Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat vacuum dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-Gom Guar - USD Repository

Gratis

0
0
99
3 months ago
Preview
Full text

  PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP DISOLUSI DISPERSI PADAT VACUUM DRIED ISOLAT EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcuma domestica C-95)-GOM GUAR SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

  Program Studi Farmasi Oleh:

  Oki Christina NIM : 078114035

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2011

  

PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP DISOLUSI DISPERSI

PADAT VACUUM DRIED ISOLAT EKSTRAK RIMPANG KUNYIT

(Curcuma domestica C-95)-GOM GUAR

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

  Program Studi Farmasi Oleh:

  Oki Christina NIM : 078114035

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2011

  

Persetujuan Pembimbing

PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP DISOLUSI DISPERSI

PADAT VACUUM DRIED ISOLAT EKSTRAK RIMPANG KUNYIT

(Curcuma domestica C-95)-GOM GUAR

  Skripsi yang diajukan oleh: Oki Christina

  NIM : 078114035 telah disetujui oleh: Pembimbing Utama tanggal 11 Februari 2011 Pembimbing Pendamping Lucia Wiwid Wijayanti, M.Si. tanggal 11 Februari 2011

  

Anyone who stops learning is old, whether at twenty or

eighty. Anyone who keeps learning stays young. The greatest

thing in life is to keep your mind young Henry Ford - -

  With Jesus I can take it With Him I know I can stand No matter what may come my way My life is in his hands

  Karya ini kupersembahkan untuk : Jesus Christ yang slalu menyertaiku Papa, Mama, dan kakakku yang selalu mendukungku dan Almamaterku

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Oki Christina Nomor Mahasiswa : 07 8114 035

  Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: PENGARUH PROPORSI DRUG LOAD TERHADAP DISOLUSI DISPERSI PADAT VACUUM DRIED ISOLAT EKSTRAK RIMPANG KUNYIT (Curcuma

  domestica C-95 )-GOM GUAR

  beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya ataupun memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenamya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 17 Februari 2011 Yang menyatakan (Oki Christina)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Apabila di kemudian hari ditemukan indikasi plagiarisme dalam naskah ini, maka saya bersedia menanggung segala sanksi sesuai peraturan perundang- undangan yang berlaku.

  Yogyakarta, 2 Februari 2011 Penulis

  Oki Christina

  

PRAKATA

  Puji syukur kepada Tuhan Yesus atas berkat dan penyertaan-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan Program Studi Ilmu Farmasi (S.Farm.).

  Dalam penyelesaian skripsi ini penulis banyak mengalami kesulitan, namun penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1.

  Bapak Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

  2. Ibu Dewi Setyaningsih, M.Sc., Apt. selaku Dosen Pembimbing Utama, yang dengan sabar memberikan bimbingan, saran, pengarahan, dan telah menanggung biaya penelitian.

  3. Ibu Lucia Wiwid Wijayanti, M.Si. selaku Dosen Pembimbing Pendamping, yang telah memberikan waktu dan bimbingan kepada penulis.

  4. Ibu Rini Dwiastuti, M.Sc., Apt. selaku Dosen Penguji atas waktu, kritik, dan saran yang diberikan.

  5. Bapak Dr. C.J. Soegihardjo, Apt. selaku Dosen Penguji atas waktu, kritik, dan saran yang diberikan.

  6. Bapak Prof. Dr. Sudibyo Martono, M.S., Apt. atas pemberian eksklusif

  7. Pak Musrifin, Mas Wagiran, Mas Bimo, dan seluruh laboran yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  8. Teman-teman tim penelitian, Eka Permatasari, Evina, dan Reka Sudi, atas semangat, kerjasama dan kebersamaannya selama ini.

  9. I Gusti Ngurah Agung Windra Wartana Putra, Lia Natalia Setiomulyo, dan Benny Nugroho, yang telah memberikan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  10. Teman-teman angkatan 2007, khususnya teman-teman seperjuangan FST 07 jumawa, atas dukungan, semangat, dan kebersamaannya selama ini.

  11. Keluargaku di kos Difa yang kusayangi Mba Dini Puspita, Kak Grace Litad, Kak Ayu Widyasari, Flavia Sungkit, Ayu Ningsih, Maria Larizza, Putri Adrenari, Melantina, Evina, Eka Permatasari, Sari, Putu Dyana, Defilia, Leni atas kebersamaan, keceriaan, dukungan dan semangat yang diberikan kepada penulis.

  12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

  Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini mengingat keterbatasan yang ada. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari segenap pembaca. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan dan perkembangan ilmu kefarmasian.

  Penulis

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ...…………………………………………………… i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………………. ii HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………..... iii HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………. iv LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

  ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ……………………… v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA …………………….…………...... vi PRAKATA ……………………………..…………………………………. vii DAFTAR ISI ……………………………………………………………... ix DAFTAR TABEL ………………………………………………………... xiii DAFTAR GAMBAR …………………………………………………….. xiv DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………... xv

  INTISARI ………………………………………………………………… xvi

  

ABSTRACT ……………………………………………………………….. xvii

BAB I. PENGANTAR …………………………………………………....

  1 A.

  1 Latar Belakang ……………………………………………...................

  1.

  4 Permasalahan ………………………………….…………………...

  2.

  4 Keaslian penelitian ………………………………………................

  3.

  4 Manfaat penelitian ……………………………………….................

  B.

  5 Tujuan Penelitian ……………………………………………...............

  BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA …………………………………..

  6 A.

  6 Ekstrak Kunyit …………………………………....…………...............

  B.

  7 Kurkumin ....................………...……………………………................

  C.

  8 Gom guar ..............................................................................................

  D.

  10 Dispersi Padat ……………………………………………....................

  1.

  10 Definisi ……………………………………………………………..

  2.

  11 Metode pembuatan dispersi padat …………………….…………..

  E.

  11 Uji Disolusi ............................................................................................

  1.

  11 Disolusi ……………………………...…………………..................

  2.

  12 Peralatan uji disolusi ……………………………………...............

  F.

  13 Spektrofotometri Visibel ……………………………………..….........

  G.

  14 Validasi Metode Analisis ………………………………..….................

  H.

  20 Landasan Teori ……………………………………..............................

  I.

  21 Hipotesis ………………………………………………………………

  BAB III. METODE PENELITIAN ………………………………………

  22 A.

  22 Jenis dan Rancangan Penelitian …………………………….................

  B.

  22 Variabel Penelitian ………………………………………….................

  1.

  22 Variabel utama ……………………………………………………..

  2.

  22 Variabel pengacau ………………………………………………….

  C.

  23 Definisi Operasional …………………………………………..............

  D.

  23 Bahan Penelitian ……………………………………............................

  E.

  24 Alat Penelitian ………………………………………….......................

  1.

  24 Pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar 2.

  25 Pembuatan campuran fisik ………………………............................

  3.

  25 Pengujian disolusi …………….........................................................

  4.

  26 Validasi metode analisis …………………………………………… G.

  28 Analisis Hasil ……………………………………………….................

  1.

  28 Validasi metode …………………………………………………....

  2.

  29 Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi kurkumin ...............

  BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………...…..

  30 A.

  30 Pembuatan Dispersi Padat ……………………………..……...............

  B.

  31 Pembuatan Campuran Fisik …………………………………...............

  C.

  31 Penetapan Panjang Gelombang Maksimum …………………..............

  D.

  32 Pembuatan Kurva Baku .........................................................................

  E.

  34 Validasi Metode Analisis ……………………………………………...

  1.

  34 Akurasi …………………………………………………………….

  2.

  35 Presisi ……………………………………………………………...

  3.

  35 LOD ……………………………………………………………….

  4.

  36 Linieritas …………………………………………………………...

  F.

  37 Uji Disolusi …………………………………………………………… G.

  43 Korelasi Proporsi Drug Load dan Disolusi Kurkumin ………………..

  BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………

  46 A.

  46 Kesimpulan …………………………………………………................

  B.

  46 Saran …………………………………………………………..............

  LAMPIRAN ………………………………………………………………

  50 BIOGRAFI PENULIS ……………………………………………………

  81

  

DAFTAR TABEL

Tabel I. Elemen-elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi ....

  16 Tabel II. Nilai persyaratan koefisien korelasi pada tiap pengujian ….

  19 Tabel III. Proporsi drug load dalam dispersi padat ……………..........

  25 Tabel IV. Hasil pengukuran seri kurva baku …………………………

  33 Tabel V. Rentang % recovery yang diijinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks…………………………………………. 34 Tabel VI. Persyaratan nilai presisi (CV) ……………………………...

  35 Tabel VII. Hasil perhitungan koefisien variasi (CV) …….....................

  35 Tabel VIII. Hasil pengukuran kurva baku................................................

  36 Tabel IX. Persyaratan nilai linieritas …………………………………

  36 Tabel X. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 1,72% ………………………………….

  39 Tabel XI. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 3,38% ………………………………….

  40 Tabel XII. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik proporsi drug load 5,11% ………………………………….

  42 Tabel XIII. Kekuatan korelasi ………..………………………………...

  44

  

DAFTAR GAMBAR

  Gambar 1. Rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.) ………………

  6 Gambar 2. Struktur kimia kurkumin ……......................................……

  7 Gambar 3. Degradasi kurkumin dalam larutan ........…………………..

  8 Gambar 4. Struktur gom guar …….............................…………………

  9 Gambar 5. Kurva baku …………………………………....................... 33 Gambar 6. Grafik dispersi padat dan campuran fisik drug load 1,72%

  38 Gambar 7. Grafik dispersi padat dan campuran fisik drug load 3,38%

  39 Gambar 8. Grafik dispersi padat dan campuran fisik drug load 5,11%

  41 Gambar 9. Grafik dispersi padat berbagai proporsi drug load ...............

  42 Gambar 10. Kurva proporsi drug load vs % kurkumin terdisolusi ……..

  44

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1. Certificate of Analysis (CoA) isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica Rhizome) …………….....…..

  50 Lampiran 2. Certificate of Analysis (CoA) baku standar kurkumin …... 51 Lampiran 3. Scan

  λ maksimum .............................................................. 52 Lampiran 4. Kurva baku, linieritas dan LOD .........................................

  56 Lampiran 5. Perhitungan recovery dan CV ............................................

  58 Lampiran 6. Penimbangan untuk pembuatan dispersi padat dan campuran fisik …................................................................

  59 Lampiran 7. Hasil uji disolusi campuran fisik dan dispersi padat …….

  64 Lampiran 8. Grafik dispersi padat dan campuran fisik ..........................

  73 Lampiran 9. Uji normalitas, korelasi, dan regresi linier proporsi drug load dan persentase kurkumin terdisolusi …………..........

  76 Lampiran 10. Perbandingan disolusi dispersi padat dan campuran fisik

  78 Lampiran 11. Dokumentasi ……………………………………………..

  80

  

INTISARI

Kunyit (Curcuma domestica Val.) banyak digunakan dalam masyarakat.

  Kandungan utama rimpang kunyit adalah kurkuminoid, yang terdiri dari kurkumin, demetoksikurkumin, dan bisdemetoksikurkumin. Kurkumin memiliki banyak efek farmakologi, seperti antioksidan, antiinflamasi, antimikrobia, dan antikanker. Namun, kurkumin mempunyai kelarutan yang sangat rendah dalam air. Kelarutan senyawa dapat ditingkatkan dengan pembuatan dispersi padat.

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat vacuum dried isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar. Penelitian ini dilakukan dengan pembuatan campuran fisik dan dispersi padat menggunakan pembawa gom guar pada proporsi drug load 1,72%, 3,38%, dan 5,11%. Disolusi campuran fisik dan dispersi padat dilihat melalui uji disolusi menggunakan medium cairan lambung buatan tanpa pepsin (pH 1,2), lalu diukur dengan spektrofotometer visibel λ 421,6 nm.

  Hasil uji disolusi dibuat kurva antara waktu dan persentase kurkumin terdisolusi. Disolusi kurkumin pada dispersi padat meningkat secara signifikan dibandingkan dengan campuran fisik, dilihat dari nilai p<0,05. Korelasi antara proporsi drug load dan disolusi kurkumin dianalisis dengan korelasi Spearman dan regresi. Korelasi Spearman menunjukkan adanya korelasi yang kuat (r= - 0,685). Pada analisis regresi didapatkan persamaan y=-2,7204x+18,047 dengan nilai signifikansi 0,028. Peningkatan proporsi drug load berpengaruh terhadap penurunan disolusi kurkumin.

  Kata kunci: isolat ekstrak rimpang kunyit, gom guar, dispersi padat, vacuum

  drying , disolusi

  

ABSTRACT

  Turmeric (Curcuma domestica Val.) widely used in society. The main content of turmeric are curcuminoids, consisting of curcumin, demetoksikurkumin, and bisdemetoksikurkumin. Curcumin has many pharmacological effects, such as antioxidant, antiinflammatory, antimicrobial, and anticancer. However, curcumin has very low solubility in water. Solubility of compounds can be enhanced by making solid dispersions.

  This study aims to determine the influence of the proportion of drug load on the dissolution of solid dispersion vacuum dried isolate turmeric rhizome extract-guar gum. Research was conducted by making physical mixtures and solid dispersions using guar gum on the proportion of carriers of drug load 1,72%, 3,38%, and 5,11%. Dissolution of physical mixture and solid dispersion seen through the dissolution testusing the medium of artificial gastric fluid without pepsin (pH 1,2), then measured by visible spectrophotometer λ 421,6 nm.

  Dissolution test results made the curve between time and percentage of curcumin terdisolusi. Dissolution of curcumin on solid dispersion increased significantly compared with physical mixture, judging from the value of p < 0,05. The correlation between the proportion of drug load and dissolution of curcumin were analyzed with Spearman correlation and regression. Spearman correlation showed a strong correlation (r= -0,685). In the regression analysis equation y = -2,7204 x + 18,047 with a value of significance 0,028. Increasing the proportion of drug load reduction effect on the dissolution of curcumin .

