Uji Angka Kapang/Khamir (AKK), Angka Lempeng Total (ALT), dan identifikasi escherichia coli dalam jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik ``x`` di Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
116
2 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI UJI ANGKA KAPANG/KHAMIR (AKK), ANGKA LEMPENG TOTAL (ALT), DAN IDENTIFIKASI Escherichia coli DALAM JAMU UYUPUYUP DARI PENJUAL JAMU RACIK “X” DI YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Program Studi Ilmu Farmasi Oleh : Theresia Nurida Ambarwulan NIM : 108114126 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI UJI ANGKA KAPANG/KHAMIR (AKK), ANGKA LEMPENG TOTAL (ALT), DAN IDENTIFIKASI Escherichia coli DALAM JAMU UYUPUYUP DARI PENJUAL JAMU RACIK “X” DI YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Program Studi Ilmu Farmasi Oleh : Theresia Nurida Ambarwulan NIM : 108114126 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Persetujuan Pembimbing ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengesahan Skripsi Berjudul iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN J a dila h k ua t be t a pa pun pa ra hnya k e sa la ha n, be t a pa pun sulit nya pe pe ra nga n, be t a pa pun la m a nya pe na nt ia n, ja nga n pa t a h se m a nga t , t e rusla h be rjua ng! Esok pa st i t e rde nga r sora k nya nyia n... -Babcock Kupersembahkan karyaku ini kepada: Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria Ayahku tercinta Matius Tukiran Mangku Sutrisno Ibuku tercinta Yasinta Daryati Suamiku tercinta Eko Ari Wibowo Malaikat kecilku Viola Natasya Wibowo Kakak Q tercinta Christina Febriana Mayasari Adikku tercinta Filipus Rosarianto Pamungkas Terima kasih atas segala doa, dukungan, kepercayaan serta waktu yang kalian berikan kepadaku untuk menyelesaikan karya ini. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Rasa syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas seluruh berkat dan anugrah serta kehendakNya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Uji Angka Kapang/Khamir (AKK), Angka Lempeng Total (ALT), dan Identifikasi Escherichia coli dalam Jamu Uyup-uyup dari Penjual Jamu Racik “X” Di Yogyakarta” dengan baik dan tepat waktu. Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini bukanlah suatu hal yang mudah tentunya banyak kendala yang dihadapi. Berkat segala bantuan dan dukungan yang diberikan dari berbagai pihak, skripsi ini dapat diselesaikan. Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 2. Yohanes Dwiatmaka, S. Si., selaku dosen pembimbing yang telah berkenan membimbing, mengarahkan serta memberikan saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 3. Maria Dwi Budi Jumpowati, S. Si., atas bantuannya yang telah berkenan membimbing, mengarahkan serta memberikan saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Dr. Erna Tri Wulandari, M.Si.,Apt selaku dosen penguji atas kritik dan saran yang telah diberikan sehingga skripsi ini menjadi lebih baik. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Damiana Sapta Candrasari, M.Sc. selaku dosen penguji atas kritik dan saran yang telah diberikan sehingga skripsi ini menjadi lebih baik. 6. Keluargaku tercinta atas kasih sayang, doa serta dukungannya baik moril maupun materil. 7. Sahabat-sahabatku angkatan 2010, khusunya: Anas, Oric, Tika, Ribka atas segala saran, kebersamaan, keceriaan dan dukungannya selama ini. 8. Seluruh staf serta karyawan dari Balai Laboratorium Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta atas bantuan serta kerjasamanya dalam menyelesaikan skripsi ini. 9. Pihak-pihak lain yang turut membantu penulis namun tidak dapat disebutkan satu persatu. Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa tidak skripsi ini jauh dari sempurna karena keterbatasan pikiran, waktu dan tenaga. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini lebih mendekati sempurna. Penulis berharap bahwa skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, baik mahasiswa, lingkungan akademisi, masyarakat, serta dapat memberikan sumbangan kecil bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang kefarmasian. Penulis viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Jamu uyup-uyup merupakan jamu yang berkhasiat untuk melancarkan produksi Air Susu Ibu (ASI) yang dikonsumsi oleh ibu-ibu menyusui. Adanya Angka Kapang/Khamir (AKK) dan Angka Lempeng Total (ALT) yang melebihi batas yang ditentukan oleh KEPMENKES nomor 661 tahun 1994 akan membahayakan kesehatan ibu serta bayinya. Escherichia coli merupakan bakteri yang hidup di tanah dan air. Keberadaannya dapat mengkontaminasi jamu uyupuyup karena bahan baku yang digunakan berupa rimpang yang berasal dari tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui AKK, ALT dan mengidentifikasi E.coli dalam jamu uyup-uyup yang diproduksi penjual jamu racik “X” di Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan rancangan deskriptif exploratif. Penelitian yang dilakukan meliputi penentuan dan pemilihan tempat pengambilan sampel, pangambilan sampel jamu uyup-uyup, pengujian AKK, pengujian ALT, identifikasi bakteri E.coli serta analisis hasil. Hasil pengujian yang dilakukan pada jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta diperoleh nilai AKK sebesar 7,5 x 104 CFU/ml sampai dengan 4 x 105 CFU/ml. Nilai ALT sebesar 8 x 104 CFU/ml sampai dengan 2,4 x 107 CFU/ml. Hasil uji identifikasi menunjukkan bahwa pada jamu uyup-uyup telah tercemar oleh bakteri E.coli. Kata kunci: Jamu uyup-uyup, AKK, ALT, Escherichia coli. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Jamu uyup-uyup is believed to expedite the production of breast milk (ASI) consumed by breastfeeding mothers. The existence of the Number of Mold/ Yeast (AKK), Total Plate Count (ALT) exceeding the limit specified by KEPMENKES no 661 of 1994 would endanger the health of the mother and her baby. Escherichia coli is a bacteria that lives in soil and water. Its presence can contaminate jamu uyup-uyup because that raw materials used in the form or rhizomes from the soil. The purpose of research were to determine the AKK, ALT and identify the E.coli in jamu uyup-uyup that produced by jamu racik seller “X” in Yogyakarta. This research was non-experimental research with the framework of descriptive explorative. Research was conducted on the determination and selection of the sampling, sampling of jamu uyup-uyup, testing of AKK, testing of ALT, E.coli bacteria identification and analysis of result. Results of tests performed on jamu uyup-uyup that produced by jamu racik seller “X” in Yogyakarta AKK values as 7,5 x 104 CFU / mL up to 4 x 105. ALT values as 1 x 106 CFU / mL up to 2,4 x 107 CFU / mL. The test results show that the identification of jamu uyup-uyup been contaminated by the E.coli bacteria. Key word: Jamu uyup-uyup, AKK, ALT, Escherichia coli x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI halaman HALAMAN JUDUL...................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN..................................................................... iv HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...................... v PRAKATA...................................................................................................... vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA......................................................... viii INTISARI....................................................................................................... ix ABSTRACT...................................................................................................... x DAFTAR ISI................................................................................................... xi DAFTAR TABEL........................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... xvii BAB I. PENGANTAR.................................................................................... 1 A. Latar Belakang.................................................................................... 1 1. Rumusan masalah......................................................................... 4 2. Keaslian penelitian........................................................................ 5 3. Manfaat penelitian........................................................................ 5 a. Manfaat teoritis....................................................................... 5 b. Manfaat praktis....................................................................... 6 B. Tujuan Penelitian................................................................................ 6 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................... 7 A. Obat Tradisional.................................................................................. 7 B. Jamu Uyup-uyup................................................................................. 8 C. Angka Kapang/Khamir (AKK)........................................................... 11 D. Angka Lempeng Total (ALT)............................................................. 13 E. Media.................................................................................................. 17 F. Escherichia coli.................................................................................. 19 G. Identifikasi Escherichia coli............................................................... 23 H. Landasan Teori.................................................................................... 26 I. Hipotesis............................................................................................. 27 BAB III. METODE PENELITIAN................................................................ 28 A. Jenis dan Rancangan Penelitian.......................................................... 28 B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional..................................... 28 1. Variabel Utama............................................................................. 28 2. Variabel Pengacau........................................................................ 28 3. Variabel Operasional.................................................................... 29 C. Bahan Penelitian................................................................................. 29 D. Alat Penelitian..................................................................................... 30 E. Tata Cara Penelitian............................................................................ 30 1. Pemilihan Sampel dan Pengambilan Sampel................................ 30 2. Penangan Wadah/Kemasan Penyiapan Sampel............................ 31 3. Tahap Pra-Pengkayaan.................................................................. 31 4. Uji AKK........................................................................................ 32 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Uji ALT......................................................................................... 33 6. Uji Identifikasi Escherichia coli................................................... 34 F. Analisis Hasil...................................................................................... 38 1. Uji AKK........................................................................................ 38 2. Uji ALT......................................................................................... 39 3. Identifikasi Escherichia coli......................................................... 42 BAB VI. HASIL DAN PEMBAHASAN....................................................... 43 A. Penentuan dan Pemilihan Sampel....................................................... 43 B. Pengambilan Sampel........................................................................... 43 C. Homogenisasi dan Pengenceran Sampel............................................ 44 D. Uji AKK.............................................................................................. 45 E. Uji ALT............................................................................................... 48 F. Identifikasi Escherichia coli............................................................... 50 1. Tahap Pengkayaan........................................................................ 50 2. Tahap Isolasi................................................................................. 53 3. Tahap Identifikasi dan Konfirmasi............................................... 54 4. Pengecatan Gram.......................................................................... 63 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ 67 A. Kesimpulan......................................................................................... 67 B. Saran................................................................................................... 67 DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 68 LAMPIRAN.................................................................................................... 72 BIOGRAFI PENULIS.................................................................................... 98 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Uji fermentasi karbohidrat dan uji IMViC pada identifikasi E.coli (Holt et all., 2000).............................................................. Tabel II. 42 Nilai AKK sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi hari ke5..................................................................................................... 46 Tabel III. Nilai ALT sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi 48 jam........... Tabel IV. Hasil uji biokimia dan pengecatan gram dalam sampel jamu uyup-uyup..................................................................................... xiv 49 65

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Uji pengkayaan E.coli pada media ECB...................................... 52 Gambar 2. Uji isolasi E.coli pada media TBX............................................... 54 Gambar 3. Uji fermentasi karbohidrat pada sampel jamu uyup-uyup........... Gambar 4. Uji motilitas bakteri terlihat adanya pertumbuhan di sekitar 56 tusukan dan permukaan media sebelum penambahan reagen Kovac’s......................................................................................... 58 Gambar 5. Uji Indol pada sampel jamu uyup-uyup....................................... 60 Gambar 6. Uji metil merah pada sampel jamu uyup-uyup............................ 61 Gambar 7. Uji Voges-Voskauer pada sampel jamu uyup-uyup.................... 62 Gambar 8. Uji sitrat pada sampel jamu uyup-uyup....................................... 63 Gambar 9. Hasil pengecatan gram berwarna merah muda (gram negatif) dan berbentuk batang.................................................................. xv 65

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Surat ijin penelitian di Balai Laboratorium Kesehatan 73 Yogyakarta............................................................................... Lampiran 2. Hasil uji MPN E.coli dari Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta............................................................................... 74 Lampiran 3. Uji AKK sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi hari ke-5..... 75 Lampiran 4. Perhitungan AKK sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi hari ke-5................................................................................... 76 Lampiran 5. Uji ALT sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi 48 jam........ 79 Lampiran 6. Perhitungan ALT sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi 48 jam....................................................................................... 80 Lampiran 7. Pengambilan sampel jamu uyup-uyup..................................... Lampiran 8. Uji AKK sampel jamu uyup-uyup sampling I pada inkubasi hari ke-5................................................................................... Lampiran 9. 83 84 Uji AKK sampel jamu uyup-uyup sampling II pada inkubasi hari ke-5................................................................................... 85 Lampiran 10. Uji AKK sampel jamu uyup-uyup sampling III pada inkubasi hari ke-5................................................................................... xvi 86

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 11. Uji ALT sampel jamu uyup-uyup sampling I pada inkubasi 48 jam....................................................................................... 87 Lampiran 12. Uji ALT sampel jamu uyup-uyup sampling II pada inkubasi 48 jam....................................................................................... 88 Lampiran 13. Uji ALT sampel jamu uyup-uyup sampling III pada inkubasi 48 jam....................................................................................... 89 Lampiran 14. Uji tahap pengkayaan sampel jamu uyup-uyup inkubasi 24 jam....................................................................................... 90 Lampiran 15. Uji tahap isolasi sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi 24 jam....................................................................................... 91 Lampiran 16. Uji fermentasi karbohidrat pada sampel jamu uyupuyup.......................................................................................... 92 Lampiran 17. Uji indol pada sampel jamu uyup-uyup................................... 93 Lampiran 18. Uji metil merah pada sampel jamu uyup-uyup........................ 94 Lampiran 19. Uji Voges-Proskauer pada sampel jamu uyup-uyup................ 95 Lampiran 20. Uji sitrat pada sampel jamu uyup-uyup................................... 96 Lampiran 21. Hasil pengecatan gram pada sampel jamu uyup-uyup............. 97 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB 1 PENGANTAR A. Latar Belakang Obat Bahan Alam Indonesia dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka (BPOM RI, 2004). Jamu merupakan obat asli Indonesia yang harus tetap dilestarikan dengan fokus utama pada aspek keamanan (safety), mutu, dan khasiat jamu sebagai obat tradisional (Wasito, 2011). Menurut PERMENKES RI No. 003/MENKES/PER/I/2010 Jamu adalah obat tradisional Indonesia. Jamu harus memenuhi kriteria aman sesuai dengan persyaratan yang khusus untuk itu, klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris yang ada, dan memenuhi persyaratan mutu khusus untuk itu. Jamu sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia dibuktikan berdasarkan data hasil Riset Kesehatan Dasar 2010, hampir setengah (49, 53%) penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas, mengkonsumsi jamu. Sekitar lima persen (4,36%) mengkonsumsi jamu setiap hari, sedangkan sisanya (45,17%) mengkonsumsi jamu sesekali (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2011). Salah satu jamu yang banyak digemari masyarakat adalah jamu racikan. Alasan utama masyarakat lebih memilih jamu daripada obat sintetik adalah karena jamu mempunyai efek samping yang jauh lebih kecil, harganya yang terjangkau, bahan baku jamu lebih mudah ditemukan, serta dari beberapa hasil penelitian yang sudah dilakukan ternyata jamu memang memiliki khasiat pengobatan secara tradisional (Wasito, 2011). 1

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Asi sangat bermanfaat bagi pertumbuhan bayi diantaranya adalah sebagai nutrisi bagi bayi, meningkatkan daya tahan tubuh bayi dari berbagai penyakit, meningkatkan kecerdasan, serta menyusui dapat meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan anak (Roesli, 2000). Produksi ASI yang cukup mempunyai peranan penting dalam tumbuh kembang bagi bayi. Jamu uyup-uyup atau jamu gepyokan adalah jamu yang dipilih mereka karena dipercaya berkhasiat sebagai pelancar ASI bagi ibu yang sedang menyusui dan tersedia banyak di pasar-pasar tradisional. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan jamu uyup-uyup bervariasi, namun secara umum terdiri dari empon-empon yaitu kencur, jahe, bangle, laos, kunyit, temulawak, puyang, dan temu giring (Suharmiati, 2003). Salah satu Grand Strategi Pengembangan Jamu yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia adalah meningkatkan keamanan, mutu dan efikasi jamu. Usaha jamu racikan merupakan usaha yang tidak wajib memiliki ijin edar, oleh karena itu keamanan serta jaminan mutu kualitas jamu racikan masih cukup rendah. Salah satu parameter jaminan keamanan dan mutu dari jamu yang diatur dalam KEPMENKES no 661 tahun 1994 adalah tidak boleh mengandung mikroba patogen, Angka Kapang/Khamir (AKK) tidak lebih dari 103 dan Angka Lempeng Total (ALT) tidak lebih dari 104. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai AKK, ALT, dan mengidentifikasi adanya bakteri patogen E.coli dalam jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di kota Yogyakarta. Adanya AKK yang melebihi batas pada jamu uyup-uyup ini dapat membahayakan bagi ibu yang sedang menyusui serta bayinya. Mikroba patogen yang menjadi sumber kontaminasi pada jamu

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 uyup-uyup adalah Aspergilus flavus, Candida albicans dan Cryptococcus neoformans. Ketiga mikroba patogen ini ditemukan di tanah dan air. Aspergilus flavus memproduksi mikotoksin yaitu aflatoksin. Salah satu aflatoksin yang paling berbahaya yaitu aflatoksin B1 yang dapat disekresikan melalui ASI dan bersifat karsinogenik karena dapat menyebabkan hepatotoksik dan kanker hati (Abdulrazaq et al., 2003). Bahan baku yang digunakan disimpan di bawah kandang burung yang kemungkinan besar terkontaminasi khamir Cryptococcus neoformans yang dapat menyebabkan infeksi paru-paru karena Cryptococcus neoformans juga ditemukan pada kotoran burung. Sementara itu, Candida albicans dapat menyebabkan kandidiasis pada mulut yaitu sariawan terutama pada bayi serta dapat menyebabkan vulvovaginitis atau keputihan pada wanita mengingat jamu uyup-uyup dikonsumsi oleh ibu-ibu (Jawetz, 1996). Adanya ALT yang melebihi batas juga dapat membahayakan ibu dan bayi, karena dalam ALT yang tinggi kemungkinan terdapat bakteri patogen diantaranya adalah Salmonella, E.coli, dan Shigella dan Pseudomonas aeruginosa yang dapat menyebabkan demam dan diare berat pada ibu terutama bayinya karena sistem imun bayi yang belum sempurna dan rentan terkena penyakit (Radji, 2011; Jawetz, 1996). Identifikasi E.coli dipilih karena bakteri ini merupakan indikator dari sanitasi yang buruk pada saat pembuatan jamu. Selain itu, menurut Radji (2011) bakteri E.coli Uropatogenik dapat menyebabkan Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada 90% wanita serta diare sehingga ibu yang mengkonsumsi jamu uyup-uyup ini berpotensi besar terkena ISK dan diare. Apabila ibu yang terkena diare tidak

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 menjaga kebersihannya maka bayinya akan tertular diare melalui fekel oral rute karena bayi sangat rentan terkena penyakit. Penyebab utama diare pada bayi yaitu E.coli enteropatogenik dan E.coli enterotoksigenik (Radji, 2011). Jamu uyup-uyup dipilih karena merupakan jamu pilihan utama untuk membantu memperlancar produksi ASI. Konsumsi jamu pelancar ASI didasari berbagai alasan, diantaranya adalah karena harga dari susu khusus ibu menyusui yang cukup mahal dan sebagian dari mereka tidak menyukai susu (Rengga, 2013). Jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” juga banyak dikonsumsi oleh banyak warga bukan hanya warga Jogja tetapi juga warga di luar kota Jogja. Penjual jamu racik “X” menjual jamu uyup-uyup dari jam 06.00 pagi hingga jam 19.30 WIB dengan sekali pembuatan dengan cara manual yaitu memakai tangan dan ditumbuk menggunakan peralatan sederhana seperti lumpang dan alu. Hal ini akan memicu adanya pertumbuhan jamur dan bakteri patogen. Selain itu, bahan yang digunakan adalah rimpang yang berasal dari tanah yang merupakan habitat dari jamur serta bakteri termasuk bakteri E.coli. 1. Rumusan masalah a. Berapa AKK dalam jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta? b. Berapa ALT dalam jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta? c. Adakah cemaran bakteri patogen Escherichia coli dalam jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta?

