BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KONSEP KELUARGA 1. Definisi Keluarga - NIKEN SYUKUR NIKMAH BAB II

Gratis

0
0
25
3 months ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KONSEP KELUARGA 1. Definisi Keluarga Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah

  tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, mempunyai peran masing- masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. (Baylon dan Maglaya di kutip oleh Murwani Arita, 2007).

  Menurut Undang-Undang No. 10 tahun 1992 disebutkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat, yang terdiri dari suami, istri dan anak atau ayah, ibu, anak.

  Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah: a.

  Terdiri dari atau lebih individu yang diikat oleh hubungan perkawinan.

  b.

  Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain.

  c.

  Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial suami, istri, anak, kakak, adik.

  d.

  Mempunyai tujuan : menciptakan dan memperthankan budaya, dan. meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota. (Friedman,1998 )

  6

2. Fungsi Keluarga

  Friedman, (1998) mengidentifikasikan lima fungsi dasar keluarga, sebagai berikut: a.

  Fungsi afektif Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagian dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga. Dengan demikian, keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh anggota keluarga dapat mengembangkan konsep diri positif. Komponen yang perlu afektif adalah 1)

  Saling mengasuh cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung antar anggota keluarga, mendapatkan kasih sayang dan dukungan dari anggota yang lain. Maka, kemampuan untuk memberikan kasih sayang akan meningkat, yang pada akhirnya tercipta hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan intim didalam keluarga merupakan modal dasar dalam memberi hubungan dengan orang lain diluar keluaraga/masyarakat.

  2) Saling menghargai

  Bila anggota keluarga saling menghargai dan mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu mempertahankan iklim yang positif, maka fungsi afektif akan tercapai. 3)

  Ikatan dan identifikasi ikatan keluarga dimulai sejak pasangan sepakat memulai hidup baru. Ikatan antar anggota keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang tua harus mengembangkan proses identifikasi yang positif sehingga anak-anak dapat meniru tingkah laku yang positif dari kedua orang tuanya.

  b.

  Fungsi Sosialisasi Sosialisasi dimulai sejak manusia lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia akan menatap ayah, ibu, dan orang-orang yang di sekitarnya. Kemudian beranjak balita dia belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar meskipun demikian keluarga tetap berperan penting dalam bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar displin, belajar norma-norma, budaya, dan perilaku melalui hubungan dan interaksi keluarga. c.

  Fungsi Reproduksi Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain untuk memenuhi kebutuhan biologis pada pasangan tujuan untuk membentuk keluarga adalah untuk meneruskan keturunan.

  d.

  Fungsi Ekonomi Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memnuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Banyak pasangan sekarang kita lihat dengan penghasilan yang tidak seimbang antara suami dan istri hal ini menjadikan permasalahan yang berujung pada perceraian.

  e.

  Fungsi Perawatan Kesehatan Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan.

  Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut: Friedman,(1998) 1) Mengenal masalah kesehatan. 2) Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat. 3) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.

4) Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.

  5) Mempertahankan pelayanan dengan menggunakan fasilitas kesehatan masyarakat.

3. Tipe Keluarga

  Agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan maka perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga.

  Berikut ini akan disampaikan berbagai tipe keluarga: a.

  Tipe Keluarga Tradisisonal 1)

  Keluarga Inti, yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri, dan anak (kandung atau angkat).

  2) Keluarga Besar, yaitu keluarga inti ditambah dengan keluarga lain yang mempunyai hubungan darah, misalnya: kakek, nenek, keponakan, paman, bibi.

  3) Keluarga “Dyad”, yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami dan istri tanpa anak.

  4) “Single Parent”, yaitu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua

  (ayah/ibu) dengan anak (kandung/angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.

  5) “Single Adult”, yaitu suatu rumah tangga yang hanya terdiri seorang dewasa (misalnya seorang yang telah dewasa kemudian tinggal kost untuk bekerja atau kuliah). b.

  Tipe Keluarga Non Tradisional 1)

  “Commune family”, yaitu lebih satu keluarga tanpa pertalian darah hidup serumah.

  2) Orang tua (suami-istri) yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak hidup dalam satu rumah tangga.

