TANTANGAN EVANGELISASI ZAMAN SEKARANG UNTUK KAUM AWAM DI WILAYAH BUSUR PAROKI KRISTUS RAJA BARONG TONGKOK KEUSKUPAN AGUNG SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR SKRIPSI

Gratis

0
0
193
4 months ago
Preview
Full text

  

TANTANGAN EVANGELISASI ZAMAN SEKARANG

UNTUK KAUM AWAM DI WILAYAH BUSUR

PAROKI KRISTUS RAJA BARONG TONGKOK

KEUSKUPAN AGUNG SAMARINDA

KALIMANTAN TIMUR

S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Oleh:

  Oliva Luaq NIM: 061124051

  

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada orang tuaku tercinta, kedua kakakku terkasih, seluruh keluargaku, khususnya keluargaku di Busur yang aku cintai, teman-teman angkatan 2006 dan umat di wilayah Busur Paroki Kristus Raja Barong Tongkok serta almamater kebanggaanku

  

MOTTO

  “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”

  (Mat. 5:16)

  ABSTRAK

  Judul skripsi TANTANGAN EVANGELISASI ZAMAN SEKARANG

  UNTUK KAUM AWAM DI WILAYAH BUSUR PAROKI KRISTUS RAJA

BARONG TONGKOK KEUSKUPAN AGUNG SAMARINDA

KALIMANTAN TIMUR ini dipilih bertitik tolak dari keprihatinan penulis akan

  situasi kaum awam di wilayah Busur yang kurang menanggapi dan menghayati panggilan dirinya sebagai pewarta Injil yang telah dipanggil dan diutus secara istimewa di tengah dunia. Mereka masih berpandangan bahwa evangelisasi adalah tugas utama kaum religius. Evangelisasi juga masih dipahami sebatas kegiatan gerejani semata, sehingga adanya pemisahan antara gerejawi dan duniawi. Bertitik tolak dari kenyataan tersebut, skripsi ini ditulis untuk membantu kaum awam di wilayah Busur Paroki Kristus Raja Barong Tongkok untuk meningkatkan keterlibatan mereka dalam evangelisasi agar mereka semakin mampu menghayati makna evangelisasi dalam kehidupannya sehari-hari.

  Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah bagaimana kaum awam sungguh memahami dan menghayati panggilannya sebagai pewarta Injil dalam menghadapi berbagai tantangan dunia saat ini, sehingga dapat semakin setia dan semangat dalam evangelisasi. Kaum awam akan tetap berpegang pada pandangan sempit terhadap makna evangelisasi bila tidak dihayati dan diwujudkan dalam sikap dan tindakan melalui kesaksian hidup sehari-hari. Oleh karena itu, perlu disadari bahwa untuk mewujudkan pewartaan Injil perlu kesadaran dari kaum awam akan tugas dan panggilannya dengan mengupayakan evangelisasi itu secara terus-menerus dalam hidupnya. Evangelisasi merupakan kegiatan yang perlu terus dihidupi dalam sikap dan tindakan sebagai orang beriman demi terwujudnya nilai- nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

  Untuk membantu meningkatkan keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi maka penulis mengusulkan program katekese keluarga melalui

  Shared Christian Praxis (SCP) yang ditujukan kepada para orang tua. Katekese

  ini merupakan model katekese yang bersifat dialogis partisipatif dan menempatkan peserta sebagai subyek. Maka katekese ini, pertama-tama diadakan di tengah-tengah keluarga dengan saling mengasihi, mencintai dan menghormati. Dengan demikian keluarga dapat melanjutkan evangelisasi di tengah masyarakat dan di manapun mereka berada.

  ABSTRACT

  This thesis has as title “THE CURRENT CHALLENGE OF EVANGELIZATION FOR THE LAITY IN THE REGION OF BUSUR, CHRIST THE KING PARISH, BARONG TONGKOK, THE ARCHDIOCESE OF SAMARINDA, EAST KALIMANTAN”. This title has been chosen out of the author’s concern for the situation of the laity in the region of Busur. The lay people in this region do not seem to live up to their vocation as messengers of the Gospel, sent in a special way into the world. They still view evangelization as the exclusive task of the religious. Moreover, evangelization is still seen merely as an intra-ecclesial activity, implying thus the separation between the ecclesial and the temporal. Starting from this reality, the author wrote this thesis in view to helping the laity in the region of Busur, Christ the King Parish, Barong Tongkok to enhance their involvement in evangelization, so that they will be able to live up the evangelization in their daily life.

  This thesis deals mainly with this question: how to help the laity in order that they may understand their vocation more deeply and live up more faithfully to their vocation as messengers of the Gospel, in the face of today’s challenges in the world. Otherwise they will remain within their narrow view on evangelization. Therefore this calls for a continuous conscientization on the lay vocation in evangelization. Evangelization should become a way of life, manifested in attitudes and actions of the faithful, in view of the realization of the values of the Kingdom of God in daily life.

  In order to promote the involvement of the laity in evangelization, the author proposes a catechetical program for families, adopting the method of

  

Shared Christian Praxis (SCP) . This model has proved to be a dialogical and

  participatory method, putting the participants as subjects rather than objects of catechesis. Thus this catechesis will be executed in midst of families in the spirit of mutual love and respect. It is hoped that the families will in their turn be evangelizers in midst of the society where they live.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatNya yang berlimpah pada semua orang. Sebab atas rahmatNyalah maka penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

  

TANTANGAN EVANGELISASI ZAMAN SEKARANG UNTUK KAUM

AWAM DI WILAYAH BUSUR PAROKI KRISTUS RAJA BARONG

TONGKOK KEUSKUPAN AGUNG SAMARINDA KALIMANTAN

TIMUR. Penulisan skripsi ini bertitik tolak dari keprihatinan penulis akan

  kurangnya tanggapan dan penghayatan kaum awam atas tugas perutusannya sebagai kaum beriman Kristiani untuk mewartakan Injil dalam kehidupannya sehari-hari di tengah dunia. Dengan demikian, harapan penulis bahwa penulisan skripsi ini dapat membantu meningkatkan keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi agar mereka semakin mampu menghayati makna evangelisasi dalam kehidupannya, sehingga semakin siap sedia mewartakan Injil meskipun menghadapi berbagai tantangan hidup demi mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah.

  Penulis menyadari bahwa proses penulisan skripsi ini dapat terselesaikan berkat bantuan, bimbingan, dukungan, dan doa dari banyak pihak. Oleh karena itu maka dari hati yang paling dalam penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1.

  Rm. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, S.J., M.Ed selaku dosen pembimbing utama penulis yang telah dengan sabar, setia, penuh perhatian, penuh semangat dan selalu berusaha menyediakan waktu dalam membimbing penulis. Beliau juga dengan sepenuh hati senantiasa memotivasi, mencintai dan menumbuhkan kepercayaan diri pada penulis. Semangat beliau menjadi inspirasi bagi penulis agar mau berusaha untuk maju dan berkembang menjadi lebih baik. Banyak saran dan kritikan yang menjadikan penulis berkembang baik segi pengetahuan maupun kematangan pribadi sebagai calon guru.

  2. Bpk. Drs. Yoh. A. C.H. Mardiraharjo selaku anggota penguji II sekaligus dosen pembimbing akademik yang senantiasa menjadi ayah bagi penulis selama masa studi di IPPAK ini. Beliau yang senantiasa memberikan masukan, saran, perhatian, cinta kasih, dan semangat bagi penulis. Beliau juga menjadi teman bagi penulis terlebih saat menghadapi masalah, sehingga menjadi teman curhat yang mau mendengarkan dan memberi masukan, saran dan motivasi bagi penulis.

  3. Bpk. Y.H. Bintang Nusantara, SFK., M. Hum selaku anggota penguji III yang juga senantiasa memberi motivasi, dukungan, saran dan kritikan yang membangun bagi penulis baik dalam proses penulisan skripsi ini maupun selama menjalani kuliah di IPPAK.

4. Segenap Staf Dosen Prodi IPPAK-JIP, Fakultas Keguruan dan Ilmu

  Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik dan mengajarkan banyak hal demi perkembangan iman dan juga kepribadian penulis. Mereka juga dengan setia membimbing dan mengarahkan penulis selama masa studi ini. Tercipta hubungan kekeluargaan yang kental di IPPAK sehingga relasi yang akrab dapat terjalin antara dosen dan mahasiswa.

  5. Segenap Staf Sekretariat dan Perpustakaan Prodi IPPAK, dan seluruh karyawan bagian lain yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

6. Rm. Stanislaus Cahyo Yosoutomo, MSF, selaku pastor paroki Kristus Raja

  Barong Tongkok keuskupan Agung Samarinda Kalimantan Timur serta frater dan bruder yang bertugas di paroki ini yang telah memberi kesempatan bagi penulis untuk melaksanakan penelitian di paroki ini serta menyediakan waktu bagi penulis dengan memberikan infomasi-informasi penting yang penulis butuhkan berkaitan dengan penelitian yang penulis laksanakan di sini.

  7. Segenap dewan pengurus, staf sekretariat dan seluruh umat di wilayah Busur khususnya yang telah bersedia menjadi responden dan menyediakan waktu bagi penulis dengan memberikan data-data yang penulis butuhkan demi terselesainya penulisan skripsi ini.

  8. Kedua orang tuaku tercinta dan kedua kakakku terkasih yang senantiasa memberi dukungan yang besar melalui doa, cinta dan perhatian pada penulis dalam menyelesaikan studi ini.

  9. Keluargaku tercinta di Busur yang senantiasa mendukung, memotivasi, mengarahkan dan menyemangati penulis dalam masa studi ini, juga dalam penyelesaian skripsi ini. Terima kasih untuk segala cintanya.

  10. Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Barat provinsi Kalimantan Timur yang telah mendukung putra-putri daerah dalam studi dengan memfasilitasi dalam hal dana.

  11. Teman-teman mahasiswa IPPAK khususnya angkatan 2006 yang senantiasa memberikan dukungan, motivasi dan perhatian bagi penulis baik selama menempuh studi di IPPAK ini maupun selama menyelesaikan penulisan skripsi hingga penulis mempertanggungjawabkan di hadapan para dosen penguji. Kebersamaan dalam persaudaraan menjadikan kita satu keluarga yang tak terpisahkan oleh jarak dan waktu.

  12. Teman-teman kosku terkasih yang senantiasa menjadi sahabat bagi penulis saat susah maupun senang. Motivasi, dukungan dan kebersamaan kita telah mengantar penulis sampai pada titik terakhir masa studi ini. Penulis menyadari bahwa perbedaan bukan penghalang untuk meraih suskses, bila dihayati sebagai proses pendewasaan. Terima kasih untuk semuanya.

13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang banyak membantu penulis selama masa studi ini maupun dalam penyelesaian skripsi.

  Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu dengan rendah hati penulis mohon saran dan kritik yang dapat membangun. Akhirnya besar harapan penulis agar skripsi ini dapat menjadi inspirasi bagi pembacanya, khususnya bagi kaum awam yang mau peduli pada perkembangan iman pribadi dan bersama dengan membangun Kerajaan Allah di tengah dunia.

  Yogyakarta, 26 Januari 2011 Penulis, Oliva Luaq

  

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ……………………………………………………. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………………... ii HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ………………………………………… iv HALAMAN MOTTO …………………………………………………... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………………………………… vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

  ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS …………………….. vii ABSTRAK ……………………………………………………………… viii

  ……………………………………………………………… ix

  ABSTRACT

  KATA PENGANTAR …………………………………………………... x DAFTAR ISI ……………………………………………………………. xiv DAFTAR SINGKATAN ……………………………………………….. xviii BAB I. PENDAHULUAN ……………………………………………..

  1 A.

  1 Latar Belakang ………………………………………………… B.

  7 Rumusan Masalah ……………………………………………...

  C.

  7 Tujuan Penulisan ……………………………………………….

  D.

  8 Manfaat Penulisan ……………………………………………...

  E.

  8 Metode Penulisan ……………………………………………… F.

  9 Sistematika Penulisan ………………………………………….

  BAB II. POKOK-POKOK EVANGELISASI DAN TANTANGANNYA …………………………………………...

  11 A.

  12 Pokok-pokok Evangelisasi ……………………………………..

  1.

  12 Sejarah Evangelisasi ………………………………………...

  2.

  17 Pengertian Evangelisasi ……………………………………..

  3.

  20 Tujuan Evangelisasi ………………………………………...

  4.

  24 Isi Evangelisasi ……………………………………………...

  6.

  31 Manfaat Evangelisasi ……………………………………….

  7.

  33 Pelaksana Evangelisasi ……………………………………...

  37 B.

  Tantangan Evangelisasi ………………………………………...

  1.

  38 Tantangan dari Dalam Diri ………………………………….

  a.

  38 Perasaan “Takut” dan “Malu” …………………………...

  b.

  39 Pandangan Negatif terhadap Dunia ……………………...

  c.

  Kaum Awam Menyatakan bahwa Pelaksana Evangelisasi yang Utama adalah Kaum Religius ……………………...

  41 2.

  42 Tantangan dari Luar Diri …………………………………… a.

  42 Irelevansi Agama dalam Hidup Sehari-hari ……………..

  b.

  43 Hedonisme ……………………………………………….

  c.

  44 Materialisme ……………………………………………..

  BAB III. GAMBARAN UMUM KETERLIBATAN KAUM AWAM DALAM EVANGELISASI DI WILAYAH BUSUR PAROKI KRISTUS RAJA BARONG TONGKOK …………………….

  48 A.

  49 Kaum Awam sebagai Pelaksana Evangelisasi ………………… 1.

  49 Pengertian Kaum Awam …………………………………… 2.

  51 Kedudukan Kaum Awam dalam Gereja …………………….

  3. Bidang-bidang Keterlibatan Kaum Awam dalam Evangelisasi …………………………………………………

  52 4.

  53 Spiritualitas Kaum Awam …………………………………..

  B.

  56 Gambaran Umum Paroki Kristus Raja Barong Tongkok ……...

  1.

  56 Sejarah Paroki Kristus Raja Barong Tongkok ……………...

  2.

  58 Visi-Misi Paroki Kristus Raja Barong Tongkok …………… 3.

  58 Letak Geografis Paroki Kristus Raja Barong Tongkok ……..

  4. Situasi Umat Katolik di Paroki Kristus Raja Barong Tongkok …………………………………………………….

  59 C.

  60 Gambaran Umum Wilayah Busur ……………………………...

  1.

  61 Lingkungan St. Christoporus Busur ………………………...

  2.

  62 Lingkungan St. Paulus Busur ……………………………….

  D.

  Penelitian tentang Keterlibatan Kaum Awam dalam Evangelisasi di Wilayah Busur Paroki Kristus Raja Barong Tongkok ………………………………………………………..

  62 1.

  63 Rencana Penelitian ………………………………………….

  a.

  63 Latar Belakang Penelitian ………………………………..

  b.

  65 Tujuan Penelitian ………………………………………...

  c.

  65 Jenis Penelitian …………………………………………..

  d.

  65 Tekhnik Pengumpulan Data ……………………………..

  e.

  66 Responden ……………………………………………….

  f.

  67 Tekhnik Pembahasan Data ……………………………… g.

  68 Variabel Penelitian ……………………………………… 2.

  68 Laporan dan Pembahasan Hasil Penelitian ………………… a.

  68 Identitas Responden ……………………………………...

  b.

  Gambaran Keterlibatan Kaum Awam dalam Evangelisasi………………………………………………

  70 c. Bidang-bidang Keterlibatan Kaum Awam dalam Evangelisasi ……………………………………………...

  76 d. Faktor-faktor yang Mendukung dan Menghambat Kaum Awam dalam Evangelisasi………………………………..

  85 3.

  95 Kesimpulan Hasil Penelitian ………………………………..

  BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE KELUARGA UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN KAUM AWAM DALAM EVANGELISASI ……………………………..…….

  98 A.

  99 Katekese Keluarga …………………………………………......

  1.

  99 Pengertian Katekese Keluarga ……………………………… 2. 102 Tujuan Katekese Keluarga ………………………………….

  3.

  104 Isi Pokok Katekese Keluarga ……………………………….

  a.

  105 Membentuk Persekutuan Pribadi Melalui Cinta Kasih ….

  b.

  106 Mengabdi Kepada Kehidupan …………………………...

  c.

  111 Ikut serta dalam Pengembangan Masyarakat …………....

  d.

  143 B. Saran …………………………………………………………… 146

  (5) 5. Teks Cerita “Mewakili Kristus” ……………………………. (23) 6.

  (4) 4. Transkrip Hasil Wawancara ………………………………...

  (3) 3. Daftar Pertanyaan …………………………………………...

  (1) 2. Surat Pernyataan Telah Melaksanakan Penelitian .……….....

  Surat Ijin Prodi ……………………………………………...

  DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………... 148 LAMPIRAN …………………………………………………………….. 149 1.

  BAB V. PENUTUP ……………………………………………………... 143 A. Kesimpulan …………………………………………………….

  Berperan serta dalam Kehidupan dan Misi Gereja ……… 113 4. Kekhasan Katekese Keluarga ………………………………. 116 B. Usulan Program Katekese Keluarga untuk Meningkatkan

  131

  Salah Satu Contoh Satuan Persiapan …………………………..

  Penjabaran Program …………………………………………… 127 D.

  124 3. Gambaran Pelaksanaan Program …………………………… 124 C.

  119 2. Usulan Tema Katekese Keluarga …………………………...

  Latar Belakang Pemilihan Program ………………………...

  Keterlibatan Keluarga sebagai Kaum Awam dalam Evangelisasi melalui Shared Christian Praxis (SCP) …………. 118 1.

  Peta Paroki ………………………………………….............. (24)

DAFTAR SINGKATAN A.

   Singkatan Kitab Suci

  Kej : Kejadian Ams : Amsal Mat : Matius Mrk : Markus Luk : Lukas Yoh : Yohanes Kis : Kisah Para Rasul Rm : Roma Kor : Korintus Ef : Efesus Tes : Tesalonika Tim : Timotius B.

   Singkatan Dokumen Resmi Gereja

  AA : Apostolicam Actuositatem (Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam, 7 Desember 1965)

  AG : Ad Gentes (Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kegiatan Misioner Gereja, 7 Desember 1965)

  CL : Christifideles Laici (Imbauan Apostolik Yohanes Paulus II tentang Panggilan dan Tugas Kaum Awam Beriman di dalam Gereja dan di dalam Dunia, 12 Maret 1989). DV : Dei Verbum (Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, 18 November 1965).

  EN : Evangelii Nuntiandi (Imbauan Apostolik Paulus VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Zaman Modern, 8 Desember 1975).

  FABC : Federation Of Asian Bishops’ Conferences (Federasi Konferensi-Konferensi Uskup se-Asia)

  FC : Familiaris Consortio (Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Peranan Keluarga Kristiani dalam Dunia Modern,

  22 November 1981). GS : Gaudium et Spes (Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja dalam Dunia Modern, 7 Desember 1965).

  KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici), diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1983.

  LG : Lumen Gentium (Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964).

  RM : Redemptoris Missio (Ensiklik Yohanes Paulus II tentang Amanat Misioner Gereja, 7 Desember 1990).

C. Singkatan lainnya

  Art : Artikel APP : Aksi Puasa Pembangunan Bdk : Bandingkan Depag : Departemen Agama HAM : Hak Asasi Manusia HP : Hand phone Kan : Kanon Komka : Komunitas Kaum Muda Katolik KK : Kepala Keluarga KPP : Kursus Persiapan Perkawinan KWI : Konferensi Waligereja Indonesia Lih : Lihat PIUK : Pembinaan Iman Umat Katolik PNS : Pegawai Negeri Sipil SCP : Shared Christian Praxis SP : Satuan Persiapan St : Santo

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Paroki Kristus Raja Barong Tongkok merupakan salah satu paroki dari Keuskupan Agung Samarinda Kalimantan Timur yang terletak di Kabupaten Kutai Barat. Kaum awam di paroki ini cukup terlibat aktif karena kurangnya

  tenaga religius, walaupun yang terlibat hanya orang-orang itu saja. Hal ini menunjukkan peranan kaum awam untuk mewartakan Injil dalam bidang Gerejawi. Namun perlu disadari bahwa keterlibatan kaum awam dalam pewartaan Injil bukan dalam bidang Gerejani semata, melainkan juga mencakup hal yang bersifat duniawi yang meliputi seluruh aspek kehidupannya. Paroki ini juga termasuk paroki yang cukup luas wilayah pelayanannya, salah satu wilayah yang berada di dekat paroki adalah wilayah Busur. Oleh karena itu, sangat diharapkan penghayatan yang mendalam dari kaum awam akan tugas perutusannya untuk mewartakan Injil di tengah dunia, sehingga nilai-nilai Kerajaan Allah semakin nyata dalam sikap dan perbuatannya.

  Istilah evangelisasi dapat dikatakan masih asing bagi kaum awam di wilayah Busur karena yang biasa didengar adalah “mewartakan Injil”. Pewartaan Injil dipahami sebagai suatu kegiatan yang biasa dilakukan oleh pastor, suster ataupun katekis seperti kotbah atau pendalaman iman. Namun bagi katekis atau guru agama maupun orang-orang yang banyak terlibat dalam kegiatan menggereja, mereka cukup mengenal istilah tersebut bahkan dapat memaknainya dalam kehidupan mereka. Sedangkan bagi umat yang kurang akrab masih berpendapat bahwa mewartakan Injil adalah tugas khusus kaum religius karena mereka memang belajar di bidang agama yang berhubungan erat dengan Injil.

  Pemahaman yang sempit ini membawa umat pada sikap kurang menghayati makna evangelisasi dalam hidupnya, sehingga terdapat kesan bahwa umat acuh dalam mewartakan Injil.

  Pewartaan Injil dalam Gereja berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan dan melalui pengaruh nilai-nilai Injil merubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru (EN art. 18). Perubahan yang dimaksud bukan sekedar bertobat dalam relasinya dengan Tuhan, melainkan juga bertobat dalam relasinya dengan sesama manusia, masyarakat dan dunia (Sugiri, 1994:4). Kabar Baik yang diwartakan Gereja adalah Yesus Kristus Sang Penyelamat, sebab Allah telah mewahyukan diriNya pada kita dalam PutraNya sebagai yang mengutus dan diutus (Kirchberger, 2004:14). Melalui pewartaan para rasul tentang Yesus Kristus, kitapun semakin mengenal dan mencintai Allah serta menanggapinya dalam iman. Kita mewartakan Injil ke seluruh dunia dan menatanya melalui kesaksian hidup. Seperti dikatakan dalam Dokumen Konsili Vatikan II tentang kerasulan awam art. 5 bahwa: karya penebusan Kristus pada hakikatnya menyangkut penyelamatan umat manusia, tetapi merangkum pembaharuan seluruh tata dunia juga. Maka dari itu Gereja bukan hanya diutus untuk menyampaikan warta tentang Kristus dan menyalurkan rahmatNya kepada umat manusia, melainkan juga untuk merasuki dan menyempurnakan tata dunia dengan semangat Injil. Jadi dalam melaksanakan perutusan Gereja itu kaum awam menunaikan kerasulan mereka baik dalam Gereja maupun di tengah masyarakat, baik di Hal ini mau menyatakan bahwa hendaknya kaum awam sebagai anggota Gereja yang telah diutus di tengah dunia dengan semangat Injil mewartakan Kabar Gembira melalui kesaksian hidupnya, baik dalam kehidupan menggereja maupun hidup bermasyarakat dengan mencintai sesama dan memelihara alam ciptaanNya.

  Gereja memiliki tugas memuliakan Allah dengan mengantar semua manusia, baik pria maupun wanita untuk mengenal dan mengasihi Dia sebagaimana Ia telah mewahyukan diriNya pada kita di dalam Yesus Kristus (Kirchberger, 2004:14). Pertobatan dan pembaptisan manusia bukan tindakan Gereja semata tetapi merupakan karunia Allah. Rohlah yang membuka hati orang- orang agar mereka dapat percaya kepada Kristus dan mengakui Dia (RM art. 46) sebagai yang menyelamatkan. Oleh karena itu, semua orang yang dengan tulus hati menerima Kabar Gembira itu, dapat dan harus mewartakan dan menyebarkannya (EN art. 13). Dalam hal ini, kaum awam adalah umat Katolik yang digabungkan dengan Kristus oleh permandian, dilantik sebagai umat Allah (LG art. 31). Pelantikan di sini merupakan suatu pemberian rahmat Allah yang sungguh mulia yang diberikan pada kaum awam agar dengan caranya sendiri, mereka dapat mengambil bagian dalam tugas pewartaan Injil (CL art. 9).

  Pertama-tama kaum awam perlu menginjili diri sendiri karena sebelum mewartakan kepada orang lain, mereka harus yakin dan menghayatinya terlebih dahulu. Sebab kita tidak dapat memberikan sesuatu yang tidak kita miliki kepada orang lain (Sugiri, 1994:24) sebelum kita sendiri memilikinya. Setelah kita sendiri memilikinya, kita dapat mewartakannya pada semua orang (EN art. 49). Kaum awam diharapkan dapat mewartakan Injil dengan semangat yang berkobar-kobar dan mengajak semua orang yang dijumpainya untuk semakin dekat dengan Allah.

  Paus Paulus VI menegaskan peranan awam dalam penginjilan, yaitu: para awam dipanggil secara khusus ke tengah-tengah dunia, dalam tanggungjawabnya di pelbagai tugas di dunia, maka mereka melaksanakan suatu penginjilan yang sangat khusus bentuknya yang mencakup bidang kemasyarakatan dan ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, seni, kehidupan internasional dan media massa. Juga mencakup kenyataan- kenyataan lain seperti cintakasih manusiawi, keluarga, pendidikan anak- anak dan kaum remaja, kerja profesional dan penderitaan (EN art. 70). Pernyataan ini menegaskan bahwa kehidupan kaum awam tidak terlepas dari kehidupan duniawi, maka mereka diutus untuk mewartakan Injil dalam kehidupan sehari-hari di tengah dunia yang mencakup segala bidang kehidupannya antara lain kehidupan dalam keluarga, Gereja dan masyarakat. Kaum awam merupakan anggota Gereja yang mempunyai kedudukan penting dalam evangelisasi (penginjilan). Sebab ciri khas kaum awam yang paling mencolok adalah sifat keduniawiannya.

  Kaum awam diharapkan sungguh menyadari tugas dan panggilan dirinya dalam evangelisasi. Dengan demikian mereka dapat mengambil bagian dalam karya pewartaan Injil. Sebab perintah itu datang dari Dia yang mengasihi kita, yaitu “karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman (Mat. 28:19-20)”.

  Perintah ini ditujukan kepada seluruh umat untuk terlibat dalam misiNya yang menyelamatkan. Oleh karena itu, melalui Gereja dan anggota-anggotanya, Ia mengutus untuk mewartakan Kabar Baik pada semua orang. Sebagai anggota Gereja yang telah dipanggil dan diutus untuk mewartakan Kabar Gembira kepada semua manusia, kaum awam diharapkan mampu berperan secara aktif dalam tugas perutusan tersebut. Dalam tugas pewartaan ini kaum awam ditantang untuk selalu memiliki cahaya dan menjadi terang bagi sesama dalam keberadaannya di dunia.

  Seperti dikatakan dalam Injil Mat. 5:16 “demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”. Iman menjadi sumber dan pusat untuk mendapatkan terang tersebut, sehingga mampu memancarkan cahaya kegembiraan bagi orang lain.

  Kenyataan yang terjadi di wilayah Busur adalah masih banyak kaum awam yang berpandangan bahwa pewartaan Injil merupakan tugas utama kaum religius serta adanya pandangan bahwa pewartaan Injil adalah kegiatan yang berkaitan dengan bidang gerejani semata. Terkadang juga ada umat yang malu untuk berbagi pengalaman iman dengan orang lain. Kesibukan dalam bekerja membuat mereka tidak memiliki banyak waktu untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ada di Lingkungan maupun paroki, sehingga terdapat kesan bahwa kebanyakan umat bersikap acuh tak acuh dalam mewartakan Injil.

  Sidang Paripurna FABC I di Taipei, Taiwan pada tahun 1974 dikatakan: zaman sekarang ini ditandai dengan perubahan-perubahan pesat. Di mana Benua Asia mengalami modernisasi dan pergolakan sosial, disertai sekularisasi dan runtuhnya masyarakat-masyarakat tradisional... Bangsa- bangsa Asia masa kini mengalami kekacauan dan kehilangan arah, bahkan rasa putus asa dan kegelapan batin (FABC I, art. 4). Kenyataan ini pula yang dialami kaum awam di wilayah Busur karena sadar atau tidak mereka telah terperangkap dalam perkembangan zaman yang dapat membawa mereka pada paham hedonisme dan materialisme, yang menggangap bahwa materi dan kesenangan adalah tujuan utama dalam hidup ini. Akibatnya banyak orang yang tidak lagi memperdulikan kehidupan sosialnya, mereka berusaha mendapatkan kesenangan bagi dirinya dan golongan tanpa memperdulikan lagi kehidupan di sekitarnya. Banyak umat yang tidak dapat lagi melihat dan mendengar kebaikan-kebaikan Allah melalui sesama.

  Kurangnya penghayatan kaum awam dalam pewartaan Injil dapat disebabkan oleh berbagai latar belakang seperti merasa tidak memiliki kemampuan dan keahlian dalam hal Kitab Suci, memiliki kesibukan dalam pekerjaannya masing-masing sehingga tidak ada waktu atau merasa malu. Padahal keterlibatan mereka dalam menghayati tugas perutusan sebagai pewarta Injil sangat diperlukan untuk semakin menegakkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataan ini menjadi keprihatinan penulis, maka penulis memilih judul skripsi “TANTANGAN EVANGELISASI ZAMAN

  SEKARANG UNTUK KAUM AWAM DI WILAYAH BUSUR PAROKI

KRISTUS RAJA BARONG TONGKOK KEUSKUPAN AGUNG

SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR” sebagai sumbangan pemikiran untuk

  meningkatkan penghayatan kaum awam dalam evangelisasi, sehingga semakin siap dan semangat dalam menjalani tugas perutusannya.

B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan keprihatinan di atas yang telah diuraikan pada latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan evangelisasi dan tantangannya di zaman sekarang? 2.

  Mengapa kaum awam di wilayah Busur paroki Kristus Raja Barong Tongkok perlu terlibat dalam evangelisasi zaman sekarang?

  3. Bagaimana upaya membantu kaum awam di wilayah Busur paroki Kristus Raja Barong Tongkok agar semakin setia dalam evangelisasi? C.

   Tujuan Penulisan

  Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah: 1. Agar kaum awam di wilayah Busur paroki Kristus Raja Barong Tongkok semakin memahami pokok-pokok evangelisasi dan tantangannya di zaman sekarang, sehingga semakin siap menghadapi tantangan yang ada dan mampu menghayati iman dalam kehidupannya.

  2. Agar kaum awam di wilayah Busur paroki Kristus Raja Barong Tongkok semakin menyadari panggilan dan perutusannya dalam evangelisasi zaman sekarang, sehingga semakin siap dan semangat untuk menjalani tugas pewartaannya dalam hidup sehari-hari.

  3. Membantu meningkatkan keterlibatan kaum awam di wilayah Busur paroki Kristus Raja Barong Tongkok dalam evangelisasi agar mereka semakin semangat dan setia dalam evangelisasi dengan mewujudnyatakan dalam sikap

4. Penulisan skripsi ini sebagai salah satu persyaratan kelulusan sarjana strata 1

  (S1) program studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

D. Manfaat Penulisan 1.

  Melalui penulisan ini, kaum awam di Wilayah Busur paroki Kristus Raja Barong Tongkok mendapatkan sumbangan pemikiran tentang evangelisasi dan tantangannya.

  2. Melalui penulisan ini, kaum awam di Wilayah Busur paroki Kristus Raja Barong Tongkok semakin menyadari dan menghayati panggilan serta perutusannya untuk mewartakan Injil dalam hidup sehari-hari.

  3. Melalui penulisan ini, kaum awam di Wilayah Busur semakin terlibat aktif dalam evangelisasi dengan penuh semangat dan setia menjalaninya.

  4. Melalui penulisan ini dapat semakin memperluas wawasan dan pemahaman serta menjadi bahan refleksi bagi penulis dalam memaknai peranan kaum awam dalam evangelisasi agar semakin siap dan setia untuk mewartakan Injil dalam kehidupan sehari-hari.

E. Metode Penulisan

  Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode deskriptif analistis yaitu memaparkan, menggambarkan dan memahami pokok-pokok evangelisasi dan tantangannya zaman sekarang melalui studi pustaka dan juga sebagai bahan pengetahuan dan pemahaman. Penulis juga melakukan wawancara dengan 10 (sepuluh) orang responden di wilayah Busur untuk mendalami tentang keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi.

F. Sistematika Penulisan

  Skripsi dengan judul “Tantangan Evangelisasi Zaman Sekarang untuk

  

Kaum Awam di Wilayah Busur Paroki Kristus Raja Barong Tongkok

Keuskupan Agung Samarinda Kalimantan Timur” akan ditulis dalam lima

  bab dengan uraian sebagai berikut:

  Bab I berupa pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode dan sistematika penulisan. Bab II memberikan gambaran umum pokok-pokok evangelisasi dan tantangannya yang terbagi dalam dua pokok pembahasan. Bagian pertama menguraikan pokok-pokok evangelisasi yang meliputi: sejarah evangelisasi, pengertian evangelisasi, tujuan evangelisasi, isi evangelisasi, bentuk-bentuk pelaksanaan evangelisasi, manfaat dan pelaksana evangelisasi. Bagian kedua memaparkan tantangan evangelisasi yang meliputi tantangan dari dalam diri, yaitu: perasaan takut dan malu, pandangan negatif terhadap dunia, kaum awam menyatakan bahwa pelaksana evangelisasi yang utama adalah kaum religius.

  Tantangan kedua adalah tantangan dari luar diri, yaitu: irelevansi agama dalam hidup sehari-hari, hedonisme dan materialisme.

  Bab III membahas penelitian tentang keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi di wilayah Busur paroki Kristus Raja Barong Tongkok. Penulis membangi bab ini menjadi empat pokok pembahasan. Bagian pertama memaparkan kaum awam sebagai pelaksana evangelisasi yang meliputi: pengertian kaum awam, kedudukan kaum awam dalam Gereja, bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi, dan spiritualitas kaum awam. Bagian kedua membahas gambaran umum paroki Kristus Raja Barong Tongkok yang meliputi: sejarah paroki, visi-misi paroki, letak geografis dan situasi umat Katolik di paroki. Bagian ketiga memaparkan gambaran umum wilayah Busur yakni lingkungan St. Christoporus Busur dan St. Paulus Busur. Sedangkan bagian keempat memaparkan penelitian tentang keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi di wilayah Busur yang meliputi: rencana penelitian, laporan dan pembahasan hasil penelitian serta kesimpulan penelitian.

  Bab IV menguraikan katekese keluarga untuk meningkatkan keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi. Penulis membagi topik ini menjadi empat bagian pokok pembahasan. Bagian pertama menguraikan katekese keluarga yang meliputi: pengertian, tujuan, hal-hal yang penting dalam katekese keluarga dan kekhasan katekese keluarga. Bagian kedua memaparkan usulan program “katekese keluarga untuk meningkatkan keterlibatan keluarga sebagai kaum awam dalam evangelisasi melalui Shared Christian Praxis (SCP)” yang meliputi: latar belakang pemilihan program, usulan tema dan gambaran pelaksanaan program. Bagian ketiga menguraikan penjabaran program dan bagian keempat memberikan salah satu contoh satuan persiapan (SP).

  Bab V berisi kesimpulan dan saran.

  

BAB II

POKOK-POKOK EVANGELISASI DAN TANTANGANNYA Dalam bab I pada latar belakang penulisan skripsi, telah dipaparkan

  mengenai keprihatinan penulis terhadap kaum awam di wilayah Busur yang kurang menyadari dan menghayati dirinya yang telah dipanggil dan diutus untuk mewartakan Injil melalui kesaksian hidupnya sehari-hari. Berbagai tantangan yang dihadapi zaman sekarang juga dapat mempengaruhi sikap mereka terhadap panggilan dirinya tersebut.

  Pada bab II ini penulis memaparkan pokok-pokok evangelisasi dan tantangannya. Penulis akan membagi bab ini menjadi dua bagian pokok pembahasan. Bagian pertama memaparkan mengenai pokok-pokok evangelisasi yang meliputi: sejarah, pengertian, tujuan, isi, bentuk-bentuk pelaksanaan evangelisasi, manfaat dan pelaksana evangelisasi. Bagian kedua membahas tantangan evangelisasi yang meliputi: tantangan dari dalam dan luar diri.

  Mengenai pembahasan pokok-pokok evangelisasi, penulis mendasarkan pada dokumen gerejawi tentang Evangelii Nuntiandi yang berisi Imbauan Apostolik Bapa Suci Paulus VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Zaman Modern. Penulis memilih dokumen ini karena dokumen ini sangat penting dan tetap relevan dalam pewartaan Injil dalam menghadapi tantangan zaman sekarang.

  Selain itu juga didukung dengan ensiklik tentang Redemptoris Missio dan dokumen-dokumen lainnya serta pandangan dari para ahli.

A. Pokok-pokok Evangelisasi 1. Sejarah Evangelisasi

  Yesus Kristus adalah pewarta Injil sekaligus juga pelaksana untuk mencapai Kerajaan Allah yakni keadilan, cinta kasih, kedamaian, persaudaraan dan kerukunan. Ia mewartakan Kerajaan Allah kepada seluruh penjuru dunia terutama kepada kaum miskin (EN art. 6). Oleh sebab itu, pewartaan menjadi prioritas utama dari tugas perutusan Gereja. Ia tidak pernah meninggikan diriNya namun Ia justru merendahkan diri dan bergaul bersama semua orang dan memberitakan Kabar Baik pada mereka. Kaum miskin merupakan orang-orang yang menderita dan tersingkirkan dari kehidupan dunia pada umumnya dan Yesus memandang mereka inilah yang penting dan mendesak untuk memperoleh warta gembira dariNya. Sebab Ia sendiri adalah Sabda yang telah diutus menyampaikan kabar gembira bagi seluruh umat manusia, bukan hanya melalui kata-kata melainkan juga melalui kesaksian hidupNya (DV art. 4).

  Yesus sendiri sebagai Kabar Baik dari Allah merupakan penginjil pertama dan terbesar. Ia sangat sempurna bahkan bersedia mengurbankan hidup duniawiNya (EN art. 7). Sebagai pewarta kabar baik, Ia sendiri menjadi Kabar Baik bagi orang-orang yang dijumpaiNya, dengan sengsara dan wafatNya di kayu salib Ia menyatakan betapa besar cintaNya pada kita. Sebagai pewarta Kabar Gembira Ia terlebih dahulu menghayati dan mempraktekkan dalam hidup konkretNya dengan mencintai dan mengasihi manusia.

  Sebagai seorang pewarta Injil, Kristus pertama-tama mewartakan Kerajaan Allah (EN art. 8) yang meliputi kerajaan keadilan, kedamaian, persaudaraan, kerukunan dan cinta kasih. Sebagai poros dan pusat Kabar BaikNya Kristus mewartakan pembebasan dari dosa dan kejahatan (EN art. 9). Pembebasan untuk zaman sekarang ini menyangkut pembebasan dari penyakit-penyakit masyarakat antara lain: perjudian, perkelahian, mabuk-mabukan, minum-minuman keras, obat-obat terlarang, perkosaan, perselingkuhan, perampokan/pencurian, penindasan, pembunuhan dan lain sebagainya yang seringkali membelenggu umat manusia. Ia ingin agar semua orang dengan bebas mengenal dan mengasihi Allah, sebab kerajaan dan keselamatan dalam pewartaan InjilNya tersedia bagi setiap manusia sebagai rahmat dan belas kasih Allah. Pewartaan Injil bukan hanya untuk umat Kristiani semata, melainkan juga bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, untuk memperoleh kerajaan dan keselamatan itu tidak mudah tetapi melalui jerih payah dan penderitaan bahkan kita harus mampu menyangkal diri, memikul salib dan juga melalui pembaharuan batin yang menyeluruh yakni perubahan pikiran dan hati yang mendalam (EN art. 10).

