Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dalam pembelajaran akuntansi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X SMA Kolese de Britto Yogyakarta.

220 

Full text

(1)

viii ABSTRAK

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) DALAM PEMBELAJARAN AKUNTANSI UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA

Penelitian Dilaksanakan di Kelas X SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Rr. Indira Kartika Ningrum Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2013

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran akuntansi dengan pokok bahasan persamaan dasar akuntansi melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).

Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan pada siswa kelas X-2, SMA Kolese De Britto Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013. Komponen-komponen utama dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah presentasi materi, pembagian kelompok, games, turnamen, dan penghargaan kepada kelompok. Penelitian ini dilaksanakan dalam satu siklus yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi kegiatan guru, lembar observasi kegiatan siswa, lembar observasi kegiatan kelas, lembar observasi kegiatan guru dalam proses pembelajaran, instrumen pengamatan kelas, lembar observasi kegiatan belajar siswa dalam kelompok, dan instrumen refleksi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis komparatif.

(2)

ix ABSTRACT

LEARNING MODEL APPLICATION OF

TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TYPE IN ACCOUNTING LEARNING

TO INCREASE THE STUDENT’S LEARNING ACHIEVEMENT This Study Held in X grade of Kolese De Britto Senior High School

Rr. Indira Kartika Ningrum Sanata Dharma University

Yogyakarta 2013

This study aims to findout how student’s achievement in accounting with the main discussion on basic accounting equation using cooperative type learning model application of Teams Games Tournament (TGT).

This study is a Classroom Action Research (CAR) held in X grade students of X-2 class, Kolese De Britto Senior High School Yogyakarta, 2011/2012 academic year. The main components in TGT cooperative type of learning are material presentation, group division, games, tournament and achievement for groups. This study was held in one cycle which contains of four steps, they are planning, action, observation and reflection. The data were collected by using observation sheet of teacher’s activity, observation sheet of teacher’s activity in learning process, observation class instruments, observation sheet of students’ learning process in groups and reflection instruments. The data were being analyzed by using descriptive analysis and comparative analysis.

(3)
(4)
(5)
(6)

iv

PERSEMBAHAN

Ku persembahkan karya ini untuk:

(7)

v

MOTTO

Tuhan tidak mengatur, hanya memberikan

pilihan – pilihan. Kuatlah dalam memilih,

nikmati pilihan tersebut.

(8)
(9)
(10)

viii ABSTRAK

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN

TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) DALAM PEMBELAJARAN AKUNTANSI UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA

Penelitian Dilaksanakan di Kelas X SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Rr. Indira Kartika Ningrum Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2013

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran akuntansi dengan pokok bahasan persamaan dasar akuntansi melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).

Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan pada siswa kelas X-2, SMA Kolese De Britto Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013. Komponen-komponen utama dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah presentasi materi, pembagian kelompok, games, turnamen, dan penghargaan kepada kelompok. Penelitian ini dilaksanakan dalam satu siklus yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi kegiatan guru, lembar observasi kegiatan siswa, lembar observasi kegiatan kelas, lembar observasi kegiatan guru dalam proses pembelajaran, instrumen pengamatan kelas, lembar observasi kegiatan belajar siswa dalam kelompok, dan instrumen refleksi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis komparatif.

(11)

ix ABSTRACT

LEARNING MODEL APPLICATION OF

TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TYPE IN ACCOUNTING LEARNING

TO INCREASE THE STUDENT’S LEARNING ACHIEVEMENT This Study Held in X grade of Kolese De Britto Senior High School

Rr. Indira Kartika Ningrum Sanata Dharma University

Yogyakarta 2013

This study aims to findout how student’s achievement in accounting with the main discussion on basic accounting equation using cooperative type learning model application of Teams Games Tournament (TGT).

This study is a Classroom Action Research (CAR) held in X grade students of X-2 class, Kolese De Britto Senior High School Yogyakarta, 2011/2012 academic year. The main components in TGT cooperative type of learning are material presentation, group division, games, tournament and achievement for groups. This study was held in one cycle which contains of four steps, they are planning, action, observation and reflection. The data were collected by using observation sheet of teacher’s activity, observation sheet of teacher’s activity in learning process, observation class instruments, observation sheet of students’ learning process in groups and reflection instruments. The data were being analyzed by using descriptive analysis and comparative analysis.

(12)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan petunjuk yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Penerapan Model Pembelajaran Tipe Teams Games Tournament(TGT) dalam Pembelajaran Akuntansi untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa”.

Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan, Program Studi Pendidikan Akuntansi. Penulis menyadari bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak Indra Darmawan, SE, M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Bapak Laurentius Saptono, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

(13)

xi

5. Bapak Drs. FX. Muhadi, M.Pd. dan Laurentius Saptono, S.Pd., M.Si. selaku dosen penguji. Terima kasih atas saran dan kritik yang telah diberikan sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.

6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Akuntansi serta staf karyawan USD Yogyakarta yang telah memberikan bimbingan dan pelayanan selama penulis belajar di USD.

7. Bapak F.X Agus Hariyanto, S.Pd.,S.E selaku guru mitra dalam pelaksanaan penelitian di kelas X2 SMA Kolese de Britto Yogyakarta sehingga penelitian dapat terlaksana dan berjalan lancar.

8. Seluruh keluarga besar SMA Kolese de Britto Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis dalam melaksanakan penelitian. Terimakasih banyak atas ijin dan bantuannya.

9. Siswa kelas X 2 selaku subjek dalam penelitian ini.

10. Orangtuaku, Papa R. Indarto dan Mama MM. Ratna Prihatiningsih, SE yang telah memberikan doa, semangat, dukungan materiil, dan dukungan moral.

11. Sahabatku Puteri Wijayanti, Stefani Dwi Cahyani, Maria R. Jansen yang telah membantu, mendukung, mendampingi, memberi semangat, memberi kritik-saran, serta doa selama ini.

12. Sahabat terindah Yohanes Suryo Bagus, S.J yang selalu memberikan doa dan dukungan.

(14)

xii

Putranto, Akib Aryo yang tidak pernah berhenti memberikan perhatian dan semangat.

14. Partner berdiskusi Albertus Endri, Galih Abirowo, Letda. Lek. Billy Sinaga dan Dedit Aditra, S.Ked yang selalu memberikan perhatian, semangat dan dukungan.

15. Keluarga besar Swaragama Group. Tempat bekerja sekaligus bermain yang memberikan pelajaran sekaligus motivasi.

16. Keluarga besar Paguyuban Dimas Diajeng Kota Yogyakarta yang selalu mendukung dan memberikan perhatian.

17. Teman-temanku yang telah membantu penelitian, Puteri, Pipin, Nawang, Septi, Herni, Kristin, Tian, Yudha, Afri, Priam.

18. Teman seperjuangan Pendidikan Akuntansi 2009 yang saling memberikan bantuan dan semangat.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna karena masih banyak kekurangan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Akhir kata, Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.

(15)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Batasan Masalah ... 5

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 5

E. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN TEORETIK ... 7

A. Penelitian Tindakan Kelas ... 7

1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas ... 7

2. Prinsip Dasar Penelitian Tindakan Kelas ... 9

3. Tahapan Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ... 9

4. Tujuan PTK dilakukan ... 10

(16)

xiv

B. Metode Teams Games Tournament (TGT) ... 11

1. Tipe Pembelajaran Kooperatif ... 11

2. Pembelajaran Kooperatif TGT ... 13

C. Prestasi Belajar... 16

D. Persamaan Dasar Akuntansi ... 20

E. Kerangka Teoretik ... 21

BAB III METODE PENELITIAN ... 27

A. Jenis Penelitian ... 27

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 27

C. Subjek dan Objek Penelitian ... 28

D. Prosedur Penelitian ... 28

E. Instrumen Penelitian ... 34

F. Teknik Pengumpukan Data ... 38

G. Teknik Analisis Data ... 40

BAB IV GAMBARAN UMUM ... 42

A. Sejarah Singkat SMA Kolese de Britto ... 42

B. Sistem Pendidikan SMA Kolese de Britto ... 49

C. Kurikulum SMA Kolese de Britto ... 55

D. Organisasi SMA Kolese de Britto... 61

E. Sumber Daya Manusia SMA Kolese de Britto ... 66

F. Siswa SMA Kolese de Britto ... 75

G. Kondisi Fisik SMA Kolese de Britto ... 76

H. PBM Satuan Pendidikan SMA Kolese de Britto ... 81

I. Fasilitas Pendidikan dan Latihan SMA Kolese de Britto ... 82

J. Hubungan antara SMA Kolese de Britto ... 83

K. Usaha Peningkatan Kualitas Lulusan SMA Kolese de Britto ... 85

(17)

xv

A. Deskripsi Penelitian ... 88

1. Observasi Pra Penelitian ... 89

a. Observasi Guru ... 89

b. Observasi Siswa ... 93

c. Observasi Kelas ... 95

2. Pelakasanaan Tindakan ... 101

a. Perencanaan ... 102

b. Tindakan ... 105

c. Observasi ... 114

d. Refleksi ... 119

B. Analisis Komparatif Pemahaman Siswa Sebelum dan Sesudah Penerapam Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) ... 121

