Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam polivinil pirolidon dengan vaccum rotary evaporator.

Gratis

1
3
90
2 years ago
Preview
Full text

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Kurkumin adalah sebuah polifenol hidrofobik yang dapat ditemukan

  Keterbatasan yang secara alami melekat pada kurkumin adalah ketersediaan hayati yang rendah karena sifat kelarutannya yang buruk dalam air. Tonnesen danKarlsen (1985) mengatakan bahwa kelarutan yang rendah dalam air, suasana asam, dan pH fisiologis sebagai penyebab rendahnya ketersediaan hayatikurkumin yang dikonsumsi secara oral.

B. Rumusan Masalah

C. Keaslian Penelitian

  Dari uraian diatas, dapat ditarik rumusan permasalahan, adakah pengaruh variasi proporsi drug load pada profil disolusi dispersi padat kurkumin denganpembawa PVP K30 yang dibuat dengan vaccum rotary evaporator dan jika ada, bagaimanakah pengaruhnya? Penelitian mengenaidisolusi kurkumin yang pernah dilakukan adalah “Preparation and pharmacokinetic evaluation of curcumin solid dispersion using solutol HS15 as a carrier ” (Seo, Han, Chun, dan Choi, 2012).

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang disolusi dispersi padat kurkumin sebagai usaha mengatasi sifat kurkumin yang sukarlarut di dalam air.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan memberikan bukti ilmiah yang menunjukkan dengan metode dispersi padat memperbaiki disolusi dan memberikanfleksibilitas, variasi, dan efisiensi yang lebih baik dalam formulasi oral obat bahan alam kurkumin.

E. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Meningkatkan disolusi kurkumin ekstrak temulawak melalui metode dispersi padat sebagai strategi meningkatkan disolusi kurkumin.

2. Tujuan Khusus

Mengetahui pengaruh proporsi drug load pada dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak dalam PVP K30 yang dibuat dengan metode vacuum. rotary evaporator

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Kurkumin Kurkumin adalah suatu polifenol dengan rumus kimia C H

  Kurkumin juga merupakan suatu pigmen alami yang larut dalam minyak, praktis tidak larut air pada pH asam dan netral. Dispersi Padat Dispersi padat merupakan suatu sistem dispersi yang memiliki prinsip di mana satu atau lebih dari satu bahan aktif terdispersi dalam suatu matrik pembawapada fase padat.

1. Metode Pelelehan

  Rotary evaporator adalah alat dengan sistem vakum yang berfungsi menurunkan tekanan di sekitar cairan sampel yang akan menurunkan titik didih Keuntungan penggunaan rotary evaporator antara lain adanya gaya sentrifugal dan gaya friksional antara dinding labu atau vial yang berotasi dengancairan sampel akan menghasilkan pembentukan lapisan film tipis yang merupakan pelarut yang tersebar seluas area labu atau vial (Laurence dan Christopher, 1989). Pelarut yang masih tersisa setelahevaporasi dapat dihilangkan dengan mengkondisikan sampel pada tekanan yang lebih tinggi atau kondisi yang lebih vakum pada suhu yang lebih tinggi darisebelumnya.

D. PVP K30

  PVP (Polyvinylpyrrolidone) adalah suatu polimer yang larut dalam air dan pelarut polar lainnya dan terdiri dari monomer N-vinylpyrrolidone (Haaf, Sanner, 6 9 25.000.000 g/mol. PVP digunakan sebagai bahan tambahan dalam obat, penyebab alergi pertama kaliditujukan pada iodine, namun setelah dilakukan uji klinik diketahui bahwa PVP yang menyebabkan timbulnya alergi (van Ketel dan van den Berg, 1990).

E. Disolusi

  Karakteristik fisik sediaan, proses pembasahan sediaan, kemampuan penetrasi media disolusi ke dalam sediaan, proses pengembangan, proses disintegrasi, dandegradasi sediaan, merupakan sebagian dari faktor yang mempengaruhi kerakteristik disolusi obat dari sediaan (Beringer, 2005). Secara sederhana kecepatan pelarutan didefinisikan sebagai jumlah zat yang terlarut dari bentuk sediaan padat dalam medium tertentu sebagai fungsiwaktu (Fudholi, 2013).