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 2. Keaslian penelitian Sejauh penelusuran pustaka penulis, publikasi penelitian tentang “Uji AKK, Uji ALT dan identifikasi Escherichia coli dalam jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta” belum pernah dilakukan. Penelitian yang pernah dilakukan berkaitan dengan penelitian ini adalah: a. Uji Angka Kapang/Khamir (AKK), Angka Lempeng Total (ALT) dan Identifikasi Escherichia coli dalam jamu cekok dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta oleh Susetyo (2014). b. Uji Angka Kapang/Khamir (AKK), Angka Lempeng Total (ALT) dan Identifikasi Salmonella dalam jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta oleh Purwaningsih (2014). c. Uji Angka Kapang/Khamir (AKK), Angka Lempeng Total (ALT) dan Identifikasi Salmonella dalam jamu cekok dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta Oleh Kartika (2014). d. Uji Angka Kapang/Khamir (AKK), Angka Lempeng Total (ALT) dan Identifikasi Staphylococcus aureus dalam jamu cekok dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta oleh Oktavori (2014). 3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai AKK, ALT dan ada tidaknya bakteri Escherichia coli dalam jamu uyup-uyup atau gepyokan yang diproduksi penjual jamu racik “X” di Yogyakarta.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 b. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penjual jamu serta masyarakat dalam memberikan informasi mengenai salah satu parameter kualitas dan keamanan terkait AKK, ALT dan ada tidaknya bakteri Escherichia coli pada jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta. B. Tujuan penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai AKK, ALT dan ada tidaknya cemaran bakteri Escherichia coli dalam jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Obat Tradisional Obat tradisional sebagaimana tercantum dalam PERMENKES Nomor 007 tahun 2012 adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Menurut Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan makanan Republik Indonesia, Obat Bahan Alam Indonesia dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka (BPOM RI, 2004). Jamu adalah obat tradisional Indonesia. Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah distandardisasi. Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan klinik, bahan baku dan produk jadinya telah distandardisasi (BPOM, 2005). KEPMENKES nomor 661 tahun 1994 menyebutkan bahwa cairan obat dalam adalah sediaan obat tradisional berupa larutan emulsi atau suspensi dalam air; bahan bakunya berasal dalam dari serbuk simplisia atau sediaan galenik dan digunakan sebagai obat dalam. Jamu merupakan cairan obat dalam, sesuai dengan KEPMENKES Nomor 661 tahun 1994 bahwa untuk cairan obat dalam nilai AKK tidak boleh lebih dari 103, ALT tidak lebih dari 104 serta tidak ada bakteri patogen di dalamnya. 7

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 B. Jamu Uyup-uyup Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 007 Tahun 2012, usaha jamu racikan adalah usaha yang dilakukan oleh depot jamu atau sejenisnya yang dimiliki perorangan dengan melakukan pencampuran sediaan jadi dan/atau sediaan segar obat tradisional untuk dijajakan langsung kepada konsumen. Cara pembuatan jamu uyup-uyup yang diproduksi oleh penjual jamu racik “X” di Yogyakarta adalah dengan mencuci semua bahan yang digunakan dengan air dan disikat, kemudian menumbuknya sampai halus menggunakan lumpang dan alu. Hasil tumbukan dimasukkan dalam kantong plastik bening, esok paginya direbus dan disaring, kemudian jamu dijual ke konsumen dari pagi hingga malam hari. Menurut Suharmiati (2003), jamu uyup-uyup atau jamu gepyokan adalah jamu yang digunakan bagi ibu-ibu pasca melahirkan untuk membantu memproduksi banyak asi bagi bayinya. Bahan baku dari jamu uyup-uyup berbedabeda antar penjual jamu, namun pada umumnya yang digunakan berupa emponempon meliputi: 1. Kunyit ( Curcuma domestica Val. ) Rimpang kunyit mengandung senyawa kurkuminoid. Selain itu, dalam rimpang kunyit juga mengandung minyak atsiri berupa sesquiterpen, tumeron, tumeon, zingiberen, dan garam-garam mineral. Khasiat dari rimpang kunyit yaitu untuk memperlancar ASI, mengobati diabetes melitus, disentri, sakit keputihan, haid tidak lancar, serta untuk mengatasi perut mulas saat haid (Wasito, 2011).

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 2. Kencur (Kaempferia galanga L.) Senyawa yang terkandung dalam rimpang kencur adalah amilum (4,14%) mineral (13,73%) dan minyak atsiri (0,02%) terdiri dari sineol, asam metilfumarat, dan pentadekana, ester etil sinamat, borneol, kamfena, asam anisik, alkaloid, dan gom. Khasiat dari rimpang kencur ini adalah untuk mengobati masuk angin, diare, sakit kepala, influenza pada bayi, batuk memperlancar haid, menghilangkan lelah, muntah-muntah, dan lain-lain (Agoes, 2010) 3. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Rimpang temulawak mengandung kurkuminoid berupa kurkumin, demetoksikurkumin serta minyak atsiri terdiri dari alfakurkumin dan xantorizol yang berkhasiat sebagai antibakteri, koleretik (menstimulasi produksi empedu dari hati) dan sebagai antipiretik (menurunkan panas). Temulawak mempunyai banyak khasiat di antaranya yaitu memperlancar ASI, mengobati asma, sakit maag, menambah nafsu makan, meredakan nyeri haid dan lain-lain (Latief, 2012). 4. Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum Val.) Jenis temulawak ini juga sering disebut sebagai lempuyang emprit. Kandungan zat aktifnya meliputi zerumbon, suatu senyawa yang berkhasiat sebagai antikejang. Selain itu, juga terdapat limonen yang berkhasiat sebagai karminatif (mengeluarkan gas) dari saluran cerna. Khasiat lain dari lempuyang yaitu mengobati kaki bengkak setelah melahirkan, wasir, gatal-gatal, anemia, cacingan, kolik karena kedinginan, serta untuk menambah nafsu makan (Latief, 2012).

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 5. Temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.) Rimpang temu ireng mengandung senyawa tanin, kurkumol, isokurkumenol, kurzerenon, kurdion, kurkumalakton, germakron, β-g-elemene, linderazulene, kurkumin, dan bisdemethyoxykurkumin. Ciri khas dari rimpang ini yaitu mempunyai rasa pahit, tajam dan sifatnya mendinginkan. Rimpang ini berkhasiat sebagai pengencer dahak, karminatif (memicu flatus), stomakik (meningkatkan nafsu makan), antihelmintik, dan pembersih darah setelah melahirkan atau setelah haid ( Agoes, 2010). 6. Temu giring (Curcuma heyneana) Temu giring mengandung zat pati, minyak atsiri, dan piperazin sitrat yang dapat membunuh cacing gelang. Khasiat lain dari temu giring adalah mengatasi bau badan, gelisah atau cemas, menguruskan badan, disentri, sembelit, jantung berdebar-debar serta dapat digunakan sebagai lulur pengantin (Agoes, 2010). 7. Pepaya (Carica papaya L.) Bagian yang digunakan dalam jamu uyup-uyup ini adalah bagian daun yang mempunyai ciri khas rasanya yang pahit. Kandungan dari daun pepaya ini meliputi enzim papain, alkaloid karparin dan pseudokarpain, glikosida, karposida, dan saponin. Khasiat dari daun pepaya yaitu untuk melancarkan ASI, mengobati malaria, flu, mencegah demam nifas, menambah nafsu makan, mengatasi keputihan, dan melancarkan haid (Latief, 2012).

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 C. Angka Kapang/Khamir (AKK) Tujuan dilakukannya uji AKK adalah memberikan jaminan bahwa sediaan obat tradisional tidak mengandung cemaran fungi melebihi batas yang ditetapkan karena mempengaruhi stabilitas dan aflatoksin yang berbahaya bagi kesehatan. Prinsip dari uji AKK ini adalah penentuan adanya kapang/khamir secara mikrobiologis dinyatakan dalam koloni/ml ( Depkes RI, 2000). Khamir atau yeast adalah kelompok fungi uniseluler yang bersifat mikroskopik. Ada beberapa genus khamir yang dapat membentuk miselium dengan percabangan. Khamir dapat bersifat patogen pada manusia dan binatang bersel satu. Khamir tersebar di alam, tetapi tidak seluas daerah penyebaran bakteri. Pada umumnya khamir mempunyai ukuran sel-sel yang lebih besar dibandingkan bakteri. Ukuran khamir sekitar 1-5 mikron lebar dan panjangnya sekitar 5-30 mikron (Tarigan, 1988). Khamir tidak mempunyai flagel dan organel lain untuk melakukan pergerakan. Beberapa bentuk khamir yaitu bulat (spheroid), elips atau bulat telur dan batang atau silindris. Bentuk sel khamir tetap sehingga dapat membantu dalam melakukan identifikasi (Jutono, 1972). Beberapa kelompok khamir yang dominan ditemukan dalam air dan ekosistem tanah adalah genus Cryptococcus, Candida dan Debaryomyces (Kanti 2005). Candida albicans adalah flora normal selaput mukosa saluran pernafasan, saluran pencernaan dan genitalia wanita. Kadang-kadang Candida menyebabkan penyakit sistemik progresif pada penderita yang lemah atau sistem imunnya tertekan. Candida albicans dapat menyebabkan infeksi mulut (sariawan), terutama pada bayi. Infeksi terjadi pada selaput mukosa pipi dan tampak sebagai bercak-

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 bercak putih yang sebagian besar terdiri atas pseudomiselium dan epitel yang terkelupas dan hanya terdapat erosi minimal pada selaput. Candida albicans juga dapat menyebabkan vulvovaginitis atau keputihan pada wanita. Penyakit ini menyerupai sariawan tetapi menimbulkan iritasi, gatal yang hebat dan pengeluaran sekret. Dalam keadaan pH normal yang asam bakteri vagina tidak menimbulkan penyakit, namun karena hilangnya pH asam merupakan predisposisi timbulnya vulvovaginitis kandida. Cryptococcus neoformans juga ditemukan pada kotoran burung. Cryptococcus neoformans menyebabkan infeksi yang disebut kriptokokosis yang bersifat opportunistik. Infeksi pada manusia terjadi malalui saluran pernafasan dan dapat bersifat asimtomatik, infeksi paru-paru dapat menyebar secara sistemik dan menetap dalam susunan saraf pusat dan organorgan lainnya (Jawetz, 1996). Kapang atau mold merupakan jamur yang berbentuk menyerupai benang, multiseluler, tidak berklorofil dan belum mempunyai diferensiasi jaringan. Spesies kapang yang non-patogen meliputi spesies-spesies yang melakukan perombakan bahan-bahan organik di tanah, dan perusakan pada serat-serat kayu dan bahan-bahan lain. Kapang hidup di dalam tanah, buah-buahan, dalam air, dan pada bahan-bahan makanan. Kapang dapat bersifat saprofit dan parasit pada tanaman, manusia, dan hewan (Jutono, 1972). Tubuh kapang terdiri dari kumpulan benang-benang halus berwarna putih yang disebut hifa. Hifa-hifa ini dapat terus tumbuh dan bercabang membentuk miselium. Setiap hifa mempunyai lebar antara 5-19 mikron (Tarigan, 1988).

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Adanya kapang dalam makanan atau minuman sangat berbahaya karena kapang menghasikan mikotoksin. Mikotoksin adalah metabolit sekunder dari kapang yang bersifat sitotoksik, merusak struktur sel, seperti membran dan merusak proses pembentukan sel yang penting bagi tubuh. Penyakit yang disebabkan oleh mikotoksin disebut dengan mikotoksis. Ada 5 jenis mikotoksin yang berbahaya bagi kesehatan yaitu, aflatoksin, fumonisin, okratoksin, trikotesena, dan zearalenon. Aflatoksin terutama dihasilkan oleh Aspergilus flavus dan Aspergilus parasiticus. Terdapat enam jenis aflatoksin yang sering dijumpai dan bersifat toksik, yaitu aflatoksin B1, B2, G1, G2, M1 dan M2 (Ahmad, 2009). Aspergilus flavus ditemukan di air, udara dan tanah (David et all., 2001) Salah satu jenis aflatoksin yang paling toksik adalah aflatoksin B1 yang banyak ditemukan pada makanan dan minuman. Apabila aflatoksin ini masuk ke dalam tubuh manusia terutama pada wanita yang sedang menyusui, maka akan disekresikan melalui ASI dalam bentuk hidroksilasinya yaitu aflatoksin M1. Aflatoksin M1 ini dapat terkonsumsi oleh bayi melalui ASI dan dapat menyebabkan hepatotoksik dan kanker hati (Abdulrazzaq, 2003). D. Angka Lempeng Total (ALT) Metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba yang ada pada suatu sampel, umumnya dikenal dengan Angka Lempeng Total (ALT). Uji ALT dan lebih tepatnya ALT bakteri aerob mesofil atau anaerob mesofil menggunakan media padat dengan hasil akhir berupa koloni bakteri yang dapat diamati secara visual dan dihitung dalam satuan koloni (cfu) per

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 ml/g atau koloni/100ml. Cara yang digunakan antara lain dengan cara tuang, cara tetes dan cara sebar (BPOM RI, 2008). Bakteri merupakan organisme yang tidak memiliki membran inti sel, prokariota dan mikroskopik (berukuran kecil). Bakteri adalah salah satu penyebab infeksi pada manusia. Banyak infeksi yang disebabkan oleh bakteri bersifat patogen dan asimtomatik. Penyakit terjadi jika bakteri atau reaksi imunologik terhadap keberadaannya menyebabkan cukup kerusakan pada seseorang (Jawetz, 1996). Habitat bakteri merupakan tempat tinggal yang spesifik bagi bakteri untuk tumbuh. Habitat alam mikroorganisme berupa tanah, air dan udara. Bakteri patogen yang berada di tanah meliputi Clostridium tetani, Clostridium perfringens, Clostridium botulinum, dan Bacillus antracis. Bakteri yang berasal di air meliputi Salmonella, shigella, Vibrio cholerae, Legionella, dan Escherichia coli. Bakteri E.coli ini biasanya digunakan sebagai indikator dari pencemaran air oleh tinja. Udara sangat jarang menjadi habitat bakteri karena adanya efek pengeringan, ozonisasi, dan radiasi sinar UV. Namun, udara dalam ruangan kemungkinan mengandung mikroba patogen yang berasal dari tangan, kulit, pakaian, dan saluran napas atas manusia (Radji, 2011). Patogenesis merupakan kemampuan dari suatu mikroorganisme untuk menyebabkan penyakit mulai dari mikroorganisme masuk dalam sel hospes dan berkembang biak. Kemampuan mikroorganisme dalam menimbulkan penyakit ini dipengaruhi dari sistem imun hospes yang sedang terganggu serta faktor virulensi dari mikroorganisme tersebut (Radji, 2011).

