PENGARUH PRAKTIKUM BERBASIS INKUIRI TERBIMBING TERHADAP SIKAP ILMIAH DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI HIDROLISIS GARAM

Gratis

0
0
12
1 year ago
Preview
Full text

JURNAL PENDIDIKAN

  September 2018, Volume 7, Nomor 1, Hal 34 - 45

  ISSN Online 2541-2264

  ISSN Cetak 2089-3027

PENGARUH PRAKTIKUM BERBASIS INKUIRI TERBIMBING TERHADAP SIKAP ILMIAH DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI HIDROLISIS GARAM

  Supiawati*, Rizmahardian Ashari Kurniawan, dan Tuti Kurniati Prodi Pendidikan Kimia, UM Pontianak Jalan Ahmad Yani Nomor 111, Pontianak, Kalimantan Barat

  • Email korespondensi: supiafadli@gmail.com

    Sikap ilmiah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.

  

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan dan besarnya pengaruh

metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar

siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi-eksperimental dengan rancangan

nonequivalent control group design untuk mengetahui hasil belajar siswa dan one-shot

case study untuk observasi sikap ilmiah siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah

cluster random sampling, diperoleh kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas

  

XI IPA 3 sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah

observasi, teknik pengukuran, dan teknik komunikasi langsung. Alat pengumpul data

yang digunakan adalah lembar observasi, catatan lapangan, tes hasil belajar, dan pedoman

wawancara. Berdasarkan analisis data menggunakan uji non-parametrik U-Mann

Whitney menunjukan terdapat perbedaan sikap ilmiah yaitu 0,00 < 0,05 dan hasil belajar

yaitu 0,00 < 0,05. Hal ini menunjukan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa pada kelas

eksperimen berbeda dengan kelas kontrol. Effect size yang diperoleh untuk sikap ilmiah

dan hasil belajar siswa adalah 2,47 dan 1,99 yang termasuk dalam kriteria tinggi.

Pembelajaran menggunakan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing berpengaruh

terhadap sikap ilmiah siswa sebesar 99,32% dan hasil belajar siswa sebesar 97,67%.

  Kata Kunci: Hidrolisis Garam, Praktikum, Inkuiri Terbimbing, Sikap Ilmiah PENDAHULUAN

  Perkembangan ilmu kimia dalam pendidikan diarahkan pada produk akhir, metode ilmiah dan sikap ilmiah yang dimiliki siswa dan akhirnya akan bermuara pada perubahan hasil belajar. Sikap ilmiah merupakan dorongan perasaan dan keyakinan yang muncul dari dalam

  DOI: 10.2940.pena2018.71.223

  34 diri seseorang untuk bertingkah laku atau berbuat sesuatu pada suatu objek dengan berpedoman pada prosedur pemecahan masalah (Dewi dkk, 2014). Siswa yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kritis terhadap suatu permasalahan, jujur, selalu mendahulukan bukti, kreatif, dan terbuka merupakan ciri siswa yang selalu berpikir dan bertindak secara ilmiah, terstruktur, dan mandiri. Sikap-sikap tersebut sangat berpengaruh terhadap meningkatnya pencapaian hasil belajar siswa (Astawa dkk, 2015). Realita yang terjadi di SMAN 2 Sungai Raya, proses pembelajaran kimia yang diajarkan guru masih mendominasi metode ceramah, sesekali guru juga menerapkan diskusi kelompok, namun guru tidak pernah melakukan kegiatan praktikum dikarenakan laboratorium yang ada di sekolah kurang memadai. Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru tersebut menyebabkan sikap ilmiah siswa dalam pembelajaran kimia masih sangat rendah. Hal ini dapat terlihat dari kondisi siswa ketika pembelajaran berlangsung. Siswa terlihat pasif ketika guru memberikan kesempatan untuk bertanya. Begitu juga ketika siswa melakukan diskusi kelompok, siswa lebih berdiam diri dan tidak saling bekerjasama. Sikap saling menghargai pendapat juga tidak tercerminkan ketika siswa melakukan diskusi kelompok. Sikap ilmiah siswa yang rendah berdampak pada hasil belajar yang diperoleh siswa. Hasil ulangan harian siswa pada semester genap tahun ajaran 2013/2014 dan 2014/2015 menunjukkan bahwa persentase ketuntasan siswa pada sebagian materi pelajaran tidak mencapai 70% diperlihatkan pada Tabel 1.

