RENCANA INDUK SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM (RISPAM)

Gratis

3
7
198
8 months ago
Preview
Full text

KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO

  LAPORAN AKHIR

RENCANA INDUK

SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

(RISPAM)

  Kata Pengantar

  Penyusunan Laporan Akhir pekerjaan Rencana Induk SPAM Wilayah SIau, adalah merupakan penjabaran dan implementasi dari kebijakan pemerintah dalam upaya pembangunan sarana dan prasarana air minum untuk kesejahteraan rakyat sekaligus mendorong pembangunan perekonomian daerah yang bersangkutan.

  Perencanaan aspek teknis dalam merumuskan basic design Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) Wilayah Siau dibuat sesuai dengan kebijakan pembangunan daerah yang bersangkutan serta proyeksi kebutuhan air minum dalam kurun waktu 15 – 20 tahun sesuai potensi sumber air baku yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pelayanan air minum dengan tetap mempertimbangkan kelestarian sumber daya alam.

  Sebagaimana realisasi kerjasama antara BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH dengan CV. PRIMA ENGINEERING CONSULTANT untuk pekerjaan DOKUMEN RENCANA INDUK SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM berdasarkan surat perjanjian atau kontrak nomor : 02/SP-Dok.RISPAM/PPK/IX-2016 Tanggal 29 September 2016, dimana salah satu tahapannya adalah menyusun laporan akhir.

  Penyusunan laporan ini sesuai dengan persyaratan administrasi yang ditetapkan. Laporan akhir ini meliputi kondisi umum lokasi studi, hasil survey atau kegiatan lapangan, analisa hidrologi, desain pengambilan mata air dan rencana anggaran biaya serta kesimpulan.

  Manado, Desember 2016

CV. PRISMA ENGINEERING CONSULTANT OLGA WINDA DIREKTUR

  

Daftar isi

  2.2.1 Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)

  11

  2.1 Kabupaten Sitaro Dalam Perspektif

  11

  2.1.1 Kabupaten Sitaro Dalam Perspektif Nasional

  11

  2.1.2 Kabupaten Sitaro Dalam Perspektif Provinsi

  11

  2.1.3 Kabupaten Sitaro Dalam Perspektif Kawasan Andalan

  13

  2.2 Ruang dan Lahan

  13

  13

  1.3 Sistematika Laporan

  2.2.2 Penggunaan Lahan dan Tata Guna Lahan

  16

  2.2.3 Rencana Pengembangan Tata Kota

  17

  2.2.4 Rencana Pengembangan Kawasan Prioritas

  19

  2.2.5 Kawasan Lindung

  19

  2.2.6 Laju Perubahan Tata Guna dan Fungsi Lahan

  24

  2.2.6.1 Tren Perubahan Penggunaan dan Fungsi Lahan

  9 BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH PROYEK

  7

  Kata Pengantar i

  2

  Daftar Isi ii

  Daftar Tabel vii

  Daftar Gambar ix

  Daftar Lampiran xi

  Daftar Istilah dan Definisi xii

  Acuan Normatif xvii

  BAB I PENDAHULUAN

  1

  1.1 Latar Belakang

  1

  1.1.1 Maksud dan Tujuan

  1.1.2 Keluaran Pelaksanaan Pekerjaan

  1.2.2.2 Klasifikasi RIP-SPAM

  3

  1.1.3 Otoritas

  4

  1.2 Ruang Lingkup Pekerjaan

  5

  1.2.1 Wilayah Administrasi

  6

  1.2.2 Klasifikasi

  6

  1.2.2.1 Klasifikasi Perkotaan

  6

  24

  2.2.6.2 Pemanfaatan Lahan Secara Berkelanjutan

  49

  2.4.10 Kawasan Strategis

  37

  2.5 Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat

  41

  2.5.1 Demografi

  42

  2.5.2 Keuangan Daerah

  44

  2.5.2.1 Pertumbuhan Ekonomi

  45

  2.5.2.2 Struktur Perekonomian dan Lapangan Kerja

  45

  2.5.3 Mata Pencaharian Penduduk

  46 BAB III KONDISI EKSISTING SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

  3.1 Aspek Teknis

  2.4.9 Sarana Telekomunikasi

  49

  3.1.1 Sistem Produksi

  49

  3.1.1.1 Unit Air Baku

  49

  3.1.1.2 Unit Instalasi

  50

  3.1.1.3 Unit Distribusi

  51

  3.1.1.4 Tingkat Kebocoran

  52

  3.1.1.5 Kondisi Operasional dan Perawatan

  53

  3.1.2 Sistem Pelayanan

  37

  37

  25

  2.4 Sarana dan Prasarana

  2.3 Kondisi Fisik Dasar

  26

  2.3.1 Geografi

  26

  2.3.2 Topografi dan Fisiografi

  26

  2.3.3 Wilayah Siau

  26

  2.3.4 Rencana Struktur Ruang

  26

  2.3.5 Geologi

  27

  2.3.6 Hidrologi, Klimatografi dan Hidrogeologi

  32

  32

  2.4.8 Sarana Listrik

  2.4.1 Air Limbah dan Drainase

  32

  2.4.2 Persampahan

  32

  2.4.3 Drainase

  33

  2.4.4 Sarana Perekonomian

  33

  2.4.5 Sarana Sosial dan Kesehatan

  33

  2.4.6 Sarana Peribadatan

  35

  2.4.7 Sarana Transportasi

  36

  53

  3.1.2.1 Kinerja Pelayanan

  65

  3.5.2.1 Organisasi dan Kelembagaan

  62

  3.5.2.2 Kinerja Pengelolaan dan SDM

  62

  3.5.2.3 Permasalahan Aspek Kelembagaan

  63 BAB IV KRITERIA TEKNIS, METODA dan STANDAR PENGEMBANGAN SPAM

  64

  4.1 Umum

  64

  4.1.1 Periode Perencanaan

  64

  4.1.2 Standar Konsumsi Pemakaian Air

  64

  4.1.3 Kebutuhan Air

  4.1.3.1 Kebutuhan Rata-rata Domestik dan Non Domestik

  3.5.2 Aspek Institusional dan Manajemen

  65

  4.1.3.2 Kebutuhan Maksimum

  66

  4.1.3.3 Kebutuhan Puncak

  66

  4.1.4 Kehilangan Air

  66

  4.1.5 Sistem Penyediaan Air Minum

  67

  4.1.5.1 Air Baku

  67

  4.1.5.2 Transmisi

  68

  4.1.5.3 Produksi

  62

  62

  53

  3.3.3 Wilayah Pelayanan

  3.1.2.2 Tingkat Pelayanan

  53

  3.1.2.3 Kinerja Pelayanan

  53

  3.1.2.4 Jangkauan Pelayanan

  55

  3.2 Sistem Non Perpipaan (Terlindung dan Tidak Terindung)

  56

  3.3 Permasalahan Aspek Teknis

  57

  3.3.1 Pengolahan Air (IPA)

  57

  3.3.2 Sistem Distribusi

  58

  58

  3.5.1.5 Permasalahan Keuangan

  3.4 Sistematik SPAM Eksisting

  59

  3.5 Aspek Non Teknis

  61

  3.5.1 Aspek Keuangan

  61

  3.5.1.1 Kondisi dan Kinerja Keuangan

  61

  3.5.1.2 Tarif Retribusi

  62

  3.5.1.3 Pendapatan

  61

  3.5.1.4 Pegeluaran

  62

  69

  4.1.5.4 Reservoar

  6.8.3 Skematik Rencana 118

  6.5.1 Klasifikasi Penggunaan Air 112

  6.5.2 Kebutuhan Air Minum 112

  6.5.3 Tingkat Kebocoran 114

  6.6 Kebutuhan Air Minum Tiap Zona Pelayanan 115

  6.7 Alternatif Perencanaan Pengembangan 115

  6.8 Sistem Terpilih 115

  6.8.1 Unit Air Baku 115

  6.8.2 Unit Produksi 116

  6.9 Keterpaduan Dengan Prasarana dan Sarana Sanitasi 119

  6.4 Rencana Pentahapan 111

  6.9.1 Potensi Pencemaran Air Baku 119

  6.9.2 Rekomendasi Penggunaan dan Pengamanan Sumber Air Baku 119

  6.9.3 Pengelolaan Limbah dari IPA 119

  6.9.4 Potensi Sumber Air Minum dari IPAL 120

  6.10 Perkiraan Kebutuhan Biaya 120

  BAB VII ANALISA KEUANGAN 124

  7.1 Kebutuhan Investasi dan Sumber Pendanaan 124

  7.2 Dasar Penentuan Asumsi 126

  6.5 Kebutuhan Air Minum 112

  6.3 Tingkat Pelayanan 111

  70

  79

  4.1.5.5 Distribusi

  71

  4.2 Metode Proyeksi Penduduk

  72 BAB V AIR BAKU

  78

  5.1 Potensi Air Baku

  78

  5.1.1 Potensi Air Permukaan

  5.1.2 Potensi Air Tanah

  83

  80

  5.2 Alternatif Sumber Air Baku

  81

  5.3 Sumber Air Baku Terpilih

  81 BAB VI RENCANA INDUK DAN PRA DESAIN PENGEMBANGAN SPAM

  82

  6.1 Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Studi

  82

  6.2 Pengembangan Wilayah Pelayanan

  7.3 Hasil Analisis Kelayakan 127

  BAB VIII PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN PELAYANAN AIR MINUM 129

  8.1 Umum 129

  8.2 Kajian Peraturan dan Perundang-undangan 132

  8.3 Organisasi 133

  8.3.1 Bentuk Badan Pengelola 133

  8.3.2 Struktur Organisasi 137

  8.3.3 Penyesuaian Implementasi Organisasi dengan Pengembangan Sistem 137

  8.4 Sumber Daya Manusia 141

  8.4.1 Jumlah 142

  8.4.2 Kualifikasi 142

  8.4.3 Pelatihan 143

  BAB IX KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT 145

  9.1 Umum 145

  9.2 Program Pengembangan SPAM Wilayah Siau 145

  9.3 Saran Tindak Lanjut 146

  

Daftar Gambar

  87 Gambar 6.9 Reservoar Air dari Danau Kapeta

  97 Gambar 6.23 Penampungan Air Hujan Masyarakat

  95 Gambar 6.22 Pemanfaatan Air Hujan dengan Bantuan ABSAH

  94 Gambar 6.21 Rangkaian Proses Reverse Osmosis

  93 Gambar 6.20 Peta Kecamatan Siau Barat Utara

  93 Gambar 6.19 Sumber Mata Air di Kampung Kiawang

  92 Gambar 6.18 Sumber Mata Air di Kampung Hiung

  92 Gambar 6.17 Aliran Sungai dari Mata Air Balirangen

  91 Gambar 6.16 Bak Pelepas Tekan Mata Air Balirangen

  90 Gambar 6.15 Sumber Mata Air Balirangen

  90 Gambar 6.14 Peta Kecamatan Siau Timur Selatan

  89 Gambar 6.13 Bak Penanmpung Warga Balirangen

  88 Gambar 6.12 Bak Penampung dari Mata Air Burake

  88 Gambar 6.11 Sistem Penyediaan Air Minum Kapeta

  87 Gambar 6.10 Peta Kecamatan Siau Barat Selatan

  86 Gambar 6.8 Air Buangan dri Danau Kapeta

Gambar 2.1 Posisi Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro di Prov. Sulawesi Utara

  85 Gambar 6.7 Potongan Melintang Desain Broncap

  85 Gambar 6.6 Contoh Katub Pelepas Tekan

  84 Gambar 6.5 Perencanaan Teknis Mata Air Balango

  84 Gambar 6.4 Mata Air Balango Peling

  83 Gambar 6.3 Peta Kecamatan Siau Barat

  82 Gambar 6.2 Gerbang Ibukota Ondong

  60 Gambar 6.1 Contoh Instalasi Penyediaan Air

  59 Gambar 3.3 Skematik Eksisting Peling

  50 Gambar 3.2 Skematik SPAM Eksisting Akesimbeka

  30 Gambar 3.1 Skema Sarana Air Bersih Eksisting Akesimbeka

  29 Gambar 2.5 Skema pusat Kegiatan di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  25 Gambar 2.4 Pusat-pusat Kegiatan di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  15 Gambar 2.3 Grafik Luas Penggunaan Lahan di Kab. Kep. Siau tagulandang Biaro

  15 Gambar 2.2 Jumlah Desa dan Kelurahan Menurut Kecamatan

  99

Gambar 6.24 Peta Kecamatan Siau TengahGambar 6.35 Tempat Permandian Akelabo Kel. Akesimbeka Siau Timur 106Gambar 6.44 Danau Kapeta Kec. Siau Barat Selatan 110Gambar 6.43 Grafik Proyeksi Kebutuhan Air di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 110Gambar 6.42 Pipa Menuju Penampungan Mata Air Kanang 109Gambar 6.41 Bak Penampung Sumber Air Kampung Kanang 109Gambar 6.40 Katup Pelepas Tekan Broncap Kampung Karalung 108Gambar 6.39 Mata Air Kampung Karalung Kec. Siau Timur 108Gambar 6.38 Broncap Mata Air Karalung Kec. Siau Timur 107Gambar 6.37 Bak Reservoar PDAM Akelabo Siau Timur 107Gambar 6.36 Instalasi PDAM Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 106

  105

  100

Gambar 6.34 Peta Kecamatan Siau TimurGambar 6.33 Bak Penampung Mata Air Beong Kec. Siau Tengah 105Gambar 6.32 Pipa Penyaluran Air Kampung Lai Kec. Siau Tengah 104Gambar 6.31 Bak Penampung Air Hujan Kampung Lai 103Gambar 6.30 Bak Penampung dan Bangunan Mesin Kampung Lai 103Gambar 6.29 Bak Penampung Mata Air Kampung Lai Kec. Siau Tengah 102Gambar 6.28 Bangunan Mesin Air Kampung Beong Siau Tengah 102Gambar 6.27 Bak Penampung Mata Air Kampung Beong 101Gambar 6.26 Bak Penampung Mata Air Kampung Beong Siau Tengah 101Gambar 6.25 Sumur Bor Kampung Beong Kec. Siau Tengah 100Gambar 6.45 Skematik Rencana Pelayanan SPAM IKK Ondong Siau Barat 111

  

Daftar Tabel

  58 Tabel 4.1 Tingkat Pemakaian Air Rumah Tangga

Tabel 7.1 Kebutuhan Pendanaan

  121

Tabel 6.10 Rencana Pembangunan SPAM

  113

Tabel 6.9 Proyeksi Kebutuhan Air

  112

Tabel 6.8 Klasifikasi Jenis PelangganTabel 6.7 Jumlah Warga Layanan Sumber Mata Air Kec. Siau Timur 110

  96 Tabel 6.6 Jumlah Warga Layanan Sumber Air Beong dan Lai 105

  91 Tabel 6.5 Jumlah Warga Layanan Mata Air Hiung dan Kiawang

  89 Tabel 6.4 Jumlah Warga Layanan Sumber Air Balirangen

  86 Tabel 6.3 Jumlah Warga Layanan Mata Air Kapeta dan Burake

  83 Tabel 6.2 Jumlah Warga Layanan Mata Air Peling

  65 Tabel 6.1 Wilayah Rencana Pengembangan

  55 Tabel 3.6 Peralatan Yang Dimiliki PDAM

Tabel 1.1 Klasifikasi RIP-SPAM

  34 Tabel 2.7 Luas Wilayah Perkecamatan di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  8 Tabel 2.1 Luas Wilayah Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  14 Tabel 2.2 Kemiringan Lereng di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  17 Tabel 2.3 Nama Gunung dan Tinggi di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  17 Tabel 2.4 Klaster dan Fungsi Pengembangan

  28 Tabel 2.5 Great Group Tanah di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  31 Tabel 2.6 Data Fasilitas Kesehatan di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  43 Tabel 2.8 Jumlah Penduduk di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  54 Tabel 3.5 Periode Pelayanan Setiap Mata Air

  44 Tabel 2.9 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah

  44 Tabel 2.10 Luas Areal Pertanian Rakyat

  46 Tabel 3.1 Lokasi dan Kapasitas Sumber Air

  51 Tabel 3.2 Data Inventaris Pipa

  51 Tabel 3.3 Data Air Yang Didistribusikan

  52 Tabel 3.4 Data Sambungan Air di Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  124

Tabel 7.2 Estimasi Biaya Pembangunan dan Investasi SPAM 125Tabel 7.3 Summary Analisis Keuangan

  128

  

Daftar Lampiran

  13. Survey Danau Kapeta Kec. Siau Barat Selatan 159

  23. Pengelolaan/Kebutuhan SAB Masing-Masing Kecamatan 170

  22. Daftar Hadir Presentasi Pemaparan Laporan Akhir 169

  21. Undangan Rapat Presentasi Laporan Akhir 167

  20. Survey Mata Air Kampung Kinali Kec. Siau Barat Utara 166

  19. Survey Mata Air Kampung Lehi Kec. Siau Barat 165

  18. Survey Mata Air kampung Tapile Kec. Siau Timur Selatan 164

  17. Survey Mata Air Kampung Pahepa Kec. Siau Timur Selatan 163

  16. Survey Mata Air Kampung Buise Kec. Siau Timur 162

  15. Survey Mata Air Kampung Lia I Kec. Siau Timur 161

  14. Survey mata Air Balirangen Kec. Siau Timur Selatan 160

  12. Survey mata Air Kampung Mahuneni Kec. Siau Barat Selatan 158

  1. Survey Kantor dan Instalasi PDAM Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro147

  11. Survey Mata Air kampung Kiawang Kec. Siau Barat Utara 157

  10. Survey Mata Air Kampung Hiung Kec. Siau Barat Utara 156

  9. Survey Mata Air Kampung Talawid Kec. Siau barat Selatan 155

  8. Survey Mata Air Kampung Peling Sawang Kec. Siau Barat 154

  7. Survey Mata Air Kampung Peling Kec. Siau Barat 153

  6. Survey Mata Air Kampung Lia Kec. Siau Timur 152

  5. Survey Mata Air Kampung Beong Kec. Siau Tengah 151

  4. Survey Mata Air kanang Kec. Siau Timur 150

  3. Survey Mata Air Karalung Kec. Siau Timur 149

  2. Survey mata Air Akelabo Kec. Siau Timur 148

  24. Rapat Presentasi Laporan Akhir 176

  Daftar Istilah Dan Definisi

  1. Air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air baku adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan/atau air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum.

  2. Air Bersih (clean water) adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari- hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.

  3. Air Minum (drinking water) adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002)

  4. Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif.

  5. Sistem penyediaan air minum yang selanjutnya disebut SPAM merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non-fisik dari prasarana dan sarana air minum.

  6. Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun, memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik (teknik) dan non fisik (kelembagaan, Manajemen, keuangan, peran masyarakat, dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik.

  7. Penyelenggaraan perencanaan SPAM adalah kegiatan merencanakan, melaksanakan konstruksi, mengelola, memelihara, merehabilitasi, memantau, dan/atau mengevaluasi sistem fisik (teknik) dan non-fisik penyediaan air minum.

  8. Penyelenggara pengembangan SPAM yang selanjutnya disebut Penyelenggara adalah badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah, koperasi, badan usaha swasta, dan/atau kelompok masyarakat yang melakukan penyelenggaraan pengembangan SPAM.

  9. Pelanggan adalah orang perseorangan, kelompok masyarakat, atau instansi yang mendapatkan layanan air minum dari Penyelenggara.

  10. Masyarakat adalah kumpulan orang yang mempunyai kepentingan yang sama yang tinggal di daerah dengan yuridikasi yang sama.

  11. Unit air baku adalah sarana dan prasarana pengambilan dan/atau penyedia air baku, meliputi bangunan penampungan air, bangunan pengambilan/penyadapan, alat pengukuran, dan peralatan pemantauan, sistem pemompaan, dan/atau bangunan sarana pembawa serta perlengkapannya.

  12. Unit produksi adalah adalah sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk mengolah air baku menjadi air minum melalui proses fisik, kimiawi dan/atau biologi, meliputi bangunan pengolahan dan perlengkapannya, perangkat operasional, alat pengukuran dan peralatan pemantauan, serta bangunan penampungan air minum.

  13. Unit distribusi adalah sarana untuk mengalirkan air minum dari pipa transmisi air minum sampai unit pelayanan.

  14. Unit pelayanan adalah sarana untuk mengambil air minum langsung oleh masyarakat yang terdiri dari sambungan rumah, hidran umum, dan hidran kebakaran.

  15. Pengguna barang/jasa adalah kepala kantor/satuan kerja/pemimpin proyek/pengguna anggaran Daerah/pejabat yang disamakan sebagai pemilik pekerjaan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa dalam lingkungan unit kerja/proyek tertentu.

  16. Penyedia barang/jasa adalah badan usaha atau orang perseorangan yang kegiatan usahanya menyediakan barang/layanan jasa.

  17. Air Tak Berekening (ATR) adalah selisih antara air yang masuk unit distribusi dengan air yang berekening dalam jangka waktu satu tahun.

  18. Wilayah Adminstratif adalah kesatuan wilayah yang sudah jelas batas-batas wilayahnya berdasarkan undang-undang yang berlaku.

  19. Batas wilayah administratif adalah batas satuan wilayah pemerintahan yang merupakan wilayah kerja perangkat pemerintah dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan umum.

  20. Wilayah Pelayanan adalah wilayah yang layak mendapatkan suplai air minum dengan sistem perpipaan maupun non-perpipaan, dan masuk dalam cakupan pelayanan sesuai dengan periode perencanaan.

  21. Kawasan Perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintah, pelayanan sosial dan kefiatan ekonomi.

  22. Air Tanah Bebas adalah air tanah yang tidak dibatasi oleh dua lapisan kedap air atau semi kedap air.

  23. Air Tanah Dangkal adalah air tanah bebas yang terdapat dalam tanah dengan kedalaman muka air kurang atau sama dengan dua puluh meter.

  24. Air Tanah Dalam adalah air tanah yang terdapat di dalam tanah yang kedalaman muka airnya lebih besar dari dua puluh meter atau air tanah yang terdapat di dalam akifer tertekan dimana akifer ini berada dalam kedalaman lebih dari dua puluh meter.

  25. Air Permukaan adalah air baku yang berasal dari sungai saliran irigasi, waduk kolam atau dana.

  26. Debit Minimum adalah debit terkecil yang dapat memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat pedesaan.

  27. Geoklimatologi adalah ilmu mengenai iklim dan cuaca yang berhubungan dengan bentuk permukaan bumi.

  28. Topografi adalah ilmu mengenai seluk beluk bentuk atau kontur permukaan bumi.

  29. Penduduk adalah orang dalam matranya sebagai pribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat, warga negara, dan himpunan kuantitas yang bertempat tinggal di suatu tempat dalam batas wilayah negara pada waktu tertentu.

  30. Kependudukan atau Demografi adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah, ciri utama, pertumbuhan, persebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas, kondisi kesejahteraan yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya, agama serta lingkungan penduduk.

  31. Kegiatan Domestik adalah kegiatan yang dilakukan di dalam rumah tangga.

  32. Kegiatan Nondomestik adalah merupakan kegiatan penunjang Kota, yang terdiri dari kegiatan komersial yang berupa industri, perkantoran, dan lain-lain, maupun kegiatan sosial seperti sekolah, rumah sakit dan tempat ibadah.

  33. Tingkat Pelayanan adalah persentasi jumlah penduduk yang dilayani dari total jumlah penduduk daerah pelayanan, dimana besarnya tingkat pelayanan diambil berdasarkan survei yang dilakukan oleh PDAM terhadap jumlah permintaan air minum oleh masyarakan atau dapat juga dilihat berdasarkan kemampuan yang dimiliki oleh PAM untuk menyediaan air minum.

  34. Bangunan penyadap (Intake) adalah bangunan penangkap air atau tempat air masuk sungai, danau, situ, atau sumber air lainnya.

  35. Jaringan Pipa Transmisi Air Baku adalah ruas pipa pembawa air dari sumber air sampai unit produksi;

  36. Jaringan Pipa Transmisi Air Minum adalah ruas pipa pembawa air minum dari unit produksi/bangunan penangkap air sampai reservoir atau batas distribusi;

  37. Jaringan Pipa Distribusi adalah ruas pipa pembawa air dari bak penampung reservoir sampai jaringan pelayanan;

  38. Reservoir adalah tempat penyimpanan air untuk sementara sebelum didistribusikan kepada pelanggan atau konsumen.

  39. Sambungan Rumah adalah jenis sambungan pelanggan yang mensuplai airnya langsung ke rumah-rumah biasanya berupa sambungan pipa-pipa distribusi air melaui meter air dan instalasi pipanya di dalam rumah

  40. Hidran Umum adalah jenis pelayanan pelanggan sistem air minum perpipaan atau non perpipaan dengan sambungan per kelompok pelanggan dan tingkat Pelayanan hanya untuk memenuhi kebutuhan air minum, dengan cara pengambilan oleh masing-masing pelanggan ke pusat penampungan.

  41. Keberlanjutan (sustainability) adalah sifat atau ciri terus menerus kegiatan dari, oleh, dan untuk masyarakat pengguna secara mandiri dengan mempertimbangkan aspek teknis, keuangan, sosial, kelembagaan dan lingkungan.

  42. Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana atas pelaksanaan suatu pembangunan

43. Kebutuhan (demand) vs Keinginan (wish)

  a. Kebutuhan (demand) adalah kesediaan masyarakat pengguna untuk mendapatkan pelayanan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan yang dikehendaki berdasarkan pilihan yang tersedia sesuai dengan kondisi setempat yang disertai sikap rela berkorban (willingness to pay).

  b. Keinginan (wish) adalah kemauan masyarakat pengguna untuk mendapatkan pelayanan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan, yang keputusannya masih dapat dipengaruhi oleh pihak lain.

  44. Kesetaraan (equity) adalah persamaan/kesamaan akses untuk memanfaatkan prasarana dan sarana bagi seluruh masyarakat.

  45. Masyarakat pengguna (users) adalah masyarakat yang memanfaatkan pelayanan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan.

  

46. Pemberdayaan (empowerment) adalah upaya yang dilakukan seseorang

  atausekelompok orang untuk memandirikan masyarakat lewat perwujudan potensi kemampuan yang mereka miliki atas dasar prakarsa dan kreativitas.

  

47. Pendekatan Partisipatif (participatory approach) adalah suatu

  pendekatanyang menggunakan satu atau beberapa metoda yang melibatkan pihak terkaitsecara aktif dalam proses pemberdayaan, untuk : a. mengekspresikan pengetahuan, gagasan dan menentukan pilihan pelayanan; dan b. mengambil inisiatif dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah,pengambilan keputusan serta pelaksanaan pekerjaan secara bersama-sama.

  48. Tujuan Umum adalah kondisi yang ingin dicapai dalam kurun waktu yang relatifpanjang, lebih merupakan kondisi ideal yang ingin diraih.

  49. Tujuan Khusus merupakan kondisi yang ingin dicapai dalam kurun waktu yangrelatif lebih pendek dan dapat diukur pencapaiannya.

  Acuan Normatif

  1. Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahanan Daerah;

  2. Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;

  3. Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;

  4. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum;

  5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, No. 18/PRT/M/2007 Tentang Penyelenggaraan Sistem penyediaan Air Minum

  6. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 23 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Tarif Air Minum pada Perusahaan Daerah Air Minum;

  7. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.47 Tahun 1999 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum;

  8. Peraturan Menteri Dalam Negeri No.02 Tahun 2007 tentang Organ dan Kepegawaian Perusahaan Daerah Air Minum;

  9. SNI 03-6859-2002 tentang Metoda Pengujian Angka Rasa Dalam Air;

  10. SNI 03-6860-2002 tentang Metoda Pengujian Angka Bau dalam Air;

  11. SNI 03-2414-1991 tentang Metode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka;

  12. SNI 06-2412-1991 tentang Metode Pengambilan Contoh Uji Kualitas Air;

  13. SNI 19-1141-1989 tentang Cara Uji Suhu;

  14. SK SNI M-03-1989-F tentang Metode Pengujian Kualitas Fisika Air; 15. RSNI T-01-2003 tentang Tata Cara Perencanaan Plambing.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Penyediaan air minum merupakan salah satu kebutuhan dasar dan hak sosial ekonomi masyarakat yang harus dipenuhi oleh Pemerintah, baik Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat. Ketersediaan air minum merupakan salah satu penentu peningkatan kesejahteraan masyarakat. Diharapkan dengan ketersediaan air minum yang mencukupi dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dan dapat mendorong peningkatan produktivitas masyarakat, sehingga dapat terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, penyediaan sarana dan prasarana air minum menjadi salah satu kunci dalam pengembangan ekonomi wilayah.

  Kondisi geografis, topografis dan geologis dan aspek sumber daya manusia yang berbeda di setiap wilayah di Indonesia, menyebabkan ketersediaan air baku dan kondisi pelayanan air minum yang berbeda pada masing-masing wilayah. Untuk itu dibutuhkan suatu konsep dasar yang kuat guna menjamin ketersediaan air minum bagi masyarakat sesuai dengan tipologi dan kondisi di daerah tersebut, dimana Kab. Kepl. Siau Tagulandang Biaro memiliki beberapa wilayah yang hampir sepanjang Tahun mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan Air Bersih/Air Minum.

  Untuk memenuhi kebutuhan akan Air Bersih/Air Minum yang terus meningkat untuk berbagai keperluan, diperlukan suatu perencanaan terpadu guna memenuhi kebutuhan dimaksud dengan mengoptimalkan sumber air yang ada melaluli Rencana Induk Sistim Penyediaan Air Minum yang betul-betuk bisa di pertanggung jawabkan.

  Rencana Induk Sistem Penyediaan air Minum (RI-SPAM) dapat menjadi

  dasar terencananya suatu program pelaksanaan Sistem Penyediaan Air Minum yang menyeluruh (comprehensive), berkelanjutan (sustainable) dan terarah (focus). Selain itu dengan adanya Rencana Induk pengembangan SPAM yang memenuhi syarat peraturan yang berlaku (Permen PU No. 18/2007), maka pengembangan

  SPAM di suatu lokasi/kawasan akan menjamin keberfungsian dan keberlanjutan sistem SPAM yang sistematis.

  Kewajiban menyusun Rencana Induk Sistem Penyediaan air Minum (RI-

  

SPAM), sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang

  Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum merupakan tanggung jawab Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

  Sejalan dengan peran Pemerintah Pusat sebagai fasilitator dalam era otonomi daerah dan dalam kaitan dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, Pemerintah telah menerbitkan produk pengaturan setingkat peraturan pemerintah yang memberikan pedoman, baik kepada pemerintah kabupaten/kota dan pihak lainnya yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan air minum maupun kepada masyarakat sebagai pengguna layanan air minum, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Adapun wewenang dan tanggung jawab pemerintah dalam penyelenggaraan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) adalah meliputi :

  (i) menetapkan kebijakan dan strategi nasional, (ii) menetapkan norma, standar, pedoman , dan manual (NSPM), (iii) memfasilitasi pemenuhan kebutuhan air baku.

