Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository

Gratis

0
0
156
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI Skripsi Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Siti Cholifah 101134200 Program Studi Pendidikan Guru sekolah Dasar Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 HALAMAN PERSEMBAHAN Puji syukur Alhamdulillah, peneliti persembahkan karya sederhana ini kepada: 1. Allah SWT yang selalu memberikan kemudahan dan segala kenikmatan yang tiada terhingga dalam setiap langkah yang telah peneliti tempuh. 2. Bapak dan Ibu tercinta atas kasih sayang dan dukungannya. 3. Teman-temanku PGSD 2010 4. Almamaterku iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 MOTTO “ Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal “. (QS. Ali Imran 3: 160) “Ketika kita mempunyai impian, kita akan mempunyai rencana dan cara untuk melakukannya atau mewujudkannya” (Queen Seon Deok) “Nol adalah dimana segala sesuatu dimulai. Jika kamu tidak bisa mulai dari sana, kamu tidak bisa mendapatkan apa-apa dan tidak mencapai apaapa”(Conan Edogawa) v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 ABSTRAK Cholifah, Siti. (2014). Perbedaan Prestasi Belajar siswa atas Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori. Yogyakarta. Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya teori bahwa tingkat prestasi belajar matematika masih rendah yang dibuktikan oleh data hasil studi TIMSS dan PISA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika. Alat peraga yang digunakan adalah Papan Pin Perkalian untuk materi operasi perkalian kelas 2 SD. Penelitian ini adalah penelitian quasi-experimental dengan desain nonequivalent control group design. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas 2A SDN Keceme 1 sebagai kelompok eksperimen dan siswa kelas 2B sebagai kelompok kontrol. Data pada penelitian ini diperoleh dari hasil pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pretest dan posttest dilakukan menggunakan 20 soal pilihan ganda yang telah diuji validitas, reliabilitas dan tingkat kesukarannya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu dokumentasi dan observasi. Prosedur analisis data pada penelitian ini terdiri dari penentuan hipotesis, manajemen data, menentukan taraf signifikansi, uji asumsi klasik dan uji hipotesis. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah independent t-test yang didukung dengan penggunaan Microsoft Excel dan Statistical Product and Service Solutions (SPSS). Hasil analisis data menunjukkan rata-rata skor post-test kelompok kontrol lebih rendah (M = 11,5, SE = 0,399) dibandingkan dengan skor post-test kelompok eksperimen (M = 13,33, SE = 0,576). Perbedaan ini signifikan t (46) = -2,615, p < 0,05 dan memiliki effect size sedang yaitu r = 0,32. Hasil analisis data kemudian dapat dikatakan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada perbedaan yang signifikan atas penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori terhadap prestasi belajar siswa. Peneliti merekomendasikan alat peraga matematika berbasis metode Montessori dapat digunakan oleh guru sebagai salah satu media pembelajaran matematika. Kata kunci: alat peraga matematika, metode Montessori, prestasi belajar, Papan Pin Perkalian. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 ABSTRACT Cholifah, Siti. (2014). Differences students achievement of the using Montessori Method-Based Math Visual Aid. Yogyakarta. Sanata Dharma University. This study exposed without any theory that learning math achievement tiers in still low as evidenced by data of TIMSS and PISA study results. This study aims to find differences student achievement of using visual aid on students achievement. The visual aid that is used for the multiplication material for the second grade students of Elementary School is Multiplication Pins Board. This research is a quasi-experimental research using nonequivalent control group design. The population and samples of this study are the students of class 2A SDN Keceme 1 as the experimental group and the students of class 2B as the control group. The data in this study are obtained by doing the pretest and posttest on the experimental and control group. Pretest and posttest use 20 multiple choice questions that have been tested for their validity, reliability and level of difficulty. Data are collected in two ways, namely documentation and observation. The procedure of data analysis in this study consists of determining the hypothesis, managing the data, determining significance level, and testing the classical assumption and hypothesis. Data analysis technique that is used for testing the hypotheses is independent t – test, is supported by Microsoft Excel and the Statistical Product and Service Solutions ( SPSS ). The results of the data analysis shows the average post-test score of the control group was lower (M = 11.5, SE = 0.399) compared with the post-test score of the experimental group (M = 13.33, SE = 0.576). This difference was significant t (46) = -2.615, p <0.05 and has a moderate effect size is r = 0.32. The results of data analysis then can be said that there are differences in student achievement over the use Montessori Method-Based Math Visual Aid. The conclusion of this study shows that there is different of using Montessori method based visual aids on students achievement. Researchers recommend props mathematics based a method of a montessori used in learning mathematics. Keywords: math visual aid, Montessori method, students achievement, Multiplication Pins Board ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa telah melimpahkan karunia dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi yang berjudul “Perbedaan Prestasi Belajar Siswa Atas Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori” ditulis sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata I Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Skripsi ini selesai tidak lepas dari dukungan, bimbingan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segenap hati peneliti mengucapkan terima kasih kepada : 1. Rohandi,Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. G. Ari Nugrahanta, SJ, S.S., BST., M.A., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. E.Catur Rismiati, S.Pd.,MA.,Ed.D., Wakil Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, sekaligus pembimbing I yang telah sangat banyak memberikan semangat, ilmu dan inspirasi dalam proses pembuatan karya ilmiah ini. 4. Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd, dosen pembimbing II yang telah memberikan banyak bantuan, semangat, dan saran yang membangun dalam pembuatan karya ilmiah ini. 5. Walidi, S.Pd. Kepala Sekolah SDN Keceme I yang telah memberikan dukungan serta ijin kepada peneliti untuk mengadakan penelitian di SDN Keceme I. 6. Sukiyem, A.Ma.Pd guru kelas 2A SDN Keceme I yang telah bekerja sama serta memberikan waktu dan tenaganya sebagai guru mitra dalam penelitian kolaboratif. 7. Dwi Purwanti, S.Pd.SD guru kelas 2A SDN Keceme I yang telah bekerja sama serta memberikan waktu dan tenaganya sebagai guru mitra dalam penelitian kolaboratif. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 8. Siswa kelas 2A dan 2B SDN Keceme I, yang bersedia bekerja sama dalam penelitian ini. 9. Bapakku Drs. Basuni, M.S.I, ibuku Dra. Purwastuti, keluargaku, dan teman hidupku Muhamad Suratno, S.Pd yang selalu memberikan doa, kasih sayang, dukungan dan bimbingan kepada peneliti serta membantu mengoreksi tulisan ini. 10. Teman-teman fruitzee yang telah banyak berbagi canda, tawa, sedih, dan senang bersama. 11. Teman-teman PPL SDN Keceme I, yang memberikan bantuan selama peneliti melakukan penelitian di sekolah. 12. Teman-teman PGSD USD kelas C angkatan 2010 yang selalu memberikan inspirasi dalam menyelesaikan karya ilmiah ini. 13. Sekretariat PGSD yang selalu membantu dalam hal administrasi dan segala keperluan unruk menyelesaikan karya ilmiah ini. Peneliti menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penulisan karya ilmiah ini. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun sangat berguna untuk karya ilmiah ini. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca. Peneliti xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv MOTTO ........................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... vi HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .................... vii ABSTRAK ....................................................................................................... viii ABSTRACT ....................................................................................................... ix PRAKATA ....................................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xv BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................................. 1 B. Identifikasi masalah ................................................................................... 8 C. Batasan Masalah......................................................................................... 8 D. Rumusan Masalah ...................................................................................... 9 E. Tujuan Penelitian ....................................................................................... 9 F. Manfaat Penelitian ..................................................................................... 9 G. Definisi Operasional................................................................................... 10 BAB II LANDASAN TEORI .......................................................................... 13 A. Kajian Pustaka............................................................................................ 13 B. Hasil Penelitian yang Relevan ................................................................... 32 C. Kerangka Berpikir ...................................................................................... 34 D. Hipotesis..................................................................................................... 35 BAB III METODE PENELITIAN................................................................... 36 A. Jenis Penelitian ........................................................................................... 36 B. Waktu dan Tempat Penelitian .................................................................... 37 C. Variabel Penelitian dan Data Penelitian ..................................................... 40 D. Populasi dan Sampel .................................................................................. 43 E. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................... 44 F. Instrumen Pengumpulan Data .................................................................... 45 G. Teknik Pengujian Instrumen ...................................................................... 48 H. Prosedur Analisis Data ............................................................................... 63 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................. 82 A. Hasil Penelitian .......................................................................................... 82 B. Pembahasan ................................................................................................ 111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... 116 DAFTAR REFERENSI ................................................................................... 118 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Waktu Pengambilan Data................................................................. 39 Tabel 3.2 Kisi-kisi soal pretest dan posttes...................................................... 46 Tabel 3.3 Lembar observasi proses pembelajaran di kelas .............................. 47 Tabel 3.4 Kriteria hasil validasi ....................................................................... 50 Tabel 3.5 Hasil validasi silabus........................................................................ 50 Tabel 3.6 Hasil validasi RPP............................................................................ 52 Tabel 3.7 Hasil validasi soal tes prestasi .......................................................... 53 Tabel 3.8 Kisi-kisi soal uji validitas konstruk.................................................. 56 Tabel 3.9 Soal yang valid ................................................................................. 58 Tabel 3.10 Rincian jumlah soal........................................................................ 59 Tabel 3.11 Kualifikasi koefisien reliabilitas .................................................... 61 Tabel 3.12 Hasil perhitungan reliabilitas ......................................................... 61 Tabel 3.13 Kategori indeks kesukaran soal...................................................... 62 Tabel 3.14 Indeks kesukaran soal .................................................................... 63 Tabel 3.15 Jadwal penelitian ............................................................................ 81 Tabel 4.1 Daftar kegiatan selama pengambilan data ....................................... 84 Tabel 4.2 Deskripsi hasil pretest dan posttes ................................................... 85 Tabel 4.3 Hasil Uji normalitas skor pretest kelompok kontrol ........................ 87 Tabel 4.4 Hasil Uji normalitas skor pretest kelompok eksperimen ................. 88 Tabel 4.5 Angka skewness dan kurtosis kelompok kontrol ............................. 89 Tabel 4.6 Angka skewness dan kurtosis kelompok eksperimen ...................... 90 Tabel 4.7 Hasil Uji Homogenitas skor pretest ................................................. 92 Tabel 4.8 Hasil uji independent t-test skor pretest ........................................... 93 Tabel 4.9 Hasil uji normalitas kelompok kontrol ................................................. 95 Tabel 4.10 Hasil uji normalitas kelompok eksperimen.................................... 95 Tabel 4.11 Angka skewness dan kurtosis kelompok kontrol ......................... 97 Tabel 4.12 Angka skewness dan kurtosis kelompok eksperimen .................... 98 Tabel 4.13 Hasil Uji Homogenitas skor post-test ............................................ 99 Tabel 4.14 Hasil uji independent t-tets skor post-test ..................................... 100 Tabel 4.15 Hasil uji paired t-test kelompok kontrol ............................................. 103 Tabel 4.16 Hasil uji Paired t-test kelompok eksperimen ...................................... 105 Tabel 4.17 Hasil uji normalitas selisih kelompok kontrol ............................... 106 Tabel 4.18 Hasil uji normalitas selisih kelompok eksperimen ........................ 107 Tabel 4.19 Hasil uji homogenitas selisih ......................................................... 108 Tabel 4.20 Hasil uji independent t-test selisih ...................................................... 109 Tabel 4.21 Hasil uji effect size ......................................................................... 110 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Papan Pin Perkalian ...................................................................... 31 Gambar 2.2 Skema penelitian yang relevan ..................................................... 34 Gambar 3.1 Desain penelitian .......................................................................... 37 Gambar 3.2 Rumus point biserial..................................................................... 57 Gambar 3.3 Rumus Crobanch Alpha ............................................................... 60 Gambar 3.4 Rumus indeks kesulitan................................................................ 62 Gambar 3.5 Rumus Lavene’s test..................................................................... 69 Gambar 3.6 Rumus Kolmogorov sminov ......................................................... 71 Gambar 3.7 Rumus t-test.................................................................................. 74 Gambar 3.8 Rumus effect size .......................................................................... 80 Gambar 3.9 Rumus koefisien determinasi ....................................................... 80 Gambar 4.1 Grafik hasil pretest dan posttes .................................................... 86 Gambar 4.2 Grafik P-P Plot dan histogram pretest kelompok kontrol ........... 88 Gambar 4.3 Grafik P-P Plot dan histogram pretest kelompok eksperimen .... 89 Gambar 4.4 Grafik P-P Plot dan histogram Post-test kelompok Kontrol ....... 95 Gambar 4.5 Grafik P-P Plot dan histogram Pretest kelompok Eksperimen ... 95 Gambar 4.6 Perhitungan manual independent t-test skor post-test ........................... 102 Gambar 4.7 Perhitungan effect size .................................................................. 110 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat penelitian ............................................................................ 123 Lampiran 2 Contoh perangkat pembelajaran .................................................. 125 Lampiran 3 Contoh komentar validitas isi perangkat pembelajaran ................ 128 Lampiran 4 Contoh instrumen soal prestasi .................................................... 129 Lampiran 5 Contoh komentar validitas instrumen penelitian .......................... 130 Lampiran 6 Hasil validitas muka ..................................................................... 131 Lampiran 7 Contoh hasil pekerjaan siswa ...................................................... 132 Lampiran 8 Analisis validitas konstruk dan reliabilitas ................................... 133 Lampiran 9 Tabulasi data mentah pretest dan post-test .................................. 135 Lampiran 10 Analisis skor pretest dan posttest .............................................. 136 Lampiran 11 Foto penelitian dan lembar observasi ......................................... 140 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Globalisasi merupakan suatu proses pengintegrasian manusia dengan segala aspek kehidupan ke dalam suatu kesatuan masyarakat yang lebih besar dalam kehidupan internasional atau dapat disebut dengan istilah proses mendunia (Dantes, 2008: 1). Proses mendunia tersebut berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti aspek ekonomi, politik, sosial dan budaya. Salah satu dampak dari globalisasi adalah persamaan hak (Dantes, 2008: 1). Persamaan hak dalam konteks pendidikan adalah setiap individu memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan layak dengan tidak memandang suku, ras, jenis kelamin serta latar belakang ekonomi. Adanya persamaan hak membuat semakin banyak orang yang menempuh pendidikan sehingga persaingan menjadi semakin ketat. Individu yang tidak mampu mengikuti perkembangan jaman akan semakin tertinggal. Kompetisi yang ketat menjadi tantangan bagi setiap negara untuk terus memajukan pendidikannya supaya tidak tertinggal oleh negara di dunia. Negara Indonesia merupakan bagian dari dunia yang menyadari bahwa supaya mampu bersaing dan tidak tertinggal oleh negara lain di dunia membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas (Suhartini, 2009: 10). SDM berkualitas tercipta dari sekolah-sekolah yang ada di Indonesia karena sekolah adalah salah satu komponen pendidikan yang secara langsung berperan 1

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 mencetak SDM di Indonesia yaitu siswa. Siswa dididik untuk menjadi individu yang siap bersaing di era globalisasi. Sekolah memberikan berbagai macam mata pelajaran kepada siswa untuk membekali siswa supaya mampu bersaing di dunia internasional. Mata pelajaran yang ada di Indonesia juga disesuaikan dengan materi-materi yang ada di negara-negara lain yaitu meliputi matematika, pengetahuan alam, dan sosial sebagai mata pelajaran pokok. (Badan Nasional Standar Pendidikan, 2006: 8). Matematika adalah ilmu yang menjadi dasar bagi ilmu-ilmu yang lain (Suherman, 2003: 25) sehingga matematika juga digunakan sebagai tolak ukur kemajuan pendidikan suatu negara. Kemajuan matematika diteliti oleh suatu lembaga yang bernama TIMSS (Trens in International Mathematics and Science Study) dan PISA (Programme for International Student Assessment). TIMSS adalah suatu studi bertaraf internasional yang memiliki tujuan untuk mengukur prestasi matematika dan sains negara peserta di seluruh dunia yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali (Kementrian Pendidian dan Kebudayaan, 2011: 1). TIMSS dikoordinasi oleh IEA (The International Association for the Evaluation of Educational Achievement) yang pusatnya ada di Amsterdam, Belanda (Kemdikbud, 2011: 1). Sedangkan PISA adalah lembaga studi tentang literasi membaca, matematika, dan sains yang diselenggarakan setiap 3 tahun sekali (Kemdikbud, 2011: 1). PISA dikoordinasikan oleh OECD (Organisation for Economic Cooperation and Develompent) yang berpusat di Perancis. Hasil studi dari TIMMS dan PISA pada setiap periode akan dipublikasikan dan dapat diketahui oleh sumua negara.

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Hasil studi TIMSS pada tahun 1999 memperlihatkan bahwa prestasi matematika Indonesia berada pada peringkat 32 dari 38 peserta, pada tahun 2003 berasa pada posisi 37 dari 46 peserta dan pada tahun 2007 berada pada peringkat 35 dari 45 negara peserta (Kemendikbud, 2011: 1). Studi TIMMS yang terbaru adalah pada tahun 2011 yang menunjukkan prestasi matematika di Indonesia masih belum memuaskan yaitu berada pada tingkat 38 dari 42 negara anggota yang disurvei oleh TIMMS (Arora, 2011: 31). Sedangkan hasil studi oleh PISA tentang tingkat literasi matematika pada tahun 2000, 2003, dan 2006 secara berturut-turut adalah peringkat 39 dari 41 negara dengan skor 367, peringkat 38 dari 40 negara dengan skor 360 serta yang terakhir menduduki peringkat 50 dari 57 negara dengan skor 391 (Kemendikbud, 2011: 1). Hasil studi TIMSS dan PISA di atas dapat dijadikan sebagai gambaran bahwa prestasi matematika di Indonesia masih tergolong rendah. Prestasi matematika yang rendah merupakan salah satu efek dari buruknya sistem pendidikan di Indonesia (Tjalla 2011: 3). Kurikulum KTSP yang selama ini berjalan dinilai kurang sesuai perkembangan siswa, beban belajar terlalu banyak, hanya menitik beratkan pada aspek kognitif dan kurang mengembangkan karakter menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengembangkan kurikulum baru yaitu kurikulum 2013 (Kemendikbud, 2012: 12). Fenomena masyarakat yaitu banyaknya korupsi, kenakalan remaja, plagiarisme, dan narkoba juga menjadi pertimbangan pemerintah untuk mengembangkan kurikulum baru tersebut (Kemendikdub, 2012: 13).

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Kurikulum 2013 dikembangkan dengan memperhatikan teori perkembangan anak dan memasukkan pendidikan karakter pada mata pelajaran, oleh karena itu Kurikulum 2013 diharapkan mampu mengantarkan Indonesia untuk memiliki SDM yang berkualitas. Hal tersebut diperkuat oleh Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) Kemendikbud Ibnu Hamad yang menyatakan bahwa kurikulum 2013 diharapkan dapat menjawab tantangan PISA, terutama untuk soal matematika level advance (Kemendikbud, 2013: 1) karena matematika adalah ilmu yang mendasari ilmu yang lain. Matematika adalah dasar bagi ilmu-ilmu yang lain, misalnya ketika seseorang belajar ekonomi. Ketika seseorang belajar ilmu ekonomi maka akan menggunakan ilmu matematik untuk menghitung banyaknya keuangan yang masuk, jumlah pajak, dan keuntungan. Saat belajar tentang Biologi maka kita akan menggunakan ilmu matematika untuk menganalisis hasil percobaan yang dilakukan. Contoh lain dari penerapan matematika adalah ketika seseorang meneliti sebuah efek suatu obat baru terhadap sekelompok mencit, maka akan menghitung rata-rata berat badan mencit, dan mehitung seberapa besar efek obat menggunakan ilmu matematika. Pembelajaran fisika juga menggunakan berbagai macam rumus fisika yang tentunya juga menggunakan ilmu matematika. Contoh yang lain adalah bagi masyarakat muslim juga menggunakan ilmu matematika untuk menentukan waktu sholat di berbagai negara di dunia. Matematika, disamping merupakan ilmu yang mendasari ilmu-ilmu yang lain juga memiliki fungsi penting bagi siswa sehingga sebaiknya pembelajaran matematika dirancang supaya mudah dipahami oleh siswa. Fungsi penting

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 matematika menurut (Suherman, 2003: 56) adalah sebagai alat, pola pikir dan pengetahuan. Fungsi matematika sebagai pola pikir artinya siswa akan belajar pemahaman atau penalaran dari suatu pengertian melalui matematika. Matematika juga berfungsi sebagai alat memiliki makna bahwa matematika dapat digunakan sebagai alat untuk memecahkan masalah dalam ilmu lain atau dalam kegiatan sehari-hari. Fungsi matematika yang terakhir adalah matematika sebagai pengetahuan, yaitu bahwa matematika mencari kebenaran dan mengembangkan penemuan-penemuan yang pernah ada. Pentingnya matematika dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah satu pendorong bagi para pelaku pendidikan di Indonesia untuk terus mengupayakan pembelajaran matematika yang efektif dan mencapai hasil yang maksimal. Proses mencapai hasil yang maksimal tentu mengalami beberapa kendala salah satunya adalah siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika. Kesulitan belajar matematika sering dialami oleh siswa. Kesulitan yang sering dialami oleh siswa disebabkan karena kurangnya kemampuan untuk mengabtraksi yaitu memahami konsep abstrak yang ada pada materi matematika (Widdiharto, 2008: 8) Sembilan dari sepuluh siswa di Indonesia menyatakan bahwa matematika itu sulit atau dapat dikatakan kesulitan belajar matematika melanda sebagian besar siswa sekolah dasar di Indonesia (Kompasiana, 2014: 1). Supaya siswa mudah memahami konsep matematika yang abstrak, sebaiknya pembelajaran matematika dirancang sesuai dengan perkembangan kognitif siswa. Dahar (2011: 56) mengatakan bahwa perkembangan kognitif anak sekolah dasar (7-11 tahun) berada pada tahap operasional konkrit dimana anak akan lebih mudah memahami

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 yang konkrit dan lebih sulit memahami hal-hal yang abstrak. Oleh karena itu, siswa perlu memahami konsep matematika dalam bentuk konkrit terlebih dahulu sebelum memahami bentuk abstraknya yaitu menggunakan suatu cara untuk mengkonkritkan materi matematika. Alat peraga adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk membantu mengkonkritkan materi matematika (Sitanggang, 2013: 3). Keuntungan yang dapat diperoleh apabila menggunakan alat peraga matematika yaitu proses belajar mengajar termotivasi, konsep abstrak matematika tersaji dalam bentuk konkrit, hubungan antara konsep abstrak dan benda di alam sekitar akan lebih mudah dipahami siswa, merangsang siswa untuk berfikir, merangsang siswa menjadi aktif dan merangsang siswa unutk memecahkan masalahnya sendiri Suherman (2003: 243). Selain itu, teori pembelajaran Jerome Bruner menyatakan bahwa pengetahuan yang di peroleh sendiri akan lebih bertahan lama dan pengetahuan yang diperoleh secara mandiri akan menghasilkan hasil yang paling baik (Dahar, 2011: 79). Kesimpulan dari pernyataan Suherman dan Dahar adalah alat peraga yang dapat membangun pengetahuan anak secara mandiri berpeluang mampu membuat anak mudah memahami materi matematika dan pemahaman yang di dapat juga lebih bertahan lama karena siswa dapat belajar secara mandiri. Pembelajaran mandiri merupakan salah satu karakteristik dari metode montessori (Montessori, 2013: 192), sehingga alat peraga matematika yang digunakan dalam metode Montessori lebih ditekankan supaya dapat membimbing anak untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Alat peraga matematika

