SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

0
0
92
10 months ago
Preview
Full text

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN

PENYESUAIAN DIRI DI SEKOLAH

PADA SISWA KELAS X SMU 2 BANTUL

YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

  

Program Studi Psikologi

Oleh :

YASINTA AJENG H.

029114114

JURUSAN PSIKOLOGI PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

  

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta Penulis Yasinta Ajeng H.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Percayalah pada Tuhan maka Iapun

menghiraukan dikau, ratakanlah jalanmu

dan berharaplah padaNya (Sirakh 2: 6)

  

Rahasia kebahagiaan adalah membiarkan senyum kita berkembang

dari lubuk hati kita, menebar keluar melalui mata kita.

  

Sedikit kepedulianmu pada hal-hal kecil…

dapat mewujudkan harapanmu yang terbesar…

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Karya ini kupersembahkan untuk:  Allah Bapa Yang Maha Kasih

 Bapak dan mama yang dengan penuh kasih

sayang memberikan doa dan semangat demi keberhasilan ini.

  

  

Mba’ Asty dan Mas Daris, Mba’ Ani dan

Mas Albert, Mba’ Qka dan “my beloved”

brother Mas Totock (†)…makasih atas cinta dan semangatnya… Aku sayang kalian…

  

  

My soulmate ‘Mas Damar’… makasih atas

cinta, perhatian, dan support yang

begitu besar buat aku selama ini….Luv

u…

   Pona’an-pona’anku…Raras,Ian, Kevin, Nadya, Lala…Cepat besar yah…  Semua sahabat dan saudaraku…  Semua orang yang menyayangiku…

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN

PENYESUAIAN DIRI DI SEKOLAH

PADA SISWA KELAS X SMU 2 BANTUL

YOGYAKARTA

Yasinta Ajeng H.

  

029114114

Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian diri di sekolah pada siswa kelas X. Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional.

  Variabel dalam penelitian ini adalah konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah. Kedua variabel diukur dengan menggunakan skala. Koefisien reliabilitas skala konsep diri adalah sebesar 0,968 sedangkan koefisien reliabilitas skala penyesuaian diri di sekolah sebesar 0,954. validitas skala konsep diri dan skala penyesuaian diri di sekolah diperoleh lewat penilaian ahli dan berdasarkan pada kriteria yaitu yang memiliki indeks daya beda item ≥ 0,30.

  Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah. Semakin baik konsep diri maka semakin baik pula penyesuaian diri di sekolahnya. Hipotesis penelitian dianalisis dengan menggunakan korelasi Product Moment Pearson.

  Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X di SMU 2 Bantul Yogyakarta, total 70 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan korelasi r = 0,800 dengan taraf signifikansi 0,01. hal ini berarti hipotesis penelitian ini diterima atau ada hubungan positif antara konsep diri dengan penyesuaian diri di sekolah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

THE CORRELATION OF SELF CONCEPT WITH

SELF ADJUSTMENT IN SCHOOL

AT STUDENT OF CLASS X SMU 2 BANTUL

YOGYAKARTA

Yasinta Ajeng H.

  

029114114

Faculty Of Psychology

Sanata Dharma University

Yogyakarta

  The aim of this research was to know the correlation between self concept with self adjustment in school. Type of this research is correlational research. The variables in this research were self concept and self adjustment in school. Both variables were measured using scale. The reliability coefficient of self concept scale was 0,968, while the reliability coefficient of self adjustment in school scale was 0,954. The validities of self concept scale and self adjustment in school scale were obtained through evalution and based on criteria with item differentiability index of ≥ 0,30.

  The hypotesis of this research was that there is positive correlation between the self concept with the self adjustment in school. The better self concept, the higher the self adjustment in school was. The hypotesis was analyzed using correlation of Pearson’s Product Moment.

  Subject of this research were student of class X at SMU 2 Bantul Yogyakarta, total 70 people. The result of this research showed the correlation of r = 0,800 with significance level of 0,01. It meant the hypoteis was accepted or there was positive correlation between the self concept and the self adjustment in school.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Puji syukur pada Allah Bapa di Surga, Bunda Maria atas segala berkat, kasih dan karunia yang berlimpah kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skipsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Sanata Dharma.

  Penulis menyadari banyak kendala dan keterbatasan yang dimiliki oleh penulis, sehingga dengan bantuan banyak pihak akhirnya skripsi ini dapat selesai.

  Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :  Bpk. P. Eddy Suhartanto, S.Psi.,M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi

  Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

   Ibu M.L. Anantasari, S.Psi., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak membantu penulis, memberikan masukan, arahan dan dorongan dalam menyelesaikan skripsi ini.  Bpk. Agung Santoso, S.Psi dan Ibu MM. Nimas Eki S., S.Psi selaku Dosen

  Pendamping Akademik penulis, terimakasih atas bimbingan dan arahan kepada penulis selama belajar di Fakultas Psikologi ini.

   Kepala sekolah SMU 2 Bantul, Bpk. Drs. Sartono. Terima kasih atas ijin penelitian yang diberikan kepada penulis.

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ijin menggunakan waktu pelajaran Bimbingan dan Penyuluhannya untuk penelitian.

   Bpk. Heri. Makasih banyak Pak, atas masukan, dorongan dan waktunya untuk mendengarkan keluh-kesah saya.... Terima kasih atas saran dan

  cerita-ceritanya ya, Pak....sangat-sangat berguna bagi saya...

   Seluruh Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.  Mas Gandung, Mbak Nanik dan Pak Giyono di Sekretariat Psikologi, terima kasih atas bantuannya kepada penulis selama belajar di sini. Pa’ Gi...matur

  nuwun atas segala keramahan dan bantuan bapak yah... jadi semangat deh!!

   Mas Muji dan Mas Doni, terima kasih atas semua bantuannya selama penulis belajar di kampus ini.

   Siswa-siswi SMU 2 Bantul kelas X-2, X-3, X-4, X-5, X-6 yang telah bersedia menjadi subjek penelitian, terutama untuk Krisna dan Dennisa...

  makasih banyak yah,dek... atas bantuannya selama ini.... kalau ada hal-hal yang pingin diceritain, dengan senang hati mba dengerin...,oc??

   Bapak dan mama Bartholomeus Suhardjono, makasih banyak ya, Pak-Ma atas cinta, pengorbanan dan doanya hingga aku dapat menyelesaikan skripsi ini.... Maaf, membuat bapak-mama menunggu, kapan anaknya ini lulus....  Mba Asty dan Mas Daris, Mba Ani dan Mas Albert, Mba Qka…makasih atas cinta dan persaudaraannya dan pertanyaan-pertanyaan “Kamu lulusnya

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI maaf, kalau aku jadi adek yang suka membangkang…Adjenk kangen kamu, mas…

   Keponakan-keponakanku yang lucu-lucu...Raras, Ian, Kevin, Nadya, Lala...Kalian cepat besar yah, jadi anak yang pinter, baek dan selalu inget sama Yesus... Tante sayang kalian....

   Sayangku, cintaku, kasihku, belahan hatiku... ’Mas Damar’, makasih atas semua-muanya yach, terutama atas cinta, dukungan dan kesabaranmu... aku belajar banyak hal dari Mas......Luv u...  Mama Titik, Bpk. Surono (†), Mba Diane, Allea...makasih atas cinta dan penerimaannya dalam keluarganya... Om Barto, om....makasih atas bantuan

  dan doanya yach...

   My sweet sisters, Lita n Thea... say, makasih atas suka-duka yang kita bagi dalam persaudaraan ini yach…so nice to have friends like you …  Sahabat-sahabatku…Yak-yuk (Lia)... Yak, makasih atas semuanya yach, sejak kita semester satu sampai sekarang, aku banyak belajar dari kamu...

  Mithoel (Mitha)...Mit, kapan kita share bareng lagi... Pex’o (Nopex)… Pex,

  jangan pesimis lagi yach, kamu pasti bisa...., Trikun (Ntri)...apa kabarmu nan jauh di sana....kapan kita bertemu lagi?..., De’Tanti....dek, chayoo...kamu pasti bisa..., Fistoel (Fista)...cie, yang udah pake seragam, kapan maem2nya?.., Triza...I love you all...

   Temen-temen gank-ku semester satu (Danang, Unax, Vincent, Sani, Lia,

  Aning, Ucix, Bona, Elvin, Joe, Ohaq, Suko, Wawan, Eyang, Barjo, Doni, etc...), Mba Yosi’01, Mas Dion’01, Mas Tumbur’01, Mas Hari’00, Mas Dian’00, Mas Ucup’00...makasih atas masukan-masukannya yah, mas- mba...

   ’My babe’ Iyuth....Babe, makasih untuk persahabatan yang telah terjalin selama + 10 tahun ini yah!!! E-q...Mel, kamu bisa....chayooo....

   My brother, Mas Boni...mas, makasih banyak yah atas doa dan

  supportnya... Mas Ipunk...mas, makasih atas bantuan-bantuannya yah, dan ancamannya,”Janji log kowe harus lulus tahun ini!!”

   Mas Uki Sadewa....mas, makasih banyak atas pelajaran-pelajarannya selama ini,yach....

   Adekku yang n’dut...Pino...makasih ya, Pin atas pinjeman laptopnya yang selalu mba’ bawa kesana-kemari...

   Mas Supri...mas, makasih atas bantuannya benerin komputerku sampai komputerku yang ketiga ini yah....

   Teman-teman relawan Forum Bersama Fakultas Psikologi se-DIY (Ka’ Wendy, Ka’Eci, Mba Titin, Mba Tari, Mba Ita, Mas Budi, King, Walid)...terima kasih atas kebersamaan yang terjalin antara kita.. Mizz u all..

   Temen-temen KKN : Mba Nino, Mba Rita, Mba Vien, Lisa, Kocak, Ndaru, Kristian, Nanang.... makasih buat persaudaraan yang telah dibangun selama di Bambanglipuro...

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tahun ini....jangan bandel yah!! Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis menerima kritik dan saran yang membangun untuk menunjang kesempurnaan skripsi ini.

  Yogyakarta, Penulis

  Yasinta Ajeng H

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Halaman Judul.................................................................................................. i Halaman Persetujuan........................................................................................ ii Halaman Pengesahan........................................................................................ iii Pernyataan Keaslian Karya............................................................................... iv Halaman Motto................................................................................................. v Halaman Persembahan...................................................................................... vi Abstrak.............................................................................................................. vii Abstract ............................................................................................................ viii Kata Pengantar.................................................................................................. ix Daftar Isi........................................................................................................... xiv Daftar Lampiran................................................................................................ xviii Daftar Gambar.................................................................................................. xix Daftar Tabel...................................................................................................... xx

  BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1 A. LATAR BELAKANG MASALAH.................................................. 1 B. RUMUSAN MASALAH.................................................................. 6 C. TUJUAN PENELITIAN................................................................... 6 D. MANFAAT PENELITIAN............................................................... 7

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  A. KONSEP DIRI ................................................................................. . 8

  1. Pengertian Konsep Diri............................................................ . 8

  2. Ciri-ciri Orang yang Memiliki Konsep Diri Positif dan Negatif.................................................................................. 9

  3. Aspek-aspek Konsep Diri...................................................... 12

  4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri................... 13

  B. PENYESUAIAN DIRI DI SEKOLAH.......................................... 17

  1. Pengertian Penyesuaian Diri di Sekolah............................... 17

  2. Aspek-aspek Penyesuaian Diri di Sekolah........................... 19

  3. Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri di Sekolah................................................................................. 20

  4. Konteks Penyesuaian Diri di Sekolah .................................. 23

  C. REMAJA........................................................................................ 26

  1. Pengertian Remaja............................................................... 26

  2. Ciri-ciri Remaja................................................................... 27

  D. SISWA KELAS X......................................................................... . 29

  1. Pengertian Siswa Kelas X.................................................... 29

  2. Konsep Diri pada Siswa Kelas X........................................ 30

  E. HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN PENYESUAIAN DIRI DI SEKOLAH PADA SISWA KELAS

  X SMU........................................................................................... 32

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  A. JENIS PENELITIAN........................................................................ 38