C. Pembahasan ... 124

BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN ... 128

A. Kesimpulan ... 128

B. Keterbatasan Penelitian ... 128

C. Saran ... 129

(18)

xvi DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Daftar Guru dan Mata Pelajaran yang Diampu ... 71

Tabel 4.2 Daftar Karyawan dan Tugasnya ... 73

Tabel 4.3 Daftar Karyawan Yayasan de Britto dan Bidang Tugasnya ... 74

Tabel 4.4 Pendamping Ektrakurikuler ... 74

Tabel 4.5 Distribusi Siswa ... 75

Tabel 5.1 Hasil Observasi Terhadap Aktivitas Guru ... 98

Tabel 5.2 Hasil Observasi Terhadap Aktivitas Siswa ... 101

Tabel 5.3 Kondisi Kelas Selama Proses Pelajaran ... 103

Tabel 5.4 Aktivitas Guru Dalam Proses Pembelajaran ... 115

Tabel 5.5 Perilaku Siswa Saat Proses Pembelajaran Dalam Kelompok ... 117

Tabel 5.6 Instrumen Pengamatan Kelas ... 118

Table 5.7 Lembar Refleksi Guru Mitra Terhadap Pembelajaran dan Metode .... 120

Tabel 5.8 Lembar Refleksi Siswa Terhadap Pembelajaran dan Metode TGT .... 122

(19)

xvii DAFTAR GAMBAR

(20)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lembar Observasi Kegiatan Guru (Catatan Anekdotal) ... 134

Lampiran 1a : Lembar Observasi Kegiatan Guru (Catatan Anekdotal) ... 135

Lampiran 2 : Lembar Observasi Kegiatan Siswa (Catatan Anekdotal) ... 137

Lampiran 2a : Lembar Observasi Kegiatan Siswa (Catatan Anekdotal) ... 138

Lampiran 3 : Lembar Observasi Kegiatan Kelas (Catatan Anekdotal) ... 140

Lampiran 3a : Lembar Observasi Kegiatan Kelas (Catatan Anekdotal) ... 141

Lampiran 1b : Lembar Observasi Kegiatan Guru (Catatan Anekdotal) ... 143

Lampiran 2b : Lembar Observasi Kegiatan Siswa (Catatan Anekdotal) ... 146

Lampiran 3b : Lembar Observasi Kegiatan Kelas (Catatan Anekdotal) ... 149

Lampiran 4 : Lembar Observasi Kegiatan Guru Dalam Proses Pembelajaran 151 Lampiran 4a : Lembar Observasi Kegiatan Guru Dalam Proses Pembelajaran 153 Lampiran 5 : Instrumen Pengamatan Kelas ... 155

Lampiran 5a : Instrumen Pengamatan Kelas ... 156

Lampiran 6 : Lembar Observasi Kegiatan Belajar Siswa Dalam Kelompok . 158 Lampiran 6a : Lembar Observasi Kegiatan Belajar Siswa Dalam Kelompok . 159 Lampiran 4b : Lembar Observasi Kegiatan Guru Dalam Proses Pembelajaran 160 Lampiran 5b : Instrumen Pengamatan Kelas ... 162

(21)

xix

Lampiran 7a : Lembar Refleksi Guru Mitra Terhadap Komponen

Pembelajaran dan Model TGT ... 166

Lampiran 8 : Lembar Refleksi Siswa Terhadap Komponen Pembelajaran dan Model TGT ... 167

Lampiran 8 : Lembar Refleksi Siswa Terhadap Komponen Pembelajaran dan Model TGT ... 168

Lampiran 9 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 170

Lampiran 10 : Soal Pre-test ... 178

Lampiran 10a : Lembar Jawab Pre-test ... 182

Lampiran 11 : Soal Post-test ... 183

Lampiran 11a : Lembar Jawab Post-test ... 184

Lampiran 12 : Rekapitulasi Nilai ... 185

Lampiran 13 : Handout Materi Pembelajaran ... 186

Lampiran 14 : Lembar Kerja Siswa ... 191

Lampiran 15 : Soal Games ... 192

Lampiran 15a : Lembar Jawab Games ... 194

Lampiran 15b : Kunci Jawaban dan Lembar Penilaian Games ... 195

Lampiran 16 : Soal dan Kunci Jawaban Turnamen ... 196

(22)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Siswa adalah salah satu komponen penting dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Siswa dengan keanekaragaman karakter menjadi warna tersendiri dalam aktivitas pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik mengedepankan siswa sebagai pusat dari pembelajaran. Dalam pemikiran peneliti, siswa akan lebih memahami pembelajaran jika siswa diajak untuk terlibat langsung sehingga memiliki pengalaman yang mengesankan dalam pembelajaran. Hal ini juga akan membuat siswa lebih mudah mengingat bahan pelajaran, daripada sekadar diminta untuk terus mendengar atau membaca. Sistem kurikulum pendidikan yang diajarkan selama ini menjadikan peserta didik sebagai objek pasif yang senantiasa siap menerima segala yang diberikan oleh pihak pengajar. Model pembelajaran semacam itu cenderung memposisikan peserta didik sebagai manusia yang hanya dapat diam tanpa memiliki kreativitas apapun.

(23)

 

guru seiring berkembangnya kurikulum pendidikan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di kelas.

Dalam suatu pembelajaran, perlu ada strategi dan inovasi yang dibuat oleh pendidik (guru) sebagai penunjang kegiatan belajar mengajar di Kelas. Hal ini dilakukan agar para siswa tidak hanya duduk diam dan memperhatikan materi dan segala penjelasan dari guru. Akan tetapi, siswa juga ikut aktif terlibat dalam penciptaan kelas yang memiliki kompetensi dan menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Guru diwajibkan mampu mendesain kegiatan pembelajaran yang menyenangkan yang mampu mengembangkan kompetensi siswa baik kognitif, afektif dan psikomotorik. Kegiatan belajar mengajar yang di-design menyenangkan, akan membuat suasana kelas menjadi lebih hidup dan nantinya dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa di Kelas. Penulis menguraikan hal ini secara lebih lanjut dengan menggunakan satu contoh pada kelas Akutansi.

(24)

 

diberikan pada kelas X, masih berupa teori dan pengenalan Akuntansi secara umum. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menghantarkan materi kepada siswa sehingga pembelajaran menjadi fun tanpa mengurangi esensi materi tersebut. Bahkan hal ini bisa menarik minat siswa untuk masuk ke jurusan IPS pada penjurusan kelas XI.

SMA Kolese de Britto adalah salah satu sekolah homogen terkemuka di Yogyakarta dengan rata-rata nilai akademik yang tinggi. Tidak diragukan lagi bahwa siswa SMA Kolese de Britto memiliki kemampuan untuk memahami pembelajaran yang cukup tinggi. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa tenaga ekstra berupa keaktifan dan minat belajar yang tinggi belum sepenuhnya terkelola dengan baik dalam pembelajaran di kelas. Peneliti melihat karakter siswa yang aktif belum sepenuhnya terkelola dengan baik pada saat pembelajaran. Selama ini guru menyampaikan materi dengan metode ceramah, sedangkan siswa duduk mendengar dengan tenaga yang tidak dimanfaatkan, maka yang terjadi adalah siswa seringkali ramai dengan teman, asyik bermain sendiri atau bahkan tidur.

(25)

 

akan memulai metode TGT. Persiapan tersebut meliputi media yang akan digunakan, permainan yang akan digunakan, langkah-langkah pembelajaran, dan sebagianya.

Dalam pembelajaran teori Akutansi, metode TGT sangat tepat diterapkan, untuk materi Akuntansi kelas X karena materi pembelajaran Akuntansi lebih banyak menyampaikan teori-teori dan hafalan-hafalan. Selain itu metode TGT lebih menekankan hal kerjasama sebuah tim untuk menyusun strategi dalam sebuah game dan turnamen. Hal ini sangat menunjang proses pengenalan lebih dekat dengan sesama siswa kelas X yang masih berada dalam proses awal perkenalan dengan sesama mereka. Dengan adanya kerjasama tim, seluruh siswa dalam kelompok akan ikut berpartisipasi aktif dalam pembelajaran di kelas.

