PENGOLAHAN KEDEWASAAN BERKOMUNIKASI SEBAGAI SARANA HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS SKRIPSI

Gratis

0
0
160
3 months ago
Preview
Full text

  PENGOLAHAN KEDEWASAAN BERKOMUNIKASI SEBAGAI SARANA HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh:

  Agnes Suswindarti NIM: 081124029

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2012

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini dipersembahkan kepada: Tuhan Yesus, Bunda Maria dan Bapa Yosef melalui tubuh Kongregasi Biarawati Abdi Kristus.

  MOTTO

  “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.

  Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:46b-48).

  ABSTRAK Judul karya tulis ini ialah PENGOLAHAN KEDEWASAAN

BERKOMUNIKASI SEBAGAI SARANA HIDUP BERKOMUNITAS PARA

SUSTER ABDI KRISTUS, dipilih berdasarkan situasi dan kenyataan adanya upaya

  mewujudkan kerinduan para suster Abdi Kristus untuk membangun komunitas yang hidup, baik secara personal maupun bersama namun belum terprogram dengan baik sehingga kurang efektif dan berdaya guna. Komunitas yang hidup yang diharapkan oleh para suster Abdi Kristus adalah komunitas yang dipenuhi oleh kasih dan kegembiraan dalam Roh seturut teladan Bunda Maria pelindung pertama Kongregasi Biarawati Abdi Kristus. Upaya yang kurang efektif dan berdaya guna tersebut tampak dalam refleksi para suster Abdi Kristus yang secara umum menemukan sulitnya hidup bersama dalam komunitas karena masing-masing pribadi belum mempunyai kesadaran untuk mengolah diri sehingga dalam sikap hidup terutama cara berkomunikasi tidak menampakkan kualitas hidup yang matang. Kenyataan yang terjadi dalam hidup berkomunitas adalah saling mendiamkan, masalah senioritas, krisis kepercayaan dan keteladanan, kesalahpahaman dan konflik yang tidak terselesaikan, egois dll. Bertitik tolak dari situasi dan kenyataan tersebut, karya tulis ini dimaksudkan untuk membantu para suster Abdi Kristus mengolah kedewasaan berkomunikasi sebagai sarana hidup berkomunitas melalui rekoleksi sebagai salah satu program pengolahan hidup terus menerus.

  Karya tulis ini merupakan kajian tentang kedewasaan berkomunikasi dan hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus. Tulisan ini mendukung Kongregasi Abdi Kristus dalam upaya peningkatan kualitas hidup para suster Abdi Kristus yang hidup dalam komunitas-komunitas melalui pengolahan hidup terus-menerus yang dikemas dalam rekoleksi menyambut Hari Raya Bunda Maria Menerima Kabar Sukacita dan pembaharuan kaul Tri Prasetya para suster Abdi Kristus. Buah dari pengolahan hidup yang dirindukan adalah terciptanya komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh seturut teladan Bunda Maria yang memang harus diupayakan terus-menerus baik secara personal maupun bersama.

  

ABSTRACT

  The title of this paper is THE FORMATION OF MATURATION IN

  

COMMUNICATION AS MEDIUM IN COMMUNITY LIFE FOR THE ABDI

KRISTUS (CHRIST’S SERVANT) SISTERS. It is chosen based on the situation

  and reality that there has been an effort to manifest the longing of the Abdi Kristus sisters to build a life community, both personal and communal but it has not been done and programmed well so it is not effective and efficient. The ideal community of the Abdi Kristus sisters is the community that is full of love and happiness in Spirit according to the example of Mother Mary, the first patron of the Abdi Kristus Congregation. That uneffectivity and unefficience effort is shown in the reflection of the Abdi Kristus sisters that generally shows difficulties of community life because of each person has not been aware of their own formation therefore their attitudes, especially in the way of communication, do not show the maturation of life quality. The reality in community life: they do not speak to each other, seniority problems, crisis in confidence and example, misunderstanding and unfinish conflict, selfish etc. Based on these situation and realities, this paper is written to help the Abdi Kristus sisters in formation of maturation in communication as medium in community life through recollection, one of the ongoing formation programmes.

  This paper talks about the maturation of communication and the community life of the Abdi Kristus sisters. This paper support the Abdi Kristus Congregation in effort of increasing the quality of the Abdi Kristus sisters in community life through a recollection in celebrating the Annunciation and renewing of the vows of the Abdi Kristus sisters. The goal of this ongoing formation is building the community of love that is full of happiness in Spirit according to the example of Mother Mary which must be implemented both personally and communally.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Bapa atas kasih karunia dan rahmat-Nya yang berlimpah sehingga penulis bersama Bunda Maria mengalami kegembiraan yang mendalam karena dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi berjudul PENGOLAHAN KEDEWASAAN BERKOMUNIKASI SEBAGAI

  

SARANA HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS ditulis

  sebagai wujud kepedulian penulis dalam meningkatkan kualitas iman dan pribadi para suster Abdi Kristus, khususnya dalam berkomunikasi.

  Mengingat pentingnya pengolahan hidup secara terus-menerus, terlebih dalam berkomunikasi sebagai sarana hidup berkomunitas menentukan kelangsungan suatu kongregasi, maka penulis mencoba turut memikirkan salah satu usulan program pengolahan hidup terus-menerus yang dikemas dalam rekoleksi menyambut Hari Raya Maria Menerima Kabar Suka Cita dan pembaharuan Tri Prasetya para suster Abdi Kristus. Rekoleksi ini mengajak para suster Abdi Kristus, baik yunior, medior maupun senior untuk memperbaharui diri bersama Bunda Maria terutama dalam cara berkomunikasi sebagai sarana hidup berkomunitas sehingga terciptalah komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh seperti yang dirindukan oleh para suster Abdi Kristus.

  Dalam menyusun dan menyelasaikan skripsi ini, penulis sungguh menyadari akan peran serta banyak pribadi yang penulis yakini sebagai tangan-tangan Tuhan sendiri untuk terlibat dan membantu baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga segala sesuatunya berjalan dengan baik dan lancar. Atas segala bantuan yang penulis terima dan rasakan, dengan tulus penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

  1. Rm. Drs. H. J. Suhardiyanto, S. J. selaku Kaprodi IPPAK Universitas Sanata Dharma yang senantiasa memberikan dukungan dalam seluruh proses menyelesaikan skripsi ini.

  2. Rm. Dr. B. Agus Rukiyanto, S. J. selaku dosen pembimbing utama yang selalu mendampingi dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan tulus hati dalam menyelesaikan skripsi ini.

  3. Bapak Drs. L. Bambang Hendarto Y. M., Hum. selaku dosen pembimbing Akademik sekaligus dosen penguji kedua yang telah memberikan perhatian dan mendukung seluruh perjalanan belajar penulis di Prodi IPPAK.

  4. Rm. Drs. M. Sumarno Ds., S. J., M. A. selaku dosen penguji ketiga yang senantiasa menyemangati penulis untuk menyelesaikan skripsi.

  5. Sr. M. Lissieux, A. K. sebagai Pemimpin Umum Kongregasi Abdi Kristus yang telah memberi kesempatan, kepercayaan dan peneguhan kepada penulis untuk menjalani studi di IPPAK. Terimakasih atas doa, kasih dan dukungan yang selalu penulis terima, rasakan sehingga penulis bersemangat menyelesaikan skripsi.

  6. Sr. M. Bertha, A. K. yang telah bersusah payah mengumpulkan data-data dan memberikan informasi yang dibutuhkan penulis dalam penulisan skripsi.

  7. Sr. M. Lizbeth, A. K. yang telah menyalurkan dana untuk memenuhi kebutuhan studi sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini dengan lancar dan tepat

  8. Para suster sekomunitas, Sr. Marcellina, A. K., Sr. M. Scholastika, A. K., Sr.

  M. Clementia, A. K., Sr. M. Benidikta, A. K., Sr. M. Diana, A. K., Sr. M. Chayetien, A. K. yang telah memberikan doa, kasih dan dukungannya selama studi dan menyelesaikan skripsi.

  9. Para suster Abdi Kristus dimanapun berada atas doa-doanya, sumbang saran yang dapat mendukung saya selama studi dan penyelesaian skripsi ini.

  10. Segenap Bapak, Ibu, Romo dosen dan seluruh staf karyawan prodi IPPAK Universitas Sanata Dharma yang secara langsung dan tidak langsung selalu memberikan dorongan kepada penulis.

  11. Keluarga tercinta, Bapak Y. Suwandar, Ibu M. Sumiyati, kakak-kakak dan adik- adik yang selalu mendoakan dan memberikan dorongan dalam menyelesaikan perkuliahan.

  12. Rm. Ag. Sudarisman, Pr., yang dengan setia menemani dan memberikan masukan dalam menyelesaikan skripsi.

  13. Oktivia Astuti, teman seangkatan yang selalu mendorong dan memberikan bantuan dan belajar bersama selama proses belajar sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan penuh kegembiraan dan kelancaran.

  14. Teman-teman angkatan 2008 untuk kebersamaan dan persaudaraan yang telah terjalin selama studi sehingga penulis mengalami kegembiraan selama menjalani perkuliahan.

  15. Staf perpustakaan Kolose St. Ignatius Kotabaru dan Perpustakaan Prodi IPPAK yang telah begitu bermurah hati mengizinkan penulis menggunakan berbagai buku yang sangat penulis perlukan dalam penulisan skripsi ini sampai selesai.

  DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL .................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. iv MOTTO ...................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ....................................... vii ABSTRAK .................................................................................................. viii

  ABSTRACT ................................................................................................. ix

  KATA PENGANTAR ................................................................................ x DAFTAR ISI .............................................................................................. xiv DAFTAR SINGKATAN ............................................................................ xix

  BAB I. PENDAHULUAN .................................................................... … 1 A. LATAR BELAKANG MASALAH ................................................. 1 B. RUMUSAN MASALAH ................................................................. 5 C. TUJUAN PENULISAN ............................................................... 5 D. MANFAAT PENULISAN .............................................................. 6 E. METODE PENULISAN ................................................................. 7 F. SISTEMATIKA PENULISAN ......................................................... 7 BAB II. KEDEWASAAN DALAM BERKOMUNIKASI ...................... 11 A. KEDEWASAAN ............................................................................. 11

  1. Pengertian Kedewasaan dan Orang Dewasa .............................. 11

  2. Unsur-unsur Kedewasaan ........................................................... 12

  a. Telah mencapai suatu kesatuan fundamental dalam kepribadiannya ........................................................................ . 12 b. Sudah berkembang melampaui antusiasme sementara dan kini hidup sesuai dengan keyakinannya .........................................

  12

  c. Sadar bahwa ia bertanggungjawab atas tiap segi kehidupannya

  19 f. Sikap realistis ..........................................................................

  24 c. Asertif ......................................................................................

  24 b. Agresif .....................................................................................

  24 a. Non-asertif ..............................................................................

  24 3. Perilaku yang Mempengaruhi Komunikasi ................................

  23 b. Proses komunikasi secara sekunder ........................................

  23 a. Proses komunikasi secara primer ............................................

  22 2. Proses Komunikasi .....................................................................

  21 1. Pengertian Komunikasi ..............................................................

  21 B. KOMUNIKASI ..............................................................................

  20 j. Mampu membatinkan nilai panggilan .....................................

  20 i. Relasi sosial yang berciri dependibility ...................................

  20 h. Memiliki kepercayaan dan keyakinan pada diri sendiri .........

  19 g. Mampu mempercayai orang lain ............................................

  19 e. Memiliki cinta yang tidak egois ..............................................

  13 d. Sadar dimensi sosialnya ..........................................................

  d. Tidak cenderung mengurbankan nilai dan prinsip demi suatu pragmatisme ............................................................................

  18

  c. Mengarahkan daya-daya hidupnya untuk menghayati nilai-nilai yang dipeluk dan diwartakannya dalam hidup .......

  18

  17 b. Menerima dan menghayati apa yang bernilai .........................

  4. Arah Kedewasaan Pribadi ........................................................ 17 a. Kemampuan untuk menerima kenyataan ................................

  e. Perwujudan diri ....................................................................... 16

  d. Konfrontasi diri ....................................................................... 16

  c. Sikap respek ............................................................................ 15

  b. Sikap otentik ........................................................................... 15

  a. Sikap empati ............................................................................ 14

  3. Sikap-sikap yang mendasari proses pendewasan diri ................ 14

  13

  13 e. Menyesuaikan dirinya dengan realita hidup ...........................

  25

  1. Ketrampilan Berkomunikasi .......................................................

  25 a. Memahami dan mempercayai .................................................

  26 b. Berkomunikasi secara tepat dan jelas .....................................

  26 c. Menerima dan membantu .......................................................

  27

  d. Mengatasi konflik dan masalah dalam hubungan pribadi secara konstruktif ....................................................................

  27 2. Berkomunikasi yang Bijaksana dan Efektif ...............................

  27

  a. Kemampuan-kemampuan yang diperlukan dalam asertvitas bijaksana dan efektif dalam berkomunikasi ...........................

  28 b. Halangan-halangan berkomunikasi ........................................

  29 D. SPIRITUALITAS KOMUNIKASI ...............................................

  35 1. Keterbukaan kepada Allah .........................................................

  35 2. Keterbukaan kepada Diri Sendiri ...............................................

  36 3. Keterbukaan kepada Orang-orang Lain .....................................

  36 E. KESIMPULAN ..............................................................................

  37 BAB III. HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS BERDASARKAN KONSTITUSI TAREKAT ABDI KRISTUS .........................................................................

  39 A. KOMUNITAS ...............................................................................

  40 1. Pengertian Komunitas ................................................................

  40 2. Komunitas Kaum Religius .........................................................

  40 B. KOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS ........................

  41 1. Gambaran Singkat Kongregasi Biarawati Abdi Kristus .............

  43

  2. Bunda Maria Teladan Hidup Berkomunitas Para Suster Abdi Kristus ...............................................................................

  43

  3. Pribadi Bunda Maria Menjadi Jiwa Komunitas Para Suster Abdi Kristus ...............................................................................

  50 a. Kemiskinan dalam budi ..........................................................

  52 b. Kemiskinan dalam hati ...........................................................

  53 C. RUMAH BIARA ADALAH RUMAH KOMUNITAS KASIH ....

  54 1. Komunitas Kasih yang Penuh Kegembiraan dalam Roh ...........

  54 2. Sabda Allah Dasar Hidup Berkomunitas ....................................

  58

  Abdi Kristus ...............................................................................

  59 D. KOMUNITAS ABDI KRISTUS DALAM GERAKAN

  ONGOING FORMATION DEMI TERWUJUDNYA

  KOMUNITAS KASIH YANG PENUH KEGEMBIRAAN DALAM ROH ................................................................................

  61 1. Pentingnya Ongoing Formation bagi Komunitas Religius .........

  63 a. Aspek kognitif .........................................................................

  65 b. Aspek sosial ...........................................................................

  65 c. Aspek afektif ...........................................................................

  66 d. Aspek rohani ...........................................................................

  66 e. Aspek apostolik .......................................................................

  66 f. Aspek fisik ...............................................................................

  67

  2. Pembinaan Terus-menerus dalam Menumbuhkembangkan Kualitas Hidup Para Suster Abdi Kristus demi Terwujud- nya Komunitas Kasih Penuh Kegembiraan dalam Roh .............

  67 a. Aspek pembinaan terus-menerus ............................................

  68 b. Pembinaan terus menerus para suster Abdi Kristus ...............

  69 E. KESIMPULAN .............................................................................

  74 BAB IV. SITUASI HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS ..........................................................................

  77 A. GAMBARAN SINGKAT KOMUNITAS-KOMUNITAS ABDI KRISTUS ...........................................................................

  77 B. KEDEWASAAN BERKOMUNIKASI PARA SUSTER ABDI KRISTUS DALAM HIDUP BERKOMUNITAS..............

  79 1. Keprihatinan Kualitas Hidup Para Suster Abdi Kristus ............

  80 2. Refleksi Para Suster Abdi Kristus .............................................

  82 a. Refleksi para suster yunior......................................................

  83 b. Refleksi para suster medior ....................................................

  87 c. Refleksi para suster senior ......................................................

  91 BAB V. USULAN PROGRAM PENGOLAHAN KEDEWASAAN BERKOMUNIKASI SEBAGAI SARANA HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS ...........

  97 A. LATAR BELAKANG USULAN PROGRAM ...........................

  98 B. ALASAN DAN TUJUAN DIADAKAN PROGRAM

  C. RUMUSAN TEMA DAN TUJUAN ............................................ 100

  D. PETUNJUK PELAKSANAAN PROGRAM ............................... 101

  1. Langkah-langkah Shared Christian Praxis (SCP) .................... 101

  a. Langkah I: Mengungkap pengalaman hidup peserta .............. 101

  b. Langkah II: Mendalami pengalaman hidup peserta ................ 102

  c. Langkah III: Menggalai pengalaman Iman Kristiani .............. 102

  d. Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam situasi peserta konkret .................................................................................... 102 e.Langkah V: Mengusahakan suatu aksi konkret ....................... 103

  2. Susunan Acara........................................................................... 103

  E. PENJABARAN PROGRAM ........................................................ 104

  F. CONTOH SATUAN PELAKSANAAN ...................................... 107

  BAB V. PENUTUP .................................................................................... 125 A. KESIMPULAN ............................................................................. 125 B. SARAN ........................................................................................ 129

  1. Bagi Kaum Religius pada Umumnya ......................................... 129

  2. Bagi Para Suster Abdi Kristus .................................................... 131 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 134 LAMPIRAN ................................................................................................ 136

  Lampiran 1: Cerita Lengkap Film ‘Doubt’ ......................................... (1) Lampiran 2: CD Film ‘Doubt’ ............................................................ (4)

  

DAFTAR SINGKATAN

A. SINGKATAN KITAB SUCI

  Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci

  

Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat . (Dipersembahkan kepada

Umat Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV).

  Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 8.

  B. SINGKATAN DOKUMEN RESMI GEREJA

  KGK : Katekismus Gereja Katolik, disyahkan oleh para Uskup Propinsi Gerejani Ende dan diakui oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia, diberikan pada hari ulang tahun ketigapuluh pembukaan Konsili Vatikan II, 11 Oktober 1992 oleh Bapa Paus Yohanes II. LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja pada 21 November 1964.

  PC : Perfectae Caritatis, Dekrit Konsili Vatikan II tentang pembaharuan dan penyesuaian hidup religius, 28 Oktober 1965.

  C. SINGKATAN LAIN

  AK : Abdi Kristus DPU : Dewan Pimpinan Umum

  IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik KAS : Keuskupan Agung Semarang

  Komkat : Komisi Kateketik Kons. : Konstitusi Tarekat Abdi Kristus, disyahkan oleh Julius Kardinal Darmoatmojo pada tanggal 25 Oktober 1995 di Semarang.

  KWI : Konferensi Waligereja Indonesia LCD : Liquid Crystal Display Rm. : Romo SCP : Shared Christian Praxis S. J. : Serikat Jesus Sr. : Suster YSMAK : Yayasan St. Maria Abdi Kristus

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Komunitas akan hanya menjadi sebuah tempat berkumpulnya orang-orang

  ‘sakit’, jika para penghuninya tidak mau mengolah hidupnya terus menerus, demikian pernyataan seorang formator yang mempunyai kepedulian terhadap pengolahan hidup kaum religius. Yang dimaksud ‘sakit’ adalah adanya kecenderungan pribadi akan pemenuhan berbagai macam kebutuhan psikologis sehingga menjadi penghambat dalam menanggapi panggilan-Nya di dalam komunitas hidup bakti. Pernyataan ini tentu saja menggelitik kaum religius yang dalam kenyataannya hidup dalam komunitas dimana tidak selalu harmonis dalam arti kadang kala terjadi kesalahpahaman yang disebabkan oleh berbagai macam permasalahan pribadi yang belum disadari dan terolah.

  Dalam hidup bersama, meski semua orang berkehendak baik mau mengungkapkan semangat cinta kasih, namun seringkali terjadi konflik, debat sengit, pertengkaran bahkan saling mendiamkan untuk beberapa saat. Diskusi atau pun diskresi yang pada mulanya berjalan amat mulus dapat berakhir dengan saling mencela karena masing-masing pribadi mempunyai kepentingan pribadi yang harus dituruti bukannya melihat kehendak Allah yang berkarya dalam dirinya.

  Dalam Kitab Suci, Tuhan Yesus dengan tegas memperlihatkan kepedulian- Nya pada orang ‘sakit’: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang yang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk 5:31-32). Kata ‘orang sehat’ sejajar dengan ‘orang benar’, sedangkan kata ‘orang sakit’ sejajar dengan ‘orang berdosa’. Tuhan Yesus memanggil orang berdosa supaya bertobat, artinya Ia memanggil orang yang tidak benar atau ‘sakit’ supaya bertobat, tidak berbuat dosa lagi. Bertitik tolak dari permasalahan dalam kehidupan kaum religius, panggilan Yesus supaya bertobat ini menjadi dasar bagi kaum religius untuk melihat kembali panggilan-Nya yang khas dalam hidup bakti yang pada dasarnya memerlukan proses discernment (diskresi) dalam konteks mau terus-menerus mencari kehendak Allah.

  Menurut pemahaman penulis, banyaknya kaum religius yang kesulitan untuk menjalani hidup berkomunitas salah satunya disebabkan oleh pilihan gaya komunikasi yang tidak tepat antar anggota, yaitu gaya komunikasi yang jika diamati terjadi karena adanya kombinasi masalah-masalah emosional seperti rasa frustasi, takut, dan keinginan balas dendam namun takut dengan konsekuensinya. Masalah emosional yang demikian pasti akan mengganggu proses pendewasaan diri yang dari waktu ke waktu mengendap dan akhirnya membentuk perangai serta watak yang bertentangan dengan hidup religius dan akhirnya tampak dalam tingkah laku, sikap-sikap kurang terpuji yang terus-menerus dilakukan baik disadari maupun tidak disadari. Perangai dan watak yang muncul seringkali menimbulkan kesulitan untuk bergaul dan hidup sosial karena berpengaruh dalam kehidupan konkret yaitu mudahnya melakukan ‘pelecehan emosional’ terhadap lingkungannya seperti suka mencela, menjelek-jelekkan, mengadakan sabotase, diam dan menghukum orang lain. Selain itu karya kerasulan justru menjadi sumber konflik di dalam komunitas karena adanya persaingan tersembunyi. Akibatnya seluruh sistem kehidupan berkomunitas , baik dalam hidup karya, doa dan bersama menjadi tidak harmonis, lebih dikuasai ketegangan antara pemimpin dan anggotanya, antara religius senior dan yunior.

  Semua permasalahan yang terungkap seperti di atas sangat erat kaitannya dengan permasalahan masing-masing pribadi yang belum terolah dengan semestinya sehingga kedewasaan iman yang mengandaikan adanya kedewasaan manusiawi belum tercapai. Pribadi yang telah mencapai kedewasaan manusiawi dengan sendirinya akan selalu menghidupi gaya komunikasi yang datang kedalaman hidupnya dan tampak dalam kemampuan mengenal diri, memperjuangkan sistem nilai, kepercayaan dan harga diri yang sehat, menegakkan hak-hak pribadinya dengan cara dialog, mengekspresikan keyakinan, perasaan, pikiran yang diungkapkan secara verbal, langsung, jujur, nyaman tanpa mengabaikan hak orang lain.

  Melihat kenyataan yang terjadi dalam dinamika hidup berkomunitas kaum religius yang begitu kompleks maka diperlukan adanya pengolahan hidup terus menerus bagi kaum religius untuk memacu pertumbuhan hidup yang dibaktikan pada Tuhan sedari awal menjalani panggilan sampai akhir hidupnya melalui. Ada dua hal pokok yang diperjuangkan dalam menggapi panggilan-Nya , yaitu terus menerus mempertimbangkan (discernment) demi pertumbuhan disposisi kedewasaan masing-masing pribadi untuk melanjutkan panggilan kongregasi dan proses inkoporasi personal maupun komuniter yang mengandaikan adanya komunikasi bermutu yang bersumber pada kedalaman pribadi dalam hidup berkomunitas kaum religius. Mardi Prasetya (1992b: 210) menyatakan bahwa komunikasi di dalam sebuah komunitas diartikan sebagai jalinan hubungan antara pemimpin dan anggota dan di antara sesama anggota yang menunjukkan mutu yang dapat diandalkan untuk mencapai tujuan, tanggungjawab komunitas, kesatuan, keseimbangan, proses pertumbuhan masing-masing pribadi.

  Berdasarkan pengalaman penulis dalam hidup berkomunitas dan refleksi para suster Abdi Kristus yang kumpulkan dan diolah dalam Kapitel Umum V pada tanggal 2-20 Januari 2008, penulis menemukan adanya kerinduan-kerinduan yang terus menerus diupayakan dan diwujudkan baik secara personal maupun bersama, yaitu kerinduan membangun komunitas yang menghidupi setiap anggotanya seturut teladan Bunda Maria Hamba Allah, pelindung pertama Kongregasi Biarawati Abdi Kristus. Untuk itu perlu adanya kemampuan dan ketrampilan tertentu dalam mengolah hidup sehingga menemukan disposisi kedewasaan diri yang mempengaruhi dalam mengalami, mengerti, menimbang, memutuskan dan bertindak dalam hidup yang berarti juga mempengaruhi kualitas, cara dan bentuk kerjasama dalam menjawab rahmat Tuhan. Masalahnya adalah apakah para suster Abdi Kristus menyadari bahwa dalam perjalanan rohani, tiap- tiap pribadi pasti menghadapi berbagai macam kesulitan dan hambatan entah dalam level intelektual, afeksi maupun kehendak yang disebabkan oleh disposisi real maupun pengaruh lingkungan yang menghambat dan mempengaruhi kemampuan dalam mengambil keputusan? Kemampuan dan ketrampilan macam apa yang perlu diupayakan oleh para suster Abdi Kristus sehingga terjadi komunikasi yang sungguh dewasa sebagai sarana hidup berkomunitas?

  Dari uraian di atas tampak adanya hubungan antara kedewasaan berkomunikasi dengan permasalahan-permasalahan dalam hidup berkomunitas, serta kerinduan para suster Abdi Kristus akan komunitas yang hidup, yaitu komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh. Dengan melihat persoalan tersebut di atas, penulis mengangkat “PENGOLAHAN KEDEWASAAN

  

BERKOMUNIKASI SEBAGAI SARANA HIDUP BERKOMUNITAS

PARA SUSTER ABDI KRISTUS” sebagai judul skripsi ini.

B. RUMUSAN MASALAH

  Berdasarkan permasalahan di atas, masalah dalam karya tulis ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Apakah yang dimaksud dengan kedewasaan berkomunikasi?

  2. Apakah yang dimaksud dengan hidup berkomunitas kaum religius, khususnya hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus?

  3. Bagaimana kedewasaan berkomunikasi menjadi sarana hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus sehingga tercapai apa yang dirindukan oleh para suster Abdi Kristus untuk membangun komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh? C.

TUJUAN PENULISAN

  Tujuan penyusunan karya tulis ini adalah sebagai berikut:

  1. Menemukan makna kedewasaan berkomunikasi dengan menggali sikap-sikap, arah dan kualitas kedewasaan berkomunikasi.

  2. Menemukan makna hidup berkomunitas kaum religius, khususnya komunitas para suster Abdi Kristus dengan menggali dasar, tujuan dan alasan hidup berkomunitas dalam Kongregasi Biarawati Abdi Kristus.

  3. Mengusahakan bersama kedewasaan berkomunikasi sehingga menjadi sarana hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus dalam upaya membangun komunitas yang penuh kasih kegembiraan dalam Roh.

D. MANFAAT PENULISAN

  Adapun manfaat dari penulisan ini adalah: 1.

   Bagi Para Biarawan-biarawati

  • Para biarawan-biarawati diharapkan semakin menyadari pentingnya kedewasaan berkomunikasi sehingga menjadi sarana hidup berkomunitas.
  • Para biarawan-biarawati diharapkan mau mengupayakan komunikasi yang mengalir dari kesadaran pribadi sebagai seorang religius yang telah memiliki kedewasaan.
  • Para biarawan-biarawati diharapkan supaya menyadari perannya dalam menjalankan tugas perutusan sebagai seorang religius yang mengedepankan komunikasi untuk membangun komunitas yang penuh kasih baik di dalam maupun di luar kongregasi.

2. Bagi Para Pemimpin Komunitas

  Diharapkan penulisan ini dapat membantu para pemimpin komunitas menyadari peran dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang bijaksana dan penuh kasih persaudaraan. Penulisan ini juga diharapkan akan memberi wawasan yang lebih luas bagi pemimpin komunitas dalam mengelola para anggotanya dengan mengedepankan kedewasaan berkomunikasi sebagai sarana dalam hidup berkomunitas. Baik pemimpin komunitas maupun anggotanya diharapkan mampu berkomunikasi yang bijaksana dan efektif. Dengan demikian pemimpin dan anggotanya akan mampu bekerjasama dan penuh persaudaraan membangun komunitas seturut cita-cita dan kharisma kongregasi.

3. Bagi Penulis

  Penulis sebagai suster yang bergabung dalam Kongregasi Biarawati Abdi Kristus diharapkan semakin menemukan kedewasaan diri dalam berkomunikasi sehingga mampu hidup berkomunitas dengan bijaksana. Bersama para suster Abdi Kristus dan seturut teladan Bunda Maria penulis berharap dimampukan turut serta terlibat dalam upaya membangun komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh.

  E. METODE PENULISAN

  Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif analitis dengan studi pustaka, yaitu menggambarkan serta menganalisis aspek- aspek kedewasaan manusiawi dalam berkomunikasi dan pengolahannya dengan membaca dan mempelajari buku-buku sumber bacaan, artikel-artikel, tulisan- tulisan yang berkaitan dengan judul skripsi.

  F. SISTEMATIKA PENULISAN

  Sebagai sebuah gambaran umum tentang hal apa saja yang akan dibahas di dalam penulisan skripsi, berikut ini adalah sistematika penulisannya:

  Bab I berisikan pendahuluan yang meliputi: latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, manfaat penulisan dan sistematika penulisan.

  Bab II berisi tentang landasan teori dari berbagai buku dan literatur yang akan mendasari pembahasan-pembahasan selanjutnya. Bagian pertama menguraikan tentang kedewasaan yang berisi pengertian kedewasaan dan orang dewasa, unsur-unsur kedewasaan, sikap-sikap yang mendasari proses pendewasaan diri, arah kedewasaan pribadi. Bagian kedua akan menguraikan seputar komunikasi, yaitu pengertian komunikasi, proses komunikasi dan perilaku yang mempengaruhi komunikasi. Bagian ketiga dalam bab ini memaparkan tentang kedewasaan berkomunikasi yang berisi tentang ketrampilan berkomunikasi dan berkomunikasi yang bijaksana dan efektif. Spiritualitas komunikasi sebagai landasan berkomunikasi akan dipaparkan dalam bagian terakhir untuk mendukung terjadinya komunikasi yang semakin dewasa sebagai umat Kristiani.

