EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING DENGAN MENGGUNAKAN METODE ROUND ROBIN BRAINSTORMING PADA MATERI GERAK LURUS DI SMA KATOLIK SANG TIMUR YOGYAKARTA

Gratis

0
0
88
4 months ago
Preview
Full text

  

EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING

DENGAN MENGGUNAKAN METODE ROUND ROBIN

BRAINSTORMING PADA MATERI GERAK LURUS DI SMA

KATOLIK SANG TIMUR YOGYAKARTA

  Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu

  Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika

  Oleh Yoseph Asiri Dotheres

  041424046

  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2011

  

EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING

DENGAN MENGGUNAKAN METODE ROUND ROBIN

BRAINSTORMING PADA MATERI GERAK LURUS DI SMA

KATOLIK SANG TIMUR YOGYAKARTA

  Oleh Nama : Yoseph Asiri Dotheres

  NIM : 041424046 Telah disetujui oleh

  Pembimbing Yogyakarta, 10 April 2011 Drs. Fr. Y. Kartika Budi, M.Pd.

  SKRIPSI EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING DENGAN MENGGUNAKAN METODE ROUND ROBIN BRAINSTORMING PADA MATERI GERAK LURUS DI SMA KATOLIK SANG TIMUR YOGYAKARTA Yang Dipersiapkan Dan Disusun Oleh :

  Yoseph Asiri Dotheres NIM 041424046

  Telah Dipertahankan Di Depan Panitia penguji Pada Tanggal 20 Maret 2011

  Yogyakarta,

  20 April 2011 Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana karya ilmiah.

  Yogyakarta,

  20 April 2011 Yoseph Asiri Dotheres LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

  Nama : Yoseph Asiri Dotheres NIM : 041424046 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : “Efektifitas Pembelajaran Cooperative Learning Dengan Menggunakan Metode

  

Round Robin Brainstorming Pada Materi Gerak Lurus di SMA Katolik Sang

  Timur Yogyakarta” beserta perangkat yang diperlukan(bila ada), dengan demikian memberikan hak untuk Perpustakaan Universitas Sanata Dharma untuk menyimpan, mengalihkan kedalam bentuk lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 20 April 2011 Yang Menyatakan Yoseph Asiri Dotheres

  ABSTRAK

Yoseph Asiri Dotheres, 2011. EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN

COOPERATIVE LEARNING DENGAN METODE ROUND ROBIN

BRAINSTORMING PADA MATERI GERAK LURUS DI SMA KATOLIK SANG TIMUR YOGYAKARTA. Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan

Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan

Dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) apakah pembelajaran cooperative

  learning dengan metoden round robin brainstorming lebih efektif dibandingkan

  dengan metode pembelajaran yang biasa dipakai oleh guru kelas dalam mengajar sehari-hari, dilihat dari peningkatan hasil belajar. (2) apakah pembelajaran

  cooperative learning dengan metode round robin brainstorming dapat digunakan dalam pembelajaran fisika pada materi gerak lurus.

  Penelitian ini dilaksanakan di SMA Katolik Sang Timur Yogyakarta pada tanggal 28 Oktober 2010 sampai tanggal 18 Nopember 2010 sebanyak 8 kali pertemuan. Subek penelitian siswa-siswi kelas X.1 yang berjumlah 19 siswa dan kelas X.2 yang berjumlah 18 siswa. Hasil Penelitian menunjukan bahwa (1) pembelajaran fisika dengan pembelajaran

  Cooperative learning dengan metode round robin brainstorming membatu siswa

  memahami pengetahuan fisika pada materi gerak lurus, (2) siswa yang mengalami pembelajaran Cooperative learning dengan metode round robin brainstorming lebih terlibat dibandingkan dengan yang menggunakan pembelajaran yang dipakai guru sehari-hari dalam mengajar.

  ABSTRACT Yoseph Asri Dotheres, 2011. EFFECTIFITY OF COOPERATIVE LEARNING USING ROUND ROBIN BRAINSTORMING METHOD ON THE TOPIC OF STRAIGHT LINES MOTION IN SANG TIMUR CHATOLIC SENIOR HIGH SCHOOL, YOGYAKARTA. Physical Education Studies Programs, Department of Education Mathematics And Natural Science, Faculty of Theacher Training and Science Education. Sanata Dharma University, Yogyakarta. The Study aims to determine : (1) whether the cooperative learning with round robin brainstorming methods is more effectif than theaching methods commonly used by classroom theacher in the theaching everydaay life. (2) whether the cooperative learning with round robin branstorming methods can be used in theaching physics to the straight lines motion. The research was conducted in the Sang Timur Chatolic Senior High School, Yogyakarta. On 28th october 2010 until 18th meeting 8 Times. Subyek research grade who totaled 19 student X.1 and X.2 classes totaling 18 students. Research result showed that (1) learning physics with cooperative learning with round robin brainstorming methode petrifell studen understand to knowledge of phisics on the topics straight lines motion, (2) studen who have learning by cooperative learning with round robin brainstorming methods is more involved that the one using learning theachers use everyday in theaching. KATA PENGANTAR Hormat dan syukur saya ucapkan kepada Allah Bapa Tuhan pencipta alam semesta karena atas segala cinta dan bimbingan-Nya sehingga skripsi berjudul “Efektifitas Pembelajaran Cooperative Learning Dengan Metode Round Robin

  

Brainstorming pada materi gerak lurus Di SMA Katolik Sang Timur Yogyakarta”

  ini dapat terselesaikan, adapun maksud dari pembuatan skripsi ini guna memenuhi salahsatu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan di FKIP Universitas Sanata Dharma. Penulisan skripsi ini dapat terselesaikan berkat bantuan, dukungan, dan saran dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan, bantuan kepada:

  1. Drs. Fr. Y. Kartika Budi M.Pd. dan Drs. Domi Severinus M.Pd selaku dosen pembimbing skripsi

  2. Drs. A. Atmadi, M.Si. selaku kaprodi Pendidikan Fisika

  3. Segenap Dosen dan karyawan Universitas Sanata Dharma khususnya Pendidikan Fisika

  4. Sr. Helaria PIJ, Selaku Kepala sekolah SMA Katolik Sang Timur Yogyakarta .

  5. Guru mata pelajaran Fisika SMA Sang Timur Yogyakarta 6. Siswa-Siswi kelas X SMA Sang Timur Yogyakarta.

  7. Sdr. Alfonsus T. Sianipar yang telah membantu dalam proses pengambilan data.

  8. Teman-teman mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, maka masukan berupa saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun saya harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

  Penulis Halaman Persembahan dan motto Tulisan ini dipersembahkan untuk Bapak Djunna Roosedi dan Ibu Lucia Titik Jidali, A.P. Suculant M sarimin, A.M. Sulensir Yulinanta Oktavianus kitang , Y. Rudaranta, L Saggalus, P. Sgraffiare, Sodara-sodara, sehati , seperjuangan ,senasib dan sepenanggungan : Ernna Via, Alphon T. Sianipar, Adrianu ‘ucox, Suada, Cornelis Adreniko, A EriYanto, Darmiyono FX, kelik R, Eka ‘koDhok’ Novianto, om Alexander san’chez’ Lohat, om Salvinus Baco , Yakobus S., , Marchellynow

  αlfa C., dan kawan-kawan , Budi K, Ari senior dan junior, ,Urbanus ‘wil’ Wira Gunawan ʚ Novita Eka ita satia, Fendi Santoso, Dwi Woro ‘wiWay’ Septiasih, Franciska Dyah, Ani Susanti, Charlez, Jimmy A, V’cal, sal- san, e’va, Bapak Gino Sekeluarga, veransiska Ardhinawati, teguh Setyanto, Jhon haRiz ʚ s3Pti, embe, D5409CE, Crew khrpn, ajo, lodaya, moetiara, 39’98, sanmar 3’01, pfis’04 dan semua teman, soudara, sahabat yang tidak tertulis.“Tetap

  kecuali

  Semangat, Maju Terus pantang Mundur Kepepet”

  DAFTAR ISI

  Halaman Judul .............................................................................................. i Halaman Persetujuan ................................................................................... ii Halaman Pengesahan ................................................................................... iii Halaman Keaslian Karya .............................................................................. iv Lembar Pernyataan persetujuan Publikasi ................................................... v Abstrak ......................................................................................................... vi

  

Abstract ......................................................................................................... vii

  Kata pengantar ............................................................................................. viii Halaman Motto dan Persembahan ................................................................ x Daftar Isi ...................................................................................................... xi Daftar Tabel ................................................................................................. xiii

  Bab I Pendahuluan ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang .................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................ 2 C. Tujuan Penelitian ............................................................................. 2 D. Manfaat Penelitian ........................................................................... 3 Bab II Dasar Teori ........................................................................................ 4 A. Hakekat Belaja Dan Pembelajaran ................................................... 4

  1. Belajar ........................................................................................... 4

  2. Pembelajaran ............................................................................... 6

  B. Tujuan Pembelajaran Fisika ............................................................. 7

  C. Efektifitas proses pembelajaran ....................................................... 8

  D. Cooperative Learning dengan Teknik Rond Robin Brainstorming .. 9

  1. Pengertian Cooperative Learning ................................................ 9

  2. Round Robin Brainstorming ........................................................ 10

  Bab III Metodologi Penelitian ...................................................................... 23 A. jenis Penelitian ................................................................................. 23 B. Subjek Penelitian .............................................................................. 23 C. Ubahan Penelitian ............................................................................ 23 D. Perlakuan .......................................................................................... 24

  E. Instrumen Penelitian ........................................................................ 25

  F. Analisis data ..................................................................................... 26

  1. Efektifitas Pembelajaran .............................................................. 26

  2. Keterlibatan Siswa ....................................................................... 31

  Bab IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan ................................................... 33 A. Deskriptif pelaksanaan Penelitian .................................................... 33 B. Deskripsi data ................................................................................... 35

  1. Data Postest Pretes ....................................................................... 35

  2. Data keterlibatan .......................................................................... 36

  C. Analisis Data .................................................................................... 38

  1. Efektifitas pembelajaran ............................................................... 38

  2. Keterlibatan Siswa terhadap pembelajaran .................................. 41

  D. hasil Penelitian dan Pembahasan ..................................................... 42 1. rangkuman hasil penelitian .......................................................... 42

  2. Pembahasan ................................................................................. 43 3. pelaksanaan penelitian ................................................................. 46

  Bab V Penutup ............................................................................................. 50 A. Kesimpulan ...................................................................................... 50 B. Saran ................................................................................................. 50 Daftar Pustaka .............................................................................................. 52 Lampiran ....................................................................................................... 53

  DAFTAR TABEL Tabel 1. Kisi-kisi rancangan soal pretes dan postest .................................. 26 Tabel 2. Frekuensi keterlibatan tiap siswa .................................................. 32 Tabel 3. Skor pretes dan postest ................................................................. 36 Tabel 5. Skor keterlibatan siswa pada kelas eksperimen ........................... 37 Tabel 6. Skor keterlibatan siswa pada kelas kontrol ................................... 37 Tabel 7. Hasil kesimpulan penelitian ......................................................... 43 Tabel 8. Mean data pretes dan postes ......................................................... 43 Tabel 9. Skor presentase pretes dan postes ................................................ 43

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut

  manusia untuk berprestasi dan berkreasi dalam berbagai bidang. Dunia pendidikan menjadi pusat perhatian karena dunia pendidikan dapat dikatakan sebagai basis atau tonggak dari ilmu pengetahuan. Banyak ahli yang memberikan perhatian dan andil besar dalam dunia pendidikan , hal itu dapat terlihat dari berbagai macam penelitian yang dihasilkan, karya yang dibuat berhubungan dengan pendidikan, dengan demikian jelaslah bahwa dunia pendidikan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Pada saat ini masih banyak guru yang menggunkan metode yang membuat siswa merasa bosan mengikuti pembelajaran seperti metode ceramah, sedangkan unsur yang terpenting dalam pembelajaran yang baik adalah (1) siswa yang belajar (2) guru yang mengajar (3) bahan pelajaran dan (4) hubungan antara guru dan siswa ( Suparno, 2007:2). Oleh karena situasi siswa bermacam-macam dan yang dirasakan dapat membantu siswa belajar juga bervariasi, maka pengusaan belajar juga bervariasi, maka menguasai metode yang bermacam-macam sangatlah penting bagi guru fisika sehingga dapat membantu siswa lebih baik dan tepat. Menguasai berbagai metode mengajar dan memilih cara yang diminati siswa akan membuat siswa menyukai fisika yang diajarkan. ( Suparno, 2007:4)

  Sehubungan dengan ulasan diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan bahasan Cooperative Learning dengan metode Round Robin

  Brainstorming pada gerak lurus.

