DAMPAK OBJEK WISATA ROHANI KATOLIK CANDI HATI KUDUS TUHAN YESUS GANJURAN TERHADAP PEREKONOMIAN DI BIDANG USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI GANJURAN, SUMBER MULYO BAMBANG LIPURO, BANTUL

Gratis

0
0
149
9 months ago
Preview
Full text

  

DAMPAK OBJEK WISATA ROHANI KATOLIK CANDI HATI

KUDUS TUHAN YESUS GANJURAN TERHADAP

PEREKONOMIAN DI BIDANG USAHA MIKRO KECIL DAN

MENENGAH DI GANJURAN, SUMBER MULYO BAMBANG

LIPURO, BANTUL

  

SKRIPSI

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Ekonomi Oleh :

  IGNATIUS INDAR PRASTAWA NIM : 08 1324 008

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

  

DAMPAK OBJEK WISATA ROHANI KATOLIK CANDI HATI

KUDUS TUHAN YESUS GANJURAN TERHADAP

PEREKONOMIAN DI BIDANG USAHA MIKRO KECIL DAN

MENENGAH DI GANJURAN, SUMBER MULYO BAMBANG

LIPURO, BANTUL

  

SKRIPSI

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Ekonomi Oleh :

  IGNATIUS INDAR PRASTAWA NIM : 08 1324 008

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

  PERSEMBAHAN

   Tuha n Yesus ya ng mema mp uka n sa ya untuk sela lu mensyukuri setia p ha l ya ng b o leh terja d i d a la m kehid up a n sa ya  Ked ua ora ng tua ku : Yoha nes Sud a rno b eserta Luc ia Ng a d ira h d eng a n keikhla sa nnya m ela ksa na ka n p era n seb a g a i o ra ng tua d a n sa ya m enc inta i ka lia n serta b ersyukur m em iliki ka lia n  Ka ka k-ka ka kku : Ca tha rina Ind a rni, Dionisius Ind a rintoko d a n

  Yulia na Ind a rining sih  Rosa lia Hera Purwa ra sa ri untuk setia p d ukung a n d a n sema ng a t ya ng d ib erika n kep a d a sa ya

  Kupersembahkan karya ini untuk almamaterku : Universitas Sanata Dharma

  

MOTTO

MADEP MANTEP NDEREK GUSTI..........

TERLANJUR PASANG LANGKAH KE DEPAN PANTANG

RASANYA SURUT KE BELAKANG........... BERSYUKUR....... ALLELUYA........ AMIN....

  

ABSTRAK

DAMPAK OBJEK WISATA ROHANI KATOLIK CANDI HATI KUDUS

TUHAN YESUS GANJURAN TERHADAP PEREKONOMIAN DI BIDANG

USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI GANJURAN,

SUMBERMULYO BAMBANGLIPURO, BANTUL

  IgnatiusIndarPrastawa UniversitasSanataDharma

  2013 Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan dan menganalisis perbedaan yang terjadi dalam bidang sosial ekonomi sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran khususnya dalam hal: 1) jumlah pendapatan keluarga masyarakat, 2) besarnya curahank erja, dan 3) jumlah keluarga miskin masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran.

  Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2012 sampai dengan Februari 2013 di Ganjuran Sumbermulyo Bambanglipuro, Bantul. Jenis Penelitian yang digunakan adalah ex post facto dengan metode penelitian deskriptif komparatif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 57 pelaku usaha mikro, kecil dan menengah. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampel jenuh. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua teknik yaitu wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data uji Z dengan menggunakan uji wilcoxon.

  Dari hasil analisis data, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :1)Sesudah menjadi objek wisatarata-ratajumlah pendapatan keluarga masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran meningkat dari Rp. 1.090.350 menjadi Rp. 1.456.140 per bulan. 2)Sesudah menjadi daerah objek wisatarata-rata jumlah curahan kerja masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran meningkat dari 3173.68 jam menjadi 4803.42 jam per bulan. 3) Sesudah menjadi objek wisata jumlah keluarga miskin masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran mengalami penurunan dari 173 keluarga miskin menjadi 149 keluarga miskin.

  

ABSTRACT

THE EFFECT OF THE EXISTANCE OF THE CHURCH OF THE SACRED

HEART OF JESUS AT GANJURAN AS A RELIGIOUS TOURISM OBJECT

TO THE SMALL, MICRO AND MEDIUM BUSINESSES AT GANJURAN,

SUMBERMULYO BAMBANGLIPURO, BANTUL

  Ignatius Indar Prastawa Sanata Dharma University

  2013 The purpose of this study are to reveal and analyze the differences that happen in the social-economic field before and after the existence of the church of the Sacred

  Heart of Jesus at Ganjuran, especially in the term of: 1) the income of the family, 2) the scale of employment, and 3) the number of poor families who live around the Sacred Heart of Jesus at Ganjuran.

  The study was conducted from November 2012 to February 2013 at Ganjuran, Sumbermulyo Bambanglipuro, Bantul. This research is an ex post facto with a descriptive-comparative method. The population of the research are 57 micro, small and medium businesses. Technique of taking samples was a saturated sample. The techniques of collecting the data were interviews and documentation. The data were analyzed by applying Z test and Wilcoxon test.

  From the data analysis, it can be concluded as follows: 1) After the church of the Sacred Heart of Jesus at Ganjuran became a tourism object the average income of the family around the Sacred Heart of Jesus at Ganjuran increases from Rp 1.090.350 to Rp 1.456.140 per month. 2) After the Church of the Sacred Heart of Jesus at Ganjuran became a tourism object the average of the employment around Sacred Heart of Jesus at Ganjuran increase from 3.173,68 hours to 4.803,42 hours per month. 3) The amount of poor families who live around the Sacred Heart of Jesus Temple at Ganjuran decreases from 173 to 149.

KATA PENGANTAR

  Penulis panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang telah melimpahkan berkat dan kasih-Nya yang tidak pernah putus, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul DAMPAK OBJEK

  

WISATA ROHANI KATOLIK CANDI HATI KUDUS TUHAN YESUS

GANJURAN TERHADAP PEREKONOMIAN DI BIDANG USAHA MIKRO

KECIL DAN MENENGAH DI GANJURAN, SUMBERMULYO BAMBANGLIPURO, BANTUL.

  Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah guna memenuhi tugas dan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Ekonomi, Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi, Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

  Penulis menyadari dalam penyusunan ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan dalam berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan yang baik ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :

  1. Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang selalu membimbing, memberkati dan menguatkan penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

  2. Romo Dr. Ir. P. Wiryono Priyotamtama, SJ. selaku Rektor Universitas Sanata Dharma yang memberikan kesempatan pada penulis untuk memperoleh pendidikan terbaik selama kuliah di Universitas Sanata Dharma.

  3. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  4. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu pengetahuan Sosial dan Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  5. Bapak Dr. Constantinus Teguh Dalyono. selaku Dosen Pembimbing I, yang telah membimbing dan meluangkan waktu dengan penuh kesabaran dalam memberikan bimbingan dan semangat.

  6. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si. selaku Dosen Pembimbing II yang dengan penuh ketelitian dalam memeriksa skripsi ini.

  7. Bapak Yohanes Maria Vianey Mudayen. S.Pd. selaku dosen tamu penguji dalam skripsi ini.

  8. Bapak Joko Wicoyo, terimakasih sudah memeriksa dan membenarkan abstrak saya.

  9. Mbak Titin yang selalu memberikan informasi dan membantu dalam kelancaran selama masa perkuliahan dan pembuatan skripsi penulis.

  10. Bapak Yohanes Sudarno dan Ibu Lucia ngadirah, selaku orangtua saya Terimakasih atas doa, semangat, dukungan serta kasih sayang yang telah

  11. Mbak een, mas toko, dan mbak ririn yang selalu mendukung dan mendoakan saya dalam menjalani kuliah dari awal sampai akhir.

  12. Rosalia hera Purwarasari yang selalu memberi semangat dalam mengerjakan skripsi ini, sehingga dapat selesai dengan baik.

  13. Bos Rian manggarai yang selalu membantu saya dalam mengerjakan skripsi, meskipun dengan muka pahit dan tidak iklas. Trimakasih juga telah mengijinkan saya datang pergi ke kost, meskipun kostnya sudah reot dan terancam roboh. Trimakasih bos.

  14. Bos Doni wirobrajan yang selalu menemani dan membantu saya dalam banyak hal, sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik. Pengorbanan anda buat saya lebih besar dari pada pengorbanan saya untuk anda. Nuwun don.

  15. Mas beni pekalongan yang selalu membantu saya dalam mengerjakan olah data dalam penelitian ini, meski masih sering salah dan masih revisi. Trimakasih juga sudah sering di ijinkan nginep di kost dan di ajak touring ke Pekalongan dan Pati. Sengatan tawon yang tak terlupakan. Thank’s ben.

  16. Charel, Lintang, Akbar, Dika, Heri, Andre. Trimakasih untuk dukungan kalian semua. Kalian adalah sahabat-sahabat paling istimewa.

  17. Theo, Putra, Pipit, Mario, Anton, Mas heri. Trimakasih telah menjadi teman- teman yang baik untuk saya.

  18. Pace-pace dari Papua. Ocep, Obeth, Ari, Isep, Dolla, Demi, Zacki, Arim, Calvin.

  Trimakasih sudah menjadi keluarga yang baru buat saya dan teman-teman paling

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ....................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................. ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................... iv MOTTO ........................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................... vi PERSETUJUAN PUBLIKASI ........................................................ vii ABSTRAK ....................................................................................... viii ABSTRACK .................................................................................... ix KATA PENGANTAR ..................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................... xv DAFTAR TABEL ............................................................................ xix DAFTAR LAMPIRAN .................................................................... xx BAB I. PENDAHULUAN ..............................................................

  1 A. Latar Belakang Masalah ......................................................

  1 B. Rumusan Masalah ...............................................................

  5 C. Devinisi Operasional ............................................................

  6 D. Batasan Masalah ...................................................................

  6 E. Tujuan Penelitian .................................................................

  7

  BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................

  9 A. Industri Pariwisata ...............................................................

  9 B. UMKM 1. Pengertian Industri/ Usaha Kecil ....................................

  13 1. Klasifikasi Industri Kecil ................................................

  14 2. Tujuan pengembangan Industri Kecil .............................

  15 3. Wilayah Sentra Industri ...................................................

  17 C. Indikator-Indikator Sosial Ekonomi ....................................

  20 1. Pendapatan ......................................................................

  20 2. Curahan Kerja .................................................................

  22 a. Pengertian Curahan Kerja ..........................................

  22

  b. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Curahan Kerja ............................................................

  22

  c. Pengaruh curahan jam kerja terhadap pendapatan masyarakat ..............................................

  22 3. Tingkat Kemiskinan .......................................................

  23 a. Pengertian Kemiskinan ..............................................

  23 b. Kriteria Kemiskinan ..................................................

  25 D. Penelitian Terdahulu ...........................................................

  32 E. Kerangka Teori ....................................................................

  33 F. Hipotesis Penelitian .............................................................

  36

  A. Jenis Penelitian ....................................................................

  38 B. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................

  38 C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambil Sampel ..............

  40 1. Populasi ..........................................................................

  40 2. Teknik Pengambilan Sampel ..........................................

  41 D. Subyek dan Obyek Penelitian .............................................

  41 1. Subyek Penelitian ...........................................................

  41 2. Obyek Penelitian ............................................................

  41 E. Variabel Indikator dan Batasan Istilah .................................

  41 F. Data Penelitian ....................................................................

  42 1. Data Primer .....................................................................

  42 2. Data Sekunder .................................................................

  43 G. Teknik Pengumpulan Data ..................................................

  43 1. Wawancara .....................................................................

  43 2. Dokumentasi ...................................................................

  44 H. Teknik Analisis Data ...........................................................

  44 BAB IV. GAMBARAN UMUM .....................................................

  49 A. Sejarah Perjumpaan Agama Katolik Dengan Masyarakat Ganjuran .............................................................................

  49 B. Gambaran Daerah Penelitian ...............................................

  63

  3. Keadaan Pertanian Penduduk .........................................

  70 4. Sarana dan Prasarana .......................................................

  71 BAB V. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN .......................

  74 A. Deskripsi Responden ............................................................

  74

  1. Deskripsi responden berdasarkan atas umur responden .......................................................

  74

  2. Deskripsi responden berdasarkan jenis pekerjaan responden ...............................................

  75

  3. Deskripsi responden berdasarkan jumlah pendapatan tiap keluarga .....................................

  77 B. Analisis Data ........................................................................

  79 1. Pengujian Hipotesis .........................................................

  79 2. Pembahasan .....................................................................

  89 BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................

  97 A. Kesimpulan ...........................................................................

  97 B. Keterbatasan Penelitian ........................................................

  98 C. Saran .....................................................................................

  98

  1. Bagi Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi ............................................

  98

  DAFTAR PUSTAKA ..................................................................... 100 LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................... 101

  DAFTAR TABEL Tabel II.1 Kekuatan dan Kelemahan Usaha Kecil ........................

  75 Tabel V.3 Komposisi Jumlah Pendapatan .....................................

  87 Tabel V.10 Jumlah Keluarga Miskin ..............................................

  86 Tabel V.9 Test Statistik Curahan Kerja .........................................

  85 Tabel V.8 Ranks Curahan Kerja ...................................................

  82 Tabel V.7 Descriptive Statistic Curahan Kerja ..............................

  81 Tabel V.6 Test Statistik Tingkat Pendapatan .................................

  80 Tabel V.5 Ranks Tingkat Pendapatan ............................................

  77 Tabel V.4 Descriptive Statistic Tingkat Pendapatan ......................

  75 Tabel V.2 Komposisi Jenis Pekerjaan ............................................

  18 Tabel II.2 Kriteria Batas Kemiskinan Dari BPS ............................

  68 Table V.1 Komposisi Usia Responden ..........................................

  67 Table IV.4 Komposisi Penduduk Menurut Usia ............................. dan Jenis Kelamin ..........................................................

  66 Table IV.3 Keluarga Sejahtera Dusun Kaligondang ........................

  Kaligondang ...................................................................

  40 Table IV.2 Komposisi Tingkat Pengangguran di Dusun .................

  Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran ...................

  26 Tabel III.1 Populasi UMKM di Sekitar Objek Wisata Rohani ........

  89

  DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1 PedomanWawancara ................................................... 102 Lampiran 2 Test Perbedaan Pendapatan Masyarakat...................... 105 Lampiran 3 Test Perbedaan Curahan Kerja .................................... 112 Lampiran 4 Uji Hipotesis ................................................................ 116 Lampiran 5 Jumlah Keluarga Sejahtera .......................................... 120 Lampiran 6 Data Induk Penelitian ................................................... 122 Lampiran 7 Surat Ijin Penelitian ..................................................... 126

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Industri pariwisata merupakan salah satu perangkat penting dalam

  pembangunan nasional, karena dapat menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkenalkan keindahan alam, seni budaya, serta memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa bagi generasi muda.Berkembangnya industri pariwisata sebagai salah satu sektor andalan mampu mendorong timbulnya jenis-jenis wisata baru di daerah yang memiliki potensi wisata, karena bukan hanya wisata bernuansa alam, budaya, tetapi juga jenis wisata yang bernuansa religius. Untuk pengembangan industri pariwisata perlu memperhatikan unsur-unsur yang dapat mempengaruhinya, yang salah satunya adalah unsur fisik. Unsur fisik ini berkaitan erat dengan masalah penyediaan sarana dan prasarana pariwisata, karena salah satu faktor penunjang yang amat penting dalam program pariwisata adalah sarana dan prasarana kemudahan menuju dan lokasi wisata, seperti transportasi, penginapan, penjualan barang kebutuhan sehari-hari dan sebagainya. Sektor perhubungan dan pariwisata juga mempunyai peranan penting yang lain yaitu dalam usaha mencapai sasaran pembangunan serta membina persatuan bangsa dan negara lain, sektor perhubungan berperan juga dalam memperlancar arus masuk manusia, barang jasa dan menunjang pertumbuhan produksi barang dan jasa serta pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.

  Pemerintah mempunyai peranan penting dalam mengembangkan kepariwisataan yaitu menyediakan infrastruktur, menyediakan berbagai fasilitas, mengkoordinasi antara pihak swasta dengan pemerintah dan mengatur promosi wisata. Pemerintah dalam usaha memajukan pariwisata di berbagai daerah menyadari betapa pentingnya keterlibatan masyarakat setempat dalam menunjang kelancaran kegiatan ini. Dukungan masyarakat setempat sangat penting bagi pembangunan pariwisata diberbagai daerah. Pemerintah menyadari bahwa daya tarik dan potensi daerah tujuan wisata tidak cukup hanya didukung sarana dan prasarana saja, melainkan perlu didukung oleh kesiapan masyarakat setempat untuk terlibat secara aktif.

