Peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu melalui metode mendongeng - USD Repository

Gratis

0
2
256
10 months ago
Preview
Full text

  

PENINGKATAN MINAT BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR SISWA

PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS II SD PANGUDI LUHUR

SEDAYU MELALUI METODE MENDONGENG

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh:

  Antonius Dimas Wisnugroho NIM: 091134111

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

PENINGKATAN MINAT BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR SISWA

PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS II SD PANGUDI LUHUR

SEDAYU MELALUI METODE MENDONGENG

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh:

  Antonius Dimas Wisnugroho NIM: 091134111

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

MOTTO

“Always Do The Best”

Dengan segala kerendahan hati,

kupersembahkan yang terbaik dalam skripsi ini

untuk Ibu tercinta, Santa, keluargaku dan semua yang kusayangi.

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 9 Juli 2013 Penulis Antonius Dimas Wisnugroho

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Antonius Dimas Wisnugroho NIM : 091134111

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

“PENINGKATAN MINAT BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR SISWA

PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS II SD PANGUDI LUHUR SEDAYU

MELALUI METODE MENDONGENG”

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma

hak untuk menyimpan, untuk mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya

dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan

mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa

perlu ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap

mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian ini pernyataan yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 14 Juni 2013 Yang menyatakan,

  Antonius Dimas Wisnugroho

  

ABSTRAK

  Wisnugroho, Antonius Dimas. 2013. Peningkatan Minat Belajar dan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PKn Kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu Melalui Metode Mendongeng. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

  Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar siswa kelas II di SD Pangudi Luhur Sedayu melalui metode mendongeng pada mata pelajaran PKn materi mengenal nilai-nilai Pancasila tahun pelajaran 2012/2013.

  Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) menurut Kemmis dan Mc Taggart dengan subjek penelitian siswa kelas II yang terdiri dari 30 siswa. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dengan tahapan setiap siklus meliputi perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan data minat belajar adalah observasi dan kuesioner sedangkan data prestasi belajar diperoleh melalui tes tertulis dan rubrik observasi. Data capaian minat belajar yang diperoleh dari lembar observasi dan kuesioner, dianalisis dengan menggunakan kriteria penyekoran dan menghitung jumlah skor keseluruhan. Data prestasi siswa dianalisis dengan menjumlahkan skor seluruh siswa untuk menghitung rata-rata kelas dan persentase siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yakni 75.

  Upaya peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa melalui metode mendongeng dilaksanakan dengan langkah-langkah yakni (1) Pemilihan cerita yang sesuai dengan materi pelajaran, (2) Mengkondisikan siswa di kelas, (3) Menunjukkan media yang akan digunakan pada siswa, (4) Guru mendongeng menggunakan media dengan melibatkan siswa, (5) Guru mengajukan pertanyaan tentang tokoh dan amanat dalam dongeng, (6) Guru mengkaitkan dongeng dengan materi pelajaran melalui tanya jawab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa setelah menggunakan metode mendongeng pada pelajaran PKn kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu. Data kondisi awal rata-rata minat sebelum menggunakan metode mendongeng yakni 54,8 setelah dilaksanakan siklus I rata-rata minat menjadi 79,4 kemudian rata-rata minat tersebut meningkat lagi menjadi 88,2 pada siklus II.

  Rata-rata prestasi belajar siswa pada kondisi awal adalah 74,9 dengan persentase tingkat capaian siswa yang tuntas sebesar 53,33%, setelah menggunakan metode mendongeng dalam pembelajaran pada siklus I rata-rata kelas meningkat menjadi 75,9 dengan persentase ketuntasan 68,97%. Pada siklus

  II terjadi peningkatan prestasi belajar menjadi 81,5 untuk rata-rata kelas dan persentase ketuntasan mencapai 79,31%.

  

ABSTRACT

  Wisnugroho, Antonius Dimas. 2013. Improving the Students Learning Interest

  nd

  and Learning Achievement in Civic Education Subject of the 2 Grade at Pangudi Luhur Sedayu Primary School through Story Telling Method. Thesis. Yogyakarta. Elementary School Teacher Education Program. Sanata Dharma University.

  The purpose of this research was to increase the learning interest and

  nd

  learning achievement of the 2 grade students at Pangudi Luhur Sedayu primary school through story telling method in civic education subject of the Pancasila value in the academic year 2012/2013.

  This was a class action research employing Kemmis and Mc Taggart’s model of class action research. The subject of the research was a group of thirty

  nd

  2 grade students. The experiment was conducted in two cycles with each cycle includes four phases namely planning, action, observation and reflection. Data collection techniques used to measure the learning interest were observation and questionnaire while written tests were used to measure the learning achievement. The learning interests data obtained from observation sheets and questionnaires were analyzed by using the scoring criteria and calculating the amount of the overall score. Student achievement data were analyzed by summing the score of all the students to calculated the average grade and the percentage of students who met the minimum completeness criteria (KKM) of 75.

  The efforts to improved the learning interest and learning achievement through the method of story telling was done with the steps: (1) Selected the story according to the subject matter, (2) Conditioning the students in the class, (3) Indicated the media that will be used on students, (4 ) Teacher used media to engaged students in story telling process, (5) Teachers asked questions about the characters and the message in the story, (6) Teachers tales related to the subject matter through questions and answers.

  The results showed there was an increased in learning interest and learning

  nd

  achievement after using story telling method in teaching civic education in 2 graders at Pangudi Luhur Sedayu primary school. The baseline average learning interest before using the story telling method is 54.8 and after using story telling method in the first cycle the average became 79.4 then the average learning interest increased again up to 88.2 in the second cycle.

  Known to the average student achievement on initial condition is 74.8 with a percentage of the level of achievement of students who was completed was 53.33%, after using the story telling method in the learning process in the first cycle, the class average increased to 75.9 with 68.97% completeness. The research was continued to the second cycle with increased performance up to 81.5 for the class average and the percentage of completeness reached 79.31%.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih-Nya yang telah dilimpahkan, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi ini.

  Penulisan tugas akhir yang berupa skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar sarjana (S-1) pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma.

  Penulis menyadari bahwa penulisan tugas akhir ini tidak akan berhasil tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

  

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  Bapak Rohandi, Ph.D., selaku Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  

2. Romo Gregorius Ari Nugrahanta SJ., SS., BST., M.A., selaku Ketua Program

Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

  3. Bapak Drs. YB. Adimassana, M.A., selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, arahan dan dorongan sehingga penulisan skripsi dapat berjalan lancar.

  4. Ibu Ag. Kustulasari 81, S.Pd., M.A., selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, bantuan berupa ide dan saran.

  5. Bapak Drs. Petrus Silam, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SD Pangudi Luhur Sedayu yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian.

  6. Bapak Wahyu Wasana, S.Pd., selaku wali kelas II SD Pangudi Luhur

  7. Siswa-siswi kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu.

  8. Alm. Ayah yang telah menjadi sumber inspirasi.

  9. Ibu yang selalu memberikan doa, dukungan dan motivasi.

  10. Santa yang selalu mengingatkan untuk terus semangat dan memotivasi sehingga skripsi dapat dicapai tepat waktu.

  11. Teman-teman kelas C PGSD angkatan 2009 yang selau kompak memberi dukungan satu sama lain.

  12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dari awal hingga akhir pembuatan skripsi ini.

  Penulis menyadari bahwa laporan penelitian tugas akhir ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis menerima segala masukan, kritik dan saran demi kesempurnaan penyusunan laporan tugas akhir masa-masa yang akan datang. Akhir kata, semoga laporan penelitian tugas akhir ini berguna bagi semua pihak.

  Penulis

  DAFTAR ISI Hal.

  i HALAMAN JUDUL …………………………………………………………... ii HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………………………. iii

  HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………… MOTTO DAN HALAMAN iv PESEMBAHAN ………………………………... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………………………………………. vi HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ……………….. vii ABSTRAK …………………………………………………………………….. ABSTRACT viii

  …………………………………………………………………… ix KATA PENGANTAR ………………………………………………………….

  DAFTAR ISI xi …………………………………………………………………... xiv DAFTAR TABEL ……………………………………………………………... xvi DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………... xvii DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………..

  1 PENDAHULUAN ……………………………………………………………..

  1.1

  1 Latar Belakang ……………………………………………………………

  1.2

  4 Batasan Masalah …………………………………………………………..

  1.3

  4 Rumusan Masalah …………………………………………………….......

  1.4

  5 Tujuan ……………………………………………………………………..

  1.5

  5 Manfaat Penelitian ………………………………………………………...

  1.6

  6 Batasan Pengertian………………………………………………………...

  8 BAB II KAJIAN PUSTAKA …………………………………………………..

  2.1

  8 Landasan Teori ..………………………………………………………….

  8 2.1.1 Minat Belajar …………………………………………………………….

  9 2.1.1.1 Indikator Minat Belajar ……………………………………………..

  10

  2.1.1.2 Cara Menarik Minat Belajar …………………………………………

  2.1.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ………………………..

  37

  16

  16

  17

  18

  18

  19

  19

  22

  22

  23

  34

  40

  14

  41

  43

  43

  44

  46

  54

  54

  57

  57

  60

  62

  16

  3.5.1 Validitas Instrumen ……………………………………………………… Hal.

  2.1.3 Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan ………………………………….

  2.1.7 Mendongeng Sebagai Metode Pembelajaran PKn ………….....................

  2.1.4 Metode Pembelajaran ……………………………………….....................

  2.1.4.

  1 Pengertian Metode ………………………………………......................

  2.1.4.2 Pengertian Metode Pembelajaran ……………………….......................

  2.1.5 Dongeng …………………………………………….................................

  2.1.5.1 Pengertian Dongeng ……………………………………........................

  2.1.5.2 Ciri- Ciri Cerita Anak …………………………………..........................

  2.1.5.3 Unsur- Unsur dalam Cerita Anak ……………………….......................

  2.1.6 Mendongeng ……………………………………......................................

  2.1.6 .1 Pengertian Mendongeng …………………………..................................

  2.1.6.2 Pelaksanaan Mendongeng ..………………………...............................

  2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya ……………………………………………….

  3.5 Validitas dan Reliabilitas Instrumen……………………………………….

  2.3 Kerangka Berpikir …………………………………………………………

  2.4 Hipotesis Tindakan ………………………………………………………...

  BAB III METODE PENELITIAN ……………………………………………..

  3.1 Jenis Penelitian …………………………………………………………….

  3.2 Seting Penelitian …………………………………………………………...

  3.3 Rencana Tindakan …………………………………………………………

  3.4 Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian .…….…………….

  3.4.1 Teknik Pengumpulan Data …………………………………………..

  3.4.2 Instrumen Penelitian …………………….……………………………...

  3.4.2.1 Instrumen Minat Belajar ….…………………………………………….

  3.4.2.2 Instrumen Prestasi Belajar ……………………………………………...

  62

  Hal.

  72

  3.6.2 Teknik Analisis Data Prestasi Belajar ……………………………………

  73 3.7 Indikator Keberhasilan …………………………………………………….

  75 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………………………

  75 4.1 Hasil Penelitian …………………………………………………………….

  4.1.1 Pra Penelitian Tindakan Kelas 75 …………………………………………..

  79

  4.1.2 Siklus I ……………………………………………………………………

  89 4.1.3 Siklus II …………………………………………………………………..

  99 4.2 Pembahasan ……………………………………………………………….. 110 4.3 Keterbatasan Penelitian ……………………………………………………. 111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………….

  5.1 Kesimpulan 111

  ………………………………………………………………… 112 5.2 Saran ……………………………………………………………………….. 114 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….

  DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Waktu Penelitian ………………………………………………...

  70

  59

  60

  61

  63

  64

  65

  66

  67

  68

  68

  71

  54

  72

  72

  74

  76

  77

  79

  84

  85

  86

  88

  58

  45

Tabel 3.2 Peubah (Variabel) Beserta Pengumpulan Data ………………….Tabel 3.12 Kriteria Koefisien Realibilitas ……………. …………………...Tabel 3.3 Kisi-Kisi

  Lembar Observasi Minat Belajar (Afektif) ……………

Tabel 3.4 Kisi- Kisi Lembar Observasi Minat Belajar (Psikomotorik) ……..Tabel 3.5 Kisi- Kisi Kuesioner Minat ………………..……………………...Tabel 3.6 Kisi- Kisi Soal Tertulis ….………………………………………..Tabel 3.7 Kriteria Penilaian Perangkat Pembelajaran ……………………...Tabel 3.8 Kriteria Penilaian Uji Validasi Perangkat Pembelajaran ………..Tabel 3.9 Hasil Uji Validasi Perangkat Pembelajaran …………………….Tabel 3.10 Penghitungan Validitas Soal Siklus I …………………..………Tabel 3.11 Penghitungan V aliditas Soal Siklus II …………………..….…..Tabel 3.13 Kualifikasi Hasil Realibilitas ………………………...…………

  Hal.

Tabel 3.14 Teknik Analisis Observasi …………………...…………………Tabel 3.15 Teknik Analisis Kuesioner Minat ……………..………………..Tabel 3.16 Klasifikasi Minat Siswa …………………..………………….… Tabel 3.17 Kriteria Skor …………………………………………………….Tabel 3.18 Kriteria Keberhasilan …………………………………………...Tabel 4.1 Capaian Minat Belajar Kondisi Awal …………………………...Tabel 4.2 Capaian Prestasi

  Belajar Siswa Kondisi Awal ……………..…… Tabel 4.3 Jadwal Pelaksanaan Penelitian …………………………………..

Tabel 4.4 Capaian Minat Belajar Siklus I …………………………………..Tabel 4.5 Perbandingan Minat Belajar Kondisi Awal dengan Siklus I ...…..Tabel 4.6 Hasil Prestasi Belaja r Siswa Siklus I …………………………….Tabel 4.7 Kendala dan Strategi Pemecahan Masalah ……...……………….

  93

Tabel 4.11 Rangkuman Minat Belajar …………..………………………… Tabel 4.12 Rangkuman Klasifikasi Capaian Minat Belajar ………..……...Tabel 4.13 Rangkuman Prestasi Belajar …………………...………………Tabel 4.14 Capaian Minat Belajar dan Prestasi Be lajar ……………………Tabel 4.15 Kriteria Keberhasilan yang Tercapai …………..………………

  Hal 102 102 106 107

  108

  

DAFTAR LAMPIRAN

Silabus ………………………..…………………………………..………...

  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I ……………………….. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II ………………………. Hasil Uji Validitas ……………….…………………………………………. Hasil Uji Reliabilitas ………………………………………………………..

  Instrumen Pe ngumpulan Data ……………………………………………… Hasil Pengolahan Data ………………….…………………………………..

  Lembar Kuesioner Siswa …………………………………………………... Lembar Soal Evaluasi Siswa ………………………………………………..

  Foto- Foto Kegiatan Selama Penelitian ………………….………………….. Surat Perijinan Kampus ………………….………………………………….

  Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian ………………….…………..

  Hal. 117 129 155 179 191 192 198 208 215 223 225 226

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Boneka Tangan ….……………………………………………..

  Hal.

  36

  39

  34

  33

  33

  32

  32

Gambar 4.2 Diagram capaian Prestasi Belajar ……………………………..Gambar 2.2 Wayang Karton ………………………………………………..Gambar 4.1 Diagram Capaian Minat Belajar ……………………………….

  Gambar 3 .2 Respon Kuesioner ……………………………………………..

Gambar 3.1 Skema Penelitian ………………………………………………Gambar 2.6 Literature Map …………………………………………………Gambar 2.5 Buku Cerita ……………………………………………………Gambar 2.4 Kostum …………………………………….…………………..Gambar 2.3 Papan Background …………………………………………….

  44 109 109

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Pendidikan merupakan upaya strategis dalam pembentukan sistem nilai yang ada dalam diri seseorang, dalam proses berlangsungnya pendidikan tentunya akan diupayakan peningkatan kesadaran akan tanggung jawab sebagai manusia, tak terkecuali bagi siswa Sekolah Dasar. Pendidikan Kewarganegaraan adalah salah satu mata pelajaran di mana siswa dididik mengenai nilai kehidupan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang biasa disebut dengan PKn dapat diartikan sebagai mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan melaksanakan hak-hak dan kewajiban untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2006 tentang Standar Isi, 2006:271), dengan ini mata pelajaran PKn dapat diartikan juga sebagai landasan untuk mengembangkan karakter siswa melalui nilai-nilai kehidupan.

  Proses belajar mengajar di sekolah dasar, tak terkecuali pada pelajaran PKn tentunya membutuhkan banyak faktor demi mencapai keberhasilan pembelajaran, di antaranya adalah faktor penggunaan metode pembelajaran. Metode merupakan

  2 pembelajaran yang tepat akan membantu siswa untuk mencapai suatu hasil pembelajaran yang memuaskan.

  Salah satu kegiatan pembelajaran yang sangat menarik digunakan adalah proses pembelajaran dengan mendongeng, di mana menurut Agus (2008:14) mendongeng merupakan kegiatan bercerita atau menuturkan cerita secara lisan. Mendongeng dapat menjadi sebuah jembatan bagi guru menyampaikan pesan kepada siswa. Hendri (2013:18) mengatakan bahwa mendongeng bisa menjadi metode penyampaian pesan-pesan moral yang sangat efektif, sejalan dengan hal itu mendongeng merupakan metode yang sangat menarik bagi siswa, karena dongeng sering disampaikan dengan menggunakan alat peraga berupa boneka atau wayang (Agus, 2008:15). Pengajaran yang tepat dapat membantu siswa dalam memahami suatu pesan dan juga dapat merangsang kemampuan berbahasa siswa. Penyajian pembelajaran yang menarik dan menyenangkan akan memberikan stimulus yang positif sehingga siswa dapat mengungkapkan kembali dengan sistematis sesuai dengan apa yang didengar, dilihat dan dirasakan.

  Saat ini masih banyak guru yang belum menggunakan metode pembelajaran, seperti halnya dengan guru kelas II di sebuah sekolah, berdasarkan tanya jawabdengan guru kelas diketahui bahwa guru hanya menggunakan metode konvensional dalam mengajar. Guru berpendapat bahwa metode pembelajaran lebih difleksibelkan saat mengajar sehingga tidak terlalu menjadi masalah dan tidak perlu dipersiapkan, padahal kenyataannya metode pembelajaran sangatlah

  3 prestasi belajar siswa tahun sebelumnya diketahui jumlah siswa yang tuntas belajar hanya sebanyak 53,33 % atau 16 siswa dari jumlah keseluruhan 30 siswa.

  Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang diberikan belum maksimal sehingga sebagian besar siswa juga belum memahami benar materi yang diberikan. Data diperkuat dengan observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap cara mengajar guru kelas, di mana siswa mengikuti pembelajaran dengan kurang antusias dan kurang berminat dikarenakan proses pembelajaran hanya didominasi oleh guru dari awal hingga akhir pelajaran.

  Salah satu cara untuk mendapatkan minat belajar siswa yang baik dalam pembelajaran adalah dengan pilihan metode belajar yang tepat, seperti mendongeng. Ketika mendongeng guru akan merangsang siswa untuk mengoptimalkan alat pendengarannya, penglihatannya dan perasaannya agar pesan yang disampaikan guru dapat ditangkap dengan baik. Menurut guru kelas, siswa akan senang bila dalam pembelajaran terdapat media namun guru mengalami kesulitan mengaplikasikan media dan teknik yang tepat kepada siswa dalam pembelajaran PKn. Hendri (2013: 200) menyampaikan bahwa metode mendongeng dalam pembelajaran bisa disampaikan sebagai pengantar atau selipan dalam pelajaran PKn, mendongeng pun bisa dilakukan oleh guru kelas pada saat menyampaikan materi. Berbeda dengan ceramah yang bersifat menggurui, mendongeng bersifat murni dan tidak menggurui (Bimo, 2011:16).

  Berdasarkan dua hal tersebut mendongeng dapat digunakan sebagai metode

  4 karena dengan suasana yang menyenangkan, siswa tidak akan merasa bahwa mereka hanya akan mendengar ceramah sang guru dan prestasi belajar siswa dalam belajar akan ditingkatkan melalui materi yang diberikan oleh guru melalui isi dongeng yang bersifat nasihat ataupun materi ajar yang terselip di dalamnya.

  Berdasarkan latar belakang tersebut penulis akan melakukan penelitian

  

“Peningkatan Minat Belajar dan Prestasi Belajar Siswa pada Mata

Pelajaran PKn Kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu Melalui Metode

Mendongeng”.

  1.2 Batasan Masalah

  Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada mata pelajaran PKn kelas II semester genap di SD Pangudi Luhur Sedayu dengan menggunakan metode mendongeng pada materi nilai-nilai kehidupan sesuai dengan kompetensi dasar (KD) 4.1 Mengenal nilai kejujuran, kedisiplinan, dan senang bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

  1.3 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana upaya peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu semester genap tahun pelajaran 2012/2013 melalui metode mendongeng.

  5 tahun pelajaran 2012/2013? 3. Apakah metode mendongeng dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu semester genap tahun pelajaran 2012/2013?

1.4 Tujuan

  Sejalan dengan rumusan masalah dalam penelitian ini, tujuan penelitiannya adalah:

  1. Mengetahui bagaimana upaya peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu semester genap tahun pelajaran 2012/2013 melalui metode mendongeng.

  2. Meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu semester genap tahun pelajaran 2012/2013 melalui metode mendongeng.

  3. Meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu semester genap tahun pelajaran 2012/2013 melalui metode mendongeng.

1.5 Manfaat Penelitian

  Penelitian ini dapat memberikan informasi dan manfaat tentang penggunaan metode mendongeng dalam proses belajar mengajar PKn, manfaat tersebut antara

  6

  1. Bagi Guru Bagi guru untuk menjadi kesempatan untuk memberikan bentuk pembelajaran yang berbeda serta menambah keterampilan guru dalam mengajar siswa melalui metode yang baru digunakan. Selain itu metode mendongeng ini mampu meningkatkan interaksi antara guru dengan siswa.

  2. Bagi Siswa Dengan metode mendongeng proses belajar akan lebih menarik.

  Pembelajaran yang kreatif dan inovatif akan membangkitkan minat belajar siswa ketika mengikuti proses pembelajaran. Dongeng juga akan memberikan nasihat dan petuah kepada siswa.

  3. Bagi Peneliti Bagi penulis, penelitian ini dapat mengembangkan pengetahuan dalam pengajaran yang kreatif dan inovatif serta tentunya bermanfaat. Selain itu, penulis juga akan menambah pengalaman dalam mengajar khususnya saat melakukan penelitian ini.

  4. Bagi Ilmu Pengetahuan Penelitian ini dapat memberikan pengetahuan serta kontribusi sebagai kekayaan pustaka dalam dunia pendidikan khususnya dalam mengajar PKn dengan menggunakan metode mendongeng.

1.6 Batasan Pengertian

  7

  1. Minat belajar Minat belajar adalah sebuah rasa yang muncul dari dalam diri siswa untuk ingin belajar. Minat yang akan ditingkatkan ialah minat belajar siswa dalam belajar PKn.

  2. Prestasi belajar Prestasi belajar adalah hasil dari usaha belajar yang telah dicapai siswa.

  Prestasi belajar yang akan ditingkatkan ialah prestasi belajar siswa dalam pelajaran PKn. Penelitian ini akan mengambil nilai kognitif sebagai pembanding hasil penelitian dengan kondisi awal, karena kondisi awal hanya menggunakan penilaian kognitif.

  3. Metode Metode adalah cara yang digunakan peneliti dalam menyampaikan bahan materi pelajaran menggunakan mendongeng dalam proses pembelajaran.

  4. Dongeng Dongeng adalah cerita yang penuh dengan khayalan dan imajinasi, dalam penelitian ini dongeng akan ditambahkan materi pelajaran PKn yang akan disampaikan.

  5. Mendongeng Mendongeng merupakan keterampilan bercerita dengan memasukkan materi pelajaran ke dalam dongeng yang disampaikan oleh peneliti, dengan menggunakan berbagai media selama pembelajaran PKn kepada siswa kelas

BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab II kajian pustaka berisi landasan teori, hasil penelitian sebelumnya,

  kerangka berpikir, dan hipotesis. Landasan teori membahas teori-teori yang relevan dengan penelitian, hasil penelitian sebelumnya yang berisi pengalaman penelitian yang pernah ada, selanjutnya hasil penelitian dirumuskan dalam kerangka berpikir dan hipotesis yang berisi jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian.

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Minat Belajar Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang minat.

  Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri, “semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat” (Slameto, 2003:180), sejalan dengan itu Winkel (1983:30) menuturkan bahwa minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang studi/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu. Dalam proses pembelajaran tentunya minat atau perhatian siswa terhadap sesuatu merupakan hal yang sangat

  9 diri siswa agar mampu menetap pada suatu hal, dalam konteks ini yaitu menetap dalam pembelajaran.

2.1.1.1 Indikator Minat Belajar

  Menurut Slameto (2003:58) siswa yang berminat dalam belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus.

  2. Ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati.

  3. Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang diminati. Ada rasa keterikatan pada sesuatu aktivitas-aktivitas yang diminati.

  4. Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang lainnya.

  5. Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan. Sependapat dengan itu, Winkel (2004:212) mengungkapkan bahwa ciri-ciri minat belajar adalah cenderung merasa tertarik dan senang pada materi atau topik yang sedang dipelajarinya. Hal demikian diungkapkan oleh Syah (2008:151) bahwa pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi memungkinkan siswa untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang dinginkan. Joko (2012:8) juga mengemukakan bahwa ada indikator-indikator siswa yang berminat dalam belajar, yakni ekspresi perasaan senang, perhatian dalam belajar, kemauan mengembangkan diri dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.

  Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya ciri-ciri minat belajar dapat dibagi menjadi empat indikator utama yakni:

  10

  3. Perhatian dalam pembelajaran.

  4. Keterlibatan diri dalam pembelajaran. Peneliti membagi menjadi empat indikator utama dikarenakan keempat indikator tersebut mewakili teori indikator minat belajar. Slameto (2003:58) mengutarakan ada lima indikator minat belajar, namun untuk poin indikator ada rasa suka dan senang pada sesuatu dan poin indikator lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang lain, digabungkan menjadi satu yakni perasaan senang dan suka terhadap pembelajaran karena adanya kesamaan maksud yaitu rasa senang dan suka. Sementara untuk pendapat dari Winkel (2004:212) juga mendukung indikator perasaan senang dan suka terhadap pembelajaran.

2.1.1.2 Cara Menarik Minat Belajar

  Menurut Arikunto (104-106) cara untuk mengusahakan agar unsur-unsur di dalam kelas dapat menjadi pusat perhatian siswa demi menarik minat belajar siswa, diantaranya adalah:

  1. Bahan pelajaran yang menarik minat “Bahan pelajaran merupakan unsur inti yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayankan untuk dikuasai oleh siswa. Oleh karena itu guru khususnya, atau pengembangan kurikulum umumnya tidak boleh lupa harus

  11 silabus berkaitan dengan kebutuhan siswa pada usia tertentu dan dalam lingkungan tertentu pula.”

  2. Alat-alat pelajaran yang menarik minat Unsur lain yang berfungsi mendukung penyampaian materi pelajaran adalah alat-alat pelajaran dan atau media pendidikan. Alat pelajaran hendaknya dipilih yang sesuai dengan usia siswa. Bagi anak-anak kecil alat-alat pelajaran dipilihkan yang berwarna-warni, ringan, dan bentuknya aneh. Jika penggunaan alat harus perseorangan, alat-alat tersebut dipilih yang tidak berbahaya.

  3. Keadaan atau situasi yang menarik minat siswa Keadaan atau suasan di dalam kelas hendaknya diusahakan sedemikian rupa sehingga tidak membosankan dan cepat membuat siswa menjadi lelah. Keadaan dan suasana menarik adalah yang mendukung terpenuhinya kebutuhan siswa yang baik kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani maupun rohani. Ruangan yang cukup luas dan dapat digunakan untuk bergerak leluasa, udara yang bebas dan segar sehingga memungkinkan siswa dapat bernafas dengan lega, dapat menarik minat siswa hanya pada pelajaran yang diberikan oleh guru. Dengan kata lain, keadaan atau suasana lebih banyak merupakan faktor pendukung, bukan sebagai objek yang diperhatikan.

  4. Guru yang menarik perhatian

  12 turun dengan teratur, pandangan mata yang menunjukkan kegairahan besar dalam mengabdikan diri demi ilmu pengetahuan, serta penguasaan terhadap siswa. Berdasarkan cara-cara yang tertuang di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mencari minat siswa, guru harus mampu memfasilitasi usaha-usaha dalam meningkatkan minat siswa, sejalan dengan itu Winkel (1984:31) menyebutkan ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru untuk membuat siswa berminat dalam belajar, antara lain: 1.

  Membina hubungan yang akrab dengan siswa.

  Guru harus mampu membina hubungan yang baik dengan siswa sehingga tercipta keakraban dan terbina hubungan baik pula.

  2. Menyajikan bahan pelajaran yang tidak terlalu sulit atau terlalu mudah.

  Bahan pelajaran yang diberikan tentunya mampu dipelajari oleh siswa tetapi tidak terlalu sulit bahkan terlalu mudah sehingga siswa mampu menerimanya.

  3. Menggunakan media pembelajaran yang cocok.

  Penggunaan media akan sangat membantu dalam proses belajar di kelas.

  4. Menggunakan alat-alat pelajaran yang cocok.

  Alat-alat pelajar yang digunakan ialah alat-alat yang mendukung prasana di kelas.

  5. Menggunakan cara mengajar atau metode mengajar yang bervariasi.

  13

  6. Guru mampu menggunakan metode yang baik dalam mengajar agar materi pelajaran dapat tersampaikan dengan baik dan menarik, selain itu juga harus bervariasi sehingga siswa tidak bosan.

2.1.1.3 Cara Mengukur Minat Belajar

  Minat belajar siswa dapat diukur menggunakan penilaian non tes. Masidjo (1995:59) mengatakan bahwa non tes merupakan rangkaian pertanyaan atau pernyataan yang harus dijawab dalam sebuah situasi. Penilaian non tes dapat berupa observasi (pengamatan), wawancara, kuesioner (angket), daftar cek dan catatan anekdot.

2.1.2 Prestasi Belajar

  Dalam konteks sekolah, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman siswa sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Beberapa ahli menuturkan bahwa “Prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidik terhadap proses belajar dan hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan instruksional yang menyangkut isi pelajaran dan perilaku yang diharapkan dari siswa” (Hawadi, 2004). Selain itu prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan pretasi merupakan hasil dari proses belajar.

  14 pelajaran, lazimnya dengan nilai tes atau angka yang diberikan guru. Darsono (2000:110) berpendapat bahwa “prestasi belajar siswa merupakan perubahan- perubahan yang berhubungan dengan pengetahuan/kognitif, keterampilan/psikomotor, dan nilai sikap/afektif sebagai akibat interaksi aktif dengan lingkungan”. Sementara itu Sudjana (2009:22) mendefinisikan prestasi belajar sebagai “kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”.

  Dari beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa prestasi belajar ialah hasil dari perubahan kemampuan dalam hal kognitif, afektif dan psikomotorik pada siswa setelah melalui pengalaman belajar di kelas.

2.1.2.1 Aspek Prestasi Belajar

  Sudjana (2009, 22-23) menyebutkan bahwa klasifikasi prestasi belajar dari Bloom secara garis besar terdapat tiga aspek yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik. Berikut merupakan ketiga aspek tersebut: a. Aspek kognitif

  Aspek kognitif adalah aspek yang berkaitan dengan kegiatan berpikir siswa, yang mana aspek ini berkaitan erat dengan kemampuan berpikir siswa yang meliputi enam aspek kognitif yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

  b. Aspek afektif

  15 afektif yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasai, dan internalisasi.

  c. Aspek psikomotorik Aspek psikomotorik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan gerak fisik. Aspek ini menunjukkan kemampuan atau keterampilan (skill) yang dimiliki siswa setelah menerima pengetahuan. Gerakan reflek, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif merupakan aspek dalam psikomotorik.

2.1.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

  Sudjana (1980:39-42) mengemukakan bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik, dua faktor tersebut akan dijabarkan sebagai berikut: 1.

  Faktor Intrinsik Faktor ini merupakan faktor dalam diri siswa sehingga berasal dari dalam diri dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Faktor intrinsik meliputi motivasi, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan, ketekunan, sosial ekonomi dan fisik serta psikis.

2. Faktor Ekstrinsik

  Faktor ekstrinsik adalah faktor dari luar diri siswa atau dari lingkungan

  16 kompetensi guru dalam mengajar siswa, karakteristik kelas (suasana, sarana dan sumber belajar), serta karakteristik sekolah (kedisiplinan, adanya perpustakaan, tempat yang rapi, serta kenyamanan dalam belajar di lingkungan sekolah).

  2.1.3 Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

  Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dijelaskan dalam pasal 39 ayat 2 UU RI No. 2 tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, bahwa Pendidikan Pancasila mengarah pada moral yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari- hari. Selanjutnya dijelaskan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan usaha untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antar negara dengan negara serta pendidikan.

  Berdasarkan pengertian tersebut, PKn memiliki peran penting dalam membentuk pribadi manusia yang memiliki jiwa Pancasila dalam hidup sehari- hari. Tujuan pembelajaran PKn adalah mampu membentuk warga Negara untuk melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara seperti yang diamanatkan oleh pancasila dan UUD 1945.

  2.1.4 Metode Pembelajaran

2.1.4.1 Pengertian Metode

  Metode merupakan teknik atau cara yang harus dilalui untuk melakukan

  17 cara yang ditempuh untuk mencapai suatu hasil yang memuaskan. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode adalah cara yang dianggap efisien yang digunakan untuk mencapai hasil yang memuaskan.

2.1.4.2 Pengertian Metode Pembelajaran

  Metode di dalam pembelajaran memegang peranan yang sangat penting, karena merupakan tata cara dalam menentukan langkah-langkah pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan. Pasaribu (1983:13-15) mengutarakan bahwa metode pembelajaran adalah cara yang sistematik yang digunakan untuk mencapai tujuan, dengan pemilihan dan penggunaan metode dalam pembelajaran bertujuan untuk mempermudah mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Hal serupa juga diutarakan oleh Surakhmad dalam Wasimin (2009:3) bahwa metode pembelajaran adalah cara atau teknik yang digunakan dalam mengelola proses belajar mengajar sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Roestiyah (1998:1) berpendapat bahwa metode pembelajaran adalah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami dan digunakan siswa dengan baik. Penggunaan metode secara tepat dan akurat, membuat guru mampu mencapai tujuan dalam pembelajaran, jadi guru sebaiknya menggunakan metode mengajar karena melalui metode pembelajaran guru dan siswa akan mencapai tujuan pembelajaran dengan efektif dan efisien.

  18

2.1.5 Dongeng

2.1.5.1 Pengertian Dongeng

  Dongeng merupakan satu dari beberapa jenis cerita anak. Agus (2008:11) menjelaskan bahwa dongeng merupakan cerita berisi hiburan juga ajaran moral, selain itu dongeng menurut Alfandiyar (2007:23-24), dongeng merupakan salah satu cara yang efektif mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan) afektif (perasaan, sosial), dan aspek kognitif (penghayatan) anak-anak, selain itu dongeng pun dapat membawa anak-anak pada pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah dialaminya. Pendapat dari Endraswara (2002:115) mengungkapkan bahwa cerita anak pada dasarnya demi perkembangan anak, karena di dalamnya mencerminkan liku-liku kehidupan yang dapat dipahami oleh anak, melukiskan perasaan anak, dan menggambarkan pemikiran-pemikiran anak, sementara Sugihastuti (1996:69) menuturkan bahwa cerita anak adalah media seni yang mempunyai ciri-ciri tersendiri sesuai dengan selera penikmatnya dan tidak seorang pengarang cerita anak-anak mengabaikan dunia anak-anak. Penuturan di atas dapat disimpulkan bahwa dongeng untuk anak merupakan cerita anak yang berisi ajaran moral dan hiburan di mana terdapat liku-liku kehidupan untuk mengajari anak sesuai dengan pemahaman mereka demi merangsang perkembangan anak.

  Dunia anak-anak tidak dapat diremehkan dalam proses kreatifnya, maka dari itu cerita anak diciptakan oleh orang dewasa seolah-olah merupakan ekspresi diri

  19

  1. Dongeng yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat (legenda)

  2. Dongeng yang berkaitan dengan dunia binatang (fabel)

  3. Dongeng yang berkaitan dengan fungsi pelipur lara

  4. Dongeng yang berkaitan dengan kepercayaan nenek moyang (mite) 5. Dongeng yang berkaitan dengan cerita rakyat. Pengelompokkan dongeng di atas juga menjadi pilihan bagi seseorang untuk memilih dongeng mana yang akan digunakan sebagai dongeng untuk diceritakan kepada anak Bimo (2011:37) pemilihan tema cerita menjadi penting dikarenakan dalam memilih dongeng kita harus selalu sesuai dengan tema, kondisi acara, siapa audience kita yang semuanya akan menentukan materi atau isi dongeng kita.