  B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran round

  robin brainstorming dibandingkan dengan pembelajaran dengan yang

  menggunakan metode yang biasa dipakai oleh guru bidang studi dalam mengajar sehari-hari?

  2. Bagaimana keterlibatan siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan teknik round robin brainstorming dibandingkan dengan pembelajaran dengan yang menggunakan metode yang biasa dipakai oleh guru bidang studi dalam mengajar sehari-hari?

  C. Tujuan penelitian

  Berdasarkan latar belakang yang di paparkan diatas, penelitian ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui apakah pembelajaran coopertive learning dengan metode

  round robin brainstorming lebih efektif dibandingkan dengan

  pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru dalam pembelajaran sehari- hari.

  2. Untuk mengetahui perbedaan keterlibatan antara pembelajaran cooperative

  learning dengan metode round robin brainstorming dan metode pembelajaran yang biasa dipakai guru dalam pembelajaran sehari-hari.

D. Manfaat Penelitian

  1. penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada guru untuk mengetahui dan memilih metode yang digunakan dalam pembelajaran.

  2. penelitian ini dapat digunakan untuk penelitian sejenis atau menjadi literatur untuk penelitian tentang pembelajaran dengan metode cooperative

  learning.

  3. Pembelajaran ini melatih siswa untuk bekerjasama dengan temannya. Hal ini memungkinkan untuk siswa menolong siswa yang mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial dengan temannya. Berinteraksi sosial yang dimaksud adalah keinginan untuk bertanya, berdiskusi, memberikan ide dan gagasan,berpendapat, dll.

BAB II DASAR TEORI A. Hakekat Belajar Dan Pembelajaran

1. Belajar

  Menurut kaum konstruktivis, belajar merupakan proses aktif pelajar mengkonstruksi arti, entah teks, dialog, pengalaman fisis dan lain-lain.

  Belajar juga merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah di punyai seorang sehingga pengertiannya dikembangkan ( Suparno, 1997:34) Prinsi terpenting dalam teori konstruktivis adalah guru tidak hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa, siswa harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Dalam hal ini guru hanya membantu proses ini (belajar) dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat sangat relevan bagi siswa dengan memberikan kesimpulan kepada siswa untuk menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa menyadari dan secara sadar menggali strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar Menurut Hamalik, belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui proses pengalaman (2003:27). Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat tetapi lebih dari itu, yakni memahami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan. Sejalan dengan perumusan tersebut ada pula tafsiran lain tentang belajar, yaitu belajar adalah suatu perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan (Hamalik, 2003:28) Dari pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Situasi belajar harus bertujuan dan tujuan-tujuan tersebut dapat diterima baik oleh masyarakat. Tujuan merupakan salah satu aspek dalam belajar.

  2. Tujuan dan maksud belajar timbul dari kehidupan anak/murid itu sendiri.

  3. Didalam pencapaianya tujuannya itu, murid senantiasa akan menemui kesulitan dan situasi yang tidak menyenangkan

  4. Hasil belajar yang utama adalah tingkah laku yang bulat.

  5. Proses belajar terutama mengerjakan hal-hal yang sebenarnya, belajar apa yang diperbuat dan mengerjakan apa yang dipelajari.

  6. Kegiatan-kegiatan dan hasil-hasil belajar dipersatukan dan dihubungkan dengan tujuan dalam situasi belajar.

  7. Murid memberikan reaksi secara keseluruhan

  8. Murid mereaksi sesuatu aspek dari lingkungan yang bermakna baginya

  9. Murid diarahkan dan dibantu oleh orang-orang yang berbeda dalam lingkungan itu.

  10. Murid-murid dibawa/diarahkan ke tujuan-tujuan yang lain , baik yang berhubungan maupun yang tidak berhubungan dengan tujuan utama dalam situasi belajar.

2. Pembelajaran

  Tujuan dan unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran adalah dua hal yang sangat penting dalam pembelajaran. Tujuan pembelajaran mengarahkan guru agar berhasil dalam membelajarkan siswa sementara unsur-unsur dinamis pembelajaran mendukung bagi tercapainya tujuan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. (Hamalik, 2003:43) Tujuan dan unsur-unsur pembelajaran yang dimaksudkan adalah terciptanya suasana sehingga siswa belajar. Tujuan pembelajaran haruslah menunjang dan dalam rangka tercapai tujuannya belajar. Dahulu, ketika pembelajaran dimaksudkan sebagai sekadar penyampaian ilmu pengetahuan, pembelajaran tidak terkait dengan belajar, termasuk tujuannya sebab, jika guru telah menyampaikan ilmu pengetahuan, tercapailah maksud dan tujuan pembelajaran itu. Pembelajarn model dahulu memang tidak dicobaterkaitkan dengan belajar itu sendiri. Pembelajaran lebih berkonsentrasi pada kegiatan siswa. Jika pada masa sekarang ini, pembelajaran di cobaterkaitkan dengan belajar, maka dalam merancang aktivitas pembelajaran, guru harus belajar dari aktivitas belajar siswa. Aktivitas belajar siswa harus dijadikan titik tolak dalam merancang pembelajaran. Implikasi dari adanya keterkaitan antara kegiatan pembelajaran dan kegiatan belajar siswa tersebut adalah disusunnya tujuan pembelajaran yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar. Muatan-muatan yang termasuk dalam tujuan belajar haruslah termaktub dalam tujuan pembelajaran. B. Tujuan Pembelajaran Fisika Tujuan pembelajaran fisika meliputi 3 aspek yaitu pertama, aspek hasil. Aspek hasil bertujuan untuk membangun konsep, prinsip, hukum, dan teori beserta pemahamannya, sehingga mampu menerapkan untuk memecahkan masalah- masalah yang sesuai. Kedua, aspek proses. Aspek proses bertujuan agar siswa memiliki sikap keterampilan melakukan proses sains. Ketiga aspek sikap, aspek sikap bertujuan agar siswa memliki sikap sains yang melandasi perilakunya.

  Ketiga aspek tersebut telah termuat dalam tujuan GBPP kurikulum fisika 1994 yang secara umum dirumuskan sebagai berikut: ”... menguasai konsep-konsp fisika dan saling keterkaitannya serta mampu menggunakan metode-metode ilmiah yang dilandasi sikap untuk memecahkan masalah-masalah yang di hadapi sehingga lebih mengagungi keagungan Tuhan Yang Maha Esa.” Berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) tujuan pembelajaran fisika adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki pengetahuan dan metode ilmiah untuk menjelaskan beberapa peristiwa alam baik secara kualitatif maupun kuantitatif

  2. Memiliki pengetahuan dan keterampilan menerapkan prinsip-prinsip sain untuk menghasilkan karya teknologi dan sebaliknya mengkaji prinsip sains yang sudah dimanfaatkan dalam produk teknologi.

  3. Memiliki sikap ilmiah.

  4. Memiliki keyakinan keteraturan alam ciptaan-nya dan keagungan tuhan yang maha esa.

  5. Memiliki keterampilan menggunakan bahan, alat dan operasi sains. C. Efektifitas proses Pembelajaran Menurut Davis (1981:22-23 dalam Kartika Budi, Widya Dharma April 2001:48) efektifitas mengacu pada apa yang dikerjakan, sedangkan efisiensi mengacu pada cara mengerjakannya. Suatu pembelajaran fisika disebut efektif bila dikerjakan benar dan efisien bila cara mengerjakanya benar sesuai dengan materi dan tujuan.

  Agar dapat mencapai prestasi secara optimal, maka proses pun harus efektif yaitu (1) ada kesesuaian antar proses dengan tujuan yang akan dicapai dan telah ditetapkan dengan kurikulum,(2) cukup banyak tugas-tugas yang di evaluasi untuk mengetahui perkembangan siswa dan memperoleh umpan balik, (3) lebih banyak tugas-tugas yang mendukung pencapaian tujuan, (4) ada variasi metode pemmbelajaran, (5) pemantauan atau evaluasi perkembangan atau keberhasilan dilaksanakan secara berkesinambungan dan (6) memberi tanggung jawab yang lebih besar kepada siswa pada tugas yang dilakukannya.

  Menurut Kauchak ( 1989:3 dalam Kartika Budi, Widya Dharma April 2001:48) pembelajaran yang efektif adalah kesatuan dari keterampilan, perasaan, penguasaan materi, dan pemahaman arti belajar yang bermuara pada satu perilaku yaitu kemampuan membangun dan mengembangkan proses belajar siswa secara optimal.

D. Cooperative Learning Dengan Teknik Round Robin Brainstorming

1. Pengertian Cooperative Learning

  

Cooperative learning atau belajar bersama adalah model pembelajaran dimana

  siswa dibiarkan belajar dalam kelompok, saling menguatkan, saling mendalami, dan bekerja sama untuk semakin menguasi bahan ( Suparno 2007:134). Yang menjadi fokus utama dalam belajar bersama adalah kemajuan bidang akademik dan afektif melalui kerja sama. Menurut Jhonson dkk, (1990 dalam Kindsvatter, dkk. Hal 308, dalam Suparno, 2007:134) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam belajar bersama supaya tujuannya tercapai yaitu: a. Perlu adanya ketergantungan antara siswa secara positif, saling ketergantungan berarti masing-masing saling bergantung, maka masing- masing juga ada kesanggupan untk saling membantu, saling memberi, dan saling menerima. Tidak boleh bahwa seseorang hanya menggantungkan pada yang lain dan yang lain sama sekali digantungi.

  b. Perlunya pengembangan interaksi interpersonal antara siswa dan keterampilan berkelompok. Interaksi, komunikasi antar anggota kelompok perlu dimajukan terus menerus dan di bina.

  c. Perlu masing-masing dibantu tetap bertanggung jawab pada penguasaan tugas mereka.

  d. Perlu dikembangkan keterampilan siswa.

  e. Perlu diyakinkan bahwa kelompok dapat berhasil dan di kembangkan kerja sama yang efektif.

2. Tujuan Cooperative Learning

  Menurut Kindsvatter dkk (hal 308 dalam Suparno, 2007:135) belajar bersama mempunyai tujuan antara lain sebagai berikut : a. Meningkatkan hasil belajar lewat kerja sama kelompok yang memungkinkan siswa belajar satu sama lain. Kemajuan hasil belajar menjadi tujuan utama, sehingga masing-masing siswa mendapatkan hasil positif. b. Merupakan alternatif terhadap belajar kompetitif yang sering membuat siswa lemah menjadi minder. Dengan belajar kompetitif, siswa yang lemah akan sulit maju dan merasa kecil dibandingkan yang pandai, sedangkan dengan belajar bersama justru yang lemah dibant uuntuk maju.

  c. Memajukan kerja sama kelompok antar manusia. Dengan belajar bersama hubungan antar siswa semakin akrab dan kerja sama antar mereka semakin lebih baik.

  d. Bagi siswa-siswa yang mempunyai intelegensi interpersonal tinggi, cara belajar ini sangat cocok dan memajukan. Mereka lebih mudah mengkonstruksi pengetahuan lewat bekerja sama dengan teman, belajar bersama dengan teman daripada belajar sendirian.

3. Round Robin Brainstorming

  1. Brainstorming

  Brainstorming adalah piranti perencanaan yang dapat menampung

  kreativitas kelompok dan sering digunakan sebagai alat pembentukan konsensus maupun untuk mendapatkan ide-ide yang banyak. Teknik brainstorming merupakan salah satu cara mendapatkan sejumlah ide yang mudah dan menyenangkan para pesertanya. Karena mereka boleh bebas menyampaikan pendapatnya tanpa ragu-ragu atau takut salah sepanjang masih dalam topik bahasan. peserta mendapatkan kesempatan atau giliran untuk berpartisipasi melontarkan idenya sampai habis.

  Ada beberapa alasan mengapa brainstorming digunakan oleh suatu team untuk menghasilkan ide-ide, yaitu: a. Meningkatkan kepedulian dan partisipasi anggota team b. Menghasilkan banyak ide-ide dalam waktu yang relatif singkat.

  c. Mengurangi keinginan anggota team untuk merasa paling mampu dalam memberi jawaban yang benar.

  d. Mengurangi kemungkinan berkembangnya pemikiran negatif (negative thinking) di antara mereka.

