Tradisi wiwitan masyarakat Jawa di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta : kajian mitos, ritus, makna dan fungsi - USD Repository

Gratis

0
0
116
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI TRADISI WIWITAN MASYARAKAT JAWA DI DUSUN MUNDU, CATURTUNGGAL, DEPOK, SLEMAN, YOGYAKARTA: KAJIAN MITOS, RITUS, MAKNA DAN FUNGSI Tugas Akhir Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia Oleh Utami Apriani NIM 09 4114 014 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13) Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa (Roma 12:12) Barangsiapa yang tidak pernah melakukan kesalahan, maka dia tidak pernah mencoba sesuatu yang baru (Albert Einstein) Belajarlah dari masa lalu, hiduplah untuk masa depan. Yang terpenting adalah tidak berhenti bertanya (Albert Einstein) vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Tanda terima kasih kupersembahkan untuk: orang tuaku, kakak dan adikku, serta teman-teman seperjuangan vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan kasihnya untuk menuntun penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul “Tradisi Wiwitan Masyarakat Jawa di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta: Kajian Mitos, Ritus, Makna dan Fungsi” ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sastra pada Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis sadar dalam penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., selaku pembimbing I penulis dalam menyusun skripsi ini yang telah memberikan bimbingan, motivasi, dan nasihat kepada penulis. 2. Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum. selaku pembimbing II, atas bimbingan dan nasihat yang telah diberikan kepada penulis. 3. Bapak dan Ibu dosen Sastra Indonesia, Fr. Tjandrasih Adji, M.Hum., Drs. Hery Antono, M.Hum., Drs. B. Rahmanto, M.Hum., Dr. Paulus Ari Subagyo, M.Hum., S.E. Peni Adji, S.S, M.Hum., dan Drs. F.X. Santosa, M.S., serta dosen-dosen pengampu mata kuliah tertentu yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, atas bimbingan yang diberikan kepada penulis untuk menimba ilmu di Program Studi Sastra Indonesia. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Staf Sekretariat Fakultas Sastra yang membantu penulis untuk memperoleh informasi akademik selama menjalani studi. 5. Staf Perpustakaan Universitas Sanata Dharmayang membantu penulis dalam menyediakan buku-buku yang berguna bagi pengerjaan skripsi ini. 6. Kedua orang tuaku (Bapak Sihono dan Ibu Rajiyem), kedua kakakku (andi Haryanto dan Edi Hermantaka) dan adikku Andang Indarto terima kasih atas kasih sayang, doa, dan dukungan yang tak ada habisnya diberikan kepada penulis. 7. Teman-teman Sastra Indonesia angkatan 2009, terima kasih atas kebersamaannya dari awal perkuliahan sampai sekarang ini. 8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kata sempurna yang merupakan tanggung jawab penulis. Masih ada beberapa hal yang perlu diteliti lebih lanjut pada penelitian selanjutnya. Semoga karya sederhana ini bermanfaat bagi pembaca. Yogyakarta, 17 Juli 2014 Utami Apriani ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Apriani, Utami. 2014, “Tradisi Wiwitan Masyarakat Jawa di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta: Kajian Mitos, Ritus, Makna dan Fungsi”. Skripsi Srata 1 (S1). Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra. Universitas Sanata Dharma. Skripsi ini membahas tradisi Wiwitan dari segi kajian mitos, ritus, makna dan fungsi bagi masyarakat di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Studi ini memiliki tiga tujuan, yakni (1) menjelaskan dan mengungkap kajian struktural mitos Dewi Sri yang melatarbelakangi upacara Wiwitan dalam masyarakat Jawa di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta, (2) mendeskripsikan proses dan makna upacara Wiwitan di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta, (3) mendeskripsikan fungsi yang terkandung dalam upacara Wiwitan bagi masyarakat di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah pendekatan folklor. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini sebagai landasan referensi adalah kajian mitos, ritus, makna dan fungsi. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan empat teknik pengumpulan data yaitu pengamatan (observasi), wawancara, kepustakaan, dan dokumentasi. Teknik dokumentasi digunakan untuk mendokumentasikan hasil wawancara yang kemudian disajikan dalam pembahasan. Hasil penelitian upacara Wiwitan di Dusun Mundu ini menunjukan beberapa hal berikut. (1) Kajian struktural mitos Dewi Sri yang melatarbelakangi upacara Wiwitan. Di dalam masyarakat Dusun Mundu ada dua versi mitos Dewi Sri yang dipercaya. Teks pertama diambil dari buku yang berjudul Falsafah Hidup Jawa (Endraswara, 2010: 203-204), sedangkan teks kedua diambil dari hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan narasumber Bapak Sihono pada tanggal 3 Desember 2013. Dari kajian struktural kedua mitos tersebut, dapat disimpulkan bahwa mitos Dewi Sri yang dipercaya sebagai dewi tanah, dewi padi dan dewi sawah memiliki pola aktansial yang sama. Hal ini membuktikan bahwa struktur mitos Dewi Sri dapat bertahan terhadap perubahan zaman. (2) Ada tiga tahap proses pelaksanaan ritual Wiwitan yang dipimpin Mbah Kaum, yaitu pertama, tahap persiapan. Dalam tahap ini pemilik sawah memilih dan menentukan hari pelaksanaan upacara Wiwitan dan mempersiapkan sesaji serta peralatan yang akan digunakan. Dalam tahap ini terdapat makna kegiatan yaitu dalam pemilihan hari yang menghindari tanggal 1 Sura dan hari geblak orang tua, x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI anak, dan pasangan hidup memiliki maksud bahwa jika melakukan kegiatan pada hari tersebut dipercaya hasil panen akan gagal, karena hari-hari tersebut seharusnya digunakan untuk berdoa. Kedua, tahap pelaksanaan inti ritual. Pada tahap ini pemilik sawah mengundang pemimpin adat yang disebut Mbah Kaum untuk memimpin upacara dan membacakan doa yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Dewi Sri. Kemudian ia memetik sedikit padi yang nantinya akan dibawa pulang pemilik sawah yang disebut mantenan atau mboyong mbok Sri. Ketiga, Tahap Pascaritual, pada tahap ini pemilik sawah membagikan nasi wiwitan kepada tetangga yang ikut hadir di sawah. Kemudian pemilik sawah membuang kotosan di tepi atau sudut-sudut sawah atau disebut ngguwaki di sawah. Namun, jika nasi wiwitan masih tersisa, nasi wiwitan bisa juga dibagikan kepada orang yang ditemui ketika perjalanan pulang atau dibagikan kepada tetangga di dekat rumah pemilik sawah. (3) Ada empat fungsi upacara Wiwitan bagi masyarakat di Dusun Mundu yang mencakup tentang (i) fungsi magis sebagai sarana masyarakat menghargai roh leluhur dan percaya dengan roh halus (ii) fungsi religius sebagai sarana masyarakat Jawa memuja Tuhan, (iii) fungsi faktitif sebagai sarana masyarakat Jawa menghargai sesama, dan (iv) fungsi intensifikasi sebagai sarana masyarakat Jawa menghargai alam. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Apriani, Utami. 2014, "Javanese Wiwitan Tradition in Mundu Hamlet, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta: A Study of Its Myths, Rites, Significances and Functions". Undergraduate Thesis (Bachelor Degree). Indonesian Literature Study Program, Faculty of Letters. Sanata Dharma University This thesis discusses Wiwitan tradition in terms of the study of its myths, rites, significances, and functions for people in the hamlet of Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. This study has three objectives, namely (1) to explain and unravel the structural studies of the myths of Dewi (Goddess) Sri behind Wiwitan ceremony in Javanese community in Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta, (2) to describe the process and significance of Wiwitan ceremony in Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta, (3) to describe the functions contained in Wiwitan ceremony for people in Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. The approach used in this study is folklore approach. The foundation of the theory used in this study as a reference foundation is the study of myths, rites, significances and functions. This study uses ethnographic methods with four data collection techniques, namely observation, interviews, literature, and documentation. Documentation techniques are used to document the results of the interviews, which are presented in the discussion. The results of Wiwitan ceremony study shows the followings; (1) The structural study of Dewi Sri myth underlies Wiwitan ceremony. In Mundu society, there are two believed versions of Dewi Sri myth. The first version is taken from a book entitled Falsafah Hidup Jawa (The Philosophy of Javanese Life) (Endraswara, 2010: 203-204), while the second version is taken from the interviews conducted by the writer of the thesis on December 3, 2013, with Mr. Sihono as the informant. From the structural study of the both myths, it can be concluded that Dewi Sri is believed to be the goddess of the land, the goddess of rice field and paddy, which has the same actantial pattern. This proves that the myth of Dewi Sri structure can withstand the changing times. (2) There are three stages of the implementation process of Wiwitan rituals led by Mbah Kaum (the indigenous leader). The first stage is the preparation stage. In this stage, the owner of the rice field selects and specifies the day of the Wiwitan ceremony and prepares the offerings and equipments to be used. In this stage, there is significance in selecting the activities, which is avoiding the first Sura day and the geblak day (the death date) of their parents, children, and spouses. If they still conduct the activities on those days, it is believed the crops will fail because those days are supposed to be used for sending prayers. The second stage is the implementation stage of the ritual core. In this stage, the rice field owner invites xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI the indigenous leader called Mbah Kaum to lead the ceremonies and prayers addressed to Almighty God and Dewi Sri. Then he plucks a bit of paddy that will be taken home by the rice field owner, which is called mantenan or mboyong mbok Sri. The last stage is the post-ritual stage. In this stage, the owner of the rice field distributes wiwitan rice to the neighbors who are present in the rice field. Then the owner of the rice field throws kotosan (a type of leaf) away in the corners or edges of the fields, which is called ngguwaki in the fields. However, if the wiwitan rice still remains, it can also be given to people encountered on the way home or to the neighbors living near the rice field owner's house. (3) There are four functions of Wiwitan ceremony for people in the hamlet of Mundu which includes (i) magical function as a means of public respect and trust with the ancestral spirits, (ii) religious function as a means of worshiping God for Javanese society, (iii) factitive function as a means of respecting others for Javanese society, and (iv) intensification function as a means of appreciating nature for Javanese society. xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISTILAH Ani-ani : alat tradisional dengan ukuran genggaman tangan dan berfungsi untuk mengetam padi yang terbuat dari pisau yang dijepit kayu dan bambu Cabe : bukan cabai tetapi semacam rempah yang rasanya pedas. Duit seketheng : dua uang logam untuk sesaji. Empon-empon : sesaji yang berupa sirih, tembakau, kapur sirih, dan gambir. Galengan : jalur pembatas petak sawah. Geblak : hari kematian Gereh pethek : ikan asin semacam teri tetapi bentuknya lebih besar dari teri dan pipih. Kotosan : daun turi dan daun dadap yang direbus. Mantenan : pernikahan. Pasaran : berkaitan dengan penanggalan Jawa. Sego liwet : nasi yang diliwet (dimasak secara tradisional) sampai menimbulkan kerak nasi (intip). Umborampe : sesaji. Wiwitan : upacara sebelum memulai panen padi, diambil dari kata wiwit dalam bahasa Jawa yang artinya mulai. xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL................................................................................... i HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING .......................................... ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ................................................... iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................... iv PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ....................................... v MOTTO ..................................................................................................... vi HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................ vii KATA PENGANTAR ................................................................................ viii ABSTRAK .................................................................................................. x ABSTRACT ................................................................................................ xi DAFTAR ISTILAH .................................................................................... xii DAFTAR ISI ............................................................................................... xiii DAFTAR TABEL DAN GAMBAR ........................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1 1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ..................................................................... 5 1.3 Tujuan Penelitian....................................................................... 5 1.4 Manfaat Hasil Penelitian ........................................................... 6 1.5 Tinjauan Pustaka ...................................................................... 7 1.6 Landasan Teori .......................................................................... 9 1.6.1 Pengertian Folklor .......................................................... 9 1.6.2 Kepercayaan Rakyat ....................................................... 11 1.6.3 Mitos................................................................................ 12 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.6.4 Kajian Sruktural Mitos .................................................... 13 1.6.5 Proses dan Makna Ritual ................................................. 15 1.6.6 Fungsi Ritual ................................................................... 18 1.7 Metode Penelitian ...................................................................... 19 1.7.1 Pendekatan ...................................................................... 19 1.7.2 Metode............................................................................. 20 1.7.3 Teknik Pengumpulan Data .............................................. 20 1.7.4 Analisis Data ................................................................... 23 1.7.5 Sumber Data .................................................................... 24 1.8 Sistematika Penyajian ............................................................... 24 BAB II TRADISI WIWITAN DALAM KONTEKS MASYARAKAT JAWA DI DUSUN MUNDU .................................................................................. 27 2.1 Pengantar ................................................................................... 27 2.2 Sekilas tentang Masyarakat Jawa di Dusun Mundu .................. 28 2.2.1 Letak Geografis Dusun Mundu ...................................... 28 2.2.2 Data Statistik Dusun Mundu .......................................... 30 2.3 Sistem Kepercayaan Masyarakat Dusun Mundu ...................... 33 2.3.1 Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Kekuatan Tertinggi ................................................................................... 34 2.3.2 Animisme ....................................................................... 34 2.3.3 Percaya pada Roh Halus .................................................. 35 2.3.4 Percaya pada Leluhur ...................................................... 37 2.3.5 Percaya Mitos .................................................................. 39 2.3.6 Kejawen ........................................................................... 40 2.4 Sistem Kesenian ........................................................................ 41 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.4.1 Karawitan ........................................................................ 42 2.4.2 Campursari ...................................................................... 42 2.4.3 Wayang Kulit .................................................................. 43 2.4.4 Jathilan ............................................................................ 45 2.4.5 Kethoprak ........................................................................ 46 2.5 Tradisi Wiwitan dalam Konteks Masyarakat Jawa di Dusun Mundu ...................................................................................... 47 2.6 Rangkuman ................................................................................ 48 BAB III KAJIAN STRUKTUR MITOS DEWI SRI .................................. 50 3.1 Pengantar ................................................................................... 50 3.2 Mitos Dewi Sri Teks A.............................................................. 51 3.3 Mitos Dewi Sri Teks B .............................................................. 53 3.4 Analisis Struktural Mitos Dewi Sri Menurut Teori A.J Greimas 53 3.4.1 Mitos Dewi Sri Teks A.................................................... 53 3.4.1.1 Skema Aktansial ................................................. 53 3.4.1.2 Struktur Fungsional ............................................ 58 3.4.2 Mitos Dewi Sri Teks B .................................................... 61 3.4.2.1 Skema Aktansial ................................................. 61 3.4.2.2 Struktur Fungsional ............................................ 64 3.5 Rangkuman ................................................................................ 66 BAB IV PROSES DAN MAKNA RITUAL UPACARA WIWITAN ........ 67 4.1 Pengantar ................................................................................... 67 4.2 Pengertian Upacara Secara Umum ............................................ 67 4.2.1 Pengertian Upacara Wiwitan ........................................... 68 4.3 Tujuan Upacara Wiwitan ........................................................... 69 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.4 Proses dan Makna Upacara Wiwitan ......................................... 69 4.4.1 Tahap Persiapan dan Maknanya ...................................... 70 4.4.2 Tahap Pelaksanaan Inti Ritual dan Maknanya ................ 72 4.4.3 Tahap Pascaritual dan Maknanya .................................... 73 4.5 Rangkuman ................................................................................ 74 BAB V FUNGSI UPACARA WIWITAN ................................................... 77 5.1 Pengantar ................................................................................... 77 5.2 Fungsi Upacara Wiwitan Bagi Masyarakat di Dusun Mundu ... 77 5.2.1 Sebagai Sarana Masyarakat Jawa Memuja Tuhan .......... 78 5.2.2 Sebagai Sarana Masyarakat Jawa Menghargai Sesama .. 80 5.2.3 Sebagai Sarana Masyarakat Jawa Menghargai Alam ..... 81 5.3 Rangkuman ................................................................................ 82 BAB VI PENUTUP .................................................................................... 84 6.1 Kesimpulan................................................................................ 84 6.2 Saran .......................................................................................... 87 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 88 SUMBER ONLINE .................................................................................... 90 LAMPIRAN ................................................................................................ 91 1. Daftar Narasumber .................................................................... 2. Foto-foto .................................................................................... 92 93 xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL DAN GAMBAR Tabel 1. Data Jumlah Penduduk di Dusun Mundu ..................................... 31 Tabel 2. Data Penduduk Dusun Mundu Berdasarkan Tingkat Pendidikannya 31 Tabel 3. Data Penduduk Dusun Mundu Berdasarkan Mata Pencahariannya 33 Tabel 4. Data Penduduk Dusun Mundu Berdasarkan Kepercayaannya ..... 34 Gambar 1. Pola Aktansial Mitos Teks A .................................................... 56 Tabel 5. Struktur Fungsional Mitos Teks A ................................................ 60 Gambar 2. Pola Aktansial Mitos Teks B..................................................... 63 Tabel 6. Struktur Fungsional Mitos Teks B ................................................ 65 xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku dan budaya di dalamnya. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni (Kurniawan, 2012:1). Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Adanya suatu perubahan kebudayaan sangat bergantung pada manusia sebagai pendukungnya. Perubahan tersebut tergantung dengan sikap masyarakat terhadap kebudayaan itu. Semakin cinta dan merasa kebudayaan itu menjadi miliknya sendiri, maka masyarakat akan semakin bertanggung jawab dan peduli terhadap kebudayaan itu, sehingga kebudayaan dapat hidup dan berkembang di dalam masyarakat pendukungnya. Adanya perubahan dan perkembangan zaman ternyata telah mempengaruhi keberadaan budaya itu sendiri. Sementara dunia terus bergerak menuju suatu perubahan yang terus menerus tanpa kenal waktu. Dalam konteks perubahan itu, kebudayaan suatu suku bangsa yang berada dalam dunia juga ikut berkembang sesuai kehendak manusia 1

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sebagai subjek kebudayaan. Tetapi selain sebagai objek bentukan manusia, kebudayaan juga merupakan suatu subjek yang memberikan ciri khas dan eksistensi dari bangsa pemilik kebudayaan tersebut. Kebudayaan memberikan dirinya sebagai ciri yang melekat pada suatu suku bangsa dari masa ke masa. Dalam bahasa Indonesia terdapat istilah yang tepat untuk menyebut wujud ideal dari kebudayaan ini, yaitu adat atau adat istiadat untuk bentuk jamaknya (Koentjaraningrat, 1986: 187). Adat-istiadat dalam masyarakat Jawa dapat diwujudkan dalam bentuk tata upacara. Tiap-tiap daerah memiliki adat-istiadat sendiri sesuai dengan letak geografis. Berbagai macam upacara yang terdapat di dalam masyarakat pada umumnya dan masyarakat Jawa khususnya merupakan pencerminan bahwa semua perencanaan, tindakan dan perbuatan telah diatur oleh tata nilai luhur. Tata nilai luhur tersebut diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya sebagai sebuah tradisi (Bratawidjaja, 1988:9). Menurut Sugono (2008:1483), tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan dalam masyarakat. Yang jelas adalah tata nilai yang dipancarkan melalui tata upacara adat merupakan manifestasi tata kehidupan masyarakat Jawa yang serba hati-hati agar dalam melaksanakan pekerjaan mendapatkan keselamatan baik lahir maupun batin (Bratawidjaja, 1998:9) Menurut Mulder (1984:28), suku Jawa merupakan suku bangsa yang kehidupannya bersifat seremonial. Manusia selalu melakukan berbagai upacara dengan menggunakan perlengkapan simbolik. Berbagai macam tata upacara adat terdapat dalam masyarakat Jawa, sejak sebelum manusia lahir sampai meninggal 2