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 Montessori memiliki pengendali kesalahan pada alat itu sendiri sehingga meminimalkan dominasi guru saat menggunakan alat peraga. Alat tersebut membuat siswa menjadi lebih mandiri dalam belajar tidak tergantung dengan keberadaan guru melalui alat peraga yang memiliki pengendali kesalahan sendiri. Selain itu alat peraga Montessori juga sesuai dengan perkembangan anak baik perkembangan kognitif maupun fisik yaitu bersifat mengkonkritkan materi yang abstrak, mudah dibawa dan ringan dibawa oleh anak. Donabella dan Rule (2008: 3) melakukan penelitian terhadap siswa kelas 4 sekolah dasar menggunakan alat peraga Montessori Checker board untuk materi perkalian. Penelitian (Donabella dan Rule, 2008: 2) mengatakan “Pretest and posttest results of the four students indicated that all increased their understanding of multiplication”. The results of an attitude survey showed students improved in enjoyment, perceived knowledge, and confidence in solving multiplication problems.” yaitu hasil preetest dan posttest menunjukkan empat siswa merasa pemahamannya tentang perkalian meningkat. Alat peraga Montessori sesuai dengan teori perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Dahar. Selain meningkatkan perkembangan kognitif, alat peraga Montessori juga sesuai dengan teori pembelajaran penemuan Jerome Bruner. Penelitian Donablla dan Rule (2008: 2) juga menguatkan bahwa alat peraga Montessori dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Teori yang telah dipaparkan membuat peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori”.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah disusun maka dapat ditemukan beberapa masalah yaitu sebagai berikut: 1. Prestasi belajar matematika di Indonesia masih tergolong rendah. 2. Materi matematika di SD termasuk materi yang abstrak. 3. Siswa merasa sulit belajar matematika. 4. Kurangnya penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika. C. Batasan Masalah Peneliti memberikan batasan masalah pada penelitian ini. Pembatasan masalah ini dilakukan untuk menfokuskan penelitian. Batasan masalah memiliki arti kebenaran hasil penelitian ini hanya dibatasi pada bagian yang telah difokuskan (Purwanto, 2012: 73). Penelitian ini hanya terbatas meneliti seberapa perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori pada siswa sekolah dasar kelas dua karena tertarik dengan wacana tentang prestasi belajar di Indonesia. Prestasi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah prestasi belajar bagian kognitifnya saja karena pada studi tentang kemampuan matematika pada tingkat internasional yang diukur adalah kemampuan matematika secara kognitifnya saja. Operasi matematika kelas dua pada penelitian ini dibatasi pada standar kompetensi 3 yaitu melakukan perkalian yang hasilnya bilangan dua. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori pada penelitian ini adalah Papan Pin Perkalian. Hasil penelitian ini hanya berlaku terbatas di SD Negeri Keceme 1 Sleman pada materi perkalian yang hasilnya dua angka.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 D. Rumusan Masalah Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori?”. E. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. F. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak diantaranya adalah bagi peneliti, sekolah, guru dan siswa. 1. Bagi peneliti Manfaat penelitian ini bagi peneliti adalah a) peneliti dapat memiliki pengalaman dalam melakukan penelitian sehingga dapat termotivasi mengembangkan penelitian yang lain, b) penelitian dapat mengetahui cara meningkatkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran matematika materi perkalian, c) peneliti dapat menambah wawasan tentang alat peraga alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika materi perkalian, d) peneliti dapat menambah pengetahuan tentang alat peraga Montessori dan alternatifnya dalam penerapkan ke mata pelajaran matematika khususnya untuk materi perkalian kelas 2 sekolah dasar.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 2. Bagi sekolah Manfaat penelitian ini bagi sekolah adalah a) sekolah bisa mendapatkan sumbangan positif bagi kemajuan sekolah karena guru mendapat tambahan wawasan tentang alat peraga alternatif ala Montessori yang belum pernah di terapkan di sekolah, b) penelitian ini turut serta meningkatkan prestasi sekolah karena dengan pembelajaran yang dilakukan peneliti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. 3. Bagi guru Manfaat penelitian ini bagi guru adalah a) guru mendapat tambahan wawasan tentang alat peraga Montessori beserta alternatif pembuatannya untuk menunjang pembelajaran matematika materi perkalian, b) guru mendapat inspirasi untuk membuat alat peraga yang relevan dengan pembelajaran dan perkembangan anak untuk menunjang pembelajaran. 4. Bagi siswa Manfaat penelitian ini bagi siswa adalah a) prestasi belajar matematika siswa pada materi perkalian menjadi meningkat, b) Siswa mendapatakan pengalaman belajar menyenangkan dengan menggunakan alat peraga ala Montessori papan pin perkalian. G. Definisi Operasional Definisi operasional dalam penelitian ini adalah: 1. Matematika Matematika adalah ilmu yang diperoleh dengan cara menalar, berlogika, dan membuktikan.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 2. Alat peraga Alat peraga adalah alat yang digunakan untuk memperagakan materi tertentu agar terlihat lebih nyata. 3. Alat peraga matematika Alat peraga matematika adalah alat yang digunakan untuk memperagakan suatu materi metamtika supaya menjadi lebih nyata. 4. Metode Montessori Metode Montessori adalah cara mendidik siswa yang dikembangkan oleh Maria Montessori dengan cara mengoptimalkan kemampuan panca indera dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk melakukan dan menemukan pengetahuannya sendiri. 5. Alat peraga Montessori Alat peraga Montessori adalah alat yang didesain untuk siswa supaya dapat tertarik untuk mencoba dan belajar menemukan pengetahuannya secara mendiri. 6. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori Alat peraga matematika berbasis metode Montessori adalah alat yang didesain untuk siswa supaya dapat tertarik untuk mencoba dan belajar menemukan pengetahuannya matematikanya secara mendiri. 7. Prestasi belajar Prestasi siswa adalah dari sebuah proses belajar, dalam penelitian ini berupa nilai yang diperoleh skor dari tes yang dilakukan dan berupa pengetahuan

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 konitif. Prestasi belajar pada penelitian ini memiliki pengertian yang sama dengan hasil belajar. 8. Siswa sekolah dasar Siswa sekolah dasar adalah siswa pada jenjang pendidikan dasar yang berusia antara 7 tahun hingga 12 tahun. 9. Pretest Pretest adalah suatu kegiatan yang dilakukan pada awal pembelajaran untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa. 10. Posttest Post-test adalah suatu kegiatan yang dlakukan di akhir pembelajaran untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa atas pembelajaran yang telah berlangsung.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini ada tiga bagian yang akan diuraikan yaitu kajian teori, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis. Kajian teori akan membahas tentang beberapa topik yang berkaitan dengan penelitian. Penelitian yang relevan berisi tentang penelitian-penelitian yang berkaitan dengan variabel penelitian yang akan peneliti lakukan. Kerangka berfikir berisi tentang rumusan konsep yang didapat dari hasil kajian teori. Bagian terakhir pada bab I yaitu hipotesis penelitian berisi tentang dugaan sementara yang akan terjadi pada penelitian yang akan dilakukan. A. Kajian Pustaka Kajian pustaka membahas tentang teori yang mendukung serta penelitian yang relevan. 1. Teori yang mendukung Bagian ini membahas beberapa topik yang berkaitan dengan penelitian yang akan dipakai, yaitu prestasi belajar, metode montessori, alat peraga, pembelajaran matematika, dan operasi perkalian. a. Tahap Perkembangan Anak Sekolah Dasar Pada topik ini akan menguraikan tahapan perkembangan anak menurut dua ahli, yaitu menurut Piaget dan Montessori. Tahapan perkembangan anak menurut Piaget dibagi menjadi 4 tahap (Hill, 2011: 160-164). Pertama adalah tahap sensori motor yaitu pada umur 0-2 tahun. Pada tahap 0-2 tahun anak baru dapat 13

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 memahami hal-hal yang dapat ditangkap oleh pancaindranya. Seorang bayi lahir dengan refleks bawaan untuk membantu membentuk perilaku anak. Kedua adalah tahap pra operasional yaitu pada umur 2-7 tahun. Tahap kedua ini anak sudah bisa menghubungkan pengalaman yang dilihat dengan pengalaman pribadi yang dialaminya. Tahap ketiga disebut tahap pra operasional konkrit. Tahap operasional konkrit berlangsung antara umur umur 7-11 tahun. Tahap 7-11 tahun, seorang anak sudah dapat memahami simbol matematis namun anak belum dapat memahami hal-hal yang abstrak. Anak sekolah dasar menurut Piaget berada pada tahapan ini. Tahap terakhir ialah tahap operasional formal yang berjalan pada umur sebelas tahun ke atas. Tahap terakhir ditandai dengan anak sudah dapat memecahkan masalahnya, mampu berfikir reflektif, dan mengaitkan antar simbol. Teori perkembangan anak yang kedua yaitu menurut Maria Montessori. Tahap perkembangan anak menurut Montessori dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu umur 0-6, 6-12, dan 12-18 (Holt, 2008: xxi). Tahapan yang pertama adalah tahap usia 06 tahun. Usia 0-6 tahun merupakan tahapan pertama dan tahapan emas bagi anakanak. Tahapan ini merupakan periode dimana anak mulai belajar melakukan gerak, berlatih tentang keteraturan, menyayangi lingkungan, serta sangat peka terhadap susuatu yang bersifat mendetail dan bilangan atau angka. Tahap kedua adalah usia 6-12 tahun. Tahap kedua ini, anak mulai peka terhadap hal yang bersifat logika dan pembenaran. Anak mulai mampu mengembangkan imajinasi, rasa berkelompok, ingin menampakkan kekuatan fisik, dan mengasah mental dan moralitas pada umur 6-12 tahun. Tahap ketiga ialah 12-18 tahun. Usia 12-18 tahun merupakan tahapan perkembangan anak yang terakhir menurut Montessori.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Anak pada tahapan ketiga akan mengalami kematangan fisik dan mulai mencari model ideal yang akan menjadi idolanya dan menjadikannya acuan untuk diikuti. Rentang usia anak sekolah dasar adalah antara 7-12 tahun. Piaget mengungkapkan bahawa anak sekolah dasar tahapan perkembangannya ada pada tahapan operasional konkret. Montessori mengungkapkan pernyataan yang lain dari Piaget tentang teori perkembangan anak. Teori tersebut adalah anak usia sekolah dasar ada pada tahapan yang kedua yaitu dimana anak sangat sensitif terhadap logika dan pembenaran. Kedua uraian dari Montessori dan Piaget tersebut kemudian dapat dikatakan anak sekolah dasar memerlukan pembelajaran yang konkret dan ada pembenaran yang sesuai dengan logika anak. b. Metode Montessori Pada topik ini akan diuraikan mengenai dua pokok bahasan yaitu tentang sejarah metode montessori dan karakteristik metode montessori. 1. Sejarah metode Montessori Metode montessori merupakan salah satu metode untuk anak sekolah dasar yang sudah lama berkembang di Italia dan kini menyebar sampai ke Indonesia. Nama metode Montessori diambil dari nama pencetusnya yaitu Maria Montessori. Montessori merupakan salah satu tokoh besar pendidikan. Montessori lahir di Chiaravalle, provinsi Ancona, Italia pada tanggal 31 Agustus 1870 (Magini, 2013: 103). Montessori lahir dari seorang ibu bernama Renilde Stoppani dan seorang ayah bernama Alessandro Montessori. Maria montessori adalah seorang dokter dan perempuan pertama di Italia yang meraih gelar doktor di bidang kedokteran.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Metode Montessori muncul melalui sebuah sekolah bagi anak-anak yang kurang beruntung dalam bidang finansial yang bernama Casai De Bambini atau Children’s House. Melalui Casai De Bambini inilah Montessori banyak mengamati perilaku anak dan menuangkan hasil pengamatannya ke dalam alat peraga yang terinspirasi dari alat peraga Itard dan Seguin (Magini, 2013: 46-51). 2. Karakteristik metode Montessori Standing (Kirkpatrick, 2008: 128) mengungkapkan tentang makna,”Teach, Teaching, not correcting”, yaitu mengoreksi memang akan lebih cepat memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh siswa, tetapi akan menimbulkan catatan mental pada anak tentang ketidaksempurnaan sesuatu yang dikerjakan oleh anak tersebut. Catatan mental tersebut akan membuat anak menjadi takut salah, lebih baik jika anak tersebut menyadari ketidak sempurnaan yang terjadi melalui dirinya sendiri atau alat yang dipakainya sendiri. Metode Montessori memiliki 5 prinsip dasar yaitu menghormati anak, pikiran penyerap, periode sensitif, swadidik, dan menyiapkan dengan lingkungan (Bradley, 2013: 7-9). Guru yang menunjukkan rasa hormat kepada siswanya akan membuat siswanya belajar akan hal tersebut, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk orang lain. Konsep pikiran penyerap adalah setiap anak menyerap langsung ke psikisnya segala yang mereka pelajari. Montessori mengungkapkan hanya dengan hidup siswa dapat belajar, tetapi mereka tidak bisa belajar sendiri melainkan membutuhkan guru, pengalaman dan lingkungan. Lingkungan dapat membantu siswa untuk belajar. Periode sensitif adalah tahap perkembangan anak dimana anak akan lebih mudah belajar suatu keterampilan khusus.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 Penerapan metode Montessori dalam pembelajaran selalu berkaitan dengan alat peraga. Alat peraga merupakan salah satu ciri dari metode tersebut. Montessori merancang dan membuat sendiri alat peraga sesuai dengan hasil pengamatannya dan mengacu pada alat yang dibuat oleh Itard dan Seguin (Magini, 2013: 46-50). Alat peraga Montessori di rancang sesuai dengan kebutuhan anak baik secara kognitif maupun secara fisik. Secara kognitif, alat peraga dikembangkan sesuai dengan kemampuan anak yaitu untuk membuat materi pembelajaran menjadi lebih nyata, sedangkan secara fisik, alat peraga Montessori disesuaikan dengan fisik anak. Misalnya meja dan kursi dibuat kecil dan pendek sesuai dengan ukuran tubuh anak-anak. Montessori berpendapat bahwa setiap anak memiliki kebutuhan untuk mandiri (Pitamic, 2013: 8). Metode Montessori memiliki filosofi “Teach me to do it my self”. Filosofi tersebut mengandung arti bahwa setiap anak terlahir memiliki kemampuan untuk belajar dan menemukan cara belajarnya sendiri. Berangkat dari filosofi tersebut, metode Montessori sangat menghargai kebebasan dan hasil kerja anak. Beberapa paparan yang telah diuraikan kemudian dapat dibuat kesimpulan yaitu metode montessori memiliki karakter menghargai kemampuan anak, menghargai kebebasan individu, menghargai hasil kerja anak, tidak ada unsur mengoreksi dari guru, dan selalu menggunakan alat peraga yang menuntun anak untuk belajar secara mandiri. Guru dapat menghargai kemampuan anak dengan cara mempercayai anak untuk melakukan tugasnya sendiri.

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 c. Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori Sub bab alat peraga matematika berbasis metode Montessori akan membahas tentang 3 bagian tentang alat peraga. Tiga bagian yang akan dibahas tersebut adalah alat peraga matematika, alat peraga matematika Montessori, dan karakteristik alat peraga Montessori. Hal pertama yang akan dibahas adalah mengenai pengertian alat peraga matematika. a. Pengertian alat peraga matematika Alat peraga terdiri atas dua jenis yaitu media pembawa informasi dan media yang digunakan sekaligus sebagai alat untuk menanamkan konsep kepada siswa seperti alat-alat peraga matematika (Suherman,2003: 138). Menurut Suherman (2003: 243) ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh apabila menggunakan alat peraga matematika, yaitu proses belajar mengajar termotivasi dan konsep abstrak matematika tersaji dalam bentuk konkrit, hubungan antara konsep abstrak dan benda di alam sekitar akan lebih mudah dipahami siswa, merangsang siswa untuk berfikir, merangsang siswa menjadi aktif dan merangsang siswa untuk memecahkan masalahnya sendiri. Alat bantu atau alat peraga matematika sangat mempengaruhi penyerapan dan ingatan tentang pengetahuan matematika dan pengetahuan prosedural yang sangat penting untuk menguasai materi matematika (Silver, Brunsting, Walsh, & Thomas 2013: 14). Suherman (2003: 244) menyatakan hal-hal yang perlu diperhatikan saat membuat, memilih atau menggunakan yaitu, alat peraga sebaiknya tahan lama, bentuk menarik, warna menarik. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam memilih alat peraga adalah alat peraga tersebut mudah digunakan, ukuran sesuai dengan

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 fisik anak, dan sesuai dengan konsep matematika yang jelas. Masih menurut Suherman (2003: 244) alat peraga yang baik seharusnya adalah alat peraga yang dapat menjadi dasar bagi tumbuhnya konsep abstrak matematika karena abstrak adalah salah satu hal pokok yang menyebabkan matematika sulit dipahami oleh seorang anak. Beberapa pernyataan tentang alat peraga alat peraga yang telah dikemukakan kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa alat peraga adalah bagian dari media pembelajaran yang memiliki banyak fungsi penting dalam pembelajaran matematika. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan alat peraga dalam membuat, memilih, serta memakai alat peraga matematika supaya tujuan pembelajaran tercapai. Membuat alat peraga perlu memperhatikan bahan, ketahanan, biaya dan yang paling penting adalah fungsinya. b. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori Pitamic (2013: 105) dalam bukunya yang berjudul “Teach Me To Do It My Self” menyatakan bahwa Montessori melalui pengamatannya berpendapat bahwa matematika adalah konsep yang abstrak sehingga supaya anak dapat memahami dengan baik harus dibuat senyata mungkin. Alat peraga montessori merupakan salah satu alat yang digunakan untuk membuat materi menjadi lebih nyata. Materi yang tersaji lebih nyata akan mudah dipahami oleh anak-anak karena sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Lillard (2013: 168-169) mengatakan bahwa alat peraga matematika Montessori tidak disusun untuk mengajar matematika. Alat peraga Montessori dirancang untuk membantu anak mengembangkan pikiran matematika yang

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 meliputi kemampuan memahami perintah dan urutan. Alat peraga Montessori juga dirancang untuk membantu anak memiliki kemampuan untuk menempatkan secara bersamaan mengenai hal yang telah diketahui. Alat peraga Montessori dirancang secara sederhana, manarik, dan memberi kesempatan anak untuk mengeksplorasi, melatih anak belajar secara mandiri, dan memperbaiki kesalahannya sendiri (Lillard, 2013: 170). Alat peraga yang menarik akan menarik perhatian anak untuk menggunakannya atau untuk mencoba alat peraga tersebut untuk memenuhi rasa ketertarikan dan rasa ingin tahunya. Alat peraga Montessori sisusun sederhana supaya mudah untuk digunakan anak-anak, selain itu juga supaya anak dapat menggunakan alat tersebut secara mandiri dan menemukan pengetahuan yang dipelajari melalui alat peraga yang digunakan. Pernyataan Pitamic dan Lilliard kemudian dapat dikatakan bahwa alat peraga matematika Montessori bertujuan untuk mengkonkritkan materi matematika yang abstrak, membantu mengembangkan pikiran matematika siswa, melatih kemandirian siswa dan dapat memperbaiki sendiri kesalahan yang terjadi pada siswa. c. Karakteristik alat peraga matematika berbasis metode Montessori Alat peraga Montessori memiliki empat ciri khusus (Gutek, 2004: 155), yaitu auto-education, auto-corection, menarik, dan bergradasi. Auto-education memiliki maksud bahwa anak akan belajar sendiri menggunakan alat peraga Montessori. Alat peraga Montessori dirancang sesuai dengan perkembangan anak, baik dalam hal perkembangan psikologi maupun fisiknya (Gutek, 2004: 155). Penyesuaian alat peraga dengan perkembangan fisik dan psikologi ditujukan

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 supaya anak dapat belajar secara mandiri. Sebagai contoh adalah alat peraga Montessori tentang perkalian untuk usia 9 tahun dirancang dengan menggunakan manik-manik untuk mengkonkritkan materi perkalian. Penggunaan manik ditujukan untuk mengkonkritkan materi perkalian karena anak usia 9 tahun ada pada tahapan operasional konkrit. Contoh konsep alat peraga sesuai dengan tahapan fisik anak adalah setiap alat peraga dibuat menggunakan bahan yang ringan. Hal itu ditujukan supaya anak mampu membawanya sendiri. Karakteristik alat peraga Montessori selanjutnya adalah Auto-correction (Gutek, 2004: 155). Istilah tersebut mengandung makna bahwa setiap alat peraga Montessori memiliki pengendali kesalahan, sehingga bukan guru yang menjadi pengendali kesalahan melainkan pada alat tersebut. Misalnya saat anak menggunakan tongkat asta merah biru untuk melakukan operasi penjumlahan 2+3. Siswa akan mengambil tongkat 2 dan meletakkan tongkat 3 diatasnya kemudian mencari tongkat yang panjangnya sama dengan gabungan kedua tongkat tersebut, maka alat tersebut memiliki pengendali kesalahan berupa panjang yang berbeda. Apabila panjang tongkat yang di dekatkan tidak sama dengan panjang tongkat yang digabungkan itu artinya salah dan kesalahan tersebut dapat diketahui sendiri oleh siswa karena dapat diamati, dirasakan dan diamati dengan pancaindra. Konsep menarik adalah karakteristik alat peraga Montessori yang selanjutnya. Alat peraga Montessori dirancang semenarik mungkin, baik dalam hal warna, bentuk, dan cara penggunaan. Hal tersebut bertujuan untuk menarik minat siswa untuk menyentuh dan menggunakan alat tersebut. Montessori (2008: 81) mengungkapkan bahwa setiap alat peraga harus memiliki keindahan. Anak yang

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 tertarik dan berinisiatif sendiri untuk menggunakan alat peraga tentu akan lebih merasa senang dibandingkan dengan yang disuruh atau dipaksakan. Alat peraga Montessori yang menarik juga dilengkapi dengan karakteristik bergradasi. Maksud dari bergradasi adalah setiap alat memiliki suatu hal yang kontras baik kontras dalam hal warna, bentuk ukuran, maupun jumlah. Hal yang kontras tersebut akan memudahkan anak untuk mengetahui perbedaannya. Selain kontras, bergradasi juga memiliki makna bertingkat dan konsisten. Alat peraga Montessori memiliki ukuran yang jelas dan dapat diamati oleh siswa. Setiap satu set alat terdapat material alat peraga yang sama tetapi dengan ukuran yang berbeda-beda serta dengan gradasi ukuran alat yang konsisten. Konsisten yang dimaksud adalah selalu mempunyai selisih ukuran yang sama. Gradasi alat tersebut akan melatih kemampuan berlogika siswa dalam menyelesaikan masalah. Contohnya satu set alat terdiri dari 10 tongkat yang berbeda ukuran panjangnya, maka jika tongkat pertama dan kedua selisih panjangnya 1 cm maka selisih panjang untuk semua tongkat adalah 1 cm semua. Peneliti menambahkan satu karakteristik alat peraga Montessori pada penelitian ini yaitu kontekstual. Kontekstual yang dimaksud pada penelitian ini adalah alat peraga dibuat menggunakan bahan yang ada disekitar siswa, sehingga siswa lebih merasa familier serta membuat atau mendapatkannya lebih mudah. Maria Montessori juga banyak memanfaatkan barang atau bahan yang ada disekitar untuk digunakan sebagai alat peraga (Magini, 2013: 58).