2.1.5.2 Ciri-Ciri Cerita Anak

  Endarswara (2002:119) mengatakan bahwa ada tiga ciri-ciri cerita anak, yakni:

  1. Berisi sejumlah pantangan, yang dimaksud adalah dalam cerita hanya hal- hal tertentu saja yang boleh diberikan dan tidak semua harus disampaikan perlu ada penyesuaian.

  2. Penyajian secara langsung, kisah yang ditampilkan memberikan uraian secara langsung, tidak berkepanjangan.

  3. Memiliki fungsi terapan, yakni memberikan pesan dan ajaran kepada anak- anak.

2.1.5.3 Unsur-Unsur dalam Cerita Anak

  20 tersebut haruslah ada dalam cerita anak yang akan dibawakan. Unsur-unsur pembangun cerita anak tersebut, antara lain:

  1. Tokoh dan Penokohan Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam berbagai peristiwa yang ada dalam cerita. Tokoh dapat memiliki dua sifat, yaitu protagonis (karakter yang melambangkan kebaikan, menunjukkan sikap positif dan merupakan contoh yang layak ditiru) dan antagonis (karakter yang berlawanan dengan tokoh protagonis, merupakan karakter yang harus dijauihi perbuatannya).

  2. Latar atau setting Latar (setting) yaitu tempat maupun waktu terjadinya cerita. Latar merupakan keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra. Latar ada dua macam, yaitu latar sosial (mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup maupun bahasa) dan latar fisik atau material (mencakup tempat seperti bangunan atau daerah).

  3. Tema dan Amanat Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang memaparkan karya fiksi yang diciptakannya.Tema merupakan kaitan hubungan antara makna dengan

  21 pengarang ke dalam cerita yang ditulisnya. Berikut penjelasan tentang tema: a.

  Tema adalah arti pusat yang terdapat dalam cerita.

  b.

  Pengarang menampilkan tema karena ada maksud tertentu atau pesan yang ingin disampaikan dan maksud atau pesan yang ingin disampaikan itu disebut amanat. Amanat adalah gagasan yang mendasari suatu pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar (Siswanto, 2008: 162) jadi, amanat merupakan gagasan yang mendasari karya atau suatu pesan baik tersirat maupun tersurat dalam suatu karya.

  4. Alur Alur adalah konstruksi mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan yang dialami oleh pelaku. Sudjiman (dalam Siswanto 2008: 159) menyatakan bahwa alur adalah peristiwa yang diurutkan membangun pokok cerita. Alur ada dua macam, yaitu alur lurus dan alur sorot balik. Alur lurus adalah peristiwa yang disusun mulai dari awal, tengah kemudian akhir yang diwujudkan dengan pengenalan, mulai bergerak, menuju puncak dan penyelesaian. Alur sorot balik adalah urutan peristiwa uang dimulai dari tengah, awal, akhir atau sebaliknya. Alur ditutup dengan ending, yaitu happy ending (bahagia) atau sad ending (sedih).

  22 Keempat unsur-unsur dalam cerita anak meliputi tokoh, latar, tema dan amanat, akan menjadi bahan penelitian, sedangkan alur tidak termasuk dalam kompetensi yang akan diteliti oleh penulis dikarenakan materi ajar kelas 2 tematik maka akan memasukkan mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk mengidentifikasi unsur cerita.

2.1.6 Mendongeng

2.1.6.1 Pengertian mendongeng

  Menurut Agus (2008:14) mendongeng merupakan kegiatan bercerita atau menuturkan cerita secara lisan, di samping itu kegiatan bercerita seperti mendongeng ini juga dinilai efektif karena cerita umumnya lebih berkesan daripada nasihat murni, selain itu melalui cerita manusia dididik untuk mengambil hikmah tanpa merasa digurui (Bimo, 2011:16). Mendongeng ialah kegiatan menceritakan sesuatu ke pada penonton (audience) dengan tujuan menyampaikan pesan dengan bantuan media yang bercerita tidak disebut dalang tetapi pendongeng selain itu, bahan-bahan yang digunakan tidak terikat pada pakem- pakem tertentu seperti, adanya musik pengiring, waktu pementasan, dan bahan yang digunakan jadi, para pendongeng dapat memodifikasinya tergantung pada kreativitas pendongeng dan sesuai dengan bahan yang ada. Mendongeng juga memanfaatkan beberapa media dalam penyampaiannya seperti wayang, boneka, gambar, kostum, tata rias dan properti lainnya.

  23

2.1.6.2 Pelaksanaan Mendongeng

  Sebelum melaksanakan kegiatan mendongeng, hendaknya melakukan berbagai macam persiapan mulai dari langkah dalam mendongeng, pemilihan cerita, kiat-kiat dalam mendongeng, hal-hal yang harus diperhatikan dan perlengkapan mendongeng. Berikut hal-hal yang harus dicermati dalam pelaksanaan mendongeng:

a. Langkah dalam Mendongeng

  Abdul Aziz (2002:30-34) menjelaskan langkah-langkah mendongeng dalam proses pembelajaran yaitu:

  1. Pemilihan Cerita Dalam mendongeng hendaknya memilih cerita yang benar-benar dikuasai atau sudah paham cerita dalam dongeng, sebab cerita yang akan disampaikan, khususnya apabila diambil dari buku ini, memuat berbagai cerita dengan aneka bentuk, sedangkan jika mengambil bahan selain dari buku ini maka sebaiknya guru memilih satu bentuk cerita saja.

  2. Persiapan Masuk Kelas Sebelum masuk kelas, guru hendaknya mempersiapkan segala sesuatu yang akan digunakan dalam mendongeng, yang perlu diketahui bagi para guru bahwa setiap menit waktu yang digunakan untuk berfikir dan mengolah cerita sekaligus mempersiapkannya sebelum pelajaran dimulai, akan membantu dalam penyampaian cerita dengan mudah. Begitu juga saat

  24 merancang gambaran alur cerita dengan jelas, dan menyiapkan kalimat- kalimat yang akan disampaikannya sebelum masuk kelas.

3. Posisi Duduk Siswa

  Ketika bercerita, yang diharapkan adalah perhatian para siswa dengan sepenuh hati dan pikiran mereka, oleh karena itu guru harus dapat menguasai cerita yang disampaikan dengan baik, sehingga mereka dapat mengikuti jalan cerita. Keperluan ini digunakan ketika penceritaan berlangsung, para siswa hendaknya diposisikan secara khusus, tidak seperti waktu mereka belajar menulis dan membaca, karena yang terpenting adalah siswa dapat menerima cerita yang disampaikan secara aktif, tidak duduk sesukanya dan kalau perlu mereka dapat berdiri sejenak. Suasana seperti ini akan jauh dari kesan resmi, tidak seperti umumnya pelajaran lain dan tidak lupa diantara guru dengan murid harus terjalin keakraban yang wajar.

  Selain itu Agus (2002:99) juga menjelaskan bahwa langkah-langkah dalam mendongeng ialah sebagai berikut:

  1. Berkonsentrasi untuk mengingat kembali dongeng yang akan dibawakan.

  Mencoba mengingat urutan cerita, tokoh-tokoh dalam dongeng, dan membayangan seperti apa dongeng akan dibawakan.

  2. Mempersiapkan kejutan-kejutan untuk diberikan kepada anak-anak ketika proses mendongeng.

  3. Buatlah kartu pengingat untuk mempermudah alur cerita. Kartu

  25

  4. Setelah semua siap, mulailah dengan menyapa anak-anak.

  5. Setelah menyapa kemudian mulailah dengan mendongengkan cerita untuk anak-anak.

  Berdasarkan pendapat di atas maka peneliti menggabungkan ke dalam 6 langkah pokok di mana setiap langkah-langkah yang menyerupai atau sama akan dijadikan sebagai satu langkah. 6 langkah dalam mendongeng antara lain: 1.

  Pemilihan cerita yang sesuai dengan materi pelajaran.

  Pemilihan cerita didasarkan pada materi yang akan dipelajari, cerita akan dibuat sendiri sehingga siswa akan lebih mudah menangkap isi dan jalan cerita yang akan dibawakan.

  2. Mengkondisikan siswa di kelas.

  Guru akan mulai dengan mempersiapkan siswa sebelum dongeng dimulai, menarik perhatian siswa dengan menyapa, nyanyian dan mengubah posisi duduk agar tidak monoton.

  3. Menunjukkan media yang akan digunakan pada siswa.

  Guru akan menunjukkan media pada siswaa, sehingga siswa akan merasa tertatik di awal dan menunggu penggunaan media. Adapun media yang digunakan berbeda di setiap pertemuan yakni: boneka flanel, wayang karton, papan background, kostum dan buku raksasa.

  4. Guru mendongeng menggunakan media dengan melibatkan siswa.

  Penggunaan media akan melibatkan siswa, di mana sesaat siswa akan

  26 wayang, siswa juga akan menggambar di buku raksasa yang telah dipersiapkan sebelumnya.

  5. Guru mengajukan pertanyaan tentang tokoh dan amanat dalam dongeng.

  Dalam mendongeng guru juga mengajukan pertanyaan seputar dongeng seperti:”Siapa tokoh kesukaan kalian?”, “ Bagaimana sifat dari tokoh dalam dongeng tadi?” dan pertanyaan lainnya.

  6. Guru mengkaitkan dongeng dengan materi pelajaran melalui tanya jawab.

  Guru juga akan mengkaitkan dongeng dengan materi pelajaran yang dipelajari seperti menanyakan contoh perbuatan tokoh dongeng yang akan dicontoh siswa dalam keseharian, perbuatan yang tidak boleh dilakukan, dan lainnya.

  Peneliti menyimpulkan menjadi 6 langkah pokok, di mana langkah-langkah tersebut menjadi langkah-langkah metode mendongeng dalam penelitian ini.

b. Pemilihan Cerita

  Dalam mendongeng tentunya ada cerita yang akan dibawakan, oleh karena itu Agus (2008:96-97) menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih cerita yang baik, hal tersebut adalah: 1.

  Pilih tema cerita yang cocok untuk anak-anak.

2. Alur cerita dan kalimat di dalam cerita sederhana dan tentunya mudah dimengerti.

  27

  4. Ada pesan moral yang bijak di setiap akhir cerita sehingga anak akan mendapat makna serta kesan yang mendalam.

  5. Dapat menginspirasi suatu tindakan moral.

  6. Menimbulkan perasaan senang ketika anak mendengar cerita tersebut.

  7. Membantu anak mengarahkan mereka untuk memahami dunia mereka sendiri.

  8. Kesimpulan cerita harus memotivasi perkembangan anak-anak.

  Berdasarkan hal di atas, tentunya dalam memilih cerita tidak sembarangan sehingga bagi para pendongeng harus benar-benar mengetahui isi dari cerita yang akan didongengkan.

c. Kiat-Kiat Penting dalam Mendongeng

  Menurut Hendri (2013:108-114), terdapat beberapa kiat-kiat penting dalam mendongeng, di antaranya:

  1. Berdoa sebelum mendongeng Agar dapat berjalan dengan lancar sebelum memulai kegiatan mendongeng, diawali dengan berdoa.

  2. Mendongeng dengan cinta Suasana yang akrab dengan anak akan membuat anak merasa nyaman dan senang serta betah dengan apa yang kita sampaikan sehingga ketika memasuki ruang tunjukkanlah wajauh senang dan sapaan hangat untuk anak-anak.

  28 Memberi salam dan senyum hangat akan membuat anak menyambut kita dan menciptakan suasana menyenangkan.

  4. Memilih cerita yang sesuai dengan minat dan keseharian anak Cerita yang harus benar-benar dipilih dengan seksama, ini dimaksudkan agar anak mudah menyerap isi cerita dan agar anak mau untuk mendengarkan cerita hingga selesai karena mereka merasa tertarik.

  5. Mendorong anak untuk berdiskusi dengan cerita Dalam mendongeng kita bisa libatkan siswa dengan pertanyaan- pertanyaan dalam dongeng agar kita bisa lebih menghidupkan dongeng yang kita bawakan sehingga akan terbangun komunikasi antara kita dengan anak.

  6. Jangan membentak Adakalanya anak merasa jenuh dan tidak siap, namun untuk mendapatkan perhatian anak janganlah membentak mereka, lebih baik melakukan pendekatan terlebih dahulu agar anak menjadi siap.

  7. Menggunakan musik bibir Pendongeng dapat mempengaruhi anak dengan menggunakan musik bibir seperti “bem bem bem tik-tik-tik bem bem bem…”

  8. Memberikan reward Reward diberikan setelah kita selesai bercerita, reward bisa berupa materi yang diberikan dengan menjawab pertanyaan, cara ini juga sebagai cara

  29

d. Hal yang Harus Diperhatikan Saat Mendongeng

  Agus (2008:124-125) menuliskan bahwa ada 6 hal nonverbal yang hendaknya diperhatikan dalam mendongeng. Enam hal tersebut adalah:

  1. Pola dan irama bicara.

  Pola dan irama bicara saat mendongeng haruslah benar-benar jelas sehingga bisa ditangkap dan dipahami anak dengan mudah.

  2. Jarak dengan audience.

  Jangan berdiri terlalu dekat namun juga jangan menempatkan diri terlalu jauh dengan audience.

  3. Gerak dan sikap tubuh Sebagai pedongeng gerak dan sikap tubuh nerupakan salah satu cara yang penting yang digunakan untuk mengkomunikasikan atau menunjukkan emosi.

  4. Kontak mata Saat anda mendongeng, aturlah dan usahakanlah agar pandangan mata anda terbagi rata, tidak melulu memandang satu sudut yang kita suka.

  5. Suara saat bicara Saat mendongeng anda, harus benar-benar konsisten dalam memperdengarkan suara-suara lembut dan merdu, atau suara-suara aneh yang jarang dan belum pernah didengar anak.

  30

6. Penampilan

  Sebagai pendongeng sebaiknya tampil wajar atau bernampilan secara wajar, apabila menggunakan kostum hendaknya yang sesuai dengan tema dongeng yang dibawakan. Selain hal di atas, dalam mendongeng, Bimo (2011:40) mengutarakan bahwa:

  Secara garis besar unsur-unsur penyajian cerita yang harus dikombinasikan secara proposional adalah (1) narasi; (2) dialog; (3) ekspresi (terutama mimik muka); (4) visualisasi gerak/peragaman(akting); (5) ilustrasi suara, baik suara lazim maupun suara tidak lazim; (6) media/alat peraga; (7) teknis ilustrasi lainnya misalnya lagu, permainan, musik, dan sebagainya.

  Berdasarkan hal-hal di atas, maka dalam mendongeng unsur-unsur di atas harus diperhatikan agar pelaksanaan mendongeng dapat berjalan dengan lancar.

e. Perlengkapan Mendongeng

  Dalam mendongeng, tentunya memerlukan perlengkapan sebagai alat bantu dalam menyampaikan dongeng, adapun alat peraga atau media akan sangat membantu penyampaian dongeng. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terjadi (Sadiman,1984:7).

  Notoatmojo (1993:73) menjelaskan bahwa tujuan penggunaan alat peraga yaitu : 1.

  Sebagai alat bantu dalam latihan atau pendidikan

  31

4. Untuk menjelaskan fakta-fakta, prosedur, dan tindakan.

  Pendapat serupa juga dikemukakan oleh (Cakra, 2012:73) bahwa alat peraga adalah wahana atau media untuk menerangkan atau mempraktikkan pada anak didik. Anak akan cepat menangkap apabila dongeng diperagakan secara langsung dengan alat peraga tersebut. Sebagaimana yang diungkap di atas maka peran media dalam mendongeng juga akan menambah daya tarik tersendiri bagi siswa. Berdasarkan tujuan di atas, maka alat peraga dapat membantu siswa dalam memahami isi cerita yang didongengkan karena tujuan alat peraga sebagai alat bantu dan untuk menjelaskan dan mengingat isi cerita.

  Di dalam mendongeng ada beberapa pilihan alat peraga seperti yang ditulis Bimo (2011:66-69), alat peraga tersebut diantaranya dengan membacakan cerita, peraga gambar, papan flanel dan boneka. Penggunaan alat peraga tentunya dimaksudkan agar mempermudah siswa untuk menangkap isi cerita, selain itu alat peraga yang lucu dan menarik tentunya membuat siswa semakin betah untuk memperhatikan dongeng yang dibawakan. Berikut beberapa alat peraga yang digunakan peneliti dalam pelaksanaan mendongeng:

1. Boneka Tangan

  Boneka flanel terbuat dari kain flanel yang dijahit atau direkatkan dengan lem, penggunaan boneka tangan cukup mudah hanya dengan memasukkan tangan pendongeng ke dalam sarung boneka. Boneka seperti ini juga bisa diganti dengan menggunakan bahan kain perca atau kain bekas yang dijahit

  32

Gambar 2.1 Boneka Tangan 2.

  Wayang Karton Wayang dibuat dengan menggunakan karton dengan pola gambar yang kemudian diberi warna, wayang cukup mudah digunakan dengan memegang tongkat di bawah gambar. Siswa juga dapat membuat wayang kreasi seperti wayang dalam mendongeng sehingga hal ini dapat dikaitkan dengan mata pelajaran seni atau kerajinan tangan.

Gambar 2.2 Wayang Karton 3.

  Papan Background

  33 Papan ini terbuat dari bambu dan berfungsi untuk meletakkan gambar- gambar yang akan digunakan sebagai setting tempat dalam kegiatan mendongeng.

Gambar 2.3 Papan Background 4.

  Kostum Dalam mendongeng juga bisa menggunakan kostum, peneliti telah memodifikasi kostum sehingga mudah digunakan juga dengan waktu yang sangat cepat. Kostum yang dibuat tidaklah rumit, disini digunakan beberapa kain yang digabung. Kemudian untuk pemakaian kostum hanya tinggal direkatkan antar bagian sehingga tidak repot dalam pemakaiannya.

  34

5. Buku Cerita

  Buku cerita bisa menjadi pilihan dalam menyampaikan dongeng. Buku yang dibuat berikut ini termasuk dalam ukuran besar sehingga memudahkan siswa untuk mengetahui latar cerita dan kejadian dalam cerita yang disampaikan.

Gambar 2.5 Buku Cerita

2.1.7 Mendongeng Sebagai Metode Pembelajaran PKn

  Mendongeng tentunya bisa menjadi sebuah metode dalam mengajar seperti yang disampaikan oleh Hendri (2013:30), di mana metode ini memiliki daya hibur yang luar biasa, juga mengasyikan sehingga siswa tidak seperti digurui. Hendri (2013: 200) juga menyampaikan bahwa dongeng yang disampaikan melalui metode mendongeng dalam pembelajaran bisa disampaikan sebagai pengantar atau selipan dalam pelajaran PKn Dengan mendongeng penyampaian pesan-pesan moral bisa dijalankan dengan baik. Mendongeng juga dapat dijadikan suatu alat

  35 bukunya yang berjudul A Book for Children Literature, (Hollowell dalam Agus, 2009:44) mengemukakan bahwa:

  Dongeng dapat mengembangkan imajinasi dan memberikan pengalaman emosional yang mendalam, memuaskan kebutuhan ekspresi diri, menanamkan pendidikan tanpa harus menggurui, menumbuhkan rasa humor yang sehat, mempersiapkan apresiasi sasta, dan memperluas cakrawala khayalan anak. Pesan moral yang dimaksud juga tertera pada pelajaran PKn yang akan diteliti yakni materi nilai-nilai Pancasila di mana materi tersebut bukan hanya sebatas materi namun juga pada penanaman moral. Dongeng yang disampaikan akan menjadi jembatan komunikasi antara guru dan siswa, pembelajaran akan menjadi efektif bagi anak-anak, pelajaran juga akan terasa menyenangkan bahkan menarik untuk terus disimak. Bagi siswa mereka dapat menangkap isi dan pesan dongeng yang disampaikan oleh guru kelas, seperti halnya yang disampaikan oleh Priyono (2006:26) bahwa kelompok anak usia 6-9 tahun sudah dapat menangkap sisi baik dan sisi buruk dari setiap cerita yang didongengkan oleh orang tua atau guru di sekolah.

  Dongeng juga merupakan sumber inspirasi yang baik bagi pendidikan anak. Takwin dalam Hendri (2013:56) menyebutkan bahwa banyak hal yang dapat dipetik dari kegiatan mendongeng untuk pembelajaran, diantara hal-hal tersebut yaitu: 1.

  Melatih kemampuan menyimak.

  Mendengarkan dongeng yang diperagakan akan membuat siswa berusaha

  36

  2. Mengembangkan sikap positif anak terhadap buku dan kegiatan membaca Kegiatan mendongeng akan menjadikan siswa senang untuk mendengarakan dongeng lagi tidak hanya sekali, apabila tidak ada kesempatan mendongengkan anak, maka siswa dapat membaca buku dongeng secara mandiri sehingga menambah motivasi mereka untuk gemar membaca.

  3. Menumbuhkan empati dan simpati.

  Pesan moral yang ada di dalam dongeng akan menuntun anak untuk belajar empati dan simpati dalam kehidupan mereka.

  4. Menanamkan hikmah cerita.

  Setiap dongeng yang diberikan tentunya harus terdapat hikmah dalam cerita tersebut, sehingga tidak hanya sebatas cerita. Penyampaian dongeng yang berkesan akan membuat anak secara tidak sadar akan meniru dan mengambil hikmah dari dongeng yang dibawakan.

  5. Mengembangkan imajinasi dan kreativitas anak.

  Kreativitas dan imajinasi anak tidak ada batasnya, dongeng juga akan mengembangakan kreativitas anak ketika diminta untuk memperagakan tokoh kesukaan mereka serta mengembangkan imajinasi mereka dalam menangkap isi dongeng itu sendiri.

  Manfaat-manfaat dongeng tersebut juga sejalan dengan pendapat Agus (2009:22) yang mengungkapkan bahwa manfaat kebiasaan mendongeng, misalnya

  37 tema dongeng. Berdasarkan manfaat di atas yang telah disebutkan tadi dapat diketahui bahwa mendongeng memiliki banyak manfaat bagi anak yang dapat diberikan pula saat proses pembelajaran di sekolah berlangsung.

2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya

  Terdapat dua penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini, penelitian tersebut adalah:

  1. Penelitian yang lain adalah penelitian yang dilakukan oleh Retno Hartiningsih (2003) yang berjudul

  “Kemampuan Menyimak Dongeng

  Detektif Kancil Melalui Media Audio Visual Siswa Kelas I Sekolah Dasar

  Pius I Wonosobo Tahun Ajaran 2002/2003”. Jenis penelitian yang

  digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian ini berfokus pada aspek pengetahuan, pemahaman dan aplikasi siswa. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa aspek pengetahuan dengan bobot 20% mendapat hasil baik sekali, sementara aspek pemahaman dengan bobot 30% mendapat hasil yang cukup dan untuk aspek aplikasi siswa mendapat bobot 50% mendapat hasil baik sekali sehingga rata-rata dari semua aspek yang dinilai dapat dikategorikan bahwa kemampua menyimak tersebut mendapat hasil baik.

  2. Penelitian lain ialah penelitian oleh Silfiana Mety (2010) yang berjudul “Penerapan Pendekatan PAKEM untuk Meningkatkan Kemampuan Mengapresiasi Dongeng Siswa Kelas V SDN 1 Panjangrejo Pundong

  38 nont tes (wawancara, kuesioner dan jurnal). Adapun hasil penelitian yang dilakukan pada 30 siswa tersebut ialah skor rata-rata siklus I ialah 72,13 sedangkan siklus II menjadi 82,86 sehingga terjadi peningkatan sebesar 10,73% dan penerapan pendekatan PAKEM berhasil meningkatkan kemampuan mengapresiasi dongeng.

3. Penelitian ialah penelitian oleh Regina Nona yang berjudul “Kemampuan

  Mneyimak Cerita Anak Sepatu Baru Melalui Media Audiovisual pada Siswa

  Kelas II SD Kanisius Wirobrajan Yogyakarta Tahun Ajaran 2010/2011” Peneliti menggunakan tes semi obyektif pada kategori tes jawaban singkat.

  Populasi dalam penelitian ini adal 30 siswa kelas II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemampuan menyyimak cerita anak melalui media audiovisual berkategori baik seklai (A) dengan skor rata-rata 54,1 atau nilai 85.8%.

  39

  Hartiningsih (2003). Kemampuan Menyimak Dongeng Detektif Kancil Melalui Media Audio Visual Siswa Kelas I Sekolah Dasar Pius I

  Wonosobo Tahun Ajaran 2002/2003 Penggunaan dongeng Silfiana, Mety (2010). Penerapan

  Pendekatan PAKEM untuk Meningkatkan Kemampuan Mengapresiasi Dongeng Siswa Kelas V SDN 1 Panjangrejo

  Pundong Bantul Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010 Nona, Regina (2011). Kemampuan Cerita Anak

  Mneyimak Cerita Anak Sepatu Baru Melalui Media Audiovisual pada Siswa Kelas II SD Kanisius Wirobrajan Yogyakarta Tahun

  Ajaran 2010/2011

Peningkatan Minat Belajar dan

Prestasi Belajar PKn pada Siswa kelas

  

II SD Pangudi Luhur Sedayu dengan

Metode Mendongeng

Gambar 2.6 Literatur Map Penelitian yang Relevan

  Berdasarkan literatur map tersebut, maka bisa diamati bahwa terdapat tiga penelitian yang berfokus pada dongeng dan cerita anak. Dua penelitian membahas kemampuan siswa dalam menyimak dongeng dan cerita anak, sedangkan satu penelitian membahasa penerapan pendekatan PAKEM untuk mengapresiasi

  40 serta tingkat pemahaman anak dam menyimak dongeng, sehingga dari penelitian- penelitian terdahulu dapat diketahui bahwa media mampu mengoptimalisasi penyampaian dongeng kepada siswa, serta penggunaan pendekatan seperti PAKEM juga mampu membuat siswa menangkap dan mengapresiasi dongeng, oleh karena itu peneliti akan mengangkat topik mendongeng untuk metode pembelajaran.

2.3 Kerangka Berpikir

  Mengenal nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari adalah materi yang penting untuk diajarkan pada siswa kelas II Sekolah Dasar. Selain mengenal nilai- nilai yang ada tentunya siswa diharapkan mampu mempraktekkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka.

  Ada banyak cara yang dilakukan untuk mengenalkan nilai-nilai tersebut salah satunya dengan mendongeng. Dongeng merupakan salah satu cara yang efektif mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan) afektif (perasaan, sosial), dan aspek psikomotorik (ketrampilan) anak-anak. Sayangnya banyak guru masih menggunakan metode konvensional dalam mengajar, padahal sudah jelas bahwa metode seperti itu tidak dapat memaksimalkan baik minat belajar maupun prestasi belajar. Pemilihan metode yang tepat seperti mendongeng dapat mengatasi kondisi awal yang hanya mengandalkan metode konvensional dan metode yang membosankan bagi siswa. Mendongeng dapat menjadi bagian dari ketrampilan berbicara, di mana di dalam kelas guru harus dapat berkomunikasi

  41 Selain itu, terjadi pengabungkan antara unsur komunikasi dan penggunaan media pembelajaran, disaat guru mendongeng terjadi suatu proses komunikasi antar guru dengan siswa. Pembelajaran seperti ini memacu guru untuk berusaha membantu siswa dalam mengenal nilai-nilai kehidupan yang disampaikan melalui dongeng.

  Mendongeng juga memiliki banyak manfaat serta mampu menarik minat siswa, selain menggunakan media yang beragam seperti gambar, wayang, boneka maupun kostum sederhana, siswa akan merasa lebih tertarik dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Media yang digunakan dalam mendongeng tentunya tidak hanya berfungsi sebagai penarik minat siswa namun juga sebagai media bantuan siswa dalam memahami isi dongeng yang mereka dengar. Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang menggunakan dongeng sebagai bahan ajar untuk siswa, namun pada penelitian ini, akan berfokus pada metode mendongeng bukan sekedar dongengnya saja, namun cara penyampaian dongenglah yang akan ditekankan. Melihat dari keberhasilan penelitian terdahulu maka dari itu peneliti menggunakan mendongeng sebagai metode yang efektif digunakan saat pembelajaran PKn. Jika penggunaan metode mendongeng diterapkan dalam pembelajaran, maka minat belajar dan prestasi belajar siswa SD Pangudi Luhur Sedayu meningkat.

2.4 Hipotesis Tindakan

  Berdasarkan uraian tersebut, peneliti membuat hipotesis tindakan untuk

  42

  1. Upaya peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn menggunakan metode mendongeng dilakukan dengan langkah-langkah yakni: (1) Pemilihan cerita yang sesuai dengan materi pelajaran, (2) Mengkondisikan siswa di kelas, (3) Menunjukkan media yang akan digunakan pada siswa, (4) Guru mendongeng menggunakan media dengan melibatkan siswa, (5) Guru mengajukan pertanyaan tentang tokoh dan amanat dalam dongeng, (6) Guru mengkaitkan dongeng dengan materi pelajaran melalui tanya jawab.

  2. Pengunaan metode mendongeng dalam pembelajaran PKn dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu semester genap tahun pelajaran 2012/2013.

  3. Penerapan metode mendongeng dalam pembelajaran PKn dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu semester genap tahun pelajaran 2012/2013.

  

BAB III

METODE PENELITIAN Pada bab III ini peneliti memaparkan tentang jenis penelitian, setting

  penelitian, rencana penelitian, persiapan, rencana setiap siklus, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data dan instrumen, teknik analisis data, dan indikator keberhasilan.

3.1 Jenis Penelitian

  Jenis penelitian ini adalah PTK atau penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan minat belajar dan prestasi belajar siswa. Penelitian tindakan kelas memiliki beberapa tahapan yakni (1) perencanakan, (2) tindakan, (3) observasi dan (4) refleksi. Hal ini juga diutarakan oleh Kasboelah (2001:8) bahwa penelitian tindakan kelas adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas dan upaya perbaikan ini dilakukan dengan melaksanakan tindakan untuk mencari jawaban atas permasalahan yang diangkat dari kegiatan tugas sehari

  • –hari di kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang sejatinya berupaya memperbaiki kualitas pendidikan di sekolah baik dari segi guru maupun siswa dalam pembelajaran demi tercapainya kualitas sekolah.

  Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model PTK milik Stephen

  44 secara berulang dan diperbaiki melalui refleksi”. Berikut adalah skema penelitian yang dilakukan:

  1. Perencanaan

  4. Refleksi SIKLUS I

  2. Tindakan

  3. Observasi

  1. Perencanaan

SIKLUS II

  4. Refleksi

  2. Tindakan

  3. Observasi

Gambar 3.1 Skema Penelitian

  (adaptasi dari Kemmis dan Mc Taggart dalam Hopkins, 2011:92)

3.2 Setting Penelitian

3.2.1 Subjek Penelitian

  Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu

  45

  No Keterangan 2013

  5 Pembahasan √

  4 Pengolahan data √ √

  3 Penelitian √

  2 Perijinan kepada pihak sekolah √

  1 Penyusunan proposal √ √

  Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli

Tabel 3.1 Waktu Penelitian

  3.2.2 Objek Penelitian

  Secara rinci pelaksanaan penelitian yang telah dilakukan dapat diamati pada tabel berikut ini:

  3.2.4 Waktu Penelitian

  Penelitian dilaksanakan di SD Pangudi Luhur Sedayu dengan alamat Gubug, Argosari, Sedayu, Bantul, Yogyakarta 55752.

  3.2.3 Tempat Penelitian

  II SD Pangudi Luhur Sedayu dengan metode mendongeng. Standar Kompetensi yang akan digunakan ialah “Menampilkan nilai-nilai Pancasila”. Peneliti akan menggunakan Kompetensi Dasar yaitu “Mengenal nilai kejujuran, kedisiplinan, dan senang bekerja dalam kehidupan sehari- hari”.

  Objek penelitian ini adalah minat belajar dan prestasi belajar siswa di kelas

  6 Ujian √

  46

3.3 Rencana Tindakan

  Rencana tindakan dalam penelitian ini terdiri dari perencanaan sebelum penelitian dan rencana setiap siklus. Penjelasan tentang rencana tersebut terdapat di bawah ini.

3.3.1 Persiapan Penelitian

  Kegiatan persiapan penelitian dimulai dengan meminta surat perijinan dari kampus yang diminta dari sekretariat prodi PGSD untuk perijinan melakukan observasi, kemudian setelah mendapatkan surat tersebut peneliti kemudian menuju sekolah yang dipilih yang juga tepat untuk melakukan PPL untuk kemudian bertemu kepala sekolah SD Pangudi Luhur Sedayu. Peneliti kemudian memohon ijin untuk melakukan kegiatan penelitian di SD tersebut. Setelah mendapatkan ijin, peneliti menemui guru kelas untuk mendapatkan informasi mengenai kegiatan pembelajaran kelas II, peneliti melakukan tanya jawab mengenai proses pembelajaran dan kondisi kelas II. Peneliti juga meminta ijin untuk melakukan observasi di kelas II, disini peneliti menggunakan alat bantuan seperti kamera untuk merekam secara sederhana kondisi pembelajaran sebagai pandangan awal permasalahan.

  Persiapan selanjutnya adalah mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang didapatkan melalui observasi di kelas. Peneliti kemudian menyusun rumusan masalah, juga mengkaji kompetensi dasar dan materi pokok yang menjadi

  47 (LKS), keduanya dibuat setiap pertemuan dalam setiap siklus. Peneliti juga menyiapkan perangkat media pembelajaran dan alat peraga mendongeng, dan kemudian langkah selanjutnya adalah menyusun instrumen pembelajaran yang berupa kisi-kisi dan lembar observasi, kisi-kisi dan lembar kuesioner (angket) dan kisi-kisi serta soal evaluasi.

  Berdasarkan kesepakatan dengan guru kelas maka pada penelitian ini peneliti sendiri yang akan menjadi guru kelas. Hal ini dikarenakan guru kelas ingin mengetahui bagaimana metode mendongeng digunakan dalam kelas, sehingga guru dapat mengamati serta memberikan masukan selama penelitian berlangsung, selain itu peneliti juga memilih untuk melakukan peran sebagai guru kelas langsung agar penggunaan metode dapat berjalan dengan maksimal sesuai yang telah dipelajari oleh peneliti serta agar pembelajaran yang berlangsung lebih mudah dilakukan karena peneliti terlebih dahulu memahami mengenai metode mendongeng.

3.3.2 Rencana Siklus I

  Siklus ini terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tahap-tahap ini akan dijelaskan di bawah ini.

3.3.2.1 Perencanaan

  Pada tahap perencanaan peneliti terlebih dahulu merancang dan menyiapkan instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. Hal-hal yang perlu dipersiapkan

  48 menyiapkan tempat penelitian yaitu ruang kelas dan halaman untuk kegiatan permainan.

3.3.2.2 Tindakan

  Pada tahap tindakan, peneliti melakukan proses pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  Pertemuan 1

  Kegiatan Pembukaan 1.

  Kegiatan pembelajaran diawali dengan berdoa dan saling mengucapkan salam.

  2. Guru melakukan presensi dan mengecek kesiapan siswa.

  3. Siswa bernyanyi bersama dengan guru. Kegiatan Inti 4.

  Guru mulai mendongeng.

  5. Siswa memberikan pendapat mengenai dongeng yang disampaikan.

  6. Siswa dan guru bertanya jawab mengenai dongeng.

  7. Siswa mengerjakan lembar LKS 1 (membedakan kegiatan).

  8. Siswa mengerjakan lembar LKS 2 (menulis kembali dongeng). Kegiatan Penutup 9.

  Siswa dan guru menyimpulkan pelajaran hari ini.

  10. Siswa dan guru bertanya jawab kembali mengenai materi.

  11. Siswa menjelaskan perasaan belajar hari ini.

  49

  Pertemuan 2

  Kegiatan Pembukaan 1.

  Kegiatan pembelajaran diawali dengan berdoa dan saling mengucapkan salam.

  2. Guru melakukan presensi dan mengecek kesiapan siswa.

  3. Siswa menyanyi lagu yang sama dengan pertemuan sebelumnya. Kegiatan Inti 4.

  Guru mulai mendongeng.

  5. Siswa diberi kesempatan untuk terlibat dalam dongeng.

  6. Siswa menyampaikan pendapatnya mengenai dongeng dan materi di dalamnya.

  7. Siswa mengerjakan lembar LKS 1 (soal menjodohkan).

  8. Melalui kegiatan permainan sederhana siswa dan guru mengkoreksi LKS. Kegiatan Penutup 9.

  Siswa dan guru menyimpulkan pelajaran hari ini.

