Dinamika kebutuhan dan kecemasan penderita latah - USD Repository

Gratis

0
0
186
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DINAMIKA KEBUTUHAN DAN KECEMASAN PENDERITA LATAH SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh : Daniel Gatyo Probo NIM : 099114062 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DINAMIKA KEBUTUHAN DAN KECEMASAN PENDERITA LATAH SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh : Daniel Gatyo Probo NIM : 099114062 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jangan jadi orang pintar, sebab orang pintar hanya bisa minteri wong. Jadilah orang yang mengerti, agar bisa ngerteni wong. (Iman Wahyudi – dalam suatu obrolan ayah dengan anak laki-lakinya) iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Untuk entitas tertinggi dunia ini yang saya imani sebagai Yesus Kristus, biarlah lewat karya kecil ini nama-Mu boleh dimuliakan Untuk Papa, Mama dan kedua adikku (Alm. Abetnego Tirto dan Samuel Aryo) – Hal yang paling berharga dalam hidup seorang Daniel Gatyo Untuk teman-teman sesama pencari gelar S.Psi, yang tidak putus asa dalam menghadapai tantangan yang sama v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DINAMIKA KEBUTUHAN DAN KECEMASAN PENDERITA LATAH Daniel Gatyo Probo ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika kecemasn dan kebutuhan pada penderita latah. Topik ini dipilih karena responden mengaku mengalami mimpi alat kelamin pria sebelum perilaku latah muncul, sementara penelitian sebelumnya menyatakan agama dan budaya menjadi faktor penyebab latah. Analisis penelitian ini menggunakan metode analisis tema yang dikembangkan Bellak pada tes TAT. Penulis juga menambahkan hasil skoring SSCT dalam penelitian. Dalam analisis data peneliti berada dibawah supervisi ahli untuk menjaga kredibilitias hasil tes. TATdipilih karena memiliki kemampuan untuk melihat dinamika kepribadian dan kecemasan, sementara beberapa bagian SSCT menggambarkan hal serupa sehingga dapat saling melengkapi data. Penelitian ini melibatkan tiga orang responden yang telah menderita latah dalam jangka waktu lama. Pengambilan data diawali dengan wawancara tidak terstruktur, kemudian melakukan pengetesan TAT dan SSCT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain yang ditandai dengan perasaan inferior dan kebutuhan untuk mendapat perhatian dari sosok yang dianggap lebih kuat. Selain super ego penderita latah cenderung kuat, nampak bahwa penderita latah mengalami fiksasi pada fase oral. Represi dan denial menjadi mekanisme yang digunakan untuk mengatasi kecemasan. Kata Kunci : Latah, Need, Kecemasan, Tes Proyektif vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI NEED AND ANXIETY PSYCHODYNAMICS OF LATAH VICTIMS Daniel Gatyo Probo ABSTRACT The research aimed to see needs and anxiety psychodynamics of latah victims. This topic chosen because the respondent’s latah behavior starts with men’s genitals dream, in other hand other research said that there is religion and cultural factor of latah behavior. This research analysis used the theme analysis which developed by Bellak on Thematic Apperception Test (TAT). Sack’s Sentence Completing Test (SSCT) Score also added. During the data analysis, researcher was under expert supervision, aimed to keep the credibility test results. TAT chosen because this projective test can reveal personality dynamics and anxiety of respondent, in other hand some part of SSCT can reveal the same thing. The result can completed each other data. This research involved three respondents that run up against latah for a long time. Data collecting stars by not structured interview, then TAT and SSCT data collecting. This research result showed that respondent has compliant personality. There is inferior feeling and need for love and affiliation from someone who superior than respondents. There’s also oral phase fixation. Repression and denial was a defend mechanism against anxiety. Key Words : Latah, Need, Projective Test viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberi kemampuan kepada penulis baik secara fisik, psikologis, maupun akal budi untuk menyelesaikan tulisan ini. Melalui karya tulis ini, penulis berharap pelaku dunia psikologi dapat memahami dinamika kebutuhan individu dengan perilaku latah, sehingga dapat memberi treatment yang lebih akurat untuk menanggulangi perilaku latah, selain itu penulis juga ingin membuka mata masyarakat luas mengenai latah yang selama ini dipandang sebagai perilaku wajar dan cederung dijadikan bahan candaan, bahwa paradigma ini keliru. Pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang tanpa bantuan dari mereka, karya ini belum tentu dapat terrealisasi. : 1. Ibu Dr. Tjipto Susana, selaku dosen pembimbing. Terima kasih atas bimbingan dari ibu selama proses pembuatan skripsi ini. Tanpa pertanyaanpertanyaan yang mendasar dari ibu, mungkin karya ini hanya menjadi tulisan dangkal. 2. Bapak V. Didik S.H., M.Si yang telah membantu dan mengarahkan saya dalam menganalisis data. 3. Bapak T. Priyo Widianto., M.Psi selaku Dekan Fakultas Psikologi. 4. Bapak Agung Santoso., M.A, selaku dosen pembimbing akademik yang kemudian digantikan oleh ibu Dr. Tjipto Susana. Terima kasih untuk x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pertemuan tiap jum’at, terima kasih untuk selalu memantau kami, dan terkhusus terima kasih untuk cerita yang akhirnya saya posting di blog saya. 5. Untuk bapak Iman Wahyudi dan ibu Debora Sutini, orang tua terhebat yang pernah saya tahu, terima kasih atas segala usaha, doa, dan bimbingan. Terima kasih untuk selalu menanyakan “kapan lulus?” yang membuat saya selalu dan selalu termotivasi. Untuk Samuel Aryo, adikku yang bandelnya ga ketulungan, terima kasih untuk… apapun itu. 6. Untuk sepupu-sepupu saya yang selalu menjadi tolak ukur kesuksesan saya, terima kasih karena contoh yang kalian tunjukkan pada saya. 7. Untuk teman-teman psikologi kelas B 2009 (kalau ditulis satu-satu kepanjangan), terima kasih untuk pengalaman luar biasa selama 4 tahun ini. Saya bukan saya yang sekarang tanpa kalian yang membantu saya menjadi seperti sekarang. 8. Masdha FM angkatan 2009, Rickvan, Paijo, Etus, Ukik, Wibie, Jeanot, Aditha, Bertha, Manik, Ayuk, Nino, Dicky, Rosi, Sangkin, semoga semua sudah tersebut. Terima kasih untuk keluarga kecil bahagia di pojokan gerbang apotik. Terima kasih juga untuk jalan-jalan ke pantai, karokean, nonton film, dan hal-hal tak terduga selama bukan hanya 2 tahun (sepanjang kontrak) tapi bahkan sampai sekarang. 9. Untuk Monica Ardiana, Pujaan hatiku (saat ini dan semoga sampai nanti. Amin) terima kasih sudah menjadi pelampiasan egoku, sudah mau menjadi pendengar yang baik, dan sudah mau berbagi berbagai pengalaman denganku. xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10. Untuk penghuni Kos 164 A yang ibu kos nya agak bagaimana gitu, Mas Ardian, Aris, Adhi, Mas Wiwid, Bono, Rio, Mas Je, Mas Felix (meskipun sebentar) dan terakhir Arie, terima kasih untuk kebersamaan selama 3 tahun lebih, maaf saya harus keluar dari kos duluan karena kalian tahu lah ya. 11. Untuk anak-anak langit (kos-kosan atas) dan antek-anteknya; Ino, Ricky, Abed, Aldy, Jo, dan Kukuh, terima kasih untuk apapun itu. Hahahahaha 12. Untuk anak kontrakan dan anggota the brother beserta koleganya, Yohanes “moe-moe” Hanggoro, Klaudius Hani, David Elfandra, Lukas Pramudita, Togar Elprado, I Made Adi, Julius Caesar, Iwan “Sampean” Sanjaya terima kasih sudah memberikan saya tempat bernaung dari dinginnya hujan dan panas matahari, terima kasih untuk kesempatan menjadi trainee dan terima kasih untuk kesempatan bertukar pikiran di kamar ukuran 3x4. 13. Anggota Eksis terkhusus Florianus Brian yang sudah mau berbagi beban walaupun beban itu terlalu berat. Untuk Iwan “sampean” Sanjaya, Erga Petragave, dan Agnes Dita, saya titipkan maha karya yang bernama Eksis pada kalian (golekono mangsa baru) hahahahahaha.. 14. Untuk BEM-F kepemimpinan Putra Wiramuda terima kasih “perang” yang ga pernah berakhir. Jiahahahahahahahaha. 15. Untuk kepanitiaan Aksi 2013 yang digawangi Agnes, Bimo, Disty, Atenk, dan diketuai Anjar Hesmudipto, katanya kalo ikut aksi lulusnya cepet, nyataya? Iya ga mas Albertus “Panjul” Pandu, koh Albert Mahendra? 16. Untuk teman-teman satu bimbingan dan satu angkatah, sekalipun kita jarang bahkan tidak pernah bimbingan bersama; Keket, Samira, Elsa, Andank, dan xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Yosua saya ucapkan terima kasih atas support dan ide-idenya. Saya doakan kalian SUKSES dengan apa yang kalian lakukan 17. Untuk sesama pengejar gelar S.Psi yang kebetulan menimba ilmu di Sanata Dharma, di angkatan berapapun dan kelas manapun, terima kasih untuk pengalaman yang berharga ini. Saya bangga jadi bagian keluarga besar Psikologi Sanata Dharma 18. Untuk narasumber saya yang mau merelakan waktunya untuk saya, terima kasih atas kesediaan ibu-ibu untuk berpartisipasi dalam penelitian saya, berkat bantuan dari ibu-ibu lah saya bisa menyelesaikan maha karya ini. 19. Terakhir untuk pihak-pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu karena keterbatasan ingatan saya. Terima kasih atas apapun yang anda pernah lakukan dalam hidup saya, karena apapun itu saya yakin sedikit-banyak membantu saya menyelesaikan masa studi saya. Penulis juga menyadari keterbatasan penulis dalam menyusun karya tulis ini, maka dari itu penulis terbuka dengan kritik dan saran yang membangun. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi pembaca dan peneliti lain. Yogyakarta, ....... Februari 2014 Daniel Gatyo Probo xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ......................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii HALAMAN MOTO .................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................... vi ABSTRAK ................................................................................................... vii ABSTRACT .................................................................................................. viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ............ ix KATA PENGANTAR ................................................................................. x DAFTAR ISI ................................................................................................ xiv DAFTAR TABEL ....................................................................................... xviii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1 A. Latar Belakang .................................................................................. 1 B. Rumusan masalah.............................................................................. 8 C. Tujuan Penelitian .............................................................................. 8 D. Manfaat Penelitian ............................................................................ 9 1. Manfaat Teoritis .................................................................... 9 2. Manfaat Praktis ..................................................................... 9 BAB II LANDASAN TEORI ..................................................................... 10 A. Latah .................................................................................................. 10 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Slip of The Tongue................................................................ 10 2. Latah ...................................................................................... 12 a. Pengertian .................................................................. 12 b.Penyebab Terjadinya Latah ....................................... 14 c. Latah dan Budaya Melayu ........................................ 15 d.Dampak Latah ........................................................... 17 B. Teori-teori Kebutuhan ....................................................................... 18 1. Teori Kebutuhan Freud ......................................................... 21 2. Teori Kebutuhan Neurotik Horney ....................................... 26 C. Tes Proyektif ..................................................................................... 31 1. Pengertian .............................................................................. 31 2. SSCT (Sacks Sentence Completing Test) .............................. 32 3. TAT (Thematic Apprerception Test)..................................... 33 4. Validitas dan Reliabilitas TAT dan SSCT ............................ 35 D. Penggunaan Teknik Proyektif pada Penderita Latah ........................ 35 E. Asumsi Awal ..................................................................................... 38 BAB III METODE PENELITIAN ........................................................... 39 A. Jenis Penelitian .................................................................................. 39 B. Fokus Penelitian ................................................................................ 40 C. Metode Pengumpulan Data ............................................................... 41 D. Subjek Penelitian............................................................................... 43 1. Karakteristik Subjek Penelitian ............................................. 43 2. Jumlah Subjek Penelitian ...................................................... 44 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Lokasi Pengambilan data ...................................................... 44 E. Analisis Data ..................................................................................... 44 F. Kredibilitas Penelitian ....................................................................... 45 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................... 49 A. Pelaksanaan Penelitian ...................................................................... 49 1. Proses Pengumpulan Data ..................................................... 49 2. Proses Analisis Data .............................................................. 50 B. Profil Responden ............................................................................... 50 1. Responden 1 .......................................................................... 50 2. Responden 2 .......................................................................... 51 3. Responden 3 .......................................................................... 52 4. Kesimpulan Wawancara........................................................ 52 C. Dinamika Kebutuhan dan Kecemasan Responden ........................... 54 1. Rerponden 1 .......................................................................... 79 2. Responden 2 .......................................................................... 83 3. Responden 3 .......................................................................... 88 D. Kesimpulan Dinamika Kebutuhan dan Kecemasan .......................... 91 E. Pembahasan ....................................................................................... 94 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 98 A. Kesimpulan ....................................................................................... 98 B. Saran .................................................................................................. 100 1. Bagi Penelitian Selanjutnya .................................................. 100 2. Bagi Terapis atau Psikolog.................................................... 101 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Bagi Penderita latah .............................................................. 101 4. Bagi Keluarga dan Lingkungan Sekitar ................................ 102 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 103 LAMPIRAN ................................................................................................. 106 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL TABEL 2.1. Tahap Perkembangan Psikoseksual ......................................... 24 TABEL 4.1. Clustering Kebutuhan Responden I ........................................ 54 TABEL 4.2. Hasil SSCT Responden I ......................................................... 61 TABEL 4.3. Clustering Kebutuhan Responden II ....................................... 64 TABEL 4.4. Hasil SSCT Responden II ....................................................... 67 TABEL 4.5. Clustering Kebutuhan Responden III ...................................... 71 TABEL 4.6. Hasil SSCT Responden III ...................................................... 74 TABEL 4.7. Sintesis Data Responden ......................................................... 77 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gangguan psikologis adalah keadaan dimana seorang individu tidak menjalankan fungsi psikologisnya dengan baik. Durand dan Barlow (2006) dalam Essentials of Abnormal Psychology menyebutkan terdapat tiga ciri utama yang menjadi indikasi seroang individu mengalami gangguan psikologis. Ciri yang pertama adalah mengalami disfungsi psikologis yaitu keadaan dimana emosi, perilaku, dan kognitif seseorang mengalami gangguan. Ciri kedua adalah keadaan distress personal, yang ditandai dengan perilaku yang tidak wajar seperti mudah marah namun di saat yang sama mudah sedih. Ciri terakhir adalah individu tidak dapat membaur dan diterima oleh orang-orang sekitar akibat dari perilaku yang cenderung berbeda. Berdasarkan pengertian di atas, maka perilaku latah dapat dikategorikan sebagai gangguan psikologis. Hal ini dikarenakan penderitanya mengalami disfungsi perilaku yang ditandai dengan ketidakmampuan penderitanya mengontrol perilakunya ketika mendapat rangsang dari luar. Secara kognitif penderita latah juga mengalami gangguan, karena penderita latah tidak mampu menyaring ucapan saat latah muncul. Lebih jauh, jika latah tidak segera ditanggulangi, penderitanya akan mengalami gangguan emosional, seperti perasaan 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 rendah diri atau malu berlebih akibat selalu menjadi bahan ejekan orang disekelilingnya. Selain itu, hal lain yang juga menguatkan latah merupakan gangguan psikologis adalah perilaku orang yang mengalami latah cenderung menyimpang dibanding orang-orang disekelilingnya. DSM IVTR (2000) menyebutkan bahwa latah adalah perilaku sensitif berlebih terhadap pengagetan tiba-tiba, dan biasanya diikuti dengan perilaku mengucapkan kata-kata tidak senonoh, meniru ucapan, meniru gerakan, dan/atau menuruti perintah. Latah merupakan perilaku khas masyarakat melayu. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian yang dilakukan Yap (1950) dimana 60% penderita latah adalah orang Jawa, 12% Melayu, 6% Sunda, dan sisanya orang Bugis, Madura, Ambon, dan lain-lain, sementara kasus latah tidak ditemukan di tempat lain. Gangguan ini lebih banyak dialami kaum perempuan daripada laki-laki. Hal ini diperkuat oleh temuan Van Loon (1928), dimana berdasarkan riset yang dilakukan, ditemukan 157 kasus latah yang dialami wanita, 4 kasus latah pria, dan 1 kasus latah hemaprodit. Latah menimbulkan efek jangka panjang bagi penderitanya. Selain memunculkan rasa malu berkepanjangan pada penderitanya akibat dari anehnya perilaku atau kata-kata yang diucapkan ketika perilaku latah muncul, efek jangka panjang dari latah adalah hilangnya kreativitas si penderita, sebab penderita latah lama-kelamaan menjadi terbiasa meniru perilaku yang dilakukan dan melakukan perintah orang lain terlebih lagi

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 bila diderita semenjak anak-anak (okezone.com, 2012). Hal ini sesuai dengan hasil asesmen penulis terhadap beberapa penderita latah. Di awal masa menderita latah, biasanya penderita hanya akan mengucapkan nama alat kelamin laki-laki sebagai konten latahnya. Namun jika sudah memasuki tahapan yang lebih parah, bukan hanya alat kelamin laki-laki, tapi juga ada perilaku mengulang ucapan atau nama benda yang dilihat sebelum latah, dan yang lebih berbahaya lagi mengikuti perintah secara spontan. Terdapat beberapa teori mengenai pembentukan latah. Teori pertama menyebutkan latah merupakan keterkejutan sesaat akibat dari penderitanya terbiasa menyendiri di hutan (Kenny, 1978). Ada pula teori yang menyatakan bahwa latah merupakan cara yang digunakan kalangan aristokrat pada saat itu untuk melepaskan diri dari aturan sosial-budaya yang kaku (Geertz, 1960). Teori-teori menunjukkan bahwa latah sebenarnya terjadi karena pembentukan perilaku semata, dimana latah muncul karena orang membiasakan diri terhadap perilaku tersebut. Sementara teori lain menyebutkan latah muncul akibat keterpanaan yang teramat kuat terhadap bangsa eropa yang datang ke daerah melayu. keterpanaan ini muncul akibat perbedaan bentuk tubuh (Winzeler, 1995; Geertz, 1968). Selain itu, latah juga disinyalir muncul sebagai respon kecemasan seksual (Geertz, 1968; Yap, 1952; Winzeler, 1984). Kedua teori ini ingin menunjukkan bahwa kemunculan latah juga bisa disebabkan oleh rasa cemas yang dialami penderitanya. Berdasarkan

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 penelitian sebelumnya ditemukan pula bahwa wanita penderita latah yang biasanya menggunakan kata-kata tidak senonoh dalam latahnya, mengalami mimpi yang juga tidak senonoh (Van Loon dalam Winzeler, 1984). Hal ini diperkuat asesmen awal yang dilakukan penulis terhadap penderita latah. Dari tiga orang ibu usia 40-50 tahun yang penulis wawancarai, ketiganya mengaku bermimpi mengenai alat kelamin lakilaki. Menurut penuturan responden, latah tidak terjadi bersamaan dengan mimpi alat kelamin laki-laki. Saat mimpi mulai dilupakan, barulah perilaku latah muncul. Mimpi adalah cara yang digunakan sebagai sarana pemenuhan keinginan. Mimpi merupakan transformasi pemikiran menjadi pengalaman halusinatif. Mimpi mengalami transformasi akibat dari penolakan atau pelarangan keinginan yang dilakukan oleh orang yang bersangkutan atau dikenal dengan istilah distorsi (Freud, 1958). Berdasarkan temuan-temuan tersebut penulis menduga latah memiliki fungsi yang sama dengan mimpi yaitu sebagai sarana untuk memunculkan dorongan yang selama ini ditekan dan menjadi alat pemenuh keinginan. Melihat konten mimpi penderita latah, yaitu alat kelamin pria dan konten latah yang juga alat kelamin pria, dapat ditarik kesimpulan sederhana bahwa penderita latah yang diawali dengan mimpi alat kelamin pria memiliki kebutuhan seksual yang tidak terpenuhi sehingga akhirnya memimpikan alat kelamin pria, dan lebih jauh ketika konten mimpi sudah mulai masuk ke ketidaksadaran barulah latah muncul.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Berdasarkan pemaparan di atas, serta hasil wawancara yang menyatakan konten mimpi penderita latah adalah alat kelamin pria maka penulis berasumsi kebutuhan yang muncul adalah kebutuhan seksual. Kebutuhan ini tidak dapat diakomodir dengan baik dan justru ditekan. Hal inilah yang memunculkan konflik, rasa cemas, dan pada akhirnya perilaku latah. Namun, timbul pertanyaan. Apakah selamanya latah yang diawali mimpi alat kelamin semata-mata muncul akibat kebutuhan seksual tidak dapat diterima norma atau ada kebutuhan lain yang muncul bersamaan dengan kebutuhan ini? Sementara itu, bagaimana dinamika kebutuhan yang memunculkan perilaku latah? Untuk itulah penulis ingin meneliti tentang kebutuhan penderita latah. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis menggunakan beberapa tes kepribadian. Terdapat dua jenis tes kepribadian; tes proyektif maupun tes kepribadian inventori. Kedua alat asesmen ini disusun untuk melihat kecenderungan kepribadian seseorang, perbedaannya tes kepribadian inventori telah distandarisasi lewat norma (Sukardi, 1993). Hal ini justru menjadi kelemahan tes inventori, karena akan hasil pengetesan akan sangat terbatas pada norma yang ditentukan. Untuk itulah penulis lebih memilih menggunakan tes proyektif. Alat ini dipilih karena selain fungsi utamanya sebagai media untuk memunculkan ketidaksadaran, alat ini cenderung bebas norma, sehingga penulis dapat mengeksplorasi kedalaman data. Secara spesifik penulis menggunakan SSCT (Sacks Sentence Completing Test) dan TAT

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 (Thematic Apperception Test) terhadap penderita latah. SSCT adalah teknik proyektif yang bertujuan untuk memunculkan sikap individu terhadap hal atau situasi tertentu, sehingga tester dapat menentukan keadaan kepribadian yang dominan dalam diri testee (Sack & Levy, 1959). Sementara itu, TAT adalah teknik yang dipakai untuk melihat kepribadian individu yang termanifetasi dalam hubungan interpersonal dan interpretasi individu terhadap lingkungan saat melihat stimulus yang diberikan (Bellak& Abrams, 1997). Dengan menggunakan TAT, penulis dapat melihat dinamika kebutuhan, cara penyelesaian masalah, kecemasan, mekanisme pertahanan ego dan dinamika ego-super ego. Data-data ini dapat menggambarkan dinamika kepribadian pada penderita latah. Data ini diperkuat dan divalidasi hasil pengetesan SSCT. Sekalipun fungsi utamanya adalah untuk melihat sikap yang nantinya dapat digunakan untuk menentukan keadaan kepribadian, beberapa bagian pada SSCT dapat juga digunakan sebagai alat validasi TAT. Contohnya, bagian pandangan terhadap orang tua dapat juga digunakan untuk melengkapi data dinamika super ego responden, bagian ketakutan dapat digunakan untuk memvalidasi bagian kecemasan pada pengetesan TAT. Sehingga penggunaan TAT yang diperkuat SSCT sangat berguna untukmemudahkan penulis untuk membuktikan dinamika kebutuhan dan kecemasan pada penderita latah. Penelitian dilakukan bertujuan untuk mencari tahu dinamika kebutuhan dan kecemasan yang dialami penderita latah. Kebutuhan

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 menjadi penting untuk diteliti karena kebutuhanyang ditekan akan memunculkan kecemasan. Kebutuhan yang tidak diterima oleh super ego atau norma akan cenderung ditekan sehingga menimbulkan konflik, begitu pulakebutuhan yang berbenturan dengan kebutuhan lain (Freud dalam Hall, 1957). Diharapkan dengan menemukan dinamika kebutuhan, peneliti dapat lebih menggambarkan bagaimana kecemasan dalam diri responden terbentuk. Penelitian mengenai latah selama ini lebih banyak berbicara tentang latah sebagai suatu gangguan kultural.Sejauh ini penulis sudah membaca Sembilan jurnal dan artikel ilmiah mengenai latah. Winzeler (1984, 1995) menyimpulkan bahwa latah muncul karena adanya budaya dan sistem keagamaan yang cenderung mengekang. Geertz (1968) menambahkan bahwa latah bukan hanya milik kaum perempuan. Kebanyakan kasus terjadi pada perempuan karena posisi perempuan dalam struktur budaya melayu cenderung lebih lemah, sehingga lebih mudah dijadikan objek candaan. Sementara Gimlette (1897) berdasarkan dua kasus yang ditelitinya menemukan bahwa latah merupakan keadaan hysteria dimana si penderita mengalami self hypnosys. Yang menarik baik Gimlette maupun peneliti lain menemukan bahwa masyarakat melayu tidak memandang latah sebagai suatu gangguan. Kekhasan penelitian yang dilakukan penulis dibanding penelitian sebelumnya adalah penulis lebih menyoroti dinamika yang terjadi di dalam diri individu. Jika melihat pada penelitian sebelumnya, para peneliti lebih banyak menyoroti bagaimana

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 struktur budaya atau sistem keagamaan menyebabkan kecemasan yang digambarkan sebagai hysteria. Penulis sudah mencari baik melalui situssitus penyedia jurnal online maupun jurnal cetak, namun sejauh ini penulis belum menemukan jurnal atau hasil penelitian yang mengaitkan latah dengan dinamika kebutuhan, sehingga diharapkan jika penelitian berfokus pada kebutuhan dan kecemasan, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan seputar latah, selain itu peneliti selanjutnya atau terapis yang lebih ahli bisa menggunakan informasi iniuntuk mencari metode penyembuhan yang paling efektif. B. Rumusan Masalah Berdasarkan paparan latar belakang, maka dapat ditarik satu pertanyaan yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu; bagaimana dinamika kebutuhan dan kecemasan yang dialami penderita latah? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat dinamika kebutuhan dan kecemasan pada penderita latah.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber literatur terkait dengan tema latah. Penulis juga berharap penelitian ini bisa menjadi tambahan informasi jika nantinya penelitian berikutnya yang ingin mengembangkan topik serupa. 2. Manfaat Praktis Dengan membuktikan bahwa penderita latah memiliki dinamika kebutuhan tertentu yang menjadi pemicu perilakunya, pembaca diharap bisa lebih peka terhadap penderita latah dan dapat mengambil langkah tepat dalam menangani penderita latah.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Latah 1. Slip of The Tongue Bahasa merupakan suatu hal yang penting, tidak hanya agar antar individu dapat berkomunikasi, namun lebih jauh bahasa merupakan cara berpikir, yang merepresentasikan informasi dan merupakan proses kognitif tingkat tinggi (Solso, 1997). Bahasa meliputi pengucapan, arti, dan tata bahasa, sehingga bahasa pada akhirnya mempengaruhi bagaimana seorang individu mempersepsi sesuatu. Bahasa khususnya kata terbentuk melalui proses kognitif seperti demikian : Secara stimulan mengakses informasi mengenai rangsang dan menanggapinya Menerima rangsang Mengucapka n kata (Maltin,2009) Gambar 1.Proses mental pengucapan kata Berdasarkan skema pada gambar 1, dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pengucapan kata merupakan sesuatu yang dilakukan 10

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 secara sadar. Namun pada kenyataannya proses pembentukan kata tidak selalu berjalan seperti skema diatas. Keadaan dimana terjadi kesalahan dalam penyebutan kata biasa disebut dengan istilah Speech Error. Fenomena Speech Error yang paling sering terjadi adalah Slips of the Tongue. Slips of The Tongue adalah keadaan dimana respon bahasa yang diucapkan tidak sesuai dengan yang sebenarnya ingin disampaikan. Cambridge Dictionary of Psychology (2009) menyebutkan terdapat makna tersembunyi ketika seseorang mengalami Slips of the Tongue hal ini dikarenakan peristiwa ini merupakan dampak dari konflik internal individu. Hal ini sama dengan ketika seorang individu bermimpi. Terdapat tiga tendensi dari Slips of the Tongue, pertama tendensi yang tidak merugikan biasanya merupakan bagian dari kesadaran. Kedua tendensi untuk menghalangi sesuatu biasanya merupakan bagian ketidaksadaran dan muncul dari id. Ketiga adalah tendensi ketidaksadaran lainnya yang mencoba menghalangi tendensi sadar. Tendensi yang ketiga tidak muncul dari id, namun memenuhi tujuan dari bagian tak sadar ego (Eidelberg,1952). Selain itu, kejadian traumatis atau kekerasan di masa lalu juga bisa menjadi pemicu munculnya Slips of the Tongue (Main & Hesse, 1995).

