Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD angkatan 2009-2011 - USD Repository

Gratis

0
0
272
2 days ago
Preview
Full text

K KETIDAK KSANTUNA AN LINGU UISTIK DA AN PRAGM MATIK BE ERBAHASA A ANT TARA DOS SEN DAN MAHASIS SWA

K KETIDAK KSANTUNA AN LINGU UISTIK DA AN PRAGM MATIK BE ERBAHASA A ANT TARA DOS SEN DAN MAHASIS SWAPROGR RAM STUD DI PBSID, , FKIP, US D, ANGKA ATAN 2009 9—2011SKRIPSI Diaju ukan untuk M Memenuhi S Salah Satu S Syarat M emperoleh Gelar Sarja ana Pendidik kanProg gram Studi Pendidikan n Bahasa, Sa astra Indone esia, dan Da aerah Disusun oleh D h:Olivia M Melissa Pus spitarini 091224034 4 PROG GRAM STU UDI PENDI IDIKAN BA AHASA, S ASTRA IN NDONESIA A, DAN DA AERAH JURUSA AN PENDI FAKULTA F S KEGURU UAN DAN N ILMU PE ENDIDIKA AN UN NIVERSITA AS SANAT TA DHARM MA YO OGYAKAR RTA2013 KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA ANTARA DOSEN DAN MAHASISWAPROGRAM STUDI PBSID, FKIP, USD, ANGKATAN 2009—2011 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu SyaratMemperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Disusun oleh: Olivia Melissa Puspitarini091224034 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENIFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013 MOTTO“D iberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan” (Yeremia 17:7) “Kesuksesan bukan kunci kebahagian, tetapi kebahagian adalah kunci kesuksesan. Jika kamumencintai apa yang kamu lakukan, kamu akan sukses” (Albert Schwitzer)

IDIKAN BA AHASA DA AN SENI

FAKULTA F S KEGURU UAN DAN N ILMU PE ENDIDIKA AN UN NIVERSITA AS SANAT TA DHARM MA YO OGYAKAR RTA2013 KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA ANTARA DOSEN DAN MAHASISWAPROGRAM STUDI PBSID, FKIP, USD, ANGKATAN 2009—2011 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu SyaratMemperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Disusun oleh: Olivia Melissa Puspitarini091224034 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENIFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013 MOTTO“D iberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan” (Yeremia 17:7) “Kesuksesan bukan kunci kebahagian, tetapi kebahagian adalah kunci kesuksesan. Jika kamumencintai apa yang kamu lakukan, kamu akan sukses” (Albert Schwitzer) “Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi penghakiman bahwa sesuatu yang lain lebih penting daripada rasa takut”

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Simpulan hasil penelitian ini sebagai berikut pertama, wujud ketidaksantunan linguistik berdasarkan tuturan lisan dan wujud ketidaksantunanpragmatik berbahasa yaitu uraian konteks tuturan tersebut. Kedua, penanda ketidaksantunan linguistik yaitu nada, intonasi, tekanan, dan diksi, serta penandapragmatik yaitu konteks yang menyertai tuturan yakni penutur, mitra tutur, situasi, dan suasana.

KATA PENGANTAR

  Sebagaimana disyaratkan dalam kurikulum Program Studi PendidikanBahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah (PBSID), Fakultas Keguruan dan IlmuPendidikan (FKIP), Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, penyelesaian skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh untuk memperolehgelar Sarjana Pendidikan dari Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah. Segenap dosen Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, danDaerah yang ramah, selalu mendukung, dan memberikan perhatian, bantuan, pengarahan, dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan penulisselama menempuh pendidikan di PBSID.

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………..……………

  2.5.1 Tinggi-rendah (Nada, Tona, Pitch) 46 2.4.3 Tujuan Sebuah Tuturan ………………………………..…………..…… 48 2.4.4 Tuturan Sebagai Bentuk Tindakan atau Kegiatan: Tindak Ujar …..…… 49 2.4.5 Tuturan Sebagai Produk Tindak Verbal ………………..………………. 122 4.2.5.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Mengancam Muka ...