  Kewajiban menyusun Rencana Induk Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (RI-SPAM), sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum adalah merupakan

  

tanggung jawab Pemerintah Daerah (pemerintah kabupaten/kota). Namun

  terbatasnya sumber daya manusia di daerah menyebabkan Pemerintah Daerah masih membutuhkan bantuan teknis dari Pemerintah guna menyusun rencana induk sistem penyediaan air minum di wilayah administratifnya.

  1.1.1. Maksud dan Tujuan Maksud dari penyusunan laporan ini adalah:  Maksud dari kegiatan ini adalah Menghasilkan Dokumen Rencana Induk Sisitim Penyediaan Air Minum (RISPAM) yang terarah dan berkelanjutan di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro yang dapat menjadi pedoman pengembangan SPAM di kabupaten/kota lokasi studi hingga 15 (lima belas) tahun kedepan, yang memenuhi persyaratan dan kualitas dokumen rencana teknis yang berlaku

  Tujuan Umum adalah sebagai berikut:  Membantu Pemerintah Daerah dalam Merencanakan Suatu sistim

  Penyediaan dan Pendistribusian Air Minum/Air Bersih dalam bentuk dokumen Rencana Induk Sistem Penyediaan air Minum (RI-SPAM) Periode 2016-2036, untuk menentukan kebijakan dan strategi Pemerintah Daerah dalam pengelolaan Air Minum.

  1.1.2. Keluaran Pelaksanaan Pekerjaan Keluaran hasil pelaksanaan pekerjaan Rencana Induk Pengembangan SPAM

  Kabupaten Sitaro ini mencakup hal-hal sebagai berikut:

  A. Indikator Keluaran

  Dari pekerjaan ini diharapkan indikator keluaran yang dihasilkan adalah :

  

Dokumen Rencana Induk Pengembangan SPAM (RI-SPAM) yang susunannya

terdiri dari:

  1. Rencana Umum

  2. Rencana Jaringan Sistem Penyediaan Air Minum

  3. Rencana Program dan Pengembangan SPAM untuk Jangka Pendek (1-2 tahun), Jangka Menengah (5 tahun), dan Jangka Panjang (10-15 tahun).

  4. Rencana Sumber Air Baku dan Alokasi Air Baku.

  5. Rencana Keterpaduan dengan Prasarana dan Sarana Sanitasi

  6. Rencana Pembiayaan dan Pola Investasi Pengembangan SPAM

  7. Rencana Pengembangan Kelembagaan Penyelenggaraan SPAM

  B. Keluaran

  Keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah:  Buku laporan Perencanaan Sistem Pengembangan Air Minum yang siap ditindak lanjuti oleh pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biarountuk menjadi dokumen legal “Rencana Induk Pengembangan

  SPAM Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang BiaroUntuk Periode Perencanaan 2016- 2036”.

  1.1.3. Otorisasi Dalam ketentuan Pasal 40 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004, tentang Sumber Daya Air, pemerintah termasuk di dalamnya pemerintah daerah diamanatkan untuk menjalankan pengembangan sistem penyediaan air minum. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin ketersediaan kebutuhan air baku yang keberadaannya diperlukan dan diutamakan bagi pemenuhan air minum rumah tangga. Untuk melaksanakan tanggung jawabnya tersebut, pemerintah memerlukan alat bagi pengaturan penyelenggaraan sistem penyediaan air minum.

  Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum melalui PP RI Nomor 16 Tahun 2005. Pengaturan sistem penyediaan air minum (yang selanjutnya disingkat SPAM) yang dilakukan pemerintah mempunyai tujuan untuk menciptakan pengelolaan dan pelayanan air minum yang berkualitas dengan harga yang terjangkau. Selain itu pengaturan SPAM dimaksudkan untuk mencapai terjadinya keseimbangan dalam kepentingan baik antara konsumen dan penyedia jasa pelayanan, dan juga untuk mencapai peningkatan baik efisiensi maupun cakupan pelayanan air minum.

  Pemerintah melakukan pengaturan dalam beberapa ruang lingkup yang mendukung terselenggaranya pengembangan SPAM agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Peraturan pemerintah ini menggambarkan lingkup penyelenggaraan SPAM di mana di dalamnya meliputi lima unit lingkup penyelenggaraan yaitu unit air baku, unit produksi, unit distribusi, unit pelayanan, dan juga unit pengelolaan. Untuk penerapannya, SPAM tersebut terbagi dalam dua bagian yaitu jaringan perpipaan dan/atau jaringan bukan perpipaan.

1.2. Ruang Lingkup Pekerjaan Secara Umum lingkup pekerjaan akan meliputi :

  a) Kajian kepustakaan

  b) Survei data primer dan sekunder, yang meliputu aspek teknis, geografi dan sosial-ekonomi masyarakat c) Pemantauan kuantitas dan kualitas potensi air baku

  d) Diskusi dan pembahasan e) Analisis dan penyusunan dokumen.

  Sedangkan detil dari kegiatan yang akan dilakukan meliputi :

  a) Melakukan evaluasi kondisi kota/kawasan, untuk mengetahui karakter, fungsi strategis dan konteks regional nasional kota/kawasan yang bersangkutan.

  b) Melakukan kerjasama dengan Bappeda kabupaten dalam menerjemahkan rencana tata ruang wilayah kabupaten menjadi rencana induk pengembangan SPAM .

  c) Melakukan evaluasi kondisi eksisting SPAM, dengan menginventarisasi peralatan dan perlengkapan sistem penyediaan air minum eksisting.

  d) Merencanaan sistem transmisi air minum dan distribusi baik untuk SPAM jaringan perpipaan maupun SPAM bukan jaringan perpipaan.

  e) Melakukan identifikasi permasalahan dan kebutuhan pengembangan, perkiraan kebutuhan air dan identifkasi air baku.

  f) Menentukan kriteria teknis dan standar pelayanan yang akan diaplikasikan, yang meliputi tingkat pelayanan yang diinginkan, cakupan pelayanan, dan jenis pelayanan yang dapat ditawarkan ke pelanggan jika kegiatan ini direalisasikan.

  g) Menyusun rencana kebutuhan air minum

  h) Menentukan skala prioritas penggunaan sumber air baku, kebutuhan kapasitas air baku (disesuaikan dengan rencana kebutuhan air minum), dan menyusun rencana alokasi air baku yang dibutuhkan untuk SPAM yang direncanakan. i) Menyusun identifikasi potensi pencemar air baku, identifikasi area perlindungan air baku, dan menentukan jenis proses pengelolaan sanitasi (terutama air limbah dan persampahan) di sekitar sumber air baku petensial. j) Menyusun program dan investasi pengembangan SPAM untuk jangka pendek (2 tahun), jangka menengah (5 tahun), dan jangka panjang (10-

  15 tahun) di wilayah studi baik untuk kawasan perkotaan maupun perdesaan berupa rencana tahapan pengembangan, rencana pengembangan kelembagaan dan SDM, rekayasa awal sistem, rekomendasi langkah-langkah penguasaan dan pengamanan sumber air baku, serta rencana tindak lanjut studi kelayakan. k) Menyusun rencana pembiayaan dan pola investasi, yang berupa indikasi besar biaya tingkat awal, sumber pembiayaan, dan pola pembiayaan bagi pengembangan SPAM. l) Menyusun rencana konsep pengembangan kelembagaan penyelenggara SPAM dan rencana berjalannya penyelenggaraan

  SPAM tersebut. m) Melakukan koordinasi dengan berbagai stakeholders terkait untuk mendukung subtansi dokumen RI-SPAM yang sedang disusun .

  1.2.1. Wilayah Administrasi Wilayah Administrasi yang dimaksud dalam pekerjaan penyusunan Rencana Induk Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum meliputi 6 (enam) Kecamatan di Wilayah Siau.

  1.2.2. Klasifikasi

  1.2.2.1 Klasifikasi Perkotaan Permen No.18 Tahun 2007 membedakan antara Kota Metro, Kota Besar,Kota

  Sedang dan Kota Kecil, dimana setiap Kota dibedakan dengan Jumlah penduduk yang berada di Kota tersebut,sebagai gambaran bias dilihat dalam keterangan sebagai berikut :  Kota Metro,yang mempunyai jumlah penduduk diatas 1 Juta jiwa.

   Kota Besar mempunyai penduduk antara 500.000-1.000.000 jiwa.  Kota Sedang mempunyai penduduk antara 100.000-500.000 jiwa.

   Kota Kecil mempunyai penduduk antara 20.000-100.000 jiwa. Sedangkan Kabupaten dan rencana wilayah pelayanan di 6 (enam) kecamatan yang ada di pulau Siau Tahun 2016 berdasarkan data BPS mempunyai penduduk di Siau 42.737 jiwa. Sehingga Siau, termasuk katagori Klasifikasi Kota Kecil

  1.2.2.2 Klasifikasi RIP-SPAM Berdasarkan klasifikasi wilayah perencanaan yang ada di Peraturan No. 18

  Tahun 2007 Kota Siau termasuk kota sedang, karena itu perencanaan Rencana Induk untuk Kota Siau adalah untuk jangka waktu 15 (lima belas) Tahun. Dengan melakukan identifikasi sumber air baku.

  1 Tabel 1.1 Klasifikasi RIP-SPAM No.

  Per 5 Tahun Per 5 Tahun Per 5 Tahun Per 5 Tahun

  Hibah LN Pinjaman LN Pinjaman DN APBD PDAM Swasta

  Hibah LN Pinjaman LN Pinjaman DN APBD PDAM Swasta

  Hibah LN Pinjaman LN Pinjaman DN APBD PDAM Swasta

  Hibah LN Pinjaman LN Pinjaman DN APBD PDAM Swasta

  7 Sumber Pendanaan

  Penyelenggara/ Pemerintah daerah

  Penyelenggara/ Pemerintah daerah

  Penyelenggara/ Pemerintah daerah

  6 Penanggung jawab Penyelenggara/ Pemerintah daerah

  5 Peninjauan Ulang

  Kriteria Teknis Jenis Kota Metro Besar Sedang Kecil

  Penyedia Jasa/Penyelenggara/ Pemerintah daerah

  Penyedia Jasa/Penyelenggara/ Pemerintah daerah

  Penyedia Jasa/Penyelenggara/ Pemerintah daerah

  4 Pelaksana Penyedia Jasa/Penyelenggara/ Pemerintah daerah

  Investigasi Investigasi Identifikasi Identifikasi

  3 Sumber Air Baku

  20 Tahun 15-20 Tahun 15-20 Tahun 15-20 Tahun

  2 Horison Perencanaan

  Rencana Induk Rencana Induk Rencana Induk -

  1 Jenis Perencanaan

  Sumber: Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2010

1.3. Sistimatika Laporan

  Sistematika laporan yang akan disampaikan dalam laporan ini terdiri dari 8 BAB. Masing-masing adalah hasil analisis dari data primer maupun sekunder. Sistematika laporan adalah sebagai berikut:

  BAB 1: PENDAHULUAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang kegiatan ini, Maksud dan tujuan, keluaran pelaksaan pekerjaan, landasan hukum penyusunan RISPAM, Ruang lingkup pekerjaan dan Wilayah Administrasi.

  BAB 2: GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI PERENCANAAN Pada BAB ini akan dibahas mengenai gambaran umum wilayah studi mengenai kabupaten dalam konteks makro, rencana tata ruang wilayah, penggunaan lahan dan tata guna lahan, Rencana pengembangan tata kota, kawasan prioritas dan kawasan lindung. Begitu juga mengenai kondisi fisik dasar wilayah studi, seperti geografi, topografi dan fisiografi juga Geologi.

  BAB 3: KONDISI PENYEDIAAN AIR MINUM EKSISTING Pada BAB ini akan dibahas mengenai kondisi eksisting SPAM Kabupaten kepulauan Sitaro, seperti sistem produksi, sistem pelayanan, sistem non perpipaan dan skematik SPAM eksisting. Adapun pemasalah aspek teknis saat ini akan di jabarkan juga di bab ini. Masalah keuangan PDAM dibahas pula pada bab ini.

  BAB 4: KRITERIA TEKNIS, METODA DAN STANDAR PERENCANAAN SPAM BAB ini menjabarkan kriteria teknis, metoda dan standar perencanaan SPAM seperti periode perencanaan, standar konsumsi pemakaian air, kebutuhan air, kehilangan air dan sistem. Kriteria-kriteria tersebut akan menjadi dasar untuk pengembangan SPAM di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

  BAB 5: AIR BAKU Bab ini membahas mengenai potensi air baku yang ada di wilayah pelayanan begitu pula mengenai potensi air tanah dan air permukaan. Begitu juga membahas mengenai sumber air baku yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sumber air baku dan pada bab ini juga ditentukannya sumber air baku yang terpilih untuk SPAM yang direncanakan.

  BAB 6: RENCANA INDUK DAN PRA DESIAIN PENGEMBANGAN SPAM Bab ini membahas mengenai rencana pola pemanfaatan ruang wilayah studi dan juga penegmbangan wilayah pelayanan. Dibahas juga pada bab ini mengenai proyeksi pertumbuhan penduduk dari tahun 2010 sampai dengan 2030. Mengenai tingkat pelayanan dan kebutuhan air minum di wilayah pelayanan juga akan di bahas secara detail pada bab ini. Hasil analisa tersebut menghasilkan rencana pengembangan SPAM dan juga pentahapannya.

  BAB 7: RENCANA INVESTASI DAN SUMBER PENDANAAN Pentahapan rencana investasi dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang dibahas secara detail pada bab ini. BAB 8: KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bab ini, akan di simpulkan keadaan eksisting dan juga permasalahan yang di hadapi oleh PDAM Kepulauan Sitaro sekarang. Rekomendasi dari konsultan mengenai rencana tahapan kedepannya.

  

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH PROYEK

2.1. Kabupaten Kepulauan Sitaro Dalam Perspektif Nasional

  2.1.1. Kabupaten Sitaro Dalam Perspektif Nasional Wilayah Siau sebagai wilayah kepulauan mempunyai nilai strategis dalam mendukung keberhasilan pembangunan wilayah kabupaten dan nasional, hal tersebut ditunjukan antara lain oleh potensi/karakteristik kegiatan yang berlangsung didalamnya, yaitu:

   Posisi strategis sebagai wilayah yang memiliki pulau terluar mempunyai dampak terhadap kondisi pertahanan dan keamanan baik skala nasional maupun regional juga berdampak penting bagi kedaulatan Negara.

   Potensi sumber daya alam merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.  Keberadaan wilayah kepulauan dan pulau-pulau kecil mempunyai keterkaitan yang saling mempengaruhi dengan kegiatan yang dilaksanakan di wilayah darat, laut, antara wilayah yang berbatasan, maupun antar Negara.

   Pelestarian lingkungan dan ekositem mempunyai dampak bagi daya dukung pulau dan potensi keanekaragaman hayati.

  Penanganan wilayah kepulauan ini pada hakekatnya merupakan bagian integral dari upaya perwujudan ruang wilayah nusantara sebagai satu kesatuan geografi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan.

  2.1.2. Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Dalam Perspektif Provinsi Pengembangan tata ruang disusun dengan melihat hambatan dan masalah yang ada dalam pengembangan wilayah dengan mengacu pada potensi komoditas unggulan wilayah dan peluang pengembangan wilayah kepulauan. Berdasar pada hal di atas maka disusun Visi dan Misi pengembangan tata ruang Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, sebagai berikut :

  1. Visi :

   Mewujudkan masyarakat Kepulauan Siau Tagulandang Biaro yang sejahtera melalui pengembangan tata ruang dengan memanfaatkan potensi geografis wilayah kepulauan dan potensi sumber daya alam unggulan yang berorientasi global.

   Serta memanfaatkan kondisi rawan bencana menjadi sebuah peluang pengembangan.

  2. Misi

  Pengembangan tata ruang dijabarkan sebagai berikut :  Mengembangkan potensi yang dimiliki pulau terluar dalam fungsi pertahanan keamanan, ekonomi, pendayagunaan Sumber Daya Alam (SDA) dan kelestarian lingkungan.

   Akselerasi pembangunan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di setiap klaster secara optimal dan berkelanjutan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

   Menjadikan seluruh klaster sebagai bagian yang utuh melalui pemantapan sistem transportasi wilayah kepulauan.  Meningkatkan dan mengembangkan seluruh sistem jaringan dan infrastruktur di setiap klaster, sehingga dapat menunjang kegiatan ekonomi wilayah kepulauan.

   Meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi rawan bencana dan memanfaatkan tantangan kondisi alam tersebut untuk dijadikan peluang pengembangan.

   Mewujudkan ketaatan pada rencana pemanfaatan ruang dalam hal pengembangan potensi wilayah dan usaha mempertahankan kelestarian lingkungan.

   Memanfaatkan pasar bebas sebagai wujud keikutsertaan dan memainkan peran sebagai pelaku dalam era globalisasi

  2.1.3. Kabupaten Kepulauan Sitaro Dalam Perspektif Kawasan Andalan Kawasan-kawasan yang menjadi andalan dan diprioritaskan pengembangannya di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro yaitu:

  1. Pusat Pemerintahan

  Kabupaten Sitaro perlu melengkapi lembaga-lembaga pemerintahan. Hal ini terkait dengan administrasi pemerintahan dan memperlancar aktivitas kegiatan di wilayah perencanaan.

  2. Kawasan Pelabuhan

  Pembangunan kawasan pelabuhan merupakan salah satu langkah pembuka akses kegiatan baik lokal maupun regional (langkah prioritas) yang dapat menstimulasi perkembangan makro wilayah yang merupakan bentuk percepatan/akselerasi perkembangan wilayah.

  3. Pusat Perdagangan

  Pembangunan kawasan perdagangan sebagai salah satu pusat kegiatan untuk meningkatkan aksesibilitas yang dapat memicu pertumbuhan di wilayah perencanaan. Pembangunan kawasan perdagangan skala regional terdapat di setiap daerah memiliki tempat perdagang skala lokal.

  4. Kawasan Pusat-Pusat Perdagangan

  Kelengkapan sarana dan prasarana di tiap pusat kegiatan diperlukan untuk menunjang struktur tata ruang yang direncanakan, sehingga memiliki prioritas pembangunan untuk perkembangan wilayah ini.

  2.2. Gambaran Umum Kabupaten Kepulauan Sitaro

  2.2.1. Letak geografis dan administrasi Kepulauan Siau Tagulandang Biaro merupakan salah satu dari 13 (tiga belas) daerah otonom di Provinsi Sulawesi Utara yang merupakan daerah bahari dan terdiri dari pulau-pulau yang membentang dari selatan (Pulau Biaro) ke utara (Pulau Siau).

  2 Kabupaten ini memiliki luas daratan mencapai 275,95 km , dengan ibukota yang berkedudukan di Ondong (Kecamatan Siau Barat). Secara geografis Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro terletak antara 2 4’ 13” – 2 52’ 47” LU dan 125 9’ 28” – 125 24’ 25” BT, dengan batas – batas administrasi sebagai berikut:

   Sebelah Utara : Kabupaten Kepulauan Sangihe  Sebelah Timur : Laut Maluku  Sebelah Selatan : Kabupaten Minahasa Utara  Sebelah Barat : Laut Sulawesi Setelah memekarkan diri dari Kabupaten Kepulauan Sangihe pada tahun 2007 melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2007, tentang pembentukan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro di Provinsi Sulawesi Utara, saat ini Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro terdiri dari 10 Kecamatan dengan 47 buah pulau dan sebanyak 10 pulau merupakan pulau yang berpenghuni sedangkan sisanya sebanyak 37 pulau tidak berpenghuni. Dari seluruh pulau yang ada di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, pulau Siau merupakanpulau yang terbesar

  2

  dengan luas 129,05 km . Dengan jumlah kecamatan sebanyak 10 Kecamatan, secara keseluruhan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro memiliki luas

  2

  275,95 km dengan wilayah Kecamatan Siau Timur yang memiliki luas terbesar yaitu

  2 2 55,95 km dan Kecamatan Siau Tengah dengan luas paling terkecil yaitu 11,8 km .

  Gambar dan tabel berikut memperlihatkan gambaran tentang wilayah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro dan luas wilayah yang dirinci setiap kecamatan.

Tabel 2.1 Luas wilayah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro

  Luas No. Kecamatan %

  2

  (km )

  1 Tagulandang

  55.53

  20.12

  2 Biaro

  20.85

  7.56

  3 Tagulandang Utara

  17.92

  6.49

  4 Tagulandang Selatan

  21.63

  7.84

  5 Siau Timur

  55.94

  20.27

  6 Siau Timur Selatan

  24.06

  8.72

  7 Siau Barat

  34.92

  12.65

  8 Siau Barat Selatan

  15.1

  5.47

  9 Siau Barat Utara

  18.2

  6.60

  10 Siau Tengah

  11.8

  4.28 275.95 100

  

Sumber : Kabupaten Kepulauan Sitaro Dalam Angka 2016 Dari pencapaian menuju Kabupaten Kepulauan Sitaro maka Jarak Ibukota Kabupaten ke Ibukota Provinsi 146 km dan untuk jarak rentang kendali: o

  Ulu Siau – Buhias : 21 mil laut (38, 892 Km) o Ulu Siau : 41 mil laut (75, 932 Km)

  • – Biaro o

  Ulu Siau : 60 mil laut (111, 12 Km)

  • – Tahuna o

  Ulu Siau – Manado : 85 mil laut (157, 42 Km) Melihat dari posisinya, SITARO dengan dua wilayah kabupaten kepulauan lainnya yaitu TALAUD dan SANGIHE memiliki keunggulan dari segi jarak dengan

  Pusat Kegiatan Nasional di Provinsi Sulawesi Utara yaitu Manado-Btung, dengan jarak + 85 mil laut, apabila menggunakan transportasi laut berupa kapal cepat yang

  00

  30

  berlayar setiap hari ditempuh dalam waktu 4,5 jam (berangkat jam 10. tiba 14. ) sedangkan apabila menggunakan kapal biasa ditempuh dalam waktu 7 jam

  00

  00

  (berangkat jam 18. tiba 02. dinihari). Peta berikut memperlihatkan posisi Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro di Provinsi Sulawesi Utara dan Peta Administrasi Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

Gambar 2.1 Posisi Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2016 total jumlah desa terdiri atas 83 Kampung dan 10 kelurahan dari 10 wilayah kecamatan. Adapun pembagian berdasarkan kecamatan di kabupaten ini dapat dilihat pada gambar grafik berikut ini:

Gambar 2.2 Jumlah Desa dan Kelurahan menurut Kecamatan

  

Sumber: Kecamatan Dalam Angka Kabupaten Kep. Sitaro 2016

  2.2.2. Topografi Kondisi topografi Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro pada umumnya memiliki bentuk wilayah yang berbukit dan bergunung, dan memiliki kemiringan lereng yang curam. Meskipun curam, daerah ini masih dimanfaatkan penduduk untuk ditanami dengan tanaman perkebunan seperti kelapa, cengkeh dan pala. Daerah datar relatif sempit dan umumnya hanya terdapat di pesisir pantai yang dijadikan tempat pemukiman penduduk, seperti di Ulu, Ondong (Pulau Siau), Buhias (Pulau Tagulandang) dan Lamanggo (Pulau Biaro).

  Daerah yang memiliki bentuk berombak dan bergelombang di Pulau Siau dapat dijumpai di Pihise dan Pangirolong, sedangkan di Pulau Tagulandang dapat dijumpai di Apengmulengen. Luas dan penyebaran dari kemiringan lereng Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro dapat dilihat pada tabel berikut.

  • – 25 %

  1. Ruang 714 Siau Timur

  2.2.3. Rencana Pengembangan Tata Kota Dalam Rencana Pengembangan Tata Kota ini tidak mengarahkan secara tegas kawasan tertentu di wilayah Kabupaten Kepulauan Sitaro tetapi berdasarkan kriteria kawasan tertentu diwilayah perencanaan terdapat kawasan yang dapat difungsikan sebagai kawasan tertentu terkait dengan kepentingan ekonomi nasional.

  

Sumber Kabupaten Dalam Angka Kabupaten Kep. Sitaro 2016

  5. Tamata 1.134

  4. Kolongan 1.158

  3. Dalage 1.165

  2. Karangetang 1.320 Aktif

  Kecamatan Nama Gunung Tinggi Keterangan Tagulandang

Tabel 2.2 Kemiringan lereng di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang BiaroTabel 2.3 Nama Gunung dan Tingginya di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro

  Ketinggian tempat di pulau Siau bervariasi antara 0 meter dari permukaan laut (m dpl) sampai 1.827 m dpl. Tempat tertinggi adalah puncak gunung Karangetang. Kota Ondong sebagai pusat kegiatan kabupaten terletak pada ketinggian + 25m dpl. Ketinggian tempat di Pulau Tagulandang bervariasi dari 0 m dpl sampai 784 m dpl (Wuluri Balinge), sedangkan di Pulau Biaro bervariasi antara 0 m dpl sampai 323 m dpl. Kabupaten Kepulauan Sitaro memiliki 5 (lima) Gunung di 2 Kecamatan dengan ketinggian yang berbeda-beda. Berikut tabelnya:

  Sumber : Interpretasi dari Peta RBI skala 1 : 50.000

  2.312 10,58 4. 25 – 40 % 4.181 20,13 5. > 40 % 8.614 39,43 Jumlah 21.849 100

  Ha % 1. 0 – 8 % 5.693 26,06 2. 8 – 15 % 831 3,80 3. 15

  No Kemiringan Lereng Luas

  Arahan kebijakan dan strategi pengembangan bagi kawasan tertentu diantaranya :

  1. Mengembangkan kawasan-kawasan tertentu cepat tumbuh atau potensial tumbuh (kawasan andalan dan kawasan-kawasan konsentrasi kegiatan ekonomi/aglomerasi kegiatan) dan sektor unggulannya serta pusat pengembangan di dalamnya sebagai simpul pengembangan wilayah untuk mendukung ketahanan pangan dan mewujudkan keseimbangan dan pemerataan perkembangan antar wilayah, dengan memperhatikan potensi daerah, permukiman dan sumberdaya manusia, kemampuan investasi nasional, sumber daya buatan dan kondisi ekonomi global.

  2. Memadukan pengembangan kawasan tertentu cepat tumbuh, potensial tumbuh atau kawasan andalan dengan pengembangan kegiatan transmigrasi dan permukiman, agar pengembangan wilayah dapat saling menguatkan dengan pengembangan kependudukan.

  3. Mengembangkan kawasan tertentu cepat tumbuh atau potensial tumbuh di ruang laut (kawasan andalan laut) terutama dalam rangka meningkatkan keterkaitan kegiatan produksi dan jasa di darat dan laut yang saling mempengaruhi, dengan memperhatikan potensi sumber daya serta orientasinya dan keterkaitannya dengan kota-kota serta kawasan kawasan andalan di darat.

  4. Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada dunia usaha untuk mengembangkan sektor unggulan di kawasan tertentu melalui pola insentif dan penyederhanaan peraturan/prosedur perijinan dalam investasi tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

  5. Mengembangkan institusi yang independen dalam mengelola dan mempromosikan berbagai peluang investasi kawasan di dalam dan di luar negeri.

  6. Mengembangkan kawasan-kawasan kaya sumberdaya alam dengan mengarahkan pembangunan seoptimal mungkin dan tetap menjaga kelestarian lingkungan (sustainable development).

  7. Mengembangkan kawasan tertentu sangat tertinggal dengan meningkatkan akses perkembangan ekonomi, infrastruktur, IPTEK, dll. dari pusat-pusat pertumbuhan sekitarnya.

  8. Mengembangkan wilayah pulau dalam kerangka kerjasama ekonomi internasional, seperti BIMP-EAGA dan AIDA, sehingga pulau-pulau di KTI diharapkan dapat berperan sebagai prime mover pengembangan KTI.

  9. Mendorong terlaksananya mekanisme kerjasama antar daerah dalam pengembangan kawasan-kawasan kerjasama ekonomi regional maupun Segitiga Pertumbuhan Inti Nusantara (SPIN).

  2.2.4. Rencana Pengembangan Kawasan Prioritas Dengan UU No.32 Tahun 2004 tentang Penataan Ruang. Pengertian dari kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis dan penataan ruangnya diprioritaskan.

  Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1997 tentang RTRW Nasional, dijelaskan bahwa Kawasan Tertentu dapat memiliki satu atau lebih ciri-ciri sebagai berkut :

  1. Kawasan Tertentu Cepat Tumbuh (Kawasan Andalan)

  2. Kawasan Tertentu Potensial Tumbuh (Kawasan Andalan)

  3. Kawasan Tertentu Kritis Lingkungan

  4. Kawasan Tertentu Perbatasan

  5. Kawasan Tertentu Sangat Tertinggal

  6. Kawasan Tertentu Pertahanan Keamanan

  2.2.5. Kawasan Lindung Rencana pola pemanfaatan ruang kawasan lindung bertujuan untuk mewujudkan kelestarian lingkungan hidup, meningkatakan daya dukung lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem antara wilayah guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan.

  Kawasan lindung terdiri atas:

  a. Kawasan hutan lindung;

  b. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya; c. Kawasan perlindungan setempat; d. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, cagar budaya dan ilmu pengetahuan; e. Kawasan rawan bencana alam; dan f. Kawasan lindung geologi.

  Kawasan hutan lindung meliputi:

  a. Kawasan Hutan Lindung Budule Tamata dengan luas kurang lebih 1.006 ha terletak di Kecamatan Siau Barat Selatan, Kecamatan Siau Timur Selatan, Kecamatan Siau Barat Utara, Kecamatan Siau Barat, Kecamatan Siau Tengah dan Kecamatan Siau Timur;

  b. Kawasan Hutan Lindung Gunung Begambalo dengan luas kurang lebih 735 ha terletak di Kecamatan Siau Timur Selatan dan Kecamatan Siau Barat Selatan;

  c. Kawasan Hutan Lindung Pulau Tagulandang dengan luas kurang lebih 337 ha terletak di Pulau Tagulandang; d. Kawasan Hutan Lindung Pulau Tagulandang Lokasi 2 (dua) dengan luas kurang lebih 419 ha terletak di Pulau Tagulandang; dan e. Kawasan Hutan Lindung Gunung Ruang dengan dengan luas kurang lebih 622 ha terletak di Kecamatan Tagulandang.