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 2. Latah a. Pengertian Jika melihat paparan diatas, secara sekilas latah memiliki banyak kemiripan dengan fenomena Slips of the Tongue, namun demikian latah tidak sepenuhnya sama dengan Slips of the Tongue. Dalam Ensiklopedia Psikologi edisi ke 8, Kiev (1964), Simon dan Hughes (1986) memasukkan latah sebagai salah satu jenis gangguan hysteria dikarenakan beberapa kemiripan ciri antara kedua gangguan tersebut. Pernyataan tersebut pada akhirnya mendapat bantahan dari beberapa ahli. Para ahli mengemukakan bahwa gangguan yang berhubungan dengan budaya tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan taksonomi gangguan psikologis barat, sehingga DSM-IV TR memasukkan latah sebagai gangguan yang berkaitan dengan budaya, atau biasa disebut Culture Bound Dissorder, dimana menurut DSM-IV TR latah merupakan gangguan khas orang Melayu. Meskipun demikian, DSM-IV TR mencatat gangguan lain yang memiliki ciri yang hampir mirip dengan latah juga terjadi di daerah asia lain seperti Thailand (Bah-tsi), Jepang (Imu), dan philipina (silok). Latah merupakan perilaku sensitif berlebih terhadap stimulus kejutan tiba-tiba. Biasanya ditandai dengan perilaku melakukan perintah, dissosiasi, ekolalia (meniru pengucapan)

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 dan ekopraksia (meniru gerakan) (Cambridge Dicrtionary of Psychology, 2009). Sementara itu Encyclopedia of Psychology mencatat hal senada. Latah merupakan reaksi kejang-kejang (startle) yang diikuti ekolalia, ekopraksia. Latah juga sering dibarengi dengan perilaku coprolalia (pengucapan kata-kata yang tidak senonoh secara tidak terkonrol dan terhitung) dan kesadaran yang ternganggu. Latah dapat dikategorikan sebagai gangguan psikologis, sebab jika menilik pada pengertian gangguan psikologis, gangguan psikologis adalah disfungsi psikologis yang berhubungan dengan distress atau penurunan fungsi yang tidak dapat diterima budaya (Durand & Barlow, 2009). Terdapat tiga poin penting, pertama disfungsi psikologis, kedua mengalami penurunan fungsi atau distress, terakhir tidak dapat diterima secara budaya. Secara keseluruhan penderita latah mengalami ketiganya. Secara psikologis penderita latah mengalami penurunan kemampuan kognitif dan perilaku, karena ketidak mampuan penderita latah untuk menentukan kata dan/atau perilaku yang akan digunakan sebagai respon atas stimulus. Penderita latah biasanya akan mengalami gangguan emosional, seperti perasaan rendah diri atau malu berlebih akibat perilaku yang dimilikinya. Selain itu, perilaku orang yang mengalami latah cenderung menyimpang dibanding orang-orang di sekelilingnya.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 b. Penyebab terjadinya Latah Hingga saat ini masih terjadi perdebatan kemunculan latah, sebab para ahli menemukan kasus latah dengan berbagai sebab. Namun demikian, secara garis besar dapat disimpulkan latah muncul akibat dua hal. i. Kecemasan Teori ini menyatakan bahwa seseorang menderita latah akibat dari perasaan cemas, khawatir, dan takut akan sesuatu. Teori ini diperkuat temuan dari Geertz (1968) dan kemudian diperkuat lagi oleh Winzeler (1995). Keduanya berpendapat latah pertama kali muncul pada era penjajahan bangsa eropa di tanah melayu. Masih menurut keduanya, latah muncul akibat dari rasa kagum dan kaget yang teramat sangat melihat bangsa eropa yang memiliki bentuk tubuh, gaya berpakaian, bahasa, dan budaya berbeda dengan bangsa melayu pada saat itu. Selain itu, latah disinyalir sebagai respon akan kecemasan seksual yang dimiliki penderitanya (Geertz, 1968; Yap, 1952; Winzeler, 1984). Temuan van Loon dimana penderita latah yang biasanya wanita yang melatahkan alat kelamin pria memimpikan alat kelamin pria sebelum perilaku latah muncul memperkuat teori ini.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 ii. Pembiasaan Secara umum, teori ini menyatakan bahwa seseorang menderita latah karena membiasakan dirinya untuk menjadi latah. Teori ini diperkuat temuan dari Kenny (1978) dimana dalam penelitiannya ia menemukan penderita latah yang mulai menderita latah setelah ia membiasakan diri hidup di hutan dan sering berinteraksi dengan hewan buas di hutan, sehingga latahan yang biasanya muncul adalah namanama hewan di hutan. Temuan lainnya adalah temuan dari Geertz (1960) dimana dalam penelitiannya ia menemukan kaum aristokrat menjadi latah karena keadaan sosial-budaya kalangan ini sangat kaku. Pembiasaan diri untuk menjadi latah dilakukan semata-mata untuk menghindari diri dari kekakuan adat dan tradisi kalangan aristrokat. c. Latah dan Budaya Melayu Latah merupakan gangguan khas melayu. Latah sangat dipengaruhi ras, jenis kelamin, umur, dan keturunan. Latah paling sering diderita orang melayu daripada suku lain. Latah juga lebih sering diderita wanita namun demikian tidak menutup kemungkinan pria menderita latah, bahkan latah yang diderita pria justru cenderung muncul sebagai echopraxia daripada echolalia. Latah lebih banyak muncul pada usia paruh baya dan cukup banyak berkembang di

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 keluarga yang memiliki catatan latah (Galloway, 1922). Khusus di daerah Asia Tenggara, sekitar 60% penderita latah merupakan orang melayu sementara suku lain penderitanya hanya berkisar 10% dari populasi (Yap, 1950). Di Jawa, kasus latah banyak terjadi pada wanita berusia sekitar 50-60 tahunan (Geertz, 1968). Perempuan lebih banyak menderita latah dibandingkan laki-laki. Van Loon (1928) dalam penelitiannya menemukan 157 kasus latah dialami perempuan, 4 kasus latah pada laki-laki, dan 1 kasus latah pada hemaprodit. Hal ini juga nampak dari artikel Gimlette (1897) yang berjudul Remarks on the Etiology, Symptoms, and Treatmen of Latah, with Report of two Cases di mana kedua respondennya adalah wanita melayu dengan kisaran usia 40an tahun. Dalam kasus yang ditelitinya, Gimlette menemukan bahwa kasus latah mulai dialami ketika kedua subjeknya mengalami menopause. Lebih lanjut Gimlette menduga latah merupakan sesuatu yang diturunkan dari generasi sebelumnya. Latar belakang agama yang masih mempercayai halhal mistis menjadi salah satu alasan kenapa latah banyak terjadi di daerah Asia Tenggara (Gimlette, 1897). Selain itu, latah sangat berkaitan dengan sistem kebudayaan. Di Jawa latah sering dijumpai pada kalangan masyarakat dengan status sosial rendah. Hal ini disinyalir sangat berkaitan dengan budaya Jawa, yaitu;

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 pertama, budaya Jawa sangat mengutamakan tata bahasa halus, sehingga latah dijadikan sebagai bentuk perlawanan terhadap tatanan budaya ini; kedua, tedapat kesenjangan antar status sosial di Jawa, hal ini menyebabkan orang yang memiliki status sosial lebih rendah akan mencoba meniru perilaku orang dengan status sosial lebih tinggi. Perilaku meniru inilah yang pada akhirnya memicu latah; ketiga, budaya Jawa sangat “anti” mengeksploitasi dan mengeksplorasi hal-hal yang berbau seksual, pengucapan hal-hal tersebut dianggap sebagai hal tabu bagi masyarakat Jawa, sehingga pengucapan kata-kata kotor bisa jadi merupakan satu celah untuk mengumbar hasrat seksual; terakhir adalah rasa takut terkejut. Salah satu perilaku budaya yang menguatkan dugaan ini adalah perilaku masyarakat Jawa yang biasanya bertepuk tangan di depan bayi secara cepat dengan suara keras dengan tujuan agar si anak memiliki imun terhadap rasa terkejut (Geertz, 1968). d. Dampak Latah Seperti telah dibahas pada bab sebelumnya, latah pada susunan masyarakat melayu kadang dianggap sebagai suatu hal yang menghibur dan bahkan cenderung lucu. Padahal jika penderita latah tidak segera mendapat penanganan yang tepat dampaknya akan sangat berbahaya bagi penderita latah itu sendiri. Latah memunculkan rasa malu berkepanjangan pada penderitanya.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 Latah juga memiliki efek jangka panjang yaitu hilangnya kreativitas si penderita, sebab penderita latah lama-kelamaan menjadi terbiasa meniru perilaku yang dilakukan dan melakukan perintah orang lain (okezone.com, 2012). Jika menilik pada tiga ciri gangguan psikologis, yaitu: mengalami disfungsi psikologis yaitu keadaan dimana emosi, perilaku, dan kognitif seseorang mengalami gangguan; mengalami keadaan distress personal, yang ditandai dengan perilaku yang tidak wajar; dan ketidak mampuan untuk membaur dan diterima oleh orang-orang sekitar akibat dari perilaku yang cenderung berbeda (Durand & Barlow, 2009), maka dapat disimpulkan bahwa perilaku latah akan berdampak pada penderitanya, antara lain: tidak mampu mengontrol perilakunya ketika mendapat rangsang dari luar; Secara kognitif tidak mampu menyaring ucapan saat latah muncul; Lebih jauh, penderitanya akan mengalami gangguan emosional, seperti perasaan rendah diri atau malu berlebih akibat selalu menjadi bahan ejekan dan/atau perilaku yang cenderung menyimpang dibanding orang-orang di sekelilingnya. B. Teori-teori Kebutuhan Kebutuhan (Need), motif (motive), dan dorongan (Drive) adalah tiga hal yang mempengaruhi perilaku individu. Dorongan adalah

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 kecenderungan bereaksi dalam rangka pemenuhan kekurangan. Matsumoto (2009) menyatakan bahwa dorongan adalah motivasi untuk mengembalikan keseimbangan. Freud menyatakan bahwa dorongan merupakan gabungan antara kondisi psikologis dan biologis seseorang. Menurut Freud, kondisi psikologis yang mendorong individu melakukan sesuatu adalah hasrat (wish), dan kondisi biologisnya adalah perasaan kekurangan (Need). Wish dan need berperan sebagai motif yang mendorong individu melakukan sesuatu (Seimun, 2007). Dollard dan Miller membagi dorongan menjadi dua klasifikasi besar. Dorongan yang pertama adalah dorongan primer. Dorongan primer adalah segala dorongan yang berhubungan dengan keadaan fisik seseorang, semisal rasa lapar, haus, dan hasrat seksual. Dorongan berikutnya adalah dorongan sekunder. Dorongan sekunder adalah dorongan yang berhubungan dengan keadaan psikologis seseorang dan merupakan asosiasi dari pemenuhan dorongan primer, semisal rasa cemas dan ketakutan (Alwisol, 2007). Kebutuhan merupakan hal yang paling mendasar yang diperlukan dalam rangka bertahan hidup. Kebutuhan adalah keadaan kekurangan yang dialami tubuh baik fisik maupun psikologis yang menyebabkan terganggunya keseimbangan (equilibrium), sehingga memaksa tubuh untuk memenuhi kekurangan. (Seimun, 2007; Matsumoto, 2009) Motif adalah alasan individu melakukan sesuatu (Seimun, 2007). Maslow menyatakan bahwa perilaku yang dilakukan oleh individu merupakan gabungan beberapa motif, misal ketika seseorang melakukan

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 hubungan suami isteri dengan pasangannya, mungkin saja bukan hanya kebutuhan seksual yang memotivasi individu tersebut, tapi termotivasi juga karena ada keinginan untuk mencintai, dan keinginan untuk ditemani (Feist & Feist, 2007). Sementara itu, motivasi adalah kekuatan fisiomental yang membuat makhluk hidup melakukan sesuatu. Dalam dunia psikologi pendidikan motivasi diartikan sebagai situasi yang membuat individu terhukum atau tedorong saat melakukan sesuatu. Motivasi juga dapat diartikan sebagai usaha dalam rangka mencapai tujuan (Matsumoto, 2009). Motivasi dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok. Pertama motivasi biologis yang bersifat instingtual, dimana berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, keinginan untuk menghindari masalah, dan keinginan untuk melakukan kesenangan. Kedua adalah motivasi sosial yang terbentuk karena pengaruh budaya, status sosial, dan hasil belajar, misal keinginan untuk diterima dan keinginan untuk diperhatikan. Ketiga adalah motivasi personal yang didasarkan pada pengalaman individu terutama kebiasaan. Terakhir adalah motivasi yang lebih tinggi. Beberapa tokoh psikologi menyebut motivasi ini dilandasi kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, sementara yang lain menyebutnya dengan istilah realisasi diri (Boeree, 2010). Berdasarkan pemaparan mengenai kebutuhan, dorongan, dan motif tersebut, dinamika antara ketiganya dapat digambarkan sebagai berikut, kekurangan dalam hal ini berhubungan dengan tujuan bertahan hidup akan memunculkan kebutuhan (sisi biologis) dan hasrat (sisi

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 psikologis). Hasrat dan kebutuhan ini akan membangun motif seseorang untuk bertindak. Motif atau gabungan dari beberapa motif akan mendorong seseorang melakukan perilaku yang tujuannya adalah mencapai tujuan atau memenuhi kebutuhan. 1. Teori Kepribadian Freud Hall (1957) dalam bukunya yang berjudul Theories of Personality mengungkapkan Freud membagi struktur kepribadiannya menjadi tiga bagian utama, yakni Id, Ego, dan Super Ego. Id adalah struktur kepribadian bawaan tiap manusia dan melekat bahkan sejak manusia lahir. Id tidak mampu mentoleransi tegangan (keadaan kekurangan), sehingga berusaha untuk meredakan ketegangan. Usaha meredakan tegangan dilakukan dengan dua cara pertama gerak refleks, dan yang kedua adalah dengan menggunakan proses primer. Proses primer adalah cara peredaan tegangan dengan menampilkan gambaran mental. Tujuan utamanya untuk meredam ketegangan. Struktur kedua dari teori kepribadian Freud adalah Ego. Ego muncul sebagai akibat dari ketegangan tidak akan reda melalui proses primer. Ketegangan membutuhkan kompensasi nyata. Tugas Ego adalah memisahkan mental image dengan realita. Mengubah mental image menjadi persepsi sehingga nantinya individu dapat menemukan alat pemenuh kebutuhan di dunia nyata. Ego bekerja melalui proses sekunder, yaitu mencoba menahan tegangan hingga objek pemuas

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 ketegangan ditemukan. Selain itu ego juga menguji apakan langkah yang diambil benar atau salah dan bisa dilakukan atau tidak ketika ketegangan berkaitan dengan menyakiti diri. Ego mengontrol semua aktivitas kognitif individu, mengontrol perilaku, menentukan lingkungan yang akan direspon, dan menentukan kebutuhan mana yang akan dipenuhi dan dengan cara apa. Itulah mengapa ego disebut juga sebagai eksekutor dalam struktur kepribadian Freud. Sebagai eksekutor ego juga memiliki peran sebagai penyeimbang konflik yang muncul antara Id, Super Ego, dan dunia luar. Struktur terakhir adalah Super ego. Super ego merupakan representasi dari nilai tradisional dan ideologi masyarakat yang di interpretasikan kepada anak-anak melalui orang tuanya dan berkembang lewat sistem pemberian reward dan hukuman. Super ego adalah sisi moral dari kepribadian. Struktur ini lebih mempertimbangkan sisi ideal daripada yang sebenarnya dibutuhkan dan lebih menutamakan kesempurnaan daripada kenyamanan. Tujuan utama dari super ego adalah untuk menentukan apakah sesuatu benar atau salah. Secara garis besar terdapat tiga tujuan utama super ego. Pertama, menekan dorongan dari id, biasanya yang berhubungan dengan seksual dan sifat agresif, sebab kurang bisa diterima masyarakat; kedua, memaksa ego untuk mengubah tujuan realistis menjadi tujuan yang lebih moralistik; ketiga, memaksakan kesempurnaan. Sehingga secara singkat dapat disimpulkan bahwa

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 super ego memaksa baik id dan ego untuk bekerja menurut gambaran super ego itu sendiri. Id merupakan insting, Ego merupakan eksekutor, dan Super Ego adalah standar moral individu. Ketika individu merasakan kekurangan, maka id akan merepresentasikannya secara psikologis hal inilah yang disebut sebagai wish, sementara tubuh akan merasa kekurangan, hal inilah yang disebut need. Adanya need dan wish akan mendorong individu untuk berperilaku dan menentukan tujuan perilaku. Ketika need dan wish terpenuhi dengan baik, maka ketegangan akan mereda, namun demikian proses pemenuhan dorongan tidak selalu berjalan dengan baik. Ada keadaan dimana Super Ego akan menekan Ego untuk memenuhi dorongan Id, seperti ketika need dan wish berhubungan dengan kebutuhan seksual. Keadaan inilah yang memicu adanya konflik. Konflik juga bisa terjadi ketika objek pemuas kebutuhan terbatas, sementara banyak kebutuhan yang mendesak untuk dipenuhi. Dunia nyata menyediakan segala objek pemenuh kebutuhan, namun demikian dunia nyata juga memiliki kemampuan untuk menimbulkan rasa sakit dan meningkatkan ketegangan sama kuatnya seperti kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan. Freud membagi kecemasan menjadi 3 bagian penting, yaitu kecemasan realistis, kecemasan neurotik, dan kecemasan moralistis. Kecemasan realistis

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 adalah rasa takut akan bahaya yang ada di sekitar individu. Kecemasan neurotik adalah kecemasan yang muncul akibat diri merasa tidak mampu menangani insting. Sementara kecemasan moralistis adalah rasa bersalah jika seseorang melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Selain mengemukakan pandangannya tentang dinamika id, ego, super ego; mekanisme pertahanan ego; dan konsep tentang kecemasan, Freud juga mengemukakan gagasannya mengenai tahap perkembangan psikoseksual. Gagasan Freud tentang psikoseksual berakar pada idenya yang mengungkapkan hasrat seksual adalah motivasi yang penting. Bagi Freud pengalaman yang dihadapi selama masa perkembangan psikoseksual akan mempengaruhi perilaku dan kepribadian orang ketika dewasa. Tabel 1. Tahap perkembangan psikoseksual Tahap fase oral Kepuasan Jenis Fiksasi Objek Libido kepuasan didapat oral pasif : makan, susu dari proses minum, merokok ibu, sendiri menerima sesuatu oral agresif : menggigit, berargumen, sarkastik fase anal pada eriode awal anal kepuasan agresif : tubuh sendiri cenderung urakan, diperoleh dari ceroboh, merusak merusak atau diri

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 menghilangkan anal retentive : gila benda akan kebersihan, perfeksionis, pada tahap akhir dictator, keras kepuasan didapat kepala dari menahan, mengeluarkan, merasa tidak dan memberikan berharga, keinginan sesuatu untuk menguasai, atau tunduk fase phalik kepuasan didapat odipus kompleks, ibu (untuk anak dari melakukan Elektra masturbasi komplek, laki-laki), identifikasi untuk (untuk mengatasi ayah anak perempuan) keinginan bersaing fase laten - mulai mempelajari objek rasa yang malu, direpresikan merepresi kebutuhan genital fase genital kepuasan didapat melakukan dari dengan Pasangan interaksi hubungan intim lawan jenis Berdasarkan pemaparan diatas mengenai dinamika kepribadian Freudditambah dengan pemaparan mengenai Speech Error, dapat diasumsikan bahwa latah merupakan proses peredaan tegangan. Latah tidak hanya sekedar perilaku menyimpang, namun

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 kontennya memiliki maksud tertentu. Secara sederhana kemunculan latah dapat digambarkan dalam bagan berikut; Eksekusi Berhasil, Ketegangan Reda Super Ego Mengijinkan Need dan Wish muncul Objek Pemuas Ditemukan Id memaksakan peredaan lewat Mimpi atau Latah Super Ego Menolak Ditekan Eksekusi Gagal, Ketegangan Berlanjut Gambar 2.Proses pemuasan kebutuhan 2. Teori Kebutuhan Neurotik Horney Karen Horney sepakat dengan Freud yang mengatakan bahwa tahap perkembangan awal manusia akan mempengaruhi perilaku manusia di masa depan, namun demikian ia menambahkan bahwa kebutuhan yang paling dominan pada masa ini adalah kebutuhan akan rasa aman, yang ia terjemahkan sebagai kebutuhan akan keamanan dan kebebasan dari rasa takut (Horney dalam Schlutz, 1998). Bagi Horney ketika anak dibersarkan dengan kasih sayang dan kedisiplinan, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan matang, namun demikian tidak selamanya keadaan ini bisa terjadi.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 Selama masa tumbuh kembang, lingkungan, keluarga, dan pola asuh tidak selalu dapat memuaskan kebutuhan anak akan rasa aman. Keadaan ini akan memunculkan perasaan permusuhan dasar (Basic Hostility). Masalahnya, anak jarang mengekspresikan perasaan ini dan cenderung merepresinya, sehingga nantinya kecenderungan ini akan mengarah pada kecemsan dasar (Basic Anxiety). Namun demikian tidak jarang kecemasan dasar yang menjadi sebab dari munculnya permusuhan dasar. Horney menyebutkan bahwa keduanya memiliki hubungan timbal balik. Horney mengatakan bahwa kecemasan dasar bukanlah neurosis namun merupakan awal dari munculnya kebutuhan neurosis (Feist, 2006). Horney menyatakan bahwa penderita neurotik adalah orang yang tidak pernah menikmati kebahagiaan dan penderitaan, selain itu perilaku mereka didasari kebutuhan untuk melindungi diri dari kecemasan dan tidak digerakkan oleh kehendak bebas. Horney akhirnya merumuskan 10 jenis kebutuhan yang mencirikan orang yang mengalami neurosis. Kebutuhan ini dipakai untuk menlawan kecemasan dasar. 10 kebutuhan tersebut adalah : a. Kebutuhan akan rasa sayang dan persetujuan, biasanya ditandai dengan usaha untuk menyenangkan orang lain, mendukung orang lain, dan membesar-besarkan harapan orang lain.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 b. Kebutuhan akan pasangan yang kuat, biasanya ditandai dengan keinginan untuk melekatkan diri pada pasangan yang kuat dan muncul rasa takut sendirian atau ditinggalkan. c. Kebutuhan untuk membatasi hidup, biasanya ditandai dengan keinginan untuk tidak menjadi pusat perhatian, merasa puas dengan perolehan yang sedikit, dan biasanya menurunkan kemampuan namun menuntut orang lain dengan keras. d. Kebutuhan akan kekuasaan, ditandai dengan adanya niatan untuk menguasai orang lain. Biasanya kebutuhan ini muncul bersamaan dengan kebutuhan akan prestise. e. Kebutuhan untuk mengeksploitasi orang lain, biasanya ditandai dengan keinginan untuk mengeksploitasi orang dan pada saat yang bersamaan ada rasa takut dieksploitasi. f. Kebutuhan akan pengakuan social dan prestise, ditandai dengan keinginan untuk menjadi pusat perhatian. g. Kebutuhan untuk dipuji, ditandai dengan rasa percaya diri yang sangat besar sehingga harus dipenuhi lewat pujian dan persetujuan dari orang lain. h. Kebutuhan akan pencapaian dan ambisi, ditandai dengan keinginan untuk menjadi yang terbaik dan kebutuhan untuk mengalahkan orang lain.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 i. Kebutuhan akan independensi, biasanya ditandai dengan keinginan untuk lepas dari pengaruh orang lain sehingga bisa membuktikan diri mereka. j. Kebutuhan akan kesempurnaan, ada keinginan untuk mendapat penerimaan tentang keunggulan pribadi mereka. Biasanya muncul pula dalam bentuk rasa takut melakukan kesalahan, dan takut terlihat lemah. Kebutuhan-kebutuhan neurotik dapat dikelompokkan dan membentuk kecenderungan neurotik yang diistilahkan oleh Horney sebagai Neurotic Trend. Baik orang normal maupun orang yang mengalami neurotik sama-sama menggunakan neurotik trend.Bedanya orang normal bisa menggunakannya secara fleksibel. Horney mengklasifikasikan kebutuhan neurotik menjadi 3 kecenderungan neurotik, yakni: a. Compliant Personality: adalah tipe kepribadian yang ditandai dengan perilaku neurotik ingin mendekat pada orang lain. Biasanya ditandai dengan kebutuhan akan afeksi, penerimaan, dan kebutuhan untuk dicintai. Biasanya orang dengan kecenderungan kepribadian ini membutuhkan sosok yang dominan yang mampu melindungi dan membimbing. Selain itu orang dengan tipe kepribadian ini cenderung memanipulasi pasangan mereka untuk memenuhi segala keinginan mereka. Orang dengan tipe kepribadian ini akan cenderung memandang orang lain sebagai orang yang superior,

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 bahkan pada hal-hal yang mereka kuasai mereka akan memandang orang lain lebih superior. Kebutuhan neurotik yang dominan pada tipe kepribadian ini adalah kebutuhan afeksi dan diterima; kebutuhan akan sosok pendamping yang kuat; kebutuhan untuk membatasi hidup. b. Aggressive Personality: adalah tipe kepribadian yang ditandai dengan perilaku menentang orang lain. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa orang tipe kepribadian ini hidup dengan “hukum rimba” dimana orang lain adalah saingan dan yang paling bisa menyesuaikan diri akan bertahan hidup. Orang dengan tipe kepribadian ini tidak pernah menunjukkan rasa takut ditolak, mereka berusaha untuk mendominasi orang lain dengan tidak memperhatikan keadaan orang lain. Hal ini dikarenakan orang dengan tipe kepribadian ini dikendalikan keinginan untuk menekan orang lain dan keinginan untuk menjadi yang terbaik. Orang dengan tipe kepribadian ini akan sangat jarang memuji orang lain. Mereka akan cenderung mengkritik, membantah, dan menuntut orang lain. Biasanya orang dengan tipe kepribadian ini akan nampak sebagai orang yang sangat percaya pada kemampuan mereka. Orang dengan tipe ini akan sangat senang bergaul dengan orang tipe Compliant. Kebutuhan neurotik yang dominan pada tipe kepribadian ini adalah kebutuhan akan kekuasaan; kebutuhan untuk

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 mengeksploitasi; kebutuhan untuk dipuji; kebutuhan akan pencapaian; kebutuhan akan pengakuan social. c. Detached Personality: adalah tipe kepribadian yang ditandai dengan perilaku menghindar dari orang lain, terlebih secara emosional. Mereka akan mencoba mempertahankan jarak emosional dengan orang lain. Biasanya orang dengan tipe kepribadian ini akan merasa tidak perlu mencintai, membenci, dan bekerja sama dengan orang lain, karena ketiga perilaku itu akan membuat mereka menjadi terlibat dengan orang lain. Orang dengan tipe kepribadian ini akan sangat membutuhkan privasi. Mereka akan cenderung menghindari segala hal yang menuntut, seperti jadwal dan komitmen. Kebutuhan neurotik yang cenderung dominan pada tipe kepribadian ini adalah kebutuhan untuk bebas dan kebutuhan akan kesempurnaan (Feist, 2006; Schultz, 1998; Boere, 2010). C. Tes Proyektif 1. Pengertian Konsep tes proyektif didasari konsep Sigmund Freud (1900) mengenai proyeksi. Freud mendefinisikannya sebagai mekanisme psikologis dimana seseorang memunculkan perasaan yang dipendam keluar. Konsep ini menjadi mirip dengan keadaan dimana seorang bermimpi, menggambar sesuatu, atau menulis cerita. Dimana perilaku

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 tersebut kemungkinan merupakan gambaran dari ekspresi diri yang dimunculkan keluar atau dengan kata lain diproyeksikan. Berbeda dengan tes kognitif atau tes kepribadian inventori yang telah terstandarisasi lewat norma tertentu, tes proyektif cenderung bersifat lebih terbuka, tidak terlalu terstruktur, dan memaksa baik administrator maupun subjek untuk lebih kreatif. Tes proyektif biasanya menggunakan stimulus ambigu. Fungsinya agar subjek bisa mengekspresikan baik kecemasan, kebutuhan, bahkan konflik terdalam mereka. Pada DAP (Drawing a Person) perasaan diekspresikan lewat gambar yang di buat subjek. Pada tes Ro (Rorschach) gambar tinta bisa diinterpretasi berbeda oleh orang yang melihatnya tergantung dari kondisi orang tersebut (Bellak, 1997). 2. SSCT (Sacks Sentence Completing Test) SSCT dikembangkan oleh Joseph Sacks pada tahun 1950. SSCT adalah alat tes proyektif dimana klien diminta untuk menyelesaikan serangkaian kalimat yang belum selesai dengan menggunakan kata yang pertama kali muncul dari pikirannya. Terdapat 60 item pada alat tes ini. Rangkaian tes memudahkan klien untuk mengekspresikan sikap-sikapnya sehingga membantu penulis untuk mengerti persepsi subjek terhadap suatu hal atau situasi, sehingga lebih jauh kepribadian subjek dapat diprediksi (Edwin, 1959).