  Keterlibatan masyarakat di daerah tujuan wisata juga sangat penting dalam mengatasi setiap kendala yang ada, sehingga pengembangan industri kepariwisataan dapat terus berjalan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang ada di daerah. Salah satu aset wisata yang potensial untuk dikembangkan adalah sektor pertanian yang meliputi tanaman langka dan unik yang dapat dimanfaatkan sebagai penambah daya tarik kepariwisataan. Daerah Istimewa Yogjakarta memiliki beberapa objek wisata rohani Katolik diantaranya adalah Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Dimana di lokasi tersebut wisatawan dapat menikmati pemandangan alam sekitar sekaligus memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keadaan alam yang sejuk di ganjuran merupakan salah satu daya tarik tersendiri dalam menarik wisatawan. Dengan keadaan alam yang sejuk dan jauh dari kebisingan akan memmbuat wisatawan nyaman dalam berdoa sehingga ziarah yang dilakukan akan menjadi lebih tenang dan khusuk.

  Daerah wisata katholik Candi Hati Kudus Tuhan Yesus ini terdiri Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus dan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus. Gereja Hati Kudus Tuhan yesus digunakan oleh masyarakat sekitar dan wisatawan untuk beribadah. Ibadah dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu dan hari- hari lain untuk mengadakan misa tertentu, seperti Jumat kliwon dan jumat pertama. Misa jumat pertama diadakan setiap hari kamis malam pada minggu pertama setiap bulanya, dan misa ini dilaksanakan di depan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus yang diikuti oleh warga sekitar dan wisatawan.

  Dengan keadaan ganjuran yang seperti ini maka mulai munculah warung dan kios-kios. Banyak masyarakat sekitar yang memanfaatkan peluang usaha dengan adanya objek wisata katholik ini dengan mendirikan warung-warung makan dan kios-kios sofenir yang menyangkut objek wisata katholik, seperti rosario, salip, patung rohani dan hiasan rohani lainya. Adapula masyarakat sekitar yang memanfaatkan peluang usaha ini dengan mendirikan pebrik-pabrik patung rohani dan pabrik rosario, meski pabrik ini belum begitu besar tetapi banyak masyarakat sekitar yang mendirikan pabrik ini. Dilihat dari keadan ini maka perlu diadakan penelitian tentang dampak- dampak apa saja yang muncul dari adanya objek wisata Rohani Katholik terhadap perekonomian masyarakat yang ada di sekitar objek wisata Katholic ini. Manfaat dari adanya pariwisata dapat dirasakan sekali oleh masyarakat sekitar objek wisata pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya, merubah tatanan sosial ekonomi, membuka peluang usaha, lancarnya jalur kendaraan dan memajukan kegiatan perekonomiannya serta terbukanya wawasan masyarakat tentang dunia luar.

  Dalam keadaan yang seperti ini tentu saja semua tidak lepas dari adanya masalah-maslah yang muncul. Masalah-masalah mulai muncul bersamaan dengan munculnya warung makan, kios-kios sovenir dan pabrik barang-barang rohani. Dengan banyaknya kemunculan warung, kios dan parik ini maka mulai muncul juga persaingan antar pedagang dan antar produsen. Demi keuntungan pribadi mereka mulai melakukan persaingan yang tidak sehat dan menimbulkan masalah antar pedagang dan antar produsen. Selain itu muncul pula kemerosotan maupun kaburnya tata nilai daerah setempat, merusak keutuhan masyarakat terutama dalam hal kesusilaannya yaitu terdapat sex industri yang melayani para wisatawan baik pria maupun wanita. Pemerintah juga menyadari bahwa masyarakat sekitar merupakan subjek pembangunan yang langsung merasakan dampak di daerahnya.

  Berdasarkan dari permasalahan tersebut maka peneliti ingin meneliti

  Dampak Objek Wisata Rohani Katolik Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran Terhadap Perekonomian Di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Ganjuran.

  B. Rumusan Masalah

  1. Apakah ada perbedaan jumlah pendapatan keluarga masyarakat sekitar dibidang UMKM sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus?

  2. Apakah ada perbedaan curahan kerja keluarga masyarakat sekitar di bidang UMKM sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus?

  3. Apakah ada perbedaan jumlah keluarga miskin masyarakat sekitar di bidang UMKM sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus?

  C. Definisi Oprasional

  Variabel harus didefinisikan secara oprasional agar lebih mudah dicari hubungannya antara satu variabel dengan variabel lainya dan pengukurannya.

  Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel independen (X1= pendapatan keluarga, X2= curahan kerja, dan X3= jumlah keluarga miskin) dan satu varibel dependen (Y= masyarakat sekitar objek wisata Candi Hati Kudus Tuhan Yesus).

  1. Pendapatan keluarga difokuskan pada pendapatan yang diterima oleh keluarga dalam bentuk pendapatan nominal uang baik diterima dalam jangka waktu per hari, per minggu ataupun per bulan

  2. Curahan kerja difokuskan pada besarnya waktu yang dicurahkan seseorang untuk melakukan aktivitaspekerjaanya untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya

  3. Jumlah keluarga miskin difokuskan pada jumlah keluarga miskin dengan pendapatan perkapita dibawah garis kemiskinan yang ditetapkan dari hasil susenas dan BPS berdasarkan penggolongan keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera 1

  4. Masyarakat sekitar objek wisata Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran meliputi warga sekitar yang berada di sekitar objek wisata Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran

D. Batasan Masalah

  Batasan masalah dalam penelitian ini yaitu perbedaan yang terjadi di tengah-tengah warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran sebelum dan sesudah adanya objek wisata dilihat dari kondisi UMKM warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. E. Tujuan Penelitian Adapun penyusunan skripsi ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab mahasiswa. Oleh karena itu, skripsi ini di susun sebagai prasyarat kelulusan di Universitas Sanata Dharma. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui dampak objek wisata Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran terhadap keadaan perekonomian warga sekitar.

  2. Untuk mengetahui apakah pendapatan keluarga, curahan kerja dan jumlah keluarga miskin mempengaruhi perekonomian masyarakat sekitar.

F. Manfaat Penelitian

  1. Bagi Masyarakat Sekitar Hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat dalam keseharian kehidupan masyarakat sekitar, bahwa objek wisata ini telah memberikan dampak yang cukup berarti bagi perekonomiannya. Sehingga penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan yang perlu diketahui.

  2. Bagi Universitas Sanata Dharma Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi mengenai pariwisata di perpustakaan Universitas Sanata Dharma, khususnya bagi mahasiswa yang berminat studi sekitar masalah pariwisata rohani.

  3. Bagi Penulis Untuk menambah pengetahuan dan sarana berlatih dalam menerapkan teori yang didapat selama mengikuti perkuliahan dengan kenyataan yang terjadi dalam dunia pendidikandan kepariwisataan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Industri pariwisata.

1. Pengertian Pariwisata

  a. Pariwisata adalah segala kegiatan dalam masyarakat yang berhubungan

  dengan wisatawan. Sedangkan semua kegiatan yang dilakukan untuk mendatangkan para wisatawan, seperti pembangunan hotel, pemugaran obyek budaya, pembuatan pusat rekreasi, penyelenggaraan pekan pariwisata, penyediaan angkutan dan lain sebagainya, semua ini disebut kegiatan kepariwisataan.

  b. Pariwisata adalah salah satu industri baru mampu menghasilkan

  pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktivitas lainnya”. Robert McIntosh dan Shashikant Gupta mengatakan bahwa “pariwisata merupakan gabungan gejala dan hubungan yang timbul dari interaksi wisatawan, bisnis, pemerintah, tuan rumah, serta masyarakat tuan rumah dalam proses menarik dan melayani wisatawan”.

  c.

   Menurut Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan

  Bab I Pasal 1 ; dinyatakan bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan atau bersifat sementara. Jadi pengertian wisata itu mengandung 4 unsur yaitu : (1) Kegiatan perjalanan; (2) Dilakukan secara sukarela; (3) Bersifat sementara; (4) Perjalanan dilakukan untuk menikmati objek wisata.

d. Sedangkan pengertian objek dan daya tarik wisata menurut Undang-

  undang Nomor 9 Tahun 1990 yaitu yang menjadi sasaran perjalanan wisata yang meliputi :

1) Ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud keadaan alam serta

  flora dan fauna, seperti : pemandangan alam, panorama indah, hutan rimba dengan tumbuhan hutan tropis.

  2) Karya manusia yang berwujud museum, peninggalan purbakala,

  peninggalan sejarah, seni budaya, wisata agro (pertanian), wisata tirta (air), wisata petualangan, taman rekreasi.

  3) Sasaran wisata minat khusus, seperti : berburu, mendaki gunung, gua,

  industri dan kerajinan, tempat perbelanjaan, sungai air deras, tempat- tempat ibadah, tempat-tempat ziarah.

e. Kemudian pada angka 4 di dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990

  dijelaskan pula bahwa Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Pariwisata meliputi, Semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata dan Pengusahaan objek dan daya tarik wisata, seperti : Kawasan wisata, taman rekreasi, seni budaya, tata kehidupan masyarakat, dan yang bersifat alamiah : keindahan alam, gunung berapi, danau, pantai dan sebagainya.

  f.

   Pariwisata menurut Robert McIntosh bersama Shaskinant Gupta dalam

  Oka A.Yoeti (1992:8) adalah gabungan gejala dan hubungan yang timbul dari interaksi wisatawan, bisnis, pemerintah tuan rumah serta masyarakat tuan rumah dalam proses menarik dan melayani wisatawan-wisatawan serta para pengunjung lainnya.

  g.

   Menurut Richard Sihite dalam Marpaung dan Bahar ( 2000:46-47)

  menjelaskan definisi pariwisata sebagai berikut : Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain meninggalkan tempatnya semula, dengan suatu perencanaan dan dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata- mata untuk menikmati kegiatan pertamsyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.

h. Menurut definisi yang lebih luas yang dikemukakan oleh H.Kodhyat

  (1983:4) adalah sebagai berikut : Pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu. Sedangkan menurut pendapat dari James J.Spillane perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat.

i. Menurut Salah Wahab (1975:55) mengemukakan definisi pariwisata yaitu

  pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktif lainnya. Selanjutnya, sebagai sektor yang komplek, pariwisata juga merealisasi industri-industri klasik seperti industri kerajinan tangan dan cinderamata, penginapan dan transportasi.

  j. Nyoman S. Pendit (2003:33) menjelaskan tentang kepariwisataan sebagai

  berkut : Kepariwisataan juga dapat memberikan dorongan langsung terhadap kemajuan kemajuan pembangunan atau perbaikan pelabuhan pelabuhan (laut atau udara), jalan-jalan raya, pengangkutan setempat,program program kebersihan atau kesehatan, pilot proyek sasana budaya dan kelestarian lingkungan dan sebagainya. Yang kesemuanya dapat memberikan keuntungan dan kesenangan baik bagi masyarakat dalam lingkungan daerah wilayah yang bersangkutan maupun bagi wisatawan pengunjung dari luar. Kepariwisataan juga dapat memberikan dorongan dan sumbangan terhadap pelaksanaan pembangunan proyek- proyek berbagai sektor bagi negara-negara yang telah berkembang atau maju ekonominya, dimana pada gilirannya industri pariwisata merupakan suatu kenyataan ditengah-tengah industri lainnya

B. Usaha Mikro Kecil dan Menengah

1. Pengertian Industri/ Usaha Kecil

  Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa.

  Industri menurut ensiklopedi Indonesia adalah bagian dari proses produksi yang tidak secara langsung atau mendapatkan barang-barang atau bahan dasar secara kimiawi sehingga menjadikan lebih berharga untuk dipakai manusia. Untuk memberikan batasan yang jelas pada industri, selain dibedakan pengubahan dan pengolahan bahan, juga diperhitungkan suatu kriteria lain; kompleksitas dari peralatan yang dipakai perusahaan yang mengambil bahan dasar dari alam, kemudian langsung mengolahnya melalui peralatan mekanis yang komplek disebut industri (Ensiklopedi Indonesia, 1982 : 121).

  Industri menurut R. Soetarto dalam ensiklopedi ekonomi adalah usaha produksi. Usaha ini terutama dalam bidang produksi perusahaan yang

  Industri menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah kegiatan memproses atau mengolah barang dengan menggunakan sarana dan peralatan, misalnya mesin (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1996 :121)

  Pengertian usaha kecil menurut UU no 20 ( pasal 1 ) tahun 2008 tentang UMKM adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

  Kriteria yang dapat dipergunakan sebagai ukuran untuk menetapkan besar kecilnya seorang pengusaha atau suatu perusahaan tergantung dari sudut pandang penilai. Dari berbagai literatur kriteria untuk menentukan besar kecilnya suatu perusahaan antara lain besarnya modal yang dimiliki, kapasitas produksi, banyaknya tenaga buruh yang dipekerjakan, dan seberapa jauh dominasi perusahaan tersebut pada pasar untuk produk sejenis dan sebagainya.

2. Klasifikasi Industri Kecil

  Menurut UU UMKM no 20 tahun 2008 usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang a. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau b. memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

3. Tujuan Pengembangan Industri Kecil

  Beberapa tujuan dari adanya pengembangan industri antara lain sebagai berikut : a. Memperluas kesempatan kerja, dengan adanya pembangunan industri kecil semakin bertambah pula jumlah industri kecil maka akan semakin banyak tenaga kerja yang terserap oleh karena itu kesempatan kerja akan semakin bertambah.

  b. Meratakan kesempatan berusaha, dengan adanya pembangunan industri kecil maka semakin besar pula kesempatan bagi masyarakat untuk membuka usaha sesuai dengan keahlian mereka masing-masing.

  c. Menunjang pembangunan daerah, dengan adanya pembangunan industri kecil maka dapat membantu pembangunan daerah. Angka pengangguran berkurang dan pendapatan masyarakat menjadi meningkat yang menyebabkan PDB turut serta meningkat dimana ha ini dapat menyebabkan dana untuk pembangunan daerah bertambah.

  d. Memanfaatkan SDA dan SDM yang ada, dengan adanya pembangunan nilai guna, misalnya batu dari letusan gunung berapi yang semula hanya untuk bahan bangunan setelah ada para pengrajin batu, maka nilai batu menjadi semakin bertambah. Selain itu UU no 20 ( pasal 4 ) Tahun 2008 menjelaskan prinsip dan pemberdayaan usaha kecil sebagai berikut : a. Penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan usaha mikro, kecil, dan menengah untuk berkarya dengan prakarsa sendiri b. Perwujudan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan

  c. Pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan kompetensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah d. Peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;dan

  e. Penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu.

  Selain itu dalam UU no 20 tahun 2008 juga dijelaskan tentang tujuan pemberdayaan UMKM adalah sebagai berikut : a. Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang, dan berkeadilan b. Mengembangkan kemampuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menjadi usaha yang tangguh dan mandiri c. Peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan

4. Wilayah Sentra Industri

  Dalam Surat Keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM No: 32/Kep/M.KUKM/IV/2002,tanggal 17 April 2002 tentang Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Sentra UKM, SENTRA didefinisikan sebagai pusat kegiatan di kawasan/lokasi tertentu dimana terdapat UKM yang menggunakan bahan baku/sarana yang sama,menghasilkan produk yang sama/sejenis serta memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi klaster.

  Dalam bukunya Strategi dan Agenda Pengembangan Usaha Kecil (Sjaifudian, 1995) memaparkan beberapa kekuatan dan kelemahan yang dihadapi oleh industri antara lain :

  Tabel II.1 Kekuatan dan Kelemahan Usaha Kecil

  Faktor Kekuatan Kelemahan

  Sumber daya

  Manusia Motivasi yang kuat Kemampuan untuk melihat mempertahankan pengembangan usahanya usaha terbatas

  Suplai tenaga kerja yang melimpah Ekonomi

  Mengandalkan Nilai tambah yang sumber-sumber diperoleh relatif keuangan informal rendah yang mudah

  Pengelolaan uang diperoleh untuk konsumsi dan produksi

  Mengisi segmen pasar bawah yang belum terpisah tinggi

  Tergantung pada permintaanya modal kerja Lembaga

  Budaya atau Kemampuan pendukung kekerabatan dapat koordinasi mengalangkan berdasarkan pemberdayaan pembagian kerja pengusaha kecil masih terbatas

  Lembaga kekerabatan bisa berfungsi sebagai sarana konsultasi sekaligus kontrol terhadap implementasi program dan intervensi

  Program dan intervensi

  Permodalan Membantu kelancaran Kebutuhan modal pengembangan usaha berbeda-beda pada usaha yang tingkat pengembangannya juga berbeda

  Industri kecil menghadapi kendala administrative Pemasaran

  Pola keterkaitan membuka peluang pasar

  Nilai tambah rendah

  Usaha bersifat sementara (ad hoc) Kurang antisipatif terhadap dinamika ekonomi makro

  Proses pengembalian modal dapat cepat tercapai

  Spesialisasi dan akumulasi terbatas Strategi usaha jangka pendek

  Daya tahan hidupnya tinggi terutama dalam hal situasi ekonomi yang kurang menguntungkan

  Proses akumulasi sulit terjadi Lentur dan luwes

  Efisiensi dalam penggunaan bahan baku

  Cenderung ekploitstif terhadap tenaga kerja untuk mengejar tingkat penghasilan

  Pengelompokan(aglom erasi) dalam batas- batas tertentu memberikan keuntungan melalui penekanan ongkos produksi, meningkatkan akses ke sumber daya

  Sering mengandalkan tenaga kerja tak dibayar

  Kurang memperhatikan kualitas kesempatan kerja

  Padat karya Jaringan pengaman masalah kelangkaan kesempatan kerja

  Kinerja

  Meningkatkan persaingan melalui proses tiru meniru, akumulasi menjadi terbatas

  Posisi tawar yang rendah cenderung menyudutkan pengusaha kecil

  Sumber : sjaifudian, 1995

G. Indikator-Indikator Sosial Ekonomi

1. Pendapatan

  Pendapatan pada dasarnya merupakan balas jasa yang diterima pemilik faktor produksi atas pengorbannya dalam proses produksi.