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 d. Pembelajaran Matematika Pembelajaran matematika pada jenjang SD ada sejak siswa kelas 1. Pembelajaran matematika pada tingkat paling bawah sekolah dasar dimulai dari mengenalkan angka kepada siswa. Bagian ini akan membahas dua hal tentang pembelajaran matematika yaitu mengenai pengertian matematika dan membahas mengenai tujuan pembelajaran matematika. 1. Pengertian matematika Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang ada di jenjang sekolah dasar. Matematika memiliki pengertian sebuah ilmu yang didapat dengan cara berpikir dan menalar (Universitas Pendidikan Indonesia, 2011: 3). Matematika menurut Tinggih (Suherman, 2003: 16) adalah ilmu pengetahuan yang didapat melalui proses menalar. Sedangkan menurut Russefendi (Suherman, 2003: 16), matematika adalah hasil proses pemikiran seorang manusia yang berupa ide, proses dan penalaran atau logika. Pendapat yang telah dikemukakan mengenai maematika kemudian dapat dikatakan matematika dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan cara menalar menggunakan logika sehingga setiap materi matematika dapat diterima dengan logika. 2. Tujuan pembelajaran matematika Tujuan umum pembelajaran matematika pada pendidikan dasar lebih menitik beratkan pada penataan penalaran dan penanaman sikap (Suherman, 2003: 58). Siswa akan dengan mudah mengerjakan soal matematika tipe apapun saat siswa tersebut mampu memahami konsep dasar dari soal yang dikerjakan. Siswa yang belum menguasai konsep matematika dengan baik, saat dijelaskan satu soal siswa

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 tersebut akan memahami tetapi saat angka atau kata-katanya diganti siswa tersebut kemungkinan menjadi tidak dapat menyelesaikan dengan baik karena ia belum menguasai konsep dasarnya. Tujuan matematika pada pendidikan sekolah dasar adalah supaya siswa dapat menggunakan matematika dalam kehidupannya (Susanto, 2013: 189). Standar isi kurikulum KTSP menuangkan tentang tujuan pembelajaran matematika yaitu supaya siswa dapat memahami konsep matematika (BNSP, 2006: 417) Matematika juga bertujuan mengasah kemampuan siswa untuk memecahkan masalah dan juga bertujuan supaya siswa mampu menerapkan pengetahuan matematikanya dalam kehidupan sehari-hari. Contoh langsung dari menggunaan ilmu matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah saat melakukan jual beli dan pengukuran terhadap suatu benda. Jadi, dapat dikatakan bahwa inti dari tujuan pembelajaran matematika adalah penguasaan konsep matematika untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dari seorang siswa. e. Materi Perkalian Materi operasi perkalian adalah bentuk matematika pada materi perkalian kelas 2 pada tingkat sekolah dasar. Pembelajaran matematika materi perkalian kelas 2 pada kurikulum KTSP ada pada semester 2 dengan standar kompetensi 3 yaitu melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka dan kompetensi dasar 3.1 Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006: 241). Materi operasi perkalian di kelas dua ini biasanya diawali dengan mengenalkan penjumlahan berulang menjadi perkalian. Hasil operasi perkaliannya juga dibatasi hanya sampai 2 angka

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 saja. Penerapan pembelajaran materi operasi perkalian di kelas 2 sekolah dasar paling besar adalah hasilnya 99 yaitu hasil dari operasi perkalian 11 x 9. f. Prestasi Belajar Sub bab prestasi belajar akan memaparkan mengenai empat hal tentang belajar. Empat hal tentang belajar tersebut diantaranya adalah teori belajar, pengertian belajar, pengertian prestasi belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Setiap hal akan di jelaskan dalam bagian yang berbeda. 1. Teori belajar Ada banyak teori tentang pembelajaran. Salat satu dari adalah teori pembelajaran yang di ungkapkan oleh Jerome Bruner, Ausubel, dan Piaget. Belajar penemuan merupakan salah satu teori yang di kemukakan oleh Jerome Bruner (Slameto, 2010: 11-12). Belajar penemuan adalah berusaha menemukan pemacahan masalah sendiri sehingga dapat memperoleh mengetahuan yang menyertainya secara mandiri (Dahar 2011: 84). Bruner (Dahar 2011: 83) mengungkapkan, ”we can teach a subject not to produce little living libraries on thah subject, but rather to get a student to think mathematically for himself, to consider matters as an historian does, to take part in the process knoledge-getting. Knowing is a process, not a product”. Ungkapan Bruner tersebut mengandung arti bahwa pembelajaran itu lebih penting prosesnya daripada produknya. Belajar akan lebih bermakna apabila anak melakukan proses belajarnya secara mandiri.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 Berbeda dengan teori Bruner, Ausubel membedakan bentuk belajar menjadi dua yaitu belajar penerimaan dan belajar penemuan. Teori Ausubel mengatakan bahwa belajar bermakna tidak hanya dapat diperoleh dari belajar penemuan dimana anak melakukan sendiri. (Dahar 2011: 95). Belajar bermakna juga dapat diperoleh dari belajar penerimaan atau hafalan yang dilanjutkan dengan mengaitkan antar konsep hafalan yang diperoleh (Dahar 2011: 95). Teori lain tentang pembelajaran juga di ungkapkan oleh Piaget. Piaget mengatakan bahwa belajar terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi (Hill 2011: 157-159). Asimilasi adalah pengetahuan pertama yang dimiliki oleh siswa dan akomodasi merupakan pengkondisian pengetahuan pertama terhadap pengetahuan baru yang diperoleh. Piaget juga menuturkan bahwa perkembangan intelektual anak tidak akan berkembang saat anak pasif melainkan akan berkembang seiring tindakan yang dilakukannya (Dahar, 2011: 136). Ketiga teori yang telah diuraikan oleh Bruner, Ausubel, dan Piaget kemudian dapat dikatakan bahwa peneliti setuju dengan teori Bruner dan Piaget. Pengetahuan yang dibangun dan ditemukan sendiri oleh anak akan lebih bermakna serta tindakan yang dilakukan anak akan mempengaruhi perkembanagan intelektual seorang anak. Semakin banyak pancaindra yang digunakan untuk belajar, maka semakin melekat kuat pengetahuan yang diperoleh. 2. Pengertian belajar Pengertian belajar menurut Gagne adalah perubahan perilaku suatu organisme yang diakibatkan karena adanya pengalaman yang dilakukan (Slameto, 2010: 1318). Sejalan dengan Gagne, Cronbach juga mendefinisikan belajar adalah

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 perubahan tingkah laku pada seseorang akibat suatu pengalaman yang telah dilaluinya (Riyanto, 2009: 5). Definsi lain diungkapkan oleh Thorndike yang menyatakan belajar adalah proses hubungan antara stimulus dan respon (Suryasubrata, 2012: 254-255). Stimulus dapat berupa pikiran, gerakan atau perasaan, sedangkan respon dapat berupa seperti stimulus.Selain itu belajar adalah proses penghubungan antara pengetahuan lama dengan pengetahuan baru yang di miliki oleh siswa sehingga terbentuk suatu gabungan pengetahun dan menjadi pengetahuan baru (Degeng dalam Riyanto, 2009: 5). Beberapa pengertian yang telah dipaparkan kemudian dapat di katakan belajar adalah perubahan perilaku akibat dari mendapat pengetahuan baru dimana pengetahuan tersebut diperoleh melalui adanya pengalaman. 3. Pengertian prestasi belajar Sepanjang kehidupan, seringkali manusia mengejar prestasi. Siswa di sekolah sebagian besar juga mengejar prestasi di sekolahnya. Prestasi belajar adalah hasil usaha belajar yang pada umumnya berkenaan dengan pengetahuan (Arifin 2009: 12). Sukmadinata (dalam Arifin, 2013: 2) mengungkapkan bahwa pengertian prestasi prestasi belajar sama dengan hasil belajar. Sudjana (2005: 3) memaparkan pengertian prestasi ialah hasil belajar yang dicapai oleh siswa dengan kriteria tertentu sehingga untuk mengetahui tingkat prestasi belajar maka perlu dilakukan evaluasi belajar. Sebelum menilai prestasi siswa seorang guru harus mengukur prestasi belajar siswa melalui tes, ulangan, ujian, atau tugas (Arikunto, 2007: 13). Prestasi siswa secara luas sesuai dengan

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 taksonomi Bloom memiliki tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor (Azwar, 2012: 8). Uraian tentang pengertian belajar dari Azwar, Sudjana, Arifin dan Masidjo dapat dijadikan sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa prestasi belajar adalah penilaian tentang hasil belajar siswa berupa pengetahuan kognitif, afektif, dan psikomotor yang diukur melalui tes, ujian, pengamatan atau tugas. Jadi indikator prestasi belajar siswa dilihat dari penggabungan skor kognitif, afektif dan psikomotor yang biasanya di sekolah ada nilai KKM sebagai batas ketuntasan minimal. 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar diungkapkan oleh Slameto (2010: 54) yaitu bahwa prestasi belajar di pengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal tersebut yaitu bentuk masyarakat, teman bergaul, dan bentuk gedung sebagai bagian dari faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar. Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik (Simanjuntak, 2008: 1). Faktor intrinsik terdiri dari integensi, motivasi, minat, sikap, bakat, dan konsentrasi sedangkan faktor ekstrinsik adalah keluarga, sekolah, dan masyarakat. Intelegensi dalam arti luas adalah kemampuan untuk mencapai prestasi sedangkan dalam arti sempit intelegensi adalah kemampuan untuk mencapai prestasi di sekolah (Winkel, 2012: 155). Intelegensi dalam dunia pendidikan biasa disebut dengan kemampuan akademik. Motivasi sangat mempengaruhi prestasi belajar dari seorang siswa (Slameto,2010: 58). Siswa yang memiliki motivasi besar untuk belajar cenderung

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 dapat memperoleh prestasi yang lebih baik daripada yang tidak. Minat adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu hal (Slameto, 2010: 59). Siswa yang memiliki minat tinggi terhadap suatu pembelajaran akan cenderung ingin melakukan hal tersebut secara terus menerus. Hal itu tentu positif karena siswa menjadi sering belajar untuk mengetahui materi yang diminatinya. Sikap siswa dalam belajar juga mempengaruhi prestasi belajar siswa. Sikap siswa yang negatif seperti malas dan tidak disiplin tentu akan menghambat keberhasilan siswa untuk mendapatkan prestasi belajar yang memuaskan (Simanjuntak, 2008: 1). Sebaliknya, sikap positif siswa akan menunjang keberhasilan siswa untuk mencapai prestasi yang memuaskan. Bakat adalah kemampuan siswa untuk belajar (Slameto, 2010: 57). Senada dengan Slameto, Winkel (2012: 162) mengungkapkan bahwa bakat adalah kemampuan menonjol dari seorang siswa pada suatu bidang tertentu. Bakat akan membantu siswa untuk belajar sesuatu yang ia pelajari. Siswa akan lebih mudah untuk mencapai prestasi belajar saat ia belajar sesuai dengan bakatnya. Keluarga merupakan lingkungan terdekat dari siswa yang menjadi salah satu komponen yang mempengaruhi prestasi belajar siswa (Slameto, 2010: 60). Cara orang tua mendidik akan mempengaruhi prestasi anak. Misalnya orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anak, maka anak akan menjadi sesuka sendiri belajar tanpa arahan. Siswa yang dididik dengan cara yang keras dalam keluarganya akan kurang mampu mengelola emosi buruknya sehingga akan mengganggu proses belajarnya. Demikian juga dengan siswa yang sering dimanja, juga akan cenderung menjadi malas termasuk malas untuk belajar.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Sekolah menjadi tonggak pendidikan suatu bangsa. Faktor dari sekolah yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah kurikulum, relasi antara siswa dengan guru, relasi antar siswa, metode mengajar, fasilitas pembelajaran serta kondisi lingkungan sekolah (Slemeto,2010: 64-69). Siswa sekolah dasar membutuhkan alat dan fasilitas untuk belajar materi yang abstrak, jadi pembelajaran tidak akan berlangsung dengan lancar bila tidak ada fasilitas yang memadai. Buku adalah fasilitas pokok di sekolah, siswa tidak dapat belajar dengan baik apabila tidak tersedia buku di sekolahnya. Guru yang selalu mengajar dengan metode yang sama setiap mengajar akan mengakibatkan siswa menjadi merasa bosan. Rasa bosan pada siswa akan mempengaruhi minat dan motivasi siswa untuk belajar. Alat peraga juga dapat digunakan dalam pembelajaran supaya siswa tidak mudah bosan. Gronlund (Supardi, 2013: 138-139) mengungkapkan supaya siswa dapat mencapai prestasi belajar dengan baik memerlukan beberapa hal yang penting. Hal penting tersebut yaitu siswa harus memiliki pengetahuan yang cukup sehingga mampu memahami tugas yang ia peroleh. Keterampilan berkomunikasi, berpenampilan, dan penyesuaian diri juga menjadi faktor penunjang keberhasilan siswa untuk mencapai prestasi tertentu. g. Papan Pin Perkalian Papan pin perkalian adalah alat peraga yang digunakan dalam penelitian ini. Alat peraga tersebut merupakan pengembangan dari alat peraga Montessori “multiplication bead board”. Alat tersebut merupakan alat peraga yang digunakan dalam perkalian 1 x 1 hingga 10 x 10 (Alisons, 2012: 1). Alat peraga

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 “multiplication bead board” dikembangkan menjadi papan pin perkalian karena menyesuaikan dengan perkembangan anak, biaya, dan ketersediaan bahan yang ada di Indonesia. Alat peraga “multiplication bead board”, terbuat dari kayu yang bersifat ringan dan manik-manik merah dengan ukuran yang sama. Alat peraga papan pi perkalian dibuat menggunakan bahan harbot dan pin. Pemilihan pin yang runcing dan memiliki pegangan bertujuan untuk melatih siswa supaya berhati-hati dan melatih siswa memegang pensil. Gambar 2.1 Papan Pin Perkalian Gambar 2.1 adalah alat peraga papan pin perkalian yang digunakan dalam penelitian ini. Alat ini terdiri dari 1 papan seperti papan catur yang dapat dilipat, dan 1 kotak tempat pin, kartu angka, kartu soal, dan simbol matematika. B. Hasil Penelitian yang Relevan Penelitian tentang penggunaan alat peraga Montessori sudah pernah dilakukan oleh banyak pihak. Sebagai penunjang dalam penelitian ini, peneliti menuliskan empat penelitian yang relevan dengan penelitian yang telah peneliti lakukan. Keempat penelitian tersebut adalah penelitian milik Wahyuningsih, Mahadewi, Manner, dan Rohdiati. Wahyuningsih (2011) melakukan penelitian dengan

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 metode penelitian quasi eksperimen yang berjudul “Pengaruh Model Pendidikan Montessori Terhadap Hasil Belajar Siswa” menyatakan bahwa model pendidikan montessori yang terapkan berpengaruh lebih baik terhadap hasil belajar siswa dibandingkan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian di atas menunjukkan nilai rata-rata untuk kelas eksperimen adalah 66,89 dan untuk kelas kontrol nilai rata-ratanya adalah 36,61 atau dapat diartikan bahwa nilai rata-rata kelas untuk kelas eksperimen lebih tinggi dari nilai-rata-rata kelas kontrol. Penelitian tersebut memiliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti karena dalam penelitian Wahyuningsih tersebut menggunakan alat peraga berupa papan perkalian. Rohdiati (2013) melakukan penelitian tindakan kelas di SD dengan judul “Penerapan metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat”. Penelitian tersebut terdiri dari dua siklus pada siklus pertama nilai rata-rata nilai menjadi 66,95 dari kondisi awal 43,47 dan pada siklus dua nilai rata-rata mengalami kenaikan yang signifikan yaitu menjadi 76,95. Penelitian tersebut relevan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti karena dalam penelitian tersebut menggunakan alat peraga dan dalam penelitian yang akan dilakukan peneliti ini juga menggunakan alat peraga. Penelitian yang dilakukan oleh Manner (2005) adalah membandingkan hasil belajar matematia dan penggunaan metode Montessori dengan metode tradisional di sekolah negeri dengan menggunakan metode penelitian eksperimen. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara hasil

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 belajar dengan metode Montessori dan tradisional. Jane mengungkapkan “Math score of the group to be significantly different, the Montessori group continued to produce increasingly higher mean skor than the traditional student”. Hasil penelitian menunjukkan ada selisih hasil belajar siswa sebesar 20,6% antara pembelajaran dengan metode Montessori dan tradisional. Kelas dengan metode Montessori memperlihatkan bahwa hasil belajar siswa yang lebih baik dibandingkan yang dengan metode tradisional. Penelitian ini relevan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti karena dalam penelitian ini menggunakan metode Montessori dan hasilnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian oleh Mahadewi (2012) meneliti tentang metode pembelajaran Montessori yang berjudul “Penerapan Metode Pembelajaran Montessori untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Matematika Kelas III SDN Cakranegara”. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 3 siklus. Siklus pertama siswa yang tuntas mencapai 60%, siklus kedua 80% dan siklus ketiga mencapai 100%. Hasil penelitian tersebut menunjukkan metode Montessori berhasil meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas III di SDN 22 Cakranegara. Mulai dari siklus pertama hingga siklus terakhir memperlihatkan adalnya kenaikan persentase ketuntasan siswa. Aktivitas siswa juga meningkat dari siklus ke siklus yaitu siklus pertama 70%, siklus kedua 75%, dan pada siklus ketiga adalah 82,5%. Penelitian tersebut memiliki relevansi dengan penelitian yang telah dilakukan peneliti yaitu pada bagian penerapan metode Montessori

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Penelitian Mahadewi (2012) berjudul “Penerapan Metode Pembelajaran Montessori untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Matematika Kelas III SDN Cakranegara” Penelitian Manner (2005) Judul”Montessori vs. Traditional Education in Public Sector:Seeking Comparisons of Academic Achievement”. Penelitian Wahyuningsih (2011) yang berjudul “Pengaruh Model Pendidikan Montessori Terhadap Hasil Belajar Siswa” Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori Gambar. 2.2 Skema penelitian yang relevan Rohdiati (2013) judul “Penerapan metode demontrasi dengan menggunakan alat peraga untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat”. Gambar 2.2 menjelaskan tentang empat penelitian orang lain yang memiliki relevansi dengan penelitian yang peneliti lakukan ini. Keempat penelitian tersebut telah meneliti tentang alat peraga dan metode pembelajaran Montessori. Hasil dari keempat penelitian menunjukkan keberhasil alat peraga dan metode yang digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa tetapi belum meneliti menggunakan alat peraga Montessori hasil pengembangan. Peneliti kemudian tertarik untuk melakukan penelitian menggunakan alat peraga berbasis Montessori untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa. C. Kerangka Berpikir Matematika adalah ilmu yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua cabang ilmu pengetahuan juga menggunakan ilmu matematika. Matematika adalah ilmu penting tetapi konsep yang ada di dalamnya sebagian besar adalah konsep abstrak. Siswa sekolah dasar berdasarkan perkembangan kognitifnya belum bisa memahami dengan baik konsep yang abstrak.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Pembelajaran matematika memerlukan suatu alat yang dapat membantu membuat materi yang abstrak menjadi lebih konkrit sehingga mudah dipahami siswa. Alat peraga adalah salah satu alat yang dapat membantu siswa untuk memahami konsep abstrak matematika menjadi suatu hal yang nyata. Pembelajaran matematika akan lebih bermakna saat siswa menemukan sendiri pengetahuannya. Alat peraga yang mampu membuat materi menjadi nyata dan melatih siswa menemukan sendiri pengetahuannya dipandang akan menghasilkan prestasi belajar yang baik. Alat peraga berbasis metode Montessori adalah salah satu alat yang dapat membuat materi menjadi nyata dan melatih siswa menemukan sendiri pengetahuannya. Alat peraga berbasis Montessori dan juga metode Montessori telah banyak digunakan untuk mengembangkan prestasi belajar siswa. Melihat beberapa penelitian relevan yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat diketahui bahwa pendidikan Montessori dengan alat peraga sebagai salah satu cirinya, mampu membantu siswa dalam memahami konsep abstrak matematika. Alat peraga berbasis metode Montessori memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri tanpa banyak bantuan oleh guru. Proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan semestinya akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. D. Hipotesis Hipotesis pada penelitian ini adalah ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 BAB III METODE PENELITIAN Bab tiga ini akan membahas tentang jenis penelitian, populasi dan sampel, jadwal pengambilan data, variabel, instrumen penelitian, uji validitas reliabilitas, teknik pengumpulan data dan analsis data. A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif jenis quasi eksperiment. Jenis penelitian quasi eksperiment dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan suatu alat peraga dan dalam konteks penelitian tidak memungkinkan dilakukan pemilihan subjek secara random. Penelitian ini membandingkan dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Variabel dalam penelitian quasi eksperiment secara sengaja dimanipulasi untuk melihat suatu gejala tertentu (Ezmir, 2013:102). B. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nonequivalennt Control Group Desain yaitu membandingkan 2 kelompok yang mana kedua kelompok tersebut sama-sama diberi pre-test dan post-test tetapi hanya kelompok eksperimen saja yang diberi perlakuan (Creswell, 2012: 242). Control Group Desain memiliki arti pada penelitian ini ada kelompok kontrol sebagai pembanding kelompok eksperimen. Desain penelitian ini gambar 3.1 (Creswell, 2012: 242). 36 dapat dilihat pada

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 A O1 X O2 B O1 O2 Gambar 3.1 Desain penelitian dengan, A = kelompok eksperimen B = kelompok kontrol O1 = pre-test O2 = post-test X = perlakuan Pretest dilakukan kepada kedua kelompok baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol untuk mengetahui kemampuan awal dan bertujuan untuk mengetahui perbedaan atau persamaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Perlakuan yang diberikan kepada kelompok kontrol adalah pembelajaran menggunakan alat peraga berbasis Montessori papan pin perkalian. Kelas kontrol tidak diberi perlakuan apapun tetapi tetap melakukan pembelajaran dengan metode yang biasanya dilakukan oleh guru yaitu model ceramah dan latihan soal. Pada akhir pertemuan pertemuan, siswa diberikan post-test dengan soal yang sama seperti waktu pretest untuk mengetahui perbedaan dari pembelajaran menggunakan alat peraga berbasis Montessori papan pin perkalian. C. Waktu dan Tempat Penelitian Bagian ini membahas tentang waktu dan tempat penelitian. Waktu penelitian terdiri dari waktu penelitian secara keseluruhan dan waktu pengambilan data. Tempat penelitian merupakan sekolah yang digunakan untuk penelitian.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 1. Waktu penelitian Penelitian ini berlangsung secara keseluruhan 6 bulan. Waktu pengambilan data diputuskan bersama dengan guru kelas disesuaikan dengan jadwal sekolah. Pembelajaran antara kelas kontrol dan eksperimen dilaksanakan secara beriringan untuk mengantisipasi adanya bias apabila terlalu jauh rentang waktunya. Apabila waktunya terpaut terlalu jauh maka kemungkinan siswa kelompok kontrol dengan siswa kelompok eksperimen saling bercerita tentang kegiatan di kelasnya menjadi lebih besar. Saat siswa antar kelompok tersebut saling bercerita bisa jadi siswa saling bercerita tentang soal pretestnya atau soal alat peraganya. Hal tersebut akan mempengaruhi keadaan siswa. Misalnya siswa menjadi mengetahui soalnya atau siswa menjadi iri dengan kelas eksperimen yang menggunakan alat sehingga menjadi kurang berminat dalam belajar. Proses pembelajaran dalam rangka pengambilan data baik dalam kelas eksperimen maupun dalam kelas kontrol semuanya dilakukan oleh guru kelas dua yang sama. Pengambilan data dilakukan mulai tangal 8 Januari 2014 sampai tanggal 16 Januari 2014. Pertemuan pertama selama 2 jam pelajaran untuk pretest. Data lebih lengkap tentang waktu pengambilan data dapat dilihat pada tabel 3.1.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Tabel 3.1 Waktu pengambilan data Eksperimen Kls 8 -1- 2014 9 -1- 2014 Pertem uan I II Jam Pela jaran ke1,2 1,2 Sabtu 11-1-2014 III 3,4 Senin 13 Januari 2014 IV 1,2 Rabu 15 Januari 2014 8 Januari 2014 9 Januari 2014 V 1,2 Pretest Mengubah penjumlahan menjadi operasi perkalian dan Mengubah bentuk operasi perkalian menjadi penjumlahan Menyelesaikan soal tanpa penjumlahan berulang dan alat peraga post-test I 3,4 Pretest 2JP II 3,4 2JP Sabtu 11 Januari 2014 III 5,6 Senin 13 Januari 2014 IV 3,4 Rabu 15 Januari 2014 V 3,4 Mengubah penjumlahan menjadi operasi perkalian Mengubah bentuk operasi perkalian menjadi penjumlahan Menyelesaikan soal tanpa contoh dan mencongak Post-test Hari Tanggal Rabu Kamis Rabu Kontrol Kamis Kegiatan Alokasi Waktu 2JP 2JP 2JP 2JP 2JP 2JP 2JP 2JP Tabel 3.1 memperlihatkan tentang waktu pengambilan data yang peneliti lakukan. Waktu pengambilan data antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan secara berurutan jamnya pada hari yang sama untuk meminimalkan adanya bias. Jumlah seluruh jam pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah 20 jam pelajaran 10 pertemuan. Setiap pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran dimana setiap jam pelajaran terdiri dari 35 menit. Jadi setiap satu pertemuan membutuhkan waktu sebanyak 70 menit. Jumlah 10 pertemuan tersebut terdiri dari dua kali pretest, dua kali posttest, dan 6 pertemuan untuk perlakuan.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 2. Tempat penelitian Penelitian ini berlangsung di SD Negeri Keceme 1, yang terletak di Dusun Keceme, Deca Caturharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Perjalanan dari kota Yogyakarta menuju sekolah ini kurang lebih 30 menit. Sekolah ini terletak di kawasan pedesaan dan ada di pinggir jalan kecamatan. SD Negeri Keceme 1 merupakan sekolah dengan kelas paralel, 2 kelas untuk setiap tingkat sehingga jumlah seluruh kelas di sekolah tersebut adalah 12 kelas. D. Variabel Penelitian dan Data Penelitian Penelitian ini memiliki 4 variabel yaitu variabel bebas, terikat, moderator, dan kontrol. Variabel adalah semua aspek, faktor, kondisi, situasi, perlakuan dan seluruh tindakan yang dapat dipakai untuk mempengaruhi suatu hasil eksperimen (Sanjaya, 2013: 95). Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen yang melihat perbedaan dari suatu perlakuan maka menurut Sanjaya (2013: 95), dibedakan menjadi 2 jenis variabel, yaitu variabel bebas atau independent variable dan variabel terikat atau dependent variable. Berbeda dengan Sanjaya, Sugiyono (2008: 2-6) menyatakan bahawa variabel ada 4 macam yaitu variabel independen, dependen, moderator dan kontrol. 1. Variabel bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah digunakannya atau tidak digunakannya alat peraga berbasis Montessori papan pin perkalian. Variabel bebas adalah suatu kondisi yang dalam penelitian ini adalah kondisi kelas yang oleh peneliti dimanipulasikan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 antara variabel tersebut dengan fenomena atau keadaan yang akan diteliti (Sanjaya, 2013: 95). 2. Variabel terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa. Variabel terikat adalah suatu kondisi atau karakteristik yang berubah akibat dimunculkannya atau dimanipulasikannya variabel bebar yaitu pembelajaran menggunakan alat peraga berbasis Montessori papan pin perkalian. Prestasi belajar siswa dalam penelitian ini yang diteliti perbedaannya akibat adanya pembelajaran menggunakan alat peraga berbasis Montessori papan pin perkalian. 3. Variabel kontrol Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah guru, jumlah jam pelajaran, dan materi pembelajaran. Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat tetap dengan tujuan agar hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas tidak dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diukur oleh peneliti (Sugiyono, 2008: 6). Variabel kontrol diatur supaya kondisinya tetap sama. Guru yang mengajar pada kelompok eksperimen sama dengan guru yang mengajar pada kelompok kontrol. Guru yang mengajar adalah guru kelas A. Guru kelas A dan B sudah biasa saling bertukar jam mengajar sehingga baik siswa kelas A maupun B sudah terbiasa diajar oleh kedua guru tersebut. Oleh karena itu, meskipun yang mengajar matematika saat penelitian adalah bukan guru yang berstatus guru kelas B tetapi siswa kelas B tetap belajar dengan suasana seperti biasanya.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Jumlah jam pelajaran pada penelitian ini dibuat sama. Masing-masing kelompok diberi perlakuan dengan waktu lima kali pertemuan atau 10 jam pelajaran, 6 jam pelajaran untuk perlakuan dan 4 jam pelajaran untuk pretest dan post-test. Setiap pertemuan terdiri dari 2 jam pelajaran atau selama 70 menit. Waktu pelaksanaan pada penelitian ini juga dibuat beriringan untuk meminimalisir kontaminasi, minimal misal perlakuan untuk kelompok eksperimen pagi maka kontrol juga pagi, misal siang maka keduanya juga siang. Waktu penelitian tidak mungkin jika dilaksanakan dalam waktu yang sama karena gurunya juga sama. Materi pembelajaran pada penelitian ini juga diatur menjadi sama pada kelas kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yaitu materi perkalian. Soal untuk pretest dan post-test juga dibuat sama untuk kelompok kontrol dan eksperimen baik jumlahnya maupun bentuk soalnya. Semua hal yang memungkinkan menimbulkan kontaminasi berusaha dikontrol dalam penelitian ini, yang membedakan hanyalah adanya perlakuan menggunakan alat peraga matematika berbasis Montessori pada kelompok eksperimen sedangkan kelompok kontrol tidak. 4. Variabel Moderator Variabel moderator yang ada pada penelitian ini adalah rerata skor pretest (Bogardus, 2007: 12). Variabel moderator adalah variabel yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat, variabel moderator juga disebut dengan variabel bebas yang kedua (Sugiyono, 20018: 4). Variabel moderator mengandung aspek yang sengaja dimanipulasi oleh peneliti