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Sack (dalam Edwin, 1959) menambahkan bahwa SSCT membahas 4 bagian utama, yaitu: keluarga, seksualitas, relasi interpersonal, dan konsep diri. Terdapat tiga bagian pada area keluarga, yaitu sikap terhadap ibu, ayah, dan anggota keluarga.Masingmasing dibagi menjadi 4 kalimat. Pada bagian seksualitas terdapat sikap terhadap wanita dan sikap terhadap pasangan heteroseksual. Total untuk kategori ini terdapat 4 item untuk. Area interpersonal, meliputi sikap terhadap teman, sikap terhadap rekan kerja atau teman sekolah, sikap terhadap orang yang kedudukannya lebih tinggi dan sikap terhadap orang yang kedudukannya lebih rendah.Terdapat 16 item pada area ini. Sementara itu pada area konsep diri meliputi rasa takut, rasa bersalah, tujuan hidup, kemampuan, masa lalu, dan masa depan. Area ini memungkinkan psikolog untuk melihat bagaimana konsep diri dari orang tersebut dan bagaimana pola pikirnya. Pada penelitian ini seluruh pertanyaan dalam lembar pengetesan SSCT diberikan oleh penulis, namun demikian hanya bagian-bagian yang dapat digunakan untuk mengkonfirmasi data TAT yang penulis gunakan dalam analisis 3. TAT (Thematic Apperception Test) TAT adalah alat tes yang dikembangkan oleh Henry Murray pada tahun 1938. Dalam satu set tes TAT, terdapat 31 gambar manusia dalam berbagai keadaan. Ada kartu khusus untuk pria, wanita, remaja

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 pria, dan remaja wanita. Sementara kartu lainnya dapat digunakan untuk semua usia dan jenis kelamin. Terdapat pula 1 kartu kosong dalam satu set tes TAT (Edwin, 1959). Dalam tes ini, subjek diminta untuk membuat cerita berdasarkan gambar yang dilihat sedramatis mungkin. Tujuan awal dari agar administrator tes dapat melihat need dan press seseorang. Namun demikian, Bellak mengembangkan sistem skoring untuk alat tes ini. Bellak memasukkan 10 kategori analisis, yaitu: tema utama; deskripsi tokoh utama; kebutuhan tokoh utama; konsepsi akan lingkungan; konsepsi akan orang sekitar; konflik utama; kecemasan; mekanisme pertahanan diri; manifestasi super ego; dan integrasi ego. Melalui 10 kategori ini, administrator tes dapat mengetahui pola pikir subjek, konflik yang dialami subjek, cara penyelesaian masalah, serta kecemasan dan mekanisme pertahanan diri subjek (Bellak & Abrams 1997). Dalam pengambilan data penulis menggunakan 10 kartu utama ditambah dengan 3 kartu tambahan yang berkaitan dengan relasi suami isteri.Alasan pemilihan 3 kartu tersebut karena penulis memiliki asusmsi bahwa latah berkaitan erat dengan relasi suami isteri mengingat mimpi yang menjadi awal munculnya latah memiliki konten alat kelamin Laki-laki.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 4. Validitas dan Reliabilitas TAT dan SSCT SSCT dikatakan sebagai alat yang valid dan reliabel, karena hasil pengetesan dengan menggunakan alat tes ini memiliki hasil yang signifikan dengan pengetesan tes proyektif lain seperti TAT dan Rorschach (Bellak, 1950). Sementara itu, TAT dikatakan valid berdasarkan penelitian yang dilakukan Dana (1956, 1955, 1959) yang menunjukkan bahwa TAT memiliki kemampuan untuk membedakan antara orang normal, neurotik, dan psikotik. D. Penggunaan Teknik Proyektif Pada Penderita Latah Latah merupakan gangguan psikologis dilihat dari cirinya yang sesuai dengan pengertian gangguan psikologis. Latah juga memiliki kemiripan dengan keadaan Speech Error lebih khusus Slips of the Tongue dimana bagi Freud (1958) fenomena ini bukan hanya fenomena biasa. Terdapat proses tak sadar ketika Speech Error terjadi, sehingga bagi Freud, kata-kata yang keluar ketika Slips of the Tongue mengandung makna tertentu yang bahkan tidak disadari oleh orang yang mengucapkannya. Melihat kemiripannya, tidak menutup kemungkinan bahwa latah bukan hanya kata yang keluar tanpa kontrol, namun lebih dari itu ada maksud tertentu dibaliknya. Namun demikian kata yang keluar baik saat latah maupun saat Slips of the Tongue terjadi kurang bisa menggambarkan makna atau dorongan dominan dalam diri penderitanya. Teknik wawancara

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 dibutuhkan untuk menggali lebih dalam dan melihat bagaimana dinamika psikologis seseorang yang mengalami latah. Sayangnya, tidak semua orang menyadari hal yang terjadi dalam dirinya, bahkan sekalipun sadar tidak semua orang bisa terbuka untuk mengungkapkan hal tersebut pada orang lain. Maka dari itu penulis menggunakan teknik proyektif, sebab teknik ini dirancang sedemikian rupa untuk mencoba mengungkap ketidaksadaran subjeknya. Beberapa contoh teknik proyektif adalah TAT dan SSCT. SSCT adalah teknik proyektif yang bertujuan untuk memunculkan sikap individu terhadap hal atau situasi tertentu, sehingga tester dapat menentukan keadaan kepribadian yang dominan dalam diri testee (Sack & Levy, 1959). Sementara TAT adalah teknik yang dipakai untuk melihat kepribadian individu yang termanifetasi dalam hubungan interpersonal dan interpretasi individu terhadap lingkungan saat melihat stimulus yang diberikan (Bellak & Abrams, 1997). Keunggulan dari metode ini adalah memungkinkan penulis untuk menggali alam bawah sadar secara lebih leluasa. Dengan menggunakan TAT, penulis dapat melihat persepsi, pola pikir dan pada akhirnya dorongan yang mungkin dipendam oleh penderita latah dengan lebih mudah. Sekalipun tujuan utama SSCT bukan untuk melihat kecemasan dan pola perilaku individu, namun demikian beberapa bagian dari SSCT dapat juga digunakan untuk memvalidasi dan melengkapi data hasil pengetesan TAT. Contohnya, jawaban responden pada bagian pandangan terhadap ibu, ayah, dan atasan dapat juga digunakan sebagai

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 tambahan data bagaimana responden memandang figur otoritatifnya. Demikian pula pada bagian ketakutan, dapat digunakan untuk memvalidasi kecemasan responden yang terbaca pada TAT. Kedua alat tes dipilih karena secara tidak langsung keduanya mencoba mengukur hal yang sama. Berbeda dengan Rorscach yang lebih digunakan sebagai teknik pembentukan analisis, studi ekpresif, dan kemampuan organisasi individu (Linder dalam Bellak, 1950) atau tes grafis yang lebih melihat bagaimana persepsi diri, baik TAT dan SSCT juga dapat digunakan untuk melihat hubungan individu dengan relasi interpersonalnya. Bedanya, TAT lebih kepada suatu narasi dan SSCT lebih pada ungkapan. Sehingga kedua alat tes dapat saling melengkapi data yang dibutuhkan penulis. Tes yang lebih melihat hubungan interpersonal lebih dipilih karena hal ini berkaitan dengan sumber terjadinya latah.Baik melalui pembiasaan atau kecemasan, latah selalu berawal dari persepsi penderita baik pada dirinya maupun terhadap orang disekitarnya, selain itu latah juga dipengaruhi hubungan interpersonal penderita. Penulis lebih berfokus pada dinamika kebutuhan dan kecemasan, sebab seperti telah dijelaskan pada bagian dinamika kepribadian Freud, Need yang muncul ketika tidak mendapat persetujuan super ego akan memunculkan kecemasan dan konflik. Jika dinamika kebutuhan telah dideteksi, maka konflik dan kecemasan juga bisa dideteksi.Diharapkan dengan menggunakan kedua alat tes pada penderita latah, penulis dapat

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 mengkaji lebih dalam dinamika kebutuhan yang pada akhirnya menjadi kecemasanyang melatarbelakangi munculnya perilaku penderita latah. E. Asumsi Awal Penderita latah memiliki kebutuhan yang tidak terpenuhi karena super ego tidak mengijinkan atau ada kebutuhan lain yang juga mendesak untuk dipenuhi, sehingga memunculkan kecemasan. untuk meredakan kebutuhan yang tidak terpenuhi inilah latah secara tidak disadari muncul. Sementara itu, seperti telah dibahas sebelumnya teknik proyektif digunakan untuk menggali dorongan individu.Dari sini penulis menarik hipotesis stimulus yang diberikan berupa teknik proyektif dapat memunculkan dorongan-dorongan penderita latah.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Peneliti mengkategorikan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif kerena penelitian kualitatif adalah studi interpretatif dimana tujuannya lebih kepada suatu usaha untuk menangkap esensi, mengeksplorasi, dan menjelaskan suatu masalah secara mendalam dari sudut pandang peneliti (Poerwandari, 2005). Penelitian kualitatif berawal dari asumsi dan pandangan umum, kemudian dikembangkan kepada rasa ingin tahu terhadap pengertian individu atau sekelompok orang yang menggambarkan masalah kemanusiaan atau sosial (Creswell, 2007). Penulis memfokuskan diri pada metode naratif. Metode naratif lebih berfokus pada cerita yang dituturkan oleh individu (Polkinghorne dalam Creswell, 2007). Lebih lanjut Creswell mengungkapkan bahwa metode naratif diawali dari pengalaman yang muncul dalam kehidupan dan kemudian dituturkan. Berbeda dari metode naratif pada umumnya yang menggunakan wawancara untuk menggali cerita, penulis menggunakan TAT sebagai alat bantu pengumpulan data dan SSCT untuk memperkaya data. TAT memumgkinkan seseorang untuk menarasikan pengalaman hidupnya dan ketidaksadarannya. Diharapkan dengan 39

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 menggunakan kedua alat tes psikologi ini penulis mencoba memahami bagaimana dorongan mengarahkan seseorang pada perilaku tertentu. Kemudian penulis akan mencoba mengeksplorasi data sehingga penulis mampu menemukan dan menjelaskan fenomena yang diangkat sebagai topik penelitian. B. Fokus Penelitian Fokus penelitian adalah batasan penelitian. Hal ini dimaksudkan agar penelitian memiliki ruang lingkup yang jelas (Pohan, 2007). Penelitian ini mencoba memfokuskan diri pada kebutuhan dan kecemasan yang terjadi pada penderita latah. Alasan penelitian ini berfokus pada dinamika kebutuhan penderita latah, karena baik kecemasan, konflik, dan mekanisme pertahanan diri muncul akibat adanya dua kebutuhan yang saling bersinggungan atau akibat kebutuhan yang direpress karena super ego menolak untuk memenuhi kebutuhan. Diharapkan setelah dinamika kebutuhan sudah dapat disimpulkan, penulis dapat mendeskripsikan kecemasan yang muncul. Selain itu, alasan lain mengapa topik ini dipilih sebagai fokus penelitian dikarenakan penelitian sebelumnya lebih menyoroti pengaruh sistem budaya dan agama, sementara penelitian ini ingin melihat bagaimana dinamika yang terjadi dalam diri penderita latah.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 C. Metode Pengumpulan Data Terdapat dua metode pengambilan data pada penelitian kualitatif, yaitu interaktif dan non interaktif. Wawancara dan observasi berperan serta merupakan metode pengambilan data interaktif, sementara observasi tak berperan serta, kuisioner, dan penulisan data merupakan metode pengambilan data non interaktif (Sutopo, 2006). Penelitian kualitatif sangat mengutamakan kredibilitas data. Satu sumber data belum tentu dapat dipercaya kredibilitasnya. Untuk meningkatkan kredibilitas penulis menggunakan metode triangulasi. Triangulasi adalah mengkombinasikan baik metode, teori, peneliti, maupun sumber data untuk memperoleh hasil yang lebih menggambarkan fenomena. Patton (1990) mengungkapkan terdapat beberapa metode triangulasi, yaitu; triangulasi data, dimana data diambil dari beberapa sumber tidak hanya responden, tapi juga orang terkait; triangulasi peneliti, dimana data diambil bukan hanya oleh satu orang, namun beberapa orang untuk mengurangi subjektifitas; triangulasi teori, dimana menggunakan berbagai teori terkait untuk menjelaskan fenomena yang akan diteliti; terakhir adalah triangulasi metode, yaitu menggunakan berbagai metode pengambilan data untuk memperkaya data. Penulis mencoba mengkombinasikan baik metode interaktif maupun non interaktif, dengan demikian penulis secara tidak langsung juga menggunakan metode triangulasi metode dalam pengumpulan data. Metode pengumpulan data yang dipilih penulis antara lain:

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 1. Menggunakan metode wawancara digunakan sebagai asesmen awal. Wawancara penulis lakukan untuk mencari data yang bisa digunakan baik sebagai dasar maupun pendukung penelitian seperti gejala awal perilaku latah, sebab terjadinya latah, dan berapa lama subjek telah menderita latah. Selain itu penulis juga mencari tahu masalah yang dihadapi dan pola relasi dengan pasangan melalui metode ini. 2. penggunaan alat tes proyektif, dalam hal ini TAT dan SSCT. Metode ini penulis pilih sebab tujuan disusunnya tes proyektif adalah mencoba mengungkap hal-hal yang dipendam subjek melalui stimuluis ambigu. Diharapkan dengan menggunakan alat tes proyektif, penulis mampu memperoleh data lebih mendalam daripada wawancara. a. Pengambilan data diawali dengan mengadministrasikan SSCT kepada responden. SSCT dipilih karena tes ini disusun untuk melihat pandangan responden mengenai dirinya, orang di sekitarnya, dan lingkungannya. b. Pengambilan data dilanjutkan dengan mengadministrasikan TAT. Penulis menggunakan 13 kartu TAT, meliputi 10 kartu utama (1, 2, 3BM, 4, 6BM, 7GF, 8BM, 9GF, 10, 13MF) dan 3 kartu tambahan (3GF, 6GF, 8GF). Pemilihan 10 kartu pertama didasarkan pada asusmsi yang menyebutkan bahwa 10 kartu utama dapat memunculkan relasi dasar dan emosi yang kuat. Selain itu 10 kartu dapat digunakan baik pada pria maupun wanita (Bellak, 1997). Pemilihan tiga kartu lainnya didasarkan pada jenis

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 kelamin responden dan keyakinan penulis bahwa ketiga kartu mampu menunjukkan pola dan masalah responden dengan orang dekatnya. 3. Observasi dibedakan menjadi observasi partisipasif, observasi terus terang atau tersamar, dan observasi tak terstruktur. Observasi patrisipatif adalah observasi yang dilakukan dimana peneliti turut serta dalam keseharian responden, observasi terus terang atau tersamar adalah observasi dengan atau tanpa persetujuan responden namun tetap menggunakan acuan saat mengobeservasi, dan observasi tak terstruktur adalah observasi tanpa menggunakan acuan observasi (Moleong, 2007). Peneliti memilih menggunakan observasi tak terstruktur. Sebab observasi akan dilakukan pada saat pemberian tes terjadi, sehingga akan sangat sulit bagi penulis untuk mengobservasi sambil mencoba menangkap cerita responden. D. Subjek Penelitian 1. Karakteristik Subjek Penelitian Untuk membatasi responden maka peneliti membuat karakteristik subjek. Adapun karakteristik subjek pada penelitian kali ini adalah pria atau wanita penderita latah. Alasan peneliti tidak membatasi berdasarkan asal mula terjadinya latah karena peneliti ingin membuktikan dorongan yang muncul antara penderita latah karena pembiasaan dan penderita latah karena kecemasan.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 2. Jumlah Subjek Penelitian Partisipan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang. Pemilihan subjek dilakukan berdasarkan karakteristik yang telah peneliti tentukan sebelumnya. Ketiga subjek merupakan penderita latah yang sudah pernah peneliti wawancarai sebelumnya.Peneliti membatasi jumlah subjek menjadi tiga orang karena terbatasnya responden yang bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. 3. Lokasi Pengambilan Data Lokasi pengambilan data adalah di daerah Jabodetabek. Alasan peneliti menggunakan lokasi ini sebagai tempat pengambilan data, sebab penulis cenderung lebih mudah menemukan responden penderita latah di daerah ini. E. Analisis Data Terdapat tiga tahapan pengolahan data pada penelitian kualitatif, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles & Huberman, 1992). Pada tahapan pertama data mentah akan ditajamkan, dalam artian data-data yang kurang relevan atau dipandang tidak terkait akan dihilangkan. Setelah data yang dikira telah relevan ditemukan, data akan disusun sedemikian rupa, sehingga dapat dianalisis. Analisis data merupakan bagian dari penarikan kesimpulan. Pada tahapan ini penulis mencoba mencari maksud dan arti yang mungkin tidak nampak jelas pada

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 data, mencari pola tertentu dari narasi yang disusun, dan mencoba menjelaskan hubungan sebab akibat. Hal ini dimaksudkan agar penulis mampu menggambarkan subjek secara utuh. Data hasil pengetesan TAT yang nantinya diclusterkan dan disintesis sebenarnya mencakup ketiga tahapan analisis data. Pertama cerita subjek akan diklasifikasikan berdasarkan urutan kejadian, kemudian penulis mencoba menemukan tema deskriptif, yang berisi garis besar cerita; tema interpretif, yang berisi tema umum yang menggambarkan pola penyelesaian masalah; dan tema diagnostik, yaitu penggambaran kebutuhan, mekanisme pertahanan diri, dan kecemasan subjek. Pada tahapan ini, reduksi data dilakukan. Setelah itu dari data yang ada, penulis menggunakan 7 variabel bellak untuk melihat kepribadian subjek secara lebih menyeluruh. Selain itu penulis juga melakukan clustering kebutuhan. Pada tahap inilah dilakukan penyajian data. Data-data ini dan hasil pengetesan SSCT sebagai alat klarifikasi penulis gunakan untuk memprediksi pola kepribadian, dinamika kebutuhan, dan kecemasan yang terjadi dalam diri responden atau dengan kata lain menarik kesimpulan. F. Kredibilitas Penelitian Untuk meningkatkan kredibilitas penelitian maka peningkatan reliabilitas dan validitas.Reliabilitas dalam kacamata penelitian kualitatif adalah konsistensi data.Penelitan kantitatif menggunakan instrumen mekanis untuk mengukur tingkat konsistensi datanya, sehingga cenderung

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 terlihat kaku. Pada penelitian kualitatif untuk melihat konsistensi data, peneliti biasanya menggunakan dua atau lebih sumber data sebagai acuan, misal menggunakan interview, observasi, interview significant other, dan data pelengkap lain juga digunakan untuk memperkuat data (Newman, 2000). Pada penelitian kali ini, penulis menggunakan TAT (Thematic Apperception Test) sebagai sumber data utama. Data ini nantinya akan diperkuat hasil tes SSCT (Sacks Sentence Completing Test), wawancara baik dengan subjek maupun sigificant other, dan juga observasi. Reliabilitas penelitian dapat menggambarkan validitas penelitian. Namun demikian reliabilitas tidak menjamin validitas penelitian. Upaya peningkatan validitas penelitian juga menjadi hal yang harus dipertimbangkan. Validitas adalah jembatan antara konstruk dan data. Dalam penelitian kualitatif, peneliti dituntut untuk mendapatkan data yang autentik sebagai dasar validitasnya. Data dikatakan autentik apabila data yang didapat merupakan data yang fair, jujur, dan merupakan gambaran sudut pandang subjek mengenai lingkungannya (Newman, 2000). Sarantakos (dalam Poerwandari, 2005) menyebutkan beberapa cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan validitas penelitian kualitatif, yaitu; Validitas kumulatif, dimana peneliti mengumpulkan studi lain yang memiliki tema yang sama dengan studi yang dilakukan peneliti dan kemudian mencocokan hasil; Validitas komunikatif, dimana peneliti mengkonfirmasi kembali hasil wawancara kepada responden; Validitas argumentatif, dimana data hasil penelitian dan kesimpulan dapat dilihat

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 rasionalisasinya, dan dapat di buktikan ulang dengan data mentah. Pembuktian biasanya dilakukan dengan mengklarifikasi hasil penelitian pada ahli; Validitas ekologis, mengacu pada kondisi lingkungan yang makin mendekati keadaan sebenarnya ketika data diambil. Dalam penelitian kali ini penulis menggunakan validitas komunikatif, validitas argumentatif, dan validitas ekologis. Penulis memiliki keterbatasan dalam penggunaan alat asesmen psikologis. Seperti diatur pada Kode Etik Psikologi (Himpsi, 2010) pada pasal 63 ayat 3d yangmenjelaskan bahwa: “Kategori Alat Tes dalam Psikodiagnostik; d) kategori D: Tes yang membutuhkan beberapa pengetahuan tentang konstruksi tes dan prosedur tes untuk penggunaannya dan didukung oleh pengetahuan dan pendidikan psikologi seperti statistik, perbedaan individu. Tes ini juga membutuhkan pemahaman tentang testing dan didukung dengan pendidikan psikologi standar psikolog dengan pengalaman satu tahun disupervisi oleh psikolog dalam menggunakan alat tersebut.” Ayat ini menunjukkan keterbatasan keilmuan penulis yang mengharuskan penulis untuk mendapat pendampingan atau supervisi dari pihak yang memiliki kualifikasi yang sesuai dengan ketentuan Kode Etik

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Psikologi.Oleh sebab itu, analisis dan interpretasi data yang dilakukan penulisdidampingi dan dikoreksi oleh praktisi di bidang psikologi yang telah menerima gelar magister.Supervisi dilakukan agar dalam melakukan analisis dan interpretasi penulis bisa lebih objektif dalam menilai dan hasil analisis dapat lebih dipertanggungjawabkan.

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian 1. Proses Pengumpulan Data Pengambilan data dilakukan secara bertahap. Pengambilan data tahap pertama dilakukan pada tanggal 8 april 2013 sampai dengan 11 april 2013. Pada pengambilan data tahap pertama, penulis melakukan wawancara tak terstruktur untuk menggali data seputar perilaku latah yang dialami responden. Pada tahap pertama, data yang didapat penulis antara lain relasi responden dengan keluarga, keadaan sosial-ekonomi, lamanya mengalami perilaku latah, penyebab terjadinya latah, dan perasaan sebagai penderita latah. Pengambilan data dilanjutkan pada tanggal 21 oktober 2013 – 27 oktober 2013.Pada pengambilan data tahap kedua, penulis mengadministrasikan responden.Penulis dua alat asesmen mengadministrasikan psikologis SSCT terlebih kepada dahulu kemudian melanjutkan dengan administrasi TAT.Selama proses pengambilan data, penulis menggunakan alat perekam suara dan juga alat tulis untuk mendokumentasikan ucapan responden dan mencatat hal-hal penting. 49

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 2. Proses Analisis Data Analisis data diawali dengan melakukan interpretasi tematik tiap kartu yang kemudian diperdalam lewat variabel Bellak. Analisis tematik digunakan untuk melihat kecenderungan kebutuhan yang muncul berdasar cerita yang didapat, sementara analisis menggunakan variabel Bellak digunakan untuk melihat dinamika kebutuhan secara lebih mendalam, mencakup integrasi ego, peranan super ego, sumber kecemasan, mekanisme pertahanan diri, dan pola penyelesaian masalah. Dengan demikian penulis dapat menjelaskan bukan hanya sekedar kebutuhan yang muncul pada individu dengan perilaku latah, namun lebih dari itu dinamika kebutuhan.Sementara itu hasil analisis SSCT dan hasil wawancara digunakan untuk memperkuat hasil temuan. B. Profil Responden Dalam penelitian kali ini, penulis melibatkan empat orang penderita latah sebagai responden. Berikut ini adalah profil dari responden dari penelitian ini: 1. Responden 1 Responden 1 adalah seorang wanita berusia 50 tahun dengan inisial S. Dalam menjalani kehidupan pernikahan, responden 1 pernah mengalami perceraian dan kemudian menikah kembali.Saat

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 diwawancari mengenai perilaku latah yang dideritanya beliau mengaku telah sekitar 10 tahun menderita latah. Perilaku latah yang diderita responden 1 diawali ketika ia memimpikan alat kelamin pria berukuran setinggi pohon kelapa, namun menurut pengakuannya latah baru muncul agak lama setelah bermimpi. Konten latahan responden 1 beragam. Kadang sama dengan konten mimpi, yaitu alat kelamin pria namun kadang juga konten latahan adalah benda atau hal yang dilihat disekitar. Responden 1 menambahkan bahwa dalam keluarganya bukan hanya dirinya yang mengalami latah, tapi juga ibunya.Responden mengaku merasa malu dan cemas ketika berada di tempat umum, hal ini disebabkan perilaku latahnya tidak terkontrol. 2. Responden 2 Responden 2 adalah seorang wanita berusia 55 tahun berinisial M. Responden 2 mengaku bahwa perilaku latah sudah dialaminya sejak tahun 2003.Responden 2 menuturkan bahwa perilaku latah diawali dengan mimpi, dimana dalam mimpinya responden 2 melihat alat kelamin pria seperti hamparan padi di sawah.Awalnya perilaku latah yang dialami oleh responden tidak terlalu parah.Menurutnya perilakunya bertambah parah karena lingkungan sekitar menjadikan perilaku latahnya sebagai bahan candaan. Konten latah pada responden 2 sama dengan konten pada mimpi, yakni alat kelamin pria.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 3. Responden 3 Responden 3 adalah wanita berusia 60 tahun berinisial N. Responden mengaku menderita latah lebih dari 10 tahun.Responden 3 adalah seorang janda yang telah ditinggal mati suaminya.Saat ini responden 3 hidup bersama dengan anak laki-lakinya.Secara ekonomi kehidupan responden 3 termasuk dalam kategori menengah kebawah. Responden 3 menuturkan awal kemunculan latahnya karena ia meliat alat kelamin pria dalam sebuah ayakan dalam mimpinya. Ia juga menyatakan bahwa perilaku latah yang dialami merupakan perilaku turunan, karena ibunya mengalami hal yang sama ketika masih muda. Responden 3 merasa malu jika perilaku latah muncul, sebab ucapan yang dia ucapkan saat latah adalah alat kelamin pria. Responden 3 mengaku perilaku latah baru muncul ketika ia merasa kaget. 4. Kesimpulan Wawancara berdasarkan wawancara terhadap 3 responden dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama ketiga responden berusia sekitar 50-60 tahun. Pada usia ini ketiga responden berada pada masa dewasa madya. Masa dewasa madya ditandai dengan keadaan fisik yang mulai mengalami penurunan.Contoh paling sederhana dari menurunnya kondisi fisik adalah mulai menurunnya fungsi seksual, seperti menopause pada wanita.Masa dewasa madya juga ditandai dengan

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 tekanan di bidang karier.Individu pada masa dewasa madya mulai dihadapkan pada perubahan karier karena perkembangan teknologi dan/atau resiko pemutusan hubungan kerja atau pensiun dini. Hal ini menjadi stressor tersendiri bagi individu di usia ini. Individu pada usia ini juga lebih mengembangkan cinta yang lebih didasarkan pada afeksi (Santrock, 2011). Erikson menyebutkan pada usia ini, individu berada pada kondisi generativitas atau stagnansi. Dimana relasi utama individu pada masa ini adalah dengan rekan sekerja dan keluarga, sehingga pada masa perkembangan ini perhatian menjadi hal yang sangat penting.Kecemasan yang muncul pada masa perkembangan ini adalah rasa takut ditolak (Schultz, 1998). Hal kedua yang dapat disimpulkan adalah ketiga responden mengaku mulai mengalami latah setelah memimpikan alat kelamin pria.Jika menggunakan teori Freud, mimpi alat kelamin pria merupakan dampak dari adanya kebutuhan seksual yang tidak dipenuhi.Namun Jung menyatakan bahwa saat seseorang bermimpi mengenai benda yang panjang atau Phallus (Penis), tidak serta merta hal itu bisa ditafsirkan sebagai hasrat seksual yang terpendam. Bagi Jung, symbol Phallus (Penis) dapat pula diartikan sebagai sumber kesuburan, atau pengobat penyakit (Boeree, 2010). Namun demikian pendapat ini perlu dikaji lebih jauh karena pendapat Jung tidak dapat serta-merta digunakan untuk menilai keadaan psikologis penderita latah.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Berikutnya, dua dari tiga responden menyatakan bahwa perilaku latah yang dialaminya juga dialami oleh keluarga dekatnya.Selain itu ketiganya menyatakan bahwa perilaku latah bertambah parah karena lingkungan menjadikan perilaku latah mereka sebagai bahan candaan.Parahnya perilaku latah diikuti juga dengan rasa malu dan minder. Berdasarkan ulasan diatas dapat disimpulkan sementara bahwa latah adalah perilaku cemas yang muncul akibat adanya kebutuhan yang ditekan. Perilaku ini pada akhirnya akan memunculkan perasaan tidak nyaman pada diri penderita. C. Dinamika Kebutuhan dan Kecemasan Responden Tabel 2.1. Clustering Kebutuhan Responden 1 Tipe Kebutuhan Jenis kepribadian Neurotik Kebutuhan Petikan Cerita Mendekat affiliasi dan Kebutuhan 3GF : “sampe di rumah pada orang perhatian Afiliasi kan dia namanya bisa bisa apa ngadu sama yang di rumah, bisa ini tapi ternyata belum dibukain pintu jadi dia bisa nangis sendiri di luar.” Kebutuhan 10 : “Yang dilakukan untuk disana ya dia haru, dia berkumpul sedih, dia harus

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 dengan orang menemukan orang- orang yang.. menemukan orang- lain orang yang terdekat. Orang-orang keluarga terdekat yang sedang merasakan kesedihan.” 10 Kebutuhan : “disitu untuk berempati membaur dia dengan orang-orang yang sedang merasakan duka gitu.” 8BM Kebutuhan : “kayak untuk menolong kecelakaan gitu, terus orang lain dibawa.. terus di itu yang sama penolong itu diliat udah meninggal, terus ditolong sama itu mau dibukain bajunya itu karena mau di apa itu mau dibersihin kayaknya” Keinginan 4 untuk kelihatannya menyelesaikan marah, terus isterinya masalah : “suaminya lagi agar berusaha untuk.. ee… mendapat apa namanya.. untuk perhatian merayu lah ya untuk berbuat baikan” untuk bisa

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 6GF : “akhirnya dia memutuskan untuk mencari jalan keluarnya apa yang dibicarakan tadi sama suaminya. Setelah itu kayaknya dia ya terus pergi untuk mencari solusi. Atau menuju ke fokus yang dibicarakan tadi.” Pasangan Kebutuhan akan 1 : “dia belajar ga ada yang kuat kehadiran figur temennya otoritatif gitu. Awalnya dia pengen belajar tapi marah ga ada pendamping ga ada ibunya ga ada bapaknya tapi dia harus mengerjakan tugasnya” 7GF : “Walaupun ga mau akhirnya anaknya itu dirayu ya akhirnya lama-lama mau,, heeh.. pada akhirnya anaknya mau, terus ya, belajar sama-sama sama ibunya, didampingin.” Kebutuhan 1 : “Kayaknya kok untuk ditemani prihatin gitu. Bahwa dia tu sendirian gitu ga ga

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 ada temen.” 9GF : “terus barengbareng seneng kayaknya ama.. ama temennya gitu kan” 10 : “seperti mendengar keluarga yang meninggal, begitu setelah dia mendengar, kayaknya dia berpelukan suami- isteri.” 13MF : “Kayaknya dia merasakaan kesedihan, jadi ga ada ya tempat mengadu, jadi dia nangis sendirian.” 8GF : “ya mengandai andai aja. Ya seandainya saya punya pacar saya malem ini bisa keluar ga seperti sekarang saya duduk sendiri merenung gitu kan.” Kebutuhan 4 : “kayaknya rapi untuk mungkin diperhatikan ngajak pergi gitu tapi pasangan mungkin kayaknya kayaknya suaminya belum siap kan”

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 3GF : “setelah itu dibukain, terus dia ya mencurahkan isi hatinya apa yang terjadi disana ya akhirnya begitu setelah dia ada yang bisa buat curhat ke suami” Kebutuhan 6BM untuk ibunya diperhatikan : “berharap mau / mendengarkan kata- diterima figure kata dia, tapi akhirnya otoritatif ibunya ga mau mendengar kata dia ya akhirnya anak itu penuh kekecewaan. Tapi anaknya kayaknya tetep mau berusaha untuk supaya ibunya tu mau untuk mendengarkan kata-kata dia” Membatasi Kebutuhan 13 MF : walaupun dia hidup untuk ditolong sibuk walaupun kayaknya suaminya sibuk, tapi berusaha tetep untuk membawa isterinya ke rumah sakit 13MF : kayaknya suaminya sedih dan dia

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 mau keluar untuk mencari dokter atau orang yang bisa menolong isterinya 3BM : “dalam batinnya Melawan Pengakuan Kebutuhan orang sosial untuk diterima / mempunyai keinginan menjadi sama seperti kayak orang dengan orang layak kayak orang lain lain lah gitu” Pencapaian Kebutuhan 3BM personal untuk dipikirkan menyelesaikan merasakan lelah, capek, tugas tapi dia harus terus : “Yang ya sambil berusaha untuk supaya tetap hidup.” Bergerak Menjauh Independensi Keinginan 7GF : karena dia lagi untuk menolak baru asyik bermain, dipanggil sama ibunya untuk belajar bareng, ternyata dianya ga mau jadi ngambek gitu. Keinginan 8GF : “Mungkin punya untuk temen-temen juga menyendiri temen-temen punya acara sendiri-sendiri, akhirnya memutuskan dia untuk menyendiri.” Kebutuhan 1 : dia selesaikan juga untuk tugasnya, setelah itu ya

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 beristirahat selesai entah dia nonton tv atau dia tidur Kebutuhan 2 : sambil dia jalan untuk sambil dia liat-liat melakukan hal pemandangan yang ada yang disekitarnya menyenangkan 7GF : Yang dilakuin anaknya sedang bermain, karena dia asyik sedang bermain 9GF : orang yang lagi senang, terus kepingin keluar lah ke pantai, pengen cari suasana yang segar. kesempurnaan Kebutuhan 1 : setelah selesai itu ya melakukan dia merasa sesuatu tugasnya berdasar urutan dilaksanakan, lega, udah setelah itu dia rapi-rapi yaudah dia berangkat istirahat. 2 : siap-siap berangkat, setelah alkitab dibawa itu dia yang terus berangkat jalan cari mau dia

