STUDI DESKRIPTIF TENTANG PROSES PENERIMAAN DIRI PADA ORANG DENGAN HIVAIDS

Gratis

0
0
136
3 months ago
Preview
Full text

  STUDI DESKRIPTIF TENTANG PROSES PENERIMAAN DIRI PADA ORANG DENGAN HIV/AIDS Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh : YB. Anggono Susilo NIM : 999114069 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

  

Karya ini aku persembahkan untuk

Keluargaku, teman-teman Odha &

semua pihak yang tengah berjuang,

mencurahkan pikiran,

meluangkan waktu dan kerja kerasnya

untuk penanggulangan HIV/AIDS.

  

ABSTRAK

YB. Anggono Susilo

Studi Deskriptif Tentang Proses Penerimaan Diri Pada Orang Dengan HIV/AIDS

  

Fakultas Psikologi

Universitas Sanata DharmaYogyakarta

2007

  Mengadapi kenyataan mengidap penyakit yang membahayakan seperti

HIV/AIDS bukanlah hal yang mudah. Bagi sebagian besar Orang dengan HIV/AIDS

(Odha), mengidap penyakit ini berarti menghadapi bayangan kematian yang lebih

cepat dari orang lain.

  Kubler-Ross melalui teori Tahapan kematian-nya mengemukakan bahwa

seorang individu akan melewati 5 fase spesifik menjelang kematian. Kelima fase

tersebut adalah penyangkalan, kemarahan, tawar menawar, depresi dan penerimaan.

Selain itu, konsep Rogers mengenai aktualisasi diri juga digunakan untuk melihat

cara kedua responden menghadapi kenyataan bahwa mereka sudah terinfeksi HIV.

Penelitian ini berusaha untuk memahami proses penerimaan diri pada 2 Odha dan

bagaimana reaksi mereka ketika pertama kali mengetahui statusnya.

  Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode

wawancara mendalam (depth intervie). Data yang diperoleh melalui wawancara,

diperiksa kembali kejelasan dan relevansi dengan permasalahan penelitian. Koding

digunakan untuk membantu memetakan tema-tema yang muncul dalam proses

penerimaan diri pada Odha.

  Hasil penelitian menggambarkan bahwa kedua responden mengalami

kelima fase menjelang kematian menurut teori Ross, meski satu responden memiliki

rasa marah yang lebih besar yang disebabkan perlakuan diskriminasi yang pernah ia

alami. Informasi yang kurang proporsional tentang HIV/AIDS merupakan salah satu

pemicu stress pada responden.

  

ABSTRACT

  YB. Anggono Susilo Self Acceptance Process on People Living With HIV/AIDS (a Descriptive Study)

  Psychology Faculty Sanata Dharma University, Yogyakarta

  2007

  It is not easy for someone to face the reality that they are infected by a deadly

disease such as HIV/AIDS. For most people living with HIV/AIDS (PLWHA), being

infected by this disease means that they are facing the death faster than other people.

Kubler-Ross with the stages of death theory, said that someone will pass 5 spesifik

phase before they died. They are: Denial, Anger, Bargaining, Depression ang

Acceptance. Rogers theory on self actualization also used to see how these two

PLWHA facing the truth that they are already infected by HIV. This research is trying

to describe the self acceptance process on two PLWHA and how was their first time

reaction when they knew that they are HIV positive.

  Data gathering method that is used in this research is depth interview. Data

analysis method that is used to analyze is qualitative data analysis,which is to analyze

data that based on relevant quality of data and the main problem of this research.

Coding is used to help organizing the theme which found in the self acceptance

process.

  The study of this finding is that the two PLWHA were passing the five

phase of death. One PLWHA has more bigger anger, it was caused by the

discrimination that he received. Unproportional information about HIV/AIDS was

one of the stress causal.

  

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah swt atas berkat dan karunia-Nya, sehingga

karya ini dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini hanyalah secuil dari begitu

banyak masalah Odha yang masih sering terjadi ketika mengakses pusat layanan

kesehatan. Dalam proses penyelesaiannya, tentu saja ada beberapa kendala yang

dihadapi, namun berkat kerja keras dan dukungan dari banyak pihak semuanya dapat

diatasi dengan baik. Atas semua kebaikan tersebut dilembar ini juga penulis ingin

menyampaikan ucapan terimakasih kepada :

  

1. Ibu Lusia Pratidarmanastiti, M.Si, Dosen Pembimbing Skripsi yang telah

memberi masukan dan dukungan kepada saya hingga karya ini dapat diselesaikan dengan baik.

  

2. Bp. P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si, Dekan Fakultas Psikologi Universitas

Sanata Dharma.

  3. Ibu Sylvia CMYM, S.Psi., M.Si. Kaprodi Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  

4. Mbak Nanik, Mas Gandung, Pak Giyono, Mas Muji, Mas Doni, dan semua staf/

karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah membantu kelancaran administrasi dan studi saya selama ini.

  5. Semua dosen di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  6. Mbak Christin dan Mas Ardhian untuk support yang tidak pernah ada habisnya.

  7. Bapak dan Ibu untuk doa-doanya. Terimakasih untuk semuanya.

  8. Mas Tom, Mbak Rina, Salila, Mbak Rita, Mbak Retno juga Mas Bayu.

  

9. Dyd, terimakasih untuk segala pengertian, dan kesediaan untuk berbagi dalam

  

10. Mbak Yani dan Mas Yayang, 2 orang sahabat yang telah memberi inspirasi untuk

menyelesaikan penulisan karya ini. Semoga kalian mendapat tempat yang layak disisi-Nya.

  11. Kawan-kawan di Sanggar Anak Alam, Nitiprayan.

  

12. Mas Onny dan Mbak Christin, Haryo, Nandha dan Cacha, untuk tempat yang

disediakan di waktu penat.

  13. Lik No sekeluarga, yang setia menggarap sawah.

  

14. Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu saya yang tidak dapat saya

sebutkan satu-persatu.

  Saya sangat menyadari bahwa seketat apapun kontrol yang dilakukan

pada setiap proses pasti masih saja ada hal-hal yang luput dari perhatian, begitu juga

dengan karya ini yang pasti masih jauh dari sempurna. Untuk itu saya sangat

mengharapkan tanggapan, kritik, dan saran demi perbaikan di masa mendatang.

  Semoga bermanfaat bagi kita semua.

  Salam, YB. Anggono Susilo

  DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL …………………………………………………… i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ……………………….. ii

HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………….. iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……………………………….. v

ABSTRAK ……………………………………………………………... vi

ABSTRACT …………………………………………………………… vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS .................. viii

KATA PENGANTAR …………………………………………………. ix

DAFTAR ISI …………………………………………………………… xi

DAFTAR TABEL ……………………………………………………... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ..........................………………………………... xiv

BAB I. PENDAHULUAN ……………………………………………...

  1 A. Latar Belakang Masalah ..........................………………………. 1

B. Rumusan Masalah …………………………………………....

  7 C. Tujuan Penelitian ………………………………………………..

  7 D. Manfaat Penelitian ……………………………………………...

  8 BAB II. DASAR TEORI ………………………………………….

  9 A. Orang dengan HIV/AIDS (Odha) .................................................. 9 1. Definisi Orang dengan HIV/AIDS (Odha) .............……...

  9

  2. HIV/AIDS ............…………………………………..…… 9

  3. Tahap dan Gejala HIV/AIDS ..............…………………... 10 4. Penularan dan Pencegahan ...............…………………....

  11

  5. Tes HIV.......... ………………………………………….... 13

  6. Stigma dan Diskriminasi ...........................................……. 16

  B. Proses Penerimaan Diri .................................................................. 17

  2. Proses Penerimaan Diri Menurut Carl R. Rogers .............. 19

  1. Latar Belakang Subyek ...................................................... 29

  d. Tahap keempat : Depresi ................................................ 51

  c. Tahap ketiga : Tawar-menawar ...................................... 50

  b. Tahap kedua : Marah ...................................................... 47

  

1. Proses penerimaan diri subyek dalam teori tahapan

kematian Kübler Ross ........................................................ 45 a. Tahap pertama : Penyangkalan dan pengasingan diri .... 45

  40 C. Pembahasan ............. ...... ................................................................ 45

  2.1 Reaksi Subyek M ......................................................... 35 2.2 Reaksi Subyek V .........................................................

  2. Reaksi dan proses penerimaan diri subyek ketika mengetahui status HIV ....................................................... 34

  1.2 Subyek V ...................................................................... 33

  1.1 Subyek M ..................................................................... 30

  B. Deskripsi Penemuan ....................................................................... 29

  C. Proses Penerimaan Diri pada Orang dengan HIV/AIDS ............... 22 BAB III. METODE PENELITIAN ................…………………………...

  29 A. Persiapan Penelitian ....................................................................... 29

  BAB IV. HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN

  H. Metode Analisis Data ..................................................................... 27

  G. Prosedur Penelitian ......................................................................... 26

  F. Metode Pengumpulan Data ............................................................. 25

  24 E. Batasan Kajian Penelitian ................................... ……………….. 25

  24 D. Subyek Penelitian .....................................……………………….

  B. Variabel Penelitian .............................……………………….... 24

C. Definisi Operasional ......................................................................

  24 A. Jenis Penelitian ……………………………….........................…. 24

  e. Tahap kelima : Menerima ............................................... 56

  

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ....……………………………… 64

A. Kesimpulan ...................................................................................... 64 B. Saran ................................................................................................. 65

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 67

LAMPIRAN ............................................................................................. 70

  DAFTAR TABEL Tabel 1. Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Golongan Umur ........

  3 Tabel 2. Jumlah Kumulatif Kasus AIDS/HIV Menurut Faktor Risiko ....

  3 Tabel 3. Guideline Interview ....................................................................

  27 Tabel 4. Profil masing-masing Subyek ....................................................

  30 Tabel 5. Reaksi subyek pertama kali mengetahui status HIV....................

  34 Tabel 6. Reaksi tahap pertama: penyangkalan dan pengasingan diri.........

  45 Tabel 7. Reaksi tahap kedua : Marah ......................................................... 47

Tabel 8. Reaksi tahap ketiga: Tawar-menawar ........................................... 50

Tabel 9. Reaksi tahap keempat: Depresi ..................................................... 51

Tabel 10. Reaksi tahap kelima: Menerima ................................................. 56

Tabel 11. Aktualisasi diri kedua subyek ..................................................... 61

  L A M P I R A N

  1. Guideline Wawancara

  2. Transkrip Wawancara Subyek M

  3. Transkrip Wawancara Subyek V

  stigma yang berujung pada diskriminasi terhadap mereka yang mengidap virus tersebut. Awalnya, pada bulan Juni 1981, laporan pertama mengenai kasus yang menyerupai sindroma Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) dipublikasikan di Amerika Serikat. Laporan tersebut memuat kasus tentang gejala penyakit yang tidak biasa yaitu pneumocystis pneumonia dan sarcoma Kaposi serta penurunan daya tahan tubuh yang tidak jelas sebabnya yang ditemukan di kalangan lelaki homoseksual. Berbagai pihak merespon laporan tersebut, terutama media massa. Bagian yang mendapat porsi besar dalam berita adalah bagian yang menyebutkan para penderita adalah homoseksual. Berita tersebut direspon oleh seorang pendeta evangelis melalui acara televisi di Amerika dengan mengatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit kaum pendosa. Sejak itu kaitan AIDS dengan homoseks menjadi topik diseluruh dunia. Pemuka-pemuka agama lainnya pun percaya bahwa AIDS adalah penyakit kutukan Tuhan terhadap kaum homoseksual (Mohammad, 2003). Saat penyakit ini ditemukan juga diantara perempuan pekerja seks di New York, semakin kuat alasan untuk mengaitkan AIDS dengan rusaknya moralitas.

  Ketika penyebab virus dan cara penularan ditemukan pada tahun

  2

menular dengan banyak cara. Beban stigmatisasi ini antara lain berperan

dalam penanggulangan dan pencegahan terhadap HIV menjadi lebih lambat

dibandingkan kecepatan penyebarannya. Di Indonesia, pejabat-pejabat

pemerintah pernah menyanggah AIDS bisa masuk ke negara ini karena bangsa

ini adalah bangsa yang beragama dan ber-Pancasila. Banyak diantara kita

yakin bahwa HIV/AIDS adalah penyakit orang asing atau turis, dan orang

“baik-baik” tidak akan tertular. Sikap penyanggahan dan menyalahkan orang

lain masih terus berlangsung hingga saat ini. Banyak diantara kita yang tidak

menyadari bahwa penyebaran HIV secara perlahan akan menggerogoti sumber

daya manusia yang masih berada dalam usia produktif, karena HIV/AIDS

menyerang dengan sangat perlahan. (Mohammad, 2003) Kasus HIV/AIDS pertama di Indonesia ditemukan tahun 1987,

ketika seorang warga negara Belanda meninggal di Bali karena AIDS. Tahun

berikutnya warga negara Indonesia yang pertama meninggal karena AIDS di

propinsi yang sama. Kasus-kasus baru terus bermunculan dan semakin hari

semakin meningkat. Secara kumulatif pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS

di Indonesia dari bulan April 1987 hingga 31 Juni 2007, terdiri dari: 5.813

kasus HIV dan 9.689 kasus AIDS, Jumlah kasus HIV dan AIDS: 15.502

dengan kematian: 2.118 orang. Dari total jumlah tersebut, kasus AIDS paling

banyak terjadi pada kelompok usia produktif 20-49 tahun.

  3 Tabel 1 Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Golongan Umur Golongan Umur AIDS AIDS/IDU

  < 1

  

38

1 - 4

88

5 - 14

  

32

  3 15 - 19 258 101 20 - 29 5219 3269 30 – 39 2688 1083 40 - 49 787 164 50 - 59 210

  25 > 60

  

49

  6 Tak Diketahui/ Unknown

  320 107 Sumber: Ditjen PPM & PL Depkes RI, 31 Juni 2007, www.lp3y.org Ket: AIDS/IDU: Jumlah kasus AIDS yang berasal dari IDU (intravenous drugs user)

  Sementara, berdasarkan faktor risiko penularan, kasus paling banyak terjadi melalui hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik (intravenous drug user /IDU atau dikenal pula dengan istilah pengguna narkoba suntik yang disingkat: penasun).

  Tabel 2 Jumlah Kumulatif Kasus AIDS/HIV Menurut Faktor Risiko Faktor Risiko AIDS Heteroseksual 4079 Homo-Biseksual 397

  IDU 4757 Transfusi Darah

  10 Transmisi Perinatal 155 Tak Diketahui/ Unknown

  291 Tak Disebut/ Not Reported

  Sumber: Ditjen PPM & PL Depkes RI, 31 Juni 2007, www.lp3y.org

  4 Tabel diatas sangat menarik karena kita dapat melihat dengan jelas

bahwa kasus HIV/ AIDS yang paling banyak justru tidak terjadi di kalangan

homoseksual. Sejak 1985 sampai tahun 1996 kasus AIDS di Indonesia masih

amat jarang dan sebagian besar berasal dari kelompok homoseksual. Sejak

pertengahan tahun 1999 mulai terlihat peningkatan tajam terutama akibat

penularan melalui narkotika suntik. Data yang ada memperlihatkan bahwa

epidemi HIV/AIDS di Indonesia sudah berada dalam tahap lanjut. Penularan

terjadi melalui berbagai cara, baik melalui hubungan homoseksual,

heteroseksual, jarum suntik pada pengguna narkotika, transfusi komponen

darah, dan dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayi yang dilahirkannya. Infeksi

HIV/AIDS juga telah mengenai semua golongan masyarakat, baik kelompok

risiko tinggi maupun masyarakat umum. Jika pada awalnya, sebagian besar

odha berasal dari kelompok homoseksual maka kini telah terjadi pergeseran

dimana persentase penularan secara heteroseksual dan pengguna narkotika

semakin meningkat.

  Di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, berdasarkan laporan dari

Direktorat Jenderal PPM & PL Departemen Kesehatan, hingga 31 Juni 2007

tercatat jumlah kumulatif 102 kasus AIDS, 61 kasus diantaranya berasal dari

penasun (pengguna narkoba suntik). Dari jumlah tersebut, tercatat 15 orang

meninggal dunia.

  Statistik jumlah kasus diatas hanyalah gambaran kasar mengenai

  5

istilah fenomena gunung es, yaitu kasus yang diketahui hanyalah sebagian

kecil dari jumlah kasus yang sesungguhnya terjadi. Lonjakan jumlah kasus

kumulatif HIV/AIDS secara tiba-tiba pada suatu daerah disebabkan oleh masa

inkubasi HIV yang relatif lama. Kenyataannya, sebenarnya lebih banyak yang

terinfeksi daripada jumlah yang tercantum dalam statistik. Badan Kesehatan

Dunia (WHO) bahkan pernah memperkirakan bahwa dari satu kasus HIV

positif di suatu wilayah yang tingkat prevalensi HIV-nya tinggi, terdapat

seratus kasus HIV lain yang tidak terdeteksi (Harahap, 2000).

  Mitos, salah pengertian, stigma, diskriminasi serta berbagai

perlakuan yang kurang mengenakkan bagi mereka yang terinfeksi HIV/AIDS

ternyata belum berubah dari sejak pertama kali virus ini ditemukan hingga saat

ini. Stigma dan diskriminasi ini membuat banyak Orang dengan HIV/AIDS

(Odha) tidak mendapat hak-haknya sebagai manusia, misalnya dikeluarkan

dari pekerjaan, dikucilkan dari pergaulan, mendapat perlakuan yang berbeda

saat berobat dan sebagainya. Sebagai contoh, pada awal tahun 2007, 43 Odha

dilarang melakukan kegiatan pertemuan di hotel Fujita, Manokwari Provinsi

Irian Jaya Barat. Alasan pihak manajemen hotel adalah pertemuan para Odha

itu akan membawa citra negatif pada hotel yang baru berdiri tiga bulan itu.

  Kasus lain menimpa pasangan N dan S di Sulawesi Selatan. S adalah

lelaki sehat yang secara sadar memilih N, perempuan yang HIV positif

sebagai pasangan hidupnya. Berbagai perlakuan diskriminatif kemudian

  6 Odha. Tak ada penjelasan lain dari pimpinannya, yang hanya mengatakan

bahwa S terkena kasus sehingga tidak diperbolehkan lagi bekerja. Cercaan

dari orang tua dan kerabatnya juga harus dihadapi, tradisi mengunjungi orang

tua seusai akad nikah berakhir tragis karena pengantin baru ini justru diusir

karena mereka dianggap membawa aib (Julianto, 2002; 319).

  Ketertarikan penulis untuk membuat penelitian mengenai proses

penerimaan diri pada Odha diawali dari cerita mengenai perlakuan

diskriminatif yang dialami oleh V, seorang Odha yang tinggal di Yogyakarta.

Ketika itu ia sedang sakit dan dirawat disebuah rumah sakit swasta. Tanpa

sepengetahuannya, karena waktu itu ia dalam keadaan setengah sadar,

darahnya diambil untuk dites. Petugas rumah sakit pun tidak meminta ijin

kepada rekan V yang menjaga. Beberapa hari kemudian, ketika dokter

melakukan visite, dihadapan keluarga V yang saat itu berada diruangan, dokter

tersebut mengatakan bahwa V positif HIV. Setelah itu perlakuan yang

diterima V dari pihak rumah sakit sangat berbeda. Ia dipindahkan beberapa

kali di ruang isolasi. Suatu kali jarum infus ditangan V letaknya bergeser

sehingga mengakibatkan darah keluar dan jatuh berceceran di lantai, tidak ada

perawat yang membantu membenahi jarum atau pun sekedar membersihkan

ceceran darah yang ada. Beberapa perawat tampak ragu-ragu dan takut bila

berada didekatnya. Bahkan V pernah disarankan untuk dirujuk ke sebuah

rumah sakit lain tanpa alasan yang jelas namun ia menolaknya (wawancara

pribadi, 2005).

  7 Bagi Odha, perlakuan diskriminatif dan stigma negatif dari masyarakat menjadi bayangan yang lebih menakutkan dan menyakitkan dibandingkan virus HIV itu sendiri. Seseorang yang mengetahui bahwa dirinya terinfeksi HIV, biasanya mengalami stres dan depresi karena selain harus menghadapi bayangan stigma dan diskriminasi juga ada anggapan bahwa terinfeksi HIV sama dengan sebuah vonis kematian. Ketakutan- ketakutan itulah yang membuat relasi dengan orang lain menjadi agak terhambat. Berangkat dari fenomena tersebut, saya ingin meneliti lebih jauh mengenai proses penerimaan diri Odha.

  

Masalah pokok penelitian ini saya rumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimana reaksi Odha ketika pertama kali mengetahui statusnya?

  2. Bagaimana proses penerimaan diri Odha?

  Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mendeskripsikan reaksi Odha pada saat mengetahui statusnya.

  8

  Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :

  1. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai bahan masukan dalam proses dalam pendampingan Odha oleh lembaga pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap Odha.

  2. Manfaat Teoretis: Bagi ilmu psikologi, penelitian ini dapat memberikan masukan bagi khasanah psikologi mengenai proses penerimaan diri khususnya pada orang dengan HIV/AIDS (Odha), terutama dalam pendampingan terhadap Odha sebagai tindak lanjut dari pre konseling dan post konseling yang sudah dijalani saat melakukan test HIV.

  1. Definisi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) Orang yang terinfeksi HIV dalam disebutkan dalam bahasa Inggris PLWA (People Living with AIDS) sedangkan yang baru pada tahap terinfeksi dan orang disekitarnya disebut PLWHA (People Living with HIV/AIDS ). Di Indonesia, masing-masing kategori ini diberi nama Odha (Orang dengan HIV/AIDS) dan Ohidha (Orang yang Hidup dengan HIV/AIDS), yaitu Odha sendiri, keluarga serta lingkungannya. Tetapi belakangan ini disepakati untuk hanya memakai istilah Odha. Istilah Odha diperkenalkan oleh Prof. Anton M. Moeliono, dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud setelah diskusi dengan staf Yayasan Pelita Ilmu. Istilah ini dinilai lebih netral dan dinamis daripada menyebut penderita, pengidap, korban dan lain-lain (Harahap, 2000).

  2. HIV/AIDS AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala-gejala penyakit yang diidap seseorang yang sudah terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency virus). Acquired Immune Deficiency Syndrome bila diindonesiakan berarti sindrom cacat kekebalan

  10

berarti, AIDS bukan penyakit keturunan tetapi cacat karena sistem

kekebalan tubuh dirusak setelah seseorang terinfeksi HIV (Harahap,

2000).

  Setelah seseorang terinfeksi HIV, kekebalan tubuh akan berangsur-

angsur berkurang dan akhirnya akan menghilang. Pada fase I, orang yang

terinfeksi HIV sama kondisinya dengan orang yang sehat. Pada fase ini

belum ada gejala yang tampak sebagai gejala AIDS. Fase ini berlangsung

5-7 tahun tergantung dengan kondisi sistem kekebalan tubuh seseorang.

Setelah fase tanpa gejala, pada fase II muncul gejala-gejala awal penyakit

yang berkaitan dengan HIV (HIV related illnes). Tahap ini belum dapat

disebut dengan gejala AIDS. Gejala dalam fase II antara lain :

  a. Hilang selera makan

  b. Berkeringat berlebihan di malam hari

  c. Diare terus menerus

  d. Flu tidak sembuh-sembuh

  e. Tubuh lemah

  f. Pembengkakan kelenjar getah bening

Fase ini berlangsung 6 bulan sampai dengan 2 tahun. Meski demikian

sebenarnya tidak ada gejala yang pasti dalam fase ini. Fase III atau Fase

AIDS baru dapat terdeteksi ketika kekebalan tubuh sudah sangat

  11

oportunistik antara lain: TBC, pneumonia, sarcoma Kaposi, herpes, dan

sebagainya. Harus diperhatikan bahwa seseorang yang mengidap penyakit

itu belum tentu dapat dipastikan AIDS karena penyakit tersebut juga dapat

menyerang orang yang tidak terinfeksi HIV. Fase III ini biasanya

berlangsung 3-6 bulan (PKBI, 1995).

  Karena AIDS bukan penyakit, AIDS tidak menular. Yang menular

adalah HIV, yaitu virus yang menyebabkan tubuh mencapai masa AIDS.

  

Virus ini terdapat dalam darah, cairan sperma dan cairan vagina. Pada

cairan tubuh lain konsentrasi HIV sangat rendah sehingga tidak dapat

menjadi media penularan. Tidak ada gejala khusus jika seseorang

terinfeksi HIV. Gejala klinis baru tampak pada tahap AIDS. Meski tanpa

gejala-gejala klinis, seseorang yang sudah positif HIV dapat menularkan

virus ini pada orang lain melalui cara-cara dan kondisi yang sangat

spesifik.

  Ada empat cara penularan HIV. Pertama, melalui hubungan

seksual dengan seorang pengidap HIV tanpa menggunakan kondom.

  

Kedua, HIV dapat menular melalui transfusi darah yang yang sudah

tercemar virus tersebut. Cara ketiga, dari seorang ibu yang mengidap HIV

dapat pula menularkan pada anak yang dikandungnya. Penularan ini

terjadi pada saat darah atau cairan vagina ibu membuat kontak dengan

  12

proses melahirkan. Dan cara keempat, orang dapat terinfeksi melalui

penggunaan jarum suntik, tindik dan tato yang sudah dipakai oleh orang

yang terinfeksi HIV tanpa disterilkan terlebih dahulu (Harahap, 2000).

  HIV sangat mudah mati diluar tubuh manusia dan sangat sensitif terhadap suhu. HIV tidak menular melalui: a. Bersentuhan, bersenggolan, berpelukan, berciuman, bersalaman dengan Odha b. Menggunakan peralatan makan bersama Odha

  c. Terkena ludah, keringat atau air mata Odha

  d. Berenang atau menggunakan fasilitas umum lain seperti telepon umum, angkutan umum bersama Odha.

  e. Gigitan nyamuk atau serangga

Risiko penularan HIV dapat dikurangi dengan beberapa cara:

a. Bagi yang belum aktif melakukan kegiatan seksual: tidak melakukan hubungan seks sama sekali.

  b. Bagi yang sudah aktif melakukan kegiatan seksual: 1) Hubungan seks mitra tunggal

  c. Menggunakan kondom

  d. Mengobati infeksi menular seksual (bila ada)

  e. Mensterilkan alat-alat yang dapat menularkan HIV (jarum suntik,

  13 f. Hanya melakukan transfusi darah yang bebas HIV.

  g. Ibu hamil yang positif HIV memerlukan pendampingan khusus.

  Tenggang waktu pertama setelah HIV masuk ke dalam tubuh disebut masa jendela atau window period. Pada rentang waktu ini tes HIV akan menunjukkan hasil yang negatif. Meski seseorang yang terinfeksi HIV baru berada masa jendela, tetap saja dia bisa menularkan pada orang lain (Harahap, 2000).

  Jika seseorang terinfeksi oleh suatu virus, maka tubuhnya akan memproduksi antibodi untuk melawan infeksi tersebut. Antibodi ini diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh. Antibodi jauh lebih mudah dideteksi daripada virusnya. Sebagian besar tes antibodi HIV mendeteksi antibodi terhadap HIV dalam sampel darah. Jika tidak ada antibodi yang terdeteksi, hasilnya adalah seronegatif atau HIV negatif. Sebaliknya, jika ada antibodi terhadap HIV, berarti hasilnya seropositif atau HIV positif. Walau pun demikian, suatu tes bisa saja memberi hasil negatif bila orang yang dites baru saja terinfeksi. Hal ini dapat terjadi karena tubuh kita membutuhkan waktu beberapa minggu untuk mulai menghasilkan antibodi sejak terjadinya infeksi. Antibodi biasanya dapat dideteksi sekitar 3-8 minggu setelah terinfeksi, dan masa ini disebut periode jendela (window

  14

negatif karena antibodinya belum terbentuk sehingga belum dapat

dideteksi , tapi ia sudah bis menularkan HIV pada orang lain lewat cara-

cara yang sudah disebutkan terdahulu. Tes darah yang dilakukan biasanya

menggunakan tes ELISA (enzyme linked immunosorbent assay) yang

memiliki sensitivitas tinggi - namun spesifikasinya rendah. Bila pada saat

tes ELISA hasilnya positif, maka harus dikonfirmasi dengan tes Western

Blot, yaitu jenis tes yang mempunyai spesifikasi tinggi namun

sensitivitasnya rendah. Karena sifat kedua tes ini berbeda, maka biasanya

harus dipadukan untuk mendapatkan hasil yang akurat. Selain kedua jenis

tes tadi, ada juga jenis tes lain yang mampu mendeteksi antigen (bagian

dari virus), yaitu NAT (nucleic acid amplification technologies) dan PCR

(polymerase chain reaction).

  Selain untuk mengetahui status HIV seseorang, tes HIV merupakan

cara untuk menyeleksi darah donor supaya diketahui apakah darah yang

disumbangkan benar-benar layak dan bebas HIV. Disamping itu, tes HIV

digunakan untuk surveillance test, yang bertujuan untuk mengetahui

seberapa jauh epidemi HIV/AIDS tersebar dalam kelompok masyarakat.

  Status HIV seseorang terbagi menjadi tiga: posistif, negatif dan

tidak diketahui. Orang-orang yang belum menjalani tes HIV statusnya

tergolong tidak diketahui dan bukan negatif, karena status negatif atau

positif hanya dapat diketahui melalui tes HIV. Hasil tes hanya

mencerminkan status seseorang pada saat tes. Bila seseorang tidak

  15

menjaga diri agar tidak terinfeksi, meski hasil tes sebelumnya negatif, bisa

jadi disaat lain masuk kategori positif.