  3) “Homoseksual”, yaitu dua individu yang sejenis (laki-laki) hidup satu rumah tangga

4. Tahap-Tahap Perkembangan Keluarga

  Tahap perkembangan keluarga dibagi sesuai dengan kurun waktu tertentu yang dianggap stabil, misalnya keluarga dengan anak pertama berbeda dengan keluarga dengan remaja. Menurut Rodgers Friedman,(1998) dikutip oleh Murwani Arita ( 2007). meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangan secara unik, namun secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama.

  Tiap tahap perkembangan membutuhkan tugas atau fungsi keluarga agar dapat melalui tahap tersebut dengan sukses. Pada makalah ini akan diuraikan perkembangan keluarga berdasarkan konsep Duvall dan Miller Friedman, (1998)

  Tahap I. Pasangan Baru (Keluarga Baru)

  Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing. Karena masih banyak kita temui keluarga baru yang tinggal dengan orang tua, maka yang dimaksud dengan meninggalkan keluarga di sini bukanlah secara fisik. Namun secara psikologis, keluarga tersebut sudah memiliki pasangan baru.

  Dua orang yang membentuk keluarga perlu mempersiapkan kehidupan yang baru karena keduanya membutuhkan penyesuaian peran dan fungsi sehari-hari. Masing-masing belajar hidup bersama-sama serta beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya, misalnya kebiasaan makan, tidur, bangun pagi. Dan sebagainya. Adapun tugas tahap perkembangan keluarga pasangan baru yaitu : a.

  Membina hubungan intim yang memuaskan b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok sosial c. Mendiskusikan rencana anak

  Keluarga baru ini merupakan anggota dari tiga keluarga, yaitu keluarga suami, istri serta keluarga sendiri. Masing-masing pasangan menghadapi perpisahan dengan keluarga orang tuanya dan mulai membina hubungan baru dengan keluarga dan kelompok sosial pasangan masing- masing. Hal lain yang perlu diputuskan pada tahap ini adalah kapan waktu yang tepat untuk mendapatkan anak dan jumlah anak yang diharapkan.

  Tahap II. Keluarga “Child-bearing” (Kelahiran Anak Pertama)

  Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan.

  Kehamilan dan kelahiran bayi perlu dipersiapkan oleh pasangan suami istri melalui beberapa tugas perkembangan yang penting.

  Tahap perkembangan Keluarga “Child-bearing” (Kelahiran Anak Pertama) : a.

  Persiapan menjadi orang tua.

  b.

  Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga: peran, interaksi, hubungan seksual, dan kegiatan.

  c.

  Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.

  Kelahiran bayi pertama memberi perubahan yang besar dalam keluarga, sehingga pasangan harus beradaptasi dengan perannya untuk memenuhi kebutuhan bayi. Sering terjadi dengan kelahiran bayi, pasangan merasa diabaikan karena fokus perhatian kedua pasangan tertuju pada bayi.

  Peran utama perawat keluarga adalah mengkaji peran orang tua, bagaimana orang tua berinteraksi dan merawat bayi serta bagaimana bayi berespon.

  Perawat perlu memfasilitasi hubungan orang tua dan bayi yang positif dan hangat sehingga jalinan kasih sayang antara bayi dan orang tua dapat tercapai.

  Tahap III. Keluarga dengan Anak Prasekolah

  Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun.

  Tahap perkembangan keluarga dengan anak prasekolah, yaitu a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal , privasi dan rasa aman.

  b.

  Membantu anak untuk bersosialisasi.

  c.

  Beradaptasi dengan anak yang baru lahir sementara kebutuhan anak yang lain juga harus terpenuhi.

  d.

  Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam maupun di luar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar). e.

  Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap paling repot).

  f.

  Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.

  g.

  Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang anak).

  Kehidupan keluarga pada tahap ini sibuk dan anak sangat tergantung pada orang tua. Kedua orang tua harus mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga kebutuhan anak, suami, istri, dan pekerjaan (purna waktu/paruh waktu) dapat terpenuhi. Orang tua menjadi arsitek keluarga dalam merancang dan mengarahkan perkembangan keluarga agar kehidupan perkawinan tetap utuh dan langgeng denga cara menguatkan hubungan kerja sama antar suami istri. Orang tua mempunyai peran untuk menstimulasi perkembangan individual anak khususnya kemandirian anak agar tugas perkembangan anak pada fase ini tercapai.