  Materi hidrolisis garam merupakan salah satu materi pelajaran yang memiliki persentase ketuntasan paling rendah. Hasil yang diperoleh dari wawancara dengan siswa dan guru yaitu terdapat kesulitan pada materi hidrolisis gara. Penjelasan yang disampaikan guru, siswa tidak memahami konsep materi hidrolisis garam. Selain itu, siswa masih kesulitan dalam membedakan sifat asam dan basa, serta siswa merasa kesulitan dalam perhitungan materi hidrolisis garam karena banyak rumus yang mirip dengan rumus materi sebelumnya. Metode yang digunakan guru kurang membangun keaktifan siswa meskipun metode tersebut dinilai efektif dalam pembelajaran. Pelaksanaan proses pembelajaran yang tidak seimbang antara proses dan produk, menyebabkan siswa tidak mampu menumbuhkan dan mengembangkan sikap ilmiah yang ada didalam dirinya (Astawa dkk, 2015; Wardani, 2012). Metode praktikum merupakan metode yang cocok digunakan dalam proses pembelajaran kimia dengan tujuan agar siswa tidak hanya mengetahui, tetapi juga mengalami apa yang dipelajarinya sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna. Pembelajaran kimia dengan metode praktikum dapat memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep kimia, meningkatkan keterampilan proses siswa dan mengembangkan proses berpikir siswa (Wardani, 2012). Metode metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing dapat dijadikan solusi untuk meningkatkan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa di SMAN 2 Sungai Raya. Metode praktikum dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dalam menemukan dan memahami suatu konsep yang sedang dipelajari, serta dapat meningkatkan keaktifan siswa secara fisik dan mental (Mawarsari, 2013). Penelitian lain mengenai metode praktikum inkuiri menyimpulkan bahwa sikap ilmiah siswa akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Siswa yang diajarkan dengan metode praktikum inkuiri memiliki keterampilan proses sains dan hasil belajar yang lebih baik (Meli dkk, 2013). Antara sikap ilmiah dan hasil belajar yang diperoleh siswa memiliki hubungan yang saling berkaitan, semakin tinggi sikap ilmiah siswa maka semakin tinggi pula hasil belajar yang dicapai siswa (Dewi dkk, 2014). Proses pembelajaran praktikum berbasis inkuri terbimbing yang dilakukan diharapkan dapat meningkatkan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa. Karena melalui praktikum berbasis inkuiri terbimbing siswa dapat memahami konsep materi yang dipelajari siswa melalui masalah yang berkaitan dengan pengalaman yang siswa lakukan sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna (Wulandari dkk, 2013). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metode praktikum berbasis konvensional dengan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing serta untuk mengetahui pengaruh metode praktikum berbasis inkuiri terbimbingterhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa pada materi hidrolisis garam di SMAN 2 Sungai Raya.

METODE PENELITIAN

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Dalam penelitian ini terdapat dua kelas yang digunakan sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen, kelas kontrol merupakan kelas yang tanpa menggunakan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing, sedangkan kelas eksperimen adalah kelas dengan menggunakan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penerapan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing yang diberi simbol X. Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu sikap ilmiah dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran kimia pada materi hidrolisis garam di kelas XI IPA SMAN 2 Sungai Raya. Desain penelitian dalam penelitian ini adalah

  

nonequivalent control group design untuk mengetahui hasil belajar siswa dan one-shot case

  untuk observasi sikap ilmiah siswa (Tabel 2 dan 3). Populasi dalam penelitian ini adalah

  study

  seluruh siswa SMAN 2 Sungai Raya. Dari populasi diambil sampel siswa kelas XI IPA yang terdiri dari 91 siswa. Adapun sampel dalam penelitian ini yaitu kelas XI IPA1 SMAN 2 Sungai Raya yang berjumlah 30 siswa dengan 12 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Penentuan sampel diambil melalui teknik Cluster Random Sampling. Instrumen yang digunaka dalam penelitian, berupa soal tes tertulis 5 soal, lembar observasi, dan catatan lapangan. Implementasi pembelajaran ini dimulai dengan pemberian tes pretest yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki siswa. Siswa kemudian diberi perlakuan berupa penerapan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing, selama proses pembelajaran sikap ilmiah siswa diamati melalui lembar observasi. Kemudian dilakukan postest untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapakan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing.

  HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Pembelajaran Praktikum Berbasis Inkuiri Terbimbing

  Orientasi Pada tahap ini siswa diajak untuk mengingat kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya melalui pertanyaan, sehingga dapat mengarahkan siswa pada materi yang akan dipelajari. Guru kemudian memberikan pertanyaan mengenai materi hidrolisis garam untuk memotivasi siswa agar semangat belajar serta menjelaskan tujuan dari pembelajaran yang akan dilakukan, sehingga siswa mendapat gambaran terhadap apa yang akan dipelajari dan apa yang akan dilakukan.

  Merumuskan Masalah Tahap ini diawali oleh guru dengan mengemukakan suatu wacana yang terdapat pada

  LKS mengenai hidrolisis garam. Berdasarkan wacana tersebut, siswa diminta untuk merumuskan masalah atau pertanyaan. Pada awalnya siswa merasa kesulitan dalam merumuskan pertanyaan karena siswa tidak terbiasa melakukan hal tersebut. Namun, setelah diberikan bimbingan sebagian siswa mampu membuat pertanyaan yang diharapkan. Siswa terlihat antusias ingin menuliskan pertanyaan pada kolom yang terdapat dalam LKS. Pada tahap ini siswa terlibat secara langsung dalam merumuskan masalah yang akan dikaji sehingga membuat siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. Merumuskan Hipotesis

  Tahap merumuskan hipotesis, siswa dituntut untuk membuat jawaban sementara atau hipotesis atas pertanyaan yang telah ditentukan. Pada tahapan ini siswa menjadi kritis dalam berpikir untuk merumuskan hipotesisnya. Saat siswa berhipotesis, diharapkan siswa memahami bahwa hipotesis yang dibuat harus dibuktikan. Tahap merumuskan hipotesis ini, siswa dibimbing dan diarahkan untuk memprediksi jawaban atas pertanyaan yang dibuat.

  Mengumpulkan Data Tahap selanjutnya dalam proses inkuiri adalah mengumpulkan data. Proses pengumpulan data ini dilakukan melalui percobaan/praktikum. Praktikum yang dilakukan adalah “Uji Larutan Garam dalam Air”. Sebelum melakukan praktikum, siswa harus merencanakan percobaan sesuai dengan arahan pertanyaan dalam LKS serta dibimbing oleh guru. Tahapan ini dilakukan untuk membuktikan hipotesis yang dibuat oleh siswa serta untuk menemukan konsep yang benar melalui percobaan yang dilakukan. Kegiatan yang dilakukan siswa pada tahap ini adalah, merancang kegiatan praktikum sesuai dengan perintah yang terdapat pada LKS.

  Menguji Hipotesis Tahap ini diawali dengan siswa berdiskusi melakukan analisis data dari hasil pengamatan yang diperoleh dengan cara menjawab pertanyaan yang ada didalam LKS pada bagian analisis data. Siswa diharapkan mampu menghubungkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan, sehingga siswa menemukan suatu pola tertentu, yaitu hubungan perubahan warna kertas lakmus dengan sifat larutan garam, pH larutan garam serta menghitung pH larutan garam. Setelah siswa melakukan analisis data, dilanjutkan dengan tahap menguji hipotesis. Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara siswa melaporkan hasil diskusi ke depan kelas setelah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan dan hasil analisis data. Siswa yang lain diberi kesempatan untuk menanggapi hasil diskusi yang disampaikan temannya di depan kelas, sehingga membuat suasana kelas menjadi lebih aktif dan mengajarkan siswa untuk saling menghargai pendapat orang lain. Terlihat masih ada siswa yang ragu-ragu dengan keputusannya mengenai hipotesis yang diambil, sehingga diakhir proses melaporkan hasil diskusi, guru memberikan penguatan terhadap keputusan yang diambil siswa.

