Pembinaan spiritualitas di program studi IImu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sebagai upaya membantu mahasiswa dalam menanggapi panggilannya sebagai katekis - USD Repository

Gratis

0
1
167
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PEMBINAAN SPIRITUALITAS DI PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA SEBAGAI UPAYA MEMBANTU MAHASISWA DALAM MENANGGAPI PANGGILANNYA SEBAGAI KATEKIS SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh : Ade Mardiana NIM : 071124020 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan kepada: Allah Bapa di Surga, Keluarga Besar Mateus Maman Sulaeman, seluruh mahasiswa IPPAK-USD dan para katekis di seluruh Indonesia iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO Berkat Kasih Karunia-Nya Ia telah memilih dan memanggil aku untuk menjadi seorang katekis untuk menyatakan Kristus kepada umat-Nya v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Skripsi ini berjudul PEMBINAAN SPIRITUALITAS DI PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA SEBAGAI UPAYA MEMBANTU MAHASISWA DALAM MENANGGAPI PANGGILANNYA SEBAGAI KATEKIS. Judul skripsi ini dipilih berdasarkan refleksi penulis terhadap pembinaan spiritualitas yang ada di Prodi IPPAK USD yang diproses selama empat tahun. Selain sebagai hasil refleksi, skripsi ini ditulis berdasarkan keingintahuan penulis mengenai peran pembinaan spiritualitas terhadap mahasiswa tingkat empat tahun ajaran 2011/2012 secara khusus pada panggilan mereka sebagai katekis. Pembinaan spiritualitas yang berlangsung di Prodi IPPAK USD merupakan bagian dari mata kuliah yang ada di Prodi sekaligus juga sebagai motor atau penggerak bagi mahasiswa agar memiliki spiritualitas dan panggilan hidup sebagai katekis. Spiritualitas yang dikembangkan adalah spiritualitas katekis. Pembinaan spiritualitas ini sangat penting bagi mahasiswa. Maka untuk mengetahui kontribusi pembinaan spiritualitas penting bagi mahasiswa penulis tempuh dengan mengadakan penelitian di lapangan. Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah kualitatif sedangkan metodenya adalah metode survey. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa tahun ke empat tahun ajaran 2011/2012. Instrumen yang penulis gunakan adalah kuesioner yang terbagi menjadi dua bagian yakni terbuka dan tertutup. Dalam penelitian tersebut terdapat tiga variabel dan tiga variabel tersebut menjadi sasaran penulis dalam penelitian. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa pembinaan spiritualitas memberikan kontribusi bagi mahasiswa yang secara khusus mahasiswa terbantu dalam menanggapi panggilannya sebagai katekis dan spiritualitas katekis bertumbuh dalam diri mahasiswa. Namun dalah hal kemantapan atau mantap menjadi seorang katekis belum dirasakan oleh mahasiswa. Hal tersebut menandakan belum sepenuhnya pembinaan spiritualitas memberikan kontribusi. Mengingat identitas mahasiswa adalah calon-calon katekis dan akan menjadi seorang katekis, kemantapan dalam hal panggilan sangat penting bagi mereka, maka pembinaan spiritualitas ini perlu ditingkatkan kembali agar semakin memberikan kontribusi bagi mahasiswa dalam memantapkan panggilannya sebagai katekis. Dalam rangka meningkatkan pembinaan spiritualitas ini, penulis mengusulkan program rekoleksi yang terintegrasi dengan keseluruhan pembinaan spiritualitas. Rekoleksi ini dilaksanakan pada akhir pembinaan spiritualitas yakni penutupan pembinaan spiritualitas. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT This small thesis entitled THE FORMATION OF SPIRITUALITY IN RELIGIOUS CATHOLIC EDUCATION DEPARTMENT SANATA DHARMA UNIVERSITY YOGYAKARTA AS EFFORT TO HELP STUDENTS IN RESPONDING THEIR VOCATION AS CATECHISTS. This title was chosen based on the reflection of the author on the formation of spirituality in Prodi IPPAK USD for four years. In addition as a result of reflection, this paper is written based on the author's curiosity about the role of the formation of spirituality for students in the fourth-year 2011/2012 teachings, especifically on their calls as catechists. The formation of spirituality that takes place in the Prodi IPPAK USD is a part of the existing courses in the department program as well as a motor for students to have spirituality and vocation as catechists. The spirituality is developed catechist spirituality. The formation of spirituality is very important for students. So to determine the contribution of the formation of spirituality for students, the author conducted a research. This type of research was qualitative while the method was survey method. The sample was a fourth-year students of the school year 2011 / 2012. Instrument that I used was a questionnaire that was divided into two parts, namely open and closed. In that study, there were three variables the formation of spirituality. The results of the research shows that contributes of the students, in responsding to the vocation as catechists and catechist spirituality has grown within the students. But the students have not fullyfelt as catechist. It shows that the formation of spirituality has not fully contributed yet. Given the identity of the students as candidates to become catechists, the call as catechist is very important to them, then the formation of spirituality needs to be improved in order to contribute to the students in establishing vocation as catechists. The author proposes an integrated program with the overall recollection the formation of spirituality. Recollection was conducted at the end of the formation of spirituality. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan anugerah yang melimpah diberikan kepada penulis, sehingga skripsi yang berjudul PEMBINAAN PENDIDIKAN SPIRITUALITAS KEKHUSUSAN DI PROGRAM PENDIDIKAN STUDI AGAMA ILMU KATOLIK UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA SEBAGAI UPAYA MEMBANTU MAHASISWA DALAM MENANGGAPI PANGGILANNYA SEBAGAI KATEKIS dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini lahir berawal dari refleksi penulis terhadap pembinaan spiritualitas yang ada di Prodi IPPAK USD dan keingintahuan penulis mengenai kontribusi pembinaan spiritualitas terhadap para mahasiswa. Sebagai hasilnya penulis tuangkan dalam bentuk karya ilmiah yaitu skripsi. Skripsi ini, dapat terselesaikan berkat bantuan dan dukungan semua pihak. Maka dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung SJ, M.Ed selaku Kaprodi dan Bapak Yoseph Kristianto, SFP. M.Pd. selaku Wakaprodi yang telah bersedia memberikan dukungan, perhatian dan morivasi kepada penulis selama berproses di Prodi IPPAK. 2. Dr. B. Agus Rukiyanto, SJ selaku dosen utama yang telah membimbing, meluangkan waktu, memberikan pengarahan, kritik dan saran serta motivasi kepada penulis dalam penyusunan skripsi dari awal hingga akhir penulisan. 3. Y.H. Bintang Nusantara, SFK. M. Hum Dosen selaku dosen pengujikeduayang telah memberikan bimbingan, dukungan, motivasi dan masukan kepada penulis dalam penyususan skripsi dari awal hingga akhir penulisan. 4. Drs. L. Bambang Hendarto Y, M. Hum selaku dosen penguji ke tiga yang telah memberikan bimbingan, dukungan, motivasi dan masukan kepada penulis dalam penyususan skripsi dari awal hingga akhir penulisan. 5. P. J. Setyakarjana, SJ, Ibu Murti, Sr. Rety, FMM, Suster-suster FDCC, Pusat Musik Liturgi (Rm Prier, SJ, ibu Nanik) dan Frater-frater MSF yang telah secara x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tulus memberikan sumbangan kepada penulis sehingga penulis bisa terdaftar dan menjadi mahasiswa IPPAK-USD sampai sekarang ini. 6. Drs. M. Sumarno Ds, S. J. M.A, Drs. L. Bambang HY, M. Hum dan Drs. Y.a. C.H. Mardiraharjo yang selalu memberikan beasiswa secara tulus kepada penulis disetiap semester sehingga penulis bisa dan tetap melanjutkan studi di Prodi IPPAK-USD. 7. Drs. H.J. Suhardiyanto, SJ, Drs. F.X. Heryatno W. W., M,Ed dan Dr. B. Agus Rukiyanto, SJ yang secara tulus telah memberikan ijin dan tempat tinggal kepada penulis sehingga penulis merasa nyaman dan kerasan dalam menjalankan studi di Prodi IPPAK-USD. 8. Segenap staf dosen (Bapak Dapiyanta, Rm. Putranta, dan Ibu Supriyati), sekretariat (Bapak Bambang Sulis dan Bapak Widiastono dan mbak Wulan), perpustakaan (Bapak Bambang Kiswantoto dan Ibu Surti) dan karyawan Prodi IPPAK USD (Mas Diono, Pak Bari, Pak Suroto, Pak Paryono, Pak Supri “almarhum”, Pak Yatno, Pak Suwarno dan Mas Panto) yang telah begitu banyak melimpahi penulis dengan ilmu pengetahuan, perhatian, dukungan, bimbingan serta senyuman yang selalu menguatkan penulis menjalani proses studi di kampus IPPAK ini. 9. Keluaraga besar bapak Karnadi dan Jaya Arlika yang telah memberikan bantuan baik itu secara moral maupun materi kepada penulis sehingga bisa tetap bertahan dalam melanjutkan studi di IPPAK-USD. 10. Keluarga bapak Sudarisman (ibu Tatik, Maria Jajar, Agnes Jajar, Via, simbah, mbah dan lain-lain) yang telah memberikan bantuan secara moral kepada penulis sehingga bisa tetap bertahan dalam pengerjaan skripsi sampai selesai. 11. F. X. Franky Paskalis Pitoy, Pr dan seluruh umat di stasi St. Theresia Ciledug paroki Bunda Maria Cirebon yang telah memberikan dukungan, semangat dan doa kepada penulis sehingga penulis bisa tetap bertahan dalam menjalankan skripsi. 12. Guru-guru SD Kanisius Wirobrajan I yang selalu setia mendukung, mendorong dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... iv MOTTO .............................................................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................................... vii ABSTRAK .......................................................................................................... viii ABSTRACT .......................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................ x DAFTAR ISI ....................................................................................................... xiii DAFTAR SINGKATAN .................................................................................... xviii BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................. 1 A. Latar Belakang .......................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 7 C. Tujuan Penulisan ........................................................................................ 7 D. Manfaat Penulisan ...................................................................................... 7 1. Bagi Mahasiswa IPPAK USD ............................................................. 8 2. Bagi Prodi IPPAK USD ....................................................................... 8 3. Bagi Penulis ......................................................................................... 8 E. Metode Penulisan ....................................................................................... 8 F. Sistematika Penulisan ................................................................................ 9 BAB II. SPIRITUALITAS KATEKIS DAN UPAYA PEMBINAANNYA ..... 11 A. Katekis sebagai Panggilan Allah ................................................................ 11 1. Pengertian Panggilan sebagai Katekis ................................................... 11 a. Pengertian Panggilan ......................................................................... 12 b. Pengertian Panggilan menurut Kitab Suci ........................................ 12 c. Pengertian Katekis ........................................................................... 13 d. Pengertian Panggilan sebagai Katekis .............................................. 14 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Kekhasan Panggilan Katekis ................................................................. 15 3. Hidup seorang Katekis........................................................................... 15 4. Peran dan Kualifikasi Seorang Katekis ................................................. 16 a. Peranan seorang Katekis ................................................................... 17 b. Kualifikasi seorang Katekis .............................................................. 19 1). Pengetahuan Seorang Katekis ...................................................... 19 a). Pengetahuan tentang Katekese ................................................ 20 b). Pengetahuan tentang Metode Katekese ................................... 20 c). Pengetahuan akan situasi/ keadaan Umat ................................ 21 d). Pengetahuan Menyangkut Konteks ......................................... 21 2). Keterampilan seorang Katekis ..................................................... 22 a). Keterampilan Berkomunikasi .................................................. 22 b). Keterampilan Berefleksi .......................................................... 22 3). Spiritualitas seorang Katekis ....................................................... 23 a). Pengertian Spiritualitas ............................................................ 23 b). Pengertian Spiritualitas Katekis .............................................. 24 c). Perlunya Spiritualitas bagi Katekis dengan Berguru pada Yesus Kristus .......................................................................... 25 B. Spiritualitas Katekis dan Tantangannya ..................................................... 26 1. Spiritualitas Katekis ............................................................................... 26 a. Sedia Diutus ...................................................................................... 27 b. Semangat Menggereja ....................................................................... 27 c. Menjadi Murid .................................................................................. 28 d. Berakar dan Berbuah ......................................................................... 29 2. Tantangan dalam Menumbuhkan Spiritualitas Katekis ......................... 29 a. Budaya Materialistik dan Hedonis .................................................... 30 b. Budaya Audio Visual ........................................................................ 30 c. Krisis Makna Generasi Muda............................................................ 31 d. Globalisasi ......................................................................................... 32 C. Usaha Pembinaan dalam menumbuhkan Spiritualitas Katekis .................. 32 1. Perlunya Usaha Pembinaan Spiritualitas Katekis .................................. 33 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Bentuk-bentuk Pembinaan Spiritualitas Katekis ................................... 34 a. Pendidikan Formal dan Informal ...................................................... 34 b. Retret ................................................................................................. 35 c. Refleksi ............................................................................................. 35 3. Pembina dalam Pembinaan Spiritualitas Katekis .................................. 36 D. Rangkuman ................................................................................................ 37 1. Katekis sebagai Panggilan Allah ......................................................... 37 2. Spiritualitas Katekis dan Tantangannya .............................................. 39 3. Usaha Pembinaan Spiritualitas Katekis .............................................. 40 BAB III. PENELITIAN TENTANG PEMBINAAN SPIRITUALITAS KATEKIS BAGI MAHASISWA DI PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK ............................................................................ 41 A. Gambaran Umum Prodi IPPAK ................................................................. 42 1. Sejarah Prodi IPPAK ............................................................................. 42 2. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Prodi IPPAK ....................................... 45 3. Gambaran Kurikulum Prodi IPPAK ...................................................... 47 4. Tujuan dan Materi Pembinaan Spiritualitas .......................................... 50 a. Tujuan Pembinaan Spirtualitas .......................................................... 50 b. Materi Pembinaan Spiritualitas ......................................................... 51 5. Pelaksanaan Pembinaan Spiritualitas .................................................... 53 a. Perkuliahan Tatap Muka Pembinaan Spiritualitas ............................ 53 b. Waktu Pelaksanaan Pembinaan Spiritualitas .................................... 54 c. Pendamping Pembinaan Spiritualitas................................................ 54 B. Penelitian .................................................................................................... 55 1. Tujuan Penelitian ................................................................................... 55 2. Manfaat Penelitian ................................................................................. 56 3. Jenis dan Metode Penelitian .................................................................. 56 4. Variabel Penelitian ................................................................................ 57 5. Instrumen Penelitian .............................................................................. 58 6. Populasi dan Sampel Penelitian ............................................................. 58 7. Tempat dan waktu Penelitian ................................................................ 59 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Teknik Analisis Data ............................................................................. 59 C. Laporan Hasil Penelitian ............................................................................ 60 1. Identitas dan Motivasi Mahasiswa ....................................................... 60 2. Pemahaman Mahasiswa terhadap Sosok Katekis ................................. 62 3. Pemahaman Mahasiswa terhadap Peran Katekis dalam Gereja ............ 65 4. Pemahaman Mahasiswa terhadap Kualifikasi Seorang Katekis ........... 67 5. Peranan Pembinaan Spiritualitas .......................................................... 72 6. Faktor Pendukung Pembinaan Spiritualitas .......................................... 75 7. Harapan Mahasiswa terhadap Pembinaan Spiritualitas ........................ 79 D. Pembahasan Hasil Penelitian ..................................................................... 81 1. Identitas dan Motivasi Mahasiswa ....................................................... 82 2. Pemahaman Mahasiswa terhadap Sosok Katekis ................................. 83 3. Pemahaman Mahasiswa terhadap Peran Katekis dalam Gereja ........... 88 4. Pemahaman Mahasiswa Kualifikasi Seorang Katekis .......................... 93 5. Peranan Pembinaan Spiritualitas bagi Mahasiswa ................................ 101 6. Faktor Pendukung Pembinaan Spiritualitas .......................................... 104 7. Harapan Mahasiswa terhadap Pembinaan Spiritualitas ........................ 108 E. Kesimpulan Penelitian .............................................................................. 110 BAB IV: USULAN PROGRAM REKOLEKSI YANG TERINTEGRASI DENGAN PEMBINAAN SPIRITUALITAS SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KESADARAN MAHASISWA AKAN PANGGILANNYA SEBAGAI KATEKIS ............................ 115 A. Alasan Perlunya Rekoleksi yang Terintegrasi dengan Keseluruhan PembinaanSpiritualitas............................................................................ 116 1. Rekoleksi sebagai Simpul Materi Pembinaan Spiritualitas .................. 117 2. Rekoleksi membantu Menemukan Kembali Sang Sumber Spiritualitas ........................................................................................... 119 3. Rekoleksi Meneguhkan Pembiasaan Hidup yang Dijalani Mahasiswa 120 4. Rekoleksi membantu Mahasiswa Memantapkan Panggilannya sebagaiKatekis ...................................................................................... 122 B. Program Rekoleksi yang Terintegrasi dengan Keseluruhan Pembinaan Spiritualitas ................................................................................................ 124 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Pengertian Program Rekoleksi dan Tujuan Rekoleksi ......................... 124 2. Tema-tema Program Rekoleksi ............................................................ 125 3. Matrik Program Rekoleksi .................................................................... 127 Petunjuk Pelaksanaan Program Rekoleksi yang Terintegrasi dengan Ke seluruhan Pembinaan Spiritualitas ............................................................ 133 1. Pendamping Rekoleksi ......................................................................... 133 2. Peserta Rekoleksi .................................................................................. 134 3. Waktu Rekoleksi ................................................................................... 134 4. Sarana dan Metode Rekoleksi .............................................................. 134 5. Tempat Rekoleksi ................................................................................. 135 6. Evaluasi ................................................................................................ 135 BAB V: PENUTUP ............................................................................................ 136 A. Kesimpulan Umum .................................................................................... 136 B. Saran ........................................................................................................... 138 1. Bagi Prodi IPPAK ................................................................................ 138 2. Bagi Pembinaan Spiritualitas ................................................................ 138 a. Materi Pembinaan Spiritualitas ........................................................ 139 b. Sarana dan Metode Pembinaan Spiritualitas .................................... 139 c. Pendamping Pembinaan Spiritualitas ............................................... 139 3. Bagi Mahasiswa .................................................................................... 139 DAFTAR FUSTAKA ......................................................................................... 140 LAMPIRAN ........................................................................................................ 143 (1) Contoh Hasil Penelitian ...................................................................... (1) C. xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Alkitab (Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru). Edisi ke kelima 1997. Jakarta: LBI B. Singkatan Dokumen Gereja AA : Apostolicam Actuositatem, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam, 7 Desember 1965. AG : Ad Gentes, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kegiatan Misioner Gereja, 7 Desember 1965. CT : Catechesi Tradendae, Anjuran tentang Katekese Masa Kini, 16 Oktober 1979. LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan IItentang Gereja, 21 November 1964. RM : Redemptoris Missio, Ensiklik Yohanes Paulus II tentang Mengenai Keabsahan Tetap Mandat Pengutusan Gereja, 7 Desember 1990 C. Singkatan Lain AKKI : Akademik Kateketik Katolik Indonesia ASG : Ajaran Sosial Gereja xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DPP : Dewan Pengurus Paroki FIPA : Fakultas Ilmu Pendidikan Agama FKIP : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik KAS : Keuskupan Agung Semarang KBBI : Kamus Besar Bahasa Indonesia KBP : Karya Bakti Paroki Komkat : Komisi Kateketik KWI : Konferensi Waligereja Indonesia MAWI : Majelis Agung Waligereja Indonesia Mendikbud : Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Renstra : Rencana Kerja Lima Tahun Terakhir PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia Prodi : Program Studi PUSKAT : Pusat Kateketik USD : Universitas Sanata Dharma SJ : Serikat Jesus SKS : Satuan Kredit Semester LPTK : Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan STFK : Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di zaman modern yang penuh dengan tantangan ini, jemaat membutuhkan pendamping dari para pelayan pastoral yang tangguh dalam menghadapi berbagai macam permasalahan iman. Pelayanan pastoral yang dimaksud adalah pelayanan sabda. Dalam bentuknya, pelayanan sabda bermacam-macam. Salah satunya adalah katekese (Kongregasi untuk Imam art. 52). Telaumbanua (1999: 1) menyatakan katekese adalah pendampingan, pendidikan dan komunikasi iman. Katekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampain ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud menghantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen (CT, art. 18). Sebagai salah satu bentuk pelayanan sabda, kegiatan katekese senantiasa menyentuh seluruh kalangan jemaat, mulai dari anak-anak, remaja sampai kelompok jemaat dewasa (CT, art. 36, 37 dan 39). Dalam prosesnya, katekese selalu menghadapi tantangan yang tidak pernah habis. Perlu ada suatu pembaharuan yang bersifat terus menerus agar katekese tidak kehilangan rohnya. Salah satu penggerak sebuah proses katekese adalah pelaku sekaligus pewarta sabda Allah, yang sering disebut dengan istilah katekis. Menengok sejenak sejarah perkembangan katekese pada zaman Konsili Vatikan I, Gereja belum melibatkan jemaat dalam karya pelayanan pastoral. Seperti yang diketahui bahwa segala macam bentuk pelayanan pastoral hanya dilakukan oleh

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 imam dan biarawan-biarawati. Pada zaman itu pelayanan sabda Gereja bersifat piramidal artinya Gereja menempatkan posisi imam dan kelompok biarawanbiarawati di atas seluruh umat. Konsekuensi dari konsep Gereja yang demikian adalah segala macam keputusan, kebijakan iman berada di tangan hierarki, sehingga Gereja dipahami sebagai kaum berjubah (Prasetya, 2007: 14). Konsep Gereja yang demikian sangat mempengaruhi proses katekese yang terjadi di tengah kehidupan jemaat. Pemahaman bahwa hanya kelompok hierarki yang boleh memberikan pengajaran atau melakukan pewartaan menjadi sangat dominan. Dalam perkembangan zaman selanjutnya, Gereja menyadari bahwa konsep Gereja yang demikian tidak relevan lagi. Maka, muncullah suatu gerakan yang lahir dari inisiatif kaum hierarki untuk membaharui konsep Gereja yang demikian. Gerakan itu terwujud dalam bentuk Konsili Vatikan II. Satu hal yang patut disyukuri bahwa setelah Konsili Vatikan II, Gereja menyatakan keterbukaannya terhadap seluruh umat, maka segala macam bentuk kehidupan, tugas pelayanan pastoral dan perkembangan Gereja menjadi tanggung jawab bersama yang secara khusus kepada kaum awam, yaitu katekis yang membantu dalam menangani pelayanan sabda (LG, art. 35). Dalam perkembangan selanjutnya kinerja atau tugas para katekis semakin jelas dan fokus pada bidang kerygma atau pewartaan. Kini tugas katekis tidak serta merta menggantikan tugas para imam atau kaum biarawan-biarawati. Meskipun demikian yang penting untuk terus menerus disadari oleh seorang katekis adalah perintah Yesus sendiri yaitu “Pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 sampai kepada akhir zaman” (Mat 28: 19-20). Lebih jelas dan terang lagi dalam Injil Markus 16: 15-16: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” Adapun bentuk-bentuk nyata tugas pewartaan yang dilakukan oleh katekis adalah berkatekese, berbagi pengalaman hidup kristiani, dan penghayatan hidup beriman (AG, art. 15). Selanjutnya, dalam menjalankan tugasnya, katekis diharapkan memiliki spiritualitas yang mendalam agar mampu hidup dalam Roh Kudus, mampu memperbaharui hidup secara terus-menerus, mampu menanggapi panggilannya serta mampu melaksanakan tugasnya tersebut. Berkaitan dengan peran seorang katekis, dalam salah satu dokumen Gereja Yohanes Paulus II mengatakan bahwa: “Misionaris sejati adalah santo, kiranya dapat diterapkan tanpa ragu-ragu pada katekis, mereka dipanggil kepada kesucian dan kepada tugas perutusan yakni untuk menghidupi panggilan mereka dengan semangat para santo” (RM, art. 90). Yohanes Paulus II atas peryataannya tersebut mengharapkan panggilan dan kehidupan katekis layaknya seperti panggilan dan kehidupan seorang santo. Sama seperti para kudus yang mewartakan hidup Yesus Kristus di dalam hidup mereka, katekis juga mewartakan hidup Yesus Kristus di dalam hidupnya sehari-hari. Itu berarti bahwa pewartaan katekis bukan hanya melalui kata-kata, melainkan juga melalui seluruh aspek kehidupannya. Bentuk pewartaan yang dilakukan secara konkret dalam kehidupan nyata, mampu melahirkan roh penggerak dari dalam diri seorang pewarta untuk terus menerus hidup dalam tuntunan Allah. Roh penggerak dari dalam itulah yang disebut sebagai spiritualitas katekis. Supaya spiritualitas katekis yang sudah dimilikinya tetap tumbuh dan mengakar, maka ia perlu mendapat

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 berbagai pembinaan spiritualitas katekis yang mendalam, kreatif dan kontekstual secara terus menerus. Pembinaan spiritualitas yang ada sampai sekarang ini bersifat formal maupun informal, baik yang bersifat rutin maupun berkala dalam bentuk pengajaran dengan mengutamakan aspek pengetahuan iman, praktek pastoral di lapangan, refleksi yang dalam kehidupan sehari-hari, retret dan komunikasi iman melalui katekese di lingkungan. Dengan pembinaan spiritualitas katekis yang dilakukan secara rutin dan berkala diharapkan bagi katekis sendiri mampu menumbuhkan spiritualitas katekisnya secara integral. Dewasa ini jumlah katekis sangat sedikit. Hal ini disebabkan karena para katekis yang ada termakan oleh faktor usia, ada yang pensiun dan ada pula yang meninggal dunia. Selain itu faktor lain adalah kurang gencarnya proses kaderisasi yang dapat melahirkan para calon katekis yang militan. Proses kaderisasi tidak melulu dilakukan secara formal dan melalui jalur khusus. Proses kaderisasi yang paling efektif adalah melalui keteladan yang kharismatis dari seorang katekis di tengah jemaat. Keteladanan yang kharismatis dari seorang katekis hanya mungkin terjadi jika memiliki kedalaman spiritualitas katekis yang mendalam. Berdasarkan pengalaman penulis sendiri ketika melaksanakan Karya Bakti Paroki (KBP) di Paroki Bunda Maria Cirebon pada tanggal 28 November 2010 - 15 Januari 2011 keberadaan seorang katekis di tengah jemaat sangat dibutuhkan. Sementara yang terjadi di paroki Bunda Maria Cirebon, segala macam bentuk pewartaan, katekese dan pendidikan iman masih dilakukan oleh para pastor dan biarawan-biarawati. Sekalipun di sana ada beberapa guru agama, namun status kinerja mereka lebih sebagai katekis paro waktu, suka rela dan tidak mendapat bekal

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 pendidikan formal atau khusus. Pastor paroki biasanya menunjuk beberapa umat untuk membantu tugas pewartaan ini dan membekali mereka seperlunya. Singkat kata, di paroki Bunda Maria Cirebon belum ada tenaga katekis profesional. Hal ini sungguh memprihatinkan, mengingat bahwa Cirebon bukanlah kota yang berada di pedalaman atau jauh dari akses informasi tentang pengetahuan iman. Memang tidak mudah untuk mengajak anggota jemaat, khususnya anggota jemaat muda untuk terlibat dalam proses pewartaan. Perlu adanya suatu terobosan yang luar biasa untuk mengajak anggota jemaat muda di paroki-paroki untuk terlibat dan bahkan berani menjawab panggilan Allah menjadi seorang katekis. Hanya dengan keteladanan yang kharismatis dari seorang katekis yang ada saat ini atau dari calon katekis yang masih mempersiapkan diri dipendidikan formal, seperti Ilmu pendidikan Kekhususan pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma (IPPAK USD), terobosan ini bisa dilakukan. Permasalahannya adalah bagaimana para calon katekis ini disiapkan sedemikian rupa, khususnya dalam hal membangun spiritualitas katekis maupun panggilannya yang menjadi roh kehidupannya kelak sebagai pewarta Sabda Allah. Untuk menanggapi permasalahan tersebut Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (Prodi IPPAK USD) mendidik dan menghasilkan katekis yang berspiritualitas maupun yang profesional yang dibekali dengan pendidikan spiritualitas yang sistematis melalui pendidikan formal, pengetahuan Kitab Suci dan tradisi iman yang memadai serta keterampilan katekese yang kreatif dan kontekstual. Di Prodi IPPAK, pembinaan spiritualitas telah diberikan pada mahasiswa mulai dari semester I (satu) sampai dengan semester VIII (delapan). Hal-hal yang

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 digali dalam masa pendidikan, pembinaan dan pendampingan mencakup unsur-unsur akademik, sosial interpersonal, moral spiritual dan kemandirian pribadi (Staf Dosen IPPAK, 2009: 6). Meskipun mereka telah menerima berbagai macam pembinaan, penulis melihat masih banyak mahasiswa yang belum mampu menyadari identitasnya sebagai calon katekis. Bahkan ada pengakuan dari beberapa mahasiswa Prodi IPPAK yang enggan bahkan menyangkal diri untuk menjadi seorang katekis. Hal ini disebabkan karena motivasi dan tujuan kuliah di Prodi IPPAK hanya sebatas tuntutan orang tua, kebutuhan lapangan, gengsi atau ikut-ikutan orang lain. Kurangnya kesadaran diri sebagai calon katekis ini tampak dalam keterlibatan mereka di lingkungan sekitar, seperti keterlibatan dalam doa, pendalaman iman di lingkungan, koor, dan doa-doa pribadi di tempat tinggal masingmasing. Gejala lain muncul dari mentalitas mereka dalam menyelesaikan setiap tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Tidak sedikit para calon katekis yang membuat tugas kuliah secara kurang maksimal. Situasi ini sungguh memprihatinkan, mengingat peran mereka sebagai katekis di tengah umat sangatlah besar. Permasalahan yang telah dipaparkan di atas, menggugah penulis untuk menuliskan skripsi dengan judul “PEMBINAAN SPIRITUALITAS DI PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA SEBAGAI UPAYA MEMBANTU MAHASISWA DALAM MENANGGAPI PANGGILANNYA SEBAGAI KATEKIS.”