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 untuk mengetahui bagaimana hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Adanya variabel moderator dapat memperkuat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. E. Populasi dan Sampel Populasi dari penelitian ini adalah semua siswa kelas dua di SD Negeri Keceme 1, Caturharjo, Sleman, Yogyakarta. Seluruh siswa kelas 2 SD Negeri Keceme 1 berjumlah 50 siswa. Populasi adalah sekumpulan individu pada suatu tempat yang memiliki kualitas serta ciri-ciri yang sama atau telah ditetapkan (Nazir, 2005: 271). Sampel adalah bagian dari populasi yang merupakan hasil dari pemilihan dengan metode tertentu (Nazir, 2005: 273). Sampel pada penelitian ini terdiri dari sampel kelompok kontrol dan sampel kelompok eksperimen. Sampel eksperimen dalam penelitian ini adalah semua kelas 2A dan sampel kontrol dari penelitian ini adalah semua siswa kelas 2B. Proses untuk menentukan sampel dinamakan sampling. Pemilihan antara kelas yang menjadi kelompok kontrol dan eksperimen dipilih menggunakan undian untuk menghindari adanya bias. Pembagian kelas di sekolah ini tidak berdasarkan prestasi atau nilai dari siswa. Setiap kelas secara merata ada siswa yang tergolong pandai, sedang, dan ada pula yang berkesulitan belajar. Tidak ada kelas yang dalam satu kelas berisi siswa yang pandai semua atau berisi siswa yang kurang pandai semua. Jadi setiap kelas terdiri dari siswa dengan kemampuan yang bermacam-macam. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah convenience random sampling. Pengertian convenience sampling adalah teknik pengambilan

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 sampel berdasarkan kemudahan (Morrison, Manion, Cohen, 2007: 113-114). Kemudahan yang ada pada penelitian ini adalah peneliti melakukan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SD Negeri Keceme 1 sehingga lebih mudah melakukan penelitian di sekolah yang sama. Teknik simple random sampling juga digunakan dalam penelitian ini. Teknik tersebut digunakan untuk menentukan kelas sebagai kelompok kontrol dan kelas sebagai kelompok eksperimen. Peneliti memilih kelas tersebut dengan cara mengundi. Cara mengundi digunakan oleh peneliti karena dengan cara ini setiap kelas memiliki kemungkinan yang sama (Sugiyono, 2010: 120). F. Teknik Pengumpulan Data Data yang dibutuhkan pada penelitian ini akan diperoleh menggunakan dua teknik pengumpulan data. Dua teknik tersebut adalah teknik dokumentasi dan observasi. Bagian ini menguraikan mengenai teknik dokumentasi dan observasi yang telah digunakan. 1. Dokumentasi Peneliti mengunakan teknik dokumentasi untuk memperoleh data tentang prestasi belajar siswa. Dokumentasi adalah pencarian data mengenai variabel yang berupa catatan, notulen, prasasti, transkrip, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2012: 206). Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dokumentasi untuk mengumpulkan data prestasi siswa yang berupa hasil pretest dan post-test. Data yang berupa skor post-test dan pretest merupakan data yang paling utama dalam penelitian ini. Data yang diperoleh menggunakan teknik dokumentasi ini akan menentukan hasil penelitian ini.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 2. Observasi Peneliti menggunakan teknik observasi untuk mengumpulkan data deskriptif proses pembelajaran di kelas. Peneliti menggunakan metode observasi terstruktur. Observasi terstruktur adalah observasi yang sudah direncanakan secara sistematis mengenai apa hal yang akan diamati, kapan dan di mana tempat pelaksanaan observasi (Sugiyono, 2011: 196). Data hasil observasi sebenarnya bukan merupakan data pokok yang di butuhkan dalam penelitian ini, tetapi data hasil observasi akan digunakan sebagai pendukung saat melakukan pembahasan pada hasil penelitian. Observasi dilakukan saat pembelajaran berlangsung dengan bantuan teman sejawat. G. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen penelitian adalah yang digunakan dalam sebuah penelitian untuk mengumpulkan data suatu penelitian dengan cara melakukan tindakan pengukuran (Widoyoko, 2012: 51). Instrumen dalam penelitian ini terdiri dari dua macam yaitu tes dan non tes. 1. Test Instrumen test yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa soal tes prestasi. Peneliti menggunakan instrumen tes untuk mendapatkan data mengenai prestasi belajar siswa. Tes merupakan alat atau prosedur untuk mengukur atau mengetahui sesuatu dengan tata cara dan aturan yang telah ditentukan (Arikunto, 2007: 53). Instrumen tes digunakan untuk mengukur prestasi siswa. Jenis tes yang peneliti gunakan adalah tes tertulis. Bentuk instrumen dari tes tersebut berupa soal obyektif atau soal pilihan ganda yang sudah di validasi. Bentuk soal pilihan ganda

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 dipilih atas saran guru karena lebih cocok untuk kelas dua yang belum semua siswa lancar menulis, ada yang masih lama sekali jika menulis dan hasil tulisannya kurang bisa terbaca. Instrumen tersebut akan digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa yang berupa kemampuan kognitif. Instrumen tes pada penelitian ini terdiri dari 20 butir soal. Tabel 3.2 adalah kisi-kisi soal tes prestasi yang digunakan dalam penelitian ini. Tabel 3.2 Kisi-kisi soal pretest dan posttest Indikator Nomor Soal Jumlah Soal 1. Mengubah bentuk operasi 1,2,3,4,5,6,7 7 penjumlahan berulang ke dalam bentuk operasi perkalian. 2. Mengubah bentuk operasi perkalian 8,9,10,11,12,13,14 7 ke dalam bentuk operasi penjumlahan berulang. 3. Menyelesaikan operasi perkalian 15,16,17,18,19,20 6 tanpa penjumlahan berulang. Jumlah seluruh soal 20 Soal pretest dan posttest terdiri dari 20 soal pilihan ganda (Lampiran 7). Dua puluh soal tersebut mencakup tiga indikator. Tujuh soal untuk indikator pertama, 7 butir soal untuk indikator kedua dan 6 butir soal untuk indikator ketiga. Setiap indikator memiliki jumlah soal relatif sama yaitu tujuh butir kecuali pada indikator ketiga yang hanya 6 soal saja. Indikator satu dan dua jumlah butir soalnya sama karena bobot kesulitannya menurut guru yang mengajar adalah sama, sedangkan indikator ketiga lebih sulit sehingga jumlah soalnya lebih sedikit. 2. Non Tes Instrumen non tes pada penelitian ini berupa perangkat pembelajaran dan lembar observasi sebagai instrumen untuk mendukung pembahasan. Perangkat

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini berupa silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Instrumen perangkat pembelajaran dibuat untuk proses pembelajaran di kelompok eksperimen dan kontrol. Perangkat pembelajaran yang eksperimen menggunakan alat peraga berbasis Montessori dan yang kontrol dengan ceramah seperti pembelajaran biasanya. Tabel 3 berikut ini adalah lembar observasi yang digunakan dalam penelitian untuk mendapatkan data tambahan sebagai dasar dalam pembahasan (Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2014: 25). Tabel 3.3 adalah lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini. Tabel 3.3 Lembar observasi proses pembelajaran di kelas No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Aspek yang diamati Membuka pelajaran Penyajian materi Metode Pembelajaran Penggunaan bahasa dan waktu Aktivitas belajar siswa Pengelolaan Kelas Penggunaan Media Cara menutup pelajaran Evaluasi Deskripsi Hasil Pengamatan Tabel 3.3 berisi tentang sembilan aspek yang diamati saat proses pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan tidak ditulis dalam bentuk skala nilai melainkan dalam bentuk narasi atau deskripsi. Hasil dari pengamatan ini yang nantinya akan digunakan sebagai dasar saat melakukan pembahasan (Lampiran 19). H. Teknik Pengujian Instrumen Bagian ini membahas tentang pengujian instrumen penelitian dan instrumen pembelajaran yang terdiri dari uji validitas, reliabilitas, dan tingkat kesukaran soal. Uji validitas dilakukan untuk instrumen penelitian yang berupa soal tes prestasi dan uji validitas instrumen pembelajaran yang berupa silabus dan RPP.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Uji validitas digunakan untuk menguji instrumen pembelajaran dan instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian. Uji reliabilitas dilakukan untuk soal test prestasi. Instrumen lembar observasi tidak diuji validitasnya karena instrumen tersebut merupakan instrumen yang sudah ada dan digunakan di prodi PGSD Universitas Sanata Dharma. 1. Validitas Penelitian ini menggunakan 3 jenis validitas yaitu validitas isi, validitas muka, dan validitas empiris. Validitas adalah kemampuan suatu tes untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono 2008: 352). Instrumen atau alat ukur yang memiliki validitas tinggi akan mempunyai kesalahan pengukuran yang relatif kecil, dapat dikatakan bahwa setiap subjek yang dimiliki oleh alat ukur tersebut tidak jauh berbeda dengan skor yang sesungguhnya (Azwar, 2007: 43). a. Validitas isi Validitas isi dalam penelitian ini digunakan untuk instrumen pembelajaran dan soal tes prestasi. Validitas isi merupakan validitas yang menunjukkan sejauh mana isi suatu tes dapat mengukur hal yang mau diukur (Azwar, 2007: 45). Validitas isi digunakan karena peneliti ingin mengetahui apakah isi instrumen dan tes yang telah disusun sesuai dengan ketentuan atau belum. Validitas isi dilakukan melalui proses ekspert jugment oleh tiga ahli yaitu oleh satu ahli matematika dan dua guru kelas. Peneliti memilih ahli matematika dari dosen untuk menguji validitas dari perangkat pembelajaran dan soal tes prestasi. Pemilihan dosen tersebut karena dosen tersebut memiliki memang ahli matematika dan juga Montessori. Guru yang peneliti pilih untuk validasi perangkat pembelajaran dan soal tes prestasi

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 adalah guru yang tidak mengajar saat penelitian yaitu guru kelas dua dan tiga. Guru tersebut dipilih karena rekomendasi dari kepala sekolah. Guru kelas dua dan kelas tiga juga sudah terbiasa mengajar materi perkalian sehingga peneliti pilih untuk melakukan validasi instrumen yang ada pada penelitian ini. Tiga ahli yang melakukan validasi memberikan skor dengan rentang antara 1 sampai 4 serta memberikan komentar pada kolom yang tersedia. Jawaban dari sebuah instrumen dapat menggunakan skala 1 sampai empat yang terdiri dari sangat baik, baik, tidak baik, sangat tidak baik (Sugiyono, 2010: 135). Hasil ratarata dan komentar dari ketiga ahli peneliti gunakan sebagai dasar instrumen mana saja yang akan diperbaiki untuk langkah uji validasi lebih lanjut. Skor 4 berarti sangat baik, skor 3 berarti baik, skor 2 berari tidak baik, skor 1 berarti sangat tidak baik.. Peneliti menggunakan skor 3 yag berarti baik sebagai batasan dalam mengambil keputusan apakah instrumen pembelajaran akan direvisi atau tidak. Tabel 3.4 berikut ini adalah kriteria yang peneliti buat untuk menentukan adanya revisi atau tidak pada suatu instrumen yang divalidasi. Tabel 3.4 Kriteria hasil validasi Rata-rata kuantitatif Komentar Keterangan ≥3 Positif tidak revisi ≥3 Negatif Revisi <3 Positif Revisi <3 Negatif Revisi Tabel 3.4 menunjukkan apabila rata-rata skor hasil validasi dari ahli pada setiap komponen penilaian lebih dari 3 dengan komentar yang positif maka peneliti memutuskan untuk tidak melakukan revisi pada komponen penilaian tersebut. Misalnya komponen penilaian pertama adalah kelengkapan komponen silabus, bila ketiga ahli memberikan skor pada komponen tersebut dengan rata-

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 rata 3 dan komentar yang positif maka peneliti tidak melakukan revisi pada komponen kelengkapan silabus. Maksud dari komentar negatif pada kriteria tersebut adalah komentar yang berupa saran atau masukan yang bermakna sebagai bahan revisi instrumen. Kriteria pada Tabel 3.4 berlaku baik untuk validitas instrumen perangkat pembelajaran maupun pada instrumen soal tes prestasi. Instrumen pertama yang divalidasi adalah perangkat pembelajaran yaitu RPP dan silabus. Hasil validasi yang berupa skor dianalisis untuk dicari rata-rata setiap kompenen penilaiannya. Tabel 3.5 adalah hasil validasi silabus dari 3 ahli yang peneliti pilih sebagai validator. Tabel 3.5 Hasil validasi silabus No Validator 1 Ahli 1 2 Ahli 2 3 Ahli 3 Rata-rata Keterangan KP1 4 3 3 3,3 revisi KP2 3 3 3 3 Tidak revisi KP3 4 3 4 3,7 Tidak revisi Skor KP4 4 3 4 3,7 Tidak revisi KP5 3 3 4 3,3 revisi KP6 3 3 3 3 Tidak revisi KP7 4 3 4 3,7 Tidak revisi Rerata 3,6 3 3,6 Keterangan: KP : Komponen penilaian Ahli 1 : Dosen Ahli 2 : Guru Ahli 3 : Guru Validasi untuk silabus terdiri dari 7 komponen penilaian. Rata-rata skor komponen penilaian 1 adalah 3,3 artinya sudah di atas kriteria 3. Ahli 1 dan 3 tidak memberikan komentar untuk komponen penilaian satu sedangkan ahli 2 memberikan komentar “sebaiknya dilengkapi dengan tanda tangan” (Lampiran 3). Rata-rata skor komponen penilaian 2 adalah 3 artinya sudah memenuhi kriteria. Ahli 1 dan 3 tidak memberikan komentar untuk komponen penilaian satu sedangkan ahli 2 memberikan komentar “sudah sesuai” lihat (Lampiran 3).

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Komponen penilaian 3 dan 4 memiliki rata-rata yang sama yaitu 3,7, ahli satu dan tiga tidak memberikan komentar sedangkan ahli dua memberikan komentar “sudah sesuai” jadi tidak dilakukan revisi (Lampiran 3). Komponen penilaian 5 memiliki rata-rata 3,3, ahli satu dan tiga tidak memberikan komentar sedangkan ahli dua memberikan komentar “sebaiknya sumber belajar tidak hanya satu buku” jadi dilakukan revisi lihat (Lampiran 3). Komponen penilaian 6 memiliki rata-rata 3, ahli satu dan tiga tidak memberikan komentar sedangkan ahli dua memberikan komentar “sudah sesuai” jadi tidak dilakukan revisi. Komponen penilaian 7 memiliki rata-rata 3,7, ahli satu dan tiga tidak memberikan komentar sedangkan ahli dua memberikan komentar “sudah sesuai” jadi tidak dilakukan revisi. Bagian kolom terakhir ahli 3 juga memberikan komentar bahwa “pembelajaran sudah kreatif dan menari” lihat (Lampiran 3). Hasil validasi untuk RPP juga dianalis untuk dicari rata-rata tiap komponen penilaiannya serta di kategorikan berdasarkan kriteria pada Tabel 3.6. Hasil validasi RPP dari 3 ahli yang peneliti pilih sebagai validator yang berupa skor dapat dilihat pada Tabel 3.6. Tabel 3.6 Hasil validasi RPP Val A1 A2 A3 Rt Ket Skor KP1 KP2 KP3 KP4 KP5 KP6 KP7 KP8 KP9 KP10 KP11 KP12 KP13 3 3 3 3 TR 3 3 3 3 TR 4 3 3 3,3 TR 3 3 4 3,3 R 4 3 4 3,7 TR 3 3 3 3 TR 4 3 3 3,3 TR 3 4 4 3,7 TR 3 3 4 3,3 R 4 2 3 3 4 4 3 3,7 TR 3 4 4 3,7 TR 4 3 3 3,3 TR Keterangan: KP : Komponen penilaian R : Revisi TR : Tidak revisi Val : Validator Rt : Rerata R Rt 3,6 3,3 3,4

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 A1 A2 A3 : Dosen : Guru : Guru Komponen penilaian untuk RPP terdiri dari 13 komponen. Tabel 5 menunjukkan bahwa semua rata-rata skor hasil validasi ≥3 artinya memenuhi kriteria rata-rata. Meskipun demikian ada 3 komponen penilaian yang peniliti putuskan untuk direvisi yaitu komponen penilai 4, 9 dan 10 karena ada komentar yang bermakna sebagai bahan revisi. Komentar pada komponen penilaian 4 dikemukakan oleh ahli satu yaitu “perlu menyertakan ringkasan materi ajar” lihat (Lampiran 3). Komentar pada komponen 9 dikemukakan oleh ahli 2 yaitu “sebaiknya sumber belajar tidak hanya satu buku” (Lampiran 3). Sedangkan komentar untuk komponen penilaian 10 dikemukakan oleh ahli 2 yaitu “media pembelajaran belum dituliskan” (Lampiran 3). Komentar umum juga disampaikan oleh ahli 2 yaitu “secara umum sudah baik, namun nilai atau karakter jangan sampai tidak disertakan dan mohon ditingkatkan” (Lampiran 3). Hasil validasi untuk soal tes prestasi juga dianalis untuk dicari rata-rata tiap komponen penilaiannya serta di kategorikan berdasarkan kriteria pada Tabel 3.5. Komponen penilaiannya ada 8 komponen dengan rentang skor antara 1-4. Hasil validasi soal tes prestasi dari 3 ahli yang peneliti pilih sebagai validator yang berupa skor dapat dilihat pada Tabel 3.7. Tabel 3.7 Hasil validasi soal tes prestasi No Validator 1 Ahli 1 2 Ahli 2 3 Ahli 3 Rata-rata KP1 3 3 3 3* KP2 3 3 3 3* KP3 3 3 4 3,3* Skor KP4 KP5 3 3 3 3 4 4 3,3* 3,3* KP6 4 3 3 3,3* KP7 4 3 4 3,7* KP8 4 4 3 3,7* Rerata 3,4 3,1 3,6

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Keterangan : KP : Komponen penilaian * : Tidak revisi Tabel 3.7 memperlihatkan skor rata-rata semua komponen penilaian mencapai target yang telah ditentukan. Tidak ada komentar negatif pada setiap komponen melainkan ada satu komentar positif pada komponen 8 oleh ahli 2 yaitu “bagus, gambarnya menarik” (Lampiran 3). Oleh karena itu peneliti tidak melakukan revisi untuk soal terprestasi ini. Meskipun ahli 1 tidak memberikan komentar pada kolom komentar, tetapi ahli 1 melingkari kata kerja “memahami” pada indikator. Saat peneliti bertemu untuk mengambil hasil validasi, ahli 1 mengatakan bahwa kata kerja pada indikator tidak operasional, indikatornya sebaiknya 3 dan soal kurang gambar yang lebih menarik. Jadi peneliti melakukan revisi pada bagian kata kerja idikator, gambar soal, dan jumlah indikator. b. Validitas muka Validitas muka pada penelitian ini dilakukan untuk instrumen soal tes prestasi dan perangkat pembelajaran. Setelah validasi isi selesai dilakukan, maka peneliti kemudian melakukan revisi sesuai dengan saran dari para ahli tersebut. Proses validasi selanjutnya adalah validitas muka. Validitas muka adalah proses peninjauan instrumen secara sepintas dan sederhana atau penilaian instrumen hanya dari sisi muka atau tampangnya tanpa kriteria yang mendalam (Arifin, 2013: 248). Pengertian validitas muka secara ringkas adalah proses validasi untuk menguji kenampakan dari soal tes prestasi. Jadi, validitas muka hanya dilakukan pada soal tes prestasi. Validitas muka untuk soal tes prestasi dilakukan kepada 5 orang siswa kelas 3 di SD Negeri Keceme 1. Peneliti memilih kelas 3 karena kelas

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 ini yang nantinya akan mengerjakan soal dalam validitas konstruk atau empiris. Hasil face validity menyatakan bahwa kelima siswa tidak mengerti makna kata penjumlahan berulang dan kata ruas. Mereka mengatakan,”Mbak penjumlahan berulang itu apa?” (Lampiran 8), siswa tersebut ternyata mengetahui bentuknya tetapi bingung dengan kata-kata penjumlahan berulang. Maka peneliti kemudian mengubah kalimat soal dengan tidak mencantumkan kata penjumlahan berulang melainkan cukup diilustrasikan dengan gambar. Selama ini ternyata siswa menyebut penjumlahan berulang dengan kata “pengjumlahan peng akeh” (Lampiran 8). Siswa lebih terbiasa menggunakan Bahasa Jawa. Setiap butir soal diperlihatkan kepada lima siswa tersebut, secara keseluruhan siswa paham terhadap soal yang ada. Kalimat pada soal juga tidak terlalu panjang. Saat peneliti bertanya tentang panjang pendek soal siswa mengatakan,”Ora kok mbak, aku mudeng” (Lampiran 8). Pemilihan siswa untuk validitas muka berdasarkan prestasi siswa di kelas yaitu 1 yang tergolong berprestasi, 2 sedang, dan 2 kurang berprestasi. Pemilihan ini melibatkan guru kelas, karena guru kelas lebih memahami keadaan siswanya. Validitas muka untuk perangkat pembelajaran dilakukan kepada guru yang melaksanakan pembelajaran dalam proses penelitian ini. Validitas muka untuk perangkat pembelajaran hanya meliputi kenampakan secara sekilas perangkat pembelajarannya tidak termasuk ke isinya. Saat melihat perangkat pembelajarannya guru berkomentar, “Mbak, RPPnya lengkap sekali, LKS-nya juga sudah disertakan di sini” (Lampiran 8). Kemudian guru juga berkomentar, ”Ini LKS-nya menarik mbak, anak-anak mesti senang, soalnya jarang

