsi sebaran terpilih berdasarkan nilai fungsi kemungkinan maksimum didapatkan bahwa untuk kelompok jenis torem pada areal dengan kerapatan vegetasi tinggi diterima oleh famili sebaran gamma (L = 10-54,878), areal dengan kerapatan vegetasi sedang diterima oleh famili sebaran lognormal (L = 10-31,716) dan untuk areal dengan kerapatan vegetasi rendah diterima oleh famili sebaran weibull (L = 10-54,485). Sedangkan untuk kelompok jenis non torem, diterima secara konsisten oleh famili sebaran lognormal tanpa pengecualian. Namun dengan melihat kecenderungan penerimaan famili sebaran oleh ketiga kondisi hutan tersebut, ternyata famili sebaran lognormal merupakan famili sebaran yang lebih sering dipilih dalam satuan percobaan. Dengan demikian famili sebaran lognormal merupakan famili sebaran terbaik untuk menerangkan model struktur tegakan jenis pohon torem pada areal dengan kerapatan vegetasi tinggi. Dari hasil uji konsistensi penerimaan model diperoleh bahwa untuk kelompok jenis pohon torem diterima dengan famili sebaran lognormal sebesar 66,67%, dan famili sebaran weibull sebesar 33,33%. Sedangkan untuk kelompok jenis non torem diterima oleh famili sebaran lognormal tanpa pengecualian. Hal ini mengindikasikan bahwa untuk kelompok jenis pohon torem famili sebaran lognormal konsisten di areal dengan kerapatan tinggi dan sedang, namun tidak konsisten di areal dengan kerapatan rendah. Sedangkan untuk kelompok jenis pohon non torem terlihat bahwa adanya konsistensi penerimaan famili sebaran lognormal di ketiga kondisi tersebut. Adanya penerimaan famil sebaran yang tidak konsisten ini diduga karena pada kenyataannya ketiga petak contoh dengan tingkat kerapatan vegetasi yang berbeda saling bebas satu sama lain, sedangkan pada penyusunan petak contoh gabungan dianggap sebagai satu kesatuan. Berdasarkan uji khi-kuadrat (F2) diperoleh nilai F2hit d F2tab pada taraf nyata 5%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat cukup bukti untuk mengatakan kedua penentuan dimensi tegakan baik dengan menggunakan cara struktur tegakan dan rata-rata hitung yang biasa digunakan berbeda. ini mengindikasikan bahwa model sebaran lognormal cukup sesuai digunakan untuk menduga dimensi tegakan jenis pohon torem di lokasi penelitian. Dari hasil perhitungan indeks Morisita (IG) dan standarisasi indeks Morisita (IP) pada ketiga lokasi penelitian diperoleh pola penyebaran pohon torem adalah acak dengan besarnya nilai standarisasi indeks Morisita lebih besar dari –0,5 dan kurang dari +0,5. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya pola acak dalam suatu organisme populasi diakibatkan karena kondisi lingkungan yang homogen dan atau pola tingkah laku yang tidak selektif. Kata kunci : struktur tegakan, sebaran spasial, fungsi kemungkinan maksimum, indeks Morisita © Hak Cipta milik IPB, tahun 2009 Hak Cipta dilindungi Undang-undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB STRUKTUR TEGAKAN DAN SEBARAN SPASIAL JENIS POHON TOREM (Manilkara kanosiensis H.J. Lam & B.J.D. Meeuse) DI PULAU YAMDENA KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT ARYANTO BOREEL Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Mayor Ilmu Pengelolaan Hutan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 Judul Tesis Nama NRP : Struktur Tegakan dan Sebaran Spasial Jenis Pohon Torem (Manilkara kanosiensis, H.J. Lam & B.J.D. Meeuse) di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat : Aryanto Boreel : E151070041 Disetujui Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. Endang Suhendang, M.S. Ketua Dr. Ir. Istomo, M.S. Anggota Diketahui Koordinator Mayor Ilmu Pengelolaan Hutan Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Hariadi Kartodiharjo, M.S. Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S. Tanggal Ujian : 26 Oktober 2009 Tanggal Lulus : Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr. Ir. Teddy Rusolono, M.S. PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan April 2009 ini ialah struktur tegakan dan sebaran spasial, dengan judul Struktur Tegakan dan Sebaran Spasial Jenis Pohon Torem (Manilkara kanosiensis, H.J. Lam & B.J.D. Meeuse) di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Endang Suhendang, M.S. dan Bapak Dr. Ir. Istomo, M.S. selaku pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan kontribusi pikir sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Ucapan terima kasih penulis juga sampaikan kepada Rektor Universitas Pattimura, Dekan Fakultas Pertanian dan Ketua Jurusan Kehutanan yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk mengikuti pendidikan pascasarjana (S2) pada mayor Ilmu Pengelolaan Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI), Yayasan Dana Beasiswa Maluku (YDBM) dan Yayasan Tahija yang telah memberikan dana pendidikan dan penyelesaian studi. Penghargaan dan terima kasih penulis sampaikan kepada PEMDA MTB, Dinas Kehutanan dan Perkebunan MTB yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian dan semua pihak yang membantu penulis selama penelitian. Disamping itu, terima kasih penulis sampaikan kepada teman-temanku (frets, boy, beno dan pak wem) yang membantu penulis di lokasi penelitian. Teman-teman IPH 2007, kanaf, ibu Insun, Sofie serta keluarga besar PERMAMA yang memberikan dorongan dan doa kepada penulis. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada kedua orang tua terkasih beserta adik dan keluarganya yang telah memberikan semangat, dorongan dan doa bagi penulis selama penulis menempuh pendidikan pascasarjana (S2) di Institut Pertanian Bogor. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Oktober 2009 Aryanto Boreel RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Ambon pada tanggal 31 Januari 1977 dari ayah Edy Boreel dan ibu Susana Boreel. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Tahun 1996 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Ambon dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Universitas Pattimura Ambon melalui Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Penulis memilih Program Studi Manajemen Hutan, Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian. Kesempatan untuk melanjutkan ke program Magister Sains pada mayor Ilmu Pengelolaan Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor diperoleh pada Tahun 2007 melalui Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS) dari DIKTI . Penulis bekerja sebagai dosen tetap pada Program Studi Manajemen Hutan, Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon, sejak tahun 2005. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................. xii DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xv I. PENDAHULUAN .................................................................................... 1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1.2 Perumusan Masalah ........................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 1.4 Manfaat Penelitian .............................................................................. 1.5 Kerangka Pemikiran ............................................................................ 1 1 3 4 4 4 II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 2.1 Tegakan dan Struktur Tegakan ............................................................ 2.1.1 Pengertian .................................................................................. 2.1.2 Kerapatan ................................................................................... 2.1.3 Diameter ..................................................................................... 2.1.4 Model dan Kegunaan Struktur Tegakan Hutan ......................... 2.1.4.1 Model Struktur Tegakan Hutan .................................... 2.1.4.2 Kegunaan Struktur Tegakan Hutan ............................... 2.2 Distribusi Spasial ................................................................................. 2.2.1 Beberapa Pola Sebaran Spasial .................................................. 2.2.1.1 Pola Sebaran Poisson .................................................... 2.2.1.2 Pola Sebaran Binomial Negatif ..................................... 2.2.1.3 Pola Sebaran Positif Binomial ....................................... 2.2.1.4 Indeks Morisita .............................................................. 2.3 Keadaan Umum Torem (Manilkara kanosiensis) .............................. 2.3.1 Ciri Umum Torem ....................................................................... 2.3.2 Penyebaran dan Tempat Tumbuh ............................................. 6 6 6 8 9 10 10 12 13 16 16 16 16 17 18 18 18 III. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ........................................... 3.1 Letak dan Luas ..................................................................................... 3.2 Topografi ............................................................................................... 3.3 Geologi dan Tanah ................................................................................ 3.4 Iklim ...................................................................................................... 3.5 Vegetasi ................................................................................................. 20 20 20 20 20 21 IV. BAHAN DAN METODE PENELITIAN .................................................. 4.1 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................... 4.2 Bahan dan Alat ..................................................................................... 4.3 Metode Penelitian ................................................................................. 4.3.1 Teknik Pengambilan Data .......................................................... 4.3.2 Analisis Data ............................................................................... 22 22 22 22 22 25 4.3.2.1 Model Struktur Tegakan ................................................ 25 4.3.2.2 Pola Sebaran Spasial ....................................................... 31 V. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 5.1 Komposisi dan Struktur Hutan ............................................................. 5.1.1 Komposisi Vegetasi .................................................................... 5.1.2 Struktur Tegakan ........................................................................ 5.2 Model Penduga Struktur Tegakan Berdasarkan Sebaran Diameter Pohon ................................................................................................... 5.3 Penerapan Struktur Tegakan dalam Menduga Dimensi Tegakan Hutan .................................................................................................... 5.3.1 Kerapatan Pohon Tegakan ......................................................... 5.3.2 Luas Bidang Dasar Tegakan ...................................................... 5.3.3 Volume Tegakan ......................................................................... 5.4 Pola Sebaran Spasial ............................................................................ 33 33 33 35 38 47 47 49 50 51 VI. SIMPULAN DAN SARAN ....................................................................... 56 6.1 Simpulan .............................................................................................. 