  Tidak semua orang harus menjalani tes HIV. Tes tersebut

disarankan bagi mereka yang mempunyai perilaku berisiko tinggi tertular

HIV. Yang dimaksud dengan perilaku berisiko adalah melakukan

hubungan seksual tanpa kondom dengan berganti-ganti pasangan,

menerima transfusi darah yang tidak diskrining HIV, atau memakai jarum

suntik bersama. Selain itu, tes dianjurkan oleh dokter yang menemukan

gejala minor atau mayor AIDS pada pasiennya. Tes HIV harus bersifat :

  

1. Sukarela : artinya bahwa seseorang yang akan melakukan tes HIV harus

berdasarkan atas kesadarannya sendiri, bukan atas paksaan atau tekanan

orang lain. Ini juga berarti bahwa seseorang setuju untuk dites setelah

mengetahui hal-hal apa saja yang tercakup dalam tes itu, apa keuntungan

dan kerugian dari testing, serta apa saja impilkasi dari hasil tes baik positif

atau pun hasil negatif.

  

2. Rahasia : artinya, apa pun hasil tes ini nantinya (baik positif maupun

negatif) hasilnya hanya boleh di beritahu langsung kepada orang yang

bersangkutan. Tidak boleh diwakilkan kepada siapa pun, baik orang tua,

pasangan, atasan atau siapapun.

  Sebelum seseorang melakukan tes HIV, diberikan konseling pretes.

Saat konseling akan ditanyakan apakah seseorang yang akan melakukan

tes pernah melakukan perilaku berisiko. Bila tidak maka diambil

  16 yang memiliki gejala mayor atau minor jelas disebabkan penyakit lain. Kejujuran seseorang terhadap diri sendiri dan konselor memegang peranan sangat penting dalam proses ini. Berdasarkan pertukaran informasi saat konseling pretes, orang dapat dengan bebas menentukan apakah proses akan dilanjutkan atau tidak. Tes HIV baru dapat dilakukan jika sudah ada pernyataan tertulis (informed consent) dari orang yang akan dites. Pernyataan tertulis itu dibuat setelah dijelaskan prosedur dan dampak atau konsekuensi hasil tes itu kelak (Harahap, 2000).

  Tes HIV harus dilakukan dengan menjaga asas konfidensialitas dan harus menjamin hak asasi orang yang dites. Dengan kata lain data harus anonim dan hasil tes hanya boleh diketahui oleh dokter atau konselor yang bersangkutan. Hak menolak tes maupun hak atas kerahasiaan identitas adalah hak asasi yang tidak boleh diganggu gugat. Odha berhak untuk memilih orang lain yang akan diberi tahu mengenai statusnya.

  Pernyataan Bruyn (1988) dalam Dokumentasi tentang Pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap Orang dengan HIV/AIDS di Indonesia (Yayasan Spiritia, 2001), Stigma adalah ekspresi dari norma sosial dan budaya, yang membentuk hubungan antar manusia menurut norma-norma tersebut.

  Orang-orang yang distigma biasanya dianggap memalukan untuk alasan- alasan tertentu dan sebagai akibatnya mereka dipermalukan, dihindari, ditolak, didiskreditkan, ditahan atau dihukum.

  17 Diskriminasi didefinisikan oleh UNAIDS pada tahun 1988 sebagai tindakan yang disebabkan pembedaan yang menghakimi terhadap orang- orang berdasarkan status HIV mereka, baik yang pasti maupun yang diperkirakan atau keadaan kesehatan mereka. Definisi operasional yang lebih luas menurut Anti-Discrimination Board di New South Wales, Australia, tahun 1992, berkisar dari kekasaran sikap, yang hampir tak kelihatan sampai kekerasan fisik. Bisa bermanifestasi dalam bentuk- bentuk yang nampak bisa diterima dan dibenarkan, atau dalam perilaku yang patologi ekstrim, kadang-kadang bisa sangat eksplisit, tetapi lebih sering halus, canggih dan sulit didefinisikan.

  Menerima kenyataan mengidap penyakit mematikan membutuhkan proses tersendiri. Elizabeth Kübler Ross (1969) mengemukakan lima tahap yang biasanya dialami oleh pasien ketika menghadapi kenyataan bahwa dirinya mengidap penyakit yang mematikan. Tahap tersebut adalah sebagai berikut :

  a. Tahap pertama adalah penyangkalan dan pengasingan diri, terjadi pada awal pasien diberitahu tentang penyakitnya sejak awal maupun pada mereka yang tidak secara eksplisit diberitahu

  18 kemudian. Fungsi penyangkalan sebagai sebuah penahan setelah berita mengejutkan yang tidak diharapkan.

  Penyangkalan membiarkan pasien menguasai diri dan, seiring dengan waktu, menggerakkan yang lain, menjadikan pertahanan tidak terlalu radikal. Biasanya penyangkalan merupakan pertahanan sementara yang akan digantikan oleh penerimaan yang bersifat parsial.

  

b. Tahap kedua adalah marah. Bila penyangkalan pada tahap

pertama tidak tertahankan lagi, itu akan digantikan dengan rasa marah, gusar, cemburu dan benci. Pertanyaan yang masuk akal adalah: “Mengapa aku?” Berlawanan dengan tahap penyangkalan, tahap marah ini sangat sulit diatasi dari sisi pandang keluarga dan paramedis karena kemarahan itu terjadi di segala penjuru dan diproyeksikan kepada lingkungan pada saat- saat tak terduga.

  

c. Tahap ketiga, tawar-menawar, tidak terlalu dikenal namun

sebenarnya sangat menolong pasien, meskipun hanya terjadi beberapa saat. Ketika kita tidak mampu menghadapi kenyataan menyedihkan pada awal periode dan menjadi marah terhadap orang-orang sekitar dan Tuhan pada fase kedua, boleh jadi kita akan berhasil membuat perjanjian yang mungkin menunda terjadinya hal yang tidak diharapkan: “Bila Tuhan memutuskan

  19 permintaan yang kuajukan dengan rasa marah, Ia mungkin akan lebih berkenan bila aku mengajukan permintaan itu dengan lebih baik.” Hampir semua tawar-menawar itu dibuat dengan Tuhan dan biasanya dirahasiakan atau diungkapkan secara tersirat.

  d. Tahap keempat adalah depresi. Ketika pasien tidak mampu lagi menghindari penyakitnya, ketika ia harus menjalani berbagai pembedahan atau perawatan, ia semakin lemah dan kurus- pasien tersebut tidak akan dapat tersenyum lagi. Sikap mati rasa atau tabah, serta kemarahannya segera akan digantikan rasa kehilangan. Depresi tersebut muncul seiring dengan perawatan yang semakin luas dan kebutuhan finansial yang bertambah, selain juga perasaan sedih yang diakibatkan perpisahan pasien dengan dunia.

  e. Tahap kelima menerima. Jika pasien mempunyai cukup waktu (misalnya tidak menghadapi kematian yang mendadak) dan dibantu untuk melewati tahap-tahap yang dijelaskan terdahulu, ia akan mencapai tahap dimana ia tidak merasa depresi maupun marah terhadap “nasibnya”. (Ross, 1969).

  Diri (self) menurut Carl R. Rogers merupakan gestalt konseptual

  20

sifat-sifat dari diri subyek dan diri obyek dan persepsi-persepsi keduanya

dengan orang-orang lain dan dengan berbagai aspek kehidupan beserta

nilai-nilai yang melekat pada persepsi-persepsi ini. Dalam diri juga

terdapat diri ideal (ideal self) yaitu apa yang diinginkan seseorang tentang

dirinya. Apabila pengalaman-pengalaman yang dilambangkan yang

membentuk diri benar-benar mencerminkan pengalaman-pengalaman

organisme, maka orang bersangkutan disebut berpenyesuaian baik,

matang, berfungsi sepenuhnya. Orang semacam itu menerima seluruh

pengalaman organismik tanpa merasakan ancaman atau kecemasan.

Inkongruensi antara diri dan organisme menyebabkan individu merasa

terancam dan cemas. Dalam teori Rogers secara implisit terdapat dua

manifestasi lain dari kongruensi-inkongruensi. Pertama adalah kongruensi

atau inkongruensi antara kenyataan subyektif (medan fenomenal) dan

kenyataan luar (dunia sebagaimana adanya). Kedua adalah tingkat

kesesuaian antara diri dan diri ideal. Apabila perbedaan antara diri dan diri

ideal adalah besar, maka orang merasa tidak puas dan tidak dapat

menyesuaikan diri. Dalam salah satu dalilnya, Rogers menunjukkan

bagaimana pentingnya orang tetap selalu meneliti nilai-nilai yang

dimilikinya untuk menjaga penyesuaian diri yang sehat.

  Apabila individu mempersepsikan dan menerima lebih banyak lagi pengalaman- pengalaman organiknya ke dalam struktur dirinya, maka ia akan menemukan bahwa dirinya tengah mengganti sistem nilanya sekarang-yang sebagian besar didasarkan pada introyeksi-introyeksi yang dilambangkannya secara menyimpang- lewat proses penilaian yang berlangsung secara terus-menerus (Rogers, dalam Supratiknya, 1993).

  21 Tekanannya terletak pada dua kata, yakni sistem dan proses. Sistem

menunjukkan sesuatu yang tetap dan statik, sedangkan proses

menunjukkan sesuatu tengah berlangsung. Demi penyesuaian diri yang

sehat dan terintegrasi orang harus selalu memeriksa pengalaman-

pengalamannya untuk mengetahui apakah pengalaman tersebut

membutuhkan perubahan dalam struktur nilai. Setiap kumpulan nilai yang

tetap akan cenderung mencegah orang untuk bereaksi secara efektif

terhadap pengalaman-pengalaman baru. Orang harus fleksibel untuk

menyesuaikan diri secara tepat terhadap kondisi-kondisi kehidupan yang

berubah (Hall, 1993).

  Tiga hal yang dikemukakan Rogers mengenai pribadi yang sehat (Schultz; 1991):

  1. Pribadi yang sehat itu bukan suatu keadaan yang ada, melainkan suatu proses, suatu arah bukan suatu tujuan. Aktualisasi berlangsung terus-menerus; tidak pernah merupakan suatu kondisi yang selesai atau statis.

  2. Aktualisasi diri itu merupakan hal yang sukar bahkan kadang- kadang menyakitkan. Aktualisasi diri merupakan keberanian untuk ada. Hal ini berarti meluncurkan diri sendiri sepenuhnya dalam arus kehidupan. Orang itu terbenam dalam dan terbuka kepada seluruh ruang lingkup emosi dan pengalaman manusia dan merasakan lebih dalam hal-hal ini jauh lebih dalam daripada orang

  22 orang yang mengaktualisasikan diri itu terus-menerus atau juga hampir setiap saat bahagia dan puas, meski mereka benar-benar mengalami perasaan-perasaan itu. Rogers melihat bahwa kebahagiaan sebagai hasil sampingan dari perjuangan aktualisasi diri; kebahagiaan bukan suatu tujuan dalam dirinya sendiri.

  3. Orang yang mengaktualisasikan diri yakni mereka benar-benar adalah diri mereka sendiri. Mereka tidak bersembunyi di belakang topeng-topeng atau kedok-kedok, yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan mereka atau menyembunyikan sebagian diri mereka. Mereka bebas dari harapan-harapan dan rintangan- rintangan yang diletakkan oleh masyarakat mereka atau orangtua mereka; mereka telah mengatasi aturan ini. Rogers tidak percaya bahwa orang-orang yang telah mengaktualisasikan diri hidup dibawah aturan-aturan yang diletakkan orang lain. Arah yang dipilih, tingkah laku yang diperlihatkan semata-mata ditentukan oleh individu-individu mereka sendiri. Diri adalah tuan dari kepribadian dan beroperasi terlepas dari norma-norma yang ditentukan orang-orang lain.

  Menghadapi kenyataan terinfeksi virus yang mematikan merupakan

hal yang sangat tidak mudah. Berbagai reaksi akan muncul dari seseorang

  23

diri mereka yang harus menghadapi situasi tersebut. Teori yang dikemukakan

oleh Elizabeth Kübler Ross (1969) dalam buku On Death and Dying

mengenai lima tahap menuju kematian digunakan untuk melihat berbagai

tahapan reaksi yang muncul pada Odha di saat awal menerima kenyataan

bahwa dirinya terinfeksi HIV hingga saat mereka bisa menerima keadaan itu.

Teori Ross digunakan karena ada anggapan bahwa terinfeksi HIV adalah sama

dengan harus menghadapi kematian. Sementara, berbagai kriteria mengenai

pribadi yang sehat yang dikemukakan oleh Carl R. Rogers (dalam Hall, 1978)

digunakan untuk melihat potensi aktualisasi diri yang ada pada Odha pasca

infeksi. Teori Rogers digunakan untuk melihat bagaimana upaya Odha

mengaktualisasikan dirinya ditengah hambatan bayangan stigma dan

diskriminasi terhadap HIV/AIDS. Melalui pendekatan yang menggunakan dua

teori tersebut diharapkan dapat muncul gambaran yang dapat menjelaskan

proses penerimaan diri pada Odha.

  Proses penerimaan diri yang diharapkan dapat digambarkan dalam

penelitian ini adalah deskripsi dinamika psikologis yang dialami subyek dari

awal dirinya mengetahui bahwa dirinya terinfeksi HIV, hingga saat subyek

mampu menerima kenyataan bahwa dirinya sudah terinfeksi HIV dan mampu mengaktualisasikan dirinya dalam lingkungan. deskriptif yaitu penelitian yang bermaksud untuk membuat deskripsi mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta (Suryabrata, 1983).

  B. Fokus Penelitian

  Penelitian ini berfokus pada proses penerimaan diri dan aktualisasi diri pada Odha, yang secara operasional dapat didefinisikan sebagai kondisi dimana Odha dapat menerima kenyataan bahwa dirinya terinfeksi HIV namun kondisi ini tidak menghambat dirinya untuk berkarya seperti layaknya orang lain yang tidak terinfeksi HIV.

  C. Subyek Penelitian

  Subyek dalam penelitian ini adalah Orang dengan HIV/AIDS yang tinggal di wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Subyek yang terlibat adalah Odha yang mau secara terbuka bekerjasama dengan peneliti, karena tidak semua Odha mau menceritakan kepada orang lain mengenai dirinya secara

  D. Batasan Kajian Penelitian

  Dalam penelitian ini, variabel yang hendak diteliti terdiri dari 4 aspek yaitu:

  1. Riwayat masa lalu

  2. Reaksi saat mengetahui bahwa dirinya positif HIV

  3. Kondisi saat ini

  4. Aspirasi dan harapan masa depan Keempat aspek tersebut merupakan sebuah rentang proses penerimaan diri dari Odha.

  E. Metode Pengumpulan Data

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara (depth

  interview

  ). Metode ini digunakan dengan tujuan untuk memberi keleluasaan kepada subjek menjelaskan situasi yang dihadapi secara bebas. Pertanyaan diarahkan pada seputar proses penerimaan diri yang dialami oleh subjek, peran keluarga dan lingkungan dalam proses tersebut. Alat yang digunakan adalah wawancara berdasarkan guide line wawancara yang disampaikan secara tidak terstruktur.

  Aspek yang hendak digali dalam wawancara antara lain:

  a. Masa lalu 1) Latar belakang keluarga

  3) Reaksi pada saat mengetahui bahwa dirinya positif HIV

  b. Masa kini 1) Relasi sosial (dengan orang lain selain keluarga) 2) Sikap keluarga terhadap subyek 3) Kondisi diri subyek saat ini

  c. Masa depan 1) Aspirasi atau harapan di masa depan

  F. Prosedur Penelitian

  Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini, antara lain: 1. Meminta ijin kesediaan Odha sebagai subyek penelitian.

  2. Melakukan tahap persiapan penelitian dengan membuat interview guide yang relevan.

  3. Melakukan penelitian dengan wawancara dan observasi.

  4. Melakukan transkripsi data wawancara dan observasi, kemudian dilanjutkan dengan analisis data.

  5. Menarik kesimpulan dari data berdasarkan teori yang terkait.

  G. Metode Analisis Data

  Penelitian ini menggunakan teknik kualitatif-deskriptif sehingga analisis data yang digunakan adalah analisis isi data. Data-data kualitatif yang didapat dari wawancara, observasi serta dokumen lain yang relevan kemudian dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Kategorisasi data sejenis Kategorisasi data dilakukan setelah membuat verbatim hasil wawancara dan data lapangan. Dari verbatim tersebut, kemudian dibuat kode-kode atau catatan transkrip untuk memilah data, kemudian data disusun dan digolongkan dalam tema atau kategori yang sama.

  2. Rekapitulasi data Data kategorisasi diolah dengan menyusunnya sehingga diperoleh data yang menampilkan pola hubungan.

  3. Interpretasi dan penarikan kesimpulan Interpretasi dilakukan dengan melihat dan membandingkan beberapa teori yang berkaitan dengan hal yang sedang diteliti.

  

Tabel 3. Guide line interview

Aspek Deskripsi Pertanyaan

  Masa lalu

  1. Latar belakang keluarga Bagaimana riwayat hidup subyek?

  2. Latar belakang - Bagaimana kondisi lingkungan lingkungan keluarga sekitar keluarga subyek tinggal?

  • Bagaimana relasi keluarga subyek dan subyek sendiri dengan lingkungan?

  3. Reaksi pada saat mengetahui bahwa dirinya positif HIV

  • Bagaimana reaksi subyek ketika pertama kali mengetahui bahwa dirinya HIV positif?
  • Perasaan apa yang muncul dalam diri subyek saat itu?
  • Bagaimana sikap keluarga saat itu? Masa kini

  1. Relasi sosial - Bagaimana relasi subyek dengan lingkungan sekitar saat ini?

  • Pernahkah mengalami penolakan, diskriminasi?

  2. Sikap keluarga terhadap subyek

  • Bagaimana sikap keluarga terhadap subyek saat ini?

  3. Kondisi subyek saat ini - Bagaimana kondisi subyek saat ini? Masa depan

  1. Aspirasi dan harapan untuk masa depan

  • Apa dan bagaimana harapan dan aspirasi subyek terhadap masa depan terkait dengan status HIV positif subyek?
melakukan pendekatan terhadap subyek penelitian. Proses pendekatan ini membutuhkan waktu yang agak lama, karena subyek membutuhkan rasa percaya untuk menceritakan pengalaman hidupnya terkait dengan status HIV mereka.

  Proses wawancara dilakukan dalam beberapa pertemuan selama beberapa waktu. Tempat wawancara dipilih agar nyaman bagi subyek, untuk memberi suasana yang membantu dalam memberi jawaban. Selain itu, tempat yang nyaman, membantu peneliti untuk mengamati ekspresi dan reaksi psikologis subyek. Selama proses wawancara ini, pembicaraan berkisar pada status HIV subyek, yang disadari atau tidak, tentu tidak mudah bagi subyek. Dalam penelitian ini,wawancara dilakukan di rumah tempat tinggal subyek dan tempat umum (taman) yang tidak mengganggu proses wawancara.

  Dengan profil sebagai berikut:

  Tabel 4. Profil masing-masing subyek

Subyek M Subyek V

  Jenis kelamin Laki-laki Laki-laki Usia 32 tahun 36 tahun Orientasi seksual Homoseksual Heteroseksual Pendidikan SMP tidak tamat Kuliah (tidak tamat) Pekerjaan Aktif di LSM Sempat aktif di LSM Pekerjaan orangtua Petani Pedagang Tertular HIV dari Perilaku seks beresiko

  Pengguna narkoba suntik (penasun)

  Subyek M berasal dari keluarga petani di Jawa Tengah. M mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang perempuan sejak sebelum masuk SD. Ketika di SD, M mulai dipanggil Tessy (nama pelawak laki-laki yang selalu berperan sebagai perempuan). Awalnya ia marah dan tidak masuk sekolah 2 hari. Selepas SD, M melanjutkan sekolah ke sebuah SMP. Disini dia hanya bertahan hingga kelas 2, karena dia mulai resah dengan orientasi seksualnya. Secara fisik M adalah seorang laki-laki, tetapi secara mental ia mengidentifikasi diri sebagai seorang perempuan. Setelah memutuskan keluar dari SMP, orangtua M mencoba mengirim M ke sebuah pondok pesantren. Tetapi di pondok pesantren ini M hanya bertahan 1 hari saja. M kemudian memutuskan untuk bekerja di sebuah toko mebel di kotanya. Ketika bekerja di kota ini M mulai berani mengungkapkan perasaanya terhadap laki-laki. Setelah sempat menjalin hubungan khusus dengan beberapa orang laki-laki, M memutuskan kabur dari rumahnya menuju Jogja karena laki-laki terakhir yang mengencaninya menguras habis barang-barang dan tabungan hasil kerjanya. M merasa bersalah dan pergi tanpa pamit dari rumahnya. Atas bantuan waria yang lain, M kemudian diajak ke Jogja untuk sebuah pekerjaan yang dijanjikan sangat menarik hasilnya. M tidak menyangka ketika tiba di Jogja, ternyata pekerjaan yang dimaksud adalah menjadi pekerja seks komersial (PSK). Karena tidak punya keterampilan dan pekerjaan, akhirnya M mau bekerja sebagai PSK. M saat ini sudah mengurangi intensitasnya untuk keluar malam sebagai PSK sejak ia mengetahui bahwa dirinya positif HIV.

  Subyek adalah anak kedua dari tiga bersaudara, ia adalah anak laki- laki pertama dalam keluarga itu, kakaknya seorang perempuan. Subyek menyadari bahwa sebagai seorang yang dilahirkan dalam bentuk fisik laki- laki ia harus bisa membantu kedua orangtuanya dalam hal finansial. Kedua orangtua subyek masih berharap agar subyek menikah (dengan seorang perempuan) suatu saat nanti. Subyek hanya menjawab bahwa suatu saat nanti akan menikah, untuk membesarkan hati orangtuanya. Subyek selalu berusaha sebisa mungkin untuk membantu orangtuanya secara finansial.

  Meski uang itu kadang ia dapat dari meminjam pada tetangga kost di jogja atau rentenir. Sejauh ini keluarga subyek tidak tahu apa pekerjaan subyek yang sebenarnya. Tiap kali ditanya tentang pekerjaannya, subyek selalu menjawab bahwa ia bekerja sebagai penyanyi dangdut di Purawisata, atau membantu di sebuah warung lesehan.

  Saat ini, sehari-hari bila M bekerja di sebuah LSM, biasanya ia menggunakan celana panjang dan kaos atau kemeja. Ia jarang berdandan kecuali bila ada acara-acara khusus waria. Ia selalu berusaha untuk menyamarkan status kewariaannya dengan tidak berperilaku atau berdandan berlebihan seperti beberapa waria lain. Meski demikian bila diamati dengan cermat, gaya bicara dan bahasa tubuh yang lemah gemulai sering kali tampak. M tinggal di rumah kost yang berada di lingkungan padat penduduk di pinggir sebuah sungai yang membelah kota Jogja. Kamar kost-nya agak sempit, berukuran 2x2 m. Terdapat sebuah dipan, sebuah lemari dan berbagai piagam penghargaan menghiasi dinding kamar yang terbuat dari

  gedeg

  (dinding dari bambu). Di kamar itu, terdapat banyak selebaran maupun buku-buku mengenai informasi HIV/AIDS. Sekat antar kamar (dengan ruang yang lain) hanya dinding bambu itu, sehingga suara orang yang sedang ngobrol dapat terdengar dengan jelas. Tetangga disekitar kost M kebanyakan sudah berkeluarga. Pekerjaan mereka bervariasi, pemulung, pengemis, preman, pengamen, pekerja seks komersial (perempuan atau pun waria), dan sebagainya. Jalan menuju rumah kost berupa gang sempit berukuran 1 m yang sebagian menyusuri pinggir sungai. Relasi subyek subyek yang cukup lembut selayaknya perempuan, tetapi mereka tidak pernah mempermasalahkan.

  Awalnya ia penasaran ingin merasakan apa efeknya. Sejak saat itu V mulai kecanduan. V adalah anak ketiga dari sebuah keluarga pedagang. Sejak remaja, V gemar sekali dengan perilaku-perilaku destruktif seperti berkelahi dan mengkonsumsi obat-obat terlarang. Selepas SMA, V melanjutkan studi di sebuah universitas di Jogja. Kebiasaannya untuk mengkonsumsi narkoba belum hilang, malah semakin menjadi-jadi bahkan ia mulai menggunakan narkoba jenis putaw yang saat itu baru mulai marak. Ia juga menemukan teman-teman yang mempunyai hobi yang sama. Selain sebagai pengguna, V juga pernah menjadi pengedar. Jaringannya cukup luas dan rapi. Ia beberapa kali ditangkap polisi terkait dengan kasus narkoba. Tetapi hal itu tidak membuatnya jera. Setelah mengalami sebuah kecelakaan yang cukup hebat, V kemudian mencoba mengurangi konsumsi narkoba, meski ajakan dari teman-teman sering tak dapat dihindarinya. Subyek V pernah aktif di sebuah LSM yang mengkampanyekan tentang isu anti narkoba.

  Subyek tinggal di rumah seorang sahabatnya, yang terletak dipinggir kota Jogja. Jarak antar rumah dilingkungan itu agak jauh. Kondisi alam pedesaan yang asri masih dapat ditemui disini. Kondisi rumah cukup bagus dan tertata rapi, dengan arsitektur rumah yang cukup unik.

  V adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Orangtua V bekerja sebagai pedagang. Perilaku destruktif V mulai muncul sejak SMP. Ketika itu ia mulai sering berkelahi, mencoba obat-obat terlarang. V selalu merasa berada dalam keadaan terancam. Ia sering membawa senjata tajam bahkan ketika akan tidur dia juga harus memegang sesuatu sebagai senjata. Perkara- perkara kecil sering menjadi pemicu V untuk memulai perkelahian, apalagi ketika ia berada dibawah pengaruh narkoba. Ia pernah menusuk seseorang di Jogja hanya karena motor yang dikendarainya didahului oleh pengendara yang lain. Ia juga pernah menantang polisi yang sedang bertugas jaga, hanya karena polisi itu sedang memperhatikan V. Rekan-rekan V yang lain sering harus menahan diri untuk tidak menimbulkan amarah V, karena mereka tahu bahwa ia sering bertindak nekat.

  II. Reaksi subyek ketika pertama kali mengetahui status HIV Tabel 5. Reaksi subyek pertama kali mengetahui status HIV

  Subyek M Subyek V Awal Melalui tes HIV di sebuah Tidak melalui prosedur mengetahui klinik. Subyek menjalani yang standar. Subyek status tes sesuai dengan prosedur, dalam keadaan sakit dan yaitu diawali dengan agak tidak sadar ketika konseling pre-test darahnya diambil untuk kemudian tes HIV dan dites. Hasil tes HIV

  konseling post test. Hasil tes HIV disampaikan secara personal dalam konseling post test. disampaikan di depan orang lain yang ada di kamar tempat subyek V dirawat. Reaksi subyek

  Kaget & tidak percaya. Takut jika menularkan pada orang lain. Stres dan depresi hingga sakit dan rambut rontok selama beberapa bulan. Sempat pulang ke daerah asal karena takut status HIV- nya diketahui oleh banyak orang.

  Kaget dan marah karena dokter menyampaikan hasil dihadapan keluarga. Setelah keluar dari rumah sakit, bingung dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Subyek justru bersih tidak menggunakan narkoba selama 6 bulan setelah mengetahui status. Subyek menjadi perokok berat.

  II.1 Reaksi Subyek M

  Subyek M mengetahui status HIV-nya setelah melakukan tes di klinik PKBI. Awalnya ia berpartisipasi dalam sebuah kampanye HIV/AIDS. M sadar bahwa pekerjaan yang dijalaninya sebagai seorang PSK adalah salah satu perilaku yang beresiko tertular HIV. Ia kemudian berinisiatif untuk melakukan tes HIV di Griya Lentera PKBI. M menjalani tes sesuai dengan prosedur, yaitu dengan melalui konseling pre-test. Setelah menjalani konseling pre-test kemudian sampel darah M diambil oleh petugas klinik.

  Seminggu kemudian M datang kembali untuk mengambil hasil test. Ternyata hasilnya positif.

  

“Kode-kode pengambilan darah, sampel, itu kan pakai kode. Ya, aku masih

hapal sekali, masih inget sekali. Itu...terus selanjutnya yaa...positif! terus

melakukan konseling lagi. Yaa... terus aku bingung to...sepulang dari Griya

Lentera waktu itu aku bingung, stress kae lho....bingung kae lho. Aduh......

  

bingungnya itu,”Aku harus ngapain?” Apa yang harus aku lakukan

sementara aku kan menjadi pekerja seks? Kalau aku nggak kerja, aku mau

makan apa? Kalau aku masih melakukan pekerjaanku sebagai PSK, aku

juga punya resiko akan menularkan ke orang lain.”

M masih tidak percaya dengan hasil yang diperolehnya, kemudian konselor

menganjurkan untuk melakukan tes konfirmasi lagi, yang kemudian hasilnya tetap

positif.

  Subyek M merasa dirinya sudah melakukan seks yang aman, terutama selepas mengikuti pelatihan penurunan perilaku resiko IMS.

  

“Saya nggak kepikiran sekali, karena saya...karena selama saya menjadi

pekerja seks, perasaan aku melakukan dengan seks aman.” Sebetulnya subyek sudah mencoba menerapkan perilaku seks aman dengan

menggunakan kondom dalam pekerjaannya. Tetapi ia sering mengalah pada

konsumennya karena ia takut tidak mendapat pelanggan.

  

“Dan sepulang dari situ (pelatihan) kan tahu bahwa apa yang Saya selama

ini Aku lakukan itu salah. Tetapi Aku jujur aja, setelah pulang ’95 itu Aku

sering otot-ototan sama lelaki karena...ya piye ya...karena apa ya...misalnya

pemakaian kondom, misalnya lelaki ditawari kondom terus lelaki itu nggak

mau, kayak gitu lho. Kita coba terangkan ke lelaki itu, walaupun waktunya

itu sempit sekali. Walaupun sambil bercanda di lokalisasi dengan tamu itu

tetapi kalau misalnya tamu itu ngotot, lelaki itu ngotot,”Nggak mau mbak,

nggak enak.” Misalnya kayak gitu, nah,”Kalau kamu nggak mau, masih

banyak kok yang lain yang mau.” Nah akhirnya Saya disitu mau nggak pake

kondom. Soalnya saya mikir,”Aduh...mengko nek dhek’e mlayu neng

nggone liya Aku nggak dapet bayaran nih.” Yo wis lah..kayak gitu.”

