Persepsi siswa Kelas X dan Kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual - USD Repository

Gratis

0
0
113
4 months ago
Preview
Full text

  

PERSEPSI SISWA KELAS X DAN KELAS XI SMA TAMAN MADYA

JETIS YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2007/2008 TERHADAP

LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL

SKRIPSI

  

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Bimbingan dan Konseling

  

Oleh:

Tuti susilawati

Nim : 021114068

Disusun Oleh:

  

TUTI SUSILAWATI

NIM: 021114068

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSEING

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

  

M O T T O D A N PERSEM BA H A N

“Pendidikan Bukan Segala-galanya, Tapi Dengan

Pendidikan Kita Akan Mendapatkan Segala-galanya.”

“Impian Tidak Selalu Menjadi Kenyataan, Tapi

Kenyataan Selalu Datang Dari Impian.”

“Jika kamu mengingikan pelangi, kau harus mau

menerima hujan”

  Skripsi ini kupersembahkan unt uk: Ayahanda (alm) dan Mama tercinta Kakak-kakakku dan adik-adikku tersayang

  Kekasihku Agus Ttersayang Almamaterku dan Prodi BK tercinta

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 24 oktober 2008 Penulis

  

ABSTRAK

PERSEPSI SISWA KELAS X DAN KELAS XI SMA TAMAN MADYA

JETIS YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2007/2008TERHADAP

LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL

  

Tuti Susilawati

Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta,

2008

  Penelitian ini merupakan penlitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui; (1) baga imanakah persepsi para siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual, dan (2) adakah perbedaan persepsi para siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konselilng individual.

  Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 yang berjumlah 233 siswa. Sampel yang diambil sejumlah 98 siswa atau 49% dari populasi. Sampel ini diambil dengan menggunakan teknik random sampling. Instrumen yang digunakan adalah “kuesioner persepsi siswa terhadap layanan konseling individual” yang dibuat oleh peneliti berdasarkan uraian aspek-aspek layanan konseling individual Latipun, 2003, Winkel dan Sri Hastuti, 2004). Hasil uji coba reliabilitas diperoleh r = 0,87, atas dasar taraf signifikansi 5% (r = 0,87>0,254) tt tt termasuk dalam kualifikasi “tinggi”. Jumlah seluruh item yang digunakan dalam penelitian sebanyak 36 item. Teknik analisis data yang digunakan adalah Penilain Acuan Patokan (PAP) Tipe 1, uji perbedaan dengan uji “t”, perhitungan mean, perhitungan standar kesalahan perbedaan mean.

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) 5 siswa kelas X (10%) memiliki persepsi terhadap layanan konseling individual, dengan kualifikasi “sangat baik”, (2) 26 siswa kelas X (52,0%) memiliki persepsi dengan kualifikasi “baik”, (3) 17 siswa kelas X (17,0%) memiliki persepsi dengan kualifikasi “cukup baik”, (4) 1 siswa kelas X (2,0%) memiliki persepsi dengan kualifikasi “tidak baik”, (5) 1 siswa kelas X (2,0%) memiliki persepsi dengan kualifikasi “sangat tidak baik” (6) 6 siswa kelas XI (12,5%) memiliki persepsi terhadap layanan konseling individual, dengan kualifikasi “sangat baik”, (7) 17 siswa kelas XI (35,4%) memiliki persepsi dengan kualifikasi “baik”, (8) 25 siswa kelas XI (52,1%) memiliki persepsi dengan kualifikasi “cukup baik”. (9) Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa, terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual.

  

ABSTRACT

PERCEPTION OF X GRADE STUDENTS AND XI GRADE STUDENT

OF TAMAN MADYA SENIOR HIGH SCHOOL JETIS YOGYAKARTA

IN ACADEMIC YEAR OF 2007/2008 TOWARD

  

INDIVIDUAL COUNSELING SERVICE

Tuti Susilawati

Sanata Dharma University

Yogyakarta

  

2008

  This research was descriptive research that had purpose to know: (1) what is the perception of X and XI grade students of Taman Madya Senior High School Jetis Yogyakarta in academic year of 2007/2008 toward individual counseling service, and (2) whether there any difference of perception of X and XI grade students of Taman Madya Senior High School Jetis Yogyakarta in academic year of 2007/2008 toward individual counseling service.

  The population of this research was X and XI grade students of Taman Madya Senior High School Jetis Yogyakarta in academic year of 2007/2008 of 233 students. The samples taken were 98 students or 49% of population. These samples were taken by using random sampling technique. The instrument used was “questionnaires of students’ perception toward the individual counseling service” that was made by the researcher based on the explanation of aspects of individual counseling service (Latipun, 2003, Winkel and Sri Hastuti, 2004). The result of reliability test gained r = 0,87, based on significance level of 5% (r =

  n n

  0,87 > 0,254) included in qualification of “high”. The total of data analysis used was Standard Reference Evaluation (PAP) Type 1, test of difference by “t” test, mean calculation, the calculation of mean difference mistakes standard.

  The result of this research showed: (1) 5 of X grade students (10%) had perception toward individual counseling service, by qualification of “very good”, (2) 26 of X grade students (52,0%) had perception by qualification of “good”, (3) 17 of X grade students (17,0%) had perception by qualification of “rather good”, (4) 1 of X student (2,0%) had perception by qualification of “bad”, (5) 1 of X student (2,0%) had perception by qualification of “very bad”, (6) 6 of XI grade students (12,5%) had perception toward individual counseling service, by qualification of “very good”, (7) 17 of XI grade students (35,4 perception %) had perception by qualification of “good”, (8) 25 of XI grade students (52,1%) had perception by qualification of “rather good” (52,1), (9) The result of hypothesis zhared that, there was significant difference in perception between X and XI grade students of Taman Madya Senior High School Jetis Yogyakarta in academic period of 2007/2008 toward individual counseling.

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama: Tuti Susilawati Nim : 021114068 Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul “Persepsi Siswa Kelas X dan Kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta Tahun Ajaran 2007/2008 Terhadap Layanan Konseling Individual” beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelo lanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis, tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Dibuat di Yogyakarta Pada Tanggal 24 Oktober 2008 Yang menyatakan

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas cinta yang begitu besar dari-NYA, yang menyertai penulis sepanjang proses studi sampai dapat menyususn skripsi ini. Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan dari program studi Bimbingan dan Konseling, jurusan ilmu pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis sadar bahwa ada banyak pihak yang telah terlibat baik langsung maupun tidak langsung, dan ikut memberikan andil yang besar kepada penulis dalam mendalami, mengolah dan menyusun skripsi ini. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

  1. Dr. M.M. Sri Hastuti, M. Si. selaku pembimbing yang dengan sabar selalu membimbing, memberikan masukan, dan mengarahkan penulis dalam meyelesaikan skripsi ini.

  2. Para dosen Bimbingan dan Konseling, yang telah memberikan materi kuliah, pengalaman, dan dengan tulus hati memberikan pembimbingan dan dukungan selama penulis kuliah di Universitas Sanata Dharma.

  3. Drs. Yulius Fa`arododofau kepala Sekolah SMA Taman Madya yang telah memberikan ijin dan kemudahan untuk mengadakan penelitian.

  4. Bapak Soetopo dan Ibu Darini selaku guru pembimbing kelas X dan kelas XI

  5. Siswa-siswi Kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 yang telah bersedia mengisi kuesioner.

  6. Ayahanda (alm), bapak ti so lulus semoga Bapak ikut bahagia ya disana…. dan buat Mamaku tersayang, yang telah membesarkanku danga n penuh cinta dan kasih sayang,, dan mendoakan serta memenuhi kebutuhanku. terima kasih joh mak..!!

  k ak Lang, k ak Muis dan k ak Yanti, k ak

  7. Kakak-kakakku yang tercinta,

  Edis dan k ak Kana, Kak Yang Dora dan k ak Jibar, k ak Ak ong dan Ani, Kak Cerda dan k ak Kak ong, k ak Dita dan k ak Paul, yang selama aku

  studi telah banyak membantu membiyayai dan memenuhi kebutuhanku. Thank you so much..!!

  Valen Duk il

  8. Kedua adikku yang tercinta dan 9.

  Keponakan-keponakanku, yang cantik-cantik dan ganteng- ganteng and nakal- nakal juga, hehehe… Kris, Deby , Anas, Vega, Ade, Aurin, Eci, Lia, Ata,

  Denis, Audri, Elk i, Kailo

  10. Seorang yang telah membuat hariku indah “Agus T” terima kasih atas perhatian dan kasih sayangmu yang tulus untukku …!!!

  11. Sahabat-sahabatku, Yuli idang S.Pd yang dengan sabar dan telah banyak membantuku dalam segala hal yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu; Uning yang selalu memberi semangat saat sama-sama ga` bisa bimbingan skripsi, ning akhirnya kita lulus juga ya….;Eka S.Pd, Dina S.Pd, Enny S.Pd,

  12. Teman-teman seperjuangan BK angkatan 2002, terima kasih buat kebersamaan dan pengalaman yang indah selama bersama kalian. Maaf- maaf aja ya.. kalu pernah buat salah sama kalian ok…...!!

  13. Teman-teman kost parkit 7, Artha SH, Maria SH, Inge, Vina. atas kebersamaannya selama ini.

  14. Semua pihak yang belum penulis sebutkan satu-persatu yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurna karena masih terdapat kekurangan dan keterbatasan diberbagai segi. Saran dan kritik sangat penulis harapkan guna memperbaiki dan menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak yang berkepentingan dan membaca skripsi ini.

  Penulis

DAFTAR ISI

  Halaman

  HALAMAN JUDUL……………………………………………….. i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………………….. ii

HALAMAN PENGESAHAN……………………………………… iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN………………………………… iv

PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN KARYA…………… v

ABSTRAK………………………………………………………….. vi

ABSTRACT………………………………………………………… vii

KATA PENGANTAR……………………………………………… ix

DAFTAR ISI………………………………………………………... xii

DAFTAR TABEL…………………………………………………... xv

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………….. xvi

BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………...

  1 A. Latar Belakang Masalah………………………………........

  1 B. Rumusan Masalah…………………………………………..

  9 C. Tujuan Penelitian……………………………………………

  10 D. Manfaat Penelitian………………………………………….

  10 E. Definisi Operasional………………………………………..

  11

BAB II. KAJIAN PUSTAKA……………………………………….

   13 A. Persepsi…………………………………………………….

  13 1. Pengertian Persepsi……………………………………..

  13 2. Aspek-aspek Persepsi…………………………………..

  14

  3. Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Persepsi……

  16 B. Siswa SMA Sebagai Remaja……………………………….

  19

  1. Pengertian Siswa SMA Sebagai Remaja………………

  19 2. Tugas Perkembangan Remaja SMA…………………..

  21 3. Karakteristik Remaja SMA…………………………....

  24 C. Layanan Konseling Individual……………………………..

  29 1. Pengetian Konseling…………………………………...

  29

  2. Tujuan Konseling………………………………………

  31

  3. Prinsif-prinsif Konseling………………………………

  35

  4. Proses atau Langkah- langkah Konseling………………

  39 5. Aspek-aspek Konseling………………………………..

  43 6. Faktor-faktor yang Memepengaruhi Proses Konseling…....

  46 D. Persepsi Siswa Kelas X dan Kelas XI Terhadap Layanan Konseling Individual………………………………………

  50 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN………………………

   54 A. Jenis Penelitian………………………………………….. 54 D. Prosedur Pengumpulan Data ………………………….....

  60 1. Uji Coba Instrumen…………………………………...

  60 a. Validitas Instrumen……………………………….

  60 b. Reliabilitas Instrumen…………………………….

  64

  2. Tahap Penelitian………………………………………

  67 E. Teknik Analisis Data……………………………………..

  68 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………….

   71 A. Hasil Penelitian…………………………………………….

  71 B. Hasil Pembahasan………………………………………….

  75 BAB V. RINGKASAN, KESIMPULAN DAN SARAN………….

   86 A. Ringkasan…………………………………………………..

  86 B. Kesimpulan………………………………………………...

  88 C. Saran……………………………………………………….

  89 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………….

   90 LAMPIRAN ………………………………………………………..

   94

  

DAFTAR TABEL

  Tabel 1 : Data siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008……………………………………… 55 Tabel 2 : Rincian sampel penelitian siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman

  Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008…………… 56 Tabel 3 : Kisi-kisi kuesioner uji coba persepsi siswa terhadap layanan konseling individual…………………………………………………….

   58 Tabel 4 : Kisi-kisi kuesioner setelah uji coba persepsi siswa terhadap layanan

  konseling individual…………………………………………. 62 Tabel 5 : Koefisien korelasi reliabilitas………………………………....

  67 Tabel 6 : Jadwal pengumpulan data…………………………………….. 67 Tabel 7 : Penggolongan persepsi siswa kelas X dan kelas XI terhadap layanan konsel;ing individual berdasarkan Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe

  1……………………………………………………………

   69 Tabel 8 :Persepsi siswa kelas X tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual……………………………………....

  72 Tabel 9 : Persepsi siswa kelas X tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual………………………………………

  73 Tabel 10: Hasil perhitungan mean. standar deviasi, nilai t persepsi siswa kelas X dan kelas XI SMA taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran

  

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Kuesioner (Penlitian) persepsi siswa terhadap layanan konseling

  individual……………………………………………..

   94 Lampiran 2 : Hasil analisis Uji Validitas per-Item…………………

   97 Lampiran 3 : Rekavitulasi …………………………………………..

  99 Lampiran 4 : Tabel belah dua skor uji coba kuesioner……………... 101

  

Lampiran 5 : Tabel uji beda persepsi siswa kelas X dan kelas XI terhadap

  layanan konseling individual………………………... 103

  

Lampiran 6 : Hasil uji beda persepsi siswa kelas X dan kelas XI terhadap

  layanan konseling individual………………………... 105

  

Lampiran 7 : Tabulasi uji coba…………………………………….. 107

Lampiran 8 : Tabulasi penelitian…………………………………… 200

BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dibahas latar belakang masalah, perumusan masalah,

  tujuan penelitian, manfaat pene litian, definisi operasional dan hopotesis penelitian.

A. Latar Belakang Masalah

  Bimbingan dan konseling dewasa ini telah menjadi salah satu pelayanan pendidikan yang sangat dirasakan keperluannya di sekolah-sekolah, bukan saja di luar negeri tetapi juga di Indonesia. Sekolah-sekolah di Indonesia mulai tahun 1962-1963 telah mengambil langkah- langkah yang diperlukan untuk memasukkan program bimbingan dan konseling sebagai salah satu bidang penting dalam program sekolah.

  Di Indonesia, sekolah harus dengan sungguh-sungguh melaksanakan tugasnya dalam mewujudkan tujuan pendidikan, yakni “Membimbing anak didik menjadi warga negara pancasila ya ng berpribadi, berdasarkan akan ke-Tuhanan Yang Maha Esa, berkesadaran bermasyarakat dan mampu membudayakan alam sekitarnya, serta dapat menjadi manusia yang dapat memperkembangkan diri sendiri secara optimal, sesuai dengan kecerdasan, bakat dan minat masing- masing, sehingga memiliki kepribadian yang seimbang dan berjiwa makarya serta

  Layanan konseling individual merupakan salah satu layanan dalam program bimbingan di sekolah yang dapat membantu siswa mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami sehubungan dengan pelaksanaan tugas-tugas perkembangannya. Masalah- masalah yang dihadapi para siswa semakin kompleks, antara lain : masalah sekolah atau belajar, masalah interaksi antara anggota keluarga, masalah pengisian waktu luang, masalah pergaulan dengan teman sebaya dan lawan jenis, masalah pergulatan dalam diri sendiri.

  Menurut Winkel (1997: 81) masalah- masalah yang timbul dalam kehidupan siswa di sekolah beraneka ragam, antara lain:

  1. Masalah belajar: motivasi belajar yang kurang; pilihan program studi tidak mantap; prestasi belajar yang mengecewakan; cara belajar tidak efektif; kesulitan dalam mengatur waktu; hubungan dengan guru kurang memuaskan; peraturan sekolah terlalu longgar atau terlalu ketat; bahan pelajaran terlalu sukar, terlalu banyak atau terlalu menjemukan.

  2. Masalah keluarga: suasana di rumah kurang memuaskan; interaksi antara seluruh anggota keluarga kurang akrab; orang tua bercerai atau keluarga retak; keadaan ekonomi sulit; perhatian orang tua terhadap belajar di sekolah kurang; orang tua terlalu menuntut dan menekan.

  3. Masalah pengisian waktu luang: tidak mempunyai hobi; tidak tahu cara mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat; terlalu dibebani pekerjaan di rumah. menghadapi kelompok teman yang berlainan pendapat; tidak mengetahui cara berpacaran yang sehat.

  5. Masalah pergulatan dalam diri sendiri: rasa iri terhadap teman yang meraih sukses; rasa minder atau rendah diri; rasa gelisah dan prihatin tentang masa depan; ketegangan antara ingin moderen, tetapi tidak berani melepaskan adat istiadat; kebingungan mengenai nilai-nilai moral yang harus berlaku di zaman ini; perang batin antara mengikuti kecenderungan mencari kesenangan dan keharusan untuk menunda demi masa depan; menentukan sikap terhadap dorongan dan godaan seksual. Permasalahan yang dialami siswa sering kali tidak dapat diatasi, meski dengan pengajaran yang baik sekalipun. Maksudnya, pengajaran yang diberikan oleh guru bidang studi di dalam kelas. Hal ini terlebih lagi disebabkan oleh sumber-sumber permasalahan siswa yang banyak terletak di luar sekolah.