  Masing-masing faktor produksi seperti: tanah akan memperoleh balas jasa dalam bentuk sewa tanah, tenaga kerja akan memperoleh balas jasa berupa upah /gaji, modal akan memperoleh balas jasa dalam bentuk bunga modal, serta keahlian termasuk para enterprenuer akan memperoleh balas jasa dalam bentuk laba (Sadono Sukirno, 1995).

  Menurut Sunuharyo dalam mulyanto Sumardi dan Han Dieter- Evers (1982), dilihat dari pemanfaatan tenaga kerja, pendapatan yang berasal dari balas jasa berupa upah atau gaji disebut pendapatan tenaga kerja (Labour Income), sedangkan pendapatan dari selain tenaga kerja disebut dengan pendapatan bukan tenaga kerja (Non Labour Income).

  Dalam kenyataannya membedakan antara pendapatan tenaga kerja dan pendapatan bukan tenaga kerja tidaklah selalu mudah dilakukan. Ini disebabkan karena nilai output tertentu umumnya terjadi atas kerjasama dengan faktor produksi lain. Oleh karenan itu dalam perhitungan pendapatan migran dipergunakan beberapa pendekatan tergantung pada lapangan pekerjaannya. Untuk yang bekerja dan menerima balas jasa berupa upah atau gaji dipergunakan pendekatan pendapatan (income approach), bagi yang bekerja sebagai pedagang, pendapatannya dihitung dengan melihat keuntungan yang diperolehnya. Untuk yang bekerja sebagai petani, pendapatannya dihitung dengan pendekatan produksi (Production Approach). Dengan demikian berdasarkan pendekatan di atas dalam pendapatan pekerja migran telah terkandung balas jasa untuk skill yang dimilikinya.

  Penghasilan keluarga menurut Gilarso (1992:41) dapat bersumber pada : a. Usaha sendiri (wiraswasta) misalnya berdagang, mengerjakan sawah, atau menjalankan perusahaan sendiri.

  b. Bekerja pada orang lain misalnya bekerja di kantor atau perusahaan sebagai pegawai atau karyawan baik swasta maupun pemerintah.

  c. Hasil dari milik misalnya mempunyai sawah yang disewakan, mempunyai rumah disewakan, dan meminjamkan uang dengan bunga tertentu

  Gilarso juga mengungkapkan bahwa penghasilan keluarga adalah sebagai bentuk balas karya yang diperoleh sebagai imbalan atau balas jasa atau sumbagan seseorang terhadap proses produksi. Penghasilan keluarga juga dapat diterima dalam bentuk barang, misalnya tunjangan beras, hasil dari sawah ddan pekarangan atau fasilitas seperti rumah dinas dan pengobatan gratis.

1. Curahan Kerja

  a. Pengertian Curahan Kerja Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Setyawan,

  2006:19) jam kerja adalah waktu yang dijadwalkan bagi pegawai dan sebagainya untuk bekerja, sedangkan dalam Kamus Istilah Ekonomi (Setyawan, 2006: 19) jam kerja adalah ukuran menghitung lamanya karyawan melaksanakan pekerjaannya.

  b. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Curahan Kerja Ada beberapa faktor yang mempengaruhi curahan waktu atau jam kerja menurut suroto (dalam setyawan, 2006:20) antara lain : 1) Iklim atau musin 2) Jenis pekerjaan 3) Tingkat pendapatan yang telah diterima

  c. Pengaruh curahan jam kerja terhadap pendapatan masyarakat Jam kerja memiliki pengaruh terhadap pendapatan seperti yang dikemukakan oleh simanjutak (Setyawan, 1998:20) bahwa pendapatan keluarga yang bersangkutan sebanding dengan waktu yang disediakan untuk bekerja. Jadi dapat disimpulkan jika waktu/jam kerja bertambah maka pendapatan seseorang akan bertambah pula dengan demikian curahan kerja dapat mempengaruhi tingkat pendapatan.

2. Tingkat Kemiskinan

  a. Pengertian Kemiskinan Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan dalam distribusi pendapatan antara kelompok masyarakat berpendapatan tinggi dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah serta tingkat kemiskinan atau jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan ( poverty line ) merupakan masalah besar di banyak negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia. Banyak program yang dilakukan oleh pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi jumlah orang miskin dan perbedaan pendapatan antara kelompok miskin dan kelompok kaya di tanah air, misalnya inpres desa tertinggal (IDT), pengembangan industri kecil dan rumah tangga, khususnya di daerah pedesaan, transmigrasi, dan masih banyak lagi.

  John friedman menginterprestasikan kemiskinan sebagai ketidakmampuan seseorang atau sekelompok untuk mengakumulasikan “basis kekuasaan sosial”. Basis kekuasaan sosial adalah kemampuan untuk menguasai peluang strategi yang bisa mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik seseorang . menurut fiedman (bayo, 1991:89) ada 6 peluang strategis atau basis kekuasaan yang dapat dikategorikan kedalam kedua kelompok yaitu primer dan sekunder , dengan penjelasan sebagi berikut : 1) Basis kekuasaan sosial primer

  a) Pengetahuan dan keterampilan

  b) Organisasi sosial dan politik

  c) Harta produksi 2) Basis kekuasaan sosial sekunder

  a) Sumber-sumber keuangan

  b) Jaringan sosial

  c) Informasi sosial Sedangkan dalam Soedarno (1988:149) kemiskinan dibedakan menjadi dua yaitu kemiskinan mutlak dan kemiskinan relatif.

  Kemiskinan mutlak diartikan sebagai ketidakmampuan seseorang atau sekelompok untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, bahkan kebutuhan fisik minimumnya untuk makanan, perumahan, bahan bakar, air, pakaian, pendidikan, dan kesehatan dianggap miskin dalam arti absolut. Sedangkan kemiskinan relatif adalah ketidaksamaan kesempatan dan ketidaksamaan di antara berbagai lapisan masyarakat untuk mendapatkan barang dan jasa dalam menikmati kehidupan yang makmur.

b. Kriteria Kemiskinan

  Ada dua macam ukuran kemiskinan yang umum dan dikenal antara lain : 1) Kemiskinan Absolut

  Konsep kemiskinan pada umumnya selalu dikaitkan dengan pendapatan dan kebutuhan, kebutuhan tersebut hanya terbatas pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar ( basic need ). Kemiskinan dapat digolongkan dua bagian yaitu : a) Kemiskinan untuk memenuhi bebutuhan dasar.

  b) Kemiskinan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. 2) Kemiskinan Relatif

  Semakin besar ketimpang antara tingkat hidup orang kaya dan miskin maka semakin besar jumlah penduduk yang selalu miskin. Sehingga Bank Dunia (world bank) membagi aspek tersebut dalam tiga bagian antara lain : a) Jika 40 % jumlah penduduk dengan pendapatan terendah menerima kurang 12 % dari GNP, maka dapat disebut kepincangan mencolok. b) Jika 40 % jumlah penduduk dengan pendapatan terendah menerima kurang 17 % dari GNP, maka dapat disebut kepincangan sedang.

  c) Jika 40 % jumlah penduduk dengan pendapatan terendah menerima lebih dari 17 % dari GNP, maka dapat disebut kepincangan normal

  Sedangkan tolok ukur untuk kriteria rumah tangga miskin di Indonesia yang bersumber pada BPS hasil susenas adalah sebagi berikut :

  Tabel II.2 Kriteria Batas Kemiskinan dari BPS

  Tahun 1996-2012 (Pendapatan per Kapita/bulan) Tahun Batas Miskin (Rp/Kapita/Bulan)

  Kota (Rp) Desa (Rp) 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

  42.032 96.959 92.402 89.845 91.632 100.011 130.499 138.803 143.455 150.799 174.290 187.942 204.896 222.123 232.989 265.752 274.662

  31.366 72.780 74.272 69.420 73.648 80.382 96.512 105.888 108.725 117.259 130.584 146.837 161.831 179.835 192.354 217.923 231.855

  Sumber: Statistik Indonesia, BPS

  Menurut kuncoro ( 2007:107) yang mengutip Sharp, penyebab kemiskinan adalah: 1) Secara mikro kemiskinan minimal karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah terbatas dan kualitasnya rendah.

  2) Kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumberdaya manusia. Kualitas sumber daya manusia yang rendah berarti produktivitasnya rendah, yang pada gilirannya upah juga rendah. Rendahnya kualitas sumber daya ini karena rendahnya pendidikan, nasib yang kurang beruntung, adanya diskriminasi, atau karena keturunan. 3) Kemiskinan muncul akibat perbedaan akses dalam modal. Ketiga penyebab kemiskinan ini bermuara pada teori lingkaran setan kemiskinan (vicious circle poverty). Adanya keterbelakangan, ketidaksempurnaan pasar, kurangnya modal menyebabkan produktivitas rendah sehingga mengakibatkan rendahnya pendapatan yang diterima. Rendahnya pendapatan akan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi yang berakibat pada keterbelakangan, begitu dan seterusnya berputar pada permasalahan-permasalahan yang serupa.seperti terlihat pada gambar :

  Tabel II.3 Gambar lingkaran setan kemiskinan( the vicious circle of poverty)

  Ketidaksempurnaan pasar Keterbelakangan Ketertinggalan

  Kekurangan Modal Investasi

  Produktivitas Rendah Tabungan rendah Pendapatan Rendah

  Sumber : kuncoro (2000:107)

  Menurut Kantor Menteri Negara Kependudukan/Badan Koordinasi keluarga Berencana Nasional (1996:11) ada beberapa faktor yang menyebabkan keluarga masuk dalam kategori prasejahtera dan keluarga sejahtera 1 yang tergolong miskin, antara lain :

  a) Faktor internal i. Kesakitan ii. Kebodohan iii. Ketidaktahuan iv. Ketidakterampilan v. Ketertinggalan teknologi vi. Ketidakpunyaan modal b) Faktor eksternal i. Struktur sosial ekonomi yang menghambat peluang untuk berusaha dan meningkatkan pendapatan ii. Nilai-nilai dan unsur-unsur budaya yang kurang mendukung upaya penimgkatan kualitas keluarga iii. Kurangnya aksses untuk dapat memanfaatkan fasilitas pembangunan.

  Untuk mengukur keberadaan keluarga menurut tingkat kesejahteraannya telah dikembangkan 23 indikator operasional yang menggambarkan tingkat pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, kebutuhan sosial-psikologis dan kebutuhan pengembangan. Tahap Keluarga menurut tingkat kesejahteraannya adalah sebagai berikut. 1) Keluarga Pra Sejahtera, yaitu keluarga-keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic-needs) secara minimal, seperti kebutuhan spiritual, pangan, dan kesehatan. 2) Keluarga Sejahtera 1, yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologis, seperti kebutuhan akan pendidikan, KB, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal, dan transportasi. 3) Keluarga Sejahtera 2, yaitu keluarga-keluarga yang disamping telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, juga telah dapat memenuhi kebutuhan sosial- psikologisnya, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan pengembanganya, seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi. 4) Keluarga Sejahtera 3, yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, sosial-psikologis, dan pengembangan keluarganya, tetapi belum dapat memberi sumbangan yang teratur bagi masyarakat, seperti sumbangan materi, dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. 5) Keluarga Sejahtera 3 Plus, yaitu keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, sosial-psikologis dan pengembanganya serta telah dapat memberikan sumbangan yang teratur dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan .

  Menurut konsep BKKBN sebuah keluarga disebut miskin atau kurang sejahtera apabila masuk kategori Pra Sejahtera dan Sejahtera 1.

  Adapun indikator

  • – indikator yang dipakai untuk mengukurnya adalah sebagai berikut:

  1) Pra Sejahtera adalah keluarga-keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, seperti kebutuhan spiritual, pangan, sandang, papan, kesehatan dan keluarga berencana. Secara operasional mereka tampak dalam ketidakmampuan untuk memenuhi salah satu indikator sebagai berikut: a) Menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya;

  b) Makan minimal 2 kali per hari;

  c) Pakaian lebih dari satu pasang;

  d) Sebagian besar lantai rumahnya tidak dari tanah; dan

  e) Jika sakit dibawa ke sarana kesehatan; 2) Keluarga Sejahtera I, adalah keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial dan psikologis seperti kebutuhan pendidikan, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal dan transportasi. Secara operasional mereka tampak tidak mampu memenuhi salah satu dari indikator sebagai berikut: a) Menjalankan ibadah secara teratur;

  b) Minimal seminggu sekali makan daging/telur/ikan;

  c) Minimal memiliki baju baru sekali dalam setahun;

  2

  d) Luas lantai rumah rata2 8 m per anggota keluarga; e) Tidak ada anggota keluarga yang berusia 10-60 tahun yang buta huruf latin; f) Semua anak berusia 5 s.d 15 tahun bersekolah;

  g) Salah satu anggota keluarga memiliki penghasilan tetap; dan

  h) Dalam 3 bulan terakhir tidak sakit dan masih dapat melaksanakan fungsinya dengan baik.

H. Penelitian Terdahulu

  Dalam beberapa penelitian sebelumnya yang meneiliti mengenai dampak sosial ekonomi mengenai suatu perkembangan dari sebuah kegiatan adalah Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan Objek Wisata Ketep Pass Bagi Masyarakat Sekitar yang diteliti oleh Martinus Irka Puji Setyawan (2006). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode ex post facto. Hasil dari penelitian ini bahwa pembangunan objek wisata ketep pass memberikan dampak positif terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitarnya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa data yang diperoleh yaitu:

  1. Dalam hal curahan kerja, masyarakat di bidang non pertanian lebih meningkat setelah pembangunan objek wisata ketep pass

  2. Dalam hal jenis pekerjaan, masyarakat sebagian beralih dari pertanian ke non pertanian

  3. Dalam hal jumlah pendapatan, masyarakat mengalami peningkatan pendapatan setelah adanya pembangunan objek wisata ketep pass

  4. Dalam hal jumlah keluarga miskin, masyarakat mengalami penurunan tingkat jumlah keluarga miskin setelah adanya pembangunan objek wisata ketep pass I.

   Kerangka Teori

  Setiap Negara dalam pelaksanaan pembangunan pasti ingin mencapai sebuah perkembangan dimana perkembangan tersebut dapat mensejahterakan masyarakatnya. Begitu pula dengan sebuah daerah, dengan adanya peningkatan pendapatan misalnya maka akan menyumbangkan banyak peningkatan dalam hal sosial ekonomi. Oleh karena itu, setiap pronvinsi berlomba-lomba untuk meningkatkan daerah mereka agar semakin maju. Salah satu cara untuk meningkatkan daerahnya khususnya dalam hal sosial ekonomi adalah dengan memperhatikan industri-industri yang ada di daerah tersebut. Tidak terkecuali industri kecil yang ada di dalamnya. Industri kecil atau sering dikenal dengan UMKM. Pasalnya industri kecil menegah ini mampu juga untuk menyediakan lapangan pekerjaan dan pendapatan bagi masyarakat Indonesia sehingga dapat dipastikan pengangguran akan semakin berkurang apabila industri-industri ini terperhatikan. Salah satu cara untuk mengembangkan usaha industri kecil ini adalah dengan membuat sebuah sentra/klaster industri karena ada beberapa hal yang harus dipenuhi untuk menjadi sentra industri antara lain :

  1. Dalam setiap sentra yang akan ditumbuhkan sebagai klaster harus memiliki satu usaha sejenis yang prospek pasarnya jelas. Sekurang- kurangnya terdapat 50 unit usaha kecil yang melakukan kegiatan sejenis

  2. Omzet dari keseluruhan unit usaha dalam klaster tersebut paling sedikit Rp 500 juta,-/bulan.

  3. Telah terjadi sentuhan teknologi yang memungkinkan tercapainya peningkatan produktivitas, karena masalah pokok usaha kecil di bidang pertanian adalah produktivitas/tenaga kerja hanya kurang dari 3% produktivitas usaha besar disektor yang sama, atau hanya 1,5% dari produktivitas usaha menengah.

  4. Persyaratan lain yang berkaitan dengan infrastruktur, jaringan pasar, ketersediaan lembaga keuangan dan lain-lain merupakan syarat tambahan yang menyediakan daya tarik klaster/sentra bersangkutan melalui jaringan informasi.

