BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian yang Relevan - RIA KUSUMA DEWI BAB II

0
0
33
5 days ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian yang Relevan Penelitian yang relevan bertujuan untuk mengetahui keaslian karya ilmiah

  Untuk mengetahui keaslian penelitian ini dipaparkanbeberapa penelitian yang relevan yang telah dimuat dalam bentuk skripsi, ditunjukkan pula perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu : Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Ayu Sita Resmi mahasiswa jurusan Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang pada tahun 2009 dengan judul “Tindak Tutur Ekspresif PadaWacana Humor Politik Verbal Tulis “Presiden Guyonan” Butet Kartaredjasa. Berdasarkan jenis tindak tutur dalam tuturan ekspresif ditemukan tindak tutur ilokusi, tindak tutur perlokusi,tindak tutur langsung, tindak tutur tak langsung, tindak tutur harfiah, dan tindak tutur tak harfiah.

B. Tindak Tutur 1. Pengertian Tindak Tutur

  Chaer (2010: 27) mengatakan bahwa tindak tutur adalah tuturan dari seseorang yang bersifat psikologis dan yang dilihat dari makna tindakan dalam tuturan itu. Sementara itu menurut Searle (dalam Rohmadi, 2004: 29) menyatakan bahwa tindak tutur adalah produk atau hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu yang dapatberwujud pernyataan, perintah, atau yang lainnya.

2. Jenis Tindak Tutur

  Searle (dalam Leech, 2011: 316) mengemukakan bahwa secara pragmatis ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yaitu tindak lokusi (ilocutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tindak perlokusi(perlocutionary act). Dari pendapat tersebut, Austin (1962) juga mengemukakan tiga jenis tindakan dalam tindak tutur yang dapat diwujudkan oleh penutur secarapragmatis, yakni tindak lokusi, ilokusi, dan tindak perlokusi.

b. Tindak Tutur Ilokusi 1) Pengertian Tindak Tutur Ilokusi

  Hal serupa juga diungkapkan oleh Wijana (1996: 18) sebuah tuturan selainberfungsi untuk menyatakan atau menginformasikan sesuatu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu The Act of Doing Something. Berdasarkan contoh tersebut, jadi dapat disimpulkan bahwa tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang digunakan untuk menyatakan dan melakukan sesuatu,menginformasikan, dan menyuruh untuk melakukan sesuatu.

2) Kategori Searle mengenai Tindak Tutur Ilokusi, yaitu:

  Direktif adalahtindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agarmitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkanpenuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan.

a) Representatif

  Tuturan termasuk b) Direktif Direktif adalah tindak tuturyang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Tuturan tersebut termasuk dalam jenis tindak tutur direktifkarena penutur menginginkan mitra tutur untuk melakukan sesuatu seperti yang terdapat dalam tuturannya.

c. Tindak Tutur Perlokusi

  Austin (dalam Chaer, 2010: 28) menyebutkan bahwa tindak perlokusi adalah tindak tutur yang mempunyai pengaruh atau efek terhadap lawan tutur atau orangyang mendengar tuturan itu. Hal serupa juga diungkapkan oleh Searle (dalam Wijana,1996: 19) menyebutkan bahwa tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang mempunyai daya pengaruh atau efek terhadap lawan tutur atau orang yang mendengartuturan itu.

C. Tindak Tutur Ilokusi Ekspresif 1. Pengertian Tindak Tutur Ilokusi Ekspresif

  Kemudian Searle (dalam Leech, 1993: 164-165) mengungkapkanbahwa tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengungkapkan atau mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yangtersirat dalam ilokusi. Sementara Dari pengertian tindak tutur ekspresif tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tindak tutur ekspresif merupakan tindak tutur yang dilakukan dengan maksud agarujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan.

