Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD angkatan 2009-2011 - USD Repository

Gratis

0
2
272
9 months ago
Preview
Full text

  

K KETIDAK KSANTUNA AN LINGU UISTIK DA AN PRAGM MATIK BE ERBAHASA A

ANT TARA DOS SEN DAN MAHASIS SWA

PROGR RAM STUD DI PBSID, , FKIP, US

  D, ANGKA ATAN 2009 9—2011

SKRIPSI

  

Diaju ukan untuk M Memenuhi S Salah Satu S Syarat

M emperoleh Gelar Sarja ana Pendidik kan

Prog gram Studi Pendidikan n Bahasa, Sa astra Indone esia, dan Da aerah

  Disusun oleh D

  h:

Olivia M Melissa Pus spitarini

091224034

  4 PROG GRAM STU UDI PENDI

  IDIKAN BA AHASA, S ASTRA IN NDONESIA

  A, DAN DA AERAH JURUSA AN PENDI

IDIKAN BA AHASA DA AN SENI

  

FAKULTA F S KEGURU UAN DAN N ILMU PE ENDIDIKA AN

UN NIVERSITA AS SANAT TA DHARM MA

YO OGYAKAR RTA

2013

  

KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA

ANTARA DOSEN DAN MAHASISWA

PROGRAM STUDI PBSID, FKIP, USD, ANGKATAN 2009—2011

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

  

Disusun oleh:

  Olivia Melissa Puspitarini 091224034

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2013

  

MOTTO

“D iberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan,

yang menaruh harapannya pada Tuhan”

  

(Yeremia 17:7)

“Kesuksesan bukan kunci kebahagian, tetapi kebahagian adalah kunci kesuksesan. Jika kamu

mencintai apa yang kamu lakukan, kamu akan sukses”

(Albert Schwitzer)

  

“Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi penghakiman bahwa sesuatu yang lain

lebih penting daripada rasa takut”

HALAMAN PERSEMBAHAN

  

Kary a ini k upersembahkan untuk :

Tuhan Yesus Kristus y ang selalu memberikan

berkat dan cinta untukk u.

Orang tua say a, Bapak Cornelius S upriy anto dan Ibu Ch. Asih, terima kasih

untuk doa, dukungan, nasihat, kasih say ang Bapak dan Ibu hingga saat ini

  

Adik say a, Alvin Christianto,

terima kasih untuk doa dan canda tawany a.

  

Teman-teman seperjuangan, Elizabeth Rita, Agustina Galuh Eka N, dan

Caecilia Petra Gading May W, terima kasih untuk setiap duk ungan, doa,

dan bantuan y ang luar biasa.

S emua sahabat y ang say a kasihi, terima kasih untuk setiap semangat, doa,

duk ungan, canda tawa kalian.

  

ABSTRAK

  Melissa Puspitarini, Olivia. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

  Berbahasa antara Dosen dan Mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD, Angkatan 2009—2011. Skripsi. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP,

  USD. Penelitian ini membahas ketidaksantunan linguistik dan pragmatik antara dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, USD, angkatan 2009—2011. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011, (2) mendeskripsikan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan oleh dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011, dan (3) mendeskripsikan makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan oleh dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011.

  Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID. Data penelitian berupa tuturan lisan yang tidak santun. Instrumen penelitian ini adalah panduan wawancara, daftar pertanyaan pancingan, dan daftar kasus. Metode pengumpulan data adalah metode simak dan metode cakap. Teknik pengumpulan data dari metode simak diwujudkan dengan teknik dasar yaitu teknik sadap. Teknik dasar ini diikuti dengan teknik lanjutan yang berupa teknik simak libat cakap. Teknik tersebut diakhiri dengan teknik catat. Teknik pengumpulan data dari metode cakap adalah teknik pancing sebagai teknik dasar. Teknik dasar ini diikuti dengan teknik cakap semuka dan tansemuka. Teknik tersebut diakhiri dengan teknik rekam dan catat. Teknik rekam dan catat ini diwujudkan peneliti dengan mengintepretasikan, mengidentifikasi, dan mengklasifikasi. Peneliti menganalisis data dengan mengutip data dan konteks tuturan. Langkah terakhir yaitu peneliti mengintepretasikan makna tuturan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kontekstual.

  Simpulan hasil penelitian ini sebagai berikut pertama, wujud ketidaksantunan linguistik berdasarkan tuturan lisan dan wujud ketidaksantunan pragmatik berbahasa yaitu uraian konteks tuturan tersebut. Kedua, penanda ketidaksantunan linguistik yaitu nada, intonasi, tekanan, dan diksi, serta penanda pragmatik yaitu konteks yang menyertai tuturan yakni penutur, mitra tutur, situasi, dan suasana. Ketiga, makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa meliputi 1) melecehkan muka yakni penutur menyindir atau mengejek mitra tutur, 2) memainkan muka yakni penutur membuat jengkel dan bingung mitra tutur, 3) kesembronoan yang disengaja yakni penutur bercanda kepada mitra tutur dan mitra tutur terhibur namun candaan tersebut dapat menimbulkan konflik bila candaan tersebut ditanggapi secara berlebihan, 4) menghilangkan muka yakni penutur mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang, dan 5) mengancam

  

ABSTRACT

  Melissa Puspitarini, Olivia. 2013. Linguistic and Pragmatic Language

  Impoliteness between Lecturers and Students at PBSID, USD, Academic Year 2009—2011. Thesis. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD.

  This research aims to discuss abous the Linguistic and Pragmatic Language Impoliteness Between Lecturers and Students at PBSID, USD, academic year 2009—2011. The purpose of this research are (1) to describe the form of linguistic and pragmatic language impoliteness between lecturers and students in the PBSID, FKIP, USD, academic year 2009—2011, (2) to describe the language impoliteness marker linguistic and pragmatic used by lecturers and students in the PBSID, FKIP, USD, academic year 2009—2011, and (3) describe the meaning language impoliteness linguistic and pragmatic used by PBSID, FKIP, USD, academic year 2009—2011.

  The type of research include descriptive qualitative research. The subjets of this research are lecturers and students of PBSID, USD, academic year 2009— 2011. The objects of this research were the speeches not impolite. This research instrument is a guideline or interview guide, inducement, and a list of cases. The instruments used in this research are interview, elicitation, and cases studies using language impoliteness theory. The roundup data method used are grouping and interview. The collecting data method uses tapping method as a basic method, the continuation technique is direct interview and the last technique is written data recording.Interview technique is an elicitation technique as a basic technique. The follow up technique is direct interview and indirect interview. Both the techniques can be applied both in grouping and interview. The researcher can use those two techniques both in grouping and interview by inventoring, indentifying, clarifying, and alayzing the data. In analyzing the data, the research cites the data and the spoken language. The final step done by the researcher is interpreting the meaning of the language. The data analysis used in this research is contextual analysis method.

  The conclusions of this research discusses the linguistic and pragmatic language impoliteness. There are, first, form of the linguistic language impoliteness is form speech not polite by lecturers and students and form of the pragmatic language impoliteness is e observed according to the contextual explanation used in the language. Secondly, the language impoliteness marker linguistic are tone, intonation, stress, and diction, the pragmatic language impoliteness is observed according to the contextual explanation used in the language, they are speaker, hearer, situation and mood. Third, meaning linguistic and pragmatic language impoliteness are 1) insulting in form of affront, taunt from the speaker to the receiver and it hurts the person. (2) Face expression which confuses the speaker and receiver and it is annoying. (3) Intended jokes which cause a conflict. (4) Threatening face which cause a threat to the person. (5)

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena berkat dan kasih-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Ketidaksantunan Linguistik Dan Pragmatik Berbahasa Antara Dosen Dan Mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD, Angkatan 2009/2011” ini dengan baik. Sebagaimana disyaratkan dalam kurikulum Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah (PBSID), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, penyelesaian skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dari Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini berhasil diselesaikan karena bantuan, doa, dan dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis dari lubuh hati terdalam mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma

  2. Dr. Yuliana Setiyaningsih, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

  3. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah sekaligus dosen pembimbing II yang bijaksana memberikan bimbingan, motivasi, dan masukan yang bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  4. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., selaku dosen pembimbing I selalu memberikan nasihat, bimbingan, motivasi, dan masukan yang bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  5. Segenap dosen Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah yang ramah, selalu mendukung, dan memberikan perhatian, bantuan, pengarahan, dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan penulis selama menempuh pendidikan di PBSID. Penulis juga mengucapkan terima

  6. Sdr. Robertus Marsidiq, selaku staf sekretariat PBSID yang selalu sabar dalam memberikan pelayanan adminitrasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  7. Kedua orang tua, Bapak Cornelius Supriyanto dan Ibu Ch. Asih yang penuh kasih sayang dan ketulusan memberikan doa dan motivasi. Serta adikku, Alvin Christianto, terima kasih dukungan, semangat, dan doanya.

  8. Para sahabatku Elizabeth Rita, Agustina Galuh Eka, Caecilia Petra Gading, dan OMK se-Paroki Pakem, terima kasih untuk waktu, pikiran, tenaga, perhatian, serta motivasi yang telah diberikan selama penulis menyelesaikan skripsi ini.

  9. Teman-teman seperjuangan PBSID angkatan 2009 terima kasih atas dukungan, doa, kebersamaan, canda tawa, kerja sama, dan pertemanan kita yang luar biasa.

  10. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah angkatan 2009—2011 yang telah bersedia menjadi sumber data dalam penelitian ini.

  11. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna seperti pepatah tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan keterbatasan penulis. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya.

  Yogyakarta, 8 Juli 2013 Penulis

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………………………... ii

HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………….... iii

HALAMAN MOTTO ……………………………………………………………. iv

HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………………. v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ………………………………… vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH …………. vii

ABSTRAK ………………………………………………………..………………. viii

ABSTRACT ………………………………………………………..……………… ix

KATA PENGANTAR ……………………………………………..…………….. x

DAFTAR ISI ………………………………………………………..……………. xii

DAFTAR TABEL …………………………………………………..……………. xvii

DAFTAR BAGAN …………………………………………………..…………… xviii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………..……………

  1.1 Latar Belakang Masalah …………………………………………..…………

  1.6 Sistematika Penyajian …………………………………………..……….……

  17

  15 2.2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Bousfield ….…..

  15 2.2.1 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher ……..…..

  12 2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa ……………………………..……………..

  11 2.1 Penelitian yang Relevan ………………………………………..……………..

  9 BAB II KAJIAN TEORI …………………………………………..……….……

  8

  1

  1

  7

  1.4 Manfaat Penelitian …………………………………………..…………..……

  7

  1.3 Tujuan Penelitian …………………………………………..…………………

  6

  1.2 Rumusan Masalah …………………………………………..…………..……

  1.5 Batasan istilah ………………………………………………..………….……

  2.2.3 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Culpeper …..…..

  2.5.1 Tinggi-rendah (Nada, Tona, Pitch)

  46

  2.4.3 Tujuan Sebuah Tuturan ………………………………..…………..……

  48

  2.4.4 Tuturan Sebagai Bentuk Tindakan atau Kegiatan: Tindak Ujar …..……

  49

2.4.5 Tuturan Sebagai Produk Tindak Verbal ………………..……………….

  50

  2.4.6 Rangkuman …………………………………………..…………....……. 53

  2.5 Bunyi Suprasegmental ……………………………………..…………......……

  51

  52

  45

  2.5.2 Keras-lemah (Tekanan, Aksen, Stress) ………………..…………..……

  53

  

2.5.3 Intonasi …………………………………………..…………...........……

  54

  2.5.4 Rangkuman …………………………………………..…………....……

  55

  2.6 Pilihan Kata …………………………………………..…………....…......……

  55 2.6.1 Bahasa Standar dan Nonstandar ………………..…………....….... .…..

  57 2.6.2 Kata Ilmiah dan Kata-kata Populer ……………..…………....….....…..

  59 2.6.3 Jargon …………………………………………..…………....…............

  

2.4.2 Konteks Sebuah Tutur ………………………………..…………....……

  2.4.1.4 Aspek-aspek Fisik Pengguna Bahasa ………..…………....……

  19 2.2.4 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Terkourafi ……..

  2.3.2 Tindak Ilokusi …………………………………………..………………

  21

  2.2.5 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher and Watts

  22

  2.2.6 Rangkuman …………………………………………..…………....……

  24

  2.3 Tindak Tutur …………………………………………..…………....…....……

  25

  

2.3.1 Tindak Lokusi …………………………………………..………………

  25

  26

  42

  2.3.3 Tindak Perlokusi …………………………………………..……………

  30

  

2.3.4 Rangkuman …………………………………………..…………....……

  32

  2.4 Konteks Tuturan …………………………………………..…………......……

  33

  2.4.1 Penutur dan Lawan Tutur …………………………..…………......……

  36 2.4.1.1 The Utterer dan The Interpteter……………..…………......…..

  39 2.4.1.2 Aspek-aspek Mental Pengguna Bahasa ……..…………......…..

  40 2.4.1.3 Aspek-aspek Sosial dan Budaya Pengguna Bahasa ……......…..

  60

  2.6.4 Kata Percakapan ……………………………..…………....…................

  60 2.6.5 Slang …………………………………………..…………....…..............

  61 2.6.6 Idiom …………………………………………..…………....….............

  62 2.6.7 Bahasa Artifisial ……………………………..…………....…...............

  62 2.6.8 Kata Seru ………………………………………..…………....…..........

  63 2.6.9 Kata Fatis ………………………………………..…………....…..........

  63 2.6.10 Rangkuman …………………………………..…………....….............

  64 2.7 Kerangka Berpikir…………………………………..…………....…...............

  65 BAB III METODELOGI PENELITIAN ……………..…………....…..............

  67 3.1 Jenis Penelitian …………………………………..…………....…....................

  67 3.2 Subjek Penelitian ………………………………..…………....….....................

  67 3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ………..…………....….......................

  68 3.4 Instrumen Penelitian ……………………………..…………....…....................

  70 3.5 Metode dan Teknik Analisis Data ………………..…………....…....................

  71 3.6 Sajian Hasil Data ………………………………..…………....….....................

  73 3.7 Trianggulasi Hasil Analisis Data ………………..…………....….....................

  74 BAB IV PEMBAHASAN …………………………..…………....…....................

  75 4.1 Deskripsi Data ………………………………..…………....….........................

  75 4.2 Hasil Analisis Data …………………………..…………....…..........................

  79

4.2.1 Melecehkan Muka ……………………..…………....….........................

  79 4.2.1.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik ………....….........................

  82 4.2.1.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik ………....….........................

  83 4.2.1.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik……....…...........................

  85 4.2.1.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ……....…..........................

  86 4.2.1.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Melecehkan Muka ....

  88 4.2.2 Memain-mainkan Muka …………………………..…………....…........

  89 4.2.2.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik ………..…………....... .......

  91

  4.2.2.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik ………..…………..............

  4.2.4.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ………....…..................... 111

  4.3.4 Menghilangkan Muka …………………..…………....…....................... 166

  4.3.3 Kesembronoan yang Disengaja ……..…………....…............................ 150

  4.3.2 Memain-mainkan Muka ……………..…………....…........................... 136

  4.3.1 Melecehkan Muka …………………..…………....…............................ 123

  

4.3. Pembahasan ………………………………..…………....…........................... 122

  4.2.5.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Mengancam Muka ... 121

  4.2.5.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ………....…..................... 119

  4.2.5.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik ………....…..................... 118

  4.2.5.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik ……..…………....……...... 117

  4.2.5.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik ……..…………....…........ 116

  4.2.5 Mengancam Muka Sepihak ……………………..…………....….......... 113

  4.2.4.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa Menghilangkan Muka ...... 113

  4.2.4.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik ………....…..................... 110

  92 4.2.2.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik ………..…………............

  4.2.4.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik …………....…............. ...... 108

  4.2.4.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik .…………....…............ ...... 108

  4.2.4 Menghilangkan Muka ……………………..…………....…............ ...... 105

  4.2.3.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa Kesembronan Sengaja ....... 104

  4.2.3.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ……………..………........ 103

  4.2.3.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik ……………..………........ 102

  4.2.3.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik ……………..……….......... 100

  99

  97 4.2.3.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik ……………..………..........

  96

4.2.3 Kesembronoan yang Disengaja …………………………..……….........

  94 4.2.2.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa Memainkan Muka ...... .......

  93 4.2.2.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ………..…………............

  4.3.5 Mengancam Muka Sepihak ……………..…………....…...................... 183

BAB V PENUTUP ………………………………………………………….……. 199

5.1 Simpulan ………………………………………………………..……….……. 199

  

5.1 Saran ………………………………………………………..…………...……. 204

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………..…………..……. 206

LAMPIRAN ………………………………………………………..……….……. 208

  

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Lima Fungsi Umum Tindak Tutur ………………………………….…….. 30

Tabel 2. Tuturan Ketidaksantunan yang Melecehkan Muka ……………………….

  76 Tabel 3. Tuturan Ketidaksantunan yang Memain-mainkan Muka …………..…….

  77 Tabel 4. Tuturan Ketidaksantunan Kesembronoan yang Disengaja ……………….

  77 Tabel 5. Tuturan Ketidaksantunan yang Menghilangkan Muka ……………..…….

  78 Tabel 6. Tuturan Ketidaksantunan yang Mengancam Muka ………………....……. 79

  DAFTAR BAGAN

Bagan 1. Kerangka Berpikir ………………………………………………………. 66

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dan alat untuk menunjukkan identitas masyarakat pemakai bahasa. Hal penting yang berkenaan dengan keberhasilan berkomunikasi adalah melalui pengaturan interaksi sosial yang mempertimbangkan status penutur dan mitra tutur.

  Keberhasilan ini menciptakan suasana kesantunan yang memungkinkan transaksi sosial berlangsung tanpa mempermalukan penutur dan mitra tutur.

  Keberhasilan berkomunikasi juga ditentukan oleh konteks atau situasi antara penutur dan mitra tutur.

  Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa. Bahasa diartikan sebagai sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana, 2008:46). Linguistik dipelajari sebagai ilmu dasar bagi ilmu-ilmu lain seperti kesusasteraan, filologi, pengajaran bahasa, penerjemahan, dan sebagainya. Satuan gramatikal linguistik adalah fonetik, fonologi, sintaksis, dan semantik. Satuan gramatikal tersebut masih memandang bahasa dari segi linguistiknya (stuktural), analisis bahasa yang mengfokuskan penggunaan bahasa yaitu konteks dan latar belakang penuturnya masih jarang dikaji.

  Penelitian bahasa selama ini hanya mengkaji dari struktural saja. Hal tersebut memungkinkan untuk melakukan pembenahan bahwa analisis bahasa bukan hanya dipandang dari segi struktural (internal bahasa) tetapi bahasa perlu dikaji dari segi eksternal bahasa, dalam hal ini pragmatik menawarkan paradigma ilmu baru untuk menganalisis tuturan bahasa. Studi bahasa yang mempelajari makna yang disampaikan penutur dan ditafsirkan oleh mitra tutur disebut pragmatik.

  Pragmatik merupakan ilmu baru yang menganalisis apa yang dimaksudkan seseorang dengan tuturan-tuturan melalui kata atau frasa yang digunakan. Penafsiran maksud yang disampaikan tidak lepas dari konteks diperlukan pertimbangan penyampaian maksud dengan orang lain yang mereka ajak bicara, di mana, kapan, dan dalam keadaan apa. Oleh karena itu, pragmatik disebut pula studi tentang makna kontekstual (Yule, 2006:4).

  Alasan lain pentingnya bahasa dikaji dari segi pragmatik yaitu kebanyakan peneliti linguistik formal hanya meneliti sebuah satuan bahasa tanpa kaitan dengan pemakaian bahasa sehari-hari. Peneliti tidak akan mempermasalahkan mengapa dan bagaimana sebuah kalimat atau tuturan muncul. Padahal, dalam pemakaian bahasa sehari-hari, terdapat unsur-unsur penting yang memengaruhi pemakaian bahasa. Unsur tersebut adalah konteks. Konteks sangat memengaruhi bentuk bahasa yang digunakan oleh sang penutur. Oleh karena itu, ketidakpedulian peneliti linguistik terhadap unsur konteks itulah, hasil analisisnya menjadi tidak memadai (Nugroho, 2009:117).

  Menurut Rahardi (2007:20), konteks tuturan diartikan sebagai semua latar belakang (background knowledge) yang diasumsikan sama- sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur dalam proses keseluruhan proses bertutur. Dengan kata lain, sebuah tuturan tidak hanya dianalisis dari segi struktural saja, keterlibatan konteks sangat memengaruhi daya pragmatik (pragmatic force ) dalam sebuah peristiwa tutur.

  Penekanan aspek konteks dalam pragmatik memberikan kejelasan mengenai analisis linguistik dan analisis pragmatik. Kajian pragmatik adalah situasi dan latar belakang penutur. Oleh karena itu, perpaduan penelitian analisis linguistik dan pragmatik memperjelas maksud dan tujuan dari penutur sehingga terjadi komunikasi yang lancar tanpa ada persinggungan yang tidak diinginkan.

  Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa. Bentuk-bentuk pragmatik adalah implikatur, tindak tutur, maksim, dan kesantunan. Banyak peneliti mengkaji bentuk-bentuk pragmatik itu dalam komunikasi di masyarakat, tertulis ataupun lisan. Penelitian ini mengfokuskan salah satu bentuk pragmatik yaitu kesantunan. Banyak ahli bahasa menganalisis teori-teori kesantunan berbahasa dalam lingkup masyarakat yang menjadi sebuah patokan berkomunikasi. Fraser dalam Gunarwan (1992) mendefinisikan kesantunan adalah “property associated with neither exceeded any right

  nor failed to fullfill any obligation” . Dengan kata lain, kesantunan

  adalah properti yang diasosiasikan dengan ujaran dan di dalam hal ini menurut pendapat si pendengar, si penutur tidak melampaui hak-haknya atau tidak mengingkari memenuhi kewajibannya. Pernyataan tersebut dimaksudkan bahwa kita dalam berkomunikasi haruslah santun, tidak boleh menyinggung perasaan orang lain sehingga tidak akan timbul perselisihan.

  Pranowo (2009:13) menjelaskan bahwa pemakaian bahasa yang santun merupakan bentuk pengaktualisasi diri secara terbuka tanpa harus ada perasaan takut. Selain fenomena kesantunan, ada pula fenomena ketidaksantunan berbahasa yang banyak terjadi di kalangan masyarakat penutur bahasa. Ketidaksantunan berbahasa mengakibatkan interaksi antara penutur dan mitra tutur tidak lancar. Teori-teori yang membahas ketidaksantunan berbahasa masih jarang dikupas sehingga timbul ketimpangan studi antara teori kesantunan dan ketidaksantunan. Hal tersebut mengakibatkan fenomena pragmatik tidak dikaji secara mendalam, tidak akan bermanfaat banyak bagi perkembangan ilmu bahasa, khususnya pragmatik.

  Berbahasa yang santun sudah selayaknya dipraktikkan di lingkungan masyarakat terutama dalam lingkungan yang formal, misalnya saja di lingkungan pendidikan. Berbahasa yang santun selayaknya terjadi dalam interaksi antara pengajar dan pembelajar dalam suasana formal. Namun pada kenyataannya, banyak terjadi pelanggaran kesantunan yang disebut ketidaksantunan berbahasa. Bentuk-bentuk ketidaksantunan berbahasa harus dihindari dalam praktik berkomunikasi, terutama di lingkungan pendidikan.

  Penulis memfokuskan indikator ketidaksantunan berbahasa ranah pendidikan di lingkungan universitas. Kesantunan berbahasa selayaknya tercipta di lingkungan kampus yaitu kesantunan berbahasa antara dosen dan mahasiswa. Kesantunan berbahasa dalam lingkungan pendidikan merupakan wujud pembentukan karakter bangsa. Subjek penelitian ini adalah dosen dan mahasiswa di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra.

  Alasan pemilihan subyek penelitian tersebut karena jurusan tersebut lebih menekankan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar.

  Penulis memilih angkatan 2009—2011 dengan alasan bahwa peristiwa ketidaksantunan biasanya terjadi antara orang yang mempunyai kedekatan secara emosional maupun fisik.

  Pemakaian bahasa Indonesia yang baik adalah penggunaan bahasa sesuai dengan situasi atau konteks sedangkan benar yaitu sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia. Mahasiswa program studi bahasa Indonesia seharusnya mampu menggunakan bahasa Indonesia itu yang benar dan baik terutama berbicara dengan orang yang lebih tua misalnya dosen. Oleh karena itu, kita berkomunikasi kita harus mengetahui siapa lawan bicara kita dan tempat kita berbicara. Orang Jawa mengatakan bahwa dalam berkomunikasi harus ada unggah-ungguh atau tata kramanya terutama saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.

  Dari fenomena-fenomena di atas, penulis beranggapan bahwa penelitian mengenai kesantunan berbahasa di lingkungan pendidikan terutama di universitas antara dosen dan mahasiswa sangat menarik dan perlu untuk dilakukan.

1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas, secara terperinci masalah- masalah yang akan ditelti sebagai berikut.

  1. Wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik apa saja yang diucapkan antara dosen dan mahasiswa PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011?

  2. Penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa apa saja yang digunakan oleh dosen dan mahasiswa PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011?

  3. Apa makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan oleh dosen dan mahasiswa PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011?

  1.3 Tujuan Penelitian

  Sesuai dengan rumusan masalah seperti di atas, tujuan penelitian ini secara terperinci sebagai berikut.

  1. Mendeskripsikan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara dosen dan mahasiswa PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011.

  2. Mendeskripsikan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan oleh dosen dan mahasiswa PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011.

  3. Mendeskripsikan makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan oleh dosen dan mahasiswa PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011.

  1.4 Manfaat Penelitian

  Penelitian kesantunan berbahasa dalam ranah pendidikan khususnya antara dosen dan mahasiswa ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pihak yang memerlukan. Ada dua manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini sebagai berikut.

  1. Manfaat teoretis yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah memberikan sumbangan untuk perkembangan teori-teori pragmatik dan memperluas kajian dan memperkaya khasanah teoretis tentang ketidaksantunan dalam berbahasa sebagai fenomena pragmatik baru.

  Teori-teori tersebut menjadi referensi bagi praktisi yaitu dosen, guru, mahasiswa, siswa, dan tenaga kependidikan sebagai tambahan pengetahuan dan wawasan mengenai ketidaksantunan berbahasa.

  2. Manfaat secara praktis yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah memberikan masukan para praktisi dalam bidang pendidikan yaitu dosen, guru, mahasiswa, siswa, dan tenaga kependidikan untuk mempertimbangkan penggunaan bahasa dalam berkomunikasi dan menghindari bentuk-bentuk ketidaksantunan berbahasa.

1.5 Batasan Istilah

  a. Ketidaksantunan Ketidaksantuan berbahasa adalah perilaku berbahasa seseorang yang mengancam muka dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan sembrono itu menimbulkan konflik bahkan pertengkaran tersebut dilakukan dengan kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas ketidaksantunan berbahasa. b. Linguistik Linguistik adalah sebuah ilmu yang mempelajari bahasa sebagai bagian kebudayaan berdasarkan struktur bahasa tersebut (Parera, 1982:20).

  c. Pragmatik Pragmatik adalah ilmu yang mempelajari apa saja yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dengan mitra tuturnya sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa yang sifatnya ekstralinguistik (Verhaar, 1996:9).

  d. Konteks Konteks adalah aspek-aspek yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan. Leech (dalam Nugroho, 2009:119) menambahkan bahwa konteks adalah suatu pengetahuan latar belakang yang secara bersama dimiliki oleh penutur dan petutur, dan konteks membantu petutur menafsirkan atau menginterpretasikan maksud tuturan penutur.

1.6 Sistematika Penyajian

  Sistematika penulisan penelitian dijabarkan beberapa hal, yang meliputi pendahuluan, kajian teori, metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, dan penutup. Bab I adalah pendahuluan, yang berisi beberapa sub bab, yaitu (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) batasan istilah, dan (6) sistematika penyajian. Keenam hal tersebut yang menjadi alasan peneliti untuk melakukan penelitian mengenai “Ketidaksantunan Linguistis dan Pragmatis Antara Mahasiswa dan Mahasiswa PBSID Angkatan 2009—2011 di Universitas Sanata Dharma”.

  Bab II adalah kajian teori yang berisi tiga pokok bahasan yaitu (1) penelitian yang relevan, (2) kajian pustaka, dan (3) kerangka berpikir. Kajian hasil penelitian yang terdahulu haruslah memiliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan. Semua teori berkaitan dan menjadi landasan penelitian.

  Bab III metode penelitian yang berisi enam hal yaitu (1) jenis penelitian, (2) subjek penelitian, (3) metode dan teknik pengumpulan data, (4) instrumen penelitian, (5) metode dan teknik analisis data, (6) hasil analisis data.

  Bab IV hasil dan pembahasan yang berisi tiga hal yaitu (1) deskripsi data, (2) hasil analisis data, dan (3) pembahasan. Bab V penutup yang berisi dua hal yaitu (1) kesimpulan dan (2) saran. Selain beberapa bab di atas, peneliti juga menyajikan daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang mendukung penelitian ini.

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Penelitian yang Relevan

  Penelitian biasanya beranjak dari penelitian lain yang dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam penelitian selanjutnya. Dengan demikian, peninjauan terhadap penelitian lain sangat penting, sebab bisa digunakan untuk mengetahui relevansi penelitian yang telah lampau dengan penelitian yang akan dilakukan. Selain itu, peninjauan penelitian sebelumnya dapat digunakan untuk membandingkan seberapa besar keaslian dari penelitian yang akan dilakukan.

  Penelitian yang dilakukan oleh A. S. Joko Sukoco (2002) dalam skripsinya yang berjudul “Penanda Lingual Kesantunan Berbahasa Indonesia dalam Bentuk Tuturan Imperatif: Studi Kasus Pemakaian Tuturan Imperatif di Lingkungan SMU Stela Duce Bantul Tahun 2002”. Penelitian ini mendasari penanda kesantunan dalam tuturan imperatif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak dan teknik catat. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa adanya tuturan imperatif berdasarkan makna komunikasinya terbagi menjadi tuturan imperatif larangan, tuturan imperatif permintaan, dan tuturan imperatif ajakan. Penanda kesantunan dalam tuturan imperatif dapat diwujudkan dari intonasi tuturan, isyarat imperatif yang santun berimplikasi pada terbentuknya tutur kata dan perilaku peserta yang baik sehingga menjadi orang yang berbudi luhur.

  Penelitian juga dilakukan oleh Weny Anugraheni (2011) dalam skripsisnya yang berjudul “Jenis Kesantunan dan Penyimpangan Kesantunan dalam Tuturan Imperatif Guru kepada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Pringsurat Temanggung dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Tahun 2011”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak dan teknik catat. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada dua jenis kesantunan dalam tuturan imperatif yaitu kesantunan imperatif tuturan deklaratif dan kesantunan imperatif tuturan imperatif. Kedua jenis tuturan tersebut masih dibagi lagi menjadi bermacam-macam jenis sesuai dengan tuturan. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tuturan guru bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Pringsurat Temanggung melakukan penyimpangan kaidah kesantunan berbahasa kepada siswa yang disebabkan tidak konsistennya keingianan guru dalam praktik pemakaian tutura, kaidah kesantunan belum sepenuhnya dimiliki oleh guru bahasa Indonesia, guru bahasa Indonesia belum sepenuhnya memahami bagaimana pemakaian bahasa yang baik dan santun.

  Penelitian juga dilakukan oleh Rahardi (1999) dalam penelitiannya yang berjudul “Imperatif dalam Bahasa Indonesia: Penanda-penanda Kesantunan Lingustiknya”. Penelitian tersebut mendasari adanya empat dalam bahasa Indonesia. Keempat pemarkah tersebut adalah (1) panjang pendek tuturan, (2) urutan tutur, (3) intonasi dan isyarat kinesik, (4) ungkapan-ungkapan penanda kesantunan.

  Kesantunan dalam berbahasa bukan menjadi hal baru bagi linguis dan pragmatisis. Penelitian tentang kesantunan berbahasa sudah banyak dilakukan dan bukan menjadi fenomena baru lagi. Orang berbicara pasti mempertimbangkan diksi, ungkapan santun, dan struktur kalimat yang benar. Sebaliknya, orang yang berniat buruk pasti akan menimbulkan konflik dengan ditandai diksi, ungkapan, atau struktur kalimat yang tidak benar dan tidak santun. Kesantunan berbahasa Indonesia mampu menghaluskan budi dan perilaku pemakaiannya. Brown dan Levinson (dalam buku Miriam A Locher, 2008:3) menjelaskan kesantunan sebagai a

  universal concept and as technical term to describe relational work that is carried out to mitigate face-threatening acts. Dengan demikian, kesopanan

  adalah bagian dari fenomena pragmatik yang menggambarkan perilaku seseorang untuk mengurangi ‘wajah-mengancam’.

  Penelitian-penelitian yang telah dijabarkan di atas merupakan salah satu penelitian kesantunan berbahasa yang sudah banyak dibahas oleh banyak ahli. Namun, penelitian mengenai fenomena pragmatik yaitu ketidaksantunan berbahasa belum banyak yang mengkaji. Penelitian- penelitian kesantunan yang dijelaskan di atas menjadi dasar penelitian ketidaksantunan sebab penelitian kesantunan merupakan pioner dari fenomena baru dalam penelitian bahasa. Penelitian tersebut dikatakan sebagai fenomena baru karena banyak peneliti yang meneliti kesantunan berbahasa namun jarang peneliti yang membahas ketidaksantunan berbahasa. Hal tersebut mengakibatkan kelangkaan studi ketimpangan fakta studi ketidaksantunan dan kesantunan dan menyisyaratkan berjalan lambatnya studi pragmatik.

  Kelangkaan studi ketidaksantunan berbahasa ini diperkuat oleh pendapat Locher (melalui Rahardi, 2010:67) yang menyatakan bahwa

  enormous imbalances exists between academic interest in politeness phenomena as oppsed to impoliteness phenomena . Pernyataan demikian

  mengindikasikan bahwa bukan hanya ketimpangan dalam pengertian yang biasa-biasa saja, namun Locher menjelaskan lebih lanjut bahwa fenomena pragmatik mengalami ketimpangan yang sangat besar yaitu dalam studi kesantunan dan ketidaksantuan berbahasa. Hal tersebut mengakibatkan pemahaman pragmatik mengenai ketidaksantunan kepada mahasiswa atau ahli pragmatik tidak tuntas. Senada dengan pendapat Rahardi (2010:66) bahwa studi yang fenomena pragmatik selama ini tidak akan memberikan kontribusi signifikan terhadap perbaikan sikap dan perilaku mereka sebagai pemakai bahasa.

  2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa Ketidaksantunan berbahasa merupakan bentuk pertentangan kesantunan bersama. Ketidaksantunan bahasa sering terjadi di kalangan masyarakat, terutama di kalangan pendidikan. Teori-teori yang mendasari teori ketidaksantunan dalam berbahasa yaitu

2.2.1 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher

  Teori pandangan kesantunan klasik menjelaskan bahwa perilaku mengancam muka merupakan perilaku berbahasa tidak santun. Locher (2008:3) memberikan pendapat mengenai ketidaksantunan dalam berbahasa yang dapat dipahami sebagai, ‘… behaviour that is face-

  aggravating in a particular context.’ Intinya bahwa ketidaksantunan

  berbahasa itu bukan hanya sekedar mengancam muka tetapi perilaku ‘melecehkan’ muka (face-aggravate). Intepretasi lain yang berkaitan dengan definisi Locher ini adalah tindakan berbahasa bukanlah sekedar perilaku yang melecehkan muka melainkan juga tindakan “memain- mainkan muka” (Rahardi, 2010:68). Tuturan (1) pada bagian berikut dapat memperjelas pernyataan ini

  (1) “Kamu itu bodoh tidak konsultasi dengan saya dulu. Kok langsung observasi!” (2) “Kamu tu gimana? Malah corat-coret.”

  Informasi Indeksal

  Tuturan (1) pada contoh di atas dituturkan oleh seorang dosen kepada mahasiswanya di dalam sebuah ruang dosen. Pada saat itu, Mahasiswa itu melakukan obervasi tanpa meminta bimbingan kepada dosennya sebelumnya. Tuturan (2) dituturkan oleh seorang dosen kepada mahasiswa di dalam kelas. Saat itu dosen sedang meneliti pekerjaan mahasiswa lalu ia melihat salah satu mahasiswa mencorat- coret buku teori bukan menulis di buku catatan. Hal tersebut membuat dosen marah.

  Tuturan (1) dan (2) merupakan bentuk ketidaksantunan berbahasa yaitu melecehkan muka karena penutur berusaha mengatakan langsung kesalahan mitra tutur tanpa ada kata-kata yang diperhalus. Tuturan (1) penutur mengatakan mitra tutur bodoh secara langsung, tanpa ada penghalusan kata misalnya kurang pandai. Pernyataan tersebut mengakibatkan mitra tutur merasa dilecehkan atas perbuatannya. Tuturan (2) penutur mengatakan lebih halus, penutur ingin menyalahkan mitra tutur yang hanya bermain-main saja dalam perkulihan. Tuturan itu juga membuat mitra tutur merasa dilecehkan.

  Locher (2008:3) juga mendefinisikan bahwa kesantunan adalah bentuk memain-mainkan muka. Tuturan (3) pada bagian berikut dapat memperjelas pernyataan ini

  (3) “5 menit lagi!”

  Informasi Indeksal

  Tuturan (3) dituturkan oleh seorang dosen yang menguji ujian di kelas. Tuturan itu teradi pada saat mahasiswa tidak segera mengerjakan soal ujian. Dosen kesal melihat mahasiswanya ada yang ribut saat ujian sehingga dosen mengeluarkan kata-kata tersebut. Dosen tersebut biasanya memberikan waktu dan kesempatan kepada mahasiswa untuk berpikir namun kali ini dosen itu berbeda tuturan penutur terkesan tidak sabar. Tuturan tersebut termasuk bentuk ketidaksantunan yaitu memain- mainkan muka karena tindakan dosen yang biasa ramah berubah menjadi galak dan terkesan tidak sabar. Jadi, tuturan (1), (2), dan (3) merupakan contoh bentuk ketidaksantunan yaitu melecehkan muka dan memain-mainkan muka. Tuturan melecehkan muka terjadi bila penutur tidak menyukai tindakan atas mitra tutur yang seenaknya saja sedangkan memain-mainkan muka terjadi bila tuturan yang tidak biasa dikeluarkan atau dilontarkan kepada penutur, saat itu terjadi karena adanya keadaan yang tidak disukai penutur terhadap mitra tutur.

2.2.2 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield

  Sementara itu menurut pandangan Bousfield (dalam buku Bousfield and Miriam A Locher, 2008:3) ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami sebagai, ‘The issuing of intentionally gratuitous

  and conflictive face-threatening acts (FTAs) that are purposefully

  ‘kesembronoan’ (gratuitous), dan konfliktif (conflictive) dalam praktik

  berbahasa yang tidak santun itu. Jadi perilaku berbahasa seseorang yang mengancam muka dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan sembrono itu menimbulkan konflik bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas ketidaksantunan berbahasa.

  Ada beberapa indikasi penentu kesembronan yaitu tuturan dinyatakan secara langsung, tuturan negatif, tuturan positif, tuturan mengandung implikatur, dan kesantunan yang ditahan. Tuturan–tuturan pada bagian berikut akan memperjelas pernyataan ini.

  (4) “Ah ... bajigur!” (5) “Su, kabarmu pie?” (6) “Bajumu itu gak cocok ama kulitmu, mil!” (7) “Eh... kamu potong ya.” (8) A : “Ini buat kamu. Aku buat sendiri lho.”

  B : “Oo.. ya ntar tak makan.”

  Informasi Indeksal Tuturan (4) dituturkan oleh seorang mahasiswa di ruang dosen.

  Wujud kebahasaan yang disampaikan kepada dosen karena penutur kecewa dengan perlakuan kasarnya saat mahasiswa sedang konsultasi pekerjaannya. Tuturan (5) dituturkan oleh seorang mahasiswa menyapa mahasiswa lain yang sudah berteman sangat lama. Kata su bisa diartikan buruk namun penutur mengatakan dengan langsung dan mitra tersebut termasuk wujud ketidaksantunan karena dapat menimbulkan konflik. Tuturan (6) dituturkan oleh seorang dosen kepada mahasiswa di ruang dosen saat mahasiswa konsultasi laporan akhir. Penutur mengomentari pakaian yang dikenakan mitra tutur. Penutur merasa pakaian mitra tutur tidak pantas dikenakan di kampus. Tuturan (7) dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada mahasiswa lain di dalam kelas saat akan memulai perkulihaan. Penutur melihat mitra tutur potong rambut. Menurut penutur, potongan rambut mitra tutur tidak cocok dengan bentuk wajahnya. Bentuk kebahasan yang dipakai tidak mengatakan langsung tetapi menggunakan kata-kata yang menyindir.

