Hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku prososial pada polisi - USD Repository

Gratis

0
0
120
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU PROSOSIAL PADA POLISI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh: Eva Emeninta Br. P 07 9114 032 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Whenever you want to achieve something, keep your eyes open, concentrate and make sure you know exactly what it is you want. No one can hit their target with their eyes closed. - Paulo Coelho Berjuang.. Berjuang sekuat tenaga Tetapi jangan lupa Perjuangan harus pula disertai doa - Rhoma Irama Saat kamu menginginkan sesuatu yang baik untukmu.. Percaya dan yakinlah.. Seluruh isi jadag raya akan membantumu dengan cara yang tak terduga - Paulo Coelho iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Karya terindah ini ku persembahkan kepada: Yesus Kristus yang tidak henti-hentinya memberi berkat yang melimpah Di kehidupanku.. Bapak dan Nande yang luar biasa memberi dukungan dan cinta kepadaku Dan juga abang sekaligus sahabatku yang paling menyenangkan Yang pernah aku miliki.. Kalian tidak akan pernah tergantikan.. v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 22 Juli 2014 Penulis Eva Emeninta Br. P vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU PROSOSIAL PADA POLISI Eva Emeninta Br. P. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasaan emosional dengan perilaku prososial pada polisi. Hipotesis dari penelitian ini yaitu adanya hubungan positif antara kecerdasaan emosional dengan perilaku prososial pada polisi. Subyek dalam penelitian ini berjumlah 89 orang yang terdiri dari 74 pria dan 15 wanita. Variabel pada penelitian ini adalah kecerdasan emosi sebagai variabel bebas dan perilaku prososial sebagai variabel tergantung. Reliabilitas yang dihasilkan dari uji coba skala adalah sebesar 0,940 pada skala kecerdasan emosi dan reliabiltas sebesar 0,927 pada skala perilaku prososial. Hasil analisis data menyatakan bahwa sebaran data normal dan linear. Data penelitian dianalisi dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment dari Pearson dengan bantuan SPSS for Windows versi 16.00. hasil pehitungan yang diperoleh menunjukkan bahwa koefisien korelasi (r) yang didapatkan sebesar 0.813 (p<0.05). Hal ini berarti bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima. Kata kunci: Kecerdasaan emosi, perilaku prososial, polisi. vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CORRELATION BETWEEN EMOTIONAL INTELLIGENCE WITH PROSOCIAL BEHAVIOR TO THE POLICE Eva Emeninta Br. P. ABSTRACT This research aims to investigate the correlation between emotional intelligence with prosocial behavior to the police. The hypothesis is that there was positive relationship between emotional intelligence with prosocial behavior to the police. Subjects involved in this research were 89 people consisting of 74 men and 15 women. The research variables were their emotion quotient, as the independent variable, and their prosocial behavior, as the dependent variable. The tried out of two scales resulted reliability 0,940 for emotional intelligence and 0,927 for prosocial behavior. The result of the data analysis revealed that the distribution of the data is normal and linier. The data research were analyzed using correlation technique of Product Moment from Pearson helped by SPSS for Windows version 16.00. The result showed that the coefficient correlation was 0.813 (p<0.05) . It means that the hypothesis of this research is accepted. Key Words: emotional intelligence, prosocial behavior, police viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertandatangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Eva Emeninta Br. Perangin-angin Nomor Mahasiswa : 07 9114 032 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan Kepada Perpustakan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dengan Perilaku Prososial pada Polisi beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk keperluan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 22 Juli 2014 Yang menyatakan, (Eva Emeninta Br. P) ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada saya panjatkan kepada Tuhan Yesus, karena telah memberi segalanya termasuk cinta kasih-Nya, hingga pada akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Proses penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari keterlibatan berbagai pihak yang telah memberikan bantuan yang sangat berarti. Sehubungan dengan itu, maka pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapa, Putra dan Roh Kudus, atas segala karunia-Nya telah memberi saya pertolongan untuk menyelesaikan skripsi ini. 2. Alam semesta yang telah mengingatkan saya untuk ingat akan tanggung jawab seorang anak. 3. P. Henrietta PDADS, M.A , selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk anak didiknya. Terima kasih untuk sabarnya ya Mbak, tetap semangat!! Kehidupan keras!!! 4. Seluruh dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, atas semua bantuan dan ilmu yang telah diberikan pada penulis, semoga penulis dapat memaknai semuanya untuk kemajuan penulis di masa mendatang. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Seluruh karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma: mbak Nanik, mas Gandung, pak Gik, mas Doni, mas Muji dan yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Terimakasih untuk semua pelayanan yang sangat menakjubkan. 6. Bapakku tercinta, yang selalu mendukung saya dalam setiap kondisi. Adek persembahkan hasil karya ini, sebagai bukti tanggung jawab adek sebagai anak. Tetaplah dukung adek dengan segala keputusan dan kondisi adek. Adek sayang Bapak, selalu.. 7. Ny. Perangin-angin, Nande tercentil di dunia yang tidak sungkan-sungkan menceramahin saya dari menit per menit. Terima kasih telah mengandung, melahirkan, dan menjagaku.. Nande memang Istimewa!!! 8. Abangku yang baik tapi kere yang ada di Malang, terima kasih atas dukungan abang untuk adek. Walaupun kamu kere, adek selalu sayang sama abang. Peluk erat dan kecup basyah buat abang. 9. Kepada saudara-saudara yang ada di Medan, Bali, dan Bandung yang telah mendukung Emban untuk semangat mengerjakan skripsi. 10. Geng gaholku dulu, walaupun kalian sudah pada lulus, tetap setia mendukungku. Terima kasih Dino, Mbak We, Mega dan inang Petra. 11. Babikku, Ledita Carolina. Babik yang selalu mendukungku dan merampasiku untuk makan bakmi jawa. Kau akan selalu jadi Babikku sepanjang masa… 12. Sahabatku di Medan, Melvina a.k.a. Meong. I miss you Meong. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13. Indra, sahabatku yang luar biasa. Memberikan banyak masukan dan membuka pikiranku tentang banyak hal. Makasi telah menjadi pendengar yang baik. Semoga kita bertemu lagi dikehidupan yang akan datang. 14. Teman-teman TN, terima kasih atas sindiran kalian yang bermacam-macam caranya. Kalian teman terasyik di dunia, walaupun kalian sedikit aneh buatku. Mas Windra, makasi atas sindiriannya. Aku hafal loh sindiranmu “Mercu Buana juga bagus Va”, Prek mas!!!. Aku mau lulus koq. Aku tunggu undangan nikah mu ya. Mas Kmk yang mendukung dengan sindirian “ngerjainnya pas kepepet aja Va” dan taaraaa… kenyataan deh -.-.. mas Simin yang telah menjadi teman ngobrol yang asik sekali, mas Iwil galau. Semoga kamu segera dapat cewek yang bisa dinikahin ya. Mas Dick, tetap binal dan gahol, semoga sukses di pelayaran. Sari, ayo kejar aku, aku udah mau lulus loh, kamu juga pasti bisa!!! Peyyuukkk… 15. Mas Brot dan Pak Jay yang memberi masukan dan saran pada peelitian ini sekaligus mengajari cara SPSS. Kalian ruaarrr biaassaaa!!!! Hidup angkatan tua!!!! 16. Mami Nice yang memberi masukan dan dukungan kepada saya. Walaupun kita beda pulau, mami tetap mensupportku. Bangga punya mami kayak kamu! Hidup MAMI GAHOLL!!! 17. Terima kasih kepada Yasa, telah menjadi teman baruku. Makasi atas celotehcelotehmu yang pastinya positif buat aku. xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu… terimakasih selalu buat dukungannya. Tuhan memberkati kalian semua. Penulis menyadari bahwa skripsi ini belumlah sempurna. Maka dari itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat diharapkan demi semakin sempurnanya skripsi ini. Akhirnya penulis berharap, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan bagi teman-teman mahasiswa Fakultas Psikologi pada khususnya. Penulis Eva Emeninta Br. Perangin-angin xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .......................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................ iii MOTTO .............................................................................................. iv PERSEMBAHAN .............................................................................. v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ....................... vi ABSTRAK ......................................................................................... vii ABSTRACT ....................................................................................... viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ....... ix KATA PENGANTAR......................................................................... x DAFTAR ISI ....................................................................................... xiv DAFTAR TABEL .............................................................................. xviii DAFTAR GAMBAR .......................................................................... xix DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................... xx BAB I PENDAHULUAN .................................................................. 1 A. Latar Belakang Penelitian ................................................. 1 B. Rumusan Permasalahan ...................................................... 11 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Tujuan Penelitian ................................................................. 12 D. Manfaat Penelitian............................................................... 12 1. Manfaat Teoritis .............................................................. 12 2. Manfaat Praktis .............................................................. 12 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................ 13 A. Perilaku Prososial ............................................................... 13 1. Definisi Perilaku Prososial ............................................. 13 2. Aspek-aspek Perilaku Prososial ...................................... 14 3. Faktor-faktor Perilaku Prososial ..................................... 16 B. Kecerdasan Emosi .............................................................. 22 1. Definisi Kecerdasan Emosi. ............................................ 22 2. Komponen-komponen Kecerdasan Emosi ...................... 23 3. Ciri-ciri Kecerdasan Emosi ............................................. 29 4. Dampak-dampak Kecerdasan Emos ............................... 30 C. Polisi .................................................................................... 31 D. Dinamika Hubungan antara Kecerdasan Emosi dan Perilaku ....... Prososial pada ...................................................................... 35 E. Hipotesis ............................................................................. 40 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN...................................................... 41 A. Jenis Penelitian .................................................................... 41 B. Identifikasi Variabel Penelitian .......................................... 41 C. Definisi Operasional Variabel Penelitian. ........................... 41 D. Subyek Penelitian ................................................................ 43 E. Metode dan Teknik Pengambilan Data ............................... 44 F. Pengujian Instrumen Penelitian .......................................... 50 1. Validitas .......................................................................... 50 2. Seleksi Item ..................................................................... 51 3.Reliabilitas ........................................................................ 54 G. Metode Analisis Data ......................................................... 55 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................... 56 A. Pelaksanaan Penelitian ........................................................ 56 B. Deskriptif Data Subyek ...................................................... 57 C. Deskriptif Data Penelitian ................................................... 57 D. Hasil Analisis Penelitian ..................................................... 59 1. Uji Asumsi ...................................................................... 59 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Uji Hipotesis .................................................................... 62 E. Pembahasan ........................................................................ 63 BAB V PENUTUP .............................................................................. 66 A. Kesimpulan .......................................................................... 66 B. Saran .................................................................................... 61 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 68 LAMPIRAN ....................................................................................... 74 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1 Distribusi Item Skala Kecerdasan Emosional ........................ 43 Tabel 2 Distribusi Item Skala Perilaku Prososial................................ 46 Tabel 3 Distribusi Item Skala Kecerdasan Emosional ........................ 48 Tabel 4 Distribusi Item Skala Perilaku Prososial................................ 49 Tabel 5 Data Subjek Penelitian ........................................................... 53 Tabel 6 Deskritif Data Penelitian ........................................................ 54 Tabel 7 Uji t Mean Empirik dan Mean Teoritik Skala Kecerdasaan Emosi ..................................................................................... 54 Tabel 8 Uji t Mean Empirik dan Mean Teoritik Skala Perilaku Prososial ................................................................................. 55 Tabel 9 Hasil Uji Normalitas ............................................................. 56 Tabel 10 Hasil Uji Linearitas. ............................................................. 56 Tabel 11 Korelasi Kecerdasan Emosi dengan Perilaku Prososial ...... 58 xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR ATAU SKEMA Bagan Dinamika Psikologi ................................................................. 36 Scatter Plot Variabel Kecerdasan Emosi dan Perilaku Prososial........ 57 xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran I Estimasi Reliabilitas dan Uji Seleksi Item Skala Kecerdasan Emosi dan Skala Perilaku Prososial ................ 70 Lampiran II Uji Normalitas, Uji Linearitas, Uji Hipotesis ................ 79 Lampiran III Skala Perilaku Prososial dan Skala Kecerdasan Emosional........ .................................................................................... xx 84

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Polisi adalah pekerjaan yang memiliki peran penting bagi masyarakat. Istilah polisi berasal dari bahasa Belanda yaitu politie, yang mengambil dari bahasa Latin yaitu politia, yang berasal dari kata Yunani, politeia yang berarti warga kota atau pemerintahan kota. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008) polisi berarti badan pemerintah yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum, misalnya menangkap orang yang melanggar undang-undang. Sadjijono (2006) menyebutkan polisi sebagai pelayan masyarakat yang berkewajiban untuk melayani masyakarat. Idealnya, polisi diwajibkan membantu masyarakat sesuai dengan tugas yang ditetapkan oleh UU No. 28/1997 dan menjunjung tinggi HAM (Sadjijono, 2006), namun banyak berita di media menunjukkan bahwa perilaku polisi dalam bertugas belum sesuai dengan harapan. Kasus pemerasan oleh oknum polisi di Bali sempat menggegerkan Indonesia. Kasus tersebut menceritakan tentang turis Belanda yang tidak menggunakan helm dan menjadi korban pemerasan polisi di Bali. Berita ini dapat dilihat di Youtube (www.youtube.com, 2013) dan media online (www.news.okezone.com, 2013). Ada juga berita tentang anggota DPRD DKI mendapat kekerasan oleh oknum polisi di Kabupaten Klungkung, Bali pada 1

