Hubungan antara efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orangtua dan kecenderungan perilaku bullying pada remaja awal - USD Repository

Gratis

0
0
153
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN ANTARA EFEKTIVITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA REMAJA DENGAN ORANG TUA DAN KECENDERUNGAN PERILAKU BULLYING PADA REMAJA AWAL Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh: Lucia Novita Ningrum NIM : 089114001 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO “Intelligence will never stop being Beautiful”-Anonim “The greatest pleasure in life is doing what people say you cannot do”-Anonim “Doubt kills more dreams than failure ever will”-Karim Seddiki “Life is too short to worry about stupid things. Have fun. Fall in love. Regret nothing and don’t let people bring you down”-Anonim “The unhappiest people in this World are those who care the most about what other people think”-C. Joybell C. “Many people, especially, ignorant people, want to punish you for speaking the truth, for being correct, for being you. Never apologize for being correct, or for being years ahead of your time. If you’re right and you know it, speak your mind. Even if you are a minority of one, the truth is still the truth”~Gandhi iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Terima Kasih Allah Bapa di Surga yang selalu memberkati hidupku dan menjadi sahabat setiaku  Papa dan Mama yang tanpa lelah merawat dan membesarkan aku, selalu memberikan kasih sayang yang tulus, doa, dan semangat untukku supaya aku menjadi anak yang berhasil. Mas Beni dan Dek Alex, teman berantem di rumah, yang sudah menjagaku  v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HUBUNGAN ANTARA EFEKTIVITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA REMAJA DENGAN ORANG TUA DAN KECENDERUNGAN PERILAKU BULLYING PADA REMAJA AWAL Lucia Novita Ningrum ABSTRAK Penelitian korelasional ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua dan kecenderungan perilaku bullying pada remaja awal. Subjek dalam penelitian ini ialah siswa-siswi SMPK Santa Maria, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah dengan rentang usia 12-15 tahun. Subjek penelitian berjumlah 132 orang. Subjek yang berusia 12 tahun berjumlah 20 orang, subjek berusia 13 tahun berjumlah 43 orang, subjek berusia 14 tahun berjumlah 25 orang, dan subjek berusia 15 tahun berjumlah 44 orang. Subjek yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 65 orang dan subjek berjenis kelamin perempuan sebanyak 67 orang. Subjek penelitian dipilih melalui teknik purposive sampling. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ialah terdapat hubungan antara efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua dan kecenderungan perilaku bullying pada remaja awal. Metode pengumpulan data dengan menyebarkan dua skala, yaitu skala efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua dan skala kecenderungan perilaku bullying. Skala efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua memiliki koefisien reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0,883 dari 36 aitem, sedangkan skala kecenderungan perilaku bullying memiliki koefisien reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0,929 dari 49 aitem. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis Spearman dikarenakan data untuk variabel kecenderungan perilaku bullying terdistribusi tidak normal. Hasil analisis data menunjukkan koefisien korelasi (r) sebesar -0,251 dengan taraf signifikansi 0,004 (p<0,05). Hal ini berarti menunjukkan bahwa semakin tinggi efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua, maka semakin rendah kecenderungan perilaku bullying pada remaja. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua, maka semakin tinggi kecenderungan perilaku bullying pada remaja. Kata kunci :komunikasi interpersonal, orang tua,perilaku bullying, remaja vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI THE CORRELATION BETWEEN THE EFFECTIVENESS OF INTERPERSONAL COMMUNICATION BETWEEN ADOLESCENT WITH PARENTS AND THE TENDENCY OF BULLYING IN THE EARLY ADOLESCENT Lucia Novita Ningrum ABSTRACT This correlational study aims to find out the correlation between the effectiveness of interpersonal communication between adolescent with parents and the tendency of bullying behavior in the early adolescent. The subjects in this study were students of SMPK Santa Maria, Sawangan, Muntilan, Central Java, with the range of age between 12-15 years old. The number of subjects was 132 pupils. There were 20 subjects with the age of 12 years, 43 subjects were with 13 year, 25 subjects with 14 year old, and 44 subjects were with the age 15 year old. The number of male subject was 65 and female was 67 pupils. The subjects in this study were selected by purposive sampling technique. The hypothesis in this study was that there was a relationship between the effectiveness of interpersonal communication between adolescent with parents and the tendency of bullying behavior in the early adolescent. The Methods of data collection was made by spreading two scales, they were the scale of the effectiveness of interpersonal communication between adolescent with parents and the scale of tendency of bullying behavior in the adolescent. The scale of the effectiveness of interpersonal communication between adolescent with parents had Alpha Cronbach reliability coefficient of 0.883 from 36 aitems, while the tendency of bullying behavior scale had Alpha Cronbach reliability coefficient of 0.929 from 49 aitems. Data analysis was performed using Spearman analysis. It was due to variable the tendency of bullying behavior that was not normally distributed. The results of data analysis showed a correlation coefficient (r) of 0.251 with a significance level of 0.004 (p<0.05). This result showed that the higher the effectiveness of interpersonal communication between adolescents with parents, the lower the tendency of bullying behaviors in adolescents. In reverse, the lower the effectiveness of interpersonal communication between adolescents with parents, the higher the tendency of bullying behaviors in adolescents. Keywords : interpersonal communication,parents ,bullying behavior, adolescent. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat dan penyertaanNya selama proses penulisan skripsi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa selama proses penulisan skripsi ini ada banyak dukungan dan bantuan dari berbagai pihak yang dengan tulus membantu penulis. Penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Ibu Ratri Sunar Astuti, S. Psi., M.Psi selaku Ketua Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah mengingatkan penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini. 3. Ibu Sylvia Carolina MYM., S.Psi., M.Si selaku Dosen Pembimbing yang telah mendukung, memberi semangat, dan membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 4. Ibu (Alm) Dr. Christina Siwi Handayani yang telah menjadi inspirasi bagi penulis untuk terus semangat dalam kondisi apapun juga. Tidak kenal kata menyerah. Terima kasih ibu atas bimbingannya selama beberapa waktu yang lalu. Semoga Ibu selalu bahagia di surga bersama Tuhan Yesus. 5. Ibu Debri Pristinella, M.Si dan Ibu Dra. Lusia Pratidarmanastiti, M.Si selaku dosen penguji skripsi yang telah memberikan saran dan kritik yang menunjang untuk isi skripsi penulis. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Bapak/Ibu Dosen Fakultas Psikologi atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan di Fakultas Psikologi. 7. Segenap staf Fakultas Psikologi (Mas Gandung, Bu Nanik, Pak Gie, Mas Muji, Mas Doni) atas keramahan, sapaan, senyuman, dan bantuannya selama penulis berkuliah di Fakultas Psikologi. 8. Bapak Sutikno selaku Kepala Sekolah SMPK Santa Maria Sawangan, Magelang, Jawa Tengah yang telah memberikan ijin bagi penulis untuk melakukan penelitian dan terimakasih atas segala kebaikan Bapak selama penulis melakukan penelitian di sekolah tersebut. 9. Papa dan Mama terimakasih atas segenap cinta dan kasih sayang yang selalu papa mama berikan untuk penulis. Terimakasih atas kesabaran dan dukungannya selama ini, termasuk saat penulis menyelesaikan skripsi ini. Aku sayang Papa Mama selalu. Semoga Tuhan Yesus selalu memberikan berkat untuk papa mama. Amiiinn. 10. Mas Beni dan Dek Alex, semoga kita bisa selalu membahagiakan papa mama ya . Semoga Tuhan Yesus dan doa Papa Mama selalu mengiring langkah kita dalam mencapai kesuksesan kita. 11. Mbah Kakung, Mbah Putri, Mbah Das terimakasih sudah selalu mendoakan penulis dan terima kasih pula untuk kasih sayang dan candaan yang Mbah berikan untuk penulis. 12. Pakdhe dan Budhe Untung, serta Mba Sisca terima kasih banyak atas kebaikannya yang dengan tulus membantu penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini. Tuhan selalu memberikati keluarga Pakdhe ya. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13. Cucu-cucu Mbah Kardiwiyono (Mas Doni, Mas Dimas, Mba Tina, Mba Sisca, Mas Beni, Dek Alex, Dek Lina, dan Dek Heni) kompak selaluuu yaa . 14. Skolas, Kika, Chelly, Mba Dessy makasi banyak untuk kesempatan berdiskusi, bertukar pikiran, dan semangat. 15. Risa, Anggito, Emprit, Mbokdhe Hesti, Mba Beno, Ci Puji, Nina, Jeje, Vincent makasi buat canda dan tawa dalam setiap cerita kalian yang selalu memecah keheningan penulis, ceileeh..., makasi juga udah selalu memberi semangat, dukungan, dan bantuan dengan tulus untuk penulis yaa . Anjun, Puput, Mba Vita, Mba Putri, Ezy Koppa, Meili Markoneng, Rina, Heny, Nopay makasiii yak untuk segala dukungan dan bantuannya , sukses selalu untuk kita. xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING .................... ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................. iii HALAMAN MOTTO ......................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................... vi ABSTRAK.......................................................................................... vii ABSTRACT........................................................................................ viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ....... ix KATA PENGANTAR ...........................................................................x DAFTAR ISI ..................................................................................... xiii DAFTAR TABEL ..............................................................................xvi DAFTAR GAMBAR ........................................................................ xvii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................... xviii BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................1 A. Latar Belakang Masalah ..............................................................1 B. Rumusan Masalah .......................................................................9 C. Tujuan Penelitian....................................................................... 10 D. Manfaat Penelitian ..................................................................... 10 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI .............................................................. 11 A. Remaja ...................................................................................... 11 1. Pengertian Remaja ......................................................... 11 2. Karakteristik Perkembangan .......................................... 12 B. Bullying..................................................................................... 18 1. Pengertian Bullying ........................................................ 18 2. Komponen Perilaku Bullying .........................................20 3. Bentuk-Bentuk Bullying................................................. 21 4. Dampak Perilaku Bullying Bagi Pelaku Bullying ............ 22 5. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Bullying ..................... 23 C. Komunikasi Interpersonal.......................................................... 28 1. Pengertian Komunikasi Interpersonal ............................. 28 2. Motif Individu Melakukan Komunikasi ......................... 30 3. Fungsi dan Peran Komunikasi Interpersonal .................. 32 4. Hambatan dalam Komunikasi Interpersonal ................... 34 5. Aspek-Aspek Komunikasi Interpersonal yang Efektif ....39 D. Dinamika Hubungan Efektivitas Komunikasi Interpersonal Remaja dengan Orang Tua dan Kecenderungan Perilaku Bullying pada Remaja ................................................................ 42 E. Hipotesis ................................................................................... 47 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN .......................................... 49 A. Jenis Penelitian .......................................................................... 49 B. Identifikasi Variabel Penelitian .................................................. 49 C. Definisi Operasional .................................................................. 50 D. Subjek Penelitian ....................................................................... 52 E. Metode Pengambilan Data ......................................................... 53 F. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur .......................................... 56 G. Metode Analisis Data ................................................................ 59 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..................... 60 A. Pelaksanaan Penelitian .............................................................. 60 B. Deskripsi Subjek Penelitian ....................................................... 60 C. Deskripsi Data Penelitian .......................................................... 62 D. Hasil Penelitian ......................................................................... 63 E. Pembahasan .............................................................................. 66 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................... 71 A. Kesimpulan ............................................................................... 71 B. Saran ......................................................................................... 71 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 73 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Table 1. Pemberian Skor pada Skala Kecenderungan Perilaku Bullying ....................................................................... 54 Table 2.Blueprint Skala Kecenderungan Perilaku Bullying (Sebelum Uji Coba dan Seleksi Aitem)...................................... 54 Table 3. Pemberian Skor pada Skala Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara remaja dengan Orang Tua .......................... 55 Table 4.Blueprint Skala Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara remaja dengan Orang Tua (Sebelum Uji Coba dan Seleksi Aitem) .................................................................... 55 Tabel 5. Blueprint Skala Kecenderungan Perilaku Bullying (Setelah Uji Coba dan Seleksi Aitem)......................................................57 Tabel 6. Blueprint Skala Efektivitas Komunikasi Interpersonal Remaja dengan Orang Tua (Setelah Uji Coba dan Seleksi Aitem)........58 Tabel 7. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Usia ......................... 61 Tabel 8. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ........................................................................... 61 Tabel 9. Deskripsi Data Penelitian ........................................................ 62 Tabel 10. Hasil Uji Normalitas .............................................................. 64 Tabel 11. Hasil Uji Linearitas ............................................................... 65 Tabel 12. Hasil Uji Korelasi .................................................................. 66 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Skema Dinamika Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua dan Kecenderungan Perilaku Bullying pada Remaja ......................................................... 47 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A. Skala Penelitian (Try Out) ................................................ 78 Lampiran B. Skala Penelitian (Setelah Try Out) ....................................98 Lampiran C. Uji Reliabilitas Skala Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua ........................................... 116 Lampiran D. Uji Reliabilitas Skala Kecenderungan Perilaku Bullying................................................................................... 122 Lampiran E. Uji Normalitas ................................................................ 128 Lampiran F. Uji Linearitas .................................................................. 131 Lampiran G. Uji Hipotesis .................................................................. 135 xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Bullying merupakan salah satu fenomena sosial yang banyak ditemui di seluruh dunia. Bullying banyak terjadi di dalam lingkungan sekolah, seperti koridor atau tempat-tempat yang lebih terpencil (Olweus & Solberg, tanpa tahun; Argiati, 2010). Hal ini disebabkan karena kurang adanya pengawasan dari orang dewasa di sekolah, khususnya saat istirahat sekolah (Olweus, Limber, & Mihalic, dalam Fleming & Towey, 2002). Padahal sekolah seharusnya menjadi tempat bagi anak-anak untuk menimba ilmu dan mengembangkan keterampilan sosial. Namun, pada kenyataannya tidak dipungkiri ada beberapa kasus bullying yang terjadi di dalamnya, baik yang tampak maupun yang tidak. Kasus bullying banyak ditemukan pada kalangan remaja khususnya di lingkungan sekolah dan dapat terlihat dari beberapa hasil penelitian. National Institute of Child Health and Human Development (NICDH) (dalam Ericson, 2001) melaporkan bahwa pelajar di Amerika Serikat yang mengalami bullying kurang lebih sekali dalam seminggu yaitu berjumlah 1,6 juta pelajar dan pelajar yang sering menjadi pelaku bullying berjumlah 1,7 juta. Selanjutnya, menurut WHO pada tahun 2004 (dalam Hymel & Napolitano, 2008) melaporkan bahwa 1 remaja

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 berusia 11, 13, dan 15 tahun pada 25 negara di Eropa dan Amerika Utara mengalami bullying dan kekerasan sebesar 1% hingga 50%. Selain itu, penelitian yang telah dilakukan di dunia menunjukkan terdapat 15-25% pelajar telah menjadi korban bullying dan 15-20% pelajar menjadi orang yang melakukan bullying (perpetrators bullying) (Dracic, 2009). Berdasarkan data yang dirilis Pusat Data dan Informasi, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) pada tahun 2011 di Indonesia pun ditemukan ada 139 kasus bullying yang terjadi di lingkungan sekolah dan pada tahun 2012 berjumlah 36 kasus (Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, dalam Triyuda, 2012). Perilaku bullying ini biasanya dilakukan oleh teman terhadap teman lainnya atau oleh senior kepada junior. Remaja yang menjadi pelaku bullying, yang dianggap memiliki kekuatan/kekuasaan, akan melakukan aksinya kepada target yang dianggap lemah. Lemah dan kuat dalam hal ini tidak hanya merujuk pada ukuran secara fisik tetapi juga secara mental (Sejiwa, 2008). Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan kekuatan/kekuasaan antara pelaku dan korban bullying (Olweus, dalam Smith, Cowie, Olafsson & Liefooghe, 2002). Bullying juga merupakan bentuk dari perilaku agresif yang dilakukan secara berulang oleh pelaku terhadap korbannya yang menyebabkan bahaya atau penderitaan dan ketidaknyamanan korban, seperti penderitaan fisik dan emosional (Olweus, dalam Hanif, Nadem, & Tariq, 2011; Dracic, 2009).

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Sebagai contoh kasus bullying yang dialami oleh Okke Budiman, siswa SMA 46 Jakarta. Okke sering mendapatkan perlakuan kasar dari kakak kelasnya yang sering meminjam motor milik Okke dengan cara paksa. Lalu pada suatu hari, Okke mengalami pemukulan yang dilakukan oleh kakak kelasnya dengan menggunakan helm dan tangan kosong, tendangan di punggung, 5 sundutan rokok di lengan kanannya. Hal ini terjadi karenaOkke pulang sekolah tanpa ijin kepada kakak kelasnya terlebih dahulu (Ceppy, dalam Rahmatullah, 2010). Perilaku bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk baik terjadi secara langsung maupun tidak langsung (Dracic, 2009). Macam-macam bentuk bullying ini antara lain bullying fisik, seperti memukul; bullying verbal misal dapat berupa mengejek; bullying sosial misal dapat berupa menyebarkan rumor; bullying psikologis misal dapat berupa ancaman; bullying seksual misalnya berupa touching; dan cyberbullying dapat berupa mengirimkan pesan yang mengancam (Dracic, 2009). Bullying bukan sekedar masalah yang sepele karena menimbulkan dampak yang serius dan tidak menyenangkan bagi si korban. Dampak yang terkait dengan bullying pada korban tampak pada penelitian yang dilakukan oleh Ayenibiowo & Akinbode (2011) berjudul Psychopathology of Bullying and Emotional Abuse among School Children. Peneliti meneliti efek psikologis dari bullying pada korban bullying yang berusia antara 12 sampai 19 tahun di Lagos. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa korban bullying mengalami masalah fisik dan psikologis, seperti somatisasi,

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 obsessive compulsive, interpersonal sensitivity, depresi, kegelisahan, fobia kecemasan, paranoid, psychoticism dan neuroticism. Bullying ini ternyata tidak hanya memiliki dampak negatif bagi korban tetapi juga memiliki dampak negatif bagi pelaku bullying itu sendiri. Pelaku bullying berisiko besar memiliki kehidupan yang negatif di kemudian hari. Pelaku bullying cenderung berperilaku kriminal di usia dewasa nanti (Olweus, dalam Ericson, 2011; Lawrence & Adams, 2006). Pelaku juga memiliki pekerjaan yang tingkatnya lebih rendah dari kemampuan yang dimiliki, bertindak kasar terhadap pasangan, dan menggunakan hukuman yang keras terhadap anak-anaknya (Lawrence & Adams, 2006). Remaja yang melakukan bullying memiliki potensi untuk terlibat dalam perilaku antisosial lainnya, seperti vandalism, mengutil, membolos sekolah, berkelahi, dikeluarkan dari sekolah, dan menggunakan obat-obatan serta alkohol (Olweus, dalam Ericson 2001). Berdasarkan paparan tersebut terlihat bahwa perilaku bullying memiliki dampak yang negatif bagi remaja yang terlibat di dalamnya, baik bagi pelaku maupun korban bullying. Pada penelitian ini, penelitian ingin fokus pada pelaku bullying. Hal ini disebabkan karena pelaku bullying, dengan kekuatan yang dimilikinya, pasti akan mencari sasaran yang dianggap lebih lemah untuk dijadikan sebagai korban penindasan. Ketidakmampuan korban untuk melawan pelaku ini membuat pelaku untuk menindas korban berulang kali. Keadaan yang berlangsung terus menerus seperti ini akan merugikan

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 kehidupan korban dan pelaku bullying itu sendiri baik saat ini maupun di kemudian hari. Pada umumnya, remaja yang melakukan tindakan bullying berasal dari keluarga yang sering memberikan hukuman secara fisik kepada dirinya dan diajarkan untuk menyerang balik secara fisik sebagai cara untuk mengatasi masalah (Batsche, Knoff, & Olweus, dalam Banks, 1997; Pearce & Thompson, 1998). Selain itu, keluarga yang kurang memberikan kasih sayang atau kehangatan bagi anak-anak, kurang terlibat dalam kehidupan anak, serta pola asuh orang tua yang permisif dapat mempengaruhi anak melakukan bullying (Batsche, Knoff, & Olweus, dalam Banks, 1997; Pearce & Thompson, 1998; Dracic, 2009). Beberapa peneliti juga telah mengidentifikasikan karakteristik remaja yang melakukan tindakan bullying. Remaja yang cenderung impulsif, memiliki kepribadian yang dominan, mudah frustrasi, memiliki kesulitan untuk mematuhi aturan, serta melihat kekerasan sebagai hal yang positif, serta memiliki simpati yang rendah terhadap orang lain berpotensi melakukan tindakan bullying terhadap teman sebayanya (Olweus & Solberg, tanpa tahun). Remaja yang memiliki pandangan positif terhadap kekerasan ini juga dapat terjadi karena didukung oleh teman-temannya yang memiliki sikap yang positif terhadap kekerasan serta cenderung melakukan bullying terhadap anak lainnya (Olweus, Limber, & Mihalic, dalam Fleming & Towey, 2002). Berdasarkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi remaja melakukan tindakan bullying terlihat bahwa keluarga, orang yang terdekat dengan