(26)

 

B. Batasan Masalah

Penerapan metode pembelajaran kooperatif bisa dilakukan pada berbagai tipe, tetapi dalam penelitian ini hanya membatasi pada pembelajaran kooperatif tipe TGT untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di dalam proses pembelajaran akuntansi.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan masalah: bagaimana peningkatan prestasi belajar siswa kelas X SMA Kolese de Britto Yogyakarta dalam pembelajaran akuntansi melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)?

D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat prestasi belajar siswa kelas X SMA Kolese de Britto Yogyakarta dalam pembelajaran akuntansi melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).

E. Manfaat Penelitian

(27)

 

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi guru untuk menyelenggarakan pembelajaran aktif melalui penetapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Dengan penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran guru Akuntansi di Sekolah. Selain itu, penelitian ini diharapkan sebagai bentuk KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang berguna bagi guru untuk memenuhi kegiatan pengembangan profesi keguruan.

b. Bagi Siswa

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan prestasi siswa terhadap mata pelajaran Akuntansi.

c. Bagi Sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat mendorong guru-guru lain di Sekolah untuk membuat program pengajaran dengan menerapkan metode-metode pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa. Dengan demikian diharapkan mutu pembelajaran guru di Sekolah semakin baik.

d. Bagi Universitas Sanata Dharma

(28)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Tindakan Kelas

1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Menurut Wijaya (2009:9), Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research adalah penelitian tindakan (action research) yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. PTK mendorong seorang guru untuk melakukan penilaian kembali terhadap praktik pembelajaran yang dilakukannya dengan maksud untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi diri sendiri maupun para peserta didiknya. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya. PTK berfokus pada kelas atau pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, materi, dan lain-lain) atau pun output (hasil belajar). PTK harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas.

Arikunto (2008:2) menjelaskan PTK melalui paparan gabungan definisi dari tiga kata, Penelitian + Tindakan + Kelas sebagai berikut: a. Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek, menggunakan

aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data ke informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.

(29)

c. Kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru.

Sedangkan menurut Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama (2009:9): PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan berpartisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

Di dalam modul Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas, secara singkat PTK dapat didefinisikan sebagai (Joni, 1998:5):

Suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta memperbaiki kondisi di mana praktik-praktik pembelajaran tersebut dilakukan.

(30)

2. Prinsip Dasar PTK

PTK mempunyai beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh guru di sekolah. Prinsip tersebut diantaranya (Kusumah, 2009:17): a. Tidak mengganggu pekerjaan utama guru yaitu mengajar.

b. Metode pengumpulan data tidak menuntut metode yang berlebihan sehingga mengganggu proses pembelajaran.

c. Metodologi yang digunakan harus cukup reliable sehingga hipotesis yang dirumuskan ikut meyakinkan.

d. Masalah yang diteliti adalah masalah pembelajaran di kelas yang cukup merisaukan guru dan guru memiliki komitmen untuk mencari solusinya.

e. Guru harus konsisten terhadap etika pekerjaannya dan mengindahkan tata krama organisasi. Masalah yang diteliti sebaiknya diketahui oleh pimpinan sekolah dan guru sejawat sehingga hasilnya cepat tersosialisasi.

f. Masalah tidak hanya berfokus pada konteks kelas, melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan (perlu kerja sama antara guru dan dosen).

3. Tahapan Pelaksanaan PTK

Dalam praktiknya, PTK adalah tindakan yang bermakna melalui prosedur penelitian yang mencakup empat tahapan yaitu (Kusumah, 2009:25):

a. Perencanaan (Planning)

Perencanaan yang matang perlu dilakukan setelah kita mengetahui masalah dalam pembelajaran kita. Kegiatan perencanaan mencakup: identifikasi masalah, analisis penyebab adanya masalah, dan pengembangan untuk tindakan atau aksi sebagai pemecahan masalah b. Tindakan (Acting)

Perencanaan harus diwujudkan dengan adanya tindakan atau acting dari guru berupa solusi tindakan sebelumnya

c. Pengamatan (Observing)

Selanjutnya diadakan pengamatan atau observing yang diteliti terhadap proses pelaksanaannya

d. Refleksi (Reflecting)

(31)

Adapun model untuk masing-masing tahap dalam PTK dapat dilihat pada siklus berikut ini (Arikunto, 2008:16):

Gambar 2.1 Tahap Penelitian Tindakan Kelas 4. Tujuan PTK dilakukan

Penelitian yang menggunakan rancangan PTK umumnya diarahkan pada pencapaian sasaran sebagai berikut (Arikunto, et al., 2006:107):

a. Memperhatikan dan meningkatkan kualitas isi, masukan, proses, dan hasil pembelajaran;

b. Menumbuhkembangkan budaya meneliti bagi tenaga kependidikan agar lebih proaktif mencari solusi akan permasalahan pembelajaran;

(32)

d. Meningkatkan kolaborasi antar tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam memecahkan masalah pembelajaran.

5. Manfaat yang bisa diperoleh dari PTK

Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari dilaksanakannya PTK yang terkait dengan komponen utama pendidikan dan pembelajaran, antara lain (Susilo, 2007:18):

a. Inovasi pembelajaran

b. Pengembangan kurikulum di tingkat sekolah dan di tingkat kelas c. Peningkatan profesionalisme guru atau pendidik

d. Akan terciptanya peluang yang luas terhadap terciptanya karya tulis bagi guru

e. Karya tulis ilmiah semakin di perlukan guru di masa depan untuk meningkatkan kariernya dan dalam rangka membuat rancangan PTK yang lebih berbobot sambil mengajar di kelas

B. Metode Teams Games Tournaments (TGT) 1. Tipe Pembelajaran Kooperatif

(33)

pada pembelajaran individu dari semua anggota tim. Sedangkan yang dimaksud dengan kesempatan sukses yang sama adalah semua siswa memberi kontribusi kepada timnya dengan cara meningkatkan kinerja mereka dari yang sebelumnya.

Terdapat lima tipe dari pembelajaran kooperatif yang diantaranya adalah (Slavin, 1995:4):

a. Student Teams Achievement Divisions (STAD)

Dalam STAD, siswa dikelompokkan secara heterogen. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Guru memulai pelajaran dengan mempresentasikan sebuah materi yang kemudian siswa bekerja dalam kelompok-kelompok untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menuntaskan materi tersebut. Pada akhirnya semua siswa diberi kuis secara individual tentang materi ajar tersebut dan siswa yang bersangkutan memperoleh skor secara individual.

b. Teams Games Tournaments (TGT)

Model TGT hampir sama dengan STAD. Siswa dikelompokkan secara heterogen, setiap kelompok terdiri 4-5 orang. Guru memulai dengan mempresentasikan sebuah pelajaran kemudian siswa bekerja di dalam kelompok-kelompok untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok menuntaskan pelajaran tersebut. Namun kuis dalam TGT diganti dengan turnamen. Dalam turnamen ini siswa bertanding dengan anggota kelompok lain yang mempunyai kemampuan serupa. Dari turnamen inilah tiap anggota akan mendapat skor yang akan disumbangkan pada kelompoknya. Kemudian skor-skor ini akan dirata-rata untuk menentukan skor kelompok. Skor kelompok yang diperoleh akan menentukan penghargaan kelompok.

c. Jigsaw

(34)

sama. Mereka mendiskusikan topik yang menjadi bagiannya. Pada tahap tersebut para ahli dibebaskan mengemukakan pendapatnya, saling bertanya dan berdiskusi untuk menguasai bahan pelajaran. Setelah menguasai materi yang menjadi bagiannya, para ahli tersebut kembali ke dalam kelompoknya masing-masing. Mereka bertugas mengajarkan topik tersebut kepada teman-teman sekelompoknya. Kegiatan terakhir dari model Jigsaw adalah pemberian kuis atau penilaian untuk seluruh topik. Penilaian dengan penghargaan kelompok didasarkan pada peningkatan nilai individu sama seperti STAD.

d. Learning Together

Siswa melakukan presentasi bahan mata pelajaran, setelah itu siswa dalam kelompok heterogen terdiri 4 sampai 5 orang mengerjakan satu lembar kerja. Guru menilai hasil kerja kelompok. Siswa kemudian secara individual mengerjakan kuis yang dinilai oleh guru sebagai hasil kerja individual.

e. Group Investigation

Tiap-tiap kelompok mempelajari satu bagian materi pelajaran dan kemudian menjelaskan materi itu kepada semua siswa di kelas. Siswa diharapkan menerima tanggung jawab yang besar untuk menentukan apa yang akan dipelajari, mengorganisasi kelompok mereka sendiri bagaimana cara menguasai materi dan memutuskan bagaimana mengkomunikasikan hasil belajar mereka kepada seluruh kelas.