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 hari Rabu (20/2/2013) siang (www.seruu.com, 2013) Saat itu korban melihat ada warga yang ditilang, karena iba, korban menanyakan kepada polisi apa kesalahan dari warga tersebut. Polisi menjawab jika warga itu melanggar UU lalu - lintas. Saat korban menanyakan tentang UU itu, polisi itu tidak menjawab tetapi malah menentang korban. Perilaku agresif polisi yang tidak menunjukkan profesionalitas juga terjadi di daerah lain. Media online Kompas (www.regional.kompas.com, 2013) memuat berita tentang oknum anggota Polres Kolaka berinisial Fr bersama seorang warga berinisial Is diduga menganiaya petugas Rumah Sakit Benyamin Guluh, Husni. Kepala Bagian Humas Polres Kolaka, AKP Nazaruddin, Jumat (25/10/2013) membenarkan adanya dugaan penganiayaan tersebut. Menurut polisi, penyebabnya hanya persoalan sepele antara saudara pelaku dengan korban. Nazaruddin juga menjelaskan, pelaku diduga lima orang, namun pihak kepolisian baru mengamankan dua orang, yakni oknum polisi dan Is. Sementara korban Husni, karyawan bagian anestesi rumah sakit tersebut, kini terbaring di ruang ICU dengan luka memar di bagian mukanya (www.regional.kompas.com, 2013). Peneliti berhasil mewawancarai salah satu mahasiswa dari salah satu universitas swasta di Yogyakarta, yang berinisial IH. IH mempunyai pengalaman yang buruk saat berhadapan dengan oknum polisi. IH pernah menghadapi kasus pada saat membuat surat keterangan hilang. Menurut IH (wawancara, 16 Oktober 2013), seharusnya pelapor tidak membayar uang sepeser pun untuk membuat

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 surat kehilangan, tetapi polisi meminta uang dengan alasan uang sumbangan untuk menulis surat kehilangan. Hal ini sesuai dengan survei yang pernah dilakukan oleh Syafrika (2004). Survei yang dilakukan Syafrika (2004) mengenai perilaku agresif Polantas menunjukkan adanya kecenderungan sejumlah oknum Polantas untuk melakukan tindak kekerasaan terhadap pelanggar lalu lintas. Survei tersebut dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 27 orang pengguna lalu-lintas di Jambi, yaitu 24 orang laki-laki dan 3 orang perempuan dengan rentang usia antara 17-50 tahun. Dari hasil survei tersebut didapat bahwa 81,5% pengguna jalan menyatakan pernah mengalami tindak kekerasaan yang dilakukan oleh Polantas, sedangkan sisanya menyatakan tidak pernah mengalami tindak kekerasaan oleh Polantas. Dari survei tersebut juga didapatkan bahwa persentasi tindak kekerasaan Polantas paling sering dialami oleh penguna lalu-lintas adalah membentak, sedangkan persentase tindakan yang paling rendah adalah menampar. Penelitian yang lain dilakukan oleh Nilan (2012). Penelitian ini mengambil 86 responden yang berada di Surakarta, Jakarta, Pekanbaru, Mataram, dan Makassar dengan kisaran umur 17-67 tahun. Nilan melakukan interview kepada 86 responden sekitar 45-60 menit. Disini responden ditanyakan tentang pengalaman mereka tentang kekerasan. Penelitian ini menunjukkan persepsi masyarakat yang buruk tentang polisi (Nilan, 2012). Makalah ini menggunakan kerja analitik dari Michel Foucault terhadap tata kelola suatu populasi, yaitu cara-

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 cara pengelolaan "the conduct of conduct". Foucault berpendapat bahwa teknologi dominasi untuk mengendalikan kekerasan dan bertujuan untuk menghasilkan warga negara yang patuh. Dalam hal ini, pria yang toleran akan memberikan kontribusi positif dalam membangun kemakmuran negara. Polisi melakukan pendekatan kekuasaan yuridis, sementara masyarakat lebih suka dengan cara mediasi yang merupakan pendekatan kekuasaan pastoral. Saat mengalami suatu masalah, masyarakat lebih memilih cara penyelesaian masalah dengan musyawarah dan mufakat. Masyarakat tidak ingin polisi ikut campur tangan dalam masalah mereka, karena menurut sumber, polisi hanya akan membuat masalah tersebut menjadi lebih ruwet. Masyarakat menganggap polisi selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasaan. Hal ini menyebabkan reputasi polisi di mata masyarakat sangat menurun (Rahardjo, 2007). Masyarakat menganggap polisi sering bertindak agresif, padahal seharusnya tugas polisi adalah membantu masyarakat dan tidak memandang bulu. Sesuai dengan UU No. 28/1997, tugas polisi dibagi menjadi tiga, yaitu: (a). Kepolisian Negara RI bertujuan untuk menjamin tertib dan tegaknya hukum serta terbinanya ketentraman masyarakat guna mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri, terselenggaranya fungsi pertahanan keamanan negara dan tercapainya tujuan nasional dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. (b). Kepolisian Negara RI bertugas memelihara keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 lingkungan hidup dari gangguan ketertiban atau bencana termasuk memberi perlindungan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. (c). Pejabat Kepolisian Negara RI senantiasa bertindak berdasarkan norma hukum dan mengindahkan norma agama, kesopanan, kesusilaan, serta menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). Berdasarkan UU No. 28/1997, dapat diketahui apa tugas dari polisi sebenarnya, yaitu membantu, melayani, melindungi dan memberi pertolongan kepada masyarakat. Telah diketahui bahwa tugas polisi tersebut disebut perilaku prososial. Perilaku prososial adalah suatu tindakan menolong yang menguntungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut, dan mungkin bahkan melibatkan suatu resiko bagi orang yang menolong. Menurut Baron (2005) perilaku prososial didefinisikan sebagai melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain atau untuk masyarakat secara keseluruhan. Perilaku prososial juga meliputi perilaku yang menghargai orang lain. Bandura (2000) berpendapat bahwa perilaku prososial berbanding terbalik dengan perilaku agresi, artinya peningkatan perilaku prososial selalu diikuti oleh penurunan perilaku agresi seseorang, oleh karena itu, perilaku prososial bagi polisi penting dalam pelaksanaan tugas. Aronson dkk (2005) dan Baron (2005) menjelaskan adanya tujuh faktor yang menyebabkan perilaku prososial pada seseorang, yaitu: faktor naluri/gen, perbandingan antara keuntungan dan kerugian saat melakukan perilaku prososial,

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 empati/kepribadian altruism, mood, jenis kelamin, faktor lingkungan dan tanggung jawab moral. Pertama, faktor naluri dan gen. Psikologi evolusioner menyatakan bahwa perilaku didorong oleh atribut genetis. Secara genetik manusia tersebut diprogram untuk mempelajari norma sosial dan salah satu dari norma yang dipelajari adalah altruisme (Hoffman, 1981; Kameda, Takezawa, & Hastie, 2003). Norma sosial berupa kemampuan bekerjasama, berkolaborasi dan menciptakan sinergi menjadi norma yang wajib diinternalisasi, kemudian diwujudkan dalam perilaku prososial. Faktor kedua, perbandingan antara keuntungan dan kerugian saat melakukan perilaku prososial. Perilaku seseorang berlandaskan keinginan untuk memaksimalkan penghargaan dan meminimalkan biaya (Homans, 1961; Lawler & Thye, 1999; Thibaut & Kelley, 1959). Faktor ketiga, empati dan kepribadian altruism. Kemampuan untuk memahami keadaan orang lain, mengambil perspektif orang lain dan pertimbangan untuk tidak mementingkan diri sendiri saling bekerjasama untuk mendorong munculnya perilaku prososial (Baron, 2005). Faktor keempat adalah mood. Seseorang dengan kesadaran diri dan penguasaan diri yang baik tidak akan risau ataupun larut dalam suasana hatinya yang buruk, dan mampu melepaskan diri dari suasana hati yang buruk lebih cepat

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 dibandingkan orang yang memiliki kesadaran diri dan penguasaan diri kurang (Goleman, 1998). Faktor kelima, jenis kelamin. Hampir semua budaya di dunia memiliki norma untuk menentukan sifat dan perilaku untuk pria dan wanita, mempelajari sebagai anak laki-laki dan perempuan yang tumbuh berbeda. Dalam budaya barat, peran pria dituntut untuk menjadi ksatria dan heroik sedangkan perempuan diharapkan untuk menjadi pengasuh, peduli dan nilai dekat, hubungan jangka panjang. Faktor keenam adalah faktor lingkungan. Amanto (1983) menjelaskan bila orang tersebut sudah menginterlisasikan norma sosial (salah satunya saling membantu satu sama lain) yang dianut di lingkungan maka orang tersebut akan lebih mudah berperilaku prososial. Faktor ketujuh adalah tanggung jawab moral, berupa integritas moral, hipokrisi moral (Baron, 2005). Tanggung jawab moral tersebut menjadi motif seseorang dalam melakukan perilaku prososial, artinya seseorang terdorong untuk memenuhi standar tanggungjawab dan membangun komitmen untuk berperilaku prososial berdasarkan tingkat kekuatan motivasi mereka. Berdasarkan paparan singkat tersebut, dapat dikatakan bahwa perilaku prososial dipengaruhi oleh kemampuan individu untuk melakukan pengenalan diri dan penguasaan diri dalam membangun mood yang baik, kemampuan individu untuk melakukan empati, tingkat motivasi (komitmen) seseorang untuk

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 melakukan tanggung jawab moral, dan kecakapan sosial. Ini ditunjukkan saat manusia mempelajari dan melaksanakan norma masyarakat (misalnya tata krama pergaulan, cara mengungkapkan perasaan dalam pergaulan) terutama pada norma-norma kerjasama, gotong royong, berkolaborasi dan menciptakan sinergi. Goleman (1998) mengelompokkan kesadaran diri, pengaturan diri, empati, motivasi dan kemampuan sosial ke dalam sebuah variabel tunggal, yaitu kecerdasan emosional. Goleman (1998) menyatakan bahwa kecerdasaan emosional adalah kemampuan yang lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasaan, serta mengatur keadaan jiwa. Menurut Salovey dan Mayer (Papalia dkk, 2008) kecerdasaan emosional adalah kemampuan untuk melihat emosi di dalam diri sendiri dan orang lain, untuk membedakan antara mereka dan menggunakan informasi tersebut untuk membimbing pemikiran seseorang dan juga tindakan. Patton (1998) memberi definisi mengenai kecerdasaan emosional sebagai kemampuan untuk menggunakan emosi secara efektif untuk mencapai tujuan, membangun hubungan produktif, dan meraih keberhasilan. Sedangkan Goleman menyatakan bahwa kecerdasaan emosional adalah kemampuan yang lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasaan, serta mengatur keadaan jiwa.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 Goleman (1998) mengadaptasi lima komponen dasar kecakapan emosi dan kecakapan sosial sebagai berikut ; (a) kesadaran diri, (b) pengaturan diri, (c) motivasi, (d) empati, (e) keterampilan sosial. Pertama, kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengenali apa yang individu rasakan dan menggunakan untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri (Goleman, 1998). Kedua, pengaturan diri adalah kemampuan menangani emosi sedemikian rupa sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas. Kemampuan pengaturan diri dapat diuraikan menjadi 5, yaitu kendali diri, sifat dapat dipercaya, kewaspadaan, adaptibilitas dan inovasi. Ketiga adalah motivasi. Motivasi adalah kemampuan menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun menuju sasaran, membantu mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif, serta untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi. Keempat, empati. Empati adalah kemampuan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam – macam orang. Kelima, keterampilan sosial adalah kemampuan mengenai emosi yang baik ketika berhubungan dengan orang lain dengan cermat membaca situasi serta jaringan sosial. Sebelumnya ada penelitian yang meneliti tentang hubungan perilaku prososial dengan empati dan kematangan emosi. Penelitian Gusti Yuli Asih dan Margaretha Maria Shinta Pratiwi (2010) menemukan adanya hubungan positif perilaku prososial dengan empati dan kematangan emosi. Perilaku prososial

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 ditunjukkan dengan Rxy = 0.932 dengan p = 0,000, sehingga hipotesis dalam penelitian ini diterima. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara empati, kematangan emosi, jenis kelamin terhadap perilaku prososial. Empati terhadap perilaku prososial rxy = 0,884 dan p= 0,000. Kematangan emosi terhadap perilaku prososial rxy = 0,794 dan p = 0,000. Hipotesis yang menyatakan bahwa tidak adanya perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan terhadap perilaku prososial. Penelitian juga dilakukan oleh Toi dan Batson pada tahun 1982 (dalam, Eisenberg dan. Mussen, 1989). Subjek penelitian adalah mahasiswa. Peneliti membuat sebuah manipulasi yang dirancang untuk mendorong mahasiswa untuk mengambil peran dan berempati. Hasil dari penelitian ini adalah siswa yang dalam kondisi empati akan berusaha membantu kesulitan temannya, tetapi sebagian dari mahasiswa tersebut membantu karena alasan tidak ingin terbeban dari perasaan bersalah. Perasaan bersalah dimunculkan dari tidak sesuainya keinginannya dengan norma yang ada di sekitarnya, sehingga muncullah “personal distress”. Cara mudah untuk menghilangkan personal distress adalah mengikuti norma yang berlangsung. Sehingga keadaan emosional seseorang memiliki korelasi yang kuat dengan terjadi perilaku prososial seseorang (Eisenberg dan. Mussen, 1989) Goleman (1998) berpendapat bahwa orang yang memiliki kecerdasaan emosional yang tinggi lebih cenderung mudah untuk mengambil keputusan untuk

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 bertindak, karena orang tersebut dapat menanggani emosi yang ada dalam dirinya. Selain itu, memiliki hasrat untuk membantu dan bertindak secara efektif. Orang yang memiliki kecerdasaan emosional tinggi juga mampu merasakan apa yang orang lain rasakan sesuai dengan persepsi mereka. Orang yang memiliki kecerdasaan emosi tinggi juga mampu menginternalisasikan norma sosial yang dianut (norma menolong) dan lebih mudah mengaplikasikan dalam bentuk tindakan, yaitu perilaku menolong. Ini berlaku sebaliknya dengan orang yang memiliki kecerdasaan emosional rendah. Dimana orang akan sulit belajar atau menginternalisasikan norma sosial serta sulit mengaplikasikan tindakan di kehidupan sehari-hari. Berdasarkan penelitian-penelitian yang dipaparkan sebelumnya dan juga melihat kasus-kasus yang terjadi di masyarakat, peneliti semakin tertarik untuk mencari hubungan antara kecerdasaan emosi dengan perilaku prososial, khususnya pada lingkup polisi. B. Rumusan Permasalahan Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dibahas sebelumnya, maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Apakah ada hubungan antara kecerdasaan emosional dengan perilaku prososial pada polisi?