  Sebenarnya pembentukan sebuah sentra industri/klaster bukanlah sebuah hal yang baru bagi pemerintahan Indonesia. Pada tahun 2001 BPS- KPKM menetapkan pengembangan sumberdaya UMKM melalui pendekatan sentra industri/klaster. Strategi ini dipilih karena dinilai fokus, efisien dan mempunyai fungsi akselerasi perubahan yang diharapkan mampu memenuhi harapan. Melalui strategi ini, sentra UMKM dijadikan titik masuk kedalam upaya pemberdayaan UMKM. Pendekatan ini didasarkan pemikiran untuk memberikan layanan kepada UMKM secara lebih fokus, kolektif dan efisien, karena dengan sumber daya yang terbatas mampu menjangkau kelompok UMKM yang lebih luas. Pendekatan ini juga mempunyai efektifitas yang tinggi, karena jelas sasarannya dan unit usaha yang ada pada sentra umumnya dicirikan dengan kebutuhan dan permasalahan yang sama, baik dari sisi produksi, pemasaran, teknologi dan lainlain. Disamping itu, sentra-sentra UMKM akan menjadi pusat pertumbuhan (growth pool) di daerahnya, sehingga mampu mendukung upaya peningkatan penyerapan tenaga kerja, nilai tambah dan ekspor . hal ini tertera dalam struktur Kementerian Koperasi dan UMKM RI Keppres Nomor 103/2001.

  Dari penyataan tersebut, maka dibentuklah sentra-sentra industri guna memperkuat daya saing industri kecil yang ada. Termasuk di wilayah Kabupaten Bantul guna mendorong pembangunan sosial ekonomi daerah sehingga akan tercapai masyarakat yang sejahtera dan makmur.

  Sejalan dengan pembentukan sentra-sentra industri tersebut, sentra industri juga diharapkan mampu memberikan sumbangsih bagi kemajuan sosial ekonomi masyarakat setempat antara lain :

  1. Dengan adanya pembentukan sentra industri maka akan meningkatkan produktivitas sehingga pendapatan juga meningkat

  2. Pembentukan sentra industri akan mempermudah para pelaku industri untuk memperoleh informasi secara cepat dan tepat misalnya seperti informasi bahan baku yang berkualitas bagus dan harga-harga bahan baku sehingga akan meningkatkan efisiensi kerja.

  3. Ketika sentra industri sudah maju pesat diharapkan mampu menyerap tenaga kerja , membuka lapangan pekerjaan dan dapat menjadi sumber pendapatan yang dapat diandalkan.

  4. Selain itu, diharapkan sentra industri dapat menjadi pendorong perekonomian pemerintah daerah guna pembangunan dan kemajuan daerah.

  J. Hipotesis Penelitian

  Berdasarkan uraian-uraian di atas, peneliti kemudian beranggapan bahwa perkembangan wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus menjadi objek wisata di wilayah Kabupaten Bantul memberi pengaruh positif terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat seperti :

  1. Dalam hal jumlah pendapatan masyarakat sekitar di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah meningkat sesudah menjadi daerah wisata rohani.

  2. Dalam hal jumlah curahan kerja masyarakat sekitar di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah meningkat sesudah menjadi daerah wisata rohani.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif komparatif. Metode

  penelitian deskriptif komparatif adalah metode yang bersifat ex post facto atrinya data dikumpulkan setelah semua kejadian telah selesai berlangsung. Penelitian ini dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang ada. Jenis penelitian deskriptif komparatif dilakukan untuk membandingkan suatu variabel (objek penelitian), antara subjek yang berbeda atau waktu yang berbeda.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

  Waktu : November 2012 sampai dengan Februari 2013 Lokasi : Ganjuran, Sumber Mulyo Bambang Lipuro, Bantul

  Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Candi yang bercorak arsitektur Hindu-Jawa (Mataram dan Majapahit) itu mulai dibangun pada 1927 dan diberkati oleh Uskup Jakarta Mgr. van Velsen SJ pada 11 Februari 1930 (tanggal penampakan Bunda Maria di Lourdes).

  Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran diresmikan sebagai tempat ziarah oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. I Suharyo Pr., pada tahun 1998. Di dalam relung candi bercorak Hindu Budha itu terdapat arca Yesus dalam posisi tegap. Yesus digambarkan sebagai sosok akulturatif yang mengenakan pakaian kebesaran dan mahkota Raja Jawa. Selain itu, di dinding atas kepala Yesus terdapat tulisan dalam huruf Jawa yang berbunyi

  “Sampeyan Dalem Sang Maha Prabu Yesus Kristus Pangeraning Para Bangsa.” Selain candi, di kompleks Gereja Ganjuran

  juga terdapat 9 kran yang mengalirkan Tirta Perwitasari.

  Candi Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran terletak kurang lebih 17 kilo meter selatan kota Yogyakarta dan tidak jauh dari pantai parangtritis dan pantai samas.

  Banyak wisatawan baik dari dalam atau luar negri yang berkunjung ke Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran untuk berziarah dan berdoa. Tempat wisata ini dibuka setiap hari selama 24 jam. Dengan keadaan yang seperti ini maka munculah usaha-usaha dari masyarakat sekitar ganjuran yang bersifat UMKM di sekitar objek wisata rohani ini. Banyak bermunculan warung makan, warung kelontong, warung souvenir dan patung rohani, serta pabrik souvenir dan patung rohani.

  Dengan adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran ini diharapkan mampu meningkatkan dan memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan nilai tambah usaha kecil. Sehingga dengan kondisi yang demikian dapat berpengaruh positif terhadap kondisi usaha UMKM di sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

  Dalam penelitian ini populasinya adalah masyarakat sekitar yang bergerak dibidang UMKM.

  2 Toko buah

  Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampling jenuh. Sampling jenuh adalah teknik penentuan

  57 Semua anggota populasi dalam penelitian ini digunakan sebagai sampel yang berjumlah 57 UMKM.

  1

  1 Laundry

  1 Took elektronik

  4 Warung jamu

  2 Penjual pulsa

  Tabel III.1 Populasi UMKM yang ada di sekitar objek wisata rohani

  7 Foto copy

  2 Toko kelontong

  2 Salon

  20 Bengkel

  15 Warung makan

  Souvenir

  Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran Tahun 2012 UMKM Jumlah

2. Teknik Pengambilan Sampel

  sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2007 : 68).

D. Subyek dan Obyek

  1. Subjek

  Subyek penelitian ini adalah UMKM di sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus.

  2. Objek

  Dalam melakukan suatu penelitian harus menentukan obyek penelitian. Obyek dalam penelitian ini adalah perkembangan objek wisata di Ganjuran. Seperti jumlah pendapatan di bidang UMKM, Jumlah curahan kerja, tingkat pengangguran masyarakat di sekitar Ganjuran.

E. Variabel Indikator dan Batasan Istilah

  Agar tidak terjadi kesalahan dalam menafsirkan variabel dalam penelitian maka perlu dijelaskan identifikasi antara masing-masing variabel dalam penelitian yaitu :

  1. Pendapatan keluarga, yaitu pendapatan yang diterima oleh keluarga dalam bentuk pendapatan real uang baik diterima dalam jangka waktu per hari, per minggu ataupun per bulan. Variabel ini dinyatakan dalam bentuk rupiah per bulan

  2. Curahan kerja, yaitu besarnya waktu yang dicurahkan seseorang untuk melakukan aktivitas pekerjaannya untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Variabel ini dinyatakan dalam bentuk jam kerja selama satu bulan

  3. Jumlah keluarga miskin, yaitu jumlah keluarga miskin yang ditetapkan dari hasil susenas oleh BPS berdasarkan pengolongan keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera 1.

F. Data Penelitian

1. Data Primer

  Dalam penelitian ini data primer yang digunakan meliputi data dari responden dalam bentuk wawancara yaitu mengenai : 1) Jumlah pendapatan masyarakat sekitar di bidang UMKM sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan

  Yesus. 2) Jumlah Curahan kerja masyarakat sekitar di bidang UMKM sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani Candi Hati

  Kudus Tuhan Yesus. 3) Jumlah keluarga miskin masyarakat sekitar di bidang UMKM sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani Candi Hati

  Kudus Tuhan Yesus.

2. Data Sekunder

  Data sekunder diperlukan bagi peneliti sebagai pendukung kelengkapan teori terhadap hasil penelitian. Sumber data ini diperoleh dari berbagai sumber informasi yang telah dipublikasikan misalnya berupa data monograf desa Ganjuran. Data sekunder ini meliputi 1) Jumlah UMKM sebelum dan sesudah adanya objek wisata. 2) Jumlah keluarga miskin sebelum dan sesudah adanya objek wisata 3) Tingkat pengangguran masyarakat sekitar sebelum dan sesudah adanya objek wisata.

  4) Letak geografis Ganjuran. 5) Kondisi fisik daerah penelitian sebelum dan sesudah adanya objek wisata.

G. Teknik Pengumpulan Data

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Wawancara Wawancara merupakan cara observasi yang bersifat langsung.

  Wawancara biasanya bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan pada kondisi setempat serta individual. Bila responden tidak jelas dengan pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara maka dapat diganti dengan kata-kata yang lebih sederhana.

  Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi dan data mengenai jumlah pendapatan, curahan kerja, perolehan laba, dan tingkat pengangguran 57 UMKM di sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus.

2. Dokumentasi

  Dokumen-dokumen yang ada dipelajari untuk memperoleh data dan informasi dalam penelitian ini. Dokumen tersebut meliputi laporan dan atau berbagai artikel dari majalah, koran atau jurnal yang berkaitan dengan topik penelitian. Dokumen- dokumen tersebut digunakan untuk mendapatkan data sekunder.

H. Teknik Analisis Data 1) Analisis deskriptif

  Penelitian ini mencoba membandingkan keadaan sebelum dan sesudah adanya objek wisata. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan analisis sebelum dan sesudah (before -after) yaitu studi perbandingan (comparative study). Dalam bukunya sugiyono (2008:117) menjelaskan bahwa analisis before- after merupakan perbandingan antara nilai sebelum dan sesudah ada perlakuan/

  treatment . Dalam hal ini untuk membandingkan keadaan sosial

  ekonomi sebelum dan sesudah adanya objek wisata digunakan analisis uji z melalui uji wilcoxon sebagai alternatif dari paired sample T-Test

2) Uji hipotesis 1.

   Untuk hipotesis yang menyatakan dalam hal jumlah pendapatan

  masyarakat sekitar UMKM sebelum dan sesudah menjadi daerah wisata rohani ada perkembangan pendapatan yang lebih besar.

  Maka teknik analisis uji beda Z (Agus Widarjno, 2009) untuk uji tanda sampel besar menggunakan uji wilcoxon , dengan tingkat kepercayaan 95% dengan rumus sebagai berikut :

  Z = Keterangan : Z = Nilai Z hitung R = Jumlah tanda + n = Jumlah sampel yang relevan

  Pengujian signifikan 5 % uji beda Z dengan hipotesis adalah sebagai berikut : pada taraf signifikan 5% atau tingkat kepercayaan sebesar 95% maka kriteria penerimaan Ho adalah sebagai berikut : Ho ditolak jika probabilitas < 0,05 H

  1 diterima jika probabilitas > 0,05 Dengan hipotesa dirumuskan sebagai berikut : Ho : tidak terdapat perbedaan jumlah pendapatan masyarakat sekitar di bidang UMKM sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani.

  H

  1 : terdapat perbedaan jumlah pendapatan masyarakat sekitar di bidang UMKM sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani.

  2. Untuk hipotesis yang menyatakan curahan kerja masyarakat sekitar Ganjuran dalam bidang UMKM saat sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani mengalami peningkatan. Maka teknik analisis uji beda Z untuk uji tanda sampel besar menggunakan uji wilcoxon , dengan tingkat kepercayaan 95% dengan rumus sebagai berikut :

  Z = Keterangan : Z = Nilai Z hitung R = Jumlah tanda + n = Jumlah sampel yang relevan

  Pengujian signifikan 5 % uji beda Z dengan hipotesis adalah sebagai berikut : pada taraf signifikan 5% atau tingkat kepercayaan sebesar 95% maka kriteria penerimaan Ho adalah sebagai berikut :

  Ho ditolak jika probabilitas < 0,05 H

  1 diterima jika probabilitas > 0,05

  Dengan hipotesa dirumuskan sebagai berikut : Ho : tidak terdapat perbedaan jumlah curahan kerja di bidang UMKM sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani.

  H

  1 : terdapat perbedaan jumlah curahan kerja di bidang UMKM sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani.

  3. Untuk hipotesis yang menyatakan dalam hal jumlah keluarga miskin masyarakat sekitar di bidang UMKM antara sebelum dan sesudah menjadi objek wisata rohani menjadi berkurang, maka dapat digunakan kriteria batas kemiskinan yang bersumber dari BKKBN yang meliputi beberapa kategori keluarga yang masuk ke dalam keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera. Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui jumlah keluarga miskin yang ada.

  4. Analisis Rata-rata Hitung (Mean) Mean merupakan teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai rata-rata dari kelompok tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti menghitung skor rata-rata untuk setiap item pertanyaan. Tujuannya agar peneliti dapat mengetahui item-item mana saja yang perlu ditinjau kembali. Analisis dilakukan pada masing- masing item pertanyaan. Rumus yang digunakan adalah (Sugiyono,

  2010:49 ):

  Me = mean (rata-rata) ∑

  = epsilon (baca jumlah) Xi = nilai x ke i sampai ke n N = sampel

  BAB IV GAMBARAN UMUM A. Sejarah Perjumpaan agama Katolik dengan Masyarakat Ganjuran Kehidupan Religi pada awal berdirinya Candi Ganjuran ini didominasi

  oleh masyarakat muslim yang taat Sejarah Candi Hati Kudus Tuhan Yesus atau akrab disebut Candi Ganjuran tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Pabrik gula Gondang Lipuro yang terdapat disebelah utara Gereja yang berdiri pada tahun 1862. Pabrik Gula ini dibangun oleh keluarga Schmutzer yang berasal dari orang Belanda Keluarga Schmutzer merupakan keluarga Katolik yang pertama yang tinggal di Ganjuran Oleh penduduk skitar Keluarga Schmutzer ini dikenal sebagai keluarga yang ramah, suka memberi dan perhatian pada masyarakat sekitar sehingga sangat disegani. Sebagai wujud solidaritasnya, mereka membuka kesempatan kerja, mendirikan sekolah- sekolah dan rumah sakit Ganjuran Karena di daerah Ganjuran belum ada gereja kemudian Keluarga Schmutzer membangun gereja Ganjuran. Pada perkembangannya agama Katolik mulai diterima oleh masyarakat Ganjuran dan tidak lama kemudian rata-rata pekerja pabrik gula miliknya memeluk agama Katolik. Hingga kini umatnya terus berkembang namun pada bulan Mei 2006 Gereja ini roboh karena diguncang Gempa

  Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran

  Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus “Mandala” adalah lingkup, wilayah kekuasaan yang bernuansa religious. Oleh karena itu Mandala Hati Kudus

  Tuhan Yesus adalah lingkup, wilayah yang dikuasai, dilingkupi, disemangati oleh Hati Kudus Tuhan Yesus. Secara fisik yang dimaksud Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus adalah Kompleks Gereja & Candi Ganjuran berikut sarana dan prasarananya. Tetapi sesungguhnya, pengertian Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus adalah wahana, tempat semua orang dapat menimba, menghayati, dan akhirnya mengamalkan berkat Hati Kudus Tuhan Yesus dalam dinamika kehidupan mereka baik sebagai paguyuban maupun pribadi. Wahana, tempat semua orang menyadari diri sebagai utusan dan kepanjangan tangan Kristus, Hatinya Yang Mahakudus, dimanapun mereka berada, senantiasa menjadi berkat.

  Monumen Perutusan Sendangsono adalah monument kelahiran jemaat. Disinilah orang pribumi pertama dibaptis, dan masuk dalam persekutuan Gereja Katolik. Sedangkan Candi Ganjuran adalah monument perutusan jemaat. Disinilah pada tahun 1930 tanggal 11 Februari (kurang lebih 25 tahun setelah baptisan Sendangsono), seluruh karya dan perjuangan jemaat yang mulai menginjak dewasa dipersembahkan kepada Hati Kudus Tuhan Yesus.

  Dengan semangat Hati Kudus Tuhan Yesus itulah mereka diberi tugas perutusan untuk me ngkuduskan Tanah Jawa dan Bumi Nusantara, menjadi berkat bagi siapa dan apapun juga, hingga terwujud Kerajaan Allah yang berusaha menggali nilai-nilai yang terpancar dari Hati Kudus Tuhan Yesus, menghidupi, menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, hingga terwujud harmoni yang ditandai kasih, kesediaan untuk berkorban, ketulusan hati, kedamaian, keamanan, ketenteraman, dan kebahagian.