  Selama 5 bulan setelah melakukan tes HIV, subyek bingung dengan apa yang hendak dilakukan. Akhirnya subyek memutuskan untuk mengurangi intensitasnya keluar malam mencari pelanggan. Caranya, bila ia

  mendapat uang yang jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama 3 hari, maka ia akan istirahat selama 3 hari.

  

“Waktu itu aku gini...eeee...memang sangat menyedihkan sekali ya..waktu

itu...dalam kebingungan aku waktu itu, aku serba salah. Mau mejeng salah,

nggak mejeng salah...kayak gitu. Akhirnya aku memutuskan keluar malam,

sekali, misalnya saya dapat untuk 3 malem ya 3 malem istirahat.”

  M juga mencoba mencari pekerjaan yang lain. Kebetulan ada keluarga di dekat tempat tinggal M yang membutuhkan pengasuh bayi, kemudian M bekerja di situ. Kesibukan merawat bayi sedikit banyak dapat membuat M melupakan pikiran tentang status HIV-nya. Tetapi pekerjaan itu hanya dilakukannya selama 3 bulan karena keluarga tersebut memutuskan untuk pindah keluar kota. M yang kehilangan kesibukan kemudian memutuskan untuk keluar malam lagi mencari pelanggan.

  

“Nah itu sambil menunggu proses, kebetulan depan rumah itu (menunjuk)

punya adik bayi. Saya disuruh merawat bayinya, pokoke baby sitter-lah.

Merawat bayi, anake kembar. Yaa..nggak selang lama, karena setelah 3

bulan bayinya dibawa ke B oleh ayahnya. Terus aku kan udah dapat

kesibukan untuk melupakan statusku, aku udah dapat, akhirnya hilang lagi.

Ya udah, pada akhirnya kembali ke selera asal, keluar semalam dapat untuk

untuk 2 malam ya 2 malam nggak keluar, kayak gitu.”

  Beban pikiran mengenai status HIV rupanya sangat dirasakan oleh M. Ia kemudian jatuh sakit. Kebetulan saat jatuh sakit itu keluarganya datang menengok. Lalu M dibawa pulang oleh keluarganya dan dirawat dengan menggunakan obat tradisional.

  

“Sampai selang saya jatuh sakit, bukan karena virusnya tapi karena pikiran

saya. Jadi waktu itu badan saya panas sekali. November itu akhirnya,

sebenarnya saya nggak berniat pulang, keluarga saya pas datang kesini,

  

pas saya sakit. Akhirnya saya pulang. Aku bilang karena panas, akhirnya

aku sebulan dirumah. Apa yang dilakukan orangtuaku ke aku? Dua hari

sekali membikinkan aku kunir asem, kental banget. Aku kan nggak ngerti

apa itu ada sangkut pautnya dengan panasku apa nggak, tetapi minum itu

akhirnya normal lagi.”

  M tetap merahasiakan status HIV-nya kepada keluarganya. Karena M melihat bahwa keluarganya belum siap untuk menerima kenyataan itu, dan M sendiri juga tidak siap mengungkapkannya. Setelah panas badannya mereda, ternyata rambut M mulai rontok, sampai hampir gundul. Berbagai cara sudah dilakukan M untuk mencegah supaya rambutnya tidak semakin rontok, tetapi tetap saja tidak ada hasilnya. Kemudian M membiarkan keadaan itu dan rambutnya malah tumbuh kembali. Hal ini yang membuat M yakin bahwa penyebab rambutnya rontok adalah beban pikiran tentang status barunya.

  

“Kemudian rambutku rontok. Rontok itu malah sampai gundul. Aku pegang

aja rambutku rontok, 5 bulan setelah didiagnosis. Aku pegang aja rontok.

Tak kurangi 10 cm rontok. Tak kurangi lagi 5 cm masih rontok. Kalau

pendek kan bisa dirawat, aku kasi Neril, malah tambah rontok. Akhirnya

aku ke Gowongan, tak suruh motong pendek, cepak. Itu pun masih rontok.

Akhirnya 3 hari kemudian saya masih ke salon yang sama, ditipiskan masih

rontok, ya sudah biar saja. Akhirnya tumbuh sendiri. Kan kelihatan gitu lho,

bukan karena virusnya tapi stressnya.”

  Selang beberapa waktu, M kemudian bertemu dengan salah seorang relawan dari sebuah LSM. Relawan itu, bersama dengan seorang rekan waria berkunjung ke kost M. M kemudian memutuskan untuk menungkapkan keresahan hatinya terkait dengan statusnya yang positif HIV minggu, relawan itu berkunjung kembali ke kost M. Dia mengajak M untuk bertemu dengan seorang teman sesama HIV positif.

  

“ Dia dari PKBI, saya kepingin curhat karena lama nggak ketemu mbak A.

Aku jujur sama mbak Ai, karena Yn kan udah pulang. Mbak Ai disini sama

saya. Terus selang beberapa hari, 2 mingguan kali ya..saya masih tidur,

mbak Ai itu kesini. Didhodog-dhodog, “mau nggak ketemu dengan teman

sesama?” waktu itu saya sempat mikir. Tapi kenapa nggak mau? Dia bilang

teman sesama positif. Saya bilang,”mau!” “Ya udah tunggu sebentar ya.”

Waktu itu P di talud itu, mbak Ai kesini. Setelah aku oke, si P dipanggil

kesini. Terus si P memberi informasi banyaklah ke aku. P juga salah satu

orang nomor satu yang mendukung aku yang sesama positif.”

  Dukungan dari rekan sesama positif HIV ini kemudian menguatkan M untuk mulai terlibat dalam kegiatan sosial. Tetapi M kadang-kadang masih keluar mencari pelanggan meski rekan relawan lain pernah menyarankan M untuk berhenti dari pekerjaan itu. M masih melakukan pekerjaannya karena ia tidak punya sumber penghasilan lain untuk menopang hidupnya.

  

“Jadi waktu itu kan saya masih aktif nih. Terus dapat 1, keluar semalam

buat dua hari ya dua hari nggak keluar. Nah, sebenarnya si P itu sudah

menyarankan aku (untuk berhenti), tapi dia juga...nggak memenuhi

kebutuhanku”

  Bersama dengan rekan barunya, M kemudian mulai terlibat dalam kegiatan sosial, dan semakin bertambah pula rekan-rekan lain yang positif HIV.

  

“Ya itu, akhirnya saya ke PKBI, tambah 2 teman lagi. “Mau nggak ketemu

dengan teman?” gitu. Ternyata...ketemu teman sendiri, waria satu lokasi,

sama pasangannya. Terus setelah dari itu, mulailah kita bertemu sampai

bulan Desember akhir, sampai terbentuknya JOY itu.”

  Bagi M, bertemu dengan teman-teman sesama positif di satu sisi memang menguatkan, tetapi di sisi lain juga muncul kekhawatiran. Ia khawatir jika semakin banyak mengenal teman yang positif HIV, maka kemungkinan orang lain untuk membocorkan status HIV juga semakin besar.

  

“Ya itu, akhirnya penggalian kebutuhan dibantu mas N. Intinya yang satu

komentar ini, yang satu komentar itu, saya komentar lain. Terus

disimpulkan. Ternyata teman Odha itu membutuhkan dukungan, tempat,

fasilitas. Terus mulailah pembentukan JOY itu. Nah setelah pembentukan

JOY itu saya sempat putus asa.

Ya...karena..kok begini ya?....Kayak gitu lho. Banyak teman itu semakin

banyak dukungan juga, tetapi banyak kekhawatiran juga gitu lho. Dalam

arti semakin banyak yang tahu itu berarti semakin besar kebobolan gitu lho.

Jadi waktu itu aku punya pikiran seperti itu. Waktu itu saya melarikan diri,

saya pulang.”

  Karena rasa khawatir dan putus asa, M kemudian pulang ke kota asalnya. Tetapi pulang ke kota asal juga tidak menyelesaikan masalah karena M menghadapi masalah yang lain. Ia harus bekerja di sawah, sebuah pekerjaan yang selalu dihindarinya sejak kecil. Kemudian setelah bertahan selama 6 bulan, M memutuskan untuk kembali ke Jogja.

  Subyek V mengetahui status HIV-nya tanpa melalui prosedur yang baku. Ketika itu V jatuh sakit dan dirawat intensif di sebuah rumah sakit besar di Jogja. V didiagnosa mengalami radang paru-paru dan radang jantung dan V dalam kondisi tidak sadar yang disebabkan panas tubuhnya tinggi. Dalam kondisi ini, dokter yang merawat kemudian mengambil sampel darah V. Beberapa hari kemudian, ketika dokter tersebut berkunjung ke ruangan tempat V dirawat, dokter itu langsung mengatakan status HIV subyek V dihadapan keluarganya.

  

“Dadine piye ya…ya ora ijin kancaku (yang menunggu V), kan eneng tho,

kuwi ya ora. Langsung tes. Dadine bar kuwi aku ngertine pas ibuku teka,

doktere visite langsung ngomong. Ngomong langsung! “Kamu sering ganti-

ganti pasangan ya?” otomatis tho…neng rumah sakit tapi takone masalah

hubungan seks…aku nyambunge langsung negatif, “ apa saya positif?”

“Ya, kamu positif!”

  Anggota keluarga V kemudian tahu tentang status V saat itu juga dan mereka tetap menerima V apa adanya.

  

“Ngerti kabeh. Malah posisine pas neng kuwi…pas nglumpuk kabeh, pas

doktere ngomong kuwi. Aku kelingan kuwi soale pas doktere ngomong seru

tenan..ya wis.

Ya (shock)mungkin iya..tapi ora..memang ora.. ibuku soale ya ngerti aku sih

ya…Nek mamaku nganggep, “piye-piye kuwi tetep anakku.” Ibuku pernah

ngomong. Ya piye..ngerasa sebagai orangtua, sebagai ibu ya…,”elek-elek

tetep anakku.

Ya kaget…ya apa ya…keluargaku terutama mama, mungkin sebetule shock

sih…tapi ora diketokke. Ya mungkin sebenere iya, mung ora wae.

Pasti,”Kok anakku dadi kaya iki?” tapi ora. Aku ndhelokke ora pati

diketokke ibuku. Justru iku sing mbangun aku.”

  Perasaan bingung dan stress baru dirasakan V setelah keluar dari rumah sakit. Ia bingung akan melakukan apa. Dalam kondisi itu V justru tidak berpikir untuk menggunakan narkoba. Ia bersih dari narkoba selama 6 bulan sejak saat dokter memberitahu status HIV-nya.

  

“Perasaan pertama karena aku isih blank..apa..ora sadar..justru setelah 2

minggu keluar dari rumah sakit, Aku terus drop. Aku terus

woooo…mbingungi kae…arep ngomong salah, ora ngomong salah. Aku

piye yo…malah ora mabuk…Cuma malah dadi… meneng kae. Neng Jogja.

  

Aku malah ora mabuk, akeh menenge. Pas kuwi malah Aku resik, ora

nganggo blas. Ana setengah tahun ora nganggo blas. Malah ora kepikiran.

Pikire iki piye? Ngomong salah, ora ngomong salah. Ya kuwi, mentale drop

banget.”

  Satu bulan setelah status HIV subyek V diketahui, Ayah V meninggal dunia karena sakit. Hal ini menambah beban V, tetapi saat itu ia masih bisa bertahan tidak menggunakan narkoba sebagai bentuk pelarian. Ketegaran yang diperlihatkan oleh Ibu V memberikan kekuatan bagi V saat itu. Selain keluarga, teman-teman juga berperan dalam menguatkan mental V.

  

Sing pas kuwi ngancani aku P karo N. aku isih kelingan kuwi sing

ngancani pertama. Nganti diundang Spiritia. Nah kuwi mentalku mulai

munggah.”

  V pernah aktif di sebuah LSM yang mengkampayekan isu anti narkoba. Jadi ia tahu resiko sebagai pengguna narkoba suntik (penasun). Tapi ia sering tidak ambil pusing dengan resiko itu. Ia tahu tentang cara penularan HIV, tetapi belum terlalu memahami.

  

“Ngerti-ngerti thok. Ya ngerti saka bacaan, tapi ora ngerti gejalane.

Perilaku yang beresiko ngerti tapi nggak nggagas. Aku berpikirnya dulu,

nek saka pertukaran jarum suntik kuwi isa tapi aku isih rada blank…ora

ngerti banget. Sing penting dikumbah resik bar. Pikirane iku …dadi kalo

dibilang nol ya nol, kalo yang tentang HIV nol, ya awam biasalah.”

  Ia masih beranggapan bahwa HIV hanya ditularkan melalui perilaku seks tanpa pengaman, bukan dari jarum suntik. Ia merasa bahwa dirinya bukan penganut seks bebas, jadi dia tidak terlalu memikirkan resiko sebagai penasun.

  

“Tahu! Tapi mikire nggak potensial sekali. Disini kan dulu terkenalnya dari

seks tho… Nah! Dan saya itu beranggapan, bukannya saya sok baik, nggak.

Tapi aku tu nggak suka free seks. Maksude aku mabuk, mabuk thok! Ya wis.

Ora terus bar mabuk terus free seks, kuwi kan rata-rata. Ya kuwi kan cah-

cah emang kuwi, tapi aku kerap diarani yo wis terserah! Nah terus ora

dong, ya kuwi, ngertine saka seks ya yang potensial waktu itu. Nek yang

jarum suntik itu nggak dong…maksude dong tapi nggak kepikir kalo itu

potensial sekali untuk nulari. Yaaa…ternyata terbukti tho…positif

tho..ha..ha..ha. Tapi ya jenenge wong edan ya isih nganggo

kuwi..hi..hi..hi..pertama itu Odha ya? Ora! Tapi sidane ya Odha

tenan….tapi ketularane kapan ya ora dong..ora ngerti.”

  Setelah tahu bahwa dirinya positif HIV, subyek V mulai berpikir untuk menerapkan kebersihan pada peralatan suntik narkoba yang ia gunakan. Meski kadang cara yang ia gunakan sangat sederhana, mencuci peralatan suntik dengan cairan alkohol.

  

“Nek aku dhewe ki..nggo aku pikirane..ya iki nggo aku dhewe. Paling ya

wis kebiasaanlah paling ming dikumbah thok…paling alkohol, mentok. Ora

kepikiran bayclean.”

  Selain berusaha menerapkan prinsip kebersihan pada peralatan, V juga mulai berpikir untuk sedikit mengurangi konsumsi narkoba. Karena dia tahu jika kondisi fisiknya menurun akibat mengkonsumsi narkoba, maka jumlah CD-4 juga akan semakin turun.

  

“Iya! Dan rada mikir nek drop kondisine. Wahh..iki nek muthuse dhuwur

terus, iki drop aku, ndang cepet. Soale kan wis ngerti fase-fasene to…iki

otomatis CD4-ku isa drop. Kuwi mikire tekan kono, tapi ora banget sih, tapi

sempat kepikir juga.”

  Menghilangkan kebiasaan untuk mabuk dengan cara mengkonsumsi bertemu dengan teman-teman sesama positif HIV, pernah terlintas dalam pikirannya untuk menularkan virusnya ke orang lain. Tetapi pikiran itu bisa ditepisnya ketika sedang berkumpul dengan teman-temanya dalam pesta narkoba. Ia dengan tegas melarang temannya yang akan menggunakan jarum suntik yang ia pakai. Namun ketika pulang ke rumah dan dalam keadaan sendiri, pikiran untuk menularkan virus kadang muncul lagi.

  

“Kuwi malah sempat…malah kuwalik…malah piye ya…pas dhewe kuwi aku

dadi sempat pikiranku…aku neng C, wis ndang…karena aku ngerasa yen

aku kaya iki terus, dhewe. Aku pemikiranku dadi dhewe karena ora eneng

kanca liyane, wis tak tularke wae ben kancane akeh…ha..ha..ha..ha. Ya

kuwi pemikiranku wis elek kae. Aku nganti kancaku…dadi bekase aku

dienggo kancaku ki nganti tak larang. Tapi mbasan aku neng omah ki dadi

malah nyeleneh kae. Dadi batinku..aku kok kaya iki?”

  Dalam keadaan tidak memiliki pekerjaan tetap sementara harus mengkonsumsi ARV (antiretroviral; obat penghambat virus HIV), membuat V pernah berpikir untuk nekat melakukan tindakan kriminal. Ia saat itu ditawari pekerjaan oleh rekannya sebagai pencuri motor di kota C. Semua peralatan sudah tersedia, pembagian tugas sudah jelas dan sudah ada penadah yang akan menampung barang curian.

  “Ya justru malah saiki-saiki kuwi. Karena aku ngerasa aku nganggur.

pikiranku dhisik …iki durung ana subsidi, iki kudu 450 sewulan. Ho’o iku

wis mikire kuwi…edan po..aku ngasilke ora, ngabot-aboti. Nek wani tekati

wae ra papa. Ya wis aku mikire bres wae. Ya kuwi, mungkin karo ra kerja

barang kuwi. Kakang adhiku kerja. Aku bingung…aduh piye ya?

Nekat sithik wis bar. Arep modhar,modharo! Wis tak tekati tenan…ya

ndilalahe wis ana sing nawani pistol kaliber 38…ya dasare otake ki mbuh

kuwi pikirane melenceng....mung ra sida kedadean, arep nyolong motor.

Aku neng C arep nyolong motor. Wong sing nggawa wis ana, sing nadah

wis ana..ahh..wis mumet.”

  Tapi niat itu kemudian ia batalkan dan V memutuskan untuk kembali ke Jogja.

  a. Tahap pertama: penyangkalan dan pengasingan diri Tabel 6. Reaksi tahap pertama: penyangkalan dan pengasingan diri

  Subyek M Subyek V Tahap 1: penyangkalan dan mengasingkan diri

  Tidak percaya dengan hasil tes kemudian melakukan konfirmasi test HIV. Subyek sempat pulang ke desa asal karena sakit dan bingung dengan apa yang hendak dilakukan.

  Tidak percaya dan bingung dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Subyek sempat pulang ke kota asal selama beberapa waktu.

  Ketika mengetahui status HIV untuk pertama kali, kedua subyek M & V menampakkan reaksi yang hampir sama. Mereka bingung, apa yang hendak dilakukan setelah diketahui bahwa mereka positif HIV.

  Penyangkalan terhadap kenyataan yang harus mereka hadapi juga tampak. Subyek M meski melewati proses konseling pre test tetap mengalami shock dengan status yang baru.

  “Kode-kode pengambilan darah, sampel, itu kan pakai kode. Ya, aku masih hapal sekali, masih inget sekali. Itu...terus selanjutnya yaa...positif!

  

terus melakukan konseling lagi. Yaa... terus aku bingung to...sepulang

dari Griya Lentera waktu itu aku bingung, stress kae lho....bingung kae

lho. Aduh...... bingungnya itu,”aku harus ngapain?” apa yang harus aku

lakukan sementara aku kan menjadi pekerja seks? Kalau aku nggak kerja,

aku mau makan apa? Kalau aku masih melakukan pekerjaanku sebagai

PSK, aku juga punya resiko akan menularkan ke orang lain.

Itu...sementara aku sudah tahu kondisiku. Itu pada awalnya bingungnya

disitu lho...”

  M kemudian mencoba untuk memastikan lagi kebenaran hasil test itu dengan melakukan tes konfirmasi. Tetapi hasilnya masih tetap positif.

  Penyangkalan terhadap kenyataan bahwa dirinya mengidap HIV juga diungkapkan secara terbuka pada konselornya, meski ia juga menyadari bahwa ini adalah akibat dari perilaku beresiko yang ia lakukan.

  

“Mmmm..ya...iya. nggak perasaan sih, tetapi saya ungkapkan ke konselor.

Padahal saya main-main dengan IMS, main-main dengan virus, main-

main dengan seks, bekerja sebagai PSK. Tetapi ketika saya buka hasilnya

positif itu saya juga menanyakan,”masak sih mbak? Jangan-jangan

salah..” Saya sempat nggak percaya. Pada akhirnya saya disarankan

sama konselor kalau untuk konfirmasi, terus keduanya tetap ya wis,

terima nasib. Tetapi penolakan tetap ada. Waktu itu penolakan ada, yaa...

karena belum ada penjelasannya...yaa..penolakan. tetapi saya banyak

menyadari main-main dengan virus, saya main-main dengan IMS.”

  Subyek V yang mengetahui status HIV-nya tidak melalui proses yang baku, menunjukkan reaksi yang tidak jauh berbeda.

  

“Perasaan pertama karena aku isih blank..apa..ora sadar..justru setelah 2

minggu keluar dari rumah sakit, Aku terus drop. Aku terus

woooo…mbingungi kae…arep ngomong salah, ora ngomong salah. Aku

piye yo…malah ora mabuk…Cuma malah dadi… meneng kae. Neng

Jogja. Aku malah ora mabuk, akeh menenge. Pas kuwi malah Aku resik,

ora nganggo blas. Ana setengah tahun ora nganggo blas. Malah ora

kepikiran. Pikire iki piye? Ngomong salah, ora ngomong salah. Ya kuwi,

mentale drop banget.”

  Ia baru merasa bingung dan serba salah dengan kenyataan yang harus dihadapi justru setelah keluar dari rumah sakit, ketika kondisi badannya sudah cukup sehat.

  Kedua subyek kemudian mengambil keputusan yang sama untuk pulang ke tempat asalnya, sebagai sebuah bentuk pengasingan diri dari rutinitas perilaku beresiko yang dilakukan di Jogja. Mereka masih bingung dengan langkah apa yang akan diambil setelah mengetahui status HIV- nya.

  b. Tahap kedua : Marah Tabel 7. Reaksi tahap kedua : Marah

  Subyek M Subyek V Tahap 2: Subyek menyalahkan diri Subyek merasa marah marah sendiri karena karena mendapat keputusannya untuk perlakuan diskriminasi menjadi pekerja seks dari rumah sakit tempat ia komersial. dirawat. Selain perlakuan itu, ia juga diusir dari rumah temannya ketika bertamu.

  Pernah terlintas dalam pikirannya untuk menularkan virus pada orang lain. Menurut Ross (1969) bila penyangkalan pada tahap pertama tidak tertahankan lagi, itu akan digantikan dengan rasa marah, gusar, cemburu dan benci. Hal itu tampak dalam reaksi kedua subyek dalam menghadapi kenyataan terinfeksi HIV,meski pada subyek V rasa marah ini agak dominan karenaia mengalami perlakuan diskriminasi.

  Subyek M marah akan kenyataan tertular HIV. Ia merasa kecewa dengan keputusan untuk terjun ke dunia malam yang pernah ia buat dahulu yang berakibat tertular virus.

  

“Ada, maksude menyalahkan diri sendiri, coba aku ra nglonthe, kayak

gitu lho…kayak nggethuni, coba aku ndisik ora keluar malam, mungkin

tidak akan seperti ini. Itu juga ada rasa kemarahan ya itu…saya bilang

sedikit, nggak banyak. Itu proses penerimaannya lebih cepat karena

tingkat kemarahannya sedikit, tapi ya sempat marah.”

  Tapi M menyadari bahwa hal ini adalah resiko dari keputusan yang sudah ia buat, sehingga ia dapat mengendalikan rasa marah itu.

  

“Dari resiko aku main-main dengan virus? Iya, itu resiko dari aku main-

main dengan virus. Melakukan hubungan seks bebas.”

  Reaksi agak berbeda ditampakkan oleh subyek V yang merasa marah lebih karena dokter menyampaikan status HIV-nya dihadapan orang lain.

  Terlebih lagi kemudian ia mengalami perlakuan diskriminasi di rumah sakit tersebut. Ia di pindah ke ruang isolasi dan suatu ketika selang infusnya copot dan darah menetes di beberapa tempat, tidak ada paramedis yang menolong hingga pagi hari.

  

“Yen diskriminasi kerasa banget! Kuwi aku dipindah diruang isolasi.

Karena sebenere aku dikon pindah neng S ora gelem. SDM-nya emang

nurut suster durung siap. Dadine, karena diadvokasi maring Bu E, dan

aku kuwi kerep ceramah, dadi aku oleh kelonggaran, cuman aku tetep

dipindah-pindah neng ruangan isolasi. Aku selama 2 minggu 4 kali

pindah. Pokoke angger ruangan isolasi kosong, pindah rene, pindah rene,

kuwi ping empat. Pas kuwi aku sempat…infusku sempat…eh iya..infusku

sempat ucul. Kuwi getihe ngantek esuk. Dilap ora wani kok… maksude ya

aku mikir,”apa nggak ada cleaning service?” ora ngerti ya…memang

pagi baru di pel.”

  Selain di rumah sakit, perlakuan diskriminasi juga dialami V di rumah salah satu temannya. Ia diusir oleh orangtua teman itu ketika bertandang ke rumah mereka. Bahkan salah satu kamar mandi yang pernah dipakai V selama beberapa waktu tidak digunakan oleh keluarga itu.

  

“Aku diusir saka omahe kancaku.tapi karena ya piye…wong tuwane

dicritani kancaku yen aku positif. Terus karepe mungkin arep ngomongi

anake aja dolanan narkoba. Tapi wong tuane ki kadung ngerti aku.

Karepe bocah sing diomongi kuwi…arep masalah konseling..tapi wonge

wis kadung wedi kae..terus aku diusir kae.”

  V juga kehilangan seorang sahabat, karena ia ingin menjaga agar rumah tangga sahabatnya tidak terganggu. Ia khawatir jika istri sahabatnya mengetahui bahwa V positif HIV.

  

“Aku kelangan kanca siji mergane bojone wedhi, nek ngerti aku positif

dhekne wedhi. Aku trima ngadoh merga dhekne wis nikah kok…malah

ribut..mending aku kelangan kanca siji merga kuwi…kanca cedhak!”

  Ketika sendirian, pernah terlintas dalam pikiran V untuk menularkan virus kepada orang lain.

  

“Aku pemikiranku dadi dhewe karena ora eneng kanca liyane, wis tak

tularke wae ben kancane akeh…ha..ha..ha..ha. Ya kuwi pemikiranku wis

elek kae.”

  c. Tahap ketiga: Tawar-menawar Tabel 8.

  Reaksi tahap ketiga: tawar-menawar

  Subyek M Subyek V Tahap 3: Subyek berjanji ikut Subyek berjanji tawar dalam kampanye menghentikan konsumsi menawar pencegahan HIV/AIDS narkoba, tetapi ternyata tidak berhasil.

  Proses tahap ketiga ini menurut Kubler Ross adalah sebuah usaha untuk menunda kejadian yang tidak diharapkan. Proses ini biasanya tersirat dan terjadi hanya beberapa saat. Subyek M berencana untuk terlibat dalam kampanye HIV/AIDS sebagai bentuk penebusan akan apa yang telah ia lakukan.

  

“Ada, tapi aku janjinya lain. Setelah terinfeksi HIV…kayak gitu…waktu

itu aku berjanji pada diri sendiri dalam hati…kalau janjinya sih ingin ikut

terlibat menanggulangi HIV; apa pun kampanyenya. Jadi biar memberi

banyak info tentang HIV/AIDS. Jadi janjinya itu intinya biar saya aja,

yang lain jangan. Ya walau pun belum banyak kan saya udah ikut-ikutan

terlibat. Janjinya itu yang positif. Tapi kalo janji yang negatif itu gak ada,

misalnya saya akan menularkan pada banyak orang…kayaknya aku ingin

menebus dosa-dosaku…ha..ha..ha…yang selama ini menggunung didalam

hidupku…bener

  ...saya takut mati.” Sementara subyek V tidak tampak serius dengan dengan janjinya untuk mengurangi konsumsi narkoba. Saat ayah V meninggal 1 bulan setelah status HIV diketahui, ia sempat berjanji untuk tidak menggunakan narkoba lagi. Meski sebenarnya ia setengah hati ketika mengucapjanji itu.

  

“Pas Papahku ora enek, aku krasa mak dheg! “Wis ya ora sah dolanan,

wis dikubur sisan ambi Papah!” aku…aduh!!!

  Kematian ayah V juga belum cukup membuatnya sadar untuk tidak mengkonsumsi narkoba. Beberapa waktu kemudian, karena pengaruh lingkungan yang semuanya pengguna narkoba, V kembali pada kebiasaanya bahkan ia sempat menjadi pengedar.

  

“Durung! Ha..ha..ha…saiki isih kaya kiye kok! Malah aku kumat meneh

kok. Bar positif kuwi aku 6 wulanan clean, bar kuwi kumat meneh kok.

Nek aku dasare wis nganggo. Lingkunganku ki nggon BD kabeh, malah

sempat ngedarke…wedhus to..”

  Suatu ketika ia tertangkap polisi dan harus menjalani tahanan di kantor polisi. Selepas dari tahanan, dalam keadaan sakaw ia memaksa kakaknya untuk mengambil barang (narkoba)

“Aku metu saka Polres ki aku kudune mulih, aku sakaw berat kae kok.

  

Aku karo mas-ku. Mas-ku nganti tak ajak njupuk kok, nganti mas-ku,”iki

terakhir ya!” “Iya!” jenenge junkie, terakhire…… d. Tahap keempat : Depresi Tabel 9. Reaksi tahap keempat: depresi

  Subyek M Subyek V Tahap 4: Subyek mengalami depresi Subyek menjadi perokok depresi karena membayangkan berat dan sering melamun. kematian akibat AIDS Ia merasa ngeri karena yang menakutkan. Hal itu dalam benaknya dipicu oleh foto-foto yang HIV/AIDS sama dengan menampakkan keadaan kematian. pengidap AIDS. Selain itu, subyek juga merasa takut jika mengalami diskriminasi dari orang lain terkait status HIV- nya.

  Reaksi tahap keempat yang dialami subyek adalah gejala depresi. Reaksi ini muncul ketika mereka menyadari bahwa tidak mungkin menghindari kenyataan bahwa mereka positif HIV.

  Subyek V setelah mengetahui bahwa dirinya positif HIV, menjadi perokok berat selama 2 tahun. Ia sebetulnya bukan perokok berat. Terakhir kali ia merokok adalah ketika duduk di bangku SMP. Ia sebetulnya tidak menikmati rasa rokok dalam masa depresi ini. Ia hanya mencari kesibukan ketika sendiri. Subyek V juga berada dalam kondisi clean (tidak menggunakan narkoba) selama 6 bulan setelah positif.