  Keywords: isolate turmeric rhizome extract, guar gum, solid dispersion, vacuum drying, dissolution

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Kunyit (Curcuma domestica Val.) secara empiris telah digunakan oleh

  masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit, seperti antikoagulan, antiedemik, obat sakit perut, memperbanyak ASI, stimulan, mengobati keseleo, memar dan rematik (The Medical News, 2010). Bagian tanaman kunyit yang paling sering digunakan adalah rimpang kunyit. Rimpang kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yaitu kurkuminoid, yang terdiri dari kurkumin (sebanyak 60%), desmetoksikurkumin, dan bisdesmetoksikurkumin (Parinussa dan Timotius, 2010). Kurkumin (1,7-bis-(4-hidroksi-3-metoksifenil)-1,6-heptadiena-3,5-dion) adalah senyawa golongan polifenol berwarna kuning yang memiliki banyak efek farmakologi, seperti antioksidan, antiinflamasi, antimikrobia, antikanker, dan anti- HIV (Xu, Wang, Jin, Mei, dan Xu, 2006).

  Kurkumin mempunyai stabilitas yang baik pada pH asam, namun pada pH basa kurkumin mudah mengalami dekomposisi atau degradasi (Tonnesen dan Karlsen, 1985). Produk utama dekomposisi kurkumin adalah asam ferulat dan 4- fenil-3-butena-2-on, yang secara cepat mengalami kondensasi retroaldol menjadi vanilin dan aseton. Selain mudah terdegradasi dalam suasana basa, kurkumin juga mudah terdekomposisi oleh cahaya menjadi ferulat aldehid, asam ferulat, adihidrosinaftalen, vinilguaiacol, vanilin, dan asam vanilat. Faktor dekomposisi

  Kurkumin mempunyai kelarutan dalam air yang sangat rendah sehingga kurkumin tidak terabsorpsi sempurna dan bioavailabilitas oral kurkumin rendah (Kaewnopparat, Kaewnopparat, Jangwang, Maneenaum, Chucome, dan Panichayupakaranant, 2009). Bioavailabilitas oral senyawa tergantung pada kelarutan dan/ atau kecepatan disolusi, sehingga seringkali diperlukan peningkatan disolusi dari senyawa yang sukar larut dalam air (Malviya, Srivastava, Bansal, dan Sharma, 2010). Kelarutan senyawa dapat ditingkatkan dengan beberapa cara, yaitu dengan micronization, dispersi padat, pembentukan garam, dan penyisipan gugus polar ke dalam molekul (Voigt, 1984).

  Dispersi padat merupakan salah satu metode yang sering digunakan dan berhasil digunakan untuk meningkatkan kelarutan, kecepatan disolusi, dan pada akhirnya dapat meningkatkan bioavailabilitas senyawa dengan kelarutan rendah (Malviya et al., 2010). Umumnya, dispersi padat mengandung pembawa hidrofilik, dimana obat terdispersi secara molekular atau sebagai partikel yang sangat kecil. Dengan ukuran partikel yang kecil, luas permukaan kontak partikel saat disolusi meningkat sehingga dapat meningkatkan kelarutan obat. Selain itu, senyawa yang semula berbentuk kristal akan berubah menjadi amorf. Senyawa berbentuk amorf mempunyai energi yang lebih tinggi dibandingkan bentuk kristal, sehingga kelarutannya lebih besar (Srinarong, Kouwen, Visser, Hinrichs, dan Frijlink, 2009).

  Ada beberapa macam metode pembuatan dispersi padat, antara lain

  

fusion method , solvent evaporation method, liofilisasi, melt agglomeration

  

electrostatic spinning method , dan super critical fluid technology (Sharma dan

  Joshi, 2007). Pembuatan dispersi padat pada penelitian ini menggunakan metode

  

vacuum drying , dimana cara ini adalah cara yang sederhana dan dapat dilakukan

di Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

  Pada pembuatan dispersi padat, bahan pembawa dan isolat ekstrak rimpang kunyit yang didispersikan sesuai dengan proporsi drug load. Peningkatan

  

drug load dan/ atau saat pembawa terlarut dengan cepat, akan menyebabkan

  penurunan laju disolusi. Hal ini menunjukkan terjadinya kristalisasi obat yang tidak terkontrol, yang disebabkan oleh supersaturasi pada daerah pelepasan obat tersebut. Kristalisasi yang tidak terkontrol ini menghasilkan bentuk kristal dalam jumlah besar, yang akan terlarut dengan lambat (Srinarong et al., 2009). Bahan pembawa yang digunakan dalam pembuatan dispersi padat adalah gom guar.

  Gom guar adalah suatu hidrokoloid yang diperoleh dari endosperma biji tanaman guar (Srichamroen, 2007). Gom guar dapat terdispersi dan mengembang dalam air membentuk larutan dengan viskositas yang tinggi (Rowe, Sheskey, dan Owen, 2006). Dalam pembuatan dispersi padat, gom guar dan isolat ekstrak kunyit akan terdispersi dalam ukuran yang lebih kecil dan menjadi bentuk amorf sehingga kelarutannya meningkat. Peningkatan kelarutan kurkumin diketahui dengan mengukur disolusi kurkumin dalam dispersi padat, menggunakan spektrofotometer visibel.

  1. Permasalahan

  Berdasarkan latar belakang di atas timbul permasalahan, yaitu: Bagaimana pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar?

  2. Keaslian penelitian

  Sejauh pengetahuan penulis, penelitian mengenai pengaruh proporsi drug

  

load terhadap laju disolusi kurkumin pada dispersi padat isolat ekstrak rimpang

  kunyit (Curcuma domestica C-95)-gom guar belum pernah dilakukan. Penelitian terkait yang pernah dilakukan adalah Solubility and Dissolution Rate

  Enhancement of Licofelone by Using Modified Guar Gum .

  3. Manfaat penelitian

  a. Manfaat teoritis b.

  . Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai cara peningkatan disolusi kurkumin dengan pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar. Manfaat Metodologis c.

  . Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai jenis bahan pembawa dan proporsi drug load yang dapat digunakan dalam pembuatan dispersi padat. Manfaat Praktis . Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit dengan menggunakan metode vacuum drying.

  B.

  

Tujuan Penelitian

  Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat vacuum dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-gom guar.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Ekstrak Kunyit Kunyit secara empiris telah digunakan masyarakat untuk mengobati

  berbagai penyakit. Bagian yang sering dimanfaatkan sebagai obat adalah rimpang; dimanfaatkan untuk antikoagulan, antiedemik, obat sakit perut, memperbanyak ASI, stimulan, mengobati keseleo, memar dan rematik (The Medical News, 2010). Bagian tanaman kunyit yang paling sering digunakan adalah rimpang kunyit. Komponen utama yang terpenting dalam rimpang kunyit adalah kurkuminoid dan minyak atsiri (Wahyuni dan Yamrewav, 2004). Kurkuminoid terdiri dari kurkumin (sebanyak 60%), desmetoksikurkumin, dan bisdesmetoksikurkumin (Parinussa dan Timotius, 2010).

  

Gambar 1. Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.)

(The Medical News, 2010)

  B.

  

Kurkumin

  Kurkumin (1,7-bis-(4-hidroksi-3-metoksifenil)-1,6-heptadiena-3,5-dion) adalah senyawa polifenol berwarna kuning yang diperoleh dari ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa). Kurkumin merupakan suatu sistem cincin aromatis dengan polifenol yang dihubungkan oleh dua α, β gugus karbonil tak jenuh yang berasal dari rantai diketon. Kurkumin memiliki banyak efek farmakologi, antara lain sebagai antitumor, antiartritik, anti-amylod, antioksidan, antiinflamasi, anti- HIV, antikanker, dan antimikrobia (Najib, 2009).

  Namun demikian, kendatipun aplikasi klinis sudah cukup luas dan dikenal manjur sebagai bahan antikanker dan penyakit lainnya, kurkumin memiliki sifat yang terbatas dari segi kelarutan. Hal ini mengakibatkan kurkumin mempunyai bioavailabiltas sistemik yang minim (Meiyanto, 2010).

  Kurkumin berwarna kuning terang, mempunyai bobot molekul 368,37 (C = 68,47 %; H = 5,47 %; O = 26,06 %). Titik lebur kurkumin adalah 183°C. kurkumin larut dalam alkohol dan asam asetat glasial dan tidak larut dalam air (Wahyuni dan Yamrewav, 2004). Nilai log P kurkumin adalah 3,62 (Genome Alberta, 2009).

  O O HO OH H CO 3 OCH 3 Gambar 2. Struktur kimia kurkumin (Najib, 2009)

  Apabila kurkumin diinkubasi dalam buffer fosfat 0,1 M dan serum, pH Produk degradasi kurkumin yang utama diidentifikasikan sebagai trans-6-(4’- hidroksi-3’-metoksifenil)-2,4-diokso-5-heksenal. Produk degradasi yang lain (vanillin, asam ferulat, dan ferulol metana) hanya terbentuk sedikit. Dekomposisi terjadi dipengaruhi oleh pH dan terjadi lebih cepat pada kondisi pH netral (Wang, Pan, Chang, Hsieh, dan Lin, 1997).

  

Gambar 3. Degradasi kurkumin dalam larutan (Wang et al., 1997)

C. Gom Guar

  Gom guar adalah suatu hidrokoloid yang diperoleh dari endosperma biji tanaman guar, Cyamopsis tetragonolobus, yang termasuk dalam famili Leguminosae (Srichamroen, 2007). Tanaman ini banyak tumbuh di India dan Pakistan. Tanaman ini juga tersebar di belahan bumi bagian selatan, pada daerah gersang di Brazil, Australia, dan Afrika Selatan, atau di Amerika Serikat bagian selatan, seperti Texas dan Arizona (Kawamura, 2008). Gom guar sebagian besar terdiri dari polisakarida dengan bobot molekul tinggi (kira-kira 50.000- 8.000.000), terdiri dari galaktomanan. Gom guar berwarna putih sampai putih kekuningan, tidak berbau atau hampir tidak berbau dengan rasa yang lemah (Kawamura, 2008).

  

Gambar 4. Struktur gom guar (Kawamura, 2008)

  Gom guar tidak larut dalam pelarut organik. Gom guar terdispersi dan mengembang dalam air dingin atau air panas, membentuk larutan dengan viskositas yang tinggi. Akan tetapi, pemanasan yang lama dapat mengurangi viskositas larutan gom guar. Larutan gom guar mempunyai kemampuan sebagai buffer dan sangat stabil pada rentang pH 4,0-10,5. Gom guar umumnya digunakan dalam kosmetik, produk makanan, dan formulasi sediaan farmasi. Gom guar digunakan sebagai pengikat dan penghancur dalam sediaan padat. Pada sediaan oral dan topikal, gom guar digunakan sebagai suspending, thickening, dan

  

stabilizing agent , serta sebagai pembawa dalam sediaan controlled-release (Rowe

et al. , 2006).

D. Dispersi Padat

1. Definisi

  Dispersi padat didefinisikan sebagai dispersi satu atau lebih zat aktif dalam pembawa hidrofilik atau matriks inert pada bentuk padat, yang dibuat dengan metode peleburan (fusion), pelarut, atau peleburan pelarut (Kaewnopparat et al. , 2009).

  Dispersi padat yang amorf dapat digunakan untuk meningkatkan laju disolusi dari obat yang kelarutannya rendah. Pada umumnya, dispersi padat mengandung pembawa hidrofilik, dimana obat terdispersi secara molekular atau sebagai partikel yang sangat kecil. Mekanisme peningkatan laju disolusi obat adalah sebagai berikut.

  a. Penurunan ukuran partikel obat, sehingga luas permukaan partikel saat terdisolusi menjadi lebih besar.

  b. Peningkatan sifat pembasahan dari obat.

  c. Tingkat energi bentuk amorf lebih tinggi dibandingkan bentuk kristalin, sehingga terjadi peningkatan kelarutan obat (Srinarong et

  al. , 2009).

  Bila dispersi padat kontak dengan air, pembawa akan terlarut, dan obat dilepaskan dengan ukuran partikel yang kecil. Oleh karena terjadi peningkatan luas permukaan partikel obat, laju disolusi dan bioavailabilitasnya juga mengalami peningkatan (Chaudhari, Sharma, Badagale, Dave, Kaulkarni, dan Baharte, 2006).

  Obat dapat terdispersi secara molekular dalam pembawa membentuk larutan solid atau dapat terdispersi sebagai partikel. Selain itu, obat juga dapat sebagian terlarut dan sebagian lagi terdispersi dalam pembawa. Untuk obat dengan banyak lapisan, lebih baik jika terdispersi molekular, sedangkan bila terdispersi sebagai partikulat, obat akan lebih mudah lepas dari matriks pembawanya (Chaudhari et al., 2006).

  Peningkatan drug load dan/ atau saat pembawa terlarut dengan cepat, akan menyebabkan penurunan laju disolusi. Hal ini menunjukkan terjadinya kristalisasi obat yang tidak terkontrol, yang disebabkan oleh supersaturasi pada daerah pelepasan obat tersebut. Kristalisasi yang tidak terkontrol ini menghasilkan bentuk kristal dalam jumlah besar, yang akan terlarut dengan lambat (Srinarong et al. , 2009).

2. Metode Pembuatan Dispersi Padat

  Beberapa metode yang dapat dilakukan untuk membuat dispersi padat adalah fusion method, solvent evaporation method, liofilisasi, melt agglomeration

  

method, extruding method, spray drying, penggunaan surfaktan, electrospinning,

super critical fluid technology (Sharma dan Joshi, 2007).

E. Uji Disolusi

1. Disolusi

  Disolusi didefinisikan sebagai proses dimana substansi padat masuk ke dalam pelarut menghasilkan suatu larutan. Secara sederhana, disolusi adalah afinitas antara substansi padat dan pelarut. Faktor-faktor yang mempengaruhi karakter disolusi suatu obat, antara lain sifat fisik bentuk sediaan, kemampuan pembasahan sediaan, kemampuan penetrasi medium disolusi, proses swelling, disintegrasi dan deagregasi sediaan (Troy, 2005).

