Perbedaan asertivitas antara remaja putri suku Belu dan suku Jawa - USD Repository

122 

Full text

(1)

i

PERBEDAAN ASERTIVITAS ANTARA REMAJA PUTRI SUKU BELU DAN SUKU JAWA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.)

Program Studi Psikologi

Oleh:

Desriyanti Susan Mauboy 069114104

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

ii SKRIPSI

PERBEDAAN ASERTIVITAS ANTARA REMAJA PUTRI SUKU BELU DAN SUKU JAWA

Disusun Oleh : Desriyanti Susan Mauboy

069114104

Telah disetujui oleh

Pembimbing

(3)

iii SKRIPSI

PERBEDAAN ASERTIVITAS ANTARA REMAJA PUTRI SUKU BELU DAN SUKU JAWA

Dipersiapkan dan ditulis oleh : Desriyanti Susan Mauboy

NIM : 069114104

Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji pada tanggal 12 Oktober 2011 dan dinyatakan memenuhi syarat.

Susunan Panitia Penguji

1. Yohanes Heri Widodo M.Psi ...

2. V. Didik Suryo H., S.Psi., M.Si ...

3. Agnes Indar E,. S.Psi., M.Si., Psi. ...

Yogyakarta, Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma Dekan

(4)

iv

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut

baginya, maka pada masa tuanya ia pun tidak akan

menyimpang dari pada jalan itu.

Karena kebodohan melekat pada orang muda, tetapi

tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya.

Amsal 22:6,15

Segala perkara dapat ku tanggung di dalam Dia

yang memberi kekuatan kepadaku….

Filipi 4:13

Skripsi ini ku persembahkan kepada:

Tuhan Yesus Kristus

Papa Edu & Mama Cory

Adikku Tersayang Nyongri De Felten

Almamaterku tercinta “Sanata Dharma”

Semua yang mendukungku melewati setiap proses

(5)

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul “Perbedaan Asertivitas Antara Remaja Putri Suku Belu dan Suku Jawa” tidak memuat bagian atau karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, Penulis

(6)

vi

PERBEDAAN ASERTIVITAS ANTARA REMAJA PUTRI SUKU BELU DAN SUKU JAWA

Desriyanti Susan Mauboy ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji asertivitas antara remaja putri suku Belu dan suku Jawa. Hipotesis dalam penelitian ini adalah asertivitas remaja putri suku Belu lebih tinggi dibanding suku Jawa. Subyek dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 orang, yang terdiri dari 50 remaja putri suku Belu dan 50 remaja putri suku Jawa. Seluruh subyek adalalah mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta dengan kisaran usia antara 17 – 21 tahun. Penelitian ini menggunakan skala sebagai metode pengumpulan data. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah Skala Asertivitas. Data penelitian kemudian dianalisis dengan Independent Sample t-test dan diperoleh hasil 0,0295 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara asertivitas remaja putri suku Belu dan suku Jawa. Akan tetapi, hipotesis dalam penelitian tidak terbukti karena berdasarkan Mean Empirisnya tingkat asertivitas remaja putri suku Belu lebih rendah dibandingkan suku Jawa.

(7)

vii

THE DIFFERENCES OF ASSERTIVENESS BETWEEN BELU AND JAVANESE TEENAGER GIRLS

Desriyanti Susan Mauboy ABSTRACT

This study aims to test the level of assertiveness Belu and Javanese teenager girls. The hypothesis in this study is the level of assertiveness teenager girls Belu higher interest rates than on Java. Subjects in the study in are as many as 100 people consisting of 50 Belu teenager girls and 50 Javanese teenager girls. The whole subject is a student who was studying in Yogyakarta with age range between 17-21 years. This study used the scale as a method of data collection. The data collection tool used is the assertiveness scale. The research data were then analyzed with Independent Sample t-test and obtained results of 0,0295 (p <0,05). These results indicate that there is a difference between the level of assertiveness Belu and Javanese teenager girls. However, the hypothesis is not proven in this study because it is based on its level of assertiveness Empirical Mean Belu teenager girls rates lower than the Javanese.

(8)

viii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Desriyanti Susan Mauboy

NIM : 069114104

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, karya ilmiah saya yang berjudul :

PERBEDAAN ASERTIVITAS ANTARA REMAJA PUTRI SUKU BELU DAN SUKU JAWA

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya Dibuat di Yogyakarta

pada tanggal, Yang menyatakan,

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas berkat penyertaan dan bimbingan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perbedaan Asertivitas Antara Remaja Putri Suku Belu dan Suku Jawa” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.) di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

Selama proses penyelesaian skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak berupa bimbingan, dukungan dan arahan yang sangat bermanfaat bagi penulis. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak terkait diantaranya:

1. Dr. Christina Siwi Handayani. selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

2. Kaprodi Fakultas Psikologi Universitas Santa Dharma yaitu Ibu Titik Kristiyani, M.Psi.

3. Bapak Yohanes Heri Widodo M.Psi selaku dosen pembimbing saya, yang dengan banyak sabar telah membimbing dan membantu saya dalam menyelesaikan penulisan skripsi. Terima kasih bapak,… Tuhan memberkati. 4. Bapak Minta Istono S.Psi. M.Si selaku dosen pembimbing akademik, yang

(10)

x

5. Segenap dosen di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah mengajariku banyak hal untuk kelak menjadi seorang sarjana muda yang dapat diandalkan. Kalian pahlawan tanpa tanda jasa yang akan selalu ku banggakan. 6. Seluruh karyawan di bagian sekertariat & ruang baca Psikologi, terima kasih

untuk pelayanan yang diberikan kepada kami selama ini. Terima kasih untuk kesabaran dan senyum ramah yang kalian berikan selama ini. Yang penting senang.

7. Papa Eduard Mauboy, yang dengan sangat sabar selalu mendampingiku, menjadi teman curhatku dan berusaha memberikan apa yang aku butuhkan. Walau terkadang papa sendiri harus mengorbankan apa yang papa miliki, termasuk kebahagiaan papa. Papa adalah terbaik yang ku miliki.Love upapa,. U’r my no. 1. Mama Cornelia Tampani yang selalu berusaha mengajarkanku bagaimana menjadi seorang anak perempuan yang baik, selalu mengkhawatirkan aku dalam segala hal. Doa mama membuatku kuat hingga saat ini. Thank you mom,.U’r the best 4 me.Kalian segalanya bagiku.

8. Adikku tersayang Nyongri Defelten Mauboy yang selalu berusaha membuatku tersenyum dengan tingkah jahilnya saat masa-masa sulit menghampiriku, menasehati aku ketika ia mengkhawatirkan pergaulanku. Aku sangat menyayangi mu,…

(11)

xi

10. Dia yang bersedia ku marahi, sabar menghadapi ketidakdewasaanku, mencoba menyayangiku dengan keterbatasan yang dimilikinya, selalu menanyakan kapan skripsi ini selesai. “Secret Name’s”…. Terima kasih untuk perhatian dan pengertianmu untuk ku selama ini. Lophe U kuadkuad….

11. Sahabat-sahabat terbaikku yang selalu menemaniku dan siap menolongku saat kesulitan menghampiriku. Lusi, Vivia, Lingga, Rona, Nur, Marsel (“Mace”), Vina, Poyo, Je’, Ika kalian teman terbaikku. Love u all.

12.Anak-anak kos putri “Sari Ayu”: Inang (Sary), Mauryn, Usy Jamilah, K’Ade, Ote, Lingga, Lidya, Dwi, Ines, Leza, Sely, Opung (Devy), Marjan. Matur nuwun ngge….

13. Buat IKABE Yogyakarta (Ikatan Keluarga Belu), terima kasih untuk kebersamaan kita selama ini. Menjadi satu keluarga besarku saat aku berada di Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.

Akhir kata, semoga skripsi ini berguna bagi kita semua.