  Rencana pengelolaan kawasan hutan lindung adalah sebagai berikut :

  a. Pengendalian kegiatan budidaya yang telah berlangsung lama dalam kawasan hutan lindung; b. Pengembalian fungsi hidrologis kawasan hutan yang telah mengalami kerusakan dengan reboisasi; c. Percepatan rehabilitasi hutan lindung dengan tanaman yang sesuai dengan fungsi lindung; d. Pelestarian ekosistem yang merupakan ciri khas kawasan melalui tindakan pencegahan pengrusakan dan upaya pengembalian pada rona awal sesuai ekosistem yang pernah ada; dan

  e. Pemanfaatan kegiataan yang diperbolehkan di kawasan hutan lindung agar tidak mengganggu hutan lindung. Kawasan-kawasan yang memberikan fungsi perlindungan terhadap kawasan bawahannya, berupa kawasan resapan air; Kawasan resapan air berfungsi untuk memberikan ruang yang cukup bagi resapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan; Kawasan resapan air terdapat di :

  a. Bulude Kalai, Bulude Tamata, Bulude Begambalo, Bulude Tontombulo, Bulude Balilang, Bulude Masio, Bulude Papalamang kawasan resapan air ini terletak di Pulau Siau; b. Wuluru Balinge, Wuluru Kaloko, Wuluru Panenteang, Wuluru

  Wangkulang, Wuluru Kalongan,Wuluru Bongkongkaka, Wuluru Timbang, kawasan resapan air terletak di pulau Tagulandang; dan c. Wuluru Bukide, Bukiri Himbang, Bukiri Bulo kawasan resapan air ini terletak di Pulau Biaro.

  Rencana pengelolaan kawasan resapan air adalah sebagai berikut :

  a. Menata pemanfaatan kawasan reasapan agar tidak beralih fungsi menjadi lahan terbangun; b. Rehabilitasi lahan konservasi tanah, antara lain mempercepat pemulihan kawasan resapan dengan penghijauan; c. Peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan resapan air; d. Pemantapan kawasan resapan air;

  e. Mengembangan hutan rakyat untuk menyediakan kebutuhan dosmetik akan kayu bangunan dan melakukan penghijauan dengan menanam jenis-jenis kayu hutan guna mengendalikan erosi, memperbesar infiltrasi tanah dan mencegah banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau;

  f. Percepatan rehabilitasi lahan milik masyarakat yang termasuk di dalam kriteria kawasan lindung dengan melakukan penanaman pohon pelindung/penghijauan yang dapat di gunakan sebagai perlindungan kawasan bawahannya, hasil yang dapat diambil berupa hasil non-kayu; g. Pencegahan kegiatan pengurangan tutupan vegetasi; h. Membuka jalur wisata jelajah/pendakian untuk menanamkan rasa memiliki/mencintai alam, serta pemanfaatan kawasan lindung untuk sarana pendidikan penelitian dan pengembangan kecintaan terhadap alam; i. Peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitar kawsan resaan air; dan j. Pemantapan kawasan resapan air, bila berada dalam kawasan hutan dikembalikan fungsinya sebagai hutan lindung untuk menjamin keberadaan kawasan hutan dan fungsi hutan. Kawasan perlindungan setempat terdiri dari :

  a. Sempadan pantai;

  b. Sempadan sungai;

  c. Kawasan sekitar sungai;

  d. Kawasan sekitar mata air; dan e. Ruang terbuka hijau.

  Kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup terdiri dari: a. Kawasan hutan Lindung Bulude Tamanat dengan Luas kurang lebih

  1.006 ha terletak di Kecamatan Siau Barat Selatan, Kecamatan Siau Tengah dan Kecamatan Siau Timur;

  b. Kawsana Hutan Lindung Gunung Begambalo dengan luas kurang lebih 735 ha terletak di Kecamatan Siau Timur Selatan dan Kecamatan Siau Barat Selatan;

  c. Kawasan Resapan Air puncak Gunung Karangetang, Bulude Kalai, Bulude Tamata, Bulude Begangbalo, Bulude Tontonbulo, Bude Baliang, Bulde Masio, Bulude Papalamang terkenal di Pulau Siau;

  Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan hutan lindung sebagai berikut:

  a. Pemanfaatan kawasan pada hutan lindung dilakukan dengan ketentuan :

  1. Tidak mengurangi, mengubah atau menghilangkan fungsi utamanya;

  2. Tidak menimbulkan dampak negatif terhadap biofisik dan sosial ekonomi;

  3. Tidak membangun sarana dan prasarana yang mengubah bentang alam.

  b. Kegiatan pertambangan di kawasan hutan lindung masih diperkenankan sepanjang tidak dilakukan secara terbuka, dengan syarat harus dilakukan reklamasi areal bekas penambangan sehingga kembali berfungsi sebagai kawasan lindung; c. Kawasan hutan lindung dapat dikelola atau dipinjampakaikan sepanjang mengikuti prosedur dan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku;

  d. Pembangunan prasarana wilayah yang harus melintasi hutan lindung dapat diperkenankan dengan ketentuan :

  1. Tidak menyebabkan terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang budidaya di sepanjang jaringan prasarana tersebut;

  2. Mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Kementrian Kehutanan. Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan resapan air sebagai berikut:

  a. Dalam kawasan resapan air tidak diperkenankan adanya kegiatan budidaya ; b. Permukiman yang sudah terbangun di dalam kawasan resapan air sebelum ditetapkan sebagai kawasan lindung masih diperkenankan namun harus memenuhi syarat :

  1. Tingkat kerapatan bangunan rendah (KDB maksimm 20% dan KLB maksimum 40%);

  2. Perkerasan permukaan menggunakan bahan yang memiliki daya serap air tinggi; dan

  3. Dalam kawasan resapan air wajib dibangun sumur-sumur resapan sesuai ketentuan yang berlaku.

  Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sekitar danau sebagai berikut:

  a. Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;

  b. Ketentuan pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk penglolaan badan air dan / atau pemanfaatan air; c. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi; d. Penetapan lebar sempadan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan e. Dalam kawasan sempadan danau masih diperkenankan dibangun prasarana wilayah dan untilitas lainnya sepanjang :

  1. Tidak menyebabkan terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang budidaya di sekitar jaringan prasarana tersebut; dan

  2. Pembangunannya dilakukan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.

  Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sekitar mata air sebagai berikut:

  a. Pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;

  b. Penyediaan sumur resapan dan / atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada; c. Penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budidaya terbangun yang diajukan izinnya; d. Dalam kawasan sempadan sekitar mata air tidak diperkenankan dilakukan kegiatan budidaya yang dapat merusak mata air, kecuali daerah/wilayah mata air yang secara eksisting telah menjadi kawasan permukiman dan kawasan budidaya; e. Pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air; dan f. Dalam kawasan sempadan mata air masih diperkenankan dilakukan kegiatan penunjang pariwisata alam sesuai ketentuan yang berlaku.

  2.2.6. Laju Perubahan Tata Guna dan Fungsi Lahan

  2.2.6.1. Trend Perubahan Penggunaan dan Fungsi Lahan Penggunaan lahan di wilayah perencanaan dapat dikelompokkan ke dalam delapan jenis penutup/penggunaan lahan, yaitu hutan lahan kering sekunder, hutan mangrove primer, kebun campuran, permukiman, pertanian lahan kering, semak/belukar, tanah terbuka, dan tubuh air.

  Hutan lahan kering pada umumnya terdapat di Pulau Siau dan tersebar di puncak-puncak gunung atau bukit seperti Bulude Kalai, dan Bulude Tamata. Luas penggunaan lahan hutan lahan kering adalah sekitar 387 ha atau 0,02% dari luas daratan.

Gambar 2.3 Grafik Luas Penggunaan Lahan di Kabupaten Kepulauan Sitaro

  Sumber: RTRW Kabupaten Sitaro

  2.2.6.2. Pemanfaatan Lahan Secara Berkelanjutan Pemanfaatan lahan di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro terdapat beberapa hal yang dapat dipertimbangkan:  Pembatasan pemanfaatan sumber daya alam (SDA) untuk menjaga ekosistem linkungan hidup seperti penebangan liar.

   Pelestarian kawasan lindung untuk mencegah kerusakan alam seperti: sedimentasi, erosi, abrasi, kebakaran hutan, dan banjir.

   Bagi kegiatan penanaman/pertanian, perlu dilakukan upaya pengurangan pola penanaman ladang berpindah. Karena dikhawatirkan dengan pola yang demikian dapat menyebabkan nutrisi dalam tanah akan hilang sedikit demi sedikit.

2.3. Tinjauan Terhadap Kebijakan Ruang Daerah (RTRW)

  2.3.1. Tujuan Penataan Ruang Daerah Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten adalah: Mewujudkan masyarakat yang sejahtera, mandiri dan berkepribadian melalui pemanfaatan fungsi ruang berbasis bahari, pertanian, pariwisata dan mitigasi bencana yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.

  2.3.2. Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten adalah sebagai berikut:

  a. Pengembangan sumber daya manusia dan pemanfaatan kemajuan teknologi untuk menunjang seluruh kegiatan pembangunan wilayah; b. Pengembangan pemanfaatan sumber daya alam kelautan dan perikanan, pertanian dan perkebunan serta pariwisata untuk kesejahteraan masyarakat;

  c. Pengembangan pusat-pusat permukiman dan pusat-pusat kegiatan yang berwawasan lingkungan melalui pembangunan prasarana dan sarana penunjang; dan

  d. Pengelolaan ruang berbasis mitigasi bencana melalui penyediaan ruang dan jalur evakuasi bencana.

  e. Penguatan aspek pertahanan dan keamanan khususnya pada kawasan pulau terluar.

  2.3.3. Srategi pengembangan pusat-pusat permukiman Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten adalah sebagai berikut:

  a. Pengembangan sumber daya manusia dan pemanfaatan kemajuan teknologi untuk menunjang seluruh kegiatan pembangunan wilayah; b. Pengembangan pemanfaatan sumber daya alam kelautan dan perikanan, pertanian dan perkebunan serta pariwisata untuk kesejahteraan masyarakat;

  c. Pengembangan pusat-pusat permukiman dan pusat-pusat kegiatan yang berwawasan lingkungan melalui pembangunan prasarana dan sarana penunjang;

  d. Pengelolaan ruang berbasis mitigasi bencana melalui penyediaan ruang dan jalur evakuasi bencana; dan e. Penguatan aspek pertahanan dan keamanan khususnya pada kawasan pulau terluar.

  2.3.4. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro meliputi: a. Pusat-pusat kegiatan;

  b. Sistem jaringan prasarana utama; dan c. Sistem jaringan prasarana lainnya.

  Sehubungan dengan karakteristik wilayah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro sebagai daerah kepulauan, maka rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro berkaitan dengan satuan wilayah pengembangan dengan sistem klaster pengembangan. Sistem klaster pengembangan dan fungsi pengembangan kegiatannya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.4. Klaster dan Fungsi Pengembangan Satuan Pengembangan Klaster (SPK) Fungsi Pengembangan kegiatan

  Satuan Pengembangan Klaster (SPK) Siau, yang

  1. Sub klaster Siau Timur, dengan fungsi terdiri dari: pengembangan kegiatan meliputi fungsi

  

1. Sub klaster Siau Timur, meliputi wilayah perdagangan dan jasa, pertanian dan

Kecamatan Siau Timur, Siau Timur Selatan perkebunan, perikanan, permukiman, dan Kecamatan Siau Tengah. Pusat transportasi, pariwisata dan kesehatan; pengembangan: Ulu;

2. Sub klaster Siau Barat, dengan fungsi

  

2. Sub klaster Siau Barat, meliputi Kecamatan pengembangan kegiatan meliputi fungsi

Siau Barat, Kecamatan Siau Barat Selatan pemerintahan, pertanian dan dan Kecamatan Siau Barat Utara. Pusat perkebunan, Pariwisata, Transportasi pengembangan: Ondong dan permukiman Satuan Pengembangan Klaster (SPK) Fungsi pengembangan kegiatan meliputi

  Tagulandang, meliputi wilayah Kecamatan fungsi perdagangan dan jasa, Tagulandang, Tagulandang Utara dan pendidikan tinggi, Olahraga, Kecamatan Tagulandang Selatan. Pusat perkebunan, transportasi, permukiman,

pengembangan: Buhias Perikanan, pariwisata dan kesehatan

Satuan Pengembangan Klaster (SPK) Biaro, Fungsi pengembangan kegiatan meliputi meliputi seluruh wilayah Kecamatan Biaro fungsi permukiman, pariwisata, dengan pusat pengembangan: Lamanggo perkebunan dan perikanan Fungsi pengembangan kegiatan meliputi Satuan Pengembangan Klaster (SPK) fungsi perikanan, permukiman, Makalehi, meliputi seluruh wilayah di Pulau pariwisata, Pertahanan dan peningkatan Makalehi dengan pusat pengembangan kualitas dan fasilitas kawasan Kampung Makalehi perbatasan

  Satuan Pengembangan Klaster (SPK) Pahepa Fungsi pengembangan kegiatan meliputi meliputi seluruh wilayah di Pulau Pahepa, Pulau fungsi permukiman, pariwisata dan Gunatin, Pulau Mahoro dan Pulau-pulau kecil perikanan sekitarnya dengan pusat pengembangan Pahepa

  

Gambar Rencana Struktur di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro

Gamabar 2.4 Tiga Cluster Kepulauan

Gambar 2.4. Pusat-pusat kegiatan yang ada di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro

  meliputi: PKSNp (Pusat Kegiatan Strategis Nasional promosi)

  a. PKWp (Pusat Kegiatan Wilayah promosi)

  b. PKL (Pusat Kegiatan Lokal)

  c. PPK (Pusat Pelayanan Kawasan)

  d. PPL (Pusat Pelayanan Lingkungan)

  • Ondong

  PKSNp

  • Ulu

  PKWp

  • Buhias

  PKL

  • Kec. Siau Timur Selatan : Sawang •Kec. Siau Barat Selatan : Talawid •Kec. Tagulandang Utara : Bawoleu

  PPK

  • Kec. Tagulandang Selatan : Kisihang •Kec. Biaro : Lamanggo •Kec. Siau Barat : Hiung •Kec. Siau Tengah : Beong •Kec. Siau Barat : Makalehi

  PPL

  • Kec. Siau Timur Selatan : Pahepa •Kec. Tagulandang Utara : Minanga

Gambar 2.5 Skema Pusat Kegiatan di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro

  2.3.4.1. Wilayah Siau Klaster ini berada pada posisi geografis 2 30’ – 2 52’ LU dan 125 13’ – 125

  2

  . Klaster Siau merupakan klaster utama 40’ BT dengan luas mencapai + 160,02 km di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, pada klaster ini terdapat kegiatan pemerintahan kabupaten dan kegiatan lainnya seperti perdagangan, transportasi laut dan pendidikan serta pusat permukiman penduduk. Pusat kegiatan di klaster Siau terbagi antara pusat kegiatan pemerintah kabupaten yang terletak di Ondong dan pusat kegiatan jasa perdagangan dan transportasi laut di Ulu, dengan pembagian wilayah administrasi sebanyak enam kecamatan. Keterhubungan dengan pusat klaster dilayani oleh jasa angkutan darat dengan dukungan prasarana jalan yang sudah memadai.

  Klaster Siau memiliki kondisi topografis yang bervariasi yaitu dari dataran landai, kelerengan curam sampai dataran tinggi dan puncak gunung dengan ketinggian mencapai +/- 1.827 m dpl. Klaster ini memiliki gunung berapi aktif (Gunung Karangetang) yang berada di bagian utara pulau Siau. Keaktifan gunung berapi ini memberi pengaruh bagi kesuburan lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang ada di sekitarnya. Siau terkenal akan kualitas biji pala yang merupakan salah satu yang terbaik di dunia sejak dulu. Demikian pula beberapa komoditi lain seperti kelapa dan cengkih banyak berasal dari klaster Siau.

  Hubungan antara klaster Siau dengan klaster lainnya yang berada di wilayah kepulauan Siau Tagulandang Biaro dilayani oleh pelayaran lokal antar pulau sedangkan keterhubungan dengan ibukota provinsi dilayani pelayaran rutin dilakukan 3 (tiga) kali dalam seminggu melalui pelabuhan Poso yang ada di Kota Ulu.

  2.3.5. Geologi Geologi Berdasarkan peta land system (RePPProT, 1988) dan data pengamatan lapangan menunjukkan bahwa di daerah perencanaan terdapat dua ordo tanah yaitu inceptisols, dan entisols dengan luas untuk masing-masing ordo tanah dapat dilihat berikut ini.

Tabel 2.5. Great Group Tanah di Kepulauan Sitaro

  Luas No. Nama Tanah

  Ha % Inceptisols

  1 Dystropepts 10.868 49,74

  2 Humitropepts 10.478 47,96 Entisols

  3 Troporthents 503 2,30 Jumlah

  100

  Sumber : Peta Land System (RePPProT, 1988) dan hasil pengamatan tim

  2.3.6. Hidrologi, Klimatografi dan Hidrogeologi Kondisi hidrologi sangat dipengaruhi oleh adanya air permukaan seperti aliran sungai dan danau. Alur sungai sebagian besar kering dan hanya berair pada saat hujan. Sungai dan danau dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai sumber air bersih untuk kehidupan sehari-hari.

  Di pulau Siau terdapat sungai Kapeta, yang berasal dari danau Kapeta dan Akelabo. Kedua sungai ini dijadikan sebagai sumber air bersih utama bagi penduduk di sekitarnya. Instalasi pengolahan air yang berasal dari danau Kapeta, saat ini sedang dalam tahap perampungan akhir. Di Pulau Siau juga terdapat tiga mata air lainnya yang potensial untuk dijadikan sumber air bersih bagi kebutuhan penduduk, yakni mata air Tumbio, Biau, dan Tumbule. Ketiga mata air tersebut terletak di lereng Gunung Karangetang.

2.4. Sarana dan Prasarana

  2.4.1. Air Limbah dan Drainase Sistem penanganan Limbah cair/air limbah yang diterapkan di daerah Wilayah

  Siaumasih tradisional yaitu dengan mengalirkan air limbah domestik ke selokan yang ada. Sebagian besar di wilayah ini belum memiliki drainase. Disamping Ondong juga di Ulu Siau perlu dibangun fasilitas pengelolaan air limbah, dengan pertimbangan antara lain bahwa di Ulu Siau terdapat aktivitas pelabuhan dan aliran air dari aktivitas permukiman di daratan akan muara ke laut.

  2.4.2. Persampahan Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau dari proses alam yang berbentuk padat. Sistem pengelolaan persampahan di Wilayah Siau belum memadai. Belum tersedia tempat pengolahan akhir sampah (TPA), sehingga sampah permukiman, sampah pasar, sampah persekolahan dan sampah pertokoan pada umumnya dilakukan penanganan sampah dengan cara mengubur, membakar dan bahkan ada yang membuang ke sungai dan ke laut.

  2.4.3. Drainase Sistem pengelolaan drainase di wilayah ini perlu dibangun secara bertahap dengan sistem on site, komunal dan off site, terutama di Ibu Kota Wilayah Siau yaitu

  Ondong, yang menjadi pusat pemerintahan dan memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak dibandingkan dengan wilayah kecamatan lainnya.

  2.4.4. Sarana Perekonomian Wilayah Siausecara berturut-turut adalah sektor pertanian, sektor jasa-jasa, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor angkutan dan komunikasi.

  Dengan demikian, struktur perekonomian Wilayah Siaumasih didominasi oleh sektor primer dan diikuti oleh sektor tersier, sedangkan peranan sektor sekunder relatif kecil karena kurangnya industri pengolahan di wilayah ini. Terbentuknya Wilayah Siau dalam jangka pendek akan cenderung meningkatkan efisiensi perdagangan dan pelayanan umum serta peningkatan arus barang dan jasa. Sedangkan dalam kisaran waktu jangka menengah, melalui inisiatif dan inovasi Pemerintah Daerah untuk mengundang dan menarik para investor agar bersedia menanamkan modalnya di wilayah ini, maka diprediksi akan terjadi pergeseran peran dari sektor primer ke sektor sekunder dan jasa secara signifikan.

  Menurut Profil Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, PDRB per kapita berdasarkan perhitungan harga berlaku pada tahun 2014 mencapai Rp 21.080.000. Dengan jumlah penduduk sebanyak 42.737 jiwa.

  2.4.5. Sarana Sosial Dan Kesehatan Fasilitas kesehatan terpenting di Wilayah Siau yaitu Puskesmas yang terdapat di setiap ibukota kecamatan. Rumah Sakit Umum saat ini masih dalam tahapan konstruksi dan berlokasi di ibukota kabupaten. Tabel berikut memperlihatkan ketersediaan fasilitas kesehatan di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

Tabel 2.6. Data Fasilitas Kesehatan yang ada di SITARO

  2.4.6. Sarana Peribadatan Dengan mayoritas penduduk di Wilayah Siauyang beragama Kristen maka ketersediaan fasilitas peribadatan seperti gereja tersebar merata di setiap pusat permukiman. Untuk fasilitas peribadatan bagi umat Muslim yaitu mesjid tersedia pada beberapa pusat permukiman yang memiliki komunitas penduduk beragama

  Islam. Fasilitas peribadatan untuk umat Budha dan Hindu masih belum tersedia di kabupaten ini.

  2.4.7. Sarana Transportasi Prasarana transportasi meliputi prasarana transportasi darat dan laut.

  Prasarana transportasi merupakan sistem yang menunjang terhadap aktivitas dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Sehingga diperlukan rencana pengembangan yang terpadu dengan sistem rencana tata ruangnya agar aktivitas masyarakat dapat berjalan secara sinergis.

  Dalam rangka menciptakan sistem aktivitas dan pergerakan wilayah yang dapat menciptakan keterpaduan perkembangan sosial ekonomi, maka pembentukan keterkaitan (linkage) antar pusat pelayanan menjadi penting. Sehingga diperlukan pembentukan jaringan jalan yang menghubungkan pusat pelayanan.

  1. Transportasi Darat

  Prasarana transportasi merupakan bagian yang sangat penting dalam penilaian aksesibilitas. Aksesibilitas sebagai ukuran kemudahan suatu lokasi untuk dicapai baik menggunakan transportasi darat, laut dan udara. Tingkat aksesibilitas untuk transportasi jalan dilihat dari kondisi jaringan jalan yang ada saat ini. Jalan dengan kondisi permukaan yang baik mempunyai aksesibilitas yang tinggi karena akan mempengaruhi waktu tempuh menjadi singkat.

  Sementara jalan dengan kondisi rusak mempunyai aksesibilitas rendah karena waktu tempuh akan menjadi lama. Aksesibilitas juga diukur dari besarnya biaya transportasi yang dikeluarkan. Kondisi permukaan badan jalan menunjukkan aksesibilitas daerah yang dilalui jalan tersebut, dimana sesuai dengan data yang diperoleh dan hasil survey di lapangan menunjukkan bahwa rata-rata kondisi permukaan badan jalan yang ada saat ini adalah B(RR) Baik Rusak Ringan dan B(RS) Baik Rusak Sedang bahkan ada bagian-bagian jalan yang kondisinya sangat rusak.

  2. Transportasi Laut

  Kegiatan transportasi laut sangat vital dan penting artinya bagi Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, baik untuk menghubungkan pusat-pusat kegiatan di dalam wilayah kabupaten itu sendiri maupun dengan pusat kegiatan yang berada di luar wilayah kabupaten itu, seperti dengan pusat kegiatan yang ada di Kabupaten Kepulauan Sangihe untuk tingkat lokal wilayah kepulauan dan pusat kegiatan Provinsi untuk tingkat regional.

  2.4.8. Listrik Perkembangan penduduk dan aktivitas sosial ekonomi yang ada dan ketentuan

  Rencana Struktur Tata Ruang yang dituju, maka penyediaan energi listrik di Kabupaten Sitaro diarahkan untuk dapat lebih meningkatkan pertumbuhan wilayah. Rencana pengembangan prasarana energi di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro bisa dilakukan hal-hal sebagai berikut :

   Penambahan daya dan jaringan energi listrik  Penambahan daya energi  Pembangunan gardu induk listrik dan peningkatan kapasitas gardu induk  Pembangunan jaringan listrik ke wilayah-wilayah tertinggal dan atau terisolasi yang selama ini belum mendapatkan pelayanan energi listrik  Prasarana energi dapat dibangun bersamaan dengan dan atau memanfaatkan jaringan jalan guna memudahkan distribusi pada wilayah- wilayah pelayanan.

  2.4.9. Telekomunikasi Sistem telekomunikasi di wilayah perencanaan saat ini belum bisa dinikmati oleh masyarakat karena masih banyak yang belum terlayani oleh PT. TELKOM.

  Untuk jaringan telepon kabel dilayani oleh PT. TELKOM sebagai satu-satunya penyedia jasa untuk sistem telekomunikasi, yang dilayani oleh 2 STO (Sentral Telepon Otomat) yaitu STO Ulu dan STO Tagulandang. Saat ini masing-masing STO memiliki 600 SST untuk STO Ulu Siau dan 540 SST untuk STO Tagulandang.

  Sedangkan untuk telepon selular terdapat 2 (dua) operator selular yang melayani wilayah Wilayah Siauyaitu Telkomsel dan Satelindo dengan jangkauan pada beberapa pusat-pusat kegiatan seperti di Ulu, Ondong, Buhias dan Lamango, sedangkan pada wilayah lainnya belum merupakan coverage area. Tabel berikut memperlihatkan keberadaan lokasi BTS untuk setiap operator selular di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

  2.4.10. Kawasan Strategis Konsep sistem permukiman pada kawasan perkotaan yang memiliki kegiatan utama bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan (sebagai lingkungan tempat hunian dan tempat berteduh keluarga) yang mendukung peri kehidupan dan penghidupan masyarakat sekaligus menciptakan interaksi sosial dan sarana bagi pembinaan keluarga.

  Pada kawasan perkotaan ini akan diarahkan perkembangannya untuk berbagai kegiatan perkotaan yang meliputi : permukiman perkotaan, sarana dan prasarana permukiman (fasilitas sosial dan fasilitas umum), infrastruktur (jaringan jalan dan angkutan, air bersih, drainase, air limbah, persampahan, listrik dan telekomunikasi), kawasan fungsional kota (perdagangan/komersil, pemerintahan, perkantoran/jasa, industri dan pelabuhan laut, terminal angkutan darat).

  Untuk itu konsep penataan ruang peruntukan permukiman pada kawasan perkotaan adalah :  Berdasarkan ketentuan pokok tentang perumahan dan permukiman, peran masyarakat dan pembinaan perumahan dan permukiman nasional mengacu kepada UU No.4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman dan Surat Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No 217/KPTS/M/2002 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Perumahan dan Permukiman (KSNPP).

   Pemanfaatan ruang untuk kawasan peruntukan permukiman harus sesuai dengan daya dukung tanah setempat dan harus dapat menyediakan lingkungan yang sehat dan aman dari bencana alam serta dapat memberikan lingkungan hidup yang sesuai bagi pengembangan masyarakat, dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup.  Kawasan peruntukan permukiman harus memiliki prasarana jalan dan terjangkau oleh transportasi umum.

   Pemanfaatan dan pengelolaan kawasan peruntukan permukiman harus didukung oleh ketersediaan fasilitas fisik atau fasilitas umum (pasar, pusat perdagangan dan jasa, perkantoran, sarana air bersih, persampahan, penanganan limbah dan drainase) dan fasilitas sosial (kesehatan, pendididkan dan agama).

   Tidak mengganggu fungsi lindung yang ada.  Tidak mengganggu upaya pelestarian kemampuan sumber daya alam. Dalam hal akan disediakan Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun, penetapan lokasi, penyediaan tanah, penyelenggaraan pengelolaan dan pembinaannya diatur di dalam Peraturan Pemerintah No. 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang Berdiri Sendiri.

  Untuk dapat mengakomodasikan berbagai kegiatan perkotaan tersebut maka rencana pemanfaatan ruang pada kawasan perkotaan perlu dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan (RTRKP).

  Untuk pembangunan perumahan terencana konsep hunian yang dapat diterapkan adalah dengan menerapkan pola hunian 5 : 3 : 1, yaitu pembangunan untuk 1 unit rumah tipe besar diimbangi oleh pembangunan 3 unit rumah tipe sedang dan 5 unit rumah tipe kecil. Konsep ini bertujuan agar terjadi pemerataan pemilikan rumah pada pembangunan perumahan terencana. Setiap blok permukiman terencana mempunyai rumah mix use sebagai bentuk pelayanan jasa dan perdagangan skala lingkungan. Demikian pula hal ini berlaku untuk permukiman tidak terencana. Mix use pemanfaatan lahan permukiman menjadikan kawasan tersebut tetap dinamis diwaktu siang maupun malam hari dan pelayanan kebutuhan sehari-hari penghuni dapat dijangkau dengan mudah.

  Pada pembangunan perumahan tidak terencana, konsep hunian lebih diarahkan pada pembangunan permukiman dengan mengedepankan ketersediaan prasarana dan sarana lingkungan agar tercipta lingkungan tempat tinggal yang sehat, asri dan nyaman. Akses menuju pusat-pusat kegiatan dari kawasan permukiman harus ditingkatkan sehingga pergerakan pendudukan dan aliran barang & jasa menjadi lancar.

  Sesuai dengan arahan pada UU No. 26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang yang mengharuskan penyediaan dan memanfaatkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada kawasan perkotaan. Konsep RTH pada kawasan perkotaan di Wilayah Siauadalah dengan menata RTH agar dapat berfungsi dan berperan maksimal diantaranya, adalah :

   RTH dapat berfungsi dan berperan sebagai tempat rekreasi, yaitu tempat penduduk melaksanakan kegiatan rekreasi aktif seperti di lapangan olah raga dan rekreasi pasif seperti taman.

   RTH dapat berfungsi dan berperan sebagai tempat berkarya/berproduksi, seperti lahan pertanian tanaman pangan, kebun bunga dan usaha tanaman hias.

   RTH dapat berfungsi dan berperan sebagai ruang pemeliharaan, yaitu ruang yang memungkinkan pengelolaan kota melakukan pemeliharaan unsur-unsur perkotaan seperti jalur hijau/jalur pemeliharaan sepanjang sungai dan selokan sebagai koridor kota.

   RTH dapat berfungsi dan berperan sebagai ruang pengaman, yaitu untuk melindungi suatu obyek vital atau untuk mengamankan manusia dari suatu unsur yang dapat membahayakan seperti jalur hijau sepanjang jaringan listrik tegangan tinggi, jalur sekeliling instansi militer atau pembangkit tenaga listrik atau sebagai kawasan penyangga (buffer zone).

   RTH dapat berfungsi dan berperan sebagai ruang untuk menunjang pelestarian dan pengamanan lingkungan alam, yaitu sebagai wilayah konservasi atau preservasi alam untuk mengamankan kemungkinan terjadinya erosi dan longsoran pengaman tepi sungai, pelestarian wilayah resapan air serta menjadi salah satu unsur penyedia kesegaran udara di perkotaan.

   RTH dapat berfungsi dan berperan sebagai cadangan pengembangan wilayah terbangun

2.5. Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Masyarakat Wilayah Siau tergolong sebagai masyarakat yang majemuk.