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 kehidupan remaja, ternyata dapat menjadi faktor risiko bagi remaja melakukan tindakan bullying. Ini menunjukkan bahwa keluarga memiliki peran penting bagi perkembangan remaja. Pada masa remaja, individu mengalami pubertas dan perubahanperubahan lainnya, hampir pada seluruh aspek kehidupan remaja, yang membuat remaja merasa tidak nyaman dengan keadaan semacam itu, seperti bingung, tidak percaya diri, tidak puas dengan lingkungan, sulit beradaptasi, ingin diakui atau diterima lingkungan, serta rentan terhadap frustasi dan depresi (Bisono, 2009). Maka dari itu, perlu adanya pendampingan dari orang tua bagi remaja. Ini menunjukkan adanya interaksi antara orang tua dan remaja yang tidak terlepas dari proses komunikasi. Hybels & Weaves (2004) mengemukakan bahwa komunikasi merupakan sebuah proses untuk berbagi informasi, ide, dan perasaan yang dilakukan secara verbal maupun nonverbal. Komunikasi yang terjadi antara remaja dengan orang tua dapat memberikan kontribusi baik bagi perkembangan mental yang sehat pada remaja (Sadarjoen, 2005). Hardjana (2003) mengungkapkan bahwa komunikasi merupakan salah satu cara terpenting bagi individu untuk berelasi dan bekerja sama supaya dapat tetap mempertahankan hidup dan berkembang. Akan tetapi, terkadang komunikasi yang terjadi antara remaja dan orang tua dapat membuat hubungan diantara kedua belah pihak menjadi lebih tidak baik sehingga dapat mempengaruhi kehidupan remaja ke arah yang negatif. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Caughlin & Malis (2004) menunjukkan

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 bahwa antara orang tua dan remaja yang sedang terlibat dalam suatu topik pembicaraan mengenai suatu masalah penting dapat menunjukkan pola komunikasi. Apabila salah seorang menggerutu atau mengkritik seorang lainnya atau menolak membicarakan sesuatu dan hal ini berlangsung terus menerus, dapat membuat remaja memiliki tingkat penggunaan alkohol dan obatan-obatan yang tinggi serta memiliki harga diri yang rendah. Hal lain yang menunjukkan adanya komunikasi yang membuat hubungan diantara remaja dan orang tua memburuk, misalnya tampak adanya kesalahpahaman dalam komunikasi. Hal ini dapat terlihat saat remaja, dengan perkembangan kognitif dan keinginan untuk mencapai otonomi, mulai membandingkan orang tuanya dengan suatu standar ideal dan mengecam kekurangan-kekurangan standar orang tuanya (Desmita, 2007). Sedangkan disisi lain, sikap remaja yang demikian membuat orang tua beranggapan bahwa anak mereka telah berubah menjadi anak yang tidak mau menurut, melawan, dan menentang standar-standar orang tua. Hal ini membuat orang tua berusaha untuk mengendalikan dengan keras dan memberikan banyak tekanan agar remaja menaati standar-standar orang tua (Collins, dalam Santrock, 2002). Ini dilakukan oleh orang tua dengan tujuan supaya remaja tidak terpengaruh dengan godaan dan gangguan dari luar yang dapat menyesatkan remaja bahkan menjerumuskan ke tindakan yang tidak berkenan (Gunarsa & Gunarsa, 1990). Akan tetapi, justru sikap orang tua yang demikian membuat remaja merasa dikekang (Gunarsa & Gunarsa, 1990). Apabila kesalahpahaman antara remaja dan orang tua tidak teratasi dengan

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 baik maka akan menimbulkan konflik diantara remaja dan orang tua. Hal ini menjadi alasan peneliti memilih efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua sebagai variabel bebas. Komunikasi dikatakan efektif apabila penerima pesan dapat menginterpretasikan pesan sesuai dengan yang dimaksudkan oleh pengirim pesan (Supratiknya, 1995). Pemahaman penerima pesan dalam menangkap makna pesan ini terkait dengan ketepatan pengirim pesan dalam menyampaikan maksud pesan tersebut. Ketika pengirim gagal dalam menyampaikan maksud pesan maka akan menimbulkan kesalahpahaman dalam berkomunikasi (Supratiknya, 1995). Komunikasi interpersonal yang efektif menekankan pada adanya keterbukaan, empati, sikap mendukung (deskriptif, spontanitas, dan provisionalisme), sikap positif, dan kesetaraan (De Vito, 2011). Pesan yang disampaikan dan diterima dalam suasana yang hangat, mendukung, respect, dan empati membantu individu untuk mengomunikasikan afeksi kepada orang lain dan membantu terpenuhinya kebutuhan afeksi pada masing-masing individu (Schutz, dalam Zeuschner, 1992). Kebutuhan afeksi ini penting bagi remaja saat melewati masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa ini. Adanya perasaan nyaman, hangat, dicintai, dan diterima dari orang tua membantu remaja untuk dapat meningkatkan kualitas dirinya (Gordon, 1962). Sedangkan, orang tua yang kurang memberikan kehangatan dan kurang mendukung remaja serta memiliki banyak konflik dengan remaja memungkinkan remaja menjadi depresi (Greenberger, Messerdalam Bukatko,

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 2008) dan remaja berpotensi melakukan bullying (Batsche, Knoff, & Olweus, dalam Banks, 1997; Dracic, 2009). Hal ini disebabkan karena remaja yang tidak mendapatkan rasa nyaman, hangat, cinta, dan penerimaan dari orang tua akan membuat remaja merasa bingung, risau, sedih, malu, diliputi rasa dendam benci terhadap orang tua, serta merasa tidak nyaman dan aman di dalam keluarga. Perasaan-perasaan yang demikian mendorong remaja untuk mencari sumber kesenangan lain di luar lingkup keluarganya dengan melakukan tindakan agresif yang dapat mengarah ke perilaku bullying, seperti menteror, mengancam, mengintimidasi, serta memeras temannya (Kartono, 2006). Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas, peneliti ingin melihat hubungan antara efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua dan kecenderungan perilaku bullying pada remaja awal. B. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah dalam penelitian ialah: Apakah ada hubungan antara efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua dan kecenderungan perilaku bullying pada remaja awal?

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 C. TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini ialah untuk melihat hubungan antara efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua dan kecenderungan perilaku bullying pada remaja awal. D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan menambah pengetahuan serta informasi dalam bidang ilmu psikologi mengenai pentingnya komunikasi interpersonal yang efektif antara remaja dengan orang tua. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Orang Tua Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan pengetahuan dan sumber informasi bagi orang tua mengenai pentingnya menjalin komunikasi interpersonal yang efektif dengan anak remajanya. Dengan begitu orang tua dapat lebih meningkatkan keefektifan komunikasi interpersonal dengan anaknya yang mulai memasuki masa remaja sehingga dapat meminimalisir remaja menjadi pelaku bullying. b. Bagi Remaja Diharapkan hasil penelitian ini juga dapat memberikan wawasan dan sumber informasi bagi remaja untuk tidak segan menjalin komunikasi interpersonal yang efektif dengan orang tuanya.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. REMAJA 1. Pengertian Remaja Menurut Papalia, Olds, dan Feldman (2008), masa remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju kedewasaan yang berlangsung sejak usia sekitar 10 atau 11 tahun, atau bahkan lebih awal, sampai sekitar usia dua puluh tahunan awal atau masa remaja akhir. Menurut Mönks, Knoers, dan Haditono (2006) usia 12 sampai 15 tahun merupakan masa remaja awal. Pada masa peralihan ini, individu menghadapi perubahan besar dalam aspek fisik, kognitif, dan psikososial yang saling berkaitan dan mempengaruhi kehidupannya. Periode ini memiliki risiko karena beberapa remaja mengalami masalah dalam menghadapi perubahan yang terjadi secara bersamaan ini dan membutuhkan bantuan dalam mengatasi bahaya saat menjalani masa ini (Papalia, Olds, dan Feldman, 2008). Bantuan dan pengawasan sangat penting diberikan kepada anak-anak yang memulai memasuki masa remaja, terutama pada masa remaja awal. Hal ini disebabkan karena masa usia remaja awal merupakan puncak terjadinya bullying. Banks (1997) mengungkapkan bahwa puncak terjadinya bullying ialah pada masa sekolah menengah pertama dan menurun selama sekolah 11 menengah atas.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 2. Karakteristik Perkembangan Remaja a. Perkembangan Fisik Pada masa remaja, individu mengalami pertumbuhan cepat pada tinggi dan berat badan, perubahan proporsi tubuh dan bentuk, serta tercapainya kematangan seksual (Papalia, Olds, dan Feldman, 2008). Kematangan kerangka dan seksual terjadi pesat terutama pada awal masa remaja. Periode ini disebut dengan pubertas Santrock, 2002). Kematangan seksual pada masa remaja ditandai dengan perubahan pada ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder. Setiap anak mengalami urutan kematangan seksual yang berbeda. Di samping itu, anak laki-laki dan perempuan memiliki ciri-ciri seks primer dan sekunder yang berbeda (Desmita, 2007). Ciri-ciri seks primer ini berkaitan dengan proses reproduksi. Pada anak laki-laki, perkembangan organ-organ seks ditandai dengan mimpi basah. Sementara itu, pada anak perempuan, perkembangan organorgan seks ditandai dengan munculnya periode menstruasi (menarche) (Desmita, 2007). Perubahan ciri-ciri seks sekunder ini merupakan tanda-tanda yang membedakan antara laki-laki dan perempuan. Tanda-tanda jasmaniah yang muncul pada laki-laki antara lain tumbuh kumis dan janggut, jakun, bahu dan dada melebar, suara berat, tumbuh bulu di ketiak, di dada, di kaki, di lengan, dan sekitar kemaluan, serta otot-otot menjadi kuat. Sementara pada wanita, tanda-tanda jasmaniah yang muncul

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 antara lain payudara dan pinggul membesar, suara menjadi halus, tumbuh bulu di ketiak dan di sekitar kemaluan (Desmita, 2007). Selama masa perkembangan fisik ini disertai dengan adanya perubahan psikologis remaja. Remaja mulai memperhatikan perubahan pada bentuk tubuhnya. Kemudian, remaja mengembangkan citra gambaran tubuhnya (Santrock, 2002). b. Perkembangan Kognitif Menurut Piaget, pemikiran remaja berada pada tahap pemikiran operasional formal yang berlangsung antara usia 11 hingga 15 tahun. Remaja memiliki pemikiran yang lebih abstrak dibandingkan pada masa kanak-kanak dahulu, yang ditandai dengan mampunya remaja untuk dapat membangkitkan situasi-situasi khayalan, kemungkinankemungkinan hipotesis, atau dalil-dalil dan penalaran yang benar-benar abstrak. Selain itu, pemikiran remaja juga lebih idealistis. Remaja berpikir mengenai ciri-ciri ideal bagi diri mereka sendiri dan orang lain serta membandingkan diri mereka dan orang lain dengan menggunakan standar-standar ideal tersebut. Remaja juga berpikir lebih logis dengan mulai menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah dan menguji permasalahan secara sistematis (penalaran deduktif induktif) (dalam Santrock, 2002). Pada masa remaja, perubahan kognisi sosial menjadi ciri perkembangan remaja. Remaja mengembangkan egosentrisme yakni kecenderungan remaja untuk menerima dunia serta diri mereka sendiri

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 dari perspektif mereka sendiri (Elkind, dalam Desmita, 2007). Egosentrime ini dikelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu penonton khayalan (imaginary audience) dan dongeng pribadi (the personal fable). Penonton khayalan (imaginary audience) merupakan keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya remaja memperhatikan dirinya sendiri. Sedangkan, dongeng pribadi (the personal fable) merupakan bagian dari egosentrisme remaja yang meliputi perasaan unik seorang remaja tentang dirinya (Santrock, 2002). c. Perkembangan Psikososial 1). Hubungan Remaja dengan Orang Tua. Pada masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa, remaja berusaha untuk meraih kemandirian (otonomi), baik secara fisik maupun psikologis. Remaja lebih banyak meluangkan waktunya untuk berinteraksi dengan dunia yang lebih luas sehingga remaja menghadapi berbagai macam nilai-nilai dan ide-ide (Desmita, 2007). Kemudian, nilai-nilai dan ide-ide yang remaja dapatkan dari dunia yang lebih luas tersebut mulai dibandingkan dengan standar nilai dari orang tuanya (Santrock, 2002). Remaja mempertanyakan dan menentang pandangan-pandangan orang tuanya (Desmita, 2007). Hal ini membuat para orang tua kebingungan dengan melihat perubahan sikap anak mereka yang tumbuh menjadi remaja. Orang

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 tua merasa anak berubah dari seorang anak yang menurut menjadi seorang anak yang tidak mau menurut, melawan, dan menentang standar-standar nilai orang tua. Para remaja tampak melepaskan diri dari orang tua. Di sisi lain, orang tua semakin berusaha untuk mengendalikan anak remaja dengan keras dan lebih banyak tekanan supaya remaja menaati standar nilai orang tua (Collins, dalam Santrock, 2002). Perselisihan-perselisihan dan perundingan-perundingan yang terjadi antara remaja dengan orang tua pada dasarnya dapat berfungsi positif bagi remaja dan dapat membantunya melewati masa transisi dari ketergantungan anak-anak menuju kemandirian (otonomi) dewasa (Santrock, 2002). Hal ini dapat dicapai dengan adanya hubungan yang positif dan suportif antara remaja dengan orang tua. Hubungan yang demikian dapat memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengungkapkan perasaan positif dan perasaan negatifnya dan orang tua terus memberikan bimbingan bagi remaja dalam mengambil keputusan yang masuk akal pada bidang yang remaja masih memiliki pengetahuan terbatas pada bidang tersebut (Desmita, 2007). 2). Hubungan Remaja dengan Teman Sebaya Pada masa remaja, pengaruh teman sebaya semakin meningkat.Pengaruh teman sebaya ini dapat bersifat positif dan negatif bagi remaja. Kelly dan Hansen (dalam Desmita, 2007),

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 menyatakan bahwa teman sebaya memiliki fungsi positif, seperti melalui interaksi dengan teman sebaya, remaja belajar untuk mengontrol impuls-impuls agresif; memberikan dorongan untuk mengambil peran dan tanggung jawab baru sehingga membuat ketergantungan remaja pada dorongan keluarga menjadi berkurang; melalui percakapan dan perdebatan dengan teman sebaya dapat meningkatkan keterampilan sosial, mengembangkan kemampuan penalaran, dan belajar untuk mengekspresikan perasaan dengan cara yang lebih matang; remaja belajar mengenai tingkah laku dan sikap-sikap yang diasosiasikan dengan menjadi laki-laki dan perempuan melalui interaksi dengan teman sebaya; memperkuat penyesuaian moral dan nilai-nilai; serta dapat meningkatkan harga diri remaja karena dengan menjadi seseorang yang disukai oleh teman sebayanya membuat remaja merasa senang akan dirinya. Di samping itu, teman sebaya juga dapat memiliki pengaruh yang negatif. Teman sebaya dapat memperkenalkan remaja dengan berbagai bentuk kejahatan dan perilaku yang maladaptif (Santrock, 2002). Selain itu, remaja yang mengalami penolakan atau pengabaian dari teman sebaya dapat menyebabkan perasaan kesepian atau permusuhan (Desmita, 2007).

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 3). Perkembangan Identitas Selama masa remaja, remaja menghadapi krisis antara identitas dengan kebingungan identitas. Krisis ini tidak selalu menunjukkan sebuah ancaman melainkan sebuah “titik balik” bagi remaja dan menjadi sebuah tahapan yang krusial karena diharapkan pada akhir periode ini, remaja mencapai identitas yang teguh (Erikson, dalam Feist & Feist, 2008). Pencarian identitas ini untuk menemukan siapakah dirinya, bagaimana dirinya, dan ke mana akan menuju dalam kehidupannya (Erikson, dalam Santrock, 2002). Remaja mencoba berbagai macam peran-peran baru dalam hidupnya. Hal ini menyebabkan para remaja mengalami kebingungan identitas karena remaja memutuskan untuk menjadi apa dan apa yang diyakini, juga sekaligus memutuskan untuk tidak ingin menjadi apa dan apa yang tidak mereka yakini. Kebingungan identitas juga semakin meningkat saat remaja memutuskan kebijakan orang tua ataukah nilai kelompok teman sebaya yang harus ditolak (Erikson, dalam Feist & Feist, 2008). Kebingungan identitas wajar terjadi selama proses pencarian identitas. Akan tetapi, apabila remaja tidak dapat mengatasi kebingungan identitasnya, maka akan mengarah pada penyesuaian patologis yang berbentuk regresi ke tahap perkembangan sebelumnya. Sedangkan, apabila remaja dapat mengatasi

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 kebingungan identitasnya dengan tepat, maka akan memiliki kepercayaan pada sejumlah prinsip ideologis, kemampuan dalam memutuskan untuk bersikap yang sesuai, percaya pada teman sebaya dan orang yang lebih dewasa yang memberi nasihat mengenai tujuan dan aspirasi, dan keyakinan pada pilihan mengenai pekerjaan yang sesuai (Erikson, dalam Feist & Feist, 2008). B. BULLYING 1. Pengertian Bullying Bullying merupakan salah satu bentuk kekerasan. Salah satu jenis tindakan yang negatif ini dilakukan berulang dari waktu ke waktu oleh individu yang memiliki kekuatan atau kekuasaan yang lebih untuk menyerang individu yang kekuatan atau kekuasannya lebih lemah (Ericson, 2001). Tindakan ini menguntungkan bagi para pelaku bullying untuk melukai atau mengintimidasi korban bullying yang dapat terjadi berkali-kali (Rigby & Smith, 2011). Bullying juga didefinisikan sebagai perilaku negatif yang biasanya dilakukan berulang kali dan dengan sengaja untuk menyakiti atau tidak menyenangkan oleh satu orang atau lebih terhadap seseorang yang memiliki kesulitan untuk membela dirinya sendiri (Olweus, dalam Smith, Cowie, Olafsson, Liefooghe, 2002). Menurut Olweus, ada tiga unsur penting dari perilaku bullying, yaitu perilaku yang dilakukan bersifat

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 agresif dan dengan sengaja menyakiti orang lain; tindakan dilakukan berulang-ulang dari waktu ke waktu; dan adanya ketidakseimbangan kekuasaan atau kekuatan (Olweus, dalam Smith, Cowie, Olafsson, Liefooghe, 2002). Menurut Dracic (2009), bullying merupakan bentuk kekerasan yang bertujuan untuk membahayakan atau membuat orang lain menderita dan merasa tidak nyaman secara fisik maupun emosional. Pelaku bullying melakukan kekerasan ini tanpa mempedulikan tempat terjadinya, keparahan, dan durasi. Perilaku ini terjadi berulang kali dalam bentuk yang sama dan adanya hubungan kekuasaan atau kekuatan yang tidak sama antara individu atau kelompok yang kuat melawan individu atau kelompok yang lemah. Berdasarkan definisi-definisi bullying dari beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan perilaku yang bersifat agresif yang terjadi secara berulang-ulang dengan adanya ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasan yang bertujuan untuk membuat orang merasa tidak nyaman atau berbahaya baik secara fisik maupun emosional.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 2. Komponen Perilaku Bullying Menurut Olweus (dalam Hymel dan Napolitano, 2008), perilaku bullying mengandung tiga unsur mendasar, yaitu: a. Bersifat menyerang dan negatif (Intentional act). Tindakan negatif dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan ketidaknyamanan atau cedera pada korban. Tindakan negatif ini dapat dilakukan secara fisik, verbal, atau cara lain, seperti membuat wajah atau gerakan tubuh yang menghina. b. Dilakukan secara berulang (Repeatedly). Pada umumnya, bullying bukan merupakan suatu tindakan yang terjadi secara acak atau terjadi pada satu insiden. Bullying melibatkan adanya seorang individu yang dipilih berulang kali oleh individu lainnya atau berulang kali menjadi target pelecehan dari kelompok individu. Hal ini merupakan sifat berulang (repeated) dari bullying yang menyebabkan kecemasan dan ketakutan pada korban. c. Adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban (Imbalance Power). Perkelahian yang terjadi diantara dua orang yang memiliki kekuatan yang sama itu tidak dapat dikatakan sebagai bullying. Bullying merupakan perkelahian yang tidak adil antara pelaku dan korban. Pelaku bullying memiliki kekuatan yang lebih daripada korban, sedangkan individu yang mendapatkan tindakan negatif (korban bullying) ini memiliki kesulitan untuk membela dirinya.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 3. Bentuk-Bentuk Bullying Bullying terjadi tanpa ada provokasi dan dilakukan secara sengaja untuk menyakiti orang lain. Dracic (2009), mengelompokkan perilaku bullying dalam enam bentuk, yaitu: a. Bullying verbal antara lain mengejek, memberi julukan, menyindir, memaki, menyoraki, memfitnah, memberi ancaman, penghinaan ras. b. Bullying fisik antara lain menjegal, menghukum dengan berlari keliling lapangan, menampar, melempar sesuatu ke arah korban. c. Bullying sosial antara lain menyebarkan rumor dan kebohongan, menggosip, pengucilan sosial, penghinaan. d. Bullying psikologis, contoh memandang yang mengancam atau mengintimidasi. e. Bullying seksual, contoh dari bullying seksual, ialah touching. f. Bullying melalui media elektronik atau cyberbullyingantara lain mengirim pesan singkat atau email yang berisi ancaman. Menurut Dracic (2009), perilaku bullying dapat terjadi baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Maka dari itu, ada beberapa perilaku bullying yang sulit untuk diidentifikasi dan adapula yang dapat dideteksi dan diidentifikasi dengan cepat antara pelaku dan korban. Bullying fisik merupakan bentuk perilaku bullying yang dapat dengan cepat dideteksi dan diidentifikasi antara pelaku dan korban, sedangkan