  Rangkuman Sejarah Gereja Ganjuran Perkembangan Kawasan Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran dari waktu ke waktu dapat diringkaskan sebagai berikut: Tahun 1860, Pabrik gula Gondang Lipuro didirikan oleh Stefanus Barends. Ia adalah suami pertama Elise Fransisca Wilhemia Kartaus. Tahun 1876, Stefanus Barends meninggal dunia, sehingga Nyonya Elise Fransisca WIlhemia Kartaus menjanda dan terpaksa kembali ke Surabaya. Tahun 1880, Elise Fransisca Wilhemia Karhaus bertemu dan menikah dengan Gotfried Schmutzer, merekalah orangtua Josef dan Julius Schmutzer. Tahun 1912, Atas arahan ibunya, Prof. Dr. Ir. Josef Ignaz Julius Mara Schmutzer dan Ir. Julius Robert Anton Maria Schmutzer, mengambil alih Pabrik Gula Gondang Lipuro, dan mulai menjalankan Ajaran Sosial Gereja (Rerum Novarum).

  Spiritualitas Hati Kudus Tuhan Yesus yang dihayati keluarga ini pun mulai diamalkan. Tahun 1919, Keluarga Schmutzer membangun 12 Sekolah Rakyat secara bertahap di desa-desa sekitar pabrik gula Gondang Lipuro. Pembangunan sekolah-sekolah ini berlangsung sampai tahun 1930. Era pengutusan, pewartaan dan pemberdayaan masyarakat pun dimulai. Tahun

  Rijckevorsel, seorang perawat dan pekerja social. Tahun 1921, Ibu Caroline Schmutzer membuat poliklinik di garasi rumahnya. Cikal bakal karya social (kesehatan) melalui Rumah Sakit dimulai. Tahun 1924, Schmutzer mendirikan Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, tepatnya pada tanggal

  16 April 1924. Tahun 1927, Candi Hati Kudus Tuhan Yesus yang bercorak Hindu-Jawa mulai dibangun (27 Desember), sebagai ungkapan syukur atas berkat Tuhan yang melimpah. Arca Hati Kudus yang sekaligus adalah Kristus Raja ditahtakan di dalamnya. Tahun 1930, Mgr. van Velsen, SJ memberkati candi. Tanah Jawa dipersembahikan kepada Hati Kudus Tuhan Yesus.

  Pemberkatan ini dilaksanakan pada tanggal 11 Februari, tanggal penampakan Bunda Maria di Lourdes. Tahun 1930, Rumah Sakit St. Elisabeth selesai dibangun, saat itu baru terpasang 30 tempat tidur.tahun 1930, Tanggal 4 April, 4 suster CB pertama tiba di Ganjuran. Mereka adalah Sr. Yudith De Laat, Sr. Ignatia Lemmens, Sr. Simona, dan Sr. Rudolpha De Broot. Tahun 1942, Rm. Sugijapranata, SJ memperluas gedung gereja kea rah barat sepanjang 15 meter, dilengkapi balkon tempat koor. Tahun 1948, Clash II, pabrik gula Gondang Lipuro dibumihanguskan (bulan Desember), namun Candi, Gereja, Rumah Sakit, dan sekolah-sekolah tetap berdiri bersama Umat Hati Kudus Tuhan Yesus yang terus berkembang. Tahun 1959, Rm. Sontobudoyo memperluas gedung gereja ke samping kanan dan kiri. Dengan demikian dibangunlah sayap selatan dan utara sebagaimana tampak dalam wuudnya beberapa ruang di sebelah timur gereja, yakni sakristi, kantor paroki, dan ruang misdinar. Beliau juga merintis pembangunan Gereja Stasi Tambran dan memprakarsai pengadaan perangkat gamelan pelog. Tahun 1970, Rm. M. Jonckbloedt, SJ mulai membangun dan memantapkan organisasi Gereja Ganjuran. Tahun 1981, Rm. Suryasudarma, SJ berkarya di Ganjuran, memprakarsai pembangunan pastoran baru terdiri dari 2 lantai yang dirasa lebih mendukung pelayanan. Tahun 1988, Rm. G. Utomo, Pr berkarya di Ganjuran, dan menggali lagi nilai-nilai budaya tradisional yang sudah mengakar dan terus berkembang. Tahun 1989, Paguyuban Tani Hari Pangan Sedunia yang berwawasan lingkungan dan berorientasi pada pemberdayaan petani kecil lahir di Ganjuran pada bulan Oktober. Pembukaan Paguyuban Tani HPS itu juga ditandai dengan dihasilkannya Deklarasi Ganjuran. Tahun 1990, Rm. G. Utomo, Pr. memprakarsai pemansangan jendela pada dinding- dinding sayap gereja agar dapat dibuka pada hari raya , mengingat perluasan gereja hamper tidak mungkin dilakukan lagi. Beliau juga memprakarsai pengadaan perangkat gamelan slendro. 1995 Spiritualitas Hati Kudus Tuhan Yesus yang berakar pada tradisi budaya dan telah berkembang di Ganjuran makin digali dan dihidupi. Upaya membangun kompleks perziarahan kepada Hati Kudus Tuhan Yesus di kompleks Candi Ganjuran dimulai. Tahun 1997, Panel-panel Jalan Salib bercorak Hindu-Jawa sebagaimana dicita-citakan oleh Schmutzer tahun 1930 yang lalu direalisasikan. Peletakan batu pertama Jalan

berwujud Sumber Air dari dasar Candi Hati Kudus Tuhan Yesus ditemukan oleh Bp. Y. Suparto. Selanjutnya air i ni disebut “Tirta Perwitasari”. 1999

  Paguyuban Hati Kudus Tuhan Yesus diresmikan oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. I. Suharyo pada Prosesi 75 tahun Gereja Ganjuran bulan Juni.

  2000 Lahir Paguyuban Abdi Dalem. Kelompok Bentara Hati Kudus yang ingin belajar banyak tentang spiritualitas Hati Kudus ini bertekad untuk menghayati dan mengamalkannya dengan menjaga Kompleks Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus dan melayani para peziarah. Pada tahun ini juga konblokisasi halaman candi diselesaikan. Tahun 2001, Rumah Sakit St.

  Elisabeth Ganjuran diambil alih pengelolaannya oleh RUmah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, dan dimulailah era pelayanan kesehatan yang lebih luas.

  Tahun 2002, upaya pembangunan fisik & non fisik Kompleks Mandala Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran dimulai. Konblokisasi halaman selatan pastoran diselesaikan, selanjutnya dipergunakan sebagai areal parkir roda dua.

  2003 Atas petunjuk Rm. Utomo, Pr digali lagi sumber mata air besar di pintu gerbang selatan candi. Dibangun juga di dekatnya kamar mandi peziarah berikut rangkaian toiletnya. Di kanan kiri Gereja mulai dibangun 2 pendapa kembar untuk berbagai kekerluan: perluasan gereja, tempat istirahat para peziarah, dan aneka kegiatan paroki. Konblokisasi halaman selatan gereja diselesaikan dengan kualitas standar areal parkir roda empat dan bus. Tahun 2004 Renovasi atap dan cat gereja diselesaikan, disusul pembangunan 2

  Tahun 2006 Gempa bumi hebat melanda Bantul, DIY dan sekitarnya. Gereja Ganjuran runtuh, dan lebih dari 80 umat Katolik menjadi korban. Saat Ganjuran runtuh sedang berlangsung misa pagi, sehingga ada 5 orang yang meninggal di bawah reruntuhan gereja. Walaupun begitu, Candi, Pastoran, Pendapa dan bangunan-bangunan pendukung lainnya tetap tegak berdiri. Posko Karina dibuka di Ganjuran. Melalui posko ini seluruh bantuan social dari saudara-saudari yang menyalurkan kepeduliannya ditampung dan diteruskan kepada masyarakat yang membutuhkan. Rm. Jarot Kusnopriono Pr mengkoordinasikan langsung pengelolaan Posko Karina ini. Tahun 2007 Dengan bantuan yang diterima dari berbagai pihak, Umat Katolik Paroki Ganjuran bersama masyarakat mulai memperbaiki rumah tinggal dan aneka infra struktur yang rusak akibat gempa. Setelah umat dan masyarakat mulai berbenah, Kapel-Kapel Wilayah pun diperbaiki dan dibangun kembali. Bersamaan dengan itu mulai dipersiapkan juga pembangunan kembali Gereja Ganjuran, yang baru akan dilaksanakan setelah kondisi sosial ekonomi masyarakat mulai pulih. Tahun 2008 Rencana pembangunan kembali Gerja Ganjuran mendapat persetujuan dari Keuskupan Agung Semarang. Pada tanggal 22 Juni 2008, bersamaan dengan Prosesi 2008 Bapa Uskup Agung Semarang, Mgr. I. Suharyo berkenan meletakkan batu pertama pembangunan kembali Gereja Ganjuran. Pembangunan kembali Gereja Ganjuran ini dilaksanakan oleh Umat paroki Ganjuran didukung saudara-saudarinya dari

  Visi dan Misi Gereja Ganjuran Dengan tetap menimba semangat Sang Pendiri, Gereja Ganjuran bertekat untuk selalu Menjadi Berkat bagi Siapa dan Apa pun juga. Tekad itu dilandasi semangat belas kasih, kesetiaan dan kerelaan untuk berkorban yang setiap saat dapat ditimba dari Hati Kudus Tuhan Yesus. Pengakuan akan Kristus Raja yang menguasai sendi-sendi kehidupan Gereja Ganjuran diungkap dalam bentuk kesediaan umat untuk mengabdi secara total, sebagaimana disimbolkan pada Perayaan Prosesi. Secara lebih konkret visi tersebut hendak dicapai melalui serangkaian langkah dan perjuangan berikut:

  1. Menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk semakin mendekatkan umat dari berbagai kalangan (Ganjuran sendiri maupun peziarah dari berbagai penjuru tanah air) pada Hati Kudus Tuhan Yesus.

  2. Menyediakan berbagai fasilitas yang dapat membantu umat untuk semakin banyak menimba, menghidupi dan mengamalkan semangat Hati Kudus Tuhan Yesus.

  3. Memperhatikan kaum yang lemah (sakit, miskin dan tertindas) baik secara jasmani maupun rohani, agar ikut merasakan belas kasih Hati Kudus Tuhan Yesus.

  4. Memperjuangkan harmoni dan keutuhan alam ciptaan, agar dapat menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi segala makhluk untuk hidup tenteram.

  5. Mengajak semua orang yang berkehendak baik untuk bersyukur dengan membagikan berkat yang telah diterimanya melalui berbagai kegiatan amal kasih.

  6. Menghormati tradisi Ganjuran yang menyelamatkan dengan cara menggali, melestarikan, dan mengembangkannya melalui berbagai kesempatan dan kegiatan.Demikianlah, sebagai pewaris rahmat yang sedemikian agung Gereja Ganjuran bersama seluruh devosan kepada Hati Kudus Tuhan

  Yesus bertekad untuk menjadi berkat bagi siapa pun dan apa pun juga. Tekad itu juga diungkapkan dengan kesediaan menjadi talang (perantara berkat) bagi orang-orang yang lemah, miskin dan tertindas. Visi dan misi tersebut senantiasa diwartakan, baik di kalangan umat Ganjuran sendiri maupun para peziarah yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Harapannya semakin banyak orang yang menjadi kepanjangan tangan Hati Kudus Tuhan Yesus, sehingga semakin banyak juga orang yang diselamatkan melalui hati Kudus Tuhan Yesus.

  Pembangunan Kembali Gereja GanjuranSetelah mendapatkan restu dari Bapak Uskup dan mendapatkan IMB dari Pemerintah Kabupaten Bantul, Panitia Pembangunan Gereja Ganjuran menetapkan pelaksanaan pembangunan antara Juli 2008 sampai dengan Mei 2009. Keseluruhan bangunan diperkirakan seluas 1500 m². Total biaya sebelum kenaikan BBM umat dan Dewan paroki Ganjuran sekitar Rp 1,5 milyar kumpulan dana sumbangan Gempa Bumi dan Pembangunan Kembali Gereja Ganjuran Rp 1,5 milyar dan sumbangan bebas dari para donator diharapkan sekitar Rp 2 milyar. Panitia mengharapkan keterlibatan semua pihak, baik Umat Paroki Ganjuran, Para Peziarah, maupun para donator di manapun berada, untuk ambil bagian dalam pembangunan ini.

  Bentuk inkulturasi

  Dalam pertemuan sinode para uskup di Roma tahun 1977,tentang katakese yang dikutip oleh Banawiratma (1986:88), telah dikeluarkan naskah terakhir “pesan kepada umat Allah”, yang intinya menekankan agar warta dan pesan Kristus harus berakar pada kebudayaan setempat. Istilah adaptation dari bahasa Latin adaptatio yang berarti penyesuaian (dengan.....) disini berarti penyesuaian Injil dengan kebudayaan, tetapi menekankan perubahan yang sifatnya melintas dan tidak mendalam, hanya secara eksternal atau lahiriah (De Liturgi Romana et Inculturatione, 1995:14). Pada hakikatnya Gereja Katolik mengakui bahwa dalam unsur-unsur kebudayaan setempat, dalam masyarakat setempat, dalam masyarakat setempat yang tunduk mentaati kebudayaaannya , terdapat nilai-nilai budaya, moral, kemanusiaan serta religius yang mereka hayati. Hal ini menjadi Inspirasi bagi Joseph Schmutzer untuk mendirikan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus. Candi ini bercorak arsitektur Hindu-Jawa (Mataram dan Majapahit) itu mulai dibangun pada

  1927 dan diberkati oleh Uskup Jakarta Mgr. van Velsen SJ pada 11 Februari 1930 (tanggal penampakan Bunda Maria di Lordes). Pada saat itu bumi Nusantara juga dipersembahkan kepada Hati Kudus Tuhan Yesus. Bangunan ini dirancang dengan perpaduan gaya Eropa, Jawa, Buddha dan Hindu. Gaya Eropa dapat ditemui pada bentuk bangunan berupa salib bila dilihat dari udara. Teras candi yang berhias relief bunga teratai ini mengingatkan kita pada ciri khas agama Buddha. Candi ini juga kental bernuansa Kebudayaan Jawa-nya.

  Hal ini ditunjukkan dari beberapa hal, antara lain:

  1. Batu dari candi ini diambil dari gunung Merapi. Gunung Merapi merupakan salah satu Simbol Gunung yang di keramatkan oleh masyarakat Yogyakarta.

  2. Candi ini menghadap ke pantai laut Selatan sebagai simbol penghormatan terhadap Penguasa laut Selatan Yaitu Nyi Roro Kidul.

  3. Nuansa Jawa juga terlihat pada altar, sancristi (tempat menyimpan peralatan misa), doopvont (wadah air untuk baptis) dan chatevummenen (tempat katekis).

  4. Di dalam candi sendiri bertahta patung Kristus Raja, lambang kehadiran Tuhan sebgai Bapa. Patung/ Arca ini berwujud Tuhan Yesus sebagai Raja dengan berpakaian kebesaran layaknya raja Jawa yang duduk diatas singasana tangan kirinya menyibak pakaian depannya dan tangan kanannya menunjukkan ke arah hatinya yang bersinar.

5. Dan diatasnya tertulis Aksara Jawa yang berarti: “Sampeyan Dalem Maha

  Prabu Yesus Kristus Pangeraning Bangsa “

  6. Patung Yesus dan Bunda Maria yang tengah menggendong putranya juga digambarkan tengah memakai pakaian Jawa.

  7. Demikian pula relief-relief pada tiap pemberhentian jalan salib, Yesus digambarkan memiliki rambut mirip seorang pendeta Hindu.

  8. Gaya Jawa bisa dilihat pada atap yang berbentuk tajug, bisa digunakan sebagai atap tempat ibadah. Atap itu disokong oleh empat tiang kayu jati, melambangkan empat penulis Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

  Sedang dari Hindu sendiri diwakili dengan adanya patirtan atau petirtaan sebagaimana khasnya seperti kebanyakan candi Hindu lain yang usianya jauh lebih tua dari Candi Ganjuran ini, tidak pernah lepas dari sumber mata air. Karena orang pertama yang disembuhkan bernama Perwita, maka untuk mengenangnya, air berkhasiat itu kini disebut Tirta Perwitasari. Sumber aliran air ini kemudian disalurkan dalam beberapa kran yang berjumlah sembilan, ditempatkan di belakang candi yang dapat dimanfaatkan oleh semua umat.

  Dibuat sembilan titik kran juga ada maksud tertentu yang disesuaikan dengan tinggi bangunan candi 9 meter dan jumlah tangga naik ke tingkatan Swarloka tempat arca Hati Kudus Yesus bertahta. Dengan diresamikannya Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran sebagai tempat ziarah oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. I Suharyo Pr , pada 1998, maka terpenuhilah persyaratan tempat ziarah seturut Kitab Hukum Katolik Pesan iman yang disampaikan

  dari Candi Hati Kudus Tuhan Yesus

  Joseph selaku arsitek arca itu pasti memperhitungkan tidak hanya didasarkan pada rasa seni yang tinggi tetapi juga iman yang mendalam akan Kristus.