  Tuturan (8) dituturkan oleh mahasiswa kepada mahasiswa lain. Penutur membuatkan kue kesukaan mitra tutur. Penutur berasumsi bahwa mitra tutur akan mengucapkan terima kasih ternyata mitra tutur tidak mengatakan. Bentuk kebahasan itu dapat membuat konflik antara penutur dan mitra tutur.

2.2.3 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Culpeper

  Pemahaman Culpeper (dalam buku Bousfield and Locher, 2008:3) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah, ‘Impoliteness, as I

  would define it, involves communicative behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.’ Dia

  memberikan penekanan pada fakta ‘face loss’ atau ‘kehilangan konsep ‘kelangan rai’ (kehilangan muka) bisa diartikan menjatuhkan orang lain secara langsung.

  Jadi, ketidaksantunan dalam berbahasa itu merupakan perilaku komunikatif yang diperantikan secara intensional untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka (face loss), atau setidaknya orang tersebut

  ‘merasa’ kehilangan muka. Pernyataan tersebut dapat diartikan pula,

  ketidaksantunan berbahasa itu berusaha menjatuhkan orang lain dengan mengungkapkan kesalahan secara langsung kepada lawan bicara.

  Tuturan (9) pada bagian berikut akan memperjelas pernyataan ini.

  (9) “Wah, kamu itu. Sudah IP rendah, mengerjakan soal gampang saja tidak bisa. Wis bali wae lek rabi.”

  Informasi Indeksal

  Tuturan (9) dituturkan oleh seorang dosen kepada mahasiswa di dalam kelas saat perkulihan. Penutur memberikan soal kepada mahasiswa. Mitra tutur mengatakan kesulitan mengerjakan tugas itu. Penutur berasumsi semua mahasiswa mampu mengerjakan tugas itu dengan cepat dan tepat. Tuturan mitra tuturan yang mengatakan tidak bisa mengerjakan tugas itu, penutur berasumsi bahwa mitra tutur tidak serius mengikuti perkulihan. Bentuk kebahasan yang sampaikan di depan semua mahasiswa sehingga mitra tutur merasa dijatuhkan oleh penutur dan merasa “kehilangan muka” di depan orang banyak.

2.2.4 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi

  Terkourafi (dalam buku Bousfield and Locher, 2008:3) memandang ketidaksantunan sebagai, ‘impoliteness occurs when the

  expression used is not conventionalized relative to the context of occurrence; it threatens the addressee’s face but no face-threatening intention is attributed to the speaker by the hearer.’ Jadi perilaku

  berbahasa dalam pandangannya akan dikatakan tidak santun bilamana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka

  (face threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud

  ancaman muka itu dari mitra tuturnya. Mitra tutur merasa ‘kehilangan muka’ dalam bahasa Jawa kelangan rai bila penutur tidak mengetahui maksud mitra tutur. Tuturan (10) pada bagian berikut akan memperjelas pernyataan ini.

  (10) “Kamu itu sudah semester bontot, mencari kajian teori yang relevan kok tidak bisa.”

  Informasi Indeksal

  Tuturan (10) dituturkan oleh seorang dosen kepada mahasiswa di dalam ruang dosen. Mitra tutur sedang mengkonsultasikan skrispinya. Penutur menemukan beberapa kesalahan ejaan dan beberapa kalimat tidak koheren. Melihat kenyataan tersebut, penutur merasa jengkel dengan mitra tutur yang sudah semester akhir tidak bisa menyusun kata-kata dengan benar. Bentuk kebahasan tersebut merasa dipermalukan karena angkatan tua belum bisa menyusun kalimat dengan benar. Mitra tutur merasa terancam atas tuturan dari penutur.

2.2.5 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher and Watts

  Locher and Watts (dalam buku Bousfield and Locher, 2008:5) berpandangan bahwa perilaku tidak santun adalah perilaku yang secara normatif dianggap negatif (negatively marked behavior), lantaran melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Juga mereka menegaskan bahwa ketidaksantunan merupakan peranti untuk menegosiasikan hubungan antarsesama (a means to negotiate meaning).

  Selengkapnya pandangan mereka tentang ketidaksantunan tampak berikut ini, ‘…impolite behaviour and face-aggravating behaviour

  more generally is as much as this negation as polite versions of behavior.’

  Setiap daerah mempunyai norma atau peraturan yang mengatur perilaku masyarakat. Peraturan itu bersifat wajib dan mengikat. Selain daerah atau wilayah tertentu, suatu organisasi atau lembaga pendidikan pasti mempunyai peraturan yang berfungsi mengatur perilaku atau tindakan semua warga yang bernaung di lembaga tersebut. Universitas adalah salah lembaga pendidikan, warga masyarakat di lembaga

  Norma yang telah ditetapkan itu adalah bentuk kesempakatan bersama antara yang membuat norma dan pelaksana norma. Norma juga suatu bentuk kerja sama antar hubungan sesama bila norma mampu direalisasikan dengan baik tidak akan ada perselisihan. Namun, bila terjadi pelanggaran norma akan terjadi pertengkaran – bentuk kebahasan ketidaksantunan – konflik antar penutur dan mitra tutur.

  Tuturan (11) pada bagian berikut akan memperjelas pernyataan ini.

  (11) Lho ... mang harus tepat ya, bu! Kan bisa nelat sedikit.

  Informasi Indeksal

  Tuturan (11) dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada dosen di ruang dosen. Penutur memberikan tugas tidak sesuai dengan waktu yang disepakati bersama yaitu pukul 11.00 namun mengumpulkan tugas

  12.00. Tindakan penutur membuat geram mitra tutur, namun penutur tidak merasa bersalah. Penutur berasumsi bahwa tindakannya itu dapat ditoleransi oleh mitra tutur karena kebiasan orang Indonesia yang suka mengulur-ulur waktu. Tuturan tersebut merupakan wujud kebahasan yang normatif dianggap negatif oleh penuturnya sehingga terjadi ketidaksantunan berbahasa.

2.2.6 Rangkuman

  Sebagai rangkuman dari sejumlah teori ketidakasantunan yang disampaikan di awal, dapat ditegaskan bahwa

  1. Ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher adalah sebagai berbahasa yang melecahkan dan memainkan muka.

  2. Ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield adalah perilaku berbahasa seseorang yang dilakukan secara sembrono hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian itu mendatangkan konflik.

  3. Ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Culpeper adalah perilaku komunikatif yang diperantikan secara intensional untuk membuat orang benar-benar

  4. Ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi adalah mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka (face

  threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya.

  5. Ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher and Watts adalah perilaku tidak santun adalah perilaku yang secara normatif dianggap negatif (negatively marked behavior), lantaran melanggar norma- norma sosial yang berlaku dalam masyarakat

  Kelima teori ketidaksantunan berbahasa itu semuanya akan digunakan sebagai kaca mata untuk melihat praktik berbahasa yang tidak

2.3 Tindak Tutur

  Yule (1996:81) menjelaskan bahwa dalam usaha untuk mengungkapkan dirinya, penutur tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata- kata dan struktur-struktur gramatikal saja, tetapi penutur juga memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan itu. Tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan itu biasanya disebut tindak tutur. Searle melalui bukunya Speech Acts An Essay in The Philosophy of Language (dalam Wijana, 2011:21) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tidak perlokusi (perlocutionary act).

2.3.1 Tindak Lokusi

  Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu (Wijana, 2011:21). Tindak tutur ini dinamakan the act of saying something . Konsep lokusi sendiri berkenaan dengan proposisi kalimat.

  Kalimat di sini dimengerti sebagai suatu satuan yang terdiri dari dua unsur, yakni subjek/topik dan predikat/comment (Nababan, 1987:4 dalam Wijana:22). Sebagai satuan kalimat, pengidentifikasian tindak lokusi cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur. Jadi, tindak tutur lokusioner adalah tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu sendiri (Rahardi, 2012:17) menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna. Perhatikan contoh berikut.

  (1) Makanan khas Yogyakarta adalah sayur gudeg. (2) Anjingnya lucu. (3) Ayah pergi ke Jakarta.

  Kalimat (1) dan (2) dituturkan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Pada kalimat (1), informasi yang dituturkan adalah nama masakan khas Yogyakarta adalah sayur gudeg, kalimat (2) anjing yang disaksikan penutur itu lucu, kalimat (3) juga berfungsi untuk mengutarakan informasi bahwa Ayah sedang pergi ke Jakarta.

  Berdasarkan contoh-contoh itu, dapatlah dilihat bahwa ihwal maksud tuturan yang disampaikan oleh penutur tidak dipermasalahkan sama sekali. Dengan demikian, tindak tutur lokusioner adalah tindak menyampaikan informasi yang disampaikan oleh penutur.

2.3.2 Tindak Ilokusi

  Sebuah tuturan berfungsi untuk mengatakan atau menyampaikan sesuatu dan untuk melakukan sesuatu. Tuturan yang berfungsi untuk menyampaikan sesuatu disebut tindak lokusi, sedangkan tuturan yang berfungsi untuk melakukan sesuatu dinamakan tindak ilokusi (Wijana, 2011:23). Tindak tutur ini disebut the act of doing something. Tindak dan fungsi tertentu di dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya. Tindak tutur ilokusioner cenderung tidak hanya digunakan untuk menginformasikan sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu sejauh situasi tuturnya dipertimbangkan dengan seksama. Perhatikan contoh-contoh yang diberikan Wijana (2011:23) berikut ini.

  (4) Saya pulang kantor agak malam. (5) Gula pasir di dapur sudah habis.

  (6) Ada orang gila.

  Kalimat (4) sampai dengan (6) tidak saja memberikakan informasi tertentu (sesuai isi kalimat itu) tetapi kalimat tersebut juga memberikan maksud tertentu jika dipertimbangkan situasi tutur berikut ini. Kalimat (4) bila dituturkan oleh suami kepada istrinya yang tidak bisa pulang tepat waktu karena harus rapat di luar kota sehingga sang istri jangan menunggu makan malam di rumah. Kalimat (5) bila dituturkan oleh seorang ibu akan membuat teh atau kopi ternyata ibu menemukan gula pasir di dapur sudah habis. Kalimat tersebut bukan hanya pemberitahuan tetapi untuk memberi perintah untuk membeli gula pasir. Kalimat (6) bila diucapkan oleh seorang kepada orang yang melewati jalan atau salah satu rumah yang dianggap ada orang gila yang tinggal disitu. Kalimat tersebut bukan saja sebagai pemberitahuan akan tetapi dapat sebagai larangan melewati jalan atau rumah tersebut.

  Gambaran contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa tindak ilokusi sangat sukar diidentifikasi karena terlebih dahulu harus tindak tutur itu terjadi; dan sebagainya. Selain itu, tindak ilokusi ditampilkan melalui penekanan komunikatif suatu tuturan. Itulah sebabnya tindak ilokusi menjadi bagian yang sentral untuk memahami tindak tutur. Tindak tutur ilokusi sering menjadi kajian utama dalam bidang pragmatik (Rahardi, 2012:17). Searle (dalam Rahardi, 2007:72—73) menggolongkan tindak tutur ilokusi dalam lima macam bentuk tuturan, yakni (1) Asertif (assertives) atau representatif, yaitu bentuk tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnya menyatakan (stating), menyarankan (suggeting), membual (boasting), mengeluh (complaining), dan mengklaim (claiming). Menurut Searle (melalui Leech, 1993:164) dari segi sopan santun ilokusi-ilokusi ini cenderung netral termasuk kategori bekerja sama. (2) Direktif (direcitives) yakni bentuk tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar si mitra tutur melakukan tindakan, misalnya memesan (ordering), memerintah (commanding), memohon (requesting), menasihati (advising), dan merokomendasi (recommeding). Jenis ilokusi ini sering dimasukkan dalam kategori kompetitif karena itu mencakup kategori-kategori ilokusi yang membutuhkan sopan santun negatif, namun ada ilokusi direktif yang memang sopan seperti

  (3) Ekspresif (expressives) yakni bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, misalnya berterima kasih (thinking), memberi selamat (congrangtulating), meminta maaf (pardoning), menyalahkan (blaming), memuji (praising), dan berbelasungkawa (condoling). Ilokusi ekspresif cenderung menyenangkan karena itu secara intrinsik ilokusi ini sopan kecuali tentunya ilokusi-ilokusi ekspresif seperti mengecam dan menuduh (melalui Leech, 1993:165).

  (4) Komisif (cummissives) yaitu bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran, misalnya berjanji (promosing), bersumpah (vowing), dan menawarkan sesuatu (offering). Menurut Searle, ilokusi ini cenderung berfungsi menyenangkan dan kurang bersifat kompetitif karena tidak mengacu pada kepentingan penutur tetapi pada kepentingan petutur (melalui Leech, 1993:164). (5) Deklarasi (declarations) yaitu bentuk tutur yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataannya, misalnya berpasrah (resigning), memecat (dismissing), membaptis (christening), memberi nama (naming), mengangkat (appointing), mengucilkan (excommuningcating), dan menghukum (sentencing). Searle (melalui Leech, 1993:165) mengatakan bahwa tindakan-tindakan tersebut merupakan kategori tindak ujar sangat khusus karena dalam sebuah kerangka acuan kelembagaan diberi wewenang melakukannya, misalnya hakim yang menjatuhkan hukuman, pendeta yang membaptis, penjabat yang memberi nama pada kapal baru, dan sebagainya.

  Searle (dalam Yule, 2006:95) memberikan fungsi-fungsi umum tindak tutur beserta sifat-sifat kuncinya yang terangkum dalam tabel berikut.

  Tabel 1 Lima Fungsi Umum Tindak Tutur Tipe Arah P = penutur tindak tutur penyesuaian X = situasi

  Deklarasi Kata mengubah dunia P menyebabkan X Representatif Kata disesuaikan P meyakini X dengan dunia Ekspresif Kata disesuaikan P merasakan X dengan dunia Direktif Dunia disesuaikan P menginginkan X dengan kata Komisif Dunia disesuaikan P memaksudkan X dengan kata

2.3.3 Tindak Perlokusi

  Tuturan juga seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force), atau efek bagi yang mendengarkannya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur disebut dengan tindak perlokusi (Wijana, 2011:24). Tindak tutur ini disebut the act of

  affecting something . Wijana (2011:24—26) memberikan beberapa contoh berikut.

  (7) Uang jajan saya habis. (8) Kemarin saya sakit demam. (9) Saya tidak membawa tempat pensil.

  Kalimat (7), (8), dan (9) mengandung lokusi dan ilokusi bila dipertimbangkan konteks situasi tuturnya, serta perlokusi jika penutur mengkreasikan daya pengaruh tertentu kepada lawan tuturnya. Bila kalimat (7) diutarakan oleh seorang mahasiswa yang berkuliah di luar kota, maka ilokusinya secara tidak langsung menginformasikan bahwa uang yang dimiliki penutur sudah habis. Adapun efek perlokusinya yang mungkin diharapkan orang tua penutur mengirimkan uang jajan. Bila kalimat (8) diutarakan tidak dapat menghadiri undangan rapat kepada orang yang mengundangnya, kalimat ini merupakan tindak ilokusi untuk memohon maaf, dan perlokusi (efeknya) yang diharapkan adalah orang yang mengundang dapat memakluminya. Bila kalimat (9) diutarakan oleh mahasiswa atau siswa kepada temannya pada saat pelajaran sedang berlangsung. Penutur tidak membawa tempat pensil, kalimat tersebut tidak hanya mengandung lokusi tetapi juga mengandung ilokusi yang berupa perintah meminjamkan pensil atau bolpen kepada mitra tutur. Tindak perlokusi adalah mitra tutur bersedia meminjamkan pensil atau bolpen kepada penutur.

  Tindak tutur perlokusioner mengandung daya pengaruh bagi

  (10) Baru-baru ini Walikota telah membuka Kurnia Department Store yang terletak di pusat perbelanjaan dengan tempat parkir yang cukup luas.

  Kalimat (10) selain memberikan informasi, juga secara tidak langsung merupakan undangan atau ajakan untuk berbelanja ke

  department store bersangkutan. Letak department store yang strategis

  dengan tempat parkirnya yang luas diharapkan memiliki efek untuk membujuk para pembacanya. Wacana seperti ini seringkali dijumpai pada bentuk wacana iklan. Secara sepintas, wacana iklan seperti ini merupakan berita, tetapi daya ilokusi dan perlokusinya sangat besar terlihat.

2.3.4 Rangkuman

  Pemaparan tindak tutur oleh Searle ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tidak perlokusi (perlocutionary act). Pertama, tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu yang berkenaan dengan konsep proposisi kalimat.

  Kedua, tindak ilokusi adalah sebuah tuturan berfungsi untuk mengatakan atau menyampaikan sesuatu dan untuk melakukan sesuatu.

  Penggolongan tindak tutur ilokusi ada lima macam yaitu assertif atau representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. Penjelasan yang ketiga, tindak perlokusi adalah tuturan yang mempunyai daya pengaruh

2.4 Konteks Tuturan

  Penelitian sebuah bahasa tidak dapat lepas dari unsur yang memengaruhi pemakaian bahasa itu. Unsur itu adalah konteks. Konteks sangat memengaruhi bentuk bahasa yang digunakan oleh seorang penutur. Dahulu, konteks belum terlalu diperhatikan oleh ahli bahasa sehingga penelitian mereka hanya mengkaji bahasa dari segi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Hasil penelitian tersebut lazimnya berupa sistem bahasa yang bentuknya gramatikal saja. Hal tersebut tidak akan menjawab sebuah fenomena yang berhubungan dengan mengapa dan bagaimana sebuah tuturan atau kalimat itu muncul. Oleh karena itu, sejak permulaan tahun 1970-an para ahli linguistik menyadari pentingnya konteks dalam penafsirkan kalimat atau tuturan itu.

  Seorang para pakar linguistik dan pragmatik, Malinowsky, pada tahun 1923, membicarakan tentang konteks, khususnya konteks yang berdimensi situasi atau ‘context of situation’. Secara khusus Malinowsky mengatakan, seperti yang dikutip di dalam Vershueren (1998:75), ‘Exactly as in the reality

  of spoken or written languages, a word without linguistics context is a mere figment and stands for nothing by itself, so in the reality of a spoken living tongue, the utterance has no meaning except in the context of situation.’ Jadi,

  dalam pandangannya sesungguhnya dinyatakan bahwa kehadiran konteks situasi menjadi mutlak untuk menjadikan sebuah tuturan benar-benar bermakna.

  Hymes (melalui Nugroho, 2009:119) mnyebutkan bahwa konteks terdiri dari latar fisik dan psikologi (setting and scene), peserta (participants), tujuan komunikasi (ends), pesan yang disampaikan (act sequence), nada tutur (key), norma tutur (norm), dan jenis tutur (genre). Penjelasan agak panjang terkait konteks dikemukan Levinson (melalui Nugroho, 2009:119). Levinson mengemukakan konteks dari definisi Carnap, yaitu istilah yang dipahami yang mencakup identitas partisipan, parameter, ruang dan waktu dalam situasi tutur, dan kepercayaan, pengetahuan, serta maksud partisipan di dalam situasi tutur. Selanjutnya Levinson menjelaskan bahwa untuk mengetahui sebuah konteks, seseorang harus membedakan antara situasi aktual sebuah tuturan dalam semua keserbaragaman ciri-ciri tuturan mereka, dan pemilihan ciri-ciri tuturan tersebut secara budaya dan linguistis yang berhubungan dengan produksi dan penafsiran tuturan. Untuk mengetahui konteks, Levinson (melalui Nugroho, 2009:119—120) mengambil pendapat Lyons yang membuat daftar prinsip-prinsip universal logika dan pemakaian bahasa, yaitu seperti di bawah ini:

  (1) Pengetahuan ihwal aturan dan status (aturan meliputi aturan dalam situasi tutur seperti penutur atau petutur, dan aturan sosial, sedangkan status meliputi nosi kerelativan kedudukan sosial);

  (2) Pengetahuan ihwal lokasi spasial dan temporal; (3) Pengetahuan ihwal tingkat formalitas; (4) Pengetahuan ihwal medium; kira-kira kode atau gaya pada sebuah

  (5) Pengetahuan ihwal ketepatan sesuatu yang dibahas; dan (6) Pengetahuan ihwal ketepatan bidang wewenang (atau penentuan domain register sebuah bahasa).

  Mey (dalam Rahardi, 2011:2), ‘… context is more than a matter of reference and of understanding what things are about, practically speaking.

  Context is also what gives our utterances their deeper meaning.’ Pada bagian

  lain Mey (dalam Rahardi, 2011:2), menegaskan ‘the context is also of

  paramaount importance in assigning a proper value to such phenomena as propositions, implicature, and the whole sets of context-oriented features …’

  Jadi, dengan kehadiran konteks itu, sebagaimana yang dimaksudkan Mey di atas, sangat dimungkinkan dipahami entitas kebahasaan secara lebih komprehensif dan mendalam, bukan sekadar menunjuk pada hal-hal yang sifatnya referensial.

  Yule (2006:31—36) membahas konteks dalam kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi referen-referan yang bergantung pada satu atau lebih pemahaman orang itu terhadap ekspresi yang diacu. Berkaitan dengan penjelasan tersebut, Yule membedakan konteks dan koteks. Konteks ia definisikan sebagai lingkungan fisik di mana sebuah kata dipergunakan. Koteks menurut Yule adalah bahan linguistik yang membantu memahami sebuah ekspresi atau ungkapan. Koteks adalah bagian linguistik dalam lingkungan tempat sebuah ekspresi dipergunakan.

  Rahardi (2007:20) menuturkan bahwa konteks tuturan diartikan sebagai dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur dalam proses keseluruhan proses bertutur. Selanjutnya, Pranowo (2009:97) menambahkan pengertian konteks--lebih khusus membahas konteks situasi—yang dimaksud konteks situasi adalah segala keadaan yang melingkupi terjadinya komunikasi. Hal ini dapat berhubungan dengan tempat, waktu, kondisi psikologis penutur, respon lingkungan terhadap tuturan.

  Pemaparan konteks di atas, dibahas lebih lanjut oleh Leech (1993:20) yang mengungkapkan bahwa konteks sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh n dan t yang membantu t menafsirkan makna tuturan (melalui Nugroho, 2009:119). Lebih lanjut lagi, Leech (1993:19—20) menjelaskan pengertian konteks dalam pragmatik yaitu sebagai aspek-aspek yang terdapat di dalam situasi tuturan atau ‘speech

  situation’ itu dapat dibedakan menjadi lima macam, yakni: (1) penutur dan

  lawan tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai tindak verbal, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal. Penjelasan kelima aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

2.4.1 Penutur dan lawan tutur

  Leech memberikan simbol bahwa orang yang menyapa atau ‘penutur’ dengan n dan orang yang disapa atau ‘petutur’ dengan t.

  Simbol-simbol ini merupakan singkatan untuk ‘penutur/penulis’ dan ‘petutur/pembaca’. Jadi, penggunaan n dan t tidak membatasi pragmatik tulis. Wijana (melalui Rahardi, 2011:19) menekankan bahwa aspek- aspek yang mesti dicermati pada diri penutur maupun mitra tutur di antaranya ialah jenis kelamin, umur, daerah asal, dan latar belakang keluarga serta latar belakang sosial-budaya lainnya yang dimungkinkan akan menjadi penentu hadirnya makna sebuah pertuturan.

  Para ahli pragmatik mengatakan bahwa dimensi penutur dan mitra tutur menjadi salah satu titik fokus dalam pragmatik. Hal demikian menjelaskan bahwa studi pragmatik memang sama sekali tidak dapat mengabaikan pengguna bahasa yaitu penutur dan mitra tutur Verschueren (melalui Rahardi, 2011:) menjelaskan bahwa dimensi di luar penutur dan mitra tutur masih dapat diperluas lagi seperti

  participant, addrressee, eavesdropes, dan seterusnya, akan tetapi yang

  paling pokok adalah dimensi penutur dan mitra tutur dalam membentuk konteks komunikatif dalam tuturan sebenarnya.

  Leech menyebutkan aspek konteks yang berupa penutur dan lawan tutur disebut ‘speaker’ and hearer’ atau ada yang menyebutnya

  ‘speaker and interlocutor’ . Verschueren memberikan istilah penutur

  dan mitra tutur dengan sebutan (dalam Rahardi, 2011:5) ’utterer and

  interpreter’ . Dimensi tersebut sangat berdekatan dengan dimensi usia,

  jenis kelamin, latar belakang pendikan, latar belakang kultur, latar belakang sosial, latar belakang ekonomi, dan juga latar belakang fisik, psikis atau mentalnya, dalam istilah Verschueren sebagai ‘physical dan ‘mitra tutur’ atau ‘lawan tutur’ dalam aspek konteks, sesungguhnya masih dimungkinkan hadirnya sebuah pertuturan itu bisa lebih dari semuanya itu seperti yang telah dijelaskan di atas.

  Verschueren (1998:85) menggambarkan secara skematik sebagai ‘interpreter’, atau yang banyak dipahami sebagai ‘hearer’ atau

  ‘interlocutor’ atau ‘mitra tutur’ atau ‘lawan tutur’. Dalam

  pandangannya, ‘hearer’ atau ‘interlocutor’ masih dapat dibedakan menjadi ‘interpreter’ yang berperan sebagai ‘participant’ dan ‘non-

  participant’ . Selanjutnya ‘participant’ dalam pandangan Verschueren

  dibedakan menjadi ‘adressee’ dan ‘side-participant’, sedangkan untuk

  ‘non-participant’ masih dapat dibedakan menjadi ‘bystander’, yakni

  orang yang semata-mata hadir, dan tidak mengambil peran apapun, dan yang terakhir sebagai ‘overhearer’. Peran ‘overhearer’ masih dapat dibedakan lagi menjadi ‘listener-in’ dan ‘eavesdropper’. Jadi, kalau semuanya itu diperhitungkan sebagai salah satu dimensi dalam konteks situasi, tentu saja dimensi ‘hearer’ itu akan menjadi kompleks karena jatidiri ‘hearer’ sesungguhnya tidaklah sesederhana yang selama ini banyak dipahami oleh sejumlah kalangan.

  Verschueren (1998:76) menambahkan bukan hanya keberadaan konteks linguistiknya (linguistic context) untuk menyampaikan sebuah pesan (message), dari ‘utterer’ (U) kepada ‘interpreter’ (I) ditentukan pula oleh konteks dalam pengertian yang sangat luas, yang mencakup belakang sosial dari tuturan (social world of the utterance), dan latar belakang mental penuturnya (mental world of the utterance). Jadi setidaknya, Verschueren (melalui Rahardi, 2011:158—160) menyebut empat dimensi konteks yang sangat mendasar dalam memahami makna sebuah tuturan.

  2.4.1.1 The Utterer dan The Interpteter Pembicara dan lawan bicara, penutur dan mitra tutur, atau ‘the utterer’ and ‘the interpreter’ adalah dimensi paling signifikan dalam pragmatik. Pembicara atau penutur (utterer) itu memiliki banyak suara (many voices), sedangkan mitra tutur atau mitra wicara atau interpreter, lazimnya dikatakan memiliki banyak peran. Fakta kebahasaan demikian ini kian menegaskan bahwa penutur atau pembicara, atau yang lazim disebut ‘the

  speaker’ dan ‘the utterer’, memang memiliki banyak

  kemungkinan kata. Bahkan ada kalanya pula, seorang penutur atau ‘utterer’ dapat berperan sebagai ‘interpreter’. Jadi, dia sebagai penutur atau pembicara dapat berkomunikasi dan bertutur sapa dengan baik serta‘utterer’ harus dapat memfungsikan dirinya sebagai ‘interpreter’.

  Dimensi-dimensi lain yang berkaitan erat dan tidak mungkin lepas darinya, seperti jenis kelamin, adat-kebiasaan, dan semacamnya, adalah perihal ‘the influence of numbers’ alias pertutursapaan. Hal tersebut akan menjadi sangat berbeda makna kebahasaan yang muncul bilamana sebuah pertutursapaan dihadiri orang dalam jumlah banyak, dan bilamana hanya dihadiri dua pihak saja, yakni penutur (utterer) dan mitra tutur (interpreter).

  2.4.1.2 Aspek-aspek Mental Pengguna Bahasa Dimensi-dimensi mental penutur dan mitra tutur,

  ‘utterer’ dan ‘interpreter’ sangat penting dalam kerangka

  perbincangan konteks pragmatik itu. Dimensi mental ‘langugae

  users’ itu dekat dengan aspek-aspek kepribadian penutur dan

  mitra tutur itu. Seseorang yang kepribadiannya tidak cukup matang, sehingga terhadap segala sesuatu yang hadir baru cenderung ‘menentang’ dan ‘melawan’, sekalipun tidak selalu memiliki dasar alasan yang jelas dan tegas, akan sangat mewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan di dalam setiap pertutursapaan. Demikian pula seseorang yang sudah sangat matang dan dewasa, akan dengan serta-merta berbicara sopan dan halus kepada setiap orang yang ditemuinya, karena dia mengerti bahwa setiap orang itu memang harus selalu dihargai dan dijunjung tinggi harkat dan martabatnya.

  Selanjutnya, berkaitan dengan dimensi ‘personality’ komponen penutur dan mitra tutur ini adalah aspek warna emosinya (emotions). Seseorang yang memiliki warna emosi dan temperamen tinggi, cenderung akan berbicara dengan nada dan nuansa makna yang tinggi pula. Akan tetapi, seseorang yang warna emosinya tidak terlampau dominan, dia cenderung akan berbicara sabar. Verschueren menambahkan pula selain dimensi

  ‘personality’ dan ‘emotions’ terdapat pula dimensi ‘desires’ atau ‘wishes’, dimensi ‘motivations’ atau ‘intentions’, serta dimensi

  kepercayaan atau ‘beliefs’ yang juga harus diperhatikan dalam kerangka perbicangan konteks pragmatik ini.

  Aspek-aspek mental juga berpengaruh besar terhadap dimensi kognisi dan emosi penutur dan mitra tutur. Verschueren menjelaskan dimensi kognisi hadir sebagai jembatan antara dimensi mental dan sosial dalam bentuk konseptualisasi dalam

  term berlangsungnya interpretasi terhadap interaksi sosial.

  Selanjutnya, dimensi emosional adalah dimensi yang menjembatani bentuk fenomena yang dipelajari dalam keterlibatan dalam melanjutkan dan mewarnai interaksi. Dengan demikian, dimensi mental penutur dan mitra tutur harus dilibatkan dalam analisis pragmatik karena mempengaruhi warna dan nuansa interaksi dalam komunikasi (Rahardi, 2011:159).

2.4.1.3 Aspek-aspek Sosial dan Budaya Pengguna Bahasa

  Aspek-aspek sosial atau ‘social setting’ alias seting social dan aspek mental harus diperhatikan dalam analisis pragmatik dalam istilah Verschueren (1998:91) disebut

  ‘ingredient of the communicative context’ . Interaksi antar

  penutur dan mitra tutur dalam sebuah masyarakat berkaitan dengan keberadaan pengguna bahasa sebagai warga masyarakat dan budaya tertentu yang harus terlibat di dalamnya. Aspek budaya merupakan satu hal yang sangat penting sebagai penentu makna dalam pragmatik, khususnya yang berkaitan dengan aspek ‘norms and values of culture’ (norma dan nilai) dari masyarakat bersangkutan.

  Berkaitan dengan hal ini, Verschueren (1998:92) menyatakan sebagai berikut, ‘Culture, with its invocation of

  norms and values has indeed been a favourite social-world correlate to linguistic choices in the pragmatic literatures.’

  Pernyataan di atas menggambarkan bahwa budaya dengan invokasinya terkait norma dan nilai memang menjadi jagat sosial yang berkolerasi dengan pilihan-pilihan linguistik (kosa kata) dalam literaratur pragmatik. Lebih lanjut dia menegaskan bahwa dimensi-dimensi budaya yang harus diperhatikan dalam kerangka perbincangan konteks pragmatik ini adalah, ‘…the

  patterns of life, or a mainstream versus a subcultural environment.’ . Pernyataan tersebut memperbincangkan bahwa

  budaya dipengaruhi pula oleh konteks pragmatik dalam masyarakat lisan dan tertulis, bentuk kehidupan pedesaan dan kota, maupun lingkungan utama dan subkultur.

  Dimensi-dimensi sosial lain yang harus diperhatikan dalam pragmatik, khususnya dalam kaitan dengan konteks pragmatik, dalam pandangan Verschueren (1998:92) adalah kelas sosial, etnisitas dan ras, kebangsaan, kelompok linguistik, agama, usia, tingkat pendidikan, profesi, kekerabatan, gender, dan pilihan seksual. Jadi, ternyata demikian kompleksnya aspek- aspek ‘social’ dalam konteks pragmatik, yang sekali lagi merupakan ‘ingredients’ konteks komunikatif dalam pragmatik.

  Dimensi sosial yang berkaitan dengan penutur dan mitra tutur sangat beragam. Misal, dimensi sosial penutur dan mitra tutur berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin yang dapat membedakan cara berbahasa dan bahan atau topik pembicaraan.

  Seorang yang berjenis kelamin laki-laki bahasa yang digunakan cenderung keras sedangkan bahasa yang digunakan perempuan cenderung lebih lembut. Bidang-bidang yang dibicarakan kaum laki-laki lazimnya masalah politik, pekerjaan, pembangunan, dan masalah sosial yang lain yang cenderung berat dan rumit. Di lain pihak, kaum perempuan lazimnya membicarakan dalam bidang-bidanh keluarga, kesehatan, keindahan, dan sebagainya.

  Selanjutnya dimensi sosial mengenai usia penutur dan mitra tutur. Orang yang dianggap sepuh (tua) akan mendapatkan penghormatan atau penghargaan lebih dari mereka yang muda. Bahasa yang digunakan oleh penutur kepada orang tua harus lebih sopan dan lebih halus dibandingkan dengan bahasa yang digunakan oleh yang lebih muda. Bentuk kebahasaan yang berciri lengkap, tidak dipotong-potong, atau yang tidak dipendekkan seharusnya lebih banyak digunakan daripada bentuk-bentuk kebahasaan yang berciri sebaliknya yakni yang bersifat terbatas. Selain itu, bentuk lengkap, bentuk kebahasaan yang digunakan kepada orang tua, lazimnya adalah bentuk yang cenderung halus dan santun.

  Dimensi sosial selanjutnya adalah dimensi status sosial penutur dan mitra tutur. Orang yang berstatus sosial rendah dalam masyarakat lazimnya menggunakan bentuk hormat kepada mereka yang berstatus sosial menengah apalagi berstatus sosial tinggi. Misalnya, seorang mahasiswa harus bertutur kata santun dan hormat kepada dosennya, walau mahasiswa tersebut adalah anak konglomerat di kota tersebut.

2.4.1.4 Aspek-aspek Fisik Pengguna Bahasa

  Deiksis persona, menunjuk pada penggunaan kata ganti orang, misalnya saja dalam bahasa Indonesia kurang ada kejelasan kapan harus digunakan kata ‘kita’ dan ‘kami’ dalam bahasa Jawa, deksis persona ‘kula’ artinya ‘saya’ dan ‘kula

  sedaya’ atau ‘aku kabeh’ alias ‘kami’ atau ‘kita’ dalam bahasa

  Indonesia. Adapun ‘attitudinal deixis’ berkaitan sangat erat dengan bagaimana kita harus memperlakukan panggilan- panggilan persona dengan tepat sesuai dengan referensi sosial dan sosietalnya. Deiksis-deiksis dalam jenis yang disampaikan di depan itu semuanya merupakan aspek fisik ‘language users’, yang secara sederhana dimaknai sebagai ‘penutur’ dan ‘mitra

  tutur’ , sebagai ‘utterer’ dan ‘interpreter’.

  Selanjutnya masih berkaitan dengan persoalan diksis pula, tetapi yang sifatnya temporal, harus diperhatikan misalnya saja, kapan harus digunakan ucapan ‘selamat pagi’ atau ‘pagi’ saja dalam bahasa Indonesia. Perhatian juga harus diberikan tidak saja pada dimensi waktu atau ‘temporal reference’ seperti yang ditunjukkan di depan tadi, khususnya dalam kaitan dengan deiksis-deiksis waktu.

  Pada dimensi tempat atau dimensi lokasi, atau yang oleh Verschueren (1998:98) disebut sebagai ‘spatial reference’. dengan pemakaian preposisi yang menunjukkan tempat, juga kata kerja tertentu, kata keterangan, kata ganti, dan juga nama- nama tempat. Pendek kata, konsep ‘spatial reference’ seperti ditunjukkan di depan itu, semuanya menunjuk pada konsepsi gerakan atau ‘conception of motion’, yakni gerakan dari titik tempat tertentu ke dalam titik tempat yang lainnya.

  Aspek-aspek fisik konteks lain di luar apa yang disebutkan di depan itu adalah tentang jarak spasial atau ‘space

  distance’. Ketika orang sedang bertutur sapa, jarak spasial

  yang demikian ini sangat menentukan maksud, juga persepsi terhadap makna yang disampaikan oleh ‘interpreter’. Fakta non-kebahasaan ini ternyata juga sangat berbeda antara daerah yang satu dan daerah lainnya. Maka, lalu semuanya ini berkaitan pula dengan ‘motion’ atau gerakan untuk menentukan distansi atau jarak antara ‘utterrer’ dan ‘interpreter’. Pengaturan distansi atau jarak dalam pengertian bertutur demikian ini dilakukan bukan oleh ‘utterer’ saja, atau

  ‘interpreter’ saja, melainkan oleh kedua belah pihak secara bersama-sama.

2.4.2 Konteks sebuah tutur

  Leech mengungkapkan bahwa konteks sebagai aspek-aspek tuturan tersebut dapat mencakup tuturan relavan, baik secara fisik maupun nonfisik. Leech mengartikan konteks sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama yang dimiliki oleh n dan t yang membantu t menafsirkan makna tuturan (Leech, 1993:20).

  Penjelasan demikian menjadi titik berat dari konteks yang lebih kongret yaitu adanya kesamaan latar belakang pengetahuan (the same

  background knowledge ) yang dipahami bersama penutur dan lawan

  tutur. Rahardi (2007:20) menambahkan pula bahwa semua latar belakang pengetahuan yang sama-sama yang dimiliki pelibat pertuturan, jelas akan memabntu para pelibat pertuturan untuk menafsirkan kandungan pesan atau maksud yang hendak disampaikan di dalam setiap pertuturan.

  Aspek konteks situasi berhubungan dengan seting waktu dan seting tempat (spatio-temporal settings) bagi terjadinya sebuah pertuturan. Aspek waktu dan tempat di dalam seting itu tentu saja tidak dapat dilepaskan dari aspek-aspek fisik dan aspek sosial-kultural lainnya, yang menjadi penentu makna bagi sebuah tuturan. Di dalam pragmatik, sesungguhnya titik berat dari konteks itu lebih fakta adanya.

  Adapun tiga macam konteks yang diperbincangkan yaitu dimensi linguistik atau tekstual, konteks sosial kultural, dan konteks pragmatik. Konteks linguistik lazimnya mengenai dimensi fisik. Konteks sosial kultural atau sosiolinguistik berhubungan dengan seting

2.4.3 Tujuan sebuah tuturan

  Leech memiliki preferensi untuk menggunakan istilah tujuan tutur, bukan istilah maksud tutur. Tujuan itu memang lebih kongret, lebih nyata, karena memang keluar berbarengan dengan tuturan yang dilafalkan. Namun, maksud tidak serta merta sama dengan tujuan karena cenderung hadir sebelum tuturan itu dinyatakan. Artinya maksud dalam maksud itu belum berupa tindakan, masih berada dalam pikiran dan angan-angan sedangkan tujuan itu sudah berupa tindakan karena memang tujuan hadir bersama-sama dengan sebuah tuturan seseorang.

  Tujuan tutur lebih netral dan lebih umum sifatnya, tidak berkait dengan kemauan atau motivasi tertentu yang sering kali dicuatkan secara sadar oleh penuturnya. Tujuan tutur berkaitan erat dengan bentuk-bentuk tuturan yang digunakan seseorang. Pada dasarnya, tuturan dari seseorang akan dapat muncul karena dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tutur yang sudah jelas dan amat tertentu sifatnya.

  Sebuah tuturan pasti muncul bukan tanpa maksud dan tujuan, tetapi selalu mengandung maksud dan tujuan tertentu dan sangat jelas.