  Menarik Kesimpulan Tahap terakhir dalam pembelajaran inkuiri adalah tahap membuat kesimpulan. Guru membimbing siswa dengan memberikan arahan sehingga siswa mengerti dan akhirnya dapat membuat kesimpulan. Tahapan ini siswa tidak sekedar menyimpulkan tetapi siswa dituntut untuk menghubungakan data hasil pengamatan dengan teori yang ada di buku atau internet. Setelah siswa selesai menuliskan kesimpulan, guru meminta salah satu siswa untuk mengkomunikasikan kesimpulan yang dibuat serta guru memberikan penguatan kembali untuk menguatkan konsep yang didapat siswa ketika praktikum.

  Deskripsi Sikap Ilmiah Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Berdasarkan Aspek Penilaian

  Sikap ilmiah yang diamati dalam penelitian ini meliputi 6 aspek yaitu, rasa ingin tahu, menghargai data/fakta, berpikir kritis, berpikir terbuka dan bekerjasama, ketekunan, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Sikap ilmiah dapat diketahui setelah melakukan observasi terhadap 31 siswa dikelas kontrol dan 30 siswa di kelas eksperimen yang diamati oleh 4 orang observer. Penilaian sikap ilmiah siswa dilakukan menggunakan lembar observasi sikap ilmiah. Berikut hasil observasi sikap ilmiah dapat dilihat pada Gambar 1.

  95.56

  95.56

  94.45

  90

  86.02

  

82.26

  80.12

  75.27

  73.33

  73.12

  67.22

  60.76

  28.5

  25.27 Gambar 1: Sikap Ilmiah Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen

  Hasil observasi pada Gambar 1. menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sikap ilmiah kelas kontrol dan kelas eksperimen. Sikap ilmiah siswa kelas kontrol memiliki rata-rata sebesar 60,75 dengan rentang nilai dari 25,27 hingga 82,26. Sikap ilmiah siswa kelas eksperimen memiliki rata-rata sebesar 86,01 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol dengan rentang nilai 67,22 hingga 95,55. Dari Gambar 1. Dapat dilihat bahwa rata-rata sikap ilmiah berdasarkan aspek penilaian terdapat perbedaan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Rata-rata sikap ilmiah yang pertama yaitu rasa ingin tahu di kelas kontrol sebesar 25,27 sedangkan di kelas eksperimen sebesar 73,33. Perbedaan ini dikarenakan metode pembelajaran yang diterapkan di kelas eksperimen yaitu, metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing memiliki kelebihan dalam penyajian masalah yang terdapat dalam wacana Lembar Kerja Siswa (LKS), dengan adanya penyajian masalah tersebut akan memotivasi siswa untuk belajar dan ingin terus mencari jawaban dari pertanyaan atau rasa keingin tahuannya.

  Rata-rata sikap ilmiah pada aspek menghargai data/fakta di kelas kontrol sebesar 80,12 dan kelas eksperimen sebesar 90. Di kelas kontrol dan kelas eksperimen sama-sama dilakukan kegiatan praktikum, sehingga perbedaan rata-rata yang dimiliki siswa tidak jauh berbeda. Namun di kelas eksperimen digunakan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing, dalam pelaksanaan praktikum siswa dibiasakan memecahkan masalah dan merancang percobaan secara mandiri, sedangkan di kelas kontrol siswa hanya menerima arahan dari guru dalam melakukan percobaan, sehingga dalam menghargai data/fakta siswa kelas eksperimen lebih unggul dibandingkan dengan siswa kelas kontrol. Rata-rata sikap ilmiah pada aspek berpikir kritis kelas kontrol sebesar 25,50 dan kelas eksperimen sebesar 67,22. Penerapan

  

metodepraktikum berbasis inkuiri terbimbing pada kelas eksperimen membiasakan siswauntuk

berpikir kritis dalam membuat hipotesis dalam memecahkan masalah merancang kegiatan

praktikum, menemukan konsep, dan menghubungkan konsepdengan kehidupan sehari-hari.