  Bab III memaparkan hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus berdasarkan Konstitusi Tarekat Abdi Kristus yang diawali dengan pemaparan mengenai pengertian komunitas, komunitas kaum religius dan seputar Kongregasi Biarawati Abdi Kristus. Dengan mengacu pada Kitab Suci dan Konstitusi Tarekat Abdi Kristus dan berbagai buku seputar Bunda Maria serta hidup membiara, penulis akan memaparkan tentang pribadi Bunda Maria Hamba Allah yang menjadi jiwa hidup berkomunitas para Suster Abdi Kristus dan rumah biara sebagai rumah komunitas kasih. Bab ini akan banyak memaparkan persekutuan para suster Abdi Kristus dengan meneladani Bunda Maria yang dikisahkan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, yaitu sejak ia menerima Kabar Gembira hingga peristiwa saat-saat akhir bersama Yesus. Rumah biara yang dicita-citakan oleh para suster sebagai komunitas kasih dalam Roh, didasari oleh Sabda Allah dan komunitas yang dirindukan sebagai ‘oase’ kehidupan para suster Abdi Kristus juga akan dibahas dalam bab III ini. Dalam bagian akhir bab III, penulis akan membahas mengenai komunitas Abdi Kristus dalam gerakan ongoing formation dan upaya pembinaan terus-menerus para suster Abdi Kristus demi terwujudnya komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh.

  Situasi hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus akan dibahas dalam

  bab IV penulisan ini. Penulis membahas dalam dua bagian. Pada bagian pertama, penulis memaparkan secara singkat gambaran mengenai komunitas-komunitas Abdi Kristus. Pengolahan kedewasaan berkomunikasi para suster Abdi Kristus yang berisi tentang refleksi para suster Abdi Kristus dalam masa yunior, medior dan senior dipaparkan dalam bagian kedua bab ini.

  Pada bab V penulis akan memaparkan sebuah usulan program untuk mendukung proses pelaksanaan rekoleksi menyambut pesta pelindung pertama, yaitu Bunda Maria menerima kabar sukacita dan pembaharuan kaul. Program yang penulis usulkan menggunakan model Shared Christian Praxis dengan tidak meninggalkan tradisi Kongregasi Biarawati Abdi Kristus dalam rekoleksi bulanan. Bab V ini diawali dengan penjelasan latar belakang dari usulan program, dilanjutkan dengan memaparkan alasan dan tujuan diadakan program pengolahan kedewasaan berkomunikasi Abdi Kristus. Tema rekoleksi yang dijabarkan dalam tiga sub tema akan dipaparkan dalam bagian ini. Bagian berikutnya, penulis memapaparkan petunjuk tentang pelaksanaan program, berisi tentang langkah-langkah model katekese Shared Chritian Praxis (SCP) dan susunan acara rekoleksi. Penjabaran program rekoleksi dan salah satu contoh satuan pelaksanaan rekoleksi komunitas dipaparkan dalam bagian-bagian selanjutnya.

  Dalam bab akhir dari skripsi, yaitu bab penutup, penulis akan membahas kesimpulan dan saran yang dapat diajukan demi terwujudnya kedewasaan berkomunikasi sebagai sarana hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus.

  Demikian proses berpikir penulis yang dituangkan dalam skripsi ini. Penulis mempunyai harapan penulisan tentang pengolahan kedewasaan berkomunikasi sebagai sarana hidup berkomunitas akan membantu para suster Abdi Kristus dalam pengolahan hidupnya. Dengan demikian kerinduan para suster Abdi Kristus membangun komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh seturut teladan Bunda Maria, pelindung Kongregasi Biarawati Abdi Kristus akan terwujud.

BAB II KEDEWASAAN DALAM BERKOMUNIKASI Dalam bab ini, penulis akan membahas kedewasaan dalam berkomunikasi

  yang akan dijabarkan dalam empat bagian, yaitu kedewasaan, komunikasi, kedewasaan berkomunikasi dan spiritualitas komunikasi. Pembahasan masing- masing bagian diperkuat dengan pandangan para ahli dari berbagai sumber yang sekaligus berfungsi sebagai pendukung berbagai gagasan penulis, baik gagasan yang telah dituangkan dalam bab I maupun pada bab-bab berikutnya.

A. KEDEWASAAN

  Pembahasan mengenai kedewasaan dimulai dengan menjelaskan pengertian kedewasaan dan orang dewasa, dilanjutkan dengan pemaparan mengenai unsur- unsur kedewasaan, sikap-sikap yang mendasari proses pendewasaan diri dan arah kedewasaan pribadi.

1. Pengertian Kedewasaan dan Orang Dewasa

  Elizabeth Hurlock B. (1997: 246) mendefinisikan kedewasaan dan orang dewasa dengan melihat istilah adult dari kata kerja latin, seperti juga istilah

  adolescene –adolescere yang berarti tumbuh dalam kedewasaan. Akan tetapi, kata

adult berasal dari bentuk lampau partsipel dari kata kerja adultus yang berarti

  telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran sempurna. Dari definisi kedewasaan tersebut dan kemudian di kaitkan dengan orang yang sudah disebut dewasa,

  Elizabeth Hurlock B (1997:247) menjelaskan lebih lanjut bahwa orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya.

2. Unsur-unsur Kedewasaan

  (1972: 3-6) dalam buku berjudul Kedewasaan Manusiawi dan

  

Kedewasaan Kristiani menyebutkan unsur-unsur yang harus termasuk dalam

  konsep kedewasaan demikian:

  a. Telah mencapai suatu kesatuan fundamental dalam kepribadiannya Seorang dewasa adalah seseorang yang kesatuan fundamental dan kepribadiannya telah tercapai. Ia tidak lagi dalam proses penemuan serta realisasi diri sendiri seperti halnya para remaja. Seorang dewasa bukan lagi seorang yang sedang berkembang namun sudah berkembang, sudah sepenuhnya menyelami kepribadiannya. Ia telah menemukan segala akal dayanya serta manfaat dari segala bakatnnya, mengerti dirinya sendiri. Ia dapat memusatkan kekuatan- kekuatannya, sehingga dapat mengungkapkan serta memberikan dirinya kepada orang lain dengan suatu perbuatan yang sepenuhnya bebas. Ia telah mencapai keteguhan, kestabilan dalam k , 1972: 3-4).

  b. Sudah berkembang melampaui antusiasme sementara dan kini hidup sesuai dengan keyakinannya Seorang dewasa berarti seseorang yang sudah berkembang melampaui

  

antusiasme-antusiasme yang besifat sementara dan saat ini hidup sesuai dengan keyakinannya. Antusiasme ini ditandai oleh ketulusan hati, tetapi ditandai juga oleh kurang adanya keterlibatan sepenuhnya, refleksi ataupun kebebasan sejati.

  Orang dewasa menyadari bahwa manusia mempunyai nilai selaras dengan nilai hatinya , 1972: 4).

  c. Sadar bahwa ia bertanggung jawab atas tiap segi kehidupannya Seorang dewasa sadar bahwa ia bertanggung jawab atas m

  • , 1972: 5).

  d. Sadar dimensi sosialnya Seorang dewasa sadar bahwa ia berakar dalam masyarakat, berada dengan orang lain. Keanggotaannya dalam keluarga manusia menuntut suatu hubungan pribadi dengan orang lain. Ia tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri, tetapi terbuka secara bertanggungjawab terhadap lingkungan

  , 1972: 5).

  e. Menyesuaikan dirinya dengan realita hidup

  • , 1972: 6).

3. Sikap-sikap yang Mendasari Proses Pendewasaan Diri

  J. M. Fuster, SJ (1985: 125-141) dalam bukunya berjudul Teknik

  Mendewasakan Diri menyatakan bahwa sikap-sikap manusia akan mempengaruhi

  dalam bertingkah laku. Sikap negatif terhadap diri membuat manusia menjadi rendah diri, murung, iri, menyendiri dan membuat terhalang untuk mengasihi orang lain dan menerima kasih mereka sehingga sulit untuk bertumbuh. Maka sikap yang perlu dikembangkan untuk lebih siap menanggapi rahmat Allah adalah sikap empati, otentik, respek, konfrontasi dan perwujudan diri. Fuster melihat satu persatu sikap-sikap itu demikian: a. Sikap empati

  Sikap empati berarti kesanggupan untuk merasakan dan mengerti perasaan- perasaan orang lain seolah-olah itu perasaan kita sendiri. Sekarang yang menjadi orang lain adalah diri kita sendiri. Maka sikap empati terhadap diri sendiri berarti kesanggupan untuk merasakan dan mengerti dengan tepat apa yang saya alami dan saya rasakan dan dengan jelas dapat mengungkapkan pengalaman itu. Sikap empati ini efektif untuk mendorong pendewasaan diri dalam Kristus sebab, pertama: setelah menyadari perasaan-perasaan sendiri, orang diringankan dari beban perasaan diri itu. Seolah-olah beban perasaan itu pergi dari pikiran diri dan ia bisa berpikir jernih. Ketakutan dan kekacauan terjadi ketika seseorang mengalami perasaan-perasaan tertentu tetapi tidak dapat menerangkannya Kedua: sikap empati terhadap diri mengembangkan kesadaran diri akan pengalaman- pengalaman dan perasaan-perasaannya. Penyadaran diri yang dalam ini semakin mendorong orang untuk lebih dalam lagi menggali diri (Fuster, 1985: 125-126).

  b. Sikap otentik Otentik berarti asli. Sikap otentik dapat disebut juga jujur, polos, apa adanya. Maka sikap otentik berarti orang mau mengatakan apa yang sungguh- sungguh ada dalam diri sendiri. Dengan jujur mengakui bahwa yang diungkapkan itu milik diri, tetapi juga dengan jujur mau memutuskan untuk meneruskan atau membuang. Sikap ini penting karena membantu seseorang untuk bersikap empati terhadap diri dan membantu seseorang untuk mengerti diri yang sebenarnya. Bila orang mengerti diri sendiri secara obyektif, dapat menyebut perasaan-perasaan dengan tepat, maka ia dapat menyentuh realitas diri dan tahu dimana dirinya berada. Bila orang menipu diri hanya karena takut menatap diri apa adanya, maka ia akan tetap kebingungan dan tidak dapat membantu diri sendiri. Kebingungan yang terjadi terus-menerus ini akan sungguh menghambat proses pendewasaan diri dalam Kristus (Fuster, 1985: 126-128).

  c. Sikap respek Respek berarti menaruh hormat atau menghargai. Sikap hormat terhadap diri berarti mau menerima diri apa adanya dengan penuh cinta karena sadar bahwa seperti apapun keadaan diri, namun tetap bernilai dan memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi lebih baik. Sikap respek terhadap diri membuat orang selalu mensyukuri anugerah-anugerah Allah bagi hidupnya. Sikap respek terhadap diri membuat ia tidak minder, tidak rendah diri, tetapi dengan apa adanya ia merasa cukup mampu berhubungan dengan orang lain dan melaksanakan tugas dengan penuh semangat karena percaya akan karya Allah yang terjadi dalam dirinya dalam keadaan apapun (Fuster, 1985: 128-129).

  d. Konfrontasi diri Konfrontasi berarti saling berhadapan atau bertatapan. Dalam konfrontasi diri, orang mau mencari kekurangan-kekurangan dirinya dan menyadarinya secara penuh. Ia mau mencari kekurangan-kekurangan diri dengan menyelidiki diri, meneliti diri dalam batin tiap hari, rekoleksi bulanan, retret tahunan. Bila orang tidak pernah menyadari kekurangan-kekurangannya, merasa diri segalanya beres dan puas diri maka ia tak akan ada kemajuan dalam hidupnya. Konfrontasi diri membuat orang sadar penuh akan diri yang sebenarnya dan bagaimana kedudukan diri yang sebenarnya di hadapan Allah. Kesadaran ini adalah kerendahan hati.

  Kerendahan hati adalah jalan yang baik untuk mengalami sentuhan lembut yang menyembuhkan dari Tuhan yang bangkit terhadap luka-luka manusia dan untuk mengalami kekuatan-Nya untuk mengubah menurut kehendak-Nya. Proses pendewasaan dalam Kristus terjadi dalam rentetan konfrontasi diri yang terus menerus tak habis-habisnya (Fuster, 1985: 131-134).

  e. Perwujudan diri Yang dimaksud perwujudan diri di sini adalah sikap mau mengejar dengan penuh semangat perwujudan diri yang semakin sempurna sehingga orang mempunyai kemauan kuat untuk maju, untuk mencapai realisasi diri yang semakin penuh. Dalam iman Katolik, pribadi yang telah mewujudkan diri ialah orang yang berusaha keras untuk semakin memahami rencana Allah bagi dirinya dan menjawab dengan lembut terang yang diterima dari Roh Kudus. Pribadi yang telah mewujudkan diri sekaligus menyadari bahwa Allah mempunyai rencana bagi setiap orang. Dengan demikian ia bekerja sama dengan Allah dalam membantu mereka agar menjadi lebih dekat dengan Allah. Seseorang telah mampu mewujudkan diri bila mengerti diri (kekuatan, kelemahan), memanfaatkan kesempatan-kesempatan untuk menyempurnakan diri, belajar bagaimana maju bersama orang lain dan mendorong mereka untuk tumbuh, jujur dengan diri sendiri dan orang lain, bertanggungjawab dan dapat dipercaya, menguasai diri dan murah hati kepada orang lain, tahu arah hidup dan tahu kemana akan menuju.

  Semakin orang tumbuh dalam sikap-sikap di atas, ia akan semakin tumbuh dalam kematangan sehingga orang akan lebih siap menjawab undangan roh untuk menjadi dewasa dalam Kristus (Fuster, 1985: 134-141).

4. Arah Kedewasaan Pribadi

  Pribadi yang dalam hidupnya menunjukkan kedewasaan dalam dimensi- dimensinya dan juga kebebasan afektif lebih besar untuk membatinkan nilai-nilai panggilan, dialah yang mestinya lebih mempunyai disposisi untuk mengikuti panggilannya lebih baik. Bagaimanakah konkretnya kedewasaan tersebut terwujud? Sekedar ciri-ciri untuk melacak kedewasaan, Mardi Prasetya (1992b: 100-105) menjelaskan demikian:

  a. Kemampuan untuk menerima kenyataan Seseorang termasuk dewasa apabila ia terbuka untuk mengetahui dan menerima dirinya dan orang lain. Ia memiliki semacam integrasi pribadi dan nampak antara lain dalam contoh perilaku yaitu tidak menyangkal atau menyembunyikan kelemahannya sendiri dan kelemahan orang lain tetapi dapat memahami dan menerimanya, tidak meremehkan masalah atau mengesampingkan persoalan yang dihadapi, apalagi melarikan diri dari persoalan untuk kemudian mencari kompensasi dengan pura-pura aktif atau sebaliknya malas dan acuh tak acuh. Ia pun tidak melemparkan masalah pada orang lain, atau bahkan mempermasalahkan pembesar, komunitas atau kongregasi sebagai kambing hitam (Mardi Prasetya, 1992b: 100-101).

  b. Menerima dan menghayati apa yang bernilai Orang dewasa berusaha mengatur dan menghayati hidup atas dorongan lurus dalam panggilannya yaitu nilai-nilai hidup rohani atau nilai-nilai panggilan/

  Injili. Ia benar-benar menerima dan menghayati nilai-nilai Injili (nilai hidup rohani) dan menghayatinya demi Kristus dan bukannya demi kepentingan yang sifatnya menguntungkan dirinya sendiri atau sekedar memamerkan kesalehan dan kesucian. Dengan ini akan tampak bahwa ia ambil bagian dalam kebebasan untuk memeluk cinta dan afeksi rohani (Mardi Prasetya, 1992b: 101).

  c. Mengarahkan daya-daya hidupnya untuk menghayati nilai-nilai yang dipeluk dan diwartakannya dalam hidup Orang dewasa menampakkan adanya kesesuaian antara apa yang biasa ia katakan dan ia hayati sendiri dalam hidup. Oleh karena itu, ia dapat mengendalikan ketegangan-ketegangan yang mungkin terjadi dalam mengambil keputusan. Ia juga mampu bertoleransi terhadap ketidakpastian dalam mencapai tujuan dan cita-cita hidupnya, mau bertekun dan bekerja keras dengan niat yang tulus mewujudkan nilai-nilai yang diyakini baik atas dasar pengalaman rohani (Mardi Prasetya, 1992b: 101-102).

  d. Tidak cenderung mengurbankan nilai dan prinsip demi suatu pragmatisme Orang dewasa dapat memiliki fleksibelitas sekaligus sikap seorang hamba

  Tuhan yang setaraf dengan kedewasaannya, lebih-lebih dalam membela nilai-nilai Kristus dalam arti bahwa ia tidak menjadi agresif dan fanatik dalam membela diri dan kemudian menghindari tanggung jawab. Ia justru lebih peka terhadap perasaan orang lain dan lebih terbuka untuk mencari jalan keluar bersama sesama, mengingat keterbatasan diri dan sesama (Mardi Prasetya, 1992b: 102).

  e. Memiliki cinta yang tidak egois Cinta yang tidak egois adalah cinta yang melampaui personalisme dan tidak menuntut apa-apa bagi diri-sendiri (tanpa pamrih). Suatu cinta tanpa pamrih yang menomorsatukan nilai cinta kasih Kristus. Ini berarti bahwa cinta tersebut bukanlah cinta yang semata-mata digerakkan oleh dorongan psikologis, misalnya untuk menyayangi dan memperhatikan sesama. Selain itu juga bukan cinta yang diberikan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya (hanya ungkapan dari ketergantungan afeksi) dan bukan cintakasih yang menuntut sahabat atau orang lain untuk memperhatikan dirinya yang disertai kecemburuan dan ketergantungan seperti anak kecil (Mardi Prasetya, 1992b: 102-103).

  f. Sikap realistis Sikap realistis yang dimaksud di sini khususnya berhubungan dengan pelaksanaan nilai dan sikap hidup religius, kemampuan membedakan mana yang hakiki dan tidak, mana fakta dan prinsip, mana kompromi faktual dan kompromi prinsip. Orang memiliki sikap realistis tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Kenabian tidak muncul dari interpretasi subyektif terhadap tradisi, spiritualitas dan konstitusi yang dibuat demi menonjolkan diri (kesombongan), melainkan dari warta Yesus Kristus yang didukung oleh kesaksiannya (Mardi Prasetya, 1992b: 103).

  g. Mampu mempercayai orang lain Ini adalah sikap dasar yang muncul dari kepercayaan terhadap diri sendiri, sehingga mampu hidup bersama orang lain tanpa kegelisahan dan tanpa kemarahan yang tidak perlu. Ia merasa bebas untuk memberi dan menerima dari hidup bersama yang makin memperkaya kepribadiannya sendiri (Mardi Prasetya, 1992b: 103).

  h. Memiliki kepercayaan dan keyakinan pada diri sendiri Kepercayaan dan keyakinan pada diri sendiri tidak hanya dalam hal-hal yang sudah dialami dan ternyata mendatangkan keberhasilan baginya, tetapi juga terhadap hal-hal yang masih sedang diusahakannya. Orang ini dapat gagal dan salah tetapi ia pun memiliki semangat pembaharuan terus-menerus sebelum soal baru datang untuk dihadapi. Ia tidak pernah mandheg dalam pertobatan dan pembaharuan hidup (Mardi Prasetya, 1992b: 103-104). i. Relasi sosial yang berciri dependibility

  Ini berarti bahwa dalam hubungan dengan pembesar, kawan atau orang lain dapat mempunyai sikap tergantung sekaligus mandiri. Sikap dependibilty terlihat dalam kemampuan untuk mengambil keputusan dan bertanggungjawab meskipun tidak ada orang lain yang membantu, kemampuan menyesuaikan diri dengan yang lain tanpa merasa terancam atau merasa lebih unggul, kemampuan mengambil keputusan juga bila ada orang lain yang membantu, karena orang lain tidaklah dianggap sebagai penghalang atau pembatas kebebasan geraknya, memiliki kepekaan untuk menentukan diri atas dasar pertimbangan objektif atas dirinya sendiri dan juga atas dasar pertimbangan dari orang lain, kemampuan membatinkan nilai panggilan, dapat menerima iman dan kepercayaan karena memang sesuai dengan sistem dasariah nilai dan tujuan hidupnya, sehingga rangsangan dari luar lebih sekunder sifatnya (Mardi Prasetya, 1992b: 104). j. Mampu membatinkan nilai panggilan

  Orang semacam ini adalah orang yang dapat menerima iman dan kepercayaan karena memang sesuai dengan sistem dasariah nilai dan tujuan hidupnya, sehingga rangsangan dari luar lebih sekunder sifatnya. Dengan segala mutu kepribadian di atas, seorang religius akan berusaha maju dan bertekun dalam panggilan dan hidup rohaninya sebagai rohaniwan atau rohaniwati (Mardi Prasetya, 1992b: 104-105).

B. KOMUNIKASI

  Manusia adalah makhluk sosial. Ia hanya dapat hidup, berkembang dan berperan sebagai manusia dengan berhubungan dan bekerjasama dengan manusia lain. Salah satu cara terpenting untuk berhubungan dan bekerjasama dengan manusia lain adalah komunikasi. Dalam bab berikut ini, penulis akan menguraikan pengertian komunikasi, proses komunikasi, perilaku yang mempengaruhi komunikasi, kedewasaan berkomunikasi dan spiritualitas komunikasi menurut pendapat beberapa ahli.

1. Pengertian Komunikasi

  Agus M. Hardjana (2003: 10) berpendapat bahwa kata komunikasi berasal dari bahasa latin cum yaitu kata depan yang berarti dengan, bersama dengan dan ‘unus’ yaitu kata bilangan yang berarti satu. Dari kedua kata itu terbentuk kata benda cummunio yang dalam bahasa Inggris menjadi communion dan berarti kebersamaan, persatuan, gabungan, pergaulan, hubungan. Karena untuk ber-

  

communio diperlukan usaha dan kerja maka dari kata itu dibuat kata kerja

communicare yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, memberikan

  sebagian kepada seseorang, tukar-menukar, membicarakan sesuatu dengan seseorang, bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, berteman. Kata kerja

  

communicare itu pada akhirnya dijadikan kata benda communicati, atau dalam

  bahasa Inggris communication dan dalam bahasa Indonesia diserap menjadi komunikasi. Berdasarkan berbagai arti kata communicare yang menjadi asal kata komunikasi, maka secara harafiah komunikasi berarti pemberitahuan, pembicaraan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan.

  Dijelaskan lebih lanjut oleh Agus M. Hardjana (2003: 11) bahwa komunikasi berawal dari gagasan yang ada pada sesorang. Gagasan itu diolahnya menjadi pesan dan dikirimkan melalui media tertentu kepada orang lain sebagai penerima. Penerima menerima pesan dan sesudah mengerti isi pesan itu kemudian menanggapi dan menyampaikan tanggapan kepada pengirim pesan. Dengan menerima tanggapan dari si penerima pesan itu, pengirim pesan dapat menilai efektivitas pesan yang dikirimkannya. Berdasarkan tanggapan itu, pengirim dapat mengetahui apakah pesannya dapat dimengerti dan sejauh mana pesannya dimengerti oleh orang yang dikirimi pesan itu. Dari penjelasan ini, secara teknis pelaksanaan, komunikasi dapat dirumuskan sebagai kegiatan dimana seseorang menyampaikan pesan melalui media tertentu kepada orang lain dan sesudah menerima pesan serta memahaminya sejauh kemampuannya, penerima pesan menyampaikan tanggapan melalui media tertentu pula kepada orang yang menyampaikan pesan itu kepadanya.

2. Proses Komunikasi

  Proses komunikasi menurut Onong Uchjana Effendi (2000: 11-16) terbagi menjadi dua tahap, yakni secara primer dan sekunder, dijelaskan demikian: a. Proses komunikasi secara primer

  Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan. Bahasa paling banyak dipergunakan dalam komunikasi karena hanya bahasalah yang mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada orang lain, apakah itu berbentuk ide, informasi atau opini, baik mengenai hal yang konkret maupun yang abstrak, bukan hanya hal atau peristiwa yang terjadi pada saat sekarang, melainkan juga pada waktu yang lalu dan masa yang akan datang. Berkat kemampuan bahasa maka orang dapat mempelajari ilmu pengetahuan sejak ditampilkan oleh Aristoteles, Plato, dan Socrates. Selain itu orang juga dapat menjadi manusia yang beradab serta berbudaya dan dapat memperkirakan apa yang akan terjadi pada tahun, dekade bahkan abad yang akan datang (Effendi, 2000: 11).

  b. Proses komunikasi secara sekunder Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi (Effendi, 2000: 16).

3. Perilaku yang Mempengaruhi Komunikasi

  R. Sinurat (2000b: 31-32) dalam buku berjudul Ketrampilan Komunikasi-2 menyebutkan perilaku-perilaku yang mempengaruhi seseorang dalam berkomunikasi sebagai berikut:

  a. Non-asertif Perilaku ini bersifat pasif, tidak langsung dan mengungkapkan sejenis inferioritas. Dengan menjadi tidak asertif, orang membiarkan keinginan, kebutuhan dan hak orang lain menjadi lebih penting daripada kebutuhan- kebutuhan, keinginan dan hak pribadi. Ia membuat dirinya kalah, menjadi korban dan membiarkan orang lain menang (Sinurat, 2000b: 31).

  b. Agresif

  Perilaku ini dapat aktif atau pasif, langsung atau tidak langsung, jujur atau tidak jujur dan mengomunikasikan sejenis superioritas dan tidak adanya respek.

  Dengan menjadi agresif orang menempatkan keinginan, kebutuhan dan hak pribadi di atas keinginan, kebutuhan dan hak orang lain. Ia berusaha menuruti kemauan sendiri dan tidak memberi kesempatan bagi orang lain untuk memilih. Orientasinya adalah berusaha menang dan orang lain kalah (Sinurat, 2000b: 31).

  c. Asertif Sifat perilaku ini aktif, langsung, jujur dan mengomunikasikan respek terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. Dengan menjadi asertif, ia memandang keinginan, kebutuhan dan haknya sama dengan keinginan, kebutuhan dan hak orang lain, menciptakan suasana sama-sama menang (Sinurat, 2000b: 31).

C. KEDEWASAAN BERKOMUNIKASI

  Seorang dewasa sadar akan dimensi sosialnya. Ia sadar bahwa berada dengan orang lain. Keanggotaannya dalam keluarga manusia menuntut suatu hubungan pribadi dengan orang lain, oleh karena itu dituntut adanya kedewasaan berkomunikasi. Untuk mencapai kedewasaan berkomunikasi, Sinurat dalam buku berjudul Ketrampilan Berkomunikasi-1 (2000a: 6-7) menyebutkan perlunya ketrampilan berkomunikasi, dan dalam buku Ketrampilan Berkomunikasi-2 Sinurat (2000b: 31-32) menjelaskan pentingnya berkomunikasi yang bijaksana dan efektif dalam hidup bersama.

1. Ketrampilan Berkomunikasi

   Untuk memulai meningkatkan dan mempertahankan hubungan antar

  pribadi yang dekat dan produktif perlulah dikuasai berbagai ketrampilan dasar dalam berkomunikasi. Ketrampilan berkomunikasi ini digolongkan dalam beberapa ketrampilan sebagai berikut:

  a. Memahami dan mempercayai Ketrampilan memahami dan mempercayai mencakup pembukaan diri, keinsafan, pemahaman diri, penerimaan diri dan sikap mempercayai. Untuk itu diperlukan adanya sikap saling mempercayai dan dorongan untuk berusaha saling memahami. Untuk semakin memahami, masing-masing pribadi harus bisa saling mengungkapkan diri, mengungkapkan bagaimana tanggapannya terhadap sesuatu yang sedang terjadi atau berlangsung, termasuk bagaimana perasaannya terhadap hal yang sedang terjadi. Agar dapat mengungkapkan diri, seseorang harus memahami dan menerima dirinya terlebih dahulu. Kalau sesorang tidak menyadari perasaan dan reaksi dalam dirinya sendiri, maka ia tidak dapat mengungkapkannya bahkan cenderung menyembunyikannya. Orang yang mampu mengungkapkan diri kepada orang lain dan mendengarkan dengan penuh perhatian ketika orang lain membuka diri adalah cara melanjutkan hubungan dalam berkomunikasi dengan sesama (Sinurat, 2000a: 6-7).

  b. Berkomunikasi secara tepat dan jelas Berkomunikasi secara tepat dan jelas merupakan ketrampilan yang berupa kemampuan untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan, perasaan-perasaan secara tepat dan jelas. Selain itu berkomunikasi secara tepat dan jelas juga berupa kemampuan untuk mendengarkan orang lain dengan cara-cara yang akan menunjukkan bahwa sepenuhnya telah memahami dan mengerti lawan bicara. Dengan saling mengirim dan saling menerima pesan, hubungan antar pribadi dimulai, dikembangkan dan dimantapkan (Sinurat, 2000a: 7).

  c. Menerima dan membantu Ketrampilan menerima dan membantu merupakan ketrampilan yang menyangkut kemampuan untuk memberikan tanggapan yang bersifat menolong atau menumbuhkan bagi orang yang bermasalah. Selain itu juga merupakan kemampuan menunjukkan sikap menerima dan mendukung, kemampuan memberikan pujian dan teladan demi konstruktifnya tingkah laku orang lain (Sinurat, 2000a: 7).

  d. Mengatasi konflik dan masalah dalam hubungan pribadi secara konstruktif Untuk menjaga kelestarian hubungan yang sudah terjalin, orang perlu memiliki kemampuan-kemampuan untuk memecahkan konflik-konflik dan masalah-masalah antar pribadi. Untuk itu diperlukan cara-cara yang dapat semakin mendekatkan diri pada lawan komunikasi dan yang akan membuat hubungan antar pribadi semakin bertumbuh dalam kehidupan bersama melalui komunikasi (Sinurat, 2000a: 7).

2. Berkomunikasi yang Bijaksana dan Efektif

  Komunikasi yang bijaksana dan efektif menjadi cita-cita semua orang yang berkomunikasi. Oleh karena itu agar orang mampu berkomunikasi secara bijaksana dan efektif dalam kehidupan bersama, Sinurat dalam buku Ketrampilan

  

Berkomunikasi-2 menjelaskan perlunya asertivitas-asertivitas bijaksana dan

efektif dalam berkomunikasi yang memerlukan kemampuan-kemampuan tertentu.

  a. Kemampuan-kemampuan yang diperlukan dalam asertivitas bijaksana dan efektif dalam berkomunikasi Kemampuan untuk memilih asertif atau tidak, merupakan kemampuan untuk menentukan apakah perlu berperilaku asertif atau sebaliknya tidak asertif pada situasi yang bersangkutan. Maka orang yang mau berkomunikasi memerlukan juga kemampuan untuk menemukan saat yang tepat, yaitu kemampuan memilih waktu dan tempat yang sesuai untuk asertif. Biasanya memang sebaiknya segera, langsung dalam situasi aktual yang sedang dihadapi, tetapi adakalanya menunggu saat yang sesuai dimana pihak yang dihadapi telah siap mendengarkan dengan lebih teliti dan tidak begitu defensive. Selain itu juga diperlukan kemampuan berkomunikasi nonverbal dan bersuara yang tepat. Kemampuan berkomunikasi nonverbal adalah kemampuan mempertahankan kontak mata secara langsung dan dengan posisi penuh percaya diri, gerak-gerik dan ekspresi wajah yang mendukung dalam mengomunikasikan. Sedangkan kemampuan bersuara secara tepat menyangkut kemampuan menggunakan nada,

  infleksi dan volume suara secara tepat.