BAB V PENUTUP ………………………………………………………….……. 199

5.1 Simpulan ………………………………………………………..……….……. 199

  Tuturan Ketidaksantunan yang Melecehkan Muka ………………………. Tuturan Ketidaksantunan yang Mengancam Muka ………………....…….

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Oleh karena itu, ketidakpedulian Menurut Rahardi (2007:20), konteks tuturan diartikan sebagai semua latar belakang (background knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkanoleh si penutur dalam proses keseluruhan proses bertutur. Oleh karena itu, perpaduan penelitian analisis linguistik dan pragmatik memperjelasmaksud dan tujuan dari penutur sehingga terjadi komunikasi yang lancar tanpa ada persinggungan yang tidak diinginkan.

1.2 Rumusan Masalah

  Manfaat teoretis yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah memberikan sumbangan untuk perkembangan teori-teori pragmatikdan memperluas kajian dan memperkaya khasanah teoretis tentang ketidaksantunan dalam berbahasa sebagai fenomena pragmatik baru. Manfaat secara praktis yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah memberikan masukan para praktisi dalam bidang pendidikan yaitudosen, guru, mahasiswa, siswa, dan tenaga kependidikan untuk mempertimbangkan penggunaan bahasa dalam berkomunikasi danmenghindari bentuk-bentuk ketidaksantunan berbahasa.

1.5 Batasan Istilah

  KetidaksantunanKetidaksantuan berbahasa adalah perilaku berbahasa seseorang yang mengancam muka dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secarasembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan sembrono itu menimbulkan konflik bahkan pertengkaran tersebut dilakukandengan kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas ketidaksantunan berbahasa. PragmatikPragmatik adalah ilmu yang mempelajari apa saja yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dengan mitratuturnya sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa yang sifatnya ekstralinguistik (Verhaar, 1996:9).

1.6 Sistematika Penyajian

  Bab I adalah pendahuluan, yang berisi beberapa sub bab, yaitu (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3) Bab II adalah kajian teori yang berisi tiga pokok bahasan yaitu(1) penelitian yang relevan, (2) kajian pustaka, dan (3) kerangka berpikir. Bab III metode penelitian yang berisi enam hal yaitu (1) jenis penelitian, (2) subjek penelitian, (3) metode dan teknik pengumpulandata, (4) instrumen penelitian, (5) metode dan teknik analisis data, (6) hasil analisis data.

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Penelitian yang Relevan

  Penanda kesantunandalam tuturan imperatif dapat diwujudkan dari intonasi tuturan, isyarat Penelitian juga dilakukan oleh Weny Anugraheni (2011) dalam skripsisnya yang berjudul “Jenis Kesantunan dan PenyimpanganKesantunan dalam Tuturan Imperatif Guru kepada Siswa Kelas VII SMPNegeri 1 Pringsurat Temanggung dalam Mata Pelajaran Bahasa IndonesiaTahun 2011”. Penelitian-penelitian kesantunan yang dijelaskan di atas menjadi dasar penelitian ketidaksantunan sebab penelitian kesantunan merupakan pioner dari Kelangkaan studi ketidaksantunan berbahasa ini diperkuat oleh pendapat Locher (melalui Rahardi, 2010:67) yang menyatakan bahwa enormous imbalances exists between academic interest in politeness phenomena as oppsed to impoliteness phenomena .

2.2.1 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher

  Pada saat itu, Tuturan (1) dan (2) merupakan bentuk ketidaksantunan berbahasa yaitu melecehkan muka karena penutur berusaha mengatakanlangsung kesalahan mitra tutur tanpa ada kata-kata yang diperhalus. Tuturan melecehkan muka terjadi bila penutur tidak menyukai tindakan atas mitra tutur yang seenaknya sajasedangkan memain-mainkan muka terjadi bila tuturan yang tidak biasa dikeluarkan atau dilontarkan kepada penutur, saat itu terjadi karenaadanya keadaan yang tidak disukai penutur terhadap mitra tutur.