  Misalnya, permasalahan menghadapi sikap orang tua dan anggota keluarga, pengaruh film, televisi, vidio, game, pengaruh kelompok-kelompok sebaya yang bertindak menyimpang dan berbagai faktor lainnya dalam kehidupan sosial masyarakat. Apabila misi sekolah adalah menyediakan pelayanan yang luas untuk secara efektif membantu siswa mencapai tujuan-tujuan perkembangannya dan mengatasi permasalahannya, maka segenap kegiatan dan kemudahan yang diselenggarakan sekolah perlu diarahkan. Di sinilah dirasakan perlunya pelayanan bimbingan dan konseling disamping kegiatan pengajaran (Prayitno dan

  Bimbingan dan konseling di sekolah adalah pelayanan untuk semua murid yang mengacu pada keseluruhan perkembangan mereka, yang meliputi empat dimensi kemanusiaan yaitu, pertama, dimensi keindividualitas (Individualitas), yang memungkinkan seseorang mengmbangkan segenap potensi yang ada pada dirinya secara optimal, dan mengarahkannya kepada aspek-aspek kehidupan yang positif. Perkembangan dimensi ini membawa seseorang menjadi ind ividu yang mampu tegak berdiri dengan kepribadiannya sendiri, dengan aku yang teguh, positif, produktif dan dinamis. Kedua, dimensi kesosialan (Sosialitas), memungkinkan seseorang mampu berinteraksi, berkomunikasi bergaul, bekerjasama, dan hidup bersama orang lain. Ketiga, dimensi kesusilaan (Moralitas), memberi warna moralitas terhadap perkembangan dimensi individulitas dan dimensi sosialitas. Norma, etika dan berbagai ketentuan yang berlaku mengatur bagaimana kebersamaan antar individu seharusnya dilaksanakan. Dimensi kesusilaan mampu menjadi pemersatu, sehingga dimensi individualitas dan dimensi sosialitas dapat bertemu dalam satu kesatuan yang penuh makna. Keempat, dimensi keagamaan (religiusitas), menghubungkan diri dalam kaitannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Orang tidak terpukau dan terpaku pada kehidupan di dunia saja, melainkan mengaitkan secara serasi, selaras dan seimbang kehidupan di dunia itu dengan kehidupan akhirat. Perkembangan keempat dimensi kemanusiaan diatas adalah dalam rangka mewujudkan manusia seutuhnya (Prayitno dan Amti,2004: 16-17). menghadapi persoalan-persoalan yang silih berganti; dimana persoalan yang satu dapat diatasi dan persoalan yang lain timbul. Diantara individu ada yang sanggup mengatasi persoalan-persoalannya tanpa bantuan orang lain, tetapi tidak sedikit individu yang tidak sanggup mengatasi persoalan-persoalannya jika tidak dibantu oleh orang lain (Ahmadi,1977: 9). Menurut Suardiman (1981: 1) layanan konseling individual diperlukan dan penting karena orang hidup pasti mengalami problem. Berkaitan dengan problem, ada individu yang dapat mengatasi sendiri problemnya dan ada individu yang mengalami kesukaran dalam usahanya mengatasi problemnya itu dan perlu mendapatkan pertolongan dari orang lain, yaitu seorang yang ahli atau profesional (konselor).

  Dari contoh diatas betapa pentingnya bimbingan dan konseling di sekolah, dalam rangka membantu para siswa menentukan pilihan hidupnya dan perkembangannya secara optimal. Menurut Latipun (2001: 3) layanan konseling individual itu penting bagi siswa karena merupakan salah satu upaya untuk membantu mengatasi konflik, hambatan dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan, sekaligus sebagai upaya peningkatan kesehatan mental. Menurut Ahmadi (1977: 10) layanan konseling itu penting bagi siswa untuk membantu berbagai kesukaran yang dialami oleh siswa dalam perkembangannya atau dalam menentukan pilihan hidupnya, misalnya, (1) banyak siswa-siswa yang mengalami kesukaran dalam cara belajar, cara menggunakan waktu luang/senggang, cara menyesuaikan diri dengan teman sekelas dan sebagainya; (2) banyak siswa yang tahu kemana ia harus melanjutkan sekolah yang sesuai dengan bakatnya. Menurut penulis, konseling individual itu penting karena melalui konseling siswa dapat mencurahkan atau mengungkapkan segala masalah yang mereka alami, baik itu masalah dari lingkungan sekolah, keluarga dan pergaulan dengan teman sebaya kepada seorang konselor yang profesional. Konseling itu penting karena dapat membantu perubaha n pada diri siswa, baik dalam bentuk pandangan, sikap, sifat, maupun keterampilan yang lebih memungkinkan siswa dapat menerima dirinya sendiri secara optimal.

  Menurut Syahril dan Ahmad (1986: 46-47) tujuan dari konseling individual bagi siswa di sekolah adalah (1) untuk mengenal diri sendiri dan lingkungan dia berada; (2) untuk dapat menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis, maksudnya siswa mampu menerima apa yang ada atau apa adanya yang terdapat pada dirinya; (3) untuk dapat mengamb il keputusan sendiri tentang berbagai hal; (4) untuk dapat mengarahkan diri sendiri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan yang ada pada dirinya; (5) untuk dapat mewujudkan diri sendiri, dengan pengenalan diri dan lingkungan, dengan pengambilan keputusan sendiri dan dengan mengarahkan diri, akhirnya siswa dapat mewujudkan (merealisasikan) dirinya sendiri. Menurut Winkel dan Sri Hastuti (2004:351) tujuan dan sasaran konseling pertama-tama dan terutama menyangkut pihak konseli (1) adanya perubahan prilaku atau pola kehidupan sehari- hari; (2) adanya perbaikan pola relasi sosial dengan orang lain; (3) adanya peningkatan kemampuan menghadapi tentang sesuatu yang penting; (5) dan kontinuitas pengembangan diri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

  Oleh karena itu, layanan konseling individual akan sangat membantu dan bermanfaat bagi siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah- masalahnya. Namun kenyataannya pelaksanaan layanan konseling individual di sekolah belum berjalan secara efektif seperti yang diharapkan. Siswa-siswa belum banyak yang memanfaatkan layanan konseling individual. Hal ini karena siswa memiliki persepsi berbeda-beda terhadap layanan konseling individual yang ada di sekolah mereka. Ada yang beranggapan bahwa yang datang menghadap konselor adalah siswa yang bermasalah di sekolah. Ada juga yang beranggapan bahwa konselor sekolah adalah polisi sekolah yang menjaga tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah sehingga apabila ada diantara siswa-siswa yang melanggar peraturan dan disiplin sekolah harus berurusan dengan konselor (Prayitno,2004: 122).

  Hasil pengamatan dan pengalaman penulis selama melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP maupun di SMA, menemukan bahwa layanan konseling kurang dimanfaatkan oleh para siswa. Ada berbagai alasan yang mereka kemukakan, diantaranya guru BK kurang begitu mengerti keadaan siswa, siswa kurang bebas menceritakan masalahnya pada konselor dan juga merasa tidak aman, siswa beranggapan bahwa yang datang ke konselor adalah siswa yang bermasalah di sekolah saja, siswa beranggapan bahwa tidak ada temannya sendiri dan juga dengan mahasiswa praktek (praktikan) di sekolah mereka ketimbang dengan konselor sekolah. Persepsi atau tanggapan semacam inilah yang terkadang membuat siswa-siswa menjadi malas dan malah takut untuk menghadap konselor sekolah untuk menjalani proses konseling.

  Menurut Soesilo (1983: 35) ada dua macam konseli yang sering dihadapi oleh konselor di sekolah dalam layanan konseling individual. Pertama, siswa datang secara sukarela dan atas kesadaran sendiri datang ke konselor sekolah untuk mendapatkan pertolongan bagi masalah yang sedang dirasakan. Kedua, konselor memanggil siswa untuk datang kepadanya atas dasar pertimbangan tertentu. Dalam kasus-kasus dan situasi tertentu memang dinilai efektif dan bermanfaat bila siswa dipanggil untuk konseling. Namun disamping itu masih bisa dipertanyakan pula apakah siswa yang dipanggil memiliki kesiapan dan motivasi untuk menyelesaikan problemnya. Konseling yang paling baik jika konseli menyadari bahwa ia membutuhkan pertolongan dan mau datang kepada konselor atas kemauan sendiri. Namun kenyataan yang dihadapi oleh konselor sekolah adalah masih banyak siswa yang bermasalah tidak mau datang kepada konselor, karena perasaan malu dan ia belum siap atau belum sanggup menceritakan masalahnya dengan jujur dan berani

  Pada kenyataannya para siswa di sekolah memiliki pengalaman yang berbeda-beda dalam menjalani konseling; pengalaman siswa yang datang atas inisiatif sendiri ke konselor mungkin berbeda dengan pengalaman siswa yang Persepsi siswa yang negatif terhadap layanan konseling yang dilakukan oleh konselor sekolah terkadang bukan didasarkan pada penilaian yang obyektif. Siswa biasanya menerima begitu saja opini yang sudah terbentuk mengenai konselor sekolah dari teman-temannya yang pernah menghadap konselor untuk melakukan konseling (Prayitno:1987).

  Dengan adanya kenyataan diatas, penulis me rasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan topik “Persepsi siswa kelas X dan Kelas XI di SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta terhadap layanan konseling individual”. Di mana layanan konseling seharusnya dimanfaatkan oleh seluruh siswa dalam rangka untuk memeperkembangkan dirinya secara optimal, baik perkembangan belajar, perkembangan sosial di dalam keluarga, pergaulan dengan teman sebaya maupun perkembangan dengan lawan jenis. Tetapi kenyataannya masih banyak siswa yang tidak memanfaatkan layanan konseling tersebut. Hal ini dibuktikan melalui pengalaman selama PPL di SMP dan SMA. Inilah yang ingin diketahui dalam penelitian ini, bagaimana persepsi siswa terhadap layanan konseling individual, masihkah berkembang persepsi negatif terhadap konselor dan kons eling individual seperti yang terjadi di berbagai sekolah ataukah sebaliknya berkembang persepsi yang positif terhadap konselor dan konseling di sekolah. Hal ini berdasarkan pada pengalaman dari masing- masing siswa.

B. Rumusan Masalah

  individual. Masalah yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah persepsi para siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual.

  2. Adakah perbedaan persepsi para siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual.

  C. Tujuan Penelitian

  Tujuan penelitian ini adalah untuk:

  1. Memperoleh gambaran mengenai persepsi siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual.

  2. Mengetahui ada tidaknya perbedaan persepsi siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual.

  D. Manfaat Penelitian

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

  1. Peneliti lain: Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan bagi

  2. Penulis: Penelitian ini menambah informasi bagi penulis mengenai persepsi siswa terhadap layanan konseling individual, sehingga penulis menjadi lebih siap menghadapi tugas-tugas yang akan datang sebagai konselor sekolah.

  3. Guru Pembimbing: Hasil penelitian dapat dipakai sebagai bahan refleksi diri untuk peningkatan mutu pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa.

E. Definisi Oprasional

  1. Persepsi adalah pandangan atau penilaian, tanggapan atau kesan hasil penga matan. Persepsi adalah pandangan, pengamatan atau tanggapan individu terhadap benda, kejadian, tingkah laku dan hal- hal lain yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari Mulyono (1978: 22).

  2. Siswa Siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah peserta did ik yang belajar dan terdaftar dikelas X dan Kelas XI di SMA Taman Madya Jetis Yoyakarata Tahun ajaran 2007/2008

  3. Konseling individual adalah hubungan langsung tatap muka antara konselor dan klien/siswa. Melalui konseling individual konselor memberikan bant uan kepada siswa melalui wawancara yang menuntut adanya suatu komunikasi untuk mencapai tujuan yang berupa peneguhan hati dan pengubahan sikap dan juga pemecahan masalah kehidupan seperti, masalah sekolah, pergaulan

F. Hipotesis Penelitian

  Hipotesis penelitian ini yaitu “ada perbedaan persepsi antara siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta terhadap layanan konseling individual”.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Dalam bab ini dibahas Persepsi, (1) pengertian persepsi, (2) aspek-aspek

  persepsi, (3) faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persepsi. Siswa SMA sebagai remaja, (1) pengertian siswa SMA sebagai remaja, (2) tugas perkembangan remaja, (3) karakteristik remaja SMA. Layanan konseling individual, (1) pengertian konseling, (2) tujuan konseling, (3) prinsip-prinsip konseling, (4) proses atau langkah-langkah konseling, (5) aspek-aspek konseling, (6) faktor-faktor yang mempengaruhi konseling. Persepsi siswa kelas X dan kelas

  XI terhadap layanan konseling individual

A. PERSEPSI

1. Pengertian Persepsi

  Sebagian besar tingkah laku manusia ditentukan oleh persepsinya terhadap obyek yang diamatinya. Persepsi tidak lain adalah proses pemberian arti terhadap suatu kenyataan melalui alat indra. Walgito (1994: 76) mengemukakan bahwa persepsi adalah proses pengindraan obyek stimulus di sekitar individu untuk diberi arti sesuai dengan tanggapan dan nilai-nilai yang berkembang dalam diri individu. Berdasarkan pendapat ini proses persepsi terjadi karena ada stimulus dan kemudian diterima oleh alat indra dan diartikan sebagaimana adanya. lingkungan. Rangsang itu diterima melalui alat indra, kemudian ditafsirkan, sehingga mempunyai arti bagi sesorang. Adanya rangsang dari luar diri individu itu mengakibatkan suatu proses dalam dirinya, dan pada akhirnya individu akan memberi tanggapan terhadap rangsang.

  Persepsi merupakan hasil diterimanya rangsang sampai rangsang itu disadari dan dimengerti. Persepsi bukan sekedar pengindraan, melainkan meliputi penafsiran pengalaman yang terjadi setelah pengindaraan (Irwanto,1994: 71-72). Persepsi adalah penghayatan langsung oleh seorang pribadi sebagai suatu persiapan ke perilaku konkret. Persepsi bukan ditentukan oleh benda yang memberi rangsang, melainkan oleh karakteristik orang yang memberikan tanggapan terhadap rangsang itu (Rakhmat, 1992: 69). Oleh karena itu persepsi terhadap suatu obyek berbeda-beda antara individu yang satu dengan individu yang lainnya (Nasution, 1982: 157).

  Dari berbagai pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan suatu proses didalam individu yang melibatkan aktivitas mental dan terjadi dengan langkah- langkah tertentu. Mula- mula, melalui indra individu menerima rangsang sebagai informasi. Informasi tersebut diolah dan ditafsirkan.

  Pengolahan dan penafsiran informasi itu menimbulkan tanggapan dalam diri individu sebagai reaksi. Persepsi terarah pada obyek, baik orang, benda, kejadian, tingkah laku, atau hal- hal yang ditemui setiap hari.

2. Aspek-aspek Persepsi

  serta peristiwa dengan kenyataan sosial tertentu. Sedangkan dalam aspek observasi telah diadakan analisa struktural terhadap obyek, peristiwa, tingkah laku, perbuatan sosial yang terdapat dalam kenyataan-kenyataan sosial. Lebih lanjut di kemukakan bahwa pembentukan persepsi tediri dari lima langkah: a) Proses pengumpulan informasi.

  b) Proses seleksi yaitu apa yang harus dicatat dari suatu informasi.

  c) Mengawinkan yaitu proses mengkombinasikan informasi yang telah dikawinkan.

  d) Mengorganisir ke dalam pola-pola tertentu.

  e) Menginterpretasikan informasi yang telah terpola yaitu kedalam suatu yang bermakna (Depdikbud, 1984: 49 - 54).

  Menurut Walgito (1994: 54) dan Alfian (1985: 208-209) aspek-aspek persepsi adalah sebagai berikut: a) Rangsang

  Setiap rangsang ditimbulkan oleh obyek. Rangsang dapat berasal dari luar diri individu, dapat pula berasal dari dalam diri individu. Rangsang yang berasal dari luar diri individu akan mengenai alat indra selaku penerima rangsang atau reseptor, lalu meneruskannya ke syaraf penerima atau sensoris. Sedangkan rangsang yang berasal dari dalam diri individu langsung mengenai penerima.

  b) Tanggapan rangsang mengenai reseptor. Tahap ini disebut kealaman karena terjadi secara alamiah. Rangsang yang diterima oleh reseptor diteruskan ke syaraf sensoris setelah mengalami penyeleksiaan, dan dilanjutkan oleh syaraf ke otak sebagai pusat kesadaran. Sehingga menimbulkan tanggapan pada individu terhadap obyek yang dilihatnya.

  c) Perilaku Persepsi yang diperoleh dalam proses penyadaran ditentukan oleh nilai- nilai yang dianut individu. Nilai- nilai tidak hanya mempengaruhi persepsi, melainkan juga perilaku. Oleh karena itu persepsi perlu dilihat dalam rangkaian prilaku, karena persepsi berfungsi sebagai persiapan keperilaku konkret.

3. Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Persepsi

  Persepsi dipengaruhi oleh banyak faktor. Muhammad (2001: 207) menyatakan secara garis besar ada dua faktor yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor personal dalam diri si pengirim dan si penerima pesan serta faktor di luar diri individu yang dinamakan faktor organisasi. Menurut Gulo (1984: 16) persepsi dapat dipengaruhi oleh faktor- faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuan terhadap suatu obyek psikologi dengan kematangan sendiri yang diwarnai oleh kepribadiannya.

  Menurut Irwanto, dkk (1994: 96-97) faktor yang mempengaruhi pembentukan persepsi ada empat yaitu:

  Dalam kehidupan manusia setiap saat akan menerima banyak sekali rangsang dari lingkungannya. Meskipun demikian ia tidak harus menanggapi semua rangsang yang diterimanya. Untuk itu, individu harus memusatkan perhatiannya pada rangsang-rangsang tertentu saja. Dengan demikian obyek atau gejala-gejala lain tidak akan tampil sebagai obyek pengamat.

  b) Ciri-ciri rangsang Perhatian individu terhadap rangsang turut ditentukan oleh ciri-ciri yang dimilikinya. Berdasarkan gerakan, individu lebih menaruh perhatian kepada rangsang yang bergerak dari pada rangsang yang diam. Berdasarkan ukuran, individu lebih menaruh perhatian kepada rangsang yang besar daripada rangsang yang kecil. Berdasarkan intensitas, individu lebih menaruh perhatian kepada rangsang yang kuat daripada yang lemah. Berdasarkan kontrasitas, individu lebih menaruh perhatian kepada rangsang yang kontras dengan latar belakang daripada rangsang yang biasa.

  c) Nilai-nilai dan kebutuhan individu Perhatian individu terhadap rangsang turut ditentukan oleh sejauh mana rangsang itu bernilai bagi individu dan sesuai dengan kebutuhannya.

  Individu akan lebih menaruh perhatian kepada rangsang yang bernilai baginya daripada rangsang yang kurang bernilai. Individu juga akan lebih menaruh perhatian kepada rangsang yang sesuai dengan kebutuhannya perhatian indivdiu terhadap rangsang bersifat subyektif, berbeda antara individu yang satu dari individu yang lainnya.

  d) Pengalaman terdahulu Perhatian individu terhadap rangsang turut ditentukan oleh pengalaman yang berhubungan dengan rangsang yang dimiliki individu sebelumnya.

  Pengalaman-pengalaman terdahulu sangat mempengaruhi bagaimana individu mempersepsikan dunianya. Misalnya bagi kita naik eskalator di mal- mal adalah hal yang biasa, namun itu semua berbeda bagi teman-teman kita di pedalaman yang belum pernah naik eskalator.

  Menurut Rakhmat (2003:55) pembentukkan persepsi ditentukan oleh faktor fungsional dan faktor struktural. Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk apa yang kita sebut juga sebagai faktor- faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respon pada stimuli itu. Faktor struktural berasal semata- mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada sistem saraf individu. Menurut teori Gestalt, bila kita mempersepsi sesuatu, kita mempersepsinya sebagai suatu keseluruhan. Kita tidak melihat bagian-bagiannya lalu menghimpunnya.

  Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulakan bahwa ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi dan menentukan persepsi individu terhadap suatu obyek. Individu akan memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap obyek juga dipengaruhi oleh pengalaman, proses belajar, dan pengetahuan individu terhadap suatu obyek yang dilihatnya.

B. SISWA SMA SEBAGAI REMAJA

1. Pengert ian siswa SMA sebagai remaja

  Siswa SMA adalah siswa yang memasuki masa remaja, dimana masa remaja adalah suatu masa transisi atau perpindahan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Menurut Sulaeman (1995: 7) masa remaja adalah masa dimana terjadinya gejolak yang meningkat yang biasanya dialami oleh setiap orang. Masa ini dikenal pula sebagai masa transisi dimana terjadi perubahan-perubahan sangat menonjol yang dialami oleh remaja yang bersangkutan. Perubahan-perubahan ini terjadi baik dalam aspek jasmaniah maupun rohaniah, atau dalam bidang fisik, emosional, sosial, dan personal sehingga akan menimbulkan perubahan yang drastis pada tingkah laku remaja bersangkutan.

  Siswi SMA adalah remaja yang bersekolah di jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas. Usia siswa SMA berkisar 15 tahun sampai 17 tahun atau 18 tahun. Siswa SMA kelas satu termasuk remaja awal karena mereka berada pada usia 13 tahun sampai 15 tahun, sedangkan siswi SMA kelas dua dan tiga termasuk remaja tengah dan akhir karena usia mereka 16 sampai 18 tahun (Hurlock, 1998).

  Hal ini didukung oleh Gilmer, bahwa siswi SMA mengalami pembagian dalam usia remajanya yaitu pra remaja datang pada usia 10-11 tahun dan masa remaja tiga fase remaja yaitu siswa SMA kelas satu termasuk fase remaja awal usia sekitar 13-15 tahun, sedangkan siswa SMA kelas dua termasuk fase remaja tengah usia antara 15-17 tahun, sedangkan siswa SMA kelas tiga termasuk fase remaja akhir yaitu usia antara 17-21 tahun.

  Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa latin adolescere yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”.

  Perkembangan lebih lanjut Adolescence memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1991). Pandangan ini didukung oleh Piaget (Hurlock, 1991) yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Remaja ada diantara anak dan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja seringkali dikenal dengan fase “mencari jati diri”.

  Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak kedewasa. Pada masa ini, remaja mengalami berbagai perubahan-perubahan dalam dirinya. Hurlock menyebutkan lima perubahan yang dialami remaja sebagai berikut: meningginya emosi, perubahan fisik/tubuh, perubahan minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial, perubahan nilai- nilai hidup dan pola perilaku, dan keinginan kebebasan. Perubahan yang dialami remaja ini akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku siswa di sekolah. Hal ini disebabkan karena perubahan- menyesuaikan diri dengan keadaan yang terjadi pada dirinya itu (Hurlock,1996: 207).

2. Tugas perkembangan remaja SMA

  Setiap individu tumbuh dan berkembang selama perjalanan kehidupannya melalui beberapa periode atau fase-fase perkembangan.Tugas perkembangan remaja adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Keberhasilan penyelesaian tugas perkembangan akan menimbulkan kebahagiaan dan membawa kearah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangaan pada fase berikutnya (Ali dan Asrori,2005: 164)

  Havighurst (Ali dan Asrori, 2005: 171) mendefinisikan tugas perkembangan remaja, adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Ada sejumlah tugas perkembangan remaja yang penting yaitu: 1) Mencoba hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita, artinya remaja diharapkan dapat bekerjasama dengan orang lain dengan tujuan bersama, dan dapat menahan dan mengendalikan perasaan-perasaan pribadi dan belajar memimpin orang lain.

  2) Mencapai peran sosial sebagai pria dan wanita, artinya remaja diharapkan belajar menerima perannya dalam masyarakat sesuai dengan jenis kelaminnya. 3) Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif, artinya remaja menerima keadaan fisiknya apa adanya dan dapat menggunakannya secara efektif. 4) Mencari kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya, artinya remaja tidak kekanak-kanakan lagi yang selalu terikat pada orang tuanya. Remaja berusaha untuk membebaskan diri dari ketergantungannya terhadap orang tua atau orang dewasa lainnya.

  5) Mencapai jaminan kebebasan ekonomis, artinya remaja diharapkan sudah mulai mampu berpenghasilan sendiri dan setidaknya sudah dapat mengatur keungannya. 6) Memilih dan menyiapkan diri untuk lapangan pekerjaan atau jabatan, artinya remaja belajar untuk memilih satu jenis pekerjaan sesuai dengan bakatnya dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan tersebut. 7) Persiapan untuk memasuki kehidupan berkeluarga, artinya remaja mengembangakan sikap yang positif terhadap kehidupan keluarga dan mengembangkan keterampilan yang perlu untuk kehidupan berkeluarga. 8) Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep yang penting untuk kompetensi kewarganegaraan, artinya remaja sebagai warganegara yang kehidupan bermasyarakat dan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang ada dalam masyarakat.

  9) Mencapai dan mengaharapkan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab, artinya remaja ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab, menghormati serta mentaati nilai- nilai sosial yang berlaku dalam lingkungannya.

  10) Memperoleh suatu himpunan nilai- nilai dan sistem etika sebagai pedoman tingkah laku, artinya remaja diharapkan sudah memiliki seperangkat nilai sebagai pegangan hidup dalam hubungan dengan orang lain.

  Tugas perkembangan remaja mempunyai tiga manfaat, yaitu: Pertama, sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia-usia tertentu; Kedua, memberi motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupannya; Ketiga, menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka jika nantinya akan memasuki tingkat perkembangan berikutnya (Ali dan Asrori,2005: 164).

  Dengan melihat tugas perkembangan siswa SMA sebagai remaja, dapat disimpulkan bahwa siswa SMA sebagai remaja dituntut untuk mampu menjalani dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya dengan baik. Dengan melihat banyaknya tuntutan dari masyarakat dan lingkungan terhadap remaja, orang tua remaja dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya dengan baik dan lancar.

3. Karakteristik remaja SMA

  Menurut Ali dan Asrori (2005: 16-17) masa remaja seringkali dikenal dengan masa mencari jati diri, ini terjadi karena masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kehidupan anak-anak dan masa kehidupan orang dewasa. Ditinjau dari segi fisiknya, mereka sudah bukan anak-anak lagi melainkan sudah seperti orang dewasa, tetapi jika mereka diperlakukan seperti orang dewasa, ternyata belum dapat menunjukan sikap dewasa. Oleh karena itu, ada sejumlah karakteristik atau sikap yang sering ditunjukkan oleh remaja yaitu sebagai berikut: 1) Kegelisahan: Sesuai dengan fase perkembangannya, remaja mempunyai banyak idealisme, angan-angan, atau keinginan yang hendak diwujudkan di masa depan. Namun sesungguhnya remaja belum memiliki banyak kemampuan yang memadai untuk mewujudkan semua itu. Seringkali angan- angan dan keinginannya jauh lebih besar dibandingkan dengan kemampuannya. Tarik- menarik antara angan-angan yang tinggi dengan kemampuannya yang masih belum memadai mengakibatkan remaja diliputi oleh perasaan gelisah.

  2) Pertentangan: Sebagai remaja yang sedang mencari jati diri, remaja berada pada situasi psikologis antara ingin melepaskan diri dari orang tua dan perasaan masih belum mampu untuk mandiri. Remaja sering mengalami keinginan remaja untuk melepaskan diri dari orang tua kemudian ditentangnya sendiri karena dalam diri remaja ada keinginan untuk memperoleh rasa aman. Akibatnya, pertentangan yang sering terjadi itu akan menimbulkan kebingungan dalam diri remaja itu sendiri maupun pada orang lain. 3) Mengkhayal: Keinginan untuk menjelajah dan bertualang tidak semuanya tersalurkan. Sebab, menjelajah lingkungan sekitar yang luas akan membutuhkan biaya yang banyak, padahal kebanyakan remaja hanya memperoleh uang dari pemberian orang tuannya. Akibatnya, remaja lalu mengkhayal, mencari kepuasan, bahkan menyalurkan khyalannya melalaui dunia fantasi.

  4) Aktivitas Berkelompok: Berbagai macam keinginan para remaja seringkali tidak dapat terpenuhi karena bermacam- macam kendala, misalnya tidak tersedianya biaya dan adanya bermacam- macam larangan dari orang tua seringkali melemahkan atau bahkan mematahkan semangant para remaja.

  Kebanyakan remaja akan menemukan jalan keluar dari kesulitannya setelah berkumpul dengan rekan sebaya untuk melakukan kegiatan bersama.

  Remaja melakukan suatu kegiatan secara berkelompok sehingga berbagai kendala dapat diatasi bersama-sama.

  5) Keinginan mencoba segala sesuatu: Pada umumnya, remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Karena didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, keinginan seperti orang dewasa menyebabkan remaja ingin mencoba melakukan apa yang sering dilakukkan oleh orang dewasa. Misalnya, remaja putra mencoba merokok karena sering melihat orang dewasa melakukannya. Remaja puteri seringkali mencoba memakai kosmetik baru, meskipun sekolah melarangnya.

  Menurut Andi Mappiare (1982: 31-41) remaja SMA kelas satu dengan remaja SMA kelas dua memiliki karakteristik yang berbeda. Siswa SMA kelas satu adalah siswa yang berusia sekitar 13-15 tahun dan disebut masa remaja awal. Masa remaja awal ini akan berakhir pada usia 17-18 tahun. Masa remaja awal ini masih tumpang tindih dengan masa kanak-kanak, dikatakan tumpang tindih sebab beberapa ciri biologis-psikologis kanak-kanak masih dimilikinya, sementara beberapa ciri remaja dimilikinya pula. Dalam parohan akhir periode pubertas atau parohan awal masa remaja awal, terdapat gejala-gejala yang disebut gejala-gejala “negative phase”. Hurlock (Andi Mappiare,1982: 32) menguraikan cukup lengkap gejala- gejala negative phase pada remaja awal sebagai berikut (1) keinginan untuk menyendiri; (2) berkurangnya kemauan untuk bekerja; (3) kurang koordinasi fungsi- fungsi tubuh; (4) kejemuan; (5) kegelisahan; (6) pertentangan sosial; (7) penantangan terhadap kewibawaan orang dewasa; (8) kepekaan perasaan; (9) kurang percaya diri; (10) mulai timbul minat pada lawan jenis; (11) kepekaan perasaan susila; (12) dan kesukaan berkhayal.

  Di samping gejala- gejala negative phase yang dimiliki bersama (pubertas

  1) Ketakstabilan keadaan perasaan dan emosi, masa ini sebagai perasaan yang sangat peka, remaja mengalami badai dan topan dalam kehidupan perasaan dan emosinya, kalau melihat sikap dan sifat remaja yang sesekali bergairah sangat dalam bekerja tiba-tiba berganti lesu, kegembiraan yang meledak bertukar rasa sedih yang sangat, rasa yakin diri berganti rasa ragu diri yang berlebihan.

  2) Hal sikap dan moral, terutama menonjol menjelang akhir remaja awal. 3) Hal kecerdasan atau kemampuan mental remaja awal, kemapuan mental atau kemampuan berpikir remaja awal, mulai sempurna. Keadaan ini terjadi dalam usia antara 12-16 tahun. Dan kesempurnaan mengambil kesimpulan dan informasi abstrak dimulai usia 14 tahun. Akibatnya remaja awal suka menolak hal- hal yang tidak masuk akal. Penantangan pendapat sering terjadi dengan orang tua, gur u, atau orang dewasa lainnya jika mereka mendapat pemaksaan menerima pendapat tanpa alasan yang rasional . 4) Hal status remaja awal sangat sulit ditentukan. Status remaja awal tidak saja sulit ditentukan, bahkan membingungkan. Perlakuan yang diberikan oleh orang dewasa terhadap remaja awal sering berganti-ganti. Akibatnya, si remaja awal pun mendapat sumber kebingungan dan menambah masalahnya.

  5) Walhasil, remaja awal banyak masalah yang dihadapinya. Sebab-sebabnya adalah sifat emosional remaja awal. Kemampuan berpikir lebih dikuasai oleh emosionalitasnya sehingga kurang mampu mengadakan konsesus dengan

  6) Masa remaja awal adalah masa yang kritis. Dikatakan kritis sebab dalam masa ini remaja akan dihadapkan dengan soal apakah ia dapat menghadapi dan memecahkan masalahnya atau tidak. Siswa SMA kelas dua adalah siswa yang berusia sekitar 16-18 tahun dan disebut remaja tengah atau akhir. Karakteristik pokok dalam masa ini dan dengan jelas membedakannya dengan remaja awal adalah mengenai pola-pola sikap, pola perasaan, pola pikir dan pola perilaku nampak. Di antara karakteristik khas tersebut adalah: 1) Stabilitas mulai timbul dan meningkat. Para remaja tengah atau akhir ini yaitu siswa SMA kelas dua mulai menunjukkan ada dan meningkatnya kesetabilan dalam aspek-aspek pisik dan psikis. Pertumbuha n jasmani yang sempurna bentuknya, membedakannya dengan parohan awal masa remaja awal. Stabil dalam minat- minatnya, pemilihan sekolah, jabatan, pakaian, pergaulan dengan sesama ataupun lain jenis.

  2) Citra-diri dan sikap pandang yang lebih realistis. Pada masa sebelumnya (remaja awal), remaja sangat sering memandang dirinya lebih tinggi ataupun lebih rendah dari keadaan yang sesungguhnya. Tetapi dalam masa remaja tenga h/akhir, keadaan yang semacam itu telah berkurang. Remaja telah mulai menilai dirinya sebagaimana adanya, menghargai miliknya, keluarganya, orang-orang lain seperti keadaan sesungguhnya. 3) Menghadapi masalahnya dengan lebih matang. Masalah yang dihadapi remaja dalam masa remaja awal mereka menghadapinya dengan bingung dan perilaku yang tidak efektip, maka pada masa remaja tengah/akhir ini mereka menghadapinya dengan lebih matang. 4) Perasaan menjadi lebih tenang. Dalam parohan akhir masa remaja akhir umumnya remaja lebih tenang dalam menghadapi masalah- masalahnya. Kalau pada masa remaja awal mereka sering memperlihatkan kemarahan- kemarahannya, sering sangat sedih dan kecewa, maka pada masa remaja tengah/akhir ha l yang demikian itu tidak lagi sering nampak.

  Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja pada umumnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga seringkali ingin mencoba-coba, mengkhayal, dan merasa gelisah, serta berani melakukan pertentangan jika dirinya merasa disepelekan atau “tidak dianggap”. Untuk itu, mereka sangat memerlukan keteladanan, konsistensi, serta komunikasi yang tulus dan empatik dari orang dewasa. Seringkali juga remaja melakukan perbuatan-perbuatan menurut normanya sendiri karena terlalu banyak menyaksikan ketidakkonsistenan di masyarakat yang dilakukan oleh orang dewasa/orang tuanya.

C. LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL

1. Pengertian konseling

  Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa latin, yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan konseling berasal dari “sellan” yang berarti “menyerah” atau “menyampaikan” (Prayitno,2004: 99).

  Menurut Wijaya Juhana (1988: 122) konseling adalah pertalian timbal balik diantara dua orang individu dimana yang seorang (konselor) berusaha membantu yang lain (klien) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungannya dengan masalah- masalah yang dihadapinya pada saat ini dan pada waktu yang akan datang. Surya (1998: 38) mengartikan konseling sebagai bantuan yang diberikan kepada konseli, supaya memperoleh konsep diri dan kepercayaan kepada diri sendiri untuk dimanfaatkan oleh konseli dalam memperbaiki tingkah lakunya dimasa yang akan datang.

  Menurut Sukardi (1984: 14) konseling adalah suatu proses yang berorientasikan belajar yang dilaksanakan dalam suatu lingkungan sosial, antara seorang dengan seorang, dimana seorang konselor harus memiliki keterampilan profesional dalam bidang pengetahuan psikologis. Konselor berusaha membantu klien dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan konseli. Tujuan pertolongan ini adalah agar individu dapat mempelajari lebih baik tentang dirinya sendiri, belajar memanfaatkan pemahaman tentang dirinya untuk memperoleh tujuan- tujuan hidup yang lebih realistis, sehingga klien dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif dan bahagia. Menurut Tolbert (Prayitno,2004: 101) konseling individul adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan- kemungkinan keadaan masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat.

  Lebih lanjut konseli dapat belajar bagimana memecahkan masalah- masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. Konseling adalah upaya bantuan yang diberikan seorang pembimbing yang terlatih dan berpengalaman, terhadap individu- individu yang membutuhkannya, agar individu tersebut berkembang potensinya secara optimal, maupun mengatasi masalahnya, dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu berubah (Wilis,2004: 18).

  Dari beberapa defenisi di atas penulis menyimpulkan bahwa konseling individual merupakan proses bantuan yang diberikan kepada individu- individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan dalam proses perkembangannya. Konseling individual dilakukan dalam suasana tatap muka antara dua orang yaitu oleh orang yang ahli (profesional) yang telah terlatih baik dan telah memiliki pengalaman di bidang konseling kepada seorang konseli.

  Sehingga dengan demikian siswa dapat mencapai perkembangan yang optimal dan juga mampu mengapresiasi kebutuhan, motivasi dan potensi-potensinya, serta mampu mengatasi masalah- masalahnya, sehingga siswa mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu berubah.

2. Tujuan konseling

  Tujua n dari konseling adalah untuk “membantu seseorang menolong diri beberapa tujuan tertentu dari konseling adalah sebagai berikut (1) agar individu yang mendapat bantuan itu dapat memahami dirinya. Hal ini disebabkan adanya ketidakmampuan individu untuk memahami dirinya; (2) agar terdapat pengarahan diri yang tepat bagi individu. Dalam hal ini setelah individu memahami dirinya (potensi dan kelemahan-kelemahannya), ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengarahkan dirinya sehingga akan tercapai kebahagiaan hidup; (3) agar tercapai penyesuaian diri secara baik di keluarga, di sekolah dan di masyarakat. Kemampuan untuk menyesuaikan diri banyak tergantung daripada pemahaman diri dan masalah yang dihadapinya, serta kemampuan untuk menerima kenyataan hidup yang berkembang di lingkungannya (keluarga, sekolah, dan masyarakat) (Willis dan Setyawan, 1978: 25-26).