Yogyakarta, 12 Oktober 2011

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………... i

HALAMAN PERSETUJUAN ……….……. ii

HALAMAN PENGESAHAN ..……….……….. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ………. iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .………… v

ABSTRAK ……… vi

ABSTRACT ………. vii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ….. viii

KATA PENGANTAR .………. ix

DAFTAR ISI .……….……… xii

DAFTAR TABEL ..……… xv

DAFTAR GAMBAR ……… xvi

DAFTAR LAMPIRAN ………... xvii

BAB I PENDAHULUAN ………. 1

A. Latar Belakang ………. 1

B. Rumusan Masalah ……… 8

C. Tujuan Penelitian ……….. 8

D. Manfaat Penelitian ……… 9

BAB II LANDASAN TEORI……….. 10

A. Remaja ………... 10

(13)

xiii

2. Ciri-ciri Remaja Akhir ……… 11

3. Tahap Perkembangan Remaja Akhir ……….. 13

4. Tugas Perkembangan Remaja Akhir ... 15

5. Asertivitas Pada Remaja Akhir ……….. 18

B. Asertivitas ………..…. 20

1. Pengertian Asertivitas ... 20

2. Aspek-Aspek Asertivitas ... 21

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Asertivitas ... 22

C. Kebudayaan .………...………. 29

1. Kebudayaan ... 29

2. Kebudayaan Suku Belu ... 30

3. Kebudayaan Suku Jawa ... 33

D. Dinamika Hubungan Asertivitas dan Kebudayaan ... 36

E. Hipotesis ... 41

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..………. 42

A. Jenis Penelitian .……… 42

B. Identifikasi Variabel Penelitian …... 42

C. Definisi Operasional ………... 42

1. Asertivitas .……… 42

2. Kebudayaan ……….. 43

D. Subyek Penelitian .……….. 44

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 44

(14)

xiv

1. Validitas .………..…… 45

2. Reliabilitas .………..…….. 46

3. Uji Daya Beda Item ... 46

G. Uji Asumsi ... 49

1. Uji Normalitas ... 49

2. Uji Homogenitas ... 50

H. Uji Hipotesis ... 50

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………… 51

A. Pelaksanaan Penelitian ………. 51

1. Proses Penelitian .……….. 51

2. Data Demografi ... 52

3. Hasil Uji Asumsi ... 53

b. Uji Normalitas .……… 53

c. Uji Homogenitas .………. 54

4. Hasil Uji Hipotesis .……… 55

5. Deskripsi Data Penelitian ..………. 55

B. Pembahasan ………... 57

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .……….…. 68

A. Kesimpulan ………..…. 68

B. Saran ………..…………..… 68

C. Kelemahan ………... 69

DAFTAR PUSTAKA ..………..…. 70

(15)

xv

DAFTAR TABEL

1. Tabel Blue Print Skala Asertivitas Sebelum Uji Coba ………….. 45

2. Tabel Blue Print Skala Asertivitas Setelah Uji Coba ………. 48

3. Tabel Blue Print Skala Asertivitas ……….. 49

4. Tabel Presentase Subyek Berdasarkan Latar Belakang Suku……. 53

5. Tabel Presentase Subyek Berdasarkan Usia ………. 53

6. Tabel Hasil Uji Normalitas .………... 54

7. Tabel Hasil Uji Homogenitas .……… 55

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

(17)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1→Skala Uji Coba Asertivitas ………...……… 75

LAMPIRAN 2→Analisis Data Skala Uji Coba Asertivitas ……....…. 87

LAMPIRAN 3→Skala Penelitian Asertivitas ………...………... 93

LAMPIRAN 4→Analisis Data Uji Normalitas ………..………. 103

LAMPIRAN 5→Analisis Data Uji Homogenitas ……..………. 104

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak bisa hidup sendiri tanpa berhubungan langsung dengan orang lain. Hal inilah yang menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia. Menurut Gerungan (2004) individu memerlukan hubungan dengan lingkungan yang menggiatkannya, merangsang perkembangannya, atau yang memberikan sesuatu yang ia perlukan.

Dalam suatu fenomena sosial, komunikasi adalah suatu proses yang penting. Relasi antara satu orang atau satu kelompok dengan orang lain atau kelompok lain pasti mengandaikan adanya komunikasi (Sumintardja dalam Probowo, 2000). Komunikasi dimaksudkan agar terjadi keserasian dan mencegah terjadinya konflik dalam lingkungan bermasyarakat. Tanpa komunikasi yang efektif diantara berbagai pihak yang terlibat didalamnya, pola hubungan dalam suatu masyarakat atau suatu organisasi tidak akan mampu melayani kebutuhan berbagai pihak

(19)

dengan baik. Bentuk komunikasi yang baik dan efektif dalam membangun sebuah relasi adalah komunikasi secara asertif.

(20)

akan lebih baik ketika setiap individu dapat menumbuhkan kemampuan bersikap asertif dalam dirinya.

Lazarus dalam Rakos (1991) adalah tokoh yang pertama sekali mendefinisikan perilaku asertif. Ia yang menyatakan bahwa perilaku asertif adalah cara individu dalam memberikan respon dalam situasi sosial, yang berarti sebagai kemampuan individu untuk mengatakan tidak, kemampuan untuk menanyakan dan meminta sesuatu, kemampuan untuk mengungkapkan perasaan positif dan negatif, serta kemampuan untuk mengawali kemudian melanjutkan serta mengakhiri percakapan.

Ketika berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain, sikap remaja akan sangat menentukan bagaimana ia memandang dirinya dan juga bagaimana orang lain memandang dirinya. Seorang remaja yang mengembangkan sikap asertif dalam menjalin hubungan dengan orang lain tentunya akan semakin mandiri dan bebas. Mereka dapat mengambil keputusan sesuai dengan keinginan mereka, tanpa harus merasa membatasi diri dari orang-orang dan lingkungan (Santosa, 1999).

(21)

yang sering terjadi pada seorang remaja (mahasiswa) yaitu, ketika dalam suatu diskusi ada mahasiswa yang secara spontan memberikan ide-ide briliannya, dengan percaya diri mengungkapkan pendapatnya, dan yakin itu benar, serta ide-ide positifnya itu dapat diterima oleh yang lain. Orang-orang seperti ini disebut Orang-orang yang asertif (Bagus dalam Umiyati, 2009).

Manfaat lain yang akan diperoleh ketika seseorang mampu bersikap asertif adalah: membuka banyak kemungkinan baru mendapatkan banyak teman, membina hubungan yang lebih akrab dan jujur dengan orang lain, dan dalam situasi sulit dan tidak menyenangkan, pribadi masih dihargai dan diterima (Stein dan Book dalam Suwarni, 2008).

Selain manfaat di atas, adapun beberapa akibat lain dari kurang atau tidak adanya sikap asertif dalam diri seseorang yang dapat dilihat dari beberapa hasil penelitian berikut ini. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Family and Consumer Science di Ohio, Amerika Serikat, menunjukkan fakta bahwa kebanyakan remaja memulai merokok karena dipengaruhi temannya, terutama sahabat yang sudah lebih dahulu merokok (Anonim, 2009).

(22)

Perilaku asertif seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: pola asuh orang tua, kebudayaan, usia, jenis kelamin, dan strategi copping (Santosa,1999). Ditambah lagi dengan pendidikan (Hadjam dalam Yusuf, 2008) dan kepribadian (Allport dalam Suryabrata, 1988).

Taylor menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku asertif yaitu budaya ( Taylor dalam Umiyati, 2009). Hal ini juga diungkapkan Rakos dalam Santosa (1999) yang memandang bahwa kebudayaan mempunyai pengaruh yang besar dalam mendidik perilaku asertif. Biasanya ini berhubungan dengan norma-norma masyarakat atau lingkungan sekitarnya, yang merupakan salah satu faktor yang kuat dalam mempengaruhi sikap, nilai, dan cara individu berperilaku.

Berkaitan dengan kebudayaan, menurut G. Stanly Hall, lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam perubahan perkembangan pada masa remaja ketimbang di waktu sebelumnya. Jadi, dalam kaitannya dengan remaja, ia percaya bahwa hereditas berinteraksi dengan lingkungan untuk menentukan perkembangan individu (dalam Santrock, 2003).

(23)

pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adatistiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat ( Taylor dalam Umiyati, 2009).

Salah satu budaya yang ada di Indonesia adalah budaya yang berasal dari suku Belu. Belu merupakan sebuah kabupaten Belu terletak pada sentral pulau Timor dengan luas wilayahnya 2.445,57 2 atau 5,16% dari luas wilayah Propinsi NTT. Jumlah penduduk sampai dengan tahun 2009 sebanyak 465.933 jiwa. Mata pencaharian yang utama di bidang pertanian khususnya lahan kering meliputi 79 % dari jumlah penduduk kabupaten Belu. Disamping pertanian lahan kering, masyarakat juga memlihara ternak dan unggas.

(24)

untuk mengutamakan apa yang mereka rasakan, sehingga mereka tidak akan tertutup atau berbohong untuk menyatakan perasaan mereka. Mereka memegang prinsip bahwa menjadi Belu berarti menjadi seorang sahabat yang dengan budi dan hati bening mampu untuk bersikap terbuka bagi persahabatan dengan orang lain, lingkungan dan semua ciptaan Tuhan (Bria, 2004).

Dalam penelitian ini, pengaruh budaya Belu dalam pembentukan perilaku akan dibandingkan dengan pengaruh dari budaya Jawa, mengingat Jawa adalah salah satu budaya besar yang dominan di Indonesia. Jawa adalah sebuah pulau di Indonesia dengan penduduk terpadat di dunia. Dengan populasi sebesar 136 juta jiwa, pulau Jawa adalah yang menjadi tempat tinggal lebih dari 57% populasi Indonesia, dengan kepadatan 1.029 jiwa/km². Sekitar 45% penduduk Indonesia berasal dari etnis Jawa.