  10. Siswa dan guru bertanya jawab kembali mengenai materi pertemuan 1 dan 2.

  11. Siswa mengerjakan soal evaluasi.

  12. Siswa menyanyikan lagu sebagai penutup kegiatan.

3.3.2.3 Observasi

  Kegiatan observasi dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran yang

  50 membantu menganalisi situasi kelas yang terjadi saat proses pembelajaran.

3.3.2.4 Refleksi

  Refleksi dilakukan pada akhir siklus, dalam refleksi peneliti mengidentifikasi hambatan, kesulitan dan kejadian yang terjadi pada pertemuan pertama ini serta mencari solusinya. Peneliti juga membandingkan hasil rata-rata minat, prestasi, dan persentase ketuntasan belajar siswa yakni sebelum penggunaan metode mendongeng dan sesudah penggunaan metode mendongeng. Peneliti kemudian melihat apakah terjadi peningkatan rata-rata minat, rata-rata prestasi, dan persentase ketuntasan belajar pada siklus I. Apabila target akhir penelitian (target siklus II) sudah tercapai maka penelitian akan dihentikan, namun apabila target siklus I sudah tercapai namun belum mencapai target siklus II maka penelitian akan dilanjutkan ke siklus II.

3.3.3 Rencana Siklus II

3.3.3.1 Perencanaan

  Pada tahap perencanaan peneliti terlebih dahulu merancang dan menyiapkan instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. Hal-hal yang perlu dipersiapkan yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa (LKS), instrumen evaluasi, refleksi dan media pembelajaran. Pada siklus kali ini peneliti juga menyiapkan tempat di luar ruangan yaitu dihalaman Gereja serta menyiapkan permainan yang akan digunakan di sekitar halaman tersebut.

  51

3.3.3.2 Tindakan

  Pada tahap tindakan, peneliti melakukan proses pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  Pertemuan 1

  Kegiatan Pembukaan 1.

  Kegiatan pembelajaran diawali dengan berdoa dan saling mengucapkan salam.

  2. Guru melakukan presensi dan mengecek kesiapan siswa.

  3. Siswa dan guru bertanya jawab mengenai materi sebelumnya. Kegiatan Inti 4.

  Guru mulai mendongeng.

  5. Siswa diberi kesempatan untuk terlibat dalam dongeng dengan membantu guru secara langsung saat mendongeng.

  6. Siswa menyampaikan pendapatnya mengenai dongeng dan materi di dalamnya.

  7. Secara berpasangan siswa menceritakan kembali dongeng yang diperagakan oleh guru dengan bahasa sendiri.

  8. Siswa melakukan permainan.

  9. Siswa menjalankan tugas yang didapat saat melakukan permainan.

  10. Siswa mengerjakan lembar LKS (soal mengisi kolom). Kegiatan Penutup

  52

  13. Guru membuat sayembara bagi siswa untuk mencari sebuah nama tokoh dongeng.

  14. Guru menutup pelajaran.

  Pertemuan 2

  Kegiatan Pembukaan 1.

  Pembelajaran dibuka dengan doa dan guru mengucapkan salam.

  2. Guru melakukan presensi dan mengecek kesiapan siswa.

  3. Siswa dan guru menuju lokasi pembelajaran yakni di halaman Gereja. Kegiatan Inti 4.

  Siswa memposisikan diri dengan duduk di bawah dengan alas tikar.

  5. Guru memberikan sedikit pengantar pembelajaran.

  6. Guru mengambil undian sayembara nama tokoh.

  7. Guru mulai mendongeng.

  8. Siswa diberi kesempatan untuk terlibat dalam dongeng dengan membantu guru secara langsung saat mendongeng dengan menggambar di media milik guru.

  9. Siswa menyampaikan pendapatnya mengenai dongeng dan materi di dalamnya.

  10. Siswa mengerjakan soal LKS (soal melengkapi dialog dan keterangan dongeng yang didengar).

  11. Siswa melakukan permainan secara berkelompok.

  53

  13. Siswa dan guru menyimpulkan pelajaran hari ini.

  14. Siswa dan guru bertanya jawab kembali mengenai materi hari ini.

  15. Siswa mengerjakan soal evaluasi.

  16. Siswa dan guru kembali ke sekolah.

  3.3.3.3 Observasi

  Kegiatan observasi ini dilakukan hampir sama dengan siklus sebelumnya, yakni dengan mengamati siswa secara langsung saat peneliti mendongeng, saat siswa mengerjakan LKS, dan saat permainan. Peneliti juga mengamati proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan bantuan alat rekam dengan tujuan agar lebih detail dan menguatkan kembali observasi yang dilakukan, selain itu juga sebagai dokumentasi. Catatan kecil juga digunakan oleh peneliti ketika mengobservasi dengan tujuan sebagai alat pengingat ketika akan melakukan refleksi.

  3.3.3.4 Refleksi

  Refleksi pada pertemuan ini lebih berfokus pada penerapan materi yang diberikan, serta perbaikan yang dilakukan dari siklus sebelumnya apakah sudah terwujud. Pada pertemuan terakhir peneliti merefleksikan seluruh rangkaian kegiatan siklus II kemudian membandingkan hasil yang didapat dari kondisi awal dan siklus I. Peneliti juga akan melihat ketercapaian indikator, apakah target minat belajar berupa nilai rata-rata sudah tercapai atau belum. Selain itu peneliti juga akan melihat hasil prestasi belajar siswa berupa nilai rata-rata kelas serta persentase

  54 Penelitian ini menggunakan beberapa teknik dalam mengumpulkan data baik untuk minat belajar dan juga untuk prestasi belajar siswa, selain itu kisi-kisi masing-masing instrumen juga disiapkan sebagai instrumen penelitian.

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data

  Penelitian ini menggunakan dua variabel yakni minat belajar dan prestasi belajar, berikut tabel penjelasan masing-masing variabel beserta jenis instrumen dan teknik pengumpulan data yang digunakan:

Tabel 3.2 Peubah (Variabel) Beserta Pengumpulan Data

  No Variabel Indikator Penelitian Teknik Bentuk Instrumen

  1. Minat Rata-rata skor minat Non tes Observasi dan

  a. Rubrik

belajar belajar siswa Kuesioner Observasi

b. Lembar kuesioner

  2. Prestasi

  a. Rata-rata kelas Tes Tes tertulis Soal Pilihan belajar Ganda

  b. Persentase ketuntasan KKM (75)

3.4.1.1 Data untuk Minat Belajar

  Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data untuk minat belajar siswa yang dilakukan meliputi observasi dan kuesioner (angket), selain itu peneliti akan menggunakan digital camera sebagai dokumentasi selama penelitian berlangsung.

  55 Melalui observasi peneliti mengamati kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung dengan menggunakan pedoman dalam lembar observasi.

  Observasi dilakukan mulai dari awal pelajaran hingga akhir pelajaran, tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi kelas dan prilaku siswa yang terjadi dalam proses belajar mengajar. Peneliti memilih metode observasi terstruktur, Menurut Hopkins (2011:160) observasi akan mendapat informasi sederhana yang dapat mereka kumpulkan, baik dengan sistem hitungan maupun dengan diagram. Selain itu Sukardi (2102:50) mengungkapkan bahwa seorang guru diharuskan melakukan pengamatan terhadap tindakan, dan perilaku respon di kelas. Berdasarkan dua pandangan tersebut dapat dimengerti bahwa observasi atau pengamatan berguna bagi guru untuk mendapat data dan informasi yang digunakan sebagai bahan penelitian.

2. Kuesioner

  Selain observasi, peneliti juga menggunakan kuesioner (angket) sebagai teknik pengumpulan data. Kuesioner biasa tersaji pertanyaan-pertanyaan khusus tentang beberapa aspek pengajaran, kurikulum, atau ruang kelas, yang merupakan salah satu strategi cepat dan sederhana untuk memperoleh informasi yang kaya dari para siswa (Hopkins, 2011:203). Kuesioner diberikan kepada siswa untuk menanyakan penggunaaan metode dongeng dalam pembelajaran PKn. Kuesioner yang akan dibagikan berupa pernyataan sederhana dengan cara memilih dengan memberi tanda sen yum untuk pilihan “iya”, dan tanda murung untuk pilihan

  56 siswa-siswa yang lebih muda (anak-anak), lebih tepat menggunakan ekspresi wajah sebagai respons kriteria atas pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner.

  Penggunaan respon berupa bentuk wajah membuat siswa lebih tertarik untuk mengisi lembar kuesioner yang dibagikan.

  Respon untuk pilihan Respon untuk pilihan “Tidak “Setuju” setuju”

   

Gambar 3.2 Respon Kuesioner

3. Rekaman Video

  Dalam mengumpulkan data peneliti juga merekam melalui videotape recorder. Menurut Hopkins (2011:200) di dalam penelitian videotape recorder memiliki 3 fungsi yaitu untuk memperoleh materi visual tentang situasi pengajaran secara keseluruhan, berfungsi sebagai perangkat diagnosis dan sebagai metode untuk menguji episode tertentu secara detail. Berdasarkan tiga fungsi tersebut bisa disimpulkan bahwa videotape recorder dapat digunakan sebagai alat untuk membantu pengumpulan data. Peran rekaman video adalah membantu peneliti untuk melihat kembali proses pembelajaran dikarenakan peneliti berperan sebagai guru, sehingga proses observasi tidak bisa dilakukan sepenuhnya saat pembelajaran, maka rekaman video akan sangat membantu.

  57 Data penelitian untuk prestasi belajar siswa dilakukan dengan menggunakan teknik tes dan non tes. Teknik tes menggunakan tes tertulis berupa soal pilihan ganda untuk mengukur aspek kognitif siswa, sedangkan non tes dengan menggunakan rubrik observasi untuk mengukur aspek afektif dan psikomotorik siswa. Penyusunan tes tertulis terdiri dari 20 soal pilihan ganda. Setiap soal memiliki 3 alternatif jawaban, yaitu a, b, atau c. Siswa diminta untuk memilih satu jawaban yang menurut mereka benar dengan memberi tanda silang pada salah satu jawaban.

3.4.2 Instrumen Penelitian Instrumen merupakan alat ukur dalam penelitian (Sugiyono, 2010:148).

  Instrument penelitian yang digunakan untuk melihat minat siswa adalah lembar observasi dan kuesioner, sedangkan instrumen untuk mengetahui prestasi belajar siswa adalah tes tertulis berupa soal pilihan ganda dan rubrik observasi.

3.4.2.1 Instrumen Minat Belajar dan Kisi-Kisi

  Dalam penelitian ini minat belajar siswa diukur menggunakan lembar observasi dan kuesioner. Kunandar (2009:143) mengatakan bahwa pengamatan adalah kegiatan untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai indikator yang ditentukan. Proses observasi memerlukan lembar observasi sebagai pedoman yang dilakukan juga sebagai nilai afektif dan psikomotorik dari siswa saat

  58 minat siswa terhadap metode mendongeng.

  Peneliti akan mengobservasi indikator yang sudah dijabarkan ke dalam poin-poin observasi yang menunjukkan adanya sikap (afektif) dan ketrampilan (psikomotorik). Berikut merupakan kisi-kisi lembar observasi minat belajar yang akan digunakan:

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Lembar Observasi Minat Belajar (Afektif)

  No. Indikator Poin Observasi Siswa merespon pertanyaan dalam proses pembelajaran

  Siswa terlibat dalam 1. proses pembelajaran Siswa mampu berpendapat saat proses pembelajaran

  Siswa mengikuti proses pembelajaran tanpa mengeluh Siswa senang Siswa tidak terlihat bosan selama mengikuti proses pembelajaran

  2. pembelajaran Siswa menunjukkan wajah ceria saat pembelajaran Siswa mengerjakan tugas yang diberikan

  Siswa mampu mengembangkan diri

  3. dalam proses Siswa aktif dalam menjalani proses pembelajaran pembelajaran

  Siswa memberikan fokus pada materi pelajaran. Siswa tidak melakukan aktivitas lain saat Siswa mengikuti pembelajaran 4. pembelajaran dengan penuh perhatian Siswa memperhatikan metode pembelajaran dengan seksama.

  59

  No. Indikator Poin Observasi Siswa menjawab pertanyaan lisan dalam Siswa terlibat dalam pembelajaran

  1. proses pembelajaran Siswa berpartisipasi dalam proses pembelajaran Siswa dapat bekerja sama dengan teman Siswa senang dapat melakukan kegiatan Siswa senang bersama teman 2. mengikuti proses Siswa mengikuti instruksi yang diberikan pembelajaran dengan senang dan penuh perhatian Siswa mampu mengungkapkan

  Siswa mampu pendapatnya dalam pembelajaran mengembangkan diri 3. dalam proses Siswa mampu mengikuti permainan dengan pembelajaran penuh semangat

  Siswa antusias terhadap tugas yang diberikan Siswa mengikuti Siswa selalu mengangkat tangan bila ada

  4. pembelajaran dengan pertanyaan penuh perhatian Siswa dapat menceritakan kembali materi pelajaran

  Instrumen lain yang digunakan adalah kuesioner yang merupakan instrumen yang bersifat informatif dengan atau tanpa penjelasan berupa pendapat, penilaian ungkapan, dan lain-lain (Kunandar, 2009:173). Kuesioner ini diberikan kepada siswa untuk mengukur sejauh mana minat siswa selama proses pembelajaran PKn baik sebelum penelitian maupun setelah penelitian dengan metode mendongeng yang dilakukan. Berikut merupakan kisi-kisi kuesioner minat yang dibuat, selanjutnya lembar kuesioner minat disusun kemudian diberikan kepada siswa dengan 3 kali pemberian kuesioner yakni sebelum penggunaan metode mendongeng, akhir siklus I dan akhir siklus II.

  60

Tabel 3.5 Kisi-kisi Kuesioner Minat

  No Indikator Item positif Item negatif

  1. Siswa senang dengan metode 1, 3 4, 9 mendongeng.

  2. Siswa memperhatikan proses 5, 7 pembelajaran dengan mendongeng.

  3. Siswa terlibat dalam proses

  2

  6 pembelajaran mendongeng.

  4. Manfaat dalam kegiatan pembelajaran 10, 8 menggunakan metode mendongeng.

3.4.2 Instrumen Prestasi Belajar dan Kisi-Kisi

  Instrumen prestasi belajar meliputi 3 aspek yakni aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Pada penelitian ini hanya akan dilakukan penilaian pada aspek kognitif dikarenakan peneliti hanya membutuhkan nilai kognitif untuk membandingkan dengan nilai kondisi awal yang juga dinilai dari aspek kognitif saja. Tes tertulis menjadi pilihan peneliti untuk mengukur prestasi belajar siswa pada aspek kognitif. Tes tertulis merupakan tes di mana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan (Kunandar, 2009:187), sejalan dengan itu Masidjo (2006:38) yang menyatakan bahwa tes merupakan suatu alat pengukur yang berupa serangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara sengaja dalam situasi yang distandarisasikan, dan dimaksudkan untuk mengukur kemampuan dan hasil belajar individu atau kelompok. Berdasarkan hal tersebut peneliti menggunakan tes tertulis untuk diberikan kepada siswa sebagai

  61 pilihan ganda dengan jumlah pilihan tiga butir. Tes diberikan sebagai evaluasi dari setiap siklus yang akan diberikan pada setiap pertemuan akhir siklus. Peneliti memberikan soal mengenai materi yang terkandung pula di dalam dongeng, adapun kisi-kisi soal tertulis seperti yang ada pada tabel berikut ini:

Tabel 3.6 Kisi-Kisi Soal Tertulis

  KISI-KISI SOAL TERTULIS MATA PELAJARAN PKn KELAS II

  Standar Kompetensi : 4. Mengenal nilai-nilai Pancasila Kompetensi Dasar : 4.1 Mengenal nilai kejujuran, kedisiplinan, dan senang bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

  Kondisi Materi Indikator No soal

  Menjelaskan pengertian nilai 1, 2, kejujuran 5,14 Memberi contoh perbuatan jujur dan 3, 6, 10, perbuatan disiplin 12, 16,

  20 Kejujuran, Menyebutkan akibat dari perbuatan 7, 13,

  Siklus I

  tidak jujur dan tidak disiplin

  18 Kedisiplinan

  Menyebutkan manfaat kejujuran dan 4, 9, 11 kedisiplinan Menjelaskan perbuatan yang harus 8, 15, dilakukan dalam sebuah permasalahan 17, 19 Menjelaskan pengertian nilai senang 3, 16, bekerja 17, 20 Memberi contoh perbuatan senang 1, 5, 6, bekerja

  10 Senang Siklus II bekerja Menyebutkan manfaat senang bekerja 2, 7, 8,

  11, 13,

  19 Menyebutkan tugas dan kewajiban di 4, 12, Senang Siklus II rumah dan di sekolah 15, 18 bekerja Membedakan kegiatan yang boleh 9, 14 dilakukan bersama dan tidak boleh bersama

  62

3.5 Validitas dan Reliabilitas Instrumen

3.5.1 Validitas Instrumen

  Validitas merupakan penilaian untuk mengetahui apakah instrumen yang digunakan telah mengukur apa yang seharusnya diukur. Masidjo (2006: 242) berpendapat bahwa validitas adalah taraf di mana suatu tes mampu mengukur apa yang seharusnya diukur, dengan menghitung validitas maka kita akan mengetahui kualitas instrumennya. Instrumen yang valid harus mempunyai validitas internal dan eksternal. Validitas internal terdiri dari validitas konstruksi dan validitas isi.

  Validitas eksternal jika instrument itu disusun berdasarkan pada fakta empiris yang telah terbukti. Dalam penelitian ini, menggunakan dua jenis validitas yaitu validitas konstruk dan validitas isi. Kedua validitas tersebut ditempuh melalui expert judgement dan secara empiris. Expert judgement ditempuh dengan cara bertanya kepada ahli sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dalam penelitian ini validitas yang ditempuh melalui expert judgement digunakan untuk menilai rubrik observasi minat belajar, kuesioner dan RPP pembelajaran.

  Validitas yang ditempuh secara empiris digunakan untuk mengukur instrumen soal tes evaluasi yang telah dibuat. Peneliti melakukan uji validitas di SD Pangudi Luhur Sedayu dengan subjek 30 siswa kelas III dikarenakan siswa kelas III tersebut telah mendapatkan materi dalam KD mengenal nilai-nilai Pancasila. Hasil tes tersebut kemudian dihitung dengan teknik korelasi Product Moment dari Pearson. Penghitungan korelasi product moment dilakukan dengan menggunakan

3.5.1.1 Uji Validasi Perangkat Pembelajaran

  Perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian terlebih dahulu dikoreksi dosen pembimbing kemudian perangkat tersebut diuji validasi oleh Kepala sekolah, guru kelas II dan teman sejawat, sehingga terdapat tiga penilaian. Pedoman penilaian perangkat pembelajaran seperti berikut:

Tabel 3.7 Kriteria Penilaian Perangkat Pembelajaran

  No Komponen Rencana Pembelajaran Skor

  I Perumusan indikator keberhasilan belajar

  1. Kejelasan rumusan 1 2 3 4

  2. Kelengkapan cakupan rumusan indikator 1 2 3 4

  3. Kesesuaian dengan kompetensi dasar 1 2 3 4

  

II Pemilihan dan pengorgganisasian materi pembelajaran

  1. Kesesuaian dengan kompetensi yang akan dicapai 1 2 3 4

  2. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik 1 2 3 4

  3. Keruntutan dan sistematika materi 1 2 3 4

  4. Kesesuaian materi dengan alokasi waktu 1 2 3 4

  III Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran

  1. Kesesuaian sumber belajar/media pembelajaran dengan 1 2 3 4 kompetensi (tujuan) yang ingin dicapai

  2. Kesesuaian sumber belajar/media pembelajaran dengan 1 2 3 4 materi pembelajaran

  3. Kesesuaian sumber belajar/media pembelajaran dengan 1 2 3 4 karakteristik peserta didik

  IV Skenario/kegiatan pembelajaran

  1. Kesesuaian strategi dan metode pembelajaran dengan 1 2 3 4 kompetensi (tujuan) pembelajaran

  2. Kesesuaian strategi dan metode pembelajaran dengan 1 2 3 4 materi pembelajaran

  3. Kesesuaian strategi dan metode pembelajaran dengan 1 2 3 4 karakteristik peserta didik

  4. Kelengkapan langkah-langkah dalam setiap tahapan 1 2 3 4

  Kurang di bawah 55% Di bawah 55 Sangat Kurang

  Tingkat Penguasaan Kompetensi Rentang skor Klasifikasi

  55

  Cukup 55% x 100 = 55

  65

  Baik 65% x 100 = 65

  80

  Sangat baik 80% x 100 = 80

  90

  90% x (100 : nilai total) = 90

Tabel 3.8 Kriteria penilaian Uji Validasi Perangkat Pembelajaran

  V Penilaian hasil belajar

  Hasil dari uji validasi perangkat tersebut diklasifikasikan berdasarkan Penilaian Acuan Patokan tipe II dengan menggunakan PAP tipe II (Masidjo, 1995:153). Berikut tabel klasifikasi penilaian:

  4. Bentuk huruf dan angka baku 1 2 3 4 Skor Total Perencanaan Pembelajaran: (total skor/84) x 100

  3. Kebakuan struktur kalimat 1 2 3 4

  2. Ketepatan pilihan kata 1 2 3 4

  1. Ketepatan ejaan 1 2 3 4

  VI Penggunaan bahasa tulis

  3. Kelengkapan instrumen (soal, rubrik, kunci jawaban) 1 2 3 4

  2. Kejelasan prosedur penilaian (awal, proses, akhir, tindak lanjut) 1 2 3 4

  1. Kesesuaian teknik penilaian dengan kompetensi yang ingin dicapai 1 2 3 4

  • – 100
  • – 90
  • – 80
  • – 65
komentar sederhana atas perangkat pembelajaran tersebut. Adapun hasil dari uji validasi perangkat pembelajaran yang telah dibuat adalah sebagai berikut:

Tabel 3.9 Hasil Uji Validasi Perangkat Pembelajaran

  Berdasarkan hasil penilaian di atas maka perangkat pembelajaran yang telah dikoreksi oleh dosen dan diuji validasi tersebut maka silabus pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa (LKS) dan bahan ajar termasuk dalam klasifikasi sangat baik untuk digunakan dalam penelitian.

  Tanggapan mengenai perangkat pembelajaran yakni agar dipertahankan dan dipersiapkan kembali secara maksimal agar hasil yang dicapai juga dapat maksimal.

  1. Silabus Kepala Sekolah 90 Guru Kelas II 100 Teman Sejawat

  90 Rata-rata silabus 93,3 Sangat baik

  2. RPP Kepala Sekolah 88 Guru Kelas II 100 Teman Sejawat

  94 Rata-rata RPP

  94 Sangat baik

  3. LKS Kepala Sekolah 89 Guru Kelas II 100 Teman Sejawat

  95 Rata-rata LKS 94,6 Sangat baik

  4. Bahan Ajar Kepala Sekolah 90 Guru Kelas II 100 Teman Sejawat

  91 Rata-rata Bahan Ajar 93,6 Sangat baik

3.5.1.2 Uji Validasi Instrumen Soal No Perangkat Pembelajaran Penilai Nilai Keterangan

Tabel 3.10 Penghitungan Validitas Soal Siklus I

  No r hitung r tabel Keterangan

  1 0,521 0,361 Valid 2 0,274 0,361 Tidak Valid 3 0,365 0,361 Valid 4 0,368 0,361 Valid 5 -0,155 0,361 Tidak Valid 6 0,344 0,361 Revisi=>Valid 7 0,118 0,361 Tidak Valid 8 0,526 0,361 Valid 9 0,374 0,361 Valid 10 -0,44 0,361 Tidak Valid

  11 0,227 0,361 Tidak Valid 12 0,326 0,361 Revisi=>Valid 13 0,292 0,361 Revisi=>Valid 14 0,073 0,361 Tidak Valid 15 -0,88 0,361 Tidak Valid 16 0,541 0,361 Valid 17 0,131 0,361 Tidak Valid 18 0,390 0,361 Valid 19 0,202 0,361 Tidak Valid 20 0,390 0,361 Valid

  Berdasarkan uji validitas di atas hanya beberapa soal yang dinyatakan valid, ini dikarenakan kondisi siswa saat mengerjakan sudah mendapat materi sehingga beberapa soal dirasa mudah, dan beberapa soal variasi baru yang dibuat oleh peneliti tergolong susah. Untuk beberapa soal yang tidak valid, peneliti kemudian mengubah susunan kata dan struktur kalimat tanya sehingga berbeda dan tetap digunakan. Kemudian untuk soal yang tidak valid karena terlalu mudah ataupun sulit diganti dengan soal baru yang lebih baik. Selang beberapa hari kemudian peneliti kembali memberikan soal untuk diuji valid tidaknya di kelas yang sama dengan waktu yang telah disesuaikan dengan guru kelas III. Adapun hasil dari uji

Tabel 3.11 Penghitungan Validitas Soal Siklus II

  No r hitung r tabel Keterangan

  1 0,411 0,361 Valid 2 0,394 0,361 Valid 3 0,422 0,361 Valid 4 0,509 0,361 Valid 5 0,373 0,361 Valid 6 0,400 0,361 Valid 7 0,524 0,361 Valid 8 0,361 0,361 Valid 9 0,644 0,361 Valid 10 0,389 0,361 Valid

  11 0,338 0,361 Tidak Valid 12 0,091 0,361 Revisi=>Valid 13 0,543 0,361 Valid 14 0,560 0,361 Valid 15 0,446 0,361 Valid 16 0,189 0,361 Revisi=>Valid 17 0,478 0,361 Valid 18 0,178 0,361 Tidak Valid 19 0,578 0,361 Valid 20 0,272 0,361 Tidak Valid

  Berdasarkan soal yang telah divalidasi, maka peneliti menggunakan soal- soal valid dan soal yang tidak valid kemudian telah direvisi dan menjadi bagian untuk dijadikan soal tes evaluasi. Selain itu beberapa soal diganti dikarenakan terlampau sulit dan mudah bagi siswa sehingga diganti dengan soal serupa dengan tampilan berbeda.

3.5.2 Reliabilitas

  Menurut Masidjo (1995:233) suatu tes yang reliabel atau andal adalah suatu tes yang hasil pengukurannya dalam satu atau berbagai pengukuran menunjukkan reliabilitas maka hanya mengambil item yang valid saja. Berikut ini tabel kriteria koefisien reliabilitas untuk melihat hasil perhitungan reliabilitas instrument ( Masidjo, 1995: 209). Peneliti menggunakan program SPSS 16.0 for Windows untuk mempermudah dan mempercepat proses perhitungan realibilitas. Adapun hasil perhitungan reliabilitas soal-soal tersebut kemudian akan dikualifikasikan dengan tabel kriteria koefisien reliabilitas berikut:

Tabel 3.12 Kriteria Koefisien Reliabilitas

  Interval Koefisien Realibilitas Kualifikasi

  ± 0,91 - ± 1,00 Sangat tinggi ± 0,71 - ± 0,90 Tinggi

  ± 0,41- ± 0,70 Cukup ± 0,21 - ± 0,40 Rendah ± 0 - ± 0,20 Sangat rendah

  Adapun hasil reliabilitas menggunakan rumus alpha cronbach sebagai berikut:

Tabel 3.13 Kualifikasi Hasil Reliabilitas

  Kualifikasi

  Cronbach’s Alpha Siklus I 0.228 Rendah

  0.731 Tinggi

  Siklus II

3.6 Teknik Analisis Data

  Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ada dua jenis data yang dikumpulkan (Kunandar, 2008:127) yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Hasil dari observasi digunakan untuk melihat sejauh mana proses belajar mengajar dengan menggunakan metode mendongeng, peneliti juga melihat video pembelajaran yang telah direkam untuk menganalisis proses pembelajaran. Hasil kuesioner minat dianalisis berdasarkan pedoman yang telah dibuat. Sementara untuk tes akan dianalisis dengan menggunakan pemberian skor. Berikut teknik analisis data dari masing-masing instrumen penelitian:

3.6.1 Teknik Analisis Data Minat Belajar

3.6.1.1 Lembar Observasi

  Lembar observasi atau pengamatan dibagi menjadi dua aspek yakni aspek afektif dan aspek psikomotorik dengan masing-masing aspek memiliki 10 poin observasi. Cara pengisian lembar observasi baik afektif maupun psikomotorik dilakukan secara sama hanya saja poin observasinya yang berbeda. Untuk mengisi kolom observasi terdapat dua pilihan yaitu “ya” apabila siswa melakukan dan “tidak” bila siswa tidak melakukan. Cara pemberian respon cukup dengan memberi tanda centang (√) sebagai tanda untuk “ya”. Apabila siswa tidak melakukan maka tidak diberi tanda apa-apa. Berikut dijelaskan langkah-langkah teknik analisis observasi yang dilakukan:

Tabel 3.14 Teknik Analisis Observasi

  No Tahapan Langkah-langkah

  a. Skor 10 apabila siswa melakukan Memberikan skor terhadap

  b. Skor 0 apabila siswa tidak 1. poin pengamatan. melakukan.

  Menjumlahkan skor total 2. setiap siswa.

  Mencari rata-rata skor observasi afektif atau

  3. psikomotorik dengan rumus.

  Menghitung skor rata-rata 4. dua aspek dengan rumus.

  Rata-rata hasil observasi dibandingkan antara kondisi awal dengan akhir siklus I dan membandingkan akhir siklus I

  Membandingkan minat 5. dengan akhir siklus II. Hal tersebut belajar. dilakukan untuk menyimpulkan apakah terjadi peningkatan minat atau tidak.

3.6.1.2 Lembar Kuesioner

  Kuesioner minat belajar terdiri dari 10 butir pernyataan, dengan 2 pilihan jawaban yakni setuju dan tidak setuju. Setiap siswa hanya boleh memilih salah satu pilihan jawaban tersebut. Pada item positif untuk jawaban setuju mendapat skor 10 dan tidak setuju skor 0, sedangkan untuk item negatif jawaban setuju skor 0 dan tidak setuju mendapat skor 10. Berikut ini adalah langkah-langkah analisis

Tabel 3.15 Teknik Analisis Kuesioner Minat

  

No Tahapan Langkah-langkah

  Untuk item positif

  a. Skor 10 untuk setuju Memberikan skor terhadap

  b. Skor 0 untuk tidak setuju lembar kuesioner siswa

  1. Untuk item negatif Memberikan skor terhadap lembar kuesioner siswa a. Skor 0 untuk setuju

  b. Skor 10 untuk tidak setuju Mencari rata-rata skor

  2. kuisioner dengan rumus: Hasil rata-rata kuesioner dibandingkan antara kondisi awal dengan akhir siklus I dan membandingkan akhir siklus I

  3. Membandingkan minat belajar dengan akhir siklus II. Hal tersebut dilakukan untuk menyimpulkan apakah terjadi peningkatan minat atau tidak.

  Perolehan data minat belajar secara keseluruhan didapat dengan cara peneliti akan menghitung rata-rata dari dua data yang terkumpul yakni rata-rata dari jumlah skor observasi ditambah dengan skor kuesioner sehingga menjadi satu nilai sebagai minat belajar siswa. Nilai tersebut kemudian akan diklasifikasikan menjadi beberapa kategori sesuai dengan Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe II dengan penguasaan kompetensi minimal yang merupakan passing score adalah

  Berikut tabel klasifikasi minat dalam penelitian ini:

Tabel 3.16 Klasifikasi Minat Siswa

  Tingkat Penguasaan Klasifikasi Minat Kompetensi

  81 Sangat tinggi

  • – 100

  Tinggi

  66 Tinggi

  • – 80

  56 Cukup Cukup

  • – 65

  46 Rendah

  • – 55

  Rendah di bawah 46 Sangat rendah Untuk memudahkan klasifikasi minat maka klasifikasi sangat tinggi dan tinggi akan menjadi tinggi, sedangkan klasifikasi rendah dan sangat rendah akan menjadi rendah.

3.6.2 Teknik Analisis Data Prestasi Belajar

  Aspek kognitif pemberian skor melalui hasil tes tertulis, dengan langkah- langkah sebagai berikut:

Tabel 3.17 Kriteria Skor

  Aspek Kriteria

  Jawaban benar = skor 1 Jawaban salah = skor 0

  Kognitif Skor total = (jumlah jawaban benar x 5)

  2. Menghitung Skor Rata-Rata

  Untuk menghitung skor rata-rata, menggunakan rumus skor rata-rata kelas sebagai berikut:

  3. Menghitung Persentase

  Untuk menghitung persentase, menggunakan rumus sebagai berikut: Setelah semua pada kondisi awal dengan akhir siklus I dan membandingkan akhir siklus I dengan akhir siklus II. Hal tersebut dilakukan untuk menyimpulkan apakah terjadi peningkatan prestasi atau tidak. data diperoleh kemudian data dibandingkan. Dengan membandingkan prestasi belajar.

3.7 Indikator Keberhasilan

  Indikator keberhasilan pada penelitian ini adalah peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn pada siswa kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu dengan metode mendongeng. Keberhasilan penelitian akan ditentukan dengan target yang telah dibuat dalam indikator keberhasilan penelitian.

  Apabila target sudah terpenuhi maka penelitian akan dihentikan, dan apabila belum mencapai target maka penelitian akan diteruskan. Berikut rincian keberhasilan penelitian yang diadakan oleh peneliti.

Tabel 3.18 Kriteria Keberhasilan

  Peubah Indikator Kondisi awal Siklus I Siklus II Minat belajar siswa Nilai rata-rata minat

  54,8

  80

  85 Prestasi belajar siswa Nilai rata-rata kelas

  74,9

  75

  80 Persentase jumlah siswa yang mencapai KKM 53,33% 70% 75%

  BAB IV BAB BAB IV IV IV HASIL PENELITIAN HASIL HASIL HASIL PENELITIAN PENELITIAN DAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN DAN DAN PEMBAHASAN PEMBAHASAN PEMBAHASAN Pada bab IV dipaparkan hasil penelitian yang telah dilakukan selama

  BAB

  penelitian. Bab ini berisi tentang hasil penelitian yang berupa pra penelitian, siklus I, siklus II, pembahasan dan keterbatasan penelitian.

  4.1.