2.2.2 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield

  Sementara itu menurut pandangan Bousfield (dalam bukuBousfield and Miriam A Locher, 2008:3) ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami sebagai, ‘The issuing of intentionally gratuitous and conflictive face-threatening acts (FTAs) that are purposefully ‘kesembronoan’ (gratuitous), dan konfliktif (conflictive) dalam praktik berbahasa yang tidak santun itu. Jadi perilaku berbahasa seseorang yang mengancam muka dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secarasembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan sembrono itu menimbulkan konflik bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebutdilakukan dengan kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas ketidaksantunan berbahasa.

2.2.3 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Culpeper

  Tuturan mitra tuturan yang mengatakan tidakbisa mengerjakan tugas itu, penutur berasumsi bahwa mitra tutur tidak serius mengikuti perkulihan. Bentuk kebahasan yang sampaikan didepan semua mahasiswa sehingga mitra tutur merasa dijatuhkan oleh penutur dan merasa “kehilangan muka” di depan orang banyak.

2.2.4 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi

  (10) “Kamu itu sudah semester bontot, mencari kajian teori yang relevan kok tidak bisa.” Informasi Indeksal Tuturan (10) dituturkan oleh seorang dosen kepada mahasiswa di dalam ruang dosen. Melihat kenyataan tersebut, penutur merasajengkel dengan mitra tutur yang sudah semester akhir tidak bisa menyusun kata-kata dengan benar.

2.2.5 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher and Watts

  Universitas adalah salah lembaga pendidikan, warga masyarakat di lembaga Norma yang telah ditetapkan itu adalah bentuk kesempakatan bersama antara yang membuat norma dan pelaksana norma. Ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi adalah mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka (face threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya.

2.3 Tindak Tutur

  Yule (1996:81) menjelaskan bahwa dalam usaha untuk mengungkapkan dirinya, penutur tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata dan struktur-struktur gramatikal saja, tetapi penutur juga memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan itu. Searle melalui bukunya Speech Acts An Essay in The Philosophy of Language (dalamWijana, 2011:21) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yaknitindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tidak perlokusi (perlocutionary act).

2.3.1 Tindak Lokusi

  Jadi, tindak tutur lokusioner adalah tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yangdikandung oleh kata, frasa, dan kalimat itu sendiri (Rahardi, 2012:17) (1) Makanan khas Yogyakarta adalah sayur gudeg.(2) Anjingnya lucu.(3) Ayah pergi ke Jakarta. Pada kalimat (1), informasi yang dituturkan adalah nama masakan khas Yogyakartaadalah sayur gudeg, kalimat (2) anjing yang disaksikan penutur itu lucu, kalimat (3) juga berfungsi untuk mengutarakan informasi bahwa Ayahsedang pergi ke Jakarta.

2.3.2 Tindak Ilokusi

  Tuturan yang berfungsi untukmenyampaikan sesuatu disebut tindak lokusi, sedangkan tuturan yang berfungsi untuk melakukan sesuatu dinamakan tindak ilokusi (Wijana,2011:23). Gambaran contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa tindak ilokusi sangat sukar diidentifikasi karena terlebih dahulu harus (3) Ekspresif (expressives) yakni bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadapsuatu keadaan, misalnya berterima kasih (thinking), memberi selamat (congrangtulating), meminta maaf (pardoning),menyalahkan (blaming), memuji (praising), dan berbelasungkawa(condoling).

2.3.3 Tindak Perlokusi

  Bila kalimat (7) diutarakan oleh seorang mahasiswa yang berkuliah di luarkota, maka ilokusinya secara tidak langsung menginformasikan bahwa uang yang dimiliki penutur sudah habis. Bila kalimat (8) diutarakan tidak dapat menghadiri undangan rapat kepada orang yang mengundangnya, kalimat ini merupakan tindakilokusi untuk memohon maaf, dan perlokusi (efeknya) yang diharapkan adalah orang yang mengundang dapat memakluminya.

2.4 Konteks Tuturan

  Rahardi (2007:20) menuturkan bahwa konteks tuturan diartikan sebagai Pemaparan konteks di atas, dibahas lebih lanjut oleh Leech (1993:20) yang mengungkapkan bahwa konteks sebagai suatu pengetahuan latarbelakang yang sama-sama dimiliki oleh n dan t yang membantu t menafsirkan makna tuturan (melalui Nugroho, 2009:119). Lebih lanjut lagi, Leech(1993:19—20) menjelaskan pengertian konteks dalam pragmatik yaitu sebagai aspek-aspek yang terdapat di dalam situasi tuturan atau ‘speech situation’ itu dapat dibedakan menjadi lima macam, yakni: (1) penutur dan lawan tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai tindak verbal, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal.