  Dalam pengalaman devosinya, Joseph merasakan bahwa dalam Yesus Kristus , Kekuatan yang paling menonjol terletak di hati-Nya. Ia memperlihatkan Hati Kudus-Nya yang bernyala-nyala kepada semua orang ,siapapun, apapun adanya, apapun sikapnya disikapi sama yaitu DICINTAI secara total dan tanpa pamrih. Sedangkan pakaian Jawa yang dikenakan Kristus Raja hendak memperlihatkan bahwa cinta Yesus mengatasi ruang dan waktu. Hatinya yang tertikam( menggambarkan bahwa sebelum Yesus wafat di kayu salib seorang prajurit Romawi menghujamkan tombaknya tepat si hatinya untuk memastikan bahwa Yesus harus benar-benar mati saat disalib ) mengalirkan berkat untuk semua orang sepanjang masa. Maka pakaian Jawa dapat menyatakan bahwa Yesus penuh cinta hadir secara konkret dan menyapa setiap orang dalam budayanya masing-masing tanpa memandang bulu melimpahkan berkat kepada yang memohon. Apa yang dialami Schmutzer itu sekarang menjadi pengalaman banyak orang yang datang ke Ganjuran untuk berdoa dan berdevosi( meminta secara khusus). Dengan devosi kepada Hati kudus Yesus , mereka semakin merasakan kedekatan dengan Tuhan. Tuhan hadir dan menyapa setiap hati sesuai dengan pengalaman hidupnya . Pengalaman ini meningkatkan kedisiplinan diri untuk memupuk hidup rohani, meningkatkan doa dan ibadat, memupuk perasaan religius dan menyegarkan hidup beragama. Paroki Ganjuran berusaha mengarahkan agar kehidupan devosional kepada Hati Kudus Tuhan Yesus dengan membuat semacam visi perziarahan yaitu nyuwun berkat, ngalap berkah lan dados berkah ( memohon berkat, menikmati berkat dan menjadi berkat). Untuk mewujudkan visi ini sebagian besar pemasukan keuangan dari para peziarah digunakan untuk pelayanan sosial terutama untuk kepentingan orang sakit. Candi Hati Kudus Yesus berfungsi sebagai tempat meditasi umat Katolik yang ingin mendekatkan diri pada Tuhan . Hal ini disebabkan antara lain:

  1. Kian merebaknya kemerosotan iman dan moralitas di kalangan umat

  khususnya dan masyarakat pada umumnya, terlebih lagi di kalangan pimpinan dan tokoh yang seharusnya menjadi panutan.

  2. Kian merajalelanya kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian terhadap

  nilai-nilakemanusiaan, keadilan, kehidupan dan kelestarian alam ciptaan, sebagaimana yang menggejala dalam aneka kekerasan lahir batin yang dialami anak-anak bangsa.

  3. Terpinggirkannya tradisi budaya bermuatan nilai-nilai moral-religius yang

  mampu mengantar umat dan masyarakat pada sikap peduli atas berbagai kondisi yang perlu dibenahi.

  4. Keprihatinan tersebut menumbuhkan harapan agar makin banyak orang

  dan para tokoh panutan yang merasakan kasih Hati Kudus Tuhan Yesus, sehingga mampu menimba nilai-nilai kasih, lalu mengamalkannya di mana pun mereka berada, sehingga menjadi berkat bagi orang lain.

B. Diskripsi Lokasi Penelitian

1. Letak Geografis

  Ganjuran, sebuah desa yang menawarkan wisata ziarah rohani yang menarik khususnya untuk wisatawan yang beragama Katolik. Nuansa keagamaan Katolik jelas terlihat dari bangunan gereja dan candi nan megah yang dibangun pada zaman Belanda. Gereja yang disebut Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran dan candi yang diberi nama Candi Tyas Dalem Hyang Roh Suci merupakan obyek wisata ziarah umat Katolik yang utama di Ganjuran ini. Komplek wisata ziarah ini berada 17 km selatan kota Yogyakarta, dapat ditempuh dari jalan utama baik jalan Jogja-Bantul maupun jalan Jogja-Parangtritis. Tepatnya lokasi komplek wisata ini berada di Dusun Kaligondang, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul.

  Komplek wisata peziarahan ini menawarkan pengetahuan sejarah kota menawarkan pengetahuan budaya karena adanya akulturasi budaya dan agama sangat kental terjadi di komplek wisata peziarahan ini. Candi Tyas Dalem dibangun dengan dasar akulturasi agama Katolik dengan agama Hindu Jawa yang pada saat itu masih melekat di hati masyarakat sekitar Ganjuran. Sedangkan Gereja yang baru saja dibangun setelah gempa Mei 2006 saat ini merupakan hasil akulturasi budaya modern dan Jawa Kuno, dengan arsitektur Jawa yang sangat kental.

  Candi Tyas Dalem Ganjuran juga terkenal dengan air sendang Perwitasari, yaitu air tanah yang dipompa dari mata air bawah tanah yang mengalir dibawah candi. Menurut penuturan banyak orang, air Perwitasari tersebut memiliki khasiat untuk menyembuhkan dan memberi kesegaran jasmani maupun rohani. Air Perwitasari tersebut dapat diambil tanpa harus meminta ijin dan tanpa sumbangan apapun.

  Tahun 2008, Gereja Ganjuran resmi dibangun kembali setelah mengalami kerusakaan parah setelah terjadinya gempa bumi di Bantul dan sekitarnya. Bangunan gereja lama yang bernuansa Kolonial sudah roboh dan digantikan dengan bangunan baru yang sarat tradisi Jawa dan makna iman Katolik. Gereja Ganjuran baru dibangun dengan desain pendopo bercorak Jawa dan berhiaskan ukiran di setiap sudut bangunan. Keindahan bangunan tersebut lengkap dengan tema Ganjuran yang mengangkat konsep akulturasi budaya dan agama, ditambah dengan patung Dyah

  Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke komplek wisata peziarahan ini tidak dipungut biaya masuk. Paket wisata yang ditawarkan adalah paket wisata pengetahuan, artinya wisatawan mengetahui secara lengkap sejarah Ganjuran melalui perantaraan guide. Selain itu, paket wisata ekaristi lengkap dengan imam dan makan bersama seusai ekaristi juga tersedia. Termasuk juga jika wisatawan ingin melaksanakan ekaristi di gereja kapel sekitar.

  2. Keadaan Penduduk

  a. Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Kesejahteraan Warga sekitar objek wisata Candi Hati Kudus Tuhan Yesus

  Ganjuran yaitu dusun Kaligondang terdiri dari 5 RT, yang dihuni oleh 255 KK atau 795 jiwa dengan rincian jumlah penduduk laki-laki sebesar 456 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebesar 339 jiwa. Mayoritas penduduk dusun Kaligondang bermata pencaharian sebagai pekerja swasta dan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

  Berdasarkan data dalam buku profil desa tahun 2012, kondisi ekonomi masyarakat dusun Kaligondang dapat dilihat melalui dua (2) hal yaitu tingkat pengangguran dan tingkat kesejahteraan keluarga dengan rincian sebagai berikut :

  Tabel IV.2 Komposisi Tingkat Pengangguran di dusun Kaligondang

  Tahun 2012 No Kriteria Jumlah

  (Jiwa)

  1 Jumlah penduduk usia 18-56 tahun 642

  2 Jumlah angkatan kerja (penduduk usia 18-56 tahun) 455

  3 Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja 338

  4 Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang menjadi ibu

  23 rumah tangga

  5 Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang belum

  14 bekerja atau tidak bekerja

  6 Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang bekerja 186 tidak tentu

  7 Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang cacat dan

  3 tidak bekerja

  8 Jumlah penduduk usia 18-56 tahun yang cacat dan

  4 bekerja Sumber : kantor Kepala Desa Kaligondang, 2012.

  Pada tabel di atas, sebanyak 186 orang pada usia 18-56 tahun bekerja tidak tentu, yang dimaksudkan disini adalah para buruh serabutan, seperti misalnya seorang petani ketika musim bercocok tanam maka mereka menjadi petani, ketika tidak musim bercocok tanam maka mereka kemudian beralih menjadi buruh bangunan, tukang kayu, memelihara lembu dan kambing atau bahkan tidak bekerja sama sekali.

  Berikut ini juga akan disajikan komposisi jumlah keluarga sejahtera di dusun Kaligondang sebagai salah satu tolok ukur keadaan penduduk dilihat dari tingkat kesejahteraannya.

  Tabel IV.3 Jumlah Keluarga Sejahtera di Dusun Kaligondang

  4 Jumlah keluarga sejahtera 3

  6 Total jumlah kepala keluarga 247 255 Sumber : kantor Kepala Dusun Kaligondang, 1998 dan 2012.

  5

  4

  5 Jumlah keluarga sejahtera 3 plus

  7

  3

  94

  Tahun 1998 dan 2012 No Kriteria Tahun (Keluarga) 1998 2012

  67

  3 Jumlah keluarga sejahtera 2

  2 Jumlah keluarga sejahtera 1 117 115

  34

  56

  1 Jumlah keluarga prasejahtera

  Pada tabel di atas tercatat pada tahun 1998 sebanyak 173 keluarga sebagai keluarga miskin kemudian menurun menjadi 149 keluarga miskin pada tahun 2012. Dalam rentang waktu yang memiliki selisih 14 tahun dalam penelitian ini berusaha mengungkapkan hal-hal yang kemungkinan terjadi sehingga jumlah keluarga miskin mengalami penurunan. Berikut ini akan disajikan jumlah penurunan keluarga miskin sebanyak 24 KK :

  1) Dari jumlah 24 KK yang ada, sebanyak 7 KK terbantu karena bekerja di perusahaan swasta 2) Dari 24 KK yang ada, sebanyak 2 KK sudah tidak dipakai karena pemilik sudah meninggal dunia 3) Dari 24 KK miskin, sebanyak 15 KK tertolong kondisi ekonominya karena ibu rumah tangga berperan sebagai pelaku usaha mikro kecil dan menengah

  18

  24

  19

  30

  21

  43

  51 5 13-15 tahun

  28

  18

  24

  15

  46

  33 6 16-18 tahun

  32

  13

  34

  8

  35

  16 4 7-12 tahun

  6

  b. Keadaan Penduduk Menurut Usia dan Jenis Kelamin Jumlah penduduk dusun kaligondan pada tahun 2011/2012 berjumlah 795 jiwa yang terdiri dari 456 jiwa laki-laki dan 339 jiwa perempuan. Berikut ini akan disajikan tabel mengenai komposisi penduduk berdasarkan usia dan jenis kelamin.

  13

  Tabel IV.4 Komposisi Penduduk Menurut Usia dan Jenis Kelamin

  Pada tahun 1998 dan 2012 No Golongan Umur Jenis Kelamin Jumlah 1998 (Jiwa) 2012 (Jiwa) 1998

  (Jiwa) 2012

  (Jiwa) L P L P 1 0-12 bulan

  8

  5

  6

  3

  9 2 13 bulan-4 tahun

  10

  18

  14

  21

  22

  32

  43 3 5-6 tahun

  16

  8

  42

  7 19-25 tahun

  44

  19

  56

  21

  63

  77 8 26-35 tahun

  47

  49

  65

  43 96 108 9 36-45 tahun

  33

  41

  35

  42

  74

  77 10 46-50 tahun

  57

  39

  42

  32

  96

  74 11 51-60 tahun

  31

  21

  55

  48 52 103 12 61-75 tahun

  48

  27

  53

  34

  75

  87 13 > 76 tahun

  52

  42

  35

  44

  94

  79 Jumlah 438 317 456 339 755 795 Sumber : kantor kepala desa kiringan,tahun 1998 dan 2012

  c. Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian Keadaan warga sekitar menurut pekerjaan yang dilakukan sangat variatif. Sebagian besar pemuda-pemudi dusun Kaligondang memilih bekerja di sektor swasta sebagai karyawan. Dari hasil wawancara yang dilakukan diperoleh hasil bahwa sebagian orang yang belum menikah masih enggan ketika harus bekerja sebagai pelaku UMKM. Namun kalau sudah menikah sebagian dari pemudi kebanyakan ikut terjun menjadi pelaku UMKM. Warga sekitar objek wisata Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran menggantungkan hidupnya kepada bidang UMKM, karena memang sebagian besar warga sekitar bekerja sebagai pelaku UMKM.

  Terdapat 57 pelaku UMKM pada tahun 2013. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan jumlah pelaku UMKM tahun 1998 sebanyak 12 orang. Melalui wawancara langsung dengan pamong di dusun Kaligondang dan wawancara dengan masyarakat, peningkatan ini didorong oleh beberapa hal antara lain : a. Masyarakat luas semakin mengenal objek wisata rohani Candi Hati

  Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, sehingga banyak wisatawan yang datang berkunjung.

  b. Peminjaman modal usaha dapat dilakukan dengan bunga yang sangat rendah sehingga membantu para pelaku usaha baru untuk dapat berkembang

  c. Pekerjaan sebagai pelaku UMKM ini dapat membantu perekonomian keluarga, bahkan ada beberapa keluarga yang benar-benar menggantungkan hidupnya dari pendapatan menjadi pelaku UMKM.

3. Keadaan Pertanian Penduduk

  Dari hasil wawancara dengan masyarakat dusun Kaligondang didapatkan bahwa mayoritas masyarakat dusun Kaligondang memilih untuk menanam padi di sawah dengan alasan karena struktur tanah di daerah tersebut sangat cocok untuk pertanian padi dan didukung dengan banyaknya musim penghujan jika dibandingkan dengan musim kemarau pada tahun-tahun terakhir ini. Mereka mengarap sawahnya dengan cara manual seperti ketika menanam dan memupuk. Adapula kegiatan bertani yang kemudian mengadopsi kemajuan teknologi yang ada seperti misalnya ketika mencangkul diganti dengan mesin pembajak atau sering disebut traktor dan juga ketika memanen dengan mesin panen yang sering disebut serit. Selain itu ada sebagian dari masyarakat dusun Kaligondang yang bercocok tanam di pekarangan yang mereka miliki. Lahan mereka digunakan untuk menanam bahan-bahan penunjang pembuatan jamu seperti buah asem, jahe dan kunyit. Ada juga yang memanfaatkan pekarangan mereka dengan bercocok taman berbagai jenis pohon pisang, kayu jati dan pohon kelapa.

4. Sarana dan Prasarana

  a. Sarana Perhubungan dan Perekonomian Perkembangan sarana perhubungan dan perekonomian di sebuah wilayah merupakan salah satu ciri adanya kemajuan dalam pembangunan daerah. Hal ini dikarenakan sarana perhubungan dan perekonomian merupakan salah satu alat untuk memperlancar distribusi bahan-bahan kebutuhan pokok, pemerataan tingkat pendapatan dapat tercapai pula dengan adanya perkembangan yang pesat dari sarana perhubungan dan sarana perekonomian.Beberapa perkembangan dari sarana perhubungan dan perekonomian yang dapat dilihat di wilayah Dusun Kaligondang antara lain adalah :

  a) Jalan jalan di sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran seluruhnya sudah di cor dan di aspal. b) Perkembangan alat transportasi yang dimiliki oleh masyarakat kaligondang sangat baik warga sekitar objek wisata sudah memiliki kendaraan bermotor.

  c) Sebanyak 7 keluarga yang memiliki alat transportasi berupa mobil dan 1 keluarga yang mempergunakan kendaraan mobil tersebut sebagai alat angkutan bahan-bahan kebutuhan pokok masyarakat sekitar objek wisata.

  b. Sarana Informasi dan Telekomunikasi Dalam kehidupan sehari-hari perlu adanya informasi dan komunikasi yang tepat. Bahkan dewasa ini, ketepatan informasi dan komunikasi tidak cukup untuk mengejar perkembangan yang terjadi. Ketepatan dan kecepatan informasi dan komunikasi sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu, warga sekitar objek wisata Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran juga mengupayakan adanya ketepatan dan kecepatan informasi dan telekomunikasi melalui sarana yang mereka miliki.

  c. Sarana Olahraga, Kesenian dan Kesehatan Di lihat dari sarana olahraga yang ada, masyarakat setempat memiliki 1 lokasi lapangan sepak bola yang dapat digunakan. Dalam bidang kesehatan, di ganjuran terdapat 1 Rumah Sakit yaitu Rumah Sakit Santa Elisabeth Ganjuran.

  Mayoritas masyarakat kaligondang memeluk agama katolik, sehingga perkembangan sarana peribadatan untuk mendukung kegiatan keagamaan katolik berkembang pesat, ada 1 Gereja yang dapat di gunakan warga sekitar untuk beribadah.

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Bab ini merupakan analisis dan pembahasannya yang dikumpulkan dari data

  yang telah dilaksanakan pada bulan februari 2013. Data yang dianalisis tersebut kemudian dipergunakan sebagai bukti empiris untuk menguji hipotesis penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya.

  57 responden yang berpartisipasi dalam studi ini, semuanya adalah anggota masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran yang diambil dengan cara acak proporsional. Dalam hal analisis data, penelitian ini menggunakan uji beda z wilcoxon Signed Rank Test untuk menjawab rumusan masalah jumlah pendapatan dan jumlah curahan kerja. Sedangkan untuk mengetahui jumlah keluarga miskin, maka digunakan data-data dokumentasi dari wilayah setempat.

A. Deskripsi Responden

  Karakteristik responden dapat diketahui berdasarkan distribusi responden yang terlibat dalam penelitian, dalam penelitian ini responden seluruhnya berjumlah 57 orang. Karakteristik responden ini didasarkan atas umur responden, jenis pekerjaan, jumlah keluarga dan jumlah pendapatan tiap bulan.