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 bentuk perilaku bullying yang sulit untuk diidentifikasi ialah seperti perilaku bullying verbal, psikologis, dan sosial. 4. Dampak Perilaku Bullying Bagi Pelaku Bullying Bullying ini memiliki dampak bagi pelaku bullying. Remaja yang terlibat dalam bullying (sebagai pelaku bullying) berisiko memiliki kehidupan yang negatif di kemudian hari. Remaja yang menjadi pelaku bullying lebih mungkin untuk terlibat dalam perilaku antisosial dalam jangka panjang, seperti vandalism, shoplifting, skipping dan dikeluarkan dari sekolah, perkelahian, menggunakan obat-obatan dan alcohol (Ericson, 2001; Bender & Losel, 2011). Pelaku bullying juga dapat terlibat dalam perilaku kriminal pada usia dewasanya (Olweus, dalam Ericson 2001; Lawrence & Adams, 2006), pelaku juga memiliki pekerjaan yang tingkatnya lebih rendah dari kemampuan yang dimiliki, bertindak kasar terhadap istri, dan menggunakan hukuman yang keras terhadap anakanaknya (Lawrence & Adams, 2006). Penelitian yang dilakukan oleh National Institute of Child Health and Human Development (NICDH) dalam Ericson (2001) menemukan bahwa remaja yang menjadi pelaku bullying berisiko mengalami kesepian, kesulitan dalam berteman, dan tidak sukses di sekolah.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 5. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Bullying Remaja melakukan tindakan bullying karena beberapa alasan. Faktor-faktor yang berkaitan dengan individu, keluarga, teman sebaya, sekolah dan komunitas memiliki risiko bagi remaja untuk melakukan tindakan bullying terhadap teman sebayanya. Berikut akan dijelaskan faktor-faktor berisiko bagi remaja untuk terlibat sebagai pelaku bullying. a. Individu Remaja yang cenderung impulsif, memiliki kepribadian yang dominan, mudah frustrasi, memiliki kesulitan untuk mematuhi aturan, serta melihat kekerasan sebagai hal yang positif, serta memiliki simpati yang rendah terhadap orang lain berpotensi melakukan tindakan bullying terhadap teman sebayanya (Olweus & Solberg, tanpa tahun). b. Keluarga. Keluarga memiliki peran penting bagi perkembangan anakanaknya. Gordon (1962) mengemukakan bahwa peranan keluarga bagi anak-anaknya antara lain memberikan afeksi kepada anak-anaknya yang sedang tumbuh supaya dapat meningkatkan kualitas dirinya lebih baik karena adanya perasaan hangat, nyaman, dicintai, dan diterima dalam keluarga. Selain itu, keluarga menjadi agen kebudayaan. Maksudnya ialah orang tua menyampaikan informasi kepada anakanaknya mengenai perilaku dan keyakinan yang sesuai agar anak-anak dapat tumbuh keluar rumah dengan baik dan mengetahui cara untuk bertingkah laku ketika berhadapan dengan orang lain di luar rumah.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 Di sini, peran komunikasi dalam keluarga sangat penting karena antara satu anggota keluarga dengan anggota lainnya pasti akan selalu saling berinteraksi, saling berbagi cerita mengenai hal apapun (Hybels & Weaver, 2004). Komunikasi dalam keluarga ini bersifat transaksional dimana setiap anggota keluarga memiliki hubungan dengan anggota keluarga lainnya sehingga hubungan tersebut mempengaruhi keluarga secara keseluruhan (Noller, Fitz, & Patrick, dalam Hybels & Weaver, 2004). Orang tua merupakan sumber utama yang paling berpengaruh pada komunikasi di dalam keluarga. Komunikasi dengan orang tua dapat mempengaruhi konsep diri anak karena pesan-pesan yang disampaikan oleh orang tua dapat menjadi sebuah “script” bagi anak untuk belajar mengenal kemudian melakukannya (James & Jongeward, dalam Zeuschner, 1992). Setiap pesan yang disampaikan orang tua terhadap anaknya seperti harapan-harapan terhadap anak, membuat anak berasumsi bahwa harapan orang tua merupakan bagian dari konsep dirinya (Zeuschner, 1992). Hasil penelitian mengenai komunikasi antara orang tua dan remaja yang dilakukan oleh Sillars, Koerner, & Fitzpatrick, 2005) menunjukkan bahwa keluarga yang mendorong adanya sebuah pertukaran yang terbuka mengenai ide-ide dan perasaan-perasaannya akan meningkatkan pemahaman dan penyesuaian terhadap perubahan remaja. Pemahaman orang tua terhadap anaknya mengenai hal tertentu

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 menggambarkan karakteristik keluarga secara luas. Misal, pemahaman ayah terhadap anaknya memprediksi pemahaman anggota keluarga lain terhadap anggota keluarga yang lainnya. Keterbukaan pada komunikasi memiliki hubungan positif dengan pemahaman orang tua, sedangkan orang tua yang menekan dan mencela komunikasi anak memiliki hubungan negatif dengan pemahaman orang tua. Sensitivitas orang tua terhadap persepsi diri anak dapat meningkatkan hubungan yang kuat antara orang tua dan anak dan memfasilitasi penerimaan diri anak. Anak yang memiliki harga diri yang tinggi dan hubungan yang kuat dengan orang tua juga membuat diri mereka lebih terbuka kepada orang tua mereka. Hasil penelitian lain mengenai komunikasi yang dilakukan oleh Caughlin & Malis (2004) menunjukkan bahwa antara orang tua dan remaja yang sedang terlibat dalam suatu topik pembicaraan mengenai suatu masalah penting dapat menunjukkan pola komunikasi dimana salah seorang menggerutu atau mengkritik seorang lainnya atau menolak membicarakan sesuatu, dapat membuat remaja memiliki tingkat penggunaan alkohol dan obatan-obatan yang tinggi serta memiliki harga diri yang rendah. Dengan demikian peran keluarga sangat penting bagi perkembangan anak-anaknya ke arah yang positif atau negatif. Ketika keluarga kurang memberikan kasih sayang atau kehangatan bagi anak dan orang tua kurang terlibat dalam kehidupan anak; sikap orang tua

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 yang keras, serta berasal dari keluarga yang sering memberikan hukuman secara fisik kepada dirinya dan diajarkan untuk menyerang balik secara fisik sebagai cara untuk mengatasi masalah (Batsche, Knoff, & Olweus, dalam Banks, 1997; Pearce & Thompson, 1998); pola asuh orang tua yang permisif; keluarga yang kurang memberikan kasih sayang atau kehangatan bagi anak-anak, dan kurang terlibat dalam kehidupan anak (Batsche, Knoff, & Olweus, dalam Banks, 1997; Pearce & Thompson, 1998; Dracic, 2009) dapat mempengaruhi remaja untuk terlibat menjadi pelaku bullying. Hal serupa dikemukakan oleh Kartono (2006) bahwa sikap hidup, tradisi, kebiasaan dan filsafat hidup keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan sikap dan tingkah laku remaja sehingga ketika orang tua menunjukkan perilaku yang menyimpang maka remaja akan mengadopsi sikap dan tingkah laku orang tua tersebut dengan terlibat dalam kenakalan remaja, seperti melakukan tindakan bullying. Selain itu, remaja yang kurang mendapatkan kasih sayang, perhatian, kebutuhan fisik dan psikisnya tidak terpenuhi di dalam keluarga, serta tidak mendapatkan ajaran dari orang tua untuk hidup dengan baik sesuai dengan norma akan membuat anak terlibat dalam kenakalan remaja, seperti tindakan bullying. Hal ini disebabkan karena remaja merasa bingung, risau, sedih, malu, diliputi rasa dendam benci terhadap orang tua, serta merasa tidak aman dan nyaman berada di dalam keluarga sehingga membuat remaja mencari sumber

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 kesenangan di luar lingkup keluarga dengan melakukan tindakantindakan yang agresif, seperti menteror, mengancam, mengintimidasi, serta memeras temannya atau dengan kata lain melakukan bullying. Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian orang tua. Penelitian yang dilakukan oleh Sahin & Sari (2010) juga menunjukkan pentingnya rasa dicintai, disayangi, dan dihargai oleh orang tua dalam perkembangan fisik dan psikologis remaja. Orang tua yang bersikap negatif terhadap remaja membuat remaja merasa tidak diterima dan dihargai oleh orang tua sehingga cenderung membuat remaja mengembangkan perilaku bullying. Tindakan ini dilakukan oleh remaja supaya tampak dominan, dihargai oleh teman-teman sebayanya, dan menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya. c. Teman Sebaya Pelajar yang terlibat bullying di sekolah disebabkan karena pelajar memiliki teman-teman yang memiliki sikap positif terhadap kekerasan dan juga cenderung melakukan bullying terhadap orang lain (Olweus, Limber, & Mihalic, dalam Fleming & Towey, 2002). d. Sekolah. Sekolah juga dapat mengembangkan terjadinya bullying jika kurangnya pemantauan dari orang dewasa (khususnya selama istirahat sekolah) dan guru, karyawan-karyawan di sekolah lainnya, dan siswasiswa yang memiliki sikap acuh tak acuh atau menerima bullying (Olweus, Limber, & Milhalic, dalam Fleming & Towey, 2002).

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 C. KOMUNIKASI INTERPERSONAL 1. Pengertian Komunikasi Interpersonal Manusia adalah mahkluk sosial yang dalam kehidupannya membutuhkan interaksi antara satu dengan yang lainnya. Interaksi yang terjadi biasanya antara dua orang atau beberapa orang secara tatap muka, dimana pengirim pesan dapat menyampaikan pesan secara langsung, begitu pula dengan penerima pesan dapat menerima dan menanggapi pesan secara langsung, dan dilakukan secara lisan dalam bentuk verbal disertai dengan ungkapan non verbal (Hardjana, 2003). Hybels & Weaver (2004) mendefinisikan komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang terjadi antara dua orang dalam lingkup informal atau tidak terstruktur dan menggunakan seluruh elemen komunikasi, dimana pesan yang disampaikan mengandung lambang verbal dan nonverbal melalui saluran komunikasi berupa penglihatan dan suara. Giffin & Patton (1976) mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai interaksi tatap muka (face-to-face) antara orang-orang yang secara konsisten sadar akan satu dengan yang lainnya atau masing-masing pihak yang terlibat. Webb & Hayes (dalam Beebe, Beebe, & Redmond, 2009) mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai interaksi yang terjadi diantara dua orang melibatkan adanya proses komunikasi. Proses komunikasi ini merupakan proses penyampaian pesan oleh orang

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 laindengan berbagai dampak dan dengan kesempatan untuk memberikan umpan balik segera. Barker & Daud (2001) mengemukakan bahwa komunikasi interpersonal melibatkan adanya hubungan diadik atau terdapat dua orang dalam hubungan dekat. Individu yang terlibat dalam hubungan ini memiliki peran yang saling bergantian, terkadang mengirim pesan pada individu lainnya dan di waktu lainnya merespon individu yang mengirim pesan. Komunikasi interpersonal dalam hubungan diadik ini fokus pada berbagi makna yang berasal dari pengalaman dan observasi pribadi. Selain itu, ahli teori komunikasi lainnya juga ada yang mendefinisikan komunikasi interpersonal berdasarkan pengembangan (developmental). Komunikasi yang dilakukan oleh antar individu berada pada rentang kontinum dari komunikasi impersonal hingga komunikasi interpersonal yang ditandai dan dibedakan berdasarkan prediksidata psikologis. Maksudnya ialah individu menangkap harapan, pikiran, dan perasaan individu lainnya. Individu yang terlibat dalam komunikasi menganggap orang lain sebagai pribadi, yang unik atau autentik, bukan sebagai objek. Sedangkan, dalam komunikasi impersonal, individu menganggap orang lain sebagai objek atau merespon orang lain berdasarkan peran mereka bukan sebagai pribadi yang unik (Buber, dalam Beebe, dkk, 2009). Komunikasi interpersonal juga berdasarkan pada pengetahuan yang menjelaskan (explanatory knowledge). Maksud dari hal ini ialah ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kita dapat menduga

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 bagaimana orang tersebut akan bertindak dan kita juga dapat memberikan penjelasan mengenai perilaku tersebut. Di samping itu pula, komunikasi interpersonal ditetapkan aturan-aturan yang ditetapkan bersama (antar pribadi) bukan berdasarkan norma-norma sosial (Miler, dalam De Vito, 2011). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal merupakan interaksi yang dilakukan secara lisan dan secara tatap muka antara dua orang untuk saling menyampaikan dan menerima pesan dengan segera dalam bentuk verbal maupun non verbal. Komunikasi yang terjalin ini bukan berdasarkan atas peran masing-masing pihak dan norma sosial yang ada tetapi pada sikap masing-masing pihak yang saling menghargai keunikan pribadi untuk berbagi makna pesan dan emosi sehingga memberikan dampak mutual bagi kedua belah pihak. 2. Motif Individu Melakukan Komunikasi Tiap individu memiliki berbagai macam kebutuhan yang perlu dipenuhi. Individu mencoba untuk memenuhi salah satu atau lebih kebutuhan dalam diri melalui komunikasi. Adler & Towne (1989) mengemukakan alasan yang mendorong individu untuk melakukan komunikasi interpersonal yaitu supaya kebutuhan-kebutuhan yang ada di dalam diri tiap individu dapat terpenuhi. Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain yaitu:

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 a. Kebutuhan fisik. Komunikasi interpersonal sangat penting bagi tiap individu karena ada atau tidak adanya komunikasi dalam hidup itu sangat mempengaruhi kesehatan fisik individu. Yang paling penting bukan seberapa banyak telah melakukan komunikasi (kuantitas) tetapi lebih pada kualitas dari komunikasi yang dilakukan. Jadi, komunikasi interpersonal sangat penting bagi kesejahteraan (well being) individu. b. Kebutuhan identitas. Berkomunikasi dengan orang lain dapat membantu individu untuk mengembangkan perasaan identitas diri karena melalui interaksi dengan orang lain membantu dalam mendefinisikan siapa diri kita. c. Kebutuhan sosial. Berkomunikasi merupakan cara kita untuk berelasi secara sosial dengan orang lain sehingga dapat memenuhi kebutuhan sosial kita. Schutz (dalam Adler & Towne, 1989) mengemukakan ada tiga kebutuhan sosial yang dapat terpenuhi melalui komunikasi interpersonal, yaitu kebutuhan individu akan perasaan terlibat dalam suatu hubungan atau relasi dengan orang lain (kebutuhan inklusi); keinginan atau hasrat individu untuk mempengaruhi orang lain (kebutuhan kontrol); kebutuhan akan penghargaan atau respect dari orang lain (kebutuhan afeksi). Apabila kebutuhan sosial ini dapat terpenuhi maka akan menumbuhkan atau meningkatkan hubungan antarpribadi menjadi lebih baik (Tubbs & Moss, dalam Rakhmat, 2008).

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 d. Kebutuhan praktikal. Komunikasi merupakan sarana bagi individu untuk memberitahu sesuatu yang menjadi keinginan individu kepada orang lain dan merupakan metode yang digunakan untuk meyakinkan atau membujuk orang lain. Ketidakmampuan individu untuk mengekspresikan diri secara jelas dan efektif dapat menghalangi individu dalam mencapai tujuannya. 3. Fungsi dan Peran Komunikasi Interpersonal Dance & Larson (dalam Barker & Gaut, 2001) mengemukakan fungsi dari komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh individu. Pertama, komunikasi interpersonal menyediakan fungsi hubungan (linking function) antara seseorang dengan lingkungannya. Seseorang menjadi lebih mampu untuk memahami dunia dengan lebih baik melalui komunikasi interpersonal. Kedua, komunikasi interpersonal interpersonal mengijinkan seseorang untuk mengonseptualisasikan, mengingat, dan merencanakan (mentation function) supaya seseorang dapat berpikir dan mengevaluasi secara lebih efektif. Ketiga, komunikasi interpersonal membantu untuk mengatur perilaku kita dan orang lain (regulatory function). Terkait dengan fungsi-fungsi tersebut, Johnson (dalam Supratiknya, 1995) mengemukakan komunikasi interpersonal memiliki peranan yang penting bagi hidup manusia, yaitu antara lain:

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 i. Komunikasi interpersonal membantu perkembangan intelektual dan sosial. Perkembangan intelektual dan sosial seseorang ditentukan oleh kualitas komunikasi seseorang dengan yang lainnya. ii. Komunikasi interpersonal membantu membentuk identitas dan jati diri. Seseorang menjadi tahu tanggapan yang diberikan orang lain terhadap dirinya dan pandangan orang lain mengenai dirinya melalui komunikasi sehingga seseorang dapat mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. iii. Komunikasi interpersonal membantu dalam pembandingan sosial. Pembandingan sosial dilakukan oleh seseorang untuk dapat lebih memahami realitas yang ada disekelilingnya dan menguji kebenaran kesan dan pengertian yang dimiliki mengenai dunia sekitar dengan membandingkannya dengan kesan dan pengertian dari orang lain mengenai realitas yang sama. iv. Komunikasi interpersonal mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Adanya konfirmasi atau pengakuan yang berupa tanggapan dari orang lain bahwa diri kita normal, sehat, dan berharga membuat diri kita merasa bahagia. Sedangkan, diskonfirmasi atau penolakan dari orang lain yang berupa tanggapan bahwa diri kita abnormal, tidak sehat, dan tidak berharga maka membuat kita tidak bahagia.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 4. Hambatan dalam Komunikasi Interpersonal Komunikasi memang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari bagi individu untuk menjalin relasi dengan individu lainnya, tetapi adakalanya individu mengalami hambatan dalam komunikasi. Hambatan dalam komunikasi ini dapat membatasi keefektifan interaksi individu (Giffin & Patton, 1976). Masalah utama dalam komunikasi interpersonal adalah ketidakpercayaan, yang merupakan salah satu bentuk perilaku defensif antarpribadi. Penyebab seorang individu melakukan perilaku defensif karena salah satu kebutuhan antarpribadi tidak terpenuhi. Setiap individu membutuhkan timbal balik yang mendukung (suportif) dari orang lain untuk memperoleh dan mempertahankan gambaran diri yang baik (Giffin & Patton, 1976). Kemudian ketika individu merasa gambaran dirinya terancam oleh individu lain maka individu tersebut akan berusaha untuk melindungi gambaran dirinya yaitu dengan cara bersikap defensif (Adler, & Towne, 1989). Ada tiga cara mekanisme defensif yang dapat dilakukan oleh individu untuk tidak menyetujui pendapat (isi pesan) dari individu lain yang dapat mengancam gambaran dirinya (Adler & Towne, 1989) ialah: a. Menyerang pengkritik/pengecam (attacking the critic). Menyerang balik merupakan salah satu sikap defensif yang paling baik. Ada beberapa bentuk penyerangan balik ini, yaitu:

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 a.1) Agresi verbal. Individu akan menggunakan agresi verbal secara langsung untuk menyerang kritik yang diperolehnya. Respons semacam ini mengalihkan kesalahan atas kritik yang diperolehnya, dengan tanpa mengakui bahwa mungkin penilaian dari orang lain itu benar. a.2) Sarkasme. Menyamarkan penyerangan balik dalam bentuk pesan yang menusuk hati atau lucu. Pesan ini merupakan bentuk agresi secara tidak langsung. b. Mendistorsi informasi penting (distorting critical information). Cara mempertahankan gambaran diri saat merasa gambaran dirinya diserang ialah dengan mendistorsi informasi supaya dapat menyajikan gambaran dirinya secara utuh. b.1). Rasionalisasi. Menciptakan informasi yang masuk akal tetapi merupakan penjelasan yang tidak benar untuk perilaku yang tidak diinginkan. b.2).Kompensasi. Cara individu untuk menutupi kekurangannya dengan menggunakan kekuatannya. b.3). Regresi. Menghadapi serangan dengan cara menghindar, yaitu dengan memainkan peran bahwa dirinya tidak berdaya. Ketidakberdayaan ini dilakukan hanya karena individu tidak mau melakukan sesuatu sehingga individu berpura-pura menunjukkan bahwa dirinya tidak dapat melakukan sesuatu (tidak berdaya).