2.4.1 Penutur dan lawan tutur

  Haldemikian menjelaskan bahwa studi pragmatik memang sama sekali tidak dapat mengabaikan pengguna bahasa yaitu penutur dan mitra tuturVerschueren (melalui Rahardi, 2011:) menjelaskan bahwa dimensi di luar penutur dan mitra tutur masih dapat diperluas lagi seperti participant, addrressee, eavesdropes, dan seterusnya, akan tetapi yang paling pokok adalah dimensi penutur dan mitra tutur dalam membentuk konteks komunikatif dalam tuturan sebenarnya. Seseorang yang kepribadiannya tidak cukup matang, sehingga terhadap segala sesuatu yang hadir barucenderung ‘menentang’ dan ‘melawan’, sekalipun tidak selalu memiliki dasar alasan yang jelas dan tegas, akan sangatmewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan di dalam setiap pertutursapaan.

2.4.1.3 Aspek-aspek Sosial dan Budaya Pengguna Bahasa

  Interaksi antar penutur dan mitra tutur dalam sebuah masyarakat berkaitan dengan keberadaan pengguna bahasa sebagai warga masyarakatdan budaya tertentu yang harus terlibat di dalamnya. Bahasa yang digunakan oleh penutur kepada orang tua harus lebih sopan dan lebih halus dibandingkan dengan bahasa yangdigunakan oleh yang lebih muda.

2.4.1.4 Aspek-aspek Fisik Pengguna Bahasa

  Deiksis persona, menunjuk pada penggunaan kata ganti orang, misalnya saja dalam bahasa Indonesia kurang adakejelasan kapan harus digunakan kata ‘kita’ dan ‘kami’ dalam bahasa Jawa, deksis persona ‘kula’ artinya ‘saya’ dan ‘kula sedaya’ atau ‘aku kabeh’ alias ‘kami’ atau ‘kita’ dalam bahasa Indonesia. Deiksis-deiksis dalam jenis yang disampaikandi depan itu semuanya merupakan aspek fisik ‘language users’, yang secara sederhana dimaknai sebagai ‘penutur’ dan ‘mitra tutur’ , sebagai ‘utterer’ dan ‘interpreter’.

2.4.2 Konteks sebuah tutur

  Leech mengungkapkan bahwa konteks sebagai aspek-aspek Penjelasan demikian menjadi titik berat dari konteks yang lebih kongret yaitu adanya kesamaan latar belakang pengetahuan (the same background knowledge ) yang dipahami bersama penutur dan lawan tutur. Rahardi (2007:20) menambahkan pula bahwa semua latar belakang pengetahuan yang sama-sama yang dimiliki pelibatpertuturan, jelas akan memabntu para pelibat pertuturan untuk menafsirkan kandungan pesan atau maksud yang hendak disampaikandi dalam setiap pertuturan.

2.4.3 Tujuan sebuah tuturan

  Pada dasarnya,tuturan dari seseorang akan dapat muncul karena dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tutur yang sudah jelas dan amat tertentu sifatnya. Tuturan tersebut secara fungsional pula, bentuk memberikan peringatan pada semua saja,khususnya para pengendara motor yang melewati gang atau lorong tertentu tersebut untuk berhati-hati, agar tidak menjadi ‘bulan-bulanan massa’, kalau saja, sampai terjadi kecelakaan dan semacamnya di tempat itu.

2.4.4 Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar

2.4.5 Tuturan sebagai produk tindak verbal

  Tuturan dapat dikatakan sebagai produk dari tindak verbal di dalam aktivitas bertutur sapa karena pada dasarnya tuturan yang munculdi dalam sebuah proses pertuturan itu adalah hasil atau produk dari tindakan verbal dari para pelibat tuturnya, dengan segala macampertimbangan konteks situasi sosio-kultural dan aneka macam kendala konteks yang melingkupi dan mewadahinya. Pengertian konteks dapatdidefinisikan sebagai berikut, konteks merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan situasi dan kondisi penutur serta mitra tutur yangmempunyai latar belakang pemahaman dan asumi yang sama terhadap suatu hal dalam berkomunikasi.