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 menggunakan lembar kerja yang banyak gambarnya seperti ini, kebanyakan pakai LKS yang beli itu” (Lampiran 8). Guru juga berkomentar tentang silabus, “Silabusnya ini kalau bisa dibuat selembar saja mbak, biar tidak terpotong” (Lampiran 8). Peneliti juga menanyakan apakah perangkat pembelajaran tersebut mudah dipahami atau ada kata-kata yang sulit tidak, dan guru menjawa, “Cukup mudah dipahami mb, tapi bagian yang menggunakan alat ini yang saya masih kurang paham jika belum ada contoh alat peraganya” (Lampiran 8). c. Validitas konstruksi Validitas konstruk pada penelitian ini dilakukan untuk soal tes prestasi. Validitas konstruk dilakukan dengan cara uji empiris. Validitas empiris adalah validitas yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara instrumen dengan suatu kriteria tertentu yang biasanya menggunakan teknik statistik (Arifin, 2013: 68). Validitas empiris juga desebut dengan validitas yang dihubungkan dengan kriteria atau validitas statistik. Setelah soal tes prestasi di validasi oleh dosen dan guru, peneliti kemudian mengujicobakan instrumen soal tes prestasi kepada siswa kelas 3 SD Negeri Keceme 1. Peneliti memilih siswa kelas 3 pada sekolah yang sama karena siswa kelas tiga baru saja menerima materi pembagian di kelas sebelumnya yaitu kelas 2. Soal uji coba terdiri dari 30 soal pilihan ganda. Tabel 3.8 merupakan kisi-kisi soal yang digunakan dalam uji validitas empiris.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Tabel 3.8 Kisi-kisi soal uji validitas empiris Indikator Nomor Soal 1. Mengubah bentuk operasi 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 penjumlahan berulang ke dalam bentuk operasi perkalian. 11,12,13,14,15,16,17,18,19,20 2. Mengubah bentuk operasi perkalian ke dalam bentuk operasi penjumlahan 21,22,23,14,25,26,27,28,29,30 berulang. 3. Menyelesaikan operasi perkalian tanpa penjumlahan berulang. Jumlah seluruh soal Jumlah Soal 10 10 10 30 Tabel 3.8 berisi tentang indikator dan nomor-nomor soal yang digunakan dalam uji validitas empiris. Soal validasi terdiri dari 30 soal pilihan ganda yang mana setiap butir soal mewakili semua indikator yang ada pada kisi-kisi soal (Lampiran 4). Semua soal ini diujikan kepada 55 siswa kelas 3 di SD negeri Keceme 1, yaitu kelas 3A, dan 3B. Soal tes prestasi diuji validitasnya dengan menggunakan teknik korelasi point biserial dengan menggunakan program SPSS 20. Teknik korelasi point biserial merupakan teknik untuk mencari korelasi antara dua variabel dimana salah satu variabelnya berbentuk kontinum dan variabel lainnya berbentuk diskrit murni (Hartono, 2012: 123). Rumus untuk mencari koefisien korelasi point biserial digunakan rumus pada gambar 3.2 (Hartono, 2012: 123). √ Gambar 3.2 Rumus point biserial

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Keterangan: r pbi = koefisien korelasi point biserial Mp = mean skor yang betul dari jawaban peserta tes Mt = mean skor total (seluruh peserta tes) SDt = standar devisiasi total p = proporsi peserta tes yang jawabannya betul q = proporsi peserta tes yang jawabannya salah Hasil dari uji validitas soal tes prestasi menggunakan program SPSS 20 ada 26 soal yang dinyatakan valid. Meskipun 30 butir soal dinyatakan valid, tetapi tidak semua soal dipakai untuk penelitian. Penelitian yang akan dilakukan adalah pada kelas 2 sekolah dasar, sehingga guru menyarankan agar jumlah soal yang diteskan adalah 20 butir soal saja. Guru juga mengatakan apabila ulangan matematika juga hanya 20 soal jika bentuknya pilihan ganda dan untuk ukuran kelas 2 SD soal matematika sebanyak 20 butir cukup dikerjakan dengan waktu 2 jam pelajaran atau 70 menit. Tabel 3.9 adalah hasil perhitungan uji empiris soal tes prestasi menggunakan program SPSS 20.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Tabel 3.9 Soal yang valid No. rhitung rtabel rtabel 1% Keterangan 5% soal 1 0,345 valid 0,399** 0,266 2 0,345 valid 0,533** 0,266 ** 3 0,266 0,345 valid 0,460 ** 4 0,266 0,345 valid 0,369 5 0,345 valid 0,548** 0,266 ** 6 0,266 0,345 valid 0,593 ** 7 0,266 0,345 valid 0,480 8 0,345 valid 0,432** 0,266 ** 9 0,266 0,345 valid 0,453 ** 10 0,266 0,345 valid 0,477 11 0,345 valid 0,390** 0,266 * 12 0,266 0,345 valid 0,305 ** 13 0,266 0,345 valid 0,507 14 0,345 valid 0,329* 0,266 ** 15 0,266 0,345 valid 0,385 ** 16 0,266 0,345 valid 0,375 17 0,345 valid 0,522** 0,266 ** 18 0,266 0,345 valid 0,367 ** 19 0,266 0,345 valid 0,398 ** 20 0,266 0,345 valid 0,420 ** 21 0,266 0,345 valid 0,380 ** 22 0,266 0,345 valid 0,455 ** 23 0,266 0,345 valid 0,388 * 24 0,266 0,345 valid 0,341 ** 25 0,266 0,345 valid 0,480 ** 26 0,266 0,345 valid 0,591 ** 27 0,266 0,345 valid 0,503 ** 28 0,266 0,345 valid 0,465 ** 29 0,266 0,345 valid 0,535 30 0,345 valid 0,619** 0,266 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Tabel 3.9 memperlihatkan semua besar rhiung menunjukkan melampaui rtabel baik pada taraf kepercayaan 5% maupun 1% kecuali soal nomor 12, 14, dan 24 hanya melampaui rtabel pada taraf kepercayaan 5% saja, sehingga semua soal dinyatakan valid (Lampiran 11). Besar rhiung yang ada tanda bintang dua (**)

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 berarti valid pada taraf kepercayaan 1%, sedangkan yang bertanda bintang satu (*) artinya valid pada taraf kepercayaan 5%. Rincian mengenai jumlah soal sebelum divalidasi hingga soal yang dipakai dapat dilihat pada Tabel 3.10. Tabel 3.10 Rincian jumlah soal sebelum validasi, yang valid, dan yang dipakai Indikator 1. Mengubah bentuk operasi penjumlahan berulang ke dalam bentuk operasi perkalian. 2. Mengubah bentuk operasi perkalian ke dalam bentuk operasi penjumlahan berulang. 3. Menyelesaikan operasi perkalian tanpa penjumlahan berulang. Jumlah Nomor soal yang valid dan dipakai 2,3,4,5,6,7,10 Nomor soal yang divalidasi Nomor soal yang valid 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 1,2,3,4,5,6,7,8,9, 10 11,12,13,14,15,16, 17,18,19,20 11,12,13,14,15,1 11,12,13,16,17 6,17,18,19,20 ,19,20 21,22,23,14,25,26, 27,28,29,30 21,22,23,14,25,2 21,22,25,27,28 30 6,27,28,29,30 30 30 20 Tabel 3.10 menunjukkan jumlah soal sebelum divalidasi, soal yang valid, dan soal yang valid sekaligus dipakai. Jumlah soal sebelum validasi adalah 30 soal, setiap indikator terwakili oleh masing-masing 10 soal. Setelah diuji validitasnya, hasilnya semua soal dinyatakan valid. Soal yang dipakai dalam penelitian ini adalah 20, pada tabel 3.10 terlihat indikator 1 diwakili oleh 7 soal, indikator dua diwakili oleh 7 soal dan indikator 3 diwakili oleh 6 soal.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 2. Reliabilitas Reliabilitas memiliki sebutan lain seperti keterpercayaan, keajekan, keterandalan, konsistensi, dan kestabilan. Meskipun demikian, reliabilitas tetap memiliki kunci pokok yaitu sejauh mana suatu hasil pengukuran dapat dipercaya (Azwar, 2007: 4). Suatu tes dikatakan memiliki keterpercayaan tinggi apabila tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap (Arikunto, 2006: 56). Konsep yang peneliti pakai dalam penelitian ini adalah konsep Alpha. Peneliti memilih konsep alpha untuk uji reliabilits soal tes prestasi karena data dari soal tes prestasi pada penelitian ini berupa data dikotom yaitu data 1-0. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Azwar (2007: 77) yaitu rumus alpha dapat digunakan untuk data yang dikotomis 1-0. Rumus Cronbach yang digunakan untuk menentukan reliabilitas pada penelitian ini terlihat pada gambar 3.3 di bawah ini (Azwar,2007: 78). 2  k   s j  a 1  2   1  k s x     Gambar 3.3 Rumus Crobanch Alpha dengan, a : koefisiensi Alpha k : banyaknya butir soal sj2 : variasi butir soal psx2 : variansi skor tes Selanjutnya harga r dihitung dikonsultasikan dengan r tabel s. Jika rhitung  rtabel berarti instrumen reliabel. Koefisien reliabilitas berada dalam rentang antara -

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 1,00 sampai 1,00. Tabel 3.11 Kriteria koefisien reliabilitas menurut Guilford (Ruseffendi, 2005: 160). Tabel 3.11 Kriteria Koefisien Reliabilitas Nilai Keterangan Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Kualifikasi reliabilitas terbagi menjadi lima kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah dan sangat rendah. Peneliti menguji reliabilitas soal menggunakan SPSS 20 dengan teknik alpha. Hasil dari analisis dapat dilihat pada tabel 3.12. Tabel 3.12 Hasil Perhitungan Reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's Cronbach's Alpha Alpha Based on N of Items Standardized Items ,824 ,824 20 Tabel 3.12 memperlihatkan hasil dari perhitungan reliabilitas menggunakan SPSS, koefisien korelasinya adalah 0,824 Hasil perhitungan tersebut kemudian dibandingkan dengan tabel kualifikasi koefisien reliabilitas Item soal menurut Guilford (Ruseffendi, 2005: 160) dan hasilnya adalah termasuk ke dalam kategori tinggi, dengan demikian soal tersebut layak untuk digunakan dalam penelitian.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 3. Indeks kesukaran (IK) Selain validitas dan reliabilitas, untuk memperoleh kualitas soal yang baik juga perlu adanya keseimbangan kesukaran soal yaitu antara soal yang mudah, sedang, sukar proporsinya seimbang (Sudjana 2008: 135). Untuk menghitung indeks kesukaran soal menurut (Sudjana 2008: 137) dapat dihitung dengan menggunakan rumus pada gambar 3.4 di bawah ini. Gambar 3.4 Rumus indeks kesukaran soal Dengan, I B N : indeks kesukaran untuk setiap butir soal : banyaknya siswa yang menjawab benar setiap butir soal : banyaknya siswa yang memberikan jawaban pada soal yang dimaksudkan. Semakin kecil indeks yang diperoleh maka semakin sulit item soal tersebut. Sebaliknya semakin besar indeksnya maka semakin mudah soal. Kriteria indeks kesukaran menurut Sudjana (2008: 137) dapat dilihat pada tabel 3.13. Tabel 3.13 Kategori indeks kesukaran soal Indeks kesukaran 0 – 0,3 0,31 – 0,70 0,71 – 1,00 Kategori Sukar Sedang Mudah Tabel 3.13 memperlihatkan bahwa indeks kesukaran tidak pernah lebih dari 1. Kategori soal terdiri dari soal mudah sekali, mudah, cukup, sulir, dan sulit sekali. Hasil perhitungan indeks kesukaran menunjukkan bahwa semua soal yang digunakan untuk uji coba masuk dalam kategori sedang. Analisi indeks kesukaran

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 dilakukan menggunakan program Microsoft Excel. Analisis indeks kesukaran soal dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukarannya. Tabel 3.14 adalah tabel indeks kesukaran dari masing-masing soal uji coba. Tabel 3.14 Indeks kesukaran soal setiap butir soal Nomo r soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Indeks kesukara n 0,93 0,65 0,59 0,73 0,69 0,69 0,67 0,55 0,82 0,65 Katego ri Nomo r soal Indeks Katego kesukara ri n Mudah 11 0,65 Sedang Sedang 12 0,69 Sedang Sedang 13 0,82 Mudah Sedang 14 0,67 Sedang Sedang 15 0,67 Sedang Sedang 16 0,69 Sedang Sedang 17 0,80 Mudah Sedang 18 0,67 Sedang Mudah 19 0,69 Sedang Sedang 20 0,76 Mudah Jumlah kategori soal mudah Jumlah kategori soal sedang Nomo r soal 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Indeks kesukara n 0,76 0,67 0,69 0,56 0,67 0,64 0,75 0,69 0,44 0,62 Katego ri Mudah Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Mudah Sedang Sedang Sedang 7 23 Tabel 3.14 menunjukkan bahwa rentang nilai indeks kesukaran soal berada antara 0,5 hingga 0,6. Pengelompokkan soal dilakukan berdasarkan tabel 3.12. Hasil pengelompokan menunjukkan bahwa ada 8 soal yang masuk kategori sedang dan ada 22 soal yang masuk dalam kategori mudah. I. Prosedur Analisis Data Setelah penelitian selesai, maka peneliti melakukan analisis terhadap data hasil penelitian. Peneliti menggunakan program komputer SPSS 20 untuk menganalisis data hasil penelitian. Sugiyono (2011: 202) menyatakan bahwa untuk menentukan jenis statistik apa yang akan digunakan dalam analisis data penelitian tergantung pada asumsi dan jenis data yang akan dianalisis. Statistik parametris memerlukan terpenuhinya beberapa asumsi, diantaranya adalah data

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 yang akan dianalisis harus terdistribusi normal dan kelompok yang diuji harus homogen, sedangkan statistik nonparametris tidak harus memenuhi beberapa asumsi seperti pada statistik parametris. Ada beberapa tahap yang peniliti lakukan untuk menganalisis data pada penelitian ini. Prosedur yang peneliti gunakan adalah merumuskan hipotesis, mengatur data, menentukan taraf signifikansi, uji asumsi klasik dan uji hipotesis. 1. Merumuskan hipotesis Rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah ada perbedaan pada prestasi belajar atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Hipotesis pada penelitian ini ada dua macam yaitu null hipotesis (Ho) dan alterternatif hipotesis (Ha). Ho : Tidak ada perbedaan rerata skor post-test kelompok kontrol dengan skor post-test kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori (Ho: µ 1 = µ 2). Ha : Ada perbedaan rerata skor post-test kelompok kontrol dengan skor post-test kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori (Ha: µ 1 ≠ µ 2). 2. Mengorganisasi data (data management) Proses pengaturan data ada 4 tahap yaitu coding, editing, entry, cleaning (Ahmed, 2013: 1-2). a. Data coding Data coding adalah tahap melakukan pengkategorian data dan memberi kode khusus untuk masing-masing aspek pada penelitian sehingga mempermudah

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 peneliti untuk memasukkan data ke komputer. Tahap coding pada penelitian ini dilakukan untuk mengkode nama siswa dan validator. Sebagai contoh, dalam penelitian ini data nama siswa diganti dengan kode siswa1, siswa2, siswa3 dan seterusnya sampai dengan 24 dan digunakan saat memasukkan data yang berupa skor (Lampiran 10). Pengkodean pada lembar hasil jawaban pretest dan post-test dilakukan dengan memberi tanda angka 1 sampai 24, yaitu sejumlah siswa pada kelas yang digunakan untuk penelitian. b. Data editing Tahapan editing atau penyuntingan dilakukan untuk memeriksa kelengkapan data yang sudah diperoleh. Tahap editing yang dilakukan pada penelitian ini adalah mengecek kembali kelengkapan semua lembar hasil posttest dan pretest, mengumpulkan hasil observasi, memeriksa data yang kurang dan memeriksa hasil ekspert jugmen. Hasil dari data editing adalah semua jawaban sudah terisi, tidak ada siswa yang menjawab soal dengan pola jawaban yang sama (Lampiran 10). Selain meyunting data dari siswa, peneliti juga menyunting data hasil validitas dan hasilnya adalah semua pertanyaan diisi dengan memberikan skor tetapi banyak yag tidak diberi komentar (Lampiran 6). c. Data entry Tahap entry adalah tahap memasukkan data ke dalam program Microsoft Excel (Ms Excel) sebagai bahan pengolahan untuk diuji lebih lanjut menggunakan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 20 (Lampiran 16).

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 d. Data Cleaning Data cleaning dilakukan untuk “membersihkan” atau “merapikan” data-data hasil penelitian. Data cleaning yang dilakukan dalam penelitian ini seperti menghapus data skor siswa yang hanya masuk sekolah saat pretest saja atau post-test saja. Hasil data cleaning yang dilakukan pada penelitian ini adalah menghilangkan data dari siswa yang hanya mengikuti pretest saja yaitu satu siswa dari kelompok eksperimen, dan 2 data dari kelompok kontrol karena sakit. Data cleaning juga bisa dilakukan pada sebuah skor hasil belajar yang ekstrim (outlier), tetapi dalam penelitian ini kebetulan tidak ada data yang outlier. 3. Menentukan taraf signifikansi Penelitian ini menggunakan taraf signifikansi 0,05 yang banyak digunakan dalam penelitian dan memiliki arti peneliti mentolerir kesalahan sebesar 5% (Hartono, 2012: 147). Pemilihan taraf signifikansi 1% atau 5% hanya berdasarkan kesepakatan para peneliti sosial tanpa sebab yang jelas (Azwar, 2005: 6). Taraf signifikansi (α) memperlihatkan peluang kesalahan yang dapat terjadi atau dialami peneliti dalam mengambil keputusan untuk mendukung atau menolak Ho (Field, 2009: 252). Tingkat signifikansi juga disebut dengan tingkat kesalahan atau tingkat kekeliruan yang dilakukan oleh peneliti (Cresswell, 2012: 235). Taraf signifikansi 5% tersebut yang nantinya akan digunakan dalam pengambilan keputusan dari hipotesis.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Taraf signifikansi 5% memiliki arti bahwa tingkat kepercayaan dari pengambilan keputusan tersebut adalah 95% dengan kemungkinan kesalahan 5%. Hasil peninjauan teori pada bab dua memperlihatkan bahwa ada kecenderungan ke salah satu hasil, yaitu hasil positif yang berupa peningkatan prestasi belajar siswa. Adanya kecenderungan tersebut maka seharusnya hipotesis dalam penelitian ini termasuk hipotesis satu pihak tetapi meskipun demikian penelitian ini tetap menggunakan dua pihak karena dalam banyak jurnal penelitian tetap menggunakan uji dua pihak (Christensen dan Johnson, 2008: 506). 4. Uji skor pretest Uji skor pretest dalam penelitian ini ada 3 macam, yaitu uji normalitas skor pretest, uji homogenitas skor pretest, dan uji independent t-test. a. Uji normalitas skor pretest Uji normalitas skor pretest dilakukan untuk data skor pretest dari kelompok kontrol dan dari kelompok eksperimen. Uji normalitas menggunakan 5 cara yaitu menggunakan Kolmogorov Smirnov Test, visualisasi P-P Plot, histogram, rasio skewness, dan rasio kurtosis. Tes Kolmogorov Smirnov merupakan test yang sering digunakan dalam penelitian. Skewness adalah suatu besaran statistik yang menunjukkan kemiringan data. Cara ini menunjukkan data cenderung berada di tengah atau miring pada salah satu sisi. Hipotesis untuk uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov Smirnov adalah: Ho : Sebaran data tidak sesuai dengan kurva normal (data tidak normal) Ha : Sebaran data sesuai dengan kurva normal (data normal) Kriteria pengambila keputusan

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 a) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka artinya data normal. b) Jika harga Sig. (2-tailed)<0,05, maka artinya data tidak normal. Uji normalitas juga dapat diketahui dengan visualisasi grafik P-P Plot. Grafik tersebut diperoleh dengan menggunakan program SPSS. Output-nya berupa grafik yang digunakan untuk mengetahui apakah data normal atau tidak. Titik-titik berlubang pada grafik P-P Plot merupakan data, jika titik-titik tersebut terletak di sekitar garis artinya data normal (Field, 2009: 136). Normal atau tidaknya persebaran data dapat dilihat melalui histogram dengan kurva normal. Apabila histogram membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Uji normalitas menggunakan rasio skewness dilakukan dengan terlebih dahulu menghitung rasionya yaitu dengan cara membagi angka skewness dengan standar eror skewness yang didapat dari output SPSS. Data dikatakan normal jika nilai rasio skewness berada pada rentang nilai -2 sampai 2 (Rusdi, 2009: 3). Uji normalitas menggunakan rasio kurtosis juga harus menghitung rasionya terlebih dahulu yaitu dengan cara membagi angka kurtosis dengan standar eror kurtosis yang didapat dari output SPSS. Data dikatakan normal jika nilai rasio kurtosis berada pada rentang nilai -2 sampai 2 (Rusdi, 2009: 3) b. Uji homogenitas skor pretest Uji homogenitas skor pretest dilakukan untuk megetahui tingkat kesamaan prestasi belajar siswa dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Apabila homogen maka dilanjutkan ke langkah 5 dan seterusnya, jika tdk homogen, maka rumusan masalah dicari dengan melakukan analisis selisih skor pretest dan skor

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 post-test. Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan Lavene’s test. Gambar 3.5 adalah Rumus Lavene’s test (Nordstokke, 2011: 3). Gambar 3.5 Rumus Lavene’s test dengan, n = jumlah observasi k = banyaknya kelompok | ̅| = rata-rata dari kelompok ke i ̅ = rata-rata dari kelompok dari Z ̅ = rata-rata menyeluruh Hipotesis untuk uji homogenitas pada penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok ekperimen atau data semua kelompok adalah homogen ( Ha ) : Ada perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok ekperimen atau data kedua kelompok tidak homogen ( ) Kriteria pengambilan keputusan: a) Jika harga sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak artinya data homogen dan tidak terdapat perbedaan varian antara pretest kelompok kontrol dan

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok memiliki persamaan data. b) Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka Ho ditolak artinya data tidak homogen dan terdapat perbedaan varian antara preetest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok tidak memiliki persamaan data. c. Independent t-tets skor pretest Uji Independent t-tets pada skor pretest dilakukan untuk mengetahui prebedaan rerata skor pretest kelompok kontrol dengan skor pretest kelompok eksperimen. Apabila skor pretest kelompok kontrol sama dengan kelompok eksperimen maka uji hipotesis menggunakan uji independent t-tes. Hipotesis untuk uji Independent t-tets skor pretest adalah: a) Tidak ada perbedaan rerata skor pretest kelompok kontrol dengan skor pretest kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori (Ho: µ 1=µ 2). b) Ada perbedaan rerata skor pretest kelompok kontrol dengan skor pretest kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori (Ho: µ 1≠µ2). Kriteria pengambilan keputusan: a) Jika harga sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka artinya Ho gagal ditolak dan artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok memiliki persamaan rerata.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 b) Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka artinya Ho ditolak dan artiya terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok tidak memiliki persamaan rerata. 5. Menguji Prasyarat Analisis Uji prasarat analisis atau uji asumsi klasik yang diperlukan untuk uji hipotesis adalah homogenitas, normalitas, dan independen (Field, 2009: 334). a. Uji normalitas skor post-test Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov untuk melakukan uji normalitas pada setiap kelompok penelitian. Uji normalitas adalah uji yang digunakan untuk mengetahui apakah data dari kedua kelompok sampel terdistribusi normal atau tidak (Sudjana, 2002: 466). Uji normalitas pada skor post-test juga menggunakan lima cara yaitu menggunakan Kolmogorov Smirnov Test, visualisasi P-P Plot, histogram, rasio skewness, dan rasio kurtosis. Tes Kolmogorov Smirnov merupakan test yang sering digunakan dalam penelitian. Skewness adalah suatu besaran statistik yang menunjukkan kemiringan data. Cara ini menunjukkan data cenderung berada di tengah atau miring pada salah satu sisi. Rumus uji Kolmogorov Smirnov menurut Sugiyono (2008: 156) dapat dilihat pada Gambar 3.6. D = maksimum[Sn1 (X) – Sn2 (X)] Gambar 3.6 Rumus Kolmogorov smirnov Hipotesis untuk uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov Smirnov adalah: Ho : Sebaran data tidak sesuai dengan kurva normal (data tidak normal)