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Faktor virulensi mikroorganisme patogen ditentukan oleh toksin yang diproduksi yaitu berupa endotoksin (toksin lipopolisakarida) dan eksotoksin (toksin protein). Eksotoksin merupakan protein toksin yang termolabil dan dikelompokkan menjadi 3 tipe yaitu: sitotoksin (membunuh sel inang atau mempengaruhi fungsi sel), neurotoksin (terlibat dalam transmisi normal impuls saraf), enterotoksin (mempengaruhi sel-sel pada saluran pencernaan). Endotoksin merupakan toksin yang tahan panas dan dihasilkan oleh bakteri gram negatif selama masa pertumbuhan terutama pada saat sel mengalami lisis. Pada saat sel lisis, disintegrasi dinding selnya mengakibatkan pelepasan toksin LPS. Endotoksin yang dilepaskan pada peredaran darah dapat menyebabkan syok kerena terjadi penurunan tekanan darah dan kegagalan fungsi banyak organ (Pratiwi, 2008). Clostridium tetani merupakan bakteri tanah patogen yang menghasilkan neurotoksin berupa tetanospamin. Tetanospamin dapat mencapai sistem saraf pusat dan terikat pada sel saraf menyebabkan kontraksi otot yang tidak terkendali, menghasilkan kontraksi otot spasmodik tetanus. Bakteri Clostridium botulinum juga menghasilkan neurotoksin berupa toksin botulinum. Neurotoksin ini akan menghambat transmisi impuls saraf ke sel otot. Toksin ini terikat kuat pada sel saraf dan menghambat pelepasan neurotransmiter yaitu asetilkolin (berperan dalam menginduksi kontraksi otot). Akibatnya terjadi penghambatan kontraksi otot (Pratiwi, 2008). Clostridium perfringens menularkan penyakit dari makanan atau minumam yang terkontaminasi tanah dan tinja. Bakteri ini menghasilkan enterotoksin yang merangsang enzim adenilat siklase pada dinding usus dan

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 menyebabkan hipersekresi air dan klorida dan menghambat reabsorpsi natrium. Akibatnya terjadi diare, kram perut, dan kadang-kadang terasa mual disertai muntah (Radji, 2011). Bakteri air seperti E.coli dapat menyebabkan diare dan infeksi saluran kemih. Penyebab utama diare pada bayi yaitu E.coli enterohemoragik dan E.coli enterotoksigenik (Dupont, 1971). Bakteri Salmonella menyebabkan salmonellosis pada manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Salmonella menghasilkan endotoksin yang dapat merangsang pelepasan zat pirogen dari selsel makrofag dan sel polimorfonuklear sehingga mengakibatkan demam. Salmonella juga menghasilkan enterotoksin dan sitotoksin yang menyebabkan diare. Shigella menghasilkan endotoksin yang dapat menyebabkan demam dan eksotoksin berupa enterotoksin, neurotoksin serta sitotoksin. Enterotoksin yang dihasilkan oleh Shigella ini dapat menyerang kolon sehingga mengakibatkan diare berair atau disentri, sedangkan neurotoksin dan sitotoksin belum diketahui pasti peranannya pada shigellosis, tetapi diduga menyebabkan kejang pada anak-anak. Bakteri Legionella tidak hanya berasal dari air tetapi juga infeksi diperoleh melalui inhalasi udara atau melalui debu. Gejala klinik dari infeksi Legionella yaitu berupa demam tinggi, menggigil, diare, dan batuk (Radji, 2011). Toksin kolera merupakan enterotoksin yang dihasilkan oleh bakteri Vibrio cholerae yang dapat menginduksi pembentukan cyclic cAMP dari ATP pada sitoplasma. Akibatnya, sel epitel mengeluarkan sejumlah besar cairan dan elektrolit serta mengganggu kontraksi otot normal sehingga berakhir dengan diare disertai muntah (Pratiwi, 2008). Habitat Pseudomonas aeruginosa adalah di tanah dan

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 air. P. aeruginosa juga dapat dijumpai pada daerah lembab (Levinson & Jawetz, 2003). P.aeruginosa melekat dan membentuk koloni pada selaput mukosa atau kulit, menginvasi secara lokal dan menimbulkan penyakit sistemik. Lipopolisakarida pada P.aerugenosa berperan langsung dalam menyebakan demam, syok oligouria, leukositosis, dan leukopenia. Pengenceran dari sampel sangat penting untuk menghindari koloni bakteri atau kapang/khamir yang saling menumpuk karena konsentrasi sangat pekat sehingga didapatkan koloni yang terpisah dan dapat dihitung dengan mudah. Pengenceran ini sangat membantu terutama untuk sampel dengan cemaran sangat tinggi (BPOM RI, 2008). E. Media Media pertumbuhan mikroorganisme adalah bahan yang tersusun dari bermacam-macam zat makanan atau nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroorganisme dalam menyusun komponen sel-selnya (Aulia, 2012). Mikroba membutuhkan banyak nutrisi untuk dapat melakukan sintesa protoplasma dan bagian-bagian sel lainnya. Setiap nutrisi yang dibutuhkan mikroorganisme dapat berbeda karena sifat fisiologi setiap mikroorganisme juga berbeda (Sumarsih, 2007). Media dapat berupa cairan seperti kaldu dan dapat pula berupa padatan seperti agar dan gelatin. Media harus mengandung sumber karbon, nitrogen, sulfur, fosfor, dan faktor pertumbuhan organik (Radji, 2011). Proses pembuatan media harus dilakukan proses sterilisasi dan selalu menerapkan perilaku aseptis agar tidak ada kontaminan yang berasal dari media.

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 Medium pertumbuhan dapat digunakan untuk hal-hal berikut : 1. isolat mikroorganisme menjadi kultur murni, 2. memanipulasi komposisi media pertumbuhannya, 3. menumbuhkan mikroorganisme, 4. memperbanyak jumlah, 5. menguji sifat-sifat fisiologisnya 6. menghitung jumlah mikroba (Aulia, 2012). Media yang digunakan untuk pengujian AKK adalah Potato Dextrose Agar (PDA). Media ini menyediakan nutrisi untuk menstimulasi pertumbuhan konidium pada jamur (Murray, 1996). Media yang digunakan untuk pengujian ALT adalah Plate Count Agar (PCA) yang mengandung tripton, glukosa dan yeast extract untuk nutrisi pertumbuhan bakteri (Bridson, 2006). Identifikasi bakteri patogen misalnya E. coli menggunakan media selektif yaitu media yang hanya dapat ditumbuhi oleh satu atau lebih mikroorganisme tertentu, tetapi akan menghambat/mematikan jenis lainnya. Salah satu media selektif untuk identifikasi bakteri E.coli adalah E.coli Broth (ECB) merupakan media yang memfasilitasi bakteri Coliform yaitu E.coli, Enterobacter aerogenes dan Citrobacter fruendii untuk memfermentasikan laktosa. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya pembentukan gas (Cappucino, 2008). Media differensial adalah media yang digunakan untuk menumbuhkan mikroba tertentu serta untuk menentukan sifat-sifatnya. Media Tryptone Bile XGlucuronide (TBX) adalah media yang mengandung agen kromogenik x-β-Dglukoronide yang dapat mendeteksi adanya enzim glukoronidase yang terdapat

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 pada E.coli. Bakteri E.coli akan menyerap agen kromogenik x-β-D-glukoronide dan akan terjadi interaksi dengan enzim glukoronidase. Setelah terjadi proses fermentasi maka agen kromogenik akan disekresikan ke luar sel yang akan menimbulkan warna hijau-kebiruan sehingga memudahkan dalam proses identifikasi E.coli (Bridson, 2006). F. Escherichia coli Escherichia coli termasuk dalam golongan gram negatif yang berbentuk batang, berbentuk rantai membentuk koloni, dan bergerak mengunakan flagel. Sebagian besar dari bakteri E.coli menghasilkan toksin berupa eksotoksin yang tidak tahan pada panas, eksotoksin ini dapat menyebabkan hipermotilitas karena peningkatan sekresi air dan klorida ke dalam lumen usus dan menyebabkan diare pada anak-anak ( Jawetz, 1996). Pada saluran pencernaan, E. coli mampu memfermentasikan laktosa pada suhu tubuh normal 35-37ºC (Chandra, 2007). E.coli dapat tumbuh baik pada temperatur 8º-46ºC. Bakteri yang berada sedikit di atas temperatur minimum atau sedikit di atas temperatur maksimum, tidak akan mati melainkan berada dalam keadaan tidur atau dormancy ( Melliawati, 2009). Bakteri E.coli dapat tetap bertahan pada suhu 70oC (Anonim, 2014). Bakteri E.coli merupakan flora normal yang berada pada saluran pencernaan manusia. Namun apabila keberadaannya berlebih tentu justru akan membahayakan kondisi tubuh. Selain itu, ada beberapa dari galur bakteri E.coli yang menyebabkan infeksi pada manusia seperti infeksi saluran kemih, infeksi

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 meningitis, diare yang disertai darah, kejang perut, demam, dan terkadang dapat menyebabkan gangguan pada ginjal (Radji, 2011). Escherichia coli adalah golongan Enterobacteriaceae yang sebenarnya tidak banyak dijadikan sebagai indikator dari kontaminasi fekal, tetapi lebih menunjukkan sebagai indikator dari sanitasi yang buruk pada saat proses produksi jamu dikarenakan bakteri ini tahan pada suhu tinggi maupun suhu rendah, kekeringan, serta tahan terhadap detergen atau disinfektan (BPOM, 2008). Berdasarkan sifat virulensi, E.coli dikelompokkan menjadi 2 yaitu: 1. E.coli yang menyebabkan infeksi intestin a. E.coli Enteropatogenik (EPEC) EPEC ini menyebabkan diare berat pada bayi bisa bertahan lebih dari 2 minggu dalam tubuh inang dan mengakibatkan kematian jika terjadi dehidrasi berat. Pada orang dewasa, penyakit ini ditandai dengan diare berat, mual, muntah, kram perut, sakit kepala, demam, dan menggigil. Waktu timbulnya penyakit diare adalah 17 sampai 72 jam dengan durasi 6 jam sampai 3 hari. Strain ini menyebabkan penyakit diare pada orang-orang di negara berkembang ketika ditransmisikan dalam air yang terkontaminasi oleh tinja (Dupont, 1971). b. E.coli Enteroinvasif (EIEC) EIEC mirip dengan shigellosis dan disebabkan oleh penetrasi bakteri yang mengakibatkan kerusakan mukosa usus. Gejala meliputi: menggigil, demam, sakit kepala, nyeri otot, kram

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 perut, dan diare cair. Penyakit ini terjadi 8 sampai 24 jam setelah konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri ini (Dupont, 1971) c. E.coli Enterotoksigenik (ETEC) Penyebab utama pada “diare wisatawan” serta penting menyebabkan diare pada bayi di negara berkembang. ETEC termasuk strain yang menghasilkan enterotoksin yaitu toksin LT (tidak tahan panas) dan toksin ST (tahan panas) ketika berkembang biak di usus menyebabkan diare dan gangguan absorpsi klorida dan natrium serta menurunkan motilitas usus halus. Penyakit ini ditandai dengan diare berat, yang menyebabkan dehidrasi. Diare dapat bertahan hingga 19 hari. Biasanya tidak ada demam. Onset penyakit dapat terjadi 8-44 jam setelah konsumsi (Dupont, 1971) d. E.coli Enterohemoragic (EHEC) Gejala ditandai dengan kram perut parah (namun tidak selalu) diikuti dengan diare berdarah (kolitis hemoragik). Beberapa individu hanya menunjukkan diare dan muntah tidak disertai demam. Masa inkubasi biasanya sekitar sekitar 3 sampai 9 hari. Mikroorganisme ini menghasilkan verotoksin yang menyebabkan sindrom uremik hemolitik dan gagal ginjal pada anak-anak yang sering membutuhkan dialisis dan akhirnya dapat menyebabkan kematian (Dupont, 1971).

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 e. E.coli Enteroagregatif (EAEC) Penyebab utama diare akut dan kronis pada masyarakat berkembang. EAEC menyebabkan diare tidak berdarah, tidak menginvasi, dan tidak menyebabkan inflamasi pada mukosa intestin. EAEC juga menghasilkan hemolisin yang dapat menyebabkab infeksi saluran kemih (Radji, 2011). 2. E.coli yang dapat menyebabkan infeksi extraintestin a. E.coli Uropatogenik (UPEC) UPEC menyebabkan infeksi saluran kandung kemih pada 90% wanita. Kemungkinan wanita mengalami infeksi UPEC ini dikarenakan wanita mempunyai saluran uretra yang lebih pendek dibandingkan pria. Bakteri yang berkolonisasi berasal dari tinja atau daerah perineum saluran urin yang masuk ke dalam kandung kemih (Radji, 2011). b. E.coli meningitis neonatus (NMEC) NMEC merupakan penyebab utama meningitis pada bayi yang baru dilahirkan. Infeksi terjadi setelah E.coli masuk ke dalam pembuluh darah melaui nasofaring atau saluran gastrointestinal dan kemudian masuk ke dalam sel-sel otak. Faktor utama virulensi dari NMEC ini adalah antigen K1 (Radji, 2011).

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 G. Identifikasi Escherichia coli Prinsip pengujian deteksi Eschericia coli menurut Metode Analisis Mikrobiologi (MA PPOM 73/MIK/06) yaitu pertumbuhan koloni Eschericia coli pada media lempeng selektif dan dilanjutkan dengan konfirmasi melalui uji biokimia. Pada pengujan deteksi Eschericia coli digunakan Tryptic Soy Broth (TSB) sebagai media cair atau pengencer, dan Eosyn Methylen Blue (EMB) sebagai media lempeng selektif. Uji yang digunakan untuk mengetahui keberadaan bakteri E.coli didalam contoh adalah uji fermentasi karbohidrat dan uji IMViC (uji Indol, Methyl Red, Voges-Proskauer, dan Citrate) yang menjadi ciri keberadaan bakteri E.coli (Holt et all., 2000). Berikut uji identifikasi keberadaan E.coli: 1. Uji fermentasi karbohidrat Sebagian besar mikroorganisme memperoleh energi dari serangkaian reaksi enzimatik dari substrat seperti karbohidrat. Organisme yang menggunakan karbohidrat berbeda-beda tergantung dari enzim yang dimilikinya. Beberapa organisme dapat memfermentasikan gula salah satunya adalah glukosa secara anaerob. Bakteri fakultatif anaerob seperti E.coli dapat memfermentasikan glukosa dalam keadaan aerob maupun anaerob. Fermentasi karbohidrat secara anaerob menghasilkan asam organik seperti asam format, asam laktat, asam asetat disertai gas hidrogen dan karbon dioksida (Cappuccino, 2008). Karbohidrat yang sering digunakan yaitu glukosa, laktosa, manitol, maltosa dan sukrosa. Media yang digunakan mengandung glukosa dan ditambahkan indikator merah fenol. Adanya asam dapat diketahui dari perubahan

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 warna media dari merah menjadi kuning. Gas yang terbentuk terjebak dalam tabung Durham (Lay, 1994). 2. Uji indol Bakteri E.coli mampu menggunakan triptofan sebagai sumber karbon. E.coli memiliki enzim triptofanase yang mengkatalisasikan penguraian gugus indol dari triptofan. Pembentukan Indol diketahui dengan adanya cincin warna merah muda di permukaan media karena penambahan reagen Kovac’s (Lay, 1994). 3. Uji metil merah Pada umumnya glukosa merupakan sumber energi bagi mikroorganisme. Sebagian besar mikroorganisme enterik seperti E.coli memfermentasikan glukosa dengan memproduksi asam organik. Adanya penambahan indikator pH metil merah dapat mendeteksi adanya asam yang dihasilkan oleh mikroorganisme ditandai dengan penurunan pH dari 6 menjadi 4 dan perubahan warna media dari kuning menjadi merah (Cappuccino, 2008). 4. Uji Voges-Proskauer Uji Voges-Proskauer dapat mengetahui beberapa mikroorganisme yang menghasilkan produk non asam atau bersifat netral, seperti asetilmetilkarbinol dari asam organik yang dihasilkan pada metabolisme glukosa. Reagen yang digunakan yaitu reagen Barritt’s yang berisi alkohol α-naftol dan KOH 40%. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya kompleks warna merah seperti bunga mawar pada media. Setelah penambahan reagen Barritt’s didiamkan selama 15

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 menit, terbentuknya warna merah mengindikasikan adanya asetilmetilkarbinol (Cappuccino, 2008). 5. Uji sitrat Uji sitrat bertujuan untuk mengetahui kemampuan suatu mikroorganisme dalam menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. Warna media akan berubah dari hijau menjadi biru karena asam dihilangkan dan terjadi peningkatan pH, karena mikroorganisme menggunakan sitrat sebagai sumber karbon dan energi. Perubahan warna media dikarenakan adanya indikator pH brom timol biru pada media (Lay, 1994). 6. Pengecatan gram Pengecatan gram merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam klasifikasi bakteri. Metode ini dapat memisahkan menjadi 2 kelompok besar yaitu bakteri gram positif dan gram negatif (Hadioetomo, 1985). Zat warna yang digunakan yaitu kristal violet (biru) dan safranin (merah). Prosedur laboratorium dimulai dengan melapisi spesimen dengan zat warna kristal violet. Mikroorganisme kemudian dicuci dan diberi zat warna safranin. Berdasarkan karakteristik dinding selnya, mikroorganisme gram positif akan menyerap zat warna kristal violet ke dalam dinding sel dan mempertahankannya selama pencucian sehingga akhirnya akan berwarna biru. Mikroorganisme gram negatif tidak dapat mempertahankan zat warna kristal violet pada saat pencucian sehingga akan berwarna merah ketika pemberian zat warna safranin (Sears, 2011).