  Tahap IV. Keluarga dengan Anak Sekolah

  Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia enam tahun dan berakhir pada usia 12 tahun. Pada fase ini umumnya keluarga mencapai jumlah naggota keluarga maksimal, sehinga keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas di sekolah, masing-masing anak memiliki aktivitas dan minat sendiri.

  Demikian pula orang tua yang mempunyai aktivitas yang berbeda dengan anak. Untuk itu keluarga perlu bekerja sama untuk mencapai tugas perkembangan (lihat tabel 4).

  Tahap perkembangan keluarga dengan anak sekolah, yaitu a. Membantu soisalisasi anak, tetangga, sekolah, dan lingkungan b.

  Mempertahankan keintiman pasangan c.

  Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga Pada tahap ini orang tua perlu belajar berpisah dengan anak, memberi kesempatan pada anak untuk bersosialisasi baik aktivitas di sekolah maupun luar sekolah.

  Tahap V. Keluarga dengan Anak Remaja

  Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir sampai 6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah orang tuanya. Tujuan keluarga ini adalah melepas anak remaja dan memberi tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi lebih dewasa. Seperti pada tahap-tahap sebelumnya, pada tahap ini keluarga memilki tugas perkembangan yang dapat dilihat pada (tabel 5).

  Tahap perkembangan Keluarga dengan Anak Remaja, yaitu a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab mengingat remaja yang sudah bertambah dewasadan meningkatkan otonominya b. Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga c.

  Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua. Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan d.

  Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga

  Ini merupakan tahapan yang paling sulit, karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab (mempunyai otoritas terhadap dirinya sendiri yang berkaitan dengan peran dan fungsinya). Seringkali muncul konflik antara orang tua dan remaja karena anak menginginkan kebebasan untuk melakukan aktivitasnya sementara orang tua mempunyai hak untuk mengontrol aktivitas anak. Dalam hal ini orang tua perlu menciptakan komunikasi yang terbuka, menghindari kecurigaan dan permusuhan sehingga hubungan orang tua dan remaja tetap harmonis.

  Tahap VI. Keluarga dengan Anak Dewasa (pelepasan)

  Tahap ini dimulai pada saat anak yang terkhir meninggalkan rumah dan berakhir pada saat terkhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap ini tergantung dari jumlah anak dalam keluarga atau jika ada anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersam orang tua. Tujuan utama pada tahap ini adalah mengorganisasi kembali keluarga untuk tetap berperan dalam melepas anak untuk hidup sendiri.

  Tahap perkembangan. Keluarga dengan Anak Dewasa, yaitu a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar b.

  Mempertahankan keintiman pasangan c. Membantu orang tua suami/istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua d. Membantu anak untuk mandrir di masyarakat e. Pemantauan kembali peran dan kegiatan rumah tangga

  Keluarga mempersipkan anaknya yang tertua untuk membentuk keluarga sendiri dan tetap membantu anak terkahir untuk lebih mandiri. Pada saat semua anak meninggalkan rumah, pasangan perlu menata ulang dan membina hubungan suami istri seperti pada fase awal. Orang tua akan merasa kehilangan peran dalam merawat anak dan merasa ‘kosong’ karena anak-anak sudah tidak tinggal serumah lagi. Untuk mengatasi keadaan ini orang tua perlu melakukan aktivitas kerja, meningkatkan peran sebagai pasangan, dan tetap memelihara hubungan dengan anak.

  Tahap VII. Keluarga Usia Pertengahan

  Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Pada beberapa pasangan fase ini dirasakan sulit karena masalah lanjut usia, perpisahan dengan anak dan perasaan gagal sebagai orang tua. Untuk mengatasi hal tersebut keluarga perlu melakukan tugas-tugas perkembangan.

  Tahap perkembangan keluarga usia pertengahan, yaitu a. Mempertahankan kesehatan b.

  Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak c.