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dunia. Misalnya upacara adat pada waktu wanita hamil, upacara tedak siten, upacara ruwatan, dan lain-lain. Setiap upacara adat tersebut mempunyai makna sendiri-sendiri dan sampai saat ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Jawa, terutama di desa-desa. Upacara mempunyai banyak unsur, yaitu: bersaji, berkorban, berdoa, makan makanan bersama yang telah disucikan dengan doa, menari tarian suci, menyanyi nyanyian suci, berprosesi atau berpawai, memainkan seni drama suci, berpuasa, intoksikasi atau mengaburkan pikiran dengan makan obat bius untuk mencapai keadaan trance atau mabuk, bertapa, dan bersemadi (Koentjaraningrat, 1986: 378). Upacara Wiwitan merupakan sebuah upacara tradisional yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa. Kata “wiwitan” berasal dari kata dasar “wiwit” yang berarti mulai dari atau yang paling dahulu. (Mangunsuwito, 2013:311). Upacara Wiwitan adalah upacara yang dilakukan sebelum panen padi dan sebagai alat untuk menghormati Dewi Sri dan sebagai wujud rasa terima kasih dan rasa syukur terhadap Tuhan atas anugerah yang diberikan berupa hasil panen yang melimpah (Wawancara, Bapak Sihono tanggal 10 April 2013). Dalam pelaksanaan upacara Wiwitan di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta akan disesuaikan dengan keadaan lingkungan setempat dan kemampuan masyarakat. Di samping tata upacaranya, tersaji pendidikan budi pekerti dan aturan-aturannya. Semua itu merupakan warisan nenek moyang yang perlu kita lestarikan (Bratawidjaja, 1988:10). Hal ini mengingat salah satu fungsi upacara adalah sebagai pengokoh norma-norma atau nilai-nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat (Maharkesti dkk. 1988/1989:2). 3

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kebudayaan di Indonesia tersebar di hampir semua aspek kehidupan, mulai dari tari-tarian, alat musik tradisional, adat istiadat, pakaian adat hingga bangunan arsitektural yang berupa rumah adat di tiap-tiap propinsi yang ada di Indonesia. Upacara Wiwitan di Dusun Mundu sebagai salah satu contoh kebudayaan adat istiadat yang berupa upacara tradisional. Sejak dahulu Daerah Istimewa Yogyakarta terkenal dengan budaya dan tradisinya. Salah satu tradisi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah upacara Wiwitan yang merupakan upacara tradisi Jawa yang saat ini masih dilakukan khususnya oleh masyarakat Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta pada umumnya. Upacara yang dilakukan menjelang panen padi ini keberadaannya mulai tersisih seiring berkembangnya kota Yogyakarta yang sedikit banyak juga mempengaruhi pola hidup masyarakat Dusun Mundu yang letaknya tidak jauh dari batas Kota Yogyakarta. Lahan tanah yang dulunya membentang sawah hijau yang luas kini telah berubah menjadi mall, café, maupun perumahan. Karena adanya pembangunan tersebut, lahan yang berupa sawah tempat dilakukannya upacara Wiwitan semakin sedikit sehingga tradisi upacara Wiwitan juga semakin jarang ditemui. Begitu banyak budaya Jawa yang ada dan hidup di lingkungan masyarakat. Adanya perkembangan dan perubahan zaman, ternyata telah mempengaruhi keberadaan budaya Jawa itu sendiri. Bila kita kembali mengingat masa kecil, tentu kita akan ingat ketika bapak tani akan menanam padi sampai saat akan memanen padi. Kita akan diundang untuk mengikuti upacara Wiwitan.. Oleh karena itu penulis ingin mengungkapkan kembali upacara Wiwitan di Dusun 4

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Mundu sebagai ucapan syukur kepada Dewi Sri dan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini akan membahas masalahmasalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kajian struktural mitos Dewi Sri yang melatarbelakangi upacara Wiwitan dalam masyarakat Jawa di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta? 2. Bagaimana proses dan makna upacara Wiwitan di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta? 3. Apa fungsi upacara Wiwitan bagi masyarakat di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini dalah sebagai berikut: 1. Menjelaskan dan mengungkap kajian struktural mitos Dewi Sri yang melatarbelakangi upacara Wiwitan dalam masyarakat Jawa di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Hal ini akan dijelaskan di dalam Bab III. 2. Mendeskripsikan proses dan makna upacara Wiwitan di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Hal ini akan dijelaskan di dalam Bab IV. 5

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Mendeskripsikan fungsi yang terkandung dalam upacara Wiwitan bagi masyarakat di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Hai ini akan dijelaskan di dalam Bab V. 1.4 Manfaat Hasil Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini adalah: Untuk studi folklore, hasil studi ini dapat menjadi dokumen dan bacaan bagi masyarakat umum. Setiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri sehingga antara satu daerah dengan daerah lain berbeda. Upacara Wiwitan yang ada di Dusun Mundu pasti berbeda dengan yang ada di Bantul dan Kulon Progo. Begitu juga dengan folklor, setiap daerah memiliki cerita rakyat tersendiri. Keberadaan folklor dijadikan bahan bacaan sebagai pemahaman akan cinta kearifan lokal. Juga untuk studi religi budaya. Penelitian ini bermanfaat untuk bahan kajian dan salah satu sumber bagi para peneliti lain ataupun peneliti selanjutnya yang mengambil topik yang sama tetapi dari aspek dan sudut pandang yang berbeda misalnya meneliti upacara Wiwitan yang ada di daerah lain,meneliti doa atau mantra yang ada dalam upacara Wiwitan. 1.4.2 Manfaat Praktis Secara praktis, penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan tentang budaya lokal khususnya mengenai upacara Wiwitan diantaranya 6

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penjelasan tata cara dalam upacara Wiwitan dan penjelaskan proses dan makna serta fungsi upacara Wiwitan di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini diharapkan menghasilkan manfaat khususnya bagi perkembangan budaya masyarakat Dusun Mundu dan menambah pengetahuan tentang budaya upacara Wiwitan sehingga tidak ada kesalahpahaman dalam memahami budaya. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu dokumentasi budaya bagi masyarakat Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Upacara Wiwitan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat lokal maupun turis manca negara sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pariwisata budaya sekaligus sebagai usaha pelestarian budaya. 1.5 Tinjauan Pustaka Penelitian ini berisi pembahasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan upacara Wiwitan pada masyarakat Jawa pada umumnya dan khususnya pada masyarakat Dusun Mundu. Dari penelusuran pustaka dan website yang penulis lakukan belum ada karya tulis atau karya lainnya yang secara spesifik membahas proses upacara Wiwitan di Dusun Mundu. Karya tulis atau buku yang ada hamya membahas upacara Wiwitan secara umum dan tidak membahasnya secara spesifik lagi. Saksono (2012) dalam buku yang berjudul Faham Keselamatan dalam Budaya Jawa membahas mengenai upacara adat masyarakat (Jawa) dan slametan. Dalam buku tersebut disebutkan beberapa upacara yang sampai saat ini masih 7

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dilakukan oleh masyarakat Jawa yang bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan. Diantaranya adalah upacara bersih Dusun Tuksono di Sentolo, Kulon Progo. Dalam rangkaian upacara bersih dusun tersebut terdapat pelaksanaan upacara mboyong Mbok Sri yang merupakan tahap pelaksanaan upacara bersih dusun. Upacara mboyong Mbok Sri disebut juga upacara Wiwitan. Upacara Wiwitan di Sentolo merupakan upacara Wiwitan dalam skala besar yang melibatkan seluruh masyarakat desa. Dalam buku tersebut dijelaskan secara singkat proses upacara Wiwitan yang ada di Dusun Tuksono, Sentolo, Kulon Progo. Endraswara (2010) dalam bukunya yang berjudul Falsafah Hidup Jawa terdapat sub-bab yang membahas mitologi Jawa. Karena penelitian ini juga berkaitan dengan mitos masyarakat Jawa maka tulisan mengenai mitologi Jawa tersebut menjelaskan berbagai mitos yang dipercaya oleh masyarakat Jawa termasuk di dalamnya mitos Dewi Sri yang dipercaya oleh masyarakat Dusun Mundu dalam pelaksanaan upacara Wiwitan di Dusun Mundu. Saksono (2012) dalam buku yang berjudul Faham Keselamatan dalam Budaya Jawa juga membahas tentang mitos Dewi Sri dan berbagai mitos yang dipercaya oleh masyarakat Jawa. Dewi Sri yang telah dianggap sebagai dewi kesuburan oleh petani Jawa bukan hanya berhenti sebagai mitos, melainkan mitos itu dipertahankan dan diwujudkan dalam berbagai upacara tradisi oleh para petani di Jawa. 8

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dari penelusuran website, ada beberapa situs website yang membahas upacara Wiwitan, misalnya dalam website “kurakurakikuk.blogspot.com”. dalam website tersebut diulas mengenai upacara wiwitan sebagai berikut: “Wiwitan adalah sebuah tradisi petani, ritual yang hampir punah dan jarang dilakukan lagi di masa-masa sekarang, dan biasanya dilakukan sebelum panen raya untuk menghormati dewi kesuburan, Dewi Sri” Dalam website tersebut juga dijelaskan mengenai proses upacara Wiwitan secara garis besar namun tidak dijelaskan secara mendalam. 1.6 Landasan Teori 1.6.1 Pengertian Folklor Menurut Danandjaja (2002 : 1-2) folklore berasal dari dua kata dasar folk dan lore. Folk artinya sekelompok orang memiliki ciri pengenal fisik, sosial, budaya, sehingga dapat dibedakan dari kelompok lain. Sedangkan lore adalah tradisi folk, yaitu sebagian dari kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Jadi folklor adalah suatu kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun secara lisan baik disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Menurut Endraswara (2004:11) folklor berasal dari kata folklore (bahasa Inggris). Bila dieja menjadi folk-lore, folk artinya „rakyat‟ dan lore artinya „tradisi‟. Folk adalah kelompok atau kolektif yang memiliki ciri-ciri pengenal kebudayaan yang membedakan dengan kelompok lain. Lore merupakan 9

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI wujud tradisi dari folk, tradisi tersebut dituturkan secara oral (lisan) dan turuntemurun. Folklor berarti tradisi rakyat yang sebagian disampaikan secara lisan, yaitu kelisanan menjadi pijakan folklor. Menurut Jan Harold Brunvand (dalam Danandjaja 2002:21-22), folkor dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya: (1) folklor lisan (verbal folklore), (2) folklor sebagai lisan (partly verbal folklore), dan folklor bukan lisan (non verbal folklore). Folklor lisan adalah folklor yang bentuknya memang murni lisan, bentuk-bentuk folklor yang termasuk ke dalam kelompok besar ini antara lain: (a) bahasa rakyat (folk speech) seperti julukan, logat, pangkat tradisional, gelar kebangsawanan, (b) ungkapan tradisional seperti peribahasa, pepatah, pemeo, (c) pertanyaan tradisional seperti teka-teki, (d) puisi rakyat seperti pantun, gurindam, dan syair, (e) cerita prosa rakyat, seperti mite, dongeng, legenda, dan (f) nyanyian rakyat. Folklor lisan juga mempunyai fungsi sebagai penghibur atau sebagai penyalur perasaan yang terpendam. Folklor lisan adalah folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan. Kepercayaan rakyat, misalnya takhayul dan pernyataan yang bersifat lisan ditambah dengan gerak isyarat yang dianggap mempunyai makna gaib. Bentuk-bentuk folklor yang tergolong dalam kelompok besar ini, selain kepercayaan rakyat adapula permainan rakyat, teater rakyat, taritarian rakyat, adat-istiadat, upacara, pesta rakyat, dan lain-lain. Folklor bukan lisan adalah foklor yang bentuknya bukan lisan walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Kelompok besar ini dapat dibagi menjadi yang material dan yang bukan material. Bentuk yang tergolong material 10

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI antara lain arsitektur rakyat (bentuk asli rumah daerah, lumbung padi, dan sebagainya) dan kerajinan tangan (pakaian dan perhiasan tubuh adat, makanan dan minuman rakyat, dan obat-obatan tradisional). Sedangkan yang termasuk bukan material antara lain gerak isyarat tradisional (gesture), bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat (kentongan), dan musik rakyat. Menurut Budiaman (1979:14) folklor sebagai bagian dari kebudayaan mempunyai tanda-tanda pengenal yaitu (1) penyebarannya secara lisan atau perbuatan, yaitu dengan melalui tutur kata dari mulut ke mulut atau dengan menirukan perbuatan orang lainyang telah menjadi tradisi dalam masyarakat, dan berlangsung secara turun-temurun, (2) bersifat tradisional, artinya disebarkan dalam bentuk yang secara relatif tetap, atau dalam bentuk yang standar, dan tersebar di antara kelompok tertentu, dalam waktu yang cukup lama, (3) folklor tersebar dalam versi yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena cara penyebarannya pada dasarnya adalah dari mulut ke mulut, bukan melalui tulisan atau rekaman, sehingga mudah mengalami perubahan. Walaupun demikian perbedaannya hanya terletak pada yang kecil-kecil saja, sedangkan bentuk garis besarnya masih identik, (4) nama pencipta suatu folklor biasanya sudah tidak diketahui lahi, (5) folklore biasanya mempunyai bentuk klise berupa ungkapanungkapan tradisional yang stereotip, pemilihan kata atau kalimat yang membantu 1.6.2 Kepercayaan Rakyat Kepercayaan rakyat atau sering kali disebut “takhayul”. Takhayul adalah kepercayaan yang dianggap sederhana bahkan pandir dan tidak didasarkan pada 11

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI logika oleh orang berpendidikan barat sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawabkan. Berhubungan dengan kata “takhayul” yang mengandung arti menghina atau merendahkan, maka ahli folklor modern memilih menggunakan istilah kepercayaan rakyat, atau folkbelife atau keyakinan rakyat dari pada “takhayul”, karena takhayul berarti hanya khayalan belaka atau sesuatu yang hanya di angan-angan saja (Danandjaja, 2002:153). Kepercayaan masyarakat Jawa yaitu hidupnya diatur oleh semesta dan yakin akan adanya roh-roh halus, kekuatan sakti, roh leluhur dan sebagainya. Kekuatan-kekuatan sakti dan roh halus melebihi kekuatan manusia yaitu kesakten, arwah leluhur, atau makhluk halus (lelembut, memedi, dan lain-lain). Konsekuensinya apabila orang ingin hidup tanpa gangguan, mereka harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhi alam semesta, misalnya dengan melakukan puasa, sesaji atau melakukan selamatan (Endraswara, 2004:128). 1.6.3 Mitos Sebuah ritual selalu dikaitkan dengan mitos karena, perilaku-perilaku ritual umumnya dapat dijelaskan dengan istilah-istilah mitis. Mitos memberikan pembenaran untuk berbagai upacara. Oleh J. van Baal dalam Daeng (2000: 81), mitos dikatakan sebagai cerita di dalam kerangka sistem suatu religi yang di masa lalu atau kini telah berlaku sebagai kebenaran keagamaan. Ilmu pengetahuan tentang mitos atau mitologi adalah suatu cara untuk mengungkapkan, menghadirkan Yang Kudus melalui konsep serta bahasa simbolik melalui mitologi diperoleh suatu kerangka acuan yang memungkinkan manusia memberi tempat 12

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kepada bermacam-macam kesan dan pengalaman yang telah diperolehnya selama hidup. Berkat kerangka acuan yang disediakan mitos, manusia memiliki orientasi dalam kehidupan ini. Dengan demikian, mitos adalah sebuah cerita pemberi pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Kata mitos berasal dari bahasa Yunani muthos, yang secara harafiah diartikan sebagai cerita atau sesuatu yang dikatakan seseorang; dalam pemgertian yang lebih luas bisa berarti suatu pernyataan, sebuah cerita, ataupun alur suatu drama. Kata mythology dalam bahasa Inggris menunjuk pengertian, baik sebagai studi atas mitos atau isi mitos, maupun bagian tertentu dari sebuah mitos (Dhavamony, 1995: 147). Menurut B. Malinowski (dalam Dhavamony 1995: 147) membedakan pengertian mitos dari legenda dan dongeng. Legenda lebih sebagai cerita yang diyakini seolah-olah merupakan kenyataan sejarah, meskipun sang pencerita menggunakannya untuk mendukung kepercayaan-kepercayaan dari komunitasnya. Sebaliknya, dongeng mengisahkan peristiwa-peristiwa ajaib tanpa dikaitkan dengan ritus. Dongeng juga tidak diyakini sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi. Dongeng lebih menjadi bagian dari dunia hiburan. Sedangkan mitos merupakan pernyataan atas suatu kebenaran lebih tinggi dan lebih penting tentang realitas asali, yang masih dimengerti sebagai pola dan fondasi dari kehidupan primitif. 13

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.6.4 Kajian Struktural Mitos Kajian mitos Dewi Sri yang dilakukan oleh A.J Greimas menggunakan teori struktural yang meliputi skema aktansial dan struktur fungsional. Taum (2011:144-147) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan aktan adalah satuan naratif terkecil, berupa unsur sintaksis yang mempunyai fungsi tertentu. Aktan tidak identik dengan aktor. Aktan merupakan peran-peran abstrak yang dimainkan oleh seorang atau sejumlah pelaku, sedangkan aktor merupakan manifestasi konkret dari aktan. Fungsi dan kedudukan aktan: 1. Pengirim (sender) adalah aktan (seseorang atau sesuatu) yang menjadi sumber ide dan fungsi sebagai penggerak cerita. Pengirim memberikan karsa atau keinginan kepada subjek untuk mencapai atau mendapatkan objek. 2. Objek (object) adalah aktan (sesuatu atau seseorang) yang dituju, dicari, diburu, atau diinginkan oleh subjek atas ide dari pengirim. 3. Subjek (subject) adalah aktan pahlawan (sesuatu atau seseorang) yang ditugasi pengirim untuk mencari dan mendapatkan objek. 4. Penolong (helper) adalah aktan (sesuatu atau seseorang) yang membantu atau mempermudah usaha subjek atau pahlawan untuk mendapatkan objek. 5. Penentang (opponent) adalah aktan (seseorang atau sesuatu) yang menghalangi usaha subjek atau pahlawan dalam mencapai objek. 14

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Penerima (receiver) adalah aktan (sesuatu atau seseorang) yang menerima objek yang diusahakan atau dicari oleh subjek. Gambar 1. Pola Aktansial PENGIRIM OBJEK PENERIMA (sender) (object) (receiver) SUBJEK (subject) PEMBANTU PENENTANG (helper) (opponent) Model fungsional berfungsi untuk menguraikan peran subjek dalam melaksanakan tugas dari pengirim yang terdapat dalam fungsi aktan. Model fungsional dibagi menjadi tiga yaitu: 1. Situasi awal adalah situasi awal cerita yang menggambarkan keadaan sebelum ada suatu peristiwa yang menganggu keseimbangan (harmoni). 2. Transformasi meliputi tiga tahap cobaan. Ketiga tahap cobaan ini menunjukan usaha subjek untuk mendapatkan objek. 15

