Daya antibakteri ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun lidah mertua (sansevieria trifasciata prain) terhadap bakteri staphylococcus aureus atcc 25923 dan pseudomonas aeruginosa atcc 27853 - USD Repository

Gratis

0
0
117
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL, FRAKSI ETIL ASETAT, DAN PERASAN DAUN LIDAH MERTUA (Sansevieria trifasciata Prain) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus ATCC 25923 DAN Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Oleh : Palma Aprilia Talino Batuah NIM :108114149 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL, FRAKSI ETIL ASETAT, DAN PERASAN DAUN LIDAH MERTUA (Sansevieria trifasciata Prain) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus ATCC 25923 DAN Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Oleh : Palma Aprilia Talino Batuah NIM :108114149 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN “There is only one way to learn. It’s through action. Everything you need to know you have learn through your journey.” Paulo Coelho Kupersembahkan karya ini untuk : Tuhan Yesus, Ayah dan ibu, kak icha, dek ria, sahabat, dan semua orang yang memerlukan naskah skripsi ini. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat, kasih dan kesempatan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL, FRAKSI ETIL ASETAT, DAN PERASAN DAUN LIDAH MERTUA (Sansevieria trifasciata Prain) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus ATCC 25923 DAN Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Farmasi (S. Farm) program studi fakultas farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Dalam proses pengerjaan skripsi ini, penulis mendapat bimbingan, dukungan, kritik dan saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada: 1. Bapak Ipang Djunarko, M.Sc., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. 2. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., selaku Dosen Pembimbing dan Penguji yang telah memberi bimbingan, dukungan, saran dan meluangkan waktu untuk berdiskusi bersama Penulis dalam proses pembuatan skripsi ini. 3. Dosen Penguji, Bapak Prof. Dr. C. J. Soegihardjo, Apt. yang telah meluangkan waktunya untuk menguji dan memberikan bimbingan, kritik, dan saran yang berhubungan dengan skripsi penulis. v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Dosen Penguji, Ibu Dr. Erna Tri Wulandari, M. Si., Apt. yang telah meluangkan waktunya untuk menguji dan memberikan bimbingan, kritik, dan saran yang berhubungan dengan skripsi penulis. 5. Ibu Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt selaku Kepala Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 6. Ibu Christophori Maria Ratna Rini Nastiti, M. Pharm., Apt., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing dan memberikan semangat kepada Penulis untuk menyelesaikan skripsi Penulis. 7. Bapak Wagiran, Bapak Mukminin, Mas Sigit, Mas Andri beserta Laboran dan karyawan lain yang telah membantu Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 8. Ibu Maria Dwi Jumpowati, S. Si. yang telah bersedia menyediakan waktunya untuk berdiskusi, memberikan saran, dan semangat untuk Penulis. 9. Teman-teman FKK B 2010 Farmasi Universitas Sanata Dharma atas dukungan, semangat, dan canda tawa yang selalu menyeimbangkan kejenuhan yang dialami Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 10. Teman-teman seperjuangan di Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium Farmakognosi Fitokimia yang selalu menemani dan saling mendukung untuk menyelesaikan skripsi ini. 11. Kakak, Adik, dan teman-teman senasib sepenanggungan angkatan 2010 di Asrama Syantikara yang memberikan warna-warni kehidupan bagi Penulis selama menyelesaikan skripsi ini. vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12. Semua pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan satu-persatu yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung demi kelancaran skripsi ini. Penulis menyadari dalam penulisan naskah skripsi ini masih terdapat kekurangan. Penulis membuka diri terhadap kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini dapat menjadi lebih baik. Akhir kata, Penulis berharap agar skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat terutama demi kemajuan ilmu pengetahuan khususnya ilmu Farmasi, lebih khusus lagi dalam bidang Mikrobiologi Farmasi. Penulis vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... iv PRAKATA v ............................................................................................... PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................ viii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ...................................................... ix DAFTAR ISI ............................................................................................... x DAFTAR TABEL ........................................................................................ xiii DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xv INTISARI ............................................................................................... xvii ABSTRACT ............................................................................................... xviii BAB I. PENGANTAR ................................................................................. 1 A. LATAR BELAKANG ........................................................................ 1 1. Rumusan masalah............................................................................ 4 2. Keaslian penelitian .......................................................................... 4 3. Manfaat penelitian .......................................................................... 6 B. TUJUAN PENELITIAN ..................................................................... 6 1. Tujuan umum ................................................................................. 6 2. 6 Tujuan khusus ............................................................................... x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ........................................................... 8 A. Infeksi Luka Bakar .............................................................................. 8 B. Tanaman Sansevieria ........................................................................... 9 C. Ekstraksi .............................................................................................. 11 D. Kromatografi Lapis Tipis ..................................................................... 13 E. Senyawa Fitokimia .............................................................................. 15 F. Staphylococcus aureus ......................................................................... 18 G. Pseudomonas aeruginosa..................................................................... 19 H. Metode Uji Kepekaan Antibakteri ........................................................ 21 I. Landasan Teori .................................................................................... 22 J. Hipotesis .............................................................................................. 23 BAB III. METODE PENELITIAN ............................................................... 24 A. Jenis dan Rancangan Penelitian............................................................ 24 B. Variabel dan Definisi Operasional........................................................ 24 1. Variabel penelitian ............................................................................ 24 2. Definisi operasional ........................................................................... 25 C. Bahan Penelitian .................................................................................. 26 D. Alat Penelitian ..................................................................................... 26 E. Tata Cara Penelitian ............................................................................. 27 1. Determinasi daun S. trifasciata .......................................................... 27 2. Pengumpulan bahan daun S. trifasciata ............................................ 27 3. Pembuatan ekstrak daun S. trifasciata dengan metode maserasi ........ 27 4. Pembuatan fraksi etil asetat daun S. trifasciata dengan metode fraksinasi 28 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Pembuatan perasan daun S. trifasciata ............................................... 28 6. Preparasi mikroba uji ........................................................................ 28 7. Sterilisasi peralatan dan media .......................................................... 29 8. Pengujian potensi antibakteri secara metode difusi sumuran ............. 29 9. Pengujian kepekaan antibiotik dengan menentukan nilai KHM dan KBM dengan dilusi padat ........................................................................... 31 10. Uji fitokimia ekstrak daun S. trifasciata ............................................ 32 11. Kromatografi Lapis Tipis (Uji Penegasan Senyawa Flavonoid) ........ 34 F. Analisis Hasil ...................................................................................... 34 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 36 A. Pengumpulan Bahan dan Identifikasi Daun Sansevieria trifasciata ... 36 B. Penyiapan Bahan Daun S. trifasciata ................................................ 37 C. Maserasi, Fraksinasi, dan Pemerasan Daun S. trifasciata .................. 38 D. Pengujian Potensi Antibakteri Secara Metode Sumuran .................... 41 E. Uji Fitokimia Ekstrak Etanol, Fraksi Etil Asetat dan Perasan Daun S. trifasciata ..................................................................................... 50 F. Uji Penegasan dengan Kromatografi lapis Tipis (KLT) ...................... 55 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 59 A. Kesimpulan ....................................................................................... 59 B. Saran ............................................................................................... 59 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 60 LAMPIRAN ............................................................................................... 65 BIOGRAFI PENULIS ................................................................................. 98 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Rendemen hasil ekstraksi, fraksinasi, dan pemerasan daun S. trifasciata dengan pelarut etanol 96% dan etil asetat .......... 40 Tabel II. Uji aktivitas antibakteri fraksi etil asetat daun S. trifasciata .... 45 Tabel III. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun S. trifasciata ...... 46 Tabel IV. Uji aktivitas antibakteri perasan daun S. trifasciata ................ 48 Tabel V. Hasil uji fitokimia pada ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata ..................................................... Tabel VI. 50 Hasil uji KLT pada ekstrak etanol, fraksi etil asetat dan perasan daun S. trifasciata ............................................... xiii 56

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Tanaman S. trifasciata ................................................................ 37 Gambar 2. Fraksinasi dengan etil asetat........................................................ 40 Gambar 3. Reaksi uji Mayer ......................................................................... 52 Gambar 4. Reaksi flavonoid dengan natrium hidroksida ............................... 53 Gambar 5. Reaksi tanin dengan besi (III) klorida.......................................... 54 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Keterangan Determinasi Tanaman S. trifasciata Prain ... 66 Lampiran 2. Sertifikat Hasil Uji Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 67 Lampiran 3. Sertifikat Hasil Uji Bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 ................................ 68 Lampiran 4. Foto Proses Penyiapan Bahan Daun S. trifasciata ................... 69 Lampiran 5. Kontrol Kontaminasi, Kontrol pertumbuhan bakteri S. aureus, Kontrol pertumbuhan bakteri P. aeruginosa ........................... Lampiran 6. Foto Variasi Konsentrasi Ekstrak Etanol, Fraksi Etil Asetat, dan Perasan Daun S. trifasciata..................................................... Lampiran 7. 70 72 Hasil Uji Antibakteri Fraksi Etil Asetat Daun S. trifasciata terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan Metode Sumuran .................................................................... Lampiran 8. 73 Hasil Uji Antibakteri Fraksi Etil Asetat Daun S. trifasciata terhadap Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 dengan Metode Sumuran .................................................................... Lampiran 9. 74 Hasil Uji Antibakteri Ekstrak Etanol Daun S. trifasciata terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan Metode Sumuran .................................................................... 75 Lampiran 10. Hasil Uji Antibakteri Ekstrak Etanol Daun S. trifasciata terhadap Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 dengan Metode Sumuran .................................................................... 76 Lampiran 11. Hasil Uji Antibakteri Perasan Daun S. trifasciata terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan Metode Sumuran .................................................................... xv 77

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 12. Hasil Uji Antibakteri Perasan Daun S. trifasciata terhadap Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 dengan Metode Sumuran .................................................................... 78 Lampiran 13. Analisis Statistik .................................................................... 79 Lampiran 14. Hasil Uji Tabung Kandungan Fitokimia ................................. 86 Lampiran 15. Uji Penegasan Kandungan Flavonoid dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) .................................................................. xvi 94

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Luka bakar dapat menyebabkan kecacatan, ketidaknyamanan, bahkan kematian bagi penderita. Salah satu penyebab kematian bagi penderita luka bakar adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Tanaman Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata Prain) adalah salah satu tanaman hias yang memiliki banyak manfaat sebagai tanaman antibakteri karena tanaman ini memiliki kandungan fitokimia antara lain saponin, alkaloid, flavonoid, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya antibakteri pada tanaman S. trifasciata dengan pelarut etanol, etil asetat, dan perasan air yang selanjutnya untuk mengetahui Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) terhadap bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. Masing-masing bahan dibuat dalam konsentrasi 100%, 75%, 50%, dan 25% v/v. Uji daya antibakteri pada ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata terhadap bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 dilakukan dengan metode difusi sumuran, untuk mengetahui perbedaan hasil diameter zona jernih tiap konsentrasi dengan kontrol negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat tidak memiliki aktivitas antibakteri pada kedua bakteri. Ekstrak etanol menunjukkan zona jernih pada bakteri S. aureus ATCC 25923 di konsentrasi 100% dan 75%. Setelah dianalisis dengan Kruskal Wallis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan aktivitas antibakteri yang bermakna antara ekstrak etanol daun S. trifasciata dengan kontrol negatif. Pada perasan daun S. trifasciata menunjukkan aktivitas antibakteri yang lemah pada S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 masing-masing di konsentrasi 25%. Pada uji Kruskal Wallis terdapat perbedaan tidak bermakna antara perasan daun S. trifasciata dibandingkan dengan kontrol negatif. Berdasarkan uji kandungan fitokimia, fraksi etil asetat tidak memiliki kandungan saponin, tanin, alkaloid, maupun flavonoid. Ekstrak etanol dan perasan daun S. trifasciata memiliki kandungan flavonoid yang dipertegas dengan uji KLT. Kata kunci : S. trifasciata, luka bakar, daya antibakteri, etanol, etil asetat, perasan xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Burn can cause disabilities, inconvenience, even death for patients. One of the leading causes of death for patients with burn was infection caused by Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeruginosa. Sansevieria trifasciata Prain ornamental plants is one that has many benefits as plants antibacterial because this plant contains phytochemical saponin, alkaloid, flavonoid, and tannin. Research was meant to know antibacterial plant S.trifasciata with solvent ethanol, ethyl acetate, and juice the next to know Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concetration (MBC) against S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. Each items made in concentration 100%, 75%, 50%, and 25% v/v. The antibacterial assay on ethanol extract, ethyl acetate fraction, and juice S.trifasciata leaves against S. aureus ATCC 25923 and P. aeruginosa ATCC 27853 was conducted using diffusion method to determine difference between diameter result each concentration with negative control. Results of the study showed that the ethyl acetate fraction does not have such antibacterial on the two bacteria. Ethanol extract shows a clear zone on S.aureus ATCC 25923 at concentration 100% and 75% in a repetition. After that Kruskal Wallis test shows that there is no significant difference between ethanol extract S. trifasciata leaves with negative control. In juice shows such antibacterial is weak in S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 each in 25%, Kruskal Wallis test was not significant difference compare with negative controls. Based on phytochemical analysis, ethyl acetate fraction S. trifasciata leaves did not contain saponin, tannin, alkaloids, and flavonoids. Ethanol extract and juice S.trifasciata leaves contains flavonoid that confirm with KLT test. Key words : S. trifasciata, burn, antibacterial activity, ethanol, ethyl acetate, juice xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB 1 PENGANTAR A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak keanekaragaman hayati, salah satunya tanaman. Tanaman yang tumbuh di negara Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai obat dan bahan baku obat. Penggunaan tanaman sebagai obat sudah digunakan sejak zaman dahulu dan telah disebarkan secara turun-temurun ataupun dari mulut ke mulut. Menurut Fajiriah, Darmawan, Sundowo, dan Artanti (2007), tanaman secara fungsional tidak lagi digunakan sebagai penghias saja, tetapi juga sebagai tanaman obat yang multi fungsi. Pengobatan yang dilakukan dengan tanaman dipandang sebagai alternatif yang terjangkau sehingga banyak diminati oleh masyarakat. Pada saat ini luka bakar menjadi masalah yang diperhatikan banyak orang. Luka bakar adalah luka pada jaringan yang disebabkan oleh suhu panas, kimia, elektrik, dan radiasi. Luka bakar merupakan suatu masalah karena dapat menyebabkan ketidaknyamanan, kecacatan, dan kematian. Di United State of America (USA) sekitar 2,5 juta orang yang menderita luka bakar memerlukan penanganan medik setiap tahun. Lebih dari 100.000 pasien masuk rumah sakit dan sekitar 12.000 orang meninggal karena luka bakar tiap tahun (Mayhall, 2003). Secara umum, semua luka bakar akan segera mengalami kontaminasi setelah cedera, baik oleh flora endogen atau organisme residen dari fasilitas perawatan (Soedarmo, dkk., 2008). Apabila luka bakar tidak diatasi dengan baik, 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 maka dapat terjadi infeksi. Infeksi merupakan salah satu penyebab kematian pasien infeksi luka bakar yang dapat disebabkan oleh banyak hal, salah satunya bakteri. Bakteri yang sering ditemukan pada penyakit infeksi luka bakar adalah Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa (Church, Elsayed, Reid, Winston, dan Lindsay, 2006). Stafilokokus merupakan organisme penyebab infeksi yang paling dominan, salah satunya pada luka bakar. Menjelang akhir tahun 1950-an, bakteri gram negatif terutama spesies Pseudomonas muncul sebagai organisme dominan. Pseudomonas dapat menyebabkan infeksi pada luka bakar akibat adanya penurunan daya tahan tubuh. (Soedarmo, dkk., 2008). Salah satu alternatif terapi dalam penyembuhan infeksi luka bakar dengan menggunakan tanaman obat yang memiliki kandungan antibakteri. Antibakteri bekerja menghambat serta membunuh bakteri penyebab infeksi tersebut. Keberhasilan penggunaan antibakteri dalam mengobati infeksi sering disertai dengan terjadinya resistensi bakteri, sehingga mengurangi efektifitas antibakteri. Sampai saat ini para peneliti berusaha untuk mengembangkan dan memperbaharui antibakteri. Banyaknya variasi obat antibakteri diharapkan dapat menurunkan resistensi bakteri. Tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata Prain) merupakan salah satu tanaman hias yang sudah mulai banyak dikenal oleh hampir semua masyarakat Indonesia. Selain sebagai tanaman hias, tanaman ini juga dikenal sebagai tanaman antipolutan karena kemampuannya dalam menyerap polutan berbahaya yang terdapat di udara. S. trifasciata dapat tumbuh di dalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor). Spesies lainnya selain S. trifasciata,