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Tabel 2.2. Hasil SSCT Responden 1 Sikap Terhadap Ibu Jawaban Rating : 1 14. Sudah lanjut usia 0 29. Sangat dekat 0 44. Sangat menyayangi anak-anaknya 0 59. Tetapi kadang beliau suka cerewet/bawel 1 Kesimpulan : responden memandang memiliki kedekatan dengan figure ibu namun demikian responden memandang ibu sebagai figure yang cerewet Sikap Terhadap Ayah Jawaban Rating : 1 1. Jarang pergi 0 16. Mendoakan saya 1 31. Menjadi ayah yang bisa menyayangi keluarga 1 46. Orang yang sangat menyayangi keluarga dan penuh tanggung jawab 0 Kesimpulan : responden merasa figure ayah memiliki tanggung jawab pada keluarga, namun demikian responden merasa ayahnya kurang menyayangi keluarganya, responden juga merasa ayahnya kurang mendoakannya Sikap Terhadap Kehidupan Keluarga Jawaban Rating : 1 12. Selalu rukun dan damai 0 27. Ibu yang bijak 0 42. Masih sangat memprihatinkan 1 57. Sangat menyayangi 0 Kesimpulan : secara keseluruhan responden merasa memiliki keluarga yang saling menyayangi dan merasa keluarganya rukun dan damai, namun menurut pandangannya keluarga yang ia kenal memiliki keadaan

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 memprihatinkan Sikap Terhadap Hubungan Heteroseksual Jawaban Rating : 1 11. Apakah dia sudah suami isteri atau belum 0 26. Lebih membutuhkan saling pengertian 1 41. Melakukan dengan sewajarnya 0 56. Biasa-biasa saja 0 Kesimpulan : responden merasa hubungan perkawinan harus mengutamakan saling pengertian antara pasangannya. Sikap terhadap Pimpinan Jawaban Rating 6. Selalu membimbing 0 21. Selalu menyayangi saya 0 36. Saya akan menghormatinya dengan apa adanya 0 51. Orang yang mempunyai potensi lebih baik 0 Kesimpulan : bagi responden pimpinan adalah figure yang dihormati. Pimpinan adalah orang yang memiliki kemampuan lebih dari responden sehingga bisa membimbing dan bisa menyayangi Ketakutan-Ketakutan Jawaban Rating : 1 7. Salah 0 22. Kehilangan teman yang bisa saling mengerti 0 37. Terjadi hal-hal yang tidak saya inginkan 0 52. Untuk berlari 1 Kesimpulan : responden cenderung takut melakukan kesalahan, kehilangan orang yang bisa mengerti dirinya, dan dihadapkan pada hal yang tidak diinginkan. Ketika ketakutan itu muncul reaksi responden adalah lari dari masalah. Rasa Bersalah Jawaban Rating : 2

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 15. Sedang melakukan ibadah X 30. Bila saya tidak bisa member yang terbaik untuk keluarga 1 45. masalah hubungan/pacaran ngumpet-ngumpet 0 60. Pernah putus asa sampai mau melakukan bunuh diri 2 Kesimpulan : perasaan bersalah yang terburuk yang pernah dialami responden adalah keinginannya untuk melakukan bunuh diri ketika merasa putus asa. Sikap Terhadap Kemampuan Diri Sendiri Jawaban 2. Saya bisa menerimanya dengan lapang dada Rating : 1 0 17. Membina keluarga dan anak-anak saya menjadi keluarga yang saling mengasihi 0 32. Cepat sedih dan haru merasa tidak bisa berbuat apa-apa 1 47. Saya langsung berdoa dan mengadu pada Yang Maha Kuasa 1 Kesimpulan : responden cenderung memandang dirinya inferior hal ini nampak dari responden yang merasa tidak bisa berbuat apa-apa dan cepat bersedih, kemudian reaksinya ketika menghadapi masalah adalah langsung berdoa. Sikap Terhadap Masa Lalu Jawaban Rating : 1 9. Selalu rajin beribadah 0 24. Sangat prihatin terhadap diri saya 1 39. Saya akan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya 0 54. Saya pernah lebaran tidak pake baju baru karena bajunya dibawa kabur orang X Kesimpulan : responden merasa prihatin pada kehidupan masa lalunya dan berharap dapat merubahnya dengan berbuat baik sebanyak-banyaknya jika diberi kesempatan.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Sikap Terhadap Masa Depan Jawaban Rating : 0 5. Mempunyai keinginan untuk berangkat haji 0 20. Untuk kedepan yang lebih baik 0 35. Memberi kebaikan untuk orang banyak 0 50. Ingin lebih banyak berbuat kebaikan 0 Kesimpulan : responden membayangkan adanya peningkatan kehidupan spiritualitas dalam hidupnya di masa depan, selain itu responden memiliki keinginan untuk berbuat baik pada sesama. Cita-cita Jawaban Rating : 0 3. Hati yang sabar 0 18. Keluarga yang bisa saling mengasihi 0 33. Mempunyai keinginan membahagiakan sanak saudara 0 49. Ingin memberikan yang terbaik buat keluarga dan orang banyak 0 Kesimpulan : cita-cita responden adalah memiliki kesabarabaran, sehingga dapat membangun keluarga yang saling mengasihi dan dapat membahagiakan orang banyak. Tabel 3.1. Clustering Kebutuhan Responden 2 Tipe Kebutuhan Jenis kepribadian Neurotik Kebutuhan Petikan Cerita Bergerak Afeksi dan Kebutuhan 4 : Perasaannya mendekat penerimaan afiliasi bahagia.. iya. Namanya keluarga bahagia itu, harmonis. Kebutuhan 7GF : Ya mungkin dia untuk punya diperhatikan yang keinginan dia apa pengen

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 langsung bapaknya itu mencukupi 10 : baiknya seperti yang melakukan semuanya yang dia mau diberikan kepada suami gitu. Kebutuhan 10 : isterinya baik ya untuk mungkin memperhatikan memberikan orang lain sayang Keinginan 2 : Yang dilakuin, untuk ya ya kasih untuk menolong mengajar, orang lain jadi mengajar muridnya. Biar pinter, biar berhasil. Pasangan Kebutuhan oral yang kuat 3GF : Itu isteri menangis. Isteri menangis karena mungkin ama suami kali ga dipenuhi. Kebutuhan 4 : Karena dia mungkin seksual seksualnya memenuhi gitu, suami dan isteri gitu. Jadi dia bahagia tu. Agresi tidak karena 6BM : Ini ibunya marah dipenuhi ya.. marah ke suaminya. keinginannya Mungkin hidupnya ga harmonis. Ya mungkin ibunya tu sesuat.. ada sesuatu yang ga

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 dipenuhi gitu kan. Membatasi Keinginan 8GF : mungkin dipikir hidup untuk mencapai sesuatu sesuatu namun sesuatu yang ga tercapai gagal mungkin. dia mikir Iya.. iya.. pengen sukses lah. 3BM : Lagi mikir sesuatu. Yang dipikirkan mungkin dia punya cita-cita. Mungkin Iya. cita-cita itu mungkin ga berhasil. Perasaan tidak 13MF : Yang jadi berdaya sebelumnya mungkin ga punya biaya kan ke rumah sakit biaya untuk ke rumah Mungkin itu sakit. sedih. Menangis karena kan dia membutuhkan sedang biaya untuk ke rumah sakit Melawan orang Kekuatan Kebutuhan 9GF : Kayaknya marah agresi itu ya? Yang marah yang ibunya itu ya? Yang gede itu.. marahin anaknya kali.. mungkin iya. Mungkin.. mungkin anaknya nakal mungkin. 6GF : Mungkin dia mau

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 berangkat mungkin kesiangan mungkin mau ke kantor dia marah mungkin ya. 2 : Marah karena muridnya itu mungkin males. Pencapaian Kebutuhan 1 : Mungkin mikirin personal untuk berhasil sesuatu. Iya.. yang dipikirin mungkin ada keinginan ya untuk maju gitu. 4 : itu keluarga bahagia kali itu ya. Karena dia sukses 8BM : iya, dia itu mikirkan sakit memang. Pengen.. pengen perasaannya sembuh. Iya. Pengen sembuh total. Tabel 3.2. Hasil SSCT Responden 2 Sikap Terhadap Ibu Jawaban Rating : 0 14. perempuan 0 29. baik 0 44. ibu rumah tangga 0 59. ibu yang baik 0 Kesimpulan : responden memandang ibunya sebagai wanita yang baik, dan menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga Sikap Terhadap Ayah

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Jawaban Rating : 0 1. ketemu 1 16. beri kasih sayang 1 31. jadi seorang pekerja 1 46. pekerja 0 Kesimpulan : responden memandang ayahnya sebagai sosok yang kurang menjalankan perannya untuk mencari nafkah dan kurang member kasih sayang pada responden. Responden juga merasa jarang bertemu dengan ayahnya. Sikap Terhadap Kehidupan Keluarga Jawaban Rating : 0 12. keluarga bahagia 0 27. ibu rumah tangga 0 42. keluarga suami X 57. bahagia 0 Kesimpulan : responden memandang kehidupan keluarganya adalah keluarga yang bahagia Sikap Terhadap Hubungan Heteroseksual Jawaban Rating : 0 11. harmonis 0 26. bahagia 0 41. suka 0 56. biasa saja 0 Kesimpulan : pandangan responden terhadap hubungan heteroseksualnya adalah harmonis, bahagia, dan pertanyaan mengenai hubungan seksual dijawab dengan suka. Sikap terhadap Pimpinan Jawaban Rating : 0 6. kaya 0 21. kasih sayang 0

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 36. senang 0 51. guru 0 Kesimpulan : pimpinan dipandang sebagai seorang yang lebih kaya dari responden dan bisa dijadikan figure guru bagi dirinya Ketakutan-Ketakutan Jawaban Rating : 1 7. sakit 1 22. sakit 1 37. pergi X 52. pergi 1 Kesimpulan : secara keseluruhan responden merasa takut akan mengalami sakit. Selain itu responden memilih menghindar bila dihadapkan pada ketakutannya. Rasa Bersalah Jawaban Rating : 0 15. di kampung X 30. berbohong 0 45. bohong 0 60. berbohong 0 Kesimpulan : responden merasa kesalahan terbesar yang membentuk rasa bersalahnya adalah berbohong. Sikap Terhadap Kemampuan Diri Sendiri Jawaban Rating : 1 2. malas 1 17. berkarir 0 32. malas 1 47. sedih 1 Kesimpulan : responden memandang dirinya sebagai pribadi yang pemalas. Selain itu subjek akan merasa sedih bila menghadapi masalah. Sikap Terhadap Masa Lalu

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Jawaban Rating : 0 9. disayang 0 24. sekolah X 39. tidak mungkin X 54. bermain 0 Kesimpulan : responden memandang dirinya mendapat kasih sayang pada masa lalunya. Selain itu ia mengingat saat-saat dimana ia bisa bermain. Sikap Terhadap Masa Depan Jawaban Rating : 0 5. berhasil 0 20. kasih sayang 0 35. bekerja 0 50. insyaf X Kesimpulan : responden memandang akan berhasil di masa depan, dan berkeinginan untuk berkerja. Selain itu responden memandang penting baginya di masa depan untuk insyaf. Cita-cita Jawaban Rating : 0 3. maju 0 18. dapat rizki 0 33. anak-anak sukses 0 49. sukses 0 Kesimpulan : hal yang dicita-citakan responden tidak jauh dari kesuksesan dan rejeki. Responden memiliki keinginan untuk maju dan ingin anak serta dirinya mencapai kesuksesan.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Tabel 4.1. Clustering Kebutuhan Responden 3 Tipe Kebutuhan Jenis kepribadian Neurotik Kebutuhan Petikan Cerita Bergerak Afeksi dan Kebutuhan 2 : Lagi nunggu sesuatu. mendekat penerimaan untuk ditemani Apa temen.. mau kerja. Kebutuhan 7GF : ibu itu kayaknya dikasihani nunggu yang kasian sama dia iya gitu kali ya mas ya. 10 : terus jalan.. yah.. kemana aja yang kasian gitu mas. Kebutuhan 4 : Bagaimana untuk dikantor? Eh.. di kantor memperhatikan bagaimana orang lain kerjaannya? Bagus apa pak enggak?bapak mandi pak udah apa belom? Mandi dulu! abis mandi segera makan.. iya.. iya.. ngapain ya? istirahat ya. 8BM : Yang dipikirin anak kali takut ga makan.. gitu mas. 6GF : pak makan tu pak.. udah disediain.. makan.. iya mah.. eh.. nek entar saya makan. Pasangan Kebutuhan 9GF : terus dikasih

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 yang kuat untuk makan.. sama ibunya.. diperhatikan girang mas. orang yang 8GF : yang punya burung ngasih empanan. lebih kuat Seneng diempanin Membatasi Kebutuhan 8BM : biar cepet hidup untuk memiliki rampung kan kelar sesuatu pulang bawa uang. Gitu 10 : ya nasibnya udah tua udah ga bisa kerja. Kan harus makan.. harus belanja. Kebutuhan 8GF : Lagi duduk lagi untuk makan clungak-clinguk aja gitu. itu Pengen empanan Perasaan takut 3BM : Nulis suat.. yang salah buat perusahaan. Yang dirasakan.. ini begini salah enggak ya? Melawan Kekuasaan orang Kebutuhan 6BM : rapat.. ngatur- untuk mengatur ngatur kali mas ya.. yang diatur ya.. pekerjaan. Pengakuan Kebutuhan 3GF : Iya dikeriting lagi social dan untuk jadi pusat dikeriting ini ya. Biar prestise perhatian bagus rambutnya.. iya.. iya.. kantoran. mau Ee.. model gitu mas. kerja biar

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Pencapaian Kebutuhan 1 : bengong.. iya.. kayak personal untuk berhasil lagi mikirin sesuatu gitu. Aa.. pikirin kerjaan. 2 : Yang dirasain takut kesiangan.. iya.. iya.. takut di pecat. 13MF : yang dia rasakan bener ga nih kesini lurus.. gitu. Kebutuhan 6BM Perasaan waktu untuk rapat… melakukan ya? Masalah pekerjaan tugas ya mas? eh… gimana 8BM : kerja lagi mas.. iya.. yang dipikirin biar kelar, cepet-cepet kelar. Bergerak Menjauh Bebas Kebutuhan 8BM : abis kerja. Yang untuk dikerjain kuli kali mas. beristirahat Heeh.. kerja mas.. iya.. /santai karena capek.. heeh.. istirahat, nyender. 9GF : Anak kecil yak? Lagi ngapain.. lagi tiduran. 6GF : istirahat gitu. Kalo itu kalo udah kakek-kakek kan abis istirahat gitu. kan seneng

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 kesempurnaan Kebutuhan 6BM siap-siap yang untuk buat buku-buku rapat.. melakukan kumpulin.. terus sesuatu berdasar dibawa. urutan 3GF : mandi dulu, beberas-beberes rumah, terus ke salon. Tabel 4.2. Hasil SSCT Responden 3 Sikap Terhadap Ibu Jawaban Rating : 1 14. sayang 0 29. ibu dan anak 0 44. rewel 1 59. perhatian 0 Kesimpulan : menurut responden ibunya adalah orang yang disayanginya, ia menerima perhatian dari ibunya, namun ia memandang ibunya sebagai pribadi yang rewel. Sikap Terhadap Ayah Jawaban Rating : 1 1. pulang 1 16. membimbing 1 31. baik 1 46. pengertian 0 Kesimpulan : secara keseluruhan responden memandang figure ayah kurang membimbing dan jarang bertatap muka dengannya. Sikap Terhadap Kehidupan Keluarga Jawaban 12. kecil Rating : 1 X

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 27. anak 1 42. ramah 0 57. baik 0 Kesimpulan : responden memandang keluarganya baik dan keluarga kebanyakan ramah. Namun demikian responden merasa dalam keluarganya ia diperlakukan seperti anak bukan orang tua Sikap Terhadap Hubungan Heteroseksual Jawaban Rating : 0 11. cinta 0 26. cinta 0 41. merayu 0 56. ga ada selera 0 Kesimpulan : responden menyatakan tidak memiliki selera lagi untuk melakukan hubungan seksual. Sikap terhadap Pimpinan Jawaban Rating : 0 6. berpangkat 0 21. mengajar 0 36. nunduk 0 51. direktur 0 Kesimpulan : responden memandang pimpinan adalah orang yang memiliki pangkat dan mampu mengajarinya. Ketakutan-Ketakutan Jawaban Rating : 0 7. jatoh 0 22. ga naik 0 37. hidup X 52. mengambil sesuatu X Kesimpulan : responden takut akan kegagalan. Dan jika keadaan memaksa, responden akan mengambil sesuatu.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Rasa Bersalah Jawaban Rating : 0 15. belum bekerja 0 30. nakal 0 45. pacaran melulu X 60. nakal 0 Kesimpulan : responden akan merasa bersalah jika tidak bekerja dan melakukan kenakalan Sikap Terhadap Kemampuan Diri Sendiri Jawaban Rating : 1 2. rugi X 17. cinta 0 32. orang tua marah 1 47. susah 1 Kesimpulan : responden merasa kelemahan terbesarnya adalah mendapat teguran dari kedua orang tuanya. Selain itu responden akan merasa kesusahan bila mengalami nasib malang. Sikap Terhadap Masa Lalu Jawaban Rating : 0 9. bermain 0 24. kecil 0 39. ceria 0 54. main gundu X Kesimpulan : masa lalu responden dihabiskan dengan bermain dan penuh dengan keceriaan. Sikap Terhadap Masa Depan Jawaban Rating : 0 5. pingin maju 0 20. bisa maju 0 35. menikah 0

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 50. istirahat 0 Kesimpulan : responden memandang di masa yang akan datang ia dapat beristirahat, menikah kembali, dan meraih kesuksesan Cita-cita Jawaban Rating : 0 3. punya uang 0 18. dapet kerjaan 0 33. pingin maju 0 49. senang 0 Kesimpulan : responden cenderung bercita-cita untuk bekerja sehingga memiliki uang, bisa hidup senang dan bisa maju Tabel 5. Sintesis data responden Responden 1 Pola Tema Jika tidak Responden 2 ada Bila kebutuhan rasa yang responden mendampingi, terpenuhi maka responden baik akan Responden 3 cemas kebutuhannya dengan tidak terpenuhi, maka namun cenderung merasa responden akan memilih marah, cenderung merasa senang dan menunggu gelisah akhirnya dan merasa dikasihi, orang sehingga responden mengasihani mengkhayal atau membalas menghindari mengasihi masalah Namun dengan dirinya. balik. demikian jika kebutuhan atau hal jika yang dicita- citakan gagal terpenuhi, reaksi responden adalah ada yang

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 diam merenung atau marah bahkan sampai sakit Kecemasan rasa takut ditolak, merasa kesusahan, Merasa kesusahan ditinggalkan, merasa gagal, takut takut gagal, dan tidak dicintai dan mengalami merasa sakit/luka. kesusahan Konflik Keinginan untuk kebutuhan mendapat pencapaian dukungan, kepuasan bantuan, dan terlaksana teman namun cenderung merasa tidak menunggu mendapatkannya. merenung memenuhi Perasaan tertolak citanya. atau akan keinginannya dan untuk berhasil gagal tertahan oleh rasa karena takutnya akan diam kegagalan dan dan kebingungannya dalam dalam cita- menyelesaikan tugas terbatasi ketika oral need tidak mengutarakan terealisasi keinginan subjek cenderung karena menunggu diberi bantuan oleh orang lain. Mpd Represi, dan fantasi denial, Denial, regresi, Denial, fantasi, fantasi, dan reaksi regresi, proyeksi, formasi displacement, dan represi Ego Bahagia, realistik, Tidak adekuat bahagia, bahagia, tidak tidak realistic, tidak realistic, tidak

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 adekuat Super ego tidak adil, segera Cenderung dan adekuat segera tidak adil, segera cenderung dan terlalu keras terlalu keras dan cenderung terlalu keras 1. Responden 1 Responden 1 memiliki kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain. Hal ini menandakan bahwa responden 1 cenderung membutuhkan perhatian dari lingkungan atau orang-orang disekitarnya. Temuan ini didukung hasil pengetesan TAT pada pada kartu 10 : “di situ dia membaur dengan orang-orang yang merasakan duka gitu.” dan kartu 8BM : “yang dipikirkan sama tokohnya tadi ya berusaa supaya apa ini bersih-bersi, sampe bersih setelah itu dikembalikan ke keluarganya.” Selain itu berdasarkan pengetesan SSCT pada bagian kehidupan keluarga dan sikap terhadap ayah, dimana responden cenderung memandang keluarganya penuh dengan perhatian dan kasih sayang dan membutuhkan sosok ayah yang mampu memberi perhatian. Pribadi dengan kecenderungan kepribadian ini juga memandang orang lain lebih superior dan dapat memenui segala kebutuhannya. Contohnya pada kartu 1: “kayaknya kok priatin gitu. Bahwa dia tu sendirian gitu ga ga ada temen.” Menunjukkan bahwa responden membutuhkan dukungan dari orang lain. Hal ini diperkuat hasil temuan SSCT, dimana pada bagian ketakutan responden menyatakan takut kehilangan teman yang bias mengerti

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 dirinya. Individu dengan juga memiliki kebutuhan untuk membatasi hidup yang nampak dari cerita pada kartu 13MF, dimana figure perempuan dalam cerita digambarkan lemah dan bahkan sakit-sakitan sehingga perlu bantuan baik oleh suami maupun dokter. Sekalipun tidak se-dominan kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain, kebutuhan yang mengarah pada kecenderungan kepribadian lainnya juga muncul. Seperti kebutuhan akan kebebasan, kebutuhan akan pengakuan sosial, dan kebutuhan akan pencapaian personal. Kebutuhan ini cenderung bertentangan dengan kebutuhan neurotik dominan. Contohnya pada kartu 7GF : “karena dia lagi baru asyik bermain, dipanggil sama ibunya untuk belajar bareng, ternyata dianya ga mau jadi ngambek gitu.” Dimana ada keinginan untuk menolak ajakan. Kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain juga terlihat dari pola cerita yang dibangun responden 1 yang berkaitan dengan kebutuhan akan kasih sayang. Jika tidak ada yang mendampingi, maka responden akan merasa marah, cenderung gelisah dan akhirnya mengkhayal. Responden juga lebih memilih menghindari masalah. Pada TAT pola ini muncul pada kartu 1, 4, 6BM, 7GF, 10, 13MF, 3GF, dan 8GF, selain itu pada bagian sikap terhadap kemampuan diri, responden menuturkan merasa tidak berdaya ketika menghadapi masalah.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain nampak pula dari sumber kecemasan responden, yakni rasa takut tidak dicintai, rasa tidak berdaya, ditolak, dan rasa takut ditinggalkan. Hal ini muncul pada kartu 1, 2, 3BM, 4, 6BM, 13MF, 3GF, 6GF, dan 8GF. Dalam cerita nampak bahwa responden yang membutuhkan dukungan dan perhatian, merasa sering tidak menerimanya. Bahkan di beberapa cerita nampak bahwa responden mendapat penolakan dari orang terdekatnya. Hal ini juga nampak pada hasil SSCT, dimana pada bagian ketakutan dan rasa bersalah responden menjawab takut kehilangan dan merasa bersalah jika tidak mampu memberikan yang terbaik pada keluarga. Hal inilah yang memicu konflik dalam diri responden. Terdapat tiga mekanisme yang sering digunakan responden dalam menangani realita. Pertama adalah represi. Mekanisme ini muncul pada kartu 2, 3BM, 4, 13MF, dan 3GF. Responden akan cenderung menekan perasaannya agar masalah tidak menjadi bertambah buruk. Mekanisme kedua adalah denial, dimana responden mencoba menyangkal realita yang terjadi di sekitarnya. Mekanisme ini muncul pada kartu 2, 7GF, 8BM, 6GF, dan 8GF. Hal ini juga nampak pada hasil SSCT dimana pada item 57, responden memilih lari jika dihadapkan pada ketakutan. Terkahir adalah fantasi, dimana responden sering membayangkan hal-hal yang tidak dapat diraihnya dalam realita. Mekanisme ini muncul pada kartu 3BM dan 8GF.

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Orang dengan tiper kepribadian mendekat pada orang lain akan cenderung membutuhkan sosok pendamping yang kuat. Hal ini nampak jelas dari super ego yang menekan responden dengan cukup kuat. Ada konsekuensi tidak adil, segera dan cenderung terlalu keras sebagai akibat dari perilaku yang dilakukan oleh responden. Seperti pada kartu 2, 3BM, 4, 6BM, 8BM, 10, 13MF, 3GF, dan 8GF. Dalam SSCT nampak bahwa responden cenderung memandang orang tua sebagai pribadi yang cerewet dan responden berharap mendapat perhatian dari orang tua. Sekalipun responden memiliki integritas ego yang cukup baik dimana cerita yang dibangun cenderung memiliki akhir bahagia, realistik, dan pemecahan masalah yang dilakukan cenderung adekuat.Seperti pada kartu 1, 4, 8BM, 9GF, dan 10. Namun kebutuhan akan sosok pendamping yang kuat cenderung mengaburkan peranan ego. Contohnya nampak pada cerita kartu 4 : “Kalo ini rumah tangga ya kayaknya ya.. kayaknya seorang suami isteri yang suaminya kelihatannya lagi marah, terus isterinya berusaha untuk.. ee… apa namanya.. untuk merayu lah ya untuk berbuat untuk bisa baikan, ee.. dengan cara apapun kayaknya dia merayu suaminya supaya bisa baik kembali dan mungkin supaya ga marah lagi lah, sepertinya seperti itu. Kayaknya kan isterinya udah rapi tu, kayaknya rapi mungkin kayaknya ngajak pergi gitu tapi mungkin kayaknya suaminya belum siap kan..belum siap terus akhirnya mungkin suaminya diajak pergi terus

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 akhirnya dia ga.. ga mau akhirnya suaminya marah kan dipaksa kayaknya seperti itu. Marah dipaksa, dia ga mau, akhrinya isterinya berusaha untuk ngajak, emm..ngebaikin untuk ngajak. Tapi setelah itu, ya suaminya mau apa enggak ya?? Hehehe..kayaknya si begitu isterinya.. berusaha untuk merayu, ngajak, kayaknya si suaminya terus mau.. heeh.. akhirnya pergi bareng. Yang dirasain ya, seketika itu isterinya merasa ya..kesel juga ya, karena dianya sudah siap tapi suaminya kayaknya masih belum siap juga gitu kan, akhirnya dia marah, ya campur marah tapi.. ekspresinya campur marah tapi ya berusaha untuk tetep ngajak gitu untuk supaya mau. Setelah itu kayaknya suaminya siap terus mau karena di e… rayu sama isterinya akhirnya pergi juga bareng-bareng terus ya seneng lah dua-duanya.” Dari cerita nampak bahwa ada kebutuhan untuk melakukan hal yang disenangi dan kebutuhan untuk ditemani pasangan. Pasangan yang menolak tokoh utama menolak karena merasa diburu-buru. Hal ini merupakan hukuman yang keras dan segera atas tindakan tokoh utama. Karena merasa lingkungan sebagai pemenuh kebutuhan, sekalipun tokoh utama marah ia berusaha merepres perasaan emosi. 2. Responden 2 Berdasarkan clustering dapat disimpulkan bahwa responden 2 juga memiliki kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain. Hal ini menandakan bahwa responden 2 cenderung membutuhkan dan

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 memberikan perhatian dari lingkungan atau orang-orang disekitarnya. contohnya pada kartu 10 : “baiknya seperti melakukan semua yang dia mau diberikan kepada suami gitu.” Hal ini diperkuat temuan SSCT dimana pada bagian cita-cita responden menyatakan keinginannya untuk melihat anak mencapai kesuksesan. Orang dengan tipe kepribadian ini juga akan cenderung memandang orang lain superior dan dapat memenui segala kebutuhannya. Seperti pada kartu 7GF : “gembira karena dia sukses, mungkin dia ininya, keinginannya dipenuhi sama bapaknya.” Temuan ini diperkuat hasil pengetesan SSCT pada bagian sikap terhadap pimpinan dan sikap teradap ayah, responden merasa pimpinan atau ayah yang baik adalah figur yang dapat memberikannya kasih sayang. Selain itu kebutuhan lain yang cenderung dominan adalah kebutuhan untuk membatasi hidup. Seperti pada petikan cerita kartu 3BM : “lagi mikirin sesuatu, yang dipikirkan mungkin dia punya cita-cita itu mungkin ga berasil.” Nampak bahwa responden cenderung menganggap hal yang dicita-citakan tidak mungkin diraihnya. Selain itu pada pengetesan SSCT bagian ketakutan-ketakutan, Nampak bahwa responden memilih menghindar ketika dihadapkan pada masalah. Kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain memang dominan, namun demikian bukan berarti kebutuhan neurotik lain tidak muncul sama sekali. Kebutuhan neurotik lainnya, yaitu kebutuhan akan kekuatan dan kebutuhan akan pencapaian personal

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 juga muncul. Kebutuhan neurotik lain yang muncul justru mendukung kebutuhan neurotik yang dominan, seperti pada kartu 2 : “marah karena muridnya males kali.” Agresi disini muncul karena ada keinginan dari tokoh utama untuk menolong, namun orang yang ditolong tidak merespon dengan baik. Tema utama yang muncul dalam kebanyakan cerita juga memperkuat dugaan bahwa responden memiliki kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain. Bila kebutuhan responden terpenuhi dengan baik maka responden akan merasa senang dan merasa dikasihi, sehingga responden membalas dengan mengasihi balik. Namun demikian jika kebutuhan atau hal yang dicita-citakan gagal terpenuhi, reaksi responden adalah diam merenung atau marah. Jika melalui kedua cara ini responden belum menemukan pemecahan, responden akan merasa sakit, dalam hal ini responden mengatakan pusing. Pola ini nampak pada kartu 1, 2, 3BM, 4, 6BM, 7GF, 8BM, 10, 13MF, 3GF, 8GF. Responden memandang lingkungannya sebagai penghambatnya dalam memenuhi kebutuhannya, seperti nampak pada kartu 3BM, 6BM, 8BM, 9GF, 13MF, 3GF, 6GF, 8GF. Namun demikian, sebenarnya responden menyadari bahwa lingkungan adalah tempat dimana dirinya bisa memuaskan kebutuahnnya. Seperti nampak pada kartu 4, 7GF, dan 10. Konflik yang akhirnya muncul bermula pada sumber kecemasan responden, yakni perasaan takut gagal,

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 kesusahan dan sakit. Hal ini muncul pada semua kartu kecuali kartu 4 dan 9GF. Hal ini juga muncul pada SSCT dimana responden takut mengalami sakit. Sumber kecemasan ini membuat responden untuk memiliki keinginan mengakuisisi sesuatu atau mencapai sesuatu. Keinginan ini gagal tercapai karena responden cenderung kurang mau berusaha. Rasa takut tidak mendapat perhatian membuat responden cenderung menunggu orang lain memenuhi keinginannya. Mekanisme pertahanan diri yang cenderung dominan dalam diri responden adalah denial. Responden cenderung menolak realita di sekitarnya dan perasaan yang sedang dialaminya terutama jika cita-cita dan keinginannya terpenuhi. Seperti pada kartu 1, 2, 3BM, 4, 8BM, dan 10.Selain itu responden juga memiliki kecenderungan melakukan regresi. Bila responden merasa masalah yang dihadapi terlalu berat, responden akan menangis dan marah.Pada TAT mekanisme ini muncul di kartu 13MF dan 3GF. Objek pelampiasan kemarahan responden adalah pasangannya. Mekanisme lain yang tidak terlalu dominan adalah fantasi dan Represi (1, 9GF). Fantasi dilakukan responden ketika responden memiliki cita-cita atau keinginan tertentu. Seperti pada kartu 1 dan 8GF . Super ego memiliki perasan kuat dalam diri responden. Hal ini nampak dari responden yang menganggap hukuman akan tindakan yang dilakukannya cenderung segera dan keras. Integrasi ego dalam diri responden juga terlihat kurang baik.Cerita yang dibangun