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Situasi akhir berarti keseimbangan, situasi telah kembali ke keadaan semula. Konflik telah berakhir. Di sinilah cerita berakhir dengan subjek yang berhasil atau gagal mencapai objek. (Taum, 2011:146-147) Tabel 1. Struktur Fungsional I II Situasi III Transformasi Situasi Awal 1.6.5 Akhir Tahap uji Tahap Tahap kecakapan utama kegemilangan Proses dan Makna Ritual Ritual adalah pola-pola pikiran yang dihubungkan dengan gejala yang mempunyai ciri-ciri mistis. Ritual dapat dibedakan atas empat macam (1) Tindakan magi, yang dikaitkan dengan penggunaan bahan-bahan yang bekerja karena daya-daya mistis; (2) Tindakan religius, kultus para leluhur, juga bekerja dengan cara ini; (3) Ritual konstitutif yang mengungkapkan atau mengubah hubungan sosial dengan merujuk pada pengertian-pengertian mistis, dengan cara ini upacara-upacara kehidupan menjadi khas; dan (4) Ritual faktitif, yang meningkatkan produktivitas atau kekuatan, atau pemurnian dan perlindungan, atau dengan cara lain meningkatkan kesejahteraan (Dhavamony, 1995: 175-176). 16 materi suatu kelompok

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dalam ritual upacara Wiwitan terdiri atas tiga tahap upacara inti, yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan inti ritual, dan tahap pascaritual. Proses ritual ini akan dibahas pada Bab VI. Ritus dalam kepercayaan masyarakat memiliki makna dan nilai bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, apabila manusia dapat menghayati dengan benar makna dan nilai-nilai ritus tersebut, maka akan terwujud sifat-sifat budi luhur seperti akan muncul sebuah kearifan yang menjadikan manusia selalu dekat dengan Tuhan dan dapat mewujudkan kedamaian, kesejahteraan dan keindahan dunia beserta isinya (Suyami, 2008:4). Penyelenggaraan upacara ritual pada umumnya dimaksudkan agar mendapatkan keselamatan. Upacara ritual yang bersifat komunal dimaksudkan agar mendapatkan keselamatan bagi orang banyak. Sedangkan upacara ritual yang bersifat individual dimaksudkan agar mendapatkan keselamatan bagi seseorang yang diselamati atau dirayakan dengan upacara tersebut (Suyami, 2008:7). Ritual merupakan bagian dari kebudayaan dan kebudayaan itu sendiri erat hubungannya dengan sistem simbol. Menurut Geertz dalam Endraswara (2013:85) kebudayaan adalah suatu pola makna yang terkandung dalam simbol yang ditransmisikan, suatu sistem konsepsi yang diwariskan, yang diekspresikan dalam bentuk simbolis, dan melalui bentuk-bentuk simbolis itu manusia mengomunikasikan, memelihara, dan mengembangkan pengetahuan mereka mengenai kehidupan dan sikap mereka terhadap kehidupan. Konsep kebudayaan setidaknya mengandung pengertian bahwa kebudayaan adalah suatu sistem 17

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI simbol, sehingga dengan demikian proses kebudayaan harus dipahami, diterjemahkan, dan diinterpretasi. Menurut Herusatoto (1984:10) makna simbolis berasal dari Bahasa Yunani yaitu syimbolos yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan hal kepada seseorang. Menurut Spradley dalam Tinarbuko (2009: 19) semua makna budaya diciptakan menggunakan simbol-simbol. Simbol adalah objek atau peristiwa apapun yang menunjuk kepada sesuatu. Semua simbol melibatkan tiga unsur: simbol itu sendiri, satu rujukan atau lebih, dan hubungan antara simbol dengan rujukan. Semua itu merupakan dasar bagi keseluruhan makna simbolik. Makna simbolik yang terdapat dalam ritual jika dapat dipahami dan diamalkan maka akan membawa manusia ke dalam keselamatan yang dinginkan. Makna simbolik dalam ritual menuntun manusia untuk selalu berbuat baik supaya mendapatkan keselamatan dalam kehidupannya. Menuruit Sugono (2008:864) makna adalah arti atau maksud pembicara atau penulis. Makna yang dimaksud dalam penelitian ini adalah arti di balik pelaksanaan upacara Wiwitan di Dusun Mundu yang meliputi tindakan dan sesajinya. 1.6.6 Fungsi Ritual Selanjutnya Hutomo dalam bukunya Endraswara (2009: 125) memberikan konsep fungsi ialah kaitan saling ketergantungan, secara utuh dan berstuktur, antara unsur-unsur sastra, tulis atau lisan, baik di dalam sastra itu sendiri (intern), maupun dengan lingkungannya (ekstern), tanpa membedakan apakah unsur-unsur 18

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tersebut dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan naluri manusia, ataupun memelihara keutuhan dan sistem struktur sosial. Taum (2004) menyebutkan secara umum terdapat empat jenis fungsi sastra lisan, yaitu fungsi magis, fungsi religius, fungsi faktif, dan fungsi intensifikasi. 1. Fungsi Magis Fungsi magi dikaitkan dengan penggunaan bahan-bahan dalam upacara ritual yang bekerja karena daya-daya mistis. 2. Fungsi Religius Fungsi religius berkaitan dengan pelaksanaan rangkaian kegiatan dalam suatu upacara. 3. Fungsi Faktitif Fungsi faktitif berkaitan dengan meningkatkan produktivitas atau kekuatan, atau pemurnian dan perlidungan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan materi suatu kelompok. 4. Fungsi Intensifikasi Fungsi intensifikasi berkaitan dengan ritus kelompok yang mengarah kepada pembaharuan dan mengintensifkan kesuburan, ketersediaan buruan dan panenan. 1.7 Metode Penelitian 1.7.1 Pendekatan Dalam penelitian ini digunakan pendekatan folklor dalam mengkaji proses pelaksanaan dan makna serta fungsi di balik pelaksanaan upacara Wiwitan dalam 19

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tradisi selamatan masyarakat Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Danandjaja (2002:17-19) mengatakan bahwa dalam penelitian folklor Indonesia perlu kiranya peneliti untuk mengetahui lebih dulu sebab-sebab mengapa pelu meneliti folklor. Sebab utamanya bahwa folklor mengungkap kepada kita secara sadar atau tidak sadar, bagaimana folknya berpikir. Selain itu, folklor juga mengabadikan apa yang dirasa penting (dalam suatu masa) salah satunya adalah folk pendukungnya. Folk lisan dan sebagian lisan masih mempunyai banyak sekali fungsi yang menjadikan sangat menarik dan penting untuk diselidiki. 1.7.2 Metode Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode etnografi. Etnografi secara harafiah, berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atau hasil penelitian lapangan (field work) selama sekian bulan atau sekian tahun (Spradley, 2006:vii). Etnografi merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Tujuan utama aktivitas ini adalah untuk memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Dalam penelitian ini metode ini digunakan untuk mengetahui sistem kepercayaan, mitos, proses upacara Wiwitan, makna dan fungsi tentang upacara Wiwitan bagi masyarakat Dusun Mundu yang masih dilakukan sampai saat ini. 20

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.7.3 Teknik Pengumpulan Data Dalam proses pengumpulan data lapangan, teknik-teknik pengamatan, wawancara, perekaman, pencatatan, diperlukan untuk mendapatkan data dari tempat penelitian (Taum, 2011:239-240). Selain itu teknik kepustakaan dan dokumentasi juga diperlukan dalam penelitian ini. 1.7.3.1 Teknik Pengamatan (Observasi) Pengamatan adalah melihat dan mengamati suatu kejadian (tari, permainan, tingkah laku, nyanyian, dll) dari gejala luarnya sampai kedalamnya dan menggambarkan atau mendeskripsikan secara tepat hasil pengamatannya (Taum, 2011:239). Observasi adalah metode dengan mengamati gejala atau peristiwa yang terjadi dalam suatu masyarakat dan berkaitan dengan topik penelitian yang melibatkan peneliti dalam proses peristiwa itu. Dengan teknik ini peneliti harus berusaha dapat diterima sebagai warga atau orang dalam responden karena teknik ini memerlukan hilangnya kecurigaan para subjek penelitian terhadap kehadiran peneliti (Hamidi, 2004:72). Namun dalam kenyataan di lapangan, peneliti mencoba menjelaskan maksud kedatangannya agar diterima dengan baik oleh para subjek penelitian. Hal ini dijelaskan oleh Hamidi (2004:78) yang memberikan alternatif “permisi masuk” dengan cara menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan peneliti. Strategi pengumpulan data ini perlu mendapatkan perhatian peneliti karena melalui langkah ini peneliti mengawali masuk lapangan sekaligus 21

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI melakukan upaya agar peneliti dapat diterima secara baik oleh masyarakat atau komunitas subjek penelitian. Nasution (1982:131-133) menjelaskan bahwa hubungan atau keadaan sosial seperti itu sangat penting diciptakan agar mereka dengan senang hati dan terbuka dalam memberikan informasi dari wawancara. Peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih objektif tentang masalah yang diselidikinya. Observasi dimaksudkan untuk mengamati masyarakat Dusun Mundu seperti kehidupan beragama, bermasyarakat dan mengamati serta mengikuti upacara Wiwitan di Dusun Mundu. Peneliti secara langsung mengamati dan mengikuti, bahkan terlibat langsung dalam upacara Wiwitan supaya mendapatkan gambaran secara jelas tentang upacara Wiwitan di Dusun Mundu. 1.7.3.2 Teknik Wawancara Wawancara merupakan proses pencarian yang mendalam tentang diri subjek. Wawancara dapat dilakukan dalam bentuk yang bervariasi. Yang paling umum dilakukan adalah wawancara individual yang dilakukan berhadap-hadapan antara pewawancara dan yang diwawancarai. Tetapi wawancara juga bisa dilakukan dalam kelompok, dalam bentuk angket atau lewat telepon. Wawancara dapat dilaksanakan secara terstruktur, semi tersetruktur, dan tidak tersetruktur (Kuntjara, 2006:67). Wawancara ini dilakukan dengan para informan yang dianggap mampu memberikan penjelasan tentang upacara Wiwitan di Dusun Mundu. Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan dengan wawancara individual yaitu dengan 22

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mewawancarai narasumber secara langsung yang dianggap mampu memberikan penjelasan upacara Wiwitan tentang proses upacara, makna dan fungsi upacara Wiwitan. Dalam penelitian ini, peneliti mewawancarai petani pemilik sawah, kaum atau pemimpin upacara Wiwitan, para petani, dan tokoh masyarakat. 1.7.3.3 Teknik Kepustakaan Guna melengkapi data yang diperoleh dari lapangan maka perlu diadakan penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan ini dimaksudkan untuk lebih memperkaya data yang mungkin tidak sempat diperoleh dalam penelitian lapangan. Dengan demikian data-data yang diperoleh akan lebih dapat dipertanggungjawabkan (Maharkesti 1988/1989:6). Metode kepustakaan adalah mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, dan sebagainya (Arikunto, 1993:234). Pelaksanaan teknik ini yaitu menelaah pustaka yang ada kaitannya dengan objek penelitian. Teknik kepustakaan digunakan untuk mendapatkan data yang konkret. Metode kepustakaan diperoleh dengan teknik catat yaitu mencatat data yang berasal dari buku-buku, artikel di situs internet yang membahas tentang upacara Wiwitan. 1.7.3.4 Teknik Dokumentasi Dokumen adalah surat yang tertulis atau tercetak yang dapat dipakai sebagai bukti keterangan atau rekaman suara, gambar dalam film dan sebagainya yang dapat dijadikan bukti keterangan. Dokumentasi adalah pemberian atau 23

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pengumpulan bukti dan keterangan seperti gambar, kutipan, guntingan koran, dan bahan referensi lain. Mendokumentasikan adalah mengatur dan menyimpan sebagai dokumen (Sugono, 2008:338). Dalam penelitian ini penulis menggunakan kamera untuk mengambil gambar objek dalam bentuk foto selama berlangsungnya proses upacara wiwitan. 1.7.4 Analisis Data Penulis menggunakan metode deskriptif analisis dalam penelitian ini. Metode deskriptif analisis berfungsi sebagai pemecah masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya untuk memberikan bobot lebih tinggi pada metode ini (Namawi dan Martini, 1994: 73). 1.7.5 Sumber Data Sumber data untuk penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan mengenakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari (Endraswara, 2006:91). Sumber data primer dalam penelitian ini adalah orang-orang tua terutama petani, kaum, dan tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan lebih dan masih berperan aktif dalam upacara Wiwitan. Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh peneliti dari subjek peneliti. Data ini berwujud data dokumentasi atau 24

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI data laporan yang telah tersedia (Endraswara, 2006:91). Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah website, buku-buku budaya, dan dokumentasi Dusun Mundu. 1.8 Sistematika Penyajian Laporan hasil penelitian ini disusun dalam enam bab. Bab pertama, adalah pendahuluan, pendahuluan berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, teknik penelitian, dan sistematika penyajiaan. Latar belakang menjelaskan alasan penulis mengangkat judul penelitian. Pada penelitian ini, masalah yang di angkat adalah “Tradisi Upacara Wiwitan Di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta: Deskripsi Proses Ritual, Kajian Makna dan Fungsi”. Rumusan masalah dibuat untuk membatasi penulis dalam menganalisis masalah dalam penelitian yang akan dilakukan. Tujuan penelitian yaitu menguraikan maksud dan hasil yang ingin didapat oleh penulis dari penelitian yang dilakukan. Manfaat penelitian yaitu untuk mengukur sejauh mana kepentingan yang didapat dari penelitian yang berupa manfaat dalam bidang akademis. Tinjauan pustaka mengemukakan pustaka yang pernah menjelaskan tentang upacara wiwitan dan pengertiannya masing-masing. Landasan teori menyampaikan teori- teori yang digunakan sebagai landasan penelitian. Teknik penelitian merincikan teknik pengumpulan data yang berupa teknik observasi, teknik wawancara, teknik kepustakaan dan teknik dokumentasi dalam penelitian ini. Sistematika menguraikan urutan hasil penelitian. Bab II, membahas tentang tradisi wiwitan 25

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dalam konteks masyarakat Jawa di Dusun Mundu, yang meliputi sekilas tentang masyarakat Jawa Dusun Mundu, sitem kepercayaan yang berkembang pada masyarakat di Dusun Mundu, sistem kesenian daerah Dusun Mundu, dan tadisi Wiwitan dalam konteks masyarakat Jawa di Dusun Mundu. Bab III membahas mengenai kajian sruktural mitos Dewi Sri yang melatar belakangi upacara Wiwitan, yang meliputi beberapa versi mitos Dewi Sri dan analisis structural mitos Dewi Sri. Bab IV membahas mengenai proses dan makna upacara Wiwitan, proses ritual upacara Wiwitan menjelaskan tentang tahap-tahap upacara Wiwitan, yakni tahap persiapan, pelaksanaan inti ritual, dan pasca ritual. Makna menjelaskan arti dibalik proses tersebut, yaitu makna kegiatan dan makna perlengkapan. Bab V membahas tentang fungsi upacara Wiwitan bagi masyarakat di Dusun Mundu. Bab VI berisi kesimpulan dan saran dari keseluruhan hasil analisis dalam penelitian ini yang kemudian diakhiri dengan daftar pustaka dan lampiran. 26

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TRADISI WIWITAN DALAM KONTEKS MASYARAKAT JAWA DI DUSUN MUNDU 2.1 Pengantar Wiwitan adalah satu upacara ritual yang berkaitan dengan pertanian tradisional pada masyarakat Yogyakarta pada umumnya dan khususnya masyarakat Dusun Mundu. Budaya Wiwitan merupakan tradisi yang bersumber pada Dewi Sri yang telah dianggap sebagai dewi kesuburan oleh masyarakat Jawa. Tradisi yang selalu memuliakan Dewi Sri adalah selamatan memanen padi yang disebut wiwit. Tradisi Wiwit ada juga yang menyebut methuk Dewi Sri atau upacara methik (Suyami dalam Endraswara, 2010:202) Wiwitan adalah satu upacara ritual yang berkaitan dengan pertanian tradisional pada masyarakat Yogyakarta pada umumnya dan khususnya masyarakat Dusun Mundu. Budaya Wiwitan merupakan tradisi yang bersumber pada Dewi Sri yang telah dianggap sebagai dewi kesuburan oleh masyarakat Jawa. Tradisi yang selalu memuliakan Dewi Sri adalah selamatan memanen padi yang disebut wiwit. Tradisi Wiwit ada juga yang menyebut methuk Dewi Sri atau upacara methik (Suyami dalam Endraswara, 2010:202). Sesuai dengan judul penelitian ini yaitu “Tradisi Wiwitan Masyarakat Jawa di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta: Kajian Mitos, Ritus, Makna dan Fungsi” maka perlu kita ketahui terlebih dahulu seluk-beluk dan gambaran Dusun Mundu. Hal ini dianggap penting mengingat penelitian ini 27

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berada di Dusun Mundu. Oleh karena itu, identifikasi daerah Dusun Mundu dipaparkan untuk menjelaskan dan menggambarkan Dusun Mundu yang menjadi fokus lokasi dari penelitian ini. Pada bab ini akan dipaparkan mengenai tradisi Wiwitan dalam konteks masyarakat Jawa di Dusun Mundu, yang meliputi sekilas tentang masyarakat Jawa Dusun Mundu, sistem kepercayaan yang berkembang pada masyarakat di Dusun Mundu, sistem kesenian daerah Dusun Mundu, dan tadisi Wiwitan dalam konteks masyarakat Jawa di Dusun Mundu. 2.2 Sekilas tentang Masyarakat Jawa di Dusun Mundu 2.2.1 Letak Geografis Dusun Mundu Dusun Mundu merupakan salah satu dari sekian banyak dusun yang ada di Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan Kelurahan Caturtunggal secara geografis terletak pada koordinat 7º46‟48” Lintang Selatan, dan 110º23‟45” Bujur Timur. Adapun batas-batas wilayah Kelurahan Caturtunggal adalah sebagai berikut: Sebelah utara :Desa Condong Catur Sebelah timur :Desa Maguwoharjo Sebelah selatan :Kelurahan Demangan, Kecamatan Gondokusuman, Kecamatan Banguntapan, Bantul Sebelah barat :Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati. Sumber: (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Caturtunggal,_Depok,_Sleman, diunduh pada tanggal 12 Oktober 2013) 28

