Makalah Pendidikan Agama Islam (1)

 0  0  16  2018-09-16 23:05:19 Report infringing document

  

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

MARTABAT DAN TUGAS MANUSIA SERTA PROSES

PENCIPTAANNYA

KELOMPOK 2

  1. ASRIANOR

  

2. CAHYA KARIMA

  3. EDRI ADI SETIAWAN

  4. IKA HARTINI

  5. FAISAL MURTADHO

KEMENTERIAN PENDIDIKAN

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

  

2014

  

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb.

  Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sehingga makalah ini ini dapat terselesaikan pada waktunya. Ucapan terimakasih tak lupa kami berikan kepada dosen pembimbing mata kuliah serta teman-teman yang senantiasa turut membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

  Dalam makalah ini berisikan tentang tugas-tugas manusia dimuka bumi, kedudukan manusia dimata Allah dan makhluk yang lain serta proses penciptaan manusia menurut islam.

  Dalam makalah ini pasti masih banyak kekurangan dalam berbagai hal. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun diperlukan untuk menyempurnakan makalah ini.

  Banjarbaru, 20 Oktober 2014 Penyusun

  

DAFTAR ISI

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

BAB I PENDAHULUAN

  1.1Latar Belakang

  Kehadiran manusia tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta. Manusia hakikatnya adalah makhluk ciptaan Alaah SWT. Pada diri manusia terdapat perpaduan antara sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan. Dalam pandangan Islam sebagai makhluk ciptaan Allah SWT manusia memiliki tugas tertentu dalam menjalankan kehidupannya di dunia ini. Untuk menjalankan tugasnya manusia dikaruniakan akal dan pikiran oleh Allah SWT. Akal dan pikiran tersebut yang akan menuntun manusia dalam menjalankan perannya. Dalam hidup di dunia, manusia diberi tugas kekhalifahan, itu tugas kepemimpinan, wakil Allah dimuka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam.

  Dalam kehidupan ini kita tahu bahwa manusia adalah ciptaan Allah SWT yang paling sempurna karena memiliki akal, nafsu, panca indra yang baik, fisik yangh baik, dan lain-lain. Dan manusia tidak begitu saja ada dimuka bumi ini selain Allah yang menciptakan kita, tetapi ada proses dimana kita berada dimuka bumi ini, melalui ibu kita lahir di dunia dan dengan keagungan Allah SWT kita keluar dari lahir ibu. Pada dasarnya kita tidak menghiraukan apa dan bagaimana kita ada dimuka bumi ini, tetapi sebagai orang yang beriman untuk lebih menempatkan lagi keimanan kita kepada Allah SWT, maka alangkah baiknya kita tahu asal usul kejadian manusia. Khususnya kita seorang muslim yang tidak mau menodai dengan pemahaman-pemahaman kafir, dimana kita dilahirkan kemuka bumi ini, prosesnya ada didalam Al-Qur’an.

  1.2 Rumusan Masalah

  1) Bagaimana proses penciptaan manusia dalam Islam? 2) Bagaimana martabat dan kedudukan manusia dimuka bumi menurut

  Islam?

  3) Apa tugas manusia menurut Islam?

1.3 Tujuan

  1) Untuk mengetahui proses penciptaan manusia dalam Islam 2) Untuk mengetahui martabat dan kedudukan manusia dimuka bumi menurut Islam 3) Untuk mengetahui tugas manusia menurut Islam

BAB II ISI

2.1 Penciptaan Manusia Menurut Al-Qur’an

  Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah dimuka bumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti :

  • Turab - Thien - Shal-shal
  • Sualalah Hal ini dapat diartikan bahwa jasad manusia diciptakan Allah dari bermacam-macam unsur kimiawi yang terdapat dari tanah. Ayat-ayat yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah umumnya dipahami secara lahiriah. Hal ini menimbulkan pendapat bahwa manusia benar-benar dari tanah, dengan asumsi karena Allah berkuasa m,aka segala sesuatu dapat terjadi.