2. Tujuan dan manfaat

  Brainstorming atau sumbang saran memiliki tujuan untuk mendapatkan sejumlah ide dari anggota team dalam waktu relatif singkat tanpa sikap kritis yang ketat. Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh suatu team atau organisasi dengan melakukan teknik brainstorming, di antaranya adalah:

  a. Mengidentifikasi masalah b. Mencari sebab-sebab yang mengakibatkan terjadinya masalah.

  c. Menentukan alternatif pemecahan masalah.

  d. Mengimplementasikan pemecahan masalah.

  e. Merencanakan langkah-langkah dalam melaksanakan suatu aktivitas.

  f. Mengambil keputusan ketika masalah terjadi.

  g. Melakukan perbaikan (improvements).

2. Putaran teratur (round robin).

  Metode putaran teratur memberi kesempatan kepada peserta untuk berbicara sesuai gilirannya secara teratur. Untuk menghemat waktu, peserta yang belum memiliki ide akan dilewati, dia bisa mengucapkan “terus“ atau “lanjut“ yang maksudnya memberi giliran pada peserta berikutnya.

3. Langkah langkah teknis

  langkah-langkah dalam melaksanakan brainstorming, yaitu: a. Persiapan.

  1. Mengundang peserta meeting.

  2. Memberikan agenda acara materi yang akan dibicarakan.

  3. Mempersiapkan ruangan dan fasilitas pendukung lainnya.

  b. Pelaksanaan.

  1. Menentukan batasan waktu yang digunakan.

  2. Menetapkan pimpinan meeting dan pencatat pembicaraaan (notulis).

  3. Menetapkan aturan main (rule of the game) bersama.

  4. Menentukan metode yang digunakan dalam brainstorming.

  5. Memberi kesempatan kepada para peserta untuk menyampaikan ide-idenya.

  6. Menuliskan ide yang dilontarkan peserta.

  7. Melakukan pengelompokan ide yang sejenis.

  8. Melakukan pembahasan ide-ide.

  9. Mengambil keputusan.

  10. Menyimpulkan pembicaraan. pencatat melakukan pencatatan ide yang dilontarkan peserta. Diusahakan peserta dapat melihat apa yang dicatat , sebaiknya digunakan flip chart, ohp transparency atau screen. Papan tulis dan block note dapat digunakan sebagai alternatif. Dilakukan konfirmasi apakah yang ditulis pencatat sama dengan ide yang dimaksudkan peserta yang melontarkannya. Bila perlu pimpinan meeting menegaskan kembali apa yang disampaikan oleh peserta. setelah sejumlah ide terkumpul selanjutnya dilakukan: a. Meninjau ide tersebut satu persatu.

  b. Ide yang hampir sama kemungkinan dapat disatukan, ide yang belum jelas perlu ditanyakan kepada peserta yang bersangkutan.

  c. Mana ide yang akan dipilih, bisa dilakukan pengambilan keputusan dengan permufakatan atau suara terbanyak (voting).

  d. Menyempurnakan ide yang telah disepakati.

  e. Mengambil kesimpulan dan alternatif tindak lanjut.

  4. Hambatan dalam melakukan teknik brainstorming dapat timbul beberapa hambatan yang disebabkan antara lain:

  a. Peserta tidak mematuhi aturan main, misalnya:

  • Memberi komentar terhadap ide yang dilontarkan peserta lain.
  • Dalam satu putaran, seorang peserta melontarkan lebih dari satu ide.
  • Seorang peserta yang belum sampai gilirannya sudah menyampaikan idenya.

  • Ada peserta yang mendominasi atau memotong pembicaraan peserta lain.
  • Ada peserta yang bertanya pada saat proses berlangsung.

  b. Pencatat merubah ide (baik isi maupun maksud) yang dilontarkan oleh peserta.

  c. Peserta tidak mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang.

  d. Hambatan non teknis, seperti: takut salah, kurang antusias dan kurang ada kerja sama.

  4. Gerak Lurus Beraturan ) Suatu benda dikatakan melakukan gerak lurus beraturan jika kecepatannya selalu konstan. Kecepatan konstan artinya besar kecepatan dan arah kecepatan selalu konstan. Karena besar kecepatan atau kelajuan dan arah kecepatan selalu konstan maka bisa dikatakan bahwa benda bergerak pada lintasan lurus dengan kelajuan konstan. Ketika sebuah benda melakukan gerak lurus beraturan, kecepatan benda sama dengan kecepatan rata-rata. Dalam gerak lurus beraturan (GLB) kecepatan benda selalu konstan. Kecepatan konstan berarti besar kecepatan (besar kecepatan = kelajuan) dan arah kecepatan selalu konstan. Besar kecepatan atau kelajuan benda konstan atau selalu sama saat karenanya besar kecepatan atau kelajuan pasti sama dengan besar kecepatan rata-rata.

  a. Grafik Gerak Lurus Beraturan

  Untuk memudahkan menemukan hubungan antara Kecepatan, perpindahan dan waktu tempuh maka akan sangat membantu jika digambarkan grafik hubungan ketiga komponen tersebut. Grafik Kecepatan terhadap Waktu (v-t) Berdasarkan grafik di atas, tampak bahwa besar kecepatan bernilai tetap pada tiap satuan waktu. Besar kecepatan tetap ditandai oleh garis lurus, berawal dari t = 0 hingga t akhir. Contoh : perhatikan grafik kecepatan terhadap waktu (v-t) di bawah ini Besar kecepatan benda pada grafik di atas adalah 3 m/s. 1, 2, 3 dstnya adalah waktu tempuh. Amati bahwa walaupun waktu berubah dari 1 detik sampai 5, besar kecepatan benda selalu sama. Grafik Perpindahan terhadap Waktu (x-t) Grafik posisi terhadap waktu, di mana posisi awal x berhimpit dengan titik acuan nol.

  Makna grafik di atas adalah bahwa besar kecepatan selalu tetap. Anda jangan bingung dengan kemiringan garis yang mewakili kecepatan. Makin besar nilai x, makin besar juga nilai t sehingga hasil perbandingan x dan y selalu sama.

4. Gerak Lurus berubah Beraturan

  Suatu benda dikatakan melakukan gerak lurus berubah beraturan (GLBB) jika percepatannya selalu konstan. Percepatan merupakan besaran vektor (besaran yang mempunyai besar dan arah). Percepatan konstan berarti besar dan arah percepatan selalu konstan saat. Walaupun besar percepatan suatu benda selalu konstan tetapi jika arah percepatan selalu berubah maka percepatan benda tidak konstan. Demikian juga sebaliknya jika arah percepatan suatu benda selalu konstan tetapi besar percepatan selalu berubah maka percepatan benda tidak konstan.

  Karena arah percepatan benda selalu konstan maka benda pasti bergerak pada lintasan lurus. Arah percepatan konstan = arah kecepatan konstan = arah gerakan benda konstan = arah gerakan benda tidak berubah = benda bergerak lurus. Besar percepatan konstan bisa berarti kelajuan bertambah secara konstan atau kelajuan berkurang secara konstan. Ketika kelajuan benda berkurang secara konstan, kadang kita menyebutnya sebagai perlambatan konstan. Untuk gerakan satu dimensi (gerakan pada lintasan lurus), kata percepatan digunakan ketika arah kecepatan = arah percepatan, sedangkan kata perlambatan digunakan ketika arah kecepatan dan percepatan berlawanan.

  Contoh 1 : Besar percepatan konstan (kelajuan benda bertambah secara konstan) Misalnya mula-mula mobil diam. Setelah 1 detik, mobil bergerak dengan kelajuan 2 m/s. Setelah 2 detik mobil bergerak dengan kelajuan 4 m/s.

  Setelah 3 detik mobil bergerak dengan kelajuan 6 m/s. Setelah 4 detik mobil bergerak dengan kelajuan 8 m/s. Dan seterusnya… Tampak bahwa detik kelajuan mobil bertambah 2 m/s. Kita bisa mengatakan bah wa mobil

  2 mengalami percepatan konstan sebesar 2 m/s per sekon = 2 m/s .

  Contoh 2 : Besar perlambatan konstan (kelajuan benda berkurang secara konstan)

  Misalnya mula-mula benda bergerak dengan kelajuan 10 km/jam. Setelah 1 detik, benda bergerak dengan kelajuan 8 km/jam. Setelah 2 detik benda bergerak dengan kelajuan 6 km/jam. Setelah 3 detik benda bergerak dengan kelajuan 4 km/jam. Setelah 4 detik benda bergerak dengan kelajuan 2 km/jam. Setelah 5 detik benda berhenti. Tampak bahwa detik kelajuan benda berkurang 2 km/jam. Kita bisa mengatakan bahwa benda mengalami perlambatan konstan sebesar 2 km/jam per sekon. Perhatikan bahwa ketika dikatakan percepatan, maka yang dimaksudkan adalah percepatan sesaat. Demikian juga sebaliknya, ketika dikatakan percepatan sesaat, maka yang dimaksudkan adalah percepatan. Nah, dalam gerak lurus berubah beraturan (GLBB), percepatan benda selalu konstan saat, karenanya percepatan benda sama dengan percepatan rata-ratanya. Jadi besar percepatan = besar percepatan rata-rata. Demikian juga, arah percepatan = arah percepatan rata-rata.

  Dalam kehidupan sehari-hari sangat sulit ditemukan benda yang melakukan gerak lurus berubah beraturan, di mana perubahan kecepatannya terjadi secara teratur, baik ketika hendak bergerak dari keadaan diam maupun ketika hendak berhenti. walaupun demikian, banyak situasi praktis terjadi ketika percepatan konstan/tetap atau mendekati konstan, yaitu jika percepatan tidak berubah terhadap waktu Penurunan Rumus Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB) percepatan benda tetap atau konstan atau tidak berubah. jika percepatan benda tersebut tetap sejak awal benda tersebut bergerak, maka kita bisa mengatakan bahwa percepatan sesaat dan percepatan rata-ratanya sama. mengingat bahwa percepatan benda tersebut tetap saat, dengan demikian percepatan sesaatnya tetap. Percepatan rata-rata sama dengan percepatan sesaat karena baik percepatan awal maupun percepatan akhirnya sama, di mana selisih antara percepatan awal dan akhir sama dengan nol.

  Pada percepatan, telah diturunkan persamaan percepatan rata-rata, di mana t adalah waktu awal ketika benda hendak bergerak, t adalah waktu akhir.

  Karena pada saat t benda belum bergerak maka kita bisa mengatakan t (waktu awal) = 0. Sehingga persamaan berubah menjadi : Satu masalah umum dalam GLBB adalah menentukan kecepatan sebuah benda pada waktu tertentu, jika diketahui percepatannya. Untuk itu, persamaan percepatan yang kita turunkan di atas dapat digunakan untuk menyatakan persamaan yang menghubungkan kecepatan pada waktu tertentu (v t ), kecepatan awal (v ) dan percepatan (a). sekarang kita menurunkan persamaan di atas. Jika dibalik akan menjadi : at = v - v

  t

  v t = v 0 + at ..................................................................Persamaan 1 Ini adalah salah satu persamaan penting dalam GLBB, untuk menentukan kecepatan benda pada waktu tertentu apabila percepatannya diketahui persamaan di atas (persamaan I GLBB) untuk mencari persamaan yang digunakan untuk menghitung posisi benda setelah waktu t ketika benda tersebut mengalami percepatan tetap. Pada pembahasan mengenai kecepatan, kita telah menurunkan persamaan kecepataan rata-rata Untuk mencari nilai x, persamaan di atas kita tulis ulang menjadi : Karena pada GLBB kecepatan rata-rata bertambah secara beraturan, maka kecepatan rata-rata akan berada di tengah-tengah antara kecepatan awal dan kecepatan akhir : Persamaan ini berlaku untuk percepatan konstan dan tidak berlaku untuk gerak yang percepatannya tidak konstan. Kita tulis kembali persamaan a :

  Persamaan ini digunakan untuk menentukan posisi suatu benda yang bergerak dengan percepatan tetap. Jika benda mulai bergerak pada titik acuan = 0 (atau x = 0), maka persamaan 2 dapat ditulis menjadi

  2

  x = v o t + ½ at Sekarang kita turunkan persamaan/rumus yang dapat digunakan apabila t (waktu) tidak diketahui. Kita tulis lagi persamaan a : Terdapat empat persamaan yang menghubungkan posisi, kecepatan, percepatan dan waktu, jika percepatan (a) konstan, antara lain : Persamaan di atas tidak berlaku jika percepatan tidak konstan.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian model kuantitatif . Penelitian kuantitatif adalah

  penelitian yang menggunakan data-data berupa skor atau angka, kemudian data-data tersebut dianalisis menggunakan statistik (Suparno, 2007: 135).