  B. VARIABEL PENELITIAN.............................................................. 38

  C. DEFINISI OPERASIONAL............................................................. 38

  D. SUBJEK PENELITIAN.................................................................... 40

  E. METODE PENGUMPULAN DATA............................................... 41

  F. VALIDITAS DAN RELIABILITAS................................................ 45

  G. METODE ANALISIS DATA........................................................... 47

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................................. 48 A. PERSIAPAN PENELITIAN............................................................. 48 B. PELAKSANAAN PENELITIAN.................................................. 51 C. DESKRIPSI SUBJEK....................................................................... 51 D. HASIL PENELITIAN....................................................................... 52 E. PEMBAHASAN............................................................................... 56 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN........................................................... 63 A. KESIMPULAN................................................................................. 63 B. SARAN.......................................................................................... 63 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 65 LAMPIRAN..................................................................................................... 68

  Lampiran 1 SKALA UJI COBA/TRY OUT................................................... 68 Lampiran 2 DATA UJI COBA SKALA......................................................... 69 Lampiran 3 RELIABILITAS SKALA............................................................113 Lampiran 4 SKALA PENELITIAN................................................................124 Lampiran 5 DATA PENELITIAN..................................................................125 Lampiran 6 UJI NORMALITAS.....................................................................163 Lampiran 7 UJI LINEARITAS.......................................................................164 Lampiran 8 UJI HIPOTESIS...........................................................................166 Lampiran 9 SURAT KETERANGAN PENELITIAN....................................167 Lampiran 10 SURAT KETERANGAN PENELITIAN DARI SEKOLAH......170

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Gambar 1 Skema Hubungan Konsep diri dan Penyesuaian Diri di Sekolah pada siswa kelas X SMU.................................................... 36

  Gambar 2 Scatter Plot....................................................................................... 55

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tabel 1 Distribusi Aitem Skala Konsep Diri Sebelum Uji Coba............................................................................ 42

  Tabel 2 Skor berdasarkan Kategori Jawaban ................................................ 43 Tabel 3 Distribusi Item Skala Penyesuaian Diri di Sekolah

  Sebelum Uji Coba............................................................................ 44 Tabel 4 Skor berdasarkan Kategori Jawaban ............................................... 45 Tabel 5 Distribusi Item Skala Konsep Diri

  Setelah Uji Coba.............................................................................. 49 Tabel 6 Distribusi Item-item Skala Penyesuaian Diri di Sekolah

  Setelah Uji Coba.............................................................................. 50 Tabel 7 Data Penelitian................................................................................. 52 Tabel 8 Normalitas........................................................................................ 53 Tabel 9 Uji Linear......................................................................................... 54

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

  Masa remaja adalah salah satu periode masa perkembangan manusia yang merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perubahan baik secara fisik, emosi, sosial, intelektual, psiko-seksual maupun pemahaman dirinya. Perubahan-perubahan tersebut mengharuskan remaja untuk melakukan penyesuaian terhadap dirinya sendiri. Pada masa ini juga, remaja mulai melepaskan diri secara emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran sosialnya yang baru sebagai orang dewasa (Ingersoll dalam Agustiani, 2006). Selain melepaskan diri secara emosional dari orang tua, remaja juga memiliki keinginan untuk berkelompok dan memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dan di kelompok tersebut pengaruh teman-teman maupun lingkungan sosial sangat menentukan (Willis, 1981). Hal ini menyebabkan remaja dituntut untuk melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosialnya.

  Penyesuaian diri merupakan kemampuan seseorang untuk hidup dan bergaul secara wajar dengan lingkungannya, sehingga ia merasa puas terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya (Willis, 1981). Penyesuaian diri remaja terhadap lingkungan sosialnya merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja yaitu memiliki keterampilan sosial untuk dapat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma atau aturan yang berlaku, dan sebagainya. Jika keterampilan sosial dapat dikuasai oleh remaja pada fase tersebut, maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya (Mu’tadin, 2002).

  Willis (1981) mengungkapkan bahwa selain penyesuaian terhadap diri sendiri, remaja juga harus melakukan penyesuaian diri di dalam keluarga khususnya terhadap orang tua, dan melakukan penyesuaian diri di sekolah, baik terhadap guru, mata pelajaran, teman sebaya dan lingkungan sekolah.

  Penyesuaian diri remaja sebagai seorang siswa terhadap guru banyak tergantung kepada sikap guru dalam menghadapi siswa-siswanya. Remaja sebagai seorang siswa juga harus melakukan penyesuaian diri terhadap mata pelajaran. Penyesuaian diri terhadap mata pelajaran ini banyak tergantung kepada kurikulum sekolah, dan metode pengajaran yang diberikan oleh guru. Selain penyesuaian terhadap guru dan mata pelajaran, remaja sebagai seorang siswa juga harus menyesuaikan diri terhadap teman sebaya dan lingkungan sekolah. Penyesuaian-penyesuaian tersebut sangat penting bagi perkembangan remaja sebagai seorang siswa, terutama bagi perkembangan sosialnya.

  Siswa kelas X yang termasuk dalam kategori remaja, mengalami perpindahan lingkungan pendidikan dari SLTP ke SMU. Selain mengalami

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sekolah baru. Perubahan-perubahan atau hal-hal baru yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut yang menuntut siswa kelas X melakukan penyesuaian diri terhadap perubahan lingkungan baru ini. Tuntutan untuk menyesuaikan diri di lingkungan yang baru dapat menimbulkan masalah bagi siswa kelas X. Masalah-masalah yang dialami oleh siswa kelas X antara lain tidak mampu beradaptasi terhadap situasi atau keadaan sekolah yang baru, menarik diri dari pergaulan dengan teman, minder, tidak tahu cara menjalin relasi dengan teman sebaya, sering membolos sekolah, acuh terhadap guru, berkelahi atau tawuran. Ketidakmampuan siswa kelas X dalam mengatasi masalah-masalahnya disebabkan karena siswa tidak mampu untuk menyesuaikan diri di sekolah (Willis, 1981).

  Siswa yang cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan dapat dengan mudah beraktivitas berlajar dengan baik, hal ini dikarenakan siswa merasa betah dan nyaman tinggal di lingkungan sekolah (Willis 1981). Selain itu, siswa yang lambat melakukan penyesuaian diri akan mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas belajar di sekolah.

  Salah satu unsur dalam kepribadian yang ada kaitannya dengan penyesuaian diri adalah konsep diri (Partosuwido, 1993). Konsep diri merupakan gambaran tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman- pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan (Agustiani, 2006). Gambaran tentang diri terkait dengan dimensi fisik, karakteristik

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  diri adalah inti kepribadian individual (Wanei, 2006).

  Erikson menyebut tahap pembentukan konsep diri pada remaja adalah

  

sense of identity (Wanei, 2006). Pada tahapan ini siswa kelas X yang termasuk

  dalam kategori remaja menghadapi tugas utama mencari dan menegaskan eksistensi dan jati dirinya, mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, mencari arah dan tujuan, menjalin hubungan dengan orang yang dianggap penting. Dengan meyakinkan diri sendiri dan orang lain, bahwa dirinya telah mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangan secara efektif, maka ia dapat mempersiapkan diri menjelang masa dewasanya.

  Berzonsky (1981) menyatakan bahwa untuk mengerti konsep diri seseorang dapat dilihat melalui penilaian seseorang terhadap dirinya. Penilaian tersebut terdapat dalam beberapa aspek berikut, yaitu: aspek fisik, aspek psikis, aspek sosial, dan aspek moral. Remaja yang memiliki konsep diri positif akan mampu menyelaraskan diri dengan lingkungannya, sehingga ia dapat mengambil manfaat dari lingkungannya yang pada gilirannya menjadi pendorong pencapaian penyesuaian diri yang tinggi (Pudjianto, 2000).

  Penyesuaian diri di sekolah pada siswa kelas X penting untuk diteliti karena sekolah merupakan lingkungan pendidikan sekunder setelah keluarga (Sarwono, 1989). Siswa menghabiskan hampir sepertiga dari waktunya setiap hari di sekolah, sehingga tidak mengherankan pengaruh sekolah sebagai lembaga pendidikan cukup besar terhadap perkembangan jiwa siswa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  membutuhkan penyesuaian diri baik terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan sosialnya, selain itu siswa kelas X mengalami perpindahan lingkungan pendidikan dari Sekolah Menengah Pertama ke Sekolah Menengah Umum dan keadaan ini menuntut siswa melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah yang baru, yang menyangkut sekolah, guru, mata pelajaran dan pergaulan dengan teman sebaya dan guru.

  SMU 2 Bantul merupakan salah satu bangunan sekolah yang rusak akibat bencana gempa bumi yang terjadi akhir Mei lalu di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Banyak peralatan dan fasilitas sekolah yang rusak akibat gempa yang menyebabkan proses belajar-mengajar di sekolah menjadi terganggu. Willis (1981) menyatakan bahwa jika sekolah kurang fasilitas atau alat-alat yang membantu kelancaran pendidikan, maka siswa akan mengalami kesulitan dalam belajar. Keadaan sekolah yang cukup memprihatinkan ini merupakan tantangan bagi para siswa untuk dapat lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah serta bersama-sama terlibat dan berpartisipasi secara aktif mengikuti kegiatan yang dilakukan di lingkungan sekolah dalam rangka pemulihan keadaan akibat gempa.

  Dari berbagai fakta yang telah disebutkan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian diri di sekolah pada siswa kelas X SMU 2 Bantul. Karena kondisi pasca gempa, SMU 2 Bantul sedang mengalami kondisi yang tidak normal akibat gempa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan permasalah pokok dalam penelitian ini adalah: Apakah ada hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian diri pada siswa kelas X SMU 2 Bantul Yogyakarta?

  C. Tujuan Penelitian

  Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian diri pada siswa kelas X SMU 2 Bantul Yogyakarta.

  D. Manfaat Penelitian

  Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

  1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan ilmu di bidang Psikologi Perkembangan, terutama Psikologi Perkembangan Remaja tentang konsep diri dan penyesuaian diri pada siswa kelas X.

  2. Manfaat Praktis

  a. Bagi Sekolah Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memperhatikan pentingnya konsep diri yang positif untuk mencapai penyesuaian diri di sekolah yg optimal pada

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan refleksi siswa kelas X dalam rangka memahami pentingnya pengembangan konsep diri dalam pencapaian kemampuan penyesuaian diri di sekolah.

   Bagi Peneliti Selanjutnya Hasil dari penelitian ini dapat memberikan informasi dan berfungsi sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian baru yang lebih relevan dalam bidang Psikologi Perkembangan, terutama Psikologi Perkembangan Remaja.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

A. Konsep Diri

1. Pengertian Konsep Diri

  Berzonsky (1981) mendefinisikan konsep diri sebagai konsep yang diketahui atau dipahami mengenai diri, konsepsi yang dipegang seseorang menyangkut dirinya sendiri. Agustiani (2006) menyatakan bahwa konsep diri merupakan gambaran tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan

  Cawagas (dalam Pudjijogyanti, 1985) menjelaskan bahwa konsep diri berarti seluruh pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kepandaiannya, kegagalannya, dan lain sebagainya. Konsep diri juga diartikan oleh Sinurat (1991) sebagai pandangan seseorang tentang gambaran dan penilaian tentang diri sendiri yang meliputi seluruh keyakinan, perasaan, dan kecenderungan seseorang dalam bersikap dan berperilaku serta mengingat segala hal yang telah diperoleh dari pengalaman membangun relasi dengan orang lain.

  Brooks (dalam Rakhmat, 1999) memberikan pengertian mengenai konsep diri yaitu sebagai keseluruhan pandangan individu terhadap keadaan fisik, sosial, dan psikologis yang diperoleh dari pengalamannya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  individu terhadap dirinya sendiri.

  Grinder (1978) mengatakan bahwa konsep diri merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri. Persepsi tersebut dibentuk melalui penarikan kesimpulan dari pengalamannya dan secara khusus dipengaruhi oleh hadiah dan hukuman yang berarti dalam kehidupan orang yang bersangkutan. Persepsi yang dilakukan oleh seseorang dalam memandang dirinya meliputi fisik, jenis kelamin, kognisi sosial, pekerjaan, motivasi, tujuan ataupun emosi. Konsep diri yang dimiliki seseorang digunakan untuk mengevaluasi persepsinya terhadap dirinya sendiri (Furhman, 1990).