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasaan emosional dengan perilaku prososial pada polisi. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan memperkaya pengetahuan di bidang psikologi sosial, khususnya tentang perilaku prososial dengan kecerdasan emosional 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan membuat subjek dapat melakukan evaluasi dan refleksi terhadap perilaku prososial dan kecerdasaan emosionalnya.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Prososial 1. Definisi Perilaku Prososial Menurut Baron (2005) tindakan prososial adalah tindakan yang tidak menyediakan keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut dan bahkan mungkin mengandung derajat risiko tertentu. Perilaku prososial adalah perilaku yang memberi manfaat yang baik kepada orang lain atau masyarakat disekitarnya, dengan cara menolong orang lain tanpa memandang tentang motif dari penolong (Baron, 2008 ; Taylor dkk, 2006). Watson (1984) berpendapat bahwa perilaku prososial adalah tindakan yang memiliki konsekuensi positif bagi orang lain, tindakan menolong sepenuhnya yang dimotivasi oleh kepentingan sendiri tanpa mengharapkan sesuatu untuk dirinya. Pendapat ini juga di dukung oleh pendapat Myers (dalam Sarwono, 2002) menyatakan bahwa perilaku prososial atau altruisme adalah hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan kepentingan sendiri. Kartono (2003) menambahkan tentang teori prososial. Kartono (2003) menyatakan bahwa perilaku prososial adalah suatu perilaku sosial yang menguntungkan di dalamnya terdapat unsur unsur kebersamaan, kerjasama, kooperatif, dan altruisme. 13

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 Perilaku prososial dapat memberikan pengaruh bagaimana individu melakukan interaksi sosial. Sears (1991) memberikan pemahaman mendasar bahwa masing-masing individu bukanlah semata-mata makhluk tunggal yang mampu hidup sendiri, melainkan sebagai makhluk sosial yang sangat bergantung pada individu lain, individu tidak dapat menikmati hidup yang wajar dan bahagia tanpa lingkungan sosial. Taylor dkk (2006) juga berpendapat hal yang sama, bahwa perilaku prososial sangat efektif membangun relasi antara penolong dengan orang lain. Dapat disimpulkan bahwa perilaku prososial adalah perilaku yang memberi bantuan kepada orang lain tanpa memikirkan kerugian dari penolong itu sendiri. 2. Aspek – aspek perilaku prososial. Menurut Mussen dkk. (dalam, Asih dan Pratiwi, 2010) menjelaskan aspek- aspek dari perilaku prososial. Mussen membagi aspek-aspek tersebut menjadi 5, yaitu : a. Berbagi Kesediaan penolong untuk berbagi perasaan dengan orang lain (korban) dalam suasana suka maupun suasana duka. b. Kerjasama

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Kesedian untuk bekerjasama dengan orang lain demi mencapai tujuan bersama. c. Menolong Kesediaan untuk menolong orang lain, di saat orang tersebut sedang berada di situasi yang sulit. d. Bertindak jujur Kesediaan untuk melakukan suatu tindakan yang tidak dibuat-buat (apa adanya) dan tidak berbuat curang. e. Berderma Kesediaan untuk memberikan secara sukarela sebagian dari barang miliknya kepada orang yang lain yang sedang membutuhkan. Bringham (dalam, Asih dan Pratiwi, 2010) juga memberikan pendapatnya tentang aspek-aspek dari perilaku prososial. Ada sedikit perbedaan yang diungkapkan oleh Bringham. Bringham mengungkapkan tentang persahabatan di dalam aspek prososial sedangkan Mussen tidak. Bringham membagi aspek prososial menjadi 5, yaitu: a. Persahabatan Ketersediaan penolong untuk menjalin relasi yang lebih dekat lagi dengan orang lain.

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 b. Kerjasama Ketersediaan untuk bekerjasama dengan orang lain agar tercapai tujuan yang diinginkan. c. Menolong Kesediaan untuk menolong orang lain yang berada dalam situasi kesulitan atau membutuhkan pertolongan d. Bertindak jujur Kesediaan penolong untuk bertindak apa adanya dan tidak berbuat curang e. Berderma Kesediaan untuk memberikan secara sukarela sebagian dari barang miliknya kepada orang yang lebih membutuhkan. Aspek-aspek tersebut memiliki kaitan yang erat antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, di penelitian ini menggunakan aspek sebagai berikut : berderma, persahabatan, kerjasama, menolong, bertindak jujur dan berbagi. 3. Faktor – faktor perilaku prososial Aronson dkk (2005) dan Baron (2005) memaparkan bahwa ada 7 faktor yang mempengaruhi perilaku prososial, yaitu:

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 a. Faktor naluri dan gen. Ahli biologi evolusi seperti E.O. Wilson (1975) dan Richard Dawkins (1976) telah menggunakan prinsip-prinsip teori evolusi untuk menjelaskan perilaku sosial seperti agresi dan altruisme dan diterima secara luas sebagai psikologi evolusioner. Psikologi evolusioner menyatakan bahwa perilaku didorong oleh atribut genetis yang berevolusi karena atribut tersebut kemungkinan diwariskan ke gen seseorang pada generasi berikutnya. Teori ini menerangkan perilaku prososial dalam 3 bagian. Pertama seleksi alam akan mendukung mereka yang menolong kerabat yang cukup muda untuk bereproduksi. Perilaku menolong pada kerabat dekat dipersepsikan sebagai hal yang rasional, etis dan merupakan kewajiban, tetapi hal ini berlaku hanya jika menolong akan memberi pengaruh terhadap keberhasilan bertahan hidup (survival) atau reproduksi (Kruger, 2001) dan hanya jika individu merasa dekat secara emosional dengan kerabatnya (Korchmaros ;Kenny, 2001). Kedua, manusia berekspetasi bahwa menolong orang lain pada saat ini akan memperbesar kemungkinan bahwa mereka yang telah ditolong akan membantu penolong di waktu yang akan datang. Ketiga, manusia yang dapat mempelajari dengan baik tentang norma-norma dan kebiasaan masyarakat di lingkungannya akan lebih dapat bertahan hidup, misalnya bagaimana cara untuk bekerja sama.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 b. Perbandingan antara keuntungan dan kerugian saat melakukan perilaku prososial. Seseorang akan memaksimalkan penghargaan sosial daripada kerugian sosial. Perilaku prososial merupakan perilaku yang memiliki biaya mahal (misalnya mengakibatkan rasa sakit, kehilangan materi dan memakan waktu) karena itu, seseorang harus yakin adanya timbal balik positif yang lebih besar daripada biaya yang telah ia keluarkan (dalam, Baron, 2005). c. Empati dan kepribadian altruism. Secara afektif, orang yang berempati merasakan apa yang orang lain rasakan (Darley, 1993), merasa simpatik, tidak hanya merasakan penderitaan orang lain tetapi juga mengekspresikan kepedulian dan mencoba melakukan sesuatu untuk meringankan penderitaan mereka. Individu yang memiliki empati tinggi lebih termotivasi untuk menolong seorang teman daripada mereka yang memiliki empati rendah (Schlenker & Britt, 2001). Secara kognitif, orang yang berempati memahami apa yang orang lain rasakan dan mengapa (Azar, 1997). Komponen dapat disimpulkan bahwa empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan orang lain, mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Fakta bahwa banyak aspek dari kepribadian terlibat dalam perilaku prososial telah menyebabkan para peneliti Robert Baron (2005) menyatakan bahwa suatu kombinasi dari faktor-faktor yang

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 relevan menentukan apa yang disebut sebagai kepribadian altruistik (altruistic personality). Altruisme adalah tingkah laku yang merefleksikan pertimbangan untuk tidak mementingkan diri sendiri demi kebaikan orang lain. d. Mood. Kondisi suasana hati yang baik akan meningkatkan peluang terjadinya perilaku menolong orang lain, sedangkan kondisi suasana hati yang tidak baik akan menghambat pertolongan (Amato, 1986; Rogers dkk, 1982; Thompson, Cowan, & Rosenham, 1980). Orang yang memiliki suasana hati yang baik cenderung memiliki sudut pandang positif terhadap kehidupan, mampu melihat sisi baik dalam setiap peristiwa dan terbuka pada orang lain. DL Rosenhan, Bill Moore, dan Bert Underwood (1974) mengatakan bahwa pengalaman positif menciptakan suasana umum dari kebaikan yang mencakup baik diri sendiri dan orang lain, sedangkan pengalaman negatif memiliki efek yang sebaliknya. Pendapat ini juga didukung oleh Alice M. Isen dan rekan-rekannya (dalam Stephen Worchel and Joel Cooper, 1979) menyatakan bahwa suasana hati yang baik melibatkan proses berpikir tentang materi positif. Mereka menemukan bahwa orang-orang yang memiliki suasana hati yang baik lebih cenderung mengambil informasi positif daripada informasi negatif dari memori. Pada akhirnya, tindakan

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 membantu lebih cenderung mengikuti dari situasi seperti ini (terutama ketika membantu ini kompatibel dengan pikiran yang menyenangkan). Singkatnya, suasana hati yang baik, bahan yang menyenangkan dari memori, dan kegiatan prososial saling memperkuat satu sama lain. Selain itu juga, kondisi mood yang baik terutama dibangun oleh kesadaran diri dan penguasaan diri mereka. e. Jenis kelamin. Sebenarnya antara pria dan wanita sama sama memiliki keberanian yang luar biasa dalam membantu orang lain (Taylor dkk, 2005). Para wanita menawarkan bantuan untuk wanita dan pria dalam kadar yang sama, sedangkan pria lebih banyak menawarkan bantuan kepada wanita (Myers, 2012). Peneliti telah berfokus pada sikap membantu yang melibatkan tentang pengasuhan dan komitmen, tapi beberapa studi telah menemukan bahwa perempuan lebih membantu dalam jangka panjang, hubungan mengasuh daripada laki-laki (dalam, Elliot Aronson dkk, 2005). f. Faktor lingkungan. Amato (1983) menjelaskan hanya 15 persen orang yang tinggal di kota besar akan menawarkan pertolongan pada orang yang membutuhkan. Keadaan ini berbeda dengan seseorang dibesarkan di desa lalu pindah ke kota, orang tersebut akan tetap membantu orang lain. Ini disebabkan karena orang tersebut sudah menginterlisasikan norma sosial (salah

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 satunya saling membantu satu sama lain) yang dianut di lingkungan desa. Efek bystander juga mempengaruhi orang tersebut berperilaku prososial atau tidak. Kecenderungan untuk berespon prososial pada keadaan darurat dipengaruhi oleh jumlah bystander, probabilitas bahwa seorang bystander akan menolong menurun dan lamanya waktu sebelum pertolongan diberikan meningkat. g. Tanggung jawab moral, berupa integritas moral, hipokrisi moral. Integritas moral adalah motivasi untuk bermoral dan benar-benar terlibat dalam tingkah laku moral. Bagi mereka yang termotivasi dengan integritas moral, pertimbangan kebajikan dan keadilan terkadang sering sekali membutuhkan pengorbanan self-interest untuk melakukan hal yang benar. Bagi orang yang bermoral, konflik antara self-interest dan integritas moral dapat diselesaikan dengan pilihan bermoral, suatu pilihan yang juga dipengaruhi oleh dukungan internal dan eksternal. Kategori manusia yang ingin terlihat bermoral sementara sebenarnya orang tersebut sedang menghindari kerugian dari tingkah laku bermoral sebenarnya disebut hipokrisi moral. Individu pada kategori ini ini didorong oleh self-interest tetapi juga mempertimbangkan penampilan luar mereka. Kombinasi ini berarti bahwa penting bagi mereka untuk terlihat peduli dalam melakukan hal yang benar, sementara mereka sebenarnya tetap mengutamakan kepentingan-kepentingan mereka pribadi. Dua bentuk tanggungjawab

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 moral tersebut menjadi motif seseorang dalam melakukan perilaku prososial, artinya seseorang terdorong untuk memenuhi standar tanggungjawab dan membangun komitmen untuk berperilaku prososial berdasarkan tingkat kekuatan motivasi mereka. B. Kecerdasan Emosional 1. Definisi kecerdasan emosional (Emotion Intelligence) Pada tahun 1990, dua psikolog Salovey dan Mayer, membuat konsep kecerdasaan emosional ( Emotional Intelligence- EI). Menurut Salovey dan Mayer kecerdasaan emosional adalah kemampuan seseorang dalam memahami dan meregulasi emosi, suatu komponen penting dari tingkah laku yang efektif dan inteligen (dalam Papalia dkk., 2008). Selain itu EI adalah kemampuan untuk memonitor diri sendiri dan emosi orang lain, untuk membedakan diantaranya, dan menggunakan informasi tersebut untuk memandu berfikir dan bertindak. Terrel dan Hugses (2008) mengatakan bahwa EI membahas bagaimana manusia bertindak secara subjektif, non-perilaku kognitif keterampilan untuk mengelola dan meningkatkan hubungan dan kondisi kehidupan. Patton (1998) memberi pendapat tentang kecerdasan emosional, yaitu bahwa EI adalah kemampuan untuk menggunakan emosi secara efektif untuk mencapai sasaran, membangun relasi dan meraih keberhasilan. Goleman adalah psikolog yang mempopulerkan konsep kecerdasaan

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 emosional dan memperluaskan hingga mencakup beberapa kualitas seperti, optimisme, kecermatan, motivasi, empati, dan kompensasi sosial (dalam Papalia dkk., 2008). Goleman (1998) menyatakan bahwa kecerdasaan emosional adalah kemampuan yang lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasaan, serta mengatur keadaan jiwa. Dapat disimpulkan bahwa kecerdasaan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengelola emosi diri sendiri dan orang lain agar terciptanya relasi antara satu dengan yang lain. 2. Komponen -komponen kecerdasan emosional Goleman (1998) mengadaptasi model kecerdasaan emosional dari Salovey dan Mayer, yang menurutnya paling bermanfaat untuk memahami cara kerja kecerdasaan emosi dalam kehidupan sehari-hari. Goleman (1998) mengungkapkan ada 5 komponen dasar dari kecerdasaan emosional dan kecakapan sosial, yaitu : a. Kesadaran diri. Kemampuan untuk mengenali apa yang individu rasakan dan menjadi pengarah untuk pengambilan keputusan diri sendiri. Individu tersebut juga memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan dan kepercayaan diri yang kuat, ini yang disebut kesadaran diri.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 Kesadaran diri dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu kesadaran emosi, penilaian diri dan percaya diri. 1) Kesadaran emosi Kasadaran emosi berarti individu dapat mengenali emosi diri sendiri dan juga efek dari emosinya. 2) Penilaian diri Kemampuan penilaian diri menunjukkan secara luas pengetahuan individu itu sendiri. Pengetahuan yang dimaksud adalah tentang kekuatan dan batas-batas diri sendiri. 3) Percaya diri Kepercayan diri menunjukkan seberapa besar keyakinan yang dimiliki individu tentang harga diri dan kemampuan individu itu sendiri. b. Pengaturan diri Pengaturan diri adalah kemampuan menangani emosi sehingga berdampak positif kepada individu itu sendiri, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda sesuatu hal sebelum mencapai target dan mampu pulih kembali dari tekanan emosi. Kemampuan pengaturan diri dapat dibagi menjadi 5, yaitu :