56 6.2 Saran .................................................................................................... 56 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 57 LAMPIRAN ...................................................................................................... 60 xi DAFTAR TABEL Halaman 1 Analisis vegetasi semua jenis pohon yang berdiameter •FP pada berbagai tingkat kerapatan ................................................................... 33 2 Informasi fisik areal penelitian menurut tingkat kerapatan vegetasi ............ 34 3 Sebaran jumlah pohon (N/ha) untuk kelompok jenis torem dan non torem menurut kelas diameter pada berbagai tingkat kerapatan vegetasi ..... 35 4 Nilai fungsi kemungkinan maksimum (L) dari tiap famili sebaran untuk kelompok jenis pohon torem dan non torem (dinyatakan dalam : -Log L) .. 39 5 Nilai fungsi kemungkinan maksimum (L) dari tiap famili sebaran untuk kelompok jenis pohon torem dan non torem pada petak contoh gabungan (dinyatakan dalam : - Log L) ...................................................................... 44 6 Kerapatan pohon jenis torem dihitung dengan menggunakan struktur tegakan dan dengan rata-rata hitung ............................................................. 48 7 Luas bidang dasar tegakan jenis pohon torem dihitung dengan memakai struktur tegakan dan dengan rata-rata hitung .............................................. 49 8 Volume tegakan jenis pohon torem dihitung dengan memakai struktur tegakan dan dengan rata-rata hitung ............................................................. 50 9 Pola sebaran jenis pohon torem pada berbagai tingkat kerapatan vegetasi ......................................................................................................... 53 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Garis besar kerangka pemikiran penelitian ................................................... 5 2 Perbedaan sebaran jumlah pohon dikaitkan dengan sifat toleransinya terhadap naungan. 1, 2, dan 3 jenis pohon intoleran sedangkan 4 dan 5 jenis pohon toleran ............................................................................. 7 3 Tipe-tipe pola spasial ..................................................................................... 14 4 Tipe model SPA berdasarkan pemilihan unit sampling ................................ 15 5 Bagan pembuatan petak coba di lapangan ..................................................... 24 6 Bagan pembuatan petak contoh penelitian dan sub petak contoh berukuran 20 m x 20 m dalam petak contoh seluas 1 ha (100 m x 100 m) ... 24 7 Bentuk struktur tegakan kelompok jenis pohon torem (a) dan non torem (b) pada areal dengan kerapatan vegetasi tinggi ......................... 37 8 Bentuk struktur tegakan kelompok jenis pohon torem (a) dan non torem (b) pada areal dengan kerapatan vegetasi sedang ........................ 37 9 Bentuk struktur tegakan kelompok jenis pohon torem (a) dan non torem (b) pada areal dengan kerapatan vegetasi rendah ....................... 37 10 Bentuk fungsi kepekatan sebaran eksponensial, gamma, lognormal dan weibull untuk kelompok jenis pohon torem (a) dan non torem (b) di areal dengan kerapatan vegetasi tinggi ..................................................... 41 11 Bentuk fungsi kepekatan sebaran eksponensial, gamma, lognormal dan weibull untuk kelompok jenis pohon torem (a) dan non torem (b) di areal dengan kerapatan vegetasi sedang .................................................... 42 12 Bentuk fungsi kepekatan sebaran eksponensial, gamma, lognormal dan weibull untuk kelompok jenis pohon torem (a) dan non torem (b) di areal dengan kerapatan vegetasi rendah .................................................... 42 13 Perbandingan bentuk histogram kerapatan pohon kelompok jenis torem dengan famili sebaran terbaik lognormal di areal dengan kerapatan vegetasi tinggi ............................................................................................... 43 14 Perbandingan bentuk histogram kerapatan pohon kelompok jenis torem dengan famili sebaran terbaik weibull di areal dengan kerapatan vegetasi rendah ............................................................................................. 44 15 Sebaran diameter jenis pohon torem untuk petak contoh gabungan ............ 46 16 Sebaran diameter jenis pohon non torem untuk petak contoh gabungan ...... 46 17 Penyebaran pohon torem di komunitas hutan kerapatan tinggi di dalam petak contoh berukuran 100 m x 100 m .............................................. 52 18 Penyebaran pohon torem di komunitas hutan kerapatan sedang di dalam petak contoh berukuran 100 m x 100 m ............................................. 52 17 Penyebaran pohon torem di komunitas hutan kerapatan rendah di dalam petak contoh berukuran 100 m x 100 m ............................................. 53 xiv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Peta lokasi penelitian .................................................................................... 61 2 Data jumlah jenis pada tiap petak ................................................................. 62 3 Daftar jumlah jenis di lokasi penelitian ......................................................... 63 4 Analisa vegetasi dan indeks nilai penting (INP) pada areal dengan kerapatan vegetasi tinggi ............................................................................. 64 5 Analisa vegetasi dan indeks nilai penting (INP) pada areal dengan kerapatan vegetasi sedang ........................................................................... 