(35)

kadang kala juga mampu menimbulkan masalah di kelas. Namun dalam metode TGT masalah ini dapat diminimalisir.

Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau metode pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan.

Dalam TGT siswa diminta untuk bekerja di dalam kelompok, di mana kelompoknya tediri dari berbagai unsur yang berbeda sehingga masalah-masalah yang disebabkan karena adanya perbedaan dapat diatasi. Dalam model TGT ini siswa juga diharapkan mampu untuk melatih tanggung jawab, kerja sama dan persaingan yang sehat.

Lima komponen utama dalam komponen dalam TGT yaitu (Slavin, 1995:84-88):

a. Penyajian Kelas

Sebelum melakukan games, dalam awal pembelajaran akan diawali guru menjelaskan materi. Penjelasan materi ini dapat dilakukan dengan metode ceramah, diskusi atau metode yang lainnya. Yang harus ditekankan dalam penyajian kelas ini adalah siswa harus benar – benar memahami materi yang disampaikan oleh guru. Penguasaan materi ini akan membantu siswa untuk bekerja dalam kelompok nantinya.

b. Kelompok (team)

(36)

diskusi berlangsung, seluruh anggota sebaiknya berbicara dengan suara yang pelan, tidak boleh meninggalkan tugas selama bekerja dalam kelompok, mendiskusikan tugas secara bersama-sama, jika ada suatu pertanyaan di dalam kelompok tersebut, sebaiknya jangan ditanyakan dahulu kepada guru karena mungkin dari salah satu teman kelompok ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Setelah itu, jika pertanyaan tidak bisa terjawabkan oleh salah satu teman kelompok, baru bisa meminta penjelasan dari guru. Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game atau tournament.

c. Permainan

Permainan ini dirancang untuk mengetahui pemahaman siswa setelah mengikuti presentasi kelas dan belajar kelompok. Games dapat berisi pertanyaan–pertanyaan bernomor yang dirancang oleh guru untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi oleh siswa sesuai dengan materi yang diajarkan. Siswa dapat mengambil salah satu pertanyaan bernomor dan menjawabnya sesuai dengan kemampuan masing-masing dan teman di dalam kelompoknya tidak diperkenankan untuk membantu anggota kelompok yang sedang mengerjakan. Jawaban siswa yang benar akan dikumpulkan untuk tournament mingguan.

d. Turnamen (Tournament)

(37)

materi yang telah dipelajari. Apabila ada siswa yang mengambil nomor kartu tidak bisa menjawab pertanyaan, maka pertanyaan bisa dilempar ke teman yang lain dalam satu meja turnamen sesuai dengan urutan yang telah disepakati, dan yang menjawab dengan benar berhak menyimpan kartu tersebut. Kartu yang telah didapat nantinya yang akan dijadikan skor untuk penghargaan kelompok. e. Penghargaan Kelompok

Guru akan mengumumkan kelompok yang menang dalam turnamen, dan masing–masing team akan mendapatkan sertifikat atau skor apabila memenuhi standar yang ditentukan. Pemberian penghargaan tiap kelompok dapat ditentukan berdasarkan skor kelompok yang didapat dengan menjumlahkan poin yang didapat pada skor lembar permainan setiap anggotanya, dan kemudian dicari skor rata-ratanya. Yang harus ditekankan dalam pemberian penghargaan di sini bukan mendorong siswa untuk bersaing secara tidak sehat, akan tetapi pemberian penghargaan tersebut adalah untuk memotivasi belajar siswa agar prestasi belajarnya dapat meningkat.

C. Prestasi Belajar

Prestasi belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:895) adalah penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran. Lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan guru. Kegiatan pengukuran prestasi belajar siswa dilakukan antara lain melalui ulangan, ujian, tugas, dan sebagainya (Masidjo, 1995:13).

(38)

Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran lazimnya ditunjukkan dengan nilai/angka hasil tes yang diberikan oleh guru. Keberhasilan dalam kegiatan yang disebut belajar akan tampak dalam prestasi belajar yang diraihnya. Prestasi belajar dapat diketahui dari hasil evaluasi belajarnya. Usaha untuk mengevaluasi hasil belajar, biasanya dilakukan dengan mengadakan pengukuran dalam bentuk tertulis, lisan maupun praktik yang kemudian diberi skor yang biasanya berwujud angka. Hasil dari pengukuran ini merupakan informasi-informasi atau data yang diwujudkan dalam bentuk angka-angka yang disebut prestasi belajar.

Faktor–faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat digolongkan menjadi dua yaitu (Dimyati dan Mujiono, 1999:236-254): a.Faktor internal

1) Sikap terhadap belajar

Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian tentang sesuatu, mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau mengabaikan kesempatan belajar.

2) Motivasi belajar

(39)

melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya, mutu hasil belajar akan menjadi rendah. Oleh karena itu, motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus agar siswa memiliki hasil belajar yang baik, yang pada akhirnya semakin meningkatkan motivasi berprestasi.

3) Konsentrasi belajar

Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran yang tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian pada pelajaran, guru perlu menggunakan bermacam-macam strategi belajar mengajar, dan memperhitungkan waktu belajar serta selingan istirahat.

4) Mengolah bahan belajar

Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara memperoleh ajaran yang dikembangkan di berbagai mata pelajaran, sehingga lebih bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar berupa pengetahuan, nilai kesusilaan, nilai agama, kesenian, serta keterampilan mental dan jasmani. Cara memperoleh ajaran berupa bagaimana menggunakan kamus, daftar logaritma, atau rumusan matematika.

5) Menyimpan perolehan hasil belajar

Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara memperoleh pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam waktu yang pendek (hasil belajar cepat dilupakan) dan waktu yang lama (hasil belajar tetap dimiliki siswa). Proses belajar terdiri dari proses penerimaan, pengolahan, dan pengaktifan yang berupa penguatan serta pembangkitan kembali untuk dipergunakan. Dalam kehidupan sebenarnya tidak berarti semua proses tersebut berjalan lancar, akibatnya proses penggunaan hasil belajar terganggu.

6) Menggali hasil belajar yang tersimpan

Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses pengaktifan pesan yang telah diterima. Dalam hal pesan baru, maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali, atau mengkaitkannya dengan bahan lama. Dalam hal pesan lama, maka siswa akan memanggil atau membangkitkan pesan dan pengalaman lama untuk suatu unjuk hasil belajar.

7) Kemampuan berprestasi

Kemampuan berprestasi merupakan suatu puncak proses belajar yang membuktikan keberhasilan belajar dalam memecahkan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil belajar. Kemampuan berprestasi terpengaruh oleh proses penerimaan, pengaktifan, prapengolahan, serta pemanggilan untuk pembangkitan pesan dan pengalaman. 8) Rasa percaya diri siswa

(40)

diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian ”perwujudan diri” yang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa. Makin sering berhasil menyelesaikan tugas, maka semakin memperoleh pengakuan umum, dan selanjutnya rasa percaya diri semakin kuat.

9) Intelegensi dan keberhasilan belajar

Intelegensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak terarah, berpikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan tersebut menjadi aktual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari.

10) Kebiasaan belajar

Dalam kegiatan sehari-hari ditemukan adanya kebiasaan belajar yang kurang baik. Kebiasaan belajar tersebut antara lain: belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, bergaya sok menggurui atau bergaya minta ”belas kasih” tanpa belajar. Kebiasaan-kebiasaan belajar tersebut disebabkan oleh ketidak mengertian siswa pada arti belajar bagi diri sendiri. Hal ini dapat diperbaiki dengan pembinaan disiplin membelajarkan diri.

b. Faktor eksternal

1) Guru sebagai pembina siswa belajar

Guru adalah pengajar yang mendidik. Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik generasi muda bangsanya. Sebagai pendidik, ia memusatkan perhatian pada kepribadian siswa, khususnya berkenaan dengan kebangkitan belajar yang merupakan wujud emansipasi diri siswa. Sebagai guru pengajar, guru bertugas mengelola kegiatan belajar siswa di sekolah. Adapun tugas pengelolaan pembelajaran siswa meliputi: pembangunan hubungan baik dengan siswa, menggairahkan minat, perhatian dan memperkuat motivasi belajar untuk berprestasi, mengorganisasi belajar, melaksanakan pendekatan pembelajaran secara tepat, mengevaluasi hasil belajar secara jujur dan obyektif, melaporkan hasil belajar kepada orang tua/wali siswa.

2) Prasarana dan sarana pembelajaran

Lengkapnya prasarana dan sarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Hal ini tidak berarti lengkapnya sarana dan prasarana otomatis bisa menentukan jaminan terselenggaranya proses belajar dengan baik.