  Dalam Loka Karya bimbingan ke-II (Aryatmi) (1974: 69) tujuan dari konseling adalah sebagai berikut: a. Memberi informasi- informasi yang penting kepada individu untuk memperoleh sukses.

  b. Menolong individu agar lebih mengenal diri sendiri: mengenal minat, bakat, kemampuan dan kesempatan-kesempatan yang ada padanya.

  c. Membantu individu dalam mengadakan rencana untuk pemilihan jurusan pendidikan dan jabatan atau pekerjaan.

  d. Menolong atau mendorong individu agar mampu mengembangkan bakat- bakat khusus dan sikap-sikap yang tepat. f. Merangsang usaha- usaha yang memungkinkan sukses dalam pencapaian tujuan.

  Menurut Surya,M (1988: 62) tujuan dari konseling yang ingin dicapai oleh siswa adalah: a. Memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya sendiri.

  b. Mengarahkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimiliki kearah tingkat perkembangan yang optimal.

  c. Mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.

  d. Mempunyai wawasan yang lebih realistis serta penerimaan yang obyektif tentang dirinya.

  e. Memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya dan dapat menyesuaikan diri secara lebih efektif baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan.

  f. Mencapai taraf aktualisasi diri sesuai dengan potensi yang dimilkinya.

  g. Terhindar dari gejala- gejala kecemasan dan salah suai (maladjusment).

  Tujuan koseling adalah untuk membantu individu- individu yang mencari dan membutuhkan bantuan. Bantuan yang dibutuhkan oleh tiap individu berbeda- beda meskipun ada kemungkinan kesukaran yang dihadapi sama. Menur ut Ahmadi Abu (1977: 12) tujuan bimbingan dan konseling bagi murid adalah (1) untuk membantu murid- murid untuk mengembangkan pemahaman diri sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi, hasil belajar serta kesempatan yang ada; (2) didalam pengarahan diri, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan ketertiban diri dalam proses belajar; (4) membantu murid-murid untuk memperoleh keputusan pribadi didalam penyesuian diri secara maksium didalam masyarakat; (5) membantu murid-murid hidup didalam kehidupan yang seimbang dalam berbagai aspek fisik, mental dan sosial.

  Menurut Winkel (1997:72) tujuan dari konseling atau hasil yang diperoleh dari proses konseling, pada dasarnya adalah agar orang yang dilayani (konseli/klien) berhasil mengembangkan sikap dan tingkah laku yang memuaskan bagi dirinya sendiri dan bagi lingkungannya, serta berhasil mengatur kehidupannya secara bertanggung jawab. Menurut Syuhada (1988: 11-12) tujuan dari konseling adalah supaya individu (1) memahami dirinya dan lingkungannya; (2) semakin mampu memantapkan pilihan yang bijaksana; (3) mampu mengatasi masalahnya dan mengambil keputusan sendiri; (4) mampu mengatur kegiatan- kegiatannya sendiri dalam hidupnya; (5) mampu menyesuaiakan diri; (6) mengembangkan potensi yang dimiliki semaksimal mungkin; (7) mampu memikul beban hidupnya sendiri.

  Dari berbagai pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari konseling adalah untuk membantu individu-individu yang mencari dan membutuhkan bantuan, supaya tercapai penyesuaian diri secara baik di keluarga, di sekolah, di masyarakat, serta bertujuan menolong individu agar lebih mengenal diri sendiri, minat, bakat, kemampuan dan kesempatan-kesempatan yang ada jurusan pendidikan dan jabatan atau pekerjaan dan juga bertujuan membant u individu menolong dirinya sendiri, serta memberi pengarahan diri, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan ketertiban diri sehingga individu mampu mengembangakan potensi yang dimiliki semaksimal mungkin.

3. Prinsip-prinsip Konseling

  Prinsip merupakan ha sil kajian teoritik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksud. Beberapa rumusan prinsip- prinsip bimbingan dan konseling pada umumnya berkenaan dengan sasaran pelayanan, masalah klien, penyelenggaraan pelayanan (Prayitno, 2004: 218-222).

  a) Pinsip-prinsip berkenaan dengan sasaran layanan konseling Layanan konseling merumuskan beberapa prinsip yang berkenaan dengan sasaran pelayanan sebagai berikut:

  1) Konseling melayani semua individu, tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, bangsa, agama, dan ststus sosial ekonominya.

  2) Konseling berurusan dengan sikap dan tingkah laku individu yang terbentuk dari berbagai aspek kepribadian yang kompleks dan unik, oleh karena itu pelayanan konseling perlu menjangkau keunikan dan kekompleksan pribadi individu.

  3) Untuk mengoptimalkan layanan konseling sesuai dengan kebutuhan individu itu sendiri perlu dikenali dan dipahami keunikan setiap individu dengan berbagai kekuatan, kelemahan, dan permasalahannya.

  4) Konseling bertujuan mengembangkan penyesuaian individu terhadap segenap bidang pengalaman dan mempertimbangkan berbagai aspek perkembangan individu.

  b) Pinsip-prinsip berkenaan dengan masalah individu Berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kehidupan individu tidaklah selalu positif. Faktor- faktor yang pengaruhnya negatif akan menimbulkan hambatan- hambatan terhadap kelangsungan perkembangan dan kehidupan individu yang akhirnya menimbulkan masalah tertentu pada diri individu. Secara ideal layanan konseling ingin membantu semua individu dengan berbagai masalahnya itu. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan hal itu adalah: Meskipun layanan konseling menjangkau setiap tahap dan bidang perkembangan dan kehidupan individu, namun konseling pada umumnya dibatasi hanya pada hal- hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental dan fisik individu terhadap penyesuaian dirinya di rumah, di sekolah, serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan pekerjaan, dan sebaliknya pengaruh kondisi lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu. Keadaan sosial, ekonomi dan politik yang kurang menguntungkan merupakan faktor salah satu pada diri individu dan hal itu semua menuntut perhatian dari konselor dalam mengentaskan masalah klien.

  c) Pinsip-prinsip berkenaan dengan pelaksanaan layanan Konselor yang bekerja disuatu lembaga yang cukup besar sangat berkepentingan dengan penyelenggaraan/pelaksanaan program-program konseling

  1) Tujuan akhir konseling adalah kemandirian setiap individu, oleh karena itu konseling harus diarahkan untuk mengembangkan konseli agar mampu membimbing diri sendiri dalam menghadapi setiap kesulitan atau permasalahan yang dihadapi.

  2) Dalam proses konseling keputusan yang diambil dan kehendak dilakukan oleh konseli hendaklah atas kemauan konseli sendiri, bukan karena kemauan atau desakan dari konselor. 3) Guru dan orang tua memiliki tanggunga jawab yang berkaitan dengan pelayanan konseling. Oleh karena itu bekerjasama antara konselor dengan guru dan orang tua amat diperlukan. 4) Tanggung jawab pengelolaan konseling hendaknya diletakkan di pundak seorang pemimpin yang terlatih dan terdidik secara khusus dalam pendidikan bimbingan dan konseling, dan konseling hendaknya fleksibel, disesuiakan dengan kebutuhan individu dan lingkungan.

  Menurut Syuhada (1988: 16) prinsip-prinsip konseling adalah (a) konseling adalah untuk semua murid; (b) konseling adalah untuk siswa dari semua tingkat usia; (c) konseling harus mengenai semua aspek perkembangan siswa; (d) konseling dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman diri dan pengembangan diri; (e) konseling harus merupakan usaha kerja sama yang melibatkan siswa, orang tua, guru, pimpinan sekolah dan konselor; (f) konseling harus merupakan bagian integral dari usaha pendidikan di sekolah; (g) bimbingan dan konseling

  Menurut Syahril dan Ahmad (1986: 51) prinsip-prinsip konseling adalah (a) layanan konseling diberikan kepada semua murid; (b) harus ada kriteria untuk memberikan prioritas pelayanan konseling kepada siswa/murid tertentu; (c) layanan konseling harus diberikan/dilakukan secara kontinu; (d) program bimbingan berpusat pada diri siswa/murid; (e) layanan konseling harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu yang bersangkutan secara serba ragam dan serba luas; (f) individu yang mendapat konseling harus berangsur-angsur dapat membimbing dirinya sendiri; (g) keputusan terakhir dalam proses konseling ditentukan oleh individu yang dibimbing.

  Dari beberapa pendapat mengenai prinsip-prinsip konseling di atas, penulis menyimpulkan prinsip-prinsip konseling sebagai pedoman pelaksanaan dalam bimbingan dan konseling adalah. (1) konseling harus diberikan kepada semua siswa. (2) Layanan konseling harus merupakan usaha kerja sama yang melibatkan siswa, orang tua, guru, pimpinan sekolah dan konselor. (3) Layanan konseling berurusan dengan sikap dan tingkah laku individu yang terbentuk dari berbagai aspek kepribadian yang kompleks dan unik, oleh karena itu layanan konseling perlu menjangkau keunikan dan kekompleksan pribadi individu. (4) Individu yang mendapat konseling harus berangsur-angsur dapat membimbing dirinya sendiri dalam menghadapi setiap kesulitan atau permasalahan yang dihadapi dan keputusan terakhir dalam proses konseling ditentukan oleh individu yang dibimbing.

4. Proses atau Langkah-langkah Konseling

  Menurut Winkel dan Sri Hastuti (2004: 473) proses atau langkah- langkah konseling dibagi menjadi lima fase, yaitu fase pembukaan, penjelasan masalah, penggalian latar belakang masalah, penyelesaian masalah dan penutup. Uraian yang lebih rinci mengenai lima fase itu adalah sebagai berikut: a. Fase pembukaan

  Fase ini merupakan dasar bagi pengembangan hubungan antar pribadi (Working Relationship) yang baik, yang memungkinkan pembicaraan terbuka dan terarah dalam wawancara konseling. Bilamana konselor dan konseli bertemu untuk pertama kalinya, waktunya akan lebih lama dan isinya akan berbeda dibandingkan dengan pembukaan saat konseli dan konselor bertemu kembali untuk melanjutkan wawancara yang telah berlangsung sebelumnya.

  b. Fase penjelasan masalah Konseli mengutarakan sejumlah pikiran dan perasaan yang berkaitan dengan hal yang dibicarakan, sementara konselor memberikan tanggapan atas pikiran dan perasaan yang diungkapkan konseli.

  c. Fase penggalian latar belakang masalah Konselor mengungkapkan dan menggali masalah konseli secara lebih mendetail dan mendalam, agar konselor memperoleh gambaran yang jelas mengenai masalah yang dialami konseli.

  Berdasarkan apa yang telah digali, konselor dan konseli membahas bagaimana persoalan dapat diatasi.

  e. Fase penutup Bilamana konseli sudah merasa mantap mengenai penyelesaian masalah yang telah ditemukan dan diputuskan bersama dengan konselor, proses konseling dapat diakhiri.

  Menurut Ruth Strang (Kartini Kartono,1985: 180) fase- fase konseling meliputi: fase menjajaki, fase interpretasi, dan fase penyelesaian. Masing- masing fase proses konseling itu dijelaskan sebagai berikut:

  a. Fase menjajaki Dalam fase ini konselor menolong konseli agar ia dapat mengemukakan fakta- fakta mengenai masalahnya, sikap dan perasaannya sehubungan dengan masalah yang dialami, dan keterangan yang dapat menolong memperjelas apa yang menjadi masalah, sebab, maupun akibatnya dalam hidup konseli.

  b. Fase interpretasi Dalam fase ini konseli ditolong untuk melihat dengan lebih jelas pokok permasalahan, melihat arti dan hubungan yang menjadi penyebab atau yang memberi pengaruh terhadap persoalan yang hendak dipecahkan.

  c. Fase penyelasaian Dalam fase ini diharapkan konseli dapat mengambil sikap yang lebih baik, dilakukan karena telah memperoleh penyelesaian baru sehubungan dengan persolannya.

  Menurut Willis (2004: 239) proses konseling meliputi tiga langkah atau tahap, yaitu: tahap awal, tahap ini disebut juga tahap definisi masalah, karena tujuannya adalah supaya pembimbing bersama konseli mampu mendefinisikan masalah konseli yang ditangkap/dipilih dari isu-isu atau pesan-pesan konseli dari dialog konseling; tahap pertengahan konseling, disebut juga langkah kerja, yang bertujuan untuk mengolah/mengerjakan masalah konseli (bersama konseli) yang telah didefinisikan ditahap awal; tahap akhir, disebut juga tahap tindakan, tahap ini bertujuan agar konseli mampu menciptakan tindakan-tindakan positif seperti perubahan prilaku dan emosi, serta perencanaan hidup masa depan yang positif setelah mampu mengatsi masalahnya. Konseli akan mandiri, kreatif, dan produktif. Sedangkan menurut Kartini Kartono (1985: 180) proses konseling meliputi lima langkah, yaitu: mengenal masalah, mengenal pribadi orang yang bermasalah, mengenal latar belakang, mengenal lingkup masalah dan mengenal akibat dari masalah pada kehidupan konseli. Setelah itu dicari kemungkinan jalan keluarnya yang didasarkan pada pengenalan tentang masalah dan kebutuhan konseli, agar bantuan benar-benar tepat sesuai dengan yang diharapkan dan diperlukan.

  Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa proses atau langkah-langkah dalam konseling secara garis besar dikelompokkan dalam tiga a. Fase pembukaan 1) Membentuk hubungan antarpribadi.

  2) Mengajak berbasa-basi. 3) Mempersilakan konseli untuk mengemukakan hal yang ingin dibicarakan.

  b. Fase inti Dalam fase ini konselor membantu konseli mengenal masalah yang ingin dibicarakan oleh konselor dan konseli, mendalami dan menggali inti masalah serta latar belakangnya supaya menjadi lebih jelas masalahnya bagi konselor dan konseli dan menngatasi masalah dengan meninjau sikap dan pandangan yang lebih sesuai.

  c. Fase penutup Fase pentutup merupak akhir dari proses konseling. Dalam fase ini konselor bersama konseli melakukan evaluasi dan follow up. Evaluasi dilakukan untuk meninjau kembali permasalahan yang sudah dibahas, keputusan yang sudah diambil dan tindak lanjut yang akan dilakukan. Evaluasi ini membantu konseli untuk menemukan kesulitan-kesulitan apa yang dihadapi konseli dalam melaksanakan keputusan-keputusan yang sudah diambil.

  Sedangkan dalam follow up, konselor membantu konseli untuk membahas tindakan apa yang harus dilakukan setelah mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dalam fase ini keseluruhan proses konseling diringkas atau

5. Aspek-aspek konseling

  Untuk dapat melalui proses atau langkah-langkah dalam konseling dengan baik konselor perlu memperhatikan apek-aspek dalam konseling. Menurut Winkel dan Sri Hastuti (2004: 37-38) aspek-aspek konseling yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: a. Aspek proses

  Aspek proses menunjuk pada kenyataan bahwa konseli mengalami suatu rangkaian perubahan dalam diri sendiri, dari belum ada penyelesaian masalah sampai masalah yang dihadapi telah terselesaikan secara memuaskan. Adapun cara-caranya sebagai berikut: 1) Mengungkapkan masalah secara tuntas. 2) Melihat inti masalah dengan lebih jelas. 3) Menyadari perasaan yang timbul karena adanya masalah yang bersangkutan.

  4) Menghadapi masalah dengan pikiran yang lebih jernih dan lebih rasional.

  5) Menemukan penyelesaian yang memuaskan atas masalah yang dibahas.

  6) Mendapat keberanian untuk mewujudkan penyelesaian itu dalam tindakan-tindakan konkret sesudah konseling berakhir.

  b. Aspek pertemuan tatap muka mengenai masalah yang dihadapinya. Proses konseling berlangsung selama waktu bertemu muka dengan konselor, dan dapat berlangsung terus selama waktu diantara pertemuan-pertemuan dengan konselor, karena konseli berpikir mengenai apa yang dibicarakan dalam pertemuan berikutnya. Suatu proses konseling dapat selesai dalam satu kali pertemuan atau baru akan selesai setelah dua-tiga kali pertemuan.

  c. Aspek komunikasi antar pribadi Proses konseling terwujud dalam komunikasi antara konselor dan konseli.

  Dalam proses konseling, konselor memberikan tanggapan-tanggapan yang bersifat membantu. Tanggapan-tanggapan konselor yang bersifat membantu itulah yang disebut teknik-tenik konseling. Teknik-teknik konseling yang digunakan antara lain tampak pada sikap konselor yang penuh penerimaan, terhadap konseli, berempati, memberikan dukungan atau bombongan, peneguhan atau penguatan terhadap konseli, memberikan klarifikasi dan refleksi atas pikiran dan perasaan yang dialami konseli. Dalam aspek-aspek konseling itu, aspek komunikasi antarpribadi dan aspek proses merupakan aspek yang paling pokok. Sedangkan aspek pertemuan tatap muka dan tanggapan-tanggapan konselor sekolah yang bersifat membantu merupakan perwujudan nyata dari kedua aspek yang pokok. Dalam aspek-aspek konseling itu jelas tujuannya adalah adanya perubahan pada diri siswa, yang diusahakan berkat bantuan profesional dari konselor sekolah. Oleh karena itu tanggapan-tanggapan konselor sekolah yang bersifat membantu. Maka demi keberhasilan konseling, konselor sekolah dan siswa harus mencapai kesepakatan terlebih dahulu mengenai apa yang menjadi sasaran atau tujuan di pihak siswa.

  Menurut Latipun (2001: 45) aspek konselor dan aspek konseli juga sangat menentukan dalam pelaksanaan dan keberhasilan konseling. Dari pihak konselor, mengingat pentingnya peran yang diemban konselor ada dua aspek yang akan dibahas yaitu: pertama aspek keahlian dan keterampilan konselor berpengaruh terhadap keberhasilan konseling, karena aspek keahlian dan keterampilan yang dimiliki konselor merupakan salah satu alasan mengapa konseli mendatanginya.

  Konseli datang karena dia mengakui bahwa konselor memiliki keahlian dan keterampilan khusus untuk membantunya. Kedua sikap/personal konselor yang harus dimiliki konselor untuk menopang keberhasilannya dalam pelaksanaan konseling. Aspek personal yang harus dimiliki konselor adalah sebagai berikut (a) spontanitas: sikap spontanitas konselor merupakan aspek yang sangat penting dalam hubungan konseling; (b) fleksibelitas, adalah kemampuan dan kemauan konselor untuk mengubah, memodifikasi, dan menetapkan cara-cara yang digunakan jika keadaan mengharuskan; (c) konsentrasi, dimana konselor bebas dari berbagai hambatan dan secara total memfokuskan perhatiannya pada konseli; (d) keterbukaan, adalah kemampuan konselor untuk mendengarkan dan menerima nilai- nilai orang lain, tanpa melakukan distorasi dalam menemukan kebutuhannya sendiri; (e) stabilitas emosi, dimana secara emosional personal konselor dalam berubah; (g) komitmen pada rasa kemanusiaan; (h) kemauan membantu konseli mengubah lingkungannya; (i) pengetahuan konselor; (j) totalitas, konselor sebagai pribadi yang total memiliki kualitas pribadi yang baik, yang mencapai kondisi kesehatan mentalnya secara positif. Memiliki otonomi, mandiri, dan tidak menggantungkan pribadinya secara emosional kepada orang lain.