  Meningkatkan keakraban pasangan Setelah semua anak meninggalkan rumah, maka pasangan berfokus untuk mempertahankan kesehatan dengan berbagai aktivitas, pola hidup yang sehat, diet seimbang, olah raga rutin, menikmati hidup dan pekerjaan, dan sebagainya. Pasangan juga mempertahankan hubungan dengan teman sebaya dan keluarga anaknya dengan cara mengadakan pertemuan keluarga antar generasi (anak dan cucu) sehingga pasangan dapat merasakan kebahagian sebagai kakek-nenek. Hubungan antar pasangan perlu semakin dieratkan dengan memperhatikan ketergantungan dan kemandirian masing-masing pasangan.

  Tahap VIII. Keluarga Usia Lanjut

  Tahap terkhir perkembangan keluarga ini dimulai saat salah satu pasangan pensiun, berlanjut salah satu pasangan meninggal sampai keduanya meninggal. Proses lanjut usia dan pensiun merupakan realitas yang tidak dapat dihindari karena berbagai stressor dan kehilangan yang harus dialami keluarga. Stressor tersebut adalah berkurangnya pendapatan, kehilangan berbagai hubungan sosial, kehilangan pekerjaan, serta perasaan menurunnya produktivitas dan fungsi kesehatan. Dengan memenuhi tugas-tugas perkembangan pada fase ini diharapkan orang tua mampu beradaptasi menghadapi stressor tersebut.

  Tahap perkembangan keluarga usia lanjut, yaitu a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.

  b.

  Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik, dan pendapatan.

  c.

  Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat.

  d.

  Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.

  e.

  Melakukan ‘live review’.

  Mempertahankan penataan kehidupan yang memuaskan merupakan tugas utama keluarga pada tahap ini. Lanjut usia umumnya, lebih dapat beradaptasi tinggal di rumah sendiri daripada tinggal bersama anaknya. Wanita yang tinggal dengan pasangannya memperlihatkan adaptasi yang lebih positif dalam memasuki masa tuanya dibandingkan wanita yang tinggal dengan sebayanya. Orang tua juga perlu melakukan ‘life review’ dengan mengenang pengalaman hidup dan keberhasilan di masa lalu. Hal ini berguna agar orang tua merasakan bahwa hidupnya berkualitas dan berarti.

5. Struktur Keluarga

  Menurut Friedman struktur keluarga terdiri atas: a.

  Pola dan Proses Komunikasi 1) Pola interaksi keluarga yang berfungsi (a) bersifat terbuka dan jujur (b) selalu menyelesaikan konflik keluarga (c) berpikiran positif, dan (d) tidak mengulang –ulang isu dan pendapat sendiri.

  Karakteristik komunikasi keluarga berfungsi untuk 2) Karakteristik Pengirim: (a) Yakin dalam mengemukakan sesuatu atau pendapat.

  (b) Apa yang disampaikan jelas dan berkualitas. (c) Selalu meminta dan menerima umpan balik. 3) Karakteristik Penerima (a) Siap mendengarkan.

  (b) Memberikan umpan balik. (c) Melakukan validasi. b.

  Struktur Peran Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosisal yang diberikan.

  c.

  Struktur kekuatan Kekuatan merupakan kemampuan dari individu untuk mengendalikan atau mempengaruhi untuk merubah perilaku orang lain.

  d.

  Nilai-nilai keluarga Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara sadar ada tidak, mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya.

  Nilai keluarga juga merupakan suatau pedoaman bagi perkembangan norma dan peraturan.

  6. Struktur Peran Keluarga

  Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status adalah posisi individu dalam masyarakat misalnya sebagai suami, istri, anak dan sebagainya. Tetapi kadang peran ini tidak dapat dijalankan oleh masing- masing dengan baik. Ada beberapa anak yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga yanng lain sedangkan orang tua mereka entah kemana atau malah berdiam diri di rumah.

  7. Stressor dan Koping Keluarga a.

  Stressor-stressor yang dialami oleh keluarga yang berkaitan dengan ekonomi dan sosialnya, apakah keluarga bisa memastikan lamanya dan kekuatan dari stressor-stressor yang dialami oleh keluarga, apakah keluarga dapat mengatasi stressor dan ketegangan sehari-hari.

  b.