  Kemampuan yang perlu dalam asertivitas dan efektivitas berkomunikasi lainnya adalah kemampuan bagaimana menyatakan pendirian atas hal yang dimaui secara jelas, misalnya kemampuan merumuskan persoalan sedemikian rupa sehingga pihak lain tertarik dan simpati dan tidak terlalu defensif. Selain itu dalam berkomunikasi, orang memerlukan juga kemampuan memperlihatkan penghargaan dan pertimbangan yaitu dengan menekankan kemampuan mendengarkan, menunjukkan pengertian, mengakui argumen yang sah, memodifikasikan pendirian bila mana perlu. Kemampuan mengulangi dan merumuskan pendirian dan kemampuan melihat alternatif strategi dan cara lain jika belum merasa puas juga merupakan kemampuan yang diperlukan agar orang mampu berkomunikasi dengan asertivitas bijaksana dan efektif (Sinurat, 2000b: 31-32).

  Agus M. Hardjana (2003: 40) menjelaskan bahwa komunikasi akan efektif jika pesan diterima dan dimengerti sebagaimana yang dimaksud oleh pengirimnya, pesan disetujui oleh penerima dan ditindaklanjuti dengan perbuatan yang diminta oleh pengirim, tidak ada hambatan untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menindaklanjuti pesan yang dikirim.

  b. Halangan-halangan berkomunikasi Agus M. Hardjana (2003: 40-46) memaparkan lebih lanjut perlunya kesadaran bahwa komunikasi yang efektif tidak selalu bisa terjadi karena ada halangan-halangan yang menghadang dalam proses komunikasi. Halangan- halangan yang terjadi dalam proses komunikasi dapat bersifat interpersonal dan struktural.

  1) Halangan interpersonal Halangan interpersonal adalah halangan yang ada pada pribadi penerima.

  Halangan itu antara lain: a) Persepsi Persepsi adalah pandangan orang tentang kenyataan. Persepsi merupakan proses yang kompleks yang dilakukan orang untuk memilih, mengatur dan memberi makna pada kenyataan yang dijumpai di sekelilingnya. Persepsi dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan dan kebudayaan. Ada dua persepsi yang menghalangi komunikasi. Pertama, persepsi selektif (selective perception), yaitu kecenderungan orang untuk melihat orang, objek dan situasi bukan sebagaimana adanya tetapi sebagaimana dikehendakinya. Kedua, persepsi stereotype, yaitu kecenderungan orang untuk melihat dan mengatur kenyataan menurut pola yang tetap, pasti dan dapat diramalkan. Contohnya: “ Perempuan pasti suka begini atau begitu”, “ Laki-laki pasti suka begini, begitu,” “ Orang bule pasti…..” dan seterusnya (Hardjana, 2003: 40-41).

  b) Status orang-orang yang berkomunikasi Status merupakan peringkat relatif seseorang dalam kelompok atau masyarakat. Status sesorang berkaitan dengan kedudukannya di tempat kerja dan sifat-sifat pribadinya, terutama kredibilitasnya. Status seseorang mempengaruhi proses komunikasi dan dapat menjadi penghalang, misalnya adalah orang yang berstatus lebih tinggi akan lebih mudah mendekati orang yang berstatus lebih rendah daripada orang yang berstatus lebih rendah mendekati orang berstatus lebih tinggi. Pesan yang sama dapat diterima lebih mudah jika disampaikan oleh orang yang berstatus lebih tinggi daripada orang yang berstatus lebih rendah (Hardjana, 2003: 41). c) Sikap defensif Sikap defensif adalah sikap mental orang untuk menjaga dan melindungi diri dari bahaya, entah itu nyata atau hanya bayangan saja. Sikap defensif pada pengirim pesan lisan membuat raut wajah, gerak tubuh dan cara berbicara yang membuat penerima ikut-ikutan menjadi bersikap defensif pula. Akibatnya, pesan yang diterima tidak tepat dan maksud pengirim tidak dimengerti secara benar. Jika bersikap defensif, perhatian penerima pesan yang mendengar pesan menjadi terpusat pada apa yang mau untuk menjawab dan bukan pada apa yang disampaikan oleh pengirim pesan (Hardjana, 2003: 41-42).

  d) Perasaan negatif Perasaan negatif bisa berupa berbagai macam rasa tidak nyaman, seperti: takut, tertekan, terpaksa, enggan, agresif, menolak, malu. Oleh perasaan-perasaan negatif itu pengirim atau penerima pesan terlalu sibuk dengan diri sendiri dan hal-hal di luar hal yang harus didengarkan. Akibatnya, pengirim tidak dapat mengemas dan mengirim pesannya dengan baik dan penerima pesan tidak siap menerima pesan yang disampaikan kepadanya (Hardjana, 2003: 42).

  e) Asumsi Asumsi adalah pengandaian yang dibuat oleh penerima tentang pesan yang diterimanya. Asumsi ini diambil oleh penerima jika pesan dirasa terlalu sulit diterima karena memuat data atau fakta yang terlalu banyak atau terlalu berkepanjangan (Hardjana, 2003: 42). f) Bahasa Bahasa, terdiri dari bahasa verbal dan bahasa non verbal. Bahasa verbal yaitu bahasa yang menggunakan kata-kata entah lisan atau tulisan dan bahasa nonverbal yaitu bahasa tanpa kata-kata, berbentuk bahasa tubuh, tindakan atau objek. Bahasa verbal maupun nonverbal ini merupakan wahana untuk menyampaikan pesan dari pengirim kepada penerima. Bahasa dapat menjadi penghalang komunikasi antara lain karena kata yang sama diartikan secara berbeda, kata dan kalimat kabur. Kata terlalu khas dan merupakan istilah pada bidang khusus yang tidak umum dipakai juga dapat menjadi penghalang dalam berkomunikasi. Selain itu kalimat bertele-tele dan sulit dimengerti sering dilakukan oleh sebagian besar orang saat berkomunikasi juga merupakan bahasa yang dapat menjadi penghalang komunikasi (Hardjana, 2003: 42).

  g) Tidak mampu mendengarkan Tidak mampu mendengarkan terjadi karena kebiasaan orang mendengarkan yang jelek, memberi kesan tidak memperhatikan lawan bicara, misalnya hanya mendengarkan secara dangkal, tidak mendengarkan sungguh-sungguh, tidak berusaha memahami kerangka berpikir pengirim pesan (Hardjana, 2003: 42-43).

  h) Lingkungan Lingkungan tempat menyampaikan dan menerima pesan tidak mendukung, misalnya terlalu bising, banyak gangguan, tidak nyaman dan lain sebagainya

  Lingkungan yang demikian tentu akan menjadi halangan orang dalam berkomunikasi (Hardjana, 2003: 43).

  2) Halangan stuktural Halangan struktural adalah halangan-halangan berkomunikasi yang disebabkan oleh struktur lembaga. Halangan ini berupa halangan tingkat hierarki, otoritas manajerial dan spesialisasi kerja. Berikut ini adalah penjabaran halangan berkomunikasi yang bersifat struktural.

  a) Tingkat hierarki Berdasaran fungsi, sekurang-kurangnya ada tiga tingkat hierarki dalam lembaga, yaitu tingkat atas, menengah dan bawah. Pesan yang disampaikan dari tingkat atas ke bawah, yang melewati beberapa tingkat mengalami beberapa kali penyaringan. Karena setiap penerima pada setiap tingkat menyaring pesan menurut persepsi, motif, kepentingan dan kebutuhan masing-masing, penerima pada setiap tingkat dapat menambah, mengurangi, menyesuaikan atau mengubah sama sekali maksud pesan yang diterimanya. Alasan pokoknya adalah karena pesan dari atas pada umumnya bersifat lebih umum dan lebih luas. Maka, setiap tingkat berusaha menyesuaikan pesan itu dengan lingkup dan pokok kerjanya (Hardjana, 2003: 43).

  b) Otoritas manajerial Otoritas atau wewenang adalah hak yang ada pada seseorang karena jabatannya untuk memerintah orang lain agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu guna mencapai tujuan lembaga. Otoritas harus ada pada lembaga karena diperlukan untuk hidup, berkembang dan kerjanya. Tetapi, otoritas akan menjadi halangan komunikasi karena dari pihak atasan kebanyakan sulit untuk menerima keadaan, hal, masalah yang mereka rasa dapat membuat tampak lemah atau tidak cakap. Sedangkan dari pihak bawahan ada kecenderungan untuk menghindari situasi yang menuntut mereka untuk mengungkapkan informasi yang mereka rasa membuat mereka tampak tidak baik di mata atasan. Akibatnya, sikap saling terus terang dan transparan tidak muncul dan informasi dari atas ke bawah cenderung menjadi makin keras, sebaliknya informasi dari bawah ke atas cenderung menjadi semakin lemah. Kedua akibat itu sama-sama membuat komunikasi yang terjadi menyampaikan pesan yang bukan sebenarnya sehingga pesan yang diterima tidak benar juga adanya. Hasilnya adalah komunikasi yang benar-benar terhalang (Hardjana, 2003: 43-44).

  c) Spesialisasi kerja Spesialisasi kerja diperlukan agar kerja dapat dilakukan secara efisien dan efektif. Dalam bidang kerja khusus itu para spesialis yang memegang pekerjaan khusus memiliki kepentingan sendiri dan mempunyai istilah-istilah sendiri. Keadaan ini membuat jurang antarspesialis dan antara spesialis dengan petugas nonspesilais. Akibatnya, sulit menciptakan kesamaan rasa dan pengertian antar para petugas dalam lembaga. Hal ini tentu saja menjadi penghalang untuk komunikasi (Hardjana, 2003: 45).

  Menyadari munculnya halangan-halangan komunikasi seperti di atas, maka dalam berkomunikasi pengirim dan penerima perlu membantu meningkatkan efektivitas komunikasi. Efektivitas komunikasi ditingkatkan dengan memperhatikan hal-hal yang mendukung komunikasi oleh pengirim dan penerima.

  Agus M. Hardjana (20003: 45-46) memaparkan bagaimana pengirim maupun penerima dapat membantu meningkatkan efektivitas. Sebagai pengirim, ia perlu memperhatikan penggunaan bahasa yang tepat, menarik penuh empati dengan berusaha menempatkan diri di tempat penerima. Persepsi perlu dipertajam dengan membayangkan pesan yang akan diterima, dibaca, ditafsir dan ditanggapi oleh penerima. Tanggapan perlu dikendalikan dengan menggunakan kode atau lambang yang tepat dan saluran yang sesuai. Akhirnya pengirim hendaknya bersedia menerima umpan balik yang positif maupun negatif. Sebagai penerima, agar ia dapat menjadi rekan komunikasi yang baik, ia perlu meningkatkan kemampuan mendengarkan sampai mampu mendengarkan dengan empatik.

  A. G. Lunandi (1987: 35) menjelaskan bahwa semua orang yang tidak tuli bisa mendengar. Telinga bisa mendengar segala suara, tetapi mendengarkan suatu komunikasi harus dilakukan dengan pikiran, hati dan segenap indera yang diarahkan kepada si pembicara.

D. SPIRITUALITAS KOMUNIKASI

  Spiritualitas komunikasi dikenal oleh umat Kristiani sebagai landasan untuk semua komunikasi Kristiani yang sangat mendukung terjadinya kedewasaan berkomunikasi. Frans-Josef Eilers (2008: 33-37) menegaskan bahwa spiritualitas komunikasi berawal dari pengalaman dan api Roh Kudus serta keinginan untuk mengungkapkan dan membagikan kepenuhan ini juga kepada orang-orang lain.

  Pada dasarnya, spiritualitas komunikasi ini menuntut keterbukaan rangkap tiga dari setiap komunikator yaitu keterbukaan kepada Allah, keterbukaan kepada diri sendiri dan keterbukaan kepada sesama. Penjelasan mengenai spiritualiatas komunikasi adalah sebagai berikut:

1. Keterbukaan kepada Allah

  Keterbukaan kepada Allah dan Roh-Nya berawal dengan pengalaman pribadi tentang Tuhan di dalam doa, dalam merenungkan Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dalam renungan-renungan pribadinya tentang Allah, dalam pengalaman-pengalaman akan Roh-Nya yang hadir dalam kehidupannya, dalam perayaan liturgi bersama serta persekutuan jemaat. Keterbukaan total kepada Roh merupakan syarat pertama, untuk setiap spiritualitas komunikasi sebagaimana dikutip oleh Frans-Josef Eilers bahwa Paus Yohanes Paulus II dalam amanatnya untuk Hari Komunikasi Sedunia tahun 1998 menandaskan demikian: “ Para komunikator Kristen harus menjadi manusia pendoa yang dipenuhi Roh, sembari semakin dalam memasuki persekutuan dengan Allah agar kian bertambah dalam kemampuannya untuk memicu kerukunan di antara sesama manusia. Mereka harus dididik mengenai pengharapan oleh Roh Kudus, pelaku utama evangelisasi” (Eilers, 2008: 33).

  2. Keterbukaan kepada Diri Sendiri

  Semua orang ingin berkomunikasi dengan seorang pribadi yang nyata, seimbang, matang, dipenuhi Roh serta bertanggungjawab, dan bukan dengan boneka yang semu atau orang-orang yang terpuruk dengan berbagai kesulitannya sendiri. Jadi seorang komunikator Kristen peduli dengan kehidupan dan pertumbuhan spiritualnya sendiri dan juga perkembangan insaninya (Eilers, 2008: 36-37).

  3. Keterbukaan kepada Orang-orang Lain

  Keterbukaan kepada Allah dan diri sendiri bermuara pada keterbukaan kepada orang-orang lain, dalam mendengarkan kisah-kisah dan pengalaman- pengalaman mereka, berbagai kebutuhan dan cita-cita mereka dengan berbagi pengalaman iman, serta dengan menciptakan dan mendukung jemaat-jemaat yang ada. Semuanya ini merupakan sumber penting bagi kehidupan komunikator. Dalam komitmen pribadi bidang komunikasi, orang membutuhkan komunitas yang memelihara dan mendukungnya. Dalam keterbukaan kepada orang-orang lain, cintakasih apostolik merupakan buah keterbukaan kepada Allah (Eilers, 2008: 37-39).

E. KESIMPULAN

  Berdasarkan berbagai sudut pandang para ahli serta kenyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa manusia mencapai kedewasaan dalam berkomunikasi tidak terjadi dengan sendirinya. Ada proses menuju pendewasaan diri yang memerlukan adanya berbagai macam unsur dan sikap yang harus ada sebagai manusia dewasa secara manusiawi dan rohani.

  Manusia adalah makhluk sosial, hanya bisa hidup, berkembang dan berperan sebagai manusia dengan berhubungan dan bekerjasama dengan manusia lain, maka komunikasi merupakan salah satu hal yang harus diupayakan sebagai sarana membangun hidup bersama secara dewasa. Untuk itu diperlukan adanya kesadaran akan pemahaman tentang komunikasi, proses serta perilaku-perilaku yang mempengaruhi komunikasi. Oleh karena itu, sebagai manusia dewasa, ia akan berupaya mewujudkan kedewasaan berkomunikasi yang pada dasarnya memerlukan adanya ketrampilan berkomunikasi serta kemampuan berkomunikasi yang bijaksana dan efektif. Tentu saja kemampuan berkomunikasi yang bijaksana dan efektif ini tidak mudah untuk mewujudkannya. Banyak halangan yang menghadang dalam proses komunikasi yaitu halangan yang bersifat interpersonal dan struktural. Oleh karena itu ketersalingan antara pengirim dan penerima untuk saling membantu dalam meningkatkan evektivitas komunikasi perlu ditingkatkan terus-menerus.

  Umat Kristiani mengenal spiritualitas berkomunikasi sebagai landasan semua komunikasi. Spiritulitas komunikasi menuntut keterbukaan kepada Allah, diri sendiri dan sesama, berawal dari pengalaman dan api Roh Kudus serta keinginan untuk mengungkapkan dan membagikannya kepada sesama.

  Dalam komitmen kedewasaan pribadi untuk bidang komunikasi, dibutuhkan komunitas yang memelihara dan mendukungnya. Pada bab berikutnya akan banyak dibahas mengenai komunitas yang sangat erat hubungannya dengan komunikasi yaitu sebagai salah satu sarana penting dalam membangun hidup berkomunitas. Pemaparan secara khusus mengarah kepada hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus.

BAB III HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS BERDASARKAN KONSTITUSI TAREKAT ABDI KRISTUS Bab tiga ini akan membahas hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus. Untuk mempermudah pendalaman penulisan, pada bagian pertama akan diuraikan

  pengertian komunitas dan hidup berkomunitas. Bagian kedua, penulis mengajak untuk lebih mendalami hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus diawali dengan menggambarkan secara singkat sejarah, panggilan dan spiritualitas Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai pribadi Bunda Maria yang menjadi teladan hidup berkomunitas dan rumah biara sebagai rumah komunitas kasih, berisi tentang komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh, Sabda Allah dasar hidup berkomunitas dan komunitas menjadi ‘oase’ kehidupan para suster Abdi Kristus. Komunitas Abdi Kristus dalam gerakan ‘ongoing formation’ demi terwujudnya komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh akan dibahas dalam bagian akhir bab ini. Bagian akhir ini akan membahas tentang pentingnya ‘ongoing formation’ bagi komunitas religius dan pembinaan terus menerus dalam menumbuhkembangkan kualitas hidup Abdi Kristus demi terwujudnya komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh

  Sedikit berbeda dengan bab-bab sebelumnya, pembahasan masing-masing bagian dalam bab III ini lebih banyak bersumber dari Konstitusi Tarekat Abdi Kristus, refleksi para suster Abdi Kristus yang telah diolah dalam kapitel umum dan diperkuat dengan dokumen-dokumen Gerejawi serta pandangan para ahli sebagai sumber pendukung gagasan-gagasan penulisan ini.

A. KOMUNITAS

1. Pengertian Komunitas

  Josef Frans Eilers (2003: 37) mengemukakan bahwa bukan tanpa alasan kedua kata komunitas dan komunikasi memiliki akar kata yang sama dalam bahasa Latin, yakni ‘communis’ yang berarti bersama atau umum. Ketika menelisik makna asli kedua kata ini, pada awalnya dicermati dua dimensi yang menjadi akar kata. Istilah itu berasal dari kata ‘mum’ yang berarti sesuatu seperti kubu atau tembok perlindungan. Orang-orang yang berada dalam komunio, berkomunikasi satu sama lain di belakang tembok yang sama, bersama-sama berada pada tempat dan lingkungan yang sama dimana yang satu bergantung pada yang lain. Arti kedua juga didasarkan pada akar kata ‘mum’ yang sama sebagai tercermin dalam kata latin ‘munus’ yang berarti hadiah, pelayanan dan komitmen.

  Hal ini menyiratkan bahwa komunikator berada demi melayani orang-orang lain, membagikan dirinya dan segala sesuatu sedemikian rupa sehingga dari sesuatu yang sama ini lahirlah komunitas atau persekutuan.

2. Komunitas Kaum Religius

  Menurut Mardi Prasetya (1992b: 208) dalam Buku Psikologi Hidup Rohani 2 komunitas religius adalah komunitas yang terdiri atas pribadi-pribadi entah pembesar, fungsionaris yang lain dan anggota-anggota. Mereka bersatu karena merasa dipanggil ke tujuan yang sama. Oleh karena itu selain pribadi-pribadi juga ada komunikasi dan hubungan satu dengan yang lain atas dasar panggilan hidup bersama. Jalinan hubungan satu dengan yang lain di dalam persekutuan ini membentuk persekutuan hidup bakti dengan kelompok yang paling kecil disebut komunitas.

B. KOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS

  Komunitas tidak hanya berarti tinggal bersama seperti hidup di hotel atau dalam kos, tetapi suatu bentuk hidup bersama untuk membangun nilai setidak- tidaknya sejauh yang diharapkan dari spiritualitas Ordo atau Kongregasi (Mardi Prasetya, 1992b: 208). Mardi Prasetya (1992b: 213) melanjutkan demikian:

  Tentu saja tiap komunitas mendapatkan inspirasi dari spiritualitasnya khususnitas yang menjadi wahana untuk mencapai tujuan Ordo atau Kongregasinya yang menyangkut nilai-nilai yang mau diwujudkan. Oleh karena itu konstitusi pasti juga menggariskan tujuan, nilai persekutuan dan hidup komu. Namun secara umum komunitas pun mestinya ingin dijadikan salah satu bentuk mengikuti Kristus demi Kerajaan Bapa sebagaimana dicerminkan oleh umat Kristen pertama . Umat atau jemaat Kristen pertama yang sering disebut buah Paska Tuhan merupakan inspirasi dasar dari komunitas. Inspirasi dasar komunitas berupa perdamaian dan kegembiraan Paska suatu komunitas selalu merupakan buah kematian terhadap diri sendiri dan peneriman Roh Kudus. Oleh karena itu suatu komunitas diharapkan membina sejauh ia memungkinkan setiap anggotanya bertumbuh dan berkembang dalam kesetiaan kepada Tuhan sesuai dengan Kharisma lembaganya.

  Di tengah-tengah Gereja dan di dalam persekutuan dengan Perawan Maria, hidup bersama kaum religius dalam ordo atau kongregasi-kongregasi memiliki peranan yang amat istimewa. Peranan hidup bersama dalam komunitas tampak dalam setiap tahap-tahap pembinaan yang sebagian besar bergantung pada mutu komunitas. Mutu komunitas ini merupakan hasil suasananya yang umum dan gaya hidup para anggotanya, sesuai dengan sifat dan semangat khusus lembaga. Suatu sikap realistis yang rendah hati yang disertai iman, hendaknya menjiwai usaha- usaha pembinaan menuju hidup dalam persaudaraan. Dalam buku Pedoman-

  

pedoman Pembinaan dalam Lembaga-lembaga Religius yang dikeluarkan oleh

  Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan dijelaskan bahwa komunitas didirikan dan bertahan, bukan karena para anggotanya menemukan bahwa mereka berbahagia bersama-sama berkat persamaan pikiran, watak, atau sikap-sikap mereka, melainkan karena Tuhan telah menghimpun dan mempersatukan mereka oleh pembaktian bersama demi tugas perutusan bersama di dalam Gereja (Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan (1992: 31).

  Para suster Abdi Kristus yang hidup dalam pengabdian dalam komunitas- komunitas tak terpisahkan dari kongregasi. Apapun yang dilakukan merupakan bagian dan rangkaian pengabdian kongregasi. Kongregasi yang berpolakan Maria Hamba Allah dalam penyelamatan, sewajarnya bila mendasarkan pengabdian pada cinta kasih kepada Bunda Maria. Para suster Abdi Kristus mengikuti dan meneladani Bunda Maria agar mampu memahami bagaimana Allah secara nyata menyelamatkan umat manusia. Para suster Abdi Kristus percaya bahwa setiap kali Gereja memperbaharui lagi rasa yang benar mengenai kehadiran Maria, kehidupan Kristiani akan mekar lagi, ada daya kekuatan, ketenangan, kelegaan dan daya hidup karena dibawa kembali ke misteri-misteri penebusan. Dalam bagian berikut ini, penulis akan memulai pemaparan dengan menggambarkan secara singkat Kongregasi Biarawati Abdi Kristus.

  1. Gambaran Singkat Kongregasi Biarawati Abdi Kristus

  Kongregasi Biarawati Abdi Kristus lahir atas prakarsa Mgr. Petrus Willekens, SJ yang pada waktu itu menjabat sebagai Vikaris Apostolik Batavia. Keinginan beliau untuk memajukan orang-orang pribumi dan memperkembangkan kebudayaan pribumi, terwujud dengan mendirikan Kongregasi Biarawati Abdi Kristus yang pada waktu pendiriannya diberi nama “Kongregasi Abdi Dalem Sang Kristus,” di Ambarawa pada 29 Juni 1938 (Setyakarjana, 2003: 20-21).

  Dalam mengikuti Kristus pergi kepada Bapa, Kongregasi Biarawati Abdi Kristus terpanggil untuk menyebarluaskan karya penyelamatan Kristus, yang datang untuk membawa tahun rahmat Tuhan Allah bagi bangsa manusia, terutama yang miskin dan tertindas (Luk 4:18-19). Lewat hidup dan karya-karya, Kongregasi Biarawati Abdi Kristus ingin menyatakan bahwa Allah menyertai mereka, membawa perukunan dan pendamaian di dunia, serta mengangkat hidup dan budaya mereka untuk berbakti kepada Allah (Kons. 31).

  Bersama Bunda Maria, yang menghampakan diri untuk menyambut kedatangan Sang Penebus dan demi terlaksananya karya penebusan-Nya dengan menyebut dirinya Hamba Allah (Luk 1:38), Kongregasi Biarawati Abdi Kristus menyambut rahmat panggilan untuk ikut serta di dalam karya panggilan-Nya.

  Maria Hamba Allah merupakan spiritualitas Kongregasi Biarawati Abdi Krsitus.

2. Bunda Maria Teladan Hidup Berkomunitas Para Suster Abdi Kristus

  Dalam buku Pedoman-pedoman Pembinaan dalam Lembaga-lembaga

  

Religius yang dikeluarkan oleh Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan

  Serikat Hidup Kerasulan dijelaskan lebih lanjut bahwa Allah sendirilah yang memanggil seseorang kepada hidup bakti di dalam Gereja. Allah sendirilah yang dalam seluruh perjalanan hidup religius, tetap memegang prakarsa: “Dia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya” (1 Tes 5:23-24).

  Sama seperti Yesus sendiri yang tidak puas hanya dengan memanggil murid- murid-Nya, tetapi dengan sabar mendidik mereka selama hidup-Nya di depan umum, demikian, sesudah kebangkitan-Nya, Dia melanjutkannya melalui Roh- Nya, memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran” (Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan, 1992: 26).

  Adapun karya Roh itu selalu dikaitkan dengan Perawan Maria, Bunda Allah dan Bunda semua anggota umat Allah. Melalui Roh itulah dia mengandung Sabda Allah dalam rahimnya; untuk Roh itulah pula dia menunggu bersama para rasul, sambil bertekun dalam doa mengikuti kenaikan Tuhan ke surga. Inilah sebabnya kehadiran Perawan Maria dialami oleh para religius sejak awal hingga akhir pembinaan mereka (Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan, 1992: 27).

  Dijelaskan lebih lanjut bahwa di antara semua orang yang dibaktikan tanpa syarat kepada Allah, Perawan Maria adalah orang yang dibaktikan dengan cara paling sempurna. Kasih pengantinnya mencapai puncaknya dalam Keibuan ilahi melalui kuasa Roh Kudus. Dia yang selaku ibu menggendong serentak pula melaksanakan dengan cara yang paling sempurna panggilan Yesus: “Ikutlah Aku”. Dan dia, Sang Ibu mengikuti Kristus sebagai Guru kemurnian, kemiskinan serta ketaatan. Jika Gereja menemukan dalam diri Maria modelnya yang pertama, maka lebih-lebih lagi para kaum religius, entah sebagai individu-individu maupun komunitas-komunitas yang dibaktikan dalam Gereja menemukan dia sebagai model. Setiap religius diajak supaya memperbaharui pembaktian religius menurut model pembaktian Bunda Allah sendiri. Oleh karena itu seorang religius bertemu dengan Maria, tidak hanya sebagai seorang teladan melainkan juga sebagai seorang ibu. Maria adalah ibu yang dibaktikan dan diutus. Dalam fiat dan

  

magnifikat -nya hidup religius menemukan totalitas penyerahan dirinya kepada

Allah dan debaran kegembiraannya di dalam tindak pembaktian-Nya.

  Para suster Abdi Kristus mempunyai keyakinan bahwa hidup bersama dalam satu komunitas merupakan karya Roh Allah sendiri, terjadi karena masing- masing pribadi ingin menanggapi panggilan Tuhan. Untuk itu persatuan antar anggota maupun persatuan anggota dengan pimpinan komunitas diyakini sebagai sarana pengudusan dalam panggilan kerasulan dengan menempatkan komunikasi sebagai hal utama agar komunitas mampu menghidupi para penghuninya.

  Keyakinan ini dihayati oleh para suster Abdi Kristus yang diteguhkan dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus demikian:

  Kita memang hidup bersama dalam satu komunitas, hanya karena setiap dari kita ingin menanggapi panggilan Tuhan untuk tinggal dalam kasih-Nya. Persatuan antara kita maupun para anggota dengan pimpinan komunitas akan merupakan bantuan yang tak dapat dilalaikan untuk pengudusan kita dalam panggilan dan kerasulan. Dalam kasih, yang merupakan kerelaan untuk mengorbankan kepentingan diri, persaudaraan kita akan semakin kuat. Dan itu semua mungkin bila di dalam komunitas-komunitas kita diusahakan terus-menerus hubungan antar pribadi dengan saling menghargai, saling membantu dalam pengabdian, saling memberikan kepercayaan dan saling memberi nasihat atau peringatan. Oleh karena itu di dalam komunitas kita, segala macam cara bersapa dan berkomunikasi harus kita beri tempat yang utama, supaya pembicaraan-pembicaraan kita, supaya musyawarah, konsultasi dan pembagian tugas dan kerja sama dapat dipupuk dan menghasilkan buah-buahnya (Kons. 281).

  Dengan meneladani Bunda Maria Hamba Allah pelindung pertama Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, semua anggota komunitas belajar selalu memandang dan mengakui bagaimana segala sesuatu yang baik dan segala anugerah itu datangnya dari Allah. Dengan mata Iman itu, para suster Abdi Kristus memiliki keyakinan akan kekuatan Allah yang mengatasi segala macam cobaan dan tegangan-tegangan yang sering dapat terjadi di dalam komunitas-komunitas. Masing-masing pribadi diharapkan memohon rahmat agar saat-saat seperti itu berbalik menjadi saat yang membawa kurnia yang menumbuhkan dan mengembangkan rasa cinta pada panggilan.

  Dalam kenyataan hidup bersama, memang tidak akan pernah lepas dari ketegangan-ketegangan yang muncul antara harapan pribadi dan kesatuan komunitas yang akhirnya membentuk gaya atau cara hidup kekeluargaan yang unik. Masing-masing pribadi mempunyai cara berpikir, cara merasakan dan cara bertindak tertentu yang belum tentu seragam dan ingin dikembangkan dalam hidup berkomunitas kaum religius.

  Mardi Prasetya (1992b: 209) mengungkapkan pengamatannya mengenai beberapa kemungkinan yang biasanya menjadi jelas dalam cara hidup komunitas menghadapi ketegangan saat muncul konflik atau kesulitan. Misalnya, saling mendukung dan melengkapi atau hanya menciptakan harmoni semu dengan menyangka bahwa komunitas semuanya beres kalau tidak terjadi persoalan dan tidak ada persaingan, atau malah dapat terjadi pesimisme semu yaitu menganggap semuanya serba tidak beres dalam komunitas dan memancing kritik dan keluhan terus-menerus. Mungkin malah dapat tercipta model hidup birokratis di mana terdapat jarak antara pimpinan dan anggota, kurang kehangatan dalam berelasi antara pimpinan dengan anggotanya, pimpinan hanya mau menanggapi anggotanya lewat orang yang dipercayainya dan tidak pernah terjadi kontak pribadi. Atau kemungkinan yang terburuk adalah kalau masing-masing pribadi mulai berjalan sendiri-sendiri seturut keinginannya sendiri.