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 1) Kendali diri Kendali diri yaitu kemampuan mengelola emosi-emosi dan desakan-desakan hati yang sifatnya tidak baik 2) Sifat dapat dipercaya Kemampuan memelihara dan menjunjung norma kejujuran dan integritas. 3) Kewaspadaan Kewaspadaan yaitu sikap yang bertanggung jawab pada kinerja diri sendiri. 4) Adaptibilas Adaptibilitas yaitu mampu dalam menghadapi perubahan perubahan yang terjadi 5) Inovasi Inovasi adalah kemampuan mudah menerima dan terbuka pada ide-ide, pendekatan dan informasi- informasi yang baru c. Motivasi Motivasi adalah kemampuan menggunakan hasrat untuk menggerakan dan menuntun kearah sasaran, membantu mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif, serta mampu menghadapi kegagalan dan frustasi. Motivasi ini dapat di bagi menjadi 4, yaitu : 1) Dorongan prestasi

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 Dorongan prestasi adalah dorongan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya atau memenuhi standar keberhasilan 2) Komitmen Kemampuan dimiliki oleh individu yang dapat menyesuaikan diri dengan tujuan kelompok disebut komitmen 3) Inisiatif Inisiatif yaitu kesiapan untuk melihat dan memanfaatkan kesempatan 4) Optimisme Optimisme adalah kegigihan dalam memperjuangkan tujuannya walaupun ada rintangan dan kegagalan. d. Empati Empati adalah kemampuan yang dimiliki oleh individu yang dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, selain itu juga memahami perspektif orang lain, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang. Empati dapat diuraikan menjadi 5, yaitu: 1) Memahami orang lain Memahami orang lain adalah kemampuan mengindra perasaan dan juga perspektif orang lain. Selain itu, individu tersebut menunjukkan minat aktif pada kepentingan orang lain.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 2) Orientasi pelayanan Orientasi pelayanan yaitu mengantisipasi, mengenali dan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain. 3) Mengembangkan orang lain Mengembangkan orang lain adalah kemampuan merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha mengembangkan kemampuan orang lain. 4) Menerima keragaman Menerima keragaman yaitu menumbuhkan peluang melalui relasi yang orang lain. 5) Kesadaran politik Kesadaran emosi adalah kemampuan yang mampu membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan. e. Keterampilan sosial Keterampilan sosial adalah kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berrelasi dengan orang lain dan juga cermat membaca situasi serta jaringan sosial. Individu yang memiliki kemampuan ini dapat dengan mudah berinteraksi dengan orang lain dan keterampilan ini dapat dengan mudah mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 menyelesaikan perselisihan, serta untuk bekerja sama dalam tim. Keterampilan sosial ini dapat dibagi menjadi 8 bagian, yaitu : 1) Pengaruh Pengaruh yaitu memiliki berbagai taktik dan strategi untuk persuasi orang lain. 2) Komunikasi Mengirimkan pesan yang jelas dan tepat, juga meyakinkan orang lain 3) Kepemimpinan Kepimpinan adalah kemampuan yang dapat membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok serta orang lain. 4) Katalisator perubahan Katalisator perubahan adalah kemampuan memulai dan mengelola perubahan 5) Manajemen konflik Manajemen konflik yaitu kemampuan yang dapat bernegosiasi dan memecahkan silang pendapat. 6) Pengikat jaringan Pengikat jaringan adalah kemampuan menumbuhkan hubungan relasi sebagai alat.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 7) Kolaborasi dan kooperasi Kolaborasi dan kooperasi yaitu kemampuan yang mampu bekerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama 8) Kemampuan tim Kemampuan tim yaitu kemampuan yang dapat menciptakan sinergi pada kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama. 3. Ciri-ciri kecerdasan emosional Kecerdasan emosional bisa terditeksi dengan melihat tingkah laku yang mereka lakukan. Orang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik biasanya memiliki ciri- ciri sebagai berikut (dalam, Asih dan Pratiwi, 2002): 1) Penerimaan diri yang baik. Individu yang yang memiliki kecerdasaan emosi yang baik akan menerima kondisi fisik maupun psikisnya, baik secara pribadi dan sosial. 2) Pada umumnya tidak impulsif karena dapat mengatur pikirannya dalam memberikan tanggapan terhadap stimulus. 3) Dapat mengontrol emosi dengan baik dan juga mengontrol ekspresi emosinya dengan baik. 4) Dapat berpikir objektif sehingga akan lebih sabar, pengertian dan cukup memiliki sikap toleransi yang baik

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 5) Bertanggung jawab penuh, dapat berdiri sendiri, tidak mudah mengalami frustasi dan juga mampu menghadapi masalah. 6) Kasih sayang. Individu mempunyai rasa kasih sayang seperti kasih sayang orang tua atau keluarganya sehingga dapat diwujudkan kepada orang lain sesuai dengan norma sosial yang ada. 7) Emosi terbuka, lapang, yang artinya individu tersebut menerima kritik dan saran dari orang lain demi pengembangan diri dan memahami secara mendalam tentang dirinya. 8) Objektif, yang dimana individu tersebut akan memandang kejadian berdasarkan dunia orang lain dan tidak hanya dari sudut pandang pribadi. 4. Dampak Kecerdasan Emosional Kemampuan kecerdasan emosional memiliki dampak kepada individu itu sendiri. Dampak dari kecerdasan emosional (Goleman, 1998) adalah : 1) Individu tersebut lebih bertanggung jawab pada tugasnya. 2) Individu dapat lebih memahami keadaan orang lain, karena memiliki tenggang rasa dan sangat perhatian dengan lingkungannya. 3) Individu juga lebih pintar untuk membuat strategi dan terampil dalam menyelesaikan konflik atau masalah antar pribadi.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 4) Saat individu memahami keadaan orang lain, individu tersebut lebih bersifat sosial, suka menolong, dan mampu mengurangi berperilaku kasar pada orang lain. 5) Individu lebih memahami akibat-akibat dari tindakan mereka, sehingga individu tersebut akan berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. 6) Individu juga mampu mengatasi kecemasan yang ada dalam dirinya. 7) Individu dapat dijadikan tempat bergantung oleh rekan-rekan sebayanya. 8) Individu mampu bekerja sama dengan orang lain. 9) Individu mudah bergaul dengan orang lain sehingga mempunyai teman yang banyak. 10) Individu juga membawa suasana yang lebih positif di lingkungannya. C. Polisi Polisi adalah institusi yang bertugas menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban agar tercipta suasana kehidupan yang aman, tentram dan damai (police as a maintenance order officer) (Sadjijono, 2006). Polisi juga berperan dalam menegakkan hokum dan norma yang di hidup atau dianut oleh masyarakat ( police as an enforcement order officer). Pada saat memerankan profesi ini, polisi dapat memaksakan berlakunya hukum. Jika

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 ada masyarakat yang melanggar hukum, terurtama perilaku yang menyimpang (kejahatan), maka diperlukan peran polisi untuk memulihkan keadaan (restitutio in integrum) dan memaksa si pelanggar hukum untuk bertanggung jawab atau menanggung akibat dari perbuatannya (Sadjijono, 2006). Banyak perilaku polisi yang menunjukkan ketidak profesionalnya saat bekerja. Contohnya saja berita yang dimuat di harian Pikiran Rakyat, tanggal 15 Juni 2004, karena kesalahan plat nomor kendaraan, kendaraan pelapor diberhentikan oleh oknum Polantas, kemudian diminta SIM dan STNK, sampai akhirnya oknum Polantas tersebut menawarkan “denda damai”. Pada saat itu pelapor tidak membawa uang, dan karena kesal oknum Polantas tersebut kemudian melemparkan SIM dan STNK ke muka pelapor. Ada juga fenomena yang membahas tentang perilaku kurang baik dari polisi lalu lintas. Masyarakat sering mengeluhkan tentang ketidakramahannya sampai perilaku yang suka menilang dengan paksa (Jawa Pos, 4/7/2006). Fenomena- fenomena ini menjadi latar belakang mengapa masyarakat mempertanyakan bagaimana perilaku polisi yang sebenarnya. Banyak penelitian yang membahas tentang polisi. salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Dwi Susanti (2007), yang ingin melihat apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan profesionalisme pada polisi fungsi Samapta Kepolisian wilayah kota besar Semarang. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan Skala Profesionalisme

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 pada Polisi dan Skala Kecerdasan Emosional yang disebarkan kepada 70 subjek. Skala Profesionalisme pada Polisi terdiri dari 26 aitem dengan α = 0, 809, dan Skala Kecerdasan Emosional terdiri dari 25 aitem dengan α = 0, 853. Hasil analisis tersebut juga menunjukkan adanya hubungan positif dan sangat signifikan antara kecerdasan emosional dengan profesionalisme pada polisi yang ditunjukkan oleh angka korelasi rxy = 0,502 dengan p = 0,000 (p<0,05). Penelian juga dilakukan oleh Adria Dahriani (2007), yang membahas perilaku prososial terhadap pengguna jalan (studi fenomenologis pada polisi lalu lintas). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan observasi. Subjek penelitain ini sebanyak tiga personil anggota Satlantas Polwiltabes Semarang yang berada di pos penjagaan yang berbeda-beda. Penelitian ini menemukan bahwa dalam berperilaku prososial memerlukan proses evaluasi, berupa pertimbangan-pertimbangan tertentu, sampai pada faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial subjek. Hasil evaluasi tersebut akan mengambarkan perilaku prososial subjek dalam bentuk respon yang sesuai dengan sikapnya. Polisi harus tetap siaga terhadap keadaan yang mengancam keselamatan masyarakat. Di dalam UU Kepolisian No.2 Tahun 2002 disebutkan bahwa kepolisian merupakan satu satu fungsi pemerintah Negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat, serta

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam pasal 13 dan 14 UU No. 2 tahun 2002 menjelaskan beberapa tugas yang dilakoni oleh polisi (Sadjijono, 2006), yaitu: 1) Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. 2) Menegakkan hukum. 3) Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. 4) Membina dan meningkatkan partisipasi, kesadaran dan ketaatan masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. 5) Turut serta dalam pembinaan hukum nasional. Tugas polisi juga diatur dalam UU No. 13 tahun 1961 (Sadjijono, 2006) yang menyatakan bahwa polisi bertugas memelihara keselamatan orang, benda dan masyarakat, termasuk memberi perlindungan dan pertolongan. Polisi juga bertugas mencegah dan memberantas menjalarnya penyakit sosial, misalnya gelandangan, premanisme, dan lain-lain. Tidak hanya itu, polisi juga menuntun warga masyarakat untuk taat terhadap peraturan-peraturan negara.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 D. Dinamika Hubungan antara Kecerdasan Emosional dan Perilaku Prososial pada Polisi Menurut Hurlock (1999) kecerdasaan emosional adalah tidak meledaknya emosi saat berelasi dengan orang lain melainkan menunggu situasi dan tempat yang tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara yang bisa diterima oleh orang lain. Dengan kemampuan ini, manusia akan lebih mudah berinteraksi dengan orang lain, termasuk polisi. Polisi adalah bagian birokrasi pemerintahan yang fungsinya menjalankan kontrol sosial sehingga polisi memiliki monolopi kekuatan dan kekuasaan. Selama keadaan biasa-biasa saja atau normal, maka yang terlihat dari tugas polisi adalah menjalankan penegakan hukum. Penegakan hukum sudah menjadi lambang bagi pekerjaan kontrol sosial tersebut (Rahardjo, 2007). Saat polisi melaksanakan tugasnya, dibutuhkan cara menanggani emosi dengan baik saat berinteraksi dengan masyarakat dan juga bisa membaca situasi yang terjadi di sekelilingnya. Dengan adanya kehadiran polisi, masyarakat akan lebih terlindungi, diayomi dan dilayani sehingga menciptakan suasana yang aman, tentram, tertib dan damai di kehidupan masyarakat (Sadjijono, 2006). Tugas ini memberikan beban kepada polisi untuk memberi pelayanan yang terbaik (public servant) pada masyarakat. Selain itu juga, polisi diharuskan terjun langsung ke lapangan dan bersentuhan

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 langsung dengan masyakarat, agar pelayanan mudah di berikan oleh polisi (Rahardjo, 2007). Untuk itu dibutuhkan kemampuan untuk mengelola emosi dengan baik, ini disebut dengan kecerdasaan emosional. Menurut Hurlock (1999) kecerdasaan emosional adalah tidak meledaknya emosi saat berelasi dengan orang lain melainkan menunggu situasi dan tempat yang tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara yang bisa diterima oleh orang lain. Dengan kemampuan ini, manusia akan lebih mudah berinteraksi dengan orang lain, termasuk polisi. Polisi yang memiliki kecerdasaan emosional yang baik, akan lebih mudah mengambil tindakan yang tepat. Selain itu, polisi juga memiliki motivasi untuk mencapai tujuan atau kepentingan bersama, bukan hanya kepentingan pribadi. Ini sangat berkaitan erat dengan bagaimana polisi tersebut memenuhi tanggung jawab moral dan juga merupakan keuntungan bagi pekerjaannya, karena mendapat reward dari tindakannya. Dengan kemampuan ini, polisi akan sangat mudah untuk berinteraksi dengan orang lain, sehingga memiliki ikatan yang kuat dengan sosialnya. Dengan ini, polisi akan lebih mudah menginterlisasikan norma sosial yang berlaku. Didalam tugasnya, polisi berhadapan dengan banyak konflik. Dengan kemampuan ini, polisi akan lebih mudah menyelesaikan permasalahan, baik permasalahan sosial atau pribadi. Ini disebabkan karena polisi telah mengatur strategistrategi atau berpikir secara matang-matang sebelum bertindak. Ini juga

