Implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis Ix Sedayu - USD Repository

Gratis

0
0
222
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF MELALUI PEMANFAATAN MULTIMEDIA UNTUK MENINGKATKAN COMPETENCE, CONSCIENCE, DAN COMPASSION SISWA KELAS XI IPA 1 SMA PANGUDI LUHUR ST. LOUIS IX SEDAYU SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah Disusun Oleh : Andreas Gilang Tito Abiyasa 091314002 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF MELALUI PEMANFAATAN MULTIMEDIA UNTUK MENINGKATKAN COMPETENCE, CONSCIENCE, DAN COMPASSION SISWA KELAS XI IPA 1 SMA PANGUDI LUHUR ST. LOUIS IX SEDAYU SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah Disusun Oleh : Andreas Gilang Tito Abiyasa ( 091314002) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini ku persembahkan kepada: 1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan perlindungan dan kekuatan dalam hidupku 2. Kedua orangtua ku tercinta dan adikku tersayang yang selalu mendukung dan memberi semangat dalam segala hal iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO Sejarah ibarat “tempe” dihamparan “hamburger”. Sekarang tergantung bagaimana cara kita menjadikan “tempe” tersebut berasa “hamburger”. - (Hb. Hery Santosa) Pendidikan merupakan perlengkapan paling baik untuk hari tua. - (Aristoteles) Walk on with hope in your heart. And you’ll never walk alone - (Liverpool FC) v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF MELALUI PEMANFAATAN MULTIMEDIA UNTUK MENINGKATKAN COMPETENCE, CONSCIENCE, DAN COMPASSION SISWA KELAS XI IPA 1 SMA PANGUDI LUHUR ST. LOUIS IX SEDAYU Oleh Andreas Gilang Tito Abiyasa Universitas Sanata Dharma 2014 Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa setelah Implementasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) Melalui Pemanfaatan Multimedia. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas dengan model penelitian Kemmis dan McTaggart berbais PPR dengan tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan dengan menggunakan observasi, tes, dan kuesioner. Analisis data dengan menggunakan deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan competence, conscience, dan compassion siswa setelah diterapkannya pembelajaran sejarah dengan PPR melalui pemanfaatan multimedia. (1) Peningkatan competence siswa dengan KKM 78, dari keadaan awal 14 siswa (46,67%) menjadi 21 siswa (70%) pada siklus 1, dan pada siklus 2 meningkat lagi menjadi 27 siswa (90%). (2) Peningkatan aspek conscience siswa dilihat dari rata-rata skor keadaan awal sebesar 157,3 (71,5%) dengan kategori cukup, meningkat menjadi 169,1 (76,8%) pada keadaan akhir dengan kategori cukup atau terjadi peningkatan sebesar 5,3%. (3) Peningkatan aspek compassion siswa pada keadaan awal sebesar 188,1 (78,4%) dengan kategori cukup, meningkat menjadi 196 (81,7%) pada keadaan akhir dengan kategori tinggi atau terjadi peningkatan sebesar 3,3%. viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT HISTORY LEARNING IMPLEMENTATION BASED ON REFLECTIVE PEDAGOGICAL PARADIGM THROUGH THE USE OF MULTIMEDIA IN IMPROVING COMPETENCE, CONSIENCE, AND COMPASSION OF ELEVENTH GRADE STUDENTS OF SCIENCE 1 PANGUDI LUHUR ST. LOUIS IX SEDAYU SENIOR HIGH SCHOOL By Andreas Gilang Tito Abiyasa Sanata Dharma University 2014 This research aims to describe the competence, conscience, and compassion improvement of the students towards the Implementation of the History Learning Based on Reflective Pedagogical Paradigm (RPP) through the use of multimedia. This research uses Class Action Research model according to Kemmis and Mc Taggart based on RPP with the steps of planning, action, observation, and reflection. The data is gathered through observation, test, and questionnaire. The data analysis uses descriptive percentage. The result points out that there is competence, conscience, and compassion improvement of students after implementing history learning based on PPR through the use of multimedia. (1) Students' competence improvement with KKM of 78, in the initial state of first cycle, it is 14 students (46,67%) increasing into 21 students (70%), and in the second cycle increasing into 27 students (90%). (2) The improvement of students' conscience aspect as seen in initial state of average score which is 157,3 (71,5%) with the enough category, increasing into 169,1 (76,8%) at the final state with enough category or there is an increase of 5,3%. (3) The improvement of students' compassion aspect, in the initial state of 188,1 (78,4%) with enough category, increasing into 196 (81,7%), in the final state with high category or there is an increase of 3,3 %. ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan bimbingan-Nya skripsi yang berjul ”Implementasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif melalui Pemanfaatan Multimedia Untuk Meningkatkan Competence, Conscience, dan Compassion Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu” ini dapat terselesaikan dengan baik. Bagi penulis penyusunan skripsi ini telah memberikan banyak ilmu dan pengalaman yang sangat berguna dalam penyusunan sebuah karya ilmiah. Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada: 1. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si. selaku ketua jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Sanata Dharma. 3. Ibu Dra. Theresia Sumini, M.Pd. selaku dosen pembimbing I yang telah banyak memberikan informasi dan bimbingan kepada penulis. 4. Bapak Drs. A.K. Wiharyanto, M.M. selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis 5. Br. Agustinus Mujiya, S.Pd., FIC selaku kepala SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu yang telah memberikan kesempatan dalam melaksanakan penelitian ini sehingga dapat berjalan dengan semestinya. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... ii HALAMAN PENGESAHAN..................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. iv HALAMAN MOTTO ................................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH......... vii ABSTRAK .................................................................................................. viii ABSTRACT ................................................................................................ ix KATA PENGANTAR ................................................................................ x DAFTAR ISI ............................................................................................... xii DAFTAR TABEL ....................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xvi BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1 A. Latar Belakang ................................................................................ 1 B. Identifikasi Masalah ........................................................................ 8 C. Batasan Masalah ............................................................................. 9 D. Rumusan Masalah ........................................................................... 9 E. Pemecahan Masalah ........................................................................ 10 F. Tujuan Penelitian ........................................................................... 10 G. Manfaat Penelitian .......................................................................... 11 H. Sistematika Penulisan ..................................................................... 12 BAB II KAJIAN TEORI............................................................................. 13 A. Deskripsi Teori ................................................................................ 13 1. Penelitian Tindakan Kelas ........................................................ 13 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Pembelajaran Sejarah ................................................................ 16 3. Paradigma Pedagogi Reflektif................................................... 21 4. Konsep Competence, Conscience, Compassion (3C) ............... 25 5. Multimedia ................................................................................ 29 B. Materi Pembelajaran ....................................................................... 31 C. Kaitan antara penerapan PPR melalui pemanfaatan multimedia dengan PTK dalam pembelajaran sejarah ....................................... 37 D. Penelitian yang Relevan .................................................................. 38 E. Kerangka Berpikir ........................................................................... 39 BAB III METODE DAN METODOLOGI PENELITIAN ....................... 41 A. Jenis penelitian ................................................................................ 41 B. Setting Penelitian ............................................................................ 41 C. Subyek dan Obyek .......................................................................... 42 D. Desain penelitian ............................................................................. 43 E. Definisi Operasionel Variabel ......................................................... 43 F. Sumber Data .................................................................................... 45 G. Metode Pengumpulan data .............................................................. 46 H. Instrumen Pengumpulan data .......................................................... 47 I. Jenis dan Analisis Data ................................................................... 49 J. Validitas dan Reliabilitas Instrumen ............................................... 55 K. Prosedur Penelitian ......................................................................... 57 L. Indikator Keberhasilan .................................................................... 64 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................ 65 A. Hasil penelitian................................................................................ 65 B. Komparasi ....................................................................................... 110 C. Pembahasan ..................................................................................... 120 BAB V PENUTUP...................................................................................... 127 A. Kesimplan ....................................................................................... 127 B. Saran ............................................................................................... 129 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 131 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1 : Jadwal Penelitian Di Sekolah ................................................... 42 Tabel 2: Kriteria Penuntasan Hasil Belajar ............................................... 50 Tabel 3: Kriteria Penilaian Portofolio Siklus 1 ......................................... 51 Tabel 4: Kriteria Penilaian Portofolio Siklus 2 ......................................... 51 Tabel 5: Skor Kuesioner Pernyataan Positif .................................................. 53 Tabel 6: Skor Kuesioner Pernyataan Negatif ............................................ 53 Tabel 7: Analisis Kuesioner Aspek Conscience (Suara Hati) ................... 53 Tabel 8 : Analisis Kuesioner Aspek Compassion (Bela Rasa) ................. 54 Tabel 9: Pengamatan Aspek Conscience (Suara Hati) siklus 1 dan 2......... 54 Tabel 10 : Pengamatan Aspek Compassion (Bela Rasa) siklus 1 dan 2 ........ 55 Tabel 11 : Indikator Keberhasilan ............................................................... 64 Tabel 12 : Keadaan Awal Nilai Kognitif .................................................... 68 Tabel 13 : Data Keadaan Awal Aspek Competence ................................... 69 Tabel 14 : Data Keadaan Awal Aspek Conscience (Suara Hati) ................... 70 Tabel 15: Data Keadaan Awal Aspek Compassion (Bela Rasa)................. 70 Tabel 16 : Hasil Ulangan Siklus 1 .............................................................. 82 Tabel 17 : Nilai Akhir Siklus 1 ................................................................... 83 Tabel 18 : Frekuensi Data Aspek Competence Siklus 1 ............................. 85 Tabel 19 : Hasil Pengamatan Aspek Conscience dan Compassion Siklus 1 87 Tabel 20 : Hasil Ulangan Siklus 2............................................................... 98 Tabel 21 : Nilai Akhir Siklus 2 .................................................................. 99 Tabel 22 : Frekuensi Data Aspek Competence Siklus 2 ............................. 100 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 23 : Data Keadaan Akhir Aspek Conscience (Suara Hati) ............... 102 Tabel 24 : Data Keadaan Akhir Aspek Compassion (Bela Rasa) ............... 104 Tabel 25 : Hasil Pengamatan Aspek Conscience dan Compassion Siklus 2 106 Tabel 26 : Komparasi Aspek Competence Berdasarkan Peningkatan Nilai 110 Tabel 27 : Komparasi Aspek Competence Berdasarkan Ketuntasan KKM 112 Tabel 28 : Hasil Komparasi Aspek Conscience Keadaan Awal dan Akhir 114 Tabel 29 : Hasil Komparasi Aspek Conscience Siklus 1 dan 2 .................. 116 Tabel 30 : Hasil Komparasi Aspek Compassion Keadaan Awal dan Akhir 118 Tabel 31 : Hasil Komparasi Aspek Conscience Siklus 1 dan 2 .................. 120 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar I : Siklus Penelitian Tindakan Kelas ........................................... 18 Gambar II : Kerangka Berpikir .................................................................. 41 Gambar III : Desain model Kemmis dan McTaggart berbasis PPR ......... 45 Gambar IV : Grafik Data Keadaan Awal Competence Siswa..................... 70 Gambar V : Grafik Perbandingan Data Keadaan Awal Conscience ......... 72 Gambar VI : Grafik Perbandingan Data Keadaan Awal Compassion ....... 74 Gambar VII : Grafik Perbandingan Data Competence Siklus 1 ................. 86 Gambar VIII: Grafik Perbandingan Data Competence Siklus 2 ................. 101 Gambar IX : Grafik Perbandingan Data Keadaan Akhir Conscience ........ 103 Gambar X : Grafik Perbandingan Data Keadaan Akhir Compassion ...... 105 Gambar XI : Diagram Hasil Komparasi Aspek Competence..................... 113 Gambar XII: Diagram Hasil Komparasi Aspek Conscience Keadaan Awal dan Akhir ............................................................................. 116 Gambar XIII: Diagram Hasil Komparasi Aspek Compassion Keadaan Awal dan Akhir ............................................................................. xvi 119

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1: Jadwal Penelitian .................................................................... 134 Lampiran 2: Surat Ijin Penelitian ................................................................ 135 Lampiran 3: Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ...................... 136 Lampiran 4: Silabus .................................................................................... 137 Lampiran 5: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ....................................... 143 Lampiran 6: Hasil Wawancara Dengan Guru ............................................. 154 Lampiran 7: Hasil Observasi Aktivitas Guru Di Kelas............................... 155 Lampiran 8: Hasil Observasi Aktivitas Siswa Di Kelas ............................. 156 Lampiran 9: Rangkuman Hasil Refleksi dan Aksi Siswa ........................... 157 Lampiran 10: Kisi-kisi Kuesioner Aspek Conscience Siswa ...................... 159 Lampiran 11: Kuesioner Pra Penelitian Aspek Conscience........................ 160 Lampiran 12: Hasil Analisis Validitas Kuesioner Aspek Conscience ........ 165 Lampiran 13: Kuesioner Keadaan Awal dan Akhir Aspek Conscience ..... 168 Lampiran 14: Kisi-kisi Kuesioner Aspek Compassion Siswa .................... 173 Lampiran 15: Kuesioner Pra Penelitian Aspek Compassion ...................... 174 Lampiran 16: Hasil Analisis Validitas Kuesioner Aspek Compassion....... 179 Lampiran 17: Kuesioner Keadaan Awal dan Akhir Aspek Compassion .... 182 Lampiran 18: Kisi-kisi Soal Ulangan Siklus 1 ............................................ 187 Lampiran 19: Soal Tes/Ulangan Siklus 1.................................................... 189 Lampiran 20: Kisi-kisi Soal Ulangan Siklus 2 ............................................ 193 Lampiran 21: Soal Test/Ulangan Siklus 2 .................................................. 195 Lampiran 22: Lampiran Foto ...................................................................... 201 xvii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara umum pengertian pendidikan adalah proses perubahan atau pendewasaan manusia, berawal dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak biasa menjadi biasa, dari tidak paham menjadi paham dan sebagainya. Pendidikan itu bisa didapatkan dan dilakukan dimana saja, bisa di lingkungan sekolah, masyarakat dan keluarga, dan yang penting untuk diperhatikan adalah bagaimana memberikan atau mendapat pendidikan dengan baik dan benar, agar manusia tidak terjerumus dalam kehidupan yang negatif. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjamin kelangsungan hidup negara, karena pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Dengan pendidikan kehidupan manusia menjadi terarah. Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada hakikatnya tujuan pendidikan nasional tidak boleh melupakan landasan konseptual filosofi pendidikan yang membebaskan dan mampu menyiapkan generasi masa depan untuk mampu bertahan hidup dan berhasil menghadapi tantangan-tantangan zamannya.1 Pendidikan itu sendiri memiliki peranan yang penting dalam menciptakan masyarakat yang cerdas, kritis dan demokratis. Di era 1 Dharma Kesuma, dkk, 2012, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah, Bandung: Rosdakarya, hlm. 6. 1

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 dewasa ini, pendidikan merupakan hal yang wajib dimiliki oleh setiap individu. Oleh sebab itu, pembaharuan pendidikan harus senantiasa dilakukan agar tercipta pendidikan yang berkualitas. Menjadikan manusia cerdas dan pintar, boleh jadi mudah dilakukan, tetapi menjadikan manusia agar menjadi orang yang baik dan bijak, tampaknya jauh lebih sulit atau bahkan sangat sulit. Dengan demikian, sangat wajar apabila dikatakan bahwa masalah moral merupakan persoalan akut atau penyakit kronis yang mengiringi kehidupan manusia kapan dan di mana pun. Pendidikan bukan sekedar berfungsi sebagai media untuk mengembangkan kemampuan semata, melainkan juga berfungsi untuk membentuk karakter dan peradaban bangsa yang bermatabat. Dari hal ini maka sebenarnya pendidikan karakter tidak bisa ditinggalkan dalam berfungsinya pendidikan. Oleh karena itu, sebagai fungsi yang melekat pada keberadaan pendidikan nasional untuk membentuk karakter dan peradaban bangsa, pendidikan karakter merupakan manifestasi dari peran tersebut. Untuk itu, pendidikan karakter menjadi tugas dari semua pihak yang terlibat dalam usaha pendidikan. Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari pendidikan karakter seperti yang telah diuraikan di atas, menghendaki suatu proses yang berkelanjutan, dilakukan melalui implementasi pada berbagai mata pelajaran yang ada. Dalam realitanya, proses pembelajaran yang terjadi pada umumnya hanyalah penyampaian materi dari guru ke siswa tanpa menanamkan nilai nilai karakter dalam diri siswanya. Penanaman nilai yang kurang inilah menyebabkan perkembangan karakter siswa menjadi kurang. Banyak fakta terlihat bahwa

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 sekarang telah terjadi banyak praktek negatif yang dilakukan oleh pelajar sebagai contoh merosotnya moral mereka saat ini. Salah satu mata pelajaran yang berpotensi membentuk sikap kemanusiaan kritis adalah sejarah. Sejarah tidak akan berfungsi dalam proses pendidikan yang menjurus pertumbuhan dan pengembangan karakter bangsa apabila nilai-nilai sejarah tersebut belum terwujud dalam pola pikir dan perilaku yang nyata. Untuk sampai pada wujud perilaku ini, perlu ditumbuhkan apa yang disebut kesadaran sejarah.2 Sejarah adalah salah satu ilmu pengetahuan yang sangat menarik. Sejarah juga mengajarkan hal-hal yang sangat penting, dalam mengembangkan pendidikan karakter, kesadaran akan siapa dirinya dan bangsanya adalah bagian yang teramat penting. Kesadaran tersebut hanya dapat terbangun dengan baik melalui sejarah yang memberikan pencerahan dan penjelasan mengenai siapa diri bangsanya di masa lalu yang menghasilkan dirinya dan bangsanya di masa kini. sebagai contohnya mengenai keberhasilan dan kegagalan dari para pemimpin negara, sistem perekonomian yang pernah ada, bentuk-bentuk pemerintahan, dan hal-hal penting lainnya dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Dari sejarah, kita dapat mempelajari apa saja yang memengaruhi kemajuan dan kejatuhan sebuah negara atau sebuah peradaban. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sejarah merupakan mata pelajaran yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan terutama nilai-nilai karakter dan kemanusiaan. 2 I Gede Widja, 1989, Dasar-dasar Pengembangan Strategi Serta Metode Pengajaran Sejarah, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hlm. 10.

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Namun dalam prakteknya, masih banyak siswa yang kurang berminat pada pelajaran sejarah. Banyak orang berpikir bahwa pelajaran sejarah hanyalah menyangkut urusan sekelompok kecil anggota masyarakat yang disebut dengan sejarawan atau peminat sejarah yang tertarik pada apa yang terjadi di waktu yang lampau. Dalam konteks pendidikan, sejarah sering dianggap urusan guru sejarah saja, yang berminat pada sejarah karena tuntutan profesinya sebagai guru.3 Banyaknya siswa yang tidak menyukai mata pelajaran sejarah dikarenakan guru mata pelajaran yang cenderung monoton, ditambah lagi mereka lebih tertarik pada materi pembelajaran yang realistik dan memiliki prospek ke depan. Hal yang serupa juga terjadi dalam proses pembelajaran di salah satu SMA di Yogyakarta. SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu adalah merupakan sekolah berasrama (boarding school) yang dikelola oleh para biarawan dan biarawati gereja. Sekolah ini berciri khas Katholik sebagai komunitas umat beriman yang mewujudkan keimanan, kebijaksanaan dalam tata pergaulan seharihari.4 Pembinaan dalam hidup berasrama yang religius memberikan nuansa bagi kehidupan sekolah berbeda dengan sekolah sekolah lain berdasarkan visi dari SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu yaitu menjadi sekolah pilihan, berkarakter katholik, unggul dalam akademik, peduli lingkungan, dan memiliki ketrampilan hidup dilandasi semangat pelayanan. Dengan latar belakang sekolah yang seperti itu, peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian di SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu. Berdasarkan observasi awal di kelas XI IPA 1, dimana guru sejarah masih menggunakan 3 4 Ibid., hlm. 7. http://smaplsedayu.sch.id/profil/sejarah-singkat-sma-pl-st-louis-ix-sedayu.2.html (diakses pada tanggal 20 Maret 2013)

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 metode konvensional. Yakni melakukan ceramah dan berpedoman pada buku paket, walaupun sering kali ditambahi dengan guyonan kecil untuk mencairkan suasana. Keadaan semacam itulah yang menjadi salah satu penyebab kurangnya minat siswa pada pelajaran sejarah, sehingga kegunaan sejarah untuk menanamkan nilai kehidupan sulit untuk dilakukan. Realita masalah ini tidak dimaksudkan tuduhan peneliti terhadap metode guru yang cenderung kuno, akan tetapi ajakan kepada semua pihak di SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu untuk bekerjasama dalam pemecahan masalah tersebut. Sehingga proses pembelajaran yang berlangsung akan sesuai dengan tujuan dari SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu, yaitu terselenggaranya pembelajaran yang aktif dan menyenangkan serta tercapainya peningkatan sarana/ prasarana dan media kegiatan belajar mengajar.5 Pendidikan perlu mengembangkan siswa-siswanya tidak hanya pandai secara akademik, tetapi menjadi cerdas (bukan hanya pandai dalam bidang studi). Cerdas yang dimaksud adalah cerdas dalam bersikap, memutuskan, memilih, menilai, dan bertindak. Dengan kata lain cerdas adalah sikap kemanusiaan yang kritis. Dengan bimbingan guru, siswa diajak untuk membahas masalah-masalah atau kejadian-kejadian yang dipaparkan dalam media massa untuk membentuk pendapat dan sikap kritis berdasarkan kaidah dan etika yang telah dipelajari. Berlandaskan sikap, keyakinan, nilai kemanusiaan/budaya tersebut, siswa dilatih untuk menjadi cerdas. Dengan menyikapi dan menghayati nilai/budaya sebagai landasannya, siswa dilatih untuk membahas masalah aktual kemasyarakatan 5 http://smaplsedayu.sch.id/profil/sejarah-singkat-sma-pl-st-louis-ix-sedayu.2.html (diakses pada tanggal 20 Maret 2013)

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 secara kritis. Dalam hal ini sangat diperlukan kemampuan penalaran, eksplorasi, kreativitas, dan kemandirian dalam belajar, baik bagi mereka yang akan sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun mereka yang karena hambatan finansial tidak mampu sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan pembelajaran yang mendukung, salah satunya dengan melaksanakan pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR). Pola pikir pembelajaran PPR ini dalam hal membentuk pribadi, siswa diberi pengalaman akan suatu nilai kemanusiaan, kemudian siswa difasilitasi dengan pertanyaan agar merefleksikan pengalaman tersebut, dan berikutnya difasilitasi dengan pertanyaan aksi agar siswa membuat niat dan berbuat sesuai nilai tersebut.6 Melalui PPR diharapkan siswa-siswi akan menjadi pejuang, maka perlu dikembangkan pada mereka kepemimpinan. Kepemimpinan ditumbuhkan dengan melengkapi mereka dengan kemampuan penalaran, eksplorasi, kreativitas dan kemandirian dalam pelajaran dan bertindak. SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu merupakan lembaga pendidikan yang termasuk dalam idealisme pendidikan katholik, yang mana persaudaraan sejati merupakan roh sekolah, sesuai dengan ciri khas dari para Bruder FIC selaku pengayom dari sekolah ini. Oleh sebab itu, sangatlah cocok bila PPR ini diterapkan dalam pendidikan di sekolah tersebut sehingga dapat meningkatkan karakter mereka terutama dalam hal kemampuan/prestasi belajar, ketrampilan, sikap atau competence, mengembangkan hati nurani atau conscience, dan mengembangkan bela rasa 6 Tim Redaksi Kanisius, 2008, Paradigma Pedagogi Reflektif: Alternatif Solusi Menuju Pendidikan Kristiani, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 39.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 terhadap sesama atau compassion sesuai dengan visi dan misi dari SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu. Dalam hal ini pembelajaran PPR ini juga perlu dikemas semenarik mungkin agar siswa tertarik, maka diperlukan suatu media pendukung. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan alat pendukung berupa multimedia pembelajaran berbasis teknologi sehingga dalam menyampaikan pelajaran sejarah, metode yang digunakan guru tidak konvensional. Pada dasarnya salah satu tujuan dari pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan multimedia adalah sedapat mungkin menggantikan dan melengkapi tujuan, materi, metode dan alat penilaian yang ada dalam proses belajar mengajar dalam sistem pembelajaran konvensional. Dengan penerapan multimedia ini diharapkan akan mampu memberikan perubahan dalam suasana belajar, sehingga dapat menimbulkan motivasi khususnya dalam mengikuti pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa di SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu sesuai dengan visi, misi, dan tujuan sekolah tersebut. Selain itu dengan digunakannya multimedia dalam pembelajaran, akan membantu menunjang dalam proses penanaman nilainilai karakter dan kemanusiaan yang sangat banyak terkandung dalam pelajaran sejarah karena aspek multimedia yang dimiliki komputer dapat memberikan rangsangan atau stimulus dalam belajar. Perubahan suasana dalam proses pembelajaran seperti pengadaan animasi gambar yang menarik dan mengarah pada materi pembelajaran, serta iringan musik yang menyertai gambar-gambar dan interaksi yang dibuat, diharapkan dapat dijadikan alternatif untuk membuat siswa lebih termotivasi untuk

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 berkonsentrasi dalam belajar. Selain itu juga, siswa diharapkan mampu untuk beradaptasi dengan era digital dewasa ini. Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, maka peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian tindakan kelas dengan judul “Implementasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif Melalui Pemanfaatan Multimedia Untuk Meningkatkan Competence, Conscience, dan Compassion Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu” Dengan penelitian ini diharapkan akan meningkatkan prestasi competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (hati nurani), dan compassion (bela rasa) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu. B. Identifikasi Masalah Dari latar belakang masalah tersebut, dapat diketahui bahwa kondisi pembelajaran di SMA Pangudi Luhur St. Louis IX adalah: 1. Kurangnya kesadaran akan pentingnya pembelajaran sejarah. 2. Proses pembelajaran yang monoton dikarenakan pembelajaran yang dipergunakan guru masih konvensional. 3. Proses pembelajaran yang terjadi hanyalah penyampaian materi dari guru ke siswa, sehingga kurang berkembang dari aspek nilai-nilai karakter dan kemanusiaannya.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 C. Batasan Masalah Dalam penelitian ini hanya akan membahas tentang peningkatan competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (hati nurani), dan compassion (bela rasa) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu dangan implementasi pembelajaran sejarah berbasis pedagogi reflektif menggunakan pemamfaatan multimedia. D. Rumusan Masalah 1. Apakah implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia dapat meningkatkan aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu? 2. Apakah implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia dapat meningkatkan aspek conscience (hati nurani) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu? 3. Apakah implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia dapat meningkatkan aspek compassion (bela rasa) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu? E. Pemecahan Masalah Dalam penelitian ini, permasalahan akan dipecahkan dengan mengimplementasikan pembelajaran berbasis Pedagodi Reflektif. Dengan menerapkan Pedagogi Reflektif tersebut, diharapkan siswa tidak hanya pandai

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 secara akademik namun juga memiliki pemahaman manusiawi yang kritis. Pembelajaran Reflektif ini nanti akan didukung dengan pemanfaatan multimedia karena diharapkan siswa mampu untuk beradaptasi dengan era digital dewasa ini. Hal tersebut dilakukan sebagai cara untuk meningkatkan aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (hati nurani), dan compassion (bela rasa) pada siswa sesuai dengan prosedur penelitian tindakan kelas. F. Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah tersebut, dapat dideskripsikan beberapa tujuan penelitian yang akan dicapai: 1. Meningkatkan aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu dalam implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia. 2. Meningkatkan aspek conscience (hati nurani) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu dalam implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia. 3. Meningkatkan aspek compassion (bela rasa) siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu dalam implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI G. Manfaat Penelitian 11 1. Bagi Lembaga Sekolah Sebagai umpan balik dalam meningkatkan aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (hati nurani), dan compassion (bela rasa) siswa pada mata pelajaran sejarah, dan meningkatkan penggunaan media pembelajaran di sekolah. 2. Bagi Universitas Sebagai sarana pengenalan visi dan misi Universitas Sanata Dharma melalui pembelajaran berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif. 3. Bagi Guru Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif dalam penyampaian materi pembelajaran oleh guru agar tidak terkesan monoton. Sehingga siswa mampu menjadi aktif dan memahami, bahwa pelajaran sejarah bisa memberikan banyak makna dan nilai-nilai kehidupan yang dapat berguna bagi perkembangan bangsa, khususnya bagi generasi muda. 4. Bagi Siswa Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan menarik minat belajar siswa dan untuk meningkatkan pencapaian tujuan pembelajaran. 5. Bagi Peneliti Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bagian dari proses belajar dan berlatih dibidang penelitian sehingga dapat mengembangkan pengetahuan peneliti baik secara teoritis maupun aplikasi dalam praktik. Selain itu juga menjadi ajang mengembangkan ketrampilan dalam penulisan karya ilmiah.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 H. Sistematika Penulisan Adapun Pembelajaran sistematika Sejarah penulisan Berbasis skripsi Paradigma dengan Pedagogi judul Implementasi Reflektif Melalui Pemanfaatan Multimedia Untuk Meningkatkan Competence, Conscience, dan Compassion Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu adalah: BAB I : Bab ini berisi latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, pemecahan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penulisan. BAB II : Dalam bab ini akan dibahas mengenai deskripsi teori yang mendukung penelitian, materi dalam pembelajaran, kaitan antara PTK-PPRMultimedia dalam pembelajaran sejarah, penelitian yang relevan, kerangka berpikir dan hipotesis penelitian. BAB III : Dalam bab ini diuraikan metode yang dipakai dalam penelitian, yang terdiri dari jenis penelitian, setting penelitian, subyek dan obyek penelitian, desain penelitian, definisi operasional variabel, sumber data, metode pengumpulan data, instrumen pengumpulan data, analisis data, prosedur penelitian, dan indikator keberhasilan. BAB IV : Bab ini menampilkan ulasan mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Dalam bab ini juga dipaparkan data aspek 3C dari keadaan awal sampai dengan siklus 2 serta komparasinya. BAB V : Bab ini berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Penelitian Tindakan Kelas a. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas Banyak ahli memberikan definisi tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK), namun dalam hal ini, menurut Kemmis dan Mc Taggart, PTK adalah studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja tetapi dilakukan secara sistematis, terencana dengan sikap mawas diri.1 Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.2 Tindakan tersebut diberikan oleh guru dan dilakukan oleh siswa, jadi dalam hal ini siswa juga turut berperan aktif dalam pelaksanaan PTK. Menurut Kemmis & Mc Taggart merupakan pengembangan lebih lanjut dari Kurt Lewin. Secara mendasar tidak ada perbedaan antara keduanya, model ini banyak dipakai karena sederhana dan mudah dipahami. Rancangan Kemmis & Mc Taggart dapat mencakup sejumlah siklus, masing-masing terdiri dari tahap-tahap:3 perencanaan (plan), pelaksanaan dan pengamatan (act & observe), dan refleksi (reflect). Tahapan-tahapan ini berlangsung secara 1 Sarwiji Suwandi, 2011, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah, Surakarta: Yuma Pustaka, hlm. 10-11. 2 Suharsimi Arikunto.,dkk, 2007, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: PT Bumi Aksara, hlm. 3-4. 3 http://007indien.blogspot.com/2012/05/--penelitian-tindakan-kelas.html (diakses pada 20 Mei 2013) 13

