Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

0
0
123
1 year ago
Preview
Full text

  

PERAN DUKUNGAN SOSIAL PASANGAN TERHADAP

INTENSI BERHENTI MEROKOK

  

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

  

Disusun Oleh :

Betty Setika Purnaningrum

NIM : 049114064

  

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

PERAN DUKUNGAN SOSIAL PASANGAN TERHADAP

INTENSI BERHENTI MEROKOK

  

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

  

Disusun Oleh :

Betty Setika Purnaningrum

NIM : 049114064

  

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

SKRIPSI PERAN DUKUNGAN SOSIAL PASANGAN TERHADAP

  Oleh : Betty Setika Purnaningrum

  NIM : 049114064 Telah disetujui oleh :

  Pembimbing Tanggal ………………… V. Didik Surya H., S. Psi., M. Si.

  SKRIPSI

PERAN DUKUNGAN SOSIAL PASANGAN TERHADAP INTENSI BERHENTI MEROKOK

  Dipersiapkan dan ditulis oleh Betty Setika Purnaningrum

  NIM : 049114064 Telah dipertahankan didepan Panitia Penguji

  Pada tanggal…………………… Dan dinyatakan memenuhi syarat

  Susunan Panitia Penguji Nama Lengkap Tanda Tangan 1. Ketua : V. Didik Surya H., S.Psi., M.Si. ……................

  2. Penguji I : A. Tanti Arini, S.Psi., M.Si. ………………

  3. Penguji II : YB. Cahyo Widiyanto, S.Psi., M.Si. ……………… Yogyakarta, …………………..

  Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

  Dekan,

  

Karya ini aku persembahkan untuk :

Tuhan Yesus, tempat aku bergantung

Bapak Petrus Purwanto

&

  

Ibu Agatha Supriyati

Keluarga

Sahabat –sahabatku

  Moto Hidupku : Apabila menghadapi keputusan – putuskanlah Apabila menghadapi pilihan – pilihlah

Tidak berbuat apa-apa hanya menambah ketegangan

Karena Anda tidak kalah…. Tetapi menang juga tidak!

  Barry Spilchuk

  ABSTRAK PERAN DUKUNGAN SOSIAL PASANGAN TERHADAP INTENSI BERHENTI MEROKOK Betty Setika Purnaningrum

  Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  2008 Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara dukungan sosial pasangan dengan intensi berhenti merokok. Penelitian dilakukan pada 60 pria perokok yang ingin berhenti merokok, sudah menikah, berusia 25-30 tahun, dan pasangan wanita bermasalah dengan kebiasaan merokok pasangannya. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan positif antara dukungan sosial pasangan dengan intensi berhenti merokok. Data penelitian diungkap dengan skala dukungan sosial pasangan yang mempunyai reliabilitas 0.961 dan skala intensi berhenti merokok yang mempunyai reliabilitas 0.947. Analisis data dilakukan dengan korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan korelasi sebesar 0.563, p = 0.000 (p <0.001), yang berarti ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial pasangan dengan intensi berhenti merokok pada taraf signifikasi 1 %. ABSTRACT THE ROLE OF COUPLE’S SOCIAL SUPPORT TOWARDS THE INTENTION

  TO STOP SMOKING Betty Setika Purnaningrum

  Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  2008 This research was keen to find out whether a correlation exists between a social support from the couple and the intention to stop smoking. This research had done to 60 smokers who wish to stop smoking. Subjects are married man, aged 25-30 years old, having a wife who is bothered by his smoking habit. The hypothesis was that there is a positive correlation between the social support from the couple and the intention to stop smoking. The data was revealed by the scale of social support from couple with the reliability 0.961 and the intention to stop smoking scale was 0.947. The data was analyzed with Pearson Product Moment Correlation. The correlation coefficient that was shown by the result was 0.563, p = 0.000 (p < 0.001). It means that there is a significant positive correlation between social support from the couple and the intention to stop smoking at 1% significant level.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Bapa di surga yang selalu membimbing penulis dalam menyelesaikan tulisan ini. Penulis juga menyadari bahwa dalam proses pengerjaan skripsi ini penulis tidak sendirian. Skripsi ini tidak akan selesai apabila tidak ada mereka yang dengan tulus dan senang hati membantu penulis. Oleh karena itu, penulis dengan tulus ingin mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang sangat berperan dalam proses pengerjaan skripsi ini dan juga dalam kehidupan penulis :

  1. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si. Selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan fasilitas-fasilitas dan kemudahan dalam menyelesaikan skripsi dan kegiatan akademik.

  2. Bapak V. Didik Surya H., S.Psi., M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang dengan sabar memberikan arahan, masukan, dan waktu untuk memperbaiki skripsi ini, serta dorongan untuk menyelesaikan skripsi ini.

  3. Mbak Etta selaku Dosen Pembimbing Akademik yang tidak lelah memberikan semangat, dukungan, dan menjadi tempat untuk berdiskusi.

  4. Bapak Heri yang dengan sabar mengajari penulis berkaitan dengan penghitungan statistik.

  5. A. Tanti Arini, S.Psi., M.Si. selaku dosen penguji I

  6. YB. Cahyo Widiyanto, S.Psi., M.Si. selaku dosen penguji II

  7. Bapak Petrus Purwanto dan Ibu Agatha Supriyati yang selalu mendampingi penulis, memberikan nasehat-nasehat, memberikan dukungan materiil dan non materiil sehingga penulis selalu bersemangat untuk menyelesaikan skripsi.

  8. Mbak Ary Setika yang selalu menjadi tempat mengeluh dan berdiskusi tentang pengerjaan skripsi juga dek Alfi yang selalu menghibur penulis dengan pelukan-pelukan kecil.

  9. Keluarga besar Pawiro Setiko dan Marto Suwito, terima kasih atas dorongan- dorongan dan nasehat yang diberikan.

  10. Yudi Widyantoro yang selalu sabar mendampingi penulis dan memberikan semangat. Terima kasih buat cinta dan kasih sayangnya selama 8 tahun ini semoga tahun-tahun selanjutnya bisa kita lewati juga.

  11. Mas Gandung, Mas Doni, Mas Muji, Pak Gie, dan Mbak Nanik yang membantu kelancaran kegiatan akademik.

  12. Sahabatku Agatha Tristanti, terima kasih buat persahabatan yang indah ini, cerewetnya dan bercandaannya…juga bantuannya buat terjemahin abstrak.

  13. Teman-temanku, Pikha, Cik Yen, Cik Woel, Cik Nyun, Adip, Wawan, dan Yoyok terima kasih buat kasih sayang dan saling memiliki. Adip….ini bukan perfeksionis atau ambisius tapi masalah cita-cita dan perjuangan tapi makasih juga buat semangat dan pemikiran bijakmu.

  14. Kakak-kakakku, Mba Ella dan Mba Ullin yang selalu siap membantu.

  15. Budi dan Badai, yang selalu mengingatkan untuk tetap fokus pada skripsi, membantu dengan iklas, dan menjadi tempat berdiskusi serta keluhan buat

  16. Andreas Wibi, buat bantuannya masalah komputer dan printer. 17. 367B’ers, Cik Woel, Widuk, Dee, Mba Dewik, Ma-Ir, Ajenx, Dex Nimas terima kasih buat seru-seruannya, semangat saat penulis bosan, kebersamaan, dan kasih sayang… Ma-Ir, terimakasih sudah membantu skoring.

  18. Teman-teman di P2TKP, Mba Tia, Mas Desta, AB, Mba Otic, Mba Gothe, Wiwid, Mas Rondang, Fani, Tina, Vania, Atiex, Weni, Lia, dan Mitha.

  19. Teman-teman 2004 yang selalu menjadi tempat berdiskusi, sasa, ndaru, mumun, elis, anggit, dan teman-teman lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Akan tetapi, penulis berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi semua yang membaca dan bagi ilmu pengetahuan.

  Penulis Betty Setika Purnaningrum

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ………………………………………………………... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………………….. ii HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………. iii HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………….. iv HALAMAN MOTTO ……………………………………………………….. v HALAMAN KEASLIAN KARYA …………………………………………. vi ABSTRAK …………………………………………………………………... vii ABSTRACT ………………………………………………………………….viii KATA PENGANTAR ………………………………………………………. ix DAFTAR ISI ………………………………………………………………… xii DAFTAR TABEL …………………………………………………………… xv DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………xvi

  BAB I. PENDAHULUAN ………………………………………………… 1 A. Latar Belakang Masalah ………………………………………. 1 B. Rumusan Masalah ……………………………………………... 6 C. Tujuan Penelitian ……………………………………………… 6 D. Manfaat Penelitian …………………………………………….. 6 BAB II. LANDASAN TEORI ……………………………………………… 8 A. Intensi Secara Umum ………………………………………….. 8

  1. Pengertian Intensi ………………………………………….. 8

  B. Intensi Berhenti Merokok ……………………………………... 12

  BAB III. METODOLOGI PENELITIAN …………………………………... 24 A. Jenis Penelitian ………………………………………………… 24 B. Subyek Penelitian ……………………………………………… 24 C. Identifikasi Variabel Penelitian ………………………………... 25 D. Definisi Operasional …………………………………………... 25

  1. Validitas …………………………………………………… 32

  G. Pertanggungjawaban Mutu ……………………………………. 32

  F. Prosedur Penelitian ……………………………………………. 31

  E. Alat Pengumpulan Data ……………………………………….. 26

  2. Dukungan Sosial Pasangan ………………………………... 25

  1. Intensi Berhenti Merokok …………………………………. 25

  E. Hipotesis Penelitian …………………………………………… 23

  1. Pengertian Intensi Berhenti Merokok ……………………... 12

  D. Hubungan Antara Dukungan Sosial Pasangan Terhadap Intensi Berhenti Merokok …………………………………………....... 19

  3. Arti Dukungan Sosial Pasangan …………………………… 17

  2. Jenis Dukungan Sosial …………………………………….. 16

  1. Pengertian Dukungan Sosial ………………………………. 15

  C. Dukungan Sosial …….. ……………………………………….. 15

  2. Faktor Yang Mempengaruhi Intensi Berhenti Merokok …... 14

  2. Seleksi Item ………………………………………………... 33

  H. Analisis Data …………………………………………………... 35

  BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …………………… 36 A. Deskripsi Hasil Penelitian ……………………………………... 36

  1. Deskripsi Subyek Penelitian ………………………………. 36

  2. Deskripsi Data Penelitian ………………………………….. 36

  B. Hasil Penelitian ………………………………………………... 37

  1. Uji Asumsi Data Penelitian ………………………………... 38

  2. Pengujian Hipotesis Penelitian ……………………………. 39

  C. Hasil Penelitian Tambahan ……………………………………. 40

  D. Pembahasan ……………………………………………………. 41

  BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………… 50 A. Kesimpulan ……………………………………………………. 50 B. Saran …………………………………………………………... 50 C. Keterbatasan Penelitian ………………………………………... 51 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….. 52 LAMPIRAN-LAMPIRAN ………………………………………………….. 55

  DAFTAR TABEL

  Tabel 1 : Distribusi Item Skala Intensi Berhenti Merokok Tabel 2 : Contah Item Skala Intensi Berhenti Merokok Tabel 3 : Distribusi Item Skala Dukungan Sosial Pasangan Tabel 4 : Contoh Item Skala Dukungan Sosial Pasangan Tabel 5 : Bentuk Final Skala Intensi Berhenti Merokok Tabel 6 : Bentuk Final Skala Dukungan Sosial Pasangan Tabel 7 : Deskripsi Data Penelitian Tabel 8 : Hasil Uji Normalitas Tabel 9 : Hasil Uji Linearitas Tabel 10 : Hasil Uji Normalitas Aspek Dukungan Sosial Pasangan Tabel 11 : Hasil Uji Linearitas Aspek Dukungan Sosial Pasangan Tabel 12 : Hasil Uji Korelasi Aspek Dukungan Sosial Pasangan

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran A : Skala Try Out Intensi Berhenti Merokok dan Dukungan Sosial Pasangan Reliabilitas Skala Intensi Berhenti Merokok dan Dukungan Sosial Pasangan Skala Penelitian Intensi Berhenti Merokok dan Dukungan Sosial Pasangan

  Lampiran B : Data Penelitian Lampiran C : Deskripsi Data

  Hasil Analisis One Sample T-test Lampiran D : Hasil Analisis Uji Normalitas

  Hasil Analisis Uji Linearitas Hasil Analisis Korelasi Pearson Product Moment

  Lampiran E : Hasil Analisis Penelitian Tambahan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Merokok masih menjadi kebiasaan banyak orang baik di negara

  berkembang maupun di negara maju (Verawati & Astuti, 2003). Di negara maju, kini terdapat kecenderungan berhenti merokok, sedangkan di negara berkembang khususnya Indonesia, malah cenderung timbul peningkatan kebiasaan merokok. Laporan WHO tahun 1983 menyebutkan, jumlah perokok meningkat 2,1 persen per tahun di negara berkembang, sedangkan di negara maju angka ini menurun sekitar 1,1 persen per tahun (Tandra dalam Kompas Cyber Media, 2003). Menurut survei yang dilakukan WHO, 75 % laki-laki dan 5% wanita di Indonesia adalah perokok (Verawati & Astuti, 2003). Hasil survei Kesehatan Rumah Tangga 2004 menemukan bahwa Indonesia menempati posisi kelima di dunia dalam jumlah konsumsi rokok dengan jumlah 215 miliar, 31.4 % atau 62.800.000 merokok. Jumlah perokok laki-laki sebesar 59.04% dan perokok perempuan sebesar 4.83% (Sriamin, 2006). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa angka merokok di Indonesia relatif tinggi.

  Berhenti merokok merupakan perubahan radikal dalam kebiasaan perokok dan hal yang sulit walaupun perokok sudah bersungguh-sungguh memutuskan untuk berhenti (Eiser dan Van der Pligt, 1986; Shiffman, menemukan bahwa dari 100% perokok yang mencoba berhenti, dalam satu tahun 93% kembali merokok. Dalam penelitian yang dilakukan Prof Soesmalijah Soewondo, diketahui para perokok tidak bisa berhenti merokok karena berhenti merokok akan mengakibatkan susah berkonsentrasi dan gelisah, sedangkan apabila merokok perokok akan merasa lebih dewasa dan bisa timbul ide-ide atau inspirasi. Faktor-faktor psikologi inilah yang banyak mempengaruhi kebiasaan merokok di masyarakat sehingga seringkali perokok merasa kesulitan untuk mengurangi atau menghentikan perilaku merokok (Tandra dalam Kompas Cyber Media, 2003).