  Jenis penelitiannya adalah jenis eksperimental. Penelitian jenis eksperimental adalah jenis penelitian yang berupaya untuk mencoba mempengaruhi variabel tertentu dan hanya untuk mendeskripsikan suatu keadaan tetapi untuk mempengaruhi dengan memberikan perlakuan (treatment) tertentu. (Suparno, 2007:136)

  B. Subjek Penelitian

  Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas XA dan XB SMAK Sang Timur Yogyakarta.

  C. Ubahan Penelitian

  1. Jenis Ubahan Dalam penelitian ini terdapat 2 ubahan yaitu peningkatan hasil belajar dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.

  2. Definisi Operasional Ubahan

  a) Peningkatan Hasil Belajar Peningkatan hasil belajar adalah perbedaaan skor posttest dan pretest dari proses pembelajaran.

  b) Keterlibatan Siswa terhadap Pembelajaran

  Tingkat keterlibatan siswa dinyatakan dengan jumlah skor keterlibatan yang menunjukan banyaknya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran yang dinyatakan dengan skor keterlibatan dari keterlibatan yang dapat diamati dari aspek keterlibatan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.

D. Perlakuan (treatment)

  Perlakuanya adalah melakukan pembelajaran pada dua kelas. Masing-masing kelas diberikan dua pembelajaran. Pembelajaran pertama dilakukan dengan metode ceramah. Pembelajaran kedua juga dilakukan dengan metode round robin brainstorming.

  Langkah-langkah pembelajaran adalah sebagai berikut :

  1. Peneliti pertama-tama memberikan pretest kepada siswa kemudian melakukan pembelajaran pada kelas eksperimen dengan cara round rubin

  brainstorming ( X ) sedangkan guru mata pelajaran fisika dari sekolah

  pertama-tama memberikan pretest kepada siswa kemudian melakukan pembelajaran pada kelas kontrol dengan cara yang biasa digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran.

  2. Peneliti dan guru mata pelajaran fisika dari sekolah kemudian memberikan posttest pada siswa pada soal pretes dan postes yang sama.

  3. Setelah itu peneliti menganalisis apakah pembelajaran dengan cara Round

  robin Brainstorming lebih efektif dibandingkan pembelajaran yang biasa

  digunakan oleh guru dalam proses pembelajara dilihat dari peningkatan hasil belajar dan bagaimana keterlibatan siswa terhadap pembelajaran dengan cara round rubin brainstorming dibandingkan pembelajaran dengan cara biasa (ceramah).

E. Instrument Penelitian

  Berdasarkan tujuan dari penelitian, maka data yang dibutuhkan adalah kemampuan siswa menguasai materi sebelum pembelajaran, kemampuan siswa menguasai materi setelah pembelajaran sehingga instrumen dalam penelitian ini adalah soal pretest, dan soal posttest

  1. Soal Pretest dan Posttest Soal pretest dan posttest digunakan untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan cara X lebih efektif dibandingkan pembelajaran dengan cara Y dilihat dari peningkatan hasil belajar. Soal-soal pretest dan posttest pada penelitian ini dibuat berdasarkan indikator hasil belajar dari kompetensi dasar yang akan dicapai. Aspek yang diukur dalam penelitian ini adalah aspek analisis.

  Kisi-kisi rancangan soal-soal pretest dan posttest dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Indikator No soal

  1. Mendefinisikan pengertian gerak, posisi

  1 benda

  2. Menunjukkan perbedaan antara perpindahan

  2 dengan jarak

  3. Menentukan kecepatan dan perpindahan dan

  3 perpindahan GLB serta GLBB

  4. Menerapkan gerak lurus dalam pemecahan

  4 masalah secara teori maupun dalam kehidupan sehari-hari.

  

Tabel 1. Kisi-kisi rancangan soal pretest dan postest

F. Analisis Data Efektivitas Pembelajaran

  Untuk menganalisis apakah pembelajaran dengan cara round rubin

  brainstorming (X) lebih efektif dibandingkan pembelajaran dengan cara

  ceramah (Y) dilihat dari peningkatan hasil belajar, semua langkah dinyatakan dengan perbedaan mean. Sehingga analisisnya menggunakan uji- t atau test-t. Test-t untuk dua kelompok yang independen digunakan untuk membandingkan akibat dua perlakuan (treatment) yang dilakukan pada suatu penelitian (Suparno, 2007:94). Test-t untuk kelompok yang dependen digunakan untuk mengetes dua kelompok yang dependen atau satu kelompok yang dites dua kali yaitu pada pretest dan posttest (Suparno, 2007:96). Langkah-langkah untuk menganalisis apakah pembelajaran dengan cara round rubin brainstorming (X) lebih efektif dibandingkan pembelajaran dengan cara ceramah (Y) dilihat dari peningkatan hasil belajar

  • adalah sebagai berikut :

  a. Menguji perbedaan mean skor pretest pembelajaran dengan cara X dengan mean skor pretest pembelajaran dengan cara Y Karena yang diuji adalah perbedaan mean skor pretest masing-masing pembelajaran, maka dianalisis menggunakan uji-t atau test-t untuk dua

  • * kelompok yang independen.

  DR.Paul Suparno SJ, Statistika Dasar Diktat Untuk Mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika, 2002 hal 56-57, 59.

  Cara menganalisisnya adalah sebagai berikut: (a) Hipotesis Ho : X = Y 1 1 Hi :

  X Y 1 ≠ 1

  (b) Dengan uji-t dua sisi dengan taraf signifikansi 0.05 (c) df untuk t = (n

  1 - 1) + (n 2 - 1) atau N – 2

  (d) T crit dilihat dari tabel (e) Daerah rejeksi (penolakan) = T atau T

  obs crit obs crit

  ≤ - T ≥ + T (f) Statistik yang digunakan

  • Bila n = n ,

  1 1

  2 XY ( ) 1 T obs = 2 2 S S 1 2

  • n n
  • 1 2<

    • Bila n

  1 2 ,

  ≠ n 1 X Y

  − ( 1 )

  T obs =

  ⎡ ⎤ ( n − +

  1 ) s ( n2

1 ) s

2

  1 1 ⎤ 1 1 2

2

+ . ⎢ ⎥ ⎢

  ⎥

  2 n n ( − ) 1 2 1 2

  • n n

  ⎣ ⎦ ⎣ ⎦

  • Standart deviasi :
  • 2 2 X

      X YY ( ) ( ) i 1 1 i 1 1

      ∑ ∑

      S = , S =

      1

      2 n1 1 n2

      1 (g) Ambil keputusan tentang Ho. b. Menguji peningkatan hasil belajar pembelajaran dengan cara X Karena yang diuji adalah perbedaan mean skor pretest dan mean skor

      posttest pembelajaran dengan cara X, maka dianalisis menggunakan uji-t atau test-t untuk kelompok yang dependen.

      Cara menganalisisnya adalah sebagai berikut : (a) Hipotesis Ho : X = 1 X 2 Hi : X &gt; 2 X 1

      (b) Dengan uji-t satu sisi dengan taraf signifikansi 0.05 (c) df untuk t = N – 1 (d) T crit dilihat dari tabel (e) Daerah rejeksi (penolakan) = T rel crit atau T rel crit

      ≤ - T ≥ + T (f) Statistik yang digunakan (g) Ambil keputusan tentang Ho.

      c. Menguji peningkatan hasil belajar pembelajaran dengan cara Y Karena yang diuji adalah perbedaan mean skor pretest dan mean skor

      posttest pembelajaran dengan cara Y, maka dianalisis menggunakan uji-t atau test-t untuk kelompok yang dependen.

      Cara menganalisisnya adalah sebagai berikut : (a) Hipotesis Ho : Y = Y 1 2

      Hi : Y &gt; Y 2 1 (b) Dengan uji-t satu sisi dengan taraf signifikansi 0.05 (c) df untuk t = N – 1 (d) T crit dilihat dari tabel (e) Daerah rejeksi (penolakan) = T atau T

      rel crit rel crit

      ≤ - T ≥ + T (f) Statistik yang digunakan

      YY 2 1 T = rel 2

      ⎡ ⎤

      D 2 ( ) ∑

      ⎢ D − ⎥

      ∑ N

      ⎢ ⎥ ⎣ ⎦

      N N

      1

      ( − ) (g) Ambil keputusan tentang Ho.

      d. Jika mean skor pretest pada masing-masing pembelajaran tidak berbeda secara signifikan (pretest = pretest) maka dianalisis menggunakan mean skor posttest Karena yang diuji adalah perbedaan mean skor posttest masing-masing pembelajaran, maka dianalisis menggunakan uji-t atau test-t untuk dua kelompok yang independen. Cara menganalisisnya adalah sebagai berikut: (a) Hipotesis Ho : X = Y 2 2 Hi : X &gt; Y 2 2

      (b) Dengan uji-t satu sisi dengan taraf signifikansi 0.05 (c) df untuk t = (n

      1 - 1) + (n 2 - 1) atau N – 2

      (d) T crit dilihat dari tabel

      (e) Daerah rejeksi (penolakan) = T obs crit atau T obs crit ≤ - T ≥ + T

      (f) Statistik yang digunakan

    • Bila n

      1 = n 2 ,

      X Y 2

      ( 2 )

      T =

      obs 2 2 S S 1 2

    • n n
    • 1 2<

      • Bila n

      1 2 ,

      ≠ n 2 XY

      ( 2 )

      T obs = 2 2

      ⎡ ⎤ ⎡ ⎤ ( + n − 1 ) s ( n

    1 ) s

      1

      1 1 1 2 2 + . ⎢ ⎥ ⎢ ⎥

      ( n n − ) + 1 2 2 n n 1 2 ⎣ ⎦ ⎣ ⎦

    • Standart deviasi :
    • 2 2 X

        

      X YY

      ( i 2 2 ) ( i 2 2 )

        ∑ ∑

        S

        1 = , S 2 = n 1 n

        1 1 − − 2 (g) Ambil keputusan tentang Ho.

        e. Jika mean skor pretest pada masing-masing pembelajaran berbeda secara signifikan (pretestpretest) maka dianalisis menggunakan mean selisih skor posttest dan pretest

        Karena yang diuji adalah perbedaan mean selisih skor posttest dan

        pretest masing-masing pembelajaran, maka dianalisis menggunakan uji-t atau test-t untuk dua kelompok yang independen.

        Cara menganalisisnya adalah sebagai berikut: (a) Hipotesis

        Ho : Δ = Y

        X Δ

        Hi :

        X

        Δ &gt; Y Δ (b) Dengan uji-t satu sisi dengan taraf signifikansi 0.05

        (c) df untuk t = (n

        1 - 1) + (n 2 - 1) atau N – 2

        (d) T dilihat dari tabel

        crit

        (e) Daerah rejeksi (penolakan) = T obs crit atau T obs crit ≤ - T ≥ + T

        (f) Statistik yang digunakan

      • Bila n

        1 = n 2 ,

        Δ

        X − Δ Y ( )

        T obs = 2 2 S S 1 + 2

        n n 1 2

      • Bila n ,

        1

        2

        ≠ n

        Δ X − Δ Y ( )

        T obs = 2 2

        ⎡ ⎤ ( ) ( ) ⎡ ⎤ + n − 1 s n − 1 s

        1

        1 1 1 2 2 +

      .

      ⎢ ⎥ ⎢ ⎥

        ( − ) + n n 1 2

      2 n n

      1 2 ⎣ ⎦ ⎣ ⎦

      • Standart deviasi :
      • 2 2 X

          X Y Y Δ − Δ Δ − Δ

          ( ) ( ) ∑ ∑

          S

          1 = , S 2 = n1 1 n2

          1 (g) Ambil keputusan tentang Ho.

          2. Keterlibatan Siswa Dalam pengambilan data keterlibatan siswa digunakan dengan menggunakan lembar pengamatan yang di gunakan langsung oleh pengamat terhadap kegiatan siswa pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.

          Mengacu pada Widanatho 2006:115, untuk mengetahui keterlibatan siswa digunakan table seperti di bawah ini : Bentuk Keterlibatan Total

          Nama NO Frekuensi

          Siswa A B C D E Keterlibatan 1 … … … … … … …

          2 … … … … … … … 3 … … … … … … .. .. … .. … … … … …

          Tabel 2. frekuensi keterlibatan tiap siswa

          Bentuk keterlibatannya meliputi :

          a. Mengajukan pertanyaan

          b. Mengajukan gagasan

          c. Menanggapi pendapat teman

          d. Menjawab pertanyaan teman

          e. Menanggapi penjelasan guru

        BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 28 Oktober 2010 sampai dengan

          tanggal 18 Nopember 2010 sebanyak 8 kali pertemuan dengan perincian masing-masing kelas dilakukan 1 kali pretest untuk masing masing kelas, 1 kali posttest untuk masing-masing kelas dan 4 kali pembelajaran.

