MEMAKS IMALKAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKA

 0  0  15  2018-09-16 23:06:20 Report infringing document

  

MEMAKSIMALKAN PENINGKATAN MUTU

PENDIDIKAN NASIONAL

Oleh:

DINA NADIRA AMELIA SIAHAAN

  

Mahasiswi IAIN Sumatera Utara

Program Studi Bimbingan Konseling Islam Semester VI

NIM : 33.11.4. 039

  

Abstract:

Nationally, education is a process of educating the nation. In the context

of a process, education is the process of developing the potential of their students

in reaching maturity through cultural transformation. Likewise, the national

education has been developed in a long time since Indonesia's independence. At

least 67 years have been managed. But still less boast of national education,

because the quality of education is still low. Necessary reform efforts through

innovation or educational reform. For that there are some policies to improve the

quality of national education, namely: improving the management and leadership

education, improving the quality of teachers and resources, implementing

national education standards well, maximizing the educational curriculum

implementation unit level, and develop a culture of quality by improving the

quality of education sustainable.

  Key Words Peningkatan, Mutu dan Pendidikan : PENDAHULUAN

  Pendidikan memiliki peran strategis dalam mengembangkan sumberdaya manusia (SDM) bangsa Indonesia. Terutama pendidikan yang berkualitas akan mempercepat pengembangkan SDM berkelanjutan. Karena itu, pendidikan nasional harus mampu menghasilkan SDM dengan tiga kemampuan sekaligus.

  

Pertama , kemampuan melahirkan manusia yang dapat memberikan sumbangan

  terhadap pembangunan nasional. Kedua, kemampuan untuk menghasilkan manusia yang dapat mengapresiasi, menikmati dan memelihara hasil-hasil pem- bangunan itu. Ketiga, kemampuan melahirkan proses pemanusian dan kemanusian secara terus-menerus menuju bangsa yang adil dan bijak lagi bijak, dalam makna pertumbuhan dan perkembangan, pembangunan mensyaratkan kemampuan SDM

  ISSN: 2088 - 8341

  untuk membangun, memelihara, dan menyikapi secara positif hasil-hasil pem- bangunan. Termasuk di dalamnya adalah rasa memiliki inventrasi publik dan privat serta sumber-sumber lingkungan hidup, lingkungan fisik, dan non- fisik (Danim, 2003;78).

  Namun fenomena menunjukkan pencapaian tujuan pendidikan nasional masih kurang maksimal. Pendidikan sebagai suatu sistem pencerdasan anak bangsa, dewasa ini dihadapkan pada berbagai persoalan, baik ekonomi, sosial, budaya, maupun politik. Pada arus global, kita sementara berhadapan dengan tantangan globalisasi, peniadaan sekat-sekat ideologis politik, budaya, dan sebagainya. Selain itu, kita menyaksikan pesona peradaban yang disatukan oleh corak budaya yang sama, ekonomi yang sama, bahkan substansi kehidupan yang nyaris sama, globalisasi (Hamzah, 2007;1).

  Mengapa pendidikan harus bermutu?. Pendidikan saat ini, dalam hal ini pendidikan persekolahan, dihadapkan pada berbagai tantangan baik nasional maupun internasional. Tantangan nasional muncul dari dunia ekonomi, sosial, budaya, politik, dan keamanan. Pembangunan ekonomi sampai saat ini masih belum beranjak dari dunia krisis semenjak tahun 1997/1998. Bahkan per- kembangan ekonomi pada level bawah (ekonomi kerakyatan) masih dalam kondisi stagnan kalau tidak dikatakan mundur. Sosial kemasyarakatan bangsa ini seperti ada yang salah, dimana kerusuhan, konfilik antara daerah, pencurian, perkelahian, tawuran, freesex pada kalangan remaja dan dewasa dan berbagai kondisi negatif kemasyarakat lainnya semakin meningkat dari tahun ketahun. Perkembangan budaya global saat ini malah mengikis berbagai budaya asli bangsa, khususnya budaya daerah.