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 berulang-ulang, sampai tujuan penelitian tercapai. Dituangkan dalam bentuk gambar, rancangan Kemmis & Mc Taggart tampak sebagai berikut: Gambar I: Siklus dalam penelitian Kemmis & Mc Taggart b. Prinsip Penelitian Tindakan Kelas Dalam melakukan suatu penelitian terutama dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK), seorang peneliti memerlukan sebuah informasi yang benar kejelasannya, tidak boleh bersifat dugaan atau bahkan menduga-duga tapi seorang peneliti harus terjun langsung kelapangan untuk meneliti suatu masalah yang dialami oleh sekolah atau lembaga tertentu untuk mengetahui masalah atau kendala apa yang sedang mereka hadapi kemudian kita mencarikan solusi yang tepat dari masalah yang dialaminya. Selain itu, peneliti juga harus memahami dan menerapkan apa yang dilakukan dapat berhasil dengan baik dengan memperhatikan sejumlah prinsip-prinsip atau pedoman yang harus dipenuhi.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Menurut Hopkins dalam Tahir4 terdapat 6 prinsip penelitian tindakan kelas. Prinsip-prinsip terebut adalah sebagai berikut: 1) Sebagai seorang guru yang pekerjaan utamanya adalah mengajar, seyogyanya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan tidak mengganggu komitmennya sebagai pengajar. 2) Teknik pengumpulan data tidak menuntut waktu dan cara yang berlebihan. Sedapat mungkin hendaknya dapat diupayakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangai sendiri, sementara Guru tetap aktif sebagai mana biasanya. 3) Metodologi yang digunakan hendaknya dapat dipertanggung jawabkan reliabilitasnya. Jadi, walaupun terdapat kelonggaran secara metodologis, namun Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mestinya tetap dilaksanakan atas dasar taat kaidah keilmuan. 4) Masalah yang terungkap adalah masalah yang benar-benar masalah yang nyata dihadapi oleh guru. Sehingga atas dasar tanggung jawab dan profesional, guru didorong oleh hatinya untuk memiliki komitmen dalam rangka menemukan jalan keluarnya melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). 5) Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) seharusnya mengindahkan tata krama kehidupan berorganisasi. Artinya, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) hendaknya diketahui oleh kepala sekolah, disosialisasikan pada rekanrekan Guru, dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan, dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya tulis ilmiah, dan tetap mengedepankan kepentingan siswa layaknya sebagai manusia. 6) Permasalahan yang hendaknya dicarikan solusinya lewat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) hendaknya tidak terbatas hanya pada konteks kelas atau mata pelajaran tertentu, tetapi tetap mempertimbangkan perspektif sekolah secara keseluruhan. Dalam hal ini, pelibatan lebih dari seorang pelaku akan sangat mengakomodasi kepentingan tersebut. c. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas Tujuan utama dari PTK adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam penelitian ini, kualitas pembelajaran yang dimaksud adalah untuk meningkatkan aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa). 4 Muhamad Tahir, 2011, Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan, Makassar: Unismuh, hlm. 82.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Tujuan dari PTK itu sendiri yaitu: 5 1) Untuk menanggulangi masalah dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang dihadapi oleh guru terutama dalam permasalahan pengajaran dan pengembangan materi ajar. 2) Untuk memberikan pedoman bagi guru dan civitas akademika guna memperbaiki dan meningkatkan mutu kinerja supaya lebih baik dan produktif. 3) Untuk memasukkan unsur-unsur pembaruan dalam sistem pembelajaran yang sedang berjalan dan sulit untuk ditembus oleh pembaruan pada umumnya. 4) Untuk perbaikan suasana keseluruhan sistem sekolah. Dari tujuan-tujuan di atas, dapat dilihat manfaat PTK yaitu : 6 1) Guru dapat melakukan inovasi pembelajaran, sehingga pembelajaran menjadi lebih variatif dan menarik serta bermanfaat. 2) Guru dapat mengembangkan kurikulum sesuai dengan karakteristik pembelajaran, situasi, dan kondisi kelas. 3) Untuk mengembangkan profesionalisme guru, karena dengan PTK guru bisa lebih berlatih dalam mengembangkan metode pengajaran serta pemahaman atas materi pembelajaran. 2. Pembelajaran Sejarah a. Pengertian Belajar Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; berlatih; berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman7. Definisi belajar yang lain juga dikemukakan oleh para ahli yang ditulis ulang oleh Fudyartanto dalam buku Psikologi Pendidikan:8 1) Menurut Arthur J. Gates belajar adalah perubahan tingkah laku melalui pengalaman dan latihan. 5 6 7 8 Sarwiji Suwandi, 2011, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah, Surakarta: Yuma Pustaka, hlm. 16-17 Mulyasa, 2010, Praktik Penelitian Tindakan Kelas, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, hlm 90 Hasan Alwi, 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, hlm. 756. Fudyartanto, 2002, Psikologi Pendidikan : Dengan Pendekatan Baru, Yogyakarta: Global Pustaka Utama, hlm. 149-151.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 2) L. D. Crow dan A. Crow mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses aktif yang perlu dirangsang dan dibimbing ke arah hasil-hasil yang diinginkan (dipertimbangkan). Belajar adalah penguasaan kebiasaan-kebiasaan (habitual), pengetahuan, dan sikap-sikap. 3) Melvin H. Marx berpendapat bahwa belajar adalah perubahan yang dialami secara relatif abadi dalam tingkah laku yang mana adalah suatu fungsi dari tingkah laku sebelumnya. 4) R.S. Chauhan definisi belajar adalah membawa perubahan-perubahan dalam tingkah laku dari organisme. 5) Gregory A. Kimble mengatakan belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam potensialitas tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil alat praktek yang diperkuat (diberi hadiah). Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.9 b. Pengertian Sejarah Sejarah berasal dari bahasa Arab “Syajaratun“ yang berarti “pohon“ atau “keturunan” yang kemudian berkembang menjadi bahasa Melayu “syajarah” dan dalam bahasa Indonesia menjadi “sejarah”.10 Menurut I.G. Widja, sejarah adalah suatu studi keilmuan tentang segala sesuatu yang telah dialami oleh manusia di waktu yang lampau dan telah meninggalkan jejak-jejaknya di waktu sekarang.11 Menurut Sutrasno sejarah adalah segala kegiatan manusia dan segala kejadian yang ada hubungannya dengan kegiatan manusia sehingga mempunyai akibat adanya perubahan politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan, dan kesemuanya itu ditinjau dari sudut-sudut perkembangannya (berjalan dalam tempat dan waktu atau adanya saling hubungan dalam tempat dan 9 Mohamad Surya, 2004, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung: Pustaka Bani Quaraisy, hlm. 39. 10 I.G.Widja, Ilmu Sejarah: Sejarah Dalam Perspektif Pendidikan, Semarang: Satya Wacana, hlm,6. 11 Ibid,. hlm. 19.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 waktu).12 Dalam hal ini yang menjadi faktor utama sejarah adalah segala kegiatannya yang membawa perubahan di segala bidang kehidupan manusia. Menurut Sartono Kartodirdjo, sejarah dapat didefinisikan sebagai berbagai bentuk penggambaran pengalaman kolektif di masa lampau. Setiap pengungkapannya dapat dipandang sebagai suatu aktualisasi atau pementasan pengalaman masa lampau. Menceritakan suatu kejadian ialah cara membuat hadir kembali (dalam kesadaran) peristiwa tersebut dengan pengungkapan verbal. Dari uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sejarah sebagai suatu peristiwa dimana yang menjadi obyek dan subyek dari peristiwa tersebut adalah kegiatan manusia yang mempengaruhi segala bidang kehidupan. c. Pengertian Belajar Sejarah Berkaitan dengan sejarah, pembelajaran sejarah adalah perpaduan antara aktivitas belajar dan mengajar yang didalamnya mempelajari tentang peristiwa masa lampau yang erat kaitannya dengan masa kini, sebab dengan kemasakiniannyalah masa lampau itu baru merupakan masa lampau yang penuh arti. Pembelajaran sejarah memiliki peran fundamental dalam kaitannya dengan guna atau tujuan dari belajar sejarah, melalui pembalajaran sejarah dapat juga dilakukan penilaian moral saat ini sebagai ukuran menilai masa lampau. 12 Sutrasno, 1975, Sejarah Ilmu Pengetahuan ( History and Science), Jakarta: Pradnya Paramitha, hlm. 8.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 d. Konstruktivisme dalam Pembelajaran Sejarah Konstruktivisme merupakan aliran filsafat yang berpendapat bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi dari orang yang sedang belajar.13 Dalam hal ini, manusia mengalami proses lewat pengalaman yang didapatnya untuk membentuk suatu pengetahuan. Dalam proses konstruksi tersebut diperlukanlah beberapa kemampuan. menurut Glasersfeld dalam buku Paul Suparno14 kemampuan tersebut adalah sebagai berikut: 1) Kemampuan mengingat dan mengungkapkan pengalaman. 2) Kemampuan membandingkan, mengambil keputusan mengenai perbedaan dan persamaan. 3) Kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu dari pada yang lain. Dalam konteks pembelajaran di sekolah, guru menyajikan persoalan dan mendorong siswa untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, berhipotesis dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa tidak lagi bersifat satu arah, yaitu hanya penyampaian informasi dari guru tanpa ada umpan balik dari siswa. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. Siswalah yang membangun sendiri konsep atau struktur materi yang ia dipelajari dan tidak melalui 13 Sutarjo Adisusilo, 2012, Pembelajaran Nilai-Nilai Karakter: Konstruktivisme dan VTC Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hlm. 161. 14 Paul Suparno, 1997, Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan, Yogyakarta, Kanisius, hlm. 20.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 pemberitahuan oleh guru. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri yang mengemasnya. Dalam hal ini, bisa dikatakan pemahaman siswa tidaklah sama. Keakuratan antara siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda, atau mungkin terjadi kesalahan, maka dari itu disinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan sebagai fasilitator dan pembimbing. Kesalahan siswa tersebut merupakan bagian dari belajar, jadi harus dihargai karena hal itu merupakan cirinya seorang siswa sedang belajar. Dalam proses pembelajaran sejarah, teori konstruktivisme juga sangat diperlukan. Mengapa? Sejarah merupakan suatu peristiwa, dimana yang menjadi obyek dan subyek dari peristiwa tersebut adalah kegiatan manusia pada masa lampau yang mempengaruhi segala bidang kehidupan. Oleh karena itu dalam mempelajari peristiwa sejarah tersebut, tentunya kita harus bias mengkonstruksi segala macam peristiwa yang sudah berlalu agar pengetahuan tentang peristiwa tersebut dapat kita ketahui dengan benar. Konstruktivisme juga sejalan dengan PPR, dimana dibutuhkan pengalaman secara langsung dari siswa untuk membangun pengetahuan siswa itu sendiri. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran, dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme, karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 3. Paradigma Pedagogi Reflektif Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif).15 Pedagogi pada dasarnya adalah sebuah pendekatan. Pendekatan dalam pedagogi menunjuk pada pandangan hidup dan visi mengenai sosok ideal pribadi yang terpelajar. Dinamika pokok Pedagogi Ignatian ini adalah interaksi terus-menerus tiga unsur, yaitu pengalaman-refleksi-aksi didalam proses belajar mengajar. Tiga unsur tersebut dilengkapi dengan konteks yang menjadi tempat pengalaman itu berlangsung, dan evaluasi setelah sebuah aksi terlaksana.16 Dalam pendidikan berbasis Ignasian, refleksi mengambil peran yang penting. Dengan melakukan refleksi, peserta didik menimbang dan memilih pengalamannya untuk menemukan dirinya yang otentik.17 Dengan maksud untuk berbagi pengalaman mengenai sebuah “metode mendidik”, diperkenalkanlah Paradigma Pedagogi Ignatian itu dengan nama yang lebih menunjuk pada intinya, yaitu Paradigma Pedagogi Reflektif. Jadi yang tersaji sesungguhnya adalah dokumen Paradigma Pedagogi Ignatian, namun karena yang menjadi inti pokoknya adalah refleksi, maka secara khas diperkenalkan dengan nama Paradigma Pedagogi Reflektif.18 15 http://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma (diunduh pada tanggal 20 Maret 2013) J. Subagya, 2012, Paradigma Pedagogi Reflektif: Mendampingi Peserta Didik Menjadi Cerdas dan Berkarakter, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 6. 17 P3MP-LPM USD, 2012, Pedoman: Pembelajaran Barbasis Pedagogi Ignasian, Yogyakarta: LPM USD, hlm. 7. 18 J. Subagya, op.cit., hlm. 7. 16

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) merupakan polapikir (paradigma≈polapikir) dalam menumbuh kembangkan pribadi siswa menjadi pribadi kemanusiaan (pedagogi reflektif = pendidikan kemanusiaan). Pola pikirnya: dalam membentuk pribadi, siswa diberi pengalaman akan suatu nilai kemanusiaan, kemudian siswa difasilitasi dengan pertanyaan agar merefleksikan pengalaman tersebut, dan berikutnya difasilitasi dengan pertanyaan aksi agar siswa membuat niat dan berbuat sesuai dengan nilai tersebut.19 Paradigma Pedagogi Refleksi (PPR) merupakan pola pembelajaran yang mengintegrasikan pemahaman masalah dunia, kehidupan dan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses yang terpadu, sehingga nilai – nilai itu muncul dari kesadaran dan kehendak peserta didik melalui refleksinya”20 Oleh karena itu dalam hal ini paradigma tidak hanya sebuah pola pikir, namun akan sampai pada perbuatan konkrit. Pembentukan kepribadian diharapkan dilakukan sedemikian rupa sehingga siswa nantinya memiliki komitmen untuk memperjuangkan kehidupan bersama yang lebih adil, bersaudara, bermartabat, melestarikan lingkungan hidup, dan lebih menjamin kesejahteraan umum. Sampai sekarang pengalaman yang diberikan adalah pengalaman persaudaraan yang disampaikan berdasarkan kerjasama kelompok. Tujuannya, menumbuhkembangkan persaudaraan, solidaritas antarteman, dan saling menghargai yang merupakan aspek-aspek kemanusiaan. a. Tata cara pelaksanaan Paradigma Pedagogi Reflektif Tata cara pelaksanaan PPR dalam hal ini meliputi; konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi.21 Tim Redaksi Kanisius, op.cit., hlm. 39. 20 http://www.bimaskatolikjatim.com/news2.php (diunduh 12 Juni 2014) 21 Tim Redaksi Kanisius, op.cit., hlm. 41. 19

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 1) Konteks Pertama, wacana tentang nilai-nilai yang dikembangkan agar semua anggota komunitas, guru, dan siswa menyadari bahwa yang menjadi landasan pengembangan bukan aturan, perintah, atau sanksi-sanksi melainkan nilai-nilai kemanusiaan. Guru (fasilitator) perlu menyemangati mereka agar memiliki nilai seperti: persaudaraan, solidaritas, penghargaan terhadap sesama, tanggung jawab, kerja keras, kepentingan bersama, cinta lingkungan hidup, dan nilainilai yang semacam itu. Diharapkan semua anggota komunitas berbicara mengenai nilai-nilai. Kedua, contoh-contoh penghayatan seperti nilai-nilai yang diperjuangkan, lebih-lebih contoh dari pihak guru. Kalau itu ada maka siswa akan cenderung untuk melihat, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai yang dihayatinya. Ketiga, hubungan akrab, saling percaya, agar bisa terjalin dialog yang saling terbuka antara guru dan siswa. Setiap orang dihargai, ditunjukan kebaikannya, ditantang untuk melakukan yang benar dan baik. Idealnya, sekolah merupakan tempat bagi anak untuk belajar saling membantu, bekerjasama dengan semangat untuk menyatakan secara konkrit melalui perkataan dan perbuatan yang didasarkan pada idealisme bersama. 2) Pengalaman Pengalaman untuk menumbuhkan persaudaraan, solidaritas, dan saling membantu adalah pengalaman bekerjasama dalam kelompok kecil yang

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 “direkayasa” sehingga terjadi interaksi dan komunikasi yang intensif, ramah dan sopan, tenggang rasa, dan akrab. Sering kali tidak mungkin guru (fasilitator) menyediakan pengalaman langsung mengenai nilai-nilai yang lain. Untuk itu siswa difasilitasi dengan pengalaman yang tidak langsung. Pengalaman yang tidak langsung diciptakan misalnya dengan membaca dan/atau mempelajari suatu kejadiaan. Selanjutnya guru (fasilitator) memberi sugesti agar siswa mempergunakan imajinasi mereka, mendengar cerita dari guru, melihat gambar sambil berimajinasi, bermain peran, atau melihat tayangan film/video. 3) Refleksi Guru memfasilitasi dengan pertanyaan agar siswa terbantu untuk merefleksikan. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang menyebar, agar siswa secara otentik dapat memahami, mendalami, dan menyakini temuannya. Siswa dapat diajak untuk diam dan hening untuk meresapi apa yang baru saja dibicarakan. Melalui refleksi, siswa menyakini makna nilai yang terkandung dalam pengalamannya. Diharapkan siswa membentuk pribadi mereka sesuai dengan nilai yang terkandung dalam pengalamannya itu. 4) Aksi Guru memfasilitasi siswa dengan pertanyaan aksi agar siswa terbantu untuk membangun niat dan bertindak sesuai dengan hasil refleksinya. Dengan membangun niat dan berperilaku dari kemauannya sendiri, siswa membentuk pribadinya agar nantinya (lama-kelamaan) menjadi pejuang bagi nilai-nilai yang direfleksikannya.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 5) Evaluasi Setelah pembelajaran, guru memberikan evaluasi atas kompetensinya dari sisi akademik. Ini adalah hal wajar dan merupakan keharusan. Sekolah memang dibangun untuk mengembangkan ranah akademik dan menyiapkan siswa menjadi kompeten di bidang studi yang dipelajarinya. Namun guru/sekolah juga perlu mengevaluasi apakah ada perkembangan pada pribadi siswa. Pelaksanaan PPR terletak pada dasar dan tujuannya. Dasarnya yaitu pelaksanaan, dan tujuannya adalah menjadikan manusia yang cerdas dan humanis. Cerdas dan humanis dalam hal ini mengacu pada aspek 3C, yaitu aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa). 4. Konsep 3C (Competence, Conscience, Compassion) Konsep competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa) merupakan unsur-unsur dari Pedagogi Ignatian, dimana ketiganya dianggap sebagai sebuah keterpaduan hasil belajar yang serupa dengan keterpaduan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.22 Akan tetapi bila masing-masing aspek dicermati secara mendalam, akan tampak perbedaan pada penekanan pada penekanan-penekanan meskipun tetap beririsan satu dengan yang lain. Untuk itu, akan dibahas lebih lanjut tentang konsep competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa). 22 P3MP-LPM USD, op.cit., hlm. 39.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 a. Competence Competence adalah kompetensi/kualitas yang unggul bagi peserta didik, berkaitan dengan kemampuan penguasaan kompetensi secara utuh yang disebut juga kemampuan kognitif. Competence pada Pedagogi Ignatian sangat kental bermuatan ranah kognitif dan psikomotorik, namun demikian di sana termuat juga sebagian afektif meskipun terbatas dalam kaitannya dengan keilmuan.23 Aspek competence mengacu pada kecerdasan individu, cerdas di sini bukan hanya pengetahuan, namun juga cerdas dalam mengambil sikap. Jadi dalam hal ini, competence dimaknai sebagai kemampuan akademik yang memadukan unsur pengetahuan, ketrampilan dan sikap.24 b. Conscience Conscience merupakan kemampuan afektif yang secara khusus mengasah kepekaan dan ketajaman hati nurani. Maka dari itu, terdapat nilai-nilai yang ada dalam conscience, seperti:25 • • • • • • • • • • • • Moral Tanggung jawab Kejujuran Kemandirian Keterbukaan Kebebasan Kedisiplinan Ketekunan Kegigihan Ketahanan uji Keberanian mengambil resiko Kemampuan member makna hidup 23 24 25 P3MP-LPM USD, op.cit., hlm. 39. http://himcyoo.files.wordpress.com/2012/03/3-buku-pendidikan-karakter.pdf., hlm. 17-18. (diunduh tanggal 24 Maret 2013). P3MP-LPM USD, op.cit., hlm. 42.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Nilai-nilai tersebut merupakan satu kesatuan dari aspek coscience. Hal ini menjadi pedoman untuk memahami alternatif dan menentukan pilihan oleh individu, hal yang baik maupun buruk, hal yang benar maupun salah. c. Compassion Sama halnya aspek conscience, aspek compassion merupakan kemampuan afektif, yang berupa tindakan konkret maupun batin disertai bela rasa bagi sesama, dalam hal ini menjunjung tinggi sikap peduli terhadap sesama/bela rasa. Pada aspek compassion juga terdapat nilai-nilai yang merupakan kesatuan dari aspek compassion, dan harus ditanamkan pada siswa, seperti;26 • • • • • • Kerja sama Penghargaan pada sesama Kepedulian Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain Keterlibatan dalam kelompok Kemauan untuk berbagi Dalam hubungannya dengan penelitian ini, diharapkan pada pembelajaran berbasis PPR dapat meningkatkan ketiga aspek tersebut melalui multimedia pembelajaran. Tingkat competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa) merupakan hal yang ukur untuk menentukan keberhasilan penelitian ini. Perlu diperhatikan pula beberapa faktor yang mempengaruhi tercapainnya tingkat competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa), antara lain kondisi fisiologis dan psikologis. Pada kondisi fisiologis pada umumnya juga perlu diperhatikan 26 Ibid,.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 dalam proses pembelajaran jika seseorang belajar dalam keadaan jasmani yang segar akan berbeda dengan seseorang yang belajar dalam keadaan sakit. Sedangkan pada kondisi psikologis terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain : 1) Kecerdasan Kecerdasan seseorang besar pengaruhnya dalam keberhasilan siswa dalam mempelajari sesuatu. 2) Bakat Selain kecerdasan, bakat juga besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar siswa. 3) Minat Jika seseorang mempelajari sesuatu dengan minat yang besar, maka dapat diharapkan hasilnya akan lebih baik. Tetapi jika seseorang belajar dengan tidak berminat maka hasil yang diperoleh kurang baik. 4) Motivasi Motiasi adalah dorongan anak atau seseorang untuk melakukan sesuatu, jadi motivasi adalah kondisi psikologi yang mendorong seseorang untuk belajar. Pada dasarnya hubungan motivasi dengan belajar adalah bagaimana cara mengatur motivasi yang dapat ditingkatkan supaya hasil belajar dapat optimal sesuai dengan kemampuan individu. 5) Kemampuan Kognitif Kemampuan kognitif atau kemampuan penalaran yang tinggi akan membantu siswa dapat belajar lebih baik dari pada siswa yang memiliki

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 kemampuan kognitif sedang. Konteks dan pengalaman dalam PPR diharapkan akan mengembangkan aspek competence pada siswa, sedangkan aspek conscience, dan compassion ditingkatkan melalui proses refleksi dan aksi saat pembelajaran. 5. Multimedia Pembelajaran Menurut sudut pandang para ahli media, sebelum berkembangnya dunia Teknologi Informasi, bahwa multimedia dipandang sebagai suatu pemanfaatan “banyak” media yang digunakan dalam suatu proses interaksi penyampaian pesan dari sumber kepada penerima, dalam konteks pembelajaran yaitu antara guru dengan murid.27 Namun, seiring dengan perkembangan dunia TI, pemaknaan multimedia semakin bergeser pada aspek integrasi sistemdan jaringan serta prosedur komunikasi dalam sebuah perangkat khusus, seperti; televisi, radio, komputer, notebook, dll. Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu multimedia linier dan multimedia interaktif. Multimedia linier adalah sustu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioprasikan oleh pengguna. Sedangkan multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioprasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. 28 Adanya multimedia pembelajaran interaktif dapat membantu guru untuk mendesain pembelajaran secara kreatif. Dengan desain pembelajarn yang kreatif maka diharpkan proses pembelajaran menjadi inovatif, menarik, lebih interatif, lebih efektif, kualitas belajar belajar siswa dapat ditingkatkan, proses belajar mengajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, dan sikap dan 27 28 Deni Darmawan, 2011, Teknologi Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, hlm. 31-32. Daryanto, 2010, Media Pembelajaran, Yogyakarta: Gava Media, hlm. 51.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 minat belajar belajar siswa dapat ditingkatkan. Multimedia dengan jenis ini dinamakan juga dengan presentasi pembelajaran. Materi yang ditayangkan tidak terlalu kompleks dan hanya menampilkan beberapa item yang dianggap penting, baik berupa teks, gambar, video maupun animasi. Sedangkan konsep dari pembelajaran pada hakikatnya adalah proses komunikasi, penyampaian dari guru ke siswa. Pesan berupa isi atau ajaran yang dituangkan ke dalam symbol-simbol komunikasi baik verbal, maupun nonverbal. Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam proses pembelajaran, dengan kata lain untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pilihan, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga secara sengaja proses belajar terjadi.29 Dalam penelitian ini, mengapa perlu media dalam pembelajaran? Pembelajaran yang digunakan adalah pedagogi reflektif, dalam hal ini siswa diberikan konteks dan pengalaman. Dengan bentuk pembelajaran yang dikemas secara menarik menggunakan multimedia diharapkan dapat membantu menunjang dalam proses penanaman nilai-nilai karakter dan kemanusiaan yang sangat banyak terkandung dalam pelajaran sejarah lewat pengalaman indrawi mereka. Sehingga pada proses pengalaman siswa tersebut, siswa yang mengalami sendiri memiliki daya tarik untuk melakukan proses pembelajaran tersebut. Media yang digunakan adalah power poin yang didesain sedemikian 29 Ibid., hlm. 52.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 rupa menjadi media menyampaikan materi dan kuis, selain itu juga didukung dengan film dokumenter. B. Materi Berdasarkan kesepakatan guru dengan peneliti, pada penelitian ini menggunakan materi semester 2, “Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin” dalam Kompetensi Dasar “Merekonstruksi Perkembangan Masyarakat Indonesia Sejak Proklamasi Hingga Demokrasi Terpimpin” yang akan dilaksanakan di kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu. Adapun topik yang dipelajari: 1. Masa Demokrasi Parlementer Masa demokrasi Liberal. Indonesia dibagi manjadi 10 Provinsi yang mempunyai otonomi dan berdasarkan Undang - Undang Dasar Sementara tahun 1950. Pemerintahan RI dijalankan oleh suatu dewan mentri ( kabinet ) yang dipimpin oleh seorang perdana menteri dan bertanggung jawab kepada parlemen ( DPR ). Suatu kabinet dapat berfungsi bila memperoleh kepercayaan dari parlemen, dengan kata lain ia memperoleh mosi percaya. Sebaliknya, apabila ada sekelompok anggota parlemen kurang setuju ia akan mengajukan mosi tidak percaya yang dapat berakibat krisis kabinet. Selama sepuluh tahun (19501959) ada tujuh kabinet, sehingga rata-rata satu kabinet hanya berumur satu setengah tahun. Kabinet-kabinet pada masa Demokrasi Parlementer adalah : a. Kabinet Natsir (7 September 1950-21 Maret 1951) b. Kabinet Soekiman (27 April 1951-23 Februari 1952)

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 c. Kabinet Wilopo (3 April 1952-3 Juni 1953) d. Kabinet Ali-Wongso ( 1 Agustus 1953-24 Juli 1955 ) e. Kabinet Burhanudin Harahap f. Kabinet Ali II (24 Maret 1957) g. Kabinet Djuanda ( 9 April 1957-10 Juli 1959 ) 2. Pemilihan Umum 1955 Pemilu 1955 adalah pemilihan umum pertama di Indonesia dan diadakan pada tahun 1955. Jumlah kursi DPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante berjumlah 520 (dua kali lipat kursi DPR) ditambah 14 wakil golongan minoritas yang diangkat pemerintah. Pemilu ini dipersiapkan di bawah pemerintahan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Namun, Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri dan pada saat pemungutan suara, kepala pemerintahan telah dipegang oleh Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. a. Tahapan Sesuai tujuannya, Pemilu 1955 ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu: Tahap pertama adalah Pemilu untuk memilih anggota DPR. Tahap ini diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955, dan diikuti oleh 29 partai politik dan individu. Tahap kedua adalah Pemilu untuk memilih anggota Konstituante. Tahap ini diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955. b. Hasil Lima besar dalam Pemilu ini adalah Partai Nasional Indonesia mendapatkan 57 kursi DPR dan 119 kursi Konstituante (22,3 persen), Masyumi 57 kursi DPR dan 112 kursi Konstituante (20,9 persen), Nahdlatul Ulama 45

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante (18,4 persen), Partai Komunis Indonesia 39 kursi DPR dan 80 kursi Konstituante (16,4 persen), dan Partai Syarikat Islam Indonesia (2,89 persen). 3. Kebijakan Ekonomi Nasional pada Masa Demokrasi Parlementer Ketimpangan ekonomi tidak separah ketika zaman penjajahan namun tetap saja ada terjadi ketimpangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan. Dalam 26 tahun masa orde baru (1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan penduduk daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan naik lagi menjadi 9,8 (1997). Ketika reformasi ketimpangan distribusi pendapatan semakin tinggi dari 0,29 (2002) menjadi 0,35 (2006). 4. Mengatasi Pergolakan Dalam Negri a. Pemberontakan PKI Madiun Tahun 1948 Jatuhnya kabinet Amir disebabkan oleh kegagalannya dalam Perundingan Renville yang sangat merugikan Indonesia dan menguntungkan Belanda. Wilayah Republik Indonesia semakin berkurang,sehingga wilayah indonesia menjadi sempit. Ditambah lagi dengan adanya Blokade Ekonomi yang dilakukan oleh Belanda. Untuk memperkuat basis massa FDR membentuk organisasi petani & buruh selain itu memancing bentrokan dengan menghasut buruh. Puncaknya ketika terjadi pemogokan di pabrik karung Delangu (Jawa Tengah) pada tanggal 5 Juli 1948. Pada tanggal 11 Agustus 1948, Musso tiba dari Moskow.kemudian Musso dikirim olen pimpinan gerakan Komunis

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Internasional ke Indonesia dengan tujuan untuk merebut pimpinan atas negara Republik Indonesia dari tangan kaum Nasionalis. Amir dan FDR segera bergabung dengan Musso. Untuk memperkuat organisasi, maka disusunlah doktrin bagi PKI. Doktrin itu bernama “Jalan Baru”. Sesuai dengan doktrin itu,ia melakukan fusi antara Partai Sosialis,Partai Buruh,dan lain-lain menjadi PKI. Ia bersama Amir Syarifuddin mengambil alih pimpinan PKI baru tersebut. b. Gerakan DI/TII Penandatanganan Perjanjian Renville pada tanggal 17 Januari 1948 sebagai salah satu upaya untuk mengakhiri pertikaian Indonesia Belanda, ternyata telah menimbulkan dampak baru terhadap fase perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan oleh Soekarno Hatta. Penandatangan perjanjian tersebut tidak saja mempunyai akibat di bidang politik, melainkan juga berpengaruh di bidang militer Negara RI, sebagai konsekwensi logis dari hasil kristalisasi nilai-nilai pertemuan antara pihak-pihak yang mengadakan perundingan. Gerakan DI/TII yang dipimpin oleh SM Kartosuwirjo ini memang merupakan suatu gerakan yang menggunakan motif-motif ideologi agama sebagai dasar penggeraknya, yaitu mendirikan Negara Islam Indonesia. Namun dalam perkembangan selanjutnya, gerakan ini ternyata hanya menimbulkan penderitaan dan penindasan terhadap rakyat. Kewajibankewajiban yang dibebankan kepada rakyat seringkali menjadi sumber penderitaan dari kekejian yang semena-mena.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 5. Masa Demokrasi Terpimpin Sejarah Indonesia (1959-1966) adalah masa di mana sistem "Demokrasi Terpimpin" sempat berjalan di Indonesia. Demokrasi terpimpin adalah sebuah sistem demokrasi dimana seluruh keputusan serta pemikiran berpusat pada pemimpin negara, kala itu Presiden Soekarno. Konsep sistem Demokrasi Terpimpin pertama kali diumumkan oleh Presiden Soekarno dalam pembukaan sidang konstituante pada tanggal 10 November 1956. Latar belakang dicetuskannya sistem demokrasi terpimpin oleh Presiden Soekarno: a. Dari segi keamanan nasional: Banyaknya gerakan separatis pada masa demokrasi liberal, menyebabkan ketidakstabilan negara. b. Dari segi perekonomian : Sering terjadinya pergantian kabinet pada masa demokrasi liberal menyebabkan program-program yang dirancang oleh kabinet tidak dapat dijalankan secara utuh, sehingga pembangunan ekonomi tersendat. c. Dari segi politik : Konstituante gagal dalam menyusun UUD baru untuk menggantikan UUDS 1950. Masa Demokrasi Terpimpin yang dicetuskan oleh Presiden Soekarno diawali oleh anjuran Soekarno agar Undang-Undang yang digunakan untuk menggantikan UUDS 1950 adalah UUD 1945. Namun usulan itu menimbulkan pro dan kontra di kalangan anggota konstituante. Sebagai tindak lanjut usulannya, diadakan pemungutan suara yang diikuti oleh seluruh anggota konstituante. Hasil pemungutan suara menunjukan bahwa : a. 269 orang setuju untuk kembali ke UUD 1945

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 b. 119 orang tidak setuju untuk kembali ke UUD 1945 Bertolak dari hal tersebut, Presiden Soekarno mengeluarkan sebuah dekrit yang disebut Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959: a. Tidak berlaku kembali UUDS 1950 b. Berlakunya kembali UUD 1945 c. Dibubarkannya konstituante d. Pembentukan MPRS dan DPAS 6. Perjuangan Merebut Irian Barat Dalam menghadapi masalah Irian Barat tersebut Indonesia mula-mula melakukan upaya damai, yakni melalui diplomasi bilateral dalam lingkungan ikatan Uni Indonesia-Belanda. Akan tetapi usaha-usaha melalui meja perundingan secara bilateral ini selalu mengalami kegagalan. Setelah upaya-upaya tersebut tidak mambawa hasil maka sejak tahun 1953 perjuangan pembebasan Irian Barat mulai dilakukan di forum- forum internasional, terutama PBB dan forum-forum solidaritas Asia-Afrika seperti Konferensi Asia-Afrika. Pada tanggal 19 Desember 1961, Presiden Soekarno dalam suatu rapat raksasa di Yogyakarta mengeluarkan komando yang terkenal sebagai Tri Komando Rakyat (Trikora) yang isinya sebagai berikut. a. Gagalkan pembentukan “Negara Papua” bikinan Belanda kolonial. b. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat tanah air Indonesia. c. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Dengan dikeluarkannya Trikora maka mulailah konfrontasi total terhadap Belanda dan pada bulan Januari 1962 pemerintah membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat yang berkedudukan di Makasar. Adapun tugas pokok dari Komando Mandala Pembebasan Irian Barat ini adalah pengembangan operasioperasi militer dengan tujuan pengembangan wilayah Irian Barat ke dalam kekuasaan negara Republik Indonesia. Sebagai Panglima Komando Mandala adalah Mayor Jenderal Soeharto. Dari materi tersebut, pada aspek conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) akan ditekankan pada rasa berdemokrasi siswa dalam lingkungannya. Karena dari materi berdemokrasi ini, para siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk menemukan posisi mereka di masa sekarang lewat nilai kebebasan, keterlibatan dalam kelompok, serta menghargai perbedaan. C. Kaitan antara PTK-PPR-Multimedia dalam pembelajaran sejarah Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru dan dilakukan oleh siswa, jadi dalam hal ini siswa juga turut berperan aktif dalam pelaksanaan PTK. Tugas guru dalam hal ini adalah memberikan bantuan dan arahan sebagai fasilitator dan pembimbing. Dalam PPR, untuk menumbuhkembangkan pribadi siswa menjadi pribadi kemanusiaan, siswa diberi pengalaman akan suatu nilai kemanusiaan, kemudian siswa difasilitasi dengan pertanyaan agar merefleksikan pengalaman tersebut, dan berikutnya difasilitasi dengan pertanyaan aksi agar siswa membuat niat dan berbuat sesuai dengan nilai tersebut. Siswa membangun

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya, tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Oleh karena itu, dibutuhkannya suatu sarana yang membantu guru untuk menyampaikan pesan pembelajaran agar lebih terlihat menarik. Dalam pembelajaran sejarah banyak nilai-nilai yang dapat diambil untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam materi “Perkembangan Masyarakat Indonesia Sejak Proklamasi Hingga Demokrasi Terpimpin.” Dari sini bias terlihat jelas, bahwa demokrasi sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, oleh karena itu penting sekali untuk siswa meneladani nilai-nilai yang ada dalam materi tersebut. D. Penelitian yang relevan 1. Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan Cicilia Tri Haryani tentang “Penerapan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) Dalam Pembelajaran Tematik Untuk Meningkatkan Competence, Conscience, Compassion (3C) Peserta Didik Kelas II SD Kanisisus Kenteng Tahun 2010/2011”. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan PPR dapat meningkatkan competence, conscience, compassion peserta didik kelas II SD Kanisius Kenteng. Hal ini terbukti dengan peningkatan nilai akhir pada pelajaran Matematika yaitu sebesar 70,64 sebelum tindakan menjadi 94,75 pada akhir siklus I dan 93,64 pada akhir siklus II. 2. Penelitian Ignasia Tyas Aspraningrum tentang “Penerapan Paradigma Pedagogi Reflektif dalam Pembelajaran Tematik untuk Meningkatkan

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Conpetence, Conscience, dan Compassion (3C) Peserta Didik Kelas II A SD Kanisius Demangan Baru Semester II Tahun Pelajaran 2010/2011”. Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dari hasil penelitian Ignasia Tyas Aspraningrum telah berhasil meningkatkan Competence , Conscience, dan Compassion peserta didik kelas II A SD Kanisius Demangan Baru tahun 2010/2011. Hasilnya terjadi peningkatan competence dari keadaan awal 59,64 pada akhir siklus 1 menjadi 78,55 dan akhir siklus 2 menjadi 87,23. Conscience meningkat dari akhir siklus 1 8760 menjadi 87,80 pada akhir siklus 2, dan compassion dari akhir siklus 1 87,60 menjadi 97,40. E. Kerangka Berpikir Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) merupakan polapikir dalam menumbuhkembangkan pribadi siswa menjadi pribadi kemanusiaan. Dalam pembelajaran sejarah berbasis PPR merupakan suatu pembelajaran, dimana guru menyajikan persoalan dan mendorong siswa untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, berhipotesis dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Dalam hal ini, melalui beberapa tahapan: konteks– pengalaman–refleksi–aksi–evaluasi. Untuk mempermudah penyampaian materi ke siswa dibutuhkannya sebuah sarana yang menunjang proses tersebut oleh karena itu, dibutuhkan multimedia. Semakin baik penerapan multimedia, akan semakin baik pula proses siswa untuk memaknai pengalaman indrawi sehingga dapat

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 meningkatkan aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa) Melalui konteks yang sedang dipelajari, maka dibentuk pengalaman didalam diri siswa baik secara pribadi maupun kelompok, lewat multimedia membantu siswa dalam memperoleh dan membentuk pengetahuan belajarnya lewat pengalaman indrawi. Hasil dari pengalaman indrawi tersebut kemudian direfleksikan dengan menemukan nilai-nilai karakter dan kemanusiaan yang terkandung dari materi pembelajaran tersebut. Selanjutnya dari hasil refleksi yang didapat siswa, guru mengajak siswa untuk mewujudkan hasil refleksinya tersebut dalam bentuk tindakan atau aksi yang nyata pada kehidupan sehari-hari. Jadi setelah menerapkan pembelajaran sejarah dengan berbasis PPR dengan menggunakan multimedia, siswa dapat meningkatkan karakter mereka terutama dalam hal kemampuan/prestasi belajar atau competence, mengembangkan hati nurani atau conscience, dan mengembangkan bela rasa terhadap sesama atau compassion. Gambar II: Kerangka berpikir

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk memperbaiki layanan pendidikan yang harus diselenggarakan dalam konteks pembelajaran di kelas dan peningkatan kualitas program sekolah secara keseluruhan berdasarkan realita masalah yang ada dan benar-benar terjadi. Tujuan dari PTK adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik dan pembelajaran di kelas secara berkesinambungan serta bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dikelas XI IPA 1 semester 2 dengan menerapkan PPR dalam pembelajaran sejarah. Dalam hal ini, menggunakan Kemmis dan McTaggart, dimana penelitian ini melalui 2 siklus. B. Setting Penelitian 1. Tempat Penelitian Dalam melakukan penelitian ini, peneliti melakukan penelitian terhadap siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX, Sedayu 2. Waktu Penelitian Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dari bulan Februari-Desember 2013. Namun dalam prakteknya di sekolah, bisa dilihat dari tabel berikut; 41