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 H. Landasan Teori Obat Bahan Alam Indonesia dibagi menjadi 3 yaitu jamu, obat herbal terstandar serta fitofarmaka. Jamu termasuk dalam cairan obat dalam yang harus memenuhi persyaratan sesuai KEPMENKES RI No. 661 Tahun 1994 yaitu tidak boleh mengandung bakteri patogen, AKK tidak lebih dari 103 dan ALT tidak lebih dari 104. Jamu uyup-uyup merupakan jamu yang dikonsumsi oleh ibu yang sedang menyusui dan berkhasiat untuk meningkatkan produksi ASI. Jamu uyup-uyup ini terbuat dari empon-empon berupa kunyit, kencur, temulawak, lempuyang, temu ireng, temu giring, dan daun pepaya. Pada penelitian ini dilakukan uji AKK, ALT serta Identifikasi bakteri Escherichia coli pada jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta. Uji AKK dan uji ALT bertujuan untuk menghitung jumlah mikroba patogen yang berada pada sampel jamu uyup-uyup dan dinyatakan dalam koloni/mL sesuai dengan PPOMN tahun 2006. Tanah dan air merupakan habitat bagi mikroba patogen diantaranya adalah Clostridium tetani, Clostridium botulinum, Clostridium perfringens, Bacillus antracis, Salmonella, shigella, Vibrio cholerae, Legionella, dan E. coli. Apabila mikroba patogen tersebut masuk ke dalam tubuh manusia maka akan menimbulkan penyakit diantaranya adalah demam, diare, muntah bahkan dapat menyerang sistem saraf terutama bagi ibu-ibu yang sedang menyusui yang dapat ditularkan kepada bayinya.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 Faktor-faktor yang dapat menyebakan tingginya jumlah AKK, ALT dan keberadaan bakteri E.coli adalah bahan baku yang digunakan oleh penjual jamu racik “X” di Yogyakarta adalah berupa rimpang yang berasal dari tanah yang kemungkinan mengandung banyak mikroba patogen. Pencucian bahan baku yang kurang bersih karena bahan baku hanya dicuci menggunakan sikat yang memungkinkan bakteri patogen masih tertinggal di rimpang tersebut. Selain itu, bahan baku disimpan di dekat kamar mandi yang kondisinya lembab, serta ditempatkan di bawah kandang burung yang kemungkinan dapat terkontaminasi oleh mikroba patogen Cryptococcus neoformans. Mikroba patogen ini ditemukan pada kotoran burung dan dapat menyebabkan infeksi paru-paru pada manusia. Peralatan yang digunakan untuk pembuatan jamu uyup-uyup adalah menggunakan lumpang dan alu yang tidak dicuci menggunakan sabun, dan dalam keadaan yang lembab dapat memicu adanya pertumbuhan mikroba patogen. Penjual jamu racik “X” buka dari pukul 06.00 WIB hingga 19.30 WIB, akibat jamu yang didiamkan terlalu lama akan memicu pertumbuhan mikroba yang semakin banyak karena air merupakan media yang sesuai untuk pertumbuhan bakteri dan jamur. Apabila air yang digunakan oleh penjual jamu racik “X” tercemar bakteri E.coli maka akan mengkontaminasi pada saat pembuatan jamu uyup-uyup. I. Hipotesis Pada sampel jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta mengandung AKK lebih dari 103, ALT lebih dari 104 serta terdapat bakteri patogen E.coli.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan rancangan deskriptif exploratif. Penelitian ini akan mendeskripsikan nilai AKK dan ALT serta mengidentifikasi keberadaan bakteri Escherichia coli dalam sampel jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta. B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel-variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah: 1. Variabel utama a. Variabel bebas: waktu produksi jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogakarta. b. Variabel tergantung: AKK, ALT, dan keberadaan bakteri E. coli. 2. Variabel Pengacau a. Variabel pengacau terkendali: media pertumbuhan yaitu Potato Dextrose Agar (PDA) dan Plate Count Agar (PCA), suhu inkubasi 35ºC untuk uji ALT dan 25ºC untuk uji AKK, waktu inkubasi 24-48 jam untuk uji ALT dan 3-5 hari untuk uji AKK. Media selektif yaitu media E.Coli Broth (ECB), TBX (Tryptone Bile X-Glucoronide), media glukosa, laktosa, manitol, maltosa dan sakarosa (uji fermentasi karbohidrat), media Simmon Citrate Agar, media MR-VP, suhu inkubasi (37-44ºC), waktu inkubasi (2448 jam) untuk uji identifikasi E.coli. 28

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 b. Variabel pengacau tak terkendali: kualitas bahan yang digunakan. 3. Definisi operasional a. Jamu uyup-uyup adalah jamu yang terbuat dari kencur, kunyit, lempuyang, temulawak, temu giring, temu ireng dan daun pepaya yang dipercaya berkhasiat untuk memperlancar ASI. Jamu uyup-uyup yang digunakan berasal dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta. b. AKK adalah suatu uji cemaran mikroba yang dilakukan dengan menghitung jumlah kapang dan atau khamir yang terdapat dalam jamu uyup-uyup dengan metode dan analisis hasil berdasarkan PPOMN tahun 2006. c. ALT adalah suatu uji cemaran mikroba yang dilakukan dengan menghitung jumlah bakteri aerob mesofil yang terdapat dalam jamu uyup-uyup dengan metode menurut PPOMN TAHUN 2006. d. Uji identifikasi E.coli adalah uji fermentasi karbohidrat, uji IMViC dan pengecatan gram untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri E.coli dalam jamu uyup-uyup menurut PPOMN tahun 2006. C. Bahan Penelitian 1. Cairan jamu uyup-uyup yang diperoleh dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta. 2. Media yang digunakan untuk pengujian AKK adalah media Potato Dextrose Agar (Oxoid). Media yang digunakan dalam pengujian ALT adalah plate count agar (Oxoid). Media selektif E.coli yaitu media E.Coli Broth (Oxoid), Tryptone Bile X-Glucoronide (Oxoid). Media untuk uji identifikasi E.coli (Uji fermentasi karbohidrat) media glukosa, laktosa, manitol, maltosa, dan

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 sakarosa (Oxoid) (IMVIC) menggunakan media Sulfur Indol Motility (Oxoid), Methyl-Red Voges Proskauer (Oxoid), Simon’s Citrate agar (Oxoid). 3. Kloramfenikol (Brataco Chemika), Pepton Dilution Fluid (Oxoid) aquadest steril, etanol 70%, reagen Kovac’s (Merck), larutan metil merah, larutan αnaftol, larutan KOH 40%. D. Alat Penelitian Laminar Air Flow, autoklaf (model: KT-40 No.108049 Midorigaoka Japan), inkubator (WTC binder), oven (Memmert model 400), stomacher 400 circulator (Seward), mikropipet (Iwaki), mikroskop, pipet tetes, tabung reaksi, tabung Durham, gelas sediaan, cawan petri, pipet volume, Beaker glass (Pyrex), gelas ukur (Pyrex), Bunsen, neraca analitik (Precition Balance Model AB-204, Metter Taledo) , Erlenmeyer, penangas air dan jarum ose. E. Tata Cara Penelitian 1. Pemilihan dan Pengambilan Sampel Sampel jamu yang dipilih adalah jamu uyup-uyup diambil dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta. Sampel jamu selanjutnya diuji AKK, ALT dan identifikasi Escherichia coli. Pengambilan sampel dilakukan setiap hari senin jam 06.00-07.30 karena pada jam tersebut paling banyak pembeli jamu uyup-uyup. Sampel jamu uyup-uyup minggu. diambil tiga kali dengan jarak pengambilan satu

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 2. Penanganan Wadah/Kemasan Penyiapan Sampel Sumbat atau tutup botol dibersihkan dengan kapas beralkohol 70%, lalu dipanaskan di api bunsen sebentar. Sumbat dibuka secara aseptis. 3. Tahap Pra-Pengkayaan a. Homogenisasi sampel untuk uji AKK Sampel jamu uyup-uyup dipipet sebanyak 25 mL secara aseptis, dimasukan ke dalam plastik steril yang telah berisi sebanyak 225 mL larutan pengencer PDF kemudian dihomogenkan dengan bantuan stomacher, sehingga diperoleh pengenceran 10-1. b. Homogenisasi sampel untuk uji ALT Sampel jamu uyup-uyup dipipet sebanyak 25 mL secara aseptis, dimasukan ke dalam plastik steril yang telah berisi sebanyak 225 mL larutan pengencer PDF kemudian dihomogenkan dengan bantuan stomacher, sehingga diperoleh pengenceran 10-1. c. Pengenceran sampel untuk uji AKK Labu ukur 10 mL disiapkan sebanyak 4 buah yang masing-masing telah diisi sebanyak 9 mL PDF. Sampel dipipet sebanyak 1 mL pengenceran 10-1 dan dimasukkan ke dalam tabung pertama yang telah berisi PDF secara aseptis hingga diperoleh pengenceran 10 -2 lalu dikocok homogen dengan vortex. Pengenceran dibuat sampai 10-5. d. Pengenceran sampel untuk uji ALT Labu ukur 10 mL disiapkan sebanyak 4 buah yang masing-masing telah diisi sebanyak 9 mL pengencer PDF . Pengenceran 10-1 dari hasil

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 homogenisasi pada penyiapan sampel dipipet sebanyak 1 mL dengan cara aseptis dan dimasukkan ke dalam tabung pertama yang telah diisi sebanyak 9 mL PDF hingga diperoleh pengenceran 10-2, kemudian dihomogenkan dengan menggunakan vortex. Pengenceran selanjutnya dibuat hingga 10-5 (PPOMN, 2006). 4. Uji AKK a. Pembuatan larutan kloramfenikol 1% Kloramfenikol sebanyak 1 gram dilarutkan ke dalam 100 mL aquadest steril. b. Pembuatan media Potato Dextrose Agar (PDA) Serbuk PDA sebanyak 39 gram disuspensikan dalam 1000 mL aquadest, kemudian dilarutkan dengan pemanasan dan diaduk hingga merata, dimasukkan dalam wadah yang sesuai. Kloramfenikol 100 gram/L ditambahkan dalam media dan dicampur hingga merata. Sterilisasi dengan autoklaf selama 15 menit pada suhu 121°C, setelah itu dituang ke dalam cawan petri atau tabung reaksi steril dan dibiarkan memadat. c. Uji AKK Suspensi bakteri dari masing-masing pengenceran dipipet sebanyak 1 mL dengan cara aseptis ke dalam cawan petri steril dan dibuat duplo. Media PDA yang telah dicairkan (suhu 45±1oC) sebanyak 20 mL dituangkan ke dalam cawan petri dan digoyangkan sehingga campuran tersebut merata. Cawan petri dibalik setelah agar membeku dan diinkubasikan pada suhu 25oC atau pada suhu kamar selama 5 hari.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Pengamatan dilakukan setiap hari sampai hari ke-5. Koloni kapang dan khamir dihitung setelah 5 hari. Uji sterilitas media dilakukan dengan menuangkan media PDA dalam cawan petri dan dibiarkan memadat. Uji sterilitas pengencer dilakukan dengan cara menuangkan media PDA yang ditambahkan sebanyak 1 mL pengencer (PDF) lalu dibiarkan memadat (PPOMN, 2006). 5. Uji ALT a. Pembuatan media Plate Count Agar (PCA) Sebanyak 7,05 g PCA ditimbang dan dicampurkan dengan 300 mL aquadest steril, pH diatur 7,0 dan dipanaskan hingga larutan jernih. Selanjutnya disterilkan dengan autoclaf selama 15 menit pada suhu 121oC. b. Uji ALT Masing-masing dari pengenceran dipipet sebanyak 1 mL secara aseptis ke dalam cawan petri steril dan dibuat duplo. Media PCA sebanyak 15 mL yang telah dicairkan yang bersuhu 45±1oC dalam waktu 15 menit dari pengenceran pertama dituangkan pada setiap cawan petri . Cawan petri digoyangkan dengan hati-hati agar sampel tersebar merata dengan media dan biarkan hingga memadat. Uji kontrol dilakukan untuk mengetahui sterilitas media dan pengencer. Uji sterilitas media dilakukan dengan cara menuangkan media PCA dalam suatu cawan petri dan dibiarkan memadat. Uji sterilitas pengencer dilakukan dengan cara

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 menuangkan media PCA yang ditambahkan sebanyak 1 mL pengencer PDF lalu dibiarkan memadat. Seluruh cawan petri diinkubasi terbalik pada suhu 35oC selama 24 jam hingga 48 jam. Jumlah koloni yang tumbuh diamati dan dihitung. Dihitung Angka Lempeng total dalam 1 mL contoh dengan mengkalikan jumlah rata-rata koloni pada cawan dengan faktor pengenceran yang digunakan (PPOMN, 2006). 6. Uji Identifikasi Escherichia coli a. Uji Pengkayaan Suspensi hasil homogenisasi contoh dipipet sebanyak 1 mL dan diinokulasikan pada 9 mL ECB. Kemudian diinkubasi pada suhu 44oC selama 24 jam. Timbulnya gas pada tabung Durham dan kekeruhan pada media yang menunjukkan karakteristik E.coli (PPOMN, 2006)). b. Isolasi Hasil dari biakan pengkayaan diinokulasikan pada permukaan TBX dengan cara streak plate dan diinkubasi dengan posisi lempeng terbalik pada suhu 35-37oC selama 24 jam. Koloni spesifik E.coli yang tumbuh dengan ciri-ciri bentuk bulat, diameter 2-3 mm, berwarna hijau dengan kilap logam dan bintik biru kehijauan ditengahnya (PPOMN, 2006). c. Identifikasi E.coli dengan uji biokimia Satu koloni spesifik dipilih pada media TBX dan ditanam pada media fermentasi karbohidrat, media SIM, media MR-VP dan media

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Simmon’s citrate agar kemudian diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24 jam sebagai berikut : 1. Uji fermentasi glukosa Satu sengkelit biakan TBX diinokulasikan pada media glukosa dan diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24 jam. Hasil positif ditandai dengan adanya perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi kuning (PPOMN, 2006). 2. Uji fermentasi laktosa Satu sengkelit biakan TBX diinokulasikan pada media laktosa dan diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24 jam. Hasil positif ditandai dengan adanya perubahan warna media dari orange menjadi kuning (PPOMN, 2006). 3. Uji fermentasi manitol Satu sengkelit biakan TBX diinokulasikan pada media manitol dan diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24 jam. Hasil positif ditandai dengan adanya perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi kuning (PPOMN, 2006). 4. Uji fermentasi maltosa Satu sengkelit biakan TBX diinokulasikan pada media maltosa dan diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24 jam. Hasil positif ditandai dengan adanya perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi kuning (PPOMN, 2006).

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 5. Uji fermentasi sukrosa Satu sengkelit biakan TBX diinokulasikan pada media maltosa dan diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24 jam diinokulasikan pada media sukrosa dan diinkubasi pada suhu 3537oC selama 24 jam. Hasil positif ditandai dengan adanya perubahan warna media dari orange menjadi kuning (PPOMN, 2006). 6. Uji indol Satu sengkelit biakan TBX diinokulasikan pada media SIM dan diinkubasikan pada suhu 35-37oC selama 24 jam. Setelah diinkubasi, ditambahkan 1 mL pereaksi indol (Reagen Kovac’s) ke dalam masing-masing tabung dan dikocok beberapa menit. Warna merah muda yang membentuk cincin pada permukaan biakan menunjukkan reaksi indol positif (PPOMN, 2006). 7. Uji metil merah Satu sengkelit biakan TBX diinokulasikan dalam media MR-VP dan diinkubasikan pada suhu 35-37oC selama 48 jam. Setelah diinkubasi tambahkan 5 tetes larutan metil merah dan dikocok homogen selama beberapa menit. Warna kuning menunjukkan reaksi negatif dan warna merah menunjukkan reaksi positif (PPOMN, 2006).