  Dari sisi keamanan, masyarakat merasa tidak aman untuk berjalan di malam hari atau di tempat- tempat sepi, padahal ini adalah negara merdeka! “ Apa kata dunia?” tentang Indonesia ini. Kondisi nasional tersebut menantang dunia pendidikan untuk dapat menghasilkan lulusan yang mampu memecahkan dan membawa Indonesia pada bangsa yang maju dan beradab.

  ISSN: 2088 - 8341

  Tantangan dunia internasional menunjukkan bahwa Indonesia saat ini akan menghadapi berbagai persaingan global, seiring dengan berlangsungnya globali- sasi, khususnya dalam perdagangan (ekonomi). Globalisasi menghantarkan pada perubahan lingkungan strategis bangsa di mata bangsa-bangsa lainnya di dunia ini. Selain globalisasi, perkembangan teknologi informasi juga menjadi tantangan besar bagi bangsa Indonesia. Perubahan lingkungan strategi pada tataran global tersebut tercermin pada pembentukan forum-forum seperti GATT, WTO, dan APEC, NAFTA dan AFTA, IMG- GT, IMS- GT, BIMP – EAGA, dan SOSEKMALINDO yang merupakan usaha untuk menyongsong perdagangan bebas dimana pasti akan berlangsung tingkat persaingan yang sangat ketat (Riduwan, 2011;289).

  Dirasakan adanya ketertinggalan di dalam mutu pendidikan, manajemen pendidikan nasional, dibandingkan dengan negara-negara lain yang telah menik- mati demokrasi di dalam kehidupan masyarakatnya. Selanjutnya keberhasilan yang dicapai dalam era Orde Baru telah menimbulkan rasa patriotisme yang sempit yang juga menimpa sistem pendidikan nasional. Pendidikan nasional memang telah menjadi penopang dari keberhasilan yang relatif positif di dalam pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, keberhasilan tersebut ternyata keber- hasialan yang semu, karena kehidupan demokrasi bukan hanya menuntut per- tumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi juga harga diri dan kemampuan manusia Indonesia yang tidak kalah dengan kemajuan bangsa- bangsa yang lain (Tilaar, 2006;11).

  Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dan hambatan besar di era informasi dan globalisasi saat ini jika dilihat dari berbagai indikator. Indikator pertama, berdasarkan laporan World Economic Forum pada tahun 2006 posisi daya saing Indonesia berada pada urutan 50 diantara 125 negara. Posisi Indonesia tersebut lebih rendah dibandingkan Singapura, Malaysia, Thailand, yang berturut- turut berada pada posisi ke-5, 26, dan 35 tetapi lebih tinggi dibandingkan Filipina dan Vietnam yang berada pada urutan 71 dan 77 (Hermana, 2010;2).

  ISSN: 2088 - 8341

  Rendahnya daya saing sumberdaya manusia Indonesia dapat menjadi indikator rendahnya mutu pendidikan nasional, sebab kualitas keunggulan sum- berdaya manusia suatu bangsa dipengaruhi oleh pendidikannya. Rendahnya daya saing SDM berarti kualitas pendidikan bangsa ini juga cenderung rendah. Prestasi akademik yang dicapai belum maksimal dalam semua satuan pendidikan yang dilaksanakan selama ini.

  Kualitas sekolah di Indonesia masih rendah dan cenderung memburuk. Selama ini ekspansi sekolah tidak menghasilkan lulusan dengan pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat yang kokoh dan ekonomi yang kompetitif di masa depan. Bukti ini ditunjukkan dengan rendahnya kemampuan murid tingkat 8 (SMP kelas 2) dibandingkan dengan negara tetangga Asia pada ujian-ujian internasional di tahun 2001 (lihat tabel 1), terlihat cukup jelas bahwa ekspansi partisipasi sekolah di Indonesia tidak diikuti dengan peningkatan kualitas.