  Mardi Prasetya (1992b: 210) melanjutkan bahwa dimensi-dimensi dalam persekutuan, yaitu pribadi-pribadi, komunikasi, dimensi sosial dan apostolis juga menciptakan peranan pribadi dalam persekutuan entah struktural atau tidak yang akan membentuk gaya/cara hidup komunitas dengan sifat saling melengkapi atau malah bersaing. Bila ada peranan yang saling melengkapi, biasanya akan tercipta juga suasana untuk bertumbuh. Ini mudah dipahami karena kalau yang satu mau maju, hal itu akan membangkitkan semangat juga pada yang lain. Kemajuan seorang anggota akan menentukan kebaikan seluruh komunitas yang mau bertumbuh bersama-sama. Tetapi kalau fungsi saling mendukung dan melengkapi itu berhenti, maka mudah berhenti juga pertumbuhannya. Bahkan dapat terjadi, kalau yang satu maju, yang lain iri dan bereaksi jelek.

  Di dalam hidup berkomunitas menjadi jelas bahwa kesatuan dan keseimbangan itu bukan hanya usaha dari pemimpin, tetapi seluruh anggota komunitas. Usaha ini terpenuhi kalau masing-masing pribadi, khususnya mereka yang mempunyai posisi dalam komunitas, mempunyai kemampuan untuk terus- menerus berorientasi pada nilai dan bukan gejolak emosi sesaat. Gejolak emosi sesaat inilah yang dapat mendorong orang untuk mati-matian mempertahankan pendapatnya sendiri. Kalau semua anggota menjadi emosional tentu saja akan kesulitan untuk mengambil keputusan bersama.

  Mardi Prasetya (1992b: 210-211) melanjutkan penjelasannya mengenai pentingnya komunikasi dalam komunitas yaitu bahwa tujuan dan tanggungjawab komunitas, kesatuan dan keseimbangan, proses pertumbuhan kedewasaan akan terdukung manakala komunikasi atau jalinan hubungan antara pemimpin dan anggota dan antara sesama menunjukkan mutu yang diandalkan. Pertama-tama diperlukan jalinan komunikasi yang saling mendukung. Ini berarti bahwa komunikasi itu tidak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi demi pelayanan. Pemimpin tidak dapat terus-menerus mempertahankan kelekatan afeksi dan kehangatan dengan anggota tertentu, apalagi pasti tidak pada tempatnya kalau anggota-anggota dijadikan untuk tempat pelampiasan kebutuhan emosionalnya.

  Konflik pasti akan terjadi kalau orang tidak lagi berorientasi pada nilai. Misalnya, pemimpin justru bersekongkol dengan salah seorang anggota untuk memusuhi saingannya, atau sebaliknya kelompok muda membentuk clique untuk melawan pimpinan. Pimpinan juga tidak boleh menggunakan anggotanya sebagai kambing hitam dari persoalan-persoalan pribadinya, karena mungkin terjadi seorang anggota menjadi penumpahan kemarahan yang tidak pada tempatnya.

  Berdasarkan buku Menjadi Religius Abdi Kristus Konstitusional, hasil karya Kapitel Umum V Kongregasi Biarawati Abdi Kristus di Ungaran pada tanggal 2-18 Januari 2008 ditemukan adanya kesadaran kecenderungan-kecenderungan cara/gaya hidup para suster Abdi Kristus yang mulai terbawa arus zaman, dinyatakan demikian:

  Dunia Post-modern yang dijiwai dengan semangat konsumeristik dan

  hedonistik , membawa dampak yang sangat besar dalam pola pikir, cara merasa, cara menilai, cara merayakan serta gaya hidup manusia. Cara berpikir praktis-pragmatis, bukan proses dan perjuangan. Cara merasa berdasarkan nikmat untuk ‘saya’ bukan yang perlu dan berguna. Cara menilai berdasarkan hukum senang-tidak senang bukan cinta. Cara merayakan dan memuji-muji kesuksesan, bukan tersembunyi. Gaya hidup menjadi ‘aneh-aneh’, banyak bicara ‘besar-besar’ tanpa berbuat, tanpa kerja mau dapat banyak, bisa tanpa Allah sehingga tidak ada kelembutan hati, keadilan dan perdamaian (Kapitel Umum V, 2008: 7).

  Untuk mewujudkan visi-misi dengan bertitik tolak pada spiritualitas Abdi Kristus seturut teladan Bunda Maria Hamba Allah, gaya hidup yang akan diusahakan oleh Kongregasi Biarawati Abdi Kristus adalah sebagai berikut: a. Hidup doa

  Hidup doa ditandai oleh suasana bakti pada kehadiran Allah sebagaimana tampak dalam keheningan, doa pribadi, doa bersama sehingga dapat memperkaya hidup batin dan rohani (Kons. 248). Hidup doa ini diupayakan terus-menerus dengan memupuk keyakinan bahwa Bunda Maria pasti membawa manusia pada putranya;

  

Per Mariam ad Jesum (Kons. 249). Doa tidaklah mengurangi keterlibatan

  pengabdian, bahkan akan menyuburkan hidup dan pengabdian sebagaimana telah dinyatakan oleh Bunda Maria. Oleh karena itu diperlukan keseimbangan antara hidup doa, karya dan bersama (Kons. 249). Hidup doa ini dijalankan dengan memupuk hidup batin melalui latihan-latihan rohani, berusaha mengikuti Perayaan Ekaristi setiap hari (Kons. 256-257), mendoakan secara bersama dan pribadi doa harian/ofisi dalam komunitas-komuintas masing-masing (Kons. 259), kebiasaan visitasi dan adorasi Sakramen Maha Kudus, menerima sakramen tobat secara teratur setiap bulan (Kons. 261), berdoa secara pribadi secara teratur haruslah menjadi kerinduan para suster Abdi Kristus (Kons. 262), bimbingan rohani (Kons. 263), ingkar diri atau penyangkalan diri (Kons. 266). Dalam konstitusi no. 267-269 ditegaskan juga hidup doa yang diupayakan bersama berupa silentium dalam biara, rekoleksi bulanan, retret tahunan dan pemeriksaan batin/mawas diri yang dilaksanakan baik secara pribadi maupun bersama dalam komunitas-komunitas (Kapitel Umum V, 2008: 7-8).

  b. Sikap hidup Sikap hidup tampak dalam gaya hidup sederhana misalnya, pakaian biara dan prasarana rumah biara (Kons. 291-293), kepemilikan barang-barang sebagai sarana fasilitas karya agar selektif, ‘sak madya’ (secukupnya). Selain itu adalah sikap hidup gembira dalam menjalankan tugas perutusan dan bersedia bekerjasama dengan berbagai pihak, tidak menutup diri terhadap lingkungan sekitar (eksklusif) serta ramah dalam pergaulan, mudah beradaptasi namun tidak terbawa arus (Kapitel Umum V, 2008: 8).

3. Pribadi Bunda Maria Menjadi Jiwa Komunitas Para Suster Abdi Kristus

  Frans Imanuel da Santo (2001: 49) dalam bukunya berjudul Sejenak Bersama

  

Bunda Maria menjelaskan bahwa Maria sebagai perawan dan Ibu yang berdoa

  merupakan kekuatan penyatu dan penyembuh bagi para murid yang tercerai berai dan terkoyak oleh kurang kuatnya iman mereka. Di bawah Salib Yesus, Maria dipanggil ‘Perempuan’ (Yoh 19:27). Hal itu mengingatkan pada perempuan yang mengalahkan ular sebagai simbol kejahatan. Maria menjadi yang pertama di antara manusia yang mampu mengalahkan kejahatan. Perempuan yang mampu mengalahkan kejahatan itulah yang diserahkan kepada Yohanes sebagai ibu, dengan demikian menjadi ibu orang beriman.

  Frans Imanuel da Santo (2001: 48) menggambarkan Maria sebagai tempat dimana para murid yang tercerai berai berkumpul (Kis 1:14). Dapatlah dibayangkan bahwa Maria yang sedemikian akrab dan mencintai Putranya, juga akrab dan mencintai orang-orang yang menaruh kepercayaan kepada Yesus. Para murid dan orang-orang yang percaya kepada Yesus datang kepada Maria untuk menemukan penghiburan, kedamaian dan kekuatan. Mereka akan terpengaruh oleh kekuatan iman, harapan dan kasihnya.

  Konstitusi Tarekat Abdi Kristus no. 251-255 memaparkan tentang jiwa Bunda Maria yang selayaknya menjadi jiwa para suster Abdi Kritus. Bunda Maria berdoa, karena menyadari kekecilan dan kemiskinan berhadapan dengan sapaan Allah.

  Karena ia menyebut dirinya Hamba, Maria mampu memuji dan meluhurkan Allah, selalu menggantungkan diri pada kuasa dan rencana Allah. Kesadaran bahwa Allah mencinta dan karena itu Dia membuat dirinya yang hina pantas dicinta itulah yang menjadi kenyataan yang dialami dalam jiwa Bunda Maria. Kesadaran bahwa Tuhan adalah penyelenggara utama membuat beban menjadi ringan dan menghantar orang selalu menghadap hadirat-Nya (Kons. 251). Dalam doa berada di hadirat Allah seperti itu, ia merasa ditemani semua pendoa, pria, wanita, oleh Bunda Maria dan Kristus sendiri (Kons. 252). Berjiwa miskin yang semakin dipupuk dan disuburkan lewat doa itu menjamin sikap miskin, yaitu orang merasa bebas terhadap keterbatasan dalam hidup, latarbelakang, kesehatan, lanjut usia, ketidakmampuan untuk menyelesaikan apa yang diinginkan, ketergantungan kepada orang lain. Ia dibebaskan dari rasa takut dan putus asa. Maka juga tidak mudah goyah oleh godaan, tidak mau membesar-besarkan penderitaan. Semua hanya didasarkan atas kepercayaan bahwa Tuhan sendirilah yang akan menyempurnakan segala-galanya. Karena itu ia dapat memberikan dirinya seutuh-utuhnya, kreatif dan optimis (Kons. 253).

  Jiwa kemiskinan itulah yang selayaknya mendorong para suster Abdi Kristus dalam berdoa secara benar dan dibenarkan oleh Allah (Luk 18:13-14), berdoa bersama umat Allah, baik dalam Ekaristi, doa Ibadat harian serta doa-doa lainnya. Jiwa kemiskinan itulah yang mendorong komunitas-komunitas untuk berdoa bersama, sebagai komunitas umat beriman dan secara pribadi dan teratur menghadap Tuhan untuk mendengarkan firman-Nya dan membiarkan dirinya dibimbing serta diperkaya oleh Tuhan sendiri.

  Selain itu, jiwa kemiskinan ini pula yang mendorong para suster Abdi Kristus untuk berdoa bagi kepentingan-kepentingan orang-orang lain dan mereka yang dilayani, supaya terjadi menurut rencana Allah. Secara khusus dalam doa memohon kekuatan dan keberanian seperti wanita-wanita dalam Injil diperkenankan bersama Maria di hadapan salib. Sambil memandang Maria di kaki salib, para suster Abdi Kristus hendaknya berusaha memahami apa yang terjadi dalam dirinya dan bagaimana Allah telah mendidik tahap demi tahap sampai bisa mencapai puncak persekutuan dengan Sang Putra yang diabdi (Kons. 254).

  Dalam buku Menggapai Kematangan Hidup Rohani, Henri J. M. Nouwen (1985: 100-104) menjelaskan makna semangat kemiskinan sehingga manusia menemukan pusat hidup dalam hati dan secara bebas terlibat dalam kehidupan orang lain. Henri J. M. Nouwen menjelaskan adanya dua bentuk kemiskinan, yaitu kemiskinan dalam budi dan kemiskinan dalam hati. Penjelasan mengenai kemiskinan budi dan hati adalah sebagai berikut:

  a. Kemiskinan dalam budi Seseorang yang penuh dengan gagasan, konsep, pendapat dan keyakinan tempat untuk mendengarkan, tidak ada keterbukaan untuk menerima pemberian dari orang lain.

  Kemiskinan budi adalah sebagai sikap batin dimana kesediaan bertumbuh untuk menyadari bahwa rahasia hidup adalah rahasia yang tidak dapat ditangkap sepenuhnya. Orang-orang yang seluruh hidupnya diarahkan untuk menguasai dan mengontrol sangat sulit menerima sikap ini. Manusia punya keinginan untuk menjadi orang terdidik sehingga dapat mengontrol keadaan dan semuanya berjalan menurut kepentingannya sendiri. Akan tetapi pendidikan untuk pelayanan bukanlah pendidikan untuk menguasai Allah melainkan untuk dikuasai oleh Allah. Hal ini tampak dalam dirinya yang semakin bebas untuk mendengarkan suara Allah dalam apa yang dikatakan orang, dalam peristiwa hidup sehari-hari dalam buku-buku yang mengungkapkan pengalaman hidup. Dengan demikian, orang yang seperti ini membiarkan terjadi pertumbuhan yang terus-menerus dalam kelembutan dan sikap menerima (Nouwen, 1985: 100-101).

  b. Kemiskinan dalam hati Jika hati penuh dengan prasangka, kecemasan, iri hati maka hanya sedikit tempat bagi orang lain. Di dalam lingkungan yang demikian, tidak mudah bagi orang untuk membuka hati terhadap berbagai ragam pengalaman manusia. Dalam semangat kemiskinan hati, manusia mampu menerima pengalaman orang lain sebagai pemberian. Oleh karena itu, orang perlu menahan diri untuk tidak menggunakan pengalaman diri yang terbatas sebagai ukuran pendekatan terhadap orang lain dengan melihat bahwa hidup mereka lebih besar dari hidupnya, pengalaman, sejarah hidupnya lebih luas dari dirinya dan tentu saja Allah lebih

  Agung dari allahya. Sejarah, pengalaman mereka dapat memberi arti baru bagi hidup seseorang dan Allah sungguh berbicara dalam diri orang yang sungguh miskin dalam hati. Kemiskinan dalam hati menciptakan komunitas, karena bukan sikap merasa cukup dari diri sendiri melainkan dalam saling ketergantungan yang kreatif dimana rahasia hidup dinyatakan bagi manusia (Nouwen, 1985: 103-104).

C. RUMAH BIARA ADALAH RUMAH KOMUNITAS KASIH

  Para suster Abdi Kristus menghayati persekutuan hidup dalam kasih sebagai komunitas secara nyata di dalam sebuah rumah biara. Bagaimana kehadiran rumah biara dalam pengabdian di tengah-tengah masyarakat dijelaskan dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus no. 284-290 sebagai rumah yang bersifat rasuli, rumah doa, rumah komunitas kasih, rumah religius. Pemaparan penulisan mengacu pada konstitusi ini terbagi dalam tiga bagian yaitu komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh, Sabda Allah dasar hidup berkomunitas, komunitas menjadi ‘oase’ kehidupan para suster Abdi Kristus. Pemaparan dalam

  bagian ini akan didukung oleh beberapa nomor dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus yang diolah dalam Kapitel Umum IV Kongregasi Biarawati Abdi Kristus tgl. 3-13 Januari 2002. Selain itu penulis juga akan mengambil gagasan dari beberapa sumber buku yang mendukung untuk semakin mengerti dan memahami penulisan ini agar semakin mendalam terutama dalam mengenal, memahami para suster Abdi Kristus yang tinggal dalam komunitas-komunitas.

1. Komunitas Kasih yang Penuh Kegembiraan dalam Roh

  Membangun komunitas yang efektif dan memiliki daya kekuatan kasih penuh kegembiraan dalam Roh oleh Kongregasi Biarawati Abdi Kristus senantiasa di perjuangkan hingga saat ini. Upaya ini dicanangkan sejak Kapitel Umum IV Kongregasi/Tarekat Biarawati Abdi Kristus pada tahun 2002. Berikut ini adalah pilihan dasar, pilihan strategis, langkah-langkah yang ditempuh demi terciptanya komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh yang terungkap dalam buku

  

Mencitrakan Komunitas Kasih Penuh Kegembiraan dalam Roh , hasil keputusan

Kapitel Umum Tarekat Suster-suster Abdi Kristus pada tgl. 3-13 Januari 2002.

  Pilihan dasar untuk membangun komunitas yang efektif, berdaya kekuatan kasih dan Roh adalah menyatukan anggota komunitas sebagai saudara, seperti wanita-wanita saleh bersama Maria menyertai dan terlibat di dalam pengutusan Gereja (Kons.275). Pilihan dasar dalam gerak keluar adalah bersatu dan terlibat dengan Gereja setempat, menjalin hubungan dan kerja sama yang erat dengan semua pihak, sehingga mampu menyumbangkan Kharisma pelayanan serta pengabdian yang khas (Kons. 323), hidup berakar dan menyatu dengan budaya setempat, berjuang untuk memberdayakan rakyat kecil, menjadi tempat untuk menyalurkan kasih melalui pelayanan-pelayanan (Kapitel Umum IV, 2002: 10).

  Pilihan strategis yang diupayakan dalam kebersamaan adalah komunitas yang sesuai dengan kharisma kesederhanaan iman dan spiritualitas, memiliki cita- cita hidup sederhana dengan mengembangkan karakter-karakter: Subur oleh Roh dan Sabda, keibuan yang berciri eko-feminisme yaitu melahirkan iman, memelihara dan mendewasakan iman. Karakter-karakter lainnya adalah keutamaan-keutamaan orang kecil yaitu sadar akan peranan Tuhan, percaya akan penyelenggaraan Tuhan, memiliki keramahtamahan, berbagi dengan kerelaan berkorban (Kapitel Umum IV, 2002: 11).

  Langkah-langkah yang ditempuh oleh Kongregasi Biarawati Abdi Kristus dalam rangka mewujudkan komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh ini berupa langkah pembinaan ke dalam (komunitas) dan gerak keluar (kerasulan). Pembinaan ke dalam antara lain: membina gaya hidup yang sesuai dengan kesederhanaan, mengembangkan pola komunikasi ‘feminisme afektif’ yang mengandalkan kekuatan hati, melatih hidup berdasarkan skala prioritas yaitu kemampuan mendahulukan yang penting dan mendesak, melaksanakan tugas bukan atas dasar kesenangan pribadi, hidup berdisiplin diri. Langkah lainnya yang mendasar adalah memelihara hidup rohani pribadi dan bersama melalui doa-doa, terlebih doa pribadi, askese, bacaan rohani dan pemeriksaan batin (Kapitel Umum IV, 2002: 12).

  Pembinaan menuju gerak keluar (kerasulan) antara lain: menyelami sekaligus menyadarkan diri dan mereka yang dilayani akan kekuatan-kekuatan rohani yang ada pada orang kecil, belajar dari kebijaksanaan hidup orang kecil terus-menerus, perjumpaan-perjumpaan yang mengembangkan dialog kehidupan, dialog tindakan, dialog iman. Dengan demikian, bersama-sama orang beriman yang dilayani mengubah keadaan hidup (Kapitel Umum IV, 2002: 13).

  Pilihan dasar dan strategis yang demikian perlu memperhatikan ritme hidup harian rumah biara yang sungguh mendukung segala segi hidup religius. Aturan rumah biara, jadwal harian haruslah sedemikian terbuka untuk selalu diperbaharui sesuai dengan kebutuhan baru, tetapi juga harus memenuhi syarat-syarat pokok yang diperlukan untuk hidup bersama, seperti waktu-waktu doa bersama, rekreasi, studi dan acara-acara bersama lainnya dan saat-saat pribadi sehingga keperluan yang sifatnya pribadi dan bersama dapat dipadukan (Kons. 287). Perlu diperhatikan juga, bahwa rumah biara dimana para suster Abdi Kristus hidup berkomunitas haruslah memiliki pemimpin yang jelas, bertanggungjawab atas keberlangsungan hidup berkomunitas yang semestinya baik bersifat rohani, kerasulan maupun kerumahtanggaan yang tentu saja melibatkan seluruh anggota sesuai dengan tempat dan peranan masing-masing (Kons. 288).

  Rumah biara sebagai komunitas kasih hendaknya mengupayakan setiap anggota secara nyata agar mendapatkan tempat pijakan untuk menghayati panggilan serta pengabdian. Sesuai dengan cita-cita bersama, maka rumah biara hendaknya menjadi rumah yang bersifat rasuli, rumah doa, rumah komunitas kasih, rumah religius (Kons. 284). Oleh karena itu rumah biara selayaknya bila selalu terbuka, ramah kepada masyarakat demi tercapainya pengabdian. Dalam rumah biara Abdi Kristus hendaknya mengusahakan penerimaan yang wajar sesuai adat setempat, tanpa meninggalkan dan melupakan sifat kebiaraan rumah biara (Kons. 286).

  Untuk mendukung kehadiran para suster Abdi Kristus yang diharapkan juga melahirkan kehidupan baru dalam Roh, penulis sedikit memaparkan tulisan George A. Meloney SJ. (1990: 31) dalam buku Maria Rahim Allah yang mengungkapkan bahwa dalam lambang Maria sebagai Bunda Allah, manusia melihat dirinya memenuhi kelaparan dasar akan Allah dalam jawaban manusia yang penuh kasih kepada Allah. Bila manusia tidak hanya menyetujui untuk menerima Allah, tetapi juga melahirkan Allah dalam kehidupan yang merupakan jawaban terus-menerus kepada Allah dalam ketaatan penuh kasih, lalu manusia pun menjadi bunda-bunda Allah. Kebundaan manusia terhadap Allah ditampakkan oleh buah Roh: Kasih, damai sejahtera, sukacita, kelemahlembutan, kebaikan, kesabaran, penguasaan diri (Gal 5:22).

  Dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus no. 270 disimpulkan bahwa keterbukaan kepada Roh hanya akan terlaksana bila komunitas-komunitas sungguh-sungguh merupakan komunitas persaudaraan dalam kasih. Untuk hidup selalu terbuka kepada Roh lewat doa sangatlah dituntut kerelaan ingkar diri, supaya dapat menanggalkan keinginan-keinganian pribadi dan dengan bimbingan Roh Kudus dapat menghayati perasaan Kristus (Flp 2:5). Ditegaskan dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus no. 267 bahwa keterbukaan akan Roh hanya akan terjadi bila dalam komunitas-komunitas ada pengendalian serta aturan-aturan mengenai saat-saat hening, penggunaan alat komunikasi yang wajar.

2.Sabda Allah Dasar Hidup Berkomunitas

  Dijiwai oleh semangat Bunda Maria, yang mengharapkan agar ‘Sabda Allah’terjadi pada dirinya, para suster Abdi Kristus yang hidup dalam komunitas- komunitas sangat diharapkan merenungkan Sabda Allah sebagai sumber kehidupan, seperti yang terungkap dalam Kitab Suci. Sabda Allah yang menjadi sumber hidup berkomunitas ini ditegaskan dengan jelas dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus no. 260-261. Penulis meringkas demikian: Dalam merenungkan Kitab Suci menuntut kesediaan penuh untuk mendengarkan Tuhan yang bersabda dan hati sesal menanggapi sentuhan dan ajakan Sabda untuk bertobat. Rahmat tobat yang ditawarkan oleh Kitab Suci mengundang para suster untuk memperbaharui diri dengan menyesali dosa dan kekurangan. Pertobatan ini merupakan jalan pemurnian jiwa dan kemerdekaan dalam pengabdian kepada Tuhan.

  Gereja Purba mengalami kehadiran Kristus yang telah bangkit secara langsung dan kuat dalam persekutuan mereka seperti disaksikan oleh kisah para Rasul. Konstitusi Tarekat Abdi Kristus no. 271 mengungkapkan bahwa hidup bersama sebagai landasan hidup doa para suster Abdi Kristus yaitu hidup didasari oleh rasa sehati seperasaan, secita-cita dan setujuan yang menyatukan di dalam kasih seperti yang dilakukan oleh para rasul dan para murid Yesus saat menantikan Roh Kudus “ Demikianlah para Rasul dan Murid Yesus menantikan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan oleh Tuhan” (Kis 1:8).

  J. M. Fuster, SJ (1985: 188) mengungkapkan bagaimana para rasul menjadi model pertumbuhan umat kristiani. Namun karena orang hidup di zaman sekarang di mana Kristus telah bangkit, maka umat kristiani saat ini tidak mengalami kehadiran Kristus secara fisik. Sekarang umat kristiani sudah diberi anugerah Roh Kudus yang tinggal dalam diri sebagai pembimbing. Maka menjadi dewasa dalam Kristus berarti mengikuti bimbingan Roh Kudus mengenal Yesus dari Kitab Suci, bahwa Ia sungguh mengasihi manusia sehingga manusiapun hendaknya juga mengasihi-Nya. Menjadi dewasa dalam Kristus berarti juga mengenal Yesus dari orang lain dan dari pengembangan kegiatan iman, harap dan kasih. Selain itu , menjadi dewasa dalam Kristus berarti juga mempribadikan iman yaitu dengan terus-menerus merenungkan Kitab Suci dengan khidmat.

3. Komunitas Menjadi ‘Oase’ Kehidupan Para Suster Abdi Kristus

  Oase (=oasis) oleh J. S. Badudu (2005: 245) diartikan sebagai daerah di gurun (padang pasir) seperti di gurun Sahara yang ada airnya, cukup untuk tumbuh-tumbuhan sehingga dapat menjadi tempat manusia bermukim. Penulis menggunakan istilah ‘oase’ untuk menggambarkan komunitas-komunitas yang sungguh nyaman ditinggali oleh para anggotanya karena memberi kesegaran, kegembiraan dan kekuatan baru dengan saling mendukung sebagai saudara, meneguhkan dalam pengabdian.

  Secara jelas dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus, khususnya no. 274 menegaskan bahwa hidup bersama merupakan topangan dan tempat menimba kekuatan dalam pengabdian. Rumah-rumah biara merupakan tempat untuk mengungkapkan ikatan kasih dan persekutuan hidup rasuli. Ada keyakinan bahwa manusia mampu memperhatikan sesamanya bila ada kesediaan untuk berbagi kekayaan rohani maupun materi dalam ikatan kasih, panggilan dan cita-cita yang khas.

  Bagaimana komunitas-komunitas Abdi Kristus memberi kegembiraan karena bersumber pada Allah, secara jelas diungkapkan dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus demikian:

  Untuk memupuk kegembiraan dalam Roh di dalam pengabdian kita, perlulah kita mengembangkan di dalam komunitas-komunitas kita rasa keluarga sejati yang dikumpulkan menjadi satu panggilan dalam nama Tuhan (PC 15). Dalam kehidupan komunitas kita haruslah terpancar kegembiraan putri Sion yang telah disapa dan dipanggil Allah penyelamat karena kasih-Nya. Allah penyelamat yang perkasa itulah yang menjadi sumber kegembiraan komunitas-komunitas kita. Allah berkenan tinggal di antara kita-Immanuel-(Mat.1:23), dan juga kelemahan-kelemahan kita (Kons. 277).

  Sehubungan dengan komunitas yang saling mendukung, Mardi Prasetya (1992b: 216) menjelaskan bahwa dalam komunitas-komunitas orang dapat saling mendukung tetapi masing-masing pribadi tidak pernah menjadi sebab pertumbuhan pribadi. Apa yang menyebabkan orang bertumbuh dalam panggilan terutama adalah kemampuannya untuk membatinkan atau menginternalisasikan nilai-nilai panggilan sebagai seorang religius yang hendak membaktikan diri bebas membentuk diri atas dasar spiritulitas dan bukan atas dasar tuntutan sosial, karena pujian atau karena menginginkan kedudukan.

  Mardi Prasetya (1992b: 211) melanjutkan penjelasannya berkaitan dengan komunitas yang nyaman yaitu bahwa setiap pribadi dapat menjadi krasan dan kompeten di rumah sendiri jika ada relasi baik, yaitu apabila masing-masing tahu siapa- siapa yang terlibat dan bagaimana terlibat. Agar komunitas berfungsi baik, memang diperlukan kejelasan struktur minimal yang diungkapkan dalam fungsi, peranan dan relasi. Relasi disebut rigid atau kaku apabila hanya mengandalkan aturan ketat dan disiplin yang ditentukan secara otoriter atau ditafsirkan secara sepihak. Di sini tidak ada komunikasi dan dialog, yang ada hanya pemimpin, hukum orang kuat atau hukum otorita. Relasi menjadi kabur kalau fungsi-fungsi dalam komunitas tercampur aduk dan

  

serabutan tidak karuan. Keadaan ini mendukung tumbuhnya situasi permisif dan

semau gue . Orang jadi tidak tahu lagi siapa pemimpin dan siapa anggota, karena

  peranan tercampur aduk, semua jadi pemimpin dan ambil keputusan sendiri atau malah tidak ada pemimpin. Oleh karena itu sangat diperlukan adanya kesadaran anggota akan tujuan komunitas dan orang-orang konkret yang harus menjalankan, tahu membedakan antara ideal dan kenyataan kemampuan tiap-tiap pribadi entah pemimpin entah anggota termasuk kelemahan dan kekurangannya.

  D.

  

KOMUNITAS ABDI KRISTUS DALAM GERAKAN ONGOING

FORMATION DEMI TERWUJUDNYA KOMUNITAS KASIH YANG PENUH KEGEMBIRAAN DALAM ROH

  Para suster Abdi kristus mempunyai kesadaran bahwa hidup bersama dalam komunitas terjadi hanya karena setiap pribadi mempunyai komitmen untuk menangapi panggilan Tuhan, untuk tinggal di dalam kasih-Nya. Dengan mengenakan semangat “Pada-Mu ya Tuhan aku berharap”, para suster Abdi Kristus percaya pada bimbingan Roh yang menuntut kerelaan untuk mengingkari diri, menanggalkan keinginan-keinganan pribadi dan dengan bimbingan Roh Kudus dapat menghayati perasaan Yesus Kristus (Kons. 266). Keterbukaan kepada Roh itu dapat terlaksana dalam komunitas-komunitas melalui pengendalian serta pengaturan-pengaturan saat-saat hening untuk mencari keakraban dengan Tuhan (Kons. 267).

  Komunitas yang hidup dalam kasih, terbuka kepada Roh di atas memerlukan bertumbuhnya kematangan pribadi sebagai suster Abdi Kristus, yang mampu mengatasi segala hambatan dan tantangan apapun juga (Kons. 282). Oleh karena itu menjadi tanggung jawab semua anggota komunitas beserta pimpinannya untuk membangun komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh (Kons. 283).

  Komunitas disadari sebagai tempat membentuk diri menjadi manusia yang utuh bahagia sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Komunitas demikian adalah komunitas formatif yang perlu diperjuangkan terus menerus, membentuk anggotanya, menyadari kelemahan-kelemahannya yang ada. Komunitas formatif memerlukan pengolahan hidup/pembinaan dan pertobatan terus menerus. Pembinaan/pengolahan hidup terus menerus ini sering disebut dengan istilah ongoing formation.

  Untuk mendalami lebih lanjut mengenai komunitas Abdi Kristus yang sedang mengupayakan terwujudnya komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh melalui gerakan ongoing formation, pada bagian awal akan dipaparkan pentingnya ongoing formation di mana di dalamnya akan membahas juga aspek- aspek yang diharapkan bertumbuh dalam diri religius, terkandung dalam keutamaan-keutamaan pertumbuhan.

1. Pentingnya Ongoing Formation bagi Komunitas Religius

  Mardi Prasetya (2001: 48-49) menjelaskan bahwa dalam proses pertumbuhan, agar manusia dari hari ke hari semakin menjadi sempurna sebagaimana Bapa di surga sempurna adanya, maka ongoing formation atau pembinaan terus menerus menjadi penting. Pribadi manusia yang senantiasa diharapkan bertumbuh ini, pertumbuhannya tidak sekali jadi tetapi berproses dalam suatu peziarahan. Begitu pula seluruh daya-dayanya tidak sekali jadi dan serentak mencapai klimaksnya. Daya-daya yang berupa psiko-fisik, psiko-sosial, psiko spiritual-rasional yang ada dalam pribadi itu senantiasa diasah dalam sosialitas, dalam zaman yang juga bergerak secara dinamis.

