SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

92 

Full text

(1)

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN

PENYESUAIAN DIRI DI SEKOLAH

PADA SISWA KELAS X SMU 2 BANTUL

YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh :

YASINTA AJENG H. 029114114

JURUSAN PSIKOLOGI PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta Penulis

(5)

MOTTO

Percayalah pada Tuhan maka Iapun

menghiraukan dikau, ratakanlah jalanmu

dan berharaplah padaNya (Sirakh 2: 6)

Rahasia kebahagiaan adalah membiarkan senyum kita berkembang

dari lubuk hati kita, menebar keluar melalui mata kita.

(6)

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk:

Allah Bapa Yang Maha Kasih

Bapak dan mama yang dengan penuh kasih

sayang memberikan doa dan semangat demi

keberhasilan ini.

Mba’ Asty dan Mas Daris, Mba’ Ani dan

Mas Albert, Mba’ Qka dan “my beloved”

brother Mas Totock (†)…makasih atas

cinta dan semangatnya… Aku sayang

kalian…

My soulmate ‘Mas Damar’… makasih atas

cinta, perhatian, dan support yang

begitu besar buat aku selama ini….Luv

u…

Pona’an-pona’anku…Raras,Ian, Kevin,

Nadya, Lala…Cepat besar yah…

Semua sahabat dan saudaraku…

(7)

ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN PENYESUAIAN DIRI DI SEKOLAH PADA SISWA KELAS X SMU 2 BANTUL

YOGYAKARTA dengan penyesuaian diri di sekolah pada siswa kelas X. Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional.

Variabel dalam penelitian ini adalah konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah. Kedua variabel diukur dengan menggunakan skala. Koefisien reliabilitas skala konsep diri adalah sebesar 0,968 sedangkan koefisien reliabilitas skala penyesuaian diri di sekolah sebesar 0,954. validitas skala konsep diri dan skala penyesuaian diri di sekolah diperoleh lewat penilaian ahli dan berdasarkan pada kriteria yaitu yang memiliki indeks daya beda item ≥ 0,30.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah. Semakin baik konsep diri maka semakin baik pula penyesuaian diri di sekolahnya. Hipotesis penelitian dianalisis dengan menggunakan korelasi Product Moment Pearson.

(8)

ABSTRACT

THE CORRELATION OF SELF CONCEPT WITH SELF ADJUSTMENT IN SCHOOL

AT STUDENT OF CLASS X SMU 2 BANTUL YOGYAKARTA

The aim of this research was to know the correlation between self concept with self adjustment in school. Type of this research is correlational research.

The variables in this research were self concept and self adjustment in school. Both variables were measured using scale. The reliability coefficient of self concept scale was 0,968, while the reliability coefficient of self adjustment in school scale was 0,954. The validities of self concept scale and self adjustment in school scale were obtained through evalution and based on criteria with item differentiability index of ≥ 0,30.

The hypotesis of this research was that there is positive correlation between the self concept with the self adjustment in school. The better self concept, the higher the self adjustment in school was. The hypotesis was analyzed using correlation of Pearson’s Product Moment.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur pada Allah Bapa di Surga, Bunda Maria atas segala berkat, kasih dan karunia yang berlimpah kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skipsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Sanata Dharma.

Penulis menyadari banyak kendala dan keterbatasan yang dimiliki oleh penulis, sehingga dengan bantuan banyak pihak akhirnya skripsi ini dapat selesai. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

 Bpk. P. Eddy Suhartanto, S.Psi.,M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

Ibu M.L. Anantasari, S.Psi., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang

telah banyak membantu penulis, memberikan masukan, arahan dan dorongan dalam menyelesaikan skripsi ini.

Bpk. Agung Santoso, S.Psi dan Ibu MM. Nimas Eki S., S.Psi selaku Dosen

Pendamping Akademik penulis, terimakasih atas bimbingan dan arahan kepada penulis selama belajar di Fakultas Psikologi ini.

Kepala sekolah SMU 2 Bantul, Bpk. Drs. Sartono. Terima kasih atas ijin

(10)

 Kepada Ibu Sri Sudalmani, SPd. dan Bpk Bachrun yang telah memberikan ijin menggunakan waktu pelajaran Bimbingan dan Penyuluhannya untuk penelitian.

Bpk. Heri. Makasih banyak Pak, atas masukan, dorongan dan waktunya

untuk mendengarkan keluh-kesah saya.... Terima kasih atas saran dan cerita-ceritanya ya, Pak....sangat-sangat berguna bagi saya...

Seluruh Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.Mas Gandung, Mbak Nanik dan Pak Giyono di Sekretariat Psikologi, terima

kasih atas bantuannya kepada penulis selama belajar di sini. Pa’ Gi...matur nuwun atas segala keramahan dan bantuan bapak yah... jadi semangat

deh!!

Mas Muji dan Mas Doni, terima kasih atas semua bantuannya selama

penulis belajar di kampus ini.

Siswa-siswi SMU 2 Bantul kelas X-2, X-3, X-4, X-5, X-6 yang telah

bersedia menjadi subjek penelitian, terutama untuk Krisna dan Dennisa... makasih banyak yah,dek... atas bantuannya selama ini.... kalau ada hal-hal

yang pingin diceritain, dengan senang hati mba dengerin...,oc??

Bapak dan mama Bartholomeus Suhardjono, makasih banyak ya, Pak-Ma

atas cinta, pengorbanan dan doanya hingga aku dapat menyelesaikan skripsi ini.... Maaf, membuat bapak-mama menunggu, kapan anaknya ini lulus....

(11)

Totock… makasih atas cinta, perhatianmu selama Adjenk 16 tahun yach… maaf, kalau aku jadi adek yang suka membangkang…Adjenk kangen kamu,

mas…

Keponakan-keponakanku yang lucu-lucu...Raras, Ian, Kevin, Nadya,

Lala...Kalian cepat besar yah, jadi anak yang pinter, baek dan selalu inget sama Yesus... Tante sayang kalian....

Sayangku, cintaku, kasihku, belahan hatiku... ’Mas Damar’, makasih atas

semua-muanya yach, terutama atas cinta, dukungan dan kesabaranmu... aku belajar banyak hal dari Mas...Luv u...

Mama Titik, Bpk. Surono (†), Mba Diane, Allea...makasih atas cinta dan

penerimaannya dalam keluarganya... Om Barto, om....makasih atas bantuan dan doanya yach...

My sweet sisters, Lita n Thea... say, makasih atas suka-duka yang kita bagi

dalam persaudaraan ini yach…so nice to have friends like you …

Sahabat-sahabatku…Yak-yuk (Lia)... Yak, makasih atas semuanya yach,

sejak kita semester satu sampai sekarang, aku banyak belajar dari kamu...

Mithoel (Mitha)...Mit, kapan kita share bareng lagi... Pex’o (Nopex)… Pex, jangan pesimis lagi yach, kamu pasti bisa...., Trikun (Ntri)...apa kabarmu

nan jauh di sana....kapan kita bertemu lagi?..., De’Tanti....dek,

chayoo...kamu pasti bisa..., Fistoel (Fista)...cie, yang udah pake seragam,

kapan maem2nya?.., Triza...I love you all...

Temen-temen gank-ku semester satu (Danang, Unax, Vincent, Sani, Lia,

(12)

 Teman-teman angkatan 2002 (Wedha, Lisna, Ina, Asih, Wiwin, Sutri, Aning, Ucix, Bona, Elvin, Joe, Ohaq, Suko, Wawan, Eyang, Barjo, Doni, etc...), Mba Yosi’01, Mas Dion’01, Mas Tumbur’01, Mas Hari’00, Mas Dian’00, Mas Ucup’00...makasih atas masukan-masukannya yah, mas-mba...

 ’My babe’ Iyuth....Babe, makasih untuk persahabatan yang telah terjalin selama + 10 tahun ini yah!!! E-q...Mel, kamu bisa....chayooo....

My brother, Mas Boni...mas, makasih banyak yah atas doa dan

supportnya... Mas Ipunk...mas, makasih atas bantuan-bantuannya yah, dan

ancamannya,”Janji log kowe harus lulus tahun ini!!”

 Mas Uki Sadewa....mas, makasih banyak atas pelajaran-pelajarannya selama ini,yach....