  Fenomena rendahnya mutu pendidikan nasional ditandai dari hasil ujian nasional yang kurang maksimal, lemahnya kepribadian anak sebagai lulusan, kinerja guru dan tenaga kependidikan kurang berkualitas, sarana dan prasana pendidikan masih belum memenuhi standar, guru cenderung masih belum sepenuhnya layak mengajar, iklim pembelajaran siswa yang kurang kondusif dalam memaksimalkan hasil belajar siswa.

  ISSN: 2088 - 8341

  Untuk itu, perlu dikaji secara mendalam bagaimana upaya meningkatkan mutu pendidikan menjadi fokus kajian tulisan ini.

PENDIDIKAN NASIONAL KONTEMPORER

  Pendidikan memiliki peran strategis dalam membina potensi anak didik dalam mencapai kedewasaan. Dalam hal ini kecerdasan anak dicapai melalui proses pembelajaran, latihan dan bimbingan yang berkesinambungan di sekolah, keluarga dan masyarakat. Melalui pendidikan yang efektif dapat diharapkan kecerdasan anak akan terbina dan tercapai baik kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

  Begitupun, setelah 67 tahun Indonesia merdeka, pada saat ini pendidikan nasional juga masih dihadapkan pada beberapa permasalahan yang mengemuka, yaitu: (1) masih rendahnya pemerataan untuk memperoleh pendidikan, (2) masih rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan, dan (3) masih lemahnya manajemen pendidikan di samping belum terwujudnya kemandirian dan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan akademis. Ketimpangan pemerataan pendidikan juga terjadi antar wilayah geografis perkotaan dan pedesaan, serta antar kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Kawasan Barat Indonesia (KBI), dan antar tingkat pendapatan penduduk dan antar gender (Hamzah, 2007;133).

  Di sisi lain dilihat perspektif pembelajaran, maka kondisi fasilitas pendi- dikan dan keterbatasan waktu guru untuk berperan sebagai pendidik dalam arti yang sesungguhnya dipeparah dengan sistem kurikulum yang meliputi banyak mata pelajaran dan masing- masing mata pelajaran sarat dengan bahan pelajaran. Sistem kurikulum yang demikian ini ditambah dengan sistem EBTANAS/ UN, menjadikan tugas guru dipersepsikan tidak lebih dari mengupayakan semua peserta didik dalam waktu yang sama, mempelajari materi peljaran yang sama, dengan cara yang sama (Soedijarto, 2000:43).

  Mencermati pendapat Andriani dalam Syafaruddin (2012;7) bahwa mana- jemen dan gaya kepemimpinan pendidikan merupakan legacy masih tetap diguna- kan sampai saat ini. Manajemen organisasi pendidikan berjalan apa adanya

  ISSN: 2088 - 8341

  mengikuti jalur yang sudah digariskan, tidak berdaya, terbelenggu, dan kurang ada kemauan untuk berinisiatif, melakukan terobosan, perubahan dalam berbagai aspek. Munculnya sekolah unggulan, pada tingkat sekolah dasar dan menengah serta kelas-kelas internasional pada PT merupakan suatu refleksi dari ketidak- puasan dalam pengelolaan pendidikan nasional. Hal itu perlu disambut baik dan terus dikembangkan meskipun masih membutuhkan perjalanan panjang untuk terus mengembangkan manajemen dan kepemimpinan organisasi (Soedijarto, 2000:7).

KONSEP MUTU PENDIDIKAN

  Dunia yang semakin maju dewasa ini menuntut dan sangat memperhatikan mutu dalam segala hal untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan hidup. Baik dalam dunia industri, ekonomi, perdagangan, kesehatan, perbankan maupun pen- didikan persoalan mutu semakin mengemuka dalam berbagai forum dan per- temuan ilmiah dan kalangan profesi.