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 responden sebagaian besar memiliki karakteristik berakhir dengan tidak bahagia, cenderung tidak realistik, dan tidak adekuat. Hal ini menandakan adanya kebutuhan akan figur pendamping yang kuat dalam diri responden. Hal nampak di tiap kartu kecuali kartu 4. Contohnya pada kartu 3BM : “Lagi mikir sesuatu. Yang dipikirkan mungkin dia punya cita-cita.Iya.Mungkin cita-cita itu mungkin ga berhasil. Iya..ya mungkin yang dirasakan pusing mas. Karena dia ga berhasil. Yang dilakukan dia itu kayaknya marah ya..apa bagaimana? Marah mungkin?Apa dia itu pusing mikirin sesuatu kali mas. Terhadap apa yang dia cita-citakan. Termenung iya.Akhirnya ya mungkin biasa aja kali mas orangnya.Iya. Ga karena dia ga berhasil kan. Mau diapain lagi kan. Iya mungkin. Ga bisa melakukan sesuatu yang..pingin berhasil karena kan termenung itu dia kan. Iya mungkin.” dari cerita nampak bahwa tokoh memiliki kebutuhan oral yang harus dipenuhi. Ketiga gagal terpenuhi tokoh utama dalam cerita marah.Dalam cerita nampak pula bahwa tokoh utama memandang lingkungan sebagai pemuas kebutuhan.Dalam gambar 3BM ada objek pistol namun tidak dilihat oleh responden, ini menandakan responden mencoba menekan agresi.Dilihat dari akhir cerita nampak bahwa responden cenderung kurang adekuat dalam melakukan pemecahan masalah

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 3. Responden 3 Seperti pada responden 1 dan 2, Responden 3 juga memiliki kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain. Dimana individu dengan tipe kepribadian ini akan cenderung membutuhkan perhatian dari lingkungan atau orang-orang disekitarnya. contohnya pada kartu 8BM : “yang dipikirin anaknya kali takut ga makan.. gitu mas..” Selain itu, orang dengan tipe kepribadian ini akan cenderung memandang orang lain superior dan dapat memenui segala kebutuhannya. Hal ini muncul pada pengetesan TAT. Contohnya pada kartu 9GF : “terus dikasih makan.. sama ibunya.. girang mas.” Menunjukkan bahwa responden membutuhkan perhatian dari figur yang lebih kuat. Hal ini diperkuat hasil temuan SSCT, dimana pada bagian sikap terhadap ayah dan pimpinan, responden cenderung memandang keduanya sebagai sosok yang pengertian, mampu membimbing dan mengajar. Kebutuhan lain yang muncul adalah kebutuhan untuk membatasi hidup. contohnya pada kartu 10 : “ya nasibnya udah tua udah ga bisa kerja. Kan harus makan.. harus belanja.” Dari penggalan cerita nampak bahwa responden menjadikan usia tua sebagai alasan ketidakmampuannya dalam bekerja. Kebutuhan neurotik lainnya juga muncul, seperi kebutuhan akan pengakuan sosial, kebutuhan akan pencapaian personal, kebutuhan akan kebebasan dan kebutuhan akan kesempurnaan. Namun demikian, kebutuhan lain yang muncul tidak memiliki pengaruh pada

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 kebutuhan neurotik yang dominan. Seperti pada kartu 3BM, dimana tokoh utama mempersiapkan diri sebelum melakukan pekerjaannya karena adanya keinginan untuk menyelesaikan tugas. Hal ini menunjukkan kebutuhan neurotik akan pencapaian personal didukung kebutuhan neurotik akan kesempurnaan, hal ini tidak berhubungan dengan kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain. Tema-tema cerita yang dituturkan subjek membentuk suatu pola. Pola yang digunakan subjek untuk menghadapi realita adalah rasa cemas jika kebutuhannya tidak terpenuhi, namun demikian responden cenderung memilih menunggu ada orang yang mengasihani dirinya. 4, 7GF, 8BM, 9GF 10, 6GF, dan 8GF. Hal ini memperkuat dugaan bahwa responden memiliki kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain. Sumber kecemasan utama responden adalah rasa takut mengalami kesusahan. Selain muncul pada TAT, rasa takut akan kecemasan juga nampak pada SSCT dimana responden takut jatuh dan tidak berhasil. Kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain juga nampak dari responden yang memandang lingkungannya sebagai sumber pemuas segala kebutuhannya. Hal ini membuat responden memiliki kebutuhan oral yang cenderung tinggi. Namun kebutuhan responden ini tidak terealisasi karena responden cenderung menunggu diberi bantuan oleh orang lain.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Mekanisme pertahanan diri yang cukup dominan dalam diri responden adalah denial. Hal ini nampak dari kartu 1, 2, 13MF, 8GF dimana responden cenderung mengabaikan realita disekitarnya. Selain itu responden juga cenderung melakukan represi. Pada kartu 1 dan 3BM nampak bahwa responden merepres rasa takutnya akan hukuman atau perasaan sengsara. Responden juga melakukan proyeksi seperti pada kartu 4 dan 8BM. Selain itu, responden kadang juga membayangkan sesuatu (10) atau melakukan hal lain seperti mempercantik diri sebagai kompensasi (3GF). Responden memiliki integrasi ego yang buruk.Hal ini nampak dari alur cerita responden yang cenderung berakhir bahagia namun tidak realistik dan tidak adekuat.Seperti pada kartu 4, 7GF, 8BM, 9GF, 10, 3GF, 6GF, dan 8GF.Hal ini tidak lepas dari pengaruh super ego yang sangat kuat dalam diri responden, dimana super ego memberikan hukuman keras dan segera. Seperti pada kartu 1, 3BM, 7GF, 8BM, 10, 8GF Contohnya pada kartu 8GF : Burung.. burung lagi duduk. Iya burung apa bukan? Lagi duduk lagi clungak-clinguk aja gitu.Pengen itu empanan. Iya..heem.. lapar.. iya.. iya.. kelabakan di sangkarnya. Iya..iya.. diempanin.. yang punya burung ngasih empanan. Seneng diempanin.Lapernya ilang. Dari cerita nampak pola pemecahan masalah responden adalah menunggu hingga ada orang lain yang memberi pertolongan.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Hal ini menandakan responden kurang memiliki adekuasi dalam memecahkan masalah.Tokoh utama dalam cerita memandang lingkungannya sebagai pemuas kebutuhannya.Pengaruh super ego nampak dari responden yang menunggu pemiliknya (representasi dari figur yang lebih kuat) memberinya makan (kebutuhan oral). D. Kesimpulan Dinamika Kebutuhan dan Kecemasan Ketiga responden dalam penelitian ini memiliki beberapa ciri perilaku yang cenderung sama. berdasarkan wawancara terhadap 3 responden nampak bahwa ketiganya mulai mengalami latah setelah memimpikan alat kelamin pria. Freud (1958) menyatakan bahwa mimpi merupakan salah satu cara yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Maka secara sederhana dapat dikatakan bahwa mimpi alat kelamin pria merupakan dampak dari adanya kebutuhan seksual yang tidak dipenuhi. Selain itu ketiganya menyatakan bahwa perilaku latah bertambah parah karena lingkungan menjadikan perilaku latah mereka sebagai bahan candaan.Parahnya perilaku latah diikuti juga dengan rasa malu dan minder. Ketiga responden memiliki kecenderungan kepribadian mendekat pada orang. Menurut Horney, orang dengan tipe kepribadian mendekat pada orang (compliant) memiliki kebutuhan akan afeksi, penerimaan, dan kebutuhan untuk dicintai. Orang dengan kecenderungan kepribadian ini membutuhkan sosok yang dominan yang mampu melindungi dan membimbing. Selain itu orang dengan tipe kepribadian ini cenderung

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 memanipulasi pasangan mereka untuk memenuhi segala keinginan mereka. Mereka akan cenderung memandang orang lain sebagai orang yang superior, bahkan pada hal-hal yang mereka kuasai mereka akan memandang orang lain lebih superior (Schultz, 1998). Hal ini nampak dari kebutuhan-kebutuhan yang cenderung dominan dalam diri mereka, seperti kebutuhan untuk diperhatikan, kebutuan untuk ditolong, kebutuhan untuk mengajari orang lain, bahkan beberapa kebutuhan seperti kebutuhan oral, kebutuhan agresi muncul karena adanya kebutuhan untuk mendekat pada orang lain. Hal ini diperkuat hasil temuan SSCT pada bagian ketakutan ada rasa takut ditinggalkan, pada bagian cita-cita ingin melihat anak-anaknya sukses, pada bagian pandangan akan kemampuan diri yang memandang dirinya lemah, dan pada bagian sikap terhadap pimpinan yang melihat pemimpin sebagai figure yang mengayomi. Pada responden 1 kebutuhan yang berkatian dengan kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain muncul pada 13 kartu, yakni kartu 4, 10, 8GF, 8BM, 13MF, 7GF, 6GF, 1, 2, 9GF, 3GF, 6BM, dan 4. Pada responden 2 muncul pada 10 kartu, yakni kartu 4, 7GF, 10, 6BM, 3GF, 13MF, 2, 3BM, 6GF, 8GF. Sementara itu pada responden 3 muncul pada 9 kartu, yakni kartu 2, 7GF, 10, 9GF, 8GF, 4, 8BM, 6GF, dan 3BM. kebutuhan neurotik yang membentuk kecenderungan kepribadian lainnya juga muncul pada ketiga responden sekalipun tidak se-dominan kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain. Seperti kebutuhan

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 akan pencapaian personal, kebutuhan akan pengakuan social, kebutuhan akan kebebasan, dan kebutuhan akan kesempurnaan. Beberapa kebutuhan mendukung kebutuhan neurotik yang dominan. Namun demikian ada pula kebutuhan neurotik lain yang bertentangan dengan kebutuhan utama. Hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan Horney bahwa kebutuhan neurotik saling mempengaruhi satu dengan yang lain (feist, 2006), namun demikian Horney tidak menjelaskan secara mendetail mengenai dua atau lebih kecenderungan kepribadian yang muncul bersamaan. Kebutuhan yang muncul hanya akan menjadikan individu mengalami keadaan kekurangan, namun demikian pada ketiga penderita latah dapat disimpulkan bahwa kebutuhan yang muncul justru menjadi kecemasan. Keadaan kekurangan ini menjadi kecemasan karena mekanisme pertahanan diri yang digunakan ketiga responden cenderung memiliki pola yang sama, yaitu mencoba menyangkal (denial) atau menekan (repress) realita. Jika penyangkalan dan represi gagal, muncul juga mekanisme fantasi. Berdasarkan hasil analisis menggunakan 10 variabel Bellak, pola penyelesaian masalah cenderung mirip, yaitu muncul keinginan untuk mendapat sesuatu atau menunggu untuk dibantu tidak didapat, sehingga muncul perasaan kurang diperhatikan. Hal ini berdampak ketika menghadapi realita, dimana pola penyelesaian masalah yang dipakai adalah perasaan senang ketika harapan terpenuhi, dan jika harapan gagal terpenuhi muncul perasaan cemas, keinginan untuk merenung, dan bahkan

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 hingga mengalami sakit. Kebutuhan untuk diperhatikan yang dominan juga membuat ketiga responden memiliki beberapa sumber kecemasan, yakni perasaan takut kesusahan dan rasa khawatir ditinggalkan. Seperti dikatakan sebelumnya bahwa orang dengan tipe kepribadian mendekat pada orang lain akan cenderung merasa dirinya inferior dan mencari sosok yang lebih superior. Hal ini juga nampak pada pengetesan TAT dimana super ego ketiga responden memberikan tekanan cukup kuat, hal ini Nampak dari super ego ketiga responden cenderung memberikan hukuman yang keras dan segera jika kesalahan muncul sementara dua dari tiga responden menunjukkan ego tidak memiliki integritas yang baik, dimana responden cenderung membuat cerita yang tidak realistis dan cenderung tidak berakhir baik. Super ego yang menekan kuat ditambah rasa takut ditinggalkan dan kehilangan membuat kebutuhan yang muncul akan mendapat sensor yang sangat ketat hal ini menyebabkan kebutuhan menjadi tidak terselesaikan. E. Pembahasan Ketiga responden seperti telah dijelaskan diatas memiliki beberapa kesamaan. Pertama, kebutuhan yang muncul melalui pengetesan TAT jika diklasifikasikan menggunakan teori kebutuhan neurotik Horney akan mengerucut pada beberapa kebutuhan neurotik. Kebutuhan neurotik yang dominan dalam diri ketiga responden adalah kebutuhan neurotik akan afeksi dan penerimaan; kebutuhan akan sosok pendamping yang kuat;

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 kebutuhan untuk membatasi hidup. Hal ini menandakan ketiganya memiliki kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain. Selain itu, kesamaan lain juga ditemukan pada cara ketiga responden menangani kecemasannya. Adanya rasa takut akan ketidak berdayaan dan rasa takut ditinggalkan ditambah super ego yang kuat menyebabkan ketiga responden cenderung menolak realita dan menekan kebutuhan yang bertentangan dengan super ego. Kebutuhan yang selalu direpress ini pada akhirnya muncul lewat mimpi alat kelamin. Mimpi tidak dapat menyelesaikan masalah, sehingga perilaku latah muncul. Freud (1958) menyatakan bahwa mimpi muncul karena adanya kebutuhan individu yang tidak terselesaikan dalam dunia nyata. Jika menggunakan teori ini mimpi alat kelamin yang berujung pada kemunculan perilaku latah alat kelamin pria muncul karena adanya kebutuhan seksual yang tidak terselesaikan, namun demikian berdasarkan pengetesan TAT terhadap 3 responden didapat bahwa kebutuhan yang dominan adalah kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan pasangan, dan perasaan inferior. Kebutuhan seksual justru tidak muncul pada responden 1 dan 3, sementara pada responden 2 sekalipun kebutuhan seksual muncul namun tidak menjadi kebutuhan yang dominan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mimpi alat kelamin pria dan perilaku latah tidak semata-mata muncul akibat adanya kebutuhan seksual yang tidak terpenuhi di dunia nyata. Namun demikian, hal ini perlu dibuktikan dengan penelitian yang lebih jauh.

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Berdasarkan hasil analisis TAT terhadap tiga responden, didapat pula bahwa ketiga responden memiliki kebutuhan dominan yang cenderung sama, yakni ingin memiliki sesuatu, ingin diberi sesuatu, atau ingin mencapai sesuatu dan kebutuhan untuk dikasihi. Menurut Freud, kepuasan pada fase ini didapat dari proses menerima sesuatu, dan objek lekatnya adalah ibu (Seimun, 2006). Hal ini menunjukkan bahwa ketiga responden mengami fiksasi pada fase oral. Penelitian-penelitian sebelumnya cenderung mengaitkan fenomena latah dengan kondisi sosio-kultural di suatu daerah (winzeler, 1984) atau kecemasan yang muncul akibat adanya tatanan budaya dan agama yang cenderung mengikat, terutama pada kaum perempuan. Hal inilah yang menyebabkan latah banyak dialami perempuan (Geertz, 1968). Berdasarkan pengetesan TAT didapat bahwa ketiga responden memiliki super ego yang sangat menekan. Hal ini kemungkinan merupakan akibat dari tatanan budaya dan agama ketiga responden, karena jika dilihat dari usia ketiganya, ketiga responden hidup pada masa di mana aturan budaya masih sangat ketat. Namun demikian, budaya dan agama sebagai komponen pembentuk super ego yang mengikat bukan satu-satunya penyebab perilaku latah. Berdasarkan pengetesan TAT, ditemukan bahwa integritas ego responden cenderung lemah dimana responden memandang dirinya inferior, kemudian cara penyelesaian masalah dimana responden cenderung menghindari atau memendam masalah juga menjadi faktor lain penyebab terjadinya perilaku latah latah.

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Gimlette (1897) berdasarkan penelitiannya mengaitkan latah dengan Hysteria yang berkitan dengan kecemasan. Jika melihat dari pengertiannya, hysteria adalah gangguan dimana penderitanya mengalami ketidak stabilan emosi seperti ketakutan dan panik, yang memunculkan gangguan baik sensorik, motorik, dan fisik penderitanya. Dewasa ini hysteria tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan, namun dijadikan salah satu simtom gangguan psikosomatik dan histrionik (Matsumoto, 2009). Jika diperhatikan, penderita latah memiliki kesamaan dengan symptom hysteria, yakni mengalami kecemasan. Dalam hal ini ketiga responden mengalami konflik antara kebutuhan dengan super ego yang pada akhirnya memunculkan kecemasan.

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Perilaku latah pada ketiga responden cenderung sama, sebelum latah, ketiga responden mengaku memimpikan alat kelamin pria. Selain itu, 2 dari 3 responden mengaku bahwa keluarga dekatnya juga mengalami latah. Latah masih belum dipandang sebagai gangguan, bahkan penderitanya dijadikan objek candaan lingkungan. Hal ini justru berdampak buruk bagi penderita latah. Selain perilaku latah bertambah parah, ketiga responden menyatakan ada perasaan minder ketika harus berada di lingkungan sosial. Jika terus dilanjutkan, penulis menduga penderita latah akan mengalami gangguan psikologis yang lebih parah lagi, namun demikian dampak lebih lanjut dari perilaku latah harus dibuktikan lewat penelitian yang lebih mendalam. Ketiga responden memiliki kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain. Hal ini menandakan bahwa ketiganya cenderung merasa dirinya lemah, sehingga sangat membutuhkan dukungan dan perhatian dari orang lain yang dipandang lebih superior. Bahkan mereka memanipulasi orang disekitarnya untuk memenuhi kebutuhannya. Kecenderungan kepribadian ini didominasi oleh tiga kebutuhan neurotik, yaitu kebutuhan neurotik akan afeksi dan penerimaan; kebutuhan akan sosok pendamping yang kuat; kebutuhan untuk membatasi hidup. Namun demikian, 98

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 kebutuhan neurotik lainnya seperti kebutuhan akan prestise sosial, kebutuhan akan kesempurnaan, atau kebutuhan akan pencapaian juga muncul, namun demikian kebutuhan neurotik lain justru mendukung kebutuhan neurotik dominan. Kebutuhan berubah menjadi kecemasan karena adanya dinamika antara id, ego, super ego, dan mekanisme pertahanan ego. Berdasarkan pengetesan TAT dan SSCT didapat bahwa ketiga responden penelitian memiliki rasa takut akan ditinggalkan dan rasa takut tidak berdaya, hal ini menyebabkan ketiganya cenderung menunggu untuk dibantu atau diperhatikan oleh orang lain, bahkan menyebabkan responden menjadi sangat tergantung pada orang lain yang dinilai lebih kuat, hal inilah yang membuat super ego responden menjadi cenderung dominan. Super ego yang kuat menekan ketiga responden, sehingga ketika kebutuhan yang tidak dapat diterima super ego muncul ketiga responden cenderung menyangkal atau menekan realita. Hal inilah yang pada nantinya akan keluar lewat mimpi alat kelami pria dan kemudian perilaku latah. Freud (1958) menyatakan bahwa mimpi muncul karena adanya kebutuhan individu yang tidak terselesaikan dalam dunia nyata. Namun demikian berdasarkan hasil pengetesan TAT, bukan kebutuhan seksual yang dominan namun kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan pasangan, dan perasaan inferior. Selain itu, berdasarkan hasil analisis TAT terhadap tiga responden, didapat pula bahwa ketiga responden memiliki kebutuhan memiliki sesuatu, ingin diberi sesuatu, atau ingin mencapai

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 sesuatu dan kebutuhan untuk dikasihi. Menurut Freud, kepuasan pada fase ini didapat dari proses menerima sesuatu, dan objek lekatnya adalah ibu (Seimun, 2006). Hal ini menunjukkan bahwa ketiga responden mengami fiksasi pada fase oral B. Saran 1. Bagi Penelitian Selanjutnya Penelitian kali ini mengambil tiga responden yang kesemuanya mengalami latah yang diawali mimpi hal ini merupakan keterbatasan penelitian kali ini. Jika penelitian ini dilanjutkan, akan sangat baik jika peneliti selanjutnya dapat membandingkan dengan individu yang mengalami latah namun tidak diawali mimpi dan/atau dengan individu di usia sama namun tidak mengalami latah untuk membuktikan apakah ada perbedaan kebutuhan antara individu yang mengalami latah dengan yang tidak mengalami latah. Selain itu menarik juga jika penelitian selanjutnya dapat melihat seberapa parah dampak psikologis yang dialami penderita latah jika perilaku latah tidak segera ditanggulangi. Pada penelitian kali ini juga ditemukan topik bahasan yang mungkin dapat digali lewat penelitian berukutnya, pertama bahwa mimpi alat kelamin penderita latah tidak menunjukkan adanya kebutuhan seksual, hal ini menunjukkan teori Freud mengenai mimpi sebagai salah satu sarana pemuas kebutuhan perlu dikaji lebih dalam.

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 2. Bagi Terapis atau Psikolog Perilaku latah merupakan gangguan perilaku yang dipengaruhi keadaan psikologis. Super ego dominan ditambah rasa takut tidak berdaya dan ditinggalkan. Hal ini menyebabkan ketiga responden cenderung memiliki tingkat kecemasan yang cukup besar. Hal ini menyebabkan mekanisme pertahanan ego cenderung menyangkal atau menekan realita. Informasi ini menjadi penting, sehingga ketika melakukan terapi faktor psikologis yang harus diperhatikan sebelum membenahi perilaku. 3. Bagi Penderita Latah Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa penderita latah dalam hal ini ketiga responden memiliki kecenderungan kepribadian mendekat pada orang lain, dimana hal ini menandakan bahwa ketiga responden cenderung merasa dirinya inferior dan membutuhkan sosok yang lebih kuat agar kebutuhan akan kasih sayang mereka terpenuhi. Selain itu ditemukan pula bahwa ketiga responden cenderung memiliki super ego dominan dan cenderung menyangkal atau menekan realita. Informasi ini menjadi penting diketahui oleh penderita latah, karena menurut Rogers dalam Feist (2006) kesehatan psikologis mengalami gangguan karena beberapa sebab, yaitu; adanya penghargaan bersayarat, inkongruensi

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 antara realita dengan harapan, dan adanya sikap defensif terhadap realita. Ketika mengetahui informasi ini, penderita latah khususnya dalam penelitian ini dapat mulai merefleksikan pengalamanpengalamannya, menyadari bahwa kebutuhan akan kasih sayang, dan kebutuhan oral merupakan sesuatu yang ada dalam diri. Mencoba untuk menyadari, menerima dan kemudian menilik kembali ke belakang apakah harapan-harapan dan kebutuhan yang muncul cukup realistis. 4. Bagi Keluarga dan Lingkungan Sekitar Latah adalah gangguan dan latah terjadi karena kebutuhan yang muncul dalam hal ini kebutuhan akan kasih sayang dan kebutuhan akan pendamping yang kuat tidak dapat terpenuhi karena terbentur super ego dalam hal ini aturan, norma, dan bahkan perlakuan orang-orang sekitar. Hal ini diperparah dengan penderita latah, dalam hal ini responden, yang cenderung menyangkal atau merepres ketika kebutuhan itu muncul. Maka dari itu akan jadi sangat bijak jika sebagai orang-orang yang berada di sekitar penderita latah menyadari keberadaan orang latah disekitarnya untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan itu. Memberikan perhatian tanpa syarat bisa menjadi salah satu terapi untuk meringankan dampak perilaku latah atau minimal dengan tidak menjadikan penderita latah sebagai objek candaan yang justru memperparah perilaku latah yang mereka alami.

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Alwisol. (2007). Psikologi Kepribadian (Edisi Revisi ed.). Malang: UMM Press. Association, A. P. (2000). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder : Text Revision. Washington DC: American Psychiatric Publishing, Inc. Bellak, L., & Abrams, D. (1997). The Thematic Apperception Test, The Children's Apperception Test, and The Senior Apperception Test in Clinical Use (Sixth Edition ed.). Boston: Allyn and Bacon. Boeree, G. (2010). Personality Theories : Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta, Indonesia: Prismasophie. Creswell, J. (2007). Qualitative Inquiry & Research Design (2nd Edition ed.). California: Sage Publications, Inc. Durand, M., & barlow, D. (2006). Essentials of Abnormal Psychology (Fourth Edition ed.). Belmont: Thomson Wadsworth. Edwin, L., Bellak, L., Brower, D., Deri, S., Harrower, M., Kadis, A., et al. (1959). Projective Psychology : Clinical Aproaches to the Total personality. New York: Grove Press. Eidelberg, L. (1952). Studies in Psychoanalysis. New York: International Universities Press, Inc. Feist, J., & Feist, G. J. (2006). Theories of Personality (6th Edition ed.). New York: McGraw-Hill. Fitri. (2011, Desember 11). Kecil-Kecil Kok Latah. Diunduh pada tanggal 18 Juli 2013 dari http//:www.okezone.com/read/2011/12/09/196/540350/kecilkecil-kok-Latah Freud, S. (1958). A General Introduction to Psychoanalysis. New York: Permabooks. Galloway, D. (1922). A Countribution to the Psychology of "Latah". Journal of a Straits Branch of the Royal Asiatic Society , 140-150. Geertz, H. (1968). Latah in Java : a Theoritical Paradox. 93-104. Gimlette, J. (1897). Remarks on the Etiology, Simptom, and Treatment of Latah, with a Report of Two Cases. The British Medical journal , 455-457. 103

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Hall, C. S., & Gardner, L. (1970). Theories of Personality. John Wiley. Kadir, h. A. (2009). Menafsir Fenomena Latah Sebagai Emosi Kebudayaan Masyarakat Melayu. Psikobuana , 49-59. Kazdin, A. (2000). Encyclopedia of psychology. Oxford: Oxford University Press. Kenny, M. (1978). Latah : The Symbolism of a Putative Mental Dissorder. Culture, Medicine, and psychiatry , 209-231. Loon, F. H. (1927). Latah, a Psychoneurosis of Malay Races. Journal of Social and Abnormal Psychology , 434-444. Maltin, M. (2009). Cognition (Seventh Edition ed.). John Wiley & Sons, Inc. Matsumoto, D. (2009). The Cambridge Dictionary of Psychology. Cambridge: Cambridge University Press. Miles, M., & Huberman, A. (1992). Qualitative Data Analysis : a Sourcebook of New Methods. Beverly: Sage. Newman, L. (2000). Social Reasearch Method : Qualitative and Quantitative Approaches. Needham Heights: Allyn & Bacon. Patton, M. (1990). Qualitative Evaluation Methods. Beverly Hills: Sage. Poerwandari, K. (2005). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta: LPSP3 Universitas Indonesia. Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development (13th Edition ed.). New York: McGraw Hill. Schultz, D., & Schultz, S. E. (1998). Theories of Personality (6th Edition ed.). California: Brooks/Cole Publising Company. Seimun, Y. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: kanisius. Seimun, Y. (2006). Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik Freud. Yogyakarta: Kanisius. Shaughnessy, J., Zechmeister, E., & Zechmeister, J. (2006). Research Methods in Psychology. New York: The McGraw Hills Companies.Inc. Solso, R. L. (1991). Cognitive Psychology (3rd ed.). Allyn & Bacon.

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 Sukardi, D. K. (1993). Analisis Inventori Minat dan Bakat. Jakarta: Rineka Cipta. Sutopo, H. (2006). Metode Penelitian Kualitatif,. Surakarta: UNS Press. Winzeler, R. (1995). Latah in South East Asia : The History and Etnography of a Culture-Bound Syndrome. Cambridge: Cambridge University Press. Winzeler, R. (1984). Study of Malayan Latah. 77-104. Yap, P. M. (1969). The Culture-Bound Reactive Syndrome. Honolulu: West-East Center Press.

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 106

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI RESPONDEN I 107

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 Gambar 1 Lagi merenung, ee.. lagi merenung sambil belajar.. heeh, terus.. mungkin memikirkan masalah pelajaran yang dihadapi, tapi dia sendiri ga ada temennya. Heeh, terus ya ga ada yang bisa ditanya. Jadi dia ya mikir sendiri gitu.. sama si anak tadi kayak gimana ya? Kayaknya kok prihatin gitu. Bahwa dia tu sendirian gitu ga ga ada temen. Belajar sendiri sambil dia ya sambil merenung gitu. Ngapa ya tadi umi cuma ngeliat pas langsung itunya aja. Oh sebelum belajar.. kira-kira ya dia ya seperti ngambek gitu kan, mau belajar kok ngambek terus akhirnya dia belajar sendirian sambil kayak.. gimana ya.. kayak kecewa gitu. Karena dia belajar ga ada temennya gitu. Awalnya dia pengen belajar tapi marah ga ada pendamping ga ada ibunya ga ada bapaknya tapi dia harus mengerjakan tugasnya, makanya itu dia belajar walaupun sendiri. gitu.. akhirnya ya dia selesaikan juga tugasnya, setelah itu ya selesai entah dia nonton tv atau dia tidur hehe.. setelah selesai itu ya dia merasa lega, tugasnya udah dilaksanakan, setelah itu dia rapirapi yaudah dia berangkat istirahat. Kayaknya seperti itu. Tema Deskriptif - Mau Tema Diagnostik I belajar tapi Perasaan Tema Diagnostik II kecewa, Agresi marah, marah ngambek, kayak kecewa gitu - Belajar ga Kebutuhan ada temannya, ga ada Ketiadaan figure ditolong pendamping, ga ada pendamping dan penolong bapaknya untuk atau Kebutuhan akan figure dalam orang tua ibunya tapi harus mengerjakan tugas mengerjakan tugas - Dia belajar walau Kebutuhan harus sendiri Melakukan kewajiban untuk melaksanakan kewajiban Reaksi formasi - Dia termenung Memikirkan masalah Keinginan untuk berhasil

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 memikirkan masalah pelajaran sendiri - Ketiadaan figur yang Kebutuhan Ga ada teman, ga bisa ditanyai ada yang untuk ditolong/ditemani bisa ditanya - dia Melakukan Setelah aktivitas Kebutuhan yang menyenangkan menyelesaikan untuk istirahat atau refreshing tugasnya dia nonton tv atau tidur - Perasaannya karena lega Perasaan lega Kebutuhan untuk menyelesaikan tugas tugasnya sudah dilaksanakan - Dia rapi-rapi dan Membereskan berangkat tidur sesuatu Kebutuhan sebelum istirahat melakukan untuk sesuatu berdasarkan urutan Tema Interpretif : jika seseorang tidak didampingi dalam mengerjakan kewajiban, maka ia akan merasa kecewa. Namun demikian dia akan tetap menyelesaikan tugasnya. Gambar 2 Kayaknya dia mau berangkat itu ya.. ke.. ke gereja ya.. dia mau berangkat ke gereja terus membawa alkitab, sambil dia jalan sambil dia liat-liat pemandangan yang ada disekitarnya.. ee.. setelah itu ya udah dia dia melakukan ibadah itu. Sepertinya sih kayak dengan gembira.. dengan senang hati dari ekspresinya sih gembira, senang hati, dan dia mau melaksanakan menjalankan ibadah walaupun tanpa teman, sendirian tetep juga tetep jadi dia berangkat. Sebelum itu kayaknya sih dia ya siap-siap untuk berangkat ya dengan senang hati. Dengan senang hati, dia gembira, dia siap-siap berangkat, setelah itu dia cari alkitab yang mau dibawa terus dia berangkat jalan, setelah itu dia ibadah ya, menjalankan ibadah, setelah itu dia pulang ya dengan suka.. dengan suka ria lah dia senang gitu hatinya.