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 c. Menghindari informasi yang tidak selaras (avoiding dissonant information). Cara ketiga untuk melindungi gambaran diri dari ancaman ialah dengan menghindari informasi yang tidak selaras dengan gambaran dirinya sama sekali. c.1) Menghindar secara fisik. c.2) Represi. Individu memblokir atau menekan informasi yang tidak selaras dengan dirinya. Misalnya ketika dikritik, individu akan berpura-pura tidak mendengar kritik tersebut. c.3) Apati. Individu mengetahui informasi yang tidak menyenangkan bagi dirinya tetapi dirinya berpura-pura tidak peduli dengan informasi tersebut. c.4) Displacement. Individu melepaskan perasaan benci dan agresifnya kepada objek atau individu lain yang dianggap lebih tidak berbahaya daripada individu yang yang mengancam gambaran dirinya. Ada beberapa hal yang menimbulkan reaksi defensif dari seorang individu (yang menerima pesan) terhadap individu lainnya (yang memberi pesan) karena dalam berkomunikasi individu menyampaikan pesan dengan menunjukkan beberapa perilaku, yang Gibb (dalam Adler & Towne, 1989) sebut dengan gaya defensif berkomunikasi. Perilaku-perilaku yang memicu reaksi defensif dalam berkomunikasi tersebut antara lain:

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 a. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi (evaluation) memicu reaksi defensif pada individu yang menerima pesan. Hampir sebagian besar individu akan merasa jengkel saat menerima sebuah pernyataan yang mengandung pesan menghakimi karena pernyataan tersebut diinterpretasikan oleh individu sebagai tanda kurang adanya penghargaan dari orang lain. b. Superioritas (Superiority) Superioritas (superiority) menghasilkan suasana komunikasi yang defensif. Adanya superioritas dalam proses penyampaian pesan dapat menghambat individu yang menerima pesan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya karena hal itu mengalihkan energinya jauh dari pertumbuhan yang positif ke arah pembelaan diri yang negatif (negative defensiveness). c. Kontrol (Control) Pesan yang disampaikan akan menimbulkan sikap defensif pada individu yang menerima pesan ketika pengirim pesan tampak memaksakan sebuah solusi kepada penerima pesan dengan hanya sedikit menghargai kebutuhan atau minat penerima pesan. Tidak ada satu individu pun yang menyukai jika idenya dianggap tidak berguna. d. Strategi (Strategy) Komunikasi yang menggunakan strategi akan menciptakan suasana komunikasi yang buruk. Salah satu cara yang paling pasti untuk membuat individu yang menerima pesan bersikap defensif ialah

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 dengan mencoba memanipulasi individu yang menerima pesan untuk melakukan sesuatu bagi dirinya. Tidak hanya meminta individu yang menerima pesan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh seorang individu yang memberi pesan tetapi juga memperdayakan individu yang menerima pesan sehingga dapat menumbuhkan rasa ketidakpercayaan dalam sebuah hubungan. e. Netral (Neutrality) Sikap netral merupakan disconfirming message (pesan yang tidak menghargai orang lain) karena ini menunjukkan individu menyampaikan kurangnya perhatian pada kesejahteraan individu lain dan menyiratkan bahwa individu lain tidak sangat penting bagi dirinya. Jika kita mendapat respons netral dari individu lain terhadap kita, maka kita akan merasa bahwa individu lain tersebut merupakan sesosok yang dingin, tidak perhatian, dan tidak ada perasaan atau penghargaan (apresiasi) bagi kita. Sikap netral atau ketidakacuhan merupakan respon dalam komunikasi yang paling buruk karena menandakan tidak ada kesempatan untuk berbagi perasaan atau pandangan. f. Kepastian (Certainty) Kepastian (certainty) dalam komunikasi menciptakan suasana hubungan yang defensif. Kepastian menyediakan sedikit atau bahkan tidak menyediakan ruang bagi pertukaran terbuka atau bagi sebuah alternatif dari pemikiran lain. Individu tersebut selalu pasti dengan

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 pendapat, ide, rasa, saran, dan tuntutannya. Individu yang menunjukkan kepastian dalam komunikasi sering menolak untuk mengakui kesalahannya, menyalahkan orang lain, dan menolak individu lain. 5. Aspek-Aspek Komunikasi Interpersonal yang Efektif Tujuan penting dalam komunikasi yang efektif ialah mengurangi perilaku defensif dan meningkatkan rasa kepercayaan antarpribadi (Giffin & Patton, 1976). Supratiknya (1995) mengemukakan bahwa komunikasi dikatakan efektif apabila penerima pesan mampu menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim pesan. Cara penerima menangkap makna pesan sesuai atau berbeda dari yang dimaksud oleh pengirim pesan ini terkait dengan ketepatan pengirim mengkomunikasikan maksudnya (Supratiknya, 1995). Menurut De Vito (2011), komunikasi interpersonal yang efektif menekankan pada adanya lima kualitas sebagai berikut: a. Keterbukaan (Openness) Dalam komunikasi interpersonal diperlukan adanya keterbukaan dari komunikator (individu yang menyampaikan pesan) supaya komunikasi berlangsung secara efektif. Keterbukaan yang dimaksud ialah bahwa komunikator bersedia untuk mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan dan juga mengakui keberadaan perasaan serta pikiran untuk disampaikan kepada komunikate (individu yang

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 menerima pesan). Selain itu, komunikator juga bersedia untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang dengan cara bereaksi secara spontan terhadap komunikate. Pembukaan diri merupakan dasar bagi hubungan yang sehat diantara dua individu. Semakin individu bersikap terbuka terhadap yang lain maka semakin membuat individu lain akan turut serta membuka dirinya. Individu yang rela membuka diri cenderung memiliki sifat-sifat yang mencirikan individu yang masak dan bahagia, seperti kompeten, fleksibel, adaptif, dan inteligen (Johnson, dalam Supratiknya, 1995). b. Empati (Empathy) Empati merupakan kemampuan individu untuk dapat merasakan sesuatu yang sedang dirasakan atau dialami oleh orang lain, dari sudut pandang orang lain dan melalui kacamata orang lain tersebut (Backrack, dalam De Vito, 2011). Berempati diperlukan adanya kepekaan terhadap perasaan yang hadir dan mampu untuk mengkomunikasikan pengertian dari perasaan tersebut baik secara verbal maupun non verbal. Seseorang yang dapat berempati lebih mampu untuk menyesuaikan komunikasinya, seperti menyesuaikan apa yang hendak dikatakan dan bagaimana cara untuk mengatakannya (De Vito, 2011). c. Sikap mendukung (Supportiveness). Dalam berkomunikasi interpersonal perlu ditunjang dengan adanya sikap yang mendukung. Sikap yang mendukung ini dapat mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Ketika individu bersikap defensif

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 maka komunikasi interpersonal tidak tercipta dengan baik karena individu banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapi dalam situasi komunikasi daripada memahami perasaan orang lain (Rakhmat,2008). Sikap yang mendukung ini dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu, bersikap deskriptif, spontanitas, dan provisionalisme. Maksud dari bersikap deskriptif adalah komunikator menyampaikan perasaan dan persepsi tanpa menilai. Selain itu, komunikator juga sebaiknya bersikap spontan, yaitu dengan bersikap jujur dan tidak menutupi motif yang terpendam. Di samping itu juga, penting untuk bersikap provisionalisme yang maksudnya ialah berpikiran terbuka dan bersedia untuk meninjau kembali pendapat yang telah diungkapkan dan mendengar pandangan yang berlawanan, serta bersedia untuk mengubah sikap dan pendapat jika memang diperlukan (Gribb, dalam De Vito, 2011; & Grib, dalam Rakhmat, 2008). d. Sikap Positif (Positiveness) Dalam komunikasi interpersonal juga perlu terciptanya sikap positif. Jika setiap individu yang terlibat dalam komunikasi memiliki sikap yang positif pada dirinya sendiri maka mereka akan mengkomunikasikan perasaan positifnya ini kepada pihak lain, selanjutnya pihak lain akan merefleksikan perasaan positif tersebut. Dengan demikian, perasaan positif ini penting dalam komunikasi interpersonal agar komunikasi tidak segera terputus. Selain itu, sikap

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 positif ini ditunjukkan dengan perilaku menghargai keberadaan dan pentingnya orang lain, baik secara verbal maupun nonverbal. Dorongan yang positif ini dapat membuat individu yang terlibat merasa lebih baik. e. Kesetaraan (Equality) Komunikasi interpersonal dapat berlangsung secara efektif apabila individu yang terlibat dalam komunikasi menciptakan suasanakesetaraan. Dalam berkomunikasi, individu memperlakukan orang lain secara horizontal (tidak menganggap pihak lain memiliki tingkat yang lebih rendah atau lebih tinggi) dan demokratis. Hal ini menunjukkan kedua pihak yang terlibat dalam komunikasi saling menganggap bahwa individu yang sedang berkomunikasi dengannya sama-sama bernilai dan berharga seperti dirinya. D. Dinamika Hubungan Antara Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua dan Kecenderungan Perilaku Bullying Pada Remaja Awal Setiap anak akan terus tumbuh dan berkembang termasuk akan melewati masa remaja. Masa remaja merupakan masa transisi dari kanakkanak menuju kedewasaan (Papalia, Olds, dan Feldman, 2008). Ketika memasuki masa remaja, remaja mulai mengalami berbagai macam perubahan. Perubahan-perubahan ini terkait dengan perubahan secara fisik, kognitif, dan psikososial yang saling berkaitan (Papalia, Olds, dan Feldman, 2008).

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Periode transisi ini memiliki risiko karena beberapa remaja mengalami masalah dalam menghadapi perubahan yang terjadi secara bersamaan ini dan membutuhkan bantuan dalam mengatasi bahaya saat menjalani masa ini (Papalia, Olds, dan Feldman, 2008). Remaja masih membutuhkan pendampingan dari orang tua. Peran orang tua masih sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai sumber utama dalam memperoleh dukungan sosial dan emosional (Steinberg, dalam Bukatko, 2008). Seperti yang dikemukakan oleh Gordon (1962) bahwa keluarga berperan dalam memberikan afeksi kepada anak-anaknya yang sedang tumbuh supaya anak-anaknya dapat meningkatkan kualitas dirinya lebih baik dengan adanya perasaan hangat, nyaman, dicintai, dan diterima dalam keluarga. Selain itu, keluarga menjadi agen kebudayaan. Maksudnya ialah orang tua menyampaikan informasi kepada anak-anaknya mengenai perilaku dan keyakinan yang sesuai agar anak-anak dapat tumbuh keluar rumah dengan baik dan mengetahui cara untuk bertingkah laku ketika berhadapan dengan orang lain di luar rumah. Pada proses penyampaian informasi dan afeksi diantara remaja dan orang tua tidak terlepas dari yang namanya komunikasi. Hybels & Weaver (2004) mengemukakan bahwa komunikasi merupakan sebuah proses untuk berbagi informasi, ide, dan perasaan yang dilakukan secara verbal maupun nonverbal. Oleh karena itu, penting terjalinnya komunikasi antara remaja dengan orang tua. Hal ini dikarenakan komunikasi yang terjalin antara remaja dengan orang tua dapat memberikan kontribusi baik bagi perkembangan mental yang sehat bagi remaja (Sadarjoen, 2005). Di samping itu pula,

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 komunikasi dengan orang tua dapat membantu perkembangan intelektual dan sosial remaja (Johnson, dalam Supratiknya, 1995). Johnson (dalam Supratiknya, 1995) mengemukakan bahwa perkembangan intelektual dan sosial seseorang ditentukan oleh kualitas komunikasi seseorang dengan yang lainnya. Kualitas komunikasi ini melibatkan adanya keterbukaan, empati, sikap mendukung (deskriptif, spontanitas, provisionalisme), sikap positif, dan kesetaraan sehingga komunikasi dapat berlangsung secara efektif (De Vito, 2011). Komunikasi dikatakan efektif apabila penerima pesan mampu menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim pesan (Supratiknya, 1995). Pesan yang disampaikan dan diterima dalam suasana yang hangat, mendukung, respect, dan empati membantu individu untuk mengkomunikasikan afeksi kepada orang lain dan membantu terpenuhinya kebutuhan afeksi pada masing-masing individu (Schutz, dalam Zeuschner, 1992). Dengan demikian, kebutuhan afeksi yang dibutuhkan remaja dapat terpenuhi sehingga dapat membantu perkembangan remaja ke arah yang positif. Adanya perasaan nyaman, hangat, dicintai, dan diterima dari orang tua membantu remaja untuk dapat meningkatkan kualitas dirinya (Gordon, 1962). Komunikasi yang berlangsung dalam suasana yang mendukung seperti bersikap deskriptif bukan menilai, spontan, dan provisional bukan keyakinan yang tergoyahkan dapat mendorong individu untuk saling terbuka (Gibb,

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 dalam De Vito, 2011). Terbuka berarti bersedia untuk menyampaikan informasi yang biasanya disembunyikan oleh diri sendiri untuk dibagikan kepada orang lain dan bereaksi secara jujur terhadap reaksi dan tanggapan orang lain (De Vito, 2011). Adanya keterbukaan diantara remaja dan orang tua itu sangat penting karena menguntungkan kedua belah pihak. Keterbukaan antara remaja dan orang tua membuat orang tua menjadi mengetahui dan memahami apa yang di pikirkan dan dilakukan oleh anak remajanya dalam dunia remajanya. Dengan demikian,orang tua tidak perlu takut dan cemas lagi dengan anak remajanya. Dan sebaliknya, remaja menjadi dapat memahami apa yang dipikirkan dan dikatakan oleh orang tuanya bagi dirinya (Joseph & Bird, 1972). Dengan demikian, hubungan diantara remaja dan orang tua semakin baik (Johnson, dalam Supratiknya, 1995). Lain halnya, ketika dalam komunikasi antara remaja dan orang tua tidak melibatkan adanya sikap keterbukaan, empati, sikap mendukung (deskriptif, spontanitas, provisionalisme), sikap positif, dan kesetaraan. Hal ini dapat membuat proses komunikasi menjadi terhambat. Gibb (dalam Adler & Towne, 1989) mengemukakan bahwa jika individu lebih suka bersikap menilai, merasa diri memiliki derajat yang lebih tinggi (superioritas), mengontrol orang lain, strategi, tidak memberikan tanggapan apapun (netral), dan berpegang teguh pada keyakinan yang dimilikinya saat sedang berinteraksi dengan orang lain maka akan menimbulkan reaksi defensif dari lawan komunikasinya. Hal ini disebabkan karena sikap-sikap yang kurang mendukung dalam berkomunikasi membuat pihak lain (penerima pesan)

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 merasa tidak dihargai. Ketika hal ini terjadi dalam interaksi antara remaja dengan orang tua maka dapat membahayakan perkembangan remaja. Hal ini disebabkan karena tidak dihargai memunculkan perasaan tidak dicintai dan tidak layak untuk dicintai yang menimbulkan perasaan tidak nyaman dalam dirinya. Dengan demikian, perilaku bullying ini sebagai usaha untuk menghancurkan orang lain supaya remaja menjadi merasa lebih baik.Penelitian yang dilakukan oleh Sahin & Sari (2010) juga menunjukkan pentingnya rasa dicintai, disayangi, dan dihargai oleh orang tua dalam perkembangan fisik dan psikologis remaja. Orang tua yang bersikap negatif terhadap remaja membuat remaja merasa tidak diterima dan dihargai oleh orang tua sehingga cenderung membuat remaja mengembangkan perilaku bullying. Tindakan ini dilakukan oleh remaja supaya tampak dominan, dihargai oleh teman-teman sebayanya, dan menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya.

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 Gambar 1. Skema Dinamika Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua dan Kecenderungan Perilaku Bullying pada Remaja Awal Remaja Orang Tua Komunikasi Interpersonal Efektif  Hubungan baik dengan orang tua  Kebutuhan afeksi pada remaja terpenuhi Remaja mampu meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik Kecenderungan melakukan bullying rendah Tidak Efektif: Kebutuhan afeksi tidak terpenuhi Bersikap defensif : Displacement Kecenderungan melakukan bullying tinggi E. Hipotesis Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah adanya hubungan antara komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua dan kecenderungan

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 perilaku bullying. Semakin tinggi efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua, semakin rendah kecenderungan remaja untuk melakukan bullying. Sebaliknya, semakin rendah efektivitas komunikasi interpersonal remaja dengan orang tua, semakin tinggi kecenderungan remaja untuk melakukan tindakan bullying.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Jenis penelitian korelasional merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui sejauhmana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lainnya tanpa melakukan suatu intervensi terhadap variabel-variabel yang bersangkutan (Azwar, 2013). Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua dan kecenderungan perilaku bullying pada remaja awal. B. Identifikasi Variabel Penelitian Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini ialah sebagai berikut: 1. Variabel bebas : Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua 2. Variabel tergantung : Kecenderungan Perilaku Bullying 49

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 C. Definisi Operasional Definisi operasional merupakan semacam buku pedoman bagi peneliti yang berisi petunjuk dalam melakukan penelitian. Pada penelitian ini, definisi operasional dari variabel-variabel penelitian ini ialah sebagai berikut: 1. Kecenderungan Perilaku Bullying Kecenderungan perilaku bullying merupakan kecenderungan individu yang memiliki kekuatan/kekuasaan yang lebih kuat untuk bertindak agresif secara sengaja terhadap individu yang memiliki kekuatan/kekuasaan yang lebih lemah dan dilakukan berulang-ulang. Penelitian ini melihat kecenderungan perilaku bullying dari tiga aspek yang dikemukakan oleh Olweus (dalam Hymel dan Napolitano, 2008): a. Bersifat menyerang dan negatif (Intentional Act). Tindakan negatif yang dilakukan dalam bentuk fisik, verbal, nonverbal, atau bentuk lainnya (Dracic, 2009). b. Dilakukan secara berulang (Repeatedly). Tindakan dilakukan berulang kali oleh pelaku bullying. c. Ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban (Imbalance Power). Pelaku bullying memiliki kekuatan yang lebih daripada korban. Kecenderungan perilaku bullying diukur dengan menggunakan skala kecenderungan perilaku bullying.Skala kecenderungan perilaku bullying yang digunakan dalam penelitian ini dibuat oleh peneliti sendiri

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Olweus (dalam Hymel dan Napolitano, 2008). Perolehan skor tinggi pada skala ini mengindikasikan bahwa subjek memiliki kecenderungan perilaku bullying yang tinggi, sebaliknya perolehan skor yang rendah mengindikasikan bahwa subjek memiliki kecenderungan perilaku bullying yang rendah. 2. Komunikasi Interpersonal dengan Orang Tua Efektivitas komunikasi interpersonal merupakan tingkat keefektifan proses penyampaian dan penerimaan pesan dari seseorang kepada orang lain yang memberikan dampak mutual bagi kedua belah pihak yang terlibat sehingga hubungan yang terjalin diantara kedua belah pihak dapat dipertahankan dan ditingkatkan menjadi lebih baik. De Vito (2011) mengungkapkan komunikasi interpersonal yang efektif ini ditandai dengan adanya: a. Keterbukaan : komunikator bersedia mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan untuk diri sendiri dan mengekspresikan pikiran dan perasaannya kepada komunikate. b. Empati : komunikator mampu untuk menempatkan diri untuk merasakan yang sedang dialami/dirasakan oleh orang yang sedang berinteraksi dengannya. c. Sikap mendukung : komunikator menyampaikan pendapat dan perasaannya dengan cara mendeskripsikannya bukan dengan cara menilai, serta memiliki pandangan yang terbuka.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 d. Sikap positif : menghargai keberadaan orang lain baik secara verbal maupun non verbal. e. Kesetaraan : setiap orang memiliki tingkat atau derajat yang sama atau sama-sama bernilai dan berharga sehingga memiliki hak yang sama untuk mengungkapkan pendapat atau perasaannya. Efektivitas komunikasi interpersonal remaja dengan orang tua diukur dengan menggunakan skala komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua. Skala komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua ini dibuat oleh peneliti sendiri berdasarkan teori yang dikemukakan oleh De Vito (2011). Perolehan skor tinggi pada skala ini mengindikasikan bahwa komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua semakin efektif, sebaliknya perolehan skor yang rendah mengindikasikan bahwa komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua semakin tidak efektif. D. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini ialah remaja awal dengan rentang usia 12 sampai dengan 15 tahun di Sekolah Menengah Pertama Katholik (SMPK) Santa Maria, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. Peneliti menggunakan subjek dengan usia remaja awal karena puncak terjadinya bullying yaitu pada masa sekolah menengah pertama dan menurun selama sekolah menengah atas (Banks, 1997).