3) Kebijakan penilaian

(41)

adalah pemegang kunci pembelajaran. Guru menyusun desain pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar.

4) Lingkungan sosial siswa di sekolah

Lingkungan dimana siswa tinggal yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan siswa. Siswa yang berada di lingkungan yang dikondisikan untuk belajar, misalnya dibuat jam belajar malam antara jam 19.00-21.00, maka siswa akan terdorong untuk belajar. Sementara siswa yang berada di lingkungan yang tidak peduli pada pendidikan, maka siswa akan menjadi malas untuk belajar.

5) Kurikulum sekolah

Program pembelajaran di sekolah mendasarkan pada suatu kurikulum. Kurikulum yang diberlakukan sekolah adalah kurikulum yang disahkan oleh pemerintah, atau suatu kurikulum yang disahkan oleh suatu yayasan pendidikan dan disusun berdasarkan kemajuan masyarakat. Perubahan kurikulum dapat mempengaruhi tujuan yang akan dicapai, isi pendidikan, kegiatan belajar mengajar dan evaluasi pembelajaran. Perubahan kurikulum dapat menimbulkan masalah bagi guru, siswa maupun elemen-elemen dalam sekolah dan juga orang tua siswa.

D. Persamaan Dasar Akuntansi

Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu perusahaan yang mengakibatkan perubahan posisi keuangan di sisi harta, hutang maupun modal, disebut juga dengan transaksi keuangan. Prinsip yang dianut untuk mencatat aktivitas transaksi keuangan adalah menggunakan sistem Double Entry Book Keeping, yang pada dasarnya mengasumsikan bahwa setiap transaksi keuangan yang terjadi harus dicatat pada sisi debet maupun kredit sehingga dicapai suatu keseimbangan. Istilah debet dan kredit di dalam akuntansi sebenarnya merupakan konversi dari nilai penambahan (+) atau nilai pengurangan (-) dari suatu sifat perkiraan.

(42)

HARTA = HUTANG + MODAL

Keterangan :

1. Harta adalah kekayaan yang dapat berbentuk benda berwujud atau tidak berwujud, dapat diperoleh melalui hutang dan atau modal sendiri (Lapoliwa dan Kuswandi, 1993: 8).

2. Harta adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh perusahaan, baik itu berupa benda maupun hak serta wewenang (Santoso, 1997: 7). 3. Hutang adalah hak para kreditur atas kekayaan perusahaan

4. Modal adalah hak para pemilik atas kekayaan perusahaan (Lapoliwa dan Kuswandi, 1993: 8).

5. Modal adalah kewajiban perusahaan kepada pemilik perusahaan tersebut (Santoso, 1997: 7)

E. Kerangka Teoritik

(43)

prestasi siswa secara keseluruhan. Hal itu dapat dilakukan mengingat tujuan PTK itu sendiri adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan.

Namun kenyataannya yang kita lihat saat ini banyak dijumpai guru yang belum melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) di dalam proses pembelajarannya. Padahal banyak masalah yang timbul pada saat proses pembelajaran berlangsung yang dapat diperbaiki melalui bentuk PTK. Ada beberapa faktor yang menyebabkan guru belum melakukan PTK dalam proses pembelajaran di kelas. Faktor-faktor tersebut antara lain yaitu karena kurang dipahaminya profesi keguruan oleh guru, guru malas membaca, guru malas menulis, kurangnya rasa kepekaan dan sensitifitas guru terhadap waktu, kurangnya daya kreatifitas dan inovasi seorang guru, guru malas meneliti, serta guru kurang memahami PTK.

(44)

Dick dan Carey (1990) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mereka strategi pembelajaran bukan hanya terbatas prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.

PTK dapat diterapkan dalam bentuk strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan penciptaan suasana belajar yang menyenangkan untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Akuntansi. Strategi yang dapat diterapkan di dalam PTK adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu metode alternatif yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di dalam proses pembelajaran di sekolah.

(45)

menyenangkan; (4) turnamen yang bertujuan untuk menciptakan kompetisi yang sehat antar siswa; dan (5) penghargaan bagi kelompok yang mendapatkan prestasi terbaik.

Pada pembelajaran kooperatif tipe TGT ini sangat ditekankan kerja sama dan kebersamaan dalam kelompok. Masing-masing kelompok memiliki tujuan yang sama yaitu mendapatkan penghargaan yang terbaik. Untuk mendapatkannya, masing-masing individu harus menyumbangkan nilai yang terbaik karena pada prinsipnya dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan kelompok ditentukan oleh keberhasilan individu sebagai anggota kelompok. Tanggung jawab individu juga sangat diperlukan dalam kelompok. Untuk dapat memahami materi dan mengerjakan soal-soal dengan baik, mereka harus terlibat secara aktif dalam kelompok. Adanya penghargaan kepada kelompok terbaik diharapkan dapat memicu masing-masing anggota kelompok memiliki motivasi belajar yang kuat sehingga prestasi belajar siswa di sekolah dapat meningkat.

(46)

Hasil studi Slavin (1983) menemukan bahwa melalui pembelajaran kooperatif target pembelajaran dapat dicapai secara signifikan pada sebagian besar peserta pembelajaran riset lainnya juga menunjukkan bahwa terapan model TGT dalam pembelajaran ternyata menuai keberhasilan dibandingkan cara – cara pembelajaran tradisional (Wodarski dan Wodarski, 1993). Sementara hasil penelitian pada pembelajaran family resource management di Louisiana State University, Garrison dan Blalock (1995) berkesimpulan bahwa ada perbedaan signifikan pre-test dan post-test saat TGT diterapkan di kelas. Sebagian besar siswa (77%) menyatakan bahwa pemahaman mereka bertambah baik, 88% siswa menyatakan penerapan model pembelajaran memotivasi mereka dalam belajar, dan 92% siswa merekomendasikan bahwa model TGT seharusnya digunakan dalam materi pembelajaran berikutnya. Berdasarkan uraian di atas, dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

Ha: terdapat perbedaan pemahaman siswa sebelum dan setelah diterapkan model pembelajaran TGT

(47)

dilakukan di SMA Negeri 11 Yogyakarta dapat diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT mampu meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-D.

(48)

27 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN  

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dan bentuk penelitian adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research)/ PTK. Menurut Wijaya Kusumah (2010:9), PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara (1) merencanakan, (2) melaksanakan, dan (3) merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Penelitian ini berbasis kolaboratif, sehingga dalam pelaksanaannya penelitian dilaksanakan dengan kerja sama antara guru kelas dan peneliti.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMA Kolese de Britto, Jl. Laksda Adisucipto 161 Yogyakarta

2. Waktu Penelitian

(49)

C. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian

Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas X-2 SMA Kolese de Britto Yogyakarta

2. Objek Penelitian

Objek penelitiannya adalah peningkatan prestasi belajar siswa kelas X-2 SMA Kolose de Britto pada mata pelajaran akuntansi melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT .

D. Prosedur Penelitian 1. Kegiatan Pra Penelitian

Sebelum melakukan penelitian, tindakan awal yang dilakukan peneliti adalah melakukan observasi kondisi kelas yang mencakup observasi kegiatan guru, observasi kelas, dan observasi terhadap siswa. Untuk melengkapi data, peneliti juga mewawancarai guru dan siswa untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Setelah beberapa prosedur tersebut dilakukan, kemudian peneliti mengadakan penelitian di dalam kelas dengan menggunakan metode TGT.

2. Pelaksanaan Penelitian

(50)

a. Perencanaan

Peneliti merencanakan tindakan berupa persiapan pembelajaran kooperatif tipe TGT. Peneliti bekerja sama dengan guru mitra akan memetakan berdasarkan tingkat kemampuannya. Setelah itu peneliti akan membagi siswa menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5-6 orang. Kelompok dibagi secara heterogen dengan kemampuan, jenis kelamin, dan ras atau suku yang berbeda-beda. Pada tahap ini, peneliti menyiapkan beberapa instrument penelitian berupa: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT, materi pembelajaran yang akan diajarkan guru, soal-soal latihan, dan lembar observasi.

a) Tindakan

Pada tahap ini dilakukan implementasi pembelajaran kooperatif tipe TGT sesuai dengan rencana awal, adapun langkah-langkahnya sebagai berikut.