  Perokok yang kesulitan berhenti merokok mengatakan bahwa mereka sebenarnya ingin berhenti tetapi nikotin telah membuat mereka kecanduan secara fisik. Tembakau tidak membuat orang ketagihan secara fisik, seperti halnya heroin, kokain ataupun barbiturates sehingga kebiasaan merokok seolah-olah menjadi sesuatu yang dipaksakan kepada pecandu rokok. Hal itu disebabkan karena ketergantungan psikologis.

  Perokok merasa sangat tergantung pada tembakau dan merasa tidak dapat lepas lagi karena berpikir bahwa mereka telah kecanduan. Bagi perokok merokok itu memuaskan kebutuhan psikologis yang mendesaknya. Seorang pecandu rokok percaya bahwa merokok menolongnya untuk tetap tenang dalam ketegangan atau dalam pekerjaan yang penuh kekacauan, karena itu sangat sukar baginya untuk melepaskan diri dari kebiasaan mereka sudah membangun ketergantungan psikologis pada rokok, bukan karena rokok secara kimia menyebabkan kecanduan (Surjorahardjo, 1985).

  Schachter, dkk. (David, dkk., 2000) menemukan bahwa perilaku merokok akan meningkat pada kondisi stess. Pernyataan ini didukung oleh Murray, dkk. (David, dkk., 2000) yang menemukan bahwa perokok cenderung merokok pada kondisi stress. Dalam Sarafino (1990), faktor penting yang membuat kambuhnya merokok bagi perokok yang ingin berhenti adalah stress. Selain stress, faktor lain yang menghambat seorang perokok untuk berhenti merokok adalah kecemasan. (David, dkk., 2000).

  Menurut Ajzen (David, dkk., 2000) keberhasilan dalam berhenti merokok ditentukan oleh besarnya niat (intensi) untuk berhenti. Intensi merupakan prediktor terbaik dari perilaku (Smet, 1994). Individu yang mempunyai intensi cenderung lebih nyaman, lebih tertarik, bersemangat, dan mempunyai perasaan senang dalam melakukan perilaku tertentu (David, dkk., 2000). Intensi individu dalam melakukan perilaku nyata secara spesifik diprekdisikan sebesar 39%. Sedangkan intensi untuk melakukan perilaku nyata secara umum diprediksikan sebesar 27 % (Antonia & Kerry, 2006). Prilaku spesifik disini maksudnya adalah individu melakukan perilaku dengan menentukan waktu atau situasi, sedangkan perilaku secara umum merupakan perilaku yang dilakukan tanpa menentukan waktu atau situasi.

  Penelitian mengenai peran sikap dan efikasi diri terhadap intensi berhenti merokok dapat diperkuat dengan adanya peran sikap dan efikasi diri atau keyakinan terhadap diri sendiri. Keyakinan terhadap diri sendiri merupakan salah satu permasalahan psikologis yang harus dimunculkan oleh diri sendiri atau dengan bantuan orang lain. Penelitian Hartanti (2000) mengenai peran dukungan sosial terhadap depresi menunjukkan bahwa dukungan sosial bisa memberikan arti pada individu dalam mengatasi depresi. Dukungan sosial menolong individu secara psikologis dengan bantuan orang-orang di sekitar individu. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut peneliti ingin mengetahui apakah hal yang sama, yaitu dukungan sosial yang dapat mengatasi permasalahan psikologis atau dalam penelitian Hartanti adalah depresi juga berpengaruh pada menguatnya intensi berhenti merokok. Dalam hal ini dukungan sosial berasal dari pasangan mengingat pasangan mempunyai peran yang penting bagi kehidupan perokok.

  Topik ini penting untuk diketahui karena ketika perokok yang ingin berhenti merokok merasa kesulitan untuk berhenti, pasangan bisa membantu dan turut berperan dalam memperkuat intensi untuk berhenti merokok. Peran pasangan adalah dengan memberikan dukungan sosial pada perokok. Adanya bantuan pasangan, perubahan radikal ketika berhenti merokok bisa diatasi oleh perokok sehingga bisa berhenti merokok dan menerapkan pola hidup sehat.

  Penelitian ini dilakukan pada konteks pasangan menikah, dimana tidak mempunyai kebiasaan merokok. Konteks penelitian yang berkaitan dengan pembatasan jenis kelamin dilakukan mengingat jumlah perokok di Indonesia lebih banyak di kalangan pria daripada wanita dan laki-laki cenderung mengalami kesulitan berhenti merokok dibandingkan wanita (Seminar World No Tobaco Day dalam Rara, 2006). Selain itu, motivasi yang melatarbelakangi perilaku merokok antara laki-laki dan wanita juga berbeda. Livison dan Leino (David, dkk., 2000) menemukan bahwa motivasi wanita merokok adalah untuk mengurangi efek negatif dan sebagai kesenangan. Sedangkan untuk laki-laki, alasan merokok antara lain untuk penampilan pribadi, agar lebih percaya diri, untuk membangkitkan semangat terus bekerja, agar diterima oleh kelompok, dan agar kelihatan jantan (Target dalam Verawati & Astuti, 2003).

  Alasan lain dilakukan pembatasan jenis kelamin adalah karena dukungan sosial yang diberikan dan penerimaan dukungan sosial berbeda untuk jenis kelamin yang berbeda. Menurut David, dkk. (2000), wanita seringkali memberikan lebih banyak dukungan emosional pada keluarganya daripada yang mereka terima. Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh Antonia C. Lyons & Kerry C. (2006), bahwa wanita memberikan dukungan sosial yang lebih bervariasi, lebih sering, dan lebih efektif daripada laki-laki. Selain itu, wanita menerima dukungan sosial secara menyeluruh sedangkan laki-laki cenderung menerima dukungan sosial emosional dan dukungan sosial instrumental secara terpisah.

  B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : Apakah ada hubungan positif antara dukungan sosial pasangan dengan intensi berhenti merokok pada perokok laki-laki?

  C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial pasangan terhadap intensi berhenti merokok.

  D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat praktis Penelitian ini bisa memberikan informasi mengenai peran dukungan sosial dari pasangan yang dapat membantu perokok untuk meningkatkan niat atau intensi berhenti merokok.

  2. Manfaat teoritis

  a. Menambah pengetahuan mengenai peran atau kontribusi pasangan dalam memperkuat niat atau intensi berhenti merokok b. Adanya bukti empiris tentang penelitian yang berkaitan dengan variabel dukungan sosial pasangan dan variabel intensi untuk berhenti merokok. c. Memberikan sumbangan kepada bidang Psikologi Kesehatan dan Psikologi Sosial tentang pentingnya dukungan sosial pasangan untuk meningkatkan intensi berhenti merokok.

  d. Referensi atau literatur dalam melaksanakan penelitian yang relevan di masa datang.

BAB II DASAR TEORI A. Intensi Secara Umum

1. Pengertian Intensi

  Intensi berasal dari bahasa latin “intention” yang berarti usaha, upaya, perhatian, kehendak atau ujud. Shadilly (Cristina & Dewi, 2000) mendefinisikan intensi sebagai perbuatan berdasarkan kehendak seseorang untuk melaksanakan sesuatu.

  Intensi adalah niat seseorang untuk melakukan sesuatu yang bersifat kesegeraan dan kesiapan terhadap suatu perilaku yang akan dilakukan (Ajzen & Fishbein dalam Antonia & Kerry, 2006). Individu yang mempunyai intensi siap dengan segala sesuatu yang menyertai perilaku yang akan dilakukan, seperti pertimbangan waktu, target, atau situasi.

  Azwar (Cristina & Dewi, 2000) mengatakan intensi atau niat juga sangat menentukan perilaku tertentu akan dilakukan atau tidak akan dilakukan. Individu yang mempunyai intensi tinggi kemungkinan melakukan perilaku lebih besar daripada individu yang intensinya lebih rendah. Individu yang mempunyai intensi cenderung lebih nyaman, lebih tertarik, bersemangat, dan mempunyai perasaan senang dalam melakukan suatu perilaku (David, dkk., 2000).

2. Prediktor Intensi

  Menurut model Theory of Planned Behavior dari Ajzen & Fishbein intensi diprediksi oleh sikap, norma subyektif, dan kontrol perilaku (Ajzen & Fishbein dalam Antonia & Kerry, 2006).

  a. Sikap Sikap adalah keyakinan individu terhadap perilaku yang menjadi pertimbangan, dan hal tersebut ditentukan oleh keyakinan terhadap hasil perilaku dan apakah hasil itu bernilai.

  b. Norma subjektif Norma subjektif ditentukan oleh persepsi dari norma sosial, tekanan sosial, dan apa yang dipikirkan orang lain, seberapa besar memotivasi individu untuk melakukan apa yang orang lain katakan.

  c. Kontrol perilaku Kontrol perilaku adalah persepsi individu apakah mereka mempunyai kemampuan untuk melakukan perilaku yang menjadi pertimbangan, dan persepsi ini bisa mempengaruhi baik intensi maupun perilaku secara langsung.

  Pada contoh perilaku berhenti merokok, perokok yang percaya bahwa merokok mengakibatkan kesehatan yang bertambah buruk (sikap), percaya bahwa orang lain berpikir bahwa dia harus berhenti merokok dan memotivasinya untuk berhenti merokok (norma subyektif), perilaku) akan lebih mempunyai niat untuk berhenti merokok. Semakin mendukung sikap terhadap berhenti merokok, norma subyektif berkaitan dengan perilaku berhenti merokok, dan kontrol perilaku untuk berhenti merokok semakin tinggi niat untuk berhenti merokok. Model Theory of

  Planned Behavior bisa dilihat pada gambar 1.

  Gambar 1 Model Theory of Planned Behavior Menurut Ajzen & Fishbein (Antonia & Kerry, 2006)

  Keyakinan tentang hasil Sikap terhadap perilaku

  Evaluasi hasil Pentingnya sikap orang lain

  Norma Intensi perilaku Perilaku

  Subjektif Motivasi untuk menuruti orang lain

  Faktor kontrol internal Kontrol

  Perilaku Faktor kontrol eksternal Menurut Ajzen & Fishbein (Smet, 1994), intensi dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan, yaitu : a. Behavior : tingkah laku yang akan dilakukan

  b. Target : tujuan dari perilaku yang akan dilakukan

  c. Time : waktu terjadinya perilaku

  d. Situation : keadaan pada saat tindakan akan dilaksanakan atau penyebab mengapa tingkah laku dilaksanakan Setiap elemen diatas memiliki tingkat kekhususan yang berbeda. Pada tingkat yang paling spesifik keempat elemen akan tercakup di dalamnya yaitu seorang individu bermaksud untuk melakukan suatu tindakan tertentu yang berhubungan dengan targetnya dalam situasi dan waktu tertentu (Ajzen & Fishbein dalam Anggraeni, 2004).

  Berdasarkan beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan intensi adalah niat untuk melakukan sesuatu yang ditentukan oleh sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku serta dipengaruhi oleh pertimbangan tingkah laku, target, waktu, dan situasi.

  Pengukuran intensi dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Ajzen & Fishbein (Anggraeni, 2004), pendekatan pengukuran intensi secara langsung dilakukan melalui pertanyaan yang diajukan secara langsung kepada individu apakah individu tersebut akan melakukan suatu perilaku tertentu atau tidak, penilaian untuk cara ini dilakukan dengan penilaian tunggal yaitu ya- langsung dilakukan dengan menggunakan skala yang menggunakan model pilihan jawaban dari sangat sesuai sampai tidak sesuai terhadap suatu perilaku tertentu.

  Kedua cara pengukuran ini mempunyai penekanan yang berbeda. Penekanan pengukuran intensi secara langsung adalah pada isi intensi atau spontanitas keinginan untuk melakukan suatu perilaku tertentu, tanpa memperhatikan proses yang mendahului terbentuknya intensi itu sendiri (Ajzen & Fishbein dalam Anggraeni, 2004). Pengukuran secara tidak langsung menekankan pada model kerangka konseptual pembentukan perilaku yaitu intensi terbentuk melalui sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku. Asumsinya semakin positif sikap, semakin besar pengaruh norma subjektif, dan semakin kuat kontrol perilaku individu terhadap perilaku tertentu maka akan semakin tinggi intensinya untuk melakukan perilaku tersebut (Ajzen & Fishbein dalam Anggraeni, 2004). Markham melihat bahwa ketiga prediktor itu memiliki pengaruh yang kuat terhadap intensi sehingga dapat digunakan sebagai aspek (Markham, 2004).

B. Intensi Berhenti Merokok

1. Pengertian Intensi Berhenti Merokok

  Intensi berhenti merokok adalah niat untuk berhenti merokok yang ditentukan oleh sikap terhadap perilaku berhenti merokok, norma Intensi berhenti merokok diprediksikan oleh perspektif subyek mengenai hasil yang negatif dan kesehatan yang buruk berkaitan dengan perilaku merokok (pengukuran sikap), sikap orang-orang disekitar subyek berkaitan dengan perilaku berhenti merokok (pengukuran norma sosial), dan keyakinan mengontrol kemampuan untuk berhenti merokok (pengukuran kontrol perilaku) (David, dkk., 2000).

  Markham (2004) mengaplikasikan konsep Ajzen & Fishbein (Antonia & Kerry, 2006) untuk intensi berhenti merokok. Intensi itu meliputi : a. Sikap

  Individu memiliki keyakinan dan evaluasi terhadap hasil perilaku berhenti merokok, yaitu bahwa berhenti merokok memberikan keuntungan seperti kesehatan yang bertambah baik.

  b. Norma subjektif Norma subjektif berfokus pada penerimaan kemampuan berhenti merokok untuk memfasilitasi interaksi sosial. Norma subjektif ini dapat ditentukan secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara langsung norma subjektif ditentukan oleh norma sosial dan tekanan sosial. Sedangkan secara tidak langsung ditentukan oleh

  modeling . Norma sosial adalah individu menerima harapan dari

  figur-figur lain yang penting (keluarga, pasangan, atau teman) untuk berhenti merokok. Tekanan sosial adalah pengalaman secara individu berhenti merokok karena meniru individu lain yang berpengaruh.

  c. Kontrol perilaku Kontrol perilaku adalah persepsi individu bahwa dia mampu untuk berhenti merokok.