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 yaitu S. roxburghiana dan S. liberica juga telah banyak diteliti kandungan dan manfaatnya dalam bidang kesehatan. Pada penelitian Sheela, Jeeva, Shamila, Lekshmi dan Brindha (2012), tanaman Sansevieria jenis S. roxburghiana memiliki kandungan kimia antara lain alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin yang dapat berfungsi sebagai antibakteri. Berdasarkan penelitian dari Philip, Kaleena, Vallivittan, dan Kumar (2011) tanaman S. roxburghiana dapat digunakan untuk pengobatan penyakit infeksi dan diare pada manusia. Menurut Ikewuchi, Ikewuchi, Ayalogu, dan Onyeike (2010), tanaman S. liberica memiliki kandungan flavonoid dan saponin, selain itu juga memiliki kandungan alkaloid dan tanin dalam jumlah yang sedikit. Sama halnya dengan tanaman S. trifasciata dimana dalam penelitian Gitasari (2011), tanaman tersebut memiliki aktivitas dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Pemilihan pelarut dalam ekstraksi harus berdasarkan kemampuannya dalam melarutkan zat aktif dalam bahan tanaman yang digunakan dengan semaksimal mungkin. Etanol dan air merupakan pelarut polar yang dapat melarutkan senyawa polar, seperti flavonoid glikosida, tanin, dan saponin (Lei, Wang, Zhou, dan Duan, 2002). Etil asetat merupakan pelarut yang bersifat semi polar yang dapat melarutkan senyawa flavonoid aglikon yang bersifat kurang polar (Pranoto, Ma’ruf, dan Pringgenies, 2012). Berdasarkan penjelasan di atas, perlu dilakukan pembuktian lebih lanjut untuk memberdayakan tanaman S. trifasciata dalam upaya pengembangan antibakteri dengan pengujian daya antibakteri daun S. trifasciata dengan berbagai pelarut terhadap bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 berupa nilai Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Pembuktian tersebut diharapkan S. trifasciata dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif obat antibakteri. 1. Rumusan masalah a. Apakah ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata memiliki daya antibakteri pada bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853? b. Berapa nilai KHM dan KBM dalam ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata terhadap bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853? 2. Keaslian penelitian Sejauh pengamatan penulis, penelitian mengenai daya antibakteri ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata belum pernah dilakukan. Penelitian sebelumnya terkait dengan daya antibakteri terhadap salah satu jenis tanaman Sansevieria, yaitu S. roxburghiana. Penelitian tentang tanaman S. roxburghiana oleh Sheela, et al. (2012) menunjukkan bahwa daun S. roxburghiana memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Pada penelitian ini daun diekstraksi dengan menggunakan pelarut dietil eter, etanol, dan aseton. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa daun S. roxburghiana mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, dan Escherichia coli. Pada penelitian Philip, et al. (2011) daun dan rhizome tanaman S. roxburghiana memiliki kandungan karbohidrat, saponin, flavonoid, fenol, alkaloid, antosianin, glikosida, dan protein. Tanaman ini diekstraksi dengan

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 menggunakan pelarut metanol, aseton, etil asetat dan air. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak metanol dan aseton daun S. roxburghiana menghambat bakteri gram positif seperti Micrococcus luteus, Bacillus cereus, Enterococcus spp., Staphylococcus aureus, dan bakteri gram negatif seperti Proteus vulgaris, Pseudomonas aeruginosa, Pseudomonas fluorescence, Salmonella typhi, Salmonella paratyphi, Klebsiella pneumoniae, Shigella sonnei dan Escherichia coli, dan juga menghambat jamur yaitu Cryptococcus spp. dan Candida albican. Penelitian lain yang menggunakan tanaman S. trifasciata yang diteliti oleh Gitasari (2011) menunjukkan bahwa tanaman ini hanya dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus saja, dan diduga metabolit lainnya tidak menunjukkan aktivitas penghambatan pada bakteri uji lain. Penelitian ini dilakukan 2 tahap yaitu maserasi dan dilanjutkan dengan fraksinasi menggunakan kromatografi kolom dengan pelarut kloroform:etil asetat (1:6 v/v). Selain itu, pengujian daya antibakteri pada penelitian tersebut menggunakan metode difusi agar cakram (paper disk). Kandungan fitokimia yang terdapat pada ekstrak kasar daun S. trifasciata dalam penelitian ini adalah flavonoid, steroid, dan alkaloid. Perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian sebelumnya adalah bahan tanaman Sansevieria trifasciata yang digunakan berasal dari kebun obat Fakultas Farmasi Sanata Dharma dengan tiga perlakuan. Bahan akan diekstraksi dengan metode maserasi dengan pelarut etanol, fraksinasi dengan pelarut etil asetat dan pemerasan dengan air. Metode pengujian daya antibakteri

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 pada penelitian ini menggunakan metode difusi sumuran dan metode dilusi untuk melihat nilai KHM dan KBM. 3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoretis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi ilmu pengetahuan dalam bidang farmasi tentang khasiat tanaman S. trifasciata sebagai tanaman antibakteri. b. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui daya antibakteri ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata yang dapat dikembangkan menjadi alternatif pengobatan penyakit infeksi luka bakar yang disebabkan oleh bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Memastikan tanaman Sansevieria trifasciata sebagai tanaman yang memiliki daya antibakteri pada bakteri S. aureus ATCC 25923 dan bakteri P. aeruginosa ATCC 27853 untuk dapat menambah alternatif obat antibakteri. 2. Tujuan khusus a. Mengetahui daya antibakteri ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata pada P. aeruginosa ATCC 27853. bakteri S. aureus ATCC 25923 dan

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 b. Mengetahui nilai KHM dan KBM dalam ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata terhadap bakteri S. aureus ATCC 25923 dan bakteri P. aeruginosa ATCC 27853.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Infeksi Luka Bakar Infeksi merupakan akibat dari invasi mikroorganisme patogen ke dalam tubuh dan reaksi jaringan yang terjadi terhadap organisme dan toksinnya. Sebenarnya hanya ada beberapa dari beribu-ribu mikroorganisme di alam ini yang bersifat patogen terhadap manusia. Organisme lainnya berperan sebagai flora normal dan mereka ini menimbulkan daya tahan tubuh alamiah terhadap invasi mikroorganisme patogen (Corwin, 2008). Luka bakar dapat timbul akibat kulit terpapar oleh suhu tinggi, syok listrik, atau bahan kimia. Luka bakar diklasifikasikan berdasar pada kedalaman dan luas daerah yang terbakar. Luka bakar adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak, dan sebagian besar dapat dicegah. Luka bakar yang tidak dicegah maka akan menimbulkan komplikasi yang berarti setiap luka bakar dapat terinfeksi yang menyebabkan cacat lebih lanjut atau kematian. Infeksi adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada pasien yang awalnya bertahan terhadap luka bakar luas. Infeksi luka bakar dapat disebabkan oleh agen-agen penginfeksi salah satu contohnya adalah bakteri. Staphylococcus aureus merupakan penyebab infeksi nosokomial paling sering pada pasien luka bakar di rumah sakit (Corwin, 2008). Luka bakar yang luas memengaruhi metabolisme dan fungsi setiap sel tubuh. Semua sistem terganggu, terutama sistem kardiovaskular. Karena semua 8

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 organ tubuh memerlukan aliran darah yang adekuat, maka perubahan fungsi kardiovaskular memiliki dampak luas pada daya tahan hidup dan pemulihan pasien (Corwin, 2008). B. Tanaman Sansevieria Sansevieria trifasciata (mother-in-laws tongue) merupakan tanaman yang telah banyak ditemukan di Indonesia yang dikenal dengan tanaman lidah mertua. Ada juga yang menjulukinya snake plant (tanaman ular). Hal ini mungkin dikarenakan corak beberapa jenis tanaman ini mirip dengan corak ular (Backer dan Brink, 1968). Klasifikasi tanaman Sansevieria trifasciata Prain. adalah: Kerajaan : Plantae Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga) Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) Bangsa : Liliales Suku : Agavaceae Marga : Sansevieria Jenis : Sansevieria trifasciata Prain. (Plantamor, 2012) Keragaman jenis Sansevieria memang cukup besar. Anggota genus ini mencapai 130-140 spesies bahkan lebih dari 200 spesies. Selain itu snake plant mudah berubah bentuk menjadi penampilan baru yang lebih stabil. Hal seperti ini merupakan penyimpangan yang mendasari tanaman ini memiliki banyak spesies. S. trifasciata merupakan spesies yang paling banyak mengalami penyimpangan.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Saat ini diduga lebih 60 varian dihasilkan. Di Indonesia, S. trifasciata hampir dijumpai hingga pelosok daerah. Sosok tanaman ini lebih menarik, mudah tumbuh, dan jarang mati, meski tidak dipelihara (Purwanto, 2006). Secara morfologi, tanaman Sansevieria pada umumnya dicirikan dengan daun yang tebal karena kandungan airnya yang tinggi. Pada beberapa jenis Sansevieria, daun berkedudukan seperti roset mengelilingi batang semu. Disebut batang semu karena Sansevieria sesungguhnya tidak memiliki batang. Pada jenis yang lain, daun berbentuk silinder. Jenis yang lain mempunyai helaian daun kaku seperti pedang. Sansevieria merupakan tanaman monokotil sehingga memiliki akar serabut. Selain itu, Sansevieria memiliki rhizome yang tumbuh menjalar di atas permukaan tanah atau tumbuh di dalam tanah. Bunga Sansevieria termasuk berumah dua yaitu benang sari dan putik terletak pada bunga yang berbeda. Bunga Sansevieria berbau harum, terlebih pada malam hari, dan mampu bertahan sampai tujuh hari. Biji-biji Sansevieria bersifat diploid yaitu terdapat dua embrio dalam satu biji (Backer dan Brink, 1968). Banyak penelitian yang telah dilakukan terhadap tanaman S. trifasciata mengungkapkan bahwa tanaman ini memiliki banyak kandungan metabolit sekunder. Bagian tanaman ini yang sering digunakan sebagai obat adalah daun dan rhizome. Ekstrak daun S. trifasciata memiliki kandungan flavonoid, steroid dan alkaloid (Gitasari, 2011). Selain itu tanaman ini juga mengandung senyawa saponin, kardenolin dan sedikit senyawa tanin (Dewatisari, 2009). Pada penelitian yang dilakukan oleh Sunilson, et al. (2009), ekstrak etanol dan air daun

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 S. trifasciata mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, terpenoid, tanin, protein, dan karbohidrat. Sansevieria secara umum juga memiliki peranan penting di bidang kesehatan karena kandungan kimia yang beragam pada berbagai jenis tanaman ini. Getah spesies tertentu dipercaya mengandung antiseptik. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan sebagai obat adalah daunnya yang sering digunakan sebagai pembalut luka pada pengobatan tradisional. Daun mentah yang dihancurkan dapat digunakan untuk luka cacar air oleh kelompok etnis asli Afrika. Ekstrak daun biasanya dipergunakan sebagai obat tetes mata dan penyembuhan bila terjadi pembengkakan atau infeksi (Dalimartha, 2006). Pada penelitian yang dilakukan oleh Sunilson, et al. (2009), ekstrak etanol dan air daun S. trifasciata memiliki khasiat analgesik dan antipiretik yang tidak terlalu tinggi, sehingga tanaman S. trifasciata ini dapat dijadikan alternatif pengobatan untuk mengatasi demam dan inflamasi. C. Ekstraksi Dalam analisis fitokimia, harus digunakan jaringan tumbuhan segar yang kemudian dikeringkan sebelum diekstraksi. Bila ini dilakukan, pengeringan tersebut harus dilakukan dalam keadaan terawasi untuk mencegah terjadinya perubahan kimia yang terlalu banyak. Bahan harus dikeringkan secepat-cepatnya, tanpa menggunakan suhu tinggi, lebih baik dengan aliran udara yang baik. Setelah betul-betul kering, tumbuhan dapat disimpan untuk jangka waktu lama sebelum digunakan untuk dianalisis. Tata cara ini telah dilakukan pada herbarium yang

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 telah disimpan bertahun-tahun dalam analisis flavonoid, alkaloid, kuinon, dan terpenoid (Harborne, 1987). Ekstraksi merupakan suatu proses dalam upaya penarikan senyawa kimia dari suatu tanaman, dimana senyawa tersebut akan terlarut dalam cairan pelarut yang sesuai. Ekstrak merupakan hasil dari proses ekstraksi tersebut yang biasanya merupakan sediaan kental. Ekstrak tersebut dapat menjadi sediaan kental karena sebelumnya telah terjadi proses penguapan pelarut dan massa yang tidak diperlukan (Dirjen POM, 2000). Metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut dapat dilakukan dengan cara dingin misalnya pemerasan, maserasi dan perkolasi serta dapat pula dilakukan dengan cara panas seperti soxlet, infusa, reflux, dan digesti. Pemilihan metode dan jenis cairan penyari yang akan digunakan tergantung dari zat aktif yang akan disari. Metode pemerasan digunakan untuk simplisia segar yang diawali dengan penghancuran bahan dengan penambahan air, diperas kemudian disaring. Metode infundasi merupakan cara sederhana untuk menyari kandungan aktif dari simplisia yang larut dalam air panas. Perkolasi umumnya digunakan untuk mengekstraksi serbuk kering terutama simplisia yang keras seperti kulit batang, kulit buah, biji, kayu dan akar. Digesti adalah metode ekstraksi dengan menggunakan pemanasan pada suhu 40°-50° C. Metode ini sangat tepat untuk bahan yang memiliki kandungan zat aktif tahan terhadap panas (Direktorat Obat Asli Indonesia, 2013). Maserasi adalah salah satu metode ekstraksi dengan merendam serbuk simplisisa dalam cairan penyari yang tidak menggunakan proses pemanasan atau

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 disebut juga ekstraksi dingin. Proses pemisahan senyawa dalam simplisia menggunakan pelarut tertentu berdasarkan prinsip like dissolved like, dimana suatu pelarut polar akan melarutkan senyawa polar yang terdapat dalam simplisia tersebut. Cairan penyari yang menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan di luar sel, maka larutan yang terpekat didesak ke luar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di dalam dan di luar sel (Pratiwi, 2008). D. Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan metode pilihan teknik pemisahan kandungan tumbuhan bentuk kromatografi planar. Metode KLT ini lebih khas dibandingkan kromatografi lainnya seperti kromatografi kertas karena kepekaan, kecepatan, dan dapat lebih dapat dimodifikasi. Kepekaan KLT memungkinkan proses pemisahan dapat dilakukan dengan jumlah bahan yang lebih sedikit menggunakan ukuran µg. Kecepatan KLT lebih besar karena menggunakan fase diam yang lebih padat bila diaplikasikan pada plat. Metode KLT dapat dimodifikasi, artinya selain dengan fase diam selulosa, beberapa fase diam yang lain juga dapat diaplikasikan pada plat kaca atau penyangga lainnya (Harborne, 1987). Penggunaan KLT dalam beberapa bidang digunakan untuk mengidentifikasi senyawa dan menentukan banyaknya komponen dalam campuran. Secara kualitatif, analisis KLT parameter yang digunakan untuk

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 identifikasi adalah nilai Rf. Nilai Rf ini dapat diketahui dengan membandingkan jarak yang ditempuh solut dengan jarak yang ditempuh oleh fase gerak. Apabila dua senyawa memiliki nilai Rf yang sama maka dua senyawa tersebut merupakan dua senyawa yang identik jika diukur pada kondisi KLT yang sama (Gandjar dan Rohman, 2007). Fase diam yang biasanya digunakan dalam KLT adalah silika dan selulosa. Fase diam merupakan penjerap berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 µm. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik kinerja KLT dalam proses pengelusiannya. Pengaplikasian fase diam dilakukan diatas plat kaca, gelas, atau aluminium pada ketebalan tertentu, biasanya dengan ketebalan 250 µm. Fase gerak pada KLT merupakan campuran 2 pelarut organik agar daya elusi campuran tersebut dapat disesuaikan sehingga terjadi pemisahan secara optimal. Pada bahan yang bersifat polar seperti campuran metanol dan air sebaiknya menggunakan campuran pelarut sebagai fase gerak (Gandjar dan Rohman, 2007). Tahap pertama dalam pelaksanaan KLT adalah penotolan sampel pada plat yang telah disapukan fase diam. Proses penotolan tidak memerlukan sampel dalam jumlah yang banyak, karena proses kromatografi akan menjadi tidak optimal. Penotolan yang tidak tepat akan memberikan hasil yang bias seperti bercak yang menyebar. Tahap selanjutnya adalah tahap pengembangan, dimana plat yang telah ditotolkan sampel dimasukkan ke dalam bejana kromatografi yang telah diisikan fase gerak. Bejana kromatografi sebelumnya harus dijenuhkan dengan fase gerak dan harus tertutup rapat (Gandjar dan Rohman, 2007).