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Dalam menentukan subjek penelitian, peneliti menggunakkan teknik non probability sampling, khususnya purposive sampling. Purposive sampling merupakan pemilihan subjek yang dipilih dengan sengaja berdasarkan pertimbangan atau kriteria tertentu yang telah ditentukan oleh peneliti supaya sesuai dengan keperluan penelitian (Purwanto & Sulistyastuti, 2007). E. Metode Pengambilan Data Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menyebarkan skala. Skala yang digunakan dalam penelitian ini terdapat dua skala, yaitu: 1. Skala Kecenderungan Perilaku Bullying Skala kecenderungan perilaku bullying dibuat berdasarkan metode skala Likert (Azwar, 2010). Jumlah aitem dalam skala kecenderungan perilaku bullying terdiri dari 58 aitem yang terdiri dari aitem favorable. Tiap aitem berisi tindakan agresif untuk menunjukkan perilaku bullying. Setiap aitem juga dilengkapi dengan empat pilihan jawaban, yakni Sering (SR), Kadang-Kadang (KD), Jarang (JR), dan Tidak Pernah (TP). Peneliti membuat empat alternatif pilihan jawaban tersebut dengan maksud untuk mengetahui frekuensi perilaku negatif yang dilakukan oleh subjek. Jadi, subjek menyatakan frekuensi perilaku negatif yang dilakukan melalui empat alternatif jawaban yang seperti demikian. Pemberian skor dan

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 blueprint skala kecenderungan perilaku bullying dapat dilihat pada tabeltabel berikut ini: Table 1. Pemberian Skor pada Skala Kecenderungan Perilaku Bullying Respon Favorable Sering (SR) 4 Kadang-Kadang (KD) 3 Jarang (JR) 2 Tidak Pernah (TP) 1 Table 2.Blueprint Skala Kecenderungan Perilaku Bullying(Sebelum Uji Coba dan Seleksi Aitem) Komponen Perilaku Perilaku Jumlah Total Bullying Bullying Aitem Favorable Verbal 11 19% Adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban (Imbalance Power) Fisik Sosial 13 12 22% 21% Psikologis 12 21% Seksual 10 17% 58 100%

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 2. Skala Efektivitas Komunikasi Interpersonal Remaja dengan Orang Tua Skala efektivitas komunikasi interpersonal remaja dengan orang tua dibuat berdasarkan metode skala Likert (Azwar, 2010). Jumlah aitem dalam skala efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua terdiri dari 60 aitem yang terdiri dari aitem favorable dan unfavorable. Setiap aitem dilengkapi dengan empat pilihan jawaban, yakni Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Pemberian skor dan blueprint skala efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini: Table 3. Pemberian Skor pada Skala Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua Respon Favorable Unfavorable Sangat Sesuai 4 1 Sesuai 3 2 Tidak Sesuai 2 3 Sangat Tidak Sesuai 1 4 Table 4.Blueprint Skala Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua (Sebelum Uji Coba dan Seleksi Aitem) Aspek Komunikasi Jumlah Aitem Total Interpersonal yang Efektif Favorable Unfavorable Keterbukaan 6 6 12 (20%) Empati 6 6 12 (20%) Sikap Mendukung 6 6 12 (20%) Sikap Positif 6 6 12 (20%) Kesetaraan 6 6 12 (20%) 30 (50%) 30 (50%) 60(100%)

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 F. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Validitas dan Reliabilitas Skala Kecenderungan Perilaku Bullying Validitas merupakan tingkat ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2010). Suatu alat ukur yang mampu menjalankan fungsi ukurnya atau menghasilkan data yang relevan dengan tujuan pengukuran maka dapat dikatakan alat ukur tersebut memiliki validitas tinggi (Azwar, 2009). Pengujian validitas yang digunakan dalam skala ini ialah validitas isi. Validitas isi merupakan proses pengujian isi alat ukur dengan berdasarkan professional judgement (Azwar, 2009). Professional judgement yang diperoleh dalam penelitian ini dilakukan oleh dosen pembimbing. Peneliti melakukan uji coba terhadap skala kecenderungan perilaku bullying untuk mengetahui reliabilitas alat ukur tersebut. Hasil uji coba terhadap 58 aitem menghasilkan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0,925. Batasan korelasi aitem-total yang digunakan peneliti untuk melakukan seleksi aitem pada skala kecenderungan perilaku bullying ini ialah 0,3. Dengan demikian, peneliti membuang aitem-aitem yang memiliki besar koefisien korelasi aitem-total kurang dari 0,3 sehingga diperoleh 49 aitem yang bertahan dan angka koefisien reliabilitas Alpha Cronbach untuk skala kecenderungan perilaku bullying meningkat menjadi 0,929.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Tabel 5. Blueprint Skala Kecenderungan Perilaku Bullying (Setelah Uji Coba dan Seleksi Aitem) Komponen Perilaku Perilaku Jumlah Total Bullying Bullying Aitem Favorable Verbal 11 22% Adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban (Imbalance Power) Fisik Sosial 10 8 20% 18% Psikologis 10 20% Seksual 10 20% 49 100% 2. Validitas dan Reliabilitas Skala Komunikasi Interpersonal Remaja dengan Orang Tua Validitas merupakan tingkat ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2010). Suatu alat ukur yang mampu menjalankan fungsi ukurnya atau menghasilkan data yang relevan dengan tujuan pengukuran maka dapat dikatakan alat ukur tersebut memiliki validitas tinggi (Azwar, 2009). Pengujian validitas yang digunakan dalam skala ini ialah validitas isi. Validitas isi merupakan proses pengujian isi alat ukur dengan berdasarkan professional judgement (Azwar, 2009). Professional judgement yang diperoleh dalam penelitian ini dilakukan oleh dosen pembimbing.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Peneliti melakukan uji coba terhadap skala efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua untuk mengetahui reliabilitas alat ukur tersebut. Hasil uji coba terhadap 60 aitem menghasilkan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach sebesar 0,851. Batasan korelasi aitem-total yang digunakan peneliti untuk melakukan seleksi aitem pada skala efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua ini ialah 0,25. Dengan demikian, peneliti membuang aitem-aitem yang memiliki besar koefisien korelasi aitem-total kurang dari 0,25 sehingga diperoleh 36 aitem yang bertahan dan angka koefisien reliabilitas Alpha Cronbach pada skala efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua meningkat menjadi 0,883. Tabel 6. Blueprint Skala Efektivitas Komunikasi Interpersonal Remaja dengan Orang Tua (Setelah Uji Coba dan Seleksi Aitem) Aspek Komunikasi Jumlah Aitem Total Interpersonal yang Favorable Unfavorable Efektif Keterbukaan 3 4 7 (19 %) Empati 4 4 8 (22 %) Sikap Mendukung 4 3 7 (19 %) Sikap Positif 3 3 6 (18 %) Kesetaraan 4 4 8 (22 %) 18 (50%) 18 (50%) 36 (100%)

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 G. Metode Analisis Data 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data penelitian berasal dari populasi yang sebarannya normal atau tidak. Setelah mengetahui bahwa data penelitian berasal dari populasi yang sebarannya normal, selanjutnya peneliti dapat melakukan analisis statistik (Santoso, 2010). Uji asumsi normalitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dalam program SPSS versi 16.00 for windows. b. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah variabelvariabel dalam penelitian ini memiliki hubungan yang bersifat linear atau tidak (Santoso, 2010). 2. Uji Hipotesis Metode analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan Product Moment. Uji hipotesis untuk mengukur hubungan antara dua variabel (Priyatno, 2012).

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Peneliti melakukan uji coba terhadap alat ukur skala Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang tua dan Kecenderungan Perilaku Bullying di Sekolah Menengah Pertama Katholik (SMPK) Santa Maria, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. Pelaksanaan uji coba dilakukan pada tanggal 22 Januari 2014 dengan melibatkan 75 subjek. Selanjutnya, penelitian dilaksanakan pada 27 Februari 2014. Peneliti menyebarkan 132 eksemplar skala penelitian langsung di Sekolah Menengah Pertama Katholik (SMPK) Santa Maria, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. B. Deskripsi Subjek Penelitian Total subjek dalam penelitian ini adalah 132 remaja awal. Keseluruhan subjek berusia diantara 12 sampai dengan 15 tahun serta berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Berikut ini distribusi data demografi subjek yang disajikan dalam bentuk tabel untuk mengetahui karakteristik subjek dalam penelitianini. 60

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 1. Deskripsi Subjek Berdasarkan Usia Tabel 7. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Usia Usia Frekuensi Presentase 12 tahun 20 15,2 % 13 tahun 43 32,6 % 14 tahun 25 18,9 % 15 tahun 44 33,3 % Total 132 100 % Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa subjek yang berusia 12 tahun sebanyak 20 orang dengan prosentase 15,2 %, subjek berusia 13 tahun sebanyak 43 orang dengan prosentase 32,6 %, subjek berusia 14 tahun sebanyak 25 orang dengan prosentase 18,9 %, serta subjek berusia 15 tahun sebanyak 44 orang dengan prosentase 33,3 %. 2. Deskripsi Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 8. Karakteristik Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Presentase (%) Laki-laki 65 49,2 % Perempuan 67 50,8 % Jumlah 132 100 % Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa subjek yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 65 orang dengan prosentase 49,2% dan subjek yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 67 orang dengan prosentase 50,8%.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 C. Deskripsi Data Penelitian Deskripsi data diperlukan untuk memberikan gambaran mengenai keadaan distribusi skor pada sekelompok subjek yang diukur dan sebagai sumber informasi mengenai keadaan subjek pada variabel-variabel yang diteliti (Azwar, 2010). Pada penelitian ini, peneliti membandingkan antara mean empirik dan mean teoritik untuk mendapatkan informasi umum mengenai skor yang diperoleh subjek penelitian pada tiap-tiap variabel penelitian. Deskripsi data dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 9. Deskripsi Data Penelitian Variabel Teoritik Empirik SD Skor Skor Mean Skor Skor Mean Min Max Min Max *E 36 144 90 67 138 109,83 12,743 *B 49 196 122,5 49 118 64,31 13,561 *E = Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua *B = Kecenderungan Perilaku Bullying Keterangan: Skor minimun teoritik = (skor terkecil dalam skala) x (jumlah aitem) Skor maksimum teoritik = (skor terbesar dalam skala) x (jumlah aitem) Mean teoritik = skor minimun + skor maksimum 2 Berdasarkan data dalam tabel tersebut, mean empirik variabel Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua sebesar 109,83. Sedangkan mean teoritik variabel Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua sebesar 90. Hasil perbandingan antara mean teoritik dengan mean empirik terlihat bahwa

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 meanempirik lebih besar dari mean teoritik (109,83>90) sehingga terdapat jarak perbedaan mean sebesar 19,83. Data tersebut menunjukkan bahwa ratarata subjek memiliki efektivitas komunikasi interpersonal dengan orang tua yang cenderung tinggi. Mean empirik dari variabel Kecenderungan Perilaku Bullying sebesar 64,31, sedangkan mean teoritik variabel Kecenderungan Perilaku Bullying sebesar 122,5. Berdasarkan perbandingan mean teoritik dengan mean empirik terlihat bahwa mean empirik lebih kecil dari mean teoritik (64,31<122,5). Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan perilaku bullying subjek penelitian relatif rendah. D. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan program SPSS 16. Data dikatakan memiliki sebaran normal apabila memiliki nilai p>0,05. Berdasarkan hasil pengujian normalitas, didapatkan hasil bahwa variabel Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua memilki nilai Z = 0,561 dan p = 0,911 (p>0,05) maka kesimpulan yang diambil adalah sebaran data yang diuji mengikuti distribusi normal. Sedangkan untuk variabel Kecenderungan Perilaku Bullying memiliki nilai Z = 1,943 dan p=0,001 (p<0,05) maka kesimpulan yang diambil adalah sebaran data yang diuji

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 tidak mengikuti distribusi normal karena memiliki taraf signifikan lebih kecil dari 0,05. Sebaran data tidak mengikuti distribusi normal dapat terjadi karena aitem-aitem pada skala kecenderungan perilaku bullying tidak memuat unsur kecenderungan (yang akan terjadi) tetapi pernyataan sudah mengarah pada tindakan yang telah dilakukan sehingga dapat mendorong subjek untuk facking dalam mengisi pernyataan. Tabel 10. Hasil Uji Normalitas Variabel Nilai KolmogorovSmirnov Efektivitas 0,561 Komunikasi Interpersonal Remaja dengan Orang Tua Kecenderungan 1,943 Perilaku Bullying Signifikansi (p>0,05) Keteranga n 0,911 Normal 0,001 Tidak Normal b. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan menggunakan SPSS 16. Suatu data dikatakan linear apabila memiliki taraf signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Berdasarkan uji linearitas, diperoleh nilai Linearity sebesar F=6,455 dan p=0,013 (p<0,05). Hasil analisis nilai Linearity menunjukkan bahwa data memiliki taraf signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p<0,05). Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa variabel Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua dan Kecenderungan Perilaku Bullying memilliki hubungan yang linear.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Tabel 11. Hasil Uji Linearitas Variabel F Efektivitas Linearity 6,455 Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua*Kecender ungan Perilaku Bullying P 0,013 Keterangan Linear 2. Uji Hipotesis Setelah melakukan uji normalitas dan uji linearitas, peneliti melakukan uji hipotesis untuk mengukur hubungan antara dua variabel (Priyatno, 2012). Uji hipotesis dilakukan dengan uji korelasi Spearman melalui SPSS 16.0. Peneliti menggunakan analisis korelasi Spearman karena hasil dari salah satu variabel dalam penelitian memiliki distribusi data tidak normal (Priyatno, 2012). Dari perhitungan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa koefisien korelasi (rxy) variabel Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua dengan variabel Kecenderungan Perilaku Bullying sebesar -0,251 dengan nilai p sebesar 0,004 (p<0,05). Hal ini menunjukkan adanya korelasi negatif signifikan antara Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dan Orang Tua dan Kecenderungan Perilaku Bullying. Artinya, semakin efektif komunikasi interpersonal antara remaja dan orang tua maka semakin rendah kecenderungan perilaku bullying pada remaja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian diterima, yaitu ada hubungan

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 antara efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua dan kecenderungan perilaku bullying. Tabel 12. Hasil Uji Korelasi TOTAL_A TOTAL_B Spearma TOTAL_ Correlation n's rho A 1.000 -.251** . .004 132 132 -.251** 1.000 Sig. (2-tailed) .004 . N 132 132 Coefficient Sig. (2-tailed) N TOTAL_ Correlation B Coefficient **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). E. PEMBAHASAN Berdasarkan analisis korelasi menggunakan teknik Spearman, diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan antara efektivitas komunikasi interpersonal remaja dengan orang tua dan kecenderungan perilaku bullying. Koefisien korelasi (r) sebesar -0,251 dengan taraf signifikansi sebesar 0,004 (p<0,05) ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua dan kecenderungan perilaku bullying. Selain itu, hubungan yang terjadi adalah hubungan negatif. Hal ini berarti bahwa semakin efektif komunikasi interpersonal remaja

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 dengan orang tua maka akan semakin rendah kecenderungan remaja melakukan bullying. Demikian pula sebaliknya, komunikasi interpersonal remaja dengan orang tua yang semakin tidak efektif maka kecenderungan remaja untuk melakukan bullying semakin tinggi. Tubbs & Moss (dalam Rakhmat, 2008) mengungkapkan bahwa manusia membutuhkan orang lain untuk tetap dapat mempertahankan hidup karena dalam berhubungan dengan orang lain ada kebutuhan-kebutuhan sosial, seperti kebutuhan inklusif, kontrol, dan afeksi, yang ingin terpenuhi. Ini dapat terpenuhi melalui komunikasi yang efektif. Komunikasi dapat berlangsung secara efektif dengan menekankan pada kualitas komunikasi seperti keterbukaan, empati, sikap positif, sikap mendukung, dan kesetaraan (De Vito, 2011). Schutz (dalam Zeuschner, 1992) mengungkapkan bahwa pesan yang disampaikan dan diterima dalam suasana yang hangat, mendukung, respect, dan empati membantu individu untuk mengkomunikasikan afeksi kepada orang lain dan membantu terpenuhinya kebutuhan afeksi pada masing-masing individu. Ini menunjukkan bahwa komunikasi antara remaja dengan orang tua yang berlangsung dengan efektif menguntungkan kedua belah pihak, terutama bagi remaja. Hal ini disebabkan karena melalui komunikasi yang efektif membantu terpenuhinya kebutuhan afeksi yang penting bagi perkembangan remaja ini sehingga remaja dapat berkembang secara positif. Remaja yang sedang mencoba berbagai peran baru tetap membutuhkan orang tua untuk memberikan rasa aman (Papalia, dkk, 2008). Adanya

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 perasaan nyaman, hangat, dicintai, dan diterima dari orang tua membantu remaja untuk dapat meningkatkan kualitas dirinya lebih baik (Gordon, 1962) sehingga memungkinkan remaja untuk cenderung melakukan tindakan bullying rendah. Sedangkan, kurang adanya kasih sayang atau kehangatan yang didapat dari orang tua membuat remaja berpotensi melakukan bullying (Batsche, Knoff, & Olweus, dalam Banks, 1997; Pearce & Thompson, 1998; Dracic, 2009). Hal ini dapat disebabkan karena komunikasi yang terjalin antara remaja dan orang tua tanpa melibatkan adanya suasana yang hangat, mendukung, respect, dan empati dalam proses penyampaian pesan. Keadaan seperti ini membuat remaja merasa tidak dihargai sehingga segan melakukan komunikasi dengan orang tua dan lebih memilih untuk bereaksi defensif. Gibb (dalam Adler & Towne, 1989) mengungkapkan bahwa bahwa jika individu lebih suka bersikap menilai, merasa diri memiliki derajat yang lebih tinggi (superioritas), mengontrol orang lain, strategi, tidak memberikan tanggapan apapun (netral), dan berpegang teguh pada keyakinan yang dimilikinya saat sedang berinteraksi dengan orang lain maka akan menimbulkan reaksi defensif dari lawan komunikasinya. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Sahin & Sari (2010) bahwa orang tua yang memberikan cinta, kasih sayang, dan nilai-nilai kehidupan pada remaja memiliki pengaruh dalam perkembangan fisik dan psikologis remaja, sedangkan orang tua yang bersikap negatif terhadap remaja membuat remaja merasa tidak diterima dan dihargai oleh orang tua sehingga cenderung membuat remaja mengembangkan perilaku bullying. Tindakan ini dilakukan