(25)

Dalam budaya masyarakat Jawa, berkembang pula prinsip-prinsip hubungan sosial yang sebagian besar terdiri dari dua bagian yaitu: prinsip hormat dan prinsip kerukunan (Ali, 1986). Masyarakat Jawa terkadang melakukan sesuatu yang tidak ia sukai karena keseganannya mengungkapkan perasaan penolakannya secara tegas dan berani. Selain itu, bisa dikatakan, orang Jawa sukar bisa dertindak tegas karena pertimbangan manusianya yang lekas berbicara sehingga mengakibatkan dia bersedia untuk memberi dan menerima yang bisa membuahkan suatu kompromi guna mengakhiri pertentangan atau konflik yang ada (Hardjowirogo, 1983). Salah satu contohnya, Koencoro dan Suseno & Reksosusilo dalam Santosa (1999) menyatakan bahwa dalam budaya Jawa pada anak wanita yang dituntut untuk bersikap pasif, dan menerima apa adanya atau pasrah.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti memutuskan untuk melihat apakah ada perbedaan asertivitas antara remaja putri suku Belu dan suku Jawa.

B. RUMUSAN MASALAH

Apakah asertivitas antara remaja putri suku Belu lebih tinggi dari pada suku Jawa?

C. TUJUAN PENELITIAN

(26)

D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi dan memperkaya pengetahuan dalam bidang ilmu psikologi sosial terutama mengenai perbedaan asertivitas di antara remaja.

2. Maanfaat Praktis

(27)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. REMAJA AKHIR 1. Pengertian Remaja

Masa remaja (Adolesence) didefinisikan sebagai periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional (Santrock, 2007). Masa remaja juga merupakan masa peralihan dari anak-anak ke dewasa, bukan hanya dalam arti psikologis, tetapi juga fisik. Bahkan, perubahan-perubahan fisik yang terjadi itulah yang merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Sementara itu, perubahan-perubahan psikologis muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan-perubahan fisik itu (Blos dalam Sarwono, 2007).

Adapun Anna Freud menggambarkan masa remaja sebagai suatu proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan berhubungan dengan psikoseksual, perubahan dalam hubungan dengan orang tua dan cita-cita mereka (Gunarsa, 2003).

Di Indonesia batasan remaja yang mendekati batasan PBB tentang pemuda adalah kurun usia 14 – 24 tahun. Penggolongan remaja ini didasarkan pada pertimbangan usia tanpa membedakan remaja dari keadaan sosial-psikologiknya (Sarwono, 2007).

(28)

2. Ciri-ciri Remaja Akhir

Hurlock dalam Mappiare (1982) menulis bahwa jika dibagi berdasarkan bentuk-bentuk perkembangan dan pola-pola perilaku yang nampak khas bagi usia-usia tertentu maka masa remaja akhir di alami pada usia 17 – 21 tahun. Dalam rentang masa itu terjadi proses penyempurnaan pertumbuhan fisik dan perkembangan aspek-aspek psikis yang telah dimulai pada masa-masa sebelumnya. Selanjutnya, Monks (2004) dalam bukunya juga mengatakan bahwa remaja akhir berada pada rentan usia 18-21 tahun.

Pada masa remaja akhir umumnya terdapat ciri-ciri khas yang nampak dalam diri remaja, diantaranya:

a. Stabilitas mulai timbul dan meningkat, yang berarti bahwa remaja relatif tetap atau mantap dan tidak mudah berubah pendirian akibat adanya rayuan atau propaganda. Akibatnya remaja akan lebih dapat melakukan penyesuaian dalam banyak aspek kehidupannya dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.

(29)

c. Menghadapi masalahnya secara lebih matang. Remaja akhir menghadapi masalah dengan lebih matang. Kematangan itu ditunjukkan dengan usaha pemecahan masalah-masalah yang dihadapi; baik dengan cara sendiri maupun dengan berdiskusi dengan teman-teman sebaya mereka.

d. Perasaan menjadi lebih tenang. Remaja akhir umumnya lebih tenang dalam menghadapi masalah-masalahnya. Hal ini juga ditunjang dengan adanya kemampuan piker dan dapat menguasai perasaan-perasaannya (Mappiare, 1982).

Melengkapi ciri-ciri remaja akhir, Dadang Sulaeman dalam Rochmah (2005) memberi tanda tentang ciri-ciri umum remaja akhir adalah sebagai berikut:

a. Pemilihan kehidupan mulai mendapat perhatian yang tegas, b. Telah ada spesialisasi berdasarkan bakat-bakat yang

diselidikinya,

c. Kecenderungan untuk menetapkan pekerjaan yang dipilih sebagai bekal mencari nafkah,

d. Memilih teman hidup dan memikirkan masalah keluarga, e. Berhati-hati dalam memilih pakaian dan cara berdandan, f. Kalau pada remaja awal sikap dan tindakan-tindakannya

serba kaku, maka kelakuan itu mulai hilang menjelang masa remaja akhir,

(30)

h. Mereka mulai berpikir tentang tanggung jawab sosial, moral, ekonomi, dan keagamaan,

i. Perspektif kehidupan semakin meluas, nilai-nilai kehidupan mulai muncul, pengertian-pengertian lebih diperluas dan dalam,

j. Mereka benar-benar telah mengambil tanggung jawab sebagai manusia dewasa.

3. Tahap Perkembangan Remaja Akhir

Petro Blos dalam Sarwono (2007) seorang penganut aliran psikoanalisa berpendapat bahwa perkembangan pada hakikatnya adalah usaha penyesuaian diri (coping), yaitu untuk secara aktif mengatasi stress dan mencari jalan keluar baru dari berbagai masalah. Dalam proses penyesuaian diri, ada tiga tahap perkembangan yang dilalui oleh remaja. Dari ketiga tahap perkembangan tersebut masa remaja akhir berada pada tahap ke tiga. Masa remaja akhir (Late Adolescence) kurang lebih terjadi pada pertengahan dasawarsa yang kedua dalam kehidupan. Minat karir, pacaran, dan eksplorasi identitas sering kali lebih menonjol dibandingkan pada masa remaja awal.

Tahap ini (remaja akhir) adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal berikut ini:

(31)

b. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dalam pengalaman-pengalaman baru.

c. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi. d. Egosentrisme yang diganti dengan keseimbangan antara

kepentingan diri sendiri dan orang lain.

e. Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umum (the public).

Menurut Erikson selama masa remaja, individu akan masuk dalam tahap perkembangan identitas versus kekacauan identitas (identity versus identity confusion). Pada tahap ini, individu dihadapkan pada pertanyaan siapa mereka, mereka itu sebenarnya apa, dan kemana mereka akan menuju dalam hidupnya (Santrock,2003). Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa identitasnya, maka remaja akan kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan kompas. Dampaknya, mereka mungkin akan mengembangkan perilaku menyimpang (delinquent), melakukan kriminalitas, atau menutup diri dari masyarakat (Yusuf, 2008).

(32)

situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional, tidak lagi bereaksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau seperti orang yang tidak matang (Rochmah, 2005).

Tahap perkembangan lain yang juga dialami remaja adalah perkembangan sosial. Tahap perkembangan ini berhubungan dengan penyesuaian sosial yang dapat juga diartikan sebagai kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realita sosial, situasi dan relasi. Dalam perkembangan sosial, kontak remaja dengan orang lain merupakan sesuatu yang sangat penting. Remaja harus membuat penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok teman sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai baru dalam dukungan dan penolakan sosial, dan nilai-nilai baru dalam seleksi pemimpin. Pada tahap ini juga berkembang kemampuan untuk memahami orang lain (social cognition) dan kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran atau keinginan orang lain (Rochmah, 2005).

4. Tugas Perkembangan Remaja Akhir

(33)

ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya (Havighurts dalam Yusuf, 2008).

Pada fase remaja akhir, sudah mulai terpolakan aktivitas seksual melalui langkah pendidikan hingga terbentuk pola hubungan antar pribadi yang sungguh-sunggu matang sesuai dengan kesempatan yang ada. Fase ini merupakan inisiasi kearah hak, kewajiban, kepuasan dan tanggung jawab kehidupan sebagai warga masyarakat dan warga Negara.

Tugas perkembangan pada fase remaja akhir adalah economically, intellectually, emotionally self sufficient. Setelah individu melewati enam fase perkembangan kepribadian, ia mencapai taraf kedewasaan yaitu enjadi pribadi manusia yang matang dan setelah itu memasuki usia lanjut (Suryono, 2004).

(34)

Selain itu adapun tugas perkembangan remaja pada umumnya menurut Robert Havighurts (dalam Sarwono, 2007) adalah sebagai berikut:

1. Menerima kondisi fisik dan memanfaatkan tubuhnya secara efektif.

2. Menerima hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya dari jenis kelamin yang mana pun.

3. Menerima peran jenis kelamin masing-masing (laki-laki atau perempuan).

4. Berusaha melepaskan diri dari ketergantungan emosi terhadap orang tua dan orang dewasa lainnya.

5. Mempersiapkan karier ekonomi.

6. Mempersiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga. 7. Merencanakan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab. 8. Mencapai system nilai dan etika tertentu sebagai pedoman

tingkah lakunya.