  Aspek konseli dalam pelaksanaan konseling. keberhasilan konseling, selain karena faktor kondisi yang diciptakan konselor, cara penangan, dan aspek konselor sendiri, ditentukan pula oleh faktor konseli. Setiap konseli memiliki kebutuhan dan harapan tertentu terhadap penyelenggaraan konseling. Kebutuhan lebih bersifat “keharusan” untuk dipenuhi dan jika tidak terpenuhi akan mengalami hambatan- hambatan psikologis yang lebih berat baginya. Sedangkan harapan lebih merupakan keinginan-keinginan yang tidak mengharuskan untuk terpenuhi. Kehadiran konseli ke konselor tentunya karena upaya-upaya sebelumnya tidak membuahkan hasil yang dia harapkan, dan mengaharapkan upayanya ke konselor membuahkan hasil yang lebih baik.

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses konseling

  Dalam Winkel dan Sri Hastuti (2004: 353) dalam upaya mendukung pelaksanaan konseling, perlu dilihat kondisi-kondisi eksternal dan internal, yang dimaksud dengan kondisi adalah keadaan yang akan berpengaruh terhadap proses konseling dan terhadap hubungan antarpribadi yang berlangsung selama wawancara konseling. Kondisi eksternal menyangkut hal- hal seperti lingkungan pada konseli atau konselor sendiri, seperti sikap, sifat kepribadian, dan motivasi. Adapun kondisi-kondisi eksternal dan internal adalah sebagai berikut:

  1. Kondisi-kondisi eksternal, menyangkut hal- hal sebagai berikut:

  a. Lingkungan fisik di tempat konseling berlangsung. Warna cat tembok yang tenang, beberapa perhiasan dinding, dan sinar cahaya yang tidak menyilaukan membantu menciptakakan suasana tenang, sehingga konseli merasa kerasan di ruang konseling. Ruang konseling tidak perlu menyerupai kamar seorang seniman, namun sebaiknya mencerminkan suasana yang menyenangkan.

  b. Penataan ruang. Seluruh perabot hendaklah sesuai, misalnya kedua temapt duduk memungkinkan untuk duduk dengan enak sampai agak lama.

  c. Bentuk bangunan ruang yang memungkinkan pembicaraan secara pribadi.

  Pembicaraan di dalam ruang tidak boleh dapat didengarkan orang lain di luar ruang dan orang lain tidak boleh dapat melihat ke dalam, paling sedikit tidak dapat melihat konseli dari depan. Hal ini berkaitan erat dengan etika jabatan konselor, yang mengharuskan konselor untuk menjamin kerahasiaan pembicaraanan, karena itu merupakan suatu persayaratan.

  d. Konselor berpakaian rapi. Kerapian dalam berpakaian sudah menimbulkan kesan pada konseli bahwa dia dihormati, dan sekaligus menciptakan suasana yang agak formal. f. Penggunaan sistem janji

  g. Konselor menyisihkan buku, catatan serta kertas di atas meja pada waktu seorang konseli datang untuk wawancara.

  h. Tidak terpasang peralatan rekaman, berupa alat rekaman audio atau video.

  2. Kondisi-kondisi internal

  a. Di pihak konseli Pada waktu konseli akan menghadap konselor, dia membawa sikap tertentu, pengalaman-pengalaman tertentu dalam hal mendapat pelayanan bimbingan, sukses dan kegagalan di masa yang lampau, berbagai aspirasi serta kekecewaaan, pandangan pribadi serta harapan terhadap konseling.

  Keadaan ini dipandang sebagai keadaan awal. Keadaan awal yaitu keadaan sebelum proses konseling yang sebenarnya dimulai, telah diteliti mengenai hal- hal sebagai berikut: sikapnya terhadap konselor sebagai pria dan wanita dari umur tertentu, kesannya mengenai keahlian konselor dalam membantu dia, harapannya terhadap pertemuan dengan konselor, kemiripan konseli dengan konselor dalam beberapa hal, dan kemampuan intelektual serta taraf kedewasaan.

  Ada beberapa persyaratan di pihak konseli yang menyangkut pelaksanaan konseling secara langsung. Pertama, siswa harus bermotivasi kuat untuk mencari penyelesaian atas masalah yang dihadapi, yang disadari sepenuhnya, dan mau dibicarakan dengan konselor. Kedua, diputuskan pada akhir proses konseling. Ketiga, keberanian dan kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya serta masalah yang dihadapi.

  b. Di pihak konselor Sebagaimana konseli membawa dirinya dalam keadaan tertentu, demikian pula halnya konselor membawa dirinya dalam keadaan tertentu.

  Keadaan ini dapat dipandang sebagai keadaan awal, yang sedikit banyak akan berpengaruh terhadap jalannya konseling. Keadaan ini dapat berpengaruh positif, dapat pula berpengruh negatif terhadap pelaksanaan konseling.

  Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh konselor dalam mendukung pelaksanaan konseling, meliputi hal- hal sebagai berikut: keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai kehidupan tertentu, pengalaman di lapangan, kemampuan menghadapi situasi yang belum menentu, kemudahan dalam berbicara mengenai diri sendiri, konsep diri, dan refleksi atas diri sendiri.

  Kondisi-kondisi di atas sedikit banyak akan mempengaruhi pelaksanaan konseling yang diberikan oleh konselor, dan juga akan mempengaruhi persepsi siswa terhadap layanan konseling individual. Dengan melihat kondisi-kondisi diatas dapat menimbulkan persepsi yang positif dan dapat pula menimbulkan persepsi yang negatif pada siswa. Bila kondisi-kondisi diatas terlaksana dengan

  

D. PERSEPSI SISWA KELAS X DAN SISWA KELAS XI TERHADAP

LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL

  Persepsi siswa yang satu dapat saja berbeda dengan persepsi siswa yang lainnya. Setiap persepsi dalam diri siswa akan berpengaruh pada perilakunya.

  Pada semester awal siswa kelas satu berada dalam tahap penyesuaian dengan lingkungan sekolah, baik dengan guru atau konselor, peraturan/tata tertib sekolah maupun dengan teman-teman seangkatannya. Dalam masa penyesuaian ini peran konselor menjadi sangat penting. Konselor bisa melakukan konseling dengan siswa-siswa yang menga lami kesulitan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sekolah yang baru.

  Siswa kelas satu tentu memiliki pengalaman atau tanggapan yang berbeda- beda terhadap layanan konseling individual. Pengalaman-pengalaman para siswa ini bisa menimbulkan persepsi positif tapi bisa juga menimbulkan persepsi negatif pada layanan konseling individual.

  Untuk siswa kelas dua sudah melewati proses belajar selama satu tahun di sekolahnya sehingga mereka diharapkan sudah mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Para siswa kelas dua mungkin telah banyak melakukan interaksi dengan konselor sekolah, dan mungkin pula telah banyak menjalani konseling. Entah itu untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya atau hanya sekedar mencari informasi- informasi yang ia butuhkan. Dari interaksi itu

  Pada para siswa kelas satu dan kelas dua pun mungkin memiliki persepsi yang berbeda terhadap layanan konseling individua l. Bagi siswa kelas satu sebagai siswa awal di sekolah tersebut mungkin belum terlalu merasakan manfaat dari layanan konseling individual, karena mereka belum begitu banyak berinteraksi dengan konselor sekolah. Berbeda halnya dengan siswa kelas dua yang sudah melewatkan satu tahun di sekolah tersebut mungkin memiliki pengalaman yang berbeda terhadap layanan konseling individual. Setidaknya mereka sudah banyak melakukan interaksi dengan konselor sekolah untuk konseling individual. Pada saat melakukan konseling individual baik siswa kelas satu maupun siswa kelas dua mungkin memiliki permasalahan yang berbeda-beda.

  Ada yang menghadap konselor untuk konseling karena dipanggil dan ada yang menghadap karena termotivasi datang sendiri untuk mengatasi masalah yang dihadapinya.

  Pengalaman yang berbeda-beda dari masing- masing siswa baik kelas satu maupun kelas dua terutama pada saat melaksanakan konseling akan mempengaruhi terbentuknya persepsi negatif maupun positif terhadap layanan konseling individual. Bila siswa baik kelas satu maupun kelas dua mungkin mempunyai pengalaman yang menyenangkan pada saat melaksanakan konseling, maka siswa menjadi tidak takut, sungkan dan tidak malu untuk menghadap konselor. Kuantitas dan kualitas pertemuan siswa dengan konselor dalam konseling juga dapat mempengaruhi persepsi siswa terhadap layanan konseling demikian bila siswa sudah merasa dekat dan akrab dengan konselor di harapkan siswa tidak akan segan lagi menghadap konselor untuk konseling. Diharapkan dengan konselor mau membaur dan bersahabat dengan siswa, jujur, penuh pengertian, penuh penerimaan, sabar, bijaksana, ramah, dan menghargai siswa.

  Hal ini akan memepengaruhi persepsi siswa baik kelas satu maupun kelas dua terhadap layanan konseling individual maupun konselor.

  Oleh karena itu agar para siswa baik kelas satu maupun kelas dua memanfaatkan layanan konseling individual yang ada di sekolah, konselor perlu mensosialisasikan tentang tugas-tugasnya sebagai konselor kepada seluruh siswa saat melakukan kegiatan di lingkungan sekolah. Jika siswa memiliki pemahaman yang benar tentang makna hidup, tujuan serta manfaat konseling bagi perkembangan dirinya serta memahami tugas-tugas konselor dengan baik, maka siswa akan memiliki persepsi yang baik terhadap peranan konselor dan juga layanan konseling individual yang ada di sekolah tersebut. Siswa yang sudah memiliki pemahaman yang baru mengenai konselor sekolah dapat membantu siswa memecahkan masalah, tidak membeda-bedakan dan konselor sekolah membantu siswa untuk semakin mengetahui banyak mengenai remaja, karir, dan belajar. Dengan demikian diharapkan siswa baik kelas satu maupun kelas dua akan memiliki persepsi positif terhadap layanan konseling individual dan mau menghadap konselor untuk melaksanakan konseling.

  Dalam batas tertentu setiap siswa memiliki persepsi yang berbeda terhadap pengalaman dari orang lain ketika berhadapan dengan konselor sekolah. Menurut Prayitno (1987) persepsi siswa yang negatif mengenai layanan konseling di sekolah terkadang bukan didasarkan pada penilaian yang obyektif. Siswa biasanya menerima begitu saja opini yang sudah terbentuk mengenai layanan konseling, misalnya anggapan yang menggeneralisasikan bahwa siswa yang masuk ke ruang konseling adalah siswa yang bermasalah saja, ditambah lagi pengaruh dari teman sebaya yang memberikan informasi serupa mengenai layanan konseling. Dengan adanya permasalahan diatas, maka wajarlah bila siswa menjadi enggan atau malas menghadap konselor sekolah untuk konseling. Prayitno (1987) mengatakan bahwa masih ada kesalahpahaman mengenai peran bimbingan dan konseling, antara lain konselor sekolah dianggap sebagai polisi sekolah, konseling hanya diperuntukkan bagi siswa tertentu saja, konseling adalah pemberian nasehat, dan konselor sekolah kurang memenuhi syarat menjadi konselor sekolah yang profesional sehingga menyebabkan adanya pandangan negatif bagi konselor sekolah. Hal ini mengakibatkan siswa menjadi enggan untuk menjalani konseling dengan konselor sekolah karena kurang mendapat perhatian dan tanggapan yang tepat serta apa yang dinginkan siswa tidak sesuai seperti yang diharapkan.

  Mengingat adanya permasalah diatas, konselor sekolah sebaiknya memberikan informasi agar siswa memahami tugas dan peranan seorang konselor sekolah. Konselor sekolah perlu juga untuk terus meningkatkan keterampilan atau kemampuannya dalam berkomunikasi, bersosialisasi, berempati, serta selalu siap

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam bab ini dibahas jenis penelitian, populasi dan sampel penelitian, alat pengumpulan data, prosedur pengumpulan data, dan teknik analisis data. A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan metode survey. Menurut Arikunto (1989: 10) penelitian deskriptif adalah penelitian yang

  dilakukan dengan menggambarkan dua variabel, yakni variabel masa lalu dan masa sekarang atau variabel yang sedang terjadi. Furchan (1982: 415) berpendapat penelitian deskriptif dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat penelitian dilakukan. Nawawi (1998: 63) mengatakan bahwa penelitian deskriptif berusaha menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian (seseorang, lembaga masyarakat, dll) pada saat sekarang berdasarkan fakta- fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.

  Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk melukiskan variabel atau kondisi apa adanya dalam suatu situasi. Menurut Jallaludin Rahmat (1983: 34) penelitian deskriptif bertujuan (1) mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada; (2) mengidentifikasikan masalah atau memeriksa kondisi dan praktek yang berlaku; (3) membuat perbandingan atau evaluasi; (4) menentukan apa yang di lakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang

  Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan metode survei karena peneliti ingin memperoleh gambaran tentang persepsi siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual.

B. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi

  Populasi adalah semua anggota dari sekelompok orang, kejadian atau obyek yang telah dirumuskan secara jelas (Furchan, 1982: 189). Populasi siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008. Data populasi disajikan dalam tabel 1.

  

Tabel 1. Data siswa kelas X dan XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta

Tahun Ajaran 2007/2008 Kelas Jumlah siswa

  X A

  29 X B

  28 X C

  30 XI IPS 1

  30 XI IPS 2

  29 XI IPS 3

  29 XI IPA

  28 XI BHS

  30 Jumlah Keseluruhan Siswa 233 Sampel Penelitian

  Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto,1997: 109). Penelitian ini merupakan penelitian sampel karena peneliti hanya meneliti Sampel ini sudah representatif untuk mewakili seluruh populasi karena bersifat homogen yaitu sama-sama siswa SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta, status sosial yang hampir sama. Apabila keadaan populasi adalah homogen, mengambil sampel yang terlalu besar hampir-hampir tidak ada gunanya (Hadi,2000: 182).

  Menurut Hadi (2004: 336) salah satu cara untuk memperoleh sampel yang representatif adalah dengan teknik random sampling. Adapun dasar pokok dari

  

random sampling adalah semua anggota dalam populasi mempunyai probabilitas

  atau kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Prosedur pengambilan sampel dengan random sampling dijelaskan sebagai berikut:

  1. Peneliti membuat undian bernomor urut mulai dari 1 sampai dengan 5. sesuai dengan jumlah kelas pararel.

  2. Selanjutnya nomor- nomor tersebut dikocok. Kocokkan pertama diambil secara acak sejumlah dua kelas untuk kelas X dan kocokkan kedua diambil secara acak sejumlah dua kelas untuk kelas XI.

  3. Rincian populasi yang dijadikan sampel penelitian sebagai berikut. Data populasi yang dijadikan sampel penelitian disajikan dalam tabel 2.

  

Tabel 2 rincian sampel penelitian siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman

Madya Jetis Yogyakarta Tahun Ajaran 2007/2008 Kelas Jumlah siswa

  X A

  29 X B

  28 XI IPS 3

  29 XI IPA

  28 Jumlah keseluruhan siswa 114 pararel kelas X dan lima kelas pararel kelas XI, adalah cukup besar. Meskipun memungkinkan untuk diteliti seluruhnya, peneliti hanya mengambil beberapa kelas untuk sampel, karena peneliti beranggapan bahwa sampel tersebut sudah cukup mewakili gambaran umum mengenai persepsi siswa kelas X dan XI SMA Taman Madya Jetis terhadap layanan konseling individual; 2) kelas X dan XI dipilih sebagai sampel karena siswa kelas X dan XI masih memerlukan banyak bimbingan dan konseling dari konselor sekolah.

C. Alat Pengumpulan Data

  Pengumpulan data dengan kuesioner. Kuesioner adalah sekumpulan daftar pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan kepada subjek penelitian (Furchan,1982: 249). Kuesioner ini disusun oleh peneliti sendiri, dengan mengacu pada konsep aspek-aspek layanan konseling individual yang terdiri dari lima aspek, yaitu aspek proses, aspek pertemuan tatap muka, aspek komunikasi antar pribadi, aspek konselor dan aspek konseli yang tersaji dalam BAB II ( Latipun, 2003, Winkel dan Sri Hastuti, 2004 ).

  Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner tertutup, yaitu kuesioner yang sudah menyediakan sejumlah alternatif jawaban sehingga responden tinggal memilih (Arikunto,2002:129). Jawaban responden terikat pada sejumlah kemungkinan jawaban yang sudah disediakan.

  Kuesioner ini terdiri atas dua bagian, yaitu bagian pertama berisi tujuan kuesioner, kuesioner itu sendiri yaitu berupa pernyataan-pernyataan tentang aspek-aspek layanan konseling individual.

  Pernyataan-pernyataan yang digunakan dalam kuesioner ini ada yang positif dan ada pula yang negatif. Pernyataan yang positif adalah pernyataan yang mengungkapkan hal yang diharapkan (persepsi yang positif terhadap layanan konseling individual). Pernyataan yang negatif adalah pernyataan yang mengungkapkan hal yang tidak diharapkan (persepsi yang negatif terhadap layanan konseling individual). Kuesioner ini berbentuk skala dengan empat alternatif jawaban, yaitu “sangat setuju”, “setuju”, “tidak setuju”, “sangat tidak setuju”. Setiap pilihan jawaban positif diberi skor selalu = 4, 3, 2, 1 dan untuk pilihan jawaban negatif diberi skor selalu = 1, 2, 3, 4.