Selain itu setiap proses pembelajaran siswa selalu dituntutuntuk aktif berpikir, hal ini berbeda

pada kelas kontrol yang siswanya bersifatpasif, sehingga peningkatan sikap berpikir kritis akan

lebih tinggi dibanding kelas kontrol. Rata-rata sikap ilmiah pada aspek berpikir terbuka dan

  bekerja sama pada kelas kontrol sebesar 82,26 dan kelas eksperimen sebesar 94,45 lebih tinggi dibanding kelas kontrol. Hal inidikarenakan walaupun kelas eksperimen proses pembelajaran

  

menggunakanmetode praktikum berbasis inkuiri terbimbing dan pada kelas kontrol

menggunakanmetode eksperimen tanpa inkuiri terbimbing, namum kedua kelas di lakukan

kegiatan diskusikelompok. Kegiatan diskusi kelompok yang dilengkapi dengan presentasi

hasildiskusi akan membuat sikap terbuka dalam menerima pendapat di kedua kelasmeningkat

dan bahkan kelas kontrol yang memiliki peningkatan sedikit lebihbesar daripada kelas

eksperimen.

  Sikap ilmiah pada aspek ketekunan didapat rata-rata kelas kontrol sebesar 73,12 dan

kelas eksperimen sebesar 95,56. Dan rata-rata sikap ilmiah peduli terhadap lingkungan sekitar

pada kelas kontrol sebesar 75,27 dan kelas eksperimen sebesar 95,56. Kedua aspek sikap ilmiah

ini memiliki rata-rata yang tidak jauh berbeda antara kedua kelas. Keduanya saling berkaitan.

  Siswa yang diajarkan dengan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing pada kelas eksperimen melalui tahap pembelajaran yang sistematis dan teratur, sehingga memudahkan guru dalam membimbing siswa. Hal ini melatih ketekunanyang dimiliki siswa ketika belajar serta membuat siswa saling mengetahui dampak dan saling mengingatkan temannya untuk membersihkan lingkungan belajarnya. Sedangkan dikelas kontrol tahap pembelajaran yang kurang sistematis, membuat siswa cenderung terburu-buru dalam menyelesaikan pembelajaran. Siswa menjadi kurang peduli terhadap lingkungan sekitar, sehingga membuat guru cenderung menegur siswa.

  Perbedaan Sikap Ilmiah Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Secara Statistik

  Perbedaan sikap ilmiah siswa melalui beberapa uji dapat dilihat seperti pada Tabel 4.Sikap ilmiah siswa dianalisis menggunakan uji statistik, dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan Tabel 4. hasil uji statistik sikap ilmiah, menunjukkan bahwa sikap ilmiah siswa kelas kontrol terdistribusi normal, hal ini dapat disimpulkan dari nilai signifikansi Uji

  

Kolmogorov Smirnov yaitu 0,20. Hasil tersebut menunjukkan bahwa signifikansi yang

  diperoleh lebih dari 0,05. Sikap ilmiah siswa kelas eksperimen memiliki nilai signifikansi uji sebesar 0,00. Signifikasi yang diperoleh kurang dari 0,05 sehingga dapat

  Kolgomorov Smirnov

  disimpulkan bahwa data yang diperoleh tidak terdistribusi normal. Salah satu data hasil uji tidak terdistribusi normal dilakukan Uji U Mann Whitney terhadap sikap ilmiah siswa kelas kontrol dan eksperimen. Hasil Uji U Mann Whitney menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,00 yang kurang dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan sikap ilmiah siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen. Penggunaan model pembelajaran yang berbeda antara kelas eksperimen dan kelas kontrol menyebabkan adanya perbedaan sikap ilmiah siswa. Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan suatu pembelajaran dengan proses penyelidikan/penemuan yang memiliki langkah-langkah kerja ilmiah untuk membentuk karakteristik sikap ilmiah siswa. Dalam proses pembelajarannya, siswa terlibat secara mental dan secara fisik untuk memecahkan masalah yang diberikan guru. Sehingga siswa terbiasa berperilaku sebagai saintis dan secara tidak langsung akan terbentuk sikap ilmiah seperti objektif, kreatif, ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, bertanggung jawab, kerja sama dan peduli terhadap lingkungan (Mawarsari, 2013).