Adekku yang n’dut...Pino...makasih ya, Pin atas pinjeman laptopnya yang

selalu mba’ bawa kesana-kemari...

Mas Supri...mas, makasih atas bantuannya benerin komputerku sampai

komputerku yang ketiga ini yah....

Teman-teman relawan Forum Bersama Fakultas Psikologi se-DIY (Ka’

Wendy, Ka’Eci, Mba Titin, Mba Tari, Mba Ita, Mas Budi, King, Walid)...terima kasih atas kebersamaan yang terjalin antara kita.. Mizz u all..

Temen-temen KKN : Mba Nino, Mba Rita, Mba Vien, Lisa, Kocak, Ndaru,

(13)

 ”My Dora” yang selalu siap mengantarku kemana pun aku pergi selama 6 tahun ini....jangan bandel yah!!

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis menerima kritik dan saran yang membangun untuk menunjang kesempurnaan skripsi ini.

Yogyakarta, Penulis

(14)

DAFTAR ISI

Halaman Judul... i

Halaman Persetujuan... ii

Halaman Pengesahan... iii

Pernyataan Keaslian Karya... iv

Halaman Motto... v

Halaman Persembahan... vi

Abstrak... vii

Abstract ... viii

Kata Pengantar... ix

Daftar Isi... xiv

Daftar Lampiran... xviii

Daftar Gambar... xix

Daftar Tabel... xx

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. LATAR BELAKANG MASALAH... 1

B. RUMUSAN MASALAH... 6

C. TUJUAN PENELITIAN... 6

(15)

BAB II LANDASAN TEORI... 8

A. KONSEP DIRI ... . 8

1. Pengertian Konsep Diri... . 8

2. Ciri-ciri Orang yang Memiliki Konsep Diri Positif dan Negatif... 9

3. Aspek-aspek Konsep Diri... 12

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri... 13

B. PENYESUAIAN DIRI DI SEKOLAH... 17

1. Pengertian Penyesuaian Diri di Sekolah... 17

2. Aspek-aspek Penyesuaian Diri di Sekolah... 19

3. Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri di Sekolah... 20

4. Konteks Penyesuaian Diri di Sekolah ... 23

C. REMAJA... 26

1. Pengertian Remaja... 26

2. Ciri-ciri Remaja... 27

D. SISWA KELAS X... . 29

1. Pengertian Siswa Kelas X... 29

2. Konsep Diri pada Siswa Kelas X... 30

E. HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN PENYESUAIAN DIRI DI SEKOLAH PADA SISWA KELAS X SMU... 32

(16)

BAB III METODE PENELITIAN... 38

A. JENIS PENELITIAN... 38

B. VARIABEL PENELITIAN... 38

C. DEFINISI OPERASIONAL... 38

D. SUBJEK PENELITIAN... 40

E. METODE PENGUMPULAN DATA... 41

F. VALIDITAS DAN RELIABILITAS... 45

G. METODE ANALISIS DATA... 47

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 48

A. PERSIAPAN PENELITIAN... 48

B. PELAKSANAAN PENELITIAN... 51

C. DESKRIPSI SUBJEK... 51

D. HASIL PENELITIAN... 52

E. PEMBAHASAN... 56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 63

A. KESIMPULAN... 63

B. SARAN... 63

DAFTAR PUSTAKA... 65

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 SKALA UJI COBA/TRY OUT... 68

Lampiran 2 DATA UJI COBA SKALA... 69

Lampiran 3 RELIABILITAS SKALA...113

Lampiran 4 SKALA PENELITIAN...124

Lampiran 5 DATA PENELITIAN...125

Lampiran 6 UJI NORMALITAS...163

Lampiran 7 UJI LINEARITAS...164

Lampiran 8 UJI HIPOTESIS...166

Lampiran 9 SURAT KETERANGAN PENELITIAN...167

(18)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Skema Hubungan Konsep diri dan Penyesuaian Diri di

(19)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Distribusi Aitem Skala Konsep Diri

Sebelum Uji Coba... 42

Tabel 2 Skor berdasarkan Kategori Jawaban ... 43

Tabel 3 Distribusi Item Skala Penyesuaian Diri di Sekolah Sebelum Uji Coba... 44

Tabel 4 Skor berdasarkan Kategori Jawaban ... 45

Tabel 5 Distribusi Item Skala Konsep Diri Setelah Uji Coba... 49

Tabel 6 Distribusi Item-item Skala Penyesuaian Diri di Sekolah Setelah Uji Coba... 50

Tabel 7 Data Penelitian... 52

Tabel 8 Normalitas... 53

(20)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masa remaja adalah salah satu periode masa perkembangan manusia yang merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perubahan baik secara fisik, emosi, sosial, intelektual, psiko-seksual maupun pemahaman dirinya. Perubahan-perubahan tersebut mengharuskan remaja untuk melakukan penyesuaian terhadap dirinya sendiri. Pada masa ini juga, remaja mulai melepaskan diri secara emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran sosialnya yang baru sebagai orang dewasa (Ingersoll dalam Agustiani, 2006). Selain melepaskan diri secara emosional dari orang tua, remaja juga memiliki keinginan untuk berkelompok dan memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dan di kelompok tersebut pengaruh teman-teman maupun lingkungan sosial sangat menentukan (Willis, 1981). Hal ini menyebabkan remaja dituntut untuk melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosialnya.

(21)

Keterampilan sosial yang dimaksud meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma atau aturan yang berlaku, dan sebagainya. Jika keterampilan sosial dapat dikuasai oleh remaja pada fase tersebut, maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya (Mu’tadin, 2002).

Willis (1981) mengungkapkan bahwa selain penyesuaian terhadap diri sendiri, remaja juga harus melakukan penyesuaian diri di dalam keluarga khususnya terhadap orang tua, dan melakukan penyesuaian diri di sekolah, baik terhadap guru, mata pelajaran, teman sebaya dan lingkungan sekolah. Penyesuaian diri remaja sebagai seorang siswa terhadap guru banyak tergantung kepada sikap guru dalam menghadapi siswa-siswanya. Remaja sebagai seorang siswa juga harus melakukan penyesuaian diri terhadap mata pelajaran. Penyesuaian diri terhadap mata pelajaran ini banyak tergantung kepada kurikulum sekolah, dan metode pengajaran yang diberikan oleh guru. Selain penyesuaian terhadap guru dan mata pelajaran, remaja sebagai seorang siswa juga harus menyesuaikan diri terhadap teman sebaya dan lingkungan sekolah. Penyesuaian-penyesuaian tersebut sangat penting bagi perkembangan remaja sebagai seorang siswa, terutama bagi perkembangan sosialnya.

Siswa kelas X yang termasuk dalam kategori remaja, mengalami perpindahan lingkungan pendidikan dari SLTP ke SMU. Selain mengalami perpindahan lingkungan sekolah, siswa kelas X juga mendapatkan

(22)

pelajaran baru, guru-guru baru, teman-teman baru dan fasilitas-fasilitas sekolah baru. Perubahan-perubahan atau hal-hal baru yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut yang menuntut siswa kelas X melakukan penyesuaian diri terhadap perubahan lingkungan baru ini. Tuntutan untuk menyesuaikan diri di lingkungan yang baru dapat menimbulkan masalah bagi siswa kelas X. Masalah-masalah yang dialami oleh siswa kelas X antara lain tidak mampu beradaptasi terhadap situasi atau keadaan sekolah yang baru, menarik diri dari pergaulan dengan teman, minder, tidak tahu cara menjalin relasi dengan teman sebaya, sering membolos sekolah, acuh terhadap guru, berkelahi atau tawuran. Ketidakmampuan siswa kelas X dalam mengatasi masalah-masalahnya disebabkan karena siswa tidak mampu untuk menyesuaikan diri di sekolah (Willis, 1981).

Siswa yang cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan dapat dengan mudah beraktivitas berlajar dengan baik, hal ini dikarenakan siswa merasa betah dan nyaman tinggal di lingkungan sekolah (Willis 1981). Selain itu, siswa yang lambat melakukan penyesuaian diri akan mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas belajar di sekolah.

