Feedback

MAKALAH KESULTANAN ACEH

 0  1  5  2018-03-13 22:10:05 Report infringing document
Informasi dokumen
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latarbelakang Islam di Aceh merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Aceh. Banyak ahli sejarah baik dalam maupun luar negeri yang berpendapat bahwa agama Islam pertama sekali masuk ke Indonesia melalui Aceh.Keterangan Marco Polo yang singgah di Perlak pada tahun 1292 menyatakan bahwa negeri itu sudah menganut agama Islam. Begitu juga Samudera-Pasai, berdasarkan makam yang diketemukan di bekas kerajaan tersebut dan berita sumber-sumber yang ada seperti yang sudah kita uraikan bahwa kerajaan ini sudah menjadi kerajaan Islam sekitar 1270. Tentang sejarah perkembangan Islam di daerah Aceh pada zaman-zaman permulaan itu petunjuk yang ada selain yang telah kita sebutkan pada bagian-bagian yang lalu ada pada naskah-naskah yang berasal dari dalam negeri sendiri seperti Kitab Sejarah Melayu, Hikayat Raja-Raja Pasai. Menurut kedua kitab tersebut, seorang mubaligh yang bernama Syekh Ismail telah datang dari Mekkah sengaja menuju Samudera untuk mengislamkan penduduk di sana. Sesudah menyebarkan agama Islam seperlunya, Svekh Ismail pun pulang kembali ke Mekkah. Perlu uga disebutkan di sini bahwa dalam kedua kitab ini disebutkan pula negerinegeri lain di Aceh yang turut diislamkan, antara lain: Perlak, Lamuri, Barus dan lain-lain. 1.2. Rumusan Masalah Bagaimana perkembangan islam di Aceh 1.3.Tujuan Agar kita mengetahui bagaimana sejarah islam di Aceh BAB II PEMBAHASAN 2.1. Perkembangan islam pada masa kesultanan Aceh Sebelum Aceh berdiri menjadi sebuah kerajaan yang berdiri sendiri (bukan daerah taklukan),di daerah Sumatera Utara telah terdapat enam kerajaan yang terpenting, yaitu Kerajaan Perlak, Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Teumiang (Burma),Kerajaan Pedie (Pedir/Pidie),Kerajaan Indera Purba (Lamuri/Lambri) dan Kerajaan Indera Jaya. Kesultanan Aceh Darussalam didirikan oleh seorang ahli tasawuf dari Parsi (ada yang mengatakan orang India keturunan Parsi) yang datang untuk memesatkan perkembangan dakwah Islam di Nusantara khususnya di kawasan Aceh dan Sumatera setelah mendengar mengenai perkembangan dakwah Islam di Perlak dan Samudera Pasai. Seorang ahli tasawuf tersebut bernama Jihan Syah atau Johan Syah. Beliau menikahi perempuan pribumi dan memiliki seorang anak laki-laki. Kemudian mendirikan Kesultanan Aceh pada tahun 601 H/1205 M. dan, menjadi sultan Aceh sampai 631 H/1235 M. Ketika Sultan Johan Syah wafat, maka tampuk kepemimpinan dilanjutkan oleh keturunannya (yang dikenal dengan Dinasti Johan Syah) sampai tahun 811 H/1408 M. Setelah itu, Kesultanan Aceh Darussalam dipimpin oleh dinasti-dinasti yang lain secara bergantian. Para sultan yang memerintah Aceh Darussalam setelah wafatnya Johan Syah dari keturunannya adalah Sultan Ahmad Riayat Syah (631-665 H/1235-1269 M.)Sultan Mahmud Syah (665708 .1269-1308 M.)Sultan Firman Syah (708-755 H/1308-1345 M.)dan Sultan Mansyur Syah 755-811 H/1345-1408 M.)Mereka menjadikan Ramni menjadi pusat pemerintahannya. Setelah wafatnya Sultan Mansur Syah, naiklah seorang yang bukan berasal dari keturunan Johan Syah dengan gelar Sultan Alauddin Inayat Syah, anak dari Abdullah AlMalikulmubin. Beliau berkuasa periode 811-870 H/1408-1465 M. Pada mulanya pusat pemerintahan Aceh terletak di satu tempat yang dinamakan kampung Ramni dan dipindahkan ke Darul Kamal oleh Sultan Alauddin Inayat Syah. Kemudian setelah wafatnya Sultan Alauddin Inayat, maka naik tahta Sultan Muzaffar Syah (870-901 H./14651497 M).Beliaulah yang menata dan membangun Aceh Darussalam. Sebagaimana keterangan di atas, bahwa Kesultanan Aceh Darussalam belum menjadi sebuah kerajaan yang berdiri sendiri tetapi masih berupa kerajaan taklukkan, maka pada saat kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1497-1530) Aceh mampu keluar dari pengaruh kerajaan penakluknya bahkan balik mempengaruhi kerajaan penakluknya. Selain itu, Sultan Ali Mughayat Syah berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan yang telah muncul sebelumnya ke dalam kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam, dan saat itulah Kesultanan Aceh mulai berkembang di berbagai bidang seperti perluasan wilayah, melakukan perlawanan pada Portugis dan perkembangan perekonomian. Sepeninggal Sultan Ali Mughyat Syah, naik tahtalah anaknya Sultan Salahuddin (1530-1538 M.)namun dikarenakan bersikap terlalu lunak pada Portugis dan kurang memerhatikan pemerintahan maka digantikan oleh saudaranya Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar (1538-1571 M.)Pada masa kekuasaanya pernah dilakukan penyerangan ke Malaka pada tahun 1547 M