2.5 Bunyi Suprasegmental

Bunyi-bunyi yang bisa disegmentakan disebut bunyi segmental, misalnya bunyi vokoid dan bunyi kontoid. Bunyi-bunyi yang tidak dapatdisegmen-segmen karena kehadiran bunyi tersebut selalu diiringi, atau ditemani bunyi segmental (baik vokoid maupun kontoid) bunyi tersebut

2.5.1 Tinggi-Rendah (Nada, Tona, Pitch)

  Makin tegang pita suara yang disebabkan oleh kenaikanarus udara dari paru-paru makin tinggi pula bunyi tersebut. Oleh karena itu, dalam kaitannyadengan pembedaan makna nada dalam bahasa Indonesia tidak fonemis.

2.5.2 Keras-Lemah (Tekanan, Aksen, Stress)

  Tidak semua kata dalam kalimat ditekanan sama, hanya kata-kata yang dianggap penting atau dupentingkan yang mendapatkan tekanan. Olehkarena itu, pendengar atau mitra tutur harus mengetahui maksud di balik makna tuturan yang didengarkannya.

2.5.3 Intonasi

  Pada tataran kalimat, variasi-variasi nada pembeda maksud disebut intonasi yang ditandai dengan intonasi datar turun yang biasaterdapat dalam kalimat berita, intonasi datar naik yang biasa terdapat dalam kalimat tanya, dan intonasi datar tinggi yang biasa terdapatdalam kalimat perintah. Intonasi yang ditandai denganintonasi datar turun yang biasa terdapat dalam kalimat berita, intonasi datar naik yang biasa terdapat dalam kalimat tanya, dan intonasi datartinggi yang biasa terdapat dalam kalimat perintah.

2.6 Pilihan Kata

  Walaupun ada unsur-unsur baru yangselalu muncul dan ada unsur-unsur yang lenyap, selalu akan terdapat bagian dari kosa kata yang dikenal bersama dan dipakai oleh semua penutur bahasa. Jika pilihan kata yang digunakan menimbulkan daya bahasa tertentu yang menjadikan mitra tutur tidak berkenan, penutur akandipresepsi sebagai orang yang tidak santun.

2.6.1 Bahasa Standar dan Nonstandar

  Bentuk pertama tersebut Bahasa standar adalah dialek kelas dan dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau mendudukistatus sosial yang cukup dalam suatu masyarakat. Bahasa nonstandar adalah bahasa dipergunakan olehmereka yang tidak memperoleh kedudukan atau pendidikan yang tinggi.

2.6.2 Kata Ilmiah dan Kata-kata Populer

  Kata-kata populer adalah kata yang dipakai dalam komunikasi sehari-hari baik mereka yang berada di lapisan atas maupun antaramereka yang di lapisan bawah atau antara lapisan atas dan lapisan masyarakat maka kata-kata ini dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat. Bila yang menjadi sasaran adalah suatukelompok khusus yang diikat oleh suatu bidang ilmu tertentu maka harus mempergunakan kata-kata ilmiah tetapi bila yang menjadisasarannya adalah masyarakat umum maka kata yang dipilih adalah kata-kata populer.

2.6.5 Kata Slang

  Kata slang adalah kata-kata nonstandar yang informal yangdisusun secara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer; atau kata-kata kiasan yang khas, bertenaga dan jenaka yang dipakaidalam percakapan. Bahasa yang artifisial tidak terkandung dalam kata yang digunakan, tetapi Selanjutnya, Chaer menambahkan pilihan kata yang biasa diungkapkan dalam bahasa lisan sebagai berikut.