(23)

kekuatan-kekuatan individual, tetapi juga kelemahan bahkan kegagalan dirinya. Konsep diri adalah inti kepribadian individual (Wanei, 2006).

Erikson menyebut tahap pembentukan konsep diri pada remaja adalah sense of identity (Wanei, 2006). Pada tahapan ini siswa kelas X yang termasuk

dalam kategori remaja menghadapi tugas utama mencari dan menegaskan eksistensi dan jati dirinya, mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, mencari arah dan tujuan, menjalin hubungan dengan orang yang dianggap penting. Dengan meyakinkan diri sendiri dan orang lain, bahwa dirinya telah mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangan secara efektif, maka ia dapat mempersiapkan diri menjelang masa dewasanya.

Berzonsky (1981) menyatakan bahwa untuk mengerti konsep diri seseorang dapat dilihat melalui penilaian seseorang terhadap dirinya. Penilaian tersebut terdapat dalam beberapa aspek berikut, yaitu: aspek fisik, aspek psikis, aspek sosial, dan aspek moral. Remaja yang memiliki konsep diri positif akan mampu menyelaraskan diri dengan lingkungannya, sehingga ia dapat mengambil manfaat dari lingkungannya yang pada gilirannya menjadi pendorong pencapaian penyesuaian diri yang tinggi (Pudjianto, 2000).

(24)

siswa kelas X mengalami masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa yang membutuhkan penyesuaian diri baik terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan sosialnya, selain itu siswa kelas X mengalami perpindahan lingkungan pendidikan dari Sekolah Menengah Pertama ke Sekolah Menengah Umum dan keadaan ini menuntut siswa melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah yang baru, yang menyangkut sekolah, guru, mata pelajaran dan pergaulan dengan teman sebaya dan guru.

SMU 2 Bantul merupakan salah satu bangunan sekolah yang rusak akibat bencana gempa bumi yang terjadi akhir Mei lalu di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Banyak peralatan dan fasilitas sekolah yang rusak akibat gempa yang menyebabkan proses belajar-mengajar di sekolah menjadi terganggu. Willis (1981) menyatakan bahwa jika sekolah kurang fasilitas atau alat-alat yang membantu kelancaran pendidikan, maka siswa akan mengalami kesulitan dalam belajar. Keadaan sekolah yang cukup memprihatinkan ini merupakan tantangan bagi para siswa untuk dapat lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah serta bersama-sama terlibat dan berpartisipasi secara aktif mengikuti kegiatan yang dilakukan di lingkungan sekolah dalam rangka pemulihan keadaan akibat gempa.

(25)

B. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan permasalah pokok dalam penelitian ini adalah:

Apakah ada hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian diri pada siswa kelas X SMU 2 Bantul Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian diri pada siswa kelas X SMU 2 Bantul Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan ilmu di bidang Psikologi Perkembangan, terutama Psikologi Perkembangan Remaja tentang konsep diri dan penyesuaian diri pada siswa kelas X.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Sekolah

(26)

 Bagi Siswa Kelas X

Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan refleksi siswa kelas X dalam rangka memahami pentingnya pengembangan konsep diri dalam pencapaian kemampuan penyesuaian diri di sekolah.

 Bagi Peneliti Selanjutnya

(27)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Konsep Diri

1. Pengertian Konsep Diri

Berzonsky (1981) mendefinisikan konsep diri sebagai konsep yang diketahui atau dipahami mengenai diri, konsepsi yang dipegang seseorang menyangkut dirinya sendiri. Agustiani (2006) menyatakan bahwa konsep diri merupakan gambaran tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan

Cawagas (dalam Pudjijogyanti, 1985) menjelaskan bahwa konsep diri berarti seluruh pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kepandaiannya, kegagalannya, dan lain sebagainya. Konsep diri juga diartikan oleh Sinurat (1991) sebagai pandangan seseorang tentang gambaran dan penilaian tentang diri sendiri yang meliputi seluruh keyakinan, perasaan, dan kecenderungan seseorang dalam bersikap dan berperilaku serta mengingat segala hal yang telah diperoleh dari pengalaman membangun relasi dengan orang lain.

Brooks (dalam Rakhmat, 1999) memberikan pengertian mengenai konsep diri yaitu sebagai keseluruhan pandangan individu terhadap keadaan fisik, sosial, dan psikologis yang diperoleh dari pengalamannya

(28)

berinteraksi dengan orang lain. Jadi, konsep diri merupakan pandangan individu terhadap dirinya sendiri.

Grinder (1978) mengatakan bahwa konsep diri merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri. Persepsi tersebut dibentuk melalui penarikan kesimpulan dari pengalamannya dan secara khusus dipengaruhi oleh hadiah dan hukuman yang berarti dalam kehidupan orang yang bersangkutan. Persepsi yang dilakukan oleh seseorang dalam memandang dirinya meliputi fisik, jenis kelamin, kognisi sosial, pekerjaan, motivasi, tujuan ataupun emosi. Konsep diri yang dimiliki seseorang digunakan untuk mengevaluasi persepsinya terhadap dirinya sendiri (Furhman, 1990).

Meskipun banyak terhadap pengertian mengenai konsep diri, namun berdasarkan pengertian-pengertian tersebut maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya konsep diri diartikan sebagai pandangan individu terhadap keadaan fisik, psikologis, jenis kelamin, kognisi sosial, pekerjaan, motivasi, tujuan ataupun emosi yang merupakan hasil penilaian terhadap dirinya dan pengalamannya berinteraksi dengan orang lain yang mempunyai arti penting dalam kehidupan orang yang bersangkutan.

2. Ciri-ciri orang yang Memiliki Konsep Diri Positif dan Negatif

(29)

Setiap jenis konsep diri mempunyai ciri-ciri yang khas. Brooks dan Emmert (dalam Rakhmat, 1999) memberikan tanda-tanda orang yang mempunyai konsep diri positif dan negatif. Orang yang mempunyai konsep diri positif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Yakin akan kemampuannya mengatasi masalah. b. Merasa setara dengan orang lain.

c. Menerima pujian tanpa rasa malu.

d. Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat sekitar.

e. Mampu memperbaiki dirinya.

Orang yang mempunyai konsep diri negatif mempunyai ciri-ciri antara lain:

a. Peka terhadap kritik.

b. Responsif sekali terhadap pujian.

c. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain dan bersikap pesimis terhadap kompetisi, yang terungkap dalam keenggangannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi.

Adler dan kawan-kawan (1985) menyebutkan beberapa ciri konsep diri yang positif sebagai berikut:

(30)

kepercayaan ini berhubungan dengan kepercayaan yang relatif kebal terhadap penilaian orang lain.

3. Penerimaan diri, seseorang yang dapat menerima segala sesuatu yang ada pada dirinya, pada umumnya dapat merubah pandangan mereka menjadi lebih mudah menerima pendapat dan perasaan orang lain dan lebih terbuka.

4. Harga diri tinggi, orang yang harga dirinya tinggi biasanya mempunyai popularitas, tidak gugup, tidak merasa rendah dan mempunyai rasa percaya diri yang kuat.

Selanjutnya Adler dan kawan-kawan (1985) juga menyebutkan beberapa ciri konsep diri yang negatif, yang pada dasarnya merupakan kebalikan dari ciri konsep diri yang positif, yaitu:

a. Adanya perasaan tidak aman karena tidak adanya rasa percaya diri, sehingga seluruh mengkhawatirkan penilaian orang lain terhadap dirinya.

b. Kurangnya penerimaan diri, seseorang yang tidak dapat menerima segala sesuatu yang ada pada dirinya, pada umumnya bersikap kaku dan tertutup.

c. Rendahnya harga diri, orang yang harga dirinya rendah biasanya tidak popular, gugup, merasa lebih rendah dan tidak percaya diri.

(31)

pesimis, harga diri rendah, tidak aman dan sangat peka terhadap kritikan, sebaliknya ciri khas yang dimiliki seseorang yang konsep dirinya positif adalah: percaya diri, penerimaan diri baik, optimis, harga dirinya tinggi, dan mempunyai perasaan aman.