  Meskipun banyak terhadap pengertian mengenai konsep diri, namun berdasarkan pengertian-pengertian tersebut maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya konsep diri diartikan sebagai pandangan individu terhadap keadaan fisik, psikologis, jenis kelamin, kognisi sosial, pekerjaan, motivasi, tujuan ataupun emosi yang merupakan hasil penilaian terhadap dirinya dan pengalamannya berinteraksi dengan orang lain yang mempunyai arti penting dalam kehidupan orang yang bersangkutan.

2. Ciri-ciri orang yang Memiliki Konsep Diri Positif dan Negatif

  Pada umumnya konsep diri diklasifikasikan menjadi dua, yaitu konsep diri positif dan negatif, tetapi ada juga yang menyebutkan konsep

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Emmert (dalam Rakhmat, 1999) memberikan tanda-tanda orang yang mempunyai konsep diri positif dan negatif. Orang yang mempunyai konsep diri positif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: a. Yakin akan kemampuannya mengatasi masalah.

  b. Merasa setara dengan orang lain.

  c. Menerima pujian tanpa rasa malu.

  d. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat sekitar.

  e. Mampu memperbaiki dirinya.

  Orang yang mempunyai konsep diri negatif mempunyai ciri-ciri antara lain: a. Peka terhadap kritik.

  b. Responsif sekali terhadap pujian.

  c. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain dan bersikap pesimis terhadap kompetisi, yang terungkap dalam keenggangannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi.

  Adler dan kawan-kawan (1985) menyebutkan beberapa ciri konsep diri yang positif sebagai berikut:

  2. Rasa aman, yaitu bentuk kepercayaan yang kuat akan suatu kebenaran perbuatan dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  terhadap penilaian orang lain.

  3. Penerimaan diri, seseorang yang dapat menerima segala sesuatu yang ada pada dirinya, pada umumnya dapat merubah pandangan mereka menjadi lebih mudah menerima pendapat dan perasaan orang lain dan lebih terbuka.

  4. Harga diri tinggi, orang yang harga dirinya tinggi biasanya mempunyai popularitas, tidak gugup, tidak merasa rendah dan mempunyai rasa percaya diri yang kuat.

  Selanjutnya Adler dan kawan-kawan (1985) juga menyebutkan beberapa ciri konsep diri yang negatif, yang pada dasarnya merupakan kebalikan dari ciri konsep diri yang positif, yaitu:

  a. Adanya perasaan tidak aman karena tidak adanya rasa percaya diri, sehingga seluruh mengkhawatirkan penilaian orang lain terhadap dirinya.

  b. Kurangnya penerimaan diri, seseorang yang tidak dapat menerima segala sesuatu yang ada pada dirinya, pada umumnya bersikap kaku dan tertutup.

  c. Rendahnya harga diri, orang yang harga dirinya rendah biasanya tidak popular, gugup, merasa lebih rendah dan tidak percaya diri.

  Dari beberapa deskripsi tentang konsep diri di atas, dapat disimpulkan bahwa sifat khas atau ciri khas yang dimiliki seseorang yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sebaliknya ciri khas yang dimiliki seseorang yang konsep dirinya positif adalah: percaya diri, penerimaan diri baik, optimis, harga dirinya tinggi, dan mempunyai perasaan aman.

3. Aspek-aspek Konsep Diri

  Berzonsky (1981) menyatakan bahwa untuk mengerti konsep diri seseorang dapat dilihat melalui penilaian seseorang terhadap dirinya.

  Penilaian tersebut terdapat dalam beberapa aspek berikut yaitu:

  a. Aspek fisik, di dalamnya meliputi penilaian individu terhadap segala sesuatu yang dimilikinya seperti tubuh, pakaian, benda miliknya.

  b. Aspek psikis, di dalamnya terdapat pikiran, perasaan, dan sikap yang dimiliki oleh individu terhadap dirinya sendiri. Misalnya, individu yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

  c. Aspek sosial, meliputi bagaimana peranan sosial yang dimainkan individu dan penilaian individu terhadap peranan tersebut. Misalnya, individu sebagai siswa memiliki peranan wajib belajar.

  d. Aspek moral, di dalamnya meliputi nilai dan prinsip yang memberi arti serta arah bagi kehidupan seseorang. Misalnya, menegakkan kebenaran dan keadilan adalah kewajiban setiap manusia.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pasao (1973) mengemukakan ada 10 faktor yang mempengaruhi konsep diri, yaitu: a. Faktor saya-bukan saya

  Faktor bukan saya dapat diartikan pengenalan diri yang mengandung pemahaman akan perbedaan antara dirinya yang ingin dimiliki (ideal-

  self) dengan diri yang sebenarnya (real-self).

  b. Faktor emosi Faktor emosi yaitu kemampuan seseorang untuk mengarahkan energi emosinya dalam kehidupan sehari-hari ke saluran ekspresi yang bermanfaat dan dapat diterima secara sosial.

  c. Faktor pengarahan tujuan Faktor pengarahan tujuan yaitu kemampuan seseorang untuk berupaya mencapai tujuan dalam hidupnya atau cita-cita yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu.

  d. Faktor penerimaan sikap Faktor penerimaan sikap yaitu kemampuan remaja dalam menerima reaksi atau tindakan dari orang lain mengenai dirinya.

  e. Faktor hubungan keluarga Faktor hubungan keluarga yaitu interaksi atau relasi antara anggota keluarga. Hubungan keluarga maksudnya adalah kualitas hubungan antara orang tua dengan anak. Coopersmith (dalam Pudjijogyanti,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menyebabkan remaja memiliki konsep diri yang rendah.

  f. Faktor hubungan dengan teman Faktor hubungan dengan teman berperan dalam perkembangan konsep diri. Hubungan dengan teman dapat menimbulkan rasa cinta yang terwujud dalam bentuk penerimaan terhadap diri sendiri ataupun penerimaan terhadap teman.

  g. Faktor identitas Faktor identitas yaitu kemampuan seseorang untuk belajar memiliki dan membentuk gambaran mengenai dirinya sendiri.

  h. Faktor perasaan diri Faktor perasaan diri artinya perasaan terhadap dirinya sendiri.

  Pengembangan perasaan diri pada usia remaja bersifat aktif serta partisipatif dengan menggunakan segala sarana yang ada di lingkungan sekitarnya. i. Faktor harga diri

  Faktor harga diri adalah penghargaan yang diberikan oleh remaja terhadap dirinya sendiri. Harga diri merupakan hasil evaluasi yang berdasarkan interaksi remaja dengan lingkungan, atau hasil penerimaan, penghargaan dan perlakuan orang lain terhadap remaja (Elkins, 1979).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Faktor kepercayaan diri adalah kemampuan remaja untuk mengembangkan rasa percaya diri. Kepercayaan diri ini bertujuan untuk meningkatkan citra diri remaja melalui tingkah laku yang didasarkan pada minat, gaya hidup dan nilai-nilai kehidupan.

  Pudjijogyanti (1985) mengungkapkan 4 hal yang dapat mempengaruhi konsep diri seseorang, yaitu:  Citra diri

  Terbentuk melalui refleksi dan tanggapan individu mengenai keadaan fisiknya. Citra fisik mencakup keadaan fisik secara keseluruhan, misalnya rambut lurus, kulit halus, tubuh gemuk, dan sebagainya. Burns (dalam Pudjijogyanti, 1985) menyatakan bahwa bentuk tubuh mempunyai peranan dalam pembentukan kepribadian. Penilaian yang positif terhadap keadaan fisik baik berasal dari diri sendiri maupun orang lain sangat membantu perkembangan konsep diri ke arah positif.

  Hal ini disebabkan penilaian positif terhadap diri sendiri.  Jenis kelamin

  Penetapan apakah individu digolongkan sebagai laki-laki atau perempuan dilakukan melalui penentuan jenis kelamin berdasarkan fakta-fakta biologisnya. Perbedaan peran kedua jenis kelamin tersebut, menimbulkan adanya perbedaan dalam memberi perlakuan. Budiman (dalam Pudjijogyanti, 1985) mengemukakan bahwa perbedaan peran

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menunjukkan kemampuannya. Penelitian Douvan & Adelson (dalam Pudjijogyanti, 1985) menyatakan bahwa konsep diri laki-laki dipengaruhi prestasinya sedangkan konsep diri perempuan dipengaruhi oleh daya tarik dan popularitasnya.  Perilaku orang tua

  Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam membentuk konsep diri anak karena lingkungan keluarga pertama kali menanggapi perilaku individu. Pengalaman anak dalam berinteraksi dengan seluruh anggota keluarga akan mempengaruhi interaksinya dengan orang lain.

  Studi yang dilakukan oleh Coopersmith (Burns dalam Pudjijogyanti, 1985) menyatakan bahwa kondisi keluarga yang buruk dapat menyebabkan konsep diri anak menjadi rendah. Mead (dalam Rakhmat, 1999) menyatakan bahwa konsep diri seseorang dipengaruhi oleh kehadiran orang-orang dekatnya seperti orang tua dan saudara- saudaranya.  Faktor sosial

  Konsep diri dapat dipengaruhi oleh adanya interaksi individu dengan orang lain di sekitarnya. Konsep diri yang dipengaruhi oleh persepsi orang lain terhadap individu maka dapat dikatakan bahwa individu yang berstatus sosial tinggi akan memiliki konsep diri lebih positif dibandingkan individu yang berstatus sosial rendah. Rais (dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pujian-pujian atas segala prestasi yang dibuat ataupun segala hukuman atas kesalahan-kesalahannya akan membentuk suatu konsep tentang dirinya sendiri.

  Berdasarkan beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya konsep diri maka disimpulkan bahwa perkembangan konsep diri dipengaruhi oleh citra diri mencakup keadaan fisik secara keseluruhan, jenis kelamin, perilaku orang tua, faktor sosial yang mencakup interaksi individu dengan orang lain di sekitarnya.

B. Penyesuaian Diri Di Sekolah

1. Pengertian Penyesuaian Diri di Sekolah

  Schneiders (1964) mengartikan penyesuaian sebagai suatu cara khas dari individu dalam mengadakan reaksi terhadap situasi dari dalam diri maupun dari luar dirinya. Situasi dari dalam diri individu adalah seperti adanya usaha untuk mengatasi ketegangan, kebutuhan maupun konflik yang ada dengan baik sehingga ada keselarasan antara kebutuhan dari dalam dengan tuntutan dari lingkungan.

  Penyesuaian diri di lingkungan sekolah berarti kemampuan siswa untuk hidup dan bergaul secara wajar dengan lingkungan sekolahnya, sehingga siswa dapat mengenal seluk beluk gedung sekolah, menggunakan fasilitas sekolah untuk mendukung semua kegiatan belajar siswa serta

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sehingga siswa dapat belajar dengan baik (Agustiani, 2006).

  Selain itu, Schneiders (1964) juga mendefinisikan penyesuaian diri di sekolah sebagai kemampuan siswa untuk berinteraksi seefektif mungkin dalam usaha mencapai keseimbangan diri dengan kenyataan dan situasi sekolah. Kemampuan yang dimaksud adalah untuk melakukan suatu perbuatan sehingga kebutuhan dapat terpenuhi melalui sikap penerimaan dan kepuasan diri.

  Penyesuaian diri di sekolah merupakan kemampuan siswa beradaptasi terhadap lingkungan sekolah, pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah dan relasi terhadap teman-teman sebaya (Sarwono, 1989). Sarwono menjelaskan bahwa penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah dapat diartikan bahwa siswa dapat mengenal lebih baik tentang keadaan dan kondisi di sekolah dan menggunakan fasilitas yang tersedia di sekolah untuk mendukung semua kegiatan belajar siswa dan merawat fasilitas tersebut serta memelihara keindahan, keamanan dan ketenangan lingkungan sekolah. Penyesuaian diri siswa terhadap pelaksanaan kegiatan pendidikan sekolah yaitu siswa mengikuti kegiatan pendidikan di sekolah, baik itu kegiatan kurikiler maupun ekstrakurikuler. Kegiatan kurikuler mencakup penguasaan mata pelajaran yang menuntut pemahaman siswa. Kegiatan ekstrakurikuler mencakup keterampilan-keterampilan dan pelatihan di luar jam belajar formal seperti olah raga, pramuka dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  lingkungan sekolah tersebut, apabila siswa dapat menjalin relasi yang baik dengan teman-temannya maka ia akan merasa betah dan nyaman berada di lingkungan sekolah tersebut. Apabila siswa menjalin relasi yang baik dengan teman sebaya akan menimbulkan tumbuhnya sikap tenggang rasa, setia kawan, saling membantu, bertanggung jawab, jujur, dan dapat bekerja sama dengan orang lain.

  Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri di sekolah berarti kemampuan siswa untuk hidup dan berinteraksi seefektif mungkin di lingkungan sekolah sehingga siswa dapat mengenal keadaan dan kondisi sekolah dengan baik, menggunakan fasilitas sekolah serta memelihara keindahan, keamanan, dan ketenangan lingkungan sekolah.

2. Aspek-aspek Penyesuaian Diri di Sekolah

  Penyesuaian diri di sekolah terdiri dari empat aspek, yaitu: (Schneiders, 1964)

  C. Kepatuhan siswa terhadap peraturan sekolah, yaitu: ketaatan siswa terhadap aturan-aturan yang ditetapkan dan berlaku di sekolah.

  D. Partisipasi dalam kegiatan sekolah, yaitu: perhatian dan keikutsertaan siswa dalam kegiatan yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  keikutsertaan dan kerjasama siswa dalam kegiatan yang diselenggarakan secara kelompok.

  F. Hubungan yang sehat dan akrab dengan siswa lain dan guru, yaitu: kemampuan untuk menjalin hubungan yang akrab dan tidak menimbulkan konflik dengan teman dan guru.

3. Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri di Sekolah

  Penyesuaian diri di sekolah dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain:

  5. Faktor internal Kondisi internal individu merupakan faktor yang berperan dalam penyesuaian diri di sekolah. Schneiders (1964) menyebutkan faktor tersebut antara lain:

  f. Kondisi fisik dan penentuan-penentuannya, yaitu keturunan, konstitusi fisik dan kesehatan.

  g. Perkembangan kemasakan, terutama kematangan intelektual, sosial, moral dan emosi.

  h. Faktor-faktor psikologis yang meliputi konsep diri, pengalaman belajar, frustasi dan konflik.

  Adiyanti (2006) mengungkapkan bahwa seorang remaja yang mengetahui gambaran tentang siapa dan bagaimana dirinya akan mampu berinteraksi dan menimbang apa yang akan dan tidak akan dia lakukan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menyelaraskan diri dengan lingkungannya, sehingga ia dapat mengambil manfaat dari lingkungannya yang pada gilirannya menjadi pendorong dalam hal pencapaian penyesuaian diri yang positif atau tinggi pula.

  Selanjutnya, Hurlock (1991) juga menjelaskan bahwa emosi juga mempunyai keterkaitan dengan penyesuaian, baik emosi yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Emosi ini mempengaruhi setiap tindakan remaja dalam melakukan penyesuaian diri di lingkungannya.

  Intelegensi mempunyai cukup peranan dalam penyesuaian diri di sekolah. Intelegensi yang digunakan dengan baik dapat menjadikan hidup lebih efektif. Siswa yang mempunyai intelegensi yang cukup dapat menghadapi masalah yang ada di sekolah, baik yang berkaitan dengan hubungan sosial, pelajaran, aktivitas sekolah serta peraturan yang ada.

  Perbedaan jenis kelamin menimbulkan perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki cenderung lebih bebas, lebih berkuasa, lebih berani menentang segala peraturan yang telah diberikan keluarga maupun lingkungannya, sebaliknya perempuan mempunyai sifat cenderung patuh dan menerima aturan-aturan yang berlaku dalam keluarga maupun masyarakat, lebih mudah menghayati perasaan orang lain dan lebih senang menciptakan hubungan yang erat dengan teman-temannya. Hal ini menunjukkan bahwa wanita cenderung lebih mudah melakukan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Faktor eksternal yang mempunyai pengaruh terhadap penyesuaian diri di sekolah adalah: j. Kondisi keluarga

  Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak. Melalui keluarga anak belajar memahami dunia dan dasar-dasar pada pergaulan hidup yang baik dan benar. Simanjuntak dan Pasaribu (1980) mengatakan bahwa keluarga memberikan stimulasi awal pada anak, membentuk dan menempa anak untuk menghadapi lingkungan yang lebih kompleks sehingga anak tidak jatuh ke dalam pengaruh buruk, namun tidak semua keluarga dapat menciptakan kondisi yang seperti itu. Beberapa kondisi keluarga yang kurang mendukung bagi perkembangan anak, seperti yang diungkapkan oleh Hurlock (1991) antara lain:tidak ada bimbingan dari orang tua, tidak ada model untuk dicontoh dan pola perilaku yang dikembangkan di rumah. Kondisi seperti ini membuat anak tidak dapat melakukan penyesuaian dengan baik ketika berada di luar rumah seperti di sekolah dan masyarakat. k. Lingkungan sekolah

  Ketika anak masuk sekolah, maka sebagian besar waktunya dihabiskan untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan sekolah. Melalui sekolah, setiap siswa belajar memahami perilaku

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dijadikan bekal bagi dirinya untuk mengembangkan perilaku yang tepat, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

  Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri di sekolah, yaitu: faktor internal yang meliputi kondisi fisik, perkembangan kemasakan, faktor-faktor psikologis serta faktor eksternal yang meliputi kondisi keluarga dan lingkungan sekolah.

4. Konteks Penyesuaian Diri di Sekolah

  Willis (1981) menyatakan bahwa penyesuaian diri siswa selama di sekolah meliputi beberapa konteks yaitu: penyesuaian diri dengan guru, mata pelajaran, teman sebaya dan lingkungan sekolah.

  Pertama, penyesuaian diri terhadap guru banyak tergantung kepada

  sikap guru dalam menghadapi siswa-siswanya. Guru yang banyak memahami tentang perbedaan individual siswa akan lebih mudah mengadakan pendekatan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh siswanya. Seorang guru yang datang ke sekolah hanya karena didorong oleh tarikan materi (gaji) tanpa rasa tanggung jawab, biasanya bersikap tidak mau tahu dengan masalah individual siswanya, namun ada pula guru yang terlalu keras kepada siswa-siwanya, sehingga siswa takut kepadanya. Hal-hal seperti ini tidak akan membantu perkembangan siswa, sebaliknya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kesulitan yang mereka hadapi.

  Kedua, penyesuaian diri terhadap mata pelajaran. Dalam hal ini

  kurikulum hendaknya disesuaikan dengan umur, tingkat kecerdasan, kebutuhan. Dengan jalan demikian anak dengan mudah akan dapat menyesuaikan dirinya terhadap mata pelajaran yang diberikan kepadanya. Tetapi hal ini juga banyak tergantung kepada gurunya, yaitu kemampuan menggunakan metode mengajar yang tepat, pemahaman psikologi anak, sikap loyal terhadap pendidikan, berwibawa dan lain-lain. Guru yang sudah menguasai ilmu yang akan diajarkan, belum menjamin bahwa siswa akan segera memahami apa yang diajarkan guru itu, karena jika ia misalnya bersikap keras, suka marah dan lain-lain, tentu siswa akan membencinya dan pada gilirannya akan membenci juga ilmu yang diajarkan guru tersebut. Guru yang memberikan pelajaran secara humor dan bersahabat dengan siswa, pelajarannya akan mudah dipahami siswa, karena adanya suasana bebas berfikir dan gembira serta menarik minat.

  Ketiga, penyesuaian diri terhadap teman sebaya. Hal ini amat

  penting bagi perkembangan siswa, terutama perkembangan sosial. Teman sebaya ialah kelompok anak-anak yang hampir sama umur, kelas dan motivasi bergaulnya. Kelompok ini dinamakan peer-group. Peer-group atau kelompok teman sebaya dapat membantu penyesuaian diri yang baik bagi anak, terutama anak yang manja, egois dan sombong. Apabila

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pergaulan dengan teman sebaya ia akan dikritik jika mempunyai sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai atau norma-norma kelompok, namun jika sikap-sikapnya belum berubah kemungkinan akan dimusuhi oleh kelompok teman sebaya itu atau dikucilkan.

  Keempat, penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah. Dalam hal

  ini ialah: gedung, alat-alat sekolah, fasilitas belajar dan lingkungan sosial lainnya. Sekolah yang kurang memiliki fasilitas belajar atau alat-alat yang membantu kelancaran pendidikan, akan mengalami kesulitan dalam belajar, misalnya alat peraga. Hal ini penting untuk menanamkan berfikir objektif pada anak, karena dengan meragakan hal-hal yang diterangkan gutu, siswa betul-betul memahami realitas dari objek yang diterangkan.

  Kekurangan gedung sekolah menyebabkan siswa sekolah sore. Hal ini seolah-olah memaksa siswa untuk belajar, karena belajar siang maupun sore hari menyebabkan siswa mengantuk, bosan, letih dan sebagainya. Hal ini merupakan masalah belajar yang berhubungan dengan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah yang tidak teratur, kotor, tidak ada tanam-tanaman akan menimbulkan kebosanan, selain itu banyak suara-suara di sekitar sekolah karena banyak masyarakat sekitar sekolah juga menimbulkan gangguan dan menimbulkan kesulitan belajar bagi siswa, karena itu idealnya adalah sekolah haruslah teratur, besih, banyak tanaman dan tenang.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

1. Pengertian Remaja

  Erikson menyatakan bahwa remaja merupakan seseorang pada masa di mana terbentuk suatu perasaan baru mengenai identitas yang mencakup cara hidup pribadi yang dialami sendiri dan sulit dikenal oleh orang lain. (Gunarsa, 1986). Neidhart menyatakan bahwa remaja merupakan seseorang yang berada pada masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa di mana individu sudah harus dapat untuk berdiri sendiri (Gunarsa, 1986).

  Remaja merupakan individu yang berada pada masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, namun belum mampu memegang tanggung jawab seperti orang dewasa. Hal ini disebabkan karena pada masa ini remaja mengalami kegoncangan di dalam melepas nilai-nilai yang lama dan memperoleh nilai-nilai yang baru untuk mencapai kedewasaan (Willis, 1981).

  WHO mendefinisikan remaja dalam 3 kriteria (Sarwono, 1988):

  a. Remaja adalah suatu masa dimana individu berkembang dan saat pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai pada saat ia mencapai kematangan seksual (biologis).

  b. Remaja adalah suatu masa dimana individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa (psikologis).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  pemilihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh keadaan yang relatif mandiri (sosial ekonomi).

  Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa remaja adalah seseorang yang berada pada masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, yang mengalami perubahan fisik maupun psikis dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi masa dewasa dalam mencapai kemampuan menemukan identitas diri.

2. Ciri-ciri Remaja

  Masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan denga periode sebelumnya (Hurlock, 1991). Ciri-ciri tersebut adalah: a. Masa remaja sebagai periode yang penting

  Masa remaja dianggap periode yang penting karena akibatnya langsung terhadap sikap dan perilaku, juga karena akibat jangka panjang.

  b. Masa remaja sebagai periode peralihan.

  Dalam periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa.

  c. Masa remaja sebagai periode perubahan.

  Perubahan-perubahan yang terjadi selama masa remaja adalah:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kelompok sosialnya. 3) Dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah.

  4) Bersikap ambivalen. Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan tetapi sering takut bertanggung jawab akan akibatnya.

  d. Masa remaja sebagai usia bermasalah.

  Ada dua alasan remaja sulit mengatasi masalah: 1) Masalah yang dialami sepanjang masa kanak-kanak, diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga sebagian besar tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah yang terjadi.

  2) Remaja yang merasa mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru.

  e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas Pada tahun-tahun awal remaja, penyesuaian diri terhadap kelompok masih tetap penting bagi remaja, namun lambat laun mereka mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman dalam segala hal seperti sebelumnya.

  f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan.

  Anggapan stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengawasi kehidupan remaja yang takut bertanggung jawab.

  g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realitik.

  Remaja cenderung melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita.

  h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.

  Remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat perbuatan seks.