  Kisah penciptaan merupakan sejarah keselamatan Allah terhadap manusia yang memuncak dalam diri Yesus Kristus (Kompendium art. 51), sehingga kita dapat mengenal karyaNya yang besar hingga sekarang ini. Sebab dunia diciptakan bagi kemuliaan Allah yang ingin menunjukkan dan mengkomunikasikan kebaikan, kebenaran dan keindahanNya (Kompendium art. 53). Oleh karena itu Allah menghendaki agar seluruh umat manusia mendiami seluruh muka bumi (Kis 17:26) sebab mereka semua dipanggil untuk satu tujuan yang sama yakni Allah. Allah adalah cinta kasih yang menyelamatkan dan membawa manusia pada sikap persaudaraan (GS art. 24).

  Yesus Kristus melaksanakan pewartaan tentang Kerajaan Allah melalui kotbah yang tak kenal lelah (EN art. 11), dengan kata-kata dan perbuatan; tanda- tanda dan mukjizat-mukjizat; lebih-lebih lagi dengan wafat dan kebangkitanNya serta dengan mengutus Roh Kebenaran (EN art. 12) yang kemudian ditanggapi dan dihayati oleh mereka yang dengan tulus mendengarkan dan menerima Kabar Baik yang diwartakanNya. Merekapun berkumpul untuk bersama-sama mencari Kerajaan dan membangunnya serta menghayatinya dalam iman (EN art. 13). Hal ini mau menyatakan kepada kita bahwa Yesus Kristus senantiasa menyertai kita dalam segala hal, dalam sikap dan perbuatan kita maupun dalam tutur kata. Dengan demikian hendaknya kehadiran kita membawa dampak positif bagi orang lain.

  Sabda dan kebenaran akan Yesus Kristus dilanjutkan oleh para rasul dengan semangat yang berkobar-kobar (Kompendium art. 80). Hal ini disadari para rasul sebagai tugas yang sangat mulia dan mereka percaya Allah senantiasa menyertai mereka dalam tugas pewartaan tersebut. Setiap orang yang mau mendengarkan dan menanggapi positif pewartaan Injil telah menghayati iman dalam dirinya, sehingga dengan penuh kesadaran merekapun mengambil bagian dalam karya pewartaan tersebut.

  Menurut Sugiri (1994:12) kata evangelisasi ini berasal dari sejarah kuno, dimana seorang budak dipilih untuk membawa kabar gembira kepada penguasa mengenai kemenangan di dalam peperangan. Ketika ia datang menyampaikan kabar gembira bagi sang penguasa maka ia dianugerahi kebebasan menjadi orang yang “merdeka”. Oleh karena itu, ia berlari dengan kencang sambil menari-nari penuh kegembiraan karena kabar gembira yang dibawanya menghasilkan kebebasan bagi dirinya.

  Bertolak dari sejarah tersebut, kaum awam sebagai orang-orang Kristiani yang dipanggil dan diutus untuk mewartakan Kabar Gembira Kristus serta kemenanganNya atas dosa dan maut, seharusnya mampu berbuat seperti yang dilakukan oleh sang budak tadi. Hendaknya kaum awam dengan semangat yang berkobar-kobar mewartakan Kabar Gembira kepada seluruh dunia. Sebab kemenanganNya itulah yang telah membebaskan umat manusia dari dosa dan menjadikan mereka sebagai anak-anak Allah. Kenyataan akan panggilan setiap umat Kristiani itu melahirkan istilah evangelisasi (Sugiri, 1994:12).

  Oleh karena itu, Gereja yang di dalamnya terdapat banyak anggota termasuk kaum awam pada hakikatnya lahir sebagai kelanjutan dari gerak hati Allah yang berbelas kasih kepada manusia (Darminta, 1997:51). Gerejapun menyadari tugas ini amat mendesak untuk zaman sekarang mengingat situasi zaman yang terus berkembang, sehingga dengan senang hati Gereja menanggapi dan mengambil bagian dalam karya misioner tersebut di tengah dunia, sebab Gereja dalam setiap zaman berfungsi mengarahkan pandangan manusia, menjuruskan kesadaran dan pengalaman manusia kepada misteri Kristus (RM art. 4) karena seringkali manusia bertindak dan berprilaku berdasarkan kehendak mereka sendiri dan mengabaikan kehendak Allah, sehingga mereka berusaha keras membentuk dunia bukan lagi sesuai kehendak Allah melainkan sesuai kehendak mereka sendiri.

  Gereja menyadari bahwa kehadirannya di tengah dunia merupakan kehendak Allah untuk “mewartakan Injil yakni untuk berkotbah dan mengajar, menjadi saluran kurnia rahmat, untuk mendamaikan para pendosa dengan Allah dan untuk mengabdikan kurban Kristus di dalam Misa, yang merupakan kenangan akan kematian dan kebangkitanNya yang mulia (EN art. 14)”. Melalui teladanNya Yesus Kristus telah mewariskan tugas pewartaan Injil tersebut kepada kita sebagai Umat Allah yang tergabung dalam baptisan menjadi anggota Gereja. Sebab Allah sungguh menghendaki agar manusia diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran serta beroleh hidup kekal. PutraNya yang Tunggal diutus ke dunia untuk menyelamatkan, bukan untuk menghakimi (bdk. 1Tim 2:4; Yoh 3:16-17).

  Oleh karena pengetahuan akan kebenaran itulah Yesus Kristus harus diwartakan agar semua orang diselamatkan. Hal ini sesuai dengan perintahNya dalam Matius 28:19 “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”.

  Dari pemaparan di atas, tampak bahwa sejarah evangelisasi itu berawal dari tindakan Allah yang menyingkapkan tentang diriNya sendiri melalui Yesus Kristus yang menyampaikan ajaran cinta kasih melalui kata-kata dan tindakan konkretNya. Penderitaan dan wafatNya di Kayu Salib menunjukkan betapa besar cinta kasihNya terhadap manusia, sehingga pantas menjadi bahan permenungan bagi kaum awam yang sekaligus adalah anggota Gereja yang telah dipanggil dan diutus. Pewartaan akan kebenaran inilah yang kemudian dilanjutkan oleh para rasul dan seterusnya hingga sekarang kita dapat mengenal Allah dan menanggapinya dengan bebas dalam iman. Pewartaan awal yang dimulai oleh Yesus Kristus memiliki peranan penting dan tidak tergantikan karena memperkenalkan umat manusia ke dalam misteri cinta kasih Allah yang memanggil manusia untuk menjalin hubungan pribadi dengan diriNya di dalam Kristus (RM art. 44). Oleh karena itu, hendaknya kaum awam sebagai anggota Gereja secara sadar dan bertanggungjawab meneruskan karya pewartaan Injil yang telah dimulai oleh Yesus Kristus sekaligus ambil bagian dalam perutusanNya.

2. Pengertian Evangelisasi

  Paus Paulus VI menegaskan bahwa evangelisasi berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan dan melalui pengaruh Injil mengubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru. Artinya seseorang yang menerima Kabar Baik ini pertama-tama akan mengalami kebahagiaan dalam hidupnya. Mereka juga mengalami pembaharuan dalam dirinya, baik sikap atau tindakan, kata-kata maupun perubahan batinnya menjadi lebih peka akan kehidupan di sekitarnya, sehingga dengan mudah ia mendengarkan bisikan- bisikan Sabda yang ia terima (EN art. 18). Dalam hal ini, evangelisasi bukan hanya sekedar kata-kata saja melainkan juga peresapan akan nilai-nilai Injil dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga semakin memperkokoh iman agar semakin mengakar, kokoh dan kuat.

  Dalam sidang FABC I di Taipei art. 25 ditekankan bahwa evangelisasi merupakan suatu pelaksanaan tugas Gereja untuk mewartakan Injil Tuhan melalui sabda dan kesaksian. Sabda dan kesaksian zaman sekarang ini sangat relevan dalam pewartaan karena orang-orang lebih membutuhkan tindakan konkret daripada kata-kata. Tindakan konkret melalui teladan hidup, antara lain dengan sikap peduli terhadap sesama terutama yang miskin, menderita dan tersingkir, menghargai dan menghormati, mencintai dan mengasihi orang lain. Sedangkan menurut Sugiri (1995:13) evangelisasi merupakan suatu proses kegiatan pewartaan Kabar Gembira yang dilakukan secara terus-menerus oleh para penginjil baik dalam kata-kata, sikap maupun teladan hidupnya. Sebab penginjilan bukan suatu kegiatan yang diprogramkan dan dilaksanakan sekali saja, melainkan suatu kegiatan yang terjadi terus-menerus melalui proses kehidupan seseorang di dunia ini.

  Evangelisasi dipahami juga sebagai suatu “kegiatan mewartakan Yesus Kristus kepada mereka yang belum mengenalnya, berkotbah, memberikan katekese, baptis dan sakramen-sakramen lainnya”. Melalui kegiatan-kegiatan pengajaran seperti inilah penginjil berusaha memperkenalkan Yesus Kristus dan karya penebusanNya bagi umat manusia dan biasanya pewartaan ini akan diberikan kepada umat Kristiani saja (EN art. 17). Hal ini mau menyatakan kepada kita bahwa pada dasarnya evangelisasi merupakan suatu proses di mana seorang pewarta yang diberi rahmat pengutusan berusaha untuk memperkenalkan Allah kepada orang-orang yang belum percaya dan diselamatkan. Sebab Gereja sendiri telah mendapat tugas khusus tersebut untuk membawa seluruh lapisan manusia pada keselamatan.

  Selain itu, Sugiri (1994:52) kembali menyatakan bahwa evangelisasi merupakan suatu proses yang menentukan perkembangan iman seseorang. Sebab dalam proses evangelisasi ia mengalami perjumpaan dengan Allah dalam pengalaman hidupnya dan semakin merasakan cinta kasihNya. Kebanyakan orang Kristiani adalah baptis bayi maka perlu diberi pemahaman lebih mendalam akan pentingnya penghayatan iman, sehingga melalui pengalaman perjumpaan itu imannya semakin tumbuh dan berkembang, sehingga ia semakin bersemangat untuk bersaksi atas imannya.

  Dalam membagikan pengalaman iman pada orang lain perlu bagi kita untuk menaruh perhatian pada pentingnya komunikasi karena melalui komunikasi yang baik kita dapat saling meneguhkan satu sama lain. Melalui sharing pengalaman hidup sehari-hari kita dapat secara bersama-sama memaknai pengalaman hidup kita dan membawanya pada terang Injil, sehingga kita akan senantiasa siap menghadapi berbagai tantangan hidup yang ada di hadapan kita. Oleh karena itu, mari membangun relasi dan komunikasi yang baik dengan Allah melalui sesama.

  Evangelisasi merupakan suatu proses pertobatan dan penyelamatan terhadap manusia karena dalam evangelisasi manusia diajak untuk mencari dan menemukan Allah melalui pengalaman hidupnya. Yesus sendiri mengalami pertemuan secara mendalam dengan Allah, sehingga Iapun dengan senang hati memberitakan Injil kemanapun, seperti tertulis dalam Luk. 4:43 "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus".

  Pernyataan ini merumuskan misi perutusan Yesus Kristus yang telah diutus untuk menyampaikan Kabar Gembira ke seluruh penjuru dunia. Melalui PutraNya, Allah menawarkan kepada manusia cinta, keselamatan dan pembebasan dari segala hal yang dapat memperbudak manusia dalam kehidupan palsu. Setiap orang menanggapi tawaran keselamatan Ilahi dengan iman, kemudian meneruskan pada sesama dalam kehidupannya supaya semakin banyak orang mengalami cintakasih Allah.

  Dari sekian banyak pemaparan tentang pengertian evangelisasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa evangelisasi merupakan suatu pewartaan atau kegiatan menyampaikan Kabar Gembira kepada seluruh lapisan umat manusia, baik yang beragama Katolik maupun non Katolik, yang berkulit putih atau hitam, yang berambut lurus ataupun keriting. Intinya mewartakan kabar gembira tidak memandang siapa manusianya melainkan bagaimana upaya menyelamatkan manusia tersebut, sehingga orang yang mewartakan dan menerima pewartaan dapat mengalami pertobatan dalam dirinya dan menjadi manusia baru bukan saja dalam sikap dan tindakannya tetapi juga pola pikirnya.

3. Tujuan Evangelisasi

  Kenyataan hidup zaman sekarang menunjukkan bahwa kebanyakan orang, baik yang beragama Katolik maupun non Katolik mengira bahwa evangelisasi merupakan suatu program atau kegiatan yang direncanakan untuk “mengkristenkan” seseorang menjadi anggota Gereja dengan cara membaptis mereka. Pemahaman ini merupakan pemahaman yang keliru dan perlu diluruskan, sehingga menggerakkan saya untuk mempelajari dan mendalami ensiklik

Evangelii Nuntiandi tentang pewartaan Injil di zaman modern ini. Dalam EN art.

  9 dikatakan bahwa pewartaan Injil merupakan suatu upaya pembebasan dari setiap hal yang menindas manusia. Pembebasan artinya melepaskan manusia dari dosa dan kejahatan yang membelenggu, antara lain membebaskan dari kemiskinan, penderitaan, kesedihan, ketidakadilan, kesombongan, kemunafikan, konflik dan percekcokan. Santo Paulus menegaskan dalam suratnya kepada umat Korintus “sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia” (1 Kor 1:17).

  Dalam EN art. 18 dikatakan bahwa yang menjadi tujuan dari evangelisasi adalah perubahan batin. Artinya seseorang diharapkan memiliki suatu perubahan atau perkembangan cara pandang yang baru dalam kehidupannya, ia tidak lagi menggunakan pandangan-pandangan lama yang dapat membekukan hati nuraninya ketika melihat penderitaan, ketidakadilan dan penindasan yang dialami orang-orang di sekitarnya. Dengan mengalami perubahan batin, seseorang menjadi lebih peka dan peduli terhadap sesama yang dijumpainya. Dengan rendah hati ia tergerak untuk menolong mereka, sehingga merekapun mengalami perkembangan dan perubahan diri serta semakin mengalami kegembiraan dalam hidupnya.

  Jika evangelisasi dikatakan sebagai suatu proses pewartaan Kabar Gembira, maka harapan dari pewartaan ini adalah agar orang-orang sungguh mengalami dan merasakan kegembiraan dalam hidupnya. Dengan demikian merekapun mampu menyebarkan kegembiraan itu pada sesama di sekitarnya. Evangelisasi juga bertujuan demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan yakni kerajaan keadilan, cintakasih, persaudaraan dan kebahagiaan.

  EN art. 9 menegaskan bahwa “sebagai poros dan pusat Kabar BaikNya Kristus mewartakan penebusan… hal ini merupakan pembebasan dari setiap hal yang menindas manusia tapi lebih-lebih pembebasan dari dosa dan kejahatan”. Dengan demikian kehadiran Tuhan sungguh dirasakan dan dialami dalam hidupnya. Sebab kerajaan dan keselamatan merupakan kata-kata kunci dalam pewartaan injil Yesus Kristus (EN art. 10). Dengan mengalami kegembiraan dan kebahagiaan, mereka akan hidup dengan penuh damai dan rukun antara satu dengan yang lainnya dalam hidup berkeluarga maupun bermasyarakat. Dengan demikian akan terwujud nilai-nilai Kerajaan Allah yang menjadi tujuan dan harapan bersama untuk mencapai kebahagiaan sejati.

  Sugiri (1994:3) menyatakan bahwa tujuan dari evangelisasi adalah pertobatan. Pertobatan di sini bukan sekedar berkotbah dan ceramah untuk mengajak orang lain bertobat dan harus masuk agama Katolik melainkan pertobatan yang dilakukan seseorang melalui perbuatan baiknya dalam proses kehidupannya sehari-hari.

  Melalui evangelisasi diharapkan agar umat manusia semakin mengalami kasih persaudaraan satu dengan yang lainnya, memiliki sikap mengampuni, berjiwa penolong, mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri dan mencintai serta mengasihi sesama dalam kasih yang menyatukan yakni kasih Allah yang tanpa batas (EN art. 28). Dengan demikian sesungguhnya evangelisasi bertujuan menciptakan “dunia baru” yang mampu menjadi tempat yang damai dan menyenangkan bagi umat manusia, sehingga dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab setiap orang mensyukuri kebaikan Allah dengan caranya masing-masing sesuai dengan iman dan kepercayaannya. Umat manusia senantiasa hidup damai, rukun dan harmonis secara berdampingan dengan berbagai perbedaan yang ada di antara kehidupan mereka.

  Sebab Kerajaan Allah yang diwartakan bukan hanya diperuntukkan bagi sebagian orang saja, melainkan bagi semua orang terutama kepada orang-orang miskin (Luk 4:18). Sebab Yesus Kristus tidak pernah meninggalkan mereka dalam kemiskinannya seorang diri tetapi Ia datang dan bergaul bersama mereka dan turut merasakan penderitaan mereka. Yesus memandang murid-muridNya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk. 6:20). Ia tidak hanya berkata-kata saja, melainkan Ia sendiri datang dan mendekati mereka serta bersantap bersama-sama dengan mereka dan menjadikan mereka sebagai saudara dan sahabat (Luk. 7:34). KehadiranNya di tengah mereka membuat mereka merasa dicintai dan dikasihi Allah (RM art.14). Dengan demikian Kerajaan Allah itu secara perlahan-lahan tumbuh dalam diri setiap pribadi yang menerima dan mengalaminya, sehingga mereka dapat belajar saling mencintai, mengampuni dan melayani satu sama lain. Sebab Yesus sendiri meminta supaya kita saling mengasihi dan mengampuni sama seperti Ia telah mengasihi dan mengampuni kita yang dibuktikan dalam peristiwa paskah (RM art. 15). Dengan mencintai kitapun dicintai, mengasihi kita dikasihi, memberi kita mendapatkan dan mengampuni maka kita akan diampuni.

  Berdasarkan pemaparan di atas maka evangelisasi dapat dilakukan kepada siapa saja dan dengan agama manapun juga sebab sasaran utamanya adalah untuk mempertobatkan orang yang bersangkutan bukan “mengkristenkan”. Bila evangelisasi dilakukan kepada umat Islam, maka diharapkan ia menjadi umat Islam yang taat melaksanakan ajaran agamanya, begitu pula terhadap agama lainnya. Maka, tujuan utama evangelisasi adalah pertobatan yang membawa seseorang mampu menghayati iman dalam hidupnya sesuai dengan agama yang dianutnya. Oleh karena itu, hendaklah evangelisai dilakukan seimbang antara kata-kata dan perbuatan sebagai dasar bagi orang lain untuk mempercayainya.

4. Isi Evangelisasi

  Mewartakan Injil pertama-tama berarti memberikan kesaksian dalam hidup secara sederhana dan langsung mengenai Allah yang diwahyukan oleh Yesus Kristus dalam Roh Kudus (EN art. 26). Allah yang diwartakan tidak terlepas dari kesaksian hidup kita sehari-hari dalam keluarga, masyarakat dan dimanapun kita berada. Dengan demikian cinta kasih Allah semakin nyata dalam tindakan dan perbuatan kita terhadap sesama. Dengan mencintai dan mengasihi sesama, Allah hadir bagi kita sehingga satu dengan yang lainnya adalah saudara.

  Pewartaan Injil akan semakin jelas bila memuat tentang Yesus Kristus, Putra Allah yang menjadi manusia, wafat dan bangkit dari kematian demi menebus dosa manusia. Penebusan tersebut ditawarkan kepada segala manusia sebagai suatu kurnia rahmat dan belas kasih Allah (EN art. 27). Dalam RM art. 5 menegaskan tentang karya, sabda dan paskahNya sebagai suatu kesaksian konkret yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus selama hidupNya, yang banyak memberikan penyembuhan baik rohani maupun jasmani bagi banyak orang. Sebab sabda adalah “terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (Yoh 1:9). Oleh karena itu evangelisasi hendaknya mencakup pewartaan tentang: … harapan akan janji-janji yang dibuat oleh Allah dalam Perjanjian Baru dalam Yesus Kristus, pewartaan tentang kasih Allah kepada kita dan kasih kita kepada Allah. Evangelisasi juga mencakup pewartaan tentang kasih persaudaraan terhadap semua orang, kemampuan untuk memberikan dan mengampuni, penyangkalan diri, membantu saudara dan saudari, yang berasal dari kasih kepada Allah. Merupakan benih Injil. Begitu pula pewartaan misteri kejahatan dan usaha mencari kebaikan secara aktif termasuk dalam evangelisasi. Dan yang selalu mendesak pura pewartaan mengenai mencari Allah sendiri melalui doa, yang secara prinsipial berupa penyembahan dan ucapan syukur, tapi juga melalui kesatuan dengan Allah, yaitu Gereja Yesus Kristus… Penghayatan sakramen-sakramen justru untuk melengkapi evangelisasi (EN art. 28). Kerajaan Allah yang menjadi tujuan dari evangelisasi secara perlahan-lahan tumbuh dan berkembang dalam diri setiap pribadi manusia, sehingga secara tidak langsung merekapun akan belajar mencintai, mengasihi, mengampuni dan melayani satu sama lain. Sebab Allah telah terlebih dahulu mengasihi dan mencintai umatNya, maka sudah sepantasnyalah kita memberikan cintakasih kepadaNya melalui sesama. Kasih Yesus yang begitu besar Ia ungkapkan dalam keputusanNya yakni menyerahkan hidup bagi sahabat-sahabatNya (Yoh. 15:13), yang merupakan wujud dari cinta Bapa kepada dunia dengan menyerahkan PutraNya yang tunggal (Yoh. 3:16).

  Kaum awam perlu menyadari bahwa pewartaan Injil tidak hanya bersifat keagamaan semata melainkan juga bersifat duniawi. Sebab Gereja tidak membatasi perutusannya pada bidang keagamaan dan memisahkan diri dari persoalan duniawi, tetapi bagaimana suatu pesan yang disampaikan dapat menyentuh hidup manusia secara keseluruhan (EN art. 34). Oleh karena itu perlu konkrit, baik dalam kehidupan pribadi maupun hidup sosialnya (EN art. 29). Sebab Ia menyelamatkan manusia bukan satu per satu melainkan umat manusia seluruhnya (GS art. 32). Untuk mewartakan Injil zaman sekarang, hendaknya kaum awam sungguh menyadari dan menghayati panggilan dan perutusannya dengan sepenuh hati serta menanggapi dalam iman dan mewujudnyatakan dalam sikap dan perbuatannya, agar pewartaannya sungguh menyentuh hidup pribadinya sehingga berpengaruh positif bagi orang yang dijumpai.

  “Gereja…mempunyai kewajiban untuk mewartakan pembebasan jutaan umat manusia,…mempunyai tugas membantu lahirnya pembebasan (EN. Art.

  30)”, pembebasan manusia zaman sekarang ini adalah bebas dari penyakit kronis masyarakat zaman sekarang seperti: mabuk-mabukan, perkelahian, perselingkuhan, perjudian, perampokan, pemerkosaan, pergaulan bebas, kemalasan, kemiskinan, buta huruf, ketidakadilan terutama dalam bidang ekonomi dan kebudayaan dan pelanggaran HAM. Manusia juga hendak dibebaskan dari sikap materialisme yang memandang bahwa kesejahteraan itu terletak pada materi belaka (EN art. 32). Pembebasan itu juga termasuk keterbukaan terhadap yang mutlak, bahkan terhadap yang Ilahi yang Mutlak (EN art. 33) dan kebebasan untuk menanggapi Allah karena manusia diberi kebebasan untuk menjawab dan menanggapi Allah dalam hidupnya.

  “Gereja berpendapat…pentingnya membangun struktur-struktur yang lebih manusiawi, lebih adil, lebih menghormati hak-hak pribadi dan tidak begitu menekan dan tidak begitu memperbudak (EN art. 36)”. Pertobatan hati dan pandangan juga menjadi harapan Gereja, sebab seringkali ketidakadilan itu muncul dari hati yang tidak manusiawi. Gereja tidak dapat menerima kekerasan (EN art. 37). Sebab pembebasan yang dimaksudkan adalah pembebasan yang memerdekakan manusia dari penderitaan. Kekerasan sendiri tidak sesuai dengan Injil dan bukan sesuatu yang bersifat Kristiani. Kebebasan menurut Injil yakni kedamaian, kerukunan, keharmonisan dan persaudaraan serta pentingnya menerima pengajaran iman dan pengalaman konkret dalam hidup kita sebagai umat beriman. Pembebasan yang diwartakan oleh evangelisasi dan disiapkannya adalah pembebasan yang diwartakan oleh Kristus sendiri dan diberikanNya kepada manusia dengan pengorbananNya (EN art. 38). Kebebasan agama menduduki tempat yang utama (EN art. 39) karena hidup beragama merupakan urusan pribadi seseorang yang mau menjalin relasi dengan Tuhan. Maka dalam hal ini tidak dianjurkan adanya paksaan dari pihak manapun untuk merekrut seseorang dan memaksanya memilih suatu agama. Yang paling penting adalah mewartakan tentang pembebasan sejati yang telah menyelamatkan dan membebaskan kita dari belenggu dosa yakni Kristus.

  Dengan demikian yang paling utama dan pertama dipikirkan oleh kaum awam sebagai pewarta Injil di tengah dunia adalah memberikan kesaksian mengenai cinta kasih Allah pada sesama. Hendaknya kesaksian yang diwartakan mengikuti teladan Yesus Kristus dengan memberikan cinta kasih yang tulus pada sesama, peka dan peduli terhadap penderitaan orang lain, mau menolong dan mengasihi mereka seperti kita mengasihi diri sendiri. Dengan demikian kita telah menyelamatkan diri sendiri dan orang lain untuk hidup dalam Kerajaan Allah.

5. Bentuk-bentuk Pelaksanaan Evangelisasi

  Evangelisasi zaman sekarang dapat kita lakukan melalui kesaksian hidup suci, hidup seturut teladan Yesus Kristus dengan mencintai dan mengasihi orang lain. Kesaksian hidup sebagai umat Kristiani, penyerahan diri secara penuh pada Allah, membentuk persekutuan yang kuat, kokoh dan semangat yang berkobar- kobar sangat relevan untuk pewartaan Injil zaman sekarang (EN art. 41). Sebab pewartaan yang dilakukan melalui kesaksian hidup akan lebih menyentuh hati setiap orang. Terlebih hidup zaman sekarang orang lebih senang mendengarkan kesaksian yang menunjukkan suatu fakta daripada kata-kata yang tidak sesuai dengan tindakan. Namun bukan berarti kata-kata menjadi tidak penting dalam pewartaan, melainkan suatu kegiatan yang harus dijalankan dengan seimbang. Artinya kita berbicara tentang kebenaran Kabar Gembira yang dapat dilihat dalam sikap dan tindakan kita (EN art. 42). Maka kesaksian hidup suci menjadi sarana utama bagi penginjil yaitu tindakan konkret dari sikap dan tindakan seseorang yang mencerminkan nilai-nilai Injil dalam hidupnya sehari-hari. Oleh karena itu, kaum awam harus menyadari bahwa evangelisasi melalui sikap dan tingkah laku yang mencerminkan diri sebagai orang beriman, hidup sederhana, setia pada Kristus dengan mengamalkan cinta kasih, peduli pada sesama, peka terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan orang-orang di sekitar.

  Kesaksian hidup suci juga ditekankan oleh Sugiri (Sugiri, 1994:24). Sebab setiap umat Kristiani terpanggil untuk memberikan kesaksian iman dalam hidupnya, dengan demikian merekapun akan menjadi pewarta sejati (EN art. 21). Namun kesaksian hidup suci tidak dapat dijalani kalau dalam diri sendiri tidak memiliki “semangat”. Sebab semangat yang tertanam dalam diri akan memberikan inspirasi pada kita untuk selalu berusaha mencari dan menemukan bentuk-bentuk pewartaan Injil yang cocok dan sesuai dengan kebutuhan umat manusia.

  Kotbah juga penting dalam pewartaan Injil sebab orang tidak dapat percaya pada Allah bila tidak mendengarkan tentang Dia. Kotbah ini dapat kita artikan sebagai komunikasi dari pihak pewarta kepada orang lain. Ia berusaha menyampaikan Kabar Gembira dengan berkata-kata agar pesan Injil tersebut dapat sampai dengan baik ( EN art. 42), dengan berusaha memanfaatkan situasi- situasi dan kejadian-kejadian yang terjadi di masyarakat sekitar sebagai bahan renungan dalam liturgi sabda. Pesan Injil disampaikan secara sederhana, jelas, langsung, selaras dengan kebutuhan manusia pada zamannya, bersumber pada ajaran Injil dan setia pada Kuasa Mengajar Gereja. Kotbah seperti ini akan sangat bermanfaat bagi mereka dalam membuka hati menuju pertobatan dan juga menggerakkan mereka untuk meneruskannya (EN art. 43). Dengan mengikuti dan menghayati Perayaan Ekaristi kita semakin dikuatkan dan diteguhkan iman akan Yesus Kristus melalui homili yang menyentuh situasi konkret kita dan pada persatuan umat Allah dalam persekutuannya serta persatuan dengan Allah melalui Tubuh Kristus (hosti). Sebab iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Rm. 10:17).

  Bentuk evangelisasi lainnya adalah katekese. Katekese dapat membantu membentuk pola hidup Kristiani yakni hidup seturut teladan Yesus Kristus yang mencerminkan cinta kasih, kesetiaan, kesabaran dan kepedulian. Katekese akan berhasil bila metodenya disesuaikan dengan usia, kebudayaan dan sikap-sikap pribadi yang bersangkutan. Katekese ini dapat dilakukan oleh katekis di paroki, guru-guru di sekolah dan juga orang tua di rumah dalam keluarga (EN art. 44).

  Pendidikan iman baik di gereja-gereja maupun sekolah-sekolah penting untuk membentuk pola-pola hidup Kristiani khususnya bagi anak-anak dan kaum muda (EN art. 44). Pendidikan iman dapat pula dilaksanakan dalam keluarga oleh para orang tua yang mencerminkan pola hidup Kristianinya, sehingga anak-anak dapat secara langsung meneladaninya. Perlu juga kita sadari bahwa saat ini kita hidup pada zaman yang ditandai dengan media massa serta sarana-sarana komunikasi sosial (audiovisual) yang dapat kita manfaatkan dalam mewartakan Injil agar dapat menjangkau seluruh umat manusia. Perkembangan dan kemajuan zaman ini dapat kita manfaatkan sebagai sarana untuk mewartakan Kabar Gembira bagi sesama (EN art.45) yang mana melalui media tersebut kita mengupayakan suatu metode yang mampu menembus hati nurani setiap orang yang berusaha kita sapa tersebut.

  Juga pentingnya kontak pribadi dengan sesama untuk membantu usaha kita dalam mewartakan Kabar Gembira seperti yang dilakukan oleh para imam dengan kesediaannya dalam membantu, membangkitkan semangat, dan memberi teladan pada umat agar memiliki sikap mau saling tolong-menolong (EN art. 46).

  Evangelisasi diharapkan mampu menyentuh kehidupan manusia seutuhnya yakni melalui sakramen-sakramen yang diterimanya pada saat Perayaan Ekaristi atau liturgi Sabda (EN art. 47) serta tidak mengabaikan “kesalehan yang merakyat” yang dapat menimbulkan kesadaran terhadap sifat-sifat Allah yang mendalam yakni sifat Kebapaan, Penyelenggaraan Ilahi, Kasih dan KehadiranNya yang terus menerus. Sifat-sifat ini dapat kita terapkan pada sesama dalam kehidupan sehari- hari melalui kehadiran kita di tengah keluarga dan masyarakat dengan memancarkan kasih yang membuat mereka merasa tenang, nyaman dan aman, dewasa dalam berpikir dan bertindak, serta peduli pada mereka yang membutuhkan. Kita juga memiliki sikap batin yang mampu memberikan kesejukan bagi orang lain yakni kesabaran, kesadaran akan adanya salib dalam hidup, sehingga tidak mudah goyah dan patah semangatnya, sikap lepas bebas dalam arti tidak merasa memiliki beban sekalipun hidup penuh kekurangan tetapi senantiasa mengandalkan Tuhan dalam kemelut hidup yang dijalani; keterbukaan terhadap orang lain, mau menerima dan menjadi bagian dari hidup sesamanya. (EN art. 48).

  Evangelisasi juga perlu mengupayakan dialog, baik dialog antar umat beriman itu sendiri untuk semakin memperluas wawasan dan memperkokoh iman kepercayaannya maupun dialog antar umat beragama untuk tetap menjalin relasi dan komunikasi yang baik sebagai upaya untuk mewujudkan penegakkan keadilan. Dialog dengan kebudayaan dan juga dialog dengan orang-orang miskin dan terlantar.

6. Manfaat Evangelisasi

  Evangelisasi merupakan dukungan untuk memperdalam, memperkokoh dan memupuk iman kaum beriman agar iman mereka semakin matang dan dewasa dalam beriman. Evangelisasi juga merupakan upaya untuk selalu memberi makanan yang cukup pada iman kaum beriman, lebih-lebih melalui katekese yang bersumber pada nilai-nilai Injil, sehingga setiap orang beriman mengalami pembaharuan dalam hidupnya secara terus-menerus (EN art. 54).

  Evangelisasi dilakukan dengan harapan semua orang dari berbagai suku, budaya, agama dan bangsa dapat menikmati dan menghayati Kabar Baik dalam hidup berimannya (EN art. 49). Sebab pewartaan Injil ditujukan pada semua orang seperti yang dikatakan dalam Injil Mrk. 16:15: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”.

  Dalam EN art. 50 Gereja berseru agar pewarta Injil tidak membelenggu pewartaan Injil dan membatasinya pada salah satu sektor umat manusia atau kelompok orang serta kebudayaan tertentu saja. Hal ini sebagai harapan dari Gereja agar pewartaan Injil dikembangkan secara luas untuk menyelamatkan orang sepenuhnya. Melalui evangelisasi orang-orang yang kurang mendapat kebahagiaan dalam hidupnya akan beroleh kebahagiaan sejati. Sebab evangelisasi mengajarkan pada umat manusia pentingnya sikap saling mengasihi, mencintai dan memperhatikan satu dengan yang lainnya. Dengan demikian setiap orang dapat menikmati kasih Allah dengan bebas tanpa harus meninggalkan jati dirinya (EN art. 51).

  Melalui evangelisasi secara perlahan-lahan manusia diselamatkan dari pengaruh sikap sekularisme yang mengatakan bahwa dunia dapat menerangkan tentang dirinya sendiri dan Allah tidak diperlukan serta ateisme yang berpusat pada manusia sepenuhnya yang menumbuhkembangkan manusia yang konsumtif (EN art. 55). Melalui evangelisasi diharapkan agar orang-orang beragama yang semula tidak mau menjalankan agamanya, dapat menjalani kehidupan beragamanya dengan sepenuh hati dalam kehidupan sehari-hari (EN art. 56).

  Banyak manfaat yang diperoleh dalam evangelisasi, baik bagi penerima maupun pewartanya. Penerima akan mengalami hidup baru, terbuka hati dan pikirannya untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan kepada sesama sesuai dengan agama dan budayanya, hidup dalam perbedaan yang menyatukan, dan menciptakan rasa damai. Pewarta sendiri semakin memupuk iman kepercayaannya, sehingga semakin kokoh dan kuat serta terus menyiraminya dengan tindakan konkret seturut teladanNya.

7. Pelaksana Evangelisasi

  “…mereka yang telah menerima Kabar Baik dan telah dikumpulkan olehNya dalam jemaat yang telah ditebus, dapat dan harus meneruskannya dan menyebarluaskan Injil” (EN art. 13). Sebab tugas untuk mewartakan Injil merupakan rahmat dan panggilan yang khas bagi Gereja (EN art. 14). Gereja adalah umat yang dipanggil Allah secara istimewa, sehingga disebut sebagai Umat terpilih Allah (Iman Katolik, 1996: 332-333). Oleh karena itu, seluruh anggota Gereja adalah misioner dan karya evangelisasi merupakan salah satu tugas mendasar dari umat Allah (EN art. 59). Sebab perintah untuk mewartakan Injil keselamatan diberikan kepada semua orang oleh Kristus melalui perantaraan para rasul yang merupakan orang-orang pertama yang bekerja dalam tugas perutusan universal Gereja (RM art. 61).

  Gereja tersebar ke seluruh semesta dan merupakan Gereja yang universal, tanpa batas-batas atau garis-garis pemisah, kecuali yang berasal dari hati dan pikiran manusia yang penuh dosa (EN art. 61). Walaupun demikian Gereja yang universal dalam prakteknya menjelma di dalam Gereja-gereja setempat (lokal) yang terdiri dari manusia tertentu, bahasa, budaya/tradisi tertentu (EN art. 62), yang mana mereka juga mempunyai tugas yang sama dengan Gereja universal dalam tugas pewartaan Injil. Keduanya memiliki hubungan yang erat, sehingga tetap berjalan sesuai dengan rencana Allah. Oleh karena itu seluruh Gereja dipanggil untuk melakukan evangelisasi yang di dalamnya ada bermacam-macam tugas yang harus dilaksanakan (EN art. 66).

  Dalam ensiklik Evangelisasi Nuntiadi art. 68 dikatakan bahwa: Dalam kesatuan dengan Pengganti Petrus, para Uskup, yang merupakan pengganti Para Rasul, melalui kuasa tahbisan mereka menerima kewibawaan untuk mengajarkan kebenaran yang diwahyukan dalam Gereja. Mereka adalah guru-guru iman… Mereka adalah pendidik-pendidik Umat Allah dalam iman dan pengkhotbah-pengkhotbah, pada saat yang sama sekaligus juga menjadi pelayan-pelayan Ekaristi dan Sakramen-sakramen lainnya.

  Mereka ini telah diberi tugas untuk menjaga dan melindungi Umat Allah termasuk juga mereka di dalamnya dalam kesatuannya serta juga mengumpulkan Umat yang tercerai-berai agar senantiasa hidup damai dan rukun dalam kebersamaan. Adapun kaum religius, mereka menemukan dalam hidup mereka yang terlah dipersembahkan kepada Allah suatu sarana khusus untuk melakukan evangelisasi secara efektif (EN art. 69). Mereka dengan sepenuh hati menyerahkan diri dan hidup mereka pada Allah melalui kesaksian. Kesaksian mereka tunjukan dalam kemurnian, ketulusan dan pengurbanan diri dalam ketaatan. Kesaksian mereka ini sangat berkesan dan memberikan sesuatu yang konkret dalam hidupnya pada semua orang termasuk mereka yang non Katolikpun dapat menyaksikan dan merasakan dampak dari karya mereka. Mereka juga senantiasa meneguhkan sesama melalui keheningan hidup yang mereka jalani dan melalui doa.