3. Aspek-aspek Konsep Diri

Berzonsky (1981) menyatakan bahwa untuk mengerti konsep diri seseorang dapat dilihat melalui penilaian seseorang terhadap dirinya. Penilaian tersebut terdapat dalam beberapa aspek berikut yaitu:

a. Aspek fisik, di dalamnya meliputi penilaian individu terhadap segala sesuatu yang dimilikinya seperti tubuh, pakaian, benda miliknya.

b. Aspek psikis, di dalamnya terdapat pikiran, perasaan, dan sikap yang dimiliki oleh individu terhadap dirinya sendiri. Misalnya, individu yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

c. Aspek sosial, meliputi bagaimana peranan sosial yang dimainkan individu dan penilaian individu terhadap peranan tersebut. Misalnya, individu sebagai siswa memiliki peranan wajib belajar.

(32)

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Pasao (1973) mengemukakan ada 10 faktor yang mempengaruhi konsep diri, yaitu:

a. Faktor saya-bukan saya

Faktor bukan saya dapat diartikan pengenalan diri yang mengandung pemahaman akan perbedaan antara dirinya yang ingin dimiliki (ideal-self) dengan diri yang sebenarnya (real-(ideal-self).

b. Faktor emosi

Faktor emosi yaitu kemampuan seseorang untuk mengarahkan energi emosinya dalam kehidupan sehari-hari ke saluran ekspresi yang bermanfaat dan dapat diterima secara sosial.

c. Faktor pengarahan tujuan

Faktor pengarahan tujuan yaitu kemampuan seseorang untuk berupaya mencapai tujuan dalam hidupnya atau cita-cita yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu.

d. Faktor penerimaan sikap

Faktor penerimaan sikap yaitu kemampuan remaja dalam menerima reaksi atau tindakan dari orang lain mengenai dirinya.

e. Faktor hubungan keluarga

(33)

1995) mengatakan kondisi keluarga yang tidak harmonis dapat menyebabkan remaja memiliki konsep diri yang rendah.

f. Faktor hubungan dengan teman

Faktor hubungan dengan teman berperan dalam perkembangan konsep diri. Hubungan dengan teman dapat menimbulkan rasa cinta yang terwujud dalam bentuk penerimaan terhadap diri sendiri ataupun penerimaan terhadap teman.

g. Faktor identitas

Faktor identitas yaitu kemampuan seseorang untuk belajar memiliki dan membentuk gambaran mengenai dirinya sendiri.

h. Faktor perasaan diri

Faktor perasaan diri artinya perasaan terhadap dirinya sendiri. Pengembangan perasaan diri pada usia remaja bersifat aktif serta partisipatif dengan menggunakan segala sarana yang ada di lingkungan sekitarnya.

i. Faktor harga diri

(34)

j. Faktor kepercayaan diri

Faktor kepercayaan diri adalah kemampuan remaja untuk mengembangkan rasa percaya diri. Kepercayaan diri ini bertujuan untuk meningkatkan citra diri remaja melalui tingkah laku yang didasarkan pada minat, gaya hidup dan nilai-nilai kehidupan.

Pudjijogyanti (1985) mengungkapkan 4 hal yang dapat mempengaruhi konsep diri seseorang, yaitu:

Citra diri

Terbentuk melalui refleksi dan tanggapan individu mengenai keadaan fisiknya. Citra fisik mencakup keadaan fisik secara keseluruhan, misalnya rambut lurus, kulit halus, tubuh gemuk, dan sebagainya. Burns (dalam Pudjijogyanti, 1985) menyatakan bahwa bentuk tubuh mempunyai peranan dalam pembentukan kepribadian. Penilaian yang positif terhadap keadaan fisik baik berasal dari diri sendiri maupun orang lain sangat membantu perkembangan konsep diri ke arah positif. Hal ini disebabkan penilaian positif terhadap diri sendiri.

Jenis kelamin

(35)

terhadap dirinya sendiri, kurang percaya diri apabila diminta menunjukkan kemampuannya. Penelitian Douvan & Adelson (dalam Pudjijogyanti, 1985) menyatakan bahwa konsep diri laki-laki dipengaruhi prestasinya sedangkan konsep diri perempuan dipengaruhi oleh daya tarik dan popularitasnya.

 Perilaku orang tua

Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam membentuk konsep diri anak karena lingkungan keluarga pertama kali menanggapi perilaku individu. Pengalaman anak dalam berinteraksi dengan seluruh anggota keluarga akan mempengaruhi interaksinya dengan orang lain. Studi yang dilakukan oleh Coopersmith (Burns dalam Pudjijogyanti, 1985) menyatakan bahwa kondisi keluarga yang buruk dapat menyebabkan konsep diri anak menjadi rendah. Mead (dalam Rakhmat, 1999) menyatakan bahwa konsep diri seseorang dipengaruhi oleh kehadiran orang-orang dekatnya seperti orang tua dan saudara-saudaranya.

Faktor sosial

(36)

reaksi orang lain terhadap dirinya atau tingkah lakunya, bagaimana pujian-pujian atas segala prestasi yang dibuat ataupun segala hukuman atas kesalahan-kesalahannya akan membentuk suatu konsep tentang dirinya sendiri.

Berdasarkan beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya konsep diri maka disimpulkan bahwa perkembangan konsep diri dipengaruhi oleh citra diri mencakup keadaan fisik secara keseluruhan, jenis kelamin, perilaku orang tua, faktor sosial yang mencakup interaksi individu dengan orang lain di sekitarnya.

B. Penyesuaian Diri Di Sekolah

1. Pengertian Penyesuaian Diri di Sekolah

Schneiders (1964) mengartikan penyesuaian sebagai suatu cara khas dari individu dalam mengadakan reaksi terhadap situasi dari dalam diri maupun dari luar dirinya. Situasi dari dalam diri individu adalah seperti adanya usaha untuk mengatasi ketegangan, kebutuhan maupun konflik yang ada dengan baik sehingga ada keselarasan antara kebutuhan dari dalam dengan tuntutan dari lingkungan.

(37)

memelihara keindahan, keamanan, dan ketenangan lingkungan sekolah sehingga siswa dapat belajar dengan baik (Agustiani, 2006).

Selain itu, Schneiders (1964) juga mendefinisikan penyesuaian diri di sekolah sebagai kemampuan siswa untuk berinteraksi seefektif mungkin dalam usaha mencapai keseimbangan diri dengan kenyataan dan situasi sekolah. Kemampuan yang dimaksud adalah untuk melakukan suatu perbuatan sehingga kebutuhan dapat terpenuhi melalui sikap penerimaan dan kepuasan diri.

(38)

menjalin relasi yang baik dengan teman-teman sebaya yang ada di lingkungan sekolah tersebut, apabila siswa dapat menjalin relasi yang baik dengan teman-temannya maka ia akan merasa betah dan nyaman berada di lingkungan sekolah tersebut. Apabila siswa menjalin relasi yang baik dengan teman sebaya akan menimbulkan tumbuhnya sikap tenggang rasa, setia kawan, saling membantu, bertanggung jawab, jujur, dan dapat bekerja sama dengan orang lain.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri di sekolah berarti kemampuan siswa untuk hidup dan berinteraksi seefektif mungkin di lingkungan sekolah sehingga siswa dapat mengenal keadaan dan kondisi sekolah dengan baik, menggunakan fasilitas sekolah serta memelihara keindahan, keamanan, dan ketenangan lingkungan sekolah.

2. Aspek-aspek Penyesuaian Diri di Sekolah

Penyesuaian diri di sekolah terdiri dari empat aspek, yaitu: (Schneiders, 1964)

C. Kepatuhan siswa terhadap peraturan sekolah, yaitu:

ketaatan siswa terhadap aturan-aturan yang ditetapkan dan berlaku di sekolah.

D. Partisipasi dalam kegiatan sekolah, yaitu:

(39)

E. Partisipasi dan kerjasama dalam kegiatan kelompok, yaitu:

keikutsertaan dan kerjasama siswa dalam kegiatan yang diselenggarakan secara kelompok.

F. Hubungan yang sehat dan akrab dengan siswa lain dan guru, yaitu: kemampuan untuk menjalin hubungan yang akrab dan tidak menimbulkan konflik dengan teman dan guru.

3. Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri di Sekolah

Penyesuaian diri di sekolah dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain: 5. Faktor internal

Kondisi internal individu merupakan faktor yang berperan dalam penyesuaian diri di sekolah. Schneiders (1964) menyebutkan faktor tersebut antara lain:

f. Kondisi fisik dan penentuan-penentuannya, yaitu keturunan, konstitusi fisik dan kesehatan.

g. Perkembangan kemasakan, terutama kematangan intelektual, sosial, moral dan emosi.

h. Faktor-faktor psikologis yang meliputi konsep diri, pengalaman belajar, frustasi dan konflik.

(40)

juga menjelaskan bahwa remaja yang memiliki konsep diri positif mampu menyelaraskan diri dengan lingkungannya, sehingga ia dapat mengambil manfaat dari lingkungannya yang pada gilirannya menjadi pendorong dalam hal pencapaian penyesuaian diri yang positif atau tinggi pula.

Selanjutnya, Hurlock (1991) juga menjelaskan bahwa emosi juga mempunyai keterkaitan dengan penyesuaian, baik emosi yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Emosi ini mempengaruhi setiap tindakan remaja dalam melakukan penyesuaian diri di lingkungannya.

Intelegensi mempunyai cukup peranan dalam penyesuaian diri di sekolah. Intelegensi yang digunakan dengan baik dapat menjadikan hidup lebih efektif. Siswa yang mempunyai intelegensi yang cukup dapat menghadapi masalah yang ada di sekolah, baik yang berkaitan dengan hubungan sosial, pelajaran, aktivitas sekolah serta peraturan yang ada.

(41)

9. Faktor eksternal

Faktor eksternal yang mempunyai pengaruh terhadap penyesuaian diri di sekolah adalah:

j. Kondisi keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak. Melalui keluarga anak belajar memahami dunia dan dasar-dasar pada pergaulan hidup yang baik dan benar. Simanjuntak dan Pasaribu (1980) mengatakan bahwa keluarga memberikan stimulasi awal pada anak, membentuk dan menempa anak untuk menghadapi lingkungan yang lebih kompleks sehingga anak tidak jatuh ke dalam pengaruh buruk, namun tidak semua keluarga dapat menciptakan kondisi yang seperti itu. Beberapa kondisi keluarga yang kurang mendukung bagi perkembangan anak, seperti yang diungkapkan oleh Hurlock (1991) antara lain:tidak ada bimbingan dari orang tua, tidak ada model untuk dicontoh dan pola perilaku yang dikembangkan di rumah. Kondisi seperti ini membuat anak tidak dapat melakukan penyesuaian dengan baik ketika berada di luar rumah seperti di sekolah dan masyarakat.

k. Lingkungan sekolah

(42)

melihat reaksi mereka terhadap perilakunya. Pemahaman ini dapat dijadikan bekal bagi dirinya untuk mengembangkan perilaku yang tepat, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri di sekolah, yaitu: faktor internal yang meliputi kondisi fisik, perkembangan kemasakan, faktor-faktor psikologis serta faktor eksternal yang meliputi kondisi keluarga dan lingkungan sekolah.

4. Konteks Penyesuaian Diri di Sekolah

Willis (1981) menyatakan bahwa penyesuaian diri siswa selama di sekolah meliputi beberapa konteks yaitu: penyesuaian diri dengan guru, mata pelajaran, teman sebaya dan lingkungan sekolah.

Pertama, penyesuaian diri terhadap guru banyak tergantung kepada

(43)

informasi tentang keluhan siswanya, keinginan mereka dan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi.

Kedua, penyesuaian diri terhadap mata pelajaran. Dalam hal ini

kurikulum hendaknya disesuaikan dengan umur, tingkat kecerdasan, kebutuhan. Dengan jalan demikian anak dengan mudah akan dapat menyesuaikan dirinya terhadap mata pelajaran yang diberikan kepadanya. Tetapi hal ini juga banyak tergantung kepada gurunya, yaitu kemampuan menggunakan metode mengajar yang tepat, pemahaman psikologi anak, sikap loyal terhadap pendidikan, berwibawa dan lain-lain. Guru yang sudah menguasai ilmu yang akan diajarkan, belum menjamin bahwa siswa akan segera memahami apa yang diajarkan guru itu, karena jika ia misalnya bersikap keras, suka marah dan lain-lain, tentu siswa akan membencinya dan pada gilirannya akan membenci juga ilmu yang diajarkan guru tersebut. Guru yang memberikan pelajaran secara humor dan bersahabat dengan siswa, pelajarannya akan mudah dipahami siswa, karena adanya suasana bebas berfikir dan gembira serta menarik minat.

Ketiga, penyesuaian diri terhadap teman sebaya. Hal ini amat

(44)

akan dapat merubah sikapnya menjadi anak yang sosial, karena di dalam pergaulan dengan teman sebaya ia akan dikritik jika mempunyai sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai atau norma-norma kelompok, namun jika sikap-sikapnya belum berubah kemungkinan akan dimusuhi oleh kelompok teman sebaya itu atau dikucilkan.

Keempat, penyesuaian diri terhadap lingkungan sekolah. Dalam hal

(45)

C. Remaja

1. Pengertian Remaja

Erikson menyatakan bahwa remaja merupakan seseorang pada masa di mana terbentuk suatu perasaan baru mengenai identitas yang mencakup cara hidup pribadi yang dialami sendiri dan sulit dikenal oleh orang lain. (Gunarsa, 1986). Neidhart menyatakan bahwa remaja merupakan seseorang yang berada pada masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa di mana individu sudah harus dapat untuk berdiri sendiri (Gunarsa, 1986).

Remaja merupakan individu yang berada pada masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, namun belum mampu memegang tanggung jawab seperti orang dewasa. Hal ini disebabkan karena pada masa ini remaja mengalami kegoncangan di dalam melepas nilai-nilai yang lama dan memperoleh nilai-nilai yang baru untuk mencapai kedewasaan (Willis, 1981).

WHO mendefinisikan remaja dalam 3 kriteria (Sarwono, 1988): a. Remaja adalah suatu masa dimana individu berkembang dan saat

pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai pada saat ia mencapai kematangan seksual (biologis).

(46)

c. Remaja adalah suatu masa dimana di dalam diri individu terjadi pemilihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh keadaan yang relatif mandiri (sosial ekonomi).

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa remaja adalah seseorang yang berada pada masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, yang mengalami perubahan fisik maupun psikis dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi masa dewasa dalam mencapai kemampuan menemukan identitas diri.

2. Ciri-ciri Remaja

Masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan denga periode sebelumnya (Hurlock, 1991). Ciri-ciri tersebut adalah: a. Masa remaja sebagai periode yang penting

Masa remaja dianggap periode yang penting karena akibatnya langsung terhadap sikap dan perilaku, juga karena akibat jangka panjang.

b. Masa remaja sebagai periode peralihan.

Dalam periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa.

c. Masa remaja sebagai periode perubahan.

(47)

2) Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosialnya.

3) Dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah.

4) Bersikap ambivalen. Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan tetapi sering takut bertanggung jawab akan akibatnya.

d. Masa remaja sebagai usia bermasalah.

Ada dua alasan remaja sulit mengatasi masalah:

1) Masalah yang dialami sepanjang masa kanak-kanak, diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga sebagian besar tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah yang terjadi.

2) Remaja yang merasa mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru. e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas

Pada tahun-tahun awal remaja, penyesuaian diri terhadap kelompok masih tetap penting bagi remaja, namun lambat laun mereka mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman dalam segala hal seperti sebelumnya.

f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan.

(48)

merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja yang takut bertanggung jawab.

g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realitik.

Remaja cenderung melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita.

h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.

Remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat perbuatan seks.

D. Siswa Kelas X

1. Pengertian Siswa Kelas X

Menurut sistem pendidikan di Indonesia, siswa kelas X merupakan peserta didik di sekolah formal yang sedang menjalani tingkatan X dan sudah melampaui tingkatan wajib belajar 9 tahun.

(49)

2. Konsep Diri pada Siswa Kelas X

Secara psikologis siswa kelas X mulai mencari jati diri yang termanifestasi dalam bentuk keinginan untuk berada dalam kelompoknya, mencari tokoh-tokoh ideal, yang biasanya meniru atau diarahkan pada kehidupan orang dewasa (Agustiani, 2006).