  Kalau direfleksikan atas dasar rahmat permandian, Mardi Prasetya (2001: 50), menerapkan pengolahan hidup terus-menerus bagi umat kristiani yaitu bahwa umat beriman kristiani senantiasa memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan nyala api iman dalam hati jangan sampai padam dan karena itu permandian menuntut suatu kesetiaan dan pembaharuan bahkan memberi daya kehidupan karena telah dilahirkan dalam Sang Kehidupan berkat hembusan Roh kehidupan yang mengajak manusia menuju kesucian. Ini berarti ia senantiasa bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih.

  Mardi Prasetya (2001: 51) menambahkan berkaitan dengan pembinaan terus menerus bagi kaum religius bahwa jika sebagai religius ingin tetap setia dan efektif dalam penghayatan hidup religius, maka diandaikan ia senantiasa tinggal bersama Yesus, bekerja bersama Yesus dan bekerja seperti Yesus dan ini menyertakan kesiapan untuk senantiasa melakukan pembedaan Roh. Pembedaan Roh bertujuan untuk mengetahui dengan jelas kebijaksanaan sejati dalam mengambil sikap-sikap baru, dalam menemukan diri yang senantiasa bertumbuh juga di hadapan peristiwa- peristiwa yang sulit atau jika peziarahan hidup mulai terasa kering.

  Dalam pemaparan berikutnya Mardi Prasetya (2001: 55) menjelaskan bahwa

  

ongoing formation menekankan pada usaha untuk terus menerus membaharui diri

  sesuai dengan tuntutan zaman dan tuntutan spiritualitas dengan konskuensi tidak mau berhenti dalam pembaharuan, terus menerus memperkembangkan kemampuan dan ketrampilan dalam membatinkan nilai-nilai religius dan mewujudkan cita-cita tarekat dan pengabdiannya sebagai ungkapan iman bersama sesuai dengan kharisma kongregasi, kemudian terus menerus berusaha memberi bentuk kesaksian hidup bakti dalam Gereja dan masyarakat sesuai dengan tempat dan kemampuannya.

  Seperti yang telah diungkapkan dalam bab-bab sebelumnya bahwa dalam hidup berkomunitas, tak bisa dipungkiri seringkali terjadi konflik atau perpecahan antar pribadi, sehingga sulit bekerjasama. Akibat yang lebih emosional atau afektif adalah terjadinya ketegangan dalam hati masing-masing, dan ini seakan-akan mewarnai hidup berkomunitas, misalnya, ketegangan karena adanya gap antara medior dan senior, antara medior dengan yunior, antara kontemplasi dan aksi, antara doa dan kerasulan, antara anggota komunitas dan pembesarnya dan lain-lain.

  Ketegangan yang terjadi dalam komunitas menuntut masing-masing pribadi untuk berdiskresi, membuat refleksi dan evaluasi kritis atas dirinya sendiri, apa yang mau dibuat, bagaimana bersikap dalam situasi tertentu. Melihat kenyataan ini. semakin jelas bahwa ongoing formation menjadi sangat penting agar masing- masing pribadi yang berkomitmen hidup dalam komunitas religius tidak ikut jatuh dalam ketegangan atau menjadi frustasi, tetapi dapat berubah dan mengubah ketegangan menjadi rahmat pertumbuhan.

  Keutamaan pertumbuhan yang diharapkan bertumbuh dalam diri religius oleh Mardi Prasetya (2001: 57-58) dijelaskan dalam aspek kognitif, aspek sosial, afektif, rohani, apostolik dan fisik.

  a. Aspek kognitif Aspek kognitif berupa pengertian yang makin mendalam tentang kongregasi, spiritualitas, kharisma dan gerak dinamis kerasulan kongregasi sehingga selalu mempunyai pencerahan dan sarana untuk berkonfrontasi diri dengan kenyataan hidup yang terus berjalan dan berubah. Konfrontasi ini yang akan menyuburkan pribadi sehingga mampu menjadikan kerohanian kongregasi tetap aktual dan relevan, artinya mampu menjawab tiap tantangan dan aneka situasi yang berubah (Mardi Prasetya, 2001: 57).

  b. Aspek sosial Aspek sosial, khususnya kemampuan untuk senantiasa mengadakan pembaharuan dan penyesuaian diri karena bertumbuhnya kemampuan sosialisasi dan adaptasi yang seimbang dalam dunia sosial yang semakin kompleks tanpa hanyut atau malah ditelan oleh arus dan dampak negatif dari modernisasi. Hal ini mengandaikan taraf kedewasaan tertentu dalam menempatkan diri, dalam ambil bagian dalam kehidupan sosial dan dalam pergaulan dengan sesama saudara dalam komunitas (Mardi Prasetya, 2001: 57).

  c. Aspek afektif Aspek afektif yang dimaksud adalah aspek yang menyangkut hidup seseorang khususnya dalam menata batin sampai mencapai tahap kebebasan batin, dalam arti tidak mudah terombang-ambing oleh gejolak emosi dan perasaan sendiri, mampu menata dan mengendalikan sesuai dengan tujuan hidupnya sebagai religius. Hal ini mengandaikan kemampuan mengolah hidup dan oleh rohani yang menyertakan aspek ingkar diri dan tertib hidup sampai mencapai keadaan yang lepas bebas untuk Tuhan (Mardi Prasetya, 2001: 57).

  d. Aspek rohani Semakin memiliki cinta yang personal atau kedekatan hidup pada Tuhan, semakin menjadi murid Yesus yang sejati dan semakin berjalan ke arah konfigurasi dengan Kristus yang membuatnya makin mampu mengurangi pengaruh dari kelemahan dan cacat pusaka, mampu menanggung resiko dan konskuensi dari pilihan hidup religiusnya dan mampu memanggul salibnya setiap hari. Hal ini mengandaikan sikap diskretif (penuh pembedaan Roh) yang membuatnya terus berusaha untuk hidup dalam Roh (Mardi Prasetya, 2001: 57-58).

  e. Aspek apostolik Semakin memancarkan keterlibatan hidup apostolik yang didasarkan pada keprihatinan-keprihatinan Yesus dalam situasi dan kondisi konkrit sesuai dengan yang dicanangkan oleh kongregasi dan opsi real yang diputuskan dalam kerjasamanya dengan keuskupan setempat. Bila keempat aspek di atas cukup bertumbuh dan berkembang maka aliran dan gema daripadanya adalah cinta kasih Kristus yang terungkap dalam hidup dan karya tiap religius yang tidak lepas dari misi kongregasi (Mardi Prasetya, 2001: 58).

  f. Aspek fisik Aspek fisik ini khususnya berhubungan dengan kesehatan fisik dan pemeliharaan kesehatan. Karena afektivitas yang tinggi dan intelegensi yang tinggi tidak akan banyak berguna kalau secara fisik ia tidak sehat. Kondisi fisik akan sangat berpengaruh dalam pembentukan kehendak yang kuat (Mardi Prasetya, 2001: 58).

2. Pembinaan Terus-menerus dalam Menumbuhkembangkan Kualitas Hidup Para Suster Abdi Kristus demi Terwujudnya Komunitas Kasih Penuh Kegembiraan dalam Roh

  Pembinaan terus menerus merupakan suatu proses pembaharuan yang menyeluruh yang mencakup semua segi seorang religius dan lembaga itu sendiri.

  Dalam buku Pedoman-pedoman Pembinaan dalam Lembaga-lembaga Religius yang dikeluarkan oleh Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan (1992: 54) ditegaskan bahwa selama hidup para religius hendaknya tekun mengikuti pengembangan rohani, ilmiah dan praktis. Para pemimpin diharapkan memikirkan waktu dan kemudahan untuk pembinaan ini. Oleh karena itu, setiap lembaga religius bertugas merencanakan dan mewujudkan suatu program pembinaan yang cocok bagi semua anggotanya. Program pembinaan ini tidak hanya diarahkan pada pembinaan intelek, melainkan juga pembinaan seluruh pribadi. Pembinaan terus-menerus ini didorong pertama-tama oleh prakarsa Allah yang memanggil setiap orang pada setiap saat dan dalam lingkungan yang berubah-ubah. Kharisma para pendiri tampak sebagai suatu pengalaman Roh yang diteruskan oleh pengikutnya untuk dihayati, dilindungi, diperdalam dan diperkembangkan terus-menerus dalam keselarasan Tubuh Krsitus yang terus- menerus dalam proses pertumbuhan.

  Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan mengeluarkan Dokumen Gerejawi No. 16 berisi tentang Pedoman-pedoman

  

Pembinaan dalam Lembaga-lembaga Religius menyatakan bahwa pembinaan

  terus-menerus hendaknya memperhatikan kenyataan adanya aspek-aspek yang berbeda namun saling mempengaruhi. Berikut ini adalah aspek-aspek yang perlu diperhatikan berdasarkan buku Pedoman-pedoman Pembinaan dalam Lembaga- lembaga Religius dan pembinaan terus-menerus para suster Abdi Kristus.

  a. Aspek-aspek dalam pembinaan terus-menerus 1) Aspek hidup dalam Roh atau spiritualitas

  Aspek hidup dalam Roh atau Spiritualitas ini perlu diutamakan karena mencakup suatu pendalaman iman, makna profesi religius. Latihan-latihan rohani tahunan dan bentuk-bentuk pembaharuan rohani lainnya juga perlu diutamakan (Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan, 1992: 56).

  2) Partisipasi dalam kehidupan Gereja Partisipasi dalam kehidupan Gereja menurut karisma kegiatan-kegiatan pastoral terjadi dengan menjalin kerjasama dengan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan

  (Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan, 1992: 56).

  3) Penyegaran hal-hal yang berkaitan dengan ajaran dan profesi Penyegaran hal-hal yang berkaitan dengan ajaran dan profesi mencakup pendalaman perspektif-perspektif biblis dan teologis para religius, studi tentang dokumen-dokumen, pengetahuan-pengetahuan praktis, latihan profesional dasar dan teknis yang baru (Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan, 1992: 56). 4) Kesetiaan terhadap karisma lembaga

  Kesetiaan terhadap karisma lembaga dibina untuk memperdalam pengetahuan dan semangat pendiri, sejarah, tugas perutusan, uaha-usaha terkait untuk menghayati karisma baik secara pribadi maupun bersama (Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan, 1992: 56).

  b. Pembinaan terus-menerus para suster Abdi Kristus Pembinaan terus-menerus dalam rangka menumbuhkembangkan kualitas hidup iman dan kepribadian para suster Abdi Kristus dilaksanakan melalui berbagai macam kegiatan baik secara personal maupun bersama. Berikut ini adalah kegiatan-kegiatan Kongregasi Abdi Kristus yang dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup iman dan kepribadian anggotanya. Sumber penulisan diambil dari laporan pertanggungjawaban Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus masa bakti 2002-2007. 1) Visitasi

  Pemimpin umum mengadakan kunjungan ke komunitas-komunitas. Tujuan visitasi adalah untuk meningkatkan semangat yang menjiwai seluruh anggota kongregasi. Melalui kunjungan ini diharapkan dapat terbina sikap saling terbuka, memahami, memaafkan, membangun hidup doa, karya dan bersama dalam komunitas yang dilandasi kasih (Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2007: 9). 2) Wawanhati

  Demi membangun sikap keterbukaan, kejujuran serta komunikasi yang sehat, diupayakan pembicaraan dari hati ke hati sebagaimana dilaksanakan dalam setiap visitasi. Wawanhati juga dilaksanakan pada saat para suster mengikuti retret dengan maksud agar wawanhati dilaksanakan dalam suasana doa sehingga dalam situasi batin yang tenang, terbuka terhadap karya Roh. Bahan pembicaraan. Bahan pembicaraan wawanhati meliputi hidup doa, bersama dan karya serta bagaimana menghidupi komunitas yang penuh kasih dan kegembiraan dalam Roh (Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2007: 9). 3) Retret

  Pembinaan melalui retret ditangani oleh Tim Spiritualitas. Retret dilaksanakan dalam berbagai bentuk, misalnya pendalaman Konstitusi Tarekat Abdi Kristus, penyegaran hidup doa. Pemandu retret selain dari tim spiritualitas, juga mengundang Romo sebagai nara sumber utama. Retret dilaksanakan selama 8 hari di rumah retret yang dikelola oleh para suster Abdi Kristus atau di rumah retret lainnya, sesuai dengan kondisi dan kesepakatan besama antara para suster pembimbing. Bahan retret yang didalami bersama biasanya telah disiapkan oleh pembimbing dengan menggunakan sumber bahan Kitab Suci, Konstitusi Biarawati Abdi Kristus, buku latihan rohani dan tayangan-tayangan atau materi khusus yang disiapkan oleh pembimbing. Peserta retret telah dijadwal oleh tim spiritualitas secara bergantian. Pada umumnya berjumlah 20-30 peserta yang terdiri dari gabungan para suster yunior, medior maupun senior (Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2007: 10).

  4) Rekoleksi Pelaksanaan rekoleksi setiap bulan diserahkan pengaturannya kepada komunitas masing-masing. Bahan biasanya sudah disiapkan oleh tim spiritualitas namun komunitas mempunyai kebebasan untuk menggunakannya, sesuai dengan kebutuhan komunitas. Kitab suci, Konstitusi merupakan sumber bahan utama yang diambil sesuai dengan kebutuhan. Sumber bahan tambahan lainnya biasanya diambil dari buku-buku bijak, buku inspiratif, atau pengalaman hidup dari salah satu suster yang pernah tertuang dalam bentuk tulisan. Waktu pelaksanaan pada umumnya selama satu hari satu malam. Pada peristiwa-peristiwa khusus, misalnya Pesta St. Theresia dari Kanak Yesus (Pelindung kedua Kongregasi Biarawati Abdi Krsitus), Pesta Bunda Maria menerima kabar Sukacita dan perayaan menjelang akhir tahun, biasanya diadakan rekoleksi selama 3 hari 2 malam menjelang hari pesta/ perayaan. Bahan rekoleksi telah disiapkan oleh tim spiritualitas, namun tetap terbuka pada kebijakan masing-masing komunitas (Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2007, 2008: 10). 5) Edaran akhir tahun

  Pada setiap akhir tahun dikirimkan Surat Edaran Akhir Tahun Pemimpin Umum Kongregasi yang diharapkan dapat digunakan sebagai bahan renungan, bahan rekoleksi maupun bahan dialog dalam komunitas. Dalam setiap edaran selalu diserukan agar masing-masing pribadi dalam komunitas mengusahakan dan meningkatkan kualitas hidup iman dan kepribadian, agar komunitas sungguh menjadi saksi kehadiran Kristus dimanapun ditugaskan (Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2007, 2008: 10).

  6) Pembinaan khusus Kongregasi melaksanakan usaha pembinaan secara khusus untuk mendukung bertumbuhkembangnya kualitas hidup anggotanya, antara lain:

  ) Pertemuan-pertemuan Kongregasi mengadakan pertemuan-pertemuan secara khusus berdasarkan kebutuhan kongregasi, seperti pertemuan Yunior, pertemuan para suster yang berkaul di bawah lima tahun, pertemuan Dewan Pimpinan Umum (DPU) bersama pengurus tertentu (karya sosial, pengurus Orang Sakit, Pemimpin Komunitas, Bendahara Komunitas dll.

  Pertemuan-pertemuan dalam rangka pembinaan terus menerus lainnya adalah Pembinaan Dewan Pimpinan Umum (DPU) diadakan setiap bulan, pertemuan Dewan Kapitel dua tahun sekali, refleksi DPU bersama pendamping Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, Rm. J. Darminta, SJ, serta refleksi perjalanan peta karya Kongregasi Biarawati Abdi Kristis yang dipandu oleh Dewan Pimpinan Umum, Dewan Kapitel, Pengurus Yayasan Santa Maria Abdi Kristus/YSMAK ((Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2007, 2008: 10).

  ) Studi lanjut Untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan, wawasan, pengetahuan para suster, kongregasi mengutus beberapa suster untuk menjalani tugas studi . Pembinaan formal atau studi lanjut dipercayakan kepada mereka yang dipandang mampu untuk mengemban tugas studi dan sesuai kebutuhan kongregasi ((Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2007, 2008: 11).

  ) Kursus/pelatihan/lokakarya Selain pendidikan formal atau studi lanjut, pembinaan juga dilaksanakan dengan mengikutsertakan para suster Abdi Kristus dalam berbagai macam kursus/pelatihan/lokakarya . Pembinaan dalam bentuk ini, secara praktis lebih pendek dari segi waktu, sehingga lebih dapat sesegera mungkin diterapkan dalam karya pelayanan Kongregasi Biarawati Abdi Kristus ((Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2007, 2008: 11).

  Pembinaan melalui upaya-upaya di atas, mungkin tidak secara langsung berpengaruh membentuk komunitas yang diharapkan. Namun melalui pembinaan- pembinaan itu diharapkan Kongregasi Biarawati Abdi Kristus dapat membekali, menambah, meningkatkan dan memperkaya wawasan, pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan serta kedalaman spiritualitas para suster Abdi Kristus. Seiring dengan proses pembinaan, diharapkan pula bertumbuhkembangnya kualitas hidup dan kepribadian para suster sendiri. Dengan demikian, segala sesuatu yang telah diterima, dipelajari, dihayati dan didalami akan mempengaruhi, mewarnai dan membentuk bahkan mengubah hidup secara keseluruhan sebagai seorang Abdi Kristus yang memancarkan Kasih kegembiraan dalam Roh seturut teladan Bunda Maria. Hidup berkomunitas yang saling membentuk diharapkan menjadi sumber kekuatan dalam mewujudkan kerinduan para suster Abdi Kristus, yaitu membangun komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh.

E. KESIMPULAN

  Berdasarkan pembahasan mengenai hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus yang bersumber dari konstitusi, hasil refleksi para suster Abdi Kristus yang diolah dalam kapitel umum dan berbagai sumber buku dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  Komunitas dan komunikasi memiliki arti yang saling terkait yaitu orang- orang yang berada dalam communio, berkomunikasi satu sama lain, bersama-sama berada pada tempat dan lingkungan yang sama di mana yang satu bergantung pada yang lain, komunikator berada demi melayani orang-orang lain, membagikan dirinya dan segala sesuatu sedemikian rupa sehingga dari sesuatu yang sama ini lahirlah komunitas atau persekutuan. Sedangkan komunitas religius adalah kelompok terkecil dari persekutuan hidup bakti yang terdiri atas pribadi-pribadi entah pembesar, fungsionaris yang lain dan anggota-anggota yang merasa dipanggil ke tujuan yang sama.

  Kongregasi Biarawati Abdi Kristus yang lahir atas prakarsa Mgr. Petrus Willekens, SJ merupakan salah satu persekutuan hidup bakti yang berkarya di Indonesia bertujuan untuk memajukan orang-orang pribumi dan memperkembangkan kebudayaan pribumi. Bunda Maria Hamba Allah dipilih sebagai spiritualitas kongregasi Abdi Kristus.

  Konstitusi Tarekat Abdi Kristus dengan jelas memaparkan bahwa para suster Abdi Kristus dalam pengabdiannya secara nyata tinggal dalam komunitas-komunitas, bertujuan untuk membangun nilai setidak-tidaknya sejauh yang diharapkan dari spiritualitas Kongregasi Abdi Kristus dalam upaya mengabdi Kristus demi Kerajaan Bapa sebagaimana dicerminkan oleh umat Kristen pertama. Dengan meneladani Bunda Maria, para suster Abdi Kristus membangun komunitas sebagai sarana pengudusan dalam panggilan kerasulan dengan menempatkan komunikasi sebagai hal utama agar komunitas mampu menghidupi para penghuninya.

  Berdasarkan Konstitusi Tarekat Abdi Kristus, Komunitas Abdi Kristus juga menjadikan pribadi Bunda Maria sebagai jiwanya, yaitu bahwa Maria berjiwa miskin karena menyebut dirinya Hamba, mampu memuji dan meluhurkan Allah, selalu menggantungkan diri pada kuasa dan rencana Allah ini. Jiwa miskin dari pribadi Bunda Maria inilah yang menjadi jiwa komunitas Abdi Kristus sehingga para suster merasa bebas terhadap keterbatasan dalam hidup, latarbelakang, kesehatan, lanjut usia, ketidakmampuan untuk menyelesaikan apa yang dinginkan, ketergantungan kepada orang lain. Ia dibebaskan dari rasa takut dan putus asa.

  Para suster Abdi Kristus menghayati persekutuan hidup dalam kasih sebagai komunitas secara nyata di dalam sebuah rumah biara yang bersifat rasuli, rumah doa, rumah komunitas kasih, rumah religius. Dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus dipaparkan harapan-harapan agar secara bersama-sama, para suster mengupayakan komunitas kasih dalam Roh dengan mengupayakan gaya hidup didasari oleh semangat Maria Hamba Allah yang hidup dalam kesederhanaan, percaya pada penyelenggaraan Ilahi, kerjasama dengan mengembangkan pola keibuan Maria dan peduli pada yang lemah.

  Dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus dipaparkan juga mengenai hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus yang didasari oleh Sabda Allah yaitu dengan cara terus-menerus merenungkan sabda Allah dengan khidmat dan ketulusan hati. Dengan begitu para suster Abdi Kristus layak dijadikan Bait Allah seperti Bunda Maria yang dijadikan tempat kediaman Allah , Sang Sabda dalam rahimnya. Selain itu komunitas Abdi Kristus diupayakan bersama menjadi ‘oase’ bagi kehidupan para suster Abdi Kristus, maksudnya adalah komunitas sungguh nyaman ditinggali oleh para anggotanya karena memberi kesegaran, kegembiraan dan kekuatan baru. Oleh karena itu perlu mengupayakan relasi yang baik dalam komunitas dengan memperhatikan kelebihan dan kelemahan diri dan sesama, sehingga tercipta suasana saling mendukung, saling mengasihi yang akan menjadi sumber kekuatan baru dalam pengabdian.

  Dalam laporan pertanggungjawaban Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus masa bakti 2002-2007 ditegaskan bahwa pembinaan terus-menerus atau ongoing formation sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas hidup iman dan kepribadian para suster Abdi Kristus untuk mendukung hidup berkomunitas para suster Abdi Kristus. Pembinaan terus-menerus ini menyangkut aspek kognitif, sosial, afektif, rohani, apostolik dan fisik yang telah dan akan dilaksanakan dalam berbagai bentuk kegiatan Kongregasi Biarawati Abdi Kristus sebagai gerakan pribadi maupun bersama para suster Abdi Kristus demi terwujudnya komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh.

  

BAB IV

SITUASI HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS A.

GAMBARAN SINGKAT KOMUNITAS-KOMUNITAS ABDI KRISTUS

Berdasarkan Katalog Suster-suster AK Per Januari 2012, pada tahun 2012, Kongregasi Abdi Kristus berkarya di 27 komunitas yang tersebar di 9 keuskupan di Indonesia. Biara pusat suster-suster Abdi Kristus berada di Komunitas Generalat Ungaran, dimana pimpinan umum, wakil dan stafnya tinggal. Di setiap komunitas

  selalu ada satu suster sebagai pimpinan komunitas, satu suster sebagai bendahara komunitas yang merangkap sebagai pengurus rumah tangga dan suster-suster sebagai anggota komunitas (Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2012: 1-16).

  Selain Komunitas Generalat, para suster pada umumnya berkarya di bidang pendidikan sebagai Kepala Sekolah, pengajar dan karyawan, di bidang kesehatan sebagai perawat dan bidan. Ada beberapa komunitas yang memiliki Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin. Sedangkan di bidang sosial beberapa komunitas mengelola asrama dan panti asuhan. Untuk karya di bidang pastoral, pada umumnya para suster terlibat dalam menemani katekumenat, penerima Komuni I dan Krisma. Para suster yang sudah lanjut usia terlibat dalam kerasulan doa (Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2012: 1-16).

  Di setiap komunitas biasanya beranggotakan suster yang sudah senior dan medior. Sedangkan suster yunior lebih banyak berada di komunitas yang ada di Keuskupan Agung Semarang. Hanya dua suster yunior yang saat ini ada di komunitas Depok dan Komunitas Tuban (Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2012: 1-16).

  Jumlah keseluruhan para suster Abdi Kristus menurut Katalog Suster-suster AK Per Januari 2012 adalah 153 dengan rincian 96 suster senior, 48 suster medior, 9 suster yunior. Suster senior adalah para suster yang telah hidup membiara selama lebih dari 25 tahun sejak mengikrarkan Tri Prasetya pertama, suster medior adalah suster yang telah hidup membiara selama 8-25 tahun sejak mengikrarkan Tri Prasetya pertama, sedangkan suster yunior adalah suster yang masih mengikrarkan kaul sementara selama 5 sampai 8 tahun (Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2012: 24-25).

  Rutinitas kegiatan dalam rangka pembinaan terus-menerus di setiap komunitas pada umumnya sama, yaitu rekoleksi bulanan, retret tahunan yang dipusatkan di Jawa Tengah secara bergantian di atur oleh staf Kongregasi Biarawati Abdi Kristus. Pada kesempatan tertentu, berdasarkan kesepakatan antar komunitas di rayon tertentu, biasanya diadakan rekoleksi bersama antar komunitas dengan mengundang nara sumber. Misalnya, di rayon Jawa Timur, para suster secara rutin mengadakan pertemuan antar komunitas Abdi Kristus se-Jawa Timur dengan menghadirkan Bapa Uskup Malang. Waktu dan tempat pertemuan disepakati bersama dengan melihat jadwal yang disediakan oleh Bapa Uskup.

  Komunitas di Keuskupan Bogor dan Keuskupan Agung Semarang juga mengadakan pertemuan antar komunitas, biasanya mengundang salah satu Imam untuk memberi pembekalan atau menemani selama rekoleksi dengan tema tertentu. Komunitas Condronegaran, Wedi, Sangkalputung, Wonosari biasanya mengadakan rekoleksi bersama untuk menyambut pesta pelindung pertama Kongregasi Biarawati Abdi Kristus; Bunda Maria Menerima Kabar Sukacita sekaligus pembaharuan kaul. Rekoleksi ini terbuka bagi komunitas Abdi Kristus lainnya. Tempat dan waktu rekoleksi sesuai dengan kesepakatan bersama (Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2007: 9-11).

  Kegiatan komunitas dalam upaya peningkatan kualitas hidup pada dasarnya sudah diatur dari Biara Pusat. Meski begitu, para suster di masing-masing komunitas juga terbuka untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan di sekitar komunitasnya yang sekiranya mendukung dalam membekali hidup para suster baik pengetahuan, ketrampilan dan spiritual.

  B.

  

KEDEWASAAN BERKOMUNIKASI PARA SUSTER ABDI KRISTUS

DALAM HIDUP BERKOMUNITAS

  Kaum religius yang hidup dalam suatu komunitas dipanggil untuk membangun komunitas persaudaraan. Kualitas hidup dalam persaudaraan ditentukan oleh mutu komunikasi masing-masing pribadi. Komunikasi itu akan sungguh bermutu sejauh pihak-pihak yang terlibat saling mengomunikasikan diri secara benar. Untuk itu diperlukan kebebasan batin atau kemerdekaan pribadi. Kemerdekaan pribadi memerlukan proses pembinaan diri yang memakan banyak waktu.

  Dalam bagian ini, penulis akan memaparkan keprihatinan para suster Abdi Kristus yang terungkap dalam laporan pertanggungjawaban Dewan Pimpinan Umum periode 2002-2007 yang ditulis pada akhir Desember 2007 dan refleksi para suster Abdi Kristus menjelang kapitel umum V tahun 2008. Keprihatinan dan refleksi ini banyak memaparkan kualitas hidup yang tidak lepas dari hidup berkomunitas dan mutu berkomunikasi. Pada bagian berikutnya akan dipaparkan upaya peningkatan kualitas hidup berdasarkan keprihatinan dan refleksi para suster Abdi Kristus. Semua bagian yang dipaparkan dalam bab ini mengarah pada proses pengolahan hidup terus-menerus baik secara pribadi maupun bersama yang akan diusahakan dan ditingkatkan secara sungguh-sungguh oleh Kongregasi Biarawati Abdi Kristus dalam periode 2008-2013 dan periode selanjutnya.

1. Keprihatinan Kualitas Hidup Para Suster Abdi Kristus

  Berdasarkan Laporan Pertanggungjawaban Dewan Pimpinan Umum

  

Kongregasi Biarawati Abdi Kristus masa bakti 2002-2007 yang di laporkan oleh

  Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus (2007: 14-16), diungkapkan beberapa hal yang dipandang perlu mendapat perhatian khusus karena menjadi suatu keprihatinan kongregasi. Salah satu keprihatinan yang cukup mendasar adalah kualitas hidup para suster Abdi Kristus.

  Keprihatinan berkaitan dengan kualitas hidup para suster Abdi Kristus tampak dalam banyaknya konflik atau pertikaian yang sulit dihadapi atau diselesaikan.

  Banyaknya suster yang mengundurkan diri serta menurunnya panggilan juga merupakan keprihatinan kongregasi yang sangat erat hubungannya dengan kualitas hidup.

  Konflik lebih banyak terjadi karena sulitnya masing-masing pribadi dalam mengendalikan diri saat berelasi dengan sesama baik di dalam maupun di luar komunitas. Sikap, kata dan perbuatan sulit ditangkap oleh anggota komunitas tapi justru mengundang pertanyaan atau menjadi batu sandungan. ‘Masalah senioritas’ juga menjadi sumber konflik yang tidak bisa dihindari dan sulit diselesaikan karena masing- masing cenderung mempertahankan pendapatnya sendiri. Hal ini tampak dalam munculnya krisis kepercayaan terhadap para suster muda, sementara dari pihak ‘senior’ sendiri kurang memberi kesaksian yang mendukung hidup berkomunitas dan akhirnya menjadi krisis keteladanan. Konflik dalam komunitas ini terjadi karena kurangnya keterbukaan, saling pengertian dan komunikasi efektif serta bijaksana (Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2007: 14-15).

  Banyaknya calon dan suster yang keluar menjadi bahan refleksi para suster Abdi Kristus, “Apakah kualitas hidup para suster Abdi Kristus sedemikian buruk, sehingga lebih baik meninggalkan kongregasi?” Selama periode 2002-2007, telah 19 orang keluar/mengundurkan diri, terdiri dari 1 postulan, 7 novis, 3 suster yunior dan 5 suster kaul kekal. Pada umumnya pengunduran diri mereka disebabkan oleh kekurangmatangan pribadi, ketidakmampuan mengolah hidup (masa kecil, keadaan/latarbelakang keluarga), ketidakjelasan motivasi untuk hidup membiara dalam Kongregasi Biarawati Abdi Kristus. Kesaksian hidup para suster dan situasi komunitas yang tidak mau merengkuh anggotanya yang sedang menghadapi permasalahan berat juga ikut andil dalam membuat seseorang memutuskan untuk mengundurkan diri (Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2007: 15).