          Pada saat pembelajaran banyaknya jumlah siswa antara kelas kontrol dan kelas eksperimen jumlahnya berbeda, jumlah siswa kelas eksperimen sebanya 19 siswa sedangkan untuk jumlah siswa pada kelas kontrol sebanyak 18 siswa. Pada saat melakukan pembelajaran peneliti dibantu oleh seorang teman, yang tujuannya untuk membantu peneliti dalam proses pengambilan data.

          Sebelum diadakan pembelajaran siswa diberikan pretest dan sesudah diadakan pembelajaran siswa diberikan posttest. Saat pretest dan posttest waktu yang diberikan sama yaitu 1 x 45’. Pada masing-masing materi pembelajaran diadakan 4 kali pertemuan. Pertemuan pertama 2 x 45’ pada pertemuan ini siswa melakukan pembelajaran tentang gerak lurus beraturan. Pada pembelajaran ini siswa dibagi menjadi kelompok yang terdiri dari 5 anggota kelompok, dalam pengerjaan kelompok tersebut menggunakan

          metode round robin brainstorming sedangkan pada pertemuan kedua

          dilakukan selama 1 x 45’ pada pertemuan ini beberapa kelompok mempresentasikan hasil yang telah di dapat pada pertemuan sebelumnya.

          Pada pertemuan berikutnya (pertemuan ke-3) melakukan pembelajaran yang sama yaitu siswa dibagi dalam kelompok kecil dan melakukan pembelajaran dengan metode round robin brainstorming untuk materi Gerak Lurus Berubah Beraturan. pada pertemuan berikutnya (pertemuan ke 4) beberapa kelompok mempresentasikan di depan kelas hasil yang didapat pada hari sebelumnya ( dalam kelompok kecil),

          Pada saat proses presentasi ( pertemuan ke 2 dan ke 4 ) beberapa kelompok diminta secara sukarela untuk mempresentasikan hasil yang telah didapat di kelompok kecil, setelah presentasi dilakukan, kelompok/siswa lain diberikan kesempatan untuk bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang dipresentasikan. Dalam proses ini peneliti hanya berperan sebagai fasilitator, dimana siswa secara penuh dapat mengambil bagian dalam aktivitas pembelajaran. Setelah presentasi selesai kemudian menyimpulkan hasil dari presentasi yang telah dilaksanakan.

          Pada proses pembelajaran ini siswa pertama-tama diminta secara sukarela untuk mempresentasikan hasil dari apa yang telah didapat dalam kelompok kecil, Sedangkan pada kelas kontrol peneliti hanya mengamati keterlibatan siswa.

          Pada saat pembelajaran di kelas eksperimen berlangsung peneliti berperan sebagai pendamping dan pembimbing dalam artian peneliti tidak memberitahu kesulitan yang dihadapi oleh siswa, dan bila terdapat siswa yang bertanya mengenai materi yang sedang didiskusikan maka peneliti tidak memberikan jawaban dan meminta siswa untuk berdiskusi kembali dengan kelompoknya untuk mendapatkan jawaban. Dan pertanyaan yang diajukan siswa dibahas setelah pembelajaran selesai (setelah Postes). Setelah proses pembelajaran selesai (hari pertama sampai keempat) peneliti membahas semua pertanyaan dan kemungkinan kesalahan konsep yang dialami oleh siswa pada saat proses pembelajaran, penundaan ini dilakukan bertujuan agar data yang diambil (pretes dan postes) merupakan hasil dari metode yang dipakai.

          Pada pembelajaran di kelas kontrol materi yang di ajarkan sama yaitu gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan dan pada pembelajaran di kelas kontrol disampaikan oleh guru dari sekolahan dengan menggunakan metode yang biasa di pakai oleh guru sehari-hari, yaitu dengan metode ceramah dan tanya jawab dengan siswa.

          Sebelum melakukan penelitian guru mata pelajaran dari sekolah sudah melakukan pembelajaran dengan materi besaran dan satuan pada kelas eksperimen maupun kontrol, pembelajaran ini memungkinkan siswa telah memiliki bayangan tentang materi yang akan dilakukan dalam pembelajaran dengan materi gerak.

        B. Deskripsi Data

          Data-data yang diperoleh pada saat penelitian adalah sebagai berikut:

          1. Saat Peneliti melakukan pembelajaran dengan cara X ( round Robin Brainstorming) pada kelas A ( eksperimen ) dan guru mata pelajaran fisika dari sekolah melakukan pembelajaran dengan cara Y ( cara yang biasa dipakai sehari-hari) pada kelas B ( kontrol) dengan materi Gerak lurus a. Data Skor pretest dan Skor posttest 11-20

          kode siswa Kelas eksperimen Kelas Kontrol Pretes Postest Pretes Postest

          40

          70 12 80 82 60 13 60 50

          32

          57 14 50 55

          65

          65 15 55 65

          40

          60 16 45 65 17 35 55

          35 18 60 55 50 19 40 50

          57 11 10 15

           Tabel 3. Skor pretes dan postes

          Data Mean dan Standart Deviasi pada pretest dan posttest Data Mean Standart Deviasi

           pretest pembelajaran dengan cara X 44,31

          19.06

          posttest pembelajaran dengan cara X 54,42 19,85 pretest pembelajaran dengan cara Y 43,60 17,69 posttest pembelajaran dengan cara Y 52,73 23,53 Tabel 4. Mean dan standart deviasi pada pretes dan postest

          Data perolehan keterlibatan siswa terhadap pembelajaran dengan cara round

          robin brainstorming dibandingkan pembelajaran dengan cara dengan metode

          yang biasa dipakai guru dalam pembelajaran sehari-hari dapat dilihat pada tabel (Data lengkap skor keterlibatan siswa dapat dilihat pada lampiran) :

          55

          57

          1 55 55

          55 5 55 80

          45

          55 2 20 35

          25

          25 3 20 40

          70

          55 4 65 75

          20

          20

          70 10 20 60

          45 6 40 55

          45

          47 7 60 87

          20

          40 8 20 15

          50

          55 9 52 40

          70

        2. Data Keterlibatan

          a. Kelas eksperimen Ketelibatan hari ke -

          Jumlah Skor total keterlibatan 1 106 2 12 3 87 4 7

          Tabel 5. skor keterlibatan siswa pada kelas eksperimen

          b. Kelas kontrol Ketelibatan hari ke -

          Jumlah Skor total keterlibatan

          1

          11 2 13 3 14 4 17

          Tabel 6. Skor keterlibatan kelas kontrol

          Apabila dibuat diagram batang maka hasilnya sebagai berikut :

          Grafik Keterlibatan siswa pada kelas eksperimen Grafik keterlibatan siswa pada kelas kontrol

        C. Analisis Data

        1. Efektivitas Pembelajaran

          (a) Peneliti melakukan pembelajaran dengan cara X pada kelas A dan guru mata pelajaran fisika dari sekolah melakukan pembelajaran dengan cara Y pada kelas B dengan materi yang sama yaitu Gerak Lurus 2 4 6 8 10 12 14 16 18 1 2 3 K 4 pertemuan et er li b at an 40 120 80 100 1 2 3 4 pertemuan ket er li b at an 20 60

          1) Menguji perbedaan mean skor pretest pembelajaran dengan cara X dengan mean skor pretest pembelajaran dengan cara Y Untuk menguji apakah ada perbedaan secara signifikan mean skor pretest pembelajaran dengan cara X dengan mean skor pretest pembelajaran dengan cara Y, dianalisis dengan uji- t untuk kelompok yang independen.

          Dengan uji-t dua sisi dengan taraf signifikansi 0.05 Df = (n

          1 -1) + (n 2 -1) = (19- 1) + (15 – 1) = 32

          T crit = 2,042 (dari tabel) 1 XY

          ( 1 )

          T obs =

          ⎡ ⎤ ( n2 2

        • 1 ) s ( n

          1 ) s

          1 1 ⎤ 1 1

        2

        + 2 . ⎢ ⎥ ⎢ ⎥

          2 n n ( − ) 1 2 1 2

        • n n

          ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ T = 0.613 obs

          Setelah diuji dengan uji-t didapatkan T obs = 0.613 Karena T obs ada diantara T atau T berada diluar daerah rejeksi. Berarti

          crit obs

          adanya perbedaan mean skor pretest pembelajaran dengan cara X dengan mean skor pretest pembelajaran dengan cara Y tidak signifikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mean skor

          pretest pembelajaran dengan cara X tidak berbeda secara

          signifikan dengan mean skor pretest pembelajaran dengan cara Y.

          2) Menguji peningkatan hasil belajar pembelajaran dengan cara X Untuk menguji apakah ada peningkatan hasil belajar secara signifikan pembelajaran dengan cara X, dianalisis dengan menguji perbedaan mean skor pretest pembelajaran dengan cara X dengan mean skor posttest pembelajaran dengan cara X dengan menggunakan uji-t untuk kelompok yang dependen. Dengan uji-t satu sisi dengan taraf signifikansi 0.05 Df = n – 1 = 19 – 1 = 18 T crit = 2,101 (dari tabel)

          X X 21 T = = 3,06 rel

        2

          ⎡ ⎤

          D 2 ( ) ∑

          ⎢ ⎥

          D − ∑

          N

          ⎢ ⎥ ⎣ ⎦

          N N

          1

          ( )

          Setelah diuji dengan uji-t didapatkan T real = 3,06 Karena T real lebih besar dari T crit atau T real berada dalam daerah rejeksi.

          Berarti adanya perbedaan mean skor pretest dan mean posttet signifikan. Mean skor posttest lebih besar dari pada mean skor

          pretest sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar pembelajaran dengan cara X.

          3) Menguji peningkatan hasil belajar pembelajaran dengan cara Y Untuk menguji apakah ada peningkatan hasil belajar secara signifikan pembelajaran dengan cara Y, dianalisis dengan menguji perbedaan mean skor pretest pembelajaran dengan cara Y dengan mean skor posttest pembelajaran dengan cara Y dengan menggunakan uji-t untuk kelompok yang dependen.

          Dengan uji-t satu sisi dengan taraf signifikansi 0.05 Df = n – 1 = 15 – 1 = 14

          T crit = 2,052 (dari tabel)

          Y Y 21 T = = 9,31 rel

        2

          ⎡ ⎤

          D 2 ( ) ∑

          ⎢ ⎥

          D − ∑

          N

          ⎢ ⎥ ⎣ ⎦

          N N

          1

          ( )

          Setelah diuji dengan uji-t didapatkan T real = 9,31 Karena T real lebih besar dari T crit atau T real berada dalam daerah rejeksi maka Ho ditolak dan Hi diterima. Berarti adanya perbedaan mean skor pretest dan mean posttet signifikan. Mean skor

          posttest lebih besar dari pada mean skor pretest sehingga dapat

          disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar pembelajaran dengan cara Y.

          4) Menguji Perbedaan Peningkatan Hasil Belajar Karena mean skor pretest pembelajaran dengan cara X dan mean skor pretest pembelajaran dengan cara Y tidak berbeda secara signifikan, maka untuk menguji perbedaan peningkatan hasil belajar dianalisis menggunakan data mean skor posttest pada masing-masing pembelajaran yaitu dengan menggunakan uji-t untuk kelompok yang _ndependent.

          Dengan uji-t satu sisi dengan taraf signifikansi 0.05 Df = (n

          1 -1) + (n 2 -1) = (19 – 1) + (18 – 1) = 35

          T crit = 2,000 (dari tabel) 2 X Y

          − ( 2 )

          T =

          obs 2 2 ⎡ ⎤

          1 s n 1 s ⎡ ⎤ ( − ) ( − )

        • n

          1

          1 1 1

        2

        2 + . ⎢ ⎥ ⎢ ⎥

          ( + n n1 2 2 ) n n 1 2 ⎣ ⎦ ⎣ ⎦

          = -0,334 Setelah diuji dengan uji-t didapatkan T

          obs

          = -0,334 Karena T

          obs

          lebih besar dari T crit atau T obs berada dalam daerah rejeksi maka Ho ditolak dan Hi diterima. Berarti adanya perbedaan mean skor posttest pembelajaran dengan cara X dengan mean skor

          posttest pembelajaran dengan cara Y signifikan. Mean skor posttest pembelajaran dengan cara X lebih besar daripada mean

          skor posttest pembelajaran dengan cara Y. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar pembelajaran dengan cara X lebih baik daripada peningkatan hasil belajar pembelajaran dengan cara Y

        2. Keterlibatan Siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol terhadap Pembelajaran

          Dari hasil skor pengamatan dan grafik keterlibatan siswa terlihat bahwa pada pertemuan antara pertemuan ke 1 (satu) sampai pertemuan ke 4 (empat) tampak berbeda. Pada kelas eksperimen jumlah keterlibatan siswa berbeda antara hari pertama, sampai hari keempat. Skor keterlibatan untuk hari pertama sebanyak 106 keterlibatan dan hari ketiga sebanyak 87 ketelibatan, hari kedua sebanyak 12 keterlibatan dan hari ke empat keempat sebanyak 7 keterlibatan.