  1. Deskripsi responden berdasarkan atas umur responden Berikut ini akan disajikan deskripsi responden berdasarkan usia responden pada saat wawancara berlangsung.

  • – 40 thn 11 19,3%
  • – 50 thn 33 57,9%
  • – 40 tahun. 33 responden berusia > 40 tahun – 50 tahun dan pada usia > 50 tahun sejumlah 13 responden.

  Sesudah menjadi objek wisata

  8

  6 Wirausaha

  12

  Buruh/Petani

  57 PNS 3 - Pekerjaan Sampingan

  24

  Karyawan swasta 9 - Buruh/petani 21 - UMKM

  Pekerjaan tetap Jenis pekerjaan Sebelum menjadi objek Wisata

  Tabel V.1 komposisi usia responden Umur Responden Jumlah (Jiwa) Persentase (%) 30 thn

  Sumber : data diolah, 2013

  Adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran

  Tabel V.2 Komposisi Jenis Pekerjaan Sebelum dan Sesudah

  2. Deskripsi responden berdasarkan jenis pekerjaan responden Berikut ini akan disajikan hasil penelitian di dusun Kaligondang mengenai jenis pekerjaan responden sebelum dan sesudah adanya objek wisata Rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran.

  Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian responden tergolong pada usia angkatan kerja (18-56 tahun). Sejumlah 11 responden berusia 30 tahun

  Sumber : data diolah, 2013

  > 50 thn 13 22,8%

  >40 thn

  2 Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa terdapat perubahan-perubahan yang terjadi dalam hal jenis pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Dalam tabel diatas pekerjaan dibedakan menjadi 2 yaitu pekerjaan tetap dan pekerjaan sampingan. Sebagian besar responden memilih buruh/bertani sebagai pekerjaan tetap sebanyak 21 orang pada tahun 1998 dan hal ini menurun pada tahun 2013 sebanyak 6 orang buruh/bertani sebagai pekerjaan tetap. Pekerjaan kedua yang sering menjadi aktivitas masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran sebagai pekerjaan tetap adalah UMKM sebanyak 12 orang pada tahun 1998 dan mengalami peningkatan pada tahun 2013 menjadi 57 orang. Artinya bahwa sebelum objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran diresmikan banyak warga sekitar yang bekerja sebagai buruh/bertani sebagai mata pencaharian utama mereka. Tetapi setelah objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di resmikan ganjuran menjadi terkenal dan menjadi objek wisata rohani yang terkenal pula,maka dari itu lebih banyak lagi wiasatwan yang datang baik dari dalam maupun luar kota. Dengan melihat keadaan yang seperti ini maka warga sekkitar beralih profesi dari buruh/bertani menjadi pelaku UMKM, hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh bahwa pelaku UMKM meningkat setelah objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus

diresmikan tahun 1998 sampai sekarang. Bidang UMKM dilihat sangat menjanjikan untuk memperoleh keuntungan di Ganjuran.

  3. Deskripsi responden berdasarkan jumlah pendapatan tiap keluarga Berikut ini akan disajikan jumlah responden yang memiliki pendapatan kurang dari Rp 500,000 sampai dengan diatas Rp 3.000.000/ bulan.

  Tabel V.3 Komposisi jumlah pendapatan sebelum dan sesudah menjadi objek wisata rohani

  Jumlah pendapatan Sebelum objek wisata(jiwa)

  Sesudah Objek wisata (jiwa)

  Persentase sebelum objek wisata

  Persentase sesudah objek wisata

  <Rp 500.000 1 - 1,7% - ≥Rp500.000- Rp1.000.000

  39 11 68.4% 19.3% ≥Rp1.000.000- Rp2.000.000

  10 32 17.6% 56.1% ≥Rp2.000.000- Rp3.000.000

  7 11 12.3% 19.3% ≥Rp 3.000.000

  • 3 - 5.3%

   Sumber : data diolah, 2013

  Dari tabel tersebut dapat menjelaskan bahwa terdapat perubahan jumlah masyarakat sekitar yang memiliki pendapatan kurang dari Rp 500,000 sampai dengan diatas Rp 3.000.000/ bulan. Pada tahun 1998 jumlah penduduk yang memiliki pendapatan kurang dari Rp 500.000 berjumlah 1 orang dan pada tahun 2013 sudah tidak ada lagi, pada tahun 1998 dan 2013 jumlah responden yang memiliki penghasilan diatas Rp 500.000 sampai dengan Rp 1.000.000 mengalami penurunan dari 39 orang menjadi 11 orang. Penurunan ini disebabkan karena sebagian responden pada golongan pendapatan ini mengalami kenaikan pendapatan sehingga berpindah pada golongan pendapatan diatasnya. Sedangkan pada pendapatan Rp 1.000.000 sampai dengan Rp 2.000.000 mengalami kenaikan dari 10 orang menjadi 32 orang. Pada tingkat pendapatan Rp 2.000.000 sampai dengan Rp 3.000.000 jumlah responden yang ada dari 7 orang menjadi 11 orang dan pada tingkat pendapatan diatas Rp 3.000.000 per bulan sebelumnya tidak ada tapi sekarang menjadi 3 orang. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran mengalami kenaikan pendapatan setelah diresmikanya objek wisata tersebut. Hal ini dapat di lihat dari data yang diperoleh sebelum dan sesudah adanya objek wisata, ditunjukan bahwa golongan pendapatan masyarakan mengalami perubahan yang positif yaitu mengalami kenaikan ke tingkat golongan yang lebih tinggi lagi. Hal ini terjadi karena warga sekitar beralih profesi dari buruh/bertani menjadi pelaku UMKM yang menyebabkan mereka mengalami kenaikan pendapatan setelah diresmikanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus. Dari keterangan di atas maka dapat dilihat bahwa bidang UMKM di Ganjuran sangat menjanjikan untuk memperoleh keuntungan.

B. Analisis Data

1. Pengujian Hipotesis

  Untuk menguji variable tingkat pendapatan dan jumlah curahan kerja, maka digunakan uji z, karena sampel dalam penelitian ini termasuk sampel besar dengan jumlah 57 responden. Pengujian menggunakan uji z juga dilakukan untuk menguji perbedaan dari setiap variabel.

  Untuk mempermudah pengujian dari hipotesis tersebut maka digunakan bantuan uji sign test dengan menggunakan program SPSS 16.0 for windows. Penggujian sign test menggunakan uji wilcoxon sebagai alternatif untuk menguji signifikansi hipotesis dua sampel yang berkorelasi. Adapun pengujian dari masing-masing hipotesis tersebut adalah : a) Perubahan Jumlah Pendapatan Keluarga

  Hipotesis pertama mengatakan bahwa dalam hal jumlah pendapatan masyarakat sekitar meningkat sesudah menjadi objek wisata rohani. Keadaan ini dapat dibuktikan dengan melihat perubahan jumlah pendapatan masyarakat sekitar sebelum dan sesudah menjadi daerah objek wisata, dengan membaca hasil analisis yang digunakan melalui uji beda Z dengan tingkat kepercayaan 95 %,sebagai berikut : Dengan hipotesis statistik Z wilcoxon lewat perhitungan SPSS diperoleh hasil.

  1) Diskripsi Statistik.

  Tabel V.4 Statistik deskripsi tingkat pendapatan Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std. Deviation SEBELUM

  57 400000 2500000

  1.09E6 554803.585 SESUDAH 57 500000 5000000

  1.46E6 769164.097 Valid N (listwise)

57 Sumber: Data diolah, 2013

  Tabel di atas menunjukan bahwa rata-rata pendapatan per warga di sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran berjumlah ( ) 1.09E6 dengan standar deviasi (S

  1 )

  sebesar 554803.585 dan setelah menjadi objek wisata rata-rata pendapatan per kepala keluarga sebesar ( ) 1.46E6 dengan standar deviasi (S

  2 ) sebesar 769164.097. Dilihat dari rata-

  rata(Mean), jumlah pendapatan warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran sebelum dan sesudah menjadi objek wisata, untuk besarnya pendapatan minimum terjadi kenaikan dari 400000 menjadi 500000. Begitupula untuk besarnya pendapatan tertinggi mengalami kenaikan dari 2500000 menjadi 5000000.

  2) Ranks

  Tabel V.5 Tingkat pendapatan Ranks N Mean Rank Sum of Ranks a SESUDAH - SEBELUM Negative Ranks

  7 b 36.57 256.00 Positive Ranks 49 c 27.35 1340.00 Ties

  1 Total

  57

  a. SESUDAH < SEBELUM

  b. SESUDAH > SEBELUM

  c. SESUDAH = SEBELUM

  Tabel ini menunjukan perubahan jumlah pendapatan warga sekitar objek wisata Rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran sebelum dan sesudah menjadi objek wisata. Ketentuan perubahan pendapatan warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran dapat dilihat dari :

  a. Meningkat, jika pendapatan per warga sekitar setelah menjadi objek wisata lebih besar dari sebelumnya b. Tetap, jika pendapatan per warga sekitar setelah menjadi objek wisata sama dari sebelumnya c. Menurun, jika pendapatan per warga sekitar setelah menjadi objek wisatai lebih kecil dari sebelumnya

  Melihat tabel diatas, dari total 57 warga sekitar, terdapat 49 keluarga yang mengalami peningkatan jumlah pendapatan, 7 warga yang mengalami penurunan jumlah pendapatan.dari data di atas dapat diketahui bahwa yang mengalami peningkatan pendapatan semua dari bidang UMKM dan yang paling mencolok adalah bidang UMKM warung makan dan warung souvenir sedangkan sebagian dari bidang UMKM took buah, bengkel, fotocopy, dan penjual pulsa. Sedangkan untuk yang mengalami penurunan pendapatan berasal dari sebagian UMKM warung souvenir dan bengkel lalu ditambah dari bidang UMKM warung jamu dan toko kelontong. Dari hasil ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran mengalami peningkatan pendapatan.

  3) Test statistic

  Tabel V.6 b tes statistik tingkat pendapatan Test Statistics

  SESUDAH - SEBELUM a Z -4.430 Asymp. Sig. (2-tailed) .000 a. Based on negative ranks.

b. Wilcoxon Signed Ranks Test

  Dari hasil run data SPSS, maka dapat dilihat perhitungan perubahan tingkat pendapatan yang ada di dalam masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Dengan menggunakan uji beda Z, diperoleh data bahwa Z hitung= -4.430 untuk signifikasi sebesar 0.000 dengan tingkat kepercayaan 95% atau taraf signifikan 5 % (0.05) berarti Ho ditolak, karena probabilitas < 0,005. Dari analisis uji beda Z diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara pendapatan sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran.

  4) Setelah Z hitung ditemukan, maka dilakukan pengambilan keputusan untuk menguji hipotesis di atas. Oleh karena pengujian menggunakan satu sisi, maka dasar pengambilan keputusan hipotesis adalah : a. Terima H o jika nila statistik hitung (Z hitung ) < statistik tabel

  (Z tabel )

  b. Tolak H o jika nila statistik hitung (Z hitung ) > statistik tabel (Z tabel )

  • Nilai statistik tabel (Z ) diperoleh dari ( )=

  tabel Z0,5 Z0,5 0,05

  α) = ( 0,495. Pada tabel nilai z untuk menyatakan luas didapat angka z tabel sekitar 1,64 . Jadi, z hitung -4.430 > z tabel 1,64 (harga minus (-) tidak diperhitungkan karena harga mutlak),H o ditolak maka terdapat perbedaan jumlah pendapatan warga sekitar objek wisata Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran sebelum dan sesudah menjadi objek wisata. Peningkatan jumlah pendapatan ini ditunjukan dengan ( ) Rp 1.09E6 dari pembulatan Rp 1.090.350 menjadi ( ) Rp 1.46E6 dari pembulatan Rp 1.456.140. Peningkatan pendapatan sebelum dan sesudah adanya objek wisata adalah sebesar Rp 1.456.140 - Rp 1.090.350 = Rp 365.790.

  b) Perubahan Jumlah Curahan Kerja Untuk hipotesis kedua mengenai perubahan jumlah curahan kerja dinyatakan dengan kalimat dalam hal jumlah curahan kerja masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran meningkat sesudah menjadi objek wisata. Pernyataan ini dapat dibuktikan dengan menggunakan analisis uji beda Z sebagai berikut:

  Dengan hipotesis statistik Z wilcoxon lewat perhitungan SPSS diperoleh hasil: Untuk mengetahui uji hipotesis tentang curahan kerja, dalam penelitian di bidang non- pertanian. Dengan hipotesis statistik Z wilcoxon lewat perhitungan SPSS diperoleh hasil:

  1. Deskripsi Statistik

  Tabel V.7 Statistik deskripsi jumlah curahan kerja Descriptive Statistics N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Sebelum

  57 100 12100 3173.68 3782.126 Sesudah 57 27 20948 4803.42 5519.362 Valid N (listwise)

57 Sumbera; data diolah, 2013

  Tabel di atas menunjukan bahwa rata-rata curahan kerja yang dikorbankan berjumlah ( ) 3173.68 dengan standar deviasi (S

  1 )

  sebesar 3782.126 dan setelah menjadi objek wisata rata-rata curahan kerja yang dikorbankan sebesar ( ) 4803.42 dengan standar deviasi (S ) sebesar 5519.362 Dilihat dari rata-rata (Mean),

  2

  jumlah rata-rata curahan kerja yang dikorbankan sebelum dan sesudah menjadi objek wisata, untuk besarnya curahan kerja yang di korbankan sebelum menjadi objek wisata minimum mengalami penurunan dari 100 menjadi 27. Sedangkan curahan kerja yang di korbankan sesudah menjadi objek wisata maximum mengalami peningkatan dari 12100 menjadi 20948

  2. Sign test

  Tabel V.8 sign test curahan kerja Ranks N Mean Rank Sum of Ranks a sesudah – sebelum Negative Ranks

  22 b 18.55 408.00 Positive Ranks 35 c 35.57 1245.00 Ties

  Total

  57

  a. sesudah < sebelum

  b. sesudah > sebelum

  c. sesudah = sebelum

  Tabel ini menunjukan perubahan jumlah curahan kerja sebelum dan sesudah menjadi objek wisata. Ketentuan perubahan curahan kerja warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran dapat dilihat dari:

  a. Meningkat, jika jumlah curahan kerja setelah menjadi objek wisata lebih besar dari sebelumnya b. Tetap, jika jumlah curahan kerja setelah menjadi objek wisata sama dari sebelumnya c. Menurun, jika jumlah curahan kerja setelah menjadi objek wisata lebih kecil dari sebelumnya Melihat tabel diatas, dari tota 57 warga sekitar, terdapat 35 keluarga yang mengalami peningkatan jumlah curahan kerja dan 22 keluarga yang mengalami penurunan. Dari hasil ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa ketertarikan masyarakat untuk bekerja di bidang UMKM menjadi lebih besar.

  3. Test statistic

  Tabel V.9 b tes statistik curahan kerja Test Statistics

  • – sesudah sebelum a Z -3.333 Asymp. Sig. (2-tailed) .001 a. Based on negative ranks.

b. Wilcoxon Signed Ranks Test

  Dari hasil run data SPSS, maka dapat dilihat perhitungan perubahan tingkat curahan kerja yang ada di masyarakat sekitar objek wissata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Dengan menggunakan uji beda Z, diperoleh data bahwa Z hitung= -3.333 untuk signifikasi sebesar 0.001 dengan tingkat kepercayaan 95% atau taraf signifikan 5 % (0.05) berarti Ho ditolak, karena probabilitas < 0,05.

  Dari analisis uji beda Z diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara curahan kerja sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran.

  Setelah Z hitung ditemukan, maka dilakukan pengambilan keputusan untuk menguji hipotesis di atas. Oleh karena pengujian menggunakan satu sisi, maka dasar pengambilan keputusan hipotesis adalah : a) Terima H jika nila statistik hitung (Z ) < statistik tabel

  o hitung

  (Z tabel )

  b) Tolak H o jika nila statistik hitung (Z hitung ) > statistik tabel (Z tabel )

  c) Nilai statistik tabel(Z ) diperoleh dari ( - tabel Z0,5 Z0,5 0,05 )= α) = (

  • 0,495. Pada tabel nilai z untuk menyatakan luas didapat angka z tabel sekitar 1,635 . Jadi, z hitung -3.333 > z tabel 1,635 (harga minus (-) tidak diperhitungkan karena harga mutlak), H o ditolak maka terdapat perbedaan jumlah curahan kerja warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran sebelum dan sesudah menjadi objek wisata. Peningkatan jumlah curahan kerja ini ditunjukan dengan ( ) 3173.68 menjadi ( ) 4803.42. Peningkatan curahan kerja

  sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran 4803.42

  • – 3173.68 = 1629.74
c) Perubahan Jumlah Keluarga Miskin Pada bagian gambaran umum telah tertera jumlah keluarga sejahtera di Dusun Kaligondang yang disajikan dalam bentuk tabel

  Tabel V.10. No Kriteria Tahun (Keluarga) 1998 2012

  1 Jumlah keluarga prasejahtera

  56

  34

  2 Jumlah keluarga sejahtera 1 117 115 Jumlah 173 149

  Melalui tabel tersebut dapat diketahui keluarga yang tergolong kurang mampu dan yang mampu. Menurut konsep BKKBN sebuah keluarga disebut miskin atau kurang sejahtera apabila masuk kategori Pra Sejahtera dan Sejahtera 1. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa terdapat penurunan jumlah keluarga miskin di kiringan yang tergolong keluarga miskin 173 menjadi 149 keluarga miskin.