dan 1568 M. Ketika berakhirnya kekuasaan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar, untuk beberapa lama kesultanan Aceh mengalami kemelut disebabkan perebutan kekuasaan di antara pewaris kekuasaan. Akhirnya setelah melewati masa-masa tersebut pada tahun 1596 kekuasaan diambil alih oleh Sultan Alauddin Riayat Syah Said al-Mukammal sampai 1604 dan diteruskan oleh Sultan Ali Riayat Syah periode 1604-1607 Aceh menjadi stabil kembali. Kesultanan Aceh mengalami masa ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M.)Kemudian beliau digantikan oleh menantunya Sultan Iskandar Tsani yang berkuasa sampai 1641 M. Setelah itu kesultanan sempat dipimpin oleh beberapa Sultanah sampai pada tahun 1699 M. Kesultanan Aceh Darussalam masih berdiri sampai tahun 1903 tetapi eksistensi dari Kesultanan Aceh mulai memudar karena penerus kekuasaan yang bersikap lunak pada bangsa asing dan terjadinya perebutan kekuasaan, sehingga berakhirlah Kesultanan Aceh pada tahun 1903. Peran dalam Penyebaran Islam Ulama-ulama yang berada di Kesultanan Aceh sangat memengaruhi berkembangnya penyebaran Islam. Mereka pun mendapat andil dalam perjuangan melawan para kompeni bersama tokoh-tokoh lainnya. Dengan demikian, Sultan Kerajaan Aceh menaruh perhatian terhadap ulama-ulama dengan menempatkannya dalam posisi jabatan, baik sebagai Mangkubumi atau lainnya. Ada pula ulama yang mendapatkan kesempatan untuk mengelola serta mengawasi Masjid Raja dan sekitarnya. Sultan tidak memerintah langsung melainkan melimpahkannya kepada hakim tertinggi kerajaan Teuku Kadli Malikul Adil dan Panglima Masjid Raya. Kesultanan Aceh memiliki andil dalam menyebarluaskan Islam ke berbagai daerah, baik yang masih di Pulau Sumatera atau luar Pulau Sumatera. Ekspansi-ekspansi yang dilakukan pada masa Kesultanan Aceh tidak hanya berunsur politik semata, melainkan dengan tujuan memesatkan dakwah Islam. Selain itu telah ditemukan satu dokumentasi tua yang berupa graf (graph) yang menunjukkan bahwa sekumpulan pendakwah yang diketuai oleh Abdullah alMalikulmubin menyebarluaskan Islam ke Kedah (Semenanjung tanah Melayu),Campa, Minangkabau, dan Patani (Utara Semenanjung Tanah Melayu).Masa kekuasaan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar, beliau mengutus Syarif Hidayatullah (Ahmad Fathullah) untuk menyebarluaskan Islam di Pulau Jawa. Syarif Hidayatullah berhasil menyebarkan Islam di Jawa Timur dan Jawa Barat. Selain itu Syarif Hidayatullah pun memimpin mujahidin menghalau tentara Portugis. Karena pengaruh dan jasanya, maka dianggap oleh muslimin Jawa Barat sebagai wali Allah dan diberi gelar Sunan Gunung Djati. Peran lain Ulama di Aceh yaitu adanya lembaga-lembaga yang diberikan sultan secara sengaja untuk menghimpun para ulama dalam mendiskusikan berbagai masalah keagamaan, seperti Balai Jamaah Himpunan Ulama dan Balai Setia Hukama’.Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam mulai timbulnya ilmu tasawuf. Keempat ulama besar yaitu Hamzah Fansuri, Syamsuddin alSumatrani, Nuruddin al-Raniri dan Abdu Rauf al-Singkeli mempunyai latar belakang tasawuf, bahkan Hamzah Fansuri memiliki faham tersendiri, yaitu Wahdatul Wujud yang ditentang keras oleh Nuruddin ar-Raniri dengan faham Wahdatul Syuhud-nya. Dikarenakan berkembang pesatnya Islam pada masa Kesultanan Aceh Darussalam maka banyak pula ulama-ulama besar menghasilkan karya, seperti Hamzah Fansuri dengan karya Tibyan fi Ma’rifati al-U Adyan, Syamsuddin as-Sumantrani dengan karya Mi’raj al-Muhakikin alIman, Nuruddin ar-Raniri dengan karya Sirat al-Mustaqim, dan Abdur Rauf as-Singkeli dengan karya Mi’raj at-Tulaab fi Fashil. Masih banyak karya mereka yang tidak dapat disebut satu per satu. BAB III PENUTUP 3.1.KESIMPULAN Pendidikan merupakan suatu proses belajar mengajar yang membiasakan kepada warga masyarakat sedini mungkin untuk menggali, memahami dan mengamalkan semua nilai yang disepakati sebagai nilai yang terpujikan dan dikehendaki, serta berguna bagi kehidupan dan perkembangan ciri pribadi, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan Islam sendiri adalah proses bimbingan terhadap peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik (insan kamil) Keberhasilan dan kemajuan pendidikan di masa kerajaan Islam di Aceh, tidak terlepas dari pengaruh Sultan yang berkuasa dan peran para ulama serta pujangga, baik dari luar maupun setempat, seperti peran Tokoh pendidikan Hazah Fansuri, Syamsudin As-Sumatrani, dan Syaeh Nuruddin A-Raniri, yang menghasilkan karya-karya besar sehingga menjadikan Aceh sebagai pusat pengkajian Islam.
MAKALAH KESULTANAN ACEH Makalah Kesultanan Aceh
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Upload teratas

MAKALAH KESULTANAN ACEH

Gratis