  Sementara banyak calon/suster keluar atau mengundurkan diri, keprihatinan lain yang muncul adalah menurunnya panggilan atau yang masuk sedikit, bahkan postulat sempat kosong pada periode 2006/2007. Jumlah anggota Kongregasi Biarawati Abdi Kristus pada tahun 2002 sebanyak 155, pada akhir tahun 2007 menjadi 156. Dari segi kuantitas menunjukkan kenaikan yang tidak berarti. Muncul pertanyaan, apakah hidup membiara sebagai suster Abdi Kristus telah kehilangan ‘keindahannya’ yaitu keindahan yang luntur karena adanya permusuhan antar para suster yang berkepanjangan, kurangnya kehangatan persaudaraan dalam komunitas- komunitas sehingga wajar bila tidak menarik minat para pemudi untuk bergabung? (Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, 2007: 16).

2. Refleksi Para Suster Abdi Kristus

  Dalam rangka persiapan Kapitel Umum V Kongregasi Biarawati Abdi Kristus pada tanggal 2-18 Januari tahun 2008, panitia persiapan Kapitel Umum V mengemas dan mengolah hasil refleksi para suster Abdi Kristus. Berikut ini adalah hasil refleksi para suster Abdi Kristus yang menekankan hidup dalam persekutuan. Komunikasi antar anggota para suster Abdi Kristus dalam komunitas dan dengan pimpinan banyak terungkap dalam refleksi ini. Hasil refleksi terbagi dalam 3 bagian, yaitu refleksi para suster yunior, refleksi para suster medior, refleksi kelompok para suster senior (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 3-55).

  Refleksi para suster, baik suster yunior, medior maupun senior selalu diawali dengan rasa syukur, yang pada umumnya mensyukuri rahmat panggilan menjadi Abdi Kristus melalui tubuh Kongregasi Biarawati Abdi Kristus. Para suster menyadari betul akan upaya terus-menerus yang dilakukan oleh Kongregasi Biarawati Abdi Kristus untuk meningkatkan kualitas hidup anggotanya.

  Para suster Abdi Kristus mengakui adanya perhatian yang cukup besar dalam hal rohani dan pengetahuan, sehingga semakin hari dibimbing dan dimampukan untuk berani menghadapi kesulitan-kesulitan, menerima dan mengolahnya. Selain itu kerendahan hati para suster Abdi Kristus semakin tampak karena pada umumnya mereka berkeyakinan bahwa pengalaman dan peristiwa apapun yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi sarana untuk mendewasakan iman dan kepribadian jika masing-masing pribadi memiliki kesadaran dan kesediaan diri terbuka untuk masuk dalam proses pembaharuan diri. a.

  Refleksi para suster yunior Dalam kehidupan sehari-hari di komunitas, para suster yunior pada umumnya menemukan adanya kesulitan untuk memahami saudari sekomunitas yang belum bersikap dewasa. Hal ini terungkap dalam Hasil Refleksi Suster-suster Abdi Kristus yang dikumpulkan dan disusun oleh Panitia Persiapan Kapitel Umum V (2008: 3-4). Para suster dalam refleksinya juga mengungkapkan harapan-harapannya, terutama dalam hidup berkomunitas. Kesulitan dan harapan- harapan para suster yunior tersebut adalah: 1) Kesulitan-kesulitan para suster yunior

  Kesulitan-kesulitan yang ditemui oleh para suster yunior dalam hidup bersama dalam komunitas-komunitas adalah: a) Komunikasi efektif dan bijaksana kurang dihidupi baik secara personal maupun bersama

  Komunikasi secara personal maupun bersama yang efektif dan bijaksana jarang terjadi dalam hidup bersama. Hal ini tampak dari sikap masing-masing pribadi yang mudah menilai laporan secara sepihak, tanpa mencari informasi yang benar. Dalam hidup bersama, para suster lebih percaya gosip daripada yang sebenarnya. Anggota komunitas yang sedang bermasalah tidak diajak berbicara dari hati ke hati, atau duduk bersama. Dalam kehidupan bersama, para suster Abdi Kristus di komunitas-komunitas lebih cenderung tidak mau mencari akar masalah ketika terjadi perselisihan atau kesalahpahaman dalam hidup bersama, tetapi apa yang terjadi atas anggota-anggota komunitas justru dijadikan bahan pembicaraan terus-menerus (ngrumpi, ngrasani), memberi cap dan tidak mau tahu kebenaran, negative thinking (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 3).

  b) Krisis kepercayaan baik antar anggota maupun dengan pimpinan komunitas Krisis kepercayaan terjadi karena pribadi yang dipercaya tidak mampu menyimpan rahasia, namun kelemahan yang terungkap saat berbagi rasa secara personal justru dijadikan bahan pembicaraan tidak terarah (gosip). Krisis kepercayaan ini mengakibatkan sulitnya para suster mempercayai teman sekomunitas dan memilih mempercayai teman di luar komunitas. Akibat selanjutnya adalah munculnya krisis keteladanan karena masing-masing pribadi tidak saling menghargai, lebih cenderung menutup diri/tidak terbuka, takut dan tidak ada kerendahan hati untuk meminta bantuan sesama suster.

  Krisis keteladanan ini dirasakan amat berat oleh para suster yunior dan berakibat melemahkan panggilan. Seringkali suster senior menuntut suster yunior untuk terbuka, namun mereka sendiri tidak mau merengkuh, tidak ramah dan mudah menghakimi, memojokkan dan mengungkit-ungkit kesalahan (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 3).

  c) Doa yang tidak menghidupi kebersamaan dalam komunitas Doa pribadi maupun doa bersama tidak sungguh-sungguh dihayati dan hanya menjadi rutinitas harian sehingga tidak memberi pengaruh positif bagi kehidupan pribadinya maupun dalam kebersamaan di komunitas. Masing-masing pribadi lebih menuruti kecenderungan diri mengikuti perasaannya. Perilaku yang tampak kemudian adalah kurang kontrol emosi yang mengakibatkan terjadinya pelecehan emosional yaitu adanya sikap mudah marah, berkata-kata dengan kasar dan arogan, menyakiti hati orang lain baik disadari maupun tidak disadari. Selain itu, tidak ada ketersalingan dalam memahami perbedaan latar belakang, cenderung menuntut orang lain, saling curiga, mudah tersinggung, sulit memaafkan dan tidak mau bertegur sapa (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 3).

  d) Masalah senioritas dan otoritas Munculnya gap antara suster yunior dan senior, anggota dengan pimpinan menjadi permasalahan dalam hidup berkomunitas. Suster yunior sering dipandang sebelah mata oleh pimpinan atau suster senior. Akibatnya, suster yunior merasa tidak dihargai dan

  

nglokro , merasa tidak berarti dan ingin lari dari komunitas atau terbersit untuk

  mengundurkan diri. Permasalahan otoritas tampak dalam situasi dimana suster yang mempunyai jabatan dan uang merasa berkuasa, tega mengorbankan teman sekomunitas demi kepentingan relasi pribadi (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 3). 2) Harapan-harapan para suster yunior

  Dalam kumpulan Hasil Refleksi Suster-suster Abdi Kristus yang dikemas oleh Panitia Persiapan Kapitel Umum V (2008: 4-7 ), para suster yunior mengungkapkan harapan-harapan demi terciptanya hidup berkomunitas yang memiliki kualitas hidup. Harapan-harapan akan bertumbuhnya kualitas hidup para suster dalam komunitas-komunitas Abdi Kristus yang terungkap dalam refleksi para suster yunior dapat dirangkum sebagai berikut: a) Pembinaan terus-menerus/ongoing formation sejak awal masa pendidikan sampai purna tugas

  Program pendampingan perlu ditingkatkan bagi para suster baik yunior, medior maupun senior. Oleh karena itu, diharapkan adanya pembinaan terus-menerus bagi para suster Abdi Kristus. Pembinaan ini diharapkan mampu membentuk pribadi yang berkualitas dan dewasa spiritual maupun emosional, sehingga mampu menyikapi permasalahan dengan bijaksana entah dalam tugas perutusan, doa maupun hidup bersama. Bahan rekoleksi komunitas yang disiapkan oleh tim spiritualitas diharapkan membantu komunitas-komunitas dimana masing-masing pribadi mengenal dan mengolah diri baik dari segi pengetahuan, spiritual maupun ketrampilan sehingga akhirnya mampu saling membentuk menjadi pribadi yang sungguh berkualitas.

  Pendamping yang mau merengkuh, bersahabat dengan siapa saja yang datang dari berbagai macam latarbelakang sangat dibutuhkan dalam proses pembinaan terus menerus. Selain itu, pendamping juga harus memiliki wawasan, ketrampilan, pengetahuan lebih luas dan spiritualitas yang mendalam sehingga sungguh-sungguh mampu mendampingi para suster Abdi Kristus dalam mengolah dirinya (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 4).

  b) Hidup para suster yang berkualitas Dalam hidup bersama, anggota komunitas diharapkan memiliki kualitas hidup baik spiritual, sosial maupun intelektual. Komunitas diharapkan selalu menghidupi musyawarah/dialog secara dewasa baik secara pribadi maupun bersama, dari hati ke hati, menampakkan hidupnya yang berkualitas.

  Hidup berkualitas yang diharapkan adalah hidup yang memampukan masing-masing pribadi membangun kepercayaan baik sesama anggota komunitas maupun dengan pimpinan sehingga tercipta komunitas yang saling terbuka, mau mengomunikasikan, saling mempercayai dengan mengembangkan budaya komunikasi yang sehat, bukan budaya mendiamkan. Jika ada permasalahan dibicarakan bersama, menemukan kebenaran dan solusi bersama. Diharapkan adanya kesadaran pribadi untuk memikirkan kepentingan kongregasi daripada mementingkan diri sendiri, tidak mudah mendiamkan, ribut dalam komunitas karena ketidakcocokan dan bekerja semau gue.

  Para suster yunior diharapkan memiliki keberanian untuk berbicara, memberi sumbangan, berpartisipasi menanggapi apa yang dibutuhkan oleh komunitas/kongregasi sebagai upaya peningkatan kualitas hidup bersama. Oleh karena itu diharapkan adanya pengolahan hidup yang saling melengkapi antara yunior, medior dan senior, dengan begitu tidak ada lagi masalah senioritas tetapi saling menghargai, saling melengkapi sebagai citra Allah dan sebagai Abdi Kristus (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 6-7).

  c) Bersama-sama mengupayakan komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh Komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh diharapkan diupayakan bersama dengan mengandalkan kekuatan doa yang sungguh dihayati. Komunitas kasih dalam Roh yang merupakan buah dari doa pribadi maupun bersama akan tampak dari sikap saling mengampuni, saling menghargai, mempercayai dan bisa dipercaya, tidak mudah menuntut, tetapi berani memulai yang baik dari dirinya sendiri, membuka diri bagi teman sekomunitas. Upaya komunitas yang seperti ini sungguh diharapkan memancarkan kasih yang penuh kegembiraan dalam roh dan memberi daya tarik bagi orang lain (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 7).

  b. Refleksi para suster medior Panitia Persiapan Kapitel Umum V (2008: 13-14; 24), dalam kumpulan Hasil

  Refleksi Suster-suster Abdi Kristus mengungkapkan bahwa para suster medior menemukan berbagai macam kesulitan hidup bersama yang disebabkan oleh ketidakdewasaan masing-masing pribadi dalam hidup bersama. Kesulitan hidup bersama ini menjadi keprihatinan dalam komunitas yang harus dicermati bersama. 1) Kesulitan-kesulitan para suster mudior

  Kesulitan-kesulitan para suster medior terutama dalam hidup berkomunitas adalah:

  a) Permasalahan dalam berelasi Dalam komunitas sulit terjadi komunikasi karena kesibukan masing-masing pribadi, perbedaan prinsip, cara berpikir dan bertindak, kesenjangan usia, watak dan latar belakang. Relasi antar pribadi dirasa kurang mendalam karena tidak ada ketersalingan untuk menghargai dalam berkomunikasi. Suster yang dalam berkomunikasi kurang lancar sering dijadikan kambing hitam.

  Permasalahan berelasi lainnya yang mempengaruhi hidup berkomunitas adalah adanya suster senior yang tidak mau mengomunikasikan dengan terbuka ketika terjadi permasalahan dengan suster muda, namun lebih cenderung ‘ngrasani’. Akibatnya suster muda menjadi serba salah dan tidak berkembang, tidak bisa maju karena merasa tertekan, terpojok, merasa tidak krasan dan akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Selain itu, para suster dalam komunitas tidak mampu mengekspresikan apa yang diperolehnya karena tidak ada kesempatan bercerita atau tertekan sehingga tidak bisa menjadi pribadi yang humoris untuk menciptakan suasana kegembiraan/ keceriaan (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 13).

  b) Luka batin yang belum terolah pada masa pendidikan Luka batin para suster yunior, maupun para suster berkaul kekal yang belum terolah mempengaruhi kualitas pribadi yang memprihatinkan. Para suster yang kurang dewasa cenderung sibuk dengan dirinya sendiri, cuek dengan kesibukan dan keadaan komunitas. Selain itu tampak juga kecenderungan para suster merasa paling benar, egois, menangnya sendiri, sulit mengampuni dan kurang terbuka. Keadaan seperti ini mengakibatkan suasana komunitas menjadi kaku, tidak ada jalinan komunikasi yang mendukung terciptanya kehangatan dan persaudaraan dalam komunitas (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 13-14).

  c) Krisis kepercayaan dan keteladanan Krisis kepercayaan dan keteladanan dalam komunitas seringkali disebabkan oleh pribadi yang awalnya dipercayai untuk berbagi beban, namun ternyata tidak bisa menyimpan rahasia akibatnya tidak ditemukan teman untuk bercerita, dialog dari hati ke hati, berbagi beban dalam komunitas. Komunitas diwarnai oleh prasangka/praduga yang tidak beralasan dan berakibat terjadinya kejenuhan dalam komunitas, hidup seenaknya, merasa sendiri dan tidak krasan, mencari penghiburan diluar komunitas dengan alasan agar mendapat peneguhan dan akhirnya muncul niat mengundurkan diri.

  Krisis kepercayaan dalam komunitas juga sering terjadi karena pimpinan komunitas yang kurang berpendirian dan membingungkan anggota. Bercerita dengan jujur dengan pimpinan komunitas, tapi justru memperoleh masalah baru karena dijadikan bahan pembicaraan yang tidak terarah.

  Keprihatinan terhadap suster yunior yang bersikap kurang tepat memunculkan kabar ‘minir’ yang tersebar di komunitas-komunitas lain, sementara itu, suster yunior sulit menemukan figur para suster medior, senior yang bisa menjadi teladan (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 4).

  2) Harapan-harapan para suster medior Para suster medior mempunyai harapan supaya dalam hidup berkomunitas tercipta komunitas kebersamaan yang terungkap dalam kumpulan Hasil Refleksi

  Suster-suster Abdi Kristus (2008: 16-17; 26).

  Berikut ini adalah harapan-harapan para suster medior secara umum yang dirindukan dan diupayakan untuk diwujudkan baik secara pribadi maupun bersama dalam hidup berkomunitas sebagai suster Abdi Kristus agar terciptalah komunitas yang penuh kasih kegembiraan dalam Roh: a) Rasa persaudaraan, kepekaan dan tanggap situasi

  Masing-masing dari para suster memiliki rasa persaudaraan dengan memupuk kepekaan dan tanggap situasi komunitas. Diharapkan, para suster berani keluar dari diri sendiri dan melihat kebutuhan teman sehingga tidak merasa sendirian namun sungguh mendapat perhatian yang merengkuh dalam komunitas.

  Kongregasi perlu memberi bantuan pengolahan secara khusus bagi para suster yang bermasalah (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 16).

  b) Kedekatan dengan Tuhan Kedekatan dengan Tuhan diharapkan membuahkan kualitas hidup para suster yang terpancar dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing pribadi diharapkan mampu menjadi teladan bagi yang muda, tidak ada lagi senioritas namun yang ada hanyalah partner yang mampu bekerjasama, saling mendukung, menghargai meng‘orang’kan dalam melayani Tuhan dan sesama. Para suster diharapkan menghidupi keutamaan-keutamaan, buah dari relasi dengan Allah, yaitu kesabaran, kerendahan hati, kemurahan hati, kerelaan untuk saling mendahului menyapa, melayani dan mudah memaafkan jika menemukan saudari sekomunitas melakukan kelalaian sehingga terciptalah komunitas kasih dalam Roh (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 16-17).

  c) Terbangunnya rasa saling mempercayai Rasa saling mempercayai dalam komunitas akan mendukung terjalinnya kasih persaudaraan yang tulus, karena masing-masing pribadi bisa dipercaya, mau saling terbuka. Dengan saling mempercayai, permasalahan hidup para suster Abdi Kristus dapat terolah dengan baik dan tidak dijadikan bahan pembicaraan tidak terarah. Para suster dalam komunitas mengupayakan bersama untuk menepis kesenjangan antara yang tua dan yang muda, bersama-sama memajukan dan memperkembangkan pelayanan melalui Kongregasi Biarawati Abdi Krsitus. Komunitas yang ada suster yuniornya, diharapkan mendukung panggilan dengan memberikan pendampingan semestinya. Oleh karena itu perlu mengaktifkan musyawarah komunitas agar terjadi dialog dan tidak terjadi kesenjangan antara suster yunior, medior maupun senior (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 16-17).

  d) Komunitas menghidupi dialog dari hati ke hati Para suster dalam komunitas jika sedang ada permasalahan antar pribadi, atau sedang bermasalah dengan lawan jenis (jatuh cinta) diharapkan mengadakan pembicaraan baik secara personal maupu bersama untuk mencari solusi terbaik. Komunitas diharapkan menghidupi dialog dari hati ke hati untuk menemukan akar permasalahannya dan pendampingan secara intensif terhadap saudari sekomunitas (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 16).

  c. Refleksi para suster senior

  Dalam kumpulan Hasil Refleksi Suster-suster Abdi Kristus (2008b: 39-43 ) juga diungkapkan permasalahan/ kesulitan yang menjadi keprihatinan sekaligus harapan-harapan yang ditemukan oleh para suster senior. Berikut ini adalah hasil refleksi para suster yang senior baik yang sudah maupun belum terungkap dalam refleksi-refleksi para suster yunior dan medior. 1) Kesulitan-kesulitan para suster senior

  Kesulitan-kesulitan para suster senior yang terungkap dalam refleksi cukup variatif. Kesulitan yang muncul juga berkaitan dengan kualitas hidup para suster Abdi Kristus dalam hidup berkomunias. Berikut ini adalah rangkuman kesulitan-kesulitan para suster senior yang terungkap dalam refleksi mereka yang dapat menjadi bahan refleksi bersama dalam upaya meningkatkan kualitas hidup sebagai Abdi Kristus.

  a) Kesulitan yang muncul dari dirinya sendiri Kesulitan ini tampak dari ketidakmampuannya mengalahkan diri sendiri.

  Ketidakmampuan mengalahkan diri tampak dalam sulitnya mengalahkan kemalasan, kurang peka bertindak untuk peduli sesama, tidak mau mengalah dan sabar untuk menerima orang lain, kesulitan menyesuaikan teman dan tempat baru termasuk kebiasaan-kebiasaannya.

  Para suster menyadari dirinya adanya kecendrungan mudah kecewa ketika keinginannya tidak terpenuhi, kecenderungan dalam diri untuk diakui, dihormati, diterima, untuk selalu sempurna, serba beres dan rapi. Dalam hidup bersama lebih mengikuti kecenderungan diri untuk menuntut orang lain supaya seperti dirinya sendiri, kecenderungan cinta diri sehingga kurang mampu mencintai orang lain dengan tulus/tanpa pamrih, kecenderungan mencela, tidak mau memberi pujian/penghargaan atas usaha teman sekomunitasnya. (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 39-40).

  b) Kesulitan dalam komunikasi Kesulitan dalam komunikasi terjadi karena pendapat tidak seiring.

  Musyawarah komunitas lebih didominasi oleh percekcokan, bertengkar dan mudah mendendam, tidak mau duduk bersama lagi baik saat doa maupun makan bersama. Budaya komunikasi pro aktif sulit ditemukan, kebanyakan para suster memilih diam, menunggu disapa oleh yang lainnya. Suster yang pendiam, tidak mau mengomunikasikan permasalahannya juga menjadikan para suster lainnya sulit untuk memahami apa yang terjadi. Ada kesan, suster yang pendiam karena kecenderungan cinta diri dan tidak mempercayai teman.

  Berkomunikasi juga menjadi sulit ketika berhadapan dengan pimpinan komunitas yang mudah meng’anak emas’kan salah satu anggotanya. Jika terjadi permasalahan dalam komunitas ada kesan membentuk ‘kubu’ dengan suster yang dipercayai saja, tanpa mau membicarakan secara umum dengan anggota komunitas untuk mencari solusi bersama. Akibat dari sikap pemimpin yang begini mengakibatkan suasana komunitas menjadi tegang, munculnya bisik-bisik yang mengundang prasangka buruk dalam hidup bersama. (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 39-42).

  c) Kebiasaan mencari aman Beberapa suster dalam komunitas seringkali mengelabuhi pimpinan atau para suster lain dengan menyembunyikan perbuatan yang kurang terpuji. Demi keselamatan dan kenikmatan pribadi tega menjelek-jelekkan teman sekomunitas di hadapan pimpinan komunitas. Banyak anggota yang memilih untuk ‘anut

  

grubyuk’ atau ikut-ikutan, tidak mempunyai pendirian, yang penting aman-aman

  dengan pimpinan komunitas, tidak berani mengatakan yang sebenarnya karena takut resiko (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 39).

  d) Kesulitan dalam membangun kasih penuh kekeluargaan Kasih dalam hidup berkomunitas sulit terbangun karena masing-masing anggota dalam komunitas sulit untuk memaafkan, merasa diri paling benar dan hebat. Suasana kekeluargaan dan merengkuh anggota baru terutama yang sedang menghadapi permasalahan sulit didapatkan dalam komunitas-komunitas. Mereka yang bermasalah cenderung dihindari, tidak mendapat perhatian sebagai anggota komunitas. Tidak ada dialog dari hati ke hati karena krisis kepercayaan terhadap teman sekomunitas, masing-masing mengutamakan kepentingannya sendiri sehingga tidak ada kebersamaan yang saling mendukung. Suasana ini mengakibatkan sulitnya membangun komunitas yang penuh kasih persaudaraan (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 40-41).

  e) Kesulitan dalam hal keterbukaan untuk pembaharuan diri Para suster yang sudah berkarya cukup lama, bahkan sudah purna tugas, seringkali masih membangga-banggakan masa lalu dan tertutup untuk hal-hal yang baru. Saling koreksi, saling memberi masukan sulit untuk diterapkan dalam kehidupann sehari-hari karena kurang mempercayai teman, merasa diri sudah benar (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 41). 2) Harapan-harapan para suster senior

  Pada umumnya para suster senior mengharapkan terciptanya komunitas yang dipenuhi kasih kegembiraan dalam Roh. Harapan-harapan ini terungkap

  Berikut ini adalah harapan-harapan para suster senior yang hendaknya terjadi dalam komunitas-komunitas Abdi Kristus di mana pun berada: a) Mewujudkan bersama komunitas kasih

  Dalam hidup berkomunitas hendaknya terus-menerus berusaha mewujudkan MK3R, yaitu mencitrakan komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh dengan membiasakan menghidupi komunikasi yang penuh kasih, mau bertegur sapa dengan ramah, mudah mengampuni, mau mengalah, memberi perhatian dan dukungan bagi saudari sekomunitasnya. Berupaya bersama membangun keluarga yang saling meneguhkan dalam hidup doa, bersama, karya. Menumbuhkan jalinan persaudaraan yang tulus, dapat saling mempercayai, bekerjasama, mengembangkan budaya positive thinking, memelihara kerukunan (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 51-53).

  b) Menghidupi musyawarah dalam komunitas Dalam musyawarah komunitas diharapkan kesediaan seluruh penghuni komunitas memberikan pandangan praktis, memberi bantuan, dorongan, semangat bagi para suster dalam hidup berkomunitas. Bagi suster yang sedang menghadapi permasalahan, diajak untuk berdialog dari hati ke hati untuk menemukan solusi, peneguhan dan semangat baru (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 52-54).

  c) Tidak ada kesenjangan antara suster yunior, medior maupun senior Dalam komunitas-komunitas Abdi Kristus diharapkan para suster Abdi

  Kristus tumbuh dan berkembang bersama dalam kasih persaudaraan sejati menemukan dan melaksanakan kehendak Allah. Semua suster dihargai sebagai pribadi/saudari sepanggilan, tanpa membeda-bedakan kedudukan dan tingkatan yunior, medior maupun senior. Dalam hidup berkomunitas para suster diharapkan saling mendukung dalam membentuk pribadi dalam pencapaian kedewasaan rohani maupun manusiawinya. Dengan demikian hidup para suster akan semakin berkualitas baik dari segi iman, pengetahuan maupun ketrampilan (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 54).

  d) Meneladani Maria Hamba Allah yang pendoa dan pekerja Para suster bersama-sama berupaya menyerupai Bunda Maria yang memiliki kerendahan hati, kehandalan (pinter, sederhana),kecekatan dan menjadikan Yesus sebagai pusat hidup. Dalam komunitas kasih, bersama-sama mengejar kesucian Allah dalam karya pengabdian sebagai seorang Abdi Kristus (Panitia Persiapan Kapitel Umum V, 2008: 55).

  Para suster Abdi Kristus, baik yunior, medior maupun senior pada umumnya mengusulkan supaya diadakan pembinaan atau pengolahan hidup terus-menerus atau

  

ongoing formation bagi seluruh anggota kongregasi agar semakin dewasa dan tangguh.

  Selain itu juga perlu diadakan penyegaran untuk mengolah kematangan pribadi.

  Dalam hidup berkomunitas diusulkan masing-masimg pribadi mengupayakan adanya komunikasi yang menghidupkan komunitas. Oleh karena itu, masing-masing pribadi perlu membuka diri untuk mengolah diri menjadi semakin dewasa agar dalam berkomunikasi dapat membangun hidup bersama secara bijaksana dan memancarkan kasih Allah sendiri. Semakin banyak anggota yang bersikap dewasa dan bijaksana baik dalam bersikap maupun berkomunikasi, kongregasi akan semakin bertumbuh dan berkembang pula dalam hidup doa, karya dan bersama.

BAB V USULAN PROGRAM PENGOLAHAN KEDEWASAAN BERKOMUNIKASI SEBAGAI SARANA HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS Pengolahan kedewasaan berkomunikasi para suster Abdi Kristus akan menjadi

  semakin nyata melalui pelaksanaan suatu program yang merupakan bagian dari pembinaan terus-menerus. Salah satu program pembinaan terus-menerus yang telah menjadi tradisi Kongregasi Biarawati Abdi Kristus adalah rekoleksi menyambut pesta pelindung pertama Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, Bunda Maria Menerima Kabar Sukacita pada setiap tanggal 25 Maret. Pada saat ini juga para suster Abdi Kristus memperbaharui kaul Tri Prasetya kepada Tuhan melalui tubuh Kongregasi Biarawati Abdi Kristus.

  Pada bab V ini penulis akan memaparkan sebuah usulan program untuk mendukung proses pelaksanaan rekoleksi menyambut pesta pelindung pertama, yaitu Bunda Maria menerima kabar suka cita dan pembaharuan kaul. Program yang penulis usulkan menggunakan model Shared Christian Praxis (SCP) dengan tidak meninggalkan tradisi Kongregasi Biarawati Abdi Kristus dalam rekoleksi bulanan. Penulis mengawali bab V ini dengan penjelasan latar belakang dari usulan program, dilanjutkan dengan memaparkan alasan dan tujuan diadakan program pengolahan kedewasaan berkomunikasi Abdi Kristus. Bagian berikutnya, penulis memaparkan petunjuk tentang pelaksanaan program, berisi tentang langkah-langkah model katekese

  

Shared Chritian Praxis (SCP) dan susunan acara rekoleksi. Penjabaran program

  rekoleksi dan salah satu contoh satuan pelaksanaan rekoleksi komunitas dalam rangka menyambut pesta Bunda Maria dan menerima kabar sukacita dan pembaharuan kaul akan dipaparkan dalam bagian-bagian selanjutnya.

  A. LATAR BELAKANG USULAN PROGRAM

  Berdasarkan keprihatinan dan refleksi para suster Abdi Kristus yang telah dipaparkan dalam bagian awal bab ini, dapat ditangkap adanya kerinduan para suster Abdi Kristus untuk hidup di dalam komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh. Kendala yang paling menonjol untuk mewujudkan kerinduan itu adalah banyaknya permasalahan- permasalah pribadi maupun sesama anggota dalam komunitas yang belum terolah. Reaksi dan sikap yang tampak akibat belum terolahnya permasalahan tersebut salah satunya adalah cara berkomunikasi yang kurang bijaksana dan efektif yang mengakibatkan hidup berkomunitas menjadi kering dan tidak mendukung masing-masing anggota untuk menanggapi panggilan Tuhan sebagai Abdi Kristus seperti yang dicita-citakan oleh Kongregasi Biarawati Abdi Kristus.

  Kerinduan para suster Abdi Kristus untuk hidup dalam komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh dihadapkan pada kendala utama yaitu cara berkomunikasi yang tidak bijaksana dan kurang efektif akibat permasalahan pribadi dan bersama yang belum terolah inilah yang menjadi latar belakang penulis mengusulkan program.

  B. ALASAN DAN TUJUAN DIADAKAN PROGRAM PENGOLAHAN

KEDEWASAAN BERKOMUNIKASI PARA SUSTER ABDI KRISTUS

  Penulis mengusulkan program pengolahan kedewasaan berkomunikasi bagi para suster Abdi Kristus dengan alasan bahwa komunikasi adalah sarana penting untuk membangun hidup berkomunitas. Oleh karena itu perlu diadakan pengolahan kedewasaan yang mengangkat komunikasi yang seharusnya muncul dari kedalaman kepribadiannya yang terolah sehingga komunikasi yang terjadi adalah komunikasi yang efektif, bijaksana dan berdaya guna membangun komunitas seperti yang dicita-citakan bersama.

  Para suster Abdi Kristus pada dasarnya telah menghidupi semangat kongregasi yang diteladankan melalui Bunda Maria Hamba Allah. Bunda Maria yang berjiwa miskin, mengandalkan kekuatan Allah dalam menerima tugasnya sebagai Bunda penyelamat adalah pribadi yang selalu menyimpan dalam hati, mengolah segala peristiwa dalam seluruh hidupnya. Demikian pula, para suster Abdi Kristus diharapkan semakin menyerupai Bunda Maria Hamba Allah dalam mengolah hidup sebagai Abdi Kristus sehingga mempengaruhi cara bersikap dan berkomunikasi dalam hidup sehari-hari yang memancarkan kasih Allah.

  Berdasarkan latar belakang yang menekankan adanya kerinduan para suster Abdi Kristus untuk membangun komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh yang menemukan kendala dalam cara berkomunikasi karena permasalahan pribadi maupun bersama yang belum terolah dan alasan pentingnya komunikasi sebagai sarana hidup berkomunitas serta kesadaran para suster Abdi Kristus untuk memperbaharui hidup seturut teladan Bunda Maria sebagai Hamba Allah, pelindung pertama Kongregasi Biarawati Abdi Kristus inilah, penulis mengusulkan sebuah program pengolahan kedewasaan berkomunikasi sebagai sarana hidup berkomunitas.

  Usulan program dilaksanakan melalui salah satu program pembinaan hidup terus menerus Kongregasi Biarawati Abdi Kristus yaitu rekoleksi komunitas menyambut hari raya Bunda Maria menerima kabar sukacita dan pembaharuan kaul para suster Abdi Kristus, dilaksanakan selama tiga hari menjelang setiap tanggal 25 Maret. Usulan program pengolahan kedewasaan berkomunikasi dalam hidup berkomunitas melalui rekoleksi komunitas menyambut hari raya Bunda Maria menerima kabar sukacita dan pembaharuan kaul dilaksanakan di komunitas suster- suster Abdi Kristus Condronegaran.