2.7 Kerangka Berpikir

  Secara khusus, peneliti meneliti ketidaksantunan dalam ranah pendidikan di lembaga pendidikan yaitu Universitas Sanata Dharma dalam tuturan interaksidosen dan mahasiswa di Prodi PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011 yang mengandung ketidaksantunan berbahasa. Hasil penelitian yang akan didapatkan adalah wujud, penanda,dan makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa di Prodi PBSID, FKIP, USD, angkatan 2009—2011.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN

  Metode kualitatif (pengertian yang lain) adalahprosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati(Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 2006:3). Penelitian ini bersifat deskriptif karena data yang diperoleh tidak dapat dituangkan dalam bentukbilangan atau angka statistik, peneliti memaparkan gambaran mengenai situasi yang diteliti dalam bentuk uraian naratif.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode simak dan metode cakap. Metode cakap memiliki teknik dasar berupa teknik pancing karena percakapan yang diharapkan sebagai pelaksanaanmetode tersebut hanya dimungkin muncul jika peneliti memberi stimulasi(pancingan) pada informan untuk menunculkan gelaja kebahasan yang diharapkan oleh peneliti.

3.4 Instrumen Penelitian

3.5 Metode dan Teknik Analisis Data

  Metode analisis data secara linguistik menggunakan metode pandan intralingual yaitu metode analisis dengan cara menghubung-bandingkan unsur-unsur yang bersifat intralingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa berbeda (Mahsun,2007:118). Metode analisis data secara pragmatik menggunakan metode padan ekstralingual yaitu metode analisis dengan cara menghubung-bandingkanunsur-unsur yang bersifat ekstralingual, seperti hal-hal yang menyangkut makna, informasi, konteks tuturan, dan lain-lain.

3.6 Sajian Analisis Data

  Analasis datakualitatif adalah proses mencari serta menyusun secara sistemastis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahanlain sehingga mudah dipahami agar dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data penelitian kualitatif dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukansistematika, menyusun ke dalam pola, dan memilih data yang penting dan data dikaji dimulai sejak sebelum peneliti memasuki lapangan, dilanjutkanpada saat peneliti berada dil lapangan secara interaktif dan berlangsung terus-terus sehingga datanya jenuh.

3.7 Trianggulasi Hasil Analisis Data

  Moleong (2006:195), trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data. Tringgulasi dalam penelitian ini meliputi dua hal, yaitu trianggulasi teori dan trianggulasi logis.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data

  Data yang analisis berupa tuturan yang diambil dari tuturan lisan ketidaksantunan berbahasa antara dosen dan mahasiswa PBSID, USD,angkatan 2009—2011, dengan jangka waktu bulan November sampai denganDesember 2012. Tuturan- tuturan yang didapatkan berupa jenis ketidaksantunan yang melecehkan mukamitra tutur, memain-mainkan muka mitra tutur, kesembronoan yang disengaja, menghilangkan muka mitra tutur, dan mengancam muka secarasepihak.

4.2 Hasil Analisis Data

  Hasil penelitian dapat disajikan dengan urutan sebagai berikut: (a) wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, (b) penandaketidaksantunan, dan (c) makna ketidaksantunan. Pembahasan lebih lanjut mengenai ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara dosendan mahasiswa sebagai berikut.

4.2.1 Melecehkan muka

  Penutur tidak hanyamelihat satu kali beberapa kali penutur melihat mitra tutur mengenakan pakaian yang tidak sopan di lingkungan kampus.)Cuplikan Tuturan 5 Penutur : dosen laki-laki, usia 55 tahunMitra tutur : mahasiswi, usia 21 tahun, angkatan 2010Dosen A : “Silahkan bertanya tentang materi sebelumnya?” (tidak ada yang bertanya) Dosen A : “Tidak ada? Tuturan A8: nada sedang, tekanan sedang pada penggalan kalimat tidakdapat apa-apa, intonasi tanya dan berita, pilihan kata yang digunakan adalah nonstandar yang berupa kata tidak baku trus, Tuturan A9: nada sedang, tekanan sedang pada penggalan kalimat jelek sih, pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata fatis sih.

4.2.1.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Melecehkan Muka

  ) Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang telah ditranskrip antara dosen dan mahasiswa yang berupa tuturan yang memain-mainkan -muka mitra tuturnya. Tuturan B2: nada sedang, tekanan sedang pada kata 50 dan ya, ampun, intonasi tanya dan berita, pilihan kata yang digunakan nonstandar yang berupa kata seru ya, ampun.