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 oleh remaja supaya tampak dominan, dihargai oleh teman-teman sebayanya, dan menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya. Wharton (2009) juga mengemukakan bahwa remaja yang merasa tidak dicintai dan merasa tidak layak untuk dicintai memungkinkan remaja cenderung untuk terlibat menjadi pelaku bullying. Perasaan tidak dicintai dan tidak layak untuk dicintai menimbulkan perasaan tidak nyaman dengan dirinya. Dengan demikian, perilaku bullying ini sebagai usaha untuk menghancurkan orang lain supaya remaja menjadi merasa lebih baik. Selain itu, adanya keterbukaan diantara remaja dan orang tua membuat hubungan diantara kedua belah pihak juga menjadi lebih baik. Johnson (dalam Supratiknya, 1995) menyatakan bahwa pembukaan diri menjadi dasar bagi hubungan yang sehat. Individu yang mau membuka diri tanpa paksaan cenderung memiliki sifat-sifat yang mencirikan sesosok individu yang masak dan bahagia, seperti kompeten, ekstrover, fleksibel, adaptif, dan inteligen (Johnson, dalam Supratiknya, 1995). Dengan demikian, komunikasi interpersonal yang efektif antara remaja dengan orang tua membantu meminimalisir remaja melakukan bullying karena membantu remaja untuk bersikap adaptif saat berada di luar lingkup keluarga. Berdasarkan hasil perbandingan antara mean teoritik dengan mean empirik Efektivitas Komunikasi Interpersonal antara Remaja dengan Orang Tua terlihat bahwa mean empirik lebih besar dari mean teoritik (109,83>90) sehingga terdapat jarak perbedaan mean sebesar 19,83. Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata subjek memiliki efektivitas komunikasi

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 interpersonal dengan orang tua yang cenderung tinggi. Hal ini disebabkan karena setiap anak memiliki harapan positif terhadap orang tua. Sedangkan, perbandingan mean teoritik dengan mean empirik dari variabel Kecenderungan Perilaku Bullying terlihat bahwa mean empirik lebih kecil dari mean teoritik (64,31<122,5). Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan perilaku bullying subjek penelitian relatif rendah. Hal ini disebabkan karena aitem-aitem pada skala kecenderungan perilaku bullying tidak memuat unsur kecenderungan (yang akan terjadi) tetapi pernyataan sudah mengarah pada tindakan yang telah dilakukan sehingga dapat mendorong subjek untuk facking dalam mengisi pernyataan.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara efektivitas komunikasi interpersonal remaja dengan orang tua dan kecenderungan perilaku bullying pada remaja. Nilai koefisien (r) yang diperoleh sebesar -0,251 dengan signifikansi sebesar 0,004 (p<0,05). Hubungan antara efektivitas komunikasi interpersonal remaja dengan orang tua dan kecenderungan perilaku bullying adalah hubungan yang negatif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin efektif komunikasi interpersonal remaja dengan orang tua maka semakin rendah kecenderungan remaja melakukan bullying. B. Saran 1. Bagi Orang Tua Orang tua menciptakan dan menjaga suasana komunikasi yang hangat dan nyaman dengan remaja sehingga remaja dapat lebih terbuka dengan orang tua. Dengan demikian potensi remaja untuk melakukan tindakan dapat bullying 71 ditekan.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 2. Bagi Pelaku Bullying Remaja tidak segan menceritakan segala sesuatu kepada orang tua atau berdiskusi dengan orang tua sehingga dapat memperoleh wawasan yang berarti dalam menjalankan hidupnya. Selain itu, remaja diharapkan untuk berusaha lebih berinisiatif mengajak orang tuanya berkomunikasi dengan baik dengan menerapkan aspek keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif meski dikala emosi orang tua tidak terkendali saat berbicara dengan dirinya. 3. Bagi Peneliti Selanjutnya Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti lebih lanjut mengenai efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orang tua mungkin dapat membuat dua macam skala yang memuat tentang komunikasi remaja dengan ayah serta komunikasi remaja dengan ibu. Ayah dan ibu memiliki peran yang berbeda sehingga mungkin dapat mempengaruhi cara berkomunikasi yang berbeda pula dari kedua peran tersebut dengan anaknya. Dengan demikian diharapkan dapat diperoleh gambaran dengan lebih jelas dan lebih detail mengenai keefektifan komunikasi remaja dengan masing-masing figur. Selain itu, bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti mengenai kecenderungan perilaku bullying dapat memperbaiki kalimat pada aitem-aitem supaya lebih merujuk pada kecenderungan perilaku (perilaku yang akan terjadi).

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 DAFTAR PUSTAKA Adler, Ronald B. & Towne, Neil. 1989. Looking Out/Looking In (6th edition). USA : Holt, Rinehart and Winston Inc. Argiati, S. Hafsah Budi. 2010. Studi Kasus Perilaku Bullying pada siswa SMA di Kota Yogyakarta. Jurnal Penelitian Bappeda Kota Yogyakarta, vol. 5, hal.54-62 Ayenibiowo, Kehinde O. & Gabriel A. Akinbode. 2011. Psychopatology of Bullying and emotional Abuse Among School Children. Life Center for Psychologial Studies & Service, 127-141 Azwar, Saifuddin. 2009. Tes Prestasi: Fungsi Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2010. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2013. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Banks, Ron. 1997. Bullying in Schools. ERIC Digest [Online]. Available: http://npin.org/library/pre1998/n00416/n00416.html Barker, Larry L., Deborah Roach Gaut. 2001. Communication (Eighth Edition). United States of America: A Pearson Education Company. Beebe, Steven A., Susan J. Beebe, & Mark V. Redmond. 2009. Interpersonal Communication Relating to Others (Sixth Edition). USA : Allyn & Bacon Bender, Doris, & Friedrich Losel. 2011. Bullying at School as A Predictor of Delinquency, Violence and Other Anti-Social Behaviour in Adulthood. Criminal Behaviour and Mental Health, pp. 99-106 Bisono, Tika. 2009. We Have a Problem, But I’m on Your Side...!. Jakarta: Pustaka Populer Obor Bukatko, Danuta. 2008. Child and Adolescent Development. USA: Houghton Mifflin Company Caughlin, John P., & Rachel S. Malis. 2004. Demand/Withdraw Communication between Parents and Adolescents: Connections with Self Esteem and Substance Use. Journal of Social and Personal Relationships, vol. 21, pp.125-148

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Desmita. 2007. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya De Vito, Joseph A. 2011. Komunikasi Antarmanusia (Edisi kelima). Terjemahan. Tangerang: KARISMA Publishing Group Dracic, Sabaha. 2009. Bullying and Peer Victimization. Materia Socio Medica, Vol. 21, No.4 Ericson, Nels. 2001. Addressing The Problem of Juvenile Bullying. Washington DC: U.S. Department of Justice. Office of Juvenile Justice and Delinquency Prevention. Feist, Jess.,& Gregory J. Feist. 2008. Theories Of Personality (Edisi keenam). Yogyakarta: Pustaka Pelajar Fleming, M and Towey, K. 2002. Educational Forum on Adolescent Health: Youth Bullying. Chicago: American Medical Association. Gunarsa, Ny. Singgih D. Dan Singgih D. Gunarsa. 1990. Psikologi untuk Keluarga. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia 2009. Psikologi Remaja. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia Giffin, Kim & Bobby R. Patton. 1976. Fundamentals of Interpersonal Communication (second Edition). USA: Harper & Row, Publisher, Inc. Gordon, Ira J. 1962. Human Development : From Birth Through Adolescence. USA : Harper & Row, Publisher, Incorporated Hanif, Rubina, Dr. Masood Nadem, & Sadaf Tariq. 2011. Bullying in School: Attitudes of Children, Teachers, and Parents. Interdiciplinary Journal Of Contemporaray Research In Business, vol. 3, no. 8, pp. 1055-1061 Hardjana, Agus M. 2003. Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Hybels, Saundra & Richard L. Weaver II. 2004. Communicating Effectively (seventh edition). New York : McGraw-Hill Hymel, Shelley, & Susan M. Swearer Napolitano. 2008. Bullying: An Age-Old Problem That Needs New Solutions. Educational Psychology Papers and Publications.

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Joseph & Lois Bird. 1972.Power To The Parents!. New York: Doubleday & Company, Inc. Kartono, Dr. Kartini. 2006. Patologi Sosial II: Kenakalan Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Kerlinger, Fred N. 2006. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Terjemahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Lawrence, Gloria, & Frank D. Adams. 2006. For Every Bully There Is A Victim. American Secondary Education, vol. 35, pp. 66-71 Mӧnks, F. J., dkk. (2006). Psikologi Perkembangan : Pengantar dalam Berbagai Bagiannya (Edisi Revisi ke-3). Yogyakarta : Gadjah Mada University Press Olweus, Dan, & Cecilia Solberg.Tanpa tahun.Bullying Among Children and Young People.Information and Guidance for Parents.http://www.bufetat.no Papalia, Diane. R., Sally Wendkos Olds., dan R. Duskin Feldman. 2008. Human Development (Edisi 10). Perkembangan Manusia. Terjemahan. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika. Pearce, John B., & Anne E. Thompson. 1998. Practical Approaches to Reduce The Impact of Bullying. Arch Dis Child, 79: 528-531 Purwanto, Erwan Agus & Dyah Ratih Sulistyastuti.2007. Metode Penelitian Kuantitatif untuk Administrasi Publik dan Masalah-Masalah Sosial.Yogyakarta : Penerbit Gaya Media Priyatno, Duwi. 2012. Cara Kilat Belajar Analisis Data dengan SPSS 20. Yogyakarta : Andi Offset Rakhmat, Jalaluddin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset Rahmatullah, Aprizal. (2010, April 03). Kasus Bullying juga Menimpa Okke Siswa SMA 46 Jakarta.DetikNews. Dipungut 12 November, 2012, dari http://news.detik.com Rigby, Ken., & Peter K. Smith. 2011. Is School Bullying Really On The Rise?. Social Psychology Educational, 14, 441-455 Sadarjoen, Sawitri Supardi. 2005. Pernak-Pernik Hubungan Orang Tua-Remaja: Anak “Bertingkah” Orang Tua Mengekang. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Sahin, Mustafa & Serkan Volkan Sari. 2010. Observation of Peer Bullying in Turkish Primary Schools According to Different Variables. Cypriot Journal of Educational Sciences, 258-270. Santoso, Agung. 2010. Statistik untuk Psikologi dari Blog menjadi Buku. Yogyakarta : Penerbit Universitas Sanata Dharma Santrock, John W. 2002. Life Span Development :Perkembangan Masa Hidup (Edisi kelima). Terjemahan. Jakarta: Erlangga Sillars, Alan, Ascan Koerner, & Mary Anne Fitzpatrick. 2005. Communication and Understanding in Parent-Adolescent Relationship. Human Communication Research, Vol. 31, No. 1. Pp 102-128 Smith, Peter K., Helen Cowie, Ragnar F. Olafsson, & Andy P. D. Liefooghe. 2002. Definition of Bullying: A Comparison of Terms Used, and Age and Gender Differences, in a Fourteen-Country International Comparison. Child Development, Vol. 73, No. 4. Pp 1119-1133 Supratiknya, Dr. A. 1995. Komunikasi Antarpribadi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Triyuda, Pandu. (2012, Juli 29).Komnas PA: Tahun 2011 Bullying di Sekolah 139 Kasus, Tahun ini 36 Kasus. DetikNews. Dipungut 29 Juli, 2012, dari http://news.detik.com Wharton, Steve. 2009. How To Stop That Bully : Menghentikan Si Tukang Teror. Terjemahan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA). 2008. Bullying: Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan. Jakarta: PT Grasindo Zeuschner, Raymond. 1992. Communicating Today. USA : Allyn and Bacon

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 LAMPIRAN

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 LAMPIRAN A SKALA PENELITIAN (TRY OUT)

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 SKALA PENELITIAN FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Pengantar Pada kesempatan ini, perkenankan saya memohon ijin kepada Anda terkait dengan penelitian yang saya lakukan dalam rangka penyusunan tugas akhir. Saya mohon kesediaan Anda membantu saya dengan menjawab sejumlah pernyataanpernyataan yang terdapat dalam skala ini yang terdiri dari dua bagian, yaitu skala A dan skala B. Informasi yang Anda berikan akan sangat berguna bagi saya dalam melakukan penelitian ini. Identitas diri dan jawaban Anda akan dijamin kerahasiaannya oleh saya sebagai peneliti. Data yang Anda berikan tidak akan disalahgunakan dan benarbenar hanya digunakan untuk tujuan penelitian saya. Saya sangat berharap Anda mengerjakan skala ini dengan sungguh-sungguh dan memberikan jawaban secara jujur sesuai dengan keadaan diri Anda. Tidak ada penilaian benar atau salah bagi jawaban yang Anda berikan. Setiap respon jawaban yang Anda berikan pada setiap pernyataan juga tidak mempengaruhi penilaian baik dan buruk pada diri Anda. Atas kesediaan Anda membantu saya dalam penelitian ini, saya mengucapkan terima kasih. Selamat mengerjakan. Hormat saya, Lucia Novita Ningrum Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Pernyataan Kesediaan Subjek Penelitian Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi menjadi subjek penelitian dalam proses pengambilan data yang diperlukan untuk keperluan skripsi yang dibuat oleh Lucia Novita Ningrum, Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Saya bersedia memberikan jawaban untuk keseluruhan pernyataan pada skala ini sesuai dengan kenyataan yang saya alami dalam kehidupan sehari-hari dan bukan atas pandangan masyarakat pada umumnya. Saya berharap hasil penelitian ini tidak disalahgunakan dan hanya untuk tujuan penelitian saja. …………………,…… Januari 2014 (Nama/Inisial & Tanda Tangan) Identitas Nama (inisial) : Jenis Kelamin : P / L (lingkari salah satu) Usia : Kelas : tahun

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Skala A Petunjuk Pengerjaan Berikut ini terdapat 60 pernyataan terkait dengan situasi yang Anda alami saat sedang bersama dengan orang tua. Baca dengan cermat dan pahami baik-baik untuk setiap pernyataan. Anda diminta secara jujur untuk menyatakan seberapa jauh pernyataan-pernyataan tersebut sesuai dengan diri Anda dengan cara memberikan tanda centang (√) pada kolom pilihan jawaban yang telah tersedia. Adapun pilihan jawaban yang tersedia adalah sebagai berikut: SS : bila pernyataan Sangat Sesuai dengan situasi yang Anda alami S : bila pernyataan Sesuai dengan situasi yang Anda alami TS : bila pernyataan Tidak Sesuai dengan situasi yang Anda alami STS : bila pernyataan Sangat Tidak Sesuai dengan situasi yang Anda alami Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda untuk setiap pernyataan dan tidak ada jawaban yang dianggap salah. Oleh karena itu, pilihlah jawaban yang paling tepat menggambarkan keadaan diri Anda. Selamat mengerjakan, jangan sampai ada yang terlewatkan

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 No. 1. PERNYATAAN SS Saya selalu menceritakan seluruh aktivitas yang telah saya lakukan kepada orang tua 2. Saya tidak mendengarkan orang tua saat sedang menceritakan kekhawatirannya terhadap saya 3. Orang tua mendengarkan dengan seksama tanpa mengkritik ketika saya mengutarakan pendapat 4. Saya dipojokkan/disalahkan oleh orang tua saya ketika saya melakukan kesalahan 5. Saya tidak berani untuk mengungkapkan ide/gagasan/pendapat pada orang tua karena merasa takut disalahkan 6. Saya tidak sungkan untuk mengungkapkan kekesalan saya pada orang tua 7. Saya dapat memahami kekhawatiran orang tua terhadap saya 8. Saya tidak mau menerima masukan dari orang tua karena menurut saya cara berpikir orang tua saya terlalu kolot 9. Saya merasa dihargai oleh orang tua saat sedang menyampaikan pendapat 10. Orang tua saya tidak pernah memarahi saya ketika saya melakukan kesalahan tetapi beliau menjelaskan dimana letak kesalahan saya supaya kesalahan saya saya dapat belajar dari S TS STS

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 *SS: Sangat Sesuai *S: Sesuai *TS: Tidak Sesuai *STS: Sangat Tidak Sesuai No. PERNYATAAN SS 11. Jika saya sedang kesal dengan orang tua, saya akan menunjukkan kekesalan saya dengan cara mengabaikan orang tua untuk beberapa saat 12. Saya tidak pernah bisa menerima nasihat dari orang tua karena saya merasa nasihat orang tua tidak sesuai dengan saya 13. Saya memberikan penjelasan kepada orang tua mengenai alasan saya tidak dapat memenuhi permintaannya 14. Saya tidak merasa sakit hati ketika orang tua memberikan kritikan kepada saya karena itu untuk kebaikan saya 15. Saya memiliki hak untuk memberikan ide/gagasan/pendapat pada orang tua 16. Saya selalu menceritakan masalahyang sedang saya alami kepada orang tua 17. Orang tua memeluk saya ketika saya sedang menceritakan kesedihan saya 18. Orang tua menuntut saya untuk memenuhi cara berpikirnya/nasihatnya 19. Saya dan orang tua saling menjaga kontak mata ketika kami sedang membicarakan sesuatu 20. Orang tua selalu menyuruh saya melakukan sesuatu tanpa melihat/mempedulikan keadaan saya terlebih dahulu S TS STS

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 *SS: Sangat Sesuai *S: Sesuai *TS: Tidak Sesuai *STS: Sangat Tidak Sesuai No. PERNYATAAN 21. Orang tua enggan memberikan penjelasan kepada saya mengenai SS alasan ketidaksetujuan pendapatnya dengan saya 22. Saya memberikan penjelasan mengenai ketidaksetujuan saya dengan orang tua supaya tidak mengecewakan orang tua 23. Orang tua tampak acuh ketika saya sedang bercerita 24. Saya tidak segan akan meminta pertolongan dari orang tua ketika saya mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu masalah 25. Orang tua saya bersikap paling benar sendiri 26. Saya meminta maaf kepada orang tua jika saya telah membuat kesalahan 27. Saya tidak mempedulikan kesedihan atau kecemasan yang dialami orang tua yang disebabkan oleh saya 28. Senyuman yang diberikan oleh orang tua kepada saya saat saya sedang bercerita membuat saya merasa dihargai oleh orang tua saya 29. Orang tua saya tidak segan menerima pendapat saya jika pendapat saya memang sesuai 30. Saya tidak sungkan/ tidak segan untuk menyampaikan idea tau gagasan saya saat tidak sependapat dengan orang tua S TS STS

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 *SS: Sangat Sesuai *S: Sesuai *TS: Tidak Sesuai *STS: Sangat Tidak Sesuai No. PERNYATAAN 31. Saya mendengarkan dengan penuh perhatian ketika orang tua sedang SS memberikan pendapat 32. Orang tua tidak mau menerima perbedaan pandangan/pendapat dari saya 33. Saya canggung mengungkapkan perasaan atau masalah saya kepada orang tua 34. Orang tua saya mengajak saya berdiskusi mengenai banyak hal 35. Saya marah ketika orang tua tidak menyetujui pendapat saya 36. Saya selalu mengkritik pendapat orang tua karena merasa pendapat tersebut tidak sesuai dengan saya 37. Saya berusaha menenangkan hati orang tua dengan memberikan penjelasan ketika orang tua mencemaskan diri saya 38. Orang tua saya selalu menganggap saya sebagai anak kecil sehingga saya tidak berhak memberikan pendapat 39. Orang tua saya selalu tahu/menanyakan kebutuhan mencari yang saya perlukan untuk menunjang minat dan bakat saya 40. Orang tua saya menyampaikan ketidaksetujuannya pada saya dengan alasan yang masuk akal jika tidak sependapat dengan saya S TS STS

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 *SS: Sangat Sesuai *S: Sesuai *TS: Tidak Sesuai *STS: Sangat Tidak Sesuai No. PERNYATAAN SS 41. Saya membiarkan diri saya diatur oleh orang tua saya karena memang selayaknya sebagai anak harus mematuhi orang tua 42. Orang tua dan saya mencari jalan tengah bersama ketika terjadi konflik di antara kami 43. Saya merasa lebih nyaman untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapi ke dalam bentuk tulisan (menulis diary) 44. Saya menganggap orang tua tidak mengerti dan memahami permasalahan saya dibandingkan teman saya 45. Saya dan orang tua saling menjaga jarak dan tidak ada kontak mata ketika kami sedang membicarakan sesuatu 46. Saya sulit berkonsentrasi saat orang tua sedang menceritakan atau membicarakan sesuatu pada saya 47. Orang tua dan saya selalu mengatakan “tolong” terlebih dahulu setiap kami saling membutuhkan pertolongan 48. Orang tua membentak saya ketika saya sedang berusaha / mencoba untuk membela diri saya 49. Saya tidak segan menerima pendapat orang tua jika pendapat orang tua memang sesuai 50. Saya merasa malu untuk bercerita sesuatu atau membicarakan sesuatu dengan orang tua S TS STS