D. Siswa Kelas X

1. Pengertian Siswa Kelas X

  Menurut sistem pendidikan di Indonesia, siswa kelas X merupakan peserta didik di sekolah formal yang sedang menjalani tingkatan X dan sudah melampaui tingkatan wajib belajar 9 tahun.

  Siswa kelas X termasuk dalam kategori masa remaja awal dan pertengahan karena pada umumnya mereka berusia 14-16 tahun. Hal ini diteliti oleh Monks, dkk. (1998) yang dengan cermat menganalisis mengenai semua aspek perkembangan pada masa remaja, dan melakukan pembagian usia pada masa remaja. Salah satu pembagian usia yang dilakukannya adalah umur 12-15 tahun merupakan masa remaja awal dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Secara psikologis siswa kelas X mulai mencari jati diri yang termanifestasi dalam bentuk keinginan untuk berada dalam kelompoknya, mencari tokoh-tokoh ideal, yang biasanya meniru atau diarahkan pada kehidupan orang dewasa (Agustiani, 2006).

  Willis (1981) menyatakan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa kelas X sering memberikan dampak yang besar terhadap konsep dirinya. Keadaan ini terjadi karena siswa kelas X sendirilah yang merupakan penilai yang penting terhadap tubuhnya. Bila siswa kelas X mengerti bahwa keadaan fisiknya memenuhi syarat yang ditentukan maka akan memberikan keuntungan positif bagi dirinya, sebaliknya apabila terjadi ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan maka dapat memberikan dampak yang negatif berupa ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri.

  Jersild (1965) menyatakan bahwa siswa kelas X yang mengalami penolakan diri biasanya dikatakan memiliki konsep diri yang rendah atau negatif dan siswa tersebut sulit untuk menerima dirinya sendiri seperti apa adanya, selanjutnya siswa itu akan menyangka orang lain tidak menyukai dirinya, dan tidak yakin terhadap dirinya sendiri.

  Berbagai kelemahan yang dimiliki siswa dengan konsep diri rendah atau negatif, menghambat lancarnya hubungan sosial yang dilakukan dengan orang lain. Anggapan bahwa orang lain tidak menyukai

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sekitarnya. Hal inilah yang seringkali menjadikan siswa kelas X mengalami kesulitan dalam bergaul dan akhirnya menghambatnya ketika harus menyampaikan ide, pendapat atau gagasannya kepada orang lain.

  Penilaian-penilaian yang dapat diterima oleh siswa kelas X, tidak akan menimbulkan masalah, sebaliknya penilaian orang lain yang tidak dapat diterima oleh siswa kelas X, akan menimbulkan permasalahan tersendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Helmi dan Ramdhani (1992) mendapatkan hasil bahwa siswa dengan konsep diri yang tinggi ternyata juga mempunyai kemampuan bergaul dengan orang lain, sebaliknya siswa yang mempunyai konsep diri yang rendah ternyata mengalami kesulitan bergaul dengan orang lain.

  Konsep diri merupakan hal yang penting pada siswa kelas X yang berada pada masa-masa remaja. Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Secara fisik siswa kelas X dapat dikatakan telah dewasa tetapi secara psikis masih sangat labil emosinya.

  Perkembangan psikis yang terpenting pada masa ini adalah usaha siswa kelas X mencari jati dirinya (Wanei, 2006).

  Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya siswa kelas X masih mencari-cari konsep diri yang akan dibentuk. Hal ini disebabkan karena siswa kelas X mengalami perubahan- perubahan yang bersifat fisik maupun psikis. Selain itu, adanya pandangan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  membuat konsep diri siswa menjadi tidak konsisten.

  

E. Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Penyesuaian Diri Di Sekolah Pada

Siswa Kelas X SMU

  Siswa kelas X yang termasuk dalam kategori remaja memiliki ciri perkembangan yakni perkembangan fisik, emosi, sosial, intelektual, psiko- seksual, dan pemahaman diri. Hal tersebut menyebabkan siswa kelas X harus mampu melakukan penyesuaian diri terhadap perubahan-perubahan perkembangan yang dialaminya. Proses penyesuaian ini tidak terjadi dengan sendirinya, siswa kelas X harus belajar agar dapat berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, dan ini memerlukan waktu, kemasakan dan kemampuan individu untuk merespon tuntutan-tuntutan yang timbul baik berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

  Respon terhadap segala tuntutan ini, senantiasa diatur siswa kelas X sedemikian rupa dan disesuaikan dengan potensi dan keterbatasan- keterbatasan pada dirinya sehingga tidak merugikan diri maupun lingkungannya. Keberhasilan siswa kelas X untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul selama masa remaja akan memberikan kepuasan dan rasa bahagia, sebaliknya apabila siswa kelas X gagal mengatasi masalah-masalah yang dialaminya, maka akan timbul kekecewaan dan perkembangannya dapat terhambat.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  termasuk dalam kategori remaja juga diharuskan melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosialnya. Salah satu penyesuaian diri siswa terhadap lingkungan sosialnya adalah penyesuaian diri siswa di sekolah. Penyesuaian diri di sekolah meliputi penyesuaian diri terhadap guru, mata pelajaran, teman sebaya dan lingkungan sekolah.

  Unsur kepribadian yang berkaitan dengan penyesuaian diri pada siswa kelas X adalah konsep diri. Konsep diri merupakan pandangan seseorang terhadap dirinya yang merupakan hasil pengalamannya berinteraksi dengan orang lain yang mempunyai arti penting dalam kehidupan orang yang bersangkutan. Partosuwido (1992) mengatakan bahwa keberhasilan ataupun kegagalan seseorang dalam menyesuaikan dirinya banyak ditentukan oleh konsep dirinya.

  Berzonsky (1981) mengungkapkan bahwa untuk mengerti konsep diri seseorang dapat dilihat melalui penilaian seseorang terhadap dirinya. Penilaian seseorang terhadap dirinya meliputi penilaian terhadap segala sesuatu yang dimilikinya; penilaian terhadap pikiran, perasaan dan sikap yang dimiliki oleh individu; penilaian individu terhadap peran sosial yang dimainkannya serta; penilaian terhadap prinsip yang memberi arti serta arah bagi kehidupan seseorang. Proses pembentukan konsep diri dimulai dari pengalaman- pengalaman yang dimiliki oleh siswa sejak siswa tersebut kecil. Konsep diri ini akan terus berkembang dan dapat berubah baik secara disadari maupun

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  melalui sikap orang tua, lingkungan maupun pengalaman.

  Pembentukan konsep diri ini dapat mengarah pada konsep diri yang positif dan konsep diri yang negatif. Siswa kelas X yang memiliki konsep diri positif merupakan siswa yang percaya diri, penerimaan terhadap dirinya baik, optimis, harga dirinya tinggi, dan mempunyai perasaan aman. Sebaliknya siswa kelas X yang memiliki konsep diri negatif merupakan siswa yang tidak percaya diri, kurang penerimaan diri, menarik diri dari pergaulan, pesimis, harga diri rendah, tidak aman dan sangat peka terhadap kritikan.

  Calhoun (1990) mengungkapkan bahwa seorang individu yang mengembangkan konsep diri negatif, akan segera tampak dalam perilaku- perilaku yang negatif, seperti menarik diri dari pergaulan, sedikit melibatkan diri dalam kegiatan-kgiatan kelompok, atau menjadi agresif dan bersikap bertahan. Sebaliknya individu yang mengembangkan konsep diri positif juga akan tampak pada perilaku-perilakunya yang positif sehingga dapat dengan mudah melakukan penyesuaian terhadap diri dan lingkungannya.

  Siswa kelas X yang memiliki konsep diri positif, walaupun dihadapkan pada suatu kondisi lingkungan sekolah terutama kondisi sekolah yang tidak kondusif, akan mampu melakukan penyesuaian diri di sekolah dengan baik. Hal ini tampak pada ketaatan siswa dalam mematuhi peraturan sekolah, aktif dalam mengikuti kegiatan sekolah maupun kegiatan kelompok,dan memiliki hubungan yang sehat dan akrab dengan siswa lain dan guru. Sebaliknya siswa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kondisi lingkungan sekolah terutama kondisi sekolah yang tidak kondusif, akan mengalami ketidakmampuan dalam melakukan penyesuaian diri di sekolah. Hal ini tampak pada ketidaktaatan siswa dalam mematuhi segala peraturan sekolah, kurang aktif dan kurang berpartisipasi dalam kegiatan sekolah dan kegiatan kelompok, serta kurang memiliki hubungan yang sehat dan akrab dengan siswa lain dan guru.

  Penelitian Partosuwido (1992) dan penelitian Pudjianto (2000) telah membuktikan bahwa terdapat korelasi yang meyakinkan antara konsep diri dengan penyesuaian diri di lingkungan sekolah, artinya bahwa siswa yang memiliki konsep diri positif maka penyesuaian diri di lingkungan sekolahnya baik. Siswa yang memiliki konsep diri positif akan mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan sekolahnya, sehingga ia dapat mengambil manfaat bagi lingkungannya yang pada gilirannya menjadi pendorong pencapaian penyesuaian diri yang tinggi (Pudjianto, 2000).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • - fisik - sosial

  • - psikis - moral

    Konsep Diri Positif - Penilaian positif terhadap segala sesuatu yang dimiliki.
  • Penilaian positif terhadap pikiran, perasaan dan sikap yang dimiliki.
  • Penilaian positif terhadap peran sosial yang dimainkannya.
  • Penilaian positif terhadap prinsip yang memberi arti bagi kehidupan seseorang.
  • Penilaian negatif terhadap segala sesuatu yang dimiliki.
  • Penilaian negatif terhadap pikiran, perasaan dan sikap yang dimiliki
  • Penilaian negatif terhadap peran sosial yang dimainkannya.
  • Penilaian negatif terhadap prinsip yang memberi arti bagi kehidupan seseorang .
  • Mempunyai rasa tanggung jawab terhadap aturan-aturan sekolah
  • Mampu berpatisipasi dalam kegiatan sekolah
  • Mampu berpartisipasi dan bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
  • Mampu menjalin hubungan yang sehat dengan siswa lain dan guru.
  • Kurang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap aturan sekolah
  • Kurang mampu berpatisipasi dalam kegiatan sekolah
  • Kurang mampu berpartisipasi dan bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
  • Kurang mampu menjalin hubungan yang sehat dengan

    Perilaku positif Perilaku negatif

  Gambar 1. Skema Hubungan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri di Sekolah pada Siswa Kelas X

Konsep Diri Siswa

Kelas X SMU:

  Konsep Diri Negatif

  Penyesuaian Diri di Sekolah Baik

  Penyesuaian Diri di Sekolah Buruk

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Berdasarkan asumsi teoritik yang telah dikemukakan tersebut di atas, maka dapat diambil dugaan sementara sebagai hipotesis penelitian yaitu ada hubungan positif antara konsep diri dengan penyesuaian diri di sekolah pada siswa kelas X SMU 2 Bantul Yogyakarta. Semakin positif konsep diri maka semakin baik penyesuaian diri di sekolah siswa kelas X, sebaliknya semakin negatif konsep diri maka semakin buruk penyesuaian dirinya di sekolah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  A. Jenis Penelitian

  Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional. Penelitian korelasional ini bertujuan untuk mendeteksi sejauhmana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain, berdasarkan pada koefisien korelasi (Suryabrata, 1979). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yaitu konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah.

  B. Variabel Penelitian

  Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: G. Variabel Tergantung : Penyesuaian diri di sekolah.

  H. Variabel Bebas : Konsep diri.

  C. Definisi Operasional

  Definisi operasional variabel adalah penegasan arti konstruk atau varibel yang dinyatakan dengan cara tertentu untuk mengukurnya. Definisi operasional ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman mengenai data yang dikumpulkan dan menghindari kesesatan dalam menentukan alat pengumpulan data. Adapun definisi operasional variabel penelitian yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Konsep diri merupakan pandangan individu terhadap keadaan fisik, psikologis, jenis kelamin, kognisi sosial, pekerjaan, motivasi, tujuan ataupun emosi yang merupakan hasil penilaian terhadap dirinya dan pengalamannya berinteraksi dengan orang lain yang mempunyai arti penting dalam kehidupan orang yang bersangkutan.