  Adapun aspek-aspek persepsi siswa terhadap layanan konseling individual tersaji dalam kisi-kisi kuesioner di bawah ini:

  

Tabel 3

Kisi-kisi kuesioner persepsi siswa terhadap layanan konseling individual

  No Aspek-aspek layanan Nomor konseling Indikator Pernyataan

  Positif Negatif

  1. Aspek pertemuan tatap

  a. Waktu pelaksanaan konseling 1,3,5 2,4 muka 1) Saat jam pelajaran 2) Waktu istirahat 3) Saat jam pulang sekolah

  b. Mengadakan pertemuan 7,9 6,8,10 dengan konselor untuk

  2) Pada saat membutuhkan informasi 3) Hampir tiap hari saat ada masalah maupun tidak ada masalah

  b. Harapan konseli pada saat konseling c. Motivasi konseli untuk konseling

  53 55,57,

  49,51,

  a. Sikap konselor pada saat berhadapan dengan konseli b. Kesiapan konselor dalam

  5. Aspek konselor

  35,37,39 41,43,44 46,48

  38 40,42 45,47

  34,36,

  a. Pandangan atau anggapan konseli terhadap konselor pada saat konseling

  2. Aspek proses

  4. Aspek konseli

  23,25 27,33 29,31

  22,24 26,28 30,32

  3. Aspek komunikasi antar pribadi a. Ada tanggapan-tanggapan yang bersifat membantu b. Keterampilan konselor dalam berkomunikasi c. Kemampuan konselor berempati pada siswa yang bermasalah

  17 19,21

  12,14

  11,13 15,16 18,20

  a. Berani mengungkapkan masalah secara tuntas b. Adanya perubahan dalam diri saat melakukan konseling c. Adanya penyelesaian masalah secara tuntas

  50,52,54 56,58,60

D. Prosedur Pengumpulan Data

  Adapun tahapan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:

1. Uji Coba Instrumen

  Uji coba alat penelitian dilaksanakan untuk mengetahui taraf validitas dan reliabilitas instrument. Tempat uji coba alat dilaksanakan di SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta pada hari Senin tanggal 26 Mei 2008 pada subyek kelas XA yang berjumlah 26 siswa dan hari Kamis tanggal 29 Mei 2008 pada subyek kelas

  XI IPS 2 yang berjumlah 34 siswa. Total keseluruhan subyek uji coba adalah 60 siswa. Kuesioner uji coba dapat dilihat pada lampiran 1. Berikut ini akan di paparkan proses pengujian validitas dan reliabilitas.

  a Validitas

  Validitas merupakan taraf sampai dimana suatu alat ukur mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Masidjo,1995: 242). Suatu instrumen pengukur mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut mampu menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur sesuai dengan maksud pengukuran tersebut (Azwar, 2004: 5).

  Validitas terdiri dari (1) validitas isi yaitu validitas yang menunjukkan sampai di mana isi suatu tes atau alat pengukur mencerminkan hal- hal yang mau diukur atau diteskan; (2) validitas konstruk atau konsep yaitu suatu validitas yang menunjukkan sampai di mana isi suatu tes atau alat pengukur sesuai dengan suatu konsep yang seharusnya menjadi isi tes atau konstruksi teoritis yang mendasari pengukur lain yang berfungsi sebagai kriteria atau bahan pembanding (Masidjo,1995: 243).

  Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi adalah validitas yang menunjukkan pada sejauh mana instrumen atau kuesioner tersebut mencerminkan isi yang dikehendaki (Furchan,1982: 283). Sigit (2001: 117) mengemukakan bahwa validitas isi adalah validitas yang didasarkan atas logika, apakah yang termuat dalam alat ukur itu, seperti kalimat-kalimat yang termuat dalam kuesioner adalah logis sebagai alat untuk mengukur dan mengambil data yang diperlukan. Menurut Furchan (1982) dalam menilai validitas isi kita berkepentingan dengan masala h: seberapa jauh isi instrumen itu mencerminkan seluruh isi yang diukur? Agar dapat memiliki validitas isi, suatu ukuran harus secara memadai menarik sampel topik dan proses kognitif yang terdapat di dalam isi bidang yang sedang diteliti dan tentu saja is i itu bersifat teoritis. Validitas isi merupakan bentuk penilaian atau keputusan, baik secara seorang diri maupun bersama-sama pihak lain yang dianggap ahli. Peneliti menggunakan professional judgement untuk menilai validitas. Professional

  

judgement adalah penilaian yang dilakukan oleh ahli atau orang-orang ya ng

  paham dan ahli dalam penyusunan kuesioner. Dalam hal ini, professional dilakukan oleh dosen pembimbing skripsi ini.

  judgement

  Setelah uji coba, peneliti melakukan pengolahan data. Langkah- langkah pengolahan data dimulai dengan memberikan skor pada tiap item dan tiap item tersebut dihitung menggunakan rumus koefisien alpha. Dari 60 item yang terdapat di dalam kuesioner persepsi siswa terhadap layanan konseling individual yang diuji cobakan, diperoleh 36 item yang valid dan 24 item yang dinyatakan tidak valid. Setelah peneliti konsultasi dengan dosen pembimbing, maka dari 24 item yang tidak valid langsung digugurkan dan tidak digunakan dalam item penelitian. Kisi-kisi kuesioner item yang valid dan item yang tidak valid setelah dilakukannya uji coba dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini.

  Tabel 4 Kisi-kisi kuesioner Persepsi siswa terhadap layanan konseling individual

  No Aspek-aspek

  layanan konseling Indikator No Item valid No Item tidak valid

  1. Aspek pertemuan tatap muka

  a. Waktu pelaksanaan konseling 1) Saat jam pelajaran 2) Waktu istirahat 3) Saat jam pulang sekolah b. Mengadakan pertemuan dengan konselor 1) Saat ada masalah saja 2) Pada saat membutuhkan informasi

  3) Hampir tiap hari saat ada masalah maupun tidak ada masalah.

  4

  9 1,2,,3,5

  6,7,10

  2. Aspek Proses

  a. Berani

  14 11,13 dalam diri saat 19,21 melakukan konseling c. Adanya penyelesaian 18,20 masalah yang memuaskan

  3. Aspek

  a. Ada tanggapan- 22,24 23,25 komunikasi tanggapan yang antar pribadi bersifat membantu

  b. Keterampilan konselor 26,27,28,33 dalam berkomunikasi 32,31 c. Kemampuan konselor 29,30 berempati pada siswa yang bermasalah

  4. Aspek Konseli

  a. Pandangan atau 34,35,36,37,38

  39 anggapan konseli terhadp konselor pada saat konseling

  43

  b. Harapan konseli pada 40,41,42,44 saat konseling 45,47,48 c. Motivasi konseli untuk

  46 konseling

  5. Aspek Konselor

  a. Sikap konselor pada 49,50,52,,54 51,53 saat berhadapan dengan konseli

  b. Kesiapan konselor 55,56,57,58,59,60 dalam membantu konseli. Total

  36

  24 Penentuan kesahihan item didasarkan pada korelasi item- item dengan batasan x 0,30. Semua item yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30

  r i

  daya pembedanya dianggap memuaskan, sedangkan item yang koefisien korelasinya kurang dari 0,30 daya pembedanya rendah (Azwar, 1999: 65).

  Daya beda item adalah sejauh mana item tersebut mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan yang tidak memiliki skor skala itu sendiri. Komputasi ini akan menghasilkan koefisien korelasi item- total ( x ) yang dikenal dengan parameter daya beda item. Untuk komputasi

  r i

  koefisien korelasi item-total digunakan korelasi product-moment dari Pearson dengan rumus sebagai berikut (Azwar, 1999: 59) N

  XY ( X )( Y )

  − ∑ ∑ ∑

  r xy = 2 2 2 2 N X ( X ) N Y ( Y )

  − − { }{ }

  ∑ ∑ ∑ ∑

  Keterangan: r : Korelasi skor item dengan skor total

  xy

  X : Skor item Y : Skor total N : Jumlah siswa

  b Reliabilitas

  Reliabilitas adalah derajat keajegan suatu alat ukur dalam mengukur apa saja yang diukurnya (Furchan,1982). Menurut Arikunto (2001: 86) reliabilitas adalah ketetapan hasil tes. Reliabilitas instrumen merupakan taraf sampai dimana instrumen mampu menunjukkan konsistensi hasil pengukurannya, yang diperlihatkan dalam taraf ketepatan dan ketelitian hasil. Reliabilitas mencari apakah sebuah instrumen dapat mengkur sesuatu yang diukur secara konsisten dari waktu ke waktu (Nuggiyantoro,2002: 299). Masidjo (1995: 209) mengatakan bahwa reliabilitas suatu alat ukur atau tes adalah taraf sampai di mana suatu alat ukur atau tes mampu menunjukkan konsistensi hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketepatan dan ketelitian hasil. Dalam penelitian ini dua (split-help method). Dalam metode belah dua, peneliti mengelompokkan skor bernomor gasal sebagai belahan pertama dan kelompok skor item yang bernomor genap sebagai belahan kedua. Selanjutnya kelompok skor gasal dikorelasikan dengan kelompok skor genap dengan menggunakan rumus product-moment dari Pearson dan akan menghasilkan indeks korelasi antara dua belahan. Langkah I: Menghitung koefisien korelasi skor item ganjil dan skor item genap dengan teknik korelasi product-moment dari Pearson dengan rumus:

  N

  XY ( X )( Y )

  − ∑ ∑ ∑

  r xy = 2 2 2 2 N X ( X ) N Y ( Y )

  − − { }{ }

  ∑ ∑ ∑ ∑

  Keterangan: r xy : Koefisien korelasi skor item gasal dan genap X : Skor belahan gasal Y : Skor belahan genap N : Jumlah siswa

  XY : Hasil perkalian antara nilai X dan nilai Y Oleh karena indeks korelasi yang dihasilkan dalam perhitungan ini masih menunjukkan hubungan antara dua belahan instrument atau menunjukkan taraf reliabilitas setengah tes. oleh karena itu, untuk memperoleh indeks korelasi yang menunjukkan taraf reliabilitas satu tes masih ha rus menggunakan formula

  Spearman- Brown.

  Langkah II: Menghitung reliabilitas kuesioner dengan rumus Spearman- Brown:

  2 xr gg

  r : Koefisien reliabilitas alat ukur tt r : Koefisien item- item belahan gasal- genap. gg

  Hasil perhitungan reliabilitas uji coba kuesioner persepsi siswa kelas X dan kelas XI terhadap layanan konseling individual adalah sebagai berikut:

  N

  XY

  X Y

  ( )( ) ∑ ∑ ∑ r xy = 2 2 2 2 N

  X X N Y Y − −

  ( ) ( ) { } { }

  ∑ ∑ ∑ ∑

  60 x 193844 3442 3350

  − ( )( ) r xy = 2 2

  60 x 199456 3442 60 x 189350 3350

  − − ( ) ( )

  { } { }

  11630640 11530700

  − r xy =

  11967360 11847364 11361000 11222500

  − − { }{ }

  99940

  r xy =

  119996 138500

  ( )( )

  99940

  r xy =

  16619446

  r r , 776 xy = XY = 2 xr gg r

  • 1 r gg tt = 2 x , 776

  r = tt +

  1 , 776 1 , 556 r tt =

  1 , 787 r , 870 tt =

  Hasil perhitungan uji reliabilitas instrumen atas dasar taraf signifikasi 5% untuk N=60 dituntut r = 0,254. koefisien reliabilitas yang diperoleh r = 0,87. xy tt Dengan demikian taraf reliabilitas uji coba kuesioner persepsi siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya jetis Yogyakarta terhadap Layanan Konseling

  Hasil dari perhitungan koefisien reliabilitas dapat diinterpretasikan bahwa alat penelitian ini reliable tabel 5 koefisien korelasi (Masidjo, 1995:209)

  Tabel 5: Koefisien korelasi reliabilitas

  Koefisien Korelasi Kualifikasi 0,91 – 1,00 0,71 – 0,90 0,41 – 0,70

  0,21 - 0,40 Negatif – 0,20

  Sangat Tinggi Tinggi Cukup

  Rendah Sangat Rendah

2. Tahap Penelitian

  Tabel 6: Jadwal Pengumpulan Data Penelitian

  28 XI IPA 7 juni 2008 08.15 – 09.00

  98 16 114

  29 Total

  5

  24

  28 XI IPS3 7 juni 2008 09.15 – 09.45

  4

  24

  2

  Kelas Tanggal Pengump ulan

  26

  29 X B 6 juni 2008 08.15 – 09.00

  Setelah melakukan uji coba alat, tahap berikutnya adalah mengumpulkan data atau tahap penelitian. Pelaksanaan penelitian dilakukan di ruang kelas masing- masing. Proses pengambilan data ini berjalan dengan tertib dan lancar. Siswa mengisi kuesioner dengan tenang. Mereka dapat menangkap secara jelas maksud setiap pernyataan dalam kuesioner. Setelah data terkumpul, peneliti mengolah data tersebut. Adapun jadwal pelaksanaan pengumpulan data penelitian di setiap kelas dapat dilihat pada tabel 6 berikut:

  24

  X A 6 juni 2008 07.30 – 08.15

  Hadir Tidak Hadir Jumlah

  Waktu Pengumpulan

  5 tidak hadir. Sehingga sampel yang direncanakan 114 siswa hanya menjadi 98 siswa atau 42% dari populasi. Sampel ini sudah representatif dan dapat mewakili seluruh populasi. Menurut Gulo (2002 :81) apabila anggota populasinya homogen, maka sampel yang kecil atau dibawah 100 dapat mewakili seluruh populasi.

E. Teknik Analisis Data

  Teknik-teknik analisis data yang dilaksanakan untuk menjawab masalah- masalah dalam penelitian ini adalah sabagai berikut:

  1. Untuk menjawab pertanyaan pertama, “Bagaimanakah persepsi siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahu ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual?” dilakukan langkah- langkah sebagai berikut: a. Menjumlahkan skor-skor persepsi siswa kelas X dan kelas XI terhadap layanan konseling individual.

  b. Menggolongkan persepsi siswa kelas X dan kelas XI terhadap layanan konseling individual berdasarkan Penilaian Acuan Patokan 1 (PAP tipe 1). Penilaian PAP adalah suatu penilaian yang membandingkan perolehan skor individu dengan suatu patokan yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu, suatu skor yang idealnya dicapai oleh responden. PAP disebut juga penilaian mutlak. Penilaian ini minimum untuk kategori “cukup” 65%. PAP dipilih sebagai acuan penggolongan persepsi karena yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ideal atau yang seharusnya. Penggolongan berdasarkan PAP Tipe 1 dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini:

  Tabel 7 Penggolongan persepsi siswa kelas X dan kelas XI terhadap layanan konseling individual berdasarkan Penilaian Acuan Patokan (PAP) Tipe 1 Kategori Patokan

  Sangat Baik 90% - 100% Baik 80% - 89%

  Cukup Baik 65% - 79% Tidak Baik 55% - 65%

  Sangat Tidak Baik < 55%

  Sumber: Masidjo, 1995. Penilaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Hal 151.

  2. Untuk menjawab pertanyaan kedua, “dalam hal persepsi, adakah perbedaan yang signifikan antara siswa kelas X dan kelas XI terhadap layanan konseling individual?” digunakan teknik statistik uji beda mean (uji t).

  Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Dalam hal persepsi, ada perbedaan yang signifikan antara siswa kelas X dan kelas XI terhadap layanan konseling individual.

  Pengujian hipotesis alternatif (kerja) dalam penelitian ini dilakukan ini peneliti tidak mempunyai pendapat pihak mana yang persepsinya lebih baik/positif terhadap layanan konseling individual di sekolah, yang penting hanyalah bahwa ada perbedaan (Arikunto,2002: 278-279). Rumus statistik yang digunakan adalah:

  X

  Mean kelas X M = X

  ( ) N Y

  ∑

  Mean kelas XI M Y =

  ( ) N 2

  1 2 Simpangan baku kelas X S N

  X X ( ) X = −

  ( ) ∑ ∑

  N 2

  1 2 Simpangan baku kelas XI S N Y Y

( ) Y = −

  ( ) ∑ ∑

  N S

  Standar kesalahan mean (SM) tiap sampel

  =

  1 N

  −

  Standar kesalahan perbedaan mean 2 2

  • Kedua sampel SD = SM SM

  ( bm ) x y M M xy

  Uji beda mean kedua sampel (t)

  = SD bm

  Derajat kebebasan kedua sampel (Na - 1) + (Nb - 1)

  =

  Langkah- langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:

  a. Menjumlahkan skor total siswa kelas X dan skor total kelas XI

  b. Mebandingkan harga t dengan t pada taraf signifikasi 5% empiris table

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini memuat jawaban atas masalah penelitian, yaitu (1) “Bagaimana

  persepsi para siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 Terhadap Layanan Konseling Individual”, (2) “Dalam hal persepsi, adakah perbedaan persepsi para siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 Terhadap Layanan Konseling individual”.

  

A. Persepsi Siswa Kelas X Dan Kelas XI SMA Taman Madya Jetis

Yogyakarta Tahun Ajaran 2007/2008 Terhadap Layanan Konseling Individual.

1. Hasil Penelitian.

  Analisis mengenai persepsi siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual dihitung dengan menggunakan perhitungan Penilaian Acuan Patokan (PAP) Tipe 1. PAP Tipe 1 menetapkan bahwa untuk mendapatkan kualifikasi cukup tinggi, responden minimal harus mendapatkan skor sebanyak 65% dari skor ideal/skor total.

  Penggolongan persepsi siswa kelas X tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual dapat dilihat pada tabel 8.

  Tabel 8 Persepsi Siswa Kelas X Tahun Ajaran 2007/2008 Terhadap Layanan Konseling Individual Rumus PAP Rentang Skor Kualifikasi Frekuensi (jumlah siswa) Presentase

  90% - 100% 129 – 144 Sangat Baik 5 10,0% 80% - 89% 115 – 128 Baik 26 52,0% 65% - 79% 93 – 114 Cukup Baik 17 17,0% 55% - 64% 79 – 92 Tidak Baik 1 2,0% < 55% < - 78 Sanga Tidak Baik 1 2,0%

  Total 50 100% Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa persepsi siswa kelas X

  SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 Terhadap Layanan Konseling Individual berbeda-beda, mulai dari Sangat Baik, Baik, Cukup Baik, Tidak Baik, dan Sangat Tidak Baik.

  Berikut persepsi siswa kelas X terhadap Layanan Konseling Individual digolongkan menjadi tiga bagian yaitu:

  a. Persepsi siswa kelas X terhadap Layanan Konseling Individual yang berada dalam kualifikasi “Sangat Baik”, “Baik”, ditafsirkan sebagai persepsi terhadap Layanan Konseling Individual yang positif. Siswa kelas X yang mempunyai persepsi yang positif terhadap Layanan

  Konseling Individual berjumlah 31 orang ( 5 siswa yang memiliki kualifikasi “Sangat Baik” / 10,0%, dan 26 siswa yang memiliki kualifikasi “Baik” / 52,0% )

  b. Persepsi siswa kelas X terhadap Layanan konseling Individua l yang terhadap layanan konseling individual yang cukup baik atau sedang. Siswa kelas X yang mempunyai persepsi cukup baik atau sedang terhadap layanan konseling individual berjumlah 17 siswa yang memiliki kualifikasi “cukup Baik” / 17%.

  c. Persepsi siswa kelas X terhadap layanan konseling individual yang berada dalam kualifikasi “Tidak Baik” dan “Sangat tidak Baik” ditafsirkan sebagai persepsi yang negatif. Siswa kelas X yang mempunyai persepsi negatif terhadap layanan konseling individual berjumlah 2 orang (1 siswa yang memiliki kualifikasi “Tidak Baik” / 2,0% dan 1 siswa yang memiliki kualifikasi “Sangat Tidak baik” / 2,0% ).