Selain itu, Gunarsa (2003) juga menyebutkan ada beberapa tugas perkembangan lainnya pada masa remaja adalah:

1. Menerima keadaan fisiknya,

2. Memperoleh kebebasan emosional, 3. Mampu bergaul,

4. Menemukan model untuk identifikasi,

(35)

6. Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma, 7. Meninggalkan reaksi dan cara penyesuaian kekanak-kanakan.

5. Asertivitas Pada Remaja Akhir

Dalam beberapa tahapan perkembangannya remaja diperhadapkan dengan tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya untuk bisa berhasil pada tahap perkembangan selanjutnya. Pada masa remaja akhir, ada beberapa tugas perkembangan yang harus diselesaikan diantaranya, economically, intellectually, emotionally self sufficient. Selain itu remaja akhir juga diharapkan mampu mencapai kemandirian seperti pada tahap remaja madya, namun juga berfokus pada persiapan diri untuk benar-benar terlepas dari orang tua, membentuk pribadi yang bertanggung jawab, mempersiapkan karir ekonomi, dan membentuk ideologi pribadi yang di dalamnya juga meliputi penerimaan terhadap nilai dan sistem etik.

(36)

ketika berinteraksi dengan orang lain baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Pentingnya perilaku asertif ditanamkan sejak dini pada remaja karena asertivitas bukan merupakan sesuatu yang lahiriah, tetapi lebih merupakan pola sikap dan perilaku yang dipelajari sebagai reaksi terhadap berbagai situasi sosial yang ada di lingkungan.

(37)

yang bersangkutan untuk lebih memahami kekurangannya sendiri dan bersedia memperbaiki kekurangan tersebut (Erlinawati, 2009).

B. ASERTIVITAS

1. Pengertian Asertivitas

Lazarus (Rakos, 1991) adalah tokoh yang pertama sekali mendefinisikan perilaku asertif, yang menyatakan bahwa perilaku asertif adalah cara individu dalam memberikan respon dalam situasi sosial, yang berarti sebagai kemampuan individu untuk mengatakan tidak, kemampuan untuk menanyakan dan meminta sesuatu, kemampuan untuk mengungkapkan perasaan positif dan negatif, serta kemampuan untuk mengawali kemudian melanjutkan serta mengakhiri percakapan.

Menurut Cawood (1997) perilaku asertif adalah ekspresi yang langsung, jujur dan pada tempatnya dari pikiran, perasaan, kebutuhan, atau hak-hak anda tanpa kecemasan yang tidak beralasan. Selain itu perilaku asertif juga bersifat interaktif. Selain itu, Llyod dalam Cawood (1997), mendefinisikan perilaku asertif sebagai suatu gaya wajar yang tidak lebih dari sikap langsung, jujur, dan penuh respek sementara berinteraksi dengan orang lain.

(38)

hak-hak serta perasaan orang lain (Rini, 2001). Selain itu, Rimm dan Masters (dalam Rakkos, 1991) juga mengartikan perilaku asertif sebagai suatu perilaku dalam hubungan interpersonal yang bersifat jujur serta mengekspresikan pikiran dan perasaan secara langsung dengan tetap memperhitungkan kondisi sosial yang ada. Selain itu, Rathus dalam Ulyniami,(2010) mengungkapkan bahwa asertivitas juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat mengemukakan pendapat, sasaran dan keinginan yang dimilikinya secara langsung, jujur dan terbuka kepada orang lain

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa asertivitas adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk berkata tidak, kemampuan untuk meminta pertolongan, kemampuan dalam mengungkapkan pendapat dan apa yang sedang dirasakan dengan sungguh-sungguh secara bebas, jujur, langsung, pada tempatnya dengan tetap memperhatikan hak-hak orang lain.

2. Aspek-aspek Asertivitas

Beberapa aspek dalam perilaku asertif menurut Lazarus dalam Rakos (1991) yaitu:

a. Kemampuan untuk berkata “tidak”. b. Kemampuan meminta pertolongan.

(39)

d. Kemampuan untuk mengawali kemudian melanjutkan serta mengakhiri suatu pembicaraan.

Menurut Kanfer dan Goldstain seseorang dikatakan asertif bila: (a) dapat menguasai diri sesuai dengan situasi yang ada, (b) dapat memberikan respon dengan wajar pada hal-hal yang sangat disukainya, (c) dapat menyatakan kasih sayang dan cintanya kepada seseorang secara terus terang dan wajar (Kanfer dan Goldstain dalam Santosa, 1999).

Rathus (1986), juga mengungkapkan bahwa orang yang asertif mampu mengekspresikan perasaan dengan sungguh-sungguh, menyatakan tentang kebenaran. Mereka tidak menghina, mengancam ataupun meremehkan orang lain. Orang asertif juga mampu menyatakan perasaan dan pikirannya dengan tepat dan jujur tanpa memaksakannya kepada orang lain (Rathus dalam Ulyniami, 2010).

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Asertivitas

(40)

a. Pola asuh orang tua 1) Pola asuh otoriter

Pada pola asuh otoriter, orang tua akan mendidik anak secara keras, penuh dengan disiplin yang tidak dapat diterima anak tetapi dipaksakan, penuh dengan aturan-aturan dan larangan-larangan yang pada prinsipnya membatasi ruang kehidupan anak. Anak-anak yang diasuh dengan cara otoriter biasa akan menjadi remaja yang permisif di kemudian hari.

Akan tetapi, jika diasuh secara otoriter dan disertai dengan perilaku agresif maka anak akan menjadi remaja yang agresif pula, sukar untuk mengontrol diri dan biasanya terlibat dalamjuvenile delinquency.

2) Pola asuh demokratis

(41)

pengasuhan demokratis sering disebut juga sebagai pola pengasuhan Authoritative merupakan pola asuh mempunyai banyak sisi positif dalam pengaruhnya terhadap anak. Pola asuh demokratis dapat didefinisikan sebagai pemeliharaan anak atau kendali orang tua terhadap anak dengan cara kesederajatan, lebih mengutamakan kepentingananak (childcenteredness) (Hurlock dalam Adji, 1995)

Menurut Peck, berdasarkan hasil temuannya menunjukkan bahwa remaja yang “friendliness” dan “spontanetty” berhubungan erat dengan iklim keluarga yang demokratis (Yusuf, 2008).

3) Pola asuh permisif

Lewat pola asuh ini, anak akan dididik tanpa adanya batasan/aturan yang bersifat mengikat bahkan terkesan bebas. Anak yang dibesarkan dengan cara ini akan terbiasa untuk mendapatkan segala sesuatu dengan mudah dan cepat. Jika tidak mendapatkan apa yang diinginkan maka ia akan mudah kecewa dan menjadi marah.

(42)

di antara anggota keluarga, (e) mampu berjuang mengatasi masalah hidupnya, (f) saling menyesuaikan diri dan mengakomodasi, (g) orang tua melindungi anak, (h) komunikasi anggota keluarga berlangsung dengan baik, (i) keluarga memenuhi kebutuhan psikososial anak dan mewariskan nilai-nilai budaya, dan (j) mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi (Yusuf, 2008).

b. Kebudayaan

Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang mana pun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan (Ralph Linton dalam Ihromi, 1996).

Taylor menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku asertif yaitu budaya. Kebudayaan merupakan pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adatistiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat (Sulaeman, 1998).

(43)

c. Usia

Pada anak kecil perilaku asertif belum terbentuk. Struktur kognitif yang ada belum memungkinkan mereka untuk menyatakan apa yang diinginkan dengan bahasa verbal yang baik dan jelas. Sebagian dari mereka masih bersifat pemalu dan pendiam sedangkan yang lain justru bersifat agresif dalam menyatakan keinginannya. Perilaku asertif akan semakin berkembang saat seorang menginjak masa remaja dan dewasa. Sedangkan pada usia tua tidak begitu jelas perkembangan atau penurunannya.

d. Jenis kelamin

(44)

wanita bukanlah sesuatu yang bersifat konstan. Adanya pengaruh globalisasi yang membawa pengaruh pada norma-norma setempat dan adanya kesadaran mengenai persamaan gender membuat wanita sekarang cenderung memiliki sifat mandiri, percaya diri, rasional dan asertif.

e. Strategicoping

Strategi coping adalah suatu bentuk penyesuaian diri yang melibatkan unsur-unsur kognisi dan afeksi dari seorang guna mengatasi suatu masalah yang dating pada dirinya. Menurut Massong et al. (dalam santosa, 1999) strategi coping yang digunakan remaja juga mempengaruhi tingginya tingkat keasertivan mereka. Dengan kata lain, remaja yang menggunakan mekanisme coping yang efektif dan adaptif dalam menyelesaikan suatu permasalahan akan lebih asertif dibanding dengan remaja yang menggunakan mekanisme coping seperti penyangkalan (denial) dan proyeksi.

f. Pendidikan

(45)

menyesuaikan diri terhadap perubahan–perubahan, lebih mampu untuk mengungkapkan pendapatnya, memiliki rasa tanggung jawab dan lebih berorientasi ke pendapatnya, memiliki rasa tanggung jawab dan lebih kemasa depan (Hadjam dalam Yusuf, 2008).