  Menurut Charles Hoy dalam Improving Quality in Education, menjelaskan mutu pendidikan adalah suatu evaluasi terhadap proses pendidikan dengan harapan tingggi untuk dicapai dan mengembangkan bakat- bakat para pelanggan pendidikan dalam proses pendidikan (Syafaruddin, 2004;26).

  Mutu adalah hal yang esensial sebagai bagian dalam proses pendidikan. Proses pembelajaran adalah tujuan organisasi pendidikan. Perbaikan proses pen- didikan adalah level tertinggi dari keunggulan yang akan dicapai (Syafruddin, 2006;57).

  Mutu pendidikan adalah mutu lulusan dan pelayanan yang memuaskan pihak terkait pendidikan. Mutu lulusan berkaitan dengan lulus dengan nilai baik (kognitif, efektif, dan psikomotorik) diterima melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi yang berkualitas dan memiliki kepribadian yang baik. Sedangkan mutu pelayanan berkaitan dengan aktivitas melayani keperluan pelajar, guru dan masyarakat secara cepat dan tepat sehingga semua merasa puas atas layanan sekolah.

  ISSN: 2088 - 8341

  Di samping kriteria di atas, kualitas pendidikan yang berhasil ditandai dari: 1. Tingginya rasa kepuasan pengajaran, termasuk tingginya pengharapan murid.

  2. Tercapainya target kurikulum pengajaran.

  3. Pembinaan yang sangat baik terhadap spiritual, moral, sosial dan pengem- bangan budaya para pelajar.

  4. Tidak ada murid yang bermasalah dalam kejiwaan atau risiko emosional.

  5. Tidak ada pertentangan antara hubungan murid dengan para staf/guru.

  Mengingat pentingnya fungsi pendidikan adalah keharusan lembaga yang memberi layanan publik itu secara terus-menerus meningkatkan mutu kinerjanya. Pengertian kualitas (quality) dan kualitas pendidikan (quality of education) dalam makna kuantitatif dan kualitatif barangkali mudah dirumuskan, akan tetapi sukar dinyatakan di dalam realita.

  Menurut Sallis (1993) mutu dapat diartikan sebagai derajat kepuasan luar biasa yang diterima oleh kustomer sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Achmad (1993) mengemukakan bahwa mutu pendidikan di sekolah dapat diarti- kan sebagai kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efesien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku.

  Mutu pendidikan atau mutu sekolah tertuju pada mutu lulusan. Merupakan sesuatu yang mustahil, pendidikan atau sekolah menghasilkan lulusan yang ber- mutu, jika tidak melalui proses pendidikan yang bermutu pula. Merupakan sesuatu yang mustahil pula, terjadi proses pendidikan yang bermutu jika tidak didukung oleh faktor- faktor penunjang proses pendidikan yang bermutu pula. Proses pendi- dikan yang bermutu harus didukung oleh profesional. Hal tersebut didukung pula oleh sarana dan perasana pendidikan, fasilitas, media, serta sumber belajar yang memadai, baik mutu maupun jumlahnya, dan biaya yang mencakupi, manajemen yang tepat, serta lingkungan yang mendukung. Mutu pendidikan bersifat menyeluruh, menyangkut semua komponen, pelaksana, dan kegiatan pendidikan, atau disebut sebagai mutu total atau” Total Quality”. Adalah sesuatu yang tidak

  ISSN: 2088 - 8341

  mungkin, hasil pendidikan yang bermutu dapat dicapai hanya dengan satu kom- ponen atau kegiatan yang bermutu. Kegiatan pendidikan cukup kompleks,, satu kegiatan, komponen, pelaku, waktu, terkait, dan membutuhkan dukungan dari kegiatan, komponen, pelaku, serta waktu lainnya (Sukmadinata, 2006;6).