65 6 Analisa vegetasi dan indeks nilai penting (INP) pada areal dengan Kerapatan vegetasi rendah ............................................................................ 66 7 Jenis dan jumlah pohon menurut kelas diameter pada areal dengan Kerapatan vegetasi tinggi .............................................................................. 67 8 Jenis dan jumlah pohon menurut kelas diameter pada areal dengan Kerapatan vegetasi sedang ............................................................................ 68 9 Jenis dan jumlah pohon menurut kelas diameter pada areal dengan Kerapatan vegetasi rendah ............................................................................ 69 10 Nilai dugaan bagi penduga titik famili sebaran eksponensial negatif, gamma, lognormal dan weibull untuk masing-masing petak contoh di lokasi penelitian ........................................................................................ 70 11 Nilai peluang untuk sebaran eksponensial negatif, gamma, lognormal dan weibull berdasarkan kelas diameter untuk jenis pohon torem ( P( x1 d X d x2 ) x2 ³ f ( x) dx) ............................................................................. 71 x1 12 Nilai peluang untuk sebaran eksponensial negatif, gamma, lognormal dan weibull berdasarkan kelas diameter untuk jenis pohon non torem ( P( x1 d X d x2 ) x2 ³ f ( x) dx) x1 ............................................................................. 72 13 Model sebaran diameter untuk famili eksponensial negatif, gamma, lognormal dan weibull pada petak contoh A, B, C dan Gabungan untuk kelompok jenis pohon torem (a) dan non torem (b) ........................... 73 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan yang didominasi oleh pepohonan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu sebagai akibat dari pertumbuhan dan kematian yang terjadi secara alami maupun karena aktivitas penebangan yang dilakukan oleh manusia. Keadaan hutan yang demikian baik individu pohon maupun tegakan harus diketahui secara simultan melalui pengukuran terhadap karakteristik individu pohon maupun tegakan dengan tujuan mendapatkan data dan informasi. Data dan informasi tersebut dapat digunakan untuk memprediksi pertumbuhan dan hasil suatu tegakan hutan yang selanjutnya dipakai dalam penyusunan rencana pengelolaan hutan. Simon (2007) mengatakan bahwa tanpa informasi tentang pertumbuhan, suatu rencana pengelolaan hutan tidak lebih dari sekedar petunjuk untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan di lapangan, bukan merupakan suatu rencana yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan pengelolaan. Informasi mengenai pertumbuhan tegakan dalam rangka penyusunan rencana pengelolaan dapat diketahui dari struktur tegakannya selama suatu periode waktu. Suhendang (1995) menjelaskan bahwa struktur tegakan merupakan salah satu alat untuk mencapai kelestarian hasil. Struktur tegakan, menurut Meyer et al. (1952) yang diacu dalam Wahjono dan Imanuddin (2007) dapat dipakai sebagai petunjuk dalam penentuan dapat tidaknya suatu tegakan hutan diadakan pemanenan. Data mengenai kondisi tegakan baik struktur maupun sebarannya sangat diperlukan dalam pendugaan dimensi tegakan dan dapat digunakan sebagai informasi untuk kegiatan pengelolaan. Oleh sebab itu model struktur tegakan lebih menekankan pada keterandalan dan keakuratan. Suhendang (1985) mengatakan bahwa pengetahuan akan bentuk sebaran tegakan sangat diperlukan diantaranya untuk menjamin tingkat keterandalan tertentu dalam keperluan pendugaan dimensi tegakan dan berguna dalam menyusun rencana pengelolaan hutan, disamping potensi jenis dan kualitasnya. Dijelaskan juga oleh Laar dan Akca (1997) bahwa informasi kuantitatif tentang tegakan berhubungan langsung dengan keputusan silvikultur dan manajemen. Hal ini didukung oleh Husch et al. (2003) yang menyatakan bahwa pengetahuan tentang struktur tegakan sangat berguna 2 untuk memutuskan tindakan silvikultur dan untuk menduga hasil berbagai produk yang dihasilkan dari tegakan. Menurut Suhendang (1985), pemakaian struktur tegakan dalam pendugaan dimensi tegakan, terutama sebaran kerapatan pohon pada setiap kelas diameter, luas bidang dasar tegakan dan volume tegakan akan dapat lebih menguntungkan dipandang dari segi waktu, biaya dan tenaga yang diperlukan serta tingkat kepraktisan pekerjaannya. Sedangkan pola sebaran berkaitan dengan rencana pengambilan keputusan mengenai metode yang digunakan untuk menduga kerapatan populasi serta cara menganalisisnya (Krebs 1989). Hal ini dijelaskan juga oleh Iwao (1970) yang diacu dalam Susanti (2000) bahwa pola sebaran spasial merupakan aspek penting dalam struktur populasi dan terbentuk oleh faktor intrinsik spesies dan kondisi habitatnya sehingga deskripsi kuantitatif dari pola sebaran tidak hanya penting untuk mengetahui dinamika sebaran tapi juga untuk menentukan teknik sampling dalam survei populasi. Torem (M. kanosiensis) termasuk dalam famili Sapotaceae dan merupakan salah satu genus Manilkara. Genus ini terdiri atas 65 jenis, dimana 30 jenis terdapat di Amerika, 20 jenis di Afrika dan 15 Jenis di Asia, Australia dan Pasifik. Di Malesia terdapat 4 jenis yang tumbuh secara alami dan salah satu jenisnya ditemukan di India, Sri Lanka, Burma, Thailand dan Indo-China (Soerianegara dan Lemmens 1994). Di Indonesia sebaran torem terdapat di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku dan tergolong kayu komersil utama (Soerianegara dan Lemmens 1994). Jenis ini digunakan sebagai kayu pertukangan, lantai papan, moulding (Faperta 1995), dan kerajinan (ukiran) (Torimtubun 2006). Sampai saat ini, data dan informasi mengenai jenis pohon torem relatif belum