2. Faktor Yang Mempengaruhi Intensi Berhenti Merokok

  Faktor-faktor yang mempengaruhi intensi berhenti merokok adalah : a. Persepsi individu terhadap resiko yang diterima akibat merokok

  Persepsi resiko yang akan diterima akan menumbuhkan intensi untuk berhenti merokok melihat akibat dan resiko yang diterima bernilai negatif. Persepsi bahwa merokok merusak kesehatan dan merugikan akan menumbuhkan niat pada perokok untuk berhenti merokok (Norman & Conner dalam Verawati & Astuti, 2003).

  b. Pengalaman berhenti merokok yang pernah dilakukan oleh individu Pengalaman yang pernah dilakukan membantu perokok untuk menilai apakah dia mampu atau tidak membangun intensi kembali untuk berhenti merokok (Norman & Conner dalam Verawati & Astuti, 2003). c. Stress Beberapa penelitian menemukan bahwa stress dihubungkan dengan merokok. Sarafino (1990) menyatakan faktor penting yang membuat kambuhnya merokok bagi perokok yang ingin berhenti adalah stress. Schachter (David, dkk., 2000) juga menemukan bahwa konsumsi rokok akan meningkat pada kondisi stress. Pernyataan ini didukung oleh penelitian Lichtenstein et al. (Sarafino, 1990) yang menyatakan individu yang berhenti merokok akan cenderung merokok kembali ketika berada pada kondisi stress yang tinggi.

  d. Kecemasan Faktor kecemasan yang menghambat perokok untuk berhenti merokok ditekankan oleh David, dkk. (2000) yang menemukan bahwa kecemasan akan muncul ketika individu akan berhenti merokok.

C. Dukungan Sosial 1. Pengertian Dukungan Sosial

  Dukungan sosial menurut Cobb (Winnubst, dkk., 1996) adalah informasi yang membuat individu yang menerimanya meyakini bahwa orang lain mencintainya, peduli padanya (dukungan emosional), menghormatinya dan menghargainya (dukungan afirmatif) dan bahwa

  Gottlieb (Smet, 1994) memberikan definisi dukungan sosial sebagai informasi atau nasehat verbal atau non verbal, bantuan nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh keakraban sosial atau didapat karena kehadiran mereka dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pihak penerima.

  Sarafino (Smet, 1994) memberikan definisi dukungan sosial yang mengacu pada kesenangan yang dirasakan, penghargaan akan kepedulian, atau membantu orang menerima dari orang-orang atau kelompok-kelompok lain.

  Berdasarkan beberapa pengertian diatas, bisa disimpulkan dukungan sosial adalah informasi, bantuan nyata, tingkah laku yang membuat individu yang menerimanya meyakini bahwa orang lain mencintainya, peduli padanya (dukungan emosional), menghormatinya dan menghargainya (dukungan afirmatif) sehingga mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pihak penerima.

2. Jenis Dukungan Sosial

  Jenis dukungan sosial (House dalam Smet, 1994) :

  a. Dukungan Emosional (Emotional support) Penerimaan empati, kepedulian, cinta, dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan. Hal ini menimbulkan kenyamanan, ketentraman hati, merasa dimiliki, dan dicintai (Stroebe dalam b. Dukungan Penghargaan (Esteem support) Penerimaan penghargaan positif, meliputi dorongan untuk maju dan persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu, dan perbandingan positif orang itu dengan orang-orang lain, misalnya orang-orang yang kurang mampu atau lebih buruk keadaannya. Hal ini membuat penghargaan atas diri sendiri, kompetensi, dan perasaan bernilai (Stroebe dalam Antonia & Kerry, 2006).

  c. Dukungan Instrumental (Instrumental support) Penerimaan bantuan secara langsung, seperti bantuan uang, pelayanan, dan membantu pekerjaan.

  d. Dukungan informasi (Informational support) Penerimaan nasehat, petunjuk, saran-saran, arahan, dan umpan balik. Wilcox & Verberg (Winnubst, dkk., 1996) menambahkan dukungan informasi adalah kerelaan seseorang untuk memberikan opini. Dukungan informasi bisa membantu orang lain dalam memahami atau mendefinisikan situasi, ketika situasinya ambigu atau sulit dimengerti (Goethal, Suls & Miller dalam Bishop, 1994).

3. Arti Dukungan Sosial Pasangan

  Pernikahan mempunyai pengaruh yang kuat terhadap suami dan istri. Seorang perempuan atau istri secara konsisten lebih terbuka dan cenderung mengekspresikan kelembutan daripada pasangan mereka memberikan ciuman atau pelukan spotan pada suaminya pada saat sesuatu hal yang positif terjadi (Blumstein & Schwartz dalam Santrock, 1995). Secara umum, perempuan lebih ekspresif dan berperasaan daripada laki-laki dalam suatu pernikahan (Santrock, 1995).

  Menurut Cancian & Gordon (Santrock, 1995), sebagian besar laki-laki cenderung mengendalikan kemarahan. Suami juga tidak peduli pada kehidupan emosionalnya dan tidak mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka sehingga banyak istri yang mengeluh bahwa mereka harus mendorong suami untuk terbuka dan mengatakan apa yang suami rasakan (Rubin dalam Santrock, 1995).

  Perkawinan adalah sumber dukungan sosial yang paling penting (Rodin & Salovey dalam Smet, 1994). Winnubst (Smet, 1994) juga menambahkan dukungan sosial yang penting terletak pada konteks hubungan yang akrab atau ‘kualitas hubungan’. Dukungan sosial dalam perkawinan diberikan oleh pasangan kepada pasangan lainnya. Dukungan sosial pasangan adalah informasi, bantuan nyata, tingkah laku dari pasangan dalam suatu pernikahan yang membuat pasangan yang menerimanya meyakini bahwa pasangannya mencintainya, peduli padanya (dukungan emosional), menghormatinya dan menghargainya (dukungan afirmatif) sehingga mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pasangan yang menerima.

  

D. Hubungan Antara Dukungan Sosial Pasangan Terhadap Intensi

Berhenti Merokok

  Merokok adalah perilaku yang merugikan, meskipun begitu banyak orang tetap merokok meskipun tahu merokok berbahaya bagi kesehatan (Evan dalam Sarafino, 1990). Kebiasaan merokok sulit dihentikan oleh perokok yang ingin berhenti merokok karena beberapa faktor-faktor psikologi seperti stress dan kecemasan (Tandra dalam Kompas Cyber Media, 2003). Menurut Cohen (Taylor, 1999) berhenti merokok adalah hal yang mudah jika merupakan keinginan sendiri. Hal itu didukung oleh Ajzen (David, dkk., 2000) yang menyatakan bahwa keberhasilan dalam berhenti merokok ditentukan oleh besarnya niat (intensi) untuk berhenti. Intensi merupakan prediktor terbaik dari perilaku (Smet, 1994). Individu yang mempunyai intensi cenderung lebih nyaman, lebih tertarik, bersemangat, dan mempunyai perasaan senang dalam melakukan perilaku tertentu (David, dkk., 2000).

  Dukungan sosial mempunyai peran penting untuk memberikan efek yang positif secara psikologis. Dukungan sosial yang paling efektif adalah dukungan sosial yang berasal dari pasangannya, khususnya pada pria (House, Robbin, Metzner, & Wickrama dalam Taylor, 1999). Menurut Sidney Cobb (Sarafino, 1990), orang dengan dukungan sosial percaya bahwa mereka dicintai, diperhatikan, berharga, bernilai, dan merasa menjadi suatu bagian dari jaringan sosial seperti keluarga. Individu yang merasa dicintai dan dihargai maka harga dirinya juga akan meningkat (Antonia & Kerry, 2006; Wirawan, 1998).

  Coopersmith (Prasetya, 2000) mengungkapkan bahwa harga diri adalah evaluasi individu terhadap dirinya sendiri serta berdasarkan jumlah penghargaan, penerimaan dan perlakuan orang lain yang diterima oleh individu dalam interaksinya dengan lingkungan. Ia juga menambahkan individu yang memiliki harga diri tinggi akan dapat mengontrol semua tindakannya, memiliki orientasi yang realistis, serta mampu berperilaku sesuai norma moral, etika, dan aturan.

  Subyek yang mempunyai harga diri yang tinggi dapat mengontrol semua tindakannya, memiliki orientasi yang realistis, serta mampu berperilaku sesuai norma moral, etika, dan aturan. Ia dapat mengontrol perilaku bahwa dia mampu berhenti merokok, memiliki orientasi yang realistis terhadap rokok seperti berhenti merokok memberikan keuntungan, dan berperilaku sesuai dengan norma, etika, ataupun aturan bahwa pasangannya menginginkan agar ia berhenti merokok. Hal tersebut dapat memperkuat intensi untuk berhenti merokok.

  Dukungan sosial dari pasangan dapat berperan secara langsung melalui perilaku modeling. Pasangan dapat mempengaruhi perokok untuk berhenti merokok dengan berperilaku tidak merokok sehingga dapat memperkuat intensi untuk berhenti merokok (Flay dalam Sarafino, 1994).

  Faktor-faktor stress dan kecemasan yang dapat menghambat sosial yang diberikan oleh pasangan. Menurut Fletcher dan Jones (Winnubst, dkk., 1996), menemukan bahwa dukungan sosial dapat berperan untuk mengatasi kecemasan. Smet (1994) menyebutkan bahwa dukungan sosial menunjuk pada hubungan interpersonal yang mampu melindungi diri dari konsekuensi negatif stress. Ia juga menambahkan bahwa individu dengan dukungan sosial yang tinggi dapat memiliki penghargaan diri yang lebih tinggi sehingga membuat mereka tidak begitu mudah diserang oleh stress. Hal itu didukung oleh penelitian Winnubst, dkk. (1996) yang menemukan bahwa dukungan sosial, khususnya dari pasangan dapat menurunkan stress.

  Dalam teori coping, dukungan sosial dilihat sebagai sumber coping terhadap stress yang potensial (Winnubst, dkk. 1996). Oleh karena bisa dikatakan bahwa dukungan sosial secara tidak langsung bisa memperkuat intensi berhenti merokok karena dukungan sosial membuat individu terlindungi dari stress sehingga perokok tidak perlu merokok lagi untuk mengurangi stress. Senada dengan pernyataan Shiffman (David, dkk., 2000) bahwa individu yang mempunyai cukup dukungan sosial cenderung tidak merokok karena dukungan sosial bisa digunakan untuk coping terhadap stress.

  22 I MEROKOK

  RHENT E NSI B

   INTE N A G DEN N A G BAGAN 2 PASAN AL AN SOSI G KUN DU N A G N U HUB

E. Hipotesis Penelitian

  Ada hubungan positif antara dukungan sosial pasangan dan intensi berhenti merokok.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Penelitian korelasional bertujuan untuk melihat hubungan yang terjadi antara

  variabel bebas dan variabel tergantung berdasarkan koefisien korelasi (Nazir, 1999). Dalam penelitian ini, untuk melihat hubungan dukungan sosial pasangan terhadap intensi berhenti merokok.

B. Subyek Penelitian

  Subyek pada penelitian ini adalah perokok pria yang ingin berhenti merokok, sudah menikah, pasangan wanita tidak merokok dan mempunyai masalah dengan kebiasaan merokok pasangannya. Perokok adalah individu yang dilaporkan merokok sekurang-kurangnya 1 batang dalam waktu 30 hari (Slovic, 2001). Metode pemilihan subyek dengan jenis sampel purposive

  sample . Kriteria subyek penelitian ini adalah : 1. Pasangan menikah berusia 25-30 tahun.

  Pemilihan usia dilakukan mengingat laki-laki di usia tersebut memiliki prevelansi perokok tertinggi (Rara, 2006).

  2. Pasangan tersebut bertemu selama 14-15 jam dalam sehari.

  Pembatasan ini dilakukan mengingat frekuensi bertemu akan

  C. Identifikasi Variabel Penelitian

  Variabel yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 2 macam, yaitu variabel bebas dan variabel tergantung.

  1. Variabel Bebas : Dukungan sosial pasangan

  2. Variabel Tergantung : Intensi atau niat berhenti merokok

  D. Definisi Operasional

  1. Intensi Berhenti Merokok Intensi berhenti merokok adalah niat untuk berhenti merokok yang ditentukan oleh sikap terhadap perilaku berhenti merokok, norma subjektif yang berkaitan dengan perilaku merokok, dan kontrol perilaku. Intensi berhenti merokok dilihat dari aspek sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku.

  Variabel tersebut akan diukur dengan skala Intensi Berhenti Merokok. Interpretasi dilakukan berdasarkan skor total yang menunjukkan tinggi rendahnya intensi atau niatan untuk berhenti merokok. Semakin tinggi skor total yang diperoleh maka semakin tinggi intensi untuk berhenti merokok. Semakin rendah skor total yang diperoleh, semakin rendah intensi untuk berhenti merokok.

  2. Dukungan Sosial Pasangan Dukungan sosial pasangan adalah informasi, bantuan nyata, pasangan yang menerimanya meyakini bahwa pasangannya mencintainya, peduli padanya (dukungan emosional), menghormatinya dan menghargainya (dukungan afirmatif) sehingga mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pasangan yang menerima.

  Aspek yang digunakan peneliti untuk mengukur dukungan sosial pasangan adalah dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan informasi.

  Variabel dukungan sosial pasangan akan diukur dengan skala Dukungan Sosial Pasangan. Skor total yang diperoleh pada skala Dukungan Sosial Pasangan menunjukkan tinggi rendahnya dukungan sosial yang diterima subyek dari pasangan. Semakin tinggi skor total yang diperoleh, semakin tinggi dukungan sosial yang diterima subyek dari pasangannya. Semakin rendah skor total yang didapatkan maka semakin rendah pula dukungan sosial yang diterima subyek dari pasangannya.

E. Alat Pengumpulan Data

  Dalam Penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner berskala. Pengumpulan data menggunakan dua skala, yaitu Skala Intensi Berhenti Merokok dan Skala Dukungan Sosial Pasangan. Metode penskalaan yang digunakan adalah metode summated rating dengan menggunakan format skala likert 4 kategori jawaban, yaitu Sangat Setuju

  Dalam proses penyekoran, untuk item favorabel jawaban Sangat Setuju (SS) mempunyai skor 4, Setuju (S) mempunyai skor 3, Tidak Setuju (TS) mempunyai skor 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS) mempunyai skor 1.

  Sedangkan untuk item unfavorabel Sangat Setuju (SS) mempunyai skor 1, Setuju (S) mempunyai skor 2, Tidak Setuju (TS) mempunyai skor 3, dan Sangat Tidak Setuju (STS) mempunyai skor 4.

  a. Skala Intensi Berhenti Merokok Skala Intensi Berhenti Merokok terdiri dari 90 item yang mengacu pada 3 komponen, yaitu sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku.