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan-rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah: 1. Apa yang dimaksud dengan spiritualitas katekis? 2. Bagaimana upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam menumbuhkan dan mengembangkan spiritualitas katekis? 3. Bagaimana peranan pembinaan spiritualitas bagi mahasiswa di Prodi IPPAK USD? 4. Bagaimana usaha-usaha yang dapat dilakukan guna meningkatkan pembinaan spiritualitas bagi mahasiswa Prodi IPPAK USD? C. Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan-rumusan masalah di atas, tujuan-tujuan penulisan skripsi ini adalah: 1. Menjelaskan spiritualitas katekis. 2. Menjelaskan pembinaan spiritualitas katekis yang ideal dan kontekstual. 3. Mengetahui peranan pembinaan spiritualitas bagi mahasiswa di Prodi IPPAK. 4. Memaparkan usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam meningkatkan pembinaan spiritualitas bagi mahasiswa di Prodi IPPAK. D. Manfaat Penulisan Berdasarkan tujuan penulisan di atas, manfaat-manfaat penulisan skripsi ini adalah:

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 1. Bagi mahasiswa IPPAK USD a. Mahasiswa Prodi IPPAK memiliki pemahaman yang memadai tentang spiritualitas katekis dan pembinaannya secara lebih konprehensif. b. Mahasiswa Prodi IPPAK mendapatkan pembinaan spiritualitas yang kontekstual dalam menumbuhkan spiritualitas katekis maupun panggilannya sebagai katekis. 2. Bagi Prodi IPPAK a. Prodi IPPAK menemukan suatu model pembinaan spiritualitas yang cocok dan kreatif yang sesuai dengan karakteristik mahasiswa. b. Prodi IPPAK memiliki lulusan mahasiswa yang sungguh-sungguh menghayati panggilannya sebagai katekis. 3. Bagi Penulis a. Semakin memahami spiritualitas katekis dan terdorong untuk menghidupinya di dalam kehidupan sehari-hari. b. Semakin terpanggil untuk menjadi seorang katekis. c. Memenuhi salah satu syarat kelulusan SI di Prodi IPPAK USD Yogyakarta. E. Metode Penulisan Penulisan skripsi ini menggunakan metode dekriptif analitis. Melalui metode ini penulis menggambarkan permasalahan yang ada melalui pemaparan data yang diperoleh berdasarkan studi pustaka dan penelitian. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode survey. Data yang diperoleh dari hasil penelitian, penulis

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 kemudian menganalisis dan mengolahnya dalam rupa pemaparan gambaran mengenai situasi yang diteliti dalam bentuk uraian naratif. Metode dekriptif analitis ini sebagai bentuk pertanggungjawaban penulis atas keseluruhan skripsi yang penulis buat ini. F. Sistematika Penulisan Supaya skripsi ini dapat dipahami secara keseluruhan, penulis akan memberikan gambaran singkat sebagai berikut: Bab I merupakan pendahuluan yang berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan skripsi secara keseluruhan. Dalam bab II penulis menguraikan spiritualitas katekis dan upaya pembinaannya. Penulis membagi bab ini menjadi tiga bagian. Bagian pertama, katekis sebagai panggilan Allah. Kedua, macam-macam spiritualitas katekis dan tantangannya. Ketiga usaha pembinaan dalam menumbuhkan spiritualitas katekis Dalam bab III penulis menjelaskan tentang peranan pembinaan spiritualitas bagi mahasiswa di Prodi IPPAK. Untuk menjelaskan bab ini penulis membagi menjadi tiga bagian. Pertama, selayang pandang Prodi IPPAK. Kedua, persiapan penelitian. Ketiga, laporan dan hasil penelitian. Keempat, kesimpulan penelitian. Dalam bab IV penulis menguraikan usulan program rekoleksi yang terintegrasi dengan pembinaan spiritualitas sebagai upaya meningkatkan kesadaran mahasiswa akan panggilannya sebagai katekis. Dalam bab ini penulis membaginya ke dalam tiga bagian. Pertama, alasan rekoleksi yang terintegrasi dengan keseluruhan pembinaan spiritualitas. Kedua, program rekoleksi yang terintegrasi dengan

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 keseluruhan pembinaan spiritualitas. Ketiga, petunjuk pelaksanaan program rekoleksi yang terintegrasi dengan keseluruhan pembinaan spiritualitas. Bab V merupakan penutup yang berisikan kesimpulan dan saran. Dalam bab ini penulis, memberikan kesimpulan atas keseluruhan isi skripsi ini. Di samping itu, penulis juga memberikan saran-saran untuk Prodi IPPAK dan mahasiswa IPPAK.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 BAB II SPIRITUALITAS KATEKIS DAN UPAYA PEMBINAANNYA Dalam bab ini akan dipaparkan mengenai spiritualitas katekis dan upaya pembinaannya. Penulis membagi bab ini menjadi tiga bagian. Bagian pertama, katekis sebagai panggilan Allah. Kedua, macam-macam spiritualitas katekis dan tantangan yang dihadapinya. Ketiga, usaha pembinaan dalam menumbuhkan spiritualitas katekis. A. Katekis sebagai Panggilan Allah Menjadi katekis merupakan panggilan yang diterima oleh manusia guna menjalankan tugas pewartaan yakni mewartakan Injil. Hakekat panggilan yang diterima katekis pada dasarnya Allah sendiri yang berinisiatif memanggil, maka sikap katekis terhadap panggilan tersebut adalah menanggapi. Dalam menguraikan katekis sebagai panggilan Allah, penulis membagi pembahasan ke dalam empat bagian yang meliputi: pengertian panggilan sebagai katekis, kekhasan panggilan katekis, hidup katekis, peran dan kualifikasi katekis. 1. Pengertian Panggilan sebagai Katekis Manusia pada dasarnya telah dipanggil oleh Allah, dan tentunya saja panggilan yang diterima itu berbeda-beda. Untuk bisa memahami mengenai panggilan pada bagian ini penulis menjelaskannya, namun hanya dibatasi pada panggilan sebagai katekis. Hal-hal yang diungkap meliputi pengertian panggilan,

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 pengertian panggilan menurut Kitab Suci, pengertian katekis dan pengertian panggilan sebagai katekis. a. Pengertian Panggilan Panggilan berasal dari kata memanggil (vocatio, vocare) artinya memanggil atau menyerukan nama seseorang. Panggilan dapat dipahami sebagai suatu undangan dari Allah yang ditujukan kepada manusia yang dipilih-Nya. Panggilan tersebut menunjukkan hasrat dan keinginan seseorang untuk mengabdikan hidupnya dalam pelayanan Allah (Konseng, 1995: 8). Maka panggilan adalah undangan Allah yang ditujukan kepada manusia yang dipilih-Nya agar menyerahkan dan mengabdikan diri secara utuh kepada Allah demi tugas pelayanan. b. Pengertian Panggilan menurut Kitab Suci Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, panggilan merupakan saat yang penting dalam pewahyuan Allah dan sejarah keselamatan manusia. Panggilan yang diterima oleh para nabi bersumber dari Allah, maka sikap para nabi adalah menerima panggilan itu dengan tulus hati. Dengan demikian panggilan yang diterima dan dilaksanakan dengan tulus hati mampu membawa perubahan hidup pada diri manusia karena Allah sendiri mengajak manusia masuk ke dalam pengalaman-Nya, kehidupan-Nya, batin-Nya, dan situasi-Nya (Yamtini, 1981: 14-16). Dalam Perjanjian Baru, Yesus memanggil kedua belas rasul dengan tujuan untuk membantu dalam pewartaan-Nya (Mat 10: 1-15). Yesus sebelum mengutus para rasul, terlebih dahulu Ia melakukan pembinaan terhadap mereka. Pembinaan tersebut meliputi ikut ambil bagian dalam hidup-Nya, tugas-Nya dan pengajaran secara pribadi. Setelah

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Yesus wafat di kayu salib, bangkit dan terangkat ke surga, para rasul baru menjalankan tugas panggilannya yaitu mewartakan Injil (Dister, 1987: 125-126). Jadi panggilan para rasul adalah tugas perutusan untuk mewartakan Injil. Para nabi dan para rasul mendapat panggilan, tugas dan tujuan yang sama yaitu mewartakan karya keselamatan Allah. Pewartaan yang dilakukan para nabi dan para murid bertujuan untuk membangun Kerajaan Allah di bumi yang tampak dalam Gereja Kristus. Berdasarkan keterangan mengenai panggilan para nabi dan para murid, maka panggilan adalah undangan dari Allah yang ditujukan kepada manusia untuk ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan manusia dengan cara mewartaan karya keselamatan. c. Pengertian Katekis Katekis adalah orang-orang yang dalam semangat Roh melibatkan diri dalam perluasan dan perwujudan Kerajaan Allah di dunia (Komisi Kateketik KWI, 2005: 99). Katekis adalah pembina iman (Telaumbanua, 1999: 6). Katekis adalah orang beriman yang dipanggil secara khusus oleh Allah melalui Gereja diutus untuk memperkenalkan Kristus, menumbuhkan dan mengembangkan iman umat baik dalam komunitas basis, teritorial maupun kategorial (Komisi Kateketik KWI, 2005: 133). Katekis adalah seorang awam yang ditunjuk secara khusus oleh Gereja, sesuai dengan kebutuhan setempat, untuk memperkenalkan Kristus, dicintai dan diikuti oleh mereka yang belum mengenalnya dan oleh kaum beriman itu sendiri (Komisi Kateketik KWI, 1997: 17). Atas pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa katekis adalah orang beriman yang melibatkan diri dalam pembinaan iman umat dengan semangat Roh dipanggil secara khusus oleh Allah yang mendapat tugas

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 dari Gereja untuk menyampaikan Sabda yaitu Kristus untuk memperkenalkan, menumbuhkan dan mengembangkan iman umat baik dalam komunitas basis, teritorial maupun kategorial. Dari pengertian katekis di atas dapat terlihat juga mengenai ciri-cirinya. Ciriciri tersebut menunjukan akan keberadaannya dalam Gereja, yaitu sebagai orang yang dipanggil Allah, diutus oleh Gereja, akan bekerjasama dengan tugas perutusan apostolik dari uskup dan memiliki hubungan khusus dengan kegiatan misi Ad Gentes (kepada segala bangsa). Ciri-ciri tersebut menjadi identitas katekis dan sekaligus membedakan dengan orang-orang yang bekerja di Gereja (koster, prodiakon, dll) dan itu semua diakui dalam magisterium dan hukum Gereja (Komisi Kateketik KWI, 1997: 16). d. Pengertian Panggilan sebagai Katekis Penulis sudah menjelaskan mengenai pengertian panggilan dan pengertian katekis di atas, maka dapat disimpulkan panggilan sebagai katekis adalah undangan Allah yang ditujukan kepada manusia untuk menjadi seorang katekis yang mendapat tugas dari Gereja untuk memperkenalkan Kristus, menumbuhkan dan mengembangkan iman umat baik dalam komunitas basis, teritorial maupun kategorial. Seorang katekis perlu menyadari makna adikodrati dan gerejawi dari panggilannya, sehingga ia bisa menjawab “Sungguh aku datang” (Ibr 10: 7), atau “Ini aku, utuslah aku” (Yes 6: 8). Dengan begitu katekis akan sungguh-sungguh menghidupi panggilannya dan penuh tanggungjawab dalam menjalankan tugas panggilannya tersebut.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 2. Kekhasan Panggilan Katekis Sebagai orang awam, tentunya katekis memiliki panggilan yang khas, di mana ia dipanggil dan diutus mewartakan Injil dalam sifat keduniawiannya di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat (Komisi Kateketik KWI, 1997: 15). Dalam kehidupannya di masyarakat ia ikut ambil bagian dalam pergumulan dan perkembangan masyarakat. Sebagai anggota masyarakat, ia juga berperan sebagai pewarta sabda dengan menghadirkan sosok Yesus Kristus yang diimaninya dengan menampilkan kasih Allah melalui perkataan dan perbuatan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat dengan harapan agar semakin banyak orang yang percaya dan beriman kepada-Nya (Prasetya, 2007: 30). Sebagai pewarta sabda ia juga merenungkan sabda yang ia wartakan di dalam hidupnya. Dari sabda yang ia wartakan dan renungkan, ia juga bersaksi atas sabda dan imannya karena dengan kesaksiannya itu dapat menjadi teladan dan contoh bagi kehidupan orang lain. Buah dari pewartaan, permenungan dan kesaksian ia wujudnyatakan dalam tingkah laku dan perbuatan di dalam kehidupan sehariharinya. 3. Hidup Seorang Katekis Sebagai seorang pewarta Kristus, katekis perlu memiliki sikap rendah hati, sederhana dan semangat melayani karena yang diwartakan adalah Yesus yang memiliki sikap-sikap tersebut. Karena pewartaan katekis di tujukan kepada orang banyak diharapkan ia mengembangkan sikap dan semangat rela berkorban demi kepentingan sesama. Sikap tersebut hendaknya dilakukan secara tulus hati dan tanpa pamrih. Dengan demikian ia akan mencintai tugas panggilannya sebagai seorang

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 katekis. Katekis juga perlu menyadari bahwa tugasnya itu sangat penting dan strategis. Maka sudah sepantasnya ia mempunyai niat dan kemauan keras untuk belajar secara terus menerus agar ia semakin berkembang dan karyanya dapat dipertanggungjawabkan (Prasetya, 2007: 44-48). Dalam dunia pelayanan dan kerja, ia akan bekerja sama dengan berbagai pihak secara khusus dengan Pastor Paroki, Dewan Pengurus Paroki (DPP), pengurus stasi, pengurus lingkungan atau pun antar katekis sendiri. Maka diharapkan ia mengembangkan sikap dan semangat mau bekerja sama. Hal ini penting karena keberadaannya tidak terlepas dari reksa pastoral paroki sehingga diharapkan ia memiliki komitmen yang tinggi terhadap reksa pastoral itu (Prasetya, 2007: 49). Katekis adalah seorang pendidik iman, maka sudah selayaknya katekis mempunyai kehidupan rohani yang mendalam. Kehidupan tersebut harus berdasarkan pada persekutuan dalam iman dan cinta dengan pribadi Yesus Kristus yang memanggil dan mengutusnya. Kehidupan rohani yang baik dapat meningkatkan kedewasaan iman yang mendalam dan memiliki hubungan yang mesra dengan Kristus (Komisi Kateketik KWI 1997: 45-46). 4. Peran dan Kualifikasi Seorang Katekis Peran seorang katekis dalam karya pewartaan Gereja sangat vital, maka Gereja perlu mengkualifikasi katekis-katekis yang bekerja dalam karya pewartaan. Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai peran dan kualifikasi seorang katekis. a. Peranan Seorang Katekis Seorang katekis yang menyadari panggilannya tentu akan menyadari perannya dalam Gereja. Penulis melihat ada lima peran katekis dalam Gereja yang

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 terlibat perluasan dan perwujudan Kerajaan Allah di dunia. Peran pertama, berkatekese berarti mewartakan visi dan pembentukan communio. Dalam mewartakan visi, ia berperan mengajarkan Yesus kepada orang-orang yang mau bertobat maupun kepada orang yang telah bertobat. Pengajaran ini dilakukan secara berkesinambungan yaitu dari tahap pengajaran sampai ketahap pendewasaan (CT, art. 20). Tahap pengajaran bertujuan membantu mereka untuk semakin mengenal, mencintai dan mengimani Yesus sedangkan tahap pendewasaan bertujuan agar mereka berani bersaksi atas iman akan Yesus Kristus (Prasetya, 2007: 33-34). Dalam mewujudkan communio diharapkan katekis memiliki sikap keberpihakannya terhadap mereka yang tersingkirkan oleh masyarakat (KLMTD) sebagai upaya Allah dalam mewujudkan communio (Komisi Kateketik KWI, 2005: 99-100). Kedua, mempertahankan kegandaan wajah Gereja dengan tetap hadir sebagai agen pastoral awam. Perlu disadari bahwa communio Gereja tidak hanya terdiri dari para klerus dan biarawan-biarawati melainkan juga kaum awam yang tidak hanya terdiri laki-laki melainkan perempuan juga. Pereduksian Gereja pada kaum klerus dan laki-laki perlu diatasi dengan pembentukan katekis laki-laki dan katekis perempuan agar mereka memiliki kepercayaan diri dan komitmen terhadap kehidupan Gereja. Jelas sekali dua tuntutan dasar bagi katekis, yaitu percaya diri dan komitmen. Percaya diri adalah sikap yang lahir dari kesadaran akan panggilan diri sebagai sarana perwujudan impian Allah bagi umat-Nya, sedangkan komitmen adalah kesetiaan untuk melaksanakan tanggung jawab termasuk di dalamnya kesetiaan turut memikirkan bersama rencana pastoral melaksanakannya (Komisi Kateketik KWI, 2005: 100-102). dan ketelatenan

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 Ketiga, katekis berperan dalam mencegah pereduksian Kristianitas pada persoalan ibadat. Katekis diharapkan menyadari martabatnya sebagai awam yang tidak membatasi pada urusan ibadat. Sehubungan dengan itu, Yohanes Paulus II dalam AA art. 5 menyatakan bahwa: Oleh sebab itu perutusan Gereja tidak saja membawakan warta Kristus dan rahmat-Nya kepada manusia, tetapi juga meresapi dan menyempurnakan tata dunia dengan semangat Injil. Jadi para awam yang melaksanakan perutusan Gereja ini, menjalankan kerasulannya baik dalam Gereja maupun di dalam dunia, baik dalam tata rohani maupun dalam tata dunia. Dari pernyataan di atas sangatlah jelas bahwa katekis dapat menangani bidang lain, yaitu pelayanan karitatif dan pelayanan advokasi. Pelayanan karitatif adalah pelayanan dalam bentuk kasih sayang dan perhatian, misalnya memberi pelayanan kepada orang-orang sakit dan miskin, sedangkan pelayanan advokasi adalah pelayanan yang mengarah kepada penciptaan kondisi yang mencegah orang untuk menjadi tidak sakit, misalnya baksos. Keempat, katekis berperan dalam pelayanan yang memberdayakan solidaritas umat beriman, yakni membangkitkan kesadaran, semangat, dan ketelatenan dalam pelayanan. Sebagai petugas pastoral yang juga mengambil bagian langsung dalam kehidupan bermasyarakat, katekis memiliki peluang untuk menyemangati masyarakat dengan semangat pelayanan yang menjiwainya (Komisi Kateketik KWI, 2005: 102-104). Kelima, katekis berperan dalam menghidupi pluralitas di bidang pelayanan Gereja. Kenyataan menunjukkan bahwa katekis dapat menjalankan berbagai macam profesi. Hal ini terlihat oleh katekis-katekis yang sudah tidak bekerja lagi di paroki atau keuskupan karena mereka bekerja pada lembaga atau instansi di luar Gereja. Walaupun mereka sudah tidak berprofesi sebagai katekis, mereka tetap merasa dan menyebut diri sebagai katekis. Hal ini didasarkan pada keyakinan akan panggilannya

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 sebagai katekis yang didukung oleh komitmen yang sungguh-sungguh. Dengan bantuan mereka, Gereja dapat menjalin hubungan dan kerja sama yang baik dengan lembaga atau instansi di luar Gereja. Maka relasi dan kerjasama antara Gereja dengan dunia luar semakin terbuka lebar, dengan demikian Gereja dapat memberikan pelayanan secara leluasa dan bebas tanpa ada suatu halangan yang membatasi keduanya (Komisi Kateketik KWI, 2005: 104-105). b. Kualifikasi Seorang Katekis Seorang katekis merupakan pembina iman umat. Dalam PKKI III dijelaskan bahwa seorang pembina iman umat harus memiliki pengetahuan dan keterampilan. Selain pengetahuan dan keterampilan, katekis juga harus memiiliki spiritualitas. Pengetahuan yang dimiliki katekis akan tersampaikan dengan baik bila didukung dengan keterampilan dan sebagai penguat untuk tetap bertahan dalam menjalankan tugas dibutuhkan spiritualitas. Ketiga hal tersebut merupakan modal dasar yang menentukan bagi kelangsungan tugasnya. 1). Pengetahuan Seorang Katekis Katekis adalah seorang pewarta dan saksi iman maka ia harus memiliki pengetahuan yang memadai seputar tugasnya, yaitu pengetahuan tentang katekese, pengetahuan tentang metode katekese, pengetahuan terhadap situasi atau keadaan umat dan pengetahuan yang menyangkut konteks. Kesemua pengetahuan tersebut harus dikuasai secara benar dan tepat. Tanpa pengetahuan-pengetahuan tersebut katekis tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan bahkan bisa gagal.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 a). Pengetahuan tentang Katekese Pengetahuan tentang katekese yang harus dimiliki oleh katekis, pertama, pengetahuan tentang Kitab Suci. Katekis harus memiliki pengertian yang tepat tentang Kitab Suci sebagai Kitab yang berisi Firman Allah yang ditujukan kepada manusia. Kedua, Kristologi; apa yang diwartakan oleh katekis adalah Yesus sendiri, maka terlebih dahulu katekis harus mengenal, mendalami secara pribadi dan menjadikan Yesus sebagai pola hidup (Lalu, 2005: 118-119). Ketiga, Eklesiologi (Gereja); katekis harus mampu mengartikan Gereja secara benar dan tepat, yaitu Gereja sebagai umat Allah, communio dan tanda keselamatan yang nyata hadir di tengah-tengah dunia. Keempat adalah Ajaran Sosial Gereja (ASG); katekis harus mengetahui dan memahami apa yang menjadi ajaran Gereja, khususnya keberpihakan Gereja terhadap kaum lemah, miskin, tersingkir dan difabel (KLMTD). Selain itu juga pengetahuan lain yang harus diketahui dan dikuasai katekis adalah Sakramentologi, Mariologi, liturgi dan lain-lain (Lalu, 2005: 119). Mengingat umat zaman sekarang ini semakin pintar, kritis dan serba ingin tahu maka kesemua pengetahuan tersebut harus dikuasai dan dipahami secara benar oleh katekis. b). Pengetahuan tentang Metode Katekese Metode merupakan cara atau prosedur untuk melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan secara efektif. Berbicara mengenai metode katekese, tentunya katekis harus mengetahui metode dalam sebuah katekese. Pengetahuan ini harus dipelajari berdasarkan uraian-uraian yang sudah ada atau pun berdasarkan pengembangan metode secara pribadi. Katekis harus memiliki pengetahuan semacam

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 ini. Dengan kemampuannya mengolah sebuah metode berkatakese tentunya akan dengan mudah ia menganalisis situasi, menyusun rencana tindak lanjut dan berkreasi dalam mengolah katekese itu sendiri (Lalu, 2005: 119-120). c). Pengetahuan tentang Situasi/ Keadaan Umat Katekis ketika menjalankan sebuah proses katekese ia juga perlu memperhatikan situasi atau keadaan umat. Situasi atau keadaan yang dimaksud di sini adalah keadaan pribadi seseorang dan latar belakang umat. Selain itu juga katekis diharapkan mampu mengenali psikologi dan konteks peserta (Lalu, 2005: 120). Dengan memiliki pengetahuan tersebut akan memudahkan katekis memasuki kehidupan umat dan menjawab apa yang paling diharapkan dan dibutuhkan oleh umat. Dengan demikian iman umat akan semakin mengakar, tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan bermasyarakat dan juga di dalam kehidupan menggereja. d). Pengetahuan menyangkut Konteks Katekis juga perlu memiliki pengetahuan yang menyangkut konteks. Konteks yang dimaksud di sini adalah situasi atau keadaan yang sedang terjadi di dalam dunia faktual yang bersifat nasional. Misalnya saja kejadian-kejadian yang terjadi di dalam negri maupun di luar negri: bencana alam, kerusuhan, dan lain-lain (Lalu, 2005: 120). Keadaan yang terjadi dalam dunia faktual dapat membantu, mendukung dan menjadi sumber inspirasi yang mendukung dalam pewartaan katekis di tengahtengah umat yang sedang mengalami perubahan zaman dan serba ingin tahu akan situasi yang sedang terjadi.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 2). Keterampilan Seorang Katekis Seorang katekis diharapkan mempunyai keterampilan dalam berkatekese. Mengapa? Karena pewartaan katekis dilakukan dengan cara berdialog (berkomunikasi) dengan umat dan mengajak umat untuk berefleksi. Jadi keterampilan berkomunikasi dan berefleksi merupakan keterampilan yang penting dan harus dikuasai oleh katekis. a). Keterampilan Berkomunikasi Seorang katekis harus mampu berkomunikasi dengan umat, dalam pengalaman tertentu, dalam situasi tertentu yang dilatarbelakangi kebudayaan tertentu. Katekis juga perlu dapat mengungkapkan diri, berbicara dan mendengarkan umat, hal ini menunjukan bahwa ia juga terbuka dengan umat. Dengan tranpilnya berkomunikasi yang baik tentunya akan sangat mudah bagi katekis dalam mengumpulkan, menyatukan, dan mengarahkan umat kepada suatu tindakan nyata. Selain itu juga mampu menciptakan suasana yang memudahkan umat untuk mengungkapkan diri, berdialog dan mendengarkan pengalaman orang lain sehingga diantara umat sendiri tidak ada saling curiga satu sama lain (Lalu, 2005: 8). b). Keterampilan Berefleksi Pendalaman iman hendaknya menjadi sebuah komunikasi iman yakni kesaksian iman. Katekis diharapkan mampu memberi kesaksian akan pengalaman

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 imannya, karena kesaksian yang diungkapkan menjadi bahan untuk direfleksikan dan sekaligus menjadi peneguh atas apa yang ia katakan kepada umat. Maka untuk bisa berefleksi dibutuhkan keterampilan berefleksi. Keterampilan berefleksi adalah kemampuan untuk menemukan nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup sehari-hari, menemukan nilai-nilai Kristiani dalam Kitab Suci, ajaran Gereja dan Tradisi Kristiani, serta memadukan nilai-nilai Kristiani dengan nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup sehari-hari (Lalu, 2005: 8). Dalam melatih keterampilan berefleksi katekis perlu melakukannya setiap hari. 3). Spiritualitas Seorang Katekis Spiritualitas merupakan unsur paling pokok yang harus dimiliki oleh katekis, karena spiritualitas inilah yang membantu katekis tetap bersemangat dalam menjalankan tugas panggilannya. Penulis sebelum berbicara mengenai macam-maam spiritualitas katekis terlebih dahulu dijelaskan mengenai pengertian spiritualitas, pengertian spiritualitas katekis dan perlunya spiritualitas bagi katekis dengan berguru pada Yesus Kristus. a). Pengertian Spiritualitas Kata spiritualitas berasal dari bahasa Latin, yaitu spiritus yang berarti Roh. Roh ini merupakan dasar hidup manusia. Spiritualitas dimengerti sebagai semangat hidup dan perjuangan yang menjadi cara pandang atau pendekatan dalam pengolahan hidup (Staf Dosen, 2010: 29). Heuken (2002: 11) menyatakan bahwa spiritualitas mempunyai dua segi, yaitu askese atau usaha melatih diri secara teratur supaya terbuka dan peka terhadap sapaan Allah. Askese menandakan jalan dan mistik

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 sebagai tujuan hidup keagamaan manusia. Lebih lanjut ia berpendapat bahwa manusia dipanggil untuk mengenal Dia yang ilahi yang hadir dalam batinnya yang mana terjalin relasi berdasarkan kasih. Dengan demikian spiritualitas menyangkut keberadaan orang beriman sejauh dialami sebagai anugerah Roh Kudus yang meresapi seluruh dirinya. Bagi umat Kristiani, spiritualitas selalu berhubungan dengan Roh Allah atau Roh Kudus yang mendorong, menggerakkan, menjiwai, menguatkan dan menyemangati umat manusia. Yesus menyebut-Nya sebagai “Penolong, Roh Penolong” (Yoh 14: 16-17), dan Paulus menyebut-Nya sebagai “Roh Allah atau Roh Kudus” (1 Kor 12: 3). Roh Kudus itulah yang turun dan memenuhi para murid pada hari Pentakosta (Kis 2: 1-4). Van Lierav (1994: 7) menyatakan bahwa spiritualitas adalah keadaan seseorang atau kelompok yang didorong, dimotivasi, disemangati, dijiwai dan digerakkan oleh Roh Allah. Dengan demikian spiritualitas adalah suatu gerak di mana seseorang senantiasa membiarkan dan membuka dirinya untuk dipimpin, dibimbing, diterangi, digerakkan dan dikuasai oleh Roh Allah. Untuk dapat mengalami kehadiran Roh Allah dibutuhkan suatu kepekaan hati agar Roh Allah diam di dalam kita (Rom 8: 1-17). b). Pengertian Spiritualitas Katekis Dasar spiritualitas katekis adalah spiritualitas kristiani, di mana setiap orang kristiani terpanggil untuk mewujudkan secara nyata kehidupan Kristus yang diimaninya sebagai Tuhan dan penyelamat dengan cara mengintegrasikannya dalam kehidupan sehari-hari (Sarjumunarsa, 1985: 23).

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 Spiritualitas katekis dapat diartikan hidup rohani seorang katekis, sebagai orang kristiani yang memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang agama yang cukup untuk mengkomunikasikan apa yang diketahui dan dialami kepada orang lain dan dapat menjadi saksi iman di tengah-tengah umat melalui kesaksian hidup yang nyata (Heuken, 2002: 12). Dengan demikian spiritualitas katekis adalah hidup rohani seorang katekis yang senantiasa didorong, dimotivasi, dibimbing, dipimpin, dijiwai, diterangi, dan digerakkan oleh kekuatan Roh Allah yang berpengetahuan dan berpengalaman di bidang agama, memiliki kesaksian iman dan mengkomunikasikannya kepada umat di tengah-tengah kehidupan nyata. c). Perlunya Spiritualitas bagi katekis dengan Berguru pada Yesus Kristus Setiap kegiatan akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh daya dorong yang mendasarinya. Daya dorong tersebut adalah spiritualitas. Seorang katekis dalam menjalankan tugas panggilannya perlu memiliki spiritualitas katekis. Sumber spiritualitas para katekis adalah Yesus Kristus. Katekis harus memiliki sikap pengharapan akan kualitas hidup kristiani dengan menjadikan Yesus sebagai pedoman hidup. Yohanes Paulus II mengharapkan agar para katekis menimba spiritualitas katekis dari Sang Guru yakni Yesus Kristus. Banyak hal yang dapat dipelajari dari Yesus Kristus yang merupakan katekis ulung di mana kesuksesan dan keberhasilan terlihat dari banyaknya orang yang menjadi pengikut, percaya dan bertobat. Kesetiaan Yesus terhadap tugas terlihat dari apa yang dilakukan-Nya, di mana Ia tidak henti-hentinya terus mengajar (CT, art. 9). Apa yang diajarkan-Nya sungguh memberikan teladan yang mendalam bagi para pendengar-Nya, dan tidak

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 terlepas dari kenyataan hidup-Nya. Tindakan yang Ia lakukan sungguh-sungguh menunjukkan karya penebusan bagi dosa manusia yang merupakan perwujudan nyata atas sabda-Nya dan sekaligus sebagai kepenuhan wahyu. Para katekis diharapkan memiliki dan meneladani apa yang dilakukan oleh Yesus dalam mengajar. Hal ini dilakukan agar para katekis menemukan sinar terang dan kekuatan untuk secara otentik memperbaharui katekese (Komisi Kateketik KWI, 2009: 30-31). B. Spiritualitas Katekis dan Tantangannya Spiritualitas seorang katekis memperoleh warna yang khas dari lingkungan hidupanya. Spiritualitasnya nampak dalam sikap, semangat, berani dan rela hati dalam mengembangkan iman masyarakat melalui sabda yang diwartakannya. Bagi katekis sendiri dalam menumbuhkan spiritualitasnya sangatlah tidak mudah karena banyak tantangan yang harus dihadapinya. Spiritualitas katekis dan tantangan akan dijelaskan pada bagian ini. 1. Spiritualitas Katekis Spiritualitas katekis merupakan sumber dan pedoman perilaku yang menopang tugas katekis sehubungan dengan panggilannya yang khusus. Spiritualitasnya menyangkut hubungan pribadi antara katekis dengan Allah yang tampak dalam hidup sehari-hari. Dalam kenyataan hidup katekis banyak sekali macam-macam spiritualias katekis yang bisa dipelajari, namun dalam pembahasan ini penulis hanya membatasi pada empat macam spiritualitas katekis yang harus dimiliki oleh katekis, yaitu sedia diutus, semangat menggereja, menjadi murid dan berakar dan berbuah.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 a. Sedia Diutus Katekis sebagai fungsionaris Gereja memiliki spiritualitas sedia diutus oleh Gereja. Sikap sedia diutus oleh Gereja yang hidup dalam diri katekis pada dasarnya mengalir dari panggilan yang dikehendaki oleh Yesus sendiri. Dalam hidup merasulNya, Yesus sanggup mendorong dan mempengaruhi banyak orang untuk mendalami hidup rohani yang dalam. Demikian pula katekis dipanggil untuk mempunyai hidup rohani yang mendalam, yaitu menjalankan kehidupan doa, latihan rohani, membaca Kitab Suci dan devosi (Sarjumunarsa, 1982: 33). Katekis menyadari kesediaan diri untuk sedia diutus oleh Gereja karena ia merasa dipanggil untuk mengikuti cara hidup Yesus yang setia diutus oleh Bapa-Nya sampai pada akhir hayat-Nya. Demikian pula katekis yang sedia diutus terlihat dalam keterlibatannya yang formal dalam pengutusan Gereja. Maka dalam menyangkut tugasnya katekis menyatakan kepada masyarakat akan kehadiran Gereja yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat sampai pada akhir hayatnya (Sarjumunarsa, 1982: 34). b. Semangat Menggereja Seorang katekis tentunya memiliki sikap semangat menggereja yang mendalam yakni bergerak dalam komunikasi iman jemaat. Katekis yang bergerak dalam komunikasi iman jemaat tentu saja harus memiliki sikap dan sifat komunikatif. Sikap dan sifat tersebut terlihat dalam keterbukaannya untuk sedia dan setia mendengarkan sabda Tuhan, karena tugas khusus katekis dalam rangka menggereja yang bergerak dalam komunikasi iman jemaat, maka ia harus memiliki semangat dan cita-cita untuk menggerakan seluruh kegiatan Gereja dalam

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 mengkomukasikan imannya. Dalam komunikasi iman jemaat yang integral akan terwujud Gereja yang hidup, nyata, dan damai (Sarjumunarsa, 1982: 34-35). c. Menjadi Murid Yesus sebelum mengakhiri tugas-Nya dan terangkat ke surga, Ia mendekati para murid dan berkata: Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. (Matius 28: 18-20) Dalam ayat-ayat tersebut, sangat jelas bahwa Yesus memberi kuasa dan tugas kepada para murid, yaitu menjadi murid sekaligus sebagai pengajar. Kaitannya dengan ayat-ayat tersebut semua orang kristiani termasuk katekis adalah murid Yesus, maka betapa pun katekis memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam mengajar ia tetap murid Yesus. Dalam Injil Matius 11: 29 dikatakan: “Belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati”, ayat tersebut mengajak kepada katekis untuk tetap setia belajar agar ia memiliki sikap lemah lembut dan rendah hati, artinya terbuka pada berbagai pengalaman, pendapat, siap menerima kritikan dan tidak malu bertanya (Sarjumunarsa, 1982: 35-36). d. Berakar dan Berbuah Katekis dikatakan berhasil mengembangkan spiritualitasnya apa bila iman Gereja semakin mengakar dan berbuah di dalam kehidupan jemaat. Hal ini bertolak dari perkataan Yesus yang terdapat dalam Injil Matius 7: 16 yaitu: “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka”. Gereja semakin berakar mengandung arti Gereja

