PENGELOLAAN EKOSISTEM PULAU PULAU KECIL

Gratis

1
3
13
1 year ago
Preview
Full text

  

PENGELOLAAN EKOSISTEM PULAU – PULAU KECIL

BERBASIS MASYARAKAT

DI PULAU HABE DISTRIK OKABA

KABUPATEN MERAUKE

  

Oleh :

Rusdi Jaya

NPM. 2009 54 242 019

JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUSAMUS

MERAUKE

  

2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki potensi sumberdaya

  alam dan jasa lingkungan yang tinggi dan dapat dijadikan sebagai modal dasar pelaksanaan pembangunan Indonesia di masa yang akan datang. Kawasan ini menyediakan sumberdaya alam yang produktif seperti terumbu karang, padang lamun (seagrass), hutan mangrove, perikanan dan kawasan konservasi dan juga memberikan jasa lingkungan yang besar karena keindahan alam yang dimilikinya yang dapat menggerakkan industri pariwisata bahari. Dilain pihak, pemanfaatan potensi pulau-pulau kecil masih belum optimal akibat perhatian dan kebijakan Pemerintah selama ini yang lebih berorientasi ke darat.

  Dipandang sebagai suatu “ruang”, wilayah pesisir merupakan wadah kehidupan manusia dan makluk hidup lainnya, yang mengandung potensi sumber daya pesisir yang bersifat terbatas. Sebagai wadah, wilayah pesisir memang terbatas dalam hal besaran wilayahnya, sedangkan sebagai sumber daya terbatas mengenai daya dukungnya. Dalam fungsinya untuk budidaya, besaran wilayah pesisir mengandung berbagi potensi pemanfaatan dalam berbagai sektor kegiatan ekonomi.

  Umumnya wilayah pesisir digunakan sebagai wadah berbagai aktivitas manusia dengan intensitas yang tinggi. Hal itu misalnya untuk permukiman, kawasan industri, pertanian, pertambakan, pelabuhan, rekreasi dan pariwisata, pertambangan, pembangkit tenaga listrik, dan konservasi sumberdaya alam. Sedangkan di laut pantai digunakan untuk media pelayaran dan untuk penangkapan ikan, serta sumber daya alam hayati lainnya. Masing - masing kegiatan tersebut belum tentu dapat saling menguntungkan, bahkan justru dapat merugikan satu sama lain. Oleh karena itu wilayah pesisir di samping sebagai “pusat kegiatan” juga dapat menjadi “pusat konflik atau benturan” antara kepentingan sektor yang satu dengan sektor lainnya. oleh karena itu perlu dipertegas pada suatu pengaturan yang rigid mengatur masalah pesisir

  2 Kabupaten Merauke mempunyai luas wilayah 46.791,63 km dengan

  2

  luas perairan 5.089,71 km dan merupakan kabupaten terluas di Provinsi Papua. Kabupaten Merauke memiliki 3 Pulau yaitu pulau Dolak, pulau Pombo yang terletak di distrik Kimaam dan pulau Habe yang terletak di distrik Okaba. Ketiga pulau tersebut merupakan objek wisata alam yang ada di kabupaten Merauke. Salah satu pulau yang berada pada wilayah pesisir dengan potensi sumberdaya alam yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi adalah pulau Habe. Pulau Habe memiliki potensi yang unik yang dapat dilihat dari pengembangan potensi pariwisata yang memiliki karakterstik khusus mampu memiliki daya saing yang kompetitif serta kontribusi nyata terhadap kemajuan dan daya tarik bagi wisata di Papua, Indonesia dan luar Indonesia.

  Sayangnya potensi yang ada di pulau tersebut belum dimanfaatkan secara optimal

B. Tujuan

  Tujuan dari penulisan makalah ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui tentang pengelolaan ekosistem pulau – pulau kecil berbasis masyarakat di pulau Habe kabupaten Merauke berdasarkan undang-undang No 27 tahun 2007.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengaturan Pengelolaan Wilayah Pesisir Ditinjau Dari Pengelolaan Berbasis Masyarakat

1. Konsep Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Berbasis Masyarakat

  Pengelolaan sumberdaya alam dapat didekati dengan dua pendekatan yaitu pendekatan berbasis masyarakat dan pendekatan berbasis pemerintah. Dalam pengelolaan wilayah pesisir dan lautan yang berbasis pemerintah (pemerintah pusat), selama ini dianggap kurang berhasil karena banyak menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan masyarakat khususnya di daerah. Kondisi ini tentunya diharapkan dapat diperbaiki baik oleh pemerintah maupun masyarakat di daerah terutama setelah adanya kewenangan pengelolaan melaluiUU No.22 tahun 1999 Tentang Pemerintah daerah yang di perbaharui dengan UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.

  Pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis masyarakat (PSPBM) dapat didefinisikan sebagai suatu proses pemberian wewenang, tanggung jawab, dan kesempatan kepada masyarakat untuk mengelola sumberdayanya sendiri dengan terlebih dahulu mendefinisikan kebutuhan, keinginan, tujuan serta aspirasinya. PSPBM ini menyangkut juga pemberian tanggung jawab kepada masyarakat sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang pada akhirnya menentukan dan berpengaruh pada kesejahteraan hidup mereka, hal ini harus diakomodir pada pengaturan pengelolaan wilayah pesisir

  Masyarakat dalam definisi PSPBM adalah komunitas atau sekelompok orang yang memiliki tujuan yang sama. Istilah komunitas sendiri berasal dari bidang ilmu ekologi yang secara sederhana merujuk pada kondisi saling berinteraksi antara individu suatu populasi yang hidup di lokasi tertentu. Interaksi antara individu dalam suatu masyarakat pada dasarnya bersifat kompetitif. Meskipun kerjasama merupakan sifat interaksi antara masyarakat juga dalam pengelolaan dan pemanfaatan saling berkompetisi. Saling berkompetisi dalam memanfaatkan sumberdaya pesisir adalah salah satu alas an terjadinya kegagalan pengelolaan wilayah pesisir. Hal ini ditunjukkan dengan rusaknya sumberdaya dimaksud serta terjadinya kemiskinan. Namun demikian, interaksi antar masyarakat dapat dipandang juga sebagai potensi yang dapat dikembangkan untuk merumuskan suatu mekanisme pengelolaan sumberdaya pesisir yang efektif.

  Memberikan tanggungjawab kepada masyarakat dalam mengelola sumberdaya pesisir adalah upaya untuk mendekatkan masyarakat dengan sumberdaya yang dimanfaatkannya bagi kelangsungan hidup mereka seharihari. Hal inilah yang sebenarnya merupakan substansi dari pelaksanaan otonomi daerah yang sering didengung-dengungkan. Tapi apa yang terjadi selama ini, justeru masyarakatlah yang dijauhkan dari sumberdayanya.

  Sebenarnya, jika diamati selama ini masyarakat pesisir telah hidup sangat dekat dengan sumberdaya yang memberinya manfaat. Mereka tinggal di tepi laut, bahkan ada yang tinggal di atas perahu sebagai kediamannya seperti beberapa kebudayaan masyarakat. Mereka mengganggap laut sebagai bagian penting dari hidupnya. Oleh karena itu, mereka tidak saja memanfaatkan sumberdaya ini, tetapi mereka juga menjaga dan menata agar sumberdaya laut ini tetap ada dan berkelanjutan.

  Kondisi di atas ternyata sangat kontradiktif dengan praktek-praktek pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan selama ini. Kalau selama ini diasumsikan bahwa masyarakat dekat dengan alam, ternyata telah jauh bahkan dipaksakan terpisah dengan alamnya. Keadaan ini terjadi karena masyarakat khususnya masyarakat pesisir tidak lagi memiliki kemampuan, tanggung jawab, serta wewenang dalam mengelola atau mengatur pemanfaatan sumberdaya alam yang menjadi bagian hidupnya. Wewenang dan tanggung jawab itu telah beralih dari masyarakat ke pemerintah (pemerintah pusat) atau pengusaha. Beralihnya wewenang dan tanggung jawab ini telah berjalan lama. Setidaknya, sejak adanya secara cepat sebagai mesin pencetak uang guna membiayai pembangunan sektor atau bidang lain. Akhirnya, kemampuan yang tadinya dimiliki masyarakat dalam mengatur dan menata sumberdaya pesisir dan lautan, lenyap secara perlahan-lahan. Dengan PSPBM yang diadopsi pada suatu pengaturan terutama dalam bentuk Perda yang lebih dekat dengan masyarakat, diharapkan wewenang, tanggung jawab serta kemampuan dalam mengelola sumberdaya pesisir dan lautan ini dapat kembali kepada masyarakat.