C. RUMUSAN TEMA DAN TUJUAN

  Tema Umum Bersama Bunda Maria Memperbaharui Tri Prasetya dan : Membangun Komunitas Kasih Penuh Kegembiraan dalam Roh

  Tujuan Umum Melalui rekoleksi komunitas menyambut hari raya Bunda Maria menerima kabar sukacita, para suster Abdi Kristus dibantu dalam memperbaharui penghayatan Tri Prasetya hidup membiara dengan mengolah kedewasaan berkomunikasi sebagai sarana membangun komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh

  :

  • Tema 1 : Pertumbuhan dan Pematangan Pribadi Melalui Komunitas Tujuan 1 Bersama peserta, para suster Abdi Kristus menyadari pentingnya mengolah diri terus-menerus sehingga bertumbuh dan matang dalam proses penerimaan diri sesama

  : melalui hidup berkomunitas :

  • Tema 2

  Membangun Komunitas Terbuka Seturut Teladan Bunda Maria Tujuan 2 Bersama peserta, para suster Abdi Kristus semakin menyadari pentingnya membangun komunitas terbuka sehingga seturut teladan BundaMaria mampu

  : memperbaharui diri terus menerus Tema 3 Berkomunikasi Membangun Komunitas Kasih Penuh

  • :

  Kegembiraan dalam Roh Tujuan 3 Bersama peserta, para suster Abdi Kristus menyadari pentingnya komunikasi efektif dan bijaksana sehingga mampu saling mendukung dan melengkapi dalam upaya membangun

  : komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh

D. PETUNJUK PELAKSANAAN PROGRAM

  Petunjuk pelaksanaan program terdiri dari dua bagian yaitu langkah-langkah Shared

  

Christian Praxis (SCP) yang merupakan salah satu model berkatekese untuk membantu

  peserta mendalami tema pertemuan dan garis besar susunan acara rekoleksi komunitas yang akan dilaksanakan selama tiga hari di komunitas Condronegaran, Yogyakarta.

1. Langkah-langkah Shared Christian Praxis (SCP)

  Pada bagian ini penulis memaparkan langkah-langkah model Shared Christian Praxis

  

(SCP). Model katekese Shared Christian Praxis ini digunakan dengan harapan dapat

membantu para suster mengolah topik langkah per langkah dalam rekoleksi tiga hari.

  a. Langkah I: Mengungkap pengalaman hidup peserta Para peserta diajak untuk mengungkapkan pengalaman hidup dan keterlibatan dalam bentuk cerita, puisi, nyanyian, tayangan inspiratif dan lain-lain. Langkah ini membantu peserta untuk mengungkapkan pengalaman hidup faktual (fakta). Dengan cara ini diharapkan peserta menjadi sadar dan bersikap kritis pada pengalaman hidupnya sendiri. Peserta diharapkan juga untuk saling membagikan pengalaman hidup yang sungguh-sungguh dialami dan tidak boleh ditanggapi sebagai suatu laporan (Sumarno Ds, 2011: 19).

  b. Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman hidup mereka.

  Langkah II ini mendorong peserta untuk lebih aktif, kritis, dan kreatif dalam memahami serta mengolah hidup (Sumarno Ds, 2011: 20).

  c. Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani Pokok langkah ini adalah mengusahakan supaya Tradisi dan Visi kristiani menjadi lebih terjangkau dan lebih mengena untuk kehidupan peserta yang konteks dan latar belakang kebudayaannya berlainan (Sumarno Ds, 2011: 20-21). d. Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani dalam situasi peserta konkret Langkah ini mengajak peserta supaya dapat meneguhkan dan memperkembangkan pokok yang ditemukan pada langkah pertama dan kedua yang selanjutnya pokok-pokok itu dikonfrontasikan dengan hasil interpretasi Tradisi dan Visi kristiani dari langkah ketiga. Para peserta diajak untuk menemukan bagi dirinya sendiri nilai hidup yang hendak digarisbawahi, sikap-sikap pribadi yang picik yang hendak dihilangkan dan nilai-nilai baru yang hendak diperkembangkan (Sumarno Ds, 2011: 21-22).

  e. Langkah V: Mengusahakan suatu aksi konkret Langkah terakhir ini bertujuan mendorong peserta supaya sampai pada keputusan konkret bagaimana menghidupi iman Kristiani pada konteks hidup yang telah dianalisa dan direfleksi secara kritis (Sumarno Ds, 2011: 22).

  2. Susunan Acara Rekoleksi Garis besar susunan acara dalam rekoleksi komunitas untuk menyambut hari raya

  Bunda Maria menerima kabar sukacita dan pembaharuan kaul para suster Abdi Kristus selama tiga hari adalah hari pertama diawali dengan pembukaan rekoleksi, dilanjutkan dengan pertemuan pertama untuk mendalami tema 1, tentang pematangan dan pertumbuhan pribadi melalui komunitas dengan menggunakan katekese model

  

Shared Christian Praxis (SCP). Setelah makan malam, tim pendamping memberikan

  puncta berupa bahan doa, bacaan rohani dan materi yang akan dilaksanakan pada hari kedua, kemudian ditutup dengan doa malam bersama.

  Hari kedua, diawali dengan Ibadat pagi bersama pada pukul 04.30 Wib. dilanjutkan dengan Perayaan Ekaresti di Gereja Paroki Hati Kudus Yesus. Makan pagi dan meditasi di atur sendiri-sendiri. Pertemuan kedua dengan tema 2: Membangun Komunitas Terbuka Seturut Teladan Bunda Maria dilaksanakan pada pukul 08.30 sampai 10.00 Wib. Pertemuan kedua ini juga menggunakan katekese model Shared Christian Praxis

  

(SCP). Ibadat sore dilaksanakan bersama-sama pada pukul 17.30. Pertemuan dilanjutkan

  setelah makan malam pada pukul 20.00 Wib, diisi dengan sharing singkat pengalaman selama sehari itu, puncta, pengarahan tentang pelaksanaan emausan yang bisa dilaksanakan mulai malam kedua ini. Doa penutup dilaksanakan secara pribadi atau berdua dengan pasangan emausan.

  Hari terakhir pertemuan dengan tema: Berkomunikasi Membangun Komunitas Kasih Penuh Kegembiraan dalam Roh diawali dengan Ibadat harian secara pribadi.

  Pertemuan pada hari ketiga tidak menggunakan katekese model Shared Christian

  

Praxis (SCP) namun lebih menggunakan tradisi komunitas saat menutup rekoleksi,

  yaitu dengan doa Rosario bersama, sharing pengalaman, membangun niat bersama dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi menyambut hari raya Bunda Maria menerima kabar sukacita dan pembaharuan kaul. Seluruh rangkaian jalannya Perayaan Ekaristi sekaligus upacara pembaharuan kaul dilaksanakan dengan mengikuti tradisi Kongregasi Biarawati Abdi Kristus yang selama ini dilaksanakan. Seluruh niat-niat baik pribadi maupun bersama dipersembahkan dalam Perayaan Ekarsti dengan harapan agar para suster Abdi Kristus selalu terbuka akan bimbingan Roh Allah dan bersama Bunda Maria memperbaharui diri dengan mengedepankan kedewasaan berkomunikasi sebagai sarana hidup berkomunitas.

E. PENJABARAN PROGRAM

  Tema Umum : Bersama Bunda Maria Memperbaharui Tri Prasetya dan Membangun Komunitas Kasih Penuh Kegembiraan dalam Roh Tujuan Umum : Melalui Rekoleksi komunitas menyambut hari raya Bunda Maria menerima kabar sukacita, para suster Abdi

  Kristus dibantu dalam memperbaharui penghayatan Tri Prasetya hidup membiara dengan mengolah kedewasaan berkomunikasi sebagai sarana membangun komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh

  Tema Pertemuan Tujuan Pertemuan Uraian Materi Metode Sarana Sumber Bahan

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

  1.Pertumbuhan dan  Bersama peserta,  Mendalami  Menonton  LCD  Mat 9:9-13 Pematangan Pribadi para suster Abdi tayangan inspiratif  Sharing  Slide “Sang Martin Harun.

   Tanya jawab Melalui Komunitas Kristus menyadari “Siklus Hidup Elang” (2001: 73-77).

    Refleksi pentingnya Elang” K Konstitusi

   Menyadari  Informasi mengolah diri terus- itab Tarekat Abdi menerus sehingga keterbatasan diri Suci Kristus (1996: bertumbuh dan dan sesama  Konstitusi 216, 266-279).

   Sharing  Kitab Suci matang dalam proses penerimaan diri dan pengalaman hidup sesama melalui bersama

  

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

   Membangun hidup berkomunitas keterbukaan untuk bertobat dengan belajar dari Matius  Menemukan alasan untuk beryukur sebagai Abdi Kristus.

   Masukan dan penegasan dari pendamping.

  2. Membangun Komunitas  Bersama peserta,  Mendalami Film  Menonton  Film “Doubt”  Film “Doubt” Terbuka Seturut Teladan para suster Abdi “Doubt”,  Sharing  Konstitusi  Konstitusi Bunda Maria

   Tanya jawab  Kitab Suci Kristus semakin mengarah pada

  Tarekat Abdi

   Informasi cara  Doa &Refleksi menyadari

  Kristus ( 1995: pentingnya komunikasi yang  Informasi 236-237).

  membangun saling  Bernyanyi komunitas terbuka membentuk sehingga seturut dalam hidup teladan Bunda berkomunitas. Maria mampu memperbaharui diri terus-menerus

  

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

   Sharing pengalaman keterbukaan hidup komunitas  Mendalami Kons. no. 236- 237.  Sharing pengalaman meneladani Bunda Maria.

   Sharing  Bersama peserta,  Bernyanyi  Lagu

  3. Berkomunikasi pengalaman hasil Membangun Komunitas para suster Abdi  Sharing “Magnifikat”

  “Emausan”

  Kasih Penuh Kegembiraan Kristus menyadari  Doa bersama  Buku doa dalam pleno, dalam Roh pentingnya harian buah-buah komunkasi efektif rekoleksi dan bijaksana

   Membangun niat sehingga mampu bersama saling mendukung  Peneguhan dan melengkapi dalam upaya membangun komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh.

F. CONTOH SATUAN PELAKSANAAN

  Berikut ini adalah salah satu contoh satuan pelaksanaan rekoleksi. Contoh satuan pelaksanaan rekoleksi akan dilaksanan pada hari kedua.

1. Identitas Pertemuan

  a. Tema Pertemuan : Bersama Bunda Maria membangun Komunitas Terbuka

  b. Tujuan : Bersama peserta, para suster Abdi Kristus semakin menyadari pentingnya membangun komunitas terbuka sehingga seturut teladan Bunda Maria mampu memperbaharui diri terus menerus.

  c. Peserta : Para suster Abdi Kristus Kom. Condronegaran

  d. Tempat : Komunitas Abdi Kristus Condronegaran

  e. Waktu : 24 Maret 2013, Pukul 17.00-21.00

  f. Model : Shared Christian Praxis

  g. Metode : Menonton, sharing pengalaman, tanya jawab, refleksi pribadi, informasi h. Sarana : Film “Doubt” Kitab Suci Perjanjian Baru, Gitar

  Konstitusi Tarekat Abdi Kristus i. Sumber Bahan : Konstitusi Tarekat Abdi Kristus. (1995),

  No. 236-237,

2. Pemikiran Dasar

  Komunitas terbuka adalah komunitas yang mau membuka diri bagi lingkungan masyarakat dan Gereja dengan semangat persaudaraan yang harus dipupuk terus-menerus bersumber dari komunitas. Oleh karena itu sikap terbuka dalam komunitas sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan semangat persaudaraan dalam hidup bersama yang akan memancar dalam hidup bersama di lingkungan masyarakat dan Gereja. Kenyataan yang sering terjadi dalam hidup berkomunitas adalah relasi dalam komunitas menjadi retak karena kurangnya keterbukaan yang saling mambangun satu sama lainnya, sehingga sering muncul kesalahpahaman, curiga, dendam atau sikap ngambek. Sikap yang demikian sungguh sia-sia, menguras waktu dan melemahkan semangat hidup.

  Sikap terbuka adalah sikap jujur, penuh kasih persaudaraan, pengampun, mau kerjasama, penuh pengorbanan, saling pengertian serta keterlibatan satu sama lain. Untuk itu diperlukan adanya kesediaan diri untuk mengolah diri, menyadari akan kelemahan diri dan terbuka untuk diperbaharui terus-menerus dalam hidup berkomunitas.

  Bagaimana para suster Abdi Kristus berupaya membangun komunitas terbuka yang saling mendukung satu dengan yang lainnya, dalam rekoleksi ini para suster akan dibantu melalui Film ‘Doubt’. Film ‘Doubt’ ini intinya berisi tentang kehidupan berkomunitas yang saling membentuk melalui relasi dan sikap hidup. Kita juga akan mendalami bersama Konstitusi Tarekat Abdi Kristus no. 236 dan no. 237. Kutipan ini mau mengajak para suster untuk meneladani Maria yang mau mengolah diri sehingga menjadi pribadi yang pro aktif, yaitu pribadi yang menyimpan dalam hati dan mengolahnya dengan berdialog/berelasi mendalam dengan malaikat yang diutus oleh Allah Bapa. Kepribadian Bunda Maria yang pro aktif ini, menjadikan Maria bunda yang tidak menuntut apa yang dikehendaki Allah sesuai dengan keinginannya, namun setelah mengadakan dialog dengan malaikat yang diutus oleh Allah, Maria berani memasuki misteri Ilahi yang terkuak melalui berbagai macam peristiwa saat hidup bersama Yesus sejak mengandung di rahimnya sampai kebangkitan-Nya.

  Rekoleksi pertemuan hari kedua ini diharapkan akan membantu para suster Abdi Kristus komunitas Condronegaran semakin menyadari pentingnya komunitas terbuka agar seturut teladan Bunda Maria mampu memperbaharui diri terus-menerus.

3. Pengembangan Langkah-langkah

  a. Pembuka 1) Pengantar

  Para suster yang terkasih dalam Kristus, pada pertemuan hari kedua ini, kita semua akan menindaklanjuti proses pertobatan kita dengan berani melihat lebih dalam kesadaran kita dalam hidup berkomunitas yang sudah seharusnya semakin terbuka. Kita semua tentu menyadari bahwa jika kehidupan berkomunitas sehat, dipenuhi dengan kasih persaudaraan yang tulus kehidupan bermasyarakat dan menggerejapun akan sehat. Komunitas menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk memberi kesaksian hidup bagi sesama di luar komunitas.

  Film ‘Doubt’ akan ditayangkan untuk membantu kita mendalami kehidupan berkomunitas kita. Film ‘Doubt’ ini intinya berisi tentang kehidupan berkomunitas yang saling membentuk melalui jalinan relasi. Bersama Bunda Maria yang akan kita renungkan dalam Konstitusi Tarekat Abdi Kristus no. : 236- 237 kita akan diajak untuk megolah diri, menjadi pribadi yang memiliki iman sederhana, menggantungkan diri kepada kuasa dan keagungan Ilahi, yaitu bisa menyimpan dalam hati segala peristiwa yang dihadapinya, mengolahnya dengan penuh iman sehingga membuahkan keselamatan bagi sesama. Buah keselamatan akan mengalir melalui sikap dan cara bertindak dari kedalaman hati kita.

  Kita semua berharap, melalui rekoleksi ini, kita akan semakin terbantu dalam membangun kesadaran akan pentingnya komunitas terbuka agar seturut teladan Bunda Maria mampu memperbaharui diri terus-menerus.

  2) Doa pembuka Bersama peserta, pemandu mengajak berdoa untuk membuka pertemuan.

  Berikut ini salah satu contoh doa pembuka untuk memasuki proses pertemuan: Puji dan syukur kami haturkan kepada-Mu ya Bapa atas berkat melimpah yang senantiasa Engkau anugerahkan kepada kami, secara khusus anugerah panggilan-Mu kepada kami sebagai Abdi Kristus meneladani Bunda Maria melalui Kongregasi Biarawati Abdi Kristus ini. Bapa kami sungguh menyadari dalam hidup berkomunitas khususnya di komunitas Condronegaran ini kami seringkali mengalami kesulitan untuk membangun komunitas yang terbuka, sehingga kurang mampu meneladani Bunda Maria dalam memperbaharui hidup terus-menerus. Oleh karena itu, kami mohon kepada-Mu ya Bapa terang Roh Kudus-Mu agar melalui pertemuan ini, kami dimampukan untuk semakin menyadari pentingnya membangun hidup berkomunitas yang terbuka, saling mendukung dan menumbuhkembangkan melalui tutur kata dan sikap hidup kami yang keluar dari kedalaman hati kami yang sudah terolah. Bersama Bunda Maria, hantarkanlah kami untuk meneladani sikap hidupnya yang mau menyimpan dan mengolah dalam hati dan menggantungkan dirinya pada kehendak-Nya sehingga kami dimampukan untuk memperbaharui diri terus-menerus dalam komunitas yang semakin terbuka. Kami pasrahkan seluruh perjalanan pertemuan ini dalam kuasa-Mu ya Bapa. Bersama Bunda Maria doa ini kami haturkan dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

  b. Langkah I. Mengungkap pengalaman hidup peserta 1) Pendamping menampilkan film ‘Doubt”, durasi waktu 50 menit.

  2) Intisari film ‘Doubt’ Sr. Aloysius sebagai pimpinan komunitas menampakkan sikap yang kurang terpuji. Dalam hidup bersama, ia memang mau terbuka kepada sesama suster akan peristiwa yang dia alami, baik secara bersama maupun pribadi. Namun isi pembicaraan yang ia sampaikan lebih cenderung berkonotasi negatif yang diikuti dengan sikap yang keras kepala, mempertahankan pendapat yang menurutnya benar. Apa yang dia sampaikan dan sikap kerasnya terhadap Rm. Flin dan anak- anak didiknya selalu memunculkan pergulatan bagi yang mendengarkan hidup bersamanya khususnya suster yang masih muda, Sr. James antara suara hatinya dan ketaatan kepada pimpinan. Banyak ungkapan Sr. Aloysius yang bertentangan dengan suara hati lawan bicaranya dan disimpulkan sebagai gosip karena tidak sesuai dengan kenyataan. Keterbukaannya dalam berelasi dan bersikap justru menjadi penghambat bagi orang lain untuk berkembang, karena selalu dipenuhi oleh persepsinya sendiri yang belum tentu benar dan sikap keras kepala, tidak mau menerima pendapat orang lain.

  Sr. Aloysius yang pada awalnya begitu tegar mempertahankan ungkapan- ungkapan, dugaan-dugaan negatif tentang Rm. Flin dan kuat dengan sikap dan niatnya untuk menyingkirkan Rm. Flin akhirnya merasa tak berdaya setelah tahu bahwa apa yang dia lakukan tidak membuahkan hasil seperti yang dia harapkan, yaitu tersingkirnya Rm. Flin baik dalam tugas barunya ataupun dalam relasi dengan sesamanya. Dalam kenyataannya Rm. Flin terbukti tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan Sr. Aloysius terhadapnya.

  Sr. Aloysius akhirnya menyadari dan dengan rendah hati berbicara dari hati ke hati tentang kelemahannya dengan Sr. James, suster yang paling muda bahwa di balik sikapnya yang keras, di balik ketegasan dalam bertindak, sebetulnya ia mengalami keraguan yang mendalam. Banyak permasalahan di masa lalu yang belum terolah dan masih berpengaruh hingga saat ini yang tampak dalam sikap- sikap dan tutur kata yang kurang terpuji sebagai biarawati yaitu kecenderungannya untuk menyakiti orang lain, anak didiknya. 3) Pengungkapan pengalaman: Peserta diajak untuk mendalami film “Doubt”, dengan panduan beberapa pertanyaan sebagai berikut: a) Ceritakanlah keterbukaan Sr. Aloysius dalam hidup berkomunitas?

  b) Ceritakanlah keterbukaan para suster Abdi Kristus dalam hidup berkomunitas?

  4) Suatu contoh arah rangkuman Sr. Aloysius yang telah dipercaya sebagai pimpinan komunitas, berarti pula telah menjalani hidup sebagai religius cukup lama ternyata memiliki luka batin yang mendalam yang selama ini tidak terolah dan muncul amat kuat ketika ia berhadapan dengan peristiwa yang mengingatkannya pada masa lalu. Keterbukaan dalam komunitas yang muncul dari Sr. Aloysius selalu diwarnai oleh dugaan- dugaan buruk terhadap orang lain yaitu Rm. Flin yang seharusnya menjadi mitra kerja sebagai Romo Paroki, anak-anak didiknya dll. Ia selalu dipenuhi oleh persepsinya sendiri yang belum tentu benar sehingga kata-kata dan sikap yang muncul menghambat orang lain untuk berkembang. Apa yang dikatakannya banyak bertentangan dengan suarahati lawan bicaranya, Sr. James.

  Setelah mengalami peristiwa yang jauh dari hadapannya, Sr. Aloysius jakhirnya mau mengakui kelemahannya dan terbuka dengan Sr. james.

  Keterbukaan Sr. Aloysius ini berasal dari kedalaman hatinya yang mengalami keraguan akibat permasalahan di masa lalu yang belum terolah. Ia dengan rendah hati mau terbuka dengan berdialog dari hati ke hati secara pribadi dengan Sr. James, anggota komunitasnya yang paling muda.

  Kitapun yang telah dipanggil menjadi para suster Abdi Kristus, baik sebagai yunior, medior maupun senior, dalam membangun keterbukaan di komunitas seringkali tidak membuahkan hal yang baik atau justru menghambat orang lain untuk berkembang seperti suka menghakimi teman sekomunitas dengan menyebarkan cerita-cerita buruk, mudah menaruh curiga teman sekomunitas tanpa mau cari tahu yang sebenarnya, keras kepala, bersikap tertutup tidak mau menerima masukan dari orang lain. Intinya, kita sering dibelenggu oleh persepsi negatif kita. Kita kurang menyadari bahwa diri kita penuh dengan luka-luka batin di masa lalu, entah sebelum masuk biara maupun sesudah masuk biara yang belum terolah dengan baik, yang mengakibatkan orang lain menjadi korban. Komunitas yang terjadi lebih diwarnai oleh kecurigaan dan hasutan agar orang lain menyetujui persepsi dan sikap kita yang belum tentu benar. Komunitas yang demikian tentu sungguh bukan komunitas yang terbuka sehingga masing-masing sulit untuk memperbaharui diri.

  c. Langkah II : Mendalami pengalaman hidup peserta 1) Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman di atas dengan dibantu pertanyaan sebagai berikut : a) Cara mana yang dilakukan Sr. Aloysius untuk membangun keterbukaan dalam komunitas? b) Cara mana yang dilakukan para suster Abdi Kristus untuk membangun keterbukaan dalam komunitas? 2) Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping memberi arahan rangkuman singkat, misalnya :

  Pada awalnya, Sr. Aloysius dalam membangun keterbukaan tidak berbuah baik karena selalu diwarnai oleh kecurigaan dan sikap keras kepala, tidak mau menerima masukan dari orang lain. Namun pada akhirnya Sr. Aloysius mengalami titik puncak keraguan dan mengalami ketidakberdayaan yang membuatnya dan dengan rendah hati mau bercerita dari hati ke hati kepada Sr. James. Keberanian mengakui kelemahan dirinya menjadi langkah awal menyadari permasalahan pribadinya yang belum terolah. Dengan dialog dari hati ke hati akhirnya terbangun keterbukaan antara Sr. Aloysius dan Sr. James dengan saling meneguhkan satu dengan lainnya dan bersama-sama memperbaharui diri.

  Para suster Abdi Kristus dalam kehidupan sehari-hari juga mengalami kesulitan membangun keterbukaan dalam komunitas sehingga tidak membuahkan kebaikan, misalnya dengan saling menjatuhkan, menghakimi, diwarnai prasangka buruk, menyampaikan sesuatu dengan kata-kata yang menyakitkan dll.

  Namun kita sebagai suster-suster Abdi Kristus tentu menyadari bahwa sikap yang demikian akan menghambat kita untuk bertumbuh dalam proses pembaharuan diri. Oleh karena itu, kita berdialog dari hati ke hati mengakui kelemahan diri dan mengolahnya sehingga yang keluar dalam sikap dan cara berelasi kita membuahkan hasil yang mampu saling memperkembangkan. Dengan demikian para suster Abdi Kristus semakin menyadari pentingnya komunitas terbuka sehingga mampu memperbaharuidiri terus-menerus.

  d. Langkah III : Menggali pengalaman iman Kristiani 1) Salah satu peserta dimohon bantuannya untuk membacakan Konstitusi no.

  236 dan no. 237.

  a) Konstitusi Tarekat Abdi Kristus no. 236 Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya (Luk 2:19;51). Itulah tindakan utama Bunda Maria dalam menghayati panggilannya sehari-hari, terutama bila dia masuk ke dalam kegelapan pada perjalanan iman dan penyerahan dirinya kepada Tuhan. Menyimpan dalam hati dan merenungkan bagi Maria adalah ungkapan terdalam dari kepatuhan iman, karena percaya bahwa Tuhan tetap setia melaksanakan kehendak-Nya pada waktunya. Dengan menyimpan dalam hati dan merenungkan itu, Bunda Maria terus-menerus mempersatukan diri dan melekatkan diri kepada rencana Allah, meski itu belum dimengerti dan dipahami. Bunda Maria dengan begitu sungguh mewujudkan suatu iman dari seorang sederhana, yang menggantungkan diri kepada kuasa dan keagungan Ilahi.

  b) Konstitusi Tarekat Abdi Kristus no. 237 Dengan menyimpan segala perkara dalam hati dan merenungkannya, Bunda Maria membiarkan dirinya sepenuhnya dikuasai oleh Allah yang hadir dan berkarya menurut cara-Nya sendiri dan bukan menurut pikiran serta gagasan manusiawi Bunda Maria. Maria sebagai wanita Yahudi saleh pasti terbiasa dengan cara-cara orang Yahudi berdoa, terbiasa dengan hidup saleh dan bakti kepada Allah dan mendengarkan Kitab Suci. Tetapi dengan tawaran Tuhan yang memanggil (Luk 1:29), Maria merasa bahwa Allah membawanya ke sesuatu yang baru; seperti Abraham, dia dituntut untuk meninggalkan jaminan-jaminan yang sudah dimilikinya, dan menyerahkan diri kepada tawaran Allah yang baru.

  2) Peserta diberi waktu sebentar untuk hening sejenak sambil secara pribadi merenungkan dan menanggapi bacaan dari konstitusi dengan dibantu beberapa pertanyaan sebagai berikut :

  a) Sikap keterbukaan mana yang ditanamkan oleh Bunda Maria dalam konstitusi no. 236 dan 237? b) Sikap keterbukaan mana yang ditanamkan oleh para suster Abdi Kristus dalam hidup berkomunitas? 3) Peserta diajak untuk mencari dan menemukan pesan inti dari konstitusi sehubungan dengan jawaban atas dua pertanyaan b di atas.

  4) Pendamping menjelaskan konstitusi no. 236 dan 237 bersumber dari beberapa buku yang mendukung dan menghubungkannya dengan tanggapan peserta dalam hubungan dengan tema dan tujuan, misalnya :

  Dalam konstitusi no. 236, kalimat “Tetapi Maria menyimpan segala sesuatu dalam hatinya dan merenungkannya” adalah kalimat lain untuk menerangkan bahwa Maria tidak paham dengan apa yang terjadi. Namun Bunda Maria terus menerus membuka diri dengan mempersatukan diri dan melekatkan diri kepada rencana Ilahi yang belum dimengerti dan dipahami. Inilah sikap atau tindakan utama Bunda Maria dalam menghayati hidup panggilannya sehari-hari, terutama bila dia masuk dalam kegelapan pada proses imannya dan penyerahan dirinya kepada kehendak Tuhan.

  Sikap dasar yang ditanamkan oleh Bunda Maria ketika memasuki perjalanan hidup yang masih penuh misteri adalah menyimpan segala sesuatu dalam hatinya dan merenungkannya. Ini berarti bahwa, hati Maria, titik pusat kesadaran pribadinya yang terdalam selalu dipusatkan pada Yesus, Sang Sabda. Ia mau berdialog dengan Allah dan menyetujui menjadi Bunda yang melahirkan Sabda Allah bukannya untuk keagungannya sendiri. Ia menimbang-nimbang setiap peristiwa Puteranya dalam cahaya Roh Kudus dengan terbuka untuk memasuki kedalaman hatinya. Bunda Maria dengan menyimpan dalam hati segala peristiwa dan merenungkannya berarti pula membiarkan dirinya memasuki keheningan hati.

  Dalam hati yang hening akan mampu menangkap Allah yang bersemayam. Allah yang bersemayam dalam hati berarti menjadikan hatinya murni (Esthi murni), yang akan mengalir, memberi kesegaran dan pembaharuan bagi hidupnya dan siapa saja yang dijumpainya.

  Bunda Maria dituntut untuk meninggalkan jaminan-jaminan yang sudah dimilikinya dan menyerahkan diri kepada tawaran Allah merupakan sikap Maria sehingga ia masuk pada situasi yang baru. Dengan menjawab “ya” atau “amin”, atas tawaran Allah itu, Maria membiarkan diri terbuka dan dibina dalam rencana Ilahi. Dalam keselarasan antara rencana ilahi dan harapan-harapannya, ia menjawab dengan penuh kegembiraan dan memuji Tuhan. Kegembiraan dan memuji Tuhan akan berkembang dalam diri orang yang yakin dan terus mencari dan membangun dan memperbaharui hidupnya seturut rencana Allah.

  Para suster Abdi Kristus yang berlindung pada Bunda Maria berupaya meneladani sikap Bunda Maria yang mau terbuka pada kehendak Allah. Sejak awal memasuki biarawati Abdi Kristus, dalam diri para suster Abdi Kristus telah tertanam kesediaannya untuk “Ya” akan kehendak Allah seperti Bunda Maria.

  Oleh karena itu, seperti Bunda Maria yang bersikap selalu mempercayakan diri pada rencana Allah, para suster Abdi Kristus juga diajak untuk memiliki sikap yang selalu terbuka akan karya Allah dalam dirinya.

  Sikap terbuka akan karya Allah dalam dirinya akan tampak dalam kesediaan para suser Abdi Kristus yang mau menyimpan dan mengolah segala peristiwa dalam hatinya yang berarti pula bahwa para suster Abdi Kristus senantiasa di ajak masuk dalam kedalaman hati dimana Allah bertahta. Dalam kedalaman hati yang hening , para suster Abdi Kristus mau berdialog dengan Sang Sumber dan Pembaharu Hidup yaitu Allah sendiri. Para suster yang mampu menyimpan segala perkara dalam hati, mengolah dan selalu mendialogkan dengan Allah di kedalaman hatinya akan mampu pula menampakkan sikap terbuka dalam membangun hidup berkomunitas. Hal ini akan tampak dalam sikap yang mau mendengarkan, tidak mudah menilai atau menghakimi orang lain. Sikap hidupnya selalu bijaksana, menjadi pribadi yang pro aktif sekaligus rendah hati karena segala sesuatunya mengandalkan kuasa Allah.

  e. Langkah IV : Menerapkan Iman Kristiani dalam situasi peserta konkret Dalam pembicaraan-pembicaraan tadi, kita telah menemukan kata- kata/kalimat yang menunjukkan keterbukaan dalam komunitas dalam konstitusi no 236-237, yaitu Keterbukaan Maria akan kehendak Allah dalam dirinya. Sikap yang mau ditanamkan oleh Bunda Maria saat memasuki misteri hidup adalah sikap menyimpan dalam hati dan merenungkannya. Ini berarti bahwa, hati Maria, titik pusat kesadaran pribadinya yang terdalam selalu dipusatkan pada Yesus, Sang Sabda.