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 bertumbuh, berkembang dan menyatakan dirinya di dalam seluruh aspek kehidupan jemaat baik itu dari segi kebudayaan, sosial, ekonomi, keagamaan dan kehidupan sehari-hari dengan demikian seluruh aspek kehidupan masyarakat merasakan dan menjiwai semangat iman Kristiani. Sedangkan Gereja semakin berbuah mengandung arti tindakan umat yang nyata (perbuatan baik). Tindakan baik ini ditunjukan bukan hanya kepada sesama jemaat tetapi juga kepada masyarakat luas. Kebaikan yang dilakukan jemaat akan masuk ke dalam jiwa masyarakat sehingga menimbulkan dorongan kepada masyarakat luas untuk berbuat baik dan beramal kasih kepada sesama (Sarjumunarsa, 1982: 36-37). Dorongan yang dilakukan jemaat tidak hanya memberi dampak pada tindakan kasih tetapi juga mendorong umat untuk tetap bersatu dalam iman sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya masing-masing. 2. Tantangan dalam Menumbuhkan Spiritualitas Katekis Banyak tantangan yang harus dihadapi umat kristiani di zaman yang modern ini. Tantangan tersebut antara lain adalah sosial politik, sosial ekonomi, sosial budaya dan lain-lain. Begitu pula bagi para katekis yang hidup di tengah zaman yang serba modern begitu banyak tantangan yang harus dihadapi dalam menumbuhkan spiritualitas katekis (Komisi Kateketik KWI, 2009: 13). Perlu adanya kesadaran dan usaha yang keras dari pihak katekis. Dengan kesadaran dan usaha yang muncul dari dalam hati katekis, ia akan sanggup mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Dalam hal ini, penulis membatasi tantangan yang dihadapi para katekis dalam menumbuhkan spiritualitas katekis pada budaya materialistik dan hedonis, budaya audio visual, krisis makna generasi muda, dan globalisasi.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 a. Budaya Materialistik dan Hedonis Dogma budaya materialistik dan hedonis adalah hidup yang berlimpah materi dan kesenangan. Dalam budaya tersebut kita akan diakui oleh orang lain apabila kita hidup dalam kemewahan dan kenikmatan (Komisi Kateketik KWI, 2009: 14). Segala macam pengorbanan, askese dan tapa kesederhanaan, dan kerelaan untuk melepaskan kesenangan demi cita-cita luhur tidak mempunyai tempat dalam budaya tersebut. Budaya materialistik dan hedonis melahirkan sikap konsumerisme. Konsumerisme adalah sikap orang yang terdorong secara terus-menerus menambah tingkat konsumsi (Iswarahadi, 2003: 84). Dengan demikian manusia akan berada dalam dunia yang penuh dengan ketidakpuasan sehingga menyebabkan manusia akan merasa kurang dan kurang. Dalam budaya materialistik dan hedonis uang menjadi unsur yang paling utama sehingga uang menjadi sesuatu yang dipuja bagi kalangan masyarakat, entah itu kalangan atas, menengah maupun kalangan bawah. Dengan adanya uang, manusia bisa membeli apa yang diinginkan, maka apa saja akan dilakukan guna mendapatkan uang, misalnya saja korupsi. Sebagai akibatnya manusia lebih tertarik kepada uang daripada mengikuti kegiatan-kegiatan rohani seperti pendalaman iman, doa rosario dan Ekaristi di Gereja (Komisi Kateketik KWI, 2009: 15). Tanpa disadari pula bahwa katekis juga berada dalam budaya tersebut, hal ini juga menjadi tantangan bagi katekis sendiri apakah ia bisa mengatasi dirinya sendiri untuk tidak terlalu berlebihan atau malah justru berlebihan?. b. Budaya Audio Visual Salah satu ciri masyarakat Indonesia zaman sekarang ini, baik yang tinggal di kota maupun di desa adalah hidup ditentukan oleh audio visual (media massa, video,

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 televisi dan internet). Pengaruh audio visual jauh lebih mempengaruhi manusia dibandingkan dengan kotbah pastor di Gereja. Banyak orang yang rela menghabiskan waktunya berjam-jam hanya di depan televisi dan video. Salah satu contoh tayangan televisi yang dominan digemari masyarakat Indonesia adalah iklan. Iklan mempromosikan berbagai macam materi, misalnya saja rumah mewah, mobil dan lain-lain (Komisi Kateketik KWI, 2009: 14-15). Dalam kenyataan, audio visual juga memberikan dampak yang positif bagi masyarakat luas tetapi pada umumnya mereka kurang menyadari akan hal itu. Hal ini disebabkan karena konsumsi masyarakat terhadap audio visual terlalu berlebihan sehingga melupakan yang lainnya. Hal ini juga menjadi tantangan bagi katekis selain menyadarkan masyarakat terhadap bahayanya audio visual, di satu sisi ia juga sebagai pengguna atau penikmat dari audio visual tersebut. c. Krisis Makna Generasi Muda Pada hakekatnya generasi muda adalah generasi bagi kelanjutan hidup Gereja artinya bersama generasi muda Gereja tumbuh dan berkembang. Namun dalam kenyataan yang terjadi dengan adanya berbagai macam tawaran hidup yang berbau duniawi menjadikan generasi muda mengalami krisis makna. Artinya generasi muda mengalami kebingunan dan kesulitan dalam mencari, menemukan makna hidup dan memberikan arti yang mendalam bagi hidup mereka dan Gereja. Reaksi yang muncul dari generasi muda yang mengalami kebingungan adalah terlibat pada hal-hal yang negatif, seperti hedonisme, syndrom disco, fundamentalisme, pembentukan geng-geng kriminal, pengisap obat-obat terlarang, dan pemisahan diri dari masyarakat (Komisi Kateketik KWI, 2009: 15-16). Hal ini

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 juga yang menjadikan tantangan bagi katekis, di mana katekis harus mampu membimbing dan mengarahkan generasi muda agar berada dalam koridor yang lurus yakni berada pada jalur yang sesuai dengan harapan Gereja. d. Globalisasi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), globalisasi didefinisikan sebagai proses masuknya ke ruang lingkup dunia, suatu proses di mana antar individu, kelompok dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Dalam kehidupan bermasyarakat globalisasi mempengaruhi semua aspek kehidupan. Salah satu dari aspek kehidupan masyarakat adalah aspek budaya yaitu nilainilai atau persepsi yang dianut oleh masyarakat seperti aspek kejiwaan yaitu alam pikiran. Tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam pikiran orang yang bersangkutan, karena umat beriman berada dalam lingkup masyarakat maka globalisasi juga mengancam hidup mereka (Staf Dosen IPPAK, 2009: 9). Hal ini juga yang menjadi tantangan bagi katekis dalam menumbuhkan spiritualitasnya, tanpa disadari pula bahwa katekis juga berada dalam lingkup globalisasi, apakah ia tetap setia pada apa yang diimaninya atau malah justru sebaliknya?. C. Usaha Pembinaan dalam Menumbuhkan Spiritualitas Katekis Pembinaan dimengerti sebagai terjemahan dari kata Inggris, yaitu training yang berarti latihan, pendidikan, pembinaan. Pembinaan yang paling ditekankan adalah pengembangan manusia pada segi praktik yaitu pengembangan sikap, kemampuan dan kecakapan yang ditunjukkan dengan pengaktualisasian dalam

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 kehidupan sehari-hari (Mangunharjdana, 1986: 11). Berkaitan dengan katekis, ia juga perlu mendapat pembinaan spiritualitas katekis yang memadai agar apa yang sudah ia miliki dapat ia kembangkan dan praktekkan di dalam kehidupan sehari-hari sebagai pembimbing dan pembina iman. Maka hal-hal yang diungkap pada bagian ini adalah perlunya usaha pembinaan, bentuk-bentuk pembinaan dan pelaku pembinaan. 1. Perlunya Usaha Pembinaan Spiritualitas Katekis Pembinaan spiritualitas katekis merupakan upaya membantu katekis agar lebih beriman sehingga jati dirinya berkembang ke arah lebih baik dan bermakna yaitu menuju hidup rohani yang terwujud dalam cinta kasih. Supaya katekis memiliki spiritualitas yang mendalam dan jumlahnya semakin memadai diperlukan usaha pembinaan terhadap katekis maupun calon-calon katekis. Pembinaan terhadap katekis dan calon-calon katekis perlu dilakukan dengan seksama, ditekankan kualitas katekis dan tujuan pembinaan karena umat yang akan dihadapi sangat beragam dan kritis (Komisi Kateketik KWI, 1997: 43). Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mencapai tujuan pembinaan spiritualitas katekis. Pertama, kualitas katekis yang menyangkut hidup rohani, motivasi, pengetahuan, keterampilan dan spiritualitas. Dengan demikian, ia dapat melakukan tugasnya dengan baik dan benar sehingga apa yang dilakukan dan dikatakannya dapat dipertanggungjawabkan. Kedua, meningkatkan kerjasama. Dalam dunia kerja tentunya katekis akan bekerjasama dengan berbagai pihak yang secara khusus dalam Gereja, yakni antar katekis, pastor paroki dan fungsionaris dewan paroki maka dari itu penanaman akan sikap kerja sama itu sangat penting

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 dengan demikian akan tercipta suasana dan semangat kerja sama, koordinasi dan komunikasi yang sehat dan baik diantara mereka. Ketiga, mewujudkan regenerasi dan kaderisasi katekis dengan cara membuka diri dan hati terhadap kehadiran dan keterlibatan katekis yang masih muda dan belum berpengalaman (Prasetya, 2007: 55-56). 2. Bentuk-bentuk Pembinaan Spiritualitas Katekis Dalam prakteknya banyak sekali bentuk-bentuk pembinaan yang biasa dilakukan katekis dalam menumbuhkan spiritualitasnya. Karena begitu banyak bentuk-bentuk pembinaan itu, penulis membatasi pada pendidikan formal dan informal, retret, dan pemeriksaan batin. a. Pendidikan Formal dan Informal Para katekis yang berkarya biasanya mendapat pengetahuan seputar katekese, Kitab Suci, kristologi dan pengetahuan iman Katolik yang bersumber dari pendidikan yang mereka tempuh yaitu pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang didapat dari sekolah kateketik, pastoral dan teologi. Biasanya para katekis ini adalah lulusan kateketik dari lembaga pendidikan tinggi kateketik, lulusan pastoral dari lembaga-lembaga pendidikan pastoral dan lulusan teologi dari lembaga-lembaga pendidikan teologi atau Sekolah Tinggi Fakultas Teologi. Pendidikan informal adalah pendidikan yang didapat dari luar, artinya bukan dari pendidikan sekolah. Pengetahuan tentang iman Katolik biasanya bersumber dari kursus-kursus tentang katekese, seminar, dan pelatihan katekis (Komisi Kateketik

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 KWI, 2005: 20 dan 34). Kesemuanya itu ditempuh oleh katekis agar mereka memiliki pengetahuan, keterampilan dan spiritualitas yang mendalam. b. Retret Retret berasal dari kata Latin yakni retrare artinya mengundurkan diri. Mengundurkan diri diasumsikan sebagai menyepi; menjauhkan diri dari kesibukan sehari-hari; meninggalkan dunia ramai (Tangdilitin, 1984: 94). Bagi seorang katekis, retret merupakan salah satu bentuk kegiatan yang penting. Dengan mengikuti retret kehidupan rohaninya akan berkembang, terdorong untuk semakin terbuka terhadap karya cinta kasih Allah sehingga mampu mengenal karya-Nya, cara kerja-Nya dan bimbingan-Nya. Dengan demikian katekis semakin tanggap terhadap karya dan bimbingan Allah. Katekis akan terlatih untuk menangkap hal-hal yang membuatnya tidak mampu dalam menjawab cinta kasih Allah itu secara memadai. Melatih hal-hal yang membuat katekis mampu menjawab cinta kasih Allah. Selain itu juga dengan mengikuti retret katekis semakin terdorong untuk melakukan perubahan hidup sehingga ia memiliki sebuah visi untuk menempuh arah hidup yang baru dan memperoleh kekuatan untuk mewujudkannya dalam hidup sehari-hari (Mangunharjdana, 1985: 13). c. Refleksi Bagi seorang katekis, refleksi sudah menjadi kewajiban yang harus dilakukan dan ditanamkan sejak dini. Refleksi merupakan usaha untuk mengembangkan hidup iman atau hidup rohani. Hal yang biasa diolah dalam refleksi adalah pengalaman hidup selama setengah hari atau satu hari yang sudah berlalu. Dengan refleksi katekis

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 berusaha dengan rahmat Allah mengenal karya-Nya, cara kerja serta bimbingan-Nya dan tanggapan-tanggapannya terhadap Allah. Sebagai hasil karya Allah dan tanggapan katekis terhadap Allah, ia mengucap syukur atas kebaikan Tuhan, memohon ampun atas kelemahan dan sikap serta memohon rahmat penerangan dan berusaha agar dapat mengenal karya Allah di waktu-waktu mendatang dan berdoa mohon rahmat kekuatan Tuhan dan kesediaan hati agar dapat menaggapinya dengan baik (Mangunharjdana, 1985: 14-15). Kebiasaan diri katekis dalam meluangkan waktu untuk berrefleksi akan menjadikannya semakin menyadari bahwa Allah selalu melindungi, menyertai dan membimbingnya. 3. Pembina dalam Pembinaan Spiritualitas Katekis Pembinan dalam arti umum adalah orang yang dipilih untuk mengarahkan orang kepada hal-hal yang baik. Pembina dalam arti sempit adalah orang-orang yang ditunjuk dan dipilih oleh Gereja untuk mendidik dan melatih para katekis. Para pembina ini harus dipilih secara seksama, orang-orang kristiani yang baik, setia pada Gereja, memiliki kemampuan intelektual dan berpengalaman dalam bidang kateketik. Selain para pembina, para calon katekis juga harus mempunyai kepercayaan terhadap para pembina dan menghargai mereka sebagai pembimbing yang diberikan oleh Gereja untuk membantu mereka dalam perkembangan mereka (Komisi Kateketik KWI, 1997: 56). Persoalan yang paling penting dalam pembinaan katekis adalah pembina yang cocok dan memadai. Katekis dan calon katekis perlu menyadari bahwa pembina yang utama adalah Yesus Kristus sendiri, yang membina mereka melalui

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Roh Kudus. Untuk bisa mendengar suara Tuhan dibutuhkan semangat iman dan sikap doa dari pihak katekis maupun calon katekis. Katekis sendiri dapat dianggap sebagai pembina, artinya mereka bertanggungjawab atas perkembangan batin mereka sendiri melalui sikap tanggap terhadap Tuhan. Mereka perlu menyadari hal itu dan berusaha mendengar Guru Ilahi sehingga mereka bisa tumbuh dalam kearifan dan cinta (Komisi Kateketik KWI, 1997: 55). Katekis bekerja atas dukungan komunitas gerejawi. Oleh karena itu, komunitas dipanggil untuk bekerjasama dalam membina para katekis maupun calon katekis dengan menciptakan suasana yang memungkinkan mereka bisa diterima dan didukung dengan menerima mereka sebagaimana adanya dan memberi bantuan kepada mereka. Dalam komuitas, uskup dan pastor paroki mempunyai peran khusus sebagai pembina para katekis dan calon katekis. Mereka memberi perhatian khusus kepada katekis dan calon katekis yang pada gilirannya akan senang belajar dari mereka (Komisi Kateketik KWI, 1997: 55). Perhatian dari komunitas menujukan bahwa mereka sungguh-sungguh memperhatikan akan perkembangan dan keberadaan mereka sebagai bagian dari para pengembala. D. Rangkuman Penulis setelah mendeskripsikan spiritualitas katekis dan upaya pembinaannya dengan panjang lebar, pada bagian ini penulis membuat rangkuman atas apa yang menjadi pokok pembahasan bab II. 1. Katekis sebagai Panggilan Allah Menjadi seorang katekis merupakan anugerah yang patut disyukuri karena melalui Gereja, Allah memanggil mereka. Berkat Sakarmen Baptis dan Sakramen

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Penguatan yang telah mereka terima memampukan mereka menjalankan tugas panggilannya karena Roh Kudus yang telah mereka terima memberi kekuatan dan dorongan kepada mereka. Panggilan adalah undangan Allah yang ditujukan kepada manusia yang dipilih-Nya agar menyerahkan dan mengabdikan diri secara utuh kepada Allah demi tugas pelayanan. Tugas panggilan tersebut adalah mewartakan Sabda Allah. Katekis dapat diartikan sebagai orang yang melibatkan diri dalam pembinaan iman umat dengan semangat Roh dipanggil secara khusus yang mendapat tugas dan diutus oleh Allah untuk mewartakan Kabar Gembira yaitu Yesus Kristus. Sedangkan panggilan sebagai katekis adalah undangan Allah yang ditujukan kepada orang beriman untuk menjadi seorang katekis yang mendapat tugas dari Gereja untuk memperkenalkan Kristus, menumbuhkan dan mengembangkan iman umat baik dalam komunitas basis, teritorial maupun kategorial. Sebagai seorang awam yang terpanggil, tentunya katekis memiliki panggilan yang sangat khas yakni ia dipanggil dan diutus untuk mewartakan sabda Allah dengan sifat keduniawiaannya di tengah kehidupan bermasyarakat. Maka sikap yang perlu dimiliki oleh katekis adalah sikap rendah hati, semangat melayani, rela berkorban untuk sesama, mampu bekerja sama dan memiliki hidup rohani yang baik. Tujuan panggilan katekis terlihat dalam peranannya dalam Gereja yakni berkatekese, mempertahankan kegandaan wajah Gereja dengan tetap hadir sebagai agen pastoral awam, mencegah pereduksian Kristianitas pada persoalan ibadat dan pelayanan yang memberdayakan solidaritas umat beriman. Dalam menjalankan tugasnya tersebut perlu didukung dengan pengetahuan, keterampilan dan spiritualitas. Agar tugasnya berjalan dengan lancar dan penuh tanggugjawab serta spiritualitasnya tumbuh,

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 berkembang dan mengakar maka katekis harus berguru kepada Sang Katekis Ulung yaitu Yesus Kristus. Spiritualitas adalah suatu gerak di mana seseorang senantiasa membiarkan dan membuka diri untuk dipimpin, dibimbing, diterangi, digerakkan dan dikuasi oleh Roh Allah. Spiritualitas yang harus ia miliki adalah spiritualitas katekis. Spiritualitas katekis adalah hidup rohani seorang katekis yang senantiasa didorong, dimotivasi, dibimbing, dipimpin, dijiwai, diterangi, dan digerakkan oleh kekuatan Roh Allah yang memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang agama yang cukup, memiliki kesaksian iman dan mengkomunikasikannya kepada umat di tengah-tengah kehidupan nyata. 2. Spiritualitas Katekis dan Tantangannya Spiritualitas yang harus dimiliki oleh katekis adalah kesediaan diri untuk diutus, memiliki semangat menggereja, kerelaan diri menjadi murid dan sebagai hasilnya adalah berakar dan berbuah. Dalam mewujudkan spiritualitas tersebut, ia tidak luput dari berbagai macam tantangan. Tantangan tersebut adalah budaya materialistik dan hedonis, budaya audio visual, krisis makna generasi muda dan globalisasi. Dibutuhkan usaha dan kerja keras dari pihak katekis sendiri dalam menumbuhkan spiritualitas katekis agar ia mampu bertahan dalam menghadapi tantangan. 3. Usaha Pembinaan Spiritualitas Katekis Salah satu usaha dalam mengembangkan spiritualitas katekis adalah melalui pembinaan spiritualitas. Usaha tersebut bertujuan agar katekis semakin beriman sehingga jati dirinya semakin berkembang ke arah lebih baik, bermakna dan menuju

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 hidup rohani yang mendalam. Pembinaan terhadap katekis perlu dilakukan secara seksama, ditekankan kualitas dan tujuan pembinaan. Bentuk bentuk pembinaan yang biasa dilakukan adalah pendidikan formal dan informal, retret, dan refleksi. Para pembina dalam pembinaan juga perlu menjadi perhatian karena para pembina ini sangat berpengaruh pada hasil maupun kualitas katekis yang dihasilkan.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 BAB III PENELITIAN TENTANG PERANAN PEMBINAAN SPIRITUALITAS BAGI MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK Melihat keadaan zaman yang semakin berkembang dan berubah membawa dampak pada tataran kehidupan Gereja. Salah satu dampak dari perkembangan dan perubahan tersebut menantang bidang pewartaan Gereja untuk memiliki katekis yang profesional maupun berspiritualitas. Salah satu lembaga yang dipercaya Gereja dan memiliki tanggung jawab dalam mendidik katekis yang profesional maupun berspiritualitas adalah Prodi IPPAK. Di Prodi IPPAK katekis yang profesional maupun berspiritualitas terus diupayakan. Upaya tersebut nyata dalam bentuk pembinaan spiritualitas. Pembinaan spiritualitas menjadi perhatian penting di Prodi IPPAK, karena pembinaan tersebut menjadi roh utama dalam pembentukan mahasiswa menjadi katekis yang profesional maupun berspiritualitas. Untuk mengetahui usaha Prodi IPPAK dalam mengupayakan katekis-katekis yang berspiritualitas maupun profesional melalui pembinaan spiritualitas, pada bab III dipaparkan mengenai pembinaan spiritualitas bagi mahasiswa Prodi IPPAK yang terbagi ke dalam lima bagian. Bagian pertama, selayang pandang Prodi IPPAK. Kedua, persiapan penelitian. Ketiga, laporan penelitian. Keempat pembahasan hasil penelitian. Kelima, kesimpulan penelitian. A. Gambaran Umum Prodi IPPAK Prodi IPPAK menapaki usia yang ke lima puluh tahun yang artinya kiprah maupun sepak terjang dalam mengupayakan katekis yang profesional maupun

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 berspiritualitas sangatlah serius. Keseriusan tersebut terlihat dalam perjuangan mengupayakan katekis-katekis yang berkualitas yang penulis paparkan pada bagian ini. Hal-hal yang dipaparkan mengenai sejarahnya, visi misi, tujuan dan sasarannya, gambaran kurikulumnya, tujuan pembinaan spiritualitas dan pelaksanaan pembinaan spiritualitas di Prodi IPPAK. 1. Sejarah Prodi IPPAK Majelis Agung Wali Gereja Indonesia (sekarang Konferensi Waligereja Indonesia) merencanakan usaha-usaha dalam meningkatkan pelayanan di bidang katekese yakni pembaharuan pada diri katekese dan pelaksanaannya pada pelayanan hidup umat beriman. MAWI menyerahkan rencana tersebut kepada Rm. F. Heselaars, S.J yang kemudian bekerjasama dengan Rm. C. Carry, SJ. Pada tahun 1960 Rm. F. Heselaars, SJ mendirikan Pusat Kateketik dengan kegiatan-kegiatan antara lain: penerbitan buku, penataran guru dan ceramah-ceramah untuk kelompokkelompok kategorial lainnya. Pada saat itu pula telah disadari akan kurangnnya tenaga-tenaga lapangan yang terdidik (katekis), bila hal itu terus dibiarkan secara terus menerus dapat memperlambat usaha dalam memperbaharui katekese dan berakibat pula pada pelaksanaannya, maka untuk mengatasi hal itu pada tanggal 1 Agustus 1962 Rm. F. Heselaars, S.J mendirikan Yayasan Akademik Kateketik Katolik Indonesia (AKKI) yang bertempat di Jln. P. Senopati 20 Yogyakarta (Staf Dosen IPPAK, 2010: 1). Atas prakarsa Justinus Kardinal Darmoyuwono Pr, kedua lembaga tersebut menempati gedung sendiri di Jln. Abubakar Ali no. 1 Yogyakarta. Tempat yang baru ini memenuhi kebutuhan akan ruang-ruang kuliah, perpustakaan dan ruang baca,

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 kesekretariatan, kantor kerja staf, laboratorium, audio visual, sanggar-sanggar kesenian, aula, ruang pameran dan ruang rekreasi. Yayasan tersebut menyelenggarakan pendidikan tinggi Kateketik untuk memenuhi kebutuhan jemaat Gereja Katolik akan tenaga-tenaga katekis yang berkualitas (memiliki kemampuan, keterampilan dan spiritualitas) guna menopang dan mengembangkan hidup jemaat karena jemaat yang dihadapi adalah jemaat yang hidup, terus berkembang, kebutuhan jemaat akan pendamping-pendamping dalam pendalaman iman yang handal dan semakin kuatnya arus sekularisme (Staf Dosen IPPAK, 2010: 1). Pada tanggal 3 April 1964, AKKI disahkan dengan Akte Notaris R.M. Soerjanto Partaningrat SH, nomor 3 di Yogyakarta. Pada tanggal 11 Mei 1965, AKKI memperoleh status terdaftar dari mentri PTIP dengan SK No. 108/B.Swt/P/65. Pada tahun 1966 diselenggarakan ujian tingkat Sarjana Muda untuk pertama kalinya. Setelah beberapa kali menyelenggarakan ujian negara, pada tanggal 31 Desember 1969 AKKI memperoleh kenaikan status dari terdaftar menjadi diakui dari Mentri P dan K dengan SK No. 0170 Tahun 1969. Pada tahun 1969 dibuka tingkat sarjana lengkap yang mendorong perubahan nama lembaga, maka pada tanggal 31 Maret 1971 dengan Akte Notaris R.M. Soerjanto Partaningrat SH, AKKI berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Kateketik Pradnyawidya. Pada tanggal 23 Juni 1971 tingkat sarjana Sekolah Tinggi Kateketik Pradnyawidya memperoleh status terdaftar dari Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen P dan K dengan SK No. 227/DPT/B/71 (Staf Dosen IPPAK, 2010: 1-2). Pada semester gasal tahun akademik 1984-1985 dilaksanakan proses perubahan jenjang dan program pendidikan serta dilakukan penataan kembali nama unit jurusan/ program studi dengan status diakui di lingkungan Koordinasi Perguruan

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 Tinggi Swasta Wilayah V, DIY. Berdasarkan proses itu, Sekolah Tinggi Kateketik Pradnyawidya yang semula terdiri dari dua unit yaitu sarjana muda dan sarjana penuh dipadukan kedalam bentuk baru berupa program sarjana satu (SI) dengan nama Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik Pradnyawidya. Program sarjana satu ini berstatus diakui dengan SK Mendikbud No. 043/0/1985 tertanggal 28 Januari 1985. STFK Pradnyawidya memperoleh penetapan kembali status diakui pada tanggal 14 Mei 1986 dengan SK Mendikbud No. 0362/0/1986. Pada tahun akademik 1991/1992, tepatnya tanggal 26 Desember 1991, STFK Pradnyawidya memperoleh status disamakan dengan SK No. 660/0/1991 (Staf Dosen IPPAK, 2010: 2-3). Dengan adanya peraturan baru dari pemerintah bahwa lulusan dari LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan), atau yang memiliki akta mengajar dapat secara sah menjadi guru, maka STFK Pradnyawidya memerlukan perubahan jalur dari non pendidikan menjadi jalur pendidikan. Perubahan tersebut mengantar STFK Pradnyawidya kedalam proses merger kepada FKIP USD. Setelah melalui proses merger yang cukup lama, berdasarkan SK Mendikbud No. 08/D/O/1995, tertanggal 14 Februari 1995 STFK Pradnyawidya berubah menjadi Fakultas Ilmu Pendidikan Agama Katolik (FIPA), Jurusan Pendidikan Agama Katolik, Program Studi Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma dengan status disamakan. Berdasarkan SK BAN PT Depdikbud RI No. 02/ABN-PT/AKII/XII/1998 tertanggal 22 Desember 1998 FIFA USD telah terakreditasi B. Pada tahun 1999, pemerintah mengadakan penataan kembali nama-nama program studi di lingkungan PTS di seluruh Indonesia yang memuat status FIPA USD berubah menjdi Program Studi “Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik” (IPPAK) dan menjadi bagian FKIP USD. Pada tahun 2003 IPPAK mengajukan akreditasi

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 kembali. Berdasarkan SK BAN PT Depdiknas RI No. 14/BAN-PT/AkVII/SI/IV/2004 IPPAK mendapat peringkat A. Pada tahun 2008 IPPAK kembali mengajukan akreditasi. Berdasarkan SK BAN PT Depdiknas RI nomor 015/ BANPT/ Ak-XII/SI/VI/2009 IPPAK kembali mendapat peringkat A (Staf Dosen IPPAK, 2010: 3). 2. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Prodi IPPAK Visi adalah pandangan kedepan tentang apa yang akan atau harus terjadi dalam kurun masa depan yang dibayangkan. Yang dibayangkan di masa depan bisa terjadi di masa lalu tetapi belum terwujud di masa sekarang dan tinggal menekuni saja karena mempunyai nilai lestari. Bisa juga apa yang dibayangkan di masa lalu belum terwujud di masa sekarang, maka langkah yang perlu diambil sungguh merupakan langkah yang kreatif dan proaktif. Visi tersebut perlu dituangkan dalam sebuah rumusan yang berfungsi mengingatkan sekaligus juga sebagai motivasi untuk mencapai tujuan (Putranto, 2006: 1). Prodi IPPAK sebagai lembaga pendidikan memiliki visi, misi dan tujuan berdirinya lembaga ini hingga pada akhirnya akan mencapai sasaran yang diinginkan. Adapun visi Prodi IPPAK adalah terwujudnya Gereja yang memperjuangkan masyarakat Indonesia yang semakin bermartabat (Staf Dosen IPPAK, 2010: 4). Usaha dalam mewujudkan Gereja, Prodi IPPAK memprosesnya melalui pembaharuan pada diri katekese dan pelaksanaannya pada pelayanan hidup umat beriman. Usaha tersebut diproses melalui penerbitan buku, penataran guru, ceramahceramah untuk kelompok-kelompok kategorial lainnya, dan mendidik tenaga-tenaga lapangan yang terdidik (katekis) dan berkualitas (memiliki kemampuan,

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 keterampilan dan spiritualitas) guna menopang dan mengembangkan hidup jemaat, karena jemaat yang dihadapi adalah jemaat yang hidup, terus berkembang, kebutuhan jemaat akan pendamping-pendamping dalam pendalaman iman yang handal dan semakin kuatnya arus sekularisme. Misi Prodi IPPAK yaitu mendidik kaum muda menjadi katekis dalam konteks Gereja Indonesia yang memasyarakat dan mengembangkan karya katekese dalam Gereja demi masyarakat Indonesia yang semakin bermartabat (Staf Dosen IPPAK, 2010: 4). Yang ingin dicapai dalam misi tersebut terlihat dalam profil alumni yang dihasilkan yakni guru agama, katekis dan sarjana katekese. Guru agama lebih berkiprah dalam lingkup persekolahan dengan segala kondisinya yang khas (kelas, staf sekolah, kurikulum dan lain-lain). Katekis lebih berkiprah dalam bidang kejemaatan baik dalam tataran keuskupan, paroki, stasi maupun lingkungan dan kondisinya yang khas (pendalaman iman, doa lingkungan, seksi pewartaan dan lainlain). Sarjana katekese dipahami sebagai orang yang mampu memikirkan secara lebih jauh dan mendalam kegiatan katekese, merefleksikannya serta mencari jalan yang sesuai dan lebih baik. Orang ini bukan hanya sebagai pelaksana tetapi juga sebagai pemikir. Lingkup yang digelutinya komisi kateketik, pengisian jurnal-jurnal pastoral dan kateketik dan lain-lain. Tujuan Prodi IPPAK adalah menghasilkan lulusan yang beriman mendalam, memiliki kepribadian yang utuh, mampu berefleksi atas imannya dan berkualifikasi untuk mengemban misi IPPAK (Staf Dosen IPPAK, 2008: 3). Lulusan Prodi IPPAK tidak hanya memiliki keterampilan saja tetapi juga memiliki integritas yang tinggi artinya dia akan menjadi panutan umat dalam perjalanan iman mereka. Bidang iman, penghayatan iman dan pengembangan iman adalah bidang yang menuntut seluruh

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 pribadi oleh karena itu katekis haruslah beriman dan bergulat dalam imannya. Pengalaman pergumulan iman dalam hidupnya direfleksikan dengan bantuan ilmunya agar dapat menjadi bekal dan sarana untuk membantu orang lain dalam menggumuli iman mereka. Dalam mendampingi orang lain dituntut keutuhan pribadi, kemahiran dan kebiasaan berefleksi. Sasaran Prodi IPPAK adalah menghasilkan lulusan yang kompeten untuk menjadi guru agama di sekolah maupun fasilitator katekese dalam jemaat (Staf Dosen IPPAK, 2008: 3). Situasi konkret dewasa ini begitu rupa sehingga sulit bagi seorang katekis untuk hanya mengandalkan jemaat bagi penghidupannya. Satusatunya cara yang bisa diandalkan untuk menjamin kehidupan katekis adalah lembaga-lembaga pendidikan formal yakni sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Jenjang pendidikaan ini dipilih dan dipertahankan untuk memungkinkan para lulusan bisa mengajar di sekolah-sekolah dan tetap berkualifikasi untuk mendampingi jemaat. 3. Gambaran Kurikulum Prodi IPPAK Kurikulum merupakan suatu terjemahan cita-cita pendidikan ke dalam suatu sistem berproses di tengah situasi yang konkret dari masyarakat. Kurikulum terdiri dari unsur formal-sistematik dari proses pendidikan. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar (Samana, 1994: 30). Dalam proses pengembangan kurikulum selalu akan melibatkan visi, wawasan tentang kondisi konkret peserta didik, dan transparannya akan potensi-potensi pengembangan.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Dalam penjabaran visi, misi, tujuan dan sasaran Prodi IPPAK di atas, terlihat sangat jelas bahwa kurikulum yang ada di Prodi ini berdiri dalam dua pilar pokok yakni pendidikan keguruan agama Katolik untuk sekolah dan katekese untuk jemaat. Keduanya mempunyai karakter yang berbeda satu dari yang lain namun tetap disinkronkan dalam satu konstruksi kurikuler baik lewat pendalaman teori maupun lewat praktek. Dalam prakteknya para mahasiswa dilatih untuk merencanakan, melaksanakan secara sistematis dan mengevaluasinya (Putranto, 2006: 1). Kontruksi kurikulum Prodi IPPAK mencakup unsur kateketik, teologi, Kitab Suci, pendidikan dan keguruan dan keterampilan-keterampilan yang membantu dalam pelayanan kepada jemaat. Kontruksi kurikulum Prodi IPPAK dapat terlihat dari macam-macam profil. Profil yang pertama, yaitu teori dan praktek. Beban kurikulum terbesar pada unsur teoritik (64,67%), persiapan praktek (26,94%) dan praktek lapangan (8,38%). Faktor-faktor yang mendorong perbedaan ataupun proporsi ini adalah pembatasan pada jumlah SKS (Satuan Kredit Semester) untuk program SI, corak interdisipliner dari katekese, luasnya materi iman yang harus dikuasai, minimnya pengetahuan awal mahasiswa dan luasnya bidang kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh alumni (Putranto, 2006: 5). Profil yang kedua yaitu rumpun perkuliahan pembentuk kurikulum terdiri dari: kateketik (33,53%) yang mencakup teori dan praktek, teologi dan Kitab Suci (25,14%), teori keguruan (10,17%), teori menggereja (10,77%) dan pendukung lain (20,39%). Corak interdisipliner dari pendidikan katekis dengan konteks yang terlihat dalam rumpun tersebut, porsi terbesar pada bidang kateketik, disusul dengan materi tentang iman. Pengantar-pengantar baik untuk mengajar di sekolah maupun untuk bekerja di paroki mempunyai porsi yang seimbang, sedangkan pendukung lain