1. Model Lapisan Difusi (Diffusion Layer Model)

  Model Dankwert (Dankwert Model)Model ini beranggapan bahwa transpor solut menjauhi permukaan padat terjadi melalui cara paket makroskopik pelarut mencapai antar muka Metode pengujian disolusi antara lain adalah metode Khan yang dikenal dengan konsep dissolution efficiency (DE) area di bawah kurva disolusi di antaratitik waktu yang ditentukan. Faktor FormulasiBerbagai macam bahan tambahan yang digunakan pada sediaan obat dapat mempengaruhi kinetika pelarutan obat dengan mempengaruhi tegangan mukaantara medium tempat obat melarut dengan bahan obat, ataupun bereaksi secara langsung dengan bahan obat.

G. KLT–Densitometri

  Fase diam yang sering digunakan adalah silika dan serbuk selulosa dengan mekanisme sorpsi partisi dan adsorpsi(Gandjar dan Rohman, 2007). KLT-Densitometri merupakan metode yang efektif dan ekonomis dibandingkan dengan metodeKCKT dalam pemisahan dan analisis kuntitatif kurkumin (Martono, 1996).

H. Landasan Teori

  PolimerPVP yang merupakan polimer polar dan hidrofilik akan bertugas sebagai matrik yang membawa molekul-molekul kurkumin di dalamnya dan menembus membranbiologis dengan lebih mudah karena sifat PVP yang dapat terlarut dalam air (vanKetel dan van den Berg, 1990). Sehingga yang didapatkan hanyalah dispersi padat kurkumin-PVP yang kemudian diformulasikan dalam Uji disolusi dilakukan dengan alat rotating paddle dan akan dianalisis dengan densitometri untuk melihat profil disolusi dispersi kurkumin.

I. Hipotesis

Berdasarkan landasan teori, dapat dihipotesiskan bahwa dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak dengan pembawa PVP K30 dengan berbagaiproporsi drug load yang dihasilkan dengan metode vacuum rotary evaporator akan meningkatkan disolusi efisiensi kurkumin ekstrak temulawak, dengansemakin kecil proporsi drug load, semakin besar disolusi efisiensi kurkumin.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental karena adanya

B. Variabel dan Definisi Operasional 1

  Rancangan penelitian ini adalah rancangan penelitian acak pola searah. : Proporsi drug load yang digunakanVariabel bebas b.

d. Variabel pengacau tak terkendali : Suhu dan kelembaban ruangan 2

  Dispersi padat dibuat dengan 3 variasi drug load; SD F1 dengan drug load 6%, SD F2 dengan drug load 4%, dan SD F3 dengandrug load 2,4%. Pengukuran persentase disolusi kurkumin pada dispersi padat dilakukan dengan KLT-densitometri sehingga dapat diketahui kadar kurkumin daridispersi padat tersebut yang telah terpisah dari senyawa lain yang menyerupai kurkumin (demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin).

C. Bahan Penelitian

D. Alat Penelitian

  Ekstrak Temulawak C15, baku kurkumin, kloroform, metanol, PVP K30, Etanol, kloroform, aquabidest, kapsul cangkang keras gelatin No.00. Dissolution tester (Erweka), vacuum rotary evaporator, neraca analitis (Sartorius, Metler Toledo), Camac Densitometer, sentrifuge, dry box.

E. Tata Cara Penelitian 1

  Penetapan Kadar Kurkumin dengan KLT-Densitometri Sejumlah 5 mL cuplikan yang didapatkan dari disolusi akan dipekatkan dengan cara ekstraksi cair-cair dengan etil asetat untuk selanjutnya dimasukkanflakon, diuapkan, dan didapatkan kurkumin padat pada flakon. Kondisi Densitometer untuk analisis ini adalah :Fase diam : Silica gel 60 GF 254Tebal plat : 0,2 mmFase gerak : kloroform : etanol : air sulingPanjang pengembangan : 6,5 cmDurasi pengembangan : ±15 menitVolume sampel : 1 LPanjang gelombang : 425 nmDetektor : UVDihitung luas area yang didapatkan kemudian dihitung kadar kurkuminnya dengan kurva baku yang telah dibuat.

F. Validasi Metode 1. Larutan Stok Kurkumin

  Sejumlah 50,0 mg serbuk kurkumin ditimbang dengan seksama, dimasukkan ke dalam labu ukur 25,0 mL. Diencerkan dengan etanol p.a hinggatanda, kemudian disimpan dalam wadah yang terlindung dari cahaya.