  Tugas pewartaan ini juga diemban oleh kaum awam sebagai Umat Allah yang memang menjadi topik utama dalam pembahasan skripsi ini yang ditegaskan dalam EN art. 70 yaitu: kaum awam, yang oleh karena panggilan khusus mereka ditempatkan di tengah-tengah dunia dan diberi tugas-tugas duniawi yang sangat beraneka macam, justru karena alasan-alasan yadi tentu melaksanakan suatu bentuk evangelisasi yang sangat khusus… Tugas mereka yang pertama adalah menggunakan setiap kemungkinan kristiani dan penginjilan yang tersembunyi tetapi sudah ada dan aktif dalam urusan-urusan dunia. Bidang mereka di dalam kegiatan evangelisasi ialah dunia politik yang luas dan kompleks, bidang kemasyarakatan dan ekonomi, tapi juga dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan dan seni, kehidupan internasional, bidang media massa. Juga mencakup kenyataan-kenyataan lain yang terbuka bagi evangelisasi, seperti misalnya cintakasih manusiawi, keluarga, pendidikan anak-anak dan kaum remaja, kerja profesional dan penderitaan. Dunia merupakan tempat bagi kaum awam untuk meneruskan pewartaan Injil yang diperintahkan Yesus Kristus bagi mereka dalam membangun dan menata kembali tatanan kehidupan duniawi yang semakin hari semakin porak-poranda.

  Keluarga juga memiliki peran penting dalam evangelisasi (EN art. 71). Oleh karena itu, keluarga Kristiani yang menyadari tugas panggilannya sebagai “Gereja kecil” akan melaksanakan pewartaan Injil bagi anggota keluarganya, dengan mencerminkan sikap hidup beriman yang berdasar pada perintah Kristus yaitu hidup saling mengasihi dan mencintai; mendampingi dan melindungi, mengasuh motivasi. Dengan demikian anak-anakpun akan melakukan hal yang sama mengikuti teladan orang tuanya, bukan saja dalam keluarga tetapi dalam kehidupan masyarakatnya.

  Kaum muda menjadi pusat perhatian Gereja, karena mereka ini merupakan generasi penerus gereja yang akan melanjutkan pewartaan Kabar Gembira ke seluruh dunia. Oleh karena itu, secara khusus dalam EN art. 72 menyebut kaum muda dan memberikan ruang khusus serta kepercayaan penuh bagi mereka untuk mengekspresikan diri dalam upaya mewartakan Injil sesuai dengan zamannya.

  Namun perlu disadari bahwa pelaksana utama evangelisasi adalah Roh Kudus, sebab tanpa Roh Kudus tidak mungkin ada evangelisasi (EN art. 75).

  Peristiwa Pentakosta menjadi saksi Roh Kudus bekerja atas para rasul yang setelah menerima pencurahan Roh Kudus memulai perjalanannya ke seluruh penjuru dunia untuk meneruskan pewartaan tentang Yesus Kristus dan kebenaranNya.

  Di atas telah disebutkan pelaksana-pelaksana evangelisasi, dimulai dari Uskup dan para pastor, kaum rohaniwan-rohaniwati (religius), kaum awam juga termasuk di dalamnya adalah para katekis, keluarga-keluarga Kristiani, dan kaum muda. Namun sesungguhnya tugas mereka sama yakni menghantar semua orang untuk mencapai Kerajaan Allah yakni keselamatan dan kebenaran akan Yesus Kristus yang membuat mereka bertobat dan meninggalkan kehidupan lama yang penuh dosa dan memulai hidup baru. Baru dalam pikiran, sikap dan tindakannya yang mengarah pada persaudaaran sejati dengan semua orang. Hendaknya para pelaksana evangelisasi ini bekerjasama dalam mengupayakan dan mencari jalan untuk mewartakan Injil yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia dan perkembangan zaman agar pewartaannya dapat masuk dalam hati setiap orang yang dijumpainya (EN art. 73) serta bekerja di bawah naungan Roh Kudus yang senantiasa dicurahkan oleh Allah bagi mereka dan menyertai mereka selalu tanpa mereka sadari. Hendaklah dalam diri para penginjil tertanam kasih yang besar bagi mereka yang menerima pewartaan Injilnya (EN art. 79). Seperti yang tertulis dalam 1 Tes 2:8, yaitu “dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi” serta semangat rohani (EN art. 80).

B. Tantangan Evangelisasi

  Tantangan merupakan segala sesuatu yang akan dihadapi oleh setiap orang dalam mengarungi hidupnya di dunia. Menyadari kehidupan yang semakin hari semakin berkembang dalam banyak hal, kaum awam sebagai pewarta Injil perlu tanggap dan peka terhadap perubahan zaman agar mereka lebih siap menghadapi berbagai tantangan yang dapat menghambat perjuangan mereka dalam mewartakan Injil. Tantangan tersebut tidak hanya datang dari luar diri melainkan juga dari dalam diri sendiri.

  Penulisan skripsi ini akan membahas tantangan-tantangan yang muncul dari dalam dan luar diri yang dapat menjadi penghambat bagi kaum awam dalam mewartakan Injil.

1. Tantangan dari dalam Diri a.

  Perasaan “Takut” dan “Malu” Takut dan malu merupakan hal yang hampir dirasakan oleh setiap orang dalam dirinya. Hal tersebut dapat membawa seseorang pada suatu kebaikan namun dapat juga menjadi penghambat bagi perkembangan pribadinya. Takut di sini menjadi penghambat dalam perkembangan iman seseorang untuk semakin mengenal dan mencintai Allah dengan bebas. Sebagai umat Katolik, seringkali kita merasa takut untuk mengenal Allah lebih dalam. Terlebih kita sebagai kaum awam merasa bahwa kita tidak punya pengetahuan dan pengalaman apa-apa yang dapat kita banggakan sebagai pengikut Yesus Kristus. Kita merasa takut dan malu karena kita tidak dapat hidup suci seperti para kaum religius. Sebab dalam pemahaman kaum awam hidup suci adalah hidup membiara seperti suster, bruder, frater dan pastor. Sikap takut ini seringkali membuat kaum awam tidak melakukan apa-apa dan hanya berdiam diri saja. Kenyataan ini tentu saja sangat bertentangan dengan semangat evangelisasi yang dinyatakan secara tegas oleh Paus Paulus VI dalam EN art. 74 bahwa “… mereka semua yang berkat karisma Roh Kudus dan berkat mandat Gereja, menjadi penginjil-penginjil sejati agar supaya hidup sesuai dengan penginjil ini, untuk melakukannya tidak dengan diam karena ragu-ragu atau takut”. Seruan ini tentu mengingatkan kita, khususnya kaum awam sebagai pewarta sejati di tengah dunia untuk selalu mengandalkan kekuatan Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita dan bukan merupakan pekerjaan kita sendiri.

  Kebanyakan orang zaman sekarang kerapkali diliputi oleh perasaan takut, tertekan, malu dan cemas menghadapi situasi kehidupan saat ini, walaupun dalam dirinya memiliki suatu pengharapan (EN art. 1). Hal ini memang sulit, tetapi kita harus tetap berusaha dan mengandalkan Allah dalam hidup kita untuk melepaskan perasaan-perasaan tersebut karena rasa takut yang berlebihan akan menjadikan kita jauh dari Allah. Selain itu, terkadang juga kita merasa gengsi atau malu mengakui identitas kita sebagai seorang Kristiani di tengah masyarakat karena takut ditolak.

  b.

  Pandangan Negatif terhadap Dunia Dalam EN art. 70 menyatakan bahwa kaum awam mendapatkan panggilan khusus dalam mewartakan Injil di tengah-tengah dunia. Apapun situasi dan kondisi dunia, itulah yang dihadapi mereka dalam tugas pewartaannya. Menghadapi kenyataan dunia zaman sekarang tentu kaum awam merasa itu sebagai suatu tantangan yang amat berat dan sulit untuk dilakukan, namun di sini pula mereka diuji untuk menemukan cara-cara atau metode yang cocok untuk menyampaikan Kabar Gembira kepada umat manusia. Sebab pada dasarnya Allah menciptakan dunia dan segala isinya itu baik. Dari Perjanjian Lama Kej. 1:1-31 kita dapat melihat kisah penciptaan Allah dan pada hari terakhir Allah melihat semua yang diciptakanNya itu sangat baik, sehingga kita tidak dapat mengatakan bahwa dunia itu telah merusak moral manusia melainkan manusia yang tidak dapat mengendalikan dirinya menghadapi pergolakan dunia saat ini. Sebab mereka terlalu buta untuk melihat kebaikan-kebaikan yang diberikan dunia dan hanya mengandalkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hanya untuk kesenangan semata (RM art. 7).

  Seharusnya kita bangga dengan perkembangan dan kemajuan yang dialami dunia saat ini, karena dengan demikian kitapun dapat memanfaatkan kemajuan dan perkembangan yang ada sebagai sarana untuk mewartakan Injil di tengah kekeringan batin manusia saat ini yang disibukkan dengan kegiatan pribadinya.

  Kesalahan terbesar kita adalah kurang kreatif dalam menanggapi dan menghadapi perkembangan zaman. Kurang siapnya kita menghadapi situasi dan perkembangan ini menjadikan kita seperti seorang hamba yang hanya menunggu barang jadi. Akibatnya kita malah seringkali menyalahkan keberadaan dunia saat ini dan menganggap dunia sebagai penghambat bagi kita untuk mencapai kerajaan Allah.

  Seringkali dunia dipandang sebagai penghambat untuk mencapai kekudusan karena adanya anggapan bahwa kekudusan itu hanya akan diperoleh di sekitar altar melalui kegiatan-kegiatan liturgi dan menggereja. Padahal dunia dapat saja menjadi jalan dan ungkapan kekudusan. Dunia memang berada dalam perbudakan dosa tetapi dimerdekakan oleh Kristus yang perlu dikuduskan secara terus- menerus menurut kehendak dan rencana Allah. Sebab kaum awam sendiri dipanggil untuk mencari Kerajaan Allah dengan melibatkan diri dalam peristiwa- peristiwa dan urusan dunia serta menatanya menurut rencana Allah (LG 31).

  Allah sendiri memanggil mereka dan menempatkan mereka secara khusus di tengah-tengah dunia agar mereka dengan segala daya kekuatan dan kemampuannya menata kembali tatanan dunia dengan kapasitas yang mereka miliki (EN art. 70), dan Roh Allah yang menggerakkan semua usaha dan perjuangan umat manusia untuk mencapai kekudusan tersebut. c.

  Kaum Awam Menyatakan bahwa Pelaksana Evangelisasi yang Utama adalah Kaum Religius Dalam kenyataan hidup zaman sekarang ini, masih banyak umat Kristiani yang beranggapan bahwa mewartakan Injil merupakan tugas dan tanggungjawab kaum religius dan orang-orang yang memang bekerja di bidang rohani seperti katekis paroki, guru-guru agama, prodiakon dan para Pembina Iman saja. Menurut mereka percaya pada Yesus Kristus dan mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari minggu saja sudah cukup. Oleh karena itu kaum awam yang tidak memiliki jabatan dalam gereja tidak mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk mewartakan Injil (Martasudjita, 2005:14).

  Seringkali kekudusan itu dikaitkan dengan kehidupan membiara seperti yang dijalani oleh kaum religius. Dengan hidup membiara berarti kita telah menjalankan hidup suci, sehingga kitalah yang pantas mewartakan Injil. Pemahaman sempit inilah yang kemudian diberikan pada kaum religius. Sebab bagi mereka kaum religius merupakan orang-orang suci yang mempunyai kewajiban untuk mewartakan Injil sedangkan kaum awam adalah pendengar. Pemahaman yang sempit ini juga akan mempersempit ruang gerak kaum awam dalam tugas pewartaannya di tengah dunia.

  Banyaknya pemahaman yang keliru dari kaum awam pada umumnya tentang pewartaan Injil membuat mereka acuh tak acuh terhadap perkembangan imannya sendiri dan juga perkembangan iman orang lain. Seringkali mereka juga menjadikan ketidaktahuan mereka sebagai alasan untuk tidak mewartakan Injil.

  Hal ini tentu saja menjadi keprihatinan bagi kita untuk memberikan suatu pemahaman pokok tentang pewartaan Injil pada umat Kristiani agar mereka sungguh menyadari dan memahaminya, sehingga mampu memaknai pengalaman hidupnya dan mengambil bagian dalam pewartaan demi membangun Kerajaan Allah bagi sesamanya.

2. Tantangan dari Luar Diri a.

  Irelevansi Agama dalam Hidup Sehari-hari Ketidakadilan, kekerasan, perpecahan, perang antar agama, pemerasan, perampasasan hak, ketidakpedulian antara manusia yang satu dengan yang lainnya, pemerkosaan dan tindak kekerasan lainnya menjadi fenomena yang tidak asing lagi dalam kehidupan manusia zaman sekarang. Kenyataan ini tentu saja menimbulkan pertanyaan bagi setiap orang apakah pentingnya agama dalam kehidupan zaman sekarang ini? Agama dikatakan sebagai pemersatu umat manusia, tetapi kenyataannya untuk mempersatukan yang seiman saja sulit apalagi mempersatukan yang berbeda agama. Agama tidak dapat menjadi tempat yang damai bagi umatnya karena di dalam persekutuannya tidak dapat lagi dibangun sikap saling menghargai dan menghormati.

  Ketidakadilan menjadi tantangan berat dalam pewartaan kita karena kita sendiri hendak mewartakan tentang keadilan, kebahagiaan, kedamaian dan kerukunan. Namun kenyataannya adalah seringnya terjadi ketidakadilan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, pentingnya kaum awam mengupayakan pewartaan tentang keadilan yang bersumber pada cinta kasih Allah untuk melawan ketidakadilan.

  Tidak jarang orang beranggapan bahwa agama untuk kehidupan zaman sekarang tidak lagi menempati posisi sebagai yang menyelamatkan karena apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Misalnya, walaupun sering berdoa dan terlibat dalam kegiatan gereja namun tetap saja hidupnya menderita dan serba kekurangan. Agama menjadi sumber ketakutan dan kecemasan karena di dalam persekutuannya sering terjadi ketidakadilan, kekerasan, kemunafikan, dan kecenderungan menghakimi orang lain. Terkadang agama menjadi hal yang ritual saja, yang penting hari Minggu ke gereja.

  b.

  Hedonisme Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan, kenikmatan dan materi adalah tujuan utama dalam hidup ini

  . Zaman ini kebanyakan orang berpandangan bahwa hidup hanya satu kali dan harus dinikmati dengan sebaik- baiknya, dengan hidup sebebas-bebasnya dan berfoya-foya yang terpenting adalah dirinya senang. Dalam kehidupan zaman sekarang, tidak jarang kaum awampun menganut paham hedonisme. Hal itu nampak dalam kehidupannya sehari-hari yang bekerja siang dan malam, terkadang mengabaikan keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan, walau telah berkelimpahan sekalipun mereka tetap bekerja tanpa batas waktu untuk terus mengumpulkan uang demi memenuhi kebutuhan yang tak terbatas tersebut. Seringkali karena kesibukan bekerja mereka mengabaikan urusan di tengah masyarakat dan di dalam Gereja.

  Paham hedonisme ini adalah menyamakan kebaikan dengan kenikmatan, sehingga kebanyakan orang zaman ini menyetujui konsep tersebut dan siap untuk mengikutinya serta menempatkan kesenangan dan kenikmatan itu sebagai hal utama yang harus dikejar selama ia masih berziarah di dunia ini. Mereka menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan tidak perlu bersusah payah untuk memperolehnya di surga karena di dunia sudah ditemukan. Oleh karena itu harus segera dinikmati sebelum mereka meninggalkan persiarahannya di dunia ini (http://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=8454).

  c.

  Materialisme Berkaitan dengan paham hedonisme di atas maka tak dapat disangkal pula bahwa paham itu secara tidak langsung membawa manusia pada sikap materialistis, sehingga segala sesuatu yang dihadapi di dunia ini dinilai dengan uang, harta dan kedudukan. Bila ketiga hal tersebut sudah menguasai pikiran setiap orang, maka di antara manusia tidak lagi mempedulikan manusia lainnya apalagi yang lemah, miskin dan tertindas.

  Sesungguhnya harta dapat saja menjadi berkat bagi mereka yang menerimanya dan dipergunakan dengan baik, namun kenyataannya harta seringkali menjadi bencana karena banyak orang yang berpandangan bahwa uang adalah kunci kebahagiaan dan jaminan hidup bahagia. Dengan memiliki banyak uang banyak pula kebahagiaan yang diperolehnya, sehingga merekapun berlomba- lomba untuk memperolehnya dengan cara cepat, entah dengan berjudi, memeras, merampok ataupun korupsi.

  Injil Lukas 12:15 mengatakan bahwa "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu”. Di sini Yesus Kristus mengingatkan kita melalui Lukas akan kekeliruan kita yang beranggapan bahwa harta adalah jaminan hidup kita sekarang dan seterusnya. Tanpa kita sadari harta membuat hidup kita menjadi tidak aman dan tidak bahagia karena selalu diliputi perasaan khawatir dan terancam bahaya perampokan. Tak jarang kita dipaksa meninggalkan kebersamaan dalam keluarga dan mengabaikan pendidikan anak- anak demi mengejar harta (Abraham, 2006: 25-27). Sebab manusia serakah tidak lagi mempedulikan keutuhan ciptaan, kejujuran dan kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Dalam situasi seperti ini banyak orang yang tidak lagi memikirkan tujuan utama hidupnya untuk memperoleh Kerajaan Allah di sorga melainkan ia menganggap telah menemukan kerajaan itu di dunia dengan menikmati hidup secara mewah serba berkecukupan, karena bahagia menurut penganut materialistis adalah hidup serba berkecukupan.

  Kenyataan yang tidak dapat dihindari pula adalah bahwa manusia itu selalu ingin memiliki segala sesuatu yang dianggap dapat membuat hidupnya bahagia dan seringkali hanya bersifat duniawi semata, sehingga melupakan hal rohaninya (GS art. 10). Oleh karena itu, sangat penting sekali kaum awam sungguh-sungguh menyadari keberadaan mereka di dunia ini hanya sementara, dengan demikian merekapun dapat menjalani hidup mereka dengan lebih baik dan mengikuti teladan Yesus Kristus. Seringkali yang kita pikirkan dalam kehidupan kita adalah materi, sehingga dengan segala kemampuan kita berupaya untuk mendapatkannya dan terkadang mengabaikan Tuhan dalam kehidupan kita. Sikap ini menunjukkan sikap materialisme dalam diri kita dan jemaat-jemaat lainnya, yang telah dipengaruhi oleh keinginan-keinginan duniawi semata. Hasrat yang besar itu menjadikan kita lupa, bahwa ada Dia yang telah dengan rela meninggalkan segalanya demi kita yang dicintai dan dikasihiNya. Oleh karena itu, hendaknya kaum awam menyadari diri sebagai yang diutus olehNya untuk hadir di tengah dunia dan membuka jalan bagi orang lain agar tidak terlampau terlena dengan kenikmatan sesaat yang ditawarkan oleh dunia saat ini. Kehadiran kaum awam diharapkan memberi terang kehidupan pada setiap orang yang dijumpainya. Hendaklah kaum awam menyadari bahwa Tuhanlah pemilik segala sesuatu dan harta yang kita miliki merupakan anugerah dan titipan Allah (Abraham, 2006:27).

  Kekayaan, harta atau materi memang merupakan kebutuhan bagi umat manusia, namun bukan yang utama. Dalam Luk. 3:12-14, penginjil mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus memiliki dan mendapatkan materi dalam hidup kita. Janganlah kita menjadi serakah dan ingin memiliki lebih dari yang seharusnya kita peroleh. Mengikuti Yesus Kristus berarti kita siap pula mengikuti teladan dan semangat “miskin” dalam diriNya. Sebab harta atau kekayaan merupakan godaan yang sangat kuat bagi kita, sehingga tanpa sadar kita akan lupa pada tujuan hidup yang utama.

  Hal-hal di atas dapat dikatakan sebagai tantangan zaman karena melihat situasi hidup yang dijalani kebanyakan orang Kristiani zaman sekarang tidak lagi mencerminkan mereka sebagai seorang Kristiani. Sebagai kaum awam kita seringkali tergoda dengan hal-hal yang bersifat duniawi semata. Kita dapat melihat kehidupan zaman sekarang yang tidak lagi mempedulikan orang lain, penderitaan, kelaparan, ketidakadilan, peperangan, terorisme, pembunuhan, perkosaan, pengguguran dan lain sebagainya yang mewarnai kehidupan kita saat ini. Sebagai pewarta yang telah dipanggil dan diutus secara istimewa di tengah dunia, kita harus tanggap dan terlibat dalam penataan dunia menjadi lebih baik sesuai dengan kehendak Allah.

  Hendaklah kita menghindari budaya materialistis yang dapat menjadikan kita sebagai manusia konsumtif. Tetapi baiklah sekarang ini kita belajar untuk melihat ke sekeliling kita, karena di situlah kita akan menemukan kebahagiaan sejati bersama sesama. Kita berkelimpahan bukan hanya untuk diri sendiri melainkan bagi Allah dalam sesama (Ams. 3:9-10). Dalam pewartaan Injil tentu kita menghadapi berbagai macam tantangan, namun tantangan tersebut harus kita hadapi sebagai salah satu bentuk pendewasaan iman kita.

  

BAB III

GAMBARAN UMUM KETERLIBATAN KAUM AWAM

DALAM EVANGELISASI DI WILAYAH BUSUR

PAROKI KRISTUS RAJA BARONG TONGKOK

Dalam bab II telah dipaparkan mengenai pokok-pokok evangelisasi yang

  didasarkan pada dokumen EN dan RM serta pandangan para ahli. Selanjutnya pada bab III ini penulis memaparkan data faktual tentang gambaran keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi. Untuk memperoleh gambaran tersebut, maka penulis mengadakan penelitian lapangan di Wilayah Busur Paroki Kristus Raja Barong Tongkok.

  Penulis membagi bab ini menjadi tiga bagian pokok pembahasan. Bagian pertama membahas kaum awam sebagai pelaksana evangelisasi yang meliputi: pengertian kaum awam, kedudukan awam dalam Gereja, bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi dan spiritualitas kaum awam. Bagian kedua penulis memaparkan secara singkat gambaran umum paroki yang meliputi: sejarah paroki, visi-misi paroki, letak geografis dan situasi umat Katolik di Paroki.

  Gambaran tentang paroki penulis pandang penting karena berhubungan langsung dengan wilayah Busur sebagai umat kaitannya dalam upaya memperkembangkan iman umat. Bagian ketiga memaparkan gambaran umum wilayah Busur yang meliputi: lingkungan St. Christoporus Busur dan St. Paulus Busur dan bagian keempat penelitian tentang keterlibatan kaum awam di dalam evangelisasi.

A. Kaum Awam sebagai Pelaksana Evangelisasi 1. Pengertian Kaum Awam

  Kata “awam” berasal dari kata Yunani laikos, yang berarti orang atau bangsa. Dalam Kitab Suci Yunani (Septuaginta), kata laikos menunjuk “orang/bangsa pilihan”, yang membedakan mereka dari “bangsa-bangsa kafir dan asing” (bahasa Hibrani: Goyim; Yunani: Ethne). Pengertian tersebut tentunya mengarah pada kenyataan: “Orang atau bangsa baru yang dikuduskan Allah untuk diriNya sendiri di dalam Roh Kudus; orang atau bangsa baru yang percaya pada Yesus Kristus, dipersatukan denganNya melalui pembaptisan”. Maka, laikos berarti orang-orang yang tergolong pada bangsa baru ini, anggota-anggota Gereja, termasuk para Uskup dan Imam. Namun pada perkembangannya, makna laikos dibatasi hanya untuk orang-orang Katolik biasa yang tidak menerima tahbisan imamat dan bukan anggota religius (Tondowidjojo, 1990: 16).

  Konsili Vatikan II menegaskan arti awam menunjuk suatu martabat luhur karena anggota Umat Allah digabungkan dengan Kristus. Arti kata “awam” dimaksudkan untuk semua umat Kristiani yang digabungkan dengan Kristus dalam permandian, dilantik sebagai Umat Allah (LG art. 31). Pernyataan ini ditegaskan dalam KHK kan. 204 § 1 bahwa: kaum beriman Kristiani ialah mereka yang melalui baptis diinkorporasi pada

  Kristus, dibentuk menjadi Umat Allah dan karena itu dengan caranya sendiri mengambil bagian dalam tugas imami, kenabian dan rajawi Kristus, dan sesuai dengan kedudukan masing-masing dipanggil untuk menjalankan perutusan yang dipercayakan Allah kepada Gereja untuk dilaksanakan di dunia. Tugas inilah yang diwariskan kepada Gereja dan dilanjutkan oleh Gereja di dunia, sebab Gereja adalah Umat Allah (Kompendium art. 153). Mengambil bagian dalam tugas imam yakni selalu dekat dengan Allah dan percaya padaNya serta tahu bersyukur atas rahmat Tuhan dalam hidup. Hal ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam doa, ibadat, mendengarkan Sabda Allah dan Perayaan Ekaristi sebagai puncaknya. Sedangkan mengambil bagian dalam tugas nabi merupakan keyakinan akan Allah sebagai sumber kegembiraan yang diwartakan kepada seluruh umat manusia yang dapat diwujudnyatakan dalam sikap dan keteladanan hidup Kristiani. Tugas raja dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pelayanan terhadap sesama. Kita dapat menghayati iman di tengah kehidupan sehari-hari dalam keluarga, masyarakat/lingkungan maupun di tempat kerja dengan memberikan kesaksian bahwa Tuhan hadir membawa kebahagiaan bagi kita semua (Pedoman Dewan Pastoral Stasi, 2005:6).

  Sebagai umat Allah yang memiliki panggilan yang khas di tengah dunia dan telah dipersatukan dengan Tuhan melalui baptisan, kaum awam dapat mengambil bagian dalam tugas Kristus sesuai dengan kemampuannya masing-masing yang tetap mengarah pada pencapaian Kerajaan Allah. Kaum awam menerima tugas serta haknya untuk merasul berdasarkan persatuan mereka dengan Kristus Kepala Gereja. Sebab mereka disaturagakan dalam tubuh mistik Kristus melalui baptisan (AA art.3). Pewartaan ini dimaksudkan agar orang yang mendengar dan melaksanakan dalam tindakannya beroleh keselamatan.

2. Kedudukan Kaum Awam dalam Gereja

  Gereja adalah umat Allah yang di dalamnya terdapat banyak anggota, baik awam maupun religius. Dalam keanggotaannya mereka dipersatukan dalam Yesus Kristus yang ditegaskan dalam Rm. 12:4-5 bahwa dalam satu tubuh, kita memiliki banyak anggota dan tiap-tiap anggota memiliki tugasnya masing-masing. Untuk itu kaum awam diharapkan dapat mewujudkan iman Kristianinya dengan terlibat aktif dalam kehidupan masyarakat dengan cara hidup rukun, damai, penuh cinta kasih, suka menolong dan menghormati perbedaan (Hardawiryana, 1983: 375).

  Tugas kaum awam untuk mewartakan Injil pada dunia merupakan panggilan yang khas bagi Gereja (EN art. 14). Mereka telah dipanggil dan diutus oleh Kristus untuk bekerja di kebun anggurNya (Meo, 2002:32) untuk menyelamatkan dan menata kehidupan dunia sesuai kehendak Allah yakni hidup damai, rukun, bahagia, penuh persaudaraan dan cinta kasih satu dengan yang lainnya. Amanat Yesus Kristus kepada setiap pribadi “Pergilah kamu juga ke kebun anggurku...” (Mat. 20:4) merupakan panggilan dan perutusan yang dialamatkan bagi setiap pribadi, baik kaum awam maupun klerus diundang untuk bekerjasama sebagai rekan kerja Allah. Dengan demikian kedudukan kaum awam dalam Gereja bukanlah sebagai penghias altar atau karena kekurangan pastor semata, melainkan tugas dan panggilan khas dari Kristus melalui pembaptisan dan sakramen- sakramen yang diterimanya.

3. Bidang-bidang Keterlibatan Kaum Awam dalam Evangelisasi

  Pelaksanaan evangelisasi tidak terbatas pada tempat-tempat tertentu saja, tetapi dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Evangelisasi dapat dilaksanakan di rumah, lingkungan tempat tinggal, dalam pekerjaan, tempat rekreasi atau dalam Gereja/paroki (Sugiri, 1994:23). Kita dapat melaksanakan pewartaan melalui kesaksian dalam sikap dan tindakan sebagai orang beriman, yang dapat diteladani dan dijadikan sebagai landasan atau dasar untuk mempercayai pewartaan kita. Dengan demikian pewartaan tersebut bukan sebagai pewartaan yang mati, melainkan pewartaan yang sungguh hidup dan telah kita hidupi dalam diri kita. Melalui kesaksian ini, kita memiliki harapan bahwa orang yang melihat dan mendengarkan kita, mengalami perubahan sikap dan pandangan hidup yang baru serta semakin memperteguh imannya dengan sikap tobat.

  Kaum awam tidak diragukan lagi dalam mewartakan Injil, justru keterlibatan mereka sangat diharapkan baik dalam bidang liturgia, diakonia,

  

koinonia, kerygma dan martiria yang tetap memiliki kaitan dalam bidang

  kehidupannya di tengah dunia. Keterlibatan kaum awam dalam bidang liturgi antara lain ikut dalam kegiatan koor, dirigen, lektor, solis maupun kegiatan- kegiatan lain yang dilakukan dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan (Kan. 230 § 1, 2 dan 3). Liturgi merupakan penghayatan iman sekaligus ungkapan syukur atas kehidupan yang dianugerahkan Tuhan, kemudian diungkapkan dalam persekutuan (communio). Sebab liturgi bukan suatu perayaan perseorangan melainkan perayaan bersama umat beriman sebagai umat Allah. Di dalam kebersamaan itulah iman umat diungkapkan dan dihayati secara bersama agar mengalami cintakasih dan pengharapan.

  Pelayanan kaum awam tidak terbatas dalam bidang Gerejani semata namun mencakup seluruh bidang kehidupan yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Kaum awam dapat senantiasa meneguhkan iman Kristianinya dalam liturgi suci, mengungkapkan dalam persekutuan dengan sesama kemudian menjadi pelaksana melanjutkan pewartaan Injil kepada sesama dengan terlebih dahulu melaksanakannya dalam kehidupannya.

4. Spiritualitas Kaum Awam

  Kata spritualitas melukiskan sikap-sikap yang mempengaruhi kehidupan seseorang yang berkaitan dengan yang rohani dalam menanggapi yang jasmani.

  Perhatian utama spiritualitas adalah membangun relasi atau hubungan yang akrab dengan yang Ilahi. Dengan demikian pemahaman spiritualitas akan melahirkan sikap menghargai perbedaan, mencintai sesama, dan mengalami kehadiran Allah dalam diri sesama. Dalam hal ini, ada tiga dimensi spiritualitas kaum awam yaitu: mengikuti Kristus sebagai muridNya, menghidupkan dengan setia identitasnya sebagai orang Katolik yang dewasa dan berada bersama Kristus di dalam dunia.

  Mengikuti Kristus berarti siap meninggalkan kepentingan diri sendiri dan mengikuti Dia, sebab di dalam Dialah kita menghasilkan buah (Yoh 15:4-5).

  Dimensi yang kedua mengajak kaum awam untuk menyadari diri seutuhnya sebagai pribadi beriman yang dewasa, matang dan mampu mempertanggungjawabkan imannya di tengah dunia yang senantiasa mengalami perubahan. Sedangkan dimensi ketiga mengajak kita semua untuk menyadari keberadaan kita dalam dunia ini sebagai suatu berkat dan selalu menjadikan Kristus yang utama dalam hidup kita. Kita diajak untuk siap sedia menjadi tanda dan sarana kehadiran Kristus dalam dunia. Oleh karena itulah, kaum awam dipanggil untuk menyerupai Kristus dengan memenuhi tugas dan tanggungjawabnya mewartakan Injil dengan cara hidup mereka masing-masing yang meliputi segala bidang kehidupannya di dunia (Meo, 2002: 59-76). Sebagai murid kita mengikuti Kristus dengan setia walaupun banyak tantangan yang kita hadapi. Dengan semangat kesetiaan, kita mampu terus menjalani hidup di tengah dunia dengan harapan akan memperoleh keselamatan yang dijanjikanNya.

  Kotbah di bukit membuka hati kita untuk melihat dan menyadari serta merenungkan cita-cita dan harapan Yesus Kristus yang bukan hanya bagi para rasul saja melainkan juga bagi semua orang dan untuk segala zaman. Harapan itu juga menjadi harapan kita agar manusia-manusia lama dapat memperbaharui diri dan menjadi manusia baru untuk hidup suci seturut teladan Yesus Kristus (Mat. 5:1-12). Oleh karena itu, hendaknya kehadiran kaum awam di tengah dunia mampu menjadi garam dan terang bagi sesama yang dijumpainya. Garam yang senantiasa menjaga supaya kehidupan umat manusia tetap segar, tumbuh dan berkembang serta senantiasa menjadi terang yang memancarkan cahaya bagi sesama supaya mereka dapat melihat kebaikan-kebaikan Allah dalam perbuatan baiknya (Mat. 5:13-16). Hal ini menunjukkan betapa besar peranan Roh Kudus yang senantiasa menyertai hidup kita, seperti nampak dalam peristiwa pentakosta, sebab para murid dipenuhi Roh Kudus dengan lidah-lidah api (Kis. 2:1-12) yang pantas menjadi landasan dalam meneruskan pewartaan Injil dalam hidup kita.

  Sebagai kaum beriman Kristiani, hendaknya kaum awam sungguh menyadari dirinya yang telah dipanggil dan diutus secara istimewa di tengah dunia untuk mewartakan Injil dalam kehidupannya. Dengan kesadaran tersebut, kaum awampun dapat dengan sungguh-sungguh menghayati perannya sebagai pewarta Injil dan siap sedia mengikuti teladan Yesus Kristus serta semangat menjalani pewartaan dalam hidupnya.

  Semangat yang perlu dimiliki adalah semangat miskin, menguduskan dunia, menyempurnakan dunia, menghayati perkawinan dan penuh pengharapan.

  Semangat miskin akan mengantar kaum awam pada sikap penuh syukur atas apapun yang dialami dan diperoleh dalam menjalani hidupnya (Evely, 1973: 15).

  Melalui persekutuannya dalam Perayaan Ekaristi kaum awam menguduskan dunia, sebab Allah hadir dalam persatuan yang berlandaskan iman dan cinta.

  Perayaan Ekaristi merupakan pernyataan syukur seluruh umat beriman atas rahmat yang diperoleh dalam hidupnya (Evely, 1973:26). Kaum awam dapat menyempurnakan dunia dengan perbuatan baiknya (Evely, 1973:37). Hendakanya cintakasih pasangan suami-istri selalu bersumber pada cintakasih Allah yang diungkapkan terhadap pasangannya (Evely, 1973: 50) dan selalu menaruh harapan akan keselamatan yang dijanjikan Allah pada semua manusia. Sebab kepercayaan dan keyakinan yang teguh disertai tindakan konkrit dalam mewujudkan cinta Allah dalam hidupnya, maka keselamatan itu akan terpenuhi (Evely, 1973: 82).

  B. Gambaran Umum Paroki Kristus Raja Barong Tongkok

  Penulis membagi pembahasan mengenai gambaran umum paroki menjadi dua bagian pokok pembahasan. Bagian pertama memaparkan tentang sejarah singkat paroki, letak geografis paroki, visi misi paroki dan situasi umat Katolik pada umumnya. Bagian kedua menguraikan tentang gambaran umum wilayah Busur meliputi lingkungan St. Christoporus Busur dan St. Paulus Busur tempat penulis mengadakan penelitian.

1. Sejarah Paroki Kristus Raja Barong Tongkok

  Dalam menguraikan sejarah paroki, penulis menggunakan sumber dari Buku Kenangan HUT paroki yang ke-70 karena buku ini berisi tentang awal berdiri paroki hingga sekarang. Sejarah Gereja Katolik di Kalimantan Timur yang dimulai tahun 1907 di Desa Laham mengutamakan pendidikan dan kesehatan karena suku-suku Dayak di pedalaman belum mendapat perhatian dari pemerintah. Tahun 1929 pusat Misi dipindahkan dari Laham ke Tering dengan program yang sama. Tahun 1936 diadakan perluasan wilayah untuk berkarya karena di Tering kelebihan tenaga pastornya. Maka dipilihlah Dataran Tunjung dengan pastor M. Schoots, MSF sebagai pastor pertama yang diangkat oleh pastor M. Gloudemans, MSF. Pada tanggal 14 April 1936 pastor M. Schoots, MSF mengadakan turney pertamanya selama 3 minggu dengan berjalan kaki. Beliau mendapat kesan yang baik dari umatnya dan ia sempat mempermandikan beberapa orang dalam sakrat maut. Kunjungan Mgr. H. Valenberg (Administrator Apostolik) pada bulan Februari 1937 amat mendukung dibukanya Misi di Dataran Tunjung dengan pusat di Barong Tongkok. Tanggal 20 Juni 1937 pastor M. Schoots, MSF mengunjungi Raden Amojoyo (camat Melak) untuk meminta ijin membuka paroki dan sekolah, dan ia diberi ijin. Tanggal 3 Agustus 1937 pastor J.

  Romeijn, MSF (kepala MSF), pastor M. Schoots, MSF (pastor paroki) dan pastor

  A. Gielens, MSF (pengawas sekolah-sekolah katolik) mengunjungi Barong Tongkok dari Melak untuk meneruskan batas tanah bangunan pusat Misi yang juga disetujui oleh Residen Tenggarong dan mengeluarkan “Perjanjian Sewa”

  

(Huurovereenkomst) . Setelah mendapat persetujuan tersebut, mulailah Misi

  membangun. Pada tanggal 28 Desember 1937 pastor M. Schoots, MSF pindah ke Barong Tongkok dan mulai saat itu berdirilah paroki Barong Tongkok yang meliputi seluruh daerah Tunjung. Sebagai pelindung pastor memilih nama “Kristus Raja” dengan harapan bahwa Kristuslah yang merajai daerah tersebut.

  Pastor-pastor yang pernah berkarya di paroki “Kristus Raja” Barong Tongkok, adalah pastor M. Schoots, MSF (1936-1939 dilanjutkan 1948-1953), Pastor J. Romeijn, MSF (1939-1952), pastor J. Wiegers, MSF (1950-1954 dilanjutkan 1953-1965), pastor F. Huneker, MSF (1952-1954 dilanjutkan 1960- 1961), pastor Padberg, MSF (1953-1954 dilanjutkan 1959-1961), Pastor J. Spitters, MSF (1953-1954), pastor L. Bernsend, MSF (1954-1959 dilanjutkan 1961-1962), pastor H.v. Sombroek, MSF (1962-1964), pastor W. Tax, MSF (1964-1965), pastor M. Coomans, MSF (1965-1969), pastor H.v. Kleijnenbreugel (1965-1993), pastor P. Sinnema, MSF (1993-2005) dan pastor Andy Savio Mering, MSF thn. 2005-2007 kemudian digantikan oleh pastor Cahyo Yosoutomo, MSF tanggal 1 Desember 2007 sampai sekarang.

  2. Visi-Misi paroki Kristus Raja Barong Tongkok

  Paroki Kristus Raja Barong Tongkok merupakan salah satu paroki yang bernaung di bawah kepemimpinan Uskup Keusukupan Agung Samarinda.

  Sebagai paroki yang cukup jauh jaraknya dari Keusukupan, maka paroki ini diharapkan lebih mandiri dalam memperkembangkan iman umat. Oleh karena itu paroki perlu memiliki visi dan misi yang jelas dan tetap berhubungan dengan visi misi dari Keuskupan. Visi Gereja Keuskupan Agung Samarinda adalah “Gereja yang mengikuti Yesus Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dan hidup dari Ekaristi Kudus”. Misi untuk mewujudkan visi tersebut adalah “Menghadirkan Kerajaan Allah, baik ke luar maupun ke dalam”. Untuk mendukung terwujudnya visi misi tersebut, dirumuskanlah arah pastoral yakni “Gereja lokal Keuskupan Agung Samarinda menuju kemandirian tenaga dan dana, serta kedewasaan iman umat” (Pedoman Dewan Pastoral Stasi Keuskupan Agung Samarinda).