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sementara Dusun Mundu memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut: Sebelah utara : Dusun Seturan Sebelah timur : Dusun Kledokan Sebelah selatan : Dusun Tempel Sebelah barat : Dusun Nologaten. Wilayah Kelurahan Caturtunggal terletak di daerah perkotaan yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta dan terdapat banyak jalan protokol, sehingga lalulintas ramai dan padat. Jalan yang menghubungkan antara daerah dari Kelurahan Caturtunggal bisa dikatakan sudah cukup baik dan ditunjang dengan adanya sarana transportasi yang memadai sehingga hal ini berguna bagi kelancaran arus lalulintas, juga perhubungan dan komunikasi yang mendukung perkembangan, serta dinamika pemerintahan desa. Dengan demikian warga masyarakat tidak mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sosial ekonomi. Sumber (http://kiprahcaturtunggal.org/, diunduh pada tanggal 12 Oktober 2013) Berdasarkan karakteristik sumber daya wilayah, Dusun Mundu termasuk kawasan tengah yaitu wilayah aglomersi Perkotaan Yogyakarta yang meliputi Kecamatan Mlati, Sleman, Ngaglik, Ngemplak, Depok, dan Gamping. Wilayah ini cepat berkembang, merupakan pusat pendidikan, industri, perdagangan, dan jasa. Berdasarkan pusat pertumbuhannya, Dusun Mundu termasuk ke dalam wilayah agromenasi perkotaan Yogyakarta yang meliputi Kecamatan Depok, Gamping, serta sebagian wilayah Kecamatan Ngaglik, Ngemplak, Kalasan Berbah, Sleman, dan Mlati. Sumber (www.slemankab.go.id, diunduh tanggal 12 Oktober 2013). 29

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Meskipun letaknya yang sangat strategis di dekat batas Kota Yogyakarta, Dusun Mundu masih memiliki beberapa petak sawah, walau sudah tidak banyak lagi seperti dulu. Sawah-sawah yang masih tersisa ini digunakan untuk bercocok tanam dan untuk melaksanakan tradisi Wiwitan. 2.2.2 Data Statistik Dusun Mundu Masyarakat adalah kesatuan hidup dari makhluk-makhluk manusia yang terikat oleh suatu sistem adat-istiadat tertentu (Koentjaraningrat, 1974:103). Berdasarkan definisi tersebut dapat dilihat keadaan masyarakat di Dusun Mundu. Masyarakat di Dusun Mundu sebenarnya didominasi oleh suku Jawa, tapi karena letaknya yang berada dalam wilayah pusat pendidikan, industri, perdagangan, dan jasa maka masyarakat Dusun Mundu saat ini sudah berbaur dengan para pendatang yang berasal dari luar provinsi maupun dari luar pulau Jawa. Bapak Tugiman selaku ketua RT 04 menjelaskan Dusun Mundu memiliki luas kurang lebih 92.928 m² dan termasuk dalam Padukuhan Tempel yang meliputi Dusun Tempel, Mundu, dan Saren. Dusun Mundu termasuk dalam lingkup RW 02 dan memiliki empat RT yaitu RT 04, RT 05, RT 06, dan RT 07. Berikut adalah data/tabel jumlah penduduk Dusun Mundu: 30

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 1. Data jumlah penduduk Dusun Mundu No. RT Jumlah 1. 04 115 orang 2. 05 92 orang 3. 06 109 orang 4. 07 103 orang Total 419 orang Sumber : Data RT Tahun 2012. Dalam hal pendidikan, penduduk asli Dusun Mundu yang sudah sepuh (usia diatas 50 tahun) memiliki tingkat pendidikan sebatas tingkat SD sampai tingkat SMA dan berprofesi sebagai petani. Namun, pada dasarnya pendidikan masyarakat Dusun Mundu sudah cukup maju dan hampir semua penduduk pernah mengenyam bangku pendidikan, meskipun tidak semuanya sampai pada jenjang perguruan tinggi. Berikut adalah data/tabel penduduk Dusun Mundu berdasarkan tingkat pendidikannya dan berdasarkan mata pencahariannya: Tabel 2. Data penduduk Dusun Mundu berdasarkan tingkat pendidikannya No. Jenjang Pendidikan Jumlah 1. Belum sekolah 23 orang 2. Tidak sekolah 29 orang 3. Tidak tamat SD 21 orang 31

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. SD/Sederajat 19 orang 5. SMP/Sederajat 59 orang 6. SMA/Sederajat 150 orang 7. Lulusan DI 7 orang 8. Lulusan DII 11 orang 9. Lulusan DIII 19 orang 10. Lulusan SI 77 orang 11. Lulusan SII 3 orang 12. Lulusan SIII 1 orang Sumber: Data RT Tingkat Pendidikan Penduduk Tahun 2012. Mata pencaharian masyarakat Dusun Mundu mayoritas sebagai buruh swasta yang meliputi karyawan swasta dan wiraswasta. Untuk masyarakat asli yang berusia di atas 50 tahun dan hanya mengenyam pendidikan terbatas memiliki mata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Selain itu, adapula yang bekerja sebagai pegawai negeri dan pedagang. Pada umumnya, masyarakat yang bertani mengembangkan tanaman padi dan palawija (jagung, kacang, ubi, dan singkong). Banyaknya pendatang di Dusun Mundu juga sangat mempengaruhi jumlah sawah yang ada di Dusun Mundu. Karena berada dalam wilayah pusat pendidikan dan terdapat beberapa perguruan tinggi yang letanya tidak jauh dari Dusun Mundu, maka banyak masyarakat yang dulunya bekerja sebagai petani kini meninggalkan profesi tersebut. Banyak petani yang mengubah lahan sawahnya menjadi rumah kontrakan ataupun kos-kosan. Ada juga yang menjual sawahnya 32

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan sekarang berubah menjadi perumahan, ruko dan bahkan hotel. Berikut data/tabel penduduk Dusun Mundu berdasarkan mata pencahariannya: Tabel 3. Data penduduk Dusun Mundu berdasarkan mata pencahariannya No. Pekerjaan Jumlah 1. Petani 10 orang 2. Buruh tani 7 orang 3. Buruh swasta 159 orang 4. PNS 25 orang 5. Pedagang 19 orang 6. Pensiunan 17 orang 7. Lain-lain 126 orang Sumber: Data RT tahun 2012. 2.3 Sistem Kepercayaan Masyarakat Dusun Mundu Masyarakat Dusun Mundu adalah masyarakat yang beragama dan mayoritas memeluk agama Islam. Di samping kehidupan beragama, masyarakat Dusun Mundu merupakan masyarakat yang masih mempertahankan adat istiadat yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya, di mana kehidupannya masih mengandung unsur-unsur mistik. Menurut Mulder (1983:1) hal ini disebut Muslim nominal, yaitu mengaku diri Islam namun tindakan dan pikiran mereka lebih dekat kepada tradisi Jawa kuno dan Jawa Hindu. Berikut akan dipaparkan kepercayaan masyarakat Dusun Mundu: 33

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3.1 Percaya Kepada Tuhan Yang Maha Esa Sebagai Kekuatan Tertinggi Masyarakat Dusun Mundu saat ini mayoritas sudah memeluk agama dan memiliki kepercayaannya masing-masing. Sesuai dengan agama yang dianut, masyarakat Dusun Mundu percaya dengan adanya kekuatan tertinggi yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Bagi masyarakat Dusun Mundu kepercayaan terhadap agama merupakan suatu yang tidak ditinggalkan. (Wawancara Bapak Tugiman, 12 April 2013). Dari data yang diperoleh, masyarakat Dusun Mundu mayoritas memeluk agama Islam dan sebagian memeluk agama Kristen dan Katholik. Berikut data/tabel penduduk Dusun Mundu berdasarkan kepercayaannya: Tabel 4. Data penduduk Dusun Mundu berdasarkan kepercayaannya No. Agama Jumlah 1. Islam 373 orang 2. Kristen 22 orang 3. Katolik 24 orang 4. Hindu - 5. Budha - Sumber: Data RT tahun 2012 2.3.2 Animisme Dahulu kala masyarakat Jawa menganut paham animisme yaitu suatu paham kepercayaan akan roh-roh halus yang berdiri lepas dari manusia dan yang bercampur tangan dalam urusan manusia. Animisme berkaitan dengan dewa-dewi 34

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan roh perantara. Begitu juga dengan masyarakat di Dusun Mundu yang sampai sekarang masih mempercayai adanya roh-roh nenek moyang dan adanya dewadewi. E.B Tylor via Dhavamony (1995:66) menjelaskan bahwa animisme mempunyai dua arti. Pertama, dia dapat dipahami sebagai suatu sistem kepercayaan di mana manusia religious, khususnya orang-orang primitive, membubuhkan jiwa pada manusia dan juga pada makhluk hidup dan benda mati. Arti kedua, animisme dapat dianggap sebagai teori yang dipertahankan oleh Tylor dan pengikut-pengikutnya, bahwa ide tentang jiwa manusia merupakan akibat dari pemikiran mengenai beberapa pengalaman psikis, terutama mimpi, dan ide tentang makhluk-makhluk berjiwa diturunkan dari ide tentang jiwa manusia ini, oleh karena itu merupakan bagian dari tahap berikutnya dalam perkembangan kebudayaan. Sebagai fenomena religius, animisme tampaknya bersifat universal, terdapat dalam semua agama, bukan pada orang-orang primitif saja, meskipun penggunaan popular dari istilah itu sering dikaitkan dengan agama-agama “primitif” atau masyarakat kesukuan. Animisme dapat kita definisikan sebagai kepercayaan pada makhluk-makhluk adikodrati yang dipersonalisasikan (Dhavamony, 1995:67). 2.3.3 Percaya pada Roh Halus Endraswara (2010:9) menjelaskan bahwa sebagian orang Jawa boleh dikatakan masih percaya adanya setan atau hantu yang menganggu manusia. Begitu pula masyarakat Dusun Mundu percaya akan adanya makhluk halus atau 35

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI roh yang mendiami waktu dan ruang tertentu. Itulah sebabnya pada saat melakukan perjalanan ke mana pun orang Jawa selalu berhati-hati, apalagi melewati hutan yang dianggap wingit atau angker. Karena tempat yang sepi, kayu besar, batu besar, dan seterusnya sering dihuni oleh makhluk halus. Makhluk halus sering disebut juga makhluk gaib, artinya tidak tampak oleh mata orang biasa. Makhluk tersebut berada pada wilayah keraton tersendiri yang disebut siluman. Keratin siluman selalu menjadi misteri dan ditakuti oleh orang Jawa. Untuk mengurangi ketakutan dan atau menjinakkan makhluk halus termaksud, orang Jawa sering melakukan pujian atau pujaan dengan berbagai cara. Dalam kitab Jitapsara (Endraswara, 2010:9) dijelaskan bahwa keraton siluman identik dengan wilayah yang serba dingin (kutub utara). Di wilayah itu keadaan selalu gelap, karena jarang menerima sinar matahari, dan di tempat itu pula menjadi sumber Tirtamarta Kamandhalu. Artinya, air yang keluar dari inti sari awan mendung, sehingga amat dingin. Orang yang mampu ke tempat itu dan mendapatkan air tersebut, berarti akan mendapat kemurahan Tuhan. Yang pernah berhasil sampai di tempat itu adalah Sanghyang Nurcahya (Sayyid Anwar). Dia mendapat anugerah berupa Cupu Manik Asthagina, yaitu sebuah wadah kemuliaan Tuhan. Wadah ini berasal dari Nabi Adam dan Ibu Hawa yang dapat diisi dengan air penghidupan. Jika wadah tersebut berisi air penuh, maka selamanya tak akan habis diminum. Orang yang mampu minum air ini, akan mampu memahami hal-hal gaib. Hal ini terbukti bahwa melalui pengembaraan sukma, Nurcahya dapat mendengar suara gaib setelah meminum air penghidupan. Pada waktu itu, Tuhan segera menciptakan sebuah sesotya (mutiara berharga yang 36

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bersinar). Nurcahya diminta masuk ke dalam sesotya itu, agar melihat perumpamaan keindahan surge dan betapa dahsyatnya neraka. Dunia makhluk halus juga dapat berupa roh leluhur. Roh tersebut dapat berhubungan dengan manusia. Bahkan roh raja yang telah meninggal dapat dimintai berkah. Dalam hubungannya dengan makhluk halus berupa setan, agar tidak menganggu, harus diberi sesaji. Hal yang demikian sampai sekarang masih sering dilestarikan, jika membangun rumah atau gedung. Biasanya, di tengahtengah empat tiang besar (saka guru) diberi sesaji berupa benih kelapa dan sejumlah sajian lain. Hal ini dimaksudkan sebagai tolak bala, agar makhluk halus tak menganggu. Kepercayaan kepada makhluk halus merupakan perpaduan animisme dan dinamisme yang lekat di hati orang Jawa. Di benak orang Jawa selalu terlintas bahwa makhluk halus juga ada tradisi makan seperti halnya manusia. Itu sebabnya, orang Jawa selalu berupaya melakukan caos dhahar (member makanan spesial) kepada makhluk halus (Endraswara, 2010:11-12). 2.3.4 Percaya Pada Leluhur Dalam upacara Wiwitan ada banyak rangkaian upacara yang diawali dengan mengundang Sang Pencipta. Dalam memulai suatu upacara, arwah leluhur atau nenek moyang menjadi mediator untuk menghantar permohonan keselamatan atau keberhasilan kepada Tuhan. Keberhasilan segala usaha dianggap tergantung pada kekuatan supranatural sehingga setiap usaha yang dianggap penting disertai dengan upacara, khususnya ditujukan untuk memperoleh restu dari nenek moyang 37

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI terhadap perjalanan hidup manusia dan masyarakat (Soejono,1984). Kepercayaan kepada leluhur ini diwujudkan dalam tradisi ziarah makam leluhur. Bagi masyarakat Jawa, ziarah secara umum dilakukan pada pertengahan sampai akhir bulan ruwah. Pada saat itu biasanya masyarakat secara bersama-sama, satu dusun atau satu desa maupun perorangan dengan keluarga terdekat melakukan tradisi ziarah ke makam leluhur. Di tempat kuburan leluhur atau sanak keluarganya, mereka melakukan suatu aktivitas doa dan tabur bunga yang disebut nyekar. Ada sebagian orang yang melakukan nyekar masih disertai dengan membakar kemenyan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan wangi-wangian kepada roh leluhur. Sementara kalau dilaksanakan oleh seluruh warga desa atau dusun disebut nyadran. Kata nyadran bisa berarti slametan atau member sesaji di tempat yang angker atau keramat, bisa juga berarti selamatan (selametan) di bulan ruwah untuk menghormati para leluhur, biasanya di makam atau tempat yang keramat, sekaligus membersihkan dan mengirim bunga (Poerwadarminta dalam Saksono, 2012:84). Nyadran di Dusun Mundu diikuti oleh bapak-bapak dan dilaksanakan di depan makam yang ada di wilayah RT 05. Mereka melakukan kenduri dan mengirimkan doa bersama-sama untuk para leluhur. Masyarakat Jawa mempunyai anggapan bahwa keberadaan makam leluhur harus dihormati dengan alas an makam adalah tempat peristirahatan terakhir bagi manusia, khususnya leluhur yang telah meninggal. Leluhur itu diyakini dapat memberikan kekuatan dan berkat tertentu. Oleh karena itu, masyarakat mengungkapkannya dengan perlakuan khusus terhadap makam tadi. Hal ini akan semakin tampak nyata pada makam para tokoh yang dianggap mempunyai 38

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kekuatan lebih pada masa hidupnya. Kisah tokoh yang diziarahi member motivasi para peziarah untuk bertirakat mengharapkan keberuntungan. Dengan demikian, mereka beranggapan makam dapat memberikan berkah atau keselamatan bagi pengunjungnya atau peziarahnya yang melaksanakan tirakat dengan khusuk dan ikhlas (Ibid dalam Saksono 2012:84-85) 2.3.5 Percaya Mitos Masyarakat Jawa memang sarat dengan mitos legenda yang bernuansa mistis. Begitu pula dengan masyarakat Dusun Mundu yang merupakan bagian dari masyarakat Jawa. Salah satu mitos yang masih sangat dipercaya oleh masyarakat Dusun Mundu adalah mitos Dewi Sri. Tradisi penghormatan Dewi Sri masih berlangsung sampai sekarang. Simbolisme penghormatan terhadap Dewi Sri tampak dalam ritus-ritus pernikahan (midodareni) dan ritus-ritus pertanian. Figur Dewi Sri menjadi simbol dan kerangka acuan berpikir bagi orang Jawa khususnya petani Jawa di dalam prosesi siklus hidup pernikahan dan tanah pertaniannya. Masyarakat Jawa percaya bahwa asal-usul benih berasal dari dunia atas (dewa) yang diberikan kepada dunia bawah (manusia). Supaya benih kehidupan tetap terjaga keberlangsungannya maka harus dijaga hubungan dunia atas dengan dunia bawah dengan melalui ritus-ritus. Meskipun ritus-ritus tersebut sekarang ini semakin berkurang tetapi petani sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri masih dilakukan dengan membuat sesaji secara sederhana. Seperti yang masih dilakukan oleh masyarakat Dusun Mundu yaitu dengan melaksanakan tradisi Wiwitan secara 39

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sederhana sebagai simbol penghormatan kepada Dewi Sri sebagai dewi kesuburan dan dewi sawah. 2.3.6 Kejawen Kebanyakan masyarakat Dusun Mundu menganut tradisi Jawa. Hal ini terlihat pada tradisi Suran yang awal mulanya dipopulerkan dalam Kalender Sultan Agungan atau disebut dengan kalender Jawa, yang meletakkan bulan Sura sebagai waktu sakral. Jika pada tanggal 1 Sura masyarakat Mundu melakukan tirakatan dengan membaca tahlil, kenduri, nyekar, dan sebagainya. Berkaitan dengan paham animisme, sistem kepercayaan masyarakat dusun Mundu selalu berhubungan dengan agenda tindakannya. Semua hajatan penting harus dicarikan hari pasaran yang baik atau disebut petungan (petangan) atau perhitungan. Tidak sembarang hari digunakan untuk perhelatan. Petungan adalah cara menghitung saat-saat (waktu) serta tanggal-tanggal yang baik, dengan memperhatikan kelima hari pasar (legi, pahing, pon, wage, dan kliwon), tanggaltanggal penting yang ditentukan pada sistem penanggalan yang ada, yang memang dimanfaatkan oleh orang Jawa untuk berbagai tujuan. Kelima hari pasar mempunyai tempatnya sendiri di dalam kelima kategori yang yang ditentukan oleh sistem klasifikasi prelogik orang Jawa, dan karena itu merupakan perantara antara tanggal-tanggal pada berbagai penanggalan dan alam semesta manusia (koentjaraningrat dalam Saksono, 2012:160). Hari pasar ini sering disandingkan dengan nama hari yang umum sehingga menjadi Senin legi, Selasa kliwon, dan seterusnya. Penggunaan hari pasar ini salah satunya untuk menentukan suatu 40

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ritual, acara, adat, dan semacamnya. Misalnya, upacara pernikahan anak Mbok Karno harus dilangsungkan pada hari Senin legi supaya pernikahannya langgeng. Begitu juga dengan upacara Wiwitan yang harus dicarikan hari baik ketika pelaksanaanya. Dalam memilih hari pelaksanaan upacara Wiwitan maupun acara lain, masyarakat Dusun Mundu menghindari tanggal 1 Sura dan bulan Sura karena masyarakat Jawa pada umumnya juga mensakralkan bulan Sura. Masyarakat Dusun Mundu juga menghindari hari geblak (hari meninggal) sanak keluarganya(orangtua, anak, dan pasangan hidup). Misalnya, hari Selasa pon bertepatan dengan geblak pasaangan hidup (suami atau istri), maka upacara Wiwitan tidak dilaksanakan pada hari itu tetapi mencari hari lain. (Wawancara, Bapak Sihono tanggal 10 April 2013). Dengan demikian upacara Wiwitan ini merupakan upacara tradisional yang berhubungan dengan sistem kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. 2.4 Sistem Kesenian Masyarakat Dusun Mundu memiliki sistem kesenian yang masih dilestarikan hingga saat ini. Kesenian-kesenian tersebut antara lain: karawitan, campursari, wayang kulit, jathilan, dan ketoprak. Kesenian-kesenian tersebut dihadirkan pada waktu tertentu. Biasanya jika seseorang yang punya hajat besar seperti mantu atau khitan jika mampu makan akan menggundang grup ketoprak, wayang kulit, atau jathilan dari luar Dusun Mundu karena Dusun Mundu sendiri belum memiliki pelatihan-pelatihan kesenian tersebut. Namun, sekarang siswa SD 41