2. Fungsi Tindak Tutur Ilokusi Ekspresif

  Tuturan terdiri atas dua macam, yaitu tuturan yang santun dan tuturan yang tidak santun. Menurut Abdul Chaer ( 2010: 79-100) menyebutkan fungsi utamatuturan menjadi lima, yaitu fungsi tindak tutur menyatakan (deklaratif), fungsi tindak tutur menanyakan (interogatif), fungsi tindak tutur menyuruh (imperatif), fungsitindak tutur meminta maaf, dan fungsi tindak tutur mengeritik.

a. Fungsi Menyatakan (deklaratif)

  Fungsi menyatakan di dalam kajian gramatika dilakukan dalam bentuk kalimat deklaratif, yakni kalimat yang hanya menyampaikan berita atau kabar tentangkeadaan di sekeliling penutur. Dilihat dari maksud tuturannya, fungsi menyatakan digunakan untuk beberapa keperluan, misalnya menyatakan atau menyampaikan informasi faktual saja, untukmenyatakan keputusan atau penilaian, menyatakan selamat, menyatakan ucapan duka, menyatakan keputusan, menyatakan perjanjian, menyatakan pujian, menyatakanterima kasih, peringatan atau nasihat dan sebagainya.

1) Menyatakan Selamat

  Jadi, dapatdisimpulkan bahwa fungsi menyatakan ucapan duka merupakan tuturan yang mengikat penuturnya untuk mengekspresikan sikap psikologis yang dimaksudkanagar ujarannya diartikan sebagai evaluasi dengan tuturan menyatakan ucapan duka. Jadi, dapat disimpulkan bahwa fungsi menyatakan pujian merupakan tuturan yang mengikatpenuturnya untuk mengekspresikan sikap psikologis yang dimaksudkan agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi dengan menyatakan pujian.

b. Fungsi Menanyakan (Interogatif)

  Dengan kata lain, apabila seorang penutur bermaksudmengetahui jawaban terhadap suatu hal atau suatu keadaan, maka penutur akan bertutur dengan menggunakan kalimat interogatif kepada mitra tutur. Kalau ada intonasi: meskipun kalimatnya tidak lengkap, maka kalimat tersebut sudah sah sebagai kalimat interogatif atau tuturan yang mengemban fungsi menanyakan.

1) Menanyakan Meminta Pengakuan

  Tuturan dengan fungsi menanyakan yang Dengan kata lain, kalimat interogatif mempergunakan kata tanya yang jenis dan macamnya ditentukan berdasarkan sifat objek yang dimaksudkan dalam kalimatinterogatif tersebut. Apabila kalimat interogatif itu dimaksudkan untuk menanyakan orang atau hal yang “diorangkan”, kata tanya yang digunakan adalah siapa, dari siapa, untuk siapa, atau kepada siapa.

2) Menanyakan Meminta Alasan

  Tuturan dengan fungsi untukmenanyakan pendapat atau buah pikiran yang diujarkan penutur kepada lawan tutur dilakukan dalam kalimat interogatif. Apabila dibandingkan antara tuturan (a) dengan tuturan (b)pada contoh kalimat tersebut, tampak bahwa tuturan (b) bermakna lebih halus dibandingkan dengan tuturan (a).

c. Fungsi Menyuruh (Imperatif)

  Tuturan dengan fungsi memerintah yang disampaikan oleh penutur kepada lawan tutur dengan harapan agar lawan tutur melaksanakan sesuai isi tuturan tersebut. Dari kalimat yang dituturkan oleh tokoh teman Rahardi (2008: 93-116) menuliskan kontruksi ujaran imperatif sebagai berikut: (1) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah.

d. Fungsi Meminta Maaf

  Tuturan dengan fungsi meminta maaf biasanya dilakukan oleh penutur ataupun lawan tutur karena penutur atau lawan tutur merasa punya kesalahan atautelah dan akan melakukan ketidaknyamanan terhadap mitra tuturnya. Penggunaan kata maaf di dalam tindak tutur meminta maaf biasanya disertai dengan kata(kategori) fatis, seperti ya, dan kata interjeksi, seperti wah dan aduh, serta penggunaan kata sapaan, seperti Bapak dan Ibu.

e. Fungsi Mengeritik

  Oleh karena itu untuk menghindari muka negatif lawan tutur, maka penutur harus menggunakankalimat yang memberi dampak lebih santun. Jadi, dapat disimpulkan bahwa fungsi mengeritik merupakan tuturan yang mengikat penuturnya untuk mengekspresikan sikap psikologis yang dimaksudkan agarujarannya diartikan sebagai evaluasi dengan mengeritik.