  Pengukuran konsep diri menggunakan skala konsep diri dengan berdasarkan pada teori Berzonsky (1981) yang mencakup aspek fisik, psikis, sosial dan moral. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin positif konsep dirinya, begitu juga sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh menunjukkan semakin negatif konsep dirinya.

  2. Penyesuaian diri diri di sekolah Penyesuaian diri di sekolah berarti kemampuan siswa untuk hidup dan berinteraksi seefektif mungkin di lingkungan sekolah sehingga siswa dapat mengenal keadaan dan kondisi sekolah dengan baik, menggunakan fasilitas sekolah serta memelihara keindahan, keamanan, dan ketenangan lingkungan sekolah.

  Penyesuaian diri di sekolah diukur dengan menggunakan skala penyesuaian diri di sekolah dengan berdasarkan pada teori Schneiders (1964) meliputi adanya kepatuhan siswa terhadap peraturan sekolah, partisipasi dalam kegiatan sekolah, partisipasi dan kerjasama dalam kegiatan kelompok, serta hubungan yang sehat dan akrab dengan siswa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  rendah skor yang diperoleh menunjukkan ketidakberhasilan siswa dalam melakukan penyesuaian diri di sekolah.

D. Subjek Penelitian

  Suatu penelitian membutuhkan subjek penelitian untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung diterapkan pada subjek penelitian tersebut. Subjek dari penelitian ini adalah para siswa kelas X SMU 2 Bantul, dengan karakteristik sebagai berikut:

  4. Siswa kelas X, dengan pertimbangan karena siswa kelas X yang termasuk dalam kategori remaja berada dalam masa penyesuaian atau masa transisi terhadap dirinya dan lingkungan (Jersild & Brooks, 1978). Alasan lain karena siswa-siswa kelas X baru saja mengalami perpindahan lingkungan pendidikan yang menuntut siswa-siswa tersebut melakukan penyesuaian diri di lingkungan sekolah barunya.

  5. Siswa kelas X berada dalam tahap remaja sekitar 12-18 tahun. Menurut teori perkembangan, pada tahap ini remaja memiliki tugas perkembangan yang harus dikuasainya yaitu memiliki keterampilan sosial untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari (Sarwono, 1989). Selain itu, Wanei (2006) mengungkapkan bahwa pada tahapan ini siswa kelas X juga menghadapi tugas utama, yakni mencari dan menegaskan eksistensi dan jati dirinya, mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, mencari arah dan tujuan, menjalin hubungan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang rusak akibat bencana gempa bumi sehingga menyebabkan proses belajar-mengajar di sekolah menjadi terganggu. Hal ini merupakan tantangan bagi para siswa untuk dapat lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Selain itu karena peneliti telah mengenal lokasi penelitian sehingga dapat memperoleh kemudahan perijinan dari Kepala Sekolah SMU 2 Bantul.

E. Metode Pengumpulan Data

  Metode pengumpulan data dalam penelitian ini sepenuhnya menggunakan skala. Skala yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu skala penyesuaian diri di sekolah dan konsep diri. Kedua skala tersebut disusun dengan metode rating yang dijumlahkan (summated

  rating method), yakni metode skala pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respon subjek sebagai dasar penentuan nilai skala (Azwar, 1999).

  Selanjutnya subjek diminta untuk menjawab aitem-aitem pernyataan yang dirumuskan secara favorable dan unfavorable tentang suatu variabel, yakni variabel konsep diri dan variabel penyesuaian diri di sekolah. Jawaban setiap skala dinyatakan dalam empat kategori yang dimodifikasi tanpa jawaban ragu-ragu, hal tersebut dilakukan dengan alasan bahwa dengan adanya kategori jawaban ragu-ragu bias mempunyai arti ganda, yakni bias diartikan belum dapat memutuskan dalam memberikan jawaban atau bisa diartikan netral. Alasan lainnya yakni karena adanya jawaban ragu-ragu atau

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  jawabannya yang pasti. Berikut ini disajikan penyusunan skala: A. Skala konsep diri.

  Aspek-aspek yang akan diungkap pada skala konsep diri adalah aspek fisik, psikis, sosial, moral. Skala konsep diri sendiri terdiri dari 72 pernyataan yang terbagi atas 38 pernyataan yang bersifat favorable dan 34 pernyataan yang bersifat unfavorable.

   Tabel 1

Distribusi Item Skala Konsep Diri sebelum Uji Coba

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

  1 Fisik 1, 14, 19, 25, 34, 46, 55, 60 4, 9, 17, 29, 36, 44, 50, 61

  16

  2 Psikis 8, 15, 22, 27, 40, 43, 51, 62 2, 11, 21, 31, 35, 47, 54, 59

  16

  3 Sosial 3, 10, 20, 30, 37, 45, 56, 64, 6, 13, 18, 28, 38, 42, 52,

  20 68, 70, 72 58, 67

  4 Moral 5, 12, 24, 26, 33, 39, 48, 57, 7, 16, 23, 32, 41, 49, 53,

  20 63, 65, 71 66, 69

  Total

  38

  34

  72 Skala konsep diri mempunyai empat alternatif jawaban, yaitu Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, Sangat Tidak Setuju. Pemberian skor skala konsep diri berdasarkan penilaian dalam skala Likert. Penilaian pada skala konsep diri ini bergerak dari empat sampai dengan satu untuk aitem

  

favorable dan satu sampai empat untuk aitem unfavorable. Untuk lebih

  jelasnya dapat dilihat tabel sebagai berikut:

  Tabel 2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Jawaban Favorable Unfavorable

  Sangat Setuju

  4

  1 Setuju

  3

  2 Tidak Setuju

  2

  3 Sangat Tidak Setuju

  1

  4 F. Skala penyesuaian diri di sekolah.

  Aspek-aspek yang akan diungkap pada skala penyesuaian diri adalah kepatuhan siswa terhadap peraturan sekolah, partisipasi dalam kegiatan sekolah, partisipasi dan kerjasama dalam kegiatan kelompok, hubungan yang sehat dan akrab dengan siswa lain dan guru.

  Skala penyesuaian diri di sekolah sendiri terdiri dari 72 pernyataan yang terbagi atas 39 pernyataan yang bersifat favorable dan 33 pernyataan yang bersifat unfavorable.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Distribusi Item Skala Penyesuaian Diri di Sekolah

sebelum Uji Coba

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

  1 Kepatuhan siswa terhadap 4, 9, 20, 30, 37, 2, 15, 22, 28,

  17 peraturan sekolah 45, 49, 57, 71 36, 47, 54, 65

  2 Partisipasi dalam kegiatan sekolah 3, 13, 23, 27, 6, 10, 18, 31,

  20 39, 43, 53, 34, 46, 51, 64,

  59,61, 69, 72

  68

  3 Partisipasi dan kerjasama dalam 1, 11, 17, 29, 8, 16, 24, 32,

  17 kegiatan kelompok 35, 48, 56, 60, 40, 44, 52, 67

  63

  4 Hubungan yang sehat dan akrab 7, 14, 21, 25, 5, 12, 19, 26,

  18 dengan siswa lain dan guru 38, 41, 50, 58, 33, 42, 55, 62 66, 70

  Total

  39

  33

  72 Skala penyesuaian diri di sekolah mempunyai empat alternatif jawaban, yaitu Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, Sangat Tidak Setuju. Pemberian skor skala penyesuaian diri di sekolah berdasarkan penilaian dalam skala Likert. Penilaian pada skala penyesuaian diri di sekolah ini bergerak dari empat sampai dengan satu untuk aitem favorable dan satu sampai empat untuk aitem unfavorable. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel sebagai berikut:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Skor berdasarkan Kategori Jawaban

Jawaban Favorable Unfavorable

  Sangat Setuju

  4

  1 Setuju

  3

  2 Tidak Setuju

  2

  3 Sangat Tidak Setuju

  1

  4 F. Validitas Dan Reliabilitas Ketepatan pengujuan suatu hipotesa tentang atribut penelitian sangat tergantung pada kualitas data yang dipakai dalam pengujian tersebut. Data penelitian tidak akan berguna bila alat pengukur yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian tersebut tidak mewakili validitas dan reliabilitas yang tinggi.

1. Validitas

  Validitas alat ukur dalam suatu penelitian sangat diperlukan untuk mengetahui indeks dan ketelitian dalam mengungkapkan gejala yang hendak diukur. Validitas alat ukur adalah ketepatan dan kecermatan instrumen pengukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

  Suatu alat ukur yang valid tidak sekedar mampu mengungkap data dengan tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat dalam arti mampu memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya di antara subjek yang satu dengan yang lain (Azwar, 2000).

  Uji validitas alat ukur dalam penelitian ini menggunakan validitas

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dengan melihat apakah aitem-aitem dalam tes telah ditulis sesuai dengan

  blue print, yaitu telah sesuai dengan batasan domain ukur yang telah

  ditetapkan semula dan memeriksa apakah masing-masing aitem telah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkap (Azwar, 1999).

  Selanjutnya aitem-aitem tersebut dikonsultasikan dengan ahli, dalam hal ini peneliti akan mengkonsultasikannya dengan Dosen Pembimbing, setelah itu diteruskan dengan uji coba aitem.

2. Reliabilitas

  Reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya, yaitu sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran kembali terhadap subjek yang sama (Azwar, 2000). Uji reliabilitas skala dalam penelitian ini menggunakan teknik formula Alpha dari program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 13.0, alasannya adalah teknik Alpha merupakan dasar dalam pendekatan konsistensi internal dan merupakan estimasi yang baik terhadap reliabilitas pada banyak situasi pengukuran.

  Kriteria pemilihan aitem didasarkan pada korelasi aitem total dengan batasan ≥ 0,30. Azwar (2000) mengungkapkan bahwa hal tersebut memiliki daya diskriminasi yang memuaskan, jadi jika ada aitem yang memiliki koefisien korelasi aitem total < 0,30, maka aitem tersebut dinyatakan tidak sahih dan dianggap gugur. Namun bila aitem yang lolos

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menjadi 0,25 sehingga jumlah aitem yang diinginkan dapat tercapai.

G. Metode Analisis Data

  Hubungan antara konsep diri dan penyesuaian diri dapat diketahui dengan menganalis data penelitian ini secara statistik dengan menggunakan korelasi Product Moment dari Pearson, sebab penelitian ini hanya mencari hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung.

  Sebelum menggunakan korelasi Product Moment terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji linearitas. Hal ini diperlukan untuk mengetahui apakah kedua variabel tersebut berhubungan secara linier atau tidak dan apakah kedua variabel tersebut menunjukkan distribusi normal atau tidak.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

A. Persiapan Penelitian

  1. Uji Coba Alat Ukur Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti mengadakan uji coba alat ukur terlebih dahulu. Uji coba alat ukur ini memiliki tujuan untuk menguji kesahihan dan keandalan alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian. Uji coba dilakukan pada tanggal 18 April 2007 dengan mengambil subjek siswa kelas X SMU 2 Bantul Yogyakarta.

  Jumlah subjek pada uji coba kedua ini adalah 40 subjek. Subjek diberikan skala yang terdiri dari dua jenis skala, yaitu: Skala Konsep Diri (Skala I) dan Skala Penyesuaian Diri di Sekolah (Skala II). Dari hasil uji coba ini, kesemuanya memenuhi kriteria untuk dilakukan analisa terhadap skala tersebut.

  2. Pengukuran Skala Konsep Diri

  a. Uji Kesahihan Item untuk Skala Konsep Diri Uji kesahihan item skala dengan menggunakan program SPSS for

  Window versi 13.0 dengan mengukur korelasi antara item-item yang diuji

  dengan skor total subjek. Item dipilih dengan kriteria item total dengan batasan skor ≥ 0,30. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan diperoleh koefisien korelasi item total yang berkisar antara -0,064 sampai

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2, 6, 12, 13, 16, 24, 26, 32, 33, 53, 63. Berikut ini disajikan disajikan distribusi item-item yang sahih pada tabel 5.