banyak diketahui. Sementara itu, keberadaan jenis ini sebagai salah jenis yang memiliki nilai komersil tinggi mengalami perubahan baik struktur maupun komposisinya sebagai akibat dari pertumbuhan dan kematian serta aktivitas penebangan yang dilakukan oleh manusia. Berdasarkan Permenhut No. : P.57/Menhut-II/2008 tentang “Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008 – 2018”, jenis ini oleh IUCN dimasukan dalam kategori terancam 3 punah akibat penebangan (pengambilan kayu). Untuk itu, dalam upaya pemanfaatanya secara lestari maka data mengenai struktur dan komposisi tegakan jenis pohon torem harus diketahui sehingga dapat disusun rencana pengelolaan yang tepat dan terpadu agar diperoleh struktur tegakan yang stabil sehingga menghasilkan produktivitas hutan yang tinggi, baik kuantitas maupun kualitasnya secara berkelanjutan. 1.2 Perumusan Masalah Pertumbuhan masyarakat tumbuhan (termasuk pohon) sangat dipengaruhi oleh keadaan tempat tumbuhnya, yaitu totalitas dari semua keadaan yang secara efektif berpengaruh terhadap pertumbuhan masyarakat tumbuhan, sehingga bentuk struktur tegakan hutan yang sudah mapan (mencapai klimaks) akan bersifat khas untuk jenis tegakan dan kondisi tempat tumbuh yang tertentu. (Suhendang 1985). Adanya pengaruh faktor lingkungan tempat tumbuh terhadap aktivitas hidup masyarakat tumbuh-tumbuhan yang secara ekologis menyebabkan munculnya pola sebaran spasial yang berbeda untuk masing-masing jenis atau kelompok jenis tergantung dari kemampuan individu tersebut berkompetisi dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan habitat tempat tumbuh disamping faktor internal individu itu sendiri. Berkaitan dengan dinamika individu pohon maupun tegakan tersebut, maka perlu adanya informasi kuantitatif mengenai struktur tegakan dan pola sebaran dengan tingkat keterandalan yang tinggi sehingga dapat digunakan dalam penyusunan rencana pengelolaan di masa yang akan datang. Agar diperoleh tingkat keterandalan yang tinggi, maka proses pendugaan dimensi tegakan harus didasarkan kepada bentuk struktur tegakan yang terandalkan pula sehingga keyakinan dan kebenarannya dapat terjamin (Suhendang 1985). Berdasarkan kenyataan diatas, maka permasalahan yang perlu dijawab dalam penelitian ini adalah : a. Bagaimana model struktur tegakan horisontal jenis pohon torem dalam hubungannya dengan pendugaan dimensi tegakan? b. Bagaimana bentuk pola sebaran spasial jenis pohon torem apakah seragam, acak atau mengelompok? 4 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan model struktur tegakan dan pola sebaran spasial jenis pohon torem (M. kanosiensis). 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan data dan informasi bagi instansi terkait dalam rangka menyusun rencana pengelolaan hutan di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku dalam hubungannya dengan pemanfataan jenis-jenis komersil khususnya jenis pohon torem dan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan. 1.5 Kerangka Pemikiran Keberadaan torem sebagai salah satu jenis komersil yang terdapat di Pulau Yamdena Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku relatif masih belum banyak diketahui. Sementara itu yang terjadi sekarang adalah banyaknya tekanan terhadap ekosistem hutan akibat aktivitas penebangan maupun karena pertumbuhan dan kematian yang terjadi secara alami yang berimplikasi pada perubahan struktur dan komposisi tegakan torem. Data mengenai struktur dan komposisi torem diperlukan dalam rangka penyusunan rencana pengelolaan sehingga dapat menghasilkan produktivitas hutan yang tinggi, baik kuantitas maupun kualitassnya secara berkelanjutan. Berikut ini disajikan alur pemikiran dari penelitian yang dilakukan seperti ditunjukkan pada Gambar 1. 5 PERTUMBUHAN DAN KEMATIAN HUTAN AKTIVITAS PENEBANGAN PERUBAHAN STRUKTUR DAN KOMPOSISI TEGAKAN (TOREM) STRUKTUR TEGAKAN HORISONTAL DATA INDEKS MORISHITA MODEL SEBARAN PEMILIHAN MODEL TERBAIK TIDAK MODEL TERPILIH SEBARAN SPASIAL PENENTUAN JENIS SEBARAN YA KEABSAHAN MODEL STRUKTUR TEGAKAN DAN SEBARAN SPASIAL RENCANA PENGELOLAAN Gambar 1 Garis besar kerangka pemikiran penelitian. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tegakan dan Struktur Tegakan 2.1.1 Pengertian Banyak pengertian yang dapat digunakan untuk menggambarkan tegakan dan struktur tegakan dalam bidang kehutanan. Menurut Suhendang (1995), jika dipandang dari kepentingan manajemen hutan, tegakan merupakan suatu hamparan lahan hutan secara geografis terpusat dan memiliki ciri-ciri kombinasi dari sifat-sifat vegetasi (komposisi jenis, pola pertumbuhan, kualitas pertumbuhan), sifat-sifat fisik (bentuk lapangan, kemiringan lapangan dan lain-lain) yang relatif homogen serta memiliki luasan minimal tertentu sebagaimana yang diisyaratkan. Laar dan Akca (1997) mendefenisikan tegakan hutan sebagai kelompok pohon yang menempati areal tertentu dan memiliki komposisi jenis, susunan umur yang cukup seragam serta kondisi yang dapat dibedakan dari hutan yang ada disekitarnya. Selanjutnya dijelaskan juga oleh Husch et al. (2003) bahwa tegakan adalah kelompok pohon yang menempati suatu areal dan umumnya memiliki beberapa karakteristik atau kombinasi karakteristik seperti asal-usul, komposisi jenis, ukuran atau umur yang dapat dibedakan dari kelompok pohon lain. Oliver dan Larson (1990) mengemukakan bahwa struktur tegakan adalah penyebaran fisik dan temporal dari pohon-pohon dalam tegakan yang penyebarannya tersebut berdasarkan jenis, pola penyebaran vertikal atau horisontal, ukuran pohon termasuk volume tajuk, indeks luas daun, batang, penampang lintang batang, umur pohon atau kombinasinya. Dijelaskan pula bahwa struktur tegakan adalah distribusi jenis dan ukuran pohon dalam tegakan atau hutan yang menggambarkan komposisi jenis, distribusi diameter, distribusi tinggi dan kelas tajuk (Oliver and Larson 1996 ; Husch et al. 2003). Struktur tegakan dapat dibedakan atas struktur tegakan vertikal, struktur tegakan horisontal dan struktur tegakan spasial. Menurut Richard (1964) yang diacu dalam Labetubun (2004) menjelaskan bahwa struktur tegakan vertikal adalah sebaran individu pohon dalam berbagai lapisan tajuk. Sedangkan struktur tegakan horisontal didefenisikan sebagai banyaknya pohon per satuan luas pada setiap kelas diameternya (Meyer et al. 1961; Davis dan Johnson 1987). 