  Ada dua komponen penting yang menjadi dasar permulaan kehidupan. Yaitu bahan genetic dan selaput sel. Dua komponen tersebut bermula dari tanah liat yang dikenali sebagai mommorillonite clay. Sedangkan bahan genetik yang dimaksud adalah DNA. DNA merupakan sebagian organic yang merupakan unsur terpenting dalam tanah.

  Hal ini dapat diartikan bahwa jasad manusia diciptakan Allah dari bermacam-macam unsur kimiawi yang terdapat dari tanah. Adapun tahapan- tahapan dalam proses selanjutnya, Al-Quran tidak menjelaskan secara rinci.

  Walaupun manusia berasal dari materi alam dan dari kehidupan yang terdapat di dalamnya, tetapi manusia berbeda dengan makhluk lainnya dengan perbedaan yang sangat besar karena adanya karunia Allah yang diberikan kepadanya yaitu akal dan pemahaman. Itulah sebab dari adanya penundukkan semua yang ada di alam ini untuk manusia, sebagai rahmat dan karunia dari Allah SWT.

  • {“Allah telah menundukkan bagi kalian apa-apa yang ada di langit dan di bumi semuanya.”}(Q. S. Al-Jatsiyah: 13).
  • {“Allah telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus

  menerus beredar. Dia juga telah menundukkan bagi kalian malam dan siang.”} (Q. S. Ibrahim: 33).

  • {“Allah telah menundukkan bahtera bagi kalian agar dapat berlayar di lautan

  atas kehendak-Nya.”}(Q. S. Ibrahim: 32),

  dan ayat lainnya yang menjelaskan apa yang telah Allah karuniakan kepada manusia berupa nikmat akal dan pemahaman serta derivat (turunan) dari apa-apa yang telah Allah tundukkan bagi manusia itu sehingga mereka dapat memanfaatkannya sesuai dengan keinginan mereka, dengan berbagai cara yang mampu mereka lakukan. Kedudukan akal dalam Islam adalah merupakan suatu kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan makhluk- makhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia. Namun, segala yang dimiliki manusia tentu ada keterbatasan-keterbatasan sehingga ada pagar-pagar yang tidak boleh dilewati.

  Dalam penciptaannya manusia dibekali dengan beberapa unsur sebagai kelengkapan dalam menunjang tugasnya. Unsur-unsur tersebut ialah :

  • jasad ( al-Anbiya’ : 8, Shad : 34 )
  • Ruh (al-Hijr 29, As-Sajadah 9, Al-anbiya’ :91 dan lain-lain)
  • Nafsu (al-Baqarah 48, Ali Imran 185 dan lain-lain )
  • Aqal ( al-Baqarah 76, al-Anfal 22, al-Mulk 10 dan lain-lain) - Qolb ( Ali Imran 159, Al-Ara’f 179, Shaffat 84 dan lain-lain ).

  Di samping itu manusia juga disertai dengan sifat-sifat yang negatif seperti :

  • lemah ( an-Nisa 28 ),
  • suka berkeluh kesah ( al-Ma’arif 19 ),
  • suka bernuat zalim dan ingkar ( ibrahim 34),
  • suka membantah ( al-kahfi 54 ),
  • suka melampaui batas ( al-‘Alaq 6 )

  • suka terburu nafsu ( al-Isra 11 ) dan lain sebagainya.

  Hal itu semua merupakan produk dari nafsu , sedang yang dapat mengendalikan kecenderungan negatif adalah aqal dan qolb. Tetapi jika hanya dengan aqal dan qolb, kecenderungan tersebut belum sepenuhnya dapat terkendali, karena subyektif. Yang dapat mengendalikan adalah wahyu, yaitu ilmu yang obyektif dari Allah. Kemampuan seseorang untuk dapat menetralisasi kecenderungan negatif tersebut ( karena tidak mungkin dihilangkan sama sekali ) ditentukan oleh kemauan dan kemampuan dalam menyerap dan membudayakan wahyu.