Perkembangan kepribadian seorang individu juga dipengaruhi oleh tingkat intelegensi yang dimiliki. Individu yang tingkat intelegensinya lebih tinggi biasanya mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara wajar., sedangkan yang rendah biasanya sering mengalami hambatan atau kendala dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya ( Hadjam dalam Yusuf, 2008).

g. Kepribadian

Allport (dalam Suryabrata, 1988) mengatakan bahwa kepribadian ialah organisasi dinamis dalam diri Individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Kepribadian yang dimiliki seseorang juga mempengaruhi perilaku asertif dalam berinteraksi dengan individu lain di lingkungan sosial.

(46)

berorientasi keluar, yaitu: (a) menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya sendiri, (b) merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, (c) tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan tidak mengorbankan orang lain karena kekecewaan dirinya (Barret Leonard dalam Yusuf, 2008).

C. KEBUDAYAAN 1. Kebudayaan

Budaya adalah pola tingkah laku, keyakinan, dan semua produk lain dari sekelompok manusia yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya (Santrok, 2003). Produk tersebut dihasilkan dari interaksi antar kelompok manusia dengan lingkungannya selama bertahun-tahun. Besar ataupun kecilnya suatu kebudayaan, budaya kelompok akan mempengaruhi identitas, belajar, dan tingkah laku sosial anggotanya (Brislin, Goodnow, LeVine & Shweder, Lonner & Malpass, Triandis dalam Santrok, 2003).

(47)

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada masyarakat atau perorangan yang tidak berkebudayaan. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan, bagaimanapun sederhananya kebudayaan itu dan setiap manusia adalah makhluk berbudaya yang mengambil bagian dalam suatu kebudayaan (Ralph Linton dalam Ihromi, 1996).

Sebuah bangsa dikatakan mempunyai kebudayaan jika para warganya memiliki kesamaan dalam sejumlah pola-pola berpikir dan kelakuan yang didapat melalui proses belajar. Dalam bagian-bagian tertentu dalam suatu masyarakat kita yang mempunyai asal usul etnis atau daerah atau agama atau mempunya pekerjaan yang sama dengan kita, kita memiliki cirri-ciri bersama tertentu.

2. Kebudayaan Suku Belu

Wilayah kabupaten Belu terletak pada sentral pulau Timor dengan luas wilayahnya 2.445,57 2 atau 5,16% dari luas wilayah Propinsi NTT. Bagian utara kabupaten Belu berbatasan dengan selat Ombai. Bagian selatan berbatasan dengan Laut Timor, bagian Timur berbatasan dengan Negara Timor Leste, dan bagian Barat berbatasan dengan kabupaten TTU.

(48)

Mata pencaharian yang utama di bidang pertanian khususnya lahan kering meliputi 79 % dari jumlah penduduk kabupaten Belu. Disamping pertanian lahan kering, masyarakat juga memlihara ternak dan unggas.

Daerah kabupaten Belu pada umumnya terdiri atas daratan bukit dan pegunungan serta hutan. Daerah Belu tergolong daerah yang curah hujannya sedikit yang secara tidak langsung iklim tersebut mempengaruhi pola hidup dan watak keseharian masyarakat Belu. Tempat tinggal orang-orang Belu dahulunya banyak berada di daerah perbukitan yang dikelilingi oleh semak berduri dan batu karang yang tidak mudah didatangi orang dan hidup secara berkelompok, dengan maksud untuk menjaga keamanan dari gangguan orang luar maupun binatang buas.

Belu dalam bahasa Tetun artinya sahabat. Kata Belu tidak hanya sekedar basa basi, namun juga mengekspresikan nilai-nilai, budaya dan falsafah hidup masyarakatnya (Bria, 2004). Seseorang yang lahir dengan latar belakang kebudayaan Belu hendaknya dapat memaknai hakekatnya sebagai seseorang yang berkehendak baik, berpikir dan berbuat baik demi kemajuan Rai Belu dan seluruh masyarakat.

(49)

membuat sesuatu menjadi seimbang, tidak miring atau tidak berat sebelah. Menjadi Belu berarti menjadi seorang sahabat yang dengan budi dan hati bening mampu untuk bersikap terbuka bagi persahabatan dengan orang lain, lingkungan dan semua ciptaan Tuhan (Bria, 2004).

Hal ini dimaksudkan agar manusia ini (masyarakat Belu) dapat hidup tentram, aman, damai, bahagia lahir dan batin, sejahtera dan nyaman (Bria, 2004). Menurut masyarakat suku Belu terdapat tiga fakta keseimbangan utama dalam menjalani kehidupan yang harus selalu dijaga:

1. Keseimbangan manusia dengan Roh, Dewata atau Tuhan, 2. Keseimbangan manusia dengan sesame manusia lain,

3. Keseimbangan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Ketika falsafah hidup di atas dapat dipahami dan dihayati dengan benar dan mendalam, maka pintu kedamaian, persaudaraan, kekeluargaan, kenyamanan, kebersamaan selalu terbuka dalam kehidupan bermasyarakat, berpemerintahan maupun dalam hidup keagamaan.

(50)

bekerja keras, melestarikan nilai-nilai budaya adat yang bersifat positif sebagai pedoman pengayom hidup bersama masyarakat, bersikap ramah terhadap alam sebagai partner kehidupan dan memanfaatkan segala ciptaan Tuhan secara bijaksana dan bertanggung jawab, demi kebahagiaan manusia (Bria, 2004).

3. Kebudayaan Suku Jawa

Jawa adalah sebuah pulau di Indonesia dengan penduduk terpadat di dunia. Dengan populasi sebesar 136 juta jiwa, pulau Jawa adalah yang menjadi tempat tinggal lebih dari 57% populasi Indonesia, dengan kepadatan 1.029 jiwa/km². Sekitar 45% penduduk Indonesia berasal dari etnis Jawa. Walaupun demikian sepertiga bagian barat pulau ini (Jawa Barat, Banten, dan Jakarta) memiliki kepadatan penduduk lebih dari 1.400 jiwa/km2.

(51)

Kaidah-kaidah itu antara lain: sabar, waspada, merendahkan diri, dan bersahaja. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa anak Jawa dimanjakan, tidak dilatih untuk berdiri sendiri.

Remaja Jawa yang pada umumnya memiliki sifat yang lebih tertutup. Bisa dikatakan, orang Jawa sukar bisa dertindak tegas karena pertimbangan manusianya yang lekas berbicara sehingga mengakibatkan dia bersedia untuk memberi dan menerima yang bisa membuahkan suatu kompromi guna mengakhiri pertentangan atau konflik yang ada (Hardjowirogo, 1983). Selain itu, orang Jawa umumnya begitu kuat terikat tradisi dan tata gaul feodalistik, sehingga ia belum bisa bersikap dan berbicara bebas di dalam masyarakat.

(52)

a. Wedi berarti takut, baik sebagai reaksi ancaman fisik maupun sebagai rasa takut terhadap akibat kurang enaknya suatu tindakan.

b. Isin berarti malu, juga dalam arti malu-malu, merasa bersalah dan sebagainya. Rasa isin dikembangkan pada anak dengan membuatnya malu di depan tetangga, tamu dan sebagainya bila ia melakukan sesuatu yang pantas ditegur.

c. Sungkan merupakan suatu perasaan yang dekat dengan isin. Akan tetapi, sungkan adalah perasaan malu yang positif. Sungkan bukan suatu rasa yang hendak dicegah, rasa hormat yang sopan terhadap atasan dan sesame yang belum dikenal.

Prinsip rukun bertujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaan yang harmonis. Keadaan rukun terletak dimana semua pihak berada dalam keadaan damai, suka bekerja sama, saling menerima dalam suasana tenang dan sepakat (Ali, 1986).

(53)

b. Prinsip kerukunan pertama-tama tidak menyangkut suatu sikap batin atau keadaan jiwa, melainkan penjagaan keselarasan dalam pergaulan.

D. DINAMIKA HUBUNGAN ASERTIVITAS DAN KEBUDAYAAN Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan, bagaimanapun sederhananya kebudayaan itu dan setiap manusia adalah makhluk berbudaya yang mengambil bagian dalam suatu kebudayaan (Ralph Linton dalam Ihromi, 1996). Suatu masyarakat dengan kebudayaan tertentu umumnya memiliki kebiasaan dan kesamaan dalam melakukan sesuatu. Apa yang dilakukan oleh setiap orang dalam suatu masyarakat akan disesuaikan dengan nila dan norma serta aturan yang dibuat dalam masyarakat tersebut.