  “Aku piye yo…malah ora mabuk…Cuma malah dadi… meneng kae.

Sing jelas aku dadi perokok. 2 tahun. Ya ngerokok pas positif kuwi. Malah

ngantek 2 bungkus je sedina. Boros banget! Wis mulai…soale aku nek

numpak mobil AC wis bingung..aduh kok ora isa ngerokok…”

  Subyek V merasa bahwa ia sendirian dan tidak punya tempat untuk bercerita sehingga merokok menjadi semacam pelarian baginya.

  Menghadapi kenyataan bahwa dirinya positif HIV dan beberapa perlakuan diskriminatif yang sebelumnya ia terima membuat V merasa serba salah dengan langkah yang akan diambilnya.

  

“Pertamane karena kuwi, aku stress kuwi, depresi. Pertama ki..neng

ruang tamu kancaku, dhewe, ngerokok. Aku kerep dhewe. Jane durung

bisa nikmati rokok, ming dienggo kesibukan dhewe.

Yaa…enggak. Cuma karena aku lebih senang sendiri waktu

itu…cenderung sendiri.”

  Selain merasa sendirian, bayangan tentang HIV/AIDS yang sering digambarkan sebagai penyakit yang sangat mematikan juga sering mengganggu pikiran V. Sebelum status HIV-nya diketahui, V memang pernah melihat foto-foto pengidap HIV dalam kondisi yang menyedihkan yang sudah berada dalam fase AIDS. V sempat berpikir, dengan cara apa aku akan mati? Ketika melihat gambar-gambar semacam itu.

  

“Iya tapi yaa..mung sesuk aku matine piye? Kuwi..he..he..he, kuwi

sempat. Tapi ya piye..ya wis lah, ora tak pikir banget. Nek tak pikir malah

stress. Nek kuwi sih sempat,”wahh..iki malah lara kaya iki, piye aku

mati?” kadang ya iya..kepikiran sempat iya. Apa lara sik apa piye?

Dadine kuwi sempat kepikiran. Wah nek sesuk nganti kaya iki….ya

mungkin iku ya karena ndhelok foto-foto kuwi ya…”

  Perasaan ngeri jika harus menghadapi kematian juga muncul dalam pikiran V.

  

“Ya mung ngeri thok wae, nek misale kaya kuwi piye…Cuma paling

kepikire suk matine kaya apa?ha..ha..ha..ha..mung kuwi thok!”

  Rasa ngeri itu muncul karena saat itu V belum paham cara kerja virus HIV. Ia beranggapan bahwa HIV sama dengan AIDS dan jika mengidap penyakit tersebut, kecenderungannya adalah meninggal dalam waktu yang singkat. Informasi itu ia dapatkan ketika membaca berita di media massa yang memuat tentang Odha yang meninggal. Sebagian besar Odha yang diberitakan meninggal adalah Odha yang sudah berada dalam fase AIDS.

  Sementara saat itu V belum memahami tahapan dalam fase AIDS sehingga ia berkesimpulan bahwa pengidap HIV pasti cepat meninggal dunia.

  

“Memang pas durung ngerti..iki HIV, prosese piye ki maksude CD4-e

medhun iki ora dong. HIV ya AIDS iki kecenderungane ndang cepet mati.

Karena aku macane ndilalahe sing ana neng media massa ndhisik to..nah

ngertine kan wis mlebu masa AIDS. Dan aku kan durung ngerti, maksude

tahap-tahapnya nggak tahu. Ya pikirane sempat kaya kuwi. Tapi pas wis

ngerti ya ora. Pas durung ngerti ya memang iya! Aku dhewe iya,

pikirku,”ah..iki dhelet engkas modhar!” iya!..ha..ha..ha..ha ngertine ya

sing jelas ki Freddy Mercury, karena aku seneng musik, kae kan wis

mlebu masa AIDS to.. Kuwi mikire ndang modhar, paling sedhela meneh!

Ora kepikiran suwi.”

  Subyek M mengalami sakit dan rambutnya kemudian rontok setelah ia tahu status HIV-nya. Selama 5 bulan awal ia tidak tahu harus melakukan apa. Bayangan tentang keadaan Odha yang berada dalam kondisi yang menyedihkan juga sering muncul dalam pikirannya.

  

“Awal-awale iya dan sangat banget....seperti... jangan-jangan aku seperti

itu, jangan-jangan itu aku, jangan-jangan...kayak gitu intinya”

  Gambaran tentang kondisi Odha yang mengerikan ia dapatkan dari buku- buku atau media lain yang menyajikan gambar-gambar mengenai Odha

  

“Aha...iya! sangat mengerikan. Karena saat saya ikut pelatihan, ikut

kampanye itu, mengenai gambar-gambar itu sangat..yang mengenai

infeksi oportunistik sekali, yang sangat eeee.... dying-dying. Nek Odha ki

wis Odha wasting. Terus saya punya pikiran saya akan seperti itu, nggak

lama lagi akan seperti itu.”

  Selain gambar yang mengerikan, pikiran tentang kemungkinan mengalami stigma dan diskriminasi juga membebaninya. Pernah terlintas dalam pikirannya bahwa ada kemungkinan ia akan mengalami pengusiran dari lingkungan dan dianiaya jika orang lain tahu statusnya. Ia membayangkan hal itu dapat saja terjadi pada dirinya, seperti kasus-kasus diskriminasi yang dialami Odha di daerah lain yang dimuat di media massa. Ia akhirnya berkeputusan untuk menutup rapat soal status HIV-nya.

  

“Ya! Itu pernah terlintas dan sangat membebani. Ih jangan-jangan...kalau

orang lain tahu saya akan diusir, akan digebuki, saya akan dibakar...

karena informasi itu karena media. Nek wong wis kena HIV kuwi dibakar.

Ada kasus kena HIV/AIDS dibakar, ada kasus kena HIV digebuki massa,

kayak gitu. Jadi terlintas dipikiran itu pernah. Tapi akhirnya kan aku bisu

tho...meneng wae.”

  Pikiran mengenai sakit yang mengerikan dan kemungkinan mengalami diskriminasi pada subyek M muncul ketika ia dalam kondisi yang lelah dan sendirian. Ketakutan-ketakutan itu kemudian terlintas dalam pikiran M

  

“Ya nggak...justru nek kepikiran itu pas saya capek mas...badan capek,

tidur nggak bisa merem karena capek, banyak pikiran, nah itu lho malah

pikiranku kemana-mana melayang-layang. Membayangkan yang sudah-

sudah gitu lho...dalam arti membayangkan Odha-odha sing wasting....”

  Penyesalan tentang jalan hidup yang ia jalani juga kadang timbul ketika M mengingat tentang masa lalu. Ia kadang merasa nelangsa, setelah melalui perjalanan hidup yang penuh perjuangan dan liku-liku, bukan hasilyang menggembirakan yang ia petik tetapi justru status sebagai Odha yang ia dapatkan.

  

“Yaa..ampun perjalanan hidup..aku kan kadang sok ngenes kuwi lho...kok

ya ujung-ujunge ki kok ya...kopiahe..sebutane ki kok Odha..ngono kuwi

lho... Kayane ki ora sepadan karo kehidupan masa laluku yang

menyakitkan, kayak gitu lho mas! Yang seharusnya itu harus...harus

diunduh karo buah segar kok predikate malah Odha. Kadang aku punya

perasaan penyesalan yang abadi lah.... kalo dibilang melihat background

kehidupanku yang menyedihkan, suka-duka...aku juga kadang-kadang

pengin nangis, tapi ngapain sih urip kok ditangisi?” e. Tahap kelima : Menerima Tabel 10. Reaksi tahap kelima: Menerima

  Subyek M Subyek V Tahap 5: Subyek M kemudian Subyek V mulai menerima memahami bahwa membuka status pada

  HIV/AIDS tidak sama orang lain. Ia juga dengan mati. Ia sudah siap memahami bahwa lahir batin jika harus mati. HIV/AIDS tidak sama Subyek mulai berani dengan siap dengan membuka status HIV-nya kematian. pada orang lain.

  Kedua subyek, M dan V, mempunyai waktu yang cukup untuk mulai menerima keadaan dirinya dengan status HIV positif. Pada awalnya memang mereka menyangka bahwa Odha pasti akan cepat meninggal

  dunia dan dengan cara yang menyakitkan dan mengerikan. Seperti yang dituturkan subyek M,

  

“Bukan cuma masyarakat luas aja, saya sendiri pun seperti itu. Saya

pikir, dulu, HIV itu sama dengan mati, AIDS,... kayak gitu....dan AIDS

juga akan cepat mati. Tapi ternyata setelah saya banyak tahu tentang itu

ya nggak seperti itu.......jadi mungkin masyarakat perlu tahu bahwa HIV

tidak sama dengan AIDS dan AIDS tidak sama dengan mati.”

  Informasi yang memadai dan pengetahuan yang cukup mengenai HIV/AIDS sangat membantu subyek M dalam tahapan ini. Ia kemudian tahu bahwa salah satu kunci untuk mempertahankan hidup adalah dengan menjaga kondisi tubuh. Ia juga berusaha bersikap tegar dalam menghadapi kenyataan, ia melihat bahwa ada orang-orang lain yang kondisinya jauh lebih parah dari dirinya.

  

“ Tapi setelah tahu banyak malah sebaliknya. Dengan melihat teman-

teman yang lain lebih parah daripada aku membuat aku percaya, bukan

saya akan seperti...dalam arti tegar, tapi kalau bisa jangan sampai saya

seperti itu dalam hal menjaga kesehatan, terapi, tapi kalo kita nggak

biasa malah stress melihat gambar-gambar atau teman-teman yang sudah

sakit, terkapar dan waktu itu ya aku sempat stress...”

  Bayangan tentang memang pernah menghantui pikiran subyek M. Tapi dalam perjalannya, ia kemudian menemukan dan menyadari bahwa semua orang memang harus mati. Sebab kematian bisa bermacam-macam, tidak hanya karena HIV/AIDS.

  

“itu pernah terjadi...tetapi sekarang nggak...sudah siap lahir batin. Mikir

setelah tsunami, semua orang pasti akan mati...tetapi yang nggak Odha

pun akan mati.”

  Subyek M masih sangat optimis bahwa suatu saat akan ditemukan obat yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS. M percaya bahwa Yang Maha Kuasa ketika memberikan penyakit pasti akan memberikan obatnya, meski ia tidak tahu kapan waktunya dan apakah dia akan menikmati obat itu.

  

“ya nek sing kuwasa ngekek’i penyakit mesthi mengko yo ngekke’i

obate…optimis banget.”

(ya jika Yang Maha Kuasa memberi penyakit, pasti nanti memberi

obatnya)

  Subyek M kemudian merasa lebih lega setelah ia dapat sedikit demi sedikit memilah-milah pikiran-pikiran yang menderanya. Ia optimis bahwa waktunya masih panjang.

  

“Nek aku, mikire semua orang akan mati, semua orang akan kesana.

Tetapi setelah saya tahu ini bisa ditaruh disini, disini, malah jadi optimis

bahwa saya akan panjang umur.”

  Subyek V awalnya juga takut dengan bayangan kematian dan sakit yang berkepanjangan akibat HIV/AIDS. Tetapi dalam perjalanannya ia kemudian menemukan bahwa sebetulnya hal itu tidak terlalu menakutkan. Bahkan ia merasa bahwa sebetulnya efek secara langsung dari HIV belum ia rasakan.

  

“Setelah wis ngerti nah..ternyata malah dadi….oooo ternyata tidak,

bukan sesuatu yang menakutkan seperti yang diperkirakan, seperti waktu

pertama tahu ya justru aku wedhi tenan…wahh bajigur! Setelah ngerti

malah..ahhh padha wae..ndak apa ya..malah biasa karena neng awak ki

ora eneng efek..maksude ki piye… Ora krasa! Mungkin ora krasa karena

pelan-pelan.”

  Salah satu upaya subyek V dalam menerima keadaanya adalah dengan cara membuka statusnya kepada orang-orang dekatnya. Ia melakukan hal ini karena menyadari bahwa ia berada di lingkungan yang sangat beresiko sebagai penasun. Selain itu ia juga percaya bahwa kalangan junkie tidak akan membocorkan statusnya kepada sembarang orang.

  

“Pisanan P, terus kos, terus…bar kuwi kalangan junkie thok. Rata-rata

sing junkie kaget….cuman aku cenderung maring junkie piye ya…karena

aku yakin mereka bisa jaga omongan, maksude karena mereka wis kedidik

ya…aku yakin junkie untuk jaga rahasia, dhekne duwe etika dhewe.

akeh sing padha kaget soale aku wektu kuwi njaluk gelas dhewe dan aku

ngumbah dhewe. Pada kaget kabeh. Tak omongi sak durunge aku

nganggo, aku mbukak status sik. Aku njaluk iki kanggo kalangane dhewe,

iki kaget kabeh kok…ya tapi ya aku percaya cah kuwi thok.”

  Salah satu pertimbangan V untuk mengungkapkan statusnya kepada orang lain adalah ia ingin situasinya lebih terbuka. Meski awalnya merasa serba salah, ia tetap memutuskan untuk mengungkap statusnya. Jika teman- temannya ternyata takut dan menjauh, V juga sudah siap.

  

“Karena aku pikir nek ora ngomong..piye ya..apa karena aku melu

pelatihan..ee..le ngomong ki angel…nek ra..ngomong…ya serba salah

sih… Nek misale wis ngerti aku, nek wedhi ya wis… men ngerti aku, men

luwih fair. Buka-bukaan aku kaya kiye, isih gelem kekancan ora? Nek ora

ya wis.

  Dalam proses tahap kelima ini, mengingat waktu yang cukup panjang bagi subyek untuk mulai menerima keadaan dirinya, peran konselor atau orang lain yang bisa diajak bicara oleh kedua subyek ternyata cukup keluh kesah subyek setidaknya mampu membuat subyek mengeluarkan beban pikirannya.

  Subyek M merasa bahwa kehadiran konselor sangat membantu dalam proses penerimaan dirinya.

  

“Banyak ya...50% kayak gitu dengan dia...dengan support, mendukung,

apalagi waktu itu kita lagi depresi, stress, ada teman yang mendukung ya

disambutlah..gitu. Kayak gitu itu sangat membantu sekali, jadi kita nggak

ngerasa sendiri. Waktu 2001 saya benar-benar sendiri, nggak ada siapa-

siapa. Dan saya memang itu...momok gendruwo sekali buat saya. Goyang

salah, diem salah. Semakin kita membungkam, diam, semakin stress,

semakin ketidaktahuan. Tetapi saya mau buka mulut, stigma diskriminasi

di sekeliling kuat tentang HIV. Jadi bingungnya disitu, serba salah. Tapi

dengan adanya konselor, curhatnya sama konselor.

  Hal serupa juga dialami oleh subyek V. Ia merasa membutuhkan orang lain sebagai teman bicara untuk mengurangi beban pikirannya. Sebetulnya V ingin berterus terang tentang statusnya kepada orang lain di kota asalnya. Tetapi ia tahu bahwa jika ia membuka status di kotanya, hal itu akan menambah beban bagi ibu V.

  

“Apa karena ora ana kanca ngomong, aku ora ngerti. Aku memang butuh

kanca ngomong, nganti telpon Bu Et. Tapi bingung aku neng kana, arep

mbukak ki eneng ibuku. Bebanku ki mesakake ibuku. Ora ngomong…ya

mumet. Dadine ya serba salah. Aku mendingan neng kene.”

  2. Aktualisasi Diri Subyek Tabel 11. Aktualisasi diri Subyek

  Subyek M Subyek V Aktualisasi diri

  Subyek M kemudian aktif dalam kampanye pencegahan HIV/AIDS. Ia juga menulis artikel singkat di media kalangan terbatas Odha. Subyek berusaha untuk memilih waktu, tempat dan orang yang tepat jika akan membuka status HIV.

  Aktif dalam kampanye pencegahan HIV/AIDS. Subyek agak mengalami hambatan dalam mengaktualisasikan diri karena pengalaman diskriminasi (kadang masih muncul rasa marah).

  Menurut Rogers, aktualisasi diri adalah sebuah proses yang terus menerus dan bukan suatu hal yang statis. Subyek M & V berusaha untuk keluar dari bayangan-bayangan yang membelenggu mereka terkait dengan status HIV-nya. Dalam pergulatannya terkait dengan status HIV mereka, kedua subyek menampakkan reaksi yang agak berbeda dalam usaha mengaktualisasikan dirinya.

  Subyek M selalu berusaha untuk meminimalkan tekanan yang harus ia hadapi sebagai seorang waria. Ia berkeyakinan bahwa menjadi seorang waria tidak harus identik dengan dandanan yang menyerupai perempuan.

  “Kalo statusku akan menekan aku, ya... itu kodrat. Tetapi kalo aku disuruh tertekan oleh statusku, aku nggak mau. Jadi aku bukan melawan status, tetapi melawan tekanan. Jadi contoh kasus, untuk menghindari pelecehan, aku berpakaian seperti ini (menunjuk badan), karena aku seorang waria. Toh seorang waria bukan berarti harus pakai make up,

  

rok, itu juga termasuk mengurangi tekanan kan? Agar aku tidak

terdiskriminasi.”

  M sangat menyadari pilihan hidupnya sebagai waria. Ia menyadari bahwa di dalam dirinya terdapat jiwa perempuan meski secara fisik tubuhnya adalah tubuh laki-laki.

  

“ Ya biarlah mereka beropini “M itu waria, M itu kayak gini” itu hak dia,

tapi aku EGP gitu...., emang gue pikirin. Bagi aku, nggak ada orang

sempurna. Ada kekurangan, ada kelebihan”

  Dalam kaitan dengan status HIV-nya, subyek M selalu berusaha untuk memilih waktu, tempat dan orang yang tepat untuk mengungkapkannya.

  Ia tidak berbicara mengenai statusnya dengan sembarang orang, karena ia tahu bahwa tidak semua orang siap dengan kenyataan bahwa M adalah Odha.

  

“Tentang ke-Odha-an, untuk menekan masyarakat tentang Odha, ya...

tutup mulut. Tidak membuka status. Dan disaat kita mau membuka status,

cari tempat, waktu, dan orang yang tepat, supaya kita nyaman dan kita

juga tidak tertekan.”

  Saat ini M terlibat aktif di sebuah LSM. Selain itu ia juga kadang menulis artikel singkat yang dimuat dalam media yang beredar terbatas di kalangan Odha. Ia juga pernah terlibat dalam beberapa acara siaran radio yang mengupas tentang HIV/ AIDS. Kegiatan lain yang dilakukan M testimoni terbuka mengenai status HIV-nya dalam ceramah atau diskusi terbatas.

  Subyek V agak sedikit mengalami hambatan dalam mengaktualisasikan dirinya. Hal ini disebabkan pengalaman diskriminasi yang dia dapat di masa awal ia mengetahui status HIV-nya. Ia selalu merasa serba salah jika berhadapan dengan orang lain. Ia kadang merasa takut kalau orang lain kemudian tidak menerima dirinya karena positif HIV.

  

“Maksude..mau nggak mau..walau orang lain nggak ngerti tetep krasa

piye ya… Karena apa ya..disini diskriminasi dah jelas..apa ya..masih kuat

banget. Jadi ya piye ya…walaupun wong ora ngerti dhewe, tapi dhewe ki

wis krasa serba salah sik. Dudu rasa salah tapi piye…???

Iya. Karena kondisinya gitu lho. Kita mungkin memang nggak nulari, tapi

orang yang ngerti kita…dadine perasaane dhewe ki piye ya…”

  Meski kadang ragu-ragu dengan penerimaan orang lain subyek V juga terlibat aktif dalam kampanye tentang HIV/AIDS, terutama tentang penggunaan alat suntik yang steril bagi penasun. dikemukakan Elizabeth Kübler Ross dan teori aktualisasi diri Carl Rogers berlaku dalam penelitian ini. Hal ini terbukti dari hasil penemuan dan pembahasan terhadap proses penerimaan diri kedua subyek HIV positif, dapat diketahui bahwa masing-masing subyek mengalami semua fase dalam teori lima tahapan menghadapi kematian menurut Ross. Hanya saja, pada subyek V masih terdapat rasa marah meski ia sudah dapat menerima keadaannya sebagai Odha. Kemarahan itu disebabkan karena subyek V mengalami diskriminasi pada saat awal mengetahui status HIV-nya. Pada fase akhir tahapan menghadapi kematian, bentuk responden menerima keadaannya adalah dengan mulai membuka status HIV-nya kepada orang lain, baik dalam hubungan personal atau kepada publik dalam kesempatan diskusi ada ceramah terbatas. Aktualisasi diri yang dilakukan subyek terlihat dalam keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan kampanye pencegahan HIV.

  1. Saran Praktis

  a. Perlu penyebaran informasi yang benar dan proporsional secara terus- menerus mengenai HIV/AIDS oleh instansi pemerintah dan lembaga lain yang terkait dengan isu HIV/AIDS. Informasi tersebut dapat memberikan pengertian yang benar tentang HIV/AIDS bagi Odha dan masyarakat awam.

  b. Peningkatan peran konselor dan kelompok dukungan sebaya dalam upaya mempercepat proses penerimaan diri Odha.

  2. Saran Metodologis

  a. Proses penerimaan diri dan aktualisasi diri adalah sebuah proses yang berlangsung terus-menerus dan tidak berhenti dalam suatu waktu.

  Diperlukan penelitian lain terkait topik yang sama agar didapatkan pengertian yang lebih mendalam mengenai proses ini.

  b. Jumlah responden dapat ditingkatkan agar mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai proses penerimaan diri.

  

Daftar Pustaka

Booklet “Ayo Cari Tahu”. Jakarta: Yayasan Spiritia.

  Buku Pegangan Peer Educator. AIDS & Kesehatan Reproduksi. Sahaja-Lentera PKBI DIY. Djauzi, Samsuridjal & Djoerban, Zubairi. Penatalaksanaan Infeksi HIV di Pelayanan

  Kesehatan Dasar . 2003. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Dokumentasi tentang Pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap Orang dengan

HIV/AIDS di Indonesia

  . Yayasan Spiritia. (2001). Gunawan, FX. Rudy. Mendobrak Tabu Sex,Kebudayaan dan Kebejatan Manusia.

  Yogyakarta: Galang Press, 2000.

  Teori-teori Holistik (Organismik-Fenomenologi).

  Hall & Lindzey. (1978).

  (Supratiknya ed.). Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Harahap, Syaiful W. (2000). Pers Meliput AIDS. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Harre & Lamb (ed), Rom & Roger. Ensiklopedi Psikologi; alih bahasa, Ediati Kamil.

  Jakarta: Penerbit Arcan, 1996. Julianto, Irwan. 2002. Jika Ia Anak Kita – AIDS dan Jurnalisme Empati. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.

  Kamus Besar Bahasa Indonesia. Depenas. Balai Pustaka: Jakarta. 2001. Cetakan ke-3. Kerlinger, F.N. Asas-asas Penelitian Behavioral. 1998. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

  Kompas, Jumat, 2 Desember 2005. “AIDS Itu Sudah Jauh Menyusup.” Kompas, Jumat, 2 Desember 2005. “Kampanye Jujur AIDS – Jangan Lagi Ada

  Diskriminasi.” Kompas, Jumat, 2 Desember 2005. “Penanggulangan AIDS – Kampanyekan Keep

  Your Promise .”

  Kompas, Jumat, 23 November 2001. Hari AIDS Sedunia 2001, “I Care, do You ?”

  Kompas, Jumat, 7 Desember 2001. “AIDS : Tahukah Kamu?” Kompas, Kamis, 24 Februari 2005. “Jumlah Penderita HIV/AIDS Naik Hampir 200

  Persen.” Kompas, Minggu, 9 Desember 2001. “AIDS di Indonesia Bisa Lebih Serius Dibanding Malaysia”.

  Kompas, Sabtu, 1 Desember 2001. “Perawatan Pengidap HIV/AIDS Perlu Perhatian.”

  Kompas, Sabtu, 24 November 2001. “Turis Perancis Pengidap HIV Dideportasi” Kompas, Selasa, 15 Februari 2005. “Kasus HIV/ AIDS di Indonesia Terus

  Meningkat.” Kompas, Senin, 11 November 2001. Akses Obat AIDS Tanggung Jawab Bersama.

  Kompas, Senin, 28 Februari 2005. “Soal Pengidap HIV/AIDS. Stigmatisasi dan Diskriminasi Masih Terjadi.”

  Kompas, Senin, 5 November 2001. Ditemukan 82 Kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah – Jumlah Sesungguhnya Diperkirakan Jauh Lebih Besar. Kubler-Ross, Elisabeth. On Death and Dying (Kematian Sebagai Bagian Kehidupan,

alih bahasa, Wanti Anugrahani), Jakarta: PT Gramedia PustakaUtama, 1998.

Kubler-Ross, Elisabeth. Question and Answer On Death and Dying, Tanya Jawab

  Tentang Kematian dan Menjelang Ajal:

  alih bahasa, Maria Adriana S.A. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998. Maasdrop, Aubrey & Long, Siân. 2004. Positive Development. Penerbit: Global

  Network of People Living with HIV and AIDS (GNP+) bekerjasama dengan Healthlink. Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. 2002. Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya. Muninjaya, Dr. A.A. Gde. AIDS Dikenali Untuk Dihindari. Jakarta: Penerbit Arcan,1998. Muninjaya, Dr.A.A. Gde.

  AIDS di Indonesia, Masalah dan Kebijakan Penanggulangannya. Murni, Susana., Green, Chris W., Okta, Siradj., Setyowati, Hertin., Seri Buku Kecil “Pasien Berdaya” . 2003. Yayasan Spiritia. Pedoman Penulisan Skripsi. 1998. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta. Pedoman Penulisan Skripsi. 2003. Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  Yogyakarta. Pencegahan AIDS Melalui promosi Kesehatan: Masalah yang Sensitif, alih bahasa Hendarmin Aulia. Bandung: Penerbit ITB, 1994.

  Petunjuk Penting AIDS, Edisi Ketiga. Editor : Michael W. Adler. 1996. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Poerwandari, E.Kristi. Pendekatan Kualitatif Dalam Penelitian Psikologi. Jakarta:

  Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi Universitas Indonesia, 1998. Strauss & Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif, Alih bahasa: Muhammad Shodiq & Imam Muttaqin, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003. Sukanta, Putu Oka. Kerlap-Kerlip Mozaik; Berjuang Hidup Dengan HIV/ AIDS.

  Yogyakarta: Yayasan Galang, 2000. Suryabrata, Sumadi. 1998. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. WartaAIDS. 2001. Kanabus, Annabel & Allen, Sarah. Asal-usul HIV/AIDS. Yayasan Spiritia. Lembaran Informasi tentang HIV/AIDS untuk Orang yang Hidup

  dengan HIV/AIDS (Odha) . 2002-2005. Jakarta.

  Yin, Prof. Dr. Robert K. Studi Kasus (Desain dan Metode), alih bahasa M.Djauzi Mudzakir, ed. Revisi., cet. 4., Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.

  W.L.ODHA.YK.25maret2005

  1. Latar belakang Bagaimana riwayat hidup subyek?

  • aku menganggap diri aku perempuan itu sudah sejak

  keluarga

  kecil. Kayak gitu. Jadi tidak mengakui diriku adalah seorang waria. Aku adalah wanita! Aku adalah perempuan! Itu sejak kecil. Aku ingetnya itu sebelum sekolah. Sebelum masuk sekolah SD wis berkecimpung dengan dunia perempuan.

  • Ya pasaran kayak gitu, sama perempuan. Termasuk olah raga. Nek bola kasti, sepak bola itu nggak suka. Tapi nek loncat tinggi itu suka, lompat tali, itu... dan mulailah aku masuk SD itu masih mengikrarkan diri sebagai seorang perempuan. Dengan, ya... mungkin anak sekecil SD itu saya rasa kalau bukan orangtuanya tidak mungkin-lah dengan meng-hand body-kan badannya, kakinya, karena dia mau sekolah. Kalau lelaki, jarang sekali. Tapi oleh karena saya sudah mengikrarkan diri saya perempuan, ya... meski tidak mampu beli hand body, ya... minyak, ben ora busik. Minyak kelapa, lengo klentik, sebelum berangkat sekolah. Dan kelas 4 SD wis dijuluki sebagai ‘Tessy’.
  • Loro ati banget. Sakit hati karena di kelas siswanya itu 10 laki-laki, 10 perempuan. Di belakang saya itu laki-laki. Di depan sana itu guru menerangkan. Saya sebenarnya mendengarkan tapi tidak melihat, menghadap. Dia langsung, “he Tessy, dimana letak titik bumi?” aku baru menengok ke papan tulis. Untunglah saya menjawab dengan cekatan, “letak titik bumi adalah dimana kita berdiri, disitulah letak titik bumi.” Disitulah jawaban saya waktu itu dan ternyata dibenarkan oleh guru. Dan karena waktu mau memberi pertanyaan itu guru saya memanggil Tessy, jadi begitu keluar kelas saya dipanggil Tessy. Karena gurunya bilang begitu, jadi muridnya ngeledek- ngeledek “Tessy-Tessy.” Akhirnya saya memilih nggak masuk 2 hari, karena kalo anak sekarang mungkin sakit hati ya.
  • Saya tidak studi lagi. Kelas 2 SMP. Pas SMP kuwi kasus besar... Kalau disaat aku SD yang sekolah itu tetangga kampung saya, jadi sudah tahu sehari-harinya saya keliaran disitu sudah tahu. Tingkah lakuku seperti apa. Tetapi disaat SMP itu

  mulanya saya disitu saya nggak punya temen sama sekali. Tetapi saya coba waktu itu... Saya hanya kepingin sekolah dan saya sudah dibayar mahal oleh keluarga saya....ya bener-bener sekolah kayak gitu. Trus, saat SMP itu dari pertama memang pertama dari 1 tahun pertama itu memang nggak ada masalah. Biasa-biasa aja disaat semester 2 itu bingung. Saya juga bingung ini banyak kesenian, banyak keluar rumah, banyak kegiatan sekolah lah. Itu... terus...