  4.1. Hasil Hasil Penelitian Penelitian 4.1.

  4.1. Hasil Hasil Penelitian Penelitian

  4.1.1

  4.1.1 Pra Pra Tindakan Tindakan

  4.1.1

  4.1.1 Pra Pra Tindakan Tindakan

  Sebelum penelitian dimulai terlebih dahulu peneliti mengadakan observasi di kelas yakni pada hari Rabu tanggal 16 Januari 2013. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti mendapati bahwa guru kelas mengunakan metode ceramah dari awal hingga akhir pelajaran, sedangkan siswa hanya terpaku di meja masing-masing dan mendengarkan guru sehingga tidak terjadi interaksi antara guru dan siswa. Saat pembelajaran kesempatan siswa untuk berpartisipasi dapat dibilang cukup kecil, kondisi ini juga didukung dengan siswa yang tidak berminat mengikuti pelajaran. Hal tersebut dapat dilihat ketika sudah memasuki menit-menit tengah pelajaran di mana siswa mulai bosan dan melakukan aktivitas sendiri seperti bermain pensil, bercanda gurau bahkan melamun, namun ketika guru melihat ada siswa yang tidak memperhatikan guru segera menegur siswa tersebut. Observasi dilakukan oleh peneliti saat guru mengajar mata pelajaran PKn

3.5.1.1 Uji Validasi Perangkat Pembelajaran

  Perangkat pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian terlebih dahulu dikoreksi dosen pembimbing kemudian perangkat tersebut diuji validasi oleh Kepala sekolah, guru kelas II dan teman sejawat, sehingga terdapat tiga penilaian. Pedoman penilaian perangkat pembelajaran seperti berikut:

Tabel 3.7 Kriteria Penilaian Perangkat Pembelajaran

  No Komponen Rencana Pembelajaran Skor

  I Perumusan indikator keberhasilan belajar

  1. Kejelasan rumusan 1 2 3 4

  2. Kelengkapan cakupan rumusan indikator 1 2 3 4

  3. Kesesuaian dengan kompetensi dasar 1 2 3 4

  

II Pemilihan dan pengorgganisasian materi pembelajaran

  1. Kesesuaian dengan kompetensi yang akan dicapai 1 2 3 4

  2. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik 1 2 3 4

  3. Keruntutan dan sistematika materi 1 2 3 4

  4. Kesesuaian materi dengan alokasi waktu 1 2 3 4

  III Pemilihan sumber belajar/media pembelajaran

  1. Kesesuaian sumber belajar/media pembelajaran dengan 1 2 3 4 kompetensi (tujuan) yang ingin dicapai

  2. Kesesuaian sumber belajar/media pembelajaran dengan 1 2 3 4 materi pembelajaran

  3. Kesesuaian sumber belajar/media pembelajaran dengan 1 2 3 4 karakteristik peserta didik

  IV Skenario/kegiatan pembelajaran

  1. Kesesuaian strategi dan metode pembelajaran dengan 1 2 3 4 kompetensi (tujuan) pembelajaran

  2. Kesesuaian strategi dan metode pembelajaran dengan 1 2 3 4 materi pembelajaran

  3. Kesesuaian strategi dan metode pembelajaran dengan 1 2 3 4 karakteristik peserta didik

  4. Kelengkapan langkah-langkah dalam setiap tahapan 1 2 3 4

  Kurang di bawah 55% Di bawah 55 Sangat Kurang

  Tingkat Penguasaan Kompetensi Rentang skor Klasifikasi

  55

  Cukup 55% x 100 = 55

  65

  Baik 65% x 100 = 65

  80

  Sangat baik 80% x 100 = 80

  90

  90% x (100 : nilai total) = 90

Tabel 3.8 Kriteria penilaian Uji Validasi Perangkat Pembelajaran

  V Penilaian hasil belajar

  Hasil dari uji validasi perangkat tersebut diklasifikasikan berdasarkan Penilaian Acuan Patokan tipe II dengan menggunakan PAP tipe II (Masidjo, 1995:153). Berikut tabel klasifikasi penilaian:

  4. Bentuk huruf dan angka baku 1 2 3 4 Skor Total Perencanaan Pembelajaran: (total skor/84) x 100

  3. Kebakuan struktur kalimat 1 2 3 4

  2. Ketepatan pilihan kata 1 2 3 4

  1. Ketepatan ejaan 1 2 3 4

  VI Penggunaan bahasa tulis

  3. Kelengkapan instrumen (soal, rubrik, kunci jawaban) 1 2 3 4

  2. Kejelasan prosedur penilaian (awal, proses, akhir, tindak lanjut) 1 2 3 4

  1. Kesesuaian teknik penilaian dengan kompetensi yang ingin dicapai 1 2 3 4

  • – 100
  • – 90
  • – 80
  • – 65
komentar sederhana atas perangkat pembelajaran tersebut. Adapun hasil dari uji validasi perangkat pembelajaran yang telah dibuat adalah sebagai berikut:

Tabel 3.9 Hasil Uji Validasi Perangkat Pembelajaran

  Berdasarkan hasil penilaian di atas maka perangkat pembelajaran yang telah dikoreksi oleh dosen dan diuji validasi tersebut maka silabus pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kerja siswa (LKS) dan bahan ajar termasuk dalam klasifikasi sangat baik untuk digunakan dalam penelitian.

  Tanggapan mengenai perangkat pembelajaran yakni agar dipertahankan dan dipersiapkan kembali secara maksimal agar hasil yang dicapai juga dapat maksimal.

  1. Silabus Kepala Sekolah 90 Guru Kelas II 100 Teman Sejawat

  90 Rata-rata silabus 93,3 Sangat baik

  2. RPP Kepala Sekolah 88 Guru Kelas II 100 Teman Sejawat

  94 Rata-rata RPP

  94 Sangat baik

  3. LKS Kepala Sekolah 89 Guru Kelas II 100 Teman Sejawat

  95 Rata-rata LKS 94,6 Sangat baik

  4. Bahan Ajar Kepala Sekolah 90 Guru Kelas II 100 Teman Sejawat

  91 Rata-rata Bahan Ajar 93,6 Sangat baik

3.5.1.2 Uji Validasi Instrumen Soal No Perangkat Pembelajaran Penilai Nilai Keterangan

Tabel 3.10 Penghitungan Validitas Soal Siklus I

  No r hitung r tabel Keterangan

  1 0,521 0,361 Valid 2 0,274 0,361 Tidak Valid 3 0,365 0,361 Valid 4 0,368 0,361 Valid 5 -0,155 0,361 Tidak Valid 6 0,344 0,361 Revisi=>Valid 7 0,118 0,361 Tidak Valid 8 0,526 0,361 Valid 9 0,374 0,361 Valid 10 -0,44 0,361 Tidak Valid

  11 0,227 0,361 Tidak Valid 12 0,326 0,361 Revisi=>Valid 13 0,292 0,361 Revisi=>Valid 14 0,073 0,361 Tidak Valid 15 -0,88 0,361 Tidak Valid 16 0,541 0,361 Valid 17 0,131 0,361 Tidak Valid 18 0,390 0,361 Valid 19 0,202 0,361 Tidak Valid 20 0,390 0,361 Valid

  Berdasarkan uji validitas di atas hanya beberapa soal yang dinyatakan valid, ini dikarenakan kondisi siswa saat mengerjakan sudah mendapat materi sehingga beberapa soal dirasa mudah, dan beberapa soal variasi baru yang dibuat oleh peneliti tergolong susah. Untuk beberapa soal yang tidak valid, peneliti kemudian mengubah susunan kata dan struktur kalimat tanya sehingga berbeda dan tetap digunakan. Kemudian untuk soal yang tidak valid karena terlalu mudah ataupun sulit diganti dengan soal baru yang lebih baik. Selang beberapa hari kemudian peneliti kembali memberikan soal untuk diuji valid tidaknya di kelas yang sama dengan waktu yang telah disesuaikan dengan guru kelas III. Adapun hasil dari uji

Tabel 3.11 Penghitungan Validitas Soal Siklus II

  No r hitung r tabel Keterangan

  1 0,411 0,361 Valid 2 0,394 0,361 Valid 3 0,422 0,361 Valid 4 0,509 0,361 Valid 5 0,373 0,361 Valid 6 0,400 0,361 Valid 7 0,524 0,361 Valid 8 0,361 0,361 Valid 9 0,644 0,361 Valid 10 0,389 0,361 Valid

  11 0,338 0,361 Tidak Valid 12 0,091 0,361 Revisi=>Valid 13 0,543 0,361 Valid 14 0,560 0,361 Valid 15 0,446 0,361 Valid 16 0,189 0,361 Revisi=>Valid 17 0,478 0,361 Valid 18 0,178 0,361 Tidak Valid 19 0,578 0,361 Valid 20 0,272 0,361 Tidak Valid

  Berdasarkan soal yang telah divalidasi, maka peneliti menggunakan soal- soal valid dan soal yang tidak valid kemudian telah direvisi dan menjadi bagian untuk dijadikan soal tes evaluasi. Selain itu beberapa soal diganti dikarenakan terlampau sulit dan mudah bagi siswa sehingga diganti dengan soal serupa dengan tampilan berbeda.

3.5.2 Reliabilitas

  Menurut Masidjo (1995:233) suatu tes yang reliabel atau andal adalah suatu tes yang hasil pengukurannya dalam satu atau berbagai pengukuran menunjukkan reliabilitas maka hanya mengambil item yang valid saja. Berikut ini tabel kriteria koefisien reliabilitas untuk melihat hasil perhitungan reliabilitas instrument ( Masidjo, 1995: 209). Peneliti menggunakan program SPSS 16.0 for Windows untuk mempermudah dan mempercepat proses perhitungan realibilitas. Adapun hasil perhitungan reliabilitas soal-soal tersebut kemudian akan dikualifikasikan dengan tabel kriteria koefisien reliabilitas berikut:

Tabel 3.12 Kriteria Koefisien Reliabilitas

  Interval Koefisien Realibilitas Kualifikasi

  ± 0,91 - ± 1,00 Sangat tinggi ± 0,71 - ± 0,90 Tinggi

  ± 0,41- ± 0,70 Cukup ± 0,21 - ± 0,40 Rendah ± 0 - ± 0,20 Sangat rendah

  Adapun hasil reliabilitas menggunakan rumus alpha cronbach sebagai berikut:

Tabel 3.13 Kualifikasi Hasil Reliabilitas

  Kualifikasi

  Cronbach’s Alpha Siklus I 0.228 Rendah

  0.731 Tinggi

  Siklus II

3.6 Teknik Analisis Data

  Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ada dua jenis data yang dikumpulkan (Kunandar, 2008:127) yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Hasil dari observasi digunakan untuk melihat sejauh mana proses belajar mengajar dengan menggunakan metode mendongeng, peneliti juga melihat video pembelajaran yang telah direkam untuk menganalisis proses pembelajaran. Hasil kuesioner minat dianalisis berdasarkan pedoman yang telah dibuat. Sementara untuk tes akan dianalisis dengan menggunakan pemberian skor. Berikut teknik analisis data dari masing-masing instrumen penelitian:

3.6.1 Teknik Analisis Data Minat Belajar

3.6.1.1 Lembar Observasi

  Lembar observasi atau pengamatan dibagi menjadi dua aspek yakni aspek afektif dan aspek psikomotorik dengan masing-masing aspek memiliki 10 poin observasi. Cara pengisian lembar observasi baik afektif maupun psikomotorik dilakukan secara sama hanya saja poin observasinya yang berbeda. Untuk mengisi kolom observasi terdapat dua pilihan yaitu “ya” apabila siswa melakukan dan “tidak” bila siswa tidak melakukan. Cara pemberian respon cukup dengan memberi tanda centang (√) sebagai tanda untuk “ya”. Apabila siswa tidak melakukan maka tidak diberi tanda apa-apa. Berikut dijelaskan langkah-langkah teknik analisis observasi yang dilakukan:

Tabel 3.14 Teknik Analisis Observasi

  No Tahapan Langkah-langkah

  a. Skor 10 apabila siswa melakukan Memberikan skor terhadap

  b. Skor 0 apabila siswa tidak 1. poin pengamatan. melakukan.

  Menjumlahkan skor total 2. setiap siswa.

  Mencari rata-rata skor observasi afektif atau

  3. psikomotorik dengan rumus.

  Menghitung skor rata-rata 4. dua aspek dengan rumus.

  Rata-rata hasil observasi dibandingkan antara kondisi awal dengan akhir siklus I dan membandingkan akhir siklus I

  Membandingkan minat 5. dengan akhir siklus II. Hal tersebut belajar. dilakukan untuk menyimpulkan apakah terjadi peningkatan minat atau tidak.

3.6.1.2 Lembar Kuesioner

  Kuesioner minat belajar terdiri dari 10 butir pernyataan, dengan 2 pilihan jawaban yakni setuju dan tidak setuju. Setiap siswa hanya boleh memilih salah satu pilihan jawaban tersebut. Pada item positif untuk jawaban setuju mendapat skor 10 dan tidak setuju skor 0, sedangkan untuk item negatif jawaban setuju skor 0 dan tidak setuju mendapat skor 10. Berikut ini adalah langkah-langkah analisis

Tabel 3.15 Teknik Analisis Kuesioner Minat

  

No Tahapan Langkah-langkah

  Untuk item positif

  a. Skor 10 untuk setuju Memberikan skor terhadap

  b. Skor 0 untuk tidak setuju lembar kuesioner siswa

  1. Untuk item negatif Memberikan skor terhadap lembar kuesioner siswa a. Skor 0 untuk setuju

  b. Skor 10 untuk tidak setuju Mencari rata-rata skor

  2. kuisioner dengan rumus: Hasil rata-rata kuesioner dibandingkan antara kondisi awal dengan akhir siklus I dan membandingkan akhir siklus I

  3. Membandingkan minat belajar dengan akhir siklus II. Hal tersebut dilakukan untuk menyimpulkan apakah terjadi peningkatan minat atau tidak.

  Perolehan data minat belajar secara keseluruhan didapat dengan cara peneliti akan menghitung rata-rata dari dua data yang terkumpul yakni rata-rata dari jumlah skor observasi ditambah dengan skor kuesioner sehingga menjadi satu nilai sebagai minat belajar siswa. Nilai tersebut kemudian akan diklasifikasikan menjadi beberapa kategori sesuai dengan Penilaian Acuan Patokan (PAP) tipe II dengan penguasaan kompetensi minimal yang merupakan passing score adalah

  Berikut tabel klasifikasi minat dalam penelitian ini:

Tabel 3.16 Klasifikasi Minat Siswa

  Tingkat Penguasaan Klasifikasi Minat Kompetensi

  81 Sangat tinggi

  • – 100

  Tinggi

  66 Tinggi

  • – 80

  56 Cukup Cukup

  • – 65

  46 Rendah

  • – 55

  Rendah di bawah 46 Sangat rendah Untuk memudahkan klasifikasi minat maka klasifikasi sangat tinggi dan tinggi akan menjadi tinggi, sedangkan klasifikasi rendah dan sangat rendah akan menjadi rendah.

3.6.2 Teknik Analisis Data Prestasi Belajar

  Aspek kognitif pemberian skor melalui hasil tes tertulis, dengan langkah- langkah sebagai berikut:

Tabel 3.17 Kriteria Skor

  Aspek Kriteria

  Jawaban benar = skor 1 Jawaban salah = skor 0

  Kognitif Skor total = (jumlah jawaban benar x 5)

  2. Menghitung Skor Rata-Rata

  Untuk menghitung skor rata-rata, menggunakan rumus skor rata-rata kelas sebagai berikut:

  3. Menghitung Persentase

  Untuk menghitung persentase, menggunakan rumus sebagai berikut: Setelah semua pada kondisi awal dengan akhir siklus I dan membandingkan akhir siklus I dengan akhir siklus II. Hal tersebut dilakukan untuk menyimpulkan apakah terjadi peningkatan prestasi atau tidak. data diperoleh kemudian data dibandingkan. Dengan membandingkan prestasi belajar.

3.7 Indikator Keberhasilan

  Indikator keberhasilan pada penelitian ini adalah peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn pada siswa kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu dengan metode mendongeng. Keberhasilan penelitian akan ditentukan dengan target yang telah dibuat dalam indikator keberhasilan penelitian.

  Apabila target sudah terpenuhi maka penelitian akan dihentikan, dan apabila belum mencapai target maka penelitian akan diteruskan. Berikut rincian keberhasilan penelitian yang diadakan oleh peneliti.

Tabel 3.18 Kriteria Keberhasilan

  Peubah Indikator Kondisi awal Siklus I Siklus II Minat belajar siswa Nilai rata-rata minat

  54,8

  80

  85 Prestasi belajar siswa Nilai rata-rata kelas

  74,9

  75

  80 Persentase jumlah siswa yang mencapai KKM 53,33% 70% 75% mengetahui minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Pkn. Pengambilan data minat kondisi awal dilakukan pada hari Rabu, 20 Maret 2013 dengan rangkuman data yang diperoleh sebagai berikut:

Tabel 4.1 Kondisi Awal Minat Belajar Siswa

  20 MAL

  60

  50

  22 REZ

  65 Cukup

  60

  70

  21 AND

  60 Cukup

  60

  60

  Rendah

  23 WUL

  55 50 52,5

  19 VAN

  55 Rendah

  50

  60

  18 GAD

  45 Rendah

  50

  40

  17 MAR

  Tinggi

  55 Rendah

  40

  16 JOV

  55 Rendah

  50

  60

  29 BIN

  50 Rendah

  60

  40

  28 MEI

  55 Rendah

  60

  50

  27 DEO

  40

  50

  70

  26 NIK

  45 Rendah

  50

  40

  25 VAN

  60 Cukup

  70

  50

  24 RIA

  45 Rendah

  75 70 72,5

  65 Cukup

  No urut Nama Instrumen Rata-rata minat Keterangan Observasi (0-100) Kuesioner (0-100)

  45 60 52,5

  60

  7 BEL

  50 Rendah

  40

  60

  6 BAY

  45 Rendah

  50

  40

  5 PAN

  Rendah

  4 RAR

  60 Cukup

  45 Rendah

  60

  30

  3 FEB

  Cukup

  45 70 57,5

  2 YUS

  35 Rendah

  40

  30

  1 HEN

  60

  8 DEO

  60

  12 SHE

  70

  15 BIM

  50 Rendah

  60

  40

  14 CAR

  Tinggi

  65 70 67,5

  13 FER

  Cukup

  65 50 57,5

  Cukup

  50

  65 60 62,5

  11 BAR

  60 Cukup

  60

  60

  10 DEV

  Tinggi

  65 70 67,5

  9 DET

  45 Rendah

  40

  55 Rendah Hasil rata-rata minat belajar siswa sebagai kondisi awal didapat dengan cara mencari rata-rata dua data yang diperoleh. Data tersebut yakni berdasarkan observasi siswa dalam belajar yang telah dilakukan dan data berdasarkan kuesioner yang dibagikan kepada siswa. Berdasarkan tabel di atas didapat rata-rata kelas yakni 54,8 di mana bisa dilihat bahwa minat belajar siswa terhadap proses belajar mengajar di kelas II termasuk kategori rendah, bahkan beberapa siswa juga termasuk kedalam kategori rendah. Kategori minat belajar tinggi hanya terdapat dua siswa dari total 29 siswa.

  Peneliti juga menemui guru kelas untuk melakukan tanya jawab mengenai beberapa hal yang terkait dengan mata pelajaran PKn. Berdasarkan tanya jawab dalam suatu kesempatan, guru mengatakan bahwa media pembelajaran itu tidak perlu dipersiapkan karena dalam mengajar kita harus fleksibel sementara untuk minat belajar siswa dikelas guru tidak begitu memperhatikannya. Peneliti kemudian meminta data prestasi belajar siswa tahun sebelumnya khususnya pada mata pelajaran PKn terkait sebagai nilai kondisi awal untuk penelitian ini. Dari data yang didapat oleh guru kelas adapun nilai siswa sebagai kondisi awal seperti pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.2 Kondisi Awal Prestasi Belajar Siswa

  Ketuntasan No urut Nilai Ya Tidak

  1

  40 √

  2

  52 √

  6

  86 √

  7

  70 √

  8

  68 √

  9

  76 √

  10

  80 √

  11

  60 √

  12

  70 √

  13

  82 √

  14

  70 √

  15

  70 √

  16

  86 √

  17

  94 √

  18

  66 √

  19

  82 √

  20

  90 √

  21

  82 √

  22

  60 √

  23

  70 √

  24

  78 √

  25

  68 √

  26

  86 √

  27

  80 √

  28

  62 √

  29

  96 √

  30

  88 √

  Jumlah 2246

  16

  14 Rata-rata 74,9 Persentase 53,33% 46,67%

  Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa prestasi belajar siswa kelas II masih rendah, hampir setengah dari jumlah siswa yang ada belum tuntas.

  Mengingat bahwa KKM belajar mata pelajaran PKn yaitu 75 apabila dilihat dari sebesar 74,9. Berdasarkan capaian minat belajar dan prestasi belajar yang masih rendah, peneliti akan mengadakan penelitian di kelas II dengan jadwal yang telah ditentukan bersama guru kelas. Penelitian ini dilakukan sebanyak dua siklus, di mana setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Subjek dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu sebanyak 30 siswa. Jadwal pelaksanaan penelitian dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.3 Jadwal Pelaksanaan Penelitian

  Siklus Pertemuan Hari/Tanggal

  

1 Kamis, 21 Maret 2013

  I

  2 Jumat, 22 Maret 2013

  1 Senin, 25 Maret 2013

  II

  2 Rabu, 27 Maret 2013

4.1.2 Siklus I

1. Perencanaan

  Perencanaan yang dilakukan oleh peneliti pada siklus I ini dengan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam penelitian. Adapun persiapan yang dilakukan ialah mempersiapkan materi pelajaran yang berupa bahan ajar, RPP, silabus, soal latihan, soal evaluasi dan media pembelajaran berupa alat-alat mendongeng yang berupa gambar, boneka, wayang, kostum dan dongeng yang sesuai, selain itu peneliti juga menyiapkan beberapa rancangan posisi tempat duduk siswa sehingga siswa tidak bosan. Peneliti juga menyiapkan serta menyiapkan instrumen soal evaluasi yang terlebih dahulu telah di uji validitasnya.

2. Tindakan Pertemuan I

  Penelitian siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada hari kamis tanggal

  21 Maret 2013 dengan alokasi waktu yakni 4 x 35 menit dengan pembelajaran Pkn dilanjutkan dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Pada pertemuan ini jumlah siswa yang hadir yakni 29 siswa, dikarenakan seorang siswa ijin untuk mengikuti acara keluarga. Posisi tempat duduk siswa kali ini dibuat dengan bentuk setengah lingkaran atau model berbentuk “U” dengan tujuan agar siswa lebih tertarik dengan posisi baru ini, selain itu agar memudahkan siswa melihat dongeng yang akan dibawakan. Pembelajaran kali ini siswa akan menggunakan metode yang baru dari biasanya yakni metode mendongeng dengan peneliti sebagai guru kelas sekaligus sebagai pendongeng. Materi pembelajaran pada pertemuan kali ini adalah kejujuran dengan bahan ajar yang akan ditampilkan dalam dongeng berjudul “Kelinci Putih yang Selalu Jujur”. Proses pembelajaran dengan mendongeng dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya. Pembelajaran dengan mendongeng berjalan baik di mana siswa mendengarkan dongeng yang disampaikan dengan beberapa media atau alat peraga dongeng diantaranya background gambar sebagai latar dongeng, wayang berupa gambar

  Pada kegiatan awal pelajaran, siswa dan peneliti bernyanyi bersama lagu yang telah diubah liriknya oleh peneliti sehingga bertema dongeng, kemudian peneliti mengkondisikan siswa agar tenang karena akan mulai mendongeng. Pada saat mendongeng peneliti sesekali melibatkan siswa dalam dongeng, misalnya menyuruh siswa membantu tokoh kelinci putih menghitung jumlah wortel, kemudian menirukan suara kelinci merah dan beberapa interaksi lainnya, disini terlihat siswa sangat antusias bahkan siswa sangat berminat ketika peneliti meminta siswa membantu dalam dongeng, terbukti ketika diminta bantuannya lebih dari sepuluh siswa yang mengangkat tangan untuk menawarkan bantuan. Proses mendongeng juga dilakukan dengan beberapa kali peneliti mengulang adegan yang menjadi pokok bahasan PKn sehingga siswa akan mampu mengingat adegan tersebut sebagai salah satu bahan aja yang dipelajari sekaligus menjadi materi belajar hari ini. Siswa kemudian memberikan tanggapan mereka atas dongeng yang disampaikan oleh peneliti secara lisan, kemudian setelah itu siswa mendapatkan lembar kerja PKn berupa soal pilihan membedakan mana yang termasuk perbuatan jujur dan tidak jujur.

  Dalam pembelajaran ini terdapat 2 mata pelajaran yakni mata pelajaran PKn dan Bahasa Indonesia yang dilakukan pada jam berikutnya. Siswa juga mendapat LKS Bahasa Indonesia yakni menulis kembali dongeng yang telah disampaikan oleh peneliti, selain itu pada jam berikutnya siswa dan peneliti bertanya jawab mengenai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan dongeng terlihat begitu bersemangat menyebutkan contoh-contoh perbuatan jujur dan disiplin yang patut dicontoh. Pada kegiatan akhir peneliti memberikan beberapa rangkuman pelajaran dan refleksi terhadap pembelajaran hari ini dan mengingatkan siswa pada pertemuan selanjutnya bertemu kembali.

  Pertemuan 2

  Pada pertemuan selanjutnya yakni pertemuan kedua pada hari Jumat tanggal 22 Maret 2013 siswa kembali bertemu dengan peneliti, untuk kali ini posisi tempat duduk telah diubah oleh peneliti menjadi satu arah yakni menghadap ke papan tulis namun tanpa meja sedangkan untuk aktivitas menulis siswa sebelumnya telah diberitahukan untuk membawa papan tripleks sebagai media untuk menulis. Jumlah siswa masih sama dengan pertemuan pertama yakni 29 siswa dari total 30 siswa yang hadir. Pada pertemuan kali ini siswa kembali menyanyikan lagu sebagai kegiatan awal pelajaran dengan bernyanyi lagu yang sama seperti pertemuan sebelumnya namun dengan beberapa kata yang diganti sesuai dengan dongeng untuk hari ini. Dongeng yang akan disampaikan hari ini masih bertema kejujuran dan kedisiplinan namun dengan dongeng yang berbeda yakni dongeng “Miki si Tikus dan Momo si Kucing”, dongeng ini disampaikan dengan menggunakan alat peraga berupa background bergambar, boneka yang terbuat dari flanel dan beberapa benda lainnya seperti tas dan gelang.

  Peneliti kemudian mulai mendongeng dengan memperkenalkan tokoh-tokoh ditangan mereka kemudian bersuara seperti tokoh ketika peneliti meminta, jadi disini dongeng tetap dibawakan oleh peneliti namun siswa yang akan memperagakan gerak-gerik tokoh. Aktivitas interaksi seperti ini lebih menghidupkan suasana karena siswa merasa terlibat langsung dalam dongeng, sedangkan siswa yang menontonpun merasa terhibur dengan penampilan peneliti dan teman mereka sendiri. Dalam kegiatan eksplorasi, peneliti membagi siswa menjadi empat kelompok untuk mengerjakan soal latihan yang berhubungan dengan menjodohkan contoh kegiatan dan klasifikasi kegiatan tersebut termasuk kegiatan jujur, disiplin, tidak jujur atau tidak disiplin. Peneliti juga memberikan penekanan terhadap materi ini berupa contoh-contoh perbuatan dalam dongeng yang patut dicontoh dalam kehidupan sehari-hari. Melalui dongeng tersebut siswa nampak lebih cepat menangkap maksud dari kejujuran dan kedisiplinan serta manfaat yang didapat sesungguhnya ini ditunjukkan dengan cepatnya siswa menjawab pertanyaan lisan dan aktifnya siswa ketika peneliti bertanya mengenai materi. Pada kegiatan akhir peneliti membagikan soal evaluasi untuk dikerjakan siswa dan setelah menutup pelajaran, peneliti juga membagikan lembar kuesioner minat untuk mengukur sejauh mana minat siswa belajar dengan metode mendongeng.

3. Observasi

  Selama pelaksanaan pelajaran tepatnya saat mendongeng, peneliti juga bahan untuk melakukan refleksi untuk pertemuan selanjutnya. Peneliti juga menggunakan bantuan kamera untuk merekam jalannya aktivitas pembelajaran dengan metode mendongeng. Adapun hasil data capaian minat belajar yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4 Capaian Minat Belajar Siklus I

  18 GAD

  21 AND

  95 Tinggi

  20 MAL 90 100

  Tinggi

  65 70 67,5

  19 VAN

  Tinggi

  85 60 72,5

  80 Tinggi

  Tinggi

  70

  90

  17 MAR

  85 Tinggi

  80

  90

  16 JOV

  Tinggi

  85 60 72,5

  95 90 92,5

  22 REZ 90 100

  Tinggi

  Tinggi

  75 70 72,5

  29 BIN

  75 Tinggi

  80

  70

  28 MEI

  Tinggi

  85 90 87,5

  27 DEO

  95 90 92,5

  95 Tinggi

  26 NIK

  90 Tinggi

  25 VAN 80 100

  80 Tinggi

  90

  70

  24 RIA

  90 Tinggi

  23 WUL 80 100

  15 BIM

  75 70 72,5

  No urut Nama Instrumen Rata-rata minat Keterangan Observasi (0-100) Kuesioner (0-100)

  50

  80

  6 BAY

  Tinggi

  5 PAN 95 100 97,5

  Cukup

  65 60 62,5

  4 RAR

  50 Cukup

  50

  75 Tinggi

  3 FEB

  70 Tinggi

  70

  70

  2 YUS

  70 Tinggi

  70

  70

  1 HEN

  70

  7 BEL

  14 CAR

  90

  75 Tinggi

  80

  70

  13 FER

  Tinggi

  75 60 67,5

  12 SHE

  85 Tinggi

  80

  11 BAR

  75 90 82,5

  Tinggi

  65 90 77,5

  10 DEV

  Tinggi

  9 DET 85 100 92,5

  Tinggi

  75 80 77,5

  8 DEO

  Tinggi

  Tinggi Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa minat belajar siswa meningkat dari minat belajar siswa sebelumnya. Apabila minat belajar siswa pada kondisi awal yakni 54,8 dengan kategori rendah maka setelah siklus I ini meningkat menjadi 79,4 dengan kategori tinggi. Untuk melihat sejauh mana peningkatan minat belajar siswa yang terjadi selama penelitian, berikut adalah tampilan perbandingan antara kondisi awal dengan siklus I:

Tabel 4.5 Perbandingan Minat Belajar Kondisi awal dengan Siklus I

  11 BAR Cukup Tinggi Meningkat

  20 MAL Cukup Tinggi Meningkat

  19 VAN Rendah Tinggi Meningkat

  18 GAD Rendah Tinggi Meningkat

  17 MAR Rendah Tinggi Meningkat

  16 JOV Tinggi Tinggi Meningkat

  15 BIM Cukup Tinggi Meningkat

  14 CAR Rendah Tinggi Meningkat

  13 FER Tinggi Tinggi Tetap

  12 SHE Cukup Tinggi Meningkat

  10 DEV Cukup Tinggi Meningkat

  No Nama Keterangan Minat Belajar Keterangan (meningkat/menurun/tetap) Kondisi Awal Siklus I

  9 DET Tinggi Tinggi Meningkat

  8 DEO Rendah Tinggi Meningkat

  7 BEL Cukup Tinggi Meningkat

  6 BAY Rendah Tinggi Meningkat

  5 PAN Rendah Tinggi Meningkat

  4 RAR Rendah Cukup Meningkat

  3 FEB Rendah Cukup Meningkat

  2 YUS Cukup Tinggi Meningkat

  1 HEN Rendah Tinggi Meningkat

  21 AND Cukup Tinggi Meningkat

  Keterangan Minat Belajar Keterangan No Nama (meningkat/menurun/tetap) Kondisi Awal Siklus I

  25 VAN Rendah Tinggi Meningkat

  26 NIK Rendah Tinggi Meningkat

  27 DEO Rendah Tinggi Meningkat

  28 MEI Rendah Tinggi Meningkat

  29 BIN Rendah Tinggi Meningkat

  Minat belajar satu siswa belum meningkat dikarenakan beberapa siswa cenderung pendiam dan merasa tidak terlibat dalam aktivitas mendongeng, oleh karena itu peneliti akan melakukan refleksi terhadap kegiatan mendongeng selanjutnya. Pada akhir siklus pertama ini, peneliti juga memberikan soal evaluasi untuk mengetahui tingkat prestasi belajar siswa apakah meningkat dari kondisi awal. Hasil tes evaluasi pada siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.6 Hasil Prestasi Belajar Siswa Siklus I

  Ketuntasan No urut Nilai Ya Tidak

  55

  1 √

  2

  40

  √

  70

  3 √

  75

  4 √

  95

  5 √

  6

  85

  √

  90

  7 √

  70

  8 √

  9

  85

  √

  10

  90

  √

  65

  11 √

  80

  12 √ Dalam pelaksanaan penelitian pada siklus I yang dilakukan dalam dua kali pertemuan, rata-rata minat belajar dan prestasi belajar siswa menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan kondisi awal. Prestasi belajar dan minat belajar siswa dapat meningkat melalui metode mendongeng. Pada prestasi belajar yakni nilai rata-rata kelas sudah dapat mencapai target yang diharapkan peneliti pada siklus I yakni 75,9 dari target 75. Namun, untuk persentase ketuntasan yakni 68,97% belum mencapai target 70% yang diharapkan, sementara itu juga belum mencapai target akhir penelitian yakni 75% ketuntasan. Dalam proses

  No urut Nilai Ketuntasan Ya Tidak

  √

  √

  25

  80

  √

  26

  90

  √

  27

  80

  28

  24

  85

  √

  29

  75

  √ Jumlah

  2200

  20

  9 Rata-rata

  75,9

  Persentase 68,97% 31,03%

  75

  √

  16

  80

  80

  √

  17

  75

  √

  18

  80

  √

  19

  √

  60

  20

  75

  √

  21

  70

  √

  22

  85

  √

  23

4. Refleksi

  dibawakan oleh guru, ekspresi siswa disaat kejadian-kejadian dalam dongeng, serta partisipasi siswa ketika guru berinteraksi dalam mendongeng, namun terdapat beberapa siswa yang hanya fokus terhadap alat peraga yang berupa wayang dan boneka, bahkan setelah selesai mendongeng siswa justru berebut untuk memainkan alat peraga yang digunakan oleh guru. Berdasarkan refleksi dan pertimbangan dari siklus I maka peneliti akan meneruskan penelitian ke dalam siklus II dan belajar dari pengalaman pada siklus I maka peneliti akan melakukan beberapa usaha dan strategi demi perbaikan proses pembelajaran.

Tabel 4.7 Kendala dan Strategi Pemecahan Kendala

  No. Kendala Strategi untuk siklus II

1. Beberapa siswa yang duduk

  Dalam menyajikan dongeng,

  dibelakang tidak

  peneliti akan membagi fokus memperhatikan. secara merata dengan berkeliling kelas melalui adegan dalam dongeng.

  

2. Siswa berebut alat peraga Alat peraga yang telah digunakan

dongeng untuk dimainkan dalam mendongeng segera dipindah ke meja guru atau diletakkan di luar ruangan sehingga tidak menjadi objek bermain

  

3. Siswa ingin berebut tempat di Pada pertemuan selanjtnya posisi

depan duduk akan diatur secara merata sehingga siswa akan mendapat bagian tempat duduk yang sama dan berbeda sehingga tidak bosan.

  No. Kendala Strategi untuk siklus II akan mengubah cerita agar lebih menarik serta melibatkan siswa dalam menebak alur selanjutnya.

4.1.3 Siklus II

  1.Perencanaan

  Perencanaan pada siklus II tidak jauh berbeda dengan siklus I di mana peneliti menyiapkan segala kebutuhan penelitian yang meliputi: bahan ajar, RPP, soal latihan, soal evaluasi yang telah diuji validitasnya. Peneliti juga menyiapkan perlengkapan metode mendongeng seperti dongeng bertema senang bekerja yang disusun sendiri, alat peraga berupa kostum, atribut tokoh, background bergambar serta buku raksasa untuk kegiatan mendongeng. Peneliti juga meminta ijin pada pihak Gereja Sedayu karena pada pertemuan terakhir akan menggunakan lokasi halaman Gereja.

  2. Tindakan Pertemuan 1

  Penelitian siklus II yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 25 Maret 2013 ini pada hari merupakan pertama siklus II namun pertemuan ketiga dari rangkaian penelitian yang dilakukan. Alokasi waktu pertemuan yakni 4 x 35 menit serupa dengan siklus I, dan masih menggabungkan antara mata pelajaran PKn dan Bahasa Indonesia. Pertemuan hari ini dari 30 siswa hanya 29 siswa yang hadir segera digunakan untuk mata pelajaran yang memang menggunakan meja kursi lengkap dalam pembelajaran sehingga peneliti tidak mempunyai cukup waktu untuk mengatur kembali meja dan kursi apabila ingin diubah, namun dari sini peneliti mencoba mengamati apakah metode mendongeng dapat berjalan lancar apabila dengan posisi seperti ini.

  Pada kegiatan awal pelajaran peneliti mengingatkan kembali siswa mengenai materi sebelumnya dan bertanya jawab mengenai materi. Sesaat sebelum peneliti mendongeng, peneliti mengingatkan siswa untuk fokus terhadap dongeng karena selanjutnya siswa akan memperagakan dongeng secara berpasangan. Dongeng yang dibawakan kali ini berjudul “Puteri Bulan dan Raksasa yang Mala s”, dongeng ini dibawakan peneliti dengan banyak interaksi kepada siswa sehingga peneliti tidak fokus di depan kelas namun juga mengelilingi sudut kelas sehingga semua siswa akan merasa bahwa mereka tergabung dalam aktivitas mendongeng ini, sesekali peneliti juga meminta kembali bantuan siswa dalam mendongeng namun dengan syarat siswa yang belum pernah membantu sehingga semua siswa dapat kesempatan yang sama.

  Pada kegiatan selanjutnya peneliti dan siswa bertanya jawab mengenai materi yang terdapat dalam dongeng, dan sesuai dengan rencana awal maka siswa bersama teman dalam satu meja akan berpasangan menceritakan kembali dongeng yang telah mereka dengar. Siswa memperagakan dongeng dengan bantuan wayang ataupun kostum. Setiap pasangan mendapatkan waktu kurang lebih 3-4

  Kegiatan selanjutnya untuk menarik siswa adalah kegiatan permainan yakni dengan cara siswa akan mendapat kartu berbeda warna dengan sebuah kata di setiap sisi kartu kemudian siswa membuat lingkaran di depan kelas kemudian peneliti akan menyebutkan sebuah nama atau warna kartu apabila siswa memiliki nama atau warna yang sama akan maju kemudian membuka satu dari 12 amplop yang disediakan. Siswa akan menjawab pertanyaan mengenai dongeng dan tema senang bekerja kemudian siswa akan memilih aktivitas senang bekerja apa yang akan dilakukan setelah ini. Adapun aktivitas pilihan seperti: menyapu lantai, menghapus papan tulis, menyiram tanaman dan membersihkan meja akan dilakukan siswa setelah pelajaran berakhir.