  Penduduk yang bermukim di wilayah kepulauan ini terdiri dari warga asli dan kaum pendatang. Kaum pendatang tersebut berasal dari beberapa wilayah di Indonesia, seperti Minahasa, Gorontalo, Makassar, Sumatera dan Jawa. Menurut Brilman (2000), ada juga kaum pendatang dari Cina dan Arab yang awalnya datang beberapa abad yang lalu untuk berdagang tetapi kemudian menetap setelah menikah dengan wanita pribumi. Sebagian dari keturunan mereka tetap bermukim di wilayah ini sampai sekarang. Kondisi ini berdampak pada kemajemukan penduduk, namun budaya lokal masih tetap dominan dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

  1. Komponen sosial budaya yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :  Perubahan kelembagaan masyarakat  Tradisi masyarakat  Nilai masyarakat  Kualitas hidup masyarakat  Sejarah budaya yang patut dipelihara  Keadaan dan system kekuasaan  Integrasi dari berbagai kelompok masyarakat  Kelompok etnis

  2. Komponen Sosial Ekonomi Komponen sosial ekonomi yang dianggap penting khususnya yang berkaitan dengan safeguard sosial dan lingkungan dan perlu untuk diketahui adalah sebagai berikut :

   Pola pengembangan penduduk (jumlah, perbandingan kelamin, dll). Pola perkembangan penduduk pada masa-masa yang lalu sampai sekarang perlu diketahui.

   Pola perpindahan : Pola perpindahan erat hubungannya dengan perkembangan penduduk, pola perkembangan yang perlu diketahui ialah pola perpindahan ke luar dan masuk kesuatu daerah secara umum, serta pola perpindahan musiman dan tetap.

   Pola perkembangan ekonomi : Pola perkembangan ekonomi masyarakat ini erat hubungannya dengan pola perkembangan penduduk, perpindahan, keadaan sumber daya alam yang tersedia dan sumber pekerjaan yang tersedia.

   Penyerapan tenaga kerja : Masalah pengangguran merupakan masalah umum. Makin banyak proyek yang akan dibangun dapat menyerap tenaga kerja setempat akan makin besar dampak positifnya.

   Berkembangnya sruktur ekonomi : Struktur ekonomi ini dimaksudkan dengan timbulnya aktifitas perekonomian lain akibat adanya suatu kegiatan sehingga merupakan sumber-sumber pekerjaan baru yang dapat menyerap tenaga kerja.

   Peningkatan pendapatan masyarakat : Keadaan umum pada masyarakat adalah rendahnya pendapatan masyarakat. Peningkatan pendapatan baik secara langsung atau tidak langsung dari suatu kegiatan akan memberikan dampak yang berarti.

   Perubahan lapangan pekerjaan : Dengan timbulnya lapangan pekejaan baru baik yang langsung atau tidak langsung karena perkembangan struktur ekonomi perlu diperlukan.

   Kesehatan Masyarakat : Kesehatan masyarakat selain erat kaitannya dengan pendapatan masyarakat juga erat kaitannya dengan kebiasaan dalam kehidupannya, misalnya kebiasaan mandi, cuci, dan keperluan lainnya yang masih menggunakan air sungai.

  2.5.1. Demografi Masyarakat Wilayah Siau tergolong sebagai masyarakat yang majemuk.

  Penduduk yang bermukim di wilayah kepulauan ini terdiri dari warga asli dan kaum pendatang. Kaum pendatang tersebut berasal dari beberapa wilayah di Indonesia, seperti Minahasa, Gorontalo, Makassar, dan Jawa.

  Menurut Brilman (2000), ada juga kaum pendatang dari Cina dan Arab yang awalnya datang beberapa abad yang lalu untuk berdagang tetapi kemudian menetap setelah menikah dengan wanita pribumi. Sebagian dari keturunan mereka tetap bermukim di wilayah ini sampai sekarang. Kondisi ini berdampak pada kemajemukan penduduk, namun budaya lokal masih tetap dominan dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

Tabel 2.7 Jumlah dan luas kecamatan di Kabupaten Kepulauan SitaroTabel 2.8 Jumlah Penduduk Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro 2016 Jumlah Luas

  Kepadatan No Kecamatan Penduduk (jiwa)

  2 2 (Km )

  (jiwa/km ) KK L P L + P

  1. Biaro 20,85 1.011 1.759 1.795 3.554 170,46

  2. Tagulandang 55,53 4.261 6.689 6.676 13.365 240,68 Tagulandang

  3. 21,63 1.370 2.146 2.311 4.457 206,06 Selatan Tagulandang

  4. 17,91 1.271 2.205 2.155 4.360 243,44 Utara

  5. Siau Timur 55,94 5.575 8.550 8.928 17.478 312,44 Siau Timur

  6. 24,06 2.804 4.432 4.281 8.713 362,14 Selatan

  7. Siau Barat 34,92 2.486 4.261 4.257 8.518 243,93

  8. Siau Tengah 11,80 564 959 968 1.927 163,31

  9. Siau Barat Utara 18,20 1.320 2.212 2.184 4.396 241,54 Siau Barat 10 15,10 1.264 2.304 2.295 4.599 304,57 Selatan

  Jumlah 275,95 21.926 35.517 35.850 71.367 258,62 Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

  2.5.2. Keuangan Daerah

Tabel 2.9 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Untuk Mendanai Pembangunan Daerah di Kab. Kep. Sitaro 2014-2018 PROYEKSI

  

URAIAN 2014 2015 2016 2017 2018

(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) 460,368,754,321.00 487,159,767,854.40 505,727,342,318.38 528,691,076,550.22 556,149,084,205.24

  Pendapatan Pencairan Dana Cadangan

  Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Sebelumnya (SILPA) 47,178,493,081.00 35,751,433,280.00 33,915,321,400.00 28,197,285,599.00 24,711,312,680.00

  Total Penerimaan TOTAL BELANJA 507,547,247,402.00 522,911,201,134.40 539,642,663,718.38 556,888,362,149.22 580,860,396,885.24

  Belanja Tidak Langsung

  235,566,235,002.00 243,552,134,803.40 252,598,346,068.38 261,404,284,573.22 270,595,346,955.24 Belanja Langsung

  271,981,012,400.00 279,359,066,331.00 287,044,317,650.00 295,484,077,576.00 310,265,049,930.00 Kapasitas Rill Kemampuan Keuangan Daerah

  507,547,247,402.00 522,911,201,134.40 539,642,663,718.38 556,888,362,149.22 580,860,396,885.24

  Menurut Rancangan APBD Wilayah Siautahun anggaran 2016, Kapasitas Rill kemampuan keuangan daerah sebesar Rp. 539.642.663.718,38

  2.5.2.1. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kemajuan pembangunan suatu wilayah dalam suatu periode tertentu.

  Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dapat diartikan sebagai kemampuan wilayah tersebut dalam jangka panjang untuk menyediakan berbagai barang dan jasa yang terus meningkat kepada penduduknya. Tingkat pertumbuhan ekonomi ini ditentukan oleh pertambahan aktual barang dan jasa yang diproduksi oleh kegiatan ekonomi. Berdasarkan tingkat pertumbuhan yang dicapai dari tahun ke tahun maka dapat dinilai prestasi atau keberhasilan suatu wilayah serta kemampuan wilayah tersebut untuk mengendalikan kegiatan ekonomi dalam jangka panjang.

  Menurut Profil Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, pertumbuhan ekonomi di wilayah ini mencapai 6,67%.

  2.5.2.2. Struktur Perekonomian dan Lapangan Kerja Perekonomian wilayah Siau secara berturut-turut adalah sektor pertanian, sektor jasa-jasa, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor angkutan dan komunikasi. Dengan demikian, struktur perekonomian Daerah.

1. Petanian

  50 138

  572 447,30

  5

  44 62,8

  39,25

  22

  38 52,2 34,8

  8 253

  924,40 577,75 426,20

  262,8 163,85

  287 243 368

  245,4 564

  771,3

  2 17,5

  1.6 2,4

  386 508,30 401,20

  152 743

  2.

  Kepulauan Siau Tagulandang Biaro masih didominasi oleh sektor primer dan diikuti oleh sektor tersier, sedangkan peranan sektor sekunder relatif kecil karena kurangnya industri pengolahan di wilayah ini. Terbentuknya Wilayah Siaudalam jangka pendek akan cenderung meningkatkan efisiensi perdagangan dan pelayanan umum serta peningkatan arus barang dan jasa. Sedangkan dalam kisaran waktu jangka menengah, melalui inisiatif dan inovasi Pemerintah Daerah untuk mengundang dan menarik para investor agar bersedia menanamkan modalnya di wilayah ini, maka diprediksi akan terjadi pergeseran peran dari sektor primer ke sektor sekunder dan jasa secara signifikan. Menurut Profil Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, PDRB per kapita berdasarkan perhitungan harga berlaku pada tahun 2016 mencapai Rp Rp 21.080.000.

  2.5.3. Mata Pencaharian Penduduk

  Sektor pertanian menjadi sektor unggulan dan memberikan kontribusi terbesar di dalam struktur perekonomian Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Terdapat 4 (empat) jenis komoditas tanaman perkebunan yang diusahakan dan dikembangkan oleh penduduk yaitu kelapa, cengkih, pala, dan vanili.

Tabel 2.10 Luas Areal (ha) Pertanian Rakyat di Kabupaten Kepulauan Sitaro No. Kecamatan Kelapa Cengkih Pala Vanili

  1.

  3.

  10. Biaro Tagulandang Selatan Tagulandang Tagulandang Utara Siau Barat Selatan Siau Timur Selatan Siau Barat Siau Tengah Siau Timur Siau Barat Utara

  4.

  5.

  6.

  7.

  • 1,6 1,8

  8.

  9.

  • Jumlah 5138,15 486,05 3166,35 26,9

  2. Perkebunan

  Luas areal tanaman perkebunan rakyat berupa kelapa terluas terdapat di Kecamatan Tagulandang dengan luas mencapai 924,40 ha. Sedangkan tanaman cengkih dan pala terluas terdapat di Kecamatan Siau Barat Utara.

  Luas tanaman cengkih mencapai 138 ha dan luas tanaman pala mencapai 771,3 ha. Tanaman vanili hanya dikembangkan di 6 (enam) kecamatan yaitu Kecamatan Tagulandang Utara (17,5 ha), Kecamatan Siau Timur Selatan (2,4 ha), Kecamatan Tagulandang (2 ha), Kecamatan Siau Timur (1,8 ha) dan Kecamatan Siau Barat Selatan (1,6 ha) dan Kecamatan Siau Tengah seluas 1,6 ha. Komoditi perkebunan lainnya yaitu kopi dan kakao tidak dikembangkan.

  Selanjutnya terhadap 2 (dua) komoditas unggulan lain yaitu kelapa dan pala yang memiliki produksi tanaman yang mendominasi yaitu jumlah produksi kelapa sebesar 3204,12 ton dan jumlah produksi pala sebesar 2452,22 ton.

  3. Sumber daya Pertambangan

  Bahan galian tambang di daerah perencanaan dapat dikelompokkan dalam dua golongan bahan galian, menurut PP Nomor 27 Tahun 1980 yaitu golongan bahan galian vital : Bijih Besi dan golongan bahan galian lain (golongan C) seperti, Barit, Lempung, Batu Apung, Basalt, Andesit, Pasir Besi, Bijih Besi, Pasir Volkanis, Pasir dan Kerikil (Sirtu), Zeolit, Tras, Batu Setengah Permata.

  Hematit dijumpai di bukit Bahu (Pulau Siau). Bahan tras banyak terdapat di Pulau Tagulandang. Belerang hasil sublimasi gas H2S terdapat di dekat kawah Gunung Ruang. Andesit dan Basalt merupakan batuan yang dihasilkan oleh pendinginan magma pada permukaan bumi ataupun yang dihasilkan oleh aktivitas gunung api seperti lava atau sebagai fragmen-fragmen pada batuan volkanik, aglomerat, dan lain-lain. Batuan berwarna abu-abu terang hingga gelap, keras dan pejal sehingga sangat baik digunakan sebagai bahan bangunan ataupun bahan konstruksi lainnya. Batuan ini banyak terdapat di Bebali (Pulau Siau) sebagai aliran lava.

  Pasir besi merupakan endapan pasir pantai, berwarna hitam, yang berasal dari batuan yang banyak mengandung besi. Bahan galian ini banyak terdapat di Pesisir bagian utara Pulau Tagulandang.

  Pasir Vulkanis merupakan endapan pasir hasil kegiatan gunung api efusif berbutir halus sampai sangat kasar. Digunakan untuk bahan bangunan sebagai agregat beton, timbunan, dan lain-lain. Pasir Volkanis banyak terdapat di P. Ruang.

  Zeolit adalah sejenis mineral yang banyak digunakan untuk bahan bangunan dan ornamen, bahan baku semen, bahan agregat ringan, bahan pengembang dan pengisi dalam industri kertas karet dan plastik, sebagai pupuk dan makanan ternak dan digunakan untuk penyaring dan pencegah pencemar lingkungan. Zeolit terdapat di Lamanggo (P. Biaro).

  Tras merupakan bahan galian yang terdiri dari hasil pelapukan material- material yang berasal dari erupsi gunung api terutama yang mengandung silika. Umumnya tras digunakan sebagai bahan baku pembuatan batako dan urugan. Tras terdapat di Tagulandang.

  Pasir dan Kerikil (Sirtu) merupakan campuran bahan lepas yang berukuran pasir, kerikil dan kerakal. Umumnya digunakan sebagai bahan bangunan dalam campuran beton, bahan pondasi bangunan, pengeras jalan. Pada daerah sekitar bekas muntahan lahar gunung berapi seperti di pulau Siau (gunung Karangetang) sisa lahar tersebut menjadi bahan material berupa pasir dan kerikil.

BAB III KONDISI EKSISTING SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

3.1 Aspek Teknis

  Kondisi sistem penyediaan air minum yang ada saat ini sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan, untuk Kota Ulu dan Ondong yang terletak di pulau Sitaro, masalah utama yang dihadapi adalah keberadaan air baku, karena letaknya di pulau kecil dimana daerah tangkapan air sangat terbatas, sehingga kehandalan air baku sangat sulit.

  3.1.1. Sistem Produksi Produksi air minum di Kota Ulu dan Ondong ini, sangat tergantung dengan sumber air baku yang ada, penduduk telah memanfaatkan mata air yang ada untuk keperluan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air minumnya.

  3.1.1.1. Unit Air Baku Penyediaan air bersih untuk masyarakat di Klaster Siau disediakan oleh

  Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Ulu, dengan memanfaatkan air yang berasal dari mata air Akelabo dan mata air Kalarung. PDAM Ulu mendistribusikan air minum untuk penduduk di Kota Ulu dan Ondong Timur dan desa-desa sekitarnya. Selain itu terdapat danau Kapeta sebagai sumber air minum yang berlokasi di Kota Ulu dan Ondong Barat Selatan.

  Bagi masyarakat yang tidak terlayani oleh jaringan air minum dan tidak terdapat sumur mereka memanfaatkan air hujan yang ditampung pada penampungan air hujan atau PAH (Penampungan Air Hujan). Masyarakat yang menggunakan PAH sebagian besar terdapat di Kota Ulu dan Ondong Barat Utara dan Kota Ulu dan Ondong Tengah.

1. Kecamatan Siau

   Danau Kapeta Untuk pelayanan air minum di pulau Siau direncanakan dari danau Kapeta yang terletak di Siau Barat selatan dengan volume kurang lebih 150.000m3, apabila digunakan oleh Siau dengan kapasitas 20 l/det, maka danau ini dapat menyediakan hanya untuk 90 hari saja, apabila dalam 90 hari tidak ada air yang masuk kedlam danau tersebut, maka air danau akan habis dan tidak dapat mensuplai IPA yang ada.

Gambar 3.1 Skematik Sarana Air Bersih Eksisting – Sistem Akesembeka

  3.1.1.2. Unit Instalasi  Instalasi Pengolahan Air (IPA)

  Saat ini telah dibangun IPA paket baja kapasitas 20 l/det yang berlokasi di Desa KapetaSiau, dan beberapa mata air yang ada saat ini dengan rincian lokasi dan kapasitas dari masing-masing mata air tersebut diuraikan sebagai berikut :

Tabel 3.1 Lokasi dan kapasitas mata air di Kab. Kep. Sitaro – Kluster Siau

  3.1.1.3. Unit Distribusi Unit distribusi yang ada saat ini terdiri dari jaringan perpipaan dengan total panjang jaringan yang masih dapat dimanfaatkan dan terdata dengan akurat adalah sepanjang 17.876 meter yang terdiri dari pipa PVC dan pipa GI, terdapat di Kota Ulu dan Ondong Timur, sedangkan di Kota Ulu dan Ondong barat sepanjang 23.633 meter, yang terdiri dari pipa PVC dan GIP. Daftar pipa distribusi yang ada di Kota Ulu dan Ondong seperti yang tertera pada tabel di bawah ini.

  2 PVC 100 9.900

  1 PVC 150 4.500

  17.876

  7 GIP 75 162 Siau Barat Total

  6 GIP 100 110

  5 PVC 50 8.066

  4 PVC 75 3.315

  3 PVC 100 5.460

  2 PVC 150 751

  12

  1 PVC 200

  Siau Timur

Tabel 3.2 Daftar Inventaris Pipa di Kab. Kep. Sitaro – Kluster Siau No Jenis pipa Diameter (mm) Panjang (meter)

  1.5  Kinerja Instalasi Kinerja bangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Murake saat ini hanya melayani sekitar 5 km kearah daerah Siau Timur/Ulu, sehingga memerlukan perluasan jangkauan pelayanan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

  No Sumber Lokasi Air Baku

  2

  1 Mata Air Peling

  5 STD Lai 4 - Siau Barat

  4 STD Beong 4 -

  3 Mata Air Apelawo 5 -

  3

  4

  2 Mata Air Karalung

  5

  6

  1 Mata Air Akesembeka

  Pompa (lt/dt) Siau Timur

  Gravitasi (lt/dt) Distribusi

  3 PVC 75 3.300

  No Jenis pipa Diameter (mm) Panjang (meter)

  3 Jumlah air untuk Produksi 300

  3.1.1.4. Tingkat Kebocoran Berdasarkan data distribusi air yang ada untuk masing-masing Kecamatan adalah sebagai berikut :

  6 Jumlah air yang hilang 641

  5 Jumlah air yang terjual 1.033

  4 Jumlah air yang didistribusikan 1.074

  33

  3 Jumlah air untuk Produksi

  2 Jumlah Hasil Produksi 1.107

  1 Jumlah Air Baku yang diolah 3.627

  6 Jumlah air yang hilang 1.710 Siau Barat

  5 Jumlah air yang terjual 15.003

  4 Jumlah air yang didistribusikan 16.713

  2 Jumlah Hasil Produksi 17.013

  4 PVC 50 5.800

  1 Jumlah Air Baku yang diolah 22.878

  Siau Timur

Tabel 3.3 Data air yang didistribusikan per bulan No Uraian Jumlah (m³) Keterangan

  Sedangkan distribusi air yang diolah dan bisa terjual bisa dilihat dalam tabel berikut untuk setiap kecamatan

  Sumber: PDAM Ulu

  73 Total 23.633

  50

  6 GIP

  60

  75

  5 PVC

  Kota Ulu dan Ondong Timur Jumlah air baku yang diproduksi sebesar 17.013 m³, produksi air yang dihasilkan sebesar 16.713 m³, diperoleh jumlah air yang terjual sebanyak 15.003m³, dengan kehilangan air sebesar 1.710 m³, sehingga kebocoran air bisa dikatakan sebesar 10,05 %.

  Kota Ulu dan Ondong Barat Sedangkan untuk Kota Ulu dan Ondong Barat jumlah air baku yang diproduksi sebesar 1.107 m³, produksi air yang dihasilkan sebesar 1.074 m³, diperoleh jumlah air yang terjual sebanyak 1.033 m³, dengan kehilangan air sebesar 641 m³, sehingga kebocoran air bisa dikatakan sebesar 57,90 %.

  3.1.1.5. Kondisi Operasi Dan Perawatan Dari Keempat Kecamatan, Siau Timur, Siau Barat, Tagulandang dan

  Kecamatan Makalehi,yang sudah beroperasi dengan katagori cukup memadai sebagai tingkat Kecamatanhanya Kecamatan Siau Timur yang sudah memadai dengan tingkat kebocoran paling kecil yaitu 10 %, sedangkan yang lain memerlukan penanganan yang lebih intensif, diluar Kecamatan Makalehi yang belum mendapatkan pelayanan.

  Sistem yang ada di Siau belum dioperasikan secara 24 jam, namun tidak tersedianya generator set yang menggerakkan pompa, maka sistem ini apabila ada gangguan dari PLN sistem pelayanan air minum tidak dapat dioperasikan.

  3.1.2. Sistem Pelayanan

  3.1.2.1 Kinerja Pelayanan Kinerja pelayanan yang berjalan selama ini sudah terarah sesuai dengan fasilitas yang ada,namun keterbatasan interaksi antara satu lokasi dengan lokasi yang lain bisa menimbulkan ketidak terpaduan, hal ini disebabkan Kabupaten Kepulauan Sitao terdiri dari beberapa Pulau yang dipisahkan oleh laut, sehingga perjalanan antar Pulau memerlukan waktu dan biaya yang mahal.

  3.1.2.2 Tingkat Pelayanan Berdasarkan laporan Bulan Juni 2010 tingkat pelayanan sudah mencakup empat Kecamatan , dengan tingkat yang berbeda sesuai dengan jumlah penduduk yang ada, dimana Kota Ulu dan Ondong Timur mempunyai tingkat sambungan yang aktif sebanyak 1.014 unit, sambungan baru sebanyak 3 unit, ada juga pelanggan yang tidak pakai meter air sebanyak 119 unit, dan terjadi pemutusan sambungan sebanyak 97 unit.

  3.1.2.3 Kinerja Pelayanan Berdasarkan data yang ada pada saat ini9 dari laporan bulan Juni 2010, periode pelayanan yang sudah dilaksanakan di Kabupaten Sitaro jam operasi dilaksanakan antara 403

  1 Sambungan Aktif

  10

  5 Pemutusan Sambungan 189

  4 Sambungan yg ditunda - -

  3 Pelanggan td pakai meter 6 -

  2 Sambungan Baru - -

  2

  69

  5 Pemutusan Sambungan 97 - SIAU BARAT

  Sedangkan untuk Kota Ulu dan Ondong Barat mempunyai tingkat sambungan yang aktif sebanyak 69 unit, tidak ada sambungan baru, pelanggan yang tidak pakai meter air sebanyak 6 unit, dan terjadi pemutusan sambungan sebanyak 189 unit.

  4 Sambungan yg ditunda - -

  3 Pelanggan td pakai meter 119 -

  2 Sambungan Baru 3 -

  6

  1 Sambungan Aktif 1.014

  SIAU TIMUR

  

No Uraian Samb.Langsung Samb.Td.Langsung

Tabel 3.4 Data Sambungan yang ada di Kab. Kep. Sitaro – Kluster Siau

  • – 465 jam per bulan di Kota Ulu dan Ondong Timur, hal ini berarti dalam sehari bisa beroperasi kira-kira 14,5 jam / hari, sedangkan di Kota Ulu dan Ondong Barat periode operasi mencapai 13,4 jam / hari.

Tabel 3.5 Periode pelayanan setiap mata air di Kabupaten Kepulauan Sitaro

  Operasi Distribusi Distribusi

No Sumber Lokasi Gravitasi Gravitasi

Pompa (Jam)

  (Jam) (Jam)

Siau Timur

  1 Mata Air

  • Akesembeka 403 404
  • 2 Mata Air Akesembeka 403 404

  3 Mata Air Akesembeka 465 - 403

  

Siau Barat

  1

  • Mata Air Peling 403 310

  3.1.2.4 Jangkauan Pelayanan Jangkauan pelayanan yang sudah dilaksanakan sampai dengan saat ini tinggal Kecamatan Makalehi, sedangkan untuk pelayanan masing-masing

  Kecamatan adalah sebagai berikut : Kota Ulu dan Ondong Timur, mencakup wilayah pelayanan Tatahadeng melayani 195 SR, wilayah Akesimbeka 152 SR, Tarorane 410 SR, Bahu 296 SR,

  Mala melayani 2 HU dan 42 SR dan wilayah B.Poso melayani 23 SR Kota Ulu dan Ondong Barat dengan wilayah Peling melayani 2 unit HU dan

  69 SR, Paseng melayani 1 unit HU dan 90 SR, Paniki 19 SR, Ondong 44 SR, Pehe melayani 3 unit HU dan 3 SR, Mahuneni melayani 5 unit HU dan 20 SR dan Batusenggo melayani 1 unit HU dan 13 SR

  Sistem Non Perpipaan (Terlindungi Dan Tidak Terlindungi) Masyarakat Kabupaten Siau di dalam memenuhi kebutuhan Air Minum saat ini memanfaatkan sumber air yang ada selama belum dipenuhi kebiutuhannya oleh Pemerintah setempat, dalam hal ini PDAM terutama yang ada di wilayah perkotaan, sedangkan untuk masyarakat yang berada dipedesaan memanfaatkan sumber air dari saluran irigasi, sumur gali, air hujan, sungai yang ada di setiap Pulau.

  Sesuai dengan hasil pemantauan lapangan, masyarakat sangat mengharapkan agar Pemerintah baik di daerah maupun di pusat untuk segera memberikan pelayanan air minum secara perpipaan yang cukup memadai kepada masyarakat sehingga kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air minum saat ini dapat segera teratasi.

3.2 Sistem Non Perpipaan (Terlindungi Dan Tidak Terlindungi)

  Masyarakat Kabupaten Siau didalam memenuhi kebutuhan Air Minum saat ini memanfaatkan sumber air yang ada selama belum dipenuhi kebutuhannya oleh Pemerintah setempat, dalam hal ini PDAM terutama yang ada di wilayah perkotaan, sedangkan untuk masyarakat yang berada dipedesaan memanfaatkan sumber air dari sumur gali, air hujan, sungai yang ada di setiap Pulau.

  Sesuai dengan hasil pemantauan lapangan, masyarakat sangat mengharapkan agar Pemerintah baik di daerah maupun di pusat untuk segera memberikan pelayanan air minum secara perpipaan yang cukup memadai kepada masyarakat sehingga kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air minum saat ini dapat segera teratasi.

  Sistem non perpipaan merupakan sistem tradisional yang dijalankan secara turun temurun oleh anggota masyarakat yang tinggal di daerah daerah terpencil. Di zaman yang serba modern ini, daerah ini tetap termasuk daerah yang terpencil. Karena dari itu masih terdapat kelompok masyarakat yang mendapatkan konsumsi air minumnya tergolong sebagai pola yang non perpipaan. Pola pemenuhan kebutuhan air minum dengan sistem non perpipaan oleh masyarakat di Kabupaten Sitaro terdapat hampir di seluruh daerah pusat maupun Kampung terutama wilayah sulit untuk dijangkau.

  Dalam memenuhi kebutuhan air minumnya kelompok masyarakat tersebut memanfaatkan potensi sumber air yang ada disekitar tanpa melaui proses perbaikan kualitas kecuali dimasak. Kelompok masyarkat ini memanfaatkan air sumur dangkal, mata air dan air tadah hujan. Sumber air yang dimanfaatkan antara lain berupa:

   Mata air  Situ atau rawa  Sungai atau saluran irigasi  Sumur dangkal  Air hujan Adanya kelompok masyarakat dengan sistem non perpipaan di sebabkan masih kurangnya sarana dan prasarana dari PDAM kabupaten Sitaro sehingga cakupan wilayah pelayanan masih minim, bahkan akibat dari bencana alam yang terjadi di wilayah Kabupaten Sitaro dengan adanya gunung meletus yang mengakibatkan rusaknya jaringan distribusi. Hal tersebut berdampak berkurangnya cakupan wilayah pelayanan PDAM.

  3.3 Permasalahan Aspek Teknis

  3.3.2 Pengolahan Air (IPA) Permasalahan teknis yang dihadapi saat ini bila dilihat dari produksi yang dihasilkan terutama untuk Kecamatan Siau Timur cukup baik, kecuali untuk kecamatan yang tiga lainya, permasalahannya harus ada penambahan lagi baik instalasinya maupun kapasitas yang diperlukan. Hal ini disebabkan karena IPA dengan kapasitas 20 l/det yang ada dalam kondisi yang rusak berat sehingga tidak dapat difungsikan dengan baik, untuk itu perlu dilakukan pencarian sumber air baku baru yang lain.

  Air Baku dari sumber air yang dialirkan secara gravitasi, kemudian didistribusikan langsung ke wilayah pelayanan, system pendistribusian air yang ada saat ini perlu disempurnakan kembali dengan menambahkan bangunan reservoir distribusi, hal ini bertujuan untuk membantu agar proses kerja IPA tidak terlalu berat.

  Jaringan pipa distribusi utama untuk pelayanan pelanggan diperlukan inventarisasi lagi untuk mengetahui penyebab banyaknya masyarakat yang menyambung tanpa menggunakan meteran.

  Permasalahan utama yang diperlukan untuk menggerakan pompa adalah sumber daya baik yang berasal dari PLN maupun dari Genset. Saat ini menggunakan sumber energi dari masing-masing Kecamatan adalah Sumber Energi. Permasalahan utama yang diperlukan untuk menggerakan pompa adalah sumber daya baik yang berasal dari PLN maupun dari Genset. Saat ini menggunakan sumber energy dari masing-masing Kecamatan adalah :

  a. Kecamatan Siau Timur, 3 genset dengan kondisi rusak semua,5 pompa sentrifugal dengan kondisi baik, dari 5 mobil tangki, 2 buah dengan kondisi rusak, dan memiliki sebuah mobil dinas Suzuki 110 cc.

Tabel 3.6 Peralatan yang dimiliki oleh PDAM Kabupaten Sitaro

  10 L/D,H 60 m Baik

  Kecamatan Siau Barat memerlukan peningkatan wilayah pelayanan yang lebih luas,.

  3.3.4 Wilayah Pelayanan Wilayah Pelayanan air minum yang ada saat ini baru mencakup sebagian penduduk di wilayah Kecamatan Siau Timur sedangkan penduduk di wilayah

  3.3.3 Sistem Distribusi Di Siau Timur, Air yang diproduksi didistribusikan ke wilayah pelayanan sehingga pendistribusian air cukup baik, hal ini bisa kita lihat dengan kehilangan air yang mencapai hanya 10 % saja, sedangkan untuk Kecamatan Siau Barat kehilangan air masih tinggi yaitu mencapai 57,90 %, maka dari itu sistem pendistribusian masih memerlukan penanganan yang lebih intensif.