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Jarak yang ditempuh solut Rf = Jarak yang ditempuh fase gerak (Gandjar dan Rohman, 2007). E. Senyawa Fitokimia Beberapa senyawa fitokimia dalam tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat merupakan hasil metabolisme sekunder tanaman tersebut. Metabolisme sekunder berbeda dari metabolisme primer yang berupa asam amino, karbohidrat, nukleotida dan lemak. Hasil dari metabolisme sekunder berupa flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan lain-lain, dimana digunakan oleh tanaman untuk melindungi diri dari serangan bakteri, jamur, dan hama lainnya. Hampir semua tanaman mempunyai hasil metabolisme sekunder namun akan berbeda kandungannya tergantung dari spesies dan kadarnya tergantung dari lingkungan tempat tanaman hidup (Lenny, 2006). Flavonoid merupakan golongan terbesar dari senyawa fenol yang bersifat polar, sehingga pada umumnya mudah larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol, dan aseton. Senyawa fenol memiliki sifat efektif menghambat pertumbuhan virus, bakteri, dan jamur. Mekanisme flavonoid dalam menghambat pertumbuhan bakteri, yaitu dengan merusak permeabilitas dinding sel, mikrosom, dan lisosom. Adanya gugus hidroksil pada gugus flavonoid dapat menyebabkan perubahan komponen organik dan transpor nutrisi yang akhirnya akan mengakibatkan timbulnya efek toksik bagi bakteri (Sabir, 2005).

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 Menurut Stahl (cit., Herlianawati, 2005), fase gerak yang biasa digunakan untuk menghasilkan pemisahan yang baik pada lempeng selulosa adalah fase atas dari campuran butanol : asam asetat : air (40 : 50 : 10) v/v. Pembanding baku yang biasanya digunakan pada kromatogram adalah rutin. Rutin merupakan senyawa glikosida flavonol yang sangat umum terdapat dalam tumbuhan (Harborne, 1987). Tanin adalah senyawa polifenol yang dapat membentuk kompleks dengan protein. Tanin terdapat luas dalam tumbuhan yang letaknya terpisah dari enzim dan sitoplasma. Tanin dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tanin terkondensasi dan tanin terhidrolisis. Tanin terhidrolisis dapat dihidrolisis oleh asam atau enzim seperti tannase. Tanin terkondensasi tidak terhidrolisis menjadi molekul yang lebih sederhana dan tidak mengandung gugus gula (Trease dan Evans, 2002). Mekanisme tanin dalam menghambat pertumbuhan bakteri adalah dengan menghambat pembentukan dinding sel, sehingga sel bakteri akan mati akibat lisisnya sel bakteri karena tekanan osmotik maupun fisik (Ngajow, Abidjulu, dan Kamu, 2013). Tanin merupakan senyawa asam karboksilat fenol yang dapat dipisahkan menggunakan fase diam silika gel atau selulosa. Fase gerak yang digunakan dalam identifikasi senyawa tanin bermacam ragam. Fase gerak yang umum digunakan adalah toluene : etil format : asam format (50 : 40 : 10) v/v (Harborne, 1987). Alkaloid merupakan senyawa organik yang berasal dari alam yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen. Di alam, alkaloid terdapat dalam

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 bentuk bebas, sebagai garam dan N-Oksida. Sebagian besar alkaloid berasa pahit dan mudah larut dalam pelarut organik (Harborne, 1987). Alkaloid berperan sebagai antibakteri dengan mengganggu komponen penyusun peptidoglikan yang menyebabkan lapisan dinding sel tidak terbentuk sehingga berdampak pada kematian sel (Farida, Dewa, Titis, dan Endrawati, 2010). Menurut Stahl (cit., Herlianawati, 2005), pemisahan alkaloid secara KLT dapat menggunakan fase diam silika gel, alumina, selulosa atau kieselguhr. Alkaloid secara umum dapat dideteksi secara visibel. Reagen yang biasa digunakan adalah reagen Dragendorf yang akan menghasilkan warna cokelat atau orange (visibel) yang tidak stabil ketika dilakukan penyemprotan reagen. Saponin tersebar luas di berbgai jenis tumbuhan. Keberadaan saponin sangat mudah ditandai dengan pembentukan larutan koloidal dengan air apabila digojog menimbulkan buih yang stabil (Gunawan dan Mulyani, 2004). Saponin bekerja sebagai antibakteri dengan mengganggu stabilitas membran sel sehingga menyebabkan sel lisis. Bakteri mengalami kerusakan membran sel dan menyebabkan keluarnya berbagai komponen penting dari dalam sel bakteri yaitu protein, asam nukleat dan nukleotida (Darsana, Besung, dan Mahatmi, 2012). Menurut Stahl (cit., Herlianawati, 2005), pengujian KLT untuk saponin menggunakan fase gerak seperti campuran kloroform : metanol : air (65 : 35 : 10) v/v untuk memisahkan campuran glikosida terpenoid yang netral. Fase diam yang sering digunakan adalah silika gel.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 F. Staphylococcus aureus Taksonomi dari bakteri Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut : Kerajaan : Bacteria Filum : Firmicutes Kelas : Cocci Bangsa : Bacillales Suku : Staphylococcaceae Marga : Staphylococcus Jenis : Staphylococcus aureus (National Center for Biotechnology Information, 2014) Staphylococcus aureus merupakan salah satu genus stafilokokus yang berkaitan dengan medis. Perbedaan S. aureus dengan spesies yang lain adalah bakteri ini bersifat Gram positif. S. aureus adalah pathogen utama pada manusia. Hampir setiap orang pernah mengalami infeksi S. aureus selama hidupnya, dari keracunan makanan yang berat atau infeksi kulit yang kecil, sampai infeksi yang tidak bisa disembuhkan. Secara umum bakteri stafilokokus tumbuh dengan cepat pada berbagai tipe media dan dengan aktif melakukan metabolisme, melakukan fermentasi karbohidrat dan menghasilkan bermacam-macam pigmen dari warna putih hingga kuning gelap. S. aureus sering menghemolisis darah, mengkoagulasi plasma dan menghasilkan berbagai enzim ekstraseluler dan toksin. S. aureus cepat menjadi resisten terhadap beberapa antimikroba dan ini merupakan masalah besar pada terapi (Brooks, Butel, dan Morse, 2001).

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Bakteri S. aureus pertama kali diteliti oleh seorang ahli fisika dari Jerman, Anton Rosenbach pada tahun 1884. Bakteri ini merupakan bakteri non motil (tidak bergerak), tidak memiliki spora dan memiliki struktur seperti anggur. Ukuran diameter selnya sekitar 1 mikrometer, jadi hanya dalam jarak 1 millimeter bakteri ini terdiri atas 1000 sel. Bakteri S. aureus terdapat di kulit dan membran mukosa. Selain itu S. aureus juga dapat hidup berkoloni di membran nasal karena bakteri ini suka hidup di tempat yang hangat dan lembab. S. aureus memiliki dinding sel yang tebal dibandingkan dengan bakteri lainnya. Hal ini menjadi salah satu penyebab obat antibakteri sulit masuk ke dalam sel dan membunuhnya. (Freeman-Cook dan Freeman-Cook, 2006). Infeksi S. aureus dapat juga berasal dari kontaminasi langsung dari luka, misalnya pasca operasi infeksi stafilokokus atau infeksi yang menyertai trauma osteomielitis kronik setelah patah tulang terbuka, meningitis yang menyertai patah tulang tengkorak. Jika S. aureus menyebar dan terjadi bakterimia, maka biasanya terjadi endokarditis, osteomielitis hematogenus akut, meningitis atau infeksi paruparu (Brooks, et al., 2001). G. Pseudomonas aeruginosa Taksonomi dari bakteri Pseudomonas aeruginosa adalah sebagai berikut: Kerajaan : Bacteria Filum : Proteobacteria Kelas : Gammaproteobacteria Bangsa : Pseudomonadales

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Suku : Pseudomonadaceae Marga : Pseudomonas Jenis : Pseudomonas aeruginosa (National Center for Biotechnology Information, 2014) Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri Gram negatif, motil, aerobik, beberapa galur memproduksi pigmen larut air. P. aeruginosa sering ada dalam jumlah sedikit pada flora normal usus dan kulit manusia dan merupakan patogen utama dari kelompok jenis pseudomonas. P. aeruginosa bersifat invasive dan toksigenik, mengakibatkan infeksi pada pasien dengan penurunan daya tahan tubuh, dan merupakan patogen nosokomial yang penting. P. aeruginosa tersebar luas di alam dan biasanya ada di lingkungan lembab di rumah sakit. P. aeruginosa dapat bersifat saprofit pada orang sehat, tetapi dapat menyebabkan penyakit pada manusia yang memiliki ketahanan tubuh yang tidak normal (Brooks, et al., 2001). Ciri-ciri dari bakteri ini adalah berbentuk batang dengan ukuran 0,6 x 2 mikrometer. Merupakan bakteri gram negatif yang terlihat sebagai bentuk batang tunggal, ganda, dan kadang-kadang dalam rantai pendek. Pseudomonas aeruginosa bersifat aerobik obligat yang tumbuh dengan cepat pada berbagai tipe media, kadang memproduksi bau manis (corn taco-like odor). Beberapa galur menghemolisis darah. Pseudomonas aeruginosa tumbuh baik pada 37-42°C. Pseudomonas aeruginosa pada biakan dapat memproduksi berbagai kelompok koloni. Dari bentuk koloni yang berbeda mungkin juga memiliki aktivitas biokimia dan enzimatik yang berbeda, dan memberi kepekaan yang berbeda terhadap antimikroba (Brooks, et al., 2001).

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 H. Metode Uji Kepekaan Antibakteri Dalam tahun-tahun belakangan ini, bakteri yang resisten terhadap obat telah menyebabkan beberapa wabah infeksi yang serius, dengan banyak kematian. Hal ini menyebabkan perlunya program survailans nasional dan internasional untuk memantau resistensi antimikroba pada bakteri, dengan uji kepekaan menggunakan metode yang dapat dipercaya dan menghasilkan data yang sebanding. Ketersediaan informasi mikrobiologis dan epidemiologis akan membantu klinisi dalam memilih obat antimikroba yang sesuai untuk pengobatan infeksi mikroba (Vandepitte, et al., 2003). Prinsip umum pada uji kepekaan antimikroba adalah mengukur kemampuan zat antimikroba untuk menghambat pertumbuhan bakteri in vitro. Kemampuan ini dapat diperkirakan melalui metode pengenceran (dilusi) dan metode difusi. Pada uji difusi, cakram kertas atau sumuran yang diresapi antibiotik dalam jumlah tertentu, diletakkan pada media agar yang telah ditanami organisme uji secara merata. Suatu gradien konsentrasi zat antimikroba yang terbentuk oleh difusi dari cakram atau sumuran dan pertumbuhan organisme uji dihambat pada suatu jarak dari cakram atau sumuran yang terkait dengan kepekaan organisme, disamping faktor-faktor lain (Vandepitte, et al., 2003). Prinsip metode dilusi adalah larutan uji diencerkan hingga diperoleh beberapa konsentrasi, kemudian masing-masing konsentrasi larutan uji ditambahkan suspensi bakteri dalam media. Pada dilusi padat, tiap konsentrasi larutan uji dicampurkan ke dalam media agar (Brooks, et al., 2001).

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 I. Landasan Teori Infeksi luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi sehingga memerlukan penatalaksanaan khusus dalam upaya penyembuhannya. Bakteri S. aureus dan P. aeruginosa merupakan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi luka bakar. Kedua bakteri ini terdapat dalam kulit manusia dan dapat menjadi patogen apabila terjadi penurunan daya tahan tubuh pada manusia. Sehubungan dengan itu diperlukan eksplorasi tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri yang dapat menjadi alternatif dalam penyembuhan luka bakar. Sansevieria dikenal sebagai tanaman hias dan memiliki banyak variasi jenis. Salah satu jenis tanaman hias yang banyak terdapat di Indonesia adalah S. trifasciata. Kandungan kimia yang terdapat dalam tanaman S. trifasciata yang berfungsi sebagai senyawa antibakteri antara lain alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin (Qomariyah, Sarto, dan Pratiwi, 2012). Proses ekstraksi menggunakan pelarut untuk mengambil senyawa yang sesuai dengan tingkat kepolarannya. Pelarut etanol dan air merupakan pelarut polar yang dapat mengambil senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin. Pelarut semi polar seperti etil asetat dapat menarik senyawa flavonoid aglikon (Pranoto, et al., 2012). Dalam menguji aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode difusi dan metode dilusi. Metode difusi dalam uji aktivitas antibakteri dapat dilihat dengan adanya zona jernih atau zona hambat. Metode dilusi untuk dapat mengetahui nilai KHM dan KBM pada suatu senyawa

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 antibakteri, sehingga dapat diketahui dosis yang sesuai untuk pengobatan dengan tanaman S. trifasciata. Pengujian ini dilakukan untuk melihat aktivitas kandungan dari tanaman S. trifasciata dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. J. Hipotesis Ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata memiliki daya antibakteri terhadap S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap pola satu arah. Penelitian eksperimental merupakan penelitian dengan membandingkan kelompok murni perlakuan dan kelompok kontrol. Rancangan penelitian ini dilakukan dengan pemilihan sampel acak dan memiliki satu variabel bebas. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia dan Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. B. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variable penelitian a. Variabel bebas : berbagai konsentrasi ekstrak, fraksi dan perasan daun Sansevieria trifasciata : 100, 75, 50, 25 % v/v. b. Variabel tergantung : diameter zona jernih pertumbuhan S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. c. Variabel pengacau terkendali : media penanaman bakteri, suhu inkubasi (37 ºC) dan lama inkubasi (24 jam), kepadatan suspensi bakteri yang dilakukan uji setara dengan larutan Mc Farland II (6.108 CFU/mL), asal daun S. trifasciata, suhu penyimpanan bahan ekstrak daun S. trifasciata, umur tanaman, tinggi tanaman (70 - 90 cm), lebar tanaman ( 3 - 4 cm), warna tanaman (hijau tua dengan corak tepi kuning). 24

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 d. Variabel pengacau tidak terkendali : kelembaban ruang penyimpanan ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata. 2. Definisi operasional a. Daun Sansevieria trifasciata adalah daun tanaman hias jenis Sansevieria yang kaku dan keras, permukaan licin, ujung daun runcing, warnanya hijau, panjang 30 - 120 cm, lebar 2,5 - 8 cm, kedua permukaan daun terdapat garisgaris bergelombang berwarna hijau yang letaknya melintang, dan tepi daun berwarna kuning. b. Ekstrak etanol daun S. trifasciata adalah daun S. trifasciata basah yang dimaserasi dengan pelarut etanol 96% dengan menggunakan shacker selama 24 jam, lalu dipekatkan dengan rotary evaporator. c. Fraksi etil asetat daun S. trifasciata adalah ekstrak etanol daun S. trifasciata yang dilarutkan dengan aquadest, lalu difraksinasi dengan pelarut etil asetat dengan menggunakan corong pisah, lalu dipekatkan dengan rotary evaporator. d. Perasan daun S. trifasciata adalah daun S. trifasciata basah yang dihaluskan dengan menggunakan blender serta ditambahkan air secukupnya, lalu diperas dengan menggunakan kain. e. Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif yang diperoleh dari Laboratorium Balai Kesehatan Yogyakarta dengan nomor ATCC 25923. f. Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri gram negatif yang diperoleh dari Laboratorium Balai Kesehatan Yogyakarta dengan nomor ATCC 27853.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 g. Daya antibakteri adalah kekuatan ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata dalam menghambat dan membunuh S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 yang memiliki perbedaan bermakna dibandingkan dengan kontrol negatif (DMSO 5%) berupa zona jernih. h. Zona jernih adalah zona atau daerah pada media yang menunjukkan penghambatan pertumbuhan bakteri oleh suatu antibakteri. C. Bahan Penelitian Daun tumbuhan S. trifasciata yang diperoleh dari kebun obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, aquadest dari Laboratorium Kimia Organik, etil asetat (General Labora®), etanol 96% teknis (General Labora®), suspensi bakteri S. aureus ATCC 25923, suspensi bakteri P. aeruginosa ATCC 27853, dimethyl-sulfhoxide (DMSO) 5% (Merck®), larutan standar Mc Farland II, perak sulfadiazine (Burnazin®), media Nutrient Agar (NA) (Oxoid®). D. Alat Penelitian Alat-alat gelas, yaitu Erlenmeyer, tabung rekasi, corong, labu ukur, pipet tetes, cawan petri, batang pengaduk, gelas ukur, sendok, pelubang sumuran 6 mm, blender (Cosmos®), Platform Shaker (Innova™ 2100), autoclave (Model KT-40, ALP Co. Ltd Hamurasi Tokyo Japan), oven (memmert), rotary evaporator (Janke dan Kunkel, Ika-labotechnik, RV 05-ST), inkubator (Mammert tipe BE 400,