  Apakah keluarga mampu bertindak berdasarkan penelitian yang objektif dan realistis terhadap situasi yang mengandung stress.

  c.

  Bagaimana keluarga bereaksi terhadap situasi yang penuh dengan stress, strategi koping yang bagaimana diambil oleh keluarga, apakah anggota keluarga mempunyai koping yang berbeda-beda, koping internal dan eksternal yang diajarkan apakah anggota keluarga berbeda dalam cara-cara koping, strategi koping internal keluarga; kelompok kepercayaan keluarga, penggunaan humor, self evaluasi, penggunaan ungkapan, pengontrolan keluarga terhadap masalah, pemecahan masalah secara bersama, fleksibilitas peran, normalisasi. Strategi koping eksternal, mencari informasi, memelihara hubungan dengan komunitas, mencari dukungan sosial.

8. Keluarga sebagai klien

  Keluarga merupakan unit dari satu komunitas,sasaran utama dari keperawatan keluarga yaitu untuk mencari derajat kesehatan yang seoptimal mungkin, maksud dari keluarga sebagai klein adalah dalam mencapai suatu pelaksanaan asuhan keperawatan tidak hanya tertuju pada individu tetapi dilakukan pada seluruh anggota keluarga.

B. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Rheumatoid Artritis 1. Asuhan Keperawatan Keluarga

  Asuhan Keperawatan Keluarga adalah suatu rangkain yang diberikan melalui praktek keperawatan kepada keluarga untuk membantu masalah kesehatan keluarga tersebut dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan Bylon dan Maglaya, 1978 dikutip oleh Murwani Arita, (2007).

2. Pengertian Rheumatoid Artritis

  Rheumatoid artritis adalah peradangan yang kronis sistemik progresif Lebih banyak terjadi pada wanita ( 3 : 1) dengan kasus pada pria pada usia 25 sampe 35 tahun.( Long, B.C, 1996) Rheumatoid artritis adalah penyakit inflamasi sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya, dikarakteristikkan oleh kerusakan dan proliferasi membran sinovial, yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis dan deformitas.( Doengoes, Marlyn.,E, 2000) Rheumatoid atritis adalah gangguan kronik yang menyerang berbagai sistem organ penyakit ini adalah salah satu dari sekelompok penyakit jaringan ikat difus yang diperantarai oleh imunitas dan tidak diketahui penyebabnya. Pada pasien biasanya terjadi destruksi sendi progresif walaupun episode peradangan sendi dapat mengalami masa remisi. (Price, S, A & Wilson, L.M, 2005)

  3. Anatomi Fisiologi Gambar II.I Anatomi Tulang

  Sumber: Syaifudin, (2006) Menurut Long,B.C ( 1996 ), diantara karakteristik yang membedakan manusia dengan makhluk lain ialah kemampuan mempertahankan postur tubuhnya bisa tegak dan bergerak yang di atur oleh sistem muskuloskeletal sistem muskuloskele tal terdiri dari tulang, otot, tulang rawan, ligamen, tendon, fascia dan persendian. Tulang terdiri dari materi intra sel, baik berupa sel yang hidup ataupun sel yang tidak hidup bahan – bahan tersebut berasal dari embrio hialin. Tulang rawan melalui osteogenesis kemudian menjadi tulang. Kualitas kerasnya tulang merupakan hasil deposit kalsium. Fungsi tulang ada empat yaitu: a.

  Menahan jaringan tubuh dan memberi bentuk kepada kerangka tubuh b. Melindungi organ- organ tubuh ( contoh tengkorak melindungi otak ) c. Untuk pergerakan (otot melekat pada tulang untuk berkontraksi dan bergerak). d.

  Merupakan gudang untuk menyimpan mineral ( kalsium) 4.

   Etiologi

  Menurut Long, B.C (1996)

  a. Mekanisme Imun

  b. Gangguan Metabolisme

  c. Jenis Kelamin

  d. Genetik e.Umur / Usia 5.

