Sinopsis Cerita Novel Salah Asuhan beserta tahap tahapnya

 0  8  8  2018-03-13 21:38:52 Report infringing document

  

Sinopsis Cerita Novel Salah Asuhan

  Judul buku : Salah Asuhan Nama pengarang : Abdoel Moeis Penerbit : Balai Pustaka Ketebalan : 273 halaman Ada seorang anak lelaki yang bernama Hanafi.Ia adalah seorang pribumi asli Melayu yang berasal dari Solok,Sumatera Barat. Hanafi sudah ditinggal oleh ayahnya sejak ia masih kecil. Sejak kecil dia tinggal bersama ibunya bernama Mariam, yang berusaha gigih untuk memenuhi kelayakan hidup anaknya.

  Ketika Hanafi sudah beranjak kanak-kanak.Ia dikirim oleh ibunya ke luar Sumatera yaitu tepatnya ke Betawi untuk mengenyam pendidikan di HBS. Semua biaya pendidikan Hanafi ditanggung oleh ibunya seorang diri.Selama ia sekolah di HBS, Hanafi dititipkan pada keluarga Belanda.Sehingga dia selalu bergaul dengan kalangan Belanda.Ditambah lagi setelah ia tamat di HBS, ia bekerja di kantor departemen residen BB tempanya orang-orng Belanda.Jadi secara tidak langsung ia sudah mengikuti budaya orang-orang Eropa.khususnya Belanda. Dari lingkungan itulah, dia benci dan tak ingin menjadi orang Timur atau orang Bumiputera.Walaupun ia sendiri adalah orang Bumiputera.Akan tetapi, ia lebih suka berkebangsaan Belanda,menjadi bagian orang-orang Eropa.

  Pada saat dia sekolah di HBS, Hanafi bersahabat dengan seorang gadis Eropa yang sama-sama menetap di Solok.Gadis tersebut bernama Corrie du Bussee. Corrie merupakan gadis percampuran antara darah Eropa dari ayahnya Tuan du Bussee dan ibunya yang asli orang Bumiputera. Ibu Corrie sudah meninggal sejak ia kecil,dan ia hanya tinggal bersama ayahnya orang Prancis yang sudah pensiun dari jabatan arsitek.Di masa tua, ayah Corrie hanya bertapa di rumahnya, tanpa bergaul dengan orang diluarnya,namun ayah Corrie tetap memiliki budi luhur ketika hendak ada tamu di rumahnya. Semakin hari tali persahabatan Hanafi dengan Corrie anaknya Tuan du Bussee semakin terjalin erat.Ketika mereka sama-sama pulang ke Solok, mereka sering bersama- sama hanya untuk bersenda gurau atau bersenang-senang.Namun rasa persahabatan dan persaudaraan Hanafi kepada Corrie berubah menjadi rasa cinta selayaknya pemuda yang jatuh hati pada seorang gadis yang berparas cantik,terpelajar,dan berdarah Eropa seperti kriteria yang ia inginkan.Hanafi sering bertamu ke rumah Corrie, namun ayahnya tidak suka jika sampai putri kesayangannya suka dan terlebih lagi menikah dengan seorang bumiputera yang akan membawa kehinaan bagi anaknya orang Barat karena berhubungan dengan orang Timur. Semakin sering Corrie dan Hanafi bertemu, Hanafi semakin yakin bahwa perasaannya pada Corrie adalah cinta.Hanafi tidak mampu lagi membendung rasa tersebut. Pada sebuah pertemuan di rumah Hanafi,ia membulatkan keputusan untuk mengutarakan perasaannya kepada Corrie, namun Corrie malah marah karena tanpa seizinnya, Hanafi berani melakukan hal yang tidak sopan terhadapnya.Karena kemarahannya terhadap Hanafi, Corrie memutuskan untuk meninggalkan Hanafi di Solok.Ia pun pergi ke Betawi melanjutkan pendidikannya dengan meninggalkan sebuah surat perpisahan untuk Hanafi.