  Umumnya, disolusi obat terjadi tidak hanya dari partikel halus obat yang dihasilkan dari pemecahan sediaan, tetapi juga pada tingkat yang kecil dari sediaan sebelum disintegrasi dan dari fragmen dan agregat setelah disintegrasi. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa uji disolusi sangat berarti dalam mengevaluasi parameter kritis seperti bioavailabilitas yang memadai dan memberikan informasi yang dibutuhkan formulator pengembangan bentuk sediaan yang optimal secara terapetik dan efikasinya lebih besar (Banakar, 1992).

2. Peralatan uji disolusi Metode laju disolusi diklasifikasikan menurut berbagai macam faktor.

  Jika luas permukaan obat tetap, laju disolusi obat diukur dari jumlah obat yang dilepaskan per unit area dan per unit waktu (Banakar, 1992).

  Banyak peralatan yang telah digunakan untuk menentukan laju disolusi. Prosedurnya berbeda pada prinsip dasarnya. Kondisi umum pada kebanyakan uji

  in vitro adalah sebagai berikut : a. Penggunaan cairan lambung dan cairan usus buatan pada suhu 37°C.

  b. Penggunaan peralatan untuk mengaduk komponen dan produk pada kecepatan tetap.

  c. Penggunaan kasa untuk memisahkan partikel yang terdisintegrasi dari

  Macam-macam metode pengujian disolusi adalah rotating basket

  

method , rotating paddle method, reciprocating cylinder, flow-through cell, paddle

over disk , dan cylinder (Troy, 2005)

F. Spektrofotometri Visibel

  Spektrofotometri UV-Visibel adalah salah satu teknik analisis fisika- kimia yang mengamati interaksi atom atau molekul dengan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang 190-380 nm (UV) dan 380-780 nm (visibel) dengan menggunakan instrument spektrofotometer (Mulja dan Suharman, 1995).

  Pada umumnya, semua molekul dapat menyerap radiasi elektromagnetik di daerah UV dan visibel karena memiliki elektron, baik berkelompok maupun tunggal yang dapat terkeksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi. Panjang gelombang yang menunjukkan terjadinya serapan tergantung pada kekuatan ikatan elektron pada molekul tersebut (Day dan Underwood, 1986).

  Instrumentasi spektrofotometer meliputi sumber radiasi kontinyu pada panjang gelombang tertentu, monokromator untuk memilih berkas sempit dari sumber spekrum, sel sampel, detektor, pembaca respon detektor atau recorder. Sumber (source) untuk daerah tampak adalah tungsten filament incandescent lamp . Sel sampel untuk visibel dari gelas atau kuarsa (Christian, 2004). Untuk sampel yang berupa larutan perlu diperhatikan beberapa persyaratan pelarut yang dipakai yaitu :

  1. Pelarut tidak mengandung sistem ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur molekulnya dan tidak berwarna

  2. Tidak terjadi interaksi dengan molekul senyawa yang dianalisis

  3. Kemurnian harus tinggi atau derajat untuk analisis (Mulja dan Suharman, 1995).

  Pada umunya, pelarut yang sering dipakai adalah air, etanol, sikloheksan, dan isopropanol. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam masalah pemilihan pelarut adalah polaritas pelarut yang dipakai, karena akan berpengaruh terhadap pergeseran spektrum molekul yang dianalisis (Mulja dan Suharman, 1995).

  Keuntungan teknik spektrofotometri yaitu banyak substansi dapat diukur pada kisaran part per million (ppm) rendah pada pelarut yang tidak memberikan serapan. Selain itu, spektrofotometri memiliki sensitivitas yang baik serta didukung oleh cara yang sederhana dan akurat (Schirmer, 1982).

G. Validasi Metode Analisis

  Validasi metode menurut United States Pharmacopeia (USP) dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis bersifat akurat, spesifik, reprodusibel, dan tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Tujuan utama validasi metode adalah untul menghasilkan hasil analisis yang paling baik. Untuk memperoleh hasil tersebut, semua variabel yang terkait dengan metode analisis harus dipertimbangkan. Banyaknya parameter yang harus di validasi tergantung pada tujuan analisis (Rohman, 2009).

  Suatu metode analisis untuk mengamati adanya pengotor-pengotor (impurities) atau produk degradasi dalam suatu produk akhir obat, harus menentukan nilai batas deteksi (limit of detection, LOD) dan batas kuantifikasi (limit of quantification, LOQ); karena adanya suatu fakta bahwa senyawa- senyawa pengotor dan hasil degradasi biasanya berada dalam jumlah sekelumit (trace elements). Meskipun demikian, untuk uji senyawa aktif farmasetik (Active

  

Pharmaceutical Ingredients , API), maka tidak disyaratkan untuk menentukan

  nilai LOD dan LOQ, Karena metode analisis untuk API tidak ditujukan untuk analisis senyawa pada konsentrasi rendah (Rohman, 2009).

  Kategori yang terdapat dalam USP dan ICH adalah sebagai berikut:

  1. Kategori I Metode untuk kuantifikasi komponen mayor dalam produk ruahan API, termasuk senyawa-senyawa pengawet dalam produk akhir obat, diklasifikasikan dalam kategori I. Metode uji dan keseragaman kandungan masuk dalam kategori ini.

  Analisis sekelumit ini tidak diisyaratkan pada uji keseragaman kandungan ini, karenanya penentuan LOD dan LOQ dalam uji ini tidaklah penting (Rohman, 2009).

  2. Kategori II Metode kategori II ditujukan untuk menentukan pengotor/ pengganggu produk akhir obat atau dalam proses pembersihan (cleanng process). Metode ini lebih lanjut dibagi menjadi 2 yaitu ke dalam uji kuantitatif dan uji batas (limit test) (Rohman, 2009).

  3. Kategori III Metode-metode yang digunakan untuk menentukan karakteristik kinerja produk akhir jatuh pada kategori III. Uji disolusi (tidak termasuk pengukurannya) dan uji-uji pelepasan obat merupakan contoh metode yang masuk kategori ini (Rohman, 2009).

  

Tabel I. Elemen-elemen data yang dibutuhkan untuk uji validasi

Parameter Kinerja Analisis Pengujian kategori I Pengujian kategori II Uji kategori

  III Kuantitatif Uji Batas Akurasi Ya Ya * * Presisi Ya Ya Tidak Ya Spesifisitas Ya Ya Ya * LOD Tidak Tidak Ya * LOQ Tidak Ya Tidak * Linieritas Ya Ya Tidak * Kisaran (range)

  Ya Ya * *

  Ruggedness Ya Ya Ya Ya

  • *mungkin dibutuhkan, tergantung pada uji spesifiknya

  Parameter-parameter dalam validasi metode analisis adalah sebagai berikut.

  1. Presisi Presisi suatu metode analisis merupakan sejumlah pencarian hasil yang diperoleh dari analisis berulangkali pada suatu sampel homogen. Presisi biasanya dinyatakan dengan Coefficient of Variation (CV) dan Relative Standard Deviation memberikan presisi yang bagus, sedangkan untuk bioanalisis, CV = 15% - 20% masih dapat diterima (Mulja dan Hanwar, 2003).

  Nilai SD dihitung dengan: SD = Nilai CV dihitung dengan rumus: CV = x 100% Keterangan:

  x = nilai dari masing-masing pengukuran

  = rata-rata (mean) dari pengukuran N = banyaknya data N-1 = derajat kebebasan (Rohman, 2009).

  2. Akurasi Akurasi merupakan keterdekatan antara nilai pengukuran dengan nilai yang sebenarnya dari analit dalam sampel. Indikasi yang paling umum untuk menyatakan akurasi yang tinggi adalah perolehan kembali (% recovery) (Mulja dan Hanwar, 2003).

  3. Batas deteksi (LOD) Batas deteksi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang masih dapat terdeteksi, meskipun tidak selalu dapat dikuantifikasi.

  LOD merupakan batas uji yang secara spesifik menyatakan apakah analit di atas atau di bawah nilai tertentu (Rohman, 2009).

  LOD = Keterangan : Sy/x = simpangan baku (SD) Sl = arah garis linier dari kurva antara respon terhadap konsentrasi (slope) (Harmita, 2004).

  4. Batas kuantifikasi (LOQ) Batas kuantifikasi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi yang dapat diterima pada kondisi operasional metode yang digunakan. Sebagaimana LOD, LOQ juga diekspresikan sebagai konsentrasi (dengan presisi dan akurasi juga dilaporkan) (Rohman, 2009).

  LOQ = Keterangan : Sy/x = simpangan baku (SD) Sl = arah garis linier dari kurva antara respon terhadap konsentrasi (slope) (Harmita, 2004).

  5. Spesifisitas Spesifisitas suatu metode analisis adalah kemampuan suatu metode analisis untuk mengukur analit yang dituju secara tepat dan spesifik dengan adanya komponen-komponen lain dalam matriks (Rohman, 2009).

  6. Linieritas Linieritas merupakan kemampuan suatu metode untuk memperoleh hasil- hasil uji yang secara langsung proporsional dengan konsentrasi analit pada kisaran kalibrasi yang menghubungkan antara respon (y) dengan konsentrasi (x) (Rohman, 2009).

  Tabel II. Nilai persyaratan koefisien korelasi pada tiap pengujian

(Rohman, 2009)

Uji Level* Kisaran** Kriteria keberterimaan

  pengujian 5 50% - 150% r > 0,999; intersep -y > 2,0% disolusi 5-8 10% - 150% r > 0,99; intersep -y > 5,0% pengotor

  5 LOQ – 2% r > 0,98

  7. Kekasaran (Ruggedness) Kekasaran merupakan tingkat reprodusibilitas hasil yang diperoleh di bawah kondisi yang bermacam-macam, yang diekspresikan sebagai persen standar deviasi relatif (% RSD). Kondisi ini meliputi laboratorium, analisis, alat, reagen, dan waktu percobaan yang berbeda. Kekasaran suatu metode mungkin tidak akan diketahui jika suatu metode dikembangkan pertama kali, akan tetapi kekasaran suatu metode akan kelihatan jika digunakan berulang kali. Suatu pengembangan metode yang bagus mensyaratkan suatu evaluasi yang sistematik terhadap faktor- faktor penting yang mempengaruhi kekasaran suatu metode (Rohman, 2009).

  8. Ketahanan (Robustness) Ketahanan merupakan kapasitas metode analisis untuk tetap tidak terpengaruh oleh adanya variasi parameter metode yang kecil. Ketahanan dievaluasi dengan melakukan variasi parameter-parameter metode seperti persentase pelarut organik, pH, kekuatan ionik, suhu, dan sebagainya (Rohman, 2009).

H. Landasan Teori

  Kunyit (Curcuma domestica Val.) telah banyak digunakan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit, seperti antikoagulan, antiedemik, obat sakit perut, memperbanyak ASI, stimulan, mengobati keseleo, memar dan rematik. Bagian dari tanaman kunyit yang paling sering digunakan adalah bagian rimpang. Rimpang kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yaitu kurkuminoid, yang terdiri dari kurkumin (sebanyak 60%), desmetoksikurkumin, dan bisdesmetoksikurkumin.

  Kurkumin merupakan senyawa polifenol yang berwarna kuning dan diperoleh dari kunyit. Kurkumin mempunyai banyak efek farmakologi, seperti antiinflamasi, antitumor, antiartritik, antikanker, antimikroba, dan anti-HIV. Meskipun demikian, kurkumin mempunyai bioavailabilitas yang rendah. Hal ini disebabkan oleh kelarutan kurkumin dalam air yang rendah dan terdegradasi pada pH basa. Faktor degradasi kurkumin ini disebabkan oleh gugus metilen aktifnya.

  Ada berbagai macam cara meningkatkan kelarutan suatu senyawa. Salah satu cara yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah pembentukan dispersi padat. Dispersi padat adalah dispersi satu atau lebih zat aktif dalam pembawa atau matriks inert pada bentuk padat. Dispersi padat yang amorf dapat digunakan untuk meningkatkan laju disolusi dari obat yang kelarutannya rendah. Pada umumnya, dispersi padat mengandung pembawa hidrofilik, dimana obat terdispersi secara molekular atau sebagai partikel yang sangat kecil. Bahan pembawa yang digunakan dalam pembuatan dispersi padat adalah gom guar.

  Gom guar merupakan suatu hidrokoloid yang diperoleh dari endosperma tanaman guar. Gom guar sebagian besar terdiri dari polisakarida dengan bobot molekul yang tinggi, yang terdiri dari galaktomanan. Gom guar dapat terdispersi dan mengembang dalam air dingin atau air panas, membentuk larutan dengan viskositas yang tinggi.

  Peningkatan laju disolusi obat dapat diketahui dengan melakukan pengujian disolusi, yang kemudian akan diukur dengan spektrofotometer visibel.

I. Hipotesis

  Proporsi drug load berpengaruh terhadap peningkatan disolusi dispersi padat vacuum dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)- gom guar.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental. Penelitian ini

  disebut eksperimental karena peneliti menambahkan bahan pembawa untuk meningkatkan disolusi kurkumin.

B. Variabel Penelitian

  1. Variabel Utama

  a. Variabel bebas Proporsi drug load

  b. Variabel tergantung Persen kurkumin terdisolusi

  2. Variabel Pengacau

  a. Variabel pengacau terkendali Intensitas cahaya selama penyimpanan kurkumin

  b. Variabel pengacau tak terkendali Suhu dan kelembapan ruangan

  C.

  

Definisi Operasional

  1. Ekstrak rimpang kunyit mempunyai kandungan utama kurkuminoid, yang terdiri dari kurkumin (sebanyak 60%), desmetoksikurkumin, dan bisdesmetoksikurkumin

  2. Kurkumin adalah senyawa polifenol yang berwarna kuning, yang mempunyai banyak efek farmakologi. Kurkumin memiliki kelarutan dan disolusi yang rendah dalam air sehingga bioavailabilitasnya juga rendah.

  3. Gom guar adalah suatu hidrokoloid yang sebagian besar terdiri dari polisakarida dengan bobot molekul tinggi. Gom guar dapat terdispersi dan mengembang dalam air dingin atau air panas, membentuk larutan dengan viskositas yang tinggi.

  4. Dispersi padat adalah dispersi satu atau lebih zat aktif dalam pembawa yang inert, dalam bentuk padat. Dispersi padat dibuat dengan metode vacuum

  drying .