  Jadi, harus ditegaskan bahwa dalam pragmatik, bertutur itu selalu berorientasi pada tujuan, pada maksud, maka dikatakan sebagai ‘goal-

  oriented activity ’. Bentuk kebahasaan itu, secara pragmatik selalu

  didasarkan pada fungsi (function), bukan semata-mata bentuk (forms), karena setiap bentuk kebahasaan sesungguhnya sekaligus merupakan dan tujuan. Jadi, dalam pragmatik pandangan yang dijadikan dasar selalu berfokus pada ‘fungsi’ pada ‘kegunaan’ atau ‘use’, dan semuanya selalu harus didasarkan pada maksud atau tujuan.

  Misalnya peringatan seperti, ngebut benjut. Tuturan tersebut secara fungsional pula, bentuk memberikan peringatan pada semua saja, khususnya para pengendara motor yang melewati gang atau lorong tertentu tersebut untuk berhati-hati, agar tidak menjadi ‘bulan-bulanan

  massa’, kalau saja, sampai terjadi kecelakaan dan semacamnya di

  tempat itu. Jadi jelas sekali, setiap tuturan—bukan kalimat karena kalau sebutannya kalimat pasti berdimensi nonpragmatik—pasti berorientasi pada fungsi, bukan pada bentuk. Maka sangat jelas bahwa pragmatik itu menggunakan paradigma fungsionalisme, bukan paradigma formalisme seperti yang lazimnya dianut dalam gramatika.

2.4.4 Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar

  Tuturan sebagai bentuk tindakan atau wujud dari sebuah aktivitas linguistik, merupakan bidang pokok yang dikaji di dalam pragmatik karena pragmatik mempelajari tindak verbal yang sungguh- sungguh terdapat dalam situasi dan suasana pertuturan tertentu. Lebih lanjut, tuturan sebagai bentuk tindakan ialah maujud-maujud atau entitas-entitas kebahasaan yang sifatnya tidak dinamis dan selalu tetap saja keberadaannya.

2.4.5 Tuturan sebagai produk tindak verbal

  Tuturan dapat dikatakan sebagai produk dari tindak verbal di dalam aktivitas bertutur sapa karena pada dasarnya tuturan yang muncul di dalam sebuah proses pertuturan itu adalah hasil atau produk dari tindakan verbal dari para pelibat tuturnya, dengan segala macam pertimbangan konteks situasi sosio-kultural dan aneka macam kendala konteks yang melingkupi dan mewadahinya. Jadi jelas, bahwa sebenarnya tuturan atau ujaran itu tidak dapat disamakan dengan kalimat. Kalimat pada hakikatnya adalah entitas produk struktural atau produk gramatikal, sedangkan tuturan atau ujaran itu merupakan hasil atau produk dari tindakan verbal yang hadir dalam proses pertuturan.

  Berkaitan dengan kenyataan ini maka sesungguhnya sebuah tuturan dapat dianggap sebagai maujud tindak tutur, atau sebagai manifestasi dari tindak ujar, tetapi pada sisi lain dapat juga dianggap sebagai produk dari tindak ujar itu sendiri (Rahardi, 2007: 22).

  Kalau misalnya saja sebagai seorang dosen di dalam kelas Anda mengatakan, ‘Papan tulisnya kotor!’ kepada para mahasiswa, maka sesungguhnya produk tindak verbal yang diharapkan dari tuturan itu adalah supaya ada tindakan membersihkan papan tulis itu oleh salah seorang mahasiswa. Demikian pula kalau seorang Ibu mengatakan kepada anaknya laki-laki yang berambut gondrong tidak rapi, ‘Salon

  sebelah masih buka!’ , maka yang diharapkan dari tuturan itu adalah memotong dan merapikan rambutnya. Jadi, itulah sesungguhnya tuturan yang berdimensi produk tindak verbal. Kelima aspek situasi yang disampaikan di depan itulah yang menjadi penentu makna sebuah tuturan. Dengan perkataan lain pula, sesungguhnya itulah yang dimaksud dengan konteks pragmatik.

2.4.6 Rangkuman

  Berdasarkan definisi konteks di atas, dapat disimpulkan bahwa konteks sangat diperlukan dalam pragmatik. Pengertian konteks dapat didefinisikan sebagai berikut, konteks merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan situasi dan kondisi penutur serta mitra tutur yang mempunyai latar belakang pemahaman dan asumi yang sama terhadap suatu hal dalam berkomunikasi. Aspek-aspek konteks tersebut meliputi siapa, di mana, kapan terjadinya tutur, tujuan tutur, emosi, karakter, status sosial dan budaya, jarak sosial, usia, jenis kelamin, latar belakang pengetahuan penutur dan mitra tutur.

2.5 Bunyi Suprasegmental

  Bunyi-bunyi yang bisa disegmentakan disebut bunyi segmental, misalnya bunyi vokoid dan bunyi kontoid. Bunyi-bunyi yang tidak dapat disegmen-segmen karena kehadiran bunyi tersebut selalu diiringi, atau ditemani bunyi segmental (baik vokoid maupun kontoid) bunyi tersebut suprasegmental dikelompokkan menjadi empat jenis aspek yaitu (a) tinggi- rendah bunyi (nada), (b) keras-lemahnya bunyi (tekanan), (c) panjang- pendek bunyi (tempo), dan (d) kesenyapan (jeda) (Muslich:2008, 61—63).

2.5.1 Tinggi-Rendah (Nada, Tona, Pitch)

  Ketika bunyi-bunyi segmental diucapkan selalu melibatkan nada baik nada tinggi, sedang, atau rendah. Hal ini disebabkan adanya faktor ketegangan pita suara, arus suara, dan udara pita suara ketika bunyi itu diucapkan. Makin tegang pita suara yang disebabkan oleh kenaikan arus udara dari paru-paru makin tinggi pula bunyi tersebut. Nada menjadi perhatian fonetis karena secara linguistik berpengaruh dalam sistem linguistik tertentu. Misalnya nada turun biasanya menandakan kelengkapan tutur sedangkan nada naik menandakan ketidaklengkapan tuturan.

  Dalam penuturan bahasa Indonesia, tinggi-rendahnya suara tidak fungsional atau tidak membedakan makna. Ketika penutur mengucapkan [aku], [membaca], [buku] dengan nada tinggi, sedang, atau rendah maknanya sama saja. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembedaan makna nada dalam bahasa Indonesia tidak fonemis. Namun, ketidakfonemisan ini tidak berarti nada tidak ada dalam bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor ketegangan pita suara, arus udara, dan posisi pita suara saat bunyi itu diucapkan (Muslich, 2008:112).

2.5.2 Keras-Lemah (Tekanan, Aksen, Stress)

  Ketika bunyi-bunyi segmental diucapkan tidak lepas dari keras atau lemahnya bunyi. Hal ini disebabkan keterlibatan energi otot ketika bunyi itu diucapkan. Suatu bunyi dikatakan mendapatkan tekanan apabila energi otot yang dikeluarkan lebih besar ketika bunyi itu diucapkan. Sebaliknya suatu bunyi dikatakan tidak mendapatkan tekanan apabila energi otot yang dikeluarkan lebih kecil ketika bunyi itu diucapkan.

  Praktiknya, kerasnya bunyi juga berpengaruh pada ketinggian bunyi. Buktinya tekanan keras dengan nada rendah pun bisa diucapkan oleh penutur bahasa, Hal ini sangat tergantung pada fungsinya dalam komunikasi. Variasi tekanan dapat dibedakan menjadi empat yaitu (1) tekanan keras, (2) tekanan lemah, (3) tekanan lemah, dan (4) tidak ada tekanan. Penekanan makna dibedakan menjadi dua tataran yaitu tataran kata, tekanan yang bersifat silabis dan tataran kalimat, tekanan leksis.

  Tekanan dalam tuturan bahasa Indonesia berfungsi membedakan maksud dalam tataran kalimat (sintaksis) tetapi tidak berfungsi membedakan makna dalam tataran kata (leksis) (Muslich, 2008:113). Tidak semua kata dalam kalimat ditekanan sama, hanya kata-kata yang dianggap penting atau dupentingkan yang mendapatkan tekanan. Oleh karena itu, pendengar atau mitra tutur harus mengetahui maksud di balik makna tuturan yang didengarkannya.

2.5.3 Intonasi

  Pada tataran kalimat, variasi-variasi nada pembeda maksud disebut intonasi yang ditandai dengan intonasi datar turun yang biasa terdapat dalam kalimat berita, intonasi datar naik yang biasa terdapat dalam kalimat tanya, dan intonasi datar tinggi yang biasa terdapat dalam kalimat perintah. Pranowo (2009:76) menambahkan aspek penentu kesantunan lisan yaitu intonasi (keras lembutnya intonasi ketika seseorang berbicara), aspek nada bicara (berkaitan dengan suasana emosi penutur:nada resmi, nada bercanda atau bergurau, nada mengejek, nada menyindir).

  Aspek intonasi dalam bahasa lisan menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa. Penutur menyampaikan maksud kepada mitra tutur dengan intonasi keras padahal jaraknya dekat, hal demikian dianggap tidak santun. Aspek nada juga mempengaruhi kesantunan berbahasa seseorang. Nada naik adalah naik turunya ujaran yang menggambarkan suasan hati penutur ketika sedang bertutur. Jika suasana hati sedang senang, nada bicara penutur menaik dengan ceria sehingga terasa menyenangkan. Jika suasana hati sedang sedih, nada bicara penutur menurun dengan datar sehingga terasa menyedihkan. Jika suasana hati sedang marah, emosi, nada bicara penutur menaik dengan keras, kasar sehingga terasa menakutkan (Pranowo, 2009:76—77).

2.5.4 Rangkuman

  Bunyi-bunyi suprasegmental dapat menentukan penanda kesantunan berbahasa. Bunyi-bunyi suprasegmental yang digunakan adalah nada dan tekanan. Nada adalah tinggi-rendahnya bunyi yang ujarkan yang menggambarkan situasi atau emosi dari penutur. Tekanan adalah keras-lemahnya bunyi yang dujarkan, hal ini sangat tergantung pada fungsi dalam komunikasi. Selanjutnya, pada tataran kalimat yang membedakan maksud adalah intonasi. Intonasi adalah perpaduan nada dan tekanan ketika tuturan dituturkan. Intonasi yang ditandai dengan intonasi datar turun yang biasa terdapat dalam kalimat berita, intonasi datar naik yang biasa terdapat dalam kalimat tanya, dan intonasi datar tinggi yang biasa terdapat dalam kalimat perintah. Dengan demikian, nada, tekanan, dan intonasi dapat menentukan kesantunan berbahasa seseorang.

2.6 Pilihan Kata

  Bahasa manapun di dunia selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan dari waktu ke waktu. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh teknologi baru, tingkat kontak dengan bangsa-bangsa lain dunia, dan bermacam-macam faktor yang lain. Walaupun ada unsur-unsur baru yang selalu muncul dan ada unsur-unsur yang lenyap, selalu akan terdapat bagian dari kosa kata yang dikenal bersama dan dipakai oleh semua penutur bahasa. masyarakat namun ada beberapa unsur-unsur bahasa yang terbatas. Unsur semacam itu dikenal dengan berbagai macam nama yaitu bahasa slang,

  jargon, bahasa daerah atau unsur daerah, dan sebagainya.

  Kata-kata yang telah digolongkan oleh Keraf tersebut harus dipergunakan secara hati-hati agar tidak merusak suasana. Bila suatu situasi yang formal tiba-tiba menggunakan kata-kata yang bersifat kedaerahan, suasana yang formal akan terganggu (Keraf, 1985:103). Sebab itu ada beberapa hal yang perlu dipergunakan tidak akan mengganggu suasana dan tidak menimbulkan ketegangan antara penulis atau penutur dengan mitra tutur. Syarat-syarat tersebut sebagai berikut.

  (1) Hindarilah sejauh mungkin bahasa atau unsur substandar dalam suatu situasi yang formal (2) Gunakanlah kata-kata ilimiah dalam situasi khusus saja. Dalam situasi yang umum hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan kata- kata populer. (3) Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum. (4) Penulis atau pembicara sejauh mungkin menghindari pemakaian kata- kata slang.

  (5) Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan. (6) Hindarilah ungkapan-ungkapan usang (idiom yang mati) (7) Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artifisial.

  Selanjutnya, Pranowo menambahkan tentang kesantunan berbahasa

  (Pranowo, 2009:16). Pranowo menjelaskan bahwa kesanggupan memilih kata seseorang penutur dapat menjadi salah satu penentu santun-tidaknya bahasa yang digunakan. Pilihan kata yang dimaksud adalah ketepatan pemakaian kata untuk mengungkapkan makna dan maksud dalam konteks tertentu sehingga menimbulkan efek tertentu pada mitra tutur.

  Setiap kata selain memiliki makna tertentu juga memiliki daya (kekuatan) tertentu. Jika pilihan kata yang digunakan menimbulkan daya bahasa tertentu yang menjadikan mitra tutur tidak berkenan, penutur akan dipresepsi sebagai orang yang tidak santun. Sebaliknya, bila pilihan kata menimbulkan daya bahasa yang menjadikan mitra tutur berkenan, penutur akan dipresepsikan sebagai orang yang santun. Penjelasan pilihan kata yang digolongkan oleh Keraf sebagai berikut.

2.6.1 Bahasa Standar dan Nonstandar

  Kata-kata bukan saja menunjukkan barang-barang atau sikap orang tetapi merefleksikan juga tingkah laku sosial dari orang-orang yang mempergunakannya. Pemakaian bahasa dipengaruhi oleh latar belakang si penutur yang berpendidikan atau tidak. Misalnya pada waktu yang sama sebuah pertanyaan seperti “Tahukah Tuan di mana tempat tinggal Ahmad?”, ada kemungkinan kita mendapatkan jawaban sebagai berikut “Saya tidak tahu” atau “Saya tidak mengerti”. Kedua jawaban mungkin sama jelasnya namun perbedaan bentuk jawaban tersebut dipengetahui suatu penafsiran situasi. Bentuk pertama tersebut disebut bahasa standar (bahasa baku) serta bentuk kedua disebut bahasa nonstandar (bahasa nonbaku) (Keraf, 1985:104).

  Bahasa standar adalah dialek kelas dan dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki status sosial yang cukup dalam suatu masyarakat. Bahasa ini dipergunakan oleh orang yang terpelajar, misalnya pejabat pemerintahan, ahli-ahli bahasa, ahli-ahli hukum, dokter, guru, dan sebagainya. Bahasa nonstandar adalah bahasa dipergunakan oleh mereka yang tidak memperoleh kedudukan atau pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya, bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak dipakai dalam tulisan-tulisan. Kadang-kadang unsur nonstandar dipergunakan juga oleh kaum terpelajar dalam bersenda gurau, berhumor, atau untuk menyatakan sarkasme atau menyatakan ciri-ciri kedaerahan.

  Bahasa standar lebih ekspresif dari bahasa nonstandar. Pergunaan ungkapan-ungkapan atau unsur-unsur yang nonstandar akan mencerminkan bahwa latar sosial ekonomis si pemakai masih terbelakang atau masih rendah. Itu sebabnya, orang-orang yang terpelajar juga segan mempergunakan unsur-unsur tadi. Dengan demikian, pilihan kata seseorang harus sesuai dengan lapisan pemakaian bahasa. Dalam suatu suasana formal harus dipergunakan unsur-unsur bahasa standar dan pemakaian unsur-unsur nonstandar tidak boleh menyelinap masuk dalam tutur seseorang.

2.6.2 Kata Ilmiah dan Kata-kata Populer

  Tidak semua orang yang menduduki status sosial yang tinggi mempergunakan gaya yang sama dalam aktivitas bahasanya. Mereka akan mempergunakan beberapa macam variasi pilihan kata yang sesuai dengan kesempatan yang dihadapinya. Pilihan kata dalam hubungan dengan kesempatan yang dihadapi seseorang dapat dibagi atas beberapa macam kategoti sesuai dengan penggunaannya. Salah satu di antaranya adalah kata-kata ilmiah dan kata populer.

  Kata-kata populer adalah kata yang dipakai dalam komunikasi sehari-hari baik mereka yang berada di lapisan atas maupun antara mereka yang di lapisan bawah atau antara lapisan atas dan lapisan masyarakat maka kata-kata ini dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat.

  Kata-kata ilmiah dipakai dalam pertemuan-pertemuan resmi, diskusi- diskusi khusus. Dengan demikian perbedaan kata-kata ilmiah dan kata- kata populer membantu pengarang atau penutur memilih kata sesuai sasaran mitra tuturnya. Bila yang menjadi sasaran adalah suatu kelompok khusus yang diikat oleh suatu bidang ilmu tertentu maka harus mempergunakan kata-kata ilmiah tetapi bila yang menjadi sasarannya adalah masyarakat umum maka kata yang dipilih adalah kata-kata populer. Bila penulis atau penutur tidak memperhatikan hal ini akan menganggu suasana.

  2.6.3 Jargon

  Keraf (1985:107) menjelaskan bahwa kata jargon mengandung beberapa pengertian. Pertama-tama jargon mengandung makna suatu bahasa. Dialek, atau tutur yang dianggap kurang sopan atau aneh. Selain itu istilah tersebut juga mengacu semacam bahasa atau dialek

  hidrid yang timbul dari percampuran bahasa-bahasa dan sekaligus

  dianggap sebagai bahasa perhubungan atau lingua franca. Makna ketiga mempunyai ketumpangtindihan dengan bahasa ilmiah. Dalam hal ini, jargon diartikan sebagai kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang tertentu dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok tertentu lainnya.

  Oleh karena itu, jargon merupakan bahasa yang khusus sekali sehingga tidak banyak artinya pula dipakai untuk suatu sasaran yang umum. Sebab itu, hendaknya dihindari pemakaian unsur jargon dalam sebuah tulisan umum.

  2.6.4 Kata Percakapan

  Kata percakapan adalah kata-kata yang biasa dipakai dalam percakapan atau pergaulan orang-orang yang terdidik. Termasuk di dalam kategori ini adalah ungkapan-ungkapan umum dan kebiasaan menggunakan bentuk-bentuk gramatikal tertentu oleh kalangan ini.

  Selain mencakup kata-kata populer dan kontruksi idiomatis, bahasa umum (slang) yang biasa dipakau oleh golongan terpelajar saja. Suatu bentuk dari bahasa percakapan adalah singkatan-singkatan misalnya,

  dok, prof, kep masing-masing bentuk untuk dokter, profesor, dan kapten . Penulis dapat menggunakan kata-kata percakapan ini untuk

  melukiskan bahasa percakapan itu sendiri seperti dalam drama dan dialog-dialog naratif. Namun, bahasa umum ataupun dalam bahasa ilmiah unsur-unsur percakapan ini hendakya dihindari.

2.6.5 Kata Slang

  Kata-kata slang adalah semacam kata percakapan yang tinggi atau murni. Kata slang adalah kata-kata nonstandar yang informal yang disusun secara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer; atau kata-kata kiasan yang khas, bertenaga dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Kadangkala kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja atau kadangkala berupa pengrusakan sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain. Kata-kata slang dipergunakan oleh semua kalangan masyarakat. Setiap lapisan masyarakat dapat menciptakan istilah yang khusus atau mempergunakan kata-kata umum dan pengertian-pengertian yang khusus yang berlaku untuk kelompoknya.

  Kata-kata slang mengandung dua kekurangan yaitu pertama, hanya sedikit yang dapat hidup dan yang kedua pada umumnya kata- suatu waktu tumbuh secara populer namun kata-kata tersebut akan hilang dari pemakaian. Kata-kata slang misalnya rapi jali, mana tahan,

  eh ketemu lagi, dan sebagainya. Kesegarannya dan gaya gunanya hanya

  dirasakan pada saat pertama kali dipakai namun terlalu sering dipakai mengakibatkan kata-kata tersebut segera lusuh dan kehilangan tenaganya.

  2.6.6 Idiom

  Idiom merupakan pola-pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum, biasanya berbentuk frasa, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis atau secara gramatikal, dengan bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya. Untuk mengetahui makna sebuah idiom, setiap orang harus mempelajarinya sebagai seorang penutur asli, tidak mungkin hanya melalui makna dari kata-kata yang membentuknya. Idiom bersifat tradisional dan bukan bersifat logis, maka bentuk-bentuk idiom hanya bisa dipelajari dari pengalaman-pengalaman, bukan melalui peraturan-peraturan umum bahasa.

  2.6.7 Bahasa Artifisial

  Bahasa artifisial adalah bahasa yang disusun secara seni. Bahasa yang artifisial tidak terkandung dalam kata yang digunakan, tetapi pernyataan-pernyataan yang sederhana dapat diungkapkan dengan sederhana dan langsung tidak perlu disembunyikan.

  Selanjutnya, Chaer menambahkan pilihan kata yang biasa diungkapkan dalam bahasa lisan sebagai berikut.

  2.6.8 Kata Seru

  Kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan batin, misalnya kaget, terharu, marah, atau sedih disebut kata seru (Chaer, 2011:194) Dilihat strukturnya ada dua macam kata seru yaitu (1) Kata seru yang berupa kata-kata singkat, seperti wah, cih, hai, o,

  oh, nah, ha, hah

  (2) Kata seru yang berupa kata-kata biasa, seperti aduh, celaka, gila,

  kasihan, bangsat, ya ampun . Serta kata serapan astaga, masya Allah, allhamduliliah, dan sebagainya.

  Kata seru yang berupa kata-kata singkat dapat digunakan dengan fungsi untuk menyatakan berbagai perasaan batin tergantung dengan intonasinya.

  2.6.9 Kata Fatis

  Kata fatis adalah kata-kata dalam bahasa lisan (percakapan) dengan fungsi-fungsi ‘tertentu’. Kridalaksana menambahkan perihal kata fatis, ia menyebutkan kategori fatis yaitu kategori yang bertugas memulai, mempertahankan, atau mengkuhkan pembicaran antara pembicara dan kawan bicara (Kridalaksana, 1986:111). Sebagian pada umumnya merupakan nonstandar, maka kebanayakan kategori fatis terdapat dalam kalimat-kalimat nonstandar yang mengandung unsur-unsur daerah atau dialek regional (Kridalaksana, 1986:112). Misalnya kata sih, kan, ya, lho,seperti dalam kalimat (1) Dia sih enak gajinya besar (2) Suaminya kan pegawai kantor pajak

  Dalam ragam bahasa nonformal kita dapati juga kata fatis yang lain seperti dong, kek, koq, dan mah (Chaer, 2011:196).

2.6.10 Rangkuman

  Berdasarkan uraian di atas, pilihan kata dapat mempengaruhi kesantunan berbahasa sseorang. Kesanggupan memilih kata oleh penutur menjadi salah satu penentu santun tidaknya bahasa yang digunakan. Pilhan kata yang dimaksud ketepatan pemakaian kata untuk mengungkapan makna dan maksud dalam konteks tertentu. Pemilihan kata tersebut menjadi efek tertentu kepada mitra tutur, bila mitra tutur berkenan dapat dipresepsikan penutur sebagai orang santun dan sebaliknya.

  Penggolongan pilihan kata oleh Keraf digolongkan sebagai berikut bahasa standar, nonstandar, kata ilmiah, kata-kata populer, jargon, kata percakapan, kata slang, idiom, dan bahasa artifisial. Selanjutnya, Chaer menambahkan pilihan kata seru dan fatis.

2.7 Kerangka Berpikir

  Penelitian ketidaksantunan merupakan fenomena baru dalam penelitian bahasa. Dalam hal ini, fenomena baru tersebut menarik peneliti untuk mengkaji lebih dalam. Penelitian tersebut dikatakan sebagai fenomena baru karena banyak peneliti yang meneliti kesantunan berbahasa namun jarang peneliti yang membahas ketidaksantunan berbahasa. Hal tersebut mengakibatkan kelangkaan studi ketimpangan fakta studi ketidaksantunan dan kesantunan dan menyisyaratkan berjalan lambatnya studi pragmatik. Secara khusus, peneliti meneliti ketidaksantunan dalam ranah pendidikan di lembaga pendidikan yaitu Universitas Sanata Dharma dalam tuturan interaksi dosen dan mahasiswa di Prodi PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011 yang mengandung ketidaksantunan berbahasa.

  Penelitian ini adalah penelitian dengan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode pengumpulan data menggunakan metode simak dan metode cakap. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kontekstual. Hasil penelitian yang akan didapatkan adalah wujud, penanda, dan makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa di Prodi PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011.

  Secara skematis, kerangka berpikir ini dapat digambarkan sebagai berikut.

  Bagan 1 Kerangka Berpikir

  FENOMENA KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA ANTARA DOSEN DAN MAHASISWA DI PBSID, USD, ANGKATAN

  2009—2011 JENIS PENELITIAN DESKRIPTIF KUALITATIF

  METODE PENGUMPULAN DATA: METODE SIMAK DAN METODE CAKAP

  TEKNIK ANALISIS DATA: KONTEKSTUAL HASIL PENELITIAN WUJUD PENANDA MAKNA KETIDAKSANTUNAN KETIDAKSATUNAN KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN LINGUISTIK DAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK PRAGMATIK PRAGMATIK

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  3.1 Jenis Penelitian

  Penelitian ini adalah penelitian dengan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode kualitatif (pengertian yang lain) adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 2006:3). Penelitian ini bersifat deskriptif karena data yang diperoleh tidak dapat dituangkan dalam bentuk bilangan atau angka statistik, peneliti memaparkan gambaran mengenai situasi yang diteliti dalam bentuk uraian naratif. Moleong juga menambahkan bahwa penelitian kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll.

  3.2 Subjek Penelitian

  Berbagai macam cuplikan tuturan yang semuanya diambil secara natural dalam praktik-praktik perbincangan antara dosen dan mahasiswa PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011. Penulis memfokuskan indikator ketidaksantunan berbahasa ranah pendidikan di lingkungan universitas. Kesantunan berbahasa selayaknya tercipta di lingkungan kampus yaitu kesantunan berbahasa antara dosen dan mahasiswa. Kesantunan berbahasa dalam lingkungan pendidikan merupakan wujud pembentukan karakter bangsa. Subjek penelitian ini adalah dosen dan mahasiswa di jurusan pendidikan bahasa dan sastra, di mana jurusan tersebut lebih menekankan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian ini berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat ini. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah- masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung.

  Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut. Penelitian deskriptif ini menjadi dasar untuk menguraikan fenomena ketidaksantunan berbahasa karena penelitian akan mengurakan peristiwa tutur antara dosen dan mahasiswa PBSID, USD Yogyakarta.

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode simak dan metode cakap. Metode simak memiliki teknik dasar yang berwujud teknik sadap (Mahsun, 2007:92). Teknik sadap disebut sebagai teknik dasar dalam metode simak karena pada hakikatnya dalam upaya mendapatkan data dilakukan dengan menyadap penggunaan bahasa dosen dan mahasiswa. Selanjutnya, teknik sadap sebagai teknik dasar ini diikuti dengan teknik lanjutan yang berupa teknik simak libat cakap. Dalam teknik simak libat cakap, peneliti melakukan penyadapan dengan cara berpartisipasi sambil menyimak, berpartisipasi dalam pembicaraan, dan menyimak pembicaraan. Dalam hal ini, peneliti terlibat langsung dalam dialog (Mahsun, 2007:93). Selanjutnya teknik catat adalah teknik lanjutan yang dilakukan peneliti ketika menerapkan metode simak dengan teknik lanjutan di atas.

  Selain itu, peneliti juga menggunakan metode cakap. Metode cakap adalah cara penyediaan data berupa percakapan antara peneliti dengan informan (Mahsun, 2007:95). Metode cakap memiliki teknik dasar berupa teknik pancing karena percakapan yang diharapkan sebagai pelaksanaan metode tersebut hanya dimungkin muncul jika peneliti memberi stimulasi (pancingan) pada informan untuk menunculkan gelaja kebahasan yang diharapkan oleh peneliti. Selanjutnya teknik dasar tersebut dijabarkan dalam dua teknik lanjutan yaitu teknik lanjutan cakap semuka dan teknik cakap tansemuka.

  Teknik lanjutan cakap semuka adalah peneliti langsung melakukan percakapan dengan pengguna bahasa sebagai informan dengan bersumber dengan pancingan yang sudah dipersiapkan (daftar pertanyaan), atau secara spontanitas maksudnya pancingan dapat muncul di tengah-tengah langsung melakukan percakapan dengan pengguna bahasa, (melalui menyajikan situasi atau kasus). Data penelitian ini juga didapatkan dengan cara memberikan pancingan-pancingan tuturan, yang dimungkinkan dihadirkannya pertuturan yang menghasilkan bentuk-bentuk kebahasaan yang tidak santun.

  Kedua teknik tersebut dilengkapi dengan pencatatan atau perekaman, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara terbuka maupun tersembunyi, sehingga hasilnya dapat diperoleh data kebahasaan yang berupa tuturan-tuturan kebahasaan yang di dalamnya mengandung wujud ketidaksantunan itu. Teknik rekam dilakukan dengan menyiapkan alat rekam yang sudah siap pakai. Teknik catat dipilih untuk mengamati dan sekaligus mencatat hal-hal penting yang terjadi selama proses komunikasi berlangsung.

3.4 Instrumen Penelitian

  Instrumen yang digunakan dalam penelitian ketidaksantunan berbahasa ini ialah pedoman atau panduan wawancara (daftar pertanyaan), pancingan, dan daftar kasus, dengan bekal teori ketidaksantunan berbahasa. Teori-teori tersebut akan digunakan untuk menganalisis penggunaan bahasa antara dosen dengan mahasiswa. Data-data yang didapat akan dicatat untuk kemudian dianalisis lebih lanjut. Data akan dimasukkan ke dalam blangko yang telah dipersiapkan seperti di bawah No : Tuturan : Wujud ketidaksantuan : Penanda ketidaksantuan : Makna ketidaksantuan :

3.5 Metode dan Teknik Analisis Data

  Teknik analisis data dilakukan secara kontekstual yakni dengan memerantikan dimensi-dimensi konteks dalam menginterpretasi data yang telah berhasil diidentifikasi, diklasifikasi, dan ditipifikasikan. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan.

  Secara kontekstual, metode yang digunakan adalah metode padan. Metode padan itu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metode padan yang sifatnya intralingual dan metode pada yang sifatnya ekstralingual (cf. Mahsun, 2007 melalui Rahardi 2012: 36).

  Metode analisis data secara linguistik menggunakan metode pandan intralingual yaitu metode analisis dengan cara menghubung- bandingkan unsur-unsur yang bersifat intralingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa berbeda (Mahsun, 2007:118). Teknik yang digunakan adalah teknik dasar teknik hubung banding yang bersifat lingual.

  Metode analisis data secara pragmatik menggunakan metode padan ekstralingual yaitu metode analisis dengan cara menghubung-bandingkan unsur-unsur yang bersifat ekstralingual, seperti hal-hal yang menyangkut makna, informasi, konteks tuturan, dan lain-lain. Teknik yang digunakan adalah teknik dasar teknik hubung banding yang bersifat ekstralingual. Adapun langkah-langkah untuk menganalisis data dalam penelitian ini sebagai berikut.

  1. Peneliti mengumpulkan tuturan yang termasuk ke dalam ketidaksantunan berbahasa.

  2. Peneliti mentranskrip tuturan yang telah didapatkan.

  3. Peneliti memasukkan tuturan ke dalam tabulasi data yang berisi tuturan, penanda ketidaksantunan secara lingual dan nonlingual, persepsi ketidaksantunan, dan informasi indeksal.

  4. Peneliti membuat hipotesa parameter penanda ketidaksantunan.

  5. Peneliti mengklasifikasikan hasil tabulasi ke dalam masing-masing jenis ketidaksantunan.

  6. Peneliti melaporkan hasil tabulasi data dan hipetesa parameter kepada dosen pembimbing sebagai validasi data awal

  7. Peneliti menyusun parameter penanda ketidaksantunan.

  8. Peneliti melaporkan hasil penyusunan parameter penanda ketidaksantunan kepada dosen pembimbing berdasarkan teori ketidaksantunan yang sudah ada sebagai validasi data akhir.

  9. Peneliti menganalisis data yang telah didapatkan secara linguistik dan pragmatis.

  10. Peneliti menyimpulkan hasil analisis data dan pembahasan ke dalam teori penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa.

3.6 Sajian Analisis Data

  Sajian analisis data dalam penelitian kualitatif bersifat induksi kualitatif dan berkelanjutan. Tujuan akhir analisis data kualitatif adalah untuk memperoleh makna, mengahasilkan pengertian-pengertian, konsep- konsep, serta mengembangakan hipotesis atau teori baru. Analasis data kualitatif adalah proses mencari serta menyusun secara sistemastis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga mudah dipahami agar dapat diinformasikan kepada orang lain.

  Analisis data penelitian kualitatif dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sistematika, menyusun ke dalam pola, dan memilih data yang penting dan data dikaji dimulai sejak sebelum peneliti memasuki lapangan, dilanjutkan pada saat peneliti berada dil lapangan secara interaktif dan berlangsung terus-terus sehingga datanya jenuh. Kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru (Sahid, 2011)

3.7 Trianggulasi Hasil Analisis Data

  Menurut Lexy J. Moleong (2006:195), trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data. Dalam penelitian ini, peneliti membuat trianggulasi dengan tujuan untuk melakukan pengecekan terhadap validasi dan keterpercayaan hasil temuan.

  Tringgulasi dalam penelitian ini meliputi dua hal, yaitu trianggulasi teori dan trianggulasi logis. Melalui tringgulasi teori, peneliti membandingkan beberapa teori ketidaksantunan berbahasa tentang penanda ketidaksantunan berbahasa, wujud ketidaksantunan berbahasa, dan makna ketidaksantunan berbahasa. Peneliti juga melakukan trianggulasi logis yaitu dengan melakukan bimbingan bersama dosen pembimbing, yakni Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. sebagai pembimbing I dan Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum. sebagai pembimbing II.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data

  Data yang analisis berupa tuturan yang diambil dari tuturan lisan ketidaksantunan berbahasa antara dosen dan mahasiswa PBSID, USD, angkatan 2009—2011, dengan jangka waktu bulan November sampai dengan Desember 2012. Jumlah tuturan yang dihasilkan adalah 62 tuturan. Tuturan- tuturan yang didapatkan berupa jenis ketidaksantunan yang melecehkan muka mitra tutur, memain-mainkan muka mitra tutur, kesembronoan yang disengaja, menghilangkan muka mitra tutur, dan mengancam muka secara sepihak. Data-data tersebut dapat dilihat pada halaman lampiran skripsi. Di bawah ini disajikan data-data yang akan dianalisis dan dibahas pada penelitian ini.

  1. Melecehkan Muka Tuturan-tuturan di bawah ini merupakan tuturan yang termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan yang melecehkan muka mitra tuturnya.

  Berdasarkan penelitian yang telah peneliti lakukan, ditemukan 23 tuturan yang melecehkan muka mitra tuturnya. Tuturan-tuturan tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

  

Tabel 2

Data Tuturan yang Melecehkan Muka

NO TUTURAN KODE

  1 Kamu tu gimana? Malah corat-coret. A1

  2 Lho, kenapa tidak menJawab? Belum kamu Jawab? A2

  3 Cukup ya. Waktunya sudah habis. Wah, kesuwen. A3

  4 Bajumu iki pie? Kamu tu selalu nggak pernah siap A4 ikut kuliah.

  5 Wis tak tinggal turu wae. A5

  6 Wong kok kakehan polah A6

  7 Kok nulis di situ? Kamu tahu nggak? Kamu tu A7 gimana sih?

  8 Trus kamu tu ke sini ngapain? Cuman datang trus A8 duduk, tidak dapat apa-apa.

  9 Mengapa hasil kuismu jelek lagi sih? A9

  10 Le gawe iki sing bener, aja ngawur! A10

  11 Semester tua gawe paragraf wae ora isoh! A11

  12 Ning aja golek sekolah cerak omah. Cerak omah ning A12 kebon wae!

  13 Hari ini nilai kamu bagus ya, ya baru kali ini. A13

  14 Kamu takut? Yo wis tutupi raine wae. A14

  15 Kowe ki gawe skripsi, mung sak-sak e wae! A15

  16 Seminar itu definisinya formal. Ih ... pake kaos! A16

  17 Gimana anggarannya? Kamu tahu nggak jumlahnya A17 berapa?

  18 Waktunya dah habis je. A18

  19 Tapi ini belum tentu saya trima lho. A19

  20 Ih, Bapak sok sibuk banget! A20

  21 Aduh, ini nggak jelas banget. Tugasnya suruh apa A21 sih, Pak?

  22 Ih, Ibu pelit banget! A22

  23 Pak, kuliah e kosong terus, lagi sibuk apa sih? A23

  2. Memain-main Muka Tuturan-tuturan di bawah ini merupakan tuturan yang termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan memain-mainkan muka mitra tuturnya.

  Berdasarkan penelitian yang telah peneliti lakukan, ditemukan 7 tuturan yang memain-mainkan muka mitra tuturnya. Tuturan-tuturan tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

  Tabel 3 Data Tuturan yang Memain-mainkan Muka NO TUTURAN KODE

  1 Kamu senyum-senyum terus, senang ya dapat 1? C1

  7 Sekali, pak! C7

  C6

  6 Dosen: Ini warna pa?Hitam apa? Mahasiswa 1: Hitam manis, Pak! Mahasiswa 2: Hitam susu, Pak! Asyik.. hehehe...

  5 Pake thok, Pak? Hehehe .. C5

  4 Ser ... ser apa? C4

  3 O ... tak kira mau ngasih minum. C3

  2 Bagaimana ini, kalau tidak ada yang bertanya, ya sudah pulang saja. ? C2

  Tabel 4 Data Tuturan Kesembronoan yang Disengaja NO TUTURAN KODE

  1 5 menit lagi! B1

  3. Kesembronoan yang Disengaja Tuturan-tuturan di bawah ini merupakan tuturan yang termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan kesembronoan yang disengaja terhadap mitra tutur. Berdasarkan penelitian yang telah peneliti lakukan, ditemukan 10 tuturan kesembronoan yang disengaja. Tuturan-tuturan tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

  7 Kampret! B7

  6 Pak, ini nggak adil! B6

  5 Ih.. sombong, nyebahi B5

  4 Jelehi banget! B4

  3 Pak, apa ini tugasnya dah masuk nilai apa nggak? B3

  2 Soalnya 50? Ya, ampun, Pak! B2

  8 Ah ... gak bisa, Pak.. C8

  10 Lha, duwene je? C10

  4. Menghilangkan Muka Tuturan-tuturan di bawah ini merupakan tuturan yang termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan menghilangkan muka mitra tuturnya.

  Berdasarkan penelitian yang telah peneliti lakukan, ditemukan 12 tuturan yang menghilangkan muka mitra tuturnya. Tuturan-tuturan tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

  

Tabel 5

Data Tuturan yang Menghilangkan Muka

NO TUTURAN KODE

  1 Kalau kamu nggak suka pelajaran ini, keluar saja! D1 Saya tidak rugi mencoret satu mahasiswa.

  2 Kalau dikasih tahu itu jangan cemberut. Saya cuman D2 mengatakan ko 400.000 kok dikit. Gitu ja kok cemberut.

  3 Lho, ini bapak belajar dulu? Wah, gara-gara Seno D3 ngeyel.

  4 Kamu nggak usah iri. Kalau bajumu jelek. D4

  5 Arisannya dah kelar? D5

  6 Kalau kamu nggak bisa lihat jelas. Cepat maju sini. D6 Nggak tahu diri.

  7 Sudah dikumpulkan saja. Malu-maluin! D7

  8 Alusio? Alusio mbahmu? Kamu salah. D8

  9 Alokasi waktu 40 menit? SMA mana tuh? D9

  10 Kurang besar tulisane, pak! Bapak lali ra gawa D10 mikroskop.

  11 Bu, ngomong pelan-pelan aja bisa kan? D11

  12 Lha, durung donk, semprul ki. D12

  5. Mengancam Muka Sepihak Tuturan-tuturan di bawah ini merupakan tuturan yang termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan mengancam muka mitra tuturnya. tuturan yang mengancam muka sepihak mitra tuturnya.Tuturan-tuturan tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

  

Tabel 6

Data Tuturan yang Mengancam Muka Sepihak

NO TUTURAN KODE

  1 Kamu itu bodoh tidak konsultasi dengan saya dulu. E1 Kok langsung observasi!

  2 Eh, diulang! Ngomong cepet banget! E2

  3 Eme, kamu itu ejaannya parah. Mengerti tidak? E3

  4 Kamu mau ikut kuis nggak? Ayo cepet. E4

  5 Kupinge yo genep, kok yo ra ngrongoke. Duduk di E5 depan!

  6 Kog kamu pake kaos? Tak copot lho kaosmu! E6

  7 Nilaimu rendah sekali. Mau ngulang tahun depan? E7

  8 Kelompok lain belum maju, ibu juga belum E8 menjelaskan, ntar kelamaan, udah langsung saja.

  9 Bu, aku kan dah pernah minta maaf, mbok jangan E9 dibahas lagi.

  10 Emang bapak bisa ngebuktiin kalau aku salah ? E10

4.2 Hasil Analisis Data

  Hasil penelitian dapat disajikan dengan urutan sebagai berikut: (a) wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, (b) penanda ketidaksantunan, dan (c) makna ketidaksantunan. Pembahasan lebih lanjut mengenai ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara dosen dan mahasiswa sebagai berikut.