  Pada kegiatan akhir peneliti memberikan soal latihan kepada siswa untuk dikerjakan secara individu, peneliti juga mengadakan sayembara untuk membuat nama seekor beruang yang nama tersebut akan digunakan untuk dongeng pada pertemuan selanjutnya.

  Pertemuan 2 Pertemuan terakhir dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 27 Maret 2013.

  Berbeda dengan tiga pertemuan sebelumnya, pertemuan ini bertempat di halaman samping Gereja St. Theresia Sedayu yang letaknya tidak jauh dari SD Pangudi Luhur. Pertemuan yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB ini dimulai dengan memberikan kejutan kepada siswa bahwa hari ini akan belajar di luar kelas yakni di halaman Gereja, siswapun begitu antusias mendengarnya tanpa berlama-lama beberapa kursi untuk membantu jalannya penelitian. Dongeng yang akan ditampilkan hari ini berjudul “Nenek yang Hebat” dengan tokoh utama nenek dan seekor beruang, karena pada pertemuan sebelumnya telah diadakan sayembara untuk pemberian nama maka pada pertemuan ini peneliti mengundi sebuah nama yang akan dipilih.

  Pada kegiatan awal para siswa menyanyikan lagu apersepsi yang berbeda dari sebelumnya, kemudian dilanjut dengan mendengarkan dongeng yang akan disampaikan dengan media buku raksasa, sesekali peneliti menunjukkan halaman buku yang kosong dengan tujuan agar siswa menggambarkan isi dongeng pada buku tersebut. Pada pembelajaran kali ini juga menggunakan permainan sebagai kegiatan untuk melatih pemahaman siswa mengenai dongeng dan materi senang bekerja, adapun permainan yang dilakukan ialah pesan berantai dimana siswa akan bekerja sama satu sama lain dalam kelompoknya. Pada pemberian soal latihan untuk bagian PKn siswa mengerjakan LKS dengan tema menjawab jenis kegiatan sedangakn Bahasa Indonesia peneliti menggunakan soal latihan berupa melengkapi gambar dengan naskah sesuai dongeng yang ditampilkan.

  Pada akhir pelajaran siswa diberikan soal evaluasi serta kuesioner minat untuk mengukur sejauh mana minat belajar siswa dengan pembelajaran menggunakan metode mendongeng. Peneliti juga memberikan penekanan materi melalui aktivitas nyata yakni siswa diminta secara sukarela untuk melakukan kegiatan senang bekerja yang dapat dilakukan saat ini. Beberapa siswa ingin untuk membawa kembali ke SD, ini semua dilakukan atas dasar inisiatif siswa sendiri sehingga peneliti tidak memberikan instruksi.

3. Observasi

  Serupa dengan siklus I, selama pelaksanaan pelajaran pada pertemuan siklus II ini tepatnya saat mendongeng, peneliti juga sempat melakukan observasi siswa. Peneliti juga menanyakan bagaimana penggunaan metode mendongeng ini kepada para siswa, berbagai respon bermunculan mulai dari senang akan dongeng yang dibawakan, menginginkan kegiatan seperti ini dilakukan lagi serta siswa yang enggan untuk mengakhiri pertemuan hari ini dan tetap ingin di halaman dan melakukan permainan.

  Pada pertemuan kali ini peneliti juga benar-benar berusaha untuk mengamati masing-masing siswa. Observasi dilakukan saat siswa mengerjakan soal latihan dan soal evaluasi, peneliti juga mengamati siswa sebagai data yang akan digunakan. Sejalan dengan siklus I, peneliti juga menggunakan bantuan kamera untuk merekam jalannya aktivitas pembelajaran dengan metode mendongeng. Observasi yang peneliti lakukan menggunakan rubrik observasi dan lembar kuesioner, adapun hasil observasi siklus II adalah sebagai berikut:

Tabel 4.8 Capaian Minat Belajar

  Siklus II

  Instrumen No Rata-rata Nama Observasi Kuesioner Keterangan urut minat (0-100) (0-100) Cukup

  1 HEN

  65 50 57,5

  Tinggi

  2 YUS

  85 70 77,5 Pada tabel di atas rata-rata kelas dari data observasi dan kuesioner didapat hasil yakni 88,2 dengan kategori sangat tinggi yang berarti kondisi ini meningkat dari siklus sebelumnya yang menunjukkan rata-rata 79,4. Pada siklus ini peneliti mengamati bahwa siswa yang sebelumnya belum meningkat antara kondisi awal dan siklus I kini sudah meningkat pada siklus II, siswa kini mampu mengikuti pembelajaran dengan baik dan menunjukkan minatnya terhadap pelajaran, peneliti

  6 BAY

  85 Tinggi

  Tinggi

  21 AND

  95 90 92,5

  Tinggi

  22 REZ 100

  90

  95 Tinggi

  23 WUL

  80

  80

  80 Tinggi

  24 RIA

  80

  90

  25 VAN 90 100

  Tinggi

  95 Tinggi

  26 NIK 95 100 97,5

  Tinggi

  27 DEO

  90

  80

  85 Tinggi

  28 MEI

  85 90 87,5

  Tinggi

  29 BIN

  85 90 87,5

  Tinggi

  Total 2557,5 Rata-rata kelas 88,2

  20 MAL 95 100 97,5

  19 VAN 85 100 92,5

  90

  95 Tinggi

  90

  90 Tinggi

  7 BEL 95 100 97,5

  Tinggi

  8 DEO

  85 80 82,5

  Tinggi

  9 DET 95 100 97,5

  Tinggi

  10 DEV 85 100 92,5

  Tinggi

  11 BAR 90 100

  95 Tinggi

  12 SHE 90 100

  13 FER

  75 Tinggi

  16 JOV 95 100 97,5

  70

  80

  18 GAD

  Tinggi

  17 MAR 95 100 97,5

  Tinggi

  Tinggi

  85 80 82,5

  75 80 77,5

  15 BIM

  Tinggi

  85 80 82,5

  14 CAR

  Tinggi

  Tinggi disaat siswa melihat dongeng yang ditampilkan serta melalui rekaman, siswa nampak lebih ceria, antusias dan semangat dalam pertemuan kali ini. Pada pertemuan ini siswa lebih rileks dalam menonton dongeng, lebih mudah mengungkapkan pendapat serta lebih bersemangat ketika melakukan berbagai aktivitas. Dari serangkaian penelitian yang telah dilakukan maka berikut perbandingan minat belajar kondisi awal dengan siklus II:

Tabel 4.9 Perbandingan Minat Belajar Kondisi Awal dengan Siklus II

  17 MAR

  Cukup Tinggi Meningkat

  13 FER

  Tinggi Tinggi Tetap

  14 CAR

  Rendah Tinggi Meningkat

  15 BIM

  Cukup Tinggi Meningkat

  16 JOV

  Tinggi Tinggi Tetap

  Rendah Tinggi Meningkat

  Cukup Tinggi Meningkat

  18 GAD

  Rendah Tinggi Meningkat

  19 VAN

  Rendah Tinggi Meningkat

  20 MAL

  Cukup Tinggi Meningkat

  21 AND

  Cukup Tinggi Meningkat

  22 REZ

  12 SHE

  11 BAR

  No Nama Keterangan Minat Belajar Keterangan (meningkat/menurun/tetap)

  5 PAN

  Siklus I Siklus II

  1 HEN

  Rendah Cukup Meningkat

  2 YUS

  Cukup Tinggi Meningkat

  3 FEB

  Rendah Tinggi Meningkat

  4 RAR

  Rendah Tinggi Meningkat

  Rendah Tinggi Meningkat

  Cukup Tinggi Meningkat

  6 BAY

  Rendah Tinggi Meningkat

  7 BEL

  Cukup Tinggi Meningkat

  8 DEO

  Rendah Tinggi Meningkat

  9 DET

  Tinggi Tinggi Tetap

  10 DEV

  Rendah Tinggi Meningkat Keterangan Minat Belajar Keterangan No Nama (meningkat/menurun/tetap)

  Siklus I Siklus II Rendah Tinggi Meningkat

  26 NIK Berdasarkan tabel di atas apabila dibandingkan dengann kondisi awal minat belajar maka dari 29

  Rendah Tinggi Meningkat

  27 DEO

  Rendah Tinggi Meningkat

  28 MEI

  Rendah Tinggi Meningkat

  29 BIN Berdasarkan tabel di atas apabila dibandingkan dengan kondisi awal minat belajar maka dari 29 siswa terdapat 3 siswa dinyatakan tetap dan 26 siswa meningkat, 3 siswa dengan kategori tetap tidak dipermasalahkan karena apada kondisi awalpun minat belajar mereka sudah dalam kategori tinggi, sehingga penggunaan metode mendongeng termasuk mampu mempertahankan minat belajar mereka. Minat belajar 26 siswa dinyatakan meningkat dari sebelumnya yang berada pada kategori rendah dan cukup berminat. Dengan adanya data tersebut maka penggunaan metode mendongeng dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas II juga mampu mempertahankan minat belajar siswa yang sebelumnya telah berminat. Pada akhir siklus II, peneliti juga memberikan tes evaluasi prestasi belajar dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.10 Capain Hasil Prestasi Belajar Siswa Siklus II

  Ketuntasan No urut Nilai Ya Tidak

  30

  1 √

  50

  2 √

  3

  80

  √

  90

  4 √

  95

  5 Berdasarkan tabel tersebut diketahui bahwa rata-rata prestasi belajar siswa yakni 81,5. Pada siklus II ini ketuntasan belajar siswa menjadi 79,31% dengan jumlah siswa tuntas sebanyak 23 siswa dari jumlah 29 siswa. Kondisi ini

  Ya Tidak

  √

  80

  √

  21

  95

  √

  22

  85

  √

  23

  65

  √

  24

  90

  25

  √

  95

  √

  26

  80

  √

  27

  95

  √ 28 100 √

  29

  100

  √ Jumlah

  2365

  23

  6 Rata-rata 81,5

  20

  55

  7

  √

  100

  √

  8

  80

  √ 9 100 √

  10

  90

  √

  11

  80

  √

  12

  85

  13

  19

  60

  √

  14

  30

  √

  15

  85

  √

  16

  90

  √ 17 100 √

  18

  80

  √

  Persentase 79,31% 20,69%

4. Refleksi

  Pelaksanaan penelitian pada siklus II ini dilakukan dengan banyak perbaikan dari siklus sebelumnya, di mana proses pembelajaran kali ini lebih berfokus pada pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan saat mendongeng. Pada proses pembelajaran siswa lebih aktif dan berminat yang ditunjukkan dengan meningkatnya partisipasi siswa saat peneliti mendongeng, misalnya saat peneliti meminta bantuan siswa akan lebih banyak siswa yang menawarkan diri daripada sebelumnya, apabila siklus sebelumnya beberapa siswa mendominasi, kini mayoritas siswa mampu mengikuti pembelajaran dengan lebih baik. Siswa lebih fokus saat melihat peneliti mendongeng, dan tidak hanya fokus pada alat peraga saja, namun juga terhadap isi cerita yang didengar dan ketika bertanya jawab mengenai materi siswa kini lebih percaya diri untuk menceritakan pengalaman yang dimiliki dengan bantuan contoh pengalaman yang ada dalam dongeng.

  Dalam pelaksanaan penelitian pada siklus II rata-rata minat belajar dan prestasi belajar siswa menunjukkan peningkatan. Siklus II menunjukkan peningkatan dari siklus I di mana rata-rata minat belajar siswa siklus II sudah mencapai target akhir yang ditentukan yakni 88,2 dari target 85, sedangkan untuk prestasi belajar siklus II yakni 80,9 sudah mencapai targer akhir prestasi belajar yakni 80. Berdasarkan refleksi dalam penggunaan metode mendongeng, hasil yang diperoleh dari rata-rata minat belajar, rata-rata prestasi belajar dan persentase ketuntasan yang meningkat serta tercapainya target akhir penelitian maka peneliti

4.2 Pembahasan

4.2.1 Minat belajar

  Pembelajaran Pkn dengan menggunakan metode mendongeng di kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu yang telah dilaksanakan selama dua siklus dengan empat kali pertemuan sudah berjalan sesuai rencana. Proses penggunaan metode mendongeng pada siklus I terbilang lancar namun terdapat beberapa kendala, dikatakan lancar karena seluruh siswa menyimak dongeng dengan baik dan antusias, mulai dari peneliti memperkenalkan tokoh, kegiatan tokoh yang patut dicontoh dan kejadian-kejadian lucu dalam dongeng semua dapat diikuti siswa dengan baik. Penggunaan metode ini juga sangat disukai siswa karena dalam penyampaiannya menggunakan media yang menarik, bervariasi dan mudah ditangkap oleh siswa. Penggunaan gambar, kostum dan cerita yang lucu serta tokoh dalam dongeng yang menggemaskan membuat siswa betah memperhatikan peneliti saat mendongeng. Beberapa kendala juga bermunculan seperti disaat peneliti meminta bantuan dalam dongeng siswa cenderung berebut serta posisi tempat duduk yang membuat beberapa siswa iri.

  Hasil dari penelitian untuk minat belajar ditentukan dari dua data yang diperoleh yakni melalui observasi dan melalui kuesioner. Data minat belajar siswa dikumpulkan dari dua instrumen yaitu lembar observasi dan lembar kuesioner. Lembar observasi secara khusus dibagi menjadi dua bagian yakni aspek afektif siswa dan aspek psikomotorik siswa, sedangkan lembar kuesioner dibagikan kondisi awal untuk minat belajar siswa yang didapat yaitu 54,8 dengan kategori rendah.

  Dalam pelaksanaan siklus I siswa nampak antusias terhadap metode yang digunakan, mulai dari proses pembelajaran hingga media yang digunakan membuat siswa merasa senang, kemudian pada akhir siklus peneliti menghitung nilai rata-rata minat belajar siklus I yakni 79,4 dengan kategori tinggi. Kondisi ini meningkat dari kondisi awal, di mana siswa belajar tanpa metode mendongeng namun kondisi pada siklus I dengan hasil 79,4 belum mencapai kriteria keberhasilan siklus I yang diharapkan yakni 80. Pada siklus ini pula rata-rata nilai minat belajar semua individu mengalami kenaikan namun tidak jauh dari rata-rata kondisi awal, ini dikarenakan siswa baru pertama kali belajar dengan metode mendongeng oleh karenanya penelitian akan dilanjutkan pada siklus II.

  Proses pembelajaran pada siklus II ini telah dipersiapkan dengan lebih baik oleh peneliti. Suasana belajar yang diciptakan semakin menarik siswa dengan melakukan berbagai kegiatan dalam mendongeng seperti permainan, lokasi pembelajaran juga berbeda, di mana peneliti membawa siswa menuju lokasi outdoor di halaman Gereja di dekat sungai agar sesuai dengan tema dongeng yang dibawakan. Peneliti juga lebih banyak melibatkan siswa dalam proses mendongeng, misalnya dengan membuat sayembara nama untuk tokoh dongeng, media kertas sengaja dibuat kosong dengan tujuan agar siswa yang menggambarnya serta dengan melibatkan siswa dalam aktivitas tokoh dalam Respon siswa terhadap proses pembelajaran kali ini lebih baik dari siklus sebelumnya.

  Suasana pembelajaran yang dibuat menarik dan berbeda dengan keseharian siswa seperti ini membuat siswa nampak lebih antusias sehingga perolehan rata-rata minat belajar siklus II meningkat menjadi 88,2 dengan kategori tinggi. Siklus kedua ini juga berhasil memenuhi target akhir siklus II yakni 85. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pemecahan kendala yang peneliti temukan pada siklus I serta perbaikan yang dilakukan meliputi bahan ajar dalam dongeng, media yang lebih komunikatif, tempat dalam mendongeng serta penguasaan teknik mendongeng yang lebih di pelajari oleh peneliti. Peneliti juga menggunakan media yang bervariasi sehingga siswa tidak bosan dan tidak menduga hal baru yang akan digunakan sehingga unsur surprise membuat siswa merasa senang pada setiap pertemuan. Selain itu refleksi yang peneliti buat pada akhir siklus I untuk memperbaiki proses mendongeng agar dapat berjalan dengan baik dan berdasarkan data yang telah dijelaskan maka metode mendongeng

dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas II pada mata pelajaran PKn .

Tabel 4.11 Rangkuman Minat Belajar Siswa pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II Berdasarkan Observasi dan Kuesioner No. Sebelum tindakan Sesudah tindakan Kondisi awal Siklus I Siklus I Rata-rata minat Ket. Rata-rata minat Ket. Rata-rata minat Ket.

  92,5 Tinggi

  80 Tinggi

  90 Tinggi

  45 Rendah

  23

  95 Tinggi

  95 Tinggi

  55 Rendah

  22

  65 Cukup 92,5 Tinggi

  60 Cukup

  21

  95 Tinggi 97,5 Tinggi

  60 Cukup

  20

  92,5 Tinggi

  67,5 Tinggi

  75 Tinggi 19 52,5 Rendah

  55 Rendah 72,5 Tinggi

  18

  24

  80 Tinggi

  45 Rendah

  28

Tabel 4.12 Rangkuman Klasifikasi Capaian Minat Belajar Siswa

  54,8 Rendah 79,4 Tinggi 88,2 Tinggi

  Total 1590 2302,5 2557,5 Rata- rata kelas

  87,5 Tinggi

  55 Rendah 72,5 Tinggi

  29

  75 Tinggi 87,5 Tinggi

  50 Rendah

  85 Tinggi

  85 Tinggi

  55 Rendah 87,5 Tinggi

  27

  97,5 Tinggi

  55 Rendah 92,5 Tinggi

  26

  95 Tinggi

  90 Tinggi

  45 Rendah

  25

  80 Tinggi 97,5 Tinggi

  17

  1

  5

  60 Cukup 82,5 Tinggi

  7

  90 Tinggi

  75 Tinggi

  50 Rendah

  6

  97,5 Tinggi

  45 Rendah 97,5 Tinggi

  87,5 Tinggi

  8

  62,5 Cukup

  80 Tinggi 4 52,5 Rendah

  50 Cukup

  45 Rendah

  3

  70 Tinggi 77,5 Tinggi

  2 57,5 Cukup

  70 Tinggi 57,5 Cukup

  35 Rendah

  97,5 Tinggi

  45 Rendah 77,5 Tinggi

  85 Tinggi 97,5 Tinggi

  95 Tinggi 13 67,5 Tinggi

  16 72,5 Tinggi

  77,5 Tinggi

  65 Cukup 72,5 Tinggi

  15

  82,5 Tinggi

  50 Rendah 72,5 Tinggi

  14

  75 Tinggi 82,5 Tinggi

  67,5 Tinggi

  82,5 Tinggi

  95 Tinggi 12 57,5 Cukup

  85 Tinggi

  11 62,5 Cukup

  92,5 Tinggi

  60 Cukup 77,5 Tinggi

  10

  97,5 Tinggi

  92,5 Tinggi

  9 67,5 Tinggi

  

Klasifikasi Jumlah Tinggi Cukup Rendah Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa pada kondisi awal bahwa 17 siswa pada klasifikasi rendah, 9 siswa pada kalsifikasi cukup dan sisanya 3 siswa pada klasifikasi tinggi dalam capaian minat belajar. Setelah pelaksanaan siklus I diketahui bahwa 27 siswa termasuk klasifikasi tinggi sedangkan klasifikasi cukup hanya 2 siswa, dan tidak ada siswa dengan minat belajar rendah. Pada siklus II dengan metode mendongeng semakin menambah jumlah siswa yang masuk ke dalam klasifikasi tinggi yakni 28 siswa dan 1 siswa berada pada klasifikasi cukup.

4.2.2 Prestasi belajar

  Peneliti juga menggunakan metode mendongeng untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn dari kondisi sebelumnya. Proses pembelajaran dengan metode mendongeng berjalan sesuai rencana yang telah dibuat, pada kegiatan apersepsi peneliti mengajak siswa untuk bernyanyi sebagai pengantar menuju metode yang akan digunakan sebelum pada akhirnya peneliti mulai mendongeng. Proses pembelajaran berjalan dengan penuh semangat dari siswa, di mana siswa terlihat senang, tidak terbebani dengan materi yang diberikan, antusias dalam menjawab pertanyaan serta tidak mengeluh atas tugas-tugas dalam LKS yang diberikan kepada mereka.

  Hasil dari prestasi belajar kondisi awal didapat dari data tahun sebelumnya yakni nilai ulangan. Nilai rata-rata prestasi belajar tersebut adalah 74,9 dengan jumlah siswa tuntas belajar atau mencapai KKM sebanyak 16 siswa dari 30 total pesan berupa materi pelajaran yang diatur dan disampaikan dalam alur cerita dongeng. Dalam proses pembelajaran siswa mampu mengikuti pelajaran dengan baik, media yang digunakan juga belum pernah ada di kelas ini, sehingga bagi siswa benar-benar sesuatu yang baru pertama dilakukan di kelas mereka. Untuk mendapatkan data penelitian maka peneliti membagikan soal evaluasi yang diberikan pada akhir siklus I, dengan rata-rata prestasi belajar siswa yang didapat yakni sebesar 75,9 dengan jumlah siswa tuntas sebanyak 20 siswa atau 68,97% sedangkan 9 siswa atau 31,03% masih berada di bawah KKM.

  Belajar dari kendala yang dihadapi pada siklus I, maka peneliti menggunakan beberapa strategi baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, seperti dengan berfokus pada masing-masing individu saat mendongeng agar mereka merasa terlibat dan aktif, mengatur ruangan atau lokasi penelitian sehingga siswa tidak bosan, menggunakan alat peraga yang lebih baik, serta memberikan contoh materi dalam bentuk kegiatan atau perilaku nyata yang ada di sekitar siswa ke dalam dongeng yang disampaikan, sehingga melalui contoh-contoh dan konsep yang ada siswa akan lebih mengeksplor pemahaman mereka sendiri. Pada saat mendongeng peneliti juga memberikan banyak kesempatan bagi siswa untuk bertanya sehingga tidak perlu menunggu akhir cerita untuk bertanya namun tetap dengan peraturan yang baik. Segala usaha yang dilakukan menunjukkan hasil yang baik dengan data prestasi belajar yang diperoleh pada siklus II yakni sebesar 81,5 dengan jumlah siswa tuntas 23 dari 29

  Pada siklus II ini masih terdapat 6 anak yang belum tuntas belajar, peneliti kemudian mengamati kondisi anak tersebut dan melakukan beberapa tanya jawab ringan sebagai refleksi peneliti, setelah mengamati beberapa anak tersebut diketahui bahwa 3 anak memang cenderung kurang cepat menangkap materi dalam mengikuti pelajaran yang selalu diberikan baik dari guru kelas sendiri maupun peneliti, 1 anak lainnya antusias dengan metode namun terlalu banyak bercanda sehingga kehilangan fokus belajar dan menurun dari siklus sebelumnya, sedangkan 2 anak lain memang tidak fokus dengan soal yang diberikan terbukti dengan lembar jawaban yang tidak diisi dalam pengerjaannya, walaupun demikian penelitian siklus II telah mencapai target akhir penelitian yakni 80 pada nilai rata-rata kelas dan sudah mencapai target akhir yakni 75% ketuntasan, dan

  metode mendongeng dapat meningkatkan prestasi

  berdasarkan data tersebut

  

belajar siswa kelas II pada mata pelajaran PKn. Berikut merupakan rangkuman

  dari data prestasi belajar siswa:

Tabel 4.13 Rangkuman Prestasi Belajar Siswa pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II No Sebelum tindakan Sesudah tindakan Kondisi awal Siklus I Siklus II Nilai Ketuntasan Nilai Ketuntasan

  80 Tuntas

  60 Tidak tuntas

  23

  85 Tuntas

  85 Tuntas

  22

  95 Tuntas

  70 Tuntas

  21

  75 Tuntas

  24

  20

  55 Tidak tuntas

  80 Tuntas

  19

  80 Tuntas

  80 Tuntas

  18

  75 Tuntas 100 Tuntas

  65 Tidak tuntas

  75 Tidak tuntas

  90 Tuntas

  28

  14 siswa 9 siswa 6 siswa Persentase pencapaian

  16 siswa 20 siswa 23 siswa tidak tuntas

  74,9 75,9 81,5 tuntas

  2200 2365 Rata-rata kelas

  Total

  75 Tuntas 100 Tuntas

  29

  85 Tuntas 100 Tuntas

  95 Tuntas

  90 Tuntas

  80 Tuntas

  27

  80 Tuntas

  90 Tuntas

  26

  95 Tuntas

  80 Tuntas

  25

  17

  80 Tuntas

  1

  75 Tuntas

  90 Tuntas 100 Tuntas

  7

  85 Tuntas 100 Tuntas

  6

  95 Tuntas

  95 Tuntas

  5

  90 Tuntas

  4

  70 Tidak tuntas

  80 Tuntas

  70 Tidak tuntas

  3

  50 Tidak tuntas

  40 Tidak tuntas

  2

  30 Tidak tuntas

  55 Tidak tuntas

  8

  80 Tuntas

  16

  13

  85 Tuntas

  55 Tidak tuntas

  15

  30 Tidak tuntas

  75 Tidak tuntas

  14

  60 Tidak tuntas

  80 Tuntas

  85 Tuntas

  9

  80 Tuntas

  12

  80 Tuntas

  65 Tidak tuntas

  11

  90 Tuntas

  90 Tuntas

  10

  85 Tuntas 100 Tuntas

  53,33% 68,97% 79,31%

  • - 70
  • - 70
  • - 50
  • - 62,5
  • - 97,5
  • - 75
  • - 82,5
  • - 77,5
  • - 92,5
  • - 77,5
  • - 85
  • - 67,5

  • - 75
  • - 72,5
  • - 72,5
  • - 85
  • - 80
  • - 72,5
  • - 67,5
  • - 95
  • - 92,5
  • - 95
  • - 90
  • - 80
  • - 90
  • - 92,5
  • - 87,5
  • - 75
  • - 72,5

  92,5

  55

  20

  65

  75

  97,5

  80

  21

  75

  70

  92,5

  95

  22

  65

  85

  80

  19

  62,5

  17

  85

  16

  77,5

  80

  97,5

  90

  67,5

  80

  75

  97,5

  100

  18

  60

  80

  75

  95

  85

  23

  85

  70

  80

  85

  95

  28

  70

  87,5

  80

  100

  29

  57,5

  75

  87,5

  100 rerata kelas 62,7 74,9 79,4 75,9 88,2 81,5

  27

  97,5

  55

  85

  60

  80

  65

  24

  65

  75

  90

  90

  25

  50

  80

  95

  95

  26

  60

  77,5

  65

  55

  95

  87,5

  90

  5

  72,5

  95

  97,5

  6

  52,5

  57,5

  85

  90

  100

  7

  75

  75

  4

  97,5

  2

Tabel 4.14 Capaian Minat Belajar dan Prestasi Belajar Siswa pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II No Kondisi Awal Siklus I Siklus II Minat Prestasi Minat Prestasi Minat Prestasi

  1

  40

  55

  57,5

  30

  60

  80

  40

  77,5

  50

  3

  45

  70

  80

  90

  100

  15

  67,5

  12

  57,5

  80

  95

  85

  13

  80

  95

  82,5

  60

  14

  57,5

  75

  82,5

  30

  80

  65

  8

  85

  47,5

  70

  82,5

  80

  9

  85

  97,5

  75

  100

  10

  60

  90

  92,5

  90

  11

  Tabel di atas menunjukkan bahwa peningkatan minat belajar juga diimbangi dengan peningkatan yang terjadi pada prestasi belajar siswa, sehingga metode

  Pada penelitian ini, diketahui bahwa indikator keberhasilan telah disusun oleh peneliti sebelumnya dan berikut rangkuman hasil capaian minat belajar dan prestasi belajar siswa mulai dari kondisi awal hingga akhir siklus I dan akhir siklus II:

Tabel 4.15 Keberhasilan Penelitian

  Kondisi Siklus I Siklus II Peubah Indikator awal Target Capaian Target Capaian Minat Nilai 54,8

  80 79,4 85 88,2 belajar rata-rata siswa minat Nilai rata-rata 74,9

  75 75,9 80 81,5 kelas Prestasi Persentase belajar jumlah siswa siswa yang

  53,33% 70% 68,97% 75% 79,31% mencapai KKM

  Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa target penelitian baik pada variabel minat belajar siswa maupun prestasi belajar siswa sudah memenuhi target akhir dari penelitian sehingga penelitian ini dapat dikatakan berhasil.

Gambar 4.1 Diagram Capaian Minat BelajarGambar 4.2 Diagram Capaian Prestasi Belajar

4.3 Keterbatasan Penelitian

  Penelitian yang dilakukan di kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu memiliki keterbatasan antara lain:

  1. Pelaksanaan penelitian dengan jadwal yang terlalu dekat antara satu pertemuan dengan pertemuan lain membuat persiapan begitu mendesak dalam menyiapkan ruangan serta perangkat pembelajaran.

  2. Jumlah siswa yang mencapai 29 siswa membuat peneliti sempat susah mengatur siswa dan suasana belajar membutuhkan ekstra perhatian, karena jumlah siswa ideal dalam satu kelas tidak lebih dari 20 siswa.

  3. Penggunaan metode mendongeng yang baru pertama kalinya dilakukan di SD Pangudi Luhur terutama di kelas II, membuat siswa belum begitu mengenal metode ini dan hasil pencapaian tidak bisa jauh melebihi target, namun hanya terpaut beberapa angka di atas target, akan tetapi peneliti tetap puas dengan target yang

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap siswa kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu pada mata pelajaran PKn dengan menggunakan metode mendongeng dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Upaya peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu semester genap tahun pelajaran 2012/2013 dilaksanakan dengan menggunakan metode mendongeng dengan langkah-langkah yaitu: (1) Pemilihan cerita yang sesuai dengan materi pelajaran, (2) Mengkondisikan siswa di kelas, (3) Menunjukkan media yang akan digunakan pada siswa, (4) Guru mendongeng menggunakan media dengan melibatkan siswa, (5) Guru mengajukan pertanyaan tentang tokoh dan amanat dalam dongeng, (6) Guru mengkaitkan dongeng dengan materi pelajaran melalui tanya jawab.

  2. Penggunaan metode mendongeng dapat meningkatkan minat belajar PKn pada siswa kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu semester genap tahun pelajaran 2012/2013 dalam materi mengenal nilai-nilai kehidupan. Pada kondisi awal minat belajar siswa adalah 54,8. Pada siklus I meningkat menjadi 79,4 pada siklus I dan pada meningkat menjadi 88,2.

  112 pelajaran 2012/2013 dalam materi mengenal nilai-nilai kehidupan. Pada kondisi awal rata-rata prestasi belajar adalah 74,9 dengan ketuntasan

  53,33%. Pada siklus I rata-rata prestasi belajar meningkat menjadi 75,9 dengan ketuntasan 68,97% dan pada siklus II rata-rata prestasi belajar meningkat menjadi 81,5 dengan ketuntasan 79,31%.

5.2 Saran

  1. Bagi guru kelas Metode mendongeng sangat baik digunakan untuk menjadi pilihan mengajar di sekolah dasar, terutama di kelas bawah. Metode mendongeng juga terbukti mampu meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa, di samping banyaknya interaksi baik yang terjalin antara guru dan siswa, penyampaian materi akan terasa lebih menyenangkan dan berbeda sehingga membuat siswa menjadi senang, tertarik dan mudah mengingat sebuah pesan yang terkandung dalam dongeng. Guru hendaknya juga menambah penggunaan metode mendongeng tidak hanya dalam satu mata pelajaran tetapi juga pada mata pelajaran lainnya.

  2. Bagi sekolah Sekolah hendaknya memberikan fasilitas bagi guru kelas untuk menyediakan beberapa media dalam pembelajaran, sehingga usaha sekolah akan sejalan dengan usaha guru untuk menciptakan nuasansa baru dalam

  113 mendongeng di luar ruangan atau luar sekolah. Sekolah juga dapat mencari beberapa narasumber mendongeng untuk dihadirkan di sekolah sehingga metode mendongeng dapat semakin meluas dan digunakan dalam proses pembelajaran.

  3. Bagi Peneliti Selanjutnya Saran bagi peneliti selanjutnya ialah terus gali manfaat dari metode mendongeng. Peneliti berharap bahwa metode mendongeng dapat diaplikasikan tidak hanya pada mata pelajaran Pkn saja tetapi pada semua mata pelajaran. Peneliti selanjutnya juga hendaknya menggunakan berbagai variasi lain dalam mendongeng sehingga dapat bermunculan ide-ide baru dalam proses mendongeng yang kreatif dan inovatif. Penelitian selanjutnya juga harus berani membuat sebuah gebrakan baru dengan memberikan gagasan baru dalam proses belajar mengajar dengan mendongeng. Selain itu sebelum melakukan penelitian alangkah baiknya mengkoordinasi waktu penyelenggaraan penelitian dengan pihak sekolah dengan baik dan matang mengingat jadwal sekolah yang kadang bersamaan dengan pelaksanaan acara atau kegiatan pendidikan yang berdampak pada libur untuk siswa.

  114 Arikunto, Suharsimi. 1980. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi.

  Jakarta: PT Rineka Cipta. Aziz Abdul, Abdul Majid. 2002. Mendidik dengan Cerita. Bandung: Remaja Rosdakarya.

  Bimo. 2011. MahirMendongeng. Yogyakarta: Pro-U Media. Cakra, Heru. 2012. Mendongeng dengan Mata Hati. Surabaya: Mumtaz Media.

  Darsono, Max. dkk. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press. DS, Agus. 2008. Mendongeng Bareng Kak Agus DS Yuk. Yogyakarta: Kanisius. DS, Agus. 2009. Tips Jitu Mendongeng. Yogyakarta: Kanisius Endraswara, Suwardi. 2002. Metode Pengajaran Apresiasi Sastra.

  Yogyakarta: Radhita Buana. Hartiningsih .2003. Kemampuan Menyimak Dongeng Detektif Kancil

  Melalui Media Audio Visual Siswa Kelas I Sekolah Dasar Pius I Wonosobo Tahun Ajaran 2002/2003. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Hawadi, Reni Akbar. 2004. A-Z Informasi Program Percepatan Belajar dan Anak berbakat Intelektual. Jakarta: PT Grasindo. Hendri. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Dongeng. Bandung:

  Simbiosa Rekatama Media Kasboelah Kasihani. 2001. Penelitian tindakan kelas. Malang: Universitas Negeri Malang. Kunandar. 2009. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Pres.

  Latif, Abdul M. 2010. The Power of Story Telling

  • Kekuatan dongeng Terhadap Pembentukan Karakter Anak. Jakarta: Luxima.

  115 Masidjo. 1995. Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah.

  Yogyakarta: Kanisius. Nona, Regina. 2011. Kemampuan Mneyimak Cerita Anak Sepatu Baru

  Melalui Media Audiovisual pada Siswa Kelas II SD Kanisius Wirobrajan Yogyakarta Tahun Ajaran 2010/2011. Yogyakarta. Universitas Sanata Dharma. Notoatmodjo, Soekidjo. 1991. Pengembangan Sumber Daya Manusia.

  Jakarta: Rineka Cipta. Pasaribu, dkk. 1983. Proses Belajar Mengajar. Bandung : Tarsito. Priyono, Kusumo Ars. 2006. Terampil Mendongeng. Jakarta: Gramedia. Purnomo, Joko. 2012. Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar

  Menggunakan Metode Eksperimen pada Materi Sifat-Sifat Cahaya Siswa Kelas V SD Negeri 1 Bakung, Klaten Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Roestiyah. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Sadiman, Arief, M.SC, dkk. 1984. Media Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo.

  Sarosa, Samiaji dan Bambang Sarwiji. 2012. Penelitian Kualitatif Dasar- dasar. Jakarta: Indeks. Silfiana, Mety. 2010. Penerapan Pendekatan PAKEM untuk Meningkatkan

  Kemampuan Mengapresiasi Dongeng Siswa Kelas V SDN 1 Panjangrejo Pundong Bantul Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Semarang: Rumah Indonesia.

  Slameto. 2010. Belajar dan Faktor faktor yang mempengaruhinya.

  Jakarta: PT Rineka Cipta. Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

  116 Sugiyono. 2010. Metode penelitian pendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D).Bandung: Alfabeta. Sukardi, H.M. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Tindakan Kelas.

  Jakarta: Bumi Aksara. Sunaryo. 1995. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.

  Bandung: FKSS – IKIP. Wasimin. 2009. Peningkatan kompetensi berbicara siswa SD melalui metode role play. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol 15 No 1,

  Januari 2009. Wijaya Kusumah, & Dedi Dwitagama. 2010. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta: Indeks.