  Dibawah ini disajikan tabel distribusi item serta tabel contoh item.

  Tabel 1. Distribusi Item Skala Intensi Berhenti Merokok

  Item No Komponen Jumlah

  Favorabel Unfavorabel (Bobot)

  1. Sikap 4,9,16,21,28, 1,3,8,18,26,

  30 30,34,48,54, 33,37,42,46, (33.33%) 58,61,68,70, 49,51,64,75, 73,85. 77,83.

  2. Norma Subjektif 6,11,15,22,27, 2,7,13,20,24

  30 35,40,43,53, ,32,39,45,56 (33.33%) 59,62,71,79, ,65,66,78,81 84,87. ,89,90.

  3. Kontrol Perilaku 5,14,17,25,29, 10,12,19,23,

  30 36,44,52,55, 31,38,41,47, (33.33%) 57,69,72,74, 50,60,63,67, 80,86. 76,82,88.

  Tabel 2. Contah Item Skala Intensi Berhenti Merokok

  2. Saya merasa merokok di tempat umum adalah tindakan yang tidak sopan.

  1.Saya sulit menolak ketika saya ditawari rokok oleh seseorang.

  2.Saya bisa mengendalikan diri untuk tidak merokok meskipun saya sedang tertekan.

  1.Saya bisa menolak ketika seseorang menawarkan rokok pada saya.

  3. Kontrol Perilaku

  2.Merokok di depan umum membuat saya lebih percaya diri.

  1. Saya merasa diterima oleh komunitas saya ketika saya merokok.

  1.Orang lain akan melarang ketika saya merokok di depan umum.

  Contoh Item No Komponen

  2. Norma Subjektif

  2.Merokok membuat saya lebih tenang

  1.Saya merasa lidah saya pahit apabila tidak merokok.

  2. Saya tahu sistem reproduksi saya akan terganggu apabila saya terus-terusan merokok

  1. Saya merasa nafas saya lebih segar ketika saya tidak merokok.

  1. Sikap

  Favorabel Unfavorabel

  2.Saya ingin merokok ketika mengkhawatirkan sesuatu. Skor total untuk intensi berhenti merokok adalah jumlah skor total yang diperoleh subyek penelitian dalam menjawab Skala Intensi Berhenti Merokok.

  b. Skala Dukungan Sosial Pasangan Skala Dukungan Sosial Pasangan terdiri dari 56 aitem yang mengungkap aspek emosional, penghargaan, instrumental, dan informasi. Dibawah ini disajikan tabel distribusi item serta tabel contoh item.

  14 (25%)

  14 (25%)

  10,11,22,47, 48,49,55.

  4. Dukungan Informasi 3,4,14,15,25 ,26,27.

  14 (25%)

  5,16,17,18, 32,35,54.

  3. Dukungan Instrumental 2,8,12,24, 42,43,52.

  20,30,31,33, 44,45,50.

  Tabel 3. Distribusi Item Skala Dukungan Sosial Pasangan

  2. Dukungan Penghargaan 7,23,38,41, 51,53,56.

  14 (25%)

  19,21,28,29, 34,36,46.

  1. Dukungan Emosional 1,6,9,13,37, 39,40.

  (Bobot)

  Favorabel Unfavorabel Jumlah

  Item No Komponen

  Total Jumlah 28 28 56(100%)

  Tabel 4. Contoh Item Skala Dukungan Sosial Pasangan

  Contoh Item No Komponen

  Favorabel Unfavorabel

  1. Dukungan

  1. Saya merasa tenang saat

  1. Saya tetap merasa kacau Emosional pasangan saya ada. meskipun pasangan berada di samping saya.

  2. Keberadaan pasangan

  2. Saya merasa jengkel membuat saya merasa aman. apabila pasangan saya mendekati saya.

  2. Dukungan

  1. Saya merasa bisa membuat

  1. Saya merasa pasangan Penghargaan pasangan saya senang dengan saya kecewa dengan hasil hasil kerja saya. kerja saya.

  2. Pasangan saya merayakan

  2. Pasangan saya tidak keberhasilan saya dengan peduli dengan kejutan-kejutan kecil. keberhasilan saya.

  3. Dukungan

  1. Pasangan saya membantu

  1. Saya merapikan ruang Instrumental saya menyiapkan peralatan kerja saya sendirian kantor. meskipun saat itu pasangan saya ada.

  2. Disaat saya kesulitan

  2. Pasangan saya mengerjakan pekerjaan membiarkan saya bekerja kantor, pasangan saya dengan larut malam meskipun dia

  4. Dukungan

  1. Pasangan saya memberikan

  1. Pasangan saya tidak Informasi saran ketika saya mengalami memberikan masukan kesulitan. ketika saya mengalami kesulitan.

  2. Saya merasa saran yang

  2. Saran yang diberikan oleh diberikan oleh pasangan saya pasangan saya tidak bermanfaat untuk saya. berguna.

  Skor total untuk dukungan sosial pasangan adalah jumlah skor total yang diperoleh subyek penelitian dalam menjawab Skala Dukungan Sosial Pasangan.

F. Prosedur Penelitian

  Prosedur atau langkah-langkah yang diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Membuat skala intensi berhenti merokok dan skala dukungan sosial pasangan dan kemudian mengujicobakan pada kelompok subyek ujicoba yang memiliki karakteristik sama dengan kelompok subyek yang sesungguhnya. Data yang diperoleh dipergunakan untuk melakukan uji kesahihan butir.

  2. Melakukan uji validitas dan uji reliabilitas skala untuk mendapatkan butir yang sahih dan reliabel.

  3. Menentukan subyek penelitian sesuai kriteria, yaitu pria perokok berusia 25-30 tahun, sudah menikah dan bertemu dengan pasangannya selama 14-15 jam dalam sehari, pasangan wanita tidak merokok dan mempunyai masalah dengan kebiasaan merokok pasangannya. Peneliti menggunakan metode wawancara baik kepada perokok maupun pasangannya untuk mengetahui karakteristik tersebut.

  4. Menganalisis data dengan uji statistik.

  5. Membuat kesimpulan penelitian.

G. Pertanggungjawaban Mutu

  1. Validitas Validitas adalah sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Jenis validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur atau sejauhmana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur (Azwar, 2004).

  Validitas isi diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes oleh

  professional judgement atau proses penilaian oleh orang yang

  dianggap ahli yang menilai apakah item-item tersebut benar-benar mewakili mengukur seluruh aspek yang hendak diukur (Azwar, 2004).

  Professional judgement dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing.

  2. Seleksi item Seleksi item dilakukan setelah uji validitas isi. Seleksi ini diambil dari data hasil uji coba item pada subyek yang memiliki karakteristik setara dengan subyek yang akan diteliti. Item tersebut dievaluasi dengan analisis butir dengan menggunakan parameter daya beda item, yaitu korelasi item dengan item total yang bertujuan untuk melihat sejauhmana item tesebut bisa membedakan antara individu atau kelompok individu yang mempunyai dan tidak mempunyai atribut yang hendak diukur (Azwar, 2004).

  Pengujian daya beda item dilakukan dengan komputasi melalui program analisis item SPSS 12. Subyek uji coba berjumlah 33 orang yang masing-masing subyek diberikan 2 jenis skala, yaitu Skala Intensi Berhenti Merokok dan Skala Dukungan Sosial Pasangan.

  Dari hasil seleksi item tesebut untuk skala Intensi Berhenti Merokok terdapat 25 item favorabel dan 30 item unfavorabel dengan jumlah total 55, dari item-item tersebut dipilih item yang paling unggul sehingga terdapat 21 item favorabel dan 24 item unfavorabel dengan nilai korelasi item yang berkisar antara 0.323 sampai dengan 0.712.

  

Tabel 5. Bentuk Final Skala Intensi Berhenti Merokok

No Aspek Intensi Nomer Pernyataan Jumlah

Berhenti Merokok Favorabel Unfavorabel

  1. Sikap

  6

  9

  15

  2. Norma Subjektif

  8

  7

  15

  3. Kontrol Perilaku

  7

  8

  15 Total 21 24 45 Dan untuk Skala Dukungan Sosial Pasangan terdapat 28 item favorabel dan 24 item unfavorabel dengan jumlah total 52, dari item- item tersebut dipilih item yang paling unggul untuk setiap aspek sehingga terdapat 25 item favorabel dan 19 item unfavorabel dengan nilai korelasi item yang berkisar antara 0.281 sampai dengan 0.756.

  

Tabel 6. Bentuk Final Skala Dukungan Sosial Pasangan

No Aspek Intensi Nomer Pernyataan Jumlah

Berhenti Merokok Favorabel Unfavorabel

  1. Dukungan Emosional

  6

  5

  11

  2. Dukungan Penghargaan

  6

  5

  11

  3. Dukungan Instrumental

  7

  4

  11

  4. Dukungan Informasi

  6

  5

  11 Total 25 19 44

  3. Reliabilitas Selain uji validitas, alat ukur dalam penelitian ini juga akan diuji reliabilitasnya. Reliabilitas yang dimaksudkan adalah keajegan, keterandalan, atau kestabilan dari suatu alat ukur. Konsep dari reliabilitas adalah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Azwar, 2004).

  Berdasarkan hasil penghitungan statistik menggunakan program SPSS 12, untuk skala Intensi Berhenti Merokok menghasilkan koefisien alpha sebesar 0.947 dan untuk skala Dukungan Sosial Pasangan menghasilkan koefisien alpha sebesar 0.961. Hasil koefisien tersebut dinyatakan reliabel karena mendekati koefisien 1.00 sehingga dapat diandalkan untuk tujuan pengambilan data penelitian.

H. Analisis Data

  Analisis data dilakukan untuk menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Peneliti menganalisa data menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dengan program SPSS 12 for windows.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian

  1. Deskripsi Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah laki-laki perokok yang ingin berhenti merokok tetapi kesulitan untuk berhenti, sudah menikah, dan berumur

  25-30 tahun. Subyek bertemu dengan dengan pasangannya selama 14- 15 jam dalam sehari. Pasangan wanita mempunyai masalah dengan kebiasaan merokok pasangannya. Lamanya pernikahan subyek beragam antara 1 tahun sampai dengan 6 tahun. Peneliti menyebarkan skala penelitian sebanyak 68 skala dan hanya 60 skala yang kembali serta diisi dengan lengkap.

  2. Deskripsi Data Penelitian Deskripsi data penelitian dilakukan untuk mengetahui deskripsi umum setiap variabel penelitian dengan melakukan pembandingan antara keadaan hipotetik (kemungkinan terjadi) dan empirik (data penelitian). Peneliti membedakan rerata empirik dan hipotetik dengan menggunakan one sample T test.

  

Tabel 7. Deskripsi Data Penelitian

Variabel Skor Hipotetik Skor Empirik t p Mean

Difference

  X X Rerata

  X X Rerata min max min max Dukungan 44 176 110 106 170 141.35 20.180 0.000 31.350 Sosial Pasangan Intensi 45 180 112.5 101 167 128.88 9.287 0.000 16.383 Berhenti Merokok

  Pada variabel dukungan sosial pasangan didapatkan hasil analisis one sample T test p <0.01, yang berarti dukungan sosial yang diperoleh subyek penelitian secara umum signifikan tinggi. Sedangkan pada variabel intensi berhenti merokok menunjukkan p

  <0.01. Hal ini berarti secara umum subyek penelitian memiliki intensi atau niat yang signifikan tinggi untuk berhenti merokok.

B. Hasil Penelitian

  Untuk memperoleh kesimpulan yang tidak menyimpang dari tujuan penelitian maka terlebih dahulu dilakukan uji asumsi data penelitian yang meliputi uji normalitas sebaran dan linearitas hubungan sebagai syarat untuk melakukan teknik analisis data.

  1. Uji Asumsi Data Penelitian

  a. Uji normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah distribusi pengambilan sampel dan distribusi sebaran skor mengikuti distribusi normal. Uji normalitas dilakukan dengan program SPSS 12 for windows dengan one sample Kolmogorov-Smirnov (uji K- S). Bila p >0.05 berarti distribusi data penelitian berdistribusi normal, sebaliknya bila p < 0.05 berarti distribusi data tidak normal.

  Hasil uji normalitas menunjukkan koefisien dukungan sosial pasangan sebesar 0.783 dengan p = 0.571 (p > 0.05). Sementara untuk intensi berhenti merokok menunjukkan koefisien sebesar 0.683 dengan p = 0.740 (p > 0.05).

  

Tabel 8. Hasil Uji Normalitas

Variabel Nilai K-SZ p >0.05 Keterangan

  Dukungan Sosial 0.783 0.571 Normal Pasangan Intensi Berhenti 0.683 0.740 Normal Merokok p = 1 ekor

  b. Uji linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi yang linear antara variabel intensi berhenti merokok dan variabel dukungan sosial pasangan. Hubungan dinyatakan linear apabila memenuhi nilai taraf signifikasi linearitas lebih kecil dari 0.05

  for windows. Hasil uji linearitas antara dukungan sosial pasangan

  dengan intensi berhenti merokok menunjukkan F sebesar 28.669 dengan p = 0.000 sehingga hubungan antara keduanya bersifat linear.

  Tabel 9. Hasil Uji Linearitas Variabel F P P Keterangan

Dukungan sosial 28.669 0.000 <0.05 Linear

pasangan*Intensi berhenti merokok

  2. Pengujian Hipotesis Penelitian Hasil uji hipotesis (1 ekor) menunjukkan r = 0.563 dengan p =

  0.000 ( p < 0.01) sehingga korelasi dinyatakan signifikan untuk taraf signifikasi 1%. Nilai positif menunjukkan hubungan yang positif, artinya semakin tinggi dukungan sosial dari pasangan semakin tinggi pula intensi atau niat untuk berhenti merokok.

  2 Dalam penelitian ini nilai koefisien determinasi (r ) dalam

  hubungan antara variabel-variabel penelitian diatas juga diperhitungkan. Nilai koefisien determinasi menunjukkan sumbangan efektif pengaruh variabel bebas terhadap tergantung. Besar koefisien determinasi hubungan antara dukungan sosial pasangan dengan intensi

  2

  berhenti merokok adalah r = 0.317. Hal ini berarti dukungan sosial pasangan memberikan sumbangan efektif sebesar 31.7% terhadap intensi berhenti merokok.