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 GmbH + CoKG-D91126, Swahaban FRG Germany microbiological safety cabinet), neraca analitik (Scaltec Instruments Heiligen stadt Germany), mikropipet, paper disc, vortex mixer, spreader, pinset, flakon, tempat pengembang (Chamber) KLT, penyangga lempeng kaca, kertas saring, lempeng kaca kromatografi lapis tipis. E. Tata Cara Penelitian 1. Determinasi daun S. trifasciata Daun S. trifasciata dideterminasi dengan mencocokkan ciri-ciri tanaman dengan tanaman S. trifasciata menggunakan pustaka acuan Backer dan Brink (1968). 2. Pengumpulan bahan daun S. trifasciata Daun S. trifasciata diperoleh dari kebun obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Daun yang akan digunakan diambil pada pagi hari. Kriteria daun yang diambil adalah memiliki panjang daun 70 – 90 cm, lebar daun 3 – 4 cm, dan warna daun hijau tua dengan tepi corak berwarna kuning. Daun S. trifasciata dicuci dengan air mengalir dan dipotong kecil-kecil ukuran 1 x 1 cm. lalu dibuat tiga perlakuan. 3. Pembuatan ekstrak etanol daun S. trifasciata dengan metode maserasi Sebanyak 100 gram bahan daun segar yang telah dipotong kecil-kecil, lalu dihaluskan dengan blender. Bahan selanjutnya dimasukkan dalam Erlenmeyer dan ditambahkan pelarut etanol 96% sampai bahan terendam semua. Erlenmeyer ditutup rapat dengan alumunium foil, lalu digojog dengan menggunakan shaker

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 selama 24 jam. Selanjutnya bahan disaring dengan menggunakan corong Buchner, lalu dipekatkan dengan rotary evaporator, disimpan dalam lemari pendingin. 4. Pembuatan fraksi etil asetat daun S. trifasciata dengan metode fraksinasi Sebanyak 100 gram bahan daun segar yang telah dipotong kecil-kecil, lalu dihaluskan dengan blender. Bahan selanjutnya dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambahkan pelarut etanol 96% sampai bahan terendam semua. Erlenmeyer ditutup rapat dengan alumunium foil, lalu digojog dengan menggunakan shaker selama 24 jam. Selanjutnya bahan disaring dengan menggunakan corong Buchner, lalu dipekatkan dengan suhu 40°C. Bahan yang telah dipekatkan, ditambah dengan aquadest sampai seluruh ekstrak larut sempurna, lalu dimasukkan ke dalam corong pisah. Ditambahkan pelarut etil asetat dengan jumlah yang sebanding dengan jumlah air yang ditambahkan ke dalam ekstrak etanol (perbandingan 1:1), lalu corong pisah ditutup untuk selanjutnya digojog. Fase etil asetat yang diperoleh kemudian ditampung, lalu dipekatkan dengan rotary evaporator dan disimpan pada lemari pendingin. 5. Pembuatan perasan daun S. trifasciata Sebanyak 100 g bahan daun segar yang telah dipotong kecil-kecil, selanjutnya dihaluskan dengan penambahan aquadest menggunakan blender. Bahan diperas dengan menggunakan kain saring. 6. Preparasi mikroba uji Bakteri diperoleh dari Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta. Bakteri yang digunakan adalah P. aeruginosa ATCC 27853 yang merupakan bakteri gram negatif dan bakteri S. aureus ATCC 25923 yang merupakan bakteri

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 gram positif. Mikroba uji disetarakan kekeruhannya dengan larutan standar Mc Farland II dengan konsentrasi mikroba 6x108 CFU/mL. 7. Sterilisasi peralatan dan media Peralatan yang digunakan dalam penelitian, terutama yang berhubungan dengan bakteri uji seperti: tabung reaksi, cawan petri, jarum ose, pipet ukur, flakon, dan lain-lain disterilisasi dengan menggunakan autoklaf selama 20 menit. Media NA yang digunakan disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit. 8. Pengujian potensi antibakteri secara metode difusi sumuran a. Penyiapan larutan uji Ekstrak etanol daun S. trifasciata dibuat berbagai variasi konsentrasi. Konsentrasi yang dibuat adalah 100 %, 75 %, 50 %, dan 25 % v/v. DMSO 5% digunakan sebagai pelarut untuk membuat tingkat konsentrasi. Hal yang sama juga dilakukan pada fraksi etil asetat dan perasan air. b. Penyiapan larutan perak sulfadiazine (Burnazin®) sebagai kontrol positif Kontrol positif yang digunakan adalah krim perak sulfadiazine (Burnazin®). Konsentrasi kontrol positif yang dibuat adalah 1 %. Sebanyak satu gram krim Burnazin® dilarutkan menggunakan DMSO 5% ke dalam labu ukur 100 mL, kemudian divortex. c. Penanaman isolat Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 dan Staphylococcus aureus ATCC 25923 secara pour plate (metode tuang) Suspensi bakteri P. aeruginosa ATCC 25923 dan S. aureus ATCC 25923 ditambahkan sebanyak 0,5 mL ke dalam media NA

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 secara aseptis. Selanjutnya media NA yang telah dicampur suspensi bakteri dituang ke dalam cawan petri yang telah steril. Perlu dilakukan penggoyangan untuk memastikan suspensi bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 tercampur secara homogen dengan media NA. Setelah memadat, diinkubasi secara terbalik selama 24 jam. d. Pembuatan kontrol kontaminasi dan kontrol pertumbuhan bakteri uji Uji potensi antibiotik secara difusi sumuran terlebih dahulu dibuat kontrol pertumbuhan bakteri uji, kontrol pelarut, kontrol kontaminasi. Kontrol pertumbuhan bakteri uji S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 dibuat dengan mengambil 0,5 mL masingmasing bakteri uji dan ditambahkan ke dalam media nutrient agar. Media NA yang telah ditambahkan suspensi bakteri dituang ke dalam cawan petri steril secara aseptis dan dibiarkan sampai memadat. Setelah agak mengering diinkubasi secara terbalik selama 24 jam. Kontrol pelarut dilakukan dengan membuat lubang sumuran dalam cawan petri yang telah berisi media yang diinokulasikan bakteri uji secara aseptis dan diisi pelarut DMSO 5%. Kontrol kontaminasi dilakukan dengan cara menuangkan media NA ke dalam cawan petri steril. e. Uji potensi antibiotik secara difusi sumuran Secara aseptis, dibuat enam lubang sumuran dengan menggunakan pelubang sumuran 6 mm pada permukaan media NA yang diatur dengan jarak tertentu. Ekstrak etanol daun S. trifasciata dengan berbagai konsentrasi (100 %, 75 %, 50 %, dan 25 % v/v) diisikan pada sumuran. Setelah diinkubasi

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 selama 24 jam dengan suhu 37 ºC, cawan petri diamati zona jernih yang dihasilkan. Daya antibakteri diamati berdasarkan diameter zona jernih yang terbentuk dibandingkan dengan kontrol pelarut DMSO 5% diukur dengan menggunakan penggaris. Hal yang sama juga dilakukan pada fraksi etil asetat dan perasan air. 9. Pengujian kepekaan antibiotik dengan menentukan nilai KHM dan KBM dengan dilusi padat Penentuan nilai KHM dan KBM dilakukan dengan melakukan metode dilusi padat. Metode ini dilakukan dengan menambahkan ekstrak etanol daun S. trifasciata pada masing-masing konsentrasi yang menunjukkan zona jernih pada uji potensiasi ke dalam tabung berisi 15 mL media NA dan 0,5 mL suspensi bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. Selanjutnya tabung tersebut dituang ke dalam cawan petri dengan metode pour plate. Setelah masa inkubasi, kekeruhan yang menunjukkan kepadatan pertumbuhan bakteri diamati dan diberi penilaian menggunakan notasi (+) dan (-) jika tidak ada tampak pertumbuhan bakteri pada media agar tersebut. Dari pengamatan kekeruhan, dilakukan uji penegasan hasil dengan dengan memilih cawan petri dengan tingkat kekeruhan (-) dan tingkat kekeruhan (+). Selanjutnya, media agar yang memiliki tingkat kekeruhan (-) dicuplik 1 ose lalu ditanam pada media agar baru dengan metode streak plate. Hal yang sama juga dilakukan pada fraksi etil asetat dan perasan air. Hasil uji yang digunakan adalah semua media yang memberikan kejernihan media secara visual. KHM adalah konsentrasi terkecil yang dapat

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 menghambat bakteri, ditandai dengan S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 masih dapat tumbuh pada hasil streak plate, sedangkan KBM adalah konsentrasi terkecil yang dapat membunuh bakteri, ditandai dengan keadaan S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 sudah tidak dapat tumbuh pada hasil streak plate yang menandakan bakteri uji mati karena larutan uji dengan konsentrasi tersebut. 10. Uji fitokimia ekstrak daun S. trifasciata Uji fitokimia yang dilakukan adalah uji saponin, alkaloid, flavonoid dan tanin. Kandungan senyawa fitokimia yang diuji memiliki sifat sebagai antibakteri. a. Uji saponin Uji busa : ekstrak etanol daun S. trifasciata diambil sebanyak satu mililiter, ditambahkan lima mililiter air destilasi dan dikocok dalam tabung reaksi selama 15 menit. Terbentuknya layer berupa busa setebal satu sentimeter pada bagian atas menunjukkan adanya saponin. Hal yang sama dilakukan pada fraksi etil asetat dan perasan daun S. trifasciata (Philip, et al., 2011). b. Uji alkaloid Uji Mayer : ekstrak etanol daun S. trifasciata diambil sebanyak dua mililiter, ditambahkan dua mililiter asam klorida 1%. Selanjutnya ditambahkan lima tetes reagen Mayer. Terbentuknya endapan warna hijau atau putih menunjukkan indikasi adanya alkaloid. Hal yang sama juga dilakukan pada fraksi etil asetat dan perasan daun S. trifasciata (Philip, et al., 2011).

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 c. Uji flavonoid Uji asam sulfat : ekstrak etanol daun S. trifasciata diambil satu mililiter, ditambahkan dengan asam sulfat pekat dan diamati perubahan warna menjadi orange. Hal yang sama juga dilakukan pada etil asetat dan perasan daun S. trifasciata (Philip, et al., 2011). Uji natrium hidroksida : ekstrak etanol daun S. trifasciata diambil satu mililiter, ditambahkan natrium hidroksida dan diamati perubahan warna menjadi kuning. Hal yang sama juga dilakukan pada fraksi etil asetat dan perasan daun S. trifasciata (Asih, 2009). d. Uji tannin Uji besi (III) klorida : ekstrak etanol daun S. trifasciata diambil satu mililiter, ditambahkan dua mililiter besi (III) klorida 5%. Terbentuknya warna biru tua atau hijau kehitaman mengindikasikan adanya tanin. Hal yang sama juga dilakukan pada fraksi etil asetat dan perasan daun S. trifasciata (Philip, et al., 2011). Uji dengan larutan gelatin 1 % : ekstrak etanol daun S. trifasciata diambil sebanyak tiga mililiter, ditambahkan ke dalam sepuluh mililiter aquadest, dipanaskan selama 30 menit di atas waterbath. Setelah itu, hasil pemanasan, disaring dengan kertas saring sebanyak lima mililiter. Hasil saringan tersebut ditambahkan dengan natrium klorida 2% sebanyak satu mililiter. Apabila terdapat endapan disaring dengan kertas saring. Selanjutnya hasil saringan ditambahkan dengan gelatin 1% sebanyak lima mililiter. Apabila terdapat endapan, maka

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 mengindikasikan adanya tanin. Hal yang sama juga dilakukan pada fraksi etil asetat dan perasan daun S. trifasciata (Sangi, Momuat, Kumaunang, 2012). 11. Kromatografi Lapis Tipis (Uji Penegasan Senyawa Flavonoid) Fase diam yang digunakan adalah selulosa dan fase gerak yang digunakan adalah n-butanol : asam asetat glasial : air (40 : 10 : 50) v/v. Ekstrak etanol daun S. trifasciata ditotolkan sebanyak tiga mikroliter pada plat kaca KLT. Pembuatan standar rutin dengan melarutkan 10 mg serbuk rutin dengan satu mililiter etanol pra analisis 70 %. Standar rutin selanjutnya ditotolkan sebanyak tiga mikroliter pada plat KLT. Hasil KLT dideteksi pada panjang gelombang 254 nm, 365 nm, pereaksi uap amonia, dan pereaksi semprot besi (III) klorida. Hal yang sama juga dilakukan pada fraksi etil asetat dan perasan air. F. Analisis Hasil Berdasarkan uji potensi antibiotik, didapatkan data diameter zona jernih yang kemudian diuji normalitas distribusi data tersebut dengan metode analisis Shapiro-Wilk. Kriteria distribusi normal dilihat dari nilai kebermaknaan (p) > 0,05. Apabila distribusi normal, dianalisis statistic one way ANNOVA yang dilanjutkan dengan LSD test untuk mengetahui adanya kebermakaan dalam perbedaan hasil diameter zona jernih tiap konsentrasi uji dengan kontrol negatif. Apabila distribusi tidak normal, dianalisis dengan metode Kruskal-Wallis yang dilanjutnya dengan uji Post Hoc untuk melihat adanya kebermaknaan dalam perbedaan hasil diameter zona jernih tiap konsentrasi dengan kontrol negatif.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Berdasarkan data uji aktivitas antibakteri, dianalisis secara deskriptif untuk menentukan KHM dan KBM. Analisis deskriptif dengan disertai data pendukung berupa foto-foto dan disajikan dalam bentuk tabel.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengumpulan Bahan dan Identifikasi Daun Sansevieria trifasciata Tanaman Sansevieria trifasciata yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari Kebun Tanaman Obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Bahan tanaman yang digunakan terletak jauh dari jalan raya, sehingga dianggap tidak mengalami kontak langsung dengan polusi udara. Hal ini menjadi perhatian karena tanaman S. trifasciata juga berfungsi sebagai antipolutan yang menyerap racun yang berbahaya bagi kesehatan. Apabila mengandung racun tanaman ini dapat membahayakan bila diolah menjadi salah satu alternatif pengobatan. Determinasi tanaman bertujuan untuk memastikan bahwa tanaman yang digunakan benar-benar merupakan tanaman S. trifasciata. Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Kebun Tanaman Obat , Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma menggunakan acuan Backer dan Brink (1968). Hasil determinasi tersebut, tanaman Sansevieria yang digunakan dalam penelitian ini memiliki jumlah daun pada tiap tanaman dua hingga enam daun, daun tebal berdaging sehingga kaku, berwarna hijau tua dengan tepi daun berwarna kuning, bentuk daun linear-lanset, ukuran panjang 40 - 175 cm dan lebar 2,5 - 9 cm (termasuk pangkal). Tepi daun yang berwarna kuning menunjukkan kekhasan dari tanaman jenis S. trifasciata ini. Tanaman ini juga sering dijadikan tanaman hias. Dari identifikasi tanaman yang dilakukan, tanaman yang digunakan pada penelitian ini benar merupakan tanaman S. trifasciata. 36