  5. Uji disolusi dilakukan dengan menggunakan cairan lambung buatan tanpa pepsin (pH 1,2). Peralatan uji disolusi yang digunakan adalah rotating paddle

  method .

  6. Pengukuran kelarutan dan disolusi kurkumin pada dispersi padat dilakukan dengan spektrofotometer visibel.

  D.

  

Bahan Penelitian

Bahan baku yang digunakan adalah isolat ekstrak rimpang kunyit (PT.

  (pemberian eksklusif dari Prof. Dr. Sudibyo Martono, M.S., Apt.), gom guar (PT. Brataco), etanol 70% (PT. Brataco), metanol p. a (E. Merck), dan aquadest.

E. Alat Penelitian

  Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: timbangan analitik (Ohaus, Carat Series), oven (Memmert), desikator, Vacuum

  

Rotary Evaporator (Janke & Kunkel, IKA Labortechnik), alat-alat gelas, blender

  (Philips), mortar, stemper, alat uji disolusi, spektrofotometri visibel (Perkin-Elmer Lambda 20).

  F.

  

Tata Cara Penelitian

1. Pembuatan dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar

  Dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar dengan drug load 1,72%; 3,38%; 5,11% dibuat dengan metode vacuum drying. Isolat ekstrak rimpang kunyit (100,0228 mg) dilarutkan dalam etanol 70% dengan suhu ±50°C (40 ml). Ke dalam larutan gom guar ditambahkan larutan isolat ekstrak rimpang kunyit tersebut, sesuai dengan dengan drug load 1,72%; 3,38%; 5,11%. Pelarut dihilangkan di bawah tekanan 72 mbar pada suhu 50°C dan dikeringkan dengan oven pada suhu 50°C selama 4 hari. Hasil dispersi padat kering dihaluskan menggunakan blender, serta diayak dengan nomor mesh 60. Hasil dispersi padat dibungkus dengan aluminium foil dan disimpan selama 24 jam dalam desikator.

  Kemudian, hasil ayakan ditimbang sebanyak 250 mg dan dimasukkan ke dalam

  

Tabel III. Proporsi Drug Load dalam Dispersi Padat

Gom guar (g) Kurkumin(mg) Drug load (%)

  2 35 1,72

  1 35 3,38 0,65 35 5,11

  2. Pembuatan campuran fisik

  Campuran fisik dibuat dengan mencampurkan isolat ekstrak rimpang kunyit dan gom guar, yang masing-masing telah diayak sebelumnya dengan ayakan no. mesh 60. Jumlah isolat ekstrak rimpang kunyit dan gom guar yang dicampurkan dihitung berdasarkan jumlah dispersi padat yang diperoleh tiap replikasinya. Pencampuran isolat ekstrak rimpang kunyit dan gom guar dilakukan dengan mortar dan stemper hingga homogen. Kemudian, hasil campuran fisik tersebut dibungkus dengan aluminium foil dan disimpan selama 24 jam dalam desikator.setelah 24 jam, campuran fisik dimasukkan ke dalam kapsul dan disimpan lagi selama 24 jam dalam desikator sebelum diuji disolusi.

  3. Pengujian disolusi

  a. Pembuatan medium disolusi Medium disolusi yang digunakan adalah cairan lambung buatan LP tanpa pepsin. Larutkan 2,0 g Natrium Klorida P dalam 7,0 ml Asam Klorida P dan air hingga 1000 ml. Larutan mempunyai pH ±1,2.

  b. Pengujian disolusi Disolusi dispersi padat diukur menggunakan peralatan disolusi. Media disolusi terdiri dari 900 ml cairan lambung buatan tanpa pepsin pada pH 1,2. Kapsul yang berisi dispersi padat dan campuran fisik dimasukkan ke dalam medium disolusi. Setiap 5, 10, 20, 30, 45, 60, 90, 120, 150, dan 180 menit, cuplikan sebanyak 5 ml diambil dan disaring, medium disolusi diganti dengan 5 ml medium disolusi yang baru setelah pengambilan sampel. Kurkumin dalam cuplikan diukur dengan spektrofotometer visibel pada λ 421,6 nm. Kadar kurkumin dihitung dan dinyatakan sebagai persentase kurkumin terdisolusi dari rata-rata 3 replikasi pengujian disolusi.

4. Validasi metode analisis

  a. Larutan stok kurkumin Sebanyak 10,0 mg serbuk kurkumin ditimbang lebih kurang seksama, masukkan ke dalam labu ukur 25,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Simpan dalam wadah terlindung cahaya.

  b. Larutan intermediet Larutan stok kurkumin diambil sebanyak 1,0 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Larutan intermediet dibuat sebanyak 3 kali.

  c.

  maks )

  Penentuan panjang gelombang maksimum (λ Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4; 0,8; 1,2 ml dan masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Pengukuran panjang gelombang maksimum dilakukan pada λ 300-600 nm, sebanyak 3 kali. Pengukuran juga dilakukan pada larutan intermediet II dan III. Panjang gelombang dicari yang memberikan serapan maksimum dan memberikan profil d. Pembuatan kurva baku Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,6 ml; 0,8 ml; 1,0 ml dan

  1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml, kemudian diencerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Kelima larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum. Pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali, untuk kurva baku intermediet I, II, dan III. Data yang diperoleh dihitung dengan regresi linier sehingga diperoleh persamaan kurva baku kurkumin.

  e. Penetapan parameter akurasi (recovery) Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,8 ml; dan 1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml, kemudian diencerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Ketiga larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum. Pengukuran ulang dilakukan untuk larutan intermediet II dan III.

  Cara perhitungannya adalah sebagai berikut.

  % recovery = x 100%

  f. Penetapan parameter presisi (koefisien variasi) Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,8 ml; dan 1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml, kemudian diencerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Kelima larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum. Pengukuran ulang dilakukan untuk larutan intermediet II dan III.

  Serapan yang diperoleh dimasukkan ke dalam persamaan kurva baku untuk mengetahui kadar terukur, kemudian dihitung standar deviasi. Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam rumus berikut.

  Keterangan : SD = standar deviasi

  = kadar rata-rata CV = koefisien variasi

  g. Penetapan parameter linearitas Larutan intermediet diambil sebanyak 0,4 ml; 0,6 ml; 0,8 ml; 1,0 ml dan

  1,2 ml, masukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. Encerkan dengan metanol p.a hingga tanda. Kelima larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum. Pengukuran ulang dilakukan untuk larutan intermediet II dan III. Hitung nilai linearitas serapan dan konsentrasi baku kurkumin dengan menggunakan regresi linier.

G. Analisis Hasil 1.

   Validasi metode Validasi metode yang digunakan berdasarkan parameter berikut.

  a. Akurasi Akurasi metode analisis dinyatakan sebagai recovery dan dihitung dengan rumus berikut.

  % recovery = x 100% Metode digunakan untuk menganalisis bahan obat dengan kadar lebih dari 0,1% dan kurang dari 1%, maka rentang recovery yang digunakan yaitu 80-

  120%. b. Presisi Presisi dinyatakan dengan koefisien variasi, dengan rumus:

  CV = x 100% Metode ini dikatakan baik bila nilai CV yang diperoleh < 2%. Semakin kecil nilai CV, presisi metode yang digunakan semakin baik.

  c. Linieritas Parameter linearitas dilihat dari nilai koefisien korelasi (r) hasil pengukuran larutan seri baku kurkumin. Metode dikatakan memiliki linearitas

  2 yang baik bila r > 0,99 atau r ≥ 0,997.

2. Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi kurkumin

  Data uji disolusi kurkumin dibuat dalam bentuk kurva hubungan persentase pelepasan kurkumin terhadap waktu. Kemudian, korelasi keduanya dilihat dengan menggunakan Korelasi Spearman dan regresi linier dengan taraf kepercayaan 95%.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pembuatan Dispersi Padat Dispersi padat adalah dispersi satu atau lebih zat aktif dalam pembawa

  atau matriks inert pada bentuk padat. Tujuan pembuatan dispersi padat adalah untuk meningkatkan kelarutan kurkumin dalam air. Dalam penelitian, dispersi padat dibuat menggunakan metode vacuum drying dengan gom guar sebagai pembawa, dalam berbagai proporsi drug load, yaitu 1,72%, 3,38%, dan 5,11%.

  Dalam pembuatan dispersi padat, isolat ekstrak rimpang kunyit yang digunakan berasal dari PT. Phytochemindo Reksa dengan komponen 97,20% kurkuminoid, yang tertera pada Certificate of Analysis. Dalam kurkuminoid terdapat kandungan kurkumin sebesar 60% (Parinussa dan Timotius, 2010). Isolat ekstrak rimpang kunyit yang dilarutkan dalam etanol 70% (suhu 50°C) didispersikan ke dalam gom guar yang dilarutkan dalam aquadest, hingga homogen. Etanol yang digunakan sebagai pelarut serbuk kunyit sebelumnya dipanaskan terlebih dahulu hingga suhu 50°C karena bila tidak dipanaskan gom guar yang terdispersi akan menggumpal. Pelarut pada campuran tersebut dihilangkan dengan menggunakan vacuum rotary evaporator.

  Hasil yang didapat dikeringkan dalam oven selama 4 hari pada suhu 50°C. Hasil yang sudah kering dihaluskan dengan blender menjadi serbuk dan diayak dengan ayakan nomor mesh 60. Serbuk yang telah diayak disimpan dalam desikator selama 24 jam, kemudian dimasukkan dalam kapsul ukuran 0. Kapsul tersebut akan dilakukan uji disolusi setelah penyimpanan 24 jam.

B. Pembuatan Campuran Fisik

  Campuran fisik dibuat dengan mencampurkan isolat ekstrak rimpang kunyit dan gom guar, yang masing-masing telah diayak sebelumnya dengan ayakan no. mesh 60. Masing-masing serbuk diayak terlebih dahulu agar ukuran partikelnya homogen dan sama dengan ukuran partikel dispersi padat. Jumlah isolat ekstrak rimpang kunyit dan gom guar yang dicampurkan dihitung berdasarkan jumlah dispersi padat tiap replikasinya. Serbuk kunyit dan gom guar dihomogenkan dengan mortar dan stemper. Hasil campuran fisik dibungkus dengan aluminium foil dan disimpan dalam desikator selama 24 jam. Setelah penyimpanan 24 jam, serbuk campuran fisik dimasukkan dalam kapsul dan disimpan selama 24 jam. Setelah penyimpanan dalam kapsul 24 jam, kapsul tersebut diuji disolusi.

C. Penetapan Panjang Gelombang Maksimum

  Panjang gelombang maksimum adalah panjang gelombang dari suatu larutan yang mempunyai absorbansi atau serapan maksimum. Panjang gelombang maksimum digunakan karena pada panjang gelombang maksimum, perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi, paling besar. Dengan demikian, sensitivitas pengukuran lebih baik dan saat dilakukan pengukuran ulang hasilnya

  Dalam menentukan panjang gelombang maksimum, digunakan larutan baku kurkumin pada tiga konsentrasi yang berbeda (rendah, tengah, tinggi), dimana masing-masing konsentrasi direplikasi sebanyak tiga kali. Panjang gelombang maksimum diukur mulai dari 300 nm sampai 600 nm. Dari hasil penelitian, diperoleh panjang gelombang maksimum pada 421,6 nm. Panjang gelombang maksimum yang diperoleh tidak berbeda jauh dengan yang tertera pada penelitian Kaewnopparat (2009), dimana pengukuran kadar kurkumin dalam medium cairan lambung buatan (pH 1,2), menggunakan panjang gelombang 421 nm. Dengan demikian, kurkumin yang digunakan dalam pengukuran panjang gelombang maksimum ini dapat digunakan sebagai baku (standar) dan panjang gelombang maksimum 421,6 nm dapat digunakan untuk pengukuran larutan baku maupun sampel yang akan dianalisis.

D. Pembuatan Kurva Baku

  Dalam pembuatan kurva baku digunakan satu seri larutan baku

  • 3 -3

  kurkumin dengan lima konsentrasi yang berbeda, yaitu 1,584 ; 2,376 ; ∙10 ∙10

  • 3 -3 -3

  3,168 ; 3,960 , dan 4,752 mg/ml. Seri larutan baku kurkumin diukur ∙10 ∙10 ∙ 10 absorbansinya pada panjang gelombang maksimum, kemudian dibuat kurva hubungan antara konsentrasi dan absorbansi. Dari kurva hubungan antara konsentrasi dan absorbansi, dapat dilihat korelasi dari keduanya. Korelasi yang baik antara konsentrasi dan absorbansi dapat dilihat dari nilai r yang mendekati ±1. Menurut Rohman (2009), persyaratan nilai koefisien korelasi pada uji disolusi

  • 3
  • 3
  • 3

  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • 3
  • -3

  • 3

  3,168 ∙10

  0,427

  3,960 ∙10

  0,598

  3,960 ∙10

  0,589

  3,960 ∙10

  0,560

  4,752 ∙10

  0,705

  4,752 ∙10

  0,685

  4,752 ∙10

  0,697

  A = - 0,017 B = 152,3990 r= 0,9981 y= Bx + A = 152,3990 x – 0,017

  A = - 9,6 .10 B = 147,3485

  r = 0,9878 y= Bx + A = 147,3485 x – 9,6.10

  A = - 0,04

  B = 152,3990 r = 0,9966 y = Bx + A = 152,3990 x – 0,04

  0,425

  0,461

  3,168 ∙10

  (mg/ml) Absorbansi

  adalah r ≥ 0,99. Persamaan kurva baku yang memiliki nilai r ≥ 0,99, yang akan digunakan dalam penetapan kadar pada uji disolusi.

  

Tabel IV. Hasil pengukuran seri kurva baku

  I II

  III Konsentrasi

  (mg/ml) Absorbansi

  (A) Konsentrasi

  (mg/ml) Absorbansi

  (A) Konsentrasi

  (A) 1,584

  3,168 ∙10

  ∙10

  0,236 1,584 ∙10

  0,205 1,584 ∙10

  0,207 2,376

  ∙10 0,329

  2,376 ∙10

  0,382

  2,376 ∙10

  0,333

  Dari data pada tabel di atas, maka persamaan kurva baku yang digunakan dalam pengukuran kadar pada uji disolusi adalah y = 152,3990 x – 0,017 dengan nilai r = 0,9981.