Salah satu faktor pembentuk perilaku asertif adalah faktor kebudayaan. Rakos (dalam santosa, 1999), memandang bahwa kebudayaan mempunyai peran besar dalam pembentukan perilaku asertif. Biasanya hal ini sangat berhubungan dengan norma-norma yang ada.

(54)

namun juga mengekspresikan nilai-nilai, budaya dan falsafah hidup masyarakatnya (Bria, 2004).

Menjadi Belu berarti menjadi seorang sahabat yang dengan budi dan hati bening mampu untuk bersikap terbuka bagi persahabatan dengan orang lain, lingkungan dan semua ciptaan Tuhan (Bria, 2004). Hal ini nampak dalam falsafah hidup orang Tetun (suku Belu) yang adalah keharmonisan. Keharmonisan disini dimaksudkan agar manusia ini (masyarakat Belu) dapat hidup tentram, aman, damai, bahagia lahir dan batin, sejahtera dan nyaman (Bria, 2004).

(55)

Dalam penelitian ini, pengaruh budaya Belu dalam pembentukan perilaku asertif akan dibandingkan dengan pengaruh dari budaya Jawa, mengingat Jawa adalah salah satu budaya besar yang dominan di Indonesia. Masyarakat Jawa, pada umumnya memegang prinsip hubungan sosial yang sebagian besar terdiri dari dua bagian yaitu : prinsip hormat dan prinsip kerukunan. Prinsip hormat menyatakan bahwa setiap orang dalam cara bicara dan membawa diri harus selalu menunjukkan sikap hormat pada orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Kefasihan seseorang dalam mempergunakan sikap hormat yang tepat, pada orang Jawa dikembangkan sejak kecil melalui pendidikan dalam keluarga. Pendidikan itu tercapai melalui tiga perasaan yang dipelajari anak-anak Jawa dalam situasi-situasi yang membuat rasa hormat, yaitu:wedi, isin,dansungkan.

(56)

Selain itu, adapun prinsip rukun bertujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaan yang harmonis. Keadaan rukun terletak dimana semua pihak berada dalam keadaan damai, suka bekerja sama, saling menerima dalam suasana tenang dan sepakat. Rukun juga berarti menghindari konflik. Bisa dikatakan, orang Jawa sukar bisa dertindak tegas karena pertimbangan manusianya yang lekas berbicara sehingga mengakibatkan dia bersedia untuk memberi dan menerima yang bisa membuahkan suatu kompromi guna mengakhiri pertentangan atau konflik yang ada. Dikatakan pula bahwa remaja Jawa yang pada umumnya memiliki sifat yang lebih tertutup (Hardjowirogo, 1983).

Dengan adanya kedua prinsip di atas yang melatar belakangi masyarakat Jawa dalam berelasi dengan lingkungan sosial, maka masyarakat Jawa telah mengembangkan perilaku tidak asertif dalam dirinya.

(57)

 Skema Dinamika Hubungan Asertivitas dan Kebudayaan

Kebudayaan

Suku Belu

Suku Jawa

Prinsip Hidup

Prinsip Hubungan Sosial

Hormat

Kerukunan

Menghindari Konflik

Menjaga Keselarasan Pergaulan

Non Asertif Asertif Harmonis

Kerja Sama

Saling Menghormati

Menghargai Terbuka

Wedi/Takut

Isin/Malu

(58)

E. HIPOTESIS

(59)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian komparatif, yang bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan tingkat asertivitas yang dimiliki oleh remaja putri suku Belu dan suku Jawa.

B. Identifikasi Variabel 1. Variabel Bebas

Variabel bebas atau variabel independen sering disebut variabel prediktor. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab berubahnya variabel dependen. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah suku.

2. Variabel Tergantung

Variabel tergantung atau variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah asertivitas.

C. Definisi Operasional 1. Asertivitas

Asertivitas adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam mengungkapkan pendapat dan apa yang sedang dirasakan dengan

(60)

sungguh-sungguh secara bebas, jujur, langsung, pada tempatnya dengan tetap memperhatikan hak-hak orang lain.

Asertivitas dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan skala asertivitas yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Lazarus. Skor yang tinggi dalam skala ini menunjukkan tingginya tingkat asertivitas yang yang dimiliki oleh seseorang. Begitupun sebaliknya, skor yang rendah menunjukkan rendahnya tingkat asertivitas yang dimiliki oleh seseorang.

Aspek-aspek dalam perilaku asertif menurut Lazarus, yaitu: a. Kemampuan untuk berkata “tidak”.

b. Kemampuan meminta pertolongan.

c. Kemampuan mengungkapkan perasaan yang positif maupun negatif secara wajar.

d. Kemampuan untuk mengawali kemudian melanjutkan serta mengakhiri suatu pembicaraan.

2. Kebudayaan

(61)

D. Subjek Penelitian

Sampling penelitian dalam penelitian ini menggunakan model purposive sampling. Pengambilan sample didasarkan pada keperluan peneliti, artinya setiap individu yang diambil dari populasi dipilih dengan sengaja berdasarkan pertimbangan tertentu.

Ciri-ciri subyek dalam penlitian ini adalah: 1. Perempuan,

2. Termasuk dalam tahap perkembangan remaja akhir dengan kisaran usia 17 – 21 tahun,

3. Berstatus sebagai mahasiswa yang sedang berkuliah di Yogyakarta, 4. Berasal dari dua latar belakang kebudayaan (suku) yaitu suku Belu dan

suku Jawa.

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data

Metode pengambilan data dilakukan dengan penyebaran skala pada subjek yang telah ditentukan sesuai dengan variabel yang akan diukur yaitu skala asertivitas.

(62)

4 (SS), sedangkan pada pernyataan unfavorable dimulai dari 4 (STS), 3 (TS), 2 (S), 1 (SS).

Tabel 1

Blue PrintSkala asertivitas Sebelum Uji Coba

Aspek Favorable Unfavorable Jumlah Presentase a. Kemampuan untuk

(63)

professional judgment untuk melihat sejauh mana item-item tersebut mencakup keseluruhan kawasan isi obyek yang hendak diukur (Azwar,1999). Professional judgment dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing melalui evaluasi kualitas aitem-aitem yang termuat dalam skala penelitian.

2. Reliabilitas

Reliabilitas merupakan hasil dari suatu pengukuran yang dapat dipercaya. Dalam aplikasinya, reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx’) yang angkanya berada dalam rentang 0 – 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitas (Azwar, 1999). Dalam penelitian ini, reliabilitas alat ukur ditentukan dengan menggunakan koefisien alfa dari Cronbach. Semakin tinggi koefisien reliabilitasnya, berarti semakin tinggi pula tingkat kepercayaan hasil pengukuran alat tersebut bagi kelompok subyek yang diteliti. Hasil yang diperoleh dari pengujian reliabilitas terhadap 27 item yang lolos dalam konsistensi internal adalah 0,745.

3. Uji Daya Beda Item

(64)

item-total (rix) yang dikenal pula dengan sebutan parameter daya beda item(Azwar, 1999).

Batasan yang dipakai dalam pemilihan item berdasarkan korelasi item-total adalah (rix) ≥ 0,25. Batasan ini ditentukan karena jumlah item diatas batasan rix= 0,300 masih tidak mencukupi jumlah yang diinginkan.

(65)

Tabel 2

Blue PrintSkala asertivitas Setelah Uji Coba

Aspek Item yang lolos seleksi Jlh. Item yang gugur Jlh.

Fav. Unfav. Fav. Unfav.

a. Kemampuan

(66)

Tabel 3

Blue PrintSkala asertivitas

Aspek Favorable Unfavorable Jumlah Presentase a. Kemampuan untuk

(67)

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk memperlihatkan dua kelompok data sampel memiliki variansi yang sama atau tidak. Jika nilai signifikansi (p) > 0,05 maka sampel pada penelitian memiliki variansi yang sama. Sebaliknya, jika nilai signifikansi (p) < 0,05 maka sampel pada penelitian memiliki variansi yang tidak sama.

H. Uji Hipotesis

(68)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian 1. Proses Penelitian

Pengambilan data penelitian dilakukan kurang lebih dua minggu yaitu dari tanggal 15 – 27 Januari 2011. Dalam penelitian ini, peneliti menyebarkan 120 eksemplar skala asertivitas pada 120 subyek yang terdiri dari 60 subyek remaja dari suku Belu dan 60 subyek remaja dari suku Jawa.

Subyek penelitian adalah remaja putri dari suku Belu dan Jawa dengan kisaran usia antara 17 – 21 tahun. Saat ini subyek berstatus sebagai mahasiswi dan sedang menempuh masa belajarnya di Yogyakarta. Untuk mengetahui kesukuan dari subyek yang akan mengisi skala, peneliti menguhubungi komunitas perkumpulan mahasiswa suku Belu dan juga melalui pertanyaan tentang kesukuan yang tertera pada lembar kuisioner.

Setelah semua skala diisi dan dikembalikan, hanya terdapat 100 eksemplar skala yang memenuhi kriteria untuk diolah lebih lanjut. 100 eksemplar skala tersebut terdiri dari 50 eksemplar dari mahasiswi suku Belu dan 50 eksemplar lagi dari mahasiswi suku Jawa.