  Setelah Hanafi ditinggal oleh Corrie, ia menjadi sakit-sakitan selama beberapa minggu.Mariam sebagai seorang ibu yangmencemaskan anaknya.Ia berniat mencarikan perempuan lain yang lebih baik dari Corrie.Gadis yang ingin dijodohkan ibunya dalah berbagai nasihat dari ibunya,Hanafi mau menikah dengan Rapiah dengan berbagai syarat.Syarat yang diajukan Hanafi selalu berkenaan dengan tradisi minangkabau yang tak perlu diikutsertakan dalam adat pernikahannya.

  Dua tahun sudah Hanafi menjalani rumah tangganya dengan Sapiah.Ia memperoleh anak yang diberi nama Syafei.Selama dua tahun,Hanafi selalu bertindak kekerasan dan emosional terhadap ibunya,dia selalu menyalahkan ibunya terhadap pernikahan paksa tersebut.Bahkan Hanafi juga membentak-bentak Ibunya, menghina ibunya, dan memperlakukan ibunya sebagai orang lain.Sehingga ia menjadi anak yang durhaka terhadap ibunya.Rapiah juga turut menjadi korban.Setiap harinya cucuran air mata selalu jatuh dari pelupuk mata Rapiah.Ia sungguh diperlakukan dengan kekerasan, dihina, direndahkan, dan selalu diperbandingkan dengan Corrie yang sempurna dalam segala hal.Sampai pada suatu ketika,Hanafi pergi meninggalkan ibunya, istrinya serta anaknya selama dua minggu.Hanafi pergi ke Betawi untuk berobat karena digigit oleh anjing gila ketika ia berdebat dengan ibunya. Selama dua minggu di Betawi,ia bertemu dengan Corrie di persimpangan jalan.Ia mendapati Corrie yang masam mukanya dan sedang dilanda duka.Corrie menceritakan dukanya tentang kepergiannya ayahnya.Saat itu, Hanafi memanfaatkan kesempatan untuk bersenang-senang dengan Corrie.Setelah hubungan mereka terjalin akrab lagi,Hanafi dan Corrie bersepakat untuk menikah.Corrie pun mau,karena ia tidak mau terikat di asrama, ayahnya pun sudah tidak ada lagi, jadi dia butuh seseorang untuk menjaganya.

  Di sisi lain, Rapiah selalu setia menunggu suaminya mengirim surat untuk sekedar memberi kabar atau pulang dari Betawi.Namun setelah sekian hari menunggu, secara terang- terangan Hanafi mengirim surat perceraian untuk Rapiah.Dengan berat hati,Rapiah harus menerima itu semua dengan lapang dada.Ibu Hanafi juga merasa sedih karena kelakuan anaknya yang durhaka dan tidak punya perasaan.Mereka akhirnya memutuskan untuk pindah dari Solok ke Koto Anau.

  Setelah dua tahun Hanafi dan Corrie menjalani hidup bersama.Ternyata mereka menjalani rumah tangga yang tidak harmonis dan penuh pertengkaran.Tiap harinya Corrie mendapat perlakuan yang kasar dari Hanafi.Hanafi selalu memarahi dan menyalahkan Corrie istrinya.Akhirnya mereka bercerai karena kesalahpahaman Hanafi yang tak terbukti.Hanafi menutup Corrie berselingkuh karena didapatinya Corrie memakai perhiasaan baru.Corrie pergi meninggalkan rumah mereka dan tinggal di tempat penginapan.Namun setelah Corrie pergi meninggalkan rumah, Hanafi sadar akan kesalahannya dan mencari tahu keberadaan Corrie.Namun Corrie pergi dan bekerja pada sebuah tempat Yatin Piatu di Semarang.Ia dibawa oleh Nyonya Van Dammen ke Semarang untuk menghindar dari Hanafi.