  Penggolongan persepsi siswa kelas XI tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual dapat dilihat pada tabel 9.

  Tabel 9 Persepsi Siswa Kelas XI Tahun Ajaran 2007/2008 Terhadap Layanan Konseling Individual Rumus PAP Rentang Skor Kualifikasi Frekuensi Presentas (jumlah e siswa)

  90% - 100% 129 – 144 Sangat Baik 6 12.5% 80% - 89% 115 – 128 Baik 17 35,4% 65% - 79% 93 – 114 Cukup Baik 25 52,1% 55% - 64% 79 – 92 Tidak Baik 0% < 55% < - 78 Sanga t Tidak Baik 0%

  Total 48 100% Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa persepsi siswa kelas XI Layanan Konseling individual berbeda-beda, mulai dari sangat baik, baik, cukup baik, tidak baik dan sangat tidak baik.

  Berikut persepsi siswa kelas XI terhadap Layanan Konseling Individual digolongkan menjadi tiga bagian yaitu:

  a. Persepsi siswa kelas XI terhadap Layanan Konseling Individual yang berada dalam kulifikasi “Sangat Baik”, “Baik”, ditafsirkan sebagai persepsi terhadap Layanan Konseling Individual yang baik atau positif. Siswa kelas XI yang mempunyai persepsi yang baik atau positif terhadap Layanan Konseling Individual berjumlah 23 orang ( 6 siswa yang memiliki kualifikasi “Sangat Baik” / 12,5%, dan 17 siswa yang memiliki kualifikasi “Baik” / 35,4% ).

  b. Persepsi siswa kelas XI terhadap Layanan konseling Individual yang berada dalam kualifikasi “cukup baik” ditafsirkan sebagai persepsi terhadap layanan konseling individual yang cukup baik atau sedang. Siswa kelas XI yang mempunyai persepsi cukup baik atau sedang terhadap layanan konseling individual berjumlah 25 siswa yang memiliki kualifikasi “Cukup Baik” / 52,1%.

  c. Dan tidak ada siswa kelas XI yang berada dalam kualifikasi “Tidak Baik” dan “Sangat tidak Baik” (0%).

  Berdasarkan table 8 dan 9 di atas, tampak bahwa 54 siswa yang terdiri dari 31 siswa kelas X dan 23 siswa kelas XI mempunyai persepsi persepsi yang cukup baik terhadap layanan konseling individual. Dan masih ada beberapa siswa yang memiliki persepsi ya ng negatif terhadap layanan konseling individual yaitu, terdiri dari 2 siswa kelas X. Denga n demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar persepsi siswa kelas X dan kelas

  XI terhadap layanan konseling individual sudah baik atau positif.

2. Pembahasan

  Sebelum memaparkan pembahasan, ada beberapa hal yang perlu peneliti kemukakan berkaitan dengan berbagai keterbatasan yang masih terkandung dalam penyusunan instrument penelitian dan dalam pelaksanaan penelitian. Pertama, peneliti menggunakan bentuk kuesioner tertutup, bentuk ini mempunyai kelemahan membatasi responden dalam menanggapi pernyataan dalam kuesioner. Kedua, penyusunan dan pengembangan item- item dalam kuesioner belum mengungkap setiap aspek konseling individual secara maksimal. Ketiga, hasil penelitian bukanlah suatu hasil yang tetap atau abadi karena persepsi siswa terhadap layanan konseling individual dapat berubah dari waktu ke waktu. Selanjutnya peneliti akan mengungkapkan pembahsan terhadap hasil penelitian di atas.

  Faktor-faktor yang mungkin melatarbelakangi siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 mempunyai persepsi yang positif terhadap layanan konseling individual antara lain: sekolah. Dari pengalaman inilah terbent uk persepsi siswa terhadap layanan konseling individual. Siswa yang melakukan konseling atas kemauan sendiri dan datang secara sukarela atas kesadaran sendiri, karena sadar bahwa mereka membutuhkan orang lain untuk membantu mengatasai masalah yang mereka alami cenderung memiliki persepsi yang positif atau baik terhadap layanan konseling individual. Selain itu pengalaman yang menyenangkan misalnya, adanya penerimaan yang baik dari kons elor saat konseling dan adanya perubahan dalam diri saat melakukan konseling dengan konselor berdampak juga pada persepsi siswa terhadap layanan konseling individual.

  Siswa kelas X dan kelas XI yang memiliki persepsi positif terhadap layanan konseling individual mungkin karena, mereka menyadari pentingnya layanan konseling bagi perkembangan dirinya. Mereka sadar melalui konseling individual mereka semakin mampu memahami dirinya yaitu potensi dan kelemahan-kelemahannya. Melalui konseling mereka mampu mengatasi masalah- masalah yang mereka alami, baik itu masalah belajar, masalah pemilihan jurusan, masalah keluarga, masalah pergaulan dengan teman dan juga masalah pergulatan dalam diri sendiri. Siswa kelas X dan kelas XI yang memiliki persepsi positif terhadap layanan konseling individual akan merasakan manfaat dari layanan koseling bagi dirinya terutama dalam pengembangan diri secara optimal.

  Siswa kelas X dan kelas XI yang memiliki persepsi positif terhadap siswa-siswa yang bermasalah dan menjaga tata tertib, disiplin dan keamanan sekolah sehingga apabila ada diantara siswa-siswa yang melanggar peraturan dan disiplin sekolah akan berurusan dengan konselor. Namun lebih dari itu mereka sadar bahwa konselor dapat memberikan konseling individual yang dapat membantu mereka dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi sehari- hari.

  Kedua, Profesionalitas. Dalam memberikan konseling pada siswa

  konselor juga harus mempunyai keahlian dan keterampilan, karena hal itu sangat berpengaruh terhadap keberhasilan konseling. Keahlian dan keterampilan yang dimiliki konselor merupakan salah satu alasan mengapa siswa mendatanginya. Siswa menghadap konselor karena mereka mengakui bahwa konselor memiliki keahlian dan keterampilan khusus untuk membantunya. Selain itu konselor juga harus penuh pengertian, penuh penerimaan, sabar, bijaksana, ramah dan mengahargai siswa, serta dapat menjaga rahasia siswa yang datang konseling. Dengan adanya profesionalitas dari konselor, maka akan membuat siswa kelas X dan kelas

  XI mempunyai persepsi yang positif atau baik terhadap layanan konseling individual. dan mau untuk melakukan konseling.

  Menurut Mappiare (2004) profesionalitas konselor tampak dalam kepribadian, keterampilan bersosialisasi, keterampilan berkomunikasi, kemapuwan intelektual, kemampua n berempati, kesiapan untuk membantu dirinya send iri, matang dalam menilai, mampu mendengarkan siswa, mampu menyimpan rahasia siswa serta memiliki kepribadian yang matang. Ciri-ciri yang dimiliki konselor yang demikianlah menjadikan seorang konselor yang ideal, dengan demikian siswa menjadi tidak segan atau mereka mau datang untuk melakukan konseling dengan konselor sekolah dan siswa akan mempunyai persepsi yang baik terhadap konselor, salah satunya dalam memberikan layanan konseling individual.

  Ada beberapa siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta yang memiliki persepsi “cukup baik” terhadap layanan konseling individual. Siswa kelas X dan kelas XI yang memiliki persepsi “cukup baik” Hal ini mungkin disebabkan oleh pengalaman mereka saat melakukan konseling dengan konselor sekolah. Pengalaman para siswa ini tentunya akan berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Ada siswa yang setelah melakukan konseling dengan konselor sekolah merasa terbantu dalam mengatasi masalahnya, misalnya adanya perubahan dalam diri dan menjadi lebih baik setelah melakukan konseling dengan konselor sekolah.

  Dan mungkin ada juga siswa yang setelah melakukan konseling dengan konselor tidak mengalami suatu perubahan yang berarti atau masalahnya tidak teratasi atau tidak terselesikan dengan tuntas. Dari pengalaman inilah akan berdampak pada persepsi siswa terhadap layanan konseling individual.

  Siswa kelas X dan kelas XI memeiliki persepsi “cukup baik” terhadap dirinya. Hal ini mungkin disebabkan masih kurangnya para siswa memanfaatkan layanan konseling individual. Kurangnya kesadaran para siswa untuk memanfaatkan layanan konseling individual mungkin dikarenakan masih kurangnya informasi dan sosialisasi dari konselor tentang layanan konseling individual bagi perkembangan diri siswa secara optimal, sehingga yang siswa tahu tentang layanan konseling individual adalah hanya untuk siswa yang bermasalah saja.

  Oleh karena itu supaya para siswa yang memiliki persepsi “cukup baik” terhadap layanan konseling individual menjadi memiliki persepsi “sangat baik dan baik” terhadap layanan konseling individual konselor perlu lebih aktif lagi untuk mensosialisasikan dan memberikan informasi kepada siswa akan mamfaat layanan konseling individual bagi perkembangan diri siswa bersangkutan. Sehingga dengan demikian diharapkan siswa akan lebih intens/sering untuk melakukan konseling, terutama dalam membantu mengatasi permasalahan yang mereka hadapi sehari- hari atau hanya sekedar mencari informasi yang dibutuhkan. Dan siswa tidak lagi beranggapan bahwa layanan konseling individual hanya diperuntukan bagi siwa yang bermasalah saja.

  Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa ada sebagian kecil siswa kelas X SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 yang memiliki persepsi negatif terhadap layana n konseling belum baik terhadap layanan konseling individual karena ada kemungkinan masih adanya siswa yang beranggapan bahwa, konseling individual hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah saja, konselor adalah polisi sekolah yang menjaga tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah sehingga apabila ada diantara siswa-siswa yang melanggar peraturan dan displin sekolah akan berurusan dengan konselor. Selain itu siswa yang dipanggil untuk melakukan konseling tentu akan memiliki perspsi yang berbeda dengan siswa yang datang konseling atas inisiatif dan kesadaran sendiri.

  Siswa yang dipanggil untuk melakukan konseling cenderung memiliki persepsi yang negatif terhadap layanan konseling individual. Tidak hanya itu saja opini atau pengalaman dari teman lain yang sudah pernah me nghadap konselor untuk melakukan konseling ikut mempengaruhi persepsi siswa terhadap layanan konseling individual. Biasanya siswa menerima begitu saja opini dari temannya yang sudah pernah melakukan konseling. Apabila temannya pernah mengalami pengalaman yang tidak menyena ngkan saat melakukan konseling dengan konselor sekolah, maka hal ini akan menimbulkan persepsi yang nagatif pada siswa terhadap layanan konseling individual.

  Menurut Prayitno (1987) persepsi siswa yang negatif mengenai layanan konseling di sekolah terkadang bukan didasarkan pada penilaian yang obyektif. Siswa biasanya menerima begitu saja opini yang sudah siswa yang bermasalah saja, konseling adalah pemberian nasehat, ditambah lagi pengaruh dari teman sebaya yang memberikan informasi serupa mengenai layanan konseling. Dengan adanya permasalahan diatas, maka wajarlah bila masih ada siswa yang memiliki persepsi negatif terhadap layanan konseling individual.

  Mengingat masih adanya persepsi yang negatif terhadap layanan konseling individual dan masih kurangnya siswa-siswa yang memanfaatkan layanan konsleing individual dalam membantu mengatasi masalah-masalah yang mereka alami, maka konselor perlu memberikan informasi dan lebih mensosialisaikan mengenai layanan konseling individual dan manfaatnya bagi siswa. Dimana konseling individual ini bertujuan untuk membantu individu- individu yang mencari dan membutuhkan bantuan, supaya tercapai penyesuaian diri secara baik di keluarga, di sekolah, di masyarakat, serta bertujuan menolong individu agar lebih mengenal diri sendiri, minat, bakat, kemampuan dan kesempatan-kesempatan yang ada padanya sehingga mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Selain itu konselor juga perlu terus meningkatkan keterampilan atau kemampuannya dalam berkomunikasi, bersosialisasi, berempati, serta selalu siap untuk membantu para siswa.

  

B. Perbedaan Persepsi Siswa Kelas X dan Kelas XI SMA Taman Madya

Jetis Yogyakarta Tahun Ajaran 2007/2008 Terhadap Layanan

  Perbedaan persepsi antara siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual dihitung dengan menggunakan teknik statistik uji beda mean (uji t).

  Perhitungan mean, standar deviasi, nilai t persepsi siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual disajikan pada tabel 10.

  Tabel 10

Perhitungan Mean, Standar Deviasi, Nilai t

Persepsi Siswa Kelas X dan Kelas XI SMA Taman Madya Jetis

  

Yogyakarta Tahun Ajran 2007/2008 Terhadap Layanan Konseling

Individual

Nilai Kelas X Kelas XI

Statistik

  N

  50

  48 M 117,84 114,58 S 10,56 10,44

  SM 2,32 2,35 2,17

  SD bm t 1,50 Db

  96 Keterangan: N = Jumlah tiap sampel M = Nilai rata-rata tiap sampel S = Simpangan baku tiap sampel SM = Standar kesalahan mean tiap sampel db = Derajat kebebasan kedua sample Berdasarkan t dengan t : emp tab Jika t > t maka Ha diterima dan Ho ditolak. emp tab Jika t < t maka Ha ditolak dan Ho diterima. emp tab

  Untuk taraf signifikansi 5% dengan db= 96. Nilai t = 1,30 tab diperoleh t = 1,50 lebih besar dari t = 1,30. Jadi dengan demikian emp tab hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis penelitian (Ha) diterima. Berarti ada perbedaan persepsi siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 Terhadap Layanan Konseling Individual.

2. Pembahasan

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hal persepsi, ada perbedaan yang signifikan antar siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual. Perbedaan ini terjadi mungkin disebabkan oleh siswa kelas X maupun kelas XI mempunyai pengalaman atau persepsi yang berbeda-beda saat melakukan konseling dengan konselor sekolah. Saat melakukan konseling tentunya masing- masing siswa mempunyai pengalaman yang berbeda-beda baik itu menyenangkan maupun tidak menyenangkan (tidak dihargai, diremehkan ketika mejalani konseling, dsb). Siswa yang dipanggil untuk melakukan konseling tentunya memiliki persepsi yang berbeda yang dipanggil akan beranggapan bahwa konseling hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang sering melanggar tata tertib sekolah. Berbeda halnya dengan siswa yang datang secara sukarela dan atas kesadaran sendiri, mereka akan beranggpan bahwa melalui layanan konseling mereka menjadi terbantu dalam mengatasi masalah yang mereka alami.

  Faktor kinerja dari konselor juga ikut berpengaruh terhadap persepsi siswa, sehingga terjadinya perbedaan persepsi antara siswa kelas X dan kelas XI. Dimana siswa kelas X persepsinya lebih baik dari pada siswa kelas XI. Hal ini mungkin dikarenakan kelas X dan kelas XI memiliki konselor yang berbeda-beda, sehingga dala m memberikan konseling individual kepada siswapun dengan cara yang berbeda. Siswa kelas X memiliki persepsi baik terhadap layanan konseling individual, walaupun mereka termasuk siswa baru di sekolah tersebut. Hal ini mungkin dikarenakan konselor memiliki relasi/hubungan yang baik dengan para siswa kelas X dan dalam memberikan layanan konselingpun sesuai dengan harapan para siswa. Artinya, dimana para siswa merasa terbantu dalam mengatasi berbagai permasalahan yang mereka alami setelah melakukan konsling dengan konselor. Siswa kelas XI memiliki persepsi cukup baik terhadap layanan konseling individual padahal mereka sudah melewatkan satu tahun di sekolah tersebut. Hal ini mungkin dikarenakan konselor pada saat mereka kelas X. Inilah yang mungkin mempengaruhi persepsi mereka terhadap layanan konseling individual, sehingga ada perbedaan persepsi antara siswa kelas X dan kelas XI.

  Ditinjau dari tingkat kelas, siswa kelas satu mungkin belum merasakan manfaat dari layanan konseling individual, karena mereka belum sering berinteraksi dengan konselor sekolah untuk melakukan konseling individual. Berbeda halnya dengan siswa kelas XI yang sudah melewatkan satu tahun di sekolah tersebut. tentunya mereka akan mempunyai persepsi yang berbeda dengan persepsi siswa kelas X terhadap layanan konseling individual. Siswa kelas XI tentunya sudah banyak melakukan interaksi dengan konselor, entah itu untuk konseling mengatasi masalah yang sedang dialami atau hanya sekedar untuk mencari informasi yang dibutuhkan yang berhubungan dengan kelanjutan sekolah mereka. Siswa kelas XI tentunya sudah bisa memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak baik, begitu juga halnya dengan persepsi mereka terhadap layanan konseling individual yang diberikan oleh konsleor, mereka dapat menilainya secara obyektif berdasarkan pengalaman mereka masing- masing tanpa terpengaruh opini dari orang lain tentang layanan konseling individual.

BAB V RINGKASAN, KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini disajikan ringkasan, kesimpulan dan saran-saran. Bagian

  ringkasan memuat rumusan masalah, metodologi, hasil penelitain. Bagian kesimpulan memuat kesimpulan dari hasil penelitian. Bagian saran memuat saran- saran yang ditunjukan bagi konselor sekolah, program studi bimbingan dan konseling, serta peneliti lain.

A. Ringkasan

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah persepsi para siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual dan adakah perbedaan persepsi siswa kelas X dan kelasa XI terhadap layanan konseling individual. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk memberikan gambaran nyata mengenai persepsi siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta terhadap layanan konseling individual.

  Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode survei. Subjek penelitian adalah siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman Madya Jetis Yo gyakarta tahun ajaran 2007/2008 yang berjumlah 233. Sampel penelitian berjumlah 98 siswa yang terdiri dari 50 siswa kelas X (X A dan X B). Dan 48 siswa.kelas XI (XI IPS 3 dan XI IPA). Instrumen penelitian yang dan akhirnya yang dinyatakan valid untuk penelitian 36 item. Peneliti menyusun sendiri item- item dalam kuesioner ini berdasarkan aspek-aspek konseling (Latipun 2003, Winkel dan Sri Hastuti, 2004). Pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 6-7 Juni 2008. Prosedur pengumpulan data meliputi 3 tahap yaitu: (1) persiapan yang mencakup kegiatan menyusun kuesioner dengan berkonsultasi ke dosen pembimbing, (2) uji coba kuesioner, dan (3) penelitian.

  Teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti untuk mengetahui kualifikasi persepsi siswa kelas X dan kelas XI terhadap layanan konseling individual adalah Penilaian Acuan Patokan 1 (PAP) tipe 1. Dengan menggunakan penilaian ini peneliti mengolongkan persepsi para siswa kelas X dan kelas XI terhadap layanan konseling individual dalam lima kualifikasi, yaitu “Sangat Baik”, “Baik”, “Cukup Baik”, “Tidak Baik”, dan “Sangat Tidak Baik”.