  3. Letak Geografis paroki Kristus Raja Barong Tongkok

  Paroki Kristus Raja Barong Tongkok berada di dataran tinggi Tunjung tepat di pusat kota kabupaten Kutai Barat yang berjarak sekitar 300 km dari kota Samarinda tempat Keuskupannya berada. Paroki ini berada di tengah perkampungan masyarakat karena di sekitarnya terdapat rumah-rumah penduduk.

  Di sebelah Timurnya terdapat SD Katolik dan di sebelah utaranya terdapat gedung SMP Katolik. Gereja Kristus Raja Barong Tongkok berada di pusat kota dan mudah dijangkau oleh umat karena berada di pinggir jalan persimpangan antara jalan menuju ke Melak dan menuju ke Busur ataupun Simpang Raya.

4. Situasi Umat Katolik di Paroki Kristus Raja Barong Tongkok

  Dalam menguraikan situasi umat di paroki, penulis menggunakan sumber dari data umat paroki Kristus Raja Barong Tongkok. Umat Katolik di paroki Kristus Raja Barong Tongkok secara keseluruhan berjumlah 7.406 orang sedangkan jumlah KK keseluruhan berjumlah 1952 KK. Jumlah umat yang cukup banyak ini terdiri dari 21 stasi yang berada di luar kota dan 3 wilayah yang berada di dalam kota. 3 wilayah yang berada dalam kota yaitu wilayah Sentrum, wilayah Busur dan wilayah Simpang Raya. Sedangkan 21 stasi yang berada di luar kota yaitu stasi Ombau, Geleo, Bohoq, Mencimai, Eheng, Terajuk, Temula, Sembuan, Dempar, Keay, Tepulang, Jengan Danum, Lumpat Dahuq, Muara Tokong, Benung, Engkuni-Pasek, Samarinda 2, Asa, Juaq Asa, Gesaliq dan Sentalar.

  Melihat jumlah umat secara keseluruhan dan stasi yang banyak dengan jarak yang cukup jauh antara stasi-stasi tersebut dengan paroki amat memprihatinkan karena tenaga yang ada di paroki tidak sebanding dengan jumlah umat dan stasi yang ada. Di paroki hanya ada 1 pastor paroki, 1 frater dan 1 bruder. Tentu tenaga yang sedikit ini tidak mampu melayani umat secara penuh. Biasanya yang memberi pelayanan ke stasi-stasi di luar kota adalah frater atau bruder dan kadang juga pastor paroki. Kegiatan yang biasanya dilakukan di paroki antara lain misa mingguan di paroki dan ibadat sabda di stasi-stasi, misa jumat pertama dilanjutkan salve, misa pada jumat pertama juga dilaksanakan bagi sekolah-sekolah (SD, SMP dan STM), kursus persiapan perkawinan (KPP), sekolah minggu, latihan koor, doa kelompok misdinar, komunitas kaum muda (komka), pendalaman iman bagi pasangan suami-istri (pasukris). Ada juga kegiatan tidak rutin yang biasanya dilaksanakan sesuai kebutuhan paroki atau pada hari raya (Data Umat Paroki Kristus Raja Barong Tongkok).

  C. Gambaran Umum Wilayah Busur

  Wilayah Busur merupakan wilayah yang cukup dekat dengan paroki dan berada di pusat kota Barong Tongkok. Umat yang ada di wilayah Busur cukup bervariasi karena berasal dari berbagai suku seperti Dayak Tunjung, Benuaq, Bahau, Penihing; Jawa dan Toraja. Kegiatan-kegiatan seperti doa rosario, pendalaman Kitab Suci, kelompok koor berjalan cukup baik walaupun tidak semua umat terlibat. Wilayah ini terbagi menjadi dua lingkungan yakni lingkungan St. Christoporus Busur dan St. Paulus Busur.

  Untuk memperoleh data mengenai keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi, penulis melakukan penelitian dengan metode wawancara terhadap sepuluh orang responden di wilayah Busur. Adapun pemilihan responden, penulis dibantu oleh salah satu umat yang aktif dalam kegiatan paroki maupun lingkungan dan juga masuk dalam kepengurusan bidang liturgi. Hal ini sangat membantu penulis karena beliau mengetahui gambaran umum umat di Wilayah Busur, sehingga untuk memperoleh data penulis merasa sangat terbantu dan tidak mengalami kesulitan. Pembahasan mengenai lingkungan St. Christoporus Busur dan St. Paulus Busur penulis uraikan sebagai berikut.

1. Lingkungan St. Christoporus Busur

  Lingkungan St. Christoporus Busur adalah salah satu Lingkungan bagian dari wilayah Busur. Letak Lingkungan ini dengan pusat paroki cukup dekat, karena berada di pusat kota dan mudah dilalui oleh kendaraan umum. Umat di lingkungan St. Cristoporus Busur berjumlah 50 KK atau kurang lebih 250 jiwa.

  Umat yang tinggal di Lingkungan ini sebagian besar penduduk asli yakni Dayak Tunjung. Di sini banyak juga terdapat warga pendatang yang berasal dari berbagai suku antara lain Dayak Benuaq, Bahau, Penihing, dan Jawa. Meskipun lingkungan ini sudah bercampur antara penduduk asli dan pendatang tapi kehidupan sosialnya cukup aman dan tentram. Dalam mengadakan kegiatan Lingkungan seperti doa rosario atau pendalaman Kitab Suci umat cukup terlibat aktif, namun sebagian orang saja. Kebanyakan umat tidak aktif terlibat karena kesibukan mereka bekerja, baik sebagai PNS maupun sebagai petani.

  Pengurus lingkunganpun mengakui kenyataan ini, bahwa kesibukan membuat umat tidak memiliki banyak waktu untuk terlibat dalam kegiatan baik di lingkungan maupun di paroki. Biasanya yang banyak terlibat adalah kaum muda sedangkan para orang tua hanya beberapa orang saja yang aktif dan mau terlibat.

  Beliau juga menyatakan bahwa kebanyakan umat masih belum terlalu memahami makna dari pewartaan itu sendiri dan menganggap bahwa itu merupakan tugas pastor, katekis atau guru agama.

2. Lingkungan St. Paulus Busur

  Umat yang ada di Lingkungan St. Paulus Busur berjumlah 74 KK atau kurang lebih 253 jiwa. Umat di sini merupakan umat campuran yang berasal dari berbagai suku, penduduk asli 60% dan pendatang 40%. Kebanyakan umat berasal dari suku Tunjung sebagai penduduk asli dan Benuaq serta sebagian kecil Toraja sebagai pendatang. Pendatang yang ada di sini kebanyakan karena tugas mereka sebagai pegawai, sehingga kesibukan mereka pun lebih banyak di perkantoran.

  Dalam hal kegiatan lingkungan ataupun paroki, kebanyakan umat bersifat menunggu. Hal ini disampaikan oleh ketua lingkungan karena dari pengalamannya menjabat sebagai ketua lingkungan umat cenderung menunggu. Kebanyakan umat berpandangan bahwa pewartaan Injil merupakan pewartaan sabda Allah dalam arti Kitab Suci yang merupakan tugas dari kaum religius karena merupakan bidang mereka, sehingga penghayatan nilai-nilai Injil dalam hidup masih kurang mendalam.

  D.

  

Penelitian Tentang Keterlibatan Kaum Awam dalam Evangelisasi di

Wilayah Busur Paroki Kristus Raja Barong Tongkok

  Pada penelitian ini, penulis membagi menjadi tiga bagian pokok pembahasan. Bagian pertama membahas rencana penelitian yang meliputi: latar belakang, tujuan penelitian, jenis penelitian, tekhnik pengumpulan data, responden, tekhnik pembahasan data dan variabel penelitian. Bagian kedua menguraikan laporan hasil penelitian yang meliputi: responden, gambaran keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi, bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi dan faktor pendukung serta penghambat kaum awam dalam berevangelisasi. Bagian ketiga memaparkan kesimpulan hasil penelitian.

  Penelitian sederhana ini penulis laksanakan di wilayah Busur guna memperoleh data tentang keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi.

1. Rencana penelitian a.

  Latar belakang penelitian Kaum awam di wilayah Busur pada umumnya berpandangan bahwa evangelisasi merupakan tugas utama para religius. Mereka berpandangan bahwa pewartaan Injil hanya berbicara tentang hal-hal yang rohani saja (Kitab Suci), sehingga hal tersebut merupakan bagian dari tugas para religius karena memang bidang mereka. Pemahaman seperti ini tentu saja membuat pemisahan antara hal yang rohani dengan hal duniawi, sehingga mempersempit pemahaman tentang makna evangelisasi itu sendiri. Kaum awam belum sepenuhnya menyadari dan menghayati bahwa evangelisasi merupakan tugas seluruh umat beriman Kristiani, sehingga mereka bersikap acuh tak acuh terhadap perkembangan iman pribadi dan bersama. Seringkali kaum awam merasa mereka lebih baik mendengarkan ceramah atau kotbah dari pastor, frater ataupun suster daripada membaca Kitab Suci, karena bahasa Kitab Suci masih sulit untuk dipahami.

  Kesibukan dalam kerja dan hidup pribadinya sehari-hari seringkali menjadi alasan ketidakaktifan mereka untuk terlibat dalam evangelisasi. Padahal evangelisasi dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Dalam dokumen

  

Christifideles Laici Bapa suci Yohanes Paulus II mengharapkan agar kaum awam mendengar dan menyadari panggilan Kristus terhadap dirinya untuk mengambil bagian dan terlibat aktif secara sadar dan penuh tanggungjawab dalam perutusan Gereja di dalam dunia untuk meneruskan tugasNya yang amat mulia yakni mewartakan Injil ke seluruh dunia (CL, art. 3). Dengan menyadari diri sebagai utusan Allah yang dipanggil secara istimewa di tengah dunia, maka pantaslah kaum awam dengan penuh kesadaran melaksanakan pewartaan Injil dalam kehidupannya sehari-hari, di tengah keluarga, masyarakat, lingkungan maupun di tempat kerja.

  Oleh karena itu penulis mengadakan penelitian untuk memperoleh data sehubungan dengan keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi di Wilayah Busur Paroki Kristus Raja Barong Tongkok. Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi, mendalami bidang-bidang keterlibatan mereka dalam evangelisasi dan mengetahui faktor pendukung serta penghambat bagi mereka dalam evangelisasi. Melihat data tersebut penulis berharap dapat memberikan sumbangan pemikiran yang dapat membantu meningkatkan keterlibatan kaum awam mewartakan Injil dalam kehidupannya sehari-hari melalui kesaksian hidup. Hal ini sangat penting bagi penulis dalam rangka memperdalam pemahaman dan penghayatan penulis sendiri serta mempersiapkan penulis dalam melaksanakan tugas sebagai katekis atau guru agama untuk mewartakan Injil dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat menjadi teladan dan membawa pengaruh positif bagi orang lain. b.

  Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) Memperoleh gambaran keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi. 2) Mendalami bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi. 3)

  Mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kaum awam dalam evangelisasi.

  c.

  Jenis penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif menekankan analisisnya pada proses penyimpulan terhadap dinamika hubungan antarfenomena dan diamati menggunakan logika ilmiah (Azwar, 1997:5). Penelitian ini diuraikan dengan kata-kata menurut pendapat responden, apa adanya sesuai dengan pertanyaan penelitiannya, kemudian dianalisis pula dengan kata-kata apa yang melatarbelakangi responden berprilaku (Husaini dan Purnomo, 2008: 130).

  d.

  Tekhnik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode wawancara (face to face) untuk mendapatkan informasi langsung dari responden di lapangan dan studi dokumen untuk melengkapi data-data yang penulis butuhkan. Untuk wawancara penulis menyiapkan daftar pertanyaan dan merekam jawaban responden dengan mp3 atau hp. Melalui metode ini penulis ingin mengetahui sejauhmana kaum awam di wilayah Busur terlibat dalam evangelisasi. Tujuan dari tekhnik pengumpulan data ini adalah untuk mendapatkan data yang dapat menjawab permasalahan penelitian secara obyektif (Wahyu, 1989: 80). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer penulis kumpulkan melalui wawancara (face to face) dengan responden sedangkan data sekunder penulis kumpulkan dari sumber arsip resmi paroki untuk menunjang data yang diperlukan dalam penelitiani ini (Azwar, 1997:36).

  e.

  Responden Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah kaum awam di Wilayah Busur paroki Kristus Raja Barong Tongkok yang berjumlah 10 orang.

  Para responden ini adalah mereka yang dimintai kesediaannya untuk memberikan keterangan atau informasi tentang fakta yang terjadi di wilayah Busur kaitannya dengan keterlibatan umat dalam evangelisasi. Penarikan sampel dilakukan secara sengaja (purposive sampling) dengan kriteria penarikan, dua orang staf lingkungan, dua orang mudika dan 6 orang umat. 5 orang dari lingkungan St. Paulus Busur dan 5 orang dari St. Christoporus Busur. Kesepuluh orang responden ini penulis pandang dapat memberikan informasi dan data kaitannya dengan keterlibatan umat dalam pewartaan Injil karena para responden adalah orang-orang yang mengetahui banyak tentang situasi dan keadaan umat. Juga karena melalui metode wawancara ini, para responden dapat memberikan jawaban dari pertanyaan yang penulis ajukan yang kurang lebih sama, sehingga keterangan dari responden dapat mewakili populasi yang ada di wilayah ini. Pemilihan responden sebagai sampel juga telah diperhitungkan sebagai orang-orang yang mengetahui situasi dan keadaan umat Katolik di Wilayah ini. Sebab penarikan sampel tidak tergantung pada banyaknya sampel yang ditarik tetapi yang terpenting adalah sampel yang ditarik dari keseluruhan populasi dapat mewakili data yang dibutuhkan (representative).

  Populasi atau sampel adalah sekumpulan unsur atau elemen yang menjadi obyek penelitian. Dengan demikian populasi dapat diartikan sebagai himpunan semua hal yang ingin diketahui sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang ingin diketahui tersebut (Wahyu, 1989: 61-62). Responden adalah sumber utama dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang didukung dengan studi dokumen serta pandangan umat.

  f.

  Tekhnik pembahasan data Untuk pembahasan data pertama-tama penulis melakukan reduksi yakni membuang data yang tidak penulis kehendaki. Kemudian melakukan generalisasi terhadap data-data tersebut dengan menggabungkan data-data yang penulis anggap unik atau berhubungan dengan maksud penelitian. Dengan demikian data yang telah melalui proses reduksi dapat memberikan gambaran bagi penulis, sehingga mempermudah penulis untuk melakukan interpretasi data yakni penafsiran atau pemaknaan terhadap data yang telah diperoleh (Husaini dan Purnomo, 2008: 130). g.

  Variabel penelitian Variabel yang akan diungkapkan dalam penelitian ini berkaitan dengan keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi.

  Adapun kisi-kisi variabel penelitian adalah sebagai berikut:

  Item

No Tujuan Penelitian Variabel Penelitian Jumlah

Pertanyaan

  1. Untuk memperoleh Gambaran tentang gambaran keterlibatan keterlibatan kaum awam 1,2,3

  3 kaum awam dalam dalam evangelisasi. evangelisasi.

  2. Untuk mendalami Bidang-bidang bidang-bidang keterlibatan kaum awam 4,5,6,7

  4 keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi. dalam evangelisasi.

  3. Untuk mengetahui Faktor-faktor yang faktor-faktor yang mendukung dan mendukung dan menghambat kaum awam 8,9,10,11,12

  5 menghambat kaum awam dalam evangelisasi. dalam evangelisasi.

  Total 12 2.

   Laporan dan Pembahasan Hasil Penelitian a.

  Identitas Responden Di bawah ini akan di sampaikan mengenai identitas responden, yakni:

  Tabel 1. Identitas Responden (N=10) Keterangan Jumlah Prosentase A. Jenis kelamin

  Laki-laki 5 orang 50% Perempuan 5 orang 50%

  Jumlah 10 orang 100% B. Status

  Ketua Lingkungan 2 orang 20% Mudika 2 orang 20% Umat 6 orang 60%

  Jumlah 10 orang 100%

  Tabel di atas menunjukkan jumlah responden yang diwawancarai. Proses wawancara berlangsung sendiri-sendiri dengan mendatangi responden di rumahnya masing-masing. Namun 2 orang responden penulis wawancarai pada hari yang sama dengan waktu yang berbeda karena dalam satu keluarga.

  Sedangkan 8 orang responden lainnya diwawancarai secara sendiri-sendiri dan waktu yang berbeda karena mengikuti waktu luang dari para responden tersebut.

  Lamanya waktu saat proses wawancara berbeda-beda antara responden satu dengan responden lainnya kurang lebih 30 menit satu orang. Lamanya waktu tergantung dari jawaban para responden, bila dirasa sudah menjawab sesuai kebutuhan penulis, maka penulis mematikan alat rekamannya. Dan biasanya penulis akan melanjutkan dengan berbincang-bincang secara biasa tanpa merekam perbincangan penulis dengan responden, sehingga para responden dengan leluasa

  Penelitian ini berlangsung kurang lebih 40 hari terhitung dari tanggal 18 Juni 2010 sampai dengan 27 Juli 2010 karena menyesuaikan dengan waktu luang dari para responden. Waktu pelaksanaan wawancara disesuaikan dengan waktu para responden, yakni pada sore hari sekitar pkl. 17.00-19.00. Biasanya penulis membuat janji dengan responden untuk melakukan wawancara, mengingat kesibukan umat sehingga sulitnya menemui mereka bila tidak membuat janji terlebih dahulu.

  b.

  Gambaran Keterlibatan Kaum Awam dalam Evangelisasi Di sini penulis berusaha menggali sejauahmana partisipasi kaum awam dalam evangelisasi, maka akan disampaikan rangkuman jawaban responden.

  

Tabel 2. Keterlibatan Kaum Awam Dalam Evangelisasi

(N=10)

No Pertanyaan Jawaban Responden Jumlah Prosentase

  1. Apakah anda Ya, saya sudah cukup akrab 6 orang 60% sudah akrab dengan istilah tersebut. dengan istilah Saya kurang akrab, tetapi saya 3 orang 30% evangelisasi? pernah mendengar istilah tersebut. Belum, tapi saya pernah 1 orang 10% mendengar istilah tersebut.

  2. Apakah anda Ya, saya terlibat. 7 orang 70% terlibat dalam Saya kurang terlibat, hanya 3 orang 30% evangelisasi? kadang-kadang saja bila ada waktu.

  3.a Mengapa anda Panggilan dan tugas sebagai orang 2 orang 20% terlibat? Katolik.

  Pengalaman hidup diselamatkan 1 orang 10% Allah berkat kekuatan doa. Saya ingin berkumpul dengan 1 orang 10% teman-teman dan menggali pengalaman iman. Saya ingin memberikan pelayanan 1 orang 10% bagi keluarga dan orang-orang di sekitar saya. Kurangnya tenaga yang mau 1 orang 10% terlibat dalam evangelisasi. Saya ingin berbagi apa yang saya 1 orang 10% miliki dan ketahui kepada orang lain terutama anak-anak melalui pelayanan saya. Saya ingin memperoleh 1 orang 10% keselamatan di akhirat. Kewajiban sebagai orang Kristiani 1 orang 10% untuk mewartakan Injil kepada semua orang dan mengajak mereka untuk terlibat. Karena sudah mengimani Yesus 1 orang 10% Kristus maka saya harus terlibat dalam mewartakanNya.

  b. Bagaimana Saya merasa senang, bangga dan 7 orang 70% perasaan anda gembira dapat terlibat dan ketika menjalaninya. mewartakan Rasanya ada yang kurang bila 1 orang 10% Injil? saya tidak melaksanakannya.

  Merasa lega dan diringankan dari 1 orang 10% segala beban pikiran dan permasalahan yang dihadapi. Perasaan saya biasa-biasa saja 1 orang 10% tidak ada yang istimewa sebab saya sudah terbiasa dari kecil terlibat dalam kegiatan gerejani.

  Dari hasil wawancara yang dilakukan penulis berdasarkan tabel rangkuman jawaban responden di atas, maka diperoleh gambaran partisipasi kaum awam dalam evangelisasi sebagai berikut:

  Pada item nomor 1, yang sudah akrab dengan istilah evangelisasi berjumlah 6 orang (60%). sedangkan 1 orang responden (10%) meyatakan bahwa dirinya belum akrab dengan istilah tersebut namun pernah mendengarnya. Keakraban yang dimaksudkan oleh para responden bahwa mereka pernah mendengar istilah tersebut, namun sebenarnya mereka belum terlalu memahami maksud dari istilah tersebut. Pada item nomor 2, 7 orang responden (70%) menyatakan bahwa mereka terlibat dalam evangelisasi. Sedangkan 3 orang responden (30%) menyatakan bahwa dirinya tidak terlalu aktif dalam pewartaan, hanya kadang-kadang saja bila ada waktu. Pada item nomor 3 bagian a, 2 orang responden (20%) menyatakan bahwa mereka terlibat dalam evangelisasi karena merasa itu suatu panggilan dan tugas sebagai orang Katolik. Sedangkan 1 orang responden (10%) menyatakan bahwa ia terlibat karena pengalaman hidupnya pernah diselamatkan oleh Allah berkat kekuatan doa, sehingga ia merasa harus mewartakan Injil kepada semua orang bahwa Allah adalah kekuatan dalam hidup. Beberapa orang responden berikutnya memiliki jawaban yang berbeda-beda. Salah satu jawaban responden yang cukup menarik yakni ingin memberikan pelayanan bagi keluarga dan orang- orang di sekitarnya. Dari jawabannya menunjukkan bahwa ia menyadari keterlibatannya sebagi suatu pelayanan. Pada item no 3 bagian b, 7 orang responden (70%) merasa senang, bangga dan gembira dapat terlibat dalam evangelisasi. 1 orang responden (10%) merasa ada yang kurang bila ia tidak mewartakan Injil dalam hidupnya, dan ada juga responden yang merasa begitu lega dan ringan beban pikirannya berkat bantuan Tuhan. 1 orang responden (10%) menyatakan bahwa perasaannya biasa-biasa saja ketika mewartakan Injil, tidak ada yang istimewa sebab ia sendiri sudah terbiasa dari kecil terlibat dalam kegiatan-kegiatan Gerejani.

  Dari hasil wawancara ini, dapat penulis simpulkan bahwa sesungguhnya semua responden sudah pernah mendengar istilah evangelisasi, namun tidak semua akrab dengan istilah tersebut. Mereka yang akrabpun belum terlalu memahami maknanya. Responden paling sedikit yakni 1 orang (10%) secara spontan menjawab belum akrab dengan istilah tersebut, hanya pernah mendengar dan ia juga tidak memahami dengan jelas maknanya. Responden paling banyak yakni 6 orang cukup akrab dengan istilah evangelisasi karena mereka cukup terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang ada baik di paroki maupun di Lingkungan. Mereka juga sudah terbiasa mendengarnya dari Lingkungan tempat tinggal mereka, ada yang terbiasa karena dari asrama sudah diajarkan oleh suster asrama, ada pula yang terbiasa karena ia sendiri adalah pengurus lingkungan dan ada juga karena sejak kecil ia terbiasa mendengarnya baik dalam keluarga maupun di sekolah. Namun secara keseluruhan mereka menyatakan bahwa pemahaman mereka akan maknanya masih kurang. 70% responden menyatakan bahwa mereka terlibat dalam evangelisasi sedangkan 30% terlibat bila ada waktu. Keterlibatan yang dimaksudkan dari jawaban responden ini adalah terlibat dalam kegiatan Gerejani.

  Dari berbagai variasi jawaban responden atas pertanyaan nomor 3, dapat disimpulkan bahwa umat pada umumnya sudah menyadari akan tugas dan kewajibannya sebagai umat Katolik untuk mewartakan Injil karena dari setiap jawaban responden mengandung makna yang mendalam dan dapat dikatakan sebagai kesadaran mereka sebagai umat beriman. Dari jawaban para responden, 2 orang mengatakan bahwa keterlibatannya dalam evangelisasi merupakan panggilan dan tugasnya sebagai orang Katolik. Sedangkan 8 orang responden lainnya memiliki jawaban yang berbeda-beda. Ada yang menyatakan karena pengalaman ia pernah diselamatkan dalam hidupnya maka ia merasa penting untuk meneruskan pewartaan tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa ia ingin memberikan pelayanan, ingin berbagi, dan mendapatkan keselamatan dalam hidupnya. Ada pula yang terlibat karena kurangnya tenaga dan karena ia sendiri sudah mengimani Yesus Kristus, sehingga pewartaan harus ia laksanakan.

  Pada kenyataannya kebanyakan umat beranggapan bahwa pewartaan Injil identik dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan Gerejani seperti kotbah dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan erat dengan Kitab Suci, sehingga bagi mereka bila umat tidak terlibat dalam kegiatan Gerejani atau doa- doa di Lingkungan maka mereka belum mewartakan Injil. Tetapi tidak semua umat berpandangan demikian, karena bagi sebagian kecil orang yang aktif dalam kegiatan Gerejani memahami dan menyadari bahwa pewartaan Injil itu dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Hal ini dapat dilihat dari jawaban beberapa responden yang penulis wawancarai dan juga dari pandangan penulis terhadap umat yang aktif dan hasil perbincangan dengan beberapa umat. Sebab demikianlah evangelisasi yang dimaksudkan oleh penulis dalam hal ini, yakni evangelisasi yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga, masyarakat, Gereja maupun di tempat kerjanya.

  Jawaban responden yang diperkuat dengan pengamatan penulis menunjukkan bahwa umat pada umumnya cukup terlibat aktif dalam evangelisasi yang dilakukan dalam kehidupannya sehari-hari. Seperti berusaha memberikan teladan yang baik bagi anggota keluarganya serta menunjukkan pada rekan kantornya di mana ia bekerja dengan menunjukkan tanggungjawabnya terhadap pekerjaannya, berusaha meluruskan temannya yang hendak berpaling dari ajaran Kristianinya. namun mereka kurang menghayati makna pewartaan Injil itu sendiri dalam kehidupannya. Dari jawaban para responden banyak disebutkan bahwa keterlibatan mereka lebih pada kegiatan Gerejawi seperti doa Lingkungan maupun kegiatan lainnya. Namun ketika ditanya mengapa mereka terlibat, jawaban para responden mengarah pada sikap hendak memuliakan Allah melalui suatu pelayanan yang dapat diberikan pada sesama.

  Berbicara mengenai keterlibatan umat dalam evangelisasi, penulis sangat terkesan dengan jawaban salah seorang responden yakni Pak Paulus Runtung yang mengatakan bahwa “pengalaman hidup diselamatkan oleh Allah dan kekuatan doa yang telah membawa ia selalu rindu untuk mewartakan Injil”. Bagi penulis pernyataan singkat ini amat sangat mendalam karena melalui pengalaman hiduplah kita dapat mengenal Allah dan menyakiniNya sebagai penyelamat dalam hidup kita. Melalui pengalaman hidup kita dapat mengimani Yesus Kristus sebagai juru selamat kita dan senantiasa memujiNya dalam segala hal. Berkat pengalaman hidup pula kita dapat mengenal sesama dan berbagi kasih demi mewujudkan Kerajaan Allah di tengah dunia, sebab sebagai orang beriman kita tidak hanya berhenti pada kata-kata tentang iman tetapi kata-kata yang diwujudnyatakan dalam tindakan konkret seperti yang Ia teladankan pada kita melalui sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Partisipasi kita sebagai umat beriman adalah mewujudkan cinta kasihNya dalam sikap dan tindakan nyata kita yakni dalam kesaksian hidup di dunia.

  c.

  Bidang-bidang Keterlibatan Kaum Awam dalam Evangelisasi Pada veriabel kedua ini penulis berusaha menggali bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi. Berikut ini merupakan tabel rangkuman jawaban responden.

  

Tabel 3. Bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi

(N=10)

No Pertanyaan Jawaban Responden Jumlah Prosentase

  4. Bagaimana Banyak tantangan yang dihadapi 2 orang 20% pengalaman dalam evangelisasi, namun kita anda setelah harus siap dan sabar terlibat dalam menghadapinya serta pewartaan menjalankannya dengan Injil? sepenuh hati.

  Banyak hal baik yang saya 1 orang 10% peroleh dalam hidup, berkat pengalaman diselamatkan membuat saya semakin yakin akan kekuatan Allah. Banyak karunia Roh Kudus yang 1 orang 10% saya peroleh dalam hidup. Semula hanya terlibat sebagai 1 orang 10% peserta akhirnya mau menjadi pengurus dan melayani dengan sepenuh hati, sabar, selalu berusaha berbuat baik pada orang lain, beriman bukan hanya soal pengetahuan melainkan pengalaman. Saya bangga dapat membawa 1 orang 10% umat aktif dalam kegiatan- kegiatan, baik di paroki maupun di masyarakat karena di manapun saya berada saya selalu berusaha

  Merasa begitu dekat dengan 1 orang 10% Tuhan, mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman hidup yang bermakna. Berkat usaha dan kerja keras yang disertai doa tidak mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan, memulai pewartaan itu dari dalam diri sendiri terlebih dahulu. Merasa lega dan lebih ringan 1 orang 10% karena terbantu oleh Tuhan yang meringankan beban hidup saya. Menyadarkan saya untuk 1 orang 10% membantu pastor yang “kurang tenaga” untuk mewartakan Yesus Kristus pada orang yang ragu dan belum mengenalNya, berbuat amal pada umat dan penyerahan diri yang total.

  Merasa senang dapat membawa 1 orang 10% orang yang dalam kegelapan untuk memperoleh terang, sehingga mereka tetap teguh imannya di tengah umat yang berbeda keyakinan.

  5. Bagaimana 4 orang 40%

  • pendapat anda minggu namun kurang aktif tentang kaum dalam kegiatan lingkungan.
  • awam di Cenderung menunggu (pasif).

  Umat rajin ke gereja hari wilayah Busur?

  • Yang aktif orangnya itu-itu saja
  • Mau terlibat bila ditemani.
  • Kaum muda cukup aktif sedangkan orang tua kurang.
  • Ada umat yang acuh terhadap kegiatan yang ada.

  2 orang 20%

  • Umat cukup baik dan terbuka terhadap kegiatan yang ada, sehingga kegiatannya berjalan cukup lancar.
  • Adanya pengaruh positif dari pendatang bagi penduduk asli.

  1 orang 10%

  • Lemahnya kesadaran umat untuk terlibat.
  • Kurang adanya kerjasama antar umat.
  • Tidak rela memberikan waktunya secara cuma-cuma untuk melayani sesama.

  1 orang 10%

  • Umat cukup memahami dan mengerti tentang evangelisasi namun mereka terlalu sibuk dengan kegiatan sendiri-sendiri.
  • Acuh terhadap kegiatan yang ada, malas dan malu utuk terlibat.
  • Sibuk sehingga tidak ada waktu
  • Kesadaran untuk terlibat kurang.
  • Adanya kebiasaan mengirim anak-anaknya sebagai 1 orang 10%

  “perwakilan” dalam mengikuti kegiatan. Kurang menyadari tugas

  • perutusannya sebagai pewarta.
  • semangat dan tidak memberi contoh keterlibatannya pada anak-anak.
  • 1 orang 10%

  Acuh tak acuh, tidak ada

  Umat cukup aktif dalam kegiatan gereja dan lingkungan Bisa bekerjasama.

  • 6. Menurut anda Dalam kehidupan sehari-hari, 7 orang 70% dalam bidang gereja, keluarga, masyarakat dan apa saja di tempat kerja. Evangelisasi Evangelisasi bukan hanya soal 1 orang 10% dapat

  Sabda Allah saja, tetapi yang dilaksanakan? penting adalah teladan. Dalam bidang pendidikan, 1 orang 10% kegiatan non formal misalnya kursus menjahit, gereja, tempat kerja, dan dalam hidup sehari- hari. Dalam bidang gerejani 1 orang 10%

  7.a Dalam bidang Dalam hidup sehari-hari, 7 orang 70% apa saja anda masyarakat, gereja, keluarga dan terlibat dalam di tempat kerja. Evangelisasi? Bidang gerejani 1 orang 10%

  Gerejani dan di tempat kerja. 1 orang 10% Dalam bidang gerejani, keluarga 1 orang 10% dan dalam hidup sehari-hari

  7.b Apa Iman saya semakin kuat, 2 orang 20% manfaatnya berkembang dan semakin bagi anda? diteguhkan.

  Memiliki kerinduan yang 1 orang 10% mendalam bila tidak mewartakan Injil. Memperoleh kekuatan besar 1 orang 10% ketika mengalami kesulitan hidup berkat kekuatan doa. Memperoleh kemudahan dalam 1 orang 10% menjalani hidup, mendapatkan kepercayaan dan dengan mudah diterima di tengah masyarakat. Dapat menjadi teladan bagi orang 1 orang 10% lain. Bahagia karena melayani dengan 1 orang 10% sepenuh hati tanpa beban dan penuh semangat dalam hidup. Merasa senang dapat memberikan 1 orang 10% sesuatu yang bermakna bagi orang lain dengan kesungguhan hati. Dapat membantu pastor 1 orang 10% meyebarkan warta tentang Kristus dan membantu umat mengembangkan imannya. Menjadi tahu gambaran hidup 1 orang 10% menurut Injil.

  Berdasarkan jawaban responden pada tabel 3 di atas, nampak bahwa umat di

  4, 2 orang responden (20%) menyadari bahwa keterlibatan dalam pewartaan Injil menghadapi banyak tantangan. Namun mereka harus siap dan sabar menghadapinya serta menjalankan dengan sepenuh hati. Hal ini menunjukkan bahwa dalam menjalankan suatu pekerjaan, kita perlu kesungguhan hati agar apa yang kita kerjakan dapat membuahkan hasil yang baik bagi kita dan juga sesama. Jawaban dari dua orang responden ini mengingatkan kita pada sikap tulus ikhlas dalam menjalani segala hal. Pengalaman salah seorang responden yang pernah pernah terselamatkan dari musibah berkat kekuatan doa menjadikan ia semakin yakin dan percaya akan kekuatan Allah dalam hidupnya, sehingga pewartaan Injil merupakan suatu keharusan baginya demi kepuasan batinnya sendiri. Ada pula seorang responden yang menyatakan bahwa pengalaman keterlibatannya membuat ia sadar bahwa jumlah pastor sangat kurang, sementara lahan pewartaannya sangat luas, ini peluang baginya untuk membantu tugas para pemimpin gereja tersebut.

  Seorang responden mengatakan banyak karunia Roh Kudus yang ia peroleh berkat keterlibatannya.

  Pada item nomor 5, responden paling banyak yakni 4 orang (40%) mengatakan bahwa umat di Busur pada umumnya rajin ke gereja namun kurang terlibat aktif dalam kegiatan yang dilakukan di Lingkungan. Umat cenderung menunggu (pasif), kalaupun ada yang aktif, hanya orang-orang itu saja. Terkadang umatnya mau terlibat asalkan ditemani, misalnya ketika gotong royong membersihkan gereja, perlu ditemani oleh ketua lingkungan atau umat yang aktif di gereja. Ditemani dalam arti ada yang mendorong dan memotivasi mereka. Sedangkan 2 orang responden (20%) mengatakan bahwa umat disini cukup baik dan terbuka terhadap kegiatan yang ada dengan mau terlibat, sehingga kegiatannya dapat berjalan dengan lancar serta adanya pengaruh positif dari pendatang bagi penduduk asli. Di sini juga dikatakan bahwa umat kurang memiliki kesadaran untuk terlibat dalam pewartaan, mereka acuh terhadap kegiatan yang ada, kurang kerjasama dan tidak rela memberikan waktu secara cuma-cuma, sehingga kesibukan menjadi alasan ketidakterlibatan mereka.

  Pada item nomor 6, responden paling banyak yakni 7 orang responden (70%) menyatakan bahwa evangelisasi dapat dilakukan dalam kehidupan sehari- hari, keluarga, masyarakat, Gereja dan di tempat kerja. Salah seorang responden menegaskan lagi bahwa evangelisasi bukan hanya soal Sabda Allah (kotbah) melainkan yang terpenting adalah teladan. Sedangkan pada item nomor 7 (a), 7 orang (70%) responden mengatakan bahwa keterlibatannya dalam mewartakan Injil dalam hidup sehari-hari, keluarga, masyarakat, gereja dan di tempat kerja dan item 7 (b), masing-masing responden memiliki jawaban yang berbeda-beda tentang manfaat yang diperoleh berdasarkan pengalaman mereka masing-masing. 2 orang responden (20%) menyadari bahwa imannya semakin berkembang, kuat dan semakin diteguhkan. Ada juga yang merasa rindu bila tidak mewartakan Injil dalam hidupnya.

  Pandangan para responden terhadap umat di Busur kaitannya dengan keterlibatan mereka dalam evangelisasi cukup bervariasi, namun lebih banyak responden yang berpandangan bahwa umat di Busur pada umumnya rajin ke Gereja namun kurang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan di lingkungan. Mereka mengatakan bahwa sebenarnya umat mau terlibat, tetapi perlu selalu didorong dan diberi semangat, sehingga mereka menyatakan bahwa umat saat ini mendambakan sosok pemimpin yang mampu dan siap untuk selalu membimbing dan memotivasi mereka. Selain itu, umat juga memiliki kecenderungan menunggu (pasif). Hal ini berkaitan dengan umat yang mau tetapi perlu ditemani. Dari jawaban para responden dan juga dari tanggapan beberapa umat yang penulis ajak berbincang, kesibukan umat menjadi alasan utama mereka tidak aktif dalam evangelisasi. Dari keseluruhan jawaban para responden, penulis dapat menyimpulkan bahwa pada umumnya mereka menyadari bahwa evangelisasi itu tidak hanya berbicara soal Kitab Suci semata karena hampir semuanya mengatakan bahwa evangelisasi dapat dilakukan dalam hidup sehari- hari. Namun mereka menyatakan bahwa ini merupakan pendapat saja dan mereka tidak tahu yang sebenarnya seperti apa karena ada beberapa responden yang masih ragu-ragu dalam memberikan jawabannya karena ia sendiri belum memahami betul apa yang dimaksud dengan evangelisasi.

  Dengan demikian, sesungguhnya mereka masih membutuhkan penjelasan yang memadai tentang makna evangelisasi karena dengan adanya penegasan atas makna evangelisasi akan membantu umat untuk melaksanakannya. Banyak di antara responden mengatakan bahwa mereka melaksanakan pewartaan dalam kehidupannya sehari-hari, keluarga, masyarakat/lingkungan, Gereja dan di tempat kerja mereka masing-masing. Bagaimana mereka tahu bahwa mereka telah melaksanakan dalam seluruh aspek kehidupan mereka, sedangkan mereka sendiri mengatakan bahwa mereka tidak terlalu memahami maknanya? Hal ini menunjukkan bahwa masih ada kesimpangsiuran atas pemahaman mereka. Selain itu, mereka juga kurang menghayatinya dalam hidup berimannya. Pewarta sejati adalah orang yang bukan hanya berbicara saja melainkan kata-kata yang dibarengi dengan tindakan nyata, seperti teladan Yesus Kristus mewartakan Kabar Gembira bagi umatNya. Ia menyerukan agar kita saling mengasihi, dan Ia terlebih dahulu mengasihi kita. KasihNya dapat kita nikmati hingga sekarang berkat tindakan konkretNya yang menyerahkan hidup demi kasihNya kepada kita.

  d.

  Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kaum awam dalam evangelisasi

  

Tabel 4. Faktor-faktor yang Mendukung dan Menghambat

Kaum Awam dalam Evangelisasi

(N=10)

No Pertanyaan Jawaban Responden Jumlah Prosentase

  8. Bagaimana 5 orang 50% Evangelisasi merupakan

  • tanggapan umat tugas para pastor, katekis di wilayah dan guru agama.
  • Busur terhadap

  Kurang memahami pewartaan Injil? makna evangelisasi. menurut Anda

  • mengapa umat masing-masing, sehingga tidak aktif tidak ada waktu dan tidak dalam ada yang memotivasi.
  • mewartakan

  Sibuk dengan pekerjaan

  Kurangnya informasi dari Injil? pengurus lingkungan.

  • mau terlibat namun ada pula yang hanya diam saja (tidak mau terlibat).

  3 orang 30% Ada yang menanggapi dan

  • tugasnya sebagai umat Kristiani untuk terlibat.

  Sebagian umat menyadari

  • tentang evangelisasi karena mereka ada di kota (dekat paroki), hanya saja mereka kurang terlibat.
  • 1 orang 10%

  1 orang 10% Pada umumnya umat tahu

  Umat menanggapi dengan baik dan positif. Latar belakang pendidikan

  • yang kurang memadai dan pergaulan yang kurang, sehingga mereka merasa minder bergabung dengan umat lain.

  9. Bagaimana Menyampaikan isi Injil 4 orang 40% tanggapan anda kepada sesama umat sendiri terhadap beriman, saat kotbah atau pewartaan Injil? memberi pelajaran agama supaya dapat dipahami. Menjadi rasul menyuarakan 2 orang 20% Kabar Gembira pada sesama, terutama mereka yang mengalami keraguan dan belum mengenal Dia.

  Keterlibatan kita sebagai 1 orang 10% umat Katolik dalam kegiatan gereja, tempat kerja dan dalam hidup sehari-hari. Evangelisasi bukan hanya 1 orang 10% mewartakan Sabda Allah “Kitab Suci” tetapi juga sikap dalam hidup sehari- hari. Segala sesuatu yang 1 orang 10% dilakukan demi untuk mensejahterakan orang lain lebih-lebih diri sendiri untuk mencapai tujuan yakni Allah sendiri. Evangelisasi perlu 1 orang 10% dilakukan secara terus- menerus agar umat yang tidak tahu menjadi tahu.

  10. Faktor apa saja Dukungan yang utama dari 4 orang 40% (a) yang dalam diri sendiri. mendukung Dukungan dari luar diri 2 orang 20% anda dalam yakni keluarga (orang tua) mewartakan dan juga sekolah yang sejak Injil? kecil menanamkan ajaran agama, istri dan anak-anak. Dari dalam diri sendiri yakni rasa tanggungjawab.

  Keterlibatan beberapa umat 2 orang 20% yang aktif menjadi penyemangat bagi saya untuk mewartakan Injil. Dukungan dari keluarga 2 orang 20% (pengertian dari suami), terhadap pekerjaan saya, ketua lingkungan, pastor dan umat. (b) Menurut anda Bila ada orang yang dengan 10 orang 100% faktor apa saja sukarela mau membimbing, yang mendorong dan memotivasi mendukung umat untuk mengambil umat dalam bagian dalam evangelisasi, mewartakan maka umat dapat Injil? berkembang dan yang lebih penting adalah kemauan dari masing-masing pribadi untuk terlibat.

  11. Apakah anda Ya, saya melihat ada 10 orang 10% (a) melihat ada hambatannya. hambatan bagi Alasannya:

  • umat dalam

  Kesibukan mereka dengan melaksanakan pekerjaan masing-masing pewartaan Injil? membuat mereka tidak ada waktu untuk terlibat (7 orang). Adanya orang yang

  • memiliki kepentingan pribadi dan golongan,
sehingga tidak peduli dengan kebahagiaan orang lain (1 orang).

  • Masih kuatnya budaya belian, perjudian dan juga kurangnya kerukunan dalam keluarga (1 orang).
  • Masalah pendidikan, kehidupan sosial, kurang mampu meluangkan waktu dan masih tergantung pada pemimpin/menunggu (1 orang).

  (b) Hambatan apa saja yang anda alami dalam mewartakan Injil?

  Dari dalam diri sendiri ada niat tapi tidak dilaksanakan, kesibukan dalam bekerja dan dalam keluarga, sehingga sulit membagi waktu. Juga masalah kesehatan dan mudah merasa gagal.

  7 orang 70% Kurang aktifnya umat dan tidak jelasnya makna evangelisasi, melemahkan semangat saya.

  2 orang 20% Adanya orang yang memiliki kepentingan pribadi dan golongan menjadi penghambat bagi saya, kesibukan dalam bekerja, masih kuatnya budaya di sini terutama belian dan perjudian.

  1 orang 10%

  12. Apakah nilai- nilai Injil mempunyai pengaruh positif di sini?

  Ya, nilai-nilai Injil cukup berpengaruh. Alasanya:

  7 orang 70% Tidak terlalu mempunyai pengaruh. Alasannya:

  • Sepanjang pemimpinnya mampu membimbing umat untuk menghayati imannya dalam budaya setempat (6 orang).
  • Ada tantangan yang cukup berat bagi pewarta terutama dalam menghadapi budaya yang masih kental (1 orang).

  3 orang 30%

  • Penduduknya sudah bercampur, ditambah lagi penduduk asli masih kuat dengan budaya belian/penyembuhan tradisional (1 orang).
  • yang bertentangan dengan nilai-nilai Injil seperti perselingkuhan yang berakibat sampai pada perceraian (1 orang).

  Masih banyak kasus-kasus

  • jelas (1 orang).

  Pewartaannya yang tidak

  Pada item nomor 8, 5 orang responden (50%) menyatakan kebanyakan umat di wilayah Busur berpandangan bahwa evangelisasi merupakan tugas para pemimpin (pastor, katekis dan guru agama). Umat kurang memahami makna evangelisasi dan masih banyak umat yang sibuk dengan pekerjaannya masing- masing, sehingga tidak ada waktu untuk terlibat serta kurangnya informasi dari pengurus Lingkungan. Pernyataan 5 orang responden ini dikuatkan oleh jawaban beberapa responden lainnya tentang kurangnya pemahaman umat akan makna evangelisasi. Kesibukan dengan pekerjaan masing-masing menjadi alasan yang menonjol dalam ketidakterlibatan mereka. Namun salah seorang responden (10%) menyatakan bahwa latar belakang pendidikan yang kurang memadai dan pergaulan yang kurang membuat umat minder bergabung dengan umat yang lain.

  Pada item nomor 9, 4 orang (40%) mengatakan bahwa evangelisasi merupakan kegiatan menyampaikan isi Injil kepada sesama umat beriman agar mereka memahaminya. Ini dapat dilakukan pada saat kotbah ataupun memberi pelajaran agama. Sedangkan 2 orang responden (20%) menyatakan sikap mau menjadi rasul menyuarakan Kabar Gembira tentang Kristus pada sesama terutama kepada mereka yang ragu-ragu dan belum mengenalNya. Salah seorang responden menyatakan bahwa evangelisasi bukan hanya soal Sabda Allah “Kitab Suci” (kotbah) semata melainkan lebih pada teladan hidup sebagai seorang beriman. Ada juga yang menyatakan bahwa evangelisasi merupakan kegiatan yang dilakukan demi mensejahterakan orang lain terlebih diri sendiri. Pernyataan ini juga berkaitan dengan jawaban seorang responden yang menyatakan sekaligus meminta agar pewartaan itu perlu dilakukan secara terus menerus agar umat yang tidak tahu menjadi tahu. Dari jawaban masing-masing responden yang cukup bervariasi tersebut menunjukkan bahwa masih banyak umat yang belum terlalu memahami makna evangelisasi, sehingga perlu diberi penjelasan. Dengan demikian umat dapat meneruskannya dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dimulai dari dalam keluarga dengan mengajarkan pada anak-anak mereka, hingga keluar rumah di tengah masyarakat. Hal inilah yang dimaksudkan oleh salah satu responden tentang pewartaan terus-menerus agar pemahaman umat tidak hanya berhenti pada dirinya sendiri melainkan diteruskan pada orang lain dan seterusnya, sehingga pemahaman itu juga tidak hanya berhenti pada suatu sikap “saya sudah paham (kognitif)” melainkan pemahaman yang dikembangkan dalam tindakan konkrit.

  Pada item nomor 10 (a), responden terbanyak yaitu 4 orang (40%) mengatakan bahwa dukungan utama bagi mereka adalah dari dalam diri sendiri karena segala sesuatu yang dikerjakan berkaitan dengan dirinya, maka ia harus tahu apa yang akan dikerjakannya. Jika sudah tahu, maka ia harus punya niat untuk melakukan. Niat saja tidak cukup bila tidak dibarengi dengan tindakan konkret. Seorang responden merasakan bahwa pengajaran agama (iman) yang ditanamkan sejak dini dari keluarga dan sekolah sangat membantu kesadarannya untuk terlibat, sehingga melahirkan rasa tanggungjawab dalam diri sendiri. Juga dorongan dari keluarga (istri dan anak-anak) yang memandang positif pekerjaan.

  Sedangkan pada item 10 (b), 10 orang responden (100%) mengatakan bahwa umat di Busur membutuhkan sosok pemimpin yang mau dengan suka rela membimbing dan memotivasi mereka untuk mengambil bagian dalam evangelisasi yang juga harus didukung oleh kesadaran masing-masing individu untuk terlibat. Sebab sekalipun ada pemimpin yang membimbing dan memotivasi mereka tetapi dari dalam diri mereka sendiri tidak mau, maka itu tidak dapat berjalan dengan baik.

  Dari jawaban para responden, penulis mendapat kesan bahwa faktor pendukung bagi mereka pertama-tama itu dari diri sendiri karena segala sesuatu yang dikatakan dan dikerjakan semuanya berpusat pada diri. Walaupun ada yang mendorong dan memotivasi, namun bila masing-masing pribadi tidak ada keinginan untuk ambil bagian, maka semuanya tidak dapat terlaksana. Hal ini pula yang dialami oleh umat pada umumnya. Dalam hal ini kerjasama antar umat sangat diperlukan untuk saling mendorong dan memotivasi. Sikap mau merangkul sangat penting untuk mengembangkan setiap individu karena sadar atau tidak, satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Contoh: bila umat melihat ada beberapa umat yang tidak pernah aktif dalam kegiatan, ia berpikir untuk apa ia aktif, sementara masih banyak juga orang yang tidak aktif dan itu tidak jadi masalah baginya.

  Pada item nomor 11 (a), 10 orang responden (100%) menyatakan bahwa ada hambatan bagi umat dalam melaksanakan evangelisasi, namun dengan alasan yang berbeda-beda. 7 orang mengatakan karena kesibukan dengan pekerjaan masing-masing, sehingga sulit membagi waktu. Salah seorang responden mengatakan karena adanya kepentingan pribadi dan golongan dari pihak-pihak tertentu, sehingga orang tidak lagi memikirkan dan peduli dengan kebahagiaan orang lain. Ada juga responden yang mengatakan bahwa masih kentalnya budaya belian (pengobatan tradisional), perjudian dan kurangnya kerukunan dalam keluarga menjadi hambatan dalam pewartaan. Seorang responden menambahkan bahwa umat masih bersifat pasif/menunggu. Pada item 11 (b), 7 orang responden (70%) mengatakan bahwa hambatan pertama-tama dari dalam dirinya sendiri, terutama kesibukan dalam bekerja, sehingga sulit membagi waktu. Sedangkan 2 orang responden (20%) merasa bahwa ketidakatifan umat dalam kegiatan menjadi hambatan baginya ditambah lagi karena belum jelasnya makna evangelisasi baginya. Dari jawaban para responden tersebut, penulis mendapat kesan bahwa pada umumnya umat mengalami banyak hambatan dalam mewartakan Injil, terutama kesibukan dalam pekerjaan masing-masing menjadi hambatan yang sangat menonjol, karena dengan bekerja mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

  Pada item no. 12, responden terbanyak yakni 7 orang (70%) menyatakan bahwa nilai-nilai Injil cukup mempunyai pengaruh sepanjang pemimpinnya mampu membimbing umat untuk menghayati dan memperkembangkan imannya di tengah budaya setempat. Alasan ini dikatakan oleh 6 orang sedangkan 1 orang lagi mengatakan bahwa banyak tantangan berat yang harus dihadapi oleh pewarta. Oleh karena itu, seorang pewarta perlu memiliki sikap sabar dan teguh dalam melaksanakan pewartaan. Sedangkan 3 orang responden (30%) menyatakan bahwa nilai-nilai Injil tidak terlalu berpengaruh karena masih banyak kasus-kasus yang bertentangan dengan nilai-nilai Injil sering terjadi, antara lain perselingkuhan yang berakibat sampai pada perceraian, perjudian dan juga ketidakjelasan dari pewartaannya sendiri (pemahaman yang kurang).

  Penulis mendapat kesan bahwa bahwa peranan seorang pewarta sangat penting di sini dalam mewartakan kabar Gembira di tengah umat yang masih memegang kuat budayanya. Bagaimana pewarta itu memanfaatkan budaya yang ada sebagai sarana baginya untuk mewartakan tanpa harus meminta umat untuk meninggalkan sesuatu yang sudah turun-temurun mereka hayati dalam hidupnya.

3. Kesimpulan Hasil Penelitian

  Berdasarkan hasil penelitian, dapat penulis simpulkan bahwa kaum awam di wilayah Busur cukup berpartisipasi dalam evangelisasi. Sebagian umat menyadari bahwa keterlibatannya merupakan pengutusan sebagai orang Katolik. Ada juga beberapa umat yang terlibat karena merasa kurangnya tenaga pastor, sehingga perlu dibantu. Dalam mewartakan Injil umat cukup merasa senang dan bangga dapat terlibat karena dalam keterlibatannya mereka tidak mengalami unsur keterpaksaan.

  Keterlibatan kaum awam selama ini cukup mengalami banyak tantangan, namun mereka menyadari itu sebagai bagian dari proses kehidupan yang dijalaninya. Selama ini kaum awam sudah cukup terlibat dalam evangelisasi meliputi bidang Gerejani, keluarga, masyarakat, di tempat kerja dan dalam kehidupan sehari-hari. Namun kebanyakan dari mereka kurang menyadari bahwa tindakan mereka merupakan suatu pewartaan. Masih banyak umat yang berpendapat bahwa pewartaan itu dilakukan dalam bidang Gerejani semata. Hal ini sesuai dengan komentar para responden yang menyatakan keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan gerejani identik dengan pewartaan. Umat masih memiliki keraguan dalam memaknai evangelisasi tersebut walaupun secara spontan mereka menyatakan bahwa pewartaan dapat dilakukan dalam hidup sehari-hari. Kesadaran umat untuk mengambil bagian dalam tugas pewartaan Injil juga masih kurang karena kurang mendalamnya pemahaman mereka akan makna evangelisasi sehingga kurang dalam penghayatannya. Oleh karena itu, perlu suatu penegasan akan makna evangelisasi bagi umat, agar mereka tidak mengalami keraguan untuk melaksanakan pewartaan dalam kehidupannya terutama dalam hidup berkeluarga.

  Kaum awam merasakan bahwa ada faktor yang mendukung dan menghambatnya dalam melaksanakan pewartaan Injil. Faktor pendukung pertama-tama dari dalam diri sendiri karena diri merupakan kunci dalam menjalani segala sesuatu. Bila diri sendiri sudah menyadari tugas dan tanggungjawabnya sebagai pribadi beriman, maka iapun akan dengan sepenuh hati melaksanakannya tanpa beban. Faktor pendukung juga datang dari luar diri yakni dukungan dari keluarga yang mau mengerti dan memahami pekerjaan dan kesibukan suami atau istrinya, keterlibatan anak-anak dalam berbagai kegiatan yang ada menjadi penyemangat bagi orang tua. Dukungan juga datang dari umat setempat yang terlibat aktif dalam kegiatan yang ada. Sebab sesungguhnya antara umat itu saling mempengaruhi. Di samping itu, umat juga menghadapi hambatan yang datang dari dalam dirinya sendiri yakni kurangnya kesadaran untuk mau mengambil bagian dalam pewartaan. Seringkali mereka merasakan banyak dukungan dan motivasi yang diberikan orang lain baginya, namun dari dalam dirinya sendiri tidak ada niat untuk melakukannya.

  Kurangnya pemahaman dan penghayatan umat tentang makna evangelisasi juga menjadi hambatan bagi mereka dalam melaksanakan pewartaan, sehingga seringkali kesibukan dalam bekerja menjadi alasan bagi mereka tidak dapat terlibat. Masalah pendidikan, kehidupan sosial (pergaulan) juga menjadi hambatan karena umat yang kurang bergaul merasa minder dan malu bergabung dengan umat yang lainnya, sehingga tanpa sadar terjadi pemisahan antara yang aktif dalam kegiatan dan yang tidak aktif. Ketidakaktifan umat juga dapat berpengaruh negatif bagi umat yang lainnya karena mereka berpikir tidak penting terlibat karena masih banyak juga umat yang tidak aktif. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pada dasarnya umat mau terlibat dan mengambil bagian dalam pewartaan Injil, namun dibutuhkan kerjasama untuk saling meneguhkan dan menguatkan satu dengan yang lainnya. Umat juga perlu diberi penjelasan yang mendalam tentang makna evangelisasi. Oleh karena itu, pada bab IV penulis mengusulkan suatu program katekese keluarga untuk meningkatkan keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi.

BAB IV USULAN PROGRAM KATEKESE KELUARGA UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN KAUM AWAM DALAM EVANGELISASI Berdasarkan hasil penelitian, penulis menemukan gambaran umum bahwa

  keterlibatan umat dalam evangelisasi belum sepenuhnya maksimal. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya umat yang kurang memahami dan menghayati makna evangelisasi dalam hidupnya, sehingga masih banyak yang berpandangan bahwa pewartaan Injil itu kaitannya dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat Gerejani semata seperti kotbah, misa mingguan, doa rosario atau pendalam Kitab Suci. Padahal pewartaan Injil dapat dilakukan di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja termasuk kaum awam. Oleh karena itu, pada bab IV ini penulis berusaha memaparkan pentingnya pewartaan Injil dilakukan oleh setiap orang Kristiani demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari, agar mereka bukan hanya diselamatkan tetapi juga menyelamatkan sesama. Pewartaan Injil itu mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, baik keluarga, lingkungan atau masyarakat maupun di tempat kerja. Dalam bab ini, penulis mengajak kaum awam untuk berevangelisasi dalam keluarga dengan menanamkan nilai-nilai Kerajaan Allah pada anggota keluarganya, sehingga pada akhirnya setiap anggota keluarga dapat melanjutkan pewartaan dalam kehidupannya sehari-hari, di manapun ia berada.

  Penulis membagi bab IV ini menjadi empat bagian pokok pembahasan. Bagian pertama membahas katekese keluarga meliputi: pengertian, tujuan, hal-hal yang penting dalam katekese keluarga dan kekhasan katekese keluarga. Bagian kedua memaparkan usulan program yakni katekese keluarga untuk meningkatkan keterlibatan keluarga sebagai kaum awam dalam evangelisasi melalui Shared

  

Christian Praxis (SCP), yang meliputi: latar belakang pemilihan program, usulan

  tema dan gambaran pelaksanaan program. Bagian ketiga penjabaran program dan bagian keempat memberikan contoh satuan persiapan (SP).

A. Katekese Keluarga 1. Pengertian Katekese Keluarga

  Dalam Kitab Suci katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman dan pendidikan iman agar seorang Kristiani semakin dewasa dalam imannya (Luk.

  1:4). Katekese juga dipahami sebagai “usaha-usaha dari pihak Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari” (Telaumbanua, 1999:5). Gereja dengan berbagai upaya berusaha membantu umat untuk selalu berkembang dalam imannya agar mereka senantiasa berjalan dalam terang iman di tengah arus zaman.

  Pembinaan melalui katekese diharapkan mampu mengantar manusia baru sampai pada kepenuhan imannya, sehingga ia dengan mantap mengakui dan menjalani hidup di tengah keluarga, masyarakat dan Gereja. Keluarga merupakan Gereja domestik yang menjadi dasar dari pembentukan manusia baru menuju kedewasaan iman. Dengan demikian katekese keluarga dapat dipahami sebagai tindakan pelayanan pendampingan atau pendidikan iman dalam keluarga-keluarga Kristiani, agar setiap anggota keluarga mampu memahami dan menghayati iman di tengah kehidupan saat ini.

  Berdasarkan penelitian di wilayah Busur, penulis menemukan bahwa masih banyak keluarga-keluarga Katolik yang kurang menghayati iman di tengah kesibukannya sehari-hari, sehingga banyak keluarga Katolik yang menganggap bahwa kesibukan bekerja merupakan sesuatu yang harus dihadapi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat. Akibatnya tidak banyak waktu bagi mereka untuk mewartakan Injil. Tidak jarang pula banyak terjadi tindakan yang bertolak belakang dengan ajaran Kristiani seperti perselingkuhan yang berakibat pada perceraian dan perjudian.

  Kenyataan ini tentu saja mengundang keprihatinan bagi penulis secara pribadi sehingga penulis tergerak untuk memberikan sumbangan pemikiran yang dapat membantu keluarga Kristiani sebagai kaum awam untuk semakin menghayati iman di tengah keluarganya masing-masing sebagai dasar untuk mewartakan Injil di tengah masyarakat, Gereja dan hidup sosialnya. Melalui katekese keluarga ini, setiap anggota keluarga diharapkan dapat mengambil bagian dalam tugas pewartaan Injil dengan caranya masing-masing. Orang tua sebagai pendidik utama dalam keluarga dapat membimbing anak-anak menghayati imannya dengan memberikan teladan yang baik pada mereka, misalnya mengajak anak berdoa sebelum dan sesudah makan; sebelum dan sesudah bangun tidur; membacakan Kitab Suci dan menceritakan kebaikan- kebaikan Tuhan melalui sesama pada anak-anak; mendoakan anak-anaknya terlebih saat ulang tahunnya; mengajak semua anggota keluarga berdoa pada saat ulang tahun perkawinannya, sehingga anak-anakpun dapat melakukan hal yang sama dan semakin menyadari pentingnya kebersamaan dalam keluarga untuk memupuk cinta kasih antara satu dengan yang lain. Sikap mau melayani anggota keluarga dapat menjadi teladan yang menumbuhkan kepekaan dalam diri, seperti diteladankan oleh orang Samaria yang murah hati dalam Injil Lukas 10:34 bagaiman melayani tanpa pamrih.

  Dalam katekese keluarga ini, orang tua memiliki peranan yang penting sebab orang tualah pendidik utama. Orang tua merupakan pendidik iman yang pertama bagi anggota keluarganya, oleh karena itu penting bagi para orang tua untuk semakin memperdalam penghayatan imannya agar mampu merefleksikannya dengan memberikan kesaksian pada anggota keluarganya. untuk kelancaran proses katekese keluarga ini diperlukan kerjasama yang baik dari semua anggota keluarga. Melalui kesibukan dalam bekerjapun orang tua dapat menghayati imannya dengan sepenuh hati. Hal ini akan sungguh-sungguh terjadi bila setiap pribadi yang dewasa dalam iman mau dan rela menyisihkan sediki waktunya untuk memaknai setiap pengalaman hidupnya menjadi sebuah pengalaman iman yang dapat meneguhkan dan menguatkan imannya, sehingga dalam perjalanannya tidak tergoyahkan.

  Hal lain yang lebih penting dalam katekese adalah komunikasi atau sharing pengalaman iman, karena melalui komunikasi atau sharing umat saling berbagai pengalaman iman dan saling meneguhkan dalam iman. Demikian pula dalam keluarga, komunikasi sangat penting untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan dalam hubungan dengan anggota keluarga. Dengan komunikasi yang baik antar anggota keluarga, akan tercipta keharmonisan karena adanya sikap saling pengertian dan menghargai satu dengan yang lainnya. Sikap saling menghargai akan menumbuhkan sikap rela berkorban dan mau melayani. Pelayanan suami terhadap istri dan sebaliknya, orang tua terhadap anak-anaknya dan anak-anak terhadap orang tuanya. Orang tua dapat mewujudkan cinta kasih melalui sikap perhatian terhadap anak-anak, memberi dengan tulus sehingga tertanam dalam diri anak-anak untuk memberikan cinta dan perhatian pada orang tua dan sesama dengan tulus; ringan tangan melihat penderitaan orang lain dan mau melayani sesama tanpa pamrih. Dengan demikian akan terwujud nilai-nilai Kerajaan Allah dalam keluarga yakni kedamaian, kerukunan, cinta kasih, pelayanan dan keadilan.

  Katekese memang menekankan penghayatan iman namun segi pengetahuan juga tetap diupayakan (Yosef Lalu, 2007:90). Hal ini tentu sangat mendukung anggota keluarga untuk semakin memperdalam pemahamannya agar mencapai suatu penghayatan iman yang mendalam, sehingga dapat diwujudkan dalam sikap dan perbuatannya. Dengan demikian katekese keluarga merupakan upaya masing- masing anggota keluarga Kristiani untuk semakin memperdalam penghayatan iman dengan saling berevangelisasi dalam keluarga.

2. Tujuan Katekese Keluarga

  “Sebagai seorang pewarta Injil, Kristus pertama-tama mewartakan suatu kerajaan, Kerajaan Allah (EN art. 8). Maka yang menjadi tujuan dalam katekese keluarga ini adalah demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah dalam keluarga, sebab katekese keluarga merupakan salah satu bentuk pewartaan Injil. Dalam kenyataannya masih banyak keluarga-keluarga Katolik di wilayah Busur yang kurang memaknai dan menghayati iman dalam kehidupannya, walaupun tidak semua keluarga Katolik demikian. Dalam mewartakan Injil yang diharapkan terjadi adalah kegembiraan bagi mereka yang menerimanya, maka melalui katekese keluarga ini setiap anggota keluarga diharapkan dapat memberi kebahagiaan dan kegembiraan pada anggota keluarganya, sehingga nilai-nilai Kerajaan Allah dapat terwujud dalam sikap mencintai dan mengasihi seluruh anggota keluarganya sepenuh hati, melayani dengan tulus hati, menciptakan keharmonisan dalam keluarga, menciptakan rasa damai dan nyaman bagi anggota keluarganya dan orang lain, dan yang terpenting adalah menerima Injil dalam hati, menghayatinya dan menjalankan sesuai kehendak Bapa. Dengan demikian, anggota keluarga yang saling berevangelisasi akan beroleh kebahagiaan sejati bersama, sehingga dapat diteruskan dalam kehidupan sosialnya di tengah lingkungan atau masyarakat, gereja dan sampai ke tempat kerja dan di manapun ia berada.

  Dengan demikian katekese keluarga ini bertujuan untuk membantu orang tua sebagai kaum awam agar semakin mampu menghayati makna evangelisasi dalam kehidupannya sehari-hari di tengah arus zaman saat ini dengan terlibat aktif mewartakan Injil dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah keluarga masing-masing. Melalui kebiasaan mewartakan Injil dalam keluarga tersebut, setiap anggota keluarga Kristianipun akan mampu mengambil bagian dalam pewartaan Injil dalam kehidupannya di tengah masyarakat, Gereja dan di tempat kerjanya.

3. Isi Pokok Katekese Keluarga

  Berdasarkan perintah Tuhan Yesus, agar umat dapat percaya dan diselamatkan maka sudah kewajiban bagi Gereja untuk menyampaikan pesan- pesan Injil ke seluruh penjuru dunia (EN art. 5). Oleh karena kewajiban inilah maka keluarga sebagai Gereja kecil secara otomatis mempunyai tugas yang sama setelah diterima sebagai anggota Gereja melalui pembaptisan untuk mengambil bagian dalam karya Yesus Kristus mewartakan Kabar Gembira pada sesama.

  Keluarga yang menerima perutusan dari Allah menjadi sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat (AA art. 11). Melalui Gereja kecil ini setiap anggota keluarga diharapkan memiliki sikap cinta kasih yang mendalam antar satu dengan yang lainnya, sehingga cintakasih Allah menjadi nyata bagi sesama. “Sebab keluarga Kristiani merupakan rukun hidup yang pertama, yang dipanggil untuk mewartakan Injil kepada manusia selama perkembangannya dan untuk mengantarnya kepada kematangan manusiawi dan Kristiani yang sepenuhnya, melalui pembinaan dan katekese yang berangsur-angsur” (FC art. 2). Melalui pembinaan dan katekese yang dilakukan secara terus-menerus dalam perkembangan setiap pribadi akan tumbuh kesadaran dan kedewasaan dalam sikap dan hidup berimannya, sehingga setiap pribadi dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kehendak Allah yakni hidup penuh cintakasih.

  Hal-hal yang penting dalam katekese keluarga ini penulis mendasarkan pada dokumen Familiaris Consortio art. 18 sampai dengan 64) yaitu: a.

  Membentuk persekutuan pribadi melalui cintakasih Dalam kehidupan manusia, keluarga adalah tempat paling sering terjadi pertemuan antar anggota keluarganya, yakni suami dan istri, orang tua dan anak- anak, sanak-saudara yang lainnya (FC art. 18). Hal ini pula yang dialami oleh umat di wilayah Busur karena keseharian mereka berada dalam keluarga masing- masing. Sebab setiap individu akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam keluarga, baik secara jasmani maupun rohani. Oleh karena itu, keluarga memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan setiap pribadi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa keseluruhan hidup kaum awam sebagai keluarga tidak dapat dilepaskan begitu saja dari pewartaan Injil, sebab keluarga sendiri telah dipanggil oleh Allah untuk meneruskan pewartaan tersebut dalam keluarganya.

  Gereja rumahtangga (domestik) menjadi nama indah yang diberikan bagi keluarga di mana kaum awam berkarya dalam hidupnya. Oleh karena itu, hendaknya keluarga sama seperti Gereja menjadi tempat untuk meneruskan Injil, membawakan diri bagaikan ruang ibadat yang rela untuk menjamu setiap anggota keluarganya yang lain, memajukan keadilan dan perbuatan baiknya untuk melayani sesama. Setiap keluarga yang sadar akan perutusannya, akan melakukan dan menerima evangelisasi dari anggota keluarganya (EN art. 71).

  Namun kenyataan yang terjadi di wilayah Busur adalah jarang terjadi pertemuan antar anggota keluarga karena kesibukan dalam bekerja. Pertemuan dapat terjadi pada sore hari setelah pulang dari tempat kerja atau pada hari libur. Sedangkan anak-anak yang masih kecil biasanya dipercayakan pada orang yang dipercaya untuk menjaganya. Kenyataan seperti ini terkadang juga menimbulkan kurangnya komunikasi yang baik antar anggota keluarga, sehingga dapat terjadi kesalahpahaman yang berakibat pada kurang harmonisnya hubungan dalam keluarga (keluarga berantakan).

  Agar evangelisasi dapat terjadi terus-menerus dalam keluarga, maka perlunya kesadaran dari keluarga-keluarga Katolik akan tugas perutusannya karena inti evangelisasi keluarga terletak pada tiap-tiap pribadi yang menghayati perutusan yang diembannya dan secara sadar mewujudkan dalam sikap dan tindakannya. Komunikasi Injil yang dilakukan dalam keluarga bukan hanya lewat tutur kata semata, melainkan lebih konkrit dilakukan dalam kesaksian hidupnya sehari-hari melalui tindakan (EN art. 26). Sebab sebagai seorang Kristiani kesaksian hidup menjadi hal terpenting dalam mewartakan janji-janji Allah tentang cintakasih, pengampunan, peduli terhadap saudara-saudara yang menderita dan diungkapkan dalam doa (EN art. 28). Cintakasih merupakan landasan bagi suatu keluarga dalam menghayati persekutuannya sebagai Gereja kecil karena tanpa cintakasih keluarga bukanlah rukun hidup antar pribadi (FC art.

  18).

  b.

  Mengabdi kepada Kehidupan Tugas asasi keluarga adalah mengabdi kepada kehidupan dan mewujudkan secara konkret dalam kehidupan melalui prokreasi. Prokreasi di sini bukan semata-mata pada keturunan, melainkan juga pada buah-buah hasil kehidupan moril dan rohani yang disalurkan kepada setiap anggota keluarganya yang diwujudkan dalam sikap dan tindakan konkretnya. Keluarga dipanggil secara khusus dan istimewa untuk melanjutkan pewartaanNya. Melalui panggilan khusus dan istimewanya itu, keluarga diberi kebebasan yang bertanggungjawab untuk berkembangbiak dan memanfaatkan alam semesta demi kelangsungan hidupnya di dunia (FC art. 28). Oleh karena panggilannya yang khas itu pula, Gereja mendapatkan misi untuk terus menjaga dan melindungi martabat luhur dari pernikahan keluarga Katolik hingga saat ini (FC art. 29). Sebab perkawinan bukan hanya diadakan demi adanya keturunan melainkan hakekat janji antar pribadi yang tak dapat dibatalkan (GS art. 50). Artinya perkawinan yang telah dilangsungkan tidak dapat dibatalkan karena belum adanya keturunan walaupun itu menjadi bagian dari tujuan perkawinan. Justru sebaliknaya perkawinan di sini mendapat tantangan dalam mewujudkan cintakasih Allah yang sejati pada pasangannya dengan tetap bertahan sebagai rukun hidup yang setia.

  Manusia ada karena cintakasih Allah yang tak terhingga, hal ini nampak dalam kisah penciptaan langit dan bumi yang dilakukan Allah dan dipandang baik adanya (Kej. 1:1), sehingga Iapun menciptakan manusia untuk menjaga dan menguasai alam ciptaanNya secara bebas dan bertangungjawab (Kej. 2:7).

  Kebahagiaan manusiapun sungguh Ia pikirkan, oleh karena itu, Ia tidak ingin membiarkan manusia hidup hanya seorang diri saja, (Kej. 2:18). Maka diciptakan penolong baginya yang kemudian disebut sebagai suami-istri (keluarga). Suami- istri ini akan membentuk sebuah keluarga dan memulai kehidupan barunya dalam keluarga kecilnya terpisah dari orangtua yang melahirkannya, karena itu dikatakan seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya untuk bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu (Kej. 2:24). Persatuan ini telah direstui oleh Allah, dipercaya untuk mengambil bagian dalam kehidupan dan bekerjasama dengan cintakasih Allah yang telah menjadikan mereka ada. Hendaknya pula cintakasih ini didasarkan pada sikap terbuka antara kedua belah pihak untuk saling menerima dan menghargai. Dengan demikian merekapun dapat terbuka terhadap kehidupan baru mereka dalam dunia.

  Dalam kehidupannya, keluarga dihadapkan pada situasi konkrit dunia yang terus mengalami perubahan dan perkembangan dalam banyak segi. Perkembangan yang mencolok yakni perkembangan dalam ilmu-pengetahuan dan teknologi. Manusia saat ini dituntut untuk mampu mengikuti perkembangan yang ada agar tidak dikatakan ketinggalan zaman, sehingga Gereja yang mengemban misi menjaga keutuhan keluarga perlu mengikuti perkembangan yang ada. Gereja perlu secara kritis membantu keluarga untuk memilih kehidupannya di tengah dunia saat ini, karena perkembangan ini bukan saja berdampak positif bagi kemajuan dan perkembangan pribadi namun juga membawa dampak negatif. Bila setiap individu tidak memiliki siap menghadapi hidup pada zamannya, maka ia akan terjerumus pada kenikmatan sesaat dunia, sehingga hanya berfokus pada kekayaan yang bersifat jasmani semata dan meninggalkan kekayaan rohani (FC art. 30).

  Gereja menyadari bahwa banyak persoalan yang dihadapi keluarga saat ini, yang juga dihadapi oleh keluarga-keluarga di wilayah Busur seperti perpecahan dalam rumah tangga yang disebabkan oleh kesulitan ekonomi, perselingkuhan maupun perjudian. Dalam kehidupan zaman sekarang sering terjadi tindakan pembunuhan, aborsi, penindasan dan ketidakadilan yang menimbulkan keresahan dalam kehidupan keluarga. Masih banyak keluarga yang terlalu disibukkan dengan pekerjaan di luar rumah dan mengabaikan tugasnya sebagai anggota keluarga, sehingga satu dengan yang lain tidak saling memperhatikan dan menghargai serta kurangnya pengertian antar kedua belah pihak. Persoalan seperti ini tentu ada dalam suatu keluarga, namun bila masing-masing anggota keluarga dewasa dalam menghadapi persoalan yang ada, maka penyelesaian persoalan tidak sampai pada pembatalan janji pernikahan yang telah diikrarkan. Oleh karena itu, sangat diharapkan agar keluarga menjunjung tinggi rukun hidup dengan terus mengembangkan cintakasih Allah secara nyata dalam kehidupannya (GS art. 47).

  Sebab pasangan suami-istri yang telah terikat dalam janji perkawinan suci di hadapan Allah dituntut untuk hidup rukun dan setia terhadap pasangannya (FC art.

  32) karena kesetiaan melambangkan cintakasih yang tanpa batas terhadap pasangannya sebagai penyerahan sikap mau saling menerima dan menghargai satu dengan yang lainnya, bagaimanapun keadaannya. Kesetiaan yang ditampilkan oleh Yesus dalam hidupNya pantas menjadi teladan bagi keluarga terutama keluarga-keluarga di wilayah Busur dalam menapaki kehidupannya yang penuh liku di dunia zaman ini. Berhadapan dengan berbagai tantangan hidup yang ada, yang bukan hanya datang dari luar melainkan juga dari dalam diri sendiri, setiap anggota keluarga juga perlu bekerjasama membangun keluarga yang kokoh dan kuat. Kesetiaan terhadap pasangannya menunjukkan cintakasih sejati antar suami- istri, sehingga sikap yang dijiwai oleh semangat cinta Kristus menjadi teladan bagi anak-anak dan anggota keluarganya yang lain. Dengan demikian merekapun saling menguduskan dan bersama-sama memuliakan Allah. Sebab itu suami-istri sebagai orang tua bertanggungjawab dalam pembinaan dan pendidikan iman bagi anak-anaknya dan anak sebagai anggota keluarga membalasnya dengan rasa syukur (GS art. 48).

  Gerejapun senantiasa berusaha mencari dan memecahkan kesukaran yang dihadapi oleh keluarga yang terlihat dalam upaya pengenalan dan pembinaan terhadap suami-istri maupun kaum muda yang hendak menikah untuk mengenal dan memahami seksualitas. Gereja berupaya agar pasangan yang hendak menikah memperoleh pengetahuan yang memadai dan pembinaan yang baik agar setiap individu mampu mengendalikan diri dari segala sikap yang bertentangan dengan ajaran Ilahi. Kesucian pernikahan tercermin dalam kemurnian setiap individu, yang berarti kekuatan rohani yang mampu membela cintakasih terhadap bahaya egoisme dan sikap agresif (FC art. 33). Kemurnian ini juga menunjukkan sikap penghargaannya terhadap kehidupan yang telah dianugerahkan baginya.

  Suami-istri sebagai orangtua berperanserta dalam penciptaan Allah dengan mendidik anak-anaknya. Pendidikan terhadap anak-anak yang telah dipercayakan pada sebuah keluarga tidak dapat diabaikan begitu saja dan tidak dapat dilimpahkan pada orang lain, sebab orangtua merupakan pendidik pertama dan utama yang bertanggungjawab atas pertumbuhan dan perkembangan anak- anaknya (FC art. 36). Terutama pendidikan seksualitas sangat penting dilakukan oleh orangtua bagi anak-anaknya (FC art. 37), sebab seksulitas tidak dapat dilepaskan begitu saja dari pertumbuhan dan perkembangan mereka. Pendidikan seksualitas harus diberikan berkaitan dengan moral, sehingga membawa anak- anak sampai pada penghormatan terhadap moral manusia dalam menjalani perkembangannya.