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Tabel 1: Jadwal penelitian di sekolah Waktu Kegiatan 21 Maret 2013 Meminta ijin kepada pihak sekolah guna melakukan penelitian. 23 Maret 2013 Melaksanakan observasi (prasiklus). 27 April 2013 Melaksanakan siklus 1 4 Mei 2013 Melaksanakan siklus 1 11 Mei 2013 Melaksanakan siklus 2 18 Mei 2013 Melaksanakan siklus 2 3. Siklus Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan 2 siklus C. Subyek dan Obyek Penelitian 1. Subyek penelitian Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu, dengan jumlah peserta didik 30 yang terdiri dari 17 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki. 2. Obyek penelitian Obyek penelitian adalah semua yang menjadi pokok pembicaraan dalam penelitian. Dalam hal ini yang menjadi pokok pembicaraan adalah penggunaan metode pembelajaran reflektif melalui multimedia pembelajaran untuk meningkatkan dan mengembangkan aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), aspek conscience (suara hati), dan aspek compassion (bela rasa) siswa.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 D. Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini yaitu menggunakan McTaggart dan Kemmis. PTK pada hakikatnya berupa perangkatperangkat atau untaian-untaian dengan satu perangkat terdiri dari empat komponen, yaitu; perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Keempat komponen yang berupa untaian tersebut dipandang sebagai satu siklus. Oleh karena itu, pengertian siklus pada kesempatan ini adalah suatu putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Dalam desain ini juga akan dipadukan dengan metode PPR dimana dalam kegiatan pembelajaran meliputi konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi. Gambar III: Desain penelitian E. Definisi Oprasional Variabel 1. Variabel Variabel-variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel terikat dan variabel bebas, yaitu:

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 ™ Variabel bebas (X1) : Paradigma Pedagogi Reflektif ™ Variabel bebas (X2) : Pemanfaatan Multimedia Pembelajaran ™ Variabel terikat (Y1) : Aspek Competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) ™ Variabel terikat (Y2) : Aspek Conscience (suara hati) ™ Variabel terikat (Y3) : Aspek Compassion (bela rasa) 2. Definisi Operasional Variabel a. Paradigma Pedagogi Reflektif Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) merupakan polapikir (paradigma≈polapikir) dalam menumbuhkembangkan pribadi siswa menjadi pribadi kemanusiaan (pedagogi reflektif = pendidikan kemanusiaan). Pola pikirnya: dalam membentuk pribadi, siswa diberi pengalaman akan suatu nilai kemanusiaan, kemudian siswa difasilitasi dengan pertanyaan agar merefleksikan pengalaman tersebut, dan berikutnya difasilitasi dengan pertanyaan aksi agar siswa membuat niat dan berbuat sesuai dengan nilai tersebut. b. Multimedia Multimedia pembelajaran dapat diartikan sebagai aplikasi media yang digunakan dalam proses pembelajaran, dengan kata lain untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pilihan, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga secara sengaja proses belajar terjadi. Dalam penelitian ini multimedia yang digunakan berupa power point dan film dokumenter.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 c. Competence (Pengetahuan, Ketrampilan, Sikap) Competence adalah kompetensi/kualitas yang unggul bagi peserta didik, berkaitan dengan kemampuan penguasaan kompetensi secara utuh yang disebut juga kemampuan kognitif. d. Conscience (Suara Hati) Conscience merupakan kemampuan afektif yang secara khusus mengasah kepekaan dan ketajaman hati nurani. Dalam hal ini dimaksudkan sebagai kemampuan untuk memahami alternative dan menentukan pilihan oleh individu, hal yang baik maupun buruk, hal yang benar maupun salah. e. Compassion (Bela Rasa) Compassion merupakan aspek psikomotori yang berupa tindakan konkret maupun batin disertai bela rasa bagi sesame, dalam hal ini menjunjung tinggi sikap peduli terhadap sesama/bela rasa. F. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini antara lain : 1. Siswa Digunakan sebagai subyek penelitian, untuk mendapatkan data tentang aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), aspek conscience (suara hati), dan aspek compassion (bela rasa) siswa dalam proses belajar mengajar mata pelajaran sejarah serta dalam kehidupan sehari-hari. 2. Guru dan teman sejawat Untuk melihat tingkat keberhasilan implementasi metode pembelajaran Paradigma Pedagogi Reflektif melalui pemanfaatan multimedia pembelajaran yang di ukur melalui peningkatan aspek competence (pengetahuan, ketrampilan,

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 sikap), aspek conscience (suara hati), dan aspek compassion (bela rasa) siswa. Dari sini diperoleh data-data pengamatan yang dilakukan pada saat proses pembelajaran. G. Metode Pengumpulan Data Penelitian ini dilaksanakan secara langsung dengan objek yang bersangkutan untuk mendapatkan data yang diteliti dan yang ada hubungannya dengan penelitian ini. Untuk aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), data tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan metode: 1. Tes Dalam hal ini, diadakan ulangan siklus 1 dan tes siklus 2. Selain itu, juga digunakan pula tugas siklus 1 dan siklus 2 untuk memperoleh data competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap). Sedangkan untuk aspek conscience (suara hati), dan aspek compassion (bela rasa) siswa menggunakan metode: 2. Observasi Dilaksanakan dengan mengadakan pengamatan langsung guna memperoleh data tentang partisipasi siswa, aktivitas siswa, aktivitas guru dalam proses pembelajaran. Selain itu, untuk mendukung kedua metode diatas, dilakukan pula pengumpulan data dengan menggunakan metode: 3. Metode Interview Dilaksanakan dengan cara mengadakan wawancara dengan pihak-pihak yang berwenang untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan perihal proses pembelajaran dilaksanakan.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 4. Dokumentasi Mendokumentasikan semua hal yang berhubungan dengan tindakan penelitian di sekolah. H. Instrumen Pengumpulan Data Berdasarkan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, digunakan instrument/alat yang dipakai untuk memperoleh data tersebut. Untuk aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), data tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan instrumen: 1. Lembar Soal Ulangan Menggunakan butir soal atau instrumen soal untuk mengukur hasil belajar siswa. Tes dilaksanakan pada akhir siklus, dimana pada penelitian ini terdiri dari 2 siklus sehingga melakukan 2 kali tes. Dalam hal ini, bentuk tes terdiri dari 2 bagian yaitu pilihan ganda dan essay. 2. Lembar Soal Tugas Menggunakan tugas berupa soal TTS dan pembuatan mind mapping secara berkelompok untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi serta ketrampilan dan sikap siswa saat membuat mind mapping tersebut secara berkelompok. Sedangkan untuk aspek conscience (suara hati), dan aspek compassion (bela rasa) siswa menggunakan instrumen: 3. Lembar Observasi Menggunakan lembar observasi berupa, lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi aktivitas kelompok dalam pembelajaran, panduan pertanyaan wawancara. Hal ini bertujuan untuk

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 mengetahui latar belakang dari sekolah tempat dilaksanakannya penelitian serta mengukur tingkat aktivitas siswa, aktivitas guru, aktivitas kelompok dalam proses pembelajaran. 4. Kuesioner Menggunakan lembar kuesioner dengan menggunakan skala Likert1 untuk mengetahui aspek conscience (suara hati), dan aspek compassion (bela rasa) siswa. Kuesioner diberikan pada tahap awal dan akhir penelitian, dimana dalam penelitian ini pada tahap pra siklus dan akhir siklus 2. Pertanyaan dalam kuesioner terdiri dari 2 aspek, aspek positif dan negatif. Dimana pada aspek positif, bagi siswa yang menjawab pertanyaan aspek positif pada kolom “Sangat Setuju” (SS) maka mendapat skor 5, “Setuju” (S) mendapat skor 4, “Ragu-ragu” (R) mendapat skor 3, “Tidak Setuju” (TS) mendapat skor 2, dan “Sangat Tidak Setuju” (STS) mendapat skor 1. Sedangkan pada pertanyaan negative, pada kolom “Sangat Setuju” (SS) maka mendapat skor 1, “Setuju” (S) mendapat skor 2, “Ragu-ragu” (R) mendapat skor 3, “Tidak Setuju” (TS) mendapat skor 4, dan “Sangat Tidak Setuju” (STS) mendapat skor 5. 5. Dokumen Berupa foto dan data nilai hasil belajar siswa pada saat dilaksanakannya penelitian. Selain itu juga, dokumen yang dimaksud berupa nilai ulangan mid semester genap tahun 2012/2013 dari guru bidang studi yang digunakan sebagai data untuk nilai pra siklus. 1 Sugiyono, 2011, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung: Penerbit Alfabeta, hlm. 134.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 I. Jenis dan Analisis Data Analisis data dalam PTK adalah suatu kegiatan mencermati atau menelaah, menguraikan dan mengkaitkan setiap informasi yang terkait dengan kondisi awal, proses belajar dan hasil pembelajaran untuk memperoleh simpulan tentang keberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran sehingga laporan yang dihasilkan mudah dipahami. Dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), ada dua jenis data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti, yaitu; 1. Kuantitatif Dalam analisis data kuantitatif digunakan analisis data statistik deskriptif,2 Jadi dalam hal ini statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya, lalu penyajian data melalui tabel, grafik, diagram lingkaran. Data kuantitatif mencangkup semua data yang berupa angka numerik, dalam hal ini adalah aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap). Untuk menganalisis data dari aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) adalah dengan mencari persentase dari data siswa yang telah didapat seperti nilai ulangan dan tugas. Data competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) dalam penelitian ini berupa nilai akhir yang diperoleh dari hasil ulangan dengan bobot (80%) dan hasil pengamatan terhadap siswa saat aktivitas mengerjakan tugas (dengan bobot 20%) pada siklus 1. Sedangkan untuk siklus 2, perbandingan antara hasil ulangan dan tugas adalah 70% untuk hasil ulangan dan 30% untuk hasil tugas. Hal ini 2 Ibid,. hlm. 207.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 dikarenakan perbandingan bobot tugas yang berbeda antara siklus 1 dengan siklus 2. Analisis data ini berdasarkan pada siklus 1 dan siklus 2 penelitian dengan menerapkan pembelajaran sejarah berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif melalui pemanfaatan multimedia. Dalam penelitian ini instrument tes yang digunakan ada 2 bentuk yaitu bentuk pilihan ganda dan essay. Dari hasil tes tersebut maka diperoleh nilai berdasarkan Patokan Acuan Penilaian (PAP) tipe I sengan skala 1-100 menggunakan rumus: Skor yang diperoleh x 100% Skor total Tabel 2: kriteria penentuan hasil belajar berdasarkan PAP 1 Tingkat Penguasaan Rentang Skor Nilai Angka Kompetensi 95%-100% 29-30 96,6 – 100 90%-94% 27-28 90 – 93,3 85%-89% 26 86,6 80%-84% 24-25 80 – 83,3 65%-79% 20-23 66.6 – 76,6 60%-64% 18-19 60 – 63,3 55%-59% 17 56,6 50%-54% 15-16 50 – 53,3 45%-49% 14 46,6 0%-44% 0-13 0 – 43,3 2. Kualitatif Data kualitatif merupakan kumpulan data yang berupa angka nominal, dengan cara memaknai tingkat kategori aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap), aspek conscience (suara hati) dan aspek compassion (bela rasa) siswa dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Namun yang menjadi perbedaan dalam jenis data ini, pada aspek competence (pengetahuan,

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 ketrampilan, dan sikap) analisis kualitatif digunakan sebagai metode untuk menganalisis data yang berupa angka nominal, dalam hal ini tugas portofolio. Penilaian tugas dalam hal ini menggunakan lembar portofolio, untuk kriteria penilaian dengan ketentuan: Tabel 3: Kriteria penilaian portofolio siklus 1 (kuis TTS) No Indikator 1 Ketepatan jawaban menjawab soal 2 Antusias dalam menjawab 3 Kerjasama dengan kelompok Skor Total Skor • Kriteria Penilaian - Menjawab dengan benar sejumlah 12 skor 5 - Menjawab dengan benar sejumlah 10-11 skor 4 - Menjawab dengan benar sejumlah 7-9 skor 3 - Menjawab dengan benar sejumlah 4-6 skor 2 - Menjawab dengan benar sejumlah 1-3 skor 1 - Sangat antusias skor 5 - Antusias skor 4 - Cukup antusias skor 3 - Kurang antusias skor 2 - Tidak antusias skor 1 - Kerjasama sangat baik skor 5 - Kerjasama baik skor 4 - Kerjasama cukup skor 3 - kerjasama kurang skor 2 - Tidak ada kerjasama skor 1 Skor Maksimal 15 Nilai = Skor perolehan x 100% Skor maksimal Tabel 4: Kriteria penilaian portofolio siklus 2 (mind mapping) No Indikator Skor Deskripsi 1 Keterkaitan media pembelajaran dengan materi yang diangkat Tingkat ketepatan materi: - Sangat tepat skor 5 - Tepat skor 4 - Cukup skor 3 - Kurang tepat skor 2 - Tidak tepat skor 1

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 2 Pemahaman media pembelajaran dapat dengan mudah dimengerti (penyajian) 3 Keseriusan dalam pembuatan maupun presentasi 4 Proses pembuatan media pembelajaran dalam kelompok (kerjasama) 5 Kemampuan untuk menciptakan suatu karya baru (kreativitas) 6 Menghargai kelompok lain saat presentasi Jumlah • - Penyajian sangat baik skor 5 - Penyajian baik skor 4 - Penyajian cukup skor 3 - Penyajian kurang baik skor 2 - Penyajian buruk skor 1 - Sangat serius skor 5 - Serius skor 4 - Cukup skor 3 - Kurang serius tepat skor 2 - Tidak serius skor 1 - Kerjasama sangat baik skor 5 - Kerjasama baik skor 4 - Kerjasama cukup skor 3 - Kerjasama kurang skor 2 - Tidak ada kerjasama skor 1 - Kreativitas sangat tinggi skor 5 - Kreativitas tinggi skor 4 - Kreativitas cukup skor 3 - Kreativitas rendah skor 2 - Kreativitas sangat rendah skor 1 - Sangat baik skor 5 - Baik skor 4 - Cukup skor 3 - Kurang skor 2 - Sangat kurang skor 1 Total Skor 30 Nilai = Skor perolehan x 100% Skor maksimal Sedangkan untuk data kualitatif pada aspek conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) diperoleh dari hasil kuesioner dan pengamatan selama penelitian berlangsung. a. Kuesioner Dalam hal ini, kuesioner yang sudah diisi oleh siswa dihitung dengan menggunakan skala likert 1-5. Skala ini disusun dalam bentuk suatu pernyataan

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 dan diikuti oleh lima respons yang menunjukkan tingkatan.3 Dengan ketentuan bahwa pada pernyataan positif apabila menyatakan Sangat Setuju (SS) diberi skor 5, Setuju (S) diberi skor 4, Ragu-ragu (R) diberi skor 3, Tidak Setuju (TS) diberi skor 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS) diberi skor 1. Sedangkan untuk pernyataan negatif apabila menyatakan Sangat Setuju (SS) diberi skor 1, Setuju (S) diberi skor 2, Ragu-ragu (R) diberi skor 3, Tidak Setuju (TS) diberi skor 4, dan Sangat Tidak Setuju (STS) diberi skor 5. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut; Tabel 5: Skor kuesioner untuk pernyataan positif Kategori Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Ragu-ragu (R) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Skor 5 4 3 2 1 Tabel 6: Skor kuesioner untuk pernyataan negatif Kategori Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Ragu-ragu (R) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Skor 1 2 3 4 5 Skor tersebut kemudian diubah menjadi nilai dengan skala huruf berdasarkan Patokan Acuan Penilaian (PAP) tipe I,4 yaitu: Tabel 7: Analisis nilai kuesioner aspek conscience (suara hati) Tingkat penguasaan Rentang Skor Nilai kompetensi 90% -100% 198 - 220 A 80% - 89% 176 - 197 B 3 4 Suharsimi Arikunto, op.cit, hlm,180. Ign Masidjo, op.cit, hlm. 153.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 65% - 79% 55% - 64% 0% - 54% 143 - 175 121 - 142 0 - 120 C D E Tabel 8: Analisis nilai kuesioner aspek compassion (bela rasa) Tingkat penguasaan Rentang Skor Nilai kompetensi 90% -100% 216 - 240 A 80% - 89% 192 - 215 B 65% - 79% 156 - 191 C 55% - 64% 132 - 155 D 0% - 54% 0 - 131 E Setelah itu kemudian mencari jumlah keseluruhan tiap-tiap item dan menentukan indeks persentasenya dengan rumus: % = Skor yang diperoleh x 100% Skor total b. Pengamatan (observasi) Pengamatan dilakukan menggunakan lembar observasi aspek conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) berdasarkan indikator-indikator yang akan diukur. Penilaian pada lembar observasi ini berdasarkan persentase setiap indikatornya. Indikator observasi aspek conscience (suara hati) meliputi: tanggung jawab dan kejujuran. Berikut merupakan tabel yang digunakan untuk mengamati aspek conscience (suara hati) siswa pada siklus 1 dan 2; Tabel 9: Pengamatan aspek conscience (suara hati) siklus 1 dan 2 Indikator Jumlah No Nama Skor Tanggung Jawab Kejujuran

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Sedangkan Indikator observasi aspek compassion (bela rasa) meliputi: kerjasama, keterlibatan dalam kelompok, dan menghargai perbedaan. Berikut merupakan tabel yang digunakan untuk mengamati aspek compassion (bela rasa) siswa pada siklus 1 dan 2; Tabel 10: Pengamatan aspek compassion (bela rasa) siklus 1 dan 2 Indikator Skor Menghargai Kerjasama Keterlibatan No Nama Perbedaan dalam kelompok Setelah kedua jenis data tersebut dianalisis, kemudian dilaksanakan analisis komparasi yang bertujuan untuk menganalisis variabel yang diteliti, dalam hal ini adalah competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa). Analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan persentase data masing-masing variabel pada keadaan sebelum penelitian, akhir siklus 1 dan akhir siklus 2. J. Validitas dan Reliabilitas Instrumen 1. Validitas Instrumen Pada penelitian ini validitas alat ukur tes menggunakan content validity (validitas isi). Sedangkan untuk menguji validitas item kuesioner mengunakan validitas konstruk. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 diberikan.5 Dalam penelitian ini untuk menguji validitas butir kuesioner conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) menggunakan bantuan software Statistical Program and Service Solution 16.0 (SPSS 16.0)6 Setelah itu, untuk mengetahui taraf signifikansi validitas instrument maka dilakukan uji t dengan rumus:7 t= √ 2 √1 Keterangan: t = taraf signifikansi r = korelasi skor item dengan skor total n = jumlah butir item Berdasarkan hasil uji validitas item-item dalam kuesioner, dari 50 butir item aspek conscience (suara hati) yang valid berjumlah 44 item dan item yang rontok berjumlah 6 item yaitu item nomor 1, 2 , 11, 13, 21, 36 dengan taraf signifikansi 0,95. Sedangkan untuk aspek compassion (bela rasa) berdasarkan 50 butir item yang diuji, dari penghitungan item yang valid berjumlah 48 item dan item yang rontok berjumlah 2 item yaitu item nomor 43 dan 47 dengan taraf signifikansi 0,95. 2. Reliabilitas Instrumen Reliabilitas menunjuk pengertian bahwa suatu instrument dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik dan reliable sehingga akan menghasilkan data yang dapat dipercaya pula. Sama halnya dengan validitas, dalam penelitian ini untuk menghitung reliabilitas 5 6 7 Suharsimi Arikunto. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Hlm, 67. Singgih Santoso. 2008. Panduan Lengkap Menguasai SPSS 16. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Nana Sujana, 1990, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, hlm. 146.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 kuesioner conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) menggunakan bantuan software Statistical Program and Service Solution 16.0 (SPSS 16.0). Selanjutnya untuk mengetahui taraf signifikansi reliabilitas instrument maka dilakukan uji t dengan rumus:8 t= √ 2 √1 Keterangan: t = taraf signifikansi r = korelasi skor item dengan skor total n = jumlah butir item Hasil reliabilitas kuesioner aspek conscience (suara hati) dengan menggunakan rumus Cronbach’s Alpha yaitu 0,729 dengan taraf signifikansi sebesar 0,995. Sedangkan untuk kuesioner aspek compassion (bela rasa) mendapatkan hasil 0,746 dengan taraf signifikansi sebesar 0,995. Dari pemaparan hasil tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa instrument tersebut sudah baik dan dapat dipercaya sehingga layak untuk digunakan. K. Prosedur Penelitian Secara operasional, penelitian tindakan kelas yang diterapkan dalam penelitian ini ada tiga tahapan yaitu kegiatan pra siklus (observasi kegiatan guru, observasi kelas dan observasi siswa), siklus satu dan siklus dua jika diperlukan. Setiap siklus penelitian pada dasarnya sama dan menggunakan instrumen yang sama, hanya saja tindakan yang dilakukan berbeda. Adapun kegiatan yang dilakukan pada masing-masing tahapan diuraikan sebagai berikut: 8 Ibid,. hlm 149.

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 1. Kegiatan pra siklus Sebelum mengadakan penelitian, peneliti terlebih dahulu melakukan kegiatan pra penelitian. Kegiatan pra siklus ini meliputi: a. Observasi terhadap guru Instrumen observasi yang digunakan adalah lembar observasi terhadap keterampilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Lembar observasi meliputi kegiatan pra pembelajaran, kegiatan awal (melakukan apersepsi dan mengemukakan tujuan pembelajaran), kegiatan inti (penggunaan bahasa, penguasaan materi, penggunaan media dan penilaian pembelajaran) dan kegiatan penutup (evaluasi dan refleksi) yang dilaksanakan oleh guru selama pembelajaran berlangsung. Selain itu juga melakukan interview dengan guru menggunakan panduan wawancara guna memberikan gambaran peneliti tentang seluk beluk proses pembelajaran di sekolah tersebut. b. Observasi terhadap siswa Instrumen observasi yang digunakan adalah lembar observasi terhadap perilaku dan sikap siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Lembar observasi terhadap siswa meliputi kegiatan awal (kesiapan siswa mengikuti pembelajaran), kegiatan inti (sikap siswa pada saat pembelajaran, aktivitas siswa dan partisipasi siswa), kegiatan penutup (evaluasi proses pembelajaran, siswa mengerjakan tugas dengan baik, refleksi). Untuk mengukur tingkat awal conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) siswa menggunakan lembar kuesioner yang dibagikan pada saat peneliti melakukan observasi pra siklus.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 2. Kegiatan Siklus 1 Kegiatan dalam siklus pertama dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan/tatap muka dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran di kelas yaitu pada tanggal 27 April 2013 dan 4 Mei 2013. Siklus pertama ini meliputi perencanaan, pelaksanaan/tindakan, pengamatan, dan refleksi. a. Perencanaan Peneliti menyusun instrumen pengumpulan data, meliputi: 1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan memperhatiakn indikator-indikator hasil belajar. 2) Peneliti menentukan dan membuat media pembelajaran, seperti menyiapkan materi dalam bentuk Power Point, menyiapkan video documenter. 3) Membuat lembar penilaian. 4) Menyusun kisi-kisi penilaian. 5) Membuat Lembar Kerja Siswa (soal ulangan dan soal TTS) b. Pelaksanaan Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti mengajar sesuai dengan rencana perencanaan pembelajaran yang telah dibuat berdasarkan Paradigma Pedagogi Reflektif, dimana pada kegiatan inti pembelajaran menggunakan langkah-langkah beruntun yang terdiri dari; konteks, pengalaman, refleksi, tindakan, dan evaluasi. Tahap yang dilakukan adalah; 1) Pertemuan pertama a) Peneliti menjelaskan materi menggunakan media power point untuk memberikan gambaran tentang materi pembelajaran agar mudah dimengerti oleh

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 siswa. Kemudian peneliti memutarkan film dokumenter yang mana film tersebut berhubungan dengan materi yang sedang diajarkan. Hal ini dilakukan untuk menambah tingkat wawasan dan pemahaman siswa akan materi secara langsung dan menunjang pengembangan aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) siswa. b) Peneliti member kesempatan kepada siswauntuk memberikan tanggapan tentang film tersebut. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan pengalaman siswa secara langsung dan menunjang pengembangan aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) dan compassion (bela rasa) siswa yaitu dalam hal kejujuran dan kerjasama. c) Langkah selanjutnya menjadi unsur yang paling penting dalam pendidikan reflektif, peneliti menyiapkan pertanyaan panduan yang tepat dan menyiapkan kondisi kelas yang memungkinkan terjadinya refleksi. Peneliti dan siswa saling berbagi refleksinya dalam memperkaya pemaknaan pengalaman belajar. d) Peneliti memberikan panduan pertanyaan guna menuntun aksi peserta didik yang mengacu pada materi. 2) Pertemuan kedua a) Peneliti mengajak siswa untuk melihat kembali secara singkat pokok- pokok materi yang sudah di bahas, kemudian siswa di ajak untuk kembali mengingat materi pertemuan minggu lalu dengan menggunakan soal permainan TTS.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 b) Pada jam ke 2 pertemuan ini dilakukan evaluasi/ulangan untuk mengetahui hasil competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap). Hal ini juga menandai berakhirnya siklus 1. c. Pengamatan Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan proses pembelajaran menggunakan paradigma reflektif dengan menggunakan pemanfaatan media power poin dan film. Aspek yang diperhatikan dalam hal ini adalah pada saat siswa mengerjakan soal TTS dalam hal ini adalah pengetahuan, tanggung jawab, kerja sama dan keterlibatan dalam kelompok. d. Analisis dan refleksi Data yang diperoleh pada tahap observasi siklus pertama ini kemudian dianalisis untuk melihat peningkatan competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) siswa. 3. Kegiatan Siklus 2 Kegiatan yang akan dilakukan pada siklus kedua pada dasarnya sama dengan siklus pertama, siklus kedua ini merupakan tindak lanjut dari siklus pertama, jika dalam pelaksanaan siklus pertama belum memenuhi target, maka dilaksanakan siklus kedua. Siklus kedua dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan/tatap muka dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran di kelas yaitu pada tanggal 11 Mei 2013 dan 18 Mei 2013. Dalam pelaksanaan siklus kedua siswa diharapkan mampu untuk mencapai target yang dalam hal ini adalah peningkatan competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa).

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 a. Perencanaan Peneliti menyusun instrumen pengumpulan data, meliputi: 1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan memperhatiakn indikator-indikator hasil belajar. 2) Peneliti menentukan dan membuat media pembelajaran, seperti menyiapkan materi dalam bentuk Power Point. 3) Membuat lembar penilaian. 4) Menyusun kisi-kisi penilaian. 5) Membuat Lembar Kerja Siswa. b. Pelaksanaan Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti mengajar sesuai dengan rencana perencanaan pembelajaran yang telah dibuat berdasarkan Paradigma Pedagogi Reflektif, dimana pada kegiatan inti pembelajaran menggunakan langkah-langkah beruntun yang terdiri dari; konteks, pengalaman, refleksi, tindakan. Tahap yang dilakukan adalah; 1) Pertemuan pertama a) Peneliti menjelaskan materi menggunakan media power point untuk memberikan gambaran tentang materi pembelajaran agar mudah dimengerti oleh siswa. Kemudian peneliti membagi siswa dalam beberapa kelompok guna memberikan tugas membuat mind mapping berdasarkan materi. b) Setelah siswa berkumpul dalam kelompok, peneliti membagikan lembar kerja siswa yang digunakan untuk membuat mind mapping. Pada saat siswa bekerjasama mengerjakan tugas, peneliti berkeliling kelas guna mengamati aspek

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) berdasarkan lembar pengamatan yang telah dipersiapkan oleh peneliti. c) Setelah waktu dirasa cukup, peneliti mempersilahkan kelompok secara bergantian untuk presentasi didepan kelas. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan pengalaman siswa secara langsung dan menunjang pengembangan aspek conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) siswa yaitu dalam hal tanggung jawab dan kerja sama. d) Langkah selanjutnya menjadi unsur yang paling penting dalam pendidikan reflektif, peneliti menyiapkan pertanyaan panduan yang tepat dan menyiapkan kondisi kelas yang memungkinkan terjadinya refleksi. Peneliti dan siswa saling berbagi refleksinya dalam memperkaya pemaknaan pengalaman belajar. Refleksi pada tahap ini dilakukan secara lisan oleh peneliti. 2) Pertemuan kedua a) Peneliti mengajak siswa untuk melihat kembali secara singkat pokok- pokok materi yang sudah di bahas, kemudian siswa di ajak untuk sharing materi pertemuan lalu mengenai tugas yang diberikan oleh guru. b) Peneliti dan siswa bersama-sama melakukan refleksi atas pengalaman dalam diskusi tersebut dan juga terhadap kegiatan pembelajaran selama pertemuan pertama dan kedua. c) Peneliti memberikan pertanyaan berkaitan dengan aksi selanjutnya agar siswa terbantu untuk membangun niat dan bertindak sesuai dengan hasil refleksinya terutama dalam hal kejujuran dan kerjasama. Setelah itu guru memberikan evaluasi.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 d) Pada jam ke 2 pertemuan ini dilakukan evaluasi/ulangan untuk mengetahui hasil competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap). Hal ini juga menandai berakhirnya siklus 2. c. Pengamatan Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan proses pembelajaran menggunakan paradigma reflektif dengan menggunakan pemanfaatan media power poin dan film. Aspek yang diperhatikan dalam hal ini adalah antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran, aktivitas guru, interaksi antar siswa dalam diskusi kelompok, dan aktivitas siswa. d. Analisis dan refleksi Data yang diperoleh pada tahap observasi siklus pertama ini kemudian dianalisis untuk melihat peningkatan competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa) siswa. Hasil refleksi siklus, mungkin belum terjadi peningkatan secara signifikan. L. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan dalam PTK ini meliputi peningkatan competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa) siswa. Kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran sejarah Kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis Sedayu yaitu 78. Sebagai indikator keberhasilan PTK ini adalah sebagai berikut: Tabel 11: Indikator keberhasilan No. Variabel Keadaan Awal 1. Competence Siswa 47% 2. Conscience Siswa 55% 3 Compassion Siswa 55% Siklus 1 70% - Siklus 2 85% 80% 80%

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Pra Penelitian Tahap pra-penelitian merupakan tahap yang dilakukan peneliti untuk mengetahui masalah yang terjadi di kelas, mengenali keadaan kelas yang diteliti, dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk penelitian. Dalam hal ini peneliti melakukan observasi di kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St Louis IX Sedayu untuk mengetahui aktivitas siswa dan observasi aktivitas guru dikelas. Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara terhadap guru bidang studi sejarah dengan menggunakan panduan pertanyaan dan penyebaran kuesioner kepada siswa untuk mengetahui aspek keadaan awal competence (pengetahuan, kerampilan, sikap), conscience (suara hati), compassion (bela rasa). a. Wawancara terhadap guru Dari hasil wawancara dengan guru bidang studi dapat ditarik kesimpulan bahwa pada umumnya keadaan siswa di kelas XI IPA 1 dalam mengikuti proses pembelajaran sudah baik, banyak anak yang aktif untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Ada beberapa anak yang kritis terhadap hal yang disampaikan oleh guru. Dalam hal ini tentunya juga ditunjang dengan fasilitas yang cukup memadahi yang ada di kelas seperti; whiteboard, lcd viewer, dan speaker, walaupun dalam praktek belajar mengajar di kelas guru tidak menggunakan fasilitas tersebut. 65

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih konvensional dan hanya berpedoman pada buku paket saja. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan siswa-siswi mendapat nilai yang baik. Prestasi di kelas XI IPA 1 pada dasarnya cukup baik, berdasarkan nilai KKM sebesar 78. Dalam wawancara dengan guru tersebut juga terjadi kesepakatan untuk lama waktu penelitian serta materi yang diajarkan pada proses pembelajaran, dalam penelitian ini menggunakan materi tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak proklamasi hingga Demokrasi Terpimpin. (lihat lampiran observasi) b. Observasi aktivitas guru di kelas Selain melakukan wawancara, peneliti juga melakukan observasi terhadap aktivitas guru, Observasi ini dilakukan oleh peneliti pada tahap awal untuk mengetahui gambaran kegiatan belajar mengajar sebelum dilaksanakan penelitian. Dari hasil observasi ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa walaupun hanya menggunakan whiteboard tanpa menggunakan multimedia namun proses kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik. Pada tahap awal pelajaran, guru memberikan kesempatan siswa-siswi untuk mempersiapkan diri. Setelah itu, guru melakukan kegiatan apersepsi dan menjelaskan tujuan pembelajaran pada hari itu. Dalam proses pembelajaran guru mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman pribadi guru tersebut, sesekali guru memberikan guyonan agar para peserta didik tidak merasa jenuh dengan pelajaran. Selain itu guru juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan tanya jawab. (lihat lampiran observasi)

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 c. Observasi aktivitas siswa di kelas Disamping melakukan observasi terhadap aktivitas guru, peneliti juga melakukan observasi terhadap aktivitas peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi aktivitas peserta didik dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan peserta didik, dan mengetahui keadaan peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pada saat kegiatan pembelajaran akan berlangsung, karena mata pelajaran sejarah dimulai setelah jam istirahat maka belum seluruhnya siswa berada di tempat duduk. Ada beberapa siswa yang masih berada diluar ruang kelas. Pada saat guru memberi kesempatan siswa untuk persiapan mengikuti pelajaran, siswa secara serempak mengeluarkan buku-buku yang digunakan dalam pembelajaran. Namun pada saat guru mulai menjelaskan materi, ada beberapa siswa yang masih sibuk dengan urusannya sendiri. Pada saat diberi kesempatan bertanya oleh guru, hanya ada beberapa siswa yang berani mengajukan pertanyaan terhadap materi yang diajarkan, dan hanya ada beberapa siswa aktif saja yang mau menjawab pertanyaan yang diajukan guru secara lisan. Dibalik itu semua pada saat guru memberikan tugas kepada siswa, seluruh siswa secara aktif mengerjakan soal yang diberikan oleh guru tersebut. Untuk lebih jelasnya dari hasil observasi tersebut, dapat dilihat pada tabel yang tercantum pada bagian lampiran. d. Aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) awal siswa Selain mendapat data observasi guru dan peserta didik, peneliti juga memperoleh data dari dokumen guru bidang studi yang diambil dari nilai ujian

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 tengah semester. Nilai ujian tengah semester ini yang digunakan oleh peneliti sebagai acuan keadaan awal competence (pengetahuna, kerampilan, sikap) siswa. Berikut merupakan data nilai kognitif peserta didik sebelum dilaksanakannya penelitian. Tabel 12: Keadaan Awal Nilai Kognitif No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Nama AP AFK AS AWC APL BTP CPE CDS DC EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY VAC VW YBW KKM Nilai 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 58 48 58 95 80 50 47 48 78 60 43 60 63 75 48 70 68 63 92 85 87 82 95 78 77 95 97 90 88 Ketuntasan Belajar YA TIDAK √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 78 30 BDT √ 14 (46,67%) 83 2161 Jumlah Rata-rata Nilai Tertinggi Nilai Terendah 16 (53,37%) 72,03 97 43 Dari tabel 12 menunjukkan bahwa rata-rata kelas belum memenuhi KKM. Besar KKM yang seharusnya dicapai adalah 78. Selain itu, tampak bahwa baru 14 siswa (46,67%) yang berhasil mencapai KKM, sedangkan 16 siswa (53,37%) belum bisa mencapai KKM. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa perlu adanya perbaikan dari aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, sikap). Untuk melihat kategori nulai kualitatif, dapat dilihat dari table berikut: Tabel 13: Frekuensi data keadaan awal aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) No Nilai competence siswa F Persentase Kriteria 1. 2. 3. 4. 5. 90 - 100 80 – 89 65 – 79 55 – 64 ≤54 6 6 6 6 6 20 % 20 % 20 % 20 % 20 % Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah Berdasarkan tabel 13 tersebut, dapat diketahui tentang kategori aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa. Dari 30 siswa tercatat memiliki frekuensi yang sama pada setiap kriterianya, yakni masing-masing kriteria memiliki presentase yang sama yaitu sebesar 20%. Dari hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa keadaan competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) awal di kelas XI IPA 1 adalah seimbang.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Perban ndingan perssentase data aspek competence (penggetahuan, keeterampilan d sikap) siswa dan s pada keadaan k awaal tersebut dapat d dilihat dengan graafik berikut i : ini Compettence aw wal 20% 20% Sangat Tiinggi Tinggi Cukup 20% % Rendah 2 20% Sangat Reendah 20% Gambar IV: I Grafik data d keadaan awal compeetence siswa e. Aspek k consciencee (suara hatti) awal sisw wa Keadaaan awal asspek consciience (suaraa hati) sisw wa didapat dari hasil k kuesioner yaang telah dibbagikan pada waktu pra penelitian. Data aspek conscience ( (suara hati) siswa tersebbut berkaitann dengan kep pekaan dan ketajaman hati h nurani. K Kuesioner teersebut meliputi indikattor-indikatorr yang diteliti oleh penneliti. Hasil k kuesioner asspek conscieence (suara hhati) awal daapat dilihat ddalam tabel berikut b ini. Tabel 14: Data keaadaan awal aaspek consciience (suara hati) siswa No 1 2 3 4 N Nama Siswa AP AFK K AS AW WC Skor Nilai % Kateegori 177 122 161 146 B D C C 80.5% 55.5% 73.2% 66.4% Tinnggi Renndah Cukkup Cukkup