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Gambar 1. Tanaman Sansevieria trifasciata B. Penyiapan Bahan Daun S. trifasciata Penelitian ini menggunakan bahan daun S. trifasciata segar yang tidak melalui tahap pengeringan. Tujuan penggunaan bahan segar ini agar kandungan senyawa yang terdapat dalam daun tidak berkurang akibat dari proses pengeringan. Daun dipotong pada bagian bawah lalu dicuci bersih untuk menghilangkan kotoran-kotoran dan debu yang dapat mengganggu dalam proses penelitian. Hal ini dikarenakan proses pengerjaan ini nantinya memerlukan pengerjaan yang steril, sehingga adanya kotoran dan debu yang tidak dibersihkan dengan sempurna akan menjadi agen kontaminan serta dapat memperburuk hasil dalam perlakuan. Selanjutnya daun dipotong dengan ukuran 1 x 1 cm lalu dihaluskan dengan tujuan untuk memperkecil ukuran partikel bahan dan meningkatkan luas permukaan bahan. Luas permukaan bahan yang besar akan meningkatkan kontak antara bahan dan penyari, sehingga penyari dapat bekerja secara optimal dalam menarik senyawa dari bahan. Tanaman S. trifasciata ini terdapat banyak serat, sehingga pemotongan bahan menjadi ukuran yang lebih kecil ini juga akan

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 meminimalkan gangguan dari serat daun tersebut. Pada penelitian ini pengambilan senyawa-senyawa metabolit sekunder pada S. trifasciata menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol, fraksinasi dengan etil asetat, dan dengan proses pemerasan. C. Maserasi, Fraksinasi, dan Pemerasan Daun S. Trifasciata Daun S. trifasciata yang telah dihaluskan, dilakukan tiga perlakuan, yaitu diekstrak dengan pelarut etanol (pelarut polar) dan pelarut etil asetat (pelarut semi polar), serta dilakukan proses pemerasan dengan bantuan air. Ketiga pelarut ini diharapkan dapat mengambil senyawa-senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman S. trifasciata secara optimal. Proses ekstraksi dengan pelarut etanol dilakukan dengan metode maserasi, yaitu dengan cara merendam sejumlah bahan segar dengan sejumlah cairan pelarut yang dikehendaki. Tujuan dari penggunaan metode maserasi ini adalah agar semua senyawa metabolit sekunder dalam tanaman S. trifasciata dapat terambil secara sempurna tanpa melalui proses pemanasan karena maserasi merupakan salah satu proses ekstraksi dingin. Selain itu, proses maserasi merupakan proses ekstraksi yang sederhana dan mudah untuk dikerjakan. Dalam proses maserasi ini, bahan ditimbang sebesar 30 g lalu dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 500 mL. Bahan direndam dengan pelarut etanol 96% sebanyak 150 mL (perbandingan 1:5 v/v). Pengadukan dilakukan dengan cara digojog menggunakan shaker yang merupakan modifikasi dari proses maserasi ini. Pengadukan dengan shaker ini mempercepat proses maserasi karena

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 pengadukan dilakukan secara konstan (maserasi mekanik). Proses pengadukan ini dilakukan selama 24 jam dengan harapan pelarut sudah mengambil secara optimal senyawa yang diinginkan dalam bahan tersebut. Setelah 24 jam pengadukan, maserat kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring Whatman No. 1. Maserat tersebut dilanjutkan ke proses remaserasi, dimana tujuan dari remaserasi ini adalah untuk memaksimalkan proses maserasi agar kandungan yang masih tertinggal dapat terambil dengan pelarut yang baru. Proses remaserasi ini dilakukan dengan mengganti pelarut yang lama dengan pelarut yang baru dan diaduk dengan shaker selama 24 jam. Hasil maserasi dengan pelarut etanol 96% berwarna coklat dengan bau ekstrak yang khas. Setelah melalui proses maserasi, maserat diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator dan disimpan dalam suhu 40ºC. Pada proses fraksinasi dengan pelarut etil asetat, tanaman pada awalnya dimaserasi dengan etanol 96 % terlebih dahulu, lalu dipekatkan. Setelah itu ekstrak yang telah dipekatkan dicampur dengan air, lalu difraksinasi secara ekstraksi cair-cair dengan pelarut etil asetat. Proses fraksinasi ini dilakukan karena ketika dilakukan orientasi, bahan daun yang sudah dihaluskan sulit tercampur secara sempurna dengan pelarut etil asetat pada saat akan dilakukan proses maserasi. Etil asetat merupakan pelarut yang memiliki sifat semi polar. Maka dari itu, tujuan dilakukan fraksinasi dengan pelarut etil asetat ini adalah untuk mengambil secara optimal senyawa yang bersifat kurang polar yang terdapat dalam daun S. trifasciata. Fraksinasi ini dilakukan dengan menambahkan ekstrak kental etanol dengan aquadest perbandingan 1:1 v/v ke dalam corong pisah.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Setelah itu ditambahkan pelarut etil asetat, sehingga akan terjadi pemisahan (Gambar 2.). Gambar 2. Fraksinasi dengan etil asetat Pada gambar 2, ditunjukkan bahwa etil asetat berada di atas dan aquadest di bawah. Hal ini terjadi karena bobot jenis etil asetat (0,894 g/mL) lebih rendah daripada bobot jenis aquadest (1,000 g/mL). Kandungan senyawa ekstrak etanol yang bersifat semi polar akan larut dalam etil asetat dan sisanya akan larut dalam aquadest. Proses fraksinasi ini dilakukan sebanyak tiga kali penambahan dengan pelarut etil asetat. Setelah itu, hasil fraksinasi diuapkan dengan rotary evaporator dan disimpan dalam oven dengan suhu 40ºC. Hasil ekstraksi menunjukkan warna hijau tua dengan bau ekstrak khas. Tabel I. Rendemen hasil ekstraksi, fraksinasi, dan pemerasan daun S. trifasciata dengan pelarut etanol 96% dan etil asetat. Pelarut Rendemen (%b/b) Wujud Warna Etanol 96% 4, 56 Kental Coklat Etil asetat 1,40 Kental Hijau tua Perasan daun 25 Cair Hijau muda

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Hasil rendemen (Tabel I) menunjukkan bahwa hasil ekstrak dengan etanol lebih banyak daripada dengan pelarut etil asetat. Hal tersebut menunjukkan bahwa kandungan senyawa pada daun S. trifasciata lebih banyak larut pada pelarut etanol (pelarut polar), sedangkan lebih sedikit yang larut oleh pelarut etil asetat (pelarut semi polar). Sehingga dapat dilihat bahwa pada daun S.trifasciata lebih banyak larut dalam pelarut polar. Selain itu, dalam penelitian ini juga dilakukan proses pemerasan bahan dengan bantuan air. Perlakuan ini sesuai dengan perlakuan empiris yang telah dilakukan sejak jaman dahulu kala. Menurut Philip, Kaleena, Valivittan, dan Kumar (2011), penggunaan daun tanaman Sansevieria secara tradisional dengan cara dihaluskan dan diperas pada daerah tubuh yang terkena luka. Maka dari itu pada penelitian ini, bahan yang telah dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil (1 x 1 cm), kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender, lalu disaring dengan menggunakan kertas saring Whatman No. 1. D. Pengujian Potensi Antibakteri Secara Metode Sumuran Uji antibakteri pada penelitian ini menggunakan metode difusi secara sumuran dimana media pertumbuhan akan dibuat lubang sumuran yang pada masing-masing lubang tersebut akan diisi larutan ekstrak dari masing-masing konsentrasi. Prinsip dari metode difusi adalah senyawa antibakteri pada ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata akan terdifusi ke dalam media padat yang telah diinokulasikan bakteri uji yaitu S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. Tujuan dari metode difusi sumuran ini untuk

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 melihat daya antibakteri ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata berdasarkan pada zona jernih. Pemilihan metode sumuran ini sesuai dengan sifat bakteri yang digunakan yaitu S. aureus ATCC 25923 yang memiliki sifat anaerob fakultatif dan P. aeruginosa ATCC 27853 yang memiliki sifat aerob. Maka dari itu diharapkan senyawa antibakteri tanaman S. trifasciata dapat terdifusi sampai ke dalam media untuk menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. Hal ini pula yang mendasari alasan penggunaan metode pour plate sebagai metode penanaman isolat S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. Pada penelitian ini masing-masing ekstrak dibuat tingkat konsentrasi (100%, 75%, 50%, dan 25%). Tujuan pembuatan tingkat konsentrasi ini untuk mengetahui konsentrasi minimum dari ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. Ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata yang tidak ditambahkan dengan larutan kontrol negatif DMSO 5% dianggap sebagai konsentrasi 100%. Tiap larutan konsentrasi dibuat dengan menggunakan larutan DMSO 5% sebagai pelarut karena ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata larut dalam pelarut ini. DMSO dibuat konsentrasi 5% agar pelarut tersebut tidak memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri. Menurut Sharma and Sharma (2011) DMSO tidak akan memberikan aktivitas antibakteri pada konsentrasi kurang dari 15%.

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Pada penelitian ini juga dilakukan kontrol negatif, kontrol media, kontrol pertumbuhan bakteri, dan kontrol positif. Kontrol negatif bertujuan untuk menunjukkan bahwa pelarut yang digunakan tidak memberikan aktivitas antibakteri. Kontrol negatif yang digunakan adalah larutan DMSO 5%. Kontrol media bertujuan untuk melihat apakah dalam perlakuan terjadi kontaminasi atau tidak. Kontrol media ini dibuat dengan menuangkan media NA ke dalam cawan petri steril. Kontrol pertumbuhan bakteri bertujuan untuk melihat pertumbuhan bakteri pada media tersebut. Kontrol pertumbuhan bakteri ini dibuat dengan memasukkan bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 masing-masing sebanyak 0,5 mL ke dalam masing-masing 25 mL media NA lalu dituang ke dalam cawan petri steril secara pour plate. Kontrol positif yang digunakan dalam penelitian ini adalah Burnazin®. Kontrol positif bertujuan sebagai pembanding dengan perlakuan. Burnazin® merupakan krim antibiotik yang mengandung perak sulfadiazine yang biasanya digunakan untuk mengobati luka bakar. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2013), konsentrasi krim perak sulfadiazine yang biasanya digunakan sebagai antibiotik pada penyakit infeksi luka bakar adalah 1 %. Krim ini terdiri atas dua komponen zat aktif yaitu perak dan sulfadiazine dengan zat pembawa berupa emulsi oil in water (o/w) yang larut dalam air (Widagdo, 2005). Pemilihan kontrol positif ini juga berdasarkan pada kemiripan mekanisme kerja perak sulfadiazine dan kandungan senyawa flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin, yaitu sama-sama bekerja pada membran dan dinding sel

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Mekanisme kerja perak sulfadiazine adalah dengan melepaskan perak secara perlahan-lahan sampai mencapai kadar toksik pada membran dan dinding sel bakteri sehingga menyebabkan kematian pada bakteri tersebut. Zat pembawa berfungsi untuk meningkatkan kecepatan absorpsi dan mempermudah penetrasi ke dalam luka bakar (Widagdo, 2005). Flavonoid menghambat pertumbuhan bakteri dengan merusak permeabilitas dinding sel, mikrosom, dan lisosom (Sabir, 2005). Tanin menyebabkan sel bakteri lisis karena tekanan osmotik yang menghambat pembentukan dinding sel (Ngajow, et al., 2013). Alkaloid mengganggu komponen penyusun peptidoglikan sehingga lapisan sel tidak terbentuk (Farida, et al., 2010). Saponin mengganggu stabilitas membran sel sehingga sel bakteri lisis (Darsana, et al., 2012). S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 pada penelitian ini disetarakan dengan larutan Mc Farland II. Hal ini bertujuan untuk menyetarakan jumlah S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 dengan larutan Mc Farland II yaitu 6 x 108 CFU/mL. Pada penelitian ini, pengujian potensi antibakteri dalam satu media NA masing-masing dibuat enam sumuran yang diisi dengan empat tingkat konsentrasi ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata, satu kontrol positif, dan satu kontrol negatif. Ke dalam masing-masing lubang sumuran diinokulasikan sebanyak 50 µL. Setiap perlakuan dilakukan replikasi tiga kali. Setelah diinkubasi dalam suhu ruangan selama 24 jam, hasil dilihat berdasarkan zona jernih yang terbentuk. Zona jernih ini menggambarkan tidak adanya pertumbuhan bakteri di sekitar sumuran akibat dari aktivitas ekstrak etanol, ekstrak etil asetat, maupun perasan dalam

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 menghambat pertumbuhan bakteri. Perhitungan diameter zona jernih dapat dilakukan dengan menggunakan penggaris. Data-data dari hasil perlakuan, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis. Uji ini sesuai untuk membandingkan variabelvariabel numerik yang memiliki jumlah kelompok lebih dari dua tak berpasangan dan merupakan uji nonparametrik. Uji Kruskal-Wallis merupakan alternatif dari uji one way ANOVA karena distribusi data tidak normal. Dalam analisis data ini, perlakuan dibandingkan dengan kontrol negatif dan kontrol positif. Tabel II. Uji aktivitas antibakteri fraksi etil asetat daun S. trifasciata perlakuan Burnazin® DMSO 5% Konsentrasi 100% Konsentrasi 75% Konsentrasi 50% Konsentrasi 25% 1 15 mm 6 mm Diameter zona jernih S. aureus P. aeruginosa 2 3 1 2 3 16 mm 16,5mm 11 mm 14 mm 10 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm Diameter lubang sumuran : 6 mm Burnazin® : kontrol + DMSO 5% : kontrol – Pada Tabel II, fraksi etil asetat sama sekali tidak memberikan zona jernih pada kedua biakan bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa fraksi etil asetat tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. Dalam penelitian ini fraksi etil asetat tidak berpotensi untuk dikembangkan menjadi antibakteri. Berdasarkan hasil pengujian, fraksi ini diperkirakan tidak menunjukkan keberadaan senyawa-senyawa seperti

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid yang dapat menghambat pertumbuhan kedua biakan bakteri. Tabel III. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun S. trifasciata perlakuan Burnazin® DMSO 5% Konsentrasi 100% Konsentrasi 75% Konsentrasi 50% Konsentrasi 25% 1 16 mm 6 mm Diameter zona jernih S. aureus P. aeruginosa 2 3 1 2 3 16,5mm 17,5 mm 17,5mm 25 mm 26 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 21 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 20 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm Diameter lubang sumuran : 6 mm Burnazin® : kontrol + DMSO 5% : kontrol – Pada pengamatan ekstrak etanol 96%, zona jernih hanya tampak pada bakteri S. aureus di konsentrasi 100% dan 75%. Berdasarkan tabel III, pada perlakuan dengan bakteri S. aureus, rata-rata zona jernih pada konsentrasi 100% adalah 21 mm. Nilai ini lebih besar daripada kontrol positifnya yaitu 21 mm. Padahal zona jernih pada konsentrasi ini hanya tampak pada perlakuan replikasi satu, sedangkan replikasi dua menunjukkan zona jernih pada konsentrasi 75% yaitu sebesar 20 mm. Dalam menganalisis data dilakukan uji Kruskal Wallis, ditemukan nilai p = 0,186 sehingga dapat diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun S. trifasciata dalam menghambat pertumbuhan S. aureus ATCC 25923 dengan kelompok negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri hanya terjadi pada bakteri S. aureus ATCC 25923 (Gram positif), sedangkan pada bakteri