  E.

  

Validasi Metode Analisis

  Suatu metode analisis harus divalidasi untuk memastikan bahwa metode analisis yang digunakan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Parameter validasi yang digunakan pada suatu metode analisis berbeda-beda, disesuaikan dengan tujuan yang diinginkan. Pada penelitian ini digunakan parameter- parameter sebagai berikut.

1. Akurasi

  Akurasi metode dilihat dari nilai % recovery. Persyaratan akurasi yang diperbolehkan pada setiap metode tergantung pada konsentrasi analit dalam matriks sampel.

  Tabel V. Rentang % recovery yang diijinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks (Guideline, 2004)

% Active/ impurity content Acceptable mean recovery

  98 –102% ≥ 10 90 –110%

  ≥ 1 0.1 – 1 80 – 120%

  < 0.1 75 – 125%

  • 3

  Hasil dari perhitungan recovery untuk larutan seri baku 1,584 mg/ml ∙ 10

  • 3

  adalah 96,52%; untuk seri 3,168 mg/ml adalah 93,48% ; dan untuk seri ∙ 10

  • 3

  4,752 mg/ml adalah 98,41%. Recovery yang digunakan adalah 80-120%, ∙10 karena jumlah analit dalam sampel 0,1-1. Dengan demikian, recovery dari ketiga seri baku tersebut memenuhi persyaratan recovery dan berarti metode ini memenuhi persyaratan akurasi.

  2. Presisi Presisi suatu metode dinyatakan dengan koefisien variasi (CV).

  Umumnya, presisi dikatakan baik bila nilai CV < 2%, namun menurut Guideline (2004), persyaratan nilai CV tergantung pada jumlah analit yang diukur.

  

Tabel VI. Persyaratan nilai presisi (CV) (Guideline, 2004)

Component measured in sample Precision

  >10.0% ≤ 2%

  1.0 up to 10.0% ≤ 5%

  0.1 up to 1.0% ≤ 10%

  < 0.1% ≤ 20%

  

Tabel VII. Hasil perhitungan koefisien variasi (CV)

Recovery (%) SD CV(%)

  96,52 7,19 7,44 93,48 4,85 5,19 98,41 1,39 1,42

  Pada penelitian ini, kadar analit sampel >0,1% atau dalam rentang 0,1 – 1,0%, maka persyaratan CV yang digunakan adalah CV Dari hasil ≤ 10%. perhitungan didapatkan bahwa semua nilai CV yang diperoleh memenuhi syarat CV

  ≤ 10%. Dengan demikian, metode yang digunakan memenuhi persyaratan presisi.

  3. LOD

  LOD merupakan batas terkecil analit yang masih dapat dideteksi pada suatu metode. Bila kadar yang diukur berada di bawah LOD, maka kadar tersebut tidak dapat dideteksi. Nilai LOD dihitung dengan rumus berikut:

  LOD =

  

Tabel VIII. Hasil pengukuran kurva baku

Konsentrasi (mg/ml) Absorbansi

  • 3

  1,584. 10 mg/ml 0,236 A

  • 3

  2,376. 10 mg/ml 0,329 A

  • 3

  3,168. 10 mg/ml 0,461 A

  • 3

  3,960. 10 mg/ml 0,598 A

  • 3

  4,752. 10 mg/ml 0,705 A

  • 3

  SD = 1,2522 x 10 LOD = =

  • 5

  = 2,4649 x 10 mg/ml

  • 5

  Dari hasil perhitunngan LOD, didapatkan LOD sebesar 2,4649 x 10 mg/ml. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah kurkumin dalam dispersi padat dan campuran fisik berada di atas LOD pengukuran.

4. Linieritas Linieritas metode dilihat dari nilai koefisien korelasi pada kurva baku.

  Nilai koefisien korelasi yang baik adalah yang mendekati ±1, karena pada nilai r ±1, peningkatan konsentrasi akan diikuti dengan peningkatan absorbansinya.

  

Tabel IX. Persyaratan nilai linieritas (Rohman, 2009)

Uji Level* Kisaran** Kriteria keberterimaan

  pengujian 5 50% - 150% r > 0,999; intersep -y > 2,0% disolusi 5-8 10% - 150% r > 0,99; intersep -y > 5,0% pengotor

  5 LOQ – 2% r > 0,98 Menurut Rohman (2009), persyaratan nilai koefisien korelasi pada uji disolusi adalah r ≥ 0,99. Persamaan kurva baku memiliki nilai r = 0,9981 sehingga dapat dikatakan mempunyai linieritas yang baik. Dengan demikian, metode analisis yang digunakan dalam pengujian disolusi ini memenuhi persyaratan linieritas.

F. Uji Disolusi

  Uji disolusi sangat penting dalam mengevaluasi parameter kritis seperti bioavailabilitas yang memadai, sehingga dapat dibuat bentuk sediaan yang efikasinya lebih besar. Dalam penelitian ini, uji disolusi dilakukan secara in vitro menggunakan medium cairan lambung buatan tanpa pepsin (pH 1,2). Uji disolusi dilakukan untuk mengetahui disolusi kurkumin dalam dispersi padat dan campuran fisik.

  Uji disolusi dilakukan menggunakan peralatan uji disolusi tipe 2 (rotating paddle method) dengan kecepatan putar paddle 50±1 rpm, pada suhu 37±0,5°C. Pengujian dilakukan selama 3 jam dengan waktu pengambilan cuplikan pada menit ke-5, 10, 20, 30, 45, 60, 90, 120, 150, dan 180. Cuplikan diambil sebanyak 5 ml, yang diikuti dengan penggantian medium disolusi sebanyak 5 ml. Cuplikan tersebut diukur absorbansinya dan dimasukkan ke dalam persamaan kurva baku sehingga diperoleh kadar kurkumin yang terdisolusi. Dari kadar tersebut, dihitung kadar dalam 900 ml, dan kemudian dihitung persentase kurkumin yang terdisolusi. Kemudian, dibuat kurva hubungan antara waktu dan persentase kurkumin terdisolusi.

  

Gambar 6. Grafik Dispersi Padat dan Campuran Fisik Drug Load 1,72%

  Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa dispersi padat isolat ekstrak rimpang kunyit-gom guar dapat meningkatkan disolusi kurkumin, tetapi tidak signifikan dibandingkan dengan campuran fisik. Hal ini dapat dilihat dari rentang ± SD yang saling tumpang tindih antara dispersi padat dan campuran fisik.

  Perbandingan disolusi dispersi padat dan campuran fisik drug load 1,72% juga dilihat dengan uji statistik, dengan uji T tidak berpasangan dan uji

  

Mann-Whitney . Uji statistik dilakukan dengan uji T tidak berpasangan dan uji

Mann-Whitney karena distribusi data pada waktu-waktu yang diuji, ada yang

  normal dan ada yang tidak normal. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Shapiro-Wilk, karena data yang diuji jumlahnya kurang dari 50.

  

Tabel X. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik

proporsi drug load 1,72%

Waktu Nilai p Signifikan/ tidak (menit)

  5 0,121 Tidak signifikan 10 0,275 Tidak signifikan 20 0,607 Tidak signifikan 30 0,290 Tidak signifikan 45 0,591 Tidak signifikan 60 0,513 Tidak signifikan 90 0,036 Signifikan 120 0,331 Tidak signifikan

  150 0,116 Tidak signifikan 180 0,033 Signifikan Dari hasil perhitungan uji statistik diperoleh nilai signifikansi > 0,05; hanya pada menit ke-90 dan 180 nilai signifikansi < 0,05. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang tidak bermakna antara disolusi dispersi padat dan campuran fisik.

  

Gambar 7. Grafik Dispersi Padat dan Campuran Fisik Drug Load 3,38%

  Grafik di atas menunjukkan peningkatan disolusi kurkumin yang signifikan antara dispersi padat dan campuran fisik. Hal ini dapat dilihat dari rentang ± SD yang tidak tumpang tindih diantara keduanya. Oleh karena rentang

  ± SD tidak tumpang tindih, maka rentang persentase kurkumin yang terdisolusi berbeda signifikan antara dispersi padat dan campuran fisik.

  

Tabel XI. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik

proporsi drug load 3,38%

Waktu (menit) Nilai p Signifikan/ tidak

  5 0,872 Tidak signifikan 10 0,232 Tidak signifikan 20 0,226 Tidak signifikan 30 0,098 Tidak signifikan 45 0,021 Signifikan 60 0,010 Signifikan 90 0,003 Signifikan 120 0,014 Signifikan

  150 0,013 Signifikan 180 0,004 Signifikan Perbandingan disolusi dispersi padat dan campuran fisik drug load

  3,38% juga dilakukan dengan uji T tidak berpasangan karena data terdistribusi normal (p < 0,05). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Shapiro-Wilk, karena data yang diuji jumlahnya kurang dari 50.

  Dari hasil perhitungan uji T tidak berpasangan menunjukkan bahwa pada menit ke-5 sampai menit ke-30 disolusi kurkumin pada dispersi padat dan campuran fisik tidak ada perbedaan yang signifikan. Namun, pada menit ke-45 sampai menit ke-180 terdapat perbedaan yang signifikan antara dispersi padat dan terjadi pemecahan kapsul dan kurkumin yang terdisolusi masih sedikit sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan antara dispersi padat dan campuran fisik.

  Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa disolusi antara dispersi padat dan campuran fisik pada proporsi drug load 3%, terdapat perbedaan yang signifikan.

  

Gambar 8. Grafik Dispersi Padat dan Campuran Fisik Drug Load 5,11%

  Grafik di atas menunjukkan bahwa terjadi sedikit peningkatan disolusi kurkumin antara dispersi padat dan campuran fisik, namun peningkatan disolusi tersebut tidak signifikan. Hal ini dapat dilihat dari rentang ± SD yang berdekatan, bahkan tumpang tindih antara dispersi padat dan campuran fisik.

  Perbandingan disolusi dispersi padat dan campuran fisik drug load 5,11% juga dilakukan dengan uji T tidak berpasangan karena data menunjukkan distribusi normal (p > 0,05). Uji normalitas dilakukan menggunakan Shapiro- Wilk, karena data yang diuji jumlahnya kurang dari 50.

  

Tabel XII. Hasil uji statistik disolusi dispersi padat dan campuran fisik

proporsi drug load 5,11%

Waktu (menit) Nilai p Signifikan/ tidak

  5 0,863 Tidak signifikan 10 0,992 Tidak signifikan 20 0,380 Tidak signifikan 30 0,304 Tidak signifikan 45 0,297 Tidak signifikan 60 0,360 Tidak signifikan 90 0,233 Tidak signifikan 120 0,308 Tidak signifikan

  150 0,123 Tidak signifikan 180 0,101 Tidak signifikan Dari hasil perhitungan uji T tidak berpasangan diperoleh nilai signifikansi > 0,05; hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang tidak signifikan antara disolusi dispersi padat dan campuran fisik.

  

Gambar 9. Grafik Dispersi Padat Berbagai Drug Load Grafik tersebut menunjukkan bahwa semakin besar drug load, maka disolusi kurkumin akan semakin menurun. Peningkatan drug load dan/ atau saat pembawa terlarut dengan cepat, maka akan menyebabkan penurunan laju disolusi. Hal ini menunjukkan terjadinya kristalisasi obat yang tidak terkontrol, yang disebabkan oleh supersaturasi pada daerah pelepasan obat tersebut. Kristalisasi yang tidak terkontrol ini menghasilkan bentuk kristal dalam jumlah besar, yang akan terlarut dengan lambat (Srinarong et al., 2009).

G. Korelasi Proporsi Drug Load dan Disolusi Kurkumin

  Dari hasil disolusi tersebut, kemudian dilihat hubungan korelasi antara proporsi drug load dengan persentase kurkumin terdisolusi pada waktu 60 menit.

  Korelasi antara proporsi drug load dengan persentase kurkumin terdisolusi dihitung dengan menggunakan korelasi Spearman dan analisis regresi. Korelasi dilakukan dengan korelasi Spearman karena data yang ada tidak terdistribusi normal (p < 0,05). Uji normalitas data dilakukan menggunakan Shapiro-Wilk, karena data yang diuji jumlahnya kurang dari 50.

  Dari hasil perhitungan korelasi Spearman, diperoleh nilai signifikansi 0,042. Nilai signifikansi yang diperoleh tersebut < 0,05; maka dapat dikatakan bahwa ada korelasi yang bermakna antara proporsi drug load dengan persentase kurkumin yang terdisolusi. Nilai koefisien korelasi yang diperoleh adalah -0,685. Nilai negatif koefisien korelasi menunjukkan bahwa korelasi antara proporsi drug

  

load dan persentase kurkumin terdisolusi berbanding terbalik, dimana semakin terdisolusi. Koefisien korelasi sebesar 0,685 menunjukkan bahwa ada korelasi yang kuat antara proporsi drug load dan persentase kurkumin terdisolusi.

  Tabel XIII. Kekuatan korelasi (Dahlan, 2009)

  Koefisien korelasi Kekuatan korelasi 0,00-0,199 sangat lemah 0,20-0,399 lemah 0,40-0,599 sedang 0,60-0,799 kuat 0,80-1,000 sangat kuat

  Pengaruh proporsi drug load terhadap persentase kurkumin terdisolusi juga dihitung dengan analisis regresi linier. Dengan melakukan analisis regresi linier, dapat diprediksi nilai proporsi drug load dan persentase kurkumin terdisolusi, yang berada diluar nilai yang diteliti melalui persamaan matematis.