  Hasil penelitian menunjukan bahwa siswa yang memiliki persepsi baik atau positif ada 54 siswa yang terdiri dari 31 siswa di kelas X ( 5 siswa memiliki kualifikasi “sangat baik” / 10,0% dan 26 siswa yang memiliki kualifikasi “baik” / 52,0%) dan 23 siswa di kelas XI ( 6 siswa yang memiliki kualifikasi “sangat baik” / 12,5% dan 17 siswa yang memiliki kualifikasi “baik” / 35,4%). Dan ada sebagian siswa yang memiliki persepsi “cukup baik ” terhadap layanan konseling individual yang berjumlah 42 orang terdiri Baik” / 52,1%,), dan masih ada beberapa siswa kelas X yang memiliki kualifikasi “Tidak Baik”, dan “Sangat Tidak Baik” terhadap layanan konseling individual berjumlah 2 orang (1 siswa memiliki kualifikasi “Tidak baik” / 2,0% dan 1 siswa yang memiliki kualifikasi “Sangat Tidak baik” / 2,0%). Dan tidak ada siswa kelas XI yang memiliki kualifikasi “Tidak Baik ” dan “Sangat Tidak Baik” / 0%). Untuk melihat adakah perbedaan persepsi siswa kelas X dan kelas XI terhadap layanan konseling individual digunakan uji perbedaan dengan uji “t”, perhitungan mean, perhitungan standar kesalahan perbedaan mean. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan persepsi siswa kelas X dan kelas XI terhadap layanan konseling individual. Perbedaan tersebut terlihat dari mean masing- masing kelas (kelas X 117,84 dan kelas XI 114,58).

B. Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan, bahwa persepsi siswa kelas X dan kelas XI SMA Taman madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap layanan konseling individual sudah sangat baik dan baik (positif). Artinya melalui layanan konseling siswa merasa terbantu dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dialaminya sehari- hari. Dalam hal persepsi ada perbedaan antara siswa kelas X dan kelas

  XI SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 terhadap

C. Saran-saran

  Bertolak dari hasil penelitian, ada beberapa saran yang peneliti tunjukkan kepada konselor sekolah, program studi bimbingan dan konseling, serta peneliti lain.

  1. Konselor Sekolah (BK) Konselor sekolah mempunyai peranan penting dalam penyelenggaraan layanan konseling individual di sekolah. Oleh sebab itu konselor sekolah perlu meningkatkan wawasan serta keterampilannya khususnya dalam memberikan layanan konseling individual kepada siswa. Supaya para siswa lebih banyak lagi yang memanfaatkan layanan konseling individual.

  2. Program Studi Bimbingan dan Konseling Program studi Bimbingan dan Konseling perlulah untuk semakin mempersiapkan para calon konselor sekolah yang profesional, agar semakin profesional dalam memberikan pelayanan khususnya dalam memberikan layanan konseling individual.

  3. Peneliti Lain Bagi peneliti lain kiranya penelitian ini dapat menjadi suatu referensi yang berarti untuk penelitian yang serupa.

DAFTAR PUSTAKA

  Ahmadi Abu. (1977). Bimbingan dan Penyuluhan Di Sekolah. Semarang: CV Toha Putra.

  Alfian. (1985). Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan. Jakarta: Gramedia. Ali, Mohammad & Asrori, M. (2005). Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik ). Jakarta: Bumi Aksara.

  Arikunto, Suharsimi. (1989). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek .

  Jakarta: Rineka Cipta. ________________. (1997). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek .

  Jakarta: Rineka Cipta. ________________. (2002) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi V) . Jakarta: Rineka Cipta.

  Andi Mappiare. (1982). Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional. ____________. (2004). Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Grafindo Persada.

  Azwar. (1999). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Depdikbut Universitas Terbuka. (1984). Teori Belajar Dalam PBM dan Interaksi

  Manusia dalam PBM

  , Program Akta Mengajar VB Kependidikan Program Studi Teknologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbut UT.

  Djumhur.I & Surya.M. (1975). Bimbingan dan Penyuluhan Di Sekolah. Bandung:

  Furchan Arif. (1982). Pengantar Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

  Gulo Dali. (1984). Kamus Psikologi. Bandung: Tonis. Gulo.W (2002). Metodologi Penelitian. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Hadi Sutrisno. (2000). Statistik Jilid 2. Yogyakarta: Andi Offset. ___________. (2004). Metodologi Research Jilid 3. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Univesitas Gajah Mada.

  Hurlock.E. (1991). Psikologi perkembangan. Jakarta: Air Langga. _________ (1996). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Air langga . Irwanto, dkk. (1994). Psikologi Umum. Jakarta: Gramedia Pustaka utama. Jalaluddin Rakhmat. (1983). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT.Remaja Rosadakarya.

  ________________. (2003). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT.Remaja Rosadakarya.

  Kartini, kartono. (1985). Bimbingan dan dasar-dasar Pelaksanaannya; Teknik Bimbingan Praktis . Jakarta: CV. Rajawali.

  _____________. (1994). Psikologi Komunikasi. Bandung: Alumni. Latipun. (2001). Psikologi Konseling. Malang: Muhamadiyah University Press. Loka Karya Bimbingan Ke-II. (1974). Pusat Bimbingan universitas dan IKIP Kristen Satya Wacana. Salatiga.

  Masidjo. (1995). Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa Di Sekolah.

  Mulyono. (1978). Masalah Persepsi, Anda Volume 19. Jakarta: Yayasan Bima Psikologi.

  Nasution. (1982). Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Nawawi Handar. (1998). Metode Penelitian Bidang sosial. Yogyakarta: Gajdah Mada University Press.

  Nuggiyantoro,dkk. (2002). Statistik Terapan Untuk penelitian Ilmu-ilmu Sosial.

  Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Prayitno & Amti. (1987). Profesionalisme Konseling dan Pendidikan Konselor.

  Jakarta: P2LPK ______________. (2004). Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

  Sigit,Soehardi. (2001) Pengantar Metodologi Penelitian Sosial-Bisnis

  Manajemen . Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Sarjana Wiyata Taman siswa.

  Soesilo A.L.S. (1983). Gema Bimbingan (Bimbingan Sekolah Dasar). Salatiga: UKSW.

  Suardiman. (1981). Psikologi Konseling. Yogyakarta: Pere “STUDING”. Sukardi Dewa Ketut. (1984). Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan Di

  Sekolah . Jakarta: Bina Aksara.

  _________________. (1988). Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan Di Sekolah . Surabaya: Usaha Nasional.

  Surya.M. (1988). Dasar-dasar Penyuluhan (Konseling). Jakarta. P2LPTK. Syahril & Riska Ahmad. (1986). Pengantar Bimbingan dan konseling. Padang: Angkasa Raya.

  Syuhada.A.R. (1988). Bimbingan dan Konseling dalam Masyarakat dan . Jakarta: Depdikbut.

  Pendidikan Luar Sekolah Walgito Bimo. (1994). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.

  Wijaya Juhana. (1988). Psikologi Bimbingan. Bandung: PT Evesco Willis S. Sofyan. (2004). Konseling Individual (Teori dan Praktek). Bandung: Alfabeta.

  Willis S.S & Setyawan A. (1978). Membina Kebahagian Murid (Suatu Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan) . Bandung: Angkasa.

  Winkel W.S. (1997). Bimbingan dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia.

  Winkel W.S & Sri Hastuti. (2004). Bimbingan dan Konseling Di Institusi . Jakarta: Grasindo.

  Pendidikan

  Lampiran 1

KUESIONER (PENELITIAN)

PERSEPSI SISWA TERHADAP LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL

  IDENTITAS

  Jenis Kelamin : Laki- laki/Perempuan (coret yang tidak perlu) Kelas :…………………………… Tanggal Pengisian :………...………………….

KATA PENGANTAR

  Para siswa yang terkasih, pada kesempatan ini saya mohon kesediaan anda untuk menjawab pernyataan-pernyataan dalam kuesioner ini. Kuesioner ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi dari anda mengenai kegiatan konseling di sekolah khususnya layanan konseling individual. Anda diharapkan menjawab kuesioner ini dengan jujur, sesuai dengan pandangan atau penilaian anda. Jawaban tidak mempengaruhi nilai rapor anda. Jawaban akan diolah dan hasilnya diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas layanan bimbingan dan konsleing di sekolah, khususnya dalam membantu mengatasi permasalahan dan pengembangan diri anda. Kuesioner ini bukan suatu tes, sehingga tidak ada jawaban yang salah. Semua jawaban adalah benar, asal betul- betul sesuai dengan pendapat, pandangan dan keadaan diri anda.

  Mengingat pentingnya pendapat anda, hendaklah anda menjawab kuesioner ini dengan penuh kesungguhan dan kejujuran. bekerjalah seteliti mungkin. Jangan sampai ada nomor yang terlewati.

  Atas bantuan anda, saya mengucapkan banyak terima kasih.

PETUNJUK PENGISIAN

  

Konselor adalah: Guru pembimbing yang memiliki pengetahuan, wawasan, dan

keterampilan dalam membantu memecahkan masalah siswa.

Konseling adalah: Pertemuan tatap muka antara guru pembimbing dan siswa

dalam rangka membantu siswa memecahkan masalahnya.

  a. Bacalah pernyataan-pernyataan berikut dengan teliti. Kemudian tentukan bagaimana pandangan atau penilaian anda terhadap layanan konseling individual yang ada di sekolah anda.

   Alternatif jawaban adalah sebagai berikut: SS : Sangat Setuju S : Setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju tersebut, lalu berilah tanda centang ( v ) pada jawaban yang anda anggap lebih sesuai dengan pengalam anda. Untuk lebih jelas, dapat dilihat contoh dibawah ini:

  No Apakah pandangan atau penilaian anda terhadap layanan konseling individual seperti pernyataan- SS S TS STS peryataan berikut ini?

  1. Konselor hanya memanggil siswa yang bermasalah untuk konseling. v

  2. Pada saat konseling konselor memberi perhatian penuh pada siswa. v

  c. Jawablah semua pernyataan berikut dan periksalah kembali jawaban anda sebelum dikumpulkan.

  Apakah pandangan atau penilaian anda terhadap layanan

No konseling individual sepe rti pernyataan-peryataan berikut SS S TS STS

ini?

  1. Konselor memanggil siswa untuk konseling pada saat jam pelajaran berlangsung.

  2. Siswa menghadap konselor untuk mencari informasi, misalnya: studi lanjutan setamat SMA.

  3. Pada saat konseling, konselor berbicara melompat- lompat dari satu topik ke topik lain.

  4. Melalui konseling siswa lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

  5. Melalui konseling siswa semakin mampu membuat keputusan sendiri secara bijaksana dan bertanggung jawab.

  6. Setelah konseling siswa tidak mendapatkan jalan keluar malah masalah bertambah rumit.

  7. Konselor memberi saran/pemecahan masalah yang memuaskan untuk menyelesaikan masalah siswa.

  8. Selama konseling terjalin keterbukaan antara konselor dengan siswa sehingga konseling berjalan dengan lancar.

  9. Pada saat konseling, konselor memberi perhatian penuh pada siswa.

  10. Didalam memberikan konseling konselor tidak membeda- bedakan antara siswa laki- laki dan perempuan.

  11. Selama konseling, konselor menggunakan kata-kata yang sopan, halus dan tidak menusuk perasaan

  14. Dalam menyelesaikan masalah konselor memaksa siswa untuk bertindak sesuai dengan keinginnya.

  26. Konselor hanya membantu siswa yang disukainya saja dalam memecahkan masalah.

  34 Pada saat konseling berlangsung konselor berbicara terus menerus dan siswa hanya mendengarkan saja.

  33. Konselor selalu siap memberikan konseling pada siswa yang membutuhkan bantuannya.

  32. Pada saat konseling, konselor sering lupa apa yang telah diucapkan/dibicarakan oleh siswa.

  31. Meskipun masalah siswa berat namun konselor siap membantu siswa.

  30. Konselor memberikan konseling pada siswa yang sudah pernah dibantu sebelumnya.

  29. Konselor hanya membantu siswa yang memiliki masalah yang ringan.

  28. Selama konseling konselor melakukan pekerjaan lain sambil mendengarkan siswa.

  27. Pada saat konseling, konselor bersikap tenang menghadapi siswa yang bermasalah.

  25. Pada saat konseling berlangsung konselor melarang siswa untuk bertanya.

  15. Pada saat konseling konselor menerima berbagai macam pandangan dan perasaan yang diungkapkan oleh siswa.

  24. Melalui konseling konselor mampu menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa.

  23. Konselor mudah memarahi siswa saat konseling berlangsung.

  22. Pada saat konseling, konselor mampu menyimpulkan masalah yang sebenarnya dialami siswa.

  21. Pada saat konseling, konselor sabar mengahadapi siswa yang bermasalah.

  20. Konselor menganggap bahwa masalah yang dialami siswa sebagai masalah yang ringan.

  19. Konselor mampu menjaga rahasia siswa yang datang konseling.

  18. Pada saat konseling konselor menyalahkan siswa atas masalah yang dihadapi siswa.

  17. Pada saat konseling konselor menghargai siswa yang mengutarakan masalahnya

  16. Pada saat konseling konselor menggunakan kata-kata yang menyinggung perasaan.

  35. Dalam memberikan konseling konselor menerima keadaan siswa apa adanya.

  Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted

  VAR00032 176,9833 164,254 ,229 . ,865

  VAR00023 176,8000 165,756 ,100 . ,868

  VAR00024 176,3333 162,090 ,479 . ,861

  VAR00025 176,6833 166,457 ,130 . ,866

  VAR00026 176,3500 161,519 ,466 . ,861

  VAR00027 176,6000 161,905 ,463 . ,861

  VAR00028 176,4167 162,044 ,447 . ,862

  VAR00029 176,5833 162,654 ,342 . ,863

  VAR00030 176,7167 162,173 ,421 . ,862

  VAR00031 176,7833 169,223 -,053 . ,870

  VAR00033 176,3167 161,745 ,403 . ,862

  VAR00021 177,0667 166,673 ,102 . ,866

  VAR00034 176,5500 159,133 ,568 . ,859

  VAR00035 176,4333 158,182 ,604 . ,859

  VAR00036 176,4500 159,506 ,528 . ,860

  VAR00037 176,8333 161,870 ,397 . ,862

  VAR00038 176,5833 162,315 ,424 . ,862

  VAR00039 176,9500 164,319 ,230 . ,865

  VAR00040 176,6500 157,248 ,698 . ,857

  VAR00041 176,4667 161,033 ,404 . ,862

  VAR00042 176,5500 158,862 ,645 . ,859

  VAR00022 176,6667 163,209 ,324 . ,863

  VAR00020 176,5333 158,863 ,577 . ,859

  Scale Variance if Item Deleted Corrected

  VAR00008 177,8167 173,474 -,321 . ,872

  Item-Total Correlation Squared Multiple

  Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted

  VAR00001 176,8500 171,282 -,155 . ,872

  VAR00002 177,4000 168,651 -,020 . ,869

  VAR00003 177,2500 164,699 ,134 . ,867

  VAR00004 176,6000 161,464 ,373 . ,862

  VAR00005 177,2500 164,258 ,152 . ,867

  VAR00006 177,2333 162,860 ,252 . ,865

  VAR00007 176,5333 163,779 ,273 . ,864

  VAR00009 176,5500 164,557 ,312 . ,864

  VAR00019 176,9833 166,491 ,101 . ,867

  VAR00010 176,1667 165,056 ,232 . ,864

  VAR00011 176,4667 171,406 -,219 . ,870

  VAR00012 177,5333 172,355 -,197 . ,873

  VAR00013 176,5667 166,216 ,186 . ,865

  VAR00014 176,6167 161,766 ,432 . ,862

  VAR00015 176,5333 164,185 ,396 . ,863

  VAR00016 176,5667 164,385 ,310 . ,863

  VAR00017 176,5667 162,724 ,410 . ,862

  VAR00018 176,4333 163,504 ,328 . ,863

  VAR00043 177,2667 167,250 ,052 . ,868

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Persepsi siswa smp terhadap kompetensi kepribadian guru BK (studi deskriptif pada siswa SMP Taman Dewasa Jetis Kelas VIII tahun ajaran 2016/2017).
0
1
117
Deskripsi tingkat kedisiplinan siswa terhadap tata tertib sekolah kelas VIII SMP Taman Dewasa Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2015/2016 dan implikasi terhadap usulan topik-topik bimbingan pribadi-sosial.
0
0
75
Persepsi siswa smp terhadap kompetensi kepribadian guru BK (studi deskriptif pada siswa SMP Taman Dewasa Jetis Kelas VIII tahun ajaran 2016 2017)
0
1
115
Deskripsi sikap siswa kelas XI SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2011/2012 terhadap layanan bimbingan klasikal.
0
0
100
Tingkat kebiasaan belajar siswa dalam pelajaran ekonomi para siswa Kelas XI Program IPS SMA BOPKRI 1 Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008.
0
0
88
Sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis kelamin, prestasi belajar, minat menjadi guru, dan jenis pekerjaan orang tua : studi kasus siswa SMK Sanjaya Pakem Yogyakarta dan SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2
1
3
181
Perbedaan kemampuan menulis wacana narasi antara siswa peserta ekstrakurikuler jurnalistik dan bukan peserta ekstrakurikuler jurnalistik kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu, Bantul, Yogyakarta, tahun ajaran 2007/2008 - USD Repository
0
0
109
Deskripsi minat siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan tahun ajaran 2006/2007 terhadap kegiatan ekstrakurikuler - USD Repository
0
0
98
Kegunaan bimbingan dan konseling menurut para siswa kelas II SMA BOPKRI 2 Yogyakarta tahun ajaran 2006/2007 - USD Repository
0
0
71
Pengembangan silabus dan materi pembelajaran menyimak kritis dengan media rekaman berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk siswa kelas X semester I SMA Negeri 2 Sleman Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 - USD Repository
0
0
213
Motif-motif mempelari bahan mata pelajaran para siswa putra dan putri kelas II SMP Taman Dewasa Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 - USD Repository
0
0
49
Kompetensi konselor yang diharapkan oleh para siswa Kelas XI SMA Bopkri 2 Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 - USD Repository
0
0
96
Kemampuan menganalisis struktur batin dua puisi sajak Kaki Langit Majalah Horison edisi Oktober 2003 siswa Kelas X SMA Negeri I Karangmojo Gunungkidul Yogyakarta tahun ajaran 2004/2005 - USD Repository
0
0
101
Sikap-sikap guru pembimbing yang diharapkan para siswa kelas VII dan VIII SMP Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008 - USD Repository
0
0
113
Tingkat kedisiplinan para siswa putera dan puteri kelas VIII SMP Taman Dewasa Jetis Yogyakarta tahun ajaran 2008/2009 dalam peraturan sekolah - USD Repository
0
0
73
Show more