Willis (1981) menyatakan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa kelas X sering memberikan dampak yang besar terhadap konsep dirinya. Keadaan ini terjadi karena siswa kelas X sendirilah yang merupakan penilai yang penting terhadap tubuhnya. Bila siswa kelas X mengerti bahwa keadaan fisiknya memenuhi syarat yang ditentukan maka akan memberikan keuntungan positif bagi dirinya, sebaliknya apabila terjadi ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan maka dapat memberikan dampak yang negatif berupa ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri.

Jersild (1965) menyatakan bahwa siswa kelas X yang mengalami penolakan diri biasanya dikatakan memiliki konsep diri yang rendah atau negatif dan siswa tersebut sulit untuk menerima dirinya sendiri seperti apa adanya, selanjutnya siswa itu akan menyangka orang lain tidak menyukai dirinya, dan tidak yakin terhadap dirinya sendiri.

(50)

menyebabkan dirinya enggan untuk membina hubungan dengan orang di sekitarnya. Hal inilah yang seringkali menjadikan siswa kelas X mengalami kesulitan dalam bergaul dan akhirnya menghambatnya ketika harus menyampaikan ide, pendapat atau gagasannya kepada orang lain.

Penilaian-penilaian yang dapat diterima oleh siswa kelas X, tidak akan menimbulkan masalah, sebaliknya penilaian orang lain yang tidak dapat diterima oleh siswa kelas X, akan menimbulkan permasalahan tersendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Helmi dan Ramdhani (1992) mendapatkan hasil bahwa siswa dengan konsep diri yang tinggi ternyata juga mempunyai kemampuan bergaul dengan orang lain, sebaliknya siswa yang mempunyai konsep diri yang rendah ternyata mengalami kesulitan bergaul dengan orang lain.

Konsep diri merupakan hal yang penting pada siswa kelas X yang berada pada masa-masa remaja. Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Secara fisik siswa kelas X dapat dikatakan telah dewasa tetapi secara psikis masih sangat labil emosinya. Perkembangan psikis yang terpenting pada masa ini adalah usaha siswa kelas X mencari jati dirinya (Wanei, 2006).

(51)

membuat siswa tersebut bertanya-tanya tentang konsep dirinya sehingga membuat konsep diri siswa menjadi tidak konsisten.

E. Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Penyesuaian Diri Di Sekolah Pada Siswa Kelas X SMU

Siswa kelas X yang termasuk dalam kategori remaja memiliki ciri perkembangan yakni perkembangan fisik, emosi, sosial, intelektual, psiko-seksual, dan pemahaman diri. Hal tersebut menyebabkan siswa kelas X harus mampu melakukan penyesuaian diri terhadap perubahan-perubahan perkembangan yang dialaminya. Proses penyesuaian ini tidak terjadi dengan sendirinya, siswa kelas X harus belajar agar dapat berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, dan ini memerlukan waktu, kemasakan dan kemampuan individu untuk merespon tuntutan-tuntutan yang timbul baik berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

(52)

Selain melakukan penyesuaian terhadap dirinya, siswa kelas X yang termasuk dalam kategori remaja juga diharuskan melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosialnya. Salah satu penyesuaian diri siswa terhadap lingkungan sosialnya adalah penyesuaian diri siswa di sekolah. Penyesuaian diri di sekolah meliputi penyesuaian diri terhadap guru, mata pelajaran, teman sebaya dan lingkungan sekolah.

Unsur kepribadian yang berkaitan dengan penyesuaian diri pada siswa kelas X adalah konsep diri. Konsep diri merupakan pandangan seseorang terhadap dirinya yang merupakan hasil pengalamannya berinteraksi dengan orang lain yang mempunyai arti penting dalam kehidupan orang yang bersangkutan. Partosuwido (1992) mengatakan bahwa keberhasilan ataupun kegagalan seseorang dalam menyesuaikan dirinya banyak ditentukan oleh konsep dirinya.

(53)

tidak disadari, tetapi juga umumnya berlangsung tanpa disadari, misalnya melalui sikap orang tua, lingkungan maupun pengalaman.

Pembentukan konsep diri ini dapat mengarah pada konsep diri yang positif dan konsep diri yang negatif. Siswa kelas X yang memiliki konsep diri positif merupakan siswa yang percaya diri, penerimaan terhadap dirinya baik, optimis, harga dirinya tinggi, dan mempunyai perasaan aman. Sebaliknya siswa kelas X yang memiliki konsep diri negatif merupakan siswa yang tidak percaya diri, kurang penerimaan diri, menarik diri dari pergaulan, pesimis, harga diri rendah, tidak aman dan sangat peka terhadap kritikan.

Calhoun (1990) mengungkapkan bahwa seorang individu yang mengembangkan konsep diri negatif, akan segera tampak dalam perilaku-perilaku yang negatif, seperti menarik diri dari pergaulan, sedikit melibatkan diri dalam kegiatan-kgiatan kelompok, atau menjadi agresif dan bersikap bertahan. Sebaliknya individu yang mengembangkan konsep diri positif juga akan tampak pada perilaku-perilakunya yang positif sehingga dapat dengan mudah melakukan penyesuaian terhadap diri dan lingkungannya.

(54)

kelas X yang memiliki konsep diri negatif, ketika dihadapkan pada suatu kondisi lingkungan sekolah terutama kondisi sekolah yang tidak kondusif, akan mengalami ketidakmampuan dalam melakukan penyesuaian diri di sekolah. Hal ini tampak pada ketidaktaatan siswa dalam mematuhi segala peraturan sekolah, kurang aktif dan kurang berpartisipasi dalam kegiatan sekolah dan kegiatan kelompok, serta kurang memiliki hubungan yang sehat dan akrab dengan siswa lain dan guru.

(55)
(56)

E. HIPOTESIS

(57)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional. Penelitian korelasional ini bertujuan untuk mendeteksi sejauhmana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain, berdasarkan pada koefisien korelasi (Suryabrata, 1979). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yaitu konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah.

B. Variabel Penelitian

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: G. Variabel Tergantung : Penyesuaian diri di sekolah.

H. Variabel Bebas : Konsep diri.

C. Definisi Operasional

Definisi operasional variabel adalah penegasan arti konstruk atau varibel yang dinyatakan dengan cara tertentu untuk mengukurnya. Definisi operasional ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman mengenai data yang dikumpulkan dan menghindari kesesatan dalam menentukan alat pengumpulan data. Adapun definisi operasional variabel penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut:

(58)

1. Konsep diri

Konsep diri merupakan pandangan individu terhadap keadaan fisik, psikologis, jenis kelamin, kognisi sosial, pekerjaan, motivasi, tujuan ataupun emosi yang merupakan hasil penilaian terhadap dirinya dan pengalamannya berinteraksi dengan orang lain yang mempunyai arti penting dalam kehidupan orang yang bersangkutan.

Pengukuran konsep diri menggunakan skala konsep diri dengan berdasarkan pada teori Berzonsky (1981) yang mencakup aspek fisik, psikis, sosial dan moral. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin positif konsep dirinya, begitu juga sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh menunjukkan semakin negatif konsep dirinya.

2. Penyesuaian diri diri di sekolah

Penyesuaian diri di sekolah berarti kemampuan siswa untuk hidup dan berinteraksi seefektif mungkin di lingkungan sekolah sehingga siswa dapat mengenal keadaan dan kondisi sekolah dengan baik, menggunakan fasilitas sekolah serta memelihara keindahan, keamanan, dan ketenangan lingkungan sekolah.

(59)

siswa di sekolah dapat dikatakan berhasil, begitu juga sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh menunjukkan ketidakberhasilan siswa dalam melakukan penyesuaian diri di sekolah.

D. Subjek Penelitian

Suatu penelitian membutuhkan subjek penelitian untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung diterapkan pada subjek penelitian tersebut. Subjek dari penelitian ini adalah para siswa kelas X SMU 2 Bantul, dengan karakteristik sebagai berikut:

4. Siswa kelas X, dengan pertimbangan karena siswa kelas X yang termasuk dalam kategori remaja berada dalam masa penyesuaian atau masa transisi terhadap dirinya dan lingkungan (Jersild & Brooks, 1978). Alasan lain karena siswa-siswa kelas X baru saja mengalami perpindahan lingkungan pendidikan yang menuntut siswa-siswa tersebut melakukan penyesuaian diri di lingkungan sekolah barunya.