1) Kegiatan Pra Pembelajaran

(51)

kompetensi, kompetensi dasar, dan tujuan pembelajaran. Guru memberikan motivasi kepada siswa agar siap dalam mengikuti pembelajaran. Guru melakukan kegiatan apersepsi dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa, mengulangi materi yang lalu dan mengaitkan materi lalu dengan materi yang baru. Selain itu guru menjelaskan skenario dan peraturan-peraturan model pembelajaran yang diterapkan yaitu TGT. 2) Kegiatan Inti

Secara garis besar rincian kegiatan inti pembelajaran yang dilakukan guru adalah sebagai berikut.

a) Penyajian kelas (class presentation)

Sebelum masuk dalam kegiatan TGT, dalam awal pembelajaran guru menjelaskan materi. Penjelasan materi guru dapat menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, namun yang terpenting adalah siswa benar-benar memahami materi yang disampaikan guru. Penguasaan materi akan dapat membantu siswa dalam permainan dan tournament.

b) Kelompok

(52)

lain: mengerjakan soal yang telah diberikan guru mitra pada lembar jawab. Dalam mengerjakan soal latihan harapan guru mitra adalah siswa dapat mengerti materi yang telah dijelaskan guru mitra melalui bantuan soal-soal latihan. Jika anggota siswa belum mengerti materi pembelajaran, kegiatan selanjutnya yang perlu dilakukan siswa yaitu berdiskusi dengan sesama anggota kelompok. Melalui kegiatan diskusi ini diharapkan siswa dapat saling bekerja sama.

Jika ada siswa dalam satu kelompok yang kurang paham terhadap materi yang diajarkan dapat bertanya pada siswa yang telah memahami materi tersebut. Fungsi dari diskusi kelompok adalah untuk memberi pemahaman yang merata pada setiap anggita kelompok. Pemahaman yang merata antar anggota kelompok akan memudahkan permainan atau turnamen nanti.

c) Pelaksanaan games

(53)

merefleksikan tingkat keberhasilan pembelajaran dengan metode TGT ini.

d) Pelaksanaan tournament

(54)

e) Penghargaan kelompok

Setelah kegiatan turnamen dilakukan, guru mengumumkan kelompok yang memperoleh nilai terbaik saat turnamen dan games. Nilai diperoleh dari penjumlahan skor kelompok saat permainan dan turnamen. Artinya skor merupakan akumulasi dari latihan soal dalam diskusi awal dalam team, games dan turnamen. Pemberian penghargaan dimaksudkan untuk meningkatkan motivasi dalam mengikuti pelajaran akuntansi, sehingga meningkatkan pemahaman untuk mata pelajaran akuntansi selanjutnya.

Guru juga melakukan pre-test pada pertemuan sebelum diterapkannya metode TGT dan melakukan post-test pada pertemuan setelah diterapkannya metode TGT di dalam pembelajaran, untuk mengetahui adanya tingkat perubahan atau kenaikan prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah diterapkannya metode TGT dalam pembelajaran Akuntansi di dalam kelas.

3) Kegiatan Penutup

(55)

c. Observasi

Observasi dilaksanakan bersamaan dengan tahap tindakan. Di dalam tahap ini peneliti mengadakan pengamatan atas dampak dan hasil dari pelaksanaan tindakan, yaitu meliputi bagaimana proses pembelajaran itu berlangsung, keterlibatan dan interaksi siswa dalam kegiatan pembelajaran, dan bagaimana kondisi kelas. Untuk dapat mengetahui adanya peningkatan prestasi belajar siswa dapat dilihat dari hasil pekerjaan siswa setelah TGT selesai diterapkan. Pengamatan juga direkam dengan menggunakan video camcorder. d. Refleksi

Refleksi dilaksanakan pada akhir tindakan penelitian kelas, digunakan untuk mengetahui apakah target yang ditetapkan sesuai dengan indikator keberhasilan tindakan telah tercapai. Secara teknis, peneliti melakukan self-reflection dahulu terkait dengan keterampilan kooperatif siswa dalam kegiatan masing-masing fase. Dari hasil refleksi dilakukan refleksi dan diskusi peneliti bersama guru mitra dilakukan penyempurnaan tindakan pada pertemuan berikutnya bila diperlukan.

E. Instrumen Penelitian

(56)

a. Pengamatan terhadap guru (Observing Teachers)

Pengamatan merupakan alat yang terbukti efektif untuk mempelajari tentang metode dan strategi yang diimplementasikan di kelas, misalnya tentang organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas. Salah satu bentuk instrumen pengamatan adalah catatan anekdotal. Catatan anekdotal ini memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di kelas (catatan anekdotal, lampiran 1).

b. Pengamatan terhadap kelas (Observing Classrooms)

Catatan anekdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan terhadap segala kejadian yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di kelas. Di samping itu, pengamatan ini dapat menunjukkan strategi yang digunakan guru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas (catatan anekdotal, lampiran 3).

c. Pengamatan terhadap siswa (Observing Students)

(57)

sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada tiap individu juga dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan diberikan (catatan anekdotal, lampiran 2).

2. Pelaksanaan Tindakan a. Perencanaan

Penentuan perencanaan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perencanaan umum dan perencanaan khusus. Perencanaan umum dimaksudkan untuk menyusun rancangan yang meliputi keseluruhan aspek yang terkait PTK. Sementara itu, perencanaan khusus dimaksudkan untuk menyusun rancangan pada satu siklus. Oleh karenanya dalam perencanaan khusus ini tiap kali terdapat perencanaan ulang (replanning). Hal-hal yang direncanakan diantaranya terkait dengan pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, teknik atau strategi pembelajaran, media dan materi pembelajaran, dan sebagainya. Perencanaan dalam hal ini kurang lebih hampir sama dengan apabila kita menyiapkan suatu kegiatan belajar mengajar. Biasanya perencanaan dimasukkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan juga dapat dimasukkan ke dalam silabus mata pelajaran akuntansi (lampiran 9).

(58)

Tindakan ini merupakan implementasi pembelajaran kooperatif tipe TGT yang telah direncanakan. Strategi apa yang digunakan, materi apa yang akan diajarkan atau dibahas. Guru melakukan inovasi dalam proses pembelajaran di kelas dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Sebelum penelitian dilakukan dan sekaligus untuk menguji kemampuan siswa, peneliti memberikan soal pre-test (lampiran 10). Kegiatan ini merupakan penerapan dari berbagai perencanaan yang direncanakan sebelumnya. Tindakan merupakan pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Dalam pelaksanaan tindakan, kegiatan guru adalah mengajarkan materi yang telah dipersiapkan, strategi pembelajaran, dan model pembelajaran. Instrumen yang dibutuhkan dalam tahap tindakan adalah penilaian tentang tingkat prestasi belajar siswa dalam pembelajaran ekonomi yang akan diukur dari hasil belajar siswa (lampiran 4 dan lampiran ). Setelah itu post-test dilakukan sesudah pelaksanaan model TGT. Hal ini yang digunakan untuk menilai prestasi siswa terhadap materi yang telah diajarkan (lampiran 11). c. Observasi

(59)

d. Refleksi

Pada prinsipnya yang dimaksud dengan istilah refleksi adalah memikirkan sesuatu atau upaya evaluasi yang dilakukan oleh para kolaborator yang terkait dengan suatu PTK yang dilaksanakan. Kegiatan ini dilakukan untuk menilai keberhasilan dan kekurangan dari model yang telah diterapkan sebelumnya. Jika masih banyak kekurangan, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan pada siklus tahap kedua, dan jika telah mencapai keberhasilan, maka penelitian dapat dikatakan telah mencapai target yang ditentukan sebelumnya.

F. Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian bersumber dari interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran dan berupa data tindakan belajar atau perilaku belajar yang dihasilkan dari tindakan yang mengajar. Pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut.

1. Observasi

(60)

Pengamatan sangat cocok untuk merekam data kualitatif, misalnya perilaku, aktivitas, dan proses lainnya. Catatan lapangan sebagai salah satu wujud dari pengamatan dapat digunakan untuk mencatat data kualitatif, kasus istimewa, atau untuk melukiskan suatu proses.

2. Wawancara

Untuk memperoleh data dan informasi yang lebih rinci dan untuk melengkapi data hasil observasi, peneliti dapat melakukan wawancara kepada guru, siswa, atau kepala sekolah. Wawancara digunakan untuk mengungkap data yang berkaitan dengan sikap, pendapat, atau wawasan. Wawancara dapat dilakukan secara bebas atau terstruktur. Wawancara hendaknya dilakukan dengan mempergunakan pedoman wawancara agar semua informasi dapat diperoleh secara lengkap. Jika dianggap masih ada informasi yang kurang, dapat pula dilakukan secara bebas. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data berkaitan dengan aktivitas belajar siswa serta pandangan dari guru dan siswa terhadap metode TGT yang diterapkan dalam pembelajaran akuntansi. 3. Metode Dokumentasi

(61)

G. Teknik Analisis Data

Analisis data yang dilakukan secara deskriptif dan komparatif untuk mengetahui perkembangan peningkatan prestasi belajar siswa di dalam proses pembelajaran, meliputi dua hal sebagai berikut.