  1 Mobil Tangki Isuzu 4.000 liter Baik

  3 L/D,H 60 m Baik Tagulandang

  2 Pompa Ajax

  24 PK/15 KVA Baik

  1 Genset Ratna

  14 Motor Dinas Suzuki 110 cc Baik Makalehi

  13 Mobil Tangki Isuzu 3.000 liter Rusak

  12 Mobil Tangki Toyota Rino 4.000 liter Rusak

  11 Mobil Tangki Toyota Rino 3.000 liter Baik

  10 Mobil Tangki Toyota Rino 3.000 liter Baik

  9 Mobil Tangki Isuzu 4.000 liter Baik

  8 Pompa Sentrifugal Sutrencros

  No Jenis Peralatan Buatan/Merek Kapasitas Keterangan

  1.5 L/D,H 210 m Baik

  7 Pompa Sentrifugal Siemen

  2 L/D,H 60 m Baik

  6 Pompa Sentrifugal Ebara

  7.5L/D,H 20 m Baik

  5 Pompa Sentrifugal Ebara

  7.5L/D,H 20 m Baik

  4 Pompa Sentrifugal Ebara

  24 PK/30 KVA Rusak

  3 Genset Ratna

  18 PK/15 KVA Rusak

  2 Genset Perkins

  18 PK/15 KVA Rusak

  1 Genset Perkins

  3.3.4.1 Operasi dan Pemeliharaan Operasional dan pemeliharaan mempunyai kendala yang sangat sulit karena terdiri dari beberapa pualu, jadi masing-masing pulau harus mempunyai peralatan dan personel yang terpisah pula. Kondisi ini mengakibatkan operasional dan pemeliharaan pompa maupun Genset harus mempunyai stok spare part yang siap pakai, terutama untuk hal yang rutin, agar memudahkan bilamana diperlukan penggantian yang diperlukan sewaktu-waktu.

3.4 Skematik SPAM Eksisting

  59

Gambar 3.2 Skematik eksisting Siau Akesembeka

  60 Gambar 3.3 Skematik eksisting Siau Peling

3.5 Aspek Non Teknis

  3.5.2 Aspek Keuangan

  3.5.2.1 Kondisi dan Kinerja Keuangan Selama ini kondisi dan kinerja keuangan yang menangani kebutuhan Air minum dengan menggunakan mata air dan dialirkan secara gravitasi, bila dilihat dari laporan keuangan pada bulan Juni 2010, sudah bisa dikatakan berjalan dengan sebagaimana mestinya sesuai dengan kondisi yang ada, dan sudah diberlakukan berdasarkan katagori pengelompokan tariff air.

  Efisiensi penagihan di Siau Timur dari 1.133 pelanggan dapat ditagihkan 1021 pelanggan sehingga efisiensi pelanggan cukup tinggi lebih dari 90%, untuk Siau barat dari 75 pelanggan dapat ditagih 71 pelanggan artinya lebih dari 90%. Pendapatan rata-rata per bulan PDAM Kabupaten Sitaro adalah Rp. 58.000.000,- dan biaya untuk operasi sebesar Rp. 515.000,- per bulan untuk bahan bakar.

  Kenerja keuangan untuk Siau ini belum dapat diketahui secara tersendiri, karena PDAM yang ada saat ini masih merupakan PDAM Kabupaten kepulauan Sangihe yang belum diserahkan kepada Kabupaten Siau Tagulandang Biaro.

  3.5.2.2 Tarif Retribusi Tarif retribusi yang sudah ditentukan dengan surat keputusan Bupati

  Kepulauan Sangihe, sewaktu Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro masih belum dimekarkan, tentang penyesuaian tariff air minum PDAM Kabupaten Kepulauan Sangihe, yang menjadi dasar tariff air minum di Kabupaten Kepulauan Sitaro yang selama ini diberlakukan kepada masyarakat setempat. Tarif rata-rata

3 Rp. 2500,- per m .

  3.5.2.3 Pendapatan Pendapatan yang diperoleh dari hasil pejualan air berdasarkan jumlah tagihan untuk Kecamatan Siau Timur adalah Rp.805.539.356 yang didapat dari 1.120 pelanggan, sedangkan untuk Kecamatan Siau Barat sebesar RP.23.666.300 didapat dari 270 pelanggan.

  3.5.2.4 Pengeluaran Pengeluaran yang rutin dipergunakan untuk Operasional dan Pemeliharaan juga untuk tenaga kerja,disamping untuk bahan kimia yang diperlukan.

  3.5.2.5 Permasalahan Keuangan Dalam meningkatkan sistem penyediaan dan pengelolaan air minum yang lebih baik. Masyarakat di Kabupaten Sitaro perlu diberikan penyuluhan tentang operasi dan pemeliharaan yang memerlukan biaya yang cukup tinggi, sehingga dimasa yang akan datang tidak terjadi lagi pelanggan yang tidak menggunakan meteran air.

  Pemeliharaan kurang diperhatikan karena asset yang ada saat ini tidak terpelihara dengan baik, banyak pelanggan yang tidak menggunakan meter air, sehingga kinerja keuangan PDAM kurang baik.

  3.5.3 Aspek Institusional dan Manajemen

  3.5.3.1 Organisasi Dan Kelembagaan Pengelolaan air minum perpipaan di Kabupaten Sitaro sebagian wilayah dikelola oleh PDAM Kabupaten kepulauan Sangihe, wilayah pelayanan di

  Kabupaten Sitaro ini merupakan Cabang IV Siau dari PDAM Kabupaten kepulauan Sangihe. Kabupaten Sitaro sendiri belum mempunyai PDAM karena asset yang ada saat ini belum diserahkan dari Kabupaten kepulauan Sangihe ke kabupaten Sitaro.

  Untuk sistem perpipaan dan non perpipaan yang ada di kecamatan Biaro, dan Tagulandang dikelola oleh masyarakat sendiri, karena sistem yang ada saat ini merupakan sistem pedesaan, masyarakat yang menggunakan sistem ini tidak membayar.

  Pengelolaan penyediaan air minum non perpipaan di Kabupaten kepulauan Sitaro dikelola dengan menugaskan seorang Kepala Cabang Idan dibantu oleh Kepala Unit.

  3.5.3.2 Kinerja Pengelolaan dan SDM Didalam melaksanakan tugasnya pengelolaanpelayanan SPAM, bila dilihat dari hasil produk pelaporan yang sudah bisa menampilkanlaporan yang cukup jelas,sehingga bisa dan mudah difahami oleh setiap orang yang membacanya, maka kinerja yang dilaksanakan selama ini sudah memadai.

  3.5.3.3 Permasalahan Aspek Kelembagaan Permasalahan utama adalah PDAM yang ada saat ini, merupakan cabang IV dari PDAM Kabupaten kepulauan Sangihe, sehubungan dengan lokasi yang berjauhan antar pulau, menjadikan koordinasi pelayanan air minum agak sulit untuk dilakukan.

  Permasalahan yang dihadapi dengan Aspek Kelembagaan pada saat semua pulau sudah beroperasi, maka diperlukan suatu koordinasi yang memadai, baik dari segi komunikasi maupun dari segi informasi, untuk memudahkan proses penyelesaian yang harus segera dilaksanakan, misalnya terjadi kemacetan operasional pengolahan air yang disebabkan dengan tidak adanya spare part yang diperlukan.

BAB IV KRITERIA TEKNIS, METODA dan STANDAR PENGEMBANGAN SPAM

4.1 Umum

  Rencana wilayah pelayanan air minum IKK Siau terutama untuk penduduk yang berada di wilayah Kota Ulu dan Ondong Timur dan Siau Selatan barat, dimana masyarakatnya sulit untuk mendapatkan air minum, masalah utama penduduk di kepulauan adalah sumber air baku.

  Ketersediaan air baku dari mata air yang telah dimanfaatkan, karena mempunyai kualitas yang baik yang mempunyai kapasitas sangat terbatas yaitu masing masing mata air kapasitasnya 5 l/det; untuk rencana pengembangan pelayanan di Kota Ulu dan Ondong ini sumber air baku akan diambil dari danau Kepeta.

  Wilayah pelayanan yang ada di Pulau Siau ada 6 kecamatan 61 kampung, tidak seluruh kecamatan menjadi wilayah pelayanan, yang menjadi wilayah pelayanan di Pulau Siau adalah untuk Kota Ulu dan Ondong barat terdiri dari 7desa, dan Kota Ulu dan Ondong barat selatan terdiri dari 4 desa, dan 4 kecamatan lainnya tidak termasuk dalam wilayah pelayanan karena letaknya sangat jauh dari lokasi sumber air baku.

4.1.1 Periode Perencanaan

  Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 18 Tahun 2007, tentang penyelenggaraan pengembangan SPAM Bahwa Rencana Induk Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum harus direncanakan untuk periode 15 sampai 20 tahun.

4.1.2 Standar Konsumsi Pemakaian Air

  Standar konsumsi pemakaian air dibagi menjadi 2 (dua) Kategori, yaitu Konsumsi domestik dan konsumsi non domestik. Keterangan konsumsi tersebut seperti berikut:

  1. Konsumsi domestik adalah kegiatan yang dilakukan di dalam rumah tangga

  2. Konsumsi non domestik adalah kegiatan penunjang kota terdiri dari kegiatan komersial berupa industri, perkantoran, perniagaan dan kegiatan social seperti sekolah, rumah sakit dan tempat-tempat ibadah. Berdasarkan peraturan Kementerian Pekerjaan Umum No. 18 Tahun 2007, standar tingkat konsumsi atau pemakaian air rumah tangga sesuai kategori kota dapat dilihat pada Tabel 36.

Tabel 4.1 Tingkat Pemakaian Air Rumah Tangga Sesuai Kategori Kota

  Tingkat Pemakaian No Kategori Kota Jumlah penduduk Sistem Air (l/orang/hari)

  1 Kota Metropolitan > 1.000.000 Non Standar 190

  2 Kota Besar 500.000 170

  • – 1.000.000 Non Standar

  3 Kota Sedang 100.000 Non Standar 150

  • – 500.000

  4 Kota Kecil 20.000 Standar BNA 130

  • – 100.000

  5 Kota Kecamatan < 20.000 Standar IKK 100

  6 Kota Pusat Pertumbuhan < 3.000 Standar DPP

  30

4.1.3 Kebutuhan Air

  4.1.3.1 Kebutuhan Rata-rata Domestik dan Non Domestik Kebutuhan rata-rata adalah pemakaiaan Air Minum masyarakat pada umumnya yang akan digunakan sebagai dasar perhitungan proyeksi kebutuhan air minum Kab. Sitaro selanjutnya. Kebutuhan rata-rata penduduk Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro didapatkan berdasarkan hasil analisis data PDAM Kab. Sitaro adalah 130 l/orang/hari.

  Kebutuhan air minum untuk non domestik adalah kebutuhan air untuk memenuhi sarana-sarana kota, seperti sarana perniagaan, industri, sarana sosial, sarana pelayanan umum dan sebagainya. Standar perkiraan satuan kebutuhan air minum tersebut pada pokok bahasan ini konsultan memprediksikan 10% dari konsumsi domestik.

  4.1.3.2 Kebutuhan Maksimum (Qmax) Kebutuhan air minum pada periode minggu, bulan atau tahun terdapat hari hari tertentu dimana pemakaian air menjadi maksimum. Keadaan ini dicapai karena adanya pengaruh musim. Pada kondisi ini biasanya disebut pemakaian hari maksimum (Qmax day). Besarnya faktor hari maksimum adalah berdasarkan pengamatan karakteristik daerah tersebut yang berkisar antara 110-120%.

  4.1.3.3 Kebutuhan Puncak (Qpeak) Kebutuhan air produksi direncanakan sama dengan kebutuhan maksimum. Sedangkan kebutuhan jam puncak dimana penggunaan air dilakukan secara bersamaan (umumnya terjadi di pagi hari), diantisipasi dengan adanya reservoir. Dari berbagai reservoir eksiting yang di amati, Qdesign berkisar antara 120-170%. Pada pokok bahasan ini konsultan menggunakan faktor fluktuasi jam puncak sebesar 150%.

4.1.4 Kehilangan Air

  Dalam suatu sistem penyediaan air minum biasanya tidak seluruh air yang diproduksi sampai kepada konsumen, biasanya terjadi kebocoran sepanjang saluran pipa yang biasanya disebut kehilangan air.

  Kehilangan air merupakan selisih antara produksi air dengan jumlah air yang tercatat pada meter air pelanggan. Kehilangan air dapat dipisahkan menjadi:  Kehilangan Air Teknis:

  Kehilangan air yang di akibatkan faktor-faktor penggunaan air untuk operasional dan pemeliharaan unit proses sistem produksi (berkisar ± 5%) serta kerusakan pada komponen fisik sistem distribusi dan pelayanan (pada pipa dan accessories) serta pemadam kebakaran.

   Kehilangan Air Non Teknis: Kehilangan air yang diakibatkan faktor-faktor kesalhan adminsitratif dan keuangan, seperti kesalahan pembacaan meter air, penyambungan liar dan lain-lain.

  Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 18 Tahun 2007 bahwa total kebocoran air maksimum sebesar 20%. Dengan demikian harus dilakukan upaya penekanan kehilangan air.

4.1.5 Sistem Penyediaan Air Minum

  4.1.5.1 Air Baku Sumber air baku yang potensial akan mampu menyediakan air baku sesuai dengan kebutuhan. Pengambilan air baku dari Sungai harus sudah mempertimbangkan dan mengkaji berbagai hal diantaranya Debit andalan Sungai, Neraca Air, Alih-fungsi Lahan Pertanian dan kelestarian lingkungan Catchment Area dan DAS. Hal yang sama dipertimbangkan juga untuk pengambilan air dari mata air ataupun Air permukaan.

  Bangunan Intake merupakan komponen sistem yang berfungsi untuk mengambil air baku dari sumber air baku yang potensial.  Lokasi intake dengan mempertimbangkan fluktuasi muka air, arus sungai yang lurus dan stabil, kondisi tanah konstruktif dan tersedianya akses transportasi ke lokasi.

   Kapasitas intake ditentukan sebesar kebutuhan hari maksimum (max day demand) sebagai kapasitas desain IPAM ditambah dengan 25 persen, untuk alokasi kehilangan air dalam proses pengolahan.

   Struktur bangunan intake dibangun dengan konstruksi beton dan dilengkapi dengan bangunan pengaman intake dari kemungkinan banjir serta Screen Manual/Matik untuk mengantisipasi gangguan aliran air baku ke intake yang diakibatkan sampah.

   Pompa dan instalasi perpipaan intake dilengkapi dengan unit pompa cadangan, minimal 1 (satu) unit sehingga kontinuitas pengaliran air baku ke IPAM tidak terganggu.

   Daya listrik yang digunakan adalah listrik PLN lengkap dengan panel operasinya. Untuk mengantisipasi terjadinya gangguan pelayanan listrik PLN, maka dicadangkan genset yang digunakan sewaktu-waktu ketika terputusnya aliran listrik PLN.

   Bangunan intake dilengkapi dengan maintenance and repair equipment untuk memudahkan pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan.

  4.1.5.2 Transmisi Transmisi air baku sebagai komponen Sistem Penyediaan Air Minum, berfungsi untuk mengalirkan air baku dari sumber air baku ke unit pengolahan air minum. Mengingat air baku dari sungai mengandung sedimen atau kekeruhan yang cukup tinggi, maka penggunaan peralatan yang sensitif terhadap kekeruhan perlu dipertimbangkan lebih lagi.

   Jalur pipa diusahakan selurus dan sependek mungkin sampai ke unit IPAM, guna menghemat energi.  Diameter pipa transmisi dipilih dengan memperhitungan kecepatan aliran rendah tapi tidak kurang dari 0,60 m/det untuk menghindari terbentuknya deposit sedimen di sepanjang jalur pipa transmisi.

   Pipa transmisi air baku dilengkapi dengan alar ukur debit magnetik akurasi tinggi yang memadai dan cocok untuk aliran air baku sungai atau air air permukaan lain sebagai sumbernya.

   Pada lokasi instalasi alat ukur tersebut pipa transmisi dilengkapi dengan jalur by-pass sebagai antisipasi pemutusan aliran melalui jalur normal (misal: perbaikan alat ukur debit, dll)  Pipa transmisi air baku dilengkapi dengan alat control aliran untuk mengatur bersar kecilnya aliran secara halus atau lembut dan dapat dikunci agar aliran relatif konstan.

   Bilamana diperlukan, jalur pipa transmisi dilengkapi dengan wash out dan air release valve pada lokasi-lokasi yang tepat.  Pemasangan unit static flash mixer pada jalur pipa transmisi air baku dapat dilakukan sepanjang mengikuti perhitungan desain, terkait dengan head pompa dan injection sistem bahan kimia yang korosif terhadap pipa.

   Untuk keperluan on-line lab. test kualitas air baku, dapat dilakukan pada jalur pipa transmisi dengan sistem tapping yang memadai dan mempertimabangkan residual head yang tersedia.

  4.1.5.3 Produksi Sebagai jantung dari Sistem Penyediaan Air Minum, IPAM mengolah air berkualitas air baku menjadi air berkualitas air minum dengan kapasitas yang ditentukan. Perlu dipertimbangkan bahwa kualitas air minum yang diproduksi IPAM jauh lebih baik dari standar kualitas air minum yang dikeluarkan oleh instansi berwenang, guna mengantisipasi terjadinya penurunan kualitas air minum sepanjang pipa distribusi hingga konsumen/Sambungan Rumah.

   Unit IPAM direncanakan pada lokasi yang relatif dekat dengan bangunan intake dan zona pengembangan daerah pelayanan.  Lokasi IPAM dipilih dengan mempertimbangkan banyak hal diantaranya: o

  Jarak yang relatif dekat dengan bangunan intake dan memiliki elevasi diatas level muka air banjir o

  Jarak yang relatif dekat dengan rencana pengembangan daerah pelayanan yang ditentukan. o

  Tersedia lahan yang dapat digunakan untuk membangun IPAM dengan kapasitas yang diperlukan dan memungkinkan untuk keperluan pengembangan. o

  Tersedia akses transportasi dan sumber daya listrik PLN sesuai dengan yang dibutuhkan. o

  Kondisi tanah yang konstruktif, sehingga biaya lower stucture tidak mahal.  Kapasitas desain IPAM didasarkan pada kebutuhan hari maksimum sesuai dengan jalur perencanaan yang ditentukan.

   Kehilangan air yang terjadi selama proses pengolahan tidak lebih dari 5 persen.  Komponen IPAM terdiri atas: o

  Prasedimentasi o Flas mix/koagulasi o Flokulasi o Sedimentasi o Filtrasi o Sistem pembubuhan kimia o Kontrol kualitasdan kuantitas air produksi

   Lumpur buangan sebagai hasil samping proses pengolahan dikelola dengan baik agar tidak mengotori lingkungan, sedangkan air limbahnya diupayakan untuk diproses kembali sehingga meningkatkan efisiensi IPAM.

   Fasilitas produksi terdiri atas: o Unit IPAM o Reservoir o Rumah pompa o Bangunan operasional o Gudang kimia o Power house dan genset room o Workshop o Control room o Laboraorium o Open storage

  4.1.5.4 Reservoir Reservoir air hasil produksi merupakan bagian dari fasilitas produksi yang berfungsi menampung air minum produksi IPAM setelah melalui proses netralisasi untuk kemudia air minum dialirkan ke jaringan distribusi yang sebelumnya didisinfeksi terlebih dahulu dengan krlorin.

  Reservoir air minum merupakan bangunan konstruksi beton yang ditempatkan tidak jauh dari unit IPAM, berdekatan dengan unit filtrasi dan air mengalir dari unit filtrasi ke reservoir secara gravitasi.

   Kapasitas reservoir air minum sesuai dengan 15% - 25% diperhitungkan terhadap kapasitas desain sistem per hari.  Reservoir air minum yang berfungsi sebagai tempat penampungan berada di lokasi IPAM dan reservoir yang berfungsi sebagai distribusi berada di dekat daerah distribusi.

   Reservoir dilengkapi dengan ventilasi yang cukup guna mengembalikan tekanan udara dalam reservoir kepada tekanan udara luar.  Reservoir dilengkapi dengan ruang lumpur untuk menampung akumulasi sedimen sebelum dipompakan ke jaringan drainase.  Reservoir dilengkapi dengan pipa overflow dan pipa drainase dan sebaiknya dibuat dalam 2 (dua) kompartemen.  Reservoir ini digunakan pula contact chamber proses disinfeksi, sehingga perlu contact time sekitar 2 jam.  Perlengkapan lain dari reservoir air minum ini adalah lever indicator yang dapat dihubungkan dengan sistem terkait seperti sistem operasi pompa, sistem alarm dan sistem otomasi yang lainnya.

  4.1.5.5 Distribusi Jaringan distribusi adalah jaringan pipa yang membagikan atau mendistribusikan air dari pipa Transmisi atau dari IPAM hingga ke sambungan rumah

  • – rumah. Jaringan pipa distribusi dikelompokan menjadi:  Jaringan pipa distribusi utama dengan diameter diantara 150mm - 250 mm.

   Jaringan pipa distribusi sekunder dengan diameter diantara 75mm - 100 mm.  Jaringan pipa distribusi tersier/retikulasi digunakan dengan pipa 50mm  Jaringan pipa distribusi utama dan pipa distribusi sekunder tidak diperkenankan untuk ditapping langsung dengan sambungan rumah.

   Jaringan pipa distribusi hanya menghubungkan stasiun pompa distribusi ke jaringan pipa sekunder dan ke reservoir.  Dimensionering/penentuan dimensi pipa jaringan distribusi utama dan sekunder dihitung dengan menggunakan perangkat lunak EPANET.  Perlengkapan jaringan distribusi adalah: o

  Alat kontrol aliran atau gate valve yang dipasang pada setiap titi percabangan o

  Wash out dan air release valve yang dipasang pada tempat yang sesuai, serta menggunakan diameter yang memadai, baik untuk pipa jaringan distribusi utama, sekunder maupun retikulasi. o

  Fire hydrant dipasang pada jaringan pipa distribusi sekunder atau pada retikulasi diameter 75 mm.

   Setiap pipa inlet reservoir dilengkapi dengan alat ukur debit dan tekanan yang permanen, demikian pula pada pipa discharge (effluent) reservoir.

4.2 Metoda Proyeksi Penduduk

  Adapun untuk menghitung proyeksi jumlah penduduk Kabupaten Siau dapat dilakukan dengan:

  1. Pertumbuhan Penduduk Secara Linear: Aritmatik : Dimana pertumbuhan penduduk dengan jumlah pertambahan penduduk (jiwa) adalah merata atau sama setiap tahunnya.

  Metoda ini lebih tepat digunakan untuk memproyeksikan jumlah penduduk dalam jangka waktu relatif pendek, yaitu 5-10 tahun.

  PnPo=Ka (Tn-To) Ka= (Pa-P1)/(T2-T1)

  Dimana: Pn = jumlah penduduk pada tahun ke n Po = jumlah penduduk pada tahun dasar Tn = tahun ke n To = tahun dasar Ka = Konstanta arithmatik

  )

  Adapun persamaan a dan b adalah sebagai berikut a = (Σy.Σx

  2

  2

  ) b= (nΣxy- Σx.Σy)/(n.Σx

  2

  2

  )/(n.Σx

  2

  2

  Ŷ : Nilai Variabel berdasarkan garis regresi X : variabel independen a : konstanta b : koefisien arah regresi linear

  P1 = jumlah penduduk yang diketahui pada tahun ke I P2 = jumlah penduduk yang diketahui pada tahun terakhir T1 = tahun ke I yang di ketahui T2 = tahun ke II yang diketahui

  Ŷ=a+bX Dimana:

  3. Metode Least Square

  Dimana: Pn : Jumlah penduduk pada tahun proyeksi P0 : Jumlah penduduk pada awal tahun proyeksi r : angka pertumbuhan penduduk n : jangka waktu proyeksi (dalam tahun)

  Pn=Po*℮ (r n)

  Eksponensial: Dimana pertumbuhan penduduk dengan angka pertumbuhan penduduk (%) tidak merata atau mengalami pertambahan setiap tahunnya dengan menggunakan nilai konstanta (e) sebesar 2,718.

  Pn=Po (1+r)

n

  Geometrik : Dimana pertumbuhan penduduk denga angka pertumbuhan penduduk (%) adalah tidak merata atau mengalami pertambahan setiap tahunnya. Metoda ini lebih tepat gunakan untk memproyeksikan jumlah penduduk dalam jangka waktu relatif panjang, yaitu 10-20 tahun.

  2. Pertumbuhan Penduduk Secara Non Linear:

  • Σx.Σy
  • (Σx)
  • (Σx)
Bila koefisien b telah dihitung terlebih dahulu, maka konstanta a dapat ditentukan dengan persamaan lain, yaitu: a = Y-bX

  Dimana Y dan X masing-masing adalah rata-rata untuk variabel Y dan X

4. Metode Trend Logistic

  ^(a+bx)

  Ka = K/(1-10 ) Dimana:

  Y : Jumlah penduduk pada tahun ke-X X : Jumlah interval tahun K, a&b : Konstanta

  75 No KECAMATAN

  

16 Dame I 578 588 598 608 618 628 639 649 660 671 683 694 706 717 729 741

Sub Jumlah 16,493 16,768 17,048 17,333 17,623 17,917 18,216 18,520 18,830 19,144 19,464 19,789 20,120 20,456 20,797 21,145

  

8 Karalung 346 352 357 363 369 376 382 388 395 401 408 415 422 429 436 443

  

9 Karalung I 405 414 420 423 429 440 442 450 454 469 475 491 499 506 512 520

  

10 Dame 522 529 538 551 562 567 582 591 605 607 619 622 632 644 657 669

  

11 Bebali 908 924 939 955 971 987 1,003 1,020 1,037 1,054 1,072 1,090 1,108 1,127 1,145 1,165

  

12 Tatahadeng 2,217 2,254 2,292 2,330 2,369 2,408 2,449 2,489 2,531 2,573 2,616 2,660 2,704 2,750 2,796 2,842

  

13 Tarorane 2,351 2,390 2,430 2,471 2,512 2,554 2,597 2,640 2,684 2,729 2,775 2,821 2,868 2,916 2,965 3,014

  

14 Akesimbeka 1,664 1,692 1,720 1,749 1,778 1,807 1,838 1,868 1,899 1,931 1,963 1,996 2,030 2,063 2,098 2,133

  

15 Bahu 2,065 2,100 2,135 2,170 2,206 2,243 2,281 2,319 2,358 2,397 2,437 2,478 2,519 2,561 2,604 2,647

  2 SIAU TIMUR SELATAN

  

6 Lia I 422 430 440 444 453 462 471 480 489 501 511 514 529 545 552 560

  

1 Mala 731 743 755 768 781 794 807 820 834 848 862 877 891 906 921 937

  

2 Pangirolong 585 595 605 615 625 636 646 657 668 679 691 702 714 726 738 750

  

3 Sawang 829 843 857 871 886 900 915 931 946 962 978 994 1,011 1,028 1,045 1,063

  

4 Bandil 511 520 528 537 546 555 565 574 584 593 603 613 624 634 645 655

  5 Biau 508 512 519 526 535 541 548 560 569 581 588 597 603 615 627 637

  6 Biau Seha 411 422 431 440 447 457 467 472 480 486 497 506 518 525 532 541

  

7 Balirangen 705 716 728 740 753 765 778 791 804 818 831 845 859 874 888 903

  8 Buhias 623 633 689 697 712 721 730 742 753 765 776 788 799 811 824 836

  

7 Buise 1,321 1,343 1,366 1,388 1,412 1,435 1,459 1,484 1,508 1,534 1,559 1,585 1,612 1,639 1,666 1,694

  

5 Kanang 1,322 1,344 1,367 1,390 1,413 1,436 1,460 1,485 1,510 1,535 1,560 1,586 1,613 1,640 1,667 1,695

  2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031

  9

  1

  2

  3

  4

  5

  

6

  7

  8

  10

  

4 Lia 559 567 574 587 595 603 612 621 631 637 646 653 667 671 685 697

  11

  12

  13

  14

  15 Pdd Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa

  1 SIAU TIMUR

  

1 Bukide 784 797 810 824 837 851 866 880 895 910 925 940 956 972 988 1,005

  

2 Apelawo 566 575 585 595 605 615 625 635 646 657 668 679 690 702 713 725

  

3 Deahe 463 471 479 487 495 503 511 520 529 538 547 556 565 574 584 594

  

9 Matole 450 459 523 535 541 553 565 575 586 596 608 619 631 643 655 667

  76 No KECAMATAN

  

3 Paniki 1,419 1,442 1,466 1,491 1,516 1,541 1,567 1,593 1,620 1,647 1,674 1,702 1,731 1,760 1,789 1,819

  

1 Salili 489 497 505 514 522 531 540 549 558 567 577 587 596 606 616 627

  

2 Beong 547 556 565 575 584 594 604 614 624 635 645 656 667 678 689 701

  

3 Lai 548 557 566 576 585 595 605 615 625 636 646 657 668 679 691 702

  

4 Dompase 284 289 293 298 303 308 313 319 324 329 335 340 346 352 358 364

Sub Jumlah 1,867 1,898 1,930 1,962 1,995 2,028 2,062 2,097 2,132 2,167 2,203 2,240 2,278 2,316 2,354 2,394

  4 SIAU BARAT

  1 Peling Sawang 748 760 773 786 799 812 826 839 854 868 882 897 912 927 943 958

  

2 Paseng 703 715 727 739 751 764 776 789 803 816 830 843 858 872 886 901

  

4 Ondong 584 594 604 614 624 634 645 656 667 678 689 701 712 724 736 749

  

14 Pahepa 416 423 430 437 444 452 459 467 475 483 491 499 507 516 524 533

Sub Jumlah 7,711 7,840 7,971 8,104 8,239 8,377 8,517 8,659 8,804 8,951 9,100 9,252 9,407 9,564 9,723 9,886

  

5 Kanawong 622 633 643 654 665 676 687 699 710 722 734 747 759 772 785 798

  

6 Bumbiha 615 625 636 646 657 668 679 690 702 714 726 738 750 763 775 788

  

7 Pehe 429 436 443 451 458 466 474 482 490 498 506 515 523 532 541 550

  

8 Lehi 535 544 553 562 572 581 591 601 611 621 632 642 653 664 675 686

  

9 Peling 938 953 969 985 1,002 1,019 1,036 1,053 1,071 1,088 1,107 1,125 1,144 1,163 1,182 1,202

  

10 Makalehi 498 502 517 521 527 535 541 556 569 577 592 597 604 608 613 622

  11 Makalehi Utara 598 601 609 615 619 624 633 638 647 657 667 679 698 720 732 743

  3 SIAU TENGAH

  

13 Kalihiang 231 234 238 242 246 250 255 259 263 268 272 277 281 286 291 296

  2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031

  8

  1

  2

  3

  4

  5

  

6

  7

  9

  

12 Binalu 637 648 659 670 681 692 704 716 728 740 752 765 778 791 804 817

  10

  11

  12

  13

  14

  15 Pdd Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa

  

10 Tapile 498 506 515 523 532 541 550 559 569 578 588 598 608 618 628 639

  

11 Lahopang 477 485 493 501 510 518 527 536 545 554 563 572 582 592 602 612

  12 Makalehi Timur 391 409 411 426 443 456 468 475 481 492 495 508 512 516 530 541

  77 No KECAMATAN

  1 Kinali 502 508 513 518 530 539 547 554 562 572 579 588 595 607 616 623

  

6 Batusenggo 546 555 565 574 584 593 603 613 624 634 645 655 666 677 689 700

  

5 Makoa 404 410 417 424 431 438 446 453 461 468 476 484 492 500 509 517

  

4 Laghaeng 540 549 558 568 577 587 596 606 617 627 637 648 659 670 681 692

  

3 Talawid 695 707 719 731 743 755 768 781 794 807 820 834 848 862 877 891

  

2 Kapeta 804 817 831 845 859 873 888 903 918 933 949 965 981 997 1,014 1,031

  

1 Tanaki 735 747 760 773 786 799 812 826 839 853 868 882 897 912 927 942

  6 SIAU BARAT SELATAN

  

8 Mini 399 406 413 419 426 434 441 448 456 463 471 479 487 495 503 512

Sub Jumlah 4,249 4,320 4,392 4,465 4,540 4,616 4,693 4,771 4,851 4,932 5,014 5,098 5,183 5,270 5,358 5,447

  

7 Nameng 840 854 868 883 897 912 928 943 959 975 991 1,008 1,025 1,042 1,059 1,077

  

6 Batubulan 497 506 514 523 531 540 549 558 568 577 587 597 607 617 627 637

  

5 Kawahang 719 731 743 756 768 781 794 807 821 835 849 863 877 892 907 922

  

4 Kiawang 598 608 618 629 639 650 661 672 683 694 706 718 730 742 754 767

  

3 Hiung 438 445 453 460 468 476 484 492 500 508 517 525 534 543 552 561

  

2 Winangun 256 262 270 278 280 284 290 297 303 307 315 321 329 333 339 348

  5 SIAU BARAT UTARA

  2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031

  7

  1

  2

  3

  4

  5

  

6

  8

  15 Pdd Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa Sub Jumlah 8,079 8,214 8,351 8,491 8,632 8,777 8,923 9,072 9,224 9,378 9,534 9,694 9,855 10,020 10,187 10,358

  9

  10

  11

  12

  13

  14

  

7 Mahuneni 614 624 635 645 656 667 678 689 701 713 725 737 749 762 774 787

Sub Jumlah 4,338 4,410 4,484 4,559 4,635 4,713 4,791 4,871 4,953 5,035 5,119 5,205 5,292 5,380 5,470 5,561 JUMLAH 42,737 43,451 44,176 44,914 45,664 46,427 47,202 47,991 48,792 49,607 50,436 51,278 52,134 53,005 53,890 54,790

BAB V AIR BAKU

5.1 Potensi Air Baku

  Air merupakan sumber daya alam yang dibutuhkan untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, sehingga perlu di lindungi agar dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia serta mahkluk hidup lainnya. Untuk menjaga kualitas air sesuai dengan tingkat mutu air, yang dipersyaratkan dalam Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001, maka perlu upaya pelestarian dan pengendalian melalui pemeliharaan kualitas dan fungsi air agar kualitasnya tetap pada kondisi alamianhya dan/atau sesuai baku mutu. Sungai merupakan jaringan alur

  • –alur pada permukaan bumi yang terbentuk secara alami, mulai dari bentuk kecil di bagian hulu sampai besar di bagian hilir. Sungai berfungsi menampung curah hujan dan mengalirkannya ke laut. Berdasarkan fungsinya untuk mengalirkan air, sungai disebut pula sebagai drainase alam. Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah daerah yang di batasi punggung punggung gunung dimana air hujan yang jatuh pada daerah tersebut akan ditampung oleh punggung gunung tersebut dan akan dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama (Asdak, 1995).

  Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 menjelaskan bahwa

  “Air baku

untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air baku adalah air yang

berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan/atau air hujan yang

memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum.”. Sumber-sumber

  air baku antara lain berasal dari air hujan, air tanah, dan air permukaan. Pemilihan sumber air baku harus memperhatikan persyaratan yang meliputi kualitas, kuantitas, kontinuitas dan biaya yang murah dalam proses pengambilan sampai pada proses pengolahannya. Hal-hal yang harus dikaji antara lain:

  Mengacu Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi empat (4) kelas, yaitu:

  1. Kelas I (satu), air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

  2. Kelas II (dua), air yang peruntukannya dapat digunakan untuk sarana/prasarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

  3. Kelas III (tiga), air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

  4. Kelas IV (empat), air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

5.1.1. Potensi Air Permukaan

  Penggunaan sumber air permukaan sebagai sumber air baku memiliki persyaratan, yaitu:

  1. Pemanfaatan sumber air harus terpadu dengan pemanfaatan sumber air permukaan untuk keperluan lain.

  2. Keberadaan bangunan pengambilan tidak menimbulkan masalah pada lingkungan sekitarnya.

  Berdasarkan hasil survei dan analisa laboraturiumyang telah dilakukan oleh konsultan. Dapat disimpulkan bahwa di pulau Siau memiliki potensi air permukaan sebagai sumber air minum yang cukup baik yang berupa Danau yang berlokasi di Siau Barat Selatan yang disebut dengan Danau Kapeta..

  Danau Kapeta di Kecamatan Siau Barat Selatan dengan debit kurang lebih 100 1/dt dan Danau Makalehi di Kecamatan Siau Barat dengan debit kurang lebih 20 1/dt; MA Ake Labo dan MA Karalung di Kecamatan Siau Timur MA Ulu Siau di Kecamatan Siau Timur dengan debit kurang lebih 40 1/dt; dan PAH terdapat di Kecamatan Siau Barat Utara, Kecamatan Siau Tengah dan Kecamatan Tagulandang Utara. Sehingga total debit air permukaan yang tersedia di Pulau Siau yaitu  160 l/detik Seperti yang telah disebutkan bab terdahulu mengenai unit air baku, bahwa beberapa sumber air permukaan pada saat ini belum dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari dan sebagai sumber air minum. Ada sumber lain di pulau Siau ini yang berupa danau, tetapi perlu diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi sebagai air minum dan ada beberapa sumber air permukaan yang dapat dimanfaatkan langsung sebagai air minum.

  Berdasarkan hasil laboratorium dari danau Kapeta ini dapat digunakan sebagai sumber air baku tetapi tidak memenuhi syarat air minum karena kekeruhan

  86 NTU, dan warna cukup tinggi 105 TCU, artinya untuk menggunakan danau ini sebagai sumber air minum perlu diolah terlebih dahulu.

5.1.2. Potensi Air Tanah

  Penggunaan sumber air tanah sebagai sumber air baku memiliki persyaratan, yaitu:

  1. Di daerah perencanaan dan sekitarnya dapat dilihat pada peta hidrogeologi, pendugaan geolistrik, pengamatan-pengamatan sumur yang ada dan hasil pengeboran/penggalian menunjukkan adanya air tanah yang potensial dengan kontinuitas yang mencukupi untuk suatu kebutuhan.

  2. Pemanfaatan air tanah tidak mengganggu pertanian dan harus dikonfirmasikan kepada dinas pertanian (khusus pemanfaatan air tanah dangkal).

  3. Kualitas air cukup baik sebagai air baku untuk air minum walaupun tetap masih perlu dilakukan pengolahan berupa penambahan desinfektan untuk menjaga kualitas air aman sampai dengan konsumen. Sedangkan pertimbangan elevasi dan jarak ke daerah pelayanan perlu studi dan kajian lebih lanjut. Berdasarkan hasil survey dan informasi baik dari masyarakat dan PDAM setempat, bahwa air tanah di pulau Siau tidak layak untuk dikonsumsi. Karena air tanahnya berwarna dan berbau.

  5.2 Alternatif Sumber Air Baku

  Siau merupakan wilayah kepulauan, luas kepulauan yang sanga kecil, sehingga air baku sulit untuk didapatkan, alternatif sumber yang akan digunakan untuk masa yang akan datang adalah dari air laut dengan menggunakan Reverse Osmosis, tetapi perlu biaya operasi yang cukup tinggi.

  5.3 Sumber Air Baku Terpilih

  Berdasarkan hasil survei dan analisa yang telah dilakukan oleh konsultan dapat disimpulkan bahwa sumber air permukaan dari Danau Kapeta merupakan pilihan prioritas pertama sebagai sumber air baku yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum masyarakat Siau.

  Hal tersebut dikarenakan secara kuantitas air permukaan lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan air tanah. Meskipun demikian secara kualitas ada beberapa sumber air permukaan yang memerlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dapat dikonsumsi oleh masyarakat.

BAB VI RENCANA INDUK & PRA DESIGN PENGEMBANGAN SPAM

6.1 Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Studi

  Program penataan wilayah harus mengacu pada RUTRWK yang sudah ada, dan harus diselaraskan dengan visi maupun kondisi serta tingkat kemampuan daerah yang ada pada saat ini antara lain penyediaan air minum. Penyediaan air minum untuk masyarakat dimaksudkan menyediakan air minum baik secara kuantitas, kualitas dan berkelanjutan dengan tujuan makin meningkatnya kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Dalam memberikan pelayanan air minum untuk warga Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, akan diupayakan pemasangan pipa air minum baik dengan menggunakan jaringan pipa primer, sekunder maupun tersier serta hidran umum.

Gambar 6.1 Contoh Instalasi Penyediaan Air Mengingat Pulau Siau ini merupakan daerah kepulauan sehingga penyediaan air minum menjadi sangat penting, maka seluruh wilayah perkotaan terutama untuk Ondong sebagai ibu kota Kabupaten sangat memerlukan

Gambar 6.2 Gerbang Ibukota Ondong penyediaan air minum.

6.2 Pengembangan Wilayah Pelayanan

  Pengembangan wilayah pelayanan air minum di pulau Siau yang tadinya hanya melayani Siau Timur, namun saat ini sudah dikembangkan untuk wilayah Siau Barat dan Siau Barat Selatan karena wilayah ini merupakan pusat pemerintahan, dan akan direncanakan untuk Kecamatan Siau Tengah, Siau Barat Utara dan Siau Timur Selatan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

Tabel 6.1 Wilayah Rencana Pengembangan Penyediaan Air Minum No Nama Kecamatan Nama Kelurahan/Kampung

  1 Siau Barat Kampung Peling

  2 Siau Barat Selatan Kampung Kapeta Kampung Mahuneni (Talawid Tua)

  3 Siau Timur Selatan Kampung Balirangen Kampung Pahepa

  4 Siau Tengah Kampung Beong Kampung Lai

  5 Siau Timur Kelurahan Akesimbeka Kampung Karalung Kampung Deahe Kampung Apelawo

  6 Siau Barat Utara Kampung Hiung Kampung Kiawang

  Rencana pengembangan untuk wilayah pada tabel 6.1 di atas adalah lokasi hasil survey ayng telah dilakukan di wilayah Siau dan pulau-pulau sekitar yang masih termasuk wilayah Siau. Pengembangan pelayanan penyediaan air minum meliputi 6 kecamatan yaitu Kecamatan Siau Barat, Siau Barat Selatan, Siau Timur Selatan, Siau Tengah, Siau Timur dan Siau Barat Selatan. Pengembangan penyediaan air minum tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kecamatan Siau Barat

  Sumber Air Kampung Peling

  Kampung Peling merupakan salah satu kampung di Kecamatan Siau Barat merupakan wilayah pelayanan dari PDAM dan sudah menjangkau beberapa wilayah di Kecamatan Siau Barat. Sumber air di Kampung Peling ini dapat di kembangkan untuk dapat memenuhi penyediaan kebutuhan air minum di Kecamatan Siau Barat, karena memiliki debit air yang cukup besar yaitu 15 l/det dan diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan air minum untuk beberapa daerah yang penyediaan air minumnya masih kurang.

Gambar 6.3 Kec. Siau BaratGambar 6.4 Mata Air Balango-Peling Pipa dari Sumber Air Bak Ukuran 60x60x60 cm Pipa Penyaluran Bak Pelepas Tekan Mata Air Balango yang terletak di Kampung Peling ini mempunyai letak yang jauh di atas gunung pada koordinat X=764345 dan Y=299704 , sehingga memungkinkan pembuatan sistem distribusi air dengan sistem Grafitasi.

  Konsep desain di Kampung Peling adalah dengan membuat Broncap di mata air yang ada di atas gunung, kemudian dialirkan ke reservoar yang sudah ada melalui pipa transmisi.

  Di bawah ini ditampilkan skema perencanaan teknis untuk lokasi mata air yang terletak di atas gunung seperti mata air Balango Kampung Peling.

Gambar 6.5 Perencanaan Teknis Mata Air BalangoGambar 6.6 Contoh Katup Pelepas Tekan Rencana pengembangan wilayah penyediaan air minum di Kecamatan Siau Barat yaitu melayani seluruh kampung yang belum dilayani. Berikut gambaran jumlah warga wilayah layanan mata air Balango-Kampung Peling.

Tabel 6.2 Jumlah Warga Layanan Mata Air Balango-Peling

  No Kampung/Kelurahan Kecamatan Jumlah Penduduk 2016

  1 Kampung Peling Kecamatan Siau Barat 893

  2 Kampung Bumbiha Kecamatan Siau Barat 568

  3 Kelurahan Paseng Kecamatan Siau Barat 893

  4 Kelurahan Paniki Kecamatan Siau Barat 1.857

  5 Kelurahan Ondong Kecamatan Siau Barat 622

  6 Kampung Pehe Kecamatan Siau Barat 419

  7 Kampung Sawang Kecamatan Siau Timur Selatan 771 Total 6.023

  Kampung Kapeta

  Kecamatan Siau Barat Selatan terletak berbatasan dengan Kecamatan Siau Barat. Seperti yang telah diatur dalam RTRW Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Tahun 2014. Wilayah kecamatan Siau Barat Selatan akan menjadi wilayah yang berkembang dengan kepadatan penduduk sedang. Maka dari itu perlunya pengembangan wilayah pelayanan di kecamatan Siau Barat selatan. Rencana pengembangan wilayah pelayanan

Gambar 6.7 Potongan Melintang Desain Broncap Mata Air Bakango

2. Kecamatan Siau Barat Selatan

  di kecamatan Siau Barat selatan meliputi 6 (enam) dari 7 (tujuh) kampung, yaitu Kampung Laghaeng, Batusenggo, Mahuneni, Talawid, Kapeta dan Tanaki serta beberapa kampung di Kecamatan Siau Timur Selatan seperti Kampung Kalihiang, Biau, Biau Seha dan Bandil.

  Kecamatan Siau Barat Selatan merupakan salah satu lokasi yang memiliki sumber air yang sangat besar yaitu Danau Kapeta yang berada di Kampung Kapeta yang sudah berbatasan langsung dengan Kecamatan Siau Timur Selatan, yang berada di dataran tinggi, sehingga akan sangat memudahkan untuk pengembangan sarana penyediaan air bersih dan air minum di kecamatan ini.

Gambar 6.8 Air Buangan dari Danau KapetaGambar 6.9 Resevoar Air Danau KapetaGambar 6.10 Kec. Siau Barat Selatan Mata Air Burake-Talawid Danau Kapeta

  Sumber Air dari Dana Kapeta sudah dikelolah oleh PDAM, namun hasil sampel laboratorium, air dari Danau Kapeta belum layak minum karena banyaknya tumbuhan yang ada di sekitar danau sebagai penyebab tingginya kadar asam dari air tersebut.

Gambar 6.11 Sistem Penyediaan Air Minum Kapeta

  Kampung Talawid

  6 Kampung Tanaki Kecamatan Siau Barat Selatan 735

  Pipa Air Masuk Pipa Air Keluar

  11 Kampung Sawang Kecamatan Siau Timur Selatan 829 Total 6.756

  10 Kampung Bandil Kecamatan Siau Timur Selatan 511

  9 Kampung Biau Seha Kecamatan Siau Timur Selatan 411

  8 Kampung Biau Kecamatan Siau Timur Selatan 508

  7 Kampung Balirangen Kecamatan Siau Timur Selatan 705

  5 Kampung Makoa Kecamatan Siau Barat Selatan 404

  Selain sumber air dari Danau Kapeta, di wilayah Kecamatan Siau Barat Selatan juga terdapat sumber air dari daerah Burake (Kapung Talawid). Sumber air ini memiliki kualitas yang jauh lebih baik, karena selama ini sumber air burake dijadikan sebagai sumber air minum oleh masyarakat sekitar. Dari hasil survey yang dilakukan dapat direncanakan bahwa sumber air burake dapat dikembangkan dengan sistem grafitasi. Bak penampungan yang sudah terbangun saat ini berukuran kecil dan juga pipa yang berukuran kecil untuk masuk dan pendistribusian air ke warga.

  4 Kampung Laghaeng Kecamatan Siau Barat Selatan 540

  3 Kampung Mahuneni Kecamatan Siau Barat Selatan 614

  2 Kampung Kapeta Kecamatan Siau Barat Selatan 804

  1 Kampung Talawid Kecamatan Siau Barat Selatan 695

  No Kampung/Kelurahan Kecamatan Jumlah Penduduk 2016

Tabel 6.3 Jumlah Warga Layanan Mata Air Kapeta dan BurakeGambar 6.12 Bak Penampungan dari Mata Air Buraka

3. Kecamatan Siau Timur Selatan

  Kecamatan Siau Timur Selatan kedepannya akan diproyeksikan juga sebagai pusat kegiatan seperti pelayanan kesehatan, rumah sakit dan transportasi udara, maka dari itu perlunya pengembangan wilayah pelayanan penyediaan air minum di kecamatan Siau Timur Selatan.

  Rencana pengembangan wilayah pelayanan di kecamatan Siau Timur selatan meliputi seluruh 2 (dua) kampung, yaitu Kalihiang, dan Balirangen.

Gambar 6.13 Bak Penampungan Warga BalirangenGambar 6.14 Kec. Siau Timur Selatan Mata Air Balirangen Sumber air yang ada di Kampung Balirangen ini berasal dari mata air yang berada di atas gunung yang berlokasi tepat disebelah atas kampung atau di sisi timur dari kampung. Dengan debit air sebesar 5 l/det, sumber air ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air untuk Kampung Balirangen dan kampung tetangganya yaitu Kampung Kalihiang dengan jumlah warga layanan seperti terlihat pada tabel 6.3 di bawah ini.

Tabel 6.4 Jumlah Warga Layanan Mata Air Balirangen

  Jumlah No Kampung/Kelurahan Kecamatan Penduduk 2016

  1 Kampung Kalihiang Kecamatan Siau Timur Selatan 231

  2 Kampung Kalihiang Kecamatan Siau Timur Selatan 705 Total 936

  Perencanaan pengembangan penyediaan air minum di daerah ini dapat dilakukan dengan sistem grafitasi, karena posisi mata air berada di atas gunung, sehingga dapat dibangun broncap untuk menampung air yang ada di mata air dan selanjutnya dialirkan ke bak pelepas tekan dan selanjutnya dialirkan ke reservoir. Kondisi ini sama persis dengan yang ada di Kampung Peling Kecamatan Siau Barat. Sebagaimana hasil survey yang telah dilakukan yang tertuang pada gambar 6.15 di bawah ini dapat terlihat sumber mata air yang keluar dari sela-sela batu.

Gambar 6.15 Sumber Mata Air Balirangen

  Mata Air di Sela-sela Batu Pipa untuk Mengaliri Air Bak Penampung

Gambar 6.16 Bak Pelepas Tekan II dari Mata Air Balirangen

  Lubang Air Buangan Pipa penyalur ke Reservoar Gambar 6.1

7 Aliran Sungai dari Mata Air Balirangen Ke Kampung Tanaki Ke Kampung Kalihiang

  Gambar yang diambil di atas dilakukan saat musim penghujan, sehingga debit air terlihat cukup besar. Sampai saat ini sarana dan prasarana yang dibangun untuk penyediaan air di Kampung Balirangen hanya untuk kebutuhan warga yang ada di Kampung Balirangen sendiri dan belum mampu dialirkan atau didistribusikan ke Kampung sekitar.

  4. Kecamatan Siau Barat Utara

Gambar 6.18 Sumber Mata Air di Kampung Hiung

  Mata Air di Sela-Sela Batu

  Kecamatan Siau Barat Utara yang kedepannya akan diproyeksikan juga akan dibangun sarana dan prasarana air minum, walaupun sampai saat ini belum ditemukan sumber air di wilayah tersebut, namun terdapat sumber air yang berada dilaut, namun diperkirakan mengandung belerang, karena jalur mata air tersebut bersumber dari gunung karangetang di Pulau Siau.

  

Gam bar 6.19 Sumber Mata Air di Kampung Kiawang Mata Air di Sela-Sela Batu Kecamatan yang terletak dibagian Barat sebelah utara dari pulau siau ini merupakan kecamatan di pulau Siau yang sampai saat ini sangat kesulitan dalam penyediaan air minum dan air bersih sehingga masih sangat mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan akan air sehari-hari.

Gambar 16.20 Kec. Siau Barat Utara

  Sumber Air Tawar di Laut, Kampung Kiawang dan Hiung

  Untuk pengembangan usaha penyediaan air minum di Kecamatan Siau Barat

Utara teruta dari mata air Kampung Hiung (ibukota kecamatan) dan Kampung

Kiawang harus menggunakan sistem eksisting yaitu dengan menggunakan pompa

dengan kapasitas 10-15 l/det sebanyak 2 (dua) buah karena letak mata air yang

berada di dataran rendah.

  Di bawah ini ditampilkan skema perencanaan teknis untuk lokasi mata air di Kecamatan Siau Barat Utara.

  Mata Air Kampung Hiung

  1. Reservoar Mini Reservoar 2. Reservoar Kinali Rumah Broncap Mata Air Rumah Pompa

  3. Reservoar Hiung Pompa 4. Reservoar Winangun Dari skema perencanaan di atas, untuk Reservoar di Kampung Winangun yang

lebih sulit dibuat karena kampung ini berada di jauh di ketinggian, sehingga harus

dibangun kurang lebih 3 bak reservoir dilengkapi masing-masing dengan pompa.

  Mata Air Kampung Kiawang 1.

   Reservoar Kiawang Reservoar Rumah

  2. Reservoar Kawahang Broncap Mata Air Rumah Pompa Pompa 3. Reservoar Batubulan Rencana pengembangan penyediaan air minum di Kecamatan Siau Barat Utara

dapat juga dilaksanakan dalam bentuk prasarana penyaringan air laut menjadi air

tawar yaitu RO (Reverse Osmosis).

  Berikut ini skema perencanaan teknis untuk penyediaan air minum melalui sistem Reverse Osmosis.

Gambar 16.21 Rangkaian Proses Reverse Osmosis

  Air Laut Untuk kegiatan pengembangan penyediaan air minum melalui sistem Reverse

Osmosis ini memerlukan anggaran yang cukup besar untuk pengadaan dan

perawatannya, namun tidak menutup kemungkinan sistem ini dapat dijalankan jika

sumber mata air yang ada tidak bisa mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air

minum yang ada di Kecamatan Siau Barat Utara.

  Pengembangan sistem penyediaan air minum di wilayah Kecamatan Siau Barat

Utara mencakup 8 (delapan) Kampung yaitu: 1) Mini, 2) Kinali, 3) Winangun, 4)

Hiung, 5) Kiawang, 6) Kawahang, 7) Batu Bulan dan 8) Nameng. Sedangkan jumlah

warga layanan untuk wilayah ini dapat dilihat pada Tabel 6.4 dibawah ini.

Tabel 6.5 Jumlah Warga Layanan Sumber Air Hiung dan Kiawang

  Jumlah No Kampung/Kelurahan Kecamatan Penduduk 2016

  1 Kampung Mini Kecamatan Siau Barat Utara 399

  2 Kampung Kinali Kecamatan Siau Barat Utara 205

  3 Kampung Winangun Kecamatan Siau Barat Utara 256

  4 Kampung Hiung Kecamatan Siau Barat Utara 438

  5 Kampung Kiawang Kecamatan Siau Barat Utara 598

  6 Kampung Kawahang Kecamatan Siau Barat Utara 719

  7 Kampung Batu Bulan Kecamatan Siau Barat Utara 497

  8 Kampung Nameng Kecamatan Siau Barat Utara 840 Total 3.952

  Selain kedua sistem yang telah dijelaskan sebelumnya, sistem lain yang bisa

dikembangkan adalah Penampungan Air Hujan. Sampai saat ini masyarakat yang

ada di Kecamatan Siau Barat Utara masih mengandalkan air hujan den hamper

seluruh rumah yang ada di daerah ini memiliki Penampungan Air Hujan (PAH), yang

digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

  Pemanfaatan air hujan dapa dilakukan dengan pembuatan bangunan

pemanenan Air hujan. Pemanenan air hujan merupakan metode atau teknologi yang

digunakan untuk mengumpulkan air hujan yang berasal dari atap bangunan,

permukaan tanah, jalan atau perbukitan batu dan dimanfaatkan sebagai salah satu

sumber suplai air bersih (UNEP, 2001; Abdullah et al; 2009).

  Air hujan merupakan sumber air yang sangat penting terutama di daerah yang

tidak terdapat sistem penyediaan air bersih, kualitas air permukaan yang rendah

serta tidak tersedia air tanah (Abdullah et al; 2009). Berdasarkan UNEP (2001),

beberapa keuntungan penggunaan air hujan sebagai salah satu alternative sumber

air bersih adalah sebagai berikut;

  1. Meminimalisasi dampak lingkungan : Penggunaan Instrumen yang sudah ada (atap rumah, tempat parker, taman, dan lain-lain) dapat menghemat pengadaan instrument baru dan meminimalisasi dampak lingkungan. Selain itu meresapkan kelebihan air hujan ke tanah dapat mengurangi volume banjir di jalan-jalan di perkotaan setelah banjir;

  2. Lebih bersih : Air hujan yang dikumpulkan relative lebih bersih dan kualitasnya memenuhi persyaratan sebagai air baku air bersih dengan atau tanpa pengolahan lebih lanjut;

  3. Kondisi darurat : Air hujan sebagai cadangan air bersih sangat penting penggunaannya pada saat darurat atau terdapat gangguan sistem penyediaan air bersih, terutama pada saat terjadi bencana alam. Selain itu

air hujan bisa diperoleh dilokasi tanpa membutuhkan sistem penyaluran air;

  

4. Sebagai cadangan air bersih : Pemanenan air hujan dapat mengurangi

ketergantungan pada sistem penyediaan air bersih;

5. Sebagai salah satu upaya konservasi; dan

  

6. Pemanenan air hujan merupakan teknologi yang mudah dan fleksibel dan

dapat dibangun sesuai dengan kebutuhan. Pembangunan, operasional dan perawatan tidak membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian tertentu. Menurut UNEP (2001), beberapa sistem PAH yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut;

  

1. Sistem atap (roof sistem) menggunakan atap rumah secara individual

memungkinkan air yang akan terkumpul tidak terlalu signifikan, namun apabila diterapkan secara missal maka air yang terkumpul sangat melimpah;

  

2. Sistem permukaan tanah (land surface catchment areas) menggunakan

permukaan tanah merupakan metode yang sangat sederhana untuk mengumpulkan air hujan. Dibandingkan dengan sistem atap, PAH dengan sistem ini lebih banyak mengumpulkan air hujan dari daerah tangkapan yang lebih luas. Air hujan yang terkumpul dengan sistem ini lebih cocok digunakan untuk pertanian, karena kualitas air yang rendah. Air ini dapat ditampung dalam embung atau danau kecil.

Gambar 6.22 Pemanfaatan Air Hujan dengan Bangunan Akuifer Buatan Simpanan Air Hujan (ABSAH)

  Bangunan ABSAH adalah bangunan penyediaan yang dibuat tertutup rapat dengan memanfaatkan air hujan yang disimpan dan mengalir di dalam akuifer buatan yang kemudian ditampung di dalam reservoar. Bangunan penyediaan air baku mandiri yang merupakan modifikasi terhadap bangunan PAH (Penampung/Pemanenan Air Hujan) atau yang serupa, untuk memanfaatkan air hujan. Bangunan ABSAH memang dibikin tertutup rapat, hal ini bertujuan supaya sinar matahari tidak bisa masuk ke dalam bangunan akuifer buatan dan reservoar sehingga tidak bisa terbentuk ganggang serta untuk menjaga tempertatur air tetap konstan.

  Bangunan ABSAH terdiri dari 4 (empat) bak :

  1. Bak pemasukan air dengan penyaringan bantalan kerikil dan pasir, dimana air yang tertangkap oleh atap bangunan dimasukan ke dalamnya melalui talang.

  2. Bak Akuifer buatan, adalah lapisan pembawa air atau air tanah buatan yang dibuat menirukan kondisi akuifer (Air Tanah) alami, berupa bak yang dibentuk dan diisi dengan material pasir, kerikil, pasir laut, arang, hancuran bata merah, kapur, ijuk dan bahan lainnya dan diisi air melalui talang dan berasal dari curah hujan yang tertangkap oleh atap bangunan atau bangunan penangkap lainnya. Aliran Air yang timbul di dalam lapisan tersebut terjadi karena terdapatnya prbedaan tinggi tekan yang diakibatkan oleh pengambilan air.

  3. Bak Penyimpan Air atau Reservoar.

  4. Bak Pengambilan air.

  Fungsi setiap bangunan ABSAH :

  1. Fungsi Akuifer buatan adalah sebagai filter dan penambah mineral melalui kontak air dengan butiran material akuifer yang diusahakan selama mungkin, dengan memperlama waktu perlintasan air dan panjang perlintasan airnya sedikit.

  2. Fungsi Bak Penyimpan Air adalah untuk menampung air yang lebih bersih dari air aslinya.

  3. Fungsi Bak Pemasukan Air adalah untuk memasukan air yang tertangkap oleh atap bangunan melalui talang yang selanjutnya air mengalir melalui akuifer buatan dan tertampung di bak tampungan.

  4. Fungsi Bak Pengambil Air adalah untuk mengambil air dengan berbagai cara misalnya menggunakan ember dan kerekan atau pompa berkapasitas kecil.

  Masyarakat di kecamatan Siau Barat Utara, selama ini masih menggunakan air hujan sebagai pemenuhan kebutuhan dengan menampung air hujan yang tertangkap melalui atap rumah atau atap bangunan lainnya melalui bak penampungan biasa dengan kondisi yang tidak memenuhi standar kesehatan standar serta kondisi penampungan yang tidak terawat. Untuk itu pengembangan penyediaan kebutunah air di Kecamatan Siau Barat Utara ini untuk jangka pendek dapat dilakukan dengan cara pembangunan ABSAH.

Gambar 6.23 Penampungan Air Hujan Masyarakat

  Sumber: Hasil Analisa Konsultan 5.