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Ha : Sebaran data sesuai dengan kurva normal (data normal) Kriteria pengambila keputusan a) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak artinya data normal, sehingga jika data terdistribusi normal. maka statistik yang digunakan adalah statistik parametris, yaitu menggunakan t-test untuk membandingkan 2 sampel. b) Jika harga Sig. (2-tailed)<0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya data tidak normal. Uji normalitas juga dapat diketahui dengan visualisasi grafik P-P Plot. Grafik tersebut diperoleh dengan menggunakan program SPSS. Output-nya berupa grafik yang digunakan untuk mengetahui apakah data normal atau tidak. Titik-titik berlubang pada grafik P-P Plot merupakan data, jika titik-titik tersebut terletak disekitar garis artinya data normal (Field, 2009: 136). Normal aau tidaknya persebaran data dapat dilihat melalui histogram dengan kurva nolmal. Apabila histogram membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Uji normalitas menggunakan rasio skewness dilakukan dengan terlebih dahulu menghitung rasinya yaitu dengan cara membagi angka skewness dengan standar eror skewness yang didapat dari output SPSS. Data dikatakan normal jika nilai rasio skewness berada pada rentang nilai -2 sampai 2 (Rusdi, 2009: 3). Uji normalitas menggunakan rasio kurtosis juga harus menghitung rasionya terlebih dahulu yaitu dengan cara membagi angka kurtosis dengan standar eror

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 kurtosis yang didapat dari output SPSS. Data dikatakan normal jika nilai rasio kurtosis berada pada rentang nilai -2 sampai 2 (Rusdi, 2009: 3). b. Uji Homogenitas Skor Post-test Uji homogenitas skor posttest dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen homogen atau tidak. Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan Lavene’s test. Hipotesis untuk uji homogenitas pada penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara skor post-test kelompok kontrol dan kelompok ekperimen atau data semua kelompok adalah homogen ( Ha ) : Ada perbedaan varian antara skor post-test kelompok kontrol dan kelompok ekperimen atau data kedua kelompok tidak homogen ( ) Kriteria pengambilan keputusan: 1) Jika harga sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka artinya Ho gagal ditolak data homogen dan tidak terdapat perbedaan varian antara skor post-test kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok memiliki persamaan data. 2) Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka artinya Ho ditolak data tidak homogen dan terdapat perbedaan varian antara skor post-test kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok tidak memiliki persamaan data.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 c. Independence Syarat untuk melakukan uji hipotesis menggunakan t-test adalah independen. Indipenden artinya setiap kelompok akan mendapatkan perlakukan masingmasing, dimana setiap perlakuan yang diberikan kepada suatu kelompok tidak akan pernah diberikan kepada kelompok lainnya (Field, 2009: 133). Kelompok yang dimaksud adalah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 6. Uji Hipotesis Uji hipotesis pada penelitian ini dilakukan menggunakan uji independent ttest. Uji independent t-test digunakan untuk melihat perbedaan dari dua rerata (Sugiyono, 2010: 273). Taraf signifikansi pada bagian ini menggunakan uji dua arah atau dua pihak Gambar 3.7 merupakan gambar rumus independent t-test (Field, 2009: 335). ̅ √( ̅ ) Gambar 3.7 Rumus t-test Hipotesis untuk uji independent t-test pada penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan rerata skor post-test kelompok kontrol dengan rerata skor post-test kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori (Ho: µ 1 = µ 2). Ha : Ada perbedaan rerata skor post-test kelompok kontrol dengan rerata skor post-test kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. (Ha: µ 1 ≠ µ 2) Pengambilan keputusan

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 a) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 artinya Ho gagal ditolak atau tidak ada perbedaan rerata skor post-test kelompok kontrol dan post-test kelompok eksperimen, atau dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. b) Jika harga Sig.(2-tailed) < 0,05 artinya Ho ditolak atau ada perbedaan rerata antara skor post-test kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen, atau dapat dikatakan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. 7. Uji signifikansi selisih Bagian ini berisi tiga uji, yaitu uji paired t-test untuk skor kelompok kontrol, paired t-test untuk skor kelompok eksperimen, dan uji independent t-test untuk selisih antara skor kelompok kontrol dan eksperimen. a. Uji paired t-test skor kelompok kontrol Uji paired t-test skor kelompok kontrol dilakukan menggunakan program SPSS. Hipotesis dari uji ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan rerata skor pretest kelompok kontrol dengan rerata skor post-test kelompok kontrol atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori (Ho: µ 1 = µ 2). Ha : Ada perbedaan rerata skor pretest kelompok kontrol dengan rerata skor posttest kelompok kontrol atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. (Ha: µ 1 ≠ µ 2)

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Pengambilan keputusan 1) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 artinya Ho gagal ditolak atau tidak ada perbedaan rerata skor prestest kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen, atau dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. 2) Jika harga Sig.(2-tailed) < 0,05 artinya Ho ditolak atau ada perbedaan rerata antara skor pretest kelompok kontrol dan post-test kelompok kontrol, atau dapat dikatakan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. b. Uji paired t-test skor kelompok eksperimen Uji paired t-test skor kelompok eksperimen juga dilakukan menggunakan program SPSS. Hipotesis dari uji ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan rerata skor pretest kelompok kontrol dengan rerata skor post-test kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori (Ho: µ 1 = µ 2). Ha : Ada perbedaan rerata skor pretest kelompok kontrol dengan rerata skor posttest kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. (Ha: µ 1 ≠ µ 2) Pengambilan keputusan 1) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 artinya Ho gagal ditolak atau tidak ada perbedaan rerata skor prestest kelompok eksperimen dan skor post-test kelompok eksperimen, atau dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. 2) Jika harga Sig.(2-tailed) < 0,05 artinya Ho ditolak atau ada perbedaan rerata antara skor pretest kelompok kontrol dan post-test kelompok kontrol, atau dapat dikatakan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. c. Uji independent t-test selisih skor kelompok kontrol dan eksperimen Sebelum melakukan uji independent t-test untuk selisih skor ini, perlu dilakukan uji prasarat analisis dahulu yaitu berupa uji normalitas dan uji homogenitas. 1) Normalitas Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov untuk melakukan uji normalitas pada setiap kelompok penelitian. Uji normalitas adalah uji yang digunakan untuk mengetahui apakah data dari kedua kelompok sampel terdistribusi normal atau tidak (Sudjana, 2002: 466). Hipotesis untuk uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov Smirnov adalah: Ho : Sebaran data tidak sesuai dengan kurva normal (data tidak normal) Ha : Sebaran data sesuai dengan kurva normal (data normal) Kriteria pengambilan keputusan a) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak artinya data normal, sehingga jika data terdistribusi normal. b) Jika harga Sig. (2-tailed)<0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya data tidak normal.

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 2) Homogenitas Uji homogenitas skor post-test dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen homogen atau tidak. Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan Lavene’s test. Hipotesis untuk uji homogenitas pada penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara selisish skor kelompok kontrol dan kelompok ekperimen atau data semua kelompok adalah homogen ( Ha ) : Ada perbedaan varian antara selisih skor post-test kelompok kontrol dan kelompok ekperimen atau data kedua kelompok tidak homogen ( ) Kriteria pengambilan keputusan: a) Jika harga sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka artinya Ho gagal ditolak data homogen dan tidak terdapat perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok memiliki persamaan varian. b) Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka artinya Ho ditolak data tidak homogen dan terdapat perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok tidak memiliki persamaan varian. 3) Independent t-test Hipotesis untuk uji independent t-test selisih skor pada penelitian ini adalah:

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Ho : Tidak ada perbedaan selisih rerata skor kelompok kontrol dengan selisih rerata skor kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori (Ho: µ 1 = µ 2). Ha : Ada perbedaan selisih rerata skor kelompok kontrol dengan selisih rerata skor kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori (Ha: µ 1 ≠ µ 2). Pengambilan keputusan a) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 artinya Ho gagal ditolak atau tidak ada perbedaan selisih rerata skor kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, atau dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. b) Jika harga Sig.(2-tailed) < 0,05 artinya Ho ditolak atau ada perbedaan selisih rerata antara skor kelompok kontrol dan skor kelompok eksperimen, atau dapat dikatakan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. 8. Uji besar efek Apabila hasil uji perbedaan skor post-test untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan adanya perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori papan pin perkalian maka selanjutnya dilakukan uji besar efek. Uji besar efek dilakukan untuk mengetahui seberapa besar efek alat peraga berbasis Montessori papan pin perkalian terhadap prestasi belajar matematika materi operasi perkalian. Analisis dilakukan

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 menggunakan rumus effect size. Gambar 3.8 merupakan rumus untuk mengetahui effect size menurut Field (2009: 332). √ Gambar 3.8 Rumus effect size dengan, r = effect size t = harga uji t df = harga derajad kebebasan Kriteria yang digunakan untuk menentukan besar efek (Field, 2009:179) adalah: 0,10 – 2,29 = small effect (kecil) 0,30 – 0,49 = medium effect (sedang) 0,50 – 1,00 = large effect (besar) Persentase efek dapat diketahui dengan determinasi (𝑅2). Gambar 3.9 adalah gambar menggunakan koefisien rumus koefisien determinasi (Rohmana, 2007: 3). R2 = r2 x 100% Gambar 3.9 Rumus koefisien determinasi 9. Jadwal Penelitian Penelitian yang akan dilakukan ini dijadwalkan berlangsung selama 10 bulan. Ada pun jadwal penelitian tersebut telah disusun oleh peneliti dalam tabel 3.15.

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Tabel 3.15 Jadwal penelitian No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kegiatan Observasi dan wawancara Penyusunan proposal Menyusun rancangan penelitian Pelaksanaan penelitian Analisis hasil penelitian Penyusunan skripsi Ujian Skripsi Waktu (bulan) Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni          

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab empat ini membahas mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan beserta pembehasannya. Hasil penelitian berupa deskripsi data hasil analisis data yang berupa skor hasil pembelajaran matematika menggunakan alat peraga berbasis Montessori Papan Pin Perkalian. A. Deskripsi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Keceme 1 yang beralaman di Desa Keceme, Caturharjo, Sleman. Penelitian dilakukan kepada siswa kelas 2 yang rata-rata berusia delapan tahun. Jumlah seluruh siswa kelas 2 adalah 50 siswa, tetapi yang digunakan dalam penelitian ini hanya 48 karena pada saat penelitian dua siswa ini tidak masuk karena sakit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori papan pin perkalian. Instrumen pada penelitian ini adalah lembar observasi, soal tes prestasi dan perangkat pembelajaran. Instrumen penelitian berupa soal tes prestasi berbentuk pilihan ganda yang terdiri dari 20 soal. Semua instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Validitas isi dilakukan oleh 3 validator, yaitu oleh 1 dosen matematika dan 2 guru kelas. Validitas muka dilakukan oleh siswa yang pernah mendapatkan materi operasi perkalian. Validitas konstruk dilakukan dengan cara uji empiris kepada 55 siswa 82

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 kelas 3 di SD Negeri Keceme 1. Kelas 3 dipilih karena siswa tersebut pernah mendapatkan materi operasi perkalian dalam waktu yang relatif tidak lama. Penelitian dilakukan dengan cara memberikan pretest pada kedua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen adalah kelas yang diberi perlakuan menggunakan alat peraga berbasis metode Montessori papan pin perkalian. Siswa kelas A dalam penelitian ini sebagai kelompok eksperimen sedangkan siswa kelas B sebagai kelompok kontrol. Kelompok kontrol ialah kelas yang tidak diberi perlakuan seperti pada kelas eksperimen. Kelompok kontrol diberikan pembelajaran seperti biasanya yaitu menggunakan ceramah dan latihan soal. Materi yang diberikan untuk kelompok eksperimen dan kelas kontrol adalah materi yang sama yaitu materi operasi perkalian. Setelah pretest selesai maka langkah selanjutnya adalah pembelajaran dan posttest. Pretest dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa baik siswa kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Posttest dilakukan bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga berbasis Montessori papan pin perkalian. Tabel 4.1 merupakan rincian kegiatan penelitian yang telah dilakukan.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Tabel 4.1 Daftar Kegiatan Selama Pengambilan Data Klmpk Tanggal 8 -1-2014 Eksperimen 9-1- 2014 11 -1-2014 13 -1-2014 Kontrol 15 -1-2014 8 -1- 2014 9 -1- 2014 Kegiatan guru Mengawasi jalannya Pretest Mendemokan cara menggunakan alat peraga Mendemokan cara menggunakan alat peraga Mendemokan cara menyelesai soal pada kartu soal Memberikan contoh soal 11 -1- 2014 Memberikan contoh soal 13 -1- 2014 Mengawasi jalannya pembelajaran dan mencongak 15 Januari 2014 Kegiatan siswa Pretest Keterangan Berjalan baik Mengubah penjumlahan menjadi operasi perkalian menggunakan alat peraga, mengerjakan LKS Mengubah operasi perkalian menjadi penjumlahan menggunakan alat peraga, mengerjakan LKS Menyelesaikan soal tanpa alat peraga, mengerjakan LKS. Siswa masih agak bingung menggunakan alat peraga. Siswa terlihat antusias, dan guru dapat mengelola kelas dengan baik. post-test Pretest Mengubah penjumlahan menjadi perkalian dan sebaliknya, mengerjakan LKS Mengubah operasi perkalian menjadi penjumlahan, mengerjakan LKS Menyelesaikan soal operasi perkalian tanpa penjumlahan berulang, mengerjakan LKS, mencongak. Berjalan baik Berjalan baik Awalnya antusias, tetapi lalu terlihat bosan. Siswa senang mengerjakan soal pada kartu angka Siswa mengeluh karena capek menulis. Siswa mengeluh karena mengerjakan soal terus, ada yang terlihat terpaksa mengerjakan. Post-test Tabel 4.1 memperlihatkan kegiatan yang dilakukan oleh siswa dan guru selama pengambilan data yaitu pada saat proses pembelajaran (Lampiran 19). Gambaran kegiatan pada tabel tersebut memperlihatkan perbedaan suasana kelas kelompok kontrol dan eksperimen. Suasana kelas kelompok eksperimen cenderung lebih menyenangkan sedangkan kelas kelompok kontrol banyak siswa yang mengeluh dan terlihat bosan.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 B. Hasil Penelitian Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah berupa hasil pretest dan posttest. Hasil pretest dan post-test ini digunakan sebagai dasar dalam analisis data. Tabel 4.2 merupakan deskripsi hasil pretest dan post-test untuk kelas kontrol dan eksperimen. Tabel 4.2 Deskripsi Hasil Pretest dan Posttest Statistics Pre_Eksperime Post_Eksperime n Valid Post_Kontrol Pre_Kontrol n 24 24 24 24 0 0 0 0 10,2083 13,3333 11,5000 10,2500 ,45036 ,57630 ,39927 ,49728 10,0000 14,0000 11,5000 10,0000 a 14,00 12,00 2,20630 2,82330 1,95604 2,43614 Variance 4,868 7,971 3,826 5,935 Range 11,00 11,00 7,00 10,00 Minimum 5,00 6,00 8,00 6,00 Maximum 16,00 17,00 15,00 16,00 245,00 320,00 276,00 246,00 N Missing Mean Std. Error of Mean Median Mode Std. Deviation Sum 10,00 8,00 a a. Multiple modes exist. The smallest value is shown Tabel 4.2 berisi tentang mean, median, modus, standar deviation, skor maximum dan minimum dari skor pretest dan posttest. Rata-rata skor pretest untuk kelas kontrol adalah 10,25 dan untuk kelas eksperimen adalah 10,21. Artinya ratarata skor kelompok kontrol lebih tinggi dari kelompok eksperimen yaitu memiliki selisih 0,4. Sedangkan rata-rata skor untuk post-test adalah 11,50 untuk kelompok kontrol dan 13,33 untuk kelompok eksperimen. Skor rata-rata ini nanti akan digunakan dalam analisis data untuk menguji hipotesis. Nilai median pada Tabel

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 4.2 memperlihatkan bahwa nilai median pada post-test kelompok eksperimen lebih tinggi dari kelompok kontrol. Modus adalah jumlah data yang dalam hal ini adalah skor yang paling banyak muncul. Modus pada kelompok eksperimen adalah 14 sedangkan pada kelompok kontrol adalah 12. Modus antara kelompok eksperimen dan kontrol tersebut menunjukkan bahwa siswa di kelompok kontrol banyak yang mendapatkan skor 12 sedangkan siswa di kelompok eksperimen banyak yang medapat skor 14. Skor masimum untuk kelas eksperimen juga lebih tinggi dibandingkan dengan skor minimum kelas kontrol. Peningkatan atau penurunan dapat diketahui lebih mudah menggunakan grafik (Sudjana, 2002: 52). Gambar 4.1 adalah gambar grafik dari data hasil pretest dan post-test pada penelitian ini. 14 12 10 8 Kontrol 6 Eksperimen 4 2 0 Pretest Post-test Gambar 4.1 Grafik hasil pretest dan post-test Gambar 4.1 menunjukkan skor pretest kelompok kontrol dan eksperimen hampir sama tetapi sedikit lebih tinggi kelompok kontrol. Grafik tersebut juga menunjukkan baik pada kelompok kontrol maupun eksperimen, semuanya mengalami peningkatan pada skor post-test. Kenaikan skor tersebut lebih tinggi

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 pada kelompok eksperimen, dapat dilihat dari bentuk garis lurus kelompok eksperimen lebih tinggi daripada garis lurus kelompok kontrol. Bentuk sedikit menyilang pada ujung bawah kedua garis menunjukkan bahwa skor pretest kelompok kontrol lebih tinggi dari skor pretest kelompok eksperimen. 1. Uji Skor Pretest Uji skor pretest pada penelitian ini ada 3 macam yaitu uji normalitas, homogenitas dan independent t-test. a. Hasil uji normalitas skor pretest Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan 5 cara yaitu Kolmogorov smirnov test, visualisasi P-P Plot, histogram, rasio skewness dan rasio kurtosis. Hasil uji normalitas dengan Kolmogorov smirnov test dapat dilihat pada tabel 4.3. Tabel 4.3 Hasil Uji normalitas skor pretest kelompok kontrol One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Pre_Kontrol N 24 Mean 10,2500 a,b Normal Parameters Std. Deviation 2,43614 Absolute ,114 Most Extreme Differences Positive ,114 Negative -,097 Kolmogorov-Smirnov Z ,558 Asymp. Sig. (2-tailed) ,915 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. Tabel 4.3 merupakan hasil uji normalitas menggunakan Kolmogorov smirnov test. Tabel tersebut memperlihatkan harga sig.(2-tailed) adalah 0,915 > 0,05 maka data dikatakan normal. Selain data skor pretest kelompok kontrol, peneliti juga melakukan uji normalitas untuk kelompok eksperimen. Tabel 4.4 adalah hasil uji normalitas untuk kelompok eksperimen.

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Tabel 4.4 Hasil Uji normalitas skor pretest kelompok eksperimen One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Pre_Eksperi men N 24 a,b Normal Parameters Mean 10,2083 Std. 2,20630 Deviation Most Extreme Absolute ,125 Differences Positive ,125 Negative -,117 Kolmogorov-Smirnov Z ,613 Asymp. Sig. (2-tailed) ,847 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. Tabel 4.4 merupakan hasil uji normalitas menggunakan Kolmogorov smirnov test. Tabel tersebut memperlihatkan harga sig.(2-tailed) adalah 0,874 > 0,05 maka data dikatakan normal. Uji normalitas selanjutnya menggunakan visualisasi P-P Plot. Gambar 4.2 adalah grafik yang diperoleh dari output SPSS. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Gambar 4.2 Grafik P-P Plot dan histogram skor pretest kelompok kontrol Grafik pada gambar 4.2 menunjukkan titik-titik terletak pada sekitar garis sehingga dapat disimpulkan bahwa data normal. Gambar histogram memperlihatkan bentuk histogram hampir mirip dengan kurva normal, sehingga data dikatakan normal. Grafik P-P Plot dan histogram untuk skor kelompok eksperimen dapat dilihat pada gambar 4.3.

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Gambar 4.3 Grafik P-P Plot dan histogram skor Pretest kelompok eksperimen Grafik pada gambar 4.3 menunjukkan titik-titik terletak pada sekitar garis sehingga dapat disimpulkan bahwa data skor pretest kelompok eksperimen normal. Gambar histogram memperlihatkan bentuk histogram hampir mirip dengan kurva normal, sehingga data dikatakan normal. Uji normalitas selanjutnya menggunakan rasio skewness, Tabel 4.5 adalah tabel output SPSS yang memuat tentang angka skewness. Tabel 4.5 Angka skewness dan kurtosis skor pretest kelompok kontrol Descriptives Pre_Kontro l Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound Upper Bound Statistic 10,2500 9,2213 11,2787 5% Trimmed Mean 10,1852 Median 10,0000 Variance Std. Deviation Std. Error ,49728 5,935 2,43614 Minimum 6,00 Maximum 16,00 Range 10,00 Interquartile Range 4,00 Skewness Kurtosis ,253 ,062 ,472 ,918 Angka statistic skewness pada tabel 4.5 adalah 0,52 sehingga rasio skewnessnya adalah , angka 0,54 berada diantara -2 dan 2 (Rusdi, 2009: 3)

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 sehingga dapat dikatakan data skor pretest kelompok kontrol normal. Uji normalitas skor pretest kelompok kontrol menggunakan rasio kurtosis yaitu , rasio kurtosisnya adalah 0,07 dan berada diantara -2 dan 2 (Rusdi, 2009: 3) sehingga dapat dikatakan data normal. Uji normalitas menggunakan rasio skweness, dan rasio kurtosis untuk skor pretest kelompok eksperimen menggunakan tabel 4.6. Tabel 4.6 Angka skewness dan kurtosis skor post-test kelompok eksperimen Descriptives Pre_Eksperimen Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound Upper Bound Statistic 10,2083 9,2767 11,1400 5% Trimmed Mean 10,1759 Median 10,0000 Variance Std. Deviation Std. Error ,45036 4,868 2,20630 Minimum 5,00 Maximum 16,00 Range 11,00 Interquartile Range Skewness Kurtosis 3,00 ,242 1,517 ,472 ,918 Angka statistic skewness pada tabel 4.6 adalah 0,242 sehingga rasio skewnessnya adalah , angka 0,51 berada diantara -2 dan 2 sehingga dapat dikatakan data skor pretest kelompok kontrol normal. Uji normalitas skor pretest kelompok eksperimen menggunakan rasio kurtosis yaitu , rasio kurtosisnya adalah 1,65 dan berada diantara -2 dan 2 (Rusdi, 2009: 3) sehingga dapat dikatakan data normal.

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 b. Hasil Uji Homogenitas skor pretest Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara skor pretest pada kelompok kontrol dan skor pretest pada kelas eksperimen. Uji homogenitas pretest digunakan sebagai syarat untuk menentukan langkah analisis data selanjutnya. Hipotesis untuk uji homogenitas pada penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok ekperimen atau data skor pretest semua kelompok adalah homogen ( Ha ) : Ada perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok ekperimen atau data skor pretest kedua kelompok tidak homogen ( ) Kriteria pengambilan keputusan: a) Jika harga sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak artinya data homogen dan tidak terdapat perbedaan varian antara pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok memiliki persamaan data. b) Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka Ho ditolak artinya data tidak homogen dan terdapat perbedaan varian antara pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok tidak memiliki persamaan data.