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 APL BTP CPE CDS DC EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY VAC VW YBW BDT Jumlah Rata-rata Skor Tertinggi Skor Terendah 162 158 180 118 160 174 116 192 150 146 137 149 129 179 182 170 138 155 156 159 181 177 159 173 161 151 4718 157,3 192 116 C C B E C C E B C C D C D B B C D C C C B B C C C C C B E 73.6% 71.8% 81.8% 53.6% 72.7% 79.1% 52.7% 87.3% 68.2% 66.4% 62.3% 67.7% 58.6% 81.4% 82.7% 77.3% 62.7% 70.5% 70.9% 72.3% 82.3% 80.5% 72.3% 78.6% 73.2% 68.6% 2144,5% 71,5% 87,3% 52,7% Cukup Cukup Tinggi Sangat Rendah Cukup Cukup Sangat Rendah Tinggi Cukup Cukup Rendah Cukup Rendah Tinggi Tinggi Cukup Rendah Cukup Cukup Cukup Tinggi Tinggi Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Tinggi Sangat Rendah Berdasarkan Tabel 14 menunjukkan data keadaan awal aspek conscience (suara hati) siswa dengan skor rata-rata mencapai 157,3 (71,5%). Tercatat skor tertinggi yang diperoleh siswa adalah 192 (87,3%) dengan nilai B, dan skor terendah yang diperoleh siswa adalah 116 (52,7%) dengan nilai E. Dalam tabel ini juga tercatat ada 7 siswa (23,33%) dengan kategori tinggi, 17 siswa (56,66%)

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 d dengan kateegori cukup, 4 (13,33%) siswa den ngan kategorri rendah, daan 2 siswa ( (6,66%) den ngan kategorri sangat renddah. Dari haasil tersebut ttidak tercataat ada siswa d dengan kateg gori sangat tinggi. t Perban ndingan dataa aspek consscience (suarra hati) sisw wa dapat dilihhat dengan g grafik berikuut: 7% Coonsciencee awal 13% 2 23% Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah h Sangat Rendah 57% Gambar V: Grafik perbbandingan daata keadaan aawal conscieence f. Aspek k compassion n (bela rasaa) awal sisw wa Keadaaan awal asspek compaassion (belaa rasa) sisw wa didapat dari hasil k kuesioner yaang telah di isi oleh sisw wa. Data asppek compassion siswa inni berkaitan d dengan kem mampuan berbbelarasa terhhadap sesam ma dan terhaddap lingkunggan sekitar. K Kuesioner teersebut meliputi indikattor-indikatorr yang ditelili oleh penneliti. Hasil k kuesioner asspek compasssion (bela raasa) awal daapat dilihat ddalam tabel berikut b ini: Tabel 15: Data keaadaan awal aaspek compaassion (bela rasa) siswa No 1 2 3 Naama Siswa AP AFK K AS Jumlah// skore Nilai % Kateegori 201 169 182 B C C 83,8% 70,4% 75,8% Tinnggi Cukkup Cukkup

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 4 AWC 5 APL 6 BTP 7 CPE 8 CDS 9 DC 10 EGAP 11 FRP 12 FTR 13 FND 14 HVA 15 KCH 16 LAA 17 LEY 18 LDP 19 MHF 20 MRK 21 PAS 22 PL 23 RC 24 RMP 25 RRR 26 VDY 27 VAC 28 VW 29 YBW 30 BDT Jumlah Rata-rata Skor tertinggi Skor terendah 193 188 158 208 204 194 157 214 188 192 203 164 205 199 102 198 197 190 178 182 205 206 193 196 204 184 190 5644 188,1 214 102 B C C B B B C B C B B C B B E B B C C C B B B B B C C C B E 80,4% 78,3% 65,8% 86,7% 85% 80,8% 65,4% 89,2% 78,3% 80% 84,6% 68,3% 85,4% 82,9% 42,5% 82,5% 82,1% 79,2% 74,2% 75,8% 85,4% 85,8% 80,4% 81,7% 85,0% 76,7% 79,2% 2351,7% 78,4% 89,2% 42,5% Tinggi Cukup Cukup Tinggi Tinggi Tinggi Cukup Tinggi Cukup Tinggi Tinggi Cukup Tinggi Tinggi Sangat Rendah Tinggi Tinggi Cukup Cukup Cukup Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Cukup Cukup Cukup Tinggi Sangat Rendah Berdasarkan tabel 15 tersebut menunjukkan aspek compassion (bela rasa) awal siswa mencapai rata-rata 78,4% yang termasuk dalam kriteria cukup. Pada keadaan awal aspek compassion (bela rasa) siswa ini didapat skor tertinggi mencapai 214 (89,2%) dengan nilai B, sedangkan untuk skor terendah yaitu 102 (42,5%%) dengan nilai E. Dari tabel tersebut tidak ada siswa yang memiliki aspek

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 compassion (bela rasa) dengan kategori sangat tinggi, sebanyak 17 siswa (56,66%) dengan kategori tinggi, 12 siswa (40%) dengan kategori cukup, tidak ada siswa dengan kategori rendah namun ada 1 (3,33%) siswa tercatat dengan kategori sangat rendah. Untuk melihat perbandingan persentase kategori aspek compassion (bela rasa) dapat dilihat pada grafik berikut ini: Compassion awal 3,3% Sangat Tinggi Tinggi 40% Cukup 57% Rendah Sangat Rendah Gambar VI: Grafik perbandingan data keadaan awal compassion 2. Siklus 1 Dalam penelitian ini, siklus 1 terdiri dari 2 kali pertemuan dan masingmasing pertemuan beralokasikan 2JP (90 menit), siklus 1 ini dilakukan pada tanggal 27 April 2013 dan 4 Mei 2013. a. Perencanaan Pada tahap perencanaan, peneliti melakukan kegiatan untuk persiapan melaksanakan siklus 1. Adapun kegiatan yang dilakukan oleh peneliti seperti

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan memperhatikan indikatorindikator hasil belajar. Peneliti menentukan dan membuat media pembelajaran, seperti menyiapkan materi dalam bentuk Power Point, menyiapkan video dokumenter, membuat lembar pertanyaan untuk diskusi. Selain itu, peneliti juga membuatan kisi-kisi soal dan soal ulangan guna melakukan evaluasi pada siklus 1. Pada tahap ini, materi yang disampaikan yaitu; 1) Standar Kompetensi 2: Merekonstruksi perjuangan bangsa Indonesia sejak masa proklamasi hingga lahirnya Orde Baru. 2) Kompetensi Dasar 2.1. : Merekonstruksi perkembangan masyarakat Indonesia sejak proklamasi hingga Demokrasi Terpimpin b. Tindakan Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti mengajar sesuai dengan rencana perencanaan pembelajaran yang telah dibuat oleh peneliti berdasarkan Paradigma Pedagogi Reflektif, dimana pada kegiatan inti pembelajaran menggunakan langkah-langkah berurutan yang terdiri dari; konteks, pengalaman, refleksi, tindakan. Dalam pembelajaran ini, guru mengintegrasikan pembelajaran sejarah dengan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Pembelajaran yang disesuaikan dengan konteks siswa, lalu pengembangan nilai-nilai kemanusiaan ditumbuhkembangkan melalui dinamika pengalaman, refleksi, dan aksi lalu ditutup dengan evaluasi. Tahap yang dilakukan adalah: 1) Pertemuan pertama Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 27 April 2013, membahas materi tentang masa demokrasi parlementer di Indonesia. Guru menjelaskan

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 materi menggunakan media power point untuk memberikan gambaran tentang materi pembelajaran serta nilai-nilai yang akan diambil, sehingga dalam diri siswa akan terkonsep makna dari pembelajaran tersebut. Selanjutnya guru memutarkan film dokumenter yang mana film tersebut berhubungan dengan materi yang sedang diajarkan. Dalam diskusi kelompok, peserta didik dituntut untuk menganalisa film tersebut dan hasilnya dipresentasikan di depan kelas. Langkahlangkah pada tindakan ini yaitu: a) Konteks Dalam hal ini konteks yang diberikan merupakan hal yang nyata, keadaan yang dialami oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pada pembelajaran ini materi perkembangan masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer harus dihubungkan dengan realita yang ada. Dari konteks berupa materi tersebut, siswa diarahkan untuk menemukan nilai-nilai yang dapat diteladani dan diterapkan pada kehidupannya, namun dalam hal ini peneliti lebih menekankan nilai tanggung jawab, kerjasama, menghargai perbedaan, dan keterlibatan dalam kelompok karena dalam materi ini mengangkat bab tentang demokrasi. Peneliti mengawali pelajaran dengan bertanya kepada siswa, bagaimana tanggapan siswa terhadap praktek demokrasi di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman tentang demokrasi yang diketahui oleh siswa. Dari jawaban beberapa siswa dapat ditarik kesimpulan, bahwa mereka belum memahami betul arti demokrasi. Oleh karena itu untuk menambah daya imajinasi siswa terhadap materi, peneliti memutarkan video dokumenter dalam proses

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 pembelajaran. Untuk nilai kerjasama, menghargai perbedaan, dan keterlibatan dalam kelompok diangkat dari praktek diskusi siswa berdasarkan film yang diputarkan oleh guru. Sedangkan untuk nilai tanggung jawab, diangkat dari bagaimana cara siswa mempertanggungjawabkan hasil diskusi tersebut. b) Pengalaman Dalam tahap ini, diharapkan siswa yang mengalami sendiri proses pembelajaran tersebut. Jadi setelah dijelaskan sedikit mengenai gambaran tentang materi perkembangan masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer menggunakan Power Point, siswa diajak untuk melihat video dokumenter tentang Pemilihan Umum 1955 lalu mengsharingkan pendapat mereka dalam diskusi kelompok. Hal ini bertujuan untuk membangun daya imajinasi siswa terhadap materi yang disampaikan, karena pada tahap ini siswa harus mengalami sendiri pengalamannya. Berdasarkan pengalaman siswa tersebut terbangun interaksi dan komunikasi terhadap sesama anggota kelompok, sehingga nilai kerjasama, menghargai perbedaan, dan keterlibatan dalam kelompok akan berkembang. c) Refleksi Tahap refleksi merupakan tahap dimana mengingat dan merenungkan kembali tentang materi yang diajarkan, dan mengambil nilai nilai yang dapat diteladani dari materi tersebut. Dalam tahap ini siswa diberi pertanyaan bantuan untuk memancing daya pikir mereka merefleksikan materi. Pertanyaan diajukan secara lisan, kemudian siswa saling mengsharingkan pendapat mereka secara lisan pula, pertanyaan tersebut adalah; Bagaimana tanggapanmu tentang materi perkembangan masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer? Manfaat

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 apa yang bisa diambil dari materi perkembangan masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer? Nilai-nilai karakter dan kemanusiaan apa yang kamu dapat dari materi tersebut? Dari beberapa pertanyaan yang diajukan pada saat refleksi, secara umum siswa belum bisa memahami betul materi tentang Demokrasi Parlementer. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa pembahasan dalam materi yang membutuhkan tingkat pendalaman yang lebih, seperti pembahasan tentang kabinet-kabinet pada masa Demokrasi Parlementer. Namun dibalik itu semua, siswa sudah dapat mengambil manfaat dari mempelajari materi tersebut. Sebagian besar siswa memaknai materi tersebut sebagai acuan dalam berorganisasi dalam kehidupan sehari-hari, dimana sangat dibutuhkan perencanaan yang matang untuk mengambil suatu keputusan dan sikap saling menghargai dalam suatu organisasi agar dapat berjalan dengan baik. d) Aksi Aksi dalam hal ini adalah mengenai follow up yang dilakukan siswa setelah mengikuti pelajaran. Tindak lanjut siswa ini berdasarkan dari refleksi yang telah didapat dari pembelajaran. Dalam pertemuan ini siswa dibantu dengan pemberian pertanyaan untuk membangun niat dan bertindak sesuai hasil refleksinya, seperti; Apa yang anda lakukan jika anda dalam suatu kelompok lalu terjadi perbedaan pendapat? Mengapa anda memilih melakukan hal tersebut? Dari pertanyaan tersebut, secara umum siswa menjawab dengan melakukan voting. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara demokrasi, jadi keputusan yang diambil berdasarkan suara terbanyak. Berdasarkan jawaban dari

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 siswa, peneliti mengambil kesimpulan bahwa ssebagian besar siswa sudah memaknai nilai menghargai perbedaan dan keterlibatan dalam kelompok. Dengan melakukan voting, berarti mereka sudah bisa menghargai pendapatpendapat anggota kelompok mereka dan juga mau untuk terlibat dalam kelompok untuk mengambil keputusan bersama. e) Evaluasi Pada pertemuan ini evaluasi hanya dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan lisan saat proses pembelajaran sedang berlangsung, kemudian siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya. 2) Pertemuan kedua Pada pertemuan kedua dilaksanakan 2jp pada tanggal 4 Mei 2013 melanjutkan materi pertemuan pertama yaitu tentang kebijakan ekonomi pada masa demokrasi parlementer. Namun pada pertemuan yang kedua ini, pada jam pelajaran yang kedua, guru mengadakan evaluasi guna mengetahui hasil belajar pada siklus 1. Pertemuan pada tanggal 4 Mei 2013 ini juga menandai berakhirnya siklus 1. a) Konteks Sama halnya seperti pada pertemuan pertama, konteks pada pertemuan kedua ini masih menghubungkan materi dengan realita yang ada. Dari konteks berupa materi tersebut, siswa diarahkan untuk menemukan nilai-nilai yang dapat diteladani dan diterapkan pada kehidupannya, namun dalam hal ini peneliti lebih menekankan nilai tanggung jawab, kejujuran, kerjasama, menghargai perbedaan, dan keterlibatan dalam kelompok karena dalam materi ini masih mengangkat

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 bab tentang demokrasi. Dalam hal ini, siswa sudah mulai mengerti tentang gambaran praktek demokrasi di Indonesia karena pada pertemuan lalu sudah sedikit disinggung tentang materi ini. Agar proses penyampaian materi tersebut lebih efektif, maka peneliti dalam hal ini menggunakan media Power Point sebagai media untuk bermain TTS. Hal ini dilakukan sebagai sarana untuk menghadapi ulangan pada jam ke 2. b) Pengalaman Pada tahap pengalaman siswa diajak untuk mengalami secara langsung proses pembelajaran. Pengalaman yang dirasakan siswa secara langsung dalam hal ini adalah bagaimana siswa tersebut bisa bekerjasama dan mau menghargai perbedaan antar kelompok karena pembelajaran yang dilakukan bersifat kelompok. Dalam proses pembelajaran ini juga, bagi siswa yang benar menjawab soal TTS tersebut akan mendapatkan reward sebagai sarana apresiasi karena telah berhasil memecahkan sebuah masalah. Hal ini sebagai simbol untuk memotivasi siswa tersebut agar tidak mudah putus asa. Lalu untuk pengembangan aspek kejujuran, akan dipraktekkan siswa secara langsung pada jam ke 2 lewat evaluasi/ulangan. c) Refleksi Sama halnya pada pertemuan pertama, pada pertemuan kedua ini refleksi dilakukan secara lisan dengan cara peneliti mengajukan pertanyaan kepada siswa, seperti; Apa makna materi tersebut bagi anda? Nilai apa yang dapat anda petik dari materi tersebut?

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 Dari hasil refleksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa memaknai bahwa untuk mengambil keputusan bersama perlu adanya kesepakatan bersama, seperti halnya usaha-usaha yang dilakukan untuk mengambil kebijakan ekonomi pada masa demokrasi parlementer. Dari refleksi ini juga, sebagian besar siswa menyatakan bahwa nilai menghargai perbedaan dan keterlibatan dalam kelompok sangat penting dalam berorganisasi, karena menurut mereka tanpa adanya nilai tersebut keputusan dalam kelompok akan sulit didapatkan. d) Aksi Aksi dalam hal ini adalah mengenai tindak lanjut yang dilakukan siswa setelah mengikuti pelajaran. Tindak lanjut siswa ini berdasarkan dari refleksi yang telah didapat dari pembelajaran. Dalam hal ini siswa diberi pertanyaan yang singkat, namun pertanyaan tersebut bisa memancing jawaban siswa agar lebih nyata dilakukan. Seperti; Bagaimana anda menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Berdasarkan pertanyaan aksi tersebut, secara umum siswa menjawab, biasanya jika ada perbedaan pendapat dalam menentukan sesuatu di kelas mereka melakukan voting yang dipimpin oleh ketua kelas untuk menentukan keputusan bersama. Hal ini terlihat saat mereka menentukan keputusan dalam membuat seragam kelas. Dari aksi siswa tersebut sangatlah jelas terlihat bahwa nilai menghargai perbedaan dan keterlibatan dalam kelompok lebih diutamakan. e) Evaluasi Evaluasi pada pertemuan ini dilakukan dengan 2 cara, yang pertama dengan permainan TTS secara berkelompok untuk mengetahui aspek competence

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), aspek conscience (suara hati) dengan indikator kejujuran dan tanggung jawab, dan aspek compassion (bela rasa) dengan indikator kerjasama, keterlibatan dalam kelompok, dan menghargai perbedaan. Lalu cara yang kedua dengan menggunakan ulangan harian untuk mengetahui aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap). c. Observasi/pengamatan Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan proses pembelajaran menggunakan paradigma reflektif dengan menggunakan pemanfaatan media power poin yang menyangkut competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa). 1) Aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) Pada tahap ini diperoleh data mengenai nilai kognitif dari peserta didik yang diukur menggunakan soal yang disesuaikan dengan indikator. Dalam hal ini penilaian akan dilakukan dengan cara menggabungkan antara nilai hasil tugas dengan nilai hasil ulangan, dengan persentase perbandingan 80% untuk ulangan dan hasil nilai tugas kelompok dengan bobot 20%. Berikut adalah nilai ulangan yang didapat dari hasil evaluasi siklus 1. Tabel 16: Hasil ulangan siklus 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama AP AFK AS AWC APL BTP CPE CDS DC EGAP KKM Nilai 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 80 66,6 80 80 80 66,6 86,6 66,6 76,6 80 Ketuntasan Belajar YA TIDAK √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY VAC VW YBW BDT 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 66,6 80 73,3 70 43,3 83,3 86,6 76,6 80 83,3 73,3 76,6 80 53,3 66,6 70 83,3 86,6 80 73,3 √ √ √ √ √ √ √ √ √ 15 (50%) 2249 Jumlah Rata-rata Nilai Tertinggi Nilai Terendah √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 15 (50%) 74.43 86,6 43,3 Dari tabel 16 tampak bahwa ada 15 siswa (50%) yang memperoleh nilai diatas 78, dan ada 15 siswa (50%) yang memperoleh nilai dibawah 78. Dari tabel tersebut juga bisa dilihat untuk nilai tertinggi ulangan pada siklus 1 adalah 86,6 dan untuk nilai terendah sebesar 43,3. Untuk mengetahui aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) maka diperlukanlah nilai final, yaitu penggabungan antara nilai ulangan dengan nilai tugas. Untuk mengetahui nilai akhir antara ulangan dan tugas dapat dilihat dari tabel berikut; Tabel 17: Nilai akhir siklus 1 No Nama 1 AP Tugas (TTS) 100 Tugas Akhir (20%) 20 Ujian 80 Ujian Akhir (80%) 64 Nilai Akhir Keterangan 84 Tuntas

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 AFK AS AWC APL BTP CPE CDS DC EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY VAC VW YBW BDT 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 Jumlah Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rata rata 66,6 80 80 80 66,6 86,6 66,6 76,6 80 66,6 80 73,3 70 43,3 83,3 86,6 76,6 80 83,3 73,3 76,6 80 53,3 66,6 70 83,3 86,6 80 73,3 53,28 64 64 64 53,28 69,28 53,28 61,28 64 53,28 64 58,64 56 34,64 66,64 69,28 61,28 64 66,64 58,64 61,28 64 42,64 53,28 56 66,64 69,28 64 58,64 73,28 84 84 84 73,28 89,28 73,28 81,28 84 73,28 84 78,64 76 54,64 86,64 89,28 81,28 84 86,64 78,64 81,28 84 62,64 73,28 76 86,64 89,28 84 78,64 2399,2 89,28 54,64 79,97 Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Dari tabel 17 dapat ditarik kesimpulan bahwa pada aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) terdapat 9 siswa (30%) yang belum mencapai KKM, sedangkan 21 siswa (70%) sudah mencapai KKM. Dari tabel tersebut juga dapat terlihat untuk nilai tertinggi sebesar 89,28 dan nilai terendah

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 sebesar 54,64. Dengan total nilai 2399,2 dan jumlah siswa 30 anak maka akan diketahui nilai rata-rata kelas sebesar 79,97. Berdasarkan hal tersebut, jumlah siswa yang mencapai KKM sudah memenuhi target peneliti yaitu sebesar 70% dengan hasilnya 70% dari seluruh siswa. Untuk selanjutnya kategori nilai kualitatif siswa dapat dilihat dari tabel berikut: Tabel 18: Frekuensi data keadaan aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa siklus 1 No Nilai f Presentase (%) Kriteria competence siswa 1 90 -100 0 0% Sangat Tinggi 2 80 - 89 18 60% Tinggi 3 65 - 79 10 33,33% Cukup 4 55 - 64 1 3,33% Rendah 5 <55 1 3,33% Sangat Rendah Berdasarkan Tabel 18 menunjukkan data keadaan awal aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) dimana tidak ada siswa yang tercatat memiliki nilai dengan kategori sangat tinggi, namun ada 18 siswa (60%) yang memiliki aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) dengan kategori tinggi, sebanyak 10 siswa (33,33%) dengan kategori cukup, 1 siswa (3,33%) dengan kategori rendah, dan 1 (3,33%) siswa dengan kategori sangat rendah. Dari hasil tersebut tidak tercatat ada siswa dengan kategori sangat rendah. Perbandingan data aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) siswa dapat dilihat dengan grafik berikut:

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 % 3% 3% Competence Sikllus 1 Sangat Tinggi 34% 60% % Tinggi Gambaar VII: Graffik perbandinngan data competence sikklus 1 2 Aspek coonscience (suuara hati) dann compassioon (bela rasaa) 2) Pada pengamatan p aspek consccience (suaraa hati) dan compassion c (bela rasa) s siswa ini meenggunakan lembar obseervasi. Pengaamatan ini bbertujuan unttuk melihat p perkembang gan siswa selama s menngikuti pem mbelajaran sejarah s berbbasis PPR m melalui pem manfaatan multimedia. m Lembar ob bservasi yanng digunakaan terdapat i indikator yang digunakaan sebagai accuan untuk melakukan m ppengamatan,, indikatori indikator teersebut meruupakan nilaai yang terkkandung dallam aspek conscience ( (suara hati) maupun com mpassion (bbela rasa). Pada P aspek cconscience (suara ( hati) t terdapat nilaai tanggung jawab dan kejujuran. k S Sedangkan ppada aspek compassion c ( (bela rasa) terdapat nilai kerjassama, keterlibatan daalam kelom mpok, dan perbedaan.. Dari indikkator-indikattor tersebutt dapat dilihhat apakah m menghargai s siswa bisa mencapai skor maksiimal atau tidak, t dan juga dapat diketahui s seberapa beesar prosennstase siswa dalam setiap indikkatornya. p pengamatan dapat dilihaat dalam tabeel berikut inii: Hasil dari

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Tabel 19: Hasil pengamatan aspek conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) siklus 1 No Nama Conscience (suara hati) 1 2 1 AP 2 AFK √ 3 AS √ √ 4 AWC √ 5 APL √ 6 BTP √ 7 CPE √ √ 8 CDS √ 9 DC √ √ 10 EGAP 11 FRP 12 FTR √ √ 13 FND √ √ 14 HVA √ 15 KCH √ 16 LAA √ √ 17 LEY √ 18 LDP √ √ 19 MHF √ 20 MRK √ 21 PAS 22 PL √ 23 RC √ √ 24 RMP √ √ 25 RRR √ √ 26 VDY √ 27 VAC √ 28 VW √ √ 29 YBW √ √ √ 30 BDT Jumlah 12 26 Persentase 40% 86,6% Keterangan Indikator: 1. Tanggung Jawab 2. Kejujuran 3. Keterlibatan dalam kelompok 4. Menghargai perbedaan 5. Kerjasama Indikator Compassion (bela rasa) 3 4 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Jumlah Skor 5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 21 70% √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 17 56,6% 11 36,6% 2 1 3 2 2 4 5 2 5 1 2 5 3 1 2 3 1 3 1 4 1 3 5 3 2 4 4 5 2 4 85 56,6%

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Berdasarkan tabel 19 tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam implementasi pembelajaran sejarah berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia pada aspek conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) masih tergolong rendah. Dari kelima indikator yang diamati, hanya indikator kejujuran pada aspek conscience (suara hati) yang mencapai angka 86,6%. Untuk aspek conscience (suara hati), pada indikator tanggung jawab ada 12 siswa (40%) yang tercatat memiliki rasa tanggung jawab terhadap tugasnya. Jika dibandingkan dengan indikator kejujuran sangatlah jauh berbeda, dalam indikator kejujuran ada 26 siswa (86,6%) yang tercatat memiliki kejujuran dalam mengerjakan tugas. Jadi dalam hal ini untuk aspek conscience (suara hati) bisa dikatakan belum berhasil dan perlu ditingkatkan lagi khususnya untuk indikator tanggung jawab. Sedangkan untuk aspek compassion (bela rasa) ada 21 siswa (70%) mau terlibat didalam kelompok tersebut, 17 siswa (56,6%) tercatat bias menghargai perbedaan didalam kelompok tersebut, dan 11 siswa (36,6%) yang tercatat mampu bekerja sama dengan baik dalam kelompok. Sama halnya dengan aspek conscience (suara hati), pada aspek compassion (bela rasa) bisa dikatakan belum berhasil karena tingkat pencapaian pada masing-masing indikatornya belum maksimal. Dari jumlah total skor secara keseluruhan tercatat sebesar 85 dari total 150 atau sekitar 56% dari total 100%. d. Refleksi Tahap refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Peneliti melakukan kegiatan evaluasi, analisis, pemaknaan,

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 penjelasan, penyimpulan dan identifikasi tindak lanjut dalam perencanaan siklus selanjutnya. Dalam hal ini tahap refleksi dilakukan berdasarkan pada hasil pengamatan siklus 1, dengan implementasi pembelajaran sejarah berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif melalui pemanfaatan multimedia pembelajaran dapat diketahui hasilnya belum maksimal. Berdasarkan data yang tercatat, hasilnya adalah belum terjadi peningkatan aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa secara signifikan dari keseluruhan siswa di kelas tersebut. Untuk siklus 1 aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) tercatat 21 siswa (70%) sudah mencapai KKM, dibandingkan pada keadaan awal yang hanya tercatat 14 siswa (46,67%) yang berhasil mencapai KKM. Peningkatan ini bisa dikatakan cukup baik, karena tercatat peningkatan sebesar 23,33%. Namun demikian pada peningkatan hasil siklus 1 tersebut bisa dikatakan belum maksimal, karena hasil tersebut masih berada pada target minimal peneliti yaitu sebesar 70% dari jumlah keseluruhan. Sedangkan untuk aspek conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) bisa dikatakan juga belum maksimal. Berdasarkan hasil penelitian khususnya pada indikator tanggung jawab, pada saat proses pembelajaran masih terdapat siswa yang belum memiliki rasa tanggung jawab. Selain itu juga berdasarkan pengamatan saat proses pembelajaran pada siklus 1 ini, masih ada beberapa siswa yang keluar masuk ruang kelas untuk kepentingan rapat OSIS dan sekedar pergi ke toilet. Pada saat sesi tanya jawab mereka masih malu-malu untuk mengutarakan pendapatnya, terlihat hanya ada

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 beberapa siswa yang sangat aktif menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Disamping itu pada indikator kerjasama, masih banyak siswa yang masih belum bisa bekerjasama dengan baik. Peneliti menarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif yang digunakan peneliti masih kurang menarik, sehingga siswa juga kurang antusias dalam bekerja sama dengan teman satu kelas. Namun terlepas dari itu semua, sebagian besar siswa antusias dengan pembelajaran yang didesain dengan sebuah permainan berhadiah. Hal ini juga bermanfaat untuk menambah motivasi siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dari hasil pada siklus 1 tersebut, peneliti memperbaiki perencanaan untuk siklus 2 supaya hasil tindakannya bisa maksimal dan meningkat disemua aspek. Dengan adanya perbaikan tersebut, diharapkan pada proses pembelajaran selanjutnya bisa lebih baik dan hasilnya bisa meningkatkan aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa) 3. Siklus 2 Seperti halnya siklus 1, dalam siklus 2 ini terdiri dari 2 kali pertemuan dan masing-masing pertemuan beralokasikan 2JP (90 menit). Siklus 2 dilaksanakan karena pada pelaksanaan siklus 1 belum memenuhi target indikator ketuntasan maksimal. Dalam pelaksanaan siklus kedua siswa diharapkan mampu untuk mencapai target yang dalam hal ini adalah peningkatan prestasi belajar. a. Perencanaan Berdasarkan refleksi pada siklus 1, pada tahap perencanaan, siklus 2 peneliti melakukan kegiatan untuk persiapan melaksanakan siklus 2. Adapun kegiatan

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 yang dilakukan oleh peneliti seperti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan memperhatiakn indikator-indikator hasil belajar. Peneliti menentukan dan membuat media pembelajaran, seperti menyiapkan materi dalam bentuk Power Point. Selain itu, peneliti juga mempersiapkan lembar kerja siswa yang nantinya akan digunakan untuk membuat mind mapping. Peneliti juga membuat kisi-kisi soal dan soal ulangan guna melakukan evaluasi pada siklus 2. b. Tindakan Proses pembelajaran oleh peneliti berlangsung sesuai dengan rencana perencanaan pembelajaran yang telah dibuat oleh peneliti berdasarkan Paradigma Pedagogi Reflektif. Tahap yang dilakukan adalah: 1) Pertemuan Pertama Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2013, dalam pertemuan ini peneliti menjelaskan materi menggunakan media power point untuk memberikan gambaran tentang materi pembelajaran. Selanjutnya peneliti membagi siswa dalam kelompok untuk selanjutnya menugaskan siswa membuat mind mapping tentang materi pembelajaran untuk dipresentasikan di depan kelas. Langkah-langkah pada tindakan ini yaitu: a) Konteks Dalam hal ini konteks yang diberikan merupakan hal yang nyata, keadaan yang dialami oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti mengawali pelajaran dengan bertanya kepada siswa, seberapa jauh pengetahuan mereka terhadap pergolakan-pergolakan dalam negeri. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat awal pemahaman materi yang diketahui oleh siswa. Dari pertanyaan

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 tersebut, sebagian besar siswa belum mengerti betul tentang materi tersebut, bagi mereka materi tersebut terkesan sangat asing. Dari konteks berupa materi tersebut, siswa diarahkan untuk menemukan nilai-nilai yang dapat diteladani dan diterapkan pada kehidupannya. Dalam hal ini peneliti lebih menekankan nilai tanggung jawab, kerjasama, menghargai perbedaan, dan keterlibatan dalam kelompok karena dalam pembelajaran ini lebih menekankan pembelajaran yang kooperatif. Berdasarkan pembelajaran yang didesain dengan kerja kelompok siswa dapat mempraktekkan secara langsung nilai yang diangkat oleh peneliti, yaitu tanggung jawab, kerjasama, menghargai perbedaan, dan keterlibatan dalam kelompok. b) Pengalaman Dalam tahap ini, siswalah yang mengalami sendiri proses pembelajaran tersebut. Jadi setelah dijelaskan sedikit mengenai gambaran tentang materi pergolakan dalam negeri menggunakan Power Point, siswa diajak untuk membentuk kelompok guna membuat mind mapping. Hal ini bertujuan agar siswa bisa saling berbagi pengetahuannya dalam kelompok lalu menuangkan kreativitas mereka dalam bentuk mind mapping. Selanjutnya secara bergiliran mereka mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas, dan kelompok lain boleh menanggapi hasil presentasi dari kelompok yang maju tersebut. Berdasarkan pengalaman siswa tersebut terbangun interaksi dan komunikasi terhadap sesama anggota kelompok maupun anggota yang bukan kelompoknya, sehingga nilai kerjasama, menghargai perbedaan, dan keterlibatan dalam kelompok akan berkembang.