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 berhubungan dengan tanggung jawab moral seseorang. Dimana polisi harus mempertimbangkan kebajikan dan keadilan bahkan pengorbanan dan ini merupakan tugas dari polisi. dengan kemampuan ini juga, polisi dapat mengendalikan emosi (mood) dirinya sendiri. Polisi juga harus memiliki kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain dan ikut serta berperan dalam pergulatan dalam arena kehidupan karena ini merupakan salah satu tugas polisi, kemampuan ini disebut kemampuan berempati (Goleman, 1998). Faktor inilah yang membuat seseorang mengambil peran sebagai penolong di dalam situasi yang genting. Ada teori pendukung dari peneliti empati, Hoffman (dalam, Goleman, 1998) berpendapat bahwa akar moralitas ada dalam empati, sebab berempati pada orang yang membutuhkan misalnya orang sakit, bahaya atau kemiskinan dan ikut merasakan kesedihan mereka, membuat orang terdorong untuk bertindak memberi bantuan. Hoffman berpendapat bahwa kemampuan yang sama untuk merasakan (empati), untuk menempatkan diri pada posisi orang lain membuat seseorang menganut prinsip-prinsip moral tertentu. Hoffman (dalam, Goleman, 1998) berpendapat bahwa memiliki empati yang rendah atau tinggi, maka recognition of affect in others yang mengandung aspek kognitif lebih berpengaruh dalam ikut serta memberikan dan melahirkan intensi prososial. Mill (dalam, Goleman, 1998) juga mengatakan bahwa, semakin besar empati yang dirasakan seseorang terhadap korban, semakin

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 besar pula kecenderungan orang tersebut untuk campur tangan. Campur tangan yang dilakukan oleh saksi, tergantung dari prinsip moral yang dianut oleh sanksi. Prinsip moral itu bisa saja perilaku menolong. Perilaku menolong ini dikenal sebagai perilaku prososial. Perilaku prososial adalah tindakan atau perilaku menolong yang memberikan keuntungan secara tidak langsung pada orang lain dan mungkin tindakan menolong tersebut memiliki resiko untuk penolong (Baron, 2005). Perilaku prososial inilah yang menjadi tugas dari polisi. Dimana polisi tersebut harus bertindak menolong tanpa memandang latar belakang korban dan berani untuk menerima resiko yang akan diterimanya dari perilaku menolong. Perilaku prososial ini akan membantu polisi untuk membangun relasi dengan masyarakat, sehingga image polisi bisa menjadi lebih baik di mata masyarakat Indonesia.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 BAGAN DINAMIKA PSIKOLOGIS Kecerdasan Merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain Empati Dapat berinteraksi dengan orang dengan baik Lingkungan Dapat mengendalikan diri Mood Perilaku Memiliki motivasi Untung/ rugi Emosional Membawa suasana yang lebih positif di lingkungannya Membuat keputusan untuk bertindak Memiliki strategi yang baik untuk menyelesaikan konflik Tanggung jawab Prososial

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 E. Hipotesis Berdasarkan teori-teori yang menjelaskan tentang kecerdasaan emosional dan perilaku prososial, maka “adanya hubungan yang positif antara kecerdasaan emosional dengan perilaku prososial pada polisi”. Jadi, semakin tinggi kecerdasan emosional yang dimiliki polisi, maka semakin tinggi perilaku prososialnya. Sebaliknya, semakin rendah kecerdasaan emosional yang dimiliki oleh polisi, maka polisi cenderung memiliki perilaku prososial yang rendah.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional. Penelitian korelasional akan menunjukkan apakah ada kaitannya antara setiap skor pernyataan yang bersangkutan dengan skor total skala dan ini dilihat dari besarnya koefisien korelasi (Azwar, 2005). Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kecerdasaan emosional dengan perilaku prososial pada polisi. B. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel – variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah : 1. Variabel Prediktor (Y) : Kecerdasan emosional 2. Variabel Kriterium(X) : Perilaku prososial C. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1) Perilaku Prososial Perilaku prososial adalah perilaku menolong yang dilakukan oleh polisi, yang dilakukan berdasarkan kepentingan sosial bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi. Perilaku prososial ini muncul 41

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 karena adanya kesadaran bahwa manusia itu adalah makhluk sosial bukan individual. Perilaku prososial individu polisi nampak dalam skor total skala yang dihasilkan dari skala perilaku prososial. Semakin tinggi skor perilaku prososial maka semakin tinggi perilaku prososial polisi dan semakin rendah skor perilaku prososial maka semakin rendah perilaku prososial polisi. Prososial memiliki aspek-aspek yang ingin diteliti, dan aspek tersebut sebagai berikut : a) Berbagi b) Kerjasama c) Menolong d) Berderma e) Persahabatan 2) Kecerdasaan Emosional Kecerdasaan emosional adalah kemampuan polisi tersebut dalam mengelola keadaan emosi diri sendiri dan juga orang lain sehingga polisi akan lebih sensitif dengan keadaan disekitarnya. Selain itu, kemampuan ini juga akan membuat relasi polisi dengan masyarakat terjalin dengan baik. Kecerdasan emosional individu polisi nampak dalam skor total skala yang dihasilkan dari skala kecerdasan emosional. Semakin tinggi skor kecerdasan emosional maka semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang dan semakin rendah skor

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 kecerdasan emosional maka semakin rendah kecerdasan emosional seseorang. Ada beberapa aspek yang ingin diteliti dari kecerdasan emosional, aspek-aspek tersebut sebagai berikut : a) Kesadaran diri b) Pengatuan diri c) Motivasi d) Empati e) Keterampilan sosial D. Subjek Penelitian Sampel penelitian ini adalah polisi dalam tahap perkembangan dewasa awal laki-laki dan perempuan dengan rentang usia 18-40 tahun dan dewasa tengah laki-laki dan perempuan dengan rentang usia 40-60 tahun (Hurlock, 1999). Dimana pada usia 18-60 adalah usia yang masih produktif (Hurlock, 1999). Subjek dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Dimana teknik ini melakukan pemilihan subjek dengan ciri-ciri atau karakteristik tertentu yang sudah diketahui sebelumnya (Hadi, 2000). Peneliti memilih subjek yang bekerja di bagian operasional, karena subjek lebih sering bertatap muka dengan masyarakat.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 E. Metode dan Alat Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan cara metode skala. Skala adalah pertanyaan yang disusun untuk mengungkap atribut-atribut tertentu melalui respon terhadap pertanyaan yang diberikan (Azwar, 2012). 1. Skala Kecerdasan Emosional Skala kecerdasan emosional ini bertujuan untuk melihat tingkat kecerdasaan emosional pada polisi. Skala ini menggunakan skala tipe Likert, dimana masing-masing item terdiri dari empat kategori jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Setiap kategori diberi skor sebagai berikut: Untuk aitem yang favorabel : Nilai 4 : Untuk jawaban Sangat Sesuai (SS), artinya subyek sangat setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa sangat sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek. Nilai 3 : Untuk jawaban Sesuai (S), artinya subyek setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek. Nilai 2 : Untuk jawaban Tidak Sesuai (TS), artinya subyek tidak setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa tidak sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek.

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Nilai 1 : Untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS), artinya subyek sangat tidak setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa sangat tidak sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek. Untuk aitem yang unfavorabel : Nilai 1 : Untuk jawaban Sangat Sesuai (SS), artinya subyek sangat setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa sangat sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek. Nilai 2: Untuk jawaban Sesuai (S), artinya subyek setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek. Nilai 3 : Untuk jawaban Tidak Sesuai (TS), artinya subyek tidak setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa tidak sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek. Nilai 4 : Untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS), artinya subyek sangat tidak setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa sangat tidak sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek. Peneliti mengunakan empat katerogi jawaban untuk menghindari dari kelemahan 5 kategori jawaban, karena 5 kategori jawaban memiliki arti ganda atau belum bisa memutuskan jawaban yang dipilih (Hadi, 2004). Subjek akan lebih cenderung memilih

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 jawaban yang ada di tengah pada kategori yang ganjil, ini disebut juga central tendency effect. Untuk menghindari efek tersebut, peneliti memutuskan untuk menggunakan empat katerogi jawaban. Skor total yang diperoleh dari skala kecerdasaan emosional akan menunjukkan bahwa seberapa tinggi rendahnya yang dimiliki subjek. Peneliti membuat item berjumlah 50 pertanyaan dengan komposisi yang seimbang disetiap aspeknya. Penyebaran item dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1 Distribusi Item Skala Kecerdasan Emosional No. Aspek Kecerdasaan Emosional Favorable 8, 12, 45, 26, 4 Unfavorable 28, 44, 21, 17, 41 42, 29, 23, 13, 6 19, 11, 34, 46, 36 47, 1, 30, 20, 35 24, 49, 9, 39, 22 Empati 48, 31, 18, 15, 3 5, 14, 50, 33, 38 Keterampilan sosial 37, 43, 10, 32, 7 16, 25, 40, 2, 27 25 25 Kesadaran diri 1. Pengaturan diri 2. Motivasi 3. 4. 5. No. Item Total Jumlah Total 10 10 10 10 10 50

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 2. Skala Perilaku Prososial Skala perilaku prososial ini bertujuan untuk melihat tingkat perilaku prososial pada polisi. Sebelumnya, ada skala prososial yang telah dibuat oleh peneliti sebelumnya, nama skala tersebut adalah yaitu Altruistic Personality Scale, Social Values Orientation (SVO) dan Philosophies Of Human Nature Altruisme Scale. Skala Altruistic Personality Scale ini seperti skala Likert. Dimana subjek memilih kategori dari tidak pernah sampai sering (Rushton dkk, 1981). Social Values Orientation (SVO) bertujuan untuk membagi responden ke dalam satu dari tiga kategori. Tiga kategori itu adalah altruism, egois dan kompetitor. Subjek disuruh memilih diantara 3 pilihan hipotesis. Subjek harus memberikan penilai reward untuk dirinya sendiri dan orang lain. Untuk mengetahui hasil subjek, dilihat dari nilai diri sendiri dan orang lain (Van Lange, 1999). Sedangkan Philosophies Of Human Nature Altruisme Scale adalah penilai filosofi seseorang dari sifat manusia. Skala ini memiliki satu sampai enam sub skala filosofi. Skala ini memiliki total 120 item. Subjek disuruh untuk membaca pernyataan dan memilih kategori dari sangat setuju dan sangat tidak setuju dengan melingkari nomor di depan pernyataan. Poin yang diberikan untuk jawaban yang tidak setuju -3 sampai 3 untuk jawaban sangat setuju (Wrightsman, 1964).

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Peneliti menggunakan skala Likert, yang hampir sama dengan dimensi skala Altruistic Personality Scale. Peneliti berharap hasil yang didapat hampir sama dengan skala dari Altruistic Personality Scale. Dimana masing-masing item terdiri dari empat kategori jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Setiap kategori diberi skor sebagai berikut: Untuk aitem yang favorabel : Nilai 4 : Untuk jawaban Sangat Sesuai (SS), artinya subyek sangat setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa sangat sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek. Nilai 3 : Untuk jawaban Sesuai (S), artinya subyek setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa sesuai dengan keadaan yang dirasakan Nilai 2 : Untuk jawaban Tidak setuju dengan oleh subyek. Sesuai (TS), artinya subyek tidak pernyataan yang tersedia karena dirasa tidak sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek. Nilai 1 : Untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS), artinya subyek sangat tidak setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa sangat tidak sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Untuk aitem yang unfavorabel : Nilai 1 : Untuk jawaban Sangat Sesuai (SS), artinya subyek sangat setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa sangat sesuai dengan keadaan yang dirasakanoleh subyek. Nilai 2: Untuk jawaban Sesuai (S), artinya subyek setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek. Nilai 3 : Untuk jawaban Tidak Sesuai (TS), artinya subyek tidak setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa tidak sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek. Nilai 4 : Untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS), artinya subyek sangat tidak setuju dengan pernyataan yang tersedia karena dirasa sangat tidak sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh subyek. Peneliti juga menggunakan 4 kategori jawaban di skala perilaku prososial, agar menghindari kecenderungan subjek memilih jawaban tengah. Kecenderungan ini disebut juga dengan central tendency affect, karena jawaban yang berada di tengah memiliki arti ganda atau subjek belum bisa memutuskan jawaban. Skor total yang diperoleh dari skala Prososial akan menunjukkan tinggi rendahnya sikap prososial yang dimiliki subjek. Item berjumlah 48 pertanyaan dengan kompososi yang seimbang

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 disetiap aspeknya. Penyebaran item dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2 Distribusi Item Skala Perilaku Prososial No. Item 1. Aspek Perilaku Prososial Berbagi Favorable 25, 16, 1, 39 Unfavorable 8, 48, 31, 12 2. Kerjasama 41, 13, 3, 9 20, 33, 26, 34 8 3. Menolong 40, 17, 47, 21 23, 42, 4, 45 8 4. Berderma 5, 14, 35, 10 27, 6, 18, 28 8 5. Persahabatan 22, 38, 11, 44 43, 46, 32, 24 8 6. Bertindak jujur 29,19, 36, 7 2, 37, 15, 30 8 24 24 48 No. Total Jumlah Total 8 F. Pengujian Instrumen Penelitian 1. Validitas Untuk mengetahui apakah skala tersebut memiliki data yang akurat dan sesuai dengan tujuan ukurnya, maka diperlukan proses pengujian validitas (Azwar, 2013). Salah satu jenis validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Relevansi aitem dengan indikator perilaku dan dengan tujuan ukur dapat dievaluasi lewat nalar dan akal sehat yang mampu menilai apakah isi skala ini benar-benar mendukung konstrak teoritik yang diukur (Azwar, 2013). Validitas isi dari skala ini diselidiki melalui rasional terhadap isi tes