  Sakramen pernikahan melanjutkan pelayanan Gereja terhadap anggota keluarganya dengan membina dan mendidik mereka untuk senantiasa memuji dan memuliakan Allah (FC art. 38). Pendidikan itu bukan hanya sebagai pendewasaan pribadi manusia melainkan secara perlahan-lahan melalui pembaptisannya ia diperkenalkan pada misteri penyelamatan Allah akan hidup manusia (FC art. 39). Melalui pembinaan rohani dan jasmani dalam keluarga, mereka dapat menghayati hidupnya secara penuh dan bertanggungjawab.

  c.

  Ikut serta dalam pengembangan masyarakat Keluarga merupakan sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat, sebab penciptaan alam semesta menetapkan suami-istri sebagai asal mula dan dasar masyarakat manusia (FC art. 42). Oleh karena masyarakat dilahirkan dari keberadaan keluarga, maka kehidupan keluarga tidak terlepas dari kehidupan sosialnya dalam masyarakat. Keluarga hendaknya berperanserta dan bersikap terbuka terhadap keluarga-keluarga lainnya demi pengembangan masyarakat luas.

  Kehidupan keluarga merupakan pengalaman bagi setiap anggotanya untuk mengalami persekutuan dan saling berbagi satu dengan yang lainnya, sehingga tertanam sikap memberi secara sukarela. Melalui pengalaman persekutuannya tersebut, setiap anggota keluarga dapat menjadi pendorong sekaligus teladan bagi masyarakatnya. Sikap memberi secara sukarela yang dimiliki setiap anggota keluarga akan melahirkan penerimaan yang tulus terhadap manusia lainnya, memberi dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan, sikap menghargai dan menghormati perbedaan dan sikap setiakawan. Oleh karena itu, peran keluarga sebagai tempat paling efektif untuk memanusiakan manusia tidak dapat diragukan lagi. Sebab dalam keluargalah awal mulanya manusia bertumbuh dan berkembang menuju kedewasaan (FC art. 43). Keluarga juga diharapkan berperanserta dalam kehidupan sosial yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak demi untuk kesejahteraan bersama terutama kaum miskin dan terlantar. Dalam hal ini keluarga dan masyarakat berperanan saling melengkapi demi terwujudnya kesejahteraan setiap orang (FC art. 45).

  Kenyataan yang terjadi dalam kehidupan, masyarakat seringkali bertentangan dengan keluarga. Terkadang masyarakat dan juga Negara secara terang-terangan bersikap tidak adil terhadap keluarga. Aturan Negara yang menentang antara lain, secara tidak langsung merestui adanya suatu perceraian sementara pernikahan terbentuk atas dasar cintakasih dan sikap saling menerima antara kedua belah pihak. Akibatnya banyak juga keluarga Katolik bercerai ketika menghadapi berbagai persoalan dalam hidup rumah tangganya, dan anak-anak adalah korbannya. Kehidupan anak-anak menjadi terlantar baik secara fisik maupun rohanai karena kurangnya pendidikan terutama keteladanan dari orang tua (FC art. 46).

  Sakramen yang diterima oleh pasangan Katolik menyalurkan kemampuan dan kesanggupan untuk menghayati panggilan mereka sebagai awam untuk mencari Kerajaan Allah dengan mengurusi dan mengatur dunia seturut kehendakNya. Pengabdian Kristus dalam tugas rajawiNya mengajarkan pada keluarga pentingnya sikap mengabdi pada pasangannya, sebab dalam Sakramen Pernikahan mereka telah menerima perintah untuk melanjutkan karya Allah dalam hidup keluarganya dan memperoleh rahmat yang senantiasa menopang dan mendorong mereka untuk selalu bersikap dan bertindak seturut kehendak Allah. Demikianlah keluarga Katolik diharapkan senantiasa memberi kesaksian dalam kehidupan sosialnya dengan mengutamakan cintakasih terutama peduli terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan (FC art. 47).

  Dengan kesadaran akan tugas perutusannya diharapkan agar keluarga- keluarga di wilayah Busur mampu menjadi bagian dalam kehidupan di tengah masyarakat. Dengan demikian setiap keluargapun turut serta dalam membangun dan mengembangkan masyarakat untuk semakin mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupannya di dunia ini.

  d.

  Berperan serta dalam kehidupan dan misi gereja Pada hakekatnya keluarga sebagai Gereja rumahtangga dipanggil untuk berperan serta dalam misi Gereja yakni membangun Kerajaan Allah dalam kehidupannya (FC art. 49). Kerajaan Allah dapat diwujudkan dalam sikap mereka yang hidup penuh cintakasih satu dengan yang lainnya, saling memberi dan menerima apa adanya serta berbela rasa terhadap yang miskin dan terlantar.

  Keluarga sering dipandang sebagai sebuah komunitas kecil, namun sesungguhnya keluarga memiliki peranan yang penting untuk terlibat dalam kehidupan dan misi Gereja demi menegakkan Kerajaan Allah. Pembangunan Kerajaan Allah dapat melalui kenyataan hidup sehari-hari (FC art. 50). Oleh karena itu, Gereja sebagai Ibu tidak pernah berhenti untuk mewartakan Sabda Allah bagi keluarga-keluarga Kristiani yang dilakukan dalam perayaan-perayaan Sakramen supaya keluarga senantiasa dikuduskan.

  Partisipasi keluarga Katolik dalam perutuasan Gereja mengacu pada tiga aspek yakni keluarga sebagai persekutuan yang beriman dan mewartakan Injil, persekutuan dalam dialog dengan Allah dan persekutuan dalam pengabdian kepada sesama. Aspek pertama menggambarkan suatu keluarga yang senantiasa mendengarkan Sabda Allah dan menerima dengan tulus hati, menyakininya kemudian mewartakan dengan penuh kepercayaan. Perayaan Sakramen Pernikahan sendiri merupakan pewartaan cintakasih suami-istri yang diwujudkan dengan mengikrarkan janji setia kedua pasangan. Situasi dan kenyataan hidup zaman sekarang menunjukkan betapa pentingnya katekese keluarga yang dilakukan oleh masing-masing keluarga sebagai Gereja rumahtangga demi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anggota keluarganya. Keluarga juga telah melaksanakan pelayanan bagi anggota keluarganya, antara lain orang tua melayani anak-anaknya, anak-anak melayani orang tua dan juga saudara-saudari lainnya dalam suatu keluarga saling melayani. Peranan orang tua sangat penting dalam keluarga dengan memberikan pelayanan pewartaan Injil dan katekese dalam perkembangan anak-anaknya. Sebab sekalipun itu sebagai pelayanan yang sederhana namun merupakan wujud pengabdian keluarga kepada Gereja. Pewartaan Injil yang dilakukan oleh sebuah keluarga bukan hanya bagi anggota keluarganya saja melainkan kepada seluruh ciptaan (FC art. 51-54).

  Aspek kedua menunjukkan partisipasi keluarga dalam tugas rajawi dalam kuasa Kristus Sang Imam Agung. Melalui Sakramen Pernikahannya keluarga dipanggil dan dilibatkan dalam dialog dengan Allah melalui sakramen-sakramen, pengorbanan hidup dan doa (FC art. 55). Peranan menguduskan dalam keluarga Katolik didasarkan pada baptis dan ungkapan luhur dalam Ekaristi serta kehidupan sehari-hari. Ekaristi Suci merupakan sumber pernikahan Katolik karena melalui korban Ekaristi cintakasih Kristus dengan Gereja dihadirkan. Melalui perayaan Ekaristi Kudus, suami-istri senantiasa memperbaharui sikap berimannya dengan mendasarkan pada cintakasih Yesus Kristus yang tanpa batas (FC art 57).

  Dalam kehidupan keluarganya setiap anggota diharapkan untuk saling mengampuni bila melakukan salah, sebab tidak ada manusia yang sempurna.

  Namun dalam perjalanannya manusia sebagai pribadi senantiasa berusaha sampai pada kesempurnaan. Oleh karena itu hendaknya keluarga senantiasa menanggapi seruan untuk bertobat karena dengan pertobatan yang tulus dilakukan, setiap anggota keluarga akan memiliki sikap rendah hati untuk mengampuni (FC art.

  58). Keluarga diharapkan senantiasa menjalin komunikasi dan relasi yang intim dengan Allah melalui sikap doa (FC art. 59), sebab doa dapat menjadi sumber kekuatan bagi setiap pribadi dalam menghadapi kehidupannya di tengah dunia yang penuh tantangan. Melalui doa yang biasa dilaksanakan dalam keluarga, anak-anak secara perlahan-lahan diberi pembinaan secara rohani demi kematangan imannya. Oleh karena itu, doa bukan hanya diperintahkan bagi anggota keluarga untuk dilaksanakan tetapi secara bersama-sama dilaksanakan dan dihayati dalam hidupnya (FC art. 60).

  Aspek ketiga mengajak seluruh umat untuk mengambil bagian dalam pengabdian cintakasihnya terhadap Allah melalui sesama seperti halnya Kristus yang telah dengan tulus melayani kita (FC art. 63). Pelayanan keluarga terhadap anggota keluarganya yang dilakukan dengan tulus membawa dampak positif bagi kehidupan sosialnya di tengah masyarakat untuk mau melayani, mencintai dan mengasihi sesama selayaknya ia mencintai anggota keluarganya.

4. Kekhasan Katekese Keluarga

  Kekhasan katekese keluarga adalah cintakasih (FC art. 18). Sebab keluarga tidak dapat terbentuk sebagai rukun hidup tanpa cintakasih. Cintakasih menjadi sumber kekuatan bagi setiap pribadi untuk saling menyempurnakan diri dalam persekutuannya. Dalam kehidupan keluarga suasana kekeluargaan yang terjalin sangat terasa sebagai wujud cintakasih yang mendalam antar anggota keluarga. Suasana kekeluargaan ini akan menumbuhkan sikap saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya, sehingga tercipta keharmonisan dalam keluarga. Suasana harmonis akan semakin terasa bila anggota keluarga dapat menjalin komunikasi yang baik, mau mendengarkan dan memberi kebebasan pada anggota keluarganya untuk berpendapat. Dengan menjalin komunikasi yang baik, akan tercipta kerukunan dan kedamaian, sikap saling percaya antara pasangan suami-istri sehingga tidak ada keinginan dari pasangan untuk meninggalkan pasangannya dan mencari pasangan lain (selingkuh).

  Kaum awam adalah pelaksana evangelisasi yang khas di tengah dunia. Maka sudah sepantasnya pula keluarga sebagai kaum awam menyandang kekhasannya sebagai pelaksana pewartaan Injil di tengah keluarganya karena dengan segala kemampuan dan daya kekuatannya ia diberi kepercayaan dan tanggungjawab untuk mewartakan Injil dalam keluarganya, sehingga anggota keluarganya dapat merasakan suka cita dari Bapa melalui anggota keluarganya.

  Kekhasan materi dalam katekese keluarga adalah pengalaman hidup konkret manusia dalam kehidupannya sehari-hari yang berkaitan dengan pengalaman iman sesuai Injil, seperti cinta kasih, kesetiaan, pengorbanan, keadilan, kerelaan, pelayanan dsb. Dalam EN art. 7 dikatakan bahwa evangelisasi merupakan suatu proses pewartaan kabar gembira, maka itulah yang menjadi kekhasan dalam pewartaan keluarga. Setiap anggota keluarga diharapkan saling membawa damai dan kegembiraan bagi anggota keluarganya agar mencapai kebahagiaan. Namun hendaknya kebahagiaan ini dapat dibagikan juga pada sesama di sekitarnya, sehingga terwujud Kerajaan Allah di tengah keluarga dan hidup bermasyarakat. Sebab dalam Injil Luk. 4:18 dikatakan bahwa Kerajaan Allah itu diperuntukkan bagi semua orang.

  Pewartaan Injil tersebut dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga karena setiap hari terjadi pertemuan antar anggota keluarga, sehingga sangat memungkinkan terjadi pewartaan setiap saat, seperti ketika bangun tidur istri atau suami menyambut pasangannya dengan senyuman kasih, bekerja bersama menyiapkan kebutuhan di pagi hari dengan melibatkan anak- anaknya, melayani kebutuhan keluarga dengan sepenuh hati tanpa mengeluh, mengajak keluarga untuk berdoa pada saat-saat tertentu seperti ulang tahun perkawinan, ulang tahun suami atau istri, ulang tahun anak, pada hari-hari raya natal atau paskah sebagai ucapan syukur atas anugerah Tuhan. Pergi ke gereja pada hari minggu bersama keluarga, doa di rumah saat makan, doa malam, doa pagi dengan melibatkan anggota keluarganya secara bersama-sama, mendalami Injil sebagai renungan harian, sehingga nilai-nilai Injil semakin meresap dalam hati masing-masing dan dihayati dengan sepenuh hati. Dengan demikian nilai- nilai Injil yang telah tertanam sejak dini akan membuahkan hasil di tengah kehidupan sosialnya dalam masyarakat, gereja dan di manapun ia berada. Sebab pewartaan Injil bukan sesuatu yang terpisah-pisah pelaksanaannya, melainkan suatu proses pewartaan yang dapat dilaksanakan secara serentak.

  B.

  

Usulan Program Katekese Keluarga untuk Meningkatkan Keterlibatan

Keluarga sebagai Kaum Awam dalam Evangelisasi melalui Shared

Christian Praxis (SCP)

  Kaum awam merupakan anggota Gereja yang mendapat perutusan mengambil bagian dalam pewartaan Injil dalam hidup sehari-hari dan keluarga merupakan bagian dari kaum awam. Namun kenyataan yang terjadi di wilayah Busur masih banyak keluarga Katolik yang kurang menyadari bahwa sebagai kaum beriman Kristiani mereka secara otomatis mendapat tugas tersebut. Oleh karena itu, penulis mengusulkan program untuk membantu mereka agar semakin meningkatkan pemahaman dan penghayatannya dalam evangelisasi agar semakin mampu terlibat aktif dalam pewartaan Injil dengan memulainya dari keluarga masing-masing. Program ini memang diperuntukkan pada keluarga-keluarga Katolik, tetapi merupakan kelanjutan dari katekese yang sudah dilaksanakan dalam hidup keluarganya masing-masing. Dengan menyadari dan menerapkan tugas perutusannya dalam keluarga masing-masing, merekapun dapat menerapkannya dalam kehidupan yang lebih luas yakni dalam kehidupan di tengah masyarakat, Gereja dan di manapun mereka berada. Dengan demikian pewartaan Kerajaan Allah mendapat tempat di hati setiap orang yang dijumpainya.

1. Latar Belakang Pemilihan Program

  Dewasa ini keluarga-keluarga Kristiani masih banyak dipengaruhi oleh perkembangan dan kemajuan terutama dalam teknologi, sehingga Gereja merasa perlu untuk terus-menerus mengikuti setiap perkembangan yang ada agar dapat membantu umat berkembang secara dewasa pula. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Gereja untuk membantu pendidikan iman umat adalah katekese, karena melalui katekese dapat terjadi pertemuan antar umat satu dengan yang lainnya untuk saling memperteguh iman di tengah arus zaman.

  Berkaitan dengan penelitian di wilayah Busur, maka penulis merasa perlu mengupayakan sumbangan pemikiran yang dapat membantu umat secara bersama-sama menemukan pemahaman yang kaya/cocok untuk memaknai seluruh hidupnya berdasarkan terang iman untuk mewartakan Injil dalam kehidupannya sehari-hari, di tengah keluarga, dalam kehidupan sosialnya di tengah lingkungan/masyarakat, Gereja dan dalam kesibukannya bekerja atau di manapun mereka berada. Memang keluarga Katolik masih banyak yang memahami bahwa pewartaan Injil seolah-olah hanya berupa kegiatan pendalaman iman, doa rosario, pendalaman Kitab Suci, kotbah dan kegiatan gerejani lainnya. Namun perlu disadari bahwa pewartaan Injil itu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dan dapat dilaksanakan serentak tanpa memisah-misahkan pelaksanaannya. Meskipun umat pada umumnya disibukkan dengan pekerjaan dan usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya masing-masing, namun setiap pribadi dapat mewartakan Injil dengan merefleksikan peristiwa hidup yang dialaminya dalam terang iman, sehingga kesibukan bukan hambatan untuk mewartakan Injil.

  Justru kesibukan menjadi tantangan baginya untuk menghayati iman dan mewujudkannya dalam sikap dan tindakannya.

  Mengingat keluarga adalah tempat paling dasar dalam membentuk kepribadian manusia baru, maka penulis mengusulkan agar katekese sejak dini ditanamkan dalam keluarga-keluarga Kristiani. Agar setiap anggota keluarga sungguh menyadari tanggungjawabnya sebagai orag beriman untuk mewartakan Injil pada sesama. Sebagai kelanjutan dari katekese yang telah dilaksanakan dalam keluarga masing-masing, maka dapat dilaksanakan Katekese Keluarga melalui

  

Shared Christian Praxis (SCP) di Lingkungan. Penulis memilih katekese keluarga

  karena kehidupan kaum awam pada umumnya berada dalam keluarga dan keluarga merupakan tempat seringnya terjadi pertemuan antar anggotanya, sehingga sangat memungkinkan untuk menanamkan nilai-nilai Kerajaan Allah pada anggota keluarganya. Dengan demikian pewartaan Injil yang merupakan pewartaan Kabar Gembira dapat terlaksana dalam seluruh aspek kehidupannya. Katekese model ini merupakan kegiatan merefleksikan pengalaman konkret peserta berdasarkan terang iman dan dipertemukan dengan Tradisi (Kitab Suci, tradisi pengajaran Gereja, spiritualitas, refleksi teologis, sakramen, liturgi, seni dll) dan visi Kristiani (nilai-nilai Kerajaan Allah) yang mengarah pada pertobatan (Heryatno, 1997:1-4).

  Keberadaan peserta dalam proses katekese ini adalah sebagai subyek yang bebas dan bertanggungjawab. Artinya peserta bebas mensharingkan pengalaman imannya dan bersedia mendengarkan pengalaman peserta lain, sehingga dapat terjadi komunikasi yang baik dalam pertemuan. Untuk kelancaran proses pertemuan ini, maka dialog atau komunikasi menjadi tekanan utamanya. Dialog ini bukan hanya antar peserta dan pendamping saja melainkan juga antar peserta itu sendiri dan peserta dengan “teks” dan kehidupan konkret masyarakat setempat. Oleh karena itu, diharapkan peserta terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses pertemuan, sedangkan pemandu sebagai yang mengarahkan dan memberi penegasan. Melalui katekese ini keluarga-keluarga Kristiani diharapkan mampu mengadakan penegasan dan mengambil keputusan secara tegas demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan manusia (Heryatno, 1997:1).

  Pemilihan program ini juga merupakan upaya mendukung visi-misi dari paroki sendiri yang mengarah pada kemandirian dan perkembangan iman umat yang senantiasa berada di bawah bimbingan Roh Kudus demi terwujudnya Kerajaan Allah baik di dalam keluarga sendiri maupun di luar keluarga atau di tengah masyarakat dan di manapun mereka berada.

  Model katekese yang digunakan dalam katekese keluarga ini adalah model

  

Shared Christian Praxis (SCP). Model ini merupakan suatu pendekatan yang

  menekankan proses berkatekese yang bersifat dialogis-partisipatif, baik antar peserta dengan peserta maupun peserta dengan pendamping. Pendekatan ini berusaha mendorong peserta agar mampu mengkomunikasikan pengalaman hidup mereka dengan pengalaman iman berdasarkan terang Injil, sehingga pada akhirnya mereka mampu membuat suatu penegasan dan pengambilan keputusan demi terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupannya sehari-hari (Heryatno, 1997: 1). Penulis memilih model ini sebagai bentuk pendekatan yang diharapkan dapat membantu kaum awam semakin terlibat aktif dalam mewartakan Injil dengan penghayatan iman yang mendalam sehingga nilai-nilai Injil sungguh dihayati dalam sikap dan perbuatannya. Melalui model ini keluarga-keluarga Katolik sebagai kaum awam diharapkan semakin mampu menghayati iman di tengah tantangan zaman dengan terus-menerus mengambil bagian dalam tugas pewartaan Injil dalam kehidupannya.

  Model Shared Christian Praxis (SCP) ini terdiri dari lima langkah yang saling berkaitan yaitu: a.

  Langkah pertama: Pengungkapan Praksis Faktual Pada langkah ini peserta diajak untuk mengungkapkan pengalaman hidup sehari-hari dengan memanfaatkan sarana yang sesuai dengan situasi peserta, sehingga peserta semakin terbantu memaknai pengalaman hidupnya sehari-hari (Heryatno, 1997:5).

  b.

  Langkah kedua: Refleksi Kristis Pengalaman Faktual Pada langkah ini peserta diajak untuk mendalami pengalaman hidupnya yang telah mereka sharingkan pada langkah pertama. Dengan mendalami pengalaman hidupnya, peserta diharapkan sampai pada suatu kesadaran kritis akan pengalaman hidupnya (Heryatno, 1997:5-6).

  c.

  Langkah ketiga: Mengusahakan supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau Pada langkah ketiga ini peserta diajak untuk menggali pengalaman iman

  Kristiani dengan mengkomunikasikan nilai-nilai tradisi dan visi kristiani agar lebih mengena untuk kehidupan peserta yang kontekstual (Heryatno, 1997:6).

  d.

  Langkah keempat: Interpretasi Dialektis antara Pengalaman dan Visi Hidup Peserta dengan Tradisi dan Visi Kristiani Langkah ini mengajak peserta untuk mendialogkan hasil pengolahan mereka pada langkah pertama dan kedua dengan isi pokok langkah ketiga yakni nilai-nilai tradis dan visi kristiani yang dapat meneguhkan, mempertanyakan, dan mengundang mereka secara aktif menemukan kesadaran baru yang hendak diwujudkan. Dengan demikian peserta akan lebih bersemangat dalam mewujudkan imannya agar nilai-nilai kerajaan Allah semakin dapat dirasakan dalam kehidupan bersama (Heryatno, 1997:7).

  e.

  Langkah kelima: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia Langkah ini bertujuan untuk mendorong peserta supaya sampai pada tindakan konkrit bagaimana menghidupi iman kristiani pada konteks hidup yang telah dianalisa dan dipahami, direfleksikan dan dinilai secara kreatif dan bertanggungjawab (Heryatno, 1997:7).

2. Usulan Tema Katekese Keluarga

  Melalui penulisan skripsi yang berjudul “Tantangan Evangelisasi Zaman Sekarang untuk Kaum Awam di Wilayah Busur Paroki Kristus Raja Barong Tongkok Keuskupan Agung Samarinda Kalimantan Timur”, penulis memberikan usulan program “katekese keluarga untuk meningkatkan keterlibatan keluarga sebagai kaum awam dalam evangelisasi melalui Shared Christian Praxis (SCP).

  Usulan program ini disesuaikan dengan kebutuhan umat untuk meningkatkan keterlibatan mereka dalam evangelisasi, sehingga mereka semakin mampu menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Maka, berdasarkan situasi konkrit umat setempat, penulis mengajukan program dengan tema umum “Evangelisasi Keluarga sebagai Upaya Mewujudkan Nilai-nilai Kerajaan Allah dalam Kehidupan Umat Zaman Sekarang”. Melalui tema ini keluarga-keluarga Katolik diharapkan mengalami cinta kasih Allah melalui anggota keluarga dan sesama, sehingga Kerajaan Allah semakin nyata dalam sikap dan perbuatannya sebagai umat beriman Kristiani.

  3. Gambaran Pelaksanaan Program

  Usulan program ini ditujukan pada keluarga-keluarga Katolik dengan pesertanya adalah para orang tua. Program ini juga terbuka bagi peserta kaum muda atau remaja namun persiapannya harus disesuaikan dengan situasi konkret peserta. Tema maupun sarana yang digunakan perlu diupayakan sekreatif mungkin untuk membantu peserta semakin mampu memaknai pengalaman imannya dalam terang Injil.

  Pelaksana dalam usulan program ini dipercayakan pada pengurus lingkungan. Ketua lingkungan diharapkan dengan sepenuh hati memandu jalannya pertemuan katekese di lingkungannya. Agar program ini dapat terlaksana dengan baik maka penulis mengusulkan agar paroki terlebih dahulu mengadakan pertemuan dengan pengurus lingkungan untuk memberikan sosialisasi tentang program ini. Agar apa yang diharapkan dengan terlaksananya program ini dapat tercapai dengan baik.

  Pelaksanaan program ini dapat disesuaikan dengan jadwal pertemuan lingkungan yang biasa dilaksanakan dengan durasi waktu setiap kali pertemuan kurang lebih 90 menit. Enam sub tema dalam usulan program dapat dilaksanakan dalam jangka waktu kurang lebih dua bulan atau bila dirasa ada sub tema yang perlu diperdalam lagi dapat dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Ketua lingkungan dapat mempersiapkan pertemuan berikutnya sesuai dengan contoh satuan persiapan yang ada dengan memanfaatkan sarana yang sesuai dengan situasi peserta. Persiapan pertemuan katekese diharapkan dapat disesuaikan dengan keadaan atau situasi setempat agar katekese tersebut benar-benar menjadi suatu kebutuhan peserta. Peserta dalam pertemuan katekese ini adalah para orang tua. Pertemuan dapat dilaksananakan di rumah umat secara bergantian atau tempat disesuaikan dengan kesepakatan lingkungan yang bersangkutan.

  Tetapi apabila pesertanya remaja atau kaum muda maka pendamping atau orang yang diberi kepercayaan untuk memandu pertemuan ini hendakanya menyesuaikan sarana maupun bahasa dalam proses pertemuannya. Hendaknya pendamping menggunakan bahasa yang biasa digunakan oleh remaja atau kaum muda dalam kesehariannya dan memanfaatkan sarana yang sesuai dengan situasi zaman, yang dapat membantu peserta untuk memaknai pengalaman hidupnya dalam terang Injil. Salah satu contoh sarana yang dapat dimanfaatkan adalah cerita bergambar atau nonton film yang berkaitan dengan tema. Sarana ini dapat dimanfaatkan bila pesertanya remaja/kaum muda ataupun orang tua. Dalam hal ini, metode yang digunakan juga perlu disesuaikan dengan situasi pesertanya, agar selama proses pertemuan berlangsung peserta tidak merasa bosan dan jenuh.

C. Penjabaran Program

  Tema umum : Evangelisasi keluarga sebagai upaya mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan umat zaman sekarang. Tujuan umum : Membantu keluarga sebagai kaum awam agar semakin menyadari dan menghayati panggilan dirinya sebagai pewarta Injil di tengah dunia dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga semakin terlibat aktif dalam mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupannya zaman sekarang.

  Judul No Tema Tujuan Materi Metode Sarana Sumber Bahan Pertemuan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

  • zaman sebagai keluarga- dalam diri syukur Renungan Mihalic, Frank.

1. Tantangan Keluarga Membantu Tantangan dari - - Informasi Buku puji Bahan skripsi.

  • pewarta keluarga Katolik sendiri Alkitab (2008).
  • Injil di sebagai kaum Tantangan dari - Teks cerita Cerita

  1500 - Peneguhan

  Sharing tengah awam agar luar diri pengalaman “Godaan, Bermakna: untuk tantangan semakin siap - Renungan, harga setiap Pendalaman zaman. mewartakan cerita orang” Kotbah dan Injil di tengah

  Ceramah Anda. tantangan

  (F. Rudijanto, zaman. Penerjemah). Jakarta: Obor. (Diterjemahkan asli 1000 Stories You Can Use tahun 1989). Orang tua sebagai kaum awam dalam tugas pewartaan Membantu meningkatkan penghayatan iman orang tua sebagai kaum awam, agar semakin terlibat aktif mewartakan Injil dalam kehidupan sehari-hari.

  2. Orang tua diutus untuk mewartakan Injil

  • Sejarah singkat

    dan pengertian

    evangelisasi.
  • Informasi - Tanya jawab
  • Buku Puji Syukur - Teks Kitab Suci Luk. 4:42-44
  • Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta 2006.
  • Sharing pengalaman
  • Tujuan dan isi evangelisasi
  • Paulus VI.

  (2007). Evangelii Nuntiandi. (J. Hadiwikarta, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1975).

  • Refleksi pribadi
  • Bentuk-bentuk pelaksanaan dan manfaat evangelisasi
  • Yeks cerita “mewakili Kristus”
  • bernyanyi
  • Peneguhan - Pendalaman cerita
  • Laptop/tape dengan musik instrumen
  • Kaum awam

    sebagai pelaksana evangelisasi.
  • Bahan-bahan skripsi bab II.

  3. Membentuk persekutuan pribadi-pribadi Cintakasih sebagai sumber kebahagiaan hidup dalam keluarga Agar setiap keluarga menyadari diri sebagai perantara demi terwujudnya cinta kasih Allah dalam kehidupan keluarganya.

  • Cinta kasih

    sebagai kekuatan persekutuan
  • Bercerita - Sharing pengalaman
  • Buku Puji Syukur - Kitab Suci - Teks cerita “keluarga teladan”
  • Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta 2006.
  • Informasi - pendalaman cerita
  • Bahan-bahan skripsi
  • Persekutuan

    suami-istri tak

    terceraikan dan tak dapat dibatalkan
  • Cerita yang patut diperhatikan sarana pembangun sikap. (1994). Jakarta: Komisi Kateketik KWI.
  • bernyanyi
  • Teks Kitab Suci Kej. 2:18-24
  • Tanya jawab
  • Peneguhan - Refleksi pribadi
  • Hak dan kewajiban anggota keluarga.

  4. Mengabdi Peranan Agar keluarga - - - - Menjalin Informasi Buku Puji Lembaga Alkitab pada keluarga semakin kerjasama Syukur Indonesia. Jakarta Sharing

  • kehidupan dalam menyadari dengan cinta pengalaman 2006 Teks KS
  • kehidupan pentingnya kasih Allah Kej. 1:28 Pendalaman Bahan-bahan
  • >peranan masing- cerita skripsi
  • Ajaran gereja Teks cerita masing ang
  • keluarga pada diperbaharui baikkah” diperhatikan Refleksi - pertumbuhan pribadi sarana Keluarga Alkitab -
  • dan sebagai - salah pembangun Peneguhan Musik perkembangan satu tempat instrumen sikap. (1994).
  • yang selalu “maksud Tanya jawab Cerita yang patut
  • hidup pribadi pemenuhan

  Bernyanyi

  Jakarta: Komisi lainnya dalam rencana Allah Kateketik KWI. kehidupan di dunia zaman ini.

  5. Ikut serta Keluarga Agar keluarga - - - - Keluarga dalam Informasi Buku PS Yohanes Paulus dalam dalam semakin masyarakat. - - II. (1993).

  Tanya jawab Alkitab pengembangan masyarakat menyadari -

  • Familiaris Tugas dan Diskusi Teks cerita

    masyarakat. pentingnya Tanggungjawab kelompok “kesadaran Consortio . (R.

  • anggota masyarakat membebas- Penerjemah).

  pembinaan bagi keluarga dalam yang Hardawiryana, Peneguhan

  • keluarganya pribadi kan” Jakarta: Dokpen demi
  • KWI (Dokumen bernyanyi Teks terwujudnya

  Refleksi

  pertanyaan asli diterbitkan Kerajaan Allah tahun 1981). Teks KS

  • Rm. 12:12-
  • dalam

  Lembaga Alkitab masyarakat.

  21 Indonesia 2006.

Agar setiap keluarga mampu menanggapi panggilannya sebagai anggota Gereja dalam mewujudkan misi Gereja yakni membangun Kerajaan Allah dalam kehidupannya.

  6. Berperanserta dalam kehiduapan dan misi Gereja Keluarga sebagai dasar pewujudan nilai-nilai Kerajaan Allah.

  • Keluarga dalam misi Gereja - Keluarga sebagai persekutuan beriman
  • Informasi - Tanya jawab
  • Sharing pengalaman

  Familiaris Consortio . (R.

  • Peneguhan - Refleksi pribadi
  • Musik instrumen

  Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1981).

  • Keluarga sebagai persekutuan dialog dengan Allah.
  • Bernyanyi - Buku Puji Syukur - Teks Kitab Suci Kis. 4:32-35
  • Alkitab - Lembaga Alkitab Indonesia 2006
  • Yohanes Paulus II. (1993).
  • Keluarga sebagai jemaat dalam pengabdian kepada sesama.

D. Salah Satu Contoh Satuan Persiapan

SATUAN PERSIAPAN PENDAMPINGAN KATEKESE 1.

  a. : Orang tua diutus untuk mewartakan Injil Tema b.

  Judul pertemuan: Keluarga sebagai kaum awam dalam tugas pewartaan.

  c. : Membantu meningkatkan penghayatan iman orang tua Tujuan sebagai kaum awam, agar semakin terlibat aktif mewartakan Injil dalam kehidupan sehari-hari.

  d. : para orang tua di lingkungan St. Paulus Busur Peserta

  e. : Ditentukan lingkungan yang bersangkutan Tempat f.

  Hari/Tanggal : Disesuaikan dengan jadwal di lingkungan

  g. : 90 Menit Waktu

  h. : Informasi, tanya jawab, sharing pengalaman, refleksi Metode pribadi, bernyanyi, pendalaman cerita dan peneguhan dari pendamping. i. : Buku Puji Syukur, teks KS Luk. 4:42-44, laptop/tape, teks

  Sarana cerita “mewakili Kristus” j. : - Sejarah singkat dan pengertian evangelisasi

  Materi Tujuan dan isi evangelisasi

  • Bentuk-bentuk pelaksanaan dan manfaat evangelisasi
  • Kaum awam sebagai pelaksana evangelisasi
  • k.

  Sumber bahan : Bahan skripsi bab II

2. PEMIKIRAN DASAR

  Peranan keluarga sebagai Gereja kecil sangat besar bagi perkembangan dan pembangunan nilai-nilai Kerajaan Allah. Sebab keluarga merupakan dasar dan awal bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia. Dalam keluarga, yang memiliki peranan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarganya adalah orang tua. Untuk itu orang tua diharapkan memiliki cintakasih dalam membimbing, mengarahkan dan mendidik anggota keluarganya. Melalui pertemuan dengan tema “orang tua diutus untuk berevangelisasi” orang tua diajak untuk menyadari tugas dan peranannya sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Kunci keberhasilan pewartaan Injil dalam keluarga adalah komunikasi dan kerjasama dari semua pihak. Dengan komunikasi dan kerjasama yang baik akan memperlancar proses pewartaan.

  Injil Lukas 4:42-44 menggambarkan perjalanan Yesus dalam pewartaanNya yang tidak kenal lelah. Yesus menyadari perananNya sebagai Anak Allah untuk memberitakan Injil kepada semua orang yang dijumpaiNya. Yesus sebagai seorang Pewarta Sejati memiliki ciri-ciri siap meninggalkan segala kepentingan pribadi demi orang lain, menjawab panggilan untuk mewartakan dengan sepenuh hati dan bertanggungjawab, tidak mengeluh, rela berkorban, melayani dengan sepenuh hati, mencintai tanpa batas, dan selalu bersemangat menyuarakan kabar gembira bagi semua orang. Bertolak dari teladan Yesus, keluarga sebagai kaum awam diharapkan memiliki kesadaran dan kerelaan hati menerima warta gembira dan menyebarkannya bagi sesama terutama pada anggota keluarganya. Dengan meneladani sikap-sikap Yesus, orang tua mampu memancarkan kasih Allah yang tanpa batas pada anggota keluarganya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dalam pertemuan ini akan dibahas mengenai pokok-pokok evangelisasi kaitannya dengan kaum awam sebagai anggota Gereja yang juga mendapat tugas mewartakan Injil. Dengan demikian pewartaan Injil senantiasa hidup dan dihidupkan oleh seluruh umat beriman terutama keluarga-keluarga Kristiani.

  Melalui pertemuan ini, kita berharap agar peserta semakin mampu meneladani sikap Yesus dan meneruskan pewartaanNya sebagai Pewarta Sejati.

  Dengan demikian peserta semakin mampu menghayati iman di tengah keluarganya masing-masing dan menyadari tugas perutusannya dengan mengambil bagian dalam mewartakan Injil. Dengan meneladani sikap Yesus sebagai Pewarta Sejati maka akan terciptalah kehidupan keluarga yang harmonis, suasana penuh kekeluargaan dan keakraban, komunikasi yang baik antar anggota keluarga, saling mencintai dan mengasihi, saling melayani, rela berkorban demi kebahagiaan anggota keluarga dan selalu bersemangat mewartakan kabar gembira pada semua orang tanpa padang bulu. Pada akhirnya semua anggota keluarga mampu mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam seluruh aspek kehidupannya dengan bebas.

3. PENGEMBANGAN LANGKAH-LANGKAH a. Pembuka

  1) Pengantar Bapak ibu yang terkasih dalam Yesus Kristus, kita dapat berkumpul di

tempat ini sebagai satu keluarga berkat rahmat kasihNya. Dalam pertemuan ini

  

kita memaknai hidup beriman kita dan secara bersama menyadari panggilan dan

hidup kita dalam tugas pewartaan Injil dengan meneladani Sang Pewarta Sejati,

Yesus Kristus. Sebagai orang tua yang memiliki peranan penting dalam

perkembangan iman anggota keluarga terutama pendidikan iman anak-anak, kita

diharapkan sungguh menyadari dan menghayati tugas perutusan kita dalam

keluarga masing-masing. Dengan demikian kita akan semakin mampu mengantar

mereka untuk mengahayati imannya, sehingga mereka mampu menanggapi

perutusan dengan memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam

kehidupannya. Terkadang kita bersikap acuh tak acuh terhadap tugas mewartakan

Injil dan menganggap itu sebagai tugas para pastor, suster ataupun katekis. Maka

melalui pertemuan ini kita kita berharap agar kita semakin sadar dalam menjawab

panggilanNya untuk mewartakan Injil dalam kehidupan konkrit, sehingga

Kerajaan Allah semakin nyata dalam hidup kita. Oleh karena itu, baiklah sekarang kita memulai pertemuan kita dengan lagu pembukaan.

  2) Lagu pembuka PS no. 691 (Yesus diutus Bapa) 3) Doa pembuka

  Allah Bapa yang maha baik, kami bersyukur dan berterima kasih atas rahmat

yang telah Engkau limpahkan pada kami hingga saat ini. Kami juga mengucap

syukur karena pada kesempatan ini kami Kau kumpulkan sebagai satu ikatan

persaudaraan dalam namaMu. Pada kesempatan ini pula kami secara bersama-

sama hendak menggali pengalaman iman kami dan merefleksikan sejauhmana

kami telah menghayati panggilan hidup kami sebagai pewarta di tengah keluarga

kami masing-masing. Sudilah kiranya Engkau senantiasa menyertai dan

  1) Pendamping membagikan teks cerita “mewakili Kristus” pada peserta dan memberi kesempatan pada peserta untuk membaca secara sendiri- sendiri terlebih dahulu (teks cerita terlampir).

  

mendampingi kami selama proses pertemuan ini dan membuka hati serta pikiran

kami dalam menerima SabdaMu, agar kami semakin menyadari tugas perutusan

kami sebagai pewarta Injil, sehingga dapat memajukan dan memperkembangkan

hidup beriman kami dan orang lain. Biarlah seluruh proses pertemuan ini kami

serahkan demi kemuliaan namaMu, kini dan sepanjang masa. Amin.

b. Langkah I: Pengungkapan pengalaman hidup peserta

  2) Pendamping meminta salah satu peserta untuk menceritakan kembali dengan singkat tentang isi pokok dari cerita tersebut. 3) Pengungkapan pengalaman: peserta diajak untuk mendalami cerita tersebut dengan tuntunan pertanyaan sebagai berikut:

  • Mengapa seorang duta dikatakan sebagai contoh utama untuk suatu negara?
  • Bagaimana pengalaman bapak ibu dalam memberikan contoh hidup yang baik pada anak-anak? Ceritakanlah pengalaman bapak ibu! 4) Rangkuman Cerita yang berjudul “mewakili Kristus” merupakan suatu contoh kehidupan

    dalam suatu negara yang memilih seorang duta untuk mewakili negaranya. Duta

    ini adalah contoh utama untuk negaranya, maka sebagai seorang yang dipercaya

  

menjadi contoh untuk negaranya pada negara-negara lain, seorang duta tentunya

memiliki sikap dan teladan hidup yang baik, sehingga pantas untuk diteladani.