(69)

Proses pengumpulan data terhadap keseluruhan subyek dilakukan pada waktu yang tidak bersamaan pada tempat yang berbeda pula, yaitu di kos atau tempat tinggal dan di area kampus. Waktu penyebaran skalapun berbeda-beda, mulai dari pagi, siang dan malam.

Beberapa subyek yang melakukan pengisian skala mengaku sedang dalam keadaan capek karena baru pulang dari kuliah dan atau baru selesai melakukan suatu aktivitas lain. Dan sebagian besar lainnya mengatakan sedang buru-buru karena akan segera mengikuti perkuliahan yang dimulai beberapa menit lagi, dan ada juga yang terburu-buru karena harus segera pulang ke tempat tinggalnya.

2. Data Demografi

(70)

a. Presentase Subyek Berdasarkan Latar Belakang Suku Tabel 4

Presentase Subyek Berdasarkan Latar Belakang Suku

Suku Frekuensi Presentase

Belu 50 50%

Jawa 50 50%

Total 100 100%

b. Presentase Subyek Berdasarkan Usia Tabel 5

Presentase Subyek Berdasarkan Usia

Usia Frekuensi Presentase

Belu Jawa Belu Jawa

17 tahun 3 6 3 % 6%

18 tahun 9 6 9% 6%

19 tahun 17 21 17 % 21%

20 tahun 15 8 15 % 8%

21 tahun 6 9 6 % 9%

Total 50 50 50 % 50 %

3. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

(71)

menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov dengan menggunakan program SSPS for windows versi 17.0 terhadap 27 item.

Tabel 6 Hasil Uji Normalitas

Variabel Nilai K-SZ P > 0,05 Keterangan

Asertivitas 0,857 0,455 Normal

Berdasarkan table diatas, dapat dilihat bahwa nilai dari koefisien Kolmogorof – Smirnof Z (K – SZ) adalah sebesar 0,857 dengan nilai signifikansi ( p ) sebesar 0,455 ( syarat p > 0,05). Hal ini dapat berarti bahwa keseluruhan data pada variabel asertivitas berdistribusi normal.

b. Uji Homogenitas

(72)

Tabel 7 Uji Homogenitas

Levene Statistic df1 df2 Sig.

0,419 1 98 0,519

Dari hasil analisis berdasarkan table diatas, diperoleh nilai signifikansi (p) sebesar 0,519. Hal ini berarti nilai p > 0,05 sehingga menunjukkan adanya variansi yang sama dari sampel penelitian.

4. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan independent sample t-test, program SSPS for windows versi17.0. Berdasarkan hasil perhitungannya, diperoleh nilai t = -1,908 dengan signifikansi (p) 0,0295 syarat (p > 0,05). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan asertivitas antara remaja putri suku Belu dan suku Jawa. Akan tetapi, hipotesis penelitian tidak terbukti karena nilai mean antara kedua kelompok subyek menunjukkan bahwa tingkat asertivitas remaja putri suku Belu lebih rendah dari suku Jawa.

5. Deskripsi Data Penelitian

(73)

keseluruhan subyek tinggi atau rendah. Untuk mengetahuinya peneliti membandingkan antara Mean Teoritik (MT) dan Mean Empirik (ME). Cara perhitungannya adalah sebagai berikut:

 MT= ( × ) ( × )

MT= ( × ) ( × ) MT=

MT= MT= 67,5

 MEBelu= 79,08 MEJawa= 82,02

(74)

Tabel 8

Belu 50 79,08 67,5 7,529 0,0295

Jawa 50 82,02 67,5 7,873 0,0295

B. Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah tingkat asertivitas remaja putri suku Belu lebih tinggi daripada suku Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara tingkat asertivitas remaja putri suku Belu dan suku Jawa. Akan tetapi hipotesis penelitian ditolak karena dari nilai mean antara kedua kelompok subyek menunjukkan bahwa tingkat asertivitas remaja putri suku Belu lebih rendah dari suku Jawa.

Beberapa faktor yang menjadi penyebab tidak terbuktinya hipotesis dalam penelitian ini diantaranya: kondisi real subyek ketika mengisi skala, dan pengaruh dari faktor pembentuk perilaku asertif lain seperti tingkat pendidikan subyek dan pola asuh orang tua pada masa ini.

(75)

capek karena baru pulang dari kuliah dan atau baru selesai melakukan suatu aktivitas lain. Sebagian besar subyek lainnya mengatakan mereka sedang buru-buru karena akan segera mengikuti perkuliahan yang dimulai beberapa menit lagi, dan ada juga yang terburu-buru karena harus segera pulang ke tempat tinggalnya. Hal ini membuat mereka menjadi kurang fokus dalam pengisian skala. Selain itu, subyek dari suku Belu yang dimintai untuk mengisi skala adalah mahasiswa yang kurang lebih sudah 2 tahun berada di Yogyakarta. Dalam jangka waktu tersebut subyek sudah mengalami penyesuaian perilaku dan perasaan, sehingga mereka menjadi lebih hati-hati dalam mengungkap apa yang mereka rasakan.

Dengan melihat kenyataan-kenyataan yang ada maka hasil akhir yang diperoleh dari pengisian skala bisa saja tidak menunjukkan keadaan subyek yang sebenarnya, sehingga menyebabkan hipotesis dari penelitian ini tidak terbukti.

(76)

pendidikan yang baik dan berkualitas maka siswa akan lebih cepat mengembangkan perilaku asertifnya. Siswa akan belajar menerima dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, belajar untuk mampu mengungkapkan pendapatnya, dan lebih bertanggung jawab.

Selain itu, dikatakan pula bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan semakin luas wawasan berpikirnya, sehingga memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri dengan lebih terbuka (Rathus dan Nevid dalam Tjala, 2008). Artinya bahwa, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, diharapkan semakin tinggi pula perilaku asertifnya.

Bila dilihat dari latar belakang pendidikan yang dilalui oleh keseluruhan subyek, dimungkinkan adanya perbedaan pengalaman yang diperoleh pada lingkungan tempat bersekolah sebelumnya. Subyek dengan latar belakang suku Jawa umunya menyelesaikan tingkat pendidikan sebelumnya di Jawa, sedangkan subyek dari suku Belu menyelesaikan tingkat pendidikan sebelumnya di daerah asal mereka di Belu, yang mana berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Belu masih menjadi yang terendah dibanding dengan daerah-daerah lain termasuk Jawa. Kualitas pendidikan disini bisa dilihat dari: (a) mutu guru, (b) fasilitas: ketersediaan gedung sekolah, meja dan bangku, buku-buku pelajaran, dan alat pendukung pembelajaran lainnya), dan (c) tingkat kelulusan.

(77)

Lebu Raya, bahwa sebanyak 44.977 guru di NTT belum memenuhi syarat sebagai pengajar. Sebanyak 26.972 orang diantara hanya berijazah setara sekolah menengah atas. Hal lain yang juga diungkapkan oleh Gubernur NTT adalah sekitar 77,25% guru SD juga tidak layak menjadi guru karena latar belakang pendidikan yang tidak layak. Persyaratan yang dimaksud antara lain tidak menguasai ilmu secara baik, kemampuan penguasaan beberapa mata pelajaran yang rendah dan beberapa persoalan lain (“Puluhan Ribu Guru”, 2010). Prof. Elias Kopong juga menambahkan bahwa, di NTT jumlah guru masih terbatas. Baru sekitar 9 ribu orang guru yang berkualifikasi sarjana dari sekitar 50 ribu orang total jumlah guru (Dhiu Matilde, Alfred Dama, Agus Sape, 2009).

(78)

Selain itu, sarana peningkatan mutu, seperti perpustakaan, laboratorium dan ICT, juga masih terbatas. Dari 4.024 sekolah dasar di NTT, hanya 344 SD yang memiliki perpustakaan, 3.434 SD yang memiliki laboratorium serta 3.330 SD memiliki fasilitas ICT. Di tingkat SMP, dari 795 SMP, hanya 539 SMP yang memiliki perpustakaan, 549 laboratorium serta 15 fasilitas ICT. Di tingkat SMA, dari 235 SMA, hanya 160 SMA yang memiliki perpustakaan, 145 laboratorium serta 124 unit fasilitas ICT. Sedangkan dari 105 SMK, hanya 54 SMK memiliki perpustakaan, 40 laboratorium dan 85 unit fasilitas ICT. Data dari Dinas PPO Propinsi NTT ini menunjukkan ketimpangan yang luar biasa proses belajar mengajar di NTT (Dhiu Mathilde, dkk, 2009).

Adapun fakta lain yang menunjukkan bahwa begitu kurangnya fasilitas penunjang jalannya proses pendidikan di Belu seperti, Siswa SD Kleseleon di Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu, NTT tetap belajar meski bangunan sekolah mereka nyaris rubuh. Kayu-kayu atap lapuk dan sebagian seng penutupnya jatuh diterbangkan angin. Jika musim kemarau, seng yang tertiup angin sering jatuh di tengah kelas. Sedangkan kala musim penghujan para murid pasti diliburkan karena kelas becek (Dore, 2008).