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 (kuliah-kuliah yang diwajibkan pemerintah, pengetahan metodologis, bahasa inggris, keterampilan dan kuliah-kuliah kontekstual) mendapat porsi cukup besar. Profil yang ketiga adalah kompetensi, yang terdiri dari kompetensi kepribadian (8,38%), pedagogis (28,7%), profesional (53,3%), dan sosial (9,5%). Profil ini dimaksudkan agar bisa dimengerti oleh kalangan luas di luar IPPAK, khusunya di lingkungan FKIP dan USD (Putranto, 2006: 5-6). Dalam upaya pengembangan kurikulum tentunya selalu melibatkan wawasan tentang kondisi konkret peserta didik. Pengembangan pada peserta didik dilakukan melalui penguasaan softskills. Penguasaan softskills ini dicapai melalui kegiatan akademik dan non akademik. Pembinaan spiritualitas, pembinaan umum, teater rakyat, rekoleksi bagi mahasiswa merupakan bagian dari perencanaan Prodi IPPAK dalam penguasaan dan pengembangan softskills. Softskills yang dimaksud adalah karakter luhur (bertanggung jawab, jujur, disiplin, altruistik), kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerja sama dalam team, profesionalisme dan kepemimpinan (Staf Dosen IPPAK, 2009: 54). Melalui pembinaan spiritualitas para mahasiswa diharapkan mempunyai komitmen dan rencana kedepan dalam penentuan pilihan hidupnya. Sekalipun dalam kurikulum mendapat 0 (nol) SKS (Satuan Kredit Semester), namun pembinaan spiritualitas mendukung akan pencapaian kurikulum. Pembinaan spiritualitas ini membantu mahasiswa semakin berkembang kepribadiannya sebagai calon pendidik iman yang dewasa. Pembinaan ini menjadi sangat penting bertolak dari kenyataan adanya gejala yang terjadi dalam masyarakat yang memperlihatkan kemerosotan penghargaan terhadap hidup rohani (Staf Dosen IPPAK, 2009: 55). Dalam proses

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 pencapaiannya itu tidak terlepas dari tujuan dan materi yang disampaikan dalam pembinaan spiritualitas. 4. Tujuan dan Materi Pembinaan Spiritualitas Pada bagian ini dipaparkan mengenai tujuan dan materi dalam pembinaan spiritualitas. Kedua hal tersebut tidak dapat terpisahkan karena saling mendukung dan berintegrasi satu sama lain. a. Tujuan Pembinaan Spiritualitas Dalam sebuah lembaga pendidikan, pembinaan spiritualitas pada peserta didik harus mengalir dari spiritualitas yang dihayati lembaga. Spiritualitas bukan hanya informasi, cara berdoa atau bermeditasi tetapi juga pendekatan terhadap kehidupan dan perseptif bagi pengolahan kehidupan dengan cara memikirkan sesuatu, cara menata nilai-nilai dan cara mengolah sebuah pilihan dan keputusan. Di Prodi IPPAK pembinaan spiritualitas menjadi dasar penyatuan bagi mahasiswa dalam menyatukan kecerdasan intelektual, emosional, afeksi maupun tindakan dan spiritual. Pembinaan tersebut mengarah pada profil lulusan yang hendak dicapai dalam visi dan misi Prodi IPPAK yang bertujuan membantu mahasiswa dalam memperkembangkan kedewasaan manusiawi maupun kedewasaan iman dalam rangka mewujudkan katekis yang profesional, berspiritual, bertanggungjawab dan memiliki iman yang mendalam (Staf Dosen IPPAK, 2010: 73-74). Dalam pembinaan spiritualitas, yang dikembangkan pada diri mahasiswa adalah spiritualitas pelayanan dan kesediaan direpotkan demi jemaat, spiritualitas gembala yang merangkul jemaat (Yoh 10: 1-21), spiritualitas siap menjadi kecil

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 untuk membesarkan jemaat (Mat 11: 2-19), spiritualitas kerja sama dengan rekan dan team (Mat 10: 5-15) dan spiritualitas untuk tetap setia belajar (Mat 11: 29). Itu semua agar menjadi bekal bagi mahasiswa sebagai upaya untuk mengembangkan spiritualitasnya secara lebih mendalam sehingga memupuk panggilannya menjadi seorang katekis yang memiliki kepribadian yang matang dan mantap, pengetahuan yang memadai dan keterampilan yang cukup. Lebih khusus lagi pembinaan spiritualitas dipahami sebagai pembentukan kepribadian mahasiswa agar lebih berspiritualitas dan mandiri di lapangan. Pembinaan spiritualitas mengasah kecerdasan spiritual agar mahasiswa bisa menyeimbangkan makna dan nilai serta mampu menemukan makna dan tujuan hidup. Memperhatikan perkembangan spiritualitas berarti memperkembangkan kedalaman batin, jati diri, sebagai calon katekis sehingga memampukan diri menjadi seorang katekis yang setia pada panggilannya dan berspiritualitas. b. Materi Pembinaan Spiritualitas Materi yang disajikan dalam pembinaan spiritualitas tiap semesternya cukup beragam, hal ini disebabkan karena komposisi dan penekanan dari masing-masing semester berbeda-beda sesuai tujuan dari tiap semesternya dan juga mengikuti perkembangan mahasiswa yang didampingi. Dalam pembinaan spiritualitas tahun pertama, materi yang disampaikan mencakup perjumpaan antar pribadi, generative themes, thedeepest longing, kisah telaga angsa liar, apa yang kau cari, dan jati diri. Dari materi tersebut diharapkan mahasiswa tingkat pertama mengenal teman-teman angkatan, nyaman dengan lingkungan baru, mantap dengan pilihan prodinya, menumbuhkan nilai-nilai kedewasaan manusiawi, dan menyadari kerinduan hatinya

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 yang terdalam sehingga jati dirinya semakin terarah pada Tuhan dan sesamanya (Silabus Pembinaan Spiritualitas I dan II). Dalam pembinaan spiritualitas tahun kedua, materi yang disampaikan mencakup budaya nusantara, pengalaman akan Allah sebagai Bapa, panggilan rasuli, hidup secara kristiani, konsekuensi hidup kristiani, pengabdian kristiani yang sejati, kerajaan Allah dan konsekuensinya bagi rasul Yesus Kristus, salib sebagai jalan kebangkitan, menemukan Allah lewat alam dan sesama, eskesis hidup kristiani, Roh Kudus dan pengabdian murid Kristus. Dari materi-materi tersebut diharapkan mahasiswa memiliki kedewasaan kristiani yang ditandai dengan mengenal dan meneladani pribadi dan karya-karya Yesus sehingga semakin tertarik mengikutinya (Silabus Pembinaan Spiritualitas III dan IV). Dalam pembinaan spiritualitas tahun ketiga, materi yang disampaikan mencakup doa, latihan kesadaran tubuh (pernapasan dan suara), kebaktian pribadi fantasi dan ibadat, dari materi-materi tersebut diharapkan mahasiswa menjadikan hidup doa sebagai kebutuhan pribadi, mampu mempraktekkannya dan mampu menemukan Tuhan dalam hidup dalam kegiatannya sehari-hari, dengan demikian mahasiswa akan mencapai kedewasaan religius secara personal. Khusus untuk materi tentang ibadat, pertama-tama mahasiswa dilatih dalam membuat perencanaan ibadat. Setelah perencanaan selesai, mahasiswa diajak untuk melaksanakan ibadat dari apa yang sudah dibuatnya. Tujuan dari materi ibadat, agar mahasiswa ketika di lapangan dapat merencanakan ibadat, memimpin ibadat dan mempraktekkannya bersama umat (Silabus Pembinaan Spiritualitas V dan VI). Dalam pembinaan spiritualitas tahun keempat materi yang disampaikan mencakup panggilan para nabi dan rasul, hidup katekis, relasi katekis dengan jemaat,

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 perbedaan roh, spiritualitas katekis, dan hidup pribadi. Dari materi-materi tersebut diharapkan panggilan hidup mahasiswa lebih terarah dan spiritualitas katekisnya berkembang sesuai dengan kehendak Allah, sehingga mahasiswa siap dalam memasuki dunia kerja sebagai guru agama dan katekis yang memiliki spiritualitas katekis (Silabus Pembinaan Spiritualitas VII dan VIII). 5. Pelaksanaan Pembinaan Spiritualitas Menindak lanjuti tujuan dan materi dalam pembinaan spiritualitas perlu didukung dengan pelaksanaan pembinaan spiritualitas. Tujuan dan materi akan tersampaikan dan terlaksana dalam pelaksanaan yang melibatkan proses pelaksanaan dalam bentuk tatap muka, waktu pembinaan spiritualitas dan pelaku pembina yakni pendamping. a. Perkuliahan Tatap Muka Pembinaan Spiritualitas Dalam perkuliahan tatap muka dosen pengampu mata kuliah menyampaikan materi yang akan dibahas pada pertemuan hari ini. Biasanya materi yang dibawakan adalah materi yang baru atau materi minggu lalu. Kesemua materi yang disajikan mengarah pada karakteristik mahasiswa dan juga identitas mereka sebagai calon katekis. Dalam proses perkuliahan tatap muka tidak hanya materi saja yang disampaikan tetapi juga mahasiswa diajak untuk melakukan dari apa yang telah dipelajari dalam materi, seperti di semester IV mahasiswa diajak untuk belajar melakukan pemeriksaan batin, di semester V mahasiswa belajar bermeditasi dan di semester VI mahasiswa diajak untuk merencanakan, membuat dan memimpin suatu ibadat.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Metode yang dipakai dalam perkuliahan tatap muka sangat beragam seperti bertolak dari pengalaman mahasiswa, audio visual, diskusi kelompok, dinamika proses, dialog dengan harta kekayaan iman Gereja dan refleksi para tokoh, pengolahan dan latihan doa pribadi dan bersama serta praktek ibadat. Pengalaman penulis selama mengikuti pembinaan spiritualitas tatap muka dosen mengemasnya dengan sungguh menarik dan mengajak mahasiswa untuk berpikir keras dan menerima kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam menjalani panggilan sebagai katekis. Sungguh kesemuanya itu membantu mahasiswa dalam membuka hati dan pikiran untuk bisa memahami rencana Tuhan untuk bekerja di ladang-Nya. b. Waktu Pelaksanaan Pembinaan Spiritualitas Pembinaan spiritualitas dilaksanakan selama empat tahun penuh yang pada pelaksanaannya dalam tiap semester rata-rata dua belas pertemuan per semester. Dalam satu bulan, pembinaan spiritualitas dilaksanakan empat kali pertemuan dengan waktu satu kali pertemuan seratus menit. Khusus di semester VIII, pertemuan hanya terjadi delapan kali pertemuan karena dalam satu bulan hanya dua kali pertemuan. Dari waktu yang disediakan diharapkan mahasiswa mampu mengolah materi, melatih keterampilan doa yang disampaikan maupun yang diajarkan oleh pendamping pembinaan spiritualitas, merefleksikan pengalaman dan upaya penerapan materi dalam hidup sehari-hari. c. Pendamping Pembinaan Spiritualitas Pendampingan spiritualitas di Prodi IPPAK dikelola oleh koordinator kepala bidang spiritualitas. Pendamping spiritualitas yang bertugas mendampingi

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 mahasiswa dipilih berdasarkan rapat dosen, masing-masing angkatan didampingi tiga dosen (dosen religius dan dosen awam). Sejauh ini para pendamping yang mendampingi pembinaan spiritualitas memiliki integritas dan berkompeten dalam mendampingi mahasiswa. Integritas pendamping yang dimaksud adalah penghayatan iman para pendamping dalam menghayati imannya, sedangkan kompeten adalah pendamping menguasai setiap materi pendampingan, mampu mengajar, mampu menyusun bahan-bahan pembinaan, sadar akan tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik iman. Para pendamping inilah yang berperan membantu mahasiswa dalam pengolahan hidup, mengenal dirinya (mahasiswa), lingkungan kampus dan juga iman yang telah dihayati mahasiswa. Dengan begitu mahasiswa yang didampingi bisa mencapai apa yang menjadi harapan maupun kerinduan mahasiswa yakni memiliki iman yang semakin mendalam, dewasa, dan sadar akan identitasnya. B. Penelitian Penulis sebelum melaksanakan penelitan terlebih dahulu melakukan persiapan. Adapun yang menjadi persiapan penelitian penulis meliputi tujuan penelitian, manfaat penelitian, jenis dan metode penelitian, variabel penelitian, instrumen penelitian, populasi dan sampel penelitian, tempat dan waktu penelitian, dan teknik analisis data. Penjelasannya sebagai berikut. 1. Tujuan Penelitian a. Mengetahui sejauh mana pemahaman mahasiswa Prodi IPPAK terhadap panggilan dirinya sebagai katekis.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 b. Mengetahui sejauh mana pembinaan spiritualitas telah membantu mahasiswa Prodi IPPAK dalam menanggapi panggilannya sebagai katekis. 2. Manfaat Penelitian a. Membantu mahasiswa Prodi IPPAK dalam memahami panggilan dirinya sebagai katekis. b. Mahasiswa Prodi IPPAK merasakan manfaat dari pembinaan spiritualitas. 3. Jenis dan Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian kualitatif dilaksanakan pada objek yang alamiah, yakni objek yang berkembang sesuai dengan apa adanya dan tidak dimanipulasi oleh peneliti. Alasan penulis menggunakan jenis penelitian ini karena penelitian ini menekankan kualitas dengan mementingkan proses dari pada hasil penelitian. Dengan mementingkan proses maka peneliti harus terlibat langsung bertemu dengan responden (Moleong, 2009 : 6, 8-11). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Metode survey adalah cara pengumpulan data dari individu atau sejumlah orang (Surakhmad, 1990: 141). Alat yang dipakai dalam metode survey adalah kuesioner. Alasan penulis

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 menggunakan metode survey agar kuesioner dapat langsung tergali dari responden. Dalam survey peneliti berinteraksi langsung dengan responden. 4. Variabel Penelitian Variabel adalah suatu atribut atau sifat atau nilai orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari atau diteliti (Sugiyono, 2009 : 3). Sehubungan dengan itu dalam penelitian ini terdapat tiga variabel yang hendak diteliti yakni keadaan awal mahasiswa, panggilan mahasiswa sebagai katekis, dan pembinaan spiritualitas dalam membantu mahasiswa menanggapi panggilannya sebagai katekis. Tabel 1. Variable Penelitian No (1) 1. 2. 3. (1) Variabel (2) Keadaan awal mahasiswa Sub Variabel (3) a. Identitas Mahasiswa b. Motivasi awal Mahasiswa studi di IPPAK Panggilan Pemahaman mahasiswa Mahasiswa terhadap: sebagai Katekis a. Sosok seorang Katekis b. Kualifikasi seorang Katekis dalam Gereja c. Peran seorang Katekis Pembinaan Pembinaan Spiritualitas bagi Spiritualitas mahasiswa: dalam a. Peranan pembinaan membantu spiritualitas mahasiswa b. Faktor pendukung (2) (3) menanggapi pembinaan spiritualitas panggilannya c. Harapan mahasiswa sebagai katekis terhadap pembinaan spiritualitas JUMLAH TOTAL ITEM No Item (4) 1-3 4 5-11 12-18 Jumlah Item (5) 4 27 19-31 32-37 38-46 (4) 47-51 20 (5) 51

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 5. Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat pengumpul data (Sudjana, 2004: 97). Alat pengumpul data yang penulis gunakan adalah kuesioner. Kuesioner adalah kumpulan dari pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada seseorang dan cara menjawabnya juga dengan dilakukan dengan tertulis (Suharsimi, 1990: 135). Dalam jenisnya kuesioner memiliki tiga jenis, yaitu kuesioner tertutup, kuesioner terbuka dan chekslist (Riduwan, 2010: 71-72). Namun dalam penggunaan kuesioner ini penulis hanya menggunakan kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga seseorang tinggal memberikan tanda lingkar (O) pada kolom atau tempat yang sesuai dengan pilihan yang diberikan (Suharsimi, 1990: 137). Kuesioner tertutup ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman mahasiswa terhadap panggilan dirinya sebagai katekis dan untuk mengetahui peran pembinaan spiritualitas dan faktor pendukungnya. Jumlah item yang diungkap dalam kuesioner tertutup berjumlah 42 item. Kuesioner terbuka adalah kuesioner yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga seseorang tinggal memberikan isian sesuai dengan kehendak dan keadaannya (Suharsimi, 1990: 136). Kuesoiner terbuka ini bertujuan untuk mengetahui identitas mahasiswa, latar belakang mahasiswa dan harapan mahasiswa terhadap pembinaan spiritualitas. Jumlah item yang diungkap dalam kuesioner terbuka ini berjumlah 9 item. 6. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi merupakan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian. Penelitian ini

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 mengambil populasi mahasiswa Prodi IPPAK USD tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 239 mahasiswa. Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciriciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti (Riduwan, 2010: 11). Penelitian ini mengambil sampel mahasiswa tahun ke empat (semester delapan) tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah 34 orang yang terdiri dari 16 laki0laki dan 18 perempuan. Mengapa peneliti memilih mahasiswa Prodi IPPAK tahun ke empat? Karena mahasiswa IPPAK tingkat empat telah menempuh dan mengalami proses pembinaan spiritualitas I sampai dengan pembinaan spiritualitas VIII. Jadi mereka sangatlah tepat dijadikan sebagai sampel dalam penelitian yang penulis lakukan ini. 7. Tempat dan Waktu Penelitian Penulis melakukan penelitian di Prodi IPPAK USD dan waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 19 - 31 Maret 2012. 8. Teknik Analisis Data Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari sumber yakni kuesioner. Setelah mendapat data, peneliti mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan melakukan abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Untuk selanjutnya peneliti mengkategorisasikan serta melakukan koding. Sebagai tahap akhir peneliti mengadakan pemeriksaan data kembali setelah itu menafsirkan data dan memaknai dalam bentuk teori yang sesungguhnya berdasarkan hasil penelitian (Moleong, 2009 : 247).

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Penulis dalam memperoleh prosentase suara responden diperoleh dengan cara membagi frekuensi suara masuk (F) dengan jumlah responden keseluruhan (N) kemudian dikalikan dengan 100% atau dengan rumus: F x 100% N Keterangan: F : Suara Masuk N : Jumlah Responden C. Laporan Hasil Penelitian Hasil penelitian yang penulis laporkan meliputi; identitas dan motivasi mahasiswa; pemahaman mahasiswa terhadap sosok katekis, pemahaman mahasiswa terhadap peran katekis dalam Gereja, dan pemahaman mahasiswa terhadap kualifikasi seorang katekis; dan peranan pembinaan spiritualitas, faktor pendukung pembinaan spiritualitas dan harapan mahasiswa terhadap pembinaan spiritualitas. 1. Identitas dan Motivasi Mahasiswa Hasil penelitian yang penulis laporkan pada tabel 2, meliputi: umur, jenis kelamin, keuskupan tempat asal dan motivasi mahasiswa studi di Prodi IPPAK. Tabel 2. Identitas dan Motivasi Mahasiswa (N: 34) No Pernyataan Item (1) (2) 1 Umur anda sekarang ini a. 20-25 b. 26-30 Jumlah Mahasiswa (3) % (4) 19 8 56 23

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 (1) 2 3 4 (2) c. 31-35 d. 36-40 e. 41-45 Jenis kelamin a. Perempuan b. Laki-laki Keuskupan tempat asal a. Keuskupan Agung Semarang b. Keuskupan Atambua c. Keuskupan Tanjung Karang d. Keuskupan Agung Pontianak e. Keuskupan Sintang f. Keuskupan Agung Ende g. Keuskupan Palembang h. Keuskupan Bandung i. Keuskupan Agung Medan j. Keuskupan Denpasar k. Keuskupan Ketapang l. Keuskupan Weetebula m. Keuskupan Banjarmasin Motivasi anda studi a. Keuskupan atau paroki tempat tinggal mengutus saya b. Orang tua menuntut saya untuk studi atau kuliah c. Inisiatif saya sendiri d. Yang penting bisa studi atau kuliah e. Alasan lainnya (3) 5 1 1 (4) 15 3 3 22 12 65 35 9 1 6 2 2 3 1 1 5 1 1 1 1 26 3 17 6 6 9 3 3 15 3 3 3 3 10 8 6 9 29 26 18 27 Dari tabel 2, identitas mahasiswa dari segi usia, yaitu 20-25 tahun ada 19 (56%), 26-30 tahun ada 8 (23%), 31-35 tahun ada 5 (15%), 36-40 tahun ada 1 (3%) dan 41-45 tahun ada 1 (3%). Identitas mahasiswa dari segi jenis kelamin, yaitu dengan jumlah 22 (65%) adalah perempuan dan 12 (35%) adalah laki-laki. Identitas mahasiswa dari segi keuskupan tempat asal, yaitu dengan jumlah 9 (26%) mahasiswa berasal dari Keuskupan Agung Semarang, ada 6 (17%) mahasiswa berasal dari Keuskupan Tanjung Karang, Keuskupan Agung Medan ada 5 (15%) mahasiswa, Keuskupan Agung Ende ada 3 (9%) mahasiswa, Keuskupan Agung Pontianak ada 2 (6%) mahasiswa, Keuskupan Sintang ada 2 (6%) mahasiswa, Keuskupan Atambua

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 ada 1 (3%) mahasiswa, Keuskupan Palembang ada 1 (3%) mahasiswa, Keuskupan Bandung ada 1 (3%) mahasiswa, Keuskupan Denpasar ada 1 (3%) mahasiswa, Keuskupan Ketapang ada 1 (3%) mahasiswa, Keuskupam Weetebula ada 1 (3%) mahasiswa, dan Keuskupan Banjarmasin ada 1 (3%) mahasiswa. Berdasarkan tabel 2 juga motivasi mahasiswa studi di Prodi IPPAK, menyatakan bahwa orang tua menuntut untuk studi atau kuliah ada 10 (29%) mahasiswa, menyatakan inisiatif sendiri ada 8 (26%) mahasiswa, menyatakan yang penting bisa studi atau kuliah ada 6 (18%) mahasiswa, lainnya ada 9 (27%) mahasiswa dengan alasan mendapat tugas dari kongregasi, termotivasi teman, situasi ekonomi, diutus oleh sekolah, ada yang membiayai, dan ada tawaran untuk kuliah. 2. Pemahaman Mahasiswa terhadap Sosok Katekis Tabel 3 memaparkan hasil penelitian penulis mengenai pemahaman mahasiswa terhadap sosok katekis yang meliputi pengertian katekis, panggilan katekis, dan hidup seorang katekis. Tabel 3. Pemahaman Mahasiswa terhadap Sosok Katekis (N: 34) No Item (1) 5 6 Pernyataan (2) Katekis adalah orang yang berkarya dalam karya pewartaan Gereja. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Menjadi seorang katekis merupakan panggilan yang diterima dari Allah. Jumlah Mahasiswa (3) % (4) 12 20 2 - 35 59 6 -

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 (1) 7 8 9 10 11 (2) a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju Tidak setuju Katekis dipanggil untuk mewartakan sabda, melakukan sabda, merenungkan sabda dan memberi kesaksian atas sabda dalam kehidupannya sehari-hari. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Sebagai pewarta sabda katekis dituntut untuk memahami ajaran tentang iman Katolik dan memiliki hidup yang baik yang meliputi rela berkorban, hidup sederhana, rendah hati dan semangat melayani seturut ajaran iman Katolik. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Katekis harus mampu mengkomunikasikan imannya dan membantu memperkembangkan iman umat yang dipercayakan kepadanya lewat aneka bentuk kegiatan. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Katekis yang menyadari akan tugasnya dituntut untuk terbuka pada kehendak Allah dengan bersedia untuk terus belajar sehingga pewartaannya dapat dipertanggungjawabkan. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Hidup seorang katekis adalah tanda hadirnya Gereja. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju (3) 16 13 4 1 - (4) 47 38 12 3 - 13 20 1 - 38 59 3 - 15 19 - 44 56 - 11 22 1 - 32 65 3 - 10 22 2 - 29 65 6 - 8 12 11 3 - 24 35 32 9 -

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Dari tabel 3, diketahui sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap sosok katekis. Mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 12 (35%) mahasiswa, setuju ada 20 (59%) mahasiswa sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 2 (6%) mahasiswa, bahwa katekis sebagai orang yang berkarya dalam pewartaan Gereja. Menjadi seorang katekis merupakan panggilan yang diterima dari Allah, atas pernyataan tersebut mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 16 (47%) mahasiswa, setuju ada 13 (38%) mahasiswa, ragu-ragu ada 4 (12%) mahasiswa dan kurang setuju ada 1 (3%) mahasiswa. Ada 13 (38%) mahasiswa menyatakan sangat setuju dan setuju ada 20 (59%) mahasiswa, bahwa katekis dipanggil untuk mewartakan sabda, melakukan sabda, merenungkan sabda, dan memberi kesaksian atas sabda yang diwartakannya dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 1 (3%) mahasiswa. Dari segi pemahaman tentang hidup seorang katekis, mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 15 (44%) dan setuju ada 19 (56%), bahwa hidup seorang katekis itu perlu memiliki pengetahuan tentang iman Katolik dan memiliki hidup yang baik. Ada 11 (32%) mahasiswa menyatakan sangat setuju dan setuju ada 22 (65%), bahwa katekis harus mampu mengkomunikasikan imannya dan membantu memperkembangkan iman umat yang dipercayakan kepadanya lewat aneka bentuk kegiatan, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 1 (3%) mahasiswa. Mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 10 (29%), dan setuju ada 22 (65%), bahwa katekis yang menyadari tugasnya dituntut untuk terbuka pada kehendak Allah dengan bersedia untuk terus belajar sehingga pewartaannya dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 2 (6%) mahasiswa. Hidup seorang katekis merupakan tanda hadirnya Gereja, terhadap pernyataan tersebut mahasiswa

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 menyatakan sangat setuju ada 8 (24%), setuju ada 12 (35%), ragu-ragu ada 11 (32%) dan kurang setuju ada 3 (9%). 3. Pemahaman Mahasiswa terhadap Peran Katekis dalam Gereja Hasil penelitian penulis mengenai pemahaman mahasiswa tingkat empat terhadap peran katekis dalam Gereja, dipaparkan secara rinci pada tabel 4. Tabel 4. Pemahaman Mahasiswa terhadap Peran Katekis dalam Gereja (N: 34) No Pernyataan Item (1) (2) 12 Berkatekese merupakan salah satu tugas utama dari seorang katekis. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju 13 Bagi seorang katekis berkatekese berarti merencakan katekese, menjalankan proses katekese, mengevaluasi proses katekese dan menindak lanjuti proses katekese. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju 14 Dalam berkatekese katekis dituntut untuk memiliki sikap percaya diri dan komitmen yang tinggi. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju 15 Di tengah jemaat katekis perlu mengembangkan hidup persaudaraan dalam kehidupan bersama tanpa membeda-bedakan status sosial. a. Sangat setuju b. Setuju Jumlah Mahasiswa (3) % (4) 14 15 4 1 - 41 44 12 3 - 12 18 4 - 35 53 12 - 12 22 - 35 65 - 18 16 53 47

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 (1) 16 17 18 (2) c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Di tengah masyarakat katekis menjadi saksi yang memperlihatkan cara hidup yang baik yang didasarkan iman akan Allah. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Sebagai petugas pastoral Gereja dalam kerjasama dengan petugas Gereja lain, katekis perlu mengembangkan semangat pelayanan di tengah kehidupan Gereja dan masyarakat. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Katekis perlu mengembangkan hidup doa dan penghayatan ekaristi dalam hidup sehari-hari. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju (3) - (4) - 16 16 2 - 47 47 6 - 10 22 2 - 29 65 6 - 9 23 2 - 26 68 6 - Dari tabel 4, dapat diketahui sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap peran katekis dalam Gereja. Mahasiswa dengan jumlah 14 (41%) orang menyatakan sangat setuju dan 15 (44%) mahasiswa menyatakan setuju, bahwa berkatekese merupakan salah satu tugas utama dari seorang katekis, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 4 (12%) mahasiswa dan kurang setuju ada 1 (3%) mahasiswa. Bagi seorang katekis berkatekese berarti merencakan katekese, menjalankan proses katekese, mengevaluasi proses katekese dan menindak lanjuti proses katekese, atas pernyataan tersebut mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 12 (35%) dan menyatakan setuju ada 18 (53%) mahasiswa sedangkan yang menyatakan ragu-ragu

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 ada 4 (12%) mahasiswa. Mahasiswa dengan jumlah 12 (35%) menyatakan sangat setuju dan 22 (65%) mahasiswa menyatakan setuju bahwa dalam berkatekese katekis dituntut untuk memiliki sikap percaya diri dan komitmen yang tinggi. Dari tabel yang sama diperoleh juga data 18 (53%) mahasiswa menyatakan sangat setuju dan 16 (47%) mahasiswa menyatakan setuju, bahwa di tengah jemaat katekis perlu mengembangkan hidup persaudaraan dalam kehidupan bersama tanpa membeda-bedakan status sosial. Ada 16 (47%) mahasiswa menyatakan sangat setuju dan 16 (47%) mahasiswa menyatakan setuju, sedangkan 2 (6%) mahasiswa menyatakan ragu-ragu, bahwa di tengah masyarakat katekis menjadi saksi yang memperlihatkan cara hidup yang baik yang didasarkan iman akan Allah. Ada 10 (29%) mahasiswa menyatakan sangat setuju, setuju ada 22 (65%) mahasiswa dan ragu-ragu ada 2 (6%) mahasiswa, bahwa sebagai petugas pastoral Gereja dalam kerjasama dengan petugas Gereja lain katekis perlu mengembangkan semangat pelayanan di tengah kehidupan Gereja dan masyarakat. Pemahaman yang menyatakan katekis perlu mengembangkan hidup doa dan penghayatan ekaristi dalam hidup sehari-hari dihasilkan data mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 9 (26%) dan 23 (68%) mahasiswa menyatakan setuju sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 2 (6%) mahasiswa. 4. Pemahaman Mahasiswa terhadap Kualifikasi Seorang Katekis Hasil penelitian penulis mengenai pemahaman mahasiswa tingkat empat terhadap kualifikasi seorang katekis dipaparkan secara rinci pada tabel 5 meliputi: keterampilan, pengetahuan dan spiritualitas katekis.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Tabel 5. Pemahaman Mahasiswa terhadap Kualifikasi seorang Katekis (N: 34) No Pernyataan Item (1) (2) 19 Kualitas seorang katekis ditentukan oleh penguasaannya akan dasar-dasar iman Katolik. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju 20 21 22 23 24 Katekis perlu memahami model-model katekese yang sejalan dengan perkembangan dan kehidupan umat. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Katekis perlu memahami situasi dan kondisi umat agar perwataannya sesuai dengan konteks dan kebutuhan umat. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Katekis perlu mengenal dan memahami tanda-tanda zaman agar umat yang dilayaninya semakin menumbuhkan dan mengembangkan imannya. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Keterampilan berkomunikasi merupakan keterampilan pokok yang perlu dimiliki dan dikuasai oleh katekis. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Keterampilan berkomunikasi yang dimiliki dan dikuasai katekis membantu dan memudahkan dalam mengumpulkan, menyatukan, dan mengajak umat untuk Jumlah Mahasiswa (3) % (4) 8 14 2 10 - 24 41 6 29 - 13 19 2 - 38 56 6 - 15 17 2 - 44 50 6 - 13 16 5 - 38 47 15 - 15 16 3 - 44 47 9 -

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 (1) 25 26 27 28 29 (2) melaksanakan proses katekese. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Kebiasaan berefleksi dalam diri seorang katekis perlu ditanamkan pada diri katekis di dalam kehidupan seharihari agar memudahkan ia dalam mengolah pengalaman hidup dirinya maupun pengalaman umat sehingga menjadi sebuah kesaksian iman. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Jati diri seorang katekis akan nampak dalam penghayatannya terhadap spiritualitas katekis. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Sikap sedia diutus, semangat menggereja, menjadi murid serta berakar dan berbuah merupakan bagian dari spiritualitas katekis. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Bagi seorang katekis kesadaran akan tugas sebagai suatu panggilan merupakan unsur esensial atau pokok dari spiritualitas katekis. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Dengan memililki spiritualitas yang mendalam memampukan katekis bertahan dalam menjalankan hidup sebagai pewarta. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju (3) (4) 14 17 3 - 41 50 9 - 12 18 4 - 35 53 12 - 13 12 8 1 - 38 35 24 3 - 14 15 4 1 - 41 44 12 3 - 13 14 7 - 38 41 21 - 12 17 4 1 35 50 12 3