  Winkel, W.S. 1983. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia. Zainal Aqib. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Yrama Widya.

LAMPIRAN: SILABUS RPP LEMBAR KERJA SISWA

  118

SILABUS

  b. Menjelaskan pengertian disiplin.

  16 x 35 menit Sumber Pembelajaran:

  a. tidak berbohong b. berterus terang

  1. Jujur artinya sebagai berikut, kecuali …

  Observasi Psikomotori

  Afektif: Rubrik

  Kognitif: Pilihan ganda

  c. Memberikan contoh Tes dan non tes

  a. Menjelaskan pengertian kejujuran.

  Nama Sekolah : SD Pangudi Luhur Sedayu Mata Pelajaran : Tematik - Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Bahasa Indonesia. Kelas / Semester : II / 2 Standar Kompetensi

  Kegiatan Inti Kognitif:

  b. Siswa menyanyikan lagu sebagai apersepsi.

  a. Guru mengucapkan salam, doa serta presensi.

  Siklus I Pertemuan 1 Kegiatan Pembukaan

  Kejujuran dan Disiplin

  4.1 Mengenal nilai kejujuran, kedisiplinan , dan senang bekerja

  Kompetensi Dasar Materi Ajar Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi waktu Sumber/bahan Teknik belajar Bentuk instrumen Contoh instrumen PKn

  PKn : 4. Menampilkan nilai-nilai Pancasila Bahasa Indonesia : 5. Memahami pesan pendek dari dongeng yang dilisankan

   Halili dan Dwi Sunu Prioko. 2009. Wahana Belajar Pendidikan Kewarganegar aan untuk Eksplorasi perbuatan jujur k: Rubrik

  c. berkata Sekolah

  a. Guru mulai dan displin di Observasi dusta Dasar/Madras mendongeng. sekolah dan ah Ibtidaiyah b. Siswa dan guru di rumah.

  2. Sikap jujur Kelas II.

  berinteraksi dalam

  d. Membedakan perlu Jakarta: kegiatan mendongeng contoh dilakukan Departemen komunikatif. perbuatan jujur

  Pendidikan

  di … Elaborasi dan tidak jujur.

  a. rumah Nasional.

  Kegiatan 1

  b. di sekolah Afektif :

   Sri Sadiman

  a. Siswa diminta Menunjukkan

  c. di mana saja dan Mahfud.

  menanggapi atau wajah ceria, 2009. memberikan bersemangat dan

  Pendidikan komentar mengenai senang dalam Kewarganegar dongeng yang sudah pelajaran. aan untuk SD ditampilkan.

  Psikomotorik:

  dan MI Kelas

  b. Siswa mengerjakan Terlibat bertanya

  II. Jakarta: lembar kerja PKn jawab dan Departemen

  c. Siswa menuliskan berpendapat dalam Pendidikan contoh-contoh lain proses Nasional. mengenai kegiatan pembelajaran.

  119 disiplin, jujur, tidak Media Belajar: disiplin dan tidak

   Dongeng jujur.  Wayang Kegiatan 2 karton

  a. Siswa memberikan  Background tanggapan mengenai buatan dongeng tersebut.

   Papan bambu

  b. Selama 15 menit  Papan manila siswa mengerjakan  Kain kostum lembar kerja Bahasa  Lembar Kerja Indonesia .

  Siswa (LKS) Konfirmasi

  a. Guru mengecek hasil kerja siswa baik PKn maupun Bahasa Indonesia.

  b. Guru memberi peneguhan jawaban siswa yang salah.

  Kegiatan Penutup 120

  121 Bahasa Indonesia

  Eksplorasi

  1. Tuliskan dengan bahasamu sendiri dongeng Kelinci Putih yang Selalu Jujur!

  Tes dan non tes

  Afektif:

  c. Menyebutkan tema dongeng.

  b. Menyebutkan sifat tokoh dalam dongeng.

  a. Menyebutkan nama tokoh dalam dongeng.

  Kognitif:

  Kegiatan Inti

  5.2 Menceritakan kembali isi dongeng yang didengarnya.

  b. Siswa menyanyikan lagu sebagai apersepsi.

  a. Guru mengucapkan salam, doa serta presensi.

  Siklus I Pertemuan 2 Kegiatan Pembukaan

  Siswa diberikan tindak lanjut berupa tugas.

  b.

  a. Siswa dan guru merangkum dan menyimpulkan pembelajaran yang dilakukan hari ini.

  Unsur Cerita

   Iskandar dan Sukini. 2009. Bahasa Indonesia untuk Kelas 2 SD/MI. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

  122

  a. Guru mulai mendongeng.

  b. Beberapa siswa memperagakan tokoh dongeng. Elaborasi

  a. Siswa membentuk kelompok.

  b. Siswa mengerjakan lembar kerja PKn c. Siswa mengisi papan identifikasi dongeng.

  d. Siswa mengerjakan lembar kerja Pkn dan Bahasa Indonesia. Konfirmasi

  a. Guru mengecek hasil kerja siswa baik PKn maupun Bahasa Indonesia.

  Menunjukkan wajah ceria, bersemangat dan senang dalam pelajaran.

  Psikomotorik:

  Menuliskan kembali dongeng yang diperagakan dengan kalimat sendiri. b. Guru memberi peneguhan jawaban siswa yang salah.

  Kegiatan Penutup

  a. Siswa dan guru merangkum dan menyimpulkan pembelajaran yang dilakukan hari ini.

  Mengetahui,

  123

  Penilaian Materi Alokasi Sumber/bahan

  

Kegiatan Pembelajaran Indikator Bentuk Contoh

Ajar Teknik waktu belajar instrumen instrumen

  Tes dan Kognitif:

  1. Giat dalam 16 x 35 Sumber

  PKn Siklus II Pertemuan 1 Kognitif:

  4.1 Mengenal Senang

  a. Menjelaskan non tes Pilihan bekerja menit Pembelajaran:

  Kegiatan Awal

  nilai Bekerja

  a. Guru mengucapkan pengertian ganda merupakan  Halili dan Dwi kejujuran, salam, doa serta senang bekerja. pertanda Sunu Prioko. kedisiplinan presensi.

  b. Memberikan Afektif: sifat orang 2009. Wahana

  , dan senang

  b. Siswa menyanyikan contoh Rubrik yang … Belajar bekerja lagu sebagai perbuatan Observasi

  a. hemat Pendidikan apersepsi. senang bekerja b. sopan Kewarganegar

  Kegiatan Inti di sekolah dan Psikomotori

  c. rajin aan untuk Eksplorasi di rumah. k: Rubrik

  Sekolah

  a. Guru Afektif: Observasi

  2. Jika bekerja Dasar/Madras

  mengkondisikan Menunjukkan dengan giat ah Ibtidaiyah siswa dalam posisi wajah ceria, maka Kelas II. duduk bersemangat dan kebutuhan

  Jakarta:

  b. Siswa dan guru senang bekerja kita akan Departemen berinteraksi dalam dalam pelajaran.

  dapat … Pendidikan

  kegiatan

  a. terpenuhi Nasional.

  124

  125

  mendongeng komunikatif.

  Kegiatan Inti

  Eksplorasi

  a. Guru mulai mendongeng.

  b. Siswa dan guru berinteraksi dalam kegiatan mendongeng komunikatif. Elaborasi

  a. Siswa menceritakan kembali dongeng yang didengar secara berpasangan.

  b. Siswa menanggapi teman yang maju.

  c. Siswa melakukan permainan d. Siswa melakukan

  Psikomotorik:

  Terlibat dalam kegiatan permainan, tanya jawab dan berpendapat dalam proses pembelajaran.

  b. bertambah

  c. berkurang

   Sri Sadiman dan Mahfud. 2009. Pendidikan Kewarganegar aan untuk SD dan MI Kelas

  II. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

  Media Belajar:  Dongeng  Wayang karton  Buku raksasa buatan  Papan manila  Kain kostum tugas yang didapat  Properti lain dalam permainan  Lembar Konfirmasi

  Kerja Siswa

  a. Guru memberi (LKS) peneguhan terhadap

   Tikar jawaban siswa yang  Meja salah.

  Kegiatan Penutup

  a. Siswa dan guru merangkum dan menyimpulkan pembelajaran yang dilakukan hari ini.

  b. Guru mengadakan sayembara pemberian nama tokoh.

  126

  Bahasa Unsur Siklus II Pertemuan 2 Kognitif :

  1. Ceritakan

   Iskandar dan Cerita

  a. Menyebutkan kembali

  Indonesia Kegiatan Pembukaan Sukini. 2009.

  5.2

  a. Guru mengucapkan peristiwa yang dongeng Bahasa

  Menceritakan salam, doa serta terjadi dalam yang kamu Indonesia kembali isi presensi. dongeng. dengar untuk Kelas 2 dongeng yang b. Menuju lokasi

  b. Menyebutkan dengan SD/MI. didengarnya. halaman Gereja pesan/amanat bahasamu

  Jakarta: dalam dongeng. sendiri!

  Kegiatan Inti

  Departemen Eksplorasi

  Afektif:

  Pendidikan

  a. Guru mendongeng. Mendengarkan dan Nasional.

  b. Tanya jawab tentang menghargai teman dongeng. yang menceritakan c. Siswa mengerjakan dongeng. soal isian gambar. Psikomotorik:

  d. Siswa bergantian Menceritakan membacakan hasil kembali dongeng kerja. yang diperagakan

  Elaborasi dengan bahasa a. Siswa melakukan sendiri. permainan.

  127 b. Siswa melakukan tugas mereka sesuai dengan yang mereka dapat. Konfirmasi

  a. Guru memberi peneguhan terhadap jawaban siswa.

  Kegiatan Penutup

  a. Siswa dan guru merangkum dan menyimpulkan pembelajaran.

  b. Doa dan salam penutup Mengetahui,

  128

  129 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

  

(RPP)

Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar Nama Sekolah : SD Pangudi Luhur Sedayu Mata Pelajaran : Tematik (PKn, Bahasa Indonesia) Kelas / Semester : II / 2 Hari / Tanggal : 21 Maret 2013 dan 22 Maret 2013 Siklus/ Pertemuan : I / 1 dan 2 Alokasi Waktu : 4 x 35 menit (pertemuan 1) : 4 x 35 menit (pertemuan 2) A. Standar Kompetensi

  PKn : 4. Menampilkan nilai-nilai Pancasila Bahasa Indonesia : 5. Memahami pesan pendek dari dongeng yang dilisankan B.

   Kompetensi Dasar

  PKn : 4.1 Mengenal nilai kejujuran, kedisiplinan, dan senang bekerja dalam kehidupan sehari-hari Bahasa Indonesia : 5.2 Menceritakan kembali isi dongeng yang didengarnya.

C. Indikator

  PKn 1. Kognitif : a. Menjelaskan pengertian kejujuran.

  b. Menjelaskan pengertian disiplin.

  c. Memberikan contoh perbuatan jujur dan displin di sekolah dan di rumah.

  d. Membedakan contoh perbuatan jujur dan tidak jujur.

  2. Afektif : Menunjukkan wajah ceria, bersemangat dan senang dalam pelajaran.

  3. Psikomotorik : Terlibat bertanya jawab dan berpendapat dalam proses

  130

  Bahasa Indonesia 1. Kognitif : a. Menyebutkan nama tokoh dalam dongeng.

  b. Menyebutkan sifat tokoh dalam dongeng.

  c. Menyebutkan tema dongeng.

  2. Afektif : Menunjukkan wajah ceria, bersemangat dan senang dalam pelajaran.

  3. Psikomotorik : Menuliskan kembali dongeng yang diperagakan dengan kalimat sendiri.

D. Tujuan Pembelajaran

  PKn

  1. Kognitif : a. Siswa mampu menjelaskan pengertian kejujuran melalui kegiatan pembelajaran dengan metode mendongeng.

  b. Siswa mampu menjelaskan pengertian disiplin melalui kegiatan pembelajaran dengan metode mendongeng.

  c. Siswa mampu memberikan contoh perbuatan jujur dan disiplin di sekolah dan di rumah melalui cerita yang didongengkan.

  d. Siswa membedakan contoh perbuatan jujur dan tidak jujur melalui cerita yang didongengkan.

  2. Afektif : Siswa mampu menunjukkan wajah ceria, bersemangat dan senang dalam pelajaran melalui metode mendongeng.

  3. Psikomotorik : Siswa mampu terlibat bertanya jawab dan berpendapat dalam proses pembelajaran melalui metode mendongeng.

  Bahasa Indonesia

  1. Kognitif : a. Siswa mampu menyebutkan nama tokoh dalam dongeng melalui dongeng yang didengarnya.

  b. Siswa mampu menyebutkan sifat tokoh dalam dongeng melalui dongeng yang didengarnya.

  c. Siswa mampu menyebutkan tema dongeng melalui dongeng

  131

  2. Afektif : Siswa mampu menunjukkan wajah ceria, bersemangat dan senang dalam pelajaran melalui metode mendongeng.

  3. Psikomotorik : Siswa mampu menulis kembali dongeng yang diperagakan dengan kalimat sendiri.

  E. Metode Pembelajaran : Mendongeng

  F. Materi Pelajaran PKn : Nilai-nilai Pancasila: kejujuran, disiplin.

  Bahasa Indonesia : Mengidentifikasi unsur cerita.

  G.

   Media Pembelajaran : Cerita (dongeng), alat peraga : wayang orang, background buatan, LKS.

  H. Kegiatan Pembelajaran: Pertemuan 1 Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu 10 menit

1. Kegiatan Pembukaan a. Guru mengucapkan salam kepada siswa.

  b. Siswa dan guru membuat tanda salib untuk memulai pelajaran.

  c. Guru melakukan presensi.

  d. Guru mengecek kesiapan siswa (mulai dari buku, alat tulis dan kerapian pakaian serta tempat duduk).

  e. Siswa menyanyikan lagu sebagai apersepsi.

  f. Beberapa siswa memimpin lagu apersepsi untuk dinyanyikan bersama.

  g. Guru bertanya makna lagu dan mengkaitkan dengan materi hari ini.

  h. Siswa diberitahukan mengenai kegiatan hari ini.

  132 15 menit 2.

   Kegiatan Inti Eksplorasi a. Guru mempersiapkan peralatan dan alat peraga dongeng.

  b. Guru mengkondisikan siswa dalam posisi duduk dengan kursi yang dibuat melingkar tanpa meja.

  c. Guru mulai mendongeng.

  d. Siswa mendengarkan guru.

  e. Siswa dan guru berinteraksi dalam kegiatan mendongeng komunikatif.

  f. Siswa sesekali diajak untuk ikut berperan dan membantu guru dalam peragaan mendongeng.

  Elaborasi Kegiatan 1 40 menit

c. Guru mengkondisikan siswa dalam posisi duduk berbentuk “U” (setengah lingkaran).

  d. Siswa diminta menanggapi atau memberikan komentar mengenai dongeng yang sudah ditampilkan.

  e. Siswa dibagikan lembar kerja PKn.

  f. Siswa mengerjakan lembar kerja PKn.

  g. Siswa diberi waktu 15 menit untuk mengisi lembar kerja.

  h. Siswa dan guru menggali jawaban siswa dan membenarkan jawaban yang salah. i. Siswa menuliskan contoh-contoh lain mengenai kegiatan disiplin dan perbuatan jujur dan menuliskan kegiatan tidak disiplin dan perbuatan tidak jujur lainnya yang tidak terdapat di dalam dongeng.

  35 menit

  Kegiatan 2

  c. Guru sedikit mengulas kembali dongeng yang telah dibacakan.

  133 d. Siswa memberikan tanggapan mengenai dongeng tersebut.

  e. Guru memberikan lembar kerja Bahasa Indonesia.

  f. Selama 15 menit siswa mengerjakan lembar kerja Bahasa Indonesia .

  g. Siswa mengumpulkan lembar jawaban.

  10 menit Konfirmasi

  b. Guru mengecek hasil kerja siswa baik PKn maupun Bahasa Indonesia.

  c. Guru memberi peneguhan terhadap jawaban siswa yang salah.

  d. Guru menanyakan kembali materi yang telah dipelajari bersama sebagai penguatan materi.

  e. Siswa diberi kesempatan untuk menjelaskan perasaan yang dialami selama kegiatan berlangsung.

  f. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya hal-hal yang belum diketahui.

  30 menit

3. Kegiatan Penutup

  c. Siswa dan guru merangkum pembelajaran yang dilakukan hari ini.

  d. Guru menyimpulkan proses pembelajaran hari ini (materi maupun proses belajar mengajar).

  e. Siswa dan guru mereflesikan kegiatan hari ini.

  f. Siswa diberikan tindak lanjut berupa tugas untuk mempelajari materi selanjutnya.

  g. Siswa dan guru membuat tanda salib.

  h. Guru mengucapkan salam penutup.

  134 Pertemuan 2 Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu

  15 menit 1.

   Kegiatan Pembukaan a. Guru memberikan salam kepada siswa.

  b. Siswa dan guru membuat tanda salib untuk memulai pelajaran.

  c. Guru melakukan presensi.

  d. Siswa di cek kesiapannya mulai dari buku, alat tulis dan kerapian pakaian serta tempat duduk.

  e. Siswa menyanyikan lagu apersepsi.

  f. Guru bertanya makna lagu dan mengkaitkan dengan materi hari ini.

  g. Siswa diberitahukan mengenai kegiatan hari ini.

  15 menit

2. Kegiatan Inti

  Eksplorasi a. Guru mempersiapkan peralatan dan alat peraga dongeng.

  b. Guru mengkondisikan siswa dalam posisi duduk di bawah dengan menggunakan tikar.

  c. Guru mulai mendongeng.

  d. Siswa mendengarkan guru.

  e. Beberapa siswa menjadi tokoh dalam dongeng dengan menggunakan boneka flanel.

  f. Siswa mendemonstrasikan tokoh yang diperagakan oleh guru.

  Elaborasi Kegiatan 1 35 menit a. Guru membagi siswa menjadi 4 kelompok.

  b. Setiap kelompok diminta menuliskan komentar mengenai dongeng tersebut.

  135

  d. Siswa mengerjakan lembar kerja PKn e. Siswa diberi waktu 15 menit untuk mengisi lembar kerja.

  f. Siswa dan guru menggali jawaban siswa dan membenarkan jawaban yang salah. Kegiatan 2

  35 menit

  a. Guru sedikit mengulas kembali dongeng yang telah dibacakan.

  b. Siswa memberikan tanggapan mengenai dongeng tersebut.

  c. Guru memberikan papan identifikasi dongeng.

  d. Siswa maju untuk mengisi kolom pada papan identifikasi dongeng.

  e. Guru dan siswa mengecek hasil identifikasi siswa.

  f. Siswa dibagikan soal mengenai dongeng yang telah diperagakan guru.

  g. Selama 15 menit siswa mengerjakan soal.

  h. Siswa mengumpulkan lembar jawaban.

  Konfirmasi 10 menit

  a. Guru menanyakan kembali materi yang telah dipelajari bersama.

  b. Siswa diberi kesempatan untuk menjelaskan perasaan yang dialami selama kegiatan berlangsung.

  c. Guru memberi kesempatan bagi siswa untuk bertanya hal- hal yang belum diketahui.

  30 menit 3.

   Kegiatan Penutup

  a. Siswa dan guru merangkum pembelajaran yang dilakukan hari ini.

  b. Guru bertanya kepada beberapa siswa untuk mengecek pemahaman siswa melalui pertanyaan-pertanyaan singkat.

  c. Guru membagikan soal evaluasi.

  136 d. Siswa mengerjakan soal evaluasi.

  e. Siswa mengumpulkan lembar jawab soal evaluasi.

  f. Siswa dan guru mereflesikan kegiatan hari ini.

  g. Siswa diberikan tugas untuk mempelajari materi selanjutnya.

  h. Siswa dan guru membuat tanda salib.

I. Sumber Belajar dan Alat Belajar :

  Buku acuan :  Halili dan Dwi Sunu Prioko. 2009. Wahana Belajar Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah Kelas II. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

   Sri Sadiman dan Mahfud. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SD dan MI Kelas II. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.  Iskandar dan Sukini. 2009. Bahasa Indonesia untuk Kelas 2 SD/MI. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

  Alat belajar :  Dongeng  Wayang karton  Background buatan  Papan bambu  Papan manila  Kain kostum  Lembar Kerja Siswa (LKS)

  137 J. Penilaian :

  1. Prosedur : Proses

  2. Jenis : Tes

  3. Teknik : Kognitif : Tes tertulis (PKn) Tes tertulis (Bahasa Indonesia)

  Afektif : (tidak dinilai) Psikomotorik : (tidak dinilai)

  4. Instrumen : Soal uraian

  5. Pedoman Skoring : (terlampir) Mengetahui,

  138

Penilaian

1. Kognitif

  Aspek kognitif dinilai menggunakan soal tes pilihan ganda dengan ketentuan:

  Jumlah soal Skor tiap nomor Skor maksimal Skor kognitif

  20

  1 20 20 : 2 = 10

  139 Lagu Apersepsi I

  (nyanyikan dengan nada lagu “Balonku”) Ayo kawan semua Kita bersiap-siap Ikuti pelajaran Jangan ramai dan nakal Dengarkan dongeng ini … YUK!! kamu pasti kan suka Tentang binatang lucu Kelinci putih namanya… Lagu Apersepsi II

  (nyanyikan dengan nada

  lagu “Balonku”) Ayo kawan semua Kita bersiap-siap Ikuti pelajaran Jangan ramai dan nakal Dengarkan dongeng ini … YUK!! kamu pasti kan suka Cerita tentang hewan Tentang kucing dan tikus

  140 Dongeng Siklus I Pertemuan I Kelinci Putih yang Selalu Jujur

  Di sebuah desa yang bernama desa pelangi indah, hiduplah sebuah keluarga kelinci yang terdiri dari ayah kelinci , ibu kelinci dan 2 anak kelinci putih dan kelinci merah. Mereka hidup di sebuah rumah sederhana di dalam hutan dan tak memiliki pekarangan serta lahan yang luas untuk berkebun, sehingga pekerjaan mereka hanyalah mencari kayu bakar di hutan. Setiap hari kelinci putih selalu bangun pagi kemudian membantu kedua orang tuanya, sedangkan kelinci merah selalu bangun kesiangan dan tidak mau mengerjakan pekerjaan dirumah.

  Suatu hari kelinci putih dan kelinci merah berjalan jalan di pasar, kemudian mereka melihat seorang nenek terjatuh saat membawa keranjang mereka pun menolong nenek tersebut. Setelah menolong nenek tersebut, sang nenek kemudian pergi melanjutkan perjalanan. Tiba tiba kelinci putih menemukan 2 kantong uang nenek yang tertinggal, kemudian menceritakannya kepada kelinci merah. Kelinci merah meminta sekantong uang itu dan ingin memakai uang itu untuk pergi membeli makanan karena lapar. Sedangkan kelinci putih ingin mencari nenek dan mengembalikan uang tersebut. Berhubung hari telah larut malam, maka mereka memutuskan untuk segera pulang kerumah.

  Sesampainya dirumah, ibu kelinci melihat terdapat 2 buah kantong berisi uang, ibu pun terkejut dan bertanya, dengan cepat kelinci merah menjelaskan bahwa itu adalah uang tabungan miliknya selama ini., sedangkan kelinci putih yang merasa itu bukan miliknya langsung mengaku bahwa uang itu milik seorang nenek yang terjatuh, ibupun menyuruhnya untuk segera mengembalikannya esok hari.

  Keesokan harinya kelinci putih mencari nenek untuk mengembalikan uang tersebut kemudian si nenek merasa senang sekali karena telah menemukan kembali uangnya. Ternyata nenek tersebut merupakan petani wortel yang memiliki kebun wortel yang sangat luas dan memiliki rumah yang begitu besar. Kemudian sebagai hadiah nenek bertanya kepada kelinci putih, apakah kelinci putih memiliki lahan yang luas untuk menanam wortel, bila iya nenek akan memberinya sebuah wortel raksasa untuk di tanam, karena mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki pekarangan yang luas kelinci putih menolak tawaran nenek dan berharap wortel

  141

  pulang. Kelinci merah yang mengintip, kemudian membuat kantong palsu dengan isi daun untuk diberikan kepada nenek dan meminta imbalan telah menemukan kantong tersebut, akhirnya kelinci merah meminta sebuah wortel raksasa. Kelinci merah yang sebenarnya tidak memiliki lahan luas untuk menanam wortel tersebut berencana untuk menjual wortel tersebut dan memakai uang hasil penjualan tersebut untuk membeli makanan.

  Beberapa hari kemudian, wortel yang dimiliki kelinci merah pun semakin besar, kelinci merah pun siap menjual wortel tersebut dengan harapan mendapat untung yang sangat besar. Namun tiba

  • –tiba angin besar datang dan menghempaskan wortel itu kedalam sungai, kemudian wortel itupun hilang terbawa arus. Kelinci merah menangis histeris karena sedih melihat wortel yang akan dijualnya hilang. Kemudian beberapa saat muncullah seorang peri dan bertanya kepada kelinci merah mengenai wortel yang hilang, dengan lantang kelinci merah berbohong kepada peri dengan menjawab bahwa dia kehilangan sekarung wortel dan meminta peri untuk menggantikannya. Peri pun menjawab agar kelinci merah lekas pulang dan melihat ke dapur bahwa wortel milik kelinci merah telah kembali. Kelinci merah pun segera berlari dan melihat ke dapur dan ternyata ratusan ular yang terdapat didalam kandang tersebut dan memakan kelinci merah. Itu semua akibat kelinci merah selalu berbohong.

  Kemudian peri mendatangi kelinci putih yang masih ikut mencari wortel dan peri bertanya apakah kelinci putih memiliki wortel yang hanyut di sungai, kelinci putih pun menjawab tidak, iya hanya membantu kelinci merah mencari wortel raksasa itu, namun peri menyuruh kelinci putih untuk segera pulang dan melihat ke dapur, ternyata disana terdapat wortel yang begitu banyak, semua itu untuk berkat kejujuran kelinci putih selama ini, namun karena kebaikan kelinci putih ia tidak memakainya sendiri namun memberi wortel tersebut untuk ayah kelinci dan ibu kelinci. Dan akhirnya kelinci putih hidup berkecukupan dengan kejujuran hatinya selama ini dan ternyata peri itu merupakan jelmaan dari nenek tua yang sengaja menguji kejujuran kelinci putih. Itulah buah dari kejujuran, kerajinan dan keikhlasan dimana apabila kita jujur maka kita akan mendapat kebahagiaan.

  142 Dongeng Siklus I Pertemuan 2

  

Miki Si Tikus dan Momo Si Kucing

  Di sebuah kerajaan di suatu tempat yang bernama pelangi indah, terdapat sebuah istana yang berdiri megah. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang bernama Nola. Raja tersebut memiliki 2 binatang yang tinggal di istana yakni seekor kucing yang bernama Momo dan seekor tikus yang bernama Miki. Mereka berdua tinggal di lantai dasar istana. Miki si tikus walaupun seekor tikus ternyata ia sangat rajin, ia selalu bangun pagi dan selalu membersihkan tempatnya tinggal, ia sangat berbeda jauh dengan tikus-tikus lain yang biasanya hidupnya kotor dan menjijikan. Sedangkan Momo si kucing merupakan kucing pemalas, ia hanya menunggu kiriman makanan dari raja atau sesekali ia mengambil makanan di kulkas yang berada di dapur.

  Suatu hari Miki berjalan jalan di pinggir sungai, karena tersesat iapun bertanay kepada si Peta, Peta apakah kamu tahu jalan pulang? Kata Peta kearah sana Miki,, ikuti saja aliran sungai maka kamu akan menemui istana. Di dalam perjalanan pulang tiba-tiba ia melihat seekor anak burung yang berteriak di dalam sungai, tolong… tolong teriak burung itu… tiba tiba Miki yang melihat langsung berlari mengambil dahan pohon dan memberikannya kepada burung itu sehingga burung ituun dapat meraih dahan pohon dan tidak hanyut oleh aliran sungai. Burung itupun berterimakasih kepada Miki, ternyata burung itu bernama Popo yang merupakan burung peliharaan baru yang dimiliki oleh raja. Akhirnya Miki bersama dengan Popo kembali ke istana. Ternyata saat menyelamatkan Popo, kalung Miki terjatuh disungai dan Mikipun sedih.

  Karena kebaikannya raja memberikan Miki sebuah hadiah, namun Miki menolaknya karena ia hanya tulus memnyelamatkan Popo dan tidak berharap imbalan. Rajapun mendengar cerita bahwa kalung Miki terjatuh di sungai, rajapun bertanya apakah kalung Miki merupakan kalung emas? Mikipun jujur berkata bahwa kalung yang dimiliknya hanya kalung biasa. Mendengar ucapan jujur Miki dan kebaikannya raja tetap memberinya hadiah yakni Miki boleh tinggal di istana dan bukan dilantai dasar lagi

  Momo yang mendengar berita tersebut kemudian memiliki ide jahat. Disaat Popo sedang bermain tiba-tiba saja Momo menculik Popo dan membawanya kepinggir sungai, kemudian dengan sengaja Momo melempar Popo yang kedalam sungai sehingga Popo hanyut, kemudian Momo berteriak-teriak meminta bantuan dan akhirnya datanglah si Peta, kemudian Momo

  143

  pun berpura-pura menjadi pahlawan dan menyelamatkan Popo, dan Momopun sengaja menjatuhkan kalungnya disungai.

  Raja yang mendengar cerita tersebut bertanya kepada Momo apakah benar bahwa Momo telah menyelamatkan Popo, Momopun berkata ia, setelah itu raja bertanya apakah Momo kehilangan sebuah kalung, Momopun berkata ia dan ia berkata bahwa kalung yang hilang merupakan kalung emas. Karena raja telah mengetahui bahwa Momo berbohong, rajapun mengusir Momo dari istana dan kini akibat ulahnya yang pemalas dan tidak jujur Momo hidup sendiri di dalam hutan.

  144 Lembar Kerja PKn Kelas II Kamis, 21 Maret 2013 Nama : No absen :

  Berilah tanda centang pada kolom jujur apabila termasuk perbuatan jujur Berilah tanda centang pada kolom tidak jujur apabila termasuk perbuatan tidak jujur.

  

No Peristiwa yang terjadi Jujur Tidak jujur

  1 Sengaja membayar wortel yang dibeli dengan uang yang kurang

  2 Kelinci putih memberitahu ibu bahwa jumlah tabungan sesuai dengan adanya.

  3 Kelinci merah berbuat curang saat bermain bersama kelinci putih.

  4 Kelinci merah mengisi kantung uang dengan daun dan memberikannya kepada nenek.

  5 Kelinci putih menemukan uang yang jatuh di jalan dan mengembalikannya kepada nenek.

  1. Manakah yang kamu pilih kelinci putih atau kelinci merah?

  2. Mengapa kamu memilihnya?

  145

Kunci Jawaban

  

No Peristiwa yang terjadi Jujur Tidak jujur

  1 Sengaja membayar wortel yang dibeli dengan uang yang kurang √

  2 Kelinci putih memberitahu ibu bahwa jumlah tabungan sesuai dengan adanya.

  √

  3 Kelinci merah berbuat curang saat bermain bersama kelinci putih.

  √

  4 Kelinci merah mengisi kantung uang dengan daun dan memberikannya kepada nenek.

  √

  5 Kelinci putih menemukan uang yang jatuh di jalan dan mengembalikannya kepada nenek.

  √

  1. Manakah yang kamu pilih kelinci putih atau kelinci merah?

  Sesuai jawaban siswa

  2. Mengapa kamu memilihnya?

  Sesuai jawaban siswa

Kunci Jawaban

  146 Lembar Kerja Bahasa Indonesia kelas II

  

Tanggal 21 Maret 2013

Nama : No absen : Tulislah dengan kata- katamu sendiri dongeng “Kelinci Putih yang Jujur”!

  

Lembar Kerja PKn Kelas II

Tanggal 22 Maret 2012

  147 Nama : …………………………..

  No absen : ………………….

  

Jodohkan kolom kanan dengan kolom kiri

  Bangun pagi hari dan merapikan tempat tidur sendiri Menemukan uang di halaman dan memberikannya pada teman yang kehilangan

  Mengerjakan PR yang telah diberikan oleh guru di sekolah Sengaja membayar roti dengan uang yang kurang di kantin

  Menonton acara televisi hingga larut malam Memberitahu ayah bahwa telah memecahkan lampu ruang tamu

  Perbuatan tidak jujur di sekolah Perbuatan disiplin di rumah

  Perbuatan tidak disiplin di sekolah Perbuatan jujur di sekolah

  Perbuatan jujur di rumah Perbuatan tidak disiplin di rumah

  148 Kunci Jawaban

  Bangun pagi hari dan merapikan Perbuatan tidak jujur di sekolah tempat tidur sendiri

  Menemukan uang di halaman dan Perbuatan disiplin di rumah memberikannya pada teman yang kehilangan

  Mengerjakan PR yang telah diberikan Perbuatan tidak disiplin di sekolah oleh guru di sekolah Sengaja membayar roti dengan uang

  Perbuatan jujur di sekolah yang kurang di kantin Menonton acara televisi hingga larut

  Perbuatan jujur di rumah malam Memberitahu ayah bahwa telah Perbuatan tidak disiplin di rumah memecahkan lampu ruang tamu

  149 Soal Evaluasi I

  c. selalu merasa bersalah Pendidikan Kewarganegaraan

  5. Yang bukan merupakan sifat terpuji adalah … Nama : …………………………..

  a. jujur Kelas : ……………

  b. bohong No. absen : ……………

  c. disiplin Berilah tanda silang (X) pada salah satu

  6. Orang yang berkata sesuai dengan huruf a, b atau c yang kamu pilih sebagai kenyataan berarti memiliki sifat … jawaban paling benar!

  a. jujur

  b. sopan

  1. Jujur artinya sebagai berikut, kecuali

  c. bohong

  …

  a. tidak berbohong

  7. Jika kamu berbohong kamu akan

  b. berterus terang merasa ….

  c. berkata dusta

  a. senang

  b. puas 2. Sikap disiplin, harus dimulai dari …

  c. gelisah

  a. orang lain

  b. tetangga

  8. Jika kamu menemukan dompet berisi

  c. diri sendiri uang yang jatuh di jalan, sebaiknya kamu ….

  3. Salah satu contoh sikap disiplin ialah

  a. mengambil dan membawanya … pulang

  a. rajin belajar

  b. menyimpannya dan

  b. tidur sebentar menggunakannya c. makan banyak

  c. mengembalikannya kepada pemiliknya

  4. Manfaat perilaku jujur adalah …

  a. hati terasa tenang

  150 9.

  14. Sikap jujur adalah sikap yang menunjukkan kesesuaian antara … a. perbuatan dan alasan

  b. meminta maaf

  a. diam saja

  17. Kamu disuruh menyampaikan surat oleh Bu Guru. Kamu lupa menyampaikannya. Sikap kamu sebaiknya ....

  c. pura-pura tidak tahu

  b. membiarkannya

  a. mengingatkannya

  Kamu tahu temanmu berbohong. Sikap kamu sebaiknya ....

  c. berjanji untuk tidak mengulang 16. Temanmu berbohong kepada bu guru.

  a. mengakui bahwa kita yang memecahkan b. membeli kaca yang baru

  15. Ketika kamu memecahkan kaca jendela sekolah, hal pertama yang harus dilakukan adalah …

  c. perkataan dan perbuatan

  b. keinginan dan tindakan

  c. menganggap tidak apa-apa

  Jika kita jujur, maka kita akan …

  b. mengakui kesalahan

  13. Bila bersalah, orang yang jujur akan … a. menuduh orang lain

  12. Contoh sikap jujur saat di sekolah adalah … a. menyelesaikan ulangan bersama teman b. menggunakan uang yang ditemukan di halaman untuk jajan c. membayar makanan di kantin dengan harga yang sesuai

  c. kepopuleran

  b. kebahagiaan

  a. kekayaan

  c. di mana saja 11. Kejujuran akan membuahkan …

  b. di sekolah

  a. rumah

  c. dianggap hebat 10. Sikap jujur perlu dilakukan di …

  b. disukai teman

  a. dihindari teman

  c. tidak masuk sekolah

  151

18. Ciri orang yang tidak disiplin adalah ….

  a. hidupnya teratur

  b. menaati peraturan

  c. mencari kesenangan saja

  19. Ketika kamu membeli roti di toko, kamu mendapat kembalian uang yang lebih, sikap kamu adalah …

  a. mengembalikan kepada pemilik toko b. segera menyimpan di dompet

  c. menggunakan uang untuk membeli roti lagi

  20. Contoh sikap jujur saat bermain adalah … a. tidak berkata kotor

  b. tidak bermain curang

  c. tidak bermain kasar

  152 Kunci Jawaban Soal Evaluasi I PKn

  1. c. berkata dusta 2. c. diri kita sendiri 3. a. merapikan tempat tidur sendiri 4. a. hati terasa tenang 5. b. jujur disaat tertentu 6. a. selalu berkata sesuai kenyataan 7. c. mengaku mendapat nilai baik padahal nilai belum baik 8. b. menyimpan ditas dan membawa pulang 9. b. disukai teman, diajak bermain teman 10. c. di mana-mana 11. b. kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman 12. c. membayar makanan di kantin dengan harga yang sesuai 13. b. menuduh orang lain 14. c. perkataan dan perbuatan 15. a. mengakui bahwa kita yang memecahkan 16. a. mengingatkan untuk meminta maaf 17. b. meminta maaf kepada bu guru dan ayah 18. c. tidak membawa bekal karena tertinggal 19. a. mengembalikan kepada pemilik toko 20. b. tidak bermain curang

  153 Soal Evaluasi I

  a. pantas ditiru perilakunya

  b. sama dengan Momo Bahasa Indonesia

  c. kadang baik, kadang jahat Nama : …………………………..