  • Bukan butuh biaya...kita butuh apa ya...geng...kayak gitu lho...aku tu bingung mau masuk geng yang mana... sementara postur tubuhku mulai bongsor gitu. Sementara kalo aku masuk ke geng laki-laki bisa... tetapi perasaannya lain sekali. Disaat aku masuk ke perempuan aku bisa menyamakan perasaan aku sama- sama perempuan. Tapi dipandang dari luar, postur tubuhnya kan lain. Terus waktu itu ada lagi sih, waktu itu piknik. Bukan piknik sih, tapi pramuka waktu itu. Itu... pengalaman yang sangat... yang membuat aku nggak sekolah lagi. Karena, piye ya.... karena aku sama laki-laki. Kan pada akhirnya diputuskan grupku sama laki-laki. Trus, aku nggak ngerti apa yang saya lakukan aku nggak ngerti. Tapi kemudian dia pada awalnya dia nggak seneng sama banci, terus disiarke, kan akhirnya sampai ke guru nek aku nggak seneng karo kae, mengko kae ngene, kae ngene. Tapi kan ngene-ne aku ra ngerti. Wis, waktu itu karena malu, aku kan memutuskan untuk keluar. Bener-bener keluar dengan sendiri karena aku sudah sangat nggak nyaman. Dan kenapa aku nggak mencari sekolah yang lain ya? Tetapi itu muncul setelah....
  • Marah besar! Ya marah besar...seprene isih kelingan aku. “Kowe ki arep dadi opo!!? Kowe ki anake wong ora duwe. Kon sekolah ra gelem, kerja ra gelem...eh..kon sekolah ra gelem, kon ngaji ra gelem.” Itulah sepulang aku dari pondok didudukkan. Aku ra duwe jawaban liyo...”wis pak aku tak kerja wae...”
  • Aku ki mbuh......anake wong tani, ning nek kon neng sawah kok anti. Aku takut...karena kewanitaanku aku takut kalo hitam...ha..ha..ha...aku kerja neng mebel neng Amb. Nah mulailah aku dipasrahke,”Pak U, titip anakku gen kerja neng kene. Kon sekolah ra gelem, kon ngaji yo ra gelem,” Simbokku. Sorene aku ditakoni merga isuke aku wis kegiatan tho..ngrempelas, wis diajari, terus ditakoni,”Piye, arep

  Pak, kulo ajeng wangsul mawon.” “Lha kok bali piye, wong kowe ki wis dipasrahke karo wong tuwamu neng kene...” “Mboten, mboten krasan.” “lha kowe ki piye?” Maksude ki, perasaanku ki, wong wedok kok kon ngrempelas. Nggak ngerti perasaanku waktu itu. Tapi ngapain juga, perempuan kok disuruh mlitur, gitu lho. Aku perempuan kok disuruh ngrempelas. Padahal kalo jaman sekarang itu justru banyak tenaga perempuan yang mlitur-mlitur, ngrempelas, kayak gitu. Saya bilang “Saya nggak bisa yen kon mlitur, kon ngrempelas.” “Lha kowe ki kegiatane opo?” “Nek kula teng griya kegiatane masak.” Yo akhire, kemampuanku kan masak. Ya udah, pada akhirnya, aku di belakang. Ikut mbantu masak sama si ibunya majikanku itu. Naaa... setelah aku yang masak ternyata dari 14 karyawan tadi lebih senang masakanku daripada masakan si ibu.

  • Nggak nesu sih, tapi dia mungkin aku kan nggak beli bumbon-bumbon, yaa... aku kan tidak enak kalo ibu itu sing tuku, sing nyediani. Yaa.... pengiritan- pengiritan. Aku bertahan disitu 3 tahun. Itulah perjalanan hidupku...., mungkin dengan kewariaanku. Aku bisa bekerja 8 bulan – istilah kasare, yen wong Jowo – wis isa tuku klambi dhewe lah. Ora ngrusuhi wong tuwo, iso nyandang. Pertama kali aku ndelok wong lanang ‘dheg’, disaat aku nyambut gawe, tapi dudu wong mebel. Dia orang kampung situ, dia sekolah, gitu. “Haah, ya ampuuun.”
  • Ya nggak lah. Kelas 3 SMP. Pernah lihat iklan rexona? yang lari kesana, lari kesini.... Itulah pertama kali merasakan jatuh cinta dan aku ungkapkan. Aku memberi penilaian sama laki-laki itu, kalo kamu itu manis, kamu itu baik, kamu itu ganteng.
  • Ya ampuuun.... terus apa kata lelaki itu.... “kamu itu bencong ya?” ha...ha...ha... Itulah, terus aku loro ati banget, wong wedok kok diunekke banci. Pada akhirnya – yo nek deknene liwat – aku action aja. Pada akhirnya saya tidak ingin menikmati, saya tidak ingin memiliki. Melihat pun sudah bahagia. Posisiku kan kerja. Nah kan terus neng kono kan ono grup musik kampung. Lha yo aku kan neng kono merakyat juga. Ya sudah lah mau pentas 17-an aku ikut. Dilibatkanlah aku sama si anak yang aku senengi. Ya ampuuun... betapa bahagia banget sebagai wanita. Aku berbunga-bunga. Ya sembari aku bekerja,

  aku suka malemnya ikut latihan. Lha, mulailah aku ikut karaokenan sama laki-laki itu. Duet ‘Langkah Pasti’- Conny Dio. Ya ampuuun....bahagiaaa banget... Aku seolah-olah perasaanku itu perempuaaaan banget. Seneng banget! Apakah ini rasanya cinta? Padahal aku nggak tahu anggapan dia terhadap aku seperti apa. Tetapi dulu aku seperti itu. Duet ‘Langkah Pasti’, aku Conny Dio. Terus selang beberapa hari kemudian mulai dikenal disana namanya di kampung. Nah, mulailah kewariaanku dikenal di kampung situ. Nah, terus lain lagi, ini per tahun ya, hal lain, tahun itu tiap bulannya, uang itu tidak sepenuhnya sih. Saya hanya mengambil 25%, nggak banyak, tapi yang 75% itu ke keluarga. Karena, adikku masih kecil-kecil. Aku tahu diri. Aku anak yang paling besar. Mereka tahunya aku kerja, ya sudah. Aku nggak punya kebutuhan lain...buat keluarga. Selama aku kerja di mebel itu satu tahun sudah mulai dipercaya. Terus, aku mmm.... disaat pengiriman barang, selain aku makan, terus disuruh belanja ke Sm juga aku. Nah, tetapi karena kau sesama kuli itu lebih penting daripada majikan, jadi kalo ada tip itu saya bagi sama kuli. Jadi, kalo ada pengiriman lemari, bufet, itu yang punya rumah itu ngasih ke aku. Aku nggak ngambil banyak. Aku bagi rata, yang angkat tadi orang berapa. Kadang-kadang Cuma dapet Rp 1.500,- yang punya kan tahunya kuitansi dari majikanku kan segini, terus ini uang tip sendiri. Senengnya, anak-anak itu nggak punya keirian, karena saya transparan. Saya jujur. Oleh karena majikannya pelit, saya punya inisiatif, saat saya disuruh belanja, saya kerjasama dengan yang punya toko. Jadi, kuitansi itu dinaikkan Rp 1.000,- Jadi, ketika beli kain jok 100 meter itu saya dapat Rp 100.000,-. ”Cik, nek emange kowe ora gelem, yo isih akeh toko liya.” Gitu. Karena aku sakit hati, kenapa? Nyetop bis kuwi mandeg, nek weruh barang bertumpuk-tumpuk kuwi bablas, ora gelem. Aku ora entuk apa-apa. Dikasih transport buat orang, nggak barang. Ya udah, aku punya inisiatif itu. Dari setiap kali pulang belanja saya dapat keuntungan besaaar. Karena dari setiap 100 meter busa, 100 meter kain jok, saya sudah dapat untung. Pada akhirnya, nggak tahu itu hasil korupsi apa enggak, saya bisa menabung dan bisa membelikan bufet, meja, kursi, dipan buat di rumah. Karena laris banget mebel itu, hampir 2 dhuwit jutaan wis biasa, padahal dudu dhuwite dhewe. Wis, ya sudah, aku wis mangan enak, nyandang utuh, tabungan akeh. Saya jalan sama lelaki SMA ini.

  • Yo. Makan bakso bareng, nonton bareng, akrab banget. Kenapa? Aku nggak tahu, dia mau jalan sama aku karena torokanku, karena keasikanku, aku mau bayari maem dan lain-lain. Nggak tahu, tapi yang penting kita jalan. Aku punya kepuasan batin tersendiri. Ya sudah. Selanglah Agustusan berikutnya, jadilah aku nyanyi lagunya Trie Utami ‘Surat Cintaku yang Pertama, membuat hatiku berlomba, itu............ Pake rok rafia, dandan perempuan.
  • Pertama kali. Tapi saya rasa itu biasa, karena itu kontes ya, jadi make-up panggung. Itulah pertama kali aku dandan, nyanyi di panggung, lagunya Trie Utami dengan diiringi si lelaki ini, cintaku yang pertama.
  • Lha itu kan bisa melihat, karena dia tidak suka pada orangnya kan, oleh karena dia suka sama aku, sering beliin makanan. Ya akhirnya nggak masalah. Cuma dia bilang aku sombong, kayak gitu. Nah, rupanya saya itu salah menilai orang. Bukannya yang ganteng itu baik, yang buruk itu jelek, enggak ya.... saya itu kenal G ibaratnya kadal. Giliran si I ini buaya. Itulah perjalanan hidupku. Coba tak cuekin....
  • Lho…aku memang kan orangnya penghibur…oalah ora ngrasakke disaat aku butuh hiburan aku gak ngerti musti kemana…ha..ha..ha padahalkan masih panjang perjalanan sampai aku lari ke Jogja ya, biar ora mogol. Ya itu, aku mulai sombong sama G, aku mulai jalan sama si I. rupanya itu dia sudah lebih profesional. Rupanya di kota S dia sudah berkecimpung di dunia kewariaan, kehomoan….dunia kucing. Begitu lihat saya seperti itu justru dia lebih mendekat ke aku, karena ra sah ditawari wae aku wis nyoh, nyoh, nyoh, gitu. Ra sah ditawari wis tak kek’i, ra sah njalukwae wis tak tawari. Aku apikan banget to…sosial banget, padahal aku…sementara pemasukanku kalo dari gaji kan Cuma sedikit tapi kalo dari tip-tip itu kan pasti juga ada, masih jalan terus. Pada akhirnya dia itu sempat…….sempat kangen sama keluarganya. Pingin pulang ke S. jadi aku diajaklah ke S oleh si I ini. Dia bilang sama aku,”Saya pingin pulang ke S tapi gak punya dhuwit…,” terus,”kalau boleh tahu, aku boleh ikut?”
orang ya…2 kepala, Amb sampai S. Ya itu…tahu nggak, perjalanan dari Amb ke S itu cepet banget. Karena kenapa? Karena duduk berdampingan dan disaat dia capek itu dia tidur di pangkuanku….aaah…ya allah….perasaanku waktu itu sudah lain lagi, gitu lho…(tersipu dan memerah). Karena dia capek terus dia tidur disini…(menunjuk ke pangkuan). Ya ampun…aku wedhok banget sih…dhek’e kok…G kae elek banget, ora mesra, iki kok tahu banget perasaanku…gitu lho. Trus ngerti- ngerti wis neng N…sudah ituada akhirnya sudah S. Terus sempat dikenalin sama keluarganya, sempat foto bareng juga sama keluarga karena bapaknya itu kan ABRI, tugas di P, terus tinggal di perumahan, saya diajak ke P juga. Sampai diajak nyeberang ke M, diajak ke TP, muter-muter disitu, pokoke bulan madu. Pada akhirnya kan disana Cuma 2 hari terus pulang lagi ke Amb.

  • trus setelah usut punya usut, ternyata dia itu di S punya kasus. Dia disana udah kerja, terus nabrak orang. Setelah nabrak itu justru motornya dijual, dia kabur ke B. Dari Bali duitnya abis, ke Smg, dari Smg ke rumah tantenya di Amb. Ketemulah dengan aku, kayak gitu…nah..aku jalan setahun sama dia, ke S lagi.
  • setelah 1 tahun. Di S itu, oleh karena udah akrab, sudah banyak juga dia saya ajak pulang ke rumahku, ada beberapa kali saat saya pulang, kangen sama keluarga, ingin memberi sesuatu sama keluarga, dia saya ajak pulang karena Cuma 1000 perak aja naik ojek. Keluargaku menilai, oleh karena aku menganggap dia itu suamiku, tetapi keluargaku menilainya temanmu. Akhirnya ya sudahlah, mulai kenal. Terus desemberan dia mau ke S. “Aku boleh ikut?” ikut. Akhirnya saya ikut ke S. Saya curiga ya, “Ayo kita ke P, terus kita pulang. Kamu nggak usah ikut, saya mau ke TP sebentar.” Rupanya dia di TP itu nemui teman-temannya yang nyilet-nyilet itu…apa namanya…heroin, yang dimakan apa…nyesep darahnya sendiri. Pulang pagi jam setengah tigaan. Aku kan tidur, bapaknya setia banget, mau tidur kamarnya disemproti, diresiki, aku gak enak. E..e..e kok setengah tiga itu pulang, aku yang bukain pintu, setengah mabuk. Disitulah perkosa aku. Jadi aku disuruh ngelayani, disuruh oral seks, sebelumnya aku
ngajari aku oral seks. Karena dia terpengaruh heroinnya dan sangat terpengaruh dengan cintaku sama dia. Nah, malam itu juga, kayak gitu….gak tahu dia sadar apa nggak, dia ngomong, pokoke dia harus sodomi aku. Kalau aku nggak mau disodomi sama dia, aku nggak pulang, tidak diantar pulang ke Amb. Saya bilang bukannya aku nggak mau karena ancaman dia nggak ngater pulang, pulang sendiri iso kok, ya to…tetapi juga virginitas. Disitulah aku malam itu melakukan hubungan berdua sama dia. Karena aku baru pertama kali di sodomi sama lelaki….dan itu sangat sakit sekali, nggak ada pelicin….minyak rambut brylcream.

  • Brylcream itu kan minyak rambut tho itu? Jadi pertama kali disitu. Terus besoknya Desember, malam Natal, dia mabuk narkoba,terus dia seks bebas, gratis sama aku, dan aku yang kesakitan. Dan sorenya pulang, paginya sampai Amb, anusku bengkak. Ya aku pengaduan dong…terus dia cari dokter profesional tentang anus di Amb. Terus dia tanya- tanya sama tantenya. Aku mau dibawa ke sinshe. Mereka memang mau melakukan, tapi dhuwit kan mesthi nggonku. Ya sudah, Desember, Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, dia bilang saya mau ke S karena mau meneruskan studi, disuruh keluarga. Waktu itu karena saya sering sekali permintaan sama dia, jadi saya jengkel banget, saya emosi. Karena setelah saya tahu di S, setelah dia tahu saya mau melayani seks dia di S, setiap 3 kali, setiap 4 malam sekali, 3 hari sekali saya harus melayani seks dia. Ya kalau sekali 2 kali senang ya, kebutuhan ya. Setiap itu sudah…dia pikir..tiap 3 hari sekali nyamperin aku, “Ayo ke Plg,” kalo nggak ke museum, hanya untuk

  melakukan hubungan seks dengan dia. Karena waktu itu Juli aku emosi sama dia…dia bilang kalau mau sekolah. Ok, saya bilang ok karena emosi. Aku wis bosen. Sudah akhirnya dia pulang. Disaat sehari, dua hari…kok ya aku itu ya…disaat dia pamitan pulang, pulang. Tetapi begitu tiga hari, satu minggu, inget terus, nggak bisa tidur. Aku gelisah banget kae lho…gelisah tak menentu. Disitulah aku memutuskan tidak bekerja lagi diperusahaan mebel itu. Kenapa? Nggak ada alasan lain, aku pingin keluar aja, tabunganku udah cukup, wis nyandang utuh. Waktu itu yo nyekel dhuwit, duwe perhiasan. Aku wis iso akhirnya aku keluar. Kan aku dirumah setahun nih…nggak kerja, hanya melakukan aktivitas saja. Setahun,….lha gatel si banci ini. Di alun-alun Amb ini ada pasar malam. Sayalah kesitu. Padahal saya nggak pernah kesitu. Itulah awal mula saya saya ke Jogja, dari situ. Saya kesitu, nonton…mubeng- mubeng. Ada lelaki, aku kesana ikut kesana, aku kesini ikut kesini, aku kesitu ikut kesitu. Lelaki itu aku tanya,” Masnya mau cari siapa?” “Mau nyari kamu.” Aku dibayari bakso barang…trus akhirnya ngobrol punya ngobrol dia bilang tinggal di KD, kan dekat sana. Terus bilang baru suntuk….dia bilang nggak dapet pintulah, dan lain-lain. Akhirnya dia minta pulang ke rumahku, pulang jam 2 pagi dari pasar malam itu. Perasaanku, disaat aku belum tidur sih dia sudah tidur duluan. Disaat aku bangun dia masih tidur, kayak gitu…nggak ngapa-ngapain. Terus aku pulang, aku tu ngangkat cucian ke kali, lha pulang dari kali itu si lelaki udah nggak ada, dengan membawa bajuku, dengan menguras semua isi rumahku, sampai jam dinding itu nggak ada….berarti kamarku itu kosong…..

  • Kamarku thok. Terus kan ada cincin 10 gram, cincin itu pesenan ceritanya, diselipin dibawah baju, dikiranya udah aman waktu itu… Ya ampun aku lara ati banget waktu itu. Apa itu karma buatku atau bagaimana, kayak gitu. Terus aku bingung. Terus adikku itu masih sekolah, yang satu itu masih kecil sekali, ada 3 tahunan yang perempuan itu. Aku disini 12 tahun berarti dia 3 tahun disaat aku tinggal. Adikku 3 tahun yang kecil kemudian kakaknya waktu itu SD kelas 4. aku tu nunggu anak dari SD ini pulang. Begitu dia pulang saya pergi. Oleh karena orangtuaku wis neng sawah loro-lorone, wis tho…aku minggat! Keluar dengan bawa dhuwit tiga puluh dua ribu, tanggal 2 Juli ’92 itu. Nah pada akhirnya saya jengkar itu saya nggak bawa baju. Cuma yang dipakai aja. Saya ke alun-alun, dengan maksud hati saya….dari pagi sampai malam nggak pulang dengan maksud dan tujuan saya bisa menemukan lelaki itu. Tapi malam itu apa yang terjadi, saya nggak ketemu dengan lelaki itu, tetapi saya ketemu dengan 3 banci. jadi saya duduk di rel seperti ini…(memperagakan) saya didatangai banci 3. ‘Kowe banci tho..,” ya ampun…iki kok langsung ngecap tho…terus aku kan
menor, sudah pakai rok mini….”Iya mbak.” Wah ekspresiku itu udah sekali….”Iya mbak…,” saya bilang. Ya ampuuun aku takut banget. Aku bilang, aku curhat, saya kena musibah, saya begini, saya begitu sama laki-laki. Ternyata dia rumahnya didekat situ. Dia buka salon. Dia juga abis manggung di pasar malam itu, terus aku ke salonnya dia sampe pagi. Sampai pagi, sampai sore itu ada waria dari jogja datang ke Amb. Terus dia bilang…aku dibilang ada brondong…sekarang sihaku ngerti ya…kayak gitu. Mmm…akhirnya aku cerita keluh kesah. “Yo wis ra sah dipikir, kowe saiki neng Jogja wae. Mengko kowe nyambut gawe sesasi mengko barangmu iso bali.” Kayak gitu. “Mengko kowe nyambut gawe telung sasi mengko kowe wis iso tuku elektronik.” Pikirku nyambut gawe opo? Ya jebul karena pikiran bunek itu, mosok dengan dhuwit 24 ribu itu, masak dngan dhuwit 24 ribu itu bisa nyampe Jogja? Maka saya curhat, saya udah nggak punya apa-apa, dhuwit tinggal segini. Jogja itu kan 1500, Jogja – Amb, turun di Pingit, dari Pingit jalan ke Gowongan. Sudahlah…sampailah disitu kan malam, pagi adaptasi…malam didandani terus ke Purawisata. Malam itu ke Purawisata, nganter si waria-waria ini. Mereka kan nggak keluar tapi nyanyi. Terus habis dari Purawisata itu pulang ke semeru di utara stasiun Tugu. Rame sekali, banyak sekali waria…saya kenalan, bahkan saya ada yang kenalan dua kali karena tadi yang dipurawisata udah kenalan terus ketemu di semeru kenalan lagi. Disitulah pada berdiri, pada keluar masuk aja di pintu neraka itu. Yaa..pintu gerbang yang buat main itu. Waktu itu aku didekati mobil,”Mbaknya baru ya disini?” Ya sempat bingung,”Ayo naik!” naiklah aku di mobil itu…kayak gitu. Waktu itu aku naik dibelakang,”Ya didepan dong mbak masak dibelakang, apa saya sopir kamu?” Lelaki iu dhewekan. Akhirnya saya itu diajak keluar jalan-jalan, ngobrol, muter-muter. Akhirnya dijelasin mengenai opo itu lokalisasi itu. Oleh karena saya nanya kok banyak sekali waria disitu….”Mbaknya bener-bener baru?” untungnya lelaki itu baik. Akhirnya aku disuruh ngelayani seksnya dia, di dalam mobil itu juga. Habis itu aku diantar lagi ke lokasi itu dengan dikasi dhuwit lima ribu perak. Aku duduk disitu….termenung…yaa ampun..lima ribu…ini

  pasaran banci disitu itu wakt ’92 itu tiga ribu. Kalo di dalam itu 1500, diluar 3000. Lima ribu itu sudah dibawa mobil gitu lho mas…tetapi yang jadi permasalahan itu bukan itu…aku pernah melakukakn hubungan seks dirumah tapi nggak dibayar, atas dasar suka sama suka. Nek itu dibayar…..rasanya itu nggrantes…lara…rasanya itu kelara-lara…akhirnya kau pulang ke Gowongan. Dapat tamu satu, aku pulang ke Gowongan. “Mau bengi neng endi, kok ora ana?” Aku bilang temanku ada yang nyari, aku pulang duluan. Disarankan diriku kan ngasi dhuwit ka simboknya kan seribu, makan 2 kali, yang sekali makan di lokasi, kayak gitu. Ya....kan dapat masukan- masukan, ya emang begitu, dapat masukan dari teman-teman disitu. Saya melonte ’92. Keluarga saya dateng.

  • Critane aku didukunke. Dari keluargaku itu dateng dua orang, simbok saya dan RT...eh...tiga orang, dengan si mbaknya yang salon. Waria yang di Amb. T: Ooo..berarti mereka pertama kali njujug neng mbak waria kuwi? J: Jadi simbok saya itu ke RP, itu dukun ampuh. Aku itu dibilang percaya nggak percaya, dia itu membawa fotoku, namaku, tanggal lahirku. Terus dikek’i dalan, anakmu ngidul, ning iki sing ngeterke ana. Ngidul, kowe neng nggone mas’e iki. Kuwi jenenge sapa? Hartono. Mak’e ki nyebut Hartono terus dilacak. Terus Hartono ngeterke neng Jogja. Har, mbokku dan Pak RT. Lha simbokku didhekekke neng gang, aku diparani Hartono,”Mul ana sing nggoleki! Kowe metuo.” Lha begitu mbokku weruh aku ki malah semaput neng nggon.
  • Ya ra dhong...merga kan aku wis sangang dina....
  • Aku metu ki ora dandan...aku le nutupi ki aku nyambut gawe neng lesehan. Terus pada akhirnya malah sempaut. Terus malam itu juga aku dibawa pulang. Aku, Hartono, Mbokku dan Pak RT. Tekan ngomah disidang. “Wis ngerti kapusan malah minggat sisan! Sing neng omah entek-entekan merga nggoleki rono-rene....” mbokku ki ternyata ben dina nggoleki aku neng pasar malam, merga ana sing weruh aku neng pasar malam. Terakhir ana sing weruh aku neng pasar malam. Kuwi mbokku tiap malem nggoleki neng pasar malem. Aku kan isih cilik yo...durung dewasa banget. Yaa..ampun perjalanan hidup..aku kan

  kok ya...kopiahe..sebutane ki kok Odha..ngono kuwi lho... Kayane ki ora sepadan karo kehidupan masa laluku yang menyakitkan, kayak gitu lho mas! Yang seharusnya itu harus...harus diunduh karo buah segar kok predikate malah Odha. Kadang aku punya perasaan penyesalan yang abadi lah.... kalo dibilang melihat background kehidupanku yang menyedihkan, suka-duka...aku juga kadang-kadang pengin nangis, tapi ngapain sih urip kok ditangisi? Wong justru wong nangis ki pengin urip. Yo wis, kayak gitu..yo wis saiki diwenehi keputusan, nek arep nyambut gawe ya nyambut gawe, yen arep neng Jogja ya neng Jogja. Tetapi nek saiki kan wis ngerti papan dununge, dadi wis ngerti ana sing dijujug. Itulah...2 juli ’92 aku ke Jogja, 9 hari. 2 hari dirumah akhirnya saya pulang ke Jogja. 2 hari dirumah itu apa yang dilakukan? Saya dibawa ke orangtua itu, membuktikan bahwa...iki lho eyang, iki lho mbah sing tak goleki wis ketemu! Aku dipijet kene, dipijet kene (diperagakan). Aku dikek’i mori putih, isine mbuh ra ngerti,”Iki dinggo cekelan ben kowe aman neng dalan.” “Matur sembah nuwun mbah, sugeng sonten.” Wis kuwi, sorene aku neng nggone simbahku...isuke aku bali neng Jogja. Istirahat, ngaso, crita-crita karo kanca-kanca, bengi dandan dhewe!

  2. - Latar belakang Keluarga subyek tinggal disebuah desa di kaki

  gunung. Jaraknya sekitar 6 kilometer dari pusat

  

lingkungan kota. Rumah keluarga subyek sangat sederhana,

  berdinding bambu (gedheg), dengan tiang dari

  keluarga: kayu. Lantai rumah sebagian berlapis semen dan

  sebagian lagi tanah. Di ruang tamu terdapat dipan

  • Bagaimana kondisi agak besar dan diterangi dengan lampu listrik lingkungan sekitar yang seadanya. Letak rumah subyek dengan keluarga subyek tetangga agak berjauhan, terpisahkan sepetak tinggal? (catatan dari halaman dan sebidang kebun di sekitar rumah. observasi)
  • Bagaimana relasi Subyek adalah anak kedua dari tiga bersaudara, ia -

  subyek sendiri dengan kakaknya seorang perempuan. Subyek menyadari lingkungan? bahwa sebagai seorang yang dilahirkan dalam ( catatan dari bentuk fisik laki-laki ia harus bisa membantu observasi) kedua orangtuanya dalam hal finansial. Kedua orangtua subyek masih berharap agar subyek menikah (dengan seorang perempuan) suatu saat nanti. Subyek hanya menjawab bahwa suatu saat nanti akan menikah, untuk membesarkan hati orangtuanya. Subyek selalu berusaha sebisa mungkin untuk membantu orangtuanya secra finansial. Meski uang itu kadang ia dapat dari meminjam pada tetangga kost di jogja atau rentenir. Sejauh ini keluarga subyek tidak tahu apa pekerjaan subyek yang sebenarnya. Tiap kali ditanya tentang pekerjaannya, subyek selalu menjawab bahwa ia bekerja sebagai penyanyi dangdut di Purawisata, atau membantu di sebuah warung lesehan.

  • Relasi subyek dengan lingkungannya cukup baik.

  Meskipun mereka melihat gerak-gerik subyek yang cukup lembut selayaknya perempuan, tetapi mereka tidak pernah mempermasalahkan. Tetangga kost subyek juga tahu bahwa hampir setiap hari subyek keluar malam dengan berdandan. Subyek sangat terbantu dengan situasi disekitar tempat tinggalnya yang penduduknya terdiri dari bermacam-macam profesi seperti: preman, PSK, pedagang klitihikan, pengamen, pengasong, pengemis, dll.

  Subyek pertama kali Ya pas ada pelatihan, terus ada testimoni. membuka status pada

  J: Trus ada yang nanya, “mbak Ai, jujur aja, M itu

  orang lain

  positif tho?” “Ooo, nggak tahu ya..”

  J: Lha aku kan ada disitu, padahal aku kan jadi OC. Terus kalo ada pelatihan kan acarane dari awal sampai akhir kan pasti ada diskusi. Diskusi Odha. Aku, V dan P, tapi itu hari terakhir. Kan aku pagine wis neng kono, njur tak bukak sisan, ming karo wong loro kuwi, A karo Yn. “Ini Cuma buat Mbak A dan Yn aja. Setelah Mbak Mn dan A tahu, buat sendiri aja.” Ning ya ra ngerti. ning selama iki biasa-biasa wae.

  T: Nek kanca-kanca yang lain selain mereka? J: Ora...ora ngerti. T: Reaksi mereka?

  reaksi teman atas

  J: Ya..santai aja. Aku santai sih orangnya. Yo kuwi,

  pengakuan subyek

  yen aku bar siaran atau bar ngapa terus aku make-up- kan diri, golek korban..... T: Mbiyen ketika Mbak M memutuskan aku tak arang-arang metu ki awal-awale piye? Mereka mulai dho takon ra? Ketika jarang metu mbengi? J: Oooo...ndhisik...dia Cuma menduga-duga bahwa cucuk. Cucuk ki piye yo...nek bahasa banci yoo...wis duwe dhuwitlah. Mula ora metu. Padahal aku durung neng JOY. Sebenarnya yang menguatkan aku neng kene ki nganu...yang menguatkan posisiku ki merga aku kerja wae. Maksude aku gabung di JOY, tapi ngertine kan aku kerja. Iki sida arep crita neng kene? T: Ya mengko, sithik-sithik wae. Mbiyen ki ketika

  • Bagaimana reaksi pertama kali ngerti ki piye mbak, statuse? subyek ketika pertama J: Direncanakan. kali mengetahui bahwa T: Direncanakan? Maksude? dirinya HIV positif? J: Karena.....dadi critane ngene...awal mulane aku kan wektu itu dadi dampingane PKBI neng wariane. Terus Malam Renungan AIDS Nusantara, Mei, kan PKBI bikin aksi kota. T: Tahun? J: Tahun 2001 aksi kota. PKBI ada MRAN, aksi kota dari teteg ke benteng, nyebarke leaflet, booklet, kaos. Tekan benteng dikek’i kaos ABC, kampanye ABC...kuwi. nah itu 2001. Nah

  Awal ketertarikan

  terus waktu itu aku ada infeksi dikulit. Biasa, infeksi

  subyek untuk tes HIV

  dikulit aku dah biasa...ada infeksi dikulit. Malam itu habis kampanye, aksi kota, sorenya aku ke GL, Griya Lentera. Nah...akulah konseling sama ibu konselor.