(60)

6. Pemilihan SMU 2 Bantul karena SMU ini merupakan salah satu sekolah yang rusak akibat bencana gempa bumi sehingga menyebabkan proses belajar-mengajar di sekolah menjadi terganggu. Hal ini merupakan tantangan bagi para siswa untuk dapat lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Selain itu karena peneliti telah mengenal lokasi penelitian sehingga dapat memperoleh kemudahan perijinan dari Kepala Sekolah SMU 2 Bantul.

E. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini sepenuhnya menggunakan skala. Skala yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu skala penyesuaian diri di sekolah dan konsep diri. Kedua skala tersebut disusun dengan metode rating yang dijumlahkan (summated rating method), yakni metode skala pernyataan sikap yang menggunakan

(61)

di tengah (central tendency effect) terutama bagi subjek yang tidak yakin pada jawabannya yang pasti. Berikut ini disajikan penyusunan skala:

A. Skala konsep diri.

Aspek-aspek yang akan diungkap pada skala konsep diri adalah aspek fisik, psikis, sosial, moral. Skala konsep diri sendiri terdiri dari 72 pernyataan yang terbagi atas 38 pernyataan yang bersifat favorable dan 34 pernyataan yang bersifat unfavorable.

Tabel 1

Distribusi Item Skala Konsep Diri sebelum Uji Coba

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah Setuju, Setuju, Tidak Setuju, Sangat Tidak Setuju. Pemberian skor skala konsep diri berdasarkan penilaian dalam skala Likert. Penilaian pada skala konsep diri ini bergerak dari empat sampai dengan satu untuk aitem favorable dan satu sampai empat untuk aitem unfavorable. Untuk lebih

jelasnya dapat dilihat tabel sebagai berikut: Tabel 2

(62)

Jawaban Favorable Unfavorable

Sangat Setuju 4 1

Setuju 3 2

Tidak Setuju 2 3

Sangat Tidak Setuju 1 4

F. Skala penyesuaian diri di sekolah.

Aspek-aspek yang akan diungkap pada skala penyesuaian diri adalah kepatuhan siswa terhadap peraturan sekolah, partisipasi dalam kegiatan sekolah, partisipasi dan kerjasama dalam kegiatan kelompok, hubungan yang sehat dan akrab dengan siswa lain dan guru.

Skala penyesuaian diri di sekolah sendiri terdiri dari 72 pernyataan yang terbagi atas 39 pernyataan yang bersifat favorable dan 33 pernyataan yang bersifat unfavorable.

(63)

Tabel 3

Distribusi Item Skala Penyesuaian Diri di Sekolah sebelum Uji Coba

2 Partisipasi dalam kegiatan sekolah 3, 13, 23, 27, 39, 43, 53,

4 Hubungan yang sehat dan akrab dengan siswa lain dan guru

(64)

Tabel 4

Skor berdasarkan Kategori Jawaban

Jawaban Favorable Unfavorable

Sangat Setuju 4 1

Setuju 3 2

Tidak Setuju 2 3

Sangat Tidak Setuju 1 4

F. Validitas Dan Reliabilitas

Ketepatan pengujuan suatu hipotesa tentang atribut penelitian sangat tergantung pada kualitas data yang dipakai dalam pengujian tersebut. Data penelitian tidak akan berguna bila alat pengukur yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian tersebut tidak mewakili validitas dan reliabilitas yang tinggi.

1. Validitas

Validitas alat ukur dalam suatu penelitian sangat diperlukan untuk mengetahui indeks dan ketelitian dalam mengungkapkan gejala yang hendak diukur. Validitas alat ukur adalah ketepatan dan kecermatan instrumen pengukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

Suatu alat ukur yang valid tidak sekedar mampu mengungkap data dengan tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat dalam arti mampu memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya di antara subjek yang satu dengan yang lain (Azwar, 2000).

(65)

analisa rasional, selanjutnya demi memenuhi validitas isi suatu tes adalah dengan melihat apakah aitem-aitem dalam tes telah ditulis sesuai dengan blue print, yaitu telah sesuai dengan batasan domain ukur yang telah

ditetapkan semula dan memeriksa apakah masing-masing aitem telah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkap (Azwar, 1999). Selanjutnya aitem-aitem tersebut dikonsultasikan dengan ahli, dalam hal ini peneliti akan mengkonsultasikannya dengan Dosen Pembimbing, setelah itu diteruskan dengan uji coba aitem.

2. Reliabilitas

Reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya, yaitu sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran kembali terhadap subjek yang sama (Azwar, 2000). Uji reliabilitas skala dalam penelitian ini menggunakan teknik formula Alpha dari program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 13.0, alasannya adalah teknik Alpha merupakan dasar dalam pendekatan konsistensi internal dan merupakan estimasi yang baik terhadap reliabilitas pada banyak situasi pengukuran.

(66)

mempertimbangkan untuk dapat mengurangkan sedikit batas kriteria 0,30 menjadi 0,25 sehingga jumlah aitem yang diinginkan dapat tercapai.

G. Metode Analisis Data

Hubungan antara konsep diri dan penyesuaian diri dapat diketahui dengan menganalis data penelitian ini secara statistik dengan menggunakan korelasi Product Moment dari Pearson, sebab penelitian ini hanya mencari hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung.

(67)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Persiapan Penelitian 1. Uji Coba Alat Ukur

Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti mengadakan uji coba alat ukur terlebih dahulu. Uji coba alat ukur ini memiliki tujuan untuk menguji kesahihan dan keandalan alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian. Uji coba dilakukan pada tanggal 18 April 2007 dengan mengambil subjek siswa kelas X SMU 2 Bantul Yogyakarta.

Jumlah subjek pada uji coba kedua ini adalah 40 subjek. Subjek diberikan skala yang terdiri dari dua jenis skala, yaitu: Skala Konsep Diri (Skala I) dan Skala Penyesuaian Diri di Sekolah (Skala II). Dari hasil uji coba ini, kesemuanya memenuhi kriteria untuk dilakukan analisa terhadap skala tersebut.

2. Pengukuran Skala Konsep Diri

a. Uji Kesahihan Item untuk Skala Konsep Diri

Uji kesahihan item skala dengan menggunakan program SPSS for Window versi 13.0 dengan mengukur korelasi antara item-item yang diuji

dengan skor total subjek. Item dipilih dengan kriteria item total dengan batasan skor ≥ 0,30. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan diperoleh koefisien korelasi item total yang berkisar antara -0,064 sampai dengan 0,748 Dari hasil perhitungan tersebut diperoleh 61 item yang sahih

(68)

dan 11 item yang gugur. Item-item yang gugur tersebut adalah item nomor 2, 6, 12, 13, 16, 24, 26, 32, 33, 53, 63. Berikut ini disajikan disajikan distribusi item-item yang sahih pada tabel 5.

Tabel 5

Distribusi Item Skala Konsep Diri setelah Uji Coba

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah teknik Alpha Cronbach dari program SPSS for Windows versi 13.0. Dari perhitungan tersebut diperoleh koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,968. 3. Pengukuran Skala Penyesuaian Diri di Sekolah

a. Uji Kesahihan Item untuk Skala Penyesuaian Diri di Sekolah

Uji kesahihan item skala dengan menggunakan program SPSS for Window versi 13.0 dengan mengukur korelasi antara item-item yang diuji

(69)

nomor 3, 5, 9, 14, 16, 25, 28, 37, 38, 39, 63, 64, 68. Berikut ini disajikan disajikan distribusi item-item yang sahih pada tabel 6.

Tabel 6

Distribusi Item Skala Penyesuaian Diri di Sekolah setelah Uji Coba

2 Partisipasi dalam kegiatan sekolah 8, 16, 20, 31, 39, 47, 53, 57,

(70)

b. Reliabilitas Skala Penyesuaian Diri di Sekolah

Reliabilitas Skala Penyesuaian Diri di Sekolah dihitung dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach dari program SPSS for Windows versi 13.0. Dari perhitungan tersebut diperoleh koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,954.

B. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1 dan 2 Mei 2007 di SMU 2 Bantul Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kedua skala pada subjek penelitian sebanyak 70 subjek dan kesemuanya memenuhi kriteria untuk dilakukan analisa terhadap skala tersebut.

C. Deskripsi Subjek

(71)

D. Hasil Penelitian 1. Data Penelitian

Tabel 7

Tabel Data Penelitian

Skor Mean

Teoritis Empiris Max Min Max Min

Teoritis Empiris

SD

Konsep Diri 244 61 212 151 152,5 183,64 14,61 Penyesuaian Diri di Sekolah 236 59 206 141 147,5 175,19 14,41

Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa skor nilai rata-rata empiris konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah lebih dari nilai rata-rata teoritis konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah sehingga hal ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata skor subjek cukup tinggi.

2. Uji Asumsi

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis terhadap penelitian perlu dilakukan uji asumsi terhadap data yang diperoleh. Uji asumsi dilakukan untuk memenuhi syarat penggunaan analisis hipotesis sehingga kesimpulan yang diperoleh tidak menyimpang dari semestinya. Uji asumsi ini sendiri terdiri dari uji normalitas dan uji linearitas.

a. Uji Normalitas

(72)

program SPSS for Windows versi 13.0 dengan statistik uji One Sample Kolmogorov Smirnov.

Dari hasil pengujian tersebut, pada variabel konsep diri diperoleh nilai Z sebesar 0,744 dengan p = 0,637, sedangkan pada variabel penyesuaian diri di sekolah diperoleh nilai Z sebesar 0,612 dengan p = 0,848. Persyaratan data disebut normal adalah jika nilai probabilitas atau p > 0,05, dari pengujian pada variabel konsep diri dan variabel penyesuaian diri di sekolah diperoleh nilai p > 0,05, sehingga berdasarkan hasil perhitungan tersebut distribusi subjek adalah distribusi normal.

Tabel 8 Tabel Normalitas

Konsep Diri Penyesuaian Diri di Sekolah

Kolmogorov-Smirnov Z 0,744 0,612

Asymp. Sig. (2-tailed) 0,637 0,848

b. Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan bentuan program SPSS for Windows versi 13.0. Pengujian ini dilakukan untuk

(73)

< 0,05, hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel merupakan garis lurus.

Tabel 9 Tabel Uji Linear

F Sig.

Between (Combined) 4,784 ,000

Group Linearity 136,136 ,000

Deviation from Linearity 1,234 ,276

3. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS for Windows versi 13.0. Pengolahan data untuk mengetahui korelasi antara

(74)

210 ditunjukkan oleh scatter plot di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua variabel memiliki arah korelasi yang positif dan signifikan, atau variabel konsep diri berkorelasi positif dengan variabel penyesuaian diri di sekolah. Jadi dengan demikian hipotesis dari penelitian ini diterima. Artinya, semakin positif konsep diri yang dimiliki oleh siswa kelas X maka dengan demikian penyesuaian diri di sekolah semakin baik pula.

(75)

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian diri di sekolah pada siswa kelas X. Hasil analisa statistik yang dilakukan dengan teknik korelasi Product Moment Pearson diperoleh nilai koefisien korelasi yaitu sebesar 0,800 dengan probabilitas 0,000 (p < 0,01). Nilai tersebut menunjukkan bahwa kedua variabel yaitu konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah mempunyai korelasi positif. Artinya berarti bahwa semakin positif konsep diri siswa maka semakin baik penyesuaian diri di sekolahnya dan sebaliknya semakin negatif konsep diri siswa maka semakin buruk penyesuaian diri di sekolahnya.

Berdasarkan dari hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa hipotesis ini diterima, maka dapat diambil kesimpulan bahwa konsep diri yang positif sangat bermanfaat sebagai landasan utama dalam perwujudan penyesuaian diri di sekolah dan memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi terwujudnya penyesuaian diri di sekolah. Sumbangan efektif konsep diri terhadap penyesuaian diri di sekolah sebesar 64% dan faktor-faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini, antara lain faktor internal yang di dalamnya terdapat kematangan intelektual serta perbedaan gender dan faktor eksternal seperti kondisi keluarga juga turut memberikan pengaruh sebesar 36%.

(76)

lain atau masyarakat. Dengan meyakinkan diri sendiri dan orang lain atau masyarakat, bahwa dirinya telah mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangan secara efektif, maka ia dapat mempersiapkan diri menjelang masa dewasanya.

Siswa kelas X yang memiliki konsep diri positif menerima dirinya apa adanya sesuai realita yang ada tanpa ada sedikitpun penyangkalan serta mampu melihat kemampuan yang ada di dalam dirinya sehingga di dalam diri mereka timbul kepercayaan diri. Siswa kelas X yang mempunyai kepercayaan diri akan mudah melakukan penyesuaian diri baik perubahan fisik, pola emosi, sosial, minat, moral dan kepribadian, serta terhadap perubahan lingkungan pendidikan yang baru. Proses penyesuaian ini tidak terjadi sendirinya, siswa kelas X harus belajar agar dapat berhasil dalam menyesuaikan diri, dan ini memerlukan waktu, kemasakan dan kemampuan individu untuk merespon tuntutan-tuntutan yang timbul baik berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

(77)

terhadap kompetisi, responsif terhadap pujian, peka terhadap kritik, sehingga mengakibatkan ketidakpercayaan diri, yang menimbulkan rasa rendah diri dalam bergaul.

Siswa kelas X yang memiliki konsep diri positif akan mampu menyelaraskan diri dengan lingkungannya, sehingga ia dapat mengambil manfaat dari lingkungannya yang pada gilirannya menjadi pendorong pencapaian penyesuaian diri yang tinggi (Pudjianto, 2000). Kondisi lingkungan sekolah yang tidak kondusif akibat gempa bumi, tidak begitu berpengaruh pada siswa kelas X dalam melakukan penyesuaian diri di sekolahnya. Dalam artian siswa kelas X mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolahnya, walaupun kondisi lingkungan sekolahnya tidak kondusif.

Konsep diri memiliki empat aspek yaitu aspek fisik, aspek psikis, aspek sosial dan aspek moral. Dari hasil penelitian, dinyatakan bahwa ada korelasi positif antara konsep diri dan penyesuaian diri di sekolah.

Aspek pertama dalam konsep diri adalah aspek fisik. Siswa kelas X yang dapat melakukan penilaian dengan baik terhadap segala sesuatu yang dimilikinya akan mudah diterima di lingkungan sekolahnya. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Mathes & Kahn (dalam Hurlock, 1991) bahwa remaja yang puas dengan penampilannya akan lebih mudah bergaul dan lebih mudah diterima sehingga lebih mudah menyesuaikan diri.

Gambar

Gambar 2 Scatter Plot......................................................................................
Gambar 2 Scatter Plot . View in document p.18
Tabel 2Skor berdasarkan Kategori Jawaban ...............................................
Tabel 2Skor berdasarkan Kategori Jawaban . View in document p.19
Gambar 1. Skema Hubungan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri di Sekolah
Gambar 1 Skema Hubungan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri di Sekolah . View in document p.55
Tabel 2
Tabel 2. View in document p.61
Distribusi Item Skala Penyesuaian Diri di SekolahTabel 3
Distribusi Item Skala Penyesuaian Diri di SekolahTabel 3 . View in document p.63
Tabel 4Skor berdasarkan Kategori Jawaban
Tabel 4Skor berdasarkan Kategori Jawaban. View in document p.64
Tabel 5Distribusi Item Skala Konsep Diri setelah Uji Coba
Tabel 5Distribusi Item Skala Konsep Diri setelah Uji Coba. View in document p.68
Tabel 7Tabel Data Penelitian
Tabel 7Tabel Data Penelitian. View in document p.71
Tabel 8Tabel Normalitas
Tabel 8Tabel Normalitas. View in document p.72
Tabel 9Tabel Uji Linear
Tabel 9Tabel Uji Linear. View in document p.73
Gambar 2Scatter Plot
Gambar 2Scatter Plot. View in document p.74

Referensi

Memperbarui...

Download now (92 pages)
Related subjects : Sarjana Psikologi