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Uji homogenitas dilakukan menggunakan program SPSS 20 dan disajikan dalam bentuk tabel. Uji homegenitas ini menggunakan uji Lavene’s Test. Tabel 4.7 merupakan tabel hasil analisis homogenitas menggunakan Lavene’s Test. Tabel 4.7 Hasil uji homogenitas skor pretest Test of Homogeneity of Variances Rerata Levene Statistic df1 .462 df2 1 Sig. 46 .500 Tabel 4.7 menunjukkan harga signifikansi adalah 0,5 atau lebih dari 0,05. Sesuai dengan kriteria pengambilan keputusan, maka Ho gagal ditolak. Hasil tersebut dapat juga dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan pada hasil pretest kelompok eksprimen dan pretest kelompok kontrol atau homogen. c. Hasil uji independent t-tes skor pretest Uji Independent t-tets pada skor pretest dilakukan untuk mengetahui prebedaan rerata skor pretest kelompok kontrol dengan skor pretest kelompok eksperimen. Apabila skor pretest kelompok kontrol sama dengan kelompok eksperimen maka uji hipotesis menggunakan uji independent t-tes. Hipotesis untuk uji Independent t-tets skor pretest adalah: a) Tidak ada perbedaan rerata skor pretest kelompok kontrol dengan skor pretest kelompok eksperimen.(Ho: µ 1=µ 2). b) Ada perbedaan rerata skor pretest kelompok kontrol dengan skor pretest kelompok eksperimen. (Ho: µ 1≠µ2). Kriteria pengambilan keputusan:

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 a) Jika harga sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka artinya Ho gagal ditolak dan artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok memiliki persamaan rerata. b) Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka artinya Ho ditolak dan artiya terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok tidak memiliki persamaan rerata. Tabel 4.8 Hasil uji independent t-test skor pretest Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Low er Upp er Skor_Pretest Equal Equal variances variances not assumed assumed ,462 ,500 ,062 ,062 46 45,556 ,951 ,951 ,04167 ,04167 ,67090 ,67090 -1,30878 -1,30914 1,39212 1,39247 Tabel 4.8 memperlihatkan bahwa F hitung pada tingkat kepercayaan 95% untuk hasil pretest dengan Equal variance assumed adalah 0,462 dengan p sig.(2tailed) = 0,951. p > 0,05 maka Ho gagal ditolak atau tidak perbedaan antara rerata skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Nilai t(46) pada baris Equal variance assumed adalah 0,062 dengan df yang lebih besar dari Equal variance not assumed. Hasil uji menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rerata pretest kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen sehingga untuk uji hipotesisnya menggunakan uji independent t-test.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 2. Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik pada penelitian ini terdiri dari uji normalitas skor post-test, uji homogenistas skor post-test dan independence yang tidak diuji secara statistik. d. Hasil Uji Normalitas Skor Post-test Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan lima cara yaitu Kolmogorov smirnov test, visualisasi P-P Plot, histogram, rasio skewness dan rasio kurtosis. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak normal. Uji normalitas dilakukan untuk data posttest kelompok eksperimen dan kontrol menggunakan program SPSS 20 dengan uji Komogorov-Smirnov. Hasil uji normalitas ini yang menentukan jenis uji statistik yang akan dilakukan untuk menganalisis data responden berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Hipotesis untuk uji normalitas ini adalah: Ho : Sebaran data tidak sesuai dengan kurva normal (tidak normal) Ha : Sebaran data sesuai dengan kurva normal (normal) Kriteria pengambilan keputusan a) Jika harga Sig.(2-tailed) > 0,05, maka artinya data normal, sehingga jika data terdistribusi normal maka statistik yang digunakan adalah statistik parametris, yaitu menggunakan t-test. b) Jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05, maka artinya data tidak normal, sehingga statistik yang digunakan adalah statistik nonparametrik yaitu dengan teknik Mann-Whitney atau Wilcoxon.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Hasil uji normalitas untuk data post-test kelompok kontrol menggunakan SPSS disajikan dalam bentuk tabel. Tabel 4.9 adalah hasil dari uji normalitas menggunakan SPSS 20. Tabel 4.10 Hasil uji normalitas skor post-test kelompok kontrol One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Post_Kontro l N 24 a,b Normal Parameters Mean 11,5000 Std. 1,95604 Deviation Most Extreme Absolute ,149 Differences Positive ,149 Negative -,108 Kolmogorov-Smirnov Z ,731 Asymp. Sig. (2-tailed) ,660 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. Hasil analisis pada Tabel 4.9 menunjukkan bahwa harga sig.(2-tailed) adalah 0,660. Kriteria pengambilan keputusan menyatakan bahwa apabila harga Sig.(2-tailed) >0,05, maka artinya data normal, sig.(2-tailed) hasil uji normalitas untuk kelompok kontrol adalah 0,660 > 0,05 sehingga Ho ditolak atau data normal. Data post-test kelompok eksperimen juga diuji normalitasnya. Uji normalitas data post-test kelompok eksperimen juga dilakukan menggunakan program SPSS 20 dengan uji Kolmogorov Smirnov. Tabel 4.10 adalah tabel hasil uji normalitas untuk kelompok eksperimen. Tabel 4.10 Hasil uji normalitas skor post-test kelompok eksperimen One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Post_Eksperi men a,b Normal Parameters Mean 13,3333 Std. 2,82330 Deviation Most Extreme Absolute ,135 Differences Positive ,097 Negative -,135 Kolmogorov-Smirnov Z ,661 Asymp. Sig. (2-tailed) ,774 a. Test distribution is Normal.

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Hasil analisis pada Tabel 4.10 menunjukkan bahwa harga sig.(2-tailed) adalah 0,774. Kriteria pengambilan keputusan menyatakan bahwa apabila harga Sig.(2-tailed) >0,05, maka artinya data normal, sig.(2-tailed) hasil uji normalitas untuk kelompok kontrol adalah 0,774 > 0,05 sehingga Ho ditolak atau data normal. Uji normalitas selanjutnya menggunakan visualisasi P-P Plot. Gambar 4.4 adalah grafik yang diperoleh dari output SPSS. Gambar 4.4 Grafik P-P Plot dan histogram skor Post-test kelompok kontrol Grafik pada gambar 4.4 menunjukkan titik-titik terletak pada sekitar garis sehingga dapat disimpulkan bahwa data normal. Gambar histogram memperlihatkan bentuk histogram hampir mirip dengan kurva normal, sehingga data dikatakan normal. Grafik P-P Plot untuk skor post-test kelompok eksperimen dapat dilihat pada gambar 4.5. Gambar 4.5 Grafik P-P Plot dan histogram skor Pretest kelompok eksperimen

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Grafik pada gambar 4.5 menunjukkan titik-titik terletak pada sekitar garis sehingga dapat disimpulkan bahwa data skor post-test kelompok eksperimen normal. Uji normalitas selanjutnya menggunakan rasio skewness, Tabel 4.11 adalah tabel output SPSS yang memuat tentang angka skewness dan kurtosis. Tabel 4.11 Angka skewness dan kurtosis Skor post-test kelompok kontrol Descriptives Post_Kontro l Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound Upper Bound Statistic 11,5000 10,6740 12,3260 5% Trimmed Mean 11,4907 Median 11,5000 Variance 3,826 Std. Deviation 1,95604 Minimum 8,00 Maximum 15,00 Range 7,00 Interquartile Range 2,75 Skewness Kurtosis Std. Error ,39927 ,209 -,695 ,472 ,918 Angka statistic skewness pada tabel 4.11 adalah 0,209 sehingga rasio skewness-nya adalah , angka 0,44 berada diantara -2 dan 2 sehingga dapat dikatakan data skor pretest kelompok kontrol normal. Uji normalitas skor pretest kelompok kontrol menggunakan rasio kurtosis yaitu , rasio kurtosisnya adalah -0,75 dan berada antara -2 dan 2 (Rusdi, 2009: 3) sehingga dapat dikatakan data normal. Uji normalitas menggunakan rasio skweness, dan rasio kurtosis untuk skor post-test kelompok eksperimen menggunakan tabel 4.12.

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Tabel 4.12 Angka skewness dan kurtosis skor post-test kelompok eksperimen Descriptives Post_Eksperimen Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound Upper Bound Statistic 13,3333 12,1412 14,5255 5% Trimmed Mean 13,5093 Median 14,0000 Variance 7,971 Std. Deviation 2,82330 Minimum 6,00 Maximum 17,00 Range 11,00 Interquartile Range Skewness Kurtosis Std. Error ,57630 4,75 -,675 ,413 ,472 ,918 Angka statistic skewness pada tabel 4.12 adalah -0,675 sehingga rasio skewness-nya adalah , angka -1,43 berada diantara -2 dan 2 (Rusdi, 2009: 3) sehingga dapat dikatakan data skor pretest kelompok kontrol normal. Uji normalitas skor post-test kelompok eksperimen menggunakan rasio kurtosis yaitu , rasio kurtosisnya adalah 0,45 dan berada antara -2 dan 2 (Rusdi, 2009: 3) sehingga dapat dikatakan data skor post-test kelompok eksperimen normal. Hasil uji normallitas menggunakan lima cara tersebut semuanya menunjukkan bahwa kedua data postest kelompok kontrol dan post-test eksperimen adalah normal. Kedua data tersebut normal sehingga uji hipotesis yang digunakan adalah statistik parametrik yaitu independent t-test .

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 e. Uji Homogenitas skor post-test Uji homogenitas skor post-test dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen homogen atau tidak. Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan Lavene’s test. Hipotesis untuk uji homogenitas pada penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara skor post-test kelompok kontrol dan kelompok ekperimen atau data semua kelompok adalah homogen ( Ha ) : Ada perbedaan varian antara skor post-test kelompok kontrol dan kelompok ekperimen atau data kedua kelompok tidak homogen ( ) Kriteria pengambilan keputusan: a) Jika harga sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka artinya Ho gagal ditolak data homogen dan tidak terdapat perbedaan varian antara skor post-test kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok memiliki persamaan data. b) Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka artinya Ho ditolak data tidak homogen dan terdapat perbedaan varian antara skor post-test kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok tidak memiliki persamaan data. Hasil uji homogenitas dapat dilihat pada tabel 4.13. Tabel 4.13 Hasil Uji Homogenitas Skor Post-test Test of Homogeneity of Variances Skor_Posttest Levene Statistic 2,432 df1 df2 1 Sig. 46 ,126

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Tabel 4.13 memperlihatkan besar signifikansi untuk uji homogenitas menggunakan Lavene test adalah 0,126 > 0,05 maka artinya Ho gagal ditolak atau dapat dikatakan bahwa data homogen. f. Independence Syarat untuk melakukan uji hipotesis menggunakan independent t-test adalah independence. Aspek ini tidak diuji secara statistik, tetapi hanya melihat perlakuan yang diberikan kepada setiap kelompok sampel. Data hasil penelitian ini dikatakan indipendence karena setiap kelompok akan mendapatkan perlakukan masing-masing, dimana setiap perlakuan yang diberikan kepada suatu kelompok tidak akan pernah diberikan kepada kelompok lainnya. 3. Uji Hipotesis Setelah 3 asumsi terpenuhi yaitu normal, homogen, dan independence, kemudian peneliti melakukan uji hipotesis menggunakan independent t-tets. Uji independent t-tets dilakukan dengan menggunakan program SPSS 20. Hasil uji ini berupa tabel yaitu tabel 4.14 Tabel 4.14 Hasil uji independent t-tets skor post-test Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means Skor_Posttest Equal variances Equal variances assumed not assumed 2,432 F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference ,126 Lower Upper -2,615 46 ,012 -1,83333 ,70110 -3,24458 -,42209 -2,615 40,945 ,012 -1,83333 ,70110 -3,24930 -,41737

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Hasil uji homogenitas pada Tabel 4.14 menyatakan bahwa data homogen maka untuk mengetahui hasil uji t-nya, peneliti melihat pada baris Equal variances assumed. Hipotesis untuk uji t pada penelitian ini adalah: Hipotesis untuk uji independent t-test pada penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan rerata skor post-test kelompok kontrol dengan rerata skor post-test kelompok eksperimen. (Ho: µ 1 = µ 2). Ha : Ada perbedaan rerata skor post-test kelompok kontrol dengan rerata skor post-test kelompok eksperimen. (Ha: µ 1 ≠ µ 2) Pengambilan keputusan a) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 artinya Ho gagal ditolak atau tidak ada perbedaan rerata skor post-test kelompok kontrol dan post-test kelompok eksperimen, atau dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. b) Jika harga Sig.(2-tailed) < 0,05 artinya Ho ditolak atau ada perbedaan rerata antara skor post-test kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen, atau dapat dikatakan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. Tabel 4.15 memperlihatkan bahwa F hitung pada tingkat kepercayaan 95% untuk hasil post-test dengan Equal variance assumed adalah 2,432 dengan sig.(2tailed) =0,027, p < 0,05 maka Ho ditolak atau ada perbedaan antara skor post-test kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen. Nilai t(46) pada baris

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Equal variance assumed adalah -2,615 dengan df yang lebih besar dari Equal variance not assumed. Skor post-test kelompok kontrol dan eksperimen terdapat perbedaan rata-rata atau Mean = -1,83333 dan SE sebesar 0,7. Mengacu pada rumus gambar 3.7 bisa dijelaskan pada gambar 4.4. ̅ √( ̅ ) √( ) √ √ = -2,6 Gambar 4.6 Perhitungan manual independent t-test Gambar 4.4 memperlihatkan hasil perhitungan secara manual thitung sama dengan hasil thitung pada tabel 4.14 yang menggunakan program SPSS. H. Uji Signifikansi Selisih Bagian ini berisi tiga uji, yaitu uji paired t-test untuk skor kelompok kontrol, paired t-test untuk skor kelompok eksperimen, dan uji independent t-test untuk selisih antara skor kelompok kontrol dan eksperimen. a. Uji paired t-test skor kelompok kontrol Uji paired t-test skor kelompok kontrol dilakukan menggunakan program SPSS. Hipotesis dari uji ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan rerata skor pretest kelompok kontrol dengan rerata skor post-test kelompok kontrol. (Ho: µ 1 = µ 2). Ha : Ada perbedaan rerata skor pretest kelompok kontrol dengan rerata skor posttest kelompok kontrol. (Ha: µ 1 ≠ µ 2) Pengambilan keputusan

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 1) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 artinya Ho gagal ditolak atau tidak ada perbedaan rerata skor prestest kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen. 2) Jika harga Sig.(2-tailed) < 0,05 artinya Ho ditolak atau ada perbedaan rerata antara skor pretest kelompok kontrol dan post-test kelompok kontrol. Tabel 4.15 Hasil uji paired t-test kelompok kontrol Paired Samples Test Paired Differences Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lowe r Uppe r t df Sig. (2-tailed) Pair 1 Pre_Kontrol Post_Kontrol -1,25000 2,04833 ,41811 -2,11493 -,38507 -2,990 23 ,007 Tabel 4.15 menunjukkan besar sig.(2-tailed) adalah 0,007 < dari 0,05 yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan skor post-test kelompok kontrol. Besar t(23) adalah -2,990 dengan SE=0,41811. Kenaikan skor pretest kelompok kontrol ke post-test adalah sebesar 5,75%. b. Uji paired t-test skor kelompok eksperimen Uji paired t-test skor kelompok eksperimen juga dilakukan menggunakan program SPSS. Hipotesis dari uji ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan rerata skor pretest kelompok eksperimen dengan rerata skor post-test kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori (Ho: µ 1 = µ 2).

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Ha : Ada perbedaan rerata skor pretest kelompok eksperimen dengan rerata skor post-test kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. (Ha: µ 1 ≠ µ 2) Pengambilan keputusan 1) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 artinya Ho gagal ditolak atau tidak ada perbedaan rerata skor prestest kelompok eksperimen dan skor post-test kelompok eksperimen, atau dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. 2) Jika harga Sig.(2-tailed) < 0,05 artinya Ho ditolak atau ada perbedaan rerata antara skor pretest kelompok kontrol dan post-test kelompok kontrol, atau dapat dikatakan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. Tabel 4.16 Hasil uji Paired t-test kelompok eksperimen Paired Samples Test Paired Differences t df Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 Pre_Eksperime nPost_Eksperime n -3,12500 3,11117 ,63506 -4,43873 -1,81127 -4,921 23 ,000 Tabel 4.16 memperlihatkan besar sig.(2-tailed) adalah 0,000 < dari 0,05 yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan skor post-test kelompok kontrol. Besar t(23) adalah -4,921 dengan SE= 0,635. Kenaikan skor

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 pretest kelompok kontrol ke post-test adalah sebesar 23,480 %, kenaikan ini lebih besar dari kenaikan skor pretest ke post-test yaitu 12,195 %. c. Uji independent t-test selisih skor kelompok kontrol dan eksperimen Sebelum melakukan uji independent t-test untuk selisih skor ini, perlu dilakukan uji prasarat analisis dahulu yaitu berupa uji normalitas dan uji homogenitas. 1) Normalitas Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov untuk melakukan uji normalitas pada setiap kelompok penelitian. Uji normalitas adalah uji yang digunakan untuk mengetahui apakah data dari kedua kelompok sampel terdistribusi normal atau tidak (Sudjana, 2002: 466). Hipotesis untuk uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov Smirnov adalah: Ho : Sebaran data tidak sesuai dengan kurva normal (data tidak normal) Ha : Sebaran data sesuai dengan kurva normal (data normal) Kriteria pengambila keputusan a) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05, maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak artinya data normal, sehingga jika data terdistribusi normal. b) Jika harga Sig. (2-tailed)<0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya data tidak normal.

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 Tabel 4.17 Hasil uji normalitas selisih skor kelompok kontrol One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Kontrol N 24 a,b Normal Parameters Mean 1,2500 Std. 2,04833 Deviation Most Extreme Absolute ,146 Differences Positive ,146 Negative -,143 Kolmogorov-Smirnov Z ,714 Asymp. Sig. (2-tailed) ,687 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. Tabel 4.17 menunjukkan bahwa harga sig.(2-tailed) adalah 0,687. Kriteria pengambilan keputusan menyatakan apabila harga Sig.(2-tailed) > 0,05, maka artinya data normal, sig.(2-tailed) hasil uji normalitas untuk kelompok kontrol adalah 0,687 > 0,05 sehingga Ho ditolak atau data normal. Data selisih skor kelompok kontrol dan eksperimen juga diuji normalitasnya. Uji normalitas data post-test kelompok eksperimen juga dilakukan menggunakan program SPSS 20 dengan uji Kolmogorov Smirnov. Tabel 4.18 Hasil uji normalitas selisih skor kelompok eksperimen One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Eksperimen N 24 Mean 3,1250 a,b Normal Parameters Std. Deviation 3,11117 Absolute ,102 Most Extreme Differences Positive ,075 Negative -,102 Kolmogorov-Smirnov Z ,499 Asymp. Sig. (2-tailed) ,965 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. Tabel 4.18 menunjukkan bahwa harga sig.(2-tailed) adalah 0,965. Kriteria pengambilan keputusan menyatakan apabila harga Sig.(2-tailed) > 0,05, maka

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 artinya data normal, sig.(2-tailed) hasil uji normalitas untuk kelompok kontrol adalah 0,965 > 0,05 sehingga Ho ditolak atau data normal. 2) Homogenitas Uji homogenitas skor posttest dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen homogen atau tidak. Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan Lavene’s test. Hipotesis untuk uji homogenitas pada penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara selisish skor kelompok kontrol dan kelompok ekperimen atau data semua kelompok adalah homogen ( Ha ) : Ada perbedaan varian antara selisih skor post-test kelompok kontrol dan kelompok ekperimen atau data kedua kelompok tidak homogen ( ) Kriteria pengambilan keputusan: a) Jika harga sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka artinya Ho gagal ditolak data homogen dan tidak terdapat perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok memiliki persamaan varian. b) Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05 maka artinya Ho ditolak data tidak homogen dan terdapat perbedaan varian antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat dikatakan kedua kelompok tidak memiliki persamaan varian.

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 Tabel 4.19 Hasil uji homogenitas selisih skor kelompok eksperimen dan kontrol Test of Homogeneity of Variances Skor Levene Statistic df1 3,976 df2 1 Sig. 46 ,052 Tabel 4.19 memperlihatkan besar signifikansi untuk uji homogenitas menggunakan Lavene test adalah 0,052 > 0,05 maka artinya Ho gagal ditolak atau dapat dikatakan bahwa data homogen. 3) Independent t-test Hipotesis untuk uji independent t-test selisih skor pada penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan selisih rerata skor kelompok kontrol dengan selisih rerata skor kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori (Ho: µ 1 = µ 2). Ha : Ada perbedaan selisih rerata skor kelompok kontrol dengan selisih rerata skor kelompok eksperimen atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori (Ha: µ 1 ≠ µ 2). Pengambilan keputusan a) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 artinya Ho gagal ditolak atau tidak ada perbedaan selisih rerata skor kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, atau dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian. b) Jika harga Sig.(2-tailed) < 0,05 artinya Ho ditolak atau ada perbedaan selisih rerata antara skor kelompok kontrol dan skor kelompok eksperimen, atau

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 dapat dikatakan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian Tabel 4.20 Hasil uji independent t-test selisih Independent Samples Test F Levene's Test for Equality of Variances Sig. t df Sig. (2-tailed) t-test for Equality of Mean Difference Means Std. Error Difference 95% Confidence Interval Lower of the Difference Upper Skor Equal variances Equal variances assumed not assumed 3,976 ,052 -2,466 -2,466 46 39,786 ,017 ,018 -1,87500 -1,87500 ,76035 ,76035 -3,40550 -3,41197 -,34450 -,33803 Tabel 4.20 memperlihatkan terdapat perbedaan kenaikan skor pretest ke posttest antara kelompok kontrol (12,195%) ,dan eksperimen (23,480%). Perbedaan ini signifikan t (46) = -2,466, p < 0,05 yang berarti perbedaan antara skor posttest kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen benar-benar signifikan pada taraf kepercayaan 5%. I. Uji Besar efek Hasil uji perbedaan skor post-test untuk kelas eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan adanya perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga berbasis Montessori papan pin maka selanjutnya dilakukan uji bersar efek. Uji besar efek dilakukan untuk mengetahui seberapa besar efek alat peraga berbasis Montessori papan pin perkalian terhadap prestasi belajar matematika materi perkalian. Analisis dilakukan menggunakan rumus effect size. Gambar 4.7 adalah perhitungan menggunakan rumus dari effect size.

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 √ √ √ √ Gambar 4.7 Perhitungan effect size Hasil perhitungan tersebut memperlihatkan bahwa besar r adalah 0,36 dan termasuk ke dalam medium effect atau sedang. Persentase besar efek alat peraga berbasis metode Montessori papan pin perkalian dapat diketahui melalui penghitungan rumus koefisien determinasi dengan hasil dapat dilihat pada gambar 3.9. Tabel 4.21 Hasil uji effect size Komponen t df r R2 Hasil -2.615 46 0,32 13 Keterangan sedang Tabel 4.21 menunjukkan hasil pengolahan data uji efek menunjukkan alat peraga berbasis metode Montessori memberikan efek terhadap prestasi belajar siswa, yaitu dengan ditunjukkan dengan harga r = 0,32, t(24) = -2,291, R2= 13 yang artinya prestasi belajar pada penelitian ini 13% dipengaruhi oleh alat peraga sedangkan 87% dipengaruhi oleh hal lainnya yang tidak peneliti teliti. Rata-rata skor post-test kelompok kontrol lebih rendah (M = 11,5, SE = 0,399) dibandingkan dengan skor post-test kelompok eksperimen (M = 13,33, SE = 0,576). Perbedaan ini signifikan t (46) = -2,615, p < 0,05 tetapi hal tersebut memiliki efek sedang yaitu r = 0,32.

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 C. Pembahasan Proses pembelajaran saat hari pertama pada kelompok eksperimen berlangsung cukup lancar, siswa terlihat senang, antusias, dan fokus dalam belajar (Lampiran 19). Alat peraga yang digunakan dapat membuat siswa tertarik untuk memakai, hal ini dibuktikan banyak siswa yang terlihat penasaran saat alat peraga masih ada di meja guru. Raut wajah mereka memperlihatkan rasa penasaran, bahkan ada juga yang maju ke depan dan ingin membukanya (Lampiran 19). Sudjana (2013: 100) menyatakan alat peraga dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar. Pernyataan tersebut didukung dengan adanya reaksi siswa saat akan mulai pembelajaran yang terlihat antusias dan ingin segera mengambil alat peraga yang digunakan dalam proses pembelajaran (Lampiran 19). Pertemuan kedua dan ketiga, siswa juga terlihat antusias menggunakan alat peraga, bahkan saat pembelajaran usai mereka berbicara kepada guru kelasnya bahwa besok minta diajar menggunakan alat itu lagi. Saat pembelajaran berlangsung siswa juga terlihat fokus mengerjakan soal, mereka terlihat asik memasukkan pin untuk mendapatkan hasilnya. Siswa juga terlihat senang dan puas saat membalik kartu soal dan ternyata jawaban mereka benar. Sudjana (2013: 100) mengungkapkan bahwa alat peraga yang baik dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri dari setiap siswa. Pembelajaran menggunakan alat peraga berbasis metode Montessori ini terbukti dapat membuat siswa berusaha sendiri. Hal ini terlihat pada pertemuan kedua dan ketiga, saat siswa sudah mulai lancar menggunakan alat peraga mereka jarang bertanya tentang cara mengerjakan soal,

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 mereka terlihat asik mencari jawabannya dengan alat peraga. Siswa juga terlihat mengulangi menghitung saat jawaban mereka ternyata tidak sama dengan angka yang ada pada balik soal. Berbeda dengan kelompok eksperimen, kelompok kontrol awalnya terlihat antusias tetapi saat pembelajaran dimulai siswa tanpak biasa saja, beberapa siswa bahkan tampak bosan sehingga tidak mau mengerjakan soal. Metode yang dipakai dalam pembelajaran di kelompok kontrol adalah metode ceramah dan drilling soal (Lampiran 4). Awalnya guru menjelaskan kepada siswa tentang konsep operasi perkalian kemudian siswa disuruh mengerjakan soal yang ada pada lembar latihan soal. Ada siswa yang dapat mengerjakan sampai selai tetapi banyak yang tidak sampai selesai. Ada pula siswa yang mengeluh capek karena menulis terus. Situasi pembelajaran di kelompok kontrol ini sesuai dengan pernyataan Susanto (2013: 67) yang menyatakan bahwa pembelajaran yang tidak didasari dengan minat seperti perasaan senang tetapi yang dipaksa akan bejalan tidak efektif. Rata-rata skor pretest untuk kelas kontrol lebih tinggi dari kelompok eksperimen (Lampiran 18). Rata-rata tersebut dapat menjadi indikator bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil perhitungan rerata skor pretest dan post-test tersebut di dukung dengan hasil perhitungan secara statistik. Hasil perhitungan secara statistik menunjukkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa baik ditinjua dari reratanya maupun dari uji selisih kenaikan skor pada setiap kelompok sampel (Lampiran 18). Perbedaan prestasi belajar antara siswa kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen tergolong signifikan.