  Proses konseling pre-

  Aku konseling disana, sampai disetujui mereka

  test HIV memberikan informasi ke aku. Sampai disetujui,

  sampai penandatanganan informed consent...eh..ndisik ki ora ana penandatanganan

  lisan aja. Kayaknya aku nggak merasa menandatangani, 2001 itu, tapi persetujuan, perjanjian. Nah...terus aku mau diambil darahnya. Terus ya..sembari aku minta obat untuk infeksi kulit itu aku dikasi saran kalau seminggu lagi kesini. Waktu itu nggak ngerti apa-apa. Terus seminggu lagi aku kesana. Kesana dengan mengambil hasil melalui pos konseling kalau jaman sekarang. Nek dulu ya pos konseling juga. Terus dijelasin, kan aku masih hafal

  Subyek mengetahui

  kode-kodenya, seperti itu. Kode-kode pengambilan

  statusnya

  darah, sampel, itu kan pakai kode. Ya, aku masih hapal sekali, masih inget sekali. Itu...terus selanjutnya yaa...positif! terus melakukan konseling lagi. Yaa... terus aku bingung to...sepulang dari Griya Lentera

  Perasaan subyek setelah

  waktu itu aku bingung, stress kae lho....bingung kae

  mengetahui status HIV

  lho. Aduh...... bingungnya itu,”aku harus ngapain?” apa yang harus aku lakukan sementara aku kan menjadi pekerja seks? Kalau aku nggak kerja, aku mau makan apa? Kalau aku masih melakukan pekerjaanku sebagai PSK, aku juga punya resiko akan menularkan ke orang lain. Saya juga takut tertular untuk yang kedua kali. Itu...sementara aku sudah tahu kondisiku. Itu pada awalnya bingungnya disitu lho... Tetapi disaat pulang dari sana dikasi tahu sama mbak A,”Mbak M, coba konfirmasi lagi.” Tapi nggak pakai

  Mencoba konfirmasi test

  ambil darah lagi. Tapi seminggu sesudahnya memang............ T: Tetap positif? J: Ho’o. T: Selama jeda 1 minggu setelah tes darah itu ada pikiran yang terlintas soal status? Jangan-jangan....

  Subyek merasa sudah

  J: Saya nggak kepikiran sekali, karena saya...karena

  melakukan seks aman

  selama saya menjadi pekerja seks, perasaan aku melakukan dengan seks aman. Apalagi kan saya orangnya jarang sekali eee....seks memakai anus ya. Saya hanya memakai oral saja. Jarang-jarang sekali. Saya waktu itu melihat ukuran. Jadi kalau ukuran itu mampu saya lakukan, saya mau melayani lelaki dengan anal seks. Tapi kalau lihat kondisi kelamin laki-laki yang besar aku nggak mau. T: Tapi tetap menggunakan pengaman? Kondom? J: Tetap. Karena tahun ’95 itu aku udah ikut pelatihan Subyek pernah penurunan resiko, di PKBI juga. Tahun’95.

  mendapat pelatihan

  T: Sebelum ikut pelatihan itu kamu sudah aktif?

  penurunan resiko IMS

  J: Udah aktif. Saya mulai aktif itu perjalanan saya ke

  dijalan. Terus ’95-nya itu ikut pelatihan penurunan resiko. Jadi antara ’92-’95 itu nggak tahu apa-apa. T: Tapi waktu itu kepikiran nggak bahwa aku harus melindungi diriku dari kemungkinan-kemungkinan resiko, PMS? J: Waktu itu kayaknya nggak sama sekali. Kayaknya nggak peduli, gitu. T: Pokoknya kerja? J: Ya cuek aja. Pokoknya bekerja, melayani, dan kayaknya waktu itu belum gencar deh masalah- masalah kayak gitu. T: Kok terus tergerak, ooo..ini ada pelatihan aku tak melu? J: Karena kita ada...’95? karena waktu itu sebelumnya, tahun ’94 udah ditawarin tapi saya belum siap karena waktu itu saya belum ada kesiapan...belum ada kesiapan mental gitu lho, untuk mengikuti keluar. T: Di forum? J: Ya...itu belum punya kesiapan aku. Tetapi yang tahun ’94 itu, kan berarti senior saya, kayak gitu, yang udah pernah ikut pelatihan ini ditahun ’94, cerita...nanti kalau ikut pelatihan itu dapat informasi. Setelah ikut pelatihan ini dapat kartu anggota dan kartu anggota itu bisa bermanfaat untuk periksa ke GL, untuk kalau ada razia. Pada akhirnya aku tertarik untuk itu. Dan sepulang dari situ kan tahu bahwa apa yang saya selama ini aku lakukan itu salah. Tetapi aku jujur aja, setelah pulang ’95 itu aku sering otot-ototan sama lelaki karena...ya piye ya...karena apa ya...misalnya pemakaian kondom, misalnya lelaki

  Subyek mencoba

  ditawari kondom terus lelaki itu nggak mau, kayak

  menerapkan seks aman

  gitu lho. Kita coba terangkan ke lelaki itu, walaupun

  dalam pekerjaanya

  waktunya itu sempit sekali. Walaupun sambil berjanda-berjanda di lokalisasi dengan tamu itu tetapi kalau misalnya tamu itu ngotot, lelaki itu ngotot,”nggak mau mbak, nggak enak.” Misalnya kayak gitu, nah,”kalau kamu nggak mau, masih banyak kok yang lain yang mau.” Nah akhirnya saya disitu mau nggak pake kondom. Soalnya saya mikir,”aduh...mengko nek dhek’e mlayu neng nggone liya aku nggak dapet bayaran nih.” Yo wis lah..kayak gitu. Itu sepulang dari mendapat info tahun ’95, bahwa ini juga berbahaya...gitu. T: Tapi sering nggak? mereka ngotot nggak mau

  seringan mana? J: Seringan nggak pernah make. Seringan nggak mau pakai kondom gitu lho. Saya mau pakai kondomnya kalau anal seks. Kalau oral seks nggak. Sedangkan kalau anal seks itu saya jarang-jarang sekali. Belum tentu sebulan dua kali. T: Dan itu Mbak M ngasih saran kalau anal musti pakai kondom? J: Setiap tamu yang mau anal, saya mencoba menawarkan pakai kondom. Mau nggak mau itu haknya dia. Saya sudah memberikan informasi, tetapi kalau dia nggak mau, tidak memakai kondom pun saya layani waktu itu. T: Anal juga? J: Anal juga, kadang suka nggak pakai kondom.

  T: Itu pada klien yang sama atau beda-beda? J: Selalu berbeda. Langganan tetap saya itu malah jarang sekali untuk anal seks, karena saya tidak lihai untuk melayani. Nggak bisa goyang ngebor...ha..ha..ha..nggak bisa goyang inul...ha..ha..ha. Nggak ada variasi gitu lho...anal. tapi untuk oral yaa..aku bisa bervariasi. Aku minta meng- oral, tidak minta meng-anal.

  T: Tesnya sekitar Mei 2001, bar post test Mbak M bingung, dan lain-lain itu sampai berapa lama punya perasaan itu? “Aku meh ngapa?” J: Sampai 5 bulanan... T: Apa yang Mbak M lakukan? J: Waktu itu aku gini...eeee...memang sangat

  Perasaan setelah subyek

  menyedihkan sekali ya..waktu itu...dalam

  tahu status HIV

  kebingungan aku waktu itu, aku serba salah. Mau mejeng salah, nggak mejeng salah...kayak gitu. Akhirnya aku memutuskan keluar malam, sekali, misalnya saya dapat untuk 3 malem ya 3 malem

  Subyek mencoba

  istirahat. Nah itu sambil menunggu proses, kebetulan

  mencari pekerjaan lain

  depan rumah itu (menunjuk) punya adik bayi. Saya disuruh merawat bayinya, pokoke baby sitter-lah. Merawat bayi, anake kembar. Yaa..nggak selang lama, karena setelah 3 bulan bayinya dibawa ke B oleh ayahnya. Terus aku kan udah dapat kesibukan untuk melupakan statusku, aku udah dapat, akhirnya

  

Subyek kembali lagi hilang lagi. Ya udah, pada akhirnya kembali ke selera

pada pekerjaannya

  asal, keluar semalam dapat untuk untuk 2 malam ya 2 malam nggak keluar, kayak gitu. Sampai selang saya

  saya. Jadi waktu itu badan saya panas sekali. T: Kira-kira bulan apa? J: Sekitar 5 bulan setelah itu.

  T: Sekitar November? J: Ya..sekitar itu. November itu akhirnya, sebenarnya

  

Subyek jatuh sakit saya nggak berniat pulang, keluarga saya pas datang

  kesini, pas saya sakit. Akhirnya saya pulang. Aku bilang karena panas, akhirnya aku sebulan dirumah. Apa yang dilakukan orangtuaku ke aku? Dua hari sekali membikinkan aku kunir asem, kental banget. Aku kan nggak ngerti apa itu ada sangkut pautnya dengan panasku apa nggak, tetapi minum itu akhirnya normal lagi. Kemudian rambutku rontok. Rontok itu malah sampai gundul. Aku pegang aja rambutku rontok, 5 bulan setelah didiagnosis. Aku pegang aja rontok. Tak kurangi 10 cm rontok. Tak kurangi lagi 5 cm masih rontok. Kalau pendek kan bisa dirawat, aku kasi Neril, malah tambah rontok. Akhirnya aku ke Gowongan, tak suruh motong pendek, cepak. Itu pun masih rontok. Akhirnya 3 hari kemudian saya masih ke salon yang sama, ditipiskan masih rontok, ya sudah biar saja. Akhirnya tumbuh sendiri. Kan kelihatan gitu lho, bukan karena virusya tapi stressnya. T: Dari kebingungan itu apa yang membuat Mbak M menemukan sesuatu? Maksude,”aku ra bingung neh.” J: Waktu itu kan aku disini. Terus saya nggak ngerti, aku ketemu dengan si Ai untuk yang kedua kalinya. Jadi gini, mb Ai itu kan jadi relawannya PKBI, mungkin regenerasinya mbak Ana. Terus mbak Ai itu

  Subyek mulai

  nengok sama Yn ngasi kondom ke aku terus ngasi

  menemukan teman

  swike, itu lho pelicin yang kayak odol. Dia dari PKBI,

  senasib yang

  saya kepingin curhat karena lama nggak ketemu mbak

  menguatkan

  Ana. Aku jujur sama mbak Ai, karena Yn kan udah pulang. Mbak Ai disini sama saya. Terus selang beberapa hari, 2 mingguan kali ya..saya masih tidur, mbak Ai itu kesini. Didhodog-dhodog, “mau nggak ketemu dengan teman sesama?” waktu itu saya sempat mikir. Tapi kenapa nggak mau? Dia bilang teman sesama positif. Saya bilang,”mau!” “Ya udah tunggu sebentar ya.” Waktu itu P di talud itu, mbak Ai kesini. Setelah aku oke, si P dipanggil kesini. Terus si P memberi informasi banyaklah ke aku. P juga salah satu orang nomor satu yang mendukung aku yang sesama positif. T: Waktu itu JOY sudah ada?

  setelah kenal P itu saya sakit. Sakit infeksi telinga. Terus sama P diajak, diperiksa di Sardjito. Aku juga nggak ngertilah, sempat anusku jebol.

  Jadi waktu itu kan saya masih aktif nih. Terus dapat 1, keluar semalam buat dua hari ya dua hari nggak keluar. Nah, sebenarnya si P itu sudah menyarankan aku (untuk berhenti), tapi dia juga...nggak memenuhi kebutuhanku. Ya udah, akhirnya aku dibawa ke dokter. Diantar P dan Ai. Jadi kadang-kadang aku nggak enak sama mereka yang ke hulu ke hilir, kesana-kemari, ya...itu...terus kadang-kadang kita ketemu nanti kita ketemu dimana, nanti kamu saya jemput. Sama mbak Ai, sama mas P. Nah terus biasanya saya dijemput diatas, kebetulan kakanya mas P punya mobil, bisa muter-muter kesana-kesini. Ya itu, akhirnya saya ke PKBI, tambah 2 teman lagi. “Mau nggak ketemu dengan teman?” gitu. Ternyata...ketemu teman sendiri, waria satu lokasi, sama pasangannya. Terus setelah dari itu, mulailah kita bertemu sampai bulan Desember akhir, sampai terbentuknya JOY itu.

  • T: Jadi JOY terbentuk Desember itu? J: Sebenarnya Desember 2001 itu wis ana...apa ya...Odha itu saling ketemu. T: Tapi secara resmi belum? J: Durung...dadi waktu itu janjian di Timoho, kadang saya datang, P datang yang 2 itu nggak datang....ya itu, akhirnya penggalian kebutuhan dibantu mas N. Intinya yang satu komentar ini, yang satu komentar

  itu, saya komentar lain. Terus disimpulkan. Ternyata teman Odha itu membutuhkan dukungan, tempat, fasilitas. Terus mulailah pembentukan JOY itu. Nah setelah pembentukan JOY itu saya sempat putus asa. T: Justru putus asa?

  Perasaan putus asa dan J: Ya...karena..kok begini ya?....Kayak gitu lho. khawatir jika semakin

  Banyak teman itu semakin banyak dukungan juga,

  banyak orang yang tahu

  tetapi banyak kekhawatiran juga gitu lho. Dalam arti

  status HIV-nya

  semakin banyak yang tahu itu berarti semakin besar kebobolan gitu lho. Jadi waktu itu aku punya pikiran seperti itu. Waktu itu saya melarikan diri, saya pulang. Pulang ke Amb. Kalau nggak salah saya kesini lagi Mei 2002. Jadi tahun baru saya pulang ke Amb. Nah, disana kan saya bermaksud menghindari masalah, ternyata disana kan tempat masalah. Karena

  sawah, aku kon macul, kon ngarit. Wis ora iso! Aku nggak bisa kesana. Terus perjalananku, aku memutuskan disana 6 bulan terus aku pulang lagi kesini. Kebetulan kos kan bayar setahun sekali. T: Terkait dengan pikiran tentang mati, mbiyen Mbak M mikire HIV kuwi dekat dengan kematian juga?

  Pikiran tentang

  J: Aha...iya! sangat mengerikan. Karena saat saya ikut

  kematian

  pelatihan, ikut kampanye itu, mengenai gambar- gambar itu sangat..yang mengenai infeksi oportunistik sekali, yang sangat eeee.... dying-dying. Nek Odha ki wis Odha wasting. Terus saya punya pikiran saya akan seperti itu, nggak lama lagi akan seperti itu. Nah, intinya itu positifnya disitu, manfaatnya saya terlibat, Oooo..ini mendapat jawaban O besar. Tetapi menguraikan kata-katanya ki kepiye? Perasaane ki le arep ngungkapke ki kepiye? Misalnya nggak lama lagi aku akan seperti itu, misalnya nggak lama lagi aku juga akan kesana. Nek aku, mikire semua orang akan mati, semua orang akan kesana. Tetapi setelah saya tahu ini bisa ditaruh disini, disini, malah jadi optimis bahwa saya akan panjang umur.

  • T: Waktu post test, terus hasile dibuka, sempat ada penolakan nggak dari Mbak M,”kok aku?” sempat ada perasan-perasaan itu? J: Mmmm..ya...iya. nggak perasaan sih, tetapi saya

  Reaksi penolakan

  ungkapkan ke konselor. Padahal saya main-main

  subyek ketika pertama

  dengan IMS, main-main dengan virus, main-main

  

kali tahu tentang dengan seks, bekerja sebagai PSK. Tetapi ketika saya

statusnya

  buka hasilnya positif itu saya juga menanyakan,”masak sih mbak? Jangan-jangan salah..” Saya sempat nggak percaya. Pada akhirnya saya disarankan sama konselor kalau untuk konfirmasi, terus keduanya tetap ya wis, terima nasib. Tetapi penolakan tetap ada. Waktu itu penolakan ada, yaa... karena belum ada penjelasannya...yaa..penolakan. tetapi saya banyak menyadari main-main dengan virus, saya main-main dengan IMS. T: Menurut Mbak M, konseling itu seberapa banyak membantu? J: Banyak ya...50% kayak gitu dengan dia...dengan support, mendukung, apalagi waktu itu kita lagi

  Manfaat konseling bagi

  depresi, stress, ada teman yang mendukung ya

  subyek

  disambutlah..gitu. Kayak gitu itu sangat membantu

  saya benar-benar sendiri, nggak ada siapa-siapa. Dan saya memang itu...momok gendruwo sekali buat saya. Goyang salah, diem salah. Semakin kita membungkam, diam, semakin stress, semakin ketidaktahuan. Tetapi saya mau buka mulut, stigma diskriminasi di sekeliling kuat tentang HIV. Jadi bingungnya disitu, serba salah. Tapi dengan adanya konselor, curhatnya sama konselor.

  • T: Tentang stigma dan diskriminasi, nek Mbak M

  Tentang stigma dan

  sendiri pernah ngalami atau cuma bayangan aja?

  diskriminasi J: Bayangan.

  T: Untuk Mbak M bayangan? J: Nek saya pribadi.... T: Ya! Ini pribadi lho... J: Ho’o...nek saya pribadi cuman bayangan. Karena saya selama ini belum pernah mendapat diskriminasi kitannya dengan HIV/AIDS. Padahal kalau dituruti itu sudah berpuluh-puluh kali buka status, tetapi menurut saya tidak ada dampak negatif buat diri saya sendiri. Memang disaat saya mau buka status, saya cari orang yang tepat. Disaat dia peduli sama HIV/AIDS saya baru mau mau. Atau itu diforum tertutup karena itu membantu mereka meluruskan mitos misale kayak gitu, aku mau. Dan itu tidak dipublikasikan, ya aku mau. Pada akhirnya saya kan nggak dapet diskriminasi. Jadi itu selama ini, aku nggak tahu kalau kita yang mendapat perlakuan, niat saya membantu malah kebakaran jenggot ya.... Selama ini hanya bayangan, tapi memang perlu diantisipasi. Nanti dengan kecerobohan kita dengan mengobral status malah menjadi bumerang yaa..itu malah...selama ini karena saya tidak pernah mengalami diskriminasi tentang status ke-Odha-an, ya ini saya anggap baru bayangan. Kalau diskriminasi kewariaan itu sudah biasa. Contoh kasus, misalnya saya mau berangkat mejeng, dia pakai motor, saya ditrotoar diludahin...kayak gitu kan nggak adil kan! Wis biasa gitu. T: Nek iki tentang orientasi seks dan pekerjaan, justru yang dialami. Nek tentang HIV sampai saat ini belum? J: Belum. Ya jangan sampailah. T: Mbiyen ketika pas awal-awal, itu sempat jadi pikiran banget? Setelah didiagnosa positif, pada saat

  itu masalah-masalah stigma diskriminasi itu pernah terlintas nggak?

  Ada ketakutan akan

  J: Ya! Itu pernah terlintas dan sangat membebani. Ihh

  mengalami diskriminasi

  jangan-jangan...kalau orang lain tahu saya akan diusir, akan digebuki, saya akan dibakar... T: Kok muncul pemikiran itu kenapa mbak? Karena sebelumnya wis tau ngerti? dikandhani? J: karena informasi itu karena media. Nek wong wis kena HIV kuwi dibakar. Ada kasus kena HIV/AIDS dibakar, ada kasus kena HIV digebuki massa, kayak gitu. Jadi terlintas dipikiran itu pernah. Tapi akhirnya kan aku bisu tho...meneng wae. Kalau si V itu pernah entuk diskriminasi. Nek uwong sing pernah entuk diskriminasi ki memang seru. Karena aku kan kaitannya dengan kewariaan aja. Nek status durung. Aku pengin kerjasama karo kene misale ibu-ibu PKK, arisan, misale penyuluhan. Karena pernah ada orang bawah itu sakit, disini kan kalo dari pekerjaan kan kebanyakan resiko tinggi. Sakit, kemudian nggak lama mati. Tapi kan kalau dari ciri-ciri kan kita tahu dari latar belakang dia. Nyambut gawe neng Sarkem, tapi kok meninggalnya itu nggak lama. Iso kaposi sarkoma, tekan nggon mripat barang....ning yo oleh karena mereka nggak ngerti dari awal ya wis....

  • Saat mulai terinfeksi, selain sempat ada penolakan, maksude ‘kok aku?’,Mbak M pernah ada rasa marah terhadap diri sendiri? J: Memarahi diri sendiri? Ada tapi dikit nggak banyak. T: Ho’o piye? J: Ada, maksude menyalahkan diri sendiri, coba aku

  Menyalahkan diri

  ra nglonthe, kayak gitu lho…kayak nggethuni, coba

  sendiri ketika tahu

  aku ndisik ora keluar malam, mungkin tidak akan

  status HIV

  seperti ini. Itu juga ada rasa kemarahan ya itu…saya bilang sedikit, nggak banyak….itu proses penerimaannya lebih cepat karena tingkat kemarahannya sedikit, tapi ya sempat marah. T: Apa karena sebelumnya karena Mbak M dari awal

  Subyek sadar akan

  sudah menyadari resiko dari apa yang sudah terjadi?

  konsekuensi

  J: Dari resiko aku main-main dengan virus? Iya, itu

  pekerjaanya

  resiko dari aku main-main dengan virus. Melakukan hubungan seks bebas.

  T: Tapi mbak, sori, saat ini Mbak M menyandang 2

  Cara subyek

  status. Nek dari tatanan umum kuwi dianggap berada

  menghadapi lingkungan

  diluar. Kuwi sok membuat Mbak M tertekan juga? J: Kalo statusku akan menekan aku, ya... itu kodrat. Tetapi kalo aku disuruh tertekan oleh statusku, aku nggak mau. Jadi aku bukan melawan status, tetapi melawan tekanan. Jadi contoh kasus, untuk menghindari pelecehan, aku berpakaian seperti ini (menunjuk badan), karena aku seorang waria. Toh seorang waria bukan berarti harus pakai make up, rok, itu juga termasuk mengurangi tekanan kan? Agar aku tidak terdiskriminasi. Ning tentang ke-Odha-an, untuk menekan masyarakat tentang Odha, ya... tutup mulut. Tidak membuka status. Dan disaat kita mau membuka status, cari tempat, waktu, dan orang yang tepat, supaya kita nyaman dan kita juga tidak tertekan. Bener!... nek (agak lama) waria-ne dhewe kan alam.... Tapi dengan untuk.... opo.... nek tertekan karena keadaan... emoh!!! Selalu menghindar dari tekanan- tekanan. Ya biarlah mereka beropini “Y itu waria, Y itu kayak gini” itu hak dia, tapi aku EGP gitu...., emang gue pikirin. Bagi aku, nggak ada orang sempurna. Ada kekurangan, ada kelebihan.

  • T: Orang kan selama ini kan mikir HIV “ wah kae wis gek ndang mati” maksude entah dia positif atau tidak....bahkan yang positif pun mikir, wah wektuku wis....wektuku gari sithik. Pernah nggak terlintas pikiran seperti itu Mbak M?

  Pikiran tentang

  J: Bukan cuma masyarakat luas aja, saya sendiri pun

  kematian

  seperti itu. Saya pikir, dulu, HIV itu sama dengan mati, AIDS,... kayak gitu....dan AIDS juga akan cepat mati. Tapi ternyata setelah saya banyak tahu tentang itu ya nggak seperti itu.......jadi mungkin masyarakat perlu tahu bahwa HIV tidak sama dengan AIDS dan AIDS tidak sama dengan mati. T: Tapi pikiran tentang itu sempat bikin Mbak M stress dan depresi juga? J: Saya ada pengalaman, Yayasan Spiritia membawa 2 teman Odha ke LP3Y dengan tujuan penguatan daerah, penguatan lembaga. Ada seorang teman Odha sudah berdaya dan saya dikenalkan. Dia berjanda- berjanda...oleh karena mungkin dia dulu sudah seperti

  Waktu itu yang satu teman ini bilang “ kepalaku pusing, kecapekan tadi abis kunjungan ke gubernur,”

  Subyek merasa takut

  terus yang satu, “ jangan-jangan virus kamu sudah

  dengan bayangan

  sampai ke otak?” nah...aku yang gemetaran...info

  kematian semacam itu yang bikin stress. Jadi butuh kesiapan.

  T: Ning reaksi semacam itu memang umum buat Odha awal-awalnya? Tadi kan yang satu sudah kebal dengan guyon sementara Mbak M baru. Apa itu juga terjadi pada Odha anyaran? J: Ya umumnya seperti itu....setelah aku kan bermunculan Odha-odha baru.

  T: Malah lebih banyak.... J: Yo nek sing bergabung neng JOY ki yo ra akeh...maksudku kita hanya membicarakan sing tak temokke wae.....terus disisihkanlah gambar-gambar itu. Aku tidak mau melihat itu.

  T: Maksude yang menyisihkan gambar itu atas pengertian Mbak M atau..? J: Dia minta tolong.... aku kan sempat kunjungan ke rumah. Aku mau cerita aku tadi kunjungan kesini, dia lagi sakit begini-begini. Dia minta tolong kita cerita lain aja jangan cerita itu. Itu adalah salah satu bentuk penerimaan diri dia. Pada akhirnya aku yang lebih paham...aku yang lebih merasakan...aku yang pernah merasakan maksudku, ya sudah, yaa..dengan segera berbagi, mengalihkan perhatian, soalnya itu terbukti....gitu lho. T: Mbak M pernah mengalami itu? Maksude sing mau kan berjanda....ooo viruse wis tekan otak....sedhilit maneh mati....sementara Mbak M melihat gambar- gambar orang yang sudah stadium...maksude fase akhir segala macam itu juga pernah....maksude perasaannya jadi ra karuan ngono kae? J: Awal-awale iya dan sangat banget....seperti... jangan-jangan aku seperti itu, jangan-jangan itu aku, jangan-jangan...kayak gitu intinya. Tapi setelah tahu banyak malah sebaliknya. Dengan melihat teman- teman yang lain lebih parah daripada aku membuat aku percaya, bukan saya akan seperti...dalam arti tegar, tapi kalau bisa jangan sampai saya seperti itu dalam hal menjaga kesehatan, terapi, tapi kalo kita nggak biasa malah stress melihat gambar-gambar atau teman-teman yang sudah sakit, terkapar dan waktu itu ya aku sempat stress...aku belum pernah melihat orang.......

  J: Ho’o ...gambar....tapi begitu aku sudah siap baru lihat orang-orang. Jadi disaat aku belum siap saya hanya melihat gambar. Begitu aku melihat orang yang aslinya ni...yang sakit...aku sudah siap. T: Kuwi pertama kali kapan mbak? Melihat orang, teman yang terkapar sakit? J: Ee..kapan ya...sekarang lebaran berapa ya? Kemarin lebaran tahun berapa? T: 2004 J: Berarti lebaran 2003...2003 mau lebaran bulan apa ya? T: November-Desember J: Ya berarti oktober....eh tapi bukan pertama kali ding.... itu terakhir kali. Jadi ada teman yang sudah sarkoma kaposi, dia sudah diare 10 bulan, dia ada toxo juga, ada radang paru juga. Wis nggak nyambung...diajak ngomong susah....itu yang aku dulu pernah cerita aku pernah ke T. Itu sangat-sangat ngeri ekali. Mulutnya penuh jamur, diajak ngomong nggak nyambung, rambute rontok, kuru banget. Terus saya kesana beberapa kali. Terus minggu terakhir saya bermaksud...karena kita libur lebaran...kita mau kesana lagi sudah tidak ada seminggu sebelumnya. Satu minggu sebelum lebaran. Itu pertama kali melihat sosok Odha yang sebenarnya, jadi bukan yang digambar. Saya juga punya kekhawatiran....tapi ya nggak lah, jangan dibesar-besarkan. T: Nek Mbak M punya pikiran...ketakutan kuwi ana pengaruhe neng fisik, maksude terus lara?

  Kondisi yang memicu

  J: Ya nggak...justru nek kepikiran itu pas saya capek

  munculnya pikiran

  mas...badan capek, tidur nggak bisa merem karena

  tentang kematian

  capek, banyak pikiran, nah itu lho malah pikiranku kemana-mana melayang-layang. Membayangkan yang sudah-sudah gitu lho...dalam arti membayangkan Odha-odha sing wasting....itu pernah

  Subyek sudah siap terjadi...tetapi sekarang nggak...sudah siap lahir batin. dengan kematian

  Mikir setelah tsunami, semua orang pasti akan mati...tetapi yang nggak Odha pun akan mati.

  • T: Pernah gak dulu terlintas aku tak bunuh diri wae timbangane kaya ngene… J: Bunuh diri? T: Maksude setelah didiagnosa

  Pikiran tentang bunuh

  diri

  terlintas bunuh diri aja. Karena aku dibekali iman sedikit. Jadi bunuh diri itu tindakan yang tidak terpuji. Jadi menurut aku aku, sesulit apa pun kita mendapat masalah pasti ada solusinya…waktu itu pikiranku seperti itu aja. Dan... ya udah aku jalani aja. Kalau waktu itu pikiranku rada religius sithik…ya nek sing kuwasa ngekek’i penyakit mesthi mengko yo ngekke’i obate…optimis banget..waktu itu sih yang menyebabkan aku nggak punya pemikiran untuk bunuh diri…padahal kalo dituruti, waktu itu bener- bener sendiri. T: Selama 5 bulan awal ya… J: Aku stress selama 5 bulan awal. T: Mbak M sempat memutuskan untuk metu opo ra? Oh ya wis aku tak mejeng meneh atau betul-betul bar positif langsung menarik diri…aku tak ra metu…

  Perasaan awal ketika

  J: Ya…selama 5 bulan itu nek aku ra metu, aku arep

  tahu status

  mangan opo? Mengko nek ra metu piye? Tapi aku tetap memutuskan untuk berhenti wis aku tak ra mejeng, ora! Aku ya tidak memutuskan untuk lebih gencar untuk keluar malam….nggak. T: Kaitannya dengan kemarin yang kita obrolkan tentang menggunakan pengaman, setelah 5 bulan opo kemudian menjadi lebih ketat?