  Gambar 10. Kurva Proporsi Drug Load vs %Kurkumin Terdisolusi

  Dari perhitungan analisis regresi diperoleh persamaan regresi y = -2,4766x + 17,408. Pada analisis dengan ANOVA, diperoleh nilai signifikansi

  0,026. Nilai signifikansi yang diperoleh < 0,05; hal ini menunjukkan bahwa persamaan tersebut layak digunakan untuk meramalkan besarnya persentase kurkumin terdisolusi bila proporsi drug load diturunkan kurang dari 1,72% dan ditingkatkan lebih dari 5,11%. Nilai Adjusted R Square yang diperoleh adalah 0,464, yang berarti 46,4% dari persentase kurkumin terdisolusi dipengaruhi oleh proporsi drug load, sedangkan 53,6% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dispersi padat dapat meningkatkan disolusi kurkumin secara signifikan

  dibandingkan dengan campuran fisik. Peningkatan proporsi drug load akan berpengaruh terhadap penurunan disolusi dispersi padat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica Rhizome)-gom guar.

B. Saran

  1. Perlu dilakukan uji stabilitas terhadap dispersi padat pada rentang waktu tertentu untuk melihat pengaruhnya terhadap disolusi kurkumin.

  2. Pengukuran kadar pada uji disolusi dilakukan dengan metode yang lebih sensitif, misalnya HPLC.

DAFTAR PUSTAKA

  Banakar, U.V., 1992, Pharmaceutical Dissolution Testing, Marcel Dekker Inc., New York, United States of America, pp. 15-17, 53. Chaudhari, P.D., Sharma, P.K., Badagale, M.M., Dave, K.D., Kaulkarni, P.A., dan

  Baharte, N.S., 2006, Current Trends in Solid Dispersions Techniques, akses tanggal 25 Maret 2010.

  th

  Christian, G.D., 2004, Analytical Chemistry, 6 ed., John Wiley & Sons, Inc., United States of America, pp. 65-66, 483-484. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995, Farmakope Indonesia , jilid IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, pp.

  1143. Day, R.A. dan Underwood, A.L., 1986, Quantitative Analysis, diterjemahkan oleh Pudjaatmaka, A. H., Erlangga, Jakarta, pp. 388-390.

  Guideline, 2004, Guidelines for the Validation of Analytical Methods Active Constituent, Agricultural and Veterinary Chemical Producta, Australian Pesticides & Veterinary Medicines Authority , 1-9.

  Genome Alberta, 2009, Curcumin, akses tanggal 23 April 2010. Harmita, 2004, Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya, Majalah Ilmu Kefarmasian , Vol. I, No. 3, 117-135.

  Kaewnopparat, N., Kaewnopparat, S., Jangwang, A., Maneenaum, D., Chucome, T., dan Panichayupakaranant, P., 2009, Increased Solubility, Dissolution, and Physicochemical Studies of Curcumin-Polyvinylpyrrolidone K-30 Solid Dispersions, World Academy of Science, Engineering and Technology, 55, 229-234.

  Kawamura, Y., 2008, Guar Gum, Chemical and Technical Assessment, diakses tanggal 5 September 2010. Malviya, R., Srivastava, P., Bansal, M., dan Sharma, P.K., 2010, Improvement of

  Dissolution Behavior of Paracetamol Using Solid Dispersion Technique,

International Journal of Pharmaceutical Science and Research , 1, 95-99. Mulja, M., dan Hanwar, D., 2003, Prinsip-Prinsip Cara Berlaboratorium yang Baik (Good Laboratory Practice), Majalah Farmasi Airlangga, Vol. III No.

  2 , pp. 71-76.

  Mulja, M., dan Suharman, 1995, Analisis Instrumental, Airlangga University Press, Surabaya, pp. 7, 26-32, 48. Najib, A., 2009, Penerapan Nanotechnology Dalam Bidang Formulasi Sediaan Obat akses tanggal 17 April 2010. Nugroho, et al., 2007, Active cutaneous anaphylaxis-inhibitory activity of

  Gamavuton-0 potassium (K-GVT-0), Majalah Farmasi Indonesia, Yogyakarta. Parinussa, T.M.S., dan Timotius, K.H., 2010, Pengaruh Penambahan Asam terhadap Aktivitas Antioksidan Kurkumin, BSS, 194 (1), 1-6. Rohman, A., 2009, Kromatografi untuk Analisis Obat, Graha Ilmu, Yogyakarta, pp. 217-233. Rowe, R.C., Sheskey, P.J., dan Owen, S.C., 2006, Handbook of Pharmaceutical

  th Exipients , 5 ed., Pharmaceutical Press, London, UK, pp. 315-316.

  Schirmer, R.A., 1982, Modern Methods of Pharmaceutical Analysis, Volume 1, CRC Press, Inc., Boca Raton, Florida, pp. 31, 61. Sharma, D.K., dan Joshi, S.B., 2007, Solubility Enhancement Strategies For

  Poorly Water-Soluble Drugs In Solid Dispersions: A Review, Asian Journal of Pharmaceutics , 1 (1), 9-19. Srichamroen, A., 2007, Influence of Temperature and Salt on Viscocity Property of Guar Gum, Departement of Agro-Industry, Naresuan University,

  Thailand .

  Srinarong, P., Kouwen, S., Visser, M.R., Hinrichs, W.L.J., dan Frijlink, H.W., 2009, Effect of Drug-Carrier Interaction on the Dissolution Behavior of Solid Dispersion Tablets, Pharmaceutical Development and Technology, 1- 9.

  The Medical News, 2010, Percobaan Klinis Mendukung Manfaat dari Ekstrak

  Kunyit Orang dengan Osteoarthritis ,

  akses tanggal 25 Januari 2011. Tonnesen, H.H., dan Karlsen, J., 1985, Studies on Curcumin and Curcuminoid IV: Kinetics of Curcumin Degradation in Aqueous Solution, Z. Lebensm. st

  Troy, D.B., 2005, Remington : The Science and Practice of Pharmacy, 21 ed., Lippincott Williams & Wilkins, USA, pp. 672, 681-683. Voigt, R., 1984, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, pp. 594-599. Wahyuni, A.H., dan Yamrewav, P.H., 2004, Ekstraksi Kurkumin Dari Kunyit, akses tanggal 16 April 2010. Wang, Y.J., Pan, M.H., Chang, A.L., Hsieh, C.Y. and Lin, J.K., 1997, Stability of

  Curcumin in Buffer Solutions and Characterization of Its Degradation Products, J. Pharmaceut. Biomed. Anal., 15, 1867-1876. Xu, D.H., Wang, S., Jin J., Mei X.T., and Xu S.B., 2006, Dissolution and

  Absorption Researches of Curcumin in Solid Dispersions with The Polymers PVP, Asian Journal of Pharmacodynamics and Pharmacokinetics, 6 (4), 343-349.

  

LAMPIRAN

Lampiran 1. Certificate of Analysis isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma

domestica Rhizome)

  Lampiran 2. Certificate of Analysis baku standar kurkumin

  Lampiran 3. Scan λ maksimum

  Intermediet I

  Intermediet II

  Intermediet III

  Lampiran 4. Kurva baku, linieritas, dan LOD

  Pembuatan kurva baku kurkumin

  1. Pembuatan larutan stok kurkumin

  a. Penimbangan kurkumin baku berat kertas = 0,1332 g berat kertas + zat = 0,1433 g berat kertas + sisa = berat zat =

  0,1334 g 0,0990 g = 9,9 mg Kurkumin dilarutkan dengan methanol p.a lalu di add methanol p.a hingga 25 ml.

  Konsentrasi larutan stok kurkumin = 9,9 mg / 25 ml = 0,3960 mg / ml

  2. Pembuatan larutan intermediet kurkumin 1 ml larutan stok kurkumin di pipet , di add dengan methanol p.a 10,0 ml Konsentrasi larutan intermediet kurkumin = 0,3960 mg/ml x 1,0 ml / 10,0 ml

  = 0,0396 mg/ml

  3. Pembuatan seri larutan baku kurkumin Seri 1 0,4 ml = 0,0396 mg/ml x 0,4 ml / 10,0 ml = 1,584. 10

  • 3

  mg/ml Seri 2 0.6 ml

  • 3
  • 3
  • 3
  • 3

  • 3

  • 3

  0,425 mg/ml 3,960. 10

  0,598 mg/ml 4,752. 10

  0,705 mg/ml λ

  Konsentrasi ( mg/ml) Absorbansi 421,6 nm

  1,584. 10

  0,205 mg/ml 2,376. 10

  0,382 mg/ml 3,168. 10

  0,685 mg/ml λ

  0,589 mg/ml 4,752. 10

  0,329 mg/ml 3,168. 10

  Konsentrasi ( mg/ml) Absorbansi 421,6 nm

  1,584. 10

  0,207 mg/ml 2,376. 10

  0,333 mg/ml 3,168. 10

  0,417 mg/ml 3,960. 10

  0,560 mg/ml 4,752. 10

  0,461 mg/ml 3,960. 10

  421,6 nm 1,584. 10

  0,236 mg/ml 2,376. 10

  B = 152,3990 r = 0,9981 y = Bx + a = 152,3990 x-0,017 a = - 9,6 .10

  Seri 3 0.8 ml = 0,0396 mg/ml x 0,6 ml / 10,0 ml = 3,168. 10

  mg/ml Seri 4 1,0 ml = 0,0396 mg/ml x 0,6 ml / 10,0 ml = 3,960. 10

  mg/ml a = -0,017 Larutan intermediet I

  mg/ml Seri 5 1,2 ml = 0,0396 mg/ml x 0,6 ml / 10,0 ml = 4,752. 10

  • 3

  • 3

  Larutan intermediet II B = 147,3485

  • 3
  • 3
  • 3

  r = 0,9878 y = Bx+a = 147,3485 x – 9,6.10

  • 3
  • 3
  • 3
  • 3

  a = - 0,04 Larutan intermediet III

  • 3

  B = 152,3990 r = 0,9966 y = Bx+a = 152,3990 x – 0,04

  λ Konsentrasi ( mg/ml) Absorbansi

  • 3
  • 3
  • 3
  • 3

  0,697 mg/ml Kurva baku yang digunakan adalah y = 152,3990 x – 0,017; nilai r = 0,9981 Linieritas untuk pengujian disolusi menurut Rohman (2009), nilai r ≥ 0,99 Pada kurva baku tersebut dapat dilihat bahwa nilai r sudah memenuhi syarat (r ≥ 0,99) SD = 0,0016 LOD = =

  • 5

  = 3,1496.10 mg/ml

  Lampiran 5. Perhitungan recovery dan CV Kadar Recovery Rata-Rata Absorbansi CV (%)

  (mg/ml) (%) recovery

  • 3

  0,236 1,6601·10 104,80

  • 3

  Rendah 0,205 1,4567·10 96,52 % 7,44

  91,96

  • 3

  0,207 1,4698·10 92,79

  • 3

  0,461 3,1365·10 99,00

  • 3

  Tengah 0,425 2,9003·10 93,48 % 5,19

  91,55

  • 3

  0,417 2,8478·10 89,89

  • 3

  0,705 4,7376·10 99,70

  • 3

  Tinggi 0,685 4,6063·10 98,41 % 1,42

  96,93

  • 3

  0,697 4,6851·10 98,59

  Perhitungan recovery

  • Rendah Intermediet I = x 100% = 104,80 % Intermediet II = x 100% = 91,96 % Intermediet III = x 100% = 92,79 %
  • Tengah

  Intermediet II = x 100% = 91,55 % Intermediet III = x 100% = 89,89 %

  • Tinggi Intermediet I = x 100% = 99,70 % Intermediet II = x 100% = 96,93 % Intermediet III = x 100% = 98,59 %

  

Lampiran 6. Penimbangan untuk pembuatan dispersi padat dan campuran

fisik

  Contoh perhitungan penimbangan untuk dispersi padat Proporsi Drug Load 5,11% Gom Guar yang ditimbang 0,65 g (1 kapsul)

  → 2,60 g (4 kapsul) Kurkumin = 35 mg Isolat ekstrak rimpang kunyit = 35 : : = 60,015 mg % kehilangan = 40% Isolat ekstrak rimpang kunyit = x 60,015 = 100,025 mg (1 kapsul) Untuk 4 kapsul = 100,025 x 4 = 400,1 mg

  = 0,4001 g

  • Replikasi 1 Gom guar Berat kertas = 0,8249 g Berat kertas + Gom guar = 3,4249 g Berat kertas + sisa = 0,8249 g

  Berat aluminium foil = 0,1336 g Isolat ekstrak rimpang kunyit Berat aluminium foil + isolat kunyit = 0,5339 g Berat isolat kunyit = 0,4001 g Berat aluminium foil + sisa = 0,1337 g Berat aluminium foil = 0,5619 g Hasil Berat aluminium foil + hasil = 2,4859 g Berat hasil = 1,9240 g Berat hasil per kapsul = = 0,4810 g = 481 mg

  • Replikasi 2 Berat kertas = 0,7852 g Gom guar Berat kertas + Gom guar = 3,3853 g Berat Gom guar = 2,6001 g Berat kertas + sisa = 0,7852 g

  Berat aluminium foil = 0,0934 g Isolat ekstrak rimpang kunyit Berat aluminium foil + isolat kunyit = 0,4938 g Berat isolat kunyit = 0,4001 g Berat aluminium foil + sisa = 0,0937 g Berat aluminium foil = 0,4752 g Hasil Berat aluminium foil + hasil = 2,4089 g Berat hasil = 1,9337 g Berat hasil per kapsul = = 0,483425 g = 483,425 mg

  • Replikasi 3 Berat kertas = 0,2426 g Gom guar Berat kertas + Gom guar = 2,8429 g Berat Gom guar = 2,5999 g Berat kertas + sisa = 0,2430 g

  Berat aluminium foil = 0,1449 g Isolat ekstrak rimpang kunyit Berat aluminium foil + isolat kunyit = 0,5453 g

  Hasil Berat aluminium foil = 0,3876 g Berat aluminium foil + hasil = 2,3322 g Berat hasil = 1,9446 g Berat hasil per kapsul = = 0,48615 g = 486,15 mg Contoh perhitungan penimbangan untuk campuran fisik Proporsi Drug Load 5,11%