          Sedangkan pada kelas kontrol jumlah skor keterlibatan pada saat pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan ke satu sampai pertemuan ke empat jumlah skor keterlibatan yang didapat tidak jauh berbeda.

          Pada pertemuan pertama sebanyak 11 keterlibatan, pada pertemuan kedua sebanyak13 keterlibatan, pada pertemuan ketiga sebanyak14 keterlibatan, pada pertemuan keempat sebanyak 17 keterlibatan.

        D. Hasil Penelitian dan Pembahasan

          1. Rangkuman Hasil Penelitian Berdasarkan analisis data diperoleh hasil penelitian sebagai berikut:

          a. Efektivitas Pembelajaran 1) Peneliti melakukan pembelajaran dengan cara X pada kelas A dan guru mata pelajaran fisika dari sekolah melakukan pembelajaran dengan cara Y pada kelas B dengan materi Gerak lurus

          No. Yang Diuji Hipotesis Pengujian Hasil Kesimpulan

          1 Mean skor pretest Uji-t dua Ho diterima Skor pretest Ho : X = Y 1 1 pembelajaran dengan sisi dengan Hi ditolak pembelajaran

          Hi :

          X Y 1 ≠ 1

          taraf dengan cara X cara X ( X ) dengan 1 signifikansi tidak berbeda mean skor pretest

          0.05 dengan skor pembelajaran dengan

          pretest

          cara Y ( Y ) 1 pembelajaran dengan cara Y

          2 Mean skor pretest Uji-t satu Ho ditolak Terjadi Ho : X = 1 X 2 pembelajaran dengan sisi dengan Hi diterima peningkatan

          Hi : X &gt; 2 X 1 taraf hasil belajar cara X ( X )dengan 1 signifikansi pembelajaran mean skor posttest pembelajaran dengan 0.05 dengan cara X. cara X ( X ) 2

          3 Mean skor pretest Uji-t satu Ho ditolak Terjadi Ho : Y = Y 1 2 pembelajaran dengan sisi dengan Hi diterima peningkatan

          Hi : Y &gt; Y 2 1 taraf hasil belajar

          Y ) dengan

          cara Y ( 1 signifikansi pembelajaran mean skor posttest 0.05 dengan cara Y. pembelajaran dengan cara Y ( Y ) 2

          4 Mean skor posttest Uji-t satu Ho ditolak Peningkatan Ho : X = Y 2 2 pembelajaran dengan sisi dengan Hi diterima hasil belajar

          Hi : X &gt; Y 2 2 taraf pembelajaran cara X ( X ) dengan 2 signifikansi dengan cara X mean skor posttest

          0.05 lebih baik pembelajaran dengan daripada cara Y( Y ) 2 peningkatan hasil belajar pembelajaran dengan cara Y

          Tabel 7. Hasil kesimpulan penelitian Perbedaan mean Nilai pretest dan postes Nilai Means

          Pretes x 44,31 Pretes y 43,60 Postes x 54,42

          Postest y 52,73

          Tabel 8. Mean data Pretes dan postes

          Perbedaan mean Nilai pretest dan postes dalam prosentase

          Pretes X Postes X Pretes X Pretes Y pretes Y Postes Y postes X Pretes Y Perbedaan

        0,71 1,69 10,11 9,13

        mean Persentase

          

        1,6 3,2 22,8 20,8

        (%) Tabel 9. Skor prosentase mean pretes dan postes

        2. Pembahasan

          Dari 2 (dua) kelas eksperimen yang menjadi sampel penelitian. Sebagaimana terlihat pada analisis data, kelas eksperimen: skor pretes rata-rata kelas sebesar 44,31, kelas X skor rata-rata postes sebesar 54,42. Untuk mengetahui apakah skor pretest kelas X1 dan X2 tidak berbeda secara signifikan, maka diuji dengan menggunakan uji T untuk sample yang independen (Independent-Samples T Test). Hasil perhitungan menunjukan bahwa tidak tidak berbeda secara signifikan dengan mean skor pretest pembelajaran dengasn materi gerak lurus

          1. Peningkatan Prestasi Belajar

        a. Kelas Kontrol

          Berdasarkan perhitungan analisis data diperoleh T obse sebesar 9,31 Dari tabel-tabel nilai distribusi T diketahui T cri sebesar 2,026, dengan level significant 0,05 dan df = 14. Dengan demikian perbedaan pretest dan posttest signifikan. Dalam hal ini skor posttest lebih besar dari skor pretest. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa antara pretest dan posttest signifikan, artinya pembelajaran fisika tentang Gerak lurus dengan metode yang dipakai gurunya sehari-hari dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

        b. Kelas Eksperimen

          Berdasarkan perhitungan analisis data diperoleh T obs sebesar 3,06 Dari tabel-tabel nilai distribusi T diketahui T sebesar 2,030, dengan

          cri

          level significant 0,05 dan df = 18. Dengan demikian perbedaan pretest dan posttest signifikan. Dalam hal ini skor posttest lebih besar dari skor pretest. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa antara pretest dan posttest signifikan, artinya pembelajaran fisika tentang Gerak lurus beraturan dan berubah beraturan dengan metode round robin brainstorming dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

          Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran fisika tentang Gerak Lurus dengan metode yang biasa dipakai oleh gurunya maupun dengan round robin brainstorming sama-sama dapat mengembangkan pengetahuan. Hal ini ditunjukan oleh prestasi belajar pada kedua kelas sama-sama meningkat.

          2. Perbedaan Peningkatan Prestasi belajar Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Prestasi siswa sebelum melaksanakan pembelajaran baik pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen menunjukkan hasil yang tidak berbeda secara signifikan. Hal ini dapat ditunjukan dengan diuji T yang memberikan nilai T obs lebih rendah dari T crit. ( T obs = 0,16 dan T crit = 2.000)

          Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prestasi atau kemampuan sebelum pembelajaran dilaksanakan pada kedua kelas sama. Sementara prestasi belajar siswa sesudah melaksanakan pembelajaran antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen menunjukkan hasil yang berbeda secara signifikan. Hal ini dapat ditunjukan dengan diuji T yang memberikan nilai t observasi lebih tinggi dari t crit , Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prestasi atau kemampuan sesudah pembelajaran berlangsung pada kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol. Ini menunjukan bahwa kemampuan siswa mengembangkan pengetahuan tentang gerak lurus pada kelas eksperimen yang melaksanakan pembelajaran dengan metode round

          robin brainstorming lebih baik dari kelas kontrol.

          3. Perbedaan peningkatan hasil pembelajaran dalam prosentase Dari data mean skor peningkatan prestasi belajar terlihat perbedaan antara nilai pretes kelas eksperimen dan nilai pretes kelas kontrol yaitu mengalami perbedaan sebesar 1,6% data prosentase mean antara postes dan postes kelas eksperimen mengalami perbedaan prosentase sebesar 3,2 %, nilai mean antara pretes dan postest kelas kontrol terdapat perbedaan mean sebesar 9,13 %, perbedaan postes kelas kontrol dan postes kelas eksperimen terdapat perbedaan sebesar 10, 11%.

          4. Pelaksanaan Penelitian

          a. Tempat dan subjek penelitian Penelitian ini dilaksankan di SMA Sang Timur Yogyakarta, Pada penelitian ini menggunakan 2 subjek penelitian yaitu kelas kontroldan kelas eksperimen. Pembelajara pada kelas ekperimen menggunakan metode round robin brainstorming dan banyaknya subjek penelitian adalah 19 siswa, sedangkan untuk kelas kontroldigunakan metode yang biasa dipakai oleh guru kelas yaitu dengan metode ceramah dan Tanya jawab dan banyaknya subjek penelitian adalah 18 siswa.

          b. Kendala Penelitian ini masih terdapat beberapa kekurangan yang disebabkan oleh beberapa kendala yang dialami peneliti., Kendala-kendala yang dialami dalam penelitian ini yaitu: waktu penelitian yang masih terlalu singkat dalam pelaksanaan penelitian, selain itu masalah yang menjadi kendala adalah masih kurangnya motivasi siswa untuk belajar secara aktif sehingga masih membutuh motivasi dari orang lain untuk belajar secara mandiri, pada saat pembelajaran masih ada beberapa siswa dalam kelompok bermain-main sendiri. Kendala yang lain adalah masih kurang mengerti beberapa siswa dalam kelompok tentang metode yang dipakai, sehingga memungkinkan peneliti memberikan pengertian berkali-kali

          c. Hasil Penelitian 1) Peningkatan prestasi belajar dan perbedaan peningkatan hasil belajar

          Pada kelas kontrol, hasil penelitian menunjukan hasil antara pretes dan postes signifikan, ini berati pembelajaran fisika dengan materi gerak lurus yang dilakukan oleh guru bidang studi dengan metode yang biasa dipakai sehari-hari dapat meningkatkan hasil belajar.

          Sedangkan pada kelas eksperimen, hasil penelitian menunjukan antara pretest dan postes signifikan, artinya pemebelajaran fisika dengan metode round robin brainstorming dapat meningkatkan prestasi belajar Sehingga berdasarkan penelitian ini metode pembelajaran yang dipakai oleh guru bidang studi dan peneliti sama-sama dapat meningkatkan prestasi belajar. Prestasi belajar siswa sesudah melaksanakan pembelajaran antara kelas kontrol dan kelas eksperimen menunjukan hasil yang berbeda secara signifikan, hal ini di tunjukan dengan uji T yang menunjukan nilai t obs lebih tinggi dari t crit dengan demikian dapat dikatakan bahwa prestasi sesudah pembelajaran pada kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol. Meskipun pembelajaran dengan metode round robin brainstorming lebih baik dari metode yang dipakai oleh guru dalam mengajar sehari-hari namun nilai rata-rata kelas yang mengunakan metode round robin

          brainstorming pada kelas eksperimen masih berada dibawah nilai ketuntasan minimal yang telah ditentukan oleh sekolah.

          2) Keterlibatan siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol Perbedaan jumlah skor keterlibatan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol terdapat perbedaan. Dari data yang diperoleh terlihat dimana skor keterlibatan pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah skor keterlibatan pada kelas kontrol.

          Pada kelas ekperimen terlihat adanya perbedaan skor yang sangat tinggi antara pembelajaran pada hari pertama sampai hari terakhir.

          Pada kelas eksperimen siswa terlihat lebih terlibat dan aktif dalam proses pembelajaran, dimana dalam pembelajaran ini siswa melakukan diskusi dalam kelompok kecil dan dalam diskusi ini siswa ”dipaksa” untuk mengeluarkan pendapat atau gagasan kepada teman kelompoknya sehingga menyebabkan skor keterlibatan (pada hari pertama dan hari ketiga) lebih tinggi dibandingkan pada saat hari kedua dan keempat. Setelah melakukan diskusi dalam kelompok kecil, ada beberapa kelompok mempresentasikan hasil yang telah didapat dari diskusi tersebut kepada kelompok lain dan dalam presentasi ini memungkinkan siswa bertanya ke kelompok yang sedang presentasi. Pada kelas kontrol pembelajaran menggunakan metode yang biasa dipakai oleh guru kelas dalam pembelajaran sehari-hari. Metode yang dipakai oleh guru adalah metode ceramah yang diselingi dengan beberapa pertanyaan yang diajukan kepada siswa. Di dalam kelas kontrol siswa kebanyakan pasif dan ada beberapa siswa yang menaggapi dan bertanya kepada guru yang mengajar, selain itu siswa cenderung menunggu untuk ditanya dan menanggapi penjelasan guru dengan cara mencatat apa yang ditulis oleh guru kelas di papan tulis.

        Bab V Penutup A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai

          berikut:

          1. Pembelajaran coopertaive learning dengan metode round robin

          brainstorming secara efektif lebih dapat meningkatkan hasil belajar siswa

          dari pada pembelajaran yang biasa dilakukan guru sehari-hari dalam pembelajaran.

          2. Pembelajaran fisika dengan menggunakan metode Round robin

          Brainstorming lebih terlibat dalam proses pembelajaran dibandingkan

          dengan pembelajaran yang biasa dipakai oleh guru dalam pembelajaran sehari-hari.