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II siap-siap Perasaan senang ketika Represi Dia berangkat mempersiapkan diri untuk dengan hati yang - diri Kebutuhan untuk menjalankan melakukan sesuatu Mempersiapkan senang mencari sebelum Dia berdasarkan urutan alkitab yang mau kegiatan dibawa terus berangkat jalan - Dia jalan sambil Melihat keadaan sekitar Kebutuhan melihat melakukan pemandangan menyenangkan Melakukan sekitar - Dia dengan Perasaan - Dia melakukan sekalipun ibadah senang walaupun yang Kebutuhan religiusitas senang melakukan gembira hal ibadah melakukan dengan gembira ibadah untuk sesuatu Denial tidak dengan teman ada Kebutuhan untuk ditemani hati tanpa teman - Dia pulang dengan Perasaan senang suka ria Tema interpretif : jika diawali dengan hati senang, seseorang akan merasa senang sekipun dia melakukan aktivitas tanpa teman Gambar 3BM Gambar apa ya.. seorang laki-laki ya? Kayaknya seorang laki-laki sedang nelungkup ya.. terus bawa sesuatu dibelakangnya.. kayaknya dia ga tahan lagi. Mungkin karena dia bawa-bawa yang dibelakang dia merasa berat, akhirnya dia nelungkup kecapekan, ee.. istirahat dengan membawa hati yang.. kayaknya

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 membawa hati yang pilu.. sedih gitu kayaknya itu dia makannya dia nelungkup gitu mungkin bisa aja dia emm.. apa namanya memikirkan nasibnya. Emm.. ya akhirnya dia ya.. ya itu deh.. dia ya disitulah dia nelungkup dia sambil merenungkan nasibnya heeh.. sambil kecapekan juga kayaknya. Heeh,, sambil kecapekan karena dia mungkin berjalan jauh kayaknya abis jalan jauh akhirnya dia capek akhirnya disitu dia istirahat sambil nutupin kepalanya. Yang dirasain dia ya.. emm.. mungkin hatinya sedih memikirkan nasibnya, kenapa dia seperti ini gitu kan.. ya mungkin dia.. dalam batinnya mempunyai keinginan seperti kayak orang layak kayak orang lain lah gitu. Hatinya sepertinya, mempunyai pikiran seperti itu. Bagaimana caranya supaya bisa menjadi kayak orang-orang yang di luar sana yang bisa merasakan kesenangan. Abis itu dia ya tetep berusaha untuk bisa merubah nasibnya dengan terus berjalan dan berjalan setelah dia istirahat itu. Sambil.. ya sambil merenungi nasibnya tapi dia tetep berjalan untuk berusaha supaya bisa tetap hidup untuk kedepan. Yang dipikirkan ya sambil merasakan lelah, capek, tapi dia harus terus berusaha untuk supaya tetap hidup. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II Seseorang berusaha Usaha untuk merubah Kebutuhan untuk menjadi untuk mengubah nasib nasibnya lebih baik dengan terus berjalan, setelah itu ia Merasa lemah beristirahat - Seorang laki-laki Perasaan yang menelungkup dengan tidak tahan beban yang membawa sesuatu dipikulnya di belakangnya. Ia tidak tahan karena merasa berat membawa yang Kebutuhan beristirahat dibelakang. Beristirahat dengan Perasaan pilu/sedih untuk

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 - Dia istirahat dengan perasaan sedih Perasaan tidak berdaya membawa hati yang Sedih memikirkan nasib pilu - Dia nelungkup karena sedih memikirkan nasibnya - kecapekan Memikirkan nasib Sambil dia nelungkup dan memikirkan Sedih memikirkan nasib Perasaan inferior nasibnya - Hatinya sedih memikirkan kenapa Keinginan nasibnya, memiliki orang Dia untuk menjadi sama dengan diterima/menjadi seperti ini - untuk Kebutuhan lain dan dengan orang lain untuk memikirkan caranya keinginan bisa Keinginan untuk lepas dari masalah menjadi layaknya sama orang Fantasy lain. Dia berpikir bagaimana caranya untuk bisa seperti orang-orang diluar yang merasakan kesenangan - Sambil merenungi Melanjutkan nasib dan ia berjalan sambil merenung usaha Keinginan untuk terus berusaha berusaha supaya bisa hidup ke depannya Merasa lelah, namun Keinginan untuk

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 - Ia merasa capek, tapi harus lelah, harus berusaha melaksanakan kewajiban tetap Perasaan lelah berusaha supaya tetap hidup Tema interpretif : jika seseorang memikul beban berat, dia akan merasa lelah dan memutuskan untuk istirahat sambil merenungi nasib. Namun demikian dia akan melanjutkan usaha Gambar 4 Kalo ini rumah tangga ya kayaknya ya.. kayaknya seorang suami isteri yang suaminya kelihatannya lagi marah, terus isterinya berusaha untuk.. ee… apa namanya.. untuk merayu lah ya untuk berbuat untuk bisa baikan, ee.. dengan cara apapun kayaknya dia merayu suaminya supaya bisa baik kembali dan mungkin supaya ga marah lagi lah, sepertinya seperti itu. Kayaknya kan isterinya udah rapi tu, kayaknya rapi mungkin kayaknya ngajak pergi gitu tapi mungkin kayaknya suaminya belum siap kan.. belum siap terus akhirnya mungkin suaminya diajak pergi terus akhirnya dia ga.. ga mau akhirnya suaminya marah kan dipaksa kayaknya seperti itu. Marah dipaksa, dia ga mau, akhrinya isterinya berusaha untuk ngajak, emm.. ngebaikin untuk ngajak. Tapi setelah itu, ya suaminya mau apa enggak ya?? Hehehe.. kayaknya si begitu isterinya.. berusaha untuk merayu, ngajak, kayaknya si suaminya terus mau.. heeh.. akhirnya pergi bareng. Yang dirasain ya, seketika itu isterinya merasa ya.. kesel juga ya, karena dianya sudah siap tapi suaminya kayaknya masih belum siap juga gitu kan, akhirnya dia marah, ya campur marah tapi.. ekspresinya campur marah tapi ya berusaha untuk tetep ngajak gitu untuk supaya mau. Setelah itu kayaknya suaminya siap terus mau karena di e… rayu sama isterinya akhirnya pergi juga bareng-bareng terus ya seneng lah dua-duanya. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II Isteri sudah rapi, Kebutuhan ingin diperhatikan mengajak untuk

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 suaminya pergi tapi suami belum siap. - Perasaan kesal karena Isteri merasa kesal pasangan belum Keinginan suami mempersiapkan diri karena dirinya Menolak oleh ajakan pasangan sudah siap. - diperhatikan pasangan masih belum siap padahal untuk Suami marah Perasaan ditolak jika karena dipaksa, memaksa orang lain/ akhirnya kebutuhan untuk diterima suami menolak - suaminya Berusaha Saat kelihatan meredam Kebutuhan marah, amarah pasangan untuk memperbaiki masalah si isteri berusaha untuk merayu - Isteri melakukan Berusaha membuat Kebutuhan afiliasi cara apapun agar hubungan baik kembali suaminya baik kembali dan tidak Ada marah lagi - perasaan marah Keinginan untuk marah vs. Dengan perasaan namun tetap berusaha kebutuhan untuk afiliasi bercampur marah, mengajak suaminya isteri Reaksi formasi tetap berusaha mengajak agar suaminya mau - Setelah dirayu Perasaan senang karena Kebutuhan suaminya akhirnya mau dan suami mau ikut untuk diperhatikan/ditemani

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 mereka pergi bersama. Perasaan keduanya senang. Tema interpretif : jika pasangan marah karena dipaksa melakukan sesuatu, maka dia akan melakukan segala cara untuk membujuk pasangan sampai akhirnya mau ikut. Gambar 6BM Ini apa ya, seorang anak sama ibu kayaknya ya.. kayaknya anaknya.. sedang mengutarakan sesuatu, tapi ibunya ga mau mendengarkan, akhirnya dia membelakangi anaknya. Mungkin kayaknya seperti anaknya punya… sesuatu yang harus disampaikan sama orang tuanya tapi orang tuanya kayaknya ga.. ga setuju dengan kata-kata dari anaknya makanya terus orang tuanya berpaling. Tapi anaknya kayaknya tetep mau berusaha untuk supaya ibunya tu mau untuk mendengarkan kata-kata dia. Gitu kayaknya seperti itu. Akhirnya.. kayaknya si.. ibunya tetep ga mau itu kayaknya tetep ga mau heeh.. yang dirasain anaknya ya kecewa. Heeh.. ya anaknya kecewa karena ibunya ga mau ee… ngedengerin katakata dia ya kayaknya ga menyetujui apa yang dia sampaikan. Sama si anaknya, dia berusaha untuk emm.. apa namanya em.. menyampaikan kata-kata itu dia berusaha kan supaya ibunya mau mendengarkan, jadi dia siap-siap mau menyampaikan apa yang dia sampaikan ke ibunya dengan berharap ibunya mau mendengarkan kata-kata dia, tapi akhirnya ibunya ga mau mendengar kata dia ya akhirnya anak itu penuh kekecewaan. Tema Deskriptif - Anak Tema Diagnostik I bersiap Bersiap-siap Tema Diagnostik II sebelum Rasa takut ditolak melakukan sesuatu menyampaikan kata-kata itu dan berusaha dan berharap supaya ibunya mau Kebutuhan diperhatikan untuk

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 - mendengarkan Ibu menolak Anak mendengarkan kata-kata fitur mengutarakan anak dan Penolakan pada membelakanginya sesuatu ibunya, mendengar. otoritatif Maka Ibu tidak setuju dengan membelakanginya perkataan anak tidak dengan figur rasa takut ditolak ibunya Ibu / namun ibunya tidak mau - otoritatif Penolakan dari figure otoritatif setuju perkataan anak dan akhirnya berpaling - Anaknya tetap Usaha yang dilakukan Keinginan berusaha agar agar ibu mau mendengar berhasil ibunya mau berakhir sia-sia untuk mendengar namun ibunya tidak mau mendengar - Karena ibunya Perasaan kecewa karena Perasaan kecewa akibat tidak mau tidak didengarkan mendengar anak penolakan merasakan kekecewaan Tema interpretif : jika seseorang telah berusaha mengutarakan sesuatu pada figur otoritatif, orang tuanya akan menolak untuk mendengar dan ia akan merasakan kekecewaan Gambar 7GF Ini seorang anak perempuan ya? Anak perempuan sama ibunya. Itu di kursi ya, di sofa.. anaknya buang muka kayaknya disuruh.. apa ya? Kayaknya si disuruh

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 belajar kayaknya ya.. disuruh belajar tapi anaknya ga mau ya.. disuruh belajar anaknya ga mau, terus ibunya berusaha untuk kayaknya buka-buka gitu kan ngeliatin pelajarannya supaya.. sambil menjelaskan, tapi anaknya tetap menoleh tetap ga mau. Walaupun ga mau akhirnya anaknya itu dirayu ya akhirnya lamalama mau,, heeh.. pada akhirnya anaknya mau, terus ya, belajar sama-sama sama ibunya, didampingin. Yang dilakuin anaknya sedang bermain, karena dia asyik sedang bermain, dipanggil sama ibunya disuruh belajar ya akhirnya ngambek kan, karena dia lagi baru asyik bermain, dipanggil sama ibunya untuk belajar bareng, ternyata dianya ga mau jadi ngambek gitu.. tapi pada akhirnya ya dianya mau juga sih.. heeh.. kayaknya gitu. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I sedang Melakukan Anak asyik bermain - Anak kegiatan Kebutuhan bermain untuk melakukan sesuatu yang disenangi dipanggil untuk Dipanggil untuk belajar, Kebutuhan untuk menolak ibunya belajar Tema Diagnostik II ajakan bersama, namun menolak Anak tidak mau pada akhirnya ngambek - - Anak buang muka Berusaha menghindar Keinginan karena tidak mau ketika disuruh belajar menghindari disuruh belajar tidak disukai Ibu terus berusaha Dibujuk hal yang untuk sambil membuka- melakukan buka untuk pelajaran namun menolak sesuatu, Keinginan menghindari untuk hal yang tidak disukai sambil menjelaskan, namun anak tetap tidak mau - Pada akhirnya Anak mau belajar Kebutuhan untuk ditemani

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 setelah dirayu dan dengan didampingi Keinginan untuk menuruti dibujuk anak mau permintaan/perintah belajar bersama- sama dengan didampingi ibunya. Tema interpretif : jika seseorang sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan ia akan memalingkan muka saat disuruh melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Namun demikian jika seseorang berusaha, lama kelamaan dirinya akan luluh juga. Gambar 8BM Ini apa ya?? Agak ga jelas.. hehehe… apa.. diruang dokter apa bukannya? Kayaknya bukan deh.. kayaknya sih… emm.. meninggal ya.. kayaknya sih kayak orang meninggal terus mau di buka apa bajunya itu kan kalo dibuka gini kan ga bisa karena udah kaku, jadi mau nyobek apa itu bajunya supaya terbuka, jadi di.. di heeh,, dipake apa itu dipake pisau ya.. mau buka bajunya. Kalo ga salah.. kalo yang buka.. ya kayaknya apa ya, dokter kali ya? Kayaknya dokter atau seperti kayak pendeta gitu. Yang buka karena mau buka baju supaya apa kalo orang meninggal gitu kalo diatasin kan ga bisa karena udah kaku, kayaknya yang buka seorang pendeta sih. Heeh.. waktu… gimana maksudnya? Ooo.. kayaknya kesulitan untuk membukannya sampe akhirnya apa itu tadi emm.. ada ada penghalang gini ya? Sampe berdua tapi ya tetep dia paksa buka juga sih. Emm.. sampe kesulitan gitu kan, kayaknya kesulitan untuk berusaha untuk ngebuka itu. Tapi diusahakan supaya tetep kebuka itunya sampe nyebrang-nyebrang apa itu ada penghalang, gitu.. kayaknya ada kayak kecelakaan ya.. kayak kecelakaan gitu, terus dibawa.. terus di itu yang sama penolong itu diliat udah meninggal, terus ditolong sama itu mau dibukain bajunya itu karena mau di apa itu mau dibersihin kayaknya, mau dibersih-bersihin jadi di buka dulu bajunya. Akhirnya setelah itu dibersihin, dibuka ya.. emm.. apa ya, dibawa ke keluarganya mungkin ke keluarganya sampe diserahin ke keluarganya itu setelah dibersih-bersihin betul

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 atau enggak ga tau deh umi. Yang dipikirkan sama tokohnya tadi ya berusaha supaya apa ini bersih-bersih, sampe bersih setelah itu kita kembalikan ke keluarganya. Gitu.. itu aja sih.. heeh.. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II kecelakaan, Menolong orang yang Keinginan Ada kemudian korban mengalami musibah dibawa. Karena dilihat sudah untuk menolong orang lain meninggal, akhirnya akan ditolong dibukakan untuk Dokter bajunya untuk menggunakan alat bantu menyelesaikan tugas dibersihkan. - pendeta Kebutuhan atau Dokter atau pendeta (pisau) karena cara biasa membuka sudah ingin baju orang meninggal tidak mungkin yang lagi dilakukan dengan menggunakan pisau karena jika dibuka dengan cara biasa tidak bisa karena tubuhnya sudah kaku - Dua orang kesulitan Kesulitan untuk membuka tugas melakukan Kebutuhan untuk lepas karena ada dari masalah bajunya karena ada penghalang penghalang - Mereka Denial tetap berusaha membuka Berusaha sambil menyelesaikan untuk Kebutuhan tugas berhasil untuk

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 - menyebrangi dengan penghalang itu penghalang Mereka berusaha Setelah melewati menyelesaikan Keinginan untuk tugas, membersihkannya diserahkan sampai untuk kemudian menyelesaikan pekerjaan ke pihak sampai tuntas bersih yang lebih berhak kemudian menyerahkannya kepada keluarga - Oleh keluarga jenazah dibersihkan Tema interpretif : jika seseorang ingin menolong orang lain, penghalang apapun akan dilewati dan tugas akan dikerjakan sampai selesai. Gambar 9GF Ini apa ya?? Kayaknya di pantai ya.. dipantai.. ini habis mandi, terus dia bawa bersih bersih abis rapi-rapi dia bawa anduk tu mau, ya mau kembali ke ini. Sebelumnya, kayaknya dia orang yang lagi.. ee.. apa ya orang yang lagi senang, terus kepingin keluar lah ke pantai, pengen cari suasana yang segar, ke pantai terus dia setelah itu dia renang, mandi, terus bersih-bersih, habis itu bawa anduk kan, bawa anduk udah itu selesai dia. Udah rapi-rapi gitu. Kayaknya ya, abis udah rapi-rapi gitu terus biasa ya abis itu ya duduk-duduk lah. Makan-makan, minumminum dengan suka cita dengan senang hati keliatan ekspresinya kayaknya lagi seneng deh. Yang dipikirkan kayaknya, ya kesenangan aja ya dia mikir supaya pada hari itu dia mempunyai kesengangan untuk sudah bisa apa namanya, emm.. melaksanakan keinginannya, kemauannya, dia ingin berenang, terus barengbareng seneng kayaknya ama.. ama temennya gitu kan setelah itu ya udah abis renang dia bersih-bersih rapi-rapi, setelah rapi gitu ya.. kembali santai lagi, nyantai lagi. Iya.. Tema Deskriptif Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 - yang Pergi untuk mencari Keinginan senang, suasana baru melakukan Orang sedang hal yang menyenangkan kemudian pergi ke pantai untuk untuk mencari suasana segar - Ia berenang dan mandi - berenang Setelah Setelah dan ia membersihkan badan mandi bersih-bersih dan membawa handuk - Setelah beraktivitas Need of order Makan dan minum Kebutuhan akan makanan (oral need) ia dengan suka cita itu makan dan minum dengan suka cita Senang bisa melakukan Keinginan dan senang hati - Ia merasa senang keinginan melakukan karena disenangi bisa untuk hal yang melaksanakan keinginan dan Senang kemauannya - bisa pergi Ia merasa senang bersama teman Kebutuhan karena ditemani/diperhatikan bisa untuk bersama-sama dengan temannya - Akhirnya kembali Kembali bersantai Keinginan santai lagi beristirahat untuk Tema interpretif : seseorang akan merasa senang jika ia menemukan suasana baru yang sesuai dengan keinginannya dan ditemani oleh seseorang. Gambar 10

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 Ini orang keluarga ya.. keluraga yang sedang merasakan kesedihan kayaknya. Dia berpelukan.. terus dengan pelukan itu kayaknya pelukan yang.. yang lagi penuh suka cita kayaknya. Yang penuh suka cita terus ya lagi mengalami apa namanya, kayak sedang mengalami musibah atau apa, akhirnya dia berpelukan dengan kayaknya prihatin gitu. Kayaknya sih ya kayak mendengar seperti apa ada keluarga yang meninggal.. heem.. seperti mendengar keluarga yang meninggal, begitu setelah dia mendengar, kayaknya dia berpelukan suami-isteri emm.. apa sih pelukannya kayaknya pelukan yang sangat prihatin. Pelukan yang lagi pelukan lagi duka kayaknya. Orang lagi duka.. setelah itu ya abis itu dia selesai itu ya, dia siap-siap untuk berangkat ke tempatnya yang.. tempat yang lagi dapet yang musibah itu. Yang dilakukan disana ya dia haru, dia sedih, dia harus menemukan orang-orang yang.. menemukan orang-orang yang terdekat. Orang-orang keluarga terdekat yang sedang emm.. emm.. merasakan kesedihan, disitu dia membaur dengan orang-orang yang sedang merasakan duka gitu. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I berduka Perasaan Merasa sedih Tema Diagnostik II karena Rasa takut ditinggalkan mendapat mendengar berita duka karena kabar ada keluarga yang meninggal - itu Berpelukan karena sedih Keluarga sedang merasa kesedihan Kebutuhan ditemani dan akhirnya berpelukan - Ia berpelukan Berpelukan dengan suka Kebutuhan afiliasi dengan suka cita, cita, perihatin dengan perihatin - Mereka bersiap- Mempersiapkan siap berangkat ke untuk berangkat tempat yang diri Need of order untuk

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 mengalami musibah - Disana dia terharu, Menemui dan membaur Kebutuhan merasa sedih, dengan orang lain menemukan orang berkumpul untuk dengan orang lain terdekat, membaur dengan orang yang Kebutuhan untuk merasakan duka merasakan kesedihan orang lain Tema interpretif : jika seseorang mendengar berita sedih dan merasa bersedih ia akan mencari orang terdekat untuk dijadikan teman berbagi duka Gambar 13MF Ini.. sakit ya kayaknya ya.. isterinya kayaknya lagi sakit, dia sedih ya kayaknya. Sedih karena ga ada orang lain kan Cuma dia berdua di situ. Kayaknya dia merasakaan kesedihan, jadi ga ada ya tempat mengadu, jadi dia nangis sendirian. Si suaminya itu.. sambil melihat isterinya yang lagi tertidur akhirnya ya dia keluar mungkin mencari pertolongan ke orang lain atau ke dokter misalnya kalo di rumah sakit. Kayaknya si seperti itu dia. Sebelum kejadian ini, dia merasa ga ada siapa-siapa, di rumah berdua, setelah itu walaupun dia sibuk walaupun kayaknya suaminya sibuk, tapi tetep berusaha untuk membawa isterinya ke rumah sakit.. setelah itu dirumah sakit, kayaknya isterinya ga sadar-sadar juga, akhirnya kayaknya suaminya sedih dan dia mau keluar untuk mencari dokter atau orang yang bisa menolong isterinya. Karena isterinya mungkin dibawa dari rumah dibawa ke rumah sakit itu kayaknya ga.. belum sadar-sadar juga kan masih tertidur seperti itu. Akhirnya mencari orang untuk.. untuk bisa menolong. Setelah mencari orang itu yang terjadi dokter atau orang itu langsung menolongnya dan setelah itu dia merasa lega karena sudah ada yang menolong. Sudah ada yang menangani. Seperti itu. Ee.. tetep masih belum sadar. udah heeh.. udah lega karena udah ada yang menolong.

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I sedang Perasaan sedih Isterinya sakit, hal membuat Ia Perasaan sedih ini suami Sedih karena tidak ada Kebutuhan sedih - Tema Diagnostik II untuk karena orang lain yang bisa ditemani sedih hanya berdua disitu, dijadikan tempat tidak ada orang lain, mengadu tidak ada tempat Regresi mengadu, maka dia menangis sendirian - sambil Mencari pertolongan ke Keinginan Suami isterinya, luar melihat akhirnya untuk ditolong orang lain keluar mencari pertolongan ke Keinginan orang lain - untuk Walaupun sibuk dia Melakukan usaha untuk menolong orang yang tetap membawa menolong pasangan disayangi isterinya ke rumah sakit - Sampai di rumah Keluar untuk mencari Kebutuhan sakit isterinya tidak bantuan untuk ditolong juga sadar, maka suami keluar untuk mencari bantuan - Dokter datang menolong, suami Perasaan merasa lega, namun pasangan demikian lega karena Perasaan lega karena telah mendapat pertolongan isteri mendapat pertolongan Represi

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 belum juga sadar Tema interpretif : seseorang akan merasa sedih jika dalam masalah berat tidak ada orang lain yang menolongnya Gambar 3GF Kayaknya dia rapih ya, habis pergi.. dia mau pulang ini.. pulang tapi kayaknya punya sesuatu hal yang.. yang diluar sana ya dia pulang sampe kayaknya nangis, dia mau pulang buru-buru tapi pintunya terkunci ya belum dibukain pintunya sampe kayaknya nangis kan di luar itu. Dia habis pergi, rumahnya terkunci, tapi belum ada yang bukain. Nangisnya kayaknya sih dia kalo ga masalah di tempat dia kerja, mungkin dalam perjalanan. Kayak ada masalah lah di pekerjaannya gitu. Jadi dia mau pulang.. dia sedih kan jadi mau pulang buru-buru sampe rumah, tapi belum dibukain pintu. Sebelumnya itu dia, eee.. setelah ada kejadian itu dia kayak terburu-buru kan kepingin pulang ya kepingin melampiaskan keinginannya dia kan kekeselannya dia. Mungkin kalo di rumah, sampe di rumah kan dia bisa apa namanya bisa ngadu sama yang di rumah, bisa ini tapi ternyata belum dibukain pintu jadi dia bisa nangis sendiri di luar. Sambil nunggu, mungkin sambil nunggu dibukain pintu ya. Karena dia kan dari pakeannya rapih, kayak abis pergi gitu. Tapi setelah itu sih dibukain, setelah itu dibukain, terus dia ya mencurahkan isi hatinya apa yang terjadi disana ya akhirnya begitu setelah dia ada yang bisa buat curhat, nah itu ya dia merasa, walaupun ee.. apa namanya masalahnya belom selesai tapi setidaknya dia udah bisa.. ada orang yang bisa dibuat ajak bicara, bisa diajak komunikasi sama dia. Kayak sepertinya si usianya udah segitu ya kalo ga ke suami ya ke anak-anaknya. Tema Deskriptif - Ada Tema Diagnostik I masalah Pulang karena Tema Diagnostik II ada Kebutuhan pekerjaan maka dia masalah melarikan mau pulang buru- masalah untuk diri dari buru - Dia ingin Keinginan untuk Keinginan untuk

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 melampiaskan keinginan melampiaskan kekesalan dan melampiaskan hal yang dipendam kekesalannya - Dia merasa sampai Merasa ada orang yang Kebutuhan di rumah ia bisa bisa tempat diperhatikan oleh orang lain dengan mengadu mengadu orang dijadikan yang untuk di rumah - Saat pulang pintu Pulang namun terkunci Merasa terkunci, maka ia diperhatikan tidak menangis di luar - pintu Mengeluarkan apa yang Setelah dibukakan ia dirasakan mencurahkan isi terdekat hati pada suami pada orang Need of affiliation Kebutuhan untuk diperhatikan atau anak-anaknya - Dia merasa akhirnya Perasaaan lega setelah Represi lega komunikasi walaupun masalahnya belum selesai, sudah mengajak karena bisa orang lain berkomunikasi Tema interpretif : jika seseorang mengalami masalah dia akan pulang dan mencurahkan isi hatinya pada orang rumah. Dengan demikian ia akan merasa lega Gambar 6GF Ini obrolan ya.. obrolan seorang suami dan isterinya gitu. Kayaknya obrolanobrolan yang.. kayaknya si yang penting juga sampe isterinya mau noleh gini sambil mendengarkan apa yang diceritakan suaminya. Begitu dia lagi asyik

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 duduk, dia lagi asyik duduk ya mungkin si isterinya lagi kerja juga mungkin kerjanya di rumah apa di kantor, kemudian tiba-tiba ada suaminya dateng, emm.. bicara masalah yang penting kayaknya sampe dia tiba-tiba nengok gitu kan sambil kaget lagian dia mendengarkan, emm.. sambil mendengarkan suaminya.. seperti itu. Dari ekspresinya seperti itu kaget heeh.. akhirnya dia ya ngobrol-ngobrolngobrol gitu akhirnya ya dia tanggap kan apa yang di sampein sama si suaminya, akhirnya dia memutuskan untuk mencari jalan keluarnya apa yang tadi dibicarakan sama suaminya. Setelah itu kayaknya dia ya terus pergi untuk mencari solusi. Atau menuju ke fokus yang dibicarakan tadi. Kelihatannya si belum ya. Kayaknya sih belum berhasil. Heem.. seketika itu belum berhasil. Tetep masih merasa belum.. belum.. belum lega ya karena masih belum mendapat keputusan.. belum.. belum.. apa sih, belum jalan keluarnya itu belum ada keputusan gitu, jadi masih belum pikirannya tu masih.. masih.. masih kepikiran dengan maslah yang dihadapi. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II Isteri sedang asyik Sedang asyik melakukan Kebutuhan otonom duduk sambil kerja pekerjaan di - rumah atau mendengarkan Denial kantor Kaget Suami datang masalah penting membicarakan maslaah dan isteri. penting Kebutuhan mengagetkan Isteri untuk mendengarkan pun mendengarkan suaminya. - Akhirnya mereka Usaha berusaha untuk keluar mencari solusi atau jalan keluar. mencari jalan Keinginan untuk menyelesaikan maslah

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 - Mereka menuju Melakukan penyelesaian Keinginan masalah fokus untuk menyelesaikan masalah permasalahan, namun masih Perasaan Mereka khawatir karena masalah belum karena masalah belum belum berhasil - khawatir Perasaan merasa selesai selesai belum lega karena belum keputusan masih mendapat dan kepikiran masalah. Tema interpretif : jika mengalami masalah, seseorang akan merundingkan masalahnya dan mencari solusi, namun jika solusi belum berhasil, maka tidak akan merasa lega dan memikirkan masalah Gambar 8GF Ni kayaknya seorang gadis,, ya sedang merenung ini kayaknya. Ini dia sendiri, ga punya.. ga punya temen deket kayaknya. Ga punya temen deket dia merenung ya sambil mengkhayal lah. Yang dikhayalkan sambil kayak ya seandainya malem ini saya punya pacar, bisa, saya bisa keluar bisa pergi sama.. tidak seperti sekarang saya sendiri gitu. Ya seperti itu. Sebelum dia merenung kayaknya ni dia berpikir mau kemana ya, malemini saya mau kemana ya gitu. Sedangkan kayaknya pacar ga punya gitu kan. Mungkin punya temen-temen juga temen-temen punya acara sendiri-sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk menyendiri. Jadi ga keluar.. ah.. akhirnya dia merenung dia. Yang dirasakan selama merenung ya itu, kayaknya berpikir, ya mengandai andai aja. Ya seandainya saya punya pacar saya malemini bisa keluar ga seperti sekarang saya duduk sendiri merenung gitu kan. Sambil melihat, ya.. terangnya malem itu kan. Hehehe.. dia sendirian disitu duduk. Akhirnya setelah itu dia jenuh bosen ya dia masuk ke rumah. Yang dirasakan sambil gelisah lah ga mungkin buru-buru bisa tidur sambil gelisah, sambil memikirkan kesana-kemari ya lama-lama ngantuk ya dia tidur juga.