  Para ahli telah merumuskan standar umum yang dapat dipakai untuk mengukur mutu pendidikan pada setiap jalur dan jenjang dengan spesifikasi standar mutu yang masih kabur adanya. Klarifikasi mengenai standar mutu lulusan lembaga pendidikan antara lain dapat dilakukan dengan jalan menjabarkan konsep link and match, di mana educational outcomes dari jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ukuran mutu pendidikan juga dapat diakses dari tercapai tidaknya tujuan institusional lembaga itu, yaitu atas dasar persentase lulusan yang dapat diserap di dunia kerja dan lulusan yang dapat diterima pada jenjang pendidikan di atasnya. Ukuran ini pun tidak akurat. Pertama, belum tentu setiap lulusan diterima pada bidang pekerjaan yang relevan dengan kemampuannya benar- benar karena kemampuannya itu.

  Akses seseorang memasuki dunia kerja satu di antaranya memang ditentu- kan oleh kemampuan yang ia miliki. Faktor lainnya dapat bersumber dari hal- hal yang tidak ada kaitannya dengan kemampuan dasar itu, seperti status sosial ekonomi orang tua, ciri- ciri fisik, asal daerah, kesiapan mental memasuki peker- jaan, dan kemampuan lain sebagai penunjangnya. Kedua, tidak secara otomatis setiap lulusan lembaga pendidikan bercita- cita melanjutkan studi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Danim, 2003;79).

  Ada banyak pendapat mengenai kriteria mutu pendidikan. Engkoswara (1986) melihat mutu/keberhasilan pendidikan itu dari tiga sisi, yaitu prestasi, suasana, dan ekonomi. Sallis (1993) mengemukakan dua standar utama untuk mengukur mutu, yaitu: (1) standar hasil dan pelayanan, dan (2) standar kustomer. Indikator yang termasuk ke dalam standar hasil dan pelayanan adalah

  

conformance to specification, fitness for purpose or use, zero defects, dan right

first time, every time. Terkandung makna di sini bahwa standar hasil pendidikan

  mencakup spdesifikasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh oleh

  ISSN: 2088 - 8341

  anak didik; hasil pendidikan itu dapat dimanfaatkan di masyarakat atau di dunia kerja; tingkah kesalahan yang sangat kecil; bekerja benar dari awal, dan benar untuk pekerjaan berikutnya. Indikator yang termasuk ke dalam standar kustomer adalah consumer satisfaction, exceding customer expectations, dan delightimng

  

the customer. Dengan demikian, standar kustomer mencakup terpenuhinya

kepuasan, harapan dan pencerahan hidup bagi kustomer itu.

  Mutu pendidikan itu ternyata tida semata- mata diukur dari mutu keluaran pendidikan secara utuh (educational outcomes) akan tetapi dikaitkan dengan konteks di mana mutu itu ditempelkan dan berapa besar persyaratan tambahan yang diperlukan untuk itu. Misalnya, jika seseorang lulusan SMK untuk termasuki dunia kerja tidak perlu mendapatkan pelatihan tambahan sebelum memberikan layanan di tempat kerjanya, berarti dia adalah lulusan yang lebih bermutu dari- pada yang masih harus menempuh pelatihan pra penempatan dengan spesifikasi yang sama. Mutu pendidikan juga dapat diukur dari besarnya kapasitas layanan pendidikan dalam memenuhi customers needs and wants dikaitkan dengan besar- nya harus dikeluarkan oleh masyarakat dan pemerintah, lama belajar, dan biaya- biaya tidak langsung.

  Dilihat dari sudut pandang ekonomi, mutu pendidikan dapat diukur dari besarnya earnings yang diperoleh oleh lulusan setelah ia secara formal menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu dengan kurun waktu kerja yang tertentu pula (Danim, 2003;80).

  Dengan begitu mutu pendidikan adalah hasil atau pencapaian pendidikan oleh sekolah dan sistem pendidikan nasional secara keseluruhan. Baik nilai akademik maupun non akademik, serta kualitas seluruh komponen pendidikan sesuai standar mutu yang ditetapkan.

PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

  Masalah dasar yang perlu kita telaah lebih lanjut adalah bagaimana pendi- dikan nasional dapat benar- benar berfungsi mengembangkan kemampuan, nilai, sikap, dan perilaku yang sesuai dengan tuntutan masyarakat dalam perkem-

  ISSN: 2088 - 8341

  bangannya di era globalisasi ini. Dengan kata lain, bagaimana berbagai fungsi pendidikan nasional dan institusional yang telah digariskan dalam UUD 1945 dan Undang- Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dapat dilaksanakan secara efesien dan efktif.

  Dalam kaitan dengan hal-hal tersebut di atas, penulis berpendapat sebagai berikut :

  Pertama , bahwa melaksanakan fungsi pendidikan nasional, yaitu ikut

  mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur melalui dihasilkannya manusia berpendidikan yang memiliki kemampuan, nilai, sikap, watak, dan peri- laku yang tangguh adalam memenuhi tuntutan perkembangan masyarakat memer- lukan suatu lembaga pendidikan yang berfungsi sebagai pusat sosialisasi dan pembudayaan berbagai kemampuan, nilai, sikap, watak, dan perilaku yang pada umumnya belum dimiliki oleh anggota masyarakat negara berkembang.

  Kedua , bahwa untuk melaksanakan fungsi sebagai lembaga sosialisasi dan

  pembudayaan berbagai kemampuan, nilai, sikap, watak, dan perilaku manusia Indonesia baru maka setiap lembaga pendidikan perlu dilengkapi dengan infra- struktur yang memadai dengan tenaga kependidikan yang profesional sehingga dapat terjadi proses pembelajaran yang menantang dan merangsang otak, menyentuh dan menggerakkan perasaan, serta memungkinkan peserta didik mem- peraktekkan pengetahuan dan keterampilan dalam suasana konkrit. Ini tidak dapat terjadi di lembaga pendidikan dengan fasilitas yang terbatas, dengan ruang kelas yang dipadati peserta didik, dalam waktu yang terbatas, dengan peralatan pendi- dikan yang tidak lebih dari papan tulis dan kapur, dan dengan guru yang hanya berfungsi sebagai penyaji informasi yang telah dikemas dalam buku teks.

  Ketiga , bahwa lembaga pendidikan seperti yang diharapakan pada butir

  kedua di atas yang memungkinkan peserta didik berada dalam suasana kepen- didikan selama belum berkumpul dengan orang tua dan dilengkapi dengan lampangan bermain, berolahraga, olahseni, dan rekreasi disamping peralatan pendidikan lainnya, dengan guru profesional yang melayani peserta didik dalam rasio 1: 20- 25, memerlukan dukungan biaya besar. Karena itu, hanya dengan

  ISSN: 2088 - 8341

  tekad nasional untuk mengalokasikan 4% GDP untuk pndidikan, fungsi pendi- dikan nasional dapat dilaksanakan secara optimal.

  Keempat, bahwa melalui lembaga pendidikan yang demikian itu kita dapat

  berharap bahwa proses pembelajaran yang meli[puti empat pilar belajar untuk memasuki abad ke- 21, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, and

  

learning to live together dapat berlangsung. Proses pembelajaran yang ideal ini

  dengan sendirinya akan selalu berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat, dan akan dapat menghasilkan manusia terdidik yang mampu mem- bangun masyarakat, dan dengan demikian masyarakat akan merasakan manfaat pendidikan. Melalui pengembangan pendidikan yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kita akan dapat memperoleh dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat.

  Kelima, melalui serangkaian uraian yang disajikan, penulis berkesimpulan

  bahwa pendidikan yang bebasis masyarakat adalah pendidikan yaang berorientasi pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat, dan ini adalah pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan yang bermanfaat bagi pembangunan masyarakat melalui kemampuan, sikap, nilai, dan watak serta perilaku lulusan yang dapat memenuhi harapan masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu kehidupan mereka.