  Kecamatan Siau Tengah

  Kecamatan Siau Tengah diproyeksikan akan dibangun sarana dan prasarana air minum dengan mengandalkan sumber air tanah dangkal, karena sampai dengan akhir tahun 2016 sudah ditemukan sumber air melalui sumur bor di Kampung Beong dan Salili.

Gambar 6.24 Kecamatan Siau Tengah Sumur Bor ResevoirGambar 6.25 Sumur Bor – Beong Siau TengahGambar 6.26 Bak Penampung – Mata Air Beong Siau TengahGambar 6.27 Bak Penampung – Beong Siau Tengah Mesin AirGambar 6.28 Bangunan Mesin Air – Beong Siau TengahGambar 6.29 Bak Penampung – Lai Siau TengahGambar 6.30 Bak Penampung dan Bangunan Mesin – Lai Siau TengahGambar 6.31 Bak Penampung Air Hujan – Lai Siau TengahGambar 6.32 Pipa Penyaluran Air – Lai Siau Tengah

  Dengan kondisi yang ada, maka pengembangan penyediaan air di Kecmatan Siau Tengah dapat dilakukan dengan sistem pompa eksisting karena sumber air yang ada adalah melalui sumur bor.

Gambar 6.33 Bak Penampung Mata Air BeongTabel 6.6 Jumlah Warga Layanan Kecamatan Siau Tengah

  Jumlah No Kampung/Kelurahan Kecamatan Penduduk 2016

  1 Kampung Beong Kecamatan Siau Tengah 547

  2 Kampung Salili Kecamatan Siau Tengah 489

  3 Kampung Dompase Kecamatan Siau Tengah 284

  4 Kampung Lai Kecamatan Siau Tengah 548 Total 1.868 6. Kecamatan Siau Timur

  Kecamatan Siau Timur terletak merupakan Kecamatan Pulau Siau dengan jumlah penduduk terbanyak dan merupakan pusat perputaran roda perekonomian masyarakat Sitaro secara umum dan masyarakat Siau secara khusus. Seperti yang telah diatur dalam RTRW Kabupaten Sitaro Tahun 2014. Wilayah Kecamatan Siau Timur akan menjadi wilayah yang berkembang dengan kepadatan penduduk padat. Maka dari itu perlunya pengembangan wilayah pelayanan penyediaan air minum. Rencana pengembangan wilayah pelayanan di Kecamatan Siau Timur meliputi 11 (sebelas) Kampung dan 5 (lima) Kelurahan, yaitu Kampung Bukide, Apelawo, Deahe, Lia, Lia I, Kanang, Buise, Karalung, Karalung I, Dame, Dame I dan Kelurahan Tatahadeng, Tarorane, Akesimbeka, Bebali serta Bahu.

  Kecamatan Siau Timur merupakan salah satu wilayah yang memiliki sumber air yang cukup besar yaitu mata air Ake Labo yang berada di Kelurahan Akesimbeka dengan debit air sebesar 40 l/det. Permasalahan yang dihadapi sampai saat ini adalah banyaknya air baku dari mata air tersebut yang terbuang dan tidak terproduksi sehingga hal inilah yang harus dicarikan solusi untuk mengurangi air baku yang terbuang tersebut. Langkah terbaik yang dapat diambil untuk mengantipasi permasalahan tersebut adalah dengan membangun bak-bak penampungan yang selanjutnya dapat disalurkan di wilayah yang kekurangan air, seperti Kecamatan Siau Barat Utara yang hanya mengandalkan air hujan.

  Sumber-sumber lain yang ada di Kecamatan Siau Timur selain sumber air terbesar yang ada di Kelurahan Akesimbeka Akelabo adalah Mata air Deahe dan Mata Air karalung. Lengkapnya dapat dilihat pada Gambar 6.33 di bawah ini.

Gambar 6.34 Kecamatan Siau Timur MA Kanang MA Karalung MA Ake Labo

  Mata Air Akelabo-Akesimbeka Kecamatan Siau Timur

  Pengelolaan sumber air akelabo sudah ditangani oleh PDAM dengan debit air berkisar 40 l/det. Kondisi ini menyebabkan banyaknya sumber air yang terbuang atau tidak terproduksi, sehingga harus dipikirkan penanganan untuk air yang tidak terproduksi tersebut yaitu dengan membangun reservoar.

Gambar 6.35 Tempat Permandian Akelabo Siau TimurGambar 6.36 Instalasi PDAM Kab. Kep. SITAROGambar 6.37 Bak Reservoar PDAM Kab. Kep. SITARO

  Mata Air Karalung Kecamatan Siau Timur

  Pengelolaan sumber air karalung sudah dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan debit air berkisar 20 l/det. Kondisi ini menyebabkan banyaknya sumber air yang terbuang atau tidak terproduksi, sehingga harus dipikirkan penanganan untuk air yang tidak terproduksi tersebut yaitu dengan membangun reservoir baru untuk menghindari semakin banyaknya volume air yang terbuang.

Gambar 6.38 Broncap – Karalung Siau TimurGambar 6.39 Mata Air – Karalung Siau TimurGambar 6.40 Katup Pelepas Tekan Broncap Karalung

  Katub Pelepas Tekan

  Rencana pengembangan Mata Air Karalung dapat dilakukan dengan sistem grafitasi, karena sumber mata air berada di atas gunung. Sampai saat ini sudah dibangun Broncap dilokasi mata air dan dialirkan ke bak pelepas tekan. Saat ini yang masih belum terbangun untuk bak reservoir untuk bisa menangkap semua produksi air dari mata air ini.

Gambar 6.41 Bak Penampung Sumber Air Kampung Kanang

  Pipa Menuju Sumber Air Bak Penampung

Gambar 6.42 Pipa menuju Ke Sumur Penampung

  8 Kampung Karalung I Kecamatan Siau Timur 405

  15 Kampung Apelawo Kecamatan Siau Timur 566

  14 Kampung Deahe Kecamatan Siau Timur 463

  13 Kampung Lia Kecamatan Siau Timur 559

  12 Kampung Lia I Kecamatan Siau Timur 422

  11 Kampung Kanang Kecamatan Siau Timur 1.322

  10 Kampung Buise Kecamatan Siau Timur 1.321

  9 Kampung Karalung Kecamatan Siau Timur 346

  7 Kampung Dame I Kecamatan Siau Timur 578

  Pengembangan rencana penyediaan air melalui mata air di Kampung Kanang harus dilakukan dengan sistem pompa eksisting, karena sumber air berada di dataran rendah, tepatnya di tepi pantai. Kondisi ini tentunya harus memperhatikan kondisi topografi di daerah tersebut serta biaya yang diperlukan cukup besar.

  6 Kampung Dame Kecamatan Siau Timur 522

  5 Kelurahan Tatahadeng Kecamatan Siau Timur 2.217

  4 Kelurahan Tarorane Kecamatan Siau Timur 2.351

  3 Kelurahan Bebali Kecamatan Siau Timur 908

  2 Kelurahan Akesimbeka Kecamatan Siau Timur 1.664

  1 Kelurahan Bahu Kecamatan Siau Timur 2.065

  No Kampung/Kelurahan Kecamatan Jumlah Penduduk 2016

Tabel 6.7 Jumlah Warga Layanan Sumber Kecamatan Siau Timur

  16 Kampung Bukide Kecamatan Siau Timur 784 Total 16.493 Sumur Penampung Pipa Penyalur

  6.3 Tingkat Pelayanan

  Tingkat pelayanan air minum yang direncanakan untuk kluster Siau, dengan pertimbangan ketersediaan air baku, serta topografi wilayah pelayanan, dan tata guna lahan yang ada di setiap kluster.

  Berdasarkan pada target MDGs 80% perkotaan, dan 60% pedesaan, sesuai dengan kondisi air baku, serta tingkat ekonomi yang ada di Kabupaten Sitaro, maka kabupaten ini termasuk dalam katagori desa, sehingga tingkat pelayanan diasumsikan sebesar 60%.

  6.4 Rencana Pentahapan

  Berdasarkan pada rencana induk SPAM, maka untuk Pulau Siau direncanakan dibagi dalam 3 tahapan pembangunan yaitu sebagai berikut: a. Jangka pendek (2 tahun pembangunan)

  b. Jangka menengah ( 5 tahun pembanguan)

  c. Jangka panjang (15 tahun)

  1. Jangka Pendek

  Pada rencana jangka pendek 2 tahun pembangunan SPAM Siu, yang hendak dicapai oleh PDAM adalah meningkat pelayanan untuk pelanggan yang tidak atau belum dilayani 24 jam, menjadi pelayanan 24jam. Dengan adanya pembangunan SPAM ini Pulau Siau akan meningkatkan jumlah pelanggan dari 1.286 unit menjadi 4.668 unit.

  2. Jangka Menengah

  Rencana jangka menengah sampai dengan tahun 2021 pembangunan dilanjutkan dengan cakupan pelayanan mencapai 60% penduduk, hal disebabkan karena adanya keterbatasan sumber air baku yang ada, maka cakupan pelayanan tidak dapat dikembangkan dan ditingkatkan menjadi 4.801 unit.

3. Jangka Panjang

  Rencana jangka menengah sampai dengan tahun 2031 pembangunan dilanjutkan dengan cakupan pelayanan mencapai 100% penduduk.

6.5 Kebutuhan Air Minum

Tabel 6.8 Klasifikasi Jenis Pelanggan No Jenis Klasifikasi

  1. Domestik

  a. Rumah tangga

  b. Tempat ibadah

  c. Sosial

  d. Rumah mewah

  6.5.1 Klasifikasi Pengunaan Air Klasifikasi pelanggan PDAM saat ini terdiri dari Domestik dan Non-Domestik.

  a. Niaga

  b. Industri

  c. Instansi pemerintah

  d. Rumah sakit

  6.5.2 Kebutuhan Air Minum Kebutuhan air minum direncanakan untuk dokumen ini adalah klaster Siau.

  Pada klaster Siau terdapat Kecamatan Siau Barat, Siau Timur, Siau Timur Selatan, Siau Tengah, Siau Barat Utara dan Siau Barat selatan, berdasarkan pada konsumsi air minum seperti yang telah dilayani oleh PDAM hal ini merupakan kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat. Namun, sebagian wilayah pelayanan air minum, belum dapat dilayani oleh PDAM.

  Tingkat pelayanan berdasarkan pada rencana jangka panjang sesuai dengan ketersediaan air baku yang ada di pulau Siau; Proyeksi kebutuhan air minum di Pulau Siau sampai tahun 2031 seperti tertera dalam tabel berikut:

  Jenis pelanggan domestik Jenis pelayanan yang akan diberikan pada masing-masing sistem meliputi:

  2. Non Domestik

  113

  1.30

  11 Total Kebutuhan Air Minum lt/dt

  1.59

  1.56

  1.54

  1.51

  1.49

  1.46

  1.44

  1.41

  1.39

  1.37

  

1.35

  1.32

  1.28

  12.60

  1.26

  1.24

  10 Kebutuhan AM Non Domestik lt/dt

  14.30

  14.06

  13.83

  13.61

  13.38

  13.16

  12.95

  12.73

  12.53

  12.32

  12.39

  12.81

  11.92

  14.73

  18.27

  17.97

  17.68

  17.39

  17.10

  16.82

  16.54

  16.27

  16.00

  15.74

  15.48

  15.23

  14.98

  14.49

  13.02

  14.25

   maksimum lt/dt

  15.89

  15.63

  15.37

  15.12

  14.87

  14.63

  14.39

  14.15

  13.92

  13.69

  13.46

  13.24

  12.12

  11.72

Tabel 6.9 Proyeksi Kebutuhan Air Minum Di Wilayah Pelayanan

  15.00

  9.61

  9.45

  9.29

  7 Kebutuhan AM Rata2 lt/dt

  15.00

  15.00

  15.00

  15.00

  15.00

  15.00

  15.00

  15.00

  15.00

  15.00

  9.93

  15.00

  15.00

  15.00

  15.00

  15.00

  6 Konsumsi m³/Bln

  

5 Jumlah pelanggan unit 1,606 1,633 1,660 1,688 1,716 1,745 1,774 1,804 1,834 1,864 1,896 1,927 1,959 1,992 2,025 2,059

  

4 Penduduk dilayani Jiwa 5,622 5,715 5,811 5,908 6,007 6,107 6,209 6,313 6,418 6,525 6,634 6,745 6,858 6,972 7,089 7,207

  Pelayanan Jiwa 9,369 9,526 9,685 9,847 10,011 10,178 10,348 10,521 10,697 10,875 11,057 11,242 11,430 11,620 11,814 12,012

  3 Penduduk di wil.

  

2 Penduduk Total Jiwa 42,737 43,451 44,176 44,914 45,664 46,427 47,202 47,991 48,792 49,607 50,436 51,278 52,134 53,005 53,890 54,790

  1 Tingkat pelayanan % 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60%

  Sumber: Analisis Konsultan

No Keterangan Unit 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031

  9.77

  10.10

  11.53

  

0.20

  11.34

  11.15

  9 Kebutuhan AM Domestik lt/dt

  0.20

  0.20

  0.20

  0.20

  0.20

  0.20

  0.20

  0.20

  0.20

  0.20

  0.20

  10.27

  0.20

  0.20

  0.20

  0.20

  8 Kebocoran %

  11.92

  11.72

  11.53

  11.34

  11.15

  10.97

  10.79

  10.61

  10.44

12 Kebutuhan air minum

  Berdasarkan konsumsi air minum dari PDAM penduduk di kecamatan Siau Barat dan Siau Barat Selatan walaupun belum sepenuhnya terpenuhi, hal ini dapat dimengerti karena hanya sebagian penduduk yang belum dilayani karena keterbatasan sarana yang ada.

  Kebutuhan air minum sampai dengan tahun 2015 di 6 Kecamatan adalah sebesar 14,25 l/det dan kebutuhan sampai dengan 2031 sebesar18,27 l/det, dengan asumsi kebocoran sebesar 20% karena sarana yang ada merupakan prasarana yang baru, sehingga kebocoran diperkirakan hanya 20%.

  18.00 Kebutuhan Rata2

  16.00

  14.00 t) e

12.00 Kebutuhan

  d l/ Domestik r (

  10.00 ai an h

  8.00 tu u

  Kebutuhan Non b

  6.00 e

  Domestik K

  4.00

  2.00 Total Kebutuhan Air - Minum

  Tahun

Gambar 6.43 Grafik Proyeksi Kebutuhan Air Minum Siau

  Dari tabel diatas terlihat bahwa untuk kebutuhan air minum di Pulau Siau sampai dengan tahun 2031 mencapai 16 l/dtk. Dengan potensi sumber air yang dimiliki di Pulau Siau yaitu 160 lt/dtk maka sampai tahun 2031 kebutuhan air masyarakat di Pulau Siau masih dapat terpenuhi.

6.5.3 Tingkat Kebocoran

  Seperti yang telah disebutkan di atas mengenai tingkat kebocoranbahwa tingkat kebocoran baik secara teknis maupun non teknis di Pulau Siau ini dalam tingkat rendah yaitu sebesar 10%. Untuk itu rencana yang akan datang tidak untuk penurunan kebocoran, tetapi perluasan wilayah pelayan.

  6.6 Kebutuhan Air Minum Tiap Zona Pelayanan Zona pelayanan sesuai dengan kluster yang ada yaitu kluster Siau.

  6.7 Alternatif Rencana Pengembangan

  Karena wilayah yang akan dikembangkan dalam kondisi topografi yang tinggi, dan lokasi tata guna lahan jauh dari letak sumber air baku, dan lokasinya di kepulauan kecil, maka tidak ada alternatif pengembangan wilayah pelayanan air minum untuk Pulau Siau.

  Penduduk yang berada di Pulau Siau tersebut cenderung turun, banyak orang merantau keluar pulau, dengan pertimbangan mencari tingkat ekonomi yang lebih baik.

  6.8 Sistem terpilih

  Sistem yang terpilih dari ketiga kluster tersebut yang terdiri dari unit air baku, unit produksi dan unit distribusi, maka sistem yang direncanakan sesuai dengan kondisi yang dijelaskan dalam sub bab berikut ini.

6.8.1 Unit Air Baku

  Air baku yang potensial untuk SPAM Kluster Siau Siau dari Danau Kapeta,

  2

  dengan luas Danau 10.000 m atau 10 ha, dan kedalaman rata-rata 20m, volume

  3

  danau ini kurang lebih 200.000m . di pulau Siau ini masih ada sumber air baku lain, selain danau Kapeta ini.

Gambar 6.44 Danau Kapeta, Siau Barat Selatan

  Intake yang direncanakan untuk IPA 20 l/det merupakan intake ponton, untuk mengantisipasi adanya flutuasi ketinggian muka air danau Kapeta dengan menggunakan pompa summesible, untuk menyampaikan air baku ke lokasi IPA.

  Pipa transmisi air baku dari intake ponton ini berdiameter 150 mm dengan panjang pipa 1,8 km, yang dilengkapi dengan saringan untuk menahan sampah yang masuk kedalam pompa, dan langsung dipompakan ke bangunan ke bangunan IPA Murake.

  Pompa yang digunakan adalah pompa submersible yang akan dipasang sebanyak 2 unit dengan kapasitas 20 l/det, dengan head pompa sebesar 30m, yang akan dioperasikan 1 unit dan stand by atau cadangan 1 unit, dengan daya pompa masing masing sebesar 15 kva.

6.8.2 Unit Produksi

  Unit produksi pada Kluster Siau yang akan dibangun untuk kluster adalah unit

  IPA dengan Air baku yang potensial untuk SPAM Siau dari Danau Kapeta, dengan debit 100 lt/dtk.

  Perencanaan teknis instalasi pengolahan air minum konvensional (lengkap secara proses) sesuai SNI 19-6774-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Unit Paket Instalasi Penjernihan Air dengan kapasitas 20 l/det.

  Pertimbangan menggunakan IPA paket adalah untuk memudahkan dalam pembangunan di lokasi yang jauh dari dari ibu kota provinsi, juga memudahkan pengoperasian dari IPA paket ini.

  Untuk itu perlu dipilih IPA paket dengan kapasitas 20 l/det yang terdiri 2 modul dengan masing masing modul 10 l/det, untuk menghadapi apabila terjadi masalah dengan modul yang, maka modul yang lain masih dapat dioperasikan.

  IPA paket terbuat dari baja yang kuat, tahan terhadap air laut, tidak memerlukan pemeliharaan yang cukup tinggi, mengingat lokasi pulau Siau ini sangat jauh dari ibu kota Propinsi.

6.8.3 Skematik Rencana

  Skematik Rencana SPAM Kluster Siau

Gambar 6.45 Skematik Rencana Pelayanan Air Minum IKK Ondong, Siau

  118

6.9 Keterpaduan Dengan Prasarana dan Sarana Sanitasi

  6.9.1 Potensi Pencemaran Air Baku

  Selama sumber Air Baku menjadi konsumsi bersama masyarakat banyak, maka potensi pencemaran sangat mungkin terjadi, maka diusahakan agar perlindungan terhadap sumber air baku ini dapat dipenuhi dengan baik.

  Sistem pembuangan air limbah yang ada di kecamatan Siau dilakukan secara individual, sehingga tidak mencemari daerah tangkapan air, kondisi di Kabupaten Siau, Tagulandang dan Biaro masih jarang penduduknya sekalipun telah dijadikan ibu kota Kabupaten kepulauan Sitaro, sehingga untuk 20 tahun kedepan tidak ada kekhawatiran terhadap pencemaran yang diakibatkan prasarana dan sarana air limbah

  6.9.2 Rekomendasi Penguasaan Dan Pengamanan Sumber Air Baku

  Rekomendasi ini akan menjadi tanggung jawab dari pengelola pelayanan Air Minum di Daerah, sebelum terjadi pencemaran dan keamanan sumber air baku, maka pihak pemerintah Kabupaten Sitaro harus mengupayakan dari saat ini

  6.9.3 Pengolahan Limbah Dari IPA

  Kebijakan Pemerintah Kabupaten kepulauan Sitaro dalam Pengelolaan Air Limbah untuk menjaga terhadap kerusakan dan pencemaran lingkungan yaitu dengan membuat peraturan yang menjaga terhadap pencemaran air limbah terhadap sumber air baku yang digunakan sebagi sumber air minum

  Pengolahan limbah dari IPA itu sangat baik, apabila daya dukung lingkungan sangat kritis seperti yang terjadi di kota kota yang ada di pulau Jawa dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi.

  Di Siau telah dibangun IPA dengan kapasitas 20l/det dan 5 l/det, dengan kapasitas yang kecil ini belum dilengkapi dengan pengolahan limbah lumpur dari IPA tersebut, namun perlu diantisipasi agar tidak terjadi pencemaran terhadap air baku yang digunakan untuk sumber air baku.

6.9.4 Potensi sumber air minum dari IPAL

  Selama teknologi masih belum memadai baik tenaga manusia sebagai pengelola, maupun peralatan yang akan digunakan, maka sumber air dari IPAL sebaiknya jangan dijadikan sebagai alternatif yang dipilih ataupun yang diusulkan.

  Di Siau masih ada alternatif sumber air baku yang cukup baik, dan di wilayah ini belum tersedia IPAL.

6.10 Perkiraan Kebutuhan Biaya

  Perkiraan kebutuhan biaya untuk pembangunan SPAM di Siau, sampai dengan tahun 2031 seperti tersebut dibawah ini; Total investasi yang diperlukan adalah sebesar Rp. 42.212.260.000,- Untuk investasi non Fisik sebesar Rp. 10.553.070.000,- Total Investasi Rp. 52.765.340.000,-

Tabel 6.10 Rencana Pembangunan SPAM (2017-2021) Jumlah BIAYA & REALISASI (Rp.Juta ) Total NO URAIAN

  (Rp Juta) 2017 2018 2019 2020 2021 2017 - 2021

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8 RENCANA PEMBANGUNAN & INVESTASI JANGKA A MENENGAH (RPIJM)

I. PEKERJAAN FISIK

1.1 IKK Ondong, Siau A UNIT AIR BAKU

  1 Pembangunan intake ponton kapasitas 15 l/det 215.86 215.86 lengkap dengan bang,pendukung

  2 Pipa transmisi dia.160mm & Accessories 1,787.59 1,787.59

  B UNIT PRODUKSI

  • -

    1 Pembangunan IPA paket kap. 20 l/det, dilengkapi 3,010.48

  3,010.48

  • Reservoir di lokasi IPA , kapasitas 300m3 dan
  • Pipa transmisi dia.160mm
  • - C UNIT DISTRIBUSI

  1 Reservoir Talawid kapasitas 500m3, dilengkapi 445.21 445.21 Pipa distribusi diameter 200mm & accessories 4,371.74 4,371.74

  8,743.47

  • - D UNIT PELAYANAN

  1 Pekerjaan Perpipaan Sambungan rumah 827.88 752.61 752.61 752.61 752.61 4,139.38 Sub Jumlah 10,658.76 5,124.35 752.61 752.61 752.61 18,341.99

1.2 IKK Ulu Siau A UNIT AIR BAKU

  1 Bronkaptering m.a Kuta kap.15 l/det dan pendukung 133.13 133.13 275.00 275.00

  2 Perluasan bak dan R.Pompa di mata air Kalipupu

  121

  Jumlah BIAYA & REALISASI (Rp.Juta ) Total NO URAIAN (Rp Juta) 2017 2018 2019 2020 2021 2017 - 2021 B UNIT TRANSMISI

  945.46 945.46

  1 JARINGAN PIPA TRANSMISI BOWELEU 2,478.20 2,478.20

  2 JARINGAN PIPA TRANSMISI MULENGEN C UNIT DISTRIBUSI 1,446.87

  1,446.87

  1 Jaringan Distribusi Utama di Boleweu 5,176.36 5,176.36

  2 Jaringan Distribusi Utama di Mulengen 597.78 597.78

  3 Reservoir kap. 200m3 di Apengsala 709.75 709.75

  4 Reservoir 50m3 di desa Bawo+180m 479.79 479.79

5 Reservoir 100m3 di kampung Lumbo

  1,100.00 1,100.00 D PEKERJAAN LAIN-LAIN 1,296.20 1,296.20 2,592.40 E PERKERJAAN MEKANIKAL dan ELETRIKAL F UNIT PELAYANAN

  1 Pekerjaan perpipaan dan Sambungan rumah 1,081.45 1,081.45 1,081.45 1,081.45 1,081.45 5,407.26 Sub Jumlah 7,467.66 10,630.00 1,081.45 1,081.45 1,081.45 21,342.01

1.3 IKK Sawang Siau A UNIT AIR BAKU

  82.50

  82.50

  1 Intake kapasitas 5 l/det 487.82 487.82 2 pipa air baku dia 160mm 399.50 399.50 3 pipa air baku dia 100mm

  B UNIT PRODUKSI

  0.00

  0.00 660.00 660.00

  1 IPA Paket 5 l/det

  16.50

  16.50

  2 Genset 5 kva 3

  3 Reservoir 50m 247.50 247.50

  0.00

  0.00 C Unit Distribusi dan Transmisi

  122

JUMLAH PEKERJAAN FISIK 18,126.42 15,754.35 4,309.48 1,850.08 1,850.08 42,212.27

II. PEKERJAAN NON-FISIK

2.1 PROGRAM PENUNJANG 1,812.64 1,575.43 430.95 185.01 185.01 4,221.23

  123

  2 Pelatihan Operasional SPAM 725.06 630.17 172.38

   Sub Jumlah 4,531.60 3,938.59 1,077.37 462.52 462.52 10,553.07 Grand Total 22,658.02 19,692.93 5,386.85 2,312.60 2,312.60 52,765.34

  3 Supervisi 1,359.48 1,181.58 323.21 138.76 138.76 3,165.92

  97.13 97.13 2,216.14

  2 Detail Perencanaan Rinci (DED) 951.64 827.10 226.25

  41.63 41.63 949.78

  96.96

  1 Studi Kelayakan 407.84 354.47

  46.25 46.25 1,055.31

  3 Pelatihan Administrasi SPAM 453.16 393.86 107.74

  74.00 74.00 1,688.49

  64.75 64.75 1,477.43

  NO URAIAN BIAYA & REALISASI (Rp.Juta ) Jumlah Total (Rp Juta) 2017 2018 2019 2020 2021 2017 - 2021

  1 Pelatihan Manajerial SPAM 634.42 551.40 150.83

  16.02 16.02 2,528.26

  70.47 Sub Jumlah 2,475.41

  16.02

  16.02

  17.62

  1 Sambungan rumah

  0.00

  0.00

  82.10 D Unit Pelayanan

  82.10

  3 Pipa Distribusi perkampungan diameter 75 mm

  2 Pipa distribusi ke pelabuhan 302.03 302.03

  1 Pipa Distribusi dan transmisi 75mm 179.85 179.85

2.2 PROGRAM PERENCANAN & PENGAWASAN 2,718.96 2,363.15 646.42 277.51 277.51 6,331.84

BAB VII ANALISA KEUANGAN

7.1 Kebutuhan Investasi dan Sumber Pendanaan

  Penyusunan analisis rencana anggaran biaya pembangunan dan investasi pengembangan SPAM Pulau Siau sesuai dengan karakteristik dan prinsip penyusunan rencana induk SPAM maka disusun sebagai berikut:  Perhitungan biaya pembangunan dan investasi jangka pendek (2017-2021) dibuat lebih terinci dibandingkan perencanaan berikutnya, karena harus dituangkan dalam Rencana Pembangunan Investasi Jangka Menengah (RPIJM) dan sekaligus sebagai acuan dalam penyusunan rencana rinci (DED) pengembangan SPAM dalam setiap tahun anggaran yang bersangkutan.

   Indikasi biaya pembangunan dan investasi jangka menengah dan jangka panjang dibuat berdasarkan pendekatan analisis dan perhitungan Standar Teknik dan Perhitungan Biaya yang ditetapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum, Ditjen Cipta Karya, dan Harga Satuan Setempat (2015), serta disesuaikan dengan kondisi setempat dalam hal penggunaan material yang tersedia.

  Kebutuhan investasi dan sumber pendanaan untuk pembangunan SPAM seperti tersebut dalam peraturan dan undang undang yang berlaku, maka SDA akan membangun unit air baku dari muali intake dan pipa air baku, Ditjen Cipta Karya membangun IPA dan JDU, mengingat lokasi ini merupakan wilayah pemekaran seperti dijelaskan pada tabel dibawah ini.

Tabel 7.1 Kebutuhan Pendanaan Sumber Pembiayaan

  

No Sumber Dana 2017 2018 2019 2020 2021 Total

  

1 Dit.Jen. Cipta Karya 8.042,68 1.155,00 0,00 0,00 0,00 9.197,68

  

2 Dit.Jen.SDA 3.014,48 1.212,27 0,00 0,00 0,00 4.226,75

  

3 Pem.Prov.Sulawesi Utara 26.614,56 704,98 0,00 0,00 0,00 27.319,53

  

4 Pem.Kab.Kep.Sitaro 2.386,66 2.408,68 2.408,68 2.408,68 2.408,68 12.021,39

TOTAL 40.058,37 5.480,93 2.408,68 2.408,68 2.408,68 52.765,34

Tabel 7.21 Estimasi Biaya Pembangunan & Investasi SPAM

  (Dalam Juta Rupiah @ Tahun 0 Harga Konstan)

  URAIAN Jumlah Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021 PEKERJAAN PERSIAPAN SUMBER AIR Bangunan Sipil 706 624,0 82,5 Reservoir Pompa Air Baku Total Sumber Air 706 624

  83 POMPA Pipa air baku 2.675 1.787,6 887,3 Total Pompa 2.675 1.788 887

INSTALASI PENGOLAHAN AIR

  Bangunan Sipil 3.670 3.010 660 Reservoir 2.728 1.635 845 248 Instalasi 2.609 1.296 1.313

  

Total Instalasi Pengolahan Air 9.007 5.941 2.158 660 248

TRANSMISI & DISTRIBUSI Pipa Sekunder 19.354 6.764,1 12.026,3 564,0

Instalasi/Retikulasi 9.295 1.909,3 1.834,1 1.851,7 1.850,1 1.850,1

Total Transmisi & Distribusi 28.650 8.673,4 13.860,4 2.415,7 1.850,1 1.850,1

INSTALASI UMUM

  Lainnya 1.100 1.100,0 Total Instalasi Umum 1.100 1.100,0

Pekerjaan Non Fisik 10.473 4.531,6 3.938,6 1.077,4 462,5 462,5

  T O T A L 52.611 22.658 19.957 5.123 2.313 2.560

  125

7.2 Dasar Penentuan Asumsi

  Dalam penyusunan Rencana Induk Sistem penyediaan air minum ini tidak menyiapkan untuk membuat studi kelayakan yang memperimbangkan kelayakan proyek dan analisa keuangan, untuk itu asumsi keuangan adanya di studi kelayakan.

  Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas maka penyusunan laporan Pembangunan SPAM di Pulau Siauperlu mempertimbangkan prioritas dan tingkat kebutuhan air minum selama 15

  • – 20 tahun mendatang serta ketersediaan sumber air baku yang layak dimanfaatkan untuk menentukan SPAM yang optimal.