C. Hasil Penelitian Tambahan

  Hasil penelitian tambahan ini bertujuan untuk memperkaya hasil penelitian dengan menunjukkan hubungan antara aspek-aspek dukungan sosial dengan variabel intensi berhenti merokok sehingga diperoleh pengetahuan aspek manakah pada dukungan sosial yang mempunyai pengaruh yang besar untuk meningkatkan intensi berhenti merokok.

  Sebelum dilakukan uji korelasi antara aspek-aspek dukungan sosial pasangan dengan intensi berhenti merokok terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji linearitas. Berikut ini hasil uji normalitas dan uji linearitas.

  Tabel 10. Hasil Uji Normalitas Aspek Dukungan Sosial Pasangan Aspek Nilai K-SZ Keterangan p >0.05

  

D. Emosional Normal

  0.852 0.231

  

D. Penghargaan Normal

  1.101

  0.08 D. Informasi Normal 0.991 0.139

  

D. Instrumental Normal

  0.936 0.172

  Tabel 11. Hasil Uji Linearitas Aspek Dukungan Sosial Pasangan Variabel F P P Keterangan

  D. Emosional*Intensi Linear

  12.806 0.001 p <0.05

  D. Penghargaan*Intensi Linear

  23.499 0.000 p <0.05

  D. Informasi*Intensi Linear

  25.157 0.000 p <0.05

  D. Instrumental*Intensi Linear

  20.102 0.000 p <0.05 Hasil uji korelasi antara aspek-aspek dukungan sosial pasangan yaitu : dukungan informasi, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan emosional. Dukungan informasi mempunyai korelasi sebesar 0.548, p = 0.000. Dukungan informasi memberikan sumbangan efektif untuk meningkatnya intensi berhenti merokok sebesar 30%. Dukungan penghargaan mempunyai korelasi dengan intensi berhenti merokok sebesar 0.514, p = 0.000 dan memberikan sumbangan efektif sebesar 26.4%.

  Hubungan antara dukungan instrumental dengan intensi berhenti merokok menunjukkan korelasi sebesar 0.493, p = 0.000. Sumbangan efektif yang diberikan dukungan instrumental untuk meningkatnya intensi berhenti merokok adalah 24.3%. Korelasi dukungan emosional dengan intensi berhenti merokok sebesar 0.378, p = 0.01. Pengaruh dukungan emosional terhadap meningkatnya intensi berhenti merokok memberikan sumbangan efektif sebesar 14.3 %.

  Tabel 12. Hasil Uji Korelasi Aspek Dukungan Sosial Pasangan Variabel Intensi Berhenti Merokok r p

  D. Informasi 0.548 0.000

  D. Penghargaan 0.514 0.000

  D. Instrumental 0.493 0.000

  D. Emosional 0.378 0.001

  D. Pembahasan

  Hasil analisis hipotesis (one-tailed) menunjukkan koefisien korelasi Pearson (rxy) sebesar 0.563 dan korelasi dinyatakan signifikan koefisien korelasi (r) menunjukkan arah hubungan positif. Hal ini berarti semakin tinggi dukungan sosial dari pasangan semakin tinggi pula intensi atau niat untuk berhenti merokok.

  Hasil penelitian ini didukung oleh Colletti & Brownell (Sarafino, 1994) yang menyatakan bahwa dukungan sosial bisa membantu individu untuk menguatkan niat berhenti merokok sehingga tidak ada keinginan untuk merokok kembali. Nides (Taylor, 1999) juga mengatakan bahwa dukungan sosial adalah faktor yang paling kuat untuk berhenti merokok dan mencegah perokok kembali merokok. Pernyataan itu diperkuat oleh Cohen (Taylor, 1999) bahwa berhenti merokok adalah hal yang mudah jika merupakan keinginan sendiri dan mendapatkan dukungan sosial. Intensi atau niat juga merupakan hal yang penting untuk berhenti merokok. Pernyataan ini didukung oleh Sheridan & Radmacher (1992) yang menyatakan bahwa perokok yang berhenti karena keinginan atau niatnya sendiri untuk berhenti merokok lebih sukses daripada perokok yang mengikuti program-program formal.

  Dukungan sosial yang paling efektif adalah dukungan sosial yang berasal dari pasangannya, khususnya pada pria (House, Robbin, Metzner, & Wickrama dalam Taylor, 1999). Dukungan sosial bisa bekerja dengan 2 cara, yang pertama dukungan sosial yang tinggi bisa mencegah individu untuk merokok kembali dengan cara melawan stress (Colletti & Brownell, dalam Sarafino, 1994). Penelitian menemukan bahwa dukungan sosial bisa Sarafino, 1994). Caplan, Cobb, French, & Lichtenstein (Sarafino, 1994) menyatakan faktor penting yang membuat perokok kesulitan untuk berhenti merokok secara permanen adalah stress (Caplan, Cobb, French, & Lichtenstein, dalam Sarafino, 1994). Selain itu, kecemasan atau frustasi juga membuat perokok kesulitan untuk berhenti merokok secara permanen (Shiffman dalam Sarafino, 1994). Cara yang kedua, dukungan sosial bisa membuat perokok benar-benar berhenti merokok secara langsung, yaitu dengan dorongan dari orang-orang terdekat dengan perokok atau bisa disebut “buddy system” (Colletti & Brownell, dalam Sarafino, 1994).

  Pasangan dapat dikategorikan sebagai orang terdekat perokok selain keluarga dan sahabat. Penggunaan “buddy system” atau dukungan sosial dari orang-orang terdekat untuk membuat perokok berhenti merokok didukung oleh Glasgow, Klesges, Mizes, & Pechacek (Sarafino, 1994).

  Besarnya koefisien determinasi hubungan antara dukungan sosial

  2

  pasangan terhadap intensi berhenti merokok adalah r = 0.317. Hal ini berarti dukungan sosial dari pasangan memberikan sumbangan efektif sebesar 31.7% terhadap intensi atau niat untuk berhenti merokok sedangkan 68.3% merupakan sumbangan faktor-faktor lain diluar dukungan sosial dari pasangan. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dari pasangan dapat mempengaruhi intensi atau niat untuk berhenti merokok. Akan tetapi ada faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi intensi atau niat untuk berhenti merokok. Faktor penyakit memberikan sumbangan efektif sebesar 30% petunjuk atau informasi tentang rokok memberikan pengaruh sebesar 35% terhadap intensi berhenti merokok (Ho, 2000). Efikasi diri memberikan pengaruh terhadap intensi berhenti merokok sebesar 41.4% (Verawati & Astuti, 2003). Latar belakang tingkat ketergantungan terhadap rokok, tingkat ketergantungan terhadap alkohol, dan religiusitas atau keyakinan terhadap agama yang dianutnya memberikan pengaruh sebesar 24% terhadap intensi berhenti merokok (Holm, 2003).

  Pengaruh dukungan sosial secara langsung dari orang terdekat, yaitu pasangan untuk membantu meningkatkan intensi untuk berhenti merokok bisa melalui dukungan informasi, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dan dukungan emosional.

  1. Dukungan Informasi Pasangan memberikan informasi mengenai efek jangka panjang dan jangka pendek pada kesehatan, serta konsekuensi atau akibat dari rokok (Flay dalam Sarafino, 1994). Informasi ini bisa membantu perokok untuk menentukan sikapnya terhadap rokok bahwa rokok lebih banyak merugikan daripada menguntungkan sehingga intensi berhenti merokok meningkat. Selain itu, pasangan bisa memberikan informasi dan masukan sehingga bisa membantu pasangan perokok untuk mengenali dan menyelesaikan masalahnya (Sheridan & Radmacher, 1992). Hal ini bisa membantu mengurangi stress atau kecemasan dalam menghadapi masalah sehingga perokok tidak perlu

  Aspek dukungan sosial informasi mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap meningkatnya intensi berhenti merokok kemungkinan disebabkan karena informasi bisa diberikan secara langsung. Hal ini membantu perokok dalam menentukan sikapnya terhadap rokok setelah diperoleh informasi bahwa merokok lebih banyak merugikan daripada menguntungkan sehingga intensi berhenti merokok bisa meningkat. Selain itu, dukungan informasi akan lebih mudah dimengerti karena diinformasikan secara jelas.

  2. Dukungan Penghargaan Dukungan penghargaan yang diberikan pasangan membuat perokok merasa berharga atas diri sendiri, kompetensi, dan perasaan bernilai (Stroebe dalam Antonia, dkk., 2006). Hal itu akan menyumbang meningkatnya harga diri. Coopersmith (Prasetya, 2000) menyatakan individu yang memiliki harga diri tinggi akan dapat mengontrol semua tindakannya, memiliki orientasi yang realistis, serta mampu berperilaku sesuai norma moral, etika dan aturan yang berlaku di masyarakat. Kontrol terhadap tindakan, orientasi yang realistis, dan berperilaku sesuai dengan norma membuat perokok memiliki intensi yang tinggi untuk berhenti merokok.

  Dukungan sosial penghargaan mempunyai pengaruh kedua setelah dukungan sosial informasi. Hal ini kemungkinan disebabkan dukungan penghargaan memberikan pengaruh yang cukup besar pada seperti dukungan sosial informasi, dukungan sosial penghargaan ini tidak setiap saat bisa diberikan karena akan terkesan terlalu menyanjung.

  3. Dukungan Instrumental Pasangan bisa membantu mengurangi stress dengan menyempatkan waktu untuk memberikan hiburan dan relaksasi bagi pasangan yang merokok sehingga tidak terpikirkan untuk merokok pada saat stress (Cohen & Wilis dalam Sheridan & Radmacher, 1992).

  Pengaruh dukungan sosial instrumental terhadap intensi berhenti merokok berada di urutan ketiga. Seperti halnya dukungan penghargaan, dukungan instrumental ini sifatnya lebih situasional dan pengaruh terhadap meningkatnya intensi berhenti merokok tidak secara langsung.

  4. Dukungan Emosional Dukungan emosional merupakan penerimaan empati, kepedulian, cinta, dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan sehingga menimbulkan kenyamanan (Stroebe dalam Antonia, dkk., 2006). Alasan perokok untuk merokok adalah untuk menghilangkan atau menghindar dari situasi yang tidak nyaman (David, dkk., 2000).

  Dengan adanya dukungan emosional perokok bisa merasa nyaman sehingga tidak memerlukan rokok lagi. Bisa dikatakan intensi untuk berhenti merokok semakin tinggi.

  Dukungan Emosional ini memberikan pengaruh yang paling kecil terhadap intensi berhenti merokok. Selain karena tidak secara langsung bisa meningkatkan intensi berhenti merokok, kemungkinan juga karena dukungan sosial emosional sulit diberikan. Pasangan harus bisa mengerti dan memahami subyek secara emosional sehingga membuat subyek merasa nyaman dan tidak memikirkan untuk merokok lagi. Hal ini membuat pasangan harus lebih peka terhadap keadaan subyek dan merasakan apa yang dirasakan subyek.

  Pengaruh dukungan informasi yang cukup besar terhadap meningkatnya intensi berhenti merokok bisa memberikan masukan pada pasangan untuk memberikan dukungan sosial informasi lebih sering. Selain mudah dimengerti oleh perokok yang ingin berhenti merokok, dukungan sosial informasi juga mempunyai pengaruh secara langsung dalam meningkatkan intensi berhenti merokok. Dukungan sosial informasi juga bisa mengurangi stress dengan membantu subyek mengatasi masalah sehingga tidak perlu merokok lagi.

  Dukungan sosial juga bisa berpengaruh secara langsung melalui

  

modeling . Pasangan bisa memberikan contoh untuk tidak merokok atau

  menolak secara halus ketika seseorang menawarkan rokok (Flay dalam Sarafino, 1994) sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan intensi berhenti merokok.

  Hasil penelitian ini terbukti pada subyek yang mempunyai usia 25- tersebut subyek penelitian berada di masa awal dewasa. Masa awal dewasa adalah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau duapuluhan awal dan yang berakhir pada usia tigapuluh tahun (Santrock, 1995). Menurut Erikson (Santrock, 1995), pada tahun-tahun awal masa dewasa individu menghadapi tugas perkembangan pembentukan relasi intim dengan orang lain. Pada masa inilah peran pasangan menjadi sangat penting, pasangan bisa menjalin relasi yang intim dengan perokok yang ingin berhenti merokok dengan memberikan dukungan sosial yang sesuai. Hal ini bisa menghindarkan subyek pada rasa isolasi yang mungkin terjadi juga stress yang mungkin menyertai perasaan terisolasi sehingga intensi untuk berhenti merokok semakin meningkat.

  Melihat cukup besarnya pengaruh dukungan sosial dari pasangan terhadap intensi atau niat untuk berhenti merokok tidak ada salahnya bagi pasangan yang suaminya merokok untuk memberikan dukungan sosial pada pasangan perokok sehingga perokok bisa mempunyai intensi atau niat yang tinggi untuk berhenti merokok. Dengan adanya intensi yang tinggi, perilaku berhenti merokok bisa terwujud dan pola hidup sehat tanpa rokok bisa diterapkan. Cohen, Katz, Schacter (Bishop, 1994) mengatakan faktor yang berhubungan dalam suksesnya berhenti merokok adalah dukungan sosial dari orang-orang terdekatnya. Taylor (1999) juga mendukung pernyataan ini, bahwa penting bagi perokok yang ingin berhenti namun merasa kesulitan untuk memperoleh dukungan dari pasangannya sehingga perokok bisa menyatakan bahwa dukungan sosial yang tinggi dari orang terdekat bisa mendorong orang lain untuk menerapkan pola hidup yang lebih sehat karena dia merasa diperhatikan dan dibutuhkan sehingga dia berusaha menjaga dirinya sendiri untuk orang yang selalu memberikan dukungan kepadanya.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial

  pasangan dengan intensi berhenti merokok sebesar 0.563 pada taraf signifikasi 1%, p = 0.000 (p < 0.01). Hal ini berarti semakin tinggi dukungan sosial dari pasangan semakin tinggi pula intensi atau niat untuk berhenti merokok. Dukungan sosial pasangan memberikan sumbangan efektif terhadap intensi berhenti merokok sebesar 31.7% sedangkan 68.3% merupakan sumbangan faktor-faktor lain diluar dukungan sosial.

B. Saran

  1. Saran berkaitan dengan manfaat penelitian

  a. Saran kepada perokok yang ingin berhenti merokok Untuk perokok yang ingin berhenti merokok diharapkan lebih terbuka kepada pasangan sehingga pasangan bisa membantu dengan cara memberikan dukungan sosial.

  b. Saran kepada pasangan yang ingin pasangannya berhenti merokok Pasangan diharapkan peka terhadap kondisi dan kebutuhan pasangannya sehingga bisa memberikan dukungan sosial yang tepat untuk menanggulangi stress dan kecemasan yang dialami meningkatkan intensi untuk berhenti merokok yang pada akhirnya perilaku berhenti merokok bisa terwujud.