4.2.1 Melecehkan muka

  Menurut Miriam A. Locher (2008:3) ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut, ‘…behaviour that is face-

  aggravating in a particular context.’ Inti dari pandangan Locher tersebut

  ‘melecehkan’ muka (face-aggravate). Dalam pandangannya, sebuah tuturan akan dikatakan tidak santun kalau tuturan tersebut melecehkan muka mitra tuturnya dan membuat luka hati mitra tutur. Tuturan-tuturan yang melecehkan muka akan dianalisis sebagai berikut.

  Cuplikan Tuturan 1

  Penutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 20 tahun, angkatan 2010. Dosen A : “Sekarang ringkas materi dari bahan itu di buku catatan!” Mahasiswa B : (diam saja sambil membaca bahan materi) Dosen A : (mengamati mahasiswa B yang tidak mencatat di buku

  catatan)

  Mahasiswa B : (mencorat-coret bahan materi sambil mengajak berbicara

  dengan teman di sebelahnya)

  Dosen A : “Kamu tu gimana, malah corat-coret.” (A1) (Konteks tuturan: Tuturan ini dituturkan pada saat penutur meminta mitra

  tutur untuk menuliskan ringkasan di catatan. Mitra tutur hanya mencorat- coret. Selain itu, mitra tutur berkali-kali mengajak bicara teman di sebelahnya ) Cuplikan Tuturan 2

  Penutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 21 tahun, angkatan 2010. Dosen A : “Kalian menjawab soal yang ada di papan tulis. Bahan materi yang sudah saya berikan dapat membantu kalian menjawab pertanyaan.”

  (beberapa saat mahasiswa mengerjakan soal di papan tulis)

  Dosen A : “Sudah. Kita bahas bersama saja. Ya, kamu nomor 1.” (menujuk salah satu mahasiswa)

  Mahasiswa B : (tidak menjawab) Dosen A : Lho, kenapa tidak menjawab, belum kamu jawab?

  (A2) (Konteks tuturan: Tuturan disampaikan ketika penutur sedang memberikan

  pertanyaan kepada mitra tutur. Penutur memberikan waktu kepada mitra tutur untuk berpikir. Namun, mitra tutur tidak menJawab pertanyaan penutur. )

  Cuplikan Tuturan 3

  Penutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 20 tahun, angkatan 2010. Dosen A : “Soal yang ketiga. Dengarkan baik-baik! Apa perbedaan mendasar antara operasional kongret dan operasional formal?”

  (mahasiswa mulai mengerjakan soal tersebut)

  Dosen A : “Cukup ya. Waktunya sudah habis. Wah, kesuwen.” (A3)

  Mahasiswa : “Wah ... .” (Konteks tuturan: Tuturan disampaikan pada saat dosen sedang mengadakan

  kuis di kelas. Penutur memberikan waktu yang cukup untuk mengerjakan kuis tersebut. Namun, para mahasiswa tidak bisa memanfaatkan waktu yang diberikan malah sibuk tanya teman di sebelahnya. Waktu yang diberikan tidak cukup untuk menyelesaikan kuis) Cuplikan Tuturan 4

  Penutur : dosen laki-laki, usia 55 tahun Mitra tutur : mahasiswa, usia 20 tahun, angkatan 2010. Mahasiswa A : “Selamat siang, Pak!” Dosen B : “Selamat siang. Mas, tunggu bentar!” Mahasiswa A : “Iya, Pak? Ada apa?” Dosen B : “Bajumu ki pie? Kamu tu selalu nggak pernah siap

  ikut kuliah.” (A4)

  Mahasiswa A : (hanya tersenyum) (Konteks tuturan: Tuturan ini terjadi pada saat perkuliahan selesai. Penutur

  bertemu mitra tutur di depan kelas, penutur melihat pakaian yang dikenakan mitra tutur yaitu mengenakan kaos dan memakai sandal. Penutur tidak hanya melihat satu kali beberapa kali penutur melihat mitra tutur mengenakan pakaian yang tidak sopan di lingkungan kampus.) Cuplikan Tuturan 5

  Penutur : dosen laki-laki, usia 55 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 21 tahun, angkatan 2010 Dosen A : “Silahkan bertanya tentang materi sebelumnya?”

  (tidak ada yang bertanya)

  Dosen A : “Tidak ada? Sudah bisa semua? Kalau begitu saya ingin bertanya, Apa yang dimaksud klausa menurut Ramlan? Petra Gading?” (menujuk salah satu mahasiswa)

  Mahasiswa B : “Tidak tahu, Pak” Dosen A : “Trus kamu tu ke sini ngapain? Cuman datang trus ,

  tidak dapat apa-apa.” (A8)

  (Konteks tuturan: Tuturan tersebut disampaikan ketika penutur menayakan

  pemahaman mahasiswa tentang materi sebelumnya. Semua mahasiswa tidak tahu, bahkan ada yang menJawab tidak tahu. Penutur merasa perkuliahan ini tidak ada manfaatnya. Penutur merasa mahasiswa tidak menghargai perkuliahan penutur. ) Cuplikan Tuturan 6

  Penutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 21 tahun, angkatan 2010 Dosen A : “Sebelah kanan nilai di atas 7, sebelah kiri nilai di bawah

  7. Nilai yang di bawah 7 lebih banyak daripada nilai di atas

  7. Kok bisa ya?” Mahasiswa : (hanya tersenyum) Dosen A : “Mengapa hasil kuismu jelek lagi sih? (A9) Soalnya sama dengan minggu lalu kan, hanya dibolak-balik saja.” (Konteks tuturan: Tuturan tersebut dituturkan pada saat penutur

  membacakan semua nilai mahasiswa. Sebagian besar nilai mahasiswa buruk padahal soal yang diberikan sama dengan minggu lalu. Penutur beranggapan mitra tutur malas belajar. Penutur beranggapan meniadakan perkuliahan bila nilai tetap buruk.)

4.2.1.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang telah ditranskrip antara dosen dan mahasiswa yang berupa tuturan yang melecehkan muka mitra tuturnya. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan A1: “Kamu tu gimana, malah corat-coret.” Tuturan A2: “Lho, kenapa tidak menjawab, belum kamu jawab?” Tuturan A3: “Cukup ya. Waktunya sudah habis. Wah, kesuwen.”

  Tuturan A8: “Trus kamu tu ke sini ngapain? Cuman datang trus duduk, tidak

  dapat apa-apa.”

  Tuturan A9: “Mengapa hasil kuismu jelek lagi sih?”

4.2.1.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan dapat dilihat dari konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Adapun konteks-konteks dalam tuturan yang melecehkan muka sebagai berikut.

  Tuturan A1: Tuturan tersebut pada saat penutur meminta mitra tutur

  menuliskan catatan di buku catatan. Penutur melihat mitra tutur menuliskan catatan di bahan teori, bahkan mencorat-coret di bahan teori, tindakan mitra tutur membuat penutur kesal.

  Tuturan A2: Tuturan tersebut pada saat penutur sedang menanyakan

  pertanyaaan kepada mitra tuturnya. Penutur memberikan waktu kepada mitra tutur untuk berpikir namun mitra tutur hanya diam saja. Sikap mitra tutur membuat kesal penutur. Mitra tutur tidak serius mengikuti perkuliahan yang diampu oleh penutur. Tuturan disampaikan secara langsung, sengaja, dan terus terang.

  Tuturan A3: Tuturan terjadi saat kuis di kelas. Penutur sudah memberikan

  cukup waktu kepada mahasiswa untuk mengerjakan soal kuis sebaik-baiknya karena kuis ini akan membantu nilai akhir waktu mengerjakan soal kuis secara mandiri. Sebagian besar para mahasiswa mencontek teman yang lain padahal penutur mengawasi di depan kelas.

  Tuturan A4: Tuturan terjadi pada saat perkuliahan sudah berakhir. Penutur

  melihat pakaian yang dikenakan mitra tutur yaang memakai kaos dan sandal. Penutur tidak hanya melihat mitra tutur berpakaian seperti itu satu kali, penutur sudah melihatnya beberapa kali saat mitra tutur mengikuti perkuliahan.

  Tuturan A8: Perkuliahan yang diampu adalah perkuliahan terakhir di akhir

  semester. Penutur mempersilahkan mitra tutur untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun, mitra tutur tidak ada yang menjawab. Mitra tutur menjawab sekenanya dengan jawab tidak tahu. Nada jawaban mitra tutur sangat santai. Penutur kecewa dengan sikap mitra tutur yang acuh terhadap pertanyaan penutur

  Tuturan A9: Hasil nilai mahasiswa banyak di bawah 7. Hasil

  pengelompokkan tersebut menunjukkan sebagian mahasiswa tidak memahami materi yang diajarkan penutur. Soal yang diberikan sama dengan soal yang diberikan seminggu lalu namun hasilnya tetap sama saja.

4.2.1.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik

  Penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan pilihan kata. Adapun penanda-penanda ketidaksantunan linguistik yang melecehkan muka sebagai berikut.

  Tuturan A1: nada sedang, tekanan sedang pada kata gimana dan malah corat-coret , intonasi berita, dan pilihan kata yang digunakan

  adalah nonstandar yang berupa kata tidak baku tu, malah, dan gimana.

  Tuturan A2: nada sedang, tekanan sedang pada kata jawab, intonasi tanya,

  dan pilihan kata yang digunakan adalah nonstandar yang berupa kata fatis lho dan kata tidak baku kenapa.

  Tuturan A3: nada sedang, tekanan sedang pada penggalan kalimat wah kesuwen , intonasi berita, pilihan kata yang digunakan adalah

  nonstandar yang berupa kata fatis ya dan penggunaan bahasa Jawa wah, kesuwen.

  Tuturan A4: nada sedang, tekanan sedang pada penggalan kalimat nggak pernah siap , intonasi tanya dan berita, pilihan kata yang

  digunakan adalah nonstandar yang berupa kata tidak baku tu, nggak dan penggunaan bahasa Jawa ki pie.

  Tuturan A8: nada sedang, tekanan sedang pada penggalan kalimat tidak dapat apa-apa, intonasi tanya dan berita, pilihan kata yang

  digunakan adalah nonstandar yang berupa kata tidak baku trus,

  Tuturan A9: nada sedang, tekanan sedang pada penggalan kalimat jelek sih,

  pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata fatis sih.

4.2.1.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

  Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks dan informasi indeksal yang terdiri dari tindak verbal dan tindak perlokusi.

  Adapun penanda-penanda ketidaksantunan pragmatik yang melecehkan muka sebagai berikut.

  Tuturan A1: Tuturan tersebut dituturkan pada saat perkuliahan sedang di

  kelas. Tuturan tersebut terjadi pada tanggal 20 November 2013, pukul 10.50 WIB. Tuturan tersebut menghasilkan tindak verbal berupa tindak direktif yaitu menyuruh menuliskan ringkasan di buku catatan dan tindak perlokusinya adalah mitra tutur menuliskan ringkasan materi di catatannya.

  Tuturan A2: Tuturan tersebut dituturkan di kelas saat perkuliahan sedang

  berlangsung. Tuturan tersebut dituturkan pada tanggal 20 November 2012, pukul 10.50 WIB. Tindak verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tindak direktif yaitu pernyataan menyuruh atau meminta menjawab pertanyaan. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur menjawab pertanyaan penutur.

  Tuturan A3: Tuturan tersebut dituturkan pada saat perkuliahan di kelas.

  Tuturan tersebut terjadi pada tanggal 20 November 2012, pukul 12.00 WIB. Tuturan tersebut menghasilkan tindak verbal yaitu tindak ekspresif dan direktif. Tindak tutur ekspresif berupa pernyataan mengeluh karena mitra tutur mengerjakan terlalu lama sedangkan tindak tutur direktif berupa pernyataan menghentikan mengerjakan kuis tersebut.

  Tindak perlokusinya adalah mitra tutur segera mengerjakan dan mengumpulkan tugas.

  Tuturan A4: Tuturan tersebut dituturkan di depan ruang kelas. Tuturan

  tersebut terjadi pada tanggal 28 November 2012. Tindak tindak tutur asertif berupa pernyataan bahwa mitra tutur memakai pakaian yang tidak sopan selama perkuliahan berlangsung sedangkan tindak tutur direktif berupa pernyataan menyuruh mengganti pakaian yang lebih sopan. Tindak perlokusinya adalah mitra tutur segera menghargai perkuliahan dengan memakai pakaian yang lebih sopan tidak memakai kaos.

  Tuturan A8: Tuturan tersebut dituturkan pada saat perkuliahan di kelas.

  Tuturan tersebut terjadi pada tanggal 28 November 2012. Tuturan tersebut menghasilkan tindak verbal yaitu tindak direktif. Tindak tutur ekspresif berupa pernyataan mengeluh memperhatikan perkuliahan. Tindak perlokusinya adalah mitra tutur segera memberikan pertanyaan dan menjawab lebih sopan dan serius.

  Tuturan A9: Tuturan tersebut dituturkan pada saat perkuliahan di kelas.

  Tuturan tersebut terjadi pada tanggal 29 November 2012. Tuturan tersebut menghasilkan tindak verbal yaitu tindak direktif. Tindak tutur direktif berupa pernyataan bahwa penutur meminta mitra tutur belajar lebih giat lagi. Tindak perlokusinya adalah mitra tutur belajar lebih baik lagi dan mendapat nilai yang bagus.

4.2.1.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Melecehkan Muka

  Makna yang melingkupi tuturan tersebut juga mempengaruhi santun tidaknya tuturan tersebut. Makna dari tuturan-tuturan ketidaksantunan berbahasa yang melecehkan muka sebagai berikut.

  Tuturan A1: Sindiran kepada mitra tutur yang mencorat-coret, penutur merasa mitra tutur tidak mengikuti perkulihan dengan serius.

  Tuturan A2: Sindiran dari penutur kepada mitra tutur yang tidak bisa menjawab pertanyaan penutur.

  Tuturan A3: Sindiran dari penutur kepada mitra tutur yang tidak bisa menghargai waktu malah mencontek.

  Tuturan A4: Hinaan dari penutur yang merasa bahwa mitra tutur tidak bisa

  berpakaian layak di lingkungan kampus serta tidak perrnah siap mengikuti perkuliahan.

  Tuturan A8: Hinaan dari penutur ke mitra tutur bahwa mitra tutur tidak

  serius mengikuti perkuliahan dan selama perkuliahan tidak mendapatkan apa-apa.

  Tuturan A9: Hinaan penutur kepada mitra tutur yang mendapatkan nilai

  jelek padahal soalnya sama seperti minggu lalu. Penutur menganggap mitra tutur tidak serius mengikuti perkuliahan

  4.2.2 Memain-mainkan muka Interpretasi lain yang berkaitan dengan definisi Miriam A. Locher

  (2008:3) tentang ketidaksantunan berbahasa ini adalah bahwa tindakan tersebut sesungguhnya bukanlah sekadar perilaku ‘melecehkan muka’, melainkan perilaku yang ‘memain-mainkan muka’. Tindakan bertutur sapa akan dikatakan sebagai tindakan yang tidak santun bilamana muka (face) dari mitra tutur dipermainkan, atau setidaknya dia telah merasa bahwa penutur memain-mainkan muka mitra tuturnya dan membuat mitra tutur merasa jengkel. Tuturan-tuturan yang memain-mainkan muka akan dianalisis sebagai berikut.

  Cuplikan Tuturan 1

  Penutur : mahasiswa, usia 21 tahun, angkatan 2010 Mitra tutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun.

  Mahasiswa C : “Soalnya berapa, Pak?” Dosen A : “50 soal.” Mahasiswa B : “Soalnya 50? Ya, ampun, Pak.” (B2) (Konteks tuturan: Tuturan disampaikan ketika berada di dalam kelas.

  Siang itu mitra tutur akan mengadakan kuis. Siang itu mitra tutur memberikan kuis sebanyak 50 butir soal. Para mahasiswa juga sangat jenuh dengan Namun, para mahasiswa biasa mendapatkan soal sebanyak 50 butir.) Cuplikan Tuturan 2

  Penutur : mahasiswa, usia 22 tahun, angkatan 2009 Mitra tutur : dosen laki-laki, usia 55 tahun. Dosen A : “Hari ini saya tidak bisa mengajar karena saya akan keluar kota. Tugas ini dapat dikerjakan di rumah.”

  Mahasiswa B : “Pak, apa ini tugasnya dah masuk nilai apa

  nggak?” (B3)

  Dosen : (diam saja) (Konteks tuturan: Tuturan ini disampaikan di dalam kelas, saat mitra tutur

  memberikan tugas kepada penutur. Penutur menayakan kejelasan tugas tersebut apakah pemberian tugas ini sudah masuk ke dalam penilaian. Mitra tutur sering lupa memberikan nilai atas tugas yang ia berikan kepada mahasiswanya. ) Cuplikan Tuturan 3

  Penutur : mahasiswi, usia 21 tahun, angkatan 2010 Mitra tutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Mahasiswa A : “Pak, saya ingin tanya.” Dosen B : (mengacuhkan) Mahasiswa A : “Bapak, saya tidak jelas materi itu. Pak, saya mau tanya.” Dosen B : (mengacuhkan) Mahasiswa A : (muka kesal) “Jelehi banget.” (B4) (Konteks tuturan: Tuturan ini terjadi pada saat mitra tutur menjelaskan

  suatu materi kepada mahasiswa. Penutur tidak jelas maksud materi yang dijelaskan. Penutur bertanya kepada mitra tutur. Namun, mitra tutur berkali-kali mengacuhkannya. Sikap mitra tutur membuat penutur jengkel dan marah.)

  Cuplikan Tuturan 4

  Penutur : mahasiswi, usia 21 tahun, angkatan 2010 Mitra tutur : dosen perempuan, usia 36 tahun. Mahasiswa A :”Bu, saya mau konsultasi skripsi.” Dosen B :”Wah, saya sedang sibuk. Sudah ditinggal dulu.

  Seminggu lagi diambil.” Mahasiswa : “Ih.. sombong, nyebahi!” (B5) (Konteks tuturan: Tuturan ini dituturkan pada saat di ruang dosen.

  Penutur ingin konsultasi skripsi dengan mitra tutur. Mitra tutur adalah dosen pembimbing skripsi penutur. Mitra tutur tidak ingin menerima konsultasi saat ini karena ia sedang sibuk padahal hari itu adalah jadwal bimbingan. Penutur keluar ruangan dengan sikap ketus.) Cuplikan Tuturan 5

  Penutur : mahasiswi, usia 21 tahun, angkatan 2010 Mitra tutur : dosen laki-laki, usia 45 tahun Mahasiswa A :”Pak, saya ingin menayakan kegiatan mahasiswa yang akan dilaksanakan oleh prodi. Apa Bapak tidak sibuk?”

  Dosen B :”Tunggu sebentar ya. Mari mbak silahkan masuk.”

  (mempersilahkan mahasiswa lain masuk)

  Mahasiswa B : “Pak, saya sudah nunggu lama, Pak. Pak, ini

  nggak adil!” (B6)

  (Konteks tuturan: Tuturan tersebut dituturkan pada saat penutur ingin

  menayakan kegiatan mahasiswa di prodi tersebut. Penutur sudah menunggu lama mitra tutur di depan ruang dosen. Mitra tutur justru mendahulukan mahasiswa yang akan konsultasi skripsi daripada penutur yang ingin menayakan kegiatan mahasiswa. )

4.2.2.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang telah ditranskrip antara dosen dan mahasiswa yang berupa tuturan yang memain- mainkan -muka mitra tuturnya. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan B3: “Pak, apa ini tugasnya dah masuk nilai apa nggak?” Tuturan B4: “Jelehi banget.” Tuturan B5: “Ih.. sombong, nyebahi!” Tuturan B6: “Pak, ini nggak adil!”

4.2.2.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan dapat dilihat dari konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Adapun konteks-konteks dalam tuturan yang memain-mainkan muka sebagai berikut.

  

Tuturan B2: Mitra sudah biasa mengadakan kuis diakhir pekuliahan. Namun,

  soal 50 buah itu terlalu banyak bagi para mahasiswa. Selain itu, waktu yang diberikan juga tidak banyak dan para mahasiswa merasa jenuh setiap akhir perkuliahan yang diampu oleh mitra tutur selalu mengadakan kuis.

  

Tuturan B3: Mitra tutur memberikan tugas kepada para mahasiswanya.

  Penutur sangsi dengan tugas yang diberikan mitra tutur. Mitra tutur biasa memberikan tugas namun tidak pernah dibahas atau dijelaskan lebih rinci. Penutur merasa rugi bila tugas itu tidak dinilai karena ia sudah mengerjakan dengan baik. Penutur meminta kejelaskan tugas yang diberikan kepada mitra tutur.

  

Tuturan B4: Konteks tuturan tersebut pada saat mitra tutur menjelaskan suatu

  materi yang cukup sulit. Penutur tidak mengerti maksud materi tersebut dan ia bermaksud menayakan kepada mitra tutur tetapi mitra tutur tidak memperdulikan pertanyaan penutur.

  

Tuturan B5: Konteks tersebut pada saat penutur akan berkonsultasi skripsi

  dengan mitra tutur. Mitra tutur menolak tidak menerima bimbingan skripsi saat ini karena ia sedang sibuk. Padahal, hari ini ada jadwal bimbingan skripsi. Mitra tutur menolak dengan muka ketus. Penutur sangat kesal dengan perlakukan mitra tutur kepadanya. Penutur keluar ruangan mitra tutur sambil mengerutu.

  

Tuturan B6: Penutur sudah menunggu lama di depan ruang dosen mitra tutur.

  Mitra tutur akan memberikan bimbingan kepada mahasiswa. Padahal, penutur sudah datang lebih awal daripada mahasiswa tersebut. Penutur merasa jengkel dan sikap mitra tutur sangat tidak adil.

4.2.2.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik

  Penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan pilihan kata. Adapun penanda-penanda ketidaksantunan linguistik yang memain-mainkan muka sebagai berikut.

  

Tuturan B2: nada sedang, tekanan sedang pada kata 50 dan ya, ampun,

  intonasi tanya dan berita, pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata seru ya, ampun.

  

Tuturan B3: nada sedang, tekanan lemah pada penggalan kalimat dah masuk,

  intonasi tanya, pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata tidak baku dah dan nggak.

  

Tuturan B4: nada sedang, tekanan sedang pada kata jelehi, intonasi berita,

  pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa penggunaan bahasa Jawa jelehi banget.

  

Tuturan B5: nada sedang, tekanan sedang pada kata sombong dan nyebahi,

  intonasi berita, pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa penggunaan bahasa Jawa nyebahi.

  

Tuturan B6: nada sedang, tekanan sedang pada kata adil, intonasi turun,

  pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata tidak baku nggak.

4.2.2.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

  Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks dan informasi indeksal yang terdiri dari tindak verbal dan tindak perlokusi.

  Adapun penanda-penanda ketidaksantunan pragmatik yang memain-mainkan muka sebagai berikut.

  

Tuturan B2: Tuturan dituturkan pada saat penutur akan memberikan kuis

  mitra tutur di kelas. Tuturan tersebut terjadi pada tanggal 20 November 2012, pukul 12.30 WIB. Tindak verbal yang dihasilkan adalah tindak tutur ekspresif berupa pernyataan yang dihasilkan adalah mitra tutur mengurangi jumlah soal yang diberikan.

  

Tuturan B3: Tuturan dituturkan pada saat perkuliahan di kelas. Tuturan

  tersebut terjadi pada tanggal 11 Desember 2012, pukul 11.20 WIB. Tindak tutur verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tindak tutur asertif yaitu berupa pertanyaan penilaian tugas yang diberikan dari mitra tutur. Tindak perlokusinya adalah mitra tutur memberikan penjelasan penilaian tugas dari mitra tutur.

  

Tuturan B4: Tuturan (B4) dituturkan pada saat perkuliahan di kelas. Tuturan

  tersebut terjadi pada tanggal 11 Desember 2012, pukul 11.20 WIB. Tindak tutur verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tindak tutur asertif yaitu berupa pernyataan kekesalan kepada mitra tutur. Tindak perlokusinya adalah mitra tutur mempersilahkan penutur untuk menayakan materi yang belum jelas.

  

Tuturan B5: Tuturan tersebut dituturkan di kelas, pada tanggal 11 Desember

  2012, pukul 15.00 WIB. Tuturan tersebut menghasilkan tindak verbal yaitu tindak tutur asertif yaitu pernyataan berupa kekesalan penutur akan tindakan mitra tutur yang acuh kepada penutur. Tuturan tersebut juga menghasilkan tindak perlokusi yaitu mitra tutur menanggapi penutur dan mempersilahkan

  

Tuturan B6: Tuturan tersebut dituturkan di kelas, pada tanggal 11 Desember

  2012, pukul 15.30 WIB. Ttindak verbal yaitu tindak tutur asertif yaitu pernyataan berupa kekesalan penutur akan tindakan mitra tutur yang acuh kepada penutur. Tuturan tersebut juga menghasilkan tindak perlokusi yaitu mitra tutur menanggapi penutur dan mempersilahkan penutur untuk konsultasi kepada mitra tutur.

4.2.2.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Memain-mainkan Muka

  Makna yang melingkupi tuturan tersebut juga mempengaruhi santun tidaknya tuturan tersebut. Makna dari tuturan-tuturan ketidaksantunan berbahasa yang memain-mainkan muka sebagai berikut.

  

Tuturan B2: Membuat kesal dan bingung mitra tutur yang memberikan jumlah

soal kuis yang terlalu banyak.

  

Tuturan B3: Membuat kesal dan bingung mitra tutur yang memberikan tugas

kepada penutur bahwa tugas tersebut dinilai atau tidak.

  

Tuturan B4: Membuat kesal dan bingung mitra tutur yang tidak biasanya

melihat penutur marah karena ketidakpedulian mitra tutur.

  

Tuturan B5: Membuat kesal dan bingung mitra tutur yang tidak biasanya

melihat penutur marah karena ketidakpedulian mitra tutur.

  

Tuturan B6: Membuat kesal dan bingung mitra tutur yang tidak biasanya

melihat penutur kecewa karena ketidakpedulian mitra tutur.

  4.2.3 Kesembronoan yang Disengaja Sementara itu menurut pandangan Bousfield (dalam buku Miriam

  A. Locher, 2008:3) ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami sebagai, ‘The issuing of intentionally gratuitous and conflictive face-threatening

  acts (FTAs) that are purposefully perfomed.’ Bousfield memberikan

  penekanan pada dimensi ‘kesembronoan’ (gratuitous), dan konfliktif

  (conflictive) dalam praktik berbahasa yang tidak santun itu. Jadi perilaku

  berbahasa seseorang yang mengancam muka dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan sembrono itu menimbulkan konflik bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas ketidaksantunan berbahasa.

  Cuplikan Tuturan 1

  Penutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 21 tahun, angkatan 2010 Dosen A : “Siapa yang belum dipanggil? Nilainya sudah masuk semua. Mengapa nilai kalian rendah semua?

  (menunjuk salah satu mahasiswa duduk paling depan) Kamu senyum-senyum terus, senang ya

  dapat nilai 1?” (C1)

  Mahasiswa B : (hanya tersenyum kecut) (Konteks tuturan: Tuturan disampaikan saat dosen membacakan nilai

  hasil kuis. Sebagian besar mahasiswa mendapat nilai yang rendah. Salah satu mahasiswa mendapat nilai 1. Ia hanya tersenyum-senyum sendiri mendapat nilai 1. Penutur seakan-akan mengejek mitra tutur yang mendapat nilai 1. Penutur beranggapan mitra tutut tidak belajar dan malas mengerjakan tugas dari penutur.)

  Cuplikan Tuturan 2

  Penutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 21 tahun, angkatan 2009. Mahasiswa A : “Pak... .” Dosen B : “Ada apa?” Mahasiswa A : “Pak, saya mau konsultasi judul skripsi. Bisa, Pak?” Dosen B : “Oooo... tak kira mau ngasih minum.” (C3) Mahasiswa A : “Hehe... tidak, Pak.” (Konteks tuturan: Tuturan ini terjadi pada saat pergantian perkuliahan.

  Penutur berjalan ke ruangnya untuk mengambil minum. Penutur bertemu mitra tutur di depan ruang dosen. Mitra tutur ingin konsultasi judul skripsi dengan penutur. Penutur mengira mitra akan memberikan minum karena saat itu penutur sangat haus. ) Cuplikan Tuturan 3

  Penutur : mahasiswi, usia 22 tahun, angkatan 2009 Mitra tutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Dosen A : “Langsung jawabannya saja.” Mahasiswa B : “Jawabannya aja, Pak?” Dosen A : “Iya. Jawabannya thok.” Mahasiswa B : “Pake thok, Pak?? Hehehe... .” (C5) (Konteks tuturan: Tuturan ini dituturkan pada saat penutur merasa kurang

  jelas atas soal yang diucapkan mitra tutur sehingga penutur melontarkan kata thok untuk memperjelas maksud mitra tutur. Saat itu sedang dilaksanakan kuis dadakan di kelas. Mitra tutur membacakan soal yang ada di layar proyektor ).

  Cuplikan Tuturan 4

  Penutur : mahasiswi, usia 22 tahun, angkatan 2009 Mitra tutur : dosen laki-laki, usia 27 tahun. Dosen A : “Ini warna pa? Hitam apa?” Mahasiswa B : “Hitam manis, Pak!” Mahasiswa C : “Hitam susu, Pak! Asyik.. hehehe.... “(C6) (Konteks tuturan: Tuturan dituturkan pada saat mitra tutur bertanya

  kepada penutur saat perkuliahan sedang berlangsung di kelas. Mitra tutur bertanya dengan sikap yang serius. Penutur menJawab dengan sembrono, Jawaban tidak sesuai dengan maksud yang ada pada warna gambar di

  Cuplikan Tuturan 5

  Penutur : mahasiswi, usia 21 tahun angkatan 2010 Mitra tutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun. Dosen A : “Kita masih masuk sekali atau dua kali? Mahasiswa B : “Sekali, Pak!” (C7) (Konteks tuturan: Tuturan tersebut terjadi pada saat perkuliahan akan

  berakhir. Mitra tutur bertanya berapa kali lagi kita pertemuan perkuliahan akan berlangsung. Penutur merasa perkuliahan ini membosankan maka penutur menjawab sekenanya.) Cuplikan Tuturan 6

  Penutur : mahasiswa berumur 21 tahun, angakatan 2010 Mitra tutur : dosen laki-laki, usia 55 tahun. Dosen A : “Eh, bajumu itu?” Mahasiswa B : “Kenapa, Bu?” Dosen A : “Bagus, tapi tidak pantas dipakai di kampus.” Mahasiswa B : “Lho... sekarang kan lagi ngetrend, Bu.” (C9) (Konteks tuturan: Tuturan terjadi pada saat perkuliahan sudah berakhir.

  Mitra tutur melihat pakaian yang dikenakan penutur. Menurut penutur, pakaian yang dikenakan bagus tetapi tidak pantas bila dikenakan di kampus. Pakaian penutur terlalu norak dikenakan di lingkungan kampus sehingga mitra tutur menegurnya. Penutur bersikap acuh. )

4.2.3.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang telah ditranskrip antara dosen dan mahasiswa yang berupa tuturan kesembronoan yang disengaja. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan C1: Kamu senyum-senyum terus, senang ya dapat 1?” Tuturan C3: “O ... tak kira mau ngasih minum.” Tuturan C5: “Pake thok, Pak? Hehehe ... .” Tuturan C6 : “Hitam susu, Pak! Asyik.. hehehe... .”

  Tuturan C9 : “Lho... sekarang kan lagi ngetrend, Bu.”

4.2.3.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan dapat dilihat dari konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Adapun konteks-konteks dalam tuturan kesembronoan yang disengaja sebagai berikut.

  

Tuturan C1: Konteks tuturan tersebut pada saat penutur membacakan hasil

  nilai kuis para mahasiswa. Sebagaian besar mahasiswa mendapat nilai yang buruk, salah satunya adalah mahasiswa yang mendapat nilai 1. Mahasiswa yang mendapat nilai 1 hanya tersenyum-senyum saja.

  

Tuturan C3 : Konteks tuturan tersebut terjadi pada saat pergantian jam

  perkuliahan. Penutur ingin istirahat dan mengambil minum di ruangnya. Mitra tutur ingin konsultasi judul skripsi dengan penutur. Penutur mengira mitra tutur akan mengambilkan minum untuk penutur. Penutur menyuruh mitra tutur untuk menunggu sebentar, konsultasi akan dilakukan setelah penutur mengambil minum.

  

Tuturan C5 : Konteks tuturan tersebut terjadi pad saat mitra tutur akan

  memberikan kuis dadakan. Mitra tutur menjelaskan bahwa yang ditulis hanya Jawabannya saja. Mitra tutur menggunakan thok yang terinferensi ke dalam bahasa Jawa yang artinya saja.

  Penutur mencoba menggoda mitra tutur bahwa jawabannya harus ditulis kata thok.

  

Tuturan C6: Konteks tuturan tersebut terjadi pada saat perkuliahan sedang

  berlangsung. Mitra tutur bertanya warna yang ada pada gambar di power point. Mitra tutur bertanya dengan sikap serius.

  Namun, penutur menJawab dengan jawaban sekenanya. Bahkan, penutur tertawa setelah menuturkan maksudnya. Mitra tutur hanya diam saja.

  

Tuturan C7: Konteks tersebut terjadi dalam situasi kelas yang sedikit gaduh

  karena perkuliahan akan berakhir. Mitra tutur bertanya kepada mahasiswa berapa kali kita akan bertemu lagi. Penutur serta merta mengatakan sekali, Pak! dengan lantangnya. Penutur merasa perkuliahan ini sangat membosankan karena mitra tutur memberikan kuis berturut-turut.

  

Tuturan C9: Mitra tutur melihat pakaian yang dikenakan penutur. Mitra tutur

  menegur pakaian yang dikenakan penutur karena pakaiannya tidak pantas dikenakan di lingkungan kampus. Namun, penutur merasa nyaman dengan pakaian yang ia dikenakan bahkan menurut penutur pakaiannya sedang trend saat.

4.2.3.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik

  Penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan pilihan kata. Adapun penanda-penanda ketidaksantunan linguistik kesembronoan yang disengaja sebagai berikut.

  

Tuturan C1 : nada sedang, tekanan sedang pada kata satu, intonasi tanya,

pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata fatis ya.

  

Tuturan C3 : nada rendah, tekanan lemah pada kata minum, intonasi berita,

  pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata fatis o dan kata tidak baku tak dan ngasih.

  

Tuturan C5 : nada sedang, tekanan sedang pada kata thok, intonasi tanya,

  pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata tidak baku pake.

  

Tuturan C6 : nada rendah, tekanan lemah pada kata susu, intonasi berita,

pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata fatis he.

  

Tuturan C7 : nada sedang, tekanan sedang pada kata sekali, intonasi berita,

  pilihan kata yang digunakan adalah standar yang berupa kata baku sekali, pak.

  

Tuturan C9 : nada sedang, tekanan sedang pada kata ngetrend, intonasi berita,

  pilihan kata yang digunakan adalah nonstandar yang berupa kata fatis lho.

4.2.1.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

  Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks dan informasi indeksal yang terdiri dari tindak verbal dan tindak perlokusi. Adapun penanda-penanda ketidaksantunan pragmatik kesembronoan yang disengaja sebagai berikut.

  

Tuturan C1: Tuturan dituturkan di kelas saat penutur selesai membacakan nilai

  para mahasiswa. Tuturan tersebut terjadi pada tanggal 29 November 2012, pukul 13.45 WIB. Tindak verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tindak tutur ekspresif yaitu berupa pernyataan menyindir nilai yang diporeleh mitra tutur. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur malu mendapat nilai satu dan belajar lebih baik lagi.

  

Tuturan C3 : Tuturan dituturkan saat pergantian perkuliahan di depan ruang

  dosen. Tuturan tersebut dituturkan pada tanggal 19 November 2012, pukul 10.30 WIB. Tindak verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tindak tutur direktif yang berupa pernyataan memngambilkan minum untuk penutur. Tindak perlokusi yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah mitra tutur memberikan minum kepada penutur.

  

Tuturan C5 : Tuturan tersebut dituturkan di dalam kelas, pada tanggal 20

  November 2012. Tindak tutur verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tindak tutur ekspresif yaitu berupapernyataan candaan kepada mitra tutur. Tindak perlokusinya adalah mitra tutur memberikan penjelasan yang jelas dan tepat.

  

Tuturan C6 : Tuturan terjadi di dalam kelas pada tanggal 5 November 2012,

  pada pukul 14.00 WIB. Tiindak verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tindak ekspresif sedangkan tindak perlokusinya adalah mitra tutur merasa terhibur dengan candaan penutur.

  

Tuturan C7 : Tuturan tersebut terjadi di kelas saat perkuliahan akan berakhir.

  Tuturan tersebut terjadi pada tanggal 20 November 2012, pukul

  12.40 WIB. Tindak verbal hasil tuturan tersebut adalah ekspresif sedangkan tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur merasa terhibur atas candaan penutur serta mitra tutur memberikan perkuliahan sekali saja.

  

Tuturan C9 : Tuturan tersebut terjadi depan kelas pada tanggal 11 Desember

  2012, pukul 14.00 WIB. Tindak verbal yang dihasilkan oleh tuturan tersebut adalah ekspresif yang memberikan pujian sedangkan tindak perlokusinya adalah mitra tutur terhibur dengan tuturan yang disampaikan penutur.

4.2.1.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa Kesembronoan yang Disengaja

  Makna yang melingkupi tuturan tersebut juga mempengaruhi santun tidaknya tuturan tersebut. Makna dari tuturan CI, C2, C3, C5, C6, C7, dan C9 disengaja adalah candaan kepada mitra tutur . Tuturan-tuturan tersebut dapat menimbulkan konflik, bila tuturan tersebut ditanggapi secara berlebihan.

4.2.4 Menghilangkan muka

  Pemahaman Culpeper (dalam Miriam, 2008:3) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah, ‘Impoliteness, as I would define it, involves communicative

  

behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the

target to be so.’ Dia memberikan penekanan pada fakta ‘face loss’ atau

‘kehilangan muka’ —kalau dalam bahasa Jawa mungkin konsep itu dekat

  dengan konsep ‘kelangan rai’ (kehilangan muka). Menjatuhkan orang lain secara langsung.

  Jadi ketidaksantunan (impoliteness) dalam berbahasa itu merupakan perilaku komunikatif yang diperantikan secara intensional untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka (face loss), atau setidaknya orang tersebut

  

‘merasa’ kehilangan muka. Pernyataan tersebut dapat diartikan pula,

  ketidaksantunan berbahasa itu berusaha menjatuhkan orang lain dengan mengungkapkan kesalahan secara langsung kepada lawan bicara.

  Cuplikan Tuturan 1

  Penutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Mitra tutur : mahasiswa, usia 21 tahun, angkatan 2009 Dosen A :(dosen menjelaskan sambil mendekati salah satu

  mahasiswa yang sedang memperhatikan di layar laptop )

  Mahasiswa B : (mengacuhkan kehadiran dosen di sampingnya) Dosen A :(mulai kesal dengan sikap mitra tutur) “Kalau kamu

  nggak suka pelajaran ini, keluar saja! Saya tidak rugi

  mencoret satu mahasiswa.” (D1)

  (Konteks tuturan: Tuturan ini dituturkan pada saat perkuliahan sedang

berlangsung. Penutur sedang menjelaskan suatu materi kepada mahasiswa.

  

Mitra tutur tidak memperhatikan penjelasan penutur karena mitra tutur sedang

sibuk mengomentari fitur-fitur di laptop. Tindakan mitra tutur sangat

mengganggu penutur yang tidak memperhatikan.) Cuplikan Tuturan 2

  Penutur : dosen perempuan, usia 46 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 21 tahun, angkatan 2009. Dosen A : “Kalian sudah membuat proposal PKM? Sudah diserahkan ke WR?” Mahasiswa : “Sudah, Bu.” Dosen A :”Dana dalam anggaran yang kalian bua itu harus lebih dari

  Rp.10.000.000,00. Namun, Bu lihat masih ada proposal yang dananya dibawah Rp.10.000.000,00. Bahkan dibawah satu juta rupiah. Itu segera diperbaiki. Ya?”