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Caturtunggal IV yang berada di dekat Dusun Nologaten yang mayoritas siswanya berasal dari Dusun Mundu, Tempel, dan Saren sudah diajarkan kesenian karawitan bahkan sempat tampil di stasiun tv daerah. Para siswa SD tersebut berlatih karawitan di sebuah pendopo yang tidak jauh dari SD Caturtunggal IV. (Wawancara Bapak Tugiman, 12 April 2013). 2.4.1 Karawitan Karawitan adalah seni musik tradisional Jawa dengan peralatan yang lengkap dan telah berkembang secara turun-temurun sesuai dengan perkembangan zaman dan tidak meninggalkan keasliannya. Perangkat peralatan musik tradisional itu disebut gamelan, yang terdiri dari bermacam-macam alat atau ricikan. Sumber (http://cakdurasim.blogspot.com, diunduh tanggal 15 Oktober 2013). Kesenian karawitan biasanya dihadirkan ketika tirakatan malam kemerdekaan Republik Indonesia yang bertempat di balai desa. Yang terlibat dalam kesenian ini adalah bapak-bapak dan ibu-ibu. Para bapak yang memainkan alat musik gamelan dan para ibu nyinden. Biasanya mereka latihan beberapa hari menjelang malam kemerdekaan Republik Indonesia, artinya tidak ada pelatihan khusus yang dilakukan secara rutin setiap minggunya. 2.4.2 Campursari Campursari dalam dunia musik nasional Indonesia mengacu pada campuran beberapa genre musik kontemporer Indonesia. Nama campursari 42

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diambil dari bahasa Jawa yang sebenarnya bersifat umum. Musik campursari terkait dengan modifikasi alat-alat musik gamelan sehingga dapat dikombinasi dengan instrument musik barat, atau sebaliknya. Sumber (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Campursari, diunduh tanggal 16 Oktober 2013). Campursari adalah musik asli Indonesia dengan langgam Jawa sebagai dasarnya. Di Dusun Mundu, campursari juga ditampilkan pada waktu tertentu. Campursari menggunakan alat musik gamelan yang dikombinasikan dengan alat musik modern seperti keyboard. Seperti halnya karawitan, kesenian campursari sampai saat ini juga belum ada pelatihan khusus. 2.4.3 Wayang Kulit Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata Ma Hyang yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna bayangan. Hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga (sekumpulan orang yang mempunyai keahlian khusus menabuh gamelan) dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak, sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang 43

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang, penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar. Sumber (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Wayang_Kulit, diunduh tanggal 16 Oktober 2013). Pertunjukan atau pagelaran wayang kulit di Jawa, biasanya dilaksanakan oleh orang yang mempunyai niat atau maksud tertentu, misalnya memenuhi ujar atau kaul yaitu memenuhi janji terhadap dirinya sendiri yang pernah diucapkan atau pernyataan kegembiraan atas berhasilnya sesuatu yang diidamkan, atau untuk meramaikan hajat lain seperti khitanan, perkawinan dan peringatan-peringatan hari-hari bahagia atau hari besar lainnya. Atau bahkan untuk meruwat seseorang agar terbebas dari mangsa Bathara Kala. Penanggap wayang menyerahkan purba lan wasesa, kekuasaan dan kebebasannya, kepada dalang yang dimintanya untuk mempergelarkan wayang, dengan lakon, ceritera yang telah dipilihnya,yang biasanya telah disesuaikan dengan maksud dari hajat yang diselenggarakannya. Sebelum pergelaran wayang dilaksanakan si empunya hajat berkewajiban melaksanakan persiapan-persiapan pertunjukkan wayang, misalnya mengadakan selamatan atau kenduri, menyiapkan sesaji, menyiapkan tempat pagelaran dengan segala ubarampenya maupun yang berhubungan dengan pertunjukkan wayangnya. (Herusatoto, 1984:113) Pertunjukan kesenian Wayang Kulit di Dusun Mundu Biasanya ditanggap dari luar Dusun Mundu atau menurut Sugono (2008: 1397) artinya memanggil ke suatu tempat dan menyuruhnya untuk menggelarkan suatu pertunjukan serta membayar semua biaya yang diperlukan. Pertunjukan wayang kulit berlangsung 44

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI selama semalam suntuk yang secara umum mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana. 2.4.4 Jathilan Jathilan yang juga sering disebut kuda lumping atau jaran kepang merupakan tarian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bamboo yang dianyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman bentuk kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian jathilan biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan jathilan juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis seperti memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut atau cambuk. Tarian jathilan ini merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kalvaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bamboo, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan. Seringkali dalam pertunjukan jathilan, juga menampilkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan kerajaan Jawa dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda. Sumber (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Kuda_kepang, diunduh tanggal 16 Oktober 2013). 45

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.4.5 Kethoprak Kethoprak tergolong seni rakyat Jawa untuk hiburan, sekaligus menyampaikan ajaran. Pemanfaatan ketoprak pun dapat ke berbagai aspek kehidupan. Pada saat orang Jawa mempunyai hajat manten, supitan, khaul(nadzar), peringatan hari besar, dan sebagainya sering diadakan pertunjukkan ketoprak. Pertunjukan digunakan untuk menghibur para tamu. (Endraswara: 2005:353) adalah sejenis pentas seni yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan kethoprak, disajikan sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan kethoprak biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Tema cerita tidak pernah diambil dari cerita Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukan bukan kethoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang. Sumber (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Ketoprak, diunduh tanggal 16 Oktober 2013). Baik wayang kulit, jathilan dan kethoprak dilaksanakan pada waktu tertentu. seperti acara khitanan atau pernikahan salah satu warga. Kemudian sebagai pemilik acara nanggap wayang kulit, jathilan atau kethoprak untuk memeriahkan acaranya. Tentu saja acara nanggap ini tidak diharuskan dan disesuaikan dengan kemampuan warga. Bila sekiranya tidak mampu untuk nanggap kesenian tersebut maka tidak diharuskan untuk nanggap. Karena untuk nanggap kesenian wayang kulit, jathilan atau ketoprak yang dilakukan oleh sekelompok orang ini membutuhkan uang yang tidak sedikit. 46

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.5 Tradisi Wiwitan dalam Konteks Masyarakat Jawa di Dusun Mundu Penduduk Dusun Mundu mayoritas memeluk agama Islam. Namun dalam kenyataannya adat istiadat leluhurnya masih tetap dipertahankan. Banyak warga yang mempertahankan warisan leluhurnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ada yang menjalankan ajaran agama Islam dengan setia dan murni namun ada juga yang menjalankan ajaran agama Islam diselingi dengan melakukan adat istiadat dan upacara tradisional. Setiap daerah pasti mempunyai adat istiadat yang cenderung bertahan, terutama yang menyangkut aspek kepercayaan. Adat istiadat yang masih dilakukan oleh masyarakat Dusun Mundu antara lain selamatan yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa lingkaran hidup seperti kelahiran, pernikahan, dan kelahiran serta selamatan yang berkaitan dengan kegiatan pertanian seperti upacara Wiwitan. Menurut keyakinan masyarakat Dusun Mundu bila selamatan tersebut ditinggalkan maka mereka akan mendapatkan musibah dalam hidupnya. Tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Dusun Mundu salah satunya adalah selamatan yang berkaitan dengan pertanian yaitu Wiwitan. Tradisi Wiwitan yang merupakan upacara selamatan ini oleh masyarakat Dusun Mundu dipercaya akan memberikan keselamatan dan berkah. Namun apabila tradisi Wiwitan diabaikan maka mereka percaya akan mendapatkan musibah berupa gagal panen. Tradisi Wiwitan yang masih dilakukan masyarakat Dusun Mundu merupakan sebuah tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. 47

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.6 Rangkuman Dusun Mundu merupakan salah satu dari sekian banyak dusun yang ada di Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan karakteristik sumber daya wilayah, Dusun Mundu termasuk kawasan tengah yaitu wilayah aglomersi Perkotaan Yogyakarta yang meliputi Kecamatan Mlati, Sleman, Ngaglik, Ngemplak, Depok, dan Gamping. Wilayah ini cepat berkembang, merupakan pusat pendidikan, industri, perdagangan, dan jasa. Berdasarkan pusat pertumbuhannya, Dusun Mundu termasuk ke dalam wilayah agromenasi perkotaan Yogyakarta yang meliputi Kecamatan Depok, Gamping, serta sebagian wilayah Kecamatan Ngaglik, Ngemplak, Kalasan Berbah, Sleman, dan Mlati. Dalam hal pendidikan, penduduk asli Dusun Mundu yang sudah sepuh (usia diatas 50 tahun) memiliki tingkat pendidikan sebatas tingkat SD sampai tingkat SMA dan berprofesi sebagai petani. Namun, pada dasarnya pendidikan masyarakat Dusun Mundu sudah cukup maju dan hampir semua penduduk pernah mengenyam bangku pendidikan, meskipun tidak semuanya sampai pada jenjang perguruan tinggi. Masyarakat Dusun Mundu adalah masyarakat yang beragama dan mayoritas memeluk agama Islam. Di samping kehidupan beragama, masyarakat Dusun Mundu merupakan masyarakat yang masih mempertahankan adat istiadat yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya, dimana kehidupannya masih mengandung unsur-unsur mistik. kepercayaan masyarakat Dusun Mundu meliputi: percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai kekuatan tertinggi, animisme, percaya pada roh halus, percaya pada leluhur, percaya mitos 48

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan kejawen. Masyarakat Dusun Mundu memiliki sistem kesenian yang masih dilestarikan hingga saat ini. Kesenian-kesenian tersebut antara lain: karawitan, campursari, wayang kulit, jathilan, dan ketoprak. Penduduk Dusun Mundu mayoritas memeluk agama Islam. Namun dalam kenyataannya adat istiadat leluhurnya masih tetap dipertahankan. Banyak warga yang mempertahankan warisan leluhurnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ada yang menjalankan ajaran agama Islam dengan setia dan murni namun ada juga yang menjalankan ajaran agama Islam diselingi dengan melakukan adat istiadat dan upacara tradisional. Tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Dusun Mundu salah satunya adalah selamatan yang berkaitan dengan pertanian yaitu Wiwitan. Tradisi Wiwitan yang merupakan upacara selamatan ini oleh masyarakat Dusun Mundu dipercaya akan memberikan keselamatan dan berkah. Namun apabila tradisi Wiwitan diabaikan maka mereka percaya akan mendapatkan musibah berupa gagal panen. Tradisi Wiwitan yang masih dilakukan masyarakat Dusun Mundu merupakan sebuah tradisi yang dilakukan secara turuntemurun. 49

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III KAJIAN STRUKTUR MITOS DEWI SRI 3.1 Pengantar Tindakan religius masyarakat Jawa pada umumnya, termasuk juga masyarakat Dusun Mundu sangat dipengaruhi oleh budaya Hindu. Pemujaan dewa-dewi Hindu adanya asimilasi (pembauran) paham animisme dengan agama Hindhu. Dari sini lahirlah tokoh simbolik Dewi Sri atau mbok Sri Tokoh simbolik Dewi Sri yang dipercaya sebagai dewi pertanian, dewi tanah, dewi sawah, dewi kesuburan atau dewi padi. Di Pulau Jawa mitos asal tumbuh-tumbuhan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari adalah padi, karena awalnya masyarakat Jawa bekerja sebagai masyarakat agraris. Begitu juga di Dusun Mundu yang dulu juga mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Sampai sekarang masyarakat Dusun Mundu masih mempercayai Dewi Sri sebagai dewi kesuburan. Mitos Dewi Sri sangat terkenal di masyarakat Jawa, oleh sebab itu mitos Dewi Sri memiliki beberapa versi atau varian. Menurut Sugono (2008:1546) versi adalah anggapan pelukisan, penggambaran, dan sebagainya tentang sesuatu dari seseorang atau suatu sudut pandang. Varian adalah bentuk yang berbeda atau menyimpang dari yang asli atau dari yang baku dan sebagainya (2008:1544). Pada bab ini dikenal dua teks mitos Dewi Sri, yaitu teks A dan teks B. mitos Dewi Sri teks A diperoleh dari buku Falsafah Hidup Jawa: Menggali 50

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Mutiara Kebijakan dari Intisari Filsafat Kejawen (Endraswara, 2010:203-204). Mitos Dewi Sri teks B diperoleh dari rekaman hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis sendiri. Kedua teks mitos Dewi Sri tersebut akan dikaji strukturnya menurut teori struktural A.J Greimas. 3.2 Mitos Dewi Sri Teks A Dalam mitos Dewi Sri selalu didampingi Dewa Wisnu. Dalam kisah Dewi Sri, diceritakan bahwa Dewi Sri adalah penjelmaan Wiji Widayat. Wiji Widayat akan dianugerahkan kepada titah marcapada oleh Batara Guru. Batara Guru berposisi superior, sehingga berhak membuat keputusan, mutlak, otoriter, dan harus dianut oleh strata sosial di bawahnya. Dia bersikap memerintah dan memutuskan secara sepihak dalam penganugrahan wahyu. Pada waktu wahyu akan dianugrahkan, ternyata tidak sesuai dengan kehendak Batara Guru sehingga meluncur sendiri ke marcapada. Akibatnya, wahyu harus menerima kutuk Batara Guru. Tiba-tiba wahyu Wiji Widayat meluncur sampai ke dasar laut dan masuk ke perut Nagaraja. Tentu saja hal ini membuat perut Nagaraja merasa sakit dan tidak enak badan. Dia segera dibawa ke hadapan Batara Guru. Akhirnya perut Nagaraja dipegang oleh Batara Guru dan muntahlah dia, mengeluarkan dua makhluk. Makhluk itulah yang kelak dinamai Sri dan Sadana. Hanya saja Sadana dan Sri ingin menikah setelah besar, sehingga membuat Batara Guru marah. Karena, keduanya dianggap sebagai saudara sepupu. Sri dan Sadana pun meninggal dunia karena kutukan Batara Guru, dan diperintahkan agar dibuang ke hutan. 51

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dua dewa bernama Wangkas dan Wangkeng yang diutus membuang jenazah Sri dan Sadana, ternyata sangat penasaran. Keduanya sempat membuka jenazah yang ada dalam peti tersebut. Bersamaan itu pula jenazah Sadana hilang dari peti. Karena itu tiba-tiba dari dalam peti keluar walang sangit yang tak terhingga banyaknya. Walang sangit inilah yang kelak akan menjadi musuh petani padi. Untuk itu peti segera ditutup dan segera dibawa ke hutan Krendawahana untuk dikuburkan. Pada waktu Dewi Sri dikuburkan, tak ada tanda-tanda aneh. Karenanya kedua dewa itu hanya menitipkan pesan kepada petani desa agar memelihara kuburan tersebut. Petani yang tak jauh dari kuburan segera menyiram kuburan tersebut dengan air setaman (air bunga). Ternyata, genap 7 hari dari kuburan tersebut tumbuh padi yang hijau. Karenanya, petani sering memberikan saji-sajian di kuburan tersebut setelah memanen padi. Petani di desa itu semakin kaya raya berkat memanen padi tersebut. Sejak itu pula, Dewi Sri menjadi pujaan petani padi. Namun demikian, suatu saat padi tersebut juga diserang hama berwujud walang sangit. Ternyata, walang sangit itu berasal dari roh Raden Sadana, yang tak lain sebagai penitisan Dewa Wisnu. Jadi, walang sangit yang menganggu padi sebenarnya sebagai upaya pertemuan mistis antara Dewi Sri dengan Wisnu. Keduanya dapat menyatu setelah melalui pengembaraan sukma. (Endraswara, 2010:203-204). 52

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.3 Mitos Dewi Sri Teks B Dahulu kala terdapat seorang Ratu yang memiliki bawahan yaitu Patih Kertaga dan Dewi Sri yang saling mencintai. Karena hal itu Patih Kertaga dan Dewi Sri dipisahkan oleh sang Ratu. Patih Kertaga ditugaskan ke segara dalam wujud gereh pethek dan Dewi Sri diutus di darat dalam wujud tanaman padi. Besok kalau sudah masanya keduanya akan bertemu kembali. Masyarakat Jawa dan khuhusnya masyarakat Dusun Mundu percaya bahwa Dewi Sri adalah dewi kesuburan dan dewi pertanian. Oleh sebab itu, para petani percaya melalui upacara wiwitan dapat mempertemukan Patih Kertaga dan Dewi Sri. Patih Kertaga diwujudkan dalam sajian berupa gereh pethek. Masyarakat percaya dengan melakukan upacara wiwitan akan terhindar dari gagal panen. (Wawancara Bapak Sihono, 3 Desember 2013) 3.4 Analisis Struktural Mitos Dewi Sri Menurut Teori A.J Greimas 3.4.1 Mitos Dewi Sri Teks A 3.4.1.1 Skema Aktansial 3.4.1.1.1 Pengirim (sender) Pengirim (sender) adalah aktan (seseorang atau sesuatu) yang menjadi sumber ide dan fungsi sebagai penggerak cerita. Pengirim memberikan karsa atau keinginan kepada subjek untuk mencapai atau mendapatkan objek. Batara Guru adalah pengirim. Dia bersikap memerintah dan memutuskan secara sepihak dalam penganugrahan wahyu. Dia mengutuk 53

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI wahyu yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Dia mengutuk wahyu Wiji Widayat yang mengeluarkan dua makhluk, Sri dan Sadana yang kelak akan meninggal dunia karena kutukan Batara Guru lantaran keduanya yang merupakan saudara sepupu hendak menikah. 3.4.1.1.2 Objek (object) Objek (object) adalah aktan (sesuatu atau seseorang) yang dituju, dicari, diburu, atau diinginkan oleh subjek atas ide dari pengirim. Dewi Sri adalah objek. Dia akan menjadi tujuan Raden Sadana atau Dewa Wisnu ketika dikutuk oleh Batara Guru yang akhirnya meninggal dunia dan menjelma menjadi walang sangit. 3.4.1.1.3 Subjek (subject) Subjek (subject) adalah aktan pahlawan (sesuatu atau seseorang) yang ditugasi pengirim untuk mencari dan mendapatkan objek. Raden Sadana atau Dewa Wisnu adalah subjek. Raden Sadana atau Dewa Wisnu dikutuk oleh Batara Guru karena hendak menikah dengan Dewi Sri yang merupakan saudara sepupu. Karena hal itu Batara Guru marah dan mengutuk Raden Sadana dan Sri. 3.4.1.1.4 Penolong (helper) Penolong (helper) adalah aktan (sesuatu atau seseorang) yang membantu atau mempermudah usaha subjek atau pahlawan untuk 54