2.2 Eksistensi dan Martabat Manusia

  Eksistensi manusia di dunia adalah sebagai tanda kekuasaan Allah Swt terhadap hamba-hamba-Nya, bahwa dialah yang mencipytakan, menghidupkan dan menjaga kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan diciptakan manusia dalam konteks hubungan manusia dengan Allah Swt adalah dengan mengimami Allah Swt dan memikirkan ciptaan-Nya untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Sedangkan dalam konteks hubungan manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam adalah untuk berbuat amal, yaitu perbuatan baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap sesama manusia, serta tidak merusak alam. Terkait dengan tujuan hidup manusia dengan manusia lain dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Tujuan Umum Adanya Manusia di Dunia

  Dalam al-qur’an Q.S. Al-Anbiya ayat 107 yang artinya : “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk Rahmat bagi semesta

  alam”

  Ayat ini menerangkan tujuan manusia diciptakan oleh Allah SWT dan berada didunia ini adalah untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Arti kata rahmat adalah karunia, kasih sayang dan belas kasih. Jadi manusia sebagai rahmah adalah manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk menebar dan memberikan kasih saying kepada alam semesta.

  2. Tujuan Khusus Adanya Manusia di Dunia

  Tujuan khusus adanya manusia di dunia adalah sukses di dunia dan di akhirat dengan cara melaksanakan amal shaleh yang merupakan investasi pribadi manusia sebagai individu. Allah berfirman dalam Q.S. An-Nahl ayat 97 yang artinya : “Barang siapa mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Allah SWT akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan diberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dengan apa yang telah mereka kerjakan”.

  3. Tujuan Individu Dalam Keluarga

  Manusia di dunia tidak hidup sendirian. Manusia merupakan makhluk sosial yang mempunyai sifat hidup berkelompok dan saling membutuhkan satu sama lain.. Hampir semua manusia, pada awalnya merupakan bagian dari anggota kelompok sosial yang dinamakan keluarga, dalam Ilmu komunukasi dan sosiologi kelurga merupakan bagian dari klasifikasi kelompak sosial dan termasuk dalam

  

small group atau kelompok terkecil di karenakan paling sedikit anggotanya terdiri

  dari dua orang. Nanun keberadaan keluarga penting karena merupakan bentuk khusus dalam kerangka sistem sosial secara keseluruhan. Small group seolah-olah merupakan miniatur masyarakat yang juga memiliki pembagian kerja, kodo etik pemerintahan, prestige, ideologi dan sebagainya. Dalam kaitannya dengan tujuan individu dan keluarga adalah agar individu tersebut menemukan ketentraman, kebahagian dan membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah. Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Oleh sebab itu, sudah wajar manusia baik laki- laki dan perempuan membentuk keluarga. Tujuan manusia berkelurga menurut Q.S. Al-Ruum ayat 21 yang artinya: "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-

  

istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram, dan dijadikan-Nya

diantara kamu rasa kasih sayang . Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-

benar terdapat tanda-tanda bagi kaaum yang mau berfikir."

  Tujuan hidup berkeluarga dari setiap manusia adalah supaya tentram. Untuk menjadi keluarga yang tentram, Allah SWT memberikan rasa kasih sayang. Oleh sebab itu, dalam kelurga harus dibangun rasa kasih sayang satu sama lain.

  4. Tujuan Individu Dalam Masyarakat

  Setelah hidup berkeluarga, maka manusia mempunyai kebutuhan untuk bermasyarakat. Tujuan hidup bermasyarakat adalah keberkahan dalam hidup yang melimpah. Kecukupan kebutuhan hidup ini menyangkut kebutuhan fisik seperti perumahan, makan, pakaian, kebutuhan sosial (bertetangga), kebutuhan rasa aman, dan kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat mudah diperoleh apabila masyarakat beriman dan bertakwa. Apabila masyarakat tidak beriman dan bertakwa, maka Allah akan memberikan siksa dan jauh dari keberkahan. Oleh sebab itu, apabila dalam suatu masyarakat ingin hidup damai dan serba kecukupan, maka kita harus mengajak setiap anggota masyarakat untuk memelihara iman dan takwa. Allah berfirman :

  “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al- Araaf : 96)

  Pada dasarnya manusia memiliki dua hasrat atau keinginan pokok, yaitu:

  a. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya yaitu masyarakat b. Keinginan untuk menjadi satu dengan suasan alam di sekelilingnya

  Istilah masyarakat dalam Ilmu sosiologi adalah kumpulan individu yang bertempat tinggal di suatu wilayah dengan batas-batastertntu, dimana factor utama yang menjadi dasarnya adalh interaksi yang lebih besar diantara anggot- anggotanya.