2. Pembuatan Kurva Baku

  Sejumlah 2,25 mL larutan baku kurkumin dengan konsentrasi 90 g/mldimasukkan dalam labu takar 50 mL, kemudian ditambahkan 50 mg ekstrak Pengembangan dan pengukuran. Setelah itu dihitungkadar baku kurkumin dalam sampel menggunakan persamaan kurva baku yang telah dibuat pada poin 2.

5. Penetapan Parameter Linearitas

  Hitung nilai linieritas luas area dan konsentrasi baku kurkumin dengan menggunakan regresilinier. Persyaratan data linearitas yang dapat diterima jika memenuhi nilai koefisien korelasi r > 0,99 (Gandjar dan Rohman, 2007).

G. Analisis Hasil 1. Validasi Metode Validasi metode yang digunakan berdasarkan parameter berikut

  �� � � % recovery = x 100%............................................(4) �� � ℎ� � Metode adisi digunakan untuk menganalisis bahan obat dengan kadar lebih dari 0,1% dan kurang dari 1%, maka rentang recovery yang digunakan yaitu80-120% (Gandjar dan Rohman, 2007). PresisiPresisi dinyatakan dengan koefisien variasi, dengan rumus: �� CV = x 100%...........................................................................(5) × Metode ini dikatakan baik bila nilai CV yang diperoleh < 2%.

2. Analisis Statistik Penetapan Kadar Kurkumin Terlarut

  Data uji disolusi kurkumin dibuat dalam bentuk kurva hubungan antara jumlah persentase kurkumin terdisolusi terhadap waktu. Dihitung area di bawahkurva untuk mendapatkan nilai disolusi efisiensi sesuai dengan metode Khan.

BAB IV PEMBAHASAN A. Pembuatan Dispersi Padat Tujuan dari pembuatan dispersi padat adalah meningkatkan disolusi obat

  evaporator Vacuum rotary evaporator bekerja dengan mengevaporasi pelarut (etanol 96%) dengan waterbath yang dikendalikan suhunya dan kondisi vakum sehingga suhu untuk mengevaporasi pelarut akan lebih rendah dan tidak merusak komponenyang terkandung dalam larutan (kurkumin). mesh 50, kemudian didapatkan serbuk dan disimpan dalam desikator dan tertutupaluminium foil karena dalam serbuk terbuat dari PVP K30 yang bersifat sangat higroskopis serta kurkumin yang fotosensitif.

C. Pembuatan Fase Gerak

  Fase gerak pada penelitian ini menggunakan komposisi fase gerak dari penelitian Sudibyo Martono pada tahun 1996, yaitu dengan kloroform : etanol :aquadest (25 : 0,96 : 0,004). Sistem kromatografi KLT-Densitometri pada penelitian ini merupakan kromatografi dengan fase normal, karena fase gerak bersifat non polar, sedangkanfase diamnya, yaitu silika gel 60 GF254 bersifat lebih polar dari fase geraknya.

D. Penetapan Panjang Gelombang Maksimum

  Tujuan dari penetapan panjang gelombang maksimum adalah mendapatkan panjang gelombang yang paling baik untuk pengukuran kurkuminsecara KLT-densitometri dalam artian panjang gelombang yang mampu menunjukkan sensitifitas yang baik saat dilakukan pengukuran berulang denganpanjang gelombang tersebut. Tujuan dari penggunaan 3 seri konsentrasi ini untuk melihat apakah pada konsentrasi yang dianggap mewakili seluruh konsentrasipada seri baku ini dihasilkan spektrum serapan maksimum yang sama.

F. Validasi Metode Validasi metode adalah ukuran kesahihan suatu metode yang digunakan

  Validasi digunakan dalam suatu pengembangan metode pengukuran untuk menjamin kesahihan metode tersebut, selain itu validasi juga diperlukan dalamverifikasi metode. Verifikasi metode berbeda dengan pengembangan metode, validasi yang dibutuhkan pada verifikasi metode meliputi linieritas, akurasi, danpresisi.

1. Selektivitas

  Linearitas diperoleh dengan pengukuran seri baku kurkumin dengan konsentrasi 50 g/ml, 100 g/ml, 150 g/ml, 200 g/ml, 250g/ml, 300 g/ml dan 350 g/ml yang direplikasi 3 kali. Presisi Presisi adalah parameter validasi yang digunakan untuk melihat kemampuan dari metode untuk menghasilkan pengukuran yang tepat dankonsisten pada pengukuran berulang atau disebut juga untuk menjamin reprodusibilitas metode.