   Patofisiologi

  Inflamasi mula- mula mengenai sendi – sendi sinovial disertai edema , kongesti vaskuler, eksudfebrin dan inflamasi seluler. Peradangan yang berkelanjutan, sinovial menjadi menebal , terutama sendi artikular kartilago dari sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi kartilago. Pannus masuk ke tulang sub- chondria. Jaringan granulasi mengganggu karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuler. Kartilago menjadi nekroti tingkat erosi dari kartilago persendian menentukan tingkat ketidakmampuan sendi.Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi di antara permukaan sendi karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu ( ankilosis). Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang Subchondrial bisa menyebabkan osteoporosis ( peningkatan keropos tulang). Lamanya rhematoid artritis berbeda pada setiap orang. ditandai dengan masa adanya serangan dan tidak adanya serangan. Sementara orang yang sembuh dari serangan pertama di selanjutnya tidak terserang lagi. Yang lain, terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seroposi gangguan rheumatoid ). Gangguan akan menjalar kronis progresif. Pada sebagian kecil individu terjadi progresif yang cepat ditandai dengan kerusakan sendi yang terus menerus dan terjadi vaskulitis yang difus, serangan dapat timbul karena status dan mental. Long, B.C (1996: 310)

6. Tanda dan gejala

  Tanda dan gejala rheumatoid artritis menurut Long, B.C ( 1996: 311) Adalah: a.

  Secara umum sakit persendian disertai kaku dan gerakan terbatas.

  b.

  Lambat dan membengkak, panas merah, lemah.

  c.

  Perubahan bentuk tangan.

  1) Jari tangan bengkak seperti alat pemukul gendang. 2) Deformitas bentuk leher angsa dari jari. 3) Ulna defisi jari tangan.

  d.

  Semua sendi bisa terserang, panggul, lutut, pergelangan tangan, Siku, bahu, rahang. Gejala sistemik yaitu Capai, lelah, demam, lesu, berat badan menurun, anemi,bilateral sistem dari persendian kecil dan besar pada sendi-sendi ekstermitas.

7. Penatalaksanaan

  Menurut Mansjoer Arief, ( 2000 : 538) pengobatan pada pasien rheumatoid artritis adalah secara: Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penatalaksanaan pasien dengan serangan akut artrits, yang pertama bahwa pengobatan serangan akut dengan atau tanpa hiperurisemia tidak berbeda. Juga diperhatikan agar penurunan kadar asam urat serum tidak tergesa – gesa karena penurunan secara mendadak sering kali mencetuskan serangan lain atau mempersulit penyembuhan. Obat – obatan yang di gunakan pada penyakit rhematoid artritis a.

  Obat anti inflamasi nonsteroid diberikan sejak dini untuk mengatasi nyeri sendi akibat Inflamasi yang sering di jumpai, yang dapat di berikan 1) Aspirin, pasien dibawah 65 tahun dapat mulai dengan dosis 3-4 x 1 g/ hari, kemudian dinaikan 0,3 – 0,6 g per minggu Sampai terjadi perbaikan atau gejala toksis. 2) Ibuprofen, naproksen, piroksikam, diklofenak.

  b.

  Obat klorokuin digunakan untuk melindungi rawan sendi dan tulang dari proses destruksi akibat artritis rhematoid. Mula khasiatnya baru terlihat setelah 3 - 12 bulan kemudian, setelah 2-5 tahun,maka efektivitasnya dalam menekan proses rhematoid akan berkurang. Keputusan penggunaannya bergantung pada pertimbangan resiko manfaat oleh dokter.

8. Pathways

  Granulasi membentuk pannus menutupi kartilago

  Asuhan Keperawatan Keluarga..., NIKEN SYUKUR NIKMAH, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2010

  Tidak dilakukan Sumber : Carpenito (2000), Long (1996), Nanda (2002) dan Fredman (1998)

  Tidak tahu Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan

  Ditangani dilakukan upaya pencegahan dan tahu akibat dari rheumatoid artitis

  Tidak dilakukan Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga menderita rheumatoid artitis

  (nyeri, pegal, kaku) Upaya perawatan 1. istirahat cukup 2. hindari kerja berat 3. biasakan berjemur di bawah matahari

  Tidak tahu Rhematik artitis

  Kartilago artikular terganggu Ketidakmampuan keluarga mengenal anggota keluarga menderita rheumatoid artitis