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 (1) 30 31 (2) e. Tidak setuju Spiritualitas yang mendalam ditandai dengan hubungan yang erat dengan Yesus Kristus dengan cara menjadikannya sebagai pegangan maupun pedoman dalam menjalankan tugas pewartaan. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju Perkembangan spiritualitas dapat dicapai lewat usaha masing-masing pribadi dan bantuan dari luar. a. Sangat setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Kurang setuju e. Tidak setuju (3) - (4) - 14 15 4 1 - 41 44 12 3 - 12 17 4 1 35 50 12 3 Dari tabel 5, dapat diketahui sejauh mana mahasiswa memahami kualifikasi seorang katekis. Kualifikasi seorang katekis dari segi pengetahuan. Mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 8 (24%) dan setuju ada 14 (41%) mahasiswa, bahwa kualitas seorang katekis ditentukan oleh penguasaannya akan dasar-dasar iman Katolik, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 2 (6%) mahasiswa dan kurang setuju ada 10 (29%) mahasiswa. Mahasiswa dengan jumlah 13 (38%) menyatakan sangat setuju, setuju 19 (56%) mahasiswa dan ragu-ragu 2 (6%) mahasiswa, bahwa katekis perlu memahami model-model katekese yang sejalan dengan perkembangan dan kehidupan umat. Katekis perlu memahami situasi dan kondisi umat agar pewartaannya sesuai dengan konteks dan kebutuhan umat, atas pernyataan tersebut mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 15 (44%), setuju ada 17 (50%) mahasiswa sedangkan yang menyatakan ragu-ragu 2 (6%) mahasiswa. Mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 13 (38%) dan setuju ada 16 (47%) mahasiswa, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 5 (15%) mahasiswa, bahwa katekis perlu mengenal dan

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 memahami tanda-tanda zaman agar umat yang dilayaninya semakin menumbuhkan dan mengembangkan imannya. Kualifikasi seorang katekis dari segi keterampilan, mahasiswa dengan jumlah 15 (44%) menyatakan sangat setuju dan setuju ada 16 (47%) mahasiswa, bahwa keterampilan berkomunikasi merupakan keterampilan pokok yang perlu dimiliki dan dikuasi oleh katekis, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 3 (9%) mahasiswa. Keterampilan berkomunikasi yang dimiliki dan dikuasai katekis membantu dan memudahkan dalam mengumpulkan, menyatukan, dan mengajak umat untuk melaksanakan proses katekese, atas pernyataan tersebut mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 14 (41%), dan setuju ada 17 (50%) mahasiswa sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 3 (9%) mahasiswa. Ada 12 (35%) mahasiswa menyatakan sangat setuju dan setuju ada 18 (53%) mahasiswa bahwa kebiasaan berefleksi dalam diri seorang katekis perlu ditanamkan di dalam kehidupan sehari-hari agar memudahkan ia dalam mengolah pengalaman hidup dirinya maupun pengalaman umat sehingga menjadi sebuah kesaksian iman, sedangkan yang menyatakan raguragu ada 4 (12%) mahasiswa. Kualifikasi seorang katekis dari segi spiritualitas. Mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 13 (38%), dan setuju ada 12 (35%) mahasiswa, bahwa jati diri seorang katekis tampak dalam penghayatannya terhadap spiritualitas katekis, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 8 (24%) mahasiswa dan kurang setuju ada 1 (3%) mahasiswa. Bagi seorang katekis kesadaran akan tugas sebagai suatu panggilan merupakan unsur esensial atau pokok dari spiritualitas katekis, atas pernyataan tersebut mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 13 (38%), dan setuju ada 14 (41%) mahasiswa sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 7 (21%)

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 mahasiswa. Mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 12 (35%), dan setuju ada 17 (50%) mahasiswa sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 4 (12%) dan kurang setuju ada 1 (3%) mahasiswa, atas pernyataan dengan memililki spiritualitas yang mendalam memampukan katekis bertahan dalam menjalakan hidupnya sebagai seorang pewarta. Sikap sedia diutus, semangat menggereja, menjadi murid serta berakar dan berbuah merupakan bagian dari spiritualitas katekis, atas pernyataan tersebut mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 14 (41%) dan setuju ada 15 (44%) mahasiswa, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 4 (12%) mahasiswa dan tidak setuju ada 1 (3%) mahasiswa. Mahasiswa menyatakan sangat setuju ada 14 (41%) dan setuju ada 15 (44%) mahasiswa, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 4 (12%) mahasiswa dan kurang setuju ada 1 (3%) mahasiswa, atas pernyataan spiritualitas yang mendalam ditandai dengan hubungan yang erat dengan Yesus Kristus dengan cara menjadikannya sebagai pegangan maupun pedoman dalam menjalankan tugas pewartaan. Sebanyak 12 (35%) mahasiswa menyatakan sangat setuju dan setuju ada 17 (50%) mahasiswa, atas pernyataan perkembangan spiritualitas dapat dicapai lewat usaha masing-masing pribadi dan bantuan dari luar, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 4 (12%) mahasiswa dan tidak setuju ada 1 (3%). 5. Peranan Pembinaan Spiritualitas Hasil penelitian penulis mengenai peranan pembinaan spiritualitas terhadap mahasiswa tingkat empat dipaparkan secara rinci pada tabel 6.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Tabel 6. Peranan Pembinaan Spiritualitas (N: 34) No Pernyataan Item (1) (2) 32 Pembinaan spiritualitas yang diselenggarakan oleh Prodi IPPAK telah sejalan dengan visi dan misi. a. Telah sejalan b. Sejalan c. Ragu-ragu d. Kurang sejalan e. Tidak sejalan 33 Pembinaan spiritualitas telah membantu dalam menyadari panggilan saya sebagai katekis. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu d. Kurang membantu e. Tidak membantu 34 Pembinaan spiritualitas telah membantu saya menanggapi secara mantap panggilan saya sebagai katekis. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu d. Kurang membantu e. Tidak membantu 35 Pembinaan spiritualitas telah membantu saya dalam mengembangkan spiritualitas katekis. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu d. Kurang membantu e. Tidak membantu 36 Setelah mengikuti pembinaan spiritualitas telah membantu saya dalam pembentukan kepribadian secara manusia dan kristiani. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu d. Kurang membantu e. Tidak membantu 37 Pembinaan spiritualitas telah membantu saya berkembang menjadi katekis yang profesional. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu Jumlah Mahasiswa (3) % (4) 3 20 11 - 9 59 32 - 4 22 6 1 1 12 65 18 3 3 3 16 12 3 9 37 45 9 7 15 7 5 - 21 44 21 15 - 7 15 8 4 - 21 44 24 12 - 2 14 11 6 41 32

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 (1) (2) d. Kurang membantu e. Tidak membantu (3) 5 2 (4) 15 6 Dari tabel 6, dapat diketahui sejauh mana pembinaan spiritualitas berperan terhadap mahasiswa IPPAK tingkat empat dalam menanggapi panggilannya sebagai katekis. Mahasiswa menyatakan telah sejalan ada 3 (9%) dan sejalan ada 20 (59%) mahasiswa, bahwa pembinaan spiritualitas yang diselenggarakan di Prodi IPPAK telah sejalan dengan Visi dan Misi, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 11 (32%) mahasiswa. Ada 4 (12%) mahasiswa menyatakan sangat membantu dan 22 (65%) mahasiswa menyatakan membantu bahwa pembinaan spiritualitas telah membantu dalam menyadari panggilan saya sebagai katekis, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 6 (18%) mahasiswa, kurang membantu ada 1 (3%) mahasiswa dan tidak membantu ada 1 (3%) mahasiswa. Pembinaan spiritualitas telah membantu dalam menanggapi secara mantap panggilan saya sebagai katekis, atas pernyataan tersebut mahasiswa menyatakan sangat membantu ada 3 (9%) mahasiswa, membantu ada 16 (37%) mahasiswa, sedangkan yang menyatakan raguragu ada 12 (45%) mahasiswa, dan kurang membantu ada 3 (9%) mahasiswa. Pembinaan spiritualitas telah membantu dalam mengembangkan spiritualitas katekis, atas pernyataan tersebut ada 7 (21%) mahasiswa menyatakan sangat membantu dan menyatakan membantu ada 15 (44%) mahasiswa, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 7 (21%) mahasiswa dan kurang membantu ada 5 (15%) mahasiswa. Mahasiswa menyatakan sangat membantu ada 7 (21%) dan membantu ada 15 (44%) mahasiswa atas pernyataan setelah mengikuti pembinaan spiritualitas telah membantu dalam pembentukan kepribadian secara manusia dan kristiani, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 8 (24%) mahasiswa, dan kurang

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 membantu ada 4 (12%) mahasiswa. Pembinaan spiritualitas telah membantu saya berkembang menjadi katekis yang profesional, atas pernyataan tersebut mahasiswa menyatakan sangat membantu ada 2 (6%) mahasiswa, dan membantu ada 14 (41%) mahasiswa, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 11 (32%) mahasiswa, kurang membantu ada 5 (15%) mahasiswa dan tidak membantu ada 2 (6%) mahasiswa. 6. Faktor Pendukung Pembinaan Spiritualitas Hasil penelitian penulis terhadap faktor pendukung dalam pembinaan spiritualitas bagi mahasiswa dipaparkan secara rinci pada tabel 7, meliputi: materi, metode, waktu dan pendamping dalam pembinaan spiritualitas. Tabel 7. Faktor Pendukung Pembinaan Spiritualitas (N: 34) No Pernyataan Item (1) (2) 38 Pembinaan spiritualitas telah membantu saya memahami diri sendiri dan orang lain mengembangkan sikap-sikap yang dibutuhkan berelasi dengan sesama. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu d. Kurang membantu e. Tidak membantu 39 Pembinaan spiritualitas telah membantu saya mendalami pribadi Yesus sehingga tergerak mengikuti karya-karya-Nya. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu d. Kurang membantu e. Tidak membantu 40 Pembinaan spiritualitas telah membantu saya mengenal latihan-latihan doa serta tergerak mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. a. Sangat membantu b. Membantu Jumlah Mahasiswa (3) % (4) 8 17 9 - 24 50 26 - 5 20 7 2 - 15 59 21 6 - 4 22 12 65 dalam serta dalam dalam untuk dalam untuk

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 (1) 41 42 43 44 45 (2) c. Ragu-ragu d. Kurang membantu e. Tidak membantu Beragam pengalaman tentang hidup katekis yang diolah dalam pembinaan spiritualitas telah membantu saya dalam mengolah pengalaman hidup serta mengembangkan spiritualitas. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu d. Kurang membantu e. Tidak membantu Metode yang dipakai dalam pembinaan spiritualitas telah membantu saya dalam mengenal pengalaman, merefleksikan pengalaman, memahami ajaran tentang iman Katolik, menemukan kesadaran dan identitas dari hidup katekis. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu d. Kurang membantu e. Tidak membantu Sarana yang dipakai dalam pembinaan spiritualitas telah membantu saya dalam melihat pengalaman dan merefleksikan pengalaman dalam pengembangan spiritualitas sebagai katekis. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu d. Kurang membantu e. Tidak membantu Seratus menit waktu satu kali pertemuan dalam pembinaan spiritualitas telah membantu saya dalam pengolahan materi, merefleksikan pengalaman dan upaya penerapan materi dalam hidup sehari-hari. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu d. Kurang membantu e. Tidak membantu Pendamping dalam pembinaan spiritualitas telah membantu saya dalam menanggapi panggilan hidup sebagai katekis. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu (3) 5 3 - (4) 15 9 - 3 23 6 2 - 9 67 18 6 - 7 13 10 4 - 21 38 29 12 - 7 14 10 3 21 41 29 9 3 16 10 5 - 9 47 29 15 - 3 16 10 9 47 29

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 (1) 46 (2) d. Kurang membantu e. Tidak membantu Pendamping dalam pembinaan spiritualitas telah membantu dalam mengembangkan spiritualitas saya sebagai katekis. a. Sangat membantu b. Membantu c. Ragu-ragu d. Kurang membantu e. Tidak membantu (3) 5 - (4) 15 - 4 16 10 3 1 12 47 29 9 3 Dari tabel 7, diketahui faktor pendukung pembinaan spiritualitas bagi mahasiswa. Faktor pendukung dari segi materi. Mahasiswa menyatakan sangat membantu ada 8 (24%), membantu ada 17 (50%) mahasiswa, bahwa materi dalam pembinaan spiritualitas telah membantu dalam memahami diri sendiri dan orang lain serta mengembangkan sikap-sikap yang dibutuhkan dalam berelasi dengan sesama, sedangkan mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu ada 9 (26%). Pembinaan spiritualitas telah membantu dalam mendalami pribadi Yesus sehingga tergerak untuk mengikuti karya-karya-Nya, atas pernyataan tersebut mahasiswa menyatakan sangat membantu ada 5 (15%), membantu ada 20 (59%) mahasiswa, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 7 (21%) mahasiswa dan kurang membantu ada 2 (6%) mahasiswa. Mahasiswa menyatakan sangat membantu ada 4 (12%) dan membantu ada 22 (65%) mahasiswa, bahwa pembinaan spiritualitas telah membantu dalam mengenal latihan-latihan doa serta tergerak untuk mempraktekkannya dalam kehidupan seharihari, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 5 (15%) mahasiswa, dan kurang membantu ada 3 (9%) mahasiswa. Ada 3 (9%) mahasiswa yang menyatakan sangat membantu dan ada 23 (67%) mahasiswa menyatakan membantu dengan beragamnya pengalaman tentang hidup katekis yang diolah dalam pembinaan spiritualitas telah

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 membantu dalam mengolah pengalaman hidup serta mengembangkan spiritualitas, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 6 (18%) mahasiswa dan kurang membantu ada 2 (6%) mahasiswa. Faktor pendukung dari segi metode. Metode yang dipakai dalam pembinaan spiritualitas telah membantu dalam mengenal pengalaman, merefleksikan pengalaman, memahami ajaran tentang iman Katolik, menemukan kesadaran dan identitas dari hidup katekis atas pernyataan tersebut ada 7 (21%) mahasiswa menyatakan sangat membantu dan membantu ada 13 (38%) mahasiswa, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 10 (29%) mahasiswa, kurang membantu ada 10 (29%) mahasiswa dan tidak membantu ada 4 (12%) mahasiswa. Faktor pendukung dari segi sarana, ada 7 (21%) mahasiswa menyatakan sangat membantu, dan 14 (41%) mahasiswa menyatakan membantu bahwa sarana yang digunakan dalam pembinaan spiritualitas membantu mahasiswa dalam menanggapi panggilannya sebagai katekis, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 10 (29%) mahasiswa dan tidak membantu ada 3 (9%) mahasiswa. Faktor pendukung dari segi waktu, mahasiswa menyatakan sangat membantu dengan jumlah 3 (9%) dan membantu ada 16 (47%) mahasiswa bahwa seratus menit waktu satu kali pertemuan dalam pembinaan spiritualitas telah membantu dalam pengolahan materi, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 10 (29%) mahasiswa, dan kurang membantu ada 5 (15%) mahasiswa. Faktor pendukung dari segi pendamping. Pendamping dalam pembinaan spiritualitas telah membantu saya dalam menanggapi panggilan hidup sebagai katekis, mahasiswa menyatakan sangat membantu ada 3 (9%), dan membantu ada 16 (47%) mahasiswa, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 10 (29%) mahasiswa,

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 dan kurang membantu ada 5 (15%) mahasiswa. Ada 4 (12%) mahasiswa menyatakan sangat membantu dan membantu ada 16 (47%) mahasiswa bahwa pendamping dalam pembinaan spiritualitas telah membantu dalam mengembangkan spiritualitas saya sebagai katekis, sedangkan yang menyatakan ragu-ragu ada 10 (29%) mahasiswa, dan kurang membantu ada 3 (9%) mahasiswa dan tidak membantu ada 1 (3%) mahasiswa. 7. Harapan Mahasiswa terhadap Pembinaan Spiritualitas Hasil penelitian penulis mengenai harapan mahasiswa terhadap pembinaan spiritualitas dipaparkan secara rinci pada tabel 8, meliputi: materi, sarana, metode, waktu dan pendamping. Tabel 8. Harapan Mahasiswa terhadap Pembinaan Spiritualitas (N: 34) No Item (1) 47 48 Pernyataan Jawaban Mahasiswa (2) (3) Harapan saya dari a. Hidup katekis segi materi b. Kehidupan orang-orang (materi seperti cacat apa) dalam c. Santo santa mengembangkan d. Katekese kontekstual : pembinaan KKN, kekerasan dll. spiritualitas e. Salib Kristus f. Pembedaan roh dan spiritualitas katekis g. Pengembangan spiritualitas h. Yesus Kristus i. Pengolahan tentang tubuh j. Kepribadian k. Hidup persaudaraan Harapan saya dari a. Audio Visual segi sarana b. Cergam (cerita bergambar) (sarana seperti Jumlah Mahasiswa (4) a. 6 b. 1 % (5) a. 17,6 b. 2,9 c. 2 d. 3 c. 5,9 d. 8,8 e. 2 f. 4 e. 5,9 f. 12 g. 3 h. 4 i. 2 j. 3 k. 2 a. 28 b. 6 g. 8,8 h. 12 i. 5,9 j. 8,8 k. 5,9 a. 82,4 b. 17,6

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 (1) (2) apa) dalam mengembangkan pembinaan spiritualitas 49 Harapan saya dari segi metode (metode seperti apa) dalam mengembangkan pembinaan spiritualitas Harapan saya dari segi waktu (berapa lama dalam satu akali pertemuan) dalam mengembangkan pembinaan spiritualitas Harapan saya dari segi pendamping (pendamping seperti apa) pembinaan spiritualitas dalam mengembangkan pembinaan spiritualitas 50 51 (4) (3) (5) a. Sharing dan refleksi b. Debat c. Informasi/ceramah d. Games e. Diskusi f. Dialog g. Bernyanyi a. 90 menit b. 100 menit c. 120 menit d. 180 menit a. 5 b. 4 c. 3 d. 6 e. 4 f. 12 g. 2 a. 1 b. 9 c. 4 d. 4 a. 14,7 b. 12 c. 8,8 d. 17,6 e. 11,7 f. 41 g. 5,9 a. 5 b. 26 c. 12 d. 12 a. Motivator b. Dekat dengan mahasiswa c. Kreatif d. Gaul e. Pradnya dan widya f. Memiliki spiritualitas pelayanan dan mau direpotkan g. Pendamping yang sesuai dengan bidangnya a. 2 b. 5 c. 3 d. 8 e. 9 f. 3 a. 5,9 b. 15 c. 8,8 d. 22,9 e. 26,8 f. 8,8 g. 4 g. 12 Dalam tabel 8, dapat diketahui harapan mahasiswa tingkat empat terhadap pembinaan spiritualitas. Harapan mahasiswa dari segi materi yang diusulkan adalah hidup katekis dengan jumlah 6 (17,6%) mahasiswa, kehidupan orang-orang cacat dengan jumlah 1 mahasiswa (2,9%), santo santa dengan jumlah 2 (5,9%) mahasiswa, katekese kontekstual (KKN, kekerasan dll) dengan jumlah 3 (8,8%) mahasiswa, salib Kristus dengan jumlah 2 (5,9%) mahasiswa, pembedaan roh dan spiritualitas katekis dengan jumlah 4 (12%) mahasiswa, pengembangan spiritualitas dengan jumlah 3 (8,8%) mahasiswa, Yesus Kristus dengan jumlah 4 (12%) mahasiswa, pengolahan

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 tentang tubuh dengan jumlah 2 (5,9%) mahasiswa, kepribadian dengan jumlah 3 (8,8%) mahasiswa, hidup persaudaraan dengan jumlah 2 (5,9%) mahasiswa. Harapan mahasiswa dari sarana yakni Audio Visual dengan jumlah 28 (82,4%) mahasiswa dan cergam 6 (17,6%) mahasiswa. Dari segi metode yakni sharing dan refleksi dengan jumlah 5 (14,7%) mahasiswa, debat dengan jumlah 4 (12%) mahasiswa, informasi dan ceramah dengan jumlah 3 (8,8%) mahasiswa, games dengan jumlah 4 (11,7%) mahasiswa, diskusi dengan jumlah 4 (11,7%) mahasiswa, dialog dengan jumlah 12 (41,1%) mahasiswa dan bernyanyi dengan jumlah 2 (5,9%) mahasiswa. Dari segi waktu, yakni 90 menit dengan jumlah 17 (50%) mahasiswa, 100 menit dengan jumlah 9 (26%) mahasiswa, 120 menit dengan jumlah 4 (12%) mahasiswa dan 180 menit dengan jumlah 4 (12%) mahasiswa. Dari segi pendamping yakni motivator dengan jumlah 2 (5,9) mahasiswa, dekat dengan mahasiswa dengan jumlah 5 (15%) mahasiswa, kreatif dengan jumlah 3 (8,8%) mahasiswa, gaul 8 (22,9%) mahasiswa, pradnya dan widya dengan jumlah 9 (26,8%) mahasiswa, memiliki spiritualitas pelayanan dan mau direpotkan dengan jumlah 3 (8,8%) mahasiswa dan pendamping yang sesuai dengan materi dengan jumlah 4 (12%) mahasiswa. D. Pembahasan Hasil Penelitian Penulis setelah mendapatkan dari hasil penelitian dan melaporkannya, pada bagian ini melakukan pembahasan yang berdasarkan laporan hasil penelitian di atas secara berurutan, meliputi: identitas dan motivasi mahasiswa, pemahaman mahasiswa terhadap sosok katekis, peran katekis dalam Gereja, dan kualifikasi

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 terhadap seorang kateki; peranan pembinaan spiritualitas, faktor pendukung pembinaan spiritualitas dan harapan mahasiswa terhadap pembinaan spiritualitas. 1. Identitas dan Motivasi Mahasiswa Mahasiswa IPPAK tingkat empat menurut tabel 2 sebagian besar perempuan (65%). Dari segi usia, terbanyak 20-25 tahun (59%). Mereka berasal dari berbagai keuskupan di Indonesia yang sebagian besar berasal dari Keuskupan Agung Semarang (26%). Melihat bahwa mereka berasal dari berbagai keuskupan tentunya ada keberagaman yang mereka bawa. Keberagaman mahasiswa bisa berpengaruh secara positif maupun negatif. Dari segi positif, keberagaman mahasiswa merupakan kekayaan yang perlu dipertahankan, akan saling memperkaya dan melengkapi dengan karakternya masing-masing. Dari segi negatif, mahasiswa akan berkumpul dengan orang-orang sesukunya, sekeuskupannya dan tidak mau mempelajari suku lain. Dari segi motivasi, tiap-tiap mahasiswa mempunyai motivasi yang berbedabeda dalam memilih Prodi IPPAK sebagai jurusan studi. Dengan beragamnya motivasi, tentunya akan membantu mahasiswa dalam bertanggungjawab. Motivasi tersebut dinyatakan dengan inisiatif sendiri (26%), artinya dengan sendirinya mahasiswa memilih Prodi IPPAK sebagai jurusan studi. Kesadaran diri mahasiswa akan memberikan dampak positif bagi masing-masing individu yang secara khusus pada studinya di mana mahasiswa akan memiliki sikap tanggungjawab dan semangat belajar yang tinggi. Hal ini tentunya akan mendorong mahasiswa dalam mencapai keberhasilan studi.

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Motivasi lain yang diungkap mahasiswa adalah orang tua menuntut untuk studi (29%), yang penting bisa studi atau kuliah (18%), dan alasan lainnya (27%), yaitu tugas dari kongregasi, termotivasi teman, situasi ekonomi, diutus oleh sekolah, ada yang membiayai, dan ada tawaran untuk kuliah. Motivasi yang diungkapkan menandakan bahwa mahasiswa belum menyadari atas apa yang telah dipilihnya. Dengan keadaan yang demikian tentunya akan memberikan pengaruh yang negatif pada masing-masing individu yang secara khusus berakibat pada proses studinya. Hal itu bisa berubah apabila dalam perjalanan waktu mahasiswa mengalami penjernihan motivasi. Artinya dalam perjalanan waktu mahasiswa menyadari akan keberadaan dirinya di Prodi IPPAK akan menjadi seperti apa. Berdasarkan tabel 2 juga ternyata mahasiswa tingkat empat tidak ada yang mendapat tugas dari keuskupan untuk studi artinya keuskupan tidak mengutus salah satu umatnya untuk studi di Prodi IPPAK. Keadaan ini berbeda dengan keadaan calon mahasiswa pada keberadaan awal, yakni banyak mahasiswa yang diutus oleh masing-masing keuskupan. Hal ini dikarenakan keuskupan menanggapi rencana KWI yakni meningkatkan pelayanan di bidang pendalaman hidup beriman dan memperbaharui pelaksanaan katekese yang di dalamnya terdapat pengkaderan untuk menjadi katekis (Staf Dosen IPPAK, 2009: 1). 2. Pemahaman Mahasiswa terhadap Sosok Katekis Berdasarkan tabel 3, pada umumnya mahasiswa tingkat empat telah memahami sosok katekis, yakni sebagai orang yang berkarya dalam pewartaan Gereja, yang dipanggil oleh Allah melalui Gereja, pewarta dan pelaku sabda, memiliki pengetahuan tentang iman Katolik dan memiliki hidup yang baik, memiliki

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 keterampilan, orang yang terbuka pada kehendak Allah dan sebagai tanda hadirnya Gereja. Pandangan mahasiswa terhadap sosok katekis sebagai orang yang berkarya dalam Gereja pada umumnya setuju yang dinyatakan sangat setuju (35%) dan setuju (59%). Atas dasar tersebut mahasiswa memahami karya tersebut mencakup bidang liturgi, koinonia, diakonia dan kerygma. Bagi mahasiswa yang menyatakan raguragu (6%) perlu dipahami bahwa pewartaan katekis dalam bidang liturgi yakni membantu umat dalam memahami rahasia keselamatan yang dirayakan dalam ekaristi dan sakramen. Dalam bidang koinonia katekis membantu umat dalam meneguhkan persaudaraan berdasarkan Injili. Dalam bidang diakonia katekis membantu umat dalam perwujudan iman dalam kehidupan nyata. Pemahaman mahasiswa akan karya katekis dalam bidang kerygma adalah membantu umat dalam menyemangati untuk tidak takut dalam mewartaan Injil. Perlu disadari juga oleh mahasiswa yang ragu-ragu (6%) keempat bidang karya katekis tersebut sebagai sentral pokok karya katekis dalam Gereja. Selain itu juga agar keempat bidang tersebut dapat terlaksana dengan baik maka dibutuhkan sikap profesioanal dari diri katekis sendiri. Profesional adalah ahli dalam bidangnya. Berkaitan dengan katekis, tentunya ia harus profesional dalam menjalankan keempat bidang yang ada dalam pelayanan Gereja (Prasetya, 2007: 16-17). Selain itu juga, mahasiswa telah memahami hal yang mendasari karya pewartaan dari sosok katekis. Hal ini tentunya akan sangat membantu mahasiswa dalam memaknai karya katekis dalam Gereja. Berdasarkan tabel 3, mahasiswa menyatakan sangat setuju (47%) dan setuju (38%), bahwa karya katekis dalam Gereja didasarkan atas panggilan. Bagi mahasiswa yang ragu-ragu (12%) dan kurang setuju (3%) pelu dipahami bahwa panggilan yang diterima oleh katekis merupakan

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 panggilan langsung dari Allah, di mana melalui Gereja Allah memanggil katekis untuk menjalankan karya pewartaan. Namun untuk memahami panggilan katekis saja belumlah cukup tetapi perlu didukung juga dengan yang menjiwai panggilan tersebut yakni spiritualitas. Dengan spiritualitas ini katekis akan terdorong dan termotivasi hingga pada akhirnya dengan berani mengatakan “YA” bahwa dirinya sungguhsungguh terpanggil menjadi seorang katekis (Prasetya, 2007: 64). Selain memahami sosok katekis dari segi panggilannya, mahasiswa juga telah memahami penghayatan katekis dalam menghayati panggilannya sebagai katekis. Dengan pemahaman tersebut akan sangat membantu mahasiswa dalam memaknai panggilan katekis. Mahasiswa memahami penghayatan katekis terhadap panggilannya nampak dalam mewartakan sabda, melakukan sabda, merenungkan sabda dan memberi kesaksian atas sabda yang diwartakan di dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan penghayatan katekis terhadap panggilannya tersebut, mahasiswa menyatakan sangat setuju (38%), setuju (59%) dan ragu-ragu (3%). Perlu disadari bagi mahasiswa yang ragu-ragu (3%), dalam kehidupan sehari-hari, katekis menjalankan pewartaannya dengan menghadirkan Allah yang hadir dalam diri Yesus dengan segala macam bentuk perbuatan-perbuatan-Nya yang selalu didasari oleh cinta kasih dengan harapan umat semakin diteguhkan imannya, diperkaya, diperbaharui sehingga mampu menjadi saksi atas ajaran yang telah diberikan oleh katekis. Sabda yang telah ia wartakan, selanjutnya ia menampilkan kasih Allah melalui perkataan dan perbuatan di tengah-tengah kehidupan. Kesemua tindakan tersebut didasari oleh kasih. Sabda yang telah diwartakan dan diwujudkan dalam tindakan nyata kemudian direnungkan. Dengan permenungan tidak hanya iman katekis semakin tumbuh tetapi juga Yesus sungguh-sungguh hidup di dalam diri

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 katekis. Sebagai tindak akhir dari pewartaan, tindakan dan permenungannya katekis memberi kesaksian atas imannya. Kesaksian iman katekis sangat penting bagi umat karena umat akan semakin percaya dengan katekis terlebih akan ajaran yang diwartakan oleh katekis. Dengan demikian umat akan semakin menghidupi imannya di dalam kehidupan sehari-hari (Komisi Kateketikal Diosis Kota Kinabalu, 2003: 6). Pemahaman mahasiswa terhadap sosok katekis sebagai orang yang memahami ajaran tentang iman Katolik dan memiliki hidup yang baik secara umum telah dipahami yakni menyatakan sangat setuju (44%) dan setuju (56%). Pengetahuan mengenai ajaran iman Katolik sangatlah penting untuk dipahami karena apa yang akan diwartakan oleh katekis tidak terlepas dari hal itu. Ajaran iman Katolik yang perlu dikuasai oleh katekis di antaranya mengenai Kitab Suci, ajaran Gereja, katekese, eklesiologi dan tradisi Gereja. Kesemuanya itu harus dikuasai dengan benar dan tepat oleh katekis. Untuk mendukung pengetahuan itu dibutuhkan juga pola hidup yang baik dari katekis sendiri. Karena yang diwartakan oleh katekis adalah sesuatu yang baik, maka katekis sendiri harus memiliki pola hidup yang baik. Penguasaan yang baik terhadap ajaran iman Katolik dan pola hidup yang baik dari seorang katekis merupakan wujud dari spiritualitas dan sikap profesional katekis (Prasetya, 2007: 69). Pemahaman mahasiswa terhadap sosok katekis sebagai orang yang harus memiliki keterampilan dalam mengkomunikasikan iman dan keterampilan itu perlu didukung dengan aneka bentuk kegiatan, walaupun diperoleh mahasiswa menyatakan ragu-ragu (3%), tetapi pada umumnya mahasiswa setuju, yakni menyatakan sangat setuju (32%) dan setuju (65%). Keterampilan mengkomunikasikan iman merupakan wujud nyata dari sikap keprofesionalitas

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 katekis, di mana katekis tidak hanya tahu tentang imannya tetapi juga harus dikomunikasikannya. Pengkomunikasian iman yang dilakukan katekis bertujuan untuk membantu umat dalam menumbuhkembangkan iman umat. Agar ajaran iman yang diwartakan katekis mudah dipahami dan dihayati oleh umat belumlah cukup melalui ceramah atau khotbah tetapi juga diproses dengan aneka bentuk kegiatan. Dengan kegiatan umat akan semakin memahami imannya secara benar dan tepat sehingga iman umat akan berwujud nyata dalam tindakan konkret. Perkembangan iman umat merupakan salah satu tanggungjawab katekis, karena Gereja telah mempercayai katekis dalam menangani hal itu (Lalu, 2005: 118). Mengingat bahwa tugas katekis dalam Gereja sangatlah penting apalagi ia sebagai pewarta dan yang dihadapi adalah umat yang berada dalam zaman semakin modern, kritis, serba ingin tahu dan umat mengalami krisis iman, maka sikap belajar yang tinggi perlu ditanamkan. Selain membuat katekis semakin profesional tetapi juga akan membuat ia semakin redah hati, terbuka terhadap masukan-masukan orang lain, dan menerima kritikan (Prasetya, 2007: 48). Berbicara mengenai pemahaman bahwa katekis dituntut untuk memiliki sikap belajar yang tinggi walaupun diperoleh mahasiswa menyatakan ragu-ragu (6%), pada umumnya sudah dipahami hal ini terlihat dari pernyataan mahasiswa dengan menyatakan sangat setuju (29%) dan setuju (65%). Selain memahami sosok katekis dari segi keterampilan, mahasiswa juga memahami sosok katekis dari segi kolegialitas. Berdasarkan hasil penelitian mahasiswa menyatakan sangat setuju (24%) dan menyatakan setuju (35%) bahwa kolegialitas seorang katekis adalah keterhubungannya dengan Gereja. Perlu disadari bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (32%) dan kurang setuju (9%)