D. Tuturan 1. Pengertian Tuturan

  Dari sebuah tuturan, maksud dan tujuannyatidak selalu sama dengan apa yang diharapkan tetapi justru sering berbeda dengan apa yang sebenarnya dituturkan. Pada dasarnya, tindak tutur yang dihasilkan bergantung pada tujuan atauarah tuturan untuk mencapai tujuan, tindak tutur harus disesuaikan dengan situasi tuturan.

2. Aspek-Aspek Situasi Tutur

  Konteks Tuturan Konteks tuturan dalam tata bahasa mencakup semua aspek fisik atau latar sosial yang relevan dengan tuturan yang diekspresikan. Selainitu, selamat pagi dengan berbagai variasinya bila diucapkan dengan nada tertentu dan situasi yang berbeda-beda dapat juga digunakan untuk mengejek teman yang datangterlambat, atau siswa yang terlambat masuk kelas dan sebagainya.

e. Tuturan Sebagai Bentuk Tindak Verbal

  Tuturan yang digunakan di dalam rangka pragmatik seperti yang dikemukakan dalam kriteria keempat merupakan bentuk dari tindak tutur. Dalam hubungan ini dapat ditegaskan ada perbedaan mendasar antarakalimat (sentence) dengan tuturan (utturance).

E. Tokoh 1. Pengertian Tokoh

  Tanpa adanya tokoh di dalam Dari pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tokoh merupakan pelaku atau orang dalam sebuah karya fiksi. Selain itu tokoh merupakan unsur yang sangat penting di dalam karya fiksi, sehingga tokoh yang diciptakan oleh pengarang tidak semata-mata bersifat khayal, tetapiharuslah memiliki relevansi dengan pengalamaan hidup manusia di kehidupan masyarakat atau dapat mencerminkan aktifitas manusia di kehidupan nyata.

2. Macam-Macam Tokoh

  Dalam membaca sebuah novel, biasanya kita dihadapkan pada sejumlah tokoh yang dihadirkan oleh pengarang didalamnya. Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat saja dikategorikan ke dalam beberapa jenispenamaan sekaligus.

a. Berdasarkan Peran atau Tingkat Pentingnya Tokoh

  Thobrin pun berpendapat samadengan Nurgiyantoro bahwa tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya ditampilkan sesekali atau beberapa kali dalam cerita dengan penceritaan yang sangat pendek. Ia dapat saja memiliki watak tertentu yang dapat diformulasikan, namun ia pun dapat pulamenampilkan watak dan tingkah laku bermacam-macam atau karakteristik yang beragam (Nurgiyantoro, 2012: 183).

d. Berdasarkan Berkembang atau Tidaknya Perwatakan

  Pertama, tokoh statis yaitu tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi. Tokoh jenis Kedua , tokoh berkembang yaitu tokoh cerita yang mengalami perubahan perwatakan sejalan dengan perkembangan peristiwa dan plot yang dikisahkan(Nurgiyantoro, 2012: 188).

F. Novel 1. Pengertian Novel

  Selain itu, permasalahan yang ada di dalam novel juga lebih kompleks (lebih dari satu persoalan) serta menonjolkan perwatakandari tokoh-tokohnya secara lebih utuh dibanding dengan cerpen yang biasanya hanya memiliki satu permasalahan saja di dalamnya. Dari beberapa pengertian novel yang disampaikan para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang ditulis dalamnarasi, yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya.

2. Ciri-ciri Novel

  Novel sebagai bacaan yang banyak digemari semua kalangan, sebab di dalam novel terdapat cerita yang inspiratif, dan dapat menambah wawasan. Novel tidak dapat selesai dibaca dalam sekali duduk, karena panjangnya sebuah novel secara khusus memiliki peluang yang cukup untuk mempermasalahkankarakter tokoh dalam sebuah perjalanan waktu, kronologi.

G. Kerangka Berfikir

  Data penelitian ini adalah tuturan yang terdapat pada novel karya Asma Nadia yang mengandung fungsi tindak tutur ilokusi ekspresif berdasarkan klasifikasinya. Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahap, tahap yang pertama adalah penyediaan data menggunakan metode simak yaitu dengan membaca tuturan dalam Fungsi Tindak Tutur Ilokusi Ekspresif pada TuturanTokoh dalam Novel Surga yang Tak Dirindukan 2 a.

Dokumen baru