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 8. Uji Voges-Proskauer Satu sengkelit biakan TBX diinokulasikan pada media MRVP dan diinkubasi pada suhu 35-37°C selama 48 jam. Ditambahkan 12 tetes larutan alfa naftol dan 4 tetes larutan KOH 40%, dikocok kemudian didiamkan selama 2-4 jam. Perubahan warna biakan menjadi merah muda hingga merah menyala menunjukkan reaksi positif (PPOMN, 2006). 9. Uji Sitrat Satu sengkelit biakan TBX diinokulasikan pada media Simmon’s citrate agar lalu diinkubasikan pada suhu 35-37oC selama 24-48 jam. Perubahan warna media dari hijau menjadi biru menunjukkan reaksi positif (PPOMN, 2006). d. Uji konfirmasi keberadaan E.coli dengan pengecatan gram Sediaan dibuat di atas kaca alas. Kemudian dikeringkan di udara dan difiksasikan dengan panas. Sediaan diwarnai dengan larutan crystal violet-ammonium oksalat selama 1 menit. Selanjutnya sediaan dicuci dengan air dan ditiriskan. Larutan larutan lugol (gram iodine) dibubuhkan selama 1 menit. Selanjutnya sediaan dicuci dengan air dan ditiriskan. Warna dihilangkan dengan dicuci menggunakan alkohol 95% selama 30 detik. Sediaan dicuci dengan air dan ditiriskan kemudian dibubuhkan larutan safranin selama 10-30 detik. Sediaan dicuci dengan air dan ditiriskan. Sediaan diserap dengan kertas saring, dikeringkan dan

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop pada perbesaran 1000 kali (PPOMN, 2006). F. Analisis Hasil 1. Uji AKK Perhitungan Angka Kapang/Khamir sesuai dengan MA PPOMN No. 96/MIK/00 sebagai berikut: Cawan petri yang dipilih yaitu cawan petri dari suatu pengenceran yang menunjukkan jumlah koloni antara 10-150 koloni. Jumlah koloni dari kedua cawan dihitung lalu dikalikan dengan faktor pengencerannya. Bila pada cawan petri dari 2 tingkat pengenceran yang berurutan menunjukkan jumlah antara 10150 koloni, maka dihitung jumlah koloni dan dikalikan faktor pengenceran, kemudian diambil angka rata-rata. Hasil dinyatakan sebagai angka kapang/khamir dalam tiap gram atau ml sampel (PPOMN, 2006). Untuk beberapa kemungkinan lain yang berbeda dari pernyataan di atas, maka diikuti petunjuk sebagai berikut: i. Bila hanya salah satu di antara kedua cawan petri dari pengenceran yang sama menunjukkan jumlah antara 10-150 koloni, jumlah koloni dari kedua cawan dihitung dan dikalikan dengan faktor pengenceran (PPOMN, 2006). ii. Bila ada tingkat pengenceran yang lebih tinggi di dapat jumlah koloni lebih besar dari dua kali jumlah koloni pada pengenceran di bawahnya, maka dipilih tingkat pengenceran terendah (Misal: pada pengenceran 10-2 diperoleh 60 koloni dan

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 pada pengenceran 10-3 diperoleh 30 koloni, maka dipilih jumlah koloni pada pengenceran 10-2 yaitu 60 koloni). Bila pada pengenceran yang lebih tinggi didapat jumlah koloni kurang dari dua kali jumlah koloni pengenceran di bawahnya, maka diambil angka rata-rata dari jumlah koloni dari kedua pengenceran tersebut. Hasil dinyatakan sebagai Angka Kapang/Khamir dalam tiap gram sampel (Misal: pada pengenceran 10-2 diperoleh 60 koloni dan pengenceran 10-3 diperoleh 10 koloni, maka Angka Kapang/Khamir adalah : 6 + 10 x 103 = 8 x 103 2 iii. (PPOMN, 2006). Bila dari seluruh cawan petri tidak ada satupun yang menunjukkan jumlah antara 10-150 koloni, maka dicatat angka sebenarnya dari tingkat pengenceran terendah dan dihitung sebagai Angka Kapang dan Khamir Perkiraan (PPOMN, 2006). iv. Bila tidak ada pertumbuhan pada semua cawan dan bukan disebabkan karena faktor inhibitor, maka Angka Kapang dan Khamir dilaporkan sebagai kurang dari satu dikalikan faktor pengenceran terendah (<1 x faktor pengenceran terendah) (PPOMN, 2006).

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 2. Uji ALT Perhitungan ALT yang sesuai MA PPOMN No. 95/MIK/00 sebagai berikut: a. Cawan petri (simplo dan duplo) yang dipilih adalah cawan petri dari satu pengenceran yang menunjukkan jumlah koloni antara 25-250 setiap cawan. Semua koloni dalam cawan petri dihitung. Jumlah koloni dihitung rata-rata dan dikalikan dengan faktor pengenceran. Hasilnya dinyatakan sebagai jumlah bakteri per mililiter atau gram (PPOMN, 2006). b. Jika salah satu dari dua cawan petri terdapat jumlah koloni lebih kecil dari 25 atau lebih besar dari 250, jumlah koloni dihitung, dirata-rata, dan dikalikan dengan faktor pengenceran. Hasilnya dinyatakan sebagai jumlah bakteri per mililiter atau gram (PPOMN, 2006). c. Jika hasil dari dua pengenceran jumlahnya berturut-turut terletak antara 25250 koloni, jumlah koloni dari masing-masing pengenceran dihitung seperti yang disebut pada butir a dan b di atas, dan dihitung rata-rata jumlah koloni dari kedua pengenceran tersebut. Jika jumlah yang tertinggi lebih besar dari dua kali jumlah yang terkecil, nyatakan jumlah yang lebih kecil sebagai jumlah bakteri per mililiter atau gram (PPOMN, 2006). d. Jika rata-rata jumlah koloni masing-masing cawan petri tidak terletak antara 25 dan 250 koloni, hitung jumlah koloni seperti pada butir a dan b di atas, dan nyatakan sebagai jumlah bakteri perkiraan per mililiter atau gram (PPOMN, 2006). e. Jika jumlah koloni dari semua pengenceran lebih dari 250 koloni, maka setiap dua cawan petri dengan pengenceran tertinggi dibagi ke dalam 2, 4,

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 atau 8 sektor. Jumlah koloni dihitung dalam satu bagian atau lebih. Untuk mendapatkan jumlah koloni dalam satu cawan petri, dihitung rata-rata jumlah koloni dan dikalikan dengan faktor pembagi dan pengenceran. Hasil dinyatakan sebagai jumlah bakteri perkiraan per mililiter atau gram (PPOMN, 2006). f. Jika dalam 1/8 bagian cawan petri terdapat lebih dari 200 koloni, maka jumlah koloni yang didapat = 8 x 200 (1600), dikalikan dengan faktor pengenceran dan hasilnya dinyatakan sebagai jumlah bakteri perkiraan per mililiter atau gram lebih besar dari jumlah yang didapat (lebih besar dari 1600 x faktor pengenceran) (PPOMN, 2006). g. Jika tidak ada koloni yang tumbuh dalam cawan petri, dinyatakan jumlah bakteri perkiraan lebih kecil dari satu dikalikan dengan pengenceran yang terendah (<10) (PPOMN, 2006). h. Menghitung koloni perambat (Spreader). Ada 3 macam perambatan pada koloni, yaitu : (1) Merupakan rantai yang tidak terpisah-pisah. (2) Perambatan yang terjadi diantara dasar cawan petri dan perbenihan. (3) Perambatan yang terjadi pada pinggir atau permukaan perbenihan. Apabila terjadi hanya 1 (satu) perambatan (seperti rantai) maka koloni dianggap 1 (satu). Tetapi bila 1 atau lebih rantai terbentuk dan yang berasal dari sumber yang berpisah-pisah, maka setiap sumber dihitung sebagai 1 (satu) koloni.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Bila (2) dan (3) terjadi maka sebaiknya pemeriksaan diulangi karena koloni dalam keadaan semacam ini agak sukar dihitung (PPOMN, 2006). i. Menghitung dan membulatkan angka Dalam melaporkan jumlah koloni atau jumlah koloni perkiraan hanya 2 angka penting yang digunakan, yaitu angka yang pertama dan kedua (dimulai dari kiri), sedangkan angka ketiga diganti dengan 0, apabila kurang dari 5 dan apabila 5 atau lebih dijadikan 1 yang ditambah pada angka yang kedua. Contoh: 523.000 dilaporkan sebagai 520.000 (5.2 x 105) 85.700 dilaporkan sebagai 86.000 (8.6 x 104) (PPOMN, 2006). 3. Identifikasi Escherichia coli E.coli merupakan bakteri gram negatif dan berbentuk batang. Idenifikasi bakteri dilakukan dengan pengamatan menggunakan mikroskop dengan uji sifat biokimia dan pengecatan gram. E.coli ditunjukkan dengan hasil positif pada pengecatan gram yaitu berwarna merah muda (gram negatif) (PPOMN, 2006) dan berbentuk batang serta pada uji fermentasi karbohidrat dan uji IMViC menunjukkan hasil seperti pada tabel I. Tabel I. Uji fermentasi karbohidrat dan uji IMViC pada identifikasi E.coli (Holt et al., 2000) No Uji Hasil 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Glukosa Laktosa Manitol Maltosa Sakarosa Indol Metil Merah Voges -Proskauer Sitrat + + + + + + + -

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penentuan tempat dan pemilihan sampel Sampel jamu uyup-uyup diambil dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta. Tempat ini dipilih karena tempat ini merupakan tempat yang berada strategis di tengah pusat kota Yogyakarta. Tempat ini sangat terkenal karena dikelola turun-temurun dari tahun 1875 hingga sekarang dan selalu ramai dikunjungi oleh pembeli yang berasal dari dalam maupun dari luar kota Yogyakarta. Menurut survey yang dilakukan, jamu uyup-uyup ini selalu habis setiap harinya. Sampel jamu uyup-uyup dipilih karena jamu ini berkhasiat untuk melancarkan ASI. Konsumen utama jamu ini adalah ibu-ibu yang sedang menyusui. Apabila nilai AKK, ALT tinggi dan teridentifikasi adanya bakteri E.coli pada jamu uyup-uyup maka akan berbahaya bagi ibu yang mengkonsumsinya beserta bayinya. AKK yang tinggi dapat menyebabkan kanker hati dan kandidiasis bagi ibu dan bayinya. ALT yang tinggi serta keberadaan bakteri E.coli dalam sampel jamu uyup-uyup dapat menyebakan penyakit demam dan diare berat yang dapat menyerang ibu serta kemungkinan bisa ditularkan ke bayinya melalui fecal oral route. B. Pengambilan sampel jamu uyup-uyup Sampel jamu uyup-uyup diambil sebanyak tiga kali dengan jarak pengambilan 1 minggu, pengambilan dilakukan pada hari senin setiap minggunya. Pengambilan sampel dilakukan dengan jarak 1 minggu bertujuan untuk melihat 43

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 pengaruh kualitas bahan baku yang digunakan dalam pembuatan jamu uyup-uyup. Berdasarkan survey yang dilakukan, penjual mengganti bahan baku pembuatan jamu setiap satu minggu sekali sehingga dapat dilihat pengaruh kualitas bahan baku terhadap nilai AKK, ALT dan adanya bakteri E.coli . Pada saat pengambilan sampel, sampel jamu uyup-uyup dimasukkan ke dalam botol kaca yang sudah disterilkan dan tertutup rapat. Hal ini bertujuan agar tidak ada kontaminasi bakteri maupun jamur yang berasal dari wadah yang digunakan pada saat pengambilan sampel. Setelah itu, botol kaca steril ditempatkan dalam coolbox untuk menghambat pertumbuhan mikroba patogen selama perjalanan menuju laboratorium. C. Homogenisasi dan Pengenceran Sampel Pada penelitian ini dilakukan homogenisasi sampel sebelum proses pengujian. Menurut Radji (2010) homogenisasi sampel adalah suatu tahap awal yang harus dilakukan pada sampel supaya diperoleh distribusi mikroba yang merata di dalam sampel sehingga mudah untuk diamati. Tujuan homogenisasi sampel adalah untuk membebaskan sel-sel bakteri atau jamur yang masih terlindungi oleh partikel dari sampel yang akan diperiksa serta untuk mengaktifkan kembali sel-sel dari bakteri ataupun jamur yang kemungkinan pertumbuhannya terganggu karena berbagai kondisi yang kurang sesuai di dalam sampel. Homogenisasi sampel dilakukan dengan bantuan alat stomacher supaya sampel dapat tercampur homogen dengan pengencernya. homogenisasi sampel ini diperoleh suspensi pengenceran 10-1. Pada tahap

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Setelah itu, dilakukan tahap pengenceran dengan kisaran 10-1 hingga 10-5. Pengenceran dilakukan untuk mempermudah dalam perhitungan. Apabila tidak dilakukan pengenceran maka suspensi akan terlalu pekat yang akan mengakibatkan pertumbuhan bakteri atau jamur akan saling menumpuk atau tidak terpisah dengan jelas dan sulit untuk dihitung. Pengencer yang digunakan adalah PDF. Atlas (2000) menyebutkan kandungan utama dari PDF adalah pepton yang merupakan protein yang terdapat dalam kedelai, air susu, atau putih telur. Komponen utama protein adalah nitrogen (N2) yang sangat dibutuhkan bakteri untuk kelangsungan hidupnya. PDF juga berfungsi sebagai buffer untuk mempertahankan pH optimum untuk pertumbuhan bakteri atau jamur yaitu antara 6,5 hingga 7,5. Semua tahap dilakukan secara aseptis di dekat nyala api Bunsen. D. Uji Angka Kapang/Khamir (AKK) Uji AKK adalah suatu uji untuk menghitung jumlah koloni kapang/khamir yang terdapat dalam jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta. Prinsip uji ini yaitu menumbuhkan kapang/khamir dalam media yang sesuai yang dapat menyediakan kebutuhan nutrisi bagi pertumbuhan kapang/khamir di laboratorium kemudian menghitungnya. Media yang digunakan dalam uji AKK ini yaitu PDA yang merupakan media yang sesuai untuk pertumbuhan kapang/khamir. Menurut Murray (1996) media PDA mengandung Agar, Dextrosa, serta ekstrak kentang yang dibutuhkan untuk pertumbuhan kapang dan khamir. Media PDA juga ditambahkan antibiotik kloramfenikol 1%. Kloramfenikol ini digunakan untuk menghambat pertumbuhan

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 bakteri pada media sehingga yang tumbuh hanya kapang dan khamir. Antibiotik kloramfenikol dipilih karena menurut Wattimena (1991) kloramfenikol memiliki daya hambat spektrum luas pada bakteri sehingga banyak jenis bakteri yang pertumbuhannya dihambat oleh antibiotik ini. Mekanisme hambat dari antibiotik ini yaitu secara bakteriostatik dengan menghambat sintesis protein pada bakteri sehingga mengakibatkan sel akan lisis dan mati. Suhu inkubasi kapang/khamir adalah 25oC selama 3-5 hari dengan posisi terbalik karena kapang dan khamir bersifat mesofilik yang dapat tumbuh pada suhu 25-30oC. Kontrol media PDA digunakan untuk melihat sterilisasi dari media PDA yang digunakan dan menjamin bahwa tidak ada kapang dan khamir yang berasal dari media. Kontrol pelarut dari PDF digunakan untuk menjamin tidak ada kapang dan khamir yang tumbuh berasal dari pelarut. Koloni yang dihitung yaitu koloni khamir yang berbentuk bulat, berwarna putih, dan terpisah serta koloni kapang yang memiliki serabut seperti kapas tanpa membedakan warna koloni serta tunggal. Jika terdapat koloni yang bertumpuk, maka dianggap sebagai 1 koloni. KEPMENKES No: 661/MenKes/SK/VII/1994 tentang Persyaratan Obat Tradisional menyebutkan bahwa AKK untuk sediaan cairan obat dalam tidak boleh lebih dari 103 CFU/mL sampel. Hasil pengamatan selama inkubasi sampai hari ke-5 ditunjukkan pada tabel 2. Tabel II. Nilai AKK sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi hari ke-5 Sampling I II III AKK (CFU/mL) 4 x 105 4 x 105 7,5 x 104

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 Pada kontrol media dan kontrol pelarut tidak tumbuh jamur yang menandakan bahwa tidak ada kontaminan dari pelarut dan media yang digunakan. Hasil yang didapat (Tabel II) tidak sesuai dengan persyaratan yang sudah ditetapkan oleh KEPMENKES. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya jamu terlalu lama didiamkan karena penjual jamu racik “X” buka dari pukul 06.00 hingga 19.30 WIB yang menyebabkan kemungkinan adanya pertumbuhan kapang dan khamir. Pencucian yang kurang bersih tidak dapat mengeliminasi kapang dan khamir karena bahan baku dari jamu uyup-uyup berupa rimpang-rimpang yang berasal dari tanah dan kontak dengan air selama pencucian menyebabkan kontaminasi kapang dan khamir. Menurut Kanti (2005) tanah dan air merupakan habitat bagi kapang dan khamir sehingga kapang dan khamir dapat tumbuh di tempat itu. Jumlah kapang dan khamir yang tinggi dapat bersifat patogen bagi tubuh manusia terutama ibu-ibu menyusui yang mengkonsumsi jamu uyup-uyup serta bayinya. Khamir yang berbahaya bagi ibuibu menyusui serta bayinya adalah Candida albicans yang dapat ditemukan di air dan tanah. Menurut Jawetz (1996) Candida albicans ini dapat menyebabkan vulvovaginitis atau keputihan bagi ibu dan dapat menyebakan kandidiasis di mulut berupa sariawan bagi bayinya. Selain itu Menurut David (2001) kapang yang berbahaya adalah Aspergillus flavus yang ditemukan di tanah dan air. Abdulrazzaq (2003) menyebutkan bahwa kapang dapat menghasilkan mikotoksin berupa aflatoksin B1 yang dapat disekresikan melalui ASI dalam bentuk aflatoksin M1. Aflatoksin ini dapat menyebabkan hepatotoksik dan kanker hati bagi ibu dan bayinya.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 E. Uji Angka Lempeng Total (ALT) Uji ALT merupakan metode untuk menghitung angka cemaran bakteri aerob mesofil yang terdapat dalam sampel yaitu jamu uyup-uyup dengan metode cara tuang (pour plate) pada media padat dan diinkubasi dalam posisi terbalik pada suhu 35-37 oC selama 24-48 jam. Suhu 35-37 oC dipilih karena Cappuccino (2008) menyebutkan bahwa bakteri mesofilik dapat tumbuh baik pada suhu optimum 35-45 oC. Media yang digunakan dalam uji ALT yaitu PCA, dalam media ini mengandung tripton, yeast extract, glukosa, dan agar untuk menutrisi pertumbuhan bakteri dalam media. Menurut Tarigan (2008), tujuan digunakannya metode taburan atau pour plate adalah untuk menghitung jumlah sel yang hidup baik dalam keadaan aerob maupun anaerob karena dalam metode ini akan terlihat bakteri yang tumbuh di permukaan media merupakan aerob dan di seluruh media agar yang merupakan bakteri anaerob. Cawan petri diinkubasi secara terbalik supaya uap air yang terbentuk pada tutup cawan petri tidak menetes pada media yang akan mengganggu dalam perhitungan jumlah koloni bakteri. Koloni yang tumbuh pada media kemudian dihitung menurut cara perhitungan ALT yang tercantum dalam PPOMN tahun 2006. Pada penelitian ini, digunakan kontrol pelarut dan kontrol media. Kontrol media berfungsi untuk melihat sterilitas dari media sehingga dapat menjamin bahwa bakteri yang tumbuh murni berasal dari sampel. Kontrol pelarut digunakan untuk menjamin bahwa tidak ada kontaminan yang berasal dari pelarut PDF yang