  2. Saran berkaitan dengan kelanjutan penelitian Bagi penelitian selanjutnya hendaknya penelitian di kemudian hari bisa mengungkap data mengenai seberapa besar ketergantungan para perokok terhadap rokok sehingga penelitian bisa digeneralisasikan berdasarkan konsumsi rokok.

C. Keterbatasan Penelitian

  Penelitian yang sudah dilakukan memiliki keterbatasan, yaitu peneliti tidak mengungkap data mengenai seberapa banyak batang rokok yang dihabiskan oleh subyek dalam 1 hari sehingga peneliti tidak bisa menggeneralisasikan penelitian berdasarkan konsumsi rokok atau besarnya ketergantungan terhadap rokok.

DAFTAR PUSTAKA

  Anggraeni, Dewi S. (2004). Hubungan antara Persepsi Terhadap Kondisi Lingkungan Fisik Pekerjaan dan Intensi Turnover Pada Karyawan Bidang Produksi di Unit Produksi Jakarta PT. Kimia Farma (Persero), TBK.

  Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  Antonia, C., Lyons, & Kerry, C. Health Psychology a critical introduction.

  (2006). New York : United Kingdom at the University Press, Cambridge. Azwar, S. (2004). Reliabilitas dan Validitas. Edisi ke 3, cetakan 5. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.

  Baron & Donn Byrne. (1987). Social Psychology. Understanding Human

Interaction. Fifth edition. United Stated of America : Allyn and Bacon.

Bishop, George. (1994). Health Psychology, Integrating Mind and Body. London : Allyn & Baccon. Cristina, T., Arie I., & Dewi S. (2000). Intensi Penundaan Perkawinan Wanita

  Karir Lajang Ditinjau Dari Motivasi Pengembangan Karir Dan Tingkat Kemandirian Pada Pramugari PT. Garuda Indonesia Airlines.

  Psikodimensia, Edisi September 2000. 3, 1, 3.

  David, F., Mark, Michael M., Brian E., & Carla W. (2000). Health Psychology (theory, research, and Practice) . London : Sage Publication. Hartanti. (2002). Peran Sense Of Humor dan Dukungan Sosial Pada Tingkat

  Depresi Penderita Dewasa Pascastroke. Anima, Indonesia Psychological Journal, 2002, 17, 2, 107-119. Ho, Robert. (2000). The Intention To Give Up Smoking : Disease Versus Social Dimensions. Jurnal Psikologi Sosial, No VIII/TH VII/Desember 2000.

  Jakarta : Universitas Indonesia. Holm, Klavs, Stef P., Hein D.V. (2003). Why do Danish adolescents take up smoking? European Journal Of Public Health, 2003, 13, 67-74.

  Markham, W., Paul A., Hywel T., Hein De Vries, Maria L., & Anne C. (2004).

  What determines future smoking intentions of 12- to 13-year-old UK African-Caribbean, Indian, Pakistani and white young people? Health Education Research , 1 Februari 2004, Vol. 19, No. 1, 15-28. Prasetya, Berta E. A. (2000). Hubungan antara Nilai Sosial Obat dan Self Esteem dengan Intensi Penyalahgunaan Obat Pada Remaja. Jurnal Psikologi. Vol.

  9, No. 1, 1-29. Rara. (2006). Pria dan Rokok. Blogfam Magazine, Edisi 6 Juni. 2006.

  [On-line]. Diakses tanggal 10 Maret 2007 dari

  Santrock, J.W. (1995). Life-Span Development. Edisi 5, Jilid II. Jakarta : Erlangga. Santrock, J.W. (1995). Life-Span Development. Edisi 5, Jilid I. Jakarta : Erlangga. Sarafino, E.P. (1990). Health Psychology, Biopsychosocial Interaction. New York : John Wiley & Sons, Inc. Sarafino, E.P. (1994). Health Psychology, Biopsychosocial Interaction, Second Edition. Canada : John Wiley & Sons, Inc. Sheridan, C.L & Radmacher, S.A. (1992). Health Psychology, Challenging The Biomedical Model. New York : John Wiley & Sons, Inc. Slovic, Paul. (2001). Smoking, Risk, &Policy. California : Sage Publication. Smet, Bart. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana. Sriamin, Lukman. (2006). Konsumsi Rokok Yang Menggelisahkan. Himpsi, 30

  Juni 2006. [On-line]. Diakses tanggal 8 Desember 2008 dari http://himpsijaya.org/2006/06/30/konsumsi-rokok-yang-menggelisahkan/ Surjorahardjo, Siswanto & The Johny. (1985). Anda Dapat Berhenti Merokok.

  Yogyakarta : Andi Offset (36-37, 44). Tandra, Hans. (2003). Merokok dan Kesehatan. Kompas Cyber Media, Edisi

  Senin, 30 Juni 2003. [On-line]. Diakses tanggal 10 Maret 2007 dari Taylor, Shelley. (1999). Health Psychology, Fourth edition. Singapore : McGraw- Hill. Verawati, Hesty & Astuti, Kamsih. (2003). Peranan Sikap Terhadap Bahaya

  Rokok Dan Efikasi Diri Terhadap Intensi Berhenti Merokok. Insight, Edisi Februari 2003. 1, 1, 17-25. Wirawan, Henny E. (1998). Buku Ajar Psikologi Sosial I. Jakarta : UPT Penerbitan Universitas Tarumanagara.

  LAMPIRAN A

  • Skala Try Out Intensi Berhenti Merokok dan Dukungan

  Sosial Pasangan

  • Reliabilitas Skala Intensi Berhenti Merokok dan

  Dukungan Sosial Pasangan

  • Skala Penelitian Intensi Berhenti Merokok dan Dukungan

  Sosial Pasangan

  KUESIONER

  Tanggal Pengisian : Usia : Usia Pernikahan : Skala ini terdiri dari skala A berjumlah 90 dan skala B berjumlah 56. Anda diminta untuk menyatakan pendapat Anda dengan memilih salah satu dari 4 jawaban pilihan yang disediakan (STS, TS, S, dan SS), kemudian berilah tanda silang ( Χ) pada salah satu kolom untuk setiap pernyataan yang paling sesuai dengan pendapat Anda. Jawablah pernyataan dengan jujur sesuai dengan

  keadaan diri Anda dan pastikan Anda telah mengisi keseluruhan pernyataan. KETERANGAN : STS : Sangat Tidak Setuju TS : Tidak Setuju S : Setuju SS : Sangat Setuju

  Dalam skala ini, apapun jawaban Anda adalah BENAR dan dijamin kerahasiaannya. Atas bantuan dan kerjasama Saudara, Peneliti mengucapkan terima kasih.