  Mahasiswa : “Iya, Bu.” Dosen A :”Kalau dikasih tahu itu jangan cemberut. Saya cuman

  mengatakan kok, 400.000 kok dikit. Gitu ja kok cemberut.” (D2) (sambil memperhatikan mitra tutur yang mengalami kesalahan pembuatan proposal)

  (Konteks tuturan: Penutur juga memberikan saran kepada mahasiswa bila

  

mahasiswa dinasihati oleh dosen mahasiswa tidak marah atau cemberut. Mitra

tutur yang dinasihati ole penutur bahwa jangan cemberut dan jangan marah.)

Cuplikan Tuturan 3

  Penutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Mitra tutur : mahasiswa, usia 20 tahun, angkatan 2010 Mahasiswa A : “Pak, tak pinjami materi saya ja po?” Dosen : “Ini soalnya mudah.” Mahasiswa B : “Ah, gak mau, Pak!” Mahasiswa C : “Ya, sudah semua makalah kasih Bapak semua aja.” Dosen : “Lho, ini bapak belajar dulu? Wah, gara-gara Seno

  ngeyel.” (D3)

  (Konteks tuturan: Tuturan ini terjadi pada saat dosen memberikan kuis kepada

  

mahasiswa di kelas. Mitra tutur tidak bersedia mengerjakan kuis dari materi

yang penutur berikan. Mitra tutur ingin materi yang dikuiskan adalah materi

bahan presentasi dari mitra tutur. Penutur diminta mempelajari handout dari

mitra tutur. Penutur mengikuti kehendak mitra tutur. )

  Cuplikan Tuturan 5

  Penutur : dosen perempuan, usia 36 tahun Mitra tutur : mahasiswa, usia 20 tahun, angkatan 2010 Dosen A : “Perkuliahan akan segera dimulai. Jangan ribut sendiri!” mahasiswa masih banyak yang ribut) Dosen A : “Yang paling belakang para lelaki sudah siap belajar?

  Arisannya dah kelar?” (D5)

  (Konteks tuturan: Tuturan ini disampaikan saat penutur akan memulai

perkuliahan. Mahasiswa ribut dan kondisi kelas tidak kondusif untuk belajar.

  

Mitra tutur duduk paling belakang sedang berbicara dengan teman laki-

lakinya. Perkuliahan sudah dimulai namun mitra tutur tetap saja berbicara

dengan temannya. ) Cuplikan Tuturan 6

  Penutur : seorang dosen laki-laki, usia 50 tahun Mitra tutur : mahasiswa, usia 20 tahun, angkatan 2010 Mahasiswa A : “Pak, nggak kelihatan.” Dosen B : ”Yang mana?” Mahasiswa A : “Pak, tulisannya nggak jelas.” Dosen B : “Kalau kamu nggak bisa lihat jelas. Cepat maju sini!

  Nggak tahu diri.” (D6)

  (Konteks tuturan: Tuturan tersebut terjadi pada saat penutur akan memberikan

  

soal kuis. Mitra tutur duduk di paling belakang. Mitra tutur tiak jelas tulisan di

layar power point. Mitra tutur tidak pindah tempat justru melihat pekerjaan

temannya. ) Cuplikan Tuturan 7

  Penutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Mitra tutur : mahasiswa, usia 21 tahun, angkatan 2010 Dosen A : “Semua lembar Jawaban dikumpulkan.” Mahasiswa B : “Belum, Pak.” (sambil mencari Jawaban) Dosen A : “Sudah dikumpulkan saja. Malu-maluin!” (D7)

  (Konteks tuturan: Tuturan tersebut terjadi pada saat penutur meminta lembar

  

Jawaban paramahasiswa harus dikumpulkan. Penutur melihat mitra tutur

belum selesai dan mitra tutur mencontek pekerjaan temanya. Mitra tutur

membiarkan penutur mengetahui mitra tutur mencontek. Penutur meminta

semua pekerjaan dikumpulkan. )

  4.2.4.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang telah ditranskrip antara dosen dan mahasiswa yang berupa tuturan yang menghilangkan muka mitra tuturnya. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  Tuturan D1: “Kalau kamu nggak suka pelajaran ini, keluar saja!”

Tuturan D2: “Kalau dikasih tahu itu jangan cemberut. Saya cuman

  mengatakan kok, 400.000 kok dikit. Gitu ja kok cemberut.”

  Tuturan D3: “Lho, ini bapak belajar dulu? Wah, gara-gara Seno ngeyel.” Tuturan D5: “Arisannya dah kelar?” Tuturan D6: “Nggak tahu diri.” Tuturan D7: “Sudah dikumpulkan saja. Malu-maluin!”

  4.2.4.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan dapat dilihat dari konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Adapun konteks-konteks dalam menghilangkan muka mitra tuturnya sebagai berikut.

  

Tuturan D1: Penutur mencoba mendekati mitra tutur yang acuh tetapi cara itu

  tidak berhasil, akhirnya penutur mengucapkan tuturan itu kepada mitra tutur di depan semua mahasiswa di kelas. Semua mahasiswa mendengarkan tuturan yang disampaikan kepada mitra tutur. Penutur menyuruh mitra tutur keluar kelas bila tidak bersedia mengikuti perkuliahan penutur. Penutur tidak rugi bila mitra tutur keluar kelas sekarang juga.

  

Tuturan D2 : Konteks tuturan tersebut pada saat penutur memberikan nasihat

  kepada para mahasiswa bahwa mahasiswa tidak boleh marah atau bertampak cemberut bila dinasihati oleh dosen. Perkataan penutur didengar oleh semua mahasiswa yang mengikuti perkuliahan penutur. Sebagian besar mahasiswa tertawa mendengar perkataan penutur.

  

Tuturan D3 : Konteks tuturan tersebut pada saat penutur akan memulai kuis

  di dalam kelas. Penutur sudah menyiapkan soal kuis sesuai dengan materi yang penutur jelaskan minggu kemarin. Namun, salah satu mitra tutur keberatan mengerjakan soal. Akhirnya, penutur membuat soal dari materi yang diberikan mitra tutur.

  

Tuturan D5 : Penutur sudah mengingatkan kesiapan mahasiswa mengikuti

  perkuliahan. Penutur masih melihat beberapa mahasiswa yang ribut sendiri terutama di barisan paling belakang. Barisan paling belakang ditempati para mahasisiwa. Penutur menegur mereka yang ribut padahal perkuliahan sudah dimulai.

  

Tuturan D6 : Soal kuis ditampilkan di layar proyektor. Salah satu mitra tutur

  protes dengan tulisan yang ada di power point. Tulisan tersebut terlalu kecil dan tidak jelas.

  

Tuturan D7 : Penutur menyuruh para mahasiswa untuk mengumpulkan belum selesai bahkan sebagian besar mitra tutur mencontek pekerjaan temannya.. Penutur menyuruh dengan tegas, jawaban harus dikumpulkan.

4.2.4.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik

  Penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan pilihan kata. Adapun penanda-penanda ketidaksantunan linguistik yang menghilangkan muka mitra tuturnya sebagai berikut.

  

Tuturan D1: nada tinggi, tekanan keras pada kata keluar, intonasi perintah,

  pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata tidak baku nggak.

  

Tuturan D2: nada sedang, tekanan sedang pada kalimat gitu aja kok cemberut,

  intonasi berita, pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata tidak baku dikasih, gitu, cuman, dan dikit, kata fatis

  kok.

  

Tuturan D3: nada sedang, tekanan sedang pada kata ngeyel, intonasi berita,

  pilihan kata yang digunakan berupa nonstandar yang berupa kata fatis lho, kata seru wah, dan kata penggunnaan bahasa Jawa

  ngeyel.

  

Tuturan D5: nada sedang, tekanan keras pada kalimat kelar, intonasi tanya,

  pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa penggunaan bahasa Jawa kelar dan kata tidak baku dah.

  

Tuturan D6: nada tinggi, tekanan keras pada pemenggalan kalimat tahu diri,

  intonasi berita, pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata tidak baku nggak.

  

Tuturan D7: nada sedang, tekanan keras pada kata dikumpulkan dan malu-

maluin , intonasi berita, pilihan kata yang digunakan nonstandar berupa kata tidak baku malu-maluin.

4.2.4.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

  Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks dan informasi indeksal yang terdiri dari tindak verbal dan tindak perlokusi.

  Adapun penanda-penanda ketidaksantunan pragmatik yang menghilangkan muka mitra tuturnya sebagai berikut.

  

Tuturan D1: Tuturan terjadi pada tanggal 17 Oktober 2012, pukul 16.30 WIB.

  Tindak verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tidak tutur direktif berupa pernyataan menyuruh mitra tutur keluar kelas. Tindak perlokusi yang dihasilkan adalah mitra tutur keluar kelas.

  

Tuturan D2: Tuturan terjadi pada tanggal 24 Oktober 2012, pukul 16.50 WIB.

  Tindak verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tidak tutur direktif berupa pernyataan meminta tidak cemberut bila dinasihati oleh penutur. Tindak perlokusi yang dihasilkan adalah mitra tutur tersenyum dan menerima nasihat penutur sebagai

  

Tuturan D3: Tuturan terjadi pada tanggal 20 November 2012 di ruang kelas.

  Tuturan tersebut dapat menghasilkan tindak verbal yaitu tindak tutur direktif berupa pernyataan meminta membaca bahan materi. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur harus meminta maaf atas perkataannya.

  

Tuturan D5: Tuturan terjadi pada tanggal 20 November 2012, pukul 13.10

  WIB. Tindak verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tidak tutur direktif berupa pernyataan untuk menghentikan keributan di kelas. Tindak perlokusi yang dihasilkan adalah mitra tutur berhenti ribut dan fokus pada perkuliahan siang itu .

  

Tuturan D6: Tuturan dituturkan di ruang kelas saat perkuliahan pada tanggal

  29 November 2012. Tindak verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tindak direktif sedangkan tindak perlokusi yang dihasilkan adalah perintah untuk pindah tempat duduk agar dapat melihat tulisan di power point dengan jelas.

  

Tuturan D7: Tuturan tersebut dituturkan di kelas pada tanggal 29 November

  2012. Tindak verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tindak direktif yaitu pernyataan perintah mengumpulkan tugas sedangkan tindak perlokusi yang dihasilkan adalah mitra tutur segera mengumpulkan pekerjaan dari hasil kerja sendiri.

4.2.4.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Menghilangkan Muka

  Makna yang melingkupi tuturan tersebut juga mempengaruhi santun tidaknya tuturan tersebut. Makna dari tuturan-tuturan ketidaksantunan berbahasa yang menghilangkan muka mitra tuturnya sebagai berikut.

  

Tuturan D1: Mempermalukan mitra tutur di depan mahasiswa atas sikapnya

yang tidak serius untuk keluar kelas.

  

Tuturan D2: Mempermalukan mitra tutur yang tidak mengerti anggaran

  penelitian di depan semua mahasiswa

  

Tuturan D3: Mempermalukan mitra tutur atas sikapnya yang tidak mau diatur

  oleh penutur

  

Tuturan D5: Mempermalukan mitra tutur yang ribut saat perkuliahan akan

  dimulai

  

Tuturan D6: Mempermalukan mitra tutur yang harus pindah tempat duduk

karena tidak bisa melihat tulisan dengan jelas.

  

Tuturan D7: Mempermalukan mitra tutur yang tidak segera mengumpulkan

jawaban malah moncontek.

  4.2.5 Mengancam muka Terkourafi (dalm buku Miriam A. Locher, 2008:3) memandang ketidaksantunan sebagai, ‘impoliteness occurs when the expression used is not

  

conventionalized relative to the context of occurrence; it threatens the

addressee’s face but no face-threatening intention is attributed to the speaker tidak santun bilamana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka (face threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya. Mitra tutur merasa ‘kehilangan muka’ dalam bahasa Jawa kelangan rai bila penutur tidak mengetahui maksud mitra tutur.

  Cuplikan Tuturan 1

  Penutur : dosen perempuan, usia 46 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 21 tahun Mahasiswa A : “Bu, saya ingin konsultasi skripsi saya. Apakah Ibu ada waktu?” Dosen B : “Lho, ini apa?” Mahasiswa A : “Hasil observasi saya ibu.” Dosen B :”Kamu itu bodoh tidak konsultasi dengan saya dulu.

  Kok langsung observasi!” (E1)

  (Konteks tuturan: Suasana saat mitra tutur mengkonsultasikan hasil observasi

  

kepada penutur. Saat itu, penutur baru saja menghadiri rapat prodi dan

mempunyai banyak pekerjaab di kantornya. Penutur menegur mitra tutur yang

melakukan observasi tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku di prodi

tersebut dan tanpa izin penutur. Mitra tutur meminta maaf kepada penutur

namun penutur terlanjur kecewa dengan sikap mitra tutur.) Cuplikan Tuturan 2

  Penutur : perempuan, usia 36 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 22 tahun, angkatan 2009 Dosen A : “Teorinya sudah cukup. (sambil melihat skripsi milik

  mitra tutur ). Eme, kamu itu ejaannya parah. Mengerti tidak?” (E3)

  Mahasiswa : (hanya tersenyum)

  

( Konteks tuturan: Tuturan ini disampaikan pada saat mitra tutur konsultasi

scrip proposal penelitian. Penutur mengoreksi proposal yang diajukan mitra

tutur. Penutur menemukan banyak kesalahan ejaan dalam penulisan di

proposal.)

  Cuplikan Tuturan 3

  Penutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 20 tahun angkatan 2010 Dosen A : “Sekarang kita kuis lagi. Siapkan kertas dan alat tulis.

  (melihat mahasiswa baru datang) Kamu mau ikut kuis

  nggak? Ayo cepet!” (E4)

  Mahasiswa : “Iya, Pak.” (Konteks tuturan: Tuturan ini terjadi pada saat dosen akan memberikan kuis

  

kepada mahasiswa. Mitra tutur berjalan santai menuju tempat duduk. Penutur

melihat ketidaksiapan dan keseriusan mitra tutur mengikuti kuis) Cuplikan Tuturan 4

  Penutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 21, angkatan 2010 Mahasiswa A : “Apa, Pak? Soalnya apa, Pak?” Dosen B : Kupinge yo genep, kok yo ra ngrongoke. Duduk di

  depan!” (E5)”

  Mahasiswa A : “Iya, Pak.” (Konteks tuturan: Tuturan pada saat penutur memberikan ujian kepada

  

mahasiswa. Pertanyaan dibacakan oleh penutur. Salah satu mitra tutur

menayakan ulang pertanyaan yang dibacakan oleh penutur. Penutur sudah

membacakan secara perlahan dan jelas. Penutur merasa mitra tutur tidak

memperhatikan penutur. Tempat duduk mitra tutur di bangku paling belakang.

Penutur merasa mitra tutur tidak tahu diri.) Cuplikan Tuturan 5

  Penutur : dosen perempuan, usia 36 tahun Mitra tutur : mahasiswi, usia 21 tahun, angkatan 2010 Dosen A : “Eh, kamu?” (menujuk salah satu mahasiswa) Mahasiswa B : “Saya, Pak?” Dosen A : “Iya. Kog kamu pake kaos? Tak copot lho kaosmu!”

  (E6) Mahasiswa B : “Hehe... .” (Konteks tuturan: Tuturan tersebut dituturkan pada saat penutur sedang

  

mengajar di kelas. Penutur melihat salah satu mitra tutur memakai kaos saat

perkuliahan sedang berlangsung. Penutur menegur pakaian yang dikenakan

mitra tutur. Mitra tutur hanya tersenyum saja. Penutur beranggapan bahwa

mitra tutur tidak serius mengikuti perkuliahan yang diampu penutur.)

  Cuplikan Tuturan 6

  Penutur : dosen laki-laki, usia 50 tahun, Mitra tutur : mahasiswa, usia 22 tahun, angkatan 2009 Dosen A : “Nilainya sudah masuk semua?” Mahasiswa : “Sudah, Pak.” Dosen A : “Ignatius, Nilaimu rendah sekali. Mau ngulang tahun

  depan?” (E7)

  (Konteks tuturan: Tuturan tersebut dituturkan pada saat penutur sedang

  

membacakan nilai para mahasiswa. Penutur menemukan nilai salah satu

mahasiswa yang mengalami perunurunan setiap kali kuis diadakan. Penutur

beranggapan mitra tutur tidak serius mengikuti perkuliahan yang diampu

penutur dan beranggapan mitra tutur ingin mengulang mata kuliah tersebut

tahun depan)

4.2.5.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang telah ditranskrip antara dosen dan mahasiswa yang berupa tuturan yang mengancam muka sepihak mitra tuturnya. Wujud ketidaksantunan linguistik tersebut sebagai berikut.

  

Tuturan E1: “Kamu itu bodoh tidak konsultasi dengan saya dulu. Kok

  langsung observasi!”

  Tuturan E3: “Eme, kamu itu ejaannya parah. Mengerti tidak?” Tuturan E4: “Kamu mau ikut kuis nggak? Ayo cepet!” Tuturan E5: “Kupinge yo genep, kok yo ra ngrongoke. Duduk di depan!” Tuturan E6: “Kog kamu pake kaos? Tak copot lho kaosmu!” Tuturan E7: “Nilaimu rendah sekali. Mau ngulang tahun depan?”

4.2.5.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan dapat dilihat dari konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Adapun konteks-konteks dalam mengancam muka sepihak mitra tuturnya sebagai berikut.

  

Tuturan E1: Konteks tersebut pada mitra tutur ingin konsultasi hasil observasi

  yang telah dilakukan oleh mitra tutur kepada penutur. Situasi saat itu sedang tidak kondusif untuk konsultasi, ini menandakan mitra tutur tidak tahu diri. Namun ekspresi muka dari penutur sangat ketus kepada mitra tutur.

  

Tuturan E3: Konteks tuturan tersebut terjadi pada saat mitra tutur sedang

konsultasi scrip proposal dengan penutur di ruang dosen.

  Penutur menemukan banyak kesalahan ejaan dalam penulisan proposal tersebut.

  

Tuturan E4: Konteks tuturan tersebut pada saat penutur akan memberikan

  kuis di kelas. Penutur melihat beberapa mahasiswa baru saja datang dan segera mencari tempat duduk. Namun, ada mitra tutur yang berjalan dengan santai menuju tempat duduk.

  

Tuturan E5: Konteks tuturan tersebut pada saat penutur membacakan soal

  ujian di depan kelas. Namun, mitra tutur tidak bisa mendengarkan dengan jelas karena mitra tutur duduk di paling belakang. Penutur menyuruh mitra tutur pindah tempat duduk si paling depan.

  

Tuturan E6: Penutur menegur mitra tutur tersebut bila ia lagi akan mencopot

  pakaian yang dikenakan mitra tutur. Mitra tutur hanya tersenyum saja, penutur juga berasumsi bahwa mitra tutur tidak serius mengikuti perkuliahan yang diampu penutur.

  

Tuturan E7: Konteks tersebut terjadi di kelas pada saat penutur selesai

  mengadakan kuis. Penutur menemukan nilai salah satu mahasiswa yang mengalami perunurunan setiap kali kuis diadakan. Mitra tutur hanya tersenyum kecut.

4.2.5.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik

  Penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan pilihan kata. Adapun penanda-penanda ketidaksantunan linguistik yang mengancam muka sepihak mitra tuturnya sebagai berikut.

  

Tuturan E1: nada tinggi, tekanan keras pada kata bodoh dan observasi,

  intonasi berita, dan pilihan kata yang digunakan nonstandar kata fatis kok.

  

Tuturan E3: nada tinggi, tekanan keras pada kata mengerti, intonasi tanya, dan

pilihan kata standar yang berupa kata baku.

  

Tuturan E4: nada tinggi, tekanan keras pada kata cepet, intonasi tanya dan

  perintah, dan pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata tidak baku nggak dan cepet.

  

Tuturan E5: nada sedang, tekanan keras pada penggalan kalimat duduk di digunakan nonstandar yang berupa penggunaan bahasa Jawa kupinge yo genep, kok yo ra ngrongoke .

  

Tuturan E6: nada tinggi, tekanan keras pada kata kaos dan tak copot, intonasi

  tanya dan berita, dan pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata tidak baku pake dan tak, kata tidak fatis kok, dan penggunaan bahasa Jawa copot.

  

Tuturan E7: nada sedang, tekanan sedang pada kata rendah dan tahun depan,

  intonasi berita dan tanya, dan pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata tidak baku ngulang.

4.2.5.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

  Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks dan informasi indeksal yang terdiri dari tindak verbal dan tindak perlokusi.

  Adapun penanda-penanda ketidaksantunan pragmatik yang mengancam muka sepihak mitra tuturnya sebagai berikut.

  

Tuturan E1: Tuturan dituturkan di ruang dosen, pada tanggal 13 November

  2012, pukul 11.50 WIB. Tuturan tersebut menghasilkan tindak verbal yaitu tindak tutur asertif yaitu pernyataan mitra tutur tidak melakukan observasi sebelumnya kepada penutur. Tindak perlokusi yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah mitra tutur konsultasi kepada penutur sebelum observasi di lapangan.

  

Tuturan E3: Tuturan dituturkan di kelas saat perkuliahan berlangsung, pada tindak verbal yaitu tindak tutur asertif yaitu pernyataan bahwa mitra tutur melakukan kesalahan penulisan dalam skripsinya.

  Tindak perlokusi yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah mitra tutur memperbaiki penulisan dalam skripsi sesuai dengan saran penutur.

  

Tuturan E4: Tuturan dituturkan di kelas saat perkuliahan berlangsung, pada

  tanggal 29 November 2012. Tuturan tersebut menghasilkan tindak verbal yaitu tindak tutur direktif yaitu pernyataan bahwa mitra tutur harus mengulangi perkataan dengan jelas dan tidak terlalu cepat. Tindak perlokusi yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah mitra tutur menjawab dengan jelas dan tidak terlalu cepat.

  

Tuturan E5: Tuturan dituturkan di kelas saat perkuliahan berlangsung, pada

  tanggal 29 November 2012. Tuturan tersebut menghasilkan tindak verbal yaitu tindak tutur direktif yaitu pernyataan printah bahwa mitra tutur harus berpindah ke bangku paling depan. Tindak perlokusi yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah mitra tutur pindah tempat duduk paling depan.

  

Tuturan E6: Tuturan dituturkan di kelas saat perkuliahan. Tuturan tersebut

  dituturkan pada tanggal 30 November 2012. Tindak verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tindak tutur direktif yaitu pernyataan perintah meminta mitra tutur tidak memakai kaos tersebut adalah mitra tutur meminta memakai pakaian yang pantas saat mengikuti perkuliahan penutur.

  

Tuturan E7: Tuturan tersebut dituturkan di kelas saat perkuliahan. Tuturan

  tersebut dituturkan pada tanggal 30 November 2012. Tindak verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tindak tutur direktif yaitu pernyataan memperbaiki nilai yang rendah dengan nilai yang maksimal atau belajar lebih giat. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur belajar lebih giat dan mendapatkan nilai yang bagus.

4.2.5.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Menghilangkan Muka

  Makna yang melingkupi tuturan tersebut juga mempengaruhi santun tidaknya tuturan tersebut. Makna dari tuturan-tuturan ketidaksantunan berbahasa yang mengancam muka sepihak mitra tuturnya sebagai berikut.

  

Tuturan E1: Memberikan tekanan atau ancaman mitra tutur harus konsultasi

sebelum observasi.

  

Tuturan E3: Memberikan tekanan mitra tutur harus mengganti skripsinya

karena ejaannya buruk.

  Tuturan E4: Memberikan ancaman mitra tutur untuk mengikuti kuis

Tuturan E5: Memberikan tekanan mitra tutur harus pindah tempat duduk di

paling depan.

  

Tuturan E6: Memberikan ancaman mitra tutur untuk mengganti kaos dengan

  

Tuturan E7: Memberikan tekanan mitra tutur bahwa nilai jelek harus

mengulang tahun depan.

4.3 Pembahasan

  Berdasarkan hasil analisis tuturan-tuturan yang dilakukan terhadap interaksi antara dosen dan mahasiswa PBSID, USD, angkatan 2009—2011, yang telah ditranskipkan ternyata tuturan tersebut mengandung ketidaksantunan berbahasa. Tuturan-tuturan tersebut mengandung ketidaksantunan yang tergolong ke dalam jenis ketidaksantunan (a) melecehkan muka, (b) memain-mainkan muka, (c) kesembronoan, (d) mengancam muka, dan (e) menghilangkan muka. Data tuturan yang diperoleh menunjukkan bahwa ada penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan ke dalam jenis ketidaksantunan jenis tertentu. Wujud ketidaksantunan berbahasa linguistik berupa pilihan kata dan bunyi suprasegmental. Pilihan kata yang ditemukan dalam tuturan-tuturan tersebut adalah bahasa nonstandar dan bahasa standar, kata ilmiah dan kata populer, kata slang, kata seru, dan kata fatis. Lebih lanjut lagi, bunyi suprasegmental yang digunakan dalam tuturan tersebut yaitu nada, tekanan, dan intonasi. Hal penting berikutnya adalah wujud ketidaksantunan berbahasa pragmatik. Wujud ketidaksantuan pragmatik dapat dilihat dari konteks situasi yang melingkupi tuturan tersebut.

4.3.1 Melecehkan Muka

  Ketidaksantunan berbahasa yang melecehkan muka mitra tuturnya menurut Miriam A. Locher (2008:3) adalah bahwa ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku ‘melecehkan’ muka (face-

  aggravate) . Dalam pandangannya, sebuah tuturan akan dikatakan tidak

  santun kalau tuturan tersebut melecehkan muka mitra tuturnya dan membuat luka hati mitra tutur. Contoh tuturan sebagai berikut.

  (A1) “Kamu tu gimana, malah corat-coret.” (Konteks tuturan: Tuturan ini dituturkan pada saat penutur meminta mitra

  tutur untuk menuliskan ringkasan di catatan. Penutur merasa mitra tutur tidak menjalankan perintahnya karena penutur melihat mitra tutur mencorat-coret di bahan materi . Selain itu, mitra tutur berkali-kali mengajak bicara teman di sebelahnya )

  (A2) “Lho, kenapa tidak menJawab? Belum kamu Jawab?” (Konteks tuturan: Tuturan disampaikan ketika penutur sedang

  memberikan pertanyaan kepada mitra tutur. Penutur memberikan waktu kepada mitra tutur untuk berpikir. Namun, mitra tutur tidak menJawab pertanyaan penutur. )

  (A3) “Cukup ya, waktunya sudah habis. Wah, kesuwen!” (Konteks tuturan: Tuturan disampaikan pada saat dosen sedang

  mengadakan kuis di kelas. Penutur memberikan waktu yang cukup untuk mengerjakan kuis tersebut. Namun, para mahasiswa tidak bisa memanfaatkan waktu yang diberikan malah sibuk tanya teman di sebelahnya. Waktu yang diberikan tidak cukup untuk menyelesaikan kuis)

  (A4) “Bajumu ki pie? Kamu tu selalu nggak pernah siap ikut kuliah.” (Konteks tuturan: Tuturan ini terjadi pada saat perkuliahan selesai.

  Penutur bertemu mitra tutur di depan kelas, penutur melihat pakaian yang dikenakan mitra tutur yaitu mengenakan kaos dan memakai sandal. Penutur tidak hanya melihat satu kali beberapa kali penutur melihat mitra

tutur mengenakan pakaian yang tidak sopan di lingkungan kampus.)

  (A8) “Trus kamu tu ke sini ngapain? Cuman datang trus duduk, tidak dapat apa-apa.” (Konteks tuturan: Tuturan tersebut disampaikan ketika penutur

  merasa perkuliahan ini tidak ada manfaatnya. Penutur merasa mahasiswa tidak menghargai perkuliahan penutur. )

  Tuturan tersebut di atas termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan berbahasa yang melecehkan muka mitra tuturnya karena tuturan yang disampaikan dapat melukai hati mitra tuturnya. Hal tersebut dapat dikatakan demikian karena dilihat berdasarkan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik. Tuturan (A1), (A2), (A3), (A4), dan (A8) memiliki tujuan tutur yang sama yaitu untuk melukai hati mitra tuturnya.

  Hal yang membedakan kelima tuturan tersebut berkenaan dengan penanda lingual, penanda nonlingual, dan informasi indeksal. Adapun penanda lingual dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Penanda nonlingual dapat dilihat berdasarkan situasi dan suasana tutur sedangkan implikatur tambahan dapat dilihat berdasarkan penutur, mitra tutur, tujuan tutur, tindak verbal, dan tindak perlokusi, hal ini sejalan dengan konteks menurut Leech (1993:19—21).

  Tuturan (A1), (A2), (A3), (A4), dan (A8) memiliki nada dan tekanan sedang. Tuturan dengan nada yang sedang identik dengan sindiran atau kekesalan penutur. Hal tersebut terlihat dalam pengucapan tuturan (A1) kamu tu gimana, malah corat-coret. Ketika penutur mengucapkan

  kamu itu gimana, nada yang digunakan cenderung tinggi selanjutnya

  penutur mengucapkan kata malah corat-coret, nada yang digunakan cenderung sedang tidak mengisyaratkan nada tinggi. Namun, nada tersebut pilihan kata malah, yang semakin mempertegaskan sindiran atau kekesalan penutur. Hal demikian senada dengan pendapat Pranowo (2009:76) yaitu aspek penentu kesantunan dalam berbahasa verbal lisan salah satunya aspek nada bicara yang berkaitan dengan suasana emosi penutur yaitu nada resmi, nada bercanda atau bergarau, nada mengejek, dan nada menyindir. Maka penyampaian tuturan tersebut dipengaruhi pula oleh emosi penutur akan dibahas dalam aspek mental pengguna bahasa.

  Penjelasan di atas sama diuraikan pula pada tuturan (A2), (A3), (A4), dan (A8). Setiap tuturan tersebut mempunyai tekanan yang berbeda- beda tergantung pilihan kata yang digunakan dalam tuturan-tuturan tersebut. Tuturan (A2) memberikan penekanan pada kata lho yang memberikan fungsi tertentu (Chaer, 2011:196). Kata lho yang terletak di awal kalimat bersifat interinjeksi yang menyatakan kekagetan (Kridalaksana, 2007:116). Tuturan (A2) menyatakan kekagetan penutur yang mengetahui mitra tutur belum mengerjakan tugas. Selain itu, kalimat

  belum kamu jawab yang diucapkan dengan nada sedang yang

  mengindikasikan bahwa penutur menyindir mitra tutur dengan perasaan kesal. Tuturan (A1) dan (A2) mempunyai pola intonsi yaitu intonasi datar naik karena tuturan itu termasuk kalimat tanya (Muslich, 2008:116).

  Pranowo juga menambahkan bahwa aspek intonasi berpengaruh pada penentu kesantunan berbahasa terutama dalam bahasa lisan. Ketika penutur menyampikan maksud kepada mitra tutur dengan intonasi keras

  76). Tuturan (A1) dan (A2) menggunakan intonasi keras terutama ketika menuturkan kata kamu tu gimana dan belum kamu Jawab. Intonasi tersebut menunjukkan tuturan penutur dinilai tidak santun karena melukai hati mitra tutur secara langsung.

  Selanjutnya tuturan (A3) memberikan penekanan pada kata wah

  kesuwen . Tuturan tersebut menggunakan bahasa Jawa. Keraf

  mengelompokkan bahasa daerah tersebut ke dalam bahasa nonstandar (Keraf: 1985:104). Kata wah kesuwen yang berarti wah terlalu lama, kata

  wah itu sendiri merupakan kata seru yang menyatakan perasaan kaget atau

  jengkel. Kata wah kesuwen dituturkan dengan nada sedang tanpa ada tendensi untuk marah hanya luapan kekesalan penutur terhadap mitra tutur. Namun, penggunaan kata kesuwen yang termasuk kata dalam bahasa Jawa menunjukkan bahwa penutur tidak dapat menggunakan bahasa yang sesuai dengan situasinya. Tuturan dituturkan pada saat perkuliahan sedang berlangsung, seharusnya penutur menggunakan bahasa Indonesia yang tepat karena situasi tersebut adalah situasi formal.

  Tuturan (A4) merupakan tuturan yang mengandung bahasa yang interferensi ke dalam bahasa Jawa dan bahasa tidak baku. Tuturan bajumu

  iki pie merupakan tuturan yang interferensi ke dalam bahasa Jawa yang

  artinya bajumu itu bagaimana. Selanjutnya, tuturan tersebut diteruskan dengan tuturan kamu itu selalu nggak pernah siap ikut kuliah. Kedua tuturan tersebut penekanan katanya pada pie dan selalu nggak pernah siap.

  nggak pernah siap. Penggunaan kata pie yang dituturkan seorang dosen

  menjelaskan bahwa penutur meminta penjelasan atas pakaian yang dikenakan mitra tutur. Tuturan (A3) dan (A4) berupa kalimat berita yang pola intonasinya datar-turun. Tuturan (A3) dituturkan biasa saja seperti orang bicara santai sedangkan tuturan (A4) dituturkan dengan intonasi agak keras dengan penekanan kata selalu nggak pernah siap.

  Tuturan (A4) merupakan tuturan yang melecehkan muka yang ditandai dengan tuturan nggak pernah siap. Tuturan selalu nggak pernah

  siap menjelaskan bahwa mitra tutur tidak pernah menggunakan pakaian

  yang sopan ketika mengikuti perkuliahan penutur. Hal ini menunjukkan penutur ingin melecehkan mitra tutur bahwa mitra secara langsung dengan cara menyindir pakaian yang dikenakan mitra tutur. Seperti pada tuturan (A3), penutur menggunakan bahasa yang penggunaan bahasa Jawa. Hal ini menunjukkan penutur tidak santun karena tidak dapat menggunakan bahasa yang sesuai dengan situasinya. Anggapan penutur bahwa mitra tutur selalu tidak pernah siap mengikuti perkuliahan yaitu kamu itu selalu

  nggak pernah siap ikut kuliah. Kata selalu yang berarti tidak pernah tidak

  berpakaian yang tidak layak saat perkuliahan berlangsung. Tuturan demikian menunjukkan bahwa penutur menuduh secara terang-terangan di depan mitra tuturnya.

  Selanjutnya, tuturan (A8) memberikan penekanan pada kata

  ngapain, cuman, dan tidak dapat apa-apa. Tuturan pada kata ngapain bahasa nonstandar. Penggunakan kata tersebut menegaskan bahwa penutur melecehkan mitra tutur yang tidak dapat melakukan hal baik atau bermanfaat dalam perkuliahan. Pemilihan kata yang tidak baku dalam tuturan (A8) menunjukkan kadar kesantunan penutur yang sangat rendah terutama dituturkan dalam situasi formal yaitu ketika perkuliahan sedang berlangsung.

  Tuturan (A8) dituturkan dengan agak keras yaitu ketika mengucapkan trus kamu itu ke sini ngapain. Intonasi tersebut menunjukkan penutur melecehkan mitra tutur yang ingin sengaja memojokkan mitra tutur dalam bertutur. Hal tersebut senada dengan fakta pemakaian bahasa yang tidak santun yang diutarakan oleh Pranowo (2009:70), bahwa penutur berkeinginan memojokkan atau menyalahkan mitra tutur menjadi tidak berdaya. Tuturan tersebut menunjukkan tuturan yang tidak santun yang melecehkan mitra tutur

  Hal berikutnya pembahasan mengenai wujud nonlinguistik ketidaksantunan berdasarkan konteks situasi penutur dan mitra tutur.

  Rahardi mengungkapkan bahwa konteks merupakan bidang yang sifatnya

  extralinguistic atau ‘luar bahasa’. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai

  berikut bahwa konteks adalah segala macam aspek yang sifatnya luar bahasa (extralinguistics), yang menjadi penentu pokok bagi kehadiran sebuah makna kebahasaan (melalui Rahardi:2011). Lebih lanjut lagi, Leech (1983) menjelaskan pengertian konteks dalam pragmatik yaitu

  situation’ itu dapat dibedakan menjadi lima macam, yakni (1) penutur dan

  lawan tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai tindak verbal, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal. Leech mengungkapkan bahwa konteks tuturan adalah suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh n dan t yang membantu t menafsirkan makna tuturan.

  Vershueren (dalam Rahardi:2007) juga menyinggung perihal konteks yang bukan semata-mata penyampaian pesan dari penutur kepada lawan tutur, namun masih ada dimensi lain yang menentukan konteks yaitu mencakup latar belakang fisik (physical world of the utterance), latar belakang sosial dari tuturan (social world of the utterance), dan latar belakang mental penuturnya (mental world of the utterance). Dimensi mental kepribadian, warna emosi, dan kognisi. Dimensi fisik pengguna bahasa berhubungan dengan kata ganti orang (persona), lokasi atau tempat, dan jarak spasial. Dimensi sosial pengguna bahasa berhubungan dengan jenis kelamin, usia, dan status sosial. Vershueren menjelaskan lebih lanjut bahwa dimensi sosial berkaitan dengan keberadaaan penutur dan mitra tutur sebagai warga masyarakat dan budaya tertentu (dalam Rahardi:2011). Maka, kajian pragmatik tidak dapat dipalingkan dari fakta- fakta sosiopramatik.

  Tuturan (A1), (A2), (A3), (A4), dan (A8) merupakan tuturan yang tidak santun bila dipaparkan dalam kajian konteks pragmatik. Uraian di kelas saat perkuliahan sedang berlangsung. Tuturan (A1), (A2), (A3), dan (A4) dituturkan di dalam kelas saat perkuliahan sedang berlangsung sedangkan tuturan (A8) dituturkan pada saat perkuliahan sudah berakhir, tepatnya di depan ruang kuliah.Tuturan (A1), (A2), dan (A3) dituturkan pada tanggal 20 November 2012 dalam waktu yang berbeda. Sedangkan, tuturan (A4) dan (A8) dituturkan pada tanggal 28 November 2012 dalam waktu yang berbeda. Kelima tuturan tersebut dituturkan oleh dosen dan mahasiswa PBSID, USD.

  Tuturan (A1) dituturkan pada saat penutur melihat mitra tutur mencorat-coret bahan materi. Penutur berusaha memojokkan mitra tutur dengan tuturan kamu tu gimana yang menunjukkan perbuatan yang dilakukan mitra tutur salah. Selain itu, penutur melihat mitra tutur beberapa kali berbicara dengan teman disebelahnya. Tuturan (A1) dituturkan oleh dosen laki-laki berusia 48 tahun sedangkan mitra tuturnya adalah mahasiswi yang berusia 21 tahun, angkatan 2010. Seorang berkepribadian matang dan dewasa akan berbicara sopan dan halus kepada mitra tutur yang ditemuinya (Rahardi, 2011:159). Tuturan (A1) menunjukkan kepribadian penuturnya belum matang walau usia penutur sudah dianggap dewasa. Kepribadian penutur yang belum matang tersebut diperkuat dengan emosi penutur yang tinggi karena penutur menuturkan tuturan tersebut dengan intonasi tinggi. Hal demikian dapat disebabkan oleh suasana hati penutur yang sedang marah sehingga muncullah tuturan

  Seperti halnya tuturan (A1), tuturan (A2) merupakan tuturan yang dituturkan oleh dosen dan mahasiswa pada saat perkuliahan sedang berlangsung. Penutur menayakan perihal materi yang sedang dijelaskan kepada mitra tutur. Mitra tutur hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan penutur padahal sudah diberikan waktu yang cukup untuk berpikir. Tuturan (A2) dituturkan oleh dosen laki-laki yang berusia 48 tahun sedangkan mitra tutur adalah seorang mahasiswi yang berusia 21 tahun angkatan 2010. Penutur menyampaikan tuturan tersebut dengan intonasi agak keras, penekanan kata terletak pada kata lho dan belum kamu

  Jawab. Penuturan yang agak keras tersebut menunjukkan suasana hati si

  penutur sedang tidak baik, emosi penutur sedang tinggi. Kata lho dan

  belum kamu Jawab sepertinya penutur ingin menuduh atau menyalahkan

  tindakan mitra tutur. Penutur tidak memperhatikan psikologi mitra tutur yang tertekan atas pertanyaan yang dilontarkan penutur. Soal yang diberikan penutur bisa saja merupakan soal yang sulit maka mitra tutur hanya diam saja. Kematangan emosi penutur bila dilihat dari tuturan (A2) belum matang padahal usia penutur sudah dewasa. Hal demikian dapat diakibatkan suasana hati penutur sedang tidak baik. Seseorang yang warna emosi dan temperamen tinggi, cenderung berbicara dengan nada dan nuansa makna yang tinggi pula (Rahardi, 2011:159).