5. Range

  Range adalah interval antara konsentrasi analit pada level bawah dan level atas dalam pengukuran sampel secara kuantitatif yang masih memenuhi parameter linearitas, akurasi, dan presisi sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkanvaliditasnya. Range ini menunjukkan area analisis yang memenuhi parameter linearitas, akurasi, dan presisi.

G. Penentuan Akurasi Dan Presisi Baku Kurkumin Dalam Sampel

  Akurasi dan presisi baku kurkumin dalam sampel ditentukan dengan melihat AUC hasil penambahan baku kurkumin ke dalam matriks sampel. Luas area yang bertambah harus berada pada nilai Rf yang identik denganRf baku kurkumin sehingga dapat disimpulkan bahwa peak tersebut merupakan kurkumin.

99.37 Kadar baku kurkumin yang ditambahkan pada sampel adalah 90 g/ml

  Pengujiandisolusi pada penelitian bertujuan untuk membandingkan profil disolusi dari masing-masing formula dispersi padat yang dibuat dan juga melihat profil disolusicampuran fisik ekstrak temulawak Sampel dispersi padat kurkumin dan campuran fisik masing-masing dimasukkan ke dalam kapsul no. 00 dan diujikan dalam medium disolusi berisifosfat dengan pH 6 sebanyak 500 mL yang dibuat dengan mencampurkan buffer o medium bersuhu ± 37 C dengan kecepatan rotasi dayung 100 rpm.

SD F1 (1:1) SD F2 (1:2) SD F3 (1:4)

0.00 0.00 0.00 5 0.74 ± 0.01 1.50 ± 0.004 3.79 ± 0.1410 4.13 ± 0.18 10.51 ± 0.32 25.61 ± 0.81 15 13.3 ± 0.24 16.35 ± 0.25 48.44 ± 0.6830 35.70 ± 0.35 31.19 ± 0.59 78.02 ± 0.45 45 47.80 ± 1.45 80.79 ± 0.56 94.07 ± 0.5260 49.58 ± 0.10 98.17 ± 0.69 95.41 ± 0.65 120 51.04 ± 0.35 91.60 ± 0.73 89.08 ± 0.74 : SD = solid dispersion Keterangan Campuran fisik tidak dapat dianalisis jumlah yang terdisolusi, karena pada saat uji disolusi tidak terdisolusi dan membentuk semacam suspensi sehinggapada pengambilan cuplikan dan ekstraksi menghasilkan jumlah yang tidak menggambarkan kurkumin yang terdisolusi.

I. Pengukuran Kadar Kurkumin Pengukuran kadar kurkumin dilakukan dengan metode KLT-densitometri

  Pengukuran dengan KLT-densitometri akan menghasilkan datapemisahan kurkumin dengan kurkuminoid lainnya dan luas area kurkumin yang menunjukkan kadar kurkumin yang terdisolusi. Nilai Disolusi Efisiensi yang sudah diperingkatkan dengan uji statistik WelchTwo Sample t-test menunjukkan bagaimana formula F3 dengan perbandingan ekstrak temulawak : PVP K30 (1:4) memiliki profil disolusi yang lebih baikdibandingkan F2 (1:2) dan F1 (1:1), kemudian F2 (1:2) memiliki profil disolusi yang lebih baik dibandingkan F1 (1:1).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan ini maka dapat

  disimpulkan bahwa perbedaan proporsi drug load pada dispersi padat kurkumin dari esktrak temulawak dalam pembawa PVP K30 yang dibuat dengan vaccummempengaruhi profil disolusi kurkumin. Semakin rendah rotary evaporator proporsi drug load dalam formula dispersi padat akan semakin baik disolusinya, dibuktikan dengan Disolusi Efisiensi F3 dengan drug load 2,4% yang lebih besardibandingkan F2 (drug load 4%) dan F1 (drug load 6%).

B. Saran 1

Diperlukan pengembangan metode pembuatan sediaan dispersi padat kurkumin yang sesuai untuk mengatasi sifat higroskopis PVP K30.

2. Diperlukan penelitian untuk menguji jumlah maksimum konsumsi PVP K30 yang aman bagi manusia

  Anonim, 2009, Guidance for the Validation of Analythical Methodology and Calibration of Equipment used for Testing of Illicit Drugs in Seized Materials and Biological Specimens , United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), New York. Bermawie, N., Rahardjo, M., Wahyuno, D., dan Ma‟mun, 2007, Status Teknologi Budidaya dan Pasca Panen Tanaman Kunyit dan Temulawak Sebagai , Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Penghasil Kurkumin Jakarta.