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 atau melalui profesional judgement. Yang dimaksud dengan profesional judgement adalah cara melihat apakah item-item dalam tes telah ditulis sesuai dengan batasan yang telah ditetapkan sebelumnya dan memeriksa apakah masing-masing item telah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkap dalam penelitian ini. 2. Seleksi Item Dasar kerja yang dipergunakan dalam seleksi aitem adalah memilih aitem yang fungsi ukurnya selaras atau sesuai dengan fungsi ukur yang dikehendaki penyusunnya. (Azwar, 2004). Pengujian daya dikriminasi aitem dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi antara distribusi skor aitem dengan disktribusi skor skala. Komputansi ini akan menghasilkan koefisien korelasi aitem-total (rix) (Azwar, 2013). Untuk skala-skala yang setiap aitemnya diberi skor pada level interval dapat digunakan formula koefisien korelasi product-moment Pearson. Korelasi product-moment Pearson dilihat dari semakin tinggi koefisien korelasi positif antara skor aitem dengan skor skala berarti semakin tinggi koefisien konsistensi antara aitem dengan skala secara keseluruhan yang berarti semakin tinggi daya bedanya. Bila koefisien korelasinya rendah mendekati angka nol berarti fungsi aitem tersebut tidak cocok dengan fungsi ukur skala dan daya bedanya rendah. Bila koefisien korelasi bernilai negatif, dapat dipastikan adanya cacat serius

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 pada aitem yang bersangkutan. (Azwar, 2013). Kriteria pemilihan aitem biasanya digunakan batasan (rix) ≥0,3. Aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 daya bedanya dianggap memuaskan, dan sebaliknya (Azwar, 2013). Berdasarkan hasil seleksi item skala kecerdasaan emosional, dari 50 item total terdapat 41 item valid dan 9 item gugur. Untuk menyeleraskan komposisi tiap aspeknya maka setiap aspek dibuat menjadi 6 item, sehingga total yang terpaksa digugurkan adalah 11 item. Hasil seleksi item dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3 Distribusi Item Skala Kecerdasan Emosional No. Aspek Kecerdasaan Emosional Jumlah Total Favorable 8, (12), 45, 26, *4 Unfavorable *28, 44, 21, 17, *41 Pengaturan diri *42, 29, *23, 13, 6 19, *11, (34), 46, 36 6 Motivasi 47, 1, *30, (20), 35 24, *49, *9, 39, 22 6 Empati (48), 31, 18, 15, (3) (5), (14), 50, 33, 38 6 Keterampilan sosial (37), *43, 10, 32, 7 16, 25, 40, *2, 27 6 15 15 30 Kesadaran diri 1. 2. 3. 4. 5. No. Item Total 6

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Keterangan : ( ) : item yang gugur * : item yang digugurkan Berdasarkan hasil seleksi item, dari 48 item skala prososial terdapat 41 item valid dan 7 item yang gugur. Unutk menyelaraskan tiap aspeknya maka setiap aspek dibuat menjadi 6 item (3 favorable dan 3 unfavorable) seperti yang terdapat dalam tabel berikut : Tabel 4 Distribusi Item Skala Perilaku Prososial No. Item 1. Aspek Perilaku Prososial Berbagi Favorable 25, 16, 1, (39) Unfavorable 8, 48, (31), 12 2. Kerjasama 41, (13), 3, 9 20, 33, (26), 34 6 3. Menolong 40, 17, (47), 21 23, 42, (4), 45 6 4. Berderma *5, 14, 35, 10 *27, 6, 18, 28 6 5. Persahabatan 22, 38, 11, (44) 43, 46, 32, (24) 6 6. Bertindak jujur (29),19, 36, 7 2, 37, (15), 30 6 18 18 36 No. Total Keterangan : ( ) : item yang gugur * : item yang digugurkan Jumlah Total 6

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 3. Reliabilitas Reliabilitas suatu alat tes menunjukkan seberapa jauh hasil pengukuran alat tersebut dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama selama aspek yang diukur belum berubah. (Azwar, 2013). Reliabilitas tes ini diukur dengan pendekatan konsistensi internal (single trial administration) yang didasarkan pada data dari sekali pengenaan skala pada sekelompok subyek. Teknik perhitungan konsistensi internal yang diakai dalam penelitian ini adalah teknik Alpha Cronbach, karena teknik ini memiliki nilai praktis dan efisiensi yang tinggi, karena hanya satu kali percobaan pada satu kelompok subjek (Azwar, 2013). Nilai reliabilitas dianggap memuaskan apabila mendekati 0.900. Pada penelitian ini, hasil alat ukur kecerdasaan emosi memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,927 dan hasil alat ukur perilaku prososial memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,938, sehingga dapat diartikan bahwa pada alat ukur tersebut memiliki reliabillitas yang baik.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 G. Metode Analisis Data 1. Uji Asumsi a) Uji normalitas Uji normalitas ini bertujuan untuk mengetahui normal tidaknya data yang diperoleh. Data dinyatakan berdistribusi normal apabila signifikas lebih besar dari 5% atau 0.05. sebaliknya bila nilai signifikasi yang diperoleh lebih kecil dai 5 % atau 0,05 maka sebaran data tersebut tidak berdistribusi normal. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan teknik one sample Kolmogorov-Smirnov test. b) Uji linearitas Uji linearitas berujuan untuk mengetahui pola hubungan linear atau tidak antara variabel bebas dengan variabel tergantungnya. Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan test of linearity. Linear tidaknya variabel-variabel penelitian dapat dilihat dari nilai Fhitung dan nilai signifikansi (p<0,05).

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 tahap, yaitu pada tanggal 20 Maret 2014 dan 4 April 2014. Sebelum melakukan penyebaran skala, peneliti harus mendapat izin penelitian dari BAPPEDA Sleman sebagai salah satu syarat untuk melakukan penelitian di POLDA Sleman DIY. Selain itu, peneliti juga meminta izin kepada KAPOLDA Sleman untuk memberi izin melakukan penelitian di lingkup POLDA DIY. Selain meminta izin kepada KAPOLDA, peneliti juga meminta izin secara langsung kepada setiap STAKER-STAKER di POLDA untuk menyebarkan skala penelitian. Peneliti memilih STAKER yang tepat untuk menjadi subjek. Peneliti memilih subjek yang bekerja di bagian operasional, karena polisi tersebut lebih sering berhadapan dengan masyarakat. Peneliti juga mendapat rekomandasi dari STAKER SDM untuk menyebarkan skala di DITLANTAS DIY. Dengan rekomandasi tersebut, peneliti meminta izin kepada Direktorat lalu lintas Yogyakarta untuk melakukan penelitian di DITLANTAS DIY dan pihak DITLANTAS merespon dengan cepat permintaan dari penelliti. Pada tanggal 4 April, peneiti juga melakukan penyebaran skala di DITLANTAS DIY. Peneliti juga meminta kesediaan bapak dan ibu polisi untuk turut serta dalam penelitian memlaui informed consent. Informed consent berisi hak dan kewajiban 56

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 yang dimiliki oleh peneliti maupaun subjek penellitian. Setelah memahami hak dan kewajiban masing-masing, serta menyatakan bahwa subjek setuju dan sukarela menjadi subjek penelitian ini. Subjek juga diminta untuk menandatangani sebagai tanda bahwa subjek secara sukarela mengikuti penelitian. Dari 200 angket penelitian yang disebar di POLDA dan DITLANTAS DIY, yang terkumpul dan kembali sebanyak 130 skala, 41 tidak menjawab dengan lengkap dan 70 skala tidak kembali. Jadi total skala yang digunakan di penelitian ini adalah 89 skala. B. Deskripsi Subjek Penelitian Subjek dari penelitian ini adalah 88 orang, yang berkelamin pria dan wanita. Data subjek dapat dilihat dari tabel berikut ini. Tabel 5 Data Subjek Penelitian Pria Wanita Total 74 15 89 Jenis Kelamin C. Deskriptif Data Penelitian Deskripsi hasil pengumpulan data pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Tabel 6 Deskritif Data Penelitian Skor empirik Skor teoritik Variabel Mean Xmin Xmax Mean Xmin Xmax Kecerdasaan Emosi 75 30 120 96.1461 63 117 Prososial 90 36 144 120.93 81 144 Mean teoritik ini menunjukkan rata-rata skor alat penelitian. Mean teoritik ini diperoleh dari angka nilai yang yang tertinggi dikurangi nilai terendah lalu dibagi dua. Mean empiris adalah rata-rata skor data penelitian yang hasilnya diperoleh dari angka yang merupakan rata-rata skor penelitian. Dapat dilihat dari tabel, bahwa nilai mean empirik kecerdasan emosional lebih besar dari mean teoritiknya. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata subjek penelitian memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Nilai mean empirik perilaku prososial juga lebih besar dari nilai mean teoritiknya. Hal ini juga menunjukkan bahwa ratarata subjek penelitian memiliki perilaku prososial yang tinggi. Tabel 7 Uji t Mean Empirik dan Mean Teoretik Skala Kecerdasan Emosional One-Sample Test Test Value = 75 t KE 14.025 df Sig. (2-tailed) 88 .000 Mean Difference 21.14607 95% Confidence Interval of the Difference Lower 18.1499 Upper 24.1423

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Tabel 8 Uji t Mean Empirik dan Mean Teoretik Skala Perilaku Prososial One-Sample Test Test Value = 90 t PROSOS 21.191 Sig. (2tailed) df 88 .000 Mean Difference 30.93258 95% Confidence Interval of the Difference Lower 28.0318 Upper 33.8334 D. Hasil Analisis Penelitian 1. Uji Asumsi Peneliti melakukan uji asumsi untuk melihat apakah data yang diperoleh memenuhi syarat untuk dianalisi dengan menggunakan analisis korelasi. Uji asumsi meliputi uji normalitas dan uji linearitas a) Uji normalitas Uji normalitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran variable bebas dan variable tergantung ini normal atau tidak. Tehnik Sample Kolmogorov-Smirnov Test digunakan dalam menguji normalitas dalam program SPSS for Window versi 16.00. Hasil uji normalitas disajikan pada tabel berikut.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Tabel 9 Hasil Uji Normalitas Kecerdasaan Emosional Prososial KolmogorovSmirnov Z 1.312 1.085 Asymp. Significant 0.064 0.189 Berdasarkan hasil uji normalitas, didapatkan bahwa distribusi sebaran variabel kecerdasaan emosional dan perilaku prososial bersifat normal. Nilai signifikasi kedua variabel lebih besar daripada 0.05 (p > 0.05 ), yaitu 0.064 dan 0.189. b) Uji Linearitas Uji linearitas digunakan untuk menguji apakah hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung merupakan garis lurus atau tidak. Uji libearitas dilakukan menggunakan test for linearity dalam program SPSS for Windows versi 16.00 dan hasilnya dapat dilihat dari tabel berikut : Tabel 10 Hasil Uji Linearitas F Kecerdasaan Emosi * Perilaku Prososial Sign (Combined) 5.461 0.000 Linearity Deviation from linearity 11763.508 0.000 1.010 0.481

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Berdasarkan hasil uji linearitas dapat dilihat bahwa taraf signifikansi untuk linearitas lebih kecil daripada 0.05 (p<0.05). Dengan kata lain, hubungan antara skor variabel kecerdasaan emosional dan variabel perilaku prososial mengikuti fungsi linear. Selain itu, pada scatter plot akan tampak bahwa data tersebar mengikuti garis linear. Gambar 1 Scatter Plot Variabel Kecerdasan Emosional dan Perilaku Prososial

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 2. Uji Hipotesis Analisis data ini menggunakan korelasi product moment Pearson dalam program SPSS for Windows versi 16.00. Hasil analisis menggambarkan bahwa koefisien korelasi untuk variabel kecerdasaan emosional dan perilaku prososial adalah 0.813 dengan taraf signifikansi 0.00 ( p<0.01) . Analisis data ini menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan dan positif antara kecerdasaan emosional dengan perilaku prososial. Taraf signifikansi di tes dengan uji satu ekor (I-tailed), karena hipotesis ada penelitian ini sudah berarah, yaitu berarah positif. Tabel 11 Korelasi kecerdasaan emosional dengan perilaku prososial Correlations KE KE Pearson Correlation Sig. (1-tailed) PROSOS 1 .813** .000 N 89 89 PROSOS Pearson .813** 1 Correlation Sig. (1-tailed) .000 N 89 89 **. Correlation is significant at the 0.01 level (1tailed).