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 digunakan. Alat-alat serta media yang digunakan disterilisasi terlebih dahulu dalam autoklaf dengan suhu 121oC serta pengujian dilakukan dengan metode aseptis untuk meminimalkan kontaminasi sehingga bakteri yang tumbuh pada media benar-benar berasal dari sampel jamu uyup-uyup. KEPMENKES No: 661/MenKes/SK/VII/1994 tentang Persyaratan Obat Tradisional menyebutkan bahwa ALT untuk sediaan cairan obat dalam tidak boleh lebih dari 104 CFU/mL sampel. Tabel III. Nilai ALT sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi 48 jam Sampling I II III ALT (CFU/mL) 8 x 104 1,1 x 106 2,4 x 107 Pada kontrol pelarut serta kontrol media tidak ditumbuhi koloni bakteri yang menunjukkan bahwa media dan pelarut yang digunakan sudah steril. Hasil yang didapat (Tabel III) tidak sesuai dengan persyaratan KEPMENKES, disebabkan oleh berbagai kemungkinan diantaranya air yang digunakan tercemar oleh bakteri karena air merupakan habitat bagi banyak bakteri yang dapat mengkontaminasi jamu uyup-uyup pada saat pembuatannya. Masuknya kontaminan dapat terjadi melalui pencucian bahan baku yang kurang bersih dan perilaku penjual yang kurang higenis. Pada proses pembuatan jamu, pemanasan dilakukan tidak sampai mendidih dengan alasan apabila pemanasan sampai mendidih maka khasiat jamu akan hilang. Proses tersebut dapat menyebabkan adanya bakteri yang masih hidup, contohnya adalah bakteri E.coli yang tahan pada suhu 70oC (Anonim, 2014). Jamu yang didiamkan terlalu lama dapat

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 menyebabkan pertumbuhan bakteri yang semakin banyak karena air merupakan media yang sesuai bagi pertumbuhan bakteri. ALT yang melebihi batas pada jamu uyup-uyup dapat berbahaya bagi ibu yang menyusui serta bayinya. Sebagian besar bahan baku yang digunakan untuk pembuatan jamu uyup-uyup berupa rimpang yang tumbuh di tanah. Menurut Radji (2011) bakteri yang dapat tumbuh di tanah meliputi Clostridium tetani, Clostridium botulinum, Clostridium perfringens, Bacillus antracis, Salmonella, shigella, Vibrio cholerae, Legionella, dan Escherichia coli. Bakteri-bakteri tersebut menghasilkan toksin yang dapat menyebabkan berbagai penyakit diantaranya adalah demam, diare dan muntah bahkan dapat menginfeksi sistem saraf. Penyakit ini dapat menyerang ibu dan dapat ditularkan kepada bayinya. Selain itu, penyimpanan bahan baku juga mempunyai peranan dalam tingginya jumlah ALT. Bahan baku ditempatkan di dekat kamar mandi yang lembab serta di bawah kandang burung yang kemungkinan terkontaminasi oleh bakteri Cryptococcus neoformans lewat kotorannya dan dapat menyebabkan infeksi paruparu. F. Identifikasi Escherichia coli Uji identifikasi bakteri ini bertujuan untuk mendeteksi adanya E.coli dalam jamu uyup-uyup. Identifikasi bakteri yang dilakukan didasarkan pada sifat biokimiawi dan morfologinya. 1. Tahap Pengkayaan Tahap pengkayaan merupakan tahap yang bertujuan untuk menumbuhkan bakteri pada media pengkaya karena bakteri lain dapat tumbuh pada media

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 pengkaya tersebut . Umumnya media yang digunakan dalam bentuk cair (BPOM, 2008). Media yang digunakan pada tahap ini yaitu ECB karena menurut Diagnostic (2009) ECB merupakan medium selektif yang digunakan sebagai media selektif dalam konteks deteksi dugaan dan penghitungan E.coli dalam air, susu, produk makanan termasuk jamu yaitu jamu uyup-uyup. Media ECB mengandung buffer kaldu laktosa dengan garam empedu yang akan menghambat pertumbuhan bakteri lain seperti bakteri yang bersporulasi (Basillus subtilis) dan enterococci, sehingga mendukung pertumbuhan E.coli. Pada penelitian dilakukan inokulasi dari sampel ke medium ECB, kemudian dinkubasi pada suhu 44oC selama 24 jam. Inokulasi adalah suatu cara pemindahan mikroba-mikroba dari suatu suspensi ke suatu media pertumbuhan lain yang steril. Menurut Soemarmo (2000) Suhu 44oC bertujuan untuk menyeleksi pertumbuhan bakteri E.coli karena bakteri ini tumbuh optimal pada suhu 44oC dan akan menghambat kemungkinan pertumbuhan bakteri lain seperti bakteri yang bersporulasi (Basillus subtilis) dan enterococci. Kontrol digunakan untuk melihat bahwa teknik yang digunakan benar dan tepat . Kontrol positif berisi biakan murni ATCC 25922 yang ditanam pada media ECB kemudian dibandingkan dengan perlakuan sampel. ATCC 25922 merupakan genom DNA yang diisolasi dari bakteri Escherichia coli bakteri ini tersedia sebagai katalog no 25922. FDA strain seattle 1946. Strain

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Gambar 1. Uji pengkayaan E.coli pada media ECB Keterangan: K+: Kontrol positif dari biakan murni E.coli ATCC 25922 P : Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup Berdasarkan hasil yang didapat setelah inkubasi 24 jam ( Gambar 1) pada perlakuan dari sampel jamu uyup-uyup menunjukkan hasil yang sama dengan kontrol positif yaitu timbulnya kekeruhan dan adanya gas pada tabung Durham, Hasil positif terjadi pada sampling 1, 2 dan 3. Kekeruhan dan adanya gas pada media menandakan bahwa bakteri yang berada dalam sampel mampu memfermentasikan laktosa yang terdapat pada media ECB dengan menghasilkan asam dan gas. Menurut Diagnostic (2009) pertumbuhan bakteri E. coli pada media ECB ditunjukkan dengan munculnya kekeruhan terkait dengan produksi gas dalam tabung Durham, karena fermentasi laktosa. Hasil ini didukung oleh pernyataan Cappuccino (2008) bahwa E.coli mampu memfermentasikan laktosa yang akan menghasilkan asam-asam campuran, yaitu asam laktat, asam asetat, dan asam format serta menghasilkan gas berupa CO2 dan H2 .

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 2. Tahap Isolasi Tahap isolasi merupakan tahap yang bertujuan untuk mendapatkan koloni bakteri yang benar-benar murni (BPOM, 2008). Pada penelitian ini, tahap isolasi bertujuan untuk mendapatkan bakteri E.coli murni. Media yang digunakan pada penelitian ini adalah TBX. Menurut Bridson (2006) Media TBX adalah media yang digunakan untuk isolasi dan identifikasi bakteri E.coli. Media TBX mengandung Trypton, garam empedu, X-glucuronide dan agar. Trypton menyediakan nitrogen, vitamin dan asam amino dalam media TBX. Garam empedu merupakan agen yang selektif terhadadap bakteri gram negatif. E.coli akan menyerap substrat kromogenik x-β-D-glucuronide, Xglucuronide. Enzim β-glukuronidase pada E.coli akan memecah ikatan antara x-βD-glucuronide dan X-glucuronide. Kromofor akan menghasilkan warna dan terakumulasi di dalam sel-sel. Pada tahap isolasi ini, diinokulasikan 1 sengkelit dari hasil uji tahap pengkayaan ke permukaan media TBX secara streak plate, kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Tujuan dari penggunaan cara streak plate ini adalah untuk mendapatkan koloni bakteri yang terpisah sehingga mudah untuk diamati. Bridson (2006) menyebutkan bahwa koloni spesifik E.coli memiliki ciri-ciri berbentuk bulat, berwarna hijau kebiruan dengan kilap logam dan berdiameter sekitar 2-3 mm. Kontrol positif digunakan sebagai pembanding. Kontrol positif berupa biakan murni dari ATCC 25922 yang akan dibandingkan dengan sampel sebagai hasil positif pertumbuhan E.coli.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Gambar 2. Uji isolasi E.coli pada media TBX Keterangan: K+: Kontrol positif dari biakan murni E.coli ATCC 25922 P : Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup : koloni dugaan E.coli (koloni berwarna biru). Pengamatan setelah inkubasi 24 jam didapatkan hasil positif pada sampling 1,2 dan 3 yaitu terbentuk koloni spesifik berwarna hijau kebiruan dengan kilap logam dan berbentuk bulat seperti yang terlihat pada kontrol positif. Menurut Bridson (2006) pertumbuhan bakteri E.coli pada media TBX ditandai dengan koloni berwarna hijau kebiruan dengan kilap logam dan berbentuk bulat. 3. Tahap Identifikasi dan Konfirmasi Tahap identifikasi dan konfirmasi bertujuan untuk memastikan keberadaan bakteri E.coli berdasarkan sifat biokimiawinya. Pada uji biokimia ini digunakan kontrol positif biakan murni bakteri E.coli ATCC 25922 sebagai pembanding yang diperlakukan sama dengan sampel untuk melihat hasil positif. Pada tahap ini dilakukan uji fermentasi karbohidrat dan Uji IMViC. Uji IMViC digunakan untuk membedakan Shigella, beberapa Salmonella, bakteri golongan Enterobacter, Enterobacteriaceae (Escherichia, Klebsiella, Serratia, dan Proteus) berdasarkan kemampuannya dalam memfermentasi glukosa dan laktosa,

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 penguraian triptofan yang menghasilkan indol serta adanya enzim sitrat permease yang mampu menguraikan natrium sitrat dari medium khusus yang digunakan. a. Uji fermentasi karbohidrat Setiap mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melakukan fermentasi berbagai karbohidrat dan produk yang dihasilkan dari proses fermentasi tersebut sangat berguna untuk melakukan identifikasi mikroorganisme. Media kaldu karbohidrat mengandung 0,5-1% karbohidrat. Karbohidrat yang sering digunakan untuk identifikasi diantaranya adalah glukosa, laktosa, manitol, maltosa dan sukrosa. Pada penelitian ini Indikator merah fenol ditambahkan pada media untuk mengetahui adanya pembentukan asam. Menurut Lay (1994) pH indikator merah fenol adalah netral yaitu 7 dan akan berubah warna menjadi kuning pada kondisi asam pada pH 6,8. Untuk mengetahui adanya pembentukan gas maka diletakkan tabung Durham. Apabila terbentuk gas, maka gas akan masuk ke dalam tabung Durham dan mendesak cairan ke dalam tabung dan membentuk gelembung udara. Cappuccino (2008) menyebutkan bahwa bakteri E.coli mampu memfermentasikan karbohidrat dengan hasil positif pada uji glukosa, laktosa, manitol, maltosa dan sukrosa. Proses fermentasi karbohidrat akan menghasilkan asam organik seperti asam laktat, asam format, dan asam asetat yang dapat disertai dengan gas seperti CO2 dan H2. Hasil positif adanya E.coli ditunjukkan dengan perubahan warna media dari merah menjadi kuning dan terbentuknya gas pada tabung Durham.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Gambar 3. Uji fermentasi karbohidrat pada sampel jamu uyup-uyup Keterangan: K+: Kontrol positif dari biakan murni E.coli ATCC 25922 P: Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup : Terbentuknya gas pada tabung Durham Hasil dari inkubasi selama 48 jam menunjukkan hasil yang positif pada perlakuan dan kontrol positif biakan murni ATCC 25922 yaitu terbentukknya gas dan perubahan warna media dari merah menjadi kuning. Hasil positif terjadi pada sampling 1, 2, dan 3. Hal ini menunjukkan bahwa jamu uyup-uyup terkontaminasi oleh bakteri E.coli ditandai dengan perubahan warna dari media kaldu karbohidrat dari merah menjadi kuning akibat terbentuknya asam dan terdapat gelembung udara pada tabung Durham karena adanya gas CO2 dan H2. b. Uji indol Asam amino digunakan oleh mikroorganisme sebagai pembentuk protein, komponen sel dan sebagai sumber energi. Asam amino dimodifikasi dalam berbagai cara dalam proses metabolisme. Produk yang dihasilkan dari modifikasi asam amino ini berguna dalam identifikasi mikroorganisme.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Bakteri E.coli mampu menggunakan asam amino triptofan sebagai sumber karbon. E.coli menghasilkan enzim triptofanase yang mengkatalisasikan penguraian indol dari triptofan (Lay, 1994). Uji indol digunakan untuk melihat pembentukan indol dari asam amino tryptophan oleh bakteri E.coli. Media yang digunakan untuk uji indol ini adalah SIM. Menurut Finegold dan Baron (1996) media SIM ini berbentuk semi padat yang mengandung Pancreatic Digest of Casein, Peptic Digest of Animal Tissue, Ferrous Ammonium Sulphate, Sodium Thiosulphate, dan Nutrient Agar. Media ini dapat digunakan untuk melihat motilitas dari bakteri karena berbentuk semi padat dan mengandung NA, dapat juga digunakan untuk melihat adanya pembentukan sulfur oleh bakteri karena adanya Ferrous Ammonium Sulphate dalam media, serta dapat melihat pembentukan indol. Lay (1994) mengungkapkan bahwa pembentukan indol dalam media dapat diketahui dengan penambahan reagen Kovac’s yang mengandung dimetilaminobenzaldehid, butanol, dan asam hidroclorit. pDimetilaminobenzaldehid bereaksi dengan indol membentuk rosindol berwarna merah yang tidak larut air dan terkonsentrasi di permukaan media. Motilitas bakteri dapat dilihat apabila terdapat pertumbuhan di sekitar tusukan dan di permukaan media (Lay, 1994). Hasil positif uji sulfur apabila terbentuk logam sulfit yang berwarna hitam di dalam media. Sulfur ini terbentuk karena bakteri tersebut tidak dapat menghidrolisis logam-logam berat yang terdapat dalam media (Wijayanti, 2009).