  Begitu pula pengalaman kita dalam keluarga masing-masing. Seringkali kita

tidak menyadari bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan seperti memberi teladan

untuk selalu berdoa sebelum dan sesudah makan; sebelum dan sesudah tidur;

membaca Kitab Suci dan memaknainya bersama; mencintai dan melayani anggota

keluarga kita dengan sepenuh hati, bersikap adil dan penuh perhatian terhadap

anggota keluarga merupakan suatu pewartaan. Pengalaman cinta dalam keluarga

akan menumbuhkan kesadaran pada kita dan anggota keluarga untuk mewujudkan

nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidup kita. Kita disadarkan akan tugas perutusan

kita di tengah keluarga untuk selalu mewartakan Injil dalam kehidupan kita.

c. Langkah II: Refleksi kritis terhadap pengalaman faktual

  1) Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut: Usaha apa yang telah bapak ibu lakukan dalam menanggapi perutusan

  • untuk mewartakan Injil dalam kehidupan keluarga? Mengapa dilakukan? 2) Pendamping memberikan penegasan atas jawaban peserta dengan rangkuman singkat.

  Keluarga Katolik merupakan Gereja rumahtangga yang telah dipanggil

Allah untuk mewartakan Injil dalam kehidupannya. Sebagai Gereja rumahtangga

keluarga memiliki tugas yang sama dengan Gereja yakni menjadi tempat yang

  

nyaman bagi anggota keluarganya dan orang lain yang berkunjung. Seorang

pewarta yang baik seharusnya mampu mengarahkan dan mengantar anggota

keluarganya pada sikap-sikap yang baik dan berguna bagi perkembangan iman

dan kepribadiannya kelak di tengah masyarakat. Oleh karena itu, penting sekali

orang tua sebagai pendidik iman dalam keluarga menyadari tugas dan fungsinya

sebagai pewarta yang meneladani Pewarta Sejati Yesus Kristus. Dalam

mewartakan cinta kasih hendaknya orang tua memberikan teladan dengan

mencintai anggota keluarga sepenuh hati, sehingga cinta kasih Allah menjadi

nyata dalam sikap dan perbuatannya. Dengan demikian cahaya kasihNya

senantiasa hidup di tengah kebersamaan kita bersama keluarga dan masyarakat

kita.

d. Langkah III: Mengusahakan supaya tradisi dan visi Kristiani lebih terjangkau

1) Pendamping membagikan teks KS dari Injil Luk. 4:42-44 kepada peserta.

  2) Pendamping meminta kesediaan salah seorang peserta untuk membacakan teks tersebut. 3) Peserta diberi kesempatan untuk merenungkan dan secara sendiri-sendiri membaca ulang dalam hati teks tersebut dalam suasana hening. 4) Peserta diberi kesempatan untuk menanggapi teks tersebut dengan bantuan pertanyaan sbb: Makna apa yang mau disampaikan teks tersebut kepada kita?

  5) Pendamping memberikan penegasan Ayat 42 menggambarkan perjalanan Yesus dalam mewartakan Injil yang

tidak mengenal cuaca. Di tengah perjalananNya banyak orang yang menawarkan

kenikmatan dan kebahagiaan padaNya dengan berusaha menahanNya, tapi Ia

tidak mempedulikan semua itu. Hal ini menunjukkan pada kita bahwa Yesus tidak

mau terikat terhadap apapun yang dapat menghambatNya untuk mewartakan

kabar gembira, karena bagiNya kebahagiaan sejati adalah dapat melihat orang lain

bahagia. Ayat 43-44 menggambarkan bahwa pewartaan Yesus bukan hanya pada

suatu tempat tertentu saja, melainkan ke seluruh penjuru dunia karena untuk itulah

Ia di utus yakni untuk semua orang.

  Yesus Kristus adalah pewarta Injil sekaligus pelaksana untuk mencapai

Kerajaan Allah. Oleh karena itu pewartaan Injil menjadi prioritas utama dari tugas

perutusan Gereja. Mewartakan Injil berarti mewartakan kabar gembira kepada

semua orang tanpa mengenal suku, budaya, warna kulit ataupun bahasa. Harapan

dari pewartaan ini adalah agar orang yang menerimannya mengalami dan

merasakan kegembiraan dalam hidupnya. Dengan demikian iapun mampu

mewartakannya bagi orang lain dan seterusnya. Kabar baik yang diwartakan

adalah cinta kasih, pengampunan, pelayanan, perdamaian, persaudaraan, sukacita

dan keadilan. Pewartaan Injil dapat dilaksanakan di mana saja dan keluarga adalah

salah satu tempat untuk mewartakan Injil. Pewartaan kabar baik ini ditujukan

kepada seluruh tingkat kemanusiaan dengan berusaha mengubah manusia dari

dalam dan membuatnya menjadi baru melalui pengaruh Injil tersebut. Di sinilah

peranan keluarga sebagai utusan Allah sangat berperanan yakni dalam

  

mendampingi, membimbing dan mendidik anak-anak dan anggota keluarganya

yang lain.

  Anak-anak yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan dari kecil

hingga dewasa dapat dibina dan dididik oleh orang tua dengan

memperkembangkan kepribadiannya menjadi manusia baru yang beriman

mendalam dan penuh cinta kasih pada sesama. Kepribadian ini dapat terbentuk

bila ada yang memberi teladan secara konkrit baginya, dan yang amat

berpengaruh adalah orang tua. Pewartaan Injil melalui kesaksian dan teladan

hidup sangat relevan untuk kehidupan zaman sekarang karena kebanyakan orang

lebih tergerak melihat sesuatu yang nyata di hadapannya.

e. Langkah IV: Interpretasi dialektis antara praksis dan visi peserta dengan tradisi dan visi Kristiani

  Bapak ibu yang terkasih dalam Kristus, di awal pembicaraan, kita telah

menemukan sikap-sikap yang dibuat Yesus dalam penghayatanNya sebagai

Pewarta Sejati. Sikap dan teladan Yesus tersebut dapat kita terapkan dalam situasi konkrit kehidupan kita di tengah keluarga dalam menghayati peran sebagai orang

tua yang bertanggungjawab dalam pembinaan dan pendidikan iman anggota

keluarga kita. Sebagai orang tua yang bertanggungjawab kita terpanggil untuk

meneladan sikap-sikap yang diperjuangkan Yesus dalam hidup kita. Meskipun

dalam perjalanan hidup seringkali kita merasa tidak mampu melakukan hal baik

pada anggota keluarga kita karena kesibukan dalam bekerja. Namun perlu kita

sadari bahwa dalam kesibukan bekerjapun kita dapat mewartakan Injil dengan

  

menghayati pekerjaan yang kita jalani sebagai suatu anugerah dariNya. Melalui

pertemuan ini, Allah menyadarkan kembali panggilan kita sebagai orang tua untuk

mewartakan Injil dalam kehidupan dengan selalu mendasarkan hidup pada Sang

Pewarta Sejati, Yesus Kristus.

  Sebagai bahan refleksi kita untuk semakin menyadari dan menghayati

panggilan kita sebagai pewarta Injil dalam keluarga yang diutus Allah untuk

meneruskan pewartaanNya dengan selalu mendasarkan pada kehendakNya. Maka

marilah kita merenungkan pertanyaan berikut ini.

  1) Apakah bapak ibu semakin disadarkan dan diteguhkan dalam panggilan sebagai pewarta Injil ? 2)

  Sikap-sikap manakah yang bisa kita perjuangkan agar dapat semakin menghayati panggilan kita sebagai pewarta Injil sesuai dengan teladan Sang Pewarta Sejati, Yesus Kristus? Peserta diberi kesempatan untuk merenungkan pesan Injil dengan situasi

konkrit mereka sejenak secara sendiri-sendiri dengan diiringi musik instrumen

(stay with me) berdasarkan panduan pertanyaan di atas. Setelah itu peserta diberi

kesempatan untuk mengungkapkan buah-buah permenungannya secara singkat.

f. Langkah V: Keterlibatan baru demi makin terwujudnya Kerajaan Allah di dunia

  Bapak ibu yang terkasih dalam Yesus Kristus, setelah di awal pertemuan

kita bersama-sama menggali pengalaman kita mewartakan Injil di tengah keluarga

melalui cerita yang mengisahkan tentang seorang wakil dari sebuah negara yakni

  

duta. Duta ini adalah orang yang dipercaya menjadi contoh negaranya untuk

negara-negara lain. Kita diajak pula untuk belajar dari pengalaman iman Lukas

dalam Injilnya, sehingga kita semakin mengenal Yesus Sang Pewarta Sejati. Ia

adalah Pewarta yang tidak mengenal lelah dalam mewartakan kabar gembira, rela

berkorban, melayani dengan sepenuh hati dan peduli terhadap kebahagiaan orang

lain.

  Akhirnya pengalaman kita mewartakan Injil di tengah keluarga diterangi

dengan Terang Yesus sebagai Pewarta Sejati, sehingga kita mendapat wawasan

dan pandangan baru dalam tugas perutusan kita. Kita memperoleh semangat baru

untuk memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan kita dan

harapan-harapan baru untuk meneruskan pewartaan Injil dalam seluruh aspek

kehidupan kita dengan sepenuh hati. Hendaknya kita menyadari bahwa Allah

senantiasa menyertai dan membimbing hidup kita dalam menanggapi seluruh

perjalanan panggilan kita, bahkan saat kita menghadapi tantangan-tantangan

dalam pewartaan. Untuk itu, sekarang marilah kita membangun rencana konkrit

dalam hati kita masing-masing untuk dilaksanakan dalam hidup selanjutnya

dengan bantuan pertanyaan sbb:

Apa yang hendak anda lakukan untuk mewujudkan rencana konkrit anda dalam

  • mewartakan Injil? Peserta diberi kesempatan hening sejenak memikirkan rencananya ke depan.

  Setelah itu peserta diajak untuk merumuskan rencana konkrit bersama.

  g.

  

Doa permohonan: Untuk memperteguh rencana tersebut, peserta diajak untuk

memanjatkan doa-doa permohonan yang diawali oleh pendamping dan ditutup dengan doa Bapa Kami.

  h.

   Lagu penutup: PS no. 695 (Aku dengar bisikan suaraMu) i. Penutup

  Doa penutup Allah Bapa yang mahabaik, kami mengucap syukur atas rahmat kasih dan penyertaanMu bagi kami dalam pertemuan ini. Semoga melalui pertemuan ini,

Engkau semakin meneguhkan iman dan menyadarkan kami akan pentingnya tugas

kami sebagai orang tua untuk melanjutkan pewartaan Injil dalam kehidupan keluarga. Bantulah kami ya Bapa agar kami semakin mampu menghayati dan mewujudkan KerajaanMu dalam kehidupan kami selanjutnya. Demi Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

BAB V PENUTUP Pada bagian akhir penulisan ini, penulis akan menyampaikan kesimpulan

  dari keseluruhan skripsi ini. Penulis juga akan menyampaikan saran yang dapat membantu kaum awam, khusunya kaum awam di wilayah Busur dalam meningkatkan keterlibatan mereka dalam evangelisasi.

A. Kesimpulan

  Evangelisasi merupakan kegiatan mewartakan Injil atau menyampaikan Kabar Baik pada seluruh umat manusia, baik anak-anak, remaja/kaum muda, dewasa maupun orang tua; Katolik atau non Katolik; kaya maupun miskin.

  Dengan harapan melalui pengaruh Injil tersebut umat manusia akan mengalami perubahan dan perkembangan dalam hidupnya. perubahan yang dimaksud adalah perubahan pada sikap, tindakan, pola pikir dan cara pandang mereka terhadap hidup. Dengan perubahan ini, akan mengarahkan mereka pada sikap tobat dan selalu mengandalkan Allah dalam hidupnya. Dengan demikian mereka dapat memiliki hati yang terbuka untuk menerima dan meresapkan nilai-nilai Injil dalam hatinya serta menghayati dalam kehidupannya dengan mewujudnyatakan dalam tindakan konkrit, sehingga merekapun semakin mampu selalu mensyukuri hidup.

  Dengan demikian merekapun akan selalu memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidupnya yakni kerajaan keadilan, cintakasih, kedamaian, kerukunan dan persaudaraan satu dengan yang lainnya, sehingga mereka semakin siap dan mantap memberikan kesaksian tentang Allah dan setia menjalaninya.

  Penerapan cinta kasih Allah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah keluarga, lingkungan/masyarakat, Gereja, di tempat kerja dan di manapun berada. Selain itu, pewartaan Injil melalui tindakan yang dilakukan perlu diimbangi dengan kata-kata yang dapat meneguhkan orang-orang yang dijumpai, sehingga mereka senantiasa memperoleh kesejukan dan keteguhan dalam imannya.

  Perlu disadari bahwa pewartaan Injil di tengah dunia tidak terlepas dari tantangan, baik yang bersifat membangun atau memotivasi maupun yang menghambat. Oleh sebab itu, perlunya kesadaran kaum awam agar selalu siap menghadapi berbagai tantangan yang ada dengan tetap mengandalkan Allah dan meletakkan segala pekerjaannya pada kehendak Allah.

  Keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi zaman sekarang sangat diharapkan karena kaum awam merupakan anggota Gereja yang telah dipanggil dan diutus oleh Allah untuk mewartakan Injil dalam kehidupannya di tengah dunia. Mereka telah digabungkan dengan Kristus dalam permandian/pembaptisan dan dilantik sebagai Umat Allah. Sebagai umat Allah, kaum awam memiliki tugas dan tanggungjawab yang sama seperti Gereja untuk mewartakan Injil dalam kehidupannya di dunia. Sebab secara istimewa mereka ditempatkan di tengah dunia untuk mmenyelamatkan sesama dan menata dunia sesuai kehendak Allah serta memanfaatkan kekayaan alam secara merata demi kesejahteraan bersama.

  Sebagai kaum beriman kaum awam perlu memusatkan hidupnya pada Yesus Kristus dengan membangun relasi yang akrab dengan Allah melalui sesama.

  Dengan demikian keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi dapat membantu umat manusia seutuhnya untuk mengalami dan menikmati cintakasih Allah.

  Melihat pentingnya peranan keluarga dalam pewartaan Injil, maka penulis merasa pentingnya membangun kesadaran dalam diri setiap keluarga Katolik melalui katekese keluarga untuk meningkatkan keterlibatan mereka dalam mewartakan Injil yang dapat dimulai dari dalam keluarganya masing-masing terlebih dahulu kemudian melanjutkan dalam kehidupan sosialnya. Dengan demikian keluarga Kristiani diharapkan sungguh-sungguh menghayati tugas dan panggilan dirinya dengan mengambil bagian dalam karyaNya untuk menyelamatkan manusia. Katekese keluarga ini penulis pilih, mengingat keluarga merupakan tonggak pertama dan utama dalam perkembangan kepribadian manusia, sehingga perlu suatu pembinaan bagi para orang tua agar semakin memiliki kesadaran akan tanggungjawabnya membina, membimbing dan mendidik anggota keluarganya menjadi manusia yang utuh dalam hidup berimannya. Dengan demikian, keluarga Kristiani mampu mengambil bagian dalam tugas perutusannya untuk mewartakan Injil dalam kehidupan keluarganya yang juga akan berdampak positif bagi kehidupan bermasyarakat, menggereja, berbangsa dan bernegara.

B. Saran

  Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis menyampaikan saran yang dapat membantu meningkatkan keterlibatan kaum awam di wilayah Busur paroki Kristus Raja Barong Tongkok dalam mewartakan Injil. Adapun saran tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Paroki perlu membantu kaum awam untuk semakin terlibat aktif dalam mewartakan Injil dalam hidupnya sehari-hari dengan membangun kesadaran dalam diri mereka. Kesadaran tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan seminar dengan melibatkan para pengurus lingkungan sebagai pesertanya dan mengangkat tema tentang “evangelisasi”. Melalui pertemuan ini diharapkan peserta memperoleh informasi yang tepat akan makna evangelisasi.

  2. Paroki juga perlu mengupayakan kegiatan yang dapat membangun kesadaran dan meningkatkan penghayatan iman keluarga akan peranannya dalam pewartaan Injil dengan mengadakan rekoleksi keluarga.

  3. Pengurus Lingkungan mengadakan pertemuan katekese secara rutin, sekali sebulan dan mengundang para orang tua sebagai pesertanya. Diharapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui seminar paroki dapat dibagikan pada umat di Lingkungannya masing-masing, sehingga umat dapat meneruskannya dalam hidup sehari-hari terutama dalam keluarga.

  4. Pertemuan katekese khususnya di wilayah Busur dapat dilakukan sekali seminggu dengan pesertanya adalah orang tua dengan mengangkat tema tentang pewartaan Injil untuk membantu kaum awam semakin menyadari tugas perutusannya di tengah dunia untuk mewartakan Injil.

  5. Bagi keluarga-keluarga katolik: diharapkan agar keluarga-keluarga katolik khusunya di wilayah Busur sungguh-sungguh menghayati iman di tengah keluarganya melalui katekese dalam keluarga dengan mengambil bagian dalam tugas pewartaan Injil, sehingga Kerajaan Allah semakin nyata dalam sikap dan tindakannya.

  6. Bagi orang tua: sebagai pembina dan pendidik utama dalam keluarga diharapkan kesadarannya sebagai kaum awam yang telah dipanggil dan diutus untuk mewartakan Injil di tengah dunia supaya semakin meningkatkan penghayatan dan peresapan nilai-nilai Injil dalam hidupnya melalui kesaksian hidup konkretnya sehari-hari.

  

DAFTAR PUSTAKA

Abraham, Rubin Adi. (2006). Harta: Berkat atau Bencana?. Yogyakarta: ANDI.

  Azwar, Saifuddin. (1997). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Darminta, J. (1997). Gereja, Dialog dan Kemartiran. Yogyakarta: Kanisius. Dienne & Karris Robert. (2002). Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. (A.S Hadiwiyata, Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius.

  Evely, Louis. (1978). Semangat Awam. (F. Heselaars, Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius. FABC I. (1974). Pewartaan Injil di Asia Zaman Sekarang. Taipei, Taiwan. Groome, Thomas H. (1997). Shared Christian Praxis: Suatu Model Berkatekese

  (F.X. Heryatno Wono Wulung, Penyadur). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat. (Buku asli diterbitkan tahun 1991).

  

  Usman, Husaini & Purnomo Setiady Akbar. (2008). Metodologi Penelitian Sosial.

  Jakarta: Bumi Aksara. Keuskupan Agung Samarinda. (2005). Pedoman Dewan Pastoral Stasi.

  Samarinda: KAS. Kirchberger, Georg. (2004). Misi Evangelisasi Penghayatan Iman. Maumere: Ledalero.

  Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1966). _____. (1993). Konstitusi Dogmatis “Lumen Gentium” tentang Gereja. (R.

  Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor (Dokumen asli diterbitkan tahun 1964). _____. (1993). Konstitusi Dogmatis “Dei Verbum” tentang Wahyu Ilahi. (R.

  Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor (dokumen asli diterbitkan tahun 1965). _____. (1993). Konstitusi Pastoral “Gaudium Et Spes” tentang Gereja dalam

  Dunia Modern. (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor (Dokumen asli diterbitkan tahun 1965).

  _____. (2006). Apostolicam Actuositatem. (R. Hardawiryana, Penerjemah).

  Jakarta: Dokpen KWI. Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius.

  _____. (2006). Kitab Hukum Kanonik. Jakarta: KWI. _____. (2009). Kompendium Katekismus Gereja Katolik. (Harry Susanto, Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius.

  Lalu, Yosep. (2007). Katekese Umat. Jakarta: Komkat KWI. Lembaga Alkitab Indonesia. (2006). Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru yang dilakukan oleh LAI, dikutip dari Alkitab

  Martasudjita, E. (2005). Semangat Misioner. Yogyakarta: Kanisius. Meo, Ansel & Kons Beo. (2002). Memahami Awam dan Kerasulannya. Flores, NTT: Nusa Indah.

  Mihalic, Frank. (2008). 1500 Cerita Bermakna: untuk Renungan, Kotbah dan Ceramah Anda. (F. Rudijanto, Penerjemah). Jakarta: Obor.

  (Diterjemahkan dari Buku Berjudul 1000 Stories You Can Use tahun 1989). Paroki Kristus Raja Barong Tongkok. (2007). Buku Kenangan HUT Paroki

  “Kristus Raja” Barong Tongkok yang ke-70. (Matheus Wiyono,

  Pengumpul naskah). Barong Tongkok : Keuskupan Samarinda Kevikepan Mahakam Ulu. Paulus VI. (2007). Evangelii Nuntiandi. (J. Hadiwikarta, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1975). Sugiri, L. (1994). Misi Evangelisasi. Jakarta: Shekinah. Staf Dosen Program Studi IPPAK. (2006). Pedoman Penulisan Skripsi.

  Yogyakarta: Prodi IPPAK-USD Telaumbanua, Marinus. (1999). Ilmu Kateketik: Hakikat, Metode, Peserta Katekese Gerejawi . Jakarta: Obor.

  Tondowidjojo, John. (1990). Arah dan Dasar Kerasulan Awam. Yogyakarta: Kanisius. Wahyu, Ms. (1989). Bimbingan Penulisan Skripsi. Bandung: Tarsito. Yohanes Paulus II. (1989). Para Anggota Awam Umat Beriman Kristus:

  Christifideles Laici. (Marcel Beding, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1989).

  _____. (1993). Familiaris Consortio. (R. Hardawiryana, Penerjemah).

  Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1981). _____. (2008). Redemptoris Missio. (Frans Borgias dan Alfons S.

  Suhardi, Penerjemah). Jakarta: Dokpen KWI (Dokumen asli diterbitkan tahun 1990). Lampiran 1 : Surat Ijin Prodi

  Lampiran 2 : Surat Pernyataan telah Melaksanakan Penelitian

  Lampiran 3: Daftar Pertanyaan

  Daftar pertanyaan wawancara terstruktur kepada kaum awam di wilayah Busur A.

   Gambaran keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi 1.

  Apakah anda sudah akrab dengan istilah evangelisasi? 2. Apakah anda terlibat dalam evangelisasi? 3. Mengapa anda terlibat? Bagaimana perasaan anda ketika mewartakan Injil? B.

  

Mendalami bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam evangelisasi

4.

  Bagaimana pengalaman anda setelah terlibat dalam pewartaan Injil? 5. Bagaimana pendapat anda tentang kaum awam di wilayah Busur? 6. Menurut anda dalam bidang apa saja evangelisasi dapat dilaksanakan? 7. Dalam bidang apa saja anda terlibat dalam evangelisasi? Apa manfaatnya bagi anda?

C. Mendalami faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kaum awam dalam melaksanakan evangelisasi 8.

  Bagaimana tanggapan umat di wilayah Busur terhadap pewartaan Injil? Menurut anda mengapa umat tidak aktif dalam mewartakan Injil? 9. Bagaimana tanggapan anda sendiri terhadap pewartaan Injil? 10.

  Faktor apa saja yang mendukung anda dalam mewartakan Injil? Menurut anda faktor apa saja yang mendukung umat dalam mewartakan Injil?

  11. Apakah anda melihat ada hambatan bagi umat dalam melaksanakan pewartaan Injil? Hambatan apa saja yang anda alami dalam mewartakan Injil?

12. Apakah nilai-nilai Injil mempunyai pengaruh positif di sini?

  Lampiran 4: Transkrip Hasil Wawancara Hari/Tanggal : Jum’at, 18 Juni 2010

  Responden 1: Pak Paulus Herman (Ketua lingkungan St. Christoporus Busur) A.

   Untuk memperoleh gambaran keterlibatan kaum awam di wilayah Busur dalam evangelisasi 1.

  Apakah anda sudah akrab dengan istilah pewartaan Injil? Sudah, karena saya sebagai pengurus lingkungan terutama sebagai ketua lingkungan di sini saya cukup mengenal istilah tersebut. Umat belum terlalu akrab dengan istilah tersebut. Kegiatan pendalaman Kitab Suci kurang diminati umat, ada anak-anak tetapi mereka hanya jadi pendengar.

2. Apakah anda terlibat dalam mewartakan Injil?

  Ya saya terlibat tetapi dalam kegiatan-kegiatan gerejani saya kurang terlibat aktif hanya kadang-kadang saja. Bentuk keterlibatan saya dalam mewartakan Injil antara lain doa lingkungan, pendalaman Kitab Suci, doa rosario, terlibat dalam kegiatan yang ada di lingkungan/masyarakat seperti gotong royong, membantu orang yang terkena musibah (meninggal) dan membersihkan gereja bersama umat lingkungan.

  3. Mengapa anda terlibat? Apakah anda senang ketika mewartakan Injil? Jika tidak terlibat, mengapa? Saya terlibat karena panggilan sebagai orang Katolik dan juga sebagai pengurus lingkungan. Saya merasa terpanggil untuk mewartakan Injil dalam hidup saya, sebab kekatolikan saya sejak kecil dan juga teladan dari orang tua menjadikan saya merasa terpanggil. Perasaan saya biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa saya rasakan sebab saya sudah terbiasa dari kecil terlibat dalam kegiatan-kegiatan gereja.

  B.

  

Untuk lebih mendalami bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam

evangelisasi

  4. Bagaimana pengalaman anda setelah terlibat dalam pewartaan Injil? Saya bangga bisa membawa umat terlibat dalam kegiatan-kegiatan seperti kerja bakti di gereja dan kegiatan-kegiatan lain di lingkungan. Kurang lebih 6 tahun berada di Busur ini saya selalu berusaha terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ada. Saya merasa di manapun saya berada saya harus selalu masuk dalam setiap kegiatan di mana saya tinggal, baik dalam hal-hal yang rohani maupun dalam kehidupan masyarakat seperti gotong royong dan membantu warga yang meninggal.

  5. Bagaimana pendapat Anda tentang kaum awam di wilayah Busur? Menurut saya umat di Busur ini kurang terlibat aktif dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan karena kesibukan mereka. Kesadaran umat untuk terlibat kurang. Para orang tua hanya mengirim anak-anaknya untuk ikut dalam perwakilan. Umat juga kurang kesadarannya dalam hal perwartaan Injil, mereka kurang menyadari dan acuh tak acuh terhadap pewartaan Injil serta kegiatan-kegiatan yang ada. Tidak ada semangat atau motivasi maupun keteladanan dari para orang tua untuk anak-anaknya dalam hal keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan yang ada.

  6. Menurut Anda dalam bidang apa saja pewartaan Injil dapat dilaksanakan? Menurut saya pewartaan Injil itu tidak hanya mewartakan sabda Allah “Kitab Suci” saja. Pewartaan Injil dapat juga dilakukakan dalam kehidupan sehari- hari dan dalam keluarga dengan memberikan teladan hidup berimannya dengan terlibat dalam kegiatan gotong royong di masyarakat.

  7. Dalam bidang apa saja anda terlibat dalam pewartaan Injil? Apa manfaatnya bagi Anda? Saya terlibat dalam doa-doa lingkungan, gotong royong, membantu masyarakat yang terkena musibah dan juga kegiatan-kegiatan di gereja. Manfaat yang saya peroleh adalah bahwa iman saya semakin kuat dan diteguhkan.

  C.

untuk mendalami faktor-faktor yang mendukung dan menghambat

kaum awam dalam melaksanakan evangelisasi

  8. Bagaimana tanggapan umat di wilayah Busur terhadap pewartaan Injil? Menurut Anda mengapa umat tidak aktif dalam mewartakan Injil? Banyak umat yang berpandangan bahwa pewartaan Injil itu dilakukan oleh pastor, katekis atau guru agama, mereka kurang memahami makna evangelisasi yang sebenarnya. Umat tidak aktif karena kesibukan mereka bekerja sehari-hari sehingga tidak memiliki banyak waktu, kurangnya kesadaran mereka untuk terlibat aktif dan juga karena dari pihak pengurus kurang memberikan informasi bagi umat tentang kegiatan-kegiatan yang ada.

  9. Bagaimana tanggapan Anda sendiri terhadap pewartaan Injil? Pewartaan Injil perlu diperjelas kepada umat mengenai pengertiannya agar umat menjadi paham akan maknanya. Menurut saya pewartaan Injil itu bukan hanya pewartaan sabda Allah (di Gereja) saja, tetapi juga pewartaan dalam teladan hidup sehari-hari.

  10. Faktor apa saja yang mendukung Anda dalam melaksanakan pewartaan Injil? Menurut pengamatan Anda faktor apa saja yang mendukung umat dalam melaksanakan pewartaan Injil? Faktor yang mendukung saya dalam melaksanakan pewartaan Injil adalah keterlibatan beberapa umat yang aktif menjadi penyemangat bagi saya untuk mewartakan Injil. Faktor pendukung bagi umat adalah sosok pemimpin yang mau melayani dengan tulus.

  11. Apakah Anda melihat ada hambatan bagi umat dalam melaksanakan pewartaan Injil? Hambatan apa saja yang Anda alami dalam mewartakan Injil? Hambatan yang dialami oleh umat antara lain karena kesibukannya bekerja sehingga tidak ada waktu bagi mereka. Hambatan bagi saya karena kurang terlibatnya umat setiap kali ada kegiatan sehingga melemahkan semangat saya serta kurang jelasnya makna pewartaan Injil itu sendiri bagi saya dan

  12. Apakah nilai-nilai Injil mempunyai pengaruh positif di sini? Nilai-nilai Injil tidak terlalu berpengaruh karena umat di wilayah Busur adalah umat campuran, 50% penduduk asli dan 50% pendatang. Penduduk asli adalah suku Tunjung sedangkan pendatang terdiri dari suku bahau dan penihing lebih mendominasi untuk pendatang.

  Hari/Tanggal : Minggu, 20 Juni 2010

  Responden 2: Pak Paulus Runtung (Ketua lingkungan St. Paulus Busur) A.

   Untuk memperoleh gambaran tentang partisipasi kaum awam di wilayah Busur dalam evangelisasi 1.

  Apakah Anda sudah akrab dengan istilah pewartaan Injil? Sudah. Istilah tersebut sudah cukup saya kenal semenjak saya kecil hingga saat ini karena orang tua saya adalah orang Katolik yang menanamkan dalam diri saya tentang ajaran agama. Ajaran agama menjadi ajaran yang pokok ditanamkan di sekolah dan dalam keluarga.

  2. Apakah Anda terlibat dalam mewartakan Injil? Ya, sejak kecil saya sudah ditanamkan tentang pewartaan Injil dan diberi teladan dari orang tua sehingga pewartaan Injil bagi saya sesuatu yang harus saya lakukan. Saya memiliki kerinduan yang mendalam bila tidak mewartakan, saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup saya.

  3. Mengapa Anda terlibat? Saya terlibat karena pengalaman hidup diselamatkan oleh Allah. Pada “suatu peristiwa di tengah laut kapal kami mengalami kebakaran, saya berdoa dan mengarahkan diri pada Tuhan, sehingga pada akhirnya kami selamat. Pengalaman hidup diselamatkan berkat doa membuat saya semakin rindu untuk mewartakan Injil. Sumber kekuatan dan keselamatan dalam hidup saya adalah doa. Saya sangat senang ketika mewartakan Injil, saya merasa bangga dapat membawa umat.

  B.

  

Untuk lebih mendalami bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam

evangelisasi

  4. Bagaimana pengalaman Anda setelah terlibat dalam pewartaan Injil? Dari pengalaman keterllibatan saya banyak hal baik yang saya dapatkan dalam hidup saya, mulai dari keselamatan dalam mengarungi perjalanan dan juga di dunia kerja terbebas dari tuduhan palsu membuat saya semakin yakin akan kekuatan doa dalam hidup saya. Saya terlibat sejak saya masih muda.

  Saya aktif dalam mudika hingga saya berkeluarga saya menjadi ketua umat dan sekarang saya menjadi ketua lingkungan.

  5. Bagaimana pendapat anda tentang kaum awam di wilayah Busur? Kaum awam di wilayah Busur ini campuran sukunya tapi lebih dominan suku asli yakni suku Tunjung. Mereka cukup rajin ke gereja pada hari minggu namun dalam kegiatan lingkungan kurang terlibat bila tidak ditemani. Umat harus ada yang memotivasi atau mendorong mereka misalnya dalam doa lingkungan mereka harus ditelpon dan dihubungi baru mereka datang atau pada saat membersihkan gereja mereka harus ditemani. Di wilayah Busur ini suku Tunjung sebagai penduduk asli sedangkan suku Benuaq, Toraja dan jawa adalah pendatang. Dalam hal ke gereja mereka sangat rajin tetapi dalam hal gotong royong atau doa lingkungan mereka harus “dibakar” semangatnya. Intinya mereka harus ditemani dalam menjalankan kegiatan.

  6. Menurut Anda dalam bidang apa saja pewartaan Injil dapat dilaksanakan? Pewartaan Injil dapat dilakukan dalam pengalaman hidup. Harus meneliti/mendekati dengan mengunjungi keluarga-keluarga supaya dapat mengetahui kebutuhan umat, mendekati mereka lalu memenuhi kebutuhan tersebut dan berkerjasama dengan mereka. Intinya pewartaan Injil itu dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

  7. Dalam bidang apa saja Anda terlibat di dalam pewartaan Injil? Apa manfaatnya bagi Anda? Keterlibatan saya dalam bidang kehidupan sehari- hari dan dalam masyarakat. Gereja dan keluarga mencakup juga dalam pekerjaan saya. Keinginan untuk mewartakan Injil merupakan suatu kerinduan yang sangat mendalam karena terasa ada ada yang kurang bila tidak ke gereja

  C.

  

Untuk mendalami faktor-faktor yang mendukung dan menghambat

kaum awam dalam melaksanakan evangelisasi

  8. Bagaimana tanggapan umat di wilayah Busur terhadap pewartaan Injil? Menurut Anda mengapa umat tidak aktif dalam mewartakan Injil? Prinsipnya umat tidak menolak tetapi mereka masih lemah dalam menanggapinya. Mereka masih perlu diberi pemahaman dan dibakar semangatnya sebab mereka menerima agama hanya “suam-suam kuku”, intinya mereka masih perlu dibimbing. Kurang ada penegasan pada awal pengajaran sehingga mereka kurang berani bertindak. Pengajaran tentang pewartaan Injil lemah/tidak ada penegasan dari awal sehingga umat kurang paham mengenai pewartaan Injil itu sendiri. Umat tidak aktif karena kesibukan pribadi (kerja) dan juga karena tidak ada yang mendorong atau memberi semangat bagi mereka.

  9. Bagaimana tanggapan Anda sendiri terhadap pewartaan Injil? Menurut saya pewartaan Injil adalah segala sesuatu yang dilakukan demi untuk mensejahterakan orang lain lebih-lebih untuk diri sendiri yang direstui oleh Allah dan tujuannya pada Allah.

  10. Faktor apa saja yang mendukung Anda dalam melaksanakan pewartaan Injil? Menurut pengamatan Anda faktor apa saja yang mendukung umat dalam melaksanakan pewartaan Injil? Faktor pendukung pertama-tama dari keluarga karena sejak kecil pengajaran agama sudah tertanam dalam diri saya bahwa yang patut di sembah dan dipuji adalah Allah. Hal ini sudah ditanamkan oleh orang tua dan juga guru agama di sekolah. Rasa tanggungjawab dalam diri sendiri sehingga merasa bersalah bila tidak melaksanakan yang terbaik buat orang lain. Dorongan dari keluarga anggota keluarga. Teladan hidup dari kakek dan nenek sebagai pemangku adat yang banyak disukai orang karena begitu bertanggungjwab terhadap pekerjaan yang menyangkut kepentingan orang banyak. Dukungan dari istri dan anak-anak yang banyak terlibat dalam kegiatan gereja serta tanggapan positif mereka terhadap tugas dan pekerjaan saya, sehingga saya merasa sangat senang. Anak–anak yang aktif dalam kegiatan gereja dapat memberi motivasi bagi saya. Bila ada orang yang dengan suka rela mau membimbing dan memotivasi maka umat dapat berkembang.

  11. Apakah Anda melihat ada hambatan bagi umat dalam melaksanakan pewartaan Injil? Hambatan apa saja yang Anda alami dalam mewartakan Injil? Kadang-kadang saya merasa gagal ketika sesuatu yang ada di hadapan saya tidak tercapai. Kesibukan baik dalam keluarga, lingkungan maupun dalam pekerjaan sendiri sehingga kadang-kadang sulit bagi saya untuk membagi waktu. Umat terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing sehingga kurang ada waktu untuk terlibat.

  12. Apakah nilai-nilai Injil mempunyai pengaruh positif di sini? Ya, Nilai-nilai Injil cukup mempunyai pengaruh sepanjang pemimpin yang memimpin di wilayah ini mampu membimbing umat. Mereka perlu didekati dan secara perlahan-lahan diberikan penjelasan mengenai ajaran tentang iman akan Allah yang patut disembah dengan mengajarkan tentang cinta kasih.

  Hari/Tanggal : Minggu, 20 Juni 2010

  Responden 3: Sari (Mudika St. Paulus Busur) A.

   Untuk memperoleh gambaran tentang partisipasi kaum awam di wilayah Busur dalam evangelisasi 1.

  Apakah Anda sudah akrab dengan istilah pewartaan Injil? Sudah. Saya cukup akrab istilah tersebut karena sering diajarkan oleh suster di asrama.

  2. Apakah Anda terlibat dalam mewartakan Injil? Saya kurang terlibat aktif dalam pewartaan Injil karena kesibukan hanya kadang-kadang saja saya terlibat bila ada waktu. Saya terlibat dalam kegiatan komka seperti doa keliling dari satu rumah ke rumah yang lain, doa di kapel bersama dan koor.

  3. Mengapa Anda terlibat? Karena ingin berkumpul bersama teman-teman dan menggali pengalaman iman atau isi Kitab Suci serta sharing pengalaman pribadi dengan teman- teman. Saya cukup senang dapat terlibat dalam kgiatan-kegiatan yang ada.

  B.

  

Untuk lebih mendalami bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam

evangelisasi

  4. Bagaimana pengalaman Anda setelah terlibat dalam pewartaan Injil? Pengalaman yang saya rasakan semenjak selesai kuliah dan kembali di lingkungan adalah terlibat dalam kegiatan PIUK. Banyak karunia-karunia Roh Kudus yang saya peroleh dalam keaktivan saya dalam kegiatan PIUK.

  5. Bagaimana pendapat anda tentang kaum awam di wilayah Busur? Umat di lingkungan Busur ini kurang berminat/malas dalam mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan. Mereka akan terlibat bila didatangi atau ditelpon. Kaum muda (usia SMP) cukup banyak yang terlibat sedangkan orang tua kurang aktif.

  6. Menurut Anda dalam bidang apa saja pewartaan Injil dapat dilaksanakan? Pewartaan Injil itu dapat dilaksanakan dalam dunia kerja karena berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang perawat sering melakukan doa bersama setiap hari minggu dan biasanya dari gereja ada mengunjungi pasien-pasien.