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 E. Pembahasan Berdasarkan dari penelitian ini, didapatkan bahwa uji korelasi antara kecerdasan emosional dengan perilaku prososial didapatkan koefisien hasil korelasi (r) sebesar 0.813. Korelasi tersebut memiliki signifikan pada level 0.00. Ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasaan emosional dengan perilaku prososial pada polisi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil dari penelitian ini sangat mendukung pernyataan dari Hoffman, yang berpendapat bahwa seseorang yang memiliki kecerdasaan emosional yang baik akan lebih mudah melakukan perilaku prososial. Polisi bergerak di bidang jasa, dimana polisi memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Tugas polisi memberikan beban pada polisi untuk memberikan pelayan yang baik kepada masyarakat. Selain itu, polisi juga di tuntut untuk langsung bersentuhan dengan masyarakat, sehingga pertolongan mereka bisa dirasakan langsung oleh masyarakat (Rahardjo, 2007). Melayani masyarakat bukanlah pekerjaan yang mudah, perlu beberapa kemampuan untuk menjalani tugas ini. Kemampuan yang penting yang dimiliki oleh polisi adalah kecerdasaan emosional. Dengan memiliki kecerdasaan emosional yang baik, maka polisi akan lebih mudah berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Seperti yang dikatakan oleh Goleman (1998), polisi akan lebih memahami perasaan orang lain,

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 karena polisi akan memposisikan dirinya dengan orang yang membutuhkan. Dengan itu, polisi akan bertindak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Semakin sering polisi memposisikan dirinya dengan orang lain, maka semakin tinggi rasa empati polisi tersebut. Seperti yang dikatakan oleh peneliti Hoffman (dalam, Goleman, 1998), empati adalah akar dari moralitas. Jika polisi berempati kepada orang yang membutuhkan, maka polisi tersebut akan terdorong untuk bertindak memberi bantuan. Mill juga mengatakan hal yang sama (dalam, Goleman, 1998), semakin besar empati yang dirasakan oleh polisi terhadap korban, semakin besar pula kecenderungan polisi tersebut untuk campur tangan dalam situasi tersebut. Dengan adanya kemampuan empati yang tinggi, polisi dapat memberi bantuan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan. Sehingga dapat membentuk image polisi yang ideal di mata masyarakat. Rahardjo (2007) mengatakan bahwa untuk mengubah image polisi yang buruk di mata masyarakat, polisi harus memiliki doktrin melindungi dan membantu rakyat. Dengan itu, polisi dapat bekerja secara profesional yaitu membantu semua kalangan masyarakat. Hasil penelitian ini berlaku untuk polisi yang bertugas di bagian operasional maupun administrasi, karena polisi harus siap untuk pindah tugas ke bidang yang lain. Misalnya dari kesamaptaan pindah tugas ke bagian lalu lintas. Ini juga berlaku untuk polisi pria dan wanita. Kewajiban Polwan dan

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 polisi pria tidak dibedakan, untuk memberi jaminan kesetaraan derajat dan peran antara kaum wanita dan pria (Sadjijono, 2006)

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan perilaku prososial pada polisi. Koefisien korelasi (r) yang dihasilkan dalam penelitian ini sebesar 0.813 Korelasi tersebut signifikan pada level 0.00. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa ada hubungan positif antara kecerdasan emosional dengan perilaku prososial pada polisi diterima kebenarannya. B. SARAN Dengan melihat hasil penelitian ini, peneliti merekomendasikan beberapa saran yang dapat dipakai guna mendukung penulisan skripsi mahasiswa. Beberapa saran yang peneliti sebagai berikut : 1. Bagi atasan polisi Selaku kepala di kepolisian sebaiknya lebih memperhatikan pentingnya kecerdasaan emosi bagi para polisi. Kepala polisi sebaiknya melakukan upaya untuk meningkatkan kecerdasan emosi para polisi sehingga polisi dapat melakukan misi dan visinya. 66

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 2. Bagi polisi Polisi diharapakan lebih mengelola kecerdasan emosi mereka. Dengan mengelola kecerdasaan emosi ini, polisi akan dapat melaksanakan tugasnya dan berinterkasi dengan masyarakat dengan baik. 3. Bagi penelitian selanjutnya Faktor jenis kelamin adalah salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang berperilaku prososial. Penelitian selanjutnya diharapkan lebih memperhatikan komposisi jenis kelamin subjek, sehingga diharapkan dapat melihat perbedaan perilaku prososial antara wanita dan pria. Peneliti juga menganjurkan untuk menggunakan dimensi lain dari skala prososial. Ini disebabkan adanya kemungkinan indikasi dari social desirability. Oleh karena itu, diharapkan penelitian selanjutnya menggunakan skala yang bebas dari social desirability seperti Social Values Orientation (SVO.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 DAFTAR PUSTAKA Amato, P. R. (1986). Emotional arousal and helping behavior in a real-life emergency. Journal of Applied Social Psychology, 16, 633-641. Amato, P. R. (1983). Helping behaviorin urban and rural environments: Field studies based on a taxonomic organization of helping episodes. Journal of Personality and Social Psychology, 45, 571-586. Aronson, dkk. (2005). Social Psychology. Boston: Pearson Education Asih, G. Y., Pratiwi, M. M. S. (2010). Perilaku Prososial ditinjau dari Empati dan Kematangan Emosi. Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus (Vol. 1) No. 1. Hlm 33-42. Kudus: Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus Azar, B. (1997, November). Deafening the trait that makes us human. APA Monitor, 1, 15. Azwar, S. (2004). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Azwar, S. (1995). Sikap Manusia (cetakan pertama)i. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset Azwar, S. (2012). Penyusunan Skala Psikolog (cetakan pertama)i. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Baron, Robert A. (2005). Psikologi sosial. Boston: Pearson Education Baskara, A., Soetjipto, H. P., Atamimi, N. (2008). “ Kecerdasan Emosi Ditinjau Dari Keikutsertaan Dalam Program Meditasi”. Jurnal Psikologi. Hlm. 101-115. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Bringham, J. C. (1991). Social Psychology. Edisi 2. New York : Harper Colling Publisher Inc Dawkins, R. (1976). The selfish gene. New York: Oxford University Press. Dovidio, J. F. (1984). Helping behavior and altruism: An empirical and copceptual overview. In L. Berkowitz (Ed.), Advances in experimental social psychology (Vol. 17, pp. 361-427). New York: Academic Press Darley, J. M. (1993). Research on morality: Possible approaches, actual approaches. Psychological Science, 4, 353-357. Goleman, D. (1998). Kecerdasan Emosional: Mengapa kcerdasan emosional Penting dari pada IQ. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama Hadi, S. (2000). Statistik 2. Jilid dua. Yogyakarta: Andi Yogyakarta. Hartono. (2008). SPSS 16.0 : Analisis Data Statistika dan Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Hoffman, M.L. (1981). Is altruism a part of human nature? Journal of personality and social Psychology, 40, 121-137 Homans, G. C. (1961). Social behavior: Its elementary forms. New York: Harcourt Brace Hurlock E. (1980). Psikologi Perkembangan : Suatu pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama Ifham. Ahmad., Helim. A. F., (2002). “Hubungan Kecerdasan Emosi Dengan Kewirausahaan Pada Mahasiswa”. Jurnal Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Psikologi. Hlm. 89-111.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Kameda, T., Takezawa, M.,&Hastie, R. (2003). The logic of social sharing: An evolutionary game analysis of adaptive norm development. Personality and social Psychology Review, 7, 2-19. Kartono, K. (1992). Psikologi Wanita. Jilid 1. Bandung: Mandar Maju. Korchmaros, J. D., & Kenny, D. A. (2001). Emotional closeness as a mediator of the effect of genetic relatedness on altruism. Psychological Science, 12, 239-247 Kruger, D. J. (2001). Psychological aspects of adaptations for kin directed altruistic helping behaviors. Social Behavior and Personality, 29, 323-330 Lawler, E. J., & Thye, S. R. (1999). Bringing emotions into social exchange theory. Annual Review of Sociology, 25, 217-244. Mussen, P. H. Conger, J. J and Kagan, J. (1981). Child development and personality (Fifth Edition). Harper and Row Publishers. Nilan, Pam. (2013). Indonesian Men’s Views on Encouraging Harmony and Consensus Through Dealing with Violence. Australia: School of Humanities and Social Science University of Newcastle. Rahardjo, S. (2007). Membangun Polisi Sipil. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama Rogers, M., Miller, N., Mayer, R. S., & Duvall, S. (1982). Personal responsibility and salience of the request for help: Determinants of the relations between negative affects and helping behavior. Journal of Personality and Social Psychology, 43, 956-970.

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Rushton, J. P., Chrisjohn, R.D., & Fekken, G. C. (1981). The altruistic personality and the self-report altruism sale. Personality and Individual Differences, 1, 292-302. Sadjijono, M K. (2006). Mengenal Figur Polisi Kita. Yogyakarta: LaksBang PRESSindo Sarwono, S. W. (2002). Psikologi Sosial. Individu dan teori- teori psikologi sosial. Jakarta: Balai Pustaka. Saptoto, Ridwan. (2010). “Hubungan kecerdasan emosi dengan kemampuan Coping Adaptif”. Jurnal Psikologi. Hlm. 13-22. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Schlenker, B. R., & Britt, T. W. (2001). Strategically controlling information to help friends: Effects of empathy and friendship strength on beneficial impression management. Journal of Experimental Social Psychology, 37, 357-372. Sears. D. O; Fredman, J. L. dan Peplau, L. A. (1991). Psikologi Sosial. Jilid 2. Alih Bahasa: Michael Adryanto. Jakarta: Erlangga.. Syafrika, I., Suyasa, P. T. Y. S. (2004). “Persepsi terhadap Lingkungan Fisik Kerja dan dorongan Berperilaku Agresif pada Polisi Lalu Lintas”. INSAN (Vol. 6) No. 3. Hlm. 173-200. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Papalia. D. E., Wendkos, S., Feldman, R. D. (2008). Human Development: perkembangan manusia. Ed. 10. Jakarta: Salemba Humanika. Piliavin, J. A., Dovidio, J. F., Gaertner, S. L., & Clark, R. D., III. (1991). Emergency intervention. New York: Academic Press

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Piliavin, I. M., Piliavin, J. A., & Rodin, J. (1975). Costs, diffusion, and the stigmatized victim. Journal of Personality and Social Psychology, 32, 429438. Patton, P. (1998). EQ (Kecerdasaan Emosional) di Tempat Kerja. Terjemahan. Jakarta: Pustaka Delapratasa. Taylor, S. E., Peplao, L. A., Sears, D. O. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Kencana Thibaut, J. W., & Kelley, H. H. (1959). The social psychology of groups. New York: Wiley. Thompson, W. C., Cowan, C. L., & Rosenham, D. L. (1980). Focus of attention mediates the impact of negative affect on altruism. Journal of Personality and Social Pychology, 38, 291-300. Van Lange, P. A. M. (1999). The pursuit of joint outcomes and equality in outcomes: An integrative model of social value orientation. Journal of Personality and Social Psychology, 77, 337-349. Walgito, Bimo (1999). Psikologi Sosial. Yogyakarta : Andi Wilson, D. S. (1997). Sociobiology: the new synthesis. Cambridge, MA: Belknap Press. Watson. 1984. Psyshology Science and application. Illionis: Scoot Foresmar and Company. Wrightsman, L. (1964). Measurement of philosophies of human nature. Psychological Reports, 14, 743-751.

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Yoghoubi, E., Mashinchi, S. A., Hadi, A. (2011). “An Anlysis of Correlation between Organizational Citizenship Behavior (OCB) and Emotional Intelligence (EI). Dalam Modern Applied Science. Hlm. 119-123. Iran: Chabahar Maritime University. Banda Haruddin Tanjung. (2013). Wakapolri: Polantas Pemalak Bule di Bali Segera Dipecat. Diunduh 10 Agustus 2013. http://news.okezone.com/read/2013/04/08/340/787765/large. Dahriani A. (2007). Fenomenologis Perilaku pada Prososial Polisi Lalu terhadap Lintas). Pengguna Jalan (Studi Diunduh 21 Juli 2014. Eprints.undip.ac.id/10427/ Muhammad Hasanudin. (2013). Polda Bali Buru Penyebar Video Polisi Suap. Diunduh 10 Agustus 2013. http://regional.kompas.com/read/2013/04/ 08/16190595 /Polda.Bali.Buru.Penyebar.Video.Polisi.Suap. NN. (2013). Waduh, Oknum Polisi Bali Aniaya Anggota DPRD DKI Jakarta. Diunduh 10 Agustus 2013. http://utama.seruu.com/read/2013/02/21/147845/ waduh-oknum-polisi-balianiaya-anggota-dprd-dki-jakarta. NN. (2013). Korban Pemerasan Polisi Bali. Diunduh 10 Agustus 2013. http://www.youtube.com/watch?v=Pr1a4Y-EgVE. Susanti Dwi. 2007. Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Profesionalisme pada Polisi Fungsi Samapta Kepolisian Wilayah Kota Besar Semarang. Diunduh 21 Juli 2014. Eprints.undip.ac.id/10448/ Wancoko Ilham (2006). Mohon Yang Sopan, Pak Polisi. Jum’at, 25 Agustus 2006. Jawa Pos,h.1.

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 LAMPIRAN

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Lampiran I Estimasi Reliabilitas dan Uji Seleksi Item Skala Perilaku Prososial dan Skala Kecerdasaan Emosional

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 a. Estimasi reliabilitas skala perilaku prososial Case Processing Summary N Cases Valid Excludeda Total % 60 100.0 0 .0 60 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .938 N of Items 48

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 b. Uji Daya Beda Item Skala Perilaku Prososial Item-Total Statistics Scale Scale Mean if Variance if Item Deleted Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted ITEM1 153.4000 354.346 .601 .936 ITEM2 153.5667 345.029 .686 .935 ITEM3 153.4333 352.284 .537 .936 ITEM4 153.4333 352.419 .491 .937 ITEM5 153.4500 350.048 .658 .936 ITEM6 153.7167 342.139 .751 .935 ITEM7 153.4667 349.914 .609 .936 ITEM8 153.6500 347.248 .618 .936 ITEM9 153.3667 352.168 .683 .936 ITEM10 153.5500 345.608 .706 .935 ITEM11 153.3833 353.461 .611 .936 ITEM12 153.7167 349.495 .505 .936 ITEM13 153.9500 354.591 .246 .939 ITEM14 153.5833 346.857 .663 .935 ITEM15 154.9000 375.922 -.295 .943

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 ITEM16 153.6167 350.749 .506 .936 ITEM17 153.6000 344.312 .676 .935 ITEM18 153.6500 347.689 .621 .936 ITEM19 153.7333 345.690 .619 .936 ITEM20 153.7000 347.637 .549 .936 ITEM21 153.6167 346.545 .702 .935 ITEM22 153.4333 355.673 .522 .937 ITEM23 153.8167 341.237 .737 .935 ITEM24 154.7333 375.216 -.265 .943 ITEM25 153.7167 350.545 .484 .937 ITEM26 153.5667 351.301 .482 .937 ITEM27 153.8667 347.948 .566 .936 ITEM28 153.6833 345.610 .645 .935 ITEM29 154.8667 362.897 .046 .941 ITEM30 153.5667 352.385 .557 .936 ITEM31 154.1167 356.037 .233 .939 ITEM32 153.8833 347.868 .531 .936 ITEM33 153.5333 347.270 .666 .935 ITEM34 153.4667 352.016 .599 .936 ITEM35 153.4167 351.230 .676 .936

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 ITEM36 153.5333 349.609 .676 .936 ITEM37 153.8167 349.813 .533 .936 ITEM38 153.6500 345.486 .702 .935 ITEM39 154.6167 359.596 .118 .940 ITEM40 153.5833 350.247 .600 .936 ITEM41 153.3833 354.512 .495 .937 ITEM42 153.6500 342.062 .722 .935 ITEM43 153.9333 350.301 .416 .937 ITEM44 154.4167 368.044 -.084 .942 ITEM45 153.6000 347.634 .616 .936 ITEM46 153.5167 347.847 .622 .936 ITEM47 153.5000 351.339 .452 .937 ITEM48 153.6500 347.079 .606 .936