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 P. aeruginosa ATCC 27853 (Gram negatif) tidak terjadi aktivitas antibakteri. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan komposisi dan struktur dinding sel pada bakteri Gram positif dan Gram negatif. Struktur dinding sel Gram positif lebih sederhana yaitu berlapis tunggal dengan kandungan lipid yang rendah (1 – 4 %) sehingga memudahkan kandungan senyawa untuk masuk ke dalam sel. Sedangkan pada struktur dinding sel Gram negatif lebih kompleks, yaitu berlapis tiga; lapisan terluar berupa lipoprotein, lapisan tengah berupa lipopolisakarida yang berfungsi menghalangi masuknya kandungan senyawa aktif dalam menghambat aktivitas antibakteri, dan terdapat lapisan dalam berupa peptidoglikan dengan kandungan lipid tinggi (11 – 12 %) (Brooks, et al., 2005). Pada saat uji fitokimia, terdeteksi keberadaan flavonoid pada ekstrak tersebut, sehingga peneliti menganggap aktivitas antibakteri tersebut terjadi karena aktivitas flavonoid berperan dalam menghambat aktivitas antibakteri. Uji aktivitas antibakteri tersebut tidak dilanjutkan dengan uji KHM dan uji KBM. Hal ini dikarenakan aktivitas daya hambat pada konsentrasi tersebut lemah. Menurut Stout (cit., Rita, 2010), daya hambat bakteri ≥ 20 mm termasuk dalam kategori sangat kuat, 10 – 20 mm kategori kuat, 5 – 10 mm kategori sedang, dan ≤ 5 mm kategori lemah. Daya hambat dalam kategori ini merupakan rata-rata daya hambat murni yang telah dikurangi dengan diameter sumuran.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Tabel IV. Uji aktivitas antibakteri perasan daun S. trifasciata perlakuan Burnazin® DMSO 5% Konsentrasi 100% Konsentrasi 75% Konsentrasi 50% Konsentrasi 25% 1 10 mm 6 mm Diameter zona jernih S. aureus P. aeruginosa 2 3 1 2 3 11 mm 10 mm 11,5mm 10 mm 10 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 6 mm 10 mm 6 mm 6 mm 11 mm 6 mm 6 mm Diameter lubang sumuran : 6 mm Burnazin® : kontrol + DMSO 5% : kontrol – Berdasarkan tabel IV, dapat diketahui bahwa terdapat zona jernih pada tingkat konsentrasi 25% terhadap bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. Masing-masing perlakuan terhadap kedua bakteri tersebut hanya terjadi pada satu replikasi saja. Zona jernih yang terbentuk pada konsentrasi tersebut adalah sepuluh milimeter terhadap bakteri S. aureus ATCC 25923 dan lima milimeter terhadap bakteri P. aeruginosa ATCC 27853. Menurut Pelczar, Chan, dan Krieg (1988), setiap kenaikan konsentrasi akan meningkatkan nilai diameter dari zona jernih, namun pernyataan tersebut tidak sesuai dengan penelitian ini. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2010) juga mengalami hal yang serupa, dimana peningkatan konsentrasi tidak harus sebanding dengan besarnya nilai diameter zona jernih yang dihasilkan. Hal tersebut dapat terjadi karena perbedaan difusi dan konsentrasi senyawa antibakteri pada media agar. Berdasarkan analisis uji Kruskal-Wallis, pada perlakuan terhadap bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 diketahui sama-sama

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 memberikan nilai p = 0,026. Dari hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa paling tidak terdapat perbedaan zona jernih perasan daun S. trifasciata terhadap dua kelompok. Dari kesimpulan tersebut maka dilanjutkan dengan uji Post Hoc untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki perbedaan. Analisis Post Hoc untuk uji Kruskal-Wallis adalah uji Mann-Whitney. Dalam uji ini, kelompok yang dibandingkan adalah kelompok kontrol negatif dan kelompok konsentrasi 25% (yang memberikan nilai zona jernih). Hasil dari uji Mann-Whitney memberikan hasil yang sama untuk bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853, yaitu nilai p = 0,317. Nilai p > 0,05 menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna. Ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata yang digunakan dalam penelitian ini memberikan hasil yang berbeda. Fraksi etil asetat daun S. trifasciata tidak menunjukkan aktivitas antibakteri. Ekstrak etanol daun S. trifasciata menunjukkan aktivitas antibakteri pada konsentrasi 100% dan 75 % meskipun hanya ditunjukkan pada bakteri S. aureus ATCC 25923 saja. Namun setelah diuji secara statistik, konsentrasi yang menunjukkan aktivitas antibakteri tidak menunjukkan perbedaan aktivitas dengan kelompok lain. Perasan daun S. trifasciata menunjukkan aktivitas antibakteri pada konsentasi terendah yaitu 25% pada masing-masing bakteri. Secara statistik, aktivitas antibakteri perasan daun S. trifasciata konsentrasi 25% pada masing-masing bakteri ini menunjukkan hasil berbeda tidak bermakna apabila dibandingkan dengan kontrol negatif. Pada penelitian ini, secara garis besar menunjukkan hasil negatif. Hal ini kemungkinan dapat disebabkan karena kandungan senyawa dalam ekstrak etanol,

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata memiliki kadar yang rendah, sehingga kurang mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 dalam media NA. Kandungan senyawa yang terdapat dalam bahan ini tidak signifikan sebagai antibakteri (Jamal, Agusta, dan Praptiwi, 2000). E. Uji Fitokimia Ekstrak dan Perasan Daun S. trifasciata Uji fitokimia ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa dalam ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata secara kualitatif. Uji ini juga dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya kandungan senyawa yang berfungsi sebagai antibakteri pada tanaman S. trifasciata. Uji fitokimia yang dilakukan adalah uji saponin, uji alkaloid, uji flavonoid, dan uji tanin yang dilakukan secara uji tabung. Tabel V. Hasil uji fitokimia pada ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata Uji Fitokimia Fraksi Etil Asetat Saponin Alkaloid Flavonoid Pereaksi H2SO4 Pereaksi NaOH Tanin Pelarut FeCl3 Penambahan gelatin 1% + : menunjukkan hasil positif - : tidak menunjukkan hasil positif a. Ekstrak Etanol - Perasan - + + + - - Uji saponin Uji saponin yang digunakan pada penelitian ini adalah uji busa, dimana ekstrak sebanyak satu mililiter ditambahkan lima mililiter aquadest. Hasil positif

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 pada uji ini adalah akan terbentuk busa setebal satu sentimeter. Saponin memiliki glikosil yang berfungsi sebagai gugus polar dan gugus terpenoid / steroid sebagai gugus non polar. Pada saat dilakukan gojogan akan terbentuk misel karena senyawa gugus polar dan non polar tersebut yang memiliki sifat aktif permukaan. Keadaan misel tersebut akan kelihatan seperti busa. Namun pada pengujian dengan ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan tidak terdapat busa setelah dilakukan penggojogan. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol, ekstrak etil asetat, maupun perasan tidak memiliki kandungan saponin. b. Uji alkaloid Uji alkaloid pada penelitian ini menggunakan pereaksi uji Mayer dimana ke dalam dua mililiter masing-masing bahan ditambahkan asam klorida 1%, karena alkaloid merupakan senyawa yang bersifat basa. Lima tetes larutan Mayer mengandung merkuri klorida dan kalium iodida ditambahkan. Prinsip identifikasi dengan larutan Mayer ini adalah reaksi pengendapan karena adanya penggantian ligan. Endapan tersebut terjadi karena adanya kompleks antara kalium dan alkaloid. Pada pereaksi Mayer, larutan merkuri klorida akan bereaksi dengan kalium iodida membentuk kalium tetraiodomerkurat(II). Alkaloid mengandung atom nitrogen yang memiliki pasangan elektron bebas akan berekasi dengan ion logam K+ pada kalium tetraiodomerkurat(II) membentuk kompleks kaliumalkaloid yang mengendap (Marliana, Suryanti, dan Suyono, 2005).

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Gambar 3. Reaksi uji Mayer (Marliana, et al., 2005) Hasil positif akan terbentuk endapan putih atau hijau. Namun pada penelitian ini, baik ekstrak etanol, ekstrak etil asetat, maupun perasan tidak menunjukkan endapan pada saat perlakuan. Hal ini membuktikan bahwa ekstrak etanol, ekstrak etil asetat, maupun perasan daun S. trifasciata tidak memiliki kandungan alkaloid. c. Uji flavonoid Uji flavonoid yang digunakan pada penelitian ini menggunakan pereaksi asam sulfat dan pereksi basa natrium hidroksida encer. Hasil positif pada pereaksi asam sulfat akan menunjukkan perubahan warna menjadi orange, sedangkan pada pereksi basa natrium hidroksida akan menunjukkan perubahan warna menjadi kuning. Menurut Mabry (cit., Sjahid, 2008) Flavonoid memiliki gugus orto dihidroksi, sehingga dengan penambahan asam sulfat akan menghasilkan warna orange. Penambahan bahan yang mengandung flavonoid dengan pereaksi natrium hidroksida akan menghasilkan warna kuning. Menurut Markham (cit., Kumalasari dan Sulistyani, 2011), flavonoid adalah senyawa polifenol yang memiliki sifat

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 asam lemah, sehingga dengan penambahan basa kuat seperti natrium hidroksida akan melarutkan senyawa fenol tersebut. Gambar 4. Reaksi flavonoid dengan natrium hidroksida (Robinson (cit., Mulyani dan Laksana, 2011)) Pada hasil penelitian menunjukkan bahwa perasan daun S. trifasciata terjadi perubahan warna pada pereaksi asam sulfat menjadi warna orange dan pereaksi natrium hidroksida menjadi warna kuning kehijauan. Perubahan warna ini sebenarnya tidak terlalu mencolok, maka dari itu dapat diketahui bahwa perasan daun S. trifasciata memiliki kandungan flavonoid, sedangkan pada ekstrak etanol hasil positif berupa warna kuning hanya ditunjukkan pada saat penambahan pereaksi natrium hidroksida. Maka dari itu pada ekstrak etanol ini perlu dilakukan penegasan untuk memastikan keberadaan flavonoid dengan dilakukan KLT. Pada fraksi etil asetat tidak menunjukkan adanya perubahan warna saat ditambahkan dengan perekasi natrium hidroksida dan asam sulfat. Hal ini menunjukkan bahwa fraksi etil asetat tidak memiliki kandungan flavonoid. d. Uji tanin Uji tanin pada penelitian ini menggunakan uji dengan pereaksi besi (III) klorida yang dilihat perubahan warna menjadi biru tua atau hijau. Apabila larutan besi (III) klorida ditambahkan kedalam ekstrak diperkirakan salah satu gugus

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 hidroksil yang terdapat pada senyawa tanin yang merupakan senyawa fenolik akan bereaksi dengan larutan tersebut. Pada penelitian ini ekstrak etanol tidak terlihat perubahan warna menjadi biru tua atau hijau pada saat penambahan pereaksi besi (III) klorida. Hal yang sama juga terjadi pada fraksi etil asetat dan perasan daun S. trifasciata, sehingga dapat diketahui bahwa tidak terdapat tanin dalam ketiga bahan tersebut. Gambar 5. Reaksi tanin dengan besi (III) klorida (Sangi, et al., 2012) Selain pengujian dengan menggunakan larutan besi (III) klorida, dilakukan juga pengujian dengan penambahan larutan gelatin 1 %. Hasil positif bila terbentuk endapan pada saat penambahan gelatin 1%. Gelatin 1 % merupakan protein dan senyawa tanin akan bereaksi dengan protein membentuk kopolimer yang tidak larut air sehingga membentuk endapan (Harborne, 1987). Reaksi yang terjadi adalah ikatan hidrogen jenis intermolekul, karena atom H yang terikat dengan atom O dan N berasal dari dua molekul. Atom H dari molekul tanin terikat dengan atom O pada gelatin dan atom H pada molekul gelatin terikat dengan atom O pada tanin (Sa’adah, 2010). Pada hasil pengamatan ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata ketiganya tidak menunjukkan

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 adanya endapan, sehingga dapat disimpulkan ketiga bahan tersebut tidak memiliki kandungan tanin. F. Uji Penegasan Senyawa Flavonoid dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Uji penegasan untuk memastikan ada tidaknya kandungan fitokimia dalam bahan daun S. trifasciata menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT) plat kaca. Pada uji tabung yang telah dilakukan sebelumnya, hasil positif ditunjukkan pada uji flavonoid ekstrak etanol dan perasan daun S. trifasciata, maka dari itu uji penegasan KLT yang dilakukan untuk mempertegas senyawa flavonoid kedua bahan tersebut. Fase diam yang digunakan adalah selulosa karena sesuai dengan senyawa flavonoid yang memiliki sifat polar. Fase gerak yang digunakan adalah campuran pelarut n-butanol : asam asetat glasial : air (40 : 10 : 50) v/v yang memiliki sifat polar. Pertimbangan kepolaritasan menjadi alasan pemilihan fase gerak dan fase diam. Pada senyawa yang bersifat polar, akan lebih mudah terelusi pada fase gerak yang bersifat polar. Bejana kromatografi yang telah diisikan fase gerak dijenuhkan terlebih dahulu dengan tujuan agar proses pemisahan pada KLT dapat berlangsung secara maksimal. Pembanding yang digunakan adalah rutin. Rutin merupakan senyawa golongan flavonoid glikosida yang sering ditemukan dalam tanaman. Penggunaan pembanding bertujuan sebagai pendekatan untuk mengidentifikasi senyawa flavonoid yang ada pada daun S. trifasciata. Elusi dilakukan sepanjang 10 sentimeter.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Tabel VI . Hasil uji KLT ekstrak etanol dan perasan daun S. trifasciata Nilai Rf Sinar UV 254 nm Sinar UV 365 nm Uap Amonia Rf 1 1 Warna kuning 1 kuning kehijauan Pereaksi semprot FeCl3 1 kuning hijau 0,73 0,73 0,73 kuning kehijauan 0, 68 kuning 0,55 kuning kehijauan Tidak tampak 0,55 kuning muda Perlakuan Sampel Ekstrak etanol Rf Rutin Warna Sampel Perasan Rutin Rf Warna Rf Warna Tidak tampak Tidak tampak Tidak tampak kuning hijau 0,72 hijau 0,75 hijau Pada tabel VI, ditunjukkan bahwa ekstrak dan perasan daun S. trifasciata memiliki kandungan flavonoid. Hal ini ditunjukkan dengan bercak yang ditimbulkan jika dilihat pada deteksi pada UV 254 nm, 365 nm, uap amonia, dan pereaksi semprot FeCl3. Pereaksi uap amonia merupakan pendeteksi yang biasanya digunakan untuk mempertegas senyawa flavonoid secara kualitatif pada KLT. Hasil positif yang ditunjukkan adalah warna kuning. Senyawa flavonoid, ketika ditambahkan basa (amonia) maka akan membentuk ikatan antara NH3+ dengan gugus OH pada flavonoid. Menurut Robinson (cit., Kumalasari dan Sulistyani, 2011), flavonoid dengan uap amonia membentuk struktur konoid pada cincin B yang akan membuat ikatan rangkap terkonjugasi menjadi lebih panjang sehingga akan meningkatkan intensitas warnanya. Pada ekstrak etanol warna kuning tampak setelah dilakukan deteksi dengan uap ammonia. Pada perasan daun S. trifasciata juga menunjukkan warna kuning. Berdasarkan hasil positif yang

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 dihasilkan, ekstrak etanol dan perasan daun S. trifasciata mengandung senyawa flavonoid. Selain diuapi dengan amonia, deteksi senyawa flavonoid juga dilakukan dengan penyemprotan dengan larutan besi (III) klorida. Cara ini merupakan cara yang sederhana dan paling sering dilakukan. Hasil positif akan menimbulkan warna hijau. Hal ini dapat terjadi karena flavonoid merupakan senyawa fenol, sehingga penyemprotan dengan besi (III) klorida akan mengakibatkan pembentukan kompleks antara gugus fenol dengan Fe (Harborne, 1987). Pada ekstrak etanol dan perasan daun S. trifasciata, menunjukkan hasil yang positif yaitu berwarna hijau. Hal ini semakin mempertegas adanya senyawa flavonoid pada kedua ekstrak tersebut. Berdasarkan uji penegasan dengan KLT, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol dan perasan daun S. trifasciata mengandung flavonoid, dimana kandungan flavonoid ini yang diperkirakan memberikan aktivitas antibakteri pada bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. Pada penelitian ini menggunakan bahan yang segar, tanpa melalui tahap pengeringan, sehingga bahan yang dihasilkan dari proses ekstraksi memiliki jumlah yang sedikit. Hasil ekstraksi yang sedikit menyebabkan sulitnya mendeteksi keberadaan kandungan senyawa fitokimia dalam tanaman dengan metode yang digunakan. Hal ini merupakan keterbatasan dalam penelitian ini. Hasil pada penelitian ini berbeda dengan penelitian lainnya. Berdasarkan penelitian Gitasari (2011), daun S. trifasciata dapat menghambat aktivitas antibakteri pada Staphylococcus aureus, dimana pada penelitian tersebut daun

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 S. trifasciata memiliki kandungan flavonoid, steroid, dan alkaloid. Sementara itu. Pada penelitian ini daun S. trifasciata memiliki kemampuan menghambat aktivitas antibakteri pada bakteri S. aureus dan P. aeruginosa, namun perbedaannya tidak signifikan sehingga belum dapat disimpulkan memiliki daya antibakteri yang baik pada kedua bakteri tersebut.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Fraksi etil asetat daun S. trifasciata tidak memiliki daya antibakteri pada bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853. 2. Ekstrak etanol daun S. trifasciata memiliki daya antibakteri terhadap bakteri S. aureus ATCC 25923, tetapi dengan perbedaan yang tidak bermakna dibandingkan dengan kontrol negatif. Ekstrak etanol daun S. trifasciata tidak memiliki daya antibakteri pada bakteri P. aeruginosa ATCC 27853. 3. Perasan daun S. memiliki trifasciata daya antibakteri pada S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 dibandingkan dengan kontrol negatif, tetapi perbedaannya tidak bermakna. 4. Ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan perasan daun S. trifasciata terhadap bakteri S. aureus ATCC 25923 dan P. aeruginosa ATCC 27853 tidak memiliki nilai KHM dan KBM. B. Saran 1. Perlu dilakukan penelitian dengan tanaman S. trifasciata menggunakan simplisia kering. 2. Perlu dilakukan penelitian dengan tanaman S. trifasciata menggunakan bakteri lain, seperti: Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae. 3. Perlu dilakukan penelitian tentang daya antibakteri tanaman Sansevieria jenis lain, seperti : Sansevieria liberica dan Sansevieria ehrenbergii. 59