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 c) Refleksi Tahap refleksi merupakan tahan dimana mengingat dan merenungkan kembali tentang materi yang diajarkan, dan mengambil nilai nilai yang dapat diteladani dari materi tersebut. Dalam tahap ini siswa diberi pertanyaan bantuan untuk memancing daya pikir mereka merefleksikan materi. Pertanyaan diajukan secara lisan kemudian siswa saling berbagi pendapat mereka. Pertanyaan yang diajukan adalah; Bagaimana tanggapan anda tentang materi mengatasi pergolakan dalam negeri? Manfaat apa yang bisa di ambil dari materi mengatasi pergolakan dalam negeri? Nilai-nilai karakter dan kemanusiaan apa yang kamu dapat dari materi tersebut? Dari beberapa pertanyaan yang diajukan pada saat refleksi, sebagian besar siswa belum bisa memahami betul materi tentang pergolakan dalam negeri. Hal ini dikarenakan beberapa siswa berpendapat bahwa pembahasan dalam materi yang membutuhkan tingkat hafalan yang lebih karena materi tersebut lebih banyak mengandung nama tokoh, tahun, serta tempat kejadian. Namun dibalik itu semua, siswa sudah dapat mengambil manfaat dari mempelajari materi tersebut. Sebagian besar siswa menemukan nilai persatuan dalam materi tersebut dan memaknai materi tersebut sebagai acuan dalam menjalin persatuan dalam hidup bernegara agar tidak terjadi lagi pergolakan-pergolakan yang terjadi di Indonesia. d) Aksi Aksi dalam hal ini adalah mengenai tindak lanjut yang dilakukan siswa setelah mengikuti pelajaran. Dalam hal ini berdasarkan jawaban siswa pada tahap refleksi, siswa diberi pertanyaan yang singkat namun pertanyaan tersebut bisa

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 memancing jawaban siswa agar lebih nyata dilakukan. Seperti; Bagaimana anda menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari? Berdasarkan pertanyaan aksi tersebut secara umum siswa menjawab, dengan cara saling menghargai, toleransi antar umat beragama, tidak membeda-bedakan suku, agama dan ras, maka persatuan itu akan muncul. Dari jawaban tersebut, peneliti mengambil kesimpulan bahwa secara umum siswa sudah bisa memaknai dan mempraktekkan nilai-nilai yang terkandung dalam materi pembelajaran. e) Evaluasi Evaluasi pada pertemuan ini dilakukan bersamaan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini saat siswa mengerjakan tugas kelompok membuat mind mapping, peneliti melakukan observasi untuk mengetahui tingkat competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), dan compassion (bela rasa) dengan indikator kerjasama, keterlibatan dalam kelompok, dan menghargai perbedaan. 2) Pertemuan Kedua Pada pertemuan kedua dilaksanakan 2jp pada tanggal 18 Mei 2013 melanjutkan materi pertemuan pertama yaitu tentang Demokrasi Terpimpin dan perjuangan merebut Irian Barat serta untuk me-review materi yang sudah diajarkan pada pertemuan lalu. Pada pertemuan yang kedua ini, pada jam pelajaran yang kedua, guru mengadakan evaluasi guna mengetahui hasil belajar pada siklus 2. Pertemuan pada tanggal 18 Mei 2013 ini juga menandai berakhirnya siklus 2.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 a) Konteks Sama halnya seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, konteks pada pertemuan kedua ini masih menghubungkan dengan realita yang ada. Agar proses penyampaian materi tersebut lebih efektif, maka peneliti dalam hal ini menggunakan media Power Point sebagai media untuk pembelajaran. Pembelajaran pada pertemuan kedua ini lebih menitikberatkan pada tanya jawab tentang materi, selain karena pada jam kedua pembelajaran diadakan ulangan, materi yang diajarkan sudah sedikit dibahas pada pertemuan-pertemuan lalu. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan siswa diarahkan untuk menemukan nilai-nilai yang dapat diteladani dan diterapkan pada kehidupannya. Sama halnya pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, peneliti lebih menekankan nilai tanggung jawab, kejujuran, kerjasama, menghargai perbedaan, dan keterlibatan dalam kelompok karena dalam materi ini masih mengangkat bab tentang demokrasi. b) Pengalaman Pada tahap pengalaman siswa diajak untuk mengalami secara langsung proses pembelajaran. Berdasarkan penjelasan materi pembelajaran yang lebih ditekankan pada nilai tanggung jawab, kejujuran, kerjasama, menghargai perbedaan, dan keterlibatan dalam kelompok, siswa akan semakin berkembang dalam nilai-nilai tersebut. Disamping itu, untuk aspek kejujuran, akan dipraktekktan oleh siswa secara langsung pada saat mengerjakan ulangan. Yang akan dilaksanakan pada jam kedua.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 c) Refleksi Sama halnya pada pertemuan pertama, pada pertemuan kedua ini refleksi dilakukan secara lisan dengan cara peneliti mengajukan pertanyaan kepada siswa berdasarkan materi Demokrasi Terpimpin dan perjuangan merebut Irian Barat, seperti; Apa makna materi tersebut bagi anda? Nilai apa yang dapat anda petik dari materi tersebut? Dari hasil refleksi tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa memaknai bahwa untuk mengambil keputusan bersama perlu adanya kesepakatan bersama, seperti halnya yang terdapat pada materi saat Soekarno mengusulkan kembali ke UUD 1945, dimana terjadi pro dan kontra dikalangan anggota konstituante. Selain itu, sebagian besar siswa juga memaknai bahwa butuh perjuangan yang hebat untuk merebut Irian Barat. Dari refleksi ini juga, sebagian besar siswa menyatakan bahwa menghargai perbedaan dan keterlibatan dalam kelompok sangatlah penting dalam berorganisasi, serta jangan mudah putus asa dalam memperjuangkan sesuatu. d) Aksi Aksi dalam hal ini adalah mengenai tindak lanjut yang dilakukan siswa setelah mengikuti pelajaran. Tindak lanjut siswa ini berdasarkan dari refleksi yang telah didapat dari pembelajaran. Dalam hal ini siswa diberi pertanyaan yang singkat, namun pertanyaan tersebut bisa memancing jawaban siswa agar lebih nyata dilakukan. Seperti; Bagaimana anda menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari?

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Berdasarkan pertanyaan aksi tersebut jawaban siswa secara umum seperti halnya jika ingin mendapat nilai baik, harus berjuang dalam belajar. Dari jawaban tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa secara umum siswa sudah bisa memaknai dan mempraktekkan nilai-nilai yang terkandung dalam materi pembelajaran. Walaupun jawaban tersebut terkesan sepele, namun butuh perjuangan yang hebat untuk melakukannya. e) Evaluasi Evaluasi pada pertemuan ini dilakukan dengan cara, menggunakan ulangan harian untuk mengetahui aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) dan conscience (suara hati) dengan indikator kejujuran. c. Observasi Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan proses pembelajaran menggunakan paradigma reflektif dengan menggunakan pemanfaatan media power poin yang menyangkut competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap), conscience (suara hati), compassion (bela rasa). 1) Aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) Pada tahap ini diperoleh data mengenai nilai kognitif dari peserta didik yang diukur menggunakan soal yang disesuaikan dengan indikator. Dalam hal ini penilaian akan dilakukan dengan cara menggabungkan antaranilai hasil tugas dengan nilai hasil ulangan, dengan presentase perbandingan 70% untuk ulangan dan hasil pengamatan terhadap siswa saat aktivitas mengerjakan tugas kelompok dengan bobot 30%.

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Pada tahap ini juga diperoleh data mengenai nilai kognitif dari peserta didik yang diukur menggunakan soal yang disesuaikan dengan indikator. Berikut adalah nilai kognitif yang didapat dari hasil evaluasi siklus 2. Tabel 20: Hasil ulangan siklus 2 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Nama AP AFK AS AWC APL BTP CPE CDS DC EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY VAC VW YBW BDT KKM Nilai 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 80 85 80 85 85 85 77.5 80 87.5 85 87.5 85 80 70 67.5 95 90 85 80 84 80 80 87.5 87.5 85 67.5 87.5 87.5 80 85 Jumlah 2481.5 Rata-rata 82,72 Ketuntasan Belajar YA TIDAK √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 26 (86,67%) 4 (13,33%)

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 Nilai Tertinggi Nilai Terendah 95 67,5 Dari tabel 20 tampak bahwa ada 26 siswa (86,67%) yang memperoleh nilai diatas 78, dan ada 4 siswa (13,33%) yang memperoleh nilai dibawah 78. Adapun untuk nilai tertinggi dalam ulangan ini adalah 95 yang dicapai oleh 1 siswa, sedangkan nilai terendah adalah 67,5. Untuk rata-rata sendiri tercatat mencapai nilai 82,72. Sedangkan untuk nilai akhir siklus 2, merupakan gabungan dari nilai ulangan dengan nilai tugas. Penilaian bisa dilihat dari tabel berikut; Tabel 21: Nilai akhir siklus 2 Tugas No Nama Tugas Akhir (30%) 1 AP 80 24 2 AFK 85 25,5 3 AS 87 26,1 4 AWC 85 25,5 5 APL 80 24 6 BTP 85 25,5 7 CPE 87 26,1 8 CDS 85 25,5 9 DC 85 25,5 10 EGAP 85 25,5 11 FRP 87 26,1 12 FTR 87 26,1 13 FND 85 25,5 14 HVA 85 25,5 15 KCH 87 26,1 16 LAA 87 26,1 17 LEY 80 24 18 LDP 85 25,5 19 MHF 85 25,5 20 MRK 85 25,5 21 PAS 87 26,1 22 PL 85 25,5 23 RC 85 25,5 Ujian 80 85 80 85 85 85 77,5 80 87,5 85 87,5 85 80 70 67,5 95 90 85 80 84 80 80 87,5 Ujian Akhir (70%) 56 59,5 56 59,5 59,5 59,5 54,25 56 61,25 59,5 61,25 59,5 56 49 47,25 66,5 63 59,5 56 58,8 56 56 61,25 Nilai Akhir (100%) 80 85 82,1 85 83,5 85 80,35 81,5 86,75 85 87,35 85,6 81,5 74,5 73,35 92,6 87 85 81,5 84,3 82,1 81,5 86,75 Ket. T T T T T T T T T T T T T TT TT T T T T T T T T

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 24 25 26 27 28 29 30 RMP RRR VDY VAC VW YBW BDT 87 87 80 85 80 85 87 26,1 26,1 24 25,5 24 25,5 26,1 Jumlah Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rata rata 87,5 85 67,5 87,5 87,5 80 85 61,25 59,5 47,25 61,25 61,25 56 59,5 87,35 85,6 71,25 86,75 85,25 81,5 85,6 2500,55 92,6 71,25 83,35 T T TT T T T T Keterangan: T = Tuntas TT = Tidak Tuntas Dari tabel 21 dapat ditarik kesimpulan bahwa pada aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) terdapat 3 siswa (10%) yang belum mencapai KKM, sedangkan 27 siswa (90%) sudah mencapai KKM. Dari tabel tersebut juga dapat terlihat untuk nilai tertinggi sebesar 92,6 dan nilai terendah sebesar 71,25. Dengan total nilai 2500,55 dan jumlah siswa 30 anak maka akan diketahui nilai rata-rata kelas sebesar 83,35. Untuk selanjutnya kategori nilai kualitatif siswa dapat dilihat dari tabel berikut: Tabel 22: Frekuensi data keadaan aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa siklus 2 No Nilai f Presentase (%) Kriteria competence siswa 1 90 -100 1 3,33% Sangat Tinggi 2 80 - 89 26 86,66% Tinggi 3 65 - 79 3 10% Cukup 4 55 - 64 0 0% Rendah 5 <55 0 0% Sangat Rendah Berdasarkan tabel 22 menunjukkan data keadaan awal aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) dimana tidak ada siswa yang tercatat

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 memiliki nilai dengan kategori sangat rendah maupun sangat rendah. Ada 3 siswa (10%) yang memiliki aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) dengan kategori cukup, sebanyak 26 siswa (86,66%) dengan kategori tinggi, dan 1 siswa (3,33%) dengan kategori sangat tinggi. Perbandingan data aspek competence (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) siswa dapat dilihat dengan grafik berikut: 3% Competence Siklus 2 10% Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah 87% Gambar VIII: Grafik data competence siklus 2 Berdasarkan hal tersebut, jumlah siswa yang mencapai KKM sudah memenuhi target peneliti yaitu sebesar 85% dengan hasil yang cukup memuaskan yaitu sebesar 90% dari seluruh siswa. 2) Aspek conscience (suara hati) Keadaan akhir aspek conscience (suara hati) siswa didapat dari hasil kuesioner yang telah dibagikan pada saat siklus 2 berakhir. Data aspek conscience (suara hati) siswa tersebut berkaitan dengan kepekaan dan ketajaman hati nurani.

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Kuesioner tersebut meliputi indikator-indikator yang ditelili oleh peneliti. Hasil kuesioner aspek conscience (suara hati) akhir dapat dilihat dalam tabel berikut ini. Tabel 23: Data keadaan akhir aspek conscience (suara hati) siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Nama Siswa AP AFK AS AWC APL BTP CPE CDS DC EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY VAC VW YBW BDT Jumlah Rata-rata Skor Tertinggi Skor Terendah Jumlah Nilai % Kategori 166 128 179 145 169 163 180 181 152 179 181 174 169 131 138 196 165 163 201 162 179 174 163 180 170 169 210 172 157 176 5072 169.1 210 128 C D B C C C B B C B B C C D D B C C A C B C C B C C A C C B 75,5% 58,2% 81,4% 65,9% 76,8% 74,1% 81,8% 82,3% 69,1% 81,4% 82,3% 79,1% 76,8% 59,5% 62,7% 89,1% 75% 74,1% 91,4% 73,6% 81,4% 79,1% 74,1% 81,8% 77,3% 76,8% 95,5% 78,2% 71,4% 80% 2305,5% 76,8% 95,5% 58,2% Cukup Rendah Tinggi Cukup Cukup Cukup Tinggi Tinggi Cukup Tinggi Tinggi Cukup Cukup Rendah Rendah Tinggi Cukup Cukup Sangat Tinggi Cukup Tinggi Cukup Cukup Tinggi Cukup Cukup Sangat Tinggi Cukup Cukup Tinggi C A D Cukup Sangat Tinggi Rendah

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 Berdasarkan Tabel 23 menunjukkan data keadaan akhir aspek conscience (suara hati) siswa dengan skor rata-rata mencapai 169,1 (76,8%). Tercatat skor tertinggi yang diperoleh siswa adalah 210 (95,5%) dengan nilai A, dan skor terendah yang diperoleh siswa adalah 128 (58,2%) dengan nilai D. Selain itu, dari tabel tersebut juga tercatat ada 2 siswa (6,66%) dengan kategori sangat tinggi, 9 siswa (30%) dengan kategori tinggi, 16 siswa (53,3%) dengan kategori cukup, dan 3 (10%) siswa dengan kategori rendah, dan dari hasil tersebut tidak tercatat ada siswa dengan kategori sangat rendah. Perbandingan data aspek conscience (suara hati) siswa dapat dilihat dengan grafik berikut: 10% 7% Conscience akhir Sangat Tinggi 30% Tinggi Cukup Rendah 53% Sangat Rendah Gambar IX: Grafik data keadaan akhir conscience 3) Aspek compassion (bela rasa) Keadaan akhir aspek compassion (bela rasa) siswa didapat dari hasil kuesioner yang telah dibagikan pada saat akhir siklus 2. Data aspek compassion siswa ini berkaitan dengan kemampuan berbelarasa terhadap sesama dan terhadap lingkungan sekitar. Kuesioner tersebut meliputi indikator-indikator yang ditelili

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 oleh peneliti. Hasil kuesioner aspek compassion (bela rasa) akhir dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 24: Data keadaan akhir aspek compassion (bela rasa) siswa No Nama Siswa 1 AP 2 AFK 3 AS 4 AWC 5 APL 6 BTP 7 CPE 8 CDS 9 DC 10 EGAP 11 FRP 12 FTR 13 FND 14 HVA 15 KCH 16 LAA 17 LEY 18 LDP 19 MHF 20 MRK 21 PAS 22 PL 23 RC 24 RMP 25 RRR 26 VDY 27 VAC 28 VW 29 YBW 30 BDT Jumlah Rata-rata Skor tertinggi Skor terendah Jumlah/ skore 193 150 211 180 201 188 193 207 193 210 207 189 197 175 166 221 180 187 228 190 210 193 187 209 211 192 196 207 207 201 5879 196 228 150 Nilai % Kategori B D B C B C B B B B B C B C C A C C A C B B C B B B B B B B 80,4% 62,5% 87,9% 75% 83,8% 78,3% 80,4% 86,3% 80,4% 87,5% 86,3% 78,8% 82,1% 72,9% 69,2% 92,1% 75% 77,9% 95% 79,2% 87,5% 80,4% 77,9% 87,1% 87,9% 80% 81,7% 86,3% 86,3% 83,8% 2449,6% 81,7% 95% 62,5% Tinggi Rendah Tinggi Cukup Tinggi Cukup Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Cukup Tinggi Cukup Cukup Sangat Tinggi Cukup Cukup Sangat Tinggi Cukup Tinggi Tinggi Cukup Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi B A D Tinggi Sangat Tinggi Rendah

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 Berdasarkan tabel 24 tersebut menunjukkan aspek compassion (bela rasa) akhir siswa mencapai rata-rata 81,7% yang termasuk dalam kriteria tinggi. Pada keadaan akhir aspek compassion (bela rasa) siswa ini didapati skor tertinggi mencapai 228 (95%) dengan nilai A, sedangkan untuk skor terendah yaitu 150 (62,5%) dengan nilai D. Dari tabel tersebut tercatat hanya ada 2 siswa (6,66%) yang memiliki aspek compassion (bela rasa) dengan kategori sangat tinggi, sebanyak 18 siswa (60%) dengan kategori tinggi, 9 siswa (30%) dengan kategori cukup, ada 1 (3,33%) siswa tercatat dengan kategori rendah, tidak ada siswa dengan kategori sangat rendah. Untuk melihat perbandingan persentase kategori aspek compassion (bela rasa) dapat dilihat pada grafik berikut ini: 3,3% 7% Compassion akhir Sangat Tinggi 30% Tinggi Cukup Rendah 60% Sangat Rendah Gambar X: Grafik data keadaan akhir compassion Sama halnya dengan siklus 1, selain menggunakan lembar kuesioner pada penelitian ini digunakan pula lembar observasi. Lembar observasi yang digunakan pada siklus 2 ini juga terdapat indikator yang digunakan sebagai acuan untuk

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 melakukan pengamatan, indikator-indikator tersebut merupakan nilai yang terkandung dalam aspek conscience (suara hati) maupun compassion (bela rasa). Pada aspek conscience (suara hati) terdapat nilai tanggung jawab dan kejujuran. Sedangkan pada aspek compassion (bela rasa) terdapat nilai kerjasama, keterlibatan dalam kelompok, dan menghargai perbedaan. Hal ini dirancang untuk mengamati perbandingan aspek conscience (suara hati) maupun compassion (bela rasa) dari siklus 1 dan siklus 2 pada proses pembelajaran secara langsung. Hasil dari pengamatan dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 25: Hasil pengamatan aspek conscience (suara (bela rasa) siklus 2 Indikator Conscience Compassion No Nama (suara hati) (bela rasa) 1 2 3 4 1 AP √ √ √ √ 2 AFK √ √ √ 3 AS √ √ √ √ 4 AWC √ √ 5 APL √ √ √ √ 6 BTP √ √ √ √ 7 CPE √ √ √ √ 8 CDS √ √ √ √ 9 DC √ √ √ √ 10 EGAP √ √ √ 11 FRP √ √ √ √ 12 FTR √ √ √ √ 13 FND √ √ √ √ √ √ 14 HVA 15 KCH √ 16 LAA √ √ √ √ 17 LEY √ √ √ 18 LDP √ √ √ 19 MHF √ √ √ √ 20 MRK √ √ √ √ 21 PAS √ √ √ 22 PL √ √ √ 23 RC √ √ √ √ hati) dan compassion Jumlah Skor 5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 5 3 4 3 5 5 5 5 5 4 5 5 4 2 2 4 3 4 4 5 3 4 5

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 24 25 26 27 28 29 30 RMP RRR VDY VAC VW YBW BDT Jumlah Persentase √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 24 80% 29 96,6% 27 90% √ √ √ √ √ √ √ √ 4 5 5 5 5 4 5 25 83,3 22 73,3% 127 84,6% √ √ √ √ Keterangan Indikator: 1. Tanggung Jawab 2. Kejujuran 3. Keterlibatan dalam kelompok 4. Menghargai perbedaan 5. Kerjasama Berdasarkan tabel 25 tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam implementasi pembelajaran sejarah berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia pada aspek conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) pada siklus 2 bisa dikatakan tergolong cukup baik. Untuk aspek conscience (suara hati), pada indikator tanggung jawab ada 24 siswa (80%) yang tercatat memiliki rasa tanggung jawab terhadap tugasnya. Jika dibandingkan dengan indikator kejujuran sedikit berbeda dibawahnya, dalam indikator kejujuran ada 29 siswa (96,6%) yang tercatat memiliki kejujuran dalam mengerjakan tugas. Jadi dalam hal ini untuk aspek conscience (suara hati) sudah bisa dikatakan berhasil, karena dari masing-masing indicator sudah memenuhi target peneliti yaitu sebesar 80%. Sedangkan untuk aspek compassion (bela rasa) ada 27 siswa (90%) mau terlibat didalam kelompok tersebut, 25 siswa (83,3%) tercatat bias menghargai perbedaan didalam kelompok tersebut, dan 22 siswa (73,3%) yang tercatat mampu bekerja sama dengan baik dalam kelompok. Dari ketiga indikator compassion

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 (bela rasa), hanya indikator kerjasama yang tidak mencapai angka target sebesar 80%. d. Refleksi Dalam hal ini tahap refleksi dilakukan berdasarkan pada hasil pengamatan siklus 2, dengan implementasi pembelajaran sejarah berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif melalui pemanfaatan multimedia pembelajaran dapat diketahui hasilnya belum maksimal. Berdasarkan data yang tercatat, dapat dikatakan hasilnya sudah mengalami perkembangan dan peningkatan aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap), aspek conscience (suara hati) dan aspek compassion (bela rasa) siswa. Untuk siklus 2 aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) tercatat hanya 3 siswa (10%) yang belum mencapai KKM, sedangkan 27 siswa (90%) sudah mencapai KKM. Dari siklus 2 tersebut juga dapat terlihat untuk nilai tertinggi sebesar 92,6 dan nilai terendah sebesar 71,25. Dengan total nilai 2500,55 dan jumlah siswa 30 anak maka akan diketahui nilai rata-rata kelas sebesar 83,35. Peningkatan ini bisa dikatakan baik, karena tercatat peningkatan sebesar 20% dari siklus 1. Peningkatan hasil siklus 2 tersebut sudah berada diatas target minimal peneliti yaitu sebesar 85% dari jumlah keseluruhan. Sedangkan untuk aspek conscience (suara hati) dan compassion (bela rasa) bisa dikatakan juga sudah cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari data hasil pengamatan aspek conscience (suara hati) yang mencatat ada 24 siswa (80%) yang tercatat memiliki rasa tanggung jawab dan 29 siswa (96,6%) memiliki sikap yang jujur. Dari hasil

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 tersebut, untuk aspek conscience (suara hati) sudah memenuhi target peneliti yaitu sebesar 80%. Sedangkan untuk aspek compassion (bela rasa) dari 3 indikator yang diamati, hanya ada satu indikator yang tidak bisa mencapai angka 80%. Dari sini terlihat hanya indicator kerjasama yang masih berada pada persentase 73,3% atau sebanyak 22 siswa. Sedangkan untuk indicator keterlibatan dalam kelompok dicapai oleh 27 siswa (90%), dan indicator menghargai perbedaan 25 siswa (83,3%). Disisi lain, berdasarkan hasil pengamatan secara langsung pada saat proses pembelajaran siklus 2, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan dalam hal ini. Sama halnya yang terjadi pada siklus 1, ada siswa masih sering keluar masuk kelas pada saat pelajaran berlangsung. Namun terlepas dari itu semua, pembelajaran sejarah berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia bisa dikatakan berhasil. Dengan pendekatan PPR disertai dengan pemanfaatan multimedia siswa menjadi lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Minat siswa dengan pelajaran sejarah juga menjadi meningkat. Hal tersebut mendorong siswa untuk lebih memahami pelajaran sejarah sehingga siswa akan lebih mengerti dan memahami nilai-nilai kemanusiaan yang terdapat dalam pelajaran sejarah. Selain itu juga proses pembelajaran yang didesain seperti diskusi kelompok menambah pula tingkat antusiasme siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 Pada pembelajaran siklus 2 juga lebih hidup dari pada siklus 1, hal ini dirasakan karena siswa mengaku baru pertama kalinya membuat mind mapping sehingga mereka sangat bersemangat dalam pembuatanya. B. Komparasi aspek competence, conscience, dan compassion siswa Penelitian Tindakan kelas bisa dikatakan berhasil apabila terjadi peningkatan di setiap siklusnya. Untuk itu dalam hal ini akan dibahas perbandingan antara keadaan awal, siklus 1, serta siklus 2. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu. 1. Komparasi aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa Pada bagian komparasi ini akan dibandingkan nilai yang didapat dari pra siklus, siklus 1 dan siklus 2. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana peningkatan competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) pada penelitian ini. Adapun hasil komparasi data pada pra siklus, siklus 1, dan siklus 2, adalah sebagai berikut: Tabel 26: Komparasi aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa berdasarkan peningkatan nilai. No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 AP AFK AS AWC APL BTP CPE CDS DC KKM Pra Siklus Siklus 1 78 78 78 78 78 78 78 78 78 58 48 58 95 80 50 47 48 78 84 73,28 84 84 84 73,28 89,28 73,28 81,28 Ket N T √ √ √ √ √ √ √ √ √ Siklus 2 80 85 82,1 85 83,5 85 80,35 81,5 86,75 Ket N T √ √ √ √ √ √ √ √ √

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY VAC VW YBW BDT Jumlah Rata-rata Tertinggi Terendah 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 60 43 60 63 75 48 70 68 63 92 85 87 82 95 78 77 95 97 90 88 83 2161 72,03 97 43 84 73,28 84 78,64 76 54,64 86,64 89,28 81,28 84 86,64 78,64 81,28 84 62,64 73,28 76 86,64 89,28 84 78,64 2399,2 79,97 89,28 54,64 Persentase √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 18 siswa 12 siswa 60% 40% 85 87,35 85,6 81,5 74,5 73,35 92,6 87 85 81,5 84,3 82,1 81,5 86,75 87,35 85,6 71,25 86,75 85,25 81,5 85,6 2500,55 83,35 92,6 71,25 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 19 siswa 11 siswa 63,3% 36,7% Keterangan: N = Naik T = Turun Berdasarkan tabel 26 tersebut, menunjukkan data komparasi aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa berdasarkan peningkatan nilai per siklusnya. Dari data diatas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa. Pada perbandingan pra siklus dengan siklus 1, terdapat 18 siswa (60%) mengalami peningkatan nilai, dan 12 siswa (40%) mengalami penurunan. Jika dibandingkan dengan siklus 2, tercatat ada 19 siswa (63,3%) mengalami peningkatan nilai dan 11 siswa (36,7) mengalami penurunan.

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 Untuk mengetahui perbandingan ketuntasan nilai KKM siswa pada tiap siklusnya dapat dilihat dari tabel berikut; Tabel 27: Komparasi aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa berdasarkan ketuntasan nilai KKM. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Nama AP AFK AS AWC APL BTP CPE CDS DC EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY VAC VW YBW BDT Jumlah Rata-rata Tertinggi Terendah KKM 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 78 Persentase Pra Siklus 58 48 58 95 80 50 47 48 78 60 43 60 63 75 48 70 68 63 92 85 87 82 95 78 77 95 97 90 88 83 2161 72,03 97 43 Ket. T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 14 siswa 16 siswa 46,7% 53,3% Siklus 1 84 73,28 84 84 84 73,28 89,28 73,28 81,28 84 73,28 84 78,64 76 54,64 86,64 89,28 81,28 84 86,64 78,64 81,28 84 62,64 73,28 76 86,64 89,28 84 78,64 2399,2 79,97 89,28 54,64 Ket. Ket. Siklus 2 T TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 21 siswa 9 siswa 70% 30% T 80 85 82,1 85 83,5 85 80,35 81,5 86,75 85 87,35 85,6 81,5 74,5 73,35 92,6 87 85 81,5 84,3 82,1 81,5 86,75 87,35 85,6 71,25 86,75 85,25 81,5 85,6 2500,55 83,35 92,6 71,25 TT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 27 siswa 3 siswa 90% 10%

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 Keteraangan : T = Tuuntas TT= Tidak T Tuntass unjukkan daata komparrasi aspek Berdassarkan tabeel 27 terseebut, menu c competence (pengetahhuan, keterrampilan dan d sikap) siswa b berdasarkan p perbandinga an tingkat ketuntasan KKM peer siklusnyya. Data pra p siklus m menunjukka an bahwa adda 14 siswa (46,7%) mencapai m nilaai KKM dann 16 siswa ( (53,3%) tidaak bisa menccapai nilai KKM. K Untuk k nilai tertinnggi siswa 97 dan nilai t terendah siswa 43 deengan rata-rrata kelas mencapai 772,03. Padaa siklus 1 m mengalami peningkatann yaitu sisw wa yang meencapai KK KM menjadii 21 siswa ( (70%) dan 9 siswa (30 0%) tidak m mencapai KKM, K dengaan rata-rata nilai kelas 7 79,97. Nilai tertinggi yaang diperolehh pada sikluus 1 mengalaami penurunaan menjadi 8 89,28 dan niilai terendahh yaitu 54,644. Pening gkatan juga terjadi padda siklus 2 yaitu sebannyak 27 sisswa (90%) m mencapai K KKM dan 3 siswa (10% %) masih bellum bisa meencapai KKM M, dengan r rata-rata nilaai kelas 83,335. Nilai terttinggi yang diperoleh paada siklus 2 yaitu 92,6 d nilai terendah yaitu 71,25. Dataa hasil kompaarasi pra sikklus, siklus 1 dan siklus dan 2 dapat dilihhat dalam gambar berikuut ini: Dalam Satuan n% 90% 100 70% 80 60 46.7% 53 3.3% 0% 30 40 % 10% 20 0 S Siswa yang mencapai m KKM M Sisw wa yang tidak k mencapai KK KM Gam mbar XI: Diagram hasil komparasi aspek a compeetence siswa

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 2. Komparasi aspek conscience (suara hati) siswa Pada pembahasan aspek conscience (suara hati) akan dibagi menjadi 2 bagian. Pada bagian pertama, akan membahas komparasi antara aspek conscience (suara hati) keadaan awal dengan keadaan akhir. Dimana pada bagian ini, data diambil dari kuesioner yang telah dibagikan pada saat penelitian. Sedangkan untuk bagian kedua, akan membahas komparasi antara aspek conscience (suara hati) siklus 1 dengan siklus 2. Pada bagian ini, data diambil pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung. a. Komparasi aspek conscience (suara hati) siswa keadaan awal dengan keadaan akhir Tabel 28: Hasil komparasi aspek conscience (suara hati) siswa keadaan awal dengan keadaan akhir. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Awal Nama AP AFK AS AWC APL BTP CPE CDS DC EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR Skor 177 122 161 146 162 158 180 118 160 174 116 192 150 146 137 149 129 179 182 170 138 155 156 159 181 Nilai B D C C C C B E C C E B C C D C D B B C D C C C B Akhir % 80.5% 55.5% 73.2% 66.4% 73.6% 71.8% 81.8% 53.6% 72.7% 79.1% 52.7% 87.3% 68.2% 66.4% 62.3% 67.7% 58.6% 81.4% 82.7% 77.3% 62.7% 70.5% 70.9% 72.3% 82.3% Skor 166 128 179 145 169 163 180 181 152 179 181 174 169 131 138 196 165 163 201 162 179 174 163 180 170 Nilai C D B C C C B B C B B C C D D B C C A C B C C B C % 75,5% 58,2% 81,4% 65,9% 76,8% 74,1% 81,8% 82,3% 69,1% 81,4% 82,3% 79,1% 76,8% 59,5% 62,7% 89,1% 75% 74,1% 91,4% 73,6% 81,4% 79,1% 74,1% 81,8% 77,3% Ket. Selisih T N N T N N TTP N T N N T N T N N T T N T N N N N T -5,0% 2,7% 8,2% -0,5% 3,2% 2,3% 0% 28,6% -3,6% 2,3% 29,5% -8,2% 8,6% -6,8% 0,5% 21,4% 16,4% -7,3% 8,6% -3,6% 18,6% 8,6% 3,2% 9,5% -5,0%

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 26 27 28 29 VDY VAC VW YBW 30 BDT Jumlah Rata-rata Tertinggi Terendah 177 159 173 161 151 4718 157,3 192 116 B C C C C C B E 80.5% 72.3% 78.6% 73.2% 68.6% 2144,5% 71,5% 87,3% 52,7% 169 210 172 157 176 5072 169.1 210 128 C A C C B C A D 76,8% 95,5% 78,2% 71,4% 80% 2305,5% 76,8% 95,5% 58,2% T N T T N -3,6% 23,2% -0,5% -1,8% 11,4% N N N N Keterangan: N = Naik T = Turun TT = Tetap Berdasarkan tabel 28 tersebut menunjukkan hasil komparasi antara aspek conscience (suara hati) siswa pada keadaan awal dengan keadaan akhir. Dari tabel tersebut, keadaan awal dengan keadaan akhir setelah dilakukan tindakan implementasi pembelajaran sejarah berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia bisa dikatakan hasilnya cukup baik. Dari 30 siswa dapat dilihat bahwa ada sebanyak 17 siswa yang mengalami peningkatan/kenaikan aspek conscience (suara hati) sedangkan yang mengalami penurunan sebanyak 12 siswa dan 1 siswa tidak mengalami peningkatan maupun penurunan atau tetap. Dilihat dari rata-rata skor siswa, meningkat sebesar 11,8 atau sebesar 5,36%. Walaupun dalam hal ini, untuk nilai rata-rata masih mendapat nilai C dengan kategori cukup. Dengan demikian terjadi peningkatan yang cukup untuk aspek conscience (suara hati) siswa dari keadaan awal dengan keadaan akhir. Untuk lebih jelasnya peningkatan tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini:

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 Dalaam satuan % AP AFK AS AWC APL BTP CPE CDS DC EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY VAC VW YBW BDT 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 Awal Akh hir Gambar XII: X Diagram m komparasii aspek consccience (suaraa hati) siswa keeadaan awal dengan keadaan akhir parasi aspek k consciencee (suara hatti) siswa sikllus 1 dengan n siklus 2 b. Komp Tabel 29: Komparrasi aspek coonscience (su uara hati) sisswa siklus 1 dengan siklus 2 No Nam ma Siklus 1 Indiikator 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 AP AFK K AS AWC C APL BTP CPE CDS DC EGA AP FRP FTR FND HVA A KCH H LAA A LEY LDP MHF F MRK K PAS PL √ √ √ √ √ √ √ 2 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ S Skor 0 1 2 1 1 1 2 1 2 0 0 2 2 1 1 2 1 2 1 1 0 1 Siklus 2 In ndikator 1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 2 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Skor 2 1 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 1 Ket. Naik Tetap Tetap Tetap Naik Naik Tetap Naik Tetap Naik Naik Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Naik Naik Naik Tetap

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 23 RC 24 RMP 25 RRR 26 VDY 27 VAC 28 VW 29 YBW 30 BDT Jumlah Persentase √ √ √ √ √ 12 40% √ √ √ √ √ √ √ √ 26 86,6% 2 2 2 1 1 2 1 2 √ √ √ √ √ √ √ √ 38 24 80% √ √ √ √ √ √ √ √ 29 96,6% 2 2 2 2 2 2 2 2 Tetap Tetap Tetap Naik Naik Tetap Naik Tetap 53 Naik Keterangan: 1 = indikator tanggung jawab 2 = indikator kejujuran Berdasarkan tabel 29, hasil komparasi pengamatan aspek conscience (suara hati) masing-masing siswa secara keseluruhan mengalami kenaikan yang cukup baik terutama pada indicator tanggung jawab yang semula berjumlah 12 siswa (40%) pada siklus 1 menjadi 24 siswa (80%) pada siklus 2. Selain itu dapat dilihat pula indicator kejujuran yang semula sebanyak 26 siswa (86,6%) pada siklus 1 menjadi 29 siswa (96,6%) pada siklus 2. Sedangkan untuk skor total, tercatat mengalami kenaikan sebanyak 15 point, dari jumlah skor siklus 1 sebanyak 38 menjadi 53 pada siklus 2. Sebanyak 12 siswa mengalami kenaikan dalam aspek conscience (suara hati), dan 18 siswa memiliki tingkat perkembangan yang tetap. Dari tabel tersebut tidak tercatat ada siswa yang memiliki penurunan dalam perkembangannya. 3. Komparasi aspek compassion (bela rasa) siswa Sama halnya seperti pada pembahasan aspek conscience (suara hati), pada aspek compassion (bela rasa) ini akan dibagi menjadi 2 bagian. Pada bagian pertama, akan membahas komparasi antara aspek compassion (bela rasa) keadaan awal dengan keadaan akhir. Dimana pada bagian ini, data diambil dari

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 kuesioner yang telah dibagikan pada saat penelitian. Sedangkan untuk bagian kedua, akan membahas komparasi antara aspek compassion (bela rasa) siklus 1 dengan siklus 2. Pada bagian ini, data diambil pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung. a. Komparasi aspek compassion (bela rasa) siswa keadaan awal dengan keadaan akhir Tabel 30: Komparasi aspek compassion (bela rasa) siswa keadaan awal dengan keadaan akhir No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 AP AFK AS AWC APL BTP CPE CDS DC EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY VAC VW YBW 30 BDT Jumlah Rata-rata Tertinggi Terendah Awal Skor 201 169 182 193 188 158 208 204 194 157 214 188 192 203 164 205 199 102 198 197 190 178 182 205 206 193 196 204 184 190 5644 188,1 214 102 Nilai B C C B C C B B B C B C B B C B B E B B C C C B B B B B C C C B E Akhir % 83,8% 70,4% 75,8% 80,4% 78,3% 65,8% 86,7% 85% 80,8% 65,4% 89,2% 78,3% 80% 84,6% 68,3% 85,4% 82,9% 42,5% 82,5% 82,1% 79,2% 74,2% 75,8% 85,4% 85,8% 80,4% 81,7% 85,0% 76,7% 79,2% 2351,7% 78,4% 89,2% 42,5% Skor 193 150 211 180 201 188 193 207 193 210 207 189 197 175 166 221 180 187 228 190 210 193 187 209 211 192 196 207 207 201 5879 196 228 150 Nilai B D B C B C B B B B B C B C C A C C A C B B C B B B B B B B B A D % 80,4% 62,5% 87,9% 75% 83,8% 78,3% 80,4% 86,3% 80,4% 87,5% 86,3% 78,8% 82,1% 72,9% 69,2% 92,1% 75% 77,9% 95% 79,2% 87,5% 80,4% 77,9% 87,1% 87,9% 80% 81,7% 86,3% 86,3% 83,8% 2449,6% 81,7% 95% 62,5% Ket. Selisih (%) Turun Turun Naik Turun Naik Naik Turun Naik Turun Naik Turun Naik Naik Turun Naik Naik Turun Naik Naik Turun Naik Naik Naik Naik Naik Turun Tetap Naik Naik Naik -3,3% -7,9% 12,1% -5,4% 5,4% 12,5% -6,3% 1,3% -0,4% 22,1% -2,9% 0,4% 2,1% -11,7% 0,8% 6,7% -7,9% 35,4% 12,5% -2,9% 8,3% 6,3% 2,1% 1,7% 2,1% -0,4% 0% 1,3% 9,6% 4,6% Naik Naik Naik Naik

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 Berdassarkan tabell 30 tersebuut menunjukkkan hasil koomparasi anntara aspek c compassion (bela rasa) siswa pada keadaan k awaal dengan keeadaan akhirr. Hasilnya y yaitu terjadi peningkatan n yang signiifikan dari keeadaan awall dengan keaadaan akhir s setelah dilaakukan tindaakan implem mentasi pem mbelajaran sejarah berrbasis PPR m melalui pem manfaatan muultimedia. D Dari 30 siswaa dapat dilihaat bahwa ada sebanyak 19 (63,33% %) siswa yang mengalaami peningkkatan/kenaikkan aspek compassion c ( (bela rasa) sedangkan yaang mengalaami penurunnan sebanyakk 10 (33,3%)) siswa dan 1 (3,3%) sisw wa tidak meengalami penningkatan maaupun penurrunan atau teetap. Dengaan demikian bisa dikataakan terjadi peningkatann yang signiifikan pada a aspek comppassion (belaa rasa) sisw wa dari kead daan awal ddengan kead daan akhir. U Untuk lebih jelasnya penningkatan tersebut dapatt dilihat dalaam gambar berikut b ini: Dalam m satuan % AP AFK AS AWC APL BTP CPE C S CDS DC EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY V C VAC VW YBW BDT 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 A Awal Akhirr Gambar XIII: Diagram koomparasi asp pek compasssion (bela rassa) siswa k keadaan awaal dengan keeadaan akhir

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 b. Komparasi aspek compassion (bela rasa) siswa siswa siklus 1 dengan siklus 2 Tabel 31: Komparasi aspek compassion (bela rasa) siswa siklus 1 dengan siklus 2 No Siklus 1 Indikator Nama 1 AP 2 AFK 3 AS 4 AWC 5 APL 6 BTP 7 CPE 8 CDS 9 DC 10 EGAP 11 FRP 12 FTR 13 FND 14 HVA 15 KCH 16 LAA 17 LEY 18 LDP 19 MHF 20 MRK 21 PAS 22 PL 23 RC 24 RMP 25 RRR 26 VDY 27 VAC 28 VW 29 YBW 30 BDT Jumlah Persentase 1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 2 3 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 21 70% √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 17 56,6% √ 11 36,6% Keterangan: 1. Keterlibatan dalam kelompok 2. Menghargai perbedaan 3. Kerjasama Skor 2 0 1 1 1 3 3 1 3 1 2 3 1 0 1 1 0 1 0 3 1 2 3 1 1 3 3 3 1 2 48 Siklus 2 Indikator 1 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 2 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 27 90% √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 25 83,3 3 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 22 73,3% Skor 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 2 1 1 2 1 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 3 2 3 74 Ket. Tetap Naik Naik Naik Naik Tetap Tetap Naik Tetap Naik Naik Tetap Naik Naik Tetap Naik Naik Naik Naik Tetap Naik Naik Tetap Naik Naik Tetap Tetap Tetap Naik Naik

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 Berdasarkan tabel 31, hasil komparasi pengamatan aspek compassion (bela rasa) masing-masing siswa secara keseluruhan mengalami kenaikan yang cukup baik terutama pada indicator keterlibatan dalam kelompok yang semula berjumlah 21 siswa (70%) pada siklus 1 menjadi 27 siswa (90%) pada siklus 2. Selain itu dapat dilihat pula indicator menghargai perbedaan yang semula sebanyak 17 siswa (56,6%) pada siklus 1 menjadi 25 siswa (83,3%) pada siklus 2, dan yang terakhir pada indicator kerjasama bisa dikatakan meningkat secara drastic yakni dari 11 siswa (36,6%) menjadi 22 siswa (73,3) walaupun dalam hal ini masih belum bisa mencapai target peneliti sebesar 80%. C. Pembahasan Pada bagian ini, akan dibahas mengenai analisis aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap), conscience (suara hati), dan compassion (bela rasa) siswa berdasarkan hasil PTK yang dilakukan peneliti di kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu. 1. Analisis peningkatan aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa Competence dimaknai sebagai kemampuan akademik yang memadukan unsur pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Dalam hal ini analisis competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) yang dibahas berdasarkan hasil penelitian implementasi pembelajaran sejarah berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia. Aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) ini diukur berdasarkan nilai yang dicapai siswa pada saat penelitian berlangsung.