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 c. Estimasi reliabilitas skala kecerdasan emosional Case Processing Summary N Cases % Valid 60 100.0 0 .0 60 100.0 Excludeda Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .927 50

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 d. Uji Daya Beda Item Skala Kecerdasan Emosional Item-Total Statistics Scale Scale Mean if Variance if Item Deleted Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted ITEM1 155.1333 385.067 .548 .925 ITEM2 155.4333 384.792 .461 .926 ITEM3 156.0833 406.010 -.197 .932 ITEM4 155.1833 389.406 .340 .927 ITEM5 155.7167 387.257 .249 .928 ITEM6 155.3333 379.616 .563 .925 ITEM7 155.2667 378.673 .668 .924 ITEM8 155.1000 386.058 .507 .926 ITEM9 155.4833 383.813 .399 .926 ITEM10 155.1833 386.017 .489 .926 ITEM11 155.2000 380.502 .578 .925 ITEM12 155.1333 391.575 .280 .927 ITEM13 155.1500 383.079 .580 .925 ITEM14 155.6000 395.769 .051 .930 ITEM15 155.3667 382.711 .549 .925

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 ITEM16 156.7667 420.690 -.613 .934 ITEM17 155.6000 373.803 .674 .924 ITEM18 155.5500 382.862 .465 .926 ITEM19 155.2833 376.139 .697 .924 ITEM20 155.3167 379.610 .534 .925 ITEM21 155.8667 373.982 .575 .925 ITEM22 155.4333 377.640 .604 .925 ITEM23 155.4167 379.908 .477 .926 ITEM24 155.5333 373.507 .671 .924 ITEM25 155.5333 374.219 .651 .924 ITEM26 155.4167 376.959 .605 .924 ITEM27 155.4833 389.000 .280 .927 ITEM28 155.5667 381.301 .451 .926 ITEM29 155.3167 380.898 .601 .925 ITEM30 155.3333 384.090 .436 .926 ITEM31 155.1833 381.813 .550 .925 ITEM32 155.3333 381.921 .534 .925 ITEM33 155.4833 379.034 .562 .925 ITEM34 155.8500 392.774 .111 .929 ITEM35 155.4000 372.346 .754 .923

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 ITEM36 155.3167 375.644 .667 .924 ITEM37 155.3000 381.231 .627 .925 ITEM38 155.5167 381.678 .468 .926 ITEM39 155.4167 376.213 .589 .925 ITEM40 156.0500 391.675 .136 .929 ITEM41 155.2167 384.512 .492 .926 ITEM42 155.0000 387.492 .480 .926 ITEM43 155.1833 390.152 .311 .927 ITEM44 155.5833 375.976 .618 .924 ITEM45 155.3000 382.586 .556 .925 ITEM46 155.4333 377.538 .607 .925 ITEM47 155.3167 378.288 .560 .925 ITEM48 155.5667 405.233 -.193 .931 ITEM49 155.5667 378.318 .546 .925 ITEM50 155.4167 383.468 .502 .925

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Lampiran II Uji Normalitas, Uji Linearitas, Uji Hipotesis

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 a. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test KE N Normal Parametersa 89 Mean Std. Deviation Most Extreme Differences PROSOS 89 96.1461 120.9326 1.42235E 13.77069 1 Absolute .139 .115 Positive .139 .088 Negative -.124 -.115 1.312 1.085 .064 .189 Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal.

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 b. Uji Linearitas Case Processing Summary Cases Included N KE * PROSOS Percent 89 100.0% Excluded N Total Percent 0 .0% N Percent 89 100.0%

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 ANOVA Table Sum of Squares KE * Between Groups (Combined) df Mean Square F Sig. 14346.531 38 377.540 5.461 .000 11763.508 1 11763.508 170.162 .000 2583.024 37 69.811 1.010 .481 3456.570 50 69.131 17803.101 88 PROSOS Linearity Deviation from Linearity Within Groups Total Measures of Association R KE * PROSOS R Squared .813 .661 Eta Eta Squared .898 .806

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 c. Uji Hipotesis Correlations KE KE Pearson Correlation PROSOS 1 Sig. (2-tailed) N PROSOS Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N .813** .000 89 89 .813** 1 .000 89 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2tailed). 89

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Lampiran III Skala Kecerdasan Emosi dengan Perilaku Prososial

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 SKALA PENELITIAN Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2014

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Yogyakarta, Desember 2014 Kepada : Yth. Bapak / Ibu yang turut berpartisipasi dalam penelitian ini. Dengan hormat, saya : Nama : Eva Emeninta Nim : 079114032 Fakultas : Psikologi Universitas : Sanata Dharma Memohon kesediaan bapak/ibu sekalian untuk membantu saya mengisi skala penelitian ini guna menyelesaikan tugas akhir saya sebagai seorang mahasiswa. Oleh karena itu, saya mohon bapak/ibu sekalian untuk memberikan tanggapan terhadap pernyataan-pernyataan yang telah tersusun dalam skala ini. Semua tanggapan yang anda berikan akan dijaga kerahasiaannya. Oleh sebab itu, saya mengharapkan agar jawaban yang diberikan sesuai dengan keadaan anda yang sebenarnya. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas kesediaan anda untuk mengisi skala penelitian ini. Hormat saya, (Eva Emeninta Br. P)

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 PERNYATAAN KESEDIAAN Dengan ini, saya menyatakan bahwa saya bersedia mengisi skala ini dengan suka rela dan tidak dibawah paksaan atau tekanan dari pihak tertentu, demi membantu terlaksanannya penelitian ilmiah ini. Semua jawaban yang saya berikan adalah murni dari apa yang saya alami dan bukan berdasarkan pada pandangan masyarakat pada umumnya. Saya mengijinkan penggunaan jawaban yang saya berikan tersebut sebagai data untuk memperlancar penelitian ilmiah ini. ...................., ...... ............. 2014 Menyetujui, …..………………….. (Ttd dan nama terang)

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 IDENTITAS DIRI Pada bagian pertama, Bapak/Ibu diminta untuk mengisikan data diri Bapak/Ibu. Data diri Bapak/Ibu akan dirahasiakan, sehingga dimohon untuk mengisi dengan sungguh-sungguh sesuai keadaan Bapak/Ibu. Mohon tidak mengosongkan bagian pengisian data diri. Identitas Diri (Identitas Bapak/Ibu/Saudara/i akan dirahasiakan) Nama :………………………………………………… NRP :………………………………………………… Umur :………………………………………………... Jenis Kelamin : Pria/Wanita (coret yang tidak perlu)

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 BAGIAN I PETUNJUK PENGISIAN Berikut ini terdapat 98 buah pernyataaan, bacalah dan pahami setiap pernyataan tersebut dengan seksama. Berilah tanda centang atau cek list (√) di dalam kotak yang telah tersedia yaitu: SS : Bila pernyataan tersebut “Sangat Setuju” dengan diri Bapak/Ibu. S : Bila pernyataan tersebut “Setuju” dengan diri Bapak/Ibu. TS : Bila pernyataan tersebut “Tidak Setuju” dengan diri Bapak/Ibu. STS : Bila pernyataan tersebut “Sangat Tidak Setuju” dengan diri Bapak/Ibu. Bapak/Ibu bebas untuk menentukan pilihan yang sesuai dengan diri Bapak/Ibu sendiri, tidak ada jawaban yang benar ataupun salah karena jawaban Bapak/Ibu mencerminkan diri Bapak/Ibu sendiri. Contoh cara pengisian : Pernyataan Saya dapat beradaptasi dengan baik SS S √ TS STS

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Ketika Bapak/Ibu keliru dalam memberi tanda centang (√) maka Bapak/Ibu dapat mengganti jawaban Bapak/Ibu dengan memberi tanda (√), Contoh koreksi : Pernyataan Saya dapat beradaptasi dengan baik SS S TS √ √ STS

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 No. 1. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Pernyataan SS Saya bersedia menghibur rekan kerja yang sedang dalam permasalahan atau terkena musibah Saya mencari alasan yang kuat agar orang lain merasa dirugikan Saya bekerja sama dengan orang lain dalam menjaga ketenangan di lingkungan sekitar Saya hanya beramal kepada orangorang yang saya kenal dan dapat dipercaya Saya tidak bersedia menerima sesuatu hal yang tidak sepatutnya saya ambil Saya tidak suka meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah rekan kerja Bekerja sama dengan orang lain membuat pekerjaan saya menjadi lebih ringan Saya sukarela memberikan sumbangan kepada tetangga-tetangga yang membutuhkan Berelasi orang lain akan membuat jaringan saya semakin luas Saya tidak mau mendengarkan keluh kesah teman karena membuang waktu saya Saya bersedia meminjamkan uang kepada orang yang kesusahan Saya akan tetap menolong orang lain walaupun saya sedang kesusahan Saya bersedia membantu dalam menjaga kenyaman di tempat kerja maupun tempat saya tinggal S TS STS

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Saya enggan meminjamkan uang kepada orang lain Saya selalu bertindak apa adanya saat berelasi dengan orang lain Menurut saya, seseorang dapat bekerja sendiri tanpa perlu bantuan dari orang lain Saya bersedia memberi tumpangan kepada orangtua yang sedang menunggu angkutan Saya berelasi dengan orang lain tanpa membedakan latar belakang mereka Saya enggan membantu orang lain yang sedang dalam masalah karena mereka tidak pernah membantu saya Saya suka duduk bersama dan bercerita dengan rekan kerja di tempat kerja Memberikan sumbangan kepada orang lain adalah hal yang membuang waktu dan tenaga saya Saya akan menerima denda yang dibayarkan langsung atas sebuah pelanggaran Berelasi atau tidak, tidak akan mempengaruhi hidup saya Saya enggan bekerja sama dengan orang lain karena hal itu merepotkan saya Bekerja secara kelompok menyulitkan pekerjaan saya Saya merasa senang saat memberikan sesuatu yang berharga untuk orang lain Saya tidak pernah melakukan kecurangan pada saat bekerja

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 28 29 30 31 32 33 34 35 36 Terkadang perilaku saya berlebihan atau dibuat-buat saat berelasi dengan orang lain Saya memiliki relasi yang baik dengan orang lain Saya memberikan bantuan kepada orang lain sesuai dengan kebutuhan mereka Saya dapat bekerja secara berkelompok Membantu orang lain hanya menambah beban hidup saya Saya enggan berelasi orang lain yang belum saya kenal Saya akan pura-pura tidak tahu, jika melihat orangtua sedang menunggu angkutan atau jalan sendiri Hubungan antara saya dengan orang lain kurang baik Apabila saya sedang kesusahan, saya lebih fokus pada keadaan saya

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Pernyataan Segala tindakan saya, saya arahkan mengikuti Satya Laksana Saya dapat mengekspresikan emosi saya pada waktu dan kondisi yang tepat Saya cepat menyesuaikan diri bila keadaan berubah Saya sangat menyadari perasaanperasaan yang terjadi dalam diri saya sendiri Saya senang bernegosiasi dengan orang lain saat memecahkan masalah Saya berusaha untuk tetap tenang bahkan dalam situasi yang menekan Saya memahami alasan ketika seseorang merasakan kesedihan Saya berbicara seperlunya dalam kelompok kerja Saya masih masih binggung dengan kelebihan dan kekurangan saya Saya memahami alasan kenapa orang lain berbeda keadaannya dengan saya Saya memaksa orang lain untuk mendahulukan kepentingan saya Saya binggung dengan potensi yang ada pada saya Saya menghindar dari tugas-tugas yang beresiko Kesalahan membuat saya takut melakukan sesuatu hal yang baru Saya merasa sulit beradaptasi dengan lingkungan baru Saya mengetahui kelebihan dan kekurangan yang saya miliki SS S TS STS

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 No. 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Pernyataan Saya mampu mengekpresikan perasaan saya dengan tepat Saya bisa membuat orang lain merasa nyaman dengan saya Saya merasa mudah mendapatkan kepercayaan dari orang lain Saya merasa sulit memahami arti dari ekspresi seseorang Saya siap mendapatkan tugas-tugas yang besar Saya sering meluapkan emosi saya kepada teman-teman Memahami perasaan orang lain merupakan hal yang tidak menarik untuk saya Saya mudah menyerah untuk bersaing mendapatkan pangkat yang lebih tinggi Saya suka menyelesaikan masalah dengan cara saya sendiri Terkadang saya bingung merasakan apa yang saya rasakan dalam diri saya Saya menyadari potensi saya dalam menyelesaikan masalah Saya bingung dengan apa yang akan saya lakukan ketika sedang kalut Saya terdorong untuk melakukan yang lebih baik setiap harinya Saya merasa sulit memahami keadaan orang lain yang berbeda dengan saya SS S TS STS

(121)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara kecerdasan emosional dengan produktivitas kerja
1
11
113
Hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku kerja kontraproduktif pada Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
12
83
135
Hubungan antara tipe komunikasi keluarga dan kecenderungan perilaku prososial pada remaja.
0
6
153
Hubungan antara kecerdasan emosional dan pengambilan keputusan pada penerbang TNI AU.
0
0
139
Hubungan antara trait kecerdasan emosional dengan kecenderungan pembelian impulsif pada individu dewasa awal.
2
5
114
Hubungan antara kecerdasan emosional dan perilaku belajar dengan prestasi belajar mahasiswa.
0
3
146
Hubungan antara trait kecerdasan emosional dengan kecenderungan pembelian impulsif pada individu dewasa awal
3
30
112
Hubungan antara gratitude dengan perilaku prososial mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya.
6
23
97
skripsi hubungan antara kecerdasan emosional dengan
1
2
72
Hubungan antara motivasi berprestasi dan kecerdasan emosional dengan prestasi pada atlet atletik Jawa Timur - Ubaya Repository
0
0
1
Korelasi antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar fisika kelas X pada pokok bahasan rangkaian listrik arus searah - USD Repository
0
1
112
Hubungan kecerdasan emosional dengan perilaku melanggar peraturan lalu lintas pada pengendara sepeda motor - USD Repository
0
1
97
Pengaruh kecerdasan emosional pada performansi penjualan - USD Repository
0
0
125
Hubungan antara kematangan emosi dengan perilaku konsumtif pada usia dewasa awal - USD Repository
0
1
155
Hubungan antara bullying verbal dengan kecerdasan emosional siswa Sekolah Dasar - USD Repository
0
0
149
Show more