  Selanjutnya tuturan (A3) yang hampir sama dengan suasana tuturan (A1) dan (A2) yang dilakukan pada saat perkuliahan sedang pelaksanaan kuis. Soal yang diberikan dilisankan oleh penutur sedangkan mitra tutur langsung menjawab soal tersebut. Penutur memberikan waktu yang cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam soal kuis tersebut. Penutur beranggapan bahwa mitra tutur terlalu mengerjakan kuis sehingga penutur tidak sabar untuk mengakhirinya. Kekesalan penutur dilontarkan dengan tuturan wah kesuwen, kata tersebut merupakan kata yang terinteferensi ke dalam bahasa Jawa yang artinya wah terlalu lama. Penutur adalah dosen laki-laki yang berusia 46 tahun sedangkan mitra tutur adalah mahasiswa yang berusia 20 tahun, angkatan 2010.

  Ketidaksabaran penutur untuk mengakhiri kuis tersebut terlihat jelas dengan tuturan wah kesuwen, Rahardi (2011:159) menjelaskan bahwa seseorang yang warna emosinya tidak terlampau dominan penutur cenderung berbicara sabar. Berdasarkan tuturan (A3) tersebut warna emosi penutur sangat dominan sehingga tuturan itu dilingkupi oleh emosi yang tinggi untuk segera menyelesaikan kuis. Orang yang dianggap lebih tua seharusnya bisa lebih sabar menghadapi sesuatu karena emosi mereka cenderung lebih daripada emosi orang muda.

  Senada dengan tuturan (A1), (A2), dan (A3), tuturan (A4) juga dituturkan dalam lingkungan kampus. Perbedaannya, tuturan (A4) dituturkan saat perkuliahan sedang berakhir, tepatnya tuturan tersebut terjadi di depan kelas. Penutur memperhatikan pakaian yang dikenakan mitra tutur. Pakaian yang dikenakan mitra tutur tidak layak digunakan di menggunakan kaos oblong dan sandal jepit. Penutur beranggapan bahwa mitra tutur selau tidak pernah siap mengikuti perkuliahan. Penutur adalah seorang dosen laki-laki yang berusia 50 tahun sedangkan mitra tutur adalah mahasiswa yang berumur 20 tahun, angkatan 2010. Tuturan tersebut dituturkan secara langsung dan terang-terangan kepada mitra tutur bahkan tuturan itu sampai di dengar oleh teman-teman mitra tutur. Sikap ketidakseriusan mitra tutur ternyata membuat emosi penutur yang tinggi, sehingga penutur menuturkan dengan intonasi keras. Tuturan tersebut juga menunjukkan kekesalan penutur atas sikap mitra tutur. Pengaruh faktor dari luar diri yang menyulutkan emosi sehingga memunculkan bahasa yang tidak santun itu dapat diakibatkan emosi penutur yang tidak stabil. Biasanya, orang yang dewasa akan bertutur kata yang terarah dan sopan, sebaliknya dengan emosi orang muda yang masih labil dan grusah-grusuh.

  Tuturan (A8) dituturkan pada saat penutur menayakan seberapa besar pemahaman materi mitra tutur. Penutur memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya bila ada materi yang belum jelas. Penutur bertanya kepada mitra tutur, jawaban mitra tidak tahu. Penutur kesal kepada mitra tutur sehingga memunculkan pernyataan demikian.

  Penutur beranggapan mitra tutur tidak serius mengikuti perkuliahan penutur dengan tuturan tidak tahu. Jawaban mitra tutur merupakan Jawaban jujur dan apa adanya. Namun, penutur menginterpretasikan yang berbeda. Tuturan penutur tersebut melecehkan mitra tutur yang berumur 58 tahun sedangkan mitra tutur adalah mahasiswi berumur 21, angkatan 2010. Usia semakin dewasa seharusnya menunjukkan kematangan emosi seseorang. Seseorang yang sudah matang dan dewasa akan berbicara lebih sopan dan halus. Hal tersebut ditandai dengan pemilihan bahasa Indonesia yang tepat. Seharusnya pemilihan bahasa harus disesuaikan dengan kondisi yang menunjukkan status sosial dalam lingkungannya.

  Tuturan (A1), (A2), (A3), (A4), dan (A8) merupakan tuturan yang dituturkan oleh dosen kepada mahasiswa. Jabatan dosen merupakan jabatan yang tinggi di lingkungan kampus. Seseorang yang menduduki jabatan tinggi di suatu instansi, apalagi lembaga pendidikan akan serta merta berbicara sopan dan halus kepada setiap orang yang ditemuinya. Selain itu, jabatan atau pangkat yang dimiliki menentukan bentuk kebahasaan yang digunakan dalam pertutura. Hal ini sejalan dengan Rahardi (2011:161—162), aspek usia bagi orang Jawa sangat penting. Orang yang dianggap tua (sepuh) harus lebih sopan dan lebih halus dibandingkan orang muda. Bentuk-bentuk kebahasan yang berciri lengkap, tidaj dipotong-potong atau tidak dipendekkan seharusnya lebih banyak digunakan daripada kebahasan yang bercirikan terbatas.

  Tuturan (A1), (A2), (A3), (A4), dan (A8) dituturkan dalam lingkungan kampus. Hasil tindak tutur dari tuturan (A1), (A2), (A4), dan (A8) adalah tindak tutur direktif yang mengimplikasikan menyuruh atau Jenis ilokusi ini sering dimasukkan dalam kategori kompetitif karena itu mencakup kategori-kategori ilokusi yang membutuhkan sopan santun negatif (melalui Leech, 1993:164) sedangkan tuturan (A3) merupakan tindak tutur ekspresif yaitu menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan. Tuturan (A3) menunjukkan ekspresif kekesalan penutur kepada mitra tuturnya. Tindak perlokusi atas tuturan (A1), (A2), (A4), dan (A8) adalah mitra tutur melakukan perintah yang dituturkan penutur. Tindak perlokusi atas tuturan (A3) adalah mitra tutur menanggapi penutur dan segera mengumpulkan kuis.

  Jadi, ketidaksantunan berbahasa yang melecehkan muka mitra tuturnya memiliki penanda linguistik dan pragmatik. Penanda linguistik dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Nada yang digunakan berupa nada sedang yang mengungkapkan kesinisan dan sindiran penutur bagi mitra tutur, sedangkan nada tinggi mengungkapkan kejengkelan dan kemarahan penutur kepada mitra tutur. Penanda pragmatik dapat dilihat berdasarkan situasi dan suasana. Situasi tuturan yang terjadi dapat terjadi di mana saja dan suasana tuturan dalam keadaan santai dan serius. Implikatur tambahannya berupa tindak verbal dan tindak perlokusi. Tindak verbal dari tuturan berbahasa yang melecehkan muka mitra tuturnya berupa tindak verbal ekspresif dan tindak tutur direktif sedangkan tindak perlokusinya umumnya mitra tutur merespon tetapi terpaksa karena hatinya terluka.

  Tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan ketidaksantunan berbahasa yang melecehkan muka. Tuturan (A1), (A2), (A3), (A4), dan (A8) bermakna menyindir atau mengejek mitra tuturnya. Seperti pada tuturan (A1) bahwa yang bermakna mengejek atau menyindir mitra tutur yang corat-coret. Tuturan (A2), (A3), (A4), dan (A8) juga sama halnya dengan tuturan (A1) bermakna menyindir atau mengejek mitra tutur yaitu tidak bisa menjawab pertanyaan, mengerjakan terlalu lama, tidak bisa menggunakan baju yang sesuai, dan tidak tahu diri. Tuturan-tuturan tersebut termasuk ketidaksantunan berbahasa yang melecehkan muka yang bermakna mengejek atau menyindir. Hal demikian sejalan dengan pendapat Locher bahwa melecehkan muka merupakan ketidaksantunan berbahasa atau face-aggravate seperti yang dikutip dalam pendapatnya bahwa Impoliteness is behaviour that is face-aggravating in a particular context (Locher, 2008:3).

4.3.2 Memainkan muka

  Ketidaksantunan berbahasa yang memain-mainkan muka mitra tuturnya menurut Miriam A. Locher (2008:3) adalah bahwa tindakan tersebut akan dikatakan sebagai tindakan yang tidak santun bilamana muka (face) dari mitra tutur dipermainkan, atau setidaknya dia telah merasa bahwa penutur memain-mainkan muka mitra tuturnya dan membuat mitra tutur merasa jengkel. Contoh tuturan sebagai berikut.

  (Konteks tuturan: Tuturan disampaikan ketika berada di dalam kelas.

  Siang itu mitra tutur akan mengadakan kuis. Siang itu mitra tutur memberikan kuis sebanyak 50 butir soal. Para mahasiswa juga sangat jenuh dengan Namun, para mahasiswa biasa mendapatkan soal sebanyak 50 butir.)

  (B3) “Pak, apa ini tugasnya dah masuk nilai apa nggak?” Konteks tuturan: Tuturan ini disampaikan di dalam kelas, saat mitra tutur

  memberikan tugas kepada penutur. Penutur menayakan kejelasan tugas tersebut apakah pemberian tugas ini sudah masuk ke dalam penilaian. Mitra tutur sering lupa memberikan nilai atas tugas yang ia berikan kepada mahasiswanya. )

  (B4) “Jelehi banget.” (Konteks tuturan: Tuturan ini terjadi pada saat mitra tutur menjelaskan

  suatu materi kepada mahasiswa. Penutur tidak jelas maksud materi yang dijelaskan. Penutur bertanya kepada mitra tutur. Namun, mitra tutur berkali-kali mengacuhkannya. Sikap mitra tutur membuat penutur jengkel dan marah.)

  (B5) “Ih.. sombong, nyebahi.” (Konteks tuturan: Tuturan ini dituturkan pada saat di ruang dosen.

  Penutur ingin konsultasi skripsi dengan mitra tutur. Mitra tutur adalah dosen pembimbing skripsi penutur. Mitra tutur tidak ingin menerima konsultasi saat ini karena ia sedang sibuk padahal hari itu adalah jadwal bimbingan. Penutur keluar ruangan dengan sikap ketus.)

  (B6) “Pak, ini nggak adil.” (Konteks tuturan: Tuturan tersebut dituturkan pada saat penutur ingin

  menayakan kegiatan mahasiswa di prodi tersebut. Penutur sudah menunggu lama mitra tutur di depan ruang dosen. Mitra tutur justru mendahulukan mahasiswa yang akan konsultasi skripsi daripada penutur yang ingin menayakan kegiatan mahasiswa. )

  Tuturan tersebut di atas termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan berbahasa yang memainkan muka mitra tuturnya karena tuturan yang disampaikan dapat membuat kebingungan dan kejengkelan mitra tutur. Hal tersebut dapat dikatakan demikian karena dilihat berdasarkan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik. Tuturan (B2), (B3), (B4), (B5), tutur. Hal yang membedakan kelima tuturan tersebut berkenaan dengan penanda lingual, penanda nonlingual, dan informasi indeksal. Adapun penanda lingual dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Penanda nonlingual dapat dilihat berdasarkan situasi dan suasana tutur sedangkan implikatur tambahan dapat dilihat berdasarkan penutur, mitra tutur, tujuan tutur, tindak verbal, dan tindak perlokusi, hal ini sejalan dengan konteks menurut Leech (1993:19—21).

  Tuturan (B2), (B3), (B4), (B5), dan (B6) memiliki nada sedang dan tekanan sedang. Tuturan dengan nada yang sedang identik dengan sindiran atau kekesalan penutur. Tuturan yang menunjukkan ketidaksantunan memain-mainkan muka terlihat terlihat dari kebingungan mitra tutur menanggapi tuturan yang dituturkan penutur. Ketidakbiasaan penutur merespon atau bertutur kata dengan mitra tutur, hal demikian mengakibatkan kebingungan mitra tutur bahkan dapat mengakibatkan salah paham. Hal terburuk yang terjadi adalah terjadi konflik antara penutur dan mitra tutur. Hal demikian didukung oleh Bousfield bahwa tindakan tersebut sesungguhnya bukanlah sekadar perilaku melecehkan

  muka melainkan perilaku yang memain-mainkan muka. Tindakan bertutur

  sapa akan dikatakan sebagai tindakan yang tidak santun bilamana muka dari mitra tutur dipermainkan atau tidak setidaknya dia telah merasa bahwa penutur memain-mainkan muka mitra tutur itu. Jadi, ketidaksantunan berbahasa dalam pemahaman Locher adalah sebagai sebagaimana yang dilambangkan dengan kata ‘aggravate’ itu (Rahardi, 2011:68).

  Kekesalan penutur dapat identifikasi penekanan dan pemilihan kata yang digunakan dalam tuturan tersebut. Tuturan (B2) soalnya 50, ya

  ampun, Pak! penekanan dalam tuturan itu adalah ya ampun, pak. Frasa ya ampun merupakan kata seru yang berfungsi untuk menyatakan pelbagai

  perasaan kaget atau kesal (Chaer, 2011:193). Dalam tuturan tersebut, frasa

  ya ampun lebih menunjukkan kekesalan penutur. Ketika penutur

  menuturkan tuturan ya ampun, pak intonasi yang digunakan cenderung tinggi. Penutur sangat kesal terhadap mitra tutur yang memberikan soal begitu banyak. Frasa ya ampun menunjukkan bahwa penutur menginginkan pengurangan soal yang diberikan dari mitra tutur. Kata-kata demikian selayaknya tidak diujarkan pada saat perkuliahan dimulai terutama berbicara dengan seorang dosen. Tuturan penutur tergolong tidak santun, seperti meremehkan atau tidak menghargai perkuliahan mitra tutur. Tuturan tersebut dipengaruhi oleh emosi penutur. Hal demikian senada dengan pendapat Pranowo (2009:76) yaitu aspek penentu kesantunan dalam berbahasa verbal lisan salah satunya aspek nada bicara.

  Serupa dengan tuturan (B2), tuturan (B3) merupakan tuturan dengan nada sedang. Pilihan kata yang digunakan dalam tuturan tersebut adalah bahasa nonstandar. Bahasa nonstandar adalah dipergunakan oleh mereka yang tidak memeroleh kedudukan atau pendidikan yang tinggi. dalam tulisan-tulisan. Kadang-kadang unsur nonstandar dipergunakan juga oleh kaum terpelajar dalam bersenda gurau, berhumor, atau untuk menyatakan sarkasme atau menyatakan ciri-ciri kedaerahan (Keraf, 1985:104). Bahasa nonstandar dalam tuturan tersebut tergolong bahasa tidak baku seperti dah dan nggak. Penggunaan kata-kata tersebut biasa digunakan dalam situasi nonformal atau dalam keadaan bersenda gurau. Tuturan tersebut dituturkan dengan intonasi biasa seperti orang berbicara biasa, karena intonasinya adalah intonasi kalimat tanya. Namun, pilihan kata yang digunakan tidak tepat yaitu dah dan nggak terutama berbicara dengan orang yang lebih tua dan dalam situasi formal. Stuktur kalimat yang digunakan dalam tuturan tersebut sangat tidak terstuktur walau tuturan tersebut dituturkan dalam bentuk lisan, ketepatan penyusunan kalimat juga tetap diperhatikan apalagi penutur berbicara dengan orang yang lebih tua.

  Selanjutnya tuturan (B4), penekanan dalam tuturan tersebut adalah

  jelehi banget! Kata-kata tersebut sangat kasar dan tidak santun, sama

  halnya dengan tuturan (B3) yang menggunakan bahasa nonstrandar. Selain bahasa yang tidak baku, dalam bahasa nonstandar ada pula bahasa yang terinterferensi ke dalam bahasa daerah yang menunjukkan kedaerahannya. Penutur berasal dari pulau Jawa sehingga tuturan yang digunakan adalah bahasa Jawa. Kata jelehi merupakan bahasa Jawa yang berarti

  menjengkelkan, tuturan tersebut menunjukkan kejengkelan penutur yang berarti sekali atau amat. Intonasi yang digunakan juga cenderung kasar sehingga menimbulkan ketidaksantunan berbahasa.

  Tuturan (B5) dan (B6) adalah ih ... sombong, nyebahi! dan pak, ini

  nggak adil. Kedua tuturan tersebut merupakan bahasa nonstandar yang tergolong bahasa tidak baku dan bahasa penggunaan bahasa Jawa.

  Penggunaan bahasa terinterferensi ke dalam bahasa seperti pada tuturan

  nyebahi, kata nyebahi sama halnya dengan kata jelehi yaitu menjengkelkan. Kata tersebut merupakan kata dalam bahasa Jawa.

  Penggunaan bahasa Jawa seperti jelehi dan nyebahi tidak seharusnya digunakan dalam situasi formal apalagi berbicara dengan dosen. Kata-kata tersebut terdengar sangat kasar dan tidak santun. Penggunaan kata tidak baku juga terjadi dalam tuturan tersebut yaitu kata nggak yang berarti

  tidak. Selain itu, struktur kalimat pak, ini nggak adil tersebut tidak

  terstruktur. Walau tuturan tersebut dituturkan dalam tuturan lisan, tuturan tersebut tidak seharusnya digunakan. Penggunaan bahasa tidak baku juga memandang siapa yang menjadi mitra tuturnya. Penggunaan kata ih dalam tuturan ih sombong, nyebahi! merupakan kata seru sebagai bentuk ekspresi mengungkapkan perasaan kesal. Tuturan (B5) dan (B6) dituturkan dengan intonasi kasar dan cenderung tinggi. Tuturan tersebut menunjukkan kadar kesantunan yang sangat rendah terutama di kalangan orang yang berpendidikan.

  Hal berikutnya pembahasan mengenai wujud nonlinguistik Rahardi mengungkapkan bahwa konteks merupakan bidang yang sifatnya

  extralinguistic atau ‘luar bahasa’. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai

  berikut bahwa konteks adalah segala macam aspek yang sifatnya luar bahasa (extralinguistics), yang menjadi penentu pokok bagi kehadiran sebuah makna kebahasaan (melalui Rahardi:2011). Lebih lanjut lagi, Leech (1993) menjelaskan pengertian konteks dalam pragmatik yaitu sebagai aspek-aspek yang terdapat di dalam situasi tuturan atau ‘speech

  situation’ itu dapat dibedakan menjadi lima macam, yakni (1) penutur dan

  lawan tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai tindak verbal, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal. Leech mengungkapkan bahwa konteks tuturan adalah suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh n dan t yang membantu t menafsirkan makna tuturan.

  Vershueren (dalam Rahardi:2007) juga menyinggung perihal konteks yang bukan semata-mata penyampaian pesan dari penutur kepada lawan tutur, namun masih ada dimensi lain yang menentukan konteks yaitu mencakup latar belakang fisik (physical world of the utterance), latar belakang sosial dari tuturan (social world of the utterance), dan latar belakang mental penuturnya (mental world of the utterance). Dimensi mental kepribadian, warna emosi, dan kognisi. Dimensi fisik pengguna bahasa berhubungan dengan kata ganti orang (persona), lokasi atau tempat, dan jarak spasial. Dimensi sosial pengguna bahasa berhubungan lebih lanjut bahwa dimensi sosial berkaitan dengan keberadaaan penutur dan mitra tutur sebagai warga masyarakat dan budaya tertentu (dalam Rahardi: 2011). Maka, kajian pragmatik tidak dapat dipalingkan dari fakta-fakta sosiopramatik.

  Tuturan (B2), (B3),(B4), (B5), dan (B6) merupakan tuturan yang tidak santun bila dipaparkan dalam kajian konteks pragmatik. Tuturan (B2), (B3),dan (B4) dituturkan pada saat berkuliah berlangsung di kelas sedangkan tuturan (B5) dan (B6) dituturkan di ruang dosen saat penutur konsultasi skripsi dengan mitra tutur. Tuturan (B2) dituturkan pada tanggal

  20 November 2012 pada pukul 12.30 WIB sedangkan tuturan (B3),(B4), (B5), dan (B6) dituturkan pada tanggal 11 Desember 2012 pada waktu yang berbeda. Tuturan (B3),(B4), (B5), dan (B6) merupakan tuturan yang diambil dari hasil wawancara dengan mahasiswa PBSID, angkatan 2010 dan 2009.

  Tuturan (B2) dituturkan saat penutur mendapatkan soal kuis yang berjumlah 50 butir. Mitra tutur sudah biasa memberikan kuis diakhir penjelasan materi sebagai penguatan pemahaman. Namun, saat itu penutur merasa soal yang diberikan cukup berat. Mitra tutur terlalu sering memberikan soal sehingga penutur bosan dan malas mengerjakan soal. Jumlah soal yang diberikan terasa sangat banyak. Kata ya ampun mengutarakan keberatan penutur mengerjakan soal tersebut. Tuturan tersebut dituturkan oleh seorang mahasiswa yang berusia 21 tahun, berusia 46 tahun. Seorang mahasiswa sudah dikatakan sebagai orang yang dewasa karena pola pikirnya sudah dewasa pula. Pola pikir orang yang sedang mengeyam pendidikan di universitas tentu saja berbeda dengan pola pikir anak di bangku sekolah. Tuturan (B2) menunjukkan pola pikir dan kematangan emosi penutur belum cukup matang. Mitra tutur memberikan soal-soal tersebut sebagai tambahan pengetahuan dan pemahaman bukan sebagai beban. Namun, pola pikir penutur tidak berpikir demikian sehingga ia merasa keberatan mengerjakan soal itu.

  Penanda ketidaksantuan berbahasa yang memain-mainkan muka terlihat ketika penutur menuturkan ya ampun, ketidakbiasaan penutur mengatakan demikian membuat mitra tutur merasa tidak dihargai. Mitra tutur selalu memberikan kuis diakhir perkuliahan, hal demikian tidak membuat para mahasiswa mengeluh. Namun, kali ini penutur mengeluhkan tindakan mitra tutur. Tuturan penutur memain-mainkan muka mitra tutur yang menganggap soal 50 tersebut sangat memberatkan. Selain itu, mitra tutur selalu memberikan kuis diakhir perkuliahan sehingga timbul kebosanan dari penutur dan menganggap kuis ini tidak penting.

  Selanjutnya tuturan (B3) dituturkan pada saat penutur mendapatkan tugas dari mitra tutur. Tugas ini sebagai pengganti ketidakhadiran mitra tutur pada perkuliahan tersebut. Penutur merasa mitra tutur tidak pernah memberikan kejelasan atas tugas yang diberikan. Oleh penutur mengerjakan tugas mitra tutur tidak pernah dikoreksi atau dibahas bersama, alasan demikian membuat penutur merasa ragu-ragu mengerjakan tugas tersebut. Penutur adalah seorang mahasiswa yang berusia 22 tahun, angkatan 2009 sedangkan mitra tutur adalah seorang dosen laki-laki yang berumur 58 tahun. Tuturan yang dituturkan oleh penutur adalah pak, apa ini tugasnya dah masuk nilai apa nggak?, tuturan tersebut sangat tidak santun. Penggunaan bahasa yang tidak standar dan penyusunan kalimat yang tidak sistematis menunjukkan pribadi yang belum matang. Tuturan tersebut senada dengan fakta pemakaian tidak santun yang diutarakan oleh Pranowo (2009:71) bahwa penutur menyampaikan tuduhan atas dasar kecurigaan terhadap mitra tutur. Tuturan menjadi tidak santun jika penutur terkesan menyampaikan kecurigaan terhadap mitra tutur dalam hal ini kecurigaan tidak memberikan nilai tugas.

  Seperti halnya tuturan (B2), seseorang yang kepribadinnya tidak cukup matang sehingga segala sesuatu yang hadir cenderung menentang dan melawan sekalipin tidak selalu memiliki dasar alasan yang jelas dan tegas akan sangat mewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan dalam pertuturan (Rahardi, 2011:158). Pernyataan demikian sama terjadi pada tuturan (B3) yang menggunakan kebahasaan yang tidak tepat karena memiliki kepribadian yang tidak cukup matang.

  Tuturan (B4) dituturkan pada saat penutur ingin menayakan perihal penutur diacuhkan saja. Ketidakpedulian mitra tutur membuat penutur marah dan jengkel. Saat itu mitra tutur sedang sibuk menjelaskan materi sehingga tidak bisa menJawab pertanyaan penutur. Penutur adalah seorang mahasiswi yang berusia 21 tahun, angkatan 2010 sedangkan mitra tuturnya adalah seorang dosen laki-laki yang berusia 58 tahun. Kejengkelan penutur sangat terlihat jelas ketika menuturkan jelehi yang berarti menjengkelkan.

  Penggunaan kata dalam bahasa Jawa seharusnya tidak diucapkan ketika bertutur kata dalam perkuliahan jurusan bahasa Indonesia. Hal tersebut dikarena mahasiswa yang kuliah di jurusan bahasa Indonesia harus menggunakan bahasa Indonesia selain itu juga sebagai calon pendidik bahasa Indonesia harus mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

  Selanjutnya tuturan (B5) dan (B6) adalah hasil dari wawancara dengan mahasiswa angkatan 2009. Situasi tuturan (B5) pada saat penutur ingin konsultasi skripsi dengan dosen pembimbing di ruang dosen sedangkan tuturan (B6) adalah tuturan ketika penutur ingin menayakan kegiatan mahasiswa di Program Studi tersebut kepada mitra tutur, namun mitra tutur tidak menerima bimbingan konsultasi pada hari itu. Penutur tersinggung dankeluar ruang dosen dengan sikap ketus. Penutur adalah mahasiswi, berusia 22 tahun angkatan 2009 sedangkan mitra tutur pada tuturan (B5) adalah dosen perempuan yang berusia 36 tahun serta pada tuturan (B6) adalah dosen laki-laki yang berusia 48 tahun.

  Tuturan (B5) dan (B6) merupakan wujud ketidaksantunan berbahasa memain-main muka. Penjelasannya sama dengan tuturan (B3) bahwa kematangan seseorang dapat dilihat dari kebahasaan yang digunakan. Kepribadian yang tidak cukup matang sehingga segala sesuatu yang hadir cenderung menentang dan melawan sekalipin tidak selalu memiliki dasar alasan yang jelas dan tegas akan sangat mewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan dalam pertuturan.

  Penggunaan bahasa yang tidak baku dipengaruhi pula dari kedekatan penutur dan mitra tutur. Semakin dekat hubungan kekerabatan penutur dan mitra tutur, bentuk kebahasaan cenderung tidak baku. Hal demikian karena penutur dan mitra tutur mempunyai kedekatan secara emosional. Pernyataan di atas dapat telah dijelaskan dalam uraian tuturan (B2), (B3), (B4), (B5), dan (B6) sebagai wujud dari ketidaksantunan berbahasa. Dimensi sosial yang melingkupi tuturan tersebut adalah dimensi status sosial penutur dan mitra tutur. Orang yang berstatus sosial rendah dalam masyarakat lazimnya menggunakan bentuk hormat kepada mereka yang berstatus sosial menengah apalagi berstatus sosial tinggi. Misalnya, seorang mahasiswa harus bertutur kata santun dan hormat kepada dosennya, walau mahasiswa tersebut adalah anak konglomerat di kota tersebut. Hal demikian sewajarnya dapat direalisasikan dalam tuturan (B2), (B3), (B4), (B5), dan (B6) karena mitra tutur adalah seorang dosen yang mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada mahasiswa. Selain itu, orang yang dianggap sepuh (tua) akan mendapatkan penghormatan atau penghargaan lebih dari mereka yang muda (Rahardi, 2011:162).

  Tuturan (B2), (B3), (B4), (B5), dan (B6) dituturkan dalam lingkungan kampus. Hasil tindak tutur dari tuturan (B2), (B4), (B5), dan (B6) adalah tindak tutur ekspresif menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan. Tuturan tersebut menunjukkan ekspresif kekesalan penutur kepada mitra tuturnya. Tuturan (B4), B5), dan (B6) yang dituturkan dengan kata-kata jelehi banget, sombong, dan nggak

  adil merupakan ekspresi yang menuduh terhadap sikap mitra tutur. Ilokusi

  ekspresif cenderung menyenangkan karena itu secara intrinsik ilokusi ini sopan kecuali tentunya ilokusi-ilokusi ekspresif seperti mengecam dan

  menuduh (melalui Leech, 1993:165). Tuturan (B3) merupakan hasil tindak

  tutur assertif yaitu bentuk kebahasaan yang berisi kebenaran proposisi yang diungkapkan. Pernyataan kebenaran dari tuturan tersebut adalah tugas yang diberikan mitra tutur tidak pernah diberi nilai atau dibahas, hal tersebut dapat dilihat dari tuturan tugas ini dah masuk nilai apa nggak , tuturan tersebut mempunyai makna tersirat bahwa penutur beranggapan bahwa tugas yang diberikan mitra tutur tidak pernah dikoreksi. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah tergantung dengan tujuan tuturan penutur.

  Jadi, ketidaksantunan berbahasa yang main-mainkan muka mitra tuturnya memiliki penanda linguistik dan pragmatik. Penanda linguistik digunakan berupa nada sedang yang mengungkapkan kesinisan dan sindiran penutur bagi mitra tutur, sedangkan nada tinggi mengungkapkan kejengkelan dan kemarahan penutur kepada mitra tutur. Tuturan yang disampaikan dapat membuat kebingungan dan kejengkelan mitra tutur.

  Hal demikian mengakibatkan salah paham dan terjadinya konflik antara penutur dan mitra tutur. Penanda pragmatik dapat dilihat berdasarkan situasi dan suasana. Situasi tuturan yang terjadi dapat terjadi di mana saja dan suasana tuturan dalam keadaan santai dan serius. Implikatur tambahannya berupa tindak verbal dan tindak perlokusi. Tindak verbal dari hasil tuturan tersebut adalah asertif dan ekspresif, serta tindak perlokusinya adalah memberikan penjelasan atas tuturan penutur.

  Tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan ketidaksantunan berbahasa yang melecehkan muka. Tuturan (B2), (B3), (B4), (B5), dan (B6), bermakna kejengkelan dan rasa bingung dengan tingkah penutur yang tidak seperti biasanya . Seperti pada tuturan (B2) dan (B3) yang bermakna penutur membuat kesal, jengkel, dan bingung mitra tutur. Tuturan (B2) dan (B3) merupakan sikap penutur yang membuat mitra tutur kesal dengan menuturkan jumlah soal dan kejelasan soal, biasanya hal-hal demikian tidak pernah ditanyakan. Hal demikian sejalan dengan tuturan- tuturan (B4), (B5), dan (B6) yaitu bermakna penutur membuat jengkel dan bingung mitra tutur karena mitra tutur tidak mau menerima bimbingan yang diminta penutur. Tuturan-tuturan tersebut termasuk ketidaksantunan jengkel, bingung, dan kesal kepada mitra tutur. Hal demikian sejalan dengan pendapat Locher bahwa tindak berbahasa yang melecehkan dan memain-mainkan muka, sebagaimana yang dilambangkan dengan kata ‘aggravate’ itu merupakan ketidaksantunan berbahasa.

4.3.3 Kesembronoan yang disengaja

  Sementara itu menurut pandangan Bousfield dalam buku Bousfield and Locher, 2008:3), ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami sebagai, ‘The issuing of intentionally gratuitous and conflictive face-threatening

  acts (FTAs) that are purposefully perfomed.’ Bousfield memberikan

  penekanan pada dimensi ‘kesembronoan’ (gratuitous), dan konfliktif

  (conflictive) dalam praktik berbahasa yang tidak santun itu. Jadi perilaku

  berbahasa seseorang yang mengancam muka dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan sembrono itu menimbulkan konflik bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas ketidaksantunan berbahasa. Contoh tuturan sebagai berikut.

  (C3) “Oooo... tak kira mau ngasih minum.” (Konteks tuturan: Tuturan ini terjadi pada saat pergantian perkuliahan.

  Penutur berjalan ke ruangnya untuk mengambil minum. Penutur bertemu mitra tutur di depan ruang dosen. Mitra tutur ingin konsultasi judul skripsi dengan penutur. Penutur mengira mitra akan memberikan minum karena saat itu penutur sangat haus. )

  (C5) “Pake thok, pak?? Hehehe... . “

  kata thok untuk memperjelas maksud mitra tutur. Saat itu sedang dilaksanakan kuis dadakan di kelas. Mitra tutur membacakan soal yang ada di layar proyektor ).

  (C6) “Hitam susu, Pak! Asyik.. hehehe... .” (Konteks tuturan: Tuturan dituturkan pada saat mitra tutur bertanya

  kepada penutur saat perkuliahan sedang berlangsung di kelas. Mitra tutur bertanya dengan sikap yang serius. Penutur menJawab dengan sembrono, Jawaban tidak sesuai dengan maksud yang ada pada warna gambar di power point .)

  (C7) “Sekali, Pak!” (Konteks tuturan: Tuturan tersebut terjadi pada saat perkuliahan akan

  berakhir. Mitra tutur bertanya berapa kali lagi kita pertemuan perkuliahan akan berlangsung. Penutur merasa perkuliahan ini membosankan maka penutur menJawab sekenanya.)

  (C9) “Lho... sekarang kan lagi ngetrend, Bu.” (Konteks tuturan: Tuturan terjadi pada saat perkuliahan sudah berakhir.

  Mitra tutur melihat pakaian yang dikenakan penutur. Menurut penutur, pakaian yang dikenakan bagus tetapi tidak pantas bila dikenakan di kampus. Pakaian penutur terlalu norak dikenakan di lingkungan kampus sehingga mitra tutur menegurnya. Penutur bersikap acuh. )

  Tuturan tersebut di atas termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan berbahasa kesembronoan yang disengaja karena tuturan yang disampaikan dengan sembrono dan bersifat godaan atau candaan. Hal tersebut dapat dikatakan demikian karena dilihat berdasarkan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik. Tuturan (C3), (C5), (C6), (C7) dan (C9) memiliki tujuan tutur yang sama yaitu membuat ketidaknyamanan, rasa kesal, dan menyinggung perasaan mitra tutur. Hal yang membedakan kelima tuturan tersebut berkenaan dengan penanda lingual, penanda nonlingual, dan informasi indeksal. Adapun penanda lingual dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Penanda nonlingual dapat tambahan dapat dilihat berdasarkan penutur, mitra tutur, tujuan tutur, tindak verbal, dan tindak perlokusi, hal ini sejalan dengan konteks menurut Leech (1993:19—21).

  Tuturan (C3), (C5), (C6), (C7) dan (C9) bernada sedang dan bertekanan sedang. Tuturan dengan nada yang sedang identik dengan sindiran atau kekesalan penutur. Tuturan yang menunjukkan kesembronoan yang disengaja terlihat dari ketidakserius penutur menuturkan demikian karena tuturan tersebut bersifat godaan atau candaan. Tuturan tersebut bernada sedang yang dapat diartikan sebagai sindirian. Sindirian dalam tuturan tersebut dapat diartikan sebagai lelucon bahkan tuturan tersebut tidak penting sama sekali karena penutur tidak serius menuturkannya. Namun, tuturan tersebut dapat mengakibatkan konflik, seperti yang diungkapkan Bousflied (2008) bahwa perilaku berbahasa seseorang yang mengancam muka—tidak santun--dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan sembrono itu menimbulkan konflik bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan kesengajaan (purposeful) . Uraian penjelasan kesembroan yang disengaja dalam tuturan (C5), (C6), (C7), (C8) dan (C9) diuraikan sebagai berikut.

  Tuturan (C5) yaitu pake thok, pak?, tuturan tersebut menggunakan bahasa nonstandar yaitu bahasa tidak baku. Penekanan kata terletak pada kata thok. Penggunaan bahasa nonstandar terletak pada kata pake. Tuturan seorang mahasiswa kepada dosen dalam situasi formal. Penggunaan kata

  pake sangat tidak santun karena menggunakan bahasa nonbaku dalam

  situasi formal. Tuturan tersebut dituturkan dengan intonasi biasa cenderung naik karena tuturan tersebut berupa kalimat tanya yang mempunyai pola datar-naik. Tuturan tersebut cenderung sembrono karena penutur menuturkan dengan tidak serius bahkan terlihat bercanda. Hal demikian dapat mengakibatkan mitra tutur yang notabene adalah seorang dosen merasa tersinggung dan marah kepada penutur. Penggunaan kata

  thok merupakan celotehan dari penutur yang menanggapi tuturan mitra

  tutur saat memberikan penjelasan soal kuis. Komunikasi masih akan terasa santun jika penutur mampu membedakan tuturan sesuai dengan situasinya (Pranowo, 2009:66). Tuturan (C5) yang dituturkan penutur menujukkan penutur tidak dapat membedakam situasi bercanda dengan situasi serius.

  Ketidakseriusan penutur menuturkan tuturan tersebut dapat mengakibatkan mitra tutur marah dan terjadi konflik antara penutur dan mitra tutur.

  Kesembronoan juga terjadi pada tuturan (C6), sama halnya dengan tuturan (C5) yaitu penutur menanggapi mitra tutur dengan tidak serius bahkan cenderung bercanda. Kedua situasi tuturan (C6) dan (C5) pada saat perkuliahan sedang berlangsung. Tuturan (C6) adalah hitam susu, pak , tuturan tersebut dituturkan secara langsung dan didengarkan oleh semua mahasiswa, sebagaian besar mahasiswa tertawa, mitra tutur yang seorang dosen hanya diam saja. Intonasi yang digunakan dalam tuturan tersebut Namun, penekanan ketidaksantunan dalam tuturan (C6) adalah pilihan kata menanggapi pertanyaan mitra tutur sangat tidak santun. Mitra tutur bertanya perihal warna di power point dengan serius, namun tanggapan mitra tidak serius dan terkesan bercanda. Sama halnya dengan tuturan (C5), tuturan (C6) tersebut dapat mengakibatkan konflik, di sisi lain penutur tidak bisa membedakan situasi formal dan nonformal dalam menentukan pilihan kata yang digunakan.

  Penjelasan berikutnya adalah tuturan (C7), tuturan tersebut sama halnya dengan tuturan (C3), (C4), dan (C5) yaitu tuturan yang disampaikan dengan nada bercanda dan tidak serius menanggapinya. Hal tersebut menunjukkan kesembronoan penutur yang disengaja yang dapat mengakibatkan konflik atau pertengkaran. Tuturan (C7) menunjukkan kesembronoan yang dilakukan oleh seorang mahasiswa, dengan tuturan

  sekali, pak ! Penekanan tuturan tersebut adalah sekali , maksudnya penutur meminta mitra tutur mengajar sekali lagi bahkan tidak perlu mengajar lagi.

  Tuturan tersebut dituturkan dengan nada sedang namun intonasi yang cenderung tinggi, tuturan tersebut berupa kalimat perintah (imperatif) yang bermakna permintaan kepada mitra tutur perihal pengajaran.

  Selanjutnya, tuturan (C8) yaitu ah ... nggak bisa, pak. Tuturan tersebut dituturkan oleh penutur dengan nada sedang dan intonasi yang digunakan cenderung tinggi. Tuturan yang dituturkan cenderung berlebihan, dengan penggunaan kata fatis ah. Kata fatis ah berfungsi tersebut menyisyaratkan penolakan atau ketidakmauan penutur akan permintaan mitra tutur yaitu mengerjakan soal kuis yang telah dibuat mitra tutur. Soal kuis yang diberikan mitra tutur tidak sesuai dengam materi yang dipelajari oleh penutur. Tuturan tersebut menggunakan bahasa nonstandar yaitu kata nggak. Tuturan tersebut dituturkan dalam situasi yang formal saat perkuliahan dengan berlangsung, seharusnya penutur menggunakan bahasa yang lebih santun. Pemakaian pilihan kata (diksi) bila digunakan secara tepat dapat mengakibatkan bahasa menjadi lebih santun.

  Selain tuturan (C8) cenderung berlebihan, tuturan tersebut juga menunjukkan sifat penutur yang kekanak-kanakan dan sedikit manja.

  Orang yang dianggap sepuh (tua) bagaimanapun sebab dan alasannya harus senantiasa mendapatkan penghormatan atau penghargaan lebih dari mereka uang muda (Rahardi, 2011:161). Oleh sebab itu, orang yang dianggap tua, dalam hal ini adalah seorang dosen, harus senantiasa dihormati. Penghormatan dengan orang yang lebih tua terlihat jelas ketika bertuturkan kata dalam bahasa Jawa dapat dikatakan sebagai unggah-

  ungguh . Bentuk kebahasaan yang digunakan kepada orang tua lazimnya

  adalah bentuk yang cenderung halus dan santun. Misalnya, dalam bahasa Jawa, terhadap orang tua tidak akan memungkinkan digunakan mangan (bahasa Indonesia :makan) dari orang yang lebih muda, bentuk yang tepat adalah dhahar. Penggunaan kata nggak pada tuturan tersebut sangat tidak terutama dalam situasi formal seharusnya penggunaan kata nggak digantikan dengan kata tidak.