  Hanafi terus mencari-cari Corrie dan selama itulah hidup Hanafi menderita karena juga dia berhenti dari pekerjaannya.Akhirnya Hanafi menemukan Corrie di Semarang.Disana dia mendapat berita dari Nyonya Van Dammen, bahwa Corrie menderita Kolera dan hidupnya tidak lama lagi.Dengan segera, Hanafi bergegas untuk bertemu Corrie di rumah sakit, dan pada hari itulah Corrie meninggalkan Hanafi untuk selama-lamanya. Hidup Hanafi bertambah menderita sepeninggalan Corrie.Hanafi kemudian insaf, ia sadar bahwa semua yang dilakukan terhadap kedua istrinya salah.Dia sadar akan kelakuannya yang lewat batas dan tak mampu membina rumah tangga yang harmonis dengan isteri-isteri ibunya, Rapiah, dan anaknya Syafei.Dia juga ingin meminta maaf atas semua kesalahannya,terutama dengan ibunya.Ia telah durhaka dengan Ibunya.Dia tahu bahwa dia tidak akan diterima oleh masyarakat setempat,karena kelakuannya dahulu yang seperti orang Anaknya.Dia meminta maaf kepada Ibunya atas segala dosa.Dengan lapang dada, Ibu Hanafi memaafkan semua kesalahan Hanafi.Di Solok,Hanafi juga sempat berkunjung ke tempat yang penuh kenangan ketika bersama Corrie dulu.Namun Hanafi dan Ibunya tidak tinggal lagi di Solok,melainkan mereka tinggal di Koto Anau.Di Koto Anau, Hanafi selalu mengurung diri di kamar sampai pada suatu ketika dia minum empat butir sublimat, untuk mengakhiri hidupya yang tiada guna itu.Jiwa Hanafi pun melayang seketika pada saat itu.

  B.Unsur-Unsur Intrinsik dalam Novel Salah Asuhan

  1. Tema Novel Salah Asuhan bertema tentang : 1. Anak yang durhaka kepada Ibu.

  2. Pertentangan antara budaya Barat dengan budaya Timur.

  3. Pribumi Indonesia yang kebarat-baratan.

  4. Pribumi Indonesia yang tidak suka budayanya sendiri.

  5. Lelaki yang keras dan emosional.

  6. Kecintaan pemuda indonesi terdapat gadis Eropa

2.3 Unsur intrinsik “Salah Asuhan”

  Unsur-unsur intrinsik adalah unsur-unsur pembangun karya sastra yang dapat ditemukan di dalam teks karya sastra itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud analisis intrinsik adalah mencoba memahami suatu karya sastra berdasarkan informasi-informasi yang dapat ditemukan di dalam karya sastra atau secara eksplisit terdapat dalam karya sastra. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa suatu karya sastra menciptakan dunianya sendiri yang berberda dari dunia nyata. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia karya sastra merupakan fiksi yang tidak berhubungan dengan dunia nyata. Karena menciptakan dunianya sendiri, karya sastra tentu dapat dipahami berdasarkan apa yang ada atau secara eksplisit tertulis dalam teks tersebut. Pada umumnya para ahli sependapat bahwa unsur intrinsik terdiri dari:

a. Tema Tema merupakan sesuatu yang menjadi dasar cerita atau ide dan tujuan utama cerita.

  Tema biasanya selalu berkaitan dengan pengalaman-pengalaman kehidupan sosial, cinta, ideologi, maut, religius dan sebagainya. Dalam sebuah cerita tema tidak disebutkan secara langsung tetapi melalui pemahaman dari isi cerita kita dapat menyimpulkan sebuah tema yang terdapat dalam cerita. Tema yang disajikan dalam roman ini adalah benturan budaya

b. Latar/Setting

  Latar /setting dalam sebuah karya sastra adalah keterangan mengenai waktu, ruang adalah pada saat zaman colonial Belanda dimana suasananya adalah kesenjangan budaya dan derajat bangsa yang menjajah dan yang dijajah.