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 keterhubungan tersebut tercermin dalam diri katekis, yaitu hidup seorang katekis merupakan tanda akan hadirnya Gereja. Dalam dunia, Gereja memberikan pelayanan kepada umat dan begitu juga halnya katekis, di mana akan mendorongnya untuk mengembangkan Gereja bersama jemaat lain sebagai Umat Allah. Dengan demikian pola hidup Gereja dan katekis diwarnai dengan pelayanan. Pelayanan hidup katekis nampak dalam hidupnya sehari-hari, di mana katekis selalu ada untuk Gereja, ada untuk dirinya, ada untuk umat, dan ada untuk masyarakat (Prasetya, 2007: 49). 3. Pemahaman Mahasiswa terhadap Peran Seorang Katekis Berdasarkan tabel 4, pada umumnya mahasiswa telah memahami peran katekis dalam Gereja, yakni dalam bidang pewartaan yaitu berkatekese, dalam bidang koinonia sebagai pengembang hidup persaudaraan, dalam bidang diakonia sebagai petugas pastoral, dalam bidang martirya sebagai pemberi kesaksian, dan dalam bidang liturgi menghayati ekaristi dan pelaksana hidup doa. Dalam bidang pewartaan, berkatekese merupakan tugas utama dari seorang katekis. Terhadap pemahaman tersebut pada umumnya mahasiswa sudah memahaminya, yakni menyatakan sangat setuju (41%) dan setuju (44%). Mahasiswa memahami berkatekese berarti mewartakan Yesus Kristus kepada umat dalam bentuk pengajaran yang dilakukan secara berkesinambungan dan berkala dengan tujuan agar secara pelan-pelan umat mengerti dan memahami sosok Yesus. Dengan pengajaran tersebut diharapkan umat dapat memahami, menghayati dan merasakan hadirnya Yesus dalam diri mereka hingga pada akhirnya mereka semakin percaya dan mengimani Yesus sebagai sang juru selamat (Prasetya, 2007: 33). Namun bagi beberapa mahasiswa katekese bukan tugas utama dari seorang katekis, hal ini terlihat

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 dari 12% mahasiswa menyatakan ragu-ragu dan 3% mahasiswa menyatakan kurang setuju. Bagi mahasiswa yang belum memahami perlu diingatkan kembali bahwa dalam katekese katekis mewartakan Yesus Kristus. Inilah inti pewartaan katekis dari isi katekese. Maka dari itu mereka perlu mendapat pemahaman kembali yang tepat tentang katekese dalam kaitannya dengan tugas katekis agar kelak ketika mahasiswa menjadi katekis banyak orang yang percaya dan mengimani Yesus sebagai sang juru selamat. Berkatekese membutuhkan perencanaan. Berdasarkan tabel 4, mahasiswa menyatakan setuju atas pemahaman tersebut yakni menyatakan sangat setuju (35%) dan menyatakan setuju (53%). Mahasiswa memahami merencanakan katekese berarti menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam proses katekese. Katekese harus direncanakan secara mantap dan tentunya sesuai dengan kebutuhan umat, setelah semuanya dipersiapkan maka proses katekese bisa dilaksanakan. Setelah proses katekese dilaksanakan, katekis dan umat mengevaluasi secara bersama atas jalannya proses katekese dari awal sampai akhir. Evaluasi ini penting karena dengan evaluasi akan diketahui kekurangan maupun kelebihan dari proses katekese sebelumnya sehingga pada proses katekese yang akan dilaksanakan berikutnya akan lebih sesuai dengan kebutuhan umat. Dengan demikian proses evaluasi ini akan membantu katekis dalam mengembangkan katekese dan juga akan membantu katekis dalam menjadi seorang pendamping yang sesuai dengan kebutuhan umat. Sebagai tindak akhir dari proses katekese, katekis mengajak umat untuk melakukan suatu perubahan kearah yang lebih baik (Lalu, 2005: 5). Berkaitan dengan perencanaan katekese, dari tabel yang sama 12% mahasiswa menyatakan ragu-ragu bahwa berkatekese itu membutuhkan suatu perencanaan. Hal ini disebabkan karena

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 mahasiswa melihat bukan karena satu kesatuan tetapi secara terpisah-pisah. Perlu diingat oleh mahasiswa yang ragu-ragu bahwa katekese yang baik itu perlu adanya suatu perencanaan, proses, evaluasi dan tindak lanjut. Dalam menjalankan proses katekese katekis di tuntut memiliki sikap percaya diri dan komitmen yang tinggi. Berdasarkan tabel 4, terhadap pemahaman tersebut pada umumnya mahasiswa sudah memahaminya, yakni 35% menyatakan sangat setuju dan 65% menyatakan setuju. Sikap percaya diri merupakan sikap yang lahir dari kesadaran akan panggilan dirinya sebagai katekis. Dengan kesadaran tersebut akan mendorong katekis tidak hanya melulu menuruti apa yang dikatakan oleh pastor, tetapi juga akan mendorong ia semakin kreatif dan percaya diri dalam menjalankan proses katekese maupun apa yang dikatakannya kepada umat. Selain sikap percaya diri dibutuhkan juga komitmen dari katekis sendiri. Komitmen adalah kesetiaan untuk merencanakan katekese, melaksanakan dan berani bertanggungjawab atas rencana dan pelaksanaan katekese. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kedua sikap tersebut sangat penting untuk dimiliki maka perlu ditanamkan dalam diri katekis (Komisi Kateketik KWI, 2005: 100-102). Dengan memahami sikap katekis dalam berkatekese akan membantu mahasiswa dalam menjalankan proses katekese dengan penuh tanggung jawab. Selain dalam bidang pewartaan, katekis juga berperan dalam bidang koinonia, yakni sebagai pengembang hidup persaudaraan. Dalam mengembangkan hidup persaudaraan katekis melakukannya dengan memberikan pelayanan kepada umat dan juga kepada masyarakat luas tanpa membeda-bedakan status sosial. Atas pemahaman tersebut, dalam tabel 4 secara penuh mahasiswa telah memahaminya, yakni 53% menyatakan sangat setuju dan 47% menyatakan setuju. Dalam lingkup

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 umat, katekis mengembangkan hidup persaudaraan dalam bentuk pelayanan iman, sedangkan dalam masyarakat luas katekis mengembangkan hidup solidaritas yakni membangkitkan kesadaran, semangat, dan ketelatenan kepada setiap individu anggota masyarakat (Komisi Kateketik KWI, 2005: 103-104). Pemahaman itu akan membantu dan mendorong mahasiswa dalam mengembangkan hidup persaudaraan entah itu kepada umat maupun kepada masyarakat luas. Selain dalam bidang pewartaan dan koinonia katekis juga berperan dalam bidang martirya yakni sebagai saksi iman. Berdasarkan tabel 4, atas pemahaman tersebut mahasiswa sangat setuju (47%), menyatakan setuju (47%) dan ragu-ragu (6%). Kesaksian katekis atas imannya kepada Allah diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari kepada masyarakat luas. Tindakan katekis yang baik merupakan kasih kepada Allah. Mengasihi Allah berarti mengasihi sesama. Selain itu juga, ia bersaksi kepada masyarakat atas imannya dengan berdasarkan kasih dan hasil hubungannya yang personal dengan Allah. Kesaksian yang diwartakan katekis tentunya akan memberi kesadaran kepada masyarakat luas dalam memaknai hidup yang berdasarkan iman (Sanjaya, 2011: 30). Sehubungan dengan peran katekis dalam bidang martyria, bagi yang ragu-ragu (6%) kesaksian akan iman itu sangat penting maka mereka perlu menyadari itu sebagai wujud kasih kepada Allah. Selain dalam bidang pewartaan, koinonia, dan martyria katekis juga berperan dalam bidang diakonia yakni sebagai petugas pastoral. Sebagai petugas pastoral, katekis harus mampu bekerja sama dengan petugas Gereja lainnya dalam mengembangkan semangat pelayanan di tengah kehidupan Gereja dan masyarakat. Atas pemahaman tersebut dalam tabel 4, mahasiswa menyatakan sangat setuju (29%), setuju (65%) dan ragu-ragu (6%). Dalam mengembangkan pelayanan kepada

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 masyarakat, katekis tidak hanya melulu pada soal pengembangan iman tetapi juga pelayanan dalam bidang karitatif (pelayanan dalam bentuk kasih sayang dan perhatian kepada KLMTD) dan advokasi (pelayanan dalam memberdayakan dan mencegah orang untuk tidak sakit). Dalam bidang advokasi, melalui Gereja katekis bekerja sama dengan petugas kesehatan (Komisi Kateketik KWI, 2005: 102-103). Bagi mahasiswa yang ragu-ragu (6%) disebabkan karena mereka melihat tugas itu secara terpisah bukan secara satu kesatuan artinya mahasiswa hanya melihat tugas katekis dalam bidang pelayanan iman umat. Selain dalam bidang pewartaan, koinonia, martyria dan diakonia katekis juga berperan dalam bidang liturgi. Dalam bidang liturgi, katekis melakukannya dengan menghidupi sikap doa dan mengikuti ekaristi dan menghayatinya sebagai perayaan iman. Atas pemahaman tersebut, pada tabel 4 diperoleh data mahasiswa menyatakan sangat setuju (26%), setuju (68%) dan ragu-ragu (6%). Bagi seorang katekis doa merupakan sumber kekuatan utama karena melalui doa ia meminta penyertaan Allah dalam menjalankan tugas panggilannya, memperkaya kehidupan batin katekis dan memperoleh kedewasaan rohani yang mendalam. Penghayatan terhadap ekaristi merupakan sumber iman bagi katekis yakni membantu katekis dalam memaknai rencana keselamatan Allah yang hadir dalam kurban Yesus dan menguatkan hidup pribadi katekis dengan roti kehidupan, membentuk satu tubuh dengan umat dan mempersembahkan diri kepada Allah bersama tubuh dan darah Kristus (Komisi Katekestik KWI, 1997: 46-47). Bagi mahasiswa yang ragu-ragu (6%) belum dipahami secara benar. Hal ini disebabkan karena mereka memahami peran katekis dalam bidang liturgi hanya berpusat pada ekaristi sedangkan pada hidup doanya tidak.

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 4. Pemahaman Mahasiswa terhadap Kualifikasi Seorang Katekis Mahasiswa pada umumnya memahami kualifikasi seorang katekis, yakni dalam hal pengetahuan, keterampilan dan spiritualitas. Ketiga hal tersebut merupakan modal dasar yang utama bagi seorang ketekis, tanpa ketiga hal tersebut mustahil tugasnya dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Maka dari itu katekis harus memiliki dan menguasai ketiga hal itu agar tugas pewartaannya sungguhsungguh berhasil dan bisa untuk dipertanggungjawabkan. Dari segi pengetahuan salah satunya mengenai isi katekese yaitu iman Katolik, kualitas katekis ditentukan oleh penguasaannya terhadap dasar-dasar iman Katolik. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5, terhadap pemahaman tersebut mahasiswa menyatakan sangat setuju (24%), setuju (41%), ragu-ragu (6%) dan kurang setuju (29%). Bagi mahasiswa yang menyatakan sangat setuju (24%), dan setuju (41%) memahami dasar-dasar iman Katolik yang harus dipahami dan kuasai secara benar dan tepat oleh katekis, meliputi Kitab Suci, teologi, moral, liturgi, dan ajaran Gereja. Penguasaannya yang benar dan tepat terhadap dasar-dasar iman Katolik menunjukan bahwa ia (katekis) adalah pewarta yang memiliki kualitas yang baik artinya ia sungguh-sungguh bertanggungjawab atas apa yang menjadi tugasnya (Prasetya, 2007: 42). Bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (6%) dan kurang setuju (29%) melihat kualitas katekis bukan pada penguasaan terhadap iman Katolik. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap kualitas katekis yang baik serta kurang pahamnya akan apa yang diwartakan katekis yang mencakup isi dari iman Katolik. Iman Katolik yang diwartakan oleh katekis agar tersampaikan dengan baik yang diproses melalui katekese, maka katekis perlu memahami model-model

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 katekese. Berdasarkan penelitian yang terdapat dalam tabel 5, mahasiswa menyatakan sangat setuju (38%), setuju (56%) dan ragu-ragu (6%), bahwa katekis perlu memahami model-model katekese. Bagi mahasiswa yang menyatakan sangat setuju (38%) dan setuju (56%) memahami model-model katekese yang harus dikuasai oleh katekis harus sejalan dengan perkembangan dan kehidupan umat. Penguasaan terhadap model-model katekese meliputi mengolah model katekese yang sudah ada menjadi model yang kritis, kreatif, sederhana dan mendalam. Penguasaan tersebut merupakan usaha yang nyata dari seorang katekis dalam menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan iman Katolik terhadap umat. Dengan memahami model-model katekese akan mendorong katekis semakin mampu dalam menganalisis situasi, dan menyusun rencana tindak lanjut (Lalu, 2005: 119-120). Sedangkan bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (6%) belum melihat dampak positif dari trampilnya akan penguasaan terhadap model-model berkatekese. Hal ini disebabkan karena mahasiswa masih berfokus pada model-model katekese yang sudah ada. Dalam berkatekese, hendaknya katekis juga memperhatikan situasi dan kondisi umat. Atas pemahaman tersebut diperoleh data mahasiswa yang menyatakan sangat setuju (44%), setuju (50%) dan ragu-ragu (6%). Situasi dan kondisi umat yang harus diperhatikan oleh katekis mencakup keadaan pribadi, psikologi dan latar belakang umat. Situasi dan kondisi umat merupakan pintu masuk yang utama dalam masuknya pesan Injil kepada masing-masing umat. Hal ini penting untuk dipahami karena akan membantu katekis dalam memahami apa yang paling dibutuhkan oleh umat. Dengan demikian apa yang diwartakan oleh katekis dalam katekese sungguhsungguh menjawab kebutuhan umat (Lalu, 2005: 120). Bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (6%) melihat bahwa situasi dan kondisi umat dalam sebuah

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 proses katekese kurang mendapat tempat di mana mahasiswa melihat yang paling penting adalah iman Katolik. Selain situasi dan kondisi umat, katekis juga harus mengetahui dan mengenal situasi zaman yang sedang terjadi. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5, diperoleh data mahasiswa yang menyatakan sangat setuju (38%), setuju (47%) dan menyatakan ragu-ragu (15%) atas pemahaman tersebut. Bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (15%) perlu dipahami bahwa umat zaman sekarang ini mengalami ketidakpastian dan keragu-raguan dalam menjalani hidup, di mana dengan munculnya isu-isu yang memudarkan iman dan teknologi yang semakin canggih terus menghantui umat dalam memperdalam imannya. Katekis sebagai pewarta sabda harus mengetahui situasi zaman yang demikian agar yang diwartakan oleh katekis menjawab kebutuhan umat terutama dalam menanggapi keragu-raguan umat dalam imannya (Lalu, 2005: 120). Dalam hal ini yang secara khusus mahasiswa yang ragu-ragu (15%) melihat bahwa katekis tidak perlu mengenal situsi zaman yang terjadi karena yang paling penting dari pengetahuan katekis pengetahuan tentang iman Katolik. Dari segi keterampilan, katekis harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Berdasarkan tabel 5, atas pemahaman tersebut mahasiswa menyatakan sangat setuju (44%), setuju (47%) dan ragu-ragu (9%). Bagi mahasiswa yang raguragu (9%) perlu disadari bahwa bagi seorang katekis keterampilan berkomunikasi merupakan keterampilan dasar yang harus dikuasai, yakni berani berbicara, mengungkapkan diri, dan mau mendengarkan umat. Dengan demikian akan memudahkan ia dalam menyampaikan sabda Allah kepada umat sehingga sabda Allah akan tersampaikan dengan baik dan umat sendiri akan dengan mudah

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 menangkap dan memahami sabda Allah tersebut (Lalu, 2005: 8). Bagi mahasiswa yang sangat setuju (44%) dan setuju (47%), dengan memahami keterampilan berkomunikasi itu sangat penting bagi katekis tentunya akan membantu dan mendorong mahasiswa yang merupakan calon katekis dalam melatih kemampuan berkomunikasi. Selain trampilnya berkomunikasi, katekis juga dituntut untuk mengetahui manfaat dari berkomunikasi yang baik yakni membantu dan memudahkannya dalam mengajak, mengumpulkan dan menyatukan umat. Atas pemahaman tersebut pada tabel 5, diperoleh data mahasiswa menyatakan sangat setuju (41%), setuju (50%) dan ragu-ragu (9%). Bagi mahasiswa yang ragu-ragu (9%) perlu diketahui bahwa dengan trampilnya katekis dalam berkomunikasi akan berdampak baik bagi umat, di mana umat sendiri akan merasa nyaman dan terbuka dengan keberadaan katekis yang demikian sehingga memudahkan katekis untuk berdialog dengan umat tanpa ada sesuatu yang menghalangi. Selain itu juga dengan keadaan katekis yang mau mendengarkan orang lain tentunya akan mendorong umat untuk mendengarkan pengalaman orang lain. Keadaan umat yang demikian akan sangat memudahkan katekis dalam menjalankan proses katekese dengan dihadiri banyak umat yang penuh keterbukaan dan tanpa ada saling mencurigai satu sama lain (Lalu, 2005: 8). Bagi mahasiswa yang sangat setuju (41%) dan setuju (50%) akan sangat baik bagi mereka karena sebagai calon-calon katekis mereka akan terdorong secara terus menerus untuk berlatih dalam berkomuniskasi. Katekis harus memiliki keterampilan dalam berefleksi. Terhadap pemahaman tersebut dalam tabel 5, diperoleh data mahasiswa menyatakan sangat setuju (35%), setuju (53%) dan menyatakan ragu-ragu (12%) bahwa katekis harus trampil dalam

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 berefleksi. Bagi mahasiswa yang ragu-ragu (12%) perlu dipahami bahwa bagi seorang katekis keterampilan berefleksi merupakan cara untuk menemukan nilainilai manusiawi dan kristiani di dalam Kitab Suci dan ajaran Gereja maupun Tradisi Kristiani serta memadukan nilai-nilai kristiani dengan nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup sehari-hari. Hasil dari refleksi adalah kesaksian iman umat maupun katekis. Buah dari kesaksian iman adalah usaha atau rencana untuk meningkatkan hidup yang baik berdasarkan nilai-nilai Injili (Lalu, 2005: 8). Maka, mahasiswa yang ragu-ragu (12%) perlu menyadari dan memahami bahwa bagi seorang katekis keterampilan berefleksi itu sangat penting maka dari itu mahasiswa perlu dibantu agar trampil dalam berefleksi. Sebagai seorang pewarta, katekis harus memiliki hidup rohani yang baik. Hidup rohani katekis nampak dalam spiritualitas. Atas pemahaman tersebut dalam tabel 5, diperoleh data mahasiswa yang menyatakan sangat setuju (38%) dan setuju (35%). Spiritualitas adalah hidup rohani seorang katekis yang senantiasa didorong, dimotivasi, dibimbing, dipimpin, dijiwai, diterangi, dan digerakkan oleh kekuatan Allah yang berpengetahuan dan berpengalaman di bidang agama yang cukup, memiliki kesaksian iman dan mengkomunikasikannya kepada umat di tengah-tengah kehidupan nyata (Van Lierav, 1994: 7). Bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (24%) dan kurang setuju (3%) perlu dipahami bahwa spiritualitas tersebut merupakan jatidirinya yang utama sebagai orang beriman. Kedalaman spiritualitas seorang katekis nampak dalam kehidupan sehari-harinya di mana apa yang dilakukan oleh katekis sungguh-sungguh sesuai dengan yang diimaninya. Spiritualitas inilah yang selalu mendorong dan menguatkan katekis dalam menjalankan tugasnya.

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Spiritualitas yang dihidupi oleh seorang katekis adalah sikap sedia diutus, semangat menggereja, menjadi murid dan berakar dan berbuah. Atas pemahaman tersebut dalam tabel 5 diperoleh data mahasiswa yang menyatakan sangat setuju (41%) dan setuju (44%). Sikap sedia untuk diutus yang dialami oleh katekis merupakan sikap yang lahir dari panggilannya. Sikap tersebut terlihat dalam keterlibatannya yang formal dalam pengutusan Gereja yakni menyatakan akan hadirannya Gereja kepada masyarakat. Katekis yang diutus oleh Gereja tentunya juga memiliki semangat menggereja yang mendalam yakni bergerak dalam komunikasi iman jemaat. Maka dari itu katekis perlu memiliki sikap dan sifat yang komunikatif. Sikap dan sifat tersebut terlihat dalam kesediaannya untuk mendengarkan sabda Tuhan. Selain itu juga katekis harus memiliki semangat dan cita-cita untuk menggerakan seluruh kegiatan Gereja dan mengkomunikasikan imannya. Seorang katekis pada dasarnya adalah seorang murid, sepintar apa pun dan ia memiliki kemampuan mengajar ia tetap murid Yesus maka ia harus memiliki sikap agar ia memiliki sikap rendah hati, lembut dan tidak sombong artinya terbuka pada berbagai macam pengalaman, pendapat, siap menerima kritikan dan tidak malu untuk bertanya. Sebagai buah dari penghayatannya terhadap spiritualitas Gereja semakin mengakar dan berbuah di dalam kehidupan jemaat dalam bentuk karya nyata. Karya nyata jemaat adalah perbuatan baik dan amal kepada semua orang tanpa membedabedakan status sosial (Sarjumunarsa, 1982: 34-37). Bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (12%) dan kurang setuju (3%), spiritualitas yang perlu dihidupi oleh katekis adalah sikap sedia diutus, semangat menggereja, menjadi murid dan berakar dan berbuah.

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Penghayatan katekis terhadap spiritualitas tampak juga dalam penghayatannya terhadap tugas. Atas pemahaman tersebut dalam tabel 5 diperoleh data mahasiswa menyatakan sangat setuju (38%) dan setuju (41%). Katekis menghayati tugasnya bukan semata-mata karena bagian dari profesi tetapi karena suatu panggilan yang telah dijiwainya. Dengan menghayati tugas sebagai suatu panggilan merupakan unsur esensial atau pokok dari seorang katekis dalam menghayati spiritualitas katekis. Dengan keadaan yang demikian akan menjadikan katekis semangat dalam menjalankan tugas, tidak ada rasa keterpaksaan dan juga tidak menganggap sebagai bagian dari profesi saja tetapi tugas dipandang sebagai sesuatu yang luhur. Bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (21%) kesadaran katekis akan tugas sebagai panggilan merupakan unsur esensial atau pokok dari spiritualitas katekis. Penghayatan katekis yang mendalam terhadap spiritualitas memampukannya bertahan dalam menjalankan tugasnya sebagai pewarta. Atas pemahaman tersebut dalam tabel 5 diperoleh data mahasiswa yang menyatakan sangat setuju (35%) dan setuju (50%). Dalam menjalankan tugas tentunya banyak tantangan yang harus dihadapi oleh katekis. Tantangan tersebut entah dari pihak umat, pastor, maupun diri sendiri. Dengan menghayati spiritualitas yang mendalam kesemua tantangan tersebut akan secara perlahan-lahan dapat diatasi mengingat bahwa spiritualitas merupakan jiwa atau roh penggerak dari seorang katekis. Maka dari itu, bagi katekis spiritualitas merupakan bagian dari hidupnya yang tidak bisa dilepaskan karena spiritualitas inilah yang selalu mendorong dan memotivasi katekis untuk tetap bersemangat dalam menjalankan tugas (Komisi Kateketik KWI, 2007: 63). Bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (12%) dan kurang setuju (3%) perlu disadari bahwa dengan

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 menghayati spiritualitas yang mendalam akan memampukan katekis bertahan dalam menjalankan hidup sebagai pewarta. Katekis selain menghayati tugas dan spiritualitas tampak juga dalam kedekatan diri dengan Yesus Kristus. Atas pemahaman tersebut, dalam tabel 5 diperoleh data mahasiswa menyatakan sangat setuju (41%) dan setuju (44%). Kedekatan katekis dengan Yesus terlihat dalam segala tingkah laku, yakni seturut dengan tindakan dan teladan Yesus. Melihat tugas katekis sebagai pewarta maka katekis perlu menjadikan Yesus sebagai pedoman dalam menjalankan tugasnya di mana katekis perlu melihat cara dan gaya Yesus dalam mengajar (Komisi Kateketik KWI, 2009: 30-31). Bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (12%) dan kurang setuju (3%) perlu disadari bahwa spiritualitas yang mendalam seorang katekis ditandai dengan hubungan yang erat dengan Yesus Kristus dengan cara menjadikanNya sebagai pegangan maupun pedoman dalam menjalankan tugas pewartaan. Mengembangkan spiritualitas, dapat dilakukan melalui usaha katekis sendiri dan bantuan dari luar. Atas pemahaman tersebut, dalam tabel 5 diperoleh data mahasiswa menyatakan sangat setuju (35%) dan setuju (50%). Usaha yang muncul dari dalam katekis inilah yang akan selalu mendorong dirinya untuk semakin mengembangkan dan menghidupi spiritualitas dalam langkah hidup maupun tugasnya. Misalnya saja, katekis melakukan doa secara pribadi, berbuat baik, membaca buku-buku iman Katolik dan merenungkan Injil di dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan bantuan dari luar katekis bisa meminta pastor paroki untuk memberikan bimbingan rohani secara pribadi selain itu juga katekis bisa mengikuti kegiatan retret (Prasetya 2007: 41). Hal tersebut perlu dilakukan secara terus menerus tanpa ada rasa jenuh dan bosan. Bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 ragu (12%) dan tidak setuju (3%) perlu disadari bahwa proses perkembangan spiritualitas dapat dicapai melalui usaha pribadi dan jaga bantuan dari luar. Hal ini perlu menjadi perhatian mereka karena melalui usaha-usaha tersebut mereka juga bisa mengembangkan spiritualitas. 5. Peranan Pembinaan Spiritualitas bagi Mahasiswa Berdasarkan tabel 6 telah diperoleh data mengenai peran pembinaan spiritualitas bagi mahasiswa tingkat empat. Dalam kerangka visi dan misi Prodi IPPAK, pembinaan spiritualitas menjadi bagian visi dan misi. Artinya pembinaan spiritualitas sejalan dengan visi dan misi Prodi IPPAK. Atas pernyataan tersebut mahasiswa menyatakan telah sejalan (9%) dan menyatakan sejalan (59%) bahwa pembinaan spiritualitas yang diselenggarakan Prodi IPPAK telah sejalan dengan visi dan misi. Bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (32%) menunjukkan bahwa sosialisasi mengenai visi dan misi yang telah dilakukan Prodi IPPAK belum sepenuhnya dipahami oleh mahasiswa. Menurut hemat penulis visi dan misi diolah dan diterjemahkan lewat pembinaan spiritualitas. Dengan adanya proses pembinaan spiritualitas, diharapkan mahasiswa terbantu dalam menyadari panggilannya sebagai katekis. Atas pernyataan tersebut dalam tabel 6, mahasiswa menyatakan sangat membantu (12%) dan membantu (65%). Dengan kesadaran tersebut mahasiswa diharapkan mengenal dan memahami sosok katekis yang meliputi panggilannya, tugasnya, perannya dalam Gereja serta kualitias hidup katekis. Dengan menyadari hal itu diharapkan mahasiswa memiliki rencana kedepan yang matang mengenai keberadaan dirinya sebagai calon katekis sehingga semakin mampu menanggapi panggilan dirinya kelak sebagai katekis. Bagi

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (18%), kurang membantu (3%) dan tidak membantu (3%) perlu disadari bahwa pembinaan spiritualitas bertujuan untuk membantu mahasiswa dalam menyadari panggilannya sebagai katekis. Kesadaran diri akan panggilan sebagai katekis yang telah dirasakan oleh mahasiswa, diharapkan membantunya dalam menanggapi secara mantap panggilannya sebagai katekis. Namun berdasarkan tabel 6, mahasiswa yang menyatakan bahwa pembinaan spiritualitas membantu dalam menanggapi secara mantap panggilannya sebagai katekis hanya berjumlah 9% sedangkan yang lainnya menyatakan ragu-ragu (37%), kurang membantu (45%) dan tidak membantu (9%). Hal ini berarti walaupun mereka telah menyadari panggilannya sebagai katekis tetapi belum sepenuhnya pembinaan spiritualitas membantu mahasiswa dalam menanggapi secara mantap panggilannya sebagai katekis. Artinya mahasiswa hanya berada pada tahap kesadaran saja sedangkan pada tahap kemantapan, mahasiswa belum merasakannya. Pembinaan spiritualitas telah membantu mahasiswa dalam mengembangkan spiritualitas katekis. Atas pernyataan tersebut mahasiswa menyatakan sangat membantu (21%) dan membantu (44%). Hal ini menandakan bahwa mahasiswa telah dikembangkan spiritualitas katekisnya yang meliputi spiritualitas pelayanan dan kesediaan direpotkan demi jemaat, spiritualitas gembala yang merangkul jemaat (Yoh 10: 1-21), spiritualitas siap menjadi kecil untuk membesarkan jemaat, spiritualitas kerja sama dengan rekan dan team (Mat 10: 5-15) dan spiritualitas untuk tetap setia belajar (Mat 11: 29). Dengan berkembangnya spiritualitas katekis dalam diri mahasiswa, maka mereka siap untuk diutus, bersemangat dalam hidup menggereja, siap untuk menjadi murid dan siap untuk menghasilkan buah

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 (Sarjumunarsa, 1982: 33-37). Namun bagi sebagian mahasiswa menyatakan bahwa pembinaan spiritualitas ragu-ragu (21%) dan kurang membantu (15%) dalam mengembangkan spiritualitas katekis. Hal ini berarti pembinaan spiritualitas masih sebatas pada pemahaman materi saja. Pembinaan spiritualitas membantu mahasiswa dalam pembentukan kepribadian baik secara manusia maupun secara kristiani. Atas pernyataan tersebut, mahasiswa menyatakan sangat membantu (21%) dan membantu (44%). Hal ini menunjukan bahwa mahasiswa telah dikembangkan kepribadiannya. Di mana mahasiswa semakin bertanggungjawab, disiplin, berani mengambil keputusan, memiliki iman yang mendalam, bertanggungjawab atas imannya, tingkah laku sesuai dengan yang diimaninya, dan taat dengan Tuhan. Namun bagi sebagian mahasiswa menyatakan bahwa pembinaan spiritualitas ragu-ragu (24%) dan kurang membantu (12%) dalam pembentukan kepribadian. Bagi penulis menjadi catatan tersendiri bahwa bertanggungjawab, disiplin, berani mengambil keputusan, memiliki iman yang mendalam, bertanggungjawab atas imannya, tingkah laku sesuai dengan yang diimaninya, dan taat dengan Tuhan saling berkesinambungan bagi pembentukkan kepribadian. Pembinaan spiritualitas mengembangkan spiritualitas dan kepribadian, tetapi juga mengembangkan profesionalitas katekis pada diri mahasiswa. Berdasarkan tabel 6 atas pernyataan tersebut, mahasiswa menyatakan sangat membantu (6%) dan membantu (41%). Profesional artinya trampil di bidangnya. Berkaitan dengan katekis, maka profesional seorang katekis adalah trampil dalam bidang katekese, trampil dalam pengembangan karya katekese dan trampil dalam mengembangkan iman umat. Bagi mahasiswa yang ragu-ragu (32%), kurang membantu (15%) dan

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 tidak membantu (6 %) perlu disadari bahwa profesionalitas katekis ditanamkan pada diri mahasiswa melalui pengolahan materi, penggunaan sarana dan metode, serta bantuan pendamping dalam pembinaan spiritualitas. 6. Faktor Pendukung Pembinaan Spiritualitas Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 7, terhadap faktor pendukung pembinaan spiritualitas, yakni materi, metode, sarana waktu, dan pendamping pada umumnya mahasiswa terbantu dalam menumbuhkan panggilannya sebagai katekis. Faktor pendukung dari segi materi telah membantu mahasiswa. Sesuai dengan fokus tahun pertama yaitu kedewasaan manusia. Proses pencapaian ini ditempuh melalui materi yang meliputi: diri sendiri dan orang lain serta sikap-sikap yang dibutuhkan dalam berelasi. Hal ini dialami oleh mahasiswa yang menyatakan telah membantu (24%) dan (50%) mahasiswa menyatakan membantu. Bagi mahasiswa yang raguragu (26%) perlu disadari bahwa materi-materi tersebut bertujuan untuk membantu mahasiswa dalam mengembangkan kedewasaan manusiawi. Selain itu juga pengembangan materi ini tidak berarti selesainya semesternya tetapi perlu ada kelanjutan (Silabus pembinaan spiritualitas semester I dan II). Di tahun ke dua, pembinaan spiritualitas lebih berfokus pada kedewasaan kristiani. Jadi di tahun kedua ini kedewasaan kristianinya mahasiswa dikembangkan. Berkaitan dengan hal tersebut mahasiswa menyatakan bahwa pembinaan spiritualitas sangat membantu (15%) dan membantu (59%) dalam mengembangkan kedewasaan kristiani. Proses pendewasaan kristiani diproses melalui materi tentang Yesus Kristus. Di mana mahasiswa mendalami pribadi Yesus dengan harapan agar mahasiswa tergerak untuk mengikuti karya-karya-Nya. Hal ini berbeda bagi sebagian

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 mahasiswa, di mana mereka menyatakan bahwa pembinaan spiritualitas ragu-ragu (21%) dan kurang membantu (6%) dalam mengembangkan kedewasaan kristiani mahasiswa. Hal ini berarti mahasiswa belum mengalami pembinaan spiritualitas sebagai upaya untuk mengembangkan kedewasaan kristiani. Di tahun ketiga, pembinaan spiritualitas lebih berfokus pada kedewasaan religius yang diproses melalui latihan doa secara pribadi maupun bersama dan ibadat. Melalui latihan doa secara pribadi dan bersama sangat membantu (12%) dan membantu (65%) mahasiswa. Bagi mereka pembinaan spiritualitas telah mengembangkan kedewasaan religius. Latihan doa yang diajarkan adalah sadhana. Sadhana adalah latihan doa dalam bentuk meditasi dengan tujuan lewat keheningan menemukan Tuhan (Mello, 1980: 5). Namun dari data yang sama juga diperoleh mahasiswa yang ragu-ragu (15%) dan kurang membantu (9%). Bagi mereka masih harus diberikan pendampingan dan latihan doa secara pribadi agar mahasiswa tergerak untuk mempraktekkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Di tahun ke empat pembinaan spiritualitas lebih berfokus pada spiritualitas katekis yang diproses melalui materi tentang hidup katekis dan pengalaman hidup pribadi. Atas materi-materi tersebut mahasiswa sangat membantu (9%) dan membantu (67%). Bagi mereka pembinaan spiritualitas telah mengembangkan spiritualitas katekis. Spiritualitas katekis adalah hidup rohani seorang katekis, sebagai orang kristiani yang memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang agama yang cukup untuk mengkomunikasikan apa yang diketahui dan dialami kepada orang lain dan dapat menjadi saksi iman di tengah-tengah umat melalui kesaksian hidup yang nyata (Heuken, 2002: 12). Namun dari data yang sama juga diperoleh mahasiswa menyatakan ragu-ragu (18%) dan kurang membantu (6%). Hal ini

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 menunjukan mahasiswa harus diberi pendampingan dan diberi penjelasan bahwa bagi seorang katekis spiritualitas merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dihidupi. Faktor yang mendukung peranan pembinaan spiritualitas adalah metode. Metode adalah cara dan prosedur melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan secara efektif (Samana, 1994: 37). Metode yang dipakai dalam pembinaan spiritualitas tahun I hingga tahun ke IV sangat beragam dari ceramah, praktek, ibadat, diskusi, aplikasi kelapangan, sharing, kasus, debat dan kemping rohani. Berdasarkan tabel 7, dengan bantuan metode-metode tersebut mahasiswa menyatakan sangat membantu (21%) dan (38%) dalam mengenal pengalaman, memahami ajaran iman Katolik, menemukan kesadaran dan identitas dari hidup katekis. Bagi mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu (29%) dan kurang membantu (12%) menunjukkan bahwa betapa pentingnya pembaharuan pemilihan metode sehingga bisa dialami oleh mahasiswa. Faktor yang mendukung peranan pembinaan spiritualitas adalah sarana. Sarana adalah segala sesuatu yang dipergunakan dan dapat memudahkan pelaksanaan kegiatan (Samana, 1994: 19). Sarana yang dipakai dalam pembinaan spiritualitas dari tahun I hingga tahun ke IV cukup beragam dari bentuk cerita, film, hingga dalam bentuk cergam. Kesemua sarana tersebut sangat membantu mahasiswa (21%) dan membantu (41%) karena cukup beragam. Artinya sekalipun sudah membantu mahasiswa namun bagi sebagian mahasiswa ragu-ragu (29%) dan tidak membantu (9%) dalam melihat pengalaman dan merefleksikan pengalaman. Hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya pembaharuan pemilihan sarana yang mendukung.