  Tuturan (C8) menunjukkan kesembronoan berbahasa dengan penanda linguistik kata nggak dan tuturkan dengan intonasi cenderung tinggi, dituturkan secara berlebihan. Sama halnya dengan tuturan (C9) merupakan tuturan yang sembrono. Tuturan (C.9) adalah lho ... sekarang

  kan lagi ngetrend, Bu. Tuturan tersebut adalah tuturan hasil wawancara

  dengan salah satu mahasiswa yang mendapatkan situasi bila salah satu dosen tidak menyukai penampilan mahasiswa tersebut. Tuturan tersebut bernada tinggi dan intonasinya juga cenderung tinggi. Mitra tutur memberitahu yang sebenarnya akan pakaian yang dikenakan penutur namun penutur menJawab dengan acuh dengan nada tinggi. Tuturan tersebut menunjukkan kadar kesantunan yang sangat rendah karena penutur menuturkan dengan intonasi yang keras padahal jarak penutur dan mitra tutur sangat dekat. Tuturan tersebut juga dituturkan dengan nada bercanda yang menunjukkan penutur tidak menghargai maksud mitra tutur.

  Pilihan kata yang digunakan dalam tuturan tersebut adalah bahasa nonstandar dan bahasa populer. Bahasa nonstandar sudah diuraikan dalam penjelasan sebelumnya. Selanjutnya, bahasa populer adalah bahasa yang digunakan dalam hubungan dengan kesempatan yang dihadapi seseorang dapat dibagi atas beberapa macam kategori sesuai dengan penggunaannya. sehari-hari baik mereka yang berada di lapisan atas maupun antara mereka yang di lapisan bawah atau antara lapisan atas dan lapisan masyarakat maka kata-kata ini dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat (Keraf, 1985:103). Kata dasar dari ngetrend adalah trend, imbuhan -nge tidak ada dalam bahasa Indonesia, imbuhan tersebut merupakan bahasa gaul. Kata

  ngetrend berarti sedang trend, kata trend berasal dari bahasa Inggris yang

  berarti gaya atau model. Maka, kata ngtrend berarti yang sedang model

  atau gaya, dalam bahasa Indonesia, penulisan trend menjadi tren. Penutur

  ingin menyatakan bahwa ia memakai pakaian yang sedang gaya atau model saat itu.

  Selanjutnya, tuturan tersebut juga menggunakan kata fatis yaitu kata lho. Kata fatis lho yang terletak di awal kalimat bersifat seperti interjeksi yang menyatakan kekagetan (Kridalaksana:1986). Kekagetan penutur terlihat ketika mitra tutur tidak menyukai penampilan penutur sedangkan penutur mengenakan pakaian tersebut dengan santai tanpa beban. Tanggapan mitra tutur dianggap bahan lelocon oleh penutur yang menunjukkan kesembronoan yang disengaja. Hal demikian sejalan dengan Pranowo (2009:69—70) tentang fakta pemakaian bahasa yang tidak santun yaitu penutur protektif terhadap pendapatnya. Ketika bertutur, seorang kadang-kadang protektif terhadap pendapatnya. Penutur ingin menyakinkan kepada mitra tutur bahwa apa yang dilakukan penutur benar dan yang dilakukan mitra tutur salah. Namun, justru dengan cara tuturan (C9) yang terkesan penuturnya protektif terhadap tuturannya sendiri dan ingin menjatuhkan atau menyalahkan mitra tutur walau situasi tersebut dalam keadaan yang santai.

  Hal berikutnya pembahasan mengenai wujud nonlinguistik ketidaksantunan berdasarkan konteks situasi penutur dan mitra tutur.

  Rahardi mengungkapkan bahwa konteks merupakan bidang yang sifatnya

  extralinguistic atau ‘luar bahasa’. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai

  berikut bahwa konteks adalah segala macam aspek yang sifatnya luar bahasa (extralinguistics), yang menjadi penentu pokok bagi kehadiran sebuah makna kebahasaan (melalui Rahardi:2011). Lebih lanjut lagi, Leech (1993) menjelaskan pengertian konteks dalam pragmatik yaitu sebagai aspek-aspek yang terdapat di dalam situasi tuturan atau ‘speech

  situation’ itu dapat dibedakan menjadi lima macam, yakni (1) penutur dan

  lawan tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai tindak verbal, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal. Leech mengungkapkan bahwa konteks tuturan adalah suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh n dan t yang membantu t menafsirkan makna tuturan.

  Vershueren (dalam Rahardi: 2007) juga menyinggung perihal konteks yang bukan semata-mata penyampaian pesan dari penutur kepada lawan tutur, namun masih ada dimensi lain yang menentukan konteks yaitu mencakup latar belakang fisik (physical world of the utterance), latar belakang mental penuturnya (mental world of the utterance). Dimensi mental kepribadian, warna emosi, dan kognisi. Dimensi fisik pengguna bahasa berhubungan dengan kata ganti orang (persona), lokasi atau tempat, dan jarak spasial. Dimensi sosial pengguna bahasa berhubungan dengan jenis kelamin, usia, dan status sosial. Vershueren menjelaskan lebih lanjut bahwa dimensi sosial berkaitan dengan keberadaaan penutur dan mitra tutur sebagai warga masyarakat dan budaya tertentu (dalam Rahardi:2011). Maka, kajian pragmatik tidak dapat dipalingkan dari fakta- fakta sosiopramatik.

  Tuturan (C5), (C6), (C7), (C8), dan (C9) merupakan tuturan yang tidak santun bila dipaparkan dalam kajian konteks pragmatik. Tuturan (C5), (C6), (C7), dan (C8) tuturkan pada saat kuliah sedang berlangsung sedangkan tuturan (C9) dituturkan di depan ruang dosen. Tuturan (C.6) dituturkan pada tanggal 5 November 2012, tuturan (C9) dituturkan pada tanggal 11 November 2012 sedangkan tuturan (C5), (C7), dan (C8) dituturkan pada tanggal 20 November 2012 pada waktu yang berbeda. Tuturan (C9) merupakan tuturan yang diambil dari hasil wawancara dengan mahasiswa PBSID, angkatan 2010.

  Tuturan (C5) dituturkan pada saat penutur menayakan intruksi mengerjakan soal kuis yang kurang jelas di power point, lalu mitra tutur memberitahu petunjuk mengerjakan soal dengan menJawab pertanyaan tanpa menuliskan soalnya kembali. Mitra tutur menggunakan kata thok Penutur melontarkan kata thok sambil tertawa sebagai bahan bercanda teman-teman yang lain. Tuturan yang dituturkan penutur dilakukan dengan sembrono yang disengaja. Tuturan tersebut dituturkan oleh seorang mahasiswi berusia 22 tahun, angkatan 2009 sedangkan mitra tuturnya adalah dosen laki-laki yang berumur 46 tahun. Penutur adalah seorang mahasiswa tingkat atas dan seorang perempuan, seharusnya penutur yang berjenis kelamin perempuan mampu berbahasa yang halus dan santun di muka publik.

  Kematangan kepribadian seseorang juga dapat ditentukan dengan usia yang dimiliki. Sewajarnya usia yang dianggap sudah dewasa maka kepribadiannya pun juga sudah matang, begitu pula sebaliknya usia yang relatif muda, maka kepridiannya pun belum matang. Namun, tuturan yang disampaikan oleh penutur menunjukkan penyimpangan. Hal tersebut terlihat dari pilihan kata yang digunakan. Seorang yang kepribadiannya tidak cukup matang sehingga segala suatu yang hadir cenderung menentang dan melawan akan sangat mewarnai kebahasaan yang digunakan dalam pertuturan.

  Tuturan (C5) menunjukkan ketidaksantunan berbahasa kesembronoan yang disengaja karena penutur menuturkan tuturan tersebut dengan sengaja dan sembrono yang mengakibatkan mahasiswa yang lain tertawa. Tuturan (C5) sangat menjengkelkan dan membuat marah mitra tutur. Tuturan tersebut dapat mengakibatkan konflik atau pertengkaran antara penutur dan mitra tutur. Selain dituturkan dengan sembrono, tuturan tersebut juga dituturkan dengan kata yang tidak baku yaitu pake.

  Selanjutnya, tuturan (C6) dituturkan pada saat mitra tutur menayakan warna yang ada di power point. Mitra tutur ingin membedakan dua warna yang hampir sama yaitu warna hitam dengan warna biru doker . Mitra tutur menayakan pertanyaan tersebut kepada penutur namun Jawaban penutur adalah hitam susu. Jawaban penutur yang terlihat asal- asalan dan sembrono membuat mitra tutur sangat kesal padahal penutur bertanya dengan serius. Penutur adalah seorang mahasiswi yang berusia 22 tahun, angkatan 2009 sedangkan mitra tutur adalah dosen laki-laki yang berumur 26 tahun. Tuturan (C6) sama halnya dengan tuturan (C6) yaitu tuturan yang mengandung kesantunan yang rendah, apalagi tuturan tersebut dituturkan dengan sembrono. Tuturan (C5) menggunakan pilihan kata pake thok, pak , kata-kata demikian sangat tidak santun, apalagi tuturan (C6) yang tidak jelas dituturkan oleh penutur secara asal-asalan.

  Kasus tuturan (C6) sama dengan tuturan (C5) yang dituturkan oleh seorang mahasiswi dan berangkatan atas. Selayaknya, penutur yang notabene seorang mahasiswa perempuan yang sudah mengeyam pendidikan lebih lama dapat berbahasa yang lebih halus dan santun.

  Tuturan tersebut dapat terjadi karena adanya kedekatan emosional antara penutur dan mitra tutur.

  Tuturan (C6) merupakan bukti kesantunan yang rendah karena kebahasaan yang digunakan tidak santun. Kesejajaran penutur dan mitra tutur terlihat dari rentang usia penutur dan mitra tutur tidak terpaut jauh sehingga penutur berbicara dengan mitra tutur seperti temannya sendiri walau tuturan tersebut dituturkan dalam situasi yang formal.

  Berikutnya, tuturan (C7) yaitu sekali, pak, tuturan tersebut dituturkan pada saat mitra tutur bertanya berapa kali lagi pertemuan perkuliahan akan berlangsung. Penutur serta merta menuturkan sekali,

  pak . Penutur merasa perkuliahan ini membosankan karena perkuliahan

  diisi dengan kuis saja. Maka, penutur menghendaki perkuliahan mitra tutur sekali lagi saja atau bahkan dalam benak penutur bahwa perkuliahan tersebut disudahi saja. Tuturan dituturkan oleh mahasiswa yang berusia 21 tahun, angkatan 2010 sedangkan mitra tutur adalah dosen laki-laki yang berusia 46 tahun. Kesembronoan yang dilontarkan penutur dapat mengakibatkan kekesalan atau marah hingga pertengkaran antara penutur dan mitra tutur. Pembahasan perihal kurangnya kematangan kepribadian seseorang sudah diuraikan diatas bahwa pribadi yang belum matang cenderung menentang dan melawan walau tidak ada dasar yang jelas akan sangat mewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan dalam pertuturan.

  Tuturan (C8) dituturkan pada saat mitra tutur akan memberikan soal kuis. Penutur tidak bersedia mengerjakan kuis dari mitra tutur karena materi yang dipelajari penutur berbeda dengan soal kuis yang diberikan mitra tutur. Penutur tidak ingin rugi dengan menerima nilai buruk maka berusia 21 tahun, angkatan 2010 sedangkan mitra tutur adalah dosen laki- laki yang berusia 46 tahun. Sedangkan tuturan (C8) dituturkan pada saat mitra tutur mengomentari pakaian yang dikenakan oleh penutur. Penutur berusaha membela diri atas pakaian yang dikenakannya.

  Tingkat keakraban hubungan antara penutur dengan mitra tutur sangat menentukan peringkat kesantunan tuturan yang digunakan dalam bertutur. Kedua tuturan tersebut tidak santun, hal tersebut dapat terjadi karena adanya kedekatan penutur dan mitra tutur yang dekat dan akrab sehingga memunculkan kebahasaan yang sifatnya nonformal. Tuturan (C8) dan (C9) dituturkan oleh mahasiswa kepada dosen yang selayaknya menggunakan bahasa yang baku terutama dalam situasi yang formal.

  Kecenderungan sekarang adalah orang yang belum kenal benar, orang sudah sudah sering menggunakan bentuk-bentuk kebahasaan yang informal dan cenderung akrab. Maka, muncullah tuturan yang dipandang tidak sopan dan kurang santun, penuturnya juga akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun. Bahasa yang digunakan cenderung dianggap tidak pas dan terlalu vulgar sehingg akan tidak mengenakkan hati mitra tutur dalam pertuturan tersebut (Rahardi, 2007:63). Hal demikian terjadi dalam tuturan-tuturan yang mengandung kesembronoan yang disengaja, penutur menuturkan dengan leluasanya kepada mitra tutur yang notanbene adalah seorang dosen. Walau kedekatan penutur dan mitra tutur sudah terbilang dekat dan akrab, namun hubungan penutur dan mitra tutur mempunyai jarak sosial yang harus diperhitungkan terutama dalam situasi dan suasana formal.

  Tuturan (C3), (C5), (C6), (C7) dan (C9) menghasilkan tindak tutur ilokusi. Tuturan (C3) menghasilkan tindak tutur direktif yang bertujuan menyuruh atau memerintah mitra tutur untuk melakukan sesuai yang dituturkan penutur yaitu menyuruh mengambilkan minuman untuk penutur. Jenis ilokusi ini sering dimasukkan dalam kategori kompetitif karena itu mencakup kategori-kategori ilokusi yang membutuhkan sopan santun negatif (melalui Leech, 1993:164) Sedangkan tuturan (C5), (C6), (C7) dan (C9) merupakan tindak tutur ekspresif yaitu menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan. Tuturan tersebut menunjukkan ekspresif bercanda seperti pada tuturan pake thok,

  pak; dan hitam susu sedangkan tuturan ah ... nggak adil, pak merupakan

  ekspresi menyalahkan (blaming). Tindak perlokusi atas tuturan (C5), (C6), (C7) dan (C9) adalah mitra tutur menanggapi penutur dan memenuhi permintaannya.

  Jadi, ketidaksantunan berbahasa yang kesembronoan yang disengaja memiliki penanda linguistik dan pragmatik. Penanda linguistik dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Nada yang digunakan berupa nada sedang yang mengungkapkan kesinisan dan sindiran penutur bagi mitra tutur, sedangkan nada tinggi mengungkapkan kejengkelan dan kemarahan penutur kepada mitra tutur. Penanda yang terjadi dapat terjadi di mana saja dan suasana tuturan dalam keadaan santai dan serius. Implikatur tambahannya berupa tindak verbal dan tindak perlokusi. Tindak verbal dari tuturan berbahasa kesembronoan yang disengaja berupa tindak verbal direktif dan ekspresif tindak perlokusinya umumnya mitra tutur merespon tetapi terpaksa karena hatinya terluka.

  Tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan ketidaksantunan berbahasa kesembronoan yang disengaja. Tuturan (C3), (C5), (C6), (C7), dan (C9) bermakna bahwa penutur bercanda kepada mitra tutur sehingga mitra tutur terhibur. Namun, candaan tersebut dapat menimbulkan konflik bila candaan tersebut ditanggapi secara berlebihan. Tuturan (C3), (C5), (C6), (C7), dan (C9) merupakan tuturan sembrono yang disengaja ketika dalam perkuliahan dan di luar perkuliahan. Tuturan-tuturan tersebut termasuk ketidaksantunan berbahasa kesembronoan yang disengaja. Hal demikian sejalan dengan Bousfield yang memberikan penekanan pada dimensi ‘kesembronoan’ (gratuitous), dan konfliktif (conflictive) dalam praktik berbahasa yang tidak santun itu.

4.3.4 Menghilangkan muka

  Pemahaman Culpeper (dalam buku Bousfield and Locher, 2008:3) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah, ‘Impoliteness, as I would define

  it, involves communicative behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.’ Dia memberikan penekanan mungkin konsep itu dekat dengan konsep ‘kelangan rai’ (kehilangan muka). Menjatuhkan orang lain secara lngsung.

  Jadi ketidaksantunan (impoliteness) dalam berbahasa itu merupakan perilaku komunikatif yang diperantikan secara intensional untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka (face loss), atau setidaknya orang tersebut ‘merasa’ kehilangan muka. Pernyataan tersebut dapat diartikan pula, ketidaksantunan berbahasa itu berusaha menjatuhkan orang lain dengan mengungkapkan kesalahan secara langsung kepada lawan bicara. Contoh tuturan sebagai berikut. (D1) “Kalau kamu nggak suka pelajaran ini, keluar saja! Saya tidak rugi mencoret satu mahasiswa.” (Konteks tuturan: Tuturan ini dituturkan pada saat perkuliahan sedang

  berlangsung. Penutur sedang menjelaskan suatu materi kepada mahasiswa. Mitra tutur tidak memperhatikan penjelasan penutur karena mitra tutur sedang sibuk mengomentari fitur-fitur di laptop. Tindakan

mitra tutur sangat mengganggu penutur yang tidak memperhatikan.)

  (D2)” Kalau dikasih tahu itu jangan cemberut. Saya cuman mengatakan kok 400.000 kok dikit. Gitu ja kok cemberut.” (Konteks tuturan: Penutur juga memberikan saran kepada mahasiswa bila mahasiswa dinasihati oleh dosen mahasiswa tidak marah atau cemberut.

  Mitra tutur yang dinasihati ole penutur bahwa jangan cemberut dan jangan marah.)

  (D5) “Arisannya dah kelar?” (Konteks tuturan: Tuturan ini disampaikan saat penutur akan memulai

  perkuliahan. Mahasiswa ribut dan kondisi kelas tidak kondusif untuk belajar. Mitra tutur duduk paling belakang sedang berbicara dengan teman laki-lakinya. Perkuliahan sudah dimulai namun mitra tutur tetap saja berbicara dengan temannya. )

  (D6) “Kalau kamu nggak bisa lihat jelas, cepat maju sini! Nggak tahu diri.” (Konteks tuturan: Tuturan tersebut terjadi pada saat penutur akan

  tiak jelas tulisan di layar power point. Mitra tutur tidak pindah tempat justru melihat pekerjaan temannya. )

  (D7) “Sudah dikumpulkan, malu-maluin.” (Konteks tuturan: Tuturan tersebut terjadi pada saat penutur meminta

  lembar Jawaban paramahasiswa harus dikumpulkan. Penutur melihat mitra tutur belum selesai dan mitra tutur mencontek pekerjaan temanya. Mitra tutur membiarkan penutur mengetahui mitra tutur mencontek. Penutur meminta semua pekerjaan dikumpulkan. )

  Tuturan tersebut di atas termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan berbahasa menghilangkan muka karena tuturan yang disampaikan dengan menjatuhkan orang lain secara langsung di depan publik. Hal tersebut dapat dikatakan demikian karena dilihat berdasarkan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik. Tuturan (D1), (D2), (D5), (D6) dan (D7) memiliki tujuan tutur yang sama yaitu mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang. Hal yang membedakan kelima tuturan tersebut berkenaan dengan penanda lingual, penanda nonlingual, dan informasi indeksal. Adapun penanda lingual dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Penanda nonlingual dapat dilihat berdasarkan situasi dan suasana tutur sedangkan implikatur tambahan dapat dilihat berdasarkan penutur, mitra tutur, tujuan tutur, tindak verbal, dan tindak perlokusi, hal ini sejalan dengan konteks menurut Leech (1993:19—21).

  Tuturan (D1). (D6), dan (D7) dituturkan dengan nada tinggi karena tuturan tersebut merupakan mengandung makna imperatif yang bermakna suruhan sedangkan tuturan (D2) dan (D5) dituturkan dengan nada sedang

  (D1) yaitu kalau kamu nggak suka pelajaran ini, keluar saja, saya tidak

  rugi mencoret satu mahasiswa. Tuturan tersebut dituturkan dengan nada

  yang cenderung tinggi, terutama pada pengucapan kata keluar saja. Kata

  keluar saja menunjukkan kadar kesantunan yang sangat rendah karena

  tuturan tersebut bermakna mengusir secara kasar. Ketika menuturkan

  kalau kamu nggak suka pelajaran ini, penutur masih menggunakan nada

  sedang, tidak cenderung tinggi. Namun, penutur menuturkan keluar saja dan saya tidak rugi memberikan penekanan bahwa penutur sangat kesal dan marah terhadap sikap mitra tutur. Tuturan tersebut dituturkan di kelas dan diperdengarkan oleh seluruh mahasiswa yang berada di kelas. Tuturan tersebut dituturkan dengan intonasi yang cenderung keras, Pranowo (2009:76) menjelaskan bahwa intonasi (keras-lembut) merupakan aspek penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan. Tuturan merupakan tuturan yang tidak santun karena dituturkan dengan intonasi kasar maka penutur akan nilai tidak santun.

  Tuturan tersebut dituturkan dengan nada yang tinggi. Nada adalah naik turunnya ujaran yang menggambarkan suasana hati penutur ketika bertutur (Pranowo, 2009:77). Tuturan tersebut dituturkan dengan nada tinggi, hal itu dapat disebabkan suasana hati penuturnya sedang marah maka nada bicara penutur menaik dengan keras. Tuturan (D6) sama halnya dengan tuturan (D1) yaitu dituturkan dengan nada tinggi. Tuturan tersebut merupakan tuturan yang bermakna imperatif yang bermakna suruhan. tersebut menunjukkan penutur menyuruh mitra tutur untuk pindah tempa duduk.

  Sama halnya dengan tuturan (D1), tuturan (D6) dituturkan dengan nada tinggi dan intonasi yang cenderung kasar. Tuturan tersebut menunjukkan kemarahan dan kekesalan penutur kepada mitra tutur. Kedua tuturan tersebut dituturkan pada saat perkuliahan sedang berlangsung dan diperdengarkan oleh seluruh mahasiswa yang hadir. Selanjutnya, tuturan yang tidak beda dengan tuturan (D1) dan (D6) adalah tuturan (D7) yaitu

  sudah dikumpulkan yang bermakna meminta mitra tutur segera

  mengumpulkan tugas. Tuturan (D7) juga dituturkan dengan nada tinggi dan intonasi cenderung keras.

  Ketiga tuturan tersebut menunjukkan kadar kesantunan yang rendah. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Pranowo (2009:68—69) menambahkan pula bahwa sebenarnya banyak cara agar dapat berbahasa santun namun faktanya komunikasi sering tidak santun. Ketiga tuturan tersebut merupakan fakta pemakaian bahasa yang tidak santun yaitu penutur menyampaikan kritik secara langsung (menohok mitra tutur) dengan kata atau frasa kasar dan penutur didorong rasa emosi ketika bertutur. Penutur menyampaikan secara langsung atau menohok mitra tuturnya terlihat dari tuturan saya tida rugi mencoret satu mahasiswa (penekanan:saya tidak rugi), nggak tahu diri, dan malu-maluin. Tuturan tersebut menunjukkan ketidaksantunan berbahasa yang dapat menjatuhkan

  (D1) terkesan penutur membenci mitra tutur, tuturan (D6) dan (D7) terkesan menuduh mitra tutur.

  Selanjutnya, tuturan (D2) dan (D5) merupakan tuturan yang dituturkan dengan nada sedang dan intonasi yang digunakan cenderung lembut. Tuturan (D2) adalah kalau dikasih tahu itu jangan cemberut ...

  gitu aja kok cemberut. Penekanan tuturan tersebut adalah kata jangan cemberut ... gitu aja kok cemberut sedangkan tuturan (D5) adalah arisannya dah kelar. Kedua tuturan tersebut merupakan wujud tuturan

  yang tidak santun karena tuturan tersebut bernada mengejek dan meremehkan mitra tuturnya. Kelima tuturan tersebut melanggar skala kesantunan Leech yaitu semakin tuturan merugikan nbagi diri penuturnya maka tuturan tersebut cenderung semakin dianggap santun. Fakta pada tuturan tersebut adalah tuturan tersebut menguntungkan diri penutur dan merugikan bagi mitra tuturnya maka tuturan tersebut tidak santun (melalui Rahardi, 2007:58). Kerugian yang dialami mitra tutur adalah perasaan malu dan kesal karena mitra tutur dipermalukan atau dipersalahkan di depan banyak orang. Kelima Tuturan tersebut merupakan ketidaksantunan berbahasa yang menghilangkan muka mitra tutur di depan publik.

  Selanjutnya, bila dilihat dari pemilihan katanya, kelima tuturan tersebut tergolong bahasa nonstandar. Tuturan (D1) yaitu kalau kamu

  nggak suka pelajaran ini, keluar saja, saya tidak rugi mencoret satu mahasiswa, penggunaan kata nggak merupakan bahasa nonstandar yang

  nggak pada tuturan kalau kamu nggak bisa lihat jelas, cepat maju sini.

  Tuturan (D2) yaitu kalau dikasih tahu ...gitu aja kok ... penggunaan frasa

  kalau dikasih tahu sangat tidak tepat karena penggunaan kata dikasih tahu

  seharusnya diberitahu akan lebih santun. Kata gitu, aja, dan kok merupakan kata tidak baku, kata gitu dan aja merupakan bahasa gaul sedangkan kata kok merupakan kata fatis yang berfungsi memberikan penekanan alasan dan pengingkaran (Kridalaksana, 1986:114).

  Penggunanaan kata fatis kok dalam tuturan tersebut memberikan penekanan alasan dan pengingkaran sikap mitra tutur selalu cemberut bila diberitahu penuturnya. Tuturan (D5) arisannya dah kelar?, penggunaan kata dah merupakan penyingkat dari kata sudah, kata dah merupakan kata tidak baku. Selanjutnya, tuturan (D7) yang menggunakan kata malu-

  maluin juga merupakan kata tidak baku. Dalam bahasa Indonesia tidak ada

  akhiran –in, penggunaan imbuhan pada akhiran hanya digunakan akhiran

  i saja. Maka, kata malu-maluin merupakan bahasa nonstandar yang tergolong ke dalam bahasa tidak baku.

  Penggunaan bahasa dalam tuturan (D1), (D2), (D5), (D6) dan (D7) menggunakan bahasa nonstandar yaitu adalah bahasa dipergunakan oleh mereka yang tidak memperoleh kedudukan atau pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya, bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak dipakai dalam tulisan-tulisan. Kadang-kadang unsur nonstandar dipergunakan juga oleh kaum terpelajar dalam bersenda gurau, berhumor, atau untuk

  1985:104). Penggunaan bahasa dalam kelima tuturan tersebut seharusnya tidak terjadi dalam situasi yang formal karena bahasa nonstandar biasanya digunakan dalam situasi bergurau atau menyatakan ciri-ciri kedaerahan. Penggunaan bahasa tersebut harus dihindari walau dalam tuturan lisan sekalipun karena situasi tuturan tersebut adalah situasi formal saat perkuliahan sedang berlangsung. Selain itu, penutur yang notabene adalah dosen seharusnya memberikan contoh berbahasa Indonesia yang tepat kepada calon pendidik.

  Hal berikutnya pembahasan mengenai wujud nonlinguistik ketidaksantunan berdasarkan konteks situasi penutur dan mitra tutur.

  Rahardi mengungkapkan bahwa konteks merupakan bidang yang sifatnya

  extralinguistic atau ‘luar bahasa’. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai

  berikut bahwa konteks adalah segala macam aspek yang sifatnya luar bahasa (extralinguistics), yang menjadi penentu pokok bagi kehadiran sebuah makna kebahasaan (melalui Rahardi:2011). Lebih lanjut lagi, Leech (1993) menjelaskan pengertian konteks dalam pragmatik yaitu sebagai aspek-aspek yang terdapat di dalam situasi tuturan atau ‘speech

  situation’ itu dapat dibedakan menjadi lima macam, yakni (1) penutur dan

  lawan tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai tindak verbal, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal. Leech mengungkapkan bahwa konteks tuturan adalah suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh n dan t yang membantu t

  Vershueren (dalam Rahardi: 2007) juga menyinggung perihal konteks yang bukan semata-mata penyampaian pesan dari penutur kepada lawan tutur, namun masih ada dimensi lain yang menentukan konteks yaitu mencakup latar belakang fisik (physical world of the utterance), latar belakang sosial dari tuturan (social world of the utterance), dan latar belakang mental penuturnya (mental world of the utterance). Dimensi mental kepribadian, warna emosi, dan kognisi. Dimensi fisik pengguna bahasa berhubungan dengan kata ganti orang (persona), lokasi atau tempat, dan jarak spasial. Dimensi sosial pengguna bahasa berhubungan dengan jenis kelamin, usia, dan status sosial. Vershueren menjelaskan lebih lanjut bahwa dimensi sosial berkaitan dengan keberadaaan penutur dan mitra tutur sebagai warga masyarakat dan budaya tertentu (dalam Rahardi:2011).

  Maka, kajian pragmatik tidak dapat dipalingkan dari fakta-fakta sosiopramatik.

  Tuturan (D1), (D2), (D5), (D6), dan (D7) merupakan tuturan yang tidak santun bila dipaparkan dalam kajian konteks pragmatik. Uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut, kelima tuturan tersebut terjadi di kelas saat perkuliahan sedang berlangsung. Kelima tuturan tersebut dituturkan pada tanggal yang berbeda. Tuturan (D1) dituturkan pada tanggal 17 Oktober 2012, pada saat penutur sedang penjelasan suatu materi kepada para mahasiswanya. Penutur beberapa kali melihat mitra tutur tidak memperhatikan penutur karena sedang asyik bermain dengan mitra tutur tersebut sangat menggangu penutur. Penutur mencoba mendekati mitra tutur dengan perlakukan nonverbal. Namun, mitra tutur menghiraukan penutur dan mitra tutur terus bermain dengan laptop, sambil sesekali mengomentari fitur-fitur dalam laptop tersebut. Karena tindakan nonverbal dihiraukan oleh mitra tutur, penutur menegur mitra tutur tersebut.

  Tuturan (D1) dituturkan oleh seorang dosen laki-laki yang berusia 45 tahun sedangkan mitra tutur adalah mahasiswa yang berusia 22 tahun.

  Tuturan tersebut berintonasi sangat kasar dengan pilihan kata yang lugas yaitu keluar saja, tuturan tersebut bermakna imperatif yang menunjukkan suruhan untuk keluar kelas bila tidak bisa memperhatikan penutur. Tuturan tersebut dituturkan langsung di depan banyak mahasiswa yang saat itu sedang perkuliahan. Tuturan tersebut dituturkan oleh penutut didorong rasa emosi, pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Pranowo (2000:69) yaitu tuturan yang dituturkan dengan rasa emosi yang berlebihan hingga terkesan marah merupakan fakta pemakaian bahasa yang tidak santun. Maka, tuturan yang cenderung didorong dengan emosi perlu dihindari karena dapat mengakibatkan tidak santun dan suasana menjadi tegang.

  Penutur adalah dosen jurusan bahasa Indonesia layaknya memberikan contoh baik bagi mahasiswa jurusan bahasa Indonesia sebagai calon pendidik bahasa Indonesia. Tuturan yang dituturkan penutur Mitra tutur merasa malu dan kesal karena ia dipermalukan di depan teman- temannya. Dalam bahasa Jawa, mitra tutur tersebut kelangan rai atau kehilangan muka. Selain itu, penutur menuturkan saya tidak rugi mencoret

  satu mahasiswa , tuturan tersebut sangat menyakitkan hati mitra tutur

  sehingga membuat mitra tutur menjadi marah. Tuturan penutur sangat menohok mitra tutur dengan kata-kata yang kasar. Hal demikian sejalan dengan Pranowo bahwa penutur menyampaikan kritik secara langsung (menohok mitra tutur) dengan kata atau frasa kasar mengakibatkan komunikasi menjadi tidak santun. Rahardi (2011) juga menambahkan bahwa seseorang yang memiliki warna emosi dan temperamen tinggi, cenderung berbicara dengan nada dan nuasa makna yang tinggi pula.

  Selanjutnya, tuturan (D2) yang dituturkan oleh penutur pada saat perkuliahan sedang berlangsung, saat itu penutur memberikan nasihat kepada mitra tutur. Penutur adalah seorang dosen perempuan yang berumur 46 tahun, sedangkan mitra tutur adalah mahasiswa perempuan yang berumur 22 tahun, angkatan 2009. Tuturan tersebut terjadi pada tanggal 24 Oktober 2012, pada saat penutur memberikan nasihat kepada mitra tutur perihal dana kegiatan kemahasiswaan yang terlampau rendah sehingga perlu dibenahi kembali. Namun, sikap mitra tutur yang acuh bahkan terkesan tidak menyukai sikap penutur atas pemberitahuan demikian. Penutur memberitahu bila mitra tutur dinasihati jangan cemberut, hal demikian menandakan ketidakpedulian terhadap kegiatan

  Tuturan yang dituturkan penutur cenderung berintonasi halus karena tidak menggunakan nada tinggi. Namun, penekanan kata gitu aja

  kok cemberut sangat mempermalukan mitra tutur karena tuturan tersebut

  dapat diintepretasikan oleh teman-teman mitra tutur bahwa mitra tutur tidak pandai (bodoh) dan tidak bisa bersikap santun kepada penutur.

  Tuturan tersebut sangat menjatuhkan mitra tutur di depan mahasiswa yang lain. Pada kenyataannya, banyak mahasiswa yang tersenyum mengejek bahkan menertawakan mitra tutur. Mitra tutur sangat malu dan kesal dengan perkataan penutur. Tuturan yang mengakibatkan mitra tutur sakit hati dan merasa dipermalukan di depan umum menunjukkan ketidaksantunan berbahasa cenderung menghilangkan muka.

  Sama halnya dengan tuturan (D1) dan (D2), tuturan (D5) yang dituturkan pada saat perkuliahan akan berlangsung. Penutur adalah seorang dosen perempuan yang berusia 36 tahun sedangkan mitra tutur adalah mahasiswa yang berusia 20 tahun, angkatan 2011. Tuturan tersebut dituturkan pada tanggal 20 November 2012, pada saat penutur memulai perkuliahan siang itu. Perkuliahan dilakukan di laboratorium, penutur sudah siap dengan bahan materi yang akan dijelaskan untuk para mahasiswanya. Penutur melihat beberapa mahasiswa yang masih ribut, belum siap mengikuti perkuliahan. Keributan terjadi di barisan bangku paling belakang yang diduduki oleh mahasiswa laki-laki. Tuturan yang dituturkan adalah arisannya dah kelar, tuturan tersebut ditujukan kepada dilakukan oleh para wanita. Setelah penutur menuturkan demikian, sebagaian besar mahasiswa tertawa, mitra tutur yang dianggap melakukan

  arisan tersebut merasa malu dan diam saja. Kata arisan menunjukkan keributan yang dilakukan oleh mitra tutur.

  Tuturan (D5) dituturkan secara langsung dan diperdengarkan oleh semua mahasiswa yang hadir dalam perkuliahan tersebut. Kata arisan makna sebenarnya adalah kegiatan pengumpulan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya, undian dilaksanakan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya (KBBI, 2008:52). Tuturan tersebut sengaja memojokkan dan mengkritik mitra tutur secara langsung dengan kata atau frasa. Hal demikian merupakan fakta pemakaian bahasa yang tidak santun (Pranowo, 2009:68—70). Kedua fakta tersebut menunjukkan tuturan tersebut tidak santun dan merugikan mitra tuturnya.

  Tuturan tersebut dituturkan dengan pilihan kata arisan yang merupakan makna dari keributan, penutur menggunakan kata konotasi yaitu pemakaian kata yang mempunyai nilai rasa baik-buruk atau positif-negatif (Chaer, 2011:340). Nilai rasa dalam kata arisan mengandung nilai rasa buruk atau negatif yang bertujuan mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang.

  Vershueren (melalui Rahardi:2007) menungkapkan dimensi- dimensi yang melingkupi konteks salah satunya adalah dimensi yang Orang harus membedakan bahasa yang digunakan oleh seseorang yang berjenis kelamin perempuan dan berjenis kelamin laki-laki. Bahasa untuk kaum perempuan biasa cenderung lebih lembut daripada bahasa kaum laki-laki. Tuturan tersebut dituturkan oleh penutur yang berjenis kelamin perempuan, seharusnya menggunakan bahasa yang lebih santun dan lembut. Tuturan arisan cenderung kasar yang dapat mengakibatkan mitra tutur sakit hati, terlebih lagi merasa malu di hadapan banyak orang.

  Selanjutnya, tuturan (D.6) dituturkan pada saat perkuliahan berlangsung, saat penutur akan memulai kuis di kelas. Penutur mengecek kesiapan mahasiswa. Kuis tersebut ditampilkan dalam layar proyektor, kelas yang digunakan cukup luas dan besar sehingga perlu penglihatan ekstra untuk membaca soal kuis tersebut. Penutur melihat mitra tutur berkali-kali bertanya pada teman disebelahnya karena mitra tutur tidak dapat melihat jelas soal kuis tersebut. Sikap mitra tutur sangat menggangu penutur karena suasana kelas menjadi ribut. Penutur adalah dosen laki-laki yang berusia 58 tahun sedangkan mitra tutur adalah mahasiswi berusia 21 tahun, angkatan 2010. Tuturan (D.6) yang menunjukkan tidak santun adalah tuturan nggak tahu diri, tuturan tersebut lebih pada sikap penutur yang mengancam muka mitra tutur. Namun, tuturan tersebut dituturkan di depan banyak orang dan semuanya mendengarkan tuturan tersebut sehingga tuturan tersebut lebih merujuk pada ketidaksantunan berbahasa yang menghilangkan muka.

  Tuturan nggak tahu diri sanga kasar dan tidak santun, sama halnya dengan tuturan (D5) tuturan tersebut merupakan fakta pemakaian bahasa yang tidak santun yaitu tuturan yang sengaja memojokkan dan mengkritik mitra tutur secara langsung dengan kata atau frasa. Hal demikian merupakan fakta pemakaian bahasa yang tidak santun (Pranowo, 2009:68—70).

  Tuturan penutur tersebut sangat tidak santun, sama saja melanggar

  pranata tata krama di Jawa, apalagi tuturan tersebut dituturkan di

  masyarakat Jawa, selain itu, penutur notabene adalah masyarakat Jawa asli seharusnya mampu menggunakan bahasa yang lebih santun. Tuturan tersebut sangat menjatuhkan dan mempermalukan mitra tutur di hadapan banyak orang. Mitra tutur akan dianggap buruk oleh teman-temannya dengan tuturan nggak tahu diri, tuturan tersebut sangat menohok mitra tutur, selain menjatuhkan mitra tutur, tuturan tersebut mengakibatkan mitra tutur sakit hati. Tuturan tersebut dituturkan dengan intonasi cenderung tinggi, tuturan terjadi dapat disebabkan karena suasana hati penutur yang sedang emosi. Pranowo mengutarakan bahwa aspek intonasi dalam bahasa lisan sangat menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa tersebut.

  Namun, intonasi kadang dipengaruhi oleh latar belakang masyarakat. Dalam hal ini, tuturan tersebut dituturkan oleh orang Jawa yang mempunyai warna emosi tidak terlampau dominan, cenderung berbicara sabar. Orang Jawa cara berbicarana sabar, sareh, terkontrol, dan tidak

  Berikutnya, tuturan (D7) yaitu sudah dikumpulkan, malu-maluin. Penekanan kata tidak santun adalah malu-maluin, tuturan tersebut dituturkan pada saat mahasiswa mengerjakan kuis yang diberikan penutur.

  Waktu yang dikerjakan sudah habis tetapi para mahasiswa belum mengumpulkan jawabannya. Selain itu, mitra tutur mencoba mencontek teman di sebelahnya. Tindakan tersebut sangat menganggu perkuliahan penutur. Penutur menganggap mitra tutur sudah dewasa dan mitra tutur mampu mengerjakan sendiri. Penutur adalah dosen laki-laki yang berusia 58 tahun sedangkan mitra tutur adalah mahasiswi berusia 21 tahun, angkatan 2010.

  Tuturan tersebut dituturkan oleh dosen bahasa Indonesia seharusnya memberikan contoh penggunaan bahasa yang tepat kepada mahasiswa jurusan bahasa Indonesia. Kata malu-maluin, imbuhan –in tidak ada dalam bahasa Indonesia, imbuhan tersebut merupakan serapan dari bahasa gaul. Seharusnya pemakaian bahasa tersebut tidak digunakan dalam perkuliahan karena situasi perkuliahan yang formal dan resmi maka penggunaan bahasa gaul perlu dihindari. Di dalam masyarakat Jawa, pertimbangan mengenai usia sangatlah penting, orang yang dianggap tua (sepuh) bagaimanapun sebab, harus senantiasa mendapatkan penghormatan atau penghargaan lebih dari yang muda. Hal demikian seharusnya seimbang dengan perilaku, orang yang tua yang selalu mendapat penghormatan senantiasa, seharusnya memberikan contoh yang masyarakat sangat menentukan kebahasaan yang digunakan. Penutur adalah seorang guru besar, lazimnya menggunakan bentuk-bentuk kebahasaan yang santun pula daripada orang yang berstatus sosial rendah.