  6. Saat berjalan-jalan Miki tidak sengaja menemukan Popo di … Kelas : ……………

  a. dalam hutan No. absen : ……………

  b. pinggir sungai

  c. tepi danau Berilah tanda silang (X) pada salah satu

  7. Manfaat kejujuran yang di dapatkan huruf a, b atau c yang kamu pilih sebagai oleh Miki ialah .. jawaban paling benar!

  a. mendapat harta berlimpah

  b. hidupnya berkecukupan

  c. tinggal bahagia di istana

  1. Tema dongeng Miki Si Tikus dan Momo Si Kucing adalah …

  8. Tokoh yang sengaja di hanyutkan di

  a. keadilan sungai oleh Momo adalah … b. kejujuran

  a. Nola

  c. kelemahlembutan

  b. Peta

  c. Popo

  2. Salah satu contoh sikap disiplin yang ada pada diri Miki ialah …

  9. Dari cerita diatas, perilaku yang akan

  a. rajin bangun pagi kamu contoh ialah … b. selalu berbuat baik

  a. Miki saat menyelamatkan Popo

  c. pandai dan cerdik

  b. Momo saat mencari Popo

  c. Nola saat bertemu Miki

  3. Cerita tadi terjadi di sebuah tempat yang bernama …

  10. Perilaku Miki yang jujur, dilakukan

  a. pelangi cerah Miki dengan … b. pelangi indah

  a. berharap imbalan uang

  c. pelangi mutiara

  b. keinginan tinggal di istana

  c. ikhlas hati tanpa berharap apapun

  4. Tokoh yang bertemu dengan Si Peta pertama kali adalah … a. Popo

  b. Momo

  c. Miki

5. Miki Si Tikus merupakan tokoh yang

  154

Kunci Jawaban Soal Evaluasi I

Bahasa Indonesia

  1. b. kejujuran 2. a. rajin bangun pagi 3. b. pelangi indah 4. c. Miki

  5. a. pantas ditiru perilakunya 6. b. pinggir sungai

  7. c. tinggal bahagia di istana 8. c. Popo

  9. a. Miki saat menyelamatkan Popo 10. c. ikhlas hati tanpa berharap apapun

  155

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP)

  Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar Nama Sekolah : SD Pangudi Luhur Sedayu Mata Pelajaran : Tematik (PKn, Bahasa Indonesia) Kelas / Semester : II / 2 Hari / Tanggal : 25, 27 Maret 2013 Siklus / Pertemuan : II / 1 dan 2 Alokasi Waktu : 4 x 35 menit (pertemuan 1) : 4 x 35 menit (pertemuan 2) A. Standar Kompetensi

  PKn : 4. Menampilkan nilai-nilai Pancasila Bahasa Indonesia : 5. Memahami pesan pendek dari dongeng yang dilisankan B.

   Kompetensi Dasar

  PKn : 4.1 Mengenal nilai kejujuran, kedisiplinan, dan senang bekerja dalam kehidupan sehari-hari Bahasa Indonesia : 5.2 Menceritakan kembali isi dongeng yang didengarnya

C. Indikator

  PKn 1. Kognitif : a. Menjelaskan pengertian senang bekerja.

  b. Memberikan contoh perbuatan senang bekerja di sekolah dan di rumah.

  2. Afektif : Menunjukkan wajah ceria, bersemangat dan senang bekerja dalam pelajaran.

  3. Psikomotorik : Terlibat dalam kegiatan permainan, bertanya jawab dan berpendapat dalam proses pembelajaran.

  156

  Bahasa Indonesia 1. Kognitif : a. Menyebutkan peristiwa yang terjadi dalam dongeng.

  b. Menyebutkan pesan/amanat dalam dongeng.

  2. Afektif : Mendengarkan dan menghargai teman yang menceritakan dongeng.

  3. Psikomotorik : Menceritakan kembali dongeng yang diperagakan dengan bahasa sendiri.

D. Tujuan Pembelajaran

  PKn

  1. Kognitif : a. Siswa mampu menjelaskan pengertian senang bekerja melalui kegiatan pembelajaran dengan metode mendongeng.

  b. Siswa mampu memberikan contoh perbuatan senang bekerja di sekolah dan di rumah melalui cerita yang didongengkan.

  2. Afektif : Siswa mampu menunjukkan wajah ceria, bersemangat dan senang bekerja dalam pelajaran melalui metode mendongeng.

  3. Psikomotorik : Siswa mampu terlibat dalam kegiatan permainan, bertanya jawab dan berpendapat dalam proses pembelajaran melalui metode mendongeng. Bahasa Indonesia

  1. Kognitif : a. Siswa mampu menyebutkan peristiwa yang terjadi dalam dongeng melalui dongeng yang didengarnya.

  b. Siswa mampu menyebutkan pesan/amanat dalam dongeng melalui dongeng yang didengarnya.

  2. Afektif : Siswa mampu mendengarkan dan menghargai teman yang menceritakan dongeng kembali dengan penuh perhatian.

  3. Psikomotorik : Siswa mampu menceritakan kembali dongeng yang diperagakan dengan bahasa sendiri.

  157

  E. Metode Pembelajaran : Mendongeng

  F. Materi Pelajaran PKn : Nilai-nilai Pancasila (senang bekerja).

  Bahasa Indonesia : Menceritakan kembali dongeng yang didengar.

  G. Media Pembelajaran : Cerita (dongeng), alat peraga : wayang orang, kostum, buku dongeng buatan, properti dongeng, LKS.

  H. Kegiatan Pembelajaran: Pertemuan 1 Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu 10 menit

1. Kegiatan Pembukaan a. Guru mengucapkan salam kepada siswa.

  b. Siswa dan guru membuat tanda salib untuk memulai pelajaran.

  c. Guru melakukan presensi.

  d. Guru mengecek kesiapan siswa (mulai dari buku, alat tulis dan kerapian pakaian serta tempat duduk).

  e. Siswa dan guru bertanya jawab mengenai pertemuan sebelumnya f. Guru bertanya beberapa materi mengenai kejujuran dan disiplin.

  g. Siswa diberitahukan mengenai kegiatan hari ini.

  15 menit 2.

   Kegiatan Inti Eksplorasi e. Guru mempersiapkan peralatan dan alat peraga dongeng.

  f. Guru mengkondisikan siswa dalam posisi duduk.

  g. Guru mulai mendongeng.

  158

  h. Siswa dan guru berinteraksi dalam kegiatan mendongeng komunikatif.

  40 menit

  i. Siswa sesekali diajak untuk ikut berperan dan membantu guru dalam peragaan mendongeng.

  Elaborasi Kegiatan 1

  a. Guru sedikit mengulas kembali dongeng yang telah dibacakan.

  b. Siswa dibagi kedalam kelompok besar.

  c. Siswa selama 10 menit mengingat dongeng yang telah mereka lihat.

  d. Siswa menceritakan kembali dongeng yang telah diperagakan dengan bahasa sendiri di depan kelompoknya.

  e. Siswa lain memberikan tanggapan mengenai temannya yang maju.

  f. Guru memberikan tanggapan kepada siswa.

  35 menit Kegiatan 2

  a. Siswa diminta menanggapi atau memberikan komentar mengenai dongeng yang sudah ditampilkan.

  b. Guru mengajak siswa untuk melakukan permainan.

  c. Siswa membuat berdiri dengan posisi membuat lingkaran di depan kelas.

  d. Setiap siswa mendapat sebuah kartu berwarna dengan nama alat-alat kebersihan yang ditulis pada satu sisi dan nama benda disisi yang lain.

  e. Siswa membentuk kelompok berdasarkan warna kartu.

  f. Peraturan permainan adalah :

  159

  siswa yang memiliki warna tersebut berkumpul menjadi satu, begitu juga ketika guru menyebutkan nama benda maka siswa harus berkumpul.  Setelah berkumpul, siswa yang terpilih kemudian memilih sebuah amplop yang disediakan.  Siswa kemudian melakukan hal yang ada di amplop tersebut setelah semua permainan berakhir, maka siswa harus mengingatnya.

   Beberapa hal yang harus dilakukan diantaranya: menyiram tanaman, membersihkan papan tulis, membersihkan jendela dan lainnya.

  g. Siswa dan guru bersama-sama menceritakan pengalaman dari kegiatan permainan yang telah dilakukan.

  Konfirmasi a. Guru mengecek pemahaman siswa.

  b. Guru memberi peneguhan terhadap jawaban siswa yang salah.

  c. Guru menanyakan kembali materi yang telah dipelajari bersama sebagai penguatan materi.

  d. Siswa diberi kesempatan untuk menjelaskan perasaan yang dialami selama kegiatan berlangsung.

  e. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya hal-hal yang belum diketahui.

  10 menit

  a. Siswa dan guru merangkum pembelajaran yang dilakukan hari ini.

  b. Guru menyimpulkan proses pembelajaran hari ini (materi maupun proses belajar mengajar).

  30 menit

3. Kegiatan Penutup

  160 c. Siswa dan guru mereflesikan kegiatan hari ini.

  d. Siswa diberikan tindak lanjut berupa tugas untuk mempelajari materi selanjutnya.

  e. Siswa dan guru membuat tanda salib.

  f. Guru mengucapkan salam penutup. Pertemuan 2

  Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu 10 menit

1. Kegiatan Pembukaan a. Siswa dan guru menuju tempat pembelajaran diluar kelas.

  b. Guru mengucapkan salam kepada siswa.

  c. Siswa dan guru membuat tanda salib untuk memulai pelajaran.

  d. Guru melakukan presensi.

  e. Guru mengecek kesiapan siswa (mulai dari buku, alat tulis dan kerapian pakaian serta tempat mereka duduk).

  f. Guru bertanya manfaat dongeng sebagai motivasi

  g. Siswa menyanyikan lagu sebagai apersepsi

  h. Guru bertanya makna lagu dan mengkaitkan dengan materi hari ini. i. Siswa diberitahukan mengenai kegiatan hari ini.

  15 menit

2. Kegiatan Inti

  Eksplorasi a. Guru mempersiapkan peralatan dan alat peraga dongeng.

  b. Guru mengkondisikan siswa untuk duduk dibawah dengan menggunakan tikar.

  c. Guru mulai mendongeng.

  d. Siswa mendengarkan guru.

  161 40 menit

  e. Siswa dan guru berinteraksi dalam kegiatan mendongeng komunikatif.

  f. Siswa sesekali diajak untuk ikut berperan dan membantu guru dalam peragaan mendongeng.

  Elaborasi Kegiatan 1

  a. Guru mengkondisikan siswa dalam posisi duduk melingkar.

  b. Siswa diminta menanggapi atau memberikan komentar mengenai dongeng yang sudah ditampilkan.

  c. Siswa ditunjukkan papan identifikasi dan siswa menjawab beberapa pertanyaan guru.

  d. Siswa dibagikan lembar kerja Bahasa Indonesia mengenai dongeng yang telah diperagakan.

  e. Siswa mengerjakan lembar kerja PKn.

  20 menit f. Siswa diberi waktu 15 menit untuk mengisi lembar kerja.

  g. Secara bergantian siswa menceritakan kembali dongeng yang telah ditulis dengan bahasa sendiri.

  h. Siswa dan guru menggali jawaban siswa dan membenarkan jawaban yang salah.

  Kegiatan 2

  a. Guru sedikit mengulas kembali dongeng yang telah dibacakan.

  b. Guru mengaitkan dongeng dengan kehidupan sehari-hari.

  c. Siswa dibagikan lembar kerja PKn.

  d. Selama 10 menit siswa mengerjakan soal.

  e. Siswa mengumpulkan lembar jawaban.

  10 menit Konfirmasi

  162

  a. Guru mengecek hasil kerja siswa baik PKn maupun Bahasa Indonesia.

  b. Guru memberi peneguhan terhadap jawaban siswa yang salah.

  c. Guru menanyakan kembali materi yang telah dipelajari bersama sebagai penguatan materi.

  d. Siswa diberi kesempatan untuk menjelaskan perasaan yang dialami selama kegiatan berlangsung.

  e. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya hal-hal yang belum diketahui.

  45 menit

3. Kegiatan Penutup

  c. Guru membagikan soal evaluasi PKn

  b. Guru bertanya kepada beberapa siswa untuk mengecek pemahaman siswa melalui pertanyaan-pertanyaan singkat.

  f. Guru membagikan soal evaluasi Bahasa Indonesia.

  g. Siswa mengerjakan soal evaluasi Bahasa Indonesia.

  h. Siswa mengumpulkan lembar jawab soal evaluasi. i. Siswa dan guru mereflesikan kegiatan hari ini.

  f. Secara berkelompok siswa mencari botol berisi petunjuk yang disebar disekitar halaman.

  g. Setelah mendapatkan botol siswa mengambil kertas didalamnya.

  h. Siswa melakukan akivitas bekerja sesuai yang ada pada botol. Contohnya : menyapu halaman, mengambil sampah, menyiram tanaman, membereskan tikar dan lainnya. i. Siswa diberikan tugas untuk mempelajari materi

  a. Siswa dan guru merangkum pembelajaran yang dilakukan hari ini.

  d. Siswa mengerjakan soal evaluasi PKn e. Siswa mengumpulkan lembar jawab soal evaluasi.

  163 j. Siswa dan guru membuat tanda salib.

  k. Siswa dan guru kembali menuju sekolah.

  K. Sumber Belajar dan Alat Belajar :

  Buku acuan :  Halili dan Dwi Sunu Prioko. 2009. Wahana Belajar Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah Kelas II. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

   Sri Sadiman dan Mahfud. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SD dan MI Kelas II. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Alat belajar :

   Dongeng  Wayang karton  Buku raksasa buatan  Papan manila  Kain kostum  Properti lain  Lembar Kerja Siswa (LKS)  Tikar  Meja

  L. Penilaian :

  1. Prosedur : Proses

  2. Jenis : Tes

  3. Teknik : Kognitif : Tes tertulis (PKn) Tes tertulis (Bahasa Indonesia)

  Afektif : (tidak dinilai)

  164

  4. Instrumen : Soal uraian

  5. Pedoman Skoring :(terlampir) Mengetahui,

  165

Penilaian

1. Kognitif

  Aspek kognitif dinilai menggunakan soal tes pilihan ganda dengan ketentuan:

  Jumlah soal Skor tiap nomor Skor maksimal Skor kognitif

  20

  1 20 20 : 2 = 10

  166 Lagu Apersepsi

  Nyanyikan dengan nada lagu Satu-Satu

  Satu satu baju sudah rapi Dua dua buku sudah siap Tiga tiga siap semuanya Satu dua tiga siap pelajaran Sekali lagi … Ayo!! Satu satu baju sudah rapi Dua dua buku sudah siap Tiga tiga siap semuanya Satu dua tiga siap pelajaran

  167 Dongeng Siklus II Pertemuan 1 Puteri Bulan dan Raksasa yang Malas

  Alkisah disebuah pulau terdapat dua buah kerajaan yang bernama kerajaan hijau dan kerajaan merah. Kerajaan hijau di pimpin oleh seorang puteri yang sangat cantik, yang bernama puteri bulan sesuai dengan namanya layaknya sebuah bulan puteri selalu menerangi hati rakyat- rakyatnya. Sedangkan kerajaan merah dipimpin oleh seorang raksasa. Kedua kerajaan ini sangat besar dan memiliki wilayah yang sangat luas. Perbedaan nampak dari pemimpin masing-masing kerajaan, kerajaan merah di pimpin oleh raksasa yang sangat malas, sedangkan kerajaan hijau di pimpin oleh puteri yang sangat rajin.

  Di kerajaan hijau puteri selalu memperhatikan lingkungan sekitar kerajaan, bersama dengan rakyat puteri selalu membersihkan lingkungan istana dan juga lingkungan tempat tinggal rakyat. Tak lupa puteri selalu mengingatkan rakyat untuk selalu membuang sampah pada tempatnya demi kebersihan lingkungan. Selain itu puteri juga membuat taman cantik disekitar istana dengan menanam berbagi macam tumbuhan dan bunga yang cantik. Suatu hari ibu puteri ingin membangun sebuah istana megah untuk anaknya tersebut, namun tanpa berpikir panjang puteri langsung menolak tawaran ibu, dengan alasan agar tidak terlalu banyak bangunan di kerajaan ini, toh puteri masih bisa tinggal di dalam istana. Alih alih menolak pembuatan istana, puteri justru meminta ibu untuk membangun selokan mengingat sungai di sekitar istana sudah mulai terkikis. Karena begitu cintanya pada sang anak, ibu menyetujui keinginan puteri tersebut.

  Berbeda dengan puteri bulan, kerajaan sebelah yang di pimpin oleh raksasa justru meremehkan kebersihan lingkungan mereka, sampah-sampah berserakan dimana-mana, tak ada lagi taman dengan pepohonan yang rindang. Raksasa terus membangun istana-istana baru demi menunjukkan betapa megah kerajaannya. Setiap hari raksasa selalu membuang sampah baik sampah makanan, minuman maupun sampah dari istana di sembarang tempat, sehingga sampah yang terbuang kian lama kian memenuhi kerajaan tersebut.

  Suatu ketika muncullah burung mehiku yang memberitahukan bahwa dalam beberapa hari lagi akan ada hujan deras yang akan terjadi di pulau ini, sehingga puteri dan raksasa wajib menyiapkan rakyat untuk mencegah terjadinya bencana oleh hujan tersebut. Mendengar berita tersebut puteri langsung memberi mandat kepada rakyat untuk segera mempersiapkan diri

  168

  menghadapi hujan lebat yang akan segera datang. Dalam beberapa menit saja rakyat langsung membersihkan selokan, sungai dan membuat sebuah waduk besar. Sementara itu di kerajaan sebelah, raksasa justru tidak memperdulikan lingkungan sekitar, bahkan raksasa hanya memerintahkan rakyat untuk terus membangun istana istana baru, dan tanpa disadari tumpukan sampah yang ada di sekitar istana semakin tinggi.

  Kemudian perlahan hujan mulai turun dan semakin deras, kerajaan puteri bulan sangat siap menghadapi hujan yang sangat deras, sedangkan di kerajaan merah air tidak bisa mengalir karena terhambat sampah dan bangunan sehingga istana raksasa tenggelam dan raksasapun segera mengambil perahu namun akibat berat badan raksasa, perahupun tenggelam dan raksasa juga tenggelam. Sementara di kerajaan hijau puteri dan rakyat berhasil mengatasi air yang begitu banyak sehingga istana mereka selamat dari banjir. Nah, itulah buah dari sikap cinta pada lingkungan, mulai dari buang sampah pada tempatnya, tidak menebang pohon sembarangan dan tidak membangun bangunan di saluran air, sehingga bencana banjir dapat dihindari.

  169

  Dongeng Dongeng Dongeng Dongeng Siklus Siklus Siklus II Siklus

  II II pertemuan

  II pertemuan pertemuan 2222 pertemuan

Nenek yang Nenek Nenek Nenek yang Hebat yang yang Hebat Hebat Hebat

  Di sebuah desa hiduplah seorang nenek tua. Ia tidak tinggal dengan keluarganya melainkan seorang diri. Setiap hari nenek membersihkan rumahnya yang sudah sangat rapuh, pohon-pohon besar yang daunnya berguguran memaksa nenek untuk menyapu setiap hari.

  Pada suatu hari nenek berangkat menuju pasar, tiba-tiba di tengah jalan nenek menemukan keranjang bersih dan menarik. Wah, tapi tiba-tiba dari dalam keranjang terdengar suara tangisan, tetapi bukan tangisan bayi manusia melainkan seekor beruang. Nenekpun sempat takut, tetapi nenek memberanikan diri untuk mengambilnya. Akhirnya nenek membawa beruang itu pulang dan memberinya nama Po. Setiap hari nenek memberi makan Po, memandikan, dan menjaganya siang maupun malam dengan penuh perhatian. Nenek sangat menyayangi Po, sampai-sampai nenek tidak pernah membersihkan rumah lagi setiap hari karena terlalu sibuk mengurusi Po.

  Suatu ketika nenek dan Po berjalan-jalan menuju hutan, tiba-tiba dari atas langit turun seorang Raja penguasa kerajaan. Ra berkata,”Nek, sebentar lagi kau akan kuusir dari negeriku ini, aku malu melihat rumahmu yang jelek, rapuh dan kotor!”. “Tapi aku sudah tua bagaimana mungkin aku membersihkan rumah setiap hari dan dengan cepat” jawab nenek. “Ya sudah aku memberimu waktu enam hari untuk membersihkan rumah dan membuat rumahmu menjadi indah, kalu kau tidak bisa melakukannya bersiaplah pergi dari negeriku ini!”. Nenekpun segera pulang dan membersihkan rumah, walaupun sesekali nenek jatuh akibat terlalu lelah. Po merasa bersalah, akibat kedatangannya nenek hampir diusir, Po kemudian berusaha membantu nenek, dengan sekuat tenaga Po membersihkan rumah dari halaman luar, atap, halaman belakang hingga seisi rumah semua Po yang merapikan dan membersihkan. Po sangat senang bekerja.

  Tibalah hari di mana Raja melihat kembali kondisi rumah nenek, Wah Raja kaget melihat rumah nenek yang bersih dan rapi, Rajapun tidak jadi mengusir nenek dan Po dari negeri ini. Akhirnya nenek dan Po menjadi sangat senang karena sikap Po yang tidak malasa dan senang bekerja. Kini nenek dan Po tinggal di istana karena keuletan dan sikap nenek dan Po yang senang bekerja, merekapun kini menjadi arsitek bagi Raja untuk membangun negeri menjadi lebih indah.

  170

  Lembar Kerja Lembar Lembar Lembar Kerja Kerja PKn Kerja PKn kelas PKn PKn kelas kelas II kelas

II II

  II Tanggal

  27 Maret 2013 Tanggal Tanggal 27 Tanggal

  27 Maret Maret 2013 2013 2013 Nama Nama Nama Nama :::: No No No No absen absen absen absen :::: Gambar Gambar Gambar Gambar Apa Apa Apa Apa nama nama nama nama Pernahkah Pernahkah Pernahkah kamu Pernahkah kamu kamu kamu Apakah Apakah Apakah Apakah termasuk termasuk termasuk termasuk kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan tersebut? tersebut? tersebut? tersebut? melakukannya? melakukannya? melakukannya? melakukannya? perbuatan senang perbuatan perbuatan perbuatan senang senang senang bekerja? bekerja? bekerja? bekerja?

  27 Maret

  171

  Kunci Jawaban Kunci Kunci Kunci Jawaban Jawaban Jawaban Gambar Gambar Gambar Gambar Apa nama Apa Apa Apa nama nama nama kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan Pernahkah Pernahkah Pernahkah kamu Pernahkah kamu kamu kamu Apakah Apakah Apakah Apakah termasuk termasuk termasuk termasuk tersebut? tersebut? tersebut? tersebut? melakukannya? melakukannya? melakukannya? melakukannya? perbuatan perbuatan perbuatan perbuatan senang senang senang senang bekerja? bekerja? bekerja? bekerja?

  Membersihkan rak sepatu Iya Iya

  Membersihkan dapur Memotong tanaman

  Iya dan membersihkan Membersihkan ruang

  Iya kelas Kerja bakti Iya

  172

  173

  c. bekerja sendiri

  b. kerja bakti

  c. begadang malam

  7. Saat bekerja kamu harus menunjukkan sikap disiplin karena dengan disiplin pekerjaanmu akan …

  a. cepat selesai

  b. banyak dibantu

  c. menjadi sedikit

  8. Pekerjaan bersama yang berat akan terasa ringan apabila dilakukan dengan cara ....

  a. bekerja terus menerus

  b. bekerja sama

  9. Kita di sekolah dilarang bekerja sama dalam mengerjakan ....

  6. Kegiatan untuk menjaga keamanan lingkungan disebut ….

  a. majalah dinding

  b. soal kelompok

  c. soal ulangan Mid

  10. Salah satu contoh kegiatan kerja sama di sekolah adalah ....

  a. membangun jembatan

  b. membersihkan aula

  c. membersihkan gardu 11. Manfaat bekerja sama adalah ....

  a. mempermudah pekerjaan

  b. memperlama pekerjaan

  a. ronda malam

  c. ikut membantu dengan terpaksa

  Soal Soal Soal Soal Evaluasi Evaluasi Evaluasi Evaluasi II

  a. selesai dengan waktu yang lama

  II II

  II Pendidikan Pendidikan Pendidikan Pendidikan Kewarganegaraan Kewarganegaraan Kewarganegaraan Kewarganegaraan Nama Nama Nama Nama :::: …………………… …………………… …………………… ……………………........ Kelas Kelas Kelas Kelas :::: …………… …………… …………… …………… No. No. No. No. absen absen absen absen :::: …………… …………… …………… …………… Berilah Berilah Berilah Berilah tanda tanda tanda tanda silang silang silang silang (X) (X) (X) (X) pada pada pada pada salah salah salah salah satu satu satu satu huruf huruf huruf huruf a, a,

  a,

  a, bbbb atau atau atau atau cccc yang yang yang yang kamu kamu kamu kamu pilih pilih pilih pilih sebagai sebagai sebagai sebagai jawaban jawaban jawaban jawaban paling paling paling paling benar! benar! benar! benar!

  1. Salah satu contoh membantu pekerjaan orang tua yang dilakukan di rumah adalah ….

  a. menyapu halaman rumah

  b. membersihkan papan tulis

  c. ikut kerja bakti kampung

  2. Jika kamu giat dalam bekerja, maka pekerjaanmu akan ....

  b. selesai dengan tepat waktu

  a. ikut membantu dengan kurang semangat b. ikut membantu dengan senang hati

  c. tidak selesai tepat waktu

  3. Giat dalam bekerja merupakan pertanda sifat orang yang ….

  a. hemat

  b. sopan

  c. rajin

  4. Tugas utama pekerjaan regu piket adalah ….

  a. menyapu ruang kelas yang kotor

  b. menyediakan minuman untuk guru

  c. mencuci peralatan sekolah

  5. Jika ada kegiatan kerja bakti di

  c. memperlambat pekerjaan

  174

  untuk membantu orang tua adalah …

  19. Mendorong mobil sendirian akan

  a. mengerjakan PR

  b. mencuci kaos kaki kita terasa ... apabila dibandingkan

  c. mencuci piring kotor mendorong beramai-ramai.

  a. berat

  13. Jika bekerja dengan giat maka

  b. mudah kebutuhan kita akan dapat ...

  c. ringan

  a. terpenuhi

  b. bertambah

  20. Suatu pekerjaan terasa ringan dan

  c. berkurang menyenangkan jika kamu lakukan dengan …

  14. Apabila ada teman yang meminta

  a. imbalan hadiah bantuan untuk mengerjakan latihan b. penuh semangat soal, maka sikap yang sebaiknya kita c. sambil bernyanyi tunjukkan adalah … a. memberikan jawaban kita

  b. mengajari cara mengerjakannya

  c. menolak untuk membantu

  15. Tugas rumah adalah pekerjaan yang harus dilakukan oleh ..

  a. ayah, ibu dan pembantu rumah tangga b. kakak, adik dan ibu

  c. semua anggota keluarga

  16. Apabila kamu bercita-cita ingin menjadi guru maka mulai sekarang kamu harus …

  a. bekerja menjadi guru

  b. belajar dengan rajin

  c. mengikuti pelatihan guru

  17. Sikap yang harus kita tunjukkan saat bekerja adalah … a. semangat, gembira dan terpaksa

  b. senang, malas dan disiplin

  c. jujur, semangat dan gembira

  18. Salah satu bentuk kerjasama di rumah, adalah kerjasama ketika ....

  a. mencuci tas sekolah

  b. membereskan tempat tidur

  175

  Kunci Kunci Jawaban Jawaban Soal Soal Evaluasi Evaluasi

  II II PKn PKn Kunci Jawaban Kunci Jawaban Soal Soal Evaluasi Evaluasi II

  II PKn PKn

  1. a. menyapu halaman rumah 2. b. selesai dengan tepat waktu 3. c. rajin 4. a. menyapu ruang kelas yang kotor 5. b. ikut membantu dengan senang hati 6. a. ronda malam 7. a. cepat selesai 8. b. bekerja sama 9. c. soal ulangan Mid 10. b. membersihkan aula 11. a. mempermudah pekerjaan 12. c. mencuci piring kotor 13. a. terpenuhi 14. b. mengajari cara mengerjakannya 15. c. semua anggota keluarga 16. b. belajar dengan rajin 17. c. jujur, semangat dan gembira 18. c. membersihkan rumah 19. a. berat 20. b. penuh semangat

  176

  Soal Soal Soal Soal Evaluasi Evaluasi Evaluasi Evaluasi II

  II Bahasa Bahasa Bahasa Bahasa Indonesia Indonesia Indonesia Indonesia Nama Nama Nama Nama :::: ………………………… ………………………… ………………………… …………………………........ Kelas Kelas Kelas Kelas :::: …………… …………… …………… …………… No. No. No. No. absen absen absen absen :::: …………… …………… …………… …………… Berilah Berilah Berilah Berilah tanda tanda tanda tanda silang silang silang silang (X) (X) (X) (X) pada pada pada pada salah salah salah salah satu satu satu satu huruf huruf huruf huruf a, a,

II II

  a, bbbb atau atau atau atau cccc yang yang yang yang kamu kamu kamu kamu pilih pilih pilih pilih sebagai sebagai sebagai sebagai jawaban jawaban jawaban jawaban paling paling paling paling benar! benar! benar! benar!

  6. Sebagai anak beruang, hal yang pantas dilakukan anak beruang setelah a. meminta untuk dilepas di hutan

  c. disiplin dan semangat dalam bekerja

  a. berbuat baik dan mengharapkan imbalan b. berani dan menindas orang lemah

  10. Salah satu sikap yang dapat kamu contoh dari dongeng Nenek yang Hebat adalah …

  c. kita harus semangat dalam bekerja

  a. kita harus kuat dalam menghadapi bahaya b. kita harus berani terhadap raja

  9. Pesan yang dapat diambil dari dongeng Nenek yang Hebat adalah …

  c. membantu orang tua membeli makanan

  8. Contoh perbuatan beruang saat membantu nenek yang dapat kita contoh saat membantu orang tua di rumah adalah … a. membantu orang tua merawat tanaman b. membantu orang tua berbelanja

  c. tinggal bahagia di istana

  b. mendapat harta melimpah

  a. tidak diusir dari desa

  7. Manfaat sikap senang bekerja yang didapatkan oleh nenek dan beruang adalah ..

  b. membantu nenek sebagai bentuk balas budi c. berniat untuk mengikuti raksasa

  c. merawat dan membesarkan beruang

  1. Tokoh yang ada dalam dongeng Nenek yang Hebat adalah … a. nenek, raja dan beruang

  b. mengajak jalan-jalan beruang

  a,

  5. Selama 5 tahun nenek hal yang dilakukan nenek terhadap beruang adalah …

  c. bekerja agar mendapat makanan

  b. bekerja demi membantu nenek

  4. Apa yang dilakukan beruang dalam dongeng Nenek yang Hebat adalah … a. bekerja hingga larut malam

  c. nenek terkejut dan marah

  b. nenek terkejut namun tetap berani

  3. Yang terjadi saat nenek bertemu dengan raja adalah … a. nenek terkejut dan lari

  c. seekor anak beruang

  b. kendi berisi emas

  2. Saat berjalan di pasar nenek menemukan … a. uang yang terjatuh

  c. beruang, nenek dan raksasa

  b. raja, beruang dan kakek

  a. memberi beruang sebuah kandang

  177

  Kunci Kunci Kunci Jawaban Kunci Jawaban Soal Jawaban Jawaban Soal Soal Evaluasi Soal Evaluasi Evaluasi II Evaluasi

  II II Bahasa

  II Bahasa Bahasa Bahasa Indonesia Indonesia Indonesia Indonesia

  1. a. nenek, raja dan beruang 2. c. seekor anak beruang 3. b. nenek terkejut namun tetap berani 4. b. bekerja demi membantu nenek 5. c. merawat dan membesarkan beruang 6. b. membantu nenek sebagai bentuk balas budi 7. a. tidak diusir dari desa 8. a. membantu orang tua merawat tanaman 9. c. kita harus semangat dalam bekerja 10. c. disiplin dan semangat dalam bekerja

  178 Papan pilihan Siswa yg terpilih akan memilih satu nomor dari 12 yang disediakan. Terdapat berbagai macam pertanyaan maupun tugas yang harus di kerjakan. Misalnya menyiram tanaman, menyapu lantai, dll

  Kartu 4 warna yg akan di bagikan untuk masing-masing siswa. Kartu ini betuliskan nama alat kebersihan dan nama objek yg bisa dibersihkan.

  

HASIL HASIL PERHITUNGAN: PERHITUNGAN:

HASIL HASIL PERHITUNGAN: PERHITUNGAN:

  1. VALIDITAS 1.

  1. VALIDITAS

  1.

  VALIDITAS

  VALIDITAS

  2. RELIABILITAS

  2. RELIABILITAS RELIABILITAS

  2. RELIABILITAS 2.

  180

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  16 Putri

  11

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  18 Pampam 0

  10

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  17 Dimas P 1

  15

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  13 Indra

  1

  9

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  15 Kezia

  10

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  14 Aldy

  17

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  22 Andika

  1

  12

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  23 Dea

  15

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  19 Yoan

  12

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  21 Willi

  14

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  20 Prima

  16

  1

  12 Rafael

  Validitas Validitas Validitas

Validitas Siklus

Siklus Siklus

  1

  1

  1

  1

  1

  4 Vina

  14

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  5 Amel

  13

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  3 Alvin

  12

  18 18 18 19

  1

  1

  1

  1 Yuli

  20 Total Total Total Total

  20

  20

  19 19 19 20

  17 17 17 18

  1

  16 16 16 17

  15 15 15 16

  14 14 14 15

  13 13 13 14

  12 12 12 13

  11 11 11 12

  

10

10 10 11

  Siklus IIII No No No No Nama Nama Nama Nama 1111 2222 3333 4444 5555 6666 7777 8888 9999 10

  1

  1

  10

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2 Dimas

  14

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  6 Dion

  13

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  10 Cita

  1

  10

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  11 Ita

  16

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  7 Angela

  12

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  9 Berliana 0

  1

  13

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  8 Belicia

  12

  1

  1

  1

  14

  181

  1

  29 Angela

  13

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  28 Jenni

  11

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  30 Ariella

  10

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  24 Saputri

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  25 Filla

  15

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  27 Arthur

  11

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  26 Vito

  18

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  15

  

Hasil Hasil Perhitungan Perhitungan Menggunakan Menggunakan SPSS SPSS untuk untuk Validitas Validitas Siklus Siklus

Hasil Perhitungan Hasil Perhitungan Menggunakan Menggunakan SPSS SPSS untuk untuk Validitas Validitas Siklus Siklus IIII

x1 x2 x3 x4 x5 x6 x7 x8 x9 x10 x11 x12 x13 x14 x15 x16 x17 x18 x19 x20 Total x1 Pearson

  1 .086 .186 -.009 -.165 .050 .312 .381 .186 -.067 .186 .053 -.027 .212 .107 .251 -.067 -.005 -.165 .154 .521

  Correlation Sig.

  .651 .326 .962 .384 .794 .094 .038 .326 .724 .326 .782 .885 .260 .574 .182 .724 .978 .384 .417 .003 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x2 Pearson .086 1 .086 .144 -.247 .222 .107 .190 .086 .067 -.050 -.251 .439 -.212 -.247 -.053 -.381

  .005 .027 -.154 .274 Correlation Sig.

  .651 .651 .448 .188 .239 .574 .314 .651 .724 .794 .182 .015 .260 .189 .782 .038 .978 .885 .417 .143 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x3 Pearson .186 .086 1 .126 -.302 -.222 .033 -.190 .186 .067 .321 -.145 .247 -.162 -.312 .053 -.067 .154 -.027 .313 .315 Correlation

  Sig.