2. Pembahasan

  a. Pembahasan Terhadap Hasil Uji Hipotesis Pertama (jumlah

  pendapatan warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran meningkat setelah menjadi objek wisata)

  Melihat hasil analisis yang telah disajikan dalam bentuk tabel hasil run data SPSS dengan menggunakan uji wilcoxon, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara pendapatan sebelum dan sesudah adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Dalam pengolahan data tersebut terdapat perbedaan jumlah pendapatan sebelum dan sesudah menjadi objek wisata. Tingkat pendapatan rata-rata keluarga sebelum menjadi objek wisata sebesar Rp 1.09E6/bulan sedangkan rata-rata pendapatan setelah menjadi objek wisata sebesar Rp 1.46E6/bulan. Yang 5 dimaksud E disini adalah Exponen yaitu 10 . Melalui wawancara langsung dengan responden dan pamong desa setempat maka dapat diketahui beberapa hal yang dapat menyebabkan peningkatan jumlah pendapatan yang dialami oleh warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2013 antara lain : 1) Dengan melihat data responden pada hasil wawancara maka dapat dilihat pada jumlah usia sebagian besar berada pada usia > 40 tahun

  • – 50 tahun dengan total responden sebanyak 21 orang berprofesi sebagai buruh/petani. Melihat hasil data ini maka dapat disimpulkan bahwa profesi sebagai buruh/petani memiliki peran
yang lebih terhadap warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran.

  2) Peningkatan jumlah pendapatan masyarakat melalui hasil wawancara dengan responden dapat dilihat pada tabel V.1 dimana pada tahun 1998 jumlah pendapatan warga sekitar objek wisata sebagian besar berkisaran pada angka > Rp 500.000

  • – Rp 1.000.000 meningkat pada kisaran angka >Rp 1.000.000-Rp 2.000.000.

  3) Dengan pernyataan pada point a,b, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan jumlah pendapatan warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Peningkatan jumlah pendapatan ini juga tidak lepas dari peran adanya objek wisata rohani yang sudah menjadi icon di Ganjuran.

  Setelah adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran warga sekitar memiliki beberapa perbedaan yang menuju pada kemajuan dibandingkan sebelum adanya objek wisata.

  Beberapa hal tersebut antara lain: 1) Semakin diterimanya objek wisata rohani candi Hati Kudus

  Tuhan Yesus Ganjuran membuat banyak wisatawan baik lokal maupun luar negri yang datang untuk berziarah dan berdoa semakin bertambah.

  2) Warga sekitar, sangat terbantu dengan diakuinya Ganjuran sebagai sebagai objek wisata, mereka dapat mendirikan usaha- usaha kecil yang dapat membantu keadaan ekonomi mereka. profesi sebagai petani dapat dilihat pada tabel V.2 dimana sejumlah 21 orang berprofesi sebagai petani pada tahun 1998 dan menurun menjadi 6 pada tahun 2013. Profesi sebagai petani kecil ini hanya memberikan sumbangsih yang tidak terlalu besar dalam mencukupi kehidupan keluarga. Melalui wawancara kepada warga sekitar dapat diketahui dengan rata-rata penghasilan petani Rp 300.000- Rp 1.5000.000/ 3 bulan atau satu kali masa panen. Maka dapat dikatakan dalam sebulan rata-rata sumbangsih dari sektor pertanian sebanyak Rp 100.000- Rp 500.000. oleh karena itu, dalam hal ini profesi sebagai UMKM lebih menjadi andalan sebagai tulang punggung keluarga. Kebiasaan yang ditemukan melalui wawancara di lapangan yaitu ketika banyak keluarga memiliki pekerjaan misalnya buruh atau tani maka sebagian ada ibu atau bapak yang membantu mencukupi kebutuhan ekonomi yang ada dengan beternak. sebagian ada yang beternak ayam atau bebek dan sebagianbesar beternak kambing atau sapi. Semakin majunya kondisi sosial ekonomi warga sekitar objek wisata Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, semakin besarnya tingkat ditandai dengan adanya usaha-usaha baru yang dibutuhkan warga sekitar objek wisata. Terbukanya usaha baru ini juga membuat warga sekitar objek wisata semakin meningkat pendapatannya. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaan Ganjuran sebagai saah satu objek wisata memberikan dampak berupa semakin meningkatnya jumlah pendapatan yang diterima oleh warga sekitar objek wisata Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Hal ini terjadi karena dengan adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran masyarakat sekitar dapat membuka usaha-usaha baru untiuk memperoleh pendapatan dan yang menjanjikan dalam hal ini adalah bidang UMKM.

  b. Pembahasan Terhadap Hasil Uji Hipotesis Ke-dua (jumlah

  curahan Kerja warga sekitar meningkat setelah adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran)

  Melihat analisis data yang digunakan, maka dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan jumlah curahan kerja yang dikorbankan yang semula 3173.68 jam /bulan menjadi 4803.42 jam/bulan. Melalui hasil wawancara yang dilakukan, peningkatan jumlah curahan kerja ini dikarenakan mereka menganggap bidang UMKM lebih menjanjikan dalam hal pendapatan yang diperoleh.

  Warga sekitar objek wisata lebih memilih menjadi pelaku UMKM sebesar 57 orang. Beberapa alasan dalam menjalani UMKM antara lain : 1) Tersedianya modal lunak dari koperasi sehingga hal ini mempermudah para pelaku UMKM yang kesulitan dalam hal permodalan

  2) Peningkatan pendapatan yang dialami setiap pelaku UMKM memberikan sugesti positif bagi para pelaku UMKM lain untuk semakin meningkatkan usahanya. 3) Peningkatan pendapatan juga mampu menarik para pelaku produksi di bidang pertanian untuk kemudian beralih ke bidang

  UMKM. Dari data yang diperoleh terdapat perkembangan jumlah UMKM di Ganjuran dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2013 yaitu dari 12 orang menjadi 57 orang. Hal ini terjadi karena dengan diresmikanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran membuat ganjuran menjadi terkenal dan banyak orang yang tahu, sehingga banyak yang datang untuk berdoa dan berziarah ke ganjuran.

  Dengan begitu banyak masyarakat sekitar yang tertarik untuk menjedi pelaku UMKM karena melihat banyaknya wisatawan yang datang dan bidang UMKM terlihat sangat menjanjikan untuk memperoleh pendapatan. Peningkatan ini merupakan salah satu bukti bahwa menjadi pelaku UMKM memiliki daya tarik tersendiri bagi warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran.

c. Pembahasan Terhadap Hasil Uji Hipotesis Ke-tiga (jumlah keluarga miskin masyarakat sekitar menurun setelah adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran )

  Dengan melihat buku mengenai data perkembangan objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan jumlah keluarga miskin masyarakat di sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran yang bergelut di bidang UMKM. Pada tahun 1998 masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran memiliki 173 keluarga miskin sedangkan pada tahun 2013 jumlah keluarga miskin mengalami penurunan menjadi 149 keluarga miskin. Melalui wawancara yang telah dilakukan, penurunan ini salah satunya disebabkan oleh semakin menjanjikannya bidang UMKM setelah adanya peresmian Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran sebagai objek wisata rohani dan semakin bayaknya wisatawan yang datang untuk berziarah ke Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran setiap tahunya.

  Adanya objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran ini juga mampu menghidupkan para wanita yang kebanyakan hanya sebagai ibu rumah tangga yang bergantung pada hasil suami, namun dengan adanya pekerjaan sebagai pelaku UMKM yang semakin menjanjikan maka ibu-ibu masyarakat sekitar objek wisata dapat membantu membiayai keperluan rumah tangga bahkan mampu mandiri membiayai keperluan rumah tangga atau menjadi tulang punggung keluarga. Hal ini membuktikan dengan adanya objek wisata yang telah melekat di ganjuran memberikan kontribusi dalam pengembangan kondisi sosial ekonomi yang ada di daerah tersebut. Tingkat kemiskinan masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus ganjuran berkurang disebabkan karena bidang UMKM semakin menjanjikan di ganjuran dan banyak wisatawan yang bekunjung untuk berziarah dan berdoa sehingga banyak warga sekitar yang menjadi pelaku UMKM di ganjuran dan meningkatkan pendapatan mereka sehingga dapat terlepas dari kemiskinan.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan terhadap 57 warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuranl. Penulis mengambil kesimpulan mengenai perbedaan kondisi sosial ekonomi

  masyarakat setempat sebelum dan sesudah menjadi objek wisata sebagai berikut :

  1. Dalam hal jumlah pendapatan warga sekitar objek wisata Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah pendapatan ini mempertegas bahwa ditetapkannya daerah tersebut sebagai objek wisata memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.

  2. Dalam hal jumlah curahan kerja warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus ternyata mengalami kenaikan jumlah curahan kerja.

  3. Dalam hal jumlah keluarga miskin masyarakat sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran mengalami penurunan sesudah menjadi objek wisata. Penurunan jumlah penduduk miskin ini dapat dilihat dengan adanya penurunan jumlah penduduk miskin pada tahun 1998 sebanyak 25 keluarga miskin menjadi 17 keluarga miskin pada tahun 2013.

  B. Keterbatasan Penelitian

  Dalam penelitian dan hasil penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan antara lain sebagai berikut :

  1. Variabel-variabel yang diteliti belum bisa mewakili keseluruhan perbedaan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat. Selain itu masih perlu dikembangkan variabel-variabel yang juga diharapkan mampu untuk memperlihatkan perbedaan kondisi sosial ekonomi masyarakat seperti tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, kesempatan kerja dan masih banyak lainnya.

  2. Rentang waktu yang cukup panjang dapat menyebabkan perubahan- perubahan dalam konteks sosial ekonomi selain yang disebutkan diatas seperti adanya krisis moneter tahun 1998, adanya inflasi, bencana alam dan masih banyak hal lainnya.

  C. Saran

1. Bagi Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi

  Melihat perkembangan yang cukup memuaskan di dalam bidang sosial ekonomi warga sekitar objek wisata rohani Candi Hati Kudus Bantul hanya perlu melanjutkan pendampingan yang dilakukan untuk mempromosikan objek wisata rohani Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Salah satunya dengan lebih menggencarkan lagi promosi dengan plakat-plakat di jalan atau lewat internet.

  . Selain itu Pemerintah Kabupaten Bantul juga perlu memberikan pembinaan lebih dini bagi para pemula yang hendak menjadi pelaku UMKM sehingga dapat semakin berkembang dengan baik.

2. Bagi Masyarakat Sekitar

  Bagi para pelaku UMKM supaya lebih memperhatikan lagi kepuasan konsumen, karena kepuasan konsumen merupakan salah satu alasan konsumen tetap bertahan dan berlangganan. Selama ini UMKM di ganjuran masih terlihat belum tertata dengan rapi, alangkah baiknya tata letak bangunan lebih dirapikan lagi agar tidak terlihat semrawut dan kelihatan kumuh. Lebih banyak lagi disediakan tempat sampah untuk menampung sampah-sampah sisa dari para wisatawan dan pelanggan agar masyarakat lebih sadar untuk membuang sampah pada tempatnya dan tidak membuat lingkungan sekitar menjadi kotor . Selain itu, untuk lebih memperkecil pengangguran yang ada , alternatif menjadi pelaku UMKM juga dapat menjadi pilihan pekerjaan karena menurut data yang ada pelaku UMKM juga mampu untuk meningkatkan pendapatan yang diterima.

  

DAFTAR PUSTAKA

1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

  Ala Andre Bayo, 1991. Kemiskinan dan Strategi Memerangi Kemiskinan. Yogyakarta : Liberty. Badan Pusat Statistik .2010. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial

  Ekonomi Indonesia. Jakarta-Indonesia Bussines News 7127

  , 20 Oktober 2004.” Peta Kemiskinan Indonesia”. Gilarso,T. 1992. Dunia Ekonomi Kita. Yogyakarta: Kanisius Irawan, & Suparmoko, M. 1992. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta: BPFE Universitas Gajahmada.

  LP3ES, Jakarta. (AD) Schoorl, J.W. 1981. Modernisasi: Pengantar Sosiologi

  Pembangunan Negara-negara Sedang Berkembang. Diindonesiakan R. G Soekardjo. Jakarta : Gramedia.

  Sukirno Sadono. 1995. Pengantar Makroekonomi. Edisi Kedua. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada. Schoorl, J.W. 1981. Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negaranegara

Sedang Berkembang . Diindonesiakan R. G Soekardjo. Jakarta : Gramedia.

Setyawan, Martinus Irka Puji. 2006. “Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan Objek

  Wisata Ketep Pass Bagi Masyarakat Sekitar”. Skripsi:PEK FKIP. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma Sjaifudian, Hetifah et. Al. 1995. Strategi dan Agenda Pengembangan Usaha Kecil.

  Bandung : Akatiga. Subagyo, Joko.1997.Metode penelitian dalam teori dan praktek, Jakarta : Rhineka cipta Subagyo, Pangestu. 2004. Statistik Terapan Aplikasi Pada Perencanaan dan Ekonomi.

  Yogyakarta : BPFE-Yogyakarta Sudjana, 2002. Metode Statistika. Tarsito : Bandung Sugiyono, 1999. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta. Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta. Sunuharyo, Bambang. 1982. “ Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga

Pegawai Golongan Rendah di Perumnas Klender”. Jakarta: Rajawali Press.

  UU no 9 Tahun 1995 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah UU no 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

DAMPAK KEBIJAKAN PERIZINAN TOKO SWALAYAN TERHADAP USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI KECAMATAN SEKAMPUNG UDIK KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
0
14
74
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH TERHADAP PERSAINGAN PERDAGANGAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH TERHADAP PERSAINGAN PERDAGANGAN GLOBAL.
0
3
10
PENDAHULUAN PERENCANAAN DAN PENATAAN ULANG KOMPLEKS GEREJA DAN CANDI “HATI KUDUS TUHAN YESUS GANJURAN” DI KABUPATEN BANTUL, DIY.
0
3
8
MELIHAT USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH U
0
1
16
DINAMIKA USAHA MIKRO KECIL MENENGAH
0
0
1
STRATEGI PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO KECIL dan MENENGAH (UMKM) DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN dan PEMBANGUNAN PEREKONOMIAN DI INDONESIA
0
0
11
TEKNOLOGI INFORMASI WEBSITE DAN QR-BARCODE UNTUK USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) BORDIR DI DESA PEGANJARAN KABUPATEN KUDUS
0
0
5
MAKNA ELEMEN INTERIOR DAN WARNA PADA ARSITEKTUR GEREJA KATOLIK INKULTURATIF DI GEREJA HATI KUDUS TUHAN YESUS GANJURAN BANTUL - Unika Repository
0
0
21
BAB III METODOLOGI - MAKNA ELEMEN INTERIOR DAN WARNA PADA ARSITEKTUR GEREJA KATOLIK INKULTURATIF DI GEREJA HATI KUDUS TUHAN YESUS GANJURAN BANTUL - Unika Repository
0
0
10
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN - MAKNA ELEMEN INTERIOR DAN WARNA PADA ARSITEKTUR GEREJA KATOLIK INKULTURATIF DI GEREJA HATI KUDUS TUHAN YESUS GANJURAN BANTUL - Unika Repository
0
1
51
MAKNA ELEMEN INTERIOR DAN WARNA PADA ARSITEKTUR GEREJA KATOLIK INKULTURATIF DI GEREJA HATI KUDUS TUHAN YESUS GANJURAN BANTUL - Unika Repository
0
0
15
INKULTURASI BUDAYA PADA BANGUNAN RELIGIUS DI CANDI HATI KUDUS TUHAN YESUS GANJURAN BANTUL TESIS Disusun Dalam Rangka Memenuhi Persyaratan Program Magister Teknik Arsitektur
0
0
21
SUMBANGAN MODEL PENDAMPINGAN BAGI KOMUNITAS KAUM MUDA KATOLIK DI PAROKI HATI KUDUS YESUS PUGERAN YOGYAKARTA SKRIPSI
0
1
210
PEZIARAHAN SEBAGAI PENGUDUSAN RUANG BAGI YANG KUDUS: STUDI TENTANG PROSES PEMBENTUKAN PEZIARAHAN CANDI HATI KUDUS TUHAN YESUS GANJURAN YOGYAKARTA Tesis
0
0
136
PERANAN INKULTURASI BUDAYA JAWA TERHADAP PENGHAYATAN EKARISTI DI PAROKI HATI KUDUS TUHAN YESUS GANJURAN SKRIPSI
0
7
130
Show more