5. Tujuan Individu Dalam Bernegara

  Sebagai makhluk hidup yang selalu ingin berkembang menemukan jati diri sebagai pribadi yang utuh, maka manusia harus hidup bermasyarakat/bersentuhan dengan dunia sosial. Lebih dari itu manusia sebagai individu dari masyarakat memiliki jangkauan yang lebih luas lagi yakni dalam kehidupan bernegara. Maka, tujuan individu dalam bernegara adalah menjadi warganegara yang baik di dalam lingkungan negara yang baik yaitu negara yang aman, nyaman serta makmur.

6. Tujuan Individu Dalam Pergaulan Internasional

  Setelah kehidupan bernegara, tidak dapat terlepas dari kehidupan internasional / dunia luar. Dengan era globalisasi kita sebagai makhluk hidup yang ingin tetap eksis, maka kita harus bersaing dengan ketat untuk menemukan jati diri serta pengembangan kepribadian. Jadi tujuan individu dalam pergaulan internasional adalah menjadi individu yang saling membantu dalam kebaikan dan individu yang dapat membedakan mana yang baik dan buruk dalam dunia globalisasi agar tidak kalah dan tersesat dalam percaturan dunia.

2.3 Tanggung Jawab Manusia Sebagai Hamba dan Khalifah Allah Swt.

  Didalam Al-Qur`an proses penciptaan manusia memang tidak dijelaskan secara rinci, akan tetapi hakikat diciptakannya manusia menurut islam yakni sebagai mahluk yang diperintahkan untuk menjaga dan mengelola bumi. Antara anugerah utama Allah kepada manusia ialah pemilihan manusia untuk menjadi khalifah atau wakil-Nya di bumi. Dengan demikian manusia berkewajiban menegakkan kebenaran, kebaikan, mewujudkan kedamaian, menghapuskan kemungkaran serta penyelewengan dan penyimpangan dari jalan Allah. Dikalangan makhluk ciptaan Allah, manusia telah dipilih oleh Allah melaksanakan tanggung jawab tersebut. Ini sudah tentu karena manusia merupakan makhluk yang paling istimewa. Hal ini tentu harus kita kaitkan dengan konsekuensi terhadap manusia yang diberikan suatu kesempurnaan berupa akal dan pikiran yang tidak pernah di miliki oleh mahluk-mahluk hidup yang lainnya sehingga dapat memahami ilmu yang diturunkan Allah, berupa al-Quran menurut sunah rasul. Dengan ilmu manusia mampu berbudaya. Manusia sebagai mahluk yang telah diberikan kesempurnaan haruslah mampu menempatkan dirinya sesuai dengan hakikat diciptakannya yakni sebagai penjaga atau pengelola bumi yang dalam hal ini disebut dengan khalifah. Allah SWT berfirman bahwa fungsi dan peran manusia adalah sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi. Allah berfirman :

  (Q.S. Al-Baqarah : 30)

ُن ْحَنَو َءاَمِدلللا ُكِف ْللسَيَو اللَهيِف ُد ِللسْفُي ْنَم اللَهيِف ُلللَع ْجَتَأ اوُلاَق ًةَفيِلَخ ِض ْأرا ِف ٌلِعاَج ِنِإ ِةَكِائَمْلِل َكُبَأ َلاَق ْذِإَو

( ٣٠

  ) َنوُمَلْعَت اَم ُمَلْعَأ ِنِإ َلاَق َكَل ُسِدَقُنَو َكِدْمَحِب ُحِبَسُن

  30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

  Dalam kamus Bahasa Indonesia, khalifah berarti pimpinan umat. Menjadi pemimpin adalah fitrah setiap manusia. Namun karena satu dan lain hal, fitrah ini tersembunyi, tercemar bahkan mungkin telah lama hilang. Akibatnya, banyak orang yang merasa dirinya bukan pemimpin. Mereka telah lama menyerahkan kendali hidupnya pada orang lain dan lingkungan sekitarnya. Mereka perlu “dibangunkan” dan disadarkan akan besarnya potensi yang mereka miliki.