  Dengan pendidikan seperti ini, seorang lulusan pendidikan dasar diharap- kan akan memiliki kemampuan lebih dari orang tuanya yang hanya lulusan SD dalam bertani secara berilmu, dan dalam berdagang secara berilmu, dan dalam yang diajukan ini dapat memperoleh tanggapan bersama dalam mengembangkan sistem pendidikan nasional yang mampu meningkatkan daya tahan dan jati diri bangsa (Soerdijarto, 2000;84).

  Dalam proses peningkatan mutu pendidikan nasional ini perlu ditempuh cara-cara yang lebih inovatif. Banyaknya masalah yang diakibatkan oleh lulusan pendidikan yang tidak bermutu, program mutu atau upaya-upaya untuk mening- katkan mutu pendidikan merupakan hal yang teramat penting. Untuk melak-

  ISSN: 2088 - 8341

  sanakan program mutu diperlukan beberapa dasar yang kuat, yaitu sebagai berikut (Sukmadinata, 2007;8).

  a.

  Komitmen pada perubahan Pemimpin atau kelompok yang ingin menerapkan program mutu harus memilki komitmen atau tekad untuk berubah. Pada intinya, peningkatan mutu adalah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dan lebih berbobot. Lazimnya, perubahan tersebut menimbulkan rasa takut, sedangkan komitmen dapat menghilangkan rasa takut.

  b.

  Pemahaman yang jelas tentang kondisi yang ada Banyak kegagalan dalam melaksanakan perubahan karena melakukan sesuatu sebelum sesuatu itu jelas.

  c.

  Mempunyai visi yang jelas terhadap masa depan Hendaknya, perubahan yang akan dilakukan berdasarkan visi tentang per- kembangan, tantangan, kebutuhan, masalah, dan peluang yang akan dihadapi pada masa yang akan datang. Pada awalnya, visi tersebut hanya dimiliki oleh pimpinan atau seorang inovator, kemudian dikenalkan kepada orang- orang yang akan terlibat dalam perubahan tersebut. Visi dapat menjadi pedoman yang akan membimbing tim dalam perjalanan pelaksanaan program mutu.

  d.

  Mempunyai rencana yang jelas Mengacu pada visi, sebuah tim menyusun rencana dengan jelas. Rencana menajadi pegangan dalam proses pelaksanan program mutu. Pelaksanaan program mutu dipengaruhi oleh faktor- faktor internal ataupun eksternal. Faktor- faktor internal dan eksternal tersebut akan selalu berubah. Rencana harus selalu di- up- dated sesuai dengan perubahan- peruabahan. Tidak ada program mutu yang terhenti (stagnan) dan tidak ada dua program yang identik karena program mutu selalu berdasarkan dan sesuai dengan kondisi ling- kungan. Program mutu merefleksikan lingkungan pendidikan di mana pun ia berada

  ISSN: 2088 - 8341

  Ada beberapa prinsip yang perlu dipegang dalam menerapkan program mutu pendidikan, diantaranya sebagai berikut : a.

  Peningkatan mutu pendidikan menuntut kepemimpinan profesional dalam bidang pendidikan. Manajemen mutu pendidikan merupakan alat yang dapat digunakan oleh para profesional pendidikan dalam memperbaiki sistem pendidikan bangsa kita.

  b.

  Kesulitan yang dihadapi para profesional pendidikan adalah ketidakmampuan mereka dalam menghadapi “ kegagalan sistem” yang mencegah mereka dari pengembangan atau penerapan cara atau proses baru untuk memperbaiki mutu pendidikan yang ada.

  c.

  Peningkatan mutu pendidikan harus melakukan loncatan-loncatan. Norma dan kepercayaan lama harus di ubah. Sekolah harus belajar bekerja sama dengan sumber-sumber yang terbatas. Para profesional pendidikan mampu para siswa dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan guna ber- saing di dunia global.

  d.