7 Tegakan tidak seumur dalam hutan cenderung tidak beraturan dan distribusi diameternya berbentuk kurva J-terbalik, akan tetapi struktur tegakan hutan alam tidak selamanya mengikuti bentuk huruf J-terbalik (Meyer et al. 1961; Davis dan Johnson 1987). Hasil penelitian di hutan alam hujan tropis di Imataca, mendapatkan fakta bahwa struktur tegakan untuk semua jenis mengikuti bentuk huruf J-terbalik, tetapi bila dibuatkan untuk setiap jenisnya maka bentuk struktur tegakannya beragam sesuai dengan sifat toleransinya terhadap naungan (Gambar 2). Dalam penelitian ini model struktur tegakan yang dimaksud adalah struktur tegakan horisontal, yaitu sebaran jumlah pohon per hektar pada berbagai kelas diameter. Jumlah Pohon per Hektar 5 4 2 3 1 Diameter Gambar 2 Perbedaan sebaran jumlah pohon dikaitkan dengan sifat toleransinya terhadap naungan. 1, 2, dan 3 jenis pohon intoleran sedangkan 4 dan 5 jenis pohon toleran (UNESCO 1978; Suhendang 1985). 8 2.1.2 Kerapatan Kerapatan tegakan atau kerapatan pohon didefenisikan sebagai jumlah pohon yang terdapat dalam suatu luasan tertentu dan biasanya dinyatakan dalam hektar. Kerapatan tegakan, menurut Daniel et al. (1987) merupakan faktor terpenting kedua setelah tempat tumbuh dalam penentuan produktivitas tempat tumbuh. Hal ini penting karena kerapatan tegakan merupakan faktor utama yang dapat dimanipulasi dalam pengembangan tegakan. Richards (1964) yang diacu dalam Suhendang (1985) mengemukakan bahwa kerapatan pohon pada hutan tanaman berbeda dengan kerapatan pohon pada hutan alam. Kerapatan pohon pada hutan tanaman biasanya teratur, oleh karena disesuaikan berdasarkan tuntutan ruang tumbuh yang dibutuhkan oleh setiap jenis pohon yang ditanam. Sedangkan kerapatan pohon pada hutan alam tidak teratur, sehingga sulit mendapatkan kerapatan seperti yang diinginkan. Pada tegakan hutan alam, biasanya kerapatan pohon akan tinggi pada kelas diameter kecil dan akan menurun pada kelas diameter yang makin besar. Hal ini terjadi oleh karena adanya kompetisi yang tinggi baik antar individu dalam satu jenis, maupun antar berbagai jenis, sehingga tidak setiap individu mendapatkan kesempatan untuk tumbuh secara wajar, walaupun tidak mati. Kecenderungan penurunan kerapatan pohon pada kelas diameter yang lebih tinggi seperti ini ternyata tidak sama untuk semua jenis, tergantung kepada sifat toleransinya terhadap naungan (UNESCO 1978; Suhendang 1985). Lebih jauh dikemukakan bahwa untuk jenis pohon yang tidak tahan terhadap naungan (intoleran), maka kerapatan pohonnya tidak akan secara drastis berkurang dengan bertambah tingginya kelas diameter, bahkan bisa terjadi kerapatan pohonnya akan rendah pada kelas diameter yang rendah, kemudian naik sampai pada kelas diameter tertentu tetapi selanjutnya turun kembali pada kelas diameter yang lebih besar lagi. Pada jenis pohon yang tahan terhadap naungan (toleran), kerapatan pohon akan menurun secara drastis dengan bertambah tingginya kelas diameter pada selang kelas diameter rendah. Sungguhpun terdapat bermacam-macam tipe sebaran kerapatan pohon, terdapat dugaan yang kuat bahwa pada umumnya terdapat hubungan yang kuat antara kerapatan pohon dengan diameter, baik pada jenis pohon yang toleran 9 maupun pada jenis pohon yang intoleran, sehingga akan terdapat hubungan fungsional antara kelas diameter dengan kerapatan pohonnya. Atas dasar ini maka struktur tegakan hutan akan dapat dipakai sebagai alat untuk menduga besarnya kerapatan pohon pada setiap kelas diameternya (Suhendang 1985). 2.1.3 Diameter Diameter pohon merupakan parameter utama yang dapat menggambarkan struktur tegakan. Diameter pohon dinyatakan sebagai panjang garis lurus yang menghubungkan dua buah titik pada garis lingkaran luar pohon dan melalui titik pusat penampang melintangnya. Diameter pohon merupakan salah satu parameter pohon yang mempunyai arti penting karena : (1) dapat digunakan sebagai pengganti dimensi umur pada hutan alam (Suhendang 1985), (2) sebagai data potensi hutan untuk keperluan pengelolaan (Simon 2007) dan (3) sebagai parameter struktur tegakan hutan yang secara langsung menentukan besarnya riap dan potensi tegakan (Wahjono dan Imanuddin 2007). Menurut Suhendang (1985), umur pohon pada hutan alam hujan tropika secara pasti tidak dapat ditentukan oleh karena tidak dapat diketahui kapan pohon tersebut mulai bertumbuh (berkecambah). Atas dasar ini maka dalam setiap pembicaraan mengenai hutan alam hujan tropika, dimensi umur tidak pernah dipakai sebagai ciri. Diameter pohon biasanya dipakai untuk pengganti umur, walaupun tidak selamanya pohon dengan diameter kecil menunjukkan umur pohon yang masih rendah. Besarnya diameter ini dalam satu pohon akan bervariasi pada berbagai ketinggiannya dari permukaan tanah. Biasanya yang dimaksud diameter pohon adalah diameter pohon pada ketinggian setinggi dada dan disebut sebagai diameter setinggi dada (Bruce dan Schumacher 1950) atau lebih dikenal dengan istilah diameter breast height (dbh). Pada prakteknya, pengertian diameter setinggi dada ini menjadi berkembang dan dipakai ketinggian yang berbeda-beda di setiap negara. Menurut Loetsch, Zohrer dan Haller (1973), di negara-negara yang memakai satuan metrik (termasuk Indonesia), pengertian diameter setinggi dada ini dibatasi sebagai diameter pada ketinggian 1,30 m di atas permukaan tanah, apabila pohon tidak berbanir sampai pada ketinggian tersebut. Apabila 10 pohon berbanir sampai ketinggian tidak kurang dari 1,30 m dari permukaan tanah, diameter pohon diukur pada ketinggian 20 cm di atas ujung banir (Ditjen Kehutanan Departemen Pertanian 1976). 