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Seorang Perasaan bingung karena gadis bingung akan pergi sendirian kemana malam ini, Kebutuhan karena tidak punya ditemani Merasa pacar - Tema Diagnostik II ditinggalkan ia teman-teman Kecemasan ditinggalkan Sementara itu merasa teman- Kebutuhan punya berkumpul temannya untuk untuk acara sendiri, jadi ia Denial memutuskan untuk menyendiri. - merenung Merasa Ia sendirian, tidak kenapa teman punya Keinginan untuk ditemani tidak punya teman dekat dan Fantasy mengkhayal punya pacar malam hari Perasaan senang jika ada Kebutuhan ini - Ia jika yang menemani merasa ditemani punya pacar ia bisa keluar dan tidak hanya termenung - Karena jenuh dan Perasaan jenuh, bosan, Perasaan gelisah bosan ia masuk ke dan gelisah dalam, namun demikian ia gelisah dan tidak bisa langsung tidur - Lama kelamaan ia Keinginan untuk Represi untuk

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 mengantuk dan beristirahat akhirnya tertidur Tema interpretif : jika seseorang tidak memiliki pasangan yang mengajak pergi keluar, ia akan merenung dan mengkhayal. Selain itu ia akan merasa gelisah

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 Variabel Tema Utama Kartu 1 Kebutuhan sosok otoritatif, kebutuhan ditemani, kebutuhan order, kebutuhan untuk menyelesaikan tugas, agresi, keinginan untuk istirahat, keinginan untuk ditolong Kartu 2 kebutuhan ditemani, kebutuhan order, kebutuahan untuk melakukan hal yang menyenangkan, kebutuhan religiusitas Hero Utama Age : anak-anak Sex : laki-laki Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : memainkan biola Adekuasi : √√ Citra tubuh : Behavioral need hero : kebutuhan untuk berhasil Figur yang dilibatkan : orang tua/teman Kebutuhan akan : dukungan/ditemani Figur yang diabaikan : biola Kebutuhan akan : menolak realita Age : muda Sex : perempuan Pekerjaan : Minat :Sifat : Kemampuan : Adekuasi : √√ Citra tubuh : Konsepsi Lingkungan Significant Other Kebutuhan Utama Kartu 3BM kebutuhan untuk menyelesaikan tugas, kebutuhan untuk menjadi sama dengan orang lain, kebutuhan untuk jadi lebih baik, keinginan untuk lepas dari masalah, keinginan untuk berusaha, keinginan untuk istirahat Age : muda Sex : laki-laki Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : O Citra tubuh : - Kartu 4 kebutuhan ditemani, kebutuhan untuk diperhatikan, kebutuhan afiliasi, agresi, kebutuhan untuk menjadi sama dengan orang lain, keinginan untuk menyelesaikan masalah Behavioral need hero : kebutuhan religiusitas (oral) Figur yang dilibatkan :Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : tokoh lain Kebutuhan akan : penolakan pada realita Behavioral need hero : Memikul tanggung jawab Figur yang dilibatkan : orang lain Kebutuhan akan : diterima Figur yang diabaikan : pistol Kebutuhan akan : agresi yang ditekan Behavioral need hero : keinginan memperbaiki masalah Figur yang dilibatkan :Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan :Kebutuhan akan :- Penghambat Pemberi kesenangan Beban Sesuatu yang tidak dapat diatur Figur : orang tua Dilihat sebagai : pengabai Reaksi subyek : kecewa/marah Figur : teman sebaya Dilihat sebagai : orang yang tidak menemani Reaksi subyek : merepres Figur : teman sebaya Dilihat sebagai : orang yang ingin disamai Reaksi subyek : mengkhayal Figur : sebaya Dilihat sebagai : pasangan yang pemarah Reaksi subyek : merayu untuk memperbaiki hubungan Kebutuhan untuk jadi sama dengan orang lain dengan keinginan untuk lepas dari masalah Kesusahan, tidak berdaya, ditolak Agresi dengan keinginan untuk dituruti Figur : teman sebaya Dilihat sebagai : pengabai Reaksi subyek : kecewa Age : dewasa Sex : wanita Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Konflik yang Menonjol Keinginan untuk berhasil dengan kebutuhan untuk didukung Asal Kecemasan Ditolak Ditinggalkan MPD Reaksi formasi, Represi, Denial Represi, Fantasi Represi Super Ego Tidak adil, terlalu keras segera, terlalu ringan segera, terlalu keras Adekuasi Ego Akhir cerita : bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : adekuat (√√√) Akhir cerita : bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : adekuat (√√) Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Ada, segera, adil, terlalu ringan Akhir cerita : bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : adekuat (√) Ditolak, Tidak dicintai

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 Kartu 6BM Kebutuhan diperhatikan, kebutuhan order, keingian untuk berhasil, super ego kuat Kartu 7GF kebutuhan ditemani, keinginan untuk lepas dari masalah, kebutuhan untuk belajar, kebutuhan untuk menolak, kebutuahan untuk melakukan hal yang menyenangkan Kartu 8BM Kebutuhan untuk menolong orang lain, kebutuhan untuk menyelesaikan tugas, kebutuhan untuk jadi lebih baik, keingian untuk berhasil Kartu 9GF kebutuhan ditemani, kebutuhan order, kebutuahan untuk melakukan hal yang menyenangkan, keinginan untuk istirahat, keinginan untuk makan Age : pemuda Sex : laki-laki Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : laki-laki Pekerjaan : pendeta/dokter Minat :Sifat : penolong Kemampuan : Adekuasi : √√ Citra tubuh : - Age :dewasa muda Sex : perempuan Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Behavioral need hero : keinginan untuk di dengar Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Age : anak-anak Sex : perempuan perempuan Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √√ Citra tubuh : Behavioral need hero : kebutuhan untuk bermain Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : kebutuhan untuk menolong Figur yang dilibatkan : penghalang Kebutuhan akan : kecemasan dihalangi Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : kebutuhan untuk bersenangsenang Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Penolak keinginan Pembatas keinginan Pembatas keinginan Sesuatu yang menyenangkan Figur : orang tua Dilihat sebagai : penolak Reaksi subyek : kecewa Figur : orang tua Dilihat sebagai : pemberi perintah Reaksi subyek : awalnya menolak Figur : sebaya Dilihat sebagai : yang ditolong Reaksi subyek : melakukan segala cara untuk menolong Figur : sebaya Dilihat sebagai : yang menemani Reaksi subyek : senang Kebutuhan untuk dipahami namun mendapat penolakan Keinginan untuk menolong dengan rasa cemas akan dihalangi - Ditolak Keinginan untuk bermain dengan keinginan untuk mengikuti perintah orang tua Dipaksa Dihalangi Kesusahan - Denial Denial - langsung, tidak adil, terlalu keras Akhir cerita : tidak bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) - segera, tidak adil, terlalu keras Akhir cerita : bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : adekuat (√) - Akhir cerita : bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : adekuat (√) Akhir cerita : bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : adekuat (√)

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 Kartu 10 kebutuhan ditemani, kebutuhan afiliasi, kebutuhan untuk berempati, kebutuhan order Kartu 13MF kebutuhan ditemani, Kebutuhan untuk menolong orang lain, keinginan untuk ditolong Kartu 3GF kebutuhan untuk diperhatikan, kebutuhan afiliasi, keinginan untuk lepas dari masalah, kebutuhan untuk memuaskan keinginan Kartu 6GF Keinginan untuk mendengar orang lain, keinginan untuk menyelesaikan masalah, keinginan untuk mandiri Kartu 8GF kebutuhan ditemani, kebutuhan akan cinta, Age : dewasa Sex : perempuan Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : O Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : laki-laki Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Age : muda Sex : wanita Pekerjaan : pegawai kantoran Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : O Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : wanita Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : wanita Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Behavioral need hero : kebutuhan afiliasi Figur yang dilibatkan : keluarga yang ditinggalkan Kebutuhan akan : empati Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : perasaan bersalah Figur yang dilibatkan : dokter Kebutuhan akan : dibantu Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : kebutuan untuk dimengerti Figur yang dilibatkan : pasangan dan anak-anak Kebutuhan akan : dimengerti Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : kebutuhan untuk menyelesaikan masalah Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan : Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : kebutuhan bersenangsenang Figur yang dilibatkan : teman/pasangan Kebutuhan akan : ditemani Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Pengambil kebahagiaan Hal yang menyedihkan Sesuatu yang membebani Hal yang mengkhawatirkan Hal yang mengkhawatirkan Figur : sebaya Dilihat sebagai : suami yang menemani Reaksi subyek : memeluk sambil menangis Figur : sebaya Dilihat sebagai : pasangan yang sakit Reaksi subyek : menangisi Figur : sebaya Dilihat sebagai : pasangan yang mendengarkan Reaksi subyek : merasa lega Figur : sebaya Dilihat sebagai : pemberi masalah Reaksi subyek : memikirkan masalah Figur : sebaya Dilihat sebagai : orang yang seharusnya ada Reaksi subyek : gelisah, mengkhayal Figur : sebaya Dilihat sebagai : dokter yang menolong Reaksi subyek : meminta bantuan Keinginan untuk ditolong namun cemas tidak ada yang menolong Figur : lebih muda Dilihat sebagai : anak yang mendengarkan Reaksi subyek : merasa lega Ingin bersenang-senang namun tidak ada teman Kesusahan Ditinggalkan, tidak berdaya tidak berdaya, kesusahan Melakukan hal yang disenangi dengan keinginan untuk menyelesaikan masalah Kegagalan - Regresi, Represi Represi - Represi, denial, fantasi Tidak adil, terlalu keras, segera Akhir cerita : tidak bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : adekuat (√) segera, terlalu keras Tidak adil, segera, terlalu ringan Akhir cerita : bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) segera, tidak adil, terlalu ringan Akhir cerita : tidak bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Tidak adil, segera, terlalu keras Akhir cerita : tidak bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : adekuat (√) Figur : sebaya Dilihat sebagai : orang yang ditinggal mati Reaksi subyek : menemani - Akhir cerita : bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) - Ditinggalkan, tidak dicintai

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI RESPONDEN II 134

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 Gambar 1 Itu gambar orang nelpon.. lagi… termenung ya? Mungkin mikirin sesuatu. Iya.. yang dipikirin mungkin ada keinginan ya untuk maju gitu. Yang dirasain ya maunya marah.. gitu.. iya.. memikirkan sesuatu.. ya mungkin dia mikir sesuatu. Iya.. yang dilakukan ya dia pengen.. pengen berhasil.. jadi dia itu ya termenung karena dia itu pengen berhasil. Jadi pikirannya yah pusing memikirin sesuatu yang untuk berhasil. Iya.. ya tidak karena dia.. karena tidak berhasil jadi dia itu termenung. Iya.. iya.. ya pusing, mikirin sesuatu karena dia tidak berhasil jadi pikirannya kan.. ya negative.. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Orang sedang Memikirkan sesuatu Tema Diagnostik II Kecemasan akan sesuatu termenung memikirkan sesuatu Dia ingin untuk maju - pikirannya pusing Memikirkan Keinginan untuk karena memikirkan keberhasilan berhasil sesuatu untuk Fantasy ingin Perasaan marah Agresi yang ditekan tidak Merengungi kegagalan Represi berhasil - Ia merasa marah - Karena berhasil ia termenung, merasa pusing, pikirannya negative Tema interpretif : jika orang ingin maju, ia hanya akan merenung dan memikirkannya, ketika tidak berhasil ia merasa pusing Gambar 2

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 Gambar ibu ya.. kurang ini deh.. ibunya lagi.. oh, guru ya? Yang dilakuin, untuk mengajar, mengajar muridnya. Biar pinter, biar berhasil. Yang dirasakan sama ibu guru itu, tadi marah ya kayaknya ya. Marah karena muridnya itu mungkin males. Iya.. iya.. sebelum dia ngajar yang dilakukan mungkin membaca buku kali ya. Yang dirasakan.. gimana ya? Yang dirasakan kenapa ya dia? Ya mungkin yang dirasakan itu biar supaya muridnya pintar gitu. Iya.. akhirnya ya gurunya karena dia ini biar supaya pinter lah anaknya gitu. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Seorang guru Mempersiapkan membaca buku sebelum sebelum mengajar - diri Kebutuhan untuk melakukan berhasil sesuatu Dia ingin muridnya Ingin menjadikan orang Keinginan pintar, berhasil lain lebih baik - Tema Diagnostik II menolong orang lain Ia merasa marah Perasaan marah Agresi karena Keinginan muridnya malas untuk untuk mendominasi Rasionalisasi - Guru ini mengajar Mengajar muridnya agar pintar pintar dan berhasil agar murid Keinginan untuk mendidik orang lain Proyeksi Tema interpretif : seorang akan melakukan apa saja untuk membuat orang lain berhasil dan akan marah jika orang yang diajak sukses malas Gambar 3BM Ga ngeliat mas orang apa.. apa ya?? Orang.. digambar orang lagi.. menunduk apa? Lagi mikir sesuatu. Yang dipikirkan mungkin dia punya cita-cita. Iya. Mungkin cita-cita itu mungkin ga berhasil. Iya.. ya mungkin yang dirasakan pusing mas. Karena dia ga berhasil. Yang dilakukan dia itu kayaknya marah ya.. apa bagaimana? Marah mungkin? Apa dia itu pusing mikirin sesuatu kali mas. Terhadap apa yang dia cita-citakan. Termenung iya. Akhirnya ya mungkin biasa

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 aja kali mas orangnya. Iya. Ga karena dia ga berhasil kan. Mau diapain lagi kan. Iya mungkin. Ga bisa melakukan sesuatu yang.. pingin berhasil karena kan termenung itu dia kan. Iya mungkin. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Seorang sedang Memikirkan menunduk sesuatu Keinginan yang tidak tercapai memikirkan mencapai untuk sesuatu (achievement) sesuatu. memiliki Tema Diagnostik II Ia cita-cita namun tidak berhasil tercapai - Karena tidak Perasaan marah Agresi berhasil ia akhirnya marah - Merasa Ia pusing Kecemasan akan masa pusing memikirkan keinginan memikirkan yang depan apa dicita- citakannya - Akhinya ia merasa karena gagal meraih Denial biasa saja, karena keinginan merasa tidak merasa tidak bisa melakukan apa-apa berhasil, tidak bisa lagi diapa-apakan lagi - Ia tidak bisa Fantasy melakukan sesuatu, Merenung karena gagal Represi ingin berhasil maka mencapai keinginan termenung Tema interpretif : jika seorang gagal mendapat apa yang dicita-citakan, maka ia akan marah dan pusing sambil merenunginya, namun demikian jika ia tetap gagal ia hanya pasrah.

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 Gambar 4 Suami isteri.. itu keluarga bahagia kali itu ya. Karena dia sukses. Karena dia mungkin seksualnya memenuhi gitu, suami dan isteri gitu. Jadi dia bahagia tu. Kayaknya lagi duduk bersama deh. Mengobrol kali ya? Ngobrol-ngobrol. Perasaannya bahagia.. iya. Namanya keluarga bahagia itu, harmonis. Rumah tangganya.. iya.. iya harmonis dia keluarga harmonis. Heem.. ya rin akhirnya ya itu dia gembira. Tidak ada suatu apapun dia. Yang dipikirin. Iya. Bahagia.. Tema Deskriptif - - Tema Diagnostik I Suami isteri bahagia Bahagia karena sukses Terpenuhinya karena sukses achievement Kehidupan seksual Bahagia karena terpenuhi, seksual Need of sex maka kehidupan mereka bahagia - terpenuhi Mereka sedang duduk bersama sambil ngobrol- Kebutuhan melakukan hal bersama Perasaan mereka yang harmonis bahagia karena rumah tangga keluarga untuk Bahagia karena keluarga Need of affiliation ngorol - Tema Diagnostik II itu harmonis - Pada akhirnya dia Tidak memikirkan apa- Denial gembira, tidak ada apa hanya bahagia sesuatu dipikirkan, yang hanya bahagia Tema interpretif : jika suami isteri sukses, kehidupan seksual terpenuhi, maka keluarga itu merupakan keluarga bahagia dan tidak memiliki hal yang dipikirkan lagi

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 Gambar 6BM Ini ibunya marah ya.. marah ke suaminya. Mungkin hidupnya ga harmonis. Ya mungkin ibunya tu sesuat.. ada sesuatu yang ga dipenuhi gitu kan.. jadi.. heeh, si ibu tu kayaknya marah dengan suaminya karena mungkin ga dipenuhi kali. Iya.. heeh.. kayaknya sih itu. Ya mungkin ada sesuatu dia yang apa.. dia mau ga dicukupin gitu ama suaminya. Iya sama suaminya. Kesal.. ya mungkin mikir keinginan dia yang di.. ga dicapai.. pingin dia tu.. cita-citanya ga tercapai gitu kan. Akhirnya berantakan.. hehe.. berantakan rumah tangganya. Ya begitulah karena ga diinginkan cita-citanya itu ga dipenuhi, dari isterinya itu ada permintaan ga dipenuhi mungkin. Yang dirasakan kesal. Iya.. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Tema Diagnostik II Ibu marah kepada Marah karena keinginan Agresi suaminya karena tidak terpenuhi Oral need tidak terpenuhi ada sesuatu yang diinginkan tidak dipenuhi - Hidup mereka Merasa tidak harmonis - tidak Konsekuensi tindakan hidup harmonis Ada sesuatu yang Merasa kesal karena ada Need of achievement tidak dickupi oleh sesuatu suaminya, yang tidak dipenuhi suami sehingga ia maresa kesal - Cita-cita gagal tercapai Cita-cita yang diinginkan tidak Need of achievement tercapai - Pada rumah akhirnya Hubungan tangga berantakan menjadi berantakan dan ada perasaan kesal menjadi Displacement dan ada

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 perasaan kesal Tema interpretif : jika permintaan tidak dipenuhi pasangan, maka seseorang akan merasa kesal. Pada akhirnya hidup akan menjadi tidak harmonis dan keluarga menjadi berantakan Gambar 7GF Itu anak-anak masa kecil ya.. coba-coba ga ngeli.. ga begitu ngeliat.. lagi duduk. Lagi duduk lagi gembira ya. Gembira karena dia sukses mungkin dia ininya keinginannya dia mungkin udah dipenuhi sama bapaknya. Dia itu senang dia. Iya. Heeh itu. Ya mungkin dia punya keinginan apa yang dia pengen langsung bapaknya itu mencukupi untuk dia makanya dia senang. Iya.. setelahnya ya gembira. Anak itu jadi mungkin bahagia, gembira dia. Karena keinginan udah dipenuhi sama orang tuanya dia gembira. Heeh kan terlihat senang dia. Kayaknya.. dipikirkan anak ini ya senang dia, hidupnya.. iya.. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Anak kecil ingin Ingin bapaknya Tema Diagnostik II dipenuhi Oral need kebutuhannya memenuhi keinginannya - Kebutuhan untuk Ia sedang duduk Merasa gembiran karena diperhatikan gembira karena keinginan terpenuhi merasa sukses keinginannya dipenuhi oleh bapaknya - Ia merasa apapun Merasa yang dia inginkan diinginkan - hal yang Oral need langsung langsung dicukupi tersedia Kebutuhan oleh bapaknya diperhatikan Karena untuk keinginan Perasaan gembira karena Perasaan bahagia karena

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 sudah dipenuhi keinginan dipenuhi diperhatikan oleh orang tuanya ia gembira dan Need acquisition senang hidupnya Tema interpretif : seorang akan merasa bahagia jika apapun yang diminta langsung dipenuhi oleh orang yang memiliki otoritas lebih tinggi darinya Gambar 8BM Aduh.. orang lagi diapain itu.. operasi apa? Ga tau ya orang lagi diapain mas.. apaan mas? Dibunuh ya? Eh.. dioperasi mungkin.. karena punya penyakit. Iya. Yang dirasakan mungkin biar dia sembuh, lalu dioperasi. Berusaha dengan dioperasi. Akhirnya karena dia udah dioperasi, sehat ya dia itu.. bahagia.. heeh.. senang.. iya.. awalnya sakit.. iya, dia itu mikirkan sakit memang. Pengen.. perasaannya pengen sembuh. Iya. Pengen sembuh total.. iya.. penyakit mungkin begitu. Iya, sembuh.. penyakit.. iya.. waktu dia sakit itu penyakit.. sebelum dioperasi kan mungkin. Ya kalo udah dioperasi mungkin ga ada. Karena penyakitnya itu kan udah.. udah diangkat gitu.. iya.. iya.. mungkin.. enggak.. Tema Deskriptif - Ada Tema Diagnostik I seseorang Memikirkan Tema Diagnostik II masalah Perasaan tidak berdaya yang sedang sakit, yang dihadapi ia memikirkan penyakitnya. - Dia berkeinginan Keinginan untuk lepas Kebutuhan untuk lepas untuk sembuh total dari masalah dari masalah dari penyakitnya - Ia dioperasi agar Melakukan sembuh penyakitnya - Akhirnya dari untuk sesuatu Keinginan menyelesaikan menyelesaikan masalah masalah karena Merasa telah dioperasi ia masalah untuk lega karena Denial telah

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 tidak memikirkan diselesaikan penyakitnya karena penyakitnya sudah diangkat Tema interpretif : jika seseorang mengalami masalah berat, ia akam memikirkan masalahnya dan berusaha untuk menghilangkan masalahnya. Ketika ia berpikir masalahnya telah hilang ia akan kembali tenang Gambar 9GF Kurang tau ini ya mas ya.. bu guru apa?? Aduh.. coba lagi mas.. matanya ga ini.. ini telpon ya mas ya?? Oke.. kurang tau ya mas itu ya.. buku ama telpon bukan? Kayaknya marah itu ya? Yang marah yang ibunya itu ya? Yang gede itu.. marahin anaknya kali.. mungkin iya. Mungkin.. mungkin anaknya nakal mungkin. Iya mungkin yang dilakukan anaknya mungkin dia melakukan yang ga benar. Begitu.. jadi iya.. marah mungkin.. kayaknya.. anaknya? Anaknya kesel kali. Yang terjadi berikutnya itu ibunya kan ngejar-ngejar kan. Iya.. ngejar-ngejer anaknya karena ibunya marah. Mungkin. Iya. Kesel.. yang dipikirkan ya kesal. Iya kesel.. yang terjadi ya.. ya jadi ga benar lah. Ga benarnya karena anaknya nakal gitu. Mungkin yang terjadi ibunya kesal.. karena perbuatan anaknya nakal. Iya.. Tema Deskriptif - Ibu Tema Diagnostik I memarahi Memarahi anaknya karena dibawahnya Tema Diagnostik II orang Agresi karena Keinginan anaknya nakal dan melakukan kesalahan mendominasi melakukan hal yang tidak benar - Anaknya merasa kesal - Kemudian mengejar karena Mengejar karena marah ibunya anaknya sedang Agresi untuk

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 143 marah - Yang terjadi berikutnya benar Represi tidak karena anaknya nakal Tema interpretif : seseorang kan marah jika orang yang dibawahnya melakukan hal yang tidak sesuai dengan aturan. Gambar 10 Ga tau ya mas ini ya orang lagi.. orang lagi.. kasih sayang sama isteri ya? Mungkin karena isterinya baik ya mungkin ya jadi ya memberikan kasih sayang.. suaminya terhadap isteri. Yah, baiknya seperti yang melakukan semuanya yang dia mau diberikan kepada suami gitu. Yang dilakukan itu kasih sayang dengan suaminya. Perasaannya gembira.. iyah.. yang jadi berikutnya ya dia ya senang aja begitu.. gembira gitu. Ga ada.. iya.. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Seorang Tema Diagnostik II yang Memberi kasih sayang Need of sex sedang kasih sayang pada pasangan dengan isterinya - Isterinya baik maka Diberi diberikan kasih sayang Conditional love kasih karena melakukan hal Oral need terpenuhi sayang dari suami yang baik terhadap isteri - Isterinya karena baik Melakukan semua yang Kebutuhan melakukan diinginkan semua diinginkan dicintai yang kepada suami - Berikutnya mereka Merasa merasa gembira dan senang gembira dan Denial untuk

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 144 senang Tema interpretif : jika seseorang melakukan apa yang dimau pasangannya, maka ia akan mendapatkan kasih sayang dan merasa senang Gambar 13MF Aduh.. bapak menangis karena isteri sakit. Yang jadi sebelumnya mungkin ga punya biaya kan ke rumah sakit biaya untuk ke rumah sakit. Mungkin itu sedih. Menangis karena kan dia sedang membutuhkan biaya untuk ke rumah sakit, mungkin dia ga punya biaya. Dia nangis kan.. iya.. yang dirasakan ya sedih karena ga punya biaya untuk ini apa namanya.. biaya ke rumah sakit. Iya.. iya.. nangis kan.. berikutnya yang terjadi ya dia itu nangis, karena ga punya biaya. Setelah menangis kesal mungkin.. iya.. kesal ga punya biaya mungkin.. iya.. sedih.. iya.. Cuma ya begitu termenung, nangis. Tema Deskriptif - Pasangan isteri Tema Diagnostik I suami Tidak yang tidak kemampuan memiliki untuk Tema Diagnostik II memiliki Keinginan untuk menyelesaikan masalah biaya menyelesaikan masalah kerumah sakit - untuk Perasaan Bapak takut merasa Menangis karena isteri ditinggalkan sedih ia menangis sakit karena Need of affiliation isterinya sakit - Ia menangis karena Menangis karena tidak Perasaan tidak mampu sedang mampu membutuhkan biaya namun tidak punya - Karena tidak punya Menangis, biaya ia kesal, Regresi hanya termenung karena tidak

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 menangis, kesal, bisa dan termenung. menyelesaikan masalah Tema interpretif : jika ketika menghadapi masalah seseorang merasa tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah, maka ia akan menangis, merasa kesal, dan termenung Gambar 3GF Itu isteri menangis. Isteri menangis karena mungkin ama suami kali ga dipenuhi. Yah, mungkin dari segi hal ekonomi. Iya.. iya.. dah itu menangis. Kesal, dia sedih.. mungkin.. karena ekonominya ga dipenuhi. Sebelum menangis yang terjadi ya kesal. Sama aja.. iya.. iya mungkin. Ya bisa jatuh sakit. Begitu.. Iya sakit.. yang dirasakan pusing. Yang dirasakan pusing dia. Ya perasaannya pusing dia memikirkan sesuatu yang ga dipenuhi sama suami. Iya jatuh sakit lah. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Seseorang yang Perasaan merasa kesal pasangan kesal Tema Diagnostik II pada Agresi dengan suaminya - Isteri menangis Menangis karena Oral need karena suami tidak kebutuhan dapat ekonomi memenuhi tidak terpenuhi kebutuhan ekonomi - Ia merasa pusing Perasaan cemas karena karena memikirkan Pusing sesuatu yang tidak sesuatu dipenuhi suaminya - memikirkan keinginan yang tidak tidak terpenuhi terpenuhi Akhirnya ia jatuh Sakit karena keinginan Konsekuensi karena oral sakit gagal terpenuhi need tidak terpenuhi Tema interpretif : jika kebutuhan ekonomi tidak dipenuhi pasangan, seseorang kakn merasa kesal dan menangis. Akhirnya ia merasa pusing dan jatuh sakit Gambar 6GF

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146 Ini ibu.. ibu marah kan? Kepada suami.. itu mau ke kantor yah? Kayaknya mau ke kantor. Iya kayaknya mau ke kantor apa kemana itu.. kayaknya ke kantor. Mungkin dia mau berangkat mungkin kesiangan mungkin mau ke kantor dia marah mungkin ya.. karena kesiangan dia kan ke kantor. Sehingga sama suami marah kan. Iya, yang terlambat mungkin. Karena ga disiplin waktu.. iya.. waktu ma.. kesal.. iya.. dia kesal, yang dipikirkan ya dikerjaan untuk kerja.. kerja.. iya.. yang terjadi berikutnya.. ga tau tu mas.. hehehe.. ya mungkin kekesalan itu kesal sama suami. Enggak.. Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Seorang ibu Terlambat terlambat Tema Diagnostik II ketika Agresi ketika berangkat kantor Reaksi formasi ke ingin berangkat ke marah pada pasangan kantor, marah kepada suaminya - Ia marah karena Marah karena tidak Agresi kesiangan dan tidak disiplin waktu Rasa takut gagal bisa disiplim waktu - Ia hanya Memikirkan memikirkan pekerjaannya sambil pekerjaan Need of achievement kesal pada dan pasangan merasa kesal pada suaminya Tema interpretif : jika seseorang tidak dapat disiplin waktu, maka ia akan marah terhadap orang yang paling dekat dengan dirinnya Gambar 8GF Lagi termenung dia memikirkan sesuatu.. mungkin dipikir sesuatu dia mikir sesuatu yang ga tercapai mungkin. Iya.. iya.. pengen sukses lah.. sebelum termenung dia yang lakukan dia pingin keinginan tercapai dia. Iya.. iya.. ya ada penyesalan gitu.. yang terjadi ya memikirkan ya pusing dia. Heem.. iya.. perasaan kesal mungkin.