  Dasar penentuan asumsi keuangan adalah disesuaikan dengan kondisi setempat, yaitu tingkat ekonomi kabupaten Sitaro, kemampuan penduduk dalam membayar air minum, kemauan menyambung air minum, asumsi biaya pengelolaan yang timbul dari sistem yang direncanakan.

  Penentuan asumsi air minum yang akan digunakan dalam penentuan tarif adalah sebagai berikut:  Inflasi diambil 6% sesuai dengan inflasi yang diberlakukan oleh pemerintah pada saat ini;  Asumsi gaji pegawai rata-rata 2 juta/orang/bulan, berdasarkan gaji rata- rata untuk pegawai gol II;  Pembiayaan dari APBN dan APBD tidak ada pinjaman;  Asumsi biaya untuk bahan kimia adalah Rp. 150,-/m

  3

  pada awal operasi untuk pembelian tawas, dan kaporit  Biaya biaya lain 5% dari total biaya; untuk penggunaan biaya tidak terduga.

   Tingkat kebocoran di distribusi 20%  Air yang terjual adalah 85% dari air yang dididtribusikan

7.3 Hasil Analisis Kelayakan

  Berdasarkan Permen PU Nomor 18 Tahun 2007, maka analisis finansial dan keuangan proyek tidak termasuk dalam lingkup pekerjaan penyusunan rencana induk tapi merupakan bagian dari lingkup pekerjaan penyusunan studi kelayakan (Permen PU Nomor 18 Tahun 2007, Lampiran II Pedoman Penyusunan Studi Kelayakan Pengembangan SPAM). Hasil analisa keuangan dengan asumsi diatas adalah sebagai berikut:

  4. Total investasi Rp. 52.765.340.000,- selama 5 tahun;

  5. NPV Rp. 610.000.000,-;

  6. IRR 13,18%;

  7. Harga air rata-rata pada tahun 2017 sebesar Rp. 3.650,- kenaikan tarif; 6% per tahun, untuk memenuhi full cost recovery.

Tabel 7.3 Summary Analisis Keuangan (Rp. Milyar) Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 Tahun 2020 Tahun 2021 TOTAL

  INVESTMENT PLAN (Rp.

  • Investment 22.658 18.364 5.756 2.754 3.232 52.765 mio) (Rp.

  TOTAL 22.658 18.364 5.756 2.754 3.232 52.765 mio) FINANCING STRUCTURE (Rp.

  • Equity 22.658 18.364 5.756 2.754 3.232 52.765 mio) (Rp.

  

TOTAL 22.658 18.364 5.756 2.754 3.232 52.765

mio) FINANCIAL ASPECTS Loan Term

  per

  • Interest Rate 13,00% annum

  10

  • Repayment Period year(s)
  • Grace Period 1 year(s)

PROJECT FEASIBILITY

  • Project Discount Factor 13,00%
  • Project NPV 610 Rp. mio
  • Project IRR 13,18%
  • Project Payback

  24 Period year(s) 128

BAB VIII PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN PELAYANAN AIR MINUM

8.1. Umum

  Secara umum dalam menentukan karyawan yang tepat memang sangat sulit selain mereka harus mampu memiliki suatu tingkat kemampuan tertentu sesuai kebutuhan masing-masing organisasi, juga harus memiliki dedikasi, motivasi, itikad serta komitmen yang sesuai dengan tujuan organisasi.

  Selain menentukan Sumber Daya Manusia yang cerdas dan handal, PDAM sendiri dituntut untuk membuat lingkungan organisasinya terasa nyaman dan bersahabat. Keadaan-keadaan seperti itu tidak dapat tercipta dengan sendirinya, Karena itu perlu diupayakan pendekatan antara dua sisi. para jajaran dewan direksi, pimpinan manajer harus mampu menciptakan suasana yang kondusif serta memberikan keteladanan bagi para staf binaannya , disisi lain para staf harus mampu memupuk dirinya untuk mempunyai rasa memiliki (sense of belonging) terhadap organisasi. Dengan modal tersebut, komitmen dan tujuan organisasi nisacaya akan terwujud. Dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan organisasi manajemen berbagai hambatan sering terjadi.

  Hambatan-hambatan ini mendorong individu yang bersangkutan untuk memikirkan cara-cara baru guna memperoleh pengganti yang dibutuhkan dengan cara mengkompensasikan kekurangan-kekurangan itu. Kemudian, individu tersebut melahirkan ide-ide baru yang merupakan penyesuaian alternatif dan demikian seterusnya. Kreatifitas seperti ini melipat gandakan pengembangan sumber daya manusia dengan corak yang tidak terbatas dan lebih mudah berkembang.

  Dorongan-dorongan naluri pada individu memberikan dampak tenaga psikologis berupa tindakan-tindakan yang dapat memuaskan kebutuhan setiap individu. Jika sesuatu yang dibutuhkan itu ada, individu tersebut hanya akan mengadakan reaksi motor untuk memperolehnya, misalnya mengambil makanan dan makanannya, jika sesuatu yang dibutuhkan itu tidak ada.

  Kerangka pemikir strategi pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui manajemen program kerja adalah sebagai berikut : a. Pembinaan, pengembangan dan pendayagunaan sumber daya manusia

  (SDM)

  b. Perencanaan dan pengembangan organisasi kerja

  c. Dari perencanaan dan pengembangan organisasi tenaga kerja dan pembinaan dan pendayagunaan sumber daya manusia (SDM), akan menghasilkan peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang merpakan salah satu fujuan .

  d. Salah satu hasil dari perencanaan dan pengembangan organisasi kerja, adanya jenjang karir yang jelas (transparan) untuk setiap karyawan .

  e. Agar jenjang karir ini dapat berjalan dengan baik, perlu adanya sistem pelatihan (training) dalam rangka penyesuaian dan peningkatan kemajuan keahlian dad karyawan

  f. Karena perencanaan dan pengembangan organisasi kerja dan pembinaan, pengembangan dan pendayagunaan sumber daya manusia yang semakin baik, maka pemahaman terhadap manajemen dan penugasan dad setiap karyawan terhadap unit kerja semakin meningkat.

  g. Meningkatnya pemahaman terhadap manajemen dan penugasan, akan memperbaiki sistem dan pemantuan dan evaluasi dan penyelenggaraan kebijakan dan program.

  h. Sebagai focus utama dari kajian terhadap strategis peningkatan sumber daya manusia ditekankan kepada penyusunan program kerja yaitu pada unit dan produktivitas hasil kerja i. Perlu dilakukan peningkatan terhadap pelaksanaan program kerja yang dilakukan secara berkala. j. Pemantauan sistem pengendalian program kerja melalui pendayagunaan perencanaan dan pelaksanaan program kerja karyawan . k. Sebagai salah satu pemantapan penyiapan program kerja adalah dengan meningkatkan intensitas komunikasi bagi koordinasi program kerja pribadi

  (individu) maupun kelembagaan, yang merupakan piranti yang sangat berperan dalam manajemen program kerja . l. Dengan adanya peningkatan didalam pemantapan sistem pengendalian kerja, intensitas komunikasi bagi koordinasi program kerja dan sistem pelatihan akan meningkatkan motivasi kerja dari karyawan. Melalui peningkatan motivasi kerja karyawan maka diharapkan semua sasaran dan target perusahaan dapat tercapai melalui pencapaian hasil, pengendalian maupun peningkatan kwalitas dan kwantitas hasil kerja akan dapat dicapai secara bersama . Strategi pengembangan sumber daya manusia (SDM) adalah suatu proses yang dimulai dari penentuan tujuan dasar dari peningkatan sumber daya manusia, merumuskan strategi dan kebijakan guna mencapai tujuan-tujuan tersebut, sehingga strategi yang dirumuskan dapat dilaksanakan.

  Disamping itu strategi pembangunan sumber daya manusia merupakan suatu sistem yang pada dasamya merupakan sistem manajemen dimana keputusan- keputusan strategis disusun secara sistimatis. Sistem tersebut lazimnya memiliki unsur, sumber informasi dan susunan organisasi yang mendukung pelaksanaan pekerjaan.

  Pengembangan Kelembagaan SPAM adalah kegiatan yang bertujuan membangun, memperluas dan/atau meningkatkan sistem fisik (teknik) dan non-fisik

  (kelembagaan,manajemen, keuangan, peran masyarakat, dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untukmelaksanakan penyediaan air minum kepada masyarakat menuju keadaan yang lebih baik.Rencana Pengembangan Kelembagaan Penyelenggaraan SPAM meliputi beberapa halpokok yaitu bentuk badan pengelola dan struktur organisasi yang akan menangani SPAM Pulau Siau, sumber daya manusia baik jumlah maupun kualifikasinya dan penempatan tenaga kerja yang disesuaikan dengan latar belakang pendidikannya serta mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

  Kelembagaan penyelenggara air minum sekurang-kurangnya memiliki:

   Organisasi meliputi struktur organisasi kelembagaan dan personil pengelola unit SPAM;

   Tata laksana meliputi uraian tugas pokok dan fungsi, serta pembinaan karir pegawaipenyelenggara SPAM; dan

   Kelembagaan penyelenggara SPAM harus dilengkapi dengan sumber daya

  manusiayang kompeten di bidang pengelolaan SPAM sesuai dengan peraturan perundanganyang berlaku.

  Untuk itu pengkajian pengembangan dan kelayakan kelembagaan SPAM di Siau dilakukan terhadap sumber daya manusia (tingkat dan kualitas pendidikan),struktur organisasi dan penempatan kerja sesuai dengan latar belakang pendidikannyamengacu pada peraturan dan perundang-undangan, dan alternatif kelembagaan kerjasamapemerintah dan swasta.

8.2. Kajian Peraturan dan Perundang-undangan

  Undang undang dan peraturan yang mendasari terhadap keberadaan PDAM adalah sebagai berikut: d. Undang undang no 29 tahun 1959 tentang pembentukan daerah-daerah tingkat II di Sulawesi (Lembaran Negara RI Tahun 1959 Nomor 74

  Tambahan lembaran Negara RI Nomor 1822); sebagaimana yang telah diperbaharui dalam Undang – undang nomor 8 Tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Kepulauan Talaud di Propinsi Sulawesi Utara (Lembaran Negara RI Tahun 2002 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4183) dan undang undang Nomor 15 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro di Propinsi Sulawesi Utara (Lembaran Ngara RI Tahun 2007 Nomor 15, Tambahan Lemabaran Negara RI Nomor 4691);

  e. Undang undang nomor 5 tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 1962 Nomor 10 Tambahan

  f. Berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999, semua urusan penyelenggaraan Pemerintah diserahkan kepada daerah Kabupaten dan Kota, kecuali lima urusan, yakni pertahanan dan keamanan, politik luar negeri, moneter dan fiskal, kehakiman dan agama.

  g. Berdasarkan undang undang nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 125 Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4437)

  h. Undang undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 126 Tambahan Lemabaran Negara RI nomor 4438) i. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun. 2005 tentang Pengembangan

  Sistem Penyediaan Air Minum j. Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 1Tahun 1984 tentang Tata Cara

  Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Daerah di Lingkungan Pemerintah Daerah. k. Mengacu pada Instruksi Mendagri No. 21 tahun 1996 dan Keputusan

  Presiden RI Nomor 7 tahun 1998, mengenai kerjasama PDAM dengan Pihak Swasta dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

  Undang undang dan peraturan ini yang mendasari bisa operasinya PDAM, namun untuk Kabupaten Sitaro sebagai kabupaten Pemekaran, dimana PDAMnya masih menginduk ke Kabupaten kepulauan Sangihe, tarif air diatur oleh Kabupaten Sangihe, sehingga pemerintah kabupaten Sitaro sulit untuk melakukan pembenahan di kabupaten Sitaro

  Dengan demikian perlu dilakukan kerjasama pemerintah Kabupaten Sangihe dan Kabupaten Sitaro, agar masing masing pemerintah mempunyai peran terhadap kelangsungan penyediaan air minum di kabupaten Sitaro.

8.3. Organisasi

8.3.1. Bentuk Badan Pengelola

  Apabila akan dibentuk organisasi pengelola air minum secara tersendiri, maka perlu badan hukum yang memadai sesuai dengan kondisi daerahnya, mengingat di kepulauan Sitaro ini sistem penyediaan air minum tidak mungkin berkembang dengan pesat, konsultan mengusulkan untuk tidak membentuk badan baru di Kabupaten Sitaro

  Apabila diperlukan untuk membentuk organisasi baru perlu dilakukan pentahapan pembentukan organisasi yaitu sebagai berikut: a) Membentuk UPTD (Unit Pelayanan Teknis Daerah), apabila UPTD ini berjalan dengan baik, maka dapat dibentuk BLU b) Membentuk BLU (Badan Layanan Umum) untuk pelayanan air minum di

  Sitaro

  c) Kemudian membentuk PDAM Kabupaten Sitaro Jenis dan bentuk kelembagaan sebagai pengelola SPAM dari sebuah sistem penyediaan air minum yang dibangun sangat bergantung pada kemampuan karakteristik daerah. Dengan kata lain kelembagaan SPAM pada suatu daerah adalah bersifat kondisional sehingga jenis dan bentuk lembaga pengelola dari suatu daerah dengan daerah lain tidak selalu sama. Namun ada hal sangat mendasar yang harus dipenuhi untuk setiap pilihan yang diambil. Lembaga pengelola harus dapat beroperasi dengan baik dan berkelanjutan dalam melaksanakan layanan air minum pada konsumen atau pelanggan. Menurut PP No. 16 tahun 2005 disebutkan bahwa bentuk alternatif kelembagaan pengelolaan SPAM: BUMD (Badan Usaha Milik Daerah /PDAM), BUMN (Badan Usaha Milik Negara), BUS (Badan Usaha Milik Swasta), Koperasi, BLU (Badan Layanan Umum), KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). Surat Edaran Dirjen Cipta Karya No. 01/SE/DJCK/2008, bagi SPAM

  IKK yang dibangun di kabupaten yang mempunyai PDAM sehat, maka pengelolaannya diarahkan ke PDAM. Namun bagi SPAM IKK yang dibangun di kabupaten dengan PDAM kurang sehat/sakit dan daerah. kabupaten pemekaran yang belum terbentuk PDAM maka diperlukan alternatif lembagapenyelenggara. Alternatif pemilihan lembaga penyelenggaraan

  SPAM mengacu pada jenisbarang layanan, dan kondisi sebagai berikut:

  Untuk penyelenggara berbentuk koperasi atau badan usaha swasta, berdasarkan PP16/2005 dapat berperan serta dalam penyelenggaraan pengembangan SPAM pada daerah,wilayah, atau kawasan yang belum terjangkau pelayanan UPTD, BLUD, dan BUMD/BUMN.

  

Perbandingan Pengelolahan dari PDAM, UPTD dan BLUD

8.3.2. Struktur Organisasi

  Sruktur Organisasi PDAM, yang mengelola air minum di Kabupaten Sitaro pada saat ini dapat dikatakan baik. PDAM kedepannya merupakan sektor/unit bisnis strategis (SBU) yang sangat menjanjikan bagi Pemerintah. Terlihat dari Perencanaan Sistem dengan sistem gravitasi yang memiliki biaya opersional sangat minim dan kedepannya akan ada pembagian zona pelayanan.

  Organisasi saat ini perlu dilakukan perkuatan terhadap sumber daya manusianya, agar kinerja lebih baik, atau diberikan pelatihan yang berhubungan dengan kinerja PDAM dalam sistem penyediaan air minum. Kelembagaan penyelenggara meliputi struktur organisasi dan penempatan tenaga ahli sesuai dengan latar belakang pendidikannya mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku. Pengelolaan SPAM dilaksanakan apabila prasarana dan sarana SPAM yang telah terbangun siap untuk dioperasikan dengan membentuk organisasi penyelenggara SPAM. Pelayanan air minum merupakan komponen yang strategis dalam pembangunan dan merupakan salah satu entry point dalam penanggulangan kemiskinan. Pengembangan dan pelayanan air minum adalah untuk meningkatkan pelayanan air minum di perdesaan maupun perkotaan, khususnya bagi masyarakat miskin di kawasan rawan air dan meningkatkan keikutsertaan swasta dalam investasi pembangunan prasarana dan sarana air minum di perkotaan melalui suatu pendekatan organisasi pengembangan kelembagaan air minum.

  

8.3.3. Penyesuaian Implementasi Organisasi Sesuai Dengan Pengembangan

Sistem

  PDAM Siau, terus berupaya untuk memperbaiki kualitas pelayanan dan sumber daya manusianya dengan penyesuaian penyesuaian sistem pelayanan air minum dan susunan organisasinya, yang terus disesuaikan dan dikembangkan dengan pengembangan sistem air minum kedepannya, dan perubahan serta kemajuan teknologi, Penyesuaian penyesuaian ini harus dilakukan oleh PDAM, karena dengan susunan organisasi dan permasalahan yang ada saat ini masih belum mampu untuk mengatasi masalah seperti:

   Struktur organisasi yang tidak dinamis  Beban kerja yang tidak optimal

   PDAM belum melakukan efisiensi secara maksimal  Belum dapat memaksimalkan utilitas  Pelayanan kepada masyarakat belum merata  Kelestarian lingkungan tidak terjaga dengan baik

  Rencana pengembangan sistem penyediaan air minum Kabupaten Halmahera Utara, dengan membangun IPA dan jaringan distribusi utama serta pengoptimalan keberadaan sumber air baku. Wilayah pelayanan pengembangan SPAM meliputi Wilayah Siau.

  Investasi yang dibutuhkan dalam pengembangan SPAM ini cukup besar. Biaya tersebut bisa diperoleh dari beberapa sumber, seperti dari Pemerintah

  Pusat,Pemerintah Provinsi, pihak ketiga/swasta atau kerja sama antara Pemerintah Provinsi denganPemerintah Kabupaten, atau kerjasama dengan pihak swasta. Beberapa model pengelolaanair minum di Kabupaten Halmahera Utarabisa diterapkan. Namun penerapannya sangatbergantung dari kesepakatan para stakeholder (pemangku kepentingan) yang akanmembiayai pengembangan dan pembangunan SPAM tersebut. Pendanaan dapat sajaditanggung sepenuhnya/sebagian oleh Pemerintah Provinsi, atau ada pihak ketiga/swastayang akan ikut mendanai proyek ini. Alur pikir pembangunan dan pengelolaan SPAM Siau dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

  

Struktur Organisasi Penyelenggaraan SPAM

  Struktur Organisasi Sistem Air Minum Yang Dikelola Pemerintah Desa Struktur Organisasi Sistem Air Minum Yang Dikelola BPD

  

Struktur Organisasi Sistem Air Minum Yang Sumber Airnya Dari PDAM

dan Dikelola BPD

8.4. Sumber Daya Manusia

  Sumber daya manusia yang tersedia sangat tidak memadai karena pendidikannya tidak berhubungan dengan pelayanan air minum, hal ini di mengerti karena lokasi kecamatan Siau jauh perlu perjalanan 6jam menggunakan kapal dari Menado.

  Perlu peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia hubungan kerja dan koordinasi antar bagian harus ditingkatkan dan diselaraskan (sinergi), hal ini perlu dilakukan karena untuk mempersiapkan pengembangan organisasi baru apabila PDAM akan dikembangkan.

  Untuk meningkatkan pendapatan PDAM, PDAM perlu melakukan kajian terhadap sambungan potensial yang paling dominan dalam menghasilkan pendapatan terbesar. Unit tersebut benar benar dikelola secara profesional, baik oleh PDAM maupun pihak lain yang melakukan kerjasama.

  8.4.1. Jumlah

  Jumlah pegawai yang ada di Siau pada saat ini berjumlah 8 orang, termasuk kepala urusan unit Siau dan Tagulandang, termasuk yan baca meter.

  8.4.2. Kualifikasi

  Kualifikasi pegawai yang ada di pulau Siau pada saat ini berjumlah 8 orang, dengan kualifikasi SLTA dan SLTP, sehingga sulit untuk mengelola air minum di pulau Siau ini.

8.4.3. Pelatihan

  Pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan personil PDAM yang ada di pelau Siau dan Tagulandang adalah sebagi berikut: o Pelatihan tentang mekanikal elektrikal, karena soistem yang direncanakan untuk Siau ini, banyak menggunakan pompa; o

  Pelatihan manajemen pengelolaan, sehingga asset yang telah dibangun dapat dipelihara dengan baik, tidak dibiarkan rusak;

BAB IX KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

  9.1 Umum

  1. Maksud pelaksanaan pekerjaan penyusunan Rencana Induk Pengembangan SPAM Pulau Siau ini ditujukan sebagai upaya pengembangan pelayanan air minum di Pulau Siau untuk jangka Pendek dan panjang (15 - 20 tahun) berikut proporsi dan pola pembiayaan dana pembangunan dan investasi yang diperlukan.

  2. Perencanaan pengembangan SPAM Kabupaten Kepulauan Sitaro dalam jangka panjang perlu memperhatikan berbagai aspek secara komprehensif dan terpadu dengan situasi dan kondisi lingkungan Kabupaten. Oleh karenanya periode perencanaan pengembangan SPAM ini harus dikaji ulang minimal setiap 5 tahun atau dapat dirubah sewaktu- waktu bila ada hal-hal khusus dengan memperhatikan perkembangan sesuai RTRW Kabupaten.

  3. Dokumen Rencana Induk Pengembangan SPAM Kabupaten Kepulauan Sitaro ini dalam hal pemanfaatan sumber air baku potensial sesuai kebijakan Pemerintah Kabupaten c.q. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) diarahkan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang terletak di wilayah administrasi Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

  9.2 Program Pengembangan SPAM Kabupaten Kepulauan Sitaro

  1. Pulau Siau, terletak di pulau yang kecil, jauh dari ibu kota propinsi, sehingga menyebabkan sulitnya ketersediaan air baku di wilayah ini.

  2. Wilayah ini penduduk sangat mendambakan air minum yang disediakan oleh pemerintah daerah.

  3. Keterbatasan sumber daya manusia di wilayah yang terpencil dan jauh, sehingga perlu diadakan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan untuk pengelolaan SPAM di wilayah ini.

  4. Pengelolaan air minum non perpipaan, saat ini ditangani oleh masyarakat sendiri, karena wilayah ini tidak terjangkau oleh PDAM.

9.3 Saran Tindak Lanjut

  1. Dengan melihat potensi sumber air baku yang cukup banyak maka perlu dilakukan peningkatan pelayanan dengan memperluas cakupan pelayanan.

  2. Perlu dipikirkan untuk pelanggan yang saat ini mengelola SPAM sendiri, dan tidak bayar, apabila akan dikelola oleh PDAM mereka harus membayar, sehingga perlu diberi penyuluhan dan pengertian terhadap investasi dan biaya pengelolaan SPAM di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

  Lampiran 1 Survey PDAM Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  1.1 Kantor PDAM Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  1.2 Instalasi PDAM Kab. Kep. Siau Tagulandang Biaro

  Lampiran 2 Survey Mata Air Akelabo Kelurahan Akesimbeka Kecamatan Siau Timur

  2.1 Sumber Mata Air Akelabo Kec. Siau Timur

  2.2 Tempat Permandian Akelabo Kec. Siau Timur

  Lampiran 3 Survey Mata Air Karalung Kecamatan Siau Timur

  3.1 Aliran Sungai Mata Air Karalung Kec. Siau Timur

  3.2 Pipa Air yang Bocor dari Sumber Air Karalung Kec. Siau Timur

  Lampiran 4 Survey Mata Air Kanang Kecamatan Siau Timur

  4.1 Mencari Sumber Mata Air di Sela-Sela Batu Kampung Kanang

  4.2 Bak Penampung Utama Mata Air Kanang Kec. Siau Timur

  Lampiran 5 Survey Mata Air Kampung Beong Kecamatan Siau Tengah

  5.1 Sumur Bor Kampung Beong Kec. Siau Tengah

  5.2 Bak Penampung Dari Sumber Air Beong Kec. Siau Tengah

  Lampiran 6 Survey Mata Air Kampung Lai Kecamatan Siau Tengah

  6.1 Rumah Mesin dan Bak Penampung Mata Air Lai Kec. Siau Tengah

  6.2 Bak Penampung Air Hujan di Kampung Lai Kec. Siau Tengah

  Lampiran 7 Survey Mata Air Kampung Peling Kecamatan Siau Barat

  7.1 Sungai Kampung Peling Kec. Siau Barat

  7.2 Jalan Masuk Menuju Mata Air Peling Kec. Siau Barat

  Lampiran 8 Survey Mata Air Peling Sawang Kecamatan Siau Barat

  8.1 Sumur Air Bersih di Kampung Peling Sawang Kec. Siau Barat

  8.2 Aliran Sungai kampung Peling Sawang Kec. Siau Barat

  

Lampiran 9

Survey Mata Air Burake-Talawid Kecamatan Siau Barat Selatan

  9.1 Bak Penampungan Mata Air Burake Kec. Siau Barat Selatan

  9.2 Profil Tank Untuk Masyarakat Burake-Talawid Kec. Siau Barat Selatan

  

Lampiran 10

Survey Mata Kampung Hiung Kecamatan Siau Barat Utara

  10.1 Sumber Mata Air di Bebatuan Kampung Hiung Kec. Siau Barat Utara 10. 2 Sumber Mata Air di Tepi Laut Kampung Hiung Kec. Siau Barat Utara

  

Lampiran 11

Survey Mata Kampung Kiawang Kecamatan Siau Barat Utara

  11.1 Sumber Air di Bebatuan Kampung Kiawang Kec. Siau Barat Utara

  11.2 Akses Jalan Menuju Mata Air kampung Kiawang Kec. Siau Barat Utara

  

Lampiran 12

Survey Mata Air di Kampung Mahuneni Kecamatan Siau Barat Selatan

  12.1 Sumur Air Tawar Ditepi Laut Kampung Mahuneni Kec. Siau Barat Selatan

  12.2 Sumber Mata Air di Kampung Mahuneni Kec. Siau Barat Selatan

  Lampiran 13 Survey Mata Air Danau Kapeta Kecamatan Siau Barat Selatan

  13.1 Reservoar Penampung Sumber Air dari Danau Kapeta

  13.2 Sistem Penyediaan Air Minum Danau Kapeta

  

Lampiran 14

Survey Mata Air Balirangen Kecamatan Siau Timur Selatan

  14.1 Aliran Sungai dari Mata Air Balirangen Kec. Siau Timur Selatan

  14.2 Akses Jalan Menuju Mata Air Balirangen Kec. Siau Timur Selatan

  Lampiran 15 Survey Mata Kampung Lia I Kecamatan Siau Timur

  15.1 Sumber Mata Air Kampung Lia I Kec. Siau Timur

  15.2 Sumber mata Air Kampung Lia I di Tepi Laut

  Lampiran 16 Survey Mata Air Kampung Buise Kecamatan Siau Timur

  16.1 Sumur Bor Kampung Buise Kec. Siau Timur

  16.2 Profil Tank Penampung Sumber Air Sumur Bor Kampung Buise

  Lampiran 17 Survey Mata Air Kampung Pahepa Kecamatan Siau Timur Selatan

  17.1 Sumber Air di kampung Pahepa Kec. Siau Timur Selatan

  17.2 Sumur Bor Di Kampung Pahepa Kec. Siau Timur Selatan

  Lampiran 18 Survey Mata Air Kampung Tapile Kecamatan Siau Timur Selatan

  18.1 Sumber Air Di kampung Tapile Kec. Siau Timur Selatan

  18.2 Kegiatan Survey di Kampung Tapile Kec. Siau Timur Selatan

  

Lampiran 19

Survey Mata Air Kampung Lehi Kecamatan Siau Barat

  19.1 Rumah Pompa Sumber Air di Kampung Lehi Kec. Siau Barat

  19.2 Akses Jalan Menuju Mata Air Kampung Lehi Kec. Siau Barat Utara

  

Lampiran 20

Survey Mata Air Kampung Kinali Kecamatan Siau Barat Utara

  20.1 Sumber Air Diantara Batu Kampung Kinali Kec. Siau Barat Utara

  20.2 Kegiatan Survey mata Air di Kampung Kinali Kec. Siau Barat Utara

  Foto Rapat

  Baliho Rapat Materi Slide Foto Rapat

  Pembawa Acara Laporan Pelaksanaan Kegiatan Foto Rapat

  Doa Pembukaan Pembukaan/Sambutan Foto Rapat

  Pemaparan Materi Diskusi/Tanya Jawab

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH PADA KECAMATAN PESANTREN KOTA KEDIRI
0
45
2
IMPLEMENTASI PROGRAM PENYEDIAAN AIR MINUM BERBASIS MASYARAKAT (Studi Deskriptif di Desa Tiris Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo)
20
175
22
KANDUNGAN LOGAM AIR SUMUR DAN AIR PDAM DENGAN SISTEM PENDETEKSI KELAYAKAN AIR MINUM (ELEKTROLIZER AIR) DI KECAMATAN SUMBERSARI
0
9
18
KANDUNGAN LOGAM AIR SUMUR DAN AIR PDAM DENGAN SISTEM PENDETEKSI KELAYAKAN AIR MINUM (ELEKTROLIZER AIR) DI KECAMATAN SUMBERSARI
1
7
72
ANALISIS LUAS PRODUKSI AIR MINUM PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) WAYRILAU DI BANDARLAMPUNG
8
58
38
OPTIMASI DAN SIMULASI SISTEM PENYEDIAAN JARINGAN AIR BERSIH DI KECAMATAN KADEMANGAN KABUPATEN BLITAR
0
1
9
STUDI PENGEMBANGAN PENYEDIAAN AIR MINUM BALAI SELASA, KECAMATAN RANAH PESISIR KABUPATEN PESISIR SELATAN
0
0
9
DAUR ULANG AIR LIMBAH UNTUK AIR MINUM
1
1
129
RENCANA INDUK PENELITIAN STRATEGIS DAN PENGABDIAN MASYARAKAT
0
0
36
STUDI KELAYAKAN PENYEDIAAN AIR MINUM KOTA SURAKARTA PLANNING HORIZON 10 TAHUN (STUDI KASUS : PDAM KOTA SURAKARTA)
0
0
6
RENCANA INDUK PENELITIAN (RIP) lppm unigal ac id
0
0
97
PENELITIAN CARA PENYEDIAAN AIR MINUM DI DAERAH PASANG SURUT RANTAU RASAU, JAMBI
0
0
12
PENELITIAN SARANA PENYEDIAAN AIR MINUM DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PENYAKIT DIARE PARA PEMULUNG DI PEMUKIMAN SEKITAR LPA BUDHI DI-IARMA, KELURAHAN SEMPER, JAKARTA UTARA
0
0
8
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN PENGABDIAN MASYARAKAT 2015-2039
0
0
53
RENCANA INDUK PENGEMBANGAN (RIP)
0
0
188
Show more