  Konsep pemberian tanggungjawab dan wewenang dalam mengelola wilayah pesisir pada masyarakat dalam Perda tentang pengelolaan wilayah pesisir, laut dan pulau-pulau kecil di daerah-daerah telah berjalan sesuai Undang-undang yang berlaku, pemberian tanggungjawab dan wewenang ini dalam kaitanya dengan keikutsertaan masyarakat dalam melindungi potensi sumber daya alam pesisir dan laut agar tidak rusak dan untuk kepentingan masyarakat sendiri.

  Konsep-konsep pengelolaan diatas harusnya diadopsi oleh Peraturan Daerah. Konsep-konsep pengelolaan berbasis masyarakat akan mendekatkan masyarakat pesisir pada sumber daya pesisir yang merupakan tunjangan hidup dan lingkungan hidup mereka. Sehingga wewenang, tanggung jawab serta kemampuan pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan lautan dapat kembali ke masyarakat, terutama masyarakat pesisir.

  

2. Prinsip Pengaturan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Berbasis

Masyarakat

  Wilayah pesisir merupakan kawasan yang memiliki karakteristik yang unik dan kompleks. Kompleksitas ditunjukkan oleh keberadaan berbagai pengguna dan berbagai entitas pengelola wilayah yang mempunyai kepentingan dan cara pandang yang berbeda mengenai pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya di wilayah pesisir. Dengan mempertimbangkan karakteristik tersebut, maka muncul suatu konsep

  

Management). Pendekatan ini menjadi salah satu pendekatan andalan

  dalam mengelola berbagai potensi dan konflik sumberdaya yang ada di wilayah pesisir.

  Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu (ICZM) adalah pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pesisir, dengan cara melakukan penilaian menyeluruh tentang kawasan pesisir dan sumberdaya alam serta jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalamnya, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan guna mencapai pembangunan yang optimal dan berkelanjutan. Ada empat alas an pokok yang dikemukakan sebagai dasar pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu yaitu : a. keberadaan sumberdaya pesisir dan lautan yang besar dan beragam,

  b. peningkatan pembangunan dan jumlah penduduk,

  c. pergeseran konsentrasi kegiatan ekonomi global dari poros Eropa – Atlantik menjadi poros Asia Pasifik dan

  d. wilayah pesisir dan lautan sebagai pusat pengembangan kegiatan industry dalam proses pembangunan menuju era industrialisasi.

  Secara lebih spesifik perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu adalah pengkajian sistematis tentang sumberdaya wilayah pesisir dan lautan serta potensinya, alternatif-alternatif pemanfaatannya serta kondisi ekonomi dan social untuk memilih dan mengadopsi cara- cara pemanfaatan pesisir yang paling baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mengamankan sumberdaya tersebut untuk masa depan.

  Kecenderungan yang terlihat selama ini adalah peningkatan peran pemerintah dalam pengelolaan wilayah pesisir, tampak bahwa peran tradisional kurang mendapat perhatian karena dianggap pengalaman dan pengetahuannya masih bersifat tradisional. Dari beberapa penelitian terakhir nampak kondisi tertentu masyarakat pesisir khususnya nelayan dapat mengatur dan menyusun serta menjalankan peraturan-peraturan kelestariannya melalui lembaga-lembaga adat dan praktekpraktek sosial dalam masyarakat. Dalam banyak hal pemerintah gagal dalam menyusun suatu system tertentu untuk menggantikan atau melengkapi sistemsistem tradisional. Nasionalisasi atau swastanisasi sebagai solusi alternative tidaklah mampu menyelesaikan masalah degradasi dan over exploitation sumberdaya laut, bahkan menyebabkan sebagian besar penduduk kehilangan mata pencahariannya