2.1.4 Model dan Kegunaan Struktur Tegakan Hutan 2.1.4.1 Model Struktur Tegakan Hutan Sebaran diameter pohon-pohon hutan alam tidak seumur dapat dibentuk model struktur tegakannya. Kramer dan Akca (1987) yang diacu dalam Mangkudisastra (1995), mengemukakan bahwa sebaran diameter dalam bentuk sebaran normal tidak dapat digunakan, sehingga pendekatannya dilakukan dengan menerapkan model matematis lainnya. Beberapa model matematis yang digunakan dalam menduga sebaran diameter pohon antara lain : 1. Fungsi sebaran Eksponensial Negatif Menurut Meyer (1952) yang diacu dalam Davis dan Johnson (1987), orang yang pertama kali mempublikasikan hasil studi numerik mengenai bentuk struktur tegakan hutan tidak seumur adalah de Liocourt (1989). Dari pengamatannya, diperoleh bahwa besarnya rasio pengurangan banyaknya pohon pada setiap peningkatan kelas diameternya cenderung sama. Dijelaskan bahwa jumlah pohon dalam kelas diameter yang berurutan mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil akan membentuk deret geometri m, mq, mq2, mq3,…., dimana q adalah koefisien rasio pengurangan dari deret tersebut dan m adalah jumlah pohon dari kelas diameter yang diperhitungkan. Bentuk logaritmik yang menggambarkan hubungan antara jumlah pohon dan kelas diameter dari deret geometri diatas adalah sebagai berikut : log N = log k - aD log e Antilog dari persamaan diatas membentuk fungsi sebaran eksponensial negatif (bentuk J-terbalik) : N = ke - aD Dimana : N = jumlah pohon per kelas diameter (N/Ha) D = diameter (cm) e = bilangan logaritma (2,7183) 11 k = konstanta kerapatan relatif a = konstanta kemiringan garis Istomo (1994) meneliti tentang hubungan antara komposisi struktur dan penyebaran ramin (Gonystylus bancanus (Miq) Kurz) dengan sifat-sifat tanah gambut pada areal HPH PT Inhutani III Kalimantan Tengah dan mendapatkan bahwa untuk jenis ramin pada ketiga lokasi penelitian mengikuti fungsi sebaran eksponensial negatif. Abdurachman (2006) juga melaporkan bahwa pola sebaran diameter pada hutan 1 tahun setelah penebangan dengan sistem konvensional di Berau Kalimantan Timur mengikuti fungsi sebaran eksponensial negatif. 2. Fungsi sebaran Gamma Fungsi sebaran gamma mempunyai tiga parameter. Secara umum fungsi ini memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam hubungannya dengan data sebaran diameter. Suhendang (1985) mempelajari model struktur tegakan hutan alam hujan tropika dataran rendah di Bengkunat, Lampung dan mendapatkan untuk jenis-jenis pohon damar asam dan simpur menyebar menurut sebaran gamma. Dalam penelitiannya, Mangkudisastra (1995) menemukan bahwa famili sebaran gamma-3, diterima secara konsisten tanpa pengecualian, baik untuk famili Dipterocarpaceae dan Non Dipterocarpaceae. 3. Fungsi sebaran Lognormal Fungsi sebaran lognormal metodenya didekati melalui transformasi data ke dalam bentuk log, sehingga sebarannya disajikan dalam bentuk sebaran normal. Hasil penelitian yang dilakukan Suhendang (1985) di hutan alam hujan tropika dataran rendah Bengkunat Lampung dan mendapatkan untuk kelompok semua jenis pohon, kelompok jenis pohon komersil dan jenis pohon meluang, menyebar menurut famili sebaran lognormal. Ibie (1997) juga mempelajari dimensi tegakan hutan rawa gambut sekunder di Arboretum Nyaru Menteng Palangkaraya dan menemukan bahwa famili sebaran lognormal merupakan famili sebaran terpilih Dipterocarpaceae. dan sesuai untuk famili Dipterocarpaceae dan Non 12 4. Fungsi sebaran Weibull Husch et al. (2003) menyatakan bahwa fungsi sebaran weibull sangat luas diterapkan dalam pengukuran hutan oleh karena fungsi sebaran ini lebih fleksibel. Dikemukakan pula bahwa parameter sebaran weibull dapat diduga langsung dari daftar diameter atau dari tabel tegakan (jumlah pohon menurut kelas diameter). Burkhart et al. (1974) yang diacu dalam Laar dan Akca (1997) membandingkan fungsi sebaran beta dan weibull untuk jenis pinus. Dikemukakan bahwa fungsi sebaran weibull lebih baik dan memberikan hasil yang tepat. Lei (2008) mempelajari tiga metode yakni metode fungsi kemungkinan maksimum, metode moment dan metode kuadrat terkecil untuk menduga parameter fungsi sebaran weibull jenis Pinus tabulaeformis dan mendapatkan bahwa metode moment lebih baik dalam menduga parameter fungsi sebaran weibull pada semua petak yang dicobakan. 2.1.4.2 Kegunaan Struktur Tegakan Hutan Menurut Suhendang (1985), pengetahuan tentang struktur tegakan hutan berguna untuk penentuan kerapatan pohon pada berbagai kelas diameter, penentuan luas bidang dasar tegakan dan penentuan biomassa tegakan. Dikemukakan juga bahwa untuk pertimbangan faktor ekonomi, struktur tegakan dapat menunjukkan potensi tegakan minimal yang harus tersedia, sedangkan untuk pertimbangan ekologis dari struktur tegakan akan diperoleh gambaran mengenai kemampuan regenerasi dari tegakan yang bersangkutan (Suhendang 1993b; Krisnawati 2001). Clutter dan Bennet (1965) yang diacu dalam Istomo (1994) mengatakan bahwa pengetahuan mengenai struktur tegakan hutan secara horisontal sangat penting karena dapat digunakan sebagai dasar : (1) penaksiran volume kayu yang dapat diproduksi per satuan luas pada berbagai kelas umur, bonita dan kerapatan, (2) penentuan jarak tanam pada berbagai kombinasi hasil yang diinginkan dan (3) penilaian biaya pemungutan hasil hutan pada berbagai umur, bonita dan kerapatan tegakan. Struktur tegakan hutan juga dapat memberikan informasi mengenai dinamika populasi suatu jenis atau kelompok jenis, mulai dari tingkat semai, pancang, tiang dan pohon (Marsono dan Sastrosumarto 1981; Istomo 1994). 