  7. Dalam bidang apa saja Anda terlibat dalam pewartaan Injil? Apa manfaatnya bagi Anda? Saya terlibat dalam pekerjaan yang saya geluti yakni sebagai seorang perawat. Manfaat yang saya peroleh yaitu bahwa doa menjadi kekuatan yang lebih besar dalam hidup saya, ketika dalam pekerjaan saya mengalami kesulitan maka saya berdoa mohon kekuatan dan kesembuhan bagi pasien.

C. Untuk mendalami faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kaum awam dalam melaksanakan evangelisasi 8.

  Bagaimana tanggapan umat di wilayah Busur terhadap pewartaan Injil? Menurut anda mengapa umat tidak aktif dalam mewartakan Injil? Umat di sini pada umumnya kurang memahami makna dari pewartaan Injil itu sendiri, sehingga mereka kurang antusias dalam melaksanakannya bila tidak didampingi. Pada umumnya umat disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing sehingga kurang adanya waktu untuk terlibat dalam kegiatan yang ada. Terkadang mereka hanya mau terlibat ketika ada momen-momen tertentu seperti natal dan paskah.

  9. Bagaimana tanggapan anda sendiri terhadap pewartaan Injil? Pewartaan Injil adalah keterlibatan kita sebagai umat Katolik dalam kegiatan- kegiatan gerejani, pekerjaan dan hidup sehari-hari.

  10. Faktor apa saja yang mendukung anda dalam melaksanakan pewartaan Injil? Faktor pendukung terutama dari kelurga karena ayah saya adalah ketua lingkungan maka saya sebagai anak harus terlibat.

  11. Apakah Anda melihat ada hambatan bagi umat dalam melaksanakan pewartaan Injil?kesibukan dalam pekerjaan mereka. Hambatan apa saja yang Anda alami dalam mewartakan Injil? Faktor penghambat yang saya alami adalah kesibukan dalam pekerjaan saya sebagai perawat sehingga kurang dapat membagi waktu.

  12. Apakah nilai-nilai Injil mempunyai pengaruh positif di sini? Nilai-nilai Injil cukup mempunyai pengaruh terhadap budaya setempat.

  Namun kenyataan masih banyak orang-orang di sini yang sudah beragama tetapi tetap melakukan belian (pengobatan tradisional).

  Hari/Tanggal : Selasa, 22 Juni 2010

  Responden 4: Ibu Tening (umat) A.

   Untuk memperoleh gambaran tentang partisipasi kaum awam di wilayah Busur dalam evangelisasi 1.

  Apakah anda sudah akrab dengan istilah pewartaan Injil? Ya, saya sudah sering mendengar istilah tersebut tetapi saya belum terlalu memahami pengertiannya secara gerejani.

  2. Apakah anda terlibat dalam mewartakan Injil? Ya, saya terlibat mewartakan Injil dalam kehidupan sehari-hari dengan memberi teladan bagi anak-anak, dalam keluarga, dunia pekerjaan, kegiatan rekoleksi (pasutri), pendalaman iman, rekoleksi (komka) dan meluangkan waktu pada hari minggu untuk ke gereja.

  3. Mengapa anda terlibat? Saya terlibat karena bagi saya keterlibatan saya merupakan suatu pelayanan baik bagi keluarga maupun orang lain di sekitar saya.

  B.

  

Untuk lebih mendalami bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam

evangelisasi

  4. Bagaimana pengalaman anda setelah terlibat dalam pewartaan Injil? Pewartaan itu saya mulai dari dalam diri sendiri dengan refleksi dan memberikan teladan yang baik bagi anak-anak. Pengalaman hidup saya waktu kuliah sampai sekarang tidak mengalami banyak kesulitan dalam mencari pekerjaan berkat usaha dan kerja keras yang selalu saya sertai dengan doa.

  Dalam pengalaman hidup saya mengalami kedekatan dengan Tuhan. Banyak memperoleh pengetahuan dari pengalaman hidup yang saya rasakan manfaatnya hingga sekarang ini.

  5. Bagaimana pendapat anda tentang kaum awam di wilayah Busur? Menurut saya kaum awam di wilayah Busur ini lemah kesadarannya untuk terlibat dalam pewartaan Injil. Hal ini dapat kita lihat pada saat doa di lingkungan, betapa sulitnya mereka berkumpul, kurang mau terlibat dalam kegiatan membersihkan gereja. Dalam arti umatnya sadar namun kurang adanya kerjasama dan kesediaan untuk memberikan sedikit waktunya untuk melayani sesama secara cuma-cuma. Kalau kita tidak bisa ikut kita bisa melibatkan orang-orang yang di rumah kita (tidak harus kita).

  6. Menurut anda dalam bidang apa saja pewartaan Injil dapat dilaksanakan? Pewartaan Injil dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya dalam bidang gerejani semata. Dalam keluarga, lingkungan, masyarakat dan

  7. Dalam bidang apa saja anda terlibat dalam pewartaan Injil? Apa manfaatnya bagi Anda? Keterlibatan saya dalam kehidupan sehari-hari yang dimulai dari dalam diri sendiri, dalam keluarga dengan memberikan teladan pada anak-anak dan mengajarkan mereka untuk menghormati orangtua, sesama, memperkenalkan aktivis gereja, mengajarkan benih-benih iman katolik pada anak sejak dini. Intinya pewartaan iman di mulai dari hal-hal yang sederhana. Pewartaan Injil juga saya laksanakan dalam dunia kerja yakni dengan bekerja penuh tanggungjawab dan sepenuh hati (tidak perhitungan) karena dengan demikian sayapun memperoleh kepercayaan penuh.

C. Untuk mendalami faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kaum awam dalam melaksanakan evangelisasi 8.

  Bagaimana tanggapan umat di wilayah Busur terhadap pewartaan Injil? Menurut anda mengapa umat tidak aktif dalam mewartakan Injil? Karena kaum awam kurang memahami arti dari pewartaan Injil itu sendiri dan mereka juga disibukkan dengan pekerjaan masing-masing sehingga tidak banyak waktu mereka untuk terlibat.

  9. Bagaimana tanggapan anda sendiri terhadap pewartaan Injil? Yakni menyampaikan isi Injil kepada sesama umat beriman.

  10. Faktor apa saja yang mendukung Anda dalam melaksanakan pewartaan Injil? Faktor pendukung yang utama itu dari diri sendiri karena itu merupakan kunci. Kalau kita sendiri tidak paham dengan apa yang kita lakukan maka tidak akan tercapai apa yang kita kehendaki dan tidak diterima di masyarakat.

  11. Apakah anda melihat ada hambatan bagi umat dalam melaksanakan pewartaan Injil? Hambatan apa saja yang anda alami dalam mewartakan Injil? Faktor penghambat bagi saya pribadi maupun bagi umat terutama adalah karena adanya orang yang memiliki kepentingan pribadi atau golongan misalnya kita bekerja di masyarakat demi kepentingan masyarakat namun kenyataannya kita mengupayakan demi keuntungan kita pribadi, budaya belian (pemujaan), perjudian dan kurangnya kerukunan dalam keluarga. Saya pribadi jarang membaca Injil secara pribadi keculai pada hari minggu di gereja.

  12. Apakah nilai-nilai Injil mempunyai pengaruh positif di sini? Nilai-nilai Injil punya pengaruh besar tetapi tergantung mereka yang mewartakannya. Misalnya pada saat kotbah di gereja yang dlakukan oleh pastor. Budaya belian, kuangkai dan kebiasaan membuang-buang waktu, perjudian menjadi kendala bagi pewarta untuk menyampaikan makna Injil.

  Hari/Tanggal :Kamis, 24 Juni 2010

  Responden 5: Sisil (mudika) A.

   Untuk memperoleh gambaran tentang partisipasi kaum awam di wilayah Busur dalam evangelisasi 1.

  Apakah anda sudah akrab dengan istilah pewartaan Injil? Ya, saya pernah mendengar dan sudah cukup akrab dengan istilah tersebut karena sering ikut pastor turney dan ikut kegiatan-kegiatan di paroki.

  2. Apakah anda terlibat dalam mewartakan Injil? Ya, bila ada waktu saya terlibat. saya terlibat seperti ikut turney, membaca Kitab Suci dan memberi pendalaman Kitab Suci baik kaum muda maupun orang tua.

  3. Mengapa anda terlibat? Saya terlibat karena tidak ada orang atau kurangnya tenaga yang mau mewartakan Injil. Orang yang tahu mungkin banyak tetapi yang punya kemauan kurang. Ya saya senang dalam menjalankan pewartaan Injil ini.

  B.

  

Untuk lebih mendalami bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam

evangelisasi

  4. Bagaimana pengalaman anda setelah terlibat dalam pewartaan Injil? Ketika mewartakan Injil di stasi Eheng saya merasa antara saya dan umat kurang tercipta komunikasi yang baik entah karena saya yang kurang baik dalam penyampaiannya atau karena umat yang kurang memperhatikan sehingga pewartaan saya tidak dapat sampai dengan baik. Tidak didengarkan pada saat mewartakan Injil dengan orang tua. Pada saat mewartakan kadang tidak didengarkan oleh umat (tidak semua) dan kadang tidak sinkron antara pemberi pendalaman Kitab Suci dan umatnya sendiri. Dari pengalaman saya merasakan banyak tantangan yang dihadapi di tengah umat.

  5. Bagaimana pendapat anda tentang kaum awam di wilayah Busur? Kaum awam di wilayah Busur ini cukup memahami dan mengerti tentang pewartaan Injil karena berada dekat dengan pusat paroki daripada umat yang berada di desa-desa, namun kebanyakan umatnya sibuk dengan kegiatan sendiri-sendiri sehingga acuh terhadap kegiatan yang ada. Umat juga terkadang malas atau tidak mau tahu dengan kegiatan yang ada. Terkadang juga ada yang malu untuk terlibat.

  6. Menurut anda dalam bidang apa saja pewartaan Injil dapat dilaksanakan? Menurut saya pewartaan Injil dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari pada saat kumpul bersama teman-teman kaum muda ataupun dengan tetangga, bukan hanya dalam kegiatan yang bersifat gerejani semata.

  7. Dalam bidang apa saja anda terlibat dalam pewartaan Injil? Apa manfaatnya bagi anda? Saya terlibat dalam bidang gerejani seperti membaca Kitab Suci (pada saat Perayaan Ekaristi), kegiatan paroki dan mengajar sekolah minggu. Manfaatnya saya dapat menjadi teladan bagi orang lain.

C. Untuk mendalami faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kaum awam dalam melaksanakan evangelisasi 8.

  Bagaimana tanggapan umat di wilayah Busur terhadap pewartaan Injil? Menurut anda mengapa umat tidak aktif dalam mewartakan Injil? Umat di wilayah Busur pada umumnya tahu atau mengenal istilah pewartaan Injil karena mereka lebih dekat dengan paroki daripada umat yang ada di stasi-stasi jauh dari kota. Namun karena kesibukan mereka dalam kerja membuat mereka kurang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ada.

  9. Bagaimana tanggapan anda sendiri terhadap pewartaan Injil? Pewartaan Injil itu adalah kegiatan menyampaikan warta gembira kepada sesama umat beriman terutama pada saat perayaan paskah ataupun doa-doa rosario.

  10. Faktor apa saja yang mendukung anda dalam melaksanakan pewartaan Injil? Adanya semangat atau support dari umat atau orang-orang di sekitar saya.

  11. Apakah anda melihat ada hambatan bagi umat dalam melaksanakan pewartaan Injil? Hambatan apa saja yang anda alami dalam mewartakan Injil? Hambatan yang saya alami adalah bila orang tidak mau mendengarkan tentang pewartaan yang saya wartakan dan acuh tak acuh terhadap pewartaan. Saya juga kurang begitu mengerti atau memahami makna pewartaan Injil karena latar belakang pendidikan saya bukan dari agama.

  12. Apakah nilai-nilai Injil mempunyai pengaruh positif di sini? Nilai-nilai Injil memiliki pengaruh yang besar terhadap budaya setempat terutama budaya belian (penyembuhan secara tradisional) karena masih banyak orang-orang yang menaruh kepercayaan terhadap belian sehingga perlu upaya dari para pewarta untuk mewartakan Injil di tengah umat.

  Hari/Tanggal : Kamis, 01 Juli 2010

  Responden 6: Ibu Kristina (umat) A.

   Untuk memperoleh gambaran tentang partisipasi kaum awam di wilayah Busur dalam evangelisasi 1.

  Apakah anda sudah akrab dengan istilah pewartaan Injil? Saya kurang akrab dengan istilah tersebut tetapi pernah mendengar hanya saya belum terlalu memahami artinya.

  2. Apakah anda terlibat dalam mewartakan Injil? Ya, saya terlibat sebagai guru sekolah minggu dan terlibat dalam kelompok doa.

  3. Mengapa anda terlibat? Saya terlibat karena saya ingin berbagi. Apa yang saya miliki dan saya ketahui, ingin saya bagikan pada orang lain terutama pada anak-anak. Berbagi pengalaman tentang iman. Saya merasa senang menjalaninya tanpa paksaan.

  B.

  

Untuk lebih mendalami bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam

evangelisasi

  4. Bagaimana pengalaman anda setelah terlibat dalam pewartaan Injil? Pengalaman keterlibatan saya sebagai pengurus sekolah minggu dan kelompok doa, dari yang semula hanya terlibat sebagai peserta saja akhirnya saya mau menjadi pengurus. Sebagai PNS mau melayani orang dan harus sabar melayani serta selalu berbuat baik terhadap orang. Seperti firman Tuhan melayani orang sama saja kita melayani diri sendiri. saya perlu banyak belajar untuk selalu siap melayani orang lain dengan sabar dalam pekerjaan saya.

  Iman bukan hanya soal pengetahuan tetapi juga pengalaman.

  5. Bagaimana pendapat anda tentang kaum awam di wilayah Busur? Kaum awam di Busur ini cukup bagus, kegiatan di lingkungan cukup berjalan dengan lancar, doa lingkungan pada bulan rosario dan kunjungan ke rumah umat berjalan dengan baik.

  6. Menurut anda dalam bidang apa saja pewartaan Injil dapat dilaksanakan? Pewartaan Injil dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap dan tindakan kita, juga di tempat kerja kita harus sabar melayani orang lain.

  7. Dalam bidang apa saja anda terlibat dalam pewartaan Injil? Apa manfaatnya bagi anda? Saya terlibat dalam pekerjaan saya sebagai PNS dan juga sebagai guru sekolah minggu. Saya mendapat kekuatan dari Tuhan dalam menghadapi hidup terutama dalam pekerjaan, saya dapat menjadi lebih sabar dalam melayani orang lain seperti melayani diri saya sendiri, sehingga manfaat yang saya peroleh adalah kebahagiaan karena melayani tanpa beban dan semangat dalam hidup. Hal ini merupakan praktek kasih.

  C.

  

Untuk mendalami faktor-faktor yang mendukung dan menghambat

kaum awam dalam melaksanakan evangelisasi

  8. Bagaimana tanggapan umat di wilayah Busur terhadap pewartaan Injil? Menurut Anda mengapa umat tidak aktif dalam mewartakan Injil? Umat di Busur cukup terbuka terhadap kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan. Kehadiran umat dalam kegiatan yang ada menunjukkan sikap terbuka dan penerimaan mereka. Mereka kurang terlibat karena masalah transportasi, jarak gereja-rumah cukup jauh dan juga karena kesibukan umat dengan pekerjaan masing-masing.

  9. Bagaimana tanggapan anda sendiri terhadap pewartaan Injil? Bagi saya pewartaan Injil adalah pada saat memberikan pelajaran agama untuk anak-anak dan juga pada saat kotbah, serta tindakan baik kita mau bersikap sabar.

  10. Faktor apa saja yang mendukung anda dalam melaksanakan pewartaan Injil? Saya menjalani pekerjaan saya dengan iklas/tanpa beban dan merasa melayani Tuhan melalui sesama sehingga hal tersebut menjadi dukungan bagi saya pribadi.

  11. Apakah anda melihat ada hambatan bagi umat dalam melaksanakan pewartaan Injil? Hambatan apa saja yang anda alami dalam mewartakan Injil?

  Faktor penghambat lebih-lebih dari dalam diri saya sendiri, terutama dalam hal waktu. Kesibukan saya dalam pekerjaan saya terkadang membuat saya tidak punya waktu untuk terlibat karena berbenturan waktu. Umat tidak aktif karena pertama-tama masalah transportasi karena jarak antara rumah ke gerja cukup jauh. Juga karena kesibukan dalam pekerjaannya.

  12. Apakah nilai-nilai Injil mempunyai pengaruh positif di sini? Menurut saya nilai-nilai Injil punya pengaruh sekaligus juga punya tantangan yang cukup berat terutama dalam menghadapi budaya “belian” yang sudah turun-temurun dari nenek moyang dan terus dilaksanakan oleh sebagian umat. Hal ini menjadi tantangan berat bagi pewarta karena umat masih cukup kuat dengan budaya tersebut. Seorang pewarta perlu memiliki kesabaran dalam mewartakan Injil di tengah budaya belian dan perlu secara perlahan-lahan masuk dalam budaya setempat untuk mewartakan. Belian merupakan upaya mereka memanggil roh untuk mengobati orang yang sedang sakit. Supaya dapat masuk mewartakan Injil di tengah umat adalah masuk dalam budaya setempat.

  Hari/Tanggal :Jumat, 16 Juli 2010

  Responden 7: Sawi (umat) A.

   Untuk memperoleh gambaran tentang partisipasi kaum awam di wilayah Busur dalam evangelisasi 1.

  Apakah anda sudah akrab dengan istilah pewartaan Injil? Belum. Saya memang pernah mendengar istilah tersebut tetapi saya belum terlalu memahami artinya.

  2. Apakah anda terlibat dalam mewartakan Injil? Kadang terlibat kadang tidak. Terlibat pada saat saya mengerti sehingga dapat saya jelaskan pada orang lain. Saya mewartakan Injil pada saat saya tahu dan bisa menjelaskan tentang isi Kitab Suci kepada orang lain dan ketika saya sendiri tidak mengerti maka saya tidak terlibat.

  3. Mengapa anda terlibat? Saya terlibat karena saya ingin memperoleh keselamatan di dunia akhirat.

  Sebab hidup saya di dunia ini hanya sementara, jangan sampai saya menderita juga di akhirat sementara di dunia sudah menderita.

  B.

  

Untuk lebih mendalami bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam

evangelisasi

  4. Bagaimana pengalaman anda setelah terlibat dalam pewartaan Injil? Saya merasa lega dan lebih ringan serta merasa terbantu oleh Tuhan yang meringankan beban pikiran yang saya alami dan pikirkan ketika saya terlibat dalam kegiatan pewartaan Injil baik ke gereja atau berdoa, memberikan ajaran pada anak-anak dan kegiatan di lingkungan.

  5. Bagaimana pendapat anda tentang kaum awam di wilayah Busur? Umat di sini mau terlibat bila dipanggil atau diberitahu tetapi biasanya yang

6. Menurut anda dalam bidang apa saja pewartaan Injil dapat dilaksanakan?

  Pewartaan Injil dapat dilakukan dalam bidang gerejani seperti terlibat dalam kegiatan koor atau doa-doa di lingkungan.

  7. Dalam bidang apa saja anda terlibat dalam pewartaan Injil? Apa manfaatnya bagi anda? Dalam bidang gerejani dan kehidupan sehari-hari, dalam keluarga dengan mengajarkan tentang kasih kepada anak-anak. Menjelaskan apa yang saya pahami pada orang lain misalnya saat kelahiran Yesus Kristus, dalam kegiatan doa lingkungan dan koor dan membersihkan gereja. Saya merasa sangat senang sekali dapat memberikan apa yang bisa saya berikan pada orang lain yang datang dari hati saya.

C. Untuk mendalami faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kaum awam dalam melaksanakan evangelisasi 8.

  Bagaimana tanggapan umat di wilayah Busur terhadap pewartaan Injil? Menurut anda mengapa umat tidak aktif dalam mewartakan Injil? Ada yang menanggapi dan terlibat dalam pewartaan Injil namun ada pula yang tidak menanggapi dan hanya diam saja (tidak terlibat). Umat yang tidak aktif dengan alasan sibuk, capek atau tidak siap. Sedangkan yang aktif merasa itu sebagai kewajiban.

  9. Bagaimana tanggapan anda sendiri terhadap pewartaan Injil? Pewartaan Injil adalah upaya seseorang untuk menjelaskan atau menceritakan isi Kitab Suci kepada orang lain supaya dapat dipahami.

  10. Faktor apa saja yang mendukung anda dalam melaksanakan pewartaan Injil? Faktor dari dalam diri sendiri yakni ada niat untuk melakukan dengan sepenuh hati.

  11. Apakah anda melihat ada hambatan bagi umat dalam melaksanakan pewartaan Injil? Hambatan apa saja yang anda alami dalam mewartakan Injil? Dari dalam diri sendiri ada niat melakukan sesuatu namun tidak dilaksanakan (tidak ada tindakan nyata). Walaupun kita tahu tapi kalau tidak dilaksanakan maka itu tidak terlaksana. Saya jarang membaca Injil hanya pada saat di gereja.

  12. Apakah nilai-nilai Injil mempunyai pengaruh positif di sini? Menurut saya Injil kurang berpengaruh terhadap budaya setempat karena di sini masih banyak dan kuatnya kasus-kasus perselingkuhan yang sampai pada perceraian sementara gereja menentang perceraian dan perjudian.

  Hari/Tanggal : Senin, 19 Juli 2010

  Responden 8: Ibu Daria (umat) A.

   Untuk memperoleh gambaran tentang partisipasi kaum awam di wilayah Busur dalam evangelisasi 1.

  Apakah anda sudah akrab dengan istilah pewartaan Injil?

  2. Apakah anda terlibat dalam mewartakan Injil? Iya, saya terlibat dalam dunia kerja saya sebagai guru agama di sekolah dan seksi pewartaan di paroki.

  3. Mengapa anda terlibat? Saya terlibat karena kewajiban sebagai seorang Kristiani bahwa kita mengenal Kristus bukan untuk diri kita sendiri tetapi kita bisa mengajak orang lain untuk terlibat dan menyakini bahwa Kristus adalah penyelamat kita. Saya sangat senang dan gembira dalam melaksanakannya.

  B.

  

Untuk lebih mendalami bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam

evangelisasi

  4. Bagaimana pengalaman anda setelah terlibat dalam pewartaan Injil? Banyak suka duka yang saya alami dalam menjalankan pewartaan Injil.

  Pengalaman sebagai guru agama di paroki Muara Lawa saya merasakan banyak tantangan dalam mewartakan Injil. Ketika itu saya harus melewati jalan yang susah dan sulitnya kendaraan. Di awal pewartaan saya harus melewati perjalanan yang sulit karena keterbatasan kendaraan/transportasi, mendapat penolakan dari umat di stasi ketika akan mengadakan natal bersama romo paroki. Tetapi saya selalu berusaha menjalankan dengan sepenuh hati sehingga hal-hal tersebut menjadi tantangan bagi saya. Sebab proses kehidupan ini tidak terlepas dari suka dukanya, terkadang tidak di terima umat (umat tidak siap dengan kehadiran kita sebagai pewarta), namun harus tetap sabar menghadapi situasi tersebut.

  5. Bagaimana pendapat anda tentang kaum awam di wilayah Busur? Kaum awam di Busur ini cukup aktif dan bisa bekerjasama, aktif dalam kegiatan gereja, mengikuti kegiatan-kegiatan di lingkungan maupun di paroki. Tergantung pemimpin dalam memafaatkan metode yang cocok dengan situasi umat.

  6. Menurut anda dalam bidang apa saja pewartaan Injil dapat dilaksanakan? Pewartaan Injil dapat dilakukan dalam bidang pendidikan misalnya memberi kursus-kursus, dari medis (dunia kerja) kegiatan non formal misal kursus menjahit tidak mutlak kotbah dalam gereja. gerejani seperti memimpin koor atau doa di lingkungan, di tempat kerja dan dalam kehidupan sehari-hari.

  7. Dalam bidang apa saja anda terlibat dalam pewartaan Injil? Apa manfaatnya bagi anda? Saya berusaha memberikan pengaruh positif pada orang lain dalam kehidupan saya di tengah masyarakat. Di tempat kerja sebagai guru agama di sekolah saya mengajarkan/membagikan ilmu kepada murid. Manfaat yang saya peroleh adalah semakin berkembangnya iman saya dan juga iman umat. Mengadakan sensus, kurus perkawinan, pembinana sekolah minggu, komuni pertama, krisma. Sebagai guru agama mengajar agama, memimpin doa di lingkungan. Dalam dunia pendidikan dan dalam kehidupan sehari-hari, dunia kerja dengan melihat situasi (masuk dalam sudut kehidupan setempat). Memberikan pelayanan secara suka rela bagi orang lain yang bermanfaat bagi orang lain.

C. Untuk mendalami faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kaum awam dalam melaksanakan evangelisasi 8.

  Bagaimana tanggapan umat di wilayah Busur terhadap pewartaan Injil? Menurut anda mengapa umat tidak aktif dalam mewartakan Injil? Umat di Busur ini bervariasi ada yang menanggapi namun ada pula yang acuh tak acuh, mereka yang kurang aktif karena kesibukan mereka bekerja. Umat sudah cukup memahami bahwa tugas pewrtaan Injil merupakan tanggungjawab mereka sebagai umat Kristiani dengan demikian mereka mau ikut dan terlibat dalam kegiatan yang ada, seperti koor dan doa rosario.

  9. Bagaimana tanggapan anda sendiri terhadap pewartaan Injil? Kita menyuarakan Kabar Gembira tentang Kristus.

  10. Faktor apa saja yang mendukung anda dalam melaksanakan pewartaan Injil? Faktor pendukung itu datang dari keluarga yakni adanya pengertian dari suami terhadap pekerjaan, ketua lingkungan, pastor dan umat.

  11. Apakah anda melihat ada hambatan bagi umat dalam melaksanakan pewartaan Injil? Hambatan apa saja yang anda alami dalam mewartakan Injil? Dari diri saya sendiri yang tidak sehat, situasi dalam keluarga yang tidak terduga, misalnya ketika akan ikut dalam kegiatan gereja namun tidak ada yang menjaga anak yang masih kecil dan butuh perhatian sehingga menjadi kendala. Manfaat demi perkembangan iman pribadi dan umat.

  12. Apakah nilai-nilai Injil mempunyai pengaruh positif di sini? Nilai-nilai Injil cukup mempunyai pengaruh terhadap budaya yang mana terlihat dalam tarian rijoq yang diinkulturasikan dalam gerejani. Saya cukup sering membaca Injil karena Injil merupakan inspirasi bagi saya dalam mengajar di sekolah sebagai guru agama. Kita tidak membuang budaya tetapi kita menyempurnakan. Artinya mengambil nilai positif budaya sendiri dan memasukkan ke dalam gereja (inkulturasi).

  Hari/Tanggal : Rabu, 21 Juli 2010

  Responden 9: Pak Agus Ingan (umat) A.

   Untuk memperoleh gambaran tentang partisipasi kaum awam di wilayah Busur dalam evangelisasi 1.

  Apakah anda sudah akrab dengan istilah pewartaan Injil? Saya kurang akrab hanya pernah mendengar 2. Apakah anda terlibat dalam mewartakan Injil?

  Ya, terlibat ambil bagian dalam kepengurusan lingkungan sebagai prodiakon, sebagai ketua RT, saya selalu berusaha membagikan waktu saya untuk lingkungan. Saya merasa senang dan merasa perlu untuk membantu umat dalam kehidupannya secara gerejani

  3. Mengapa anda terlibat? Merasa terpanggil untuk membantu dan itu sebagai tugas kita sebagai umat Katolik. Saya cukup senang menjalaninya.

  B.

  

Untuk lebih mendalami bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam

evangelisasi

  4. Bagaimana pengalaman anda setelah terlibat dalam pewartaan Injil? Dari pengalaman keterlibatan saya merasa perlu sekali melibatkan diri untuk membantu tugas pastor yang “kurang tenaganya” ini dalam mewartakan Yesus Kristus kepada orang yang mengalami keraguan dan belum mengenal. Membantu umat untuk amal sebagai umat beriman dan tidak terpaksa dalam melaksanakannya, menyerahkan diri secara total melayani umat.

  5. Bagaimana pendapat anda tentang kaum awam di wilayah Busur? Umat agak acuh terhadap kegiatan yang ada tetapi tidak semua. Ada yang aktif dan ada juga yang tidak aktif. Terkadang umat di lingkungan lebih aktif dalam kegiatan paroki namun kurang terlibat dalam kegiatan lingkungan. Padahal kegiatan lingkunngan pun sangat penting.

  6. Menurut anda dalam bidang apa saja pewartaan Injil dapat dilaksanakan? Pada saat paskah dan perayaan natal dengan sharing mengenai pengalaman iman umat dapat saling menguatkan iman dan dalam bidang gerejani.

  7. Dalam bidang apa saja anda terlibat di dalam pewartaan Injil? Apa manfaatnya bagi anda? Saya terlibat dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat sebagai ketua lingkungan, membantu membuat gedung gereja, terlibat sebagai pengurus lingkungan. Manfaat yang saya peroleh adanya kesadaran untuk membantu pastor yang sedikit tetapi lahannya luas dalam menjalankan tugasnya mengembangkan iman umat. Amal sebagai umat beriman. Pewartaan Injil dapat juga di laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Saya jarang membaca Injil di rumah.

  C.

  

Untuk mendalami faktor-faktor yang mendukung dan menghambat

kaum awam dalam melaksanakan evangelisasi

  8. Bagaimana tanggapan umat di wilayah Busur terhadap pewartaan Injil? Menurut anda mengapa umat tidak aktif dalam mewartakan Injil? Umat terlalu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, sehingga iman mereka dinomorduakan, umat juga jarang dilibatkan misalnya dalam memimpin doa dan sebagainya. Perlu dorongan dari pemimpin untuk melibatkan umat atau memberi kesempatan pada mereka mengembangkan diri dalam kegiatan yang ada di lingkungan misalnya memimpin doa, sehingga mereka dapat mengambil bagian dalam mewartakan Injil. Umat apatis/menunggu, bukan berarti malas tetapi menunggu perintah.

  9. Bagaimana tanggapan anda sendiri terhadap pewartaan Injil? Ikut merasul untuk mewartakan Kabar Baik tentang Yesus Kristus yang disebarluaskan kepada umat beriman yang mengalami keraguan maupun yang belum mengenal Dia.

  10. Faktor apa saja yang mendukung anda dalam melaksanakan pewartaan Injil? Motivasi dari dalam diri sendiri, saya merasa terpanggil melihat pemimpin kurang sehingga harus membantu pelayanan itu dengan menjadi pengurus lingkungan. Motivasi dari luar yakni warga umat Busur yang terlibat aktif

  11. Apakah anda melihat ada hambatan bagi umat dalam melaksanakan pewartaan Injil? Hambatan apa saja yang anda alami dalam mewartakan Injil? Secara menyeluruh sikap apatis/menunggu dari umat. Umat yang kadang- kadang tidak aktif karena faktor budaya misalnya belian dan sebagainya. Mereka lebih aktif dan kuat kepercayaannya pada adat kebiasaan tersebut daripada ikut dalam kegiatan gerejani.

  12. Apakah nilai-nilai Injil mempunyai pengaruh positif di sini? Kadang-kadang tidak terlalu jelas lewat pewartaannya. Padahal pewartaan menjadi kunci untuk masuk dalam budaya setempat. Bagaimana pewartannya masuk dalam budaya untuk menyapa umat setempat dengan pesan-pesan Injil sehingga nilai-nilai Injil menjadi tidak terlalu berpengaruh terhadap budaya.

  Padahal kalau pewartamnya jelas maka itu sangat berpengaruh besar terhadap budaya.

  Hari/Tanggal : Selasa, 27 Juli 2010

  Responden 10: Pak Ngau (umat) A.

   Untuk memperoleh gambaran tentang partisipasi kaum awam di wilayah Busur dalam evangelisasi 1.

  Apakah anda sudah akrab dengan istilah pewartaan Injil? Iya, saya sudah akrab dengan istilah pewartaan injil.

  2. Apakah anda terlibat dalam mewartakan Injil? Ya, saya terlibat dalam dunia pekerjaan saya.

  3. Mengapa anda terlibat? Saya terlibat karena sudah mengimani Yesus Kristus maka saya harus terlibat di dalam mewartakan Injil. Saya merasa senang ketika dapat memberitahu orang yang semula tidak tahu.

  B.

  

Untuk lebih mendalami bidang-bidang keterlibatan kaum awam dalam

evangelisasi

  4. Bagaimana pengalaman anda setelah terlibat dalam pewartaan Injil? Saya merasa senang sekali karena dengan pengalaman yang ada saya bisa membawa orang keluar dari kegelapan. Saat saya bertugas di gunung Paroy, dimana umatnya mayoritas adalah muslim saya merasa sangat senang karena dapat membawa terang bagi segelintir umat Katoliknya. Mereka yang semula tidak tersentuh dari gereja dapat mengenal Injil sehingga iman mereka tetap teguh di tengah umat beragama lain. Pengalaman ini sangat berharga bagi saya.

  5. Bagaimana pendapat anda tentang kaum awam di wilayah Busur? Umat cukup baik dan terlibat dalam kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan dan juga umat pendatang membawa nilai positif bagi penduduk asli, sehingga umat asli tidak terlalu melaksanakan budaya belian secara

  6. Menurut anda dalam bidang apa saja pewartaan Injil dapat dilaksanakan? Menurut saya pewartaan Injil dapat dilaksanakan dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari dan dunia kerja.

  7. Dalam bidang apa saja anda terlibat di dalam pewartaan Injil? Apa manfaatnya bagi anda? Saya terlibat dalam pelayanan kepada masyarakat, di tempat kerja sebagai PNS dan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sikap dan tindakan hidup sehari-hari memberi teladan pada anak-anak. Manfaat yang saya peroleh adalah menjadi tahu gambaran hidup menurut Injil karena sering membaca Injil.

  C.

  

Untuk mendalami faktor-faktor yang mendukung dan menghambat

kaum awam dalam melaksanakan evangelisasi

  8. Bagaimana tanggapan umat di wilayah Busur terhadap pewartaan Injil? Menurut anda mengapa umat tidak aktif dalam mewartakan Injil? Pada dasarnya umat menanggapi dengan baik dan positif pewartaan Injil namun karena kesibukan mereka bekerja membuat mereka tidak memiliki banyak waktu untuk terlibat. Sebagian umat di sini juga tergolong tidak memiliki sekolah yang cukup dan kurang pergaulannya, sehingga mereka merasa minder bergabung dengan umat lain. Pastor paroki juga punya kebiasaan melibatkan umat dengan bertanya hal-hal yang berkaitan dengan Injil sehingga ada interaksi antara pastor dan umat.

  9. Bagaimana tanggapan anda sendiri terhadap pewartaan Injil? Setiap orang harus mewartakan Injil kepada sesama lewat sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Pewartaan Injil perlu dilakukan secara terus-menerus agar umat yang tidak tahu menjadi mengetahui apa yg dimaksud dari Injil tersebut.

  10. Faktor apa saja yang mendukung anda dalam melaksanakan pewartaan Injil? Iman menjadi pendukung bagi saya dalam melaksanakan pewartaan Injil.

  Sebab pewartaan Injil bukan hanya dilaksanakan oleh pastor atau katekis saja tetapi setiap orang beriman wajib melaksanakan dan memberikan teladan. Motivasi dari keluarga. Sejak kecil mendapat teladan yang baik dari orang tua yang berdasarkan nilai-nilai Injil, sehingga melekat dalam diri saya.

  11. Apakah anda melihat ada hambatan bagi umat dalam melaksanakan pewartaan Injil? Hambatan apa saja yang anda alami dalam mewartakan Injil? Saya juga mengalami hambatan yakni masalah pendidikan, kehidupan sosial, kurang mampu meluangkan waktu serta tergantung pada pemimpin (pastor, frater dan katekis). Hambatan bagi umat karena kehidupan masyarakat yang susah, kurang mampu meluangkan waktu dan masih banyak umat yang tergatung pada pemimpin (pastor, katekis, prodiakon).

  12. Apakah nilai-nilai Injil mempunyai pengaruh positif di sini? Nilai-nilai Injil cukup mempunyai pengaruh terhadap budaya di sini karena budaya yang dahulu terlalu diaggap sakral sekarang agak berkurang.

  Lampiran 5: Cerita “Mewakili Kristus” MEWAKILI KRISTUS

  Yesus memilih mereka untuk menjadi rasul-rasulNya, Kata Yunani untuk rasul “apostolos”, berarti “orang yang diutus” Kata ini bisa dipakai untuk menyebut seorang duta. Mereka memang diutus untuk menjadi dutaNya bagi manusia.

  Seorang anak perempuan kecil di Sekolah Minggu mendengar pelajaran tentang rasul-rasul ini. Karena dia masih muda, anak itu tidak sungguh-sungguh memahami kata itu. Dia pulang ke rumah dan memberi tahu orang tuanya bahwa dia baru saja belajar tentang contoh-contoh Yesus.

  Memang, seorang duta adalah seseorang yang mewakili negaranya di negara asing. Dia adalah contoh utama dari negaranya. Orang Kristen memang dikirim untuk menjadi contoh tentang Kristus… melalui kata-kata dan perbuatannya.

  • -Barclay-
Lampiran 6: Peta Paroki

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ii EVALUASI KINERJA RUAS JALAN PAHLAWAN KOTA SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR
0
3
15
APLIKASI PELAYANAN FASILITAS UMUM DI KOTA SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR BERBASIS JAVA MOBILE
0
7
1
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PEMETAAN PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PEMETAAN PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA SAMARINDA KALIMANTAN TIMUR BERBASIS WEB.
1
6
14
LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA DI WASUPONDA, GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA DI WASUPONDA, LUWU TIMUR, SULAWESI SELATAN.
0
3
16
KONSEP PERANCANGAN GEDUNG GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA GEREJA KATOLIK KRISTUS RAJA DI WASUPONDA, LUWU TIMUR, SULAWESI SELATAN.
0
2
34
KAUM PEREMPUAN SEKARANG LEBIH KRITIS
0
0
2
GEREJA PAROKI KRISTUS RAJA UNGARAN
0
0
5
BUKU CERITA BERGAMBAR DALAM TANTANGAN ZAMAN DI INDONESIA
0
0
11
BUKU CERITA BERGAMBAR DALAM TANTANGAN ZAMAN DI INDONESIA
0
0
10
COMMUNIO-KOINONIA MENURUT VISI PAROKI KATEDRAL KRISTUS RAJA DALAM PERTEMUAN AKSI PUASA PEMBANGUNAN
0
0
12
HUBUNGAN DEPRESI DENGAN INSOMNIA PADA LANSIA DI POSYANDU LANSIA GEREJA KRISTUS RAJA SURABAYA SKRIPSI
0
1
20
AUDIT KEPATUHAN DI WILAYAH, LINGKUNGAN, KELOMPOK KATEGORIAL, DAN TIM KERJA DI PAROKI KEBON DALEM, KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG - Unika Repository
0
0
15
AUDIT KEPATUHAN DI WILAYAH, LINGKUNGAN, KELOMPOK KATEGORIAL, DAN TIM KERJA DI PAROKI KEBON DALEM, KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG - Unika Repository
0
0
14
SUMBANGAN MODEL PENDAMPINGAN BAGI KOMUNITAS KAUM MUDA KATOLIK DI PAROKI HATI KUDUS YESUS PUGERAN YOGYAKARTA SKRIPSI
0
0
210
KETERLIBATAN KAUM AWAM DALAM TUGAS KERASULAN GEREJA SEBAGAI PENGURUS DEWAN PAROKI DI PAROKI SANTO YOHANES RASUL, PRINGWULUNG, YOGYAKARTA SKRIPSI
0
0
175
Show more