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mendapatkan objek. Dewa Wangkas dan Wangkeng adalah penolong. Kedua dewa yang diutus Batara Guru tersebut menolong menguburkan jenazah Sri dan Sadana. Meskipun jenazah Sadana hilang dan benjelma menjadi walang sangit, namun berkat dewa Wangkas dan Wangkeng tersebut Dewi Sri dan Dewa Wisnu dapat bertemu kembali meski dengan wujud yang berbeda dari sebelumnya. Petani padi juga sebagai penolong, karena dengan mejaga dan merawat kuburan Dewi Sri, maka tumbuhlah tanaman padi di kuburan Dewi Sri tersebut. Tanaman padi yang merupakan jelmaan Dewi Sri kelak akan bertemu dengan walang sangit yang merupakan jelmaan dari Dewa Wisnu. 3.4.1.1.5 Penentang (opponent) Penentang (opponent) adalah aktan (seseorang atau sesuatu) yang menghalangi usaha subjek atau pahlawan dalam mencapai objek. Batara Guru adalah penentang. Dia menghalangi dan menghancurkan kebahagiaan Raden Sadana dan Sri yang saling mencintai dan hendak menikah. Batara Guru mengutuk Sadana dan Sri hingga akhirnya mereka meninggal dunia dan menjelma menjadi padi dan walang sangit. Setelah menjelma menjadi walang sangit, Dewa Wisnu masih mencari Dewi Sri yang telah berubah menjadi padi. 55

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.4.1.1.6 Penerima (receiver) Penerima (receiver) adalah aktan (sesuatu atau seseorang) yang menerima objek yang diusahakan atau dicari oleh subjek. Raden Sadana adalah penerima. Raden Sadana adalah subjek yang mengusahakan kebahagiaan, yaitu untuk bersatu dengan Dewi Sri, sepupu yang dicintainya. Dia hendak menikah dengan Dewi Sri tapi ditentang oleh Batara Guru hingga akhirnya raden Sadana dan Dewi Sri dikutuk oleh Batara Guru. Gambar 1. Pola Aktansial Mitos Teks A Batara Guru Dewi Sri (pengirim) (objek) Raden Sadana atau Dewa Wisnu (penerima) Raden Sadana atau Dewa Wisnu (subjek) Dewa Wangkas, Dewa Wangkeng, Petani Batara Guru (penentang) (pembantu) Dari pola aktansial, diketahui bahwa Raden Sadana atau Dewa Wisnu adalah subjek sekaligus penerima. Dia menjadi subjek karena dia berusaha untuk tetap bersama dengan Dewi Sri yang adalah objek. Sebagai 56

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI subjek dia berusaha mencari, mendapatkan dan bertemu dengan Dewi Sri dan sebagai penerima dia menerima objek yang telah dia usahakan sendiri sebagai subjek. Batara guru merupakan pengirim sekaligus penentang. Dia sebagai pengirim karena dia yang menganugrahkan wahyu. Kemudian Batara Guru mengutuk wahyu tersebut karena tidak sesuai dengan kehendaknya dan keluarlah dua makhluk, Sri dan Sadana. Sebagai pengirim dia secara tidak langsung memberikan keinginan kepada subjek (Raden Sadana atau Dewa Wisnu) untuk mendapatkan objek (Dewi Sri). Sebagai penentang dia berusaha memisahkan Raden Sadana dan Dewi Sri dengan cara mengutuk mereka hingga akhirnya Raden Sadana dan Dewi Sri meninggal dunia. Setelah Raden Sadana dan Dewi Sri meninggal dunia, Dewa Wangkas dan Wengkeng sebagai penolong membantu menguburkan jenazah Dewi Sri dan Raden Sadana. Melalui kedua dewa tersebut jasad mereka tetap bertemu. Petani sebagai penolong, merawat dan menjaga kuburan Dewi Sri. Karena dijaga dan dirawat dengan memberikan air bunga pada kuburan tersebut oleh petani, maka setelah genap tujuh hari tumbuhlah tanaman padi. Kemudian tanaman padi akan bertemu dengan walang sangit. Berkat kehadiran para penolong ini, Dewi Sri dan Raden Sadana dapat bertemu kembali meski dengan wujud yang berbeda dari sebelumnya. 57

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.4.1.2 Struktur Fungsional 3.4.1.2.1 Situasi Awal Situasi awal adalah situasi awal cerita yang menggambarkan keadaan sebelum ada suatu peristiwa yang menganggu keseimbangan (harmoni). Cerita diawali dengan sikap Batara Guru yang akan menganugerahkan Wiji Widayat akan kepada titah marcapada. Batara Guru berposisi superior, sehingga berhak membuat keputusan, muthlak, otoriter, dan harus dianut oleh strata sosial dibawahnya. Dia bersikap memerintah dan memutuskan secara sepihak dalam penganugrahan wahyu. Karena wahyu tidak sesuai dengan kehendaknya, Batara Guru mengutuk wahyu tersebut. Kemudian wahyu yang dikutuk tadi mengeluarkan dua makhluk, yaitu Sri dan Sadana. 3.4.1.2.2 Transformasi Transformasi meliputi tiga tahap cobaan. Ketiga tahap cobaan ini menunjukan usaha subjek untuk mendapatkan objek. 3.4.1.2.2.1 Tahap Uji Kecakapan Setelah wahyu yang dikutuk oleh Batara Guru mengeluarkan dua makhluk, Sri dan Sadana. Kemudian Sadana dan Sri ingin menikah setelah besar. Hal itu membuat Batara Guru marah karena keduanya dianggap sebagai saudara sepupu. Pada tahap ini Raden Sadana berusaha untuk hidup bersama Dewi Sri namun terhalang oleh kehendak Batara Guru. 58

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.4.1.2.2.2 Tahap Utama Batara Guru marah mendengar keinginan Sadana dan Sri yang ingin menikah sedangkan keduanya merupakan saudara sepupu kemudian mengutuk Sri dan Sadana. Karena Batara Guru berposisi superior, sehingga berhak membuat keputusan, muthlak, otoriter, dan harus dianut oleh strata sosial dibawahnya sampai pada akhirnya Sri dan Sadana meninggal dunia terkena kutukan Batara Guru. Kemudian jenazah keduanya dikuburkan oleh Dewa Wangkas dan Wengkeng. Pada tahap ini Sadana yang tidak mungkin melawan Batara Guru akhirnya tetap bersama dengan Dewi Sri dalam wujud jasad. 3.4.1.2.2.3 Tahap Kegemilangan Ketika jenazah Sri dan Sadana hendak dikuburkan oleh Dewa Wangkas dan Wengkeng, jenazah Sadana hilang dan menjelma menjadi walang sangit. Kemudian Dewi Sri dikuburkan. Dari kuburan Dewi Sri tersebut tumbuh tanaman padi. Tanaman padi yang tumbuh subur di kuburan Dewi Sri diserang hama walang sangit. Pada tahap ini Dewi Sri dan Raden Sadana dapat bertemu kembali. 3.4.1.2.3 Situasi Akhir Situasi akhir berarti keseimbangan, situasi telah kembali ke keadaan semula. Konflik telah berakhir. Di sinilah cerita berakhir dengan subjek yang berhasil atau gagal mencapai objek. 59

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sri dan Sadana meninggal dunia dan tidak dapat bersatu dalam wujud yang sebelumnya. Jasad Dewi Sri dikuburkan dan jasad Sadana hilang menjelma menjadi walang sangit. Dari kuburan Dewi Sri tumbuh tanaman padi setelah dirawat dan dijaga oleh petani. Padi tersebut juga diserang hama berwujud walang sangit. Ternyata, walang sangit itu berasal dari roh Raden Sadana, yang tak lain sebagai penitisan Dewa Wisnu. Jadi, walang sangit yang menganggu padi sebenarnya sebagai upaya pertemuan mistis antara Dewi Sri dengan Wisnu. Keduanya dapat menyatu setelah melalui pengembaraan sukma. Tabel 5. Struktur Fungsional Mitos Teks A I Batara Guru menganugerahk an Wiji Widayat akan kepada titah marcapada. Karena wahyu tidak sesuai dengan kehendaknya, Batara Guru mengutuk wahyu tersebut. Kemudian wahyu yang dikutuk tadi mengeluarkan dua makhluk, yaitu Sri dan Sadana. II Transformasi Sadana dan Sri Sri dan ingin menikah Sadana setelah besar. meninggal Batara Guru dunia marah karena terkena keduanya kutukan dianggap Batara sebagai saudara Guru. sepupu. Raden Sadana yang Sadana berusaha tidak untuk hidup mungkin bersama Dewi melawan Sri namun Batara Guru terhalang oleh akhirnya kehendak Batara tetap Guru. bersama dengan Dewi Sri dalam wujud jasad. 60 III Sri dan Sadana meninggal Jenazah dunia dan Sadana tidak dapat menjelma bersatu dalam menjadi wujud yang walang sangit. Dewi sebelumnya. Walang sangit Sri yang dikuburkan menganggu menjelma padi sebagai menjadi tanaman padi. upaya pertemuan Tanaman mistis Dewi padi Sri dan Dewa kemudian Wisnu. diserang hama walang Keduanya dapat bersatu sangit. setelah melalui pengembaraan sukma.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.4.2 Mitos Dewi Sri Teks B 3.4.2.1 Skema Aktansial 3.4.2.1.1 Pengirim (sender) Pengirim (sender) adalah aktan (seseorang atau sesuatu) yang menjadi sumber ide dan fungsi sebagai penggerak cerita. Pengirim memberikan karsa atau keinginan kepada subjek untuk mencapai atau mendapatkan objek. Ratu adalah pengirim. Ratu memisahkan Patih Kertaga dan Dewi Sri yang saling mencintai. Keduanya ditempatkan di laut dan di darat yang tidak memungkinkan untuk Dewi Sri dan Patih Kertaga bertemu. 3.4.2.1.2 Objek (object) Objek (object) adalah aktan (sesuatu atau seseorang) yang dituju, dicari, diburu, atau diinginkan oleh subjek atas ide dari pengirim. Dewi Sri adalah objek. Dia akan menjadi tujuan Patih Kertaga ketika Patih Kertaga diutus oleh Ratu di laut. 3.4.2.1.3 Subjek (subject) Subjek (subject) adalah aktan pahlawan (sesuatu atau seseorang) yang ditugasi pengirim untuk mencari dan mendapatkan objek. Patih Kertaga adalah subjek. Patih Kertaga diutus oleh Ratu di laut yang jauh dari Dewi Sri yg diutus di darat. Oleh karena itu Patih Kertaga mencari Dewi Sri. 61

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.4.2.1.4 Penolong (helper) Penolong (helper) adalah aktan (sesuatu atau seseorang) yang membantu atau mempermudah usaha subjek atau pahlawan untuk mendapatkan objek. Petani adalah penolong, karena dengan melakukan upacara wiwitan akan mempertemukan Patih Kertaga yang berwujud gereh pethek dan Dewi Sri yang berwujud padi. 3.4.2.1.5 Penentang (opponent) Penentang (opponent) adalah aktan (seseorang atau sesuatu) yang menghalangi usaha subjek atau pahlawan dalam mencapai objek. Ratu adalah penentang. Dia menghalangi dan memisahkan Patih Kertaga dan Dewi Sri yang saling mencintai. Ratu mengutus Patih Kertaga di laut dan Dewi Sri di darat sehingga mereka tidak akan pernah bertemu. 3.4.2.1.6 Penerima (receiver) Penerima (receiver) adalah aktan (sesuatu atau seseorang) yang menerima objek yang diusahakan atau dicari oleh subjek. Patih Kertaga adalah penerima. Patih Kertaga adalah subjek yang mengusahakan kebahagiaan, yaitu untuk bersatu dengan Dewi Sri. 62

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 2. Pola Aktansial Mitos Teks B Ratu Dewi Sri Patih Kertaga (pengirim) (objek) (penerima) Patih Kertaga (subjek) Petani Ratu (pembantu) (penentang) Dari pola aktansial, diketahui bahwa Patih Kertaga adalah subjek sekaligus penerima. Dia menjadi subjek karena dia berusaha untuk tetap bersama dengan Dewi Sri yang adalah objek. Sebagai subjek dia berusaha mencari, mendapatkan dan bertemu dengan Dewi Sri dan sebagai penerima dia menerima objek yang telah dia usahakan sendiri sebagai subjek. Ratu merupakan pengirim sekaligus penentang. Dia sebagai pengirim karena dia yang memiliki kuasa. Ratu mengutus Dewi Sri Dan Patih Kertaga di tempat yang berbeda dalam usahanya memisahkan Dewi Sri dan Patih Kertaga.. Sebagai pengirim dia secara tidak langsung memberikan keinginan kepada subjek (Patih Kertaga) untuk mendapatkan objek (Dewi Sri). Sebagai penentang dia berusaha memisahkan Patih Kertaga dan Dewi 63

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sri dengan cara mengutus mereka di tempat yang berbeda yaitu di darat dan di laut yang tidak memungkinkan keduanya untuk bertemu. 3.4.2.2 Struktur Fungsional 3.4.2.2.1 Situasi Awal Situasi awal adalah situasi awal cerita yang menggambarkan keadaan sebelum ada suatu peristiwa yang menganggu keseimbangan (harmoni). Cerita diawali dengan sikap Ratu yang mengetahui bawahannya saling mencintai dan kemudian mengutus Patih kertaga bertugas di laut dan Dewi Sri bertugas di darat. 3.4.2.2.2 Transformasi Transformasi meliputi tiga tahap cobaan. Ketiga tahap cobaan ini menunjukan usaha subjek untuk mendapatkan objek. 3.4.2.2.2.1 Tahap Uji Kecakapan Dewi Sri dan Patih Kertaga diutus di tempat yang berbeda oleh Ratu kemudian Patih Kertaga berusaha untuk hidup bersama Dewi Sri namun terhalang oleh kehendak Ratu. 64

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.4.2.2.2.2 Tahap Utama Ratu marah mengetahui kenyataan bahwa Patih Kertaga dan Dewi Sri saling mencintai. Kemudian sebagai usaha memisahkan keduannya Ratu mengutus Patih Kertaga bertugas di laut dan Dewi Sri di darat. 3.4.2.2.2.3 Tahap Kegemilangan Para petani yang mempercayai Dewi Sri sebagai dewi kesuburan dan dewi padi melakukan upacara untuk mempertemukan Dewi Sri dan Patih Kertaga. Pada tahap ini Dewi Sri dan Patih Kertaga dapat bertemu kembali. 3.4.2.2.3 Situasi Akhir Situasi akhir berarti keseimbangan, situasi telah kembali ke keadaan semula. Konflik telah berakhir. Di sinilah cerita berakhir dengan subjek yang berhasil atau gagal mencapai objek. Dewi Sri dan Patih Kertaga dapat bertemu kembali dalam wujud padi dan gereh pethek setelah dipertemukan oleh petani melalui upacara wiwitan. Tabel 6. Struktur Fungsional Mitos Teks B I Ratu yang mengetahui bawahannya saling mencintai dan kemudian mengutus Patih kertaga bertugas di laut dan Dewi Dewi Sri dan Patih Kertaga diutus di tempat yang berbeda oleh Ratu kemudian II Transformasi Ratu marah mengetahui kenyataan bahwa Patih Kertaga dan Dewi Sri saling mencintai. 65 Para petani yang mempercayai Dewi Sri sebagai dewi kesuburan dan dewi padi III Dewi Sri dan Patih Kertaga dapat bertemu kembali dalam wujud padi dan gereh

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sri bertugas di Patih Kertaga darat. berusaha untuk hidup bersama Dewi Sri namun terhalang oleh kehendak Ratu. Kemudian sebagai usaha memisahkan keduannya Ratu mengutus Patih Kertaga bertugas di laut dan Dewi Sri di darat melakukan upacara untuk mempertemuk an Dewi Sri dan Patih Kertaga. Pada tahap ini Dewi Sri dan Patih Kertaga dapat bertemu kembali setelah dipertemukan oleh petani melalui upacara wiwitan 3.5 Rangkuman Mitos Dewi Sri melatarbelakangi tradisi upacara Wiwitan. Terdapat banyak sekali versi mengenai mitos Dewi Sri yang beredar di pulau Jawa, namun dalam masyarakat Dusun Mundu ada dua versi mitos Dewi Sri yang dipercaya. Melalui kajian teori struktural A.J Greimas yang meliputi skema aktansial dan struktur fungsional memberikan kontribusi dalam memahami mitos Dewi Sri sebagai sastra lisan yang menyeluruh. Dari kajian struktural kedua mitos Dewi Sri tersebut, dapat disimpulkan bahwa mitos Dewi Sri memiliki pola aktansial yang sama. Hal ini membuktikan bahwa struktur mitos Dewi Sri dapat bertahan terhadap perubahan zaman. 66

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV PROSES DAN MAKNA RITUAL UPACARA WIWITAN 4.1 Pengantar Menurut Sugono (2008:1106) proses adalah rangkaian tindakan, perbuatan, atau pengolahan yang menghasilkan produk. Ritual adalah hal-hal yang berkenaan dengan ritus. Sedangkan pengertian ritus adalah tata cara dalam upacara keagaamaan (2008:1178). Jadi yang dimaksud dengan proses ritual dalam penelitian ini adalah rangkaian tindakan yang berkenaan dengan ritual upacara Wiwitan bagi masyarakat Dusun Mundu. Pada bab ini akan dijelaskan proses dan makna ritual upacara Wiwitan di Dusun Mundu. 4.2 Pengertian Upacara Secara Umum Upacara berasal dari Bahasa Sansekerta “Upa” dan “Cara”. Kata upa berarti dekat, sedangkan kata cara berarti berjalan. Jadi pengertian upacara secara utuh adalah berjalan dekat atau berjalan selangkah demi selangkah (Notosudirjo, 1977:109), dari sudut filsafat upacara adalah suatu cara untuk melakukan hubungan antara jiwa dan raga, antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, degan jalan melakukan adanya niat untuk mencapai suatu kesucian jiwa. Sebagian besar masyarakat Dusun Mundu masih mempercayai akan adanya makhluk halus. Makhluk halus menurut pandangan mereka ada yang menguntungkan dan ada pula yang merugikan. Oleh karena itu penduduk 67

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berusaha untuk mengambil hatinya, yaitu dengan melakukan berbagai ritus atau upacara. Pelaksanaan upacara atau sering disebut slametan merupakan suatu perjamuan dalam kerukunan sosial religius yang dihadiri oleh para tetangga, serta dengan beberapa sanak saudara dan sahabat. Kegiatan itu ditunjukan untuk mencari keselamatan, sebagai ucapan syukur, sebagai penolak bala, serta memohon pengampunan dosa (Koentjaraningrat, 1990: 147). Hal ini berarti sistem upacara dalam suatu religi berwujud tindakan manusia dalam melaksanakan kebaktian kepada Tuhan, roh nenek moyang, atau makhluk halus lain. Sistem upacara ini biasanya terdiri dengan rangkaian kegiatan atau beberapa tindakan, seperti berdoa, bersujud, bersesaji, makan bersama, menari dan bernyanyi dalam usahanya untuk berkomunikasi dengan Tuhan penghuni alam gaib (Koentjaraningrat, 1990: 147). 4.2.1 Pengertian Upacara Wiwitan Pada umumnya secara sederhana manusia menganggap bahwa hidup itu bergerak. Manusia bergerak berarti manusia itu hidup, binatang itu bergerak berarti binatang itu hidup. Sebaliknya, sesuatu yang tidak bergerak maka dianggap tidak hidup. Manusia mempunyai hasrat untuk hidup. Manusia menghadapi dunia gaib dengan berbagai perasaan, misalnya percaya, cinta, hasrat, takut, dan sebagainya. Upacara Wiwitan merupakan sebuah upacara tradisional yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa. Kata “wiwitan” berasal dari kata dasar “wiwit” yang berarti mulai mengerjakan (Mangunsuwito, 2013:311). Wiwitan yang dalam 68