  Deskripsi Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen

  89.6

  77.87

  58.26

  38.1

  20.16

11.73 Pretest Postest Selisih Kontrol Eksperimen

  Gambar 2: Nilai Rata-Rata Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Hasil belajar siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen diukur dengan memberikan

  

pretest dan postest yang dilakukan diluar jam pembelajaran. Nilai pretest dan posttest kelas

kontrol dan kelas eksperimen dapat dilihat pada Gambar 2. Berdasarkan data pada Gambar 2.

  nilai rata-rata pretest siswa kelas kontrol sebesar 38,09 sedangkan di kelas eksperimen sebesar 11,73. Berdasarkan keterangan guru mata pelajaran, ternyata siswa di kelas kontrol telah dijelaskan tentang pengenalan materi hidrolisis garam, sehingga ketika dilakukan pretest siswa dapat menjawab pertanyaan nomor 1 tentang pengertian hidrolisis garam. Selain itu, di kelas kontrol terdapat 2 orang siswa yang mengikuti bimbingan belajar di luar jam sekolahnya.

  Berbeda dengan siswa kelas kontrol, siswa kelas eksperimen belum pernah mendapatkan penjelasan materi tersebut. Siswa kelas eksperimen adalah siswa yang lebih lama mendapatkan penjelasan materi dibandingkan kelas kontrol dan kelas yang lain. Secara keseluruhan hasil

  

posttest menunjukkan nilai rata-rata siswa kelas kontrol sebesar 58,25 dan kelas eksperimen

  sebesar 89,6 (Gambar 5.). Merujuk pada Gambar 5., diketahui bahwa hasil postest kelas kontrol dan kelas eksperimen mengalami peningkatan dari hasil pretest yang telah dilakukan. Hampir seluruh siswa dapat menjawab butir soal nomor 1 dengan benar baik dikelas kontrol maupun kelas eksperimen. Siswa masih kesulitan dalam menjawab soal nomor 2 mengenai penentuan larutan garam yang dapat terhidrolisis dan soal nomor 3 yang berkaitan dengan penentuan sifat larutan garam. Hal ini dikarenakan siswa tidak hafal dan kesulitan dalam membedakan senyawa asam-basa beserta sifatnya. Padahal, ketika pelaksanaan praktikum guru banyak menjelaskan kepada siswa mengenai senyawa asam-basa dan sifat senyawa tersebut. Butir soal nomor 4 dan 5 mengenai perhitungan, hampir seluruh siswa kelas eksperimen dapat menjawab soal dengan benar, karena ketika proses pelaksanaan diskusi praktikum membuat siswa mampu menemukan permasalahan, salah satunya adalah rumus yang digunakan berbeda dengan rumus pada materi sebelumnya, sehingga siswa meminta guru untuk membimbing dan mengarahkan dalam penyelesaian soal perhitungan. Melalui bimbingan dan pengarahan oleh guru membuat siswa lebih mudah dalam mengerjakan soal perhitungan.

  Perbedaan Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Secara Statistik Perbedaan hasil belajar siswa melalui beberapa uji dapat dilihat seperti pada Tabel 5.

  Berdasarkan hasil Uji Kolgomorov Smirnov pada nilai pretest kelas kontrol diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,15. Hasil uji dinyatakan bahwa data terdistribusi normal karena nilai signifikasi yang diperoleh lebih besar dari 0,05. Analisis Kolgomorov Smirnov juga dilakukan terhadap nilai pretest kelas eksperimen, dan diperoleh signifikansi sebesar 0,00. Nilai signifikansi yang diperoleh menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal, karena kurang dari 0,05. Salah satu data tidak terdistribusi normal, maka dilakukan Uji U Mann Whitney terhadap nilai pretest kelas kontrol dan kelas eksperimen. Signifikansi yang diperoleh sebesar 0,00, hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan awal hasil belajar siswa kelas kontrol dan eksperimen.

  Analisis dilanjutkan terhadap selisih nilai pretest dan postest pada kelas kontrol dan eksperimen karena terdapat perbedaan kemampuan awal siswa. Selisih nilai pretest dan postest dapat dilihat pada Gambar 5. Selisih hasil belajar siswa dianalisis menggunakan Uji

  

Kolgomorov Smirnov yang disajikan pada Tabel 5. Uji Kolgomorov Smirnov terhadap selisih

  hasil belajar kelas kontrol sebesar 0,11. Signifikansi yang diperoleh lebih dari signifikansi 0,05 sehingga dapat dinyatakan bahwa data terdistribusi normal. Sedangkan signifikansi selisih hasil belajar kelas eksperimen sebesar 0,00. Signifikansi tersebut dinyatakan kurang dari 0,05 sehingga data dinyatakan tidak terdistribusi normal. Salah satu data hasil uji tidak terdistribusi normal, sehingga dilakukan Uji U Mann Whitney terhadap selisih nilai postest pretest kelas kontrol. Hasil uji menunjukkan signifikansi sebesar 0,00, signifikansi yang diperoleh kurang dari 0,05 sehingga, data hasil uji dinyatakan terdapat perbedaan hasil belajar siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen.