  Bunda Maria mau memperbaharui diri dalam sikap hidup yang tadinya masih terikat oleh jaminan hidup di dunia menjadi pribadi yang menggantungkan sepenuhnya kepada kehendak Allah. Hal ini memberi inspirasi bagi kita, sebagai suster yang berlindung kepada Bunda Maria pelindung pertama Kongregasi Abdi untuk memperbaharui diri.

  Semakin hari kita ditantang untuk berani lepas bebas dari keterikatan diri akan masa lalu dengan mempercayakan penuh kepada rencana Ilahi-Nya, mau berdialog dari hati ke hati dan terbuka untuk terus-menerus memahami misteri Ilahi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan kekuatan doa dan keheningan hati sehingga menjadi pribadi yang sungguh “Esthi

  

Murni” supaya bisa melihat dan menangkap Allah yang hadir dalam berbagai

  macam peristiwa, melalui setiap pribadi yang dijumpai baik di dalam maupun di luar komunitas.

  Sebagai bahan refleksi para suster Abdi Kristus dalam mengolah diri terus- menerus dalam proses menuju komunitas yang semakin terbuka sehingga semakin mampu memperbaharui diri seturut teladan Bunda Maria. Keterbukaan dalam komunitas yang diharapkan bersumber dari kedalaman pribadi yang telah terolah. Dengan meneladani Bunda Maria yang membangun komunitas terbuka kita bersama-sama memasuki proses pembaharuan diri sebagai Abdi Kristus di Komunitas Condronegaran.

  Berikut ini adalah panduan pertanyaan refleksi untuk membantu paserta dalam mengolah diri: 1) Sikap Bunda Maria mana yang dapat kita teladani untuk membangun komunitas terbuka di Condronegaran ini sehingga kita mampu memperbaharui diri terus-menerus?

  Saatnya kita memasuki keheningan (diiringi dengan instrumentalia) untuk merenungkan secara pribadi akan pesan dari Konstitusi no 236-237 dengan situasi konkret para suster Abdi Kristus di komunitas Condronegaran dengan panduan satu pertanyaan di atas. Kemudian peserta diberi kesempatan secukupnya untuk mengungkapkan hasil-hasil renungan pribadinya.

  Sebagai bahan permenungan dalam langkah konfrontasi, pendamping dapat memberi arah rangkuman singkat sesuai dengan hasil-hasil renungan pribadi mereka, misalnya: Kita sebagai suster Abdi Kristus yang hidup di komunitas Condronegaran ini seringkali mengalami kesulitan untuk membangun komunitas terbuka sehingga sulit mampu memperbaharui diri seturut teladan Bunda Maria. Hal ini dapat kita temukan dalam sikap-sikap kita yang mudah menghakimi dan menjatuhkan, tidak mau mengadakan dialog dari hati ke hati saat mengalami permasalahan hidup, kata-kata yang muncul seringkali membuat orang lain sakit hati, keras kepala dan tidak mau menerima pendapat orang lain dll.

  Bunda Maria dalam menghayati kehidupan sehari-hari memilih untuk bersikap menyimpan segala peristiwa dalam hati dan merenungkannya. Ia menanti dengan sabar saat yang tepat untuk bisa memahami peristiwa hidupnya. Bunda Maria mengalami kegembiraan yang berkembang dalam dirinya karena yakin dan terus mencari serta membangun hidupnya sesuai dengan rencana Allah. Kita sebagai Abdi Kristus yang berlindung kepada Bunda Maria berupaya meneladani sikap hidup Bunda Maria dengan memperbaharui diri, membiarkan diri tidak dikuasai oleh pikiran-pikran, kehendak kita namun membiarkan diri dikuasai oleh Allah sendiri. Bersama Bunda Maria, kita mengupayakan hati yang hening/esthi murni dengan “menyimpan segala perkara dalam hati dan merenungkannya”. Maka, seperti Bunda Maria, kitapun akan mampu melihat Allah yang bersemayam di kedalaman hati, menjadi sumber yang mengalir dalam sikap hidup sehari-hari. Dengan begitu, kita semakin menyadari pentingnya membangun komunitas terbuka khususnya di komunitas Condronegaran sehingga seturut teladan Bunda mampu memperbaharui diri terus-menerus.

  f. Langkah V : Mengusahakan suatu aksi konkret. 1) Pengantar

  Para suster yang terkasih dalam Kristus, kita telah bersama-sama menggali kesadaran kita akan realita hidup berkomunitas yang tidak selalu harmonis melalui film “Doubt”. Kita semakin disadarkan akan pentingnya membangun komunitas terbuka yang keluar dari kedalaman hatinya yang sudah terolah. Ada banyak pilihan untuk menghadapi permasalahan hidup baik di masa lalu maupun saat ini, mau mengolahnya dengan menyadari kelemahan diri sehingga menjadi kekuatan yang memperbaharui hidup kita, atau sebaliknya merusak hidup kita yang pada akhirnya mengacaukan kehidupan bersama kita baik di dalam maupun di luar komunitas kita. Kita sadar, bahwa kita yang hidup dalam komunitas religius ini ditantang untuk membangun komunitas terbuka dengan saling membentuk satu sama lain sehingga menjadi pribadi yang berkualitas yang saling mendukung dan menumbuhkembangkan.

  Komunitas terbuka yang membutuhkan pengolahan diri terus-menerus tidak bisa lepas dari upaya masing-masing pribadi dalam mengolah diri, memperbaharui diri dari pribadi yang dikuasai oleh dirinya sendiri menjadi dikuasai oleh Allah sendiri. Bersama Bunda Maria teladan hidup kita , kita diajak memperbaharui hidup dengan menghidupi sikap hidup “Menyimpan segala perkara dalam hati dan merenungkannya”, seperti Bunda Maria kita beralih kepada keyakinan yang baru, bahwa Allah sendirilah yang pasti menguasai seluruh hidup kita. Ia mempunyai rencana atas diri kita yang pada saatnya akan kita pahami seturut kehendak-Nya. Kita di tarik untuk semakin menyesuaikan diri dengan rencana-Nya. Oleh karena itu, dengan menyimpan segala peristiwa dalam hati dan merenungkannya, kita diajak masuk di kedalaman hati kita, terbuka untuk menemukan Allah yang bertahta di hati kita. Ia sendiri yang bersemayam dalam hati kita, Ia juga yang akan memurnikan hati kita, jika kita mau terbuka dan mau mengolah diri terus-menerus. Dengan begitu sikap dan tindakan kita sungguh keluar dari kedalaman hati yang yang sudah terolah dan memunculkan sikap saling menumbuhkembangkan. Oleh karena itu kitapun semakin disadarkan akan pentingnya komunitas terbuka di komunitas Condronegaran ini sehingga mampu memperbaharui hidup terus-menerus seturut teladan Bunda Maria. 2) Memikirkan niat-niat dan keterlibatan kita yang baru (kelompok/ bersama atau pribadi) untuk lebih meningkatkan upaya membangun komunitas terbuka dan meneladani Bunda Maria dalam memperbaharui diri?

  Berikut ini adalah pertanyaan penuntun untuk membantu peserta membuat niat: a) Niat apa yang hendak kita lakukan agar komunitas Condronegaran ini sungguh menjadi komunitas yang terbuka sehingga seturut teladan Bunda Maria mampu memperbaharui diri terus-menerus?

  3) Selanjutnya peserta diberi kesempatan dalam suasana hening memikirkan sendiri-niat-niat pribadi maupun bersama yang akan dilakukan. Niat-niat dapat direnungkan secara pribadi selama rekoleksi berlangsung. Niat bersama akan dibicarakan dalam upaya saling meneguhkan pada akhir rekoleksi.

4. Penutup

  Pertemuan di tutup dengan doa penutup oleh pemandu berdasarkan apa yang dialami selama proses pertemuan. Berikut ini adalah salah satu contoh doa penutup:

  Allah Bapa yang penuh kasih, tak henti-hentinya kami bersyukur kepada- Mu karena terang Roh Kudus-Mu kami Kau mampukan untuk melaksanakan proses pertemuan dengan tema bersama Bunda Maria membangun komunitas terbuka. Melalui pertemuan ini, kami sungguh semakin disadarkan akan pentingnya komunitas terbuka yang saling mendukung dan memperkembangkan sehingga seturut teladan Bunda Maria kami dimampukan untuk memperbaharui diri terus-menerus melalui hidup berkomunitas kami. Doronglah diri kami untuk senantiasa meneladani sikap Bunda Maria yang selalu menyimpan dan mengolah segala peristiwa yang kami alami dengan menyerahkan diri secara penuh pada kehendak-Nya sehingga dalam sikap dan tutur kata kami selalu bersumber dari kedalaman dan keheningan hati kami yang sudah terolah karena di sanalah Engkau bertahta. Mohon berkat-Mu untuk segala niat-niat yang telah kami buat, baik secara pribadi maupun bersama agar kamipun dimampukan untuk membangun komunitas terbuka, khususnya di komunitas Condronegaran ini dan seturut teladan Bunda Maria mampu memperbahrui hidup terus-menerus.

  Bersama Bunda Maria teladan hidup kami, doa ini kami haturkan dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

BAB VI PENUTUP Dalam bab penutup, penulis akan memaparkan rangkuman isi bab-bab sebelumnya, yaitu gagasan penting yang menjadi kesimpulan dari karya tulis ini. Pada bagian berikutnya akan diuraikan beberapa saran dan usulan dalam upaya

  dan gerak bersama mengolah kedewasaan berkomunikasi terus-menerus sebagai sarana membangun komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh.

A. KESIMPULAN

  Tidak bisa dihindari bahwa kaum religius dalam hidup berkomunitas tidak selalu harmonis, dalam arti kadang-kadang terjadi kesalahpahaman. Dalam hidup bersama, meskipun masing-masing pribadi berkehendak baik untuk memperjuangkan semangat cintakasih, seringkali terjadi kesalahpahaman, debat sengit bahkan pertengkaran yang berakhir dengan saling mendiamkan. Tanpa disadari, masing-masing pribadi mempunyai kepentingan pribadi atau kehendaknya sendiri yang harus dituruti dan bukannya mencari kehendak Allah. Kenyataan dinamika hidup berkomunitas yang demikian disebabkan oleh berbagai macam permasalahan pribadi yang belum disadari dan terolah yang tampak salah satunya dalam pilihan gaya berkomunikasi yang tidak efektif dan bijaksana.

  Orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial, seorang dewasa sadar akan keanggotaannya dalam keluarga yang menuntut hubungan pribadi dengan orang lain. Agar hubungan pribadi dengan orang lain berlangsung dengan baik dan menjadi produktif, dituntut adanya kedewasaan berkomunikasi. Kedewasaan berkomunikasi tercapai jika masing-masing pribadi menguasai ketrampilan dasar berkomunikasi serta memiliki kemampuan berkomunikasi secara bijaksana dan efektif. Ketrampilan berkomunikasi digolongkan dalam ketrampilan memahami dan mempercayai, ketrampilan menerima dan membantu, ketrampilan mengatasi konflik dan masalah dalam hubungan pribadi secara konstruktif. Komunikasi akan efektif jika pesan diterima dan dimengerti sebagaimana yang dimaksud oleh pengirim dan tidak ada hambatan untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menindaklanjuti pesan yang dikirim.

  Umat Kristiani mengenal spiritualitas komunikasi sebagai landasan untuk semua komunikasi yang sangat mendukung terjadinya kedewasaan berkomunikasi. Spiritualitas komunikasi ini berawal dari pengalaman dan api Roh Kudus yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia sehingga mengalami kepenuhan serta keinginan untuk mengungkapkan dan membagikan kepenuhan itu kepada sesama. Spiritualitas komunikasi ini pada dasarnya menuntut keterbukaan dari setiap komunikator yaitu keterbukaan kepada Allah, keterbukaan kepada diri sendiri dan keterbukaan kepada sesama.

  Komitmen kedewasaan pribadi untuk bidang komunikasi dibutuhkan komunitas yang memelihara dan mendukungnya. Orang-orang yang berada dalam komunitas berkomunikasi satu sama lain berada dalam tempat dan lingkungan yang sama dimana yang satu tergantung pada yang lain. Komunitas atau persekutuan terjadi karena komunikator berada demi melayani orang-orang lain, membagikan diri dan segala sesuatu sedemikian rupa sehingga dari segala sesuatu yang sama ini lahirlah komunitas atau persekutuan.

  Komunitas religius adalah adalah komunitas yang terdiri atas pribadi- pribadi entah pembesar, fungsionaris yang lain dan anggota-anggota. Mereka bersatu karena merasa dipanggil ke tujuan yang sama, ada komunikasi dan hubungan satu dengan lainnya atas dasar panggilan bersama.

  Kongregasi Biarawati Abdi Kristus saat ini sedang berupaya meningkatkan kualitas hidup beriman dan kepribadian dalam komunitas agar kerinduan para suster Abdi Kristus untuk membangun komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh semakin dialami oleh para suster dalam komunitasnya. Kongregasi Biarawati Abdi Kristus menyadari pentingnya pengolahan hidup terus-menerus untuk meningkatkan kualitas hidup pribadi yang mempengaruhi dalam berkomunikasi sehingga semakin dewasa sebagai sarana hidup berkomunitas. Pengolahan hidup terus-menerus/ongoing formation terjadi karena adanya kesadaran bahwa komunitas-komunitas para suster Abdi Kristus sebagai tempat membentuk diri menjadi manusia utuh, bahagia sebagaimana dikehendaki oleh Allah.

  Pembinaan terus-menerus para suster Abdi Kristus dalam rangka meningkatkan kualitas hidup iman dan kepribadian para suster Abdi Kristus dilaksanakan melalui berbagai macam kegiatan baik secara personal maupun bersama. Kegiatan tersebut antara lain visitasi pimpinan, wawanhati, retret, rekoleksi, surat edaran akhir tahun. Pembinaan khusus melalui pertemuan- pertemuan, studi lanjut, kursus-kursus/pelatihan/lokakarya dll.

  Para suster Abdi Kristus mempunyai keyakinan bahwa hidup bersama dalam satu komunitas merupakan karya Roh Allah sendiri, terjadi karena masing-masing pribadi ingin menanggapi panggilan Tuhan. Dengan meneladani Bunda Maria Hamba Allah sebagai pelindung pertama Kongregasi Biarawati Abdi Kristus, semua anggota komunitas belajar selalu memandang dan mengakui bagaimana segala sesuatu yang baik dan segala anugerah itu datangnya dari Allah. Komunitas-komunitas Abdi Kristus yang tersebar di beberapa keuskupan di Indonesia beranggotakan para suster senior, medior dan yunior yang pada umumnya berkarya dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan pastoral. Masing-masing komunitas tentu saja mempunyai dinamika hidup berkomunitas yang perlu dipupuk agar keharmonisan dalam hidup berkomunitas dapat terpelihara dengan baik.

  Berdasarkan hasil refleksi para suster Abdi Kristus yang diolah dalam Kapitel Umum ke V tahun 2008, disimpulkan bahwa komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh adalah komunitas yang dirindukan. Para suster Abdi Kristus bersama Bunda Maria sebagai teladan dan jiwa hidup berkomunitas berupaya mewujudkan komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh dengan menyadari bahwa rumah biara adalah rumah komunitas kasih, dimana Sabda Allah dijadikan dasar hidup berkomunitas sehingga komunitas sungguh menjadi ‘oase’ yang memberi kesegaran, kehidupan dan kekuatan baru dalam hidup bersama dan pengabdian.

  Berdasarkan latar belakang yang menekankan adanya kerinduan para suster Abdi Kristus untuk membangun komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh yang menemukan kendala dalam cara berkomunikasi karena permasalahan pribadi maupun bersama yang belum terolah dan alasan pentingnya komunikasi sebagai sarana hidup berkomunitas serta kesadaran para suster Abdi Kristus untuk memperbaharui hidup seturut teladan Bunda Maria sebagai Hamba Allah, pelindung pertama Kongregasi Biarawati Abdi Kristus inilah, penulis mengusulkan sebuah program pengolahan kedewasaan berkomunikasi sebagai sarana hidup berkomunitas.

  Usulan program dilaksanakan melalui salah satu program pembinaan hidup terus menerus Kongregasi Biarawati Abdi Kristus yaitu rekoleksi komunitas menyambut hari raya Bunda Maria menerima kabar sukacita dan pembaharuan kaul para suster Abdi Kristus, dilaksanakan selama tiga hari menjelang setiap tanggal 25 Maret.

  Tema program yang penulis usulkan adalah Bersama Bunda Maria Memperbaharui Tri Prasetya untuk Membangun Komunitas Kasih Penuh Kegembiraan dalam Roh.

  Adapun tujuan dari rekoleksi ini adalah agar melalui rekoleksi komunitas menyambut hari raya Bunda Maria menerima kabar sukacita, para suster Abdi Kristus dibantu dalam memperbaharui penghayatan Tri Prasetya hidup membiara dengan mengolah kedewasaan berkomunikasi sebagai sarana membangun komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh.

B. SARAN

  Berdasarkan pembahasan dalam bab-bab sebelumnya, berikut ini akan diajukan beberapa hal sebagai saran untuk kaum religius pada umumnya dan secara khusus bagi para suster Abdi Kristus sebagai warga Gereja.

1. Bagi Kaum Religius pada Umumnya

  Dalam hidup berkomunitas zaman sekarang, orang dihadapkan pada aneka tawaran dan tegangan. Kenyataan ini terjadi karena pengaruh arus globalisasi dan

  

post modernism yang turut mempengaruhi hidup berkomunitas. Karena itu pola

  atau cara hidup yang berbicara injili merupakan kebutuhan mendesak pada masa sekarang. Bagaimana cara hidup yang berbicara injili itu dapat dilaksanakan dalam hidup sehari-hari yang terpancar dalam hidup berkomunitas? Pada bagian ini, penulisa akan mengungkapkan beberapa saran untuk kaum religius pada umumnya.

  Kaum religius hendaknya memiliki kesadaran akan jati dirinya sebagai kaum yang terpanggil menjadi saksi kehadiran Allah di dunia ini. Oleh karena itu dalam segala sikap dan tutur kata hendaknya selalu memancarkan Kasih Allah sendiri. Contohnya dalam mengkonsumsi pembicaraan, kaum religius tidak terbawa oleh arus konsumerisme, seperti pembicaraan yang didominasi oleh canggihnya alat komunikasi, hiburan-hiburan sekuler yang ditawarkan melalui media komunikasi, gaya hidup yang bertentangan dengan kesederhanaan hidup. Konsumsi pembicaraan yang diharapkan adalah pembicaraan yang mampu menebarkan kasih persaudaraan sejati, menampakkan kesederhanaan hidup, mengangkat realita hidup yang mau dibangun bersama agar menjadi lebih baik.

  Kesadaran akan jati dirinya sebagai orang yang terpanggil menjadi saksi kehadiran Allah menuntut adanya pengolahan diri terus-menerus agar tercipta komunitas yang terbuka kepada lingkungan, kepada Gereja dengan semangat persaudaraan yang harus dipupuk dalam komunitas. Oleh karena itu, hendaknya komunitas-komunitas kaum religius sungguh-sungguh komunitas formatif, komunitas yang mampu saling membentuk menjadi pribadi yang berkualitas baik iman maupun pribadinya.

  Komunitas formatif terjadi jika masing-masing pribadi mau mengolah diri terus-menerus. Masing-masing pribadi dalam komunitas hendaknya membuka dan membiarkan diri bertumbuh dan berkembang melalui hidup berkomunitas. Jalinan relasi yang sehat, komunikasi yang dewasa yaitu komunikasi yang efektif dan bijaksana baik secara pribadi maupun bersama merupakan sarana yang penting untuk membangun hidup berkomunitas sehingga memberi daya dan kekuatan serta pembaharuan hidup yang terus-menerus diupayakan bersama. Oleh karena itu, pengolahan diri dengan melihat sisi kelemahan, kelebihan diri dan sesama sangat diperlukan dalam rangka membangun hidup berkomunitas yang dinamis, saling mendukung satu dengan yang lainnya dengan menghidupi komunikasi yang efektif dan bijaksana.

2. Bagi Para Suster Abdi Kristus

  Sebagai orang-orang yang terpanggil untuk menjadi Abdi Kristus melalui tubuh Kongregasi Biarawati Abdi Kristus dimana Bunda Maria Hamba Allah menjadi pelindung utamanya, para suster Abdi Kristus baik yunior, medior maupun senior hendaknya selalu memiliki:

  Kesadaran masing-masing pribadi dalam hidup berkomunitas sebagai pribadi-pribadi yang memiliki satu tujuan yaitu menanggapi panggilan-Nya menjadi Abdi Kristus melalui tubuh Kongregasi Biarawati Abdi Kristus. Kesadaran ini menuntut adanya kerendahan hati untuk saling mengakui kekurangan dan kelebihan diri dan sesama yang diolah bersama menjadi kekuatan dalam pengabdian.

  Semangat dalam hidup doa, bersama dan karya yang dipenuhi dengan kasih penuh kegembiraan dalam Roh seturut teladan Bunda Maria yang hidup-Nya senantiasa diliputi kegembiraan sejati. Bersama Bunda Maria hendaknya para suster Abdi Kristus memberikan seluruh hidupnya pada kehendak Allah “ Aku ini Hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”.

  Keterbukaan untuk mengolah diri terus-menerus/ongoing formation dan membiarkan diri diubah seturut kehendak-Nya melalui tubuh Kongregasi Biarawati Abdi Kristus yang selalu menawarkan diri membawa perubahan hidup seturut Kharisma Kongregasi dengan memperhatikan tuntutan zaman yang terus berubah. Salah satu bentuk pengolahan diri terus menerus adalah dengan melaksanakan rekoleksi, dipandu oleh tim pendamping yang telah memperoleh pembekalan secara khusus berkaitan dengan pengolahan kedewasaan berkomunikasi sebagai sarana hidup berkomunitas. Rekoleksi ini sangat tepat dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Raya Bunda Maria Menerima Kabar Sukacita dan pembaharuan Kaul Tri Prasetya para suster Abdi Kristus dengan harapan agar dengan meneladani Bunda Maria, para suster Abdi Kristus memperbaharui diri, berkomunikasi secara efektif dan bijaksana sebagai sarana membangun komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh.

  Pendalaman Konstitusi Tarekat Abdi Kristus dilaksanakan di komunitas- komunitas setiap satu minggu sekali dengan menekankan keteladanan Bunda Maria yang akan selalu dihidupi terutama dalam cara berkomunikasi antar para suster sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing komunitas.

  Dorongan dari kedalaman hati yang tulus untuk membangun komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh yang dimulai dari masing-masing pribadi dan berkembang dalam kebersamaan dalam hidup sehari-hari. Bersama Bunda Maria, para suster Abdi Kristus terus-menerus memperbaharui diri demi terwujudnya Komunitas kasih yang penuh kegembiraan dalam Roh.

  Demikian uraian kesimpulan dan saran yang diajukan penulis terkait dengan pemaparan bab-bab karya tulis ini. Saran yang penulis ajukan di atas ditujukan bagi Gereja, terutama kaum religius dan secara khusus bagi para suster Abdi Kristus. Tentu saja masih ada banyak saran dan wujud konkret dalam upaya peningkatan kualitas hidup melalui pengolahan hidup terus-menerus secara khusus berkaitan dengan komunikasi agar tercapai kedewasaan berkomunikasi. Dengan harapan komunikasi akan sungguh menjadi sarana hidup berkomunitas kaum religius pada umumnya dan secara khusus bagi para suster Abdi Kristus yang sedang berupaya bersama membangun komunitas kasih penuh kegembiraan dalam Roh.

  DAFTAR PUSTAKA Agus Hardjana, M. (2003). Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal.

  Yogyakarta: Kanisius. Badudu, J. S. (2003). Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia.

  Jakarta: PT Kompas Media Nusantara. Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus (2007). Laporan

  Pertanggungjawaban Dewan Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus . Manuskrip berisi tentang laporan pertanggungjawaban Dewan

  Pimpinan Umum Kongregasi Biarawati Abdi Kristus masa bakti 2002-2007, dikeluarkan di Gedanganak, Ungaran pada akhir Desember 2007. Efendi, Onong Uchjana (2000). Teknik Komunikasi. Yogyakarta: Kanisius. Eilers, Josef Frans. (2008). Berkomunikasi dalam Pelayanan Misi. Yogyakarta: Kanisius. Emanuel da Santo, Frans. (2001). Sejenak Bersama Bunda Maria. Jakarta: Obor. Fuster, J. M. (1985). Teknik Mendewasakan Diri. Yogyakarta: Kanisius. Hurlock, B., Elizabeth. (1997). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga. Kapitel Umum IV. (2002). Mencitrakan Komunitas Kasih Penuh Kegembiraan

  dalam Roh. Manuskrip berisi tentang keputusan hasil pembicaraan dan refleksi

  peserta Kapitel Umum, yang sekaligus merupakan cita-cita dan tantangan hidup seluruh anggota Kongregasi Biarawati Abdi Kristus enam tahun ke depan, dikeluarkan di Gedanganak, Ungaran pada tanggal 13 Januari 2002. Kapitel Umum V. (2008). Menjadi Religius Abdi Kristus Konstitusional. Manuskrip berisi tentang seluruh pembicaraan dan keputusan bersama selama Kapitel

  Umum V berlangsung, dikeluarkan di Ungaran, pada hari syukur 70 tahun Kongregasi, pada tanggal 29 Juni 2008. Kongregasi Biarawati Abdi Kristus. (2012). Katalog Suster-suster Abdi Kristus Per Januari 2012 . Ungaran: Kongregasi Biarawati Abdi Kristus. Kongregasi untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan. (1992).

  Pedoman-pedoman Pembinaan dalam Lembaga-lembaga Religius. (Marcel

  Beding, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1990).

  Konstitusi Tarekat Abdi Kristus . (1995). Manuskrip berisi Pedoman Hidup Para

  Suster Abdi Kristus yang disyahkan oleh Julius Kardinal Darmaatmaja pada tanggal 25 Oktober 1995 di Semarang. Liege, A. (1972). Kedewasaan Manusiawi dan Kedewasaan Kristiani. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Kateketik “Pradnyawidya”. Lunandi, A. G. (1987). Komunikasi Mengena. Yogyakarta; Kanisius. Maloney, George A. (1990). Maria Rahim Allah. Yogyakarta: Kanisius. Mardi Prasetya, F. (1992a). Psikologi Hidup Rohani 1. Yogyakarta: Kanisius. ___. (1992b). Psikologi Hidup Rohani 2. Yogyakarta: Kanisius. _______________ Martin Harun. (2001). Memberitakan Injil Kerajaan Allah. Yogyakarta: Kanisius.

  .(2001). Tugas Pembinaan Demi Mutu Hidup Bakti 2. Yogyakarta: Kanisius.

  Nouwen, Henri J. M. (1985). Menggapai Kematangan Hidup Rohani. Yogyakarta: Kanisius. Panitia Persiapan Kapitel Umum V. (2008). Hasil Refleksi Suster-suster Abdi

  Kristus. Manuskrip berisi tentang kumpulan refleksi para suster Abdi Kristus

  yang disusun dalam rangka persiapan Kapitel Umum V Kongregasi Biarawati Abdi Kristus pada tanggal 2-20 Januari 2008, dikeluarkan di Ungaran. Setyakarjana, S. J. (2003). Selintas Sejarah Kongregasi Biarawati Abdi Kristus.

  Manuskrip berisi tentang Sejarah Kongregasi Biarawati Abdi Kristus yang dikeluarkan di Gedanganak, Ungaran, pada tanggal 29 Juni 2003. Sinurat, R. (2000a). Ketrampilan Komunikasi 1. Yogyakarta: Pusat Pastoral. ________. (2000b). Ketrampilan Komunikasi 2. Yogyakarta: Pusat Pastoral. Sumarno Ds, M. (2011). Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama

  Katolik Paroki. Diktat Mata Kuliah PPL PAK Paroki untuk Mahasiswa

  Semester VI, Prodi IPPAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma , Yogyakarta.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

BA. PENJELASAN SARANA PENGOLAHAN III
0
0
8
SKRIPSI RIWAYAT HIDUP
0
0
1
SKRIPSI ABDI LESMANA
0
0
109
PERAN KECERDASAN SPIRITUALITAS DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KEBERMAKNAAN HIDUP PADA SUSTER OSF YANG PURNAKARYA
0
0
14
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN RESILIENSI PADA PARA SUSTER YUNIOR DI KOTA YOGYAKARTA
0
0
9
PEMANFAATAN ACCOUNT TWITTER anak_USU SEBAGAI SARANA INFORMASI SKRIPSI FANRY MAULANA ADITITO 100904010
0
0
13
PEMANFAATAN ACCOUNT TWITTER anak_USU SEBAGAI SARANA INFORMASI SKRIPSI FANRY MAULANA ADITITO 100904010
0
0
13
KEDEWASAAN PRIBADI 3 SUSTER CB YANG SUDAH BERKAUL KEKAL PADA USIA AWAL DEWASA TENGAH SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
142
HIDUP MENGGEREJA KONTEKSTUAL SEBAGAI UPAYA MENGHAYATI HIDUP BERIMAN KRISTIANI DI INDONESIA MASA KINI SKRIPSI
0
1
141
UNDANGAN SPIRITUALITAS PERSEKUTUAN MENURUT DOKUMEN “BERTOLAK SEGAR DALAM KRISTUS” BAGI PENGHAYATAN CITA-CITA HIDUP KOMUNITAS KONGREGASI SUSTER FRANSISKUS MISIONARIS MARIA SKRIPSI
0
0
177
UPAYA MENINGKATKAN PENERIMAAN MASA TUA BAGI PARA SUSTER FCJM LANJUT USIA DI INDONESIA MELALUI KATEKESE SKRIPSI
0
0
188
MAKNA PENGOLAHAN HIDUP BAGI PERKEMBANGAN SUSTER YUNIOR SELAMA MASA PEMBINAAN DALAM TAREKAT KASIH YESUS DAN MARIA BUNDA PERTOLONGAN YANG BAIK ( KYM )
0
0
146
SKRIPSI DESKRIPSI PERSEPSI PARA SUSTER YUNIOR KONGREGASI FSE ANGKATAN 2002─2008 TENTANG KOMUNIKASI ANTARPRIBADI ANTARA MEREKA DENGAN PEMIMPIN KOMUNITAS DALAM BIMBINGAN PRIBADI
0
0
95
UNDANGAN GEREJA UNTUK MEMBANGUN HIDUP BERKOMUNITAS DAN JAWABAN BERDASARKAN BAGI PARA SUSTER URSULIN
0
0
165
DISCERNMENT DALAM PENYELESAIAN KONFLIK PADA TIGA SUSTER SANTA PERAWAN MARIA DALAM HIDUP MEMBIARA
0
1
138
Show more