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bahasa Indonesia berarti memulai panen. Upacara Wiwitan adalah upacara yang dilakukan sebelum panen padi dan sebagai alat untuk menghormati Dewi Sri dan sebagai wujud rasa terima kasih dan rasa syukur terhadap Tuhan atas anugerah yang diberikan berupa hasil panen yang melimpah (Wawancara, Bapak Sihono tanggal 10 April 2013). 4.3 Tujuan Upacara Wiwitan Berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa, Dewi Sri telah dianggap sebagai dewi kesuburan. Bukan hanya berhenti sebagai mitos, melainkan mitos itu dipertahankan dan diwujudkan dalam upacara Wiwitan oleh petani Jawa. Tradisi wiwitan merupakan ajaran leluhur yang dinilai positif untuk terus dilestarikan, mengingat mensyukuri hasil panen merupakan bagian dari ungkapan syukur kepada sang Pencipta Dari penjelasan beberapa warga Mundu tujuan upacara Wiwitan ini supaya sawah terus diberi kesuburan, panen padi selalu melimpah, hasil panen lebih baik, tanaman tidak diganggu hama, tanah selalu subur, dan untuk menghormati dewi kesuburan, Dewi Sri. 4.4 Proses dan Makna Upacara Wiwitan Upacara Wiwitan dilakukan para petani di Dusun Mundu 2 atau 3 hari (dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi) sebelum dilakukan panen padi. Padi yang siap dipanen kira-kira berusia 95 hari dan diadakan tiga kali dalam satu tahun. Upacara wiwitan dipimpin oleh seorang tokoh adat setempat, yang disebut 69

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Mbah Kaum. Dalam pelaksanaan proses upacara Wiwitan dibagi menjadi tiga tahap sebagai berikut: 4.4.1 Tahap Persiapan dan Maknanya Pada tahap ini pemilik sawah memilih dan menentukan hari pelaksanaan upacara Wiwitan. Pemilihan dan penentuan hari tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Hal ini berkaitan dengan sistem kepercayaan masyarakat Dusun Mundu yang mempercayai bahwa semua hajatan penting harus dicarikan hari yang baik. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Sihono tanggal 10 April 2013, dalam memilih hari untuk pelaksanaan upacara Wiwitan masyarakat Dusun Mundu menghindari tanggal 1 Sura dan hari geblak orang tua, anak, dan pasangan hidup. Makna kegiatan dari hal ini adalah bahwa jika melakukan kegiatan pada hari tersebut dipercaya hasil panen akan gagal, karena hari-hari tersebut seharusnya digunakan untuk berdoa. Tabel 7. Perhitungan hari dan pasaran. Pasaran Hari Legi (5) Pahing (9) Pon (7) Wage (4) Kliwon (8) Minggu (5) 10 14 12 9 13 Senin (4) 9 13 11 8 12 Selasa (3) 8 12 10 7 11 Rabu (7) 12 16 14 11 15 Kamis (8) 13 17 13 12 16 70

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jumat (6) 11 15 13 10 14 Sabtu (9) 14 18 16 13 17 Sumber: wawancara Bapak Sihono, 10 April 2013. Setelah hari sudah ditentukan kira-kira 2 atau 3 hari sebelum panen, pemilik sawah mempersiapkan sesaji dan peralatan yang akan digunakan meliputi: kemenyan, kembang setaman, duit seketheng, sisir, cermin, bedak dingin, parem, empon-empon, ani-ani, membuat sego liwet, gudangan, dan jajan pasar. Dalam upacara Wiwitan diperlukan adanya perlengkapan sebagai sarana untuk mencapai tujuan dari upacara Wiwitan. Berbagai sarana penunjang atau perlengkapan upacara adalah berupa sesaji. Sesaji memegang peranan penting karena merupakan sarana penghantar doa-doa manusia kepada Tuhan. Sesaji berasal dari kata saji yang artinya hidangan (makanan dan lauk-pauk yang telah disediakan pada suatu tempat untuk dimakan) (Sugono, 2008:1203). Bersesaji adalah mempersembahkan sajian dalam upacara keagamaan yang dilakukan secara simbolis dengan tujuan untuk berkomunikasi dengan kekuatan gaib, dengan jalan mempersembahkan makanan dan benda-benda lain yang melambangkan maksud dari komunikasi tersebut. Tahap persiapan ini dilakukan di rumah. 4.4.2 Tahap Pelaksanaan Inti Ritual dan Maknanya Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Sihono dan Mbah Gimo tanggal 16 April 2013, pada tahap ini Mbah Gimo selaku Mbah Kaum memulai dengan meletakkan sesaji berupa kemenyan yang dibakar di dekat padi dan 71

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI galengan. Pembakaran ini untuk mengikrarkan atau semacam penanda dimulainya upacara. Kemudian umborampe yang berupa kembang setaman yang ditindih duit seketheng diletakkan di dekat kemenyan yang dibakar yang disebut wajib tindih. Wajib tindih dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih kepada “penunggu” di mana upacara digelar. Kemudian sesaji yang lainnya adalah sisir dan cermin yang biasanya dibarengkan dengan bedak dingin dan parem. Umborampe ini diperuntukkan bagi Dewi Sri penguasa pertanian agar senantiasa ayu, cantik, wangi, dan menarik sehingga hasil panen pertanian mereka menjadi ayu, cantik, dan menarik pula. Ada juga umborampe yang disebut empon-empon berupa sirih, tembakau, kapur sirih, dan gambir yang diletakkan di sawah. Makna perlengkapan dari empon-empon tersebut adalah agar tanaman padi bersinar sehat. Sesaji emponempon juga diperuntukkan kepada Dewi Sri. Selain itu juga meletakkan ani-ani di antara sesaji yang lainnya. Ani-ani tersebut digunakan untuk memetik padi yang akan digunakan dalam proses mantenan atau mboyong mbok Sri. Setelah sesaji sudah lengkap kemudian pemimpin upacara membacakan doa yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Dewi Sri. Setelah doa, mbah kaum memetik sedikit padi yang nantinya akan dibawa pulang pemilik sawah. Pemetikan padi ini disebut mantenan atau mboyong mbok Sri. Hal ini sebagai tanda wujud Dewi Sri yang sudah dipertemukan dengan patihnya. Dalam proses ini, padi yang dipetik sesuai dengan perhitungan hari dan pasarannya (lihat tabel 7). Misalnya, pemilik sawah memilih hari Rabu pahing maka padi yang akan 72

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dipetik sejumlah 16 pasang. Tahap ini dilakukan di sawah. (wawancara Bapak Sihono, 10 April 2013.) 4.4.3 Tahap Pascaritual dan Maknanya Setelah ritual Wiwitan selesai pemilik sawah membagikan nasi wiwitan yang dibungkus daun pisang kepada yang hadir di sawah, biasanya anak-anak kecil. Hal ini dimaksudkan sebagai ucap syukur dan sedekah. Nasi wiwitan itu terdiri dari sego liwet yang dicampur sambel gepeng yang dibuat dari kacang tholo atau kedelai hitam, cabe, garam yang diuleg bersama gereh pethek. Selain itu nasi wiwitan juga dilengkapi dengan kotosan (daun turi dan daun dadap yang direbus), telur ayam rebus yang diiris menjadi beberapa bagian, buah, dan jajanan pasar. Dalam nasi wiwitan menggunakan sego liwet karena selain mudah proses pembuatannya juga sebagai wujud kesederhanaan seorang petani. Gereh pethek yang terdapat dalam sambel gepeng melambangkan wujud patih Dewi Sri. (wawancara Bapak Sihono dan Ibu Iplis tanggal 16 April 2013) Kemudian kotosan tadi dibuang di tepi atau sudut-sudut sawah atau disebut ngguwaki. Menurut Bapak Sihono hal ini dimaksudkan untuk memberi upah kepada “penunggu” sawah. Tahap ini dilakukan di sawah. Namun, jika nasi wiwitan masih tersisa, nasi wiwitan bisa juga dibagikan kepada orang yang ditemui ketika perjalanan pulang atau dibagikan kepada tetangga di dekat rumah pemilik sawah. 73

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.5.3 Rangkuman Proses pelaksanaan upacara Wiwitan ini mempunyai tiga tahapan besar yaitu: 1. Tahap Persiapan, dalam tahap ini pemilik sawah memilih dan menentukan hari pelaksanaan upacara Wiwitan dan mempersiapkan sesaji serta peralatan yang akan digunakan. Dalam tahap ini terdapat makna kegiatan yaitu dalam pemilihan hari yang menghindari tanggal 1 Sura dan hari geblak orang tua, anak, dan pasangan hidup memiliki maksud bahwa jika melakukan kegiatan pada hari tersebut dipercaya hasil panen akan gagal, karena hari-hari tersebut seharusnya digunakan untuk berdoa. 2. Tahap Pelaksanaan Inti Ritual, pada tahap ini pemilik sawah mengundang pemimpin adat yang disebut Mbah Kaum untuk memimpin upacara dan membacakan doa yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Dewi Sri. Kemudian ia memetik sedikit padi yang nantinya akan dibawa pulang pemilik sawah yang disebut mantenan atau mboyong mbok Sri. Pada tahap ini terdapat dua makna kegiatan yaitu: (a) Dalam pembakaran kemenyan untuk mengikrarkan atau semacam penanda dimulainya upacara, (b) Pemetikan padi yang disebut mantenan atau mboyong mbok Sri sebagai tanda wujud Dewi Sri yang sudah dipertemukan dengan patihnya. Sedangkan untuk makna perlengkapannya adalah sebagai berikut: 74

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a. Wajib tindih (kembang setaman yang ditindih duit seketheng) dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih kepada “penunggu” tempat di mana upacara digelar. b. Umborampe yang berupa sisir dan cermin yang biasanya dibarengkan dengan bedak dingin dan parem diperuntukkan bagi Dewi Sri, penguasa pertanian agar senantiasa ayu, cantik, wangi, dan menarik sehingga hasil panen pertanian mereka menjadi ayu, cantik, dan menarik pula. c. Sesaji empon-empon yang berupa sirih, tembakau, kapur sirih, dan gambir yang diletakkan di sawah dan diperuntukkan kepada Dewi Sri agar tanaman padi bersinar sehat. d. Ani-ani sebagai alat untuk memetik padi yang akan digunakan dalam proses mantenan atau mboyong mbok Sri. 3. Tahap Pascaritual, pada tahap ini pemilik sawah membagikan nasi wiwitan kepada tetangga yang ikut hadir di sawah. Kemudian pemilik sawah membuang kotosan di tepi atau sudut-sudut sawah atau disebut ngguwaki di sawah. Namun, jika nasi wiwitan masih tersisa, nasi wiwitan bisa juga dibagikan kepada orang yang ditemui ketika perjalanan pulang atau dibagikan kepada tetangga di dekat rumah pemilik sawah. Pada tahap ini terdapat dua makna kegiatan, yaitu: (a) pemilik sawah membagikan nasi wiwitan dimaksudkan sebagai ucap syukur dan sedekah. (b) proses ngguwaki (membuang kotosan di tepi atau sudut-sudut sawah) dimaksudkan untuk memberi upah kepada 75

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “penunggu” sawah. Sedangkan untuk makna perlengkapannya adalah sebagai berikut: a. Nasi wiwitan menggunakan sego liwet sebagai wujud kesederhanaan seorang petani, b. Gereh pethek yang terdapat dalam sambel gepeng melambangkan wujud patih Dewi Sri. 76

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V FUNGSI UPACARA WIWITAN BAGI MASYARAKAT DI DUSUN MUNDU 5. 1 Pengantar Dalam bab V ini akan dijelaskan fungsi upacara Wiwitan bagi masyarakat di Dusun Mundu. Penjelasan fungsi upacara Wiwitan didasarkan pada kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat di Dusun Mundu yang masih menyelenggarakan upacara Wiwitan dan dari deskripsi mengenai proses ritual upacara Wiwitan itu sendiri. Penjelasan dalam bab ini diawali dengan fungsi yang terdapat dalam upacara Wiwitan, dan diakhiri dengan sebuah rangkuman mengenai fungsi upacara Wiwitan. 5. 2 Fungsi Upacara Wiwitan Bagi Masyarakat di Dusun Mundu Upacara Wiwitan sebenarnya memiliki fungsi yang tinggi dalam masyarakat di Dusun Mundu. Menurut Taum (2004:96-97) terdapat empat fungsi upacara adat. Empat fungsi tersebut adalah sebagai berikut: 77

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5.2.1 Fungsi Magis Fungsi Magis yang terdapat dalam upacara Wiwitan dikaitkan sebagai sarana masyarakat menghargai roh leluhur dan percaya dengan roh halus. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat yang masih percaya pada roh leluhur dan roh halus. Masyarakat percaya bahwa dalam memulai upacara Wiwitan arwah leluhur menjadi mediator untuk menghantar permohonan keselamatan atau keberhasilan kepada Tuhan. Dalam proses ngguwaki (membuang kotosan di tepi atau sudut-sudut sawah) yang dimaksudkan untuk memberi upah kepada “penunggu” sawah membuktikan bahwa masyarakat percaya dengan adanya roh halus penunggu sawah. 5.2.2 Fungsi Religius Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Sihono dan Bapak Tugiman, fungsi religius yang terdapat dalam upacara Wiwitan adalah sebagai sarana masyarakat Jawa memuja Tuhan. Menurut Mulder (1983:39-41), dalam etika Jawa bila manusia berjuang memperbaiki diri, maka sebagai akibatnya kondisi-kondisi duniawi mereka pun akan meningkat, namun tujuan kebatinan tetaplah hubungan perseorangan yang selaras dengan “Tuhan”, terlepas dari ada tidaknya konsekuensi-konsekuensi duniawi itu. Oleh karena itu, manusia dengan setia menjalankan kewajiban di tempat tugasnya masing-masing –apakah sebagai petani atau sebagai pelayan, sebagai pejabatatau sebagai raja– bukan karena prakarsa atau tanggung jawab pribadi melainkan karena pasrah menerima tugas dan kewajiban itu, 78

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menjalankannya dalam tempat hidupnya di mana orang itu lahir dan bertindak menurut hukum karma, hukum Tuhan dan hukum manusia. Manusia baik adalah manusia yang sejalan dengan Tuhan dan dengan tatanan masyarakat yang ditentukan oleh Tuhan sehingga manusia menggaris bawahi ungkapan “saya tidak bisa apa-apa; saya tidak punya apa-apa” dalam semangat menyerahkan segalagalanya kepada Tuhan. Menurut Endraswara (2010:62) orang Jawa percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi pada manusia itu merupakan kepastian Tuhan dengan mempertimbangkan ikhtiyar manusia. Karena merupakan takdir Tuhan maka segala yang telah terjadi harus diterima dengan hati ikhlas. Tentang kepercayaan orang Jawa terhadap takdir, siapapun tak bisa menghalangi. Takdir ini tidak bisa diubah, maka manusia hanya sumarah, mendasarkan diri pada kehendak (takdir) Tuhan. Namun demikian manusia berhak berikhtiar (wiradat). Kehadiran takdir tak membuat pribadi Jawa menjadi fatalistik, tak mau berusaha dan bekerja. Orang Jawa berpendapat bahwa manusia wajib berikhtiar. Maksudnya, dalam segala hal harus berusaha sakadarira (semampunya). Manusia wajib berusaha, ketentuan di tangan Tuhan. Ikhtiar dalam istilah Jawa dinamakan kupiya (usaha) secara lahir dan batin. Kupiya tersebut mengimplikasikan bahwa hidup perlu dijalani sewajarnya. Dari pandangan tersebut, upacara Wiwitan merupakan sarana manusia memuja Tuhan. Dalam hal ini terjadi interaksi vertikal antara manusia dengan sang pencipta. Interaksi vertikal dalam prosesi upacara Wiwitan terlihat dalam ritual doa. Di sinilah terjadi interaksi vertikal antara manusia dengan Tuhan 79

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bahwa prosesi ini adalah sebagai alat untuk rasa bersyukur terhadap sang pencipta atas hasil panen yang melimpah. Rasa syukur ini diwujudkan dengan membagibagikan makanan yang sekaligus sebagai sesaji kepada masyarakat di sekelilingnya. Upacara Wiwitan juga sebagai salah satu ikhtiar atau usaha manusia dalam kepercayaannya terhadap gagal panen. Meskipun segala sesuatu yang terjadi pada manusia itu merupakan kepastian Tuhan dan manusia hanya wajib berusaha serta tetap pada keyakinan bahwa segala ketentuannya berada di tangan Tuhan, upacara Wiwitan sebagai wujud nyata usaha manusia dalam mencari keselamatan dan mencegah terjadinya gagal panen. 5.2.3 Fungsi Faktitif Menurut Bapak Sihono dan Bapak Tugiman, fungsi faktitif upacara Wiwitan sebagai sarana masyarakat Jawa menghargai sesama. Dengan adanya sikap menghargai sesama dapat meningkatkan produktivitas atau kekuatan, atau pemurnian dan perlindungan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan kelompok masyarakat. Menurut Mulder (1983:41-46) bagi orang Jawa, kemanunggalan berarti keteraturan –yaitu ketenteraman, keseimbangan, hal dapat diramalkan, kesopanan dan keharmonisan diantara bagian-bagian– baik secara perseorangan maupun secara sosial. Itu berarti, upacara-upacara harus dilakukan secara ketat pada saat yang cocok, tingkah laku harus diatur bentuk-bentuk harmonis harus dijaga, dan semua konflik terbuka harus dihindari. Usaha menjaga tatanan sosial dan 80

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menghindari konflik-konflik serta kecenderungan-kecenderungan yang bersifat memecah belah juga akan membawa pribadi ke arah hidup yang tenang tenteram. Ketertiban itu adalah ketertiban formal seperti terwujud dalam upacara dan ritual, praktek birokrasi, pelaksanaan tatakrama dan kekuasaan kelompok atas para anggotanya. Di dalam upacara Wiwitan di Dusun Mundu terjadi interaksi horizontal antara manusia dengan manusia. Hal ini dapat dilihat ketika pemilik sawah membagikan nasi wiwitan kepada masyarakat di sekelilingnya. Dari interaksi horizontal antara manusia dengan manusia tersebut diharapkan akan terjalin sebuah kerukunan dalam masyarakat. Melalui upacara Wiwitan, keharmonisan dalam bermasyarakat (masyarakat desa) akan tetap terjaga. Dalam hal ini terjadi interaksi sosial antara individu satu dengan yang lain dan kita diajarkan untuk saling berbagi kepada sesama sebagai ucapan syukur kita atas segala rezeki yang telah diberikan Tuhan kepada kita. 5.2.4 Fungsi Intensifikasi Fungsi intensifikasi yang terdapat dalam upacara Wiwitan berdasarkan hasil wawancara yaitu sebagai sarana masyarakat Jawa menghargai alam. Hal tersebut mengarah kepada mengintensifkan kesuburan dan panenan. Menurut Magnis Suseno (1985:85), hubungan antara masyarakat dengan alam saling berkaitan. Melalui masyarakat manusia berhubungan dengan alam. Irama-irama alamiah seperti siang dan malam, musim hujan dan musim kering menentukan kehidupannya sehari-hari dan seluruh perencanaannya. Dari 81