  Pannus masuk ke tulang subchonadria Granulasi menguat

  Memodifikasi lingkungan

  1. Penerangan baik

  Inflamasi membran sinovial

  Faktor genetik Mekanisme imun dan jenis kelamin

  Rentang gerak berkurang Resiko keterbatasan gangguan mobilitas fisik

  Tendon dan ligamen melemah

  Nyeri Krois Kerusakan kartilago meluas

  Tidak dilakukan Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan

  Ketidakmampua n keluarga memodifikasi keluarga

  Manfaatkan fasilitas kesehatan Gangguan pola tidur

  2. Alasi dengan bantal bagian yang nyeri 3. Gunakan waktu luang untuk istirahat

  Faktor metabolit Sinovial menebal pada sendi artikular kartilago

9. Fokus Intervensi Menurut Carpenito (2007).

  a.

  Nyeri berhubungan kelemahan otot Tujuan dan Kriteria hasil :

  1) Sampaikan bahwa orang lain menvalidasi adanya nyeri 2) Menyebutkan faktor- faktor yang meningkatkan nyeri 3) Menyebutkan intervensi yang efektif 4) Menyatakan bahwa orang lain memastikan bahwa nyeri memang ada

  Intervensi: 1) Kaji terhadap faktor yang menurunkan toleransi nyeri

  2) Kurangi atau turunkan faktor – faktor yang dapat meningkatkan nyeri 3) Berikan informasi yang akurat untuk mengurangi nyeri 4) Kolaborasi dengan individu untik memulai tindakan mengurai nyeri

  5) Bantu keluarga dan individu untuk mengurangi efek depresi b.

  Hambatan mobilitas fisik Menurut Cerpenito, (2007) Tujuan dan Kreteria hasil : 1) Kaji tirah baring atau imobilisasi 2) Kaji kelemahan secara menyeluruh 3) Kaji ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen

  Intervensi : 1) Bantu individu untuk posisi duduk dengan perlahan 2) Jelaskan bahwa berpindah yang aman adalah gerakan lengkap 3) Kaji terhadap faktor – faktor penyebab

  4) Kurangi atau hilangkan faktor- faktor penunjang 5) Pantau respon tindividu terhadap aktivitas c.

  Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri Menurut Carpenito,(1999) Tujuan dan kriteria hasil 1) Menjelaskan faktor – faktor penghambat atau pencegah tidur 2) Mengidentifikasi teknik – teknik untuk mempermudah tidur 3) Melaporkan keseimbangan yang optimal antara aktivitas dan istirahat Intervensi :

  1) Identifikasi faktor – faktor penyebab dan penunjang 2) Kurangi atau hilangkan distraksi lingkungan dan penghentian tidur 3) Tingkatkan aktivitas sehari – hari 4) Tingkatkan tidur dengan menggunakan bantuan 5) Berikan penyuluhan kesehatan dan rujukan bila diindikasikan d.

  Keletihan yang berhubungan dengan efek proses inflamasi kronis Menurut Carpenito, (2007) Tujuan dan kriteria hasil : 1) Mendiskusikan penyebab keletian 2) Mengungkapkan perasaan mengenai efek keletihan 3) Menetapkan prioritas untuk aktifitas sehari – hari Intervensi:

  1) Beri ksempatan mengekspresikan perasaan mengenai efek proses inflamasi

  2) Bantu individu mengidentifikasi kekuatan, kemampuan. 3) Ajari individu tentang teknik penghematan energi.

  e.

  Ketidakefektifan koping individu berhubungan dengan stres eksaserbasi yang tidak dapat diperkirakan Menurut, Carpenito, (2007) Tujuan dan kriteria hasil : 1) Individu membuat keputusan dan menunjukan tindakan yang tepat 2) Mengungkapkan perasaan yang berhubungan dengan keadaan Emosional 3) Mengidentifikasi pola koping personal dan konsekoensi prilaku Yang diakibatkanya.

  Intervensi : 1) Kaji status koping individu 2) Bantu individu untuk memecahkaan masalah 3) Dorong untuk melakukan evaluasi.

Dokumen baru

Download (25 Halaman)
Gratis

Tags