  • Replikasi 1 % kehilangan = x 100%

  = x 100% = 35,87% Jumlah isolat ekstrak rimpang kunyit dalam hasil = jumlah isolat kunyit yang ditimbang - jumlah isolat kunyit yang hilang = 0,4001 g – (35,87% x 0,4001) = 0,4001 g – 0,1435 g = 0,2566 g = 256,6 mg Jumlah kurkumin = jumlah isolat kunyit dalam hasil x 97,20 % x 60 %

  = 256,6 mg x 97,20 % x 60 % = 149,6491 mg

  Jumlah kurkumin yang ada dalam tiap formula = = = 37,4123 mg

  Jumlah isolat ekstrak rimpang yang dimasukan dalam kapsul Jumlah kurkumin dalam 250 mg = x jumlah kurkumin dalam tiap formula = x 37,4123 = 19,4451 mg Jumlah isolat ekstrak rimpang kunyit yang ditimbang = jumlah isolat kunyit dalam 250 mg : 97,20 % : 60 % = 19,4451 mg : 97,20 % : 60 % = 33,3421 mg Jumlah pembawa yang ditambahkan = 250 mg – jumlah isolat kunyit ditimbang

  = 250 mg – 33,3421 mg Jadi untuk campuran fisik, isolat ekstrak rimpang kunyit yang ditimbang sebanyak 33,3421 mg dan gom guar sebanyak 216,6579 mg

  • Replikasi 2 % kehilangan = x 100%

  = x 100% = 35,55% Jumlah isolat ekstrak rimpang kunyit dalam hasil = jumlah isolat kunyit yang ditimbang - jumlah isolat kunyit yang hilang = 0,4001 g – (35,55 % x 0,4001) = 0,4001 g – 0,1422 g = 0,2579 g = 257,9 mg Jumlah kurkumin yang ada = jumlah isolat kunyit yang ada x 97,20 % x 60 %

  = 257,9 mg x 97,20 % x 60 % = 150,4073 mg

  Jumlah kurkumin yang ada dalam tiap formula = = = 37,6018 mg Jumlah isolat ekstrak rimpang yang dimasukan dalam kapsul Jumlah kurkumin dalam 250 mg = x jumlah kurkumin dalam tiap formula = x 37,6018 = 19,4455 mg Jumlah isolat ekstrak rimpang kunyit yang harus ditimbang = jumlah isolat kunyit dalam 250 mg : 97,20 % : 60 % = 19,4455 mg : 97,20 % : 60 % = 33,3428 mg Jumlah pembawa yang ditambahkan = 250 mg – jumlah isolat kunyit ditimbang

  = 250 mg – 33,3428 mg = 216,6572 mg

  Jadi untuk campuran fisik, isolat ekstrak rimpang kunyit yang ditimbang sebanyak

  • Replikasi 3 % kehilangan = x 100%

  = x 100% = 35,18% Jumlah isolat ekstrak rimpang kunyit dalam hasil = jumlah isolat kunyit yang ditimbang - jumlah isolat kunyit yang hilang = 0,4002 g – (35,18% x 0,4002) = 0,4002 g – 0,1408 g = 0,2594 g = 259,4 mg Jumlah kurkumin yang ada = jumlah isolat kunyit yang ada x 97,20 % x 60 %

  = 259,4 mg x 97,20 % x 60 % = 151,2821 mg

  Jumlah kurkumin yang ada dalam tiap formula = = = 37,8205 mg Jumlah isolat ekstrak rimpang yang dimasukan dalam kapsul Jumlah kurkumin dalam 250 mg = x jumlah kurkumin dalam tiap formula = x 37,8205 = 19,4490 mg Jumlah isolat ekstrak rimpang kunyit yang ditimbang = jumlah isolat kunyit dalam 250 mg : 97,20 % : 60 % = 19,4490 mg : 97,20 % : 60 % = 33,3488 mg Jumlah pembawa yang ditambahkan = 250 mg – jumlah isolat kunyit ditimbang

  = 250 mg – 33,3488 mg = 216,6512 mg

  Jadi untuk campuran fisik, isolat ekstrak rimpang kunyit yang ditimbang sebanyak 33,3488 mg dan gom guar sebanyak 216,6512 mg. Nb : untuk penimbangan proporsi drug load 1,72% dan 3,38% sama

  Lampiran 7. Hasil uji disolusi campuran fisik dan dispersi padat Campuran Fisik

  • Proporsi Drug Load 1,72% Replikasi 1

  Waktu (menit) Absorbansi Kadar (mg/ml) Kadar dlm 900 ml % kurkumin terdisolusi

  5 0,0580 0,00049212921 0,4429 6,38 10 0,0620 0,00051837610 0,4665 6,72 20 0,0760 0,00061024022 0,5492 7,91 30 0,0730 0,00059055506 0,5315 7,65 45 0,0700 0,00057086989 0,5138 7,40 60 0,0750 0,00060367850 0,5433 7,82 90 0,0820 0,00064961056 0,5846 8,42 120 0,1530 0,00111549288 1,0039 14,46

  150 0,0820 0,00064961056 0,5846 8,42 180 0,0740 0,00059711678 0,5374 7,74 Replikasi 2

  Waktu (menit) Absorbansi Kadar (mg/ml) Kadar dlm 900 ml % kurkumin terdisolusi

  5 0,0580 0,00049212921 0,4429 6,38 10 0,0750 0,00060367850 0,5433 7,83 20 0,1220 0,00091207948 0,8209 11,82 30 0,0880 0,00068898090 0,6201 8,93 45 0,1810 0,00129922112 1,1693 16,84 60 0,0920 0,00071522779 0,6437 9,27 90 0,1040 0,00079396846 0,7146 10,29 120 0,1110 0,00083990052 0,7559 10,89

  150 0,1080 0,00082021536 0,7382 10,63 180 0,0940 0,00072835124 0,6555 9,44 Replikasi 3

  Waktu % kurkumin Absorbansi Kadar (menit) Kadar dlm 900 ml (menit) terdisolusi

  5 0,0410 0,00038057993 0,3425 4,93 10 0,0510 0,00044619715 0,4016 5,78 20 0,0510 0,00044619715 0,4016 5,78 30 0,0520 0,00045275888 0,4075 5,87 45 0,0550 0,00047244404 0,4252 6,12 60 0,0590 0,00049869094 0,4488 6,46 90 0,0520 0,00045275888 0,4075 5,87 120 0,0540 0,00046588232 0,4193 6,04

  150 0,0560 0,00047900577 0,4311 6,21 180 0,0610 0,00051181438 0,4606 6,63

  • Proporsi Drug Load 3,38% Replikasi 1

  Waktu % kurkumin Absorbansi Kadar (mg/ml) Kadar dlm 900 ml (menit) terdisolusi

  5 0,0850 0,00066929573 0,6024 4,54 10 0,0680 0,00055774644 0,5020 3,78 20 0,0820 0,00064961056 0,5846 4,41 30 0,0750 0,00060367850 0,5433 4,10 45 0,0810 0,00064304884 0,5787 4,36 60 0,0750 0,00060367850 0,5433 4,10 90 0,0760 0,00061024022 0,5492 4,14 120 0,0820 0,00064961056 0,5846 4,41

  150 0,0780 0,00062336367 0,5610 4,23 180 0,0810 0,00064304884 0,5787 4,36 Replikasi 2

  Waktu (menit) Absorbansi Kadar (mg/ml) Kadar dlm 900 ml % kurkumin terdisolusi

  5 0,0030 0,0001312345 0,1181 0,89 10 0,0420 0,0003871416 0,3484 2,63 20 0,0880 0,0006889809 0,6201 4,68 30 0,0320 0,0003215244 0,2894 2,18 45 0,0470 0,0004199503 0,3780 2,85 60 0,0230 0,0002624689 0,2362 1,78 90 0,0490 0,0004330737 0,3898 2,94 120 0,0370 0,0003543330 0,3189 2,41

  150 0,0520 0,0004527589 0,4075 3,07 180 0,0390 0,0003674565 0,3307 2,49 Replikasi 3

  Waktu (menit) Absorbansi Kadar (mg/ml) Kadar dlm 900 ml % kurkumin terdisolusi

  5 0,0240 0,0002690306 0,2421 1,83 10 0,0170 0,0002230986 0,2008 1,51 20 0,0470 0,0004199503 0,3780 2,85 30 0,0300 0,0003084010 0,2776 2,09 45 0,0530 0,0004593206 0,4134 3,12 60 0,0390 0,0003674565 0,3307 2,50 90 0,0720 0,0005839933 0,5256 3,97 120 0,0900 0,0007021043 0,6319 4,77

  150 0,0470 0,0004199503 0,3780 2,85 180 0,0610 0,0005118144 0,4606 3,48

  • Proporsi Drug Load 5,11% Replikasi 1

  Waktu % kurkumin Absorbansi Kadar (mg/ml) Kadar dlm 900 ml (menit) terdisolusi

  5 0,0320 0,0003215244 0,2894 1,49 10 0,0400 0,0003740182 0,3366 1,73 20 0,0540 0,0004658823 0,4193 2,16 30 0,0310 0,0003149627 0,2835 1,46 45 0,0560 0,0004790058 0,4311 2,22 60 0,0550 0,0004724440 0,4252 2,19 90 0,0590 0,0004986909 0,4488 2,31 120 0,0580 0,0004921292 0,4429 2,28

  150 0,0570 0,0004855675 0,4370 2,25 180 0,0600 0,0005052527 0,4547 2,34 Replikasi 2

  

Waktu Kadar % kurkumin

Absorbansi Kadar dlm 900 ml

(menit) (mg/ml) terdisolusi

  5 0,0450 0,0004068268 0,3661 1,88 10 0,0630 0,0005249378 0,4724 2,43 20 0,0750 0,0006036785 0,5433 2,79 30 0,0840 0,0006627340 0,5965 3,07 45 0,0920 0,0007152278 0,6437 3,31 60 0,0820 0,0006496106 0,5846 3,01 90 0,1040 0,0007939685 0,7146 3,67 120 0,1050 0,0008005302 0,7205 3,71

  150 0,0990 0,0007611599 0,6850 3,52 180 0,0990 0,0007611599 0,6850 3,52 Replikasi 3

  Waktu (menit) Absorbansi Kadar (mg/ml) Kadar dlm 900 ml % kurkumin terdisolusi

  5 0,0400 0,0003740182 0,3366 1,73 10 0,0700 0,0005708699 0,5138 2,64 20 0,0630 0,0005249378 0,4724 2,43 30 0,0650 0,0005380613 0,4843 2,49 45 0,0630 0,0005249378 0,4724 2,43 60 0,1050 0,0008005302 0,7205 3,70 90 0,0650 0,0005380613 0,4843 2,49 120 0,0830 0,0006561723 0,5906 3,04

  150 0,0720 0,0005839933 0,5256 2,70 180 0,0650 0,0005380613 0,4843 2,49

  Dispersi Padat

  • Proporsi Drug Load 1,72% Replikasi 1

  Waktu (menit) Absorbansi Kadar (mg/ml) Kadar dlm 900 ml % kurkumin terdisolusi

  5 0,0580 0,00049212921 0,4429 6,38 10 0,0620 0,00051837610 0,4665 6,72 20 0,0760 0,00061024022 0,5492 7,91 30 0,0730 0,00059055506 0,5315 7,65 45 0,0700 0,00057086989 0,5138 7,40 60 0,0750 0,00060367850 0,5433 7,82 90 0,0820 0,00064961056 0,5846 8,42 120 0,1530 0,00111549288 1,0039 14,46

  150 0,0820 0,00064961056 0,5846 8,42 180 0,0740 0,00059711678 0,5374 7,74 Replikasi 2

  Waktu % kurkumin Absorbansi Kadar (mg/ml) Kadar dlm 900 ml (menit) terdisolusi

  5 0,0580 0,00049212921 0,4429 6,38 10 0,0750 0,00060367850 0,5433 7,83 20 0,1220 0,00091207948 0,8209 11,82 30 0,0880 0,00068898090 0,6201 8,93 45 0,1810 0,00129922112 1,1693 16,84 60 0,0920 0,00071522779 0,6437 9,27 90 0,1040 0,00079396846 0,7146 10,29 120 0,1110 0,00083990052 0,7559 10,89

  150 0,1080 0,00082021536 0,7382 10,63 180 0,0940 0,00072835124 0,6555 9,44 Replikasi 3

  

Waktu Kadar dlm 900 % kurkumin

Absorbansi Kadar (mg/ml) (menit) ml terdisolusi

  5 0,0410 0,00038057993 0,3425 4,93 10 0,0510 0,00044619715 0,4016 5,78 20 0,0510 0,00044619715 0,4016 5,78 30 0,0520 0,00045275888 0,4075 5,87 45 0,0550 0,00047244404 0,4252 6,12 60 0,0590 0,00049869094 0,4488 6,46 90 0,0520 0,00045275888 0,4075 5,87 120 0,0540 0,00046588232 0,4193 6,04

  150 0,0560 0,00047900577 0,4311 6,21 180 0,0610 0,00051181438 0,4606 6,63

  • Proporsi Drug Load 3,38% Replikasi 1

  

Waktu Kadar % kurkumin

Absorbansi Kadar dlm 900 ml

(menit) (mg/ml) terdisolusi

  5 0,0850 0,00066929573 0,6024 4,54 10 0,0680 0,00055774644 0,5020 3,78 20 0,0820 0,00064961056 0,5846 4,41 30 0,0750 0,00060367850 0,5433 4,10 45 0,0810 0,00064304884 0,5787 4,36 60 0,0750 0,00060367850 0,5433 4,10 90 0,0760 0,00061024022 0,5492 4,14 120 0,0820 0,00064961056 0,5846 4,41

  150 0,0780 0,00062336367 0,5610 4,23 180 0,0810 0,00064304884 0,5787 4,36 Replikasi 2

  

Waktu Kadar % kurkumin

Absorbansi Kadar dlm 900 ml

(menit) (mg/ml) terdisolusi

  5 0,0030 0,0001312345 0,1181 0,89 10 0,0420 0,0003871416 0,3484 2,63 20 0,0880 0,0006889809 0,6201 4,68 30 0,0320 0,0003215244 0,2894 2,18 45 0,0470 0,0004199503 0,3780 2,85 60 0,0230 0,0002624689 0,2362 1,78 90 0,0490 0,0004330737 0,3898 2,94 120 0,0370 0,0003543330 0,3189 2,41