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 Faktor yang mendukung peranan pembinaan spiritualitas adalah waktu. Waktu adalah durasi dalam penentuan berapa lama kegiatan akan berlangsung. Waktu yang dipakai selama proses pembinaan spiritualitas berdurasi 100 menit sangat membantu (9%) dan membantu (47%) dalam mengolah materi, merefleksikan pengalaman dan upaya penerapan materi dalam hidup sehari-hari. Namun dari data yang sama juga diperoleh mahasiswa menyatakan ragu-ragu (29%) dan kurang membantu (15%). Artinya sekalipun sudah membantu mahasiswa namun bagi sebagian mahasiswa ragu-ragu (29%) dan kurang membantu (15%) dalam mengolah materi, merefleksikan pengalaman dan upaya penerapan materi dalam hidup seharihari. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa perlu menindaklanjuti lagi artinya mahasiswa jangan hanya berhenti pada waktu yang telah ditentukan dalam satu kali pertemuan. Faktor yang mendukung peranan pembinaan spiritualitas selain metode, sarana dan waktu adalah pendamping. Pendamping adalah fasilitator, seseorang yang mendampingi peserta atau kelompok dalam sebuah kegiatan dari awal hingga akhir kegiatan. Seperti halnya dalam pembinaan spiritualitas, para pendamping inilah yang terus dan selalu mendampingi mahasiswa berproses selama pembinaan spiritualitas berlangsung. Tujuan adanya para pendamping ini adalah membimbing dan membantu mahasiswa dalam mengolah materi dan menumbuhkan panggilan hidup mahasiswa sebagai katekis. Dengan adanya para pendamping ini mahasiswa menyatakan sangat membantu (9%) dan membantu (47%) dalam menanggapi panggilan hidup sebagai katekis. Namun bagi sebagian menyatakan ragu-ragu (29%) dan kurang membantu (15%). Hal ini menunjukkan bahwa dalam hal penumbuhan

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 panggilan sebagai katekis mahasiswa masih secara penuh menggantungkan pada pendamping. Namun yang paling penting untuk disadari adalah pada diri sendiri. Pendamping juga berperan membantu mahasiswa dalam mengembangkan spiritualitas katekis. Dalam hal ini pendamping memprosesnya melalui materi, doa dan pola hidup pendamping sendiri. Dalam pola hidup, pendamping memberikan keteladan kepada mahasiswa agar mereka mengikuti dan meneladani apa yang telah dilakukan pendamping sehubungan dengan perbuatan baik dan hidup doa. Dengan adanya para pendamping ini sebagian mahasiswa menyatakan sangat membantu (12%) dan membantu (47%) dalam mengembangkan spiritualitas katekis. Artinya sekalipun sudah membantu mahasiswa namun bagi sebagian mahasiswa ragu-ragu (29%) dan kurang membantu (9%) dan tidak membantu (3%) dalam dalam mengembangkan spiritualitas katekis. Dalam hal ini mahasiswa perlu menyadari bahwa sosok pendamping hanya membantu atau sebagai fasilitator, maka dari itu mahasiswa sendiri perlu juga mengolah spiritualitas yang telah mereka miliki. 7. Harapan Mahasiswa terhadap Pembinaan Spiritualitas Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 8, dapat diketahui harapan mahasiswa tingkat empat terhadap proses pembinaan spiritualitas. Harapan-harapan tersebut dari segi materi, sarana, metode, waktu dan pendamping. Dari segi materi yang paling diharapkan oleh mahasiswa adalah materi yang berbicara mengenai hidup katekis (17,6%). Materi tentang hidup katekis merupakan materi yang cukup baik bagi mahasiswa, karena materi tersebut adalah materi yang sungguh hidup. Di mana materi tersebut mampu menggugah mahasiswa dalam memantapkan panggilan hidup sebagai katekis. Dengan rasa penuh percaya diri dan mantap mahasiswa mampu

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 menjawab “YA” bahwa saya dipanggil menjadi katekis. Dilain itu juga materi yang diharapkan oleh mahasiswa berbicara mengenai perbedaan roh dan spiritualitas katekis (12%), Yesus Kristus (12%), pengembangan spiritualitas (8,8%), kepribadian (8,8%), dan lain-lain. Materi-materi tersebut juga mendukung mahasiswa dalam memantapkan panggilan hidup mahasiswa sebagai katekis. Harapan dari segi sarana yang paling banyak diharapkan oleh mahasiswa adalah sarana audio visual (82%), sedangkan yang lainnya adalah cergam (6%). Audio visual adalah media yang bisa memunculkan gambar bergerak dan suara. Di mana dengan sarana audio visual akan menjadikan suasana yang aktif dan hidup. Dampak bagi mahasiswa adalah memunculkan pikiran dan imajinasi yang luar biasa pada diri mahasiswa sehingga mendorong mahasiswa untuk memakai sarana tersebut di tempat ia berkatakese nanti. Harapan dari segi metode yang paling diharapkan oleh mahasiswa adalah dialog (41,1%). Dialog adalah proses pembicaraan yang melibatkan dua orang atau lebih. Metode dialog pada hakikatnya bersifat partisifasi aktif. Artinya adanya hubungan timbal balik, baik antar mahasiswa atau pun mahasiswa dengan pendamping. Di mana antar mahasiswa-mahasiswa dan juga mahasiswa-dosen saling bertukar pikiran satu sama lain sehingga suasana dalam proses pembinaan spiritualitas sungguh-sungguh hidup. Metode lain adalah game (17,6%), sharing dan refleksi (14,7%), debat (12%) dan bernyanyi (2%). Harapan dari segi waktu yang paling diharapkan oleh mahasiswa adalah 90 menit dalam satu kali pertemuan (50%). Harapan mahasiswa ini sungguh berbeda dengan apa yang telah ditetapkan oleh pihak Prodi yakni pembinaan spiritualitas dalam satu kali pertemuan 100 menit. Hal ini menandakan bahwa mahasiswa belum menyadari waktu yang telah ditetapkan oleh pihak Prodi (100 menit) sudah

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 ditentukan dalam kurikulum. Dengan waktu 100 menit Prodi IPPAK melihat bahwa jumlah waktu tersebut cukup dalam mengolah materi yang ada dalam pembinaan spiritualitas. Durasi waktu lain yang diharapkan mahasiswa adalah 100 menit (26%), 120 menit (12%) dan 180 menit (12%). Harapan dari segi pendamping yang paling diharapkan oleh mahasiswa adalah pendamping yang berpradnya dan widya (26,8%). Kriteria pendamping yang lain diharapkan oleh mahasiswa adalah motivator (5,9%), dekat dengan mahasiswa (15%), kreatif (8,8%), gaul (22,9%), memiliki spiritualitas pelayanan dan mau direpotkan (8,8%) dan sesuai dengan bidangnya (12%). Pendamping yang baik adalah pendamping yang memiliki pengetahuan yang luas (pradnya) dan memiliki sikap yang bijaksana (widya). Pradnya berarti memiliki wawasan yang luas terhadap ilmu pengetahuan. Sedangkan widya berarti memiliki wawasan yang luas tentang iman Katolik dan penghayatan iman yang mendalam tentang hidup dan relasi dengan Tuhan serta memiliki integritas pribadi yang baik. Pendamping yang demikian mampu memberikan teladan kepada mahasiswa. E. Kesimpulan Penelitian Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat ketahui gambaran umum mahasiswa tingkat empat, sejauh mana mahasiswa tingkat empat memahami panggilan dirinya sebagai katekis dan pembinaan spiritualitas telah membantu mereka dalam menanggapi panggilannya sebagai katekis. Mahasiswa tingkat empat berasal dari berbagai keuskupan yang ada di Indonesia. Hal ini menunjukan adanya keberagaman karakter, budaya, dan suku dalam diri mahasiswa. Keberagaman asal mahasiswa menolong mereka untuk

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 mampu mengembangkan sikap yang benar terhadap keberagaman dan saling memperkaya. Sekalipun mereka berasal dari berbagai keuskupan tetapi mereka tidak ada yang utusan keuskupan. Dalam hal motivasi mereka mempunyai motivasi yang cukup beragam. Motivasi mereka ketika memilih Prodi IPPAK sebagian besar inisiatif sendiri. Adanya motivasi dengan inisiatif sendiri akan membantu mahasiswa dalam proses studi sehingga mereka terbantu dalam memahami sosok katekis dan terbentuk jatidirinya menjadi seorang katekis. Sebagian besar mahasiwa tingkat empat telah memahami sosok katekis beserta panggilan dan perannya dalam Gereja. Katekis adalah orang yang berkarya dalam Gereja karena menanggapi panggilannya dari Allah. Sumber panggilan katekis adalah panggilan Allah sendiri. Katekis berperan dalam berbagai bidang karya Gereja. Bidang utama peran katekis dalam Gereja adalah bidang pewartaan yakni berkatekese, sedangkan bidang yang lain adalah diakonia, liturgi, koinonia dan martirya. Keseluruhan hidup katekis tidak terlepas dari hubungannya dengan Gereja. Keterhubungan tersebut tercermin dalam diri katekis yang diwarnai dengan pelayanan dalam dan bagi Gereja dan begitu juga sebaliknya. Keterhubungan tersebut belum dipahami sebagian mahasiswa. Kurangnya pemahaman tersebut akan mempengaruhi pelayanan mahasiswa sebagai calon katekis. Mahasiswa hanya terlibat pada bidangnya sendiri yaitu pewartaan sehingga mengabaikan bidang yang lainnya. Pelayanan seorang katekis dalam dan bagi Gereja sangat ditentukan oleh kualitasnya. Kualitas katekis ditentukan oleh pengetahuan, keterampilan dan spiritualitas. Menurut penelitian mahasiswa telah memahami kualitas katekis ditentukan oleh pengetahuan, keterampilan dan spiritualitasnya. Dari segi

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 pengetahuan, mahasiswa belum semua memahami secara khusus mengenai kualitas katekis ditentukan oleh pengetahuan terhadap dasar-dasar iman Katolik. Dalam hal keterampilan mahasiswa telah memahami akan pentingnya keterampilan. Keterampilan seorang katekis meliputi keterampilan berkomunikasi dan berefleksi. Keterampilan-keterampilan ini sebagai sarana untuk membantunya dalam menyampaikan sabda Allah kepada umat. Selain pengetahuan dan keterampilan, mahasiswa juga telah memahami bahwa katekis harus menghidupi spiritualitas katekis. Dengan menghidupi spiritualitas tidak hanya kerohaniannya berkembang tetapi juga akan memampukannya bertahan dalam menghadapi berbagai macam tantangan seputar tugasnya sebagai katekis. Sejak masa studi, mahasiswa calon katekis perlu menghidupi panggilannya sebagai katekis dan spiritualitas. Prodi IPPAK dalam mengembangkan panggilan mahasiswa dan spiritualitas katekis mahasiswa sebagai calon katekis memprosesnya melalui pembinaan spiritualitas. Pembinaan spiritualitas ini merupakan salah satu terjemahaman dari visi dan misi Prodi IPPAK. Dengan demikian antara visi dan misi Prodi dengan pembinaan spiritualita ada saling keterhubungan satu sama lain. Visi Prodi adalah terwujudnya Gereja yang memperjuangkan masyarakat Indonesia yang semakin bermartabat. Sedangkan misi Prodi adalah mendidik kaum muda menjadi katekis dalam konteks Gereja Indonesia yang memasyarakat dan mengembangkan karya katekese dalam Gereja demi masyarakat Indonesia yang semakin bermartabat. Dari penelitian belum semua mahasiswa menyadari akan adanya keterhubungan tersebut. Hal ini menandakan adanya masalah sosialisasi akan keterhubungan visi dan misi Prodi IPPAK dengan pembinaan spiritualitas.

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Sekalipun ada masalah sosialisasi akan keterhubungan visi dan misi Prodi IPPAK dengan pembinaan spiritualitas, namun mahasiswa merasakan adanya kontribusi pembinaan spiritualitas. Kontribusi pembinaan spiritualitas telah membantu mahasiswa dalam menyadari akan panggilan sebagai katekis, mengembangkan spiritualitas, pembentukan kepribadian dan pembentukan menjadi katekis yang profesional. Dengan menyadari panggilannya sebagai katekis, mahasiswa akan terbantu dalam mengenal sosok katekis. Namun di satu sisi, bagi sebagian mahasiswa belum menyadari akan akan panggilannya sebagai katekis. Kontribusi pembinaan spiritualitas dalam hal mengembangkan spiritualitas katekis, mahasiswa akan semakin terdorong untuk mengembangkan dan menumbuhkan spiritualitas katekis dalam diri mereka sehingga mereka siap untuk diutus, bersemangat dalam hidup menggereja, siap menjadi murid dan siap untuk menghasilkan buah. Kontribusi pembinaan spiritualitas dalam pembentukan kepribadian, akan semakin mendorong mahasiswa semakin bertanggungjawab, disiplin, berani mengambil keputusan, memiliki iman yang mendalam, bertanggungjawab atas imannya, tingkah laku sesuai dengan yang diimaninya, dan taat dengan Tuhan. Selain dalam pembentukan kepribadian, pembinaan spiritualitas juga telah memberikan kontribusi bagi mahasiswa dalam mengembangkan diri menjadi katekis yang profesional. Hal ini tentunya, akan mendorong mahasiswa untuk semakin trampil dalam bidang katekese, trampil dalam pengembangan karya katekese dan trampil dalam mengembangkan iman umat. Namun dalam hal mantap dengan panggilan mahasiswa sebagai katekis pembinaan spiritualitas belum secara penuh memberikan kontribusi bagi mahasiswa. Ada sebagian besar mahasiswa yang belum merasakan kontribusi pembinaan

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 spiritualitas semakin mantap dalam menanggapi panggilannya sebagai katekis. Maka dari itu pembinaan spiritualitas perlu ditingkatkan. Pembinaan spiritualitas perlu membantu mahasiswa agar semakin mantap dengan panggilannya sebagai katekis. Pembinaan spiritualitas tidak hanya cukup berhenti pada tahap kuliah di kelas tetapi perlu ada tindak lanjut dari pihak mahasiswa sendiri. Tindak lanjut ini berupa penerapan materi pembinaan spiritualitas dalam hidup sehari-hari. Pembinaan spiritualitas dapat terlaksana dengan baik karena adanya faktor pendukung, yaitu materi, metode, sarana, waktu dan pendamping. Sekalipun sudah terlaksana dengan baik, menurut mahasiswa pembinaan spiritualitas perlu ditingkatkan lagi agar semakin membantu mahasiswa dalam menanggapi panggilannya sebagai katekis dan juga dalam mengembangkan spiritualitas. Usaha meningkatkan pembinaan spiritualitas dapat dilakukan melalui peran pendamping, melalui pemilihan materi tentang hidup katekis, pemanfaatan sarana audio visual dan metode yang dialogal. Menurut mahasiswa pembinaan spiritualitas yang baik membutuhkan pendamping yang berpradnya dan widya.

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 BAB IV USULAN PROGRAM REKOLEKSI YANG TERINTEGRASI DENGAN PEMBINAAN SPIRITUALITAS SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KESADARAN MAHASISWA AKAN PANGGILANNYA SEBAGAI KATEKIS Dalam kehidupan sehari-hari, peristiwa-peristiwa hidup yang kita alami seringkali berlalu begitu saja tanpa sempat kita sadari dan direfleksikan, sehingga kita tidak mengetahui makna di balik peristiwa tersebut. Salah satu kegiatan yang dapat membantu kita dalam menyadari dan merefleksikan peristiwa hidup adalah rekoleksi. Rekoleksi menjadi saat bagi kita untuk menyadari, merefleksikan peristiwa hidup dan menemukan rencana Tuhan dalam hidup kita. Pembinaan spiritualitas yang dialami oleh mahasiswa Prodi IPPAK sering kali dialami sebagai peristiwa formal yang belum direfleksikan, sehingga dampak dari pembinaan spiritualitas tidak dirasakan oleh mahasiswa. Di Prodi IPPAK perlu diadakan program rekoleksi yang terintegrasi dengan pembian spiritualitas. Program rekoleksi ini bertujuan untuk membantu mahasiswa dalam merefleksikan dan menemukan makna dari pembinaan spiritualitas yang telah diikuti. Oleh karena itu dalam Bab IV ini, penulis mengusulkan program rekoleksi yang terintegrasi dengan pembinaan spiritualitas yang meliputi alasan rekoleksi, program rekoleksi, dan petunjuk pelaksanaan program rekoleksi yang terintegrasi dengan keseluruhan pembinaan spiritualitas.

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 A. Alasan Perlunya Rekoleksi yang Terintegrasi dengan Keseluruhan Pembinaan Spiritualitas Rekoleksi berasal Latin yakni recolligere yang artinya mengumpulkan kembali (Heuken, 2005: 114). Rekoleksi adalah pengasingan diri untuk menenangkan pikiran atau mencari ketenangan batin. Rekoleksi merupakan upaya untuk melatih hidup rohani. Dalam rekoleksi kita diajak untuk menjenguk Allah yang bersemayam di dalam hati kita (Darmawijaya, 1990: 3). Maka dapat disimpulkan rekoleksi adalah kegiatan dalam bentuk pengasingan diri yang diproses melalui pengingatan kembali pengalaman masa lalu dan merenungkannya, penenangan pikiran dan batin dengan tujuan agar hidup rohani kita berkembang. Rekoleksi dalam pembinaan spiritualitas merupakan ajakan kepada para mahasiswa untuk menumbuhkan panggilannya sebagai katekis dan menumbuhkan hidup rohani. Pencapaian hidup rohani ini diproses melalui keheningan, penenangkan pikiran dan penenangan batin. Hal ini dimaksudkan agar dalam suasana hening, pikiran yang tenang dan batin yang tenang mahasiswa semakin mengarahkan hatinya kepada Allah. Selain menumbuhkan panggilan sebagai katekis dan hidup rohani, rekoleksi juga menjadi kesempatan untuk mengingat dan mengumpulkan kembali materi-materi yang telah diajarkan dalam pembinaan spiritualitas dan mengajak mahasiswa untuk melakukan kebiasaan hidup yang baik. Rekoleksi yang terintegrasi dengan pembinaan spiritualitas akan membantu mahasiswa dalam mencapai kesimpulan seluruh materi, menemukan sang sumber spiritualitas, meneguhkan pembiasaan hidup dan pada akhirnya mahasiswa mantap dengan panggilannya sebagai katekis.

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 1. Rekoleksi sebagai Simpul Materi Pembinaan Spiritualitas Pelaksanaan rekoleksi yang terintegrasi dengan pembinaan spiritualitas akan membantu mahasiswa calon katekis dalam memperoleh simpul-simpul materi yang telah didalami dalam pembinaan spiritualitas. Simpul-simpul itu diperoleh mahasiswa berdasarkan materi yang ada dalam tiap-tiap semesternya. Simpul-simpul yang diperoleh akan menjadi bekal bagi mahasiswa dalam menempuh kehidupan di masa sekarang dan selanjutnya. Dalam pembinaan spiritualitas semester pertama materi-materi yang diperoleh mahasiswa meliputi perjumpaan antar pribadi, pengalaman berharga, citacita hidup, kedekatan dengan sesama dan Tuhan, keadaan yang positif di dalam kelas, keadaan yang negatif, serta perkembangan pribadi aras relasi dengan sesama dan Tuhan. Dengan adanya rekoleksi yang berintegrasi dengan pembinaan spiritualitas semester pertama, mahasiswa makin lebih mengenal teman-teman angkatannya, makin nyaman dengan lingkungan barunya, makin mantap dengan pilihan program studinya dan makin menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan (Silabus Pembinaan Spiritualitas semester I). Dalam pembinaan spiritualitas semester kedua materi-materi yang diperoleh mahasiswa meliputi the deepest longing, carpe diem, kebebasan hati, memaknai kisah telaga angsa liar, menemukan kunci emas, memaknai lagu rakyat, kerinduan hati, apa yang kamu cari, dan jati diri. Dengan adanya pelaksanaan rekoleksi yang berintegrasi dengan pembinaan spiritualitas di semester kedua, mahasiswa semakin menyadari kerinduan hatinya yang terdalam sehingga jatidirinya semakin terarah pada Tuhan dan juga relasi dengan sesama juga makin berkembang (Silabus Pembinaan Spiritualitas semester I dan II).

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 Mahasiswa dalam pembinaan spiritualitas semester tiga dan empat memperoleh materi tentang budaya dan adat istiadat, pengalaman akan Allah, pengalaman akan Allah sebagai Bapa, panggilan rasuli, hidup secara kristiani, konsekuensi hidup kristiani, pengabdian kristiani yang sejati, Kerajaan Allah, konsekuensi bagi rasul Kristus, salib sebagai jalan kebangkitan, kebangkitan, menemukan Allah dalam segala hal, Askesis hidup kristiani, Roh Kudus dan Roh Kristus serta pengabdian murid Kristus. Dengan adanya rekoleksi yang berintegrasi dengan pembinaan spiritualitas di semester ketiga dan empat, mahasiswa semakin dewasa secara kristiani yang bercirikan mengenal Allah secara pribadi dan relasi yang mendalam dengan pribadi Yesus Kristus (Silabus Pembinaan Spiritualitas semester III dan IV). Dalam pembinaan spiritualitas semester lima dan enam materi-materi yang diperoleh mahasiswa meliputi macam-macam doa, kekayaan dalam keheningan, penyadaran tubuh, penguasaan pikiran, penyadaran pernafasan, Tuhan dalam pernafasan, penyadaran suara, penyadaran musik, menemukan dalam segala, menyadari orang lain, doa dengan tubuh, misteri-misteri gembira dalam hidup, misteri sedih, melepas rasa dendam, menyembuhkan kenangan pedih, kontemplasi cara Ignatius, nilai hidup, doa lisan, dan doa Yesus serta ibadat. Dengan adanya rekoleksi yang berintegrasi dengan pembinaan spiritualitas semester lima, mahasiswa makin dewasa secara religius yakni memiliki hidup doa dan terampil dalam memimpin ibadat (Silabus Pembinaan Spiritualitas semester V dan VI). Dalam pembinaan spiritualitas semester tujuh dan delapan materi-materi yang diperoleh mahasiswa meliputi relasi katekis dengan jemaat, perbedaan roh, hidup katekis, spiritualitas katekis, panggilan Yesus Kristus dan hidup pribadi. Dengan

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 adanya rekoleksi yang berintegrasi dengan pembinaan spiritualitas semester tujuh dan delapan, mahasiswa makin bertumbuh spiritualitas katekisnya, makin mampu menanggapi dan mantap dengan panggilannya sebagai katekis, serta siap untuk diutus. 2. Rekoleksi membantu Mahasiswa dalam Menemukan Kembali Sang Sumber Spiritualitas Rekoleksi yang berintegrasi dengan pembinaan spiritualitas tidak hanya berhenti pada simpul-simpul materi tetapi juga mengantar mahasiswa dalam menemukan sang sumber spiritualitas. Sang sumber spirituaitas mahasiswa tidak lain adalah Allah sendiri. Allah adalah puncak dari kehidupan rohani mahasiswa. Dalam rekoleksi mahasiswa menemukan kembali Allah yang diproses melalui pengolahan pengalaman hidup (Mangunhardjana, 1985: 18). Pengolahan pengalaman hidup mahasiswa yakni keterlibatan hidup dengan sesama, pergulatan hidup diri sendiri dan alam. Allah sungguh-sungguh hadir dalam sesama yakni dalam dalam bentuk kebaikan, perhatian, dan kasih sayang serta penderitaan. Melalui pencarian jati diri dan kerinduan hati, mahasiswa mengenal Allah. Selain itu juga pengenalan mahasiswa dengan Allah diproses melalui alam. Melalui alam ciptaan, mahasiswa menemukan Allah. Dengan mengenal Allah, mahasiswa semakin menyadari bahwa Allah sungguh-sungguh hadir. Kehadiran Allah dirasakan melalui karya dan bimbinganNya dalam langkah gerak hidup mahasiswa sehari-hari. Dengan merasakan karya dan bimbingan Allah, mahasiswa akan semakin tanggap dan semakin mampu menjawab cinta kasih Allah dengan baik (Mangunhardjana, 1985: 11). Dengan

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 hadirnya Allah dalam diri mahasiswa, akan mendorong mahasiswa untuk selalu hidup baik, berbuat baik pada sesama dan semakin meningkatkan hidup rohani. Dengan merasakan kehadiran Allah dalam diri mahasiswa akan semakin mendekatkan dengan Allah. Proses mendekatkan diri pada Allah diproses melalui hidup doa. Maka dalam rekoleksi mahasiswa diajak untuk menghidupi sikap doa yang baik dan teratur. Doa berarti mengangkat hati, berpasrah diri, menggantungkan diri, mengarahkan hati, dan mengakui Tuhan sebagai Allah satu-satunya (Konferensi Waligereja Indonesia, 1996: 194). Doa sebagai ungkapan percaya kepada Allah dan dialog mahasiswa dengan Allah. Dialog pada dasarnya bersifat dua arah yakni kita berbicara dan lawan kita mendengarkan dan begitu juga sebaliknya. Sikap mahasiswa dalam doa adalah tidak hanya memohon kepada Allah tetapi juga mau mendengarkan Allah yang berbicara dalam Kitab Suci. Tindakan orang yang percaya adalah menggantungkan hidup kepada orang yang dipercayai. Dalam kaitannya dengan tindakan percaya mahasiswa kepada Tuhan adalah menggantungkan hidup secara total kepada Allah sebagai penyelenggara kehidupan (Konferensi Waligereja Indonesia, 1996: 206). Hidup doa, sikap dan tindakan percaya yang dihidupi dan dilakukan mahasiswa merupakan bentuk dari spiritualitas. Melihat identitas mahasiswa yang merupakan calon-calon katekis maka spiritualitas yang tumbuh adalah spiritualitas katekis. 3. Rekoleksi Meneguhkan Pembiasaan Hidup yang Dijalani Mahasiswa Pelaksanaan rekoleksi yang terintegrasi dengan pembinaan spiritualitas tidak hanya berhenti pada pencapaian simpul-simpul materi dan upaya menemukan kembali sang sumber spiritualitas tetapi juga mengajak dan mendorong mahasiswa

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 untuk mewujudnyatakan atas apa yang didapat dari simpul materi dan dari penemuannya pada sang sumber spiritualitas. Penerapan materi pembinaan spiritualitas di dalam kehidupan sehari-hari merupakan pembiasaan hidup. Menengok sejenak dari hasil penelitian yang secara khusus dalam hal materi pembinaan spiritualitas, ternyata belum semua mahasiswa mempraktekkan atas apa yang di dapat dari materi-materi pembinaan spiritualitas. Dalam hal materi tentang diri sendiri, sikap-sikap yang dibutuhkan dalam berelasi ada 9 (sembilan) mahasiswa yang menyatakan ragu-ragu bahwa materi tersebut telah membantu mahasiswa dalam memahami diri sendiri dan sikap-sikap yang dibutuhkan dalam berelasi. Dalam materi tentang Yesus Kristus ada 7 (tujuh) orang yang menyatakan ragu-ragu dan 2 (dua) orang menyatakan kurang membantu dalam mengikuti karya-karya Yesus Kristus. Dalam materi tentang doa, ada 5 (lima) mahasiswa yang menyatakan raguragu dan 3 (tiga) orang menyatakan kurang membantu dalam mengenal latihanlatihan doa sehingga mereka tidak tergerak untuk melakukannya. Dalam materi tentang pengalaman hidup katekis ada 6 (enam) mahasiswa yang menyatakan raguragu dan 2 (dua) orang menyatakan kurang membantu sebagai inspirasi dalam pengolahan pengalaman hidup pribadi dan mengembangkan spiritualitas. Pelaksanaan rekoleksi yang terintegrasi dengan pembinaan spiritualitas mendorong mahasiswa untuk membiasakan pembiasaan hidup yang baik yang dijalani. Pembiasaan hidup ini merupakan bentuk dari habitus baru. Habitus baru adalah membangun cara-cara baru dalam bertindak, berpikir, berelasi, baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan dengan yang lain (Dewan Karya Pastoral KAS, 2011: 10). Habitus baru mahasiswa dalam hal materi tentang diri sendiri dan sikap-

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 sikap yang dibutuhkan dalam berelasi kini adalah mahasiswa tidak malu untuk berelasi dengan sesama dan ia mau menerima dirinya sendiri. Habitus baru mahasiswa dari materi tentang Yesus Kristus adalah mau mengenal lebih mendalam, dan meneladani karya-karya Yesus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bentuk habitus baru mahasiswa dari materi tentang latihanlatihan doa dan ibadat adalah mau mempraktekkannya doa dan ibadat di dalam kehidupan sehari-hari sehingga mahasiswa mengenal banyak macam-macam latihan doa dan trampil dalam memimpin ibadat. Habitus baru mahasiswa dari materi tentang pengalaman hidup katekis adalah mau mengolah secara pribadi pengalaman hidup katekis di dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka bisa mengolah pengalaman hidupnya sebagai upaya mengembangkan spiritualitas. 4. Rekoleksi membantu Mahasiswa Memantapkan Panggilannya sebagai Katekis Rekoleksi yang berintegrasi dengan pembinaan spiriualitas bagi mahasiswa calon katekis tidak hanya berhenti sampai pada pencapaian simpul-simpul materi, penemuan kembali sang sumber spiritualitas dan pembiasaan hidup mahasiswa sebagai hasil akhir adalah memantapkan panggilan mahasiswa sebagai katekis. Kemantapan diri dengan panggilannya sebagai katekis merupakan buah mahasiswa atas rekoleksi. Kemantapan diri mahasiswa dengan panggilannya sebagai katekis diawali dengan pemahaman yang baru terhadap sosok katekis. Mahasiswa semakin memahami sosok katekis tidak hanya sebagai profesi tetapi sebagai suatu panggilan. Panggilan yang dipahami dan dihayati oleh mahasiswa terhadap katekis didasari oleh

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 kesadaran, tanggung jawab dan panggilan Allah. Tidak terlepas dari dasar panggilan katekis, mahasiswa juga semakin mengenal sosok katekis yang selalu berguru pada katekis ulung yakni Yesus (Komisi Kateketik KWI, 2009: 26). Dalam diri Yesus, mahasiswa melihat ada sebuah ketotalan dalam pelaksanaan tugas pewartaan. Dengan memahami sosok katekis, diharapkan mendorong mahasiswa dalam menumbuhkan jiwa katekis dalam diri. Kemantapan mahasiswa terhadap panggilannya sebagai katekis terlihat juga dalam pemahaman terhadap kehidupan rohani katekis. Mahasiswa memahami kehidupan rohani katekis dipenuhi dengan hidup doa, ketaatan kepada Allah, iman yang kuat dan relasi yang personal dengan Allah. Selain kehidupan rohani, mahasiswa juga memahami kesatuan katekis dengan umat yang terlihat dalam relasi yang baik dan dekat dengan umat, keterlibatan dalam kegiatan dan kehidupan lingkungan (Prasetya, 2007: 45). Dengan memahami hidup doa dan keterlibatan katekis dengan umat, diharapkan mahasiswa semakin meningkatkan hidup doa dan berani untuk menjalin relasi dengan umat. Kemantapan mahasiswa terhadap panggilannya sebagai katekis terlihat juga dalam memahami spiritualitas katekis. Mahasiswa memahami spiritualitas bagi seorang katekis merupakan roh penggerak dan penuntun dalam pelaksanaan tugas pewartaan. Dengan spiritualitas, memampukan katekis semakin kuat dan bertahan dalam menghadapi berbagai macam tantangan hidup dan tugas. Selain itu juga mahasiswa memahami kemantapan katekis dalam menjalankan tugas perutusan. Bagi katekis tugas perutusan ini merupakan bagian dari misi mendirikan Kerajaan Allah di dunia. Kerajaan Allah merupakan wujud nyata akan karya keselamatan Allah di dunia. Allah sungguh-sungguh hadir di dunia. Dengan memahami spiritualitas dan

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 tugas perutusan katekis, diharapkan mahasiswa semakin memiliki dan menghidupi spiritualitas katekis dan siap untuk menjalankan tugas perutusan. B. Program Rekoleksi yang Terintegrasi dengan Keseluruhan Pembinaan Spiritualitas 1. Pengertian Program Rekoleksi dan Tujuan Program Rekoleksi Mangunhardjana (1985: 16) menyatakan program adalah prosedur yang dijadikan landasan untuk menentukan isi dan urutan acara-acara pembinaan yang akan dilaksanakan. Program adalah ketentuan rencana, acara dan rancangan. Samana (1994: 54) menyatakan program adalah sejumlah kegiatan yang direncanakan untuk dilaksanakan selama jangka waktu tertentu. Pengertian rekoleksi sudah penulis jelaskan dalam pengantar bagian A pada Bab IV. Maka dapat diartikan program rekoleksi adalah rencana atau prosedur yang dijadikan landasan untuk kegiatan pengasingan diri yang diproses melalui pengingatan kembali pengalaman masa lalu dan merenungkannya, penenangan pikiran dan batin dengan tujuan agar hidup rohani kita berkembang. Program rekoleksi ini agar berjalan dengan baik, dibutuhkan tujuan program rekoleksi dengan tujuannya adalah agar apa yang sudah dipersiapkan berjalan sesuai dengan rencana, terarah, dan terhindar dari ide sesaat. Ide-ide sesaat yang diungkapkan dan dilakukan ini bisa merusak jalannya program rekoleksi yang sudah terbentuk.