  Kepemimpinan adalah suatu amanah yang diberikan Allah yang suatu ketika nanti harus kita pertanggungjawabkan. Karena itu siapa pun anda, di mana pun anda berada, anda adalah seorang pemimpin, minimal memimpin diri sendiri. Kepemimpinan adalah mengenai diri sendiri. Kepemimpinan adalah perilaku kita sehari-hari. Kepemimpinan berkaitan dengan hal-hal sederhana seperti berbakti kepada orang tua, tidak berbohong, mengunjungi kawan yang sakit, bersilahturahmi dengan tetangga, mendengar keluh kesah sahabat, dan sebagainya.

  Kata khalifah berasal dari kata khalafa yakhlifu khilafatan atau khalifatan yang berarti meneruskan, sehingga kata khalifah dapat diartikan sebagai pemilih atau penerus ajaran Allah.

  Menurut Al-Qur’an Tuhan berfirman : Adz-Dzaariyaat (51 ayat 56) :

  “dan tidak aku jadikan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.”

  Di dalam Surat An-Nisa ayat 58-59 tersebut dijelaskan kriteria pemerintahan (kepemimpinan) yang baik, yaitu :

  a. Pemerintah yang pemimpinnya menyampaikan amanat kepada yang berhak dan berlaku adil. b. Musyawarah pada setiap persoalan dan apabila terjadi perselisihan maka hendaklah kembali kepada sumber hukum Islam.

  c. Pemerintahan yang memiliki sifat kooperatif antara rakyat dan pemerintah, rakyat harus patuh dan taat pada peraturan yang dibuat oleh pemerintah dalam hal ini baik dan benar dan pemerintah harus benar-benar menjalankan pemerintahan untuk kepentingan rakyat.

  Setiap orang sebenarnya pemimpin. Setiap orang dapat mengatur dirinya sendiri. Sayangnya, banyak yang tidak sadar akan kemampuannya tersebut. Maka untuk menjadi sadar ada tiga hal yang perlu dilakukan agar kita semua sadar akan kemampuan kita sebagai pemimpin, yaitu : a. Memahami diri sendiri (Self Understanding) Proses ini kita harus memahami dan mengenal diri kita. Untuk menjadi pemimpin kita harus sadar siapakah kita sebenarnya. Nabi Muhammad SAW bersabda :

   "Siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya" Tanpa mengenali diri kita dengan benar ,maka sulit untuk menemukan makna kehidupan hidup adalah sebuah perjalanan melingkar, kita harus tahu siapa kita dan bagaimana kita seharusnya?

  b. Kesadaran diri (Self Awareness) Kesadran diri berarti sadar akan perasaan kita . Untuk menjadi pemompim kita harus melek emosi dan kita harus mampu mengenali dan mengindentifikasi- kan perasaan apapun yang sedang kita rasakan.

  c. Pengendaalian diri (self Control) Pengendalian diri berarti sadar sepenuhnya akan apa yang akak kita lakukan Ini adalah hasil dari kecerdasan emosi yang tinggi. Pengendalian diri baru dapat terlihat ketika situsi yang sulit dan melibatkan emosi, sebagai pemimpin kita harus bisa mengendalikannya. Pemimpin yang mampu mengendalikan diri tidak akan tergoda untuk melakukan dan memgambil sesuatu yang bukan haknya. Pengendalian diru juga ditunjukkan oleh keberanian seseorang untuk membuat komotmen dan melaksanakan komitmen tersebut.