  Tabel 5

Distribusi Item Skala Konsep Diri setelah Uji Coba

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

  1 Fisik 5, 12, 20, 25, 36, 41, 48, 56 3, 9, 18, 30, 38, 43, 52, 58

  16

  2 Psikis 1, 16, 23, 32, 33, 47, 53, 60 7, 11, 22, 28, 40, 46, 51

  15

  3 Sosial 4, 10, 21, 29, 35, 44, 49, 57, 6, 14, 24, 31, 37, 42, 55

  16

  61

  4 Moral 8, 13, 17, 26, 39, 50 2, 15, 19, 27, 34, 45, 54, 59

  14 Total

  31

  30

  61

  b. Reliabilitas Skala Konsep Diri Reliabilitas Skala Konsep Diri dihitung dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach dari program SPSS for Windows versi 13.0. Dari perhitungan tersebut diperoleh koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,968.

  3. Pengukuran Skala Penyesuaian Diri di Sekolah

  a. Uji Kesahihan Item untuk Skala Penyesuaian Diri di Sekolah Uji kesahihan item skala dengan menggunakan program SPSS for

  

Window versi 13.0 dengan mengukur korelasi antara item-item yang diuji

  dengan skor total subjek. Item dipilih dengan kriteria item total dengan batasan skor ≥ 0,30. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan diperoleh koefisien korelasi item total yang berkisar antara -0,020 sampai dengan 0,763. Dari hasil perhitungan tersebut diperoleh 59 item yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  disajikan distribusi item-item yang sahih pada tabel 6.

   Tabel 6

Distribusi Item Skala Penyesuaian Diri di Sekolah

setelah Uji Coba

  

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

  1 Kepatuhan siswa terhadap 2, 13, 21, 27, 5, 11, 19, 29,

  14 peraturan sekolah 36, 43, 49 33, 41, 51

  2 Partisipasi dalam kegiatan sekolah 8, 16, 20, 31, 4, 15, 23, 26,

  16 39, 47, 53, 57, 35, 44, 55

  59

  3 Partisipasi dan kerjasama dalam 6, 14, 18, 25, 3, 9, 24, 32,

  15 kegiatan kelompok 40, 45, 54, 58 37, 48, 52

  4 Hubungan yang sehat dan akrab 1, 10, 22, 30, 7, 12, 17, 28,

  14 dengan siswa lain dan guru 38, 42, 56 34, 46, 50 Total

  31

  28

  59

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Reliabilitas Skala Penyesuaian Diri di Sekolah dihitung dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach dari program SPSS for Windows versi 13.0. Dari perhitungan tersebut diperoleh koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,954.

  B. Pelaksanaan Penelitian

  Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1 dan 2 Mei 2007 di SMU 2 Bantul Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kedua skala pada subjek penelitian sebanyak 70 subjek dan kesemuanya memenuhi kriteria untuk dilakukan analisa terhadap skala tersebut.

  C. Deskripsi Subjek

  Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas

  X SMU 2 Bantul yang berjumlah 70 orang. Subjek penelitian adalah siswa kelas X yang berumur 12-18 tahun, dengan pertimbangan bahwa pada rentang usia tersebut siswa menghadapi tugas utama, yakni mencari dan menegaskan eksistensi dan jati dirinya, serta merupakan masa penyesuaian atau masa transisi terhadap dirinya dan lingkungannya yang baru.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1. Data Penelitian

  

Tabel 7

Tabel Data Penelitian

  Skor Mean Teoritis Empiris

  Max Min Max Min Teoritis Empiris

  SD Konsep Diri 244 61 212 151 152,5 183,64 14,61 Penyesuaian Diri di Sekolah 236 59 206 141 147,5 175,19 14,41

  Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa skor nilai rata-rata empiris konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah lebih dari nilai rata-rata teoritis konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah sehingga hal ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata skor subjek cukup tinggi.

  2. Uji Asumsi Sebelum dilakukan pengujian hipotesis terhadap penelitian perlu dilakukan uji asumsi terhadap data yang diperoleh. Uji asumsi dilakukan untuk memenuhi syarat penggunaan analisis hipotesis sehingga kesimpulan yang diperoleh tidak menyimpang dari semestinya. Uji asumsi ini sendiri terdiri dari uji normalitas dan uji linearitas.

  a. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah berdistribusi normal atau tidak.

  Pengujian normalitas dilakukan dengan menggunakan bantuan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Kolmogorov Smirnov.

  Dari hasil pengujian tersebut, pada variabel konsep diri diperoleh nilai Z sebesar 0,744 dengan p = 0,637, sedangkan pada variabel penyesuaian diri di sekolah diperoleh nilai Z sebesar 0,612 dengan p = 0,848. Persyaratan data disebut normal adalah jika nilai probabilitas atau p > 0,05, dari pengujian pada variabel konsep diri dan variabel penyesuaian diri di sekolah diperoleh nilai p > 0,05, sehingga berdasarkan hasil perhitungan tersebut distribusi subjek adalah distribusi normal.

  Tabel 8 Tabel Normalitas

  Konsep Diri Penyesuaian Diri di Sekolah Kolmogorov-Smirnov Z 0,744 0,612 Asymp. Sig. (2-tailed) 0,637 0,848

  b. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan bentuan program

  SPSS for Windows versi 13.0. Pengujian ini dilakukan untuk

  mengetahui apakah hubungan antara kedua variabel mengikuti fungsi linear atau garis lurus, selain itu analisis ini juga berguna untuk memberikan arah tentang hubungan antara dua variabel tersebut. Dari hasil pengujian pada variabel konsep diri dan penyesuaian diri di

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  variabel merupakan garis lurus.

  Tabel 9 Tabel Uji Linear F Sig.

  Between (Combined) 4,784 ,000 Group Linearity 136,136 ,000

  Deviation from Linearity 1,234 ,276

  3. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS

  for Windows versi 13.0. Pengolahan data untuk mengetahui korelasi antara

  variabel konsep diri dan variabel penyesuaian diri di sekolah dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment Pearson. Dari hasil analisis diperoleh koefisien korelasi antara konsep diri dan penyesuaian diri xy di sekolah sebesar r = 0,800 dengan signifikansi (p) = 0,000 Perhitungan dilakukan pada taraf signifikansi p < 0,01 dan memakai uji satu ekor (1- tailed). Pemakaian uji satu ekor dalam penelitian ini karena hipotesis dalam penelitian ini sudah memiliki arah yaitu adanya hubungan positif antara konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah. Arah korelasi dapat dilihat dengan grafik scatter plot berikut ini :

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  210 200 190 180 170 160 150 140 150 160 170 180 190 200 220 210 KD Linear Observed

  PD Gambar 2 Scatter Plot

  Berdasarkan penghitungan dan arah korelasi yang ditunjukkan oleh scatter plot di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua variabel memiliki arah korelasi yang positif dan signifikan, atau variabel konsep diri berkorelasi positif dengan variabel penyesuaian diri di sekolah.

  Jadi dengan demikian hipotesis dari penelitian ini diterima. Artinya, semakin positif konsep diri yang dimiliki oleh siswa kelas X maka dengan demikian penyesuaian diri di sekolah semakin baik pula.

E. Pembahasan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  konsep diri dengan penyesuaian diri di sekolah pada siswa kelas X. Hasil analisa statistik yang dilakukan dengan teknik korelasi Product Moment Pearson diperoleh nilai koefisien korelasi yaitu sebesar 0,800 dengan probabilitas 0,000 (p < 0,01). Nilai tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel yaitu konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah mempunyai korelasi positif. Artinya berarti bahwa semakin positif konsep diri siswa maka semakin baik penyesuaian diri di sekolahnya dan sebaliknya semakin negatif konsep diri siswa maka semakin buruk penyesuaian diri di sekolahnya.

  Berdasarkan dari hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa hipotesis ini diterima, maka dapat diambil kesimpulan bahwa konsep diri yang positif sangat bermanfaat sebagai landasan utama dalam perwujudan penyesuaian diri di sekolah dan memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi terwujudnya penyesuaian diri di sekolah. Sumbangan efektif konsep diri terhadap penyesuaian diri di sekolah sebesar 64% dan faktor-faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini, antara lain faktor internal yang di dalamnya terdapat kematangan intelektual serta perbedaan gender dan faktor eksternal seperti kondisi keluarga juga turut memberikan pengaruh sebesar 36%.

  Pada masa remaja, siswa kelas X tidak bisa lepas dari tugas perkembangan. Tugas perkembangan yang berkaitan disini adalah memiliki keterampilan sosial untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari- hari dan pencapaian identitas diri yang diharapkan. Penentuan akan identitas ini

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  masyarakat, bahwa dirinya telah mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangan secara efektif, maka ia dapat mempersiapkan diri menjelang masa dewasanya.

  Siswa kelas X yang memiliki konsep diri positif menerima dirinya apa adanya sesuai realita yang ada tanpa ada sedikitpun penyangkalan serta mampu melihat kemampuan yang ada di dalam dirinya sehingga di dalam diri mereka timbul kepercayaan diri. Siswa kelas X yang mempunyai kepercayaan diri akan mudah melakukan penyesuaian diri baik perubahan fisik, pola emosi, sosial, minat, moral dan kepribadian, serta terhadap perubahan lingkungan pendidikan yang baru. Proses penyesuaian ini tidak terjadi sendirinya, siswa kelas X harus belajar agar dapat berhasil dalam menyesuaikan diri, dan ini memerlukan waktu, kemasakan dan kemampuan individu untuk merespon tuntutan-tuntutan yang timbul baik berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

  Partosuwido (1992) mengatakan bahwa keberhasilan ataupun kegagalan seseorang dalam menyesuaikan dirinya banyak ditentukan oleh konsep dirinya.

  Seseorang yang memiliki konsep diri yang positif dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan pada dirinya dan dapat menempatkan dirinya pada waktu dan situasi yang tepat, mampu memperbaiki dirinya, yakin akan kemampuannya mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa merasa malu, dan menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku, sedangkan seseorang yang memiliki konsep diri yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mengakibatkan ketidakpercayaan diri, yang menimbulkan rasa rendah diri dalam bergaul.

  Siswa kelas X yang memiliki konsep diri positif akan mampu menyelaraskan diri dengan lingkungannya, sehingga ia dapat mengambil manfaat dari lingkungannya yang pada gilirannya menjadi pendorong pencapaian penyesuaian diri yang tinggi (Pudjianto, 2000). Kondisi lingkungan sekolah yang tidak kondusif akibat gempa bumi, tidak begitu berpengaruh pada siswa kelas X dalam melakukan penyesuaian diri di sekolahnya. Dalam artian siswa kelas X mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolahnya, walaupun kondisi lingkungan sekolahnya tidak kondusif.

  Konsep diri memiliki empat aspek yaitu aspek fisik, aspek psikis, aspek sosial dan aspek moral. Dari hasil penelitian, dinyatakan bahwa ada korelasi positif antara konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah.

  Aspek pertama dalam konsep diri adalah aspek fisik. Siswa kelas X yang dapat melakukan penilaian dengan baik terhadap segala sesuatu yang dimilikinya akan mudah diterima di lingkungan sekolahnya. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Mathes & Kahn (dalam Hurlock, 1991) bahwa remaja yang puas dengan penampilannya akan lebih mudah bergaul dan lebih mudah diterima sehingga lebih mudah menyesuaikan diri.

  Aspek kedua dari konsep diri adalah aspek psikis. Salah satu penyebab siswa kelas X dapat mampu berpikir secara positif tentang dirinya dan mampu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mereka merasa cukup nyaman untuk berbagi dan menceritakan segala masalah yang sedang dihadapinya.

  Aspek ketiga dari konsep diri adalah aspek sosial. Siswa kelas X mendapatkan kesempatan untuk berperan serta di lingkungan sosialnya khususnya di lingkungan sekolah, seperti ikut berpartisipasi mengikuti lomba mewakili sekolah, ikut mendukung teman-teman yang mengikuti lomba mewakili sekolah.

  Aspek keempat dari konsep diri adalah aspek moral. Siswa kelas X yang dapat mengolah dan memahami nilai-nilai moral serta prinsip yang berlaku di masyarakat akan mampu memberikan arah bagi kehidupan di lingkungan sekolah. Hal ini didapatkan siswa kelas X dengan adanya aturan-aturan yang berlaku di sekolah dan pelajaran budi pekerti yang diajarkan kepada para siswa. Dengan memahami nilai-nilai moral yang berlaku di sekolah, diharapkan siswa kelas X dapat melakukan penyesuaian diri terhadap segala peraturan yang berlaku di sekolah.