  150 0,0520 0,0004527589 0,4075 3,07 180 0,0390 0,0003674565 0,3307 2,49 Replikasi 3

  

Waktu Kadar % kurkumin

Absorbansi Kadar dlm 900 ml (menit) (mg/ml) terdisolusi

  5 0,0240 0,0002690306 0,2421 1,83 10 0,0170 0,0002230986 0,2008 1,51 20 0,0470 0,0004199503 0,3780 2,85 30 0,0300 0,0003084010 0,2776 2,09 45 0,0530 0,0004593206 0,4134 3,12 60 0,0390 0,0003674565 0,3307 2,50 90 0,0720 0,0005839933 0,5256 3,97 120 0,0900 0,0007021043 0,6319 4,77

  150 0,0470 0,0004199503 0,3780 2,85 180 0,0610 0,0005118144 0,4606 3,48

  • Proporsi Drug Load 5,11% Replikasi 1

  Waktu % kurkumin Absorbansi Kadar (mg/ml) Kadar dlm 900 ml (menit) terdisolusi

  5 0,0170 0,00022309858 0,2008 1,03 10 0,0450 0,00040682682 0,3661 1,88 20 0,1020 0,00078084502 0,7028 3,61 30 0,2150 0,00152231970 1,3701 7,05 45 0,2030 0,00144357903 1,2992 6,68 60 0,1950 0,00139108524 1,2520 6,44 90 0,4260 0,00290684322 2,6162 13,45 120 0,2360 0,00166011588 1,4941 7,68

  150 0,2580 0,00180447378 1,6240 8,35 180 0,2880 0,00200132547 1,8012 9,26 Replikasi 2

  Waktu (menit) Absorbansi Kadar (mg/ml) Kadar dlm 900 ml % kurkumin terdisolusi

  5 0,0200 0,00024278375 0,2185 1,12 10 0,0120 0,00019028996 0,1713 0,88 20 0,0370 0,00035433303 0,3189 1,64 30 0,0290 0,00030183925 0,2717 1,40 45 0,0390 0,00036745648 0,3307 1,70 60 0,0320 0,00032152442 0,2894 1,49 90 0,0630 0,00052493783 0,4724 2,43 120 0,0430 0,00039370337 0,3543 1,82

  150 0,0780 0,00062336367 0,5610 2,89 180 0,0940 0,00072835124 0,6555 3,37 Replikasi 3

  Waktu (menit) Absorbansi Kadar (mg/ml) Kadar dlm 900 ml % kurkumin terdisolusi

  5 0,0400 0,0003740182 0,3366 1,73 10 0,0700 0,0005708699 0,5138 2,64 20 0,0630 0,0005249378 0,4724 2,43 30 0,0650 0,0005380613 0,4843 2,49 45 0,0630 0,0005249378 0,4724 2,43 60 0,1050 0,0008005302 0,7205 3,70 90 0,0650 0,0005380613 0,4843 2,49 120 0,0830 0,0006561723 0,5906 3,04

  150 0,0720 0,0005839933 0,5256 2,70 180 0,0650 0,0005380613 0,4843 2,49

  Lampiran 8. Grafik dispersi padat dan campuran fisik

  • Campuran Fisik Proporsi Drug Load 1,72%

  Waktu (menit)

  % kurkumin terdisolusi rata-rata SD rep 1 rep 2 rep 3 5 6,38 6,38 4,93 5,90 0,84

  10 6,72 7,83 5,78 6,78 1,02 20 7,91 11,82 5,78 8,50 3,06 30 7,65 8,93 5,87 7,48 1,54 45 7,40 16,84 6,12 10,12 5,86 60 7,82 9,27 6,46 7,85 1,40 90 8,42 10,29 5,87 8,19 2,22

  120 14,46 10,89 6,04 10,46 4,23 150 8,42 10,63 6,21 8,42 2,21 180 7,74 9,44 6,63 7,94 1,41

  Dispersi Padat

  Waktu (menit)

  % kurkumin terdisolusi rata-rata SD rep 1 rep 2 rep 3 5 5,53 3,83 2,47 3,94 1,53

  10 7,57 4,08 2,98 4,88 2,40 20 12,42 11,23 6,21 9,95 3,30 30 14,46 11,99 5,87 10,77 4,42 45 16,50 13,44 7,82 12,59 4,40 60 16,50 16,42 6,29 13,07 5,87 90 17,35 16,50 11,48 15,11 3,17

  120 18,11 16,84 8,93 14,63 4,98 150 18,11 16,84 9,01 14,66 4,93 180 18,37 17,18 11,14 15,56 3,88

  • Campuran Fisik Proporsi Drug Load 3,38%

  Waktu (menit)

  % kurkumin terdisolusi rata-rata SD rep 1 rep 2 rep 3 5 4,54 0,89 1,83 2,42 1,90

  10 3,78 2,63 1,51 2,64 1,14 20 4,41 4,68 2,85 3,98 0,99 30 4,10 2,18 2,09 2,79 1,13 45 4,36 2,85 3,12 3,44 0,81 60 4,10 1,78 2,50 2,79 1,19 90 4,14 2,94 3,97 3,68 0,65

  120 4,41 2,41 4,77 3,86 1,27 150 4,23 3,07 2,85 3,39 0,74 180 4,36 2,49 3,48 3,44 0,93

  Dispersi Padat

  Waktu (menit)

  % kurkumin terdisolusi rata-rata SD rep 1 rep 2 rep 3 5 1,51 4,28 2,18 2,66 1,44

  10 2,14 10,11 5,79 6,01 3,99 20 3,03 11,32 8,24 7,53 4,19 30 3,43 11,18 9,49 8,03 4,08 45 5,61 7,80 9,00 7,47 1,72 60 6,77 10,69 10,11 9,19 2,12 90 7,39 8,69 9,49 8,52 1,06

  120 7,30 9,44 11,00 9,25 1,86 150 6,46 9,89 10,20 8,85 2,08 180 7,75 10,29 10,65 9,56 1,58

  • Proporsi Drug Load 5,11% Campuran Fisik

  % kurkumin terdisolusi Waktu rata-rata SD

  (menit) Rep 1 Rep 2 Rep 3 5 1,49 1,88 1,73 1,70 0,20

  10 1,73 2,43 2,64 2,27 0,48 20 2,16 2,79 2,43 2,46 0,32 30 1,46 3,07 2,49 2,34 0,82 45 2,22 3,31 2,43 2,65 0,58 60 2,19 3,01 3,70 2,97 0,76 90 2,31 3,67 2,49 2,82 0,74

  120 2,28 3,71 3,04 3,01 0,71 150 2,25 3,52 2,70 2,82 0,65 180 2,34 3,52 2,49 2,78 0,64

  Dispersi Padat

  Waktu % kurkumin terdisolusi rata-rata SD (menit) Rep 1 Rep 2 Rep 3 5 1,03 1,12 2,64 1,60 0,90

  10 1,88 0,88 4,01 2,26 1,60 20 3,61 1,64 5,31 3,52 1,84 30 7,05 1,40 4,59 4,34 2,83 45 6,68 1,70 6,22 4,87 2,75 60 6,44 1,49 6,10 4,68 2,77 90 13,45 2,43 6,29 7,39 5,59

  120 7,68 1,82 7,07 5,53 3,22 150 8,35 2,89 7,20 6,14 2,88 180 9,26 3,37 6,89 6,51 2,96

  Lampiran 9. Uji normalitas, korelasi, dan regresi linier proporsi drug load dan persentase kurkumin terdisolusi (60 menit)

  Uji Normalitas

  

Tests of Normality

a Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk * Statistic df Sig. Statistic df Sig. persenkurkuminterdisolusi ,227 *

  9 ,200 ,902 9 ,267 drugload ,211 9 ,200 ,823 9 ,037

a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

  Korelasi Spearman

  

Correlations

persenkurku * drugload minterdisolusi

Spearman's rho drugload Correlation Coefficient 1,000 -,685

  Sig. (2-tailed) . ,042 * N

  9

  9 persenkurkuminterdisolusi Correlation Coefficient -,685 1,000 Sig. (2-tailed) ,042 . N

  9

  9 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Regresi Linier Proporsi Drug % kurkumin

  Load (%) terdisolusi

  1,72 16,50 1,72 16,42 1,72 6,29 3,38 6,77 3,38 10,69 3,38 10,11 5,11 6,44 5,11 1,49 5,11 6,10

  b Model Summary Model Adjusted R Std. Error of the R R Square Square Estimate Durbin-Watson a 1 ,729 ,531 ,464 3,65092 1,989 a. Predictors: (Constant), drugload

  b. Dependent Variable: persenkurkuminterdisolusi b

ANOVA

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. a

  1 Regression 105,767 1 105,767 7,935 ,026 Residual 93,304 7 13,329 Total 199,071

  8

  a. Predictors: (Constant), drugload

  b. Dependent Variable: persenkurkuminterdisolusi Lampiran 10. Perbandingan disolusi dispersi padat dan campuran fisik

  • Proporsi drug load 1,72%

  

Waktu (menit) Uji Statistik Nilai p Signifikan/ tidak

  5 Uji Mann-Whitney 0,121 Tidak signifikan

  Uji T tidak berpasangan

  10 0,275 Tidak signifikan

  Uji T tidak berpasangan

  20 0,607 Tidak signifikan

  30 Uji T tidak berpasangan 0,290 Tidak signifikan

  Uji T tidak berpasangan

  45 0,591 Tidak signifikan

  Uji Mann-Whitney

  60 0,513 Tidak signifikan

  90 Uji T tidak berpasangan 0,036 Signifikan

  Uji T tidak berpasangan

  120 0,331 Tidak signifikan 150 Uji T tidak berpasangan 0,116 Tidak signifikan

  • Proporsi drug load 3,38%

  

Waktu (menit) Uji Statistik Nilai p Signifikan/ tidak

  60 Uji T tidak berpasangan 0,360 Tidak signifikan

  45 Uji T tidak berpasangan 0,297 Tidak signifikan

  30 Uji T tidak berpasangan 0,304 Tidak signifikan

  20 Uji T tidak berpasangan 0,380 Tidak signifikan

  10 Uji T tidak berpasangan 0,992 Tidak signifikan

  5 Uji T tidak berpasangan 0,863 Tidak signifikan

  90 Uji T tidak berpasangan 0,003 Signifikan 120 Uji T tidak berpasangan 0,014 Signifikan 150 Uji T tidak berpasangan 0,013 Signifikan 180 Uji T tidak berpasangan 0,004 Signifikan

  60 Uji T tidak berpasangan 0,010 Signifikan

  45 Uji T tidak berpasangan 0,021 Signifikan

  30 Uji T tidak berpasangan 0,098 Tidak signifikan

  20 Uji T tidak berpasangan 0,226 Tidak signifikan

  10 Uji T tidak berpasangan 0,232 Tidak signifikan

  5 Uji T tidak berpasangan 0,872 Tidak signifikan

  Waktu (menit) Uji Statistik Nilai p Signifikan/ tidak

  • Proporsi drug load 5,11%

  90 Uji T tidak berpasangan 0,233 Tidak signifikan 120 Uji T tidak berpasangan 0,308 Tidak signifikan 150 Uji T tidak berpasangan 0,123 Tidak signifikan 180 Uji T tidak berpasangan 0,101 Tidak signifikan

  Lampiran 11. Dokumentasi

  Alat Uji Disolusi Spektrofotometer UV/ Visibel Timbangan Oven

BIOGRAFI PENULIS

  Penulis memiliki nama lengkap Oki Christina, lahir pada tanggal 23 Oktober 1989, di Tegal, Jawa Tengah. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara, dari pasangan Trisno Djoyo dan Yeni Suryani. Penulis menempuh pendidikan formal di TK Pius Tegal pada tahun 1993-1995, SD Pius Tegal pada tahun 1995-2001, SMP Pius Tegal pada tahun 2001- 2004, SMA Pius Tegal pada tahun 2004-2007. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya di Universitas Sanata Dharma jurusan farmasi pada tahun 2007. Penulis mengikuti kegiatan akademik dan non akademik, yaitu menjadi Asisten Praktikum Farmakologi Dasar (2010), Peserta Paduan

  Suara Fakultas Farmasi “Veronika” (2007-2008), Peserta Seminar dan Aksi Anti Tembakau (2008), Panitia Seminar Entrepreneurship “How To Be A Creative Entrepreneur?” (2008), Panitia Pelepasan Wisuda (2009), Panitia Malam Keakraban JMKI (2009), Panitia Bakti Sosial JMKI (2009), Panitia Donor Darah JMKI (2009).

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh rasio polivinil pirolidon K30 / Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap disolusi kurkumin.
2
7
60
Pengaruh rasio poloxamer 407/Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap disolusi kurkumin.
0
2
64
Pengaruh formulasi ekstrak kunyit dalam sistem dispersi padat manitol terhadap disolusi kurkumin.
0
3
46
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) dengan spray drying.
2
6
96
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Hydroxypropyl Methycellulose (HPMC) dengan spray drying.
0
2
87
Pengaruh rasio polivinil pirolidon K30 Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap disolusi kurkumin
1
2
58
Pengaruh rasio poloxamer 407 Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap disolusi kurkumin
2
2
62
Pengaruh formulasi ekstrak kunyit dalam sistem dispersi padat manitol terhadap disolusi kurkumin
0
0
44
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam polivinil pirolidon dengan vaccum rotary evaporator.
1
3
90
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Hydroxypropyl Methycellulose (HPMC) dengan spray drying
1
3
85
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) dengan spray drying
0
2
94
Standarisasi ekstrak rimpang kunyit [curcuma domestica val.] - USD Repository
0
3
88
Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat spray dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma donestica C 95)-HPMC E-5 - USD Repository
0
0
118
Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat spray dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-HPMC E-15 - USD Repository
0
0
89
Pengaruh proporsi drug load terhadap disolusi dispersi padat spray dried isolat ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica C-95)-PVP K-25 - USD Repository
0
0
102
Show more