  Tuturan (D1), (D2), (D5), (D6), dan (D7) menghasilkan tindak tutur ilokusi. Kelima tuturan tersebut menghasilkan tindak tutur direktif yang bertujuan menyuruh atau memerintah mitra tutur untuk melakukan sesuai yang dituturkan penutur yaitu menyuruh mengambilkan minuman untuk penutur. Jenis ilokusi ini sering dimasukkan dalam kategori kompetitif karena itu mencakup kategori-kategori ilokusi yang membutuhkan sopan santun negatif (melalui Leech, 1993:164). Penanda tuturan yang menghasilkan tindak tutur direktif adalah keluar saja, jangan

  cemberut, cepat maju, dan sudah dikumpulkan.

  Jadi, ketidaksantunan berbahasa yang menghilangkan muka memiliki penanda linguistik dan pragmatik. Penanda linguistik dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Nada yang digunakan berupa nada sedang yang mengungkapkan kesinisan dan sindiran penutur bagi mitra tutur, sedangkan nada tinggi mengungkapkan kejengkelan dan kemarahan penutur kepada mitra tutur. Penanda pragmatik dapat dilihat berdasarkan situasi dan suasana. Situasi tuturan yang terjadi dapat terjadi di mana saja dan suasana tuturan dalam keadaan santai dan serius. Implikatur tambahannya berupa tindak verbal dan tindak perlokusi. Tindak verbal dari tuturan berbahasa menghilangkan muka berupa tindak verbal direktif tindak perlokusinya umumnya mitra tutur merespon dan segera melakukan suruhan tersebut dengan segera.

  Tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan ketidaksantunan berbahasa yang menghilangkan muka. Tuturan (D1), (D2), (D5), (D6), dan (D7) tersebut bermakna bahwa penutur melecehakan mitra tutur di depan orang banyak maka menghilangkan muka merupakan ketidaksantunan berbahasa yang mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang. Tuturan (D1) bermakna mempermalukan mitra tutur untuk keluar kelas, tuturan (D2) bermakna mempermalukan mitra tutur yang cemberut.

  Tuturan (D5), (D6), dan (D7) bermakna mempermalukan mitra tutur yang tidak tahu diri ketika perkuliahan berlangsung. Pernyataan tersebut sejalan dengan ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Culpeper (2008) yaitu “Impoliteness, as I would define it, involves communicative behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so”. Ketidaksantunan tersebut memberikan penekanan pada fakta ‘face

  loss’ atau ‘kehilangan muka’—kalau dalam bahasa Jawa konsep itu dekat dengan konsep ‘ilang raine’ .

4.3.5 Mengancam muka

  Terkourafi (dalam buku Bousfield and Locher, 2008:3) memandang ketidaksantunan sebagai, ‘impoliteness occurs when the

  expression used is not conventionalized relative to the context of

  intention is attributed to the speaker by the hearer.’ Jadi perilaku

  berbahasa dalam pandangannya akan dikatakan tidak santun bilamana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka

  (face threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud

  ancaman muka itu dari mitra tuturnya. Mitra tutur merasa ‘kehilangan muka’ dalam bahasa Jawa kelangan rai bila penutur tidak mengetahui maksud mitra tutur. Contoh tuturan sebagai berikut. (E1) “Kamu itu bodoh tidak konsultasi dengan saya dulu. Koq langsung observasi!” (Konteks tuturan: Suasana saat mitra tutur mengkonsultasikan hasil

  observasi kepada penutur. Saat itu, penutur baru saja menghadiri rapat prodi dan mempunyai banyak pekerjaab di kantornya. Penutur menegur mitra tutur yang melakukan observasi tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku di prodi tersebut dan tanpa izin penutur. Mitra tutur meminta maaf kepada penutur namun penutur terlanjur kecewa dengan sikap mitra tutur.)

  (E3) “Eme, kamu itu ejaannya parah, mengerti tidak?”

  ( Konteks tuturan: Tuturan ini disampaikan pada saat mitra tutur konsultasi scrip proposal penelitian. Penutur mengoreksi proposal yang diajukan mitra tutur. Penutur menemukan banyak kesalahan ejaan dalam penulisan di proposal.)

  (E4) “Kamu mau ikut kuis nggak? Ayo cepet!” (Konteks tuturan: Tuturan ini terjadi pada saat dosen akan memberikan kuis kepada mahasiswa. Mitra tutur berjalan santai menuju tempat duduk.

  Penutur melihat ketidaksiapan dan keseriusan mitra tutur mengikuti kuis)

  (E6) “Kog kamu pake kaos? Tak copot lho kaosmu!” (Konteks tuturan: Tuturan tersebut dituturkan pada saat penutur sedang

  mengajar di kelas. Penutur melihat salah satu mitra tutur memakai kaos saat perkuliahan sedang berlangsung. Penutur menegur pakaian yang dikenakan mitra tutur. Mitra tutur hanya tersenyum saja. Penutur beranggapan bahwa mitra tutur tidak serius mengikuti perkuliahan yang

  (E7) “Nilaimu rendah sekali. Mau ngulang tahun depan?” (Konteks tuturan: Tuturan tersebut dituturkan pada saat penutur sedang

  membacakan nilai para mahasiswa. Penutur menemukan nilai salah satu mahasiswa yang mengalami perunurunan setiap kali kuis diadakan. Penutur beranggapan mitra tutur tidak serius mengikuti perkuliahan yang diampu penutur dan beranggapan mitra tutur ingin mengulang mata kuliah tersebut tahun depan)

  Tuturan tersebut di atas termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan berbahasa mengancam muka sepihak karena tuturan yang disampaikan untuk menjatuhkan atau memojokkan mitra tutur secara langsung. Hal tersebut dapat dikatakan demikian karena dilihat berdasarkan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik. Tuturan (E1), (E3), (E4), (E6), dan (E7) memiliki tujuan tutur yang sama yaitu memiliki tujuan tutur yang sama yaitu memojokkan mitra tutur. Hal yang membedakan kelima tuturan tersebut berkenaan dengan penanda lingual, penanda nonlingual, dan informasi indeksal. Adapun penanda lingual dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Penanda nonlingual dapat dilihat berdasarkan situasi dan suasana tutur sedangkan implikatur tambahan dapat dilihat berdasarkan penutur, mitra tutur, tujuan tutur, tindak verbal, dan tindak perlokusi, hal ini sejalan dengan konteks menurut Leech (1993:19—21).

  Tuturan (E1) dituturkan dengan nada sedang namun intonasi yang digunakan adalah intonasi tinggi. Penekanan kata terletak pada kata

  bodoh, pemilihan kata tersebut bertujuan ingin menyalahkan dan

  saya dulu, koq langsung obeservasi. Ketika penutur menuturkan tuturan kamu itu bodoh tidak konsultasi dengan saya dulu, nada yang digunakan

  cenderung tinggi dan penekanan kata terletak pada kata bodoh. Selanjutnya, ketika penutur menuturkan tuturan kok langsung obeservasi, nada yang digunakan cenderung sedang. Tuturan tersebut menunjukkan ancaman yaitu mitra tutur dianggap bodoh bila tidak konsultasi dulu kepada penutur sebelum melakukan observasi.

  Pilihan kata yang digunakan adalah bahasa standar dan nonstandar. Bahasa standar adalah dialek kelas dan dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki status sosial yang cukup dalam suatu masyarakat. Penggunaan bahasa standar pada tuturan tersebut adalah kamu itu bodoh tidak konsultasi dengan saya dulu, kata

  bodoh dirasa lebih halus daripada kata tolol. Bahasa standar biasanya

  digunakan oleh orang yang mempunyai kedudukan di masyarakat, penutur yang notabene adalah seorang dosen sehingga memilih kata bodoh daripada kata tolol. Selanjutnya, tuturan kok langsung obeservasi menggunakan bahasa nonstandar yaitu kata fatis. Kata fatis tersebut terlihat dari penggunaan kata kok yang berfungsi sebagai memberi penekanan alasan dan pengingkaran suatu hal. Penekanan alasan yang dituturkan di atas adalah alasan tidak konsultasi dengan penutur. Walau tuturan tersebut sudah menggunakan bahasa standar yaitu kata bodoh yang dirasa lebih santun dari kata tolol, tuturan tersebut tetap dirasa tidak santun. Hal tersebut disebabkan penutur mencoba menyalahkan dan memberi ancaman kepada mitra tutur secara langsung.

  Selanjutnya tuturan (E3) yaitu eme, kamu itu ejaannya parah,

  mengerti tidak?, tuturan tersebut dituturkan dengan nada tinggi dan

  penekanan kata terletak pada tuturan mengerti tidak. Muslich (2008:116) menyebutkan intonasi setiap kalimat tanya dengan pola intonasi datar- tinggi sehingga tuturan tersebut dituturkan dengan intonasi tinggi. Aspek intonasi, menurut Pranowo (2009), sangat menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa dalam bahasa lisan. Tuturan tersebut dituturkan dengan intonasi keras terutama pada tuturan ejaannya parah dan mengerti tidak.

  Ketika penutur menuturkan maksud kepada mitra tutur dengan menggunakan intonasi keras, padahal mitra tutur berada pada jarak sangat dekat dengan penutur, sementara mitra tutur tidak tulis, penutur akan dinilai tidak santun. Pilihan kata yang digunakan adalah bahasa standar yaitu bahasa yang tergolong bahasa baku, karena tidak ada kata seru, kata fatis, dan kata yang terinterferensi ke dalam bahasa daerah. Penekanan tuturan mengerti tidak merupakan wujud dari ketidaksantunan berbahasa penutur yang mengancam muka. Penutur memberikan ancaman atau tekanan dalam diri mitra tutur yaitu kesadaran akan kesalahan penggunaan ejaan dalam skripsinya, bila tidak segera dibenarkan ancaman dari penutur tidak akan hilang.

  Berikutnya, tuturan (E4) yaitu kamu mau ikut kuis nggak?Ayo terletak pada mau ikut kuis nggak dan ayo cepet. Maksud dari tuturan tersebut adalah bila mitra tutur ingin mengikuti kuis pad saat itu, penutur meminta mitra tutur segera mencari tempat duduk dan segera mengerjakan kuis tersebut. Tuturan tersebut dituturkan dengan intonasi keras, intonasi tersebut menunjukkan keras lembutnya ketika seseorang berbicara. Tuturan tersebut berupa kalimat tanya dan kalimat perintah. Kedua kalimat tersebut mempunyai pola datar-naik untuk kalimat tanya dan pola datar- tinggi untuk kalimat perintah. Nada dan intonasi dapat mempengaruhi kesantunan berbahasa seseorang (Pranowo, 2009:77). Nada adalah naik turunnya ujaran yang menggambarkan suasana hati penutur. Tuturan tersebut dituturkan dengan nada naik yang menunjukkan suasana hati penutur sedang emosi, nada bicara menaik dengan keras, kasar sehingga terasa menakutkan.

  Pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar yaitu kata tidak baku dan kata yang terinterferensi dalam bahasa daerah. Penggunaan kata tidak baku terletak pada tuturan nggak dan kata yang terinterferensi dalam bahasa Jawa yaitu cepet. Tuturan tersebut dituturkan dalam situasi forrmal, seharusnya penggunaan bahasa yang formal pula, maka penggunaan bahasa nonstandar perlu dihindari. Kata nggak seharusnya menggunakan kata tidak dan kata cepet seharusnya cepat. Selain penggunaan bahasa nonstandar, tuturan tersebut merupakan kalimat imperatif ajakan. Kalimat tersebut menggunakan kata ayo sebagai penanda yaitu kategori yang bertugas mengungkapkan perasaan penutur. Namun, tuturan (E4) yang diikuti oleh tuturan cepet menunjukkan tuturan tersebut tidak santun karena tuturan tersebut dituturkan dengan nada tinggi dan intonasi keras.

  Selanjutnya tuturan (E6) yaitu kok kamu pake kaos? tak copot lho kaosmu, tuturan tersebut dituturkan dengan nada cenderung tinggi.

  Tuturan tersebut diawali dengan kalimat tanya dengan pola intonasi datar- naik dan diikuti oleh tuturan yang berupa kalimat berita yang mengungkapkan ekspresi yang menekankan kepastian. Tuturan tersebut dituturkan dengan kata fatis yaitu kok yang bertugas memberikan penekanan alasan pengingkaran suatu hal (Kridalaksana, 1986:114) sehingga tuturan tersebut memberikan penekanan alasan mengapa mitra tutur mengenakan kaos saat perkuliahan penutur pada situasi formal. Tuturan berikutnya adalah tak copot lho kaosmu, tuturan tersebut mengandung kata fatis pula yaitu kata lho yang memberikan penekanan kepastian. Kepastian yang dimaksud adalah penutur akan melepas kaos mitra tutur bila mitra tutur mengenakan kaos lagi ketika perkuliahan penutur. Tuturan tersebut juga menggunakan bahasa nonstandar yaitu pake dan tak yang tergolong bahasa nonbaku.

  Tuturan tersebut dituturkan dengan nada tinggi yang menunjukkan emosi penutur yang tinggi. Nada tersebut dapat menggambar suasana hati penutur yang sedang emosi, marah,nada bicara menaik dengan keras, kasar tutur karena penutur berusaha memberikan ancaman kepada mitra tutur yaitu penutur akan melepas kaos mitra tutur bila mitra tutur tetap mengenakan kaos saat perkuliahan. Tuturan (E6) dapat mengancam mitra tutur dan membuatnya merasa tertekan mengikuti perkuliahan penutur.

  Berikutnya, tuturan (E7) dengan tuturan nilaimu rendah sekali,

  mau ngulang tahun depan. Tuturan tersebut dituturkan dengan intonasi

  cenderung naik, tuturan tersebut dituturkan berupa kalimat tanya yang pola intonasinya datar-naik. Penekanan kata dalam tuturan tersebut adalah

  rendah sekali dan mau ngulang, tuturan tersebut mempertegaskan akan

  tuduhan atau ancaman penutur kepada mitra tutur bahwa mitra tutur dengan nilai rendah akan mengulang tahun depan. Hal tersebut sangat menjatuhkan dan mengancam mitra tutur yang mengakibatkan mitra tutur tertekan dan merasa terancam. Pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar yaitu ngulang, tuturan tersebut dituturkan dalam situasi formal seharusnya menggunakan bahasa yang formal pula.

  Hal berikutnya pembahasan mengenai wujud nonlinguistik ketidaksantunan berdasarkan konteks situasi penutur dan mitra tutur.

  Rahardi mengungkapkan bahwa konteks merupakan bidang yang sifatnya

  extralinguistic atau ‘luar bahasa’. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai

  berikut bahwa konteks adalah segala macam aspek yang sifatnya luar bahasa (extralinguistics), yang menjadi penentu pokok bagi kehadiran sebuah makna kebahasaan (melalui Rahardi:2011). Lebih lanjut lagi, sebagai aspek-aspek yang terdapat di dalam situasi tuturan atau ‘speech

  situation’ itu dapat dibedakan menjadi lima macam, yakni (1) penutur dan

  lawan tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai tindak verbal, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal. Leech mengungkapkan bahwa konteks tuturan adalah suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh n dan t yang membantu t menafsirkan makna tuturan.

  Vershueren (dalam Rahardi: 2007) juga menyinggung perihal konteks yang bukan semata-mata penyampaian pesan dari penutur kepada lawan tutur, namun masih ada dimensi lain yang menentukan konteks yaitu mencakup latar belakang fisik (physical world of the utterance), latar belakang sosial dari tuturan (social world of the utterance), dan latar belakang mental penuturnya (mental world of the utterance). Dimensi mental kepribadian, warna emosi, dan kognisi. Dimensi fisik pengguna bahasa berhubungan dengan kata ganti orang (persona), lokasi atau tempat, dan jarak spasial. Dimensi sosial pengguna bahasa berhubungan dengan jenis kelamin, usia, dan status sosial. Vershueren menjelaskan lebih lanjut bahwa dimensi sosial berkaitan dengan keberadaaan penutur dan mitra tutur sebagai warga masyarakat dan budaya tertentu (dalam Rahardi: 2011). Maka, kajian pragmatik tidak dapat dipalingkan dari fakta-fakta sosiopramatik.

  Tuturan (E1), (E3), (E4), (E6), dan (E7) merupakan tuturan yang dan (E3) dituturkan di ruang dosen sedangkan tuturan (E4), (E6), dan (E7) dituturkan di kelas saat perkuliahan sedang berlangsung. Kelima tuturan tersebut dituturkan pada tanggal dan waktu yang berbeda. Tuturan (E1) dituturkan pada tanggal 13 November 2012, di ruang dosen, pada saat mitra tutur mengkonsultasikan hasil observasi. Penutur merasa mitra tutur tidak konsultasi terlebih dahulu dengan penutur sehingga penutur menganggap mitra tutur menyalahi prosedur yang berlaku sebelum melakukan observasi. Tuturan tersebut dituturkan oleh seorang dosen perempuan yang berusia 46 tahun sedangkan mitra tuturnya adalah mahasiswi yang berusia 22 tahun, angkatan 2009.

  Tuturan (E1) yaitu kamu itu bodoh tidak konsultasi dengan saya

  dulu merupakan tuturan yang tidak santun karena penutur menuturkan

  tuturan tersebut dengan nada yang cenderung tinggi. Tuturan tersebut juga melanggar skala kesantunan Leech yaitu skala ketidaklangsungan. Skala kesantunan berbahasa tersebut menunjukkan kepada peringkat langsung dan tidak langsung maksud sebuah tuturan. Semakin tuturan tersebut bersifat langsung atau to the point akan cenderung dianggap tidak santun, demikian pula sebaliknya (melalui Rahardi, 2007:60). Tuturan tersebut bermaksud mengatakan mitra tutur bodoh secara langsung maka tuturan tersebut dianggap tidak santun. Selain itu, tuturan tersebut dituturkan dalam masyarakat orang Jawa yang banyak menggunakan isyarat-isyarat yang tidak langsung yang menunjukkan kesantunan berbahasa seperti

  Vershueren (melalui Rahardi:2007) menungkapkan dimensi- dimensi yang melingkupi konteks salah satunya adalah dimensi yang berkaitan dengan penutur dan mitra tutur yaitu dimensi jenis kelamin. Orang harus membedakan bahasa yang digunakan oleh seseorang yang berjenis kelamin perempuan dan berjenis kelamin laki-laki. Bahasa untuk kaum perempuan biasa cenderung lebih lembut daripada bahasa kaum laki-laki. Tuturan tersebut dituturkan oleh penutur yang berjenis kelamin perempuan, seharusnya menggunakan bahasa yang lebih santun dan lembut. Tuturan bodoh cenderung kasar yang dapat mengakibatkan mitra tutur sakit hati dan merasa terancam oleh tuturan penutur.

  Selanjutnya, dimensi usia juga mempengaruhi bentuk kebahasaan dalam pertuturan. Di dalam masyarakat Jawa, pertimbangan usia menjadi sangat penting dalam berinteraksi. Orang yang dianggap tua (sepuh) senantiasa mendapatkan penghargaan dan penghormatan sehingga bahasa yang digunajan harus lebih sopan dan santun dibandingkan dengan bahasa yang digunakan orang muda. Pernyataan tersebut tentu saja harus diimbangi dari perilaku orang tua yaitu sopan dan bertutur kata santun sebagai contoh orang muda. Dimensi lain yang sangat menentukan bentuk kebahasaan yang digunakan seseorang yaitu status sosial. Orang yang mempunyai status sosial lebih tinggi akan menggunakan bentuk bahasa yang lebih santun. Penutur dalam tuturan tersebut adalah dosen yang sudah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan seharusnya contoh mendidik mahasiswa yang baik. Tuturan bodoh sangat tidak santun dan cenderung mengancam muka sepihak mitra tutur yang menganggap mitra tutur bodoh. Tuturan bodoh seharusnya diubah dengan kata kurang

  pandai, hal demikian dirasa lebih santun dan memiliki nilai rasa lebih baik.

  Tuturan (E3) dituturkan di ruang dosen saat mitra tutur konsultasi proposal skripsi kepada penutur. Tuturan tersebut dituturkan pada tanggal

  23 November 2012. Saat penutur mengoreksi proposal skripsi mitra tutur, ia menemukan banyak sekali kesalahan ejaan. Penutur menganggap mitra tutur yang sudah semester tingkat atas seharusnya mampu menulis proposal yang baik, kemungkinan kesalahan ejaan itu sangat kecil. Penutur adalah seorang dosen perempuan yang berusia 36 tahun sedangkan mitra tutur adalah seorang mahasiswi berusia 22 tahun angkatan 2009.

  Tuturan tersebut dituturkan secara langsung dan terus terang kepada mitra tutur. Tuturan mengerti tidak sangat tidak santun karena penutur berusaha memojokkan atau menjatuhkan mitra tutur. Tuturan tersebut cenderung mengancam muka sepihak karena penutur memberikan ancaman kepada mitra tutur bahwa secara tidak langsung. Penutur meminta perbaikan proposal tersebut harus segera dikerjakan bila tidak segera diperbaiki mitra tutur akan mendapatkan sanksi yang lebih besar. Tuturan tersebut juga bermaksud menuduh mitra tutur tidak bisa menulis yang benar karena penutur menganggap mitra tutur sudah semester atas

  Tuturan seseorang yang memiliki warna emosi dan temperaen tinggi cenderung berbicara dengan nada dan nuasa makna yang tinggi pula. Tuturan tersebut menunjukkan emosi penutur yang cenderung tinggi, terutama dalam menuturkan mengerti tidak. Pranowo menambahkan bahwa aspek nada tuturan lisan sangat mempengaruhi kesantunan seseorang berbahasa (Pranowo, 2009:77). Nada dapat menggambarkan suasana hati penuturnya ketika bertutur. Nada cenderung tinggi menunjukkan suasana hati penutur sedang emosi atau marah sehingga terasa menakutkan.

  Tuturan (E4) dituturkan pada saat penutur akan memulai kuis siang itu. Penutur melihat mitra tutur berjalan dengan santai masuk ke kelas.

  Mitra tutur melewati depan tempat duduk penutur, mitra tutur tidak segera mencari tempat duduk justru berbicara dengan temannya. Penutur merasa jengkel dengan sikap mitra tutur yang tidak serius mengikuti perkuliahan penutur. Tuturan tersebut terjadi di kelas, pada tanggal 29 November 2012, penutur adalah seorang dosen laki-laki yang berusia 58 tahun sedangkan mitra tutur adalah mahasiswi yang berusia 21 tahun, angkatan 2010.

  Tuturan (E4) yaitu kamu mau ikut kuis nggak? Ayo cepet! tuturan tersebut dituturkan dengan nada cenderung tinggi. Tuturan kamu mau ikut

  kuis nggak? bermaksud menayakan kesediaan mitra tutur mengikuti kuis,

  bila mitra tutur tidak mengikuti kuis segera keluar kelas. Tuturan tersebut bermaksud suruhan untuk segera mencari tempat duduk atau keluar kelas. Tuturan tersebut sangat tidak santun karena tuturan tersebut cenderung mengancam muka sepihak mitra tuturnya yang memberikan ancaman untuk segera mengikuti kuis atau keluar kelas. Ancaman tersebut tidak membuat nyaman mitra tutur saat berada di kelas sehingga mitra tutur merasa terancam dan di bawah tekanan.

  Selanjutnya tuturan (E6), sama halnya dengan tuturan (E4) tuturan tersebut dituturkan pada saat penutur akan memulai kuis di kelas. Penutur melihat mitra tutur yang duduk di depannya mengenakan kaos yang seharusnya tidak diperbolehkan. Penutur meminta mitra tutur tidak mengenakan kaos lagi saat perkuliahan bila hal tersebut masih dilakukan, penutur akan melepas kaos mitra tutur. Penutur adalah seorang dosen laki- laki yang berusia 46 tahun sedangkan mitra tuturnya adalah mahasiswi yang berusia 22 tahun angkatan 2009. Tuturan tersebut terjadi di kelas, pada tanggal 30 November 2012.

  Tuturan tersebut adalah kok kamu pake kaos? Tak copot lho

  kaosmu. Tuturan tersebut mengandung maksud mengancam kepada mitra

  tutur, terutama pada tuturan tak copot lho kaosmu, mitra tutur yang mengenakan kaos akan segera dilepas oleh penutur. Tuturan tersebut sangat tidak santun, selain mengandung ancaman, tuturan tersebut juga mengandung kritik secara langsung (menohok mitra tutur) dengan kata atau frasa yang kasar. Hal demikian sangat membuat tidak nyaman mitra

  Tuturan tersebut dituturkan degan langsung dan mitra tutur tidak dapat memberikan pendapatnya mengenai tuduhan dan perilaku penutur kepadanya. Tuturan tersebut sangat tidak santun karena tuturan dituturkan dalam lingkungan masyarakat Jawa yang notabene mempunyai kepribadian yang halus dan lembut dalam bertutur. Penutur adalah orang Jawa yang mempunyai unggah-ungguh dalam bertutur sehingga tuturan tersebut seharusnya tidak terjadi. Selain itu, penutur adalah seorang dosen yang dianggap mempunyai jabatan tinggi di kampus. Seharusnya penutur memberikan contoh yang baik kepada para calon pendidik yaitu mahasiswanya. Verschueren (melalui Rahardi, 2011:161) menambahkan dari dimensi usia penutur dan mitra tutur yaitu usia menjadi pertimbangan sangat penting dalam pertuturan, orang tua senantiasa dihormati atau dihargai, selayaknya memberikan kontribusi yang baik pula bagi mitra tuturnya.

  Tuturan (E7) yaitu nilaimu rendah sekali, mau ngulang tahun

  depan? tuturan tersebut dituturkan dengan nada cenderung tinggi. Tuturan nilaimu rendah sekali bermaksud menyindir hasil kuis yang diterima oleh

  mitra tutur, tuturan tersebut ditegaskan mau ngulang tahun depan, tuturan tersebut sangat tidak santun karena tuturan tersebut cenderung mengancam muka sepihak mitra tuturnya yang memberikan ancaman bahwa nilai rendah akan mengakibatkan mitra tutur mengulang tahu depan. Ancaman tersebut tidak membuat nyaman mitra tutur saat berada di kelas sehingga

  Tuturan tersebut menunjukkan mitra tutur tidak mempunyai pilihan banyak bahwa mitra tutur harus segera memperbaiki nilai yang rendah tersebut agar mitra tutur tidak mengulang tahun depan. Dimensi sosial dan mental penutur dari tuturan (E7) sama halnya dengan tuturan (E6) yaitu penutur yang seorang dosen seharusnya memberikan contoh yang baik kepada para calon pendidik yaitu mahasiswanya. Pandangan bahwa orang tua senantiasa dihormati atau dihargai, selayaknya memberikan kontribusi yang baik pula bagi mitra tuturnya.

  Tuturan (E1), (E3), (E4), (E6), dan (E7) menghasilkan tindak tutur ilokusi. Kelima tuturan tersebut menghasilkan tindak tutur direktif yang bertujuan menyuruh atau memerintah mitra tutur untuk melakukan sesuai yang dituturkan penutur yaitu menyuruh mengambilkan minuman untuk penutur. Jenis ilokusi ini sering dimasukkan dalam kategori kompetitif karena itu mencakup kategori-kategori ilokusi yang membutuhkan sopan santun negatif (melalui Leech, 1983:164). Penanda tuturan yang menghasilkan tindak tutur direktif adalah tidak konsumtasi, mengerti tidak,

  ayo cepet, kok pake kaos, dan mau ngulang tahun depan.

  Jadi, ketidaksantunan berbahasa yang mengancam muka sepihak mitra tuturnya memiliki penanda linguistik dan pragmatik. Penanda linguistik dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Nada yang digunakan berupa nada sedang yang mengungkapkan kesinisan dan sindiran penutur bagi mitra tutur, sedangkan nada tinggi Penanda pragmatik dapat dilihat berdasarkan situasi dan suasana. Situasi tuturan yang terjadi dapat terjadi di mana saja dan suasana tuturan dalam keadaan santai dan serius. Implikatur tambahannya berupa tindak verbal dan tindak perlokusi. Tindak verbal dari tuturan berbahasa yang mengancam muka mitra tuturnya tindak tutur direktif sedangkan tindak perlokusinya umumnya mitra tutur merespon tetapi terpaksa karena hatinya terluka.

  Tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan ketidaksantunan berbahasa kesembronoan yang disengaja. Tuturan (E1), (E3), (E4), (E6), dan (E7) bermakna bahwa penutur memberikan ancaman atau tekanan kepada mitra tutur yang menyebabkan mitra tutur terpojok. Tuturan (E1) dan (E2) bermakna mengancam muka ketika penutur konsultasi dengan mitra tutur. Tuturan (E4), (E6), dan (E7) ketika perkulihan berlangsung.

  Ketidaksantunan berbahasa tersebut sejalan dengan pendapat Terkourafi yaitu ‘impoliteness occurs when the expression used is not

  conventionalized relative to the context of occurrence; it threatens the addressee’s face (and, through that, the speaker’s face) but no face- threatening intention is attributed to the speaker by the hearer.’ Perilaku

  berbahasa dalam pandangannya akan dikatakan tidak santun bilamana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka

  (face threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya.

BAB V PENUTUP Dalam bab ini akan diuraikan dua hal yaitu (1) simpulan dan (2) saran. Simpulan berisi rangkuman atas keseluruhan penelitian ini. Saran di dalamnya

  mencakup hal-hal relevan yang kiranya perlu diperhatikan, baik untuk penelitian lanjutan maupun aplikasi hasil penelitian ini dalam pembelajaran bahasa Indonesia di lembaga pendidikan.

5.1 Simpulan

  Dalam bab empat telah diuraikan wujud, penanda, dan makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik tuturan dalam interaksi dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011. Dari hasil analisis data ditemukan adanya tuturan ketidaksantunan dalam interaksi dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID. Simpulan hasil analisis data dikemukakan sebagai berikut.

  1. Wujud Ketidaksantunan Linguistik Wujud ketidaksantunan linguistik yang ditemukan dari tuturan ketidaksantunan dalam interaksi dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011 adalah tuturan lisan yang telah ditranskripsikan berdasarkan teori ketidaksantunan melecehkan muka, memainkan muka, kesembronoan, menghilangkan muka, dan mengancam

  2. Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Wujud ketidaksantunan linguistik yang ditemukan dari tuturan ketidaksantunan dalam interaksi dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011 adalah uraian konteks tuturan yang meliputi penutur, mitra tutur, situasi, dan suasana.

  3. Penanda Ketidaksantunan Linguistik Penanda ketidaksantunan linguistik yang ditemukan dari tuturan ketidaksantunan dalam interaksi dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011 diuraikan dalam teori-teori ketidaksantunan berbahasa sebagai berikut.

  a. Melecehkan muka Penanda ketidaksantunan linguistik melecehkan muka adalah nada sedang dan tinggi, tekanan sedang, intonasi kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah, dan diksi (bahasa nonstandar).

  b. Memainkan muka Penanda ketidaksantunan linguistik memainkan muka adalah nada sedang, tekanan sedang, intonasi kalimat berita dan kalimat tanya, dan diksi (bahasa nonstandar).

  c. Kesembronoan yang disengaja Penanda ketidaksantunan linguistik kesembronoan yang disengaja adalah nada rendah dan sedang, tekanan sedang, intonasi kalimat berita dan kalimat tanya, dan diksi (bahasa nonstandar). d. Menghilangkan muka Penanda ketidaksantunan linguistik menghilangkan muka adalah nada sedang dan tinggi, tekanan sedang dan keras, intonasi kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah, diksi (bahasa nonstandar).

  e. Mengancam muka Penanda ketidaksantunan linguistik mengancam muka adalah nada sedang dan tinggi, tekanan keras dan sedang, intonasi kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah, dan diksi (bahasa nonstandar).

  4. Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks tuturan antara dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011. Situasi tuturan tersebut terjadi dalam kelas dan di luar kelas, uraiannya sebagai berikut.

  a. Melecehkan muka Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks adalah suasana serius dan santai, tindak verbal tindak tutur ilokusi ekspresif dan direktif, dan tindak tutur perlokusi mitra tutur merespon tuturan dari penutur.

  b. Memainkan muka Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan ilokusi ekspresif dan assertif, dan tindak tutur perlokusi mitra tutur memberikan penjelasan atas tuturan penutur.

  c. Kesembronoan yang disengaja Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks adalah suasana serius dan santai, tindak verbal tindak tutur ilokusi ekspresif, dan tindak tutur perlokusi mitra tutur terhibur.

  d. Menghilangkan muka Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks adalahsuasana serius dan tegang, tindak verbal tindak tutur ilokusi ekspresif dan direktif, dan tindak tutur perlokusi mitra tutur merespon tuturan dari penutur.

  e. Mengancam muka Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks adalah suasana serius dan tegang, tindak verbal tindak tutur ilokusi ekspresif dan direktif, dan tindak tutur perlokusi melakukan apa yang diminta penutur walau dengan terpaksa dan di bawah tekanan.

  5. Makna Penanda Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Ketidaksantunan berbahasa tidak hanya dilihat dari penanda linguistik namun makna yang melingkupi tuturan tersebut juga mempengaruhi santun tidaknya tuturan tersebut. Makna ketidaksantunan dari teori-teori ketidaksantunan tersebut sebagai berikut. a. Makna penanda ketidaksantunan melecehkan muka adalah penutur menyindir atau mengejek mitra tutur sampai melukai hati.

  b. Makna penanda ketidaksantunan memainkan muka adalah penutur membuat kesal, jengkel, dan bingung mitra tutur.

  c. Makna penanda ketidaksantunan kesembronoan yang disengaja adalah penutur bercanda kepada mitra tutur dan mitra tutur terhibur namun candaan tersebut dapat menimbulkan konflik bila candaan tersebut ditanggapi secara berlebihan.

  d. Makna penanda ketidaksantunan menghilangkan muka adalah penutur mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang.

  e. Makna penanda ketidaksantunan mengancam muka adalah penutur memberikan ancaman atau tekanan kepada mitra tutur yang menyebabkan mitra tutur terpojok.

5.1. Saran

  Penelitian ini masih terdapat kekurangan. Dengan demikian, peneliti mengajukan beberapa saran bagi peneliti yang akan melanjutkan penelitian yang sejenis. Saran tersebut sebagai berikut.

  1. Bagi Penelitian Lanjutan

  a. Penelitian ini hanya meneliti ketidaksantunan berbahasa linguistik dan pragmatik dalam lingkup pendidikan. Oleh karena itu, peneliti yang lain dapat melakukan penelitian sejenis dalam lingkup yang berbeda, misalnya keluarga, keagamaan, politik, dan lain-lain.

  b. Faktor kedekatan penutur dan mitra tutur, sebaiknya juga diteliti lebih dalam lagi untuk memperdalam pemahaman ketidaksantunan.

  c.

   Selain bidang ilmu Pragmatik, data tuturan yang dianalisis dari segi

  wujud, penanda, dan makna ketidaksantunan berbahasa linguistik dan pragmatik dapat dianalisis pula dari beberapa bidang ilmu lain seperti Psikologi, Etnografi, dan Sosiologi.

  2. Bagi Bidang Pendidikan dan Pendidik Bahasa

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagai seorang pendidik seharusnya dapat menjadi contoh bagi anak didiknya, tak terkecuali seorang dosen. Pada kenyataannya, seorang dosen belum menggunakan bahasa yang santun kepada mahasiswa, padahal interaksi tersebut terjadi dalam lingkup pendidikan. Hal ini perlu diperhatikan Seorang mahasiswa juga harus menggunakan bahasa yang santun kepada dosennya yang notabene lebih tua dan mempunyai status sosial yang lebih tinggi.

  Teori kesantunan dan ketidaksantunan merupakan bagian dari kajian Pragmatik. Kajian teori tersebut tidak hanya sebatas memahami konsep kesantunan dan ketidaksantunan saja tetapi dosen dan mahasiswa juga mampu mempraktikkan dalam berperilaku dan bertutur antara dosen dan mahasiswa di lingkup pendidikan sesuai dengan situasi dan suasananya. Selain itu, mahasiswa yang menjadi calon pendidik harus memberikan contoh kepada calon anak didiknya di bangku sekolah nantinya.

DAFTAR PUSTAKA

  

Anugraheni, Weny. 2011. Jenis Kesantunan dan Penyimpangan Maksim Kesantunan

dalam Tuturan Imperatif Guru kepada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Pringsurat Temanggung dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

  . Skripsi S1. PBSID. Yogyakarta: USD. Tidak Diterbitkan.

  

Boufield, Derek dan Miriam A. Locher. 2008. Impoliteness in Language. New York:

Mouton de Gruyter. Chaer, Abdul. 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Gunarwan.1992. Kesantunan negatif di Kalangan Dwibahasawan Indonesia-Jawa di

Jakarta: Kajian Sosiopragmatik.

  Makalah pada Pelba VIII. Jakarta 26—27 Oktober. Keraf, Gorys. 1985. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti. 1986. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta:

Gramedia. ____________________. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia. Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia. Levinson, Stephen C. 1983. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press.

Mahsun. 2007. Metode Penelitian Bahasa Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya.

  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Meleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja

Rosadakarya.

  

Muslich, Masnur. 2008. Fonologi Bahasa Indonesia: Tinjauan Deskriptif Sistem

Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Nugroho, Miftah. 2009. Konteks dalam Kajian Pragmatik. Peneroka Hakikat Bahasa.

  117—123.

Parera, Jos Daniel. 1982. Pengantar Linguistik Umum: Kisah Zaman. Seri A. Flores:

Nusa Indah.

  Pranowo. 2009. Berbahasa secara Santun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rahardi, Kunjana. 1999. Imperatif dalam Bahasa Indonesia: Penanda-penanda

Kesantunan Linguistiknya.

  Disertasi S3. Yogyakarta: Asmi Santa Maria.

______________. 2007. Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang:

Dioma.

  ________________. 2010. Ketidaksantunan Berbahasa sebagai Fenomena Baru Pragmatik. Yogyakarta: Gatra. ______________. 2010. Pragmatik, Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.

  Jakarta: Erlangga _______________. 2011. Interpretasi Konteks Pragmatik dalam Pembelajaran

  Bahasa . Jurnal Literasi, Desember 2011, hlm 155—167 _______________. 2011. Reinterpretasi Konteks Pragmatik. Yogyakarta.

  _______________. 2012. Sosiopragmatik. Jakarta: Erlangga. Sahid, Rahmad. 2011. Analisis Data Penelitian Kualitatif Model Miles dan

  Huberman. Pendidikan dan Guru (online), (http://sangit26.blogspot.com/2011/07/analisis-data-penelitian- kualitatif.html, diakses18 Desember 2012.

  Sudaryanto. 1992. Metode Linguistik ke Arah Memahami Metode Linguistik.

  Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Sukoco, A,S. Joko. 2002. Penanda Lingual Kesantunan Berbahasa Indonesia

  dalam Bentuk Imperatif: Studi Kasus Pemakaian Tuturan Imperatif di Lingkungan SMU Stela Duce Bantul

  . Skripsi S1. PBSID. Yogyakarta: USD. Tidak Diterbitkan.

  Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: UGM Press. Vershueren, Jef. 1998. Understanding Pragmatics. N. ew York. Oxford University Press Inc.

  Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2011. Analisis Wacana Pragmatik, Kajian Teori dan Analisis. Yogyakarta: Yuma Pustaka. Yule, George. 2006. Pragmatics (terj). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga pendidik di Kotamadya Yogyakarta.
0
3
234
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga di lingkungan Kadipaten Pakualaman Yogyakarta.
0
0
300
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul Yogyakarta.
0
0
332
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD angkatan 2009-2011.
0
0
2
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antar mahasiswa Program Studi PBSID angkatan 2009-2011 Universitas Sanata Dharma.
5
12
274
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara guru dan siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.
0
1
257
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga pendidik di Kotamadya Yogyakarta
1
2
232
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga di lingkungan Kadipaten Pakualaman Yogyakarta
0
3
298
Kemampuan menulis paragraf dalam karangan argumentasi mahasiswa PBSID, angkatan 2004, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta - USD Repository
0
0
114
Perbedaan sikap terhadap ejaan Bahasa Indonesia antara mahasiswa angkatan 2006 dan angkatan 2009 Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
180
Hubungan antara atraksi interpersonal tehadap dosen dengan motivasi belajar pada mahasiswa - USD Repository
0
1
98
Deskripsi motivasi belajar mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma angkatan tahun 2010 - USD Repository
0
0
92
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara guru dan siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 - USD Repository
0
2
255
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antar mahasiswa Program Studi PBSID angkatan 2009-2011 Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
272
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga pedagang yang berdagang di Pasar Besar Beringharjo Yogyakarta - USD Repository
0
8
315
Show more