  Uang bukan kunci utama dalam usaha peningkatan mutu. Mutu pendidikan dapat perbaiki jika administrator, guru, stap, pengawas, dan pemimpin kantor Diknas. Mengambangkan sikap yang terpusat pada kepemimpinan, team work, kerja sama, akuntabilitas, dan rekognisi. Uang tidak menjadi penentuan dalam peningkatan mutu.

  e.

  Kunci utama peningkatan mutu pendidikan adalah komitmen pada perubahan.

  Jika semua staf sekolah setelah memiliki komitmen pada perubahan, pemim- pinnya dapat dengan mudah mendorong mereka menemukan cara baru untuk memperbaiki evisiensi, produktivitas, dan kualitas layanan pendidikan. Guru akan menggunakan pendekatan yang baru atau model-model mengajar, men- didik, dan melatih dalam membantu perkembangan siswa. Demikian juga stap administrasi, ia akan mengggunakan proses-proses baru dalam menyusun biaya dalam menyelesaikan masalah, dan mengembangkan program baru.

  ISSN: 2088 - 8341 f.

  Banyak profesional di bidang pendidikan yang kurang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam menyiapkan para siswa memasuki pasar kerja yang ber- sifat global.

  g.

  Program peningkatan mutu dalam bidang komersial tidak dapat dipakai secara langsung dalam pendidikan, tetapi membutuhkan penyesuaian-penyesuaian dan penyempurnaan.

  h.

  Salah satu komponen kunci dalam program mutu adalah sistem pengukuran. i.

  Masyarakat dan manajemen pendidikan harus menjauhkan diri dari kebiasaan menggunakan “program singkat”, peningkatan mutu dapat dicapai melalui perubahan yang berkelanjutan tidak dengan program-program singkat.

  PENUTUP

  Mutu pendidikan nasional masih tergolong rendah mengingat hasil pen- didikan yang dicapai belum memuaskan dan sepenuhnya memenuhi standar nasional pendidikan dari seluruh komponen pendidikan. Rendahnya mutu pendidikan juga ditandai dari rendahnya daya saing sumberdaya manusia Indonesia saat ini di antara negara-negara Asia.

  Diperlukan upaya perbaikan mutu pendidikan melalui perubahan dan perbaikan manajemen dan kepemimpinan pendidikan yang berfokus mutu. Karena itu, harus dibenahi lebih dahulu manajemen dan kepemimpinan pendidikan melalui perbaikan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, sehingga dapat dilanjutkan perbaikan yang berkelanjutan dalam hal program pembelajaran dan pembinaan siswa, termasuk kurikulum dan pemenuhan standar nasional pendidikan.

  ISSN: 2088 - 8341

DAFTAR PUSTAKA

  Danim, Sudarwan,. 2003. Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hermana, Budi. 2010. Mendorong Daya Saing di Era Informasi dan Globalisasi:

  Pemanfaatan Modal Intelektual dan Teknologi Informasi sebagai Basis

Inovasi di Perusahaan, http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id , pdf, h.2.

  Riduwan, 2011. Manajemen Pendidikan, Bandung: Alfabeta Soerdijarto, 2000. Pendidikan Nasional, Jakarta: Cinaps Syafaruddin, dkk. 2012. Inovasi Pendidikan, Medan: Perdana Publishing.

  Syafaruddin, dkk, 2002. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan, Jakarta: Grasindo. Sukmadinata, Nana.2006. Pengndalian Mutu Pendidikan Sekolah Menegah,

  Bandung: PT Refika Aditama Syafaruddin, dkk. 2006. Pendidikan Bermutu Unggul, Bandung: Citapustaka Media.

  Tilaar, 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional Suatu Tinjauan Kritis, Jakarta: PT Rineka Cipta

  Uno, Hamza B, 2007. Profesi Kependidikan Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia, Jakarta: PT Bumi Aksara.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait

MEMAKS IMALKAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKA

Gratis

Feedback