4.2.2.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Memain-mainkan Muka

  Tindak tutur verbal yang dihasilkan dari tuturan tersebut adalah tindak tutur ekspresif yaitu berupapernyataan Tuturan C6 : Tuturan terjadi di dalam kelas pada tanggal 5 November 2012, pada pukul 14.00 WIB. Tindak verbal yang dihasilkan oleh tuturan tersebut adalah ekspresif yang memberikan pujian sedangkantindak perlokusinya adalah mitra tutur terhibur dengan tuturan yang disampaikan penutur.

4.2.1.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa Kesembronoan yang Disengaja

Makna yang melingkupi tuturan tersebut juga mempengaruhi santun tidaknya tuturan tersebut. Makna dari tuturan CI, C2, C3, C5, C6, C7, dan C9

4.2.4 Menghilangkan muka

  Tuturan D2: Mempermalukan mitra tutur yang tidak mengerti anggaran penelitian di depan semua mahasiswa Tuturan D3: Mempermalukan mitra tutur atas sikapnya yang tidak mau diatur oleh penutur Tuturan D5: Mempermalukan mitra tutur yang ribut saat perkuliahan akan dimulai Tuturan D6: Mempermalukan mitra tutur yang harus pindah tempat duduk karena tidak bisa melihat tulisan dengan jelas. Penuturberanggapan mitra tutur tidak serius mengikuti perkuliahan yang diampu penutur dan beranggapan mitra tutur ingin mengulang mata kuliah tersebuttahun depan) Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang telah ditranskrip antara dosen dan mahasiswa yang berupa tuturan yang mengancammuka sepihak mitra tuturnya.

4.3 Pembahasan

  Data tuturan yang diperoleh menunjukkan bahwa ada penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatikyang digunakan sebagai acuan untuk menentukan ke dalam jenis ketidaksantunan jenis tertentu. Pilihan kata yang ditemukan dalam tuturan-tuturan tersebut adalah bahasa nonstandar dan bahasa standar,kata ilmiah dan kata populer, kata slang, kata seru, dan kata fatis.

4.3.1 Melecehkan Muka

  Hal tersebut senada dengan faktapemakaian bahasa yang tidak santun yang diutarakan oleh Pranowo(2009:70), bahwa penutur berkeinginan memojokkan atau menyalahkan mitra tutur menjadi tidak berdaya. Hal demikian dapat disebabkan oleh suasana hati penutur yang sedang marah sehingga muncullah tuturan Seperti halnya tuturan (A1), tuturan (A2) merupakan tuturan yang dituturkan oleh dosen dan mahasiswa pada saat perkuliahan sedangberlangsung.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (272 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga pendidik di Kotamadya Yogyakarta.
0
3
234
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga di lingkungan Kadipaten Pakualaman Yogyakarta.
0
0
300
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul Yogyakarta.
0
0
332
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD angkatan 2009-2011.
0
0
2
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antar mahasiswa Program Studi PBSID angkatan 2009-2011 Universitas Sanata Dharma.
5
12
274
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara guru dan siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.
0
1
257
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga pendidik di Kotamadya Yogyakarta
1
1
232
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga di lingkungan Kadipaten Pakualaman Yogyakarta
0
3
298
Kemampuan menulis paragraf dalam karangan argumentasi mahasiswa PBSID, angkatan 2004, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta - USD Repository
0
0
114
Perbedaan sikap terhadap ejaan Bahasa Indonesia antara mahasiswa angkatan 2006 dan angkatan 2009 Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
180
Hubungan antara atraksi interpersonal tehadap dosen dengan motivasi belajar pada mahasiswa - USD Repository
0
0
98
Deskripsi motivasi belajar mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma angkatan tahun 2010 - USD Repository
0
0
92
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara guru dan siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 - USD Repository
0
0
255
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antar mahasiswa Program Studi PBSID angkatan 2009-2011 Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
272
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga pedagang yang berdagang di Pasar Besar Beringharjo Yogyakarta - USD Repository
0
2
315
Show more