  1. Solok : tempat tinggaln Hanafi bersama ibu dan istrinya, Rafiah.

  2. Betawi : HBS tempat Corrie melanjutkan sekolah setelah tamat belajar dari sekolah rendah (h. 11)

  3. Koto Anau : kampungnya Hanafi (h. 24)

  4. Bonjol : tempat tinggal keluarga Rafiah (h. 77)

  5. Semarang : Rumah Sakit Paderi tempat Hanafi dirawat karena sakit (h. 232)

  6. Gang pasar baru jalan Gunung Sari, Jembatan Merah, Jakarta: tempat bertemunya kembali antara Corrie dengan Hanafi (h. 109).

c. Alur

  Alur merupakan tahapah-tahapan peristiwa yang dihadirkan oleh para pelaku dalam sebuah cerita, sehingga membentuk suatu rangkaian cerita. Dikatakan alur karena di dalamnya ada hubungan sebab-akibat, tokoh, tema, atau ketiganya (Abdul Rozak Zaidan: 2007). Alur dapat kita perhatikan dari rangkaian-rangkaian peristiwa yang dibangunnya. Dengan demikian untuk mengetahui bagaimana alur sebuah cerita rekaan, kita perlu menyimak rangkaian peristiwa yang terdapat dalam karya yang bersangkutan, diantaranya:

1. Tahap pengenalan

  Tahap pengenalan adalah tahap peristiwa dalam suatu cerita yang memperkenalkan tokoh atau latar cerita. Yang diperkenalkan seperti nama, asal, ciri fisik, dan sifatnya. Tahap pengenalan dalam novel ini terdapat pada awal bab 1-3, terlihat pada kutipan berikut ini yang memperkenalkan tokoh Corrie seorang gadis bangsa Barat yang amat cantik parasnya (h. 1) dan Corrie juga merupakan gadis yang mudah bergaul (h. 20). Perkenalan tokoh Hanafi adalah seorang tokoh laki-laki golongan Bumuputra yang masuk pada golongan bangsa Eropa (h. 3). Perkenalan tokoh Tuan du Bussee ayah Corrie, seorang Prancis yang sudah pensiun dari jabatan arsitek. Di hari tuanya ia sudah hidup menyisihkan diri sebagai seorang bertapa. Tuan du Bussee juga mencari kesenangannya dengan berburu. Perkenalan semati nyonya, yaitu seorang perempuan Bumuputra di solok, yang sudah dinikahi Tuan du Bussee di gereja (h. 10).

  Tahap pengenalan latar tempat dalam novel ini terdapat pada bab 1-2, terlihat pada kutipan berikut ini yang memperkenalkan latar tempat bermain tennis, yang dilindungi oleh pohon-pohon ketapang sekitarnya, masih sunyi (h. 1). Setelah Hanafi berjalan pulang, masuk ke ruang tengah, tempat ayahnya sedang duduk minum teh sambil membaca Koran (h. 13).

  Tahap konflik adalah ketegangan atau pertentangan antara dua kepentingan atau kekuatan di dalam cerita. Pada tahap konflik dimulai pada saat Corrie menolak cinta Hanafi dan Hanafi terpaksa menikah dengan Rafiah. Kutipan surat Corrie saat ia menolak cinta Hanafi:

  “mudah-mudahan air garam yang membatasi kita, akan berkuasa melunturkan dan menyapu kenangan-kenangan atas segala sesuatunya yang terjadi di masa yang lalu. Jangan kau sangka, bahwa aku menceraikan diri dari engkau dengan masygul hati atau dengan menaruh dendam, tidak, Hanafi, hanya sedilah hatiku atas perbuatanmu hamper menjerumuskan aku ke dalam jurang itu. Jika engkau menghendaki perpindahanku juga buat masa yang akan dating, putuskanlah pertalian dengan aku, lahir-batin, dan jauhilah aku sejauh-jauhnya” (h. 57-58).

  Kutipan kalimat ketika Hanafi terpaksa menikah dengan Rapiah: “Baiklah, Bu! Selesaikan oleh ibu. Padaku tak ada kehendak, tak ada cita-cita.