          B. Saran Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan di atas, maka peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:

          1. Karena pembelajaran dengan metode Round robin Brainstorming secara efektif lebih dapat meningkatkan hasil belajar siswa, maka disarankan kepada para pendidik atau calon pendidik untuk mencoba menerapkan pembelajaran dengan metode Round robin Brainstorming agar siswa terlatih untuk bersikap mandiri , suka bekerja sama, teliti, tekun, dll.

          2. Untuk penelitian yang selanjutnya, dapat diteliti peningkatan prestasi belajar siswa antara siswa yang diajar dengan metode Round robin

          Brainstorming dalam materi pembelajaran yang berbeda.

        DAFTAR PUSTAKA

          Burhanudin , S.Pd.,dkk. (2006). Laporan PTK, Kantor Pendidikan Nasional Jawa Timur dalam http//www.guruvalah.com

          Darmiyono, (2009). Efektifitas Pembelajaran Fisika Pada Materi

          Tumbukan Lenting dan tak lenting dengan penyelesaian soal yang dituntun Dengan Lembar Kerja Siswa Di SMA 1 Godean. Skripsi

          Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Hamalik, O.(2003). Proses Belajar Mengajar. Jakarta:Bumi Aksara.

          Haryati, M.(2007). Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta:Gaung Persada Press. Munandar, A.(1990). Pengaruh Pendekatan Demonstrasi Berstruktur dan

          Ekperimen Berkelompok teradap Derajat Kesulitan Memahami

        konsep-konsep Fisika. Tesis Program Pasca Sarjana.

          Yogyakarta:IKIP Yogyakarta. San Lohat, Alexander. (2008) Gerak Lurus Beraturan dan gerak lurus

          

        berubah beraturan. dalam http://www.gurumuda.com

          Soewardi, E.(1987). Pengukuran dan Penilaian pada Proses Pembelajaran. CV Sinar Baru:Bandung. Suparno, P.(1997). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan.

          Yogyakarta: Kanisius. Suparno, P.(2001). Statistika Dasar Diktat untuk Mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika. Yogyakarta: universitas Sanata Dharma.

          Suparno, P.(2007). Metodologi Penelitian Pendidikan Fisika.

          Yogyakarta:Universitas Sanata Dharma. Syah, Muhibbin.(1997). Psikologi Pendidikan. Bandung:Remaja Rosdakarya Offset.

          Winkel, W.S.(2004). Psikologi Pengajaran. Media Abadi: Yogyakarta.

          Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian

          Lampiran 2. Surat Keterangan Selesai Penelitian

          Lampiran 3

        RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

        ( RPP )

          Sekolah : SMA Sang Timur Mata Pelajaran : Fisika Kelas / Program : XI / IPA Semester : 1

          Standar Kompetensi :

          Menerapkan konsep dan prinsip dasar kinematika dan dinamika benda titik

          Kompetensi Dasar :

          Menganalisis besaran fisika pada gerak dengan kecepatan dan percepatan konstan

          Indikator : • Mendefinisikan pengertian gerak.

        • Menunjukkan perbedaan antara perpindahan dengan jarak (panjang lintasan).
        • Menunjukkan gerak lurus beraturan (GLB).
        • Menentukan kecepatan dan perpindahan pada GLB.
        • Menerapkan gerak lurus dalam pemecahan masalah secara teori maupun dalam kehidupan sehari-hari.
        • Mengidentifikasi gerak lurus berubah beraturan dan hubungannya dengan besaran besaran yang terkait.
        • Menerapkan glbb dalam teknologi dan kehidupan sehari-hari

          Alokasi Waktu

          Alokasi Waktu : 10 jam pembelajaran

          Tujuan Pembelajaran : • Siswa dapat menjelaskan perbedaan antara perpindahan dan jarak.

        • Siswa dapat menunjukan gerak lurus beraturan • Siswa dapat menentukan perpindahan pada GLB.
        • Siswa dapat menrapkan gerak lurus dan pemecahan dalam kehidupan sehari- hari
        • Siswa dapat menunjukan macam-macam gerak lurus berubah beraturan
        • Siswa dapat menerapkan GLBB dalam kehidupan sehari-hari

          Materi Pembelajaran :

          Gerak Lurus Beraturan Suatu benda dikatakan melakukan gerak lurus beraturan jika kecepatannya selalu konstan. Kecepatan konstan artinya besar kecepatan atau kelajuan dan arah kecepatan selalu konstan. Karena besar kecepatan atau kelajuan dan arah kecepatan selalu konstan maka bisa dikatakan bahwa benda bergerak pada lintasan lurus dengan kelajuan konstan.

          Ketika sebuah benda melakukan gerak lurus beraturan, kecepatan benda sama dengan kecepatan rata-rata. Dalam gerak lurus beraturan (GLB) kecepatan benda selalu konstan. Kecepatan konstan berarti besar kecepatan (besar kecepatan = kelajuan) dan arah kecepatan selalu konstan. Besar kecepatan atau kelajuan benda konstan atau selalu sama saat karenanya besar kecepatan atau kelajuan pasti sama dengan besar kecepatan rata-rata.

          Grafik Gerak Lurus Beraturan

          Untuk memudahkan menemukan hubungan antara Kecepatan, perpindahan dan waktu tempuh maka akan sangat membantu jika digambarkan grafik hubungan ketiga komponen tersebut.

          Grafik Kecepatan terhadap Waktu (v-t)

          Berdasarkan grafik di atas, tampak bahwa besar kecepatan bernilai Tetap pada tiap satuan waktu. Besar kecepatan tetap ditandai oleh garis lurus, berawal dari t = 0 hingga t akhir. Contoh : perhatikan grafik kecepatan terhadap waktu (v-t) di bawah ini Besar kecepatan benda pada grafik di atas adalah 3 m/s. 1, 2, 3 dstnya adalah waktu tempuh (satuannya detik). Amati bahwa walaupun waktu berubah dari 1 detik sampai 5, besar kecepatan benda selalu sama (ditandai oleh garis lurus).

          Grafik Perpindahan terhadap Waktu (x-t)

          Grafik posisi terhadap waktu, di mana posisi awal x berhimpit dengan titik acuan nol.

          Makna grafik di atas adalah bahwa besar kecepatan selalu tetap. Anda jangan bingung dengan kemiringan garis yang mewakili kecepatan. Makin besar nilai x, makin besar juga nilai t sehingga hasil perbandingan x dan y selalu sama.

          Gerak Lurus berubah Beraturan

          Suatu benda dikatakan melakukan gerak lurus berubah beraturan (GLBB) jika percepatannya selalu konstan. Percepatan merupakan besaran vektor (besaran yang mempunyai besar dan arah). Percepatan konstan berarti besar dan arah percepatan selalu konstan saat. Walaupun besar percepatan suatu benda selalu konstan tetapi jika arah percepatan selalu berubah maka percepatan benda tidak konstan. Demikian juga sebaliknya jika arah percepatan suatu benda selalu konstan tetapi besar percepatan selalu berubah maka percepatan benda tidak konstan.

          Karena arah percepatan benda selalu konstan maka benda pasti bergerak pada lintasan lurus. Arah percepatan konstan = arah kecepatan konstan = arah gerakan benda konstan = arah gerakan benda tidak berubah = benda bergerak lurus. Besar percepatan konstan bisa berarti kelajuan bertambah secara konstan atau kelajuan berkurang secara konstan. Ketika kelajuan benda berkurang secara konstan, kadang kita menyebutnya sebagai perlambatan konstan. Untuk gerakan satu dimensi (gerakan pada lintasan lurus), kata percepatan digunakan ketika arah kecepatan = arah percepatan, sedangkan kata perlambatan digunakan ketika arah kecepatan dan percepatan berlawanan.

          Contoh 1 : Besar percepatan konstan (kelajuan benda bertambah secara konstan) Misalnya mula-mula mobil diam. Setelah 1 detik, mobil bergerak dengan kelajuan 2 m/s. Setelah 2 detik mobil bergerak dengan kelajuan 4 m/s. Setelah 3 detik mobil bergerak dengan kelajuan 6 m/s. Setelah 4 detik mobil bergerak dengan kelajuan 8 m/s. Dan seterusnya… Tampak bahwa detik kelajuan mobil bertambah 2 m/s. Kita bisa mengatakan bahwa mobil mengalami percepatan konstan sebesar

          2 2 m/s per sekon = 2 m/s .

          Contoh 2 : Besar perlambatan konstan (kelajuan benda berkurang secara konstan)

          Misalnya mula-mula benda bergerak dengan kelajuan 10 km/jam. Setelah 1 detik, benda bergerak dengan kelajuan 8 km/jam. Setelah 2 detik benda bergerak dengan kelajuan 6 km/jam. Setelah 3 detik benda bergerak dengan kelajuan 4 km/jam. Setelah 4 detik benda bergerak dengan kelajuan 2 km/jam. Setelah 5 detik benda berhenti. Tampak bahwa detik kelajuan benda berkurang 2 km/jam. Kita bisa mengatakan bahwa benda mengalami perlambatan konstan sebesar 2 km/jam per sekon.

          Perhatikan bahwa ketika dikatakan percepatan, maka yang dimaksudkan adalah

          

        percepatan sesaat. Demikian juga sebaliknya, ketika dikatakan percepatan sesaat,

          maka yang dimaksudkan adalah percepatan. Nah, dalam gerak lurus berubah beraturan (GLBB), percepatan benda selalu konstan saat, karenanya percepatan benda sama dengan percepatan rata-ratanya. Jadi besar percepatan = besar percepatan rata-rata. Demikian juga, arah percepatan = arah percepatan rata-rata.

          Dalam kehidupan sehari-hari sangat sulit ditemukan benda yang melakukan gerak lurus berubah beraturan, di mana perubahan kecepatannya terjadi secara teratur, baik ketika hendak bergerak dari keadaan diam maupun ketika hendak berhenti. walaupun demikian, banyak situasi praktis terjadi ketika percepatan konstan/tetap atau mendekati konstan, yaitu jika percepatan tidak berubah terhadap waktu ( ingat bahwa yang dimaksudkan di sini adalah percepatan tetap, bukan kecepatan).

          Penurunan Rumus Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)

          percepatan benda tetap atau konstan atau tidak berubah. jika percepatan benda tersebut tetap sejak awal benda tersebut bergerak, maka kita bisa mengatakan bahwa percepatan sesaat dan percepatan rata-ratanya sama. meng ingat bahwa percepatan benda tersebut tetap saat, dengan demikian percepatan sesaatnya tetap. Percepatan rata-rata sama dengan percepatan sesaat karena baik percepatan awal maupun percepatan akhirnya sama, di mana selisih antara percepatan awal dan akhir sama dengan nol. Pada percepatan, telah diturunkan persamaan percepatan rata-rata, di mana

          

        t adalah waktu awal ketika benda hendak bergerak, t adalah waktu akhir. Karena

        pada saat t benda belum bergerak maka kita bisa mengatakan t (waktu awal) = 0.

          Sehingga persamaan berubah menjadi :

          Satu masalah umum dalam GLBB adalah menentukan kecepatan sebuah benda pada waktu tertentu, jika diketahui percepatannya ( sekali lagi ingat bahwa

          percepatan tetap). Untuk itu, persamaan percepatan yang kita turunkan di atas

          dapat digunakan untuk menyatakan persamaan yang menghubungkan kecepatan pada waktu tertentu ( v t ), kecepatan awal ( v ) dan percepatan (

          a). sekarang kita

          menurunkan persamaan di atas. Jika dibalik akan menjadi Ini adalah salah satu persamaan penting dalam GLBB, untuk menentukan kecepatan benda pada waktu tertentu apabila percepatannya diketahui persamaan di atas (persamaan I GLBB) untuk mencari persamaan yang digunakan untuk menghitung posisi benda setelah waktu t ketika benda tersebut mengalami percepatan tetap. Pada pembahasan mengenai kecepatan, kita telah menurunkan persamaan kecepataan rata-rata Untuk mencari nilai x, persamaan di atas kita tulis ulang menjadi :

          Karena pada GLBB kecepatan rata-rata bertambah secara beraturan, maka kecepatan rata-rata akan berada di tengah-tengah antara kecepatan awal dan kecepatan akhir : Persamaan ini berlaku untuk percepatan konstan dan tidak berlaku untuk gerak yang percepatannya tidak konstan. Kita tulis kembali persamaan a : Persamaan ini digunakan untuk menentukan posisi suatu benda yang bergerak dengan percepatan tetap. Jika benda mulai bergerak pada titik acuan = 0 (atau x

          = 0), maka persamaan 2 dapat ditulis menjadi

          2

          x = v t + ½ at

          o

          Sekarang kita turunkan persamaan/rumus yang dapat digunakan apabila t (waktu) tidak diketahui. Kita tulis lagi persamaan a :

          Terdapat empat persamaan yang menghubungkan posisi, kecepatan, percepatan dan waktu, jika percepatan (

          a) konstan, antara lain : Persamaan di atas tidak berlaku jika percepatan tidak konstan.