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Hasil analisis secara statisik menunjukkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga berbasis Montessori. Hal tersebut ditunjukkan dengan harga Sig.(2-tailed) sebesar 0,012, p < 0,05. Keberhasilan tersebut dikarenakan pembelajaran berlangsung secara kondusif, siswa dapat menghitung secara nyata melalui alat peraga berbasis metode Montessori. Bilangan yang awalnya berupa abstrak kini bisa dilihat secara nyata oleh siswa dalam bentuk pin. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan bahwa alat peraga diperlukan untuk memahami suatu konsep yang abstrak sehingga siswa akan mudah memahami (Suherman, 2003: 242). Kondisi materi yang menjadi lebih nyata mengakibatkan siswa mudah dalam memahami materi dan memecahkan masalah sendiri terhadap materi yang dipelajari seperti yang dikemukakan oleh Suherman (2003: 243). Kondisi tersebut berpengaruh pada nilai prestasi belajar yang diperoleh siswa. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Donabella dan Rule (2008: 2) tentang penggunaan alat peraga Montessori checkerboar mengatakan bahwa empat siswanya mengalami peningkatan dalam pemahaman perkalian. Penelitian tersebut juga senada dengan hasil penelitian ini yaitu ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga berbasis Montessori. Hasil penelitian ini juga hampir sama dengan penelitian Rohdiati (2013) yang menggunakan alat peraga dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Aktivitas belajar siswa merupakan kegiatan yang dilakukan siswa pada saat proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar. Aktivitas siswa dalam kegiatan

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 pembelajaran dapat berupa aktivitas bertanya, menjawab pertanyaan, presentasi, mencatat materi, dan kerja kelompok dalam diskusi. Saat proses pembelajaran berlangsung siswa pada kelompok kontrol juga banyak yang bertanya, menjawab pertanyaan dan bekerja dalam kelompok. Apabila dibandingkan dengan kelompok kontrol, siswa pada kelompok eksperimen lebih aktif daripada di kelompok control (Lampiran 19). Tingkat berfikir siswa akan lebih tinggi apabila bekerja secara diskusi daripada siswa yang bekerja secara individual. Jadi materi yang dipelajari akan lebih melekat untuk periode yang lebih lama. Siswa pada kelompok kontrol cenderung pasif dan hanya sekedar mengerjakan apa yang diperintahkan oleh guru saja tidak ada aktivitas lain yang dilakukan oleh siswa keculai mengerjakan soal (Lampiran 19). Penggunaan media dalam proses belajar mengajar dapat menarik perhatian dan menambah aktivitas belajar siswa (Sudjana dan Riva’i, 2009: 57), sedangkan pada kelompok kontrol tidak menggunakan media atau alat peraga apapun kecuali papan tulis dan buku paket, sehingga wajar jika siswanya terlihat bosan. Hasil pembelajaran menggunakan alat peraga matematika berbasis Montessori telah memberikan bukti bahawa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga tersebut (Lampiran 18).

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN DAN SARAN A. Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Penggunaan alat peraga tersebut juga mampu meningkatkan aktivitas siswa saat pembelajaran misalnya siswa menjadi fokus, sering bertanya dan memperhatikan penjelasan guru. B. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan yang ada pada penelitian ini adalah tidak adanya uji retensi karena waktu tidak memungkinkan berkaitan dengan kondisi pembelajaran di sekolah yang tidak memungkinkan apabila digunakan sebagai penelitian dalam waktu yang lama. Keterbatasan lain dalam penelitian ini adalah jumlah alat peraga yang disediakan hanya ada 7 buah sedangkan siswanya ada 24. Cara kerja alat peraga papan pin perkalian lebih efektif minimal dipakai oleh 2 orang siswa, jadi siswa dapat lebih lama mencoba dan menggunakan alat tersebut, tidak terburu-buru karena akan dipakai teman lainnya. Keterbatasan lain yang ada pada penelitian ini adalah instrumen validitas isi untuk uji expert judgement pembelajaran dan soal tes prestasi belajar siswa belum diuji validitasnya. Komponen instrumen didapatkan dari hasil diskusi dan konsultasi dengan dosen pembimbing. Keterbatasan lainnya yang ada pada penelitian ini adalah saat pemilihan soal tes prestasi tidak mempertimbangkan besarnya reliabilitas tetapi 115

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 sebagain besar dipilih berdasarkan indikator dan pendapat guru sehingga dimungkinkan ada unsur subjektifitas guru dalam memilih soal. C. Saran Saran peneliti adalah supaya dalam penelitian yang akan datang dapat dilakukan uji retensi sehingga hasil penelitian yang diperoleh lebih valid. Peneliti juga menyarankan untuk menggunakan lebih banyak alat peraga apabila akan menggunakan alat peraga berbasis Montessori dalam pembelajaran. Saran selanjutnya adalah sebaiknya dilakukan uji instrumen validitas ini yang digunakan untuk expert judgement instrumen pembelajaran dan soal prestasi belajar siswa. Saat pemelihan soal tes prestasi sebaiknya memperhatikan besarnya reliabilitas tidak hanya memperhatikan indikator dan pendapat guru.

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 DAFTAR REFERENSI Ahmed, T. (2013). Data management. Central Statistic Agency. Retreived from http://www.csa.gov.et/index.php/organization/directorates/editingcleaning-entry-directorates. 6(3), p. 1-2. Alisons. (2012, 3 Maret). Multiplication bead board. Alisons Montessori. Retreived from http://www.alisonsmontessori.com/Multiplication_Board_p/m16.htm. Arifin, Z. (2009). Evaluasi pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Arikunto, S. (2007). Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Arora, A., Foy, P., Martin, M.O., dan Muilis, I.V. (2011). TIMSS 2011 international results in mathematics. USA: TIMSS & PIRLS International Study Center. Azwar, S. (2005). Signifikan atau signifikan?. Buletin UGM. 13(1), p. 6. Azwar, S. (2007). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2012). Penyusun skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2013). Tes prestasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Badan Nasional Standar Pendidikan. (2006). Kurikulum tingkat satuan pendidikan. Jakarta: BNSP Bogardus, A.E. (2007). Quasi-eksperimental retrospective study: effects of formal math study skills instruction on remedial college math achievement.(Dissertation). USA: University of Phoenix Bradley, M.(2013). Guide to the early years foundation stage in Montessori settings. London: Montessori School Association. Cohen, L., Manion, L., Morrison, K. (2007). Research method for education. New York: Rouledge. Ciu, S.F. (2013, 8 Januari). Nilai matematika siswa RI 10 besar terendah dunia. Oke zone. Retrieved from http://kampus.okezone.com/read/2013/01/08/373/742801/nilaimatematika-siswa-ri-10-besar-terendah-di-dunia. Creswell, J.W. (2013). Research design.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 Damanik, D.(2012, 27 November). Sisterm pendidikan indonesia terendah di dunia.Kompas.Retrieved from http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/27/15112050/Sistem.Pendidika n.Indonesia.Terendah.di.Dunia. Dahar, R.W. (2012). Teori-teori belajar dan pembelajaran. Jakarta: Erlangga. Donabella, M.A. (2008). Four seventh grade students who Qualify for academic intervention services in mathematics learning multi-digit multiplication with the Montessori checkerboard. Teaching Eceptional Children Plus. 4(3), p. 3. Dantes, N. (2008). Tinjauan pedagogik pengaruh faktor kecerdasan, kreativitas, dan potensi diri terhadap keberhasilan dalam memimpin. Bandung: Rosda Ezmir. (2013). Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers. Fajar, I. (2014, 14 November). Kesulitan siswa dalam belajar matematika.Kompasiana. Retrieved from http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/14/kesulitan-siswa-dalambelajar-matematika-503278.html. Field, A. (2009) .Discovery statistics using SPSS third edition. London: SAGE Publication ltd. Gutek, G.L. (2004). Montessori method: the origins of an educational inovation.USA: Rouman & Littlefield Publishers. Hartono. (2012). Statistik untuk penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hill, W.F. (2011). Theories of learning. Bandung: Nusa Media. Holt,H. (2008). The absorbent mind, pikiran yang mudah menyerap. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hurlock, E.B. (2008). Perkembangan anak. Jakarta: Erlangga Johnshon, B & Chistensen, L. (2008). Education research third edition. USA: SAGE Publication. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2011, 11 Januari). Survei internasional TIMMS. Retrieved from http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/survei-internasional-timss.30 Oktober 2013(20:15).

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 Kirkpatrick, J. (2008). Montessori, Dewey, and capitalism. USA: Tlj Books Lillard, A.S. (2013). Play of learning and Montessori education. American Journal of Play.(5) 2, p.2-5. Magini, A.P. (2013). Sejarah pendekatan Montessori. Yogyakarta: Kanisius. Mahadewi, I.A. (2012). Penerapan metode pembelajaran Montessori untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas III SDN Cakranegara.(Jurnal PGSD).1(1).p.1. Manner, J.C. (2005). Montessori vs. traditional education in the public sector: seeking appropriate comparisons of academic achievement. Forum on Public Policy: a Jurnal of Oxford Round, 4(2),p.1-12. Montessori,M. (2013). Metode Montessori (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nazir, M. (2005). Metode penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia. Nordstokke. (2011).The operating characteristics od the non parametric Lavene’s test for equal variances with assesment and evaluation data. Practical assesment, rearch and evaluation.10(5), p.1-8. Pitamic, M. (2013). Teach Me To Do It My Self (terjemahan). Yogyakarta: Purtaka Pelajar. Purwanto. (2012). Metodologi penelitian kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Riyanto, Y. (2009). Paradikma baru pembelajaran. Jakarta: Kencana. Rohdiati, M. (2013). Penerapan metode demontrasi dengan menggunakan alat peraga untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.(Skripsi).Malang: UNM Rohmana, Y. (2007). Koefisien determinasi dan korelasi berganda. Jakarta: Universitas Indonesia. Rusdi, A. (2009). Uji normalitas data dan varian. Pare-Pare: Universitas Muhammadyah Pare-Pare. Ruseffendi, E.T. (2005) Dasar-dasar penelitian pendidikan dan bidang noneksakta lainnya. Bandung: Tarsito Sanjaya, W. (2013). Penelitian pendidikan. Jakarta: Kencana.

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 Silver, H.F., Brusting, J.R., Walsh, T., Thomas, E.J. (2013). Pengajaran matematika. Jakarta: PT Indeks Sitanggang, B. (2013). Media pengajaran. Surabaya: Cahaya Press Slameto. (2010). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Sudjana, N. (2005). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sudjana. (2002). Metode penelitian. Bandung: Tarsito Sudjana & Riva’i. (2009). Media pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Suhartini. (2009). Perspektif global. Yogyakarta: FIK Universitas Negeri Yogyakarta Suherman (2003). Strategi pembelajaran matematika kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Sugiyono. (2008). Statistik untuk penelitian. Bandung: Alfa Beta. Sugiono. (2010). Metode penelitian pendidikan. Bandung: Alfa Beta. Sugiyono. (2011). Metode penelitian kombinasi. Bandung: Alfa Beta. Suryasubrata, S. (2012). Psikologi pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Supardi. (2013). Sekolah efektif. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Susanto, A. (2013).Teori pembelajaran di sekolah dasar.Jakarta:Kencana Tjalla, A. (2010). Potret mutu pendidikan Indonesia ditinjau dari hasil-hasil studi Internasional. Jakarta: FIP Universitas Negeri Jakarta. Universitas Pendidikan Indonesia. (2011). Hakikat pendidikan matematika. Bandung: UPI Unjianto, B. (2012, 26 Februari). Mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Suara Merdeka. Retrieved from http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/02/26/110 642/MutuPendidikan-Matematika-di-Indonesia-Rendah.

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 Wahyuningsih, I. (2011). Pengaruh model pendidikan Montessori terhadap hasil belajar siswa.(skripsi).Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. Widoyoko. (2012). Teknik penyusunan instrumen penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Widdiharto, R & Anggraeni, G. (2008). Diagnosis kesulitan belajar matematika SMP dan alternatif proses remidinya. Yogyakarta: P4TK Matematika Winkel, W.S. (2012). Psikologi pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 LAMPIRAN

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 Lampiran 1 Surat penelitian

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 Lampiran 2 Contoh perangkat pembelajaran Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Satuan Pendidikan Kelas / Semester Mata Pelajaran Pertemuan Alokasi waktu : SD Negeri Keceme 1 : II/2 : Matematika :I : 2 x 35 menit (2 JP). A. Standar Kompetensi 3. Melakukan perkalian dan pembagian sampai dua angka. B. Kompetensi Dasar 3.1 Melakukan perkalian yang hasilnya bilangan dua angka. C. Indikator Pembelajaran Mengubah bentuk operasi penjumlahan berulang ke dalam bentuk operasi perkalian. D. Tujuan Pembelajaran Siswa mampu mengubah bentuk operasi penjumlahan berulang ke dalam bentuk operasi perkalian minimal 5 soal melalui menggunakan alat peraga papan pin perkalian. E. Kegiatan Pembelajaran No. Kegiatan Pembelajaran Alokasi waktu 1. Pembukaan 10 menit a. Salam, doa, dan absensi. b. Apersepsi : Bernyanyi lagu “Lingkaran kecil, lingkaran kecil Lingkaran besar Diberi pisang, diberi pisang Lalu dimakan Enam,enam, tiga puluh enam Enam,enam beginilah jadinya” c. Motivasi : guru menunjukkan alat peraga yang akan digunakan oleh siswa. d. Orientasi : menyampaikan tujuan pembelajaran. 2. Kegiatan Inti 50 menit 1) Siswa dijelaskan oleh guru tentang kegiatan yang akan dilakukan. 2) Membentuk kelompok dengan cara guru menyebarkan macam-macam kertas berwarna. Siswa yang mendapat warna sama akan menjadi 1 kelompok. 3) Guru mendemokan cara menggunakan alat peraga papan

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 3. perkalian. 4) Guru menyiapkan lokasi kerja 5) Guru mengambil dan meletakkan alat peraga di lokasi kerja 6) Guru mengundang anak untuk berlatih perkalian dengan papan pin perkalian. 7) Guru mendemokan cara mengubah 2 + 2 + 2 + 2= 4 x 2 menggunakan papan pin perkalian.(cara terlampir) 8) Guru meminta anak untuk mencoba mengubah 3 + 3 + 3 + 3 menjadi bentuk operasi perkalian. 9) Guru dan anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula 10) Anak berlatih melakukan perkalian dengan alat peraga yang papan pin perkalian bersama teman sekelompokknya dengan berpedoman LKS. Penutup a. Kesimpulan siswa bersama guru membuat kesimpulan tentang apa yang telah dipelajari. b. Evaluasi Siswa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru untuk mengetahui ketercapaian materi. c. Refleksi Siswa menempel kertas bergambar emotikon ekspresi senang atau sedih sesuai yang dialami. d. Tindak lanjut Siswa memperoleh tugas untuk mengulang materi yang baru saja di pelajari dirumah. 50 menit F. Metode Montessori (menggunakan alat peraganya) G. Materi Mengubah bentuk operasi penjumlahan menjadi operasi perkalian Perkalian bilangan merupakan bentuk penjumlahan berulang dari suatu bilangan. Pada materi ini siswa akan dikenalkan bentuk operasi perkalian sebagai bentuk lain dari penjumlahan berulang. Pada kelas dua, materi perkalian meliputi perkalian yang hasilnya dua angka yaitu perkalian yang hasilnya antara 1-100. Materi perkalian merupakan pengalaman pertama bagi anak kelas dua SD. Contoh soal tentang mengubah bentuk penjumlahan berulang ke dalam bentuk operasi perkalian adalah sebagai berikut: Soal: Bentuk perkalian dari penjumlahan berulang 2+2+2+2 adalah… a. 2x4 b. 2x3 c. 4x2

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 H. Sumber Belajar Buku: Purnomosidi.(2008).Matematika 2.Jakarta:Buku Sekolah Elektronik. Muis, A.(2009).Matematika Dasar.Yogyakarta:Kreasi Wacana. Alat dan bahan: Alat peraga berbasis metode Montessori Papan Pin Perkalian, LKS, lem. I. Penilaian Indikator Kognitif : Mengubah bentuk operasi penjumlahan berulang ke dalam bentuk operasi perkalian. bentuk Tes teknik Tertulis instrumen Soal ganda pilihan

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 Lampiran 3 Contoh komentar validitas isi perangkat pembelajaran

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 Lampiran 4 Contoh instrumen soal prestasi soal tes prestasi mata pelajaran : matematika materi : perkalian satuan pendidikan : SD Negeri Keceme 1 tahun ajaran : 2013/2014 jawablah soal di bawah ini dengan cara memberi tanda silang (x) pada huruf dengan jawaban yang benar pada lembar jawab yang tersedia! 1. hitunglah jumlah apel dibawah ini : + a. 8 =3x2=… + b. 6 c. 5 2. pilihlah bilangan yang tepat untuk melengkapi titik-titik berikut ini. + + a. 8 = 4 x … = 36 + b. 9 d. 10 3. pilihlah gambar yang tepat untuk melengkapi titik-titik berikut. + a. ….. b. = 2 x 5 = 10 c.

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 Lampiran 5 Contoh komentar validitas instrumen penelitian

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 Lampiran 6 Hasil validitas muka

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 Lampiran 7 Contoh hasil pekerjaan siswa

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 Lampiran 8 Analisis validitas konstruk dan reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's Cronbach's Alpha Alpha Based on N of Items Standardized Items ,824 ,824 20 Item-Total Statistics Scale Mean if Scale Variance Corrected Item- Squared Cronbach's Item Deleted if Item Deleted Total Multiple Alpha if Item Correlation Correlation Deleted Soal2 13,0909 17,714 ,493 . ,811 Soal3 13,1636 17,843 ,438 . ,814 Soal4 13,0182 18,648 ,279 . ,822 Soal5 13,0545 17,978 ,439 . ,814 Soal6 13,0545 17,830 ,479 . ,812 Soal7 13,0727 18,069 ,408 . ,816 Soal10 13,0909 18,047 ,406 . ,816 Soal11 13,0909 18,269 ,350 . ,819 Soal12 13,0545 18,756 ,238 . ,824 Soal13 12,9273 18,217 ,471 . ,813 Soal16 13,0545 18,423 ,323 . ,820 Soal17 13,0545 18,090 ,410 . ,816 Soal19 13,0727 18,291 ,350 . ,819 Soal20 13,0545 18,534 ,294 . ,821 Soal21 12,9818 18,611 ,308 . ,820 Soal22 13,0727 18,328 ,341 . ,819 Soal25 13,0727 18,069 ,408 . ,816 Soal27 13,0000 18,037 ,456 . ,814 Soal28 13,0545 18,127 ,400 . ,816 Soal30 13,1273 17,261 ,597 . ,806

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 Lampiran 9 Tabulasi data mentah pretest dan post-test Nama 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 Siswa1 Siswa2 Siswa3 Siswa4 Siswa5 Siswa6 Siswa7 Siswa8 Siswa9 Siswa10 Siswa11 Siswa12 Siswa13 Siswa14 Siswa15 Siswa16 Siswa17 Siswa18 Siswa19 Siswa20 Siswa21 Siswa22 Siswa23 Siswa24 Jumlah Rata-rata Skor tertinggi Skor terendah 3 1 1 1 0 1 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 4 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 5 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 6 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 REKAPITULASI SKOR POSTEST KELOMPOK KONTROL Skor Nomor 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 Jml 15 12 9 14 10 14 12 14 10 12 9 11 12 11 13 15 11 10 11 10 9 8 12 12 276 11,50 15 8

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 REKAPITULASI SKOR POSTTEST KELOMPOK EKSPERIMEN Nama 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 Siswa1 Siswa2 Siswa3 Siswa4 Siswa5 Siswa6 Siswa7 Siswa8 Siswa9 Siswa10 Siswa11 Siswa12 Siswa13 Siswa14 Siswa15 Siswa16 Siswa17 Siswa18 Siswa19 Siswa20 Siswa21 Siswa22 Siswa23 Siswa24 Jumlah Rata-rata Skor tertinggi Skor terendah 3 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 4 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 5 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 6 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 1 7 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 8 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 9 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 Skor Nomor 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 Jml 16 10 11 6 13 14 14 15 14 17 11 15 17 11 14 9 14 11 13 13 12 17 16 17 320 13,33 17 6

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 Lampiran 10 Analisis skor pretest dan posttest Statistics Pre_Eksperime Post_Eksperime n Post_Kontrol Pre_Kontrol n Valid 24 24 24 24 0 0 0 0 10,2083 13,3333 11,5000 10,2500 ,45036 ,57630 ,39927 ,49728 10,0000 14,0000 11,5000 10,0000 a 14,00 12,00 2,20630 2,82330 1,95604 2,43614 Variance 4,868 7,971 3,826 5,935 Range 11,00 11,00 7,00 10,00 Minimum 5,00 6,00 8,00 6,00 Maximum 16,00 17,00 15,00 16,00 245,00 320,00 276,00 246,00 N Missing Mean Std. Error of Mean Median Mode 10,00 Std. Deviation Sum a. Multiple modes exist. The smallest value is shown One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Pre_Kontrol N Normal Parameters 24 a,b Most Extreme Differences Mean 10,2500 Std. Deviation 2,43614 Absolute ,114 Positive ,114 Negative -,097 Kolmogorov-Smirnov Z ,558 Asymp. Sig. (2-tailed) ,915 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. 8,00 a

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 Descriptives Statistic Mean 95% Confidence Interval for Lower Bound 9,2767 Mean Upper Bound 11,1400 5% Trimmed Mean 10,1759 Median 10,0000 Variance Pre_Eksperimen 10,2083 Std. Deviation Std. Error ,45036 4,868 2,20630 Minimum 5,00 Maximum 16,00 Range 11,00 Interquartile Range 3,00 Skewness ,242 ,472 1,517 ,918 Kurtosis

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 Independent Samples Test Skor_Posttest Equal variances Equal variances assumed Levene's Test for Equality of F Variances 2,432 Sig. ,126 t df Sig. (2-tailed) t-test for Equality of Means not assumed Mean Difference Std. Error Difference -2,615 -2,615 46 40,945 ,012 ,012 -1,83333 -1,83333 ,70110 ,70110 95% Confidence Interval of Lower -3,24458 -3,24930 the Difference Upper -,42209 -,41737

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 Independent Samples Test Skor_Pretest Equal variances Equal variances assumed not assumed Levene's Test for Equality of F ,462 Variances Sig. ,500 t ,062 ,062 46 45,556 ,951 ,951 Mean Difference ,04167 ,04167 Std. Error Difference ,67090 ,67090 df Sig. (2-tailed) t-test for Equality of Means 95% Confidence Interval of Lower -1,30878 -1,30914 the Difference Upper 1,39212 1,39247

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 Lampiran 11 Foto penelitian dan lembar observasi Kelompok eksperimen Kelompok kontrol

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141

(157)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh penggunaan alat peraga dakon terhadap hasil belajar matematika siswa
4
25
161
Implementasi alat peraga pembagian berbasis metode Montessori pada pembelajaran matematika materi pembagian kelas II SD Kanisius Kenalan Magelang.
4
14
253
Persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga papan pin perkalian berbasis metode Montessori.
0
1
175
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi perkalian berbasis metode Montessori.
1
3
262
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa atas penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw II.
0
2
153
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa atas penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw II
0
0
151
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
1
3
133
Pengembangan alat peraga ala Montessori untuk keterampilan geometri matematika kelas III SDN Tamanan I Yogyakarta - USD Repository
0
1
132
Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta - USD Repository
0
0
136
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
1
292
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
381
Pengembangan alat peraga matematika untuk pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori - USD Repository
0
6
178
Pengembangan alat peraga matematika untuk penjumlahan dan pengurangan berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
189
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
286
Tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
1
300
Show more