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 Berdasarkan hasil komparasi nilai tersebut, dapat diketahui naik atau tidaknya aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa. Pada keadaan awal sebelum pelaksanaan tindakan, aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa dapat dikatakan masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai siswa yang masih banyak dibawah KKM. Dari 30 siswa di kelas tersebut, menunjukkan bahwa hanya ada 14 siswa (46,7%) yang mencapai nilai KKM dan sisanya 16 siswa (53,3%) tidak bisa mencapai nilai KKM. Untuk nilai tertinggi siswa 97 dan nilai terendah siswa 43 dengan rata-rata kelas mencapai 72,03. Oleh karena itu berdasarkan data tersebut, maka dilaksanakan penelitian dengan 2 siklus. Pada pelaksanaan siklus 1 terjadi peningkatan aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa dibandingkan dengan keadaan awal sebelum tindakan. Pada siklus 1 mengalami peningkatan yaitu siswa yang mencapai KKM menjadi 21 siswa (70%) dan 9 siswa (30%) tidak mencapai KKM, dengan rata-rata nilai kelas 79,97. Nilai tertinggi yang diperoleh pada siklus 1 mengalami penurunan menjadi 89,28 dan nilai terendah yaitu 54,64. Pada siklus 1 ini bisa dikatakan sudah cukup baik karena tercatat peningkatan sebesar 23,33%. Namun demikian pada peningkatan hasil siklus 1 tersebut bisa dikatakan belum maksimal, karena hasil tersebut masih berada pada target minimal peneliti yaitu sebesar 70% dari jumlah keseluruhan. Oleh karena itu dilanjutkan untuk pelaksanaan tindakan siklus 2. Peningkatan yang belum maksimal tersebut dikarenakan siswa masih belum bisa beradaptasi dengan pembelajaran berbasis PPR menggunakan multimedia, karena pada biasanya metode yang digunakan oleh guru masih menggunakan metode konvensional.

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 Pada siklus 2 terjadi peningkatan yang cukup signifikan, jumlah siswa yang mencapai KKM sudah memenuhi target peneliti sebesar 85% dengan hasil yang cukup memuaskan yaitu sebesar 90% dari seluruh siswa. Tercatat sebanyak 27 siswa (90%) mencapai KKM dan 3 siswa (10%) masih belum bisa mencapai KKM, dengan rata-rata nilai kelas 83,35. Nilai tertinggi yang diperoleh pada siklus 2 yaitu 92,6 dan nilai terendah yaitu 71,25. Dari pemaparan tersebut bisa dikatakan siswa sudah mulai terbiasa dengan metode yang digunakan oleh peneliti. Dimana pemberian konteks dalam pembelajaran sejarah serta suatu pengalaman secara langsung, dengan dibantu multimedia (khususnya video dokumenter) dapat menambah daya imajinasi siswa berkembang. Tidak lepas dari pada itu, pemanfaatan multimedia juga membuat siswa lebih siswa bisa lebih aktif dan antusias dalam proses pembelajaran. Dengan adanya hal tersebut, tidak menutup kemungkinan aspek aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap) siswa dapat meningkat. 2. Analisis peningkatan aspek aspek conscience (suara hati) siswa Conscience merupakan kemampuan afektif yang secara khusus mengasah kepekaan dan ketajaman hati nurani. Dalam hal ini dimaksudkan sebagai kemampuan untuk memahami alternatif dan menentukan pilihan oleh individu, hal yang baik maupun buruk, hal yang benar maupun salah. Dari penelitian tindakan kelas berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia ini, juga mampu meningkatkan aspek conscience (suara hati) siswa. Hal ini terbukti dari data keadaan awal siswa pada aspek conscience (suara hati), tercatat skor rata-rata baru mencapai 157,3 (71,5%) dan itu perlu ditingkatkan lagi. Setelah dilakukannya

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 tidakan, terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Dari 30 siswa dapat dilihat bahwa ada sebanyak 17 siswa yang mengalami peningkatan/kenaikan aspek conscience (suara hati) sedangkan yang mengalami penurunan sebanyak 12 siswa dan 1 siswa tidak mengalami peningkatan maupun penurunan atau tetap. Dilihat dari rata-rata skor siswa, meningkat sebesar 11,8 atau sebesar 5,36%. Walaupun dalam hal ini, untuk nilai rata-rata masih mendapat nilai C dengan kategori cukup. Dengan demikian terjadi peningkatan yang cukup untuk aspek conscience (suara hati) siswa dari keadaan awal dengan keadaan akhir. Dengan digunakannya pembelajaran sejarah berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia, jelas memiliki pengaruh terhadap peningkatan aspek conscience (suara hati). Mengapa tidak? Melalui refleksi yang dilakukan dalam PPR, siswa diajak untuk menyadari dampak positif terhadap masyarakat yang timbul dari proses pembelajaran, mengasah hati nurani dan meningkatkan kepedulian sosial. PPR merupakan suatu model pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk berefleksi agar dapat menemukan nilai-nilai kehidupan dalam suatu proses pembelajaran, sehingga bisa merencanakan tindakan yang berguna untuk menjadi lebih baik. Jadi dalam hal ini dikarenakan pada mata pelajaran sejarah yang kaya akan nilai-nilai, dan didesain dengan pembelajaran yang berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia tidak menutup kemungkinan seorang siswa akan berkembang hati nuraninya.

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 3. Analisis peningkatan aspek compassion (bela rasa) siswa Compassion merupakan aspek psikomotori yang berupa tindakan konkret maupun batin disertai bela rasa bagi sesama, dalam hal ini menjunjung tinggi sikap peduli terhadap sesama/bela rasa. Dari penelitian tindakan kelas berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia ini, juga mampu meningkatkan aspek compassion (bela rasa) siswa. Peningkatan aspek compassion (bela rasa) dalam penelitian ini juga bergantung metode sebuah pembelajaran, pembelajaran kooperatif yang digunakan peneliti pada siklus 1 masih kurang menarik, sehingga siswa juga kurang antusias dalam bekerja sama dengan teman satu kelas. Setelah memperoleh hasil yang kurang maksimal pada siklus 1, pada siklus 2 digunakanlah pembelajaran yang didesain untuk memacu kreativitas siswa dalam kelompok sehingga memacu pula peningkatan aspek compassion (bela rasa). Hal ini terbukti dari hasil komparasi aspek compassion (bela rasa) siswa keadaan awal dengan keadaan akhir. Terjadi peningkatan yang signifikan dari keadaan awal dengan keadaan akhir setelah dilakukan tindakan implementasi pembelajaran sejarah berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia. Dari 30 siswa dapat dilihat bahwa ada sebanyak 19 (63,33) siswa yang mengalami peningkatan/kenaikan aspek compassion (bela rasa) sedangkan yang mengalami penurunan sebanyak 10 (33,3%) siswa dan 1 (3,3) siswa tidak mengalami peningkatan maupun penurunan atau tetap. Dengan demikian bisa dikatakan terjadi peningkatan yang signifikan pada aspek compassion (bela rasa) siswa dari keadaan awal dengan keadaan akhir. Didalam pembelajaran berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia, dengan adanya konteks, pengalaman, refleksi, dan aksi membantu siswa dalam

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 menemukan nilai-nilai kemanusiaan tersebut sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama untuk berbelarasa terhadap sesama. Ditambah lagi materi pembelajaran yang diberikan adalah tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak proklamasi hingga Demokrasi Terpimpin. Dari sini dapat diambil banyak sekali contoh nilai-nilai yang bisa diambil untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang mengacu pada aspek compassion (bela rasa). Didalam PPR, pengalaman membantu siswa untuk mengalami dinamika pembelajaran secara langsung sehingga bisa membentuk pengalamannya sendiri kemudian merefleksikan nilai-nilai kemanusiaan tentang bela rasa yang di dapat, setelah itu dapat membangun niat dan diterapkan dalam kegiatan sehari-hari baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat yaitu kerjasama, kepedulian, keterlibatan dalam kelompok dan lain sebagainnya. Dengan dibawanya materi kedalam kehidupan sehari-hari, bisa dipasktikan akan menambah tingkat bela rasa yang ada didalam diri siswa.

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di kelas XI IPA 1 SMA Pangudi Luhur St.Louis IX Sedayu tentang implementasi pembelajaran sejarah berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif melalui pemanfaatan multimedia, maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Implementasi pembelajaran sejarah berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia pada materi perkembangan masyarakat Indonesia sejak proklamasi hingga Demokrasi Terpimpin ternyata dapat meningkatkan aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap). Peningkatan aspek competence (pengetahuan, keterampilan dan sikap), dibuktikan dengan adanya peningkatan nilai siswa pada keadaan awal, siklus 1, dan siklus 2. Ditinjau dari KKM, pada pra siklus menunjukkan bahwa hanya ada 14 siswa (46,7%) mencapai nilai KKM dan 16 siswa (53,3%) tidak bisa mencapai nilai KKM, dengan rata-rata kelas mencapai 72,03. Pada siklus 1 mengalami peningkatan yaitu siswa yang mencapai KKM menjadi 21 siswa (70%) dan 9 siswa (30%) tidak mencapai KKM, dengan rata-rata nilai kelas 79,97. Peningkatan juga terjadi pada siklus 2 yaitu sebanyak 27 siswa (90%) mencapai KKM dan 3 siswa (10%) masih belum bisa mencapai KKM, dengan rata-rata nilai kelas 83,35. 127

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128 2. Implementasi pembelajaran sejarah berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia pada materi perkembangan masyarakat Indonesia sejak proklamasi hingga Demokrasi Terpimpin ternyata dapat meningkatkan aspek conscience (suara hati). Peningkatan aspek conscience (suara hati) dibuktikan dengan adanya peningkatan rata-rata skor kuesioner siswa pada keadaan awal dan keadaan akhir, serta berdasarkan pengamatan peneliti dalam pembelajaran. Dilihat dari hasil kuesioner antara keadaan awal dengan keadaan akhir, dari 30 siswa ada sebanyak 17 siswa yang mengalami peningkatan/kenaikan aspek conscience (suara hati) sedangkan yang mengalami penurunan sebanyak 12 siswa dan 1 siswa tidak mengalami peningkatan maupun penurunan atau tetap, dan rata-rata skor siswa, meningkat sebesar 11,8 atau sebesar 5,36%. Dari segi pengamatan peneliti, pada indikator tanggung jawab yang semula berjumlah 12 siswa (40%) pada siklus 1 menjadi 24 siswa (80%) pada siklus 2. Selain itu dapat dilihat pula indikator kejujuran yang semula sebanyak 26 siswa (86,6%) pada siklus 1 menjadi 29 siswa (96,6%) pada siklus 2. 3. Implementasi pembelajaran sejarah berbasis PPR melalui pemanfaatan multimedia pada materi perkembangan masyarakat Indonesia sejak proklamasi hingga Demokrasi Terpimpin ternyata dapat meningkatkan aspek compassion (bela rasa) siswa. Peningkatan aspek compassion (bela rasa) siswa dibuktikan dibuktikan dengan adanya peningkatan skor kuesioner siswa pada keadaan awal dan keadaan akhir, serta berdasarkan pengamatan peneliti dalam pembelajaran. Dari 30 siswa, ada sebanyak 19

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129 (63,33%) siswa yang mengalami peningkatan/kenaikan aspek compassion (bela rasa) sedangkan yang mengalami penurunan sebanyak 10 (33,3%) siswa dan 1 (3,3%) siswa tidak mengalami peningkatan maupun penurunan atau tetap. Disisi lain dari segi pengamatan peneliti, pada indicator keterlibatan dalam kelompok yang semula berjumlah 21 siswa (70%) pada siklus 1 menjadi 27 siswa (90%) pada siklus 2. Selain itu dapat dilihat pula indicator menghargai perbedaan yang semula sebanyak 17 siswa (56,6%) pada siklus 1 menjadi 25 siswa (83,3%) pada siklus 2, dan yang terakhir pada indicator kerjasama bisa dikatakan meningkat secara drastis yakni dari 11 siswa (36,6%) menjadi 22 siswa (73,3). B. Saran 1. Bagi Lembaga Sekolah Mengutamakan kegiatan akademik dari pada non akademik sehingga tidak terlalu banyak siswa yang tertinggal pelajaran karena izin. Kegiatan non akademik dapat dilaksanakan setelah proses belajar mengajar selesai sehingga semua dapat berjalan dengan baik. 2. Bagi Guru Dari hasil penelitian dengan menggunakan PPR terjadi peningkatan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran sejarah, oleh karena itu diharapkan PPR dapat menjadi alternatif dalam penyampaian materi pembelajaran oleh guru agar tidak terkesan monoton. Sehingga siswa mampu menjadi aktif dan memahami, bahwa pelajaran sejarah bisa memberikan banyak makna dan nilai-nilai kehidupan yang dapat berguna bagi perkembangan bangsa, khususnya bagi generasi muda.

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 3. Bagi Siswa Siswa diharapkan lebih aktif dalam proses pembelajaran. Dengan keaktifan siswa, tidak menutup kemungkinan akan semakin bertambahnya kemampuan akademik maupun non akademik. Selain itu, siswa juga harus lebih kritis dalam proses pembelajaran.

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Daryanto. 2010. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media. Deni Darmawan. 2011. Teknologi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Dharma Kesuma. 2012. Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: Rosdakarya. Fudyartanto. 2002. Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru. Yogyakarta: Global Pustaka Utama. Hasan Alwi. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Mohamad Surya. 2004. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quaraisy. Muhamad Tahir. 2011. Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan. Makassar: Unismuh. Mulyasa. 2010. Praktik Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: PT Remaja Rosdakarya P3MP-LPM USD. 2012. Pedoman: Model Pembelajaran Barbasis Pedagogi Ignasian. Yogyakarta: LPM USD. Rachman Natawidjaja. 1997. “Konsep Dasar Penelitian Tindakan (Action Research)”. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sarwiji Suwandi. 2011. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta : Yuma Pustaka. Subagya, J. 2012. Paradigma Pedagogi Reflektif: Mendampingi Peserta Didik Menjadi Cerdas dan Berkarakter. Yogyakarta: Kanisius. 131

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta. Suharsimi Arikunto. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Suharsimi Arikunto.,dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara. Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius. Sutarjo Adisusilo. 2012. Pembelajaran Nilai-Nilai Karakter: Konstruktivisme dan VTC Sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Sutrasno. 1975. Sejarah Ilmu Pengetahuan ( History and Science). Jakarta: Pradnya Paramitha. Tim Redaksi Kanisius. 2008. Paradigma Pedagogi Reflektif: Alternatif Solusi Menuju Pendidikan Kristiani. Yogyakarta: Kanisius. Widja, I.G. 1989. Dasar-dasar Pengembangan Strategi Serta Metode Pengajaran Sejarah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ___________. 1988. Ilmu Sejarah: Sejarah Dalam Perspektif Pendidikan. Semarang: Satya Wacana.

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133 Sumber Internet http://007indien.blogspot.com/2012/05/model-model-penelitian-tindakankelas.html (diakses pada 20 Mei 2013) http://himcyoo.files.wordpress.com/2012/03/3-buku-pendidikan-karakter.pdf. (diunduh tanggal 24 Maret 2013). http://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma (diunduh pada tanggal 20 Maret 2013) http:// kuliah08.blogspot.com/2012/11/ihwal-ptk.html (diakses pada tanggal 20 Maret 2013) http://smaplsedayu.sch.id/profil/sejarah-singkat-sma-pl-st-louis-ixsedayu.2.html (diakses pada tanggal 20 Maret 2013)

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134 Lampiran 1 Jadwal Penelitian Bulan No Maret Kegiatan 1 1 Persiapan 2 Obsevasi 3 Pelaksanaan Siklus I 4 Pelaksanaan Siklus II 5 Pengolahan Data 6 Penyusunan Laporan 7 Keperluan Administrasi 2 3 April 4 1 2 3 Mei 4 1 2 3 Juni 4 1 2 3 Juli - April 4 1 2 3 4 Mei 1 2 3 Juni 4 1 2 3 4

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135 Lampiran 2

(155) PLAGIAT TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran MERUPAKAN 3 136

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137 Nama Sekolah : SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu Mata Pelajaran : Sejarah Jurusan : IPA Kelas / Semester : XI IPA / II Standar Kompetensi : 2. Merekonstruksi perjuangan bangsa Indonesia sejak masa proklamasi hingga lahirnya Orde Baru Kompetensi Materi Kegiatan Indikator Nilai Penilaian Dasar Pokok Pembelajaran Universal Teknik Bentuk Contoh Instrumen 1.Apa •Mendiskripsi2.1. kejujuran, Non Tanya 1. Kognitif 1. Sistem a. Produk Multipartai kan Merekonstruksi tanggung Tes jawab lisan tanggapan kalian perkembangan di Indonesia pemerintahan di 1) Mendeskripsi- jawab, terhadap kan Indonesia pada masyarakat kerjasama, film masa Demokrasi perkembangan Indonesia sejak keterlibatan 2. Pemilu tersebut? masyarakat Liberal melalui proklamasi dalam 1955 Indonesia pada studi pustaka, hingga kelompok, 2. Nilai apa saja yang masa Demokrasi dan Demokrasi 3. Kebijakan ceramah kalian bias Parlementer Terpimpin menghargai Politik pada bervariasi, dapatkan pemutaran video hingga perbedaan masa dari film Demokrasi dokumenter, Demokrasi tersebut? Terpimpin tanya jawab. Liberal Lampiran 4 b. Proses 1) Menganalisis sistem multi partai serta kabinet-kabinet pada masa Demokrasi Kuis TTS Zaken Kabinet adalah sebutan untuk Kabinet... (Natsir) Alokasi Waktu 4x45’ Sumber, Alat, dan Bahan Belajar 1. Sumber •Magdalia Alvian,dkk. 2007. Sejarah Untuk SMA dan MA Kelas XI IPA. Jakarta : Esis •I Wayan Badrika. 2006. Sejarah untuk SMA Jilid 2 Kelas XI Program Ilmu Alam. Jakarta : Erlangga 2. Media •White Board

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138 Parlementer 2) Menganalisis Pemilihan Umum 1955 2. Afektif a. Karakter 1) Memaknai nilai kejujuran, tanggung jawab, kerjasama, keterlibatan dalam kelompok, dan menghargai perbedaan dari materi Demokrasi Parlementer hingga Demokrasi Terpimpin. 2) Menerapkan sikap demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. b. Ketrampilan sosial 1) Secara Tes Pilihan Ganda Essay Sistem ekonomi Gerakan Benteng dikemukakan oleh Sumitro pada masa kabinet .. a. HB IX b. Wilopo c. Sukiman d. Ali I e. Natsir Tuliskanlah sisi positif dan negatif dari Sistem Multipartai di Indonesia •LCD Proyektor •Laptop 3. Bahan •Spidol •Film dokumenter •Powerpoint (materi dan TTS)

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139 bertanggung jawab ikut serta dalam proses demokrasi di Indonesia. 2) Mau terlibat dalam kelompok serta menghargai perbedaan dalam kelompok tersebut pada saat proses pembelajaran di sekolah. 4. Sistem Demokrasi Terpimpin di Indonesia Mendiskripsikan dan menganalisis pemerintahan di Indonesia pada 5. Mengatasi masa Demokrasi Terpimpin pergolakan melalui studi dalam pustaka, negeri ceramah bervariasi, 6. Merebut pembuatan mind kembali mapping, tanya Irian Barat 1. Kognitif a. Produk 1) Mendeskripsikan perkembangan masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer hingga Demokrasi Terpimpin kejujuran, tanggung jawab, kerjasama, keterlibatan dalam kelompok, dan menghargai perbedaan Non Tes Mind Mapping 4x45’ 1. Sumber •Magdalia Alvian,dkk. 2007. Sejarah Untuk SMA dan MA Kelas XI IPA. Jakarta : Esis •I Wayan Badrika. 2006. Sejarah untuk SMA Jilid 2

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140 jawab. b. Proses 1) Menganalisis masa Demokrasi Terpimpin Tes Pilihan Ganda 2) Menganalisis pergolakan dalam negri dan perjuangan merebut kembali Irian Barat 2. Afektif a. Karakter 1) Memaknai nilai kejujuran, tanggung jawab, kerjasama, keterlibatan dalam kelompok, dan menghargai perbedaan dari materi Demokrasi Parlementer hingga Demokrasi Terpimpin. Essay 8.Pemberon takan Andi Aziz terjadi di… a. Makasar b. Manado c. Ujung Pandang d. Palu e.Banjarmasin Jelaskan apa yang anda ketahui tentang Trikora! Kelas XI Program Ilmu Alam. Jakarta : Erlangga 2. Media •White Board •LCD Proyektor •Laptop 3. Bahan •Spidol •Film dokumenter •Powerpoint materi • Lembar Kerja Siswa

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141 2) Menerapkan sikap demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. b. Ketrampilan sosial 1) Secara bertanggung jawab ikut serta dalam proses demokrasi di Indonesia. 2) Mau terlibat dalam kelompok serta menghargai perbedaan dalam kelompok tersebut pada saat proses

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142 pembelajaran di sekolah. 3. Psikomotorik 1) Membuat mind mapping mengenai materi pergolakan dalam negeri. Yogyakarta, 27 April 2013 Peneliti Andreas Gilang T. A. .

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143 Lampiran 5 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS PPR TAHUN AJARAN 2012-2013 Nama Sekolah : SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu Mata Pelajaran : Sejarah Kelas / Semester : XI IPA / 2 (dua) Alokasi waktu : 8 x 45 menit I. Standar Kompetensi 2. Merekonstruksi perjuangan bangsa Indonesia sejak masa proklamasi hingga lahirnya Orde Baru II. Kompetensi Dasar 2.1. Merekonstruksi perkembangan masyarakat Indonesia sejak proklamasi hingga Demokrasi Terpimpin III. Indikator 1. Kognitif a. Produk 1) Mendeskripsikan perkembangan masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer hingga Demokrasi Terpimpin b. Proses 1) Menganalisis sistem multi partai serta kabinet-kabinet pada masa Demokrasi Parlementer 2) Menganalisis Pemilihan Umum 1955 3) Menganalisis masa Demokrasi Terpimpin 4) Menganalisis pergolakan dalam negri dan perjuangan merebut kembali Irian Barat 2. Afektif a. Karakter 1) Memaknai nilai kejujuran, tanggung jawab, kerjasama, keterlibatan dalam kelompok, dan menghargai perbedaan dari Demokrasi Parlementer hingga Demokrasi Terpimpin. 2) Menerapkan sikap demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. materi

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144 b. Ketrampilan sosial 1) Secara bertanggung jawab ikut serta dalam proses demokrasi di Indonesia. 2) Mau terlibat dalam kelompok serta menghargai perbedaan dalam kelompok tersebut pada saat proses pembelajaran di sekolah. 3. Psikomotorik 1) Membuat mind mapping mengenai materi pergolakan dalam negri. IV. Tujuan Pembelajaran Setelah proses belajar mengajar, siswa mampu untuk: 1. Kognitif a. Produk 1) Mendeskripsikan perkembangan masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer hingga Demokrasi Terpimpin b. Proses 1) Menganalisis sistem multi partai serta kabinet-kabinet pada masa Demokrasi Parlementer 2) Menganalisis Pemilihan Umum 1955 3) Menganalisis masa Demokrasi Terpimpin 4) Menganalisis pergolakan dalam negri dan perjuangan merebut kembali Irian Barat 2. Afektif a. Karakter 1) Memaknai nilai kejujuran, tanggung jawab, kerjasama, keterlibatan dalam kelompok, dan menghargai perbedaan dari materi Demokrasi Parlementer hingga Demokrasi Terpimpin. 2) Menerapkan sikap demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. b. Ketrampilan sosial 1) Secara bertanggung jawab ikut serta dalam proses demokrasi di Indonesia. 2) Mau terlibat dalam kelompok serta menghargai perbedaan dalam kelompok tersebut pada saat proses pembelajaran di sekolah.

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145 3. Psikomotorik 1) Membuat mind mapping mengenai materi pergolakan dalam negri. V. Materi Pembelajaran 1. Sistem multi partai di Indonesia 2. Kabinet-kabinet pada masa Demokrasi Parlementer 3. Pemilihan Umum 1955 4. Mengatasi pergolakan dalam negri 5. Merebut kembali Irian Barat VI. Pendekatan dan Metode Pembelajaran 1. Pendekatan Pembelajaran a. Paradigma Pedagogi Reflektif 2. Metode Pembelajaran a. Ceramah menggunakan Power Point b. Diskusi Kelompok c. Permainan TTS d. Permainan Mind Mapping e. Tanya Jawab VII. Langkah-langkah Pembelajaran 1. Pertemuan Pertama (2x 45 menit) No. 1. Kegiatan Waktu Kegiatan Awal: a. Konteks ™ Apersepsi : 1. Guru mengucapkan salam pada peserta didik, mengajak berdoa, dan mengabsen ™ Motivasi: 2. Guru membuka pembelajaran dengan menyinggung materi lewat nilai kehidupan sehari-hari peserta didik. 20 menit

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146 ™ Orientasi: Menyampaikan tujuan pembelajaran 2. Kegiatan Inti: 55 Menit b. Pengalaman 3. Guru memberi gambaran mengenai kehidupan masyarakat Indonesia era Demokrasi Parlementer 4. Guru melakukan tanya jawab tentang perkembangan masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer 5. Guru memutarkan film dokumenter tentang Pemilihan Umum 1955 6. Guru membagi peserta didik dalam kelompok untuk selanjutnya memberikan tanggapan tentang film tersebut 7. Hasil diskusi dan analisa dipresentasikan di depan kelas oleh peserta didik c. Refleksi 8. Guru menyiapkan pertanyaan panduan yang tepat dan menyiapkan kondisi kelas yang memungkinkan terjadinya refleksi. 9. Guru dan peserta didik saling berbagi refleksinya dalam memperkaya pemaknaan pengalaman belajar d. Aksi 10. Guru memberikan panduan pertanyaan guna menuntun aksi peserta didik 3. Kegiatan Akhir: • Bersama-sama melakukan refleksi pembelajaran yang telah dilaksanakan • Guru menuntun peserta didik melakukan aksi dari materi yang dipelajari • Menarik kesimpulan materi. 15 Menit

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147 2. Pertemuan Kedua (2 x 45 menit) No. 1. Kegiatan Waktu Kegiatan Awal: a. Konteks ™ Apersepsi : Guru mengucapkan salam pada peserta didik, mengajak berdoa, dan mengabsen ™ Motivasi: 5 menit Guru membuka pembelajaran dengan menyinggung materi lewat nilai kehidupan sehari-hari peserta didik. ™ Orientasi: Menyampaikan tujuan pembelajaran 2. Kegiatan Inti: b. Pengalaman 30 Menit 1. Guru memberikan pertanyaan berupa TTS kepada peserta didik. 2. Perserta didik secara acak berebut untuk menjawab pertanyaan dari guru. 3. Bagi peserta didik yang berhasil menjawab mendapat hadiah apresiasi dari guru. c. Refleksi dan Aksi 10 menit 4. Guru menyiapkan pertanyaan panduan tentang refleksi pembelajaran PPR dan menyiapkan kondisi kelas yang memungkinkan terjadinya refleksi. 5. Peserta didik menjawab soal refleksi dan aksi PPR yang diberikan oleh guru secara lisan d. Evaluasi 6. Guru mengadakan ulangan harian siklus 1 45 menit

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148 3. Pertemuan Ketiga (2 x 45 menit) No. 1. Kegiatan Waktu Kegiatan Awal: a. Konteks ™ Apersepsi : 1) Guru mengucapkan salam pada peserta didik, mengajak berdoa, dan mengabsen ™ Motivasi: 10 menit 2) Guru membuka pembelajaran dengan menyinggung materi lewat nilai kehidupan sehari-hari peserta didik. ™ Orientasi: 3) Menyampaikan tujuan pembelajaran 2. Kegiatan Inti: 65 Menit b. Pengalaman 4) Guru memberi gambaran mengenai kebijakan ekonomi masa Demokrasi Parlementer 5) Guru melakukan tanya jawab tentang kebijakan ekonomi masa Demokrasi Parlementer. 6) Guru membagi peserta didik dalam kelompok 7) Selanjutnya guru memberikan tugas kepada siswa untuk membuat mind mapping dalam materi Mengatasi Pergolakan dalam Negeri. 8) Hasil diskusi dan analisa dipresentasikan di depan kelas oleh peserta didik c. Refleksi 9) Guru menyiapkan pertanyaan panduan yang tepat dan menyiapkan kondisi kelas yang memungkinkan terjadinya refleksi. 10) Guru dan peserta didik saling berbagi refleksinya dalam memperkaya pemaknaan pengalaman belajar

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149 d. Aksi 11) Guru memberikan panduan pertanyaan guna menuntun aksi peserta didik 3. Kegiatan Akhir: 15 Menit 12) Bersama-sama melakukan refleksi pembelajaran yang telah dilaksanakan 13) Guru menuntun peserta didik melakukan aksi dari materi yang dipelajari 14) Menarik kesimpulan materi. 4. Pertemuan Keempat (2 x 45 menit) No. 1. Kegiatan Waktu Kegiatan Awal: a. Konteks ™ Apersepsi : 1) Guru mengucapkan salam pada peserta didik, mengajak berdoa, dan mengabsen ™ Motivasi: 10 menit 2) Guru membuka pembelajaran dengan menyinggung materi lewat nilai kehidupan sehari-hari peserta didik. ™ Orientasi: 3) Menyampaikan tujuan pembelajaran 2. Kegiatan Inti: b. Pengalaman 4) Guru menjelaskan materi tentang perebutan kembali Irian Barat menggunakan media power poin agar siswa lebih tertarik dan mudah memahami materi 5) Siswa juga memahami materi dengan mencatat hal-hal penting atau menggaris bawahi kalimat penting dalam 20 Menit

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150 buku paket. 6) Guru melakukan interaksi dengan siswa saat menjelaskan dengan tanya jawab. c. Refleksi 7) Guru menyiapkan pertanyaan panduan yang tepat dan menyiapkan kondisi kelas yang memungkinkan terjadinya refleksi. 8) Guru dan peserta didik saling berbagi refleksinya dalam memperkaya pemaknaan pengalaman belajar d. Aksi 9) Guru memberikan panduan pertanyaan guna menuntun aksi peserta didik 3. Kegiatan Akhir: 15 Menit 10) Bersama-sama melakukan refleksi pembelajaran yang telah dilaksanakan 11) Guru menuntun peserta didik melakukan aksi dari materi yang dipelajari 12) Menarik kesimpulan materi. 4 e. Evaluasi 45 menit 13) Pada tahap ini diadakan tes evaluasi VIII. Sumber, Alat, dan Bahan Pembelajaran • Sumber o Magdalia Alvian,dkk. 2007. Sejarah Untuk SMA dan MA Kelas XI IPA. Jakarta : Esis o I Wayan Badrika. 2006. Sejarah untuk SMA Jilid 2 Kelas XI Program Ilmu Alam. Jakarta : Erlangga • Media o White Board o LCD Proyektor o Laptop

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151 • Bahan o Spidol o Film dokumenter o Powerpoint (materi dan TTS) o Lembar Kerja Siswa IX. Penilaian a. Penilaian Produk Jenis tagihan : Tes tertulis Nilai = Skor yang diperoleh x 100% Skor total b. Penilaian proses Jenis Tagihan : Portofolio Penilaian portofolio siklus 1 (kuis TTS) No Indikator 1 Ketepatan jawaban menjawab soal 2 Antusias dalam menjawab 3 Kerjasama dengan kelompok Skor Total Skor • Nilai = Skor perolehan x 100% Skor maksimal Kriteria Penilaian - Menjawab dengan benar sejumlah 12 skor 5 - Menjawab dengan benar sejumlah 10-11 skor 4 - Menjawab dengan benar sejumlah 7-9 skor 3 - Menjawab dengan benar sejumlah 4-6 skor 2 - Menjawab dengan benar sejumlah 1-3 skor 1 - Sangat antusias skor 5 - Antusias skor 4 - Cukup antusias skor 3 - Kurang antusias skor 2 - Tidak antusias skor 1 - Kerjasama sangat baik skor 5 - Kerjasama baik skor 4 - Kerjasama cukup skor 3 - kerjasama kurang skor 2 - Tidak ada kerjasama skor 1 Skor Maksimal 15

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152 Penilaian tugas dan pengamatan siklus 2 (mind mapping) No Indikator Skor Deskripsi 1 Keterkaitan media pembelajaran dengan materi yang diangkat 2 Pemahaman media pembelajaran dapat dengan mudah dimengerti (penyajian) 3 Keseriusan dalam pembuatan maupun presentasi 4 Proses pembuatan media pembelajaran dalam kelompok (kerjasama) 5 Kemampuan untuk menciptakan suatu karya baru (kreativitas) 6 Menghargai kelompok lain saat presentasi Jumlah • Tingkat ketepatan materi: - Sangat tepat skor 5 - Tepat skor 4 - Cukup skor 3 - Kurang tepat skor 2 - Tidak tepat skor 1 - Penyajian sangat baik skor 5 - Penyajian baik skor 4 - Penyajian cukup skor 3 - Penyajian kurang baik skor 2 - Penyajian buruk skor 1 - Sangat serius skor 5 - Serius skor 4 - Cukup skor 3 - Kurang serius tepat skor 2 - Tidak serius skor 1 - Kerjasama sangat baik skor 5 - Kerjasama baik skor 4 - Kerjasama cukup skor 3 - Kerjasama kurang skor 2 - Tidak ada kerjasama skor 1 - Kreativitas sangat tinggi skor 5 - Kreativitas tinggi skor 4 - Kreativitas cukup skor 3 - Kreativitas rendah skor 2 - Kreativitas sangat rendah skor 1 - Sangat baik skor 5 - Baik skor 4 - Cukup skor 3 - Kurang skor 2 - Sangat kurang skor 1 Total Skor 30 Nilai = Skor perolehan x 100% Skor maksimal Nilai akhir siklus 1 = nilai produk (80%) + nilai proses (20%) Nilai akhir siklus 2 = nilai produk (70%) + nilai proses (30%)

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153 c. Tindak lanjut Siswa dinyatakan lulus KKM jika memiliki nilai diatas atau sama dengan 78 Sedayu, 27 April 2013 Peneliti Andreas Gilang Tito A.