  Pengaruh Metode Pratikum Berbasis Inkuiri Terbimbing Terhadap Sikap Ilmiah dan Hasil Belajar Siswa

  Pengaruh metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa pada materi hidrolisis garam diketahui menggunakan perhitungan Effect Size. Perhitungan Effect Size terhadap sikap ilmiah siswa diperoleh sebesar 2,47. Perhitungan Effect

  

Size terhadap hasil belajar siswa diperoleh sebesar 1,99. Nilai effect sizeyang diperoleh

  kemudian disesuaikan dengan tabel Z dan didapat pengaruh metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing terhadap sikap ilmiah siswa sebesar 99,32% dan hasil belajar sebesar 97,67%. Kedua hasil dinyatakan dengan kategori tinggi. Secara keseluruhan setiap tahapan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing dari proses orientasi hingga menarik kesimpulan, semuanya sangat berpengaruh terhadap pengembangan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa. Karena setiap tahap yang dilakukan siswa semuanya saling berkaitan dan saling memberikan kelebihan tersendiri dalam melatih fisik dan mental siswa. Pembelajaran di kelas eksperimen melatih siswa untuk aktif dan kreatif dalam berpikir, seperti pada tahap merumuskan masalah dan mengajukan hipotesis, siswa harus tanggap dalam memahami wacana yang disajikan pada LKS agar siswa dapat merumuskan masalah dan mengajukan hipotesis sesuai dengan wacana tersebut. Selain itu pada tahap pelaksanaan praktikum, memberikan keleluasaan kepada siswa untuk melakukan praktikum sendiri dalam menyelesaikan masalah dengan bimbingan guru, menemukan konsep sendiri dari hasil praktikum yang dilakukan, sehingga memotivasi dan mendorong siswa secara aktif menggali pengetahuannya sendiri menjadi pribadi yang aktif, mandiri, dan terampil dalam memecahkan masalah serta memiliki pemahaman konsep yang lebih. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian (Mawarsari, 2013), yang menyatakan bahwa metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing meningkatkan sikap ilmiah sebesar 91,35% dan pemahaman konsep siswa sebesar 88,65%. Siswa mendapatkan pembelajaran yang lebih optimal dengan penerapan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing. Partisipasi siswa saat pembelajaran dalam hal mengajukan pertanyaan, menyusun hipotesis, mengumpulkan data dan menganalisis data merupakan kegiatan yang berkaitan erat dengan kegiatan inkuiri sehingga dari segala aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan inkuiri akan membantu siswa membangun pengetahuan dan sikap ilmahnya.

  KESIMPULAN

  Berdasarkan data yang diperoleh dari lembar observasi sikap ilmiah dan tes hasil belajar siswa, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan metode praktikum berbasis konvensional dengan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing pada materi hidrolisis garam. Pembelajaran menggunakan metode praktikum berbasis inkuiri terbimbing memberikan pengaruh yang tinggi terhadap sikap ilmiah dan hasil belajar siswa dengan nilai effect size, sebesar 2,47 dengan persentase 99,32%, dan 1,99 dengan persentase 97,67%.

DAFTAR PUSTAKA

  Dewi, I.G.A.W.K., Agung, A.A.G, dan Rati, N.W. (2014). Hubungan Sikap Ilmiah Dan Motivasi Berprestasi Dengan Hasil Belajar Ipa Pada Siswa Kelas V Sd Di Gugus Ii Laksamana Kabupaten Jembrana Tahun Pelajaran 2013/2014. MIMB

  Astawa, I.M.W., Sadia, I.W., dan Suastra, I.W. (2015). Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Sikap Ilmiah dan Konsep Diri Siswa SMP. Jurnal Pendidikan IPA 5 (1): 1-10.