  Jadi keempat aspek dalam konsep diri memiliki peranan atau sumbangan yang berarti dalam usaha pemenuhan atau pencapaian konsep diri yang positif.

  Pemenuhan aspek konsep diri akan sangat menentukan arah perkembangan konsep diri siswa kelas X di sekolah. Hal ini sesuai dengan yang diungkap oleh Brooks (dalam Rakhmat, 1999) bahwa konsep diri merupakan keseluruhan pandangan individu terhadap keadaan fisik, sosial, dan psikologis yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  penyesuaian diri terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini sesuai dengan yang diungkap oleh Pudjianto (2000) bahwa siswa yang memiliki konsep diri positif mampu menyelaraskan diri dengan lingkungannya, sehingga ia dapat mengambil manfaat dari lingkungannya yang pada gilirannya menjadi pendorong dalam hal pencapaian penyesuaian diri yang positif atau tinggi pula.

  Kemampuan siswa kelas X dalam melakukan penyesuaian diri di sekolah didasarkan pada empat aspek yaitu kepatuhan siswa terhadap peraturan sekolah, partisipasi dalam kegiatan sekolah, partisipasi dan kerjasama dalam kegiatan kelompok, serta hubungan yang sehat dan akrab dengan siswa lain dan guru. Dalam hal mentaati peraturan-peraturan sekolah, siswa kelas X cenderung taat dan patuh terhadap peraturan sekolah, hal ini disebabkan karena siswa kelas X baru memasuki lingkungan pendidikan baru dan masih perlu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekolah serta adanya rasa takut terkena sanksi-sanksi akibat melanggar aturan-aturan yang berlaku di sekolah. Selain itu, siswa kelas X juga cenderung aktif dalam mengikuti kegiatan baik yang diselenggarakan oleh sekolah maupun kelompok. Hal ini tampak dalam pengamatan informal peneliti dalam melakukan penelitian ini, yaitu bahwa siswa kelas X cukup aktif dalam mengikuti kegiatan outbound dan kegiatan Trauma Healing yang diadakan pihak sekolah untuk mengurangi atau meredakan kecemasan dalam diri siswa akibat bencana gempa yang terjadi. Hubungan yang sehat dan akrab

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  teoritisnya sebesar 152,5. Hal ini berarti subjek penelitian memiliki konsep diri yang tinggi, karena mean empirisnya lebih tinggi dari mean teoritisnya.

  Pada skala penyesuaian diri di sekolah diperoleh mean empiris sebesar 175,19 dengan mean teoritis 147,5. Hal ini berarti subjek dalam penelitian ini memiliki penyesuaian diri di sekolah yang tergolong tinggi, karena mean empirisnya lebih tinggi dari mean teoritisnya.

  Dengan demikian dapat diketahui bahwa subjek penelitian memiliki konsep diri yang tinggi (mean empiris 183,64) dan memiliki penyesuaian diri di sekolah yang tinggi pula (mean empiris 175,19).

  Siswa kelas X memiliki konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah yang tinggi. Hal ini disebabkan karena siswa kelas X mampu memenuhi aspek-aspek yang tercakup dalam konsep diri baik secara fisik, psikis, sosial maupun moral. Selain itu, karena siswa kelas X juga mampu hidup dan berinteraksi seefektif mungkin di lingkungan sekolahnya.

  Kondisi dan hubungan keluarga memiliki keterkaitan dengan konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah bagi siswa kelas X. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan stimulasi awal pada anak, membentuk dan menempa anak untuk menghadapi lingkungan yang lebih kompleks (Wanei, 2006). Wanei (2006) juga menambahkan bahwa kondisi keluarga yang kurang mendukung, tidak ada model untuk dicontoh, kurang terjalinnya interaksi antara anggota keluarga menyebabkan anak memiliki konsep diri yang rendah dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  terhadap konsep diri dan penyesuaian dirinya (Adiyanti, 2006). Pujian-pujian atas prestasi yang yang dibuat ataupun segala hukuman atas kesalahan- kesalahannya turut membentuk suatu konsep tentang dirinya dan berpengaruh terhadap penyesuaian dirinya di sekolah.

  Pada hakekatnya, subjek dalam penelitian ini yakni siswa kelas X memiliki kemampuan yang sangat baik dalam memahami dan menerima sejumlah fakta yang bermacam-macam tentang dirinya. Siswa kelas X mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada kehidupan mereka, mampu berinteraksi dengan baik dan mampu menghargai diri sendiri. Dari pihak sekolah pengaruh yang diberikan untuk mendukung tingginya konsep diri siswa kelas X tidak bisa diabaikan. Ini dilihat dari visi dan misi sekolah yang berupaya untuk mengadakan pendampingan menuju pribadi yang cerdas, unggul, mandiri, beriman dan berakhak mulya serta membimbing dan membantu siswa untuk menemukan potensi yang dimilikinya untuk dikembangkan secara optimal, maka siswa mendapatkan dukungan untuk mengembangkan konsep diri mereka ke arah yang positif.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  A. Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa: Ada hubungan positif antara konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,800, ini mengindikasikan bahwa semakin positif konsep diri yang dimiliki oleh siswa kelas X maka semakin baik pula penyesuaian diri siswa di sekolah dan sebaliknya semakin negatif konsep diri yang dimiliki oleh siswa kelas X maka semakin buruk penyesuaian diri di sekolah.

  B. Saran

  C. Bagi Pihak Sekolah Terkait dengan penyesuaian diri siswa di sekolah, diharapkan pihak sekolah dapat menciptakan kondisi dan situasi sekolah yang lebih kondusif sehingga perkembangan siswa dapat semakin baik lagi.

  D. Bagi Siswa Kelas X Siswa kelas X diharapkan mampu untuk semakin meningkatkan konsep diri yang dimilikinya. Selain itu, mereka juga diharapkan untuk aktif berpartisipasi mengikuti kegiatan-kegiatan di lingkungan, baik yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Untuk mengetahui lebih dalam mengenai penyesuaian diri di sekolah, diharapkan peneliti selanjutnya yang tertarik untuk melakukan penelitian serupa dapat menambahkan metode pengumpulan data yang lebih detail dan mendalam, misalnya dengan metode wawancara.

  Selain itu juga disarankan pula untuk melakukan penelitian- penelitian sejenis mengenai siswa kelas X sehingga diperoleh gambaran yang lebih luas mengenai apa saja yang mungkin dialami oleh siswa kelas X yang berkaitan dengan penyesuaian diri di sekolah, karena masih banyak faktor yang mungkin berpengaruh pada penyesuaian dirinya di sekolah.

C. Keterbatasan Penelitian

  Dalam mengisi jawaban, kemungkinan besar subjek melakukan perbandingan di antara pilihan jawaban dan memilih jawaban yang paling baik menurut pandangan sosial (social desirability) dan bukan lagi hasil dari perilaku subjek sendiri. Hal ini tampak dari hasil mean empiris yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, bagi peneliti selanjutnya supaya lebih cermat dan teliti dalam menyusun skala yang akan digunakan dalam penelitian.

  Keterbatasan lain dari penelitian ini adalah dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 70 orang, tidak bisa digeneralisasikan untuk seluruh siswa kelas X di SMU area Bantul.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Adiyanti, G.M. 2006. Konsep Diri Positif. Yogyakarta: Kanisius. nd Adler, R.B., and Rodman, G. 1985. Understanding Human Communication (2 . ed). New York: CBS College Publisher. Agustiani, H. 2006. Psikologi Perkembangan Pendekatan Ekologi Kaitannya

  dengan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri pada Remaja. Bandung: PT Refika Aditama.

  Azwar. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. _____. 2000. Validitas dan Reliabilitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Berzonsky, M.D. 1981. Adolescent Development. New York: Mc. Millan Publishing Co, Inc.

  Calhoun, F.J. 1990. Psychology of Adjustment and Human Relationship. New York: Mc. Millan Publishing Co, Inc. Elkins, D.P.E. 1979. Self Concept Sourcebook. USA. New York: Princenton. Furhman, B.S. 1990. Adolescent. Illinois: Scoot Foresman and Company. Grinder, R.E. 1978. Adolescence. New York: John Wiley and Sons. Gunarsa & Gunarsa. 1984. Psikologi Remaja. Jakarta: BPK. Gunung Mulia. ________________. 1986. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: BPK. Gunung Mulia. Hamalik, Oemar. 1995. Psikologi Remaja. Bandung: CV Mandar Maju. Helmi, A.F.& Ramdhani, N. 1992. Hubungan Konsep Diri dengan Kemampuan

  Bergaul pada Remaja. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

  Hurlock, E.B. 1991. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga. ___________. 1997. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  nd MacMillan Company.

  Jersild & Brook, J.S. 1978. The Psychology of Adolescence (3 rd .ed). New York: The MacMillan Company. Meichati, S. 1984. Kesehatan Mental: Dasar Praktisi bagi Pengetahuan dan Kehidupan Bersama. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM. Monks, F.J., Knoers, A.M.P., Haditono. 1998. Psikologi Perkembangan.

  Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Mu’tadin, Z. 2002. Penyesuaian Diri Remaja. www.e-psikologi.com _________. 2002. Mengembangkan Ketrampilan Sosial pada Remaja.

  http://www.e-psikologi.com/remaja/060802.htm

  Partosuwido, S.R. 1992. Penyesuaian Diri Mahasiswa dalam Kaitannya dengan

  Konsep Diri, Pusat Kendali dan Status Perguruan Tinggi. Disertasi (tidak diterbitkan). Yoyakarta: Pascasarjana Fakultas Psikologi UGM.

  ______________. 1993. Penyesuaian Diri Mahasiswa dalam Kaitannya dengan

  Konsep Diri, Pusat Kendali dan Status Perguruan Tinggi. Jurnal Psikologi No 1 Juni 1993.

  Pasao. 1973. Manual for Pasao Self Concept Scale. Manila, Philipines: Counselor Recording and Test. Pudjianto. 2000. Penyesuaian Diri di Sekolah Remaja Putus Sekolah ditinjau dari

  Dukungan Sosial dan Konsep Diri di Panti Sosial Bina Remaja Bambu Apus Jakarta. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Pascasarjana Fakultas

  Psikologi UGM. Pudjijogyanti, C. 1985. Konsep Diri dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Studi tentang Pengembangan Pendidikan No 12.

  ______________. 1995. Konsep Diri dalam Pendidikan. Jakarta: Ardan. Rahmat, J. 1999. Psikologi Komunikasi (edisi revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

  Riberu, J. 1995. Kemelut Anak, Remaja dan Problema Kekeluargaannya. Jakarta: Mega Media.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Schneiders, A.A. 1964. Personal Adjustment and Health. New York: Holt Rinehart and Winston. Simanjuntak, B dan Pasaribu, I.L. 1980. Pendekatan Fenomenologis tentang Eksistensi Manusia: Dasar Pembinaan Generasi Muda. Bandung: Tarsito. Sinurat, R.H.Dj., Supratiknya, A. Retno Priyani,M.J. 1987. Survei Kebutuhan

  Siswa SMA Katolik di DIY. Fak. IP. IKIP Sanata Dharma (laporan penelitian).

  Suryabrata, S. 1979. Pengukuran dalam Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali. Wanei, K. 2006. Konsep Diri Positif. Yogyakarta: Kanisius. Willis, S.S. 1981. Problema Remaja dan Permasalahannya. Bandung: Angkasa

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH PEMBERIAN PELATIHAN REGULASI EMOSI TERHADAP PERILAKU AGRESIF REMAJA PADA SISWA KELAS X SMK PANCASILA SURAKARTA Skripsi Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Pendidikan Strata I Psikologi
0
0
19
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP HAPPINESS AT WORK SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
0
0
13
SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Dalam Bidang Antropologi
0
0
13
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
0
0
16
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan RIZKI DWI JAYANTI NIM 20101112035
0
1
15
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
1
15
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
17
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
1
26
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan WAHYU ALAM SARI NIM: 20131111032
0
0
21
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
0
0
102
Karya: K.H Bisri Mustofa SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
0
2
147
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Hukum Islam Jurusan Peradilan Agama
0
0
75
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Hukum Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum
0
0
80
Show more