13 Dijelaskan pula bahwa dengan struktur tegakan dapat diduga tingkat mortalitas dan dengan mengetahui riap diameter pada tiap kelas diameter dapat diduga volume produksi pada rotasi tebang berikutnya berdasarkan azas kelestarian. Ibie (1997) menguji penggunaan metode struktur tegakan dalam menduga dimensi tegakan hutan rawa gambut sekunder di arboretum Nyaru Menteng Palangkaraya dan menemukan bahwa efisiensi metode inventarisasi dengan menggunakan struktur tegakan lebih tinggi jika dibandingkan dengan dengan metode yang selama ini dipakai dalam pendugaan jumlah pohon, luas bidang dasar dan volume tegakan per hektar. 2.2 Distribusi Spasial Suatu jenis tumbuhan dalam hubungannya dengan keadaan lingkungan dari suatu ekosistem akan membentuk sistem fungsi tertentu. Setiap individu jenis tersebut mempunyai toleransi yang berbeda dalam beradaptasi dengan lingkungan dan masing-masing individu tersebut mempunyai kondisi lingkungan tertentu dimana ia dapat tumbuh optimal. Oleh karena itu, pada umumnya penyebaran jenis tumbuhan akan berbeda terutama dalam hal kehadiran dan kelimpahannya (Poole 1974). Cox (1972) yang diacu dalam Istomo (1994) mengatakan bahwa penyebaran jenis bersifat unik dalam tingkat komunitas dan organisasi ekologi. Penyebaran dalam komposisi jenis berhubungan dengan derajat kestabilan komunitas. Komunitas vegetasi dengan penyebaran jenis yang lebih besar memiliki jaringan kerja yang lebih kompleks daripada komunitas dengan penyebaran jenis yang rendah. Dalam komunitas dikenal tiga tipe dasar pola spasial yaitu acak (random), kelompok (clumped) dan seragam (uniform) (Gambar 3). Pola acak dalam suatu organisme populasi diakibatkan oleh kondisi lingkungan yang homogen dan atau pola tingkah laku yang tidak selektif. Pola non acak (kelompok dan seragam) menyatakan bahwa ada beberapa faktor pembatas dari lingkungan tempat tumbuhnya yang mempengaruhi kehadiran populasinya. Pola mengelompok menunjukkan bahwa individu-individu dikelompokkan dalam beberapa bagian pada habitat. Hal ini berkaitan dengan tingkah laku, lingkungan yang heterogen dan model reproduksi. Pola yang seragam dibentuk dari interaksi negatif antara 14 individu-individu seperti kompetisi dalam hal makanan dan ruang (Ludwig dan Reynolds 1988). Distribusi suatu spesies dikontrol oleh faktor lingkungannya terutama berlaku bagi organisme yang mempunyai kisaran kemampuan adaptasi yang sempit. Selanjutnya dijelaskan bahwa hewan atau tumbuhan dalam fase awal kehidupannya sering mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan. Faktor-faktor yang membatasi distribusi antara lain tingkah laku, suhu, hubungan timbal balik dengan organisme lain, kelembaban serta faktor fisik dan kimia lainnya (Bartholomew 1958; Krebs 1978; Susanti 2000). Distribusi suatu spesies terpola baik dalam distribusi secara spasial maupun distribusi secara temporal. Distribusi spasial (menurut tempat) bagi hewan dan tumbuhan merupakan suatu karakteristik komunitas ekologi, sedangkan distribusi secara temporal mengikuti waktu atau musim (Ludwig dan Reynold 1988

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Struktur Dan Komposisi Jenis Tegakan pada Areal Bekas Illegal Logging di Tangkahan
4
67
80
Komposisi Tegakan Dan Pendugaan Karbon Tersimpan Pada Tegakan Di Hutan Lindung Kabupaten Pakpak Bharat
0
47
67
Struktur Dan Komposisi Vegetasi Pohon Dan Pole Di Sekitar Jalur Wisata Taman Wisata Alam Sicikeh-Cikeh Kabupaten Dairi Sumatera Utara
3
56
112
Struktur Dan Komposisi Pohon Dan Belta Di Zona Pegunungan Atas Gunung Sinabung Kabupaten Karo
5
48
130
Riap Pohon Jenis Daun Jarum Dan Pohon Jenis Daun Lebar
0
33
5
Struktur Dan Komposisi Tegakan Sebelum Dan Sesudah Pemanenan Kayu Di Hutan Alam
0
54
5
Perilaku Komunikasi Suku Tanimbar Maluku Tenggara Barat di Kota Bandung (Studi Fenomenologi Tentang Perilaku Komunikasi Suku Tanimbar Maluku Tenggara Barat Dalam Berinteraksi Dengan Masyarakat Sunda di Kota Bandung)
0
8
1
Aktivitas Komunikasi Upacara Adat Bau Nyale Suku Sasak Di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat (Studi Etnografi Komunikasi Pada Aktivitas Dalam UPacara Adat Bau NYale Suku Sasak Di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat)
0
3
21
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyakit Malaria pada Ibu Hamil di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat
0
0
6
View of Analisis Ketimpangan Wilayah dan Interaksi Spasial di Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur
0
2
11
Kajian Rekomendasi Pemupukan Berbagai Jenis Tanah Pada Tanaman Jagung, Padi Dan Ketela Pohon Di Kabupaten Wonogiri
0
2
56
Tinjauan manajemen berbasis sekolah atas kontribusi supervisi pengawas sekolah, kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru terhadap mutu pembelajaran guru pada SMA se-Kecamatan Tanimbar Selatan Kabupaten Maluku Tenggara Barat Provinsi Maluku
0
0
9
Model Trip Generation Perjalanan Antar Pulau Di Maluku Tengah
0
0
8
Pemanfatan Rumah Tunggu Kelahiran di Puskesmas Adaut Kecamatan Selaru Kabupaten Maluku Tenggara Barat Tahun 2015
0
1
8
Skenario Pengembangan Wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya
0
2
13
Show more