  SKALA A

No Pernyataan STS TS S SS

1. Merokok membuat saya lebih percaya diri.

  2. Teman-teman akan menganggap saya lebih jantan apabila saya merokok.

  3. Dengan merokok saya merasa lebih bersemangat untuk bekerja.

  4. Merokok tidak hanya merugikan diri saya sendiri tetapi juga orang lain.

  5. Saya bisa menolak ketika seseorang menawarkan rokok pada saya.

  6. Merokok di depan umum adalah tindakan yang memalukan.

  7. Saya akan diejek oleh teman-teman apabila tidak merokok.

  8. Dengan merokok, banyak ide-ide dan inspirasi yang muncul.

  9. Asap rokok membuat saya sesak nafas.

  10. Saya akan merokok ketika saya kecewa dengan sesuatu.

  11. Saya memperhatikan dengan sungguh- sungguh iklan-iklan yang mendorong orang untuk berhenti merokok.

  12. Saya tergoda untuk merokok saat melihat orang lain merokok.

  13. Obrolan saya dengan teman-teman akan lebih seru apabila disertai dengan merokok.

  14. Saat saya sedang bekerja, saya akan berkonsentrasi untuk bekerja dan tidak terpikirkan untuk merokok.

  15. Saya merasa lebih dekat dengan pasangan saat saya sedang tidak merokok.

  16. Berhenti merokok bisa mengurangi resiko terkena penyakit berat.

  17. Saya tidak tergoda untuk merokok meskipun ada orang yang merokok.

  18. Merokok membuat saya lebih rileks ketika saya stress.

  19. Saya merasa harus keluar rumah untuk membeli rokok saat persediaan habis meskipun hari sudah malam.

  20. Saya merasa lebih mudah bergaul ketika saya merokok.

  21. Merokok membuat kesehatan saya bertambah buruk.

  22. Keluarga saya menginginkan agar saya berhenti merokok.

  23. Saya sulit menahan diri untuk tidak merokok ketika saya sedang stress.

  24. Saya merasa orang lain akan lebih menghargai ketika saya merokok.

  25. Saya bisa membiasakan diri untuk tidak merokok setelah makan.

  26. Saya merasa lebih dewasa ketika saya merokok.

  27. Saya merasa merokok di tempat umum adalah tindakan yang tidak sopan.

  28. Terus-terusan merokok akan membuat saya mengalami gangguan pernapasan.

  29. Saya tidak tergoda untuk merokok meskipun saat itu sedang tidak ada pekerjaan.

  30. Saya merasa nafas saya lebih segar ketika saya tidak merokok.

  31. Disaat saya sedang menghadapi permasalahan, saya akan menenangkan diri dengan merokok.

  32. Saya merasa diterima oleh komunitas saya ketika saya merokok.

  33. Saya merasa lidah saya pahit apabila tidak merokok.

  34. Saya tahu terlalu banyak merokok akan membuat tenggorokan saya sakit.

  35. Pasangan saya marah ketika saya merokok.

  36. Saya bisa menahan diri untuk merokok meskipun saat itu saya sedang kesal.

  37. Saya merasa ketinggalan jaman ketika saya tidak merokok.

  38. Saya akan langsung ikut merokok ketika saya berkumpul dengan teman-teman saya.

  39. Saya merasa menjadi bagian dari kelompok ketika saya merokok.

  40. Saya merasa tidak enak dengan bos ketika saya merokok dan beliau tidak.

  41. Saya lebih baik keluar dulu dari ruangan ber-AC untuk merokok karna saya tidak bisa menahannya.

  42. Saya merasa bosan apabila tidak merokok.

  43. Pasangan saya selalu mengingatkan saya untuk berhenti merokok.

  44. Saya akan melakukan kesibukan lain ketika saya mulai berpikir untuk merokok.

  45. Saya merasa mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan teman-teman saat saya merokok bersama mereka.

  46. Saya merasa kelelahan saya akan berkurang ketika saya merokok.

  47. Saya akan merokok ketika saya merasa gugup.

  48. Saya tahu sistem reproduksi saya akan terganggu apabila saya terus-terusan merokok.

  49. Saya menemukan kesenangan tersendiri apabila merokok.

  50. Saya sulit menolak ketika saya ditawari rokok oleh seseorang.

  51. Informasi bahwa merokok merugikan kesehatan hanyalah gossip belaka.

  52. Saya bisa menahan diri untuk tidak merokok saat disekitar saya banyak anak- anak kecil.

  53. Orang-orang akan memandang saya rendah ketika saya merokok di depan umum.

  54. Dengan berhenti merokok saya bisa menghemat uang.

  55. Saya tidak tergoda untuk merokok meskipun saat itu saya sedang stress.

  56. Saya merasa gengsi apabila teman-teman merokok dan saya tidak.

  57. Saya bisa mengendalikan diri untuk tidak merokok meskipun saya sedang tertekan.

  58. Saya merasa lebih nyaman dengan badan saya yang terbebas dari bau asap rokok.

  59. Saya merasa lebih nyaman berbicara dengan orang lain ketika saya tidak merokok.

  60. Saya ingin merokok ketika saya mengkhawatirkan sesuatu.

  61. Saya tahu bahwa merokok bisa menyebabkan penyakit kanker.

  62. Teman-teman saya mendukung ketika saya ingin berhenti merokok.

  63. Saya langsung merokok ketika tidak ada pekerjaan lain yang harus saya lakukan.

  64. Merokok akan membuat saya lebih menarik.

  65. Sahabat saya menginginkan agar saya tetap merokok.

  66. Saya merasa lebih diperhatikan orang lain ketika saya merokok.

  67. Saya akan ikut merokok ketika orang yang ada di dekat saya merokok.

  68. Kebiasaan merokok yang saya lakukan bisa mengganggu sistem pencernaan saya.

  69. Saya bisa mengatasi perasaan gugup saya dengan cara lain dan bukan dengan merokok.

  70. Saya bisa membelikan uang saya untuk sesuatu yang lebih berguna daripada untuk membeli rokok.

  71. Saya merasa bersalah ketika orang lain batuk-batuk saat saya sedang merokok.

  72. Saya tidak tertarik untuk merokok meskipun teman yang di dekat saya sedang merokok.

  73. Berhenti merokok membuat orang-orang di dekat saya lebih sehat.

  74. Saya tidak tergoda untuk merokok meskipun sahabat saya menawarkan rokok.

  75. Saya merasa tidak cepat mengantuk apabila saya bekerja sambil merokok.

  76. Saya ingin merokok saat saya merasa gelisah.

  77. Merokok membuat saya lebih tenang.

  78. Ketika saya berkumpul dengan teman- teman dan tidak merokok, saya merasa tidak enak dengan mereka.

  79. Merokok di area umum membuat orang lain tidak nyaman.

  80. Saya bisa menahan diri untuk tidak merokok dalam ruangan ber-AC.

  81. Saya merokok karena melihat atasan saya merokok.

  82. Saya merasa harus merokok ketika saya kesal pada sesuatu.

  83. Saya merasa sulit berkonsentrasi apabila tidak merokok.

  84. Orang-orang didekat saya akan menjauh ketika saya mulai merokok.

  85. Berhenti merokok membuat badan lebih terasa segar.

  86. Saya bisa mengalihkan pikiran-pikiran saya saat saya ingin merokok.

  87. Orang lain akan melarang ketika saya merokok di depan umum.

  88. Saat saya bekerja, kadang-kadang saya mencuri waktu untuk merokok.

  89. Merokok di depan umum membuat saya lebih percaya diri.

  90. Saya akan menerima rokok yang ditawarkan sahabat saya.

  SKALA B

No Pernyataan STS TS S SS

1. Saya merasa tenang saat pasangan saya ada.

  2. Pasangan saya menyiapkan minuman saat saya merasa penat.

  3. Pasangan saya memberikan saran ketika saya mengalami kesulitan.

  4. Saya merasa saran yang diberikan oleh pasangan saya bermanfaat untuk saya.

  5. Saya merasa pasangan saya tidak peduli saat saya disibukkan oleh pekerjaan kantor.

  6. Keberadaan pasangan membuat saya merasa aman.

  7. Dukungan dari pasangan membuat saya merasa memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar.

  8. Pasangan saya membantu merapikan ruang kerja saya.

  9. Saya bisa merasakan pasangan saya

  10. Saya jarang berdiskusi dengan pasangan saya.

  11. Saya merasa nasehat yang diberikan oleh pasangan saya terdengar memaksa.

  12. Pasangan saya membantu saya mengambilkan makan saat saya terlalu sibuk bekerja.

  13. Saya merasa tentram apabila berada di dekat pasangan saya.

  14. Saya bisa berdiskusi dengan pasangan saya.

  15. Saya merasa petunjuk yang diberikan pasangan berguna.

  16. Saya mempersiapkan segala sesuatu sendiri meskipun saat itu pasangan saya bisa membantu.

  17. Saya merapikan ruang kerja saya sendirian meskipun saat itu pasangan saya ada.

  18. Saya merasa pasangan saya mengabaikan kebutuhan saya.

  19. Saya merasa jengkel apabila pasangan saya mendekati saya.

  20. Saya merasa pasangan saya tidak puas dengan pekerjaan yang saya lakukan.

  21. Saya lebih percaya sahabat saya daripada pasangan saya.

  22. Ide-ide dari pasangan saya terdengar tidak masuk akal.

  23. Kesalahan kecil yang saya lakukan tidak membuat pasangan saya kecewa.

  24. Disaat saya kesulitan mengerjakan pekerjaan kantor, pasangan saya dengan senang hati membantu saya.

  25. Pasangan saya memberikan ide-ide yang berguna apabila saya mengalami permasalahan.

  26. Petunjuk dari pasangan saya membuat saya mudah mencari jalan keluar dari permasalahan saya.

  27. Saya merasa lega setelah mendengar nasihat dari pasangan saya.

  28. Pasangan saya tidak pernah menanyakan keberadaan saya.

  29. Saya lebih suka berada di luar rumah bersama teman-teman daripada bersama pasangan saya.

  30. Pasangan saya meremehkan kemampuan saya.

  31. Pasangan saya cenderung menentang keputusan yang saya buat.

  32. Bila saya mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas, pasangan saya hanya akan mencemooh.

  33. Pasangan saya membandingkan kesuksesan saya dengan orang yang lebih berhasil daripada saya.

  34. Saya tetap merasa kacau meskipun pasangan berada di samping saya.

  35. Pasangan saya membiarkan saya bekerja larut malam meskipun dia bisa membantu.

  36. Saya merasa pasangan menjauhi saya ketika saya mengalami kesulitan.

  37. Saya percaya kepada pasangan saya.

  38. Pasangan saya mempercayai keputusan yang saya buat.

  39. Saya mempunyai hubungan yang erat dengan pasangan saya.

  40. Disaat saya sedih, pasangan saya bisa merasakan kesedihan yang saya rasakan.

  41. Saya merasa bisa membuat pasangan saya senang dengan hasil kerja saya.

  42. Pasangan saya membantu saya menyiapkan peralatan kantor.

  43. Disaat saya lupa membeli sesuatu untuk perlengkapan kerja saya, pasangan saya bersedia membelikannya.

  44. Pasangan saya meremehkan pekerjaan saya.

  45. Saya merasa pasangan saya kecewa dengan hasil kerja saya.

  46. Disaat saya sedih orang pertama yang saya datangi adalah sahabat saya bukan pasangan saya.

  47. Pasangan saya tidak memberikan masukan ketika saya mengalami kesulitan.

  48. Saran yang diberikan oleh pasangan saya tidak berguna.

  49. Saya merasa jengkel setelah mendengar petunjuk yang diberikan oleh pasangan saya.

  50. Pasangan saya tidak peduli dengan keberhasilan saya.

  51. Dukungan dari pasangan bisa membuat saya bangkit kembali.

  52. Pasangan saya membantu saya membuatkan minuman ketika saya sibuk bekerja.

  53. Pasangan saya merayakan keberhasilan saya dengan kejutan-kejutan kecil.

  54. Pasangan saya membiarkan saya membuat minuman sendiri meskipun dia bisa membantu.

  55. Pengarahan dari pasangan saya membuat saya bingung.

  56. Bila saya gagal, pasangan saya memberikan semangat agar saya tidak mudah berputus asa.

RELIABILITAS SKALA INTENSI BERHENTI MEROKOK

  ∗ Reliabilitas untuk jumlah item 90

  Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized

  Items N of Items .932 .933

  90 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale

  Variance if Item Deleted Corrected Item-Total

  Correlation Squared Multiple Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted item1

  233.48 463.383 .372 . .931 item2 233.15 469.570 .141 . .932 item3 233.36 455.364 .592 . .930 item4 232.39 463.121 .392 . .931 item5 233.03 456.218 .660 . .930 item6 233.73 468.392 .204 . .932 item7 233.03 467.468 .196 . .932 item8 233.48 456.383 .519 . .930 item9 233.06 464.434 .279 . .931 item10 233.42 469.877 .087 . .933 item11 233.09 474.335 -.051 . .933 item12 233.48 472.633 .005 . .933 item13 233.76 462.002 .462 . .931 item14 232.94 462.559 .298 . .931 item15 232.76 464.564 .320 . .931 item16 232.48 460.195 .549 . .930 item17 233.24 469.377 .134 . .932 item18 233.73 463.892 .402 . .931 item19 233.36 453.989 .600 . .930 item20 233.55 465.881 .265 . .931 item21 232.76 467.689 .183 . .932 item22 232.52 464.320 .440 . .931 item23 233.70 465.780 .300 . .931 item24 232.91 470.085 .125 . .932 item25 233.55 467.381 .231 . .932 item26 233.21 463.797 .295 . .931 item27 233.21 458.047 .520 . .930 item30 232.55 454.443 .605 . .930 item31 233.55 465.693 .337 . .931 item32 233.12 462.797 .385 . .931 item33 233.36 452.801 .603 . .930 item34 232.55 466.256 .251 . .932 item35 232.82 460.653 .382 . .931 item36 233.18 466.966 .224 . .932 item37 232.91 451.898 .596 . .930 item38 233.45 463.568 .355 . .931 item39 233.03 458.405 .525 . .930 item40 232.67 463.479 .280 . .931 item41 233.58 473.252 -.018 . .934 item42 233.55 459.131 .422 . .931 item43 232.45 462.693 .358 . .931 item44 233.00 459.938 .520 . .930 item45 233.52 471.258 .069 . .932 item46 233.61 470.496 .090 . .932 item47 233.27 455.955 .558 . .930 item48 232.52 459.070 .510 . .930 item49 233.88 465.797 .319 . .931 item50 233.15 458.445 .549 . .930 item51 232.36 467.739 .204 . .932 item52 232.42 464.502 .344 . .931 item53 233.61 474.121 -.042 . .933 item54 232.45 464.256 .248 . .932 item55 233.42 455.502 .564 . .930 item56 233.09 467.460 .165 . .932 item57 233.09 460.960 .459 . .931 item58 232.91 457.148 .617 . .930 item59 232.88 453.235 .676 . .929 item60 233.58 464.189 .377 . .931 item61 232.33 455.542 .624 . .930 item62 232.48 472.258 .033 . .932 item63 233.24 459.564 .409 . .931 item64 232.94 456.371 .544 . .930 item65 232.67 460.167 .405 . .931 item66 232.85 459.320 .565 . .930 item67 233.27 460.142 .487 . .930 item68 232.88 464.672 .260 . .932 item69 232.73 471.267 .068 . .932 item70 232.67 455.104 .609 . .930 item71 232.30 463.030 .418 . .931 item72 233.30 468.218 .180 . .932 item73 232.42 465.127 .318 . .931 item74 233.27 460.580 .433 . .931

item77 233.58 462.627 .444 . .931 item78 233.15 471.820 .037 . .933 item79 232.58 463.189 .269 . .932 item80 232.58 462.689 .441 . .931 item81 232.73 470.017 .133 . .932 item82 233.33 455.729 .617 . .930 item83 232.94 458.434 .553 . .930 item84 233.33 465.417 .230 . .932 item85 232.67 467.104 .212 . .932 item86 233.21 467.047 .275 . .931 item87 233.27 464.267 .329 . .931 item88 233.33 462.229 .458 . .931 item89 232.82 460.091 .554 . .930 item90 233.52 463.008 .506 . .931

  ∗ Reliabilitas untuk jumlah item 55

  Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized

  Items N of Items .948 .948

  55 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale

  Variance if Item Deleted Corrected Item-Total

  Correlation Squared Multiple Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted item1

  142.52 308.883 .413 . .947 item3 142.39 303.121 .596 . .946 item4 141.42 311.564 .293 . .948 item5 142.06 302.809 .714 . .946 item8 142.52 302.945 .562 . .947 item13 142.79 308.985 .443 . .947 item15 141.79 309.735 .366 . .948 item16 141.52 306.820 .567 . .947 item18 142.76 309.564 .435 . .947 item19 142.39 300.996 .643 . .946 item22 141.55 309.818 .484 . .947 item23 142.73 311.517 .310 . .948 item27 142.24 308.127 .401 . .948 item28 141.52 314.320 .139 . .949 item29 142.30 310.780 .347 . .948 item32 142.15 309.070 .394 . .948 item33 142.39 300.996 .606 . .946 item35 141.85 307.195 .394 . .948 item37 141.94 300.371 .595 . .946 item38 142.48 308.883 .403 . .947 item39 142.06 304.184 .593 . .947 item42 142.58 305.939 .433 . .947 item43 141.48 308.820 .373 . .948 item44 142.03 307.718 .482 . .947 item47 142.30 303.468 .567 . .947 item48 141.55 305.068 .563 . .947 item49 142.91 311.898 .310 . .948 item50 142.18 304.841 .591 . .947 item52 141.45 310.443 .355 . .948 item55 142.45 304.006 .536 . .947 item57 142.12 306.610 .514 . .947 item58 141.94 304.559 .623 . .946 item59 141.91 301.023 .695 . .946 item60 142.61 309.559 .422 . .947 item61 141.36 302.926 .643 . .946 item63 142.27 304.330 .496 . .947 item64 141.97 303.343 .572 . .947 item65 141.70 304.843 .495 . .947 item66 141.88 304.985 .640 . .946 item67 142.30 306.905 .496 . .947 item70 141.70 304.155 .559 . .947 item71 141.33 309.979 .392 . .948 item73 141.45 311.818 .286 . .948 item74 142.30 308.655 .380 . .948 item75 142.36 304.364 .503 . .947 item77 142.61 307.934 .508 . .947 item80 141.61 307.621 .525 . .947 item82 142.36 303.426 .620 . .946 item83 141.97 305.718 .552 . .947 item87 142.30 310.718 .317 . .948 item88 142.36 307.739 .515 . .947 item89 141.85 305.820 .621 . .947 item90 142.55 308.756 .550 . .947

  ∗ Reliabilitas untuk jumlah item 45

  Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized

  Items N of Items .947 .948

  45 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale

  Variance if Item Deleted Corrected Item-Total

  Correlation Squared Multiple Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted item3

  117.61 236.121 .574 . .945 item5 117.27 235.455 .712 . .945 item8 117.73 235.517 .561 . .945 item13 118.00 241.250 .420 . .946 item15 117.00 241.500 .366 . .947 item16 116.73 238.892 .571 . .945 item18 117.97 241.468 .429 . .946 item19 117.61 233.934 .637 . .945 item22 116.76 241.439 .495 . .946 item27 117.45 240.381 .386 . .947 item30 116.79 236.047 .560 . .945 item32 117.36 241.176 .381 . .947 item33 117.61 234.121 .592 . .945 item35 117.06 239.059 .402 . .947 item37 117.15 233.695 .576 . .945 item39 117.27 236.517 .598 . .945 item43 116.70 240.593 .378 . .947 item44 117.24 239.314 .505 . .946 item47 117.52 236.445 .544 . .946 item48 116.76 237.002 .583 . .945 item50 117.39 237.309 .585 . .945 item52 116.67 241.479 .392 . .946 item55 117.67 236.792 .520 . .946 item57 117.33 238.479 .529 . .946 item58 117.15 236.820 .630 . .945 item59 117.12 233.672 .703 . .944 item60 117.82 241.091 .438 . .946 item61 116.58 235.377 .649 . .945 item63 117.48 236.445 .509 . .946 item64 117.18 235.716 .579 . .945 item65 116.91 236.460 .528 . .946 item67 117.52 239.320 .480 . .946 item70 116.91 236.898 .544 . .946 item71 116.55 241.631 .398 . .946 item74 117.52 240.820 .367 . .947 item75 117.58 237.064 .490 . .946 item77 117.82 240.028 .502 . .946 item80 116.82 239.091 .559 . .946 item82 117.58 236.439 .595 . .945 item87 117.52 242.258 .323 . .947 item83 117.18 238.278 .536 . .946 item88 117.58 240.127 .493 . .946 item89 117.06 238.059 .621 . .945 item90 117.76 240.439 .566 . .946

RELIABILITAS SKALA DUKUNGAN SOSIAL PASANGAN

  ∗ Reliabilitas untuk jumlah item 56

  Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized

  Items N of Items .959 .961

  56 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale

  Variance if Item Deleted Corrected Item-Total

  Correlation Squared Multiple Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted item1