  Melihat pengalaman yang telah terjadi, maka perlu dikembangkan suatu pendekatan yang lebih spesifik yang merupakan turunan dari berbagai konsep pendekatan yang telah diuraikan yaitu pendekatan pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis masyarakat (PSPT-BM). PSPT- BM diartikan sebagai suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada masyarakat dan dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan dua aspek kebijakan, yaitu aspek ekonomi dan aspek ekologi. Didalam pelaksanaannya terjadi pembagian tanggung jawab dan wewenang antara pemerintah disemua tingkat dalam lingkup pemerintahan maupun sektoral dengan pengguna sumberdaya alam (masyarakat) dalam pengelolaan sumberdaya pesisir. Dalam PSPT-BM agar tidak terjadi ketimpangan maka baik pemerintah maupun masyarakat harus sama-sama diberdayakan. Selain masyarakat, pemerintah diharapkan secara proaktif menunjang program pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir.

  Lebih lanjut dikemukakan bahwa masyarakat dalam PSPT-BM adalah segenap komponen yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan. Komponen dimaksud diantaranya adalah masyarakat lokal, LSM, swasta, perguruan tinggi dan kalangan peneliti. Dalam PSPT-BM diharapkan partisipasi dari masyarakat dimulai dari proses awal hingga akhir.

  Dalam penerapannya PSPT-BM ini memerlukan fasilitator yang dapat menggerakkan/memotivasi dan menumbuhkan partisipasi pemerintahan di sisi lain, dalam menciptakan keterpaduan. Fasilitator adalah orang yang memahami prinsipprinsip pengelolaan sumberdaya alam secara terpadu. Fasilitator dapat berasal dari stakeholder maupun dari luar. Dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat, fasilitator dapat dibantu oleh seorang motivator atau penggerak yang berasal dari tokoh masyarakat ataupun LSM setempat yang mampu memberikan inspirasi kepada masyarakat.

  Dari uraian pengelolaan wilayah pesisir terpadu berbasis masyarakat di atas maka didapat poin-poin kunci keberhasilan konsep pengaturan pengelolaan sumberdaya pesisir terpadu berbasis masyarakat adalah sebagai berikut :

  1) Batas-batas wilayah terdefinisi.

  Batas-batas fisik dari suatu kawasan yang akan dikelola harus ditetapkan dan diketahui secara pasti oleh masyarakat. Peranan pemerintah disini adalah menentukan zonasi dan sekaligus melegalisasinya. Batas-batas wilayah tersebut haruslah didasarkan pada sebuah ekosistem sehingga sumberdaya tersebut dapat lebih mudah dipahami dan diamati

  2) Status sosial masyarakat dalam penerapan PSPT-BM.

  Kelompok masyarakat yang terlibat hendaknya tinggal secara tetap di dekat wilayah pengelolaan. Dalam konteks ini kebersamaan masyarakat akan kelihatan, baik dalam hal: etnik, agama, metode pemanfaatan, kebutuhan, harapan dan sebagainya. Segenap pengguna yang berhak memanfaatkan sumberdaya alam di sebuah kawasan dan berpartisipasi dalam pengelolaan daerah tersebut harus diketahui dan didefinisikan dengan jelas. Jumlah pengguna tersebut seoptimal mungkin tidak boleh terlalu banyak sehingga proses komunikasi dan musyawarah yang dilakukan lebih efektif.

  3) Ketergantungan kepada sumberdaya alam.

  Dalam pelaksanaan PSPT-BM, yang harus diperhatikan adalah adanya kejelasan ketergantungan dari masyarakat terhadap sumberdaya alam yang ada. Kunci kesuksesan pelaksanaan pengelolaan sangat terletak dari adanya rasa memiliki dari para peminatnya

  4) Memberikan manfaat.