  Wardani, D.K. (2012). Analisis Penerapan Metode Praktikum Pada Pembelajaran Kimia Materi Pokok Hidrolisis Garam Kelas XI Di MAN 1 Semarang 2012-2013. Skripsi.

  Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang. Mawarsari, A.A. (2013). Penerapan Metode Eksperimen Berpendekatan Inkuiri Pada Materi

  Larutan Penyangga Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Dan Sikap Ilmiah Siswa. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Meli, S.B., Kurnia, dan Yayan, S. (2013). Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa SMA

  Melalui Pembelajaran Praktikum Berbasis Inkuiri Pada Materi Laju Reaksi. Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia. 1 (1): 69-75. Wulandari, A.D., Kurnia, dan Sunarya, Y. (2013). Pembelajaran Praktikum Berbasis Inkuiri

  Terbimbing Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA Pada Materi Laju Reaksi. Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia. 1 (1): 18-26.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH PEMBERIAN SEDUHAN BIJI PEPAYA (Carica Papaya L) TERHADAP PENURUNAN BERAT BADAN PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus strain wistar) YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK
23
189
21
EFEKTIFITAS BERBAGAI KONSENTRASI DEKOK DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum L) TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Colletotrichum capsici SECARA IN-VITRO
4
153
1
ANALISIS KOMPARATIF PENDAPATAN DAN EFISIENSI ANTARA BERAS POLES MEDIUM DENGAN BERAS POLES SUPER DI UD. PUTRA TEMU REJEKI (Studi Kasus di Desa Belung Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
22
216
16
FREKUENSI KEMUNCULAN TOKOH KARAKTER ANTAGONIS DAN PROTAGONIS PADA SINETRON (Analisis Isi Pada Sinetron Munajah Cinta di RCTI dan Sinetron Cinta Fitri di SCTV)
27
211
2
MANAJEMEN PEMROGRAMAN PADA STASIUN RADIO SWASTA (Studi Deskriptif Program Acara Garus di Radio VIS FM Banyuwangi)
29
201
2
APRESIASI IBU RUMAH TANGGA TERHADAP TAYANGAN CERIWIS DI TRANS TV (Studi Pada Ibu Rumah Tangga RW 6 Kelurahan Lemah Putro Sidoarjo)
8
115
2
PENYESUAIAN SOSIAL SISWA REGULER DENGAN ADANYA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SD INKLUSI GUGUS 4 SUMBERSARI MALANG
60
434
26
PENGEMBANGAN TARI SEMUT BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER DI SD MUHAMMADIYAH 8 DAU MALANG
54
405
20
FENOMENA INDUSTRI JASA (JASA SEKS) TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU SOSIAL ( Study Pada Masyarakat Gang Dolly Surabaya)
63
366
2
ANALISIS PROSPEKTIF SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LABA PADA PT MUSTIKA RATU Tbk
257
1164
22
PENERIMAAN ATLET SILAT TENTANG ADEGAN PENCAK SILAT INDONESIA PADA FILM THE RAID REDEMPTION (STUDI RESEPSI PADA IKATAN PENCAK SILAT INDONESIA MALANG)
43
319
21
KONSTRUKSI MEDIA TENTANG KETERLIBATAN POLITISI PARTAI DEMOKRAT ANAS URBANINGRUM PADA KASUS KORUPSI PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEK OLAHRAGA DI BUKIT HAMBALANG (Analisis Wacana Koran Harian Pagi Surya edisi 9-12, 16, 18 dan 23 Februari 2013 )
64
463
20
PENGARUH PENGGUNAAN BLACKBERRY MESSENGER TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU MAHASISWA DALAM INTERAKSI SOSIAL (Studi Pada Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2008 Universitas Muhammadiyah Malang)
127
496
26
PEMAKNAAN BERITA PERKEMBANGAN KOMODITI BERJANGKA PADA PROGRAM ACARA KABAR PASAR DI TV ONE (Analisis Resepsi Pada Karyawan PT Victory International Futures Malang)
18
208
45
STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK PARTAI POLITIK PADA PEMILIHAN KEPALA DAERAH TAHUN 2012 DI KOTA BATU (Studi Kasus Tim Pemenangan Pemilu Eddy Rumpoko-Punjul Santoso)
119
449
25
Show more