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 2. Tema-tema Program Rekoleksi Tema program rekoleksi yang penulis usulkan tidak terlepas dari tema sentral yang ingin dicapai dalam pembinaan spiritualitas pada tiap semesternya. Dalam semester I dan II mahasiswa diarahkan pada kedewasaan manusia, dalam semester III dan IV mahasiswa diarahkan pada kedewasaan kristiani, dalam semester V dan VI mahasiswa diarahkan pada kedewasaan religius dan dalam semester VII dan VIII mahasiswa diarahkan pada spiritualitas katekis. Penulis juga dalam membuat tema-tema rekoleksi menyesuaikan dengan keadaan karakteristik dan situasi mahasiswa serta harapan mahasiswa terhadap pembinaan spiritualitas. Maka dengan keterangan di atas, penulis mengusulkan tema umum program rekoleksi ini adalah menjadi katekis adalah panggilan hidupku. Tujuannya adalah mahasiswa semakin menyadari bahwa menjadi katekis adalah panggilan hidup sehingga mahasiswa terdorong untuk mengenal sosok katekis, memahami katekis sebagai panggilan, memahami katekis dipanggil untuk mengikuti Yesus Kristus, memahami katekis dipanggil untuk memanggul salib Yesus, memahami hidup rohani katekis, memahami kesatuan katekis dengan jemaat, memahami spiritualitas katekis dan pada akhirnya mahasiswa siap diutus dan siap untuk menjalankan tugas perutusan. Berdasarkan tema dan tujuan umum di atas, penulis menjabarkan kembali menjadi delapan tema dan delapan tujuan yang diterapkan dalam tiap-tiap semesternya yang terdapat dalam tabel 9.

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 Tabel 9. Tema dan tujuan Rekoleksi Semester Tema (1) (2) Sosok Katekis I II Katekis Panggilan sebagai III Katekis dipanggil untuk mengikuti Yesus Kristus IV Katekis dipanggil Untuk Memanggul Salib Yesus V Hidup Rohani Katekis VI Kesatuan Hidup Katekis dengan Jemaat VII Spiritualitas Katekis VIII Siap Perutusan Menjalani Tujuan (3) Mahasiswa semakin mengenal sosok katekis sehingga mau menumbuhkan jiwa katekis dalam hidup mereka di dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa semakin memahami katekis sebagai panggilan sehingga mereka semakin memahami bahwa katekis bukan hanya sebagai suatu profesi tetapi sebagai suatu panggilan dari Allah. Mahasiswa semakin memahami bahwa katekis dipanggil untuk mengikuti Yesus Kristus sehingga mereka mau mengikuti dan meneladani sosok katekis dalam mengikuti Yesus Kristus. Mahasiswa semakin memahami bahwa katekis dipanggil untuk memanggul salib Yesus sehingga mereka terdorong untuk terlibat dalam memanggul salib Yesus di dalam kehidupan sehari-hari sebagai calon katekis. Mahasiswa semakin memahami hidup rohani katekis sehingga mereka terdorong memiliki hidup rohani layaknya seorang katekis di dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa semakin menyadari kesatuan hidup katekis dengan jemaat sehingga mereka mendekatkan diri, terlibat dan bertumbuh bersama umat di dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa semakin menyadari pentingnya spiritualitas katekis bagi seorang katekis sehingga mereka mau menghidupi spiritualitas katekis di dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa semakin menyadari akan keberadaan dirinya yang akan diutus untuk mewartakan Injil sehingga mereka semakin mempersiapkan diri dalam kesiapan untuk diutus hingga pada akhirnya mereka siap untuk diutus.

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 3. Matrik Program Rekoleksi Tema umum : Menjadi Katekis adalah Panggilan Hidupku Tujuan umum : Mahasiswa calon katekis semakin menyadari akan panggilannya sebagai katekis sehingga mereka mau mengenal sosok katekis, memahami katekis sebagai panggilan, memahami katekis dipanggil untuk mengikuti Yesus Kristus, memahami katekis dipanggil untuk memanggul salib Yesus, memahami hidup rohani katekis, memahami kesatuan katekis dengan jemaat, menghayati spiritualitas katekis dan pada akhirnya mahasiswa siap diutus dan siap untuk menjalankan tugas perutusan. No Tema Pertemuan Tujuan Pertemuan Materi Metode Sarana Waktu Sumber Bahan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Mahasiswa calon katekis semakin mengenal sosok katekis sehingga mau menumbuhkan jiwa katekis dalam hidup - Arti Katekis - Indentitas katekis - Kaum awam mitra hierarki - Kaum awam mewartakan Kabar Gembira. Ceramah, dialog, sharing, diskusi dan pemutaran instrumen. Lembaran materi, audio visual, laptop, spiker, video “katekis di tengah arus zaman”. Minggu pertama bulan Desember - Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik. Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius. - Prasetya. (2007). Menjadi Katekis Siapa Takut?!. Yogyakarta: Kanisius. 01 Sosok Katekis

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 (1) (3) (4) mereka di dalam kehidupan. sehari-hari. (5) (6) (7) 02 Katekis Sebagai Panggilan Mahasiswa calon katekis memahami katekis sebagai panggilan sehingga mereka semakin memahami bahwa katekis bukan hanya sebagai suatu profesi tetapi sebagai suatu panggilan dari Allah. - Panggilan - Panggilan Allah - Dasar panggilan Allah - Panggilan Allah adalah kekal Ceramah, dialog, sharing, diskusi dan pemutaran instrumen. Lembaran materi, audio visual, laptop, spiker, video “panggila Samuel” 03 Katekis dipanggil untuk mengikuti Mahasiswa calon - Mengikuti Jejak katekis semakin Yesus Kristus memahami katkis Cara Yesus dipanggil untuk Melayani Ceramah, dialog, sharing, diskusi dan pemutaran Lembaran materi, audio visual, spiket, (8) (9) - Komkat KWI. (2005). Identitas Katekis di tengah Arus Perubahan Jaman. Yogyakarta: Kanisius. Minggu - Jess S. Breana, SJ., ke empat “Gembira Karena bulan Mei Dipanggil dan Dipilih”, Kerawam MAWI, hal. 15 – 26. - Philomena Agudo, FMM., PH.D., “Allah Memilih Engkau”, Yogyakarta: Kanisius, 1989, hal. 21 – 22. - Charles M. Shelton, SJ., “Spiritualitas Kaum Muda”, Yogyakarta: Kanisius, 1990, hal. 99 – 104. Minggu pertama bulan Desember - Kempis, A. Thomas. (1984). Mengikuti Jejak Yesus Kristus. - Jakarta: Yayasan Cipta

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 (1) 04 (2) Yesus Kristus (3) (4) mengikuti Yesus - Semangat Kristus sehingga Kristiani mereka mau mengikuti dan meneladani katekis dalam mengikuti Yesus Kristus. (5) instrumen. (6) spiker, laptop, (7) (8) Loka Caraka. - Van Brener G. Peter. (1976). Semangat Kristiani. Yogyakarta: Kanisus. Katekis dipanggil untuk memanggul salib Yesus Mahasiswa calon - Mengikuti Yesus katekis semakin Kristus secara memahami Radikal. bahwa Salib sebagai katekis dipanggil tantangan bagi untuk pengikut Yesus memanggul salib Kristus - Seni memanggul Yesus sehingga Salib mereka terdorong untuk terlibat dalam memanggul salib Yesus di dalam kehidupan sehari-hari Ceramah, dialog, sharing, diskusi dan pemutaran instrumen. Lembaran materi, audio visual, laptop, spiker. Minggu ke empat bulan Mei - Van Brener G. Peter. (1976). Semangat Kristiani. Yogyakarta: Kanisus. - Shelton M. Charles. (1988). Menuju Kedewasaan Kristiani. Yogyakarta: Kanisus. - Kempis, A. Thomas. (1984). Mengikuti Jejak Yesus Kristus. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 (1) (2) 05 Hidup Rohani Katekis 06 Kesatuan Hidup Katekis dengan Jemaat (3) sebagai calon katekis. Mahasiswa calon katekis semakin memahami hidup rohani katekis sehingga mereka terdorong memiliki hidup rohani layaknya seorang katekis di dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa semakin menyadari kesatuan hidup katekis dengan jemaat sehingga mereka mendekatkan diri, terlibat dan bertumbuh (4) (5) (6) (7) (8) - Semangat Hidup Katekis - Pengertian hidup rohani pada umumnya - Hidup rohani bagi seorang katekis. Ceramah, dialog, sharing, diskusi dan pemutaran instrumen. Lembaran materi, audio visual, laptop, spiker. Minggu pertama bulan Desember - Prasetya. (2007). Menjadi Katekis Siapa Takut?!. Yogyakarta: Kanisius. - J. Darminta, SJ. “Bimbingan Rohani”, Seri Pastoral no; 87, 1987 hl. 9-10 - P.Yosef Goopio, SVD. “Hidup Rohani Seorang Katekis”, Seri Pastoral no: 103 - Hubungan kasih dengan jemaat - Katekis adalah anggota keluarga - Semangat melayani Ceramah, dialog, sharing, diskusi dan pemutaran instrumen. Lembaran materi, audio visual, laptop, spiker. Minggu ke empat bulan Mei Darmawijaya, Pr. (1990). Aneka Tema Rekoleksi. Yogyakarta: Kanisius. - Prasetya. (2007). Menjadi Katekis Siapa Takut?!. Yogyakarta: Kanisius.

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 (1) (2) 07 Siritualitas Katekis 08 Siap Menjalani Perutusan (3) (4) bersama umat di dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa calon - Arti Spiritualitas katekis semakin Macam-macam menyadari spiritualitas pentingnya katekis spiritualitas - Menimba dari katekis bagi Spiritualitas seorang katekis Yesus Kristus sehingga mereka mau menghidupi spiritualitas katekis di dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa calon katekis menyadari akan keberadaan dirinya yang akan diutus untuk - Setia kepada Allah - Pengalaman Krisis - Setia kepada Umat - Tugas Perutusan (5) (6) (7) Ceramah, dialog, sharing, diskusi dan pemutaran instrumen. Lembaran materi, audio visual, laptop, spiker. Minggu pertama bulan Desember - Heukeun, A. (2002). Spiritualitas Kristiani. Jakarta. Yayasan Cipta Loka Caraka. - Komkat KWI. (2009). Praedicamus. Jakarta: Sekretariat Kmkat KWI - Komkat KWI. (1997). Pedoman Untuk Katekis. Yogyakarta: Kanisius. - Sarjumunarsa, Th. (1982). Spirtitualitas Katekis. Rohani. Yogyakarta: Kanisius. Ceramah, dialog, sharing, diskusi dan pemutaran instrumen. Lembaran materi, audio visual, laptop, spiker. Minggu ke empat bulan Mei - Lembaga Alkitab Indonesia. (1997). Alkitab: Deterokanonika. Jakarta: LBI.Sanjaya, Indra. (2009). Panggilan Nabi Yeremia. Diktat (8)

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 mewartakan Injil sehingga mereka semakin mempersiapkan diri dalam kesiapan untuk diutus Mata kuliah Nabi-nabi semester VII. Yogyakarta. Manuskrip. - Darmawijaya, Pr. (1990). Aneka Tema Rekoleksi. Yogyakarta: Kanisius.

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 C. Petunjuk Pelaksanaan Program Rekoleksi Yang Terintegrasi Dengan Keseluruhan Pembinaan Spiritualitas Petunjuk pelaksanaan dalam sebuah program rekoleksi sangatlah penting, karena dengan adanya petunjuk, program rekoleksi akan berjalan dengan lancer. Petunjuk pelaksaan program rekoleksi yang penulis tawarkan meliputi pendamping, peserta, waktu, metode dan sarana, tempat dan evaluasi rekoleksi. 1. Pendamping Rekoleksi Dalam sebuah rekoleksi keberadaan seorang pendamping sangatlah penting karena berperan sebagai pemudah, pelancar, fasilitator bagi jalannya proses rekoleksi serta membantu peserta dalam mencapai cita-cita setelah mengikuti rekoleksi (Mangunhardjana, 1985: 70). Dalam konteks rekoleksi yang dimaksud penulis, pendamping berperan dalam mengarahkan mahasiswa pada kedalaman hidup rohani atau spiritualitas katekis dan mengarahkan pada panggilan mahasiswa sebagai katekis. Dari hasil penelitian mengenai pendamping spiritualitas adalah pendamping yang berpradnya dan widya. Maka pendamping dalam rekoleksi ini adalah pendamping yang berpradnya dan widya. Pendamping yang berpradnya adalah pendamping yang memiliki pengetahuan yang luas. Sedangkan pendamping yang widya adalah memiliki kedalaman iman yang mendalam tentang kehidupan, dekat dengan Tuhan dan memiliki integritas yang tinggi.

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 2. Peserta Rekoleksi Para peserta dalam rekoleksi bisa bermacam-macam, yakni ada pelajar, pengusaha, guru dan lain-lain. Peserta dalam rekoleksi di sini adalah mahasiswa IPPAK. Jadi dilihat dari statusnya mereka adalah pelajar. Mahasiswa IPPAK merupakan mahasiswa yang sedang dididik untuk menjadi seorang katekis. Maka kebutuhan mereka adalah pada pengembangan diri untuk menjadi seorang katekis. Hal yang demikian merupakan bagian dari kebutuhan peserta. Artinya kebutuhan mahasiswa adalah kerinduan dan cita-cita mereka. 3. Waktu Rekoleksi Waktu rekoleksi dimengerti dalam arti kapan diadakan rekoleksi dan berapa lama rekoleksi diadakan. Rekoleksi bisa diadakan di pagi hari, siang, sore dan malam hari. Waktu kapan rekoleksi diadakan akan mempengaruhi bagi jalannya proses rekoleksi karena akan mempengaruhi pada kesegaran peserta ataupun pendamping. Dari segi waktu, rekoleksi bisa diadakan selama beberapa jam atau satu hari penuh. Rekoleksi dalam hal ini bisa dilaksanakan ketika akhir dari pembinaan spiritualitas yakni pada penutupan pembinaan spiritualitas. 4. Sarana dan Metode Rekoleksi Sarana dan metode adalah bagian dari penunjang bagi kelancaran maupun keberhasilan dalam sebuah kegiatan rekoleksi. Metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan agar tercapai sesuatu yang dikehendaki. Metode diartikan sebagai cara memikirkan dan memeriksa sesuatu hal menurut sesuatu rencana tertentu, atau cara melakukan sesuatu. Sarana adalah segala

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 sesuatu yang dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud dan tujuan. Sehubungan dengan usulan mahasiswa yang diperoleh dari penelitian bahwa metode yang digunakan dalam rekoleksi ini adalah dialog. 5. Tempat Tempat yang akan dijadikan sebagai tempat kegiatan rekoleksi menjadi salah satu penunjang akan keberhasilan rekoleksi. Karena tempat rekoleksi akan mempengaruhi suasana, sikap dan keikutsertaan peserta dalam mengikuti rekoleksi. Tempat yang bisa dijadikan sebagai tempat rekoleksi adalah di dalam ruangan ataupun di alam terbuka (Mangunharjdana, 1985: 34-35). Apabila rekoleksi dilaksanakan di alam terbuka terlebih dahulu pembimbing harus mengamati keadaan cuaca, kebersihan dan suasana alam terbuka. 6. Evaluasi Kata evaluasi berasal dari bahasa Latin, yaitu aestimatio yang artinya taksiran, penaksiran. Magunharjdana (1985: 81) menyatakan evaluasi adalah penilaian. Maka, evaluasi rekoleksi adalah penilaian mengenai hal-hal pokok sehubungan dengan rekoleksi yang telah dilaksanakan. Mengevaluasi acara rekoleksi yang sudah berlangsung merupakan hal yang sangat penting karena dengan evaluasi akan menemukan kelebihan dan kekurangan, hal yang baik dan yang buruk, keberhasilan maupun kegagalan dari rekoleksi yang sudah terjadi. Hasil dari evaluasi akan menjadi masukan-masukan yang sangat bermanfaat bagi proses rekoleksi selanjutnya karena akan menjadi arah lebih lanjut dalam mengambil langkah konkret seperti mempertahankan hal-hal yang sudah baik dan membetulkan hal-hal kurang baik (Mangunhardjana, 1985: 81-82).

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 BAB V PENUTUP Penulis dalam Bab V ini menyampaikan kesimpulan dan saran. Kesimpulan yang penulis buat ini berisikan mengenai isi keseluruhan atas Bab I sampai dengan Bab IV. Saran yang penulis buat ini berisikan masukan-masukan bagi Prodi IPPAK dan juga bagi mahasiswa. Saran ini diharapkan dapat berguna bagi mahasiswa IPPAK dan Prodi IPPAK dalam upaya membantu mahasiswanya dalam menanggapi panggilannya sebagai katekis. A. Kesimpulan Umum Spiritualitas katekis yang dimiliki dan dihidupi oleh katekis bertumbuh dari penghayatan terhadap panggilannya sebagai katekis. Spiritualitas katekis yang harus dimiliki oleh katekis adalah kesediaan diri untuk diutus, memiliki semangat hidup menggereja, kesediaan diri untuk menjadi seorang murid dan siap untuk menghasilkan buah. Sebagai upaya dalam menumbuhkan spiritualitas tersebut, katekis harus mengikuti berbagai macam pembinaan spiritualitas yakni pendidikan formal dan informal, retret, rekoleksi dan refleksi pribadi. Panggilan yang diterima oleh katekis pada dasarnya bersumber dari Allah. Melalui Gereja, Allah memanggil mereka untuk mewartakan sabda Allah kepada umat. Pewartaan Sabda oleh katekis diproses melalui katekese. Maka katekese tugas pokok dari seorang katekis. Sebagai orang awam yang terpanggil, katekis memiliki perutusan dan panggilan yang khas yakni dipanggil dan diutus dalam sifat kediniawiannya. Agar perutusan dan tugasnya berjalan dengan lancer, katekis harus memiliki pengetahuan dan keterampilan.

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 Keberadaan katekis dewasa ini tidak dapat dipungkiri akan manfaatnya bagi proses pewartaan Gereja. Berkat bantuan mereka iman umat semakin bertumbuh dan berkembang. Namun disatu sisi juga keberadaan mereka dewasa ini semakin berkurang. Langkah yang tepat dalam mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan kaderisasi terhadap anak-anak muda untuk menjadi seorang katekis. Dalam menanggapi kebutuhan akan pewarta sabda atau katekis, Prodi IPPAK memiliki tugas dalam mendidik dan membina anak-anak muda menjadi seorang katekis. Proses pembinaan ini ditempuh melalui mata kuliah-mata kuliah yang secara khusus pembinaan spiritualitas. Pembinaan spiritualitas yang ada di Prodi IPPAK mengarahkan agar memiliki panggilan hhidup sebagai katekis dan agar memiliki spiritualitas. Lebih jelas dan terang lagi tujuan ini terlihat dari masing-masing tahunnya. Tahun pertama pembinaan spiritualitas mengarahkan mahasiswa agar mencapai pada kedewasaan manusiawi. Tahun kedua mengarahkan pada kedewasaan kristiani. Tahun ketiga mengarahkan pada kedewasaan religius dan thaun keempat mengarahkan pada spiritualitas katekis. Pembinaan spiritualitas yang ada di Prodi IPPAK ini agar semakin membantu mahasiswa dalam menjadi seorang katekis, penulis menguslkan program rekoleksi yang terintegrasi dengan keseluruhan pembinaan spiritualitas. Penempatan program rekoleksi ini ditempatkan dimasing-masing semesternya yakni semester I sampai dengan semester VIII. Proses pelaksanaan rekoleksi dilaksanakan diakhir penutupan pembinaan spiritualitas.

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 B. Saran Dengan perkembangan zaman yang semakin modern Prodi IPPAK sebagai lembaga yang mendidik anak muda untuk menjadi seorang katekis harus tetap eksis dan terus-menerus mendidik dan mengembangkan katekis yang sungguh-sungguh menghayati panggilannya sebagai katekis dan spiritualitasnya. Pembinaan spiritualitas sebagai salah satu mata kuliah perlu menciptakan pembinaan spiritualitas yang benar-benar membantu mahasiswa secara kontekstual dalam menumbuhkan panggilannya sebagai katekis. Maka dari itu agar pembinaan spiritualitas sungguh-sungguh membantu mahasiswa penulis memberikan saran. Saran tersebut yakni bagi prodi IPPAK, bagi pembinaan spiritualitas dan bagi mahasiswa sendiri. 1. Bagi Prodi IPPAK Pembinaan spiritualitas merupakan terjemahan dari visi dan misi Prodi IPPAK. Terjemahaan tersebut belum sepenuhnya dipahami oleh mahasiswa. Maka dari itu, Prodi IPPAK perlu mensosialisasikan kembali visi dan misinya sehubungan dengan keterkaitan atau keterhubungannya dengan pembinaan spiritualitas. Tujuannya adalah agar mahasiswa memahami keterhubungan tersebut sehingga mahasiswa tidak memandang pembinaan spiritualitas sebagai mata kauliah pada umumnya. 2. Bagi Pembinaan Spiritualitas Saran yang penulis usulkan bagi pelaksanaan pembinaan spiritualitas mencakup materi, sarana dan metode, dan pendamping.

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 a. Materi Pembinaan Spiritualitas Materi pembinaan spiritualitas yang penulis sarankan ini berdasarkan apa yang menjadi harapan mahasiswa. Materi-materi tersebut meliputi hidup katekis, kehidupan orang-orang cacat, kisah hidup santo santa, katekese kontekstual (KKN, kekerasan dll), salib Kristus, pembedaan roh dan spiritualitas katekis, pengembangan spiritualitas, Yesus Kristus, pengolahan tubuh, kepribadian, dan hidup persaudaraan. b. Sarana dan Metode Pembinaan Spiritualitas Sarana pembinaan spiritualitas yang penulis sarankan mencakup Audio Visual dan cergam. Metode yang penulis sarankan adalah sharing dan refleksi, debat, informasi dan ceramah, games, diskusi, dialog dan bernyanyi. c. Pendamping Pembinaan Spiritualitas Pendamping pembinaan spiritualitas yang penulis sarankan adalah pendamping yang motivator, dekat dengan mahasiswa, kreatif, gaul, berpradnya dan widya, memiliki spiritualitas pelayanan dan mau direpotkan dan pendamping yang sesuai dengan materi. 3. Bagi Mahasiswa Mahasiswa Prodi IPPAK memahami pembinaan spiritualitas bukan hanya sekedar sebagai mata kuliah semata, tetapi sebagai salah satu bentuk pengembangan dalam menyadari dan memantapkan panggilan sebagai katekis. Selain itu juga mahasiswa jangan memandang materi pembinaan spiritualitas hanya sebagai teori tetapi perlu mahasiswa sendiri perlu ada aktualisasi materi dalam kehidupan seharihari.

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 DAFTAR PUSTAKA Antoni de Mello. (1980). Sadhana. Yogyakarta: Kanisius. Arikunto Suharsimi. (1990). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Darmawijaya. (1990). Aneka Tema Rekoleksi. Yogyakarta: Kanisius Dewan Karya Pastoral KAS. (2011). Nota Pastoral tentang Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang 2011-2015 Gereja yang Siginifikan dan Relevan. Semarang: Dewan Karya Pastoral KAS. Dister, Nico Syukur . (1987). Kristologi Sebuah Sketsa. Yogyakarta: Kanisius. Heuken, A. (2005). Ensiklopedi Gereja Jilid VII Pi-Sek. Jakarta: Yayasan Cipta Loka. __________. (2002). Spiritualitas Kristiani. Jakarta. Yayasan Cipta Loka Caraka. Heryatno Wono Wulung, F. X. dan Sr. Yunitri, FCJ. (2011). Silabus Pembinaan Spiritualitas I. Silabus Mata Kuliah Pembinaan Spiritualitas I untuk mahasiswa semester I. Prodi IPPAK, Manuskrip. Heryatno Wono Wulung, F. X. dan Sr. Krisanti, CB. (2010). Silabus Pembinaan Spiritualitas II. Silabus Mata Kuliah Pembinaan Spiritualitas II untuk mahasiswa semester II. Prodi IPPAK, Manuskrip. Indra Sanjaya. PR. (2011). Belajar dari Yesus “Sang Katekis”. Yogyakarta: Kanisius. Iswarahadi. (2003). Beriman dengan Bermedia. Yogyakarta: Kanisius. Komisi Kateketikal Diosis Kota Kinabalu. (2003). Identitas dan Panggilan Seorang Katekis. Komkat Diosis: Kinabalu. Manuskrip. Komisi Kateketik KWI. (2007). Praedicamus: Buletin Kateketik Pastoral. Jakarta : Komkat KWI. __________. (2009). Praedicamus: Buletin Kateketik Pastoral. Jakarta : Komkat KWI. __________. (2005). Identitas Katekis di tengah Arus Perubahan Jaman. Jakarta: Komkat KWI. __________. (1997). Pedoman Untuk Katekis. Yogyakarta: Kanisius. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik. Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius. Kongregasi untuk Imam. (2000). Petunjuk Umum Katekese. Komkat KWI: Jakarta. Konseng, Anton. (1995). Menjawab Panggilan Tuhan. Jakarta: Obor. Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli terbitan tahun 1966). __________. (1993). Ad Gentes. (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1964). __________. (1990). Catechese Tradendae. (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1979). __________. (1993). Lumen Gentium. (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1964). Lalu, Yosef. (2005). Katekese Umat. Jakarta: Komkat KWI. Lembaga Alkitab Indonesia. (1997). Alkitab: Deuterokanonika. Jakarta: LBI. Mangunharjana, A.M. (1985). Pembinaan: Arti dan Metode. Yogyakarta: Kanisius. ___________. (1986). Pendamping Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius. Moleong, Lexy. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung: Remajda Karya.

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 Prasetya, L. (2007). Menjadi Katekis Siapa Takut. Yogyakarta: Kanisius. Putranto, C. B. (2006). Pemikiran Dasar Kurikulum 2006. Prodi IPPAK, Manuskrip. Riduwan. (2010). Belajar Mudah Penelitian. Bandung: ALFABETA. Rukiyanto, dkk. (2010). Silabus Pembinaan Spiritualitas V. Silabus Mata Kuliah Pembinaan Spiritualitas V untuk mahasiswa semester V. Prodi IPPAK, Manuskrip. ____________. (2010). Silabus Pembinaan Spiritualitas VI. Silabus Mata Kuliah Pembinaan Spiritualitas VI untuk mahasiswa semester VI. Prodi IPPAK, Manuskrip. Samana, dkk. (1994). Kamus Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Sarjumunarsa, Th. (1982). Spirtitualitas Katekis. Rohani. Yogyakarta: Kanisius. ____________. (1985). Komunikasi Iman dan Evaluasi Katekese. Yogyakarta: PUSKAT. Staf Dosen IPPAK . (2008). Panduan Prodi IPPAK. Yogyakrta: IPPAK-USD. ____________. (2009). Renstra IPPAK. Yogyakarta: IPPAK USD. ____________. (2010). Panduan Prodi IPPAK. Yogyakrta: IPPAK-USD. Sudjana dan Ibrahim. (2004). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: ALFABETA Suhardiyanto, dkk. (2011). Silabus Pembinaan Spiritualitas III. Silabus Mata Kuliah Pembinaan Spiritualitas III untuk mahasiswa semester III. Prodi IPPAK, Manuskrip. ____________. (2011). Silabus Pembinaan Spiritualitas IV. Silabus Mata Kuliah Pembinaan Spiritualitas IV untuk mahasiswa semester IV. Prodi IPPAK, Manuskrip. Sumarno, DS, M. (2012).Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik Paroki. Diktat Mata Kuliah Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik Paroki untuk mahasiswa semester VI. Prodi IPPAK, Manuskrip. Sumarno, DS, M. dkk. (2010). Silabus Pembinaan Spiritualitas VII. Silabus Mata Kuliah Pembinaan Spiritualitas VII untuk mahasiswa semester VII. Prodi IPPAK, Manuskrip. ____________. (2010). Silabus Pembinaan Spiritualitas VIII. Silabus Mata Kuliah Pembinaan Spiritualitas VIII untuk mahasiswa semester VIII. Prodi IPPAK, Manuskrip. Surakhmad, Winarno. (1990). Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar, Metode dan Teknik. Bandung: Tarsito. Tangdilitin, Philip. (1984). Pembinaan Generasi Muda, Visi dan Latihan. Jakarta: Obor Telaumbanua, Marinus. (1999). Ilmu Kateketik. Jakarta: Obor. Van Lierap. (1994). Mengenal Spiritualitasku. Manado: YAFA. Yamtini. (1981). Motivasi Panggilan Hidup Membiara-Suatu Tinjauan Kateketis. (Seri Pastoral).Yogyakarta: Pusat Pastoral. Yohanes Paulus II. (1993). Apostolicam Actuositatem. (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1965).

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 _____________. (1990). Redemptoris Missio. (Alfons S. Suhardi, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1991).

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 143

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1. Contoh Hasil Penelitian (1)

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (2)

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (3)

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (4)

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (5)

(168)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis penggunaan konjungtor pada latar belakang skripsi mahasiswa program studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma angkatan 2010 lulusan tahun 2015.
0
0
2
Peranan keterlibatan hidup menggereja bagi mahasiswa program studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik dalam rangka menanggapi panggilan sebagai katekis.
1
35
153
Doa Rosario sebagai sarana penghayatan iman Bunda Maria bagi mahasiswa program studi Pendidikan Agama Katolik angkatan 2013 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
0
15
132
Pengaruh pelatihan teater rakyat terhadap kemampuan public speaking mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma sebagai faktor penting dalam proses berkatekese.
1
11
156
Pengaruh mata kuliah program pengalaman lapangan pendidikan Agama Katolik paroki terhadap panggilan mahasiswa menjadi seorang Katekis di program studi Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
1
39
136
Pengaruh pengelolaan waktu belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan 2009-2012.
0
5
141
Pengaruh Ekaristi terhadap perkembangan hidup rohani mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan KeKhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma sebagai calon katekis.
2
14
241
Usaha meningkatkan mutu renungan harian di program studi Pendidikan Agama katolik untuk pembinaan spiritualitas katekis bagi mahasiswa Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma Yogyakart
0
11
138
Analisis penggunaan konjungtor pada latar belakang skripsi mahasiswa program studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma angkatan 2010 lulusan tahun 2015
0
26
277
Peranan lectio divina dalam membantu pengembangan spiritualitas katekis - USD Repository
0
0
125
Retret model shared christian praxis sebagai upaya meningkatkan keterlibatan hidup menggereja bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD
0
3
197
Pengaruh penghayatan sakramen tobat terhadap penghayatan tugas pewartaan mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
138
Weblog sebagai media alternatif pewartaan iman pada era globalisasi yang perlu dimanfaatkan oleh mahasiswa Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
179
Peranan teater rakyat dalam memperkembangkan kesadaran sosial mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
131
Upaya pengembangan pendampingan spiritualitas mahasiswa-mahasiswi calon katekis di Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
1
230
Show more