  Allah Swt dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya telah menciptakan makhluk-mkhluk yang di tempatkan di alam pencipta-Nya. Manusia di antara makhluk Allah Swt dan menjadi hamba Allah Swt. Sebagai hamba Allah yang tanggung jawab adalah amat luas di dalam kehidupannya, meliputi semua keadaan dan tugas yang di tentukan kepada-Nya.

  Tanggung jawab manusia secara umum digambarkan oleh Rasulullah Saw di dalam hadis berikut : Dari Ibnu Umar RA : “Saya Mendengar Rasulullah Saw bersabda yang bermaksud: “Semua orang dari engkau sekalian adalah pengembala dan dipertanggung jawabkan terhadap apa yang di gembalanya. Seorang lelaki adalah pengembala dalam keluarganya dan akan di Tanya tentang pengembalanya. Seorang isteri adalah pengembala di rumah suamina dan akan ditanya tentang pengembalanya. Seorang khadam juga pengembalanya dalam harta tuannya dan akan di tanya tentang pengembalanya. Maka semua dari kamu sekalian adalah pengembala dan akan di tanya tentang pengembalanya.” Allah menciptakan manusia ada tujuan-tujuannya yang tertentu. Manusia di ciptakan untuk di kembalikan semula kepada Allah dan setiap manusia akan di tanya atas setiap usaha dan amal yang di lakukan selama hidup di dunia. Apabila pengakuan terhadap kenyataan dan hakikat wujudnya hari pembalasan telah di buat maka tugas yang diwajibkan ke atas dirinya perlu dilaksanakan.

BAB III KESIMPULAN Manusia diciptakan Allah Swt. Berasal dari saripati tanah, lalu menjadi

  nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk yang paling sempurna yang memiliki berbagai kemampuan. Oleh karena itu, manusia wajib bersyukur atas karunia yang telah diberikan Allah Swt.

  Eksistensi manusia di dunia adalah sebagai tanda kekuasaan Allah Swt terhadap hamba-hamba-Nya, bahwa dialah yang mencipytakan, menghidupkan dan menjaga kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan diciptakan manusia dalam konteks hubungan manusia dengan Allah Swt adalah dengan mengimami Allah Swt dan memikirkan ciptaan-Nya untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Sedangkan dalam konteks hubungan manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam adalah untuk berbuat amal, yaitu perbuatan baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap sesama manusia, serta tidak merusak alam.

  Manusia dipercaya Allah untuk menjadi khalifah dimuka bumi ini.Allah.Dia pernah memberi amanat kepada bumi tapi bumi tak sanggup untuk memikulnya,begitu juga dengan gunung.Dan akhirnya manusialah yang dipercaya unutuk mengemban amanat itu.

  Sebagai wakil Allah di bumi ini,manusia salah satu tugas manusia adalah untuk mennjaga keseimbangan kehidupan di bumi ini.Serta menjalin hubungan dengan Allah,dengan sesama manusia,dan dengan lingkungan kehidupannya. Kepemimpinan adalah suatu amanah yang diberikan Allah yang suatu ketika nanti harus kita pertanggungjawabkan.

DAFTAR PUSTAKA

  Herman dan Rysta Yuniarti.2011. Hakikat Manusia Menurut Islam.

  

  diakses pada tanggal 17 Oktober 2014 Tim Dosen PAI.2012.Buku Daras Pendidikan Agama Islam di Universitas

  Brawijaya. Pusat Pembinaan Agama:Malang

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Tags
Makalah Pendidikan Agama Islam

Makalah Pendidikan Agama Islam Pdf

Makalah Pendidikan Agama Islam Pelaksana

Makalah Pendidikan Agama Islam Fakultas

Makalah Pendidikan Agama Islam Ijtihad

Makalah Pendidikan Agama Islam Perbedaan

Makalah Pendidikan Agama Islam Docx

Makalah Pendidikan Agama Islam Pandangan

Pendidikan Agama Islam 1 Pdf

Makalah Agama Islam 1 Kebudayaan Islam O

Makalah Pendidikan Agama Islam (1)

Gratis

Feedback