  Pertimbangan subyek

  J: Lebih…karena pada akhirnya keputusasaan itu njur

  untuk tetap meneruskan

  kaya emoh dhuwit…tetapi nggak punya pikiran mati

  pekerjaannya

  wae…tapi yang namanya kebutuhan kan jalan terus…kayak gitu…nggak mikir nuluk-muluk….aku kudu nduwe iki, aku kudu tuku iki..sementara pikiranku itu Cuma nggo mangan wae. Jadi, disaat saya melayani tamu, nek ora nganggo kondom ya ora masalah…mereka nggak mau silahkan cari yang lain…sebenarnya kalo yang nggak mau lelaki itu kan yang rugi bukan saya..pada akhirnya lho…memang nek soal dhuwit aku yang rugi. Tapi kan aku mikir sing ora muluk-muluk, cukup nggo mangan wae. Tapi kalo soal tular-menular kan yang resiko sebenarnya lelaki. Kita kan nggak pernah tahu apakah lelaki itu tertular atau tidak, ya tho…ya kalo yang menularkan itu aku, nek wong liyo? Kalo yang menularkan itu aku misalnya, itu kan menambah berdosa lagi…tambah merasa bersalah lagi. Selama dalam 5 bulan itu entuk siji keno nggo mangan rong dino yo rong dhina ora metu, entuk loro keno nggo mangan rong dhina ya rong dhina ora metu. Sambil mencari-cari yang tukang cuci….bukan yang depan rumah aja…ada beberapa…anak kost…aku tukang cuci aja. T: Berapa lama? J: 3 bulanan…karena…jadi tukang cuci itu lama…saya sudah sampai gabung di JOY. T: Sak bare kowe bali sing 6 sasi kuwi? J: Durung T: Itu dalam masa yang 5 bulan itu atau sesudah? J: Aku sesudah yang 5 bulan…sesudah aku pulang

  Subyek kemudian aktif

  kampung yang 6 bulan saya kesini lagi, jadi tukang

  di sebuah LSM cuci. Ada 4 keluarga...terus intine JOY dapet funding.

  ‘Y, kamu sekarang sudah diaktifkan. Ada yang mau mendanai. Ya tambah rajinlah aku di JOY. Ternyata itu cukup untuk 3 bulan aja. Sementara saya sudah memutuskan tidak buka laundry lagi, karena saya mau aktif di JOY, karena saya digaji cuma 3 bulan. Itu sesudah aku pulang, sesudah pembentukan JOY, terus akhire Cuma 3 bulan, mau balik ke laundry lagi nggak bisa...mereka sudah diambil alih orang...dan waktu itu aku yang mengundurkan diri, mau tak rebut lagi ya nggak enak. Nggak enak dua-duanya sih, aku yang nggak enak, pihak pemberi juga nggak enak.

  • T: Setelah Mbak M didiagnosis, Mbak M punya janji nggak untuk diri sendiri?

  Komitmen subyek

  J: Ada, tapi aku janjinya lain. Setelah terinfeksi

  setelah tahu status HIV

  HIV…kayak gitu…waktu itu aku berjanji pada diri sendiri dalam hati…kalau janjinya sih ingin ikut terlibat menanggulangi HIV; apa pun kampanyenya. Jadi biar memberi banyak info tentang HIV/AIDS. Jadi janjinya itu intinya biar saya aja, yang lain jangan. Ya walau pun belum banyak kan saya udah ikut-ikutan terlibat. Janjinya itu yang positif. Tapi kalo janji yang negatif itu gak ada, misalnya saya akan menularkan pada banyak orang…kayaknya aku ingin menebus dosa-dosaku…ha..ha..ha…yang selama ini menggunung didalam hidupku….bener..saya takut mati.

  Keluarga subyek belum

  • Keluarga tidak diberi tahu oleh subyek karena ia

  tahu tentang status HIV

  tidak ingin melukai perasaan kedua orangtuanya bila

  dan pekerjaan subyek

  T: Sekarang keluarga tahui tentang status positif? J: Nggak! Belum. Rencana kemarin aku berencana, tapi aku.....

  T: Belum sampai? J: Belum sampai.

  W.L.ODHA.YK.5mei2005 Deskripsi Pertanyaan

  1. Latar belakang keluarga T: Kowe kenal obat-obatan ki mulai Bagaimana riwayat hidup subyek? kapan?

  J: Kuwi ya…SMP-SMA kae. Tapi kan

  Pertama kali subyek mencoba

  njajal-njajal, durung kecanduan dan aku

  narkoba

  ngomong yen pil barang kuwi ora nyandu. Aku bener-bener ngerasa sebagai pecandu ya PeTe. Karena awake ki njaluk. Bener-bener kerasa aku ki ternyata kecanduan. Kae nek pil, memang waktu konsumsine akeh, aku sedina 10, ki nek ora migren…kenceng kabeh. Tapi nek kecanduan dalam arti kaya PeTe, ora! Jadi aku merasa sebagai pecandu justru pas putaw. Bener-bener jadi ngerasa kecanduan. Nek liyane kaya cimeng…tapi T: Ora dadi nggathok? J: Ora masalah nggathok sih..nek seneng sih seneng. Nganti 43 sedina ki kudu.

  Perilaku-perilaku destruktif

  Tapi..ora iki…kancaku nguntal pira kae,

  subyek

  20 njur mblandhang, dalan belok dibablaske, neng papringan kae. Aku ki nguntal 43..ah mlaku..saka gelael tekan empire.selamat. esuke nabrak mobil mandeg….asu! ha..ha..ha..ha..ha. T: Ngono kuwi kompetisi? Maksude akeh-akehan? J: Ora! Aku dhewe. Bocahe malah sithik- sithik, aku ora. Tak bukak, prol…le ngombe nganggo kopi, gulane semene (menunjuk dengan tangan), kopine sithik. Tambah dhuwur yen legi, mbuh

  Emosi yang muncul karena efek ngapa…tapi aku ora krasa nyandu. konsumsi narkoba Cuman krasa emosiku iya saka kono.

  T: Jadi gampang marah? J: Iya! Aku dhewe ya bingung…apa ya…kendhel banget ki lho..apa rada gemblung? Wong pas neng prapatan cedhak Stiper ki aku arep gelut kambi polisi kok aku. Tak tantang kok, sabhara kae.

  T: Ning polisine ngerti yen kowe lagi

  J: Ndhisik aku nang pacarku, ndhisik aku isih pacaran kae, diseneni. Arep maem kae, tak tantang, bajindul…aku mudhun saka motor…asu… Nek kuwi aku krasa ya..krasane saiki, sadare saiki. Mung cah-cah ki nek tak dhelok kambi aku ki rada piye…nek aku ngamuk soale ngawur. Nganti saiki ya ngawur..ha..ha..ha T: Ning nek saiki kowe mengingat masa lalu, perasaane ki piye, kelingan sing mbiyen? J: Ya ming…aku dhisik kendhel temen ya..?? selain kuwi ya ora duwe rasa wedhi. Wong sak padha kowe isih mending. A ngerti? Menwa Sadhar kae? Kae tak tantang. T: Kowe ketemu neng endi? J: Soale nempiling kancaku..ha..ha..ha..kuwi bapak kos-e kancaku. Aku ora terima. Kuwi tak parani neng posko..sumpah! Takono A, kelingan kok dhek-e. aku wis nggawa peso. Soale dhek-e ngentengke banget sih, jadi aku wis kepangan..woo..iki tak tubles kelaran, iki apik banget! Soale dhek-ne ki,”nanti urusannya belum selesai!” wahh..kuwi aku wis niate tak tubles wae. Ndilalah ki dheweke ki diundang kepala menwa-ne, mergane ana sing ndelok aku wis ngawa peso. Sidane dhek-ne malah,”ya saya minta mas-nya tangannya yang satu jangan dibelakang.”…lha iki tangan saya kok, arep gelut kok ora oleh tagane neng mburi. Iki tanganku..asu..!! ya wong gedhe-gedhe aku takarane. Dadi ora enek ukuran wedhi..piye..ya ora normal..nyleneh..lha saiki wong semana, si A, bocahe semana, sak padha kowe, disikat si A tangan kiri ikine tugel kok…(menunjuk hidung). Aku mikir yo nek disikat tenan nggeblak…lha dhekne karateka ban ireng. Nek kuwi aku ora patokan kuwi. Aku isa mati, kowe isa gaule..gaul ya efek obate juga. Aku pokoke tobat…ya karo bocah-bocah kuwi isine ming gelut, mabuk, gelut, wis iku thok.

  T: Kalo dibandingin nih, 2 kota, C dan Jogja, mana yang lebih membuat kamu

  Subyek lebih nyaman tidak berada

  nyaman?

  di kota asal

  J: Nyaman di Jogja! Ya.. karena beban, misale kalo aku mau ngomong nggak ada yang tahu. Maksudnya tempat tinggal kita kan pindah-pindah tho…nah itu cenderung disitu, dan juga mama kan di

  C. jadinya meski aku kos dimanapun kan mereka tahu aku ya nggak masalah. Aku Cuma mikire bebannya orangtua aja. Aku kalo di C mau ngomong bingung, mesakake ibuku. T: Dan apa lingkungan pergaulan lebih parah disana? Maksudnya, kamu tadi beberapa kali kamu kalo di C banyak yang ngajakin kamu untuk terjun ke

  Pengaruh teman terhadap subyek profesi….

  J: Itu ada temanku yang stress juga karena istrinya meninggal. Kebetulan dia nganggur. Itu yang paling nakal dikeluarganya, ndilalahe kok ya ketemu aku…lha kuwi. Memang apa ya…lingkungannya beda banget. Aku neng kono ki kancaku nakale nakal seks kabeh. Aku dadi bingung kae. Mereka nganggep aku…free seks ki…. T: Wis nganggo berarti jelas free seks? J: Ho’o..dadi aku bingung kae..aku nakale beda nurut aku, ora nyambung ki…aduh piye iki? Aku pas kae nek gelem diajak, kon cek in, bingung aku. Arep ngomong apa iki mengko?...asu..bajinguk…sumpah! bocahe ayu kok. Iki neng diskotek aku batinku nek neng Jogja aku isih nguntal pil, nek neng kene ora..iki piye? Kaya iki rasane? Lhaa…nek kancaku pikirane bar saka diskotek cek-in. ya kuwi, pikirane beda. Nek aku justru diskotek-e kuwi njengkinga dhewe sing penting aku malah dhewe. Aku pikiranku karena cara gaul ki apa tu…temen-temenku disana seks semua nggak ada yang narkoba…ya komunitasku ada yang narkoba tapi ya paling alkohol…

  Subyek mengalami sedikit

  T: Berarti disana peredarannya nggak

  perubahan perilaku setelah

  terlalu gede?

  mengalami kecelakaan hebat

  J: ah..pada wae…barange aka Jogja memang nek ra saka P, kuwi ya gedhe. Aku piye ya…rada robahe bar tabrakan. Mbuh ngapa aku dadi…wis lah ora iki…ora memburu, ora kaya ndhisik. Aku bingunge dhewe ya kuwi…ora patio dong. Mengko ngerti-ngerti paling sesuk. Aku nganti saiki kadang…” kok dadi kaya iki ya?” bar tabrakan wingi. Kuwi apa karena bar tabrakan terus otakku owah terus nyambung apa….mbuh..ha.ha..ha..

  Subyek pernah mengalami

  T: Sepanjang sejarahmu, kowe OD

  overdosis

  berapa kali? J: He.he..he..he...ko sik…ping 4 apa 5 ya..sik..he..he..terakhir ki sing neng mobil kae… T: Ooo..sing karo cah-cah kae? J: Ora…kuwi sing kepindho..terakhir neng mobil nganti D kambi R nututi kae.

  Terakhir kuwi. Pertamane kambi N almarhum, terus bar kuwi memang sengaja..ha..ha..ha..aku pingin OD, aku pernah. Tapi ora mati. Aku ki ya…putus, aku nganggo setengah langsung, nganggo paketan 200. kuwi kambi kancaku. Aku ki diantemi ora krasa. “V ora papa?” “Ora, kae wis waras.” “padahal tak antemi, ora papa?” “ora!” T: Diantemi itu dalam rangka biar sadar? J: Ya…menurut dia. Aku ya nggak ngerti. Terus neng Jagalan kae 2 jam, black out, dudu OD. Nek OD paling ping 3. dadi black out ki sadar diri tapi durung sempat…mungkin jane kaya

  B kae mungkin black out karena nganggone langsung dhuwur to…nek OD nganti mumpluk. Kuwi sing pas pertama sing digawa neng rumah sakit. Nek menurut cah-cah OD, tapi nek menurut aku black out thok. Karena durung sampe mumpluk…ya mbuh nek dibablaske, mbuh mati opo ora yen ora ditulungi. T: Bar kuwi ya tetep? J: Ora wedhi lha kancane mati ki…kae mati ki ya ming…”kapan?” ora eneng,”iya po?!” ki ora. T: Nek tentang kematian kowe tau

  Pikiran tentang kematian

  kepikiran ra? Suatu saat aku mengko mati… J: Iya tapi yaa..mung sesuk aku matine piye? Kuwi..he..he..he..he, kuwi sempat. Tapi ya piye..ya wis lah, ora tak pikir banget. Nek tak pikir malah stress. Nek kuwi sih sempat,”wahh..iki malah lara kaya iki, piye aku mati?” kadang ya iya..kepikiran sempat iya. Apa lara sik apa piye? Dadine kuwi sempat kepikiran. Wah nek sesuk nganti kaya iki….ya mungkin iku ya karena ndhelok foto-foto kuwi ya… “Wah..nek kaya…” waduh…dadine kepikiran. Mngkin nek ora ndhelok ya kepikirane mungkin kaya freddy mercury, malah pikirane mrana. T: Perasaane dadine piye? Ngeri

  Ada perasaan takut & ngeri akan

  mbayangke nek lara apa piye? Nek awal-

  kematian

  awal ndhelok foto piye? J: Wahh..nek sesuk iki….modhar!!! maksude larane? Ya mung ngeri thok wae, nek misale kaya kuwi piye…Cuma paling kepikire suk matine kaya apa?ha..ha..ha..ha..mung kuwi thok!

  Tidak ada pikiran tentang bunuh

  T: Ora berniat merencanakan supaya

  diri

  jelas? J: Ora! Yen mbiyen kae sepisan tapi ora bablas…bajindul elek banget…aku wis ditata kok. Ditata neng kamar. Aku sadare aku neng kene, suntikane neng tergantung kondisi. Nek black out ki kerep…. Nganggo, ngerti-ngerti neng kamar mandine kancaku 2 jam. Kathokku bolong, ikine mlendung. Aku kaget kok nganti…nganti kaget kok…kathoke bolong gedhe banget. Isin aku maring ibune,”kok di kamar mandi kok lama banget kamu?” Aduhh..batinku…aku takon ternyata 2 jam to…padahal aku ngomonge,” sakit perut bu, apa sembelit mungkin, apa kenapa ya?” padahal 2 jam kan wis ora mungkin to? Kancaku nganti munggah kae. Aku ki sempat nyumet rokok, wong sempat narik….. T: Sak durunge clean? J: Ora! Ya wis nganggo…haruse kan ora to…padahal paket 50 dibagi 2 ki Cuma nggo nutup. Ya kuwi..ngrokok, ngerti- ngerti blank! Digugah kae aku kaget kae. Mbuh kuwi karena kondisi mungkin. Aku nganggo bareng D bareng S, ngerti- ngerti ki S ora sadar, terus tak kamplengi ki ra krasa. Mbasan sadar 2 jam kae. Nek B kae merga pertama nganggo telat mbukak, mungkin kaget. Nangani OD ki pindho aku. T: Biasane tok apakke? J: Tak antemi. Pokoke aja nganti dek- e…..kudu sadar! Piye carane, berusaha disadarke. Kuwi kambi N karo bojone sing saiki wedhi. Tapi pacare ki teteg banget, aku wis wedhi mergane kene ki wis biru. OD ecstasi. T: Nek OD ecstasi ki piye? J: Kejang-kejang, muntah-muntah, nggeget kae. Ya mbuh nek kancaku nek OD ki sesek kaya wong sesak, mumet. Pas kuwi barange aku…aku kelingan mergane wong loro sing takkek’I ki njegleg kabeh. Terus digawa neng bethesda. Nek liyane mbuh…nek N kae pecah pembuluhe…..darah keluar dari mana-mana, wong kakakku sing ngganteni kapas. Tapi pas aku teka wis

keluargane wis nyari aku, dikirane aku sing mateni! Kabar neng jalan Solo ki rame banget. Nganti aku dikon bu Et kon bali, mergane keluargane nggoleki aku. Dan aku tahu keluarga dia gimana, aku tahu..dan aku ngikuti Bu Et dan yang namanya orang dendam ya…sampai sekarang masih. Aku layat, keluargane metu kabeh. Bapakne, keluargane metu kabeh. Aku ora oleh cedhak-cedhak, dhek’e dimakamke, aku adoh banget. Dan wong pira kae nggoleki, biasa…takon-takon,”kowe mau bengi neng endi V?” “neng omah!” kuwi ana wong telu. T: Lha pas kuwi si N nganggo karo sapa? J: Wah..aku ra ngerti! Aku neng C, ngerti-ngerti krungu mati. Ya aku nggenahke piye? Wong keluargane nggangep aku sing marai kok piye? Wong adike ora tau ngajak omong setelah aku dadi pecandu padha-padha N. Ibune nuduhe kaya kuwi..ya piye….ya wis tak neng ke. Aku juga mikir ngapa aku mateni N? nek gelem wis kit ndhisik-ndhisik, wong kanca dhewe. Iki ana bekas jerawat neng kene, ya dasare wong wis dendam ya,”ini pasti bekas suntikan!” “bukan! Bekas jerawat.” Sapa sing ngeterke wae digoleki kok. Ya aku ra ngerti wong aku neng C. Jam siji

  Subyek pernah terlibat dalam peristiwane. jaringan narkoba

  T: Urusan polisi ping pira? J: Ping telu. Sing kasusku dhewe 2, sing salah cekel 1. Pas aku ngedarke ki jaringanku luas tur informasi cepet. T: Rapi? J: Dudu masalah rapi..kambi wong ki luwih njaga. Aku nduwe informasi, maksude antar bandar, cah-cah ki duwe chanel saka kana. Pas kuwi memang aku arep gawe jaringan…dadi model nek misale kowe kecekel, kowe nembak aku, mengko tak tebuske pira, kowe ngekek’i dhuwit aku pira. Dadine nek ana sing ngapalke mobil polisi ki isa…asu!!! Nganti plat-e apal! Kadang malah nganggo motor cekelan. Sing kae malah motorku ke-gap. Dadi salah cekel. Resersene ki maem bareng karo aku neng ngarepan. Model kos-e ki kaya ngene iki, iki kos, lawange kene terus aku ki mangan kambek salah sijine neng ngarep..sing nyekel aku. Begitu mlebu kamar..grek! waduh kancaku wis..ya wis sekalian aja mas. Terus motorku dienggo nyekel BD, cenglu..,”V dimana tempat- tempat BD-nya?” “Ya terserahlah, wong aku nggak kenal sama BD-nya kok.” Aku ra ana beban mental. T: Pas kuwi kowe clean? J: Ora! Bar nganggo. Saka kancaku kuwi, Cuma dhek’e sing ditarget. Aku nganggo jam 10, kecekele sore jam 3 jam 4. digawa neng UGM, diantemi. T: Sempat nginep? J: Ora! Karena tukar kepala. Karena neng kana ora eneng barang bukti. Barang wis dienggo kabeh, paling ming urine. Neng pengadilan ora isa kanggo bukti. Dhek-e pinter, ndhedes karo kancaku sing ditarget. Dhek-ne ora ngerti sing jenenge S sing endi. Begitu ana fotone,”lha..ini kamu ya!” Polisine ki ora ngerti. Terus HP-ku kegawa neng kalimantan, ngedarke rana, kecekel karo bapake.

  Nggawa ecstasy, neng kene sijine 400 digawa neng kana dadi 1 juta….wah bathine..!! dhek-e lagi ngetung bathi konangan bapake! Ora oleh balik rene. Hp-ku ilange kuwi….asu..pantes tak telpon ora diangkat-angkat. Ora neng hongip malah..ha..ha..ha..wah bab kuwi akeh banget…nganti ngesuk isih cerita bab kuwi ha..ha..ha..wong aku lagi mabuk, kancaku ketusuk ki pikirku ditusuk badik apa clurit ki cilik kan…tak tinggal turu kok..sumpah!! ya ditusuk nganti opname 4 hari kan parah..pikirku alah ditusuk badik…aku turu sik ambi cah Terban, aku ngerti soale kancaku kabeh. Sing nusuk kancaku, sing ditusuk ya kancaku. Aku pernah “parno” terus diajak nyabu wahh…kae parno-ne medheni, nganti mecah kaca mobil neng gelael….asem! aku nek

  Subyek merasa ada yang

  parno medheni. Nek parno ki kaya wong

  mengancam dirinya

  trauma apa ya? Nek nganggo shabu kakehan mesthi kaya kuwi. Nek tentang gelut, yang penting tak sikat sik wae. Kuwi karena kedidik kuwi…ben dina nggawa..aku ya dadine nggawa, soale dhekne akeh musuhe. “ V nanti kalo di jalan Solo ribut kamu kreatif dikit ya, cari batu atau apa.” Ya aku mending gawa parang, padha-padha kecekel bareng. Dadi kuwi, aku sering nggawa. Bu Et sing tau ngerti. Sakiki wis ora tau. Terakhir ki aku nggawa cutter. Dadi nek ora nggawa ki rasane piye..ora tenang kae. Saya meneh nek neng keramaian. Tapi nek ora nggawa ki rasane piye…tapi saiki wis ora. Wis ilang! T: Ilange semenjak kapan? J: Aku pindah C. Aku mikire njaluk peso sing wis tau nggo mateni nang P. aku ki dadi ora pati kendhel yen ora nggawa. Karasa kalah sik. Aku keri ki nek aku nggawa, pas lagi ngeterke obat, kuwi kedadeane neng Rahayu, bisa aku ngantemi uwong…maksude nusuk uwong gara-gara helm-e P disingkirke. Aku lagi nulis alamat helm-e disingkirke. Aku golek kuci roda ora oleh…bajinguk..nek oleh tak gebug tenan. Neng kana batinku. Lha aku ra nggawa apa-apa…gede je…aku nggolek kunci roda ora nemu…asu! Nek nemu tak gepuk tenan…asu. Ya aku si tak akoni emosiku saiki ora kaya dhisik. Nek sing wingi kuwi mbuh..aku dhewe bingung…aku bisa mak prepet..aku isa mentheleng kok. Terus otake licik kae…trus bar kuwi aku arep golek apa ya? Aku ra nulis alamat, mlaku-mlaku enek..bajigur…aku nulis alamat meneh. Nek wingi mbuh aku lagi kenapa kok ngerti-ngerti mak prepet emosine munggah. T: Mbiyen pisanan nganggo ki merga diajak kancane apa piye? J: Ora! Nek saka pil memang pure aku…aku wis pingin. Aku wis krungu methalin, jajal kae apa sih? Aku pingin banget. Aku nganti titip-titip maring Smg. Direwangi nitip kok..he..he..he.. Tapi nek PeTe dasarku, pacarku ora enek. Pacarku ora enek, PeTe mlebu…ya wis mlebu sisan. Aku dhisik durung ngerti sakaw. Ra ngerti sakaw. Aku nganggo kae pirang dina nganggo kae ya..seminggu..ngedrag…bali ki rasane awake lara kabeh. Lha terus kuwi kan durung ngerti sakaw…terus alm N..”sakaw V?” apa kuwi sakaw? Aku ra nganggo sik lah awakku ra penak.

  Dienggoni malahan jedhet!! Bajindul..kok penak?!! Saka kono kuwi dadi ngerti sakaw, terus aku nggatheli kae. Nek ora ngerti mungkin kaya wong flu kae..ngethok-ngethok, wahing, tapi mbiyen nahane tetep nganggo daftar G, lexo 2 procold 2, sedina ping 3..wis kuwi. Tapi durung ngati..mbuh karena aku nganggone isih..ngedrag ora nganti muntah sakaw-ne, apa barange? Ndhisik kuwi barange sithik apa dicampur? Ndhisik ki aku pernah kulakan neng B, mbiyen pernah mrana. Dadi aku ora oleh njupuk sik karena apa…sing OD ki wong pitu wisan, merga le nyampuri kakehan.

  Apa merga kuwi…lha kuwi aku kadang kan ngerti…wong ndhisik ki sakaw ora nganti muntah-muntah, mung pegel.

  Ada sedikit perubahan konsumsi Iya…ora nganti muntah. narkoba pada subyek

  T: Nek saiki clean? J: Nek clean tenan ya durung tau, wong nek mrene ki mesthi nganggo. Tapi mung aku setelah bali ki ora mburu banget. Ora kaya ndhisik, duwe duwit ngglethak neng kana ora urusan. Tapi wis kuwi teka rene ya nganggo pisan, bar kuwi yen ora duwe ya wis…ora terus nggadhekke. Iya! Biyen motor kuwi dadi 200..jam wolu bengi gadai 200. Motor kharisma, “mas mbok 2 juta sisan…” “ora mas, butuhe 200 kok mas!” ha..ha.ha..ha… ora kepikir sesuk mangan opo wis prek! Sing penting isa dienggo

  Pengaruh lingkungan pada diri tuku. subyek

  T: Sing marakke kowe,”aku tak ra nganggo sik?” J: Aku dhewe ya bingung…apa karena komunitase? Tapi ganti ya ora…nek ganti-ganti, nek neng kene ya tetep nganggo. Apa merga lingkungan ya nek lingkungan tak akoni iya! Lingkungan sing ora nganggo. Nek aku bali neng C, aku kan akeh neng omah to..maksude walaupun lunga, paling alkohol, dudu komunitas suntik menyuntik. Iki nek aku nganggo meneh isa kebablasan. Aku mikire komunitase ki atmosfire ki neng kana..wahh..gedhe banget. Neng kana ki..jare cah-cah ki isih dolanan. Aku ora mrana mergane aku ya wedhi to…lha neng C aku disebut-sebut. Ya kuwi lah nek lingkungan aku pikir ya pengaruh banget. Nek misale kowe kerepe neng kampus, junkie-ne junkie kampus. Jajal kowe mlebu tenan neng lingkungan kuwi bisa kebablasan. Biasane junkie kampus ki nek eneng nganggo, nek ora ya wis. Tapi nek begitu ngerti ya wis…aktif.

  Keluarga tahu tentang perilaku T: Mama ngerti po ra nek kowe subyek menggunakan narkoba

  nganggo? J: Ngerti! Dadi nek ngerti koplo-ne wis suwi. Cuma nek ngerti le PeTe pas aku dioperasi. Ibuku tapi ora tau ngomong, ora tau nyeneni. Ibuku soale ngerti aku.

  Nek aku diseneni malah disisanke. Lha tenan kok! Nek misale aku diseneni, aku bali nggawa, tak suntik neng ngarepe ibuku kok!”aku mau nyuntik. Nek ra percaya iki!” aku memang wonge meneng thok! Pas Papahku ora enek, aku krasa mak dheg! “Wis ya ora sah dolanan, wis dikubur sisan ambi Papah!” aku…aduh!!! T: Merga omongane mamahmu kuwi apa kowe dadi mikir? J: Durung! Ha..ha..ha…saiki isih kaya kiye kok! Malah aku kumat meneh kok. Bar positif kuwi aku 6 wulanan clean, bar kuwi kumat meneh kok. Terus almarhum n kuwi kan dhek-e sing njagani aku,”kowe sing arep mati ora sida malah nganggo meneh malah ngedan, aku kok ora oleh nganggo?” esuk..kae kuis siapa berani kae mesthi nganggo, lagi. B kae nggugah,”yoo..siapa berani??” “Siapa takut?” “Ayo tindak lanjuti!” telpon mesthi langsung, isuk-isuk wis nganggo…jan.. aku nek lagi neng H kan nek kuis Siapa Berani aku kan wegah ndhelok Siapa Berani, sugesti soale….neng kene ki langsung!!! Soale ben dina! Ora mung pisan pindho, misale seminggu pisan. T: Nek kowe dhewe, pengalaman bar kecekel kuwi marai kapok opo piye? J: Bar kecekel aku njupuk meneh! Ha..ha..ha..ha.. T: Ora ono pikiran apa piye? J: Aku metu saka Polres ki aku kudune mulih, aku sakaw berat kae kok. Aku karo mas-ku. Mas-ku nganti tak ajak njupuk kok, nganti masku,”iki terakhir ya!” “Iya!” jenenge junkie, terakhire…… T: Paling suwi pirang dina neng sel? J: palin 3 dina. Tapi neng kana ora neng sel, neng iki, neng kantore. Aku nggrathil kok memang, aku diantemi wong papat..asu! ngertio ora buka-buka sing diverbal. Neng kana kan ana bukune Granat neng Poltabes. Aku iseng kae, waduh 2 pasal, ternyata ana sing ngintip! Digebuki aku, kon turu neng njaba…ha..ha..ha..asu!! nek pengalaman

kok piye…asu..nek kelingan..ki… Marai mari ya ora! Mungkin nek mlebu malah mari…tapi nek B ki ora je. Neng jero malah aman. Soale aku tau karo pegawai Wirogunan, njupuk neng nggonku. Aku ora ngira yen pegawai LP, soale nganggo gelang sikil. Esuk-esuk kae bareng njupuk nganggo seragam LP kae…kaget aku! Kethoke dhek-e ngguwang neng njero. Pas kae nganggo karo aku seprapat dhek-e njupuk sorene, isuke njupuk setengah. Aku mikir dhuwit saka ngendi? Ora nyangka tenan, aku mbok tratapan kae.