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Gambar 4. Uji motilitas bakteri terlihat adanya pertumbuhan di sekitar tusukan dan permukaan media sebelum penambahan reagen Kovac’s Keterangan: : motilitas bakteri terlihat adanya pertumbuhan di sekitar tusukan Hasil yang didapat dari uji motilitas pada inkubasi 24 jam sebelum penambahan reagen Kovac’s menunjukkan adanya motilitas atau pergerakan bakteri uji ditandai dengan pertumbuhan di sekitar tusukan dan di permukaan media. Hasil uji sulfur menunjukkan negatif karena tidak terbentuk logam sulfit berwarna hitam dalam media. Hal ini berarti bakteri uji tidak dapat menghidrolisis logam-logam berat dalam media. Menurut Holt, dkk. (2000), bakteri E.coli tidak menghasilkan residu sulfur dalam proses penguraian asam amino. Pengamatan 24 jam dari uji indol didapatkan hasil yang sama dengan kontrol positif pada sampling 1, 2, dan 3 yaitu adanya cincin berwarna merah cherry pada permukaan media setelah penambahan reagen Kovac’s. Hal ini membuktikan bahwa bakteri dalam sampel dapat membentuk indol dari triptofan yang digunakan sebagai sumber energi.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Gambar 5. Uji Indol pada sampel jamu uyup-uyup Keterangan: K+: Kontrol positif dari biakan murni E.coli ATCC 25922 P: Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup : terbentuknya cincin berwarna merah muda pada permukaan media c. Uji metil merah Lay (1994) menyebutkan bahwa uji metil merah bertujuan untuk mengetahui adanya fermentasi dari asam campuran. Pada penelitian ini dilakukan uji metil merah untuk mengetahui kemampuan bakteri E.coli dalam memfermentasi glukosa dan menghasilkan berbagai produk asam yaitu asam format, asam laktat, dan asam asetat yang mengakibatkan terjadinya penurunan pH media menjadi 5,0 atau lebih rendah. Indikator metil merah ditambahkan pada media untuk mengetahui adanya asam dengan perubahan warna dari kuning pada basa (pH 6,2) menjadi merah pada pH asam yaitu 4,4. Media yang digunakan yaitu media MR-VP yang mengandung dextrosa, pepton, dan fosfat. Hasil positif ditunjukkan dengan perubahan warna media dari kuning menjadi merah.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Gambar 6. Uji metil merah pada sampel jamu uyup-uyup Keterangan: K+: Kontrol positif dari biakan murni E.coli ATCC 25922 P: Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup Hasil dari pengamatan 24 jam pada sampling 1, 2, dan 3 menunjukkan hasil positif yaitu perubahan warna media dari kuning menjadi merah. Hasil ini terjadi baik pada kontrol positif maupun perlakuan. Hal ini membuktikan bahwa bakteri dalam sampel melakukan fermentasi glukosa dan menghasilkan asam. Menurut Capuccino (2008) bakteri E.coli mampu memfermentasikan glukosa dan menghasilkan asam berupa asam laktat, asam format dan asam asetat. d. Uji Voges-Proskauer Cappuccino (2008) menyebutkan bahwa uji Voges-Proskauer ini bertujuan untuk menentukan kemampuan beberapa mikroorganisme dalam menghasilkan produk akhir yang tidak bersifat asam atau netral, seperti asetilmetilcarbinol atau asetoin dari asam-asam organik yang dihasilkan dari proses metabolisme glukosa. Asetoin merupakan suatu senyawa awal dalam sintesis 2,3-butanadiol. Media yang digunakan pada uji Voges-Voskauer ini adalah media MR-VP yang mengandung dextrosa, pepton, dan fosfat. Menurut Lay (1994) penambahan

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 larutan KOH 40% dan larutan 5% α-naftol dalam etanol dapat menujukkan terbentuknya asetoin pada media. Adanya asetoin akan ditunjukkan dengan perubahan warna media dari kuning menjadi merah setelah penambahan KOH 40%, kemudian warna akan diperjelas dengan penambahan larutan 5% α-naftol dalam etanol. Perubahan warna media menjadi lebih jelas pada permukaan yang berhubungan dengan udara karena sebagian 2,3-butanadiol dioksidasikan kembali menjadi asetoin sehingga memperjelas hasil reaksi. Hasil yang ditunjukkan dari pengamatan yaitu negatif pada sampling 1, 2, dan 3 karena tidak terjadi perubahan warna dari media MR-VP, begitu juga pada kontrol positif. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri dalam sampel tidak menghasilkan produk 2,3 butanadiol dalam proses fermentasi glukosa. Cappuccino (2008) menyebutkan bahwa bakteri E.coli dalam memfermentasikan glukosa menghasilkan produk berupa asam-asam campuran yaitu asam laktat, asam format dan asam asetat. Gambar 7. Uji Voges-Proskauer pada sampel jamu uyup-uyup Keterangan: K+: Kontrol positif dari biakan murni E.coli ATCC 25922 P: Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 e. Uji Sitrat Menurut Lay (1994) uji sitrat bertujuan untuk mengetahui kemampuan mikroorganisme menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. Medium yang digunakan dalam uji sitrat ini adalah Simmon’s citrate agar merupakan medium sintetik yang mengandung Na sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon dengan NH4+ sebagai sumber N. Uji sitrat menggunakan indikator bromthymol blue sebagai indikator pH. Mikroorganisme yang mampu menggunakan sitrat sebagai sumber karbon dan energi akan menghilangkan asam pada medium dan menyebabkan terjadinya peningkatan pH yang akan mengubah warna media dari hijau menjadi biru. Pada penelitian ini dilakukan uji sitrat untuk mengetahui kemampuan bakteri E.coli dalam menggunakan sitrat sebagai sumber karbon dan energi dengan menggunakan medium MR-VP sebagai mediumnya. Gambar 8. Uji sitrat pada sampel jamu uyup-uyup Keterangan: K+: Kontrol positif dari biakan murni E.coli ATCC 25922 P: Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup Hasil pengamatan pada inkubasi 24 jam menunjukkan hasil negatif pada sampling jamu uyup-uyup 1, 2 dan 3 karena tidak terjadi perubahan warna dari

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 media, media tetap berwarna hijau. Hasil ini sama dengan yang ditunjukkan pada kontrol positif . Hal ini dapat disimpulkan bahwa bakteri yang berada pada sampel tidak menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon. Menurut Bridson (2006) E.coli ATCC 25922 menunjukkan hasil negatif pada media Simmon’s citrate agar yaitu tidak terjadi perubahan warna pada media. Menurut Supardi dan Sukamto (1999) bakteri E.coli tidak menggunakan sitrat sebagai sumber karbon melainkan menggunakan asetat sebagai sumber karbon. 4. Pengecatan gram Pengecatan gram merupakan proses pengecatan dengan menggunakan zat warna kristal violet (yang berwarna biru) dan zat warna safranin (yang berwarna merah) untuk mengetahui morfologi serta sifat dari gram berdasarkan karakteristik dinding sel mikroorganisme (Sears, 2011). Pengecatan gram ini dilakukan pada sampel jamu uyup-uyup yang positif mengandung E.coli berdasarkan uji biokimia di atas. Bakteri E.coli merupakan bakteri gram negatif. Menurut Sears (2011) bakteri gram negatif mempunyai dinding sel yang tipis, mempunyai lapisan rangkap (bilayer) fosfolipid di sebelah luar yang mengandung lipopolisakarida yang mengelilingi lapisan peptidoglikannya. Pengecatan gram dilakukan pada pulasan bakteri. Zat warna yang digunakan adalah larutan gram A yang berisi kristal violet sebagai cat utama. Larutan gram B yang berisi iodine sebagai penguat cat utama. Larutan gram C yang berisi alkohol 70%, berfungsi sebagai larutan peluntur. Larutan gram D yang berisi safranin sebagai cat lawan.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Berdasarkan karakteristik dinding selnya, Sears (2011) menyebutkan bakteri gram positif akan menyerap zat warna kristal violet ke dalam dinding sel dan mempertahankannya selama pencucian sehinga akhirnya akan berwarna biru. Bakteri gram negatif tidak dapat mempertahankan zat warna kristal violet pada saat pencucian dan akan berwarna merah setelah pemberian zat warna safranin. Bakteri gram negatif akan kehilangan warna violet karena tercuci oleh alkohol. Selama perlakuan dengan alkohol, lipid akan tertarik ke luar sehingga akan menaikkan permeabilitas dinding sel. Lapisan peptidoglikan yang lebih sedikit dibandingkan gram positif serta pori-pori cukup besar, mengakibatkan kristal violet-iodine tertarik ke luar sel hingga bakteri kehilangan warna. Warna merah akan terlihat ketika dicuci dengan safranin (Tarigan, 1988). Hasil yang didapat pada pengecatan gram pada sampling 1, 2 dan 3 menujukkan warna merah muda, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil yang didapat merupakan kelompok bakteri gram negatif dan berbentuk batang yang mendukung bukti keberadaan E.coli pada jamu uyup-uyup. Gambar 9. Hasil pengecatan gram berwarna merah muda (gram negatif) dan berbentuk batang Keterangan: : koloni berwarna merah muda (gram negatif) dan berbentuk batang

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Rangkuman keseluruhan hasil uji biokimia dan pengecatan gram pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel IV. Tabel IV: Hasil uji biokimia dan pengecatan gram dalam sampel jamu uyup-uyup Uji Glukosa Laktosa Manitol Maltosa Sukrosa Indol Metil merah Voges-Voskauer Sitrat Pengecatan gram Hasil Sampling 1 Sampling 2 K (+) Sampel K (+) Sampel + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + Sampling 3 K (+) Sampel + + + + + + + + + + + + + + + + Keterangan: K (+) : Kontrol positif + : Hasil positif : Hasil negatif Uji biokimia dan pengecatan gram yang telah dilakukan menyimpulkan bahwa pada sampel jamu uyup-uyup telah tercemar oleh bakteri E.coli. Hal ini disebabkan oleh berbagai kemungkinan antara lain karena air yang digunakan memang terbukti telah tercemar oleh bakteri E.coli. Hasil ini didukung dari hasil uji MPN coliform dan coli tinja yang dilakukan oleh Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta menunjukkan bahwa air yang digunakan untuk pembuatan jamu tercemar bakteri golongan coliform 18 /100mL dan golongan coli tinja 5/100mL sehingga akan mencemari jamu uyup-uyup. Alat-alat yang digunakan untuk menyajikan jamu uyup-uyup tidak dicuci dengan menggunakan sabun hanya dengan air mengalir sehingga akan mengkontaminasi alat-alat tersebut. Perilaku penjual yang kurang bersih yaitu tidak mencuci tangan dengan sabun

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 sebelum menyajikan jamu uyup-uyup karena tangan menjadi sumber kontaminasi bakteri. Bahan baku yang digunakan berupa rimpang yang tertanam di tanah sehingga memicu adanya bakteri E.coli. Habitat E.coli adalah di tanah yang akan menempel pada rimpang yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan jamu uyup-uyup. Adanya cemaran bakteri E.coli pada sampel jamu uyup-uyup dapat menyebabkan penyakit diare dan ISK bagi ibu yang mengkonsumsinya dan bayinya. Oleh karena itu, sebaiknya penjual lebih menjaga kebersihan dan higenitas dalam pembuatan jamu uyup-uyup sehingga kesehatan konsumen terutama bagi ibu menyusui dapat lebih terjamin.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Nilai AKK yang diperoleh pada sampel jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta adalah 7,5 x 104 sampai dengan 4 x 105. 2. Nilai ALT diperoleh dari sampel jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta 8 x 104 sampai dengan 2,4 x 107. 3. Sampel jamu uyup-uyup dari penjual jamu racik “X” di Yogyakarta tercemar oleh bakteri E.coli. B. Saran 1. Dapat dilakukan penelitian tentang cemaran mikroba patogen lainnya terkait dengan syarat yang ditetapkan KEPMENKES no 661 tahun 1994 pada jamu-uyup yaitu Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. 2. Perlu dilakukan pembinaan kepada produsen jamu racik “X” di Yogyakarta oleh pihak yang berwenang, agar lebih memperhatikan kebersihan dan perilaku higenis dalam pembuatan dan penyajian jamu sehingga keamanan jamu dan kesehatan masyarakat lebih terjamin. 67

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 DAFTAR PUSTAKA Abdulrazzaq, Y.M., 2003. Aflatoxin M1 in breastmilk of UAE women. Ann. Trop. Paediatri, 23(3),pp. 173 – 179. Agoes, A., 2010, Tanaman Obat Indonesia, Buku 2, Salemba Medika, Jakarta, pp. 57-59, 99-101. Ahmad, R. Z., 2009, Cemaran Kapang Pada Pakan dan Pengendaliannya, Balai Besar Penelitian Veteriner, Jalan R.E. Martadinata No. 30, Bogor, pp.15. Anonim, 2014, Efek Pendinginan dan Pemanasan Pada Populasi Bakteri E.coli, http: //www. amazine. co/12089/efek – pendinginan - pemanasan-pada-populasibakteri-e-coli/, diakses tanggal 19 Juni 2014. Aulia, 2012, Medium Pertumbuhan Bakteri, Bapelkes, Jakarta, pp. 1-3. Atlas, R.M., 2000, Hand Book of Microbiological Media, 2nd Edition, CRC Press, New York, pp. 255. Badan Pengawas Obat Makanan Republik Indonesia, 2008, Pengujian Mikrobiologi Pangan, Vol.9, No.2, Balai POM, Jakarta, pp. 1-7. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2004, Keputusan Kepala BPOM RI No. 00.05.4.2411 tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta, pasal (1). Bridson, E., Y., 2006, oxoid manual, 9th Edition,, Oxoid Limited, England, pp. 337, 338. Cappuccino, J,G, and Natalie Sherman, 2008, Microbiology a Laboratory Manual, eight edition, Pearson education, USA, pp. 155-170. Chandra, B., 2007, Pengantar Kesehatan Lingkungan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 30. David W., PhD, Rana A. Hajjeh, MD, Brent A. Lasker, PhD, 2001, Epidemiology and Prevention of Invasive Aspergillosis, Current Science Inc, USA, pp. 507. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1994, Kodifikasi Peraturan Perundang-undangan Obat Tradisional, Depkes RI, Jakarta, pp. 157,165.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Departemen Kesehatan Republik Indonesia , 2000, Pelaksanaan Uji Klinik Obat Tradisional, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, pp. 27. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2010, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 003 Tahun 2010 Saintifikasi Jamu Dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, pasal (1), (4). Departemen Kesehatan Republik Indonesia , 2011, Integrasi Pengobatan tradisional dalam Sistem Kesehatan Nasional http: // www. depkes. go. id / index. php / berita / press - release / 1706 – integrasi – pengobatan – tradisional – dalam – sistem – kesehatan - nasional. html, diakses tanggal 28 Oktober 2013. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2012, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 007 Tahun 2012 tentang Registrasi Obat Tradisional, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, pasal (1). Diagnostic, B., 2009, EC Broth, http://www. biokardiagnostics. com /solabia / produitsdiagnostic. Nsf / 0 / 4f6d4bb6091347e7c12574c80036db96 / $file / tds_bk162_v6. pdf, diakses tanggal 13 April 2014. Dupont, H.L., Formal, S.B., Hornick, R.B., Snyder, M.J., Libonati , D.G., Sheahan, LaBrec, E.H., and Kalas, J.P. 1971. Pathogenesis of Escherichia coli diarrhea. New Eng. J. Med, pp. 285:1-9. Fardiaz, S., 1992, Mikrobiologi Pangan, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta, pp. 183. Finegold, S.M, dan E.J. Baron, 1996, Bailey and Scott’s Diagnostic Microbiology 7th edition, CV Mostby, Saint Louis, pp. 113. Hadioetomo, R.S., 1985, Mikrobiologi Dasar dan Praktek –teknik dan Prosedur Dasar dalam Laboratorium, Gramedia, jakarta, pp. 42-46, 100. Holt, J.G., Krieg, N.R., Sneath, P.H.A., Staley, J.T.,Williams, S.T., 2000, Bergey’s Manual Determinative Bacteriology, 9th edition, Lippincott Williams and Wilkins Company, USA, pp. 167-168. Jawetz, E.J.I., Melnick and Adberg, 1996, Mikrobiologi Kedokteran, Diterjemahkan oleh Nugroho, E., dan Maulany Edisi XX, EGC, Jakarta, pp. 191. Jutono, dkk., 1972, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Departemen Mikrobiologi Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pp. 44, 57-59.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Kanti A. 2005. Keragaman khamir tanah asal Taman Nasional Kalimutu dan Taman Wisata Alam Ruteng Nusa Tenggara Timur, Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Bogor, pp. 56. Latief, A., 2012, Obat Tradisional, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 1,3-6, 25. Lay. B.W., 1994, Analisis Mikroba di Laboratorium, Edisi I, PT. Raja grafindo Persada, Jakrata, pp. 81-85, 91, 99. Levinson, W and E. Jawetz .2003. Medical Microbiology & Imunology Examination & Board Review. 7th Edition.USA: McGraw-Hill Company. pp. 130-131. Melliawati, R., 2009, Escherichia coli dalam Kehidupan Manusia, Bio Trends, 4 (1), 13. Murray,P.R., 1999, Manual of Clinical Microbiology, 7th Edition, aditors Ellen Jo Baron, Michael A. Pfaller, fred C. Tenover, Robert H. Yolken, American Society for Microbiology, 1325 Massachusetts Avenue, Washington D.C. pp. 1073. Pratiwi, S. T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta, pp. 178, 180-184 Radji, M., 2011, Buku Ajar MIKROBIOLOGI Panduan mahasiswa farmasi dan kedokteran, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 127. Rengga, W.D.P. dan Prima A.H, 2013, Serbuk Instan Manis Daun Pepaya Sebagai Upaya Memperlancar Air Susu Ibu, Universitas Negeri Semarang, Semarang, pp. 7. Roesli, U, 2000. Mengenal ASI Eksklusif Seri 1. Penerbit Trubus Agriwidya, Jakarta, pp. 6. Sears, B.W., 2011, Intisari Mikrobiologi & Imunologi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 1-2. Suharmiati, 2003, Menguak Tabir dan Potensi Jamu Gendong, Penerbit Agromedia Pustaka, Jakarta, pp. 2-4, 33-35. Sumarmo, 2000, Isolasi dan Identifikasi Bakteri Klinik, Akademi Analisis Kesehatan Yogyakarta, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Yogyakarta, pp. 38-39.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Sumarsih, 2007, Nutrisi dan Medium Kultur Mikroba, http: // sumarsih07. files. wordpress. com / 2008/ 11 / nutrisi – dan - medium – kultur - mikroba. Pdf, diakses tanggal 29 Maret 2014. Supardi, I., dan Sukamto., 1999, Mikrobiologi Dalam Pengolahan dan Keamanan Pangan, Penerbit Alumni, Bandung, pp. 34. Tarigan, J., 1988, Pengantar Mikrobiologi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, pp. 190-191. Wasito, H., 2011, Obat Tradisional Kekayaan Indonesia, Graha Ilmu, Yogyakarta, pp. 5,14, 17-19, 26-27, 32-37. Wattimena, J.R., Sugiarso, N.C.,Widianto, M.B., Sukandar, E.Y., Soemardji, A.A., Setiadi, A.R., 1991, Farmakodinamik dan Terapi Antibiotik, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, pp. 184, 187. Wijayanti, S., 2009, Identifikasi dan Pemeriksaan Jumlah Total Bakteri Susu Sapi Segar dari Koperasi Unit Desa di Kabupaten Boyolali, http: // www. pdfqueen. com / pdf / ma / makalah – tentang – pedagang – kaki – lima /., diakses tanggal 10 Mei 2014.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 72