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI lingkungan sosial manusia belajar bahwa alam bisa mengancam, tetapi juga memberikan berkat dan ketenangan, bahwa seluruh eksistensinya tergantung dari alam. Tahap-tahap penanaman dan penuaian padi masing-masing, begitu pula tugas-tugas lainnya sebagai petani, dipelajarinya dari masyarakat. Dengan demikian hidupnya memperoleh keteraturan. Melalui lingkungannya manusia belajar untuk berhubungan dengan alam, irama alam menjadi iramanya sendiri, manusia belajar apa yang harus dikerjakannya pada saat-saat yang sesuai. Dengan demikian petani Jawa di satu pihak menemukan identitasnya dalam kelompoknya, di lain pihak melalui kelompoknya ia terus menerus berhadapan dengan alam sebagai kekuasaan yang menentukan kehidupannya seluruhnya. Hal itu paling jelas dalam pertanian di mana segala kerajinan petani hanya merupakan prasyarat bagi keberhasilan panenan. Di dalam upacara Wiwitan di Dusun Mundu terjadi interaksi horizontal antara manusia dengan alam. Letak interaksi horizontal antara manusia dan alam ditunjukan dalam prosesi “ngguwaki” (membuang). Prosesi ini dilakukan dengan membuang sesaji kotosan di pojok-pojok sawah. Disinilah telah terjadi interaksi antara manusia dengan alam di mana interaksi tersebut saling menguntungkan yaitu ketika kotosan dibuang di pojok-pojok sawah akan menjadi makanan bagi cacing-cacing tanah dan mikroorganisme lain, sehingga cacing dan mikroorganisme dalam tanah berkembang lebih baik dan tanah akan menjadi subur. Bila tanah subur diharapkan hasil panen pun akan melimpah. Dari interaksi horizontal anatara manusia dengan alam tersebut diharapkan supaya manusia tetap menghormati dan menjaga alam serta tidak merusak alam. 82

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. 3 Rangkuman Ada empat fungsi upacara Wiwitan bagi masyarakat di Dusun Mundu, yaitu: 1. Fungsi magis sebagai sarana masyarakat menghargai roh leluhur dan percaya dengan roh halus. Masyarakat percaya bahwa dalam memulai upacara Wiwitan arwah leluhur menjadi mediator untuk menghantar permohonan keselamatan atau keberhasilan kepada Tuhan dan percaya adanya roh penunggu sawah. 2. Fungsi religius sebagai sarana masyarakat Jawa memuja Tuhan. Upacara Wiwitan merupakan sarana manusia memuja Tuhan. Dalam hal ini terjadi interaksi vertikal antara manusia dengan sang pencipta. Interaksi vertikal dalam prosesi upacara Wiwitan terlihat dalam ritual doa. Di sinilah terjadi interaksi vertikal antara manusia dengan Tuhan bahwa prosesi ini adalah sebagai alat untuk rasa bersyukur terhadap sang pencipta atas hasil panen yang melimpah. 3. Fungsi faktitif sebagai sarana masyarakat Jawa menghargai sesama. Dalam upacara Wiwitan di Dusun Mundu terjadi interaksi horizontal antara manusia dengan manusia. Dari interaksi horizontal antara manusia dengan manusia tersebut diharapkan akan terjalin sebuah kerukunan dalam masyarakat. Melalui upacara Wiwitan, keharmonisan dalam bermasyarakat (masyarakat desa) akan tetap terjaga. 83

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Fungsi intensifikasi sebagai sarana masyarakat Jawa menghargai alam. Hubungan antara masyarakat dengan alam saling berkaitan. Melalui masyarakat manusia berhubungan dengan alam. Dalam upacara Wiwitan di Dusun Mundu terjadi interaksi horizontal antara manusia dengan alam. Letak interaksi horizontal antara manusia dan alam ditunjukan dalam prosesi “ngguwaki” (membuang). Prosesi ini dilakukan dengan membuang sesaji kotosan di pojok-pojok sawah. Disinilah telah terjadi interaksi antara manusia dengan alam. Dari interaksi horizontal antara manusia dengan alam tersebut diharapkan supaya manusia tetap menghormati dan menjaga alam serta tidak merusak alam. 84

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB VI PENUTUP 6. 1 Kesimpulan Penelitian yang berjudul “Tradisi Wiwitan Masyarakat Jawa di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta: Kajian Mitos, Ritus, Makna dan Fungsi” ini memaparkan tiga permasalahan utama yaitu: (1) menjelaskan dan mengungkap kajian struktural mitos Dewi Sri yang melatarbelakangi upacara Wiwitan dalam masyarakat Jawa di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta; (2) deskripsi proses dan makna upacara Wiwitan di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta; (3) deskripsi fungsi yang terkandung dalam upacara Wiwitan bagi masyarakat di Dusun Mundu, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Dari tiga permasalahan utama tersebut, dapat disimpulkan bahwa mitos Dewi Sri melatarbelakangi tradisi upacara Wiwitan. Terdapat banyak sekali versi mengenai mitos Dewi Sri yang beredar di pulau Jawa, namun dalam masyarakat Dusun Mundu ada dua versi mitos Dewi Sri yang dipercaya. Melalui kajian teori struktural A.J Greimas yang meliputi skema aktansial dan struktur fungsional memberikan kontribusi dalam memahami mitos Dewi Sri sebagai sastra lisan yang menyeluruh. Dari kajian struktural kedua mitos Dewi Sri tersebut, dapat disimpulkan bahwa mitos Dewi Sri memiliki pola aktansial yang sama. Hal ini 85

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI membuktikan bahwa struktur mitos Dewi Sri dapat bertahan terhadap perubahan zaman. Proses pelaksanaan upacara Wiwitan ini mempunyai tiga tahapan besar yaitu: (1) Tahap Persiapan, dalam tahap ini pemilik sawah memilih dan menentukan hari pelaksanaan upacara Wiwitan dan mempersiapkan sesaji serta peralatan yang akan digunakan. Dalam tahap ini terdapat makna kegiatan yaitu dalam pemilihan hari yang menghindari tanggal 1 Sura dan hari geblak orang tua, anak, dan pasangan hidup memiliki maksud bahwa jika melakukan kegiatan pada hari tersebut dipercaya hasil panen akan gagal, karena hari-hari tersebut seharusnya digunakan untuk berdoa, (2) Tahap Pelaksanaan Inti Ritual, pada tahap ini pemilik sawah mengundang pemimpin adat yang disebut Mbah Kaum untuk memimpin upacara dan membacakan doa yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Dewi Sri. Kemudian ia memetik sedikit padi yang nantinya akan dibawa pulang pemilik sawah yang disebut mantenan atau mboyong mbok Sri. Pada tahap ini terdapat dua makna kegiatan yaitu: (a) Dalam pembakaran kemenyan untuk mengikrarkan atau semacam penanda dimulainya upacara, (b) Pemetikan padi yang disebut mantenan atau mboyong mbok Sri sebagai tanda wujud Dewi Sri yang sudah dipertemukan dengan patihnya. Sedangkan untuk makna perlengkapannya adalah sebagai berikut: (a) Wajib tindih (kembang setaman yang ditindih duit seketheng) dimaksudkan sebagai ucapan terima kasih kepada “penunggu” tempat di mana upacara digelar, (b) Umborampe yang berupa sisir dan cermin yang biasanya dibarengkan dengan bedak dingin dan parem diperuntukkan bagi Dewi Sri, penguasa pertanian agar senantiasa ayu, cantik, 86

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI wangi, dan menarik sehingga hasil panen pertanian mereka menjadi ayu, cantik, dan menarik pula. (c) Sesaji empon-empon yang berupa sirih, tembakau, kapur sirih, dan gambir yang diletakkan di sawah dan diperuntukkan kepada Dewi Sri agar tanaman padi bersinar sehat. (d) Ani-ani sebagai alat untuk memetik padi yang akan digunakan dalam proses mantenan atau mboyong mbok Sri, terakhir (3) Tahap Pascaritual, pada tahap ini pemilik sawah membagikan nasi wiwitan kepada tetangga yang ikut hadir di sawah. Kemudian pemilik sawah membuang kotosan di tepi atau sudut-sudut sawah atau disebut ngguwaki di sawah. Namun, jika nasi wiwitan masih tersisa, nasi wiwitan bisa juga dibagikan kepada orang yang ditemui ketika perjalanan pulang atau dibagikan kepada tetangga di dekat rumah pemilik sawah. Pada tahap ini terdapat dua makna kegiatan, yaitu: (a) pemilik sawah membagikan nasi wiwitan dimaksudkan sebagai ucap syukur dan sedekah. (b) proses ngguwaki (membuang kotosan di tepi atau sudut-sudut sawah) dimaksudkan untuk memberi upah kepada “penunggu” sawah. Sedangkan untuk makna perlengkapannya adalah sebagai berikut: (a) Nasi wiwitan menggunakan sego liwet sebagai wujud kesederhanaan seorang petani, (b) Gereh pethek yang terdapat dalam sambel gepeng melambangkan wujud patih Dewi Sri. Ada empat fungsi upacara Wiwitan bagi masyarakat di Dusun Mundu, yaitu: (a) fungsi magis sebagai sarana masyarakat menghargai roh leluhur dan percaya dengan roh halus, (b) fungsi religius sebagai sarana masyarakat Jawa memuja Tuhan. Upacara Wiwitan merupakan sarana manusia memuja Tuhan. Dalam hal ini terjadi interaksi vertikal antara manusia dengan sang pencipta. Interaksi vertikal dalam prosesi upacara Wiwitan terlihat dalam ritual doa. Di 87

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sinilah terjadi interaksi vertikal antara manusia dengan Tuhan bahwa prosesi ini adalah sebagai alat untuk rasa bersyukur terhadap sang pencipta atas hasil panen yang melimpah, (c) fungsi faktitif sebagai sarana masyarakat Jawa menghargai sesama. Dalam upacara Wiwitan di Dusun Mundu terjadi interaksi horizontal antara manusia dengan manusia. Dari interaksi horizontal antara manusia dengan manusia tersebut diharapkan akan terjalin sebuah kerukunan dalam masyarakat. Melalui upacara Wiwitan, keharmonisan dalam bermasyarakat (masyarakat desa) akan tetap terjaga, (d) fungsi intensifikasi sebagai sarana masyarakat Jawa menghargai alam. Hubungan antara masyarakat dengan alam saling berkaitan. Melalui masyarakat manusia berhubungan dengan alam. Dalam upacara Wiwitan di Dusun Mundu terjadi interaksi horizontal antara manusia dengan alam. Letak interaksi horizontal antara manusia dan alam ditunjukan dalam prosesi “ngguwaki” (membuang). Prosesi ini dilakukan dengan membuang sesaji kotosan di pojok-pojok sawah. Disinilah telah terjadi interaksi antara manusia dengan alam. Dari interaksi horizontal antara manusia dengan alam tersebut diharapkan supaya manusia tetap menghormati dan menjaga alam serta tidak merusak alam. 6. 2 Saran Penelitian tentang upacara Wiwitan masyarakat Dusun Mundu yang mencakup kajian mitos, ritus, makna, dan fungsi ini diharapkan dapat dikembangkan lebih luas lagi oleh peneliti selanjutnya menggunakan sudut pandang yang berbeda misalnya meneliti upacara Wiwitan yang ada di daerah lain, meneliti doa atau mantra yang ada dalam upacara Wiwitan. 88

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta Budiaman. 1979. Folklor Betawi. Jakarta: Pustaka Jaya. Bratawidjaja, Thomas Wiyasa. 1988. Upacara Tradisional Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Danandjaja, James. 2002. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafiti Press. Dhavamony, Mariasusai. 1995. Fenomenologi Agama. Yogyakarta: Kanisius. Endraswara, Suwardi. 2004. Dunia Hantu Orang Jawa: Alam Misteri, Magis, dan Fantasi Kejawen. Yogyakarta: Narasi. __________. 2005. Buku Pinter Budaya Jawa: Mutiara Adiluhung Orang Jawa. Yogyakarta: Gelombang Pasang. __________. 2009. Metodologi Penelitian Folklor: Konsep, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Medpress. __________. 2010. Falsafah Hidup Jawa. Yogyakarta: Cakrawala. Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru Kuntjara, Esther. 2006. Penelitian Kebudayaan: Sebuah Paduan Praktis. Yogyakarta: Graha Ilmu. Kurniawan, Benny. 2012. Ilmu Budaya Dasar. Tangerang: Jelajah Nusa Maharkesti dkk. 1988/1989. Upacara Tradisional Siraman Pustaka Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Mangunsuwito, S.A. 2013. Kamus Bahasa Jawa. Bandung: Yrama Widya. Misnawati. 2013. “Hiyang Wadian dalam Miya Paju sapuluh di Kabupaten Barito Timur (Kajian Ekopuitika dan Interpretatif Simbolik)” dalam Suwardi Endraswara dkk. Folklor dan Folklife dalam Kehidupan Dunia Modern: Kesatuan dan Keberagaman. Yogyakarta: Penerbit Ombak. 89

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Namawi, H. Hadari dan H Mimi Martini. 1994. Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gajam Mada University Press. Hamidi. 2004. Metode Penelitian Kualitatif: Aplikasi Praktis, Pembuatan Proposal, dan Laporan Penelitian. Malang: Universitas Muhamadiyah Malang. Hardjowirogo, Marbangun. 1983. Manusia Jawa. Jakarta: Yayasan Idayu. Herusatoto, Budiono. 1984. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: PT. Hanindita Mulder, Niels. 1983. Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa: Kelangsungan dan Perubahan Kulturil. Jakarta: PT. Gramedia. ___________. 1984. Kepribadian Jawa Dan Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Pembangunan Nasional. ___________. 1985. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Jakarta: Sinar Harapan. Nasution, S. 1982. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Bandung: Jemmars. Notosudirjo, Suwardi. 1977. Pengetahuan Bahasa Indonesia: Etimologi. Jakarta: Mutiara. Saksono, Ign. Gatut dkk. 2012. Faham Keselamatan dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Ampera Utama. Spradley, James P. 2006. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana. Sugono, Dendy. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Suseno, Franz Magnis. 1985. Etik Jawa: Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Penerbit PT Gramedia. Suseno, Franz Magnis dkk. 1983. Etika Jawa dalam Sebuah Tantangan: Sebuah Bunga Rampai. Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius. Suyami. 2008. Upacara Ritual di Kraton Yogyakarta: refleksi mithologi dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Kepel Press. Taum, Yoseph Yapi. 2004. “Tradisi Fua Pah: Ritus dan Mitos agraris Masyarakat Dawan di Timor”. Bahasa Merajut Sastra Merunut Budaya. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. 90

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI __________. 2011. Studi Sastra Lisan: Sejarah, Teori, Metode dan Pendekatan Disertai Contoh Penerapannya. Yogyakarta: Lamalera. Tinarbuko, Sumbo. 2009. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra Sumber Online http://id.m.wikipedia.org/wiki/Caturtunggal,_Depok,_Sleman, diunduh pada tanggal 12 Oktober 2013 http://kiprahcaturtunggal.org/, diunduh pada tanggal 12 Oktober 2013 http://cakdurasim.blogspot.com, diunduh pada tanggal 15 Oktober 2013 http://id.m.wikipedia.org/wiki/Campursari, diunduh pada tanggal 16 Oktober 2013 http://id.m.wikipedia.org/wiki/Wayang_Kulit, diunduh pada tanggal 16 Oktober 2013 http://id.m.wikipedia.org/wiki/Kuda_Kepang , diunduh pada tanggal 16 Oktober 2013 http://id.m.wikipedia.org/wiki/Ketoprak, diunduh pada tanggal 16 Oktober 2013 www.slemankab.go.id , diunduh pada tanggal 12 Oktober 2013 91

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 92

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR NARASUMBER 1. Nama : Karyo Utomo (Mbah Gimo) Usia : 83 tahun Alamat : Kledokan RT 02 RW 01 CT XIX B.6 Caturtunggal Depok Sleman Yogyakarta : Petani, sebagai pemimpin upacara Wiwitan Pekerjaan 2. Nama Usia Alamat Pekerjaan 3. Nama Usia Alamat Pekerjaan 4. Nama Usia Alamat Pekerjaan : Ibu Iplis : 50 tahun : Mundu RT 06 RW 02 jalan nangka Caturtunggal Depok Sleman Yogyakarta : Petani, pemilik sawah : Bapak Tugiman : 44 tahun : Mundu jalan perumnas RT 04 RW 02 Caturtunggal Depok Sleman Yogyakarta : PNS, ketua RT 04 : Bapak Sihono : 70 tahun : Mundu jalan manggis RT 04 RW 02 Caturtunggal Depok Sleman Yogyakarta : Wiraswasta 93

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(117)

Dokumen baru

Download (116 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Jenis tanda dan tuturan pada fasilitas umum di Kelurahan Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
0
0
113
Tradisi Rasulan di Dusun Trowono A, Karangasem, Paliyan, Gunungkidul : sebuah kajian folklor.
1
20
79
Pergeseran makna dan fungsi keris bagi masyarakat Jawa.
1
4
101
Tradisi Reba : mitos genealogis, proses ritual, makna dan fungsi bagi masyarakat Ngadha di Flores, NTT.
4
58
103
Pergeseran makna dan fungsi keris bagi masyarakat Jawa
0
3
99
Tradisi Reba mitos genealogis, proses ritual, makna dan fungsi bagi masyarakat Ngadha di Flores, NTT
1
32
101
Analisis sikap konsumen terhadap atribut produk air mineral merk Aqua : studi kasus di Dusun Papringan, Kelurahan Catur Tunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta - USD Repository
0
0
106
Analisis sikap konsumen terhadap atribut produk air mineral merk Aqua : studi kasus di Dusun Papringan, Kelurahan Catur Tunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta - USD Repository
0
0
106
Tradisi ngayau dalam masyarakat dayak : kajian sastra dan folklor - USD Repository
0
1
114
Pengaruh pemberian edukasi [Tahap II] tentang sindrom metabolik terhadap perilaku masyarakat di Dusun Krodan, maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta - USD Repository
0
0
195
Pengaruh pemberian edukasi tentang sindrom metabolik terhadap perilaku masyarakat Dusun Krodan, Maguwoharjo, Sleman Yogyakarta : kajian tekanan darah - USD Repository
0
0
170
Go`et (ungkapan tradisional) Manggarai ditinjau dari segi makna dan fungsi - USD Repository
0
0
138
Hubungan orientasi kewirausahaan perangkat desa dan kesejahteraan masyarakat : studi kasus di Dusun Nyamplung Desa Margokaton Kecamatan Seyegan Sleman Yogyakarta - USD Repository
0
0
143
Perilaku masyarakat dalam melakukan swamedikasi untuk penyakit batuk di Dusun Krodan, Maguwoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2012 - USD Repository
0
0
202
Jenis, makna, dan fungsi mural di kota Yogyakarta : tinjauan semiotika visual - USD Repository
0
0
172
Show more