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 DAFTAR PUSTAKA Asih, I. A. R. A., 2009, Isolasi dan Identifikasi Senyawa Isoflavon dari Kacang Kedelai (Glycine max), Jurnal Kimia, 33 - 39. Backer, C. A., and Brink, R. C., 1968, Flora of Java : Spermatophytes Only, vol III, Wort’ RS-Noordhoff N.V., Groningen, Nedherlands, pp. 162. Brooks, G. F., Butel, J. S., and Morse, S. A., 2001, Medical Microbiology, 22nd Ed, diterjemahkan oleh Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Salemba Medika, Jakarta, pp. 317 - 326, 371 375. Church, D., Elsayed, S., Reid, O., Winston, B., dan Lindsay, R., 2006, Burn Wound Infections, Clinical Microbiology Reviews, 19 (2), 403 - 434. Corwin, E. J., 2008, Handbook of Pathophysiology, 3rd ed, diterjemahkan oleh Subekti, Nike, B., Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta., pp. 127 134. Dalimartha, S., 2006, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 4, Puspa Swara, Jakarta, pp. 54. Darsana, I. G. O., Besung, I. N. K., dan Mahatmi, H., 2012, Potensi Daun Binahong (Anredera Cordifolia (Tenore) Steenis) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli secara In vitro, Indonesia Medicus Veterinus, 1(3), 337 - 351. Dewi, 2010, Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Mengkudu (Morinda Citrifolia, Linnaeus) Terhadap bakteri Pembusuk Daging Segar, Skripsi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, pp. 23 – 33. Dewitasari, W. F., 2009, Uji Anatomi, Metabolit Sekunder, dan Molekuler Sansevieria trifasciata, Tesis, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, pp. 19. Direktorat Obat Asli Indonesia, 2013, Pedoman Teknologi Formulasi Sediaan Berbasis Ekstrak, Volume 2, Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta, pp. 3 - 17. Dirjen POM, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, pp 32. Fajiriah, S., Darmawan, A., Sundowo, A., dan Artanti, N., 2007, Isolasi Senyawa Antioksidan dari Ekstrak Etil Asetat Daun Benalu Dendrophtoe pentandra L. Miq yang Tumbuh pada Inang Lobi-Lobi, Pusat Penelitian Kimia-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Volume 2 (1), pp. 17 - 20.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Farida, R., Dewa, M., Titis, N., dan Endrawati, 2010, Manfaat Sirih Merah (Piper crocatum) Sebagai Agen Anti Bakterial Terhadap Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif, Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia, Volume 1 (1), pp. 23-27. Farouk, A.E., Faizal A.H.G., and Ridzwan B.H., 2007, New Bacterial Species solated from Malaysian Sea Cucumbers with Optimized Secreted Antibacterial Activity, American Journal of Biochemistry and Biotechnology, Volume 1, pp. 64 - 69. Freeman-Cook, L. and Freeman,-Cook, K., 2006, Staphylococcus aureus Infections, Chelsea House Publishers, USA, pp. 26 - 28. Gandjar, I.G., dan Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, pp. 328, 353 - 355, 359 - 361, 366. Gitasari, Y. D., 2011, Aktivitas Antibakteri Fraksi Aktif Daun Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata Prain), Skripsi, Institut Pertanian Bogor, Bogor, pp. 1 - 34. Gunawan, D., dan Mulyani, S., 2004, Ilmu Obat Alam (Farmakognosi), Jilid I, Penebar Swadaya, Jakarta, pp. 87 - 90. Harborne, J.R., 1987, Phytochemical methods. In: A Guide to Modern Techniques of Plants Analysis, Chapman and Hall, London, pp.4 - 5. Herlianawati, M., 2007, Uji Potensi Antibakteri Ekstrak Etanol Umbi Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, pp. 23-36. Hugo, W.B. and Russell, A.D., 1987, Pharmaceutical Microbiology, 6th Edition, Blackwell Science, London, pp. 242-243. Ikewuchi, C., Ikewuchi, C., Ayalogu, O., dan Onyeike, N., 2010, Proximate and Phytochemical Profile of Sansevieria liberica Gerome and Labroy, J. Appl. Sci. Environ. Manage., Vol. 14 (2), pp. 103 – 106. Jamal, Y., Agusta, A., Praptiwi, 2000, Komponen Kimia dan Efek Antibakteri Minyak Atsiri Kulit Buah dan Daun Jeruk Kasturi (Citrus microcarpa Bunge.), Majalah Farmasi Indonesia, 11 (2), pp. 77-85. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia , 2013, Daftar Obat Esensial Nasional, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, pp. 54.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Kumalasari, E., dan Sulistyani, N., 2011, Aktivitas Antifungi Ekstrak Etanol Batang Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen.) terhadap Candida albicans Serta Skrining Fitokimia, Jurnal Ilmiah Kefarmasian, 1 (2), pp. 51 – 62. Lei, Z., Wang, H., Zhou, R., dan Duan, Z., 2002, Influence of Salt Added to Solvent on Extractive Distilation, Chem Eng, 149(56), pp. 87. Lenny, S., 2006, Isolasi dan Uji Bioaktivitas Kandungan Kimia Utama Puding Merah dengan Metoda Uji Brine Strimp, Skripsi, Universitas Sumatera Utara, Medan, pp. 23. Marliana, S. D., Suryanti, V., Suyono, 2005, Skrining Fitokimia dan Analisis Kromatografi Lapis Tipis Komponen Kimia Buah Labu Siam (Sechium edule Jacq. Swartz.) dalam Ekstrak Etanol, Biofarmasi, 3 (1), 26-31. Mayhall, C. G., 2003, The Epidemiology of Burn Wound Infections : Then and Now, http://cid.oxfordjournals.org/ , diakses tanggal 30 April 2013. Mulyani, S., dan Laksana, T., 2011, Analisis Flavonoid dan Tannin dengan Metoda Mikroskopi-Mikrokimiawi, Majalah Obat Tradisional, 16 (3), pp. 109 – 114. Nasional Center for Biotechnology Information, 2014, Taxonomy Browser, NCBI, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/Taxonomy/Browser/wwwtax.cgi, diakses tanggal 3 Juni 2014. Ngajow, M., Abidjulu, J., dan Kamu, V. S., 2013, Pengaruh Antibakteri Ekstrak Kulit Batang Matoa (Pometia pinnata) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus secara In vitro, Jurnal MIPA UNSRAT ONLINE, 2 (2), 128-132. Pelczar, M.L., Chan, E.C.S., Krieg, N.R., 1988, Control Of Microorganisms, the Control of Microorganisms by Physics Agents, Mc Graw-Hill International, New York, pp. 469 - 509. Philip, D., Kaleena, P. K., Vallivittan, K., and Kumar, C. P., 2011, Phytochemical Screening and Antimicrobial Activity of Sansevieria roxburghiana Schult. and Schult. F., Middle-East Journal of Scientific Research, 10 (4), 512 - 518. Plantamor, 2012, Lidah Mertua (Sansevieria trifasciata Prain.), Informasi Spesies, http://www.plantamor.com/index.php?plant=1411, diakses tanggal 30 Mei 2014. Pranoto, E., Ma’ruf, W., Pringgenies, D., 2012, Kajian Aktivitas Bioaktif Ekstrak Teripang Pasir (Holothuria scabra) terhadap Jamur Candida albicans, Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan, 1(1), pp. 1-8.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Pratiwi, S. T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta, pp. 136 - 147. Purwanto, A. W., 2006, Sansevieria: Flora Cantik Penyerap Racun, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, pp. 8 - 12. Qomariyah, N., Sarto, M., dan Pratiwi, R., 2012, Antidiabetic Effects of a Dcoction of Leaves of Sansevieria trifasciata in Alloxan-Induced Diabetic White Rats (Rattus norvegicus L.), ITB Journal Science, 44 (4), 308 - 316. Rita, W. S., 2010, Isolasi, Identifikasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa Golongan Triterpenoid pada Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe), Jurnal Kimia 4, 1 (4), pp. 24. Sa’adah, L., 2010, Isolasi dan Identifikasi Senyawa Tanin dari Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.), Skripsi, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang, pp. 34 – 42. Sabir, A., 2005, Aktivitas Antibakteri Flavonoid Propilis Trigona Sp Terhadap Bakteri Streptococcus mutans (In vitro), Majalah Kedokteran Gigi (Dent. J.), Volume 38, pp. 135 - 141. Sangi, M. S., Momuat, L. I., Kumaunang, M., 2012, Uji Toksisitas dan Skrining Fitokimia Tepung Gabah pelepah Aren (Arenga pinnata), Jurnal Ilmiah Sains, 12 (2), 127 - 133. Sharma, A., and Sharma, K., 2011, Should Solubility and Zone of Inhibition Be the Only Criteria for Selection of Solvent in Antimirobial Assay, Advances in Biological Research, 5 (5), 241 - 247. Sheela, D. J., Jeeva, S., Shamila, I. M., Lekshmi N. C. J., Brindha J. R., 2012, Antimicrobial Activity and Phytochemical Analysis of Sansevieria roxburghiana Leaf, Asian Journal of Plant Science and Research, 2 (1), 41 - 44. Sjahid, L., R., 2008, Isolasi dan Identifikasi Flavonoid dari Daun Dewandaru (Eugenia uniflora L.), Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, pp. 17 – 20. Soedarmo, S. S. P., dkk, 2008, Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis, Edisi Kedua, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta, pp. 2. Sunilson, A., Jayaraj, P., Varatharajan R., Thomas, J., James, J., dan Muthappan, M., 2009, Analgesic and Antipyretic Effects of Sansevieria trifasciata Leaves, Afr. J. Trad. CAM, 6 (4), pp. 529-533. Sutarma, 2000, Kultur Media Bakteri, Temu Teknis Fungsional non Peneliti, Balai Penelitian Veteriner, Bogor, pp. 52-57.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Trease dan Evans, 2002, Pharmacognosy, 15th Edition, University of Nothingham, UK, pp. 214 - 227. Vandepitte, J., et. al, 2003, Basic Laboratory Procedures in Clinical nd Bacteriology, 2 Ed, diterjemahkan oleh Setiawan, Lyana, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 97 - 99. Widagdo, T., 2004, Perbandingan Pemakaian Aloe vera 30 %, 40 %, dan Silver Sulfadiazine 1 % Topikal pada Penyembuhan Luka Bakar Derajat II, Laporan Penelitian, Universitas Diponegoro, Semarang, pp. 16-18.

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 LAMPIRAN

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Keterangan Determinasi Tanaman S. trifasciata Prain

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Lampiran 2. Sertifikat Hasil Uji Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Lampiran 3. Sertifikat Hasil Uji Bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Lampiran 4. Foto Proses Penyiapan Bahan Daun S. trifasciata Foto daun S. trifasciata setelah diblender Foto ekstrak etanol daun S. trifasciata

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Lampiran 5. Kontrol Kontaminasi, Kontrol pertumbuhan bakteri S. aureus, Kontrol pertumbuhan bakteri P. aeruginosa Foto kontrol kontaminasi Foto Kontrol pertumbuhan S. aureus

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Foto kontrol pertumbuhan P. aeruginosa

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Lampiran 6. Foto Variasi Konsentrasi Ekstrak Etanol, Fraksi Etil Asetat, dan Perasan Daun S. trifasciata Foto variasi konsentrasi ekstrak etanol daun S. trifasciata Foto variasi konsentrasi fraksi etil asetat daun S. trifasciata 4 3 2 1 1 23 4 Foto variasi konsentrasi perasan daun S. trifasciata 1 2 3 4 Keterangan : 1 : konsentrasi 100 % 2 : konsentrasi 75 % 3 : konsentrasi 50 % 4 : konsentrasi 25 %

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Lampiran 7. Hasil Uji Antibakteri Fraksi Etil Asetat Daun S. trifasciata terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan Metode Sumuran b c a f d e Foto Uji Antibakteri Fraksi Etil Asetat Daun S. trifasciata terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 Keterangan : A : Kontrol positif, Burnazine® (perak sulfadiazine) 10 % B : Konsentrasi 100 % v/v fraksi etil asetat daun S. trifasciata C : Konsentrasi 75 % v/v fraksi etil asetat daun S. trifasciata D : Konsentrasi 50 % v/v fraksi etil asetat daun S. trifasciata E : Konsentrasi 25 % v/v fraksi etil asetat daun S. trifasciata F : Kontrol negatif, DMSO 5%

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Lampiran 8. Hasil Uji Antibakteri Fraksi Etil Asetat Daun S. trifasciata terhadap Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 dengan Metode Sumuran e d a f c b Foto Uji Antibakteri Fraksi Etil Asetat Daun S. trifasciata terhadap Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 Keterangan : A : Kontrol positif, Burnazine® (perak sulfadiazine) 10 % B : Konsentrasi 100 % v/v fraksi etil asetat daun S. trifasciata C : Konsentrasi 75 % v/v fraksi etil asetat daun S. trifasciata D : Konsentrasi 50 % v/v fraksi etil asetat daun S. trifasciata E : Konsentrasi 25 % v/v fraksi etil asetat daun S. trifasciata F : Kontrol negatif, DMSO 5%

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Lampiran 9. Hasil Uji Antibakteri Ekstrak Etanol Daun S. trifasciata terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan Metode Sumuran a b e f d c Foto Uji Antibakteri Ekstrak Etanol Daun S. trifasciata terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 Keterangan : A : Kontrol positif, Burnazine® (perak sulfadiazine) 10 % B : Konsentrasi 100 % v/v ekstrak etanol daun S. trifasciata C : Konsentrasi 75 % v/v ekstrak etanol daun S. trifasciata D : Konsentrasi 50 % v/v ekstrak etanol daun S. trifasciata E : Konsentrasi 25 % v/v ekstrak etanol daun S. trifasciata F : Kontrol negatif, DMSO 5%

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Lampiran 10. Hasil Uji Antibakteri Ekstrak Etanol Daun S. trifasciata terhadap Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 dengan Metode Sumuran c b d f e a Foto Uji Antibakteri Ekstrak Etanol Daun S. trifasciata terhadap Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 Keterangan : A : Kontrol positif, Burnazine® (perak sulfadiazine) 10 % B : Konsentrasi 100 % v/v ekstrak etanol daun S. trifasciata C : Konsentrasi 75 % v/v ekstrak etanol daun S. trifasciata D : Konsentrasi 50 % v/v ekstrak etanol daun S. trifasciata E : Konsentrasi 25 % v/v ekstrak etanol daun S. trifasciata F : Kontrol negatif, DMSO 5%

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Lampiran 11. Hasil Uji Antibakteri Perasan Daun S. trifasciata terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dengan Metode Sumuran c d b f e a Foto Uji Antibakteri Perasan Daun S. trifasciata terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 Keterangan : A : Kontrol positif, Burnazine® (perak sulfadiazine) 10 % B : Konsentrasi 100 % v/v perasan daun S. trifasciata C : Konsentrasi 75 % v/v perasan daun S. trifasciata D : Konsentrasi 50 % v/v perasan daun S. trifasciata E : Konsentrasi 25 % v/v perasan daun S. trifasciata F : Kontrol negatif, DMSO 5%

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Lampiran 12. Hasil Uji Antibakteri Perasan Daun S. trifasciata terhadap Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 dengan Metode Sumuran c d b f e a Foto Uji Antibakteri Perasan Daun S. trifasciata terhadap Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 Keterangan : A : Kontrol positif, Burnazine® (perak sulfadiazine) 10 % B : Konsentrasi 100 % v/v perasan daun S. trifasciata C : Konsentrasi 75 % v/v perasan daun S. trifasciata D : Konsentrasi 50 % v/v perasan daun S. trifasciata E : Konsentrasi 25 % v/v perasan daun S. trifasciata F : Kontrol negatif, DMSO 5%

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Lampiran 13. Analisis Statistik A. Uji normalitas 3. Ekstrak etanol daun S. trifasciata  S. aureus Case Processing Summary perlakuan Cases Valid N Missing Percent N Total Percent N Percent 0 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 1 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 2 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 3 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 4 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 5 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% zona hambat a,c,d Tests of Normality perlakuan Kolmogorov-Smirnov Statistic zona hambat df b Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. 1 .385 3 . .750 3 .000 2 .385 3 . .750 3 .000 5 .253 3 . .964 3 .637 a. zona hambat is constant when perlakuan = 0. It has been omitted. b. Lilliefors Significance Correction c. zona hambat is constant when perlakuan = 3. It has been omitted. d. zona hambat is constant when perlakuan = 4. It has been omitted. = p < 0.05, artinya memiliki distribusi tidak normal.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 3. Perasan daun S. trifasciata  S. aureus Case Processing Summary kelompok Cases perlakuan Valid N Missing Percent N Total Percent N Percent 0 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 1 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% zona 2 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% hambat 3 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 4 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 5 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% a,b,c,d Tests of Normality kelompok perlakuan e Kolmogorov-Smirnov Statistic df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. zona 4 .385 3 . .750 3 .000 hambat 5 .385 3 . .750 3 .000 a. zona hambat is constant when kelompok perlakuan = 0. It has been omitted. b. zona hambat is constant when kelompok perlakuan = 1. It has been omitted. c. zona hambat is constant when kelompok perlakuan = 2. It has been omitted. d. zona hambat is constant when kelompok perlakuan = 3. It has been omitted. = p < 0.05, artinya memiliki distribusi tidak normal.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81  P. aeruginosa Case Processing Summary perlakuan Cases Valid N Missing Percent N Total Percent N Percent 0 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 1 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 2 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 3 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 4 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% 5 3 100.0% 0 0.0% 3 100.0% zona hambat Tests of Normalitya,b,c,d perlakuan Kolmogorov-Smirnove Statistic df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. 4 .385 3 . .750 3 .000 5 .385 3 . .750 3 .000 zona hambat a. zona hambat is constant when perlakuan = 0. It has been omitted. b. zona hambat is constant when perlakuan = 1. It has been omitted. c. zona hambat is constant when perlakuan = 2. It has been omitted. d. zona hambat is constant when perlakuan = 3. It has been omitted. = p < 0.05, artinya memiliki distribusi tidak normal.