49 Lampiran 2. Pembuatan Seri Baku Kurkumin

  Skema pembuatan seri baku kurkumin :Timbang seksama 50,0 mg kurkumin Larutkan dengan etanol, ad hingga 25,0 mlPipet 0,125 ml;0,25; 0,5 ml; 0,75 ml; 1 ml; 1,25 ml; 1,5ml; 1,75 ml Encerkan dengan etanol ad hingga 10,0 mlPerhitungan seri kadar kurkuminBobot kurkumin hasil penimbangan = 0,0050 g = 50,0 mgKadar stok kurkumin = 50 mg / 25 ml = 2 mg / ml = 2000 g/mlKadar seri larutan baku kurkumin :C1. Data Validasi Metode Gambar kurva baku kurkumin (AUC vs konsentrasi)Nilai AUC dan contoh perhitungan recovery kurkumin KadarAUC kurkumin Replikasi I Replikasi II Replikasi IIIReplikasi IV Replikasi V 50 2643 2723,4 2721,5 2675,4 2657,5200 14067,4 13975,3 13784,8 14145,7 14114 350 24710,2 25443,6 24906,6 24823,5 24829,6 Contoh perhitungan recoveryBobot kurkumin hasil penimbangan = 0,0050 g = 50,0 mg Kadar stok kurkumin = 50 mg / 25 ml = 2 mg / ml = 2000 g/mlKadar rendah = C1.

40 A

  rep 2 30rep 3 20 10 20 40 60 80 100 120Axis Title Grafik % terdisolusi vs waktu F3 rep 1, 2, 3 Lampiran 9. Uji Statistik dengan Program RR version 3.0.0 (2013-04-03) -- "Masked Marvel" Copyright (C) 2013 The R Foundation for Statistical ComputingPlatform: i386-w64-mingw32/i386 (32-bit) R is free software and comes with ABSOLUTELY NO WARRANTY.

DE F2

> data_DE2=read.csv("DE2.csv", header = F) > data_DE2 V1 V2 1 DE2 68.87 2 DE2 69.79 3 DE2 69.66 > shapiro.test(data_DE2$V2)Shapiro-Wilk normality test data: data_DE2$V2W = 0.8536, p-value = 0.25

DE F3

  Penelitian ini dilakukan untuk melihatpengaruh proporsi drug load pada dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak(Curcuma xanthorriza Roxb.) dalam polimer polivinil pirolidon (PVP K30) yang dibuat dengan instrumen vaccum rotary evaporator sebagai usaha untukmeningkatkan kelarutan kurkumin dalam air. Dispersi padatekstrak dibuat pada 3 formula, yaitu formula SD F1 dengan perbandingan ekstrak temulawak : PVP K30 (1:1), SD F2 dengan perbandingan ekstrak temulawak : PVPK30 (1:2), dan SD F3 dengan perbandingan ekstrak temulawak : PVP K30 (1:4).

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh rasio polivinil pirolidon K30 / Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap disolusi kurkumin.
2
7
60
Pengaruh rasio poloxamer 407/Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap disolusi kurkumin.
0
2
64
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) dengan spray drying.
2
6
96
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Hydroxypropyl Methycellulose (HPMC) dengan spray drying.
0
2
87
Pengaruh rasio polivinil pirolidon K30 Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap disolusi kurkumin
1
2
58
Pengaruh rasio poloxamer 407 Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap disolusi kurkumin
2
2
62
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Hydroxypropyl Methycellulose (HPMC) dengan spray drying
1
3
85
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) dengan spray drying
0
2
94
Pembuatan Micropowder Kurkumin yang Mudah Dikonsumsi dari Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb).
0
0
2
PENGARUH POLIVINIL PIROLIDON TERHADAP LAJU DISOLUSI FUROSEMID DALAM SISTEM DISPERSI PADAT
0
0
13
Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat spray dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma donestica C 95)-HPMC E-5 - USD Repository
0
2
118
Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat spray dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15 - USD Repository
0
0
89
Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat spray dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-PVP K-25 - USD Repository
0
1
102
Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat vacuum dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-Gom Guar - USD Repository
0
0
99
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam polivinil pirolidon dengan vaccum rotary evaporator - USD Repository
0
0
88
Show more