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 147 Tema Deskriptif - Tema Diagnostik I Seseorang memilki Memiliki keinginan Tema Diagnostik II keinginan Need of achievement yang yang tidak tercapai tidak tercapai - Ia memikirkan hal Memikirkan keinginan Kebutuhan achievement yang tidak mungkin itu tercapai itu - Ia merasa menyesal, Merasa menyesal dan Perasaan menyesal kesal dan pusing kesal Agresi memikirkannya Tema interpretif : jika keinginan tidak tercapai, seseorang akan merasa pusing memikirkannya, merasa menyesal dan akan merasa kesal

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 148 Variabel Tema Utama Kartu 1 Kebutuhan untuk berhasil, agresi Kartu 2 Agresi, kebutuhan untuk menolong orang lain, kebutuhan untuk mendidik orang lain, need of order Kartu 3BM Agresi, kebutuhan pencapaian Hero Utama Age : anak-anak Sex : laki-laki Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √√ Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : perempuan Pekerjaan : Minat :Sifat : Kemampuan : Adekuasi : √√ Citra tubuh : Age : dewasa Sex :Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : O Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : wanita Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Kebutuhan Utama Behavioral need hero : achievement, fantasy; agresi Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan : dukungan/ditemani Figur yang diabaikan : biola Kebutuhan akan : menolak realita Behavioral need hero : agresi Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : pistol Kebutuhan akan : agresi yang ditekan Behavioral need hero : need of sex Figur yang dilibatkan :Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan :Kebutuhan akan :- Konsepsi Lingkungan Target yang harus dicapai Behavioral need hero : agresi, kebutuhan mendominasi Figur yang dilibatkan : murid Kebutuhan akan : mendominasi Figur yang diabaikan : tokoh lain Kebutuhan akan : penolakan pada realita Penghalang keinginan Sesuatu yang sulit diraih Pemuas keinginan Significant Other Figur : Dilihat sebagai : Reaksi subyek : - Figur : lebih muda Dilihat sebagai : murid yang malas Reaksi subyek : marah Figur : Dilihat sebagai : Reaksi subyek : - Figur : sebaya Dilihat sebagai : pasangan yang memenuhi kebutuhan Reaksi subyek : bahagia Konflik yang Menonjol Keinginan untuk maju dengan kurangnya usaha Keinginan untuk menolong, tapi tidak direspon - Asal Kecemasan Kesusahan Ditolak, gagal Kebutuhan untuk berhasil namun hanya memikirkannya Kesusahan, tidak berdaya MPD Represi, denial, fantasy Rasionalisasi, denial, proyeksi Represi, denial, fantasy Denial Super Ego Segera, terlalu keras Adil, segera, terlalu ringan segera, terlalu keras - Adekuasi Ego Akhir cerita : tidak bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : tidak bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) akan Kartu 4 Oral need, kebutuhan seksual, kebutuhan afiliasi Kurang dicintai

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 149 Kartu 6BM Kebutuhan untuk berhasil, agresi, Oral need, need of order Kartu 7GF Oral need, kebutuhan untuk diperhatikan, kebutuhan akuisisi Kartu 8BM kebutuhan untuk menyelesaikan masalah, keinginan untuk lepas dari masalah, Kartu 9GF Agresi, kebutuhan mendominasi Age : orang tua Sex : perempuan Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Age : anak-anak Sex : perempuan Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √√ Citra tubuh : - Age : dewasa Sex :Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √√ Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : perempuan Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Behavioral need hero : agresi, oral need yang tidak terpenuhi Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : oral need Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : wanita dewasa Kebutuhan akan : mengabaikan super ego Behavioral need hero : keinginan untuk lepas dari masalah Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : agresi, keinginan untuk mendominasi Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Pembatas keinginan Pemenuh semua keinginan Masalah yang harus dihilangkan Penentang Figur : sebaya Dilihat sebagai : pasangan yang gagal memenuhi kebutuhan Reaksi subyek : marah Figur : orang tua Dilihat sebagai : pemenuh semua permintaan Reaksi subyek : merasa senang Figur : Dilihat sebagai : Reaksi subyek : - Figur : lebih muda Dilihat sebagai : melakukan kesalahan Reaksi subyek : marah, mengejar Oral need tinggi namun merasa kurang diberi Keinginan untuk menekan super ego namun membutuhkan super ego Merasa kekurangan Keinginan untuk lepas dari masalah dengan kurangnya usaha Sakit/luka - Displacement Regresi (menggambarkan diri sebagai anak kecil) Denial Represi Tidak adil, segera, terlalu keras Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) - segera, tidak adil, terlalu keras Akhir cerita : bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Segera, terlalu ringan Merasa kekurangan Akhir cerita : bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) untuk Ditolak Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√)

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 150 Kartu 10 Oral need, kebutuhan seksual, kebutuhan untuk dicintai Kartu 13MF kebutuhan afiliasi, kebutuhan untuk menyelesaikan masalah Kartu 3GF Kebutuhan untuk berhasil, agresi, kebutuhan seksual Kartu 6GF Kebutuhan untuk berhasil, agresi Kartu 8GF Kebutuhan untuk berhasil, agresi, kebutuhan akuisisi Age : dewasa Sex : perempuan Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : O Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : laki-laki Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : wanita Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : O Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : wanita Pekerjaan : karyawan Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : wanita Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Behavioral need hero : kebutuhan untuk dicintai Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : perasaan takut ditinggalkan Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : regresi, oral need Figur yang dilibatkan : pasangan Kebutuhan akan : pemenuh oral need Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : reaksi formasi, agresi Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan : Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : fantasy Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Pemuas kebutuhan Penghalang yang tidak dapat dihindari Sesuatu yang gagal memenuhi kebutuhan oral Penghambat dalam melakukan sesuatu Penghalang Figur : sebaya Dilihat sebagai : suami yang memenuhi kebutuhan Reaksi subyek : memenuhi keinginan balik Figur : sebaya Dilihat sebagai : pasangan yang sakit Reaksi subyek : menangis Figur : sebaya Dilihat sebagai : pasangan yang gagal memenuhi kebutuhan Reaksi subyek : marah Figur : sebaya Dilihat sebagai : objek pelampiasan kekesalan Reaksi subyek : marah Figur : Dilihat sebagai : Reaksi subyek : - - Keinginan untuk menyelesaikan masalah namun tidak melakukan apapun Sakit/luka, kesusahan, ditinggalkan Oral need yang tinggi dengan gagal terpenuhinya kebutuhan Keinginan untuk berhasil dengan kegagalan untuk disiplin Keinginan untuk sukses namun hanya merenung Kesusahan Kegagalan Merasa gagal Denial Regresi Regresi Reaksi formasi Fantasi - Adil, segera, terlalu keras segera, adil, terlalu ringan adil, segera, terlalu keras Akhir cerita : bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Tidak adil, segera, terlalu ringan Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Kurang/tidak dicintai

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI RESPONDEN III 151

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 152 Gambar 1 Ibu matanya kurang keliatan mas dani.. lagi duduk ya, mas dani? Lagi.. bengong.. iya.. kayak lagi mikirin sesuatu gitu. Aa.. pikirin kerjaan.. iya.. iya.. emm.. bagaimana caranya begitu.. iya.. eh.. duduk.. lagi megang apa tuh, ga begitu keliatan sih.. salah apa enggak.. iya megang alat tuh.. ngapain ya? Ngapain ya? Mau apa ya dia? Emm.. mau pergi.. ke tempat kerjaannya.. iyah.. ya bisa enggak begini, gitu.. iya.. ya bagaimana dah mau apa tuh.. kerjanya apa bagaimana.. Tema deskriptif - Tema Tema Seseorang Memikirkan tugas yang Rasa cemas akan tugas memikirkan dimiliki sesuatu. Keinginan Dia untuk berhasil memikirkan pekerjaannya - Dia memegang alat, Memegang alat Need of order kemudian pergi ke kemudian pergi bekerja tempat kerjanya - Dia bingung apakah Bingung apakah mampu Rasa bisa atau ketika di tidak ketika bekerja takut gagal / keinginan untuk berhasil tempat kerjanya Tema interpretif : jika seseorang memikirkan pekerjaannya, maka ia bingung apakah bisa mengerjakan pekerjaannya Gambar 2 Ini lagi duduk yah? Heem.. lagi ngapain yak? Lagi gini lagi ngapain yak? Lagi nunggu sesuatu. Apa temen.. mau kerja. Iya.. udah siang.. iya.. siap-siap mau kerja. Yang dirasain takut kesiangan.. iya.. iya.. takut di pecat.. hehehe.. iya. Iya.. kerja.. iya.. yah mudah-mudahan ga kesiangan dah. Tema deskriptif - Seseorang Tema sedang Menunggu teman Tema Kebutuhan untuk

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 153 duduk menunggu ditemani temannya. Dia dan temannya akan pergi bekerja - Dia merasa takut Takut karena kesiangan karena berbuat Rasa cemas karena salah salah / kebutuhan untuk berhasil - Dia takut dipecat Takut mendapat Represi dan berharap tidak hukuman dan berharap kesiangan tidak terjadi apa-apa Tema interpretif : jika seseorang terlambat melakukan sesuatu, ia akan membayangkan konsekuensi tindakannya dan merasa takut Gambar 3BM Lagi kerja itu kayaknya. Nulis.. nulis apa ya? Nulis suat.. yang buat perusahaan. Yang dirasakan.. ini begini salah enggak ya? Iya.. mikir, yang dipikirin itu kerjaannya. Iya.. bagaimana caranya mau kemana ini ya? Mau kerjaan mana yang dipegang? Gitu.. iya.. heem.. iya.. ngapain ya? O.. ngituin itu yang buat kerja. Beberes. Iya.. iya.. yang dirasain apa yak? Siap-siap aja dah.. heeh.. untuk kerjaan.. heem.. Tema deskriptif - Tema Tema Seseorang sedang Bingung bekerja apakah Rasa menulis pekerjaannya surat takut salah / sudah Kebutuhan untuk berhasil untuk benar perusahaan. Ia merasa bingung apakah yang dilakukan benar atau salah - Ia memikirkan Bingung menentukan Rasa cemas akan tugas

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 154 pekerjaannya bingung dan tugas yang akan yang diterima/keinginan akan dijalankan untuk kemana, pekerjaan tugas apa Represi yang akan melaksanakan dipegang - Akhirnya dia Mempersiapkan membereskan diri Need of order sebelum melaksanakan pekerjaannya, dan tugas bersiap untuk bekerja Tema interpretif : sekalipun orang bingung mengenai hal yang akan dikerjakan, ia akan tetap bersiap untuk melakukannya Gambar 4 Ini berdua ya? Bapak-bapak sama.. bapak-bapak semua ya dek? Ama ibu-ibu nih.. lagi ngobrol sama suaminya.. iya.. iya ini kerjaanku kayak bisa ga. Bagaimana pak dikantor? Eh.. di kantor bagaimana pak kerjaannya? Bagus apa enggak? Ga ada masalah apa-apa? Gitu. Iya.. iya.. yang dirasain.. awas pak ati-ati kerjaan.. bapak udah mandi apa belom? Mandi dulu! abis mandi segera makan.. iya.. iya.. ngapain ya? istirahat ya.. setelah istirahat ya.. mah, pegel mah badan mah.. tolong pijitin.. gitu.. iya.. pijitin bu.. dipijitin.. Tema deskriptif - Tema Seseorang sedang Melakukan ngobrol dengan bersama Tema kegiatan Keinginan untuk berhasil dengan suaminya mengenai pasangan keadaan pekerjaan suami - Isteri menanyakan Memperhatikan orang Kebutuhan keadaan di kantor, lain memperhatikan apakah lain untuk orang

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 155 pekerjaannya bagus, dan apakah proyeksi ada masalah. - Suami merasa Merasa tidak bisa Rasa takut gagal pekerjaannya tidak bisa - Isteri mengingatkan Memperhatikan orang Kebutuhan agar suami berhati- lain memperhatikan hati lain dalam pekerjaan - orang Rasa cemas ditinggalkan Setelah itu isteri Meminta pasangan untuk meminta suami mandi, makan, kemudian untuk mandi, istirahat makan dan kemudian istirahat - untuk Keinginan untuk memperhatikan orang Pasangan meminta untuk lain Saat istirahat suami dilayani meminta memijit isteri badannya karena pegal Tema interpretif : seorang akan memperhatikan pekerjaan yang dilakukan pasangannya dan memenuhi kebutuhan pasangannya setelah pasangannya bekerja. Gambar 6BM Lagi rapat ini ya? Yang rapat itu yang.. direktur.. apa lagi yang diatas-atas ibu ga ngerti. Pekerjaan. Perasaan waktu rapat… eh… gimana ya? Masalah pekerjaan ya mas? Ga ngerti.. hehehehe.. yang dilakuinnya.. siap-siap yang buat buku-buku rapat.. kumpulin.. terus dibawa.. iya.. iya.. yang dilakuin suruh ngumpul.. ngumpul terus.. apa ya? Rapat.. rapat.. ngatur-ngatur kali mas ya.. yang diatur ya.. pekerjaan.. Tema deskriptif Tema Tema

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 156 - Seseorang Mempersiapkan mempersiapkan sesuatu segala Need of order buku-buku - Setelah itu mereka Berkumpul berkumpul kemudian Need of order rapat kemudian rapat - Direktur Merapatkan pekerjaan jajarannya melakukan Keinginan dan untuk melakukan tugas rapat, memikirkan masalah pekerjaan - Kemudian dia Mengatur pekerjaan mengatur pekerjaan Kebutuhan untuk mengatur sesuatu Tema interpretif : sebelum merundingkan sesuatu seeorang akan mempersiapkan kebutuhan dan setelahnya mengatur hal yang telah dirundingkan Gambar 7GF Ini ibu-ibu ya? Ibu-ibu itu lagi duduk ya.. ga tau ya lagi ngapain itu.. iya.. udah tua lagi ya.. kasian kali ya? Ada yang kasianin.. kasih uang gitu.. jalan.. jalan kemana? Jalan yang dituju.. iya.. bukan gitu.. ibu itu kayaknya nunggu yang kasian sama dia iya gitu kali ya mas ya.. iya heem.. ya dapet duit kali de.. apa e.. mas.. dikasih yang kasian kali sama ibu itu.. girang banget.. iya.. heem.. iya.. Tema deskriptif - Tema Tema Ibu tua berjalan ke Menuju tempat tujuan agar agar ada orang mengasiani akhirnya memberikan uang mendapat yang kasihan dan dia suatu tempat Rasa butuh dikasihani belas Kebutuhan oral

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 157 - Ibu itu menunggu Menunggu orang yang Rasa ingin dicintai orang - yang mengasiani Rasa butuh dikasihani mengasianinya Kebutuhan oral Akhirnya ada orang Kebutuhan yang kasihan dan dikasihani memberikan untuk uang pada ibu itu - Hatinya merasa Gembira karena gembira karena mendapat uang mendapat uang Perasaan gembira karena kebutuhan terpenuhi Kebutuhan akuisisi Tema interpretif : jika seseorang kesusahan, ia akan menunggu orang yang mengasihaninya. Ketika ada yang mengasihaninya dia merasa senang. Gambar 8BM Bapak-bapak ya, bukan? Lagi nyender.. capek kali.. abis kerja. Yang dikerjain kuli kali mas. Heeh.. kerja mas.. iya.. karena capek.. heeh.. istirahat, nyender.. capek kali. Yang dipikirin anak kali takut ga makan.. gitu mas.. iya.. keluarganya gitu. Heem.. iya.. kerja lagi mas.. iya.. yang dipikirin biar kelar, cepet-cepet kelar.. heem biar cepet rampung kan kelar pulang bawa uang. Gitu. Iya.. iya.. heeh.. Tema deskriptif - Tema Seorang bapak yang Istirahat karena lelah Keinginan untuk istirahat berprofesi sebagai melakukan tugas kuli sedang menyender karena Takut jika keluarganya Keinginan capek bekerja - Tema Ia memikirkan tidak makan memenuhi anaknya takut jika keluarga anaknya Proyeksi makan tidak untuk kebutuhan

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158 - - Akhirnya ia bekerja Bekerja lagi agar cepat Keinginan untuk lagi agar bisa cepat selesai menyelesaikan tanggung selesai jawab Kemudian ia pulang Pulang dengan dengan Kebutuhan akuisisi membawa membawa hasil kerja uang. Tema interpretif : seseorang yang memikirkan kebutuhan keluarganya akan cepatcepat menyelesaikan tugasnya dan membawa pemenuh kebutuhan Gambar 9GF Anak kecil apa ibu-ibu nih mas dani? Anak kecil yak? Lagi ngapain.. lagi tiduran. Tiduran. Emm.. ngantuk kah? Iya.. abis diituin ibunya kali.. abis ditetekin.. iya.. iya.. udah kenyang.. heeh.. iya.. iya.. heeh.. bangun terus netek.. terus dikasih makan.. sama ibunya.. girang mas.. heem seneng. Tema deskriptif - Tema Ia merasa kenyang Perasaan puas setelah Kebutuhan setelah disusui diberi Anak makan untuk figure diperhatikan yang lebih besar darinya Oral need ibunya - Tema kecil tidur yang Tidur setelah diberi Keinginan untuk istirahat karena makan mengantuk setelah disusui ibunya - Akhirnya ketika setelah bangun diberi Oral need bangun ia disusui makan kembali Kebutuhan akan makan dan diberi makan oleh ibunya - Ia girang merasa senang dan Perasaan senang karena kebutuhan dipenuhi Tema interpretif : seorang akan merasa senang dan girang jika kebutuhan oralnya terpenuhi

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 159 Gambar 10 Nenek-nenek ya mas? Lagi bengong.. mikirin nasibnya kali.. ya nasibnya udah tua udah ga bisa kerja. Kan harus makan.. harus belanja.. ga bisa nyari.. begitu mas.. heem.. iya.. udah ga bisa kerja.. makan mah harus.. sebelun dia bengong, dia rapih-rapih rumah dulu. waktu rapi-rapi rumah, mau tuju kemana nih.. mau jajan ga punya uang.. gitu.. iya.. heem.. terus jalan.. yah.. kemana aja yang kasian gitu mas.. heem gitu.. akhirnya mah dapet kali.. dapet terus seneng.. Tema deskriptif - Nenek Tema merapikan Melakukan rumahnya Tema pekerjaan Need of order setelah kemudian bingung akan itu ia bingung mau pergi menuju kemana - Ia ingin jajan tapi tidak punya uang Oral need tinggi vs. Ingin memuaskan ketidak mampuan keinginan namun tidak memuaskan memiliki alat pemenuh - Seorang nenek yang Bengong sedang memikirkan Fantasi bengong nasib memikirkan nasibnya - Keinginan untuk sukses Ia merasa sudah tua dan tidak bekerja bisa padahal masih harus makan dan belanja - Akhirnya berjalan ia Mencari mencari kasihan orang yang Kebutuhan untuk dicintai orang yang kasihan padanya - Akhirnya ia Rasa senang karena

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 160 mendapat yang mendat yang diinginkan dimau dan merasa Kebutuhan akuisisi senang Tema interpretif : jika seorang sudah tua dan tidak bisa bekerja ia bingung akan memenuhi kebutuhannya, maka ia akan berjalan mencari orang yang kasihan padanya. Gambar 13MF Ini bapak-bapak ya.. lagi diri.. ngapain ya? Lagi begini diri megang ini.. apa yah? Kekeran ya? Ngeker apa? Ngeker jalanan.. dikeker kali.. diukur.. gitu kali mas.. eh.. itu yang kerjaannya dia.. iya. Iya.. yang dia rasakan bener ga nih kesini lurus.. gitu.. iya.. heem.. sebelum ngapain ya? Beberes buat ngeker.. siap-siap iya.. iya.. heem.. jalan ngatur-ngatur yang buat jalannan.. iya.. heem.. apa bener apa enggak ini? Iya.. iya heem.. Tema deskriptif - Tema Sebelumnya ia siap- Bersiap-siap siap mengatur pekerjaan, Tema mengatur Keinginan untuk Bingung berhasil jalanan. Dia berpikir apakah yang dikerjakan apakah yang sudah benar dilakukan benar atau tidak - Seorang bapak Dorongan untuk sedang berdiri melakukan pekerjaan memegang kekeran untuk mengukur jalan - Ia merasa yang apakah Perasaan takut salah dilakukannya sudah lurus Tema interpretif : jika seseorang mengerjakan sesuatu, ia akan merasa bingung apakah yang dikerjakannya sudah benar atau belum

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 161 Gambar 3GF Ini apa mas? Perempuan laki ini mas? Ga tau ga keliatan itu.. heeh.. apaan ga keliatan mas.. matanya udah ini.. iya lagi ngapain ini ya? Lagi ngapain ya? Dikeriting apa diapain ini? Iya dikeriting lagi dikeriting ini ya. Biar bagus rambutnya.. iya.. iya.. mau kerja kantoran. Ee.. biar model gitu mas.. iya pengen gaya gitu.. dikeriting biar rapih.. mandi dulu, beberas-beberes rumah, terus ke salon. Iya.. iya.. pikirin kerjaan takutnya itu apa tuh.. ee.. apa namanya.. di biar cantik di kerjaannya.. jangan kecewa gitu.. iya. Dari salon? Terus udah rapi di salon ke rumah. Terus kerjaan kantor. Kerja. Iya. Tema deskriptif - Tema Tema Seorang perempuan Mandi, mandi, membereskan Need of order rumah, kemudian pergi membereskan rumah, kemudian pergi ke salon - Rambutnya Ingin dikeriting terlihat bagus Exhibitionis agar karena kerja bagus, agar model, karena akan kerja kantoran - Ia Ingin terlihat gaya dan Kebutuhan ingin terlihat rapi diperhatikan gaya, dan dikeriting agar rapih - Ia takut memikirkan Rasa takut memikirkan Displacement pekerjaan, maka pekerjaan ingin terlihat rapi - Setelah rapi dari salon ia pulang dan kemudian berangkat Need of order untuk

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 162 ke kantor Tema interpretif : jika seseorang merasa takut memikirkan pekerjaannya maka ia akan mempercantik dirinya sebelum melakukan pekerjaan Gambar 6GF Ini bapak-bapak juga ya? Lagi itu di korsi goyang ya.. ngopi ngerokok. Iya.. ngapain.. ee.. seneng.. dia kan abis ngopi ngerokok seneng gitu.. iya.. istirahat gitu. Kalo itu kalo udah kakek-kakek kan abis istirahat kan seneng gitu. Heeh.. gitu mas.. ehhh.. mandi.. abis mandi ganti baju.. abis ganti baju baru duduk di itu.. disediain teh.. heeh.. terus dia ngeduduk goyang-goyang.. iyah.. iyah.. nyantai.. iya nyantai mas,, setelah nyantai, kata neneknya.. pak makan tu pak.. udah disediain.. makan.. iya mah.. eh.. nek entar saya makan.. iya.. Tema deskriptif - Tema Bapak-bapak mandi ganti Mandi, Saat ganti baju kemudian kemudian duduk baju dan duduk. - Tema Minuman duduk disediakan Kebutuhan teh untuknya untuk dilayani disediakan bagi dia - Ia duduk, Duduk sambil bersantai menggoyanggoyang Keinginan untuk bersantai sambil nyantai - ia beristirahat Duduk sambil ngopi dan Oral need duduk goyang ngopi ngerokok di kursi ngerokok sambil dan merasa senang - Karena Perasaan senang karena bisa santai sudah

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 163 kakek-kakek, maka ia merasa senang bisa beristirahat seperti itu - Setelah nyantai, Pasangan meminta untuk Kebutuhan nenek makan menyuruhnya mengiyakan untuk dan akan dirinya makanan makan, akhirnya si kakek mengatakan akan makan Tema interpretif : jika seorang bisa bersantai maka ia akan merasa senang Gambar 8GF Ini burung apa apa mas? Ini burung bukan? Burung.. burung lagi duduk. Iya burung apa bukan? Lagi duduk lagi clungak-clinguk aja gitu. Pengen itu empanan. Iya.. heem.. lapar.. iya.. iya.. kelabakan di sangkarnya. Iya.. iya.. diempanin.. yang punya burung ngasih empanan. Seneng diempanin. Lapernya ilang… Tema deskriptif - Tema Burung sedang duduk, celingak- celinguk - Tema Rasa lapar dan meminta Oral need Burung itu merasa untuk diberi makan Kebutuhan lapar dan meminta diperhatikan untuk untuk diberi makan - Ia kelabakan dalam sangkarnya - Kemudian pemilik Pemilik burung memberikan makan makan memberi Kebutuhan diperhatikan untuk

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 164 - Rasa lapar burung Rasa itu kebutuhan terpenuhi hilang dan senang karena burung itu merasa senang Tema interpretif : jika seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan oralnya, ia akan menunggu dengan gelisah sampai orang yang memiliki kewajiban memenuhi kebutuhannya.

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 165 Variabel Tema Utama Kartu 1 Need of order, kebutuhan untuk berhasil Kartu 2 kebutuhan untuk berhasil, kebutuhan untuk ditemani Kartu 3BM Need of order, kebutuhan untuk berhasil, kebutuhan untuk diperhatikan, kebutuhan untuk menyelesaikan tugas Kartu 4 Need of order, kebutuhan untuk berhasil, kebutuhan untuk memperhatikan orang lain, kebutuhan afiliasi Hero Utama Age :Sex :Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √√ Citra tubuh : - Age :Sex :Pekerjaan : Minat :Sifat : Kemampuan : Adekuasi : √√ Citra tubuh : Age :Sex :Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : O Citra tubuh : - Age : tua Sex : wanita Pekerjaan : ibu rumah tangga Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Kebutuhan Utama Behavioral need hero : need of order Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan : Figur yang diabaikan : biola Kebutuhan akan : menolak realita Behavioral need hero : kecemasan karena berbuat salah Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan : Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan : Behavioral need hero : kebutuhan untuk berhasil Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : pistol Kebutuhan akan : agresi yang ditekan Behavioral need hero : kebutuhan afiliasi Figur yang dilibatkan :Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan :Kebutuhan akan :- Konsepsi Lingkungan Hal yang membingungkan Penghukum Tanggung jawab yang harus diselesaikan Hal yang mengkhawatirkan Significant Other Figur : Dilihat sebagai : Reaksi subyek : - Figur : sebaya Dilihat sebagai : teman sekerja Reaksi subyek : menunggu Figur : Dilihat sebagai : Reaksi subyek : - Figur : sebaya Dilihat sebagai : pasangan yang memenuhi kebutuhan Reaksi subyek : memperhatikan suami Konflik yang Menonjol Keinginan untuk menyelesaikan tugas namun kebingungan Kesusahan Keinginan untuk berhasil namun ada rasa takut karena salah Gagal Keinginan untuk mengerjakan tugas namun ada rasa cemas pada tugas Gagal Keinginan untuk memperhatikan orang lain namun takut gagal Kesusahan MPD Denial Represi Represi Proyeksi Super Ego Segera, terlalu keras Segera, terlalu ringan Adil, segera, terlalu keras - Adekuasi Ego Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Asal Kecemasan

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 166 Kartu 6BM Need of order, keinginan untuk mengatur, kebutuhan untuk menyelesaikan masalah, kebutuhan untuk dilayani Kartu 7GF Oral need, kebutuhan akuisisi, kebutuhan untuk dikasihani Kartu 8BM Need of order, kebutuhan untuk memperhatikan orang lain, oral need, kebutuhan akuisisi, keinginan untuk beristirahat Kartu 9GF Need of order, oral need, kebutuhan untuk diperhatikan, keinginan untuk makan Age : dewasa Sex :Pekerjaan : direktur Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Age : tua Sex : perempuan Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √√ Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : pria Pekerjaan : kuli Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √√ Citra tubuh : - Age : bayi Sex :Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Behavioral need hero : keinginan untuk lepas dari masalah Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : oral need, rasa butuh dikasihani Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan : - Behavioral need hero : keinginan untuk beristirahat Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : oral need Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Masalah Kesulitan Kesulitan Sumber pemenuh kebutuhan Figur : Dilihat sebagai : Reaksi subyek : - Figur : sebaya Dilihat sebagai : pemberi uang (kebutuhan) Reaksi subyek : merasa senang Figur : lebih muda Dilihat sebagai : anak yang belum makan Reaksi subyek : khawatir Figur : orang tua Dilihat sebagai : ibu, pemberi kebutuhan Reaksi subyek : merasa senang Keinginan untuk menyelesaikan masalah namun mengalami kebingungan Kesusahan Oral need yang besar menunggu orang memberi Keinginan untuk istirahat namun merasa cemas pada keluarga - Kesusahan, tidak berdaya Kesusahan Kekurangan - - Proyeksi Regresi Reaksi terhambat, segera, terlalu ringan Adil, segera, terlalu keras segera, tidak adil, terlalu keras - Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : adekuat (√) Akhir cerita : bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√)

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 167 Kartu 10 Need of order, kebutuhan akuisisi, kebutuhan untuk memuaskan keinginan, kebutuhan untuk dikasihani Kartu 13MF Need of order, kebutuhan untuk berhasil, kebutuhan untuk menyelesaikan tugas Kartu 3GF Need of order Kartu 6GF Need of order, oral need, keinginan untuk makan, keinginan untuk beristirahat Kartu 8GF oral need, keinginan untuk beristirahat Age : tua Sex : perempuan Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : O Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : laki-laki Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : wanita Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : O Citra tubuh : - Age : dewasa Sex : pria Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Age :Sex :Pekerjaan : Minat :Sifat :Kemampuan : Adekuasi : √ Citra tubuh : - Behavioral need hero : kebutuhan untuk ditolong Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : need of order Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : figure wanita di kasur Kebutuhan akan : menekan need of sex Behavioral need hero : exhibitionist Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : kebutuhan untuk istirahat Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan : Figur yang diabaikan : Kebutuhan akan :- Behavioral need hero : oral need Figur yang dilibatkan : Kebutuhan akan :Figur yang diabaikan : figure perempuan Kebutuhan akan : menekan realita Penghalang Tugas yang harus diselesaikan Tuntutan Pemenuh kebutuhan Pemenuh kebutuhan Figur : Dilihat sebagai : Reaksi subyek : - Figur : Dilihat sebagai : Reaksi subyek : - Figur : Dilihat sebagai : Reaksi subyek : - Figur : sebaya Dilihat sebagai : pemenuh kebutuhan Reaksi subyek : menuruti perintah Figur : orang tua Dilihat sebagai : orang yang memenuhi kebutuhan Reaksi subyek : senang Keinginan untuk memenuhi oral need namun tidak memiliki kemampuan Keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan namun merasa bingung Ingin terlihat menarik karena khawatir pada pekerjaan - Oral need besar namun hanya menunggu dipenuhi Kesusahan Kebingungan Ditolak Kesusahan Kesusahan Fantasi Denial, represi Displacement - Denial Adil, segera, terlalu keras - - - Akhir cerita : bahagia (√),realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : tidak bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Akhir cerita : bahagia (√), realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√) Tidak adil, segera, terlalu keras Akhir cerita : bahagia (√), tidak realistik (√) Pemecahan masalah : tidak adekuat (√)

(187)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Dinamika coping stress pada orangtua dari anak penderita kanker - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
19
Hubungan antara relasi interpersonal dengan kecemasan dalam menghadapi kematian pada penderita kanker - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
33
Pengaruh kebutuhan spiritual terhadap kualitas hidup penderita kanker di Puskesmas Pacarkeling Surabaya - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
7
Hubungan antara perilaku asertif dan kecemasan presentasi proposal penelitian skripsi pada mahasiswa - USD Repository
0
0
134
Studi deskriptif strategi coping pada penderita pasca stroke dewasa madya - USD Repository
0
0
211
Studi kasus mengenai strategi coping stres pada penderita HIV/AIDS di Yogyakarta - USD Repository
0
0
162
Alasan laki-laki memilih pasangan hidup waria berdasarkan teori hirarki kebutuhan maslow - USD Repository
0
0
200
Hubungan antara dukungan sosial suami terhadap tingkat kecemasan istri dalam menghadapi masa menopause - USD Repository
0
0
120
Tingkat pemenuhan kebutuhan hidup para anak asuh Panti Asuhan Pangrekso Dalem Temanggung - USD Repository
0
1
75
Hubungan antara pola pikir negatif dan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa Psikologi USD - USD Repository
0
0
127
Perbedaan kecemasan dalam penyusunan skripsi antara mahasiswa yang aktif berorganisasi dan mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi - USD Repository
0
0
114
Hubungan antara kecemasan menjelang ujian nasional dengan prestasi belajar siswa SMP - USD Repository
0
0
139
Relevansi semangat hidup dan pelayanan Santo Damian De Veuster bagi pendampingan pastoral penderita HIV/AIDS - USD Repository
1
1
150
Dinamika pengalaman krisis dalam kehidupan pastor - USD Repository
1
1
182
Bentuk dan strategi dukungan sosial terhadap Psychological Well Being pada penderita kanker payudara - USD Repository
0
1
268
Show more