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 51. Saya malas mendengarkan penjelasan dari orang tua ketika saya tidak diijinkan untuk melakukan sesuatu yang saya inginkan 52. Saya tidak segan memberikan masukan bagi orang tua 53. Saya lebih senang berdiam diri daripada membicarakan sesuatu dengan orang tua 54. Saya mengomel jika orang tua tidak memahami maksud dari cerita saya 55. Saya merasa orang tua mengabaikan/tidak mempedulikan pendapat saya 56. Orang tua lebih dominan dalam menyampaikan pendapat daripada saya 57. Orang tua menenangkan hati saya ketika saya sedang merasa cemas 58. Orang tua menyalahkan atau mengkritik pendapat saya 59. Saya menganggap kecemasan orang tua terhadap saya merupakan hal yang wajar. 60. Orang tua saya akan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap saya Terima Kasih ☺ Mohon diperiksa kembali. Jangan sampai ada yang terlewatkan Silahkan lanjutkan ke bagian B

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Skala B Petunjuk Pengerjaan Berikut ini terdapat 58 pernyataan terkait dengan perilaku Anda saat di sekolah.Baca dengan cermat dan pahami baik-baik untuk setiap pernyataan. Anda diminta secara jujur untuk menyatakan seberapa jauh pernyataan-pernyataan tersebut sesuai dengan diri Anda dengan cara memberikan tanda centang (√) pada kolom pilihan jawaban yang telah tersedia. Adapun pilihan jawaban yang tersedia adalah sebagai berikut: SS : bila pernyataan tersebut Sangat Sering Anda lakukan S : bila pernyataan tersebut Sering Anda lakukan JR : bila pernyataan tersebut Jarang Anda lakukan TP : bila pernyataan tersebut Tidak Pernah Anda lakukan Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda untuk setiap pernyataan dan tidak ada jawaban yang dianggap salah.Oleh karena itu, pilihlah jawaban yang paling tepat menggambarkan keadaan diri Anda. Selamat mengerjakan, jangan sampai ada yang terlewatkan

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 No. 1. PERNYATAAN SS Saya senang meledek teman atau adik kelas karena kekurangan yang ada pada dirinya, misal karena kondisi fisik, ekonomi, atau akademik 2. Saya memalak atau meminta sesuatu dengan paksa kepada teman atau adik kelas saya 3. Saya menyuruh teman atau adik kelas saya untuk melakukan sesuatu yang saya inginkan karena memang dia pantas untuk disuruh-suruh 4. Saya mengembalikan barang milik teman atau adik kelas dengan cara yang tidak mempedulikan sopan santun karena dia pantas menerimanya 5. Saya merasa puas memberikan tatapan yang melecehkan penampilan teman lawan jenis yang tidak percaya diri 6. Saya memberikan hukuman fisik kepada teman atau adik kelas supaya saya dianggap hebat dan ditakuti 7. Saya senang menggangu teman saya yang “kutu buku” berlangsung di kelas supaya saat dia pelajaran kehilangan konsentrasi 8. Saya menolak teman, yang memiliki penampilan aneh, untuk bergabung dalam kelompok saya S JR TP

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 *SS: Sangat Sering *S: Sering *J: Jarang *TP: Tidak Pernah No. 9. Pernyataan SS Saya akan mengolok-olok teman atau adik kelas, yang telah membuat saya marah, di depan umum 10. Setiap bertemu dengan teman atau adik kelas yang memiliki kekurangan fisik/fisik lemah, saya dengan sengaja menghalangi dia berjalan 11. Saya menyuruh teman atau adik kelas untuk melakukan sesuatu yang saya inginkan sebagai syarat menjadi teman saya. 12. Saya akan mengancam teman atau adik kelas jika dia tidak mau menuruti permintaan saya 13. Saya mengejek bagian tubuh tertentu teman yang berlawanan jenis sehingga membuat dia risih 14. Saya menuliskan kata-kata jorok yang ditujukan pada teman atau adik kelas yang berlawanan jenis sehingga membuat dia merasa tidak nyaman 15. Saya dengan sengaja mengabaikan teman yang memiliki penampilan aneh saat sedang berbicara dengan saya 16. Saya melabrak teman atau adik kelas karena telah merebut hak milik saya, seperti menduduki “singgasana” saya di kelas atau di kantinsupaya dia tidak berani untuk mendudukinya kembali S JR TP

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 No. 17. PERNYATAAN Saya memberi SS julukan dengan menggunakan kata-kata yang jorok pada teman yang berjenis kelamin sama dengan saya 18. Saya akan menampar teman atau adik kelas sebagai salah satu bentuk peringatan bagi dia 19. Saya dengan sengaja menarik baju teman atau adik kelas saya yang kekurangan fisik/fisik lemah memiliki hingga dia terjatuh 20. Saya sengaja tidak mengikutsertakan teman atau adik kelas untuk terlibat dalam suatu kegiatan atau kelompok karena dia tidak pantas untuk terlibat 21. Saya dengan sengaja mendorong tubuh teman atau adik kelas yang memiliki fisik lemah karena dia pantas untuk menerimanya 22. Saya senang merendahkan atau menghina pekerjaan orang tua teman atau adik kelas saya yang tidak mampu secara ekonomi 23. Saya tersenyum mengejek jika teman atau adik kelas saya tidak diikutsertakan dalam suatu kegiatan oleh teman lainnya. 24. Saya memberikan tatapan yang merayu pada teman atau adik kelas yang membuat dia menjadi tidak nyaman 25. Saya melempar sesuatu ke arah teman atau adik kelas saya yang cupu (tidak mudah bergaul) untuk mempermainkan dia S JR TP

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 26. Saya akan memaki teman atau adik kelas saya yang menurut saya tidak becus melakukan sesuatu yang saya perintahkan 27. Saya selalu ingin merangkul teman lawan jenis yang menarik perhatian saya setiap saat sedang berada di sebelah dia 28. Saya memberikan lirikan mata yang mengandung pesan merendahkan kepada teman atau adik kelas saya 29. Saya dengan sengaja tidak mengajak berbicara teman saya yang cupu (tidak mudah bergaul) ketika dalam suatu kelompok yang sama 30. Saya mengejek bagian tubuh tertentu teman yang berjenis kelamin sama dengan saya sehingga membuat dia merasa malu 31. Saya senang mencela cara berpakaian (penampilan) teman atau adik kelas yang memiliki penampilan buruk atau aneh menurut saya sehingga membuat dia sedih 32. Saya dengan sengaja merusak barangbarang milik teman atau adik kelas yang menyebalkan

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 *SS: Sangat Sering *S: Sering *J: Jarang *TP: Tidak Pernah No. PERNYATAAN SS 33. Saya merasa senang melihat teman atau adik kelas dikucilkan oleh saya dan teman-teman lainnya yang telah saya hasut. 34. Saya suka memanfaatkan teman atau adik kelas saya yang cupu (tidak mudah bergaul) untuk melakukan sesuatu yang saya inginkan karena dia memang pantas untuk disuruh-suruh 35. Saya senang merebut dengan paksa makanan yang dibawa oleh teman atau adik kelas saya 36. Saya memaksa teman lawan jenis yang menarik perhatian saya untuk mencium saya 37. Saya menghina teman yang memiliki kemampuan akademik rendah daripada saya 38. Saya mengabaikan pendapat atau ide yang disampaikan oleh teman saya yang tidak pandai 39. Saya menyoraki teman atau adik kelas saat dia lewat di depan saya supaya mereka malu 40. Saya dengan sengaja tidak memberikan kesempatan kepada teman saya yang tidak pandai untuk memberikan pendapat dalam suatu diskusi 41. Saya akan menempeleng (mendorong kepala) teman atau adik kelas saya sebagai bentuk peringatan kepada dia S JR TP

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 *SS: Sangat Sering *S: Sering *J: Jarang *TP: Tidak Pernah No. PERNYATAAN SS 42. Saya akan memarahi teman atau adik kelas saya dengan kata-kata kasar jika dia melakukan kesalahan dalam melakukan sesuatu yang saya perintahkan 43 Saya memberikan pandangan yang mengancam kepada teman atau adik kelas saya untuk membuat dia patuh pada saya 44. Saya dengan sengaja membentak temanteman saya atau adik kelas saya supaya dia takut pada saya 45. Saya sengaja menuliskan suatu ejekan di papan tulis atau memberi surat kaleng yang bertujuan untuk membuat teman atau adik kelas saya sakit hati atau malu 46. Saya merasa senang jika meraba bagian tubuh tertentu teman lawan jenis saya 47. Saya akan menggebrak meja ketika ada teman atau adik kelas yang berani menduduki “singgasana” saya di kantin atau di kelas 48. Saya merasa puas ketika menjadikan teman atau adik kelas saya sebagai bahan lelucon di depan umum 49. Saya memberikan pandangan sinis setiap bertemu dengan teman atau adik kelas saya, yang suka melaporkan sikap yang telah saya lakukan terhadap dia, kepada orang lain S JR TP

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 *SS: Sangat Sering *S: Sering *J: Jarang *TP: Tidak Pernahs No. 50. Pernyataan SS Saya memberikan kritikan yang kejam / tajam kepada teman atau adik kelas yang “sok pintar” 51. Saya bersama dengan teman lainnya menggosipkan teman atau adik kelas yang saya benci supaya dia dijauhi oleh temanteman 52. Saya akan memberikan hukuman fisik kepada teman atau adik kelas saya jika dia tidak memenuhi permintaan saya 53. Bagi saya dan teman dekat saya menertawakan penampilan buruk/aneh dari teman atau adik kelas saya merupakan hal yang menyenangkan 54. Saya memegang tangan teman lawan jenis saya yang menarik perhatian saya dengan cara paksa 55. Saya senang menuduh teman atau adik kelas saya yang pendiam untuk menutupi kesalahan saya 56. Saya sengaja menjegal kaki teman saya atau adik kelas saya yang pemalu ketika dia berjalan melewati saya karena dia selalu melihat ke bawah saat sedang berjalan 57. Saya memberikan pandangan yang merendahkan harga diri teman atau adik kelas saya yang kurang mampu secara ekonomi S JR TP

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 58. Saya dengan sengaja menceritakan keburukan teman atau adik kelas kepada sahabatnya supaya dia dijauhi oleh sahabatnya Terima Kasih ☺ Mohon diperiksa kembali. Jangan sampai ada yang terlewatkan

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 LAMPIRAN B SKALA PENELITIAN (Setelah Try Out)

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 SKALA PENELITIAN FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Pengantar Pada kesempatan ini, perkenankan saya memohon ijin kepada Anda terkait dengan penelitian yang saya lakukan dalam rangka penyusunan tugas akhir. Saya mohon kesediaan Anda membantu saya dengan menjawab sejumlah pernyataanpernyataan yang terdapat dalam skala ini yang terdiri dari dua bagian, yaitu skala A dan skala B. Informasi yang Anda berikan akan sangat berguna bagi saya dalam melakukan penelitian ini. Identitas diri dan jawaban Anda akan dijamin kerahasiaannya oleh saya sebagai peneliti. Data yang Anda berikan tidak akan disalahgunakan dan benarbenar hanya digunakan untuk tujuan penelitian saya. Saya sangat berharap Anda mengerjakan skala ini dengan sungguh-sungguh dan memberikan jawaban secara jujur sesuai dengan keadaan diri Anda. Tidak ada penilaian benar atau salah bagi jawaban yang Anda berikan. Setiap respon jawaban yang Anda berikan pada setiap pernyataan juga tidak mempengaruhi penilaian baik dan buruk pada diri Anda. Atas kesediaan Anda membantu saya dalam penelitian ini, saya mengucapkan terima kasih.Selamat mengerjakan. Hormat saya, Lucia Novita Ningrum Mahasiswa Fakultas Psikologi Univesitas Sanata Dharma Yogyakarta

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Pernyataan Kesediaan Subjek Penelitian Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi menjadi subjek penelitian dalam proses pengambilan data yang diperlukan untuk keperluan skripsi yang dibuat oleh Lucia Novita Ningrum, Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Saya bersedia memberikan jawaban untuk keseluruhan pernyataan pada skala ini sesuai dengan kenyataan yang saya alami dalam kehidupan sehari-hari dan bukan atas pandangan masyarakat pada umumnya. Saya berharap hasil penelitian ini tidak disalahgunakan dan hanya untuk tujuan penelitian saja. ………………....,……Februari 2014 (Inisial & Tanda Tangan) DATA DIRI Usia : Kelas : tahun Jenis Kelamin : P / L (lingkari salah satu)

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Skala A Petunjuk Pengerjaan Berikut ini terdapat 36 pernyataan terkait dengan situasi yang Anda alami saat sedang bersama dengan orang tua. Baca dengan cermat dan pahami baik-baik untuk setiap pernyataan. Anda diminta secara jujur untuk menyatakan seberapa jauh pernyataan-pernyataan tersebut sesuai dengan diri Anda dengan cara memberikan tanda centang (√) pada kolom pilihan jawaban yang telah tersedia. Adapun pilihan jawaban yang tersedia adalah sebagai berikut: SS : bila pernyataan Sangat Sesuai dengan situasi yang Anda alami S : bila pernyataan Sesuai dengan situasi yang Anda alami TS : bila pernyataan Tidak Sesuai dengan situasi yang Anda alami STS : bila pernyataan Sangat Tidak Sesuai dengan situasi yang Anda alami Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda untuk setiap pernyataan dan tidak ada jawaban yang dianggap salah. Oleh karena itu, pilihlah jawaban yang paling tepat menggambarkan keadaan diri Anda. Selamat mengerjakan, jangan sampai ada yang terlewatkan

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 No. 1. PERNYATAAN Saya selalu menceritakan seluruh aktivitas yang telah saya lakukan kepada orang tua 2. Saya tidak berani untuk mengungkapkan ide/gagasan/pendapat pada orang tua karena merasa takut disalahkan 3. Saya tidak mau menerima masukan dari orang tua karena menurut saya cara berpikir orang tua saya terlalu kolot 4. Saya tidak pernah bisa menerima nasihat dari orang tua karena saya merasa nasihat orang tua tidak sesuai dengan saya 5. Saya tidak merasa sakit hati ketika orang tua memberikan kritikan kepada saya karena itu untuk kebaikan saya 6. Saya memiliki hak untuk memberikan ide/gagasan/pendapat pada orang tua 7. Saya selalu menceritakan masalah yang sedang saya alami kepada orang tua 8. Orang tua memeluk saya ketika saya sedang menceritakan kesedihan saya 9. Orang tua selalu menyuruh saya melakukan sesuatu tanpa melihat/mempedulikan keadaan saya terlebih dahulu 10. Orang tua tampak acuh ketika saya sedang bercerita SS S TS STS

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 *SS: Sangat Sesuai; *S: Sesuai; No. PERNYATAAN 11. Saya tidak *TS: Tidak Sesuai; segan SS akan meminta pertolongan dari orang tua ketika saya mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu masalah 12. Orang tua saya bersikap paling benar sendiri 13. Saya meminta maaf kepada orang tua jika saya telah membuat kesalahan 14. Saya memberikan penjelasan kepada orang tua mengenai alasan saya tidak dapat memenuhi permintaannya 15. Saya tidak mempedulikan kesedihan atau kecemasan yang dialami orang tua yang disebabkan oleh saya 16. Senyuman yang diberikan oleh orang tua kepada saya saat saya sedang bercerita membuat saya merasa dihargai oleh orang tua saya 17. Saya tidak sungkan/tidak segan untuk menyampaikan ide atau gagasan saya saat tidak sependapat dengan orang tua 18. Saya mendengarkan perhatian ketika dengan orang tua penuh sedang memberikan pendapat 19. Orang tua tidak mau menerima perbedaan pandangan/pendapat dari saya *STS: Sangat Tidak Sesuai S TS STS

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 *SS: Sangat Sesuai; *S: Sesuai; *TS: Tidak Sesuai; No. PERNYATAAN 20. Orang tua saya mengajak saya berdiskusi SS mengenai banyak hal 21. Saya marah ketika orang tua tidak menyetujui pendapat saya 22. Saya berusaha menenangkan hati orang tua dengan memberikan penjelasan ketika orang tua mencemaskan diri saya 23. Orang tua enggan memberikan penjelasan kepada saya mengenai alasan ketidaksetujuan pendapatnya dengan saya 24. Orang tua saya selalu menganggap saya sebagai anak kecil sehingga saya tidak berhak memberikan pendapat 25. Orang tua saya ketidaksetujuannya alasan yang menyampaikan pada masuk saya akal jika dengan tidak sependapat dengan saya 26. Orang tua dan saya mencari jalan tengah bersama ketika terjadi konflik di antara kami 27. Saya menganggap orang tua tidak mengerti dan memahami permasalahan dibandingkan teman saya *STS: Sangat Tidak Sesuai saya S TS STS

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 *SS: Sangat Sesuai; *S: Sesuai; *TS: Tidak Sesuai; No. PERNYATAAN 28. Saya tidak segan menerima pendapat orang *STS: Sangat Tidak Sesuai SS S TS tua jika pendapat orang tua memang sesuai 29. Saya merasa malu untuk menceritakan atau membicarakan sesuatu dengan orang tua 30. Saya malas mendengarkan penjelasan dari orang tua ketika saya tidak diijinkan untuk melakukan sesuatu yang saya inginkan 31. Saya tidak segan memberikan masukan bagi orang tua 32. Orang tua saya tidak segan menerima pendapat saya jika pendapat saya memang sesuai 33. Saya lebih senang berdiam diri daripada membicarakan sesuatu dengan orang tua 34. Saya merasa orang tua mengabaikan/tidak mempedulikan pendapat saya 35. Orang tua menenangkan hati saya ketika saya sedang merasa cemas 36. Saya dan orang tua saling menjaga jarak dan tidak ada kontak mata ketika kami sedang membicarakan sesuatu Terima Kasih ☺ Mohon diperiksa kembali. Jangan sampai ada yang terlewatkan Silahkan lanjutkan ke bagian B STS

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 Skala B Petunjuk Pengerjaan Berikut ini terdapat 49 pernyataan terkait dengan perilaku Anda saat di sekolah. Baca dengan cermat dan pahami baik-baik untuk setiap pernyataan. Anda diminta secara jujur untuk menyatakan seberapa jauh pernyataan-pernyataan tersebut sesuai dengan diri Anda dengan cara memberikan tanda centang (√) pada kolom pilihan jawaban yang telah tersedia. Adapun pilihan jawaban yang tersedia adalah sebagai berikut: SS : bila pernyataan tersebut Sangat Sering Anda lakukan S : bila pernyataan tersebut Sering Anda lakukan JR : bila pernyataan tersebut Jarang Anda lakukan TP : bila pernyataan tersebut Tidak Pernah Anda lakukan Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda untuk setiap pernyataan dan tidak ada jawaban yang dianggap salah. Oleh karena itu, pilihlah jawaban yang paling tepat menggambarkan keadaan diri Anda. Selamat mengerjakan, jangan sampai ada yang terlewatkan

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 No. 1. PERNYATAAN SS Saya senang meledek teman atau adik kelas karena kekurangan yang ada pada dirinya, misal karena kondisi fisik, ekonomi, atau akademik 2. Saya memalak atau meminta sesuatu dengan paksa kepada teman atau adik kelas saya 3. Saya menyuruh teman atau adik kelas saya untuk melakukan sesuatu yang saya inginkan karena memang dia pantas untuk disuruh-suruh 4. Saya merasa puas memberikan tatapan yang melecehkan penampilan teman lawan jenis yang tidak percaya diri 5. Saya senang menggangu teman saya yang “kutu buku” di kelas saat pelajaran berlangsung supaya dia kehilangan konsentrasi 6. Saya akan mengolok-olok teman atau adik kelas, yang telah membuat saya marah, di depan umum 7. Saya akan mengancam teman atau adik kelas jika dia tidak mau menuruti permintaan saya 8. Saya mengejek bagian tubuh tertentu teman yang berlawanan jenis sehingga membuat dia rishi S JR TP

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 No. 9. PERNYATAAN SS Saya menuliskan kata-kata jorok yang ditujukan pada teman atau adik kelas yang berlawanan jenis sehingga membuat dia merasa tidak nyaman 10. Saya dengan sengaja mengabaikan teman yang memiliki penampilan aneh saat sedang mengajak saya berbicara 11. Saya memberi julukan dengan menggunakan kata-kata yang jorok pada teman yang berjenis kelamin sama dengan saya 12. Saya akan menampar teman atau adik kelas sebagai salah satu bentuk peringatan bagi dia 13. Saya sengaja tidak mengikutsertakan teman atau adik kelas untuk terlibat dalam suatu kegiatan atau kelompok karena dia tidak pantas untuk terlibat 14. Saya dengan sengaja mendorong tubuh teman atau adik kelas yang memiliki fisik lemah karena dia pantas untuk menerimanya 15. Saya senang merendahkan atau menghina pekerjaan orang tua teman atau adik kelas saya yang tidak mampu secara ekonomi 16. Saya tersenyum mengejek jika teman atau adik kelas saya tidak diikutsertakan dalam suatu kegiatan S JR TP