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154 Lampiran 6 Hasil Wawancara Guru NO PERTANYAAN JAWABAN Secara umum sudah baik, banyak anak 1. Bagaimana keadaan siswa yang aktif untuk menjawab pertanyaan di kelas XI IPA 1 secara yang diajukan dari guru. Ada beberapa umum? anak yang kritis terhadap apa yang disampaikan oleh guru. 2. Bagaimana dengan fasilitas Kalo untuk fasilitas dikelas, ya biasa saja. di kelas XI IPA 1? Ada whiteboard, lcd viewer, speaker nanti bisa diambil di ruang tata usaha. Biasanya nanti siswa yang membantu mengambilkan. Saya masih menggunakan metode 3. Bagaimana cara bapak konvensional tidak menggunakan sendiri mengajarkan multimedia. pelajaran sejarah di kelas XI IPA 1? 4. Bagaimana dengan prestasi atau nilai mata pelajaran sejarah ? Kalau untuk prestasi sedang sedang saja, tidak terlalu buruk juga. 5. Untuk nilai, berapa batas KKM yang harus dicapai? Soal penelitian kami disini, berapa lama waktu yang bias kami pinjam untuk melakukan penelitian? Lalu bagaimana dengan materi yang akan saya berikan saat penelitian? Untuk KKM itu 78. 6. 7. 8. Kalo untuk waktu, seselesainya saja tidak apa-apa. Ya, untuk materi nanti tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak proklamasi hingga Demokrasi Terpimpin, kalau dibuku paket bab 8 sampai 9, nanti saya pinjamkan. Bagus sekali mas, disini kalo saya lihat itu Menurut bapak pribadi, bagaimana tanggapan bapak menggunakan multimedia ya? Nanti bisa membawa suasana baru dalam proses mengenai penelitian yang pembelajaran. akan saya lakukan?

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 7 Hasil Observasi Aktivitas Guru No 1 Aspek yang diamati Pendidik memberikan kesiapan peserta didik 2 Pendidik memberikan apersepsi 3 Pendidik menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta Ya Tidak √ √ √ didik 4 Pendidik menggunakan media. 5 Pendidik mengaitkan mata pelajaran dengan pengalaman √ √ pendidik. 6 Pendidik sering bertanya kepada siswa. 7 Pendidik memberikan umpan balik atas jawaban peserta didik. 8 √ √ Pendidik memberi pertanyaan √ panduan untuk direfleksikan peserta didik. 9 Pendidik memberikan tugas kepada peserta didik untuk √ melakukan tindakan tertentu sesuai materi 10 Pendidik memberi soal evaluasi √ Keterangan 155

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156 Lampiran 8 Hasil Observasi Aktivitas Siswa No 1 Aspek yang diamati Ya Peserta didik siap untuk √ mengikuti pelajaran 2 Tidak Keterangan Masih banyak siswa yang belum masuk ruang kelas Peserta didik memperhatikan Beberapa peserta didik penjelasan pendidik sangat antusias dengan penjelasan dari pendidik, √ namun ada juga beberapa siswa yang masih sibuk sendiri 3 Peserta didik mengajukan pertanyaan kepada pendidik Tidak semua siswa √ mengajukan per-tanyaan kepada pendidik 4 Peserta didik mau mengerjakan tugas dari pendidik 5 Peserta didik √ mengerjakan soal Peserta didik dapat bekerja sama Tidak ada kegiatan √ dengan kelompok berdiskusi dalam kelompok 6 Peserta didik dapat menanggapi Tidak ada kegiatan √ jawaban dari kelompok lain berdiskusi dalam kelompok 7 Peserta didik mau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pendidik Hanya peserta didik yang √ aktif yang menjawab pertanyaan

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157 Lampiran 9 Rangkuman Hasil Refleksi dan Aksi Siswa 9.a. Hasil Refleksi Siswa Pertemuan Pertama Siklus 1 No Pertanyaan Jawaban 1 Bagaiman tanggapanmu tentang Masih belum begitu memahami, sulit materi perkembangan masyarakat untuk menghafalkan nama-nama Indonesia pada masa Demokrasi kabinet yang ada. Parlementer? 2 Manfaat apa yang dapat kalian Sebagai acuan dalam berorganisasi, ambil dari materi tersebut? sebagai contoh untuk mengambil keputusan dalam kelompok. 3 Nilai kemanusiaan apa yang bisa Saling menghargai, bekerja-sama kalian ambil dari materi tersebut? 9.b. Hasil Aksi Siswa Pertemuan Pertama Siklus 1 No Pertanyaan Jawaban 1 Apa yang anda lakukan jika dalam Secara kompak siswa menjawab suatu kelompok terjadi perbedaan engan melakukan voting pendapat? 2 Mengapa anda memilih melakukan Karena Indonesia meruakan Negara hal tersebut? demokrasi, jadi suara yang diambil berdasarkan suara terbanyak. 9.c. Hasil Refleksi Siswa Pertemuan Kedua Siklus 1 No Pertanyaan Jawaban 1 Apa makna materi tersebut bagi Sebagai contoh dalam pengambilan anda? keputusan secara kelompok, perlu hal yang sangat matang seperti mengambil kebijakan ekonomi pada masa itu. 2 Nilai apa yang dapat anda petik dari Terlibat dalam kelompok, karena materi tersebut? dengan kita masuk kedalam kelompok sama saja dengan kita menyumbangkan ide kita. 9.d. Hasil Aksi Siswa Pertemuan Kedua Siklus 1 No Pertanyaan Jawaban 1 Bagaimana anda menerapkannya Jika ada perbedaan pendapat dalam dalam kehidupan sehari-hari? menentukan sesuatu di kelas, maka diadakan voting yang dipimpin oleh ketua kelas, seperti pada saat pembuatan kaos kelas.

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 158 9.e. Hasil Refleksi Siswa Pertemuan Pertama Siklus 2 No Pertanyaan Jawaban Beberapa siswa menjawab belum 1 Bagaiman tanggapanmu tentang materi mengatasi pergolakan dalam begitu paham, karena sulit untuk menghafal tokoh, tahun serta tempat negeri? kejadian. 2 Manfaat apa yang dapat kalian Sebagai pedoman untuk menjalin ambil dari materi tersebut? persatuan dan menjaga kedaulatan Indonesia 3 Nilai kemanusiaan apa yang bisa Persatuan kalian ambil dari materi tersebut? 9.f. Hasil Aksi Siswa Pertemuan Pertama Siklus 2 No Pertanyaan Jawaban 1 Bagaimana anda menerapkannya Dengan cara saling menghargai, dalam kehidupan sehari-hari toleransi antar umat beragama, tidak membedakan suku, agama, ras. 9.g. Hasil Refleksi Siswa Pertemuan Kedua Siklus 2 No Pertanyaan Jawaban 1 Apa makna materi tersebut bagi Perlu ada kesepakatan bersama anda? dalam mengambil kesimpulan, seperti pada saat Soekarno mengusulkan kembali ke UUD1945, ada banyak yang setuju dan tidak diantara anggota konstituante. Butuh perjuangan untuk menggapai sesuatu, seperti pada saat merebut kembali Irian Barat 2 Nilai apa yang dapat anda petik dari Menghargai perbedaan, keerlibatan materi tersebut? dalam kelompok, tidak mudah putus asa. 9.h. Hasil Aksi Siswa Pertemuan Kedua Siklus 2 No Pertanyaan Jawaban 1 Bagaimana anda menerapkannya Jika kita ingin mendapat nilai yang dalam kehidupan sehari-hari? baik saat ulang, harus berjuang sungguh-sungguh dalam belajar.

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 159 Lampiran 10 KISI-KISI KUESIONER ASPEK CONSCIENCE SISWA PRA PENELITIAN No Pernyataan Jumlah butir pernyataan positif Jumlah butir pernyataan negatif 25, 37 3 2 2, 14 26, 38 2 2 Disiplin 3 27, 39 1 2 4. Serius 4, 16 28, 40 2 2 5. Semangat 5, 17 29, 41 2 2 6. Nasionalisme 6, 18, 50 30, 42, 49 3 3 7. Percaya Diri 7, 19 31, 43 2 2 8. Teliti 8, 20 32, 44 2 2 9. Perjuangan 9, 21 33, 45 2 2 10. Mandiri 10, 22 34, 46 2 2 11. Jujur 11, 12 35, 47, 23 2 3 12. Keberanian 24 36, 48 1 2 No Indikator conscience Positif Negatif 1. Kesadaran 1, 13, 15 2. Tanggung Jawab 3. Keterangan: nomor item yang di blog merupakan item yang tidak valid.

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 160 Lampiran 11 Kuesioner Conscience Pra Penelitian Petunjuk 1. Bacalah setiap pernyataan dalam kuesioner ini dengan teliti dan jawablah setiap pernyataan tersebut. 2. Berilah tanda centang ( √ ) pada salah satu pilihan anda pada kolom yang tersedia. (SS) = Sangat Setuju ( S ) = Setuju ( R ) = Ragu-Ragu (TS) = Tidak Setuju (STS) = Sangat Tidak Setuju Contoh : Saya senang belajar sejarah SS S R TS STS √ 3. Bila anda ingin memperbaiki jawaban, coret jawaban anda yang lama dengan dua garis lurus horizontal ( = ), kemudian beri tanda ( √ ) pada pilihan yang anda anggap tepat. SS S R TS STS √ √ 4. Isilah dengan benar sesuai keadaan yang anda alami, kuesioner ini tidak mempengaruhi prestasi belajar anda. 5. Kuesioner ini harap dikembalikan pada peneliti jika sudah selesai mengerjakan. 6. Selamat mengerjakan dan terima kasih. Nama Siswa : Nama Sekolah : SMA Pangudi Luhur St. Louis IX, Sedayu Kelas : XI IPA 1 Jam ke : 5-6 Mata Pelajaran : Sejarah

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 161 No Bentuk Pernyataan SS Saya sadar bahwa materi sejarah Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi 1. Terpimpin penting bagi hidup saya karena kita kita dapat mengambil hikmah dari apa yang terjadi pada masa lampau 2. 3. Saya merasa bertanggung jawab dan harus belajar sejarah demi masa depan saya Saya selalu disiplin dalam mengikuti pelajaran sejarah Dalam mengikuti pelajaran sejarah tentang 4. Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin saya selalu serius agar dapat mengambil makna-maknanya Belajar sejarah pada pertemuan hari ini 5. menyenangkan oleh karena itu saya selalu semangat mengikutinya minggu depan Setelah mempelajari sejarah tentang Indonesia 6. pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin saya mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi 7. 8. 9. Jika menjawab pertanyaan dari guru saya selalu menjawab dengan percaya diri Saya selalu teliti dalam mengerjakan tugastugas tentang materi Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin Saya selalu berjuang untuk mendapatkan nilai yang baik dalam mata pelajaran sejarah Saya belajar sejarah tentang Indonesia pada 10. masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin secara mandiri di rumah 11. Dalam mengerjakan ulangan sejarah saya selalu jujur dan sesuai dengan kemampuan saya S R TS STS

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. Saya menegur teman yang mencontek pada saat ulangan sejarah Peristiwa masa Demokrasi Parlementer dan 13. Demokrasi Terpimpin berguna bagi masa sekarang dan masa depan saya 14 15. Kelestarian budaya dan peningggalan bersejarah adalah tanggung jawab saya Tugas mata pelajaran sejarah yang diberikan guru selalu saya kerjakan Jika guru menggunakan media atau multimedia 16. saya selalu serius mengikuti pembelajaran sejarah. Saya selalu mengerjakan tugas yang diberikan 17. oleh guru tentang Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin dengan penuh semangat Saya merasa bangga akan bangsa dan negara 18. Indonesia setelah belajar tentang Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin 19. Dalam menyatakan pendapat/argumen, saya selalu percaya diri Saya selalu memeriksa kesiapan sebelum 20. mengikuti pelajaran sejarah pada pertemuan hari ini 21. 22. 23. Saya akan selalu berjuang untuk meraih citacita dengan giat belajar Untuk memperkaya pengetahuan sejarah tentang Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin saya membaca buku diperpustakaan Saya memaksa teman untuk mengerjakan tugas saya. Untuk mendapatkan nilai yang baik dalam 24. ulangan sejarah tentang saya berani bersaing secara positif dengan teman-teman 162

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25. Saya tidak perlu memiliki kesadaran sepenuhnya untuk belajar sejarah Saya tidak memiliki tanggung jawab sebagai 26 seorang siswa yang harus belajar sejarah tentang Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin 27 28 Saya tidak disiplin dalam mengikuti pelajaran sejarah pada pertemuan hari ini Saya tidak serius dalam mengikuti pelajaran sejarah pada pertemuan hari ini Saya tidak semangat belajar sejarah pada masa 29 Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin jika guru tidak menggunakan media atau multimedia 30 31 32 Bagi saya belajar sejarah atau tidak, tidak mempengaruhi rasa cinta terhadap tanah air. Saya tidak percaya diri jika menjawab pertanyaan dari guru Saya tidak teliti dalam belajar sejarah pada pertemuan hari ini Saya malas untuk mendapatkan nilai yang baik 33 selama mengikuti pelajaran sejarah dengan materi Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin 34 35 36 Di rumah saya tidak pernah mempelajari kembali materi yang telah disampaikan guru Dalam mengerjakan tugas pelajaran sejarah, saya hanya menyalin jawaban dari internet Saya takut menegur dan melaporkan teman yang berbuat curang pada saat ulangan sejarah Saya tidak sadar bahwa pelajaran sejarah pada 37 masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin berguna bagi masa depan saya 163

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Rendahnya prestasi belajar sejarah saya pada materi masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin bukanlah tanggung jawab saya Saya selalu terlambat apabila mengumpulkan tugas mata pelajaran sejarah Saya meremehkan pelajaran sejarah karena tidak termasuk mata pelajaran yang penting Apabila mendapat nilai rendah saya putus asa dan semakin malas belajar Bagi saya mengunjungi situs-situs sejarah dan monumen-monumen sejarah tidaklah penting Dalam menyatakan pendapat atau argumen, saya selalu merasa minder dan hanya menuruti pendapat teman. Memeriksa kembali jawaban-jawaban soal yang diberikan guru mata pelajaran sejarah tidak pernah saya lakukan Saya enggan berusaha untuk menjadi siswa yang berprestasi pada pertemuan ini dengan materi Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin Saya malas ke perpustakaan untuk membaca buku-buku sejarah Saya mencontek jawaban teman dalam mengerjakan tugas sejarah Saya tidak berani menyatakan jawaban yang benar, padahal saya tahu jawaban teman salah dalam pelajaran sejarah Saya suka mencoret-coret dan merusak peninggalan atau situs-situs bersejarah Saya suka apabila mengikuti lomba karya ilmiah dan debat sejarah baik tingkat rayon, regional atau nasional 164

(184) Lampiran 12 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Nama AP AFK AS AWC APL BTP CPE CDS DC EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY VAC VW YBW BDT Total (X) rxy uji t s PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Analisis Validitas Kuesioner Conscience 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 2 3 4 3 4 4 4 4 5 3 4 3 3 4 3 4 3 3 4 4 3 3 2 4 2 3 4 1 4 3 3 4 3 4 3 4 4 5 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 4 4 5 3 4 3 2 2 2 2 3 3 4 4 4 4 3 4 3 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 5 3 4 3 2 2 2 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 5 4 4 4 4 3 4 4 5 4 5 4 4 3 3 3 3 3 4 4 2 3 5 3 3 3 3 2 2 3 4 2 5 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 3 4 4 3 3 2 4 2 3 4 1 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 4 5 5 5 4 4 5 5 4 4 4 4 3 3 4 4 3 5 3 4 4 5 3 4 4 4 5 4 4 3 4 4 4 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 2 4 3 3 4 3 4 3 4 4 5 3 4 3 3 4 4 4 4 5 5 5 2 4 5 4 4 4 4 3 4 4 5 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 2 4 4 5 3 4 3 3 4 3 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 124 125 111 113 105 107 107 105 124 92 116 0.16 0.02 0.67 0.43 0.62 0.57 0.58 0.63 0.69 0.32 0.26 1.123 0.139 6.255 3.301 5.476 4.808 4.934 5.622 6.606 2.341 1.866 0.9 0.6 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.99 0.925 Ket: item yang diblok merupakan nomor item yang tidak valid 12 3 3 3 1 1 2 4 3 4 4 3 4 3 3 3 2 1 4 3 3 3 3 3 1 2 3 3 4 3 3 85 0.35 2.589 0.99 13 5 3 5 4 3 4 4 5 4 4 5 4 4 4 3 4 4 4 5 5 4 4 3 3 4 4 5 4 5 5 124 0.13 0.909 0.925 14 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 114 0.28 2.021 0.975 15 4 3 4 2 4 4 4 2 4 4 2 4 4 4 3 4 2 3 4 4 2 3 4 4 5 4 4 4 4 4 107 0.69 6.606 0.995 16 4 3 3 3 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 3 4 109 0.39 2.935 0.995

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 4 3 3 2 4 4 4 2 4 4 2 4 3 3 3 2 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 4 3 3 102 0.66 6.088 0.995 18 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 3 4 4 3 5 4 4 4 4 4 118 0.24 1.713 0.925 19 4 4 4 4 3 4 4 2 3 4 2 4 4 2 2 2 3 4 4 4 4 4 3 4 5 4 4 3 4 4 106 0.58 4.934 0.995 Analisis Validitas Kuesioner Conscience 20 21 22 23 24 25 26 27 28 4 5 4 5 4 4 4 4 4 3 5 3 3 4 3 2 2 3 4 5 3 4 4 4 4 4 4 2 5 1 5 5 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 1 4 1 4 1 4 4 3 3 5 4 5 4 4 3 4 4 3 4 3 5 4 4 4 4 4 4 1 3 1 4 1 4 4 3 4 4 3 5 4 5 5 5 5 3 5 3 4 4 3 4 4 4 4 3 2 5 4 4 4 3 4 4 4 3 5 4 3 4 3 3 4 1 4 1 4 1 4 4 3 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 5 4 5 5 1 5 5 4 4 5 3 2 4 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 5 3 4 4 3 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 5 4 5 4 4 3 4 4 5 5 2 5 4 4 4 4 4 4 5 3 5 5 4 4 4 4 4 3 2 5 4 4 4 3 4 3 4 3 5 5 4 5 4 2 4 5 1 5 5 4 4 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 109 122 88 122 124 104 118 116 113 0.21 0.52 0.15 0.5 0.26 0.48 0.47 0.54 0.49 1.488 4.219 1.051 4.001 1.866 3.792 3.69 4.446 3.895 0.95 0.995 0.925 0.995 0.975 0.995 0.995 0.995 0.995 Ket: item yang diblok merupakan nomor item yang tidak valid 29 4 2 4 1 4 4 4 4 4 4 4 5 3 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 1 4 110 0.32 2.341 0.99 30 5 2 3 3 4 4 5 3 2 4 3 5 2 1 4 3 4 4 4 4 3 2 4 2 4 2 1 5 3 4 99 0.41 3.115 0.995 31 4 3 4 3 3 3 4 1 5 4 1 5 1 3 2 1 3 4 4 4 3 3 2 5 4 4 3 4 3 3 96 0.706 6.908 0.995 32 4 2 4 3 3 3 4 1 3 4 1 3 1 3 2 1 2 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 87 0.745 7.74 0.995 33 4 2 4 4 4 3 4 1 5 4 1 4 1 3 3 1 2 5 5 5 3 4 4 5 5 5 3 5 4 3 106 0.749 7.834 0.995 34 4 2 4 2 2 3 4 4 3 4 4 4 4 2 4 4 2 4 5 4 3 2 3 3 2 4 2 3 2 3 96 0.322 2.357 0.99 35 4 3 4 4 3 3 4 4 4 3 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 2 3 3 4 4 3 3 4 4 2 105 0.294 2.132 0.99 36 4 3 3 2 3 3 2 3 2 4 3 4 3 2 2 3 3 3 2 2 4 3 2 5 2 3 3 3 3 4 88 0.065 0.451 0.7

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 2 2 4 3 3 4 4 4 3 4 4 5 4 2 2 5 2 4 4 4 3 3 3 2 4 3 4 5 3 3 102 0.384 2.882 0.995 38 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 3 4 2 4 4 4 5 4 4 3 4 5 4 4 4 5 118 0.461 3.6 0.995 39 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 3 4 3 3 1 5 3 3 4 4 1 4 3 5 4 4 3 5 4 1 103 0.445 3.444 0.995 40 4 2 4 3 4 4 4 4 4 4 4 5 4 5 3 5 2 4 5 4 1 4 4 3 4 4 4 5 4 1 112 0.466 3.65 0.995 Analisis Validitas Kuesioner Conscience 41 42 43 44 45 46 47 48 4 5 4 4 3 4 4 4 2 2 2 3 3 2 3 2 4 4 3 4 4 3 2 4 4 4 4 4 5 2 3 3 3 5 2 4 5 4 5 4 2 2 3 3 3 3 4 2 4 4 4 4 2 4 5 4 1 1 1 4 1 3 4 4 3 4 3 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 4 1 3 2 4 4 5 4 5 5 5 5 4 2 2 3 3 3 3 4 2 3 4 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 3 3 5 3 3 5 2 4 5 4 5 4 2 2 2 3 3 2 3 2 5 4 4 4 4 3 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 3 3 3 3 4 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 3 2 3 3 4 4 2 4 5 3 4 2 3 2 4 5 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 5 3 4 4 3 4 4 3 2 4 3 5 2 4 5 4 5 4 3 5 2 4 5 4 5 4 2 4 4 3 3 3 3 4 93 113 94 107 106 99 114 107 0.79 0.733 0.659 0.478 0.521 0.681 0.393 0.438 8.929 7.468 6.072 3.771 4.23 6.445 2.962 3.376 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 Ket: item yang diblok merupakan nomor item yang tidak valid 49 5 2 4 5 4 4 4 1 4 4 1 5 4 5 5 4 2 5 5 4 2 5 4 4 5 5 4 4 4 2 116 0.709 6.967 0.995 50 3 3 2 4 3 4 5 2 4 4 2 5 4 4 4 3 3 4 1 3 3 3 4 5 5 4 2 3 3 3 102 0.309 2.252 0.99 Total 204 143 184 165 180 180 202 142 182 197 139 215 174 165 158 171 150 204 206 192 162 177 175 181 199 201 183 195 182 175 5208

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 168 Lampiran 13 Kuesioner Conscience Awal dan Akhir Penelitian Petunjuk 1. Bacalah setiap pernyataan dalam kuesioner ini dengan teliti dan jawablah setiap pernyataan tersebut. 2. Berilah tanda centang ( √ ) pada salah satu pilihan anda pada kolom yang tersedia. (SS) = Sangat Setuju ( S ) = Setuju ( R ) = Ragu-Ragu (TS) = Tidak Setuju (STS) = Sangat Tidak Setuju Contoh : Saya senang belajar sejarah SS S R TS STS √ 3. Bila anda ingin memperbaiki jawaban, coret jawaban anda yang lama dengan dua garis lurus horizontal ( = ), kemudian beri tanda ( √ ) pada pilihan yang anda anggap tepat. SS S R TS STS √ √ 4. Isilah dengan benar sesuai keadaan yang anda alami, kuesioner ini tidak mempengaruhi prestasi belajar anda. 5. Kuesioner ini harap dikembalikan pada peneliti jika sudah selesai mengerjakan. 6. Selamat mengerjakan dan terima kasih. Nama Siswa : Nama Sekolah : SMA Pangudi Luhur St. Louis IX, Sedayu Kelas : XI IPA 1 Jam ke : 5-6 Mata Pelajaran : Sejarah

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 1. Bentuk Pernyataan SS Saya selalu disiplin dalam mengikuti pelajaran sejarah Dalam mengikuti pelajaran sejarah tentang 2. Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin saya selalu serius agar dapat mengambil makna-maknanya Belajar 3. sejarah pada pertemuan hari ini menyenangkan oleh karena itu saya selalu semangat mengikutinya minggu depan Setelah mempelajari sejarah tentang Indonesia 4. pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin saya mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi 5 Jika menjawab pertanyaan dari guru saya selalu menjawab dengan percaya diri Saya selalu teliti dalam mengerjakan tugas-tugas 6 tentang materi Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin 7 Saya selalu berjuang untuk mendapatkan nilai yang baik dalam mata pelajaran sejarah Saya belajar sejarah tentang Indonesia pada masa 8. Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin secara mandiri di rumah 9. 10 11. Saya menegur teman yang mencontek pada saat ulangan sejarah Kelestarian budaya dan peningggalan bersejarah adalah tanggung jawab saya Tugas mata pelajaran sejarah yang diberikan guru selalu saya kerjakan Jika guru menggunakan media atau multimedia 12. saya selalu serius mengikuti pembelajaran sejarah. S R 169 TS STS

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Saya selalu mengerjakan tugas yang diberikan 13. oleh guru tentang Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin dengan penuh semangat Saya merasa bangga akan bangsa dan negara 14. Indonesia setelah belajar tentang Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin 15. Dalam pendapat/argumen, saya selalu percaya diri Saya 16. menyatakan selalu memeriksa kesiapan sebelum mengikuti pelajaran sejarah pada pertemuan hari ini 17. 18. Saya akan selalu berjuang untuk meraih cita-cita dengan giat belajar Saya memaksa teman untuk mengerjakan tugas saya. Untuk mendapatkan nilai yang baik dalam 19. ulangan sejarah tentang saya berani bersaing secara positif dengan teman-teman 20. Saya tidak perlu memiliki kesadaran sepenuhnya untuk belajar sejarah Saya tidak memiliki tanggung jawab sebagai 21 seorang siswa yang harus belajar sejarah tentang Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin 22 23 Saya tidak disiplin dalam mengikuti pelajaran sejarah pada pertemuan hari ini Saya tidak serius dalam mengikuti pelajaran sejarah pada pertemuan hari ini Saya tidak semangat belajar sejarah pada masa 24 Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin jika guru tidak menggunakan media atau multimedia 25 Bagi saya belajar sejarah atau tidak, tidak 170

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mempengaruhi rasa cinta terhadap tanah air. 26 27 Saya tidak percaya diri jika menjawab pertanyaan dari guru Saya tidak teliti dalam belajar sejarah pada pertemuan hari ini Saya malas untuk mendapatkan nilai yang baik 28 selama mengikuti pelajaran sejarah dengan materi Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin 29 30 Di rumah saya tidak pernah mempelajari kembali materi yang telah disampaikan guru Dalam mengerjakan tugas pelajaran sejarah, saya hanya menyalin jawaban dari internet Saya tidak sadar bahwa pelajaran sejarah pada 31 masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin berguna bagi masa depan saya Rendahnya prestasi belajar sejarah saya pada 32 materi masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin bukanlah tanggung jawab saya 33 34 35 36 37 38 Saya selalu terlambat apabila mengumpulkan tugas mata pelajaran sejarah Saya meremehkan pelajaran sejarah karena tidak termasuk mata pelajaran yang penting Apabila mendapat nilai rendah saya putus asa dan semakin malas belajar Bagi saya mengunjungi situs-situs sejarah dan monumen-monumen sejarah tidaklah penting Dalam menyatakan pendapat atau argumen, saya selalu merasa minder dan hanya menuruti pendapat teman. Memeriksa kembali jawaban-jawaban soal yang diberikan guru mata pelajaran sejarah tidak pernah saya lakukan 171

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Saya enggan berusaha untuk menjadi siswa yang 39 berprestasi pada pertemuan ini dengan materi Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin 40 41 Saya malas ke perpustakaan untuk membaca buku-buku sejarah Saya mencontek jawaban teman dalam mengerjakan tugas sejarah Saya tidak berani menyatakan jawaban yang 42 benar, padahal saya tahu jawaban teman salah dalam pelajaran sejarah 43 Saya suka mencoret-coret dan merusak peninggalan atau situs-situs bersejarah Saya suka apabila mengikuti lomba karya ilmiah 44 dan debat sejarah baik tingkat rayon, regional atau nasional 172

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 173 Lampiran 14 KISI-KISI KUISIONER ASPEK COMPASSION SISWA PRA PENELITIAN No Aspek Compassion No. Pernyataan Positif Negatif Jumlah butir pernyataan Positif Negatif 1 Kerjasama 1,5,41 8,42,12 3 3 2 Penghargaan pada sesama 3,20 7,14 2 2 3 Kepedulian pada orang lain 2,13 11,25 2 2 15,50,39 19 3 1 10,26 37,40, 49 2 3 4 5 Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain Keterlibatan dalam kelompok 6 Kemauan untuk berbagi 24,38 6,27 2 2 7 Kerelaan untuk berkorban 31,36,44, 46 21,16,43 4 3 8 Kepedulian lingkungan 28,23,45 30,18 3 2 9 Menghargai perbedaan (multikultralisme) 32,9,48 29,33 3 2 10 Rasa hormat 22,35 34,47,17 2 3 Keterangan: Nomor item yang di blog merupakan nomor item yang tidak valid.