(79)

pendidikan, seperti Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Papua, yang seburuk tulisan anak anak kelas 3 SD di NTT. Terbanyak masih menggambar huruf dan angka. Jelas anak-anak ini tidak bisa membaca dan memahami soal atau tugas kalau menulis saja masih pontang panting. Kemampuan membaca anak-anak kelas 3 dan kelas 5 SD juga parah di daerah-daerah tertentu di NTT” (Kleden, 2010).

Selanjutnya, Belen menambahkan “Berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya merintis inovasi di berbagai daerah di Indonesia, kemampuan siswa-siswa NTT pukul rata dua tahun tertinggal di belakang dibandingkan kemampuan para siswa di Jawa. Jika saya cek kemampuan siswa kelas 5 SD di Kota Kupang dan Belu, misalnya, ternyata masih setaraf kemampuan siswa kelas 3 SD di Malang. Kemampuan siswa kelas 3 SMP di Ende masih setaraf kemampuan siswa kelas 1 SMP di Solo. Kemampuan siswa kelas 3 SMA di Maumere masih setaraf kemampuan siswa SMA kelas 1 di Yogyakarta. Ini kesimpulan sementara saya pada awal tahun 2000. Dengan mengamati hasil UN tahun 2008-2010, mungkin perbedaan itu sudah melebar menjadi 3 tahun” (Kleden, 2010).

(80)

Berbeda dengan Belu, pada tahun 2008 lalu pendidikan di jawa barat dikatakan menjadi yang terunggul di Indonesia (Ahira, 2009). Tidak hanya itu, pada tanggal 12 september 2011 gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mendapatkan penghargaan inklusif 2011. Menurut Tim Penilai Nasional, Heryawan merupakan salah satu dari dua kepala daerah di Indonesia yang dinilai peduli dan berhasil dalam membina sekaligus mendorong perkembangan pendidikan inklusif di Jawa Barat(“Penghargaan Pendidikan Inklusif”, 2011).

Selain itu, kepala bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Yogyakarta, Sugeng M Subono mengatakan bahwa kualitas guru di sekolah Negeri dan Swasta di Yogyakarta sudah sudah bagus (Ton, 2011). Fasilitas pendukung pada umumnya seperti gedung sekolah, buku-buku pelajaran, gedung perpustakaan dan media pendukung lainnya sudah cukup tersedia. Dapat pula dilihat pada tingkat kelulusan peserta didik tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) sederajat Propinsi Jawa Timur, terus mengalami kenaikkan. Pada tahun ajaran 2010/2011, Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, hanya mengalami angka tidak lulus mencapai 709 siswa dari 1.541.683 siswa peserta ujian nasional, dengan prestasi tersebut Jawa Timur menduduki peringkat kelima untuk jumlah tingkat kelulusan setelah Propinsi Bali, Sumatera Utara, Maluku, dan Kalimantan (“Hanya 709 Siswa”, 2011).

(81)

perguruan tinggi negeri dan swasta yang berada di jawa jauh lebih banyak dai yang ada di NTT. Di Jawa Timur misalnya, terdapat 324 perguruan tinggi swasta dengan jumlah program studi sebanyak 1.516. Di Jakarta terdapat 321 perguruan tinggi swasta, di Jawa Barat terdapat 439 perguruan tinggi swasta, dan di pulau Jawa terdapat 38 perguruan tinggi negeri. Sedangkan di NTT hanya terdapat 32 perguruan tinggi swasta dan 3 perguruan tinggi negri di NTT (“Daftar Perguruan Tinggi”, 2011).

Selain pendidikan, faktor lain yang juga dimungkinkan menjadi indikator lebih tingginya tingkat asertivitas remaja suku Jawa dibanding suku Belu adalah pola asuh orang tua. Sebagaimana diungkapkan Erikson bahwa individu-individu sejak lahirnya telah memiliki predisposisi untuk merespon ke arah harapan-harapan lingkungan sosial. Dengan begitu dalam aktivitas kehidupannya, secara tidak sengaja individu terkadang akan mengidentifikasi dirinya dengan lingkungan sosialnya, atau secara tidak sadar berusaha untuk memenuhi nilai-nilai ataupun norma-norma sosial yang diinginkan lingkungannya (social desirable). Kecenderungan ini pada akhirnya menjadikan individu berusaha untuk memenuhi seluruh harapan-harapan sosial. Dalam kerangka harapan-harapan sosial tersebut termasuk di dalamnya adalah harapan dari orang tua, ataupun keluarganya (dalam Yusuf, 2008).

(82)

Kuatnya pengaruh keluarga terhadap pembentukan identitas diungkap oleh Grotevant dan Cooper (Idrus, 2003) terletak pada interaksi orang tua dengan anak yang terangkum dalam gaya pengasuhan orang tua. Dalam proses tersebut anak akan mengambil nilai-nilai yang secara tidak sengaja ataupun sengaja diberikan orang tua, dan pada kehidupan selanjutnya nilai-nilai itu akan digunakannya dalam mensikapi objek ataupun peristiwa yang sama (Idrus, 2003).

Untuk bisa menumbuhkan perilaku asertif dalam diri seorang anak, orang tua disarankan untuk mengembangkan pola pengasuhan anak yang bersifat demokratis. Seperti yang terdapat dalam karakteristik keluarga yang menjalankan fungsinya dengan baik yang salah satunya adalah bersikap terbuka dan jujur (Yusuf, 2008). Menurut Peck, berdasarkan hasil temuannya menunjukkan bahwa remaja yang “friendliness” dan “spontanetty” berhubungan erat dengan iklim keluarga yang demokratis (Yusuf, 2008).

Melalui pola asuh yang demokratis, orang tua akan mengasuh anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang tetapi tidak dengan cara memanjakan mereka. Jika remaja dididik secara demokratis, hal ini akan menjadikan mereka mempunyai tempat berlindung ketika mereka sedang mempunyai masalah.

(83)

dapat mengkomunikasikan segala keinginannya secara wajar, dan tidak memaksakan kehendak mereka dengan cara menindas hak-hak orang lain (Santosa, 1999). Pola asuh ini menggunakan cara-cara demokratis yang berupa, membuka kesempatan berbeda pendapat, saling terbuka, menghargai dan menyediakan kesempatan terjadinya diskusi (Estiningtyas, 2005).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mariani dan Andriani (2005), menunjukkan bahwa adanya hubungan positif antara pola asuh orang tua yang authoritative dengan sikap asertif dalam diri seseorang. Artinya adalah bahwa subyek yang dididik dengan pola asuh authoritative lebih asertif dibandingkan jika mereka dididik dengan pola asuh lainnya.

(84)

Adanya pola asuh demokratis yang dilakukan oleh kebanyakan orang tua dalam suku Jawa saat ini, dengan sendirinya membuat anak-anak (remaja) untuk belajar bagaimana bersikap baik dan menunjukkan perilaku asertif pada orang lain ketika berkomunikasi.

(85)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa nilai t = -1,908 dengan probabilitas (p) = 0,0295 lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara tingkat asertivitas remaja putri suku Belu dan suku Jawa. Akan tetapi hipotesis penelitian ditolak karena tingkat asertivitas remaja putri suku Belu ternyata lebih rendah dibanding suku Jawa. Hal ini terlihat dari hasil nilai Mean Empiris (ME) suku Belu yang lebih kecil dari suku Jawa, yaitu = 79,08 < 82,02.

B. Saran

1. Bagi peneliti selanjutnya

a. Pemilihan subyek harus lebih mempertimbangkan pengaruh budaya dan kontrol variable lain yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.

b. Lebih memperhatikan situasi dan kondisi subyek ketika diminta untuk mengisi skala. Agar pengisian skala dapat dilakukan dalam keadaan yang nyaman dan lebih kondusif sehingga hasil yang dihasilkan lebih kondusif.

c. Ketika akan melakukan penyebaran skala, peneliti sebaiknya langsung bertemu dan meminta kesediaan subyek untuk

(86)

mengisinya tanpa melalui perantara orang lain. Hal ini diharapkan agar dapat memperkecil kemungkinanfaking bad ataufaking good yang akan dilakukan oleh subyek.

C. Kelemahan

Gambar

Tabel 1
Tabel 1. View in document p.62
Tabel 2
Tabel 2. View in document p.65
Tabel 3
Tabel 3. View in document p.66
Tabel 5Presentase Subyek Berdasarkan Usia
Tabel 5Presentase Subyek Berdasarkan Usia. View in document p.70
Tabel 6Hasil Uji Normalitas
Tabel 6Hasil Uji Normalitas. View in document p.71
Tabel 7
Tabel 7. View in document p.72
Tabel 8
Tabel 8. View in document p.74

Referensi

Memperbarui...

Download now (122 pages)