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian di Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Lampiran 2. Hasil uji MPN E.coli dari Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Lampiran 3. Uji AKK sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi hari ke-5 Sampling Sampling I Sampling Sampling II Sampling Sampling III Pengenceran Jumlah Koloni AKK Petri 1 Petri 2 Jumlah 10-1 ∞ ∞ ∞ 10-2 ∞ ∞ ∞ 10-3 68 65 133 10-4 31 36 67 10-5 10 10 20 Pengenceran Jumlah Koloni 4 x 105 AKK Petri 1 Petri 2 Jumlah 10-1 ∞ ∞ ∞ 10-2 ∞ ∞ ∞ 10-3 110 104 214 10-4 23 28 51 10-5 15 13 28 Pengenceran (CFU/mL) Jumlah Koloni (CFU/mL) 4 x 105 AKK Petri 1 Petri 2 Jumlah 10-1 ∞ ∞ ∞ 10-2 136 142 278 10-3 55 67 122 10-4 18 26 44 10-5 5 6 11 (CFU/mL) 7,5 x 104

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Lampiran 4. Perhitungan AKK sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi hari ke-5 Sampling I Pengenceran 10-1 • Tidak dapat dihitung karena pertumbuhan bakteri yang saling menumpuk dianggap sebagai tak terhingga. Pengenceran 10-2 • Tidak dapat dihitung karena pertumbuhan bakteri yang saling menumpuk dianggap sebagai tak terhingga. Pengenceran 10-3 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan koloni 10-150 68 + 65 = 133 x 10-3 = 133.000 koloni/mL Pengenceran 10-4 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan koloni 10-150 31 + 36 = 67 x 10-4 = 670.000 koloni/mL Pengenceran 10-5 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan koloni 10-150 10 + 10 = 20 x 10-4 = 200.000 koloni/Ml Dipilih cawan petri dari pengenceran 10-3 dan pengenceran 10-4 Pengenceran 10-3 = 133.000 Pengenceran 10-4 = 670.000 + 803.000 : 2 = 401.500 4 x 105 koloni/mL

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Sampling II Pengenceran 10-1 • Tidak dapat dihitung karena pertumbuhan bakteri yang saling menumpuk dianggap sebagai tak terhingga. Pengenceran 10-2 • Tidak dapat dihitung karena pertumbuhan bakteri yang saling menumpuk dianggap sebagai tak terhingga. Pengenceran 10-3 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan koloni 10-150 110 + 104 = 214 x 10-3 = 214.000 koloni/mL Pengenceran 10-4 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan koloni 10-150 23 + 28 = 51 x 10-4 = 510.000 koloni/mL Pengenceran 10-5 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan koloni 10-150 15 + 13 = 28 x 10-5 = 2.800.000 koloni/mL Dipilih cawan petri dari pengenceran 10-3 dan pengenceran 10-4 Pengenceran 10-3 = -4 Pengenceran 10 = 214.000 510.000+ 724.000 : 2 = 362.000 4 x 105 koloni/mL

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Sampling III Pengenceran 10-1 • Tidak dapat dihitung karena pertumbuhan bakteri yang saling menumpuk dianggap sebagai tak terhingga. Pengenceran 10-2 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan koloni 10-150 136 + 142 = 278 x 10-2 = 27.800 koloni/mL Pengenceran 10-3 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan koloni 10-150 55 + 67 = 122 x 10-3 = 122.000 koloni/mL Pengenceran 10-4 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan koloni 10-150 18 + 26 = 44 x 10-4 = 440.000 koloni/mL Pengenceran 10-5 • Koloni tidak dapat dihitung karena tidak menunjukkan koloni 10-150 Dipilih cawan petri dari pengenceran 10-2 dan pengenceran 10-3 Pengenceran 10-2 = 27.800 Pengenceran 10-3 = 122.000 + 149.800 : 2 = 74.900 7,5 x 104 koloni/mL

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Lampiran 5. Uji ALT sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi 24 Jam Sampling Sampling I Sampling Sampling II Sampling Sampling III Pengenceran Jumlah Koloni ALT Petri 1 Petri 2 Jumlah 10-1 ∞ ∞ ∞ 10-2 250 238 244 10-3 126 134 130 10-4 63 69 66 10-5 31 35 33 Pengenceran Jumlah Koloni 8 x 104 ALT Petri 1 Petri 2 Jumlah 10-1 ∞ ∞ ∞ 10-2 ∞ ∞ ∞ 10-3 250 224 237 10-4 204 208 206 10-5 122 138 130 Pengenceran (CFU/ml) Jumlah Koloni (CFU/ml) 1,1 x 106 ALT Petri 1 Petri 2 Jumlah 10-1 ∞ ∞ ∞ 10-2 ∞ ∞ ∞ 10-3 ∞ ∞ ∞ 10-4 ∞ ∞ ∞ 10-5 238 246 242 (CFU/ml) 2,4 x 107

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Lampiran 6. Perhitungan ALT sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi 48 jam Sampling I Pengenceran 10-1 • Tidak dapat dihitung karena pertumbuhan bakteri yang saling menumpuk sehingga dianggap sebagai tak terhingga. Pengenceran 10-2 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan jumlah koloni 25-250 koloni/mL Pengenceran 10-3 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan jumlah koloni 25-250 koloni/mL Pengenceran 10-4 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan jumlah koloni 25-250 koloni/mL Pengenceran 10-5 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan jumlah koloni 25-250 koloni/mL Dipilih cawan petri dengan pengenceran 10-2 dan pengenceran 10-3 Pengenceran 10-2 = 24. 400 -3 Pengenceran 10 = 130.000 + 154.400 : 2 = 77.200 8 X 104 koloni/mL

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Sampling II Pengenceran 10-1 • Koloni tidak dapat dihitung karena pertumbuhan bakteri yang saling menumpuk sehingga dianggap sebagai tak terhingga. Pengenceran 10-2 • Koloni tidak dapat dihitung karena pertumbuhan bakteri yang saling menumpuk sehingga dianggap sebagai tak terhingga. Pengenceran 10-3 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan jumlah koloni 25-250 koloni/mL Pengenceran 10-4 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan jumlah koloni 25-250 koloni/mL Pengenceran 10-5 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan jumlah koloni 25-250 Dipilih cawan petri pada pengenceran 10-3 dan 10-4 Pengenceran 10-3 = 237.000 Pengenceran 10-4 = 2.060.000+ 2.297.000 : 2 = 1.148.500 1,1 x 106 koloni/mL

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Sampling III Pengenceran 10-1 • Koloni tidak dapat dihitung karena pertumbuhan bakteri yang saling menumpuk sehingga dianggap sebagai tak terhingga. Pengenceran 10-2 • Koloni tidak dapat dihitung karena pertumbuhan bakteri yang saling menumpuk sehingga dianggap sebagai tak terhingga. Pengenceran 10-3 • Tidak dapat dihitung karena pertumbuhan bakteri yang saling menumpuk sehingga dianggap sebagai tak terhingga. Pengenceran 10-4 • Tidak dapat dihitung karena pertumbuhan bakteri yang saling menumpuk sehingga dianggap sebagai tak terhingga. Pengenceran 10-5 • Dipilih cawan petri yang menunjukkan jumlah koloni 25-250 koloni/mL Dipilih cawan petri pada pengenceran 10-5 Pengenceran 10-5 = 24.200.000 Karena hanya pengenceran 10-5 yang masuk dalam range, maka dapat langsung disimpulkan hasil akhir 24.200.000 2,4 x 107 koloni/mL

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Lampiran 7. Pengambilan sampel jamu uyup-uyup Keterangan: A : Coolbox yang digunakan sebagai tempat sampel B : Sampel jamu uyup-uyup yang ditempatkan dalam coolbox C : Sampel yang ditempatkan dalam botol kaca steril yang ditutup rapat

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Lampiran 8. Uji AKK sampel jamu uyup-uyup sampling I pada inkubasi hari ke-5 Keterangan: A : Kontrol media PCA, tidak tumbuh koloni B : Kontrol dari pelarut PDF, tidak tumbuh koloni C : AKK pada Pengenceran 10-1 D : AKK pada Pengenceran 10-2 E : AKK pada Pengenceran 10-3 F : AKK pada Pengenceran 10-4 G : AKK pada Pengenceran 10-5

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Lampiran 9. Uji AKK sampel jamu uyup-uyup sampling II pada inkubasi hari ke-5 Keterangan: A : Kontrol media PCA, tidak tumbuh koloni B : Kontrol dari pelarut PDF, tidak tumbuh koloni C : AKK pada Pengenceran 10-1 D : AKK pada Pengenceran 10-2 E : AKK pada Pengenceran 10-3 F : AKK pada Pengenceran 10-4 G : AKK pada Pengenceran 10-5

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Lampiran 10. Uji AKK sampel jamu uyup-uyup sampling inkubasi hari ke-5 Keterangan: A : Kontrol media PCA, tidak tumbuh koloni B : Kontrol dari pelarut PDF, tidak tumbuh koloni C : AKK pada Pengenceran 10-1 D : AKK pada Pengenceran 10-2 E : AKK pada Pengenceran 10-3 F : AKK pada Pengenceran 10-4 G : AKK pada Pengenceran 10-5 III pada

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Lampiran 11. Uji ALT sampel jamu uyup-uyup sampling I pada inkubasi 48 jam Keterangan: A : Kontrol media PCA, tidak tumbuh koloni B : Kontrol dari pelarut PDF, tidak tumbuh koloni C : ALT pada Pengenceran 10-1 D : ALT pada Pengenceran 10-2 E : ALT pada Pengenceran 10-3 F : ALT pada Pengenceran 10-4 G : ALT pada Pengenceran 10-1

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Lampiran 12. Uji ALT sampel jamu uyup-uyup sampling II pada inkubasi 48 jam Keterangan: A : Kontrol media PCA, tidak tumbuh koloni B : Kontrol dari pelarut PDF, tidak tumbuh koloni C : ALT pada Pengenceran 10-1 D : ALT pada Pengenceran 10-2 E : ALT pada Pengenceran 10-3 F : ALT pada Pengenceran 10-4 G : ALT pada Pengenceran 10-5

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Lampiran 13. Uji ALT sampel jamu uyup-uyup sampling III pada Inkubasi 48 jam Keterangan: A : Kontrol media PCA, tidak tumbuh koloni B : Kontrol dari pelarut PDF, tidak tumbuh koloni C : ALT pada Pengenceran 10-1 D : ALT pada Pengenceran 10-2 E : ALT pada Pengenceran 10-3 F : ALT pada Pengenceran 10-4 G : ALT pada Pengenceran 10-5

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Lampiran 14. Uji tahap pengkayaan sampel jamu uyup-uyup inkubasi 24 jam Keterangan: A : Hasil uji tahap pengkayaan sampel I pada media ECB B : Hasil uji tahap pengkayaan sampel II pada media ECB C : Hasil uji tahap pengkayaan sampel III pada media ECB K+ : Kontrol positif dari biakan murni E.coli ATCC 3251 P : Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Lampiran 15. Uji tahap isolasi sampel jamu uyup-uyup pada inkubasi 24 jam Keterangan: A : Hasil uji tahap isolasi sampel I pada media TBX B : Hasil uji tahap isolasi sampel II pada media TBX C : Hasil uji tahap isolasi sampel III pada media TBX K+ : Kontrol positif biakan murni E.coli ATCC 3251 P : Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Lampiran 16. Uji fermentasi karbohidrat pada sampel jamu uyup-uyup Keterangan: A : Hasil Uji Fermentasi Karbohidrat Pada Sampel I B : Hasil Uji Fermentasi Karbohidrat Pada Sampel II C : Hasil Uji Fermentasi Karbohidrat Pada Sampel III K+ : Kontrol Positif dari biakan murni E.coli ATCC 3251 1 : Hasil uji glukosa pada media glukosa 2 : Hasil uji laktosa pada media laktosa 3 : Hasil uji manitol pada media manitol 4 : Hasil uji maltosa pada media maltosa 5 : Hasil uji sukrosa pada media sukros

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Lampiran 17. Uji indol pada sampel jamu uyup-uyup Keterangan: A : Hasil uji indol sampel I pada media SIM agar B : Hasil uji indol sampel II pada media SIM agar C : Hasil uji indol sampel III pada media SIM agar K+ : Kontrol positif dari biakan murni E.coli ATCC 3251 P : Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Lampiran 18. Uji metil merah pada sampel jamu uyup-uyup Keterangan: A : Hasil uji metil merah sampel I pada media MR-VP agar B : Hasil uji metil merah sampel II pada media MR-VP agar C : Hasil uji metil merah sampel III pada media MR-VP agar K+ : Kontrol positif dari biakan murni E.coli ATCC 3251 P : Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Lampiran 19. Uji Voges-Proskauer pada sampel jamu uyup-uyup Keterangan: A : Hasil uji Voges-Proskauer sampel I pada media MR-VP agar B : Hasil uji Voges-Proskauer sampel II pada media MR-VP agar C : Hasil uji Voges-Proskauer sampel III pada media MR-VP agar K+ : Kontrol positif dari biakan murni E.coli ATCC 3251 P : Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Lampiran 20. Uji sitrat pada sampel jamu uyup-uyup Keterangan: A : Hasil uji Sitrat sampel I pada media Simmon’s citrate agar B : Hasil uji Sitrat sampel II pada media Simmon’s citrate agar C : Hasil uji Sitrat sampel III pada media Simmon’s citrate agar K+ : Kontrol positif dari biakan murni E.coli ATCC 3251 P : Perlakuan untuk sampel jamu uyup-uyup

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Lampiran 21. Hasil pengecatan gram pada sampel jamu uyup-uyup Keterangan: A : Hasil pengecatan gram pada sampel I B : Hasil pengecatan gram pada sampel II C : Hasil pengecatan gram pada sampel III

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 BIOGRAFI PENULIS Penulis bernama Theresia Nurida Ambarwulan, merupakan anak kedua dari pasangan Bapak Matius Tukiran Mangku Sutrisno dan Ibu Yasinta Daryanti. Penulis lahir di Sleman pada tanggal 30 Mei 1992. Penulis mulai menempuh pendidikan Taman Kanakkanak Indriyasana pada tahun 1997 sampai 1998 dan melanjutkan di Sekolah Dasar Kanisius Babadan pada tahun 1998 sampai 2004. Pada tahun 2004 sampai 2007 penulis mengenyam pendidikan tingkat menengah pertama di SLTP N 1 Ngemplak. Pendidikan menengah tingkat atas dilanjutkan di SMA N 2 Ngaglik dari tahun 2007 hingga 2010. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta jurusan farmasi dari tahun 2010 sampai 2014. Selama menempuh perkuliahan di Universitas Sanata Dharma, penulis aktif dalam kegiatan kemahasiswaan diantaranya adalah HGT (Herbal Garden Team), PKM lolos didanai Dikti serta menjadi bendahara dalam acara Kampanye Informasi Obat.

(117)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Uji angka lempeng total dan identifikasi Bakteri Salmonella spp dalam jamu kunyit asam dari penjual jamu di Desa Ngawen Klaten.
4
19
84
Uji Angka Kapang/Khamir (AKK) dan identifikasi Salmonella spp pada jamu pahitan brotowali yang diproduksi oleh penjual jamu gendong di Kelurahan Tonggalan Klaten Tengah.
1
4
90
Uji angka lempeng total dan identifikasi escherichia coli pada jamu pahitan brotowali yang diproduksi oleh penjual jamu gendong keliling di Wilayah Tonggalan Klaten Tengah.
1
26
96
Uji angka kapang/khamir dan identifikasi escherichia coli dalam jamu kunyit asam dari penjual jamu di Wilayah Ngawen Klaten.
7
56
105
Uji angka lempeng total dan identifikasi escherichia coli dalam jamu gendong beras kencur yang dijual di Pasar Sambilegi Wilayah Maguwoharjo Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Yogyakarta.
2
10
134
Angka Lempeng Total pada Makanan
0
0
11
Uji angka kapang/khamir dalam jamu gendong beras kencur yang beredar di 3 pasar di Kotamadya Yogyakarta - USD Repository
0
0
94
Uji Escherichia coli pada jamu gendong beras kencur yang beredar di 3 pasar di Kotamadya Yogyakarta - USD Repository
0
0
100
Perbandingan Angka Lempeng Total (ALT) simplisia rimpang temulawak (Curcuma Rhizoma) dalam jamu godhog dari empat pasar di Kotamadya Yogyakarta dengan yang diolah sesuai Cara Pembuatan Simplisia yang Baik (CPSB) - USD Repository
0
0
137
Angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta - USD Repository
0
0
81
Angka Staphylococcus aureus dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta - USD Repository
0
0
101
Uji Angka Kapang/Khamir (AKK), Angka Lempeng Total (ALT), dan identifikasi escherichia coli dalam jamu cekok dari penjual jamu racik ``x`` di Yogyakarta - USD Repository
0
0
113
Uji Angka Kapang/Khamir (AKK), Angka Lempeng Total (ALT), dan identifikasi Salmonella pada jamu Uyup-Uyup yang diproduksi oleh penjual jamu racik X di Yogyakarta - USD Repository
0
0
89
Uji Angka Lempeng Total (ALT), Angka Kapang/Khamir (AKK), dan identifikasi staphylococcus aureus dalam jamu cekok dari penjual jamu racik ``x`` di Yogyakarta - USD Repository
0
0
98
Uji Angka Kapang/Khamir (AKK), Angka Lempeng Total (ALT), dan identifikasi salmonella pada jamu cekok yang diproduksi penjual jamu racik ``x`` di Yogyakarta - USD Repository
0
0
99
Show more