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 174 Lampiran 15 Kuesioner Compassion Pra Penelitian Petunjuk 1. Bacalah setiap pernyataan dalam kuesioner ini dengan teliti dan jawablah setiap pernyataan tersebut. 2. Berilah tanda centang ( √ ) pada salah satu pilihan saudara/i pada kolom yang tersedia. (STS) = Sangat Tidak Setuju ( TS ) = Tidak Setuju ( R ) = Ragu-Ragu (S) = Setuju (SS) = Sangat Setuju Contoh : Saya senang belajar sejarah SS S R TS STS √ 3. Bila saudara/i ingin memperbaiki jawaban, coret jawaban yang lama dengan dua garis lurus horizontal ( = ), kemudian beri tanda ( √ ) pada pilihan yang di anggap tepat. SS S R TS STS √ √ 4. Isilah dengan benar sesuai keadaan yang saudara/i alami, kuesioner ini tidak mempengaruhi penilaian akademik saudara/i. 5. Kuesioner ini harap dikembalikan pada peneliti jika sudah selesai mengerjakan. 6. Selamat mengerjakan dan terima kasih. Nama Siswa : Nama Sekolah : SMA Pangudi Luhur St. Louis IX, Sedayu Kelas : XI IPA 1 Jam ke : 5-6 Mata Pelajaran : Sejarah

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 175 No 1. Bentuk Pernyataan Saya bekerjasama dengan teman kelompok dalam menyelesaikan soal tentang materi Demokrasi Parlementer serta pengaruhnya bagi Indonesia 2. Saya ingin membantu orang lain yang kesusahan atau kesulitan belajar karena hal tersebut merupakan kewajiban setiap manusia 3. Saya selalu memberikan apresiasi kepada teman yang berhasil dan mendapatkan nilai yang baik 4. Saya akan menolong teman yang membutuhkan tanpa pamrih seperti para pahlawan 5. Saya merasa terbantu dalam mengerjakan tugas tentang Demokrasi Parlementer dengan bekerjasama dengan teman lain Menurut saya tidak perlu membagikan 6. kemampuan/kepintaran yang saya miliki pada teman-teman karena kemampuan/kepintaran tersebut saya miliki atas usaha sendiri 7. Memberikan apresiasi kepada teman yang mendapatkan nilai baik itu tidak perlu dilakukan karena tidak berpengaruh bagi saya 8. Saya tidak suka bekerjasama karena itu membuang-buang waktu dan pikiran 9. Saya menghormati dan menghargai orang yang berbeda suku, agama, bahasa dan status sosial. 10. Saya selalu aktif dalam setiap dinamika kelompok karena keaktifan bisa menambah pengetahuan 11. Bagi saya orang yang kesusahan atau kesulitan belajar adalah orang yang bodoh, oleh karena itu saya tidak perlu membantu 12. Kerjasama dengan teman dalam kelompok hanya menyusahkan diri sendiri, lebih baik saya bekerja sendiri SS S R TS STS

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22 23 24. 25. 26. Saya suka dengan kegiatan sosial karena mengasah kepedulian saya pada orang lain Saya tidak suka jika ada teman yang berbeda pendapat dengan saya menyangkut materi Demokrasi Parlementer Saya akan menolong teman yang membutuhkan tanpa diminta karena itu sudah menjadi kewajiban sebagai sesama Membeli buku sejarah bukan hal yang penting bagi saya karena membuang-buang uang Saya tidak suka melaksanakan perintah dari orang tua dan guru karena tidak ada imbalannya Lingkungan yang nyaman tidak membantu dalam proses belajar Menurut saya tidak perlu meminjamkan peralatan belajar (pulpen, buku, laptop dsb.) kepada teman yang membutuhkan atau tidak punya karena itu urusan mereka sendiri Saya bisa menghargai pendapat orang lain karena perbedaan pendapat semakin menambah ilmu dan pegalaman Bagi saya bermain lebih penting dan asyik daripada belajar, karena belajar sangat membosankan Menghormati merupakan hal yang penting karena berarti kita bisa bersikap sopan pada orang lain Menurut saya lingkungan yang nyaman bisa membantu proses belajar karena kita bisa merasa nyaman, senang dan semangat untuk belajar Jika saya merasa telah mengerti tentang materi Demokrasi Parlementer, saya akan membagi pengetahuan tersebut kepada teman agar mereka memahami materi tersebut Kegiatan sosial hanya membuang-buang waktu dan tidak ada manfaatnya Permasalahan dalam kelompok belajar harus diselesaikan bersama-sama supaya bisa menjadi ringan dan cepat terselesaikan 176

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27. Saya selalu menghabiskan uang jajan dan tidak pernah menyisihkannya 28. Saya selalu membuang sampah pada tempat sampah supaya lingkungan bersih dan sehat 29. Saya hanya berteman dengan orang yang cocok dengan saya supaya memudahkan untuk bergaul dan di ajak main 30. Bagi saya membuang sampah bisa dilakukan dimana saja karena nanti pasti ada yang membersihkannya 31. Saya selalu meluangkan waktu untuk belajar daripada bermain 32. Saya selalu berteman dengan siapa saja, karena membeda-bedakan teman itu tidak baik 33. Saya tidak suka dengan kelompok lain yang berbeda suku, agama, bahasa dan status sosial 34 Saling menghormati bukan hal yang penting bagi saya 35 Saya selalu mematuhi perintah guru dan orang tua 36 Saya rela berkorban menyisihkan uang untuk membeli buku sejarah 37 Menurut saya tidak perlu aktif dalam kelompok karena sudah ada teman lain yang aktif dan lebih mampu 38 Saya suka menyisihkan uang jajan untuk membantu orang miskin karena untuk meringankan beban mereka 39 Saya akan meminjamkan peralatan belajar (pulpen, buku, laptop dsb.) kepada teman yang membutuhkan atau tidak punya 40 Saya akan keluar dari kelompok belajar jika ada suatu permasalahan karena kelompok itu pasti akan menyusahkan 41 Kerjasama menjadikan saya lebih terbantu dalam belajar sejarah 42 Saya lebih suka mengerjakan soal sendiri dari pada berkelompok 43 Saya lebih suka membeli majalah fashion/otomotif daripada untuk membeli buku pelajaran sejarah 177

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 Untuk mengisi waktu luang biasanya saya gunakan untuk membaca buku-buku sejarah, buku pelajaran lain atau membaca koran Saya ingin merawat dan melestarikan tempat-tempat bersejarah seperti candi, museum, monumen dan lain-lain supaya tidak rusak dan bisa nyaman digunakan untuk belajar Sebagai warga negara yang baik kita harus rela berkorban untuk bangsa dan negara Saya hanya akan menghormati orang lain yang baik kepada saya Perbedaan dan multikulturalisme merupakan kekayaan bangsa yang perlu untuk dilestarikan dan dikembangkan karena bisa menambah pengalaman dan pengetahuan Jika ada tugas dalam kelompok saya malas untuk mengerjakannya karena itu bukan urusan saya Saya merasa iba jika ada teman yang kesulitan dalam pelajaran, pasti saya akan membantu teman tersebut supaya dapat menyelesaikan masalahnya 178

(198) Lampiran 16 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Nama AP AFK AS AWC APL BTP CPE CDS DC EGAP FRP FTR FND HVA KCH LAA LEY LDP MHF MRK PAS PL RC RMP RRR VDY VAC VW YBW BDT Total (X) rxy uji t s PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Analisis Validitas Kuesioner Compassion 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 4 4 4 4 5 4 4 5 5 4 1 1 4 4 5 5 4 4 3 4 3 4 4 4 4 4 2 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 2 4 4 4 3 4 4 3 3 4 5 5 5 5 4 1 2 5 5 4 3 4 3 4 4 4 5 5 3 5 4 1 1 4 5 3 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 2 4 4 4 4 4 5 4 4 4 5 4 4 4 5 1 1 5 4 5 5 4 4 4 5 5 5 5 5 5 4 1 1 5 5 5 4 4 4 3 3 4 5 5 5 5 4 2 2 4 4 3 4 3 3 4 3 3 2 4 3 3 4 3 3 4 3 3 3 4 4 4 5 5 5 5 5 5 4 1 1 5 5 5 4 4 4 4 4 4 2 4 5 5 4 2 1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 1 1 4 4 4 3 5 4 5 4 5 5 5 5 5 3 1 1 4 3 4 4 3 4 3 3 4 4 3 3 5 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 5 5 5 5 5 5 4 1 1 5 5 5 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4 4 1 1 5 3 4 4 2 3 2 2 2 3 3 2 1 2 4 4 3 2 2 2 5 4 5 4 5 5 5 5 5 3 1 1 4 3 4 3 5 5 4 5 5 5 4 4 5 5 1 1 5 4 5 3 3 4 3 3 4 4 3 3 5 3 3 3 4 3 3 5 4 4 4 4 4 3 2 4 4 4 2 2 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 2 4 4 4 4 5 3 4 5 5 5 3 5 5 4 1 1 5 4 4 3 5 5 4 5 5 5 4 4 5 5 1 1 5 4 5 3 4 4 4 4 4 5 5 4 5 5 2 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 5 5 4 2 1 4 4 4 4 4 4 3 4 5 5 5 5 5 4 2 1 5 5 4 5 4 4 3 4 4 3 3 4 4 4 1 1 5 3 4 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4 4 1 1 5 3 4 4 120 119 111 119 126 123 121 127 135 119 49 47 131 116 119 114 0.72 0.48 0.49 0.71 0.85 0.49 0.43 0.73 0.84 0.52 0.78 0.81 0.67 0.57 0.73 0.73 2.076 2.599 3.948 8.066 18.02 7.896 8.588 17.13 30.57 13.71 28.09 34.89 23.59 20.74 32.11 34.25 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 Ket: item yang diblok merupakan nomor item yang tidak valid

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Analisis Validitas Kuesioner Compassion 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 5 5 5 4 5 5 5 4 5 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 3 2 4 3 2 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 5 4 4 3 4 4 5 5 5 4 4 4 4 4 5 5 5 4 2 5 1 5 5 3 4 5 5 5 4 3 4 3 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 2 3 2 4 2 3 4 4 4 2 2 4 4 2 2 5 5 4 5 4 5 5 5 4 4 4 5 5 5 4 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 1 5 5 5 4 5 5 5 5 3 4 4 4 4 4 5 5 4 4 5 5 4 5 5 4 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 2 4 1 3 3 4 5 4 3 3 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 3 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 5 4 4 3 5 5 4 4 5 4 4 5 4 3 4 4 5 4 3 5 5 5 5 3 5 5 4 5 5 5 5 2 4 3 4 5 5 4 3 4 4 3 3 3 4 4 3 3 3 1 4 3 5 3 4 5 4 3 3 5 5 5 5 3 4 4 5 5 5 4 4 4 4 4 5 5 5 4 3 5 4 5 4 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 3 1 1 2 3 2 1 1 2 2 2 2 3 3 1 2 1 1 1 2 2 4 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 3 5 5 5 3 3 5 4 5 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 5 2 4 4 5 4 3 5 4 4 4 4 5 5 4 4 5 5 4 5 5 4 4 5 5 4 2 4 4 4 4 2 4 4 4 4 5 5 5 3 5 3 1 5 5 5 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 3 4 4 3 3 4 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 3 5 5 5 3 3 5 4 5 5 4 5 5 5 5 5 4 5 4 5 3 5 4 5 5 2 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 3 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 4 5 4 5 3 5 4 5 5 2 5 4 4 4 4 5 5 4 4 5 5 4 5 5 4 4 5 5 4 3 5 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 5 2 4 4 5 4 3 5 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 130 124 130 127 113 132 131 123 128 129 115 127 120 132 100 119 132 133 115 86 0.46 0.82 0.67 0.76 0.73 0.57 0.86 0.71 0.81 0.78 0.54 0.57 0.5 0.77 0.54 0.73 0.7 0.82 0.65 0.32 21.56 54.95 34.48 47.35 44.96 32.59 88.33 48.4 72.7 66.39 38.11 41.48 38.67 73.69 43.76 68.51 64.71 103.8 60.61 40.11 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.99 Ket: item yang diblok merupakan nomor item yang tidak valid

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Analisis Validitas Kuesioner Compassion 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Total 208 4 4 5 4 4 3 3 4 5 5 4 4 4 4 176 4 3 4 5 3 2 3 3 3 4 4 3 4 2 189 4 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 199 4 4 2 4 5 3 2 4 3 4 4 5 4 5 195 4 4 4 5 5 4 5 4 4 4 2 4 5 3 166 4 2 4 2 4 4 4 2 2 2 4 2 4 2 212 5 4 4 4 4 3 3 4 4 5 1 5 5 4 211 1 3 5 4 5 4 5 2 3 4 2 4 5 5 198 4 4 4 4 4 3 3 4 4 5 1 5 5 4 162 2 3 3 4 3 3 4 3 4 5 1 3 3 4 223 5 3 5 4 5 4 5 3 4 4 4 4 5 5 196 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 196 5 4 4 4 4 5 3 5 4 4 1 3 4 4 209 4 3 5 4 4 4 2 5 4 5 4 5 5 5 172 2 3 3 4 3 3 4 3 4 5 4 4 4 3 212 4 4 4 5 5 4 5 4 4 4 2 4 5 3 203 5 3 5 4 4 5 3 5 4 4 1 3 4 4 107 2 2 3 2 3 4 3 3 2 2 2 2 1 2 205 4 3 4 4 4 4 3 3 3 4 4 4 4 4 204 4 4 4 4 5 4 5 2 3 4 2 4 5 5 196 4 4 2 4 5 3 2 4 3 4 4 5 4 5 182 4 4 4 1 4 3 3 3 5 4 1 3 4 4 189 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 2 209 5 3 5 5 5 5 3 3 4 4 1 5 4 4 213 5 3 5 4 5 4 3 3 5 3 4 4 4 5 200 4 3 4 4 4 4 3 3 4 4 4 5 5 4 200 5 3 5 4 4 5 3 5 4 4 1 3 4 4 213 5 3 4 5 5 4 4 4 3 4 5 4 5 4 189 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 4 4 3 196 4 3 5 4 4 4 2 5 4 5 4 5 5 5 119 101 122 118 126 114 102 108 111 122 84 118 127 116 5830 0.54 0.42 0.47 0.54 0.69 0.2 0.09 0.23 0.44 0.44 0.1 0.62 0.82 0.62 52.23 46.14 50.06 56.47 78.26 43.75 43.35 46.46 55.8 57.04 47.47 77.97 149.6 81.22 0.995 0.995 0.995 0.995 0.995 0.95 0.75 0.95 0.995 0.995 0.9 0.995 0.995 0.995 Ket: item yang diblok merupakan nomor item yang tidak valid

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182 Lampiran 17 Kuesioner Compassion Awal dan Akhir Petunjuk 1. Bacalah setiap pernyataan dalam kuesioner ini dengan teliti dan jawablah setiap pernyataan tersebut. 2. Berilah tanda centang ( √ ) pada salah satu pilihan saudara/i pada kolom yang tersedia. (STS) = Sangat Tidak Setuju ( TS ) = Tidak Setuju ( R ) = Ragu-Ragu (S) = Setuju (SS) = Sangat Setuju Contoh : Saya senang belajar sejarah SS S R TS STS √ 3. Bila saudara/i ingin memperbaiki jawaban, coret jawaban yang lama dengan dua garis lurus horizontal ( = ), kemudian beri tanda ( √ ) pada pilihan yang di anggap tepat. SS S R TS STS √ √ 4. Isilah dengan benar sesuai keadaan yang saudara/i alami, kuesioner ini tidak mempengaruhi penilaian akademik saudara/i. 5. Kuesioner ini harap dikembalikan pada peneliti jika sudah selesai mengerjakan. 6. Selamat mengerjakan dan terima kasih. Nama Siswa : Nama Sekolah : SMA Pangudi Luhur St. Louis IX, Sedayu Kelas : XI IPA 1 Jam ke : 5-6 Mata Pelajaran : Sejarah

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183 No 1. Bentuk Pernyataan Saya bekerjasama dengan teman kelompok dalam menyelesaikan soal tentang materi Demokrasi Parlementer serta pengaruhnya bagi Indonesia 2. Saya ingin membantu orang lain yang kesusahan atau kesulitan belajar karena hal tersebut merupakan kewajiban setiap manusia 3. Saya selalu memberikan apresiasi kepada teman yang berhasil dan mendapatkan nilai yang baik 4. Saya akan menolong teman yang membutuhkan tanpa pamrih seperti para pahlawan 5. Saya merasa terbantu dalam mengerjakan tugas tentang Demokrasi Parlementer dengan bekerjasama dengan teman lain Menurut saya tidak perlu membagikan 6. kemampuan/kepintaran yang saya miliki pada teman-teman karena kemampuan/kepintaran tersebut saya miliki atas usaha sendiri 7. Memberikan apresiasi kepada teman yang mendapatkan nilai baik itu tidak perlu dilakukan karena tidak berpengaruh bagi saya 8. Saya tidak suka bekerjasama karena itu membuang-buang waktu dan pikiran 9. Saya menghormati dan menghargai orang yang berbeda suku, agama, bahasa dan status sosial. 10. Saya selalu aktif dalam setiap dinamika kelompok karena keaktifan bisa menambah pengetahuan 11. Bagi saya orang yang kesusahan atau kesulitan belajar adalah orang yang bodoh, oleh karena itu saya tidak perlu membantu 12. Kerjasama dengan teman dalam kelompok hanya menyusahkan diri sendiri, lebih baik saya bekerja sendiri SS S R TS STS

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22 23 24. 25. 26. Saya suka dengan kegiatan sosial karena mengasah kepedulian saya pada orang lain Saya tidak suka jika ada teman yang berbeda pendapat dengan saya menyangkut materi Demokrasi Parlementer Saya akan menolong teman yang membutuhkan tanpa diminta karena itu sudah menjadi kewajiban sebagai sesama Membeli buku sejarah bukan hal yang penting bagi saya karena membuang-buang uang Saya tidak suka melaksanakan perintah dari orang tua dan guru karena tidak ada imbalannya Lingkungan yang nyaman tidak membantu dalam proses belajar Menurut saya tidak perlu meminjamkan peralatan belajar (pulpen, buku, laptop dsb.) kepada teman yang membutuhkan atau tidak punya karena itu urusan mereka sendiri Saya bisa menghargai pendapat orang lain karena perbedaan pendapat semakin menambah ilmu dan pegalaman Bagi saya bermain lebih penting dan asyik daripada belajar, karena belajar sangat membosankan Menghormati merupakan hal yang penting karena berarti kita bisa bersikap sopan pada orang lain Menurut saya lingkungan yang nyaman bisa membantu proses belajar karena kita bisa merasa nyaman, senang dan semangat untuk belajar Jika saya merasa telah mengerti tentang materi Demokrasi Parlementer, saya akan membagi pengetahuan tersebut kepada teman agar mereka memahami materi tersebut Kegiatan sosial hanya membuang-buang waktu dan tidak ada manfaatnya Permasalahan dalam kelompok belajar harus diselesaikan bersama-sama supaya bisa menjadi ringan dan cepat terselesaikan 184

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27. Saya selalu menghabiskan uang jajan dan tidak pernah menyisihkannya 28. Saya selalu membuang sampah pada tempat sampah supaya lingkungan bersih dan sehat 29. Saya hanya berteman dengan orang yang cocok dengan saya supaya memudahkan untuk bergaul dan di ajak main 30. Bagi saya membuang sampah bisa dilakukan dimana saja karena nanti pasti ada yang membersihkannya 31. Saya selalu meluangkan waktu untuk belajar daripada bermain 32. Saya selalu berteman dengan siapa saja, karena membeda-bedakan teman itu tidak baik 33. Saya tidak suka dengan kelompok lain yang berbeda suku, agama, bahasa dan status sosial 34 Saling menghormati bukan hal yang penting bagi saya 35 Saya selalu mematuhi perintah guru dan orang tua 36 Saya rela berkorban menyisihkan uang untuk membeli buku sejarah 37 Menurut saya tidak perlu aktif dalam kelompok karena sudah ada teman lain yang aktif dan lebih mampu 38 Saya suka menyisihkan uang jajan untuk membantu orang miskin karena untuk meringankan beban mereka 39 Saya akan meminjamkan peralatan belajar (pulpen, buku, laptop dsb.) kepada teman yang membutuhkan atau tidak punya 40 Saya akan keluar dari kelompok belajar jika ada suatu permasalahan karena kelompok itu pasti akan menyusahkan 41 Kerjasama menjadikan saya lebih terbantu dalam belajar sejarah 42 Saya lebih suka membeli majalah fashion/otomotif daripada untuk membeli buku pelajaran sejarah 43 Untuk mengisi waktu luang biasanya saya gunakan untuk membaca buku-buku 185

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 45 46 47 48 sejarah, buku pelajaran lain atau membaca koran Saya ingin merawat dan melestarikan tempat-tempat bersejarah seperti candi, museum, monumen dan lain-lain supaya tidak rusak dan bisa nyaman digunakan untuk belajar Sebagai warga negara yang baik kita harus rela berkorban untuk bangsa dan negara Perbedaan dan multikulturalisme merupakan kekayaan bangsa yang perlu untuk dilestarikan dan dikembangkan karena bisa menambah pengalaman dan pengetahuan Jika ada tugas dalam kelompok saya malas untuk mengerjakannya karena itu bukan urusan saya Saya merasa iba jika ada teman yang kesulitan dalam pelajaran, pasti saya akan membantu teman tersebut supaya dapat menyelesaikan masalahnya 186

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187 Lampiran 18 Nama Sekolah Kelas / Semester Mata Pelajaran Tahun Pelajaran Jumlah Soal Alokasi Waktu KISI-KISI ULANGAN HARIAN SIKLUS 1 : SMA Pangudi Luhur St.Louis IX Sedayu : XI IPA 1/ 2 : Sejarah : 2012 / 2013 : 20 soal PG, 2 Soal Essay : 1 x 45 Menit Standar Kompetensi : Merekonstruksi perjuangan bangsa Indonesia sejak masa proklamasi hingga lahirnya Orde Baru No. 1. Kompetensi Dasar Indikator Soal Merekonstruksi perkembangan a. Produk masyarakat Indonesia sejak ƒ Mendeskripsikan perkembangan masyarakat proklamasi hingga Demokrasi Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer Terpimpin b. Proses 1) Menganalisis sistem multi partai di Indonesia 2) Menganalisis pemerintahan kabinet-kabinet pada masa Demokrasi Parlementer 3) Pemilu 1955 4) Menganalisis kebijakan ekonomi nasional masa Demokrasi Parlementer 5) Menganalisis Pergolakan dalam negri Jumlah Soal Nomor soal 1 1 5 2 2 2,3,4,8 1(essay) 5, 10 6, 18 9, 12, 13 3 4 14, 15, 16, 17

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188 6) Menganalisis Masa Demokrasi Terpimpin 7) Menganalisis perjuangan merebut kembali Irian Barat 3 2 7, 19, 20 11, 2 (essay)

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran n 19 Ulangan U Haarian Sejaraah Nama : Kelas K XI Prrogram IPA A1 SMA S Pangu udi Luhur S St Louis IX Sedayu S No : 1. M Masa Demokrasi Parlem menter berlanngsung padaa tahun… d. 19550-1965 a. 19455-1950 b. 19455-1959 e. 19559-1965 c. 19500-1959 2. Kabinet K perttama pada masa m Demokrrasi Parlemeenter adalah… … a. Kabiinet Sukiman n b. Kabiinet Natsir c. Kabiinet Ali d. Kabiinet Wilopo e. Kabiinet Juanda 3. Pemilihan P um mum pertam ma di Indonesia terjadi paada masa peemerintahaann… a. Kabiinet Ali I b. Kabiinet Wilopo c. Kabiinet Juanda d. Kabiinet Ali II e. Kabiinet Burhanuudin 4. Salah S satu kendala yang g dihadapi Kaabinet Ali III adalah… a. Mem mudarnya kep percayaan raakyat terhadaap pemerintaah. b. Keaddaan ekonom mi yang semaakin membuuruk. c. Terjaadi defisit kaas Negara. d. Terjaadi perpecahhan antara PN NI dan Masy yumi e. Perisstiwa 17 Okttober 1952 5. Kabinet K yan ng diisi oleh kalangan k proofessional/ah hli di bidanggnya adalah… … a. Zakeen Kabinet b. Zekaan Kabinet c. Kazeen Kabinet d. Form matur Kabineet e. Dem misioner Kabiinet 6. Pemilu P pertaama kali dilaaksanakan paada… a. 26 Seeptember 19955 b. 29 Seeptember 19955 c. 29 Seeptember 19959 d. 26 Seeptember 19959 e. 29 Seeptember 19995 189

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 190 7. Berakirnya masa kerja konstituante ditandai dengan.. a. Penetapan presiden b. Tap MPRS no 1/1960 c. Dikeluarkanya dekrit Presiden d. Peraturan pemerintah e. Penetapan Preseiden No 13 tahun 1959 8. Sistem multipartai yang merupakan dampak Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945 mendorong lahirnya sistem demokrasi …. a. Liberal d. Terpimpin b. Sosialis e. Pancasila c. Komunis 9. Sistem ekonomi Gerakan Benteng dikemukakan oleh Sumitro pada masa kabinet .. a. Burhanuddin b. Wilopo c. Sukiman d. Ali I e. Natsir 10. Prestasi puncak yang dicapai oleh Kabinet Ali I adalah … a. Menyelenggarakan pemilu b. Penentuan landas kontinen c. Menandatangani MSA d. Menyelenggarakan KAA e. Perjuangan Irian Barat 11. Konfrontasi yang dilakukan RI dalam perjuangan pembebasan Irian Barat terhadap Belanda pada massa Kabinet Burhanudin, antara lain dengan … a. Pemutusan hubungan ekonomi dengan Belanda b. Pemusnahan asset-aset Belanda yang ada di Indonesia c. Pembekuan kekayaan Belanda d. Pemutusan hubungan Uni Indonesia-Belanda e. Pengambilalihan asset-aset Belanda yg ada di Indonesia 12. Mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional, merupakan program dari kebijakan... a. Gunting Syafruddin b. Nasionalisasi de Javasche Bank c. Sistem Ekonomi Alli-Baba d. Persaingan Finansial Ekonomi e. Ekonomi Gerakan Benteng

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. Sistem Ekonomi Alli-Baba diprakarsai oleh.. a. Sumitro Joyohadikusmo b. Iskaq Cokroadisuryo c. Anak Agung Gede Agung d. Syafruddin Prawiranegara e. Burhanuddin Harahap 14. Operasi yang dilakukan untuk menumpas DI/TII di Jawa Tengah adalah… a. Operasi Banteng Negara b. Operasi Pagar Betis c. Operasi 17 Agustus d. Operasi Dwikora e. Operasi Malari 15. Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat akibat ketentuan dari perundingan… a. Room Royen b. Konferensi Meja Bundar c. Renville d. Versailles e. Linggarjati 16. Pemberontakan Andi Aziz terjadi di… a. Sulawesi b. Kalimantan c. Maluku d. Jawa e. Sumatra 17. KNIL adalah singkatan dari… a. Koninklijke Nederlands-India Leger b. Koninklijke Nederlands-India Loyalite c. Koninklijke Nederlands-Indische Loyalite d. Koninklijke Nederlands-Indische Leger e. Koninklijke Nederlands-Indonesia Leger 18. Pemilu 1 tahun 1955 sebagai pengumpul suara terbanyak adalah partai .. a. PNI b. PKI c. Masyumi d. NU e. PSII 191

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192 19. Dekrit Presiden dikeluarkan oleh Soekarno pada… a. 5 Juli 1955 b. 5 Juli 1959 c. 5 Juli 1965 d. 5 Juni 1959 e. 5 Juni 1955 20. Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden oleh Soekarno, menandakan Indonesia memasuki masa… a. Orde Baru b. Reformasi c. Demokrasi Pancasila d. Demokrasi Liberal e. Demokrasi Terpimpin II. Jawablah pertanyaan ini dengan jelas ! 1. Tuliskanlah sisi positif dan negative dari Sistem Multipartai di Indonesia ! (5 poin) 2. Apakah yang dimaksud dengan Operasi Pagar Betis ? (5 poin) Jawab: ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………..…………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 193 Lampiran 20 Nama Sekolah Kelas / Semester Mata Pelajaran Tahun Pelajaran Jumlah Soal Alokasi Waktu KISI-KISI ULANGAN HARIAN : SMA Pangudi Luhur St.Louis IX Sedayu : XI IPA 1/ 2 : Sejarah : 2012 / 2013 : 25 soal PG, 3 Soal Essay : 1 x 45 Menit Standar Kompetensi : Merekonstruksi perjuangan bangsa Indonesia sejak masa proklamasi hingga lahirnya Orde Baru No. 1. Kompetensi Dasar Indikator Soal Merekonstruksi perkembangan masyarakat Indonesia sejak a. Produk proklamasi hingga Demokrasi ƒ Mendeskripsikan perkembangan masyarakat Indonesia pada masa Demokrasi Parlementer Terpimpin b. Proses 1) Menganalisis sistem multi partai di Indonesia Jumlah Soal 4 2 2) Menganalisis pemerintahan kabinet-kabinet pada masa Demokrasi Parlementer 5 3) Menganalisis kebijakan ekonomi nasional masa Demokrasi Parlementer 4 Nomor soal 1 11 12 15 14 3(essay) 3 6 10 24 5 7 18

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 194 21 4) Menganalisis Pergolakan dalam negri 3 5) Menganalisis Masa Demokrasi Terpimpin 6) Menganalisis perjuangan merebut kembali Irian Barat 4 6 2 8 9 4 16 25 1 (essay) 13 17 19 22 23 2 (essay)

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 195 n 21 Lampiran Ulangan Harian Sejarah Kelas XII Program IPA 1 Nama : SMA Pan ngudi Luhu ur St Louis IX I No : Sedayu B tanda (X) padaa jawaban yyang paling tepat ! I. Berilah ( poin) (25 1. Sistem S Dem mokrasi Liberral yang pernnah diterapk kan di Indoneesia membaw wa dampak s sebagai berik kut, kecuali… … a. Partaai politik yan ng saling meenguasai b. Terjaadi korupsi diberbagai d bidang c. Kerjaa kabinet yang tidak makksimal d. Pemeerintahan tid dak stabil e. Kabiinet yang serring bergantii-ganti 2. Tujuan T dari Pemberontaakan PRRI/Permesta adaalah… mbentuk negaara tandingaan a. Mem b. Menjjatuhkan pem merintahan ppusat c. Mengembalikan bagian negaara jajahan Belanda B d. Menuuntut keadilan dari pemeerintah pusaat e. Ingin n melepaskan n diri dari peemerintah pu usat 3. Prestasi P pun ncak yang diccapai oleh K Kabinet Ali I adalah … a. Meny yelenggarakkan pemilu b. Peneentuan landas kontinen c. Menaandatangani MSA d. Perju uangan Iriann Barat e. Meny yelenggarakkan KAA 4. Latar L belakaang dikeluarkkannya Dekrrit Presiden 5 Juli 1959 aadalah.. a. Parleemen terlalu kuat b. Dom minasi PKI c. Konsstituante belu um berhasil membuat koonstitusi baru ru d. Kehiidupan ekonomi Indonessia terbengkaalai e. Instaabilitas dalam m bidang pollitik

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 196 5. Sistem ekonomi Alli-Baba pada masa Kabinet Ali I diupayakan dengan tujuan… a. Memajukan pengusaha pribumi b. Mengajukan pengusaha asing c. Meningkatkan peranan pengusaha asing dengan pribumi d. Meningkatkan hubungan perdagangan dengan Belanda e. Meningkatkan hubungan dagang dengan Cina 6. Kabinet pertama pada masa Demokrasi Parlementer adalah… a. Kabinet Sukiman d. Kabinet Wilopo b. Kabinet Natsir e. Kabinet Juanda c. Kabinet Ali 7. Mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional, merupakan program dari kebijakan... a. Gunting Syafruddin b. Nasionalisasi de Javasche Bank c. Sistem Ekonomi Alli-Baba d. Persaingan Finansial Ekonomi e. Ekonomi Gerakan Benteng 8. Pemberontakan Andi Aziz terjadi di… a. Makasar d. Palu b. Manado e. Banjarmasin c. Ujung Pandang 9. Operasi yang dilakukan untuk menumpas DI/TII di Jawa Tengah adalah… a. Operasi Pagar Betis b. Operasi 17 Agustus c. Operasi Banteng Negara d. Operasi Dwikora e. Operasi Malari 10. Salah satu kendala yang dihadapi Kabinet Ali II adalah… a. Memudarnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. b. Keadaan ekonomi yang semakin memburuk. c. Terjadi defisit kas Negara. d. Terjadi perpecahan antara PNI dan Masyumi

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 197 e. Peristiwa 17 Oktober 1952 11. Pemilihan umum pertama di Indonesia terjadi pada masa pemerintahaan… a. Kabinet Ali I d. Kabinet Burhanudin b. Kabinet Ali II e. Kabinet Juanda c. Kabinet Wilopo 12. Masa Demokrasi Parlementer berlangsung pada tahun… a. 1945-1950 d. 1950-1965 b. 1945-1959 e. 1959-1965 c. 1950-1959 13. Konfrontasi yang dilakukan RI dalam perjuangan pembebasan Irian Barat terhadap Belanda pada massa Kabinet Burhanudin, antara lain dengan … a. Pemutusan hubungan ekonomi dengan Belanda b. Pemusnahan asset-aset Belanda yang ada di Indonesia c. Pengambilalihan asset-aset Belanda yg ada di Indonesia d. Pembekuan kekayaan Belanda e. Pemutusan hubungan Uni Indonesia-Belanda 14. Sistem multipartai yang merupakan dampak Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945 mendorong lahirnya sistem demokrasi …. a. Liberal d. Terpimpin b. Sosialis e. Pancasila c. Komunis 15. Pada masa pemerintahan Demokrasi Liberal, pemerintah Indonesia mengalami ketidakstabilan dan pemerintah sering terganggu. Hal ini terbukti dengan adanya… a. Banyak terjadi korupsi b. Gerakan separatisme c. Munculnya faham-faham baru d. Munculnya partai politik baru e. Defisit keuangan Negara

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 198 16. Konstituante hasil Pemilu 1955 gagal menjalankan tugasnya untuk membuat Undang-Undang Dasar Baru. Hal tersebut dikarenakan… a. Pertentangan antara partai politik yang ada dalam Konstituante b. Rasa tidak puas dari partai politik terhadap kinerja Konstituante c. Adanya campur tangan dari pihak komunis untuk menggagalkan pembuatan Undang-Undang Dasar Baru d. Kondisi politik dan keamanan Indonesia yang sangat labil e. Kurang tegasnya peraturan dalam konstituante terhadap anggotanya 17. Langkah pertama yang ditempuh pemerintah RI dalam rangka pembebasan Irian Barat adalah … a. Memutuskan hubungan Uni Indonesia-Belanda b. Menempuh jalur diplomasi liberal c. Memutuskan hubungan diplomatic d. Mengambilalih semua asset Belanda yang ada di Indonesia e. Menempuh konfrontasi militer melalui Trikora 18. Sistem ekonomi Gerakan Benteng dikemukakan oleh Sumitro pada masa kabinet .. a. Burhanuddin d. Ali I b. Wilopo e. Natsir c. Sukiman 19. Pencanangan Trikora dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat bertepatan dengan tanggal 19 Desember 1961 mempunyai tujuan … a. Memberikan pukulan psikologis terhadap Belanda yang telah melakukan agresi militer b. Untuk memudahkan membangkitkan sentimen anti Belanda c. Untuk lebih menekan Belanda agar segera menyerahkan Irian Barat d. Agar PBB tahu bahwa Indonesia tidak main-main dalam upaya membebaskan Irian Barat e. Agar Belanda bersedia menerima Perjanjian New York

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 199 20. Kabinet pertama pada masa Demokrasi Parlementer adalah… a. Kabinet Sukiman d. Kabinet Wilopo b. Kabinet Natsir e. Kabinet Juanda c. Kabinet Ali 21. Sistem Ekonomi Alli-Baba pada masa cabinet Ali I diprakarsai oleh.. a. Sumitro Joyohadikusmo b. Burhanuddin Harahap c. Anak Agung Gede Agung d. Iskaq Cokroadisuryo e. Syafruddin Prawiranegara 22. Tokoh yang gugur dalam pertempuran di Laut Aru adalah… a. A.H. Nasution d. Leo Wattimena b. Yos Sudarso e. Ahmad Yani c. Achmad Taher 23. Yang dimaksud daerah bebas de facto sebagaimana yang menjadi target fase infiltrasi operasi pembebasan Irian Barat, adalah … a. Daerah sekitar Merauke,Soekarno puro,Teminabuan,dll b. Daerah dimana disitu merupakan basis kekuatan Belanda c. Daerah yang secara nyata bebas dari kekuasaan Belanda d. Daerah yang akan menjadi sasaran serangan terbuka pasukan Indonesia e. Sasaran-sasaran tertentu yg digunakan sebagai pijakan pasukan Indonesia 24. Kabinet yang diisi oleh kalangan professional/ahli di bidangnya adalah… a. Zekan Kabinet b. Zaken Kabinet c. Kazen Kabinet d. Formatur Kabinet e. Demisioner Kabinet 25. Pencetus ajaran Nasakom adalah… a. Moh. Yamin d. PKI b. Soekarno e. Ir. Juanda c. Soeharto

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 200 II. Jawablah pertanyaan ini dengan jelas ! 1. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang Dekrit Presiden 5 Juli 1959! (5 poin) 2. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang Trikora ! (5 poin) 3. Buatlah analisis tentang sisi positif dan negative dari Sistem Multipartai di Indonesia ! (5 poin) Jawab: ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………..……………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………..……… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………..……………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………..……………………………………………… ………………………………………………………………………………………

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 22 201 Foto Kegiatan Penelitian Suasana belajar mengajar di kelas

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kegiatan diskusi kelompok membuat mind mapping Presentasi mind mapping 202

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kegiatan Kuis TTS 203

(223)

Dokumen baru

Download (222 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Implementasi paradigma pedagogi reflektif dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion mahasiswa.
1
1
11
Implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 2 Ngaglik.
0
4
277
Peningkatan prestasi belajar sejarah melalui model group investigation pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu tahun ajaran 2013/2014.
0
1
165
Penerapan paradigma pedagogi reflektif dalam pembelajaran materi fungsi konsumsi dan tabungan untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa kelas X SMA Pangudi Luhur St.Louis IX Sedayu.
0
1
196
Penerapan paradigma pedagogi reflektif dalam pembelajaran materi fungsi konsumsi dan tabungan untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa kelas X2 SMA Pangudi Luhur Yogyakarta.
0
0
223
Penerapan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) dalam pembelajaran materi pendapatan nasional untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa kelas XC SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu.
0
14
256
Peningkatan prestasi belajar sejarah melalui model group investigation pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu tahun ajaran 2013 2014
0
1
163
Penerapan paradigma pedagogi reflektif dalam pembelajaran materi fungsi konsumsi dan tabungan untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa kelas X SMA Pangudi Luhur St.Louis IX Sedayu
0
3
194
Penerapan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) dalam pembelajaran materi pendapatan nasional untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa kelas XC SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu - USD Repository
0
0
254
Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar sejarah melalui model pembelajaran kooperatif tipe Number Heads Together (NHT) pada siswa kelas X-D SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu - USD Repository
0
0
257
Penerapan paradigma pedagogi reflektif pada pembelajaran materi indeks harga dan inflasi untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa kelas X SMA Pangudi Luhur Santo Louis IX Sedayu - USD Repository
0
0
204
Implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa kelas XI IPA 2 SMA Pangudi Luhur St. Louis IX Sedayu - USD Repository
0
0
271
Implementasi pembelajaran sejarah berbasis pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia untuk meningkatkan competence, conscience dan compasion siswa kelas XI IPS 1 SMA Negeri 11 Yogyakarta - USD Repository
0
0
250
Implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 2 Ngaglik - USD Repository
0
0
262
Implementasi pembelajaran sejarah berbasis paradigma pedagogi reflektif melalui pemanfaatan multimedia untuk meningkatkan competence, conscience, dan compassion siswa kelas XB SMA Taman Madya Ibu Pawiyatan Yogyakarta - USD Repository
0
0
221
Show more