  Hanya patutlah ibu menjaga supaya jangan berubah aturan dahulu; bukan kitalah yang dating, melainkan dia. Perlu dijaga serupa itu; buat masa yang akan datang. Sebab perempuan itu tak akan dapatlah mengharap liefde dari padaku. Kuterima datangnya karena plicht saja (h. 71).

  3. Tahap komplikasi atau rumitan

  Konflik mulai muncul pada saat Hanafi menikah dengan Corrie, lalu kemudian berkembang ketika dalam pernikahan tersebut terjadi perselisihan akibat ketersisihan mereka dari pergaulan.

  4. Tahap klimaks

  Klimaks terjadi saat Corrie meninggal dunia. Hanafi datang ke rumah sakit dan ia pun melihat Corrie yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Pada saat itulah keadaan Corrie sedang memburuk dan Hanafi ketika itu meminta maaf padanya, kutipan kalimatnya seperti: “Hanya aku yang banyak dosa kepadamu, Cor! Engkau tak ada berdosa kepadu.

  Sekarang engkau tak boleh meninggalkan aku! Aku tak suka engkau tinggalkan!”. Saat itu

  Corrie terdiam dan sempat pingsan, namun kemudian sadar kembali, lalu berkata, selamat tinggal, Han! Kita ….” (h. 229-230)

  5. Tahap krisis

  Krisis terjadi saat Hanafi mulai merindukan kampung halamannya, namun ia masih belum yakin apakah ia benar-benar merindukan dan ingin kembali ke kampong halamannya,

  berkubur pula di sebelah istrinya itu! Ah rindunya ke tanah airnya, keinginannya hendak bertemu, sekali lagi dengan ibunya, tidak pula tertahan-tahan. Maka terbayanglah pula segala keadaan Solok dalam kenang-kenangannya”.

  6. Tahap leraian

  Tahap peleraian terlihat pada saat Hanafi memutuskan untuk pulang kembali ke kampung halamannya.

  7. Tahap penyelesaian

  Tahap penyelesaiannya pada saat Hanafi menyadari bahwa sikapnya selama ini adalah keliru dan berpesan kepada ibunya agar memelihara anaknya supaya tidak tersesat seperti dia.

  Namun, karena dia merasa sangat kehilangan Corrie dan Hanafi tidak dapat hidup tanpanya, akhirnya dia bunuh diri.

D. Tokoh dan Penokohan

  Yang dimaksud dengan tokoh adalah individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakukan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan. Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita.

  Tokoh sentral dalam novel ini yaitu Hanafi yang merupakan pemeran tokoh laki-laki dari golongan Bumiputra yang benci pada bangsanya, namun lebih dekat dan banyak bergaul dengan bangsa Barat, sehingga banyak hal yang dihilangkan olehnya termasuk adat yang sudah menjadi cirri khas Minangkabau ketika pada saat menikah (lihat h. 75).

  Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu

  a. Tokoh andalan. Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh sentral (protagonis atau antagonis). Tokoh andalan dalam novel ini adalah Corrie, Ibunya Hanafi, dan Rafiah.

  b. Tokoh tambahan. Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita. Tokoh tambahannya adalah Tuan du Busse dan Piet.

  c. Tokoh lataran. Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja. Tokoh latarannya adalah Tuan dan nyonya Brom (administatur afdelingsbank), nyonya Bergan (guru sekolah), minah (teman Corrie), dokter, dukun, dan Suze (sahabat

  Penokohan

  Watak tokoh Hanafi, Corrie, ibunya dan Rafiah disajikan dengan metode analitis langsung atau diskursif yaitu memaparkan watak tokoh secara langsung.

  1. Hanafi : tokoh seorang anak laki-laki yang keras kepala, sombong, terlalu membanggakan budaya Barat, dan mengimitasi bangsa Belanda.

  2. Corrie: merupakan gadis bependidikan yang mudah bergaul, tetapi tidak mau bergaul dengan orang Bumiputra, kecuali dengan Hanafi dan orang-orang yang serupa tabiat seperti mamanya yang pandai berbudi, yang sopan santun, dan yang mau bergaul dengan orang Eropa (h. 20).