  • Bagaimana reaksi subyek ketika - Tentang Status HIV: pertama kali mengetahui bahwa dirinya HIV positif? T: mBiyen critane kowe ngerti status piye? J: Ngertine pertama, aku lara. Asline aku

  Subyek di tes HIV tanpa seijin

  lara, kena endokarditis kambi

  yang bersangkutan

  pneumonia; radang paru-paru karo radang jantung. Tapi neng S…eh…neng PR dites, ternyata kuwi dites. Karena nek nurut wong kesehatan wingi, karena tesnya kebanyakan gejalanya kayak gitu, orang-orang positif itu panas dingin nggak stabil. Jadinya aku dites, tapi ora diomongi. Ora ijin karo aku, karena aku kondisi panas 42 terus je..tidak pernah…41 aja nggak. T: Jadi kowe keadaannya rada setengah

  Dokter menyampaikan hasil tes

  sadar?

  dihadapan orang banyak

  J: Malah ora nyambung! Dadine piye ya…ya ora ijin kancaku, kan eneng tho, kuwi ya ora. Langsung tes. Dadine bar kuwi aku ngertine pas ibuku teka, doktere visite langsung ngomong. T: Langsung ngomong? J: Ngomong langsung! “Kamu sering ganti-ganti pasangan ya?” otomatis tho…neng rumah sakit tapi takone masalah hubungan seks…aku nyambunge langsung negatif, “ apa saya arep dipindah neng Sardjito. Aku ora gelem. Aku mbuh kok ra gelem yen dipindah maring negeri…wegah aku. Kalo aku disuruh pindah, aku balik…ya kuwi. Pertama kali 9 maret. T: Tahun? J: 2002. T: Sak durunge, kowe wis ngerti tentang kemungkinane? Wis ngerti tentang HIV? J: Ngerti. T: Ngerti-ngerti atau? J: Ngerti-ngerti thok. Ya ngerti saka

  Subyek tahu tentang perilaku

  bacaan, tapi ora ngerti gejalane. Maksude

  beresiko gejalane opo piye?

  T: Ya gejala, perilaku beresiko… J: Perilaku yang beresiko ngerti tapi nggak nggagas. Aku berpikirnya dulu, nek saka pertukaran jarum suntik kuwi isa tapi aku isih rada blank…ora ngerti banget. Sing penting dikumbah resik bar. Pikirane iku …dadi kalo dibilang nol ya nol, kalo yang tentang HIV nol, ya awam biasalah. T: Jadi belum ngerti banget kalo jarum suntik potensial banget menularkan? J: Tahu! Tapi mikire nggak potensial sekali. Disini kan dulu terkenalnya dari seks tho… Nah! Dan saya itu beranggapan, bukannya saya sok baik, nggak. Tapi aku tu nggak suka free seks. Maksude aku mabuk, mabuk thok! Ya wis. Aku, N, I, kuwi wis padha. Ora terus bar mabuk terus free seks, kuwi kan rata- rata. Ya kuwi kan cah-cah emang kuwi, tapi aku kerap diarani yo wis terserah! Nah terus ora dong, ya kuwi, ngertine saka seks ya yang potensial waktu itu.

  Nek yang jarum suntik itu nggak dong…maksude dong tapi nggak kepikir kalo itu potensial sekali untuk nulari. Yaaa…ternyata terbukti tho…positif tho..ha..ha..ha. Tapi ya jenenge wong edan ya isih nganggo kuwi..hi..hi..hi..pertama itu Odha ya? Ora! Tapi sidane ya Odha tenan….tapi

  Perasaan subyek ketika tahu

  • status HIV-nya

  T: Perasaan pertama ketika ngerti kepiye? J: Perasaan pertama karena aku isih blank..apa..ora sadar..justru setelah 2 minggu keluar dari rumah sakit aku terus drop. Aku terus woooo…mbingungi kae…arep ngomong salah, ora ngomong salah. T: Ngomong ki ngomong neng wong liya? J: Lha iya…untunge aku ketemu P. T: Sakdurunge wis kenal P? J: Nek P wis ngerti, neng NA. Sing pas kuwi ngancani aku P karo N. aku isih kelingan kuwi sing ngancani pertama. Nganti diundang Spiritia. Nah kuwi mentalku mulai munggah. T: Selama kowe drop kuwi apa sing tok lakoni? Apa yang kamu lakukan? J: Aku piye yo…malah ora mabuk…Cuma malah dadi… meneng kae. T: Neng Jogj apa neng omah? J: Neng Jogja. Aku malah ora mabuk, okeh menenge. Pas kuwi malah aku resik, ora nganggo blas. Ana setengah tahun ora nganggo blas. Malah ora kepikiran. Pikire iki piye? Ngomong salah, ora ngomong salah. Ya kuwi, mentale drop banget. T: Jarak antara sadar tekan ngomong pertama kali ki berapa lama? J: Bar kuwi…(bersusah payah mengingat) maksude ngomong ki piye? Nang ngarep… T: Ora, maksude ngomong neng wong liya, bukan didepan umum. J: Aku setelah periksa neng Jakarta itu 2 minggu, terus neng endi….Dharmais…sewulanan. T: Dadi kowe bar saka kene terus periksa? J: Kan lara…terus positif. Aku dikek’I rujukan maring Samsuridzal, saka dokter

  Samsuridzal kan diusahakne nganggo ARV. Dikon nganggo ARV. Tapi pas kuwi aku ora sida nganggo. Aku wis ngomong P yen obate wis ana, cuman aku ki batale nganggo ARV merga apa aku lali. Kuwi…dadi aku balik neng Jogja. Ya terus ngerti saka P akehlah…terus 2 minggu lagi Papaku ora eneng…kuwi dadi aku…ahh bingung banget… T: Ya..ya. Awal-awal kuwi kan berarti doktere tidak…ora ijin? J: Ya piye…wong aku diajak ngomong wae ora nyambung.Si P tilik aku, “kamu kesini naik apa?” aku ki pemikirane ki rasane ana Semarang. “ Kamu naik pesawat jam berapa?” takon P yen ora percaya….. Sustere padha wedhi, aku ora nyadar. Lha wong ora kepikir. Pikiranku karena aku di rumah sakit, mereka itu tahu, pikiranku malah…aku metu dikon mlebu sustere wedhi kabeh ternyata. Aku ora ngerti. Aku metu mlaku-mlaku,”apa V? nanti pingsan lho kamu?” “Bosen dikamar.” Dikon mlebu, wedhi. Aku ya

  Perlakuan diskriminasi yang ora ngeh.

  • dialami subyek
    • Yen diskriminasi kerasa banget! Kuwi aku dipindah diruang isolasi. Karena sebenere aku dikon pindah neng Sardjito ora belem. SDM-nya emang nurut suster durung siap. Dadine, karena diadvokasi maring Bu Et, dan aku kuwi kerep ceramah, dadi akuoleh kelonggaran,cuman aku tetep dipindah- pindah neng ruangan isolasi. Aku selama 2 minggu 4 kali pindah.pokoke angger ruangan isolasi kosong, pindah rene, pindah rene, kuwi ping empat.
    • Ora! Karena durung ngeh…ora ngeh.

  Wong suster nganggo iki (menunjuk sarung tangan) memang kan haruse standar, tetep. Walau pun baru masker harus to.nek neng kene kan mbene setelah rame iki to mbene kuwi baru diberlakukan bener. Kuwi positif apa ora, tetep nganggo. Nah kuwi nek aku sempat krasa.pas kuwi aku sempat…infusku sempat…eh iya..infusku sempat ucul. Kuwi getihe ngantek esuk. Dilap ora wani kok… maksude ya aku mikir,”apa nggak ada cleaning service?” ora ngerti ya…memang pagi baru dipel. Kuwi pas getihe kuwi

  Reaksi keluarga

  T: Reaksi awal keluarga? Nek aku mbayangke ibumu kaget banget… J: Ya kaget…ya apa ya…keluargaku terutama mama, mungkin sebetule shock sih…tapi ora diketokke. Ya mungkin sebenere iya, mung ora wae. Pasti,”kok anakku dadi kaya iki?” tapi ora. Aku ndhelokke ora pati diketokke ibuku. Justru iku sing mbangun aku. Nek ora ya…nek ibuku pas papaku ora enek nek ibuku njegleg, aku wahh…aku kondisi aku posisine isih kuwi…bar check up, bali neng jogja, 2 minggu neng kene, berarti sewulan setelah positif papaku ora enek. Ndheleng mamahku njeglek, aku dadi ora nggenah kae. Untunge mamaku ora, dadine aku melu rada piye ya…..karena aku cedhake ambek ibu sih.

  T: Tapi pas bar positif, papamu ora ana kuwi kowe sempat kepikiran nganggo po ra? J: Nek kuwi malah ra kepikiran. Kasare nggo pelarian…nek aku dasare wis nganggo.lingkunganku ki nggon BD kabeh, malah sempat ngedarke…wedhus to.. Aku bali saka Jakarta, D kecekel. Sing kepindho wingi bareng aku, ya D juga..motorku kae. Tanggal 29 Januari, isa setahun persis..apa dijatah ya? Ha..ha..ha..ha

  • Reaksi keluarga terhadap status HIV subyek

  T: Tapi nek keluarga dhewe tentang statusmu piye? J: Ora masalah….blas! T: Keluarga dhewe nek lingkaran dekat wis ngerti kabeh? J: Ngerti kabeh. Malah posisine pas neng kuwi…pas nglumpuk kabeh, pas doktere ngomong kuwi. Aku kelingan kuwi soale pas doktere ngomong seru tenan..ya wis. T: Ning mereka ketika pas krungu kuwi shock? J: Ya mungkin iya..tapi ora..memnag ora..ibuku soale ya ngert aku sih ya… T: Nek tentang perawatan, mitos-mitos HIV/AIDS kuwi mereka ngerti saka ngendi? J: Nek mamaku nganggep, “piye-piye kuwi tetep anakku.” Ibuku pernah ngomong. Ya piye..ngerasa sebagai orangtua, sebagai ibu ya…,”elek-elek tetep anakku.” T: Nek kowe neng omah, tentang kemungkinan penularan kowe tetep ngandhani? J: Aku tetep…aku wedhine nek Hep-C- ku aktf. Aku kan duwe Hep-C. aku wedhine nek aktif. Aku,”ma nek arep maem, iki bekasku.” Aku dudu HIV- ne…HIV-ne aku ra masalah. Tapi ternyata aku takon P, padha. Dadine aku pikire sing tak wedheni kuwi tak jagani..ya masak mengko lara kabeh..ha..ha..ha..ya wis cukup aku thok wae. Aku kelangan kanca siji mergane bojone wedhi, nek ngerti aku positif dhekne wedhi. Aku trima ngadoh merga dhekne wis nikah kok…malah ribut..mending aku kelangan kanca siji merga kuwi…kanca cedhak!

  Tentang Status & diskriminasi

  T: Nek status dhewe, iki bali soal status, membuat kowe merasa tertekan ra? Kowe menjadi terbeban ra? Status baru? J: Maksude..mau nggak mau..walau ya… (terpotong, V menerima telpon) Ya karena apa ya..disini diskriminasi dah jelas..apa ya..masih kuat banget. Jadi ya piye ya…walaupun wong ora ngerti dhewe, tapi dhewe ki wis krasa serba salah sik. Udu rasa salah tapi piye…??? T: Serba salah? J: Iya. Karena kondisinya gitu lho. Kita mungkin memang nggak nulari, tapi orang yang ngerti kita…dadine perasaane dhewe ki piye ya… T: Setelah..maksude nek aku meng istilahkan neng rumah sakit mungkin terjadi diskriminasi, setelah itu metu saka rumah sakit tau ngalami liyane? J: aku diusir saka omahe kancaku.tapi karena ya piye…wong tuwane dicritani kancaku yen aku positif. Terus karepe mungkin arep ngomongi anake aja dolanan narkoba. Tapi wong tuane ki kadung ngerti aku. Karepe bocah sing diomongi kuwi…arep masalah konseling..tapi wonge wis kadung wedi kae..terus aku diusir kae. Kuwi thok. T: Kowe sempat ngerasa mangkel? J: Iya! Ora terima malah. Aku ngantem H kae, ngantil kae. “Kowe..dipikir aku ora wani karo kowe?” tak antil kae.takon D karo Y. tak jotos..bukk..kene ki suwek (menunjuk muka). T: Mbiyen ketika positif kuwi kowe tau mangkel karo awakmu dhewe? J: Nek kuwi kaya..aku mbandingke ora… Nek aku ki kuwalik. Nek kaya kanca- kanca ki begitu ngerti, drop arep bunuh diri. Aku nek aku ora..ora kepikiran…wis prek. Begitu rada suwi…mulai..kenapa? dhewe ya ora ana kanca crita apa ya? Aku neng C. wis pemikirane pendek. Karena juga mungkin ana kanca sing ngajak kuwi..pikirane aku ndangil motor, ndang rampung, bar kuwi tuku pistol, mlayu

  Subyek merasa butuh teman

  Jogja, wis. Aku ki targete kuwi wis

  bicara/ konselor

  kriminal, rada parah nek kuwi. Apa ngerti. Aku memang butuh kanca ngomong, nganti telpon Bu Et. Tapi bingung aku neng kana, arep mbukak ki eneng ibuku. Bebanku ki mesakake ibuku. Ora ngomong…ya mumet. Dadine ya serba salah. Aku mendingan neng kene.

  Buka status

  T: Setelah kamu tahu kamu positif,

  Subyek membuka status HIV pada

  kepada siapa kamu buka status?

  orang lain

  J: Pisanan P, terus kos, terus…bar kuwi kalangan junkie thok. T: Tapi reaksi mereka, kecuali P ya karena dia sudah lebih dulu positif, reaksi mereka sing tokkandhani ki piye? J: Rata-rata sing junkie kaget….cuman aku cenderung maring junkie piye ya…karena aku yakin mereka bisa jaga omongan, maksude karena mereka wis kedidik ya…aku yakin junkie untuk jaga rahasia, dhekne duwe etika dhewe. Nah kuwi…neng kana. Karena kuwi dadi aku..aku dhewe ya wis tahu ngomong ambek P,” kamu kalo ngomongin masalah status, nek aku kambi junkie kok cepet banget mbukak..ngapa? kamu ya nggak?” ternyata iya! Karena aku pikir ki junkie kan sering main sing bermasalah to…dhek-ne mesti nutup to…dadi nek mislae kowe aja ngomong kaya iki, omong kaya kuwi, biasane dicekel. Dan aku kulina kuwi..ya wis suwi to…dadi aku juga percaya mbek junkie malahan. T: Jane kowe menangkap kesan apa ora bahwa junkie itu juga punya kekhawatiran bahwa suatu saat mereka akan positif juga? J: Iya! Tapi karena efek obate apa piye? Dhek-ne ki ya wedhi, tapi butuh sih…piye-piye dhek-ne ya ngerti. Maksude kekhawatiran ketularan ya iya, tapi…luwih gede butuhe kok.

  Reaksi orang lain terhadap

  pengakuan subyek

  kaget po ra? J: Iya…rata-rata kaget ternyata! Tetapi mereka tetep apik. Mereka tetep biasa men ora ngalarani aku. Tapi setelah beberapa bulan, S, D, trus A, akeh sih….akeh sing padha kaget soale aku wektu kuwi njaluk gelas dhewe dan aku ngumbah dhewe. Pada kaget kabeh. Tak omongi sak durunge aku nganggo, aku mbukak status sik. Aku njaluk iki kanggo kalangane dhewe, iki kaget kabeh kok…ya tapi ya aku percaya cah kuwi thok.

  Pertimbangan subyek membuka T: Apa yang membuatmu,”aku tak status

  ngomong lah..” J: karena aku pikir nek ora ngomong..piye ya..apa karena aku melu pelatihan..ee..nek aku..nek misale..aaa..le ngomong ki angel…nek ra..ngomong…ya serba salah sih…maksudmu kambi junkie? T: Ya! J: Nek misale wis ngerti aku, nek wedhi ya wis…apa…men ngerti aku, men luwih fair. Buka-bulaan aku kaya kiye, isih gelem kekancan ora? Nek ora ya wis.

  T: Tapi mbiyen kepikiran po ra? Mengko nek ngomong kancaku dha mlayu kabeh… J: Nganti saiki! Kancaku neng C ora mbukak sama sekali karena mereka main seks semua. Otomatis walaupun misale aku …tetep wedhi kok….aku yakin kuwi. Karena mereka isih pemikirane tentang HIV ki isih cendhek. T: Isih,”aku ra mungkin ketularan?” J: dudu…kuwi masalah penyakite…HIV kuwi isih…walah… T: Jadi kalo dikasi tahu nanti malah reaksinya sangat… J: Lha wong gek wingi neng lokalisasi, aku ndhelok saka apa? “ Ihh…kuwi kerep dienggo mengko nek AIDS..” Batinku,”kowe durung ngerti nek sebelahmu….” Ha..ha..ha..ha..iki hukum

  Ha..ha..ha..ha…wis pasti..meyakinkan..ha..ha..ha kanca- kancaku kuwi beda banget to..maine seks kabeh, neng kene gelut kambi mabuk kabeh. Mereka nganggepe aku mesthi dolanan wedhok..ya memang identik sih..ya memang lingkarane rata-rata tak akoni kanca-kancaku memang iya. Tapi aku ra biasa sih. Aku cah telu ki ora tau, arang! Kebiasaanku ki mabuk ya pure mabuk. Hanya mabuk dan mabuk, kuwi thok. Nyeleneh to..bingung to…aku ya bingung…aku kon piye iki..aku dhewe bingung. Iki disediani cah wedhok aku bingung, iki sumpah, demi Tuhan! Aku diuneni sok munafik…ora! Iki ngomong apa? Aku pas ngajak P neng TJ’s disediani cah wedhok..aduh…aku ora isa. “Mas V nanti wis disediani cewek cantik lho, khusus nggo mas V.” Ndasmu!!...asu..ha..ha..ha..sumpah! aku ki paling ora isa nek neng diskotek ngomong-ngomong sik…waduh kuwi ngomong apa…mumet aku. Aku ra mangkat kok, neng TJ’s disediani cewek, aku males ya karena mungkin ora biasa wae. Aku bingung nek neng C…asu..aku neng kene kok nakale kaya ngene..ora nyambung..he..he..he..he…

  Muncul perasaan putus asa

  T: Ning ora terlintas ya bunuh diri? Nek

  karena tidak punya pekerjaan

  melakukan perkara gede ki kepikiran ra? J: Ya justru malah saiki-saiki kuwi. Karena aku ngerasa aku nganggur..pikiranku dhisik…iki durung ana subsidi, iki kudu 450 sewulan. T: wis mulai itung-itungan? J: Ho’o iku wis mikire kuwi…edan po..aku ngasilke ora, ngabot-aboti. Nek wani tekati wae ra papa. Ya wis aku mikire bres wae. Ya kuwi, mungkin karo ra kerja barang kuwi. Kakang adhiku kerja. Aku bingung…aduh piye ya? Nekat sithik wis bar. Arep tenan…ya ndilalahe wis ana sing nawani pistol kaliber 38…ya dasare otake ki mbuh kuwi pikirane melenceng....mung ra sida kedadean, arep nyolong motor. Aku neng C arep nyolong motor. Wong sing nggawa wis ana, sing nadah wis ana..ahh..wis mumet. T: Ning kowe kok ujug-ujug minggat rene ngapa? J: Ya karena pikiranku neng kana….wah aku rusak! Neng kana waduhh… Ya walau pun aku memang kadang berpikir ya diajak ya..dadine aku dhewe nek kriminil nek nggo golek dhuwit ki ora. Kriminil terus nodong ki kepikire ki ora. Tapi setelah diajak,”nyolong motor kepiye?” Kunci T-ne wis eneng, ya sarana wis komplitlah. Wong sing nggawa motor ki wis ana, tinggal aku sing bagian njupuk. 2 motor jatahe. Aku bar kuwi arep njupuk pistol, arep mlayu rene, arep nekat kuwi. Otake wis..ha..ha..ha..ha. Terus aku tabrakan, terus ketemu P ndilalaheya gelem ra gelem ARV harus. Terus hubungane…aku terus rene, aku wis neng kene bae lah. Aku pikr-pikir karena aku pas kae rada mikir walaupun jane aku pingin pistole, udu masalah aku pingin hasil motore, tapi aku pingin pistole. Targetku ndhisik, kit ndhisik ya kepingin nganti saiki nek aku nduwe dhuwit aku nek bisa tuku pistol, tuku.

  Subyek selalu merasa terancam

  T: Kok pingin banget ngapa? J: Aku nek sengit kambi wong…ya ndang…aku ki otake wis rada piye ya..ha.ha..ha..ha Aku nek terutama nek wonge gedhe..aku ngerasa kalah ki piye carane aku kudu menang. Aku ki wonge piye ya..ora gelem kalah iya.. Apa karena aku nek ndhisik yen gelut kalah terus, mungkin. Dadi aku pingin piye carane aku aja kalah terus. Mbuh kuwi…ha..ha..ha Nek turu, misale kewedhen,nek aku nyekel peso lagi isa aku nyekel peso, isa turu, parang apa..isa turu. Mbok nganti tangi wae isih kecekel. T: Kuwi kowe ngerasa mulai kapan? J: Aku parah-parahe..nek seneng kuwi wis kit cilik aku seneng peso. Seneng apa ya… iki SMP aku wis mulai, Cuma ora digunakke apa-apa, Cuma koleksi. Mulai SMP gelut kae, mulai gelut kalah terus, mulai pikirane… Nusuk neng kene, nek neng C durung..haa.ha..ha..ha.. Neng kene wis, mbuh kae ana sing mati apa ora. Bress! Tak tinggal lunga. Iya! Lali aku tak sabet apa tak tubles. Mbiyen aku rusuh kok. Nek disalip wae tak sabet.nek kuwi aku krasane ngoplo. Koplo…wahh..kenceng banget kae..edan kok..nggilani yen dipikir-pikir saiki ya rada edan kae..ha..ha..ha..ha Aku dhewe kepikiran,”nekat banget..” Bajigur kok rada owah..he..he..he..

  • T: Iki bali tentang status ya…Orang, mungkin, dan beberapa Odha yang awal- awal, maksude yang baru tahu statuse

  Pikiran tentang kematian

  sok dong nganggep,”woo, iki positif, sedhilit meneh mati!” Kowe sempat kepikiran ngono kuwi? J: Ha’a..memang pas durung ngerti..iki HIV, prosese piye ki maksude CD4-e medhun iki ora dong. HIV ya AIDS iki kecenderungane ndang cepet mati. Karena aku macane ndilalahe sing ana neng media massa ndhisik to..nah ngertine kan wis mlebu masa AIDS. Dan aku kan durung ngerti, maksude tahap- tahapnya nggak tahu. Ya pikirane sempat kaya kuwi. Tapi pas wis ngerti ya ora. Pas durung ngerti ya memang iya! Aku dhewe iya, pikirku,”ah..iki dhelet engkas modhar!” iya!..ha..ha..ha..ha ngertine ya sing jelas ki Freddy Mercury, karena aku seneng musik, kae kan wis mlebu masa

  Subyek mulai siap dengan

  AIDS to.. Kuwi mikire ndang modhar,

  kematian

  paling sedhela meneh! Ora kepikiran malah dadi….oooo ternyata tidak, bukan sesuatu yang menakutkan seperti yang diperkirakan, seperti waktu pertama tahu ya justru aku wedhi tenan…wahh bajigur! Setelah ngerti malah..ahhh padha wae..ndak apa ya..malah biasa karena neng awak ki ora eneng

  Depresi ketika tahu tentang status

  efek..maksude ki piye… T: Ora krasa? J: Ora krasa! Mungkin ora krasa karena pelan-pelan.

  T: Awal-awale kowe depresi? Stress? J: Sing jelas aku dadi perokok. 2 tahun. T: Padahal selama ini kamu nggak ngerokok atau..? J: Ndhisik SMP-SMA ngerokok, terus bar kuwi mandheg, aku ngepil. Ya ngerokok pas positif kuwi. Malah ngantek 2 bungkus je sedina. Boros banget! Ujarku sebungkus wis irit…bareng 2 bungkus boros banget. Aku ngertine setelah ketemu cah-cah sing ngrokok, sedina jatahe pira? Ternyata berarti kau boros. Wis mulai…soale aku nek numpak mobil AC wis bingung..aduh kok ora isa ngerokok…dadi mulai krasa kaya SMP kae. Ning isa mandheg. Apa dasare ora seneng ngerokok? Ya ngrokok tapi sempat mandheg. Saiki nek kon ngrokok wegah aku…rasane pahit meneh..mbuh… T: Nek ana rokok ngelamun apa piye? J: Pertamane karena kuwi, aku stress kuwi, depresi. Pertama ki..neng ruang tamu kancaku, dhewe, ngerokok. Aku kerep dhewe. Jane durung bisa nikmati rokok, ming dienggo kesibukan dhewe. T: Itu bisa bikin kamu nyaman? J: Yaa…enggak. Cuma karena aku lebih senang sendiri waktu itu…cenderung sendiri. Sebelumnya PeTe. Tapi memang cenderungnya nek mandheg, biasane rokoke banter, rata-rata. Bar kuwi aku malah ora. Kumat eneh malah rokoke ngrokok berarti aku lagi dhuwur. Nek ngrokok ki ra mandheg, durung entek nyambung meneh, berarti aku lagi dhuwur. Dhisik pas abis positif mau make lagi dan udah ngerokok. T: Mbiyen pas wis ngerti positif terus nganggo kuwi terus mulai sterilisasi equipment po ra? Misale nganggo jarum suntik steril, dan lain-lain? J: Nek aku dhewe ki..nggo aku pikirane..ya iki nggo aku dhewe. Paling ya wis kebiasaanlah paling ming dikumbah thok…paling alkohol, mentok. Ora kepikiran bayclean. T: Tapi kowe wis kepikiran iki kudu diresiki sik? J: Iya! Dan rada mikir nek drop kondisine. Wahh..iki nek muthuse dhuwur terus, iki drop aku, ndang cepet. Soale kan wis ngerti fase-fasene to…iki otomatis CD4-ku isa drop. Kuwi mikire tekan kono, tapi ora banget sih, tapi sempat kepikir juga. T: Tapi ora duwe pikiran, ahh luweh- luweh wis ben kancaku ketularan.. J: Kuwi malah sempat…malah kuwalik…malah piye ya…pas dhewe kuwi aku dadi sempat pikiranku…aku neng C, wis ndang…karena aku ngerasa yen aku kaya iki terus, dhewe. Aku pemikiranku dadi dhewe karena ora eneng kanca liyane, wis tak tularke wae ben kancane akeh…ha..ha..ha..ha. Ya kuwi pemikiranku wis elek kae. Aku nganti kancaku…dadi bekase aku dienggo kancaku ki nganti tak larang. Tapi mbasan aku neng omah ki dadi malah nyeleneh kae. Dadi batinku..aku kok kaya iki? Aku nganti ngomong karo P, aku kok dadi kaya iki? Aku ki nek memang nek pikiran jahat ki memang…kaya sing masalah si I kae. Aku nek pemikiranku tak jupuk getihku da..des..das..des.., suntikke nek ketemu…jusss!! Karena aku mikir

  Aku mau dihukum ya terserah, dia udah ketularan kok, ya monggo..ya tho.. Ya kuwi, nek misale nusuk kan dadi perkara..nek kuwi kan ora he..he..he..he..tapi ya nggak.

Dokumen baru

Download (136 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

HUBUNGAN PENERIMAAN DIRI DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA
0
6
66
STUDI DESKRIPTIF TENTANG KEMASAKAN SOSIAL PADA ANAK PRA-SEKOLAH DI TK MEKARSARI MALANG
0
4
1
PROSES PENERIMAAN DIRI PADA ORANG DENGAN HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV)/ ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROM (AIDS) (Studi Kasus pada ODHA akibat Pajanan)
0
23
22
STUDI DESKRIPTIF TENTANG KEKERASAN PADA PEKERJA RUMAH TANGGA (PRT)
0
6
2
PROSES PENERIMAAN ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK TUNA RUNGU
2
32
19
STUDI DESKRIPTIF KONSEP DIRI PRIYAYI YOGYAKARTA YANG TINGGAL DI MALANG
0
22
2
STUDI DESKRIPTIF TENTANG MOTIVASI DAN PERSEPSI DIRI WANITA YANG MENJALANI NIKAH MUT’AH
1
22
2
PROSES PENERIMAAN DIRI REMAJA ATAS PERCERAIAN ORANGTUANYA
2
49
2
HUBUNGAN PERSEPSI TENTANG KESESUAIAN HARAPAN ORANG TUA DENGAN DIRI DALAM PILIHAN STUDI LANJUT DENGAN TINGKAT STRES PADA SISWA KELAS XII DI KABUPATEN JEMBER
0
7
112
HUBUNGAN PERSEPSI TENTANG KESESUAIAN HARAPAN ORANG TUA DENGAN DIRI DALAM PILIHAN STUDI LANJUT DENGAN TINGKAT STRES PADA SISWA KELAS XII DI KABUPATEN JEMBER
0
10
10
PELAYANAN KEFARMASIAN UNTUK ORANG DENGAN HIVAIDS (ODHA)
0
0
85
PENERIMAAN DIRI PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
0
0
11
DUKUNGAN SOSIAL DAN TINGKAT STRES ORANG DENGAN HIVAIDS
0
0
9
STUDI DESKRIPTIF TENTANG PROSES PENYUSUNAN ANGGARAN DAERAH DI DINAS TENAGA KERJA, TRANSMIGRASI DAN KEPENDUDUKAN PROVINSI JAWA TIMUR.
0
4
16
STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN REMAJA TENTANG PENYALAHGUNAAN NARKOBA PADA REMAJA DI SMK PURWOKERTO
0
0
15
Show more