1. Analisis Deskriptif

Data hasil observasi dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan pemaparan (deskripsi) data/informasi tentang suatu gejala yang diamati dalam proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan tingkat keberhasilan dari metode kooperatif tipe TGT sebagaimana adanya dalam bentuk paparan naratif maupun tabel.

2. Analisis Komparatif

(62)

Tabel 3.1

Indikator Keberhasilan Peningkatan Prestasi Belajar Pada Saat Pelaksanaan Tindakan

No Nama Siswa Pre-test Post-test KKM Selisih Prestasi Siswa Peningkatan

1.

2.

3.

(63)

42 BAB IV

GAMBARAN UMUM

A. Sejarah Singkat SMA Kolese de Britto Yogyakarta

(64)

yang dipegang Romo B. Sumarno, S.J diserahkan kepada Romo R. Van Thiel, S.J. Sekolah yang baru berlangsung lima bulan ini akhirnya ditutup karena situasi sosial politik yang ada, clash kedua tentara Belanda tanggal 18 Desember 1948.

Setelah keadaan tenang, persiapan untuk mulai mengadakan kegiatan sekolah segera dilaksanakan. Bagian putri sudah dibuka kembali dan memulai seluruh kegiatan akademik pada bulan Agustus 1949, sedangkan bagian putra baru dapat dibuka kembali dan melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan akademik pada bulan Oktober 1949. Hal ini mengingat banyak pemuda yang baru kembali dari medan perang, yang berjuang bagi ibu pertiwi. Sekolah ini akhirnya dipisahkan menjadi dua bagian, sekolah putra dan sekolah putri. Sekolah putra menempati gedung di Jalan Bintaran Kulon 5 dan diasuh oleh para romo Jesuit, dan memakai nama Santo Johanes de Britto sebagai nama sekolah. Sekolah putri berada di bawah asuhan para suster Carolus Borromeus, menempati gedung di Jalan Sumbing (sekarang Jalan Sabirin). Sekolah putri memakai nama SMA Stella Duce yang berarti Bintang Penuntun.

(65)

yang pada saat itu masih menjadi siswa SMA Johanes de Britto tahun 1949-1951. Lambang itulah yang digunakan sampai sekarang

Pada tanggal 9 Juni 1953, oleh Pembesar Serikat Jesus di Roma nama SMA Santo Johanes de Britto diubah menjadi SMA Kolese de Britto. Sekolah ini terus mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu, meskipun sering terjadi pergantian pengurus dan staf pemimpin namun bertambahnya jumlah murid yang berdampak bertambahnya jumlah ruang kelas, pembenahan dan perbaikan bagian administrasi sekolah, termasuk rencana mendirikan gedung sekolah baru di lokasi lain merupakan suatu kemajuan yang dialami SMA Kolese de Britto. Banyak pilihan lokasi untuk mendirikan gedung sekolah yang baru, tetapi akhirnya pilihan lokasi jatuh di daerah Demangan tepatnya di Jalan Laksda Adisucipto 161 Yogyakarta, yang akhirnya menjadi alamat tetap sekolah ini. Peletakan batu pertama sebagai tanda awal pembangunan gedung sekolah yang baru dilakukan oleh Mgr. A. Soegijapranata, S.J yang pada waktu itu menjabat Vikaris Apostolik Semarang. Pada bulan Mei 1958, SMA Kolese de Britto dipindahkan ke gedung sekolah yang baru. Selain kompleks gedung yang luas, sekolah yang baru ini juga dilengkapi lapangan olah raga, aula, ruang laboratorium, dan lain-lain.

(66)

mengeluarkan peraturan yang melarang orang berkewarganegaraan asing mengajar di sekolah dasar dan menengah. Dua tahun kemudian tepatnya 1 Agustus 1962, kepengurusan SMA Stella Duce yang semula disatukan dengan SMA Kolese de Britto, resmi diserahkan kepada Yayasan Tarakanita. Sedangkan SMA Kolese de Britto tetap diasuh oleh Yayasan de Britto yang secara ex officio diketuai oleh romo Jesuit sebagai rektor kolese.

(67)

berjasa dalam memperjuangkan kelangsungan SMA Kolese de Britto sebagai sebuah Kolese.

Ketika Romo Th. Koendjono, S. J. menjadi direktur / kepala sekolah (1962-1964) diangkatlah kedisiplinan menjadi tuntutan kerja dan sikap hidup sehari-hari, tidak hanya untuk siswa, tetapi juga semua pihak yang terlibat dalam pendidikan di kolese tersebut. Kerja sama dengan awam sedikit demi sedikit dikembangkan. Kerja sama itu tidak hanya dalam arti berhubungan baik supaya awam mau bekerja lebih tekun, tetapi semakin menempatkan awam sebagai partner yang setara dalam pengelolaan sekolah. Sayangnya Romo Th. Koendjono, S. J. tidak bertugas cukup lama karena mendapat tugas baru dari Pemimpin Serikat Jesus. Pada akhirnya Romo Th. Koendjono, S. J. digantikan oleh seorang awam yaitu Bapak C. Kasiyo Dibyoputranto pada tahun 1964. Serikat Jesus mulai menyadari akan pentingnya kerja sama yang sederajat dengan awam. Sejak itu hingga sekarang, jabatan direktur / kepala sekolah selalu dipegang oleh awam. Tetapi meskipun demikian ciri sebuah Kolese dimana ada Jesuit didalamnya tetap dipertahankan dalam jabatan rektor (yang sekaligus menjadi ketua yayasan) dan jabatan Sub Pamong.

(68)

berbeda dari pendapat umum, khususnya tahun 1960-1970. Masyarakat lebih mementingkan penampilan luar daripada motivasi dari dalam. Keberhasilan pendidikan bebas tidak lepas dari peran empat serangkai, yaitu Romo Oeik Tik Djoen, S.J., Romo G.Koelman, S.J., Bapak C.Kasiyo Dibyoputranto, dan Bapak L. Subiyat. Empat serangkai itu pada tahun 1971 diperkuat oleh Bapak Chr. Kristanto yang diangkat menjadi wakil kepala sekolah dan bapak G. Sukadi yang banyak berperan dalam kegiatan siswa.

(69)

menerima siswa putra, meskipun demikian jumlah peminat setiap tahunnya tetap melimpah.

B. Sistem Pendidikan SMA Kolese de Britto

SMA Kolese de Britto menerapkan paradigma pendagogi Ignasian dalam mendidik siswa untuk mengembangkan belajar mandiri sehingga siswa mampu mencari dan mencerna informasi yang diperlukan dan membiasakan diri untuk proses belajar seumur hidup.

Pedagogi Ignasian ialah cara para pengajar mendampingi siswa dalam pertumbuhan dan perkembangan pembentukannya, yang dilandasi spiritualitas Santo Ignatius. Pedagogi meliputi pandangan hidup dan visi dari berbagai ideal manusia untuk dididik. Pedagogi juga memberikan kriteria pilihan sarana untuk dipakai dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, pedagogi ini tidak boleh direduksi menjadi metodologi semata-mata.

Secara sempit, paradigma ini merupakan sebuah alat yang praktis dan sebuah perangkat yang efektif untuk meningkatkan kinerja guru dan siswa dalam proses kegiatan belajar-mengajar. Secara luas, paradigma ini merupakan cara bertindak yang membantu siswa berkembang menjadi manusia yang berkompeten, bertanggung jawab, dan berbelas kasih.

(70)

visinya. Paradigma di sini meliputi corak dan proses tertentu dalam mengajar, yang berarti pengisian pendekatan terhadap nilai belajar dan pertumbuhan dalam kurikulum yang berlaku.

Dalam proses pengajaran, dinamika paradigma ini mencakup lima langkah pokok, yaitu:

1. Konteks

Proses pendidikan tidak pernah bergerak dalam ruang hampa. Oleh karena itu, pengalaman manusiawi harus menjadi titik tolaknya. Pemahaman konteks merupakan bentuk konkret perhatian dan kepedulian terhadap siswa. Perhatian dan kepedulian ini merupakan dua hal pokok sebagai awal untuk melangkah.