  171.00 244.438 .666 . .958 item2 170.94 242.746 .671 . .958 item3 170.79 247.735 .524 . .958 item4 171.00 252.000 .389 . .959 item5 171.06 254.059 .184 . .960 item6 170.94 246.621 .641 . .958 item7 170.73 248.142 .556 . .958 item8 171.24 251.314 .340 . .959 item9 170.88 246.735 .687 . .958 item10 171.12 253.985 .183 . .960 item11 171.21 251.735 .391 . .959 item12 171.09 246.960 .663 . .958 item13 170.94 247.559 .582 . .958 item14 171.12 251.047 .322 . .959 item15 171.09 249.398 .589 . .958 item16 171.79 255.297 .083 . .960 item17 171.76 251.189 .324 . .959 item18 171.27 253.892 .156 . .960 item19 170.94 248.559 .598 . .958 item20 171.12 247.735 .506 . .958 item21 171.09 248.460 .662 . .958 item22 171.18 249.341 .627 . .958 item23 171.27 248.892 .462 . .959 item24 171.06 247.309 .610 . .958 item25 171.09 248.335 .672 . .958 item26 171.12 251.672 .449 . .959 item29 171.00 242.625 .613 . .958 item30 171.06 250.934 .540 . .958 item31 171.18 250.216 .465 . .959 item32 170.94 251.059 .421 . .959 item33 171.09 243.335 .620 . .958 item34 171.06 247.934 .659 . .958 item35 170.94 248.996 .567 . .958 item36 171.03 248.030 .739 . .958 item37 170.94 246.246 .665 . .958 item38 171.18 249.653 .601 . .958 item39 170.97 246.843 .647 . .958 item40 171.15 244.633 .711 . .958 item41 171.12 250.172 .477 . .959 item42 171.27 248.017 .578 . .958 item43 171.15 251.258 .536 . .958 item44 171.12 244.422 .633 . .958 item45 171.18 245.341 .579 . .958 item46 171.00 248.000 .524 . .958 item47 171.15 246.883 .652 . .958 item48 171.09 244.835 .713 . .958 item49 171.12 242.235 .747 . .957 item50 171.15 245.133 .681 . .958 item51 171.03 249.155 .540 . .958 item52 171.00 244.750 .718 . .958 item53 171.42 248.627 .487 . .958 item54 171.36 243.489 .642 . .958 item55 171.12 252.297 .397 . .959 item56 170.82 247.841 .590 . .958

  ∗ Reliabilitas untuk jumlah item 52

  Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized

  Items N of Items .963 .965

  52

  Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if Item Deleted Corrected

  Item-Total Correlation Squared Multiple

  Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted item1 159.39 233.809 .672 . .962 item2 159.33 232.042 .682 . .962 item3 159.18 237.028 .530 . .963 item4 159.39 241.059 .408 . .963 item6 159.33 236.229 .630 . .962 item7 159.12 237.610 .551 . .962 item8 159.64 240.114 .372 . .963 item9 159.27 236.080 .693 . .962 item11 159.61 241.246 .376 . .963 item12 159.48 236.258 .672 . .962 item13 159.33 237.104 .573 . .962 item14 159.52 240.195 .332 . .963 item15 159.48 238.508 .610 . .962 item17 160.15 241.070 .292 . .963 item19 159.33 238.292 .573 . .962 item20 159.52 237.633 .478 . .963 item21 159.48 237.820 .664 . .962 item22 159.58 238.502 .644 . .962 item23 159.67 237.917 .483 . .963 item24 159.45 236.631 .615 . .962 item25 159.48 237.508 .689 . .962 item26 159.52 240.820 .463 . .963 item27 159.48 240.383 .584 . .962 item28 159.45 239.068 .457 . .963 item29 159.39 232.496 .596 . .962 item30 159.45 240.381 .530 . .963 item31 159.58 239.502 .469 . .963 item32 159.33 240.729 .396 . .963 item33 159.48 232.758 .624 . .962 item34 159.45 237.131 .674 . .962 item35 159.33 238.417 .564 . .962 item36 159.42 237.564 .727 . .962 item37 159.33 235.729 .662 . .962 item38 159.58 238.689 .628 . .962 item39 159.36 236.114 .657 . .962 item40 159.55 234.193 .705 . .962 item41 159.52 239.195 .500 . .963 item42 159.67 237.167 .594 . .962 item43 159.55 240.318 .561 . .962 item44 159.52 234.195 .617 . .962 item46 159.39 237.309 .529 . .963 item47 159.55 236.131 .664 . .962 item48 159.48 234.383 .708 . .962 item49 159.52 231.633 .754 . .962 item50 159.55 234.756 .671 . .962 item51 159.42 238.377 .551 . .962 item52 159.39 233.934 .735 . .962 item53 159.82 237.966 .489 . .963 item54 159.76 233.064 .638 . .962 item55 159.52 241.445 .411 . .963 item56 159.21 237.047 .602 . .962

  ∗ Reliabilitas untuk jumlah item 44

  Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized

  Items N of Items .961 .962

  44 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale

  Variance if Item Deleted Corrected Item-Total

  Correlation Squared Multiple Correlation

  Cronbach's Alpha if Item Deleted item1

  134.61 176.246 .705 . .959 item2 134.55 174.631 .716 . .959 item3 134.39 179.996 .501 . .960 item4 134.61 183.309 .388 . .961 item6 134.55 179.443 .587 . .960 item7 134.33 180.042 .554 . .960 item8 134.85 182.008 .389 . .961 item9 134.48 178.695 .697 . .959 item12 134.70 178.405 .711 . .959 item15 134.70 180.905 .606 . .960 item17 135.36 183.239 .281 . .962 item19 134.55 180.881 .555 . .960 item21 134.70 180.155 .674 . .960 item22 134.79 181.172 .614 . .960 item24 134.67 179.604 .587 . .960 item25 134.70 179.968 .691 . .960 item26 134.73 183.267 .425 . .961 item30 134.67 182.667 .512 . .960 item32 134.55 183.193 .363 . .961 item33 134.70 176.155 .606 . .960 item34 134.67 179.917 .652 . .960 item35 134.55 180.693 .571 . .960 item36 134.64 180.051 .726 . .959 item37 134.55 178.568 .652 . .960 item38 134.79 180.672 .662 . .960 item39 134.58 178.627 .668 . .960 item40 134.76 177.002 .712 . .959 item41 134.73 181.892 .464 . .960 item42 134.88 179.422 .615 . .960 item43 134.76 182.314 .575 . .960 item44 134.73 177.017 .621 . .960 item45 134.79 177.485 .587 . .960 item47 134.76 178.439 .691 . .959 item48 134.70 176.968 .729 . .959 item49 134.73 174.830 .756 . .959 item50 134.76 177.377 .686 . .959 item51 134.64 181.176 .516 . .960 item52 134.61 176.621 .754 . .959 item53 135.03 180.593 .474 . .960 item54 134.97 175.843 .653 . .960 item55 134.73 183.705 .383 . .961 item56 134.42 179.689 .594 . .960

  KUESIONER

  Tanggal Pengisian : Usia : Usia Pernikahan : Skala ini terdiri dari skala A berjumlah 45 dan skala B berjumlah 44. Anda diminta untuk menyatakan pendapat Anda dengan memilih salah satu dari 4 jawaban pilihan yang disediakan (STS, TS, S, dan SS), kemudian berilah tanda silang ( Χ) pada salah satu kolom untuk setiap pernyataan yang paling sesuai dengan pendapat Anda. Jawablah pernyataan dengan jujur sesuai dengan

  keadaan diri Anda dan pastikan Anda telah mengisi keseluruhan pernyataan. KETERANGAN : STS : Sangat Tidak Setuju TS : Tidak Setuju S : Setuju SS : Sangat Setuju

  Dalam skala ini, apapun jawaban Anda adalah BENAR dan dijamin kerahasiaannya. Atas bantuan dan kerjasama Saudara, Peneliti mengucapkan terima kasih.

  SKALA A

No Pernyataan STS TS S SS

  1. Dengan merokok saya merasa lebih bersemangat untuk bekerja.

  2. Saya bisa menolak ketika seseorang menawarkan rokok pada saya.

  3. Dengan merokok, banyak ide-ide dan

  4. Obrolan saya dengan teman-teman akan lebih seru apabila disertai dengan merokok.

  5. Saya merasa lebih dekat dengan pasangan saat saya sedang tidak merokok.

  6. Berhenti merokok bisa mengurangi resiko terkena penyakit berat.

  7. Merokok membuat saya lebih rileks ketika saya stress.

  8. Saya merasa harus keluar rumah untuk membeli rokok saat persediaan habis meskipun hari sudah malam.

  9. Keluarga saya menginginkan agar saya berhenti merokok.

  10. Saya merasa merokok di tempat umum adalah tindakan yang tidak sopan.

  11. Saya merasa nafas saya lebih segar ketika saya tidak merokok.

  12. Saya merasa diterima oleh komunitas saya ketika saya merokok.

  13. Saya merasa lidah saya pahit apabila tidak merokok.

  14. Pasangan saya marah ketika saya merokok.

  15. Saya merasa ketinggalan jaman ketika saya tidak merokok.

  16. Saya merasa menjadi bagian dari kelompok ketika saya merokok.

  17. Pasangan saya selalu mengingatkan saya untuk berhenti merokok.

  18. Saya akan melakukan kesibukan lain ketika

  19. Saya akan merokok ketika saya merasa gugup.

  20. Saya tahu sistem reproduksi saya akan terganggu apabila saya terus-terusan merokok.

  21. Saya sulit menolak ketika saya ditawari rokok oleh seseorang.

  22. Saya bisa menahan diri untuk tidak merokok saat disekitar saya banyak anak- anak kecil.

  23. Saya tidak tergoda untuk merokok meskipun saat itu saya sedang stress.

  24. Saya bisa mengendalikan diri untuk tidak merokok meskipun saya sedang tertekan.

  25. Saya merasa lebih nyaman dengan badan saya yang terbebas dari bau asap rokok.

  26. Saya merasa lebih nyaman berbicara dengan orang lain ketika saya tidak merokok.

  27. Saya ingin merokok ketika saya mengkhawatirkan sesuatu.

  28. Saya tahu bahwa merokok bisa menyebabkan penyakit kanker.

  29. Saya langsung merokok ketika tidak ada pekerjaan lain yang harus saya lakukan.

  30. Merokok akan membuat saya lebih menarik.

  31. Sahabat saya menginginkan agar saya tetap merokok.

  32. Saya merasa lebih diperhatikan orang lain ketika saya merokok.

  33. Saya akan ikut merokok ketika orang yang ada di dekat saya merokok.

  34. Saya bisa membelikan uang saya untuk sesuatu yang lebih berguna daripada untuk membeli rokok.

  35. Saya merasa bersalah ketika orang lain batuk-batuk saat saya sedang merokok.

  36. Saya tidak tergoda untuk merokok meskipun sahabat saya menawarkan rokok.

  37. Saya merasa tidak cepat mengantuk apabila saya bekerja sambil merokok.

  38. Merokok membuat saya lebih tenang.

  39. Saya bisa menahan diri untuk tidak merokok dalam ruangan ber-AC.

  40. Saya merasa harus merokok ketika saya kesal pada sesuatu.

  41. Saya merasa sulit berkonsentrasi apabila tidak merokok.

  42. Orang lain akan melarang ketika saya merokok di depan umum.

  43. Saat saya bekerja, kadang-kadang saya mencuri waktu untuk merokok.

  44. Merokok di depan umum membuat saya lebih percaya diri.

  45. Saya akan menerima rokok yang ditawarkan sahabat saya.

  SKALA B

No Pernyataan STS TS S SS

1. Saya merasa tenang saat pasangan saya ada.

  2. Pasangan saya menyiapkan minuman saat saya merasa penat.

  3. Pasangan saya memberikan saran ketika saya mengalami kesulitan.

  4. Saya merasa saran yang diberikan oleh pasangan saya bermanfaat untuk saya.

  5. Keberadaan pasangan membuat saya merasa aman.

  6. Dukungan dari pasangan membuat saya merasa memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar.

  7. Pasangan saya membantu merapikan ruang kerja saya.

  8. Saya bisa merasakan pasangan saya mencintai saya.

  9. Pasangan saya membantu saya mengambilkan makan saat saya terlalu sibuk bekerja.

  10. Saya merasa petunjuk yang diberikan pasangan berguna.

  11. Saya merapikan ruang kerja saya sendirian meskipun saat itu pasangan saya ada.

  12. Saya merasa jengkel apabila pasangan saya mendekati saya.

  13. Saya lebih percaya sahabat saya daripada pasangan saya.

  14. Ide-ide dari pasangan saya terdengar tidak masuk akal.

  15. Disaat saya kesulitan mengerjakan pekerjaan kantor, pasangan saya dengan senang hati membantu saya.

  16. Pasangan saya memberikan ide-ide yang berguna apabila saya mengalami permasalahan.

  17. Petunjuk dari pasangan saya membuat saya mudah mencari jalan keluar dari permasalahan saya.

  18. Saya merasa lega setelah mendengar nasihat dari pasangan saya.

  19. Saya lebih suka berada di luar rumah bersama teman-teman daripada bersama pasangan saya.

  20. Pasangan saya meremehkan kemampuan saya.

  21. Bila saya mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas, pasangan saya hanya akan mencemooh.

  22. Pasangan saya membandingkan kesuksesan saya dengan orang yang lebih berhasil daripada saya.

  23. Saya tetap merasa kacau meskipun pasangan berada di samping saya.

  24. Pasangan saya membiarkan saya bekerja larut malam meskipun dia bisa membantu.

  25. Saya merasa pasangan menjauhi saya ketika saya mengalami kesulitan.

  26. Saya percaya kepada pasangan saya.

  27. Pasangan saya mempercayai keputusan yang saya buat.

  28. Saya mempunyai hubungan yang erat dengan pasangan saya.

  29. Disaat saya sedih, pasangan saya bisa merasakan kesedihan yang saya rasakan.

  30. Saya merasa bisa membuat pasangan saya senang dengan hasil kerja saya.

  31. Pasangan saya membantu saya menyiapkan peralatan kantor.

  32. Disaat saya lupa membeli sesuatu untuk perlengkapan kerja saya, pasangan saya bersedia membelikannya.

  33. Pasangan saya meremehkan pekerjaan saya.

  34. Saya merasa pasangan saya kecewa dengan hasil kerja saya.

  35. Pasangan saya tidak memberikan masukan ketika saya mengalami kesulitan.

  36. Saran yang diberikan oleh pasangan saya tidak berguna.

  37. Saya merasa jengkel setelah mendengar petunjuk yang diberikan oleh pasangan saya.

  38. Pasangan saya tidak peduli dengan keberhasilan saya.

  39. Dukungan dari pasangan bisa membuat saya bangkit kembali.

  40. Pasangan saya membantu saya membuatkan

  41. Pasangan saya merayakan keberhasilan saya dengan kejutan-kejutan kecil.

  42. Pasangan saya membiarkan saya membuat minuman sendiri meskipun dia bisa membantu.

  43. Pengarahan dari pasangan saya membuat saya bingung.

  44. Bila saya gagal, pasangan saya memberikan semangat agar saya tidak mudah berputus asa.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
126
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
117
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
165
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
92
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
136
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
144
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
2
125
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
160
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi
0
0
81
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
92
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
120
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
169
Skripsi Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Jurusan Psikologi
0
0
76
Show more