          Metode Pembelajaran :

          1. Diskusi

          2. Presentasi

          3. Tanya jawab

          Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran : Pertemuan 1

          Kegiatan Awal

        • Peneliti membuka dan mengawali pelajaran dengan menyampaikan secara singkat kompetensi dasar yang dikuasai siswa setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran.
        • Siswa diberi pretes tertulis untuk mengetahui pemahaman awal siswa terhadap materi yang akan di ajarkan

          Kegiatan Inti Menerapkan diskusi kelompok dengan metode round robin branistorming

        • Siswa dibagi kedalam beberapa kelomppok kecil • kelompok kecil diberikan pertanyaan konsep mengenai konsep gerak.
        • siswa dalam kelompok kecil secara bergiliran memberikan jawaban dan jawaban di tulis oleh sekertaris kelompok • kelompok menyimpulkan jawaban dari anggota kelompok.
        • Beberapa kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok dalm kelas

          Kegiatan Akhir

          Peneliti mengakhiri pelajaran dengan cara tanya jawab untuk menyimpulkan dan memberi penekanan pada GLB

          Pertemuan 2

          Kegiatan Awal Menerapkan diskusi kelompok dengan metode round robin branistorming

        • Siswa dibagi kedalam beberapa kelomppok kecil • kelompok kecil diberikan pertanyaan konsep mengenai konsep gerak.
        • Setiap siswa dalam kelompok kecil secara bergiliran memberikan jawaban dan jawaban di tulis oleh sekertaris kelompok • kelompok menyimpulkan jawaban dari anggota kelompok.
        • Beberapa kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok dalm kelas

          Kegiatan Akhir

          Peneliti mengakhiri pelajaran dengan cara tanya jawab untuk menyimpulkan dan memberi penekanan pada GLB

          Pertemuan 3 Postest Sumber Belajar :

          Buku pegangan siswa

          Penilaian

          1. Pengamatan aktivitas siswa dalam menjawab pertanyaan pada saat tanya jawab/diskusi, minat, sikap, dan tingkah laku siswa di dalam kelas.

          2. Pretes dan postest tertulis. Lampiran 4. Soal Postest

          1. Jelaskan dengan kata-katamu sendiri apa yang dimaksud dengan:

          a. Jarak

          b. Percepatan

          c. Perpindahan

          d. Posisi

          e. Gerak Lurus Beraturan

          f. Gerak Lurus Berubah Beraturan

          2. Per hatikan gambar berikut!

          a. Jika seorang anak ber jalan dari titik a ke b berapakah jarak dan perpindahannya ? b. Jika seorang anak ber jalan dari titik a ke b kemudian c berapakah jarak dan perpindahannya ? c. Jika seorang anak ber jalan dari titik a ke ke b ke c kemudian d berapakah jarak dan perpindahannya ? d. Jika seorang anak ber jalan dari titik a ke b ke c ke d dan kembali lagi ke a berapakah jarak dan perpindahannya ?

          3. Sebuah mobil mula-mula bergerak dengan kecepatan konstan 2 m/s , kemudian setelah bergerak selama t sekon sopir memberikan percepatan

          2

          yang konstan terhadap mobil sebesar 5 m/s . Apa yang akan terjadi dengan mobil tersebut? jelaskan jawaban kamu! 4. sebuah mobil bergerak dengan kecepatan tetap sebesar 5 m/s, kemudian pada jarak 150 m sopir melihat lampu merah, jika waktu lampu merah tersisa tinggal 10 detik lagi berapakah percepatan minimal mobil yang harus diberikan sopir agar mobil tidak terkena lampu merah pada saat melewati lampu merah tersebut?

          Lampiran 5. Soal dalam kelompok

          Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dalam kelompok!

          1. Jelaskan dengan kata-katamu sendiri apa yang dimaksud dengan:

          a. Gerak lurus beraturan

          b. Jarak

          c. Perpindahan

          d. Perpindahan

          e. Posisi

          2. Perhatikan grafik dibawah ini Simpulkan apa yang dapat dibaca dari grafik di atas? 3.

          Jika titik awa 2 m, dan titik akhir 8 m arah GLB grafik ke atas adalah kekanan, jika v tergambar sebagai tangent α, carilah v dengan menghitung gradient

          α! Lampiran 6. Soal dalam kelompok untuk hari kedua

          1. Jelaskan dengan kata-katamu sendiri apa yang dimaksud dengan Gerak lurus berubah beraturan?

          2. Jelaskan dengan kata-kata mu sendiri apa yang dimaksud dengan :

          a. Percepatan

          b. Perlambatan

          3. Apa yang akan terjadi jika sebuah mobil yang bergerak dengan kecepatan tetap tidak di beri perlambatan atau percepatan?

          4. Perhatikan grafik di bawah ini !

          a. Pada grafik diatasn simpulkan secara matematis besarnya nilai percepatan (a) ? b. Jika perpindahan benda (s) digambarkan sebagai luasan trapezium, tuliskan secara matematis s yang mewakili grafik diatas?

          Lampiran 7. Soal Postest

          5. Jelaskan dengan kata-katamu sendiri apa yang dimaksud dengan: a. Jarak

          b. Percepatan

          c. Perpindahan

          d. Posisi

          e. Gerak Lurus Beraturan

          f. Gerak Lurus Berubah Beraturan

          6. Per hatikan gambar berikut!

          e. Jika seorang anak ber jalan dari titik a ke b berapakah jarak dan perpindahannya ? f. Jika seorang anak ber jalan dari titik a ke b kemudian c berapakah jarak dan perpindahannya ? g. Jika seorang anak ber jalan dari titik a ke ke b ke c kemudian d berapakah jarak dan perpindahannya ? h. Jika seorang anak ber jalan dari titik a ke b ke c ke d dan kembali lagi ke a berapakah jarak dan perpindahannya ?

          7. Sebuah mobil mula-mula bergerak dengan kecepatan konstan 2 m/s , kemudian setelah bergerak selama t sekon sopir memberikan percepatan

          2

          yang konstan terhadap mobil sebesar 5 m/s . Apa yang akan terjadi dengan mobil tersebut? jelaskan jawaban kamu! 8. sebuah mobil bergerak dengan kecepatan tetap sebesar 5 m/s, kemudian pada jarak 150 m sopir melihat lampu merah, jika waktu lampu merah tersisa tinggal 10 detik lagi berapakah percepatan minimal mobil yang harus diberikan sopir agar mobil tidak terkena lampu merah pada saat melewati lampu merah tersebut?

          Lampiran 8. Data skor Pretes Dan postest Kelas eksperimen dan kontrol kode Kelas Kelas Kontrol siswa eksperimen

          Pretes Postest Pretes Postest 1 55 55 45 55 2 20 35 25 25 3 20 40 70 55 4 65 75 20 55 5 55 80 20 45 6 40 55 45 47 7 60 87 20 40 8 20 15 50 55 9 52 40 70 70

          10 20 60 57 57 11 10 15 55 70 12 80 82 0 60 13 60 50 32 57 14 50 55 65 65 15 55 65 40 60 16 45 65 0 17 35 55 40 35 18 60 55 0 50 19 40 50

          Lampiran 7. Keterlibatan Siswa terhadap pembelajaran pada kelas eksperimen

          Kode siswa

        keterlibatan pertemuan ke

          

        I II III

          IV a b c d e a b c d e a b c d e a b c d e

          1 0 5 0 0 0

          6

          e. menanggapi penjelasan guru Lampiran 8. Keterlibatan siswa pada pembelajaran di kelas kontrol

          d. menjawab pertanyaan teman

          c. menanggapi pendapat teman

          b. mengajukan gagasan

          a.. mengajukan pertanyaan

          Keterangan :

          79 3 2 3 0 2 0 Jumlah a-e 106 12 87 7

          5

          3

          2

          1

          1

          18 0 4 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 19 0 4 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 Jumlah 4 92 7 3 0

          15 0 5 1 1 0 1 5 0 0 1 0 0 0 16 0 5 0 0 0 1 4 1 0 0 0 0 0 17 1 5 1 0 0 5 0 0 0 0 0 0

          1 1 4 0 0 0 0 0 0 13 1 5 0 0 0 1 4 0 1 0 0 1 0 14 0 4 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0

          1 4 0 0 0 0 0 0 10 0 5 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 11 0 5 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 12 1 5 1 0 0

          7 0 5 1 1 0 4 0 0 0 0 1 0 8 0 5 1 0 0 1 5 1 0 0 0 0 0 9 0 5 1 1 0

          1 1 4 0 0 1 0 0 0 5 0 5 0 0 0 1 5 0 0 0 0 0 0 6 1 5 0 0 0 4 1 0 0 0 0 0

          1

          1 1 4 0 1 0 0 0 0 4 0 5 1 0 0

          1 1 3 0 0 0 0 0 0 2 0 5 0 0 0 1 4 0 0 0 0 0 0 3 0 5 0 0 0

          Kode keterlibatan pertemuan ke Siswa

          I II III IV bentuk a b c d e a b c d e a b c d e a b c d e 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1

          1 0 0 0 0 0 0 1 1 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 2 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 0 5 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 6 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 7 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1

          10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 13 0 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 14 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 15 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 16 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 Jumlah 0 1 2 0 8 2 2 0 1 8 1

          2 1 7 3 3 1 0 1 12 Jumlah a-e 11 13 14 17

          Keterangan :

          a. mengajukan pertanyaan

          b. mengajukan gagasan

          c. menanggapi pendapat teman

          d. menjawab pertanyaan teman

          e. menanggapi penjelasan guru

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PEMBELAJARAN CANGGET DENGAN MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE INSIDE OUTSIDE CIRCLE (IOC) DI SMA NEGERI I MELINTING LAMPUNG TIMUR
0
4
259
PEMBELAJARAN CANGGET DENGAN MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE INSIDE OUTSIDE CIRLCE (IOC) DI SMA NEGERI I MELINTING LAMPUNG TIMUR
0
4
67
PEMBELAJARAN CANGGET DENGAN MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE INSIDE OUTSIDE CIRCLE (IOC) DI SMA NEGERI I MELINTING LAMPUNG TIMUR
0
8
49
PEMBELAJARAN CANGGET DENGAN MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE INSIDE OUTSIDE CIRLCE (IOC) DI SMA NEGERI I MELINTING LAMPUNG TIMUR
0
8
49
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN JOYFULL LEARNING BERBANTUAN MODUL SMART INTERAKTIF PADA HASIL BELAJAR MATERI GERAK LURUS
1
24
240
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN MENGGUNAKAN ANIMASI MACROMEDIA FLASH TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK GERAK LURUS DI KELAS X SMA.
0
2
20
EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE WORD SQUARE PADA MATERI POKOK INVERTEBRATA DI KELAS X SMA NEGERI 1 SILAEN TAHUN PEMBELAJARAN 2013/2014.
0
3
18
INOVASI METODE PERMAINAN KOTAK KARTU MISTERIUS (KOKAMI) PADA MATERI GERAK LURUS
2
5
26
PEMBELAJARAN FISIKA GASING MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DAN DISKUSI PADA MATA PELAJARAN FISIKA SMA KELAS X MATERI GERAK LURUS DITINJAU DARI MINAT SISWA.
0
1
18
ANALISA LOAD BALANCING SERVER DENGAN METODE LVS DIRECT ROUTING MENGGUNAKAN ALGORITMA ROUND ROBIN DAN LEAST CONNECTION.
0
0
2
REMEDIASI MISKONSEPSI SISWA MENGGUNAKAN METODE PERMAINAN KOKAMI PADA MATERI GERAK LURUS BERATURAN DI SMA
0
1
14
PENERAPAN MODEL ACTIVE LEARNING UNTUK MEREMEDIASI MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI GERAK LURUS DI SMP
0
0
10
DESKRIPSI MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI GERAK LURUS DI SMA NEGERI 1 SUNGAI RAYA ARTIKEL PENELITIAN
0
6
12
IMPLEMENTASI MODEL POE2WE DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM PEMBELAJARAN GERAK LURUS DI SMA
0
0
14
PROFIL MISKONSEPSI SISWA PADA MATERI KINEMATIKA GERAK LURUS MENGGUNAKAN TES DIAGNOSTIK EMPAT TAHAP DENGAN COMPUTER BASED TEST UNTUK SMA KELAS X DI SURAKARTA
0
1
16
Show more