“Apa yang harus diketahui para guru agar siswa-siswanya dapat belajar dengan baik?” Pertanyaan seperti itu kiranya tepat mengenai inti pengertian konteks dalam pedagogi ini. Tentu saja pertanyaan itu menyangkut di luar pemahaman materi ajar. Pertanyaan tersebut menyangkut pengetahuan guru mengenai karakter siswa dan kondisi lingkungan yang melingkupinya. Beberapa konteks yang perlu dipertimbangkan oleh guru:

(71)

b. Konteks sosio-ekonomi, politik, kebudayaan, kebiasaan kaum muda, agama, media massa, dan lain-lain yang merupakan lingkungan hidup siswa yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa dalam hubungannya dengan orang lain.

c. Situasi sekolah tempat proses belajar-mengajar terjadi. Keberhasilan proses pendidikan sangat dipengaruhi oleh situasi sekolah yang bersifat kondusif. Sekolah seharusnya merupakan tempat orang dipercaya, diperhatikan, dihargai, dan diperlakukan secara jujur dan adil.

d. Pengertian-pengertian yang dibawa siswa ketika memulai proses belajar. Pengertian dan pemahaman yang mereka peroleh dari studi sebelumnya atau dari lingkungan hidup mereka merupakan konteks belajar yang harus diperhatikan.

Pemahaman konteks itu sangat membantu para guru dalam menciptakan hubungan yang dicirikan oleh autensitas dan kebenaran. Kalau suasana saling mempercayai dan saling menghargai terjadi, siswa akan mengalami bahwa orang lain merupakan teman sejati dalam proses belajar. Dalam suasana seperti itulah proses belajar mengajar akan berjalan lancar sekaligus berkualitas.

2. Pengalaman

(72)

menilai ide-ide. Hanya dengan pemahaman yang tepat terhadap apa yang dipertimbangkan, orang dapat maju sampai menghargai arti pengalaman. Pemahaman tidak hanya terbatas pada aspek intelektual, tetapi mencakup keseluruhan pribadi, budi, perasaan, dan kemauan masuk ke pengalaman belajar. Dalam pengalaman itu mencakup ranah kognitif dan afektif sekaligus. Kegiatan belajar yang hanya menekankan pemahaman intelektual, tanpa disertai dengan perasaan batin, tidak akan mendorong orang untuk bertindak. Oleh karena itu, istilah pengalaman dipakai untuk mencirikan setiap kegiatan yang di dalamnya tercakup pemahaman kognitif dan afektif sekaligus dari materi yang dipelajari.

Pengalaman dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Pengalaman kognitif saja kurang dapat menimbulkan rasa belas kasih secra optimal. Lain halnya dengan pengalaman langsung karena di dalamnya orang mengalami keterlibatan secara keseluruhan, yaitu pikiran dan perasaan. Pengalaman langsung dalam proses belajar-mengajar dapat terjadi melalui percobaan, diskusi, penelitian, proyek pelayanan, dan sebagainya. Sementara itu, pengalaman tidak langsung dapat terjadi melalui membaca dan mendengarkan. Agar proses belajar menjadi efektif, perlulah adanya usaha menciptakan pengalaman langsung tersebut. Usaha itu misalnya dapat ditempuh melalui role playing, pemakaian audio visual, dan sebagainya.

(73)

Refleksi merupakan suatu kegiatan dengan menyimak kembali secara intensif terhadap pengalaman belajar, antara lain materi pelajaran, pengalaman, ide-ide, usul-usul, atau reaksi spontan agar dapat memahami dan menangkap maknanya secara lebih mendalam.

Dalam refleksi diusahakan siswa menangkap nilai yang dipelajari. Untuk mencapai hal itu, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

a. memahami hal yang dipelajari secara lebih baik dan mendalam, dengan pertanyaan misalnya: “Apakah yang disajikan dalam buku cukup sahih atau jujur?”;

b. mengerti sumber-sumber perasaan dan reaksi yang dialami siswa dalam renungan ini, misalnya: “Apakah yang paling menarik dari cerpen yang saya baca ini?”, “Mengapa saya merasa iba terhadap tokoh yang satu ini dan benci terhadap tokoh yang lain?”;

c. mendalami implikasi bagi diri sendiri, bagi orang lain, atau bagi masyarakat, misalnya: ”Apa gunanya hal ini bagi diri saya, bagi keluarga, tetangga, atau masyarakat pada umumnya?”;

d. mendapatkan pengertian pribadi tentang kejadian-kejadian, ide-ide, kebenaran, atau pemutarbalikan kebenaran, dan sebagainya, misalnya: “Apakah cara hidup saya sesuai dengan kepentingan yang lain?”, “Apakah saya sanggup memikirkan kembali apa yang sebetulnya saya butuhkan unuk hidup bahagia?”;

Gambar

Tabel 2.1 Daftar Guru dan Mata Pelajaran yang Diampu ..................................
Tabel 2 1 Daftar Guru dan Mata Pelajaran yang Diampu . View in document p.19
Gambar 2.1 Tahap Penelitian Tindakan Kelas
Gambar 2 1 Tahap Penelitian Tindakan Kelas . View in document p.31
Tabel 3.1
Tabel 3 1 . View in document p.62
Tabel 4.1 : Daftar Guru dan Mata Pelajaran yang Diampu
Tabel 4 1 Daftar Guru dan Mata Pelajaran yang Diampu . View in document p.92
Tabel 4.2 : Daftar Karyawan dan Tugasnya
Tabel 4 2 Daftar Karyawan dan Tugasnya . View in document p.94
Tabel 4.3 : Daftar Karyawan Yayasan De Britto dan Bidang Tugasnya
Tabel 4 3 Daftar Karyawan Yayasan De Britto dan Bidang Tugasnya . View in document p.95
Tabel 4.5 : Tabel Distribusi Siswa
Tabel 4 5 Tabel Distribusi Siswa . View in document p.96
Tabel 5.1 Hasil Observasi Terhadap Aktivitas Guru
Tabel 5 1 Hasil Observasi Terhadap Aktivitas Guru . View in document p.112
tabel berikut:
tabel berikut: . View in document p.115
 Tabel 5.3  Kondisi Kelas Selama Proses Pembelajaran
Tabel 5 3 Kondisi Kelas Selama Proses Pembelajaran . View in document p.117
Hasil Tabel 5.4 Pre-test Siswa Kelas X-2 SMA Kolese de Britto
Hasil Tabel 5 4 Pre test Siswa Kelas X 2 SMA Kolese de Britto . View in document p.119
Tabel 5.5 Instrumen Refleksi
Tabel 5 5 Instrumen Refleksi . View in document p.131
Tabel 5.5 menunjukkan respon siswa terhadap perangkat
Tabel 5 5 menunjukkan respon siswa terhadap perangkat . View in document p.132
Tabel Hasil Tabel 5.6 Post-test Siswa Kelas X-2 SMA Kolese de Britto
Tabel Hasil Tabel 5 6 Post test Siswa Kelas X 2 SMA Kolese de Britto . View in document p.133
Tabel 5.6 menunjukkan hasil prestasi belajar siswa kelas X-2
Tabel 5 6 menunjukkan hasil prestasi belajar siswa kelas X 2 . View in document p.135
Tabel 5.7 menunjukkan bahwa secara umum guru mampu
Tabel 5 7 menunjukkan bahwa secara umum guru mampu . View in document p.137
Tabel 5.8 menunjukkan bahwa pada saat pembelajaran, seluruh
Tabel 5 8 menunjukkan bahwa pada saat pembelajaran seluruh . View in document p.138
Tabel 5.9 Instrumen Pengamatan Kelas
Tabel 5 9 Instrumen Pengamatan Kelas . View in document p.139
Tabel 5.9 menunjukkan bahwa suasana kelas cukup kondusif
Tabel 5 9 menunjukkan bahwa suasana kelas cukup kondusif . View in document p.140
Tabel 5.10
Tabel 5 10 . View in document p.141
Tabel 5.11
Tabel 5 11 . View in document p.143
Tabel 5.11 menunjukkan hasil komparasi peningkatan prestasi
Tabel 5 11 menunjukkan hasil komparasi peningkatan prestasi . View in document p.145
tabel PDA. Guru memimpin dan mengawasi jalannya permainan. Setelah
PDA Guru memimpin dan mengawasi jalannya permainan Setelah . View in document p.164
Tabel Aktivitas Guru
Tabel Aktivitas Guru . View in document p.171
Tabel Aktivitas Guru
Tabel Aktivitas Guru . View in document p.173
Tabel Pengamatan Kelas
Tabel Pengamatan Kelas . View in document p.176
Tabel Perilaku Siswa Saat Proses Pembelajaran
Tabel Perilaku Siswa Saat Proses Pembelajaran . View in document p.179
Tabel Aktivitas Guru
Tabel Aktivitas Guru . View in document p.180
Tabel Pengamatan Kelas
Tabel Pengamatan Kelas . View in document p.182
Tabel Perilaku Siswa Saat Proses Pembelajaran
Tabel Perilaku Siswa Saat Proses Pembelajaran . View in document p.184

Referensi

Memperbarui...

Download now (220 pages)