  Setiap komponen masyarakat di sebuah kawasan pengelolaan mempunyai harapan bahwa manfaat yang diperoleh dari partisipasi masyarakat dalamkonsep PSPT-BM akan lebih besar dibanding dengan biaya yang dikeluarkan. Dalam hal ini, salah satu komponen indikatornya dapat berupa rasio pendapatan relatif dari masyarakat lokal dan stakeholeder lainnya

  5) Pengelolaannya sederhana dan mudah diimplementasikan

  Dalam model PSPT-BM salah satu kunci kesuksesan adalah penerapan peraturan pengelolaan yang sederhana namun terintegrasi serta mudah dilaksanakan. Proses monitoring dan penegakan hukum dapat dilakukan secara terpadu dengan basis masyarakat sebagai pemeran utama

  6) Legalisasi dari sistem pengelolaan

  Masyarakat lokal yang terlibat dalam pengelolaan membutuhkan pengakuan legal dari pemerintah daerah, dengan tujuan hak dan kewajibannya dapat terdefinisikan dengan jelas dan secara hokum terlindungi dalam hal ini diakomodir dalam Undang-undang atau Perda. Dalam hal ini, jika hukum adat telah ada dalam suatu wilayah, maka seharusnyalah pemerintah memberikan legalitas sehingga keberadaan hukum ini memiliki kekuatan hukum yang lebih kuat bagi para stakeholder. Adanya legalitas semakin menumbuhkan kepercayaan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pegelolaan sumberdaya pesisir yang lebih lestari

  7) Kerjasama pemimpin formal dan informal

  Didalamnya terkandung pengertian adanya individu ataupun kelompok inti yang bersedia melakukan upaya semaksimal mungkin. Termasuk adanya pemimpin yang dapat diterima oleh semua pihak dalam masyarakat dan adanya program kemitraan antara segenap aktivitas.

8) Desentralisasi dan pendelegasian wewenang

  Pemerintah daerah perlu memberikan desentralisasi proses administrasi dan pendelegasian tanggungjawab pengelolaan kepada kelompok masyarakat yang terlibat.

  Sehingga dari poin-poin di atas merupakan prinsip pengelolaan wilayah pesisir yang berbasis masyarakat, yang dapat dijadikan ukurun untuk menilai suatu Peraturan, seperti yang dilakukan di Filipina, Beberapa prinsipprinsip dari Community-based coastal resources

  management (CBCRM ) yang dilaksanakan di Philipina yaitu :

  a. community-based coastal resources management berusaha keras untuk mewujudkan partisipasi masyarakat secara lebih aktif di dalam perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya pesisir,

  b. mempunyai potensi yang besar dari segi efektifitas dan keadilan,

  c. melibatkan pengelolaan oleh masyarakat sendiri, apabila masyarakat juga diberikan tanggung jawab untuk pengawasan dan penegakannya, d. menimbulkan rasa memiliki atas sumber daya, yang membuat masyarakat lebih bertanggung jawab untuk keberlanjutan sumber daya dalam jangka panjang,

  e. memberikan kemungkinan kepada masyarakat untuk mengembangkan strategi pengelolaan yang dapat menyerasikan antara kebutuhan- kebutuhan khusus mereka dengan berbagai kondisi yang ada,

  f. mempunyai tingkat fleksibilitas yang tinggi dan dapat dirubah secara mudah, g. memberikan kesempatan yang besar kepada masyarakat untuk pengelolaan sumber daya pesisir, dan h. berusaha keras untuk mewujudkan penggunaan pengetahuan dan keahlian masyarakat setempat secara maksimal dalam pengembangan strategi pengelolaan.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pengaturan pengelolaan wilayah pesisir ditinjau dari prinsip

  pengelolaan wilayah pesisir yang berbasis masyarakat, dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya pesisir dan laut telah memciptakan Peraturanperaturan Daerah Tentang Pengelolaan wilayah pesisir, laut dan pulau-pulau kecil di setiap daerah yang memiliki wilayah pesisir. Pengaturan hukum pengelolaan wilayah pesisir dalam bentuk Perda Tersebut dilandaskan pada asas pengelolaan wilayah pesisir yang berbasis masyarakat. Asas pengelolaan wilayah pesisir yang berbasis masyarakat di dalamnya mengatur dan melindungi kepentingan dan hak-hak prinsipil masyarakat pesisir, dan prinsip-prinsip itulah yang akan menjadi ukuran pengaturan hukum itu berpihak dan mementingkan kepentingan masyarakat pesisir.

DAFTAR PUSTAKA

  Aca Sugandhy, Penataan Kawasan Pesisir Yang Berkelanjutan, Makalah Seminar Nasional Pengembangan Wilayah dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Kawasan Pesisir dalam rangka Penataan Ruang yang Berkelanjutan, FH UNPAD, Bandung, 2000.