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 *SS: Sangat Sering; No. 17. *S: Sering; *J: Jarang; *TP: Tidak Pernah PERNYATAAN SS Saya memberikan tatapan yang merayu pada teman atau adik kelas yang membuat dia menjadi tidak nyaman 18. Saya melempar sesuatu ke arah teman atau adik kelas saya yang cupu (tidak mudah bergaul) untuk mempermainkan dia 19. Saya akan memaki teman atau adik kelas saya yang menurut saya tidak becus melakukan sesuatu yang saya perintahkan 20. Saya selalu ingin merangkul teman lawan jenis yang menarik perhatian saya setiap saat sedang berada di sebelah dia 21. Saya memberikan lirikan mata yang mengandung pesan merendahkan kepada teman atau adik kelas saya 22. Saya mengejek bagian tubuh tertentu teman yang berjenis kelamin sama dengan saya sehingga membuat dia merasa malu 23. Saya senang mencela cara berpakaian (penampilan) teman atau adik kelas yang memiliki penampilan buruk atau aneh menurut saya sehingga membuat dia sedih 24. Saya dengan sengaja merusak barangbarang milik teman atau adik kelas yang menyebalkan S JR TP

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 *SS: Sangat Sering; *S: Sering; *J: Jarang; *TP: Tidak Pernah No. PERNYATAAN 25. Saya merasa senang melihat teman atau SS adik kelas dikucilkan oleh saya dan temanteman lainnya yang telah saya hasut. 26. Saya suka memanfaatkan teman atau adik kelas saya yang cupu (tidak mudah bergaul) untuk melakukan sesuatu yang saya inginkan karena dia memang pantas untuk disuruh-suruh 27. Saya senang merebut dengan paksa makanan yang dibawa oleh teman atau adik kelas saya 28. Saya memaksa teman lawan jenis yang menarik perhatian saya untuk mencium saya 29. Saya menghina teman yang memiliki kemampuan akademik rendah daripada saya 30. Saya mengabaikan pendapat atau ide yang disampaikan oleh teman saya yang tidak pandai 31. Saya menyoraki teman atau adik kelas saat dia lewat di depan saya supaya mereka malu 32. Saya dengan sengaja tidak memberikan kesempatan kepada teman saya yang tidak pandai untuk memberikan pendapat dalam suatu diskusi S JR TP

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 *SS: Sangat Sering; *S: Sering; No. PERNYATAAN 31. Saya menyoraki teman atau adik kelas saat dia lewat *J: Jarang; *TP: Tidak Pernah SS di depan saya supaya mereka malu 32. Saya dengan sengaja tidak memberikan kesempatan kepada teman saya yang tidak pandai untuk memberikan pendapat dalam suatu diskusi 33. Saya akan menempeleng (mendorong kepala) teman atau adik kelas saya sebagai bentuk peringatan kepada dia 34. Saya akan memarahi teman atau adik kelas saya dengan kata-kata kasar jika dia melakukan kesalahan dalam melakukan sesuatu yang saya perintahkan 35. Saya memberikan pandangan yang mengancam kepada teman atau adik kelas saya untuk membuat dia patuh pada saya 36. Saya dengan sengaja membentak temanteman saya atau adik kelas saya supaya dia takut pada saya 37. Saya sengaja menuliskan suatu ejekan di papan tulis atau member surat kaleng yang bertujuan untuk membuat teman atau adik kelas saya sakit hati atau malu 38. Saya merasa senang jika meraba bagian tubuh tertentu teman lawan jenis saya S JR TP

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 *SS: Sangat Sering; *S: Sering; No. PERNYATAAN 39. Saya akan menggebrak meja ketika ada teman atau adik *J: Jarang; kelas *TP: Tidak Pernah SS yang berani menduduki “singgasana” saya di kantin atau di kelas 40. Saya merasa puas ketika menjadikan teman atau adik kelas saya sebagai bahan lelucon di depan umum 41. Saya memberikan pandangan sinis setiap bertemu dengan teman atau adik kelas, yang suka melaporkan sikap yang telah saya lakukan terhadap dia, kepada orang lain 42. Saya memberikan kritikan yang kejam / tajam kepada teman atau adik kelas yang “sok pintar” 43 Saya akan memberikan hukuman fisik kepada teman atau adik kelas saya jika dia tidak memenuhi permintaan saya 44. Bagi saya dan teman dekat saya menertawakan penampilan buruk/aneh dari teman atau adik kelas saya merupakan hal yang menyenangkan 45. Saya memegang tangan teman lawan jenis saya yang menarik perhatian saya dengan cara paksa 46. Saya senang menuduh teman atau adik kelas saya yang pendiam untuk menutupi kesalahan saya S JR TP

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 *SS: Sangat Sering; *S: Sering; *J: Jarang; *TP: Tidak Pernah No. PERNYATAAN 47. Saya sengaja menjegal kaki teman atau SS S adik kelas saya yang pemalu ketika dia berjalan melewati saya karena dia selalu melihat ke bawah saat sedang berjalan 48. Saya memberikan pandangan yang merendahkan harga diri teman atau adik kelas saya yang kurang mampu secara ekonomi 49. Saya dengan sengaja menceritakan keburukan teman atau adik kelas kepada sahabatnya supaya dia dijauhi oleh sahabatnya Terima Kasih ☺ Mohon diperiksa kembali. Jangan sampai ada yang terlewatkan JR TP

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 LAMPIRAN C UJI RELIABILITAS SKALA EFEKTIVITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA REMAJA DENGAN ORANG TUA

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 Reliability Case Processing Summary N Cases Valid Excludeda Total % 75 100.0 0 .0 75 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .851 60 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Scale Variance if Deleted Item Deleted Corrected Item- Cronbach's Alpha Total Correlation if Item Deleted A_1 168.56 220.709 .259 .849 A_2 168.44 221.844 .120 .852 A_3 168.89 220.448 .223 .850 A_4 168.87 222.117 .101 .853 A_5 168.35 214.392 .489 .845 A_6 168.88 226.594 -.046 .855 A_7 168.09 223.843 .080 .852 A_8 168.00 218.459 .342 .848 A_9 167.92 222.210 .173 .850 A_10 168.28 219.204 .245 .849 A_11 169.08 225.075 .014 .854 A_12 168.00 218.081 .360 .848 A_13 168.23 220.826 .270 .849 A_14 168.07 216.901 .351 .847

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 A_15 168.05 217.159 .393 .847 A_16 168.91 213.599 .465 .845 A_17 168.99 215.419 .391 .847 A_18 168.87 226.793 -.055 .856 A_19 168.65 223.257 .079 .853 A_20 168.11 218.691 .323 .848 A_21 168.35 218.581 .294 .848 A_22 168.23 221.448 .226 .850 A_23 167.99 215.770 .557 .845 A_24 168.36 210.125 .527 .843 A_25 168.03 218.756 .343 .848 A_26 168.21 216.846 .424 .847 A_27 167.96 215.120 .585 .845 A_28 168.03 215.243 .506 .845 A_29 168.47 219.387 .251 .849 A_30 168.52 215.091 .503 .845 A_31 168.16 219.001 .322 .848 A_32 168.25 215.786 .442 .846 A_33 168.73 220.414 .210 .850 A_34 168.51 218.551 .301 .848 A_35 168.60 216.027 .380 .847 A_36 168.59 223.165 .106 .852 A_37 168.17 216.902 .431 .846 A_38 168.03 215.540 .492 .845 A_39 168.15 221.830 .170 .851 A_40 168.33 216.252 .507 .846 A_41 169.17 223.686 .063 .853 A_42 168.25 216.543 .418 .846 A_43 168.51 224.794 .010 .855 A_44 168.43 214.221 .459 .845 A_45 168.08 219.021 .278 .849 A_46 168.60 221.649 .163 .851 A_47 168.28 223.042 .098 .852

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 A_48 168.72 221.366 .175 .851 A_49 168.36 214.774 .409 .846 A_50 168.96 216.390 .357 .847 A_51 169.03 213.621 .481 .845 A_52 168.71 215.561 .462 .846 A_53 168.56 217.817 .343 .848 A_54 168.87 225.766 -.018 .855 A_55 168.16 217.515 .395 .847 A_56 168.97 229.134 -.152 .856 A_57 168.15 215.586 .425 .846 A_58 168.57 222.924 .142 .851 A_59 168.19 221.775 .149 .851 A_60 168.08 221.399 .185 .850 Case Processing Summary N Cases Valid Excludeda Total % 75 100.0 0 .0 75 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .883 N of Items 36

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Scale Variance if Deleted Item Deleted Corrected Item- Cronbach's Alpha Total Correlation if Item Deleted A_1 102.95 138.267 .312 .881 A_5 102.73 134.117 .485 .878 A_6 103.27 144.441 -.085 .889 A_8 102.39 137.132 .350 .880 A_12 102.39 136.835 .368 .880 A_13 102.61 139.024 .280 .882 A_14 102.45 136.900 .303 .882 A_15 102.44 135.358 .446 .879 A_16 103.29 132.021 .536 .877 A_17 103.37 134.561 .404 .879 A_20 102.49 136.713 .367 .880 A_21 102.73 137.468 .287 .882 A_23 102.37 134.967 .572 .877 A_25 102.41 137.084 .370 .880 A_26 102.60 136.703 .379 .880 A_27 102.35 134.851 .571 .877 A_28 102.41 133.732 .570 .877 A_29 102.85 137.694 .265 .882 A_30 102.91 134.221 .527 .877 A_31 102.55 137.197 .353 .880 A_32 102.64 135.071 .446 .879 A_34 102.89 137.015 .318 .881 A_35 102.99 135.500 .370 .880 A_37 102.56 135.061 .494 .878 A_38 102.41 135.462 .460 .878 A_40 102.72 135.339 .522 .878 A_42 102.64 135.098 .457 .878 A_44 102.81 132.775 .519 .877 A_45 102.47 138.414 .237 .883 A_49 102.75 133.813 .434 .879

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 A_50 103.35 136.040 .334 .881 A_51 103.41 133.381 .482 .878 A_52 103.09 134.518 .489 .878 A_53 102.95 137.240 .314 .881 A_55 102.55 138.657 .262 .882 A_57 102.53 134.685 .441 .879

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 LAMPIRAN D UJI RELIABILITAS SKALA KECENDERUNGAN PERILAKU BULLYING

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 Reliability Case Processing Summary N Cases Valid Excludeda Total % 75 100.0 0 .0 75 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .925 58 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Scale Variance if Deleted Item Deleted Corrected Item- Cronbach's Alpha Total Correlation if Item Deleted B_1 75.79 186.494 .354 .924 B_2 76.07 187.955 .452 .923 B_3 75.93 189.279 .300 .924 B_4 76.03 189.540 .228 .925 B_5 76.08 188.750 .364 .924 B_6 76.12 190.188 .217 .925 B_7 75.89 185.637 .466 .923 B_8 75.57 188.005 .192 .927 B_9 75.53 179.766 .579 .922 B_10 76.21 191.819 .192 .925 B_11 76.11 192.070 .097 .925 B_12 76.03 185.837 .565 .922 B_13 76.04 186.904 .437 .923 B_14 76.04 185.877 .509 .923

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 B_15 75.61 187.132 .325 .924 B_16 76.15 189.775 .255 .924 B_17 75.99 187.446 .337 .924 B_18 76.11 187.015 .460 .923 B_19 76.27 192.495 .163 .925 B_20 75.91 187.248 .367 .924 B_21 76.21 189.900 .417 .924 B_22 76.19 188.803 .443 .923 B_23 75.77 186.556 .407 .923 B_24 75.87 186.009 .408 .923 B_25 76.17 189.253 .386 .924 B_26 76.08 189.183 .309 .924 B_27 75.89 185.124 .445 .923 B_28 75.91 185.978 .429 .923 B_29 75.75 188.192 .273 .925 B_30 76.01 186.067 .485 .923 B_31 75.89 181.664 .604 .922 B_32 76.08 186.129 .510 .923 B_33 76.08 188.804 .388 .924 B_34 76.07 188.414 .385 .924 B_35 76.09 187.005 .481 .923 B_36 76.24 190.969 .335 .924 B_37 76.08 187.318 .516 .923 B_38 75.77 187.394 .370 .924 B_39 75.85 183.667 .544 .922 B_40 75.99 186.581 .442 .923 B_41 76.03 185.783 .510 .923 B_42 75.91 182.140 .663 .921 B_43 76.11 188.664 .418 .923 B_44 75.81 182.965 .630 .921 B_45 76.05 188.700 .300 .924 B_46 76.24 190.266 .364 .924 B_47 76.17 187.956 .466 .923

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 B_48 75.81 180.019 .671 .921 B_49 75.69 183.270 .480 .923 B_50 75.68 184.707 .421 .923 B_51 75.64 187.585 .286 .925 B_52 76.21 190.224 .379 .924 B_53 75.87 184.198 .533 .922 B_54 76.25 190.273 .388 .924 B_55 76.01 186.932 .358 .924 B_56 76.03 185.999 .521 .923 B_57 76.17 188.740 .434 .923 B_58 76.08 187.048 .470 .923 Case Processing Summary N Cases Valid Excluded a Total % 75 100.0 0 .0 75 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .929 N of Items 49

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Scale Variance if Deleted Item Deleted Corrected Item- Cronbach's Alpha Total Correlation if Item Deleted B_1 63.7467 156.138 .357 .928 B_2 64.0267 157.270 .479 .927 B_3 63.8933 158.529 .320 .928 B_5 64.0400 158.498 .346 .928 B_7 63.8533 155.613 .453 .927 B_9 63.4933 150.767 .543 .927 B_12 63.9867 155.689 .559 .926 B_13 64.0000 156.514 .443 .927 B_14 64.0000 155.541 .517 .927 B_15 63.5733 157.329 .292 .929 B_17 63.9467 157.430 .314 .928 B_18 64.0667 156.712 .459 .927 B_20 63.8667 157.333 .337 .928 B_21 64.1733 159.118 .447 .928 B_22 64.1467 158.046 .474 .927 B_23 63.7333 156.441 .395 .928 B_24 63.8267 156.388 .368 .928 B_25 64.1333 159.090 .351 .928 B_26 64.0400 158.552 .319 .928 B_27 63.8533 154.721 .460 .927 B_28 63.8667 155.982 .412 .928 B_30 63.9733 155.729 .492 .927 B_31 63.8533 151.424 .626 .925 B_32 64.0400 155.661 .528 .927 B_33 64.0400 158.390 .383 .928 B_34 64.0267 157.945 .387 .928 B_35 64.0533 156.673 .482 .927 B_36 64.2000 160.270 .343 .928 B_37 64.0400 156.985 .515 .927 B_38 63.7333 156.901 .380 .928

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 B_39 63.8133 153.640 .543 .926 B_40 63.9467 156.186 .450 .927 B_41 63.9867 155.094 .546 .926 B_42 63.8667 152.009 .679 .925 B_43 64.0667 158.171 .422 .927 B_44 63.7733 153.232 .613 .926 B_45 64.0133 158.446 .285 .928 B_46 64.2000 159.432 .395 .928 B_47 64.1333 157.739 .449 .927 B_48 63.7733 150.043 .685 .925 B_49 63.6533 152.905 .499 .927 B_50 63.6400 154.288 .436 .927 B_52 64.1733 159.605 .384 .928 B_53 63.8267 153.713 .559 .926 B_54 64.2133 159.440 .421 .928 B_55 63.9733 156.324 .377 .928 B_56 63.9867 155.581 .536 .927 B_57 64.1333 158.117 .451 .927 B_58 64.0400 156.796 .464 .927

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 LAMPIRAN E UJI NORMALITAS

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. TOTAL_A .049 132 .200* .989 132 .410 TOTAL_B .169 132 .000 .851 132 .000 a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance. PLOT SKALA EFEKTIVITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA REMAJA DENGAN ORANG TUA (A)

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 PLOT SKALA KECENERUNGAN PERILAKU BULLYING (B)

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 LAMPIRAN F UJI LINEARITAS

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 Case Processing Summary Cases Included N TOTAL_B * TOTAL_A Excluded Percent 132 N 100.0% TOTAL_B TOTAL _A Mean N Percent 0 Report Std. Deviation 67 55.0000 1 . 78 60.0000 1 . 80 84.0000 1 . 84 76.0000 1 . 87 80.0000 2 31.11270 88 70.0000 1 . 92 57.5000 2 6.36396 93 60.6667 3 8.38650 94 62.5000 2 .70711 95 65.6667 3 14.01190 96 56.0000 4 4.89898 98 87.0000 1 . 99 66.7500 4 11.52895 100 54.5000 2 3.53553 101 85.5000 4 22.36813 102 61.8000 5 7.46324 103 64.5000 2 9.19239 104 72.4286 7 11.88637 105 72.0000 4 26.05123 106 60.0000 1 . 107 84.0000 1 . Total .0% N Percent 132 100.0%

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 108 74.6250 8 21.50706 109 60.5000 2 3.53553 110 65.7500 4 19.12023 111 54.6667 3 5.50757 112 55.8000 5 4.60435 113 63.0000 8 13.14751 114 58.0000 1 . 115 66.4444 9 10.36956 116 57.0000 2 9.89949 117 66.3333 6 10.81974 118 53.0000 2 .00000 119 60.0000 2 2.82843 120 57.0000 3 3.00000 121 60.6667 3 11.54701 122 58.0000 1 . 123 50.0000 1 . 124 62.3333 3 17.21434 125 64.5000 2 6.36396 126 54.0000 1 . 127 54.0000 2 4.24264 128 53.0000 1 . 129 65.0000 1 . 130 51.0000 1 . 131 65.0000 2 11.31371 132 64.0000 2 1.41421 133 49.5000 2 .70711 134 56.0000 1 . 135 51.0000 1 . 138 65.0000 1 . Total 64.3106 132 13.56136

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 ANOVA Table Sum of Squares TOTAL_B * Between (Combine TOTAL_A Groups d) df Mean Square F Sig. 9054.187 49 184.779 1.008 .480 1183.791 1 1183.791 6.455 .013 7870.396 48 163.967 .894 .659 Within Groups 15038.078 82 183.391 Total 24092.265 131 Linearity Deviation from Linearity Measures of Association R TOTAL_B * TOTAL_A R Squared -.222 .049 Eta Eta Squared .613 .376

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 LAMPIRAN G UJI HIPOTESIS

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 Correlations : Nonparametric Correlations Correlations TOTAL_A Spearman's rho TOTAL_A 1.000 -.251** . .004 132 132 -.251** 1.000 Sig. (2-tailed) .004 . N 132 132 Correlation Coefficient Sig. (2-tailed) N TOTAL_B TOTAL_B Correlation Coefficient **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

(154)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara pola komunikasi orang tua - remaja dengan konsep diri remaja
4
11
129
Hubungan antara konformitas dengan kecenderungan pembelian impulsif pada remaja awal di Yogyakarta.
1
10
105
Hubungan antara komunikasi interpersonal dengan keintiman terhadap pasangan pada dewasa awal dengan orangtua bercerai.
0
3
123
Hubungan penggunaan jejaring sosial dan efektivitas komunikasi interpersonal pada remaja tunarungu.
0
1
140
Hubungan antara komunikasi interpersonal dengan keintiman terhadap pasangan pada dewasa awal dengan orangtua bercerai
0
6
121
Hubungan penggunaan jejaring sosial dan efektivitas komunikasi interpersonal pada remaja tunarungu
0
3
138
BABI PENDAHULUAN - Hubungan antara persepsi remaja terhadap efektivitas komunikasi dengan orangtua dengan konsep diri - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
9
Hubungan antara persepsi remaja terhadap efektivitas komunikasi dengan orangtua dengan konsep diri - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
1
11
Hubungan antara persepsi remaja terhadap efektivitas komunikasi dengan orangtua dengan konsep diri - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
37
Motivasi berprestasi dengan komunikasi efektif antara orangtua dan remaja awal - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
20
Motivasi berprestasi dengan komunikasi efektif antara orangtua dan remaja awal - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
1
1
13
Perbedaan perilaku konsumtif antara remaja putri kost dan remaja putri asrama - USD Repository
0
0
130
Perbedaan kualitas komunikasi antara remaja akhir putra dan remaja akhir putri dengan ibunya - USD Repository
0
0
103
Hubungan antara konformitas kelompok teman sebaya dengan resiliensi pada remaja awal - USD Repository
0
1
192
Hubungan antara kualitas kelekatan dan penyelesaian konflik antara remaja awal dengan orang tua - USD Repository
0
0
159
Show more