  .326 .651 .508 .105 .239 .864 .314 .326 .724 .083 .444 .188 .391 .094 .782 .724 .417 .885 .092 .090 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x4 Pearson

    • .009 .144 .126 1 -.218 .396 -.296 .047 -.144 .134 -.144 .223 .327 .199 -.259 .223 -.089 .274 .055 -.042 .368

  Correlation Sig.

  .962 .448 .508 .247 .031 .113 .804 .448 .481 .448 .237 .077 .293 .167 .237 .640 .143 .775 .825 .045 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x5 Pearson

  • .165 -.247 -.302 -.218 1 -.027 .226 -.289 -.165 .000 -.302 .280 -.111 -.152 -.085 .080 .181 -.290 .028 -.129 -.155 Correlation Sig.

  .384 .188 .105 .247 .885 .230 .122 .384 1.000 .105 .134 .559 .424 .656 .674 .337 .121 .884 .498 .414 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x6 Pearson .050 .222 -.222 .396 -.027 1 .172 .238 .050 -.067 .050 .053 -.027 -.162 -.172 .053 -.067 .154 .110 -.323 .344

  • Correlation Sig.

  .794 .239 .239 .031 .885 .363 .206 .794 .724 .794 .782 .885 .391 .363 .782 .724 .417 .563 .081 .062 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x7 Pearson .312 .107 .033 -.296 .226 .172 1 -.098 -.107 -.208 .172 -.298 -.339 -.141 .292 -.095 -.254 -.256 -.056 .071 .118 Correlation

  Sig.

  .094 .574 .864 .113 .230 .363 .607 .574 .271 .363 .109 .067 .456 .118 .618 .176 .172 .767 .710 .534 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  182 x8 Pearson

  .381 .190 -.190 .047 -.289 .238 -.098 1 .381 -.141 .238 .139 .144 .263 .098 .139 .236 .111 -.144 .111 .526

  • Correlation Sig.

  .038 .314 .314 .804 .122 .206 .607 .038 .456 .206 .465 .447 .161 .607 .465 .210 .558 .447 .558 .003 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x9 Pearson

    • .186 .086 .186 -.144 -.165 .050 -.107 .381

  1 -.605 -.086 .251 .110 .212 -.172 .053 .381 .154 .110 .313 .374

  • Correlation Sig.

  .326 .651 .326 .448 .384 .794 .574 .038 .000 .651 .182 .563 .260 .363 .782 .038 .417 .563 .092 .042 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x10 Pearson

  • .067 .067 .067 .134 .000 -.067 -.208 -.141 -.605 1 -.067 -.196 .136 -.186 -.069 .000 -.333 .236 .000 -.236 -.044
    • Correlation Sig.

  .724 .724 .724 .481 1.000 .724 .271 .456 .000 .724 .299 .473 .326 .716 1.000 .072 .208 1.000 .208 .818 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x11 Pearson .186 -.050 .321 -.144 -.302 .050 .172 .238 -.086 -.067 1 -.343 -.165 -.162 .107 .053 .157 -.005 -.165 .154 .227 Correlation

  Sig.

  .326 .794 .083 .448 .105 .794 .363 .206 .651 .724 .064 .384 .391 .574 .782 .407 .978 .384 .417 .228 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x12 Pearson .053 -.251 -.145 .223 .280 .053 -.298 .139 -.196 -.343 .251 1 .280 .473 -.109 .423 .196 .015 .080 .247 .326

  Correlation Sig.

  .782 .182 .444 .237 .134 .782 .109 .465 .182 .299 .064 .134 .008 .568 .020 .299 .935 .674 .188 .079 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x13 Pearson *

  • .027 .439 .247 .327 -.111 -.027 -.339 .144 .110 .136 -.165 .280 1 -.152 -.226 .080 -.045 .032 -.250 -.129 .292 Correlation Sig.

  .885 .015 .188 .077 .559 .885 .067 .447 .563 .473 .384 .134 .424 .230 .674 .812 .866 .183 .498 .118 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x14 Pearson .212 -.212 -.162 .199 -.152 -.162 -.141 .263 .212 -.186 -.162 .473 -.152 1 .141 -.073 -.062 -.102 -.152 .337 .073

  • Correlation Sig.

  .260 .260 .391 .293 .424 .391 .456 .161 .260 .326 .391 .008 .424 .456 .702 .745 .590 .424 .069 .701 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x15 Pearson .107 -.247 -.312 -.259 -.085 -.172 .292 .098 -.172 -.069 .107 -.109 -.226 .141 1 -.109 .023 -.234 -.226 .093 -.088 Correlation

  183 Sig.

  .574 .189 .094 .167 .656 .363 .118 .607 .363 .716 .574 .568 .230 .456 .568 .904 .212 .230 .626 .645 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x16 Pearson .053

  • Correlation Sig.

  1 .196 .247 .280 .247 .541

  • .251 -.053 .223 .080 .053 -.095 .139 .053 .000 .053 .423 .080 -.073 -.109

  .182 .782 .782 .237 .674 .782 .618 .465 .782 1.000 .782 .020 .674 .702 .568 .299 .188 .134 .188 .002 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x17 Pearson

    • .067 -.381 -.067 -.089 .181 -.067 -.254 .236 .381 -.333 .157 .196 -.045 -.062 .023 .196 1 .079 -.045 .079 .131 Correlation Sig.

  .724 .038 .724 .640 .337 .724 .176 .210 .038 .072 .407 .299 .812 .745 .904 .299 .679 .812 .679 .489 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x18 Pearson

  • .005 .005 .154 .274 -.290 .154 -.256 .111 .154 .236 -.005 .015 .032 -.102 -.234 .247 .079 1 .354 .068 .390
    • Correlation Sig.

  .978 .978 .417 .143 .121 .417 .172 .558 .417 .208 .978 .935 .866 .590 .212 .188 .679 .055 .720 .033 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x19 Pearson

  • .165 .027 -.027 .055 .028 .110 -.056 -.144 .110 .000 -.165 .080 -.250 -.152 -.226 .280 -.045 .354 1 .193 .202 Correlation Sig.

  .384 .885 .885 .775 .884 .563 .767 .447 .563 1.000 .384 .674 .183 .424 .230 .134 .812 .055 .307 .283 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x20 Pearson

  .111 .313 -.236 .154 .247 -.129 .337 .093 .247 .079 .068 .193 1 .390 Correlation Sig.

  • .154 -.154 .313 -.042 -.129 -.323 .071

  .417 .417 .092 .825 .498 .081 .710 .558 .092 .208 .417 .188 .498 .069 .626 .188 .679 .720 .307 .033 (2-tailed) N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 Total Pearson

  .521 .274 .315 .368 -.155 .344 .118 .526 .374 -.044 .227 .326 .292 .073 -.088 .541 .131 .390 .202 .390

  1 Correlation Sig. .003 .143 .090 .045 .414 .062 .534 .003 .042 .818 .228 .079 .118 .701 .645 .002 .489 .033 .283 .033 (2-tailed)

  N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  • . Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
    • . Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

  184

  185

  15

  14

  14 Aldy Aldy Aldy Aldy 0000 1111 1111 0000 1111 0000 0000 1111 0000 1111 1111 1111 0000 0000 1111 0000 1111 0000 0000 1111

  10

  10

  10

  10

  15

  14

  15

  15 Kezia Kezia Kezia

Kezia 1111 1111 1111 0000 0000 1111 1111 0000 1111 1111 1111 0000 0000 0000 1111 1111 1111 0000 1111 0000

  12

  12

  12

  12

  16

  14

  13 Indra Indra Indra Indra 1111 0000 1111 0000 1111 0000 0000 0000 0000 0000 1111 0000 0000 0000 1111 1111 1111 1111 0000 0000 8888

  16

  12

  11 Ita Ita Ita

Ita 0000 1111 1111 1111 1111 1111 1111 1111 0000 1111 0000 0000 1111 1111 1111 1111 0000 0000 1111 1111

  14

  14

  14

  14

  12

  12

  13

  12 Rafael Rafael Rafael Rafael 1111 1111 1111 1111 1111 0000 1111 0000 1111 0000 1111 1111 1111 1111 0000 0000 1111 1111 1111 1111

  15

  15

  15

  15

  13

  13

  16

  

16 Putri Putri Putri Putri 0000 0000 1111 0000 0000 0000 0000 1111 0000 1111 1111 1111 1111 1111 1111 0000 0000 0000 0000 0000 8888

  11

  20

  13

  13

  13

  13

  20

  20

  

20 Prima Prima Prima Prima 0000 0000 0000 0000 0000 1111 0000 0000 0000 0000 1111 1111 1111 1111 1111 0000 0000 0000 0000 1111 7777

  19

  21

  21

  21

  21 Willi Willi Willi

Willi 1111 0000 1111 0000 1111 0000 1111 0000 1111 1111 1111 1111 1111 1111 1111 1111 1111 0000 1111 1111

  15

  15

  15

  19 Yoan Yoan Yoan

Yoan 1111 1111 1111 0000 1111 1111 1111 1111 1111 0000 1111 0000 0000 1111 1111 0000 0000 1111 1111 0000

  19

  17

  10

  17

  17

  17 Dimas Dimas Dimas Dimas P. P. P. P. 1111 0000 0000 1111 0000 1111 1111 0000 0000 1111 0000 1111 1111 1111 0000 0000 0000 1111 0000 1111

  10

  10

  10

  18

  19

  18

  18

  18 Pampam Pampam Pampam Pampam 1111 1111 1111 1111 0000 0000 1111 1111 1111 0000 1111 0000 1111 0000 0000 1111 0000 0000 1111 1111

  12

  12

  12

  12

  11

  11

  

Validitas Validitas Validitas Validitas Siklus Siklus Siklus Siklus II

  16

  14

  14

  15

  15

  15

  15

  16

  14

  16

  16

  17

  17

  17

  17

  18

  14

  13

  18

  11

  IIIIII No No No No Nama Nama Nama Nama 1111 2222 3333 4444 5555 6666 7777 8888 9999

  

10

  

10

  

10

  

10

  11

  11

  13

  11

  12

  12

  12

  12

  13

  13

  18

  18

  15

  10

8888 Belicia Belicia Belicia Belicia 0000 1111 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 1111 0000 0000 0000 0000 0000 1111 0000 0000 0000 0000 3333

9999 Berliana

  13

  13

6666 Dion Dion Dion Dion 0000 1111 0000 0000 1111 0000 0000 0000 0000 0000 1111 0000 1111 1111 0000 1111 0000 1111 0000 0000 7777

7777 Angela

  Angela Angela

Angela 1111 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 1111 1111 1111 1111 1111 1111 1111 1111 1111 0000

  10

  10

  10

  Berliana Berliana Berliana 1111 0000 1111 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 1111 0000 1111 1111 1111 1111 0000 0000 1111 0000 8888

  13

  10

  10

  10

  10 Cita Cita Cita Cita 0000 0000 0000 1111 1111 1111 1111 1111 1111 1111 0000 0000 1111 1111 1111 1111 1111 1111 1111 1111

  15

  15

  15

  13

  Amel Amel

Amel 0000 1111 1111 1111 0000 0000 1111 0000 1111 1111 0000 1111 1111 1111 1111 0000 1111 0000 1111 1111

  19

  20 Total Total Total Total 1111 Yuli Yuli Yuli

Yuli 1111 0000 0000 1111 0000 1111 1111 1111 0000 1111 1111 0000 1111 1111 1111 1111 0000 1111 0000 1111

  19

  19

  19

  20

  20

  20

  13

  12

4444 Vina Vina Vina Vina 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 1111 1111

5555 Amel

  13

  13

  13

2222 Dimas Dimas Dimas Dimas 1111 0000 0000 1111 1111 0000 0000 0000 0000 1111 0000 1111 0000 0000 1111 1111 1111 0000 1111 0000 9999

3333 Alvin

  Alvin Alvin

Alvin 0000 0000 1111 0000 0000 0000 1111 1111 1111 1111 0000 1111 1111 1111 1111 0000 1111 1111 1111 0000

  12

  12

  12

  15

  

22 Andika Andika Andika Andika 0000 0000 0000 0000 0000 0000 1111 1111 1111 0000 0000 1111 0000 0000 0000 1111 0000 1111 1111 0000 7777

  22

  22

  22

  23

  23

  23 Dea Dea Dea Dea 0000 1111 1111 0000 0000 1111 1111 1111 1111 0000 1111 0000 1111 1111 1111 1111 1111 0000 1111 0000

  23

  13

  13

  13

  13

  24

  24

  24 Saputri Saputri Saputri Saputri 1111 1111 1111 1111 0000 1111 0000 1111 1111 1111 1111 0000 1111 1111 1111 1111 1111 1111 1111 0000

  24

  16

  16

  16

  16

  

25 Filla Filla Filla Filla 0000 0000 1111 0000 0000 1111 1111 1111 0000 0000 0000 1111 0000 0000 0000 0000 1111 1111 0000 1111 8888

  25

  25

  25

  26

  26

  26

  26 Vito Vito Vito Vito 1111 1111 1111 0000 1111 0000 0000 0000 1111 1111 1111 1111 0000 0000 1111 0000 0000 1111 0000 1111

  11

  11

  11

  11

  27 Arthur Arthur Arthur Arthur 0000 1111 0000 1111 1111 1111 1111 0000 1111 1111 0000 0000 1111 1111 1111 1111 0000 0000 0000 1111

  27

  27

  27

  12

  12

  12

  12

  28

  28

  28 Jenni Jenni Jenni Jenni 1111 1111 0000 1111 1111 1111 0000 1111 1111 1111 1111 1111 1111 1111 0000 0000 1111 0000 1111 1111

  28

  15

  15

  15

  15

  

29 Angela Angela Angela Angela 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000

  29

  29

  29

  

30 Ariella Ariella Ariella Ariella 0000 0000 0000 1111 0000 1111 0000 1111 0000 1111 0000 1111 0000 0000 0000 0000 0000 1111 1111 1111 8888

  30

  30

  30

  186

  

Hasil Hasil Perhitungan Perhitungan Menggunakan Menggunakan SPSS SPSS untuk untuk Validitas Validitas Siklus Siklus

Hasil Perhitungan Hasil Perhitungan Menggunakan Menggunakan SPSS SPSS untuk untuk Validitas Validitas Siklus Siklus IIIIIIII

x1 x2 x3 x4 x5 x6 x7 x8 x9 x10 x11 x12 x13 x14 x15 x16 x17 x18 x19 x20 total

  • x1 Pearson 1 .063 .205 .191 .191 -.009 .000 -.205 .196 .009 .548 .000 .082 .082 .157 .205 .196 .196 .279 -.063 .411
  • Correlation
  • Sig. (2-tailed)

  1.00 .024 .743 .276 .312 .312 .962 1.000 .276 .298 .962 .002 0 .667 .667 .407 .276 .298 .298 .136 .743

  N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x2 Pearson

  • .063

  1 .339 .191 .327 .126 .134 .063 .464 .144 .279 -.267 .082 .082 .018 .071 .063 -.205 .144 .071 .394

  • Correlation
  • Sig. (2-tailed) .743 .067 .312 .077 .508 .481 .743 .010 .448 .136 .153 .667 .667 .923 .708 .743 .276 .448 .708 .031 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x3 Pearson

  .205 .339 1 -.191 .082 -.126 .267 .205 .339 -.009 .396 .000 .055 .055 .397 -.071 .339 -.063 .261 -.071 .422

  • Correlation Sig. (2-tailed) .276 .067

  .020 .312 .667 .508 .153 .276 .067 .962 .031 1.000 .775 .775 .030 .708 .067 .743 .164 .708 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x4 Pearson

  .191 .191 -.191 1 .167 .384 .272 .191 .191 .439 -.247 .000 .389 .250 -.085 .082 .055 .055 .302 .491 .509 Correlation Sig. (2-tailed) .312 .312 .312

  .004 .379 .036 .146 .312 .312 .015 .188 1.000 .034 .183 .656 .667 .775 .775 .105 .006 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x5 Pearson

  • .191 .327 .082 .167 1 -.027 .000 -.082 .191 .165 .165 .000 -.028 .111 .198 .082 .191 .055 .027 .218 .373 Correlation Sig. (2-tailed)

  1.00 .312 .077 .667 .379 .042 .885 1.000 .667 .312 .384 .384 0 .884 .559 .295 .667 .312 .775 .885 .247

  N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x6 Pearson

    • .009 .126 -.126 .384 -.027 1 .336 .396 .126 .222 -.050 -.202 .165 .302 .107 .009 -.009 .126 .086 .279 .400

  • Correlation Sig. (2-tailed) .962 .508 .508 .036 .885 .069 .031 .508 .239 .794 .285 .384 .105 .574 .962 .962 .508 .651 .136 .029 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  187

  x7 Pearson

  .000 .134 .267 .272 .000 .336 1 .267 .535 .067 -.202 -.067 .272 .272 .069 .134 .134 .134 .336 .267 .524

  • Correlation Sig. (2-tailed)

  1.00

  1.00 .153 .002 .724 .285 .726 .146 .146 .716 .481 .481 .481 .069 .153 .003 0 .481 .153 .146 0 .069 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x8 Pearson

    • .205 .063 .205 .191 -.082 .396 .267 1 .196 .144 .009 .000 .082 .082 .018 -.063 .063 .196 .279 .071 .361 Correlation Sig. (2-tailed) .276 .743 .276 .312 .667 .031 .153

  .050 .298 .448 .962 1.000 .667 .667 .923 .743 .743 .298 .136 .708 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  x9 Pearson

  • .196 .464 .339 .191 .191 .126 .535 .196 1 .144 .144 .000 .218 .218 .157 .071 .330 .063 .548 .071 .644

  Correlation Sig. (2-tailed) .298 .010 .067 .312 .312 .508 .002 .298

  .000 .448 .448 1.000 .247 .247 .407 .708 .075 .743 .002 .708 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x10 Pearson

  • .009 .144 -.009 .439 .165 .222 .067 .144 .144 1 -.222 .202 .110 .110 .312 -.009 .144 -.126 .050 .261 .389
  • Correlation Sig. (2-tailed) .962 .448 .962 .015 .384 .239 .724 .448 .448 .239 .285 .563 .563 .094 .962 .448 .508 .794 .164 .034 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  • x11 Pearson .548 .279 .396
    • .247 .165 -.050 -.202 .009 .144 -.222 1 -.067 .247 .247 .312 .126 .144 .009 .050 -.144 .338

  Correlation Sig. (2-tailed) .002 .136 .031 .188 .384 .794 .285 .962 .448 .239 .724 .188 .188 .094 .508 .448 .962 .794 .448 .067 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x12 Pearson .000 -.267 .000 .000 .000 -.202 -.067 .000 .000 .202 -.067 1 .000 .000 -.069 -.535 .267 .134 .067 .267 .091

  • Correlation Sig. (2-tailed)

  1.00

  1.00

  1.00

  1.00

  1.00

  

1.00

  1.00

  1.00 .631 0 .153 0 .285 .726 0 .285 .724 0 .716 .002 .153 .481 .724 .153 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x13 Pearson

  .082 .082 .055 .389 -.028 .165 .272 .082 .218 .110 .247 .000 1 .861 .226 .191 .082 -.055 .247 .191 .543

  • Correlation
    • Sig. (2-tailed)

  .000 .230 .312 .667 .775 .188 .312 .002 .667 .667 .775 .034 .884 .384 .146 .667 .247 .563 .188 1.000

  188 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  • x14 Pearson

  .082 .082 .055 .250 .111 .302 .272 .082 .218 .110 .247 .000 .861 1 .367 .055 .082 .082 .247 .055 .560 Correlation

  • Sig. (2-tailed)

  .046 .775 .667 .667 .188 .775 .001 .667 .667 .775 .183 .559 .105 .146 .667 .247 .563 .188 1.000 .000 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x15 Pearson

  • * *

  .157 .018 .397 -.085 .198 .107 .069 .018 .157 .312 .312 -.069 .226 .367 1 .259 .296 -.120 .172 -.157 .446

  • Correlation Sig. (2-tailed) .407 .923 .030 .656 .295 .574 .716 .923 .407 .094 .094 .716 .230 .046 .167 .113 .527 .363 .407 .014 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x16 Pearson .205 .071 -.071 .082 .082 .009 .134 -.063 .071 -.009 .126 -.535 .191 .055 .259 1 .071 -.063 .261 -.339 .189 Correlation

  • Sig. (2-tailed) .276 .708 .708 .667 .667 .962 .481 .743 .708 .962 .508 .002 .312 .775 .167 .708 .743 .164 .067 .317 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x17 Pearson

  .196 .063 .339 .055 .191 -.009 .134 .063 .330 .144 .144 .267 .082 .082 .296 .071 1 .063 .413 -.062 .478 Correlation Sig. (2-tailed) .298 .743 .067 .775 .312 .962 .481 .743 .075 .448 .448 .153 .667 .667 .113 .708 .743 .023 .743 .008 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 x18 Pearson .196 -.205 -.063 .055 .055 .126 .134 .196 .063 -.126 .009 .134 -.055 .082 -.120 -.063 .063 1 .009 -.063 .178 Correlation

  Sig. (2-tailed) .298 .276 .743 .775 .775 .508 .481 .298 .743 .508 .962 .481 .775 .667 .527 .743 .743 .962 .743 .347 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  • x19 Pearson
  • .279 .144 .261 .302 .027 .086 .336 .279 .548 .050 .050 .067 .247 .247 .172 .261 .413 .009
    • 1 -.144 .573

  • Correlation Sig. (2-tailed) .136 .448 .164 .105 .885 .651 .069 .136 .002 .794 .794 .724 .188 .188 .363 .164 .023 .962 .448 .001 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  • x20 Pearson -.063 .071 -.071 .491 .218 .279 .267 .071 .071 .261 -.144 .267 .191 .055 -.157 -.339 -.062 -.063 -.144

  1 .272 Correlation

  • Sig. (2-tailed) .743 .708 .708 .006 .247 .136 .153 .708 .708 .164 .448 .153 .312 .775 .407 .067 .743 .743 .448 .146 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  189

  total .509 .524 .644 .560 Pearson

  .411 .422 .373 .400 .361 .394 .389 .338 .091 .543 .446 .189 .478 .178 .573 .272

  1

  Correlation Sig. (2-tailed) .024 .031 .020 .004 .042 .029 .003 .050 .000 .034 .067 .631 .002 .001 .014 .317 .008 .347 .001 .146 N

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  • . Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
    • . Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

  190

  Hasil Reliabilitas Siklus I Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .228

20 Siklus II

  Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .731

  20

  191

  

INSTRUMEN

  

INSTRUMEN

  

INSTRUMEN

PENGUMPULAN DATA

PENGUMPULAN PENGUMPULAN DATA PENGUMPULAN DATA DATA

  

INSTRUMEN

  193

  Lembar Kuesioner Lembar Lembar Lembar Kuesioner Sebelum Kuesioner Kuesioner Sebelum Sebelum Penelitian Sebelum Penelitian Penelitian Penelitian Nama : …………………………..

  Kelas : ………….... No absen : …………… Petunjuk : Berilah gambar senyum ☺ pada kolom setuju, dan gambar murung � pada kolom tidak setuju, berdasarkan pembelajaran PKn bersama pak guru. No Pernyataan Setuju Tidak

  Setuju 1. Saya senang dengan cara guru mengajar PKn.

  2. Saya selalu memperhatikan guru saat mengajar PKn.

  3. Saya senang dengan suasana belajar PKn yang diciptakan oleh guru.

  4. Saya ingin belajar PKn seperti ini setiap hari.

  5. Saya merasa tidak bosan belajar PKn bersama pak guru.

  6. Pembelajaran PKn bersama pak guru kurang menarik.

  7. Saya ingin pak guru mengajar PKn dengan cara lain.

  8. Saya ingin belajar PKn dengan suasana menyenangkan.

  9. Saya tidak mau ikut belajar PKn kalau seperti ini terus.

  10. Tidak banyak materi yang saya dapatkan dalam belajar PKn.

  194

  Lembar Lembar Lembar Lembar Kuesioner Kuesioner Kuesioner Kuesioner Siklus Siklus Siklus Siklus IIII dan dan Siklus dan dan Siklus Siklus II Siklus

II II

  II Nama : …………………………..

  Kelas : ………….... No absen : …………… Petunjuk : Berilah gambar senyum ☺ pada kolom setuju, dan gambar murung � pada kolom tidak setuju, berdasarkan pembelajaran PKn yang tadi telah dilakukan dengan mendongeng.

  No Pernyataan Setuju Tidak Setuju

  1. Saya senang saat guru mengajar PKn dengan mendongeng.

  2. Saya selalu memperhatikan guru saat mendongeng.

  3. Belajar PKn dengan mendongeng itu menyenangkan.

  4. Saya ingin belajar PKn seperti dulu saja, tidak perlu ada mendongeng.

  5. Saya merasa tidak bosan belajar PKn dengan mendongeng.

  6. Mendongeng itu tidak menarik.

  7. Saya ingin guru mendongeng lagi saat pelajaran PKn.

  8. Mendongeng membuat saya semangat mengikuti pelajaran PKn.

  9. Saya tidak ingin belajar mendongeng seperti guru.

  10. Mendongeng memberikan pengaruh baik bagi saya dalam belajar PKn.

  195

  Nama Nama Nama Namasiswa siswa siswa siswa Poin Poin Poin Poin Observasi Observasi Observasi Observasi

  Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Skor Skor Skor Skor Merespon Merespon Merespon Merespon pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan Berpendapat Berpendapat Berpendapat Berpendapat Tidak Tidak Tidak Tidak mengeluh mengeluh mengeluh mengeluh Tidak Tidak Tidak Tidak bosan bosan bosan bosan Wajah Wajah Wajah Wajah ceria ceria ceria ceria Kerja Kerja Kerja Kerja tugas tugas tugas tugas Aktif Aktif Aktif Aktif Fokus Fokus Fokus Fokus materi materi materi materi Tidak Tidak Tidak Tidak melakukan melakukan melakukan melakukan aktivitas aktivitas aktivitas aktivitas lain lain lain lain Memperhatikan Memperhatikan Memperhatikan Memperhatikan seksama seksama seksama seksama 1.

  2 3.

  4.

  5.

  6. ……

  Rubrik Rubrik Rubrik Rubrik Observasi Observasi Observasi Observasi Minat Minat Minat Minat Belajar Belajar Belajar Belajar (Afektif) (Afektif) (Afektif) (Afektif)

  Rubrik Rubrik Rubrik Observasi Rubrik Observasi Observasi Minat Observasi Minat Belajar Minat Minat Belajar Belajar ((((Psikomotorik Belajar Psikomotorik)))) Psikomotorik Psikomotorik Poin Poin Poin Observasi Poin Observasi Observasi Observasi Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah No No No No Nama Nama Nama Namasiswa siswa siswa siswa Menjawab Menjawab Menjawab Menjawab Senang Senang Senang Senang Semangat Semangat Semangat Semangat Antusias Antusias Antusias Antusias Bekerja Bekerja Mengikuti Mengikuti Mengungkapkan Mengungkapkan Angkat Angkat Bercerita Bercerita Skor Skor Bekerja Bekerja Mengikuti Mengikuti Mengungkapkan Mengungkapkan Angkat Angkat Bercerita Bercerita Skor Skor pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan Partisipasi Partisipasi Partisipasi Partisipasi dengan dengan dengan dengan dalam dalam dalam dalam terhadap terhadap terhadap terhadap sama sama sama sama instruksi instruksi instruksi instruksi pendapat pendapat pendapat pendapat tangan tangan tangan tangan kembali kembali kembali kembali lisan lisan lisan lisan teman teman teman teman permainan permainan permainan permainan tugas tugas tugas tugas 1.

  2 3.

  4.

  5.

  6.

  7. …

  196

  197

  Keterangan Poin Observasi Psikomotorik No No No No Poin Poin Poin Poin Observasi Observasi Observasi Observasi

  9 Siswa selalu mengangkat tangan bila ada pertanyaan

  8 Siswa antusias terhadap tugas yang diberikan

  7 Siswa mampu mengikuti permainan dengan penuh semangat

  6 Siswa mampu mengungkapkan pendapatnya dalam pembelajaran

  5 Siswa mengikuti instruksi yang diberikan dengan senang dan penuh perhatian

  4 Siswa senang dapat melakukan kegiatan bersama teman

  3 Siswa dapat bekerja sama dengan teman

  2 Siswa berpartisipasi dalam proses pembelajaran

  1 Siswa menjawab pertanyaan lisan dalam pembelajaran

  10 Siswa memperhatikan metode pembelajaran dengan seksama.

  Keterangan Poin Observasi Afektif No No No No Poin Poin Poin Poin Observasi Observasi Observasi Observasi

  9 Siswa tidak melakukan aktivitas lain saat pembelajaran

  8 Siswa memberikan fokus pada materi pelajaran.

  7 Siswa aktif dalam menjalani proses pembelajaran

  6 Siswa mengerjakan tugas yang diberikan

  5 Siswa menunjukkan wajah ceria saat pembelajaran

  4 Siswa tidak terlihat bosan selama pembelajaran

  3 Siswa mengikuti proses pembelajaran tanpa mengeluh

  2 Siswa mampu berpendapat saat proses pembelajaran

  1 Siswa merespon pertanyaan dalam proses pembelajaran

  10 Siswa dapat menceritakan kembali materi pelajaran

  

HASIL HASIL PENGOLAHAN PENGOLAHAN DATA DATA

HASIL HASIL PENGOLAHAN PENGOLAHAN DATA DATA

  199

  200

  201

  202

  203

  204

  205

  70 70 140

  90 90 180

  21 AND

  60

  70 50 120

  20 MAL

  55

  60 50 110

  19 VAN

  70

  18 GAD

  22 REZ

  85

  80 90 170

  17 MAR

  75

  80 70 150

  16 JOV

  70

  70 70 140

  15 BIM

  55

  90

  60 40 100

  14 CAR

  26 NIK

  70 60 130

  29 BIN

  60

  60 60 120

  28 MEI

  50

  50 50 100

  27 DEO

  80

  80 80 160

  40

  50

  80

  40

  40

  25 VAN

  50

  30 70 100

  24 RIA

  60

  70 50 120

  23 WUL

  50 60 110

  65

  Perhitungan Perhitungan Perhitungan Perhitungan Observasi Observasi Observasi Observasi Minat Minat Minat Minat Siswa Siswa Siswa Siswa Kondisi Kondisi Kondisi Kondisi Awal Awal Awal Awal

  50

  90

  60

  30

  4 RAR

  30

  60

  50

  10

  3 FEB

  70 30 100

  5 PAN

  2 YUS

  40

  80

  30

  50

  1 HEN

  Psikomotori k

  Rata-rata observasi Afektif

  Aspek Pengamatan Total

  No urut Nama Siswa

  45

  70 80 150

  60 70 130

  80

  13 FER

  65

  70 60 130

  12 SHE

  70

  70 70 140

  11 BAR

  60

  60 60 120

  10 DEV

  80 80 160

  75

  9 DET

  55

  40 70 110

  8 DEO

  60

  50 70 120

  7 BEL

  75

  70 80 150

  6 BAY

  65

  206

  80 90 170

  21 AND 90 100 190

  90

  90 90 180

  20 MAL

  65

  60 70 130

  19 VAN

  85

  18 GAD

  22 REZ

  90

  90 90 180

  17 MAR

  90

  16 JOV 100 80 180

  85

  90 80 170

  15 BIM

  95

  90 90 180

  70 80 150

  95

  70 80 150

  29 BIN

  70

  70 70 140

  28 MEI

  85

  80 90 170

  27 DEO

  26 NIK 90 100 190

  90

  80

  70 90 160

  25 VAN

  70

  60 80 140

  24 RIA

  80

  70 90 160

  23 WUL

  75

  14 CAR

  Perhitungan Perhitungan Perhitungan Perhitungan Observasi Observasi Observasi Observasi Minat Minat Minat Minat Siswa Siswa Siswa Siswa Siklus Siklus Siklus Siklus IIII

  70

  95

  5 PAN 90 100 190

  65

  60 70 130

  4 RAR

  50

  50 50 100

  3 FEB

  70 70 140

  90 70 160

  2 YUS

  70

  80 60 140

  1 HEN

  Psikomotori k

  Total Rata-rata Afektif observasi

  Aspek Pengamatan

  No urut Nama Siswa

  6 BAY

  80

  70

  65

  60 80 140

  13 FER

  75

  80 70 150

  12 SHE

  90

  90 90 180

  11 BAR

  60 70 130

  7 BEL

  10 DEV

  85

  90 80 170

  9 DET

  75

  80 70 150

  8 DEO

  75

  70 80 150

  75

  207

  Perhitungan Perhitungan Perhitungan Perhitungan Observasi Observasi Observasi Observasi Minat Minat Minat Minat Siswa Siswa Siswa Siswa Siklus Siklus Siklus Siklus II

II II

  urut Nama Siswa

  80

  95

  21 AND 90 100 190

  95

  20 MAL 100 90 190

  85

  80 90 170

  19 VAN

  90 70 160

  23 WUL

  18 GAD

  95

  17 WIL 100 90 190

  95

  16 JOV 100 90 190

  75

  70 80 150

  22 REZ 100 100 200 100

  80 80 160

  85

  90 90 180

  85

  80 90 170

  29 BIN

  85

  90 80 170

  28 MEI

  90

  27 DEO

  80

  95

  26 NIK 90 100 190

  90

  25 VAN 80 100 180

  80

  70 90 160

  24 RIA

  15 BIM

  90 80 170

  Aspek Pengamatan Total Rata-rata observasi

  80 60 140

  6 BAY

  95

  5 PAN 90 100 190

  85

  80 90 170

  4 RAR

  70

  3 FEB

  90

  85

  80 90 170

  2 YUS

  65

  60 70 130

  1 HEN

  Afektif Psikomotori k

  90 90 180

  7 BEL 90 100 190

  II No

  11 BAR

  85

  90 80 170

  13 FER

  90

  12 SHE 80 100 180

  90

  90 90 180

  85

  95

  80 90 170

  10 DEV

  95

  9 DET 100 90 190

  85

  80 90 170

  8 DEO

  14 CAR

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Peningkatan kedisiplinan dan prestasi belajar menggunakan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran PKn untuk siswa kelas II SDN Kledokan.
0
5
275
Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar pada mata pelajaran PKn siswa kelas IIB menggunakan metode Role-Play di SD Kanisius Sorowajan.
0
0
282
Peningkatan motivasi dan prestasi belajar dalam mata pelajaran IPS melalui metode quantum learning pada siswa kelas V SD Negeri Sarikarya tahun pelajaran 2014/2015.
0
8
290
Peningkatan minat dan prestasi belajar PKn melalui penerapan model kooperatif tipe JIGSAW II pada siswa kelas IVA SD Kanisius Ganjuran.
0
0
214
Peningkatan prestasi belajar dengan menggunakan metode bermain peran mata pelajaran PKn siswa kelas IVB SD Marsudirini Muntilan, Magelang.
0
2
133
Peningkatan minat belajar dan prestasi belajar IPS siswa kelas V SD Pangudi Luhur Sedayu melalui penerapan model kooperatif teknik Jigsaw II.
0
2
343
Peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu melalui metode mendongeng.
0
2
258
Peningkatan prestasi belajar melalui metode bermain peran mata pelajaran PKn siswa kelas V SD Kanisius Manding, Bantul semester genap tahun pelajaran 2011/2012.
0
0
184
Peningkatan minat dan prestasi belajar siswa menggunakan metode Discovery-Inquiry Terbi Mbiing pada mata pelajaran IPA kelas IV SDN Ungaran II tahun pelajaran 2011/2012.
0
0
245
Peningkatan minat belajar dan prestasi belajar IPS siswa kelas V SD Pangudi Luhur Sedayu melalui penerapan model kooperatif teknik Jigsaw II
0
2
341
Peningkatan prestasi belajar dengan menggunakan metode bermain peran mata pelajaran PKn siswa kelas IVB SD Marsudirini Muntilan, Magelang
0
0
131
Hubungan antara media pembelajaran dan kedisiplinan belajar dengan prestasi belajar siswa : studi kasus siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu Bantul - USD Repository
0
0
136
Peningkatan prestasi belajar mata pelajaran IPS dengan metode kerja kelompok bagi siswa kelas II semester 2 SD Kanisius Sorowajan tahun pelajaran 2009/2010 - USD Repository
0
0
107
Hubungan minat belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VI SD Karitas Ngaglik tahun pelajaran 2011/2012 - USD Repository
0
0
171
Peningkatan minat dan prestasi belajar siswa menggunakan metode Discovery-Inquiry Terbi Mbiing pada mata pelajaran IPA kelas IV SDN Ungaran II tahun pelajaran 2011/2012 - USD Repository
0
0
243
Show more