  3. Ibu Hanafi : seorang ibu yang sangat sabar dalam mendidika anaknya yang beringas dan tidak ada kesopan santunannya itu. Padahal pada mulanya yang diharapkan ibunya itu Hanafi menjadi anak yang berpedidikan yang pandai, dan dapat melebihi kaum keluarganya dari kampong (h. 24).

  4. Rafiah : selain pandai memasak, menjahit, dan , merenda. Rafiah juga berperangai baik, hati tulus, dan sabar (h. 66).

  d. Sudut Pandang

  Sudut pandang yang digunakan roman Salah Asuhan adalah sudut pandang orang ketiga yang serba tahu di dalam cerita tersebut, contohnya ada kalimat seperti ini: “ itulah

  yang hendak diselesaikan oleh orang tua, waktu ia memberani-beranikan hati pula bertukar pikiran dengan si anak yang durhaka itu” (h. 33).

  e. Amanat

  Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Sebagaimana tema amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu terdapat pada kutipan kalimat di bawah ini:

  1. Amanat ibu Hanafi terhadapnya yaitu tidaklah ia akan berasa, bahwa dirinya sudah diperganduh-ganduhkan buat membayar utangmu pada ayahnya, karena secara adat Minangkabau yang diketahuinya ialah engkau yang harus menerima pusaka ayahnya, dan bukanlah dia, yang akan diketahuinya pula ialah bahwa engkau sudah menunjukkan murah hatimu, suka menerima dia yang bodoh serta hina menjadi istrimu. Pada hemat ibu, perkawinan yang secara itulah yang akan menyenangkan hidupmu, teristimewa karena ketinggian hatimu. Pantang kelintasan, pantang ketindihan oleh kata. Asal engkau pandai membalas budi dengan budi, selamatlah engkau seumur hidupmu (h. 69-70).

  2. Amanat ibu Hanafi terhadapnya yaitu menjelaskan bahwa benar kata orang tua-tua, jika kail panjang sejengkal jangan lautan hendak diduga (h. 64).

  Amanat dapat pula disampaikan secara eksplisit yaitu terdapat pada kutipan kalimat di bawah ini:

  1. Nasehat dari ayahnya, pendeknya yakinlah ia, bahwa secara pergaulan hidup dan perasaan sesama manusia sekarang, akan lebih melaratnya kawin campuran itu, daripada manfaatnya

  2. Nasehat ayahnya kepada Corrie pada kalimat kutipan: “Corrie! Anakku! Dengarlah baik- baik. Tadi sudah papa katakana perasaan papa, tapi di dalam hal yang sangatn penting ini buat kehidupan, wajiblah pula kita kemukakan pikiran yang sehat (h. 19).

f. Gaya Bahasa

  Gaya bahasanya seperti ciri Balai Pustaka yang menggunakan gaya bahasanya seragam (klise), banyak mempergunakan perumpamaan, peribahasa, dan pepatah di bawah ini:

  1. Dari kecil Hanafi sudah disekolahkan di Betawi, yaitu tidak dinantikan tamatnya bersekolah Belanda di Solok, melainkan dipindahkan ke ibu kota itu, karena kata ibunya ia tidak hendak kepalang menyekolahkan anak tunggal yang sudah kehilangan ayah itu. Sebab ibunya ada di dalam berkecukupan, dapatlah ia menumpangkan Hanafi di rumah orang Belanda yang parut- parut (h. 24)

  2. “sudah lama benar ibu hendak berhandai-handai dengan engkau, tapi kulihat engkau ada dalam kesempitan saja. Saat ini, sedang air mukamu jernih, keningmu licin, bolehlah ibu menuturkan niatku itu, supaya jangan menjadi duri dalam daging kesudahannya” (h. 26).

  3. Sejinak-jinaknya ayam, jika anaknya didekati manusia buaslah ia, hilanglah rasa takutnya kepada yang mendekati anaknya itu (h. 65).

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-03-13

Dokumen yang terkait

Sinopsis Cerita Novel Salah Asuhan beserta ta..

Gratis

Feedback