  Purnomowati, R. Menuju Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Terpadu Berbasis

  Masyarakat. Makalah disampaikan pada Pelatihan ICZPM. Kerjasama PKSPL-IPB dengan Ditjen P3K,DKP. Bogor, 2003.

  Endang Adiyanto, Dkk, 2007, Tinjauan Hukum Dan Kebijakan Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar Indonesia (Studi Kasus Pulau Nipa). Buletin Ekonomi Perikanan Vol.VII. No.2 Tahun 2007.

  Badan Pusat Statistik Kabupaten Merauke. Merauke Dalam Angka 2011. Cv.

  Sekar Wangi Ir. Rudolf W Matindas, M.Sc, Dr. Ir. Sobar Sutisna, M.Surv.Sc, 2006. Kebijakan

  Dan Strategi Penataan Dan Pemeliharaan Batas Wilayah Nkri Dan Pulau- Pulau Kecil Terluar. Kapus Pemetaan Batas Wilayah Bakosurtanal. Kementerian Koordinator Bidang Polhukam. Jakarta

  Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (13 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL DAN GRAND STRATEGYPENGEMBANGAN USAHA KECIL MIE SOHUN DI KABUPATEN JEMBER
0
20
17
ANALISIS PENGENDALIAN INTERNAL PROSES PENGADAAN BARANG PADA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH KABUPATEN NGANJUK
1
25
27
EVALUASI PENERAPAN AUDIT OPERASIONAL PENGELOLAAN PERSEDIAAN BARANG DAGANGAN PADA CV. MAMUR JAYA MALANG
1
27
1
POLA PENGELOLAAN ISU PT. KPC (KALTIM PRIMA COAL) Studi pada Public Relations PT. KPC Sangatta, Kalimantan Timur
2
43
43
ANALISIS TERHADAP PEMBATALAN PERJANJIAN BANGUN GUNA SERAH (BUILD OPERATE AND TRANSFER) OLEH PEMERINTAH DAERAH SERTA AKIBAT HUKUM BAGI INVESTOR YANG MENGALIHKAN HAK PENGELOLAAN KEPADA INVESTOR LAIN
2
62
161
DIVERSIFIKASI PRODUK MAKANAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) BERBASIS INOVASI DI KOTA BLITAR
4
86
17
DIVERSIFIKASI PRODUK MAKANAN USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) BERBASIS INOVASI DI KOTA BLITAR
1
14
17
ELASTISITAS PENYERAPAN TENAGA KERJA PADA SUB SEKTOR INDUSTRI KECIL HASIL LAUT DI KABUPATEN SITUBONDO TAHUN 2007-2011
0
9
22
EVALUASI PENGELOLAAN LIMBAH PADAT MELALUI ANALISIS SWOT (Studi Pengelolaan Limbah Padat Di Kabupaten Jember) An Evaluation on Management of Solid Waste, Based on the Results of SWOT analysis ( A Study on the Management of Solid Waste at Jember Regency)
4
21
1
IMPLIKASI KREDIT USAHA TERHADAP PENDAPATAN USAHA KECIL (APLIKASI REGRESI DUMMY VARIABEL)
2
39
16
INTERTEKSTUAL CERPEN “ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA A.A. NAVIS DENGAN “BURUNG KECIL BERSARANG DI POHON” KARYA KUNTOWIJOYO DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH
22
325
108
DESKRIPSI PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT USAHA RAKYAT KEPADA USAHA MIKRO KECIL dan MENENGAH (Studi Pada Bank Rakyat Indonesia Unit Way Halim)
10
93
46
PENGAWASAN OLEH BADAN PENGAWAS LINGKUNGAN HIDUP KOTA BANDAR LAMPUNG TERHADAP PENGELOLAAN LIMBAH HASIL PEMBAKARAN BATUBARA BAGI INDUSTRI (Studi di Kawasan Industri Panjang)
7
68
52
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA POSTER MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD)TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PADA MATERI POKOK PENGELOLAAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Neg
0
28
68
PENGARUH ACTIVE LEARNING TERHADAP PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA PADA MATERI PENGELOLAAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimental pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Bandar Mataram Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015)
1
21
50
Show more