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 B. Uji kruskal-Wallis 1. Ekstrak etanol daun S. trifasciata  S. aureus Kruskal-Wallis Test Ranks perlakuan N Mean Rank 1 3 8.67 2 3 8.33 3 3 5.50 4 3 5.50 5 3 12.00 zona hambat Total 15 Test Statisticsa,b zona hambat Chi-Square 6.179 df 4 Asymp. Sig. .186 a. Kruskal Wallis Test 3. Grouping Variable: perlakuan = menunjukkan p > 0,05 , artinya tidak memiliki perbedaan aktivitas antibakteri antar kelompok.

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 2. Perasan daun S. trifasciata  S. aureus Kruskal-Wallis Test Ranks kelompok perlakuan N Mean Rank 1 3 6.00 2 3 6.00 3 3 6.00 4 3 8.33 5 3 13.67 zona hambat Total Test Statistics 15 a,b zona hambat Chi-Square 11.056 df 4 Asymp. Sig. .026 a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: kelompok perlakuan = nilai p < 0,05, artinya paling tidak terdapat perbedaan antivitas antibakteri antara dua kelompok. Maka dari itu dilanjutkan dengan uji Post Hoc (uji Mann-Whitney) antara egativ egative dan konsentrasi yang memberikan aktivitas antibakteri (25%). Mann-Whitney Test Ranks kelompok perlakuan zona hambat N Mean Rank Sum of Ranks 0 3 3.00 9.00 4 3 4.00 12.00 Total 6

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Test Statistics a zona hambat Mann-Whitney U 3.000 Wilcoxon W 9.000 Z -1.000 Asymp. Sig. (2-tailed) .317 .700b Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] a. Grouping Variable: kelompok perlakuan b. Not corrected for ties. = p > 0,05, artinya egativ egative dan konsentrasi 25% memberikan hasil berbeda tidak bermakna.  P. aeruginosa Kruskal-Wallis Test Ranks perlakuan zona hambat N Mean Rank 0 3 7.50 1 3 7.50 2 3 7.50 3 3 7.50 4 3 10.67 5 3 16.33 Total Test Statistics 18 a,b zona hambat Chi-Square 12.736 df 5 Asymp. Sig. .026 a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: perlakuan = nilai p < 0,05, artinya paling tidak terdapat perbedaan antivitas

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 antibakteri antara dua kelompok. Maka dari itu dilanjutkan dengan uji Post Hoc (uji Mann-Whitney) antara egativ egative dan konsentrasi yang memberikan aktivitas antibakteri (25%). Mann-Whitney Test Ranks perlakuan zona hambat N Mean Rank Sum of Ranks 0 3 3.00 9.00 4 3 4.00 12.00 Total 6 Test Statistics a zona hambat Mann-Whitney U 3.000 Wilcoxon W 9.000 Z -1.000 Asymp. Sig. (2-tailed) .317 b Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .700 a. Grouping Variable: perlakuan b. Not corrected for ties. = p > 0,05, artinya egativ hasil berbeda tidak bermakna. egative dan konsentrasi 25% memberikan

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Lampiran 14. Hasil Uji Tabung Kandungan Fitokimia No Senyawa fitokimia Perlakuan Hasil Gambar Ekstrak etanol daun S. trifasciata 1 Saponin Uji busa 1 ml ekstrak tanaman + 5 ml aquadest  dikocok (+) : terbentuk busa setinggi 1 cm. Tidak terbentuk busa Hasil negatif Perlakuan Kontrol 2 Alkaloid Uji Mayer 2 ml ekstrak tanaman + 2 ml HCl + 3 tetes reagen Mayer. (+) : terdapat endapan warna hijau atau putih Tidak terdapat endapan. Hasil negatif Kontrol Perlakuan

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 3 Flavonoid  Uji asam  Uji asam  Uji asam sulfat sulfat sulfat 3 ml Terbentuk ekstrak + 1 warna ml H2SO4 hitam (+) : warna pekat. orange Hasil negatif  Uji natrium  Uji hidroksida natrium 3 ml hidroksida ekstrak + 1 Terbentuk ml NaOH warna Perlakuan (+) : warna kuning. Kontrol kuning Hasil  Uji natrium hidroksida positif. Kontrol Perlakuan 4 Tanin  Uji FeCl3  Uji FeCl3 1 ml Warna ekstrak + 2 menjadi ml FeCl3 cokelat. (+) : warna Hasil biru tua negatif. atau hijau kehitaman  Uji dengan  Uji dengan larutan larutan gelatin gelatin Tidak 3 ml terdapat ekstrak +  Uji FeCl3 Perlakuan Kontrol

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 10 ml air  dipanaskan Saring 5 ml + 1 ml NaCl 2%  disaring + 5 ml gelatin 1% endapan. Hasil negatif  Uji dengan larutan gelatin (+) : ada endapan Kontrol Perlakuan Perasan daun S. trifasciata 1 Saponin Uji busa 1 ml ekstrak tanaman + 5 ml aquadest  dikocok (+) : terbentuk busa setinggi 1 cm. Tidak terbentuk busa. Hasil negatif. Perlakuan Kontrol

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 2 Alkaloid Uji Mayer 2 ml ekstrak tanaman + 2 ml HCl + 3 tetes reagen Mayer. (+) : terdapat endapan warna hijau atau putih Tidak terdapat endapan. Hasil negatif. Kontrol Perlakuan 3 Flavonoid  Uji asam  Uji asam sulfat sulfat 3 ml Terbentuk ekstrak + 1 warna ml H2SO4 orange. (+) : warna Hasil orange positif  Uji  Uji natrium natrium hidroksida hidroksida 3 ml Terbentuk ekstrak + 1 warna ml NaOH kuning (+) : warna kehijauan. kuning Hasil positif  Uji asam sulfat Kontrol Perlakuan

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90  Uji basa Kontrol Perlakuan 4 Tanin  Uji FeCl3  Uji FeCl3 1 ml Warna ekstrak + 2 menjadi ml FeCl3 cokelat. (+) : warna Hasil biru tua negatif atau hijau kehitaman  Uji dengan  Uji dengan larutan larutan gelatin gelatin Tidak 3 ml terdapat ekstrak + endapan. 10 ml air Hasil  negatif dipanaskan Saring 5 ml + 1 ml NaCl 2%  disaring + 5 ml gelatin 1%  Uji FeCl3 Kontrol Perlakuan

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91  Uji dengan larutan gelatin (+) : ada endapan Perlakuan Kontrol Fraksi etil asetat daun S. trifasciata 1 Saponin Uji busa 1 ml ekstrak tanaman + 5 ml aquadest  dikocok (+) : terbentuk busa setinggi 1 cm. Tidak terbentuk busa. Hasil negatif. Perlakuan Kontrol

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 2 Alkaloid Uji Mayer 2 ml ekstrak tanaman + 2 ml HCl + 3 tetes reagen Mayer. (+) : terdapat endapan warna hijau atau putih Tidak terdapat endapan. Hasil negatif. Kontrol 3 Flavonoid  Uji asam  Uji asam  sulfat sulfat 3 ml Terbentuk ekstrak + 1 warna ml H2SO4 orange. (+) : warna Hasil orange negatif  Uji  Uji natrium natrium hidroksida hidroksida 3 ml Terbentuk ekstrak + 1 warna ml NaOH kuning (+) : warna kehijauan. kuning Hasil negatif  Perlakuan Uji asam sulfat Kontrol Perlakuan Uji natrium hidroksida

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 4 Tanin  Uji FeCl3  Uji FeCl3 1 ml Warna ekstrak + 2 menjadi ml FeCl3 cokelat. (+) : warna Hasil biru tua negatif atau hijau kehitaman  Uji dengan  Uji dengan larutan larutan gelatin gelatin Tidak 3 ml terdapat ekstrak + endapan. 10 ml air Hasil  negatif dipanaskan Saring 5 ml + 1 ml NaCl 2%  disaring + 5 ml gelatin 1%  Uji FeCl3 Kontrol Perlakuan Kontrol Perlakuan  Uji dengan larutan gelatin (+) : ada endapan Kontrol Perlakuan

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Lampiran 15. Uji Penegasan Kandungan Flavonoid dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Deteksi Ekstrak etanol Perasan Sinar UV 254 nm S1 P S2 S1 P S2 Keterangan : Keterangan : P : Pembanding rutin P : Pembanding rutin S1 : Sampel 1 ekstrak etanol S1 : Sampel 1 perasan daun daun S. trifasciata S2 : Sampel 2 ekstrak etanol daun S. trifasciata S. trifasciata S2 : Sampel 2 perasan daun S. trifasciata Fase diam : selulosa Fase diam : selulosa Fase gerak : n-butanol : asam Fase gerak : n-butanol : asam asetat glasial : air (40 : 10 : asetat glasial : air (40 : 10 : 50) v/v 50) v/v

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Sinar UV 365 nm S1 P S2 S1 P S2 Keterangan : Keterangan : P : Pembanding rutin P : Pembanding rutin S1 : Sampel 1 ekstrak etanol S1 : Sampel 1 perasan daun daun S. trifasciata S2 : Sampel 2 ekstrak etanol daun S. trifasciata S. trifasciata S2 : Sampel 2 perasan daun S. trifasciata Fase diam : selulosa Fase diam : selulosa Fase gerak : n-butanol : asam Fase gerak : n-butanol : asam asetat glasial : air (40 : 10 : asetat glasial : air (40 : 10 : 50) v/v 50) v/v

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Uap amonia S1 P S2 S1 P S2 Keterangan : Keterangan : P : Pembanding rutin P : Pembanding rutin S1 : Sampel 1 ekstrak etanol S1 : Sampel 1 perasan daun daun S. trifasciata S2 : Sampel 2 ekstrak etanol daun S. trifasciata S. trifasciata S2 : Sampel 2 perasan daun S. trifasciata Fase diam : selulosa Fase diam : selulosa Fase gerak : n-butanol : asam Fase gerak : n-butanol : asam asetat glasial : air (40 : 10 : asetat glasial : air (40 : 10 : 50) v/v 50) v/v

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Pereaksi semprot FeCl3 S1 S1 P P S2 S2 Keterangan : Keterangan : P : Pembanding rutin P : Pembanding rutin S1 : Sampel 1 ekstrak etanol S1 : Sampel 1 perasan daun daun S. trifasciata S2 : Sampel 2 ekstrak etanol daun S. trifasciata S. trifasciata S2 : Sampel 2 perasan daun S. trifasciata Fase diam : selulosa Fase diam : selulosa Fase gerak : n-butanol : asam Fase gerak : n-butanol : asam asetat glasial : air (40 : 10 : asetat glasial : air (40 : 10 : 50) v/v 50) v/v

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 BIOGRAFI PENULIS PALMA APRILIA TALINO BATUAH lahir pada tanggal 11 April 1992 di Pontianak dari pasangan Bapak Yulius Jamil dan Ibu Ancela. Pada tahun 1996 penulis menjalani pendidikan di TK SUSTER Pontianak, selanjutnya pada tahun 1998 penulis melanjutkan pendidikan di SD SUSTER Pontianak. Pada tahun 2004 penulis melanjutkan pendidikan di SMP Gembala Baik Pontianak. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 3 Pontianak pada tahun 2007. Setelah tamat, pada tahun 2010 penulis diterima sebagai salah satu mahasiswi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selama masa perkuliahan penulis aktif dalam kegiatan kepanitiaan di dalam dan luar kampus. Kegiatan dalam kampus yang diikuti seperti panitia TITRASI (Tiga Hari Bersama Farmasi) pada tahun 2011, ketua panitia Komisi Pemilihan Umum Gubernur BEMF dan Ketua DPMF Farmasi, dan panitia Donor Darah JMKI pada tahun 2010. Kegiatan kepanitian di luar kampus yang diikuti adalah sebagai panitia dalam Dies Natalis Asrama Syantikara ke-60.

(118)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Aktivitas antibakteri fraksi aktif daun lidah mertua (Sansevieria trifasciata Prain)
3
13
23
Aktivitas antibakteri fraksi aktif daun lidah mertua (Sansevieria trifasciata Prain)
0
10
45
uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi kloroform dan fraksi etilasetat daun jambu mete (aNACARDIUM oCCIDENTALE l.)
13
63
89
PENDAHULUAN Uji efektivitas ekstrak etanol rimpang lengkuas (languas galanga (l.) stuntz.) terhadap bakteri staphylococcus aureus atcc 6538 dan escherichia coli atcc 11229 secara in vitro.
0
3
5
DAFTAR PUSTAKA Uji efektivitas ekstrak etanol rimpang lengkuas (languas galanga (l.) stuntz.) terhadap bakteri staphylococcus aureus atcc 6538 dan escherichia coli atcc 11229 secara in vitro.
0
1
5
Uji potensi antibakteri ekstrak etanol umbi binahong [Anredera cordifolia [Tenore] steen] terhadap staphylococcus aureus ATCC 25923 dan pseudomonas aeruginos ATCC 27853.
0
4
99
uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi kloroform dan fraksi etilasetat daun jambu mete (aNACARDIUM oCCIDENTALE l.)
0
0
2
uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi kloroform dan fraksi etilasetat daun jambu mete (aNACARDIUM oCCIDENTALE l.)
0
0
4
uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi kloroform dan fraksi etilasetat daun jambu mete (aNACARDIUM oCCIDENTALE l.)
0
3
19
uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi kloroform dan fraksi etilasetat daun jambu mete (aNACARDIUM oCCIDENTALE l.)
0
0
3
uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi kloroform dan fraksi etilasetat daun jambu mete (aNACARDIUM oCCIDENTALE l.)
0
0
29
Efektivitas antibakteri fraksi ekstrak etanol daun bintaro (cerbera odollam) terhadap bakteri staphylococcus aureus - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
8
Ujipotensi antibakteri ekstrak polar daun binahong [Anredera cordifolia [Ten.] Steenis] terhadap baacillus subtilis ATCC 6633 dan pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 - USD Repository
0
0
90
Uji potensi antibakteri ekstrak etanol umbi binahong [Anredera cordifolia [Tenore] steen] terhadap staphylococcus aureus ATCC 25923 dan pseudomonas aeruginos ATCC 27853 - USD Repository
0
1
97
Uji aktivitas antibakteri fraksi air ekstrak etanol jamur portabella (agaricus brunnescens peck) terhadap bakteri staphylococcus